Makalah hpp akper muna

1,601 views
1,377 views

Published on

Published in: Economy & Finance
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,601
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
26
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah hpp akper muna

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perdarahan, yang biasanya tidak bisa diperkirakan dan terjadi secara mendadak, bertanggung jawab atas 28 persen kematian ibu. Sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan atonia uteri. Hal ini mengindikasikan kurang baiknya manajemen tahap kedua dan ketiga proses kelahiran dan pelayanan emergensi obstetrik. Perdarahan setelah melahirkan atau post partum hemorrhagic (PPH) adalah konsekuensi perdarahan berlebihan dari tempat implantasi plasenta, trauma di traktus genitalia dan struktur sekitarnya, atau keduanya. Diperkirakan ada 14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan setiap tahunnya paling sedikit 128.000 wanita mengalami perdarahan sampai meninggal. Sebagian besar kematian tersebut terjadi dalam waktu 4 jam setelah melahirkan dan kebanyakan terjadi pada wanita dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun serta wanita dengan jarak persalinan yang dekat yaitu kurang dari 2 tahun. Di Indonesia, Sebagian besar persalinan terjadi tidak di rumah sakit, sehingga sering pasien yang bersalin di luar kemudian mengalami perdarahan postpartum dan terlambat sampai ke rumah sakit, saat datang keadaan umum/hemodinamiknya sudah memburuk, akibatnya mortalitas tinggi. (Yayan Akhyar) B. TUJUAN 1. Tujuan Umum Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu mengetahui serta memahami tentang perdarahan postpartum. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui dan memahami definisi perdarahan post partum b. Untuk mengetahui dan memahami epidemiologi perdarahan post partum c. Untuk mengetahui dan memahami klasifikasi perdarahan post partum d. Untuk mengetahui dan memahami etiologi perdarahan post partum
  2. 2. 2 e. Untuk mengetahui dan memahami faktor risiko perdarahan post partum f. Untuk mengetahui dan memahami insidensi perdarahan post partum g. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi dan pathway perdarahan post partum h. Untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinis perdarahan post partum i. Untuk mengetahui dan memahami pemeriksaan fisik baik secara umum dan khusus pada perdarahan post partum j. Untuk mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang dan penilaian klinik pada perdarahan post partum k. Untuk mengetahui dan memahami cara penatalaksanaan perdarahan post partum l. Untuk mengetahui dan memahami komplikasi perdarahan post partum m. Untuk mengetahui dan memahami cara pencegahan perdarahan post partum n. Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan perdarahan post partum C. PEMBATASAN MASALAH Mengingat terbatasnya waktu yang disediakan, maka pada makalah ini penulis hanya membicarakan tentang “Asuhan Keperawatan Perdarahan Post Partum”. D. RUMUSAN MASALAH 1. Apa yang dimaksud dengan perdarahan post partum ? 2. Bagaimana epidemiologi perdarahan post partum ? 3. Apa saja klasifikasi perdarahan post partum ? 4. Apa saja etiologi perdarahan post partum ? 5. Sebutkan faktor risiko pada perdarahan post partum ? 6. Apa insidensi dari perdarahan post partum ? 7. Bagaimana patofisiologi dan pathway perdarahan post partum ? 8. Apa manifestasi klinis perdarahan post partum ? 9. Bagaimanai pemeriksaan fisik baik secara umum dan khusus pada perdarahan post partum ? 10. Apa pemeriksaan penunjang dan penilaian klinik pada perdarahan post partum / 11. Bagaimana cara penatalaksanaan perdarahan post partum ?
  3. 3. 3 12. Apa komplikasi perdarahan post partum ? 13. Bagaimana cara pencegahan perdarahan post partum ? 14. Bagaimana asuhan keperawatan perdarahan post partum ? E. METODE PENULISAN Dalam penyusunan makalah ini, kami memperoleh bahan atau sumber-sumber pembahasan dari berbagai media yang ada, antara lain seperti internet dan beberapa buku cetak yang ada. Kemudian kami saling menghubungkan satu sama lain dalam pembahasan sehingga menjadi karangan lengkap, objektif dan akurat. F. SISTEMATIKA PENULISAN Pada penyajian makalah ini akan kami sajikan terdiri dari empat bagian. Bab I Pendahuluan. Bab II Pembahasan. Bab III Penutup.
  4. 4. 4 BAB II PEMBAHASAN A. DEFINISI Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta. Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, 1998). Haemoragic Post Partum (HPP) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi (Williams, 1998) HPP biasanya kehilangan darah lebih dari 500 ml selama atau setelah kelahiran (Marylin E Dongoes, 2001). POGI, tahun 2000 mendefinisikan perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang menyebabkan perubahan tanda vital seperti klien mengeluh lemah, berkeringat dingin, dalam pemeriksaan fisik hiperpnea, sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 x/menit dan kadar HB < 8 gr %. Jadi, post partum/puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik fisik maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera setelah bersalin sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati keadaan sebelum hamil (6 minggu). Masa post partum dibagi dalam tiga tahap : 1. Immediate post partum dalam 24 jam pertama, 2. Early post partum period (minggu pertama) dan 3. Late post partum period ( minggu kedua sampai minggu ke enam). B. EPIDEMIOLOGI Perdarahan karena kontraksi rahim yang lemah setelah anak lahir meningkat insidennya pada kehamilan dengan pembesaran rahim yang berlebihan seperti pada kehamilan ganda, hidramnion, anak terlalu besar ataupun pada rahim yang melemah daya kontraksinya seperti pada grandemultipara, interval kehamilan yang pendek, atau pada kehamilan usia lanjut, induksi partus dengan oksitosin, his yang terlalu kuat sehingga anak dilahirkan terlalu cepat dan sebagainya.
