Pkp ut raha

582 views
405 views

Published on

Published in: Government & Nonprofit
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
582
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
11
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pkp ut raha

  1. 1. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar pada prinsipnya belajar adalah usaha memperoleh perubahan tingkah laku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama dari proses belajar adalah ada-nya perubahan tingkah laku dalam diri individu. Artinya seseorang yang telah mengalami belajar akan berubah tingkah lakunya. Tujuan belajar pada hakikat-nya adalah proses perubahan kepribadian meliputi kecakapan, sikap, kebiasaan dan kecerdasan. Perubahan itu bersifat menetap dalam tingkah laku sebagai hasil latihan atau pengalaman. Tingkah laku ini dapat diperoleh melalui proses pembe-lajaran yang dilakukan oleh guru. Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan sumber belajar dan siswa dengan guru. Kegiatan pembelaja- ran akan bermakna bagi siswa jika dilakukan dalam lingkungan yang aman dan nyaman. Belajar bermakna adalah proses dikaitkannya informasi baru terhadap konsep- konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil peristiwa mengajar ditandai terjadinya hubungan antar aspek, konsep, informasi atau situasi dengan komponen-komponen yang relevan dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep atau fakta belaka, tetapi lebih merupakan kegiatan internalisasi antar konsep guna menghasilkan pemahaman yang utuh. Agar tercapai pembelajaran bermakna, guru harus berusaha mengeta- hui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan memadukannya dengan pengetahuan baru. Dengan kata lain, belajar lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan cara mengaktifkan secara maksimal potensi inderawi mereka dari pada hanya mendengarkan.
  2. 2. Dalam proses pembelajaran perlu dikembangkan antara kedaulatan siswa de- ngan otoritas pendidik (guru), antara pembentukan kemampuan mempertanyakan dan kesediaan melestarikan. Dengan terbentuknya kemampuan mempertanyakan dan kesediaan menerima nilai-nilai lingkungan dalam jalinan yang selaras akan terbentuk masyarakat belajar, masyarakat yang dapat menghadapi segala peru- bahan dan permasalahan dengan sikap terbuka dan mempunyai pendekatan yang kreatif tanpa kehilangan sifat-sifat dasarnya, tanpa kehilangan jati dirinya (Raka Joni, dalam Cony R. Semiawan (ed), 1991: 117). Bertolak dari hal ini maka pera- nan kunci guru adalah melakukan pengendalian. Salah satu realitas dalam pendidikan kita yang sukar diingkari dewasa ini adalah lemahnya peran guru dalam pengembangan potensi pribadi siswa. Sebagian besar yang dillakukan oleh guru tidak lain dari pada menyajikan pengetahuan jadi yang harus diketahui dan dihafalkan oleh siswa. Fenomena seperti ini sudah merupakan tradisi di perseko-lahan khususnya pembelajaran IPS di sekolah dasar (SD). Iklim pembelajaran IPS d SD masih sarat dengan pengajaran yang bersifat konseptual. Soeparjo Suwarma, (1991) menemukan adanya anggapan di kala-ngan siswa bahwa mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang menjemu-kan dan kurang menantang minat belajar siswa, bahkan dipandang sebagai mata pelajaran kelas dua. Lebih lanjut Suwarma (1991) mengemukakan bahwa, “kondisi pembelajaran IPS di sekolah belum mampu memberikan sesuatu yang bermakna bagi siswa”. Fenomena seperti yang dikemukakan tersebut di atas sudah merupakan tradisi pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran IPS, sebagai-mana pula dalam proses pembelajaran IPS yang terjadi pada SD Negeri 05 Poasia Kota Kendari. Kondisi pembelajaran seperti ini berdampak pada hasil belajar siswa. Dari dokumen guru kelas V SDN 05 Poasia Kota Kendari tahun ajaran 2012/2013 berupa hasil ulangan harian, khususnya materi kegiatan per- ekonomian di Indonesia menunjukan dari 27 siswa terdapat 17 siswa atau 62,
  3. 3. 96% siswa yang berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang dite- tapkan untuk mata pelajaran IPS yaitu “70”. Kenyataan tersebut disebabkan karena guru dalam mengajarkan IPS belum mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa pada hal-hal yang bersifat problematis. Oleh sebab itu guru dalam merancang pembelajaran IPS perlu me- nyajikan hal-hal yang bersifat menantang. Karena sifat dari pembelajaran IPS adalah memberikan pengetahuan fungsional terhadap siswa agar mampu meme- cahkan masalah sosial yang dihadapi seiring dengan perkembangan dan perubah- an social yang multi kompleks. Dalam pembelajaran IPS guru dituntut untuk mampu menstimuli siswa untuk berpikir reflektif, artinya bagaimana guru merancang pembelajarannya agar siswa aktif, kreatif dan tanggap akan berbagai permasalahan yang ada, ke- mudian mencari solusinya berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya yang di- peroleh sebelumnya. Jadi dalam hal ini