1. ISLAM SEBAGAI RAHMATAN LIL’ALAMIN
Islam adalah agama rahmatan lil „alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa
ra...
kami jadikan tulang-tulang itu dan kami bungkus dengan daging(terbentuk segala system
saraf).Tafsir Al-Quran.

2. PANDANGA...
Artinya: “ Ya Allah, ampunilah dosa ku dan dosa kedua orang tuaku, sebagaimana mereka
telah mendidikku di waktu kecil.”
2....
maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk
kepada sunnah Rasul Saw yang berarti t...
pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal
itu kadang-kadang terjadi, dan ...
I. Haritsun Ala Waqtihi
Dalam memberikan pelayanan kepada klien harus menghargai waktu dalam semua
fase hubungan dengan pa...
merealisasikan kecapaian kemewahan kebendaan yang dianggap sebagai perkara pokok dan
prasyarat kepada kesejahteraan (Dr. H...
Allah berfirman: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah
melebihkan sebagian mereka (l...
Pasca melahirkan wanita memerlukan perhatian khusus dibidang kesehatan. Di samping
banyakya darah kotor yang keluar pada m...
7. PANDANGAN ISLAM TERHADAP ASI DAN MENYUSUI
Anak-Anak Berhak Atas Nafkah yang Ma‟ruf (Baik Secara Kesehatan, dan Sosial) ...
8. PANDANGAN ISLAM TERHADAP HAID, NIFAS DAN PERSETUBUHAN
1. Pengertian Haid
Menurut bahasa haid artinya mengalir, sedangka...
‫؟‬

:

. ‫رواه‬

‫ال ثخاري‬
Artinya :
Nabi SAW berkata kepada beberapa perempuan, “Bukankah perempuan haid itu tidak
shol...
9. PELAKSANAAN IBADAH BAGI WANITA HAID DAN NIFAS MENURUT
AJARAN ISLAM
A. Ibadah yang boleh dilakukan bagi wanita haid
Syai...
dirasakannya tanda-tanda akan melahirkan, seperti rasa sakit, dll. Rasa sakit yang dimaksud
adalah rasa sakit yang kemudia...
Para ulama telah bersepakat bahwa wanita yang sedang nifas diharamkan melakukan apa
saja yang diharamkan bagi wanita yang ...
sebagai bertentangan dengan kehendak Allah melainkan untuk menemukan kebenaran
tentang kemampuan pasangan untuk mencapai a...
(۹)
Artinya:
“dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang
mereka anak-anak yang ...
yang bersangkutan maupun dengan masyarakat dan negara. Alasan lainnya adalah karena jika
suami istri menderita suatu penya...
Diantara alat kontrasepsi yang di perbolehkan adalah:
Untuk wanita: IUD (ADR), Pil, Obat suntik, Susuk, dan Cara-cara trad...
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mempunyai alasan, mengapa ibu lebih
berhak dalam mengasuh anaknya, di karenakan...
d. Seorang Wanita Yang Telah Menikah Lagi Dengan Lelaki Lain.
Dalam masalah pengasuhan anak, ibulah yang lebih memiliki ha...
Anak perempuan, saat ia berusia tujuh tahun, hak pengasuhannya beralih ke ayahnya,
sampai ia menikah. Pasalnya, sang ayah ...
Hendaknya sejak kecil ptra putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai
dengan tuntutan Rasulullah mulai d...
Aborsi secara terminology adalah keluarnya hasil konsepsi (janin, mudgah) sebelum bisa
hidup sendiri (viable) atau Aborsi ...
. ‫ٌ صآخش،أون شخ‬
." ‫ت جذٌ ت ج ثى صت ك عذرن ب يهم َ شم ث ك م ضحت،ث ييا ٌ ت شاه هٍ ع‬
‫سة ي ثإل ف حذم ت ان‬
Artinya: “Oleh...
Apabila donor dalam keadaan koma atau di duga kuat akan meninggal segera, maka
dalam pengambilan organ tubuh donor memerlu...
2.

Hukum Transplantasi Organ Tubuh Donor Dalam Keadaan Koma

Melakukan transplantasi organ tubuh donor dalam keadaan koma...
“Bahaya itu harus di hilangkan”.
b. Juga pencangkokan cocok dengan organ resipien dan tidak akan menimbulkan komplikasi
pe...
orang lain yang sangat membutuhkannya, maka hukumnya mubah/di bolehkan selama dalam
pekerjaan transplantasi itu tidak ada ...
dalam beberapa situasi, seperti kehilangan darah besar karena trauma, atau dapat digunakan
untuk menggantikan darah yang h...
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu mangkai, darah, daging babi, dan
binatang yang disembelih dengan menyebut se...
thaharah, maka kita akan masuk ke dalam salah satu bab yang membahas hal ini, yaitu Bab
Su'ur.
c. Donor darah pada bulan r...
1. Pembuahan Dipisahkan dari Hubungan Suami-Isteri.
Teknik bayi tabung memisahkan persetubuhan suami-istri dari pembuahan ...
Berdasarkan pengertian tersebut, ada beberapa jenis kloning yang dikenal, antara lain:
1. Kloning DNA rekombinan
Kloning i...
C.Kloning Gen Ditinjau Dari Hukum Agama
Prestasi ilmu pengetahuan yang sampai pada penemuan proses kloning,sesungguhnya
te...
lain. Disamping itu koning akan mencampur adukkan dam menghilangkan nasab serta
menyalahi fitra yang telah diciptakan ALLA...
bertentangan dengan kodrat dan iradat Allah. Seharusnya manusia menyadari bahwa apapun
yang diciptakan Allah di dunia ini ...
hadis yang umum, dan dapat diamalkan atau dapat dijadikan hujjah, karena tidak ditemukan
adanya dalil yang mengkhususkanny...
Dari dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya bagi dokter melakukan
euthanasia aktif. Sebab tindakan itu termasu...
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Paduan agamanya ila
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Paduan agamanya ila

174

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
174
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Paduan agamanya ila

  1. 1. 1. ISLAM SEBAGAI RAHMATAN LIL’ALAMIN Islam adalah agama rahmatan lil „alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang bunyinya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah, lihat saja sabda Rasulullah sebagaimana yang terdapat dalam Hadis riwayat al-Imam al-Hakim, “Siapa yang dengan sewenang-wenang membunuh burung, atau hewan lain yang lebih kecil darinya, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya”. Umat Islam tentu meyakini misi rahmatan lil „alamin, sebab istilah rahmatan lil-‟alamin telah dinyatakan oleh Al Qur‟an. Istilah rahmatan lil-‟alamin dipetik dari salah satu ayat Al Qur‟an; “Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‟aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).” (QS Al Anbiya‟ : 107). Dalam ayat itu, “rahmatan lil-‟alamin” secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu „Alaihi wa Sallam. Artinya, Allah tidaklah menjadikan Nabi Shallallahu „Alaihi wa Sallam sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau menjadi rahmat bagi semesta alam. Karena rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan dengan kerasulan Nabi Shallallahu „Alaihi wa Sallam, maka umat manusia dalam menerima bagian dari rahmat tersebut berbeda-beda. Ada yang menerima rahmat tersebut dengan sempurna, dan ada pula yang menerima rahmat tersebut tidak sempurna. Setalah berpandukan pada (Surah Al-A‟la : 1-3), penciptaan atau kejadian manusia terbahagi kepada tiga (3). Hal ini telah menjadi titik tolak kepada proses kejadian manusia dan menunjukkan tanda-tanda kemuliaan manusia .Pertama, Allah telah menciptakan manusia pertama daripada tanah (Adam). Kedua, penciptaan manusia kedua daripada bahan baku manusia pertama (Hawa). Akhir sekali, penciptaan manusia daripada bahan baku manusia pertama (Adam) dan manusia kedua (Hawa). Oleh itu,kita sebagai anak cucu Adam haruslah berasa bangga kerana kita ini daripada sebaik-baik kejadian dan lebih mulia daripada makhluk yang lain. Bucailie Maurine Dr. , (1984) Asal-usul kejadian manusia menurut Al-Quran,Sains dan Bible.Bandung,Indonesia:Penerbitan Mizan. Dalam Surah Al-Qiyamah (75 : 37-39),penciptaan manusia terbahagi kepada empat (4) tahap. Allah telah menyatakan bahwa manusia terjadi daripada percampuan Nutfah. Nutfah ialah air mani. Air mani ini terdiri daripada air mani lelaki dan perempuan. Allah telah berfirman dalam Al-Quran melalui (surah Al-Insan:2). Artinya : Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia daripada setitits air mani yang bercampur yang kami(hendak menguji dengan perintah dan larangan).Kami jadikan dia melihat dan mendengar.Selepas itu,daripada Nutfah telah berubah menjadi Alaqah,Mudghah dan Izam dan Lahm.Allah telah berfirman dalam (surah Al-Mukminun :14) yang bermaksud kemudian kami mengubah nutfah menjadi alaqah(seketul darah),lalu kami menciptakan seketul darah beku itu menjadi seketul daging(menjadi anggota badan)dan seketul daging itu
  2. 2. kami jadikan tulang-tulang itu dan kami bungkus dengan daging(terbentuk segala system saraf).Tafsir Al-Quran. 2. PANDANGAN ISLAM TERHADAP PROSES KEJADIAN MANUSIA Allah SWT telah menciptakan manusia secara berpasangan. Ada laki-laki, ada juga perempuan. Dengan adanya pasangan tersebut manusia dapat berketurunan dan berkembang dari masa ke masa. Proses alami dari perkembangan manusia dalam berketurunan adalah dengan cara berhubungan suami istri antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah wadah mulia dan ikatan suci yaitu pernikahan. Dari hasil hubungan tersebut akan membuahkan janin dalam rahim sang istri. Proses kehamilan ini merupakan suatu yang alami dan paling mudah dalam melahirkan keturunan. Bahkan secara naluri semua makhluk hidup juga mengetahui hal tersebut. Allah SWT berfirman: Artinya: “Dialah yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu, lalu dijadikan darinya pasangannya, lalu melahirkan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan …”(QS. Arrum: 30) Kelahiran anak yang melewati proses kehamilan juga faktor yang dapat meningkatkan rasa kasih sayang orang tua terutama ibu kepada anaknya. Kelahiran anak melewati proses yang panjang-lebih kurang 9 bulan. Sang ibu menunggu kelahiran buah hatinya dengan penuh harap dan bahagia. Proses keibuanpun tumbuh secara alami disamping harus aktifitas sehari-hari. Secara tak langsung memapah calon anak yang ada dalam kandungannya selama proses kehamilan berlangsung. Kasih sayang orang tua terutama ibu kepada anaknya, tonggak awal dari keharmonisan rumah tangga. Anak tumbuh sehat dan penuh perhatian dari kedua orang tuanya. Kasih sayang itulah kunci dari keharmonisan rumah tangga. Menjadikan sebuah keluarga kokoh dan bahagia. Selain itu, kasih sayang itu sendiri merupakan anugerah Sang Pencipta. Allah SWT berfirman: Artinya:” Di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah dijadikan bagimu pasangan dari golongan kamu sendiri, supaya kamu merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum:…….. Kasih sayang itu pulalah yang membuat anak tidak dapat melupakan kedua orang tuanya. Bahkan ketika mereka meninggal dunia sekalipun. Sebagai rasa bakti anak kepada orang tua Islam menganjurkan mereka untuk selalu berdoa:
  3. 3. Artinya: “ Ya Allah, ampunilah dosa ku dan dosa kedua orang tuaku, sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.” 2.1. Proses Penciptaan Manusia Menurut Al-Quran Allah SWT sebagai pencipta makhluk, telah menjelaskan proses demi proses penciptaan manusia di dalam rahim seorang perempuan. Proses perubahan janin dari setetes mani hingga menjadi manusia yang sempurna. Sebelum teknologi berkembang, hal itu merupakan perkara ghaib yang tidak diketahui oleh manusia, karena letaknya yang sangat dalam. Belum ada alat yang dapat menjangkau hingga ke dalam rahim tersebut. Walaupun begitu, Al-Quran telah berbicara tentang proses penciptaan manusia di dalam rahim tahap demi tahap. Menakjubkan, sejak 14 abad yang lalu dan ternyata sekarang terbukti, semua kandungan Al-Quran tersebut benar dan tidak salah sedikitpun. Artinya: “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian di lahir kan kamu sebagai seorang anak. Kemudian(kamu di biarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa ( dewasa). Kemudian (di biarkan hidup lagi ) sampai tua. Di antara kamu ada yang di wafatkan sebelum itu. Kami perbuat demikian supaya kamu sampai kepada ajal yang di tentukan dan supaya kamu memahami(nya)”.(QS.Al-Mu‟min: 67) 3. AKHLAK SEORANG BIDAN MENURUT PANDANGAN ISLAM A. Salimul Aqidah Memiliki akidah yang bersih sehingga dalam menghadapi klien selalu berusaha menunjukan sikap empati dengan mengedepankan professionalisme yang sejalan dengan aqidah Islam yang kuat. Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang sepatutnya ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: „Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam„ (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da‟wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid. B. Shahihul ibadah Memberikan pelayanan terbaik kepada klien bukan semata-mata ingin mendapatkan penghargaan, pujian atau pemberian yang bersifat materi dari klien tetapi lebih dari itu adalah untuk beribadah dan mencari Ridho Allah SWT. Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul saw yang penting, dalam satu haditsnya: Beliau menyatakan: „shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.„ Dari ungkapan ini