  5. 5. 5 Perdarahan post partum dini jarang disebabkan oleh retensi potongan plasenta yang kecil, tetapi plasenta yang tersisa sering menyebabkan perdarahan pada akhir masa nifas. Kadang-kadang plasenta tidak segera terlepas. Bidang obstetri membuat batas-batas durasi kala tiga secara agak ketat sebagai upaya untuk mendefenisikan retensio plasenta shingga perdarahan akibat terlalu lambatnya pemisahan plasenta dapat dikurangi. Combs dan Laros meneliti 12.275 persalinan pervaginam tunggal dan melaporkan median durasi kala III adalah 6 menit dan 3,3% berlangsung lebih dari 30 menit. Beberapa tindakan untuk mengatasi perdarahan, termasuk kuretase atau transfusi, menigkat pada kala tiga yang mendekati 30 menit atau lebih. (yayanakhyar.com, 2008) Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah pada sebelum hamil dan derajat anemia saat kelahiran. Gambaran perdarahan post partum yang dapat mengecohkan adalah nadi dan tekanan darah yang masih dalam batas normal sampai terjadi kehilangan darah yang sangat banyak. C. KLASIFIKASI Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian : 1. Perdarahan postpartum primer ( early postpartum hemorrhage ) Adalah perdarahan ≥ 500 ml yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir. Penyebab utama perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri, sisa plasenta, retensio plasenta, dan laserasi jalan lahir. 2. Perdarahan postpartum sekunder ( late postpartum hemorrhage ) Adalah perdarahan ≥ 500 ml yang terjadi setelah 24 jam pertama setelah bayi lahir. Penyebab utama perdarahan postpartum sekunder adalah sisa plasenta dan laserasi jalan lahir. D. ETIOLOGI Penyebab perdarahan post portum menurut Rustam 2000 antara lain : 1. Antonia uteri. Faktor presdisposisi terjadinya antonia uteri adalah: a. Persalinan yang terlalu cepat (partus precipitatus). b. Kontrak uterus yang terlalu kuat dan terus menerus selama kala I dan kala
  6. 6. 6 persalinan (kontraksi yang hiperernik), maka otot-otot uterus akan kekurangan kemampuannya untuk beretraksi setelah bayi lahir. c. Umur telalu muda atau terlalu tua (kurang dari 20 tahun atau lebi dari 35 tahun) d. Perietas sering terjadi atau dijumpai pada grande multipara dan multipara. e. Partus lama Dapat menyebabkan terjadinya inersia uteri karena kelelahan pada otot-otot uterus(Dep Kes RI,1999). f. Uterus terlalu tegang dan besar misalnya pada (gemeli, hidramnion, atau janin besar). Pada kondisi ini miometrium teregang dengan hebat sehingga kontraksinya setelah kelahiran bayi menjadi tidak efisien.(Varley,2000) g. Riwayat perdarahan post partum atau retensio plasenta pada persalinan terdahulu. pada kondisi ini akan timbul resiko terjadinya hal yang sama pada persalinan yang sekarang. h. Stimulasi dengan oksitoksin atau protaklandin. Dapat menyebabkan terjadinya inersia sekunder karena kelelahan pada otot-otot uterus (Cunningham,2000). i. Perut bekas seksio sesaria , miomektomi atau histerorafia. Keadaan tersebut akan mengganggu kontraksi rahim(Arias,1999). j. Anemia. k. Wanita yang mengalami anemia dalam persalinan dengan kadar hemoglobin 10g/dl,akan dengan cepat terganggu kondisinya bila terjadi kehilangan darah meskipun hanya sedikit. Anemia dihubungkan dengan kelemahan yang dapat dianggap sebagai penyebab langsung atonia uteri (Dep Kes RI, 1999).sedangkan penyebab anemia dalam kehamilan adalah: a) Kurang gizi(malnutrisi). b) Kurang zat besi. c) Malabsorbsi. d) Kehilangan darah yang banyak pada persalinan yang lalu, dan haid. l. Sisa ketuban dan selaput ketuban m. Jalan lahir seperti robekan perineum, robekan vagina, robekan serviks, forniks dan rahim n. Penyakit darah, kelainan pembekuan darah atau hipofibrinogenia dan sering dijumpai pada : a) Sclusio plasenta b) Kematian janin yang lama dalam kandungan c) Pre eklamasi dan eklamasi
  7. 7. 7 d) Infeksi, hepatitis, dan septik syok. 2. Retensi Plasenta Bila plasenta tetap tertinggal dalam uterus setengah jam setelah anak lahir disbut sebagai retensio plasenta. Plasenta yang sukar dilepaskan dengan pertolongan aktif Kala III bis disebabkan oleh adhesi yang kuat antara plasenta dan uterus. Disebut sebagai plasenta akreta bila implantasi menembus desidua basalis dan Nitabuch Layer, disebut sebagai plasenta inkreta bila plasenta sampai menembus miometrium dan disebut plasenta perkreta bila vili korialis sampai menembus perimetirum. Faktor predisposisi terjadinya plasenta akreta adalah plasenta previa, bekas secsio sesarea, pernah kuret berulang, dan multiparitas. Bila sebagian dari plasenta masih tertinggal dalam uterus disebut rest-plasenta dan dapat menimbulkan PPP primer atau lebih sering) sekunder. Proses Kala III didahului dengan ahap pelepasan/separasi plasenta akan ditandai oleh perdarahan pervaginam (cara pelepasan Duncan) atau plasenta sudah sebagian lepas tetapi tidak keluar pervaginam(cara pelepasan Schultze), sampai akhirnya tahap ekspulsi, plasenta lahir. Pada retensio plasenta, sepanjang plasenta belum terlepas, maka tidak akan menimbulkan perdarahan. Sebagian plasenta yang sudah lepas dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak (perdarahan Kala III) dan harus diantisipasi dengan segera melakukan plasenta manual, meskipun kala uri belum lewat setengah jam. 3. Sisa Plasenta dan selaput ketuban a. Pelekatan yang abnormal (plasaenta akreta dan perkreta) b. Tidak ada kelainan perlekatan (plasenta seccenturia) Sisa plasenta bisa diduga kala uri berlangsung tidak lancar, atau setelah melakukan plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang tidak lengkap pada saat melakukan pemeriksaan plasenta dan masih ada perdarahan dari ostium uteri eksternum pada saat kontraksi rahim sudah baik dan robekan jalan lahir sudah terjahit. Untuk itu, harus dilakukan eksplorasi ke dalam rahim dengan cara manual/digital atau kuret dan pemberia uterotonika. Anemia yang ditimbulkan setelah perdarahan dapat diberi transfuse darah sesuai dengan keperluannya. 4. Trauma jalan lahir a. Episiotomi yang lebar b. Lacerasi perineum, vagina, serviks, forniks dan rahim
  8. 8. 8 c. Rupture uteri 5. Penyakit darah Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia /hipofibrinogenemia. Tanda yang sering dijumpai : a. Perdarahan yang banyak. b. Solusio plasenta. c. Kematian janin yang lama dalam kandungan. d. Pre eklampsia dan eklampsia. e. Infeksi, hepatitis dan syok septik. 6. Hematoma Kausal PPP karena gangguan pembekuan darah baru dicurigai bila penyebab yang lain dapat disingkirkan apalagi disertai ada riwayat pernah mengalami hal yang sama pada persalinan sebelumnya. Akan ada tendensi mudah terjadi perdarahan setiap dilakukan penjahitan dan perdarahan akan erembes atau timbul hematoma pada bekas jahitan, suntikan, perdarahan dari gusi, rongga hidung, dan lain-lain. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan hasil pemeriksaan faal hemostasis yang abnormal. Waktu perdarahan dan waktu pembekuan memanjang, trombositopenia, terjadi hipofibrinogemia, dan terdeteksi adanya FDP (fibrin degradation product) serta perpanjangan tes protombin dan PTT (partial tromboplastin time). Predisposisi untuk terjadinya hal ini adalah solusio plasenta, kematian janin dalam kandungan, eklampsia, emboli cairan ketuban, dan sepsis. Terapi yang dilakukan adalah dengan transfusi darah dan produknya seperti plasma beku segar, trombosit, fibrinogen dan heparinisasi atau pemberian EACA (epsilon amino caproic acid). 7. Inversi Uterus Kegawat daruratan kala III yang dapat menimbulkan perdarahan adalah terjadinya inverse uterus. Inverse uterus adalah keadaan dimana lapisan dalam uterus (endometrium) turun dan keluar ostium uteri eksternum, yang dapat bersifat inkomplit sampai komplit.