siswa diberikan kesempatan untuk merefleksikan pemikirannya untuk memecahkan berbagai permasalahan yang di- munculkan atau muncul dalam kelas pada saat berlangsungnya proses pembela- jaran di kelas. Untuk mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan perlu dilakukan suatu upaya yang dapat mendukung berlangsungnya proses pembelajaran IPS yang menye- nangkan yaitu dengan menerapkan model pembelajaran inovatif. Salah satu model pembelajaran inovatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 05 Poasia Kota Kendari adalah melalui model pembelajaran kooperatif tipe Teams Game Tournament (TGT). Atas dasar latar belakang masalah seperti yang dikemukakan tersebut di atas peneliti melakukan penelitian tentang: “Penerapan Model Pembelajaran Ko- operatif Tipe Teams Game Tournament (TGT) Dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 05 Poasia Kota Kendari.
  4. 4. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Teams Game Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 05 Poasia Kota Kendari?” C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 05 Kota Kendari melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Game Tournament (TGT). D. Manfaat Penelitian Penelitian ini bermanfaat bagi: 1. Siswa Manfaat penelitian ini bagi siswa adalah dapat menstimuli siswa untuk berpikir. Karena melalui model pembelajaran ini siswa diberi kuis untuk mencarikan jawaban terhadap kuis yang diberikan dalam bentuk permain- an (game) 2. Guru Kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran semakin profe- sional sehingga membuat siswa senang belajar, dan pada akhirnya akan ber-dampak pada hasil belajar siswa. 3. Sekolah Manfaat penelitian ini bagi sekolah adalah, kualitas sekolah akan sema- kin meningkat, seiring dengan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran yang berkualitas, karena dalam proses pembelajaran dikelola oleh guru yang professional.
  5. 5. II. KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Belajar dan Pembelajaran 1. Hakikat belajar Belajar hakikatnya adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya pada diri seseorang. Perubahan hasil dari proses belajar dapat diindikasikan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman siskap dan tingkah laku, kecakapan, keterampilan dan kemampuan, serta peru- bahan aspek-aspek yang lain yang ada pada individu yang belajar. Seperti yang dikemukakan oleh George J. Mouly (dalam Trianto, 2011: 9) dalam bukunya Psychology for Effective Teaching, bahwa belajar pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Kimble dan Garmezi (dalam Trianto, 2011: 9) yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan Gerry dan Kingsley (dalam Trianto, 2011: 9) menyatakan bahwa belajar pada dasarnya merupakan proses perubahan tingkah laku orisinal melalui pngalaman dan latihan-latihan. Anthony Robbins (dalam Trianto, 2011: 15) mendefinisikan belajar sebagai proes menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang baru. Dari definisi ini dimensi belajar terdiri dari beberapa unsur, yaitu: (1) penciptaan hubungan, (2) sesuatu hal (pengetahuan) yang sudah dipahami, dan (3) sesuatu (pengetahuan) yang baru. Jadi dalam makna belajar, di sini bukan berangkat dari sesuatu yang benar-benar belum diketahui (nol), tetapi merupakan keter-kaitan dari dua pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru. Pandangan Anthony Robbins senada dengan yang dikemukakan oleh Jerome Brunner dalam (Romberg & Kaput, 1999, dalam Trianto, 2011: 15), bahwa belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun
  6. 6. (mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/ penge- tahuan yang sudah dimilikinya. Dengan demikian, inti dari belajar adalah adanya perubahan tingkah laku karena adanya suatu pengalaman. Perubahan tingkah laku tersebut da- pat berupa perubahan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, pema- haman, dan apresiasi. Adapun pengalaman dalam proses belajar adalah bentuk interaksi antara individu dengan lingkungannya. Jadi, belajar dapat diartikan sebagai proses pe-rubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang terampil menjadi lebih terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri. 2. Konsep Pembelajaran Pembelajaran dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membela-jarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam makna ini jelas terlihat bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan pe-serta didik, di mana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam konteks inilah kemudian diperlukan kurikulum atau pengetahuan apa yang diinginkan siswa dan bagaimana cara yang efektif untuk mendapatkannya. Keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses pembelajaran. Efisiensi dan keefektifan pembelajaran dalam proses in-teraksi belajar yang baik adalah segala daya upaya guru untuk membantu siswa agar bisa belajar dengan baik.
