Penelitian pisang

5,725 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
5,725
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
97
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Penelitian pisang

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN Pisang sebagai komoditas buah-buahan unggulan Nasional, prioritas program pengembangannya secara agribisnis. Selama periode sepuluh tahun terakhir, produksi pisang Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang relatif rendah, yaitu dengan laju pertumbuhan produksi rata-rata 3,26 persen pertahun. Walaupun produktivitas pisang meningkat hingga 8,96 persen pertahun, tetapi rendahnya pertumbuhan produksi tersebut disebabkan adanya penurunan areal panen sebesar 5,72 persen pertahun. Konsumsi pisang perkapita masyarakat Indonesia selama lima tahun terakhir (1987- 1993) terjadi penurunan sekitar 0,48 persen pertahun. Namun demikian ekspor pisang justru mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Pada tahun 1993 ekspor buah pisang Indonesia mencapai 24,9 ribu ton atau senilai 3,3 juta US dollar (BPS, 1994). Disamping itu telah berkembang industri olahan yang memanfaatkan komoditas pisang. Hal ini menunjukkan bahwa pisang mempunyai prospek untuk ditingkatkan pengembangannya. Secara nasional, Sulawesi Tenggara merupakan daerah sentra produksi pisang terbesar kedua setelah Sulawesi Tenggara. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya kontribusi terhadap produksi nasional sebesar 15,18 persen. Sebagian besar areal tanaman pisang di SULTRA berada di lahan kering. Tingkat produktivitasnya masih sangat rendah, yaitu baru mencapai sekitar 18 kg pertandan pada tahun 2001 (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sulawesi Tenggara, 2001). Sedangkan dari uji rakitan teknologi di Kendari dan Lumajang pada lahan kering Inceptisol dengan tingkat kesuburan rendah bisa mencapai 21,6 – 23,9 kg/tandan (Kasijadi dkk, 1996). Selain itu , beberapa tahun terakhir populasi pisang di Sulawesi Tenggara menurun secara drastis akibat serangan layu fusarium dan bakteri. Akibatnya pemenuhan permintaan konsumen, yang seleranya semakin meningkat dan kebutuhan industri olahan pisang (sale, keripik dan tepung) yang berkembang belum dapat terpenuhi. Masalah utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas dan mutu buah pisang di lahan kering adalah : (a) pengembangan tanaman pisang belum mengikuti petunjuk zona agroekologi yang sesuai, sehingga tidak semua wilayah pengembangan mempunyai keunggulan komparatif yang tinggi; (b) kualitas bibit yang ditanam petani umumnya kurang baik, karena varietas beragam dan bibit berasal dari anakan; (c) jarak tanam tidak teratur dan pemeliharaan sangat sederhana, diantaranya tidak dipupuk dan tidak mengurangi Jumlah anakan serta membuang daun kering; (d) berkembangnya lalat buah dan fusarium yang tanpa dilakukan pencegahannya; dan (e) kurangnya pengetahuan petani tentang teknik panen agar tampilan buah berkualitas sesuai permintaan pasar (Kasijadi, dkk. 1996). Dalam rangka menanggulangi masalah di atas, telah tersedia hasil penelitan komponen teknologi budidaya pisang, meliputi : bibit berasal dari kultur jaringan atau bit (Kasijadi, dkk, 1996); populasi optimal 1600 pohon/ha (Widjajanto, 1993; Ernawanto, dkk. ii
