Luka bakar pyo

2,565 views
2,355 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,565
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
32
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Luka bakar pyo

  1. 1. A. Pengertian Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi ( Moenajat, 2001). B. Etiologi Disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh melelui konduksi atau radiasi elektromagnitik. Berdasarkan perjalanan penyakitnya luka bakar dibagi menjadi 3 fase, yaitu : 1. Fase akut Pada fase ini problema yang ada berkisar pada gangguan saluran napas karena adanya cedera inhalasi dan gangguan sirkulasi. Pada fase ini terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit akibat cedera termis bersifat sistemik. 2. Fase sub akut Fase ini berlangsung setelah shock berakhir. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan (kulit dan jaringan dibawahnya) menimbulkan masalah inflamasi, sepsis dan penguapan cairan tubuh disertai panas/energi. 3. Fase lanjut Fase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah pada fase ini adalah timbulnya penyulit dari luka bakar berupa parut hipertrofik, kontraktur, dan deformitas lainnya. C. Patofisologi Luka bakar mengakibatkan peningkatan permebilitas pembuluh darah sehingga air, klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi. Burn shock ( shock Hipovolemik ) merupakan komplikasi yang sering terjadi, manisfestasi sistemik tubuh trhadap kondisi ini adalah : 1. Respon kardiovaskuiler perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melelui kebocoran kapiler mengakibatkan kehilangan Na, air dan protein plasma serta edema jaringan yang diikuti dengan penurunan curah jantung Hemokonsentrasi sel darah merah, penurunan perfusi pada organ mayor edema menyeluruh. 2. Respon Renalis
  2. 2. Dengan menurunnya volume inravaskuler maka aliran ke ginjal dan GFR menurun mengakibatkan keluaran urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal 3. Respon Gastro Intestinal Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukan luas. Pemasangan NGT mencegah terjadinya distensi abdomen, muntah dan aspirasi. 4. Respon Imonologi Sebagian basis mekanik, kulit sebgai mekanisme pertahanan dari organisme yang masuk. Terjadinya gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam luka. D. Klasifikasi luka bakar Untuk membantu mempermudah penilaian dalam memberikan terapi dan perawatan, luka bakar diklasifikasikan berdasarkan penyebab, kedalaman luka, dan keseriusan luka, yakni : 1. Berdasarkan penyebab  Luka bakar karena api  Luka bakar karena air panas  Luka bakar karena bahan kimia  Laka bakar karena listrik  Luka bakar karena radiasi  Luka bakar karena suhu rendah (frost bite). 2. Berdasarkan kedalaman luka bakar a. Luka bakar derajat I - Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis - Kulit kering, hiperemi berupa eritema - Tidak dijumpai bulae
  3. 3. - Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi - Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari b. Luka bakar derajat II - Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. - Dijumpai bulae. - Nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi. - Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal. Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :  Derajat II dangkal (superficial)  Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.  Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.  Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.  Derajat II dalam (deep) - Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis. - Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh. - Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi lebih dari sebulan. c. Luka bakar derajat III  Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam.  Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan.  Tidak dijumpai bulae.
  4. 4.  Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. Karena kering letaknya lebih rendah dibanding kulit sekitar.  Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.  Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.  Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi proses epitelisasi spontan dari dasar luka. 3. Berdasarkan tingkat keseriusan luka American Burn Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori, yaitu: a. Luka bakar mayor - Luka bakar dengan luas lebih dari 25% pada orang dewasa dan lebih dari 20% pada anak-anak. - Luka bakar fullthickness lebih dari 20%. - Terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum. - Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan derajat dan luasnya luka. - Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi. b. Luka bakar moderat  Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anakanak.  Luka bakar fullthickness kurang dari 10%.  Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum. c. Luka bakar minor Luka bakar minor seperti yang didefinisikan oleh Trofino (1991) dan Griglak (1992) adalah :
  5. 5. - Luka bakar dengan luas kurang dari 15% pada orang dewasa dan kurang dari 10 % pada anak-anak. - Luka bakar fullthickness kurang dari 2%. - Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah, tangan, dan kaki. - Luka tidak sirkumfer. - Tidak terdapat trauma inhalasi, elektrik, fraktur. Ukuran luas luka bakar Dalam menentukan ukuran luas luka bakar kita dapat menggunakan beberapa metode yaitu : 1. Rule of nine  Kepala dan leher : 9%  Dada depan dan belakang : 18%  Abdomen depan dan belakang : 18%  Tangan kanan dan kiri : 18%  Paha kanan dan kiri : 18%  Kaki kanan dan kiri : 18%  Genital : 1% 2. Diagram Penentuan luas luka bakar secara lebih lengkap dijelaskan dengan diagram Lund dan Browder sebagai berikut: LOKASI KEPALA LEHER DADA & PERUT PUNGGUNG PANTAT 0-1 19 2 13 1-4 17 2 13 USIA (Tahun) 5-9 10-15 13 10 2 2 13 13 13 2,5 13 2,5 13 2,5 13 2,5 DEWASA 7 2 13 13 2,5
  6. 6. KIRI PANTAT KANAN KELAMIN LENGAN ATAS KA. LENGAN ATAS KI. LENGAN BAWAH KA LENGAN BAWAH KI. TANGAN KA TANGAN KI PAHA KA. PAHA KI. TUNGKAI BAWAH KA TUNGKAI BAWAH KI KAKI KANAN KAKI KIRI 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 1 4 1 4 1 4 1 4 1 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 5,5 5,5 5 2,5 6,5 6,5 5 2,5 8,5 8,5 5,5 2,5 8,5 8,5 6 2,5 9,5 9,5 7 5 5 5,5 6 7 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 Tabel 1.klasifikasi kedalaman luka bakar klasifikasi Luka bakar dangkal (superficial burn) Luka bakar sebagian dangkal (superficial partialthickness burn) Luka bakar penyebab Penampakan luar Sinar UV, Kering dan paparan nyala merah; api memucat dengan penekanan Cairan atau Gelembung uap panas berisi cairan, (tumpahan berkeringat, atau percikan), merah; paparan nyala memucat api dengan penekanan Cairan atau Gelembung karakteristik Sensasi Waktu Jarungan parut penyembuhan nyeri 3 – 6 hari Tidak terjadi jaringan parut Nyeri bila 7-20 hari terpapar udara dan panas Umumnya tidak terjadi jaringan parut; potensial untuk perubahan pigmen Terasa dengan >21 hari Hipertrofi,
  7. 7. sebagian dalam (deep partialthickness burn) uap panas (tumpahan), api, minyak panas berisi cairan penekanan (rapuh); basah saja atau kering berminyak, berwarna dari putih sampai merah; tidak memucat dengan penekanan Luka bakar Cairan atau Putih Terasa hanya seluruh uap panas, api, berminyak dengan lapisan (full minyak, bahan sampai abu- penekanan thickness kimia, listrik abu dan yang kuat burn) tegangan kehitaman; tinggi kering dan tidak elastis; tidak memucat dengan penekanan berisiko untuk kontraktur (kekakuan akibat jaringan parut yang berlebih) Tidak dapat sembuh (jika luka bakar mengenai >2% dari TBSA) Risiko sangat tinggi untuk terjadi kontraktur E. Komplikasi Lanjut Luka Bakar  Hypertropi jaringan.  Kontraktur. F. Penatalaksanaan 1. Penanggulangan terhadap shock 2. mengatasi gangguan keseimbangan cairan - Protokol pemberian cairan mengunakan rumus Brooke yang sudah dimodifikasi yaitu : - 24 jam I : Ciran Ringer Lactat : 2,5 – 4 cc/kg BB/% LB. a. ½ bagian diberikan dalam 8 jam pertama (dihitung mulai dari jam kecelakaan). b. ½ bagian lagi diberikan dalam 16 jam berikutnya. - 24 jam II : Cairan Dex 5 % in Water : 24 x (25 + % LLB) X BSA cc.
  8. 8. - Albumin sebanyak yang diperlukan, (0,3 – 0,5 cc/kg/%). 3. Mengatasi gangguan pernafasan 4. Mengataasi infeksi 5. Eksisi eskhar dan skin graft. 6. Pemberian nutrisi 7. Rahabilitasi 8. Penaggulangan terhadap gangguan psikologis. G. Pemeriksaan Penunjang 1. Diagnosa medis 2. pemeriksaan dignostik  laboratorium : Hb, Ht, Leucosit, Thrombosit, Gula darah, Elektrolit, Ureum, Kreatinin, Protein, Albumin, Hapusan luka, Urine lengkap, Analisa gas darah (bila diperlukan), dan lain – lain.  Rontgen : Foto Thorax, dan lain-lain.  EKG  CVP : untuk mengetahui tekanan vena sentral, diperlukan pada luka bakar lebih dari 30 % dewasa dan lebih dari 20 % pada anak.  Dan lain-lain. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA
  9. 9. KLIEN DENGAN LUKA BAKAR PENGKAJIAN AKTIFITAS/ISTIRAHAT Tanda : Penurunan kekuatan, tahanan Keterbatasan rentang gerak pada area yang yang sakit Gangguan massa otot, perubahan tonus SIRKULASI Tanda : Hipotensi ( syok ) Gejala : penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera Vasokontriksi perifer dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin(syok listrik) Takikardi(syok, ansietas, nyeri) Disritmia(syok litrik) Pembentukan edema jaringan (semua luka bakar) INTEGRITAS EGO Gejala : masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan Tanda : Ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah ELIMINASI Tanda : haluaran urin menurun/tak ada selama fase darurat. Warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam Diuresis( setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalamsikulasi )
  10. 10. Penurunan bising usus/tak ada.khususnya luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik MAKANAN/CAIRAN Tanda : edema jaringan umum Anoreksia, mual/muntah NEOROSENSORI Gejala : area kebas, kesemutan Tanda : perubahan orientasi, afek, perilaku Penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ektremitas. Aktivitas kejang (syok listrik) Laserasi korneal, kerusakan retinal, penurunan ketajaman penglihatan Ruptur membran timpani(syok listrik) Paralisis( cedera listrik pada aliran syaraf ) NYERI/KENYAMANAN Gejala : berbagai nyeri, contoh luka bakar derajat pertama secara ekstrem sensitif untuk disenuh, ditekan, gerakan udara, perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri, sementara respons pada luka bakar ketebalan derajat dua tergantung pada keutuhan ujung syaraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeti PERNAPASAN Gejala : terkurung dalam ruang tertutup, terpajan lama(kemungkinan cedra inhalasi) Tanda : serak batuk mengi, partikel karbon dalam sputum, ketidakmampuan menelan sekresi oral, dan sianosis, indikasi cedera inhalasi Pengembangab torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada Jalan napas atas stridor/mengi(obstruksi sehubungan dengan laringospasme, edema laringeal) Bunyi napas; gemericik(edema paru), stridor(edma laringeal), sekret jalan napas dalam(ronchi)
  11. 11. KEAMANAN Tanda : kulit : umum : destruksi jarinagn dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trombus mikrovaskuker pada beberapa luka Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok Cedera api : terdapat area cedera campuran dalam sehubungan dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar, bulu hidung gosong, mukosa hidung dan mulut kering, merah; lepuh pada faring posterior; edema lingkar mulut/lingkar nasal. Cedera kimia : tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab. Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seperti kulit samak halus; lepuh, ulkus, nekrosis, atau jaringan parut tebal. Cedera secara umum lebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat barlanjut sampai 72 jam setalah cedera. Cedra listrik : cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit dari di bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi dapat melipui luka aliran nasuk/keluar(eksplosif), luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup, dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar. Adanya fraktur/dislokasi( jatuh, kecelakaan sepeda motor; kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok litrik) Diagnosa Keperawatan 1: Tidak efektifnya pertukaran gas/oksigen b.d kerusakan jalan nafas. Tujuan : Oksigenasi jaringan adekuat Kriteria Hasil: - Tidak ada tanda-tanda sianosis - Frekuensi nafas 12 - 24 x/mnt - SP O2 > 95 Intervensi :
  12. 12. 1. kaji tanda-tanda distress nafas, bunyi, frekuensi, irama, kedalaman nafas. 2. monitor tanda-tanda hypoxia(agitsi,takhipnea, stupor,sianosis) 3. monitor hasil laboratorium, AGD, kadar oksihemoglobin, hasil oximetri nadi, 4. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemasangan endotracheal tube atau tracheostomi tube bila diperlukan. 5. kola bolarasi dengan tim medis untuk pemasangan ventilator bila diperlukan. 6. kolaborasi dengan tim medis untuik pemberian inhalasi terapi bila diperlukan Diagnosa Keperawatan 2 : Tidak efektifnya pertukaran gas/oksigen b.d kerusakan jalan nafas Tujuan : Oksigenasi jaringan adekuat Kriteria Hasil: - Tidak ada tanda-tanda sianosis - Frekuensi nafas 12 - 24 x/mnt - SP O2 > 95 Intervensi : 1. kaji tanda-tanda distress nafas, bunyi, frekuensi, irama, kedalaman nafas. 2. monitor tanda-tanda hypoxia(agitsi,takhipnea, stupor,sianosis) 3. monitor hasil laboratorium, AGD, kadar oksihemoglobin, hasil oximetri nadi, 4. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemasangan endotracheal tube atau tracheostomi tube bila diperlukan. 5. kola bolarasi dengan tim medis untuk pemasangan ventilator bila diperlukan. 6. kolaborasi dengan tim medis untuik pemberian inhalasi terapi bila diperlukan Diagnosa Keperawatan 3:
