Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
ANALISA ZAT PADAT DI DALAM AIR LIM...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
TEORI DASAR
Ada dua kelompok zat p...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
C. CARA KERJA
a) Analisa zat padat...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)

b) Analisa zat padat tersuspensi
...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
b) Analisa zat padat tersuspensi
B...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
Hasil analisis zat padat total mem...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
ANALISA KEBUTUHAN OKSIGEN KIMIA DI...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
Waktu analisa yang hanya 2 jam jau...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
D. REAKSI
C4H6O4 + Cr2O7 + H+

E

...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
diketahui jumlah Kalium dikromat y...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
ANALISA KEBUTUHAN OKSIGEN BIOLOGI ...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
tertutup, maka jumlah oksigen yang...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
C. CARA KERJA
Netralkan air contoh...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
*

Lakukan langkah kerja yang sama...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
b) Perhitungan DO0 blanko
ml conto...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
e) Perhitungan BOD
DO0 air contoh
...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
Hasil BOD air contoh yang melebihi...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
PENGOLAHAN AIR LIMBAH CARA KOAGULA...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
b) Mengolah air limbah sebelum dib...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
a) Pelarutan zat koagulan dan menc...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
D. REAKSI
Reaksi dasar ketika ion ...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
Persentasi penurunan zat padat tot...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)

Flokulasi

Dilakukan analisis zat...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
F. DISKUSI
Pada proses koagulasi d...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)

Penggunaan Flokulan PAC
100.00%
9...
Laporan Praktikum Air Limbah
(Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi)
DAFTAR PUSTAKA
Isminingsih. 2003. ...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Limbah

1,113

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,113
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
45
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Limbah

  1. 1. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) ANALISA ZAT PADAT DI DALAM AIR LIMBAH TEKSTIL A. MAKSUD DAN TUJUAN MAKSUD Merencanakan pengolahan air buangan industri tekstil dengan mengetahui nilai zat padat tersuspensi/SS (Suspended Solids), zat padat terlatut/DS (Dissolved Solids), dan zat padat total/TS (Total Solids) pada air contoh limbah industri. TUJUAN Melakukan analisa zat padat dalam air contoh dengan menguapkan dan mengeringkan pada suhu tertentu (1050C) Menghitung nilai zat padat tersuspensi/TSS yang terkandung dalam air contoh Menghitung nilai zat padat total/TS yang terkandung dalam air contoh Menghitung nilai zat padat terlarut/TDS yang terkandung dalam air contoh Membandingkan nilai TS contoh uji dengan nilai TS baku mutu limbah B. PRINSIP Zat Padat Total Menguapkan air contoh uji pada cawan porselin dan dikeringkan dalam oven suhu 1050C sampai beratnya konstan dimana berat residu yang tertinggal adalah berat zat padat total. Zat Padat Tersuspensi Menyaring air contoh uji dengan kertas saring dan dikeringkan dalam oven suhu 105 0C dimana berat residu yang tertinggal adalah berat zat padat tersuspensi. Zat Padat Terlarut Menguapkan air contoh uji pada cawan porselin yang sebelumnya telah disaring dengan kertas saring dan dikeringkan dalam oven suhu 1050C sampai beratnya konstan dimana berat residu yang tertinggal adalah berat zat padat terlarut atau menghitung selisih antara zat padat total dikurangi zat padat tersuspensi. 1
