Your SlideShare is downloading. ×
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod  letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Kti asuhan keperawatan pada klien ny. r dengan post op sectio caesarea pod letak lintang di ruang delima rumah sakit umum daerah kabupaten muna

114

Published on

KABUPATEN MUNA

KABUPATEN MUNA

Published in: Engineering
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
114
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Keperawatah adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat meliputi bio, psiko, social spiritual yang komperhensif ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia (Nursalam, 2002). Bidang layanan dalam keperawatan sangat luas, salah satunya adalah bidang keperawatan maternitas. Keperawatan maternitas merupakan layanan profesional yang ditujukan kepada wanita usia subur yang meliputi masa sebelum hamil, masa hamil, masa melahirkan, masa nifas, masa diantara kehamilan, neonatus dan keluarga yang berfokus kepada kebutuhan dasar dalam melakukan adaptasi fisik dan psikososial dengan menggunakan proses keperawatan (Mansjoer, 2002). Peningkatan kesehatan bagi dan oleh kalangan perempuan menjadi sangat penting dalam mencapai target MDGs (Millenium Development Goals). Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang menjadi indikator bidang kesehatan dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sangat di tentukan oleh kesehatan di kalangan perempuan, dan hingga kini kondisi kesehatan masyarakat kita (terutama kaum perempuan) masih sangat memprihatinkan. Hingga saat ini Angka
  • 2. 2 Kematian Ibu di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan ASEAN. Tahun 2007 lalu Angka Kematian Ibu di Indonesia tercatat sebesar 248 per 100 ribu kelahiran hidup. Hal yang tak jauh berbeda juga dengan Angka Kematian Bayi di tahun yang sama yang mencapai 26,9 per seribu kelahiran hidup. Padahal dalam Millenium Development Goals ditargetkan pada tahun 2015 nanti Angka Kematian Ibu tidak lebih dari 104 per 100 ribu (Carpenito, 2002). Dewasa ini sectio caesarea jauh lebih aman berkat kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi seperti adanya antibiotik, transfusi darah, anastesi, dan tehnik operasi yang lebih sempurna. Karena itu saat ini ada kecenderungan untuk melakukan operasi tanpa dasar indikasi yang cukup kuat. Operasi caesar hanya boleh dilakukan bila plasenta menutup jalan lahir, bayi yang besar, letak bayi abnormal dan chepalo pelvic disproporsi sehingga di khawatirkan persalinan akan macet (Wikjosastro, 2002). Operasi caesar atau sectio caesarea adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut sehingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi akan tetapi, persalinan melalui sectio caesarea bukanlah alternatif yang lebih aman karena diperlukan pengawasan khusus terhadap indikasi dilakukannya maupun perawatan ibu setelah tindakan sectio caesarea, karena tanpa pengawasan yang baik dan cermat akan berdampak pada kematian ibu (Wikjosastro, 2002).
  • 3. 3 Menurut WHO (2007), menyatakan bahwa persalinan dengan bedah caesar adalah sekitar 10-15% dari semua proses persalinan dinegara berkembang. Di Indonesia sendiri, presentasi operasi caesar sekitar 5% semua proses persalinan yang ada di Indonesia. Sedangkan menurut Bensons dan pernolls, angka kematian pada operasi caesar adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukan resiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan pervaginal. Untuk kasus karena infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginal. Komplikasi tindakan anastesi sekitar 10% dari seluruh angka kematian ibu. Disamping itu sumber lain mengatakan bahwa sectio caesaria berhubungan dengan peningkatan dua kali lipat resiko mortalitas ibu dibandingkan pada persalinan pervaginal. Kematian ibu akibat operasi sectio itu sendiri menunjukan angka 1 per 1.000 persalinan (Depkes, 2008). Menurut catatan Medical Record Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna, periode Januari sampai dengan April 2014 kejadian Sectio Caesarea atas indikasi Letak Lintang dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :
  • 4. 4 Tabel 1. Distribusi Persalinan Dengan Tindakan Sectio Caesarea di Ruang Delima Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Pada Periode Januari Sampai Dengan April 2014 NO JENIS PENYAKIT JUMLAH PERSEN 1 Abortus Inkomplit 15 23,07 2 Myoma Uteri 8 12,30 3 Eklamsi 7 10,76 4 Gawat Janin 7 10,76 5 Plasenta Previa 6 9,23 6 Letak Bokong 5 7,69 7 Panggul Sempit 5 7,69 8 Serotinus 4 6,15 9 Ketuban Pecah Dini 4 6,15 10 Letak Lintang 4 6,15 Jumlah 65 100 Sumber : Catatan Medik Diruang Kebidanan RSUD Kabupaten Muna Periode Bulan Januari s/d April 2014 Melihat keadaan tersebut diatas dan mengingat dampak yang ditimbulkan pada klien, penulis tertarik untuk menyusun suatu karya tulis yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. R Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna”. B. Ruang Lingkup Pembahasan Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis membatasi ruang lingkup masalah yang dibahas yaitu “Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. R dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna”.
  • 5. 5 C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk memperoleh gambaran dan pengalaman secara nyata serta mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang secara langsung dan komperhensif yang meliputi aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual berdasarkan Ilmu dan Kiat Keperawatan. 2. Tujuan Khusus a. Mampu melaksanakan pengkajian secara komperhensif pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas masalah pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. c. Mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. e. Mampu mengevaluasi hasil tindakan yang dilakukan pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. f. Mampu mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang.
  • 6. 6 D. Manfaat Penulisan 1. Pihak Rumah Sakit a. Sebagai bahan bagi rekan-rekan sejawat dalam melakukan studi kasus lebih lanjut dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. b. Sebagai bahan perbandingan bagi perawat dalam bertugas melaksanakan pelayanan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. 2. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai bahan bacaan ilmiah ataupun kerangka perbandingan dalam mengembangkan ilmu keperawatan dan usaha penyempurnaan asuhan keperawatan yang telah ada saat ini. 3. Profesi Sebagai pedoman bagi perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. 4. Penulis Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama pendidikan. E. Metode Telaahan Metode yang digunakan penulis dalam menyusun karya tulis ilmiah ini yaitu metode analisis deskriptif melalui studi kasus berdasarkan
  • 7. 7 pendekatan proses keperawatan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam menyusun karya tulis ini adalah: 1. Wawancara yaitu dengan mengadakan tanya jawab langsung dengan klien dan keluarga klien untuk memperoleh informasi yang akurat. 2. Observasi yaitu dengan mengamati keadaan klien secara langsung meliputi bio, psiko, sosial, kultural dan spiritual. 3. Pemeriksaan fisik yaitu pengumpulan data dengan melakukan pemeriksaan fisik pada klien dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. 4. Studi dokumentasi yaitu dengan melakukan pengumpulan data atau informasi melalui catatan atau arsip dari medical record yang berhubungan dengan perkembangan kesehatan klien. 5. Studi kepustakaan yaitu mencari sumber melalui bahan bacaan atau buku-buku literatur yang dapat dipercaya untuk mendapatkan kejelasan teori yang berhubungan dengan masalah klien (Nursalam, 2002). F. Waktu Pelaksanaan Studi kasus ini dilaksanakan mulai tanggal 7 - 10 Mei 2014.
  • 8. 8 G. Tempat Pelaksanaan Studi kasus ini dilaksanakan di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna. H. Sistematika Telaahan Karya tulis ini disusun secara sistematis yang dijabarkan dalam 4 BAB yaitu sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan, pada bab ini berisikan Latar Belakang, Ruang Lingkup Pembahasan, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Telaahan, Waktu Pelaksanaan, Tempat Pelaksanaan dan Sistematika Penulisan. BAB II : Tinjauan Teoritis, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang, pada bab ini berisikan tentang Pengertian, Anatomi Fisiologi Sistem Reproduksi, Etiologi, Patofisiologi, Tanda dan Gejala, Pemeriksaan Penunjang, Penatalaksanaan Medis, Komplikasi, Dampak Masalah Terhadap Perubahan Struktur/ Pola Fungsi Sistem Tubuh Tertentu serta Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan yang meliputi Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi. BAB III : Tinjauan Kasus dan Pembahasan, Tediri dari laporan kasus yang membahas tentang Laporan Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. R dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah
  • 9. 9 Kabupaten Muna yang disusun berdasarkan pada proses keperawatan yang mencakup pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi serta catatan perkembangan. Serta pembahasan berisikan perbandingan antara teori dan fakta yang ada pada tinjauan studi kasus, dibahas secara sistematis mulai dari pengkajian diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. BAB IV : Kesimpulan dan rekomendasi, Bab ini berisikan kesimpulan dan rekomendasi dari hasil pelaksanaan studi kasus.
  • 10. 10 BAB II TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN POST OP SECTIO CAESAREA POD I A/I LETAK LINTANG A. Konsep Dasar 1. Pengertian Letak lintang adalah suatu keadaan dalam kehamilan atau dalam persalinan dimana sumbu panjang janin melintang terhadap sumbu panjang ibu (termasuk di dalamnya bila janin dalam posisi oblique). Letak lintang kasep adalah letak lintang kepala janin tidak dapat didorong keatas tanpa merobekkan uterus (PPNI, 2009). Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang didalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain bokong berada sedikit lebih tinggi dari kepala janin sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul (Prawirohardjo, 2003). Letak lintang adalah letak janin dengan posisi sumbu panjang tubuh janin memotong atau tegak lurus dengan sumbu panjang ibu (Nursalam, 2008). Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa letak lintang adalah suatu keadaan dalam kehamilan atau dalam persalinan dimana posisi janin atau posisi sumbu panjang tubuh janin di dalam uterus memotong atau melintang terhadap sumbu panjang tubuh ibu
  • 11. 11 dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. 2. Anatomi Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita a. Anatomi sistem reproduksi wanita Alat reproduksi wanita terbagi menjadi dua bagian yaitu : 1) Alat genetalia (reproduksi) bagian luar : a) Mons veneris b) Bibir besar (Labia Mayora) c) Bibir kecil (Labia Minora) d) Klitoris e) Vestibulum f) Hymen (Selaput Darah) g) Kelenjar : bartholini, skene 2) Alat genetalia (reproduksi) bagian dalam : a) Liang senggama (Vagina) b) Rahim (Uterus) c) Kedua tuba fallopi d) Kedua indung telur e) Parametrium jaringan ikat penyangga (Wilson, 2002). Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang alat genetalia bagian dalam dan luar telah dijabarkan secara singkat adalah sebagai berikut:
  • 12. 12 1) Alat genetalia bagian luar Gambar 1 Organ Reproduksi eksterna Wanita (Wilson, 2002) a) Mons Veneris Di sebut juga gunung fenus merupakan bagian yang menonjol di bagian depan simfisis terdiri dari jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat setelah dewasa tertutup oleh rambut yang bentuknya segitiga. b) Bibir Besar (Labia Mayora) Merupakan kelanjutan dari mons veneris berbentuk lonjong kedua bibir ini di bagian bawah bertemu membentuk perineum, permukaan terdiri dari: (1) Bagian luar : Tertutup rambut yang merupakan kelanjutan dari rambut pada mons veneris. (2) Bagian dalam Tanpa rambut merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea (lemak).