  13. 13. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d banyaknya penguapan/cairan tubuh yang keluar. Tujuan : Pemulihan cairan optimal dan keseimbangan elektrolit serta perfusi organ vital tercapai Kriteria Hasil: - BP 100-140/60 –90 mmHg - Produksi urine >30 ml/jam (minimal 1 ml/kg BB/jam) - Ht 37-43 % - Turgor elastis - Mucosa lembab - Akral hangat - Rasa haus tidak ada Intervensi : 1. Berikan banyak minum kalau kondisi lambung memungkinkan baik secara langsung maupun melalui NGT 2. Monitor dan catat intake, output (urine 0,5 – 1 cc/kg.bb/jam) 3. Beri cairan infus yang mengandung elektrolit (pada 24 jam ke I), sesuai dengan rumus formula yang dipakai 4. Monitor vital sign 5. Monitor kadar Hb, Ht, elektrolit, minimal setiap 12 jam. Diagnosa Keperawatan 4 : Nyeri b.d kerusakan kulit dan tindakan pencucian . Tujuan : Nyeri berkurang Kriteria Hasil:
  14. 14. - Skala 1-2 - Expresi wajah tenang - Nadi 60-100 x/mnt - Klien tidak gelisah Intervensi : 1. Kaji rasa nyeri 2. Atur posisi tidur senyaman mungkin 3. Anjurkan klien untuk teknik rileksasi 4. Lakukan prosedur pencucian luka dengan hati-hati 5. Anjurkan klien untuk mengekspresikan rasa nyeri yang dirasakan 6. Beri tahu klien tentang penyebab rasa sakit pada luka bakar 7. Kolaborasi dengan tinm medis untuik pemberian analgetik Diagnosa Keperawatan 5: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan metabolik(BMR) Tujuan : Intake nutrisi adekuat dengan mempertahankan 85-90% BB Kriteria Hasil: - Intake kalori 1600 -2000 kkal - Intake protein +- 40 gr /hari - Makanan yang disajikan habis dimakan Intervensi : 1. kaji sejauh mana kurangnya nutrisi 2. lakukan penimbangan berat badan klien setiap hari (bila mungkin)
  15. 15. 3. pertahankan keseimbangan intake dan output 4. jelaskan kepada klien tentang pentingnya nutrisi sebagai penghasil kalori yang sangat dibutuhkan tubuh dalam kondisi luka bakar. 5. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian nutrisi parenteral 6. Kolaborsi dengan tim ahli gizi untuk pemberian nutrisi yang adekuat. Diagnosa Keperawatan 6: Risti infeksi b.d kerusakan integritas kulit Tujuan : Infeksi tidak terjadi Kriteria Hasil: - Suhu 36 – 37 C - BP 100-140/60 –90 mmHg - Leukosit 5000 -10.000.ul - Tidak ada kemerahan, pembengkakan, dan kelainan fungsi Intervensi : 1. Beritahu klien tentang tindakan yang akan dilakukan 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melekukan tindakan 3. Gunakan sarung tangan steril, masker, penutup kepala dan tehnik aseptic selama dalam perawatan 4. Kaji sampai dimana luas dan kedalaman luka klien, kalau memungkinkan beritahu klien tentang kondisinya 5. Kaji tanda-tanda infeksi (dolor, kolor, rubor, tumor dan fungsiolesa) 6. Lakukan ganti balutan dengan tehnik steril, gunakan obat luka (topical)yang sesuai dengan kondisi luka dan sesuai dengan program medis 7. Monitor vital sign
  16. 16. 8. Petahankan personal hygiene Diagnosa Keperawatan 7: Gangguan mobilisasi b.d keruskan jaringan dan kontraktur Tujuan : Mobilitas fisik optimal Kriteria Hasil: - OS mampu melakukan ROM aktif - Tidak ada tanda-tanda kontraktur daerah luka bakar - Kebutuhan sehari-hari terpenuhiA Intervensi : 1. Kaji kemampuan ROM (Range Of Motion) 2. Ajarkan dan anjurkan klien untuk berlatih menggerakan persendian pada eksteremitas secara bertahap. 3. Beri support mental 4. Kolaborasi dengan tim fisioterapi 5. untuk program latihan selanjutnya Diagnosa Keperawatan 8: Cemas/takut b.d hospitalisasi/prosedur isolasi Tujuan : Rasa cemas/takut hilang dan klien dapat beradaptasi Kriteria Hasil : - Klien terlihat tenang - Os mengerti tentang prosedur perawatan luka bakar Intervensi :
  17. 17. 1. Kaji sejauh mana rasa/takut klien 2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya 3. Beri tahu klien tentang prosedur perawatan luka bakar 4. Jelaskan pada klien mengapa perlu dilakukan perawatan dengan prosedur isolasi 5. Beritahu keadaan lokasi tempat klien rawat Diagnosa Keperawatan 9: Gangguan body image b.d perubahan penampilan fisik Tujuan : Gangguan body image Kriteria Hasil: - Daerah luka bakar dalam perbaikan - OS dapat menerima kondisinya - OS tenang Intervensi : 1. Kaji sejauh mana ras khawatir klien tentang akibat luka bakar 2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya 3. Lakukan prosedur perawatan yang tepat sehingga tidak terjadi komlikasi berupa cacat fisik 4. Beri support mental dan ajak keluarga dalam memberikan support Diagnosa Keperawatan 10: Kurang pengetahuan tentang kondisi luka bakar, prognosis dan perawatan luka bakar b.d kurangnya informasi Tujuan : Klien mengetahui tentang kondisi luka bakar, prognosisi dan perawatan luka bakar
  18. 18. Kriteria Hasil : - Klien terlihat tenang - Klien mengerti tentang kondisinya Intervensi : 1. Kaji sejauh mana pengetahuan klien tentang kondisi, prognosis dan harapan masa depan 2. Diskusikan harapan klien untuk kembali kerumah, bekerja dan kembali melakukan aktifitras secara normal 3. Anjurkan klien untuk menentukan program latihan dan waktu untuk istirahat Beri kesempatan pada klien untuk bertanya mengenai hal-hal yang tidak diketahuinya. Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh energi panas atau bahan kimia atau benda-benda fisik yang menghasilkan efek baik memanaskan atau mendinginkan. Luka bakar pada penatalaksanaan antara anak dan dewasa pada prinsipnya sama namun pada anak akibat luka bakar dapat menjadi lebih serius. Hal ini disebabkan anak memiliki lapisan kulit yang lebih tipis, lebih mudah untuk kehilangan cairan, lebih rentan untuk mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh akibat pendinginan). Luka bakar pada anak 65,7% disebabkan oleh air panas atau uap panas (scald). Mayoritas dari luka bakar pada anak-anak terjadi di rumah dan sebagian besar dapat dicegah. Dapur dan ruang makan merupakan daerah yang seringkali menjadi lokasi terjadinya luka bakar. Anak yang memegang oven, menarik taplak dimana di atasnya terdapat air panas, minuman panas atau makanan panas. Luka bakar dangkal dan ringan (superficial) dapat sembuh dengan cepat dan tidak menimbulkan jaringan parut. Namun apabila luka bakarnya dalam dan luas, maka penanganan memerlukan perawatan di fasilitas yang lengkap dan komplikasi semakin besar serta kecacatan dapat terjadi. Oleh karena itu, semua orang khususnya orangtua, harus meningkatkan pengetahuan mengenai luka bakar dan penanganannya, terutama pada anak-anak.
  19. 19. Epidemiologi Di rumah sakit anak di Inggris, selama satu tahun, terdapat sekitar 50.000 pasien luka bakar dimana 6400 diantaranya masuk ke perawatan khusus luka bakar. Antara 19972002 terdapat 17.237 anak di bawah 5 tahun mendapat perawatan di gawat darurat di 100 rumah sakit di amerika. Klasifikasi luka bakar Penanganan luka bakar di luar rumah sakit dibagi menjadi dua. Yaitu fase akut dan fase lanjutan (follow up). Pada fase akut, ada 3 hal yang harus dilakukan. Pertama, menentukan apakah luka bakar perlu di rujuk ke rumah sakit atau tidak. Kedua, mengurangi rasa sakit dan ketiga, mencegah terjadinya infeksi dan perburukan serta mengusahakan penyembuhan. Pada fase lanjutan, penanganan ditujukan untuk rehabilitasi dan pencegahan kecacatan (kekakuan/kontraktur). Pada fase akut perlu pengetahuan untuk menetukan luas area luka bakar, kedalaman luka bakar karena dua faktor ini yang secara dominan menentukan perlu tidaknya perawatan rujukan di fasilitas yang lebih lengkap. Rujukan ke fasilitas lebih lengkap juga dipengaruhi lokasi luka bakar, usia pasien, dan kondisi yang menyertai luka bakar. Dalamnya luka bakar Dalamnya luka bakar dilihat dari dalamnya jaringan kulit yang terkena pegaruh luka bakar. Hal ini dapat dilihat dari akibat yang ditimbulkan pada permukaan luka bakar. Untuk klasifikasi dalam luka bakar dan penilaiannya dapat dilihat pada tabel 1. Klasifikasi kedalaman luka bakar Luas daerah Selanjutnya dilakukan penilaian mengenai luas daerah yang terena (TBSA-total body surface area). Derah yang hanya mengalami eritema (kemerahan) tanpa adanya gelembung cairan (blister) tidak termasuk dalam penghitungan. Untuk menilai luas luka bakar dapat digunakan metode Lund-Browder. Metode ini berlaku untuk semua usia dan merupakan metode yang akurat untuk diterapkan pada anak-anak. Metode rules of nine merupakan metode yang sesuai untuk dewasa dan dapat dipakai untuk melakukan penilaian cepat pada anak-anak. Metode Lund-Browder dapat dilihat pada tabel 2. Penilaian luas area tubuh menurut Lund-Browder. Rujukan Keadaaan dimana luka bakar perlu untuk durujuk : • • Luka bakar Partial thickness (superficial) dengan luas daerah >10%, kecuali luka bakar yang sangat superfisial Semua luka bakar full thickness, kecuali daerah yang sangat kecil
  20. 20. • • • • • • • Semua luka bakar yang mengenai wajah, mata, telapak tangan, telapak kaki, genitalia, perineum (sekitar anus) sekalipun daerah luka bakar kurang dari 5-10% Luka bakar yang melingkar Luka bakar oleh cairan kimia Luka bakar akibat aliran listrik (termasuk petir), disebabkan kerusakan jaringan dalam tubuh dapat terjadi akibat aliran listrik yang masuk ke dalam tubuh Luka bakar yang mencederai saluran napas Luka bakar pada usia kurang dari 12 bulan Luka bakar kecil pada pasien dengan permasalahan sosial, termasuk pada anak yang berisiko tinggi Tipe luka bakar untuk derajat beratnya dan indikasi rawat inap di rumah sakit dapat dilihat pada tabel 3. Derajat Berat Luka Bakar dan Kriteria Rawat. Tatalaksana Secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing, cooling, cleaning, chemoprophylaxis, covering and comforting (contoh pengurang nyeri). Untuk pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling, baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan • • • • • Clothing : singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning. Cooling : - Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar - Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi - Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia - Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir. Cleaning : pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang. Chemoprophylaxis : pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial- thickness (dapat dilihat pada tabel 4 jadwal pemberian antitetanus). Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyususi dengan bayi kurang dari 2 bulan Covering : penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan
  21. 21. • lainnya. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan berikan mentega, minyak, oli atau larutan lainnya, menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi. Comforting : dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri. Dapat diberikan penghilang nyeri berupa : • • • Paracetamol dan codein (PO-per oral)- 20-30mg/kg Morphine (IV-intra vena) 0,1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus Morphine (I.M-intramuskular) 0,2mg/kg Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi tanda-tana bahaya dari ABC (airway, breathing, Circulation) Airway and breathing Perhatikan adanya stridor (mengorok), suara serak, dahak berwana jelaga (black sputum), gagal napas, bulu hidung yang terbakar, bengkak pada wajah. Luka bakar pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap terbuka. Intubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap. Circulation Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan. Pastikan luas luka bakar untuk perhitungan pemberian cairan. Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bila luas luka bakar >10%. Bila kurang dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. Cairan merupakan komponen penting karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya pembengkakan (edema). Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka volume cairan dalam pembuluh darah dapat berkurang dan mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan mengganggu fungsi organ-organ tubuh. Cairan infus yang diberikan adalah cairan kristaloid (ringer laktat, NaCl 0,9%/normal Saline). Kristaloid dengan dekstrosa (gula) di dalamnya dipertimbangkan untuk diberikan pada bayi dengan luka bakar. Jumlah cairan yang diberikan berdasarkan formula dari Parkland : 3-4 cc x berat badan (kg) x %TBSA + cairan rumatan (maintenance per 24 jam). Cairan rumatan adalah 4cc/kgBB dalam 10 kg pertama, 2cc/kgBB dalam 10 kg ke 2 (11-20kg) dan 1cc/kgBB untuk tiap kg diatas 20 kg. Cairan formula parkland (3-4ccx kgBB x %TBSA) diberikan setengahnya dalam 8 jam pertama dan setengah sisanya dalam 16 jam berikutnya. Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin yaitu 1cc/kgBB/jam.