  4. 4. maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan. C. Mathinul Khuluq Memberikan pelayanan kepada klien dengan integritas profesi yang memiliki kekuatan ahlaq yang Islami yang berorientasi pada pelayanan terbaik bagi klien. Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur‟an, Allah berfirman yang artinya: „Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung„ (QS 68:4). D. Mutsaqqoful Fikri Memberikan pelayanan keperawatan kepada klien dengan menggunakan evidence base yang jelas yang dapat dipertanggungjawabkan secara professional sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi profesi. Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur‟an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: „pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.‟ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: „Yang lebih dari keperluan.„ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktiviti berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Dapat kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firmanNya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9). E. Qowiyyul Jismi Memberikan pelayanan kepada klien harus memiliki jasmani yang sehat yang tidak beresiko negatif bagi klien maupun bagi perawat itu sendiri. Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada
  5. 5. pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sering sakit. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: „Mu‟min yang kuat lebih aku cintai daripada mu‟min yang lemah„ (HR. Muslim). F. Qodirun Alal Kasbi Berhubungan dengan klien dengan mempertimbangkan kemampuan dirinya dalam memberikan pelayanan secara professional, sehingga perawat tidak memberikan pelayanan di luar kompetensinya sebagai seorang bidan. Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan kekuasaan (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru boleh dilaksanakan bilakala seseorang memiliki kekuasaan, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umrah, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. G. Munazhzhamun Fi Syuunihi Bekerja memberikan pelayanan kepada klien dengan konsep yang sistematis dimulai dari Pengumpulan dan analisa data, penentuan diagnosa kebidana, merencanakan tindakan keidanan, melaksanakan tindakan kebidanan dan melakukan evaluasi keberhasilan asuhan kebidanan. Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur‟an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersamasama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya penerusan dan berilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya. H. Mujahadatun Linafsihi Dalam berhubungan dengan klien harus mampu mengendalikan hawa nafsunya sehingga selau memandang pasien dengan holistic mencakup kebutuhan Bio, Psiko, Sosial dan Spiritual, dan bekerja dengan mengedepankan empati. Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
  6. 6. I. Haritsun Ala Waqtihi Dalam memberikan pelayanan kepada klien harus menghargai waktu dalam semua fase hubungan dengan pasien dimulai dari fase pra interaksi, orientasi, interaksi dan terminasi. Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al-Qur‟an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: „Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.„ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk mengatur waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang siasia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, rehat sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin. J. Nafi‟un Lighoirihi Memberikan pelayanan terbaiknya kepada klien harus mampu membangun sebuah persepsi yang dirasakan sebagai sebuah manfaat yang secara langsung dapat dirasakan oleh klien sehingga bidan dapat menjadi seorang care giver, advocate, educator, konselor, kolaburator, coordinator, dan researcher yang dapat membantu klien dalam upaya mencapai tujuannya untuk hidup sehat secara optimal. Bermanfaat bagi orang lain (nafi‟un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal mungkin agar dapat bermanfaat dalam halhal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peranan yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). 4. PANDANGAN ISLAM TERHADAP KELUARGA SAKINAH(SEJAHTERA) Menurut kaidah bahasa Indonesia, sakinah mempunyai arti kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Jadi keluarga sakinah mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga. Keluarga sakinah juga sering disebut sebagai keluarga yang bahagia. Menurut pandangan Barat, keluarga bahagia atau keluarga sejahtera ialah keluarga yang memiliki dan menikmati segala kemewahan material. Anggota-anggota keluarga tersebut memiliki kesehatan yang baik yang memungkinkan mereka menikmati limpahan kekayaan material. Bagi mencapai tujuan ini, seluruh perhatian, tenaga dan waktu ditumpukan kepada usaha
  7. 7. merealisasikan kecapaian kemewahan kebendaan yang dianggap sebagai perkara pokok dan prasyarat kepada kesejahteraan (Dr. Hasan Hj. Mohd Ali, 1993 : 15). Pandangan yang dinyatakan oleh Barat jauh berbeda dengan konsep keluarga bahagia atau keluarga sakinah yang diterapkan oleh Islam. Menurut Dr. Hasan Hj. Mohd Ali (1993: 18 – 19) asas kepada kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga di dalam Islam terletak kepada ketaqwaan kepada Allah SWT. Keluarga bahagia adalah keluarga yang mendapat keredhaan Allah SWT. Allah SWT redha kepada mereka dan mereka redha kepada Allah SWT. Firman Allah SWT: “Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada- Nya, yang demikian itu, bagi orang yang takut kepada-Nya”. (Surah Al-Baiyyinah : 8). Menurut Paizah Ismail (2003 : 147), keluarga bahagia ialah suatu kelompok sosial yang terdiri dari suami istri, ibu bapak, anak pinak, cucu cicit, sanak saudara yang sama-sama dapat merasa senang terhadap satu sama lain dan terhadap hidup sendiri dengan gembira, mempunyai objektif hidup baik secara individu atau secara bersama, optimistik dan mempunyai keyakinan terhadap sesama sendiri. Dengan demikian, keluarga sakinah ialah kondisi sebuah keluarga yang sangat ideal yang terbentuk berlandaskan Al-Quran dan Sunnah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kebendaan bukanlah sebagai ukuran untuk membentuk keluarga bahagia sebagaimana yang telah dinyatakan oleh negara Barat. 5. PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEHAMILAN A. Memberikan Perhatian sepenuhnya saat istri hamil Seorang suami wajib memberikan perhatian yang lebih terhadap istrinya yang mulai menunjukkan kehamilannya. Allah berfirman: Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada allah, tuhan mereka (seraya berkata), “Jika engkau memberi anak kami yang shaleh, tentunya kami akan selalu bersyukur.” (surah Al-A‟raf : 189) B. Wanita Hamil Berhak Mendapat Perlindungan dari Suami Wanita berhak mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan yang berkaitan dengan fungsi reproduksinya. Hak ini mutlak mengingat resiko yang sangat besar bagi kaum ibu dalam menjalankan fungsi reproduksinya. Mulai dari menstruasi, berhubungan seks, mengandung, melahirkan maupun menyusui Seorang wanita ketika sedang mengandung atau hamil, berhak mendapatkan berbagai perlindungan dari suaminya. Islam telah menempatkan laki-laki (suami) sebagai pemimpin dan pelindng dalam rumah tangga.
  8. 8. Allah berfirman: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan yang shaleh adalah mereka yang taat (kepada Allah SWt) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena allah telah menjaga (mereka) (QS:An-Nisa : 34) Sebagai pemimpin tentu saja seorang suami harus bertanggung jawab atas keselamatan istrinya. Terutama ketika wanita dalam masa kehamilan yang menyebabkan dirinya lemah dan semakin lemah secara fisik. Allah berfirman: …………… Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun……… (S.Luqman;14) Perlindungan yang diberikan suami kepada istrinya meliputi berbagai aspek. Perlindungan dari kekerasan dalam rumah tangga dengan tidak memperlakukan istri dengan cara kasar. Perlindungan dari kelaparan, perlindungan dari penyakit dan lain-lain. C. Wanita Hamil Berhak Atas Nafkah yang Memadai (Memenuhi Syarat Kesehatan dan Gizi). Masa kehamilan adalah masa dimana seorang wanita membutuhkan makanan dengan gizi ang cukup.Bahkan dianjurkan seorang ibu hamil untuk makan dua kali lebih banyak dari biasanya. Dalam hal ini Islam telah mewajibkan sang suami untuk memberikan nafkah yang layak dan memnuhi standar gizi sesuai dengan kemampuan suami itu sendiri. Allah berkata: “ Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi dari harta yang diberikan Allah kepadanya(QS:At-Talaq: 7) Bagi suami yang memiliki kemampuan secara ekonomi tidak boleh berlaku pelit atas istrinya. Allah SWT telah menegaskan supaya mereka memberikan nafkah sesuai dengan kemampuannya. 6. PANDANGAN ISLAM TERHADAP KELAHIRAN DAN PERSALINAN 1. Masalah Nifas A. Bebas dari aktivitas ibadah fisik Setelah melahirkan seorang ibu akan mengalami masa nifas (darah kotor) selama 40 hari. Pada masa itu seorang wanita dibebaskan, bahkan diharamkan dari kegiatan ibadah yang membutuhkan kekuatan fisik seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Quran. B. Menjaga Kebersihan dan Kesehatan
  9. 9. Pasca melahirkan wanita memerlukan perhatian khusus dibidang kesehatan. Di samping banyakya darah kotor yang keluar pada masa nifas, kondisi wanita juga masih dalam keadaan luka (karena melahirkan). Perawatan kesehatan diperlukan untuk mencegah berbagai penyakit. Diakui bahwa kebersihan merupakan pangkal kesehatan Islam telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa kebersihan merupakan anjuran yang dikaitkan dengan keimanan. Rasulullah saw bersabda: Artinya:” Kebersihan merupakan bagian dari iman.(……………) Jika jatuh sakit, Islam menganjurkan supaya manusia segera berobat. Ikhtiar atau usaha merupakan kewajiban dalam agama. Seseorang tidak boleh menyerah pada nasib dengan alasan taqdir, karena sesungguhnya Islam selalu menyuruh kita berobat ketika sakit. Rasulullah saw bersabda: Artinya: “ Berobatlah kamu karena Allah tidak akan mengadakan penyakit melainkan mengadakan pula obatnya, kecuali hanya satu penyakit yang tidak dapat diobati yaitu ketuaan. C. Larangan Untuk Melakukan Hubungan Suami Istri Selama Masa Nifas Islam melarang suami istri untuk melakukan hubungan intim pada masa nifas sampai darah koor tersebut berhenti. jika ditinjau dari segi kesehatan, larangan tersebut mengandung cukup banyak hikmah, seperti, jalan lahir anak pada wanita masih dalam penyembuhan dari luka yang diakibatkan dari kelahiran bayi. Ayat Allah SWT: Artinya: dan mereka men anyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katkanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor” karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci…. (al-Baqarah: 222) Dari ayat di atas, pengertian setelah mereka suci, baik itu setelah haid maupun darah kotor pada saat nifas (setelah darah berhenti keluar). D. Mandi Setelah Berakhirnya Masa Nifas Setelah berkahirnya masa nifas, seorang wanita diwajibkan untuk mandi. Dengan demikian maka ia kembali menjadi bersih dan suci. Artinya, segala aktivitas keagamaan mulai harus diaktifkan kembali dan juga telah sah untuk berhubungan suami istri. Masa 40 hari merupakan waktu yang cukup untuk memulihkan seoarang wanita baik kesehatan fisik maupun mentalnya.
  10. 10. 7. PANDANGAN ISLAM TERHADAP ASI DAN MENYUSUI Anak-Anak Berhak Atas Nafkah yang Ma‟ruf (Baik Secara Kesehatan, dan Sosial) Sejak masa bayi seorang anak membutuhkan makanan dengan gizi yang cukup dan seimbang untuk mendukung pertumbuhannya. Ketidakseimbangan gizi pada masa tersebut akan membuat anak rentan terhadap berbagai ancaman baik daru luar maupun dari dalam. Ancaman dari luar seperti penyakit yang mudah masuk ke dalam tubuh karena lemahnya daya tahan tubuh, sedangkan dari dalam bisa saja disebabkan dari pertumbuhan yang tidak normal bisa saja membuat anak tidak tumbuh wajar secara fisik maupun psikis. Dalam Islam nafkah kepada anak telah ditegaskan pada beberapa tempat dalam AlQuran: 1) Air Susu Ibu (ASI) Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan pokok dan paling bagus bagi anak terutama ketika hari-hari pertama kelahirannya, Islam telah menegaskan kepada orang tua agar memberikan ASI yang cukup kepada anaknya hingga usia 2 tahun. Allah SWT berfirman: seorang ibu mengandung anak dan menyapih (memberikan air susu) kepada anaknya selama 30 bulan (QS. Ahqaf : 15) Dalam ayat di atas disebutkan masa 30 bulan diperlukan seorang ibu dalam mengandung anak dan menyusuinya. Masa 30 bulan itu terbagi kepada dua fase, yaitu fase kehamilan dan menyusui. Kalau menyusui telah disebutkan pada ayat sebelumnya adalah 2 tahun yang sama dengan 24 bulan, berarti sisa 6 bulan lagi adalah untuk masa mengandung. 2) Makanan yang cukup Di samping ASI seorang anak membutuhkan makanan tambahan seiring dengan bertambahnya usia. Orang tua harus menyediakan makanan yang cukup dan bergizi supaya anak-anak dapat tumbuh sehat dan cerdas. Dalam masalah nafkah Islam memberikan tanggung jawab tersebut kepada suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Firman Allah SWT: Ayah harus memberikan kepada mereka nafkah dan pakaian dengan ma‟ruf (QS.Al-Baqarah 233). Dalam ayat ini terkesan bahwa seorang suami harus memberikan kepada istrinya, tetapi sebenarnya secara tersirat dapat dikatakan bahwa memberikan nafkah kepada istri pasti juga akan ikut dimakan oleh anak terutama yang masih bayi, karena seorang anak khusunya bayi tidak mungkin dapat dipisahkan dari ibunya. Ma‟ruf dalam ayat di atas berarti layak dan sesuai dengan kemampuan, jika seorang ayah mempunyai kemampuan di bidang ekonomi maka ia harus memberikan nafkah berupa makanan kepada anaknya dengan standar yang sesuai dengan penghasilannya,demikian juga dengan yang miskin, akan memberikan nafkah sesuai dengan kemampuannya.