  2. 2. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) TEORI DASAR Ada dua kelompok zat padat di dalam air, yaitu zat padat dan zat terlarut. Perbedaan pokok kedua kelompok ini berdasarkan ukuran atau diameter partikel tersebut. Analisa zat padat dalam air sangat penting untuk perencanaan pengolahan air buangan industri. Dalam metoda analisa zat padat, yang dimaksud dengan zat padat total (Total Solid Solution) adalah semua zat-zat yang tersisa sebagai residu jika suatu zat dikeringkan pada temperatur tertentu. Analisa zat padat total terdiri dari zat padat terlarut (Dissolved Solids) dan zat padat tersuspensi (Suspended Solids). Zat padat tersuspensi adalah material yang dapat dipisahkan dari contoh air dengan cara penyaringan dengan menggunakan kertas saring. Padatan ini kemudian dikeringkan pada temperatur 1050C. Zat padat terlarut adalah zat padat terlarut yang dapat menembus saringan pada saat dilakukan penyaringan dengan kertas saring, sehingga pemeriksaan zat padat terlarut ini dapat dikerjakan sebagai kelanjutan pemeriksaan zat padat tersuspensi. Filtrat yang tembus kertas saring diuapkan dan dikeringkan pada temperatur 1050C. Prinsip metode ini adalah contoh air diuapkan pada cawan porselen dan dikeringkan didalam oven pada temperatur kurang lebih 1050C sampai beratnya konstan. Berat residu yang tertinggal adalah berat zat padat. 2
  3. 3. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) C. CARA KERJA a) Analisa zat padat total Cuci cawan kosong 0 Keringkan dalam oven suhu 105 C selama 1 jam Dinginkan cawan dalam eksikator selama 15 menit Timbang cawan dengan teliti menggunakan neraca digital Masukkan 50 ml air contoh kedalam cawan Uapkan contoh uji dalam cawan sampai kering 0 Keringkan dalam oven suhu 105 C selama 1 jam Dinginkan cawan dalam eksikator selama 15 menit Timbang cawan dengan teliti menggunakan neraca digital 3
  4. 4. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) b) Analisa zat padat tersuspensi 0 Panaskan kertas saring dalam oven suhu 105 C selama 1 jam Dinginkan kertas dalam eksikator selama 15 menit Timbang kertas dengan teliti menggunakan neraca digital Ambil 50 ml air contoh kedalam labu ukur Saring dengan kertas saring dengan bantuan corong 0 Keringkan kertas saring dalam oven suhu 105 C selama 1 jam Dinginkan kertas saring dalam eksikator selama 15 menit Timbang kertas saring dengan teliti menggunakan neraca digital D. DATA DAN PERHITUNGAN a) Analisa zat padat total Berat cawan (B) = 86,6316gram Berat cawan + residu (A) = 87,0019 gram Zat padat total = (A – B) x 1000 ml contoh uji = (87,0019 g – 86,6316 g) x 1000 50 ml = 7,406 mg/L 4
  5. 5. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) b) Analisa zat padat tersuspensi Berat kertas saring (D) = 0,6109 gram Berat kertas saring + residu (C) = 0,6507 gram Zat padat tersuspensi = (C – D) x 1000 ml contoh uji = (0,6507 g – 0,6109 g) x 1000 50 ml = 0,396 mg/L c) Zat padat terlarut Zat padat terlarut = zat padat total – zat padat tersuspensi = 1,40 mg/L – 0,396 mg/L = 1,004 mg/L E. DISKUSI Pada praktikum analisa zat padat akan dihitung kandungan zat padat total/TS, zat padat tersuspensi/SS, dan zat padat terlarut/DS pada air contoh uji. Air contoh uji merupakan air limbah tekstil yang banyak mengandung zat organic dan zat anorganik yang harus diolah dahulu sebelum dibuang ke badan air. Analisa zat padat total dilakukan dengan menguapkan air contoh dalam cawan sehingga hanya diperoleh zat padat total yang menempel pada cawan dan dihitung selisih berat awal dan berat akhir cawan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan zat padat total antara lain : Cawan harus bersih dan dikeringkan didalam oven selama 1 jam dengan suhu 1050C agar cawan benar-benar kering dan titik-titik air benar-benar hilang sehingga diperoleh berat kering yang akurat. Cawan harus disimpan di eksikator selama 15 menit untuk mendapatkan berat kering yang tepat dan pada perhitungan akhir diperoleh hasil yang tepat. Air contoh yang akan dianalisis harus dikocok dahulu agar homogen sehingga padatan yang mengendap larut kembali. Penguapan air contoh uji harus benar-benar kering agar kandungan airnya benarbenar hilang dan hanya tersisa zat padatnya saja. Cawan berisi air contoh yang telah kering harus dimasukkan dalam eksikator lagi untuk mendapatkan cawan dengan zat padat yang benar-benar kering. Penimbangan dilakukan beberapa kali sampai mendapatkan berat yang konstan. 5