  7. 7. Sistem pembelajaran dalam pandangan konstruktivis menurut Hudoyo (1998 dalam Trianto, 2011: 19) memiliki ciri (a) siswa terlibat aktif dalam belajarnya. Siswa belajar materi (pengetahuan) secara bermakna dengan bekerja dan berpikir, dan (b) informasi baru harus dikaitkan dengan informasi sebe- lumnya sehingga menyatu dengan sckemata yang dimiliki siswa. Implikasi ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstruktivis adalah pe- nyediaan lingkungan belajar yang konstruktif. Lingkungan belajar yang kon- struktif menurut Hudoyo (1998 dalam Trianto, 2011: 19) adalah lingkungan be- lajar yang, (1) menyediakan pengalaman belajar yang mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sehingga belajar merupakan proses pembentukan pengetahuan, (2) menyediakan berbagai alternatif pengala- man belajar, (3) mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi realistis dan relevan dengan melibatkan pengalaman konktet, (4) mengintegrasikan pembe- lajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi dan kerja sama siswa, (5) me- manfaatkan berbagai media agar pembelajaran lebih menarik, dan (6) melibat- kan siswa secara emosional dan sosial sehingga pelajaran lebih menarik dan sis- wa mau belajar. 3. Hasil Belajar Hasil belajar dapat dimaknai yakni, perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor seba- gai hasil dari kegiatan belajar. Oleh Nawawi dalam K. Ibrahim (2007: 39) me- nyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemam-puan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembe-lajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan
  8. 8. tujuan pembe-lajaran. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional. Untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Sunal (1993: 94), bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan informasi untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program telah memenuhi kebutuhan siswa. Selain itu dengan dilakukannya evaluasi atau penilaian ini da- pat dijadikan feedback atau tindak lanjut atau bahkan cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. 4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Menurut teori Gestalt, belajar merupakan suatu proses perkembangan. Arti- nya bahwa secara kodrati jiwa raga siswa mengalami perkembangan. Perkem- bangan sendiri memerlukan sesuatu baik yang berasal dari diri siswa sendiri maupun pengaruh dari lingkungannya. Berdasarkan teori ini hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua hal, siswa itu sendiri maupun lingkungannya. Pertama, siswa; dalam arti kemampuan berpikir atau kemampuan intelektual, motivasi, minat, dan kesiapan siswa, baik jasmani maupun rohani. Kedua, lingkungan; yaitu sarana dan prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber belajar, metode serta dukungan lingkungan, keluarga dan lingkungan sosial. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Wasliman (2007: 158 dalam Trianto 2011: 13), hasil belajar yang dicapai oleh siswa merupakan hasil interaksi anta- ra berbagai faktor yang mempengaruhi, baik faktor internal mapun eksternal. Kualitas pembelajaran di sekolah sangat ditentukan oleh guru, sebagaimana di- kemukakan oleh Wina Sanjaya (2006: 50), bahwa guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Berdasar- kan pendapat ini dapat ditegaskan bahwa salah satu faktor eksternal yang sangat berperan dalam mempengaruhi hasil belajar siswa adalah guru. Guru dalam proses pembelajaranmemegang peranan yang sangat penting.
