• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Proposal metode bercerita
 

Proposal metode bercerita

on

  • 5,313 views

 

Statistics

Views

Total Views
5,313
Views on SlideShare
5,313
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
80
Comments
1

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Proposal metode bercerita Proposal metode bercerita Document Transcript

    • A. PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan sebagai suatu proses, baik berupa pemindahan maupun penyempurnaan akan melibatkan dan mengikutsertakan bermacam-macam komponen dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Pendidikan dilakukan seumur hidup sejak usia dini sampai akhir hayat, pentingnya pendidikan diberikan pada anak usia dini terdapat di dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Anak Usia Dini pasal 1 ayat 1, dinyatakan bahwa: Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD, adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai berusia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan TK merupakan salah satu bentuk pendidikan formal pendidikan anak usia dini, di dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Anak Usia Dini pasal 1 ayat 7 dijelaskan : Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disingkat TK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia empat tahun sampai enam tahun. Pada masa TK, selain bermain sebagai bentuk kehidupan dalam kecakapan memperoleh keterampilannya, anak-anak juga sudah dapat menerima berbagai pengetahuan dalam pembelajaran secara akademis untuk persiapan mereka memasuki pendidikan dasar selanjutnya. Pada masa ini, anak-anak mengalami masa peka atau masa sensitif dalam menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi yang dimilikinya. Masa peka merupakan masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon rangsangan yang diberikan oleh lingkungan. Hal ini dinyatakan pula oleh Piere Duquet (Jasni, 2007) bahwa „a children who does not draw is an anomally, and particulary so in the years between 6 an 0, which is outstandingly the golden age of creative expression‟. Pada rentang usia lahir sampai enam tahun, anak mulai peka untuk menerima berbagai upaya perkembangan potensi yang dimilikinya. Pembelajaran pendidikan di TK bertujuan membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan, daya cipta dan menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar dengan mengembangkan nilai-nilai agama (moral), fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosi, dan seni. Bahasa sebagai salah satu aspek perkembangan yang harus dikembangkan pada usia TK merupakan media komunikasi agar anak dapat menjadi bagian dari kelompok sosialnya. Bahasa dapat berbentuk lisan, gambar, tulisan, isyarat, dan bilangan. Membaca merupakan bagian dari perkembangan bahasa dapat diartikan menterjemahkan simbol atau gambar ke dalam suara yang dikombinasikan dengan kata-kata, kata-kata disusun agar orang lain dapat memahaminya. Anak yang menyukai gambar, huruf, buku cerita dari sejak awal perkembangannya akan mempunyai keinginan membaca lebih besar karena mereka tahu bahwa membaca memberikan informasi baru dan menyenangkan.
    • Mengembangkan aspek kemampuan membaca sejak dini (usia TK) sangatlah penting untuk persiapan mereka secara akademis memasuki pendidikan dasar selanjutnya. Melalui gemar membaca diharapkan anak-anak dapat membaca dengan baik sehingga mempunyai rasa kebahasaan yang tinggi, berwawasan yang lebih luas keberagamannya dan mampu mengembangkan pola berpikir kreatif dalam dirinya. Memberikan pembelajaran membaca pada anak usia TK tetaplah melalui bermain karena bagi anak usia TK bermain adalah belajar dan belajar adalah bermain. Dumile Johanes Ndita, NSAD: 2004 (Jasni, 2007) melakukan penelitian mengenai metode bercerita di Afrika Selatan karena mempunyai perbedaan ras yang sangat mencolok. Dumile mengajarkan pendekatan metode bercerita kepada muridnya yang bertujuan untuk mengilustrasikan bagaimana metode ini berfungsi bagi muridnya untuk mentransfer pengalaman hidupnya ke dalam gambar. Seorang guru di sekolahnya akan memberikan informasi berupa cerita yang mendasar tentang kebudayaan dalam suatu komunitas yang diberikan melalui metode bercerita, sedangkan setiap murid akan menggambarkan dan menceritakan kembali arti gambar yang sedang dibuatnya. Metode ini sangat berhasil dikenalkan di Afrika Selatan di mana murid dan guru dapat menggambarkan berbagai cerita yang dialaminya dan digunakan untuk salah satu komunikasi antar ras yang satu dengan lainnya. Dari penelitian Dumile dapat dilihat hubungan antara bahasa kata atau cerita dengan metode bercerita dengan gambar. Gambar dapat mengembangkan aspek bahasa dan menjadi salah satu media komunikasi. Tuntutan pendidikan yang semakin tinggi cenderung mengacu pada „pemaksaan‟ dalam penerapan metode pembelajaran terhadap anak didik. Pendidikan awal di sekolah dasar mulai menuntut agar anak-anak sudah dapat membaca, sehingga di TK pun banyak yang menjanjikan lulusannya dapat membaca. Membaca pada anak di TK yang biasa disebut beginning-reading atau membaca dini boleh saja dilakukan melalui metode yang tepat, setelah guru mengerti dan memahami apa itu membaca dini. Pada kenyataannya, masih banyak guru TK yang mengajarkan anak-anak membaca dengan cara memaksakan atau tidak mengikuti tahap perkembangan bahasa anak. Anak-anak langsung dikenalkan dan „terpaksa‟ mengingat huruf-huruf yang diajarkan dan merangkai huruf-huruf tersebut menjadi kata ataupun kalimat yang tidak mereka pahami. Mengajarkan membaca biasanya dengan cara konvensional (mengikuti cara pengajaran membaca anak SD yang lama), setelah anak-anak dikenalkan dengan huruf-huruf, selanjutnya anak-anak langsung diajarkan membaca kata atau kalimat, misalnya: 1. baju, cara membacanya: b – a – j – u b a j u baju 2. saya makan nasi, cara membacanya: s a y a saya m a k a n makan n a s i nasi atau dengan cara: 1. Menempelkan beberap kartu kata di papan planel. 2. Guru mengajarkan secara langsung setiap kata dalam kartu kata. 3. Setiap anak diminta menyebutkan setiap kata pada kartu yang diberikan padanya.