  6. 6. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) Hasil analisis zat padat total memberikan nilai TS sebesar 1,57 mg/L. Nilai ini berada dibawah nilai baku mutu limbah dimana nilai TS baku mutunya 50 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa air contoh yang dianalisis memenuhi baku mutu limbah TS untuk dapat dibuang ke badan air. Namun, ada beberapa parameter lain yang harus diperhatikan diantaranya COD dan BOD sehingga air limbah tidak dapat langsung dibuang ke badan air. Analisa zat padat tersuspensi dilakukan dengan menyaring air contoh dengan kertas saring kemudian mengeringkan dalam oven suhu 1050C dan dihitung selisih berat awal dan berat akhir kertas saring. Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah : Air limbah harus dikocok dahulu agar homogen sehingga padatan yang mengendap dapat larut kembali. Kertas saring perlu dikeringkan dahulu dalam oven suhu 1050C selama 1 jam kemudian dimasukkan dalam eksikator selama 15 menit sebelum dan sesudah pengujian agar sisa air benar-benar kering dan yang tertinggal hanya zat padatnya saja. Kertas saring perlu ditimbang beberapa kali sampai mendapatkan berat yang konstan. Penyaringan dilakukan untuk memisahkan padatan terlarut dan padatan tersuspensi. Hasil pengujian menunjukkan nilai zat padat tersuspensi sebesar 0,052 mg/L sehingga diperoleh nilai zat padat terlarut sebesar 1,518 mg/L yang merupakan selisih dari zat padat total dengan zat padat tersuspensi. Nilai tersebut masih memenuhi baku mutu limbah karena hasilnya lebih kecil dari baku mutu limbah untuk zat padat total. Cara analisis zat padat total maupun tersuspensi merupakan cara yang paling mudah untuk menentukan jumlah zat padat yang terdapat dalam air limbah tekstil. F. KESIMPULAN Zat padat total = 7.406 mg/L Zat padat tersuspensi = 0,396 mg/L Zat padat terlarut =1,004 mg/L 6
  7. 7. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) ANALISA KEBUTUHAN OKSIGEN KIMIA DI DALAM AIR LIMBAH TEKSTIL A. MAKSUD DAN TUJUAN MAKSUD Menentukan nilai COD sebagai parameter pencemaran zat organic dengan cara oksidasi melalui proses mikrobiologi. TUJUAN Menghitung jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organic yang ada didalam air contoh dengan menggunakan oksidator K2Cr2O7. Membandingkan dan menganalisa nilai COD air contoh dengan nilai COD baku mutu limbah. B. PRINSIP Mengoksidasi zat-zat organic dalam air contoh dengan menggunakan oksidator K2Cr2O7 melalui proses mikrobiologi dan titrasi sisa K2Cr2O7 dengan garam Mohr (Fero ammonium sulfat). TEORI DASAR Kebutuhan Oksigen Kimia adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam 1 liter air. Sebagai sumber oksigen digunakan oksidator K2Cr2O7. Nilai KOK atau juga dikenal dengan COD (Chemical Oxygen Demand) merupakan parameter pencemaran zat-zat organik secara alamiah yang dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologi. Pada analisa KOK ini sebagian besar zat organik dioksidasi oleh kalium dikromat dalam suasana asam mendidih. Reaksi berlangsung kurang lebih 2 jam dengan menggunakan alat pendingin refluks, agar zat organik yang mudah menguap tidak hilang. Kadar klorida yang terlalu tinggi didalam contoh uji dapat bereaksi sehingga dapat menganggu kerja katalisator Ag2SO4, dan juga dapat bereaksi dengan dikromat sehingga memberikan ketidaktelitian dalam perhitungan nilai KOK. Gangguan ini dapat dihilangkan dengan penambahan HgSO4 sebelum penambahan reagen lain. Ion merkuri akan bergabung dengan ion klorida membentuk merkuri klorida. Beberapa keuntungan analisa KOK bila dibandingkan dengan analisa KOB antara lain : 7
  8. 8. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) Waktu analisa yang hanya 2 jam jauh lebih singkat bila dibandingkan analisa KOB yang membutuhkan waktu 5 hari. Gangguan dari zat beracun yang berpengaruh pada analisa KOB tidak mempengaruhi nilai KOK. Untuk nilai KOK sampai 800 ppm tidak diperlukan pengenceran. Mempunyai tingkat ketelitian hampir 3 kali dari analisa KOB. Untuk memastikan semua zat organik dapat habis dioksidasi oleh kalium dikromat, maka penambahan kalium dikromat harus berlebih, sehingga pada akhir titrasi masih tersisa zat pengoksidasi kalium dikromat. Sisa kalium dikromat tersebut ditentukan melalui titrasi yang dikenal dengan nama garam Mohr. Dengan blanko, kita dapat mengetahui kadar kalium dikromat awal, sehingga kita dapat menghitung berapa kalium dikromat yang dipakai mengoksidasi contoh uji. C. CARA KERJA Pipet 2 ml air contoh uji Untuk blanko, pipet 2 ml air suling kedalam Erlenmeyer tutup asah kedalam Erlenmeyer tutup asah Tambahkan 10 ml K2Cr2O7 0,2500 N kedalam Erlenmeyer tutup asah Masukkan batu didih yang telah dicuci bersih Tambahkan 30 ml reagen H2SO4 yang mengandung AgSO4 Larutan direfluks selama 2 jam Dinginkan Tambahkan indicator feroin Titrasi sisa K2Cr2O7 dengan garam Mohr (Ferro ammonium sulfat) Titrasi akhir berwarna merah coklat dimana Fe 2+ → Fe 3+ 8