  9. 9. Dengan demikian jelaslah bahwa hasil belajar siswa merupakan hasil dari suatu proses yang di dalamnya terlibat sejumlah faktor yang mempengaruhinya. Tinggi rendahnya hasil belajar seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor terse- but. Rusefendi (1991: 7 dalam Ahmad Susanto, 20013: 14) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ke dalam sepuluh macam, yaitu kecerdasan, kesiapan siswa, bakat siswa, kemauan belajar, minat siswa, model penyajian materi, pribadi dan sikap guru, suasana belajar, kompetensi guru, dan kondisi masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa keberhasilan siswa dalam belajartergantung pada faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar siswa. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sudjana (1989: 39), bahwa hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh oleh dua faktor utama, yakni faktor dalam diri sis- wa dan factor yang dating dari luar diri siswa. Faktor kemampuan sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa. B. Proses Belajar Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 1. Hakikat Proses Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Proses belajar mengajar merupakan proses pendidikan dalam rangka mem- bentuk pribadi siswa, mengembangkan ilmu pengrtahuan serta untuk membe- rikan keterampilan dalam menerapkan ilmu pengetahuan tersebut di masyarakat (Darmodihardjo, 1987: 19). Guru di dalam kelas menjelaskan bahan pelajaran sekaligus menanamkan nilai yang terkandung di dalam mata pelajaran tersebut, diiringi oleh suatu harapan bahwa keterampilan yang didapatkan oleh siswa dari mata pelajaran tersebut akan memberikan manfaat serta akan bermakna dalam kehidupan nyata di masyarakat. Sudjana (1995: 28) mengemukakan “Belajar adalah proses yang aktif mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu, diarahkan kepada tujuan, berupa proses berbuat melalui ber- bagai pengalaman, meliat, mengamati dan memahami sesuatu yang kemudian dapat digunakan untuk mengubah tingkah laku dan sikap. Mengajar adalah pro-
  10. 10. ses, mengatur, mengorganisir lingkungan yang ada di sekitar siswa dalam mela- kukan proses belajar” Jadi penekanannya di sini adalah aktivitas dan kreativitas guru untuk tanggap terhadap segala situasi yang terjadi di dalam kelas pada saat menya- jikan mata pelajaran IPS, agar tujuan dan sasaran pembelajaran dapat dengan mudah dicerna oleh siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan untuk dicapai. Lebih lanjut Sudirman (1996: 14) mengatakan “Proses belajar mengajar akan senantiasa merupakan proses kegiatan interaksi antar unsur dua manusiawi, yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar, dengan siswa sebagai subyek pokoknya. Dalam proses interaksi antara siswa dengan guru, dibutuhkan komponen pendukung yang edukatif” Sehubungan dengan maksud tersebut di atas Wahab, et.al. (1986: 34) me- negaskan: “Guru IPS dalam merencanakan pelajaran dapat menciptakan sua- sana yang demokratis-kreatif, dimana siswa terlibat secara aktif sebagai subyek maupun obyek pelajaran. Siswa dapat belajar secara demokratis. Pengertian belajar demokratis ini dapat diartikan sebagai suatu upaya merubah diri siswa dalam meningkatkan kemampuannya sesuai dengan potensi dan kemampuan serta minat siswa tersebut. Apa pun strategi belajar mengajar yang digunakan dalam proses pembelajaran, haruslah diusahakan agar kadar keterlibatan mental siswa setinggi mungkin” Penekanannya di sini adalah bahwa antara guru-siswa merupakan dua insan yang sama. Maka oleh sebab itu perlu diwujudkan suatu suasana lingku- ngan belajar yang akrab, penuh kekeluargaan, bersahabat, jauh dari ketegangan, harmonis, menyadari bahwa siswa adalah insan individu dan insan sosial yang unik, holistik yang perlu harus diperhatikan sesuai dengan kodratnya. Sehu- bungan dengan itu Pramutadi (1990: 79) yang didukung oleh Toeti Soekamto (1992: 97) mengemukakan bahwa, keberhasilan suatu kegiatan belajar menga- jar sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam menyampaikan dan mengorganisasikan bahan pelajaran serta pengelolaan kelas. Bahan pelajaran