    • Membaca bagi anak-anak TK bukanlah membaca huruf yang terangkai dan bermakna sehingga menjadi kalimat utuh sesuai EYD (ejaan yang disempurnakan) seperti orang dewasa. Kemampuan mengungkapkan secara lisan terhadap sebuah objek atau gambar (gambar ikan dibaca ikan, gambar burung dibaca burung tanpa melihat dari jenis apa) atau yang biasa disebut membaca gambar merupakan membaca bagi anak TK, karena bagi anak huruf pun merupakan gambar. Mengajar anak agar dapat memahami bahwa huruf merupakan simbol dan baru akan bermakna setelah terangkai menjadi beberapa huruf, misalnya “m-a-m-a” akan bermakna menjadi sebutan untuk ibunya setelah dirangkai utuh menjadi “mama”. Proses memberikan pemahaman itu merupakan tantangan bagi guru karena walaupun tampak sederhana, ternyata guru dituntut kembali untuk memahami apa hubungan antara bahasa kata (bahasa lisan) dengan bahasa gambar di tengah maraknya metode-metode cepat membaca yang ternyata tidak sesuai untuk anak usia TK. KONSEP PEMAHAMAN MEMBACA DINI DAN KETERKAITANNYA DENGAN METODE BERCERITA DENGAN GAMBAR A. Perkembangan Bahasa Anak 1. Pengertian Bahasa Bahasa sebagai salah satu aspek perkembangan yang harus dikembangkan pada usia TK merupakan media komunikasi agar anak dapat menjadi bagian dari kelompok sosialnya. Bahasa dapat berbentuk lisan, gambar, tulisan, isyarat, dan bilangan. Kemampuan berbahasa meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3 (2005: 88) adalah “sistem lambang bunyi yang arbiter yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri”. Badudu (Dhieni et al, 2005: 1.8) menyatakan bahwa bahasa adalah „alat penghubung atau komunikasi antara anggota masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan, dan keinginannya‟. Sedangkan Bromley (Dhieni et al, 2005: 1.8) mendefinisikan bahasa sebagai „sistem simbol yang teratur untuk mentransfer sebagai ide maupun informasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun verbal‟. 2. Perkembangan Bahasa Anak Para pendidik sangatlah penting mengetahui bagaimana cara belajar berbahasa anak, hal ini berkaitan dengan pembelajaran bahasa pada anak. Banyak para ahli berpendapat tentang faktor- faktor yang mempengaruhi berbahasa individu. Para ahli teori nativis menyatakan bahwa manusia secara natural memiliki kemampuan untuk memahami bahasa dan komunikasi. Menurut Chomsky (Berk, 2003) „… that regards language as a uniquely human accomplishment, etched into the structure of the brain…all children have a language acquisition device‟. Belajar bahasa tidak dipengaruhi oleh intelegensi ataupun pengalaman individu, individu mempunyai alat penguasaan bahasa. Pada teori kognitif, kajiannya bertolak pada pendapat bahwa anak dilahirkan dengan kemampuan berperan aktif terhadap lingkungannya. Piaget (Berk, 2003) menyatakan, „…that language is our most flexible means of mental representation. By detechting thought from action, it permits far more adept thinking than was possible earlier‟. Perkembangan bahasa terjadi pada setiap tahap perkembangan, perkembangan anak secara umum dan perkembangan bahasa awal anak berkaitan erat dengan berbagai kegiatan anak, objek dan kejadian yang dialami secara
    • langsung. Clara dan Stern (Zulkifli, TT: 35) membagi-bagikan perkembangan bahasa menjadi empat masa, di mana setiap masa setengah tahun lamanya: a. Kalimat satu kata: satu tahun s.d satu tahun enam bulan. Kata pertama yang diucapkan anak dimulai dari suara-suara raban, seperti yang kita dengar keluar dari mulut bayi. Meraban merupakan permainan dengan tenggorokan, mulut, dan bibir, supaya selaput suara menjadi lebih lembut. Pada masa ini anak cenderung mengucapkan pengulangan suara (ta-ta, mi-mi, da-da). Kemudian anak terus belajar berbicara karena dirangsang oleh “dorongan sewajarnya”, yaitu dorongan meniru suara-suara yang didengarnya (suara kucing “meong-meong, maka bila anak melihat kucing, anak akan bersuara meong-meong). Anak menghubung-hubungkan kata-kata raban dan tiruan itu dengan benda-benda lainnya sehingga diperoleh nama-nama. Sebagian besar dari kata-kata yang diucapkan anak itu belum dapat diartikan dalam arti sebenarnya. Anak menggunakan kata-kata itu untuk menyatakan keinginan dan perasaannya dengan satu-kata yang telah mempunyai arti sebagai satu kalimat (anak berkata “mama” sambil menunjuk bola, maksudnya “mama ayo kita bermain bola”). b. Masa memberi nama: satu setengah tahun s.d dua tahun. Selama beberapa bulan, perkembangan bahasa ini seakan-akan terhenti karena anak memusatkan perhatiannya untuk berjalan. Sesudah pertengahan tahun kedua, timbullah dorongan untuk mengetahui nama-nama benda. Dalam masa ini anak menyadari bahwa setiap benda mempunyai nama, sehingga anak mempunyai pertanyaan banyak sekali (apa ini? apa itu? siapa itu? kenapa?). Kalimat yang semula terdiri dari sepatah kata itu semakin lama semakin bertambah sempurna. Selanjutnya kalimat dua-kata, kalimat tiga-kata, sampai akhirnya anak dapat mengucapkan kalimat sempurna. Kadang-kadang ada gejala kesukaran berbicara, hal itu disebabkan kemajuan pikiran dan perasaannya lebih cepat berkembang dari perkembangan bahasanya, ketika jumlah perbendaharaan kata belum cukup untuk menyatakan kekayaan pikiran dan perasaannya. Untuk mengatasi hal itu, anak melengkapi bahasanya dengan gerak tangan, muka dan sebagainya. Setelah perkembangan bahasa mengalami kemajuan, pemakaian tanda-tanda itu menjadi berkurang. Bagi anak, perkataan yang termudah adalah kata benda, disusul dengan kata kerja, kemudian kata sifat. Kata sambung baru dikenal anak sesudah ia mencapai usai tiga tahun. c. Masa kalimat tunggal: dua tahun s.d dua setengah tahun. Bahasa dan bentuk kalimat semakin baik dan sempurna. Anak telah menggunakan kalimat tunggal. Dalam masa ini anak menggunakan awalan dan akhiran yang membedakan bentuk dan warna bahasanya, sehubungan dengan bentuk dan warna itu, anak memerlukan waktu untuk mempelajarinya. Selanjutnya anak mulai mampu menyatakan pendapatnya tentang perbandingan (lebih besar, lebih enak). d. Masa kalimat majemuk: dua tahun enam bulan dan seterusnya. Anak mengucapkan kalimat yang makin panjang dan makin bagus. Anak telah mulai menyatakan pendapatnya dengan kalimat majemuk. Dalam hal ini, anak sering berbuat kesalahan namun tidak berputus asa, semakin banyak pertanyaannya (menanyakan siapa, di mana, dari mana, bagaimana,