  9. 9. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) D. REAKSI C4H6O4 + Cr2O7 + H+ E CO2 + CO2 + H2O + Cr3 Ag 2S Sisa Kromat dititrasi dengan garam Mohr : O4 22+ + 6Fe + Cr2O7 + 14H 6Fe3+ + 2Cr3+ + 7H2O Gangguan Klorida : 6Cl- + Cr2O72+ + 14H+ Hg2+ + Cl- 3Cl2 + 2Cr3+ + 7H2O HgCl2 E. DATA DAN PERHITUNGAN N titrasi = 0,2500 N ml contoh uji = 2 ml (2 ml air contoh + 10 ml K2Cr2O7 0,2500 N + 30 ml reagen H2SO4) ml titrasi contoh = 9,5 ml ml titrasi blanko = 8,1 ml COD = { (ml titrasi)blanko - (ml titrasi)contoh } x N titrasi x 8000 ml contoh uji = (9,5 ml – 8,1 ml) x 0,2500 N x 8000 42 ml = 1891,68 mg O2/L F. DISKUSI Pada analisa kebutuhan oksigen kimia, akan dititrasi 2 larutan yaitu larutan air contoh dan larutan blanko untuk mendapatkan nilai COD yang diharapkan. Pada analisa ini, digunakan oksidator lemah berupa K2Cr2O7 yang akan mengoksidasi zat organic dalam air limbah pada pH asam dan suhu tinggi. Larutan yang akan direfluks berwarna kuning coklat yang menandakan masih adanya dikromat dalam larutan tersebut. Pada saat direfluks, zat organic maupun air contoh tidak akan menguap, dalam arti pengerjaan refluks tidak akan mengurangi volume air dalam erlenmeyer seperti halnya pemanasan biasa. Pengerjaan refluks selama 2 jam juga berfungsi untuk mempercepat reaksi antara zat organic, larutan Kalium dikromat dan reagen asam sulfat. Setelah pengerjaan refluks selesai maka tidak 9
  10. 10. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) diketahui jumlah Kalium dikromat yang dioksidasi . Oleh sebab itu, digunakan larutan blanko untuk mengoksidasi seluruh Kalium bikromat yang ada. Sisa dikromat selanjutnya ditambah indicator feroin dan berwarna hijau kebiruan kemudian dititrasi dengan garam Mohr atau larutan Fero ammonium sulfat untuk mengetahui berapa banyak sisa Kalium dikromat yang mengoksidasi seluruh zat organic dengan hasil akhir berwarna merah coklat. Dengan blanko, maka dapat mengetahui kadar kalium dikromat awal, sehingga dapat dihitung berapa kalium dikromat yang dipakai mengoksidasi contoh uji. Hasil uji menunjukkan nilai COD air contoh adalah 1891,68 mg/L. Nilai ini diatas nilai baku mutu limbah untuk COD yaitu 150 mg/L. Diperolehnya nilai COD air contoh yang lebih tinggi dari nilai COD baku mutu kemungkinan disebabkan karena larutan penitar garam Mohr atau fero ammonium sulfat yang bersifat tidak stabil sehingga saat digunakan untuk menitrasi hasilnya tidak akurat. Seharusnya pada saat akan menitar,larutan fero ammonium sulfat harus distandarisasi dahulu agar stabil dan memberikan nilai yang tepat. Namun, hasil yang melebihi baku mutu limbah ini menunjukkan bahwa air contoh limbah tekstil ini harus dilakukan pengolahan dahulu sebelum akhirnya dibuang ke badan air. Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas air limbah yang akan dibuang agar tidak mencemari lingkungan disekitarnya. G. KESIMPULAN Nilai COD atau jumlah oksigen untuk mengoksidasi zat organic dalam air contoh adalah 1891,68 mg O2/L 10
  11. 11. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) ANALISA KEBUTUHAN OKSIGEN BIOLOGI DI DALAM AIR LIMBAH TEKSTIL A. MAKSUD DAN TUJUAN MAKSUD Menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan zat organic yang ada didalam air contoh. TUJUAN Menghitung nilai oksigen terlarut dalam air contoh pada hari ke-0 Menghitung nilai oksigen terlarut dalam lar.blanko pada hari ke-0 Menghitung nilai oksigen terlarut dalam air contoh pada hari ke-5 Menghitung nilai oksigen terlarut dalam lar.blanko pada hari ke-5 Menghitung nilai BOD berdasarkan nilai DO0 dan DO5 lar.air contoh dan lar.blanko Membandingkan dan mengalisis nilai BOD contoh dengan BOD baku mutu limbah B. PRINSIP Oksigen didalam air contoh mengoksidasi MnSO4 yang ditambahkan dalam air contoh dalam suasana alkali sehingga terjadi endapan MnO2, dan dengan penambahan H2SO4 dan KI akan dibebaskan molekul Iodium yang setara dengan jumlah oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan dititrasi dengan larutan Tiosulfat menggunakan indicator kanji. TEORI DASAR Kebutuhan oksigen biologi (KOB), atau biologycal oxygen demand (BOD) adalah suatu analisa yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologi yang terjadi didalam air. Nilai KOB menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan zat organik yang berada didalam air. Pemeriksaan KOB berdasarkan kepada reaksi oksidasi zat organik dengan oksigen didalam air. Pemeriksaan tersebut dilakukan pada temperatur pengeraman 20 0C selama lima hari. Pada saat ini reaksi sudah berjalan kurang lebih 75%. Reaksi sempurna terjadi setelah 20 hari. Pemeriksaan dilakukan didalam botol yang tertutup sehingga tidak ada pertukaran oksigen dari luar. Jumlah zat organik didalam air diukur melalui jumlah oksigen yang dibutuhkan bakteri untuk mengoksidasi zat organik tersebut. Karena reaksi oksidasi terjadi didalam botol 11
  12. 12. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) tertutup, maka jumlah oksigen yang dibutuhkan adalah selisih antara kadar oksigen pada awal reaksi dan kadar oksigen setelah lima hari. Secara sederhana proses oksidasi zat organik biologi digambarkan sebagai berikut: Nitrifikasi Karbon BOD 20 BOD 5 Hari 5 20 Gangguan pada umumnya terdapat pada analisa KOB adalah adanya zat beracun yang membunuh bakteri, nitrifikasi yaitu perubahan amoniak menjadi nitrat oleh enis bakteri tertentu yang juga membutuhkan oksigen sehingga mengacaukan perhitungan, kemasukan udara dalam botol, kekurangan bakteri dan kekurangan nutrisi untuk bakteri. 12
  13. 13. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) C. CARA KERJA Netralkan air contoh dengan menambah NaOH atau H 2SO4 Buat air pengencer dalam labu ukur 2 L berisi 2 ml bibit air kotor, buffer posfat, 2 ml CaCl2 27,5 g/L, 2 ml FeCl3 0,25 g/L, dan 2 ml MgSO4 22,5 g/L Pengenceran dalam labu ukur 500 ml berisi air pengencer dan 2,3 ml air contoh (berdasarkan volume winkler dengan 100 kali pengenceran) Kocok dengan hati-hati agar homogen Masukkan air contoh yang telah diencerkan kedalam 2 botol winkler (hindari masuknya udara kedalam botol) Langsung diperiksa nilai DO pada hari ke 0 0 Inkubasi botol pada suhu 20 C selama 5 hari Periksa nilai DO pada hari ke-5 Kedalam botol winkler tambahkan 2 ml MnSO4 dan 2 ml alkali iodida kemudian tutup botol agar tidak ada gelembung udara Kocok beberapa kali dan biarkan mengendap Buang 10 ml air jernih setelah endapan sempurna Tambah 2 ml H2SO4 pekat, tutup kembali botol Kocok botol sampai endapan larut sempurna Titrasi iodium dengan lar.Tiosulfat 0,1 N sampai warna kuning muda tambahkan 2 ml indikator kanji Titrasi sampai warna biru dari kanji tepat hilang 13
  14. 14. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) * Lakukan langkah kerja yang sama untuk larutan blanko tanpa menggunakan air contoh uji. D. REAKSI Reaksi zat organic dengan oksigen : Zat organic + oksigen (O2) Bakteri CO2 + H2O + NH3 Reaksi untuk titrasi cara Winkler : MnSO4 + 2KOH Mn(OH)2 + K2SO4 Mn(OH)2 + ½ O2 MnO2 + H2O MnO2 + 2KI + 2H2O Mn(OH)2 + I2 + 2KOH I2 + 2S2O3- S4O6- + 2I E. DATA DAN PERHITUNGAN Volume winkler I = 116 ml Volume winkler II = 125 ml Volume winkler total = 241 ml Banyak pengenceran = 100 kali Air contoh yang dipipet = vol winkler total/banyak pengenceran = 241 ml/100 = 2,41 ml = 2,4 ml Volume labu pengencer = 344 ml a) Perhitungan DO0 air contoh ml contoh = 125 ml ml titrasi = 0,8 ml N tiosulfat = 0,1 N DO0 air contoh = ml titrasi x N.Tiosulfat x 8000 ml contoh = 0,8 ml x 0,1 N x 8000 125 ml = 5,12 mg/L 14
  15. 15. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) b) Perhitungan DO0 blanko ml contoh = 116 ml ml titrasi = 0,8 ml N tiosulfat = 0,1 N DO0 blanko = ml titrasi x N.Tiosulfat x 8000 ml contoh = 0,8 ml x 0,1 N x 8000 116 ml = 5,51 mg/L c) Perhitungan DO5 air contoh ml contoh = 118 ml ml titrasi = 0,1 ml N tiosulfat = 0,1 N DO5 air contoh = ml titrasi x N.Tiosulfat x 8000 ml contoh = 0,4 ml x 0,1 N x 8000 118 ml = 0,67 mg/L d) Perhitungan DO5 blanko ml contoh = 116 ml ml titrasi = 0,2 ml N tiosulfat = 0,1 N DO5 blanko = ml titrasi x N.Tiosulfat x 8000 ml contoh = 0,2 ml x 0,1 N x 8000 116 ml = 1,37 mg/L 15