  2. 2. 1997); dosis pemupukan berdasarkan tingkat keseburan tanah (Satuhu dan Supriyadi, 1993; Ernawanto, dkk. 1997); pengendalian hama ngengat (Nacolia actasima) dengan penyaputan menggunakan pestisida sistemik pada pangkal jantung pisang atau injeksi pada ujung jantung pisang (Handoko, dkk. 1996) dan pengendalian penyakit busuk batang coklat dan layu bakteri menggunakan agensia hayati (Hanudin dan Djatmika, 1998; Rosmahani, 1999; Sulistyaningsih, dkk. 1995; Suwastika, dkk. 2000). Selain itu untuk meningkatkan produktivitas lahan dalam usahatani pisang telah tersedia rakitan teknologi tanaman sela saat tanamn pisang sebelum berumur 1 tahun menggunakan nenas atau jagung – kacang tanah (Kasijadi, dkk. 2000). Walaupun demikian komponen teknologi tersebut belum dikaji dalam bentuk rakitan teknologi sistim usahatani. Banyak jenis pisang yang dikembangkan petani di sulawesi tenggar, namun jenis unggulan dan spesifik lokasi antara lain adalah pisang kultivar Ambon kuning. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan produksi pisang Ambon kuning di sulawesi tenggara, diperlukan tersedianya paket teknologi usahatani pisang di lahan kering yang efisien dan mudah diterapkan oleh petani. Pengkajian sistim usahatani pisang di lahan kering bertujuan untuk : (a) mendapatkan rakitan teknologi pisang ambon kuning spesifik lokasi lahan kering yang memberikan pertumbuhan tanaman optimal; (b) mendapatkan teknologi tanaman sela yang layak secara ekonomis pada sistem usahatani pisang ambon kuning spesifik lokasi lahan kering; dan (c) mendapatkan cara penggunaan fungisida hayati yang efektif untuk pengendalian penyakit layu fusarium pada sistem usahatani tanaman pisang ambon kuning spesifik lokasi lahan kering ii
  3. 3. BAB II KAJIAN TEORI Karakterisasi merupakan proses mencari ciri spesifik yang dimiliki oleh tumbuhan yang digunakan untuk membedakan diantara jenis dan antarindividu dalam satu jenis suatu tumbuhan. Berikut ini merupakan karakterisasi tanaman pisang yang diadaptasi dari International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI), 1996. 1. Ketinggian tanaman Tidak semua tanaman pisang memiliki ketinggian yang sama. Ketinggian tanaman pisang terbagi menjadi: (a) kerdil, dan (b) normal. Ketinggian tanaman pisang yang kurang dari 1 meter termasuk tanaman yang kerdil, sedangkan ketinggian tanaman lebih dari 1 meter termasuk normal. Gambar 14. Karakter berdasarkan ketinggian tanaman pisang. (Sumber: Dokumentasi penelitian) 2. Ketegakan daun Ketegakan daun yang dimiliki pisang mas pun berbeda-beda. Ada yang memiliki ketegakan daun: (a) tegak, (b) menengah (intermediate), dan (c)melengkung kebawah. ii
  4. 4. Gambar 15. Karakter berdasarkan ketegakan daun (Sumber: Dokumentasi penelitian) 3. Warna batang semu Batang pada tanaman pisang yang sering kita lihat itu sebenarnya bukanlah batang yang sesungguhnya. Batang yang sesungguhnya terletak jauh di dalam dan tertutupi oleh pelepah- pelepah daun pisang. Pelepah-pelepah daun pisang ini sering disebut dengan sebutan batang semu. Ada beberapa variasi warna yang terjadi pada batang semu, antara lain: (a) kuning, (b) kuning kehijauan, (c) merah kehijauan, (d) hijau, (e) merah, (f) merah muda keunguan. Gambar 16. Karakter berdasarkan warna batang semu (Sumber: Dokumentasi penelitian) 4. Warna tepi tangkai daun Pada tepi tangkai daun tanaman pisang terdapat variasi warna. Ada yang berwarna antara lain: (a) hijau, (b) hitam, dan (c) merah muda keunguan. Gambar 17. Karakter berdasarkan warna tepi tangkai daun (Sumber: Dokumentasi penelitian) 5. Bercak pada batang semu Pada pisang mas mamiliki bercak batang semu yang berbeda-beda, ada yang berwarna: (a) merah, (b) keunguan, dan (c) berwarna coklat. ii