  11. 11. 8. PANDANGAN ISLAM TERHADAP HAID, NIFAS DAN PERSETUBUHAN 1. Pengertian Haid Menurut bahasa haid artinya mengalir, sedangkan secara istilah fiqih adalah darah yang keluar dari rahim perempuan yang sudah baligh dalam batas waktu tertentu. Haid disebut juga menstruasi atau datang bulan. Haid menjadi tanda bahwa seorang perempuan telah mencapai usia baligh yang mengakibatkannya hukum-hukum taklifi seperti kewajiban menjalankan shalat fardlu dan puasa Ramadhan. Namun tidak semua darah yang keluar dari rahim perempuan dinamakan haid, akan tetapi ada juga yang dinamakan darah istihadah (darah penyakit) dan darah nifas yaitu darah yang keluar setelah melahirkan. 2. Batas Waktu Haid. Batas waktu haid yang dialami perempuan berbeda-beda. Hal tersebut terjadi karena perbedaan siklus dan kondisi tubuh masing-masing perempuan. Biasanya perempuan mulai haid pada umur 9 tahun, dan akan berhenti dengan sendirinya pada usia sekitar 60 tahun atau yang disebut dengan masa menopause ( masa berhentinya haid ). Adapun batas waktu haid yang dialami perempuan minimumnya satu hari satu malam, maksimalnya 15 hari dan pada umumnya dialami selama 6 sampai 7 hari. Pada umumnya masa haid adalah 6 atau 7 hari. Hal tersebut berdasarkan ucapan Nabi Muhammad SAW kepada Hamnah binti Jahsi r.a. yang artinya : “ Kamu haid 6 atau 7 hari dalam pengetahuan Allah SWT, kemudian mandilah, dan apabila kamu merasa telah suci maka shalatlah 24 malam atau 23 malam beserta siangnya dan berpuasalah karena itu semua memberikanmu pahala. Demikian juga pada setiap bulan sebagaimana lazimnya perempuan yang haid dan sebagaimana lazimnya mereka suci karena kebiasaan saat-sat haid dan sucinya”. (HR. Abu Daud, An Nasa‟i, Ahmad dan Attarmidzi dan mensahihkannya ). 3. Hal – hal yang dilarang bagi wanita haid Perempuan yang sedang haid berarti dalam keadaan hadats besar, oleh karenanya dilarang untuk melakukan hal-hal berikut : a. Melaksanakan Shalat Wanita yang sedang haid, dilarang mengerjakan salat wajib atau salat sunah. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW : . ‫ال ثخاري رواه‬ Artinya: Apabila datang haid, maka tinggalkanlah salat. ( HR. Bukhari ) b. Puasa Wanita yang sedang haid dilarang melaksanakan puasa wajib maupun puasa sunah tetapi apabila telah suci dari haid maka diperintahkan mengqada puasa wajibnya, sedangkan shalatnya tidak diqada. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
  12. 12. ‫؟‬ : . ‫رواه‬ ‫ال ثخاري‬ Artinya : Nabi SAW berkata kepada beberapa perempuan, “Bukankah perempuan haid itu tidak sholat dan tidak puasa ?”Jawab perempuan-perempuan yang hadir itu, “ Ya benar “ kata Rasulullah “Itulah kekurangan agama perempuan”. ( HR. Bukhari ) c. Tawaf Perempuan yang sedang haid dilarang melaksanakan tawaf ketika menunaikan ibadah haji atau umroh. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits sebagai berikut : . ‫ال ثخاري رواه‬ Artinya : Jika kamu haid maka kerjakan ibadah sebagaimana yang dikerjakan jama‟ah haji kecuali tawaf di Baitullah sehingga suci. ( HR.Al Bukhori : 94 ). d. Menyentuh Mushaf dan membaca Al Qur‟an Allah SWT berfirman dalam surat Al Waqi‟ah ayat 79 : . ‫۹۷ : ال ىاق عه‬ Artinya : Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan ( QS. Al Waqi‟ah : 79 ). Disamping dilarang menyentuh Al Qur‟an, perempuan haid juga tidak diperbolehkan membaca Al Qur‟an baik dengan kata-kata maupun dengan isyarat. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw, sebagai berikut : . ‫ماجه ات ن اهرو‬ Artinya : Orang junub dan haid tidak boleh membaca sesuatupun dalam Al Qur‟an. ( HR. Ibnu Majah dari Ibnu Umar : 588 ) e. I‟tikaf di Masjid Bagi perempuan haid juga orang junub dilarang masuk masjid atau melakukan melakukan i‟tikaf ( berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah ). Rasulullah SAW bersabda: : . ‫أت ىداود رواه‬ Artinya: Saya tidak menghalalkan masjid untuk orang haid dan junub( HR. Abu Daud dari A‟isyah : 201 ). Para Ulama Asy-Syafi‟iyah dan al Hanabilah membolehkan bagi perempuan haid dan nifas sekedar numpang lewat di masjid, jika yakin tidak mengotorinya. f. Bersetubuh. Pasangan suami istri haram melakukan hubungan suami istri saat istri sedang haid, harus menunggu sampai istri kembali suci. Sebagaimana firman Allah SWT : (‫)٢٢٢: ال ث قزج‬ Artinya : Dan janganlah kamu dekati mereka sebelum mereka suci. (Q.S. Al Baqarah : 222) g. Bercerai Suami tidak boleh menceraikan istrinya saat sedang haid, suami harus menahan dulu talaknya sampai istrinya selesai haid.
  13. 13. 9. PELAKSANAAN IBADAH BAGI WANITA HAID DAN NIFAS MENURUT AJARAN ISLAM A. Ibadah yang boleh dilakukan bagi wanita haid Syaikh Kholid bin „Abdillah Al Mushlih hafizhohullah mengatakan haid dan nifas adalah suatu ketetapan Allah bagi kaum hawa karena ada hikmah dan rahmat dibalik semua itu. Para ulama telah sepakat (baca: ijma‟ ) bahwa wanita haidh dan nifas dilarang melakukan shalat yang wajib maupun yang sunnah, serta tidak perlu mengqodho‟ (mengganti) shalatnya. Begitu pula para ulama sepakat bahwa wanita haidh dan nifas dilarang berpuasa yang wajib maupun yang sunnah selama masa haidhnya. Namun mereka wajib mengqodho‟ puasanya tersebut. Para ulama pun sepakat bahwa wanita haidh dan nifas boleh untuk berdzikir dengan bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), dan dzikir lainnya. Adapun membaca Al Qur‟ an tentang bolehnya bagi wanita haidh dan nifas terdapat perselisihan pendapat. Yang tepat dalam hal ini, tidak mengapa wanita haid dan nifas membaca Al Qur‟an sebagaimana akan datang penjelasannya. Begitu pula tidak mengapa wanita haidh dan nifas melakukan amalan sholih lainnya selain yang telah kami sebutkan ditambah thowaf. Dalam riwayat Bukhari (294) dan Muslim (1211) dari jalur „Abdurrahman bin Al Qosim, dari Al Qosim bin Muhammad, dari „Aisyah, ia berkata, “Aku pernah keluar, aku tidak ingin melakukan kecuali haji. Namun ketika itu aku mendapati haidh. Lalu Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam akhirnya mendatangiku sedangkan aku dalam keadaan menangis. Belia berkata, “Apa engkau mendapati haidh?” Aku menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Ini sudah jadi ketetapan Allah bagi kaum hawa. Lakukanlah segala sesuatu sebagaimana yang dilakukan orang yang berhaji kecuali thowaf keliling Ka‟ bah.” Dari sini maka hendaklah laki-laki dan perempuan bersemangat untuk melakukan berbagai kebaikan Yaikhul Islam telah menjelaskan secara global tentang pembolehan membaca Al Qur‟ an bagi wanita haidh dengan menyebutkan kelemahan hadits yang membicarakan hal itu. Syaikhul Islam mengatakan dalam Majmu‟ Al Fatawa (21/460), “Sudah begitu maklum bahwa wanita sudah seringkali mengalami haidh di masa beliau shallallahu „alaihi wa sallam, namun tidak ditemukan bukti beliau melarang membaca Al Qur‟ an kala itu. Sebagaimana pula beliau shallallahu „alaihi wa sallam tidak melarang berdzikir dan berdoa bagi mereka. Bahkan Nabi Shallallahu Alaihi wa sallam sendiri memerintahkan kepada para wanita untuk keluar saat ied, lalu bertakbir bersama kaum muslimin. Beliau shallallahu „alaihi wa sallampun memerintahkan kepada wanita haidh untuk menunaikan seluruh manasik kecuali thawaf keliling ka‟ bah. Begitu pula wanita boleh bertalbiyah meskipun ia dalam keadaan haidh. Mereka bisa melakukan manasik di Muzdalifah dan Mina, juga boleh melakukan syi‟ ar lainnya.” B. Pengertian nifas. Nifas adalah darah yang keluar dari rahim karena melahirkan. Baik darah itu keluar bersamaan ketika proses melahirkan, sesudah atau sebelum melahirkan, yang disertai dengan
  14. 14. dirasakannya tanda-tanda akan melahirkan, seperti rasa sakit, dll. Rasa sakit yang dimaksud adalah rasa sakit yang kemudian diikuti dengan kelahiran. Jika darah yang keluar tidak disertai rasa sakit, atau disertai rasa sakit tapi tidak diikuti dengan proses kelahiran bayi, maka itu bukan darah nifas. Selain itu, darah yang keluar dari rahim baru disebut dengan nifas jika wanita tersebut melahirkan bayi yang sudah berbentuk manusia. Jika seorang wanita mengalami keguguran dan ketika dikeluarkan janinnya belum berwujud manusia, maka darah yang keluar itu bukan darah nifas. Darah tersebut dihukumi darah penyakit(istihadhah) yang tidak menghalangi dari shalat, puasa dan ibadah lainnya. Kemudian apabila sesudah kelahiran ternyata tidak sesuai dengan kenyataan(bayi belum berbentuk manusia) maka ia segera kembali mengerjakan kewajiban. Tetapi jika ternyata demikian(bayi sudah berbentuk manusia), tetap berlaku hukum menurut kenyataan sehingga tidak perlu kembali mengerjakan kewajiban.” (kitab Syarhul Iqna‟ ). C. Lama Keluarnya Darah Nifas Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam Risalah fid Dima‟ AthThabi‟ iyah lin Nisa mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat tentang apakah nifas itu ada batas minimal dan maksimalnya. Ada beberapa kondisi: a. Darah nifas berhenti dilanjutkan keluarnya darah haid (berhentinya darah nifas bertepatan waktu haid), maka sang wanita tetap meninggalkan shalat dan puasa. Darah yang keluar setelah 40 hari dihukumi sebagai darah haid. Sang wanita baru wajib mandi (bersuci) setelah darah haid tidak keluar lagi. b. Darah tetap keluar setelah 40 hari dan tidak bertepatan dengan kebiasaan masa haid, ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut ulama yang berpendapat bahwa lama maksimal nifas adalah 40 hari, menilai darah yang keluar setelah 40 hari sebagai darah fasadh (penyakit) yang statusnya adalah sebagaimana istihadhah. Sedangkan menurut ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal dan maksimal lama nifas, mereka menilai darah yang keluar setelah 40 hari tetap sebagai darah nifas. Pendapat inilah yang lebih kuat, insya Allah. Akan tetapi, jika ingin berhati-hati, setelah 40 hari dinilai suci. Sehingga sang wanita bersuci untuk melaksanakan shalat dan puasa, meski darah tetap keluar. Akan tetapi hal ini tidak berlaku pada 2 keadaan: 1. Ada tanda bahwa darah akan berhenti/ makin sedikit. Maka sang wanita menunggu darah berhenti keluar, baru kemudian mandi (bersuci). 2. Ada kebiasaan dari kelahiran sebelumnya, maka itu yang dipakai. Misal, sang wanita telah mengalami beberapa kali nifas yang lamanya 50 hari. Maka batasan ini yang dipakai. D. Hal-hal yang Diharamkan bagi Wanita yang Nifas.
  15. 15. Para ulama telah bersepakat bahwa wanita yang sedang nifas diharamkan melakukan apa saja yang diharamkan bagi wanita yang haid. Antara lain: 1. Sholat. Wanita yang haid dan nifas haram melakukan shalat fardhu maupun sunnah, dan mereka tidak perlu menggantinya apabila suci. (Ibnu Hazm di dalam kitabnya alMuhalla)‟ 2. Puasa. Wanita yang sedang nifas tidak boleh melakukan puasa wajib maupun sunnah. Akan tetapi ia wajib mengqadha puasa wajib yang ia tinggalkan pada masa nifas. 10. PANDANGAN ISLAM TERHADAP MANOPAUSE DAN WANITA MANDUL A. Pengertian wanita mandul Mandul(infertil) adalah ketidakmampuan secara biologis dari seorang laki laki atau perempuan untuk menghasilkan keturunan. Infertilitas berarti juga perempuan yang bisa hamil namun tidak sampai melahirkan sesuai masanya(37-42 minggu). B. Pandangan islam terhadap kemandulan Setiap bulan pasangan pada dasarnya 1 dari 4 kemungkinan hamil dimana tidak ada faktor infertilitas ada. Dalam seumur hidup womens dia biasanya akan menghasilkan 45000 telur. Delapan dari telur itu direkrut setiap bulan , dan hanya satu dibawah hingga jatuh tempo dan relased ketubah fallopi, telur tujuh lainnya rusak dan mati. Telur hanya hidup dari 24-36 jam setelah dilepaskan dan jika tidak dibuahi oleh sperma(yang dapat hidup sampai 72 jam di dalam wanita) telur maka akan memburuk dan mati. Dalam waktu dua minggu lapisan rahim akan tertumpah dan seoarang wanita akan memiliki siklus menstruasi. Secara alamiah jika tanpa ada hambatan maka seorang wanita yang telah kawin(bercampur) akan mengalami masa kehamilan dan mempunyai anak, namun jika terjadi beberapa faktor yang akan menyebabakan seorang wanita menjadi mandul maka pupuslah segala harapan untuk memiliki anak, namun manusia diciptakan dengan akal dan segala kemampuan untuk menciptakan barbagai cara dan teknologi untuk menyelesaikan masalah ini, mulai dari pengobatan, terapi, malakukan program bayi tabung, bahkan mengadakan bank sperma. a. Bayi tabung Kehadiran bayi tabung pertama pada 1978 telah membawa harapan baru bagi pasangan infertil sabagai sarana alternatif untuk memeroleh anak. Beberapa tekhnik reproduksi yang dibanntu oleh teknologi telah dikembangakan sejak itu. Itu termasuk tekhnik seperti trasnfer gamet intra fallopi(GIFT), inseminasi intra uterus dan injeksi sperma intracytoplasmic(ICSI) untuk beberapa nama. Islam tidak melarang mengobati infertilitas, ada sebuah hadist yang berhubungan yaitu: jika salah seoran gdari anggota keluarga Rasulullah sakit, beliau memberi jampi jampi dengan membacca surat suratmu mu‟awidzat(surat al-ikhlas, surat al-falaq dan surat an-nas).tidak dilihat
  16. 16. sebagai bertentangan dengan kehendak Allah melainkan untuk menemukan kebenaran tentang kemampuan pasangan untuk mencapai anak anak. b. Donor sperma Pada pasangan yang tidak subur yang menyebabkan infertilitas berkaitan dengan kondisi suami menjadi azoospermia(tidak ada sperma) atau infertilitas laki laki lainnya. Dalam aspek ini, islam melaranga tindakan inseminasi antara telur wanita dan sperma dari pria lain yang bukan suami sahnya. Yusuf Al-Qarawadi(1995) membahas masalah menggunakan donor sperma harus diklasifikasikan sebagai yang sama dengan melakukan perzinahan dan krena itu dia anggap sebagai kejahatan grevious dan dosa besar. 11. PANDANGAN ISLAM TERHADAP KB DAN ALAT KONTASEPSI A. Pengertian KB Keluarga berencana(KB) merupakan usaha yang mengatur banyaknya jumlah kelahiran sedemikian rupa sehingga bagi ibu maupun bayinya, ayah dan keluarganya, atau masyarakat yang bersangkutan, sehingga tidak akan timbul kerugian sebagai akibat langsung dari kelahiran tersebut. Secara khusus KB berkisar pada pencegahan konsepsi atau pencegahan terjadinya pembuahan, atau pencegahan pertemuan antara sel mani dari laki-laki dan sel telur dari perempuan sekitar persetubuhan. Di negara-negara Barat KB di terjemakan dalam Family Planning yang dalam pelaksanaanya mencakup dua metode: a. Planning Parenthood Pelakasanaan metode ini menitikberatkan kepada tanggung jawab orang tua untuk membentuk kehidupan rumah tangga yang aman, dan tenteram meskipun tidak dengan jalan membatasi anggota keluarga. Dalam bahasa arab metode ini di terjemahkan sebagai (mengatur keturunan). b. Birth control Metode ini di laksanakan dengan penekanan jumlah anak atau menjarangkan kelahiran sesuai dengan situasi dan kondisi suami-istri. Dalam bahasa arab metode ini identik dengan (membatasi keturunan). Dalam prakteknya, di negara Barat di bolehkan dengan cara pengguguran kandungan (abortus dan menstrual regulation), pemandulan (infertilitas) dan pembujangan. Di Indonesia, program KB telah di laksanakan sejak tahun 1968 melalui SK presiden No. 26 Tahun 1968 yang bertujuan untuk membentuk suatu lembaga resmi pemerintah yang bernama “Lembaga Keluarga berencana Nasional (LKBN)”, kemudian pada tahun 1969 program tersebut di masukkan dalam program pembangunan Nasional pada Pelita I. Hukum KB Di dalam al-Qur‟an di sebutkan:
  17. 17. (۹) Artinya: “dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.” Dalam ayat tersebut menerangkan bahwa kelemahan ekonomi, kurang stabilnya kondisi kesehatan fisik dan kelemahan intelegensi anak akibat kekurangan gizi merupakan tanggung jawab kedua orang tua. Maka di sinilah peranan KB sangat di perlukan untuk membantu mereka keluar dari masalah tersebut. Setiap orang tentu mendambakan keseimbangan dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Untuk meraih keseimbangan tersebut tentunya membutuhkan banyak syarat baik syarat materil maupun spritual. Untuk memperoleh keseimbangan tersebut dalam al-Qur‟an juga di jelaskan: ‫ال‬ Artinya: “dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Berdasarkan ayat-ayat tersebut dan dengan pertimbangan ekonomi, kesehatan dan pendidikan, maka pelaksanaan KB di perdebatkan oleh kalangan ulama‟, di antaranya ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Diantara ulama‟ yang membolehkan adalah Imam Ghazali, Syekh al-Hariri (mufti besar Mesir), syekh Mahmud Syaltut, dan Sayyid Sabiq. Imam Ghazali tidak melarang dengan pertimbangan kesukaran yang di alami seorang ibu di sebabkan sering melahirkan dengan motif menjaga kesehatan, menghindari kesulitan hidup, dan menjaga kecantikan si ibu. Syekh al-Hariri memberikan memberikan ketentuan bagi individu dalam pelaksanaan KB, diantaranya: Untuk menjarangkan anak,untuk menghindari penyakit, bila ia mengandung. Untuk menghindari kemudharatan, bila ia mengandung dan melahirkan dapat membawa kematiannya (secara medis). Untuk menjaga kesehatan si ibu, karena setiap hamil selalu menderita suatu penyakit (penyakit kandungan). Untuk menghindari anak dari cacat fisik bila suami atau istri mengidap penyakit kotor. Sekh Mahmud Syaltut berpendapat bahwa pembatasan keluarga bertentangan dengan syari‟at Islam, sedangkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tandzim an-Nasl di umpamakan dengan menjarangkan kelahiran karena situasi dan kondisi khusus, baik yang ada hubungannya dengan keluarga
  18. 18. yang bersangkutan maupun dengan masyarakat dan negara. Alasan lainnya adalah karena jika suami istri menderita suatu penyakit yang dikhawatirkan akan menular pada anaknya. Sayyid Sabiq dalam Fiqh As-Sunnah juga membolehkan seseorang untuk melakasanakan KB dengan alasan sang ayah adalah seorang faqir, tidak mampu memberikan pendidikan pada anak-anaknya, dan sang ibu adalah orang yang dho‟if (lemah) jika terus menerus melahirkan. Sebagaimana yang tertulasi dalam kitan Fiqh Sunnah: . . . Artinya: Pembatasan (keluarga) diperbolehkan dalam kasus apabila seorang laki-laki (ayah) adalah seorang pencari nafkah (1) dia tidak dapat melakukan pendidikan yang tepat bagi anakanaknya. Demikian pula jika sang ibu adalah wanita yang lemah, dan seorang yang sering hamil, atau seorang yang fakir. Pendapat tersebut menyatakan bahwa program KB melalui pembatasan kelahiran merupakan hal yang tidak di benarkan dalam agama Islam. Karena hal tersebut telah menyalahi fitrah manusia apalagi hanya kerena takut akan kemiskinan dan melupakan bahwa Allah Yang Maha Memberi Rezki. B. Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Islam Istilah kontrasepsi berasal dari dua suku kata, yaitu kontra yang berarti mencegah atau melawan, dan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur(sel wanita) yang matang dan sel sperma(sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. Jadi yang di makasud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat dari pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Prisip dari alat kontrasepsi ini adalah mengusahakan agar tidak terjadi evolusi, melumpuhkan sperma, dan menghalangi pertemuan sel telur dengan sperma. Dari prinsipprinsip tersebut kemudian pelaksanaanya dapat di lakukan dengan berbagai metode dan cara, di antaranya adalah: AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim), susuk KB, pil KB, suntikan KB, kondom, dan lain sebagainya. Meskipun program KB telah di perbolehkan dalam Islam, namun tidak berarti dalam pelaksanaannya di perbolehkan mengggunakan sembarang alat kontrasepsi. Dalam Islam alat kontrasepsi atau sebagaimana yang sering di gunakan dalam program KB, ada yang di perbolehkan dan dilarang. Alat kontrasepsi yang di legalkan oleh negara selama ini sangat terbatas, hal tersebut atas pertimbangan etis, moral dan hukum agama yang tidak menghendaki pelaksanaannya.
  19. 19. Diantara alat kontrasepsi yang di perbolehkan adalah: Untuk wanita: IUD (ADR), Pil, Obat suntik, Susuk, dan Cara-cara tradisional dan metode yang sederhana, misalnya: minum jamu. Untuk pria: Kondom, Coitus interruptus („azl menurut Islam). Dalam sebuah riwayat hadits di sebutkan bahwa coitus interruptus di perbolehkan sebagaimana yang pernah di lakukan oleh sahabat: ‫ي‬ Artinya: “kami melakukan azl pada masa rasulullah Saw, sedangkan al-Qur‟an masih tetap diturunkan”. (HR. Bukhari) Cara-cara tersebut tidak di perbolehkan dalam agama Islam karena memandang aspek moral dan penuh resiko. MR dan aborsi di anggap sebagai tindakan kriminal karena melenyapkan janin, sedangkan sterilisasi di larang karena sifatnya adalah permanen. Pemandulan dalam Islam yang di perbolehkan adalah yang berlaku pada waktu-waktu tertentu saja (temporer), jadi jika suatu saat sang suami-istri menginginkan seorang anak, maka alat kontrasepsi dapat di tinggalkan. Namun pada sterilisasi bersifat pemandulan selama-lamanya, hal tersebutlah menjadikanya haram. 12. PANDANGAN ISLAM TERHADAP PEMELIHARAAN DAN PENGASUHAN ANAK 1. Hikmah Ketetapan Hukum Hak Asuh Syari'at Islam memberlakukan hak asuh ini, untuk mengasihi, memelihara dan memberikan kebaikan bagi mereka. Pasalnya, bila mereka di biarkan tanpa penanggung jawab, niscaya akan terabaikan, terbengkalai dan terancam bahaya. Padahal dinul Islam mengajarkan kasih-sayang, gotong-royong dan solidaritas. Sehingga benar-benar melarang dari perbuatan yang bersifat menyia-nyiakan kepada orang lain secara umum, apalagi mereka yang dalam keadaan nestapa. Ini merupakan kewajiban orang-orang yang masih terikat oleh tali kekerabatan dengan si anak. Dan kewajiban mereka adalah, mengurusi tanggung jawab anggota keluarga besarnya, sebagaimana dalam hukum-hukum lainnya. 2. Ibu Adalah Pihak Yang Paling Berhak Ibu adalah yang paling berhak menggenggam hak asuh anak di bandingkan pihak-pihak lainnya. Al Imam Muwaffaquddin Ibnu Qudamah mengatakan, jika suami isteri mengalami perceraian dengan meninggalkan seorang anak (anak yang masih kecil atau anak cacat), maka ibunyalah yang paling berhak menerima hak hadhonah (mengasuh) daripada orang lain. Kami tidak mengetahui adanya seorang ulama yang berbeda pendapat dalam masalah ini.