  16. 16. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) e) Perhitungan BOD DO0 air contoh = 5,12 mg/L DO0 blanko = 5,51 mg/L DO5 air contoh = 0,67 mg/L DO5 blanko = 1,37 mg/L Pengencer (P) = ml air contoh yang dipipet / vol labu pengencer = 3,4 ml / 344 ml = 0,0069 BOD = (DO0 – DO5)air contoh – (DO0 – DO5)blanko P = (5,12 – 0,67) – (5,51 – 1,37) 0,0069 = 0,31 / 0,0069 = 44,92 mg/L F. DISKUSI Penetapan nilai BOD pada air contoh akan berkaitan dengan jumlah oksigen terlarut dalam air limbah yang digunakan untuk menguraikan senyawa organic dengan bantuan mikroorganisme yang berlangsung secara biologi. Pengukuran BOD dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-5. Pada hari ke-0, air contoh langsung diukur jumlah oksigen terlarutnya (DO0) sedangkan untuk pengukuran pada hari ke-5 air contoh perlu diinkubasi dahulu. Air contoh perlu diinkubasi selama 5 hari karena pada hari ke-5 merupakan waktu yang paling tepat untuk mengukur BOD karena pada hari ke-5 belum terjadi reaksi nitrifikasi dan reaksi karbonasi. Apabila pengukuran dilakukan lebih dari hari ke-5 maka akan terjadi reaksi nitrifikasi sehingga terdapat bakteri nitrifikasi dan terjadi karbonasi. Akibatnya, akan terjadi tiga reaksi sekaligus yaitu reaksi nitrifikasi, karbonasi dan reaksi BOD sehingga tidak dapat diukur BODnya saja. Selama proses inkubasi, bakteri harus tetap hidup. Oleh sebab itu, sebelum dilakukan inkusasi, bakteri perlu diberi makan dan diberi air jenuh oksigen agar bakteri dapat hidup sampai pengukuran DO5. Hasil pengukuran menunjukkan nilai BOD air contoh adalah 44,92 mg/L. Nilai ini jauh diatas nilai BOD baku mutu limbah yang ditentukan (BOD baku mutu = 60 mg/L). Hasil ini menunjukkan bahwa air contoh harus diolah dahulu karena nilai BOD dan COD nya lebih besar dari nilai baku mutu BOD dan COD yang ditentukan. 16
  17. 17. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) Hasil BOD air contoh yang melebihi BOD baku mutu antara lain disebabkan karena indicator kanji yang digunakan sudah tidak layak dipakai lagi sehingga akan mempengaruhi hasil akhir titrasi contoh dengan larutan penitra Tiosulfat 0,1 N. Pada saat ditambahkan indicator kanji air contoh yang akan dititrasi langsung tidak berwarna, padahal seharusnya air contoh yang akan dititrasi berwarna biru atau biru tua stelah ditambah indicator kanji. Tidak jelasnya perubahan warna air contoh yang akan dititrasi dengan indicator kanji menyebabkan hasil akhir titrasi tidak akurat. Sebab lain yang mungkin terjadi adalah pada saat titrasi dengan Tiosulfat terlalu banyak sehingga larutan tidak berwarna kuning muda lagi tetapi hampir tidak berwarna. Seharusnya setelah titrasi dengan Tiosulfat dan air berubah warna menjadi kuning muda maka harus langsung ditambahkan indicator kanji sehingga hasil akhit titrasinya lebih akurat. G. KESIMPULAN DO0 air contoh = 5,12 mg/L DO0 blanko = 5,51 mg/L DO5 air contoh = 0,67 mg/L DO5 blanko = 1,37 mg/L BOD air contoh = 44,92 mg/L 17
  18. 18. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) PENGOLAHAN AIR LIMBAH CARA KOAGULASI A. MAKSUD DAN TUJUAN MAKSUD Memperbaiki kualitas air dan mempelajari proses pengolahan air limbah tekstil secara koagulasi-flokulasi dengan memvariasikan jenis zat koagulan dan flokulan yang digunakan. TUJUAN Mengolah air limbah dengan zat koagulan Al2(SO4)3 Menghitung penurunan zat padat total/total solids setelah dilakukan koagulasi Menganalisis data hasil proses koagulasi B. PRINSIP Mengendapkan zat organic dan anorganik dalam air contoh secara kimia menggunakan zat koagulan Alumunium sulfat untuk memperbaiki kualitas air sampai memenuhi syarat yang ditentukan. TEORI DASAR Untuk membuang air limbah ke badan air penerima, apapun dan bagaimanapun jenis limbah dan kualitasnya, sebelum dibuang harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Sehingga pengolahan air limbah dilakukan untuk memperbaiki kualitas air sampai memenuhi persyaratan yang ditentukan. Industri tekstil menghasilkan cukup banyak air limbah yang mengandung bermacam-macam polutan. Air limbah industri tekstil hanya diperbolehkan dilepas ke badan air penerima setelah kadar polutan yang dikandung didalamnya diturunkan sampai batas ambang yang diperbolehkan. Untuk mengurangi kadar zat polutan pada air limbah, secara garis besar dapat dilakukan dengan dua cara : a) Mengurangi zat polutan yang dihasilkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengurangi konsentrasi zat polutan dan volume air limbah yang akan dibuat. Usaha ini dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya mengurangi volume air proses, yang berarti mengurangi volume air limbah, mengurangi rangkaian proses, penggunaan kembali sisa zat kimia dan menggunakan zat kimia yang memberikan kadar pencemaran rendah. 18