  5. 5. Gambar 18. Karakter berdasarkan bercak pada batang semu (Sumber: Dokumentasi penelitian) 6. Keadaan tepi tangkai daun Keadaan tepi tangkai daun pun dapat dibedakan. Ada yang memiliki tepi tangkai daun: (a) bersayap dan menjepit batang, (b) bersayap dan tidak menjepit batang, dan (c)bersayap dan bergelombang. Gambar 19. Karakter berdasarkan keadaan tepi tangkai daun (Sumber: Dokumentasi penelitian) 7. Bentuk pangkal daun Bentuk pangkal daun yang dapat kita amati dari jenis tanaman pisang mas memiliki variasi. Terdapat 3 variasi bentuk pangkal daun pada tanaman pisang mas yaitu dengan bentuk pangkal daun (a) membulat keduanya, (b) salah satu sisi membulat dan (c) bentuk pangkal daun yang meruncing keduanya. (Sumber : IPGRI, 1996: 29) Gambar 20. Karakter berdasarkan bentuk pangkal daun ii
  6. 6. 8. Tipe kanal (potongan melintang tangkai daun ketiga) Tipe kanal ini dapat kita lihat jika kita memotong melintang tangkai daun pisang (tangkai daun yang ketiga). Terdapat bentuk tipe kanal yang berbeda dari jenis tanaman pisang mas, yaitu: (a) terbuka dengan tepi yang melebar kesamping, (b)terbuka dengan tepi yang melebar dan tegak, (c) lurus dengan tepi tegak, (d) tepi menutup, dan (e) tepi saling menutupi. (Sumber : IPGRI, 1996: 27) Gambar 21. Karakter berdasarkan tipe kanal (Sumber: Dokumentasi penelitian) 9. Bercak pada pangkal tangkai daun Apabila kita mengamati pada pangkal tangkai daun terdapat bentuk bercak yang berbeda yaitu: (a) bercak kecil, (b) bercak besar, dan (c) tidak memiliki bercak (tanpa bercak). Gambar 22. Karakter berdasarkan bercak pada pangkal tangkai daun (Sumber: Dokumentasi penelitian) 10. Warna bercak tangkai daun Warna bercak pada tangkai daun dapat dibedakan lagi dari warnanya. Ada bercak tangkai yang berwarna: (a) coklat, (b) coklat tua, dan (c) coklat kehitaman. Gambar 23. Karakter berdasarkan warna bercak tangkai daun ii
  7. 7. 11. Warna helaian daun bagian permukaan atas dan bawah Warna helaian daun bagian permukaan atas berbeda dengan warna bagian permukaan bawah pada setiap tanaman. Pada permukaan atas daun terdapat warna: (a)hijau kekuningan, (b) hijau sedang, dan (c) hijau. Pada bagian permukaan bawah terdapat warna: (a) hijau kekuningan, (b) hijau sedang, dan adapula yang berwarna (c) merah keunguan. a. Warna daun permukaan atas b. Warna daun permukaan bawah (Sumber: Dokumentasi penelitian) ii
  8. 8. BAB III MATERI DAN METODOLOGI Pengkajian sistem usahatani pisang ambon kuning spesifik lokasi lahan kering dilakukan di dataran rendah iklim sedang-basah (C – B) menurut Schemidt – Ferguson). Pengkajian mengikut sertakan petani dan penyuluh dengan menggunakan prinsip On Farm Research. Dari hasil pelaksanaan PRA yang mengikut-sertakan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, penyuluh pertanian dan ketua kelompok tani, pengkajian dilaksanakan di lahan petani desa Olehsari kecamatan Glagah kabupaten Banyuwangi seluas 1 ha, dengan melibatkan 4 petani kooperator. Rancangan percobaan menggunakan petak berpasangan, terdiri 3 perlakuan dan 4 petani sebagai ulangan. Setiap ulangan dilakukan oleh seorang kooperator. Perlakuan meliputi : (a) Teknologi input tinggi, (b) Teknologi