  22. 22. Tatalaksana luka bakar minor • • • • Pemberian pengurang rasa nyeri harus adekuat. Pada anak-anak dapat membutuhkan morfin sebelum penilaian luka bakar dan pembalutan awal. Pada luka bakar mengenai anggota gerak atas disarankan imobilisasi denga balut dan bidai Pemeriksaan status tetanus pasien Pembalutan tertutup disarankan untuk luka bakar partial thickness. Cairan yang keluar dari luka bakar menentukan frekuensi penggantian balutan Gelembung cairan (blister) memiliki fungsi untuk proteksi dan mengurangi rasa sakit bila tetap dibiarkan utuh selama beberapa hari. Jika gelembung cairan kecil, tidak berada di dekat sendi dan tidak menghalangi pembalutan maka dapat tidak perlu dipecahkan. Gelembung cairan yang besar dan yang meliputi daerah persendian harus dipecah dan dibersihkan. Gelembung cairan yang berubah menjadi opak/keruh setelah beberapa hari menandakan proses infeksi sehingga perlu untuk dibuka dan dibalut. Luka bakar superfisial / dangkal< Dapat dibiarkan terbuka. Pada bayi yang menunjukakan kecenderungan terbentuknya gelembung cairan atau penggarukan dapat dittup perban untuk proteksi. Luka bakar sebagian (partial thicknes) • • • Dilakukan pembersihan luka dan sekelilingnya dengan salin (larutan yang mengandung garam-steril). Jika luka kotor dapat dibersihkan dengan clorhexidine 0,1% lalu dengan salin. Luka bakar superfisial partial thickness dapat ditutup dengan kasa yang tidak menempel lalu dibalut atau di plester Luka bakar deep partial thickness dilakukan penutupan dengan kasa yang tidak lengket dan diberikan antimikroba krim silverdiazin Follow up Bila luka bakar dangkal tidak menyembuh dalam 7-10 hari, atau menunjukkan tandatanda terinfeksi atau ternyata lebih dalam maka rujukan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan timbulnya jaringan parut yang berlebihan (scar hipertrofik) harus dipikirkan apabila dalam waktu 3 minggu luka bakar belum juga menyembuh. Luka bakar mayor Airway and breathing (jalan napas dan pernapasan) Apabila ada tanda-tanda luka bakar pada saluran napas atau cedera pada paru-paru maka intubasi dilakukan secepatnya sebelum pembengkakan pad jalna napas terjadi. Cairan
  23. 23. Jika luas area luka bakar >10% maka lakukan resusitasi cairan dan lakukan penghitungan cairan dari saat waktu kejadian luka bakar. Pasang kateter urin jika luka bakar>15% atau luka bakar daerah perineum NGT-pipa nasogastrik dipasang jika luka bakar>10% berupa deep partial thickness atau full thickness, dan mulai untuk pemberian makanan antara 618 jam Pemberian anti tetanus diperlukan pada luka-luka sebagai berikut : • • • • • • • Disertai patah tulang Luka yang menembus ke dalam Luka dengan kontaminasi benda asing (terutama serpihan kayu) Luka dengan komplikasi infeksi Luka dengan kerusakan jaringan yang besar (contoh luka bakar) Luka dengan kontaminasi tanah, debu atau produk cairan atau kotoran kuda Implantasi ulang dari gigi yang tanggal. Pemberian anti tetanus dapat dilihat pada tabel 4. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan pada luka bakar mayor. Hal ini untuk menunjang tatalaksana, mengingat luka bakar mayor dapat menyebabkan kerusakan yang lebih berat dan gangguan keseimbangan metabolisme tubuh yang berat. Hal ini harus dikenali sehingga bisa diatasi secepat mungkin.Pemeriksaan yang dapat dilakukan :Hemoglobin, hematokrit, elektrolit, gula darah, golongan darah, kadar COHb dan kadar sianida (pada luka bakar akiibat kebakaran di ruangan). Pencegahan luka bakar Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah erjadinya luka bakar bagi anak-anak di rumah : I. dapur • • • • • • Jauhkan anak-anak dari oven dan pemanggang. Ciptakan zona larangan di sekitarnya untuk anak-anak jauhkan makanan dan minuman panas dari jangkauan anak-anak. Jangan pernah membawa makanan panas dan minuman panas dengan satu tangan dengan ketika ada anak-anak di sekitar anda jangan masukkan botol susu anank ke dalam mikrowave; dapat menimbulkan daerah yang panas cicipi setiap makanan yang akan dihidangkan singkirkan taplak meja menjuntai ketika di rumah ada anak yang seang belajar merangkak jauhkan dan simpan bahan kimia (pemutih, amonia) yang dapat menyebabkan luka bakar kimia.
  24. 24. • • simpan korek api, lilin jauh dari jangkauan. Jangan pernah biarkan lilin menyala tanpa pengawasan. Beli alat-alat listrik dengan kabel yang pendek dan tidak mudah lepas atau menggantung. II. Kamar mandi • • Jauhkan blow dryer, curling irons dari jangkauan anak Pastikan termostat pemanas air pada suhu 120°F (48,8°C) atau lebih rendah. Umumnya air panas untuk anak sebaiknya suhunya tidak lebih dari 100°F (37,7°C). Jangan biarkan anak bermain degan keran atau shower. III. Di setiap ruangan • • • Tutup setiap tempat yang dapat dipakai untuk menusukkan kabel listrik Jauhkan anak dari pemanas ruangan, radiator, tempat yang berapi Pasang detektor asap dan periksa baterai minimal satu tahun/kali Tabel 1.klasifikasi kedalaman luka bakar klasifikasi penyebab Penampakan luar Luka bakar Sinar UV, Kering dan dangkal paparan nyala merah; (superficial api memucat burn) dengan penekanan Luka bakar Cairan atau Gelembung sebagian uap panas berisi cairan, dangkal (tumpahan berkeringat, (superficial atau percikan), merah; partialpaparan nyala memucat thickness api dengan burn) penekanan Luka bakar Cairan atau Gelembung sebagian uap panas berisi cairan dalam (deep (tumpahan), (rapuh); basah partialapi, minyak atau kering thickness panas berminyak, burn) berwarna dari putih sampai merah; tidak memucat dengan penekanan karakteristik Sensasi Waktu Jarungan parut penyembuhan nyeri 3 – 6 hari Tidak terjadi jaringan parut Nyeri bila 7-20 hari terpapar udara dan panas Umumnya tidak terjadi jaringan parut; potensial untuk perubahan pigmen Terasa dengan >21 hari penekanan saja Hipertrofi, berisiko untuk kontraktur (kekakuan akibat jaringan parut yang berlebih)
  25. 25. Luka bakar seluruh lapisan (full thickness burn) Cairan atau Putih Terasa hanya uap panas, api, berminyak dengan minyak, bahan sampai abu- penekanan kimia, listrik abu dan yang kuat tegangan kehitaman; tinggi kering dan tidak elastis; tidak memucat dengan penekanan Tidak dapat sembuh (jika luka bakar mengenai >2% dari TBSA) Tabel 2. Penilaian luas area tubuh menurut Lund-Browder Area Lahir-1 1 - 4 5 - 9 10 - 14 15 tahun tahun tahun tahun tahun dewasa 2nd* 3rd* TBSA Kepala 19 17 13 11 9 7 Leher 2 2 2 2 2 2 Badan bagian depan 13 13 13 13 13 13 Badan bagian belakang 13 13 13 13 13 13 Pantat kanan 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Pantat kiri 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Genitalia (kemaluan) 1 1 1 1 1 1 Lengan kanan atas 4 4 4 4 4 4 lengan kiri atas 4 4 4 4 4 4 Lengan bawah kanan 3 3 3 3 3 3 Lengan bawah kiri 3 3 3 3 3 3 Tangan kanan 2.5 (telapak tangan depan dan punggung tangan) 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Tangan kiri (telapak tangan dan punggung tangan) 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 Paha kanan 5.5 6.5 8 8.5 9 9.5 Paha kiri 5.5 6.5 8 8.5 9 9.5 Betis kanan 5 5 5.5 6 6.5 7 Betis kiri 5 5 5.5 6 6.5 7 Risiko sangat tinggi untuk terjadi kontraktur
  26. 26. Kaki kanan (bagian tumit sampai telapak kaki) 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 Kaki kiri 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 Total: *derajat dua saat ini merupakan luka bakar sebagian baik dangkal maupun dalam; derajat 3 sebagai luka bakar seluruh lapisan (full-thickness) Tabel 3. Derajat berat Luka Bakar dan Kriteria Rawat kriteria Tipe luka bakar Minor / ringan <10% TBSA pada dewasa Moderate / sedang 10-20% TBSA pada dewasa Major / berat >20% TBSA pada dewasa <5% TBSA pada 5-10% TBSA pada >10% TBSA pada pasien muda dan tua* pasien muda dan tua* pasien muda dan tua* <2% luka bakar seluruh lapisan 2-5% luka bakar seluruh lapisan >5% luka bakar seluruh lapisan luka listrik tegangan tinggi luka listrik tegangan tinggi Tersangka cedera luka Diketahui luka bakar bakar saluran napas saluran napas. Perawatan Pasien rawat jalan Luka bakar melingkar Luka bakar yang jelas pada wajah, mata, telinga, genitalia atau Penyakit penyerta yang meningkatkan persendian. kemungkinan terkena infeksi (cth. Diabetes) Luka bakar terkait dengan cedera lain yang berat (patah tulang, trauma berat) Perawatn rumah sakit Rujuk ke unit spesialis luka bakar *pasien muda : lebih muda dari 10 tahun; dewasa : 10-50 tahun; tua : >50 tahun Tabel 4. Jadwal pemberian antitetanus
  27. 27. Riwayat vaksinasi tetanus Tipe luka < 5 tahun semenjak dosis Semua luka terakhir Boster tetanus tidak Luka minor yang tidak 3 atau 5-10 tahun semenjak dosis bersih lebih terakhir Luka-luka lainnya Ya > 10 tahun semenjak dosis Semua luka terakhir vaksinTetanus immunoglobulin tidak tidak tidak tidak Luka minor yang Ya bersih tidak Luka-luka lainnya Ya < 3 dosis atau tidak pasti Ya Ya Gambar Gambar 1. luka bakar dangkal (superfisial) Pada daerah badan dan lengan kanan, luka bakar jenis ini biasanya memucat dengan penekanan Gambar 2. luak bakar superficial partial thickness. Memucat dengan penekanan, biasanya berkeringat. Gambar.3. Luka bakar deep partial thickness. Permukaan putih, tidak memucat dengan penekanan Gamabr.4 luka bakar full thickness. Tidak terasa sakit, gambaran putih atau keabu-abuan. Bahan bacaan : 1. Hansbrough JF, Hansbrough W. Pediatrics Burns. Pedriatics in Review. Vol 20;1999 2. Fenlon S, Nene S. Burns in children. Continuing Education in Anasthesia, Critical Care&Pain. British Journal of Anasthesia. 2007
  28. 28. 3. Morgan ED, Bledsoe SC, Barker J. Ambulatory management of Burns. American association of family Physician, 2000. 4. Atkinson K. Burns : how to protect your child now. Parenting. 2001. 5. Hudspith J, Rayatt S. First aid and treatment of minor burns. ABC of Burns. BMJ 2004;328;1487-9. 6. Burns. Clinical practice Guidelines. Royal Children’ Hospital Melbourne. 2007 7. Holland AJA. Pediatric burns: the forgotten trauma of childhood. Canadian journal of Surgery;2006;4;272-7 dr. Anto Pencegahan infeksi Infection control adalah komponen utama dalam manajemen luka bakar. Infection control dibutuhkan untuk manajemen luka bakar untuk mengontrol transmisi mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi atau kolonisasi. Infection control itu meliputi penggunaan sarung tangan, penutup kepala, masker, penutup sepatu, dan apron plastik. Staf dan pengunjung tidak diperbolehkan untuk kontak dengan klien jika memiliki infeksi kulit, saluran gastrointestinal atau pernapasan. Memberikan support metabolik
  29. 29. Mempertahankan nutrisi yang adekuat selama fase akut dalamluka bakar adalah penting dalam membantu penyembuhan luka dan pengontrolan infeksi. BMR bisa meningkat 40100% lebih tinggi dibandingkan normal, tergantung luasnya luka. Pemberian nutrisi yang agresiv dibutuhkan untuk menangani peningkatan kebutuhan energi untuk membantu penyembuhan dan mencegah efek katabolisme yang tidak diinginkan. Meminimalisir nyeri Nyeri adalah masalah yang signifikan selama klien dirawat di rumah sakit. Selama fase akut, dilakukan percobaan untuk menemukan kombinasi medikasi dan intervensi yang tepat untuk meminimalisir ketidaknyamanan dan nyeri yang berhubungan dengan luka. Perawatan luka Pembersihan luka. Hidroterapi tetap menjadi pilihan utama dalam penangan luka bakar untuk membersihkan lukanya. Caranya adalah dengan pencelupan, penyiraman atau penyemprotan. Sesi 30 menit atau kurang hidroterapi optimal untuk klien dengan luka bakar akut. Waktu yang lebih lama dapat meningkatkan kehilangan sodium melalui luka bakar dan dapat menyebabkan kehilangan panas, nyeri dan stress. Selama hydroterapi, luka dicuci dengan salah satu jenis larutan. Perawatan dilakukan untuk meminimalisisr perdarahan dan mempertahankan temperatur tubuh selama prosedur. Klien yang tidak dapat diikutkan hydroterapi adalah mereka yang hemodinamiknya tidak stabil dan mereka yang menjalankan cangkok kulit. Jika hydroterapi tidak digunakan, luka dibersihkan ketika klien di atas tempat tidur dan sebelum pemberian antimicrobial agent. Debridement. Debridement luka bakar adalah pengangkatan eschar. Debridemen luka bakar dilakukan melaluii cara mekanik, enxzimatik, dan bedah. Mekanikal debridemen dapat dilakukan dengan penggunaan gunting dan forcep dengan hati-hati untuk mengangkat dan menghilangkan eschar yang sudah mudah terlepas. Penggantian balutan basah-kering adalah cara efektif debridemen yang lain.