  9. 9. 9 Faktor-faktor yang memungkinkan hal itu terjadi adalah adanya atonia uteri, serviks yang masih terbuka lebar, dan adanya kekuatan yang menarik fundus ke bawah (misalnya karena plasenta akreta, inkreta dan perkreta, yang tali pusatnya ditarik keras dari bawah) atau ada tekanan pada fundus uteri dari atas (maneuver crede) atau tekanan intra abdominal yang keras dan tiba-tiba (misalnya batuk keras atau bersin). Inversio uteri ditandai dengan tanda-tanda: a. Syok karena kesakitan b. Perdarahan banyak bergumpal c. Di vulva tampak endometrium terbalik dengan atau tanpa plasenta yang masih melekat d. Bila baru terjadi, maka prognosis cukup baik akan tetapi bila kejadiannya cukup lama, maka jepitan serviks yang mengecil akan membuat uterus mengalami iskemia, nekrosis, dan infeksi. 8. Subinvolusi Uterus Hal-hal yang dicurigai akan menimbulkan perdarahan pasca persalinan, yaitu : a. Riwayat persalinan yang kurang baik, misalnya: a) Riwayat perdarahan pada persalinan yang terdahulu. b) Grande multipara (lebih dari empat anak). c) Jarak kehamilan yang dekat (kurang dari dua tahun). d) Bekas operasi Caesar. e) Pernah abortus (keguguran) sebelumnya. b. Hasil pemeriksaan waktu bersalin, misalnya: a) Persalinan/kala II yang terlalu cepat, sebagai contoh setelah ekstraksi vakum, forsep. b) Uterus terlalu teregang, misalnya pada hidramnion, kehamilan kembar, anak besar. c) Uterus yang kelelahan, persalinan lama. d) Uterus yang lembek akibat narkosa. e) Inversi uteri primer dan sekunder.
  10. 10. 10 E. FAKTOR RESIKO 1. Penggunaan obat-obatan (anestesi umum, magnesium sulfat 2. Partus presipitatus 3. Solutio plasenta 4. Persalinan traumatis 5. Uterus yang terlalu teregang (gemelli, hidramnion) 6. Adanya cacat parut, tumor, anomali uterus 7. Partus lama 8. Grandemultipara 9. Plasenta previa 10. Persalinan dengan pacuan 11. Riwayat perdarahan pasca persalinan F. INSIDENSI Insidensi yang dilaporkan Mochtar, R. dkk. (1965-1969) di R.S. Pirngadi Medan adalah 5,1% dari seluruh persalinan. Dari laporan-laporan baik di negara maju maupun di negara berkembang angka kejadian berkisar antara 5% sampai 15%5 . Berdasarkan penyebabnya diperoleh sebaran sebagai berikut5 : 1. Atonia uteri 50 – 60 % 2. Sisa plasenta 23 – 24 % 3. Retensio plasenta 16 – 17 % 4. Laserasi jalan lahir 4 – 5 % 5. Kelainan darah 0,5 – 0,8 % G. PATOFISIOLOGI Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan sirkulasi ke sana, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah-pembuluh darah yang melebar tadi tidak menutup sempurna sehingga perdarahan terjadi terus menerus. Trauma jalan lahir seperti epiostomi yang lebar, laserasi perineum, dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah, penyakit darah pada ibu; misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak ada atau kurangnya fibrin untuk
  11. 11. 11 membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari perdarahan postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock hemoragik. Pathway Atoni uterus Laserasi jalan lahir MK : Gg. Perfusi jaringan Histerektomi Anemia HB & Fe2+ Perdarahan DIC/gg.koagulasi Suply darah 500-600 cc/24 jam Uterus tdk berkontraksi & lembek - MK : Defisit Vol cairan - TD - HR Robekan dinding vagina Robekan jalan lahir Mk : Gg. Nutisi < Keb. Tubuh - Ekstrimitas dingin - Mual, muntah MK : Resti Infeksi Luka insisi Psikologis Trauma MK : Gg. Rasa Nyaman ; Nyeri Nyeri Mk : Ansietas Takut Transfuse trombosit Trombositopenia Plasma beku Syok hipovolemia Kelemahan MK : Intoleransi aktivitas
  12. 12. 12 H. MANIFESTASI KLINIS Suhu meningkat lebih dari 380 C, air ketuban keruh kecoklatan dan berbau, leukositosis lebih dari 15.000/mm3 pada kehamilan atau lebih dari 20.000/mm3 dari persalinan. (arief mansur, 1999). Gejala Klinis umum yang terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (> 500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah, haus, pusing, gelisah, letih, dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, mual. Gejala Klinis berdasarkan penyebab: 1. Atonia Uteri - Gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan segera setelah anak lahir (perarahan postpartum primer). - Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok (tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain) 2. Robekan jalan lahir - Gejala yang selalu ada: perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah bayi lahir, kontraksi uteru baik, plasenta baik. - Gejala yang kadang-kadang timbul: pucat, lemah, menggigil. 