  • 13. 13 c) Bibir Kecil (Labia Minora) Merupakan lipatan bagian dalam bibir besar tanpa rambut di bagian atas klitoris bibir kecil bertemu membentuk prepusium klitoridis dan di bagian bawahnya bertemu membentuk prenulum klitoridis bibir ini mengeliling orivisium vagina. d) Klitoris (1) Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil. (2) Mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat sensitif. (3) Analok dengan penis pada laki-laki. e) Vestibulum Merupakan alat reproduksi yang di batasi oleh kedua bibir kecil, bagian atas klitoris serta bagian belakang (bawah) pertemuan kedua bibir kecil. f) Kelenjar bartholini (1) Kelenjar yang penting di daerah vulva dan vagina karena dapat mengeluarkan lender. (2) Pengeluaran lender meningkat saat hubungan seks. g) Hymen (Selaput Darah) (1) Merupakan jaringan yang menutupi lubang vagina bersifat rapuh dan mudah robek.
  • 14. 14 (2) Hymen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lendir yang di keluarkan uterus dan darah saat menstruasi. (3) Bila hymen tertutup menimbulkan gejala klinis setelah mendapat menstruasi. (4) Setelah persalinan sisanya disebut karukule hymenalis. 2) Alat genetalia bagian dalam Gambar 2 Organ Reproduksi Interna Wanita (Wilson, 2002) a) Vagina (1) Merupakan saluran muskulo membraneus yang menghubungkan rahim dengan vulva. (2) Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani dan muskulus lefator ani oleh karena itu dapat di kendalikan. (3) Vagina terletak antara kandung kemih dan rectum.
  • 15. 15 (4) Panjang bagian depannya sekitar 9 cm dan dinding belakangnya sekitar 11 cm. (5) Pada dinding vagina terdapat lipatan-lipatan melintang disebut rugae dan terutama di bagian bawah. (6) Pada puncak (ujung) vagina menonjol serviks bagian dari uterus. (7) Bagian serviks yang menonjol kedalam vagina disebut portio. (8) Portio uteri membagi puncak vagina menjadi forniks anterior, forniks posterior, forniks dekstra, dan forniks sinistra. (9) Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan ph 4,5. Keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi, Fungsi utama vagina: b) Uterus (1) Merupakan jaringan otot yang kuat terletak di pelvis minor di antara kandung kemih dan rectum. (2) Dinding belakang dan dinding depan dan bagian atas tertutup petitonium sedangkan bagian bawahnya berhubungan dengan kandung kemih. (3) Bentuk uterus seperti bola lampu (buah pir) dan gepeng.
  • 16. 16 (4) Untuk mempertahankan posisinya uterus disangan beberapa ligamentum, jaringan ikat, dan para metrium. (5) Ukuran uterus tergantung dari usia wanita dan paritas ukuran anak-anak 2-3 cm, nulipara 6-8 cm, dan multipara 9 cm. (6) Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan yaitu peritoneum, lapisan otot dan endometrium (Wiknjosastro, 2002). c) Tuba Fallopi Tuba fallopi terdiri atas : (1) Pars intertisialis bagian yang terdapat pada dinding uterus. (2) Pars ismika merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya. (3) Pars ampularis bagian yang berbentuk sebagai saluran agak lebar tempat konsepsi terjadi. (4) Infundibulum bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan mempunyai fimbria (Wiknjosastro, 2002). d) Ovarium (Indung Telur) Ovarium terdapat dua buah yaitu kanan dan kiri ovarium ke arah uterus tergantung pada ligamentum infundibulifeltikum dan melekat pada ligamentum latum melalui mesofarium.
  • 17. 17 e) Para metrium Jaringan ikat yang terdapat di antara kedua lembar ligamentum latum disebut parametrium yang dibatasi oleh : (1) Bagian atas terdapat tuba fallopi dengan mesosalfing. (2) Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri. (3) Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium. (4) Bagian belakang terdapat ligamentum ovari proprium. b. Fisiologi alat reproduksi wanita Fisiologi alat reproduksi wanita merupakan sistem yang kompleks. Pada saat puberitas sekitar umur 13-16 tahun di mulai pertumbuhan folikel primodial ovarium yang mengeluarkan hormon estrogen. Pengeluaran hormon ini menunjukan tanda seks sekunder pada wanita misalnya pengeluaran darah menstruasi pertama (menarche). Selanjutnya menarche di ikuti menstruasi yang tidak teratur karena folikel graf belum melepaskan ovum yang disebut ovulasi. Pada usia 17-18 tahun menstruasi sudah teratur dengan interval 28-30 hari yang berlangsung lebih kurang 2-3 hari di sertai dengan ovulasi sebagai pertanda kematangan alat reproduksi wanita. Sejak saat itu wanita memasuki masa reproduksi aktif sampai mencapai mati haid pada umur sekitar 50 tahun. Kejadian menarche dan menstruasi di pengaruhi beberapa faktor yang mempunyai sistem tersendiri, yaitu: 1) Sistem susunan saraf pusat dan panca indranya.
  • 18. 18 2) Sistem hormonal: aksishipotalamo-hipofisis-ovarial. 3) Perubahan yang terjadi pada ovarium. 4) Perubahan yang terjadi pada uterus sebagai organ akhir. 5) Rangsangan estrogen dan progesteron pada panca indra langsung pada hipothalamus dan melalui perubahan emosi (Manuaba, 2002). 3. Etiologi Penyebab dari letak lintang sering merupakan kombinasi dari berbagai faktor, sering pula penyebabnya tetap merupakan suatu misteri. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: a. Fiksasi kepala tidak ada karena panggul sempit, hidrosefalus, anensefalus, plasenta previa, dan tumor-tumor pelvis. b. Janin sudah bergerak pada hidramnion, multiparitas, anak kecil atau sudah mati. c. Gemelli (Kehamilan Ganda). d. Kelainan uterus seperti arkuatus, bikornus atau septum. e. Lumbar skoliosis. f. Monster. g. Pelvic kidney dan kandung kemih serta rektum yang penuh (Prawirohardjo, 2003).
  • 19. 19 4. Patofisiologi Letak janin dalam uterus tergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan dalam uterus pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu. Jumlah air ketuban relatif banyak sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentase kepala letak lintang atau sungsang. Relaksasi dinding abdomen pada perut yang menggantung menyebabkan uterus beralih kedepan, sehingga menimbulkan defleksi sumbu memanjang bayi menjauhi sumbu jalan lahir menyebabkan terjadinya posisi obliq atau melintang (Mochtar, 2002). 5. Tanda dan Gejala a. Dengan inspeksi biasanya abdomen melebar kesamping dan fundus uteri membentang sedikit diatas umbilikus. b. Ukuran tinggi fundus uterus lebih rendah tidak sesuai dengan umur kehamilan. c. Pada palpasi 1) Leopold 1 tidak di temukan bagian bayi di daerah fundus uteri. 2) Leopold 2 balotemen kepala teraba pada salah satu fosa iliaka dan bokong pada fosa iliaka yang lain. 3) Leopold 3 dan 4 memberikan hasil negatif (Bobak, 2002). 6. Pemeriksaan penunjang Dilakukan USG untuk melihat keadaan janin.
  • 20. 20 7. Penatalaksanaan a. Pada kehamilan 1) Pada primigravida umur kehamilan kurang dari 28 minggu dianjurkan posisi lutut dada jika lebih dari 28 minggu di lakukan versi luar, kalau gagal dianjurkan posisi lutut dada sampai persalinan. 2) Pada multigravida umur kehamilan kurang dari 32 minggu posisi lutut dada jika lebih dari 32 minggu dilakukan versi luar, kalau gagal posisi lutut dada sampai persalinan. b. Pada persalinan Pada letak lintang belum kasep, ketuban masih ada dan pembukaan kurang dari 4 cm di coba lakuka versi luar jika pembukaan lebih dari 4 cm pada primigravida dengan janin hidup dilakukan sectio caesarea. Pada letak lintang kasep janin hidup dilakukan sectio caesarea. Sectio caesarea dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Pengertian Sectio caesarea adalah tindakan alternative metode melahirkan melalui tindakan pembedahan untuk melahirkan janin melalui sayatan yang dibuat pada dinding uterus dan abdomen (Manuaba, 2002). Operasi caesar atau sectio caesarea adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi (Wiknjosastro, 2002).
  • 21. 21 2) Jenis Sectio caesarea dapat dibagi dalam empat macam yaitu sebagai berikut: a) Sectio caesarea transperitoneal yaitu insisi yang dilakukan menurut arah sayatan yaitu memanjang (vertical), sayatan melintang (transversal) dan sayatan huruf T (T inscision). b) Sectio caesarea clasi (corporal) yaitu pembedahan yang dilakukan apabila ada halangan transperitonial profunda misalnya melekatnya uterus pada dinding karena sectio caesarea sebelumnya. c) Sectio caesarea exraperitonealis yaitu pembedahan tanpa membuka peritoneum parietal dan cavum abdominalis tehnik ini paling sering dilakukan. d) Sectio caesarea hysterectomy yaitu setelah sectio caesarea dikerjakan histerektomi. 3) Indikasi a) Indikasi Sectio Caesarea (1) Sebelum persalinan; infisiensi plasenta, hipoksia janin dan fekal distress. (2) Dalam persalinan; fekal distress, prolaps tali pusat, batasan persalinan pada multipara lebih dari 12 jam dan multipara selama 8 jam dan ketuban pecah premature.