  11. 11. yang disampaikan guru dalam proses belajar mengajar di kelas harus benar- benar dipahami, dimengerti, dan dikuasai oleh guru. Keberhasilan proses bela- jar mengajar di kelas didukung oleh keberhasilan mengajar dari guru. Selanjutnya Kosasih (1993: 89), mengemukakan bahwa, kualias suatu pe- ngajaran diukur dan ditentukan oleh sejauh mana kegiatan belajar mengajar ter- tentu dapat merupakan alat perubah tingkah laku individu, ke arah yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan itu maka guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar di kelas hendaknya mampu mengembang- kan pola interaksi antara berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian keberhasilan belajar mengajar tergantung pula pada aktivitas komu- nikasi yang terjadi antara guru dengan siswa. Sehubungan dengan hal ini Kosasih (1989: 12) mengingatkan bahwa guru harus pandai-pandai member- kan motivasi kepada siswa untuk terbuka, kreatif, responsif, transaktif, inter- aktif, dan evaluatif. Klem and Baker dalam Dadi Permadi (1990: 4) mengatakan bahwa, terdapat dua aspek yang perlu dimilki oleh seorang guru dalam me- ngemban misi kependidikan yaitu interpersonal skill, cognitive skill, dan moti- vasi. Oleh karena itu kemampuan atau kompetensi yang menjadi tuntutan bagi seorang guru sudah jelas ada perbedaan dengan tuntutan profesi yang lain. Guru yang profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Dengan kata lain, guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya (Agus F. Tamyong, 1987: 59). Yang dimaksud dengan terdidik dan terlatih bukan hanya memperoleh pendidikan formal tetapi juga harus menguasai berbagai strategi atau teknik di dalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai landasan-landasan kepen- didikan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, mengajar adalah suatu per- buatan yang kompleks dan rumit, yang merupakan penggunaan secara integratif
  12. 12. dari sejumlah keterampilan untuk menyampaikan sejumlah informasi atau pe- san. Pengintegrasian keterampilan tersebut harus pula dilandasi oleh seperang- kat pe-ngetahuan teori dan diarahkan oleh suatu wawasan, sedangkan aplika- sinya di lapangan tejadi secara unik, dalam arti secara simultan. Proses belajar mengajar IPS merupakan suatu kegiatan yang dapat membangkitkan minat, perhatian siswa, dapat melibatkan setiap siawa, mendo- rong siswa untuk berdialog termasuk berdialog dengan dirinya sendiri. Dalam hal ini seyogyanya guru harus mampu menciptakan kondisi dan situasi belajar mengajar yang mengundang melibatkan dan mendorong siswa untuk aktif ber- partisipasi. Oleh sebab itu guru dituntut terampil dalam menggunakan metode dan sumber belajar . 2. Hakekat dan Tujuan IPS di Sekolah Dasar Untuk memperoleh pemahaman tentang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) maka berikut ini akan disajikan beberapa pengertian yang berkenaan dengan IPS yaitu sebagaimana dikemukakan oleh Soemantri (1997: 97) yaitu, Pendidikan IPS adalah rekonstruksi dari disiplin ilmu pendidikan dan disiplin ilmu-ilmu sasial, humaniora, yang diorgniasir dan disajikan secara psikologis dan ilmiah untuk tujuan pendidikan. Karena pendidikan IPS ruang lingkupnya menyangkut kegiatan dasar manusia maka bahannya bukan hanya mencakup ilmu-ilmu sosial dan humaniora tetapi juga segala gerak kegiatan dasar manusia seperti agama, scince-teknologi, seni dan sebagainya yang dapat memperkaya pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Secara khusus Soemantri (1997: 97) memberikan batasan pengertian Pen- didikan Ilmu Pengetahuan Sosial pada tingkat pendidikan dasar dan menengah yaitu, “Merupakan penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu soaial yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis untuk mencapai tujuan institusional sekolah”.