input madya, dan (c) Teknologi petani (Tabel 1). Data agronomis yang diamati dalam kajian ini adalah : (a) pertambahan tinggi tanaman dan diameter batang pisang setiap bulan, dan (b) produksi tanaman sela. Data ekonomi yang diamati meliputi : (a) biaya produksi pisang, (b) biaya produksi tanaman sela, dan (c) penerimaan tanaman sela. Analisis data pengkajian sistim usahatani pisang ambon kuning di lahan kering meliputi : (a) agronomis dengan sidik ragam; (b) ekonomis dengan masukan luaran (input- output) dan (c) penelitian super impused dengan sidik ragam. Tabel 1. Rakitan teknologi Budidaya Pisang Ambon Kuning di Lahan Kering Komponen Teknologi Teknologi Input tinggi Input Madya Petani Asal bibit Kultur jaringan Bit Anakan Populasi 1600 pohon/ha 1600 pohon/ha 1600 pohon/ha Jarak tanam 2 m x 2 m x 4 m 2 m x 2 m x 4 m 2 m x 2 m x 4 m Pemupukan 1,2 kg ZA +0,26 kg SP-36 +0,52 kg KCl+ Pupuk organik 10 kg/pohon 1,2 kg ZA + 0,13 kg SP-36 + 0,26kg KCl + Pupuk organik 10kg/pohon 1,2 kg ZA + 0,13 kg SP-36 + + Pupuk organik 10kg/pohon Pengendalian hama buah (Nicolia dan trips) Ujung jantung pisang diinjeksi insektisida sistemik dosis 7,5 cc/pohon Ujung jantung pisang diinjeksi insektisida sistemik dosis 7,5 cc/pohon Ujung jantung pisang diinjeksi insektisida sistemik dosis 7,5 cc/pohon Pengendalian penyakit layu fusarium Trichoderma Sp Trichoderma Sp Trichoderma Sp Tanaman sela*) Nenas jagung – kacang kacang tanah – ii
  9. 9. tanah kacang tanah Umur panen 14 – 16 bulan dari tanam 14 – 16 bulan dari tanam 14 – 16 bulan dari tanam Keterangan *) Rakitan teknologi budidaya tanaman sela disajikan pada Tabel 2 Tabel 2. Rakitan Teknologi Budidaya Tanaman Sela Teknologi Diperbaiki dan Introduksi Dalam Usahatani Pisang di kecamatan Parigi Kabupaten Muna No Komponen Jagung teknologi diperbaiki Kacang tanah teknologi diperbaiki Nenas (introduksi) 1. Varietas Bisi-2 Gajah Quen 2. Pengolahan tanah Bajak dibajak Dibajak 3. Banyak benih/bibit 20 kg/ha 100 kg/ha 85.000/ha 4. Jarak dalam baris 20 cm x 80 cm 10 cm x 40 cm 20 cm x 30 cm x 50 cm 5. Pemupukan 450 kg Urea + 150 kg SP-36 + 100 kg KCl/ ha 100 kg Urea + 75 kg SP-36 + 100 kg KCl/ ha 1.500 kg ZA + 12.000 l Sipramin/ha 6. Penyiangan 2 x 2 x 2 x 7. Pengend. hama & peny PHT PHT PHT 8. Umur panen 103 hari 95 hari 16 bulan Untuk melengkapi komponen teknologi dalam sistem usahatani pisang di lahan kering tentang pengendalian penyakit layu fusarium, dilakukan penelitian Super Impused “jenis fungisida hayati”. Metoda penelitian menggunakan rancangan acak kelompok di ulang 4 kali. Perlakuan meliputi : (1) Tanpa fungisida; (2) Trichoderma Sp; (3) Penicillium Sp; dan (4) Gliocladium Sp Pengamatan penelitian Super Impused meliputi : (1) Jumlah tanaman sakit per petak dan (2). Koloni jamur fusarium BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Karakteristik Lokasi Pengkajian Kabupaten Muna merupakan daerah penghasil Kripik pisang ambon kuning. Pada tahun 2009 daerah ini merupakan daerah sentra produksi pisang ke 2 di sulawesi tenggara ii