3. Retensio plasenta - Gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera, kontraksi uterus baik - Gejala yang kadang-kadang timbul: tali pusat putus akibat traksi berlebihan, inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan 4. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta) - Gejala yang selalu ada : plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap dan perdarahan segera - Gejala yang kadang-kadang timbul: Uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang. 5. Inversio uterus - Gejala yang selalu ada: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir), perdarahan segera, dan nyeri sedikit atau berat. - Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok neurogenik dan pucat
  13. 13. 13 Perbedaan perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan robekan jalan lahir adalah: 1. Atonia uteri (sebelum/sesudah plasenta lahir). - Kontraksi uterus lembek, lemah, dan membesar (fundus uteri masih tinggi. - Perdarahan terjadi beberapa menit setelah anak lahir. - Bila kontraksi lemah, setelah masase atau pemberian uterotonika, kontraksi yang lemah tersebut menjadi kuat. 2. Robekan jalan lahir (robekan jaringan lunak). - Kontraksi uterus kuat, keras dan mengecil. - Perdarahan terjadi langsung setelah anak lahir. Perdarahan ini terus-menerus. Penanganannya, ambil spekulum dan cari robekan. - Setelah dilakukan masase atau pemberian uterotonika langsung uterus mengeras tapi perdarahan tidak berkurang. I. PEMERIKSAAN FISIK 1. Pemeriksaan tanda-tanda vital: a. Suhu badan. Suhu biasanya meningkat sampai 380 C dianggap normal. Setelah satu hari suhu akan kembali normal (360 C – 370 C), terjadi penurunan akibat hipovolemia. b. Denyut nadi. Nadi akan meningkat cepat karena nyeri, biasanya terjadi hipovolemia yang semakin berat. c. Tekanan darah. Tekanan darah biasanya stabil, memperingan hipovolemia. d. Pernafasan. Bila suhu dan nadi tidak normal, pernafasan juga menjadi tidak normal. 2. Pemeriksaan Khusus: Observasi setiap 8 jam untuk mendeteksi adanya tanda-tanda komplikasi dengan mengevaluasi sistem dalam tubuh. Pengkajian ini meliputi: a. Nyeri/ketidaknyamanan: nyeri tekan uterus (fragmen-fragmen plasenta tertahan), ketidaknyamanan vagina/pelvis, sakit punggung (hematoma). b. Sistem vaskuler: - Perdarahan di observasi tiap 2 jam selama 8 jam 1, kemudian tiap 8 jam berikutnya.
  14. 14. 14 - Tensi diawasi tiap 8 jam. - Apakah ada tanda-tanda trombosis, kaki sakit, bengkak dan merah. - Haemorroid diobservasi tiap 8 jam terhadap besar dan kekenyalan. - Riwayat anemia kronis, konjungtiva anemis/sub anemis, defek koagulasi kongenital, idiopatik trombositopeni purpura. c. Sistem Reproduksi - Uterus diobservasi tiap 30 menit selama empat hari post partum, kemudian tiap 8 jam selama 3 hari meliputi tinggi fundus uteri dan posisinya serta konsistensinya. - Lochea diobservasi setiap 8 jam selama 3 hari terhadap warna, banyak dan bau. - Perineum diobservasi tiap 8 jam untuk melihat tanda-tanda infeksi, luka jahitan dan apakah ada jahitannya yang lepas. - Vulva dilihat apakah ada edema atau tidak. - Payudara dilihat kondisi areola, konsistensi dan kolostrum. - Tinggi fundus atau badan terus gagal kembali pada ukuran dan fungsi sebelum kehamilan (sub involusi). d. Traktus urinarius.
Diobservasi tiap 2 jam selama 2 hari pertama. Meliputi miksi lancar atau tidak, spontan dan lain-lain. e. Traktur gastro intestinal.
Observasi terhadap nafsu makan dan obstipasi. f. Integritas Ego: mungkin cemas, ketakutan dan khawatir. J. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Tes koagulasi (hitung trombosit, waktu protrombin, waktu tromboplastin parsial, fibrinogen dan produk pecahan fibrin ) dapat mengidentifikasi koagulopati. 2. Ultrasonografi : dapat mengungkapkan jaringan plasenta yang tertahan. 3. Golongan darah: menentukan Rh, ABO, dan percocokan silang. 4. Jumlah darah lengkap: menunjukkan penurunan Hb/Ht dan peningkatan jumlah sel darah putih (SDP). (Hb saat tidak hamil: 12-16gr/dl, saat hamil: 10-14gr/dl. Ht saat tidak hamil: 37%-47%, saat hamil: 32%-42%. Total SDP saat tidak hamil 4.500- 10.000/mm3,saat hamil 5.000-15.000). 5. Kultur uterus dan vagina: mengesampingkan infeksi pasca partum.