  20. 20. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mempunyai alasan, mengapa ibu lebih berhak dalam mengasuh anaknya, di karenakan ibu lebih baik daripada ayah si anak. Sebab, jalinan ikatan dengan si anak sangat kuat dan lebih mengetahui kebutuhan makanan bagi anak, cara menggendong, menidurkan dan mengasuh. Dia lebih pengalaman dan lebih sayang. Dalam konteks ini, ia lebih mampu, lebih tahu dan lebih tahan mental. Sehingga dialah orang yang mesti mengasuh seorang anak yang belum memasuki usia tamyiz berdasarkan syari'at. Dari „Abdullah bin „Amr, bahwasanya ada seorang wanita pernah mendatangi Rasulullah mengadukan masalahnya. Wanita itu berkata: "Wahai Rasulullah. Anakku ini dahulu, akulah yang mengandungnya. Akulah yang menyusui dan memangkunya. Dan sesungguhnya ayahnya telah menceraikan aku dan ingin mengambilnya dariku". Mendengar pengaduan wanita itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun menjawab: ٌ "Engkau lebih berhak mengasuhnya selama engkau belum menikah". 3. Unsur-unsur yang dapat menghalangi hak asuh anak Meskipun pengasuhan anak merupakan hak seorang ibu, namun terkadang ia tidak bisa mendapatkan hak pengasuhan ini. Ada beberapa faktor yang dapat menghalangi haknya. Di antaranya sebagai berikut: a. Ar-Riqqu. Maksudnya, orang yang bersangkutan berstatus sebagai budak, walaupun masih "tersisa sedikit". Karena hadhonah (mengasuh) merupakan salah satu jenis wilayah (tanggung jawab). Adapun seorang budak, ia tidak mempunyai hak wilayah. Karena ia akan disibukkan dengan pelayanan terhadap majikannya dan segala yang ia lakukan terbatasi hak tuannya. b. Orang Fasiq. Orang seperti ini, ia mengerjakan maksiat sehingga keluar dari ketaatan kepada Allah. Itu berarti, ia tidak bisa di percaya mengemban tanggung jawab pengasuhan. Sehingga, hak asuh anak terlepas darinya. c. Orang Kafir. Orang kafir tidak boleh di serahi hak mengasuh anak yang beragama Islam. Kondisinya lebih buruk dari orang fasik. Bahaya yang muncul darinya lebih besar. Tidak menutup kemungkinan, ia memperdaya si anak dan mengeluarkannya dari Islam melalui penanaman keyakinan agama kufurnya.
  21. 21. d. Seorang Wanita Yang Telah Menikah Lagi Dengan Lelaki Lain. Dalam masalah pengasuhan anak, ibulah yang lebih memiliki hak yang utama. Akan tetapi, hak ini, secara otomatis gugur, bila ia menikah lagi dengan laki-laki ajnabi (laki-laki lain). Maksudnya, lelaki yang bukan dari kalangan 'ashabah (pewaris) anak yang di asuhnya. Tetapi, jika sang ibu menikah dengan seorang laki-laki yang masih memiliki hubungan tali kekerabatan dengan si anak, maka hak asuh ibu tidak hilang. 4. Kapan anak menentukan pilihan? Pada usia yang telah di tentukan syari'at, anak berhak menentukan pilihan untuk hidup bersama dengan ibu atau ayahnya. Dalam hal ini harus terpenuhi dua syarat. a. Ayah dan ibunya harus layak mendapatkan tanggung jawab mengasuh anaknya (ahlil hadhonah). Artinya, salah satu faktor yang menghalangi seseorang boleh pengasuh anaknya tidak boleh melekat padanya. b. Si anak sudah 'aqil (berakal). Jika ia mempunyai cacat, maka ia tetap berada di bawah pengawasan ibunya. Pasalnya, karena wanita lebih sayang, lebih bertanggung jawab, dan lebih mengetahui kebutuhan-kebutuhan anak. 5. Perbedaan Antara Anak Laki-Laki Dan Perempuan Seorang anak laki-laki, ia di hadapkan pada pilihan untuk menentukan. Yaitu, ia hidup bersama ayahnya atau ibunya, apabila ia sudah berusia tujuh tahun. Ketika telah berusia tujuh tahun, berakal, maka ia memutuskan pilihannya, dan kemudian tinggal bersama dengan orang pilihannya, ayah atau ibunya. Dasarnya ada seorang wanita yang mendatangi Rasulullah. Ia mengadu, "Suamiku ingin membawa pergi anakku," maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada bocah itu, anaknya: "Wahai anak kecil. Ini adalah ayahmu, dan itu ibumu. Pilihlah siapa yang engkau inginkan!" Anak itu kemudian menggandeng tangan ibunya, dan kemudian mereka berdua berlalu. Apabila anak memilik ayahnya, maka ia berada di tempat tinggal sang ayah siang dan malam. Supaya ayahnya leluasa menjaga, mengajari dan mendidiknya. Akan tetapi, tidak boleh menghalangi keinginan anak untuk menjenguk ibunya. Sebab menghalanginya, berarti menumbuhkan sikap durhaka kepada ibunya dan menyebabkan terputusnya tali silaturahmi. Jika ia memilih ibunya, maka si anak bersama ibunya saat malam hari. Sedangkan siang hari, ia berada bersama ayahnya, untuk menerima pendidikan dan pembinaan. Akan tetapi, jika si anak diam, tidak menentukan keputusan dalam masalah ini, maka ditempuhlah undian. Ini berarti kedua orang tuanya tersebut tidak ada pihak yang sangat istimewa dalam pandangan anak, sehingga diputuskan dengan qur`ah (undian). Keterangan di atas berlaku pada anak lelaki. Bagaimana jika anak tersebut perempuan?
  22. 22. Anak perempuan, saat ia berusia tujuh tahun, hak pengasuhannya beralih ke ayahnya, sampai ia menikah. Pasalnya, sang ayah akan lebih baik pemeliharaan dan penjagaan terhadapnya. Selain itu, seorang ayah lebih berhak menerima wilayah (tanggung jawab) anak perempuan. Namun, bukan berarti ibunya tidak boleh menjenguknya. Sang ayah bahkan di larang menghalang-halangi ibu sang anak yang ingin menengoknya itu, kecuali jika menimbul hal-hal yang tidak baik atau perbuatan haram. Seandainya, ternyata ayah tidak mampu menangani pemeliharaan putrinya, atau tidak peduli dengan masalah itu, lantaran kesibukan atau kedangkalan agamanya, maka sang ibu berhak mengambil alih, dan sang anak perempuan ini hidup bersama ibunya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Imam Ahmad dan para muridnya memandang di utamakannya ayah (untuk mengasuh putrinya yang sudah berusia tujuh tahun), bila tidak menimbulkan bahaya (masalah) kepada putrinya. Bila di perkirakan sang ayah tidak mampu menjaga dan melindunginya, (dan justru mengabaikannya lantaran kesibukan, maka ibunyalah yang (berhak) menangani penjagaan dan perlindungan baginya. Dalam kondisi seperti ini, sang ibu lebih diutamakan. Munculnya unsur kerusakan pada anak perempuan yang ditimbulkan oleh salah seorang dari orang tuanya, maka tidak diragukan lagi, pihak lain (yang tidak menimbulkan masalah bagi anak perempuannya itu), lebih berhak menanganinya. 6. Solusi Jika Terjadi Polemik Antara Isteri Dan Mantan Suami Berkaitan Dengan Pengasuhan Anak Terkadang pengasuhan anak ini juga menimbulkan problema yang disebabkan persoalan yang kadang muncul. Sebagai contoh, bila salah seorang dari suami atau isteri ingin bepergian jauh dan tinggal sementara di tempat yang ditujuh, tanpa ada maksud buruk, situasinya aman, maka dalam keadaan seperti ini, hak hadhonah menjadi milik ayah, baik ayah bepergian ataupun tidak. Ayahlah yang mesti mengurusi pendidikan dan pemeliharaannya. Karena, bila si anak berada jauh dari ayah, sehingga menyebabkan ayahnya tidak bisa melaksanakan tugasnya, akan berakibat si anak tidak terurus. 13. PANDANGAN ISLAM TERHADAP PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN ANAK A. Pengertian Pendidikan adalah perkara yang sangat penting dalam islam.di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak anaknya. Seorang pendidik, baik orang tua atau guru hendaknya mengetahui betapa basarnya tanggung jawab mereka di hadapan azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam. B. Mengajari anak melaksanakan ibadah
  23. 23. Hendaknya sejak kecil ptra putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntutan Rasulullah mulai dari tata cara bersuci, puasa serta beragam ibadah lainnya. Rasulullah bersabda: shalatlah kalian sbagaimana melihat aku shalat. Ajarilah anak anak kalian shalat setelah mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia 10 tahun(bila tidak mau shalat) C. Mengajarkan Al- Quran, Dzikir Yang Ringan Kepada Anak Anak Dimulai dengan Surah Al-Fathihah dan surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghafal Al-Quran serta hadist. D. Mendidik anak dengan akhlak yang mulia Ajarilah anak dengan berbagai adab islam seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan dan mengucapkan salam. Begitupula dengan akhlak. E. Melarang anak dari berbagai perbuatan yang di haramakan. Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau bahkan diharamkan seperti merokok, judi, miras, mencuri, mengambil hak orang lain, zalim, durhaka kepada orang tua dan sebagainya. 14. PANDANGAN ISLAM TEHADAP GIZI DAN KESEHATAN ANAK A. Pengertian Makanan dapat membantu kita dalam hal mendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Gizi yang baik dikombinasikan dengan kebiasaan makan yang sehat selama masa balita akan menjadi dasar bagi kesehatan yang bagus dimasa yang akan datang B. Pandangan islam terhadap gizi dan kesehatan anak. “hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa-apa yang terdapat dibumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan.....(QS Al-Baqarah(26:168)). Ajaran islam mencangkup seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali masalah makan. Oleh karena itu bagi kaum muslimin, makanan disamping berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, juga berkaitan dengan rohani, iman, dan ibadah juga dengan identitas diri, bahkan dengan perilaku. Dalam ajaran islam semua jenis makanan dan minuman pada dasarnya adalah halal, kecuali hanya beberapa saja yang diharamkan. Yang haram itupun akan menjadi halal bila dalam keadaan darurat. 15. PANDANGAN ISLAM TERHADAP ABORSI A. Pengertian Aborsi Aborsi dalam bahasa Arab disebut “ijhadh”, yang memiliki beberapa sinonim yakni; isqath (menjatuhkan), ilqa(membuang), tharah (melempar) dan imlash (menyingkirkan) .
  24. 24. Aborsi secara terminology adalah keluarnya hasil konsepsi (janin, mudgah) sebelum bisa hidup sendiri (viable) atau Aborsi didefenisikan sebagai berakhirnya kehamilan, dapat terjadi secara spontan akibat kelainan fisik wanita / akibat penyakit biomedis intenal atau sengaja melalui campur tangan manusia) . Berbeda dengan aborsi yang disengaja atau akibat campur tangan manusia, yang jelas-jelas merupakan tindakan yang “menggugurkan” yakni; perbuatan yang dengan sengaja membuat gugurnya janin. Dalam hal ini, menggugurkan menimbulkan kontroversi dan berbagai pandangan tentang “boleh” dan “tidak boleh” nya menggugurkan kandungan. Terdapat sejumlah pendapat yang berbeda mengenai aborsi, diantaranya adalah: 1. Fact About Abortion, info Kit on Woman‟ s Health, mendefinisikan aborsi sebagai penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah dibuahi dalam rahim (uterus), sebelum usia janin (fetus) mencapai usia 20 minggu. 2. Terjadinya keguguran janin: melakukan abortus sebagai melakukan pengguguran (dengan sengaja karena tidak menginginkan bakal bayi yang dikandung itu). 3. Secara umum, istilah aborsi diartikan sebagai pengguguran kandungan, yaitu dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik itu secara sengaja ataupun tidak. Sedangkan di dalam hukum pidana Islam, aborsi yang dikenal sebagai suatu tindak pidana atas janin atau pengguguran kandungan terjadi apabila terdapat suatu perbuatan maksiat yang mengakibatkan terpisahnya janin dari ibunya. Definisi aborsi secara etimologi dan terminologi, yakni: 1. Adapun secara etimologi : Aborsi adalah menggugurkan anak, sehingga dia tidak hidup. 2. Adapun secara terminologi : Aborsi adalah praktek seorang wanita yang menggugurkan janinnya, baik dilakukan sendiri ataupun orang lain. Aborsi secara umum adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan. a. Ensiklopedia Indonesia memberikan pengertian aborsi sebagai berikut: “Pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1.000 gram.” b. Definisi lain menyatakan, aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. c. Aborsi merupakan suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. Dari definisi diatas, bisa disimpulkan bahwa tidak semua aborsi merupakan perbuatan yang bertentangan dengan moral dan kemanusiaan dengan kata lain tidak semua aborsi merupakan kejahatan. Aborsi yang terjadi secara spontan akibat kelainan fisik pada perempuan (Ibu dari janin) atau akibat penyakit biomedis internal disebut “keguguran”, yang dalam hal ini tidak terjadi kontroversi dalam masyarakat atau dikalangan fuqaha, sebab dianggap terjadi tanpa kesengajaan yang terjadi di luar kehendak manusia. Aborsi yang merupakan suatu pembunuhan terh
  25. 25. . ‫ٌ صآخش،أون شخ‬ ." ‫ت جذٌ ت ج ثى صت ك عذرن ب يهم َ شم ث ك م ضحت،ث ييا ٌ ت شاه هٍ ع‬ ‫سة ي ثإل ف حذم ت ان‬ Artinya: “Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan dia Telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya Telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, Kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi”. 16. PANDANGAN ISLAM TERHADAP TRANSPLANTASI ORGAN TUBUH DAN DONOR ORGAN A. Pengertian Transplantasi Organ Tubuh Pengertian transplantasi (pencangkokan) ialah pemindahan organ tubuh yang mempunyai daya hidup yang sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi dengan baik, yang apabila di obati dengan prosedur medis biasa, harapan penderita untuk bertahan hidupnya tidak ada lagi. Dalam pelaksanaan transplantasi organ tubuh ada tiga pihak yang terkait dengannya: a. Donor, yaitu orang yang menyumbangkan organ tubuhnya yang masih sehat untuk di pasangkan pada orang lain yang organ tubuhnya menderita sakit atau terjadi kelainan. b. Resipien, yaitu orang yang menerima organ tubuh dari donor yang karena satu dan lain hal, organ tubuhnya harus di ganti. c. Tim ahli, yaitu para dokter yang menangani operasi transplantasi dari pihak donor kepada resipien. Berkenaan dengan donor, transplantasi dapat di kategorikan ke dalam tiga tipe, yaitu : 1. Donor dalam keadaan hidup sehat. Dalam tipe ini perlu adanya seleksi yang cermat dan harus di lakukan general check up (pemeriksaan kesehatan yang lengkap menyeluruh), baik terhadap donor maupun terhadap resipien (penerima), demi menghindari kegagalan transplantasi yang di sebabkan penolakan tubuh resipien dan sekaligus menghindari dan mencegah resiko bagi donor. 2. Donor dalam keadaan koma.