  • 22. 22 b) Indikasi pada ibu (1) Sebelum persalinan (a) Foto pelvik disporpotion. (b) Tumor uterus dan ovarium dalam kehamilan yang menyumbat jalan lahir. (c) Karsinoma serviks, eklampsia dan pre eklampsia. (2) Saat persalinan (a) Perdarahan hebat. (b) Rupture uteri dan membran. c) Kombinasi indikasi fetus dan ibu (1) Perdarahan pervaginam akut disebabkan oleh plasenta previa atau solusio plasenta premature. (2) Letak lintang karena akan timbul retraksi progresif. 4) Komplikasi Terdapat beberapa resiko pada janin jika dilakukan sectio caesarea yaitu hypoxia akibat sindrom hipotensi terlentang, depresi pernapasan akibat penggunaan anastesi dan sindrom gagal napas karena imaturinitas pulmonal janin. Sedangkan resiko pada ibu adalah infeksi sesudah sectio caesarea (SC), ileus akibat peritonitis, kecelakaan anastesi dan fenomena tromboemboli terutama pada ibu multipara dengan varikositas.
  • 23. 23 5) Penatalaksanaan a) Pra sectio caesarea (1) Persiapan fisik Persiapan kamar operasi, pengambilan darah untuk transfusi sebanyak 1000-2000 cc (pra operasi), pemeriksaan laboratorium seperti Hb, leukosit, masa perdarahan, masa pembekuan, puasa 6-8 jam, cukur area operasi, persiapan colon, pengukuran Tanda-Tanda Vital, pengawasan pemasangan infus dextrose 5% atau sesuai program, pemasangan foley kateter, pemberian obat premidikusi, informant consent serta pemeriksaan EKG jika diperlukan. (2) Pemeriksaan mental Informasi akurat mengenai alasan tindakan operasi dan perawatan pasca operasi. b) Pasca sectio caesarea Pemantauan Tanda-Tanda Vital, keadaan umum, mengurangi dan mengatasi gangguan rasa nyeri akibat opersai, perawatan luka, perawatan payudara dan perawatan bayi. 8. Komplikasi Meskipun letak lintang dapat di ubah menjadi presentasi kepala tetapi kelainan-kelainan yang menyebabkan letak lintang misalnya panggul
  • 24. 24 sempit, tumor panggul dan plasenta previa masih tetap dapat menimbulkan kesulitan pada persalinan persalinan letak lintang memberikan prognosis yang jelek baik terhadap ibu maupun janinnya. a. Bagi Ibu Bahaya yang mengancam adalah rupture uteri baik spontan atau sewaktu versi dan ekstraksi. Partus lama, ketuban pecah dini, dengan demikian mudah terjadi infeksi intrapartum. b. Bagi Janin Angka kematian tinggi (25-49%), yang dapat disebabkan oleh: 1) Prolasus funiculi. 2) Trauma partus. 3) Hipoksia karena kontraksi uterus terus menerus. 4) Ketuban pecah dini (Bobak, 2002). 9. Dampak masalah terhadap perubahan struktur/pola fungsi sistem tubuh tertentu a. Sistem Pernapasan Enam jam pertama bisa terjadi akumulasi sekret dijalan napas akibat pengaruh anastesi mensupresi pusat napas, menyebabkan peningkatan mukus, bunyi napas ronchi atau vesikuler, frekuensi napas 16-24 kali permenit. b. Sistem Kardiovaskuler Perubahan otonom pada fungsi ventrikel atau perubahan gelombang T, gelombang P tinggi dan distrithmia, vibrilasi atrium
  • 25. 25 dan ventrikel tachicardia. Perubahan aktivitas miocardial mencakup peningkatan frekuensi jantung dan Central Venous Pressure (CVP) abnormal. Dengan tidak adanya endogenous stimulus saraf simpatis maka akan mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan CO2 dan peningkatan tekanan atrium kiri. c. Sistem Pencernaan Terjadi penurunan kerja peristaltik usus akibat efek anastesi, enam jam pertama tidak diperbolehkan makan untuk mengurangi resiko aspirasi, peristaltik lemah mempengaruhi kekuatan otot abdominal mual dan muntah post SC jarang ditemukan karena kemajuan dibidang anastesi. 24 jam pertama klien dapat infus intra vena untuk memenuhi kebutuhannya, klien dipuasakan sampai bising usus positif lakukan test feeding setelah bising usus positif. d. Sistem Perkemihan Anastesi dapat mengakibatkan hilangnya sensasi pada area bladder sampai anastesi hilang, kateter dapat dilepas dari setelah 12 jam operasi atau keesokan harinya. e. Sistem Muskuloskeletal Merasa tidak mampu mengerjakan sesuatu karena kelemahan fisik dan pada saat yang sama citra tubuh ibu menjadi rusak mengakibatkan ibu merasa sensitif dan cepat tersinggung (PPNI, 2009).
  • 26. 26 B. Tinjauan Teoritis Tentang Asuhan Keperawatan Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dari pemecahan masalah dan dari respon pasien terhadap penyakitnya. Digunakan untuk membantu perawat melakukan praktik keperawatan secara sistematis dalam memecahkan masalah keperawatan. Pendekatan proses keperawatan yang digunakan dalam asuhan keperawatan tersebut meliputi Pengkajian Data, merumuskan Diagnosa Keperawatan, menyusun Rencana Keperawatan, Implementasi dan Evaluasi (Carpenito, 2000). Adapun langkah-langkah dalam proses keperawatan adalah sebagai berikut : 1. Pengkajian Pengkajian yaitu tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasikan status kesehatan klien yang berdasarkan pada kebutuhan dasar manusia (Nursalam, 2001). a. Pengumpulan data Merupakan upaya untuk mendapatkan data yang dapat digunakan sebagai informasi tentang klien. Data yang dibutuhkan tersebut mencakup data tentang biopsikososial dan spiritual dari klien, data yang berhubungan dengan klien serta data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi atau yang berhubungan dengan klien seperti data tentang keluarga (Hidayat, 2004).
  • 27. 27 Adapun data yang dikumpulkan antara lain: 1) Identitas a) Identitas klien Identitas klien terdiri dari: nama, umur, jenis kelamin, status, agama, suku/bangsa, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, nomor register, dan diagnosa medik. b) Identitas penanggung jawab Meliputi nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, suku/bangsa, dan hubungan dengan klien. 2) Riwayat Kesehatan Sekarang a) Keluhan utama Merupakan keluhan yang dirasakan klien saat dilakukan pengkajian. Pada pasien post sectio caesarea keluhan utamanya berupa nyeri pada area abdomen yaitu luka operasi. b) Riwayat Keluhan Utama Merupakan informasi mengenai hal-hal yang menyebabkan klien mengalami keluhan hal apa saja yang mendukung dan mengurangi, kapan, dimana dan berapa jauh keluhan tersebut dirasakan klien. Hal tersebut dapat diuraikan dengan metode PQRST sebagai berikut:
  • 28. 28 (1) Palliative/Provokatif : Apa yang menyebabkan terjadinya nyeri pada abdomen faktor pencetusnya adalah post op sectio caesarea a/i letak lintang. (2) Qualitative/Quantitas : bagaimana gambaran keluhan yang dirasakan dan sejauh mana tingkat keluhannya seperti berdenyut, ketat, tumpul atau tusukan. (3) Region/Radiasi : lokasi keluhan yang dirasakan dan penyebarannya. (4) Scale/Serverity : intensitas keluhan apakah sampai mengganggu atau tidak. Pada kasus sectio caesarea nyeri selalu mennganggu dengan skala 7-8 (0-10). (5) Timing : kapan waktu mulai terjadi keluhan dan berapa lama kejadian ini berlangsung biasanya pada luka sectio caesarea dirasakan secara terus-menerus. c) Riwayat kesehatan yang lalu Biasanya klien belum pernah menderita penyakit yang sama atau klien tidak pernah mengalami penyakit yang berat atau suatu penyakit tertentu yang memungkinkan akan berpengaruh pada kesehatan sekarang. d) Riwayat kesehatan keluarga Dalam pengkajian ini ditanyakan tentang hal keluarga yang dapat mempengaruhi kehamilan langsung ataupun tidak langsung seperti apakah dari keluarga klien yang sakit
  • 29. 29 terutama penyakit yang menular yang kronis karena dalam kehamilan daya tahan ibu itu menurun bila ada penyakit menular dapat lekas menular kepada ibu dan mempengaruhi janin dan sectio caesarea ini biasanya tidak tergantung dari keturunan. e) Riwayat obstetri dan ginekologi (1) Riwayat obstetri (a) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang terdiri dari tahun persalinan, umur kehamilan, tempat pertolongan, jenis persalinan, jenis kelamin bayi serta keadaan bayi. (b) Riwayat kehamilan sekarang yang perlu di kaji seberapa seringnya memeriksakan kandungan serta menjalani imunisasi. (c) Riwayat persalinan sekarang yang perlu di kaji adalah lamanya persalinan, BB bayi (Mansjoer, 2000). (2) Riwayat ginekologi (a) Riwayat menstruasi Yang perlu dikaji adalah usia pertama kali haid, siklus dan lamanya haid, warna dan jumlah, HPHT dan tafsiran kehamilan.
  • 30. 30 (b) Riwayat perkawinan Yang perlu dikaji adalah usia saat menikah dan usia pernikahan, pernikahan keberapa bagi klien dan suami. (c) Riwayat keluarga berencana Yang perlu dikaji adalah jenis kontrasepsi yang digunakan sebelum hamil, waktu dan lamanya serta masalah selama pemakaian alat kontrasepsi, jenis kontrasepsi yang akan digunakan setelah persalinan. 3) Pemeriksaan fisik a) Keadaan umum : klien dengan sectio caesarea akan mengalami kelemahan. b) Kesadaran : pada umumnya Compos Mentis c) Tanda-tanda vital : hal-hal yang dilakukan pada pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien post Sectio Caesarea biasanya tekanan darah menurun, suhu meningkat, nadi meningkat dan pernapasan meningkat. d) Sistem Pernapasan Kaji tentang bentuk hidung, ada tidaknya secret pada lubang hidung, ada tidaknya pernapasan cuping hidung, gerakan dada saat bernapas apakah simetris atau tidak, frekuensi napas.