  15. 15. 15 6. Urinalisis: memastikan kerusakan kandung kemih. 7. Profil koagulasi: peningkatan degradasi, kadar produk fibrin/produk split fibrin (FDP/FSP), penurunan kadar fibrinogen: masa tromboplastin partial diaktivasi, masa tromboplastin partial (APT/PTT), masa protrombin memanjang pada KID Sonografi: menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan. Penilaian Klinik Tabel 1. Penilaian Klinik Untuk Menentukan Derajak Syok Volume Kehilangan Darah Tekanan Darah (sistolik) Gejala dan Tanda Derajat Syok 500-1.000 mL (10-15%) Normal Palpitasi, takikardia, pusing Terkompensasi 1000-1500 mL (15-25%) Penurunan ringan (80-100 mm Hg) Lemah, takikardia, berkeringat Ringan 1500-2000 mL (25-35%) Penurunan sedang (70-80 mm Hg) Gelisah, pucat, oliguria Sedang 2000-3000 mL (35-50%) Penurunan tajam (50-70 mm Hg) Pingsan, hipoksia, anuria Berat Tabel 2. Penilaian Klinik Untuk Menentukan Penyebab Perdarahan Post Partum Gejala dan Tanda Penyulit Diagnosis Kerja Uterus tidak berkontraksi dan lembek. Perdarahan segera setelah anak lahir Syok Bekuan darah pada serviks atau posisi telentang akan menghambat aliran darah keluar Atonia uteri Darah segar mengalir segera setelah bayi lahir Uterus berkontraksi dan keras Plasenta lengkap Pucat Lemah Menggigil Robekan jalan lahir Plasenta belum lahir setelah 30 menit Perdarahan segera Uterus berkontraksi dan keras Tali pusat putus akibat traksi berlebihan Inversio uteri akibat tarikan Perdarahan lanjutan Retensio plasenta Plasenta atau sebagian selaput Uterus berkontraksi Retensi sisa plasenta
  16. 16. 16 tidak lengkap Perdarahan segera tetapi tinggi fundus tidak berkurang Uterus tidak teraba Lumen vagina terisi massa Tampak tali pusat (bila plasenta belum lahir) Neurogenik syok Pucat dan limbung Inversio uteri Sub-involusi uterus Nyeri tekan perut bawah dan pada uterus Perdarahan sekunder Anemia Demam Endometritis atau sisa fragmen plasenta (terinfeksi atau tidak) K. PENATALAKSANAAN 1. Terapi Dengan adanya perdarahan yang keluar pada kala III, bila tidak berkontraksi dengan kuat, uterus harus diurut : a. Pijat dengan lembut boggi uterus, sambil menyokong segmen uterus bagian bawah untuk menstimulasi kontraksi dan kekuatan penggumpalan. Waspada terhadap kekuatan pemijatan. Pemijatan yang kuat dapat meletihkan uterus, mengakibatkan atonia uteri yang dapat menyebabkan nyeri. Lakukan dengan lembut. Perdarahan yang signifikan dapat terjadi karena penyebab lain selain atoni uteri. b. Dorongan pada plasenta diupayakan dengan tekanan manual pada fundus uteri. Bila perdarahan berlanjut pengeluaran plasenta secara manual harus dilakukan. c. Pantau tipe dan jumlah perdarahan serta konsistensi uterus yang menyertai selama berlangsungnya hal tersebut. Waspada terhadap darah yang berwarna merah dan uterus yang relaksasi yang berindikasi atoni uteri atau fragmen plasenta yang tertahan. Perdarahan vagina berwarna merah terang dan kontra indikasi uterus, mengindikasikan perdarahan akibat adanya laserasi. d. Berikan kompres es salama jam pertama setelah kelahiran pada ibu yang beresiko mengalami hematoma vagina. Jika hematoma terbentuk, gunakan rendam duduk setelah 12 jam e. Pertahankan pemberian cairan IV dan mulai cairan IV kedua dengan ukuran jarum 18, untuk pemberian produk darah, jika diperlukan. Kirim contoh darah untuk penentuan golongan dan pemeriksaan silang, jika pemeriksaan ini belum dilakukan diruang persalinan.
  17. 17. 17 f. Pemberian 20 unit oksitodin dalam 1000 ml larutan RL atau saline normal, terbukti efektif bila diberikan infus intra vena + 10 ml/mnt bersama dengan mengurut uterus secara efektif g. Bila cara diatas tidak efektif, ergonovine 0,2 mg yang diberikan secara IV, dapat merangsang uterus untuk berkontraksi dan berelaksasi dengan baik, untuk mengatasi perdarahan dari tempat implantasi plasenta. h. Pantau asupan dan haluaran cairan setiap jam. Pada awalnya masukan kateter foley untuk memastikan keakuratan perhitungan haluaran. i. Berikan oksigen malalui masker atau nasal kanula. Dengan laju 7-10 L/menit bila terdapat tanda kegawatan pernafasan. 2. Penatalaksanaan Umum a. Ketahui secara pasti kondisi ibu bersalin sejak awal b. Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman c. Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat d. Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan masalah dan komplikasi e. Atasi syok jika terjadi syok f. Pastikan kontraksi berlangsung baik ( keluarkan bekuan darah, lakukan pijatan uterus, beri uterotonika 10 IV dilanjutkan infus 20 ml dalam 500 cc NS/RL dengan tetesan 40 tetes/menit ). g. Pastikan plasenta telah lahir lengkap dan eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir. h. Bila perdarahan tidak berlangsung, lakukan uji bekuan darah. i. Pasang kateter tetap dan pantau cairan keluar masuk j. Lakukan observasi ketat pada 2 jam pertama paska persalinan dan lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya. 3. Penatalaksanaan khusus a. Atonia Uteri Bila terjadi perdarahan sebelum plasenta lahir (Retensia plasenta), ibu harus segera minta pertolongan dokter rumah sakit terdekat. Untuk daerah terpencil dimana terdapat bidan, maka bidan dapat melakukan tindakan dengan urutan sebagai berikut:
  18. 18. 18 a) Pasang infus. b) Pemberian uterotonika intravena tiga hingga lima unit oksitosina atau ergometrin 0,5 cc hingga 1 cc. c) Kosongkan kandung kemih dan lakukan masase ringan di uterus. d) Keluarkan plasenta dengan perasat Crede, bila gagal, lanjutkan dengan; e) Plasenta manual (seyogyanya di rumah sakit). f) Periksa apakah masih ada plasenta yang tertinggal. Bila masih berdarah; g) Dalam keadaan darurat dapat dilakukan penekanan pada fundus uteri atau kompresi aorta. Bila perdarahan terjadi setelah plasenta lahir, dapat dilakukan: a) Pemberian uterotonika intravena. b) Kosongkan kandung kemih. c) Menekan uterus-perasat Crede. d) Tahan fundus uteri/(fundus steun) atau kompresi aorta. Tentu saja, urutan di atas dapat dilakukan jika fasilitas dan kemampuan penolong memungkinkan. Bila tidak, rujuk ke rumah sakit yang mampu melakukan operasi histerektomi, dengan terlebih dahulu memberikan uterotonika intravena serta infus cairan sebagai pertolongan pertama. Perdarahan postpartum akibat laserasi/ Robekan Jalan Lahir Perdarahan pasca persalinan yang terjadi pada kontraksi uterus yang kuat, keras, bisa terjadi akibat adanya robekan jalan lahir (periksa dengan spekulum dan lampu penerangan yang baik-red). Bila sudah dapat dilokalisir dari perdarahannya, jahitlah luka tersebut dengan menggunakan benang katgut dan jarum bulat. Untuk robekan yang lokasinya dalam atau sulit dijangkau, berilah tampon pada liang senggama/vagina dan segera dirujuk dengan terlebih dahulu memasang infus dan pemberian uterotonika intravena. Kompresi Bimanual Internal Kenali dan tegakan kerja atonia uteri. Sambil melakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika,lakukan pengurutan uterus Pastikan plasenta lahir lengkap dan tidak ada laserasi jalan lahir. Lakukan tindakan spesifik yang