  26. 26. Apabila donor dalam keadaan koma atau di duga kuat akan meninggal segera, maka dalam pengambilan organ tubuh donor memerlukan alat kontrol dan penunjang kehidupan, misalnya dengan bantuan alat pernafasan khusus. 3. Donor dalam keadaan meninggal. Dalam tipe ini, organ tubuh yang akan di cangkokkan di ambil ketika donor telah meninggal berdasarkan ketentuan medis dan yuridis, juga harus di perhatikan daya tahan organ yang akan di ambil untuk transplantasi B. 1. Hukum Transplantasi Organ Tubuh Hukum Transplantasi Organ Tubuh Donor Dalam Keadaan Sehat Apabila transplantasi organ tubuh di ambil dari orang yang masih dalam keadaan hidup sehat, maka hukumnya „Haram‟, dengan alasan : a. Firman Allah dalam Al Quran surah Al Baqarah ayat 195 : “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan”. Ayat tersebut mengingatkan manusia, agar jangan gegabah dan ceroboh dalam melakukan sesuatu, namun tetap menimbang akibatnya yang kemungkinan bisa berakibat fatal bagi diri donor, walaupun perbuatan itu mempunyai tujuan kemanusiaan yang baik dan luhur. Orang yang mendonorkan organ tubuhnya pada waktu masih hidup sehat kepada orang lain, ia akan menghadapi resiko ketidakwajaran, karena mustahil Allah menciptakan mata atau ginjal secara berpasangan kalau tidak ada hikmah dan manfaatnya bagi seorang manusia. Maka bila ginjal si donor tidak berfungsi lagi, maka ia sulit untuk di tolong kembali. Maka sama halnya, menghilangkan penyakit dari resipien dengan cara membuat penyakit baru bagi si donor. Hal ini tidak di perbolehkan karena dalam qaidah fiqh disebutkan: “Bahaya (kemudharatan) tidak boleh dihilangkan dengan bahaya (kemudharatan) lainnya”. b. Qaidah Fiqhiyyah “Menghindari kerusakan/resiko, di dahulukan dari/atas menarik kemaslahatan”. Berkaitan transplantasi, seseorang harus lebih mengutamakan menjaga dirinya dari kebinasaan, daripada menolong orang lain dengan cara mengorbankan diri sendiri dan berakibat fatal, akhirnya ia tidak mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya, terutama tugas kewajibannya dalam melaksanakan ibadah.
  27. 27. 2. Hukum Transplantasi Organ Tubuh Donor Dalam Keadaan Koma Melakukan transplantasi organ tubuh donor dalam keadaan koma, hukumnya tetap haram, walaupun menurut dokter, bahwa si donor itu akan segera meninggal, karena hal itu dapat mempercepat kematiannya dan mendahului kehendak Allah, hal tersebut dapat di katakan „euthanasia‟ atau mempercepat kematian. Tidaklah berperasaan/bermoral melakukan transplantasi atau mengambil organ tubuh dalam keadaan sekarat. Orang yang sehat seharusnya berusaha untuk menyembuhkan orang yang sedang koma tersebut, meskipun menurut dokter, bahwa orang yang sudah koma tersebut sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Sebab ada juga orang yang dapat sembuh kembali walau itu hanya sebagian kecil, padahal menurut medis, pasien tersebut sudah tidak ada harapan untuk hidup. Maka dari itu, mengambil organ tubuh donor dalam keadaan koma, tidak boleh menurut Islam dengan alasan sebagai berikut : a. Hadits Nabi, riwayat Malik dari „Amar bin Yahya, riwayat al-Hakim, al-Baihaqi dan alDaruquthni dari Abu Sa‟id al-Khudri dan riwayat Ibnu Majah dari Ibnu „Abbas dan „Ubadah bin al-Shamit : “Tidak boleh membuat madharat pada diri sendiri dan tidak boleh pula membuat madharat pada orang lain”. Berdasarkan hadits tersebut, mengambil organ tubuh orang dalam keadaan koma/sekarat haram hukumnya, karena dapat membuat madharat kepada donor tersebut yang berakibat mempercepat kematiannya, yang disebut euthanasia. b. Manusia wajib berusaha untuk menyembuhkan penyakitnya demi mempertahankan hidupnya, karena hidup dan mati berada di tangan Allah. 3. Hukum Transplantasi Organ Tubuh Donor Dalam Keadaan Meninggal Mengambil organ tubuh donor (jantung, mata atau ginjal) yang sudah meninggal secara yuridis dan medis, hukumnya mubah, yaitu di bolehkan menurut pandangan Islam dengan syarat bahwa : a. Resipien (penerima sumbangan organ tubuh) dalam keadaan darurat yang mengancam jiwanya bila tidak di lakukan transplantasi itu, sedangkan ia sudah berobat secara optimal baik medis maupun non medis, tetapi tidak berhasil. Hal ini berdasarkan qaidah fiqhiyyah : “Darurat akan membolehkan yang d iharamkan”. Juga berdasarkan qaidah fiqhiyyah :
  28. 28. “Bahaya itu harus di hilangkan”. b. Juga pencangkokan cocok dengan organ resipien dan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih gawat baginya dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Demikian ini sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia tanggal 29 Juni 1987, bahwa dalam kondisi tidak ada pilihan lain yang lebih baik, maka pengambilan katup jantung orang yang telah meninggal untuk kepentingan orang yang masih hidup, dapat di benarkan oleh hukum Islam dengan syarat ada izin dari yang bersangkutan (lewat wasiat sewaktu masih hidup) dan izin keluarga/ahli waris. Adapun dalil-dalil yang dapat menjadi dasar dibolehkannya transplantasi organ tubuh, antara lain: a. Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 195 yang telah kami sebut dalam pembahasan di depan, yaitu bahwa Islam tidak membenarkan seseorang membiarkan dirinya dalam bahaya, tanpa berusaha mencari penyembuhan secara medis dan non medis, termasuk upaya transplantasi, yang memberi harapan untuk bisa bertahan hidup dan menjadi sehat kembali. b. Al-Quran surah Al-Maidah ayat 32: “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia semuanya”. Ayat tersebut menunjukkan bahwa tindakan kemanusiaan (seperti transplantasi) sangat di hargai oleh agama Islam, tentunya sesuai dengan syarat-syarat yang telah di sebutkan di atas. c. Al-Quran surah Al-Maidah ayat 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa”. Selain itu juga ayat 195, menganjurkan agar kita berbuat baik. Artinya: “Dan berbuat baiklah karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. Menyumbangkan organ tubuh si mayat merupakan suatu perbuatan tolong-menolong dalam kebaikan, karena memberi manfaat bagi orang lain yang sangat memerlukannya. Pada dasarnya, pekerjaan transplantasi di larang oleh agama Islam, karena agama Islam memuliakan manusia berdasarkan surah al-Isra ayat 70, juga menghormati jasad manusia walaupun sudah menjadi mayat, berdasarkan hadits Rasulullah saw. : “Sesungguhnya memecahkan tulang mayat muslim, sama seperti memecahkan tulangnya sewaktu masih hidup”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Said Ibn Mansur dan Abd. Razzaq dari „Aisyah). Tetapi menurut Abdul Wahab al-Muhaimin: meskipun pekerjaan transplantasi itu di haramkan walau pada orang yang sudah meninggal, demi kemaslahatan karena membantu
  29. 29. orang lain yang sangat membutuhkannya, maka hukumnya mubah/di bolehkan selama dalam pekerjaan transplantasi itu tidak ada unsur merusak tubuh mayat sebagai penghinaan kepadanya. Hal ini di dasarkan pada qaidah fiqhiyyah : “Apabila bertemu dua hal yang mendatangkan mafsadah (kebinasaan), maka dipertahankan yang mendatangkan madharat yang paling besar, dengan melakukan perbuatan yang paling ringan madharatnya dari dua madharat”. d. Hadits Nabi SAW. “Berobatlah kamu hai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak meletakkan suatu penyakit kecuali dia juga telah meletakkan obat penyembuhnya, selain penyakit yang satu, yaitu penyakit tua”. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Usamah ibnu Syuraih) Oleh sebab itu, transplantasi sebagai upaya menghilangkan penyakit, hukumnya mubah, asalkan tidak melanggar norma ajaran Islam. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda pula : “Setiap penyakit ada obatnya, apabila obat itu tepat, maka penyakit itu akan sembuh atas izin Allah”. (HR. Ahmad dan Muslim dari Jabir). Selanjutnya berkenaan dengan hukum antara donor dan resipien yang seagama atau tidak seagama, serta hukum organ tubuh yang di haramkan seperti babi, juga dapat menimbulkan masalah, tetapi hal tersebut dapat di kaji berdasar ayat-ayat Al-Quran surah alNajm 38-41 : 1. “Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa manusia itu tidak memperoleh selain apa yang ia usahakan. Dan bahwa usahanya itu kelak akan di perlihatkan. Kemudian akan di beri balasannya dengan balasan yang paling sempurna”. 2. Al-Quran surah al-Baqarah ayat 286 : “Ia mendapat pahala dari kebajikan yang di usahakannya itu dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang di kerjakannya”. 17. PANDANGAN ISLAM TERHADAP TRANSFUSI DARAH DAN DONOR DARAH A. Konsep Transfusi darah 1. Pengertian Transfusi darah Transfusi darah adalah proses mentransfer darah atau darah berbasis produk dari satu orang kedalam sistem peredaran darah orang lain. Transfusi darah dapat menyelamatkan jiwa
  30. 30. dalam beberapa situasi, seperti kehilangan darah besar karena trauma, atau dapat digunakan untuk menggantikan darah yang hilang selama operasi. Transfusi darah juga dapat digunakan untuk mengobati anemia berat atau trombositopenia yang disebabkan oleh penyakit darah. Orang yang menderita hemofilia atau penyakit sel sabit mungkin memerlukan transfusi darah sering. Awal transfusi darah secara keseluruhan digunakan, tapi praktek medis modern umumnya hanya menggunakan komponen darah. 2. Macam-Macam Transfusi darah a. Transfusi sel darah merah Istilah “transfusi darah” seringkali diartikan secara luas oleh dokter jika yang dimaksudkan mereka adalah transfusi sel darah merah. Keluhan terhadap kelemahan linguistik ini adalah bahwa darah seringkali di transfusikan tanpa perhatian yang cukup pada kebutuhan spesifik penderita atau terhadap kemungkinan efek membahayakan dari transfusi. b. Transfusi trombosit dan granulosit Transfusi trombosit dan granulosit diperlukan bagi penderita trombositopenia yang mengancam jiwa, dan neutropenia yang disebabkan karena gagal sumsum tulang. 3. Risiko kepada penerima Ada risiko yang terkait dengan menerima transfusi darah, dan ini harus seimbang terhadap manfaat yang diharapkan. Reaksi samping yang paling umum untuk transfusi darah adalah''non-hemolitik demam reaksi transfusi'', yang terdiri dari demam yang menyelesaikan sendiri dan tidak menyebabkan masalah abadi atau efek samping. Reaksi hemolitik termasuk menggigil, sakit kepala, sakit punggung, dispnea, sianosis, nyeri dada, takikardi dan hipotensi. Produk darah jarang dapat terkontaminasi dengan bakteri, risiko infeksi bakteri parah dan sepsis diperkirakan, pada 2002, sekitar 1 dalam 50.000 transfusi trombosit, dan 1 dalam 500.000 transfusi sel darah merah. B. Transfusi darah Menurut Agama Islam a. Hakekat darah: • Darah adalah bagian dari badan (anggota badan) • Memindahkan darah berarti memindahkan anggota badan b. Ayat-ayat di Al-Qur‟an mengenai darah
  31. 31. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu mangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut selain Alloh. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas maka tidak ada dosa baginya…….” (Al baqoroh : 173) “ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah…….”(Al Maidah : 3) Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala, Allah berfirman: “Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkanNya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya” (Al-An‟am : 119) C. Hukum donor darah 1. Pandangan ulama terdahulu Pandangan Ulama terdahulu mengenai transfusi darah yakni memanfaatkan anggota badan adalah haram baik dengan cara jual beli ataupun dengan cara lainnya. Memanfaatkan anggota badan manusia tidak diperbolehkan. Ada yang beralasan karena :  Najis  Merendahkan, alasan kedua adalah alasan yang benar (Al-Fatwa Al-Hidayah) 2. Menurut ulama sekarang a. Mengenai akibat hukum adanya hubungan kemahraman antara donor dan resipien Menurut Ust. Subki Al-Bughury, adapun hubungan antara donor dan resipien, adalah bahwa transfusi darah itu tidak membawa akibat hukum adanya hubungan kemahraman antara donor dan resipien. Sebab faktor-faktor yang dapat menyebabkan kemahraman sudah ditentukan oleh Islam sebagaimana tersebut dalam An-Nisa:23, yaitu: Mahram karena adanya hubungan nasab. Misalnya hubungan antara anak dengan ibunya atau saudaranya sekandung, dsb. Serta pada (an-Nisa:24) ditegaskan bahwa selain wanita-wanita yang tersebut pada An-Nisa:23 di atas adalah halal dinikahi. Sebab tidak ada hubungan kemahraman. Maka jelaslah bahwa transfusi darah tidak mengakibatkan hubungan kemahraman antara pendonor dengan resipien. Karena itu perkawinan antara pendonor dengan resipien itu diizinkan oleh hukum Islam. b. Mengenai Hukum menerima transfusi darah dari non-muslim Menurut ust. Ahmad sarwat pada hakikatnya tubuh orang kafir bukan benda najis. Buktinya mereka tetap dibolehkan masuk ke dalam masjid-masjid mana pun di dunia ini, kecuali masjid di tanah haram. Kalau tubuh orang kafir dikatakan najis, maka tidak mungkin Abu Bakar minum dari satu gelas bersama dengan orang kafir. Kalau kita belajar fiqih
  32. 32. thaharah, maka kita akan masuk ke dalam salah satu bab yang membahas hal ini, yaitu Bab Su'ur. c. Donor darah pada bulan ramadhan Menurut Asy Syaikh Utsaimin, tidak boleh bagi seseorang untuk menyedekahkan darahnya yang sagat banyak dalam keadaan dia sedang berpuasa wajib, seperti puasa pada bulan Ramadhan. Kecuali jika di sana ada keperluan yang darurat (mendesak), maka dalam keadaan seperti ini boleh baginya untuk menyedekahkan darahnya untuk menolak/mencegah darurat tadi. Dengan demikian dia berbuka dengan makan dan minum. Lalu dia harus mengganti puasanya yang dia tinggalkan/berbuka. 3. Syarat Donor dan Transfusi darah Menurut Islam Syarat Donor dan Transfusi Darah adalah sebagai berikut : a. Tidak menyebabkan kerusakan (kematian pada diri donor) b. Memberikan manfaat (mencegah kerusakan/kematian) pada akseptor c. Donor atau Tranfusi tidak boleh dilakukan bila menyebabkan kematian pada diri donor (darah diambil terlalu banyak), meskipun memberikan manfaat kepada resipien. d. Donor darah dapat mencegah bahaya yang sudah pasti (mencegah kerusakan/kematian resipien) e. Bahaya yang timbul akibat donor atau transfusi dapat di perkirakan f. Perbedaan kerugian yang terjadi dan manfaat yang diperoleh jelas (manfaat lebih besar dari kerugian) g. Donor darah memberikan manfaat yang sangat besar dan termasuk mendonorkan anggota badan yang dapat pulih kembali h. Pendonor tidak akan mendapat kerugian/kerusakan yang berarti, bahkan mendapat manfaat. i. Tranfusi darah tidak sama dengan “memakan darah” j. Kerusakan / kerugian akibat tranfusi dapat diperkirakan dan dicegah dengan adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. 18. PANDANGAN ISLAM TERHADAP BAYI TABUNG/INSEMINASI A. pengertian dan proses bayi tabung/inseminasi buatan Bayi tabung merupakan terjemahan dari artificial insemination. Artificial artinya buatan atau tiruan secara teknologi bukan secara alamiah, sedangkan insemination berasal dari kata latin “inseminatus” artinya pemasukan atau penyimpanan. Kata talqih yang sama pengertiannya dengan inseminasi, diambil oleh dokter ahli kandungan bangsa Arab, dalam upaya pembuahan terhadap wanita yang menginginkan kehamilan. Jadi dapat di katakan bahwa bayi tabung merupakan bayi hasil konsepsinya (dari pertemuan antara sel telur dan sperma) yang dilakukan dalam sebuah tabung yang dipersiapkan sedemikian rupa di laboratorium. Didalam laboratorium tabung tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai dengan tempat pembuahannya yang asli yaitu rahim ibu atau wanita. B. Jenis-jenis proses bayi tabung
  33. 33. 1. Pembuahan Dipisahkan dari Hubungan Suami-Isteri. Teknik bayi tabung memisahkan persetubuhan suami-istri dari pembuahan bakal anak. Dengan teknik tersebut, pembuahan dapat dilakukan tanpa persetubuhan. Keterarahan perkawinan kepada kelahiran baru sebagaimana diajarkan oleh Gereja tidak berlaku lagi. Dengan demikian teknik kedokteran telah mengatur dan menguasai hukum alam yang terdapat dalam tubuh manusia pria dan wanita. Dengan pemisahan antara persetubuhan dan pembuahan ini, maka bisa muncul banyak kemungkinan lain yang menjadi akibat dari kemajuan ilmu kedokteran di bidang pro-kreasi manusia. 2. Wanita Sewaan untuk Mengandung Anak. Ada kemungkinan bahwa benih dari suami-istri tidak bisa dipindahkan ke dalam rahim sang istri, oleh karena ada gangguan kesehatan atau alasan-alasan lain. Suami-istri bisa memilih wanita sewaan yang masih muda, sehat dan punya kebiasaan hidup yang sehat dan baik. praktik seperti ini biasanya belum ada ketentuan hukumnya, sehingga kalau muncul kasus bahwa wanita sewaan ingin mempertahankan bayi itu dan menolak uang pembayaran, maka pastilah sulit dipecahkan. 3. Sel Telur atau Sperma dari Seorang Donor. Masalah ini dihadapi kalau salah satu dari suami atau istri mandul; dalam arti bahwa sel telur istri atau sperma suami tidak mengandung benih untuk pembuahan. Itu berarti bahwa benih yang mandul itu harus dicarikan penggantinya melalui seorang donor. Masalah ini akan menjadi lebih sulit karena sudah masuk unsur baru, yaitu benih dari orang lain. Pertama, apakah pembuahan yang dilakukan antara sel telur istri dan sel sperma dari orang lain sebagai pendonor itu perlu diketahui atau disembunyikan identitasnya. Kalau wanita tahu orangnya, mungkin ada bahaya untuk mencari hubungan pribadi dengan orang itu. Ketiga, apakah pria pendonor itu perlu tahu kepada siapa benihnya telah didonorkan. Masih banyak masalah lain lagi yang bisa muncul. 4. Munculnya Bank Sperma Praktik Bayi tabung membuka peluang pula bagi didirikannya bank-bank sperma. Pasangan yang mandul bisa mencari benih yang subur dari bank-bank tersebut. Bahkan orang bisa menjualbelikan benih-benih itu dengan harga yang sangat mahal misalnya karena benih dari seorang pemenang Nobel di bidang kedokteran, matematika, dan lain-lain. Praktek bank sperma adalah akibat lebih jauh dari teknik bayi tabung. Kini bank sperma malah menyimpannya dan memperdagangkannya seolah-olah benih manusia itu suatu benda ekonomis. 19. PANDANGAN ISLAM TERHADAP KLONING A.Pengertian Kloning Klon berasal dari kata klόόn (yunani), yang artinya tunas. Kloning adalah tindakan menggandakan atau mendapatkan keturunan jasasd hidup tanpa fertilisasi, berasal dari induk yang sama, mempunyai susunan (jumlah dan gen) yang sama dan kemungkinan besar mempunyai fenotib yang sama. Kloning manusia adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya yang berupa manusia.
  34. 34. Berdasarkan pengertian tersebut, ada beberapa jenis kloning yang dikenal, antara lain: 1. Kloning DNA rekombinan Kloning ini merupakan pemindahan sebagian rantai DNA yang diinginkan dari suatu organisme pada satu element replikasi genetik, contohnya penyisipan DNA dalam plasmid bakteri untuk mengklon satu gen. 2. Kloning Reproduktif Merupakan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan hewan yang sama, contohnya Dolly dengan suatu proses yang disebut SCNT (Somatic Cell Nuclear Transfer). 3. Kloning Terapeutik Merupakan suatu kloning untuk memproduksi embrio manusia sebagai bahan penelitian. Tujuan utama dari proses ini bukan untuk menciptakan manusia baru, tetapi untuk mendapatkan sel batang yang dapat digunakan untuk mempelajari perkembangan manusia dan penyembuhan penyakit. B.Lahir Dan Berkembangnya Kloning Gen Sekitar satu abad lalu, Gregor Mendel merumuskan aturan-aturan menerangkan pewarisan sifat-sifat biologis. Sifat-sifat organisme yang dapat diwariskan di atur oleh suatu faktor yang disebut gen, yaitu suatu partikel yang berada di dalam suatu sel, tepatnya di dalam kromosom. Gen menjadi dasar dalam perkembangan penelitian genetika meliputi pemetaan gen, menganalisis posisi gen pada kromosom. Hasil penelitian lebih berkembang baik diketahuinya DNA sebagai material genetik beserta strukturnya, kode-kode genetik, serta proses transkripsi dan translasi dapat dijabarkan. Suatu penelitian rekomendasi atau rekayasa genetika ynag inti prosesnya adalah kloning gen, yaitu suatu prosedur unutk memperoleh replika yang dapat sama dari sel atau organisme tunggal. Belakangan ini di media masa (televisi, koran, Internet,dll.) memberitakan tentang kloning manusia. Tetapi karena belum ditemukan rujukan dari kitab-kitab hukum terdahulu, para ahli hukum sekarang masih memperdebatkan masalah ini dan belum ditemukan kesepakatan final dalam kasus yang menyeluruh. Ada 3 cara untuk melakukan eugenika (Shannon, T.A. 1987) , yaitu : 1. Eugenia positif. Cara ini menghasilkan perbaikan melalui cara pembiakan selektif, misalnya menghasilkan individu-individu yang sangat intelegen dengan memakai sperma orang yang genius. 2. Eugenika negatif. Cara ini mencegah gan yang buruk atau kurang bermutu masuk kedalam kumpulan gen. Hal ini dapat dilakukan dengan skrining orang tua dan memberitahu mereka tentang segala gen yang buruk yang mungkin dibawanya. Hal ini juga dapat dilakukan dengan amniosentesis. 3. Euthenika (euthenics). Cara ini adalah dengan mengubah lingkungannya sehingga individu dengan kekurangan genetik dapat berkembang secara relatif normal (kaca mata, insulin, mesin dialis, dsb.)