  • 31. 31 e) Sistem Indera Yang perlu di kaji pada sistem inin adalah adanya ketajaman penglihatan, pergerakan mata, proses pendengaran dan kebersihan pada lubang telinga, ketajaman penciuman dan fungsi bicara serta fungsi pengecapan. f) Sistem Kardiovaskuler Yang perlu di kaji adalah tentang keadaan konjungtiva, keadaan warna bibir, ada tidaknya peninggian vena jugularis, auskultasi bunyi jantung pada daerah dada dan pengukuran tekanan darah serta pengukuran nadi. g) Sistem Pencernaan Kaji tentang keadaan mulut, gigi, lidah dan bibir, peristaltik usus, keadaan atau bentuk abdomen ada atau tidak adanya massa atau nyeri tekan pada daerah abdomen. h) Sistem Muskuloskeletal Kaji tentang keadaan darajat Range Of Montion pada tungkai bawah, ketidaknyamanan atau nyeri yang pada waktu bergerak, serta keadaan tonus dan kekuatan otot pada ekstremitas bagian bawah dan bagian atas. i) Sistem Persyarafan Kaji tentang adanya gangguan-gangguan yang terjadi pada ke-12 sistem persyarafan.
  • 32. 32 j) Sistem Perkemihan Kaji adanya keadaan yang terjadi pada kandung kemih, warna urin, bau urin, serta pengeluaran urin. k) Sistem Reproduksi Yang perlu di kaji adalah tentang keadaan bentuk payudara, puting susu, ada tidaknya pengeluaran ASI serta kebersihan pada daerah payudara, kaji adanya pengeluaran darah pada vagina, warna darah, bau serta ada tidaknya pemasangan kateter. l) Sistem Integumen Kaji tentang keadaan kulit, rambut dan kuku, turgor kulit, pengukuran suhu serta warna kulit dan penyebaran rambut. m) Sistem Endokrin Yang perlu di kaji adalah tentang ada tidaknya pembesaran kelenjar thyroid, bagaimana refleks menelan serta pengeluaran ASI dan kontraksi. n) Sistam Imun Yang perlu di kaji pada sistem ini adalah tentang keadaan kelenjar limfe, apakah mengalami pembesaran pada kelenjar limfe.
  • 33. 33 4) Pola aktivitas sehari-hari Perlu dikaji pola aktivitas klien selama di Rumah Sakit dan pola aktivitas klien selama di rumah, terdiri atas : a) Nutrisi : kaji adanya perubahan dan masalah dalam memenuhi kebutuhan nutrisi karena kurangnya nafsu makan, kehilangan sensasi pengecap, menelan, mual dan muntah. b) Eliminasi (BAB dan BAK) : bagaimana pola eliminasi BAB dan BAK, apakah ada perubahan selama sakit atau tidak. c) Istrahat Tidur : kesulitan tidur dan istirahat karena adanya nyeri dan kejang otot. d) Personal hygiene : klien biasanya memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan perawatan dirinya. e) Aktivitas gerak : kaji adanya kehilangan sensasi atau paralise dan kerusakan dalam memenuhi kebutuhan aktifitas sehari-harinya karena adanya kelemahan. 5) Data Psikologis a) Status emosi Klien menjadi iritable atau emosi yang labil terjadi secara tiba-tiba klien menjadi mudah tersinggung.
  • 34. 34 b) Konsep diri (1) Body image : klien memiliki persepsi dan merasa bahwa bentuk tubuh dan penampilan sekarang mengalami penurunan berbeda dengan keadaan sebelumnya. (2) Ideal diri : klien merasa tidak dapat mewujudkan cita- cita yang diinginkan. (3) Harga diri : klien merasa tidak berharga lain dengan kondisinya yang sekarang, klien merasa tidak mampu dan tidak berguna serta cemas dirinya akan selalu memerlukan bantuan orang lain. (4) Peran : klien merasa dengan kondisinya yang sekarang ia tidak dapat melakukan peran yang dimilikinya baik sebagai orang tua, istri ataupun seorang pekerja. (5) Identitas diri : klien memandang dirinya berbeda dengan orang lain karena kondisi badannya yang disebabkan oleh penyakitnya. c) Pola koping Klien biasanya tampak menjadi pendiam atau menjadi tertutup.
  • 35. 35 6) Data Sosial Klien dengan sectio caesarea cenderung tidak mau bersosialisasi dengan orang lain yang disebabkan oleh rasa malu terhadap keadaannya. 7) Data Spiritual Perlu dikaji keyakinan klien tentang kesembuhannya dihubungkan dengan agama yang dianut klien dan bagaimana persepsi klien tentang penyakitnya. Bagaimana aktivitas spiritual klien selama menjalani perawatan dirumah sakit dan siapa yang menjadi pendorong dan memotivasi bagi kesembuhan klien. 8) Data penunjang Kaji pemeriksaan darah Hb, Hematokrit ibu, Leukosit dan USG. 9) Perawatan dan pengobatan a) Terapi Pada pasien yang post sectio caesarea biasanay diberikan obat analgetik serta antipiuretik serta pemberian cairan perinfus dan elektrolit harus cukup. b) Diet Pemberian sedikit minuman sudah boleh diberikan enam sampai 10 jam post operasi berupa air putih atau teh manis.
  • 36. 36 Setelah cairan infus dihentikan diberikan makan bubur saring selanjutnya secara bertahap boleh makan biasa. c) Kateterisasi Biasanya dilepas 12 jam post operasi atau keesokan paginya, kemampuan selanjutnya untuk mengosongkan vesika urinaria sebelum terjadi distensi yang berlebihan harus dipantau. b. Klasifikasi data Pengelompokan data adalah pengelompokan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya. Setelah dapat dikelompokan maka perawat dapat mengidentifikasi masalah keperawatan klien dengan merumuskannya. Adapun data-data yang muncul diklasifikasikan dalam data subyektif dan obyektif. Data subyektif adalah data yang diperoleh lansung melalui ungkapan atau keluhan dari klien sedangkan data obyektif adalah data yang diperoleh dari hasil observasi atau pengukuran (Nursalam, 2002). c. Analisa data Analisa data adalah proses intelektual yaitu kegiatan mentabulasi, menyelidiki, mengklasifikasi dan mengelompokan data serta mengkaitkannya untuk menentukan kesimpulan dalam bentuk
  • 37. 37 diagnosa keperawatan biasanya ditemukan data subyektif dan obyektif (Carpenito, 2002). Dalam analisa data mengandung 3 komponen utama yaitu : 1) Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan dimana tindakan keperawatan dapat diberikan. 2) Etiologo (E/penyebab), keadaan ini menunjukan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan. 3) Sign dan Symptom (S/tanda dan gejala), adalah ciri, tanda atau gejala yang merupakan suatu informasi yang diperlukan untuk dapat merumuskan suatu diagnosis keperawatan. 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan berkompeten dan mengatasinya. Respon aktual dan potensial klien didapatkan dari data dasar pengkajian, tinjauan literatur yang berkaitan catatan medis klien masa lalu dan konsultasi dengan profesional lain yang kesemuanya dikumpulkan selama pengkajian (Potter, 2005). Menurut Bobak (2002), diagnosa keperawtan yang dapat muncul pada kasus sectio caesarea a/i letak lintang antara lain : a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan pembedahan.