  19. 19. 19 diperlukan. Kompresi bimanual eksternal yaitu menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang melingkupi uteus. Bila perdarahan berkurang kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi atau dibawa ke fasilitas kesehata rujukan. Kompresi bimanual internal yaitu uterus ditekan diantara telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjempit pembuluh darah didalam miometrium. Kompresi aorta abdominalis yaitu raba arteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna vertebralis, penekanan yang tepat akan menghetikan atau mengurangi, denyut arteri femoralis. Letakan satu tangan anda pada dinding perut, dan usahakan untuk menahan bagian belakang uterus sejauh mungkin. Letakkan tangan yang lain pada korpus depan dari dalam vagina, kemudian tekan kedua tangan untuk mengkompresi pembuluh darah di dinding uterus. Amati jumlah darah yang keluar yang ditampung dalam pan. Jika perdarahan berkurang, teruskan kompresi, pertahankan hingga uterus dapat berkontraksi atau hingga pasien sampai di tempat rujukan. Jika tidak berhasil, cobalah mengajarkan pada keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksternal sambil penolong melakukan tahapan selanjutnya untuk penatalaksaan atonia uteri b. Retensio Plasenta Dengan Separasi Parsial Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang akan diambil. Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengejan, bila ekspulsi tidak terjadi cobakan traksi terkontrol tali pusat. Pasang infus oksitosin 20 unit/500 cc NS atau RL dengan tetesan 40/menit, bila perlu kombinasikan dengan misoprostol 400mg per rektal. Bila traksi terkontrol gagal melahirkan plasenta, lakukan manual plasenta secara hati-hati dan halus. Restorasi cairan
  20. 20. 20 untuk mengatasi hipovolemia. Lakukan transfusi darah bila diperlukan. Berikan antibiotik profilaksis ( ampicilin 2 gr IV/oral + metronidazole 1 g supp/oral). c. Plasenta Inkaserata Tentukan diagnosis kerja Siapkan peralatan dan bahan untuk menghilangkan kontriksi serviks yang kuat, tetapi siapkan infus fluothane atau eter untuk menghilangkan kontriksi serviks yang kuat, tetapi siapkan infus oksitosin 20 Untuk500 NS atau RL untuk mengantisipasi gangguan kontraksi uterus yang mungkin timbul. Bila bahan anestesi tidak tersedia, lakukan manuver sekrup untuk melahirkan plasenta.Pasang spekulum Sims sehingga ostium dan sebagian plasenta tampak jelas. Jepit porsio dengan klem ovum pada jam 12, 4 dan 8 dan lepaskan spekulum. Tarik ketiga klem ovum agar ostium, tali pusat dan plasenta tampak jelas. Tarik tali pusat ke lateral sehingga menampakkan plasenta disisi berlawanan agar dapat dijepit sebanyak mungkin, minta asisten untuk memegang klem tersebut. Lakukan hal yang sama pada plasenta kontra lateral. Satukan kedua klem tersebut, kemudian sambil diputar searah jarum jam tarik plasenta keluar perlahan-lahan. d. Ruptur Uteri Berikan segera cairan isotonik ( RL/NS) 500 cc dalam 15-20 menit dan siapkan laparatomi. Lakukan laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta, fasilitas pelayanan kesehatan dasar harus merujuk pasien ke rumah sakit rujukan Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan memungkinkan, lakukan operasi uterus. Bila luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien mengkwatirkan lakukan histerektomi. Lakukan bilasan peritonial dan pasang drain dari cavum abdomen. Antibiotik dan serum anti tetanus, bila ada tanda-tanda infeksi. e. Sisa Plasenta Penemuan secara dini, dengan memeriksa kelengkapan plasenta setelah dilahirkan Berika antibiotika karena kemungkinan ada endometriosis Lakukan eksplorasi digital/bila serviks terbuka dan mengeluarkan bekuan darah atau jaringan, bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa
  21. 21. 21 plasenta dengan dilatasi dan kuret. Hb 8 gr% berikan transfusi atau berikan sulfat ferosus 600mg/hari selama 10 hari. f. Ruptur Peritonium Dan Robekan Dinding Vagina Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarahan Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptik. Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap. Lakukan penjahitan luka dari bagian yang paling distal. Khusus pada ruptur perineum komplit dilakukan penjahitan lapis demi lapis dengan bantuan busi pada rektum, sebagai berikut . Setelah prosedur aseptik- antiseptik, pasang busi rektum hingga ujung robekan. Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan jahitan dan simpul sub mukosa, menggunakan benang polyglikolik No 2/0 ( deton/vierge ) hingga ke sfinter ani, jepit kedua sfinter ani dengan klem dan jahit dengan benang no 2/0.Lanjutkan penjahitan ke lapisan otot perineum dan sub mukosa dengan benang yang sama ( atau kromik 2/0 ) secara jelujur.Mukosa vagina dan kulit perineum dijahit secara sub mukosa d an sub kutikuler. Berikan antibiotik profilaksis. Jika luka kotor berikan antibiotika untuk terapi. g. Robekan Serviks Sering terjadi pada sisi lateral, karena serviks yang terjulur akan mengalami robekan pada posisi spina ishiadika tertekan oleh kepala bayi. Bila kontraksi uterus baik, plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan banyak maka segera lihat bagian lateral bawah kiri dan kanan porsio. Jepitan klem ovum pada kedua sisi porsio yang robek sehingga perdarahan dapat segera di hentikan, jika setelah eksploitasi lanjutkan tidak dijumpai robekan lain, lakukan penjahitan, jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemudian kearah luar sehingga semua robekan dapat dijahit Setelah tindakan periksa tanda vital, kontraksi uterus, tinggi fundus uteri dan perdarahan paska tindakan. Berikan antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas ditemui tanda-tanda infeksi. Bila terjadi defisit cairan lakukan restorasi dan bila kadar Hb dibawah 8 gr% berikan transfusi darah.