  30. 30. Enzimatik debridemen adalah dengan pemberian protealitic dan fibrinolitik toikal pada luka bakar yang dapat memudahkan pelepasan eschar. Enzimatik debridemen tidak digunakan secara luas karena memiliki beberapa efek samping yang serius. Surgical debridemen adalah tindakan eksisi eschr dan penutupan luka. Awal eksisi surgical dimulai selama minggu pertama setelah cedera, segera sesudah klien hamiknya stabil. Keuntungan dari eksisi segera adalah mobilisasi lebih cepat dan mengurangi lamanya waktu hospitalisasi. Kerugiannya adalah risiko mengeksisi jaringan viable yng dapat sembuh dengan sendirinya. Pemberian antimikrobial topikal Awal penanganan luka deep partial-thickness atau full thickness adalah dengan anti mikrobial. Obat ini diberikan 1-2 kali setelah pembersihan, debridemen, dan inspeksi luka. Perawat mengkaji untuk pelepasan eschar, adanya granulasi atau reepitelisasi jaringan, dan manifestasi infeksi. Luka bakar diobati dengan teknik balutan terutup atau terbuka. Untuk metode terbuka, antimikrobial diolesi dengan tangan yang bersarung tangan dan luka dibiarkan terbuka tanpa dibalut. Keuntungannya adalah memudahkan untuk melihat luka, lebih bebas untuk bergerak, dan lebih mudah dalm melakukan perawatan luka. Kerugiannya diantaranya adalah peningkatan risiko hipotermia karena terekspos. Pada metode tertutup, balutan diberikan antimikrobial kemudian digunakan untuk menutup luka. Keuntungannya adalah menurunkan evaporasi cairan dan kehilangan panas dari permukaan luka. Selain itu, balutan dapat membantu dalam debridemen. Kerugiannya adalah mobilitas terbatas dan berpotensi untuk penurunan keefektifan latihan ROM. Pengkajian luka juga jadi terbatas hanya padasaat penggantian balutan dilakukan. Memaksimalakan Fungsi Mempertahankan fungsi yang optimal klien dengan luka bakar adalah tantangan bagi seluruh anggota tim. Program individual seperti splinting, latihan, ambulasi, melakukan ADL, terapi penekanan sebaiknya dilakukan pada fase akut untuk memaksimalkan fungsi pada penyembuhan dan kosmetik outcome. Latihan ROM aktif dilakukan pada awal fase
  31. 31. akut untuk meningkatkan resolusi dari edema dan mempertahankan kekuatan dan fungsi ssendi. Selain itu, ADL efektif untuk mempertahankan fungsi dan ROM. Ambulasi juga mempertahankan kekuatan dan ROM pada ekstremitas bawah dan sebaiknya dimulai segera setlah klien stabil secara fisiologis. ROM pasif dan peregangan harus menjadi bagian dari pengobatan harian jika klien tidak dapat melakukan latihan ROM aktif. Splint digunakan untuk mempertahankan posisi sendi yang tepat dan mencegah atau memperbaiki kontraktur. Memberikan suport psikologi Periode terpanjang penyesuaian diri terjadi selama fase akut. Penderita luka bakar dewasa dapat menujukkan respon emosional dan psikologi yang bervariasi. Biarkan klien mengekspresikan kekhawatiran dan memvalidasi bahwa mereka ”normal” penting dalam pemberian dukungan. Jadi pendengan yang aktif dan biarkan klien membicarakan tentang kecelkaannya. Menceritakan kembali secaradetail dan berulang-ulang tentang kejadian sangat berguna untuk menurunkan kepekaan klien terhadap ketakutan dan mimpi buruk. Melibatkan klien dalam perawatan diri mereka sendiri membantu mereka untukmerasa adanya pengontrolan yang berada di bawah tanggung jawabnya. Intervensi seperti ini telah terbukti efektif dalam mensuport kebutuhan psikologi klien. Referensi: Black and Hawks. Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcomes. 7th edition. Missouri:Elsevier Inc
  32. 32. LUKA BAKAR KNALPOT
  33. 33. Proses Keperawatan Luka Bakar A. Pengkajian Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan data baik data subyektif maupun data obyektif. Data subyektif diperoleh berdasarkan hasil wawancara baik dengan klien ataupun orang lain, sedangkan data obyektif diperoleh berdasarkan hasil observasi dan pemeriksaan fisik. 1. Data biografi Langkah awal adalah melakukan pengkajian terhadap data biografi klien yang meliputi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, ras, dan lain-lain. Setelah pengkajian data biografi selanjutnya dilakukan pengkajian antara lain pada : 2. Luas luka bakar Untuk menentukan luas luka bakar dapat digunakan salah satu metode yang ada, yaitu metode “rule of nine” atau metode “Lund dan Browder”, seperti telah diuraikan dimuka.
  34. 34. 3. Kedalaman luka bakar Kedalaman luka bakar dapat dikelompokan menjadi 4 macam, yaitu luka bakar derajat I, derajat II, derajat III dan IV, dengan ciri-ciri seperti telah diuraikan dimuka. 4. Lokasi/area luka Luka bakar yang mengenai tempat-tempat tertentu memerlukan perhatian khusus, oleh karena akibatnya yang dapat menimbulkan berbagai masalah. Seperti, jika luka bakar mengenai derah wajah, leher dan dada dapat mengganggu jalan nafas dan ekspansi dada yang diantaranya disebabkan karena edema pada laring . Sedangkan jika mengenai ekstremitas maka dapat menyebabkan penurunan sirkulasi ke daerah ekstremitas karena terbentuknya edema dan jaringan scar. Oleh karena itu pengkajian terhadap jalan nafas (airway) dan pernafasan (breathing) serta sirkulasi (circulation) sangat diperlukan. Luka bakar yang mengenai mata dapat menyebabkan terjadinya laserasi kornea, kerusakan retina dan menurunnya tajam penglihatan. Lebih lanjut data yang akan diperoleh akan sangat tergantung pada tipe luka bakar, beratnya luka dan permukaan atau bagian tubuh yang terkena luka bakar. Data tersebut melipuri antara lain pada aktivitas dan istirahat mungkin terjadi penurunan kekuatan otot, kekakuan, keterbatasan rentang gerak sendi (range of motion / ROM) yang terkena luka bakar, kerusakan massa otot. Sedangkan pada sirkulasi kemungkinan akan terjadi shok karena hipotensi (shok hipovolemia) atau shock neurogenik, denyut nadai perifer pada bagian distal dari ekstremitas yang terkena luka akan menurun dan kulit disekitarnya akan terasa dingin. Dapat pula ditemukan tachikardia bila klien mengalami kecemasan atau nyeri yang hebat. Gangguan irama jantung dapat terjadi pada luka bakar akibat arus listrik. Selain itu terbentuk edema hampir pada semua luka bakar. Oleh karena itu pemantauan terhadap tanda-tanda vital (suhu, denyut nadi, pernafasan dan tekanan darah) penting dilakukan. Data yang berkaitan dengan respirasi kemungkinan akan ditemukan tanda dan gejala yang menunjukan adanya cidera inhalasi, seperti suara serak, batuk, terdapat
  35. 35. partikel karbon dalam sputum, dan kemerahan serta edema pada oropharing, lring dan dapat terjadi sianosis. Jika luka mengenai daerah dada maka pengembangan torak akan terganggu. Bunyi nafas tambahan lainnya yang dapat didengar melalui auskultasi adalah cracles (pada edema pulmoner), stridor (pada edema laring) dan ronhi karena akumulasi sekret di jalan nafas. Data lain yang perlu dikaji adalah output urin. Output urin dapat menurun atau bahkan tidak ada urin selama fase emergen. Warna urine mungkin tampak merah kehitaman jika terdapat mioglobin yang menandakan adanya kerusakan otot yang lebih dalam. sedangkan pada usus akan ditemukan bunyi usus yang menurun atau bahkan tidak ada bunyi usus, terutama jika luka lebih dari 20 %. Oleh karena itu maka dapat pula ditemukan keluhan tidak selera makan (anoreksia), mual dan muntah. 5. Masalah kesehatan lain Adanya masalah kesehatan yang lain yang dialami oleh klien perlu dikaji. Masalah kesehatan tersebut mungkin masalah yang dialami oleh klien sebelum terjadi luka bakar seperti diabetes melitus, atau penyakit pembuluh perifer dan lainnya yang akan memperlambat penyembuhan luka. Disamping itu perlu pula diwaspadai adanya injuri lain yang terjadi pada saat peristiwa luka bakar terjadi seperti fraktur atau trauma lainnya. Riwayat alergi perlu diketahui baik alergi terhadap makanan, obatobatan ataupun yang lainnya, serta riwayat pemberian imunisasi tetanus yang lalu. 6. Data Penunjang a. Sel darah merah (RBC): dapat terjadi penurunan sel darah merah (Red Blood Cell) karena kerusakan sel darah merah pada saat injuri dan juga disebabkan oleh menurunnya produksi sel darah merah karena depresi sumsum tulang. b. Sel darah putih (WBC): dapat terjadi leukositosis (peningkatan sel darah putih/White Blood Cell) sebagai respon inflamasi terhadap injuri.
  36. 36. c. Gas darah arteri (ABG): hal yang penting pula diketahui adalah nilai gas darah arteri terutama jika terjadi injuri inhalasi. Penurunan PaO2 atau peningkatan PaCO2. d. Karboksihemoglobin (COHbg) :kadar COHbg (karboksihemoglobin) dapat meningkat lebih dari 15 % yang mengindikasikan keracunan karbon monoksida. e. Serum elektrolit : 1) Potasium pada permulaan akan meningkat karena injuri jaringan atau kerusakan sel darah merah dan menurunnya fungsi renal; hipokalemiadapat terjadi ketika diuresis dimulai; magnesium mungkin mengalami penurunan. 2) Sodium pada tahap permulaan menurun seiring dengan kehilangan air dari tubuh; selanjutnya dapat terjadi hipernatremia. f. Sodium urine :jika lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan resusitasi cairan, sedangkan jika kurang dari 10 mEq/L menunjukan tidak adekuatnya resusitasi cairan. g. Alkaline pospatase : meningkat akibat berpindahnya cairan interstitial/kerusakan pompa sodium. h. Glukosa serum : meningkat sebagai refleksi respon terhadap stres. i. BUN/Creatinin : meningkat yang merefleksikan menurunnya perfusi/fungsi renal, namun demikian creatinin mungkin meningkat karena injuri jaringan. j. Urin : adanya albumin, Hb, dan mioglobin dalam urin mengindikasikan kerusakan jaringan yang dalam dan kehilangan/pengeluaran protein. Warna urine merah kehitaman menunjukan adanya mioglobin k. Rontgen dada: Untuk mengetahui gambaran paru terutama pada injuri inhalasi. l. Bronhoskopi: untuk mendiagnosa luasnya injuri inhalasi. Mungkin dapat ditemukan adanya edema, perdarahan dan atau ulserasi pada saluran nafas bagian atas m. ECG: untuk mengetahui adanya gangguan irama jantung pada luka bakar karena elektrik.