  • 38. 38 b. Gangguan kebutuhan istrahat dan tidur berhubungan dengan nyeri terus menerus. c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan/keterbatasan gerak dan kelemahan fisik. d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi tentang penyakitnya. e. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang status kesehatan dan keadaan pasca operasi. f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi yang masih basah. g. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pendarahan. 3. Perencanaan Perencanaan keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang dilaksanakan untuk menanggulangi masalah dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien (Nursalam, 2001). Perencanaan keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan klien post op sectio caesarea yang ditegakan antara lain : a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan. Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien dapat berkurang/ teratasi. Kriteria hasil : 1) Ekspresi wajah klien tidak meringis
  • 39. 39 2) Klien tidak mengeluh nyeri Intervensi : 1) Pantau tingkat atau lokasi nyeri yang dirasakan klien Rasional : membantu menentukan tingkat dan lokasi nyeri yang dirasakan klien sehingga memudahkan intevensi selanjutnya. 2) Observasi tanda-tanda vital Rasional : tanda-tanda vital dapat berubah akibat rasa nyeri dan merupakan indikator untuk menilai perkembangan penyakit. 3) Anjurkan klien untuk nafas dalam secara teratur dan perlahan- lahan bila nyeri muncul Rasional : penarikan nafas dalam secara perlahan-lahan dapat terjadi suatu relaksasi dan melancarkan aktivitas suplai O2 ke jantung sehingga nyeri berkurang. 4) Anjurkan klien untuk melakukan mobilisasi secara bertahap Rasional : motivasi untuk mobilisasi bertahap akan meningkatkan vaskularisasi sehingga suplai O2 dan nutrisi ke jaringan meningkat. 5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : analgetik dapat menghambat pengiriman impuls nyeri ke korteks serebri sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. b. Gangguan kebutuhan istrahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Tujuan : kebutuhan istrahat dan tidur dapat terpenuhi
  • 40. 40 Kriteria hasil : 1) Klien dapat tidur dengan nyenyak 2) Klien tidak mudah terbangun 3) Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Observasi pola tidur klien Rasional : sebagai pedoman untuk intervensi selanjutnya. 2) Hindarkan prosedur yang kurang penting selama periode tidur Rasional : dengan tindakan yang tidak penting dapat mengganggu ketenangan tidur klien sehingga klien mudah terbangun. 3) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman Rasional : lingkungan yang tenang dan nyaman memberikan kemudahan pada klien untuk tidur dan istrahat. 4) Beri HE pada klien tentang manfaat istrahat dan tidur Rasional : istrahat dan tidur dapat memulihkan stamina sehingga proses penyembuhan dapat berlangsung dengan baik. c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan dan keterbatasan gerak. Tujuan : klien dapat melakukan perawatan diri dengan baik Kriteria hasil : 1) Klien nampak bersih dan rapi 2) Klien dan keluarga mengerti pentingnya kebersihan diri
  • 41. 41 Intervensi : 1) Pantau tingkat pemahaman klien, berikan berikan penjelasan tentang manfaat perawatan diri Rasional : informasi sangat mempengaruhi klien sehingga klien dapat termotivasi untuk melakukan perawatan diri. 2) Berikan bantuan kepada klien dalam melakukan perawatan diri seperti mandi, sikat gigi, keramas dan mengganti pakaian Rasional : membantu klien dalam melakukan perawatan diri dan memenuhi kebutuhannya serta memberikan rasa nyaman. 3) Lakukan perawatan vulva hygiene Rasional : Vulva hygiene akan mencegah berkembang biaknya kuman-kuman yang dapat masuk ke dalam serviks. 4) Anjurkan klien untuk melakukan perawatan diri setiap hari Rasional : meningkatkan tingkat kemandirian klien di dalam merawat dirinya serta memperlancar sirkulasi darah. d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya Tujuan : pengetahuan klien dapat teratasi Kriteria hasil : 1) Keadaan umum baik 2) Klien dapat merasa tenang 3) Klien dapat menjelaskan cara merawat payudara
  • 42. 42 Intervensi : 1) Kaji kemampuan dan motivasi klien untuk belajar serta bantu klien dan pasangan dalam mengidentifikasi kebutuhan Rasional : Periode Post Op Sectio Caesarea menjadikan pengalaman positif bila kesempatan penyuluhan di berikan untuk membantu ibu 2) Berikan penyuluhan lisan dan tertulis Rasional : Membantu menjamin ketangkapan informasi yang di terima 3) Berikan informasi yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan psikologis berkenaan dengan persalinan Sectio Caesarea dan kebutuhan dengan periode Post Op Sectio Caesarea Rasional : Membantu klien mengenali perubahan normal dari proses abnormal yang mungkin memerlukan tindakan 4) Anjurkan kepada klien melakukan perawatan payudara Rasional : Agar dapat memproduksi ASI dengan lancar e. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang status kesehatan dan keadaan pasca operasi. Tujuan : rasa cemas yang dirasakan klien dapat teratasi Kriteria hasil : 1) Klien dapat menjelaskan tentang penyakitnya, prosedur pengobatan dan perawatan
  • 43. 43 2) Klien nampak tenang Intervensi : 1) Observasi perasaan klien terhadap kecemasan yang dihadapinya Rasional : mengetahui lebih lanjut tentang perasaan klien sehingga memudahkan untuk menentukan intervensi selanjutnya. 2) Anjurkan pada pasangan atau keluarga untuk memberi support Rasional : support dari pasangan dan keluarga memberi semangat bagi ibu menjalani proses penyembuhan. 3) Berikan informasi yang tepat tentang keadaan bayi Rasional : khayalan yang disebabkan oleh kurangnya informasi atau kesalahpahaman dapat meningkatkan kecemasan. 4) Anjurkan klien untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sering berdoa Rasional : agar klien merasa tenang dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perawatan luka tidak efektif. Tujuan : tanda-tanda infeksi tidak terjadi Kriteri hasil : tidak terjadi tanda radang, kemerahan, bengkak dan panas.
  • 44. 44 Intervensi : 1) Observasi keadaan luka Rasional : untuk mengetahui adanya tanda-tanda infeksi dini. 2) Gunakan tehnik aseptik dan antiseptik dalam setiap tindakan Rasional : menurunkan resiko penyebaran infeksi. 3) Lakukan perawatan luka dengan memperhatikan kesterilan Rasional : melakukan perawatan luka untuk menjaga agar luka tetap bersih yang mencegah terjadinya kontaminasi dengan mikroorganisme. 4) Observasi tanda-tand vital terutama suhu Rasional : adanya peningkatan tanda-tanda vital terutama suhu merupakan salah satu tanda adanya infeksi. 5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotik Rasional : antibiotik dapat mencegah infeksi dengan cara membunuh kuman yang masuk. g. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran cairan pendarahan. Tujuan : kebutuhan klien akan cairan dapat terpenuhi Kriteria hasil : 1) Tidak ada pendarahan serta membran mukosa lembab 2) Tanda-tanda vital stabil Intervensi : 1) Ukur semua sumber pemasukan dan pengeluaran cairan
  • 45. 45 Rasional : membantu mengevaluasi status cairan khususnya bila dibandingkan dengan berat badan. 2) Timbang berat badan klien Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan akan penggantian volume cairan dan keefektifan pengobatan. 3) Ukur tanda-tanda vital Rasional : hipotensi dan takikardi menunjukan kekurangan cairan. 4) Kolaborasi pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit Rasional : menurun karena anemia, hemodilusi atau kehilangan darah aktual. 4. Implementasi Pelaksanaan/implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditunjukan pada perawat untuk membuat klien dalam mencapai tujuan yang diharapkan oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemulihan (Nursalam, 2001).
  • 46. 46 5. Evaluasi Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan yang sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa data, perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan (Nursalam, 2001). Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP sebagai pola pikir yaitu sebagai berikut : S: Respon subyektif klien terhadap intervensi yang dilaksanakan. O: Respon obyektif klien terhadap intervensi yang dilaksanakan. A: Analisa ulang atas data subjektif dan data objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau ada masalah baru atau mungkin terdapat data yang kontradiksi dengan masalah yang ada. P: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa data pada respon.
  • 47. 47 BAB III TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN A. Laporan Kasus 1. Pengkajian a. Pengumpulan Data 1) Biodata a) Identitas Klien Nama : Ny. R Umur : 26 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Status perkawinan : Kawin Agama : Islam Suku/Bangsa : Muna/Indonesia Pendidikan terakhir : S1 Pekerjaan : Guru Honorer Alamat : Sidodadi Tanggal masuk RS : 6 Mei 2014 Tanggal Operasi : 6 Mei 2014 Tanggal pengkajian : 7 Mei 2014 No. Register : 26 52 02 Diagnosa Medik : Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang
  • 48. 48 b) Identitas Penanggung Jawab Nama : Tn. R Umur : 30 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Status Perkawinan : Kawin Agama : Islam Suku/Bangsa : Muna/Indonesia Pendidikan Terakhir : S1 Pekerjaan : Honorer Alamat : Sidodadi Hubungan Dengan Klien : Suami Klien 2) Riwayat Kesehatan a) Riwayat Kesehatan Sekarang (1) Keluhan Utama : Nyeri (2) Riwayat Keluhan Utama : Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 7 Mei 2014, klien mengeluh nyeri pada daerah luka bekas operasi yaitu pada abdomen bagian bawah yang di akibatkan karena adanya proses pembedahan, klien tampak meringis pada saat timbul nyeri dengan skala nyeri 6 (0-10). Nyeri dirasakan secara hilang timbul (Intermiten), nyeri bertambah pada saat klien
  • 49. 49 bergerak dan dirasakan ringan pada saat klien istirahat serta aktivitas tampak dibantu keluarga. b) Riwayat Kesehatan Masa Lalu Menurut ungkapan dari klien, ini merupakan persalinan pertama. Klien tidak mengira bahwa persalinan pertama, janinnya mengalami letak lintang. Klien tidak mempunyai riwayat penyakit yang memperberat selama kehamilan seperti penyakit hipertensi serta penyakit jantung dan klien juga tidak memiliki riwayat alergi makanan maupun obat. c) Riwayat Kesehatan Keluarga Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin serta tidak ada anggota yang berpenyakit keturunan seperti Diabetes Melitus, Gangguan Jiwa dan hemophili. 3) Riwayat Obstetri dan Ginekologi a) Riwayat Obstetri (1) Riwayat kehamilan sekarang G1 P0 A0, Ibu pertama kali memeriksakan kehamilannya di bidan pada usia kehamilan 2 minggu kemudian mulai memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan pada usia kehamilan 1
  • 50. 50 bulan sampai usia kehamilan sekarang selama ibu hamil tidak pernah melakukan imunisasi sekalipun. (2) Riwayat persalinan sekarang P1 A0 tempat persalinan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna pada tanggal 6 Mei 2014, lamanya persalinan sekitar 35 menit, jenis persalinan Sectio Caesarea (SC) jenis kelamin bayi laki-laki dengan berat badan 3000 gram dan panjang 45,3 cm. b) Riwayat Ginekologi (1) Riwayat Menstruasi Klien mengatakan mendapat haid pertama pada usia 12 tahun siklusnya 30 hari, lama haid 5-7 hari, jumlah ganti balutan 3x dalam sehari, warna darah merah dan biasanya bercampur dengan gumpalan darah, berbau amis. Selama haid ada keluhan nyeri pada perut, haid pertama dan terakhir (HPHT) yaitu 4 Agustus 2013, Tafsiran persalinan tanggal 11 Mei 2014. (2) Riwayat perkawinan Klien mengatakan menikah pada usia 25 tahun dan suaminya pada usia 29 tahun. Lamanya perkawinan
  • 51. 51 1 tahun dan merupakan perkawinan pertama bagi klien dan suaminya. (3) Riwayat Keluarga Berencana Klien mengatakan sebelum hamil tidak menggunakan alat kontrasepsi, dan setelah melahirkan klien berencana untuk memakai KB jenis pil. 4) Pemeriksaan Fisik a) Keadaan umum : Lemah b) Kesadaran : Compos Mentis c) Tanda-Tanda Vital : TD : 100/70 mmHg N : 80 x/menit R : 24 x/menit S : 37°C d) Sistem integumen Inspeksi : Warna kulit sawo matang, turgor kulit baik, tampak luka yang masih basah pada daerah abdomen bagian bawah dengan ukuran panjang luka 10 cm, bentuk kepala bulat, penyabaran rambut merata, warna rambut hitam
  • 52. 52 dan bergelombang, keadaan rambut kusam dan berketombe. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada edema dan kulit tampak lengket ketika dipegang karena adanya daki yang bercampur dengan keringat. e) Sistem pengindraan Inspeksi : Mata simetris kiri dan kanan, sclera tidak ikterik, gerakan bola mata baik, refleks pupil terhadap cahaya isokor, konjungtiva tidak anemis dan penglihatan klien masih jelas terbukti dengan klien dapat membaca nama perawat dengan jarak 30 cm, pada hidung klien dapat membedakan bau alkohol dan minyak kayu putih, posisi hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada secret, pada telinga klien masih dapat mendengar dengan baik dengan melakukan tes pendengaran menggunakan garputala, posisi telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, pada lidah klien masih bisa
  • 53. 53 membedakan rasa asin, pahit dan manis, warna lidah merah mudah, pada kulit klien masih bisa merasakan rangsangan apabila disentuh oleh perawat. Palpasi : Tidak terdapat benjolan atau masa serta nyeri tekan pada mata, hidung, telinga. f) Sistem kardiovaskuler Inspeksi : Tidak terdapat sianosis. Palpasi : CRT <2 detik, tidak ada pembesaran arteri karotis, konjungtiva tidak anemis, akral teraba hangat, irama jantung reguler. Auskultasi : Tidak terdengar bunyi jantung tambahan, bunyi jantung S1 dan S2 murni. Perkusi : Bunyi pekak pada daerah jantung. g) Sistem pernapasan Inspeksi : Bentuk hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada pernapasan cuping hidung, bentuk dada simetris kiri dan kanan, pergerakan dada simetris, tidak terdapat retraksi dinding dada,
  • 54. 54 pergerakan dada mengikuti pernapasan, tidak ada penggunaan otot-otot pernapasan, proses pernapasan teratur/normal. Palpasi : Vocal fremitus teraba sama antara kiri dan kanan pada saat klien mengatakan satu-satu. Perkusi : Saat diperkusi suara paru resonan. Auskultasi : Tidak terdengar bunyi napas tambahan. h) Sistem pencernaan Inspeksi : Jumlah gigi masih lengkap, gigi tampak kotor, tidak ada peradangan pada gusi, pergerakan lidah baik, tampak luka operasi yang tertutup verban pada abdomen bagian bawah, keadaan luka masih basah. Auskultasi : Bising usus 8x/menit. Palpasi : Nyeri tekan pada abdomen. Perkusi : Terdengar bunyi timpani. i) Sistem muskuloskeletal (1) Ekstremitas atas Inspeksi : Ekstremitas kiri dan kanan simetris, tidak terdapat lesi, pada tangan kanan
  • 55. 55 terpasang infus RL 20 tetes/menit, pergerakan baik. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada edema, Kekuatan otot 5 5 . Perkusi : Refleks bisep +/+, refleks trisep +/+. (2) Ekstremitas bawah Inspeksi : Ekstremitas kanan dan kiri simetris, tidak terdapat lesi. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada edema, Kekuatan otot 5 5 . Perkusi : Refleks achiles +/+. Refleks pattela +/+. j) Sistem endokrin Inspeksi : Refleks menelan baik, tidak ada pembesaran thyroid dan para thyroid, pengeluaran ASI tidak lancar dan kontraksi uterus baik. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan edema. k) Sistem perkemihan Inspeksi : Terpasang kateter, warna urin kuning pekat, volume urin 500 cc/hari. Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan dan edema.
  • 56. 56 l) Sistem reproduksi Inspeksi : Tidak ada edema pada perineum, keluar darah bercampur dengan gumpalan darah (lochia rubra), tampak terpasang pempers pembalut 1 buah, payudara simetris kiri dan kanan, tampak areola mamae kurang bersih serta produksi ASI kurang. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada payudara. m) Sistem imun Inspeksi : Tidak terdapat pembesaran pada kelenjar limfe. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan. n) Sistem persyarafan (1) Fungsi serebral (a) Status mental Klien dapat berorientasi dengan baik, wajah klien nampak meringis, kekuatan otot normal, bahasa jelas. (b) Kesadaran Compos mentis (GCS: 15), eyes 4 (dapat membuka mata dengan spontan), motorik 6 (pergerakan baik), verbal 5 (komunikasi jelas).
  • 57. 57 (c) Bicara Dapat mengungkapkan rasa nyeri, klien dapat mengikuti perintah, serta bicara normal dan jelas. (2) Fungsi kranial N I (Olfaktorius) : klien dapat membedakan bau. N II (Optikus) : fungsi penglihatan klien masih baik dan tidak menggunakan alat bantu penglihatan. N III, N IV dan N VI (Okulomotorius, Troclearis, Abdusen) : kontraksi pupil isokor, pergerakan kelopak mata baik, klien dapat menggerakan mata ke atas dan kebawah. N V (Trigeminus) : refleks kornea klien baik. N VII (Facialis) : perubahan mimik wajah klien baik. N VIII (Vestibulococlearis) : klien dapat mendengar dengan baik. N IX dan N X (Glosofaringeus dan Vagus) : refleks menelan dan mengecap klien baik. N XI (Aksesorius) : klien dapat mengangkat bahu. N XII (Hipoglosus) : pergerakan lidah klien baik.
  • 58. 58 5) Pola Kegiatan Sehari-hari Tabel.2 pola aktivitas sehari-hari No Aktivitas Sebelum Sakit Selama Sakit 1. Nutrisi - Pola makan - Frekuensi makan - Jenis makanan - Pantangan - Keluhan - Intake cairan / hari - Jenis cairan Teratur, porsi 1 piring di habiskan 3 x sehari Nasi, ikan, sayur dan buah Tidak ada Tidak ada 7 – 8 gelas / hari Air putih dan susu Teratur, porsi 1 piring di habiskan 2x sehari Bubur, telur, gabing Tidak ada Tidak ada 4 – 5 gelas / hari Air putih hangat 2. Eliminasi - Frekuensi BAK - Warna urin - Bau - Keluhan - Frekuensi BAB - Konsistensi - Warna feses - Bau - Keluhan 5 – 6 x/ hari Kuning jernih Khas amoniak Tidak ada 2 x/ hari Padat Kuning Khas feses Tidak ada 4 – 5 x/ hari Kuning pekat Khas amoniak Tidak ada Baru 1x setelah operasi Padat Kuning Khas feses Tidak ada 3. Personal hygiene - Mandi - Cuci rambut - Gosok gigi - Potong kuku - Ganti pakaian 2 x/ hari 2 x seminggu 3 x/ hari 1 x seminggu Setiap habis mandi Belum mandi Belum cuci rambut Belum gosok gigi 1 x seminggu Klien tampak kusam 4. Pola istrahat tidur - Tidur siang - Tidur malam 13.00 – 15.00 21.00 – 05.00 13.00 – 16.00 22.00 – 05.00 5. Aktivitas - Olahraga - Kegiatan di waktu luang - Jenis pekerjaan Jalan pagi Nonton televisi Sebagai guru honorer / ibu rumah tangga Tidak pernah Cerita dengan keluarga dan perawat Tidak dapat beraktivitas karena nyeri
  • 59. 59 6) Data Psikologis a) Status emosi Klien tampak tidak mudah tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan yang perawat ajukan kepadanya serta klien tampak bertanya-tanya tentang penyakitnya. b) Konsep diri (1) Body image : klien mengatakan tidak merasa malu walaupun pada perutnya terdapat luka bekas operasi. (2) Ideal diri : klien mengatakan ingin segera sembuh agar dapat berkumpul lagi bersama keluarganya. (3) Harga diri : klien masih merasa berharga walaupun dengan kondisinya yang sekarang, serta klien merasa cemas atas kondisinya. (4) Peran : klien adalah sebagai ibu rumah tangga yang baru mempunyai satu orang anak serta mengurus suaminya. (5) Identitas diri : klien mengatakan dirinya sama dengan orang lain meskipun terdapat luka bekas operasi di perutnya.
  • 60. 60 c) Pola koping Klien tampak ceria dan terbuka dalam bercerita serta klien juga mengatakan bahwa dirinya tidak tau cara merawat payudara. 7) Data sosial Klien mau diajak untuk bercerita tentang keadaan penyakitnya, klien selalu menjawab bila di tanya serta cara berbicara klien cukup jelas. 8) Data spiritual Klien mengatakan dukungan dari suami dan keluarga sangat tinggi, klien beragama islam dan klien menyarahkan semua keadaannya saat ini kepada Allah SWT serta selama sakit klien tidak dapat menjalankan shalat. 9) Data penunjang (pemeriksaan laboratorium tanggal 6 Mei 2014) Tabel. 3 pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Hemoglobin Leukosit LED/BBS 11 8840 60/- P : 12 – 14 5.000 - 10.000 P : 0-10 gr/DL mm3 mm/1 jam 10) Pengobatan dan Perawatan a) Pengobatan (1) IVFD RL 20 tetes/menit (2) Zibac 1 gr/12 Jam/IV
  • 61. 61 (3) Metronidazole 1A/8Jam/Infus (4) Asam Mefenamat 3 x 500 mg PO (5) Metil Ergo 3 x 0,125 mg PO (6) Lactapit 3 x 1 PO (7) B.Com 3 x 1 PO (8) Stolax Supp II/Rectal b) Perawatan (1) Observasi TTV (2) Perawatan luka (3) Vulva hygiene (4) Istrahat (5) TFU 1 jari di atas pusat (6) Ganti verban 2x perhari (7) Personal hygiene b. Klasifikasi Data 1) Data Subjektif a) Klien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi di abdomen b) Klien mengatakan nyeri di rasakan secara hilang timbul c) Klien mengatakan belum mandi setelah di operasi d) Klien mengatakan belum pernah keramas e) Klien mengatakan belum pernah menyikat gigi f) Klien mengatakan tidak mampu beraktifitas
  • 62. 62 g) Klien mengatakan tidak mengetahui tentang perawatan payudara h) Klien mengatakan cemas karena ASInya belum keluar 2) Data Objektif a) Ekspresi wajah tampak meringis b) Skala yang di rasakan nyeri 6 (0-10) c) Nyeri tekan pada luka operasi d) Tampak luka bekas operasi pada abdomen e) Luka masih tampak basah f) Luka tampak di verban g) Klien tampak lemah h) Aktivitas klien tampak dibantu keluarga i) Klien tampak kusam j) Gigi klien tampak kotor k) Rambut tampak tidak tertata dengan rapi l) Klien tampak bertanya-tanya tentang keadaannya m) Klien tampak cemas n) Suhu 37°C o) Leukosit 8840 mm3
  • 63. 63 c. Analisa Data Tabel 4. Analisa data No Data Penyebab Masalah 1. DS : a. Klien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi di abdomen b. Klien mengatakan nyeri di rasakan secara hilang timbul DO : a. Ekspresi wajah tampak meringis b. Skala nyeri yang di rasakan 6 (0-10) c. Nyeri tekan pada luka operasi Adanya sectio caesarea Terputusnya kontinuitas jaringan Merangsang reseptor mengeluarkan indikator kimia Impuls dikirim ke thalamus korteks serebri Nyeri dipersepsikan Nyeri 2. DS : a. Klien mengatakan belum mandi setelah di operasi b. Klien mengatakan belum pernah keramas c. Klien mengatakan belum pernah menyikat gigi d. Klien mengatakan tidak mampu beraktivitas DO : a. Rambut tampak tidak tertata dengan rapi b. Klien tampak kusam c. Gigi klien tampak kotor d. Aktivitas klien tampak dibantu keluarga Indikasi sectio caesarea Terputusnya kontinuitas jaringan Nyeri insisi saat bergerak Ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas Defisit perawatan diri Defisit perawatan diri
  • 64. 64 3. DS : - DO : a. Tampak luka bekas operasi pada abdomen b. Luka masih tampak basah c. Luka tampak di verban d. Suhu 37°C e. Leukosit 8840 mm3 Indikasi sectio caesarea Terputusnya kontinuitas jaringan Luka tampak basah Tempat perkembangan mikro organisme pathogen Resiko tinggi terhadap infeksi Resiko tinggi infeksi 4. DS : a. Klien mengatakan tidak mengetahui tentang perawatan payudara b. Klien mengatakan cemas karena ASInya belum keluar DO : a. Klien tampak bertanya-tanya tentang keadaannya b. Klien tampak cemas Indikasi sectio caesarea Adanya perubahan status kesehatan Kurang terpapar informasi tentang status kesehatan dan keadaan pasca operasi Ancaman status kesehatan Stress psikologis Kurang pengetahuan Kurang pengetahuan
  • 65. 65 2. Diagnosa Keperawatan a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan di tandai dengan : Data subyektif : 1) Klien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi di abdomen 2) Klien mengatakan nyeri di rasakan secara hilang timbul Data obyektif : 1) Ekspresi wajah tampak meringis 2) Skala nyeri yang di rasakan 6 (0-10) 3) Nyeri tekan pada luka operasi b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak di tandai dengan : Data subyektif : 1) Klien mengatakan belum mandi setelah di operasi 2) Klien mengatakan belum pernah keramas 3) Klien mengatakan belum pernah menyikat gigi 4) Klien mengatakan tidak mampu beraktivitas Data obyektif : 1) Rambut tampak tidak tertata dengan rapi 2) Klien tampak kusam 3) Gigi klien tampak kotor 4) Aktivitas klien tampak dibantu keluarga
  • 66. 66 c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi yang masih basah di tandai dengan : Data subyektif : - Data obyektif : 1) Tampak luka bekas operasi pada abdomen 2) Luka masih tampak basah 3) Luka tampak di verban 4) Suhu 37°C 5) Leukosit 8840 mm3 d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya di tandai dengan : Data subyektif : 1) Klien mengatakan tidak mengetahui tentang perawatan payudara 2) Klien mengatakan cemas karena ASInya belum keluar Data obyektif : 1) Klien tampak bertanya-tanya tentang keadaannya 2) Klien tampak cemas
  • 67. 67 3. Rencana Keperawatan Nama : Ny. R Tanggal Masuk : 6 Mei 2014 Umur : 26 Tahun Tanggal Pengkajian : 7 Mei 2014 Alamat : Sidodadi Diagnosa Medis : Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang Tabel 5. Rencana Keperawatan No. Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional 1 2 3 4 5 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan, ditandai dengan : DS : - Klien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi di abdomen - Klien mengatakan nyeri di rasakan secara hilang timbul DO : - Ekspresi wajah tampak meringis Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari, rasa nyeri dapat berkurang dengan kriteria: - Klien tampak rileks - Klien mengatakan nyeri berkurang - Tanda-tanda vital dalam batas normal 1. Pantau karakteristik dan intensitas nyeri 2. Observasi TTV 3. Ajarkan klien tehnik mengatasi nyeri yaitu relaksasi dan distraksi 1. Nyeri dirasakan, dimanifestasikan dan ditoleransi secara individual, perubahan berat / lamanya dapat mengidentifikasi kemajuan proses penyakit 2. Peningkatan Tanda-tanda vital merupakan indikator peningkatan nyeri 3. Tehnik distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri dan tehnik relaksasi menurunkan kelelahan otot
  • 68. 68 - Skala nyeri yang di rasakan 6 (0-10) - Nyeri tekan pada luka operasi 4. Atur posisi yang nyaman bagi klien 5. Lanjutkan pemberian terapi obat analgetik sesuai indikasi 4. Posisi yang nyaman menurunkan kelelahan otot 5. Menghambat reseptor nyeri dan mempercepat proses penyembuhan 2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak, ditandai dengan : DS : - Klien mengatakan belum mandi setelah di operasi - Klien mengatakan belum pernah keramas - Klien mengatakan belum pernah menyikat gigi - Klien mengatakan tidak mampu beraktivitas DO : - Rambut tampak tidak tertata dengan rapi - Klien tampak kusam - Gigi klien tampak kotor - Aktivitas klien tampak dibantu keluarga Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari, perawatan diri dapat teratasi dengan kriteria : - Klien berpenampilan bersih dan rapi - Gigi klien bersih - Klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri 1. Kaji kemampuan saat ini dan hambatan dalam perawatan diri 2. Beri HE pada klien dan keluarga tentang pentingnya perawatan diri 3. Lakukan perawatan vulva hygiene 4. Bantu klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri 5. Beri reinforcement kepada klien jika klien mampu melakukan kebutuhan merawat diri walaupun dalam batas minimal 1. Mengidentifikasi kemampuan intervensi yang dibutuhkan selanjutnya 2. Agar klien dan keluarga dapat memahami pentingnya perawatan diri 3. Vulva hygiene akan mencegah berkembang biaknya kuman yang masuk kedalam serviks yang dalam proses dilatasi 4. Memberi rasa percaya diri dan meningkatkan rasa nyaman klien 5. Memberikan suport sehingga memaksimalkan kemampuan klien dalam tindakan keperawatan dirinya dan meningkatkan kepercayaan diri klien
  • 69. 69 3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi yang masih basah, ditandai dengan : DS : - DO : - Tampak luka bekas operasi pada abdomen - Luka masih tampak basah - Luka tampak di verban - Suhu 37°C - Leukosit 8840 mm3 Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari, tanda-tanda infeksi tidak ada dengan kriteria : - Tidak terjadi tanda-tanda peradangan seprti kemerahan ataupun panas - Luka mengering 1. Observasi keadaan luka 2. Observasi tanda-tanda vital terutama suhu 3. Gunakan tehnik aseptik dan antiseptik dalam setiap tindakan 4. Lakukan perawatan luka dengan memperhatikan kesterilan 5. Beri HE pada klien dan keluarga tentang pentingnya perawatan luka 6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antibiotik 1. Untuk mengetahui adanya tanda- tanda infeksi 2. Adanya peningkatan suhu tubuh merupakan salah satu tanda dari infeksi 3. Menurunkan resiko penyebaran infeksi 4. Melakukan perawatan luka untuk menjaga agar luka tetap bersih serta mencegah terjadinya kontaminasi dengan mikroorganisme 5. Agar klien dan keluarga memahami pentingnya perawatan luka 6. Antibiotik dapat mencegah infeksi dengan cara membunuh kuman yang masuk
  • 70. 70 4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya, ditandai dengan : DS : - Klien mengatakan tidak mengetahui tentang perawatan payudara - Klien mengatakan cemas karena ASInya belum keluar DO : - Klien tampak bertanya- tanya tentang keadaannya - Klien tampak cemas Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 hari, kurangnya pengetahuan klien dapat teratasi dengan kriteria : - Klien mengerti dengan kondisi penyakitnya - Klien tampak tenang - Klien tampak paham dengan penyakitnya dan tidak merasa cemas lagi 1. Kaji kemampuan dan motivasi klien untuk belajar serta bantu klien dan pasangan dalam mengidentifikasi kebutuhan 2. Berikan penyuluhan lisan dan tertulis 3. Berikan informasi yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan psikologis berkenaan dengan persalinan Sectio Caesarea dan kebutuhan dengan periode Post Op Sectio Caesarea 4. Anjurkan kepada klien melakukan perawatan payudara 1. Periode Post Op Sectio Caesarea menjadikan pengalaman positif bila kesempatan penyuluhan di berikan untuk membantu ibu 2. Membantu menjamin ketangkapan informasi yang di terima 3. Membantu klien mengenali perubahan normal dari proses abnormal yang mungkin memerlukan tindakan 4. Agar dapat memproduksi ASI dengan lancar
  • 71. 71 4. Implementasi dan Evaluasi Tabel 6. Implementasi dan Evaluasi Hari / Tanggal No. Diagnosa Keperawatan Jam Implementasi Hari / Tanggal Jam Evaluasi Paraf Rabu 7 Mei 2014 I 07.00 07.15 07.50 1. Memantau karakteristik dan intensitas nyeri Hasil : - Nyeri tekan pada daerah luka operasi di abdomen - Ekspresi wajah meringis saat nyeri timbul - Skla nyeri 6 (0-10) 2. Mengobservasi TTV Hasil : TD : 100/70 mmHg N : 80x / menit P : 24x / menit S : 37 °C 3. Mengajarkan klien tehnik mengatasi nyeri yaitu tehnik distraksi dan relaksasi Hasil : Klien tampak merasa nyaman Rabu 7 Mei 2014 13.30 S : - Klien mengatakan masih merasa nyeri pada luka operasi - Klien mengatakan nyeri hilang timbul O : - Skala nyeri 6 (0-10) - Nyeri tekan pada luka operasi - Ekspresi wajah meringis saat timbul nyeri - Klien tampak bergerak terbatas dan berhati- hati A : Tujuan belum tercapai P : Lanjutkan Intervensi 1,2,3,4,5
  • 72. 72 08.00 10.00 4. Mengatur posisi yang nyaman bagi klien dengan cara semi fowler Hasil : Klien merasa nyaman dengan posisi yang diberikan 5. Memberi terapi obat analgetik Hasil : Asmet 500 mg PO Rabu 7 Mei 2014 II 07.30 08.45 1. Mengkaji kemampuan saat ini dan hambatan dalam perawatan diri Hasil : - Klien belum dapat beraktivitas secara mandiri - Klien belum dapat melakukan perawatan diri secara mandiri - Aktivitas klien masih dibantu oleh keluarga 2. Membantu klien dalam memenuhi personal hygiene Rabu 7 Mei 2014 13.45 S : - Klien mengatakan merasa segar setelah dimandikan - Klien mengatakan dalam merawat diri masih dibantu oleh keluarga O : - Klien belum dapat merawat diri secara mandiri - Penampilan klien tampakn rapi - Kuku tampak bersih - Rambut tertata rapi
  • 73. 73 09.45 10.25 Hasil : Klien mau di mandikan dengan menggunakan waslap basah 3. Memberikan HE pada klien dan keluarga tentang pentingnya perawatan diri Hasil : Klien dan keluarga memahami pentingnya perawatan diri 4. Memberikan reinforcement kepada klien atas kemampuan dalam perawatan diri Hasil : Klien merasa senang A : Tujuan belum tercapai P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4 Rabu 7 Mei 2014 III 08.25 09.00 1. Mengobservasi keadaan luka bekas operasi Hasil : - Tampak luka di daerah abdomen - Luka tampak mulai mengering - Luka masih di verban 2. Mengobservasi TTV terutama suhu Rabu 7 Mei 2014 14.00 S : - O : - Luka masih tampak basah - Luka tampak di verban - Tampak luka bekas operasi pada abdomen
  • 74. 74 09.10 09.15 10.45 Hasil : suhu 37 °C 3. Menggunakan tehnik aseptik dan antiseptik dalam setiap tindakan Hasil : Sebelum melakukan tindakan terlebih dulu mencuci tangan dan memakai sarung tangan steril serta sesudah melakukan tindakan mencuci tangan 4. Melakukan perawatan luka dengan memperhatikan kesterilan Hasil : Menggunakan alat steril pada saat mengganti balutan 5. Memberikan HE pada klien dan keluarga tentang pentingnya perawatan luka Hasil : klien dan keluarga memahami dan mengerti - Suhu 37 °C - Leukosit 8840 mm3 A : Tujuan belum tecapai P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4,5,6
  • 75. 75 11.00 6. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antibiotik Hasil : metil ergo 3x1 Rabu 7 Mei 2014 IV 08.05 08.15 08.30 09.05 1. Mengkaji kemampuan dan motivasi klien untuk belajar serta bantu klien dan pasangan dalam mengidentifikasi kebutuhan Hasil : klien mau belajar 2. Memberikan penyuluhan lisan dan tertulis 3. Memberikan informasi yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan psikologis berkenaan dengan persalinan Sectio Caesarea dan kebutuhan dengan periode Post Op Sectio Caesarea Hasil : klien tampak mengerti 4. Menganjurkan kepada klien melakukan perawatan payudara Hasil : tampak ASI keluar dengan lancar Rabu 7 Mei 2014 14.00 S : - Klien mengatakan sudah mengetahui cara merawat payudara - Klien mengatakan tidak merasa cemas lagi O : - Klien tidak lagi bertanya-tanya - Klien tampak tenang A : Tujuan tercapai P : Intervensi dipertahankan
  • 76. 76 5. Catatan Perkembangan Tabel 7. Catatan perkembangan No. Hari / Tanggal Diagnosa Keperawatan Jam Catatan Perkembangan 1 2 3 4 5 1. Kamis 8 Mei 2014 DX I 09.00 S : - Klien mengatakan masih merasa nyeri pada luka operasi - Klien mengatakan nyeri masih di rasakan secara hilang timbul O : - Skla nyeri 6 (0-10) - Nyeri tekan di sekitar luka operasi - Ekspresi wajah meringis saat timbul nyeri A : Tujuan belum tercapai P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4,5 I : 1. Memantau karakteristik dan intensitas nyeri Hasil : - Nyeri tekan pada daerah luka operasi di abdomen - Ekspresi wajah meringis saat nyeri timbul - Skla nyeri 6 (0-10) 2. Mengobservasi TTV Hasil : TD : 100/80 mmHg N : 90x / menit P : 24x / menit S : 36,5 °C 3. Mengajarkan klien tehnik mengatasi nyeri yaitu tehnik distraksi dan relaksasi Hasil : Klien di ajak bercerita 4. Mengatur posisi yang nyaman bagi klien dengan cara semi fowler Hasil : Klien diberi posisi semi fowier 5. Penatalaksanaan pemberian obat analgetik E : Masalah belum teratasi
  • 77. 77 2. Kamis 8 Mei 2014 DX II 10.00 S : - Klien mengatakan merasa segar setelah dimandikan - Klien mengatakan masih di bantu keluarga dalam merawat diri O : - Klien belum dapat beraktivitas secara mandiri - Penampilan klien tampak rapi - Rambut tertata dengan rapi A : Tujuan belum tercapai P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4 I : 1. Mengkaji kemampuan saat ini dan hambatan dalam perawatan diri Hasil : - Klien belum dapat beraktivitas secara mandiri - Klien belum dapat melakukan perawatan diri secara mandiri - Aktivitas klien masih dibantu oleh keluarga 2. Membantu klien dalam memenuhi personal hygiene Hasil : Klien mengganti pakaian kotor 3. Memberikan HE pada klien dan keluarga tentang pentingnya perawatan diri Hasil : Klien dan keluarga memahami pentingnya perawatan diri 4. Memberikan reinforcement kepada klien atas kemampuan dalam perawatan diri Hasil : Klien merasa senang E : Masalah belum teratasi 3. Kamis 8 Mei 2014 DX III 11.00 S : - O : - Luka msih tampak basah - Luka tampak tertutup verban - Suhu 36,5 °C A : tujuan belum tercapai P : lanjutkan intervensi 1,2,3,4
  • 78. 78 I : 1. Mengobservasi keadaan luka bekas operasi Hasil : - Tampak luka di daerah abdomen - Luka tampak masih basah - Luka masih di verban 2. Menggunakan tehnik aseptik dan antiseptik dalam setiap tindakan Hasil : Sebelum melakukan tindakan terlebih dulu mencuci tangan dan memakai sarung tangan steril serta sesudah melakukan tindakan mencuci tangan 3. Melakukan perawatan luka dengan memperhatikan kesterilan Hasil : Menggunakan alat steril pada saat mengganti balutan 4. Memberikan HE pada klien dan keluarga tentang pentingnya perawatan luka Hasil : klien dan keluarga memahami dan mengerti E : Masalah belum teratasi 4. Jumat 9 Mei 2014 DX I 08.00 S : - Klien mengatakan nyerinya sudah berkurang O : - Skala nyeri 4 (0-10) - Nyeri tekan pada luka bekas operasi A : tujuan belum tercapai P : lanjutkan intervensi 1, 3, 4, 5 I : 1. Memantau karakteristik dan intensitas nyeri Hasil : - Nyeri tekan pada daerah luka operasi di abdomen - Nyeri dirasakan sudah berkurang
  • 79. 79 3. Mengajarkan klien tehnik mengatasi nyeri yaitu tehnik distraksi dan relaksasi Hasil : Klien di ajak bercerita 4. Mengatur posisi yang nyaman bagi klien dengan cara semi fowler Hasil : Klien diberi posisi semi fowier 5. Penatalaksanaan pemberian obat analgetik yaitu asam mefenamat E : masalah belum teratasi 5. Jumat 9 Mei 2014 DX II 08.30 S : Klien mengatakan dalam merawat diri masih di bantu keluarga O : - Klien tampak bersih - Klien tampak dibantu keluarga dalam memenuhi kebutuhannya A : tujuan belum tercapai P : lanjutkan intervensi 1, 2, 3 I : 1. Mengkaji kemampuan saat ini dan hambatan dalam perawatan diri Hasil : - Klien belum dapat beraktivitas secara mandiri - Klien belum dapat melakukan perawatan diri secara mandiri - Aktivitas klien masih dibantu oleh keluarga 2. Membantu klien dalam memenuhi personal hygiene Hasil : Klien mengganti pakaian kotor 3. Memberikan HE pada klien dan keluarga tentang pentingnya perawatan diri Hasil : Klien dan keluarga memahami tentang pentingnya perawatan diri E : masalah belum teratasi
  • 80. 80 6. Jumat 9 Mei 2014 DX III 08.45 S : - O : - Luka tampak sudah mengering - Luka di tutup verban A : Tujuan belum tercapai P : lanjutkan intervensi 1, 2, 3 I : 1. Mengobservasi keadaan luka bekas operasi Hasil : - Tampak luka di daerah abdomen - Luka tampak mengering - Luka masih di verban 2. Menggunakan tehnik aseptik dan antiseptik dalam setiap tindakan Hasil : Sebelum melakukan tindakan terlebih dulu mencuci tangan dan memakai sarung tangan steril serta sesudah melakukan tindakan mencuci tangan 3. Melakukan perawatan luka dengan memperhatikan kesterilan Hasil : Menggunakan alat steril pada saat mengganti balutan E : Masalah belum teratasi 7. Sabtu 10 Mei 2014 DX I 10.00 S : Klien mengatakan nyeri sudah berkurang O : - Skala nyeri 2 (0-10) - Klien tampak tenang A : tujuan tercapai P : Intervensi di pertahankan 8. Sabtu 10 Mei 2014 DX II 10.15 S : Klien mengatakan sudah dapat merawat diri secara mandiri O : - Klien tampak rapi dan bersih - Klien beraktivitas secara mandiri A : Tujuan tercapai P : intervensi dipertahankan
  • 81. 81 9. Sabtu 10 Mei 2014 DX III 10.45 S : - O : - Luka sudah mengering - Luka masih tertutup verban A : tujuan tercapai P : intervensi di pertahankan
  • 82. 82 B. Pembahasan Bagian ini membahas mengenai kesenjangan Asuhan Kaperawatan Pada Klien Ny. R Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna, tanggal 7-10 Mei 2014 dihubungkan dengan teori yang ada dalam tinjauan teoritis dan di bahas mulai dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi. 1. Pengkajian Menurut tinjauan teori bahwa pada pengkajian klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang ditemukan data antara lain nyeri pada luka bekas operasi, