• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Mentari mulai terbit
 

Mentari mulai terbit

on

  • 75 views

 

Statistics

Views

Total Views
75
Views on SlideShare
75
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Mentari mulai terbit Mentari mulai terbit Document Transcript

    • Mentari mulai terbit. Burung burung mulai berterbangan. Kulirik jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 5:30 WIB. Aku bangun dan segera mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Aku membuka pintu kamar papaku dan kulihat papa masih tertidur pulas. “ah mungkin bagiku papa kecapean, karena papa semalam kerja sampai larut malam.” gumamku. Setelah sholat, aku segera mandi dan siap siap untuk pergi ke sekolah. Oh ya, aku lupa mau memperkenalkan diriku. Namaku NABILA PUTRI. Aku bersekolah di surabaya. Nama sekolahku AN-nur. Aku duduk di kelas 5 SD. Aku sudah tidak mempunyai mama lagi. mamaku sudah meninggal sejak aku berumur 5 tahun. Mamaku terkena penyakit kanker ganas. Dan aku sekarang tinggal hanya bersama papa dan Bik imah pembantu di rumahku. Setiap pagi bik imah menyiapkan aku sarapan. “Bik, nasi goreng dan susu cokelat ku mana?” tanyaku. “iya neng, ini lagi dibuat.” jawab bik imah. Setelah nasi goreng dan susu cokelat datang. aku dan papa segera sarapan. “ayo pa, kita pergi. Aku takut terlmbat.” “oke..” jawab papa. Setelah sampai di sekolah. KRINGGG!!! bel sekolah pun berbunyi memekakkan telinga. tanda berbaris. Setelah berbaris kami pun masuk ke kelas. Aku di sambut oleh teman sebangkuku “selamat pagi nabila” sambut marina. “selamat pagi juga marina.” jawab ku. Kami pun duduk di meja dan menyiapakan buku yang akan dipelajari. KRINGGG!! Jam bel pulang pun berbunyi. Aku pulang berjalan kaki bersama teman teman ku. Biasanya sih, aku dijemput papa. Tapi mungkin papa lagi sibuk dengan pekerjaannya. Sudah pukul 21.00 WIB. Papa belum pulang juga. Aku menunggu papa pulang di kamarku. Dengan biasanya, aku mengambil buku diary kecilku jika aku suntuk dan menulis tentang yang aku rasakan sambil memandang bintang. “DIARY KECILKU…” Bintang, hari ini aku kesepian. Sudah jam segini papaku belum pulang juga. Aku merasa, aku kurang dapat perhatian dan kasih sayang lebih dari papa. Ya tuhan, Aku kangen mama. Andai mama masih ada di sampingku. Pasti aku tidak akan kesepian seperti ini. Hanyalah bintang bintang yang menemani malam-malam kesepianku. AKU KANGEN MAMA! DEAR NABILA.. Setelah aku menulis diary, tiba tiba aku melihat di lembaran kertas ku ada tetesan darah yang keluar dari hidungku. Dan aku merasakan pusing yang luar biasa sakitnya. Aku pun berlari ke kamar mandi dan membersihkan darahnya. “ya tuhan, ada apa ini?” gumam dalam hatiku. Aku melihat papa tiba-tiba membuka pintu kamarku. Dan aku pun berlarian menuju tempat tidur. “belum tidur sayang?” tanya papa. “belum ngantuk nih pa..” jawabku. Aku terpaksa merahasiakan kejadian yang kualami tadi. Karena aku takut. Papa khawatir dengan keadaanku. Kuambil boneka bintangku dan pelan-pelan aku memejamkan mataku. Keesokan paginya, aku pun bersiap siap menuju meja makan. Kulihat papa sudah duduk rapi dengan pakaian kerjanya. Nasi goreng tambah susu cokelat pun sudah tersedia. Tiba-tiba papa kaget melihatku. “Ada apa di hidungmu?” tanya papa kaget.
    • Dan kupegang hidungku dan kulihat ada darah keluar lagi. papa mengajaku untuk konsul ke dokter. Setelah aku di rontgen aku melihat papa keluar dari ruang dokter dan membawa map kecil. “Apaan itu pa? Aku terkena penyakit apa?” kulihat papa hanya meneteskan air mata. AKU PUN BERTANYA LAGI. “Ada apa papa? aku sakit apa?” papa hanya memegang tanganku dan membawaku memasuki mobil. Setiap hari aku hanya diberi obat yang begitu pahitnya. Setiap kali aku bertanya ke papa “aku sakit apa?” papa hanya tersenyum dan memelukku dan berkata “apapun yang terjadi. kamu harus kuat dan yakinkan dalam hati kamu pasti sembuh.” lambat laun aku heran dengan yang terjadi saat ini. Aku menuju kamar papa dan membuka lemari. Kulihat ada selembar kertas Yang tertulis namaku dan divonis sakit kanker otak (tumor) stadium akhir. Terhempas kertas tersebut dan aku pun terduduk lemas. air mata pun keluar dengan sendirinya. Keesokan harinya, aku melihat rambutku sedikit demi sedikit gugur. Dan hidungku semakin parah mengeluarkan darah. Dan aku hanya bisa terbaring lemas bersama boneka bintang kecilku. aku pun menulis diary kecilku. “DIARY KECILKU..” Aku merasa sudah tidak kuat lagi. Apakah ini terakhir kalinya aku menulis diary kecilku?.. mama aku sudah tidak kuat lagi. aku ingin tinggal bersama mama di alam yang indah sana. Ku tuliskan SURAT KECIL UNTUK TUHAN ini agar aku bisa menyusul mama suatu saat nanti.? Diary kecilku. Keesokan paginya, aku membuka mataku dan kulihat pagi telah menjemputku. Dan ketika aku mau beranjak dari tempat tidurku. Tiba-tiba aku tidak bisa menggerakan kakiku. “ya tuhan, ada apa ini?” papa membuka pintu kamarku dan menggendongku membawaku untuk masuk ke dalam mobil. Aku hanya bisa terbaring lemas. Setelah smpai di rumah sakit aku tidak sadarkan diri. Yang kurasakan hanyalah ruangan yang berbau obat. Hidungku pun ditutupkan oleh selang kecil. Aku merasa mama datang dalam mimpiku dan kupeluk mama. Aku berkata “aku mau menyusul mama” kulirik mata mama dengan indah. Mama hanya tersenyum manis. TIIIIITTT!!! Ternyata keinginanku selama ini untuk menyusul mama di dengar oleh tuhan. Kulihat papa terduduk lemas sambil menatapi tubuhku. aku hanya bisa tersenyum dan berkata. “AKU SUDAH BERSAMA MAMA, PAPA”
    • JUDUL CERPEN:SURAT KECIL UNTUK TUHAN KARYA:MUHAMAD YASIN GURU:ALIAS HAMKA S.PD M.SI