    • apa sebabnya). Lingkungan hidup turut mempengaruhi perkembangan bahasa, sehubungan dengan hal itu, jangan menirukan bahasa anak yang salah diucapkan. 3. Pengembangan Kemampuan Bahasa Anak Bahasa sebagai sarana kegiatan berkomunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia sebagai ungkapan hasil pemikiran seseorang kepada orang lain agar dapat dipahami. Depdiknas (2001: 105) fungsi pengembangan kemampuan berbahasa pada anak di TK: a. Sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan. b. Sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak. c. Sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak. d. Sebagai alat untuk mengembangkan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain. Bahasa dapat berupa bahasa lisan, yaitu bahasa yang dihasilkan dengan menggunakan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasarnya. Sugono (Dhieni et al, 2005: 4.3) dan bahasa tulisan, yaitu bahasa yang dihasilkan dengan menggunakan alat tulis . a. Kemampuan berbahasa lisan meliputi: 1) Kemampuan menyimak Menyimak merupakan kegiatan mendengarkan dengan kesengajaan, perhatian, dan usaha pemahaman akan sesuatu yang sedang disimak. Tarigan (Dhieni et al, 2005: 4.4) mempertegas bahwa: Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. 2) Kemampuan berbicara Berbicara merupakan proses dalam mengekspresikan keinginan atau menyampaikan informasi melalui suara kepada orang lain, yang mempunyai unsur fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik bahasa. b. Kemampuan berbahasa tulisan meliputi: 1) Kemampuan membaca Membaca merupakan proses dalam memahami tulisan yang bermakna. Kridalaksana (Dhieni et al, 2005: 5.3) mengemukakan bahwa membaca adalah „keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras‟. 2) Kemampuan menulis Menulis merupakan kegiatan penyampaian makna melalui kata-kata yang berbentuk simbol atau huruf. Webster new.world dictionary (Dhieni et al, 2005: 5.3) menulis diartikan sebagai „suatu kegiatan membuat pola atau menuliskan kata-kata, huruf-huruf, ataupun simbol-simbol pada suatu permukaan dengan memotong, mengukir atau menandai dengan pena ataupun pensil‟. 4. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kemampuan Bahasa Anak Setelah mengetahui tentang perkembangan bahasa anak, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru dan orang tua untuk mengetahui pengembangan dan kemampuan berbahasa anak. Prinsip-prinsip pengembangan kemampuan bahasa anak sebagaimana tertera dalam
    • Depdiknas (2000: 14): a. Pendidik lebih mengutamakan pengembangan penguasaan kosakata, kemampuan menyimak dan berkomunikasi sebelum permainan membaca diberikan. b. Mendeteksi atau melacak kemampuan awal anak dalam berbahasa. Prinsip ini dilakukan agar pendidik dapat memperhatikan perkembangan bahasa anak secara individual. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat diperoleh kemampuan berbahasa anak serta mengelompokkan berdasarkan kemampuan yang relatif sama. c. Merencanakan kegiatan bermain dan alat permainan sederhana melalui kegiatan bercakap- cakap, bercerita atau menyampaikan cerita (story telling), membacakan cerita (story reading) dan bermain peran (role play). d. Mengkomunikasikan kegiatan keberbahasaan anak pada orang tua termasuk kegiatan permainan membaca permulaan. e. Menentukan sarana permainan yang diambil dari lingkungan sekitar dan dikenal anak. f. Menggunakan perpustakaan anak sebagai sarana yang dapat merangsang dan menumbuhkan minat baca anak. g. Menata lingkungan kelas dengan berbagai kosakata dan nama benda yang memungkinkan anak melihat dan berkomunikasi tentang benda-benda itu. h. Menggunakan gambar-gambar sederhana yang dikenal anak untuk mengenalkan berbagai bentuk kata atau kalimat sederhana. Sebelum anak diajarkan membaca, guru perlu mengetahui apakah anak telah siap diajarkan membaca. Kesiapan anak membaca sangat diperlukan agar anak berhasil secara optimal dalam membaca dini. Dhieni et al (2005: 9.3) mengemukakan bahwa tanda-tanda kesiapan anak membaca untuk belajar membaca adalah: a. Anak sudah dapat memahami bahasa lisan. b. Anak sudah dapat mengucapkan kata-kata dengan jelas. c. Anak sudah dapat mengingat kata-kata. d. Anak sudah dapat mengucapkan bunyi huruf. e. Anak sudah menunjukkan minat membaca. f. Anak sudah dapat membedakan suara/bunyi dan objek-objek dengan baik. B. Membaca dini 1. Pengertian Membaca Dini Salah satu aspek yang dikembangkan dalam bahasa adalah keterampilan membaca. Potensi dasar yang harus dimiliki anak ini tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas No.2 Tahun 1989 tentang pendidikan nasional: Sistem pendidikan nasional harus dapat memberikan pendidikan dasar bagi setiap warga negara Republik Indonesia agar masing-masing memperoleh sekurang-kurangnya pengetahuan membaca, menulis, dan berhitung serta mempergunakan bahasa indonesia yang diperlukan oleh setiap warga negara untuk berbangsa dan bernegara.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3 (2005: 83) “membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya di hati)”. Membaca dini sebagai persiapan akademis bahasa anak usia TK, agar dapat membaca kata-kata sederhana atau mengetahui dan memahami kata-kata bermakna untuk
    • persiapannya memasuki tingkat pendidikan selanjutnya. Masitoh (Endah S, 2007) „membaca juga dapat diartikan menterjemahkan simbol atau gambar ke dalam suara yang dikombinasikan dengan kata-kata, kata-kata disusun agar orang lain dapat memahaminya‟. Soutgate, 1972; Steinberg, 1982; Smith, 1990; Tampubolon, 1991; Hartati, 1999 (Ruspita, 2005) membaca dini adalah „membaca yang diajarkan secara terprogram kepada anak prasekolah dan merupakan usaha mempersiapkan anak memasuki pendidikan dasar‟. Program ini menumpukan perhatian pada perkataan-perkataan utuh dan bermakna dalam konteks pribadi anak-anak. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengajarkan membaca dini dipaparkan Steinberg (Tampubolon, 1991. Enggal K, 2005) adalah: a. Materi bacaan harus terdiri atas kata-kata, frase-frase dan kalimat-kalimat. Ini berarti bahwa bacaan itu harus mempunyai makna yang dapat dipahami oleh anak. Bahan-bahan pembelajaran harus berhubungan erat dengan pengalaman anak atau yang pernah dialaminya. b. Membaca terutama didasarkan pada kemampuan memahami bahasa lisan, dengan adanya kemampuan memahami, maka memahami makna dari tulisan juga dapat dilakukan dengan mudah, kalau anak memahami makna “roti bakar”, “berenang” dalam bahasa lisan, akan mudah baginya belajar membaca dengan bahan-bahan itu (gambar), kemampuan memahami bahasa lisan adalah suatu dasar penting untuk belajar membaca dini. c. Mengajarkan membaca bukan mengajarkan aspek-aspek kebahasaan seperti tata bahasa, oleh karena itu bahan pembelajaran membaca dini haruslah yang berada dalam ruang lingkup kemampuan bahasa dan berpikir anak. d. Pengajaran membaca dini haruslah menyenangkan bagi anak, ini sesuai dengan sifat dan perkembangan anak dimana anak suka bermain dan lekas merasa bosan. Sedangkan Gray (Dalman, 1997; Budihasti, 1983; Reni Akbar-Hawadi, 2001: 36) menyebutkan beberapa komponen membaca, yaitu: a. Pengenalan kata-kata Penekanannya pada pengenalan persamaan antara apa yang diucapkan dan apa yang ditulis sebagai simbol atau decoding. b. Pengertian Selain mengenali simbol dan dapat mengucapkan, dalam membaca yang terpenting adalah mengerti apa yang dibaca. c. Reaksi Diharapkan ada reaksi terhadap hal yang dibaca. d. Penggabungan Asimilasi ide-ide yang dihadapkan dari mereka dengan pengalaman si pembaca di masa lalu. 2. Tahapan Perkembangan Membaca Dini. Berdasarkan beberapa penelitian dari Goodman, Harse et al, Smith, Taylor, Teale and sulzby dalam Raines and Canad, 1990 (Dhieni et al, 2005: 3.15) tahapan perkembangan membaca dini yaitu: a. Tahap Fantasi (magical stage) Pada tahapan ini anak sudah mulai belajar menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak-balikkan buku dan terkadang anak membawa-bawa buku
    • kesukaannya. b. Tahap Pembentukan Konsep Diri (self concept stage) Pada tahap ini anak mulai memandang dirinya sebagai pembaca dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan. c. Tahap Membaca Gambar (bridging reading stage) Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalkan serta sudah mengenal abjad. d. Tahap Pengenalan Bacaan (take-off reader stage) Pada tahap ini anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak tertarik pada bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pada konteksnya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi atau papan iklan. e. Tahap Membaca Lancar Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas. Menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan- bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin mudah dibaca. Achir (Reni Akbar-Hawadi, 2001: 37) menerangkan secara jelas perkembangan minat membaca pada anak, yaitu: a. Usia 1-3 tahun Pada usia 1-3 tahun anak cenderung merobek kertas untuk itu dianjurkan agar buku yang digunakan adalah dari plastik atau bahan yang kain yang selain kuat, tidak mudah rusak juga dapat dicuci, sedangkan untuk isi bacaannya disarankan yang setiap halamannnya hanya mengandung satu macam benda berikut namanya. Benda dan namanya dalam format besar dengan warna yang cerah. Selain membeli, dapat juga membuat sendiri dengan memulai dari pengenalan nama anggota keluarga. Caranya adalah menempelkan foto ukuran kartu pos dan menuliskan nama yang ada dalam foto itu di sampingnya dengan memakai huruf besar semua. Cara lain yang cukup efektif adalah melalui gambar-gambar iklan, baik yang ada di majalah maupun di papan iklan di jalan-jalan. Biasanya, gambar iklan dibuat dengan huruf yang jelas dan besar-besar serta memakai warna yang mencolok. Untuk itu pilihlah majalah atau koran yang sudah tidak terpakai. Anak pasti senang, gembira serta antusias belajar mengenal huruf itu, ibu atau ayah senantiasa ada di samping anak. Pemberian reward amat efektif dan paling dianjurkan agar anak tetap terangsang bermain mencari huruf pada iklan-iklan tersebut ataupun buku yang dimilikinya. b. Usia 3-5 tahun Buku untuk anak di atas usia tiga tahun sudah bisa dengan beberapa kata (kalimat) yang merupakan gagasan. Namun, tetap dengan ilustrasi gambar yang menarik, warna yang ceria serta format yang besar. Di sini bacaan sudah dapat memancing keterlibatan emosi anak dan mudah
    • dalam menemukannya dalam dunianya sehari-hari. Usia 3-5 tahun anak sudah duduk di TK, pengalaman mereka relatif lebih banyak, demikian pula penguasaan bahasa jauh lebih baik. Sebab itu, bacaan yang diberikan bisa agak panjang. Dengan jangka konsentrasi yang sudah lebih panjang, jenis bacaan bagi anak pun lebih banyak memikat gagasan yang sedikit kompleks. Haruslah diingat pula bahwa anak sudah lebih kritis, sehingga kita juga harus lebih serius dan hati-hati di dalam membacakan buku. Maksudnya, anak tidak bisa lagi menerima kita menggunakan bahasa sehari-hari dengan kreativias kita sendiri. Sebaliknya, kita dituntut membaca persis sesuai dengan bahasa dalam buku. Hal ini ada baiknya, sebab anak akan mendengarkan langsung bahasa yang baik. Di samping itu, anak pun diperluas dan diperkaya kosa katanya melalui buku tersebut. Jenis cerita yang digemari untuk anak adalah yang bersifat fancy. Sebaiknya ukuran buku (formal) kurang lebih 21,0 x 29,7 cm. c. Usia 5-7 tahun Fokus perkembangan anak pada usia 5-7 tahun ada pada dunia akademis dan intelektual. Untuk periode ini yang menonjol adalah banyaknya kata-kata, gagasan-gagasan, konsep-konsep yang merupakan representasi dari hal-hal yang telah dialami dan disimpan secara mental, baik melalui pengalaman atau yang diterima secara tidak langsung. Macam buku yang diberikan sudah bisa dalam format 17,6 x 25,0 cm dengan isi cerita yang matang. d. Usia 7-9 tahun Perkembangan intelektual anak usia 7-9 tahun diarahkan pada bagaimana sekolah melihat sesuatu itu penting sehingga kita berupaya menyelaraskan dengan apa yang dituntut oleh sekolah. Untuk itu, buku-buku yang cocok pada anak juga merupakan sesuatu yang membantu pelajaran di sekolahnya dalam lingkup sains dan teknologi, tentang ruang angkasa, hujan, angin, suara dan sebagainya. Cerita-cerita yang merangsang imajinasi anak dan memberi kesan action juga digemari pada usia ini. Format buku masih 17,6 x 25,0 cm di mana huruf tidak terlalu kecil dan jarak satu huruf dengan huruf lainnya tidak terlalu dekat. Pengembangan dan kemampuan membaca dapat dilaksanakan guru pada anak, bila anak telah memiliki kesiapan membaca dini. Pee Tzu Pung (Mudayanti, 2006) menjelaskan bahwa perilaku kesiapan membaca dini dapat diperlihatkan anak sebagai berikut: a. Rasa ingin tahu tentang benda-benda di dalam lingkungan, manusia, proses dan sebagainya. b. Mampu untuk menterjemahkan atau membaca gambar dengan mengidentifikasikannya dan menggambarkannya. c. Menyeluruh dalam pembelajaran anak. d. Melalui kemampuan berkomunikasi dengan bahasa percakapan khususnya dengan kalimat. e. Memiliki kemampuan untuk membedakan persamaan dan perbedaan dalam dan suara secara cukup baik untuk mencocokkan satu suara dengan yang lainnya. f. Keinginan untuk belajar membaca. g. Memiliki kematangan emosional yang cukup untuk dapat berkonsentrasi dan terus menerus dalam suatu tugas. h. Memiliki kepercayaan diri dan stabilitas emosi.
    • Sedangkan menurut Departement of School Education Victoria, 1992 (Mashitoh, 2004; Mudayanti, 2006) belajar membaca adalah suatu perkembangan yang alami apabila anak: a. Mempunyai banyak pengalaman menyenangkan dengan membaca. b. Memahami bahwa ide-ide dan kejadian-kejadian penting yang direkam dalam cetakan. c. Memahami orang lain dapat membagi pengalamannya melalui bahan cetak dan mereka dapat berbagi pengalaman pada orang lain. d. Senang dan menikmat ide-ide dari suatu teks dan bahasa yang mana ide-ide tersebut dapat diekspresikan. 3. Keunggulan Membaca Dini Memotivasi anak dalam kegiatan membaca dini mempunyai banyak keunggulan. Steinberg (Dhieni et al, 2005: 5.2) mengemukakan bahwa setidaknya ada empat keuntungan mengajar anak membaca dini dilihat dari proses belajar-mengajar: a. Belajar membaca dini memenuhi rasa ingin tahu anak. b. Situasi akrab dan informal di rumah dan di KB atau TK merupakan faktor yang kondusif bagi anak untuk belajar. c. Anak-anak yang berusia dini pada umumnya perasa dan mudah terkesan, serta dapat diatur. d. Anak-anak yang berusia dini dapat mempelajari sesuatu dengan mudah dan cepat. Hartati (Ruspita, 2005) juga mengemukakan pengenalan membaca dini memberikan banyak keunggulan, diantaranya: a. Memenuhi rasa ingin tahu anak. b. Situasi akrab dan informal di rumah, di TK merupakan faktor yang kondusif bagi anak untuk belajar. c. Anak-anak yang berusia dini pada umumnya perasa, suka meniru, mudah terkesan serta mudah diatur. d. Anak-anak yang berusia dini dapat mempelajari sesuatu dengan mudah dan cepat. e. Secara umum pembelajaran membaca dini akan mendatangkan dampak terhadap pendidikan anak-anak dalam semua bidang pengetahuan, sehingga masyarakat akan mendapat faedah yang besar dari usaha tersebut. Leonhardt (Alwiyah A, 1997; Endah S, 2007) memberikan sepuluh alasan mengapa kita harus menumbuhkan cinta baca kepada anak : a. Anak-anak harus gemar membaca agar dapat membaca dengan baik. b. Anak-anak yang gemar membaca akan mempunyai rasa kebahasaan yang lebih tinggi. c. Membaca akan memberikan wawasan yang lebih luas keberagamannya yang membuat belajar dalam segala hal lebih mudah. d. Di SMU (sekolah menengah umum) hanya anak-anak yang gemar membacalah yang mempunyai keterampilan bahasa untuk menjadi unggul dalam setiap bidang yang memerlukan banyak membaca, seperti dalam tingkatan kemampuan memahami bahasa yang sulit, bahasa asing, sejarah dan sains. e. Kemampuan istimewa membaca kemungkinan dapat mengatasi rasa tidak percaya diri anak terhadap kemampuan akademik mereka karena mereka akan mampu menyesuaikan pekerjaan sekolah mereka dengan menyediakan sedikit waktu dan emosional mereka.
    • f. Kegemaran membaca akan memberikan beragam perspektif kepada anak. g. Mambaca dapat membantu anak-anak untuk memiliki rasa kasih sayang. h. Anak-anak yang gemar membaca dihadapkan pada suatu dunia yang penuh dengan kemungkinan dan kesempatan. i. Anak-anak yang gemar membaca akan mampu mengembangkan pola pikir kreatif dalam diri mereka. j. Kecintaan membaca adalah salah satu kebahagiaan dalam hidup. C. Metode Bercerita dengan Gambar 1. Pengertian Metode Bercerita Bercerita atau yang biasa disebut mendongeng, merupakan seni atau teknik budaya kuno untuk menyampaikan suatu peristiwa yang dianggap penting, melalui kata-kata, imaji dan suara-suara (Ismoerdijahwati K, 2007). Dongeng atau cerita telah ada dalam banyak kebudayaan dan daerah sebagai hiburan, pendidikan, pelestarian kebudayaan dan menyimpan pengetahuan serta nilai-nilai moral. Bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat peraga atau tanpa alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau hanya sebuah dongeng yang untuk didengarkan dengan rasa menyenangkan, oleh karena itu orang yang menyajikan cerita tersebut harus menyampaikannya dengan menarik (Dhieni et al, 2005: 6.3). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 210) cerita adalah: Tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal atau peristiwa atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman kebahagiaan atau penderitaan orang, kejadian tersebut sungguh-sungguh atau rekaan. Berdasarkan pengertian di atas, maka cerita anak dapat didefinisikan “tuturan lisan, karya bentuk tulis atau pementasan tentang suatu kejadian, peristiwa, dan sebagainya yang terjadi di seputar dunia anak (Musfiroh et al, 2005: 59). Sedangkan Depdiknas (2004: 12) mendefinisikan bahwa “metode bercerita adalah cara bertutur kata dalam penyampaian cerita atau memberikan penjelasan kepada anak secara lisan”, dalam upaya memperkenalkan ataupun memberikan keterangan hal baru pada anak. 2. Cerita yang Sesuai dengan Perkembangan Anak Kegiatan bercerita memberikan nilai pembelajaran yang banyak bagi proses belajar dan perkembangan anak serta dapat menumbuhkan minat dan kegemaran membaca, Jensen (Solehuddin, 2000: 91) “membacakan cerita dengan nyaring kepada anak secara substansial dapat berkontribusi terhadap pengetahuan cerita anak dan kesadarannya tentang membaca”. Solehuddin (2000: 90): Di samping dapat menciptakan suasana menyenangkan, bercerita dapat mengundang dan merangsang proses kognisi, khususnya aktivitas berimajinasi, dapat mengembangkan kesiapan dasar bagi perkembangan bahasa dan literacy, dapat menjadi sarana untuk belajar, serta dapat berfungsi untuk membangun hubungan yang akrab. Cerita bagi anak-anak harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Tampubolon (Dhieni, 2005: 6.9) “ isi cerita hendaknya sesuai dengan tingkatan pikiran dan pengalaman anak”. Bercerita sesuai dengan perkembangan anak dalam konsep Development Appropriate Practice (DAP) dari The National Association for The Education of Young Children (NAEYC), yaitu bercerita sesuai
    • dengan pedoman pendidikan anak (Musfiroh, et al, 2005: 3), cerita yang dimaksud mengandung beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi oleh para pendidik, yakni: a. Memahami pengertian dan permasalahan seputar cerita dan bercerita. Pada konsep ini, pendidik perlu memastikan apa pengertian bercerita, apa perbedaannya mendongeng, serta bagaimana konsep penyajian bercerita yang mendukung perkembangan anak dalam berbagai aspeknya. b. Memahami asumsi dasar anggapan perkembangan anak. Pendidik perlu menyadari bahwa anak berkembang menurut fase-fase tertentu. Anak usia 4-7 tahun berada pada fase praoprasional dengan ciri perkembangan yang berbeda dengan anak-anak di atas usia itu. c. Memahami arti dan tugas perkembangan anak. Pada masa TK, anak-anak perlu diperkenalkan konsep baik buruk melalui contoh agar membantu mereka mencapai tugas perkembangan moral usia tersebut. d. Memahami domain dan teori perkembangan yang dianut. Guru perlu mengetahui mengenai teori perkembangan dan meyakininya agar dalam praktik bercerita (khususnya) dan pembelajaran (umumnya) tidak buta arah. Setiap teori perkembangan memiliki karakteristik yang membedakannya dengan teori yang lain. e. Memahami konsep belajar dan mengajar. Pencerita perlu memahami bahwa anak belajar bukan melalui ceramah, tetapi melalui keaktifan dan interaksi aktif anak dengan materi belajar. Melalui cerita, anak melibatkan diri secara aktif, senang hati dan bermotivasi intrinsik untuk membangun konsep “baik-buruk”, “benar-salah”, “tepat-tidak” yang tersaji dalam cerita. f. Memahami konsep “sesuai perkembangan” dalam pedoman praktik pembelajaran atau Development Appropriate Practic (DAP). Pendidik perlu menyadari bahwa cerita seyogyanya disesuaikan dengan taraf perkembangan anak, meliputi abilitas anak dalam berbahasa, berpikir, bersosial-emosi, motorik dan moral, tanpa pemahaman ini cerita akan menjadi terlalu sulit (sehingga tidak dimengerti anak) atau terlalu mudah (membosankan bagi anak). 3. Bentuk-Bentuk Metode Bercerita Untuk Anak Pada pelaksanaannya metode bercerita dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: a. Bercerita tanpa alat peraga Di mana pada pelaksanaannya tanpa menggunakan alat peraga sebagai media bercerita dan guru harus memperhatikan ekspresi wajah, gerak-gerik tubuh, dan suara guru harus dapat membantu fantasi anak untuk mengkhayalkan hal-hal yang diceritakan guru. b. Bercerita dengan alat peraga Di mana pada pelaksanaannya menggunakan alat peraga sebagai media penjelas dari cerita yang didengarkan anak, sehingga imajinasi anak terhadap suatu cerita tidak terlalu menyimpang dari apa yang dimaksudkan oleh guru. Alat peraga yang digunakan dapat berupa: 1) Alat peraga langsung, yaitu menggunakan benda asli atau benda sebenarnya (misalnya: kelinci, kembang, piring) agar anak dapat memahami isi cerita dan dapat melihat langsung ciri-ciri serta kegunaan dari alat tersebut.
    • 2) Alat peraga tak langsung, yaitu menggunakan benda-benda yang bukan alat sebenarnya. Bercerita dengan alat peraga tak langsung dapat berupa: a) Bercerita dengan benda-benda tiruan. Guru menggunakan benda-benda tiruan sebagai alat peraga (misalnya: binatang tiruan, buah- buahan tiruan, sayuran tiruan). Benda-benda tiruan tersebut hendaknya mempunyai proporsi bentuk dan warna yang sesuai dengan aslinya. b) Bercerita dengan menggunakan gambar-gambar. Guru menggunakan gambar sebagai alat peraga dapat berupa gambar lepas, gambar dalam buku atau gambar seri yang terdiri dari 2 sampai 6 gambar yang melukiskan jalannya cerita. c) Bercerita dengan menggunakan papan flanel. Guru menggunakan papan flanel untuk menempelkan potongan-potongan gambar yang akan disajikan dalam suatu cerita. d) Membacakan cerita. Guru menggunakan buku cerita dengan tujuan agar minat anak terhadap buku semakin bertambah. e) Sandiwara boneka. Guru menggunakan berbagai macam boneka yang akan dipentaskan dalam suatu cerita. 4. Metode Bercerita dengan Gambar Metode bercerita dengan gambar merupakan salah satu cara yang paling mendasar untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan membina hubungan interaksi dengan anak-anak. Pada usia anak- anak, kemampuan bahasa kata (bahasa lisan) belum cukup dikuasainya, dan bahasa tulisan pun masih dalam proses, tetapi anak sudah mempunyai kemampuan bahasa rupa (bahasa gambar). Melalui seluruh kemampuan yang dimilikinya, yaitu perpaduan antara bahasa kata dan bahasa gambar, anak jadi mengerti apa yang dikatakan orang lain kepadanya. Hal ini disebabkan, oleh anak apa yang dikatakan orang lain diimajinasikannya dengan apa yang diinginkan orang tersebut. Depdiknas (2001: 18) mengungkapkan bahwa metode bercerita dengan gambar merupakan “bentuk bercerita dengan alat peraga tak langsung yang menggunakan gambar-gambar sebagai alat peraga dapat berupa gambar lepas, gambar dalam buku atau gambar seri yang terdiri dari 2 sampai 6 gambar yang melukiskan gambar ceritanya”. 5. Tujuan Metode Bercerita dengan Gambar Pada usia 4-6 tahun, anak-anak mulai dapat menikmati sebuah cerita pada saat ia mengerti tentang peristiwa yang terjadi di sekitarnya dan mampu mengingat beberapa berita yang diterimanya. Hal ini menurut Depdiknas (2005: 5) ditandai oleh berbagai kemampuan sebagai berikut: a. Mampu menggunakan kata ganti saya dan berkomunikasi. b. Memiliki berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan, kata tanya, dan kata sambung. c. Menunjukkan pengertian dan pemahaman tentang sesuatu. d. Mampu mengungkapkan pikiran, perasaan dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana. e. Mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar. Bercerita bagi anak usia dini bertujuan agar anak mampu mendengarkan dengan berkonsentrasi dan mengekspresikan perasaannya terhadap apa yang diceritakan. Adapun tujuan diberikannya
    • metode bercerita menurut Depdiknas (Depdiknas, 2001: 19) yaitu : a. Melatih daya tangkap anak. b. Melatih daya pikir anak. c. Melatih daya konsentrasi anak. d. Membantu perkembangan fantasi atau imajinasi anak. e. Menciptakan suasana menyenangkan dan akrab di dalam kelas. 6. Manfaat Bercerita dengan Gambar Kegiatan bercerita selain membantu perkembangan bahasa anak, juga dapat membangun hubungan yang erat antara guru dan anak. Melalui bercerita, guru berinteraksi secara akrab dan penuh kasih sayang dengan anak-anak. Penelitian Ferguson (Solehuddin, 2000: 92) pun menunjukkan bahwa anak-anak yang dibacakan kepada mereka cerita-cerita semasa di TK memperoleh skor lebih tinggi dalam tes keterampilan membaca daripada anak-anak lainnya. Beberapa manfaat metode bercerita dengan gambar bagi anak TK (Dhieni et al, 2005: 6.6) : a. Melatih daya serap atau daya tangkap anak TK, artinya anak usia TK dapat dirangsang, untuk mampu memahami isi atau ide-ide pokok dalam cerita secara keseluruhan. b. Melatih daya pikir anak TK, untuk terlatih memahami proses cerita, mempelajari hubungan bagian-bagian dalam cerita termasuk hubungan-hubungan sebab-akibatnya. c. Melatih daya konsentrasi anak TK, untuk memusatkan perhatiannya kepada keseluruhan cerita, karena dengan pemusatan perhatian tersebut anak dapat melihat hubungan bagian-bagian cerita sekaligus menangkap ide pokok dalam cerita. d. Mengembangkan daya imajinasi anak, artinya dengan bercerita anak dengan daya imajinasinya dapat membayangkan atau menggambarkan suatu situasi yang berada di luar jangkauan inderanya bahkan yang mungkin jauh dari lingkungan sekitarnya, ini berarti membantu mengembangkan wawasan anak. e. Menciptakan situasi yang menggembirakan serta mengembangkan suasana hubungan yang akrab sesuai dengan tahap perkembangannya, anak usia TK senang mendengarkan cerita terutama apabila gurunya menyajikannya dengan menarik. f. Membantu perkembangan bahasa anak dalam berkomunikasi secara efektif dan efesien sehingga proses percakapan menjadi komunikatif. 7. Tehnik Bercerita dengan Gambar Kegiatan bercerita dengan gambar dapat menggunakan gambar lepas atau 1 gambar atau gambar seri terdiri 2-4 gambar yang meluruskan jalan cerita dengan ukuran tertentu dan tehnik sebagai berikut (Dhieni et al, 2005: 6.28): a. Kegiatan bercerita dengan gambar lepas atau 1 gambar. 1) Ketentuan kegiatan bercerita dengan gambar lepas atau 1 gambar: a) Judul cerita singkat dan menarik bagi anak didik. b) Cerita singkat dan sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang ada di lingkungan anak. c) Menggunakan gaya bahasa anak. d) Gambar dibuat dalam ukuran 1 karton 60×60 cm. e) Gambar menggambarkan tokoh yang sedang bereaksi, merupakan hal yang menarik dari satu cerita.
    • f) Gambar dibuat sesuai dengan tahap perkembangan anak. g) Gambar diberi warna yang menarik dan tidak mengaburkan imajinasi anak. h) Isi cerita ditulis pada bagian belakang gambar. 2) Langkah-langkah pelaksanaan: a) Anak mengatur posisi duduknya. b) Anak memperhatikan guru menyiapkan alat peraga. c) Anak termotivasi mendengarkan cerita. d) Anak diberi kesempatan memberi judul cerita. e) Anak melengkapi judul cerita dari anak. f) Anak mendengarkan cerita guru sambil memperhatikan gambar yang guru perlihatkan. g) Setelah selesai bercerita, anak memberikan kesimpulan isi cerita. h) Guru melengkapi kesimpulan tentang isi cerita dari anak. 3) Evaluasi: Setelah selesai bercerita, guru bertanya tentang isi cerita, tokoh dalam cerita, isi gambar dan memberi kesempatan pada satu atau dua orang anak untuk menceritakan kembali cerita tersebut. b. Kegiatan bercerita dengan gambar menggunakan 2 gambar. 1) ketentuan kegiatan bercerita dengan gambar menggunakan 2 gambar: a) Judul cerita singkat dan menarik bagi anak didik. b) Ada cover cerita. c) Menggunakan gaya bahasa anak. d) Cerita singkat dan sarat dengan nilai-nilai kehidupan, sosialisasi dan lingkungan anak. e) Isi cerita kesatu dan kedua berkaitan. f) Gambar dibuat pada karton, berukuran 50×30 cm, sebanyak 2 lembar, antara gambar kesatu dan kedua diberi lakban/benang agar mudah pada saat membalikkan gambar. g) Gambar diberi warna yang menarik dan tidak mengaburkan imajinasi anak. h) Gambar 1 menggambarkan situasi tokoh sedang bereaksi awal suatu cerita. i) Gambar 2 menggambarkan situasi tokoh sedang bereaksi di akhir cerita. j) Isi cerita ditulis pada bagian belakang cover. 2) Langkah-langkah pelaksanaan: a) Dengan bimbingan guru, anak mengatur posisi duduknya. b) Anak memperhatikan guru pada saat menyiapkan alat peraga. c) Anak termotivasi untuk mendengarkan cerita guru. d) Anak diberi kesempatan memberikan judul cerita. e) Guru memberi tahu judul cerita. f) Guru bercerita sambil memegang gambar dan memperlihatkannya pada anak didik. g) Setelah selesai bercerita, guru memberikan kesimpulan. 3) evaluasi: Setelah selesai bercerita, guru bertanya tentang isi cerita, tokoh dalam cerita, isi gambar dan memberi kesempatan pada satu atau dua orang anak untuk menceritakan kembali cerita tersebut. c. Kegiatan bercerita dengan gambar menggunakan 3 gambar. 1) ketentuan kegiatan bercerita dengan gambar menggunakan 3 gambar:
    • a) Judul cerita singkat dan menarik bagi anak didik. b) Ada cover cerita. c) Menggunakan gaya bahasa anak. d) Cerita singkat dan sarat dengan nilai-nilai kehidupan, sosialisasi dan lingkungan anak. e) Isi berurutan dan berkaitan dari gambar kesatu sampai dengan ketiga. f) Gambar dibuat pada karton berukuran 30×25 cm sebanyak 3 lembar, antara gambar ke-1, ke-2, ke-3 diberi lakban agar mudah pada saat membalikkan gambar. g) Gambar diberi warna yang menarik dan tidak mengaburkan imajinasi anak h) Gambar kesatu menggambarkan situasi tokoh yang sedang bereaksi, di awal cerita. i) Gambar kedua menggambarkan situasi tokoh di tengah cerita. j) Gambar ketiga adalah gambar akhir sebuah cerita. k) Isi cerita dapat ditulis pada bagian belakang cover. 2) langkah-langkah pelaksanaan: a) Dengan bimbingan guru, anak mengatur posisi duduknya. b) Anak memperhatikan guru pada saat menyiapkan alat peraga. c) Anak termotivasi untuk mendengarkan cerita guru. d) Anak diberi kesempatan memberikan judul cerita. e) Anak mendengarkan cerita guru dan memperhatikan gambar yang diperlihatkan oleh guru. f) Anak mendengarkan guru bercerita secara berurutan sesuai gambar yang dipegang ke-1, ke-2, dan ke-3 pada saat cerita gambar kesatu gambar kedua dan ketiga tidak diperlihatkan, begitupun ketika bercerita ke-2 gambar ke-1 tidak diperlihatkan. g) Setelah selesai bercerita seluruh gambar dari ke-1 sampai dengan ke-3 diperlihatkan kepada anak. h) Anak diberi kesempatan untuk memberi kesimpulan isi cerita. i) Guru melengkapi kesimpulan cerita anak. 3) Evaluasi: Setelah selesai bercerita, guru bertanya tentang isi cerita, tokoh dalam cerita, isi gambar dan memberi kesempatan pada satu atau dua orang anak untuk menceritakan kembali cerita tersebut. d. Kegiatan bercerita dengan gambar menggunakan 4 gambar. 1) ketentuan kegiatan bercerita dengan gambar menggunakan 4 gambar: a) Judul cerita singkat dan menarik bagi anak didik. b) Ada cover cerita. c) Menggunakan gaya bahasa anak. d) Cerita singkat dan sarat dengan nilai-nilai kehidupan, sosialisasi dan lingkungan anak. e) Isi berurutan dan berkaitan dari gambar kesatu sampai dengan keempat. f) Gambar dibuat pada karton berukuran 30×25 cm sebanyak 4 lembar, antara gambar ke-1, ke-2, ke-3 dan ke-4 diberi lakban agar mudah pada saat membalikkan gambar. g) Gambar diberi warna yang menarik dan tidak mengaburkan imajinasi anak. h) Gambar kesatu menggambarkan situasi tokoh yang sedang bereaksi pada awal suatu cerita. i) Gambar kedua menggambarkan situasi tokoh dalam cerita sedang bereaksi pada proses isi cerita.