  10. 10. setelah kabupaten Kolaka, dengan tanaman pisang yang menghasilkan sekitar 3 juta pohon dan produksi 12,4 kg/pohon. Pada tahun 2011 kabupaten Muna menjadi sentra produksi kedua setelah Kolaka dengan tanaman pisang yang menghasilkan sekitar 4,3 juta pohon produksi 7,38 kg/pohon. Hal ini menunjukkan bahwa produksi pisang di Kabupaten Muna terjadi penurunan yang sangat tajam. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan kabupaten Muna wilayah kecamatan Parigi dahulu merupakan sentra produksi pisang. Akan tetapi dengan adanya serangan penyakit fusarium dan penyakit darah, sebagian besar tanaman pisang mati dan produktivitasnya sangat rendah. Pengkajian dilakukan di kecamatan Parigi kabupaten Muna. Berdasarkan zona agroekologi (ZAE), lokasi pengkajian ini termasuk kategori iiax1 yaitu ketinggian sekitar 300 m dari permukaan laut, suhu panas, kelembaban termasuk lembab, wilayahnya di lereng tengah vulkan dari gunung Ijen dan kelerengan 15 – 30 %. Tanah di lokasi pengkajian termasuk kelompok oxisol dengan tingkat kesuburan sedang (Tabel 3) Tabel 3. Sifat Tanah Di Desa Wakumoro Kecamatan Parigi Kabupaten Muna, 2013. No Unsur Nilai Harkat 1 pH H2O 6,5 netral 2 pH KCl 1 N 5,8 netral 3 C - Organik (%) 2,06 sedang 4 N - Total (%) 0,33 rendah 5 P.Olsen (mg.kg-1) 14,58 sedang 6 K (me/100g) 0,48 tinggi 7 Na (me/100g) 0,39 sedang 8 Ca (me/100g) 13,38 sedang 9 Mg (me/100g) 1,75 rendah 10 KTK (me/100g) 14,5 tinggi 11 Tekstur - Pasir (%) - Debu (%) - Liat (%) - Klas 20 48 32 lempung liat berpasir 2. Keragaan Pertumbuhan Tanaman Pisang Dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa rakitan teknologi budidaya meliputi asal bibit pisang, dosis pemupukan dan tanaman sela berpengaruh terhadap laju pertumbuhan tinggi tanaman pisang ambon kuning di lahan kering (Tabel 4). Tabel 4. Pengaruh Teknologi Budidaya Terhadap Laju Pertumbuhan Tinggi Tanaman Pisang Ambon Kuning Di Lahan Kering,MH2012/2013. Umur Tanaman (bulan) Rakitan Teknologi (cm) KK (%) Input tinggi Input Madya Petani ii
  11. 11. 1 34,42 c 51,02 b 60,13 a 5,77 2 86,47 b 112,29 a 77,28 b 13,66 3 244,73 b 271,33 a 204,70 c 16,44 4 316,75 ab 368,63 a 309,38 b 9,48 5 420,38 ab 439,50 a 382,25 b 5,33 Angka-angka sebaris yang diikuti huruf sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf p = 0,05 Dari tabel 4 tampak bahwa pada saat tanaman pisang berumur 1 bulan, tinggi tanaman pisang dengan menerapkan input tinggi yang menggunakan bibit asal kultur jaringan adalah paling rendah (34,42 cm) diikuti penerapan input madya bibit berasal dari bit (51,02 cm) dan paling tinggi teknologi petani bibit berasal dari anakan (60,13 cm). Pada saat tanaman berumur 3 bulan, justru tanaman paling tinggi berasal dari bit, kemudian diikuti bibit berasal dari kultur jaringan dan paling rendah bibit dari anakan. Pertumbuhan tinggi tanaman paling rendah dari penerapan teknologi petani tersebut disebabkan pada saat tanam bibit dari anakan belum mempunyai akar, sehingga akar tanaman baru berkembang dan belum mampu menyerap hara tanah. Sedangkan penerapan teknologi input madya menggunakan bibit dari bit maupun input tinggi dari kultur jaringan pada saat tanam bibit sudah berakar dan mampu menyerap hara dalam tanah sehingga pertumbuhan tanaman lebih cepat dibanding teknologi petani (Gambar 1). Lebih cepatnya pertumbuhan tinggi tanaman input madya dibandingkan dengan input tinggi dikarenakan pada input madya menggunakan tanaman sela jagung sehingga pada saat pertumbuhan hingga umur 3 bulan tanaman pisang ternaungi oleh tanaman jagung, akibatnya terjadi etiolasi. Sedangkan pada input tinggi menggunakan tanaman sela nenas sehingga tanaman pisang tidak ternaungi. Pada saat tanaman pisang berumur 5 bulan, pertumbuhan tinggi tanaman pisang yang menerapkan input madya lebih tinggi dibandingkan teknologi petani, tetapi tidak berbeda dengan penerapan input tinggi. ii Gambar 1 Pengaruh Teknologi Budidaya Terhadap Laju Pertumbuhan Tinggi Tanaman Pisang Ambon Kuning di Lahan Kering, MH 2002/2003 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 1 2 3 4 5 Umur (bulan) Tinggitanaman(cm) Input tinggi Input Madya Petani
  12. 12. Dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan rakitan teknologi budidaya berpengaruh terhadap laju pertumbuhan lingkar batang pisang ambon kuning di lahan kering (Tabel 5). Tabel 5. Pengaruh Teknologi Budidaya Terhadap Laju Pertumbuhan Lingkar Batang Pisang Ambon Kuning Di Lahan Kering, 2003. Umur Tanaman (bulan) Rakitan Teknologi (cm) KK (%) Input tinggi Input Madya Petani 1 5,83 c 7,14 b 8,46 a 2,98 2 20,58 a 19,25 a 19,02 a 6,45 3 36,46 a 33,20 a 28,15 b 6,20 4 45,85 a 44,25 a 38,40 b 7,42 5 59,50 a 56,85 ab 49,75 b 9,66 Angka-angka sebaris yang diikuti huruf sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf p = 0,05 Dari tabel 5 tampak bahwa pada saat tanaman berumur 1 bulan, lingkar batang pisang paling besar dengan menerapkan teknologi petani yang menggunakan bibit dari anakan dan paling kecil dengan menerapkan teknologi input tinggi bibit berasal dari kultur jaringan. Akan tetapi pada saat tanaman berumur 1 bulan, laju pertumbuhan lingkar batang pada teknologi inpu tinggi dan input madya lebih cepat dibandingkan teknologi petani (Gambar 2). Hal ini dikarenakan pada saat tanam bibit dari anakan belum berakar, sedangkan bibit dari kultur jaringan dan bit sudah berakar sehingga tanaman langsung dapat menyerap hara dari tanah. Pada saat tanaman berumur 5 bulan, laju pertumbuhan lingkar batang tanaman pisang dengan menggunakan teknologi input tinggi lebih cepat dibandingkan dengan teknologi petani, tetapi laju pertumbuhan tersebut tidak berbeda dengan menerapkan teknologi madya. Perbedaan besarnya laju pertumbuhan tersebut disamping karena perbedaan asal bibit juga dipengaruhi oleh jenis dan dosis pemupukan terutama pupuk kalium (Kasijadi, dkk, 2001). ii Gambar 2 Pengaruh Teknologi Budidaya Terhadap Laju Pertumbuhan Lingkar batang Pisang Ambon Kuning di Lahan Kering, MH 2002/2003 0 10 20 30 40 50 60 70 1 2 3 4 5 Umur (bulan) LingkarBatang(cm) Input tinggi Input Madya Petani
  13. 13. Berdasarkan uraian di atas, dapat diutarakan bahwa pertumbuhan pisang ambon kuning yang ditanam pada lahan kering hingga umur 5 bulan yang terbaik adalah dengan menerapkan teknologi input tinggi dan diikuti oleh teknologi madya. 3. Keragaan Ekonomi Usahatani Pisang Dalam penerapan teknologi sistim usahatani pisang ambon kuning di lahan kering hingga tanaman berumur 5 bulan, biaya produksi yang dibutuhkan paling tinggi adalah penerapan teknologi input tinggi mencapai Rp 11.692.000,- per ha, diikuti input madya sebesar Rp 10.364.000,- per ha dan teknologi petani Rp 8.389.000,- per ha (Tabel 6) Komponen biaya produksi dari ketiga teknologi budidaya pisang tersebut paling tinggi adalah biaya sarana produksi, mencapai 73 % untuk input tinggi, 69 % untuk input madya dan 62 % untuk teknologi petani dari total biaya produksi. Sedangkan biaya tenaga kerja dari ketiga teknologi tersebut besanya tidak berbeda. Biaya sarana prouksi terbesar adalah bibit, sedangkan tenaga kerja adalah membuat lubang tanam. Tabel 6. Biaya Produksi Usahatani Pisang Ambon Kuning Umur 5 bulan di Lahan Kering, Desa Wakumoro Kabupaten Muna . MH2012/2013 No U r a i a n Input Tinggi Input Madya Petani Fisi k Nilai (Rp 000 /ha) Fisi k Nilai (Rp 000 /ha) Fisi k Nilai (Rp 000 /ha) I Sarana Produksi 1. Bibit (pohon) 1600 4.800,0 1600 4.000,0 160 0 2.400,0 2. Pupuk  ZA (kg) 960 1.056,0 960 1.056,0 960 1.056,0  SP-36 (kg) 192 307,2 153, 6 153,6 153, 6 153,6  KCl (kg) 416 748,8 208 374,4 - -  Kandang (t) 16 1.600,0 16 1.600,0 16 1.600,0 3. Fungisida hayati - - - Jumlah 8.512,0 7.184,0 5.209,6 II Tenaga Kerja 1.Melubang & tutup 108 1620,0 108 1.620,0 108 1.620,0 ii
  14. 14. lubang 2.Pupuk kandang 40 600,0 40 600.0 40 600,0 3.Tanam 12 180,0 12 180,0 12 180,0 4.Pupuk & kurangi anakan 20 300,0 20 300,0 20 300,0 5.Bumbun & buat parit 20 300,0 20 300,0 20 300,0 6. Bersih daun kering 12 180,0 12 180,0 12 180,0 Jumlah 212 3.180,0 212 3.180,0 212 3.180,0 Jumlah Biaya Produksi 11.692,0 10.364,0 8.389,0 Dalam pada itu biaya produksi tanaman sela yang ditanam awal musim hujan 2013 bersamaan dengan tanaman pisang tertinggi adalah nenas pada pisang teknologi input tinggi, tetapi pada saat umur 4 bulan nenas belum memberikan hasil. Terhadap tanaman semusim sebagai tanaman sela, jagung yang ditanam diantara pisang teknologi input madya memerlukan biaya produksi lebih tinggi dan memberikan pendapatan yang lebih tinggi pula dibandingkan tanaman kacang tanah yang ditanam diantara pisang teknologi petani (Tabel 7). Dari Tabel 7 tampak bahwa biaya produksi tanaman sela nenas memerlukan biaya produksi lebih dari dua kali dibandingkan tanaman sela jagung. Lebih besarnya biaya produksi tanaman sela nenas ini terutama pada biaya bibit. Sedangkan kebutuhan biaya produksi tanaman sela jagung pada input madya hampir dua kali lebih besar dibandingkan dengan tanaman sela kacang tanah pada teknologi petani. Lebih besarnya biaya jagung ini terutama pada biaya pupuk. Walaupun kebutuhan biaya produksi tanaman sela jagung pada input madya lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman sela kacang tanah teknologi petani, akan tetapi memberikan tambahan pendapatan lebih dari tiga kali (328 %). Tabel 7. Biaya Produksi dan Pendapatan Usahatani Tanaman Sela Per ha pada Tanaman Pisang Ambon Kuning Umur 5 bulan Lahan Kering, Kecamatan Parigi, MH 2012/2013 No U r a i a n Input Tinggi (nenas) Input Madya (jagung) Petani (kacang tanah) Fisik Nilai (Rp 000,/ha) Fisik Nilai (Rp 000,/ha) Fisik Nilai (Rp 000/ha) I Sarana Produksi 1. Bibit /benih 52.50 0 4.800,0 20 400,0 115 345,0 2. Pupuk  Urea (kg) - - 400 480,0 - -  ZA (kg) 750 825,0 - - - -  SP-36 (kg) - - 100 160,0 - -  KCl (kg) - - 100 180,0 - - Jumlah - 3450,0 1.220,0 345,0 II Tenaga Kerja 1.Pengolahan tanah 18 270,0 12 180,0 12 180,0 ii
  15. 15. 2.Tanam 12 180,0 12 180.0 12 180,0 3.Pemupukan 12 180,0 6 90,0 - - 4.Siang/Bumbun 32 480,0 18 270,0 16 240,0 5.Panen - - 12 180,0 6 90,0 6. Prosesing - - - - 6 90,0 Jumlah 1.110,0 900,0 780,0 Total biaya 4.560,0 2.120,0 1.125,0 Hasil 0 7,01t 3.154,5 960 1.440,0 Pendapatan - -4.560,0 - 1.034,5 - 315,0 4. Penelitian Super Imposed Dari hasil uji penggunaan fungisida hayati untuk pengendalian penyakit layu fusarium menunjukkan bahwa ketiga jenis fungisida hayati meliputi Trichoderma Sp; Penicillium Sp dan Gliocladium Sp hingga tanaman pisang ambon kuning di lahan kering berumur 5 bulan tidak berbeda efektivitasnya. Hal ini dikarenakan pada semua perlakuan belum menunjukkan adanya tanaman yang terserang layu fusarium. Dari hasil analisis laboratorium, lahan yang akan ditanami pisang tidak terdapat koloni jamur fusarium. Akan tetapi dari analisis tersebut justru terdapat bakteri Xathomonas sebanyak 900 koloni/gram. ii