  19. 19. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) b) Mengolah air limbah sebelum dibuang ke badan air penerima. Karena beragamnya jenis dan ukuran polutannya yang dikandung. Pengolahan limbah cair industri tekstil memerlukan beberapa tahap proses pengolahan diantaranya pengolahan primer berupa ekualisasi dan netralisasi dilanjutkan dengan pengolahan sekunder untuk menghilangkan padatan dengan proses kimia atau biologi. Komposisi dan laju air limbah dari proses pada industri tekstil sangat bervariasi, oleh karena itu perlu dibuat seragam melalui ekualisasi. Proses ekualisasi dibuat dengan cara mencampur dan menyimpan air limbah di dalam kolam. Proses selanjutnya adalah penyaringan dan pengendapan yang bertujuan untuk memisahkan partikel-partikel tersuspensi yang relatif besar, seperti serat, zat kimia yang tidak larut dan butiran-butiran padat dari air limbah. Zat organik maupun anorganik berupa padatan tersuspensi atau berupa padatan terlarut umumnya dipisahkan dengan cara biologi yaitu dengan bantuan mikroba zat organik untuk diuraikan menjadi molekul yang lebih sederhana, ataupun cara kimia yaitu menggunakan zat koagulan sehingga partikel-partikel yang halus akan digabung secara kimia fisika menjadi gumpalan yang mudah dipisahkan dengan cara pengendapan. Zat koagulan yang umumnya digunakan pada industri tekstil adalah ferosulfat, aluminium sulfat serta koagulan-koagulan polimer. Dengan cara ini partikel penyebab kekeruhan dan warna dapat dipisahkan kecuali partikel nonionik yang sangat halus. Untuk menentukan dosis optimal dari zat koagulan dan parameter lainnya seperti pH, jenis zat koagulan yang digunakan dalam proses koagulasi dilakukan dengan cara percobaan Jar test. Alat ini merupakan model sederhana proses koagulasi. Suatu larutan yang keruh biasanya mengandung partikel-partikel kecil yang ringan dan sulit mengendap dalam waktu yang lama. Partikel-partikel tersebut tidak dapat bergabung menjadi partikel yang lebih besar dan lebih berat karena muatan partikel-partikel tersebut sama (biasanya negatif), sehingga ada gaya elektrostatis diantara partikel tersebut. Dengan penambahan zat koagulan, maka sebagian zat koagulan terlarut dalam air dan molekul-molekul ini akan menempel pada permukaan partikel (karena zat koagulan bermuatan positif) dan mengubah muatan elektris dari sebagian partikel anion. Sebagian besar zat koagulan tidak terlarut dan akan mengendap sebagai flok yang mengurung partikel-partikel zat padat dan membawanya ke bawah. Proses koagulasi terdiri dari 3 langkah yaitu: 19
  20. 20. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) a) Pelarutan zat koagulan dan mencampur dengan contoh sampai homogen dilakukan dengan pengadukan cepat menggunakan putaran 100 rpm selama 1 menit, jika perlu pH diatur sesuai dengan kebutuhan. b) Pembentukan flok harus dilakukan dengan putaran yang cukup pelan sekitar 20 rpm selama 20 menit, karena pengadukan yang terlalu cepat dapat merusak flok yang telah terbentuk. c) Pengendapan flok dengan partikel yang terkurung didalamnya selama 20 atau 30 menit. C. CARA KERJA Ambil 100 ml air contoh uji masukkan dalam piala gelas Tambahkan dengan 300 ml air Aduk agar homogen Netralkan pH dengan menambahkan asam atau basa Masukkan 6 ml zat koagulan Al2(SO4)3 30 mg/L kedalam larutan air contoh dan air Letakkan piala gelas berisi air contoh + air + zat koagulan pada alat jar tester Jar tester diputar 100 rpm selama 15 menit untuk menghomogenkan larutan Turunkan kecepatan jar tester menjadi 20 rpm putar selama 15 menit Biarkan larutan yang telah membentuk flok selama 15 menit agar terjadi pengendapan Ambil 25 ml larutan di bagian atas dengan pipet volum dan pindahkan dalam cawan porselin Lakukan analisa kandungan zat padat total Hitung % penurunan zat padat total 20