    • j) Gambar ketiga menggambarkan situasi tokoh dalam cerita yang menunjukkan ke akhir cerita. k) Gambar keempat menggambarkan situasi tokoh dalam akhir cerita. l) Isi cerita ditulis pada bagian belakang cover. 2) Langkah-langkah pelaksanaan: a) Dengan bimbingan guru, anak mengatur posisi duduknya. b) Anak memperhatikan guru pada saat menyiapkan alat peraga. c) Anak termotivasi untuk mendengarkan cerita guru. d) Anak diberi kesempatan memberikan judul cerita. e) Anak mendengarkan cerita guru dan memperhatikan gambar yang diperlihatkan oleh guru. f) Anak mendengarkan guru bercerita secara berurutan sesuai gambar yang dipegang ke-1, ke-2, ke-3 dan ke-4 pada saat cerita gambar kesatu gambar ke-1 dan ke-3 tidak diperlihatkan, begitupun ketika bercerita ke-2 gambar ke-1 tidak diperlihatkan. g) Setelah selesai bercerita seluruh gambar dari ke-1 sampai dengan ke-4 diperlihatkan kepada anak. h) Anak diberi kesempatan untuk memberi kesimpulan isi cerita. i) Guru melengkapi kesimpulan cerita anak. 3) Evaluasi: Setelah selesai bercerita, guru bertanya tentang isi cerita, tokoh dalam cerita, isi gambar dan memberi kesempatan pada satu atau dua orang anak untuk menceritakan kembali cerita tersebut. 8. Metode Bercerita dengan Gambar dan Kaitannya dengan Peningkatan Membaca Dini Bahasa gambar dan bahasa kata mempunyai hubungan yang erat bagi perkembangan membaca dini anak, Tabrani (2005: 36-37) mengungkapkan bagaimana hubungan gambar dan kata: …metode bercerita dengan gambar dari gambar-gambar itu jelas pesannya hingga tidak mudah disalahtafsirkan dan tradisi dapat dipertahankan untuk waktu yang sangat lama dan hanya sedikit mengalami perubahan. Hal ini menunjukkan manusia prasejarah yang menciptakan metode bercerita dengan gambar gambar prasejarah hingga memungkinkan terjadinya komunikasi dengan metode bercerita dengan gambar itu memiliki kemampuan berfikir abstrak dengan gambar khususnya imaji konkrit indera lainnya umumnya: raba-rasa-gerak-dengar-rupa- dan sebagainya. Kemudian berkembang tercipta lagi tulisan yang bermula sebagai pictograph gambar yang disederhanakan menjadi tulisan yang terus berkembang . Berpikir bukan hanya dengan bahasa kata, tetapi juga dengan bahasa rupa (bahasa gambar), kedua kegiatan ini sebenarnya sekaligus bercerita atau membaca melalui bahasa rupa (gambar) dan bahasa kata (tulisan). Membacakan cerita yang menarik pada anak akan membuat anak menjadi tahu bahwa dalam cerita atau bacaan itu ada sesuatu hal yang menarik baginya, sehingga anak ingin lebih mengetahui sendiri apa yang terdapat dalam cerita tersebut. Hal ini sama artinya dengan menumbuhkan minat membaca anak dan meningkatkan kegemaran membacanya semakin baik. Ferguson (Solehuddin, 2000: 91) dalam penelitiannya pada tahun 1979 menunjukkan bahwa anak-anak yang dibacakan kepada mereka cerita-cerita semasa di TK, memperoleh skor lebih tinggi dalam tes keterampilan membaca daripada anak-anak yang berpartisipasi dalam aktivitas baca-tulis awal lainnya.
    • A. Rekomendasi Berdasarkan penulisan ini, ada beberapa hal yang perlu direkomendasikan atau saran untuk dijadikan bahan pertimbangan serta masukan bagi pihak yang akan menerapkan metode bercerita dengan gambar dalam meningkatkan kemampuan membaca dini anak TK antara lain: 1. Bagi guru: a. Sesuai dengan hasil penelitian, hendaknya guru dapat menerapkan metode bercerita dengan gambar dalam meningkatkan kemampuan membaca dini, hal. b. Meningkatkan kegiatan belajar mengajar melalui metode bercerita dengan gambar. c. Menyediakan buku-buku bergambar yang dapat menarik perhatian anak untuk membacanya. d. Menceritakan buku bergambar sambil menerangkan tulisan sederhana yang terdapat dalam buku. e. Memotivasi anak dalam meningkatkan kemampuan membaca dini anak melalui metode bercerita dengan gambar. 2. Bagi lembaga TK: a. Memfasilitasi media pembelajaran bagi guru dalam penggunaan metode bercerita dengan gambar. b. Memotivasi dan memberikan pelatihan-pelatihan bercerita dengan gambar, agar guru dalam meningkatkan kemampuan membaca dini anak melalui metode bercerita dengan gambar dapat dilakukan dengan tepat dan benar. c. Menyediakan perpustakaan kelas dengan buku-buku bergambar yang beragam dan dapat menarik perhatian anak untuk membacanya. 3. Bagi orang tua dan pemerhati pendidikan: a. Mengembangkan aspek perkembangan bahasa anak terutama membaca dini melalui metode bercerita dengan gambar. b. Mengefektifkan manfaat metode bercerita dengan gambar untuk menstimulasi aspek perkembangan bahasa anak usia dini. c. Memperbanyak penggunaan buku bergambar untuk meningkatkan kemampuan membaca dini anak. 4. Bagi peneliti selanjutnya Bagi peneliti yang akan datang hendaknya dapat mengkaji dan menelaah metode bercerita secara lebih luas, baik dilihat dari isi cerita, media yang digunakan, maupun penyampaiannya agar penerapan metode bercerita dengan gambar semakin tepat dan sempurna untuk dunia pendidikan taman kanak-kanak.