  37. 37. n. Foto Luka: sebagai dokumentasi untuk membandingkan perkembangan penyembuhan luka bakar. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan: Diagnosa/masalah kolaborasi Fase Eemergensi (E) 1. Defisit volume cairan b.d. pe- ningkatan permeabi-litas kapiler dan perpin-dahan cairan dari ruang intravaskuler ke ruang interstitial Tujuan & criteria Intervensi Rasionalisasi hasil Klien akan memperli- • Kaji terjadinya hi- • Perpindahan cairhatkan perbaikan povolemia tiap 1 an dapat menyekeseimbangan cairan, jam selama 36 jam babkan hipovoyang ditandai oleh : lemia • Ukur/timbang • Tidak kehausan berat badan setiap • Berat badan mehari. rupakan indek • Mukosa mulut/bibir yg akurat lembab • Monitor dan doku- keseim-bangan mentasikan intake cairan. • Output urine : 30-50 dan output setiap • Output urine mejam cc/jam rupakan pengukuran yg efektif • Berikan replace• Sensori baik terhadap keberment cairan dan hasilan resusitasi elektrolit melalui • Denyut nadi : <> cairan. intra vena sesuai program. • Cairan intravena dipergunakan un • Monitor serum tuk memperbaiki elektrolit dan volume cairan. hematokrit. • Hiperkalemia dan peningkatan hematokrit merupakan hal yang sering terjadi. Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi Masalah Kolaborasi Tujuan & criteria Intervensi Rasionalisasi hasil Perawat akan • Kaji kebutuhan • Illeus umumnya memoni-tor bunyi untuk pemasangan terjadi pada luka
  38. 38. (Fase Emergensi) usus normal aktif, adanya distensi 2. Potensial illeus paralitik b.d. stress akibat injury. abdomen, produksi flatus dan gerakan usus normal. Masalah Kolaborasi Perawat akan memoni-tor adanya hemachro-magen dalam urine & output urine adekuat : 75- • Monitor output • Pengeluaran cair100 cc/hari an dari gaster gaster, jumlah, warna dan ada-nya memerlukan replacement cairdarah serta pH. an. Ulkus pada • Monitor dan doku- gaster sering termentasikan output jadi pada luka urine setiap jam & bakar berat. warna urine. • Urine akan • Pastikan aliran ka- berwarna merah atau coklat gelap teter urine dalam jika terdapat keadaan baik. hemachromagen • Berikan cairan intravena sesuai • Kateter dapat tersumbat oleh program hemachromagen. • Siapkan sampel urine untuk peme- • Hemachromagen riksaan kadar myo- akan terbilas atau globin/hemoglobin keluar dari tubuh. sesuai program (Fase Emergensi) 3. Potensial gagal ginjal b.d. adanya hemachromagen dalam urine karena luka bakar yang dalam NGT. bakar > 20 - 25% • Kaji fungsi usus : • Bunyi usus mengindikasikan adanya peristal Auskultasi butik. nyi usus tiap 4 jam • Distensi abdomen menunjukan ter Observasi disjadinya illeus tensi abdomen • Memberikan informasi tentang resiko gagal ginjal. Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi Tujuan & kriteria hasil Intervensi Rasionalisasi
  39. 39. (Fase Akut) & (Emergensi) 4. Gangguan pertukaran gas b.d. keracunan carbonmo-noxida, kerusakan paru akibat pabas. Klien akan • Kaji tanda-tanda • Gangguan pertumenunjukan respiratori distres karan gas dapat perbaikan pertukaran yang ditandai megakibatkan gas, yang ditandai oleh: respiratori oleh : distres karena hypokse-mia.  Gelisah, bing• Respirasi 16-24 ung (confuse) kali/menit tanpa • Memberikan data upaya  Terdapat upaya tentang efektifitas respirasi/ nafas, • PaO2 > 90 mmHg oksigenasi.  Tachypnea, • Memberikan data • PaCO2 : 35-45 mmoksigenasi nonHg  Dyspnea, invasif. • SaO2 > 95%  Tachicardia, • Menurunkan hipoksemia • Suara nafas kedua  Kadar PaO2 dan SaO2 paru bersih. • Mendorong menurun untuk bernafas dalam.  Cyanosis • Monitor kadar gas • Mempermudah ekspansi paru darah arteri dan COHb sesuai permintaan dokter • Intubasi mungkin diperlukan untuk memelihara • Monitor kadar oksi-genasi SaO2 secara kontinu • Berikan oksigen seuai program • Ajarkan pasien penggunaan spirometri. • Tinggikan tempat tidur bagian kepala. • Monitor kebutuhan untuk
  40. 40. pema-sangan intubasi endotraheal. Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi (E, A) Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi hasil Bersihan jalan • Ajarkan klien • Mempermudah dalam nafas klien akan un-tuk batuk member-sihkan saluran 5. Bersihan jalan nafas efektif, yang dan ber-nafas nafas bagian atas. tidak efektif b.d. ditandai oleh: dalam setiap 1edema trahea, 2 jam selama • mendorong klien untuk menurunnya • Suara nafas 24 jam, member-sihkan sendiri fungsi ciliar paru kemudian sebersih sekresi oral dan sputum. akibat injuri tiap 2-4 jam, inhalasi saat terjaga. • Sekresi • Menghilangkan sekresi dari pulmoner bersih sa-luran nafas bagi-an atas. (E, A) • Letakan sampai putih Warna, konsistensi, bau peralatan dan banyaknya dapat 6. Perubahan perfusi • Monbilisasi suction oral mengindi-kasikan adanya jaringan perifer dalam jangkaun infeksi. sekreai b.d. konstriksi pulmoner efektif klien un-tuk akibat luka bakar. digunakan sen- • Dapat membaha-yakan • Respirasi tanpa diri oleh klien. sirkulasi sebagai akibat terjadinya edema. upa-ya • Lakukan endotra-cheal • Dapat menurun-kan aliran • Respirasi suction jika arteri dan venous return. rate:16-24 diperlukan, dan kali/mnt monitor serta • Menurnkan/menghilangkan doku• Tidak ada hipok-semia mentasikan ronchi, whezing, karak-teristik stridor • Capilary refil menjadi sputumnya. meman-jang & gangguan • Tidak ada sirkulasi. • Lepaskan dispnea semua perhiasan & • Tidak ada pakai-an yg sianosis. kencang/ sempit Perfusi perifer klien akan • Batasi menjadi adekuat, penggunaan
  41. 41. yang ditandai oleh: • Denyut nadai dapat diraba melalui palpasi/Dopler • Capilari refill pada kulit yang tidak ter-bakar <> cuff tekanan darah yang dapat menyebabkan konstriksi pada ekstremitas. • Monitor denyut arteri melalui pal-pasi atau dengan Dopler setiap jam selama 27 jam. • Tidak ada kebal • Kaji Capilary refill pada kulit • Tidak terjadi yang tak pening-katan rasa nyeri pada terbakar pada bagi-an waktu ekstremitas yg melakukan terkena. latihan ROM Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi (E, A) 7. Hypotermia b.d. kehilangan jaringan epitel dan fluktuasi suhu udara. Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi hasil Klien akan• Kaji tingkatan• Iskemia jaringan memperta-hankan nye-ri dengan menyebabkan suhu tubuh yang latihan ROM aktif timbulnya rasa normal, yang ditandai nyeri. oleh core body• Tinggikan ekstretemperature antara mitas Menurunkan yang• 99,6 - 101,0 derajat terkena di atas pembentukan F. permukaan edema dependen. jantung. • Meningkatkan • Dorong klien venous return untuk melakukan dan menurunkan latihan ROM aktif atropi otot. • Antisipasi & siap-• Escharotomi dilakan klien untuk kukan untuk escharotomy memperbaiki sirkulasi dan
  42. 42. • Perawatan Post jaringan. Escharotomy : • Data-data tsb Kaji keadekuatan mengindikasikan sirkulasi : perfusi yg adekwat.  Cek nadi • Jaringan yang  Catat warna, masih hidup dipergerakan & bawahnya akan sensasi ekstre- berdarah. mitas yang terkena. • Hipotermia dapat terjadi setelah • Atasi perdarahan kehilangan kulit post operasi karena rusaknya escharotomy dgn regulator panas. penekanan, elektrocautery, menjahit pembuluh yang mengalami perdarahan. • Monitor suhu rectal sesuai indikasi (setiap jam selama fase emergensi dan setelah dilakukan pembedahan Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi Masalah Kolaborasi Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi hasil Perawat akan memo-• Batasi bagian tu- • Bagian yang ternitor perdarahan gas- buh yang terpapar buka (terekspos) trointestin dan akan selama melakukan dapat menyebab(E, A) mempertahankan pH perawatan luka kan hipotermia. gaster > 5 8. Resiko tinggi terjadi Panas keluar dari stres ulcer b.d. respon Nutrisi klien adekuat,• Batasi lama luka yang terbustres neurohormonal ditandadi oleh dapat pengo-batan ka dan setelah mempertahankan akibat luka bakar hidroterapi melahidroterapi pada 85-90% berat semapai dengan lui evaporasi.
  43. 43. badan sebelum luka bakar. 30 menit atau • Sumber panas kurang dengan eksternal suhu air antara 98 9. Perubahan nutrisi: - 102,0 derajat F • Sekresi asam kurang dari kebutuhan tubuh b.d. gaster dapat meningkatnya • Gunakan pemanas menyebabkan kebutuhan metabolik luar / radiasi perdarahan untuk penyembuhan lampu pemanas. luka. • Menurunkan isi • Pertahankan/peli- asam lambung hara ruangan prosedur tetap hangat.• Stres ulcer menyebabkan per• Monitor dan doku- darahan, dan mentasikan nilai mungkin dapat pH gaster dan ada- dieksresi kedanya darah setiap 2 lam feses. jam pada saat NGT terpasang. • Kebutuhan kalori didasarkan pada • Berikan antacida berat badan pre dan/atau H2 luka bakar resep-tor antagonis sesu-ai • Untuk melakukan program dokter. kajian nutrisi. (A) • Monitor feses akan adanya darah. • Kaji berat badan sebelum luka bakar • Konsulkan pada ahli diet Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi Tujuan & kriteria hasil Intervensi Rasionalisasi • Kaji pola makan, • Sebagai data kesukaan, alergi dasar makanan dalam
  44. 44. 72 jam setelah makan. • Data kuantitatif intake kalori • Catat intake kalori (jumlah kalori) • Berat badan akan stabil jika intake • Ukur berat badan kaloti terpenuhi setiap hari untuk mengikuti • Mencegah stomakecende-rungan titis & meningkat be at badan kan selera makan (kecuali: jika prosedur operasi me- • Jika jadwal mamerlukan pemba- kan terganggu tasan pergerakan). dapat menurunkan intake kalori • Lakukan oral higiene setiap • Nyeri menurunshift/jika kan selera makan dibutuhkan. • Mempermudah • Atur jadwal treat- perawatan diri men yang diberikan agar tak • Klien akan selera meng-ganggu dengan makanan jadwal ma-kan. yang disukai. • Sediakan waktu • Kebutuhan kalori istirahat sebelum seringkali perlu jam makan jika ditingkatkan. klien mengalami nyeri karena • Klien anoreksia prose-dur atau meyakini bahwa treatmen. makan tidaklah bermanfaat • Sediakan alat bantu utk mempermudah makan. • Dorong klien/keluarga unttk memba-wa makanan kesu-
  45. 45. kaan dari rumah. • Berikan nutrisi suplemen diantara jam makan. • Berikan reinforcemen positif untuk makan. Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi (E, A) 10. Resiko tinggi terjadinya infeksi b.d. hilangnya pertahanan kulit, ganggu-an respon imune, adanya pemasangan kateter (indweling urinary cateter dan intravenous cateter), dan prosedur invasif (pengambilan sampel darah baik arteri maupun vena dan bronchoscopy) Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi hasil Klien tak akan • Berikan • Lingkungan esmenga- lami invasi propilaksis tetanus char yang anaemikroba pada luka, jika perlu. robic memungyg ditandai oleh : kinkan pertumbuhan organisme • Pertahankan • Hasil kultur luka <> tehnik untuk penyebab tetanus. mengontrol • Suhu : 36-37°C. infeksi • Mencegah kontaminasi silang • Tidak ada pembeng- • Instruksikan kakan, kemerahan, kelua-rga atau • Meningkatkan atau sekret purulen lainya ten-tang kesadaran/kepapada tempat-tempat tindakan-tinpenusukan (kateter, dakan mengontrol tuhan. infeksi. vena) • Menurunkan • Kultur darah, urine • Lakukan cuci insiden kontaminasi silang dan sputum negatif. tangan dengan baik • Luka terbuka dan • Kaji tanda-tanda klien imunokomklinik infeksi: promi sehingga perubahan warna infeksi luka baik luka atau lokal maupun drainage, bau, sis-temik adalah penyembuhan suatu resiko. yang lama; nyeri kepala, menggigil, • Untuk anoreksia, mual; membuang perubahan tanda-
  46. 46. tanda vital; hiper- kotoran. glikemia dan gliko-suria; • Jaringan tersebut paralitic ileus, medium yg baik bingung, gelisah, bagi pertumbuhhalusinasi. an bakteri • Sebelum diberikan • Rambut dapat obat topikal ulang, terkontaminasi & cuci dan bersihkan menganggu meluka lebih dahulu. nempelnya krim • Buang jaringan yg telah mati. • Potong rambut badan di sekitar tepian luka (kecuali bulu dan alis mata) Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi (E, Rehabilitasi/R) 11. Nyeri b.d. injury luka bakar, stimulasi ujung-ujung saraf, treatmen dan kecemasan. Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi hasil Klien akan lebih • Kaji respon klien • Sebagai data nyaman ditandai terhadap nyeri dasar oleh: saat perawatan luka dan saat • Waktu yang • Menyatakan rasa istirahat. adekuat bagi nyeri/tak nyaman onset analgetik. berkurang. • Berikan obat penghilang nyeri: • Injeksi i.m. tidak • Klien dapat mengedianjurkan karenali faktor-faktor yg - 45 menit sebena keterba-tasan mempengaruhi lumnya jika me- sirkulasi mengnyeri lalui mulut. ganggu absorpsi - 30 menit • Merupakan analsebelumnya jika getik nonfarmamelalui intra kologik muskular - 5-10 menit • Untuk menurun-
  47. 47. sebelumnya jika kan kecemasan melalui intravena • Meningkatkan rasa percaya Jangan diberikan klien melalui intramuskular pada klien • Kecemasan dengan luka bakar menurunkan berat fase ambang nyeri. emergent • Menilai efekti• Ajarkan tehnik re- vitas intervensi. laksasi , terapi mu-sik, guided image-ry, distraksi dan hypnosis • Jelaskan semua pro sedur pada klien & sediakan waktu utk persiapan. • Bicaralah dengan klien ketika melakukan perawatan dan melakukan prosedur. • Kaji kemungkinan kebutuhan untuk pemberian anxioli-tik • Catat respon klien terhadap medikasi dan pengobatan nonfarmakologik Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi (A, R) Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi hasil Klien akan • Kaji kemampuan • Sebagai data
  48. 48. 12. Kurang mampu merawat diri (grooming, bathing, eating, elimination) b.d. deficit fungsional akibat dari injuri luka bakar, nyeri, balutan, dan anjur-an immobilisasi (E, A, R) 13. Gangguan mobilitas fisik b.d. edema, nyeri, balut-an, prosedur pembedahan, dan kontraktur luka. mengalami klien dalam pera- dasar penurunan watan diri. berkurang-nya • Meningkatkan kemampuan dalam • Konsulkan dengan perawatan diri. perawatan diri & terapi okupasi akan memperlihatkan tentang perlunya • Membantu pe-ningkatan penggunaan alat memotivasi klien partisipasi dalam bantu. dan menghilangperawatan diri. kan rasa takut/ Klien akan • Dorong klien khawatir dan mengalami untuk ketergantungan peningkatan mobilits berpartisipasi fisik ditandai dengan dalam melakukan • Membantu mengkembali secara tugas-tugas ontrol dirinya. maksi-mal melakukan perawatan diri. aktivi-tas sehari-hari • Meningkatkan dengan kecacatan dan • Yakinkan pada kemandirian dan ganggu-an figur yang klien bahwa ia motivasi. minimal. memerlukan waktu yang cukup • Sebagai data untuk dasar menyelesaikan tugas-tugasnya. • Mencegah/menurunkan terjadinya • Berikan reinforce- kontraktur. ment positif apabi-la tugas• Meningkatkan tugas klien dapat kepatuhan. dicapai. • Kaji ROM dan kekuatan otot pada area luka yg mung-kin mengalami kontraktur setiap hari atau jika diperlukan. • Pertahankan area luka dalam posisi fungsi fisiologis. • Jelaskan alasan perlunya aktivitas
  49. 49. dan pengaturan po-sisi klien dan kelu-arga. Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi (A, R) 14. Resiko tinggi gangguan harga diri b.d. ancaman perubahan/actual perubah an pada body image, kehilangan fisik dan kehilangan akan peran dan tanggungjawab. Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi hasil Klien akan• Konsultasi untuk • Untuk diberikan mengembangkan terapi fisik dan alat yang dibuperbaikan slef esteem okupasi serta atur tuhan. ditandai oleh: jadwalnya sesuai kebutuhan. • Mengontrol ede• Membuat kontak ma postsosial dengan orang• Dorong resusitasi dan lain selain anggota melakukan ROM mencegah atropi keluarga. aktif setiap 2-4 otot, perjam saat terjaga lengketan tendon, • Mengembangkan jika tidak ada kon- kekakuan sendi dan pemendekan mekanisme koping traindikasi sebab capsular. yang efektiv selama prosedur graf yang sedang tahap pemulihan. dilakukan. • Ambulasi • Mengemukakan meningkatkan keluhannya tentang• Ambulasi klien ke kekuatan otot dan kursi atau berjalan fungsi cardiopulkonsep diri. (jika tidak ada moner. kon-traindikasi oleh prosedur graf • ROM pasif atau injuri mempertahankan lainnya) gerak sendi dan tonus otot. • Lakukan latihan pasif jika klien tak • Sebagai data damampu berpartisar tentang kosipasi aktif. ping sebelumnya dan mungkin kli• Tentukan gaya ko- en akan mencoba ping sebelumnya. lagi gaya koping tersebut. • Jelaskan proyeksi penampilan luka • Memberikan ba kar & graft informasi; dapat selama fase-fase menurunkan penyem-buhan
  50. 50. luka miskonsepsi. • Pastikan klien • Perkembangan melalui perkemklien bervariasi bangan tahapan tergantung pada denial, berduka tingkatan injuri, dan menerima persepsi terhadap injuri dan recoveri injuri, sistem penyokong & gaya koping sebelumnya. Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi (E, A, R) 15. Resiko tinggi akan tidak efektifnya coping keluar-ga b.d. sifat yang emer-gensi dan kritis dari luka bakar dan perpisahan/ jauh dari rumah dan teman. Tujuan & kriteria Intervensi Rasionalisasi hasil Keluarga akan • Kaji perilaku mal- • Perilaku maladap menga-lami adaptif tif adalah berbaperbaikan strategi haya. koping ditandai oleh: • Tingkatkan rasa percaya diri klien: • Meningkatkan • Mengungkapkan kepercayaan tujuan pengobatan, - Pastikan kontinumengungkapan itas pemberian • Menurnkan stres emosional. perawatan kecemasan • Memahami pelayanan pendukung yang tersedia. - Diskusikan se- • Memotivasi mua aktivitas klien; dan prosedur menurunkan rasa sebelum dimulai. takut - Dukung peran • Jangan membeklien dalam rikan harapan pera-watan dan palsu tentang per pengo-batan. baikan fungsi jika kerusakan - Sampaikan infor- irrever sibel. masi perkembangan klien. • Keluarga mungkin takut dan - Beri informasi membutuhkan yang jujur, dan bimbingan. reinforcement positif.
  51. 51. - Bantu anggota • Memfasilitasi keluarga/orang reinteraksi sosial lain untuk berinteraksi dengan • Persiapan untuk klien. menurunkan rasa takut • Dorong agar berinteraksi dengan orang lain diluar rumah. • Bagi informasi pada keluarga atau orang lain yang berkunjung untuk pertama kalinya tentang: - Luasnya luka dan perubahan penam pilan klien. - Prosedur dan per-alatan yang digu-nakan. Lanjutan Diagnosa/masalah kolaborasi Tujuan & kriteria hasil Intervensi Rasionalisasi • Tentukan bagaima-na • Sebagai data cara klien dan dasas keluarga mengatasi stres dimasa lalu. • Memberikan strategi baru pada • Bantu klien meng-atasi klien stres dengan memberikan stra-tegi • Mempertahankan koping seperti diversi persepsi yang redan tehnik relaksasi alistik tentang perkembangan • Informasikan keluklien arga tentang per-
  52. 52. • Para profesional kembangan/perubahan tersebut dapat klien tiap hari. membantu memperbaiki • Konsulkan pada strategi koping klien psikolog, psikiater, pekerja sosial, perawat spesialis psikiatri jika diperlu-kan Kesimpulan Perawatan LB merupakan hal yang komplek dan menantang. Trauma fisik dan psikologis yang dialami setelah injuri dapat menimbulkan penderitaan baik bagi penderita sendiri maupn keluarga dan orang lain yang dianggap penting. Anggota yang menjadi kunci dari tim perawatan luka bakar adalah perawat yang bertanggung jawab untuk membuat perencanaan perawatan yang bersifat individual yang merefleksikan kondisi klien secara keseluruhan. DAFTAR PUSTAKA Doenges, M.E., et al. (1995). Nursing care plans guidelines for planning patient care. (2nd ed.). Philadelphia: F.A. Davis Co. Luckmann & Sorensen. (1993). Medical-surgical nursing a psychophysiologic approach, (4th ed.). Philadelphia: W.B. Saunder Co. Nettina, S. (1996). The Lippincott manual of nursing practice. (6th ed.). Lippincott: Lippincott-Raven Publisher. Thompson, J.M. (1987). Clinical nursing. St. Louis: Mosby. Definisi Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung atau terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemycal), atau radiasi (radiation) . Insiden Perawatan luka bakar mengalami perbaikan/kemajuan dalam dekade terakhir ini, yang mengakibatkan menurunnya angka kematian akibat luka bakar. Pusat-pusat perawatan luka bakar telah tersedia cukup baik, dengan anggota team yang menangani luka bakar
  53. 53. terdiri dari berbagai disiplin yang saling bekerja sama untuk melakukan perawatan pada klien dan keluarganya. Di Amerika kurang lebih 2 juta penduduknya memerlukan pertolongan medik setiap tahunnya untuk injuri yang disebabkan karena luka bakar. 70.000 diantaranya dirawat di rumah sakit dengan injuri yang berat. Luka bakar merupakan penyebab kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok umur. Laki-laki cenderung lebih sering mengalami luka bakar dari pada wanita, terutama pada orang tua atau lanjut usia ( diatas 70 th). Etiologi Luka bakar dikategorikan menurut mekanisme injurinya meliputi : Luka Bakar Termal Luka bakar thermal (panas) disebabkan oleh karena terpapar atau kontak dengan api, cairan panas atau objek-objek panas lainnya. Luka Bakar Kimia Luka bakar chemical (kimia) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan asam atau basa kuat. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya jaringan yang terpapar menentukan luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka bakar kimia dapat terjadi misalnya karena kontak dengan zat-zat pembersih yang sering dipergunakan untuk keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang industri, pertanian dan militer. Lebih dari 25.000 produk zat kimia diketahui dapat menyebabkan luka bakar kimia. Luka Bakar Elektrik Luka bakar electric (listrik) disebabkan oleh panas yang digerakan dari energi listrik yang dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh lamanya kontak, tingginya voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai mengenai tubuh. Luka Bakar Radiasi Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe injuri ini seringkali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industri atau dari sumber radiasi untuk keperluan terapeutik pada dunia kedokteran. Terbakar oleh sinar matahari akibat terpapar yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka bakar radiasi. Faktor Resiko
  54. 54. Data yang berhasil dikumpulkan oleh Natinal Burn Information Exchange menyatakan 75 % semua kasus injuri luka bakar, terjadi didalam lingkungan rumah. Klien dengan usia lebih dari 70 tahun beresiko tinggi untuk terjadinya luka bakar. Efek Patofisiologi Luka Bakar 1. Pada Kulit Perubahan patofisiologik yang terjadi pada kulit segera setelah luka bakar tergantung pada luas dan ukuran luka bakar. Untuk luka bakar yang kecil (smaller burns), respon tubuh bersifat lokal yaitu terbatas pada area yang mengalami injuri. Sedangkan pada luka bakar yang lebih luas misalnya 25 % dari total permukaan tubuh (TBSA : total body surface area) atau lebih besar, maka respon tubuh terhadap injuri dapat bersifat sistemik dan sesuai dengan luasnya injuri. Injuri luka bakar yang luas dapat mempengaruhi semua sistem utama dari tubuh, seperti : 2. Sistem kardiovaskuler Segera setelah injuri luka bakar, dilepaskan substansi vasoaktif (catecholamine, histamin, serotonin, leukotrienes, dan prostaglandin) dari jaringan yang mengalmi injuri. Substansi-substansi ini menyebabkan meningkatnya permeabilitas kapiler sehingga plasma merembes (to seep) kedalam sekitar jaringan. Injuri panas yang secara langsung mengenai pembuluh akan lebih meningkatkan permeabilitas kapiler. Injuri yang langsung mengenai memberan sel menyebabkan sodium masuk dan potassium keluar dari sel. Secara keseluruhan akan menimbulkan tingginya tekanan osmotik yang menyebabkan meningkatnya cairan intracellular dan interstitial dan yang dalam keadaan lebih lanjut menyebabkan kekurangan volume cairan intravaskuler. Luka bakar yang luas menyebabkan edema tubuh general baik pada area yang mengalami luka maupun jaringan yang tidak mengalami luka bakar dan terjadi penurunan sirkulasi volume darah intravaskuler. Denyut jantung meningkat sebagai respon terhadap pelepasan catecholamine dan terjadinya hipovolemia relatif, yang mengawali turunnya kardiac output. Kadar hematokrit meningkat yang menunjukan hemokonsentrasi dari pengeluaran cairan intravaskuler. Disamping itu pengeluaran cairan secara evaporasi melalui luka terjadi 4-20 kali lebih besar dari normal. Sedangkan pengeluaran cairan yang normal pada orang dewasa dengan suhu tubuh normal perhari adalah 350 ml. (lihat tabel 1) Tabel 1 : Rata-rata output cairan perhari untuk orang dewasa Rute Jumlah (ml) pada suhu normal Urin 1400 Insensible losses: 350 • Paru 350
  55. 55. • Kulit 100 Keringat 100 Feces Total : 2300 Sumber : Adapted form A.C. Guyton, Textbook of medical physiology, 7th ed. (Philadelphia: WB. Saunder Co., 1986) p. 383 Keadaan ini dapat mengakibatkan penurunan pada perfusi organ. Jika ruang intravaskuler tidak diisi kembali dengan cairan intravena maka shock hipovolemik dan ancaman kematian bagi penderita luka bakar yang luas dapat terjadi. Kurang lebih 18-36 jam setelah luka bakar, permeabilitas kapiler menurun, tetapi tidak mencapai keadaan normal sampai 2 atau 3 minggu setelah injuri. Kardiac outuput kembali normal dan kemudian meningkat untuk memenuhi kebutuhan hipermetabolik tubuh kira-kira 24 jam setelah luka bakar. Perubahan pada kardiak output ini terjadi sebelum kadar volume sirkulasi intravena kembali menjadi normal. Pada awalnya terjadi kenaikan hematokrit yang kemudian menurun sampai di bawah normal dalam 3-4 hari setelah luka bakar karena kehilangan sel darah merah dan kerusakan yang terjadi pada waktu injuri. Tubuh kemudian mereabsorbsi cairan edema dan diuresis cairan dalam 2-3 minggu berikutnya. 3. Sistem Renal dan Gastrointestinal Respon tubuh pada mulanya adalah berkurangnya darah ke ginjal dan menurunnya GFR (glomerular filtration rate), yang menyebabkan oliguri. Aliran darah menuju usus juga berkurang, yang pada akhirnya dapat terjadi ileus intestinal dan disfungsi gastrointestia pada klien dengan luka bakar yang lebih dari 25 %. 4. Sistem Imun Fungsi sistem immune mengalami depresi. Depresi pada aktivitas lymphocyte, suatu penurunan dalam produksi immunoglobulin, supresi aktivitas complement dan perubahan/gangguan pada fungsi neutropil dan macrophage dapat terjadi pada klien yang mengalami luka bakar yang luas. Perubahan-perubahan ini meningkatkan resiko terjadinya infeksi dan sepsis yang mengancam kelangsungan hidup klien. 5. Sistem Respiratori Dapat mengalami hipertensi arteri pulmoner, mengakibatkan penurunan kadar oksigen arteri dan “lung compliance”. a. Smoke Inhalation.