  22. 22. 22 L. KOMPLIKASI Perdarahan postpartum yang tidak ditangani dapat mengakibatkan : 1. Syok Hemoragie Akibat terjadinya perdarahan, ibu akan mengalami syok dan menurunnya kesadaran akibat banyaknya darah yang keluar. Hal ini menyebabkan gangguan sirkulasi darah ke seluruh tubuh dan dapat menyebabkan hipovolemia berat. Apabila hal ini tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka akan menyebabkan kerusakan atau nekrosis tubulus renal dan selanjutnya meruak bagian korteks renal yang dipenuhi 90% darah di ginjal. Bila hal ini terus terjadi maka akan menyebabkan ibu tidak terselamatkan. 2. Anemia Anemia terjadi akibat banyaknya darah yang keluar dan menyebabkan perubahan hemostasis dalam darah, juga termasuk hematokrit darah. Anemia dapat berlanjut menjadi masalah apabila tidak ditangani, yaitu pusing dan tidak bergairah dan juga akan berdampak juga pada asupan ASI bayi. 3. Sindrom Sheehan Hal ini terjadi karena, akibat jangka panjang dari perdarahan postpartum sampai syok. Sindrom ini disebabkan karena hipovolemia yang dapat menyebabkan nekrosis kelenjar hipofisis. Nekrosis kelenjar hipofisi dapat mempengaruhi sistem endokrin. M. PENCEGAHAN Klasifikasi kehamilan resiko rendah dan resiko tinggi akan memudahkan penyelenggara pelayanan kesehatan untuk menata strategi pelayanan ibu hamil saat perawatan antenatal dan melahirkan dengan mengatur petugas kesehatan mana yang sesuai dan jenjang rumah sakit rujukan. akan tetapi, pada saat proses persalinan, semua kehamilan mempunyai resiko untuk terjadinya patologi persalinan, salah satunya adalah perdarahan pascapersalinan. Antisipasi terhadap hal tersebut dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Persiapan sebelum hamil untuk memperbaiki keaadaan umum dan mengantisipasi setiap penyakit kronis, anemia, dan lain-lain sehingga pada saat hamil dan persalinan pasien tersebut ada dalam keadaan optimal
  23. 23. 23 2. Mengenal faktor predisposisi PPP seperti multipritas, anak besar, hamil kembar, dan lainnya yang resikonya akan muncul saat persalinan 3. Persalinan harus selesai dalam waktu 24 jam dan pencegahan partus lama 4. Kehamilan resiko tinggi agar melahirkan di fasilitas rumah sakit rujukan 5. Kehamilan resiko rendah agar melahirkan di tenaga kesehatan terlatih dan menghindari persalinan duku 6. Menguasai langkah-langkah pertolongan pertama menghadapi PPP dan mengadakan rujukan sebagaimana mestinya Perdarahan karena atonia uteri dapat dicegah dengan: 1. Melakukan secara rutin manajemen aktif kala III pada semua wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan pascapersalinan akibat atonia uteri. 2. Pemberian Misoprostol peroral 2-3 tablet (400-600 mg) segera setelah bayi lahir.
  24. 24. 24 BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Kasus Minggu ke 2. A Ny. Lane usia 38 tahun, P4A0, anak hidup 3, melahirkan pervaginam. Saat ini dalam kala IV. Setelah plasenta lahir Ners Ayla memonitor jumlah perdarahannya, ternyata berjumlah 700 cc. Darah keluar sekonyong-konyong setelah plasenta lahir berwarna merah menyala. Pasien tidak ada riwayat penyakit jantung, kanker, hipertensi, kelainan darah dan penyakit penyerta lainnya. Ners Ayla melakukan perawatan yang intensif pada immediate post partum; uterus membesar, kontraksi uterus jelek (dalam 12 jam tidak ada mules), konsistensi rahim lembek saat di palpasi, posisi uterus obliq kiri. Pasien sudah mencoba menyusui bayinya, namun tidak berhasil karena keadaan pasien yang lemas dan agak pusing. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 86x/mnt. Saat diukur tinggi fundus uteri didapatkan 3 jari di atas umbilicus. Setelah ners Ayla mengobservasi plasenta didapatkan cotyledon lengkap dan tidak ada kelainan. Saat di cek keadaan jalan lahir tidak ditemukan laserasi jalan lahir. Setelah pengkajian riwayat penanganan kala uri ternyata sempat dilakukan manipulasi uterus secara berlebihan, memijit uterus dan mendorongnya ke bawah dalam usaha melahirkan plasenta. Selain itu bayi yang dilahirkan beratnya 3950 gram. Ners Ayla melakukan tindakan penatalaksanaan darurat perdarahan dengan memberikan cairan dan transfuse sembari memantau produksi urine, saat ini produksi urine >30 cc/jam. A. DATA FOKUS Data Subjektif Data Objektif 1. jumlah perdarahannya, ternyata berjumlah 700 cc. 2. Darah keluar sekonyong-konyong setelah plasenta lahir berwarna merah menyala. 3. membesar, kontraksi uterus jelek (dalam
  25. 25. 25 12 jam tidak ada mules) 4. konsistensi rahim lembek saat di palpasi, posisi uterus obliq kiri. 5. keadaan pasien yang lemas dan agak pusing. 6. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 86x/mnt. 7. Saat diukur tinggi fundus uteri didapatkan 3 jari di atas umbilicus. 8. mengobservasi plasenta didapatkan cotyledon lengkap dan tidak ada kelainan. bayi yang dilahirkan beratnya 3950 gram. Data Tambahan Data Subjektif Data Objektif Klien mengeluh bingung, Klien tampak bingung B. ANALISA DATA Data Masalah Etiologi 1. DS : - DO: a. jumlah perdarahannya, ternyata berjumlah 700 cc. b. Darah keluar sekonyong-konyong setelah plasenta lahir berwarna merah menyala. c. keadaan pasien yang lemas dan agak pusing. d. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 86x/mnt. Kekurangan volume cairan Perdarahan pervagina.
