Your SlideShare is downloading. ×
MENINGKATKAN KETERAMPILAN
BERBICARA MELALUI METODE
BERMAIN PERAN
DISUSUN OLEH :
NAMA : LISTIAWATI
STAMBUK : 21208287
PRODI...
A. LATAR BELAKANG
Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari kegiatan berbahasa. Bahasa merupakan
sarana untuk berkomunikasi...
mendeskripsikan. Keterampilan berbahasa lisan tersebut memudahkan murid
berkomunikasi dan mengungkapkan ide atau gagasan k...
1. Apakah upaya meningkatkan keterampilan berbicara melalui metode bermain peran
dapat meningkatkan aktifitas guru di tk p...
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Keterampilan Berbicara
Menurut Nurgiyantoro (1995:276) berbicara adalah aktivitas berb...
menginformasikan, (3) menstimulasi, (4) meyakinkan, dan 5) menggerakkan.
Berdasarkan uraian di `atas maka dapat disimpulka...
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas. penelitian ...
ketetampilan berbicara dapat meningkatkan dengan menggunakan metode bermain
peran.
e. refleksi : hasil yang diperoleh pada...
BAB IV
PENUTUP
Setiap kegiatan pembelajaran diharapkan dapat mencapai target hasil belajar tertentu.
Salah satu target has...
DAFTAR PUSTAKA
Burhan Nurgiyantoro.1995. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Yogyakarta: BPFE.
Cox, Ca...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Meningkatkan keterampilan berbicara

13,042

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
13,042
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
184
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Meningkatkan keterampilan berbicara"

  1. 1. MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI METODE BERMAIN PERAN DISUSUN OLEH : NAMA : LISTIAWATI STAMBUK : 21208287 PRODI : PAUD INTEGRASI SEMESTER : VIII (DELAPAN) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI 2013 BAB I PENDAHULUAN
  2. 2. A. LATAR BELAKANG Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari kegiatan berbahasa. Bahasa merupakan sarana untuk berkomunikasi antarmanusia. Bahasa sebagai alat komunikasi ini, dalam rangka memenuhi sifat manusia sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan sesama manusia. Bahasa dianggap sebagai alat yang paling sempurna dan mampu membawakan pikiran dan perasaan baik mengenai hal-hal yang bersifat konkrit maupun yang bersifat abstrak (Effendi, 1985:5). Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dituntut untuk mempunyai kemampuan berbahasa yang baik. Seseorang yang mempunyai kemampuan berbahasa yang memadai akan lebih mudah menyerap dan menyampaikan informasi baik secara lisan maupun tulisan. Keterampilan berbahasa terdiri dari empat aspek, yaitu menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Siswa harus menguasai keempat aspek tersebut agar terampil berbahasa. Dengan demikian, pembelajaran keterampilan berbahasa di sekolah tidak hanya menekankan pada teori saja, tetapi siswa dituntut untuk mampu menggunakan bahasa sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi. Salah satu aspek berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa adalah berbicara, sebab keterampilan berbicara menunjang keterampilan lainnya (Tarigan, 1986:86). Keterampilan ini bukanlah suatu jenis keterampilan yang dapat diwariskan secara turun temurun walaupun pada dasarnya secara alamiah setiap manusia dapat berbicara. Namun, keterampilan berbicara secara formal memerlukan latihan dan pengarahan yang intensif. Stewart dan Kennert Zimmer (Haryadi dan Zamzani, 1997:56) memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap sebagai suatu yang esensial untuk mencapai keberhasilan setiap individu maupun kelompok. Siswa yang mempunyai keterampilan berbicara yang baik, pembicaraannya akan lebih mudah dipahami oleh penyimaknya. Berbicara menunjang keterampilan membaca dan menulis. Menulis dan berbicara mempunyai kesamaan yaitu sebagai kegiatan produksi bahasa dan bersifat menyampaikan informasi. Kemampuan murid dalam berbicara juga akan bermanfaat dalam kegiatan menyimak dan memahami bacaan. Akan tetapi, masalah yang terjadi di lapangan adalah tidak semua siswa mempunyai kemampuan berbicara yang baik. Oleh sebab itu, pembinaan keterampilan berbicara harus dilakukan sedini mungkin. Pentingnya keterampilan berbicara atau bercerita dalam komunikasi juga diungkapkan oleh Supriyadi (2005:178) bahwa apabila seseorang memiliki keterampilan berbicara yang baik, dia akan memperoleh keuntungan sosial maupun profesional. Keuntungan sosial berkaitan dengan kegiatan interaksi sosial antarindividu. Sedangkan, keuntungan profesional diperoleh sewaktu menggunakan bahasa untuk membuat pertanyaa- pertanyaan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan dan