  56. 56. Menghisap asap dapat mengakibatkan injuri pulmoner yang seringkali berhubungan dengan injuri akibat jilatan api. Kejadian injuri inhalasi ini diperkirakan lebih dari 30 % untuk injuri yang diakibatkan oleh api. Manifestasi klinik yang dapat diduga dari injuri inhalasi meliputi adanya LB yang mengenai wajah, kemerahan dan pembengkakan pada oropharynx atau nasopharynx, rambut hidung yang gosong, agitasi atau kecemasan, tachipnoe, kemerahan pada selaput hidung, stridor, wheezing, dyspnea, suara serak, terdapat carbon dalam sputum, dan batuk. Bronchoscopy dan Scaning paru dapat mengkonfirmasikan diagnosis. Patofisiologi pulmoner yang dapat terjadi pada injuri inhalasi berkaitan dengan berat dan tipe asap atau gas yang dihirup. b. Keracunan Carbon Monoxide. CO merupakan produk yang sering dihasilkan bila suatu substansi organik terbakar. Ia merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, yang dapat mengikat hemoglobin 200 kali lebih besar dari oksigen. Dengan terhirupnya CO, maka molekul oksigen digantikan dan CO secara reversibel berikatan dengan hemoglobin sehingga membentuk carboxyhemoglobin (COHb). Hipoksia jaringan dapat terjadi akibat penurunan secara menyeluruh pada kemampuan pengantaran oksigen dalam darah. Kadar COHb dapat dengan mudah dimonitor melalui kadar serum darah. Manifestasi dari keracunan CO adalah sbb (lihat tabel 2) : Tabel 2 : Manifestasi klinik keracunan CO (Carbon Monoxida) Kadar CO (%) 5 – 10 Manifestasi Klinik Gangguan tajam penglihatan 11 – 20 Nyeri kepala 21 – 30 Mual, gangguan ketangkasan 31 – 40 Muntah, dizines, sincope 41 – 50 Tachypnea, tachicardia > 50 Coma, mati Diambil dari Cioffi W.G., Rue L.W. (1991). Diagnosis and treatment of inhalation injuries. Critical Care Clinics of North America, 3(2), 195. Klasifikasi Beratnya Luka Bakar 1. Faktor yang mempengaruhi berat ringannya luka bakar
  57. 57. Beberapa faktor yang mempengaruhi berat-ringannya injuri luka bakar antara lain kedalaman luka bakar, luas luka bakar, lokasi luka bakar, kesehatan umum, mekanisme injuri dan usia Berikut ini akan dijelaskan sekilas tentang faktor-faktor tersebut di atas: a. Kedalaman luka bakar Kedalaman luka bakar dapat dibagi ke dalam 4 kategori (lihat tabel 3) yang didasarkan pada elemen kulit yang rusak. Tabel 3 : Kedalaman Luka Bakar 1. Superficial (derajat I), dengan ciri-ciri sbb: • Hanya mengenai lapisan epidermis. • Luka tampak pink cerah sampai merah (eritema ringan sampai berat). • Kulit memucat bila ditekan. • Edema minimal. • Tidak ada blister. • Kulit hangat/kering. • Nyeri / hyperethetic • Nyeri berkurang dengan pendinginan. • Discomfort berakhir kira-kira dalam waktu 48 jam. • Dapat sembuh spontan dalam 3-7 hari. 2. Partial thickness (derajat II), dengan ciri sbb.: • Partial tihckness dikelompokan menjadi 2, yaitu superpicial partial thickness dan deep partial thickness. • Mengenai epidermis dan dermis. • Luka tampak merah sampai pink
  58. 58. • Terbentuk blister • Edema • Nyeri • Sensitif terhadap udara dingin • Penyembuhan luka :  Superficial partial thickness : 14 - 21 hari  Deep partial thickness : 21 - 28 hari (Namun demikian penyembuhannya bervariasi tergantung dari kedalaman dan ada tidaknya infeksi). 3. Full thickness (derajat III) • Mengenai semua lapisan kulit, lemak subcutan dan dapat juga mengenai permukaan otot, dan persarafan dan pembuluh darah. • Luka tampak bervariasi dari berwarna putih, merah sampai dengan coklat atau hitam. • Tanpa ada blister. • Permukaan luka kering dengan tektur kasar/keras. • Edema. • Sedikit nyeri atau bahkan tidak ada rasa nyeri. • Tidak mungkin terjadi penyembuhan luka secara spontan. • Memerlukan skin graft. • Dapat terjadi scar hipertropik dan kontraktur jika tidak dilakukan tindakan preventif. 4. Fourth degree (derajat IV) • Mengenai semua lapisan kulit, otot dan tulang.
  59. 59. b. Luas luka bakar Terdapat beberapa metode untuk menentukan luas luka bakar meliputi (1) rule of nine, (2) Lund and Browder, dan (3) hand palm. Ukuran luka bakar dapat ditentukan dengan menggunakan salah satu dari metode tersebut. Ukuran luka bakar ditentukan dengan prosentase dari permukaan tubuh yang terkena luka bakar. Akurasi dari perhitungan bervariasi menurut metode yang digunakan dan pengalaman seseorang dalam menentukan luas luka bakar. Metode rule of nine mulai diperkenalkan sejak tahun 1940-an sebagai suatu alat pengkajian yang cepat untuk menentukan perkiraan ukuran / luas luka bakar. Dasar dari metode ini adalah bahwa tubuh di bagi kedalam bagian-bagian anatomic, dimana setiap bagian mewakili 9 % kecuali daerah genitalia 1 % (lihat gambar 1). Pada metode Lund and Browder merupakan modifikasi dari persentasi bagian-bagian tubuh menurut usia, yang dapat memberikan perhitungan yang lebih akurat tentang luas luka bakar (lihat gambar 2 atau tabel 2). Selain dari kedua metode tersebut di atas, dapat juga digunakan cara lainnya yaitu mengunakan metode hand palm. Metode ini adalah cara menentukan luas atau persentasi luka bakar dengan menggunakan telapak tangan. Satu telapak tangan mewakili 1 % dari permukaan tubuh yang mengalami luka bakar. Gambar 1 : Metode rule of nine Gambar 2 : Metode Lund & Browder c. Lokasi luka bakar (bagian tubuh yang terkena) Berat ringannya luka bakar dipengaruhi pula oleh lokasi luka bakar. Luka bakar yang mengenai kepala, leher dan dada seringkali berkaitan dengan komplikasi pulmoner. Luka bakar yang menganai wajah seringkali menyebabkan abrasi kornea. Luka bakar yang mengenai lengan dan persendian seringkali membutuhkan terapi fisik dan occupasi dan dapat menimbulkan implikasi terhadap kehilangan waktu bekerja dan atau ketidakmampuan untuk bekerja secara permanen. Luka bakar yang mengenai daerah perineal dapat terkontaminasi oleh urine atau feces. Sedangkan luka bakar yang mengenai daerah torak dapat menyebabkan tidak adekwatnya ekspansi dinding dada dan terjadinya insufisiensi pulmoner. d. Kesehatan umum Adanya kelemahan jantung, penyakit pulmoner, endocrin dan penyakitpenyakit ginjal, khususnya diabetes, insufisiensi kardiopulmoner, alkoholisme dan
  60. 60. gagal ginjal, harus diobservasi karena semua itu akan mempengaruhi respon klien terhadap injuri dan penanganannya. Angka kematian pada klien yang memiliki penyakit jantung adalah 3,5 - 4 kali lebih tinggi dibandingkan klien luka bakar yang tidak menderita penyakit jantung. Demikian pula klien luka bakar yang juga alkolism 3 kali lebih tinggi angka kematiannya dibandingkan klien luka bakar yang nonalkoholism. Disamping itu juga klien alkoholism yang terkena luka bakar masa hidupnya akan lebih lama berada di rumah sakit, artinya penderita luka bakar yang juga alkoholism akan lebih lama hari rawatnya di rumah sakit. e. Mekanisme injuri Mekanisme injury merupakan faktor lain yang digunakan untuk menentukan berat ringannya luka bakar. Secra umum luka bakar yang juga mengalami injuri inhalasi memerlukan perhatian khusus. Pada luka bakar elektrik, panas yang dihantarkan melalui tubuh, mengakibatkan kerusakan jaringan internal. Injury pada kulit mungkin tidak begitu berarti akan tetapi kerusakan otot dan jaringan lunak lainnya dapat terjad lebih luas, khususnya bila injury elektrik dengan voltage tinggi. Oleh karena itu voltage, tipe arus (direct atau alternating), tempat kontak, dan lamanya kontak adalah sangat penting untuk diketahui dan diperhatikan karena dapat mempengaruhi morbiditi. Alternating current (AC) lebih berbahaya dari pada direct current (DC). Ini seringkali berhubungan dengan terjadinya kardiac arrest (henti jantung), fibrilasi ventrikel, kontraksi otot tetani, dan fraktur kompresi tulang-tulang panjang atau vertebra. Pada luka bakar karena zat kimia keracunan sistemik akibat absorbsi oleh kulit dapat terjadi. f. Usia Usia klien mempengaruhi berat ringannya luka bakar. Angka kematiannya (Mortality rate) cukup tinggi pada anak yang berusia kurang dari 4 tahun, terutama pada kelompok usia 0-1 tahun dan klien yang berusia di atas 65 th. Tingginya statistik mortalitas dan morbiditas pada orang tua yang terkena luka bakar merupakan akibat kombinasi dari berbagai gangguan fungsional (seperti lambatnya bereaksi, gangguan dalam menilai, dan menurunnya kemampuan mobilitas), hidup sendiri, dan bahaya-bahaya lingkungan lainnya. Disamping itu juga mereka lebih rentan terhadap injury luka bakar karena kulitnya menjadi lebih tipis, dan terjadi athropi pada bagian-bagian kulit lain. Sehingga situasi seperti ketika mandi dan memasak dapat menyebabkan terjadinya luka bakar.
  61. 61. 2. Kategori berat luka bakar menurut ABA Perkumpulan Luka Bakar America (American Burn Asociation/ABA) mempublikasikan petunjuk tentang klasifikasi beratnya luka bakar. Perkumpulan itu mengklasifikasikan beratnya luka bakar ke dalam 3 kategori, dengan petunjuknya seperti tampak dalam tabel berikut : Tabel 4 : Petunjuk klasifikasi beratnya luka bakar menurut ABA Luka Bakar Berat • 25 % pada orang dewasa • 25 % pada anak dengan usia kurang dari 10 tahun • 20 % pada orang dewasa dengan usia lebih dari 40 tahun • Luka mengenai wajah, mata, telinga, lengan, kaki, dan perineum yang • mengakibatkan gangguan fungsional atau kosmetik atau menimbulkan disabiliti. • LB karena listrik voltage tinggi • Semua LB dengan yang disertai injuri inhalasi atau truma yang berat. Luka Bakar Sedang • 15-25 % mengenai orang dewasa • 10-20 % pada anak usia kurang dari 10 tahun • 10-20 % pada orang dewasa usia lebih dari 40 tahun • <> Luka Bakar Ringan • <> • <>< 10 th • <>> 40 th • Tidak ada resiko gangguan kosmetik atau fungsional atau disabiliti.
  62. 62. Dari American Burn Association. (1984). Guidelines for service standars and severity classification in the treatment of burn injury. Bulletin of the American College of Surgeons, 69(10), 24-28. Formula resusitasi cairan yang digunakan dalam perawatan luka bakar 24 jam pertama 24 jam kedua Formula Elektrolit Koloid Dextros Elektrolit Koloid Dextros Evans Normal 1 ml/kg/% 2000 ml 0,5 kebutuhan 0,5 kebutuhan 2000 ml saline 24 jam I 24 jam I 1 ml/kg/% Brooke RL 0,5 ml/kg/ 2000 ml 0,5-0,75 0,5-0,75 2000 ml 1,5 ml/kg/% % kebutuh-an 24 kebutuhjam I an 24 jam I Modifi- RL 0,3-0,5 ml/kg/ kasi 2 ml/kg/% % Brooke ParklandRL 0,3-0,5 ml/kg/ 2000 ml 4 ml/kg/% % Diambil dari Rue, L.W. & Cioffi, W.G. (1991). Resuscitation of thermally injured patients. Critical Care Nursing Clinics of North America, 3(2),185; and
  63. 63. Wachtel & Fortune (1983), Fluid resuscitation for burn shock. In T.L. Wachtel et al (Eds.), Current topic in burn care (p. 44). Rockville,MD: Aspen Publisher, Inc. Periode resuscitasi dimulai dengan tindakan resusitasi cairan dan diakhiri bila integritas kapiler kembali mendekati keadaan normal dan perpindahan cairan yang banyak mengalami penurunan. Resusitasi cairan dimulai untuk meminimalkan efek yang merusak dari perpindahan cairan. Tujuan resuscitasi cairan adalah untuk mempertahankan ferfusi organ vital serta menghindari komlikasi terapi yang tidak adekuat atau berlebihan. Terdapat beberapa formula yang digunakan untuk menghitung kebutuhan cairan seperti tampak dalam tabel diatas. Banyaknya/jumlah cairan yang pasti didasarkan pada berat badan klien dan luasnya injury luka bakar. Faktor lain yang menjadi pertimbangan meliputi adalah adanya inhalasi injuri, keterlambatan resusitasi awal, atau kerusakan jaringan yang lebih dalam. Faktor-faktor ini cenderung meningkatkan jumlah/banyaknya cairan intravena yang dibutuhkan untuk resusitasi adekuat di atas jumlah yang telah dihitung. Dengan pengecualian pada formula Evan dan Brooke, cairan yang mengandung colloid tidak diberikan selama periode ini karena perubahan-perubahan pada permeabilitas kapiler yang menyebabkan kebocoran cairan yang banyak mengandung protein kedalam ruang interstitial, sehingga meningkatkan pembentukan edema. Selama 24 jam kedua setelah luka bakar, larutan yang mengandung colloid dapat diberikan, dengan dextrose 5% dan air dalam jumlah yang bervariasi. Sangat penting untuk diingat bahwa senmua formula resusitasi yang ada hanyalah sebagai alat bantu dan harus disesuaikan dengan respon fisiologis klien. Keberhasilan atau keadekuatan resusitasi cairan pada orang dewasa ditandai
  64. 64. dengan stabilnya vital signs, adekuatnya output urine, dan nadi perifer yang dapat diraba. c) Pemasangan kateter urine Pemasangan kateter harus dilakukan untuk mengukur produksi urine setiap jam. Output urine merupakan indikator yang reliable untuk menentukan keadekuatan dari resusitasi cairan. d) Pemasangan nasogastric tube (NGT) Pemasangan NGT bagi klien LB 20 % -25 % atau lebih perlu dilakukan untuk mencegah emesis dan mengurangi resiko terjadinya aspirasi. Disfungsi ganstrointestinal akibat dari ileus dapat terjadi umumnya pada klien tahap dini setelah luka bakar. Oleh karena itu semua pemberian cairan melalui oral harus dibatasi pada waktu itu. e) Pemeriksaan vital signs dan laboratorium Vital signs merupakan informasi yang penting sebagai data tambahan untuk menentukan adekuat tidaknya resuscitasi. Pemeriksaan laboratorium dasar akan meliputi pemeriksaan gula darah, BUN (blood ures nitrogen), creatini, elektrolit serum, dan kadar hematokrit. Kadar gas darah arteri (analisa gas darah), COHb juga harus diperiksa, khususnya jika terdapat injuri inhalasi. Tes-tes laboratorium lainnya adalah pemeriksaan xray untuk mengetahui adanya fraktur atau trauma lainnya mungkin perlu dilakukan jika dibutuhkan. Monitoring EKG terus menerus haruslah dilakukan pada semua klien dengan LB berat, khususnya jika disebabkan oleh karena listrik dengan voltase tinggi, atau pada klien yang mempunyai riwayat iskemia jantung atau dysrhythmia. f) Management nyeri
  65. 65. Penanganan nyeri dapat dicapai melalui pemberian obat narcotik intravena, seperti morphine. Pemberian melalui intramuskuler atai subcutan tidak dianjurkan karena absorbsi dari jaringan lunak tidak cukup baik selama periode ini bila hipovolemia dan perpindhan cairan yang banyak masih terjadi. Demikian juga pemberian obat-obatan untuk mengatasi secara oral tidak dianjurkan karena adanya disfungsi gastrointestial. g) Propilaksis tetanus Propilaksis tetanus pada klien LB adalah sama, baik pada luka bakar berat maupun luka bakar yang ringan. h) Pengumpulan data Pengumpulan data merupakan tanggung jawab yang sangat penting bagi team yang berada di ruang emergensi. Kepada klien atau yang lainnya perlu ditanyakan tentang kejadian kecelakaan LB tersebut. Informasi yang diperlukan meliputi waktu injuri, tingkat kesadaran pada waktu kejadian, apakah ketika injuri terjadi klien berada di ruang tertutup atau terbuka, adakah truma lainya, dan bagaimana mekanisme injurinya. Jika klien terbakar karena zat kimia, tanyak tentang zat kimia apa yang menjadi penyebabnya, konsentrasinya, lamanya terpapar dan apakah dilakuak irigari segera setelah injuri. Sedangkan jika klien menderita LB karena elektrik, maka perlu ditanyakan tentang sumbernya, tipe arus dan voltagenya yang dapat digunakan untuk menentukan luasnya injuri. Informasi lain yang diperlukan adalah tentang riwayat kesehatan klien masa lalu seperti kesehatan umum klien. Informasi yang lebih khusus adalah berkaitan dengan penyakit-penyakit jantung, pulmoner, endokrin dan penyakit ginjal karena itu semua mempunyai implikasi terhadap treatment. Disamping itu perlu pula diketahui tentang riwayat alergi klien, baik terhadap obat maupun yang lainnya. i) Perawatan luka
  66. 66. Luka yang mengenai sekeliling ekstremitas dan torak dapat mengganggu sirkulasi dan respirasi, oleh karena itu harus mendapat perhatian. Komplikasi ini lebih mudah terjadi selama resusitasi, bila cairan berpindah ke dalam jaringan interstitial berada pada puncaknya. Pada LB yang mengenai sekeliling ekstremitas, maka meninggikan bagian ekstremitas diatas jantung akan membantu menurunkan edema dependen; walaupun demikian gangguan sirkulasi masih dapat terjadi. Oleh karena pengkajian yang sering terhadap perfusi ekstremitas bagian distal sangatlah penting untuk dilakukan. Escharotomy merupakan tindakan yang tepat untuk masalah gangguan sirkulasi karena LB yang melingkari bagian tubuh. Seorang dokter melaukan insisi terhadap eschar yang akan mengurangi/menghilangkan konstriksi sirkulasi. Umumnya dilakukan ditempat tidur klien dan tanpa menggunakan anaetesi karena eschar tidak berdarah dan tidak nyeri. Namun jaringan yang masih hidup dibawah luka dapat berdarah. Jika perfusi jaringan adekuat tidak berhasil, maka dapat dilakukan fasciotomy. Prosedur ini adalah menginsisi fascia, yang dilakukan di ruang operasi dengan menggunakan anestesi. Demikian juga, escharotomy dapat dilakukan pada luka bakar yang mengenai torak untuk memperbaiki ventilasi. Setelah dilakukan tindakan escharotomy, maka perawat perlu melakukan monitoring terhadap perbaikan ventilasi. Perawatan luka dibagian emergensi terdiri-dari penutupan luka dengan sprei kering, bersih dan baju hangat untuk memelihara panas tubuh. Klien dengan luka bakar yang mengenai kepala dan wajah diletakan pada posisi kepala elevasi dan semua ekstremitas yang terbakar dengan menggunakan bantal sampai diatas permukaan jantung. Tindakan ini dapat membantu menurunkan pembentukan edema dependent. Untuk LB ringan kompres dingin dan steril dapat mengatasi nyeri. Kemudian dibawa menuju fasilitas kesehatan. 2. Fase Akut
  67. 67. Fase akut dimulai ketika pasien secara hemodinamik telah stabil, permeabilitas kapiler membaik dan diuresis telah mulai. Fase ini umumnya dianggap terjadi pada 48-72 jam setelah injuri. Fokus management bagi klien pada fase akut adalah sebagai berikut : mengatasi infeksi, perawatan luka, penutupan luka, nutrisi, managemen nyeri, dan terapi fisik. a. Mengatasi infeksi Sumber-sumber infeksi pada klien dengan luka bakar meliputi autocontaminasi dari: • Oropharynx • Fecal flora • Kulit yg tidak terbakar dan • Kontaminasi silang dari staf • Kontaminasi silang dari pengunjung • Kontaminasi silang dari udara Kegiatan khusus untuk mengatasi infeksi dan tehnik isolasi harus dilakukan pada semua pusat-pusat perawatan LB. Kegiatan ini berbeda dan meliputi penggunaan sarung tangan, tutp kepala, masker, penutup kaki, dan pakaian plastik. Membersihkan tangan yang baik harus ditekankan untuk menurunkan insiden kontaminasi silang diantara klien. Staf dan pengunjung umumnya dicegah kontak dengan klien jika ia menderita infeksi baik pada kulit, gastrointestinal atau infeksi saluran nafas. b. Perawatan luka
  68. 68. Perawatan luka diarahkan untuk meningkatkan penyembuhan luka. Perawatan luka sehari-hari meliputi membersihkan luka, debridemen, dan pembalutan luka. 1) Hidroterapi Membersihkan luka dapat dilakukan dengan cara hidroterapi. Hidroterapi ini terdiri dari merendam (immersion) dan dengan shower (spray). Tindakan ini dilakukan selama 30 menit atau kurang untuk klien dengan LB acut. Jika terlalu lama dapat meningkatkan pengeluaran sodium (karena air adalah hipotonik) melalui luka, pengeluaran panas, nyeri dan stress. Selama hidroterapi, luka dibersihkan secara perlahan dan atau hati-hati dengan menggunakan berbagai macam larutan seperti sodium hipochloride, providon iodine dan chlorohexidine. Perawatan haruslah mempertahankan agar seminimal mungkin terjadinya pendarahan dan untuk mempertahankan temperatur selama prosedur ini dilakukan. Klien yang tidak dianjurkan untuk dilakukan hidroterapi umumnya adalah mereka yang secara hemodinamik tidak stabil dan yang baru dilakukan skin graft. Jika hidroterapi tidak dilakukan, maka luka dapat dibersihkan dan dibilas di atas tempat tidur klien dan ditambahkan dengan penggunaan zat antimikroba. 2) Debridemen Debridemen luka meliputi pengangkatan eschar. Tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan penyembuhan luka melalui pencegahan proliferasi bakteri di bagian bawah eschar. Debridemen luka pada LB meliputi debridemen secara mekanik, debridemen enzymatic, dan dengan tindakan pembedahan. a) Debridemen mekanik Debridemen mekanik yaitu dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan gunting dan forcep untuk memotong dan mengangkat eschar. Penggantian balutan merupakan cara lain yang juga efektif dari tindakan debridemen mekanik. Tindakan ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan
  69. 69. balutan basah ke kering (wet-to-dry) dan pembalutan kering kepada balutan kering (wet-to-wet). Debridemen mekanik pada LB dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat, oleh karena itu perlu terlebih dahulu dilakukan tindakan untuk mengatasi nyeri yang lebih efektif. b) Debridemen enzymatic Debridemen enzymatik merupakan debridemen dengan menggunakan preparat enzym topical proteolitik dan fibrinolitik. Produk-produk ini secara selektif mencerna jaringan yang necrotik, dan mempermudah pengangkatan eschar. Produk-prduk ini memerlukan lingkungan yang basah agar menjadi lebih efektif dan digunakan secara langsung terhadap luka. Nyeri dan perdarahan merupakan masalah utama dengan penanganan ini dan harus dikaji secara terusmenerus selama treatment dilakukan. c) Debridemen pembedahan Debridemen pembedahan luka meliputi eksisi jaringan devitalis (mati). Terdapat 2 tehnik yang dapat digunakan : Tangential Excision dan Fascial Excision. Pada tangential exccision adalah dengan mencukur atau menyayat lapisan eschar yang sangat tipis sampai terlihat jaringan yang masih hidup. sedangkan fascial excision adlaah mengangkat jaringan luka dan lemak sampai fascia. Tehnik ini seringkali digunakan untuk LB yang sangat dalam. 3) Balutan a) Penggunaan penutup luka khusus Luka bakar yang dalam atau full thickness pada awalnya dilakukan dengan menggunakan zat/obat antimikroba topikal. Obat ini digunakan 1 - 2 kali setelah pembersihan, debridemen dan inspeksi luka. Perawat perlu melakukan kajian terhadap adanya eschar, granulasi jaringan atau adanya reepitelisasi dan adanya tanda-tanda infeksi. Umumnya obat-obat antimikroba yang sering digunakan

×