  21. 21. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) D. REAKSI Reaksi dasar ketika ion Al3+ ditambahkan kedalam air, pembentukan aluminium hidroksida dengan melepaskan sedikit asam : Al3+ + 3H2O Al(OH)3 ↓ + 3H+ Asam ini dapat mengadakan reaksi dengan beberapa jenis spesies dalam alrutan terutama pada ion bikarbonat : HCO3- + H+ H2O + CO2 Reaksi disosiasi diatas menghasilkan asam, maka pH larutan akan turun. Untuk menaikkan pH ditambahkan basa (Soda kostik, kapur, sodium karbonat) Al3+ 3OH- Al(OH)3 ↓ Reaksi aluminium sulfat dikombinasi dengan kapur adalah : Al2(SO4)3 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 ↓ 3Ca2+ 3SO42- E. DATA DAN PERHITUNGAN Dilakukan analisis zat padat total, maka : Berat cawan (B) = 66,8920 gram Berat cawan + residu (A) = 66,9580 gram ml contoh uji = 50 ml Zat padat total = (A – B) x 1000 Ml contoh uji = (66,9580 – 66,8920) x 1000 50 ml = 0,096 x 1000 50 = 66 g/L 21
  22. 22. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) Persentasi penurunan zat padat total : Zat padat total awal (TSawal) = 7,4 g/L Zat padat total akhir (TSakhir) = 6,6 g/L % penurunan TS =( TSawal – TSakhir) x 100 % TSawal = (7,4 g/L – 6,6 g/L) x 100 % 6,6 g/L = 0,8 x 100 % 6,6 g/L = 10,8108 % 22
  23. 23. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) Flokulasi Dilakukan analisis zat padat total, maka : Berat cawan (B) = 66,8765 gram Berat cawan + residu (A) = 67,03 gram ml contoh uji = 50 ml Zat padat total = (A – B) x 1000 Ml contoh uji = (67,03 – 66,8765) x 1000 50 ml = 0,1535 x 1000 50 = 3,07 g/L Persentasi penurunan zat padat total : Zat padat total awal (TSawal) = 7,4 g/L Zat padat total akhir (TSakhir) = 3,07 g/L % penurunan TS =( TSawal – TSakhir) x 100 % TSawal = (7,4 g/L – 3,07 g/L) x 100 % 3,07 g/L = 4.33 x 100 % 3,07 g/L = 58,5471 % 23
  24. 24. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) F. DISKUSI Pada proses koagulasi digunakan zat koagulan yaitu Aluminium sulfat yang merupakan logam bervalensi tinggi sehingga muatan yang dihasilkan dapat menurunkan gaya tolak menolak antara partikel dengan cara penekanan terhadap lapis rangkap listrik yang tersebar diantara partikel. Proses koagulasi berlangsung dengan cara membuat partikel dalam larutan menjadi tidak stabil dengan adanya kontak antar partikel sehingga beraglomerasi dan kemudian membentuk flok yang keluar dari larutan menjadi endapan/sedimentasi. Pada setiap cara pengolahan air limbah harus dilakukan proses netralisasi dahulu dengan penambahan asam atau basa. Pada praktikum digunakan Al2(SO4)3 30 mg/L sedangkan yang tersedia adalah Al2(SO4)3 2 g/L. Oleh sebab itu, pengambilan Al2(SO4)3 2 g/L hanya diambil 12 ml saja. Proses pengendapan atau sedimentasi yang terjadi dipengaruhi oleh putaran alat jar tester yang berfungsi untuk menghomogenkan larutan. Apabila putaran jar tester terlalu lambat maka pembentukan flok juga lambat. Sedangkan apabila putaran jar tester terlalu cepat maka flok akan cepat terbentuk tetapi dapat juga menyebabkan flok yang terbentuk terpecah kembali karena putaran jar tester yang terlalu cepat. Untuk emangatasi hal ini maka kecepatan putaran jar tester awal dibuat lebih cepat, kemuddian setelah beberapa menit kecepatan putaran jar tester diperlambat untuk mencegah terpecahnya flok yang sudah terbentuk. Setelah flok terbentuk kemudian dilakukan analisa zat padat total dengan menguapkan 50 ml air contoh dalam cawan yang sebelumnya cawan telah dikeringkan dioven 1050C 1 jam dan dimasukkan dalam eksikator agar benar-benar kering dan beratnya akurat. Hasil analisis zat padat total setelah proses koagulasi menunjukkan nilai TS (Total Solids) sebesar 0,8 mg/L dengan penurunan TS dari TS awal sebesar 10,8108%. Hal in menunjukkan bahwa pengolahan air limbah cara koagulasi dengan zat koagulan Aluminium sulfat dapat menurunkan nilai TS air contoh sebesar 10,8108%. G. KESIMPULAN Zat padat total setelah koagulasi = 0,8 mg/L % penurunan zat padat total = 10,8108 % 24
  25. 25. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) Penggunaan Flokulan PAC 100.00% 90.00% % Penurunan TS 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 2 4 5 6 8 9 10 0.9 1 Konsentrasi Penggunaan Curiflok (mg/L) Penggunaan Koagulan PAC 90.00% 80.00% % Penurunan TS 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 Konsentrasi Penggunaan PAC (g/L) 25
  26. 26. Laporan Praktikum Air Limbah (Analisa TSS, TDS, TS, COD, BOD, dan Koagulasi, flokulasi) DAFTAR PUSTAKA Isminingsih. 2003. Analisa dan Pengolahan Air untuk Industri Tekstil. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Kemal, Noerati. 2004. Kualitas Air Proses dan Limbah Industri Tekstil. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil 26

×