  35. 35. C.Kloning Gen Ditinjau Dari Hukum Agama Prestasi ilmu pengetahuan yang sampai pada penemuan proses kloning,sesungguhnya telah menyingkapkan sebuah hukum alam yang ditetapkan ALLAH SWT pada sel-sel tubuh manusia dan hewan, karena proses kloning telah menyikap fakta bahwa pada sel tubuh manusia dan hewan terdapat potensi menghasilkan keturunan, jika intisel tubuh tersebut ditanamkan pada sel telur perempuan yang telah dihilangkan inti selnya. Jadi sifat inti sel tubuh itu tak ubahnya seperti sel sperma laki-laki yang dapat membuahi sel telur peermpuan. Pada hakikatnya islam sangat menghargai iptek. Oleh sebab itu islam terhadap kloning tersebut tentunya sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat internasional. Didalam islam berbeda antara hukum kloning binatang dan manusia. Pada hukum kloning pada manusia. Menurut buku fatawa mu‟ashiroh karangan Yusuf Qurdhowy bahwa tidak diperbolehkanya kloning terhadap manusia. Atas beberapa pertimbangan diantaranya :  Pertama: Dengan kloning akan meniadakan keanekaragaman(varietas). ALLAH SWT telah menciptakan alam ini dengan kaedah keanekaragaman. Hal tersebut tertuang dalam Al-Qur‟an surat fathir ayat 26 dan 27. Sedangkan dengan kloning akan meniadakan keanekaragaman tersebut. Karena dengan kloning secara tidak langsung menciptakan duplikat dari satu orang. Dan dengan ini akan dapat merusak kehidupan manusia dan tatanan sosial dalam masyarakat, efeknya sebagian telah kita ketahui dan sebagian lainnya kita ketahui di kemudian hari.  Kedua: Kloning manusia akan menghilang nasab (garis keturunan). Bagaimana dengan hubungan orang ang mengkloning dan hasil kloningan tersebut, apakah dihukumi sebagai duplikatnya atau bapaknya ataupun kembarannya, dan ini adalah permasalahan yang kompleks. Kita akan kesulitan dalam menentukan nasab hasil kloningan tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan kloning dapat digunakan untuk kejahatan, Siapa yang bisa menjamin jikalau diperbolehkan kloning tidak akan ada satu negara yang mencetak ribuan orang yang digunakan sebagai prajurit militer yang berfungsi menumpas negara lain.  Ketiga: Dengan kloning akan mengilangkan Sunatullah (nikah). ALLAH SWT telah menciptakan manusia, tamanan, binatang dengan berpaangpasangan. Surat Addariyat 46.. Anak-anak produk kloning tersebut dihasilkan melalui cara yang tidak alami. Padahal justru cara alami itulah yang telah ditetapkan ALLAH SWT untuk manusia dan dijadikan-Nya sebagai sunnatullah untuk menghasilkan anakanak dan keturunannya. ALLAH SWT berfirman: ” dan Bawasannya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan.” (QS. An Najm : 45-46).  Keempat: Memproduksi anak melalui proses kloning akan mencegah pelaksanaan banyak hukum-hukum syara‟. Seperti hukum tentang perkawinan, nasab, nafkah, hak, dan kewajiban antar bapak dan anak, waris, perawatan anak, hubungan kemahraman, hubungan ‟ashabah dan lain-
  36. 36. lain. Disamping itu koning akan mencampur adukkan dam menghilangkan nasab serta menyalahi fitra yang telah diciptakan ALLAH SWT untuk manusia dalam masalah kelahiran anak. Kloning manusia sesungguhnya merupakan perbuatan keji yang akan dapat menjungkir balikkan struktur kehidupan masyarakat. Berdasarkan dalil-dalil itulah proses kloning manusia diharamkan menurut hukum islam dan tidak boleh dilaksanakan. ALLAH SWT berfirman mengenai perkataan iblis terkutuk, yang mengatakan : ”...dan akan aku (iblis) suruh mereka (mengubah ciptaan ALLAH), lalu benarbenar mereka mengubahnya.” (QS.An Nisaa‟ : 119). 20. PANDANGAN ISLAM TERHADAAP BEDAH PLASTIK Dalam sebuah kaidah fiqih disebutkan bahwa: ً‫ا ا أل صل أل ش ُاءف ً اإلت احح ح ت‬ Artinya: Asal segala sesuatu itu dibolehkan sampai adanya dalil yang mengharamkannya. Berdasarkan kaidah tersebut, maka apapun yang kita lakukan sebenarnya boleh kita lakukan, dan selamanya boleh kita lakukan, hingga adanya dalil atau petunjuk yang menyatakan haramnya melakukan sesuatu itu. Oleh karena itu, operasi plastik tampaknya mesti dilihat dari tujuannya. Ada yang melakukan operasi karena ingin lebih cantik bagi perempuan atau lebih tampan bagi laki-laki, ada pula yang melakukan operasi plastik karena menghilangkan bekas-bekas akibat kecelakaan, cacat seperti bibir sumbing dan sebagainya. Permasalahan yang sering kita dapati, tidak sedikit di antara para muslimah dan termasuk juga para muslim yang melakukan operasi dengan tujuan agar lebih cantik atau lebih tampan. A. Hukum melakukan Operasi Plastik dengan Tujuan untuk Kecantikan Allah menyukai yang indah-indah dan Islam juga membolehkan seseorang untuk berhias atau mempercantik diri selama tidak berlebih-lebihan, apalagi sampai mengubah ciptaan Allah. Jika kita pikir secara logika, apa ruginya Allah apabila ada yang melakukan operasi kecantikan, sebab sesuatu yang telah baik diberikan Allah kemudian dilakukan lagi upaya lain agar pemberian tersebut menjadi super lebih baik, tentunya kalau dipikir-pikir Allah pasti senang, terlebih Allah juga menyukai hal-hal yang indah-indah. Persoalan inilah yang perlu kita sadari bahwa tidak semua yang dilakukan manusia yang menurut manusia baik adalah baik pula dalam pandangan Allah. Merubah bentuk salah satu anggota tubuh yang berbeda dari apa yang diberikan Allah, dalam logika manusia dipandang baik, karena akan lebih cantik, tampan dan menarik. Asalnya kulit yang diberikan Allah hitam kemudian dirubah menjadi putih atau warna lainnya. Asalnya hidung yang diberikan Allah pesek kemudian dirubah menjadi mancung dan sebagainya. Namun demikian, apa yang dilakukan sebenarnya merupakan tindakan yang tidak percaya dengan pemberian Allah dan dapat dikatakan sebagai bentuk penghinaan terhadap Allah. Oleh karena itu merubah ciptaan atau pemberian Allah sebagaimana dideskripsikan di atas sebenarnya
  37. 37. bertentangan dengan kodrat dan iradat Allah. Seharusnya manusia menyadari bahwa apapun yang diciptakan Allah di dunia ini bukan merupakan hal yang sia-sia. Menurut pandangan manusia atau seseorang yang melakukan operasi bahwa salah satu anggota tubuhnya kurang menarik, sehingga ia pun berkeinginan untuk merubahnya melalui operasi. Padahal dalam pandangan Allah pemberian-Nya itu yang dipandang manusia kurang menarik, sebenarnya memiliki manfaat yang luar biasa, hanya saja ia tidak mengetahui dan menyadarinya. Mestinya manusia dapat bersyukur terhadap apa yang diberikan Allah dan memberdayakan pemberian tersebut dengan baik. Selain itu, apabila persoalan di atas dikembalikan kepada sumber hukum Islam yaitu Alquran, maka Alquran telah secara jelas menyatakan orang yang merubah ciptaan-Nya adalah orang yang mengikuti jalan dan ajakan syaithan. B. Operasi Plastik untuk Memperbaiki Cacat atau Akibat Kecelakaan Hukum melakukan operasi plastik dengan tujuan untuk memperbaiki cacat yang dibawa sejak lahir (al-‟uyub al-khalqiyyah) seperti bibir sumbing, atau cacat yang datang kemudian (al-‟uyub at-thari`ah) akibat kecelakaan, kebakaran, atau semisalnya, seperti wajah yang rusak akibat kebakaran/kecelakaan, maka dapat dikategorikan sebagai mubah atau dibolehkan melakukan operasi tersebut. Dalam ushul fikih, cacat atau akibat kecelakaan dapat dikategorikan sebagai mudharat atau disebut kemudaratan. Kemudaratan mengakibatkan ketidakbaikan yang akhirnya membuat orang yang mengalami kemudaratan ini tidak merasa nyaman beragama. Oleh karena itu, Islam memang bukan agama yang memudah-mudahkan sesuatu, tetapi bukan pula agama yang mempersulit. Kemudaratan mesti dihilangkan atau setidaknya menguranginya melalui operasi plastik. Bolehnya menghilangkan kemudaratan berupa cacat sejak lahir atau cacat akibat kecelakaan adalah berdasarkan kaidah fikih yang berbunyi: ‫ال ضزر َ زال‬ Artinya: Kemudaratan itu mesti dihilangkan”, Sehingga operasi plastik pun legal dilakukan dengan ketentuan sesuai dengan tujuan yang disebutkan. Selain itu, bolehnya melakukan operasi plastik adalah berdasarkan keumuman („amm) dalil yang menganjurkan untuk berobat (at-tadawiy). Nabi SAW bersabda: ‫مؤأن زل هال ل دآء ال أن زل له إ ء ش فآ‬ Artinya: Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah menurunkan pula obatnya. (HR Bukhari). Dalam hadits yang lain Nabi SAW bersabda pula: Artinya: Wahai hamba-hamba Allah berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit, kecuali menurunkan pula obatnya.” (HR Tirmidzi). Dalam ushul fikih disebutkan bahwa selama tidak ada dalil yang mengkhususkan dalil umum, maka selama itu pula dalil umum dapat diamalkan. Hadis di atas dipandang sebagai
  38. 38. hadis yang umum, dan dapat diamalkan atau dapat dijadikan hujjah, karena tidak ditemukan adanya dalil yang mengkhususkannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa operasi plastik dengan tujuan untuk kecantikan hukumnya haram dan apabila dilakukan untuk memperbaiki cacat yang dibawa sejak lahir seperti bibir sumbing, kaki pincang dan sebagainya atau memperbaiki cacat akibat kecelakaan, maka hukumnya mubah(boleh) sepanjang tidak ada ketentuan agama yang dilanggar. 21. PANDANGAN ISLAM TERHADAP EUTHANASIA A. Pengertian Euthanasia Euthanasia secara bahasa berasal dari bahasa Yunani eu yang berarti “baik”, dan thanatos, yang berarti “kematian”. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah qatlu ar-rahma atau taysir al-maut. Menurut istilah kedokteran, euthanasia berarti tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal diperingan. Juga berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya. B. Pandangan Syariah Islam Syariah Islam merupakan syariah sempurna yang mampu mengatasi segala persoalan di segala waktu dan tempat. Berikut ini solusi syariah terhadap euthanasia, baik euthanasia aktif maupun euthanasia pasif. 1. Euthanasia Aktif Syariah Islam mengharamkan euthanasia aktif, karena termasuk dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-„amad), walaupun niatnya baik yaitu untuk meringankan penderitaan pasien. Hukumnya tetap haram, walaupun atas permintaan pasien sendiri atau keluarganya. Dalil-dalil dalam masalah ini sangatlah jelas, yaitu dalil-dalil yang mengharamkan pembunuhan. Baik pembunuhan jiwa orang lain, maupun membunuh diri sendiri. Misalnya firman Allah SWT : “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS Al-An‟aam : 151) “Dan tidak layak bagi seorang mu`min membunuh seorang mu`min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)…” (QS An-Nisaa` : 92) “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisaa` : 29).
  39. 39. Dari dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya bagi dokter melakukan euthanasia aktif. Sebab tindakan itu termasuk ke dalam kategori pembunuhan sengaja (alqatlu al-„amad) yang merupakan tindak pidana (jarimah) dan dosa besar. Dokter yang melakukan euthanasia aktif, misalnya dengan memberikan suntikan mematikan, menurut hukum pidana Islam akan dijatuhi qishash (hukuman mati karena membunuh), oleh pemerintahan Islam (Khilafah), sesuai firman Allah : “Telah diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (QS Al-Baqarah : 178) Namun jika keluarga terbunuh (waliyyul maqtuul) menggugurkan qishash (dengan memaafkan), qishash tidak dilaksanakan. Selanjutnya mereka mempunyai dua pilihan lagi, meminta diyat (tebusan), atau memaafkan/menyedekahkan. Firman Allah SWT : “Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).” (QS Al-Baqarah : 178). 2. Euthanasia Pasif Adapun hukum euthanasia pasif, sebenarnya faktanya termasuk dalam praktik menghentikan pengobatan. Tindakan tersebut dilakukan berdasarkan keyakinan dokter bahwa pengobatan yag dilakukan tidak ada gunanya lagi dan tidak memberikan harapan sembuh kepada pasien. Karena itu, dokter menghentikan pengobatan kepada pasien, misalnya dengan cara menghentikan alat pernapasan buatan dari tubuh pasien. Bagaimanakah hukumnya menurut Syariah Islam? Jawaban untuk pertanyaan itu, bergantung kepada pengetahuan kita tentang hukum berobat (at-tadaawi) itu sendiri. Yakni, apakah berobat itu wajib, mandub,mubah, atau makruh? Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Menurut jumhur ulama, mengobati atau berobat itu hukumnya mandub (sunnah), tidak wajib. Namun sebagian ulama ada yang mewajibkan berobat, seperti kalangan ulama Syafiiyah dan Hanabilah, seperti dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dasar dari pada kewajiban berobat oleh sebagian ulama adalah hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia ciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian!” (HR Ahmad, dari Anas RA) Hadits di atas menunjukkan Rasulullah SAW memerintahkan untuk berobat. Menurut ilmu Ushul Fiqih, perintah (al-amr) itu hanya memberi makna adanya tuntutan (li ath-thalab), bukan menunjukkan kewajiban (li al-wujub). 22. PANDANGAN ISLAM TERHADAP HIV AIDS A. Pengertian HIV AIDS

×