  3. 3. mendeskripsikan. Keterampilan berbahasa lisan tersebut memudahkan murid berkomunikasi dan mengungkapkan ide atau gagasan kepada orang lain. Pentingnya penguasaan keterampilan berbicara untuk murid Sekolah Dasar juga dinyatakan oleh Farris (Supriyadi, 2005:179) bahwa pembelajaran keterampilan berbicara penting dikuasai murid agar mampu mengembangkan kemampuan berpikir, membaca, menulis, dan menyimak. Kemampuan berpikir mereka akan terlatih ketika mereka mengorganisasikan, mengonsepkan, mengklarifikasikan, dan menyederhanakan pikiran, perasaan, dan ide kepada orang lain secara lisan. Keterampilan berbicara harus dikuasai oleh para murid TK Pertiwi Raha Sekolah Dasar karena keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di Sekolah Dasar. Keberhasilan belajar Murid dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan berbicara mereka. Siswa yang tidak mampu berbicara dengan baik dan benar akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Menurut pandangan whole language berbicara tidak diajarkan sebagai suatu pokok bahasan yang berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran bahasa bersama dengan keterampilan berbahasa yang lain. Kenyataan teresebut dapat dilihat bahwa dalam proses pembelajaran bahasa, keterampilan berbahasa tertentu dapat dikaitkan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Pengaitan keterampilan berbahasa yang dimaksud tidak selalu melibatkan keempat keterampilan berbahasa sekaligus, melainkan dapat hanya menggabungkan dua keterampilan berbahasa saja sepanjang aktivitas berbahasa yang dilakukan bermakna. Menurut Badudu (1993:131) pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia dari jenjang Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas masih terkesan bahwa guru terlalu banyak menyuapi materi, guru kurang mengajak siswa untuk lebih aktif menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Proses pembelajaran di kelas yang tidak relevan dengan yang diharapkan, mengakibatkan kemampuan berbicara siswa menjadi rendah. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa Sekolah Dasar adalah penerapan pendekatan pengalaman berbahasa dalam pembelajaran berbicara siswa Sekolah Dasar. B. RUMUSAN MASALAH berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
  4. 4. 1. Apakah upaya meningkatkan keterampilan berbicara melalui metode bermain peran dapat meningkatkan aktifitas guru di tk pertiwi raha kelompok A 2. Apakah upaya meningkatkan keterampilan berbicara melalui metode bermain peran dapat meningkatkan murid tk pertiwi raha kelompok A 3. Apakah upaya meningkatkan keterampilan berbicara melalui metode bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar murid TK pertiwi raha kelompok A C. TUJUAN PENELITIAN INI ADALAH 1. Untuk meningkatkan aktifitas Guru dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa anak melalui metode bermain peran 2. Untuk meningkatkan aktifitas murid melalui pembelajaran metode bermain peran di Tk Pertiwi Kelompok A 3. Untuk meningkatkan hasil belajar murid melalui metode bermain peran di TK Pertiwi Raha Kelompok A D. MANFAAT PENELITIAN hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap murid, guru, sekolah dan pihak yang terkait kontribusi tersebut adalah sebagai berikut : 1. Bagi murid TK pertiwi raha, khususnya kelompok A dengan tindakan ini akan meningkatkan keaktifan murid dalam proses pembelajaran sekaligus dapat meningkatkan keaktifan murid dalam proses pembelajaran sekaligus dapat meningkatkan 2. Bagi guru TK Pertiwi raha khususnya kelompok A untuk meningkatkan kreatifitas, inovasi dan penguasaan terhadap metode bermain peran. 3. Bagi sekolah hasil penelitian ini dapat digunakan guru, khususnya TK Pertiwi Raha untuk bisa meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar murid melalui penelitian lanjut.