  26. 26. 26 2. DS : - DO : a. jumlah perdarahannya, ternyata berjumlah 700 cc. b. Darah keluar sekonyong-konyong setelah plasenta lahir berwarna merah menyala. c. membesar, kontraksi uterus jelek (dalam 12 jam tidak ada mules) d. konsistensi rahim lembek saat di palpasi, posisi uterus obliq kiri. e. keadaan pasien yang lemas dan agak pusing. f. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 86x/mnt. g. Saat diukur tinggi fundus uteri didapatkan 3 jari di atas umbilicus. h. mengobservasi plasenta didapatkan cotyledon lengkap dan tidak ada kelainan. Resiko shock hipovolemik Perdarahan yang terus menerus. 3. DS : - DO : a. jumlah perdarahannya, ternyata berjumlah 700 cc. b. Darah keluar sekonyong-konyong setelah plasenta lahir berwarna merah menyala. c. membesar, kontraksi uterus jelek (dalam 12 jam tidak ada mules) d. konsistensi rahim lembek saat di palpasi, posisi uterus obliq kiri. e. keadaan pasien yang lemas dan agak Resiko terjadinya anemia Efek dari perdarahan.
  27. 27. 27 pusing. f. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 86x/mnt. g. Saat diukur tinggi fundus uteri didapatkan 3 jari di atas umbilicus. h. mengobservasi plasenta didapatkan cotyledon lengkap dan tidak ada kelainan. C. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan (perdarahan) yang berlebihan 2. Risiko terjadinya shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan 3. Resiko terjadinya anemia berhubungan dengan efek dari perdarahan. D. INTERVENSI No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan (perdarahan) yang berlebihan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan dengan kriteria hasil : 1. Tanda-tanda vital stabil Mandiri : 1. Evaluasi, laporkan, dan catat jumlah serta jumlah kehilangan darah, lakukan perhitungan pembalut 1. Perkiraan kehilangan darah membantu membedakan diagnosa, setiap gram peningkatan berat pembalut sama dengan kehilangan kira- kira 1 ml darah
  28. 28. 28 2. Pengisian kapiler cepat 3. Berat jenis urin adekuat secara individual 2. Lakukan tirah baring. Instuksikan klien untuk menghindari Valsalva manover dan koitus 3. Posisikan klien dengan tepat, telentang dengan panggul ditinggikan atau posisi semi–fowler. Hindari posisi trendelenburg 4. Catat tanda – tanda vital, pengisian kapiler pada dasar kuku, warna membrane mukosa/ kulit dan suhu. 2. Perdarahan dapat berhenti dengan reduksi aktivitas. Peningkatan tekanan abdomen atau orgasme (yang meningkatkan aktivitas uterus) dapat meransang perdarahan 3. Menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak; peninggian panggul menghindari kompresi vena kava. Posisi semi- fowler memungkinkan janin bertindak sebagai tanpon 4. Membantu menentukan beratnya kehilangan darah, meskipun sianosis dan perubahan pada tekanan darah, nadi adalah
  29. 29. 29 5. Hindari pemeriksaan rectal atau vagina Kolaborasi : 1. Berikan larutan intravena, ekspander plasma, darah lengkap, atau sel-sel kemasan, sesuai indikasi 2. Siapkan untuk kelahiran sesaria tanda-tanda lanjut dari kehilangan sirkulasi atau terjadinya syok 5. Dapat meningkatkan hemoragi, khususnya bila plasenta previa marginal atau total terjadi 1. Meningkatkan volume darah sirkulasi dan mengatasi gejala- gejala syok 2. Hemoragi berhenti bila plasenta diangkat dan sinus- sinus vena tertutup 2. Risiko terjadinya shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan Setelah diberikan asuhan keperawatan 3x24 jam, diharapkan shock hipovolemik tidak terjadi, dengan kriteria hasil : 1. Perdarahan berkurang Mandiri : 1. Kaji pendarahan setiap 15-30 menit 2. Oservasi TTV setiap 15 menit dan apabila TTV normal, observasi TTV dilakukan setiap 30 menit 1. Mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin 2. Mengetahui kondisi klien dan untuk mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin
  30. 30. 30 2. TTV normal 3. Kesadaran CM 3. Awasi adanya tanda- tanda syok, pucat, keringat dingin, dan kepala pusing. Kolaborasi : - Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan 3. Mendeteksi adanya gejala syok sedini mungkin - Mempertahankan volume cairan sehingga sirkulasi bisa adekuat 3. Resiko terjadinya anemia berhubungan dengan efek dari perdarahan. Setelah diberikan asuhan keperawatan 3x24 jam, diharapkan tidak terjadi anemia selama dalam masa perawatan.Kriteria hasil : 1. Hb 12,1-15,1 mg/dL 2. Konjungtiva tidak anemis. 3. Mukosa tidak pucat. Mandiri : 1. Identifikasi pengetahuan pasien tentang anemia dan jelaskan penyebab dari anemia. 2. Anjurkan pada pasien untuk tirah baring. Kolaborasi : 1. Kolaborasi dalam pemberian nutrisi yang adekuat (DietTKTP) 1. Pengetahuan yang cukup memudahkan pasien untuk kooperatif terhadap tindakan keperawatan. 2. Aktivitas yang sedikit akan mengurangi metabolisme sehingga beban suplai oksigen ke jaringan akan menjadi lebih baik. 1. Nutrisi merupakan bahan sebagai pembentuk Hb terutama zat besi.
  31. 31. 31 3. Kolaborasi dengan dokter dalam: a. Pemberian koagulantia dan roburantia.Pemberian transfusi. b. Pemeriksaan DL secara berkala.5.Observasi KU pasien, konjungtiva dan keluhan pasien.
  32. 32. 32 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir. Perdarahan postpartum dapat dibedakan menjadi perdarahan postpartum primer dan perdarahan postpartum sekunder. Perdarahan postpartum dapat disebabkan oleh atonia uteri, laserasi jalan lahir, retensio plasenta, hematoma dan kelainan pembekuan darah. Karena etiologi dari perdarahan postpartum berbeda-beda. Oleh sebab itu, penanganannya juga berbeda-beda. Namun dalam hal ini, sangat perlu diperhatikan manajemen aktif kala II dan III dengan baik. Selain itu, tindakan deteksi dini dan sangat berarti dalam pencegahan terjadinya perdarahan postpartum demi menekan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) akibat perdarahan postpartum. B. SARAN Mahasiswa diharapkan dapat mengenali perdarahan postpartum sehingga dapat melakukan tindakan deteksi, pencegahan serta penanganan terhadap perdarahan postpartum.

×