  13. 13. Lebih lanjut Wesley dalam Rafiuddin (1999: 8) menyatakan, Ilmu Pengeta- huan Sosial adalah ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendi- dikan. Demi kegunaannya dibidang pendidikan maka materi ilmu-ilmu sosial itu disederhanakan sehingga sesuai dengan tingkat perkembangan subyek didik. Menurut Wiyono (1995: 5) tujuan pemelajaran IPS di sekolah dikelom- pokkan atas 4 komponen sebagai berikut: a. Memberikan kepada siswa pengetahuan (knowledge) tentang pengalaman manusia dan kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. b. Membantu siswa mengembangkan keterampilan (skills) untuk mencari dan mengolah informasi serta/memproses informasi. c. Membantu siswa untuk mengembangkan nilai/skap (values) demokratis dalam kehidupan bermasyarakat. d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian/serta peran dalam kehidupan sosial (social participation). Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai mata pelajaran tidak hanya membekali ilmu pengetahuan saja tetapi lebih dari itu membekali sikap dan nilai, serta ke- terampilan dalam kehidupannya di masyarakat, bangsa dengan berbagai karak- teristiknya. Sebagai mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial di Sekolah Dasar bertolak dari kondisi nyata di masyarakat dengan tujuan memanusiakan manu- sia melalui seluruh aspek kehidupan lingkungan masyarakatnya sendiri terma- suk lingkungan sosial, dan lingkungan sekitarnya. Pandangan lain menyatakan bahwa “ Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar lebih menitik beratkan pada bagaimana mendidik siswa untuk mengenal, memahami dan mampu mengaplikasikan pengetahuan, keterampilan, nilai dan moral dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa” (Kosasih: 1996: 99).
  14. 14. Sehubungan dengan penjelasan di atas maka pendidikan IPS yang meru- pakan salah satu mata pelajaran di sekolah dasar bertujuan agar peserta didik mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari (Depdikbud: 65). Sasaran akhir pem- belajaran IPS tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan, tetapi lebih ditekankan pada proses untuk mencapai penguasaan pengetahuan bagi peserta didik dalam menghadapi kehidupannya. C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Game Tournament (TGT) 1. Hakikat Model Pembelajaran Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembela- jaran dalam tutorial. Sukamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000: 10) mengemuka- kan maksud dari model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melu- kiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas pembelajaran. Hal yang serupa juga dikemukakan oleh Enggen dan Kauchak menyatakan bahwa model pembelajaran merupakan kerangka dan arah bagi gu- ru untuk mengajar. Menurut Johnson (dalam Samani, 2000: 34), untuk mengetahui kualitas model pembelajaran harus dilihat dari dua aspek, yaitu proses dan produk. Aspek proses mengacu apakah pembelajaran mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan (joyful learning) serta mendorong siswa untuk aktif belajar dan berpikir kreatif. Aspek produk mengacu apakah pembelajaran mampu mencapai tujuan yai-tu, meningkatkan kemampuan siswa sesuai de- ngan standar kemampuan atau kompetensi yang ditentukan. Dalam hal ini se-
  15. 15. belum melihat hasilnya, terlebih dahulu aspek proses sudah dapat dipastikan berlangsung baik. Model pembelajaran merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Joice & Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digu- nakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain (Joice & Weil, 1980: 1). Model pembelajaran dapat dija- dikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. 2. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi de- ngan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling mem- bantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakekat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan ber- sama (Eggen and Kauchak, 1996: 279). Pembelajaran kooperatif disusun dalam usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, menfasilitasi siswa dengan penga- laman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberi kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama siswa yang berbeda latar belakangnya. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk men- capai suatu bersama, maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhu- bungan dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat dalam kehidupan di luar sekolah.
  16. 16. Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai tujuan ter- sebut. Tujuan-tujuan pembelajaran ini mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, peneriman terhadap keragaman, dan pengembangan kete- rampilan social (Ibrahim, dkk, 2000: 7). Pembelajaran koperatif memberi efek terhadap penerimaan yang luas ter- hadap keragaman ras, budaya dan agama, strata sosial kemampuan, dan ketidak mampuan (Ibrahim, dkk, 2000: 9). Pembelajaran kooperatif memberikan peluang ke-pada siswa yang beda latar belakang dan kondisi untuk bekerja sama satu dengan yang lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan koperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain. Pembelajaran kooperatif bertitik tolak dari pandangan John Dewey dan Herbert Thelan (dalam Ibrahim, 2000) yang menyatakan pendidikan dalam ma- syarakat yang demokratis seyogiyanya mengajarkan proses demokratis secara langsung. Tingkah laku koperatif dipandang oleh Dewey dan Thelan sebagai da- sar demokrasi, dan sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembang- kan tingkah laku demokrasi. Keterampilan sosial atau koperatif berkembang se- cara signifikan dalam pembelajaran koperatif. Pembelajaran koperatif sangat te- pat digunakan untuk melatihkan keterampilan-keterampilan kerjasama dan kola- borasi, dan juga keterampilan-keterampilan tanya jawab (Ibrahim, dkk, 2000: 9). Pembelajaran kooperatif dapat berjalan sesuai dengan harapan, dan siswa da- pat bekerja secara produktif dalam kelompok, maka siswa perlu diajarkan kete- rampilan-keterampilan koperatif. Keterampilan koperatif tersebut berfungsi un- tuk melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja da- pat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, se- dangkan peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok.
  17. 17. 3. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Terdapat enam langkah utama dalam tahapan di dalam pelajaran yang meng- gunakan pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah tersebut dapat ditunjukkan pada Tabel 2.2 di bawah ini: Fase Tingkah Laku Guru Fase-1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. Fase-2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacan Fase-3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok koperatif Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya mem- bentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelom- pok agar melakukan transisi secara efisien Fase-4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka Fase-5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil belajarnya. Fase-6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok Sumber: Ibrahim, dkk. (2000: 10) 4. Teams Group Tournament (TGT) Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Group Tournament (TGT), atau Pertandingan Permainan Tim dikembangkan secara asli oleh David De Vries Kerth Edward (1955). Pada model ini siswa memainkan permainan dengan
  18. 18. anggota-anggota tim lain untuk menambah tambahan poin untuk skor tim mereka. TGT dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran, dari ilmu-ilmu eksak, ilmu-ilmu sosial maupunbahasa dari jenjang pendidikan dasar (SD, SMP) hingga perguruan tinggi. TGT sangat cocok untuk mengajar tujuan pembelajaran yang yang dirumuskan dengan tajam dengan satu jawaban benar. Meski demikian, TGT juga dapat diadaptasi dengan tujuan yang dirumuskan dengan kurang tajam dengan menggunakan penilaian yang bersifat terbuka, misalnya esay atau kinerja (Nur & Wikandari, 2000: 2007) 5. Langkah-langkah Pembelajaran Teams Group Tournament (TGT) Secara runut implementasinya TGT terdiri dari empat komponen utama, antara lain: (1) Persentasi guu (sama dengan STAD), (2) Kelompok belajar (sama dengan STAD); (3) Turnamen dan (4) Pengenalan kelompok. a. Guru menyiapkan: Kartu Soal Lembar Kerja Siswa (LKS) Alat/Bahan b. Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya lima orang) c. Guru mengarahkan aturan permainannya Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut. Seperti pada model STAD, pada TGT siswa ditempatka dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan etnis. Guru menyediakan pelajaran, kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk me- mastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersbut. Akhir- nya, seluruh siswa dikenai kuis, pada waktu kuis ini mereka tidak dapat saling membantu.
  19. 19. b. Aturan (Skenario Permainan) Dalam satu permainan terdiri dari kelompok pembaca, kelompok penantang I, kelompok penantang II, dan seterusnya sejumlah kelompok yang ada. Kelompok pembaca bertugas: (1) Ambil kartu bernomor dan cari pertanyaan pada lembar permainan; (2) Baca pertanyaan keras-keras ; dan (3) Beri jawaban. Kelompok penantang kesatu bertugas: (1) Menyetujui pembaca atau member awaban yang berbeda dan (2) Cek lembar jawaban. Kegiatan ini dilakukan secara begiliran (games ruler) Secara lengkap mekanisme game ruler untuk tiga tim ditunjukkan pada gambar 2.2 . Gambar 2.1 Games Rules Gambar; 2.1 Game Rules PEMBACA PENANTANG II PENANTANG I Tourname Team A High, Average, Average, Low Tournament Table Tournament Table Tournament Table Tournament Table Tim B High, Average, Average, Low Tim C High, Average, Average, Low
  20. 20. c. Sistem Penghitungan Poin Skor siswa dibandingkan dengan rerata skor yang lalu mereka sendiri, dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melam-paui prestasi yang lalunya sendiri. Poin tiap anggota tim ini dijumlah untuk menda- patkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau ganjaran (award) yang lain.
  21. 21. III. Pelaksanaan Penelitian Perbaikan Pembelajaran A. Subyek, Tempat, dan Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu 1. Subyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 05 Poasia Kota Kendari yang terdaftar dan aktif pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014 sebanyak 27 Siswa, dan guru kelas V SDN 05 Poasia Kota Kendari. 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada SDN 05 Poasia Kota Kendari pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2013/2014 3. Pihak yang Membantu Dalam pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran ini dibantu oleh teman sejawat sebagai observer. B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran Rencana tindakan mengganbarkan prosedur pengembangan penelitian tindakan kelas yang meliputi: (1) perencanaan (2) pelaksanaan tindakan (3) observasi dan evaluasi, serta (4) refleksi. Adapun jenis kegiatan setiap tindakan adalah sebagai berikut:
  22. 22. 1. Tahap Perencanaan Kegiatan ini diawali dengan orientasi, yaitu studi pendahuluan sebelum tin- dakan penelitian dilakukan. Dalam hal ini dilakukan bersama oleh guru dan peneliti terhadap praktek pembelajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Berdasarkan hal tersebut di atas maka disusunlah rencana tindakan yang hendak dilaksanakan berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) selama proses pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembe- lajaran koperatif tipe TGT. Selain itu, pada tahap perencanaan ini peneliti juga, mengkomuni-kasikan lembar observasi yang akan digunakan oleh observer pada saat proses pembelajaran berlangsung. 2. Pelaksanaan Tindakan Yaitu praktek pembelajaran yang nyata berdasarkan rencana tindakan yang telah disusun bersama sebelumnya. Tindakan ini ditujukan untuk memperbaiki ke-adaan atau proses pembelajaran. 3. Observasi dan Evaluasi Yaitu pendokumentasian terhadap proses tindakan. Pada tahap ini observer mengobservasi segala tindakan atau aktivitas yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan lembar observasi dalam proses pembelajaran ketika mengguna- kan model pembelajaran koperatif tipe TGT dalam pembelajaran IPS. Pada se- tiap akhir tindakan dilakukan tes tindakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar setiap siklus tindakan yang dilakukan oleh guru.
  23. 23. 4. Refleksi Refleksi dilakukan untuk menemukan, mengkaji dan merenungkan kembali tindakan yang telah dilakukan. Dan refleksi ini dilakukan pada setiap akhir pelaksanaan suatu tindakan. Refleksi dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan observer, dimaksudkan untuk menemukan dan merekonstruksi makna situasi sosial, serta untuk mendapatkan dasar bagi perbaikan rencana tindakan selanjutnya. Keempat tahap tersbut di atas dapat digambarkan dalam bagan seperti berikut: Gambar 3.1 Skema Pelaksanaan PTK (Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999: 27) Pelaksanaan Tindakan Tindakan IPermasalahan Alternatif Pemecahan (Rencana Tindakan) Siklus I Terselesaikan Refleksi I Analisis Data I (Evaluasi) Observasi I (Monitoring Pelaksanaan Tindakan II Alternatif Pemecahan (Rencana Tindakan) Belum Terselesaikan Siklus II Analisis Data II (Evaluasi) Observasi II (Monitoring) Refleksi IITerselesaikan BELUM TERSELESAIKAN
  24. 24. C. Teknik Analisis Data Data dalam penelitian ini terdiri dari data kualitaif dan data kuantitatif. Data kualitatif dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang proses pelaksanaan pembelajaran ketika guru menggunakan model pembelajaran TGT dalam proses pembelajaran IPS. Data kualitatif ini diperoleh melalui observasi dengan menggunakan lembar observasi. Sedangkan data kuantitatif dimaksudkan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa ketika guru menggunakan model pembelajaran koperatif tipe TGT dalam pembelajaran IPS. Data kuantitatif ini diperoleh melalui hasil tes pada setiap siklus tindakan. Berdasarkan perolehan data tersebut, maka selanjutnya dilakukan analisis. Data kualitaif dianalisis secara deskriptif kualitatif, berdasarkan hasil observasi dari observer. Sedangkan data kuantitatif dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rumus: Jumlah jawaban yang benar X 100% Tingkat Pengguasaan = Jumlah Soal maksimal Mames dalam Rustam (2010: 53) Persentase (%) ketuntasan: Jumlah Siswa Yang Tuntas X 100% Jumlah Siswa

×