  5. 5. BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Keterampilan Berbicara Menurut Nurgiyantoro (1995:276) berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa, yaitu setelah aktivitas mendengarkan. Berdasarkan bunyi-bunyi yang didengar itu, kemudian manusia belajar untuk mengucapkan dan akhirnya terampil berbicara. Berbicara diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan dan menyampaikan pikiran, gagasan, serta perasaan (Tarigan, 1983:14). Dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan atau ide- ide yang dikombinasikan. Berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis,semantik, dan linguistik. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa berbicara diartikan sebagai suatu alat untuk mengkombinasikan gagasan-gagasan yang disusun serta mengembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir- hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraan maupun para penyimaknya, apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkombinasikan gagasan-gagasannya apakah dia waspada serta antusias ataukah tidak. B. Tujuan Berbicara Setiap kegiatan berbicara yang dilakukan manusia selalu mempunyai maksud dan tujuan. Menurut Tarigan (1983:15) tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka sebaiknya sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikombinasikan, dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasi terhadap pendengarnya, dan dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala sesuatu situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan. Menurut Djago, dkk (1997:37) tujuan pembicaraan biasanya dapat dibedakan atas lima golongan yaitu (1) menghibur, (2)
  6. 6. menginformasikan, (3) menstimulasi, (4) meyakinkan, dan 5) menggerakkan. Berdasarkan uraian di `atas maka dapat disimpulkan bahwa seseorang melakukan kegiatan berbicara selain untuk berkomunikasi juga bertujuan untuk mempengaruh orang lain dengana maksud apa yang dibicarakan dapat diterima oleh lawan bicaranya dengan baik. Adanya hubungan timbal balik secara aktif dalam kegiatan bebricara antara pembicara dengan pendengar akan membentuk kegiatan berkomunikasi menjadi lebih efektif dan efisien. C. Faktor-faktor Penunjang Kegiatan Berbicara Berbicara atau kegiatan komunikasi lisan merupakan kegiatan individu dalam usaha menyampaikan pesan secara lisan kepada sekelompok orang, yang disebut juga audience atau majelis. Supaya tujuan pembicaraan atau pesan dapat sampai kepada audience dengan baik, perlu diperhatikan beberapa faktor yang dapat menunjang keefektifan berbicara. Kegiatan berbicara juga memerlukan hal-hal di luar kemampuan berbahasa dan ilmu pengetahuan. Pada saat berbicara diperlukan a) penguasaan bahasa, b) bahasa, c) keberanian dan ketenangan, d) kesanggupan menyampaikan ide dengan lancar dan teratur. berdasarkan pengalaman empiris di lapangan di ketahui bahwa kemampuan berbicara siswa dalam proses pembelajaran masih rendah. Hal ini terdeteksi pada saat murid di minta oleh guru untuk menjelaskan letak suatu tempat sesuai dengan denah dan petunjuk penggunaan suatu alat dengan bahasa yang nuntut baik dan benar isi pembicaraan yang disampaikan oleh murid tersebut tidak akurat dan berbelit-belit. selain itu juga murid berbicara tersendat-sendat sehingga isi pembicaraanya menjadi tidak jelas. ada pula diantara murid tidak mau bicara di depan kelas. bahkan pada saat guru bertanya kepada murid tk di kelas yang hanya berjumlah 9 orang, umumnya murid lama sekali untuk menjawab pertanyaan guru, karena takut dan malu salah menjawab. apalagi untuk berbicara di depan kelas para murid belum menunjukan keberaniannya aktifitas belajar dan keterampilan berbicara siswa sangat rendah. dan kalaupun ada beberapa dari mereka yang memiliki keberanian, sekitar 3 sampai 4 murid (15%-21%) menurut Nuraeni (2002) banyak orang yang beranggapan berbicara adalah suatu pekerjaan yang mudah dan tidak perlu untuk dipelajari. untuk situasi yang tidak resmi barangkali anggapan itu ada benarnya juga. namun pada situasi resmi peryataan tersebut jelas salah besar. kenyataanya tidak semua murid tidak mau berbicara di depan kelas sebab mereka umumnya kurang terampil sebagai akibat dari kurangnya latihan berbicara. latihan pertama kali yang perlu dilakukan guru ialah menumbuhkan keberanian murid untuk berbicara.
  7. 7. BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas. penelitian tindakan kelas adalah tindakan yang dilakukan oleh guru secara berulang-ulang di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN 1. tempat penelitian dilakukan disekolah Taman Kanak-Kanak Pertiwi Kelompok A 2. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester genap Tahun 2013 C. SUBJEK PENELITIAN yang menjadi subjek penelitian ini adalah guru dan murid tk kelompok 4 tk pertiwi yang jumlahnya 10 anak dengan rincian laki-laki sebanyak 6 orang dan perempuan sebanyak 4 orang. D. RENCANA TINDAKAN penelitian ini direncanakan terdiri dari 2 siklus tiap siklus dilaksanakan dengan perubahan yang ingin di capai. berdasarkan hasil pembelajaran anak setiap semester pada kelompok A di TK Pertiwi Raha khususnya pada metode bermain peran masih tergolong rendah, sehingga ditetapkan tindakan yang akan dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui metode bermain peran. E. PROSEDUR PENELITIAN prosedur penelitian tindakan kelas ini pelaksanaannya di rencanakan dalam 2 siklus siklus dalam penelitian tindak ini dapat dilihat secara rinci yaitu : a. perencanaan : kegiatan yang dilahirkan dalam tahapan ini adalah 1. Membuat perangkat rencana kegiatan harian (RKH) 2. Membuat lembar observasi untuk guru dan untuk siswa 3. Membuat instrumen penelitian yang meliputi alat evaluasi berupa tes disertai kuci jawaban dan panduan dan lembur observasi. b. Pelaksanaan tindakan yaitu : melaksanakan / menyajikan RKH yang telah dibuat berdasarkan kurikulum KTSP c. Observasi : kegiatannya adalah melaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi dilakukan sejak awal hingga akhir penelitian. d. evaluasi kegiatannya dilakukan pada akhir siklus evaluasi bertujuan melihat apakah
  8. 8. ketetampilan berbicara dapat meningkatkan dengan menggunakan metode bermain peran. e. refleksi : hasil yang diperoleh pada kegiatan observasi dan evaluasi dikumpulkan selanjutnya dianalisa berdasarkan kelemahan yang ditemukan pada pertemuan setiap siklusnya. temuan-temuan tersebut selanjutnya peneliti bersama dengan guru kolaborasi mendiskusikan untuk perbaikan perencanaan pada pertemuan siklus berikutnya. f. teknik pengumpulan data 1. observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlansung, untuk mengetahui aktifitas yang dilakukan oleh anak didik dan guru. 2. tes dilakukan pada saat kegiatan akhir pembelajaran untuk mengetahui kemampuan aktivitas belajar anak dalam proses pembelajaran. g. tekhnik analisa data 1. untuk mengetahui rata-rata hasil belajar siswa, digunakan rumus rata-rata hasil belajar = jumlah skor perolehan siswa / jumlah siswa 2. kriteria aktifitas mengajar guru, digunakan rumus : rata-rata hasil belajar = jumlah skor yang diperoleh x 100 / jumlah skor maksimal 3. kriteria aktifitas belajar siswa, digunakan rumus : KABS = Jumlah skor yang diperoleh x 100 / jumlah skor maksimal
  9. 9. BAB IV PENUTUP Setiap kegiatan pembelajaran diharapkan dapat mencapai target hasil belajar tertentu. Salah satu target hasil belajar yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran berbicara di sekolah dasar adalah siswa. Keterampilan berbicara harus dikuasai oleh para siswa SD karena keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan berbicara mereka. Siswa yang tidak mampu berbicara dengan baik dan benar akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Pembelajaran berbicara di sekolah dasar dilaksanakan dengan berbagai metode. Setiap metode pembelajaran berbicara mempunyai kelebihan dan kekurangan masing- masing. Metode yang satu akan melengkapi metode yang lain. Guru dapat memilih salah satu atau menggabungkan berbagai metode sesuai dengan kondisi siswa dan tersedianya sarana pendukung lainnya. Selain itu, guru juga boleh menciptakan model baru dalam pelaksanaan pembelajaran berbicara. Pendekatan pengalaman berbahasa merupakan salah satu metode yang dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan kelancaran dalam berbicara di sekolah dasar, karena dalam pendekatan pengalaman berbahasa, materi dikembangkan oleh guru bersama- sama dengan muridnya secara tatap muka. Dalam kegiatan pengembangan materi itu dapat dikembangkan semua keterampilan berbahasa; menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan padukannya semua keterampilan dalam suatu kegiatan itu guru dituntut untuk lebih kreatif.
  10. 10. DAFTAR PUSTAKA Burhan Nurgiyantoro.1995. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: BPFE. Cox, Carole.1998. Teaching language arts (a student-and response-centered classroom).New York: A Viacom Company. Haryadi. 1997. Berbicara (Suatu Pengantar) Diktat Perkuliahan: IKIP Yogyakarta. Haryadi dan Zamzani.1996/1997. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Depdikbud Dirjen Dikti bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. .

×