  16. 16. BAB V PENUTUP KESIMPULAN 1. Rakitan teknologi sistim usahatani pisang ambon kuning di lahan kering dengan menerapkan input tinggi (bibit dari kultur jaringan dan dosis pupuk optimal) memberikan pertumbuhan tanaman yang tidak berbeda dibandingkan penerapan teknologi input madya (bibit dari bit) tetapi lebih baik dari pada teknologi petani (bibit dari anakan). 2. Tanaman sela pada sistim usahatani pisang ambon kuning di lahan kering yang ditanam bersamaan tanam pisang pada awal musim penghujan dengan jagung teknologi diperbaiki memberikan tambahan pendapatan lebih tinggi dari pada kacang tanah teknologi petani, sedangkan tanaman sela nenas berumur 5 bulan belum memberikan hasil. 3. Pada saat tanaman pisang ambon kuning yang ditanam di lahan kering berumur 5 bulan belum tampak adanya penyakit layu fusarium, sehingga belum dapat diketahui efektivitas penggunaan fungisida hayati. ii
  17. 17. DAFTAR PUSTAKA 1. Handoko, L. Rosmahani, M.C. Mahfud, C. Hermanto dan N.I. Sidik, 1996. Aplikasi Pengendalian Hama dan Penyakit Penting pada Tanaman Pisang di Lahan Kering. Laporan Hasil Penelitian T.A. 1995/1996. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Karangploso, Malang. 2. Hanudin dan I. Djatnika. 1998. Pengaruh Ekstrak Beberapa Tanaman terhadap Pertumbuhan Bakteri layu (Pseudomonas solanaceaerum E.F Smith) Secara In Vitro. Buletin Penelitian Hortikultura Lembang. Vol. XIV (1) : 12-14 3. Kasijadi, F. S. Purnomo dan Suhardjo. 1996. Rakitan Teknologi Produksi Untuk Pengembangan Agribisnis Pisang. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Karangploso. Malang. ii
  18. 18. TUGAS : KO-KURIKULER FILD STADY BUDIDAYA PISANG DI DESA WAKUMORO KECAMATAN PARIGI KABUPATEN MUNA DISUSUN OLEH : NAMA : JABAL NUR STAMBUK : 21208258 PRODI :ILMU PEMERINTAHAN ii
  19. 19. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI 2013 KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala Puji dan Syukur Penulis Panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, namun penulis menyadari Fild Stady ini belum dapat dikatakan sempurna karena mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjunan kita semua habibana wanabiana Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya. Fild Stady ini penulis membahas mengenai “BUDIDAYA PISANG”, dengan makalah ini penulis mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih atas segala perhatiannya. Raha, Juli 2013 Penyusun ii
  20. 20. DAFTAR ISI Kata Pengantar......................................................................................................... i Daftar Isi................................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... 1 BAB II KAJIAN TEORI........................................................................................ 3 BAB III METODOLOGI PENELITIAN............................................................... 8 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................... 10 BAB V PENUTUP................................................................................................. 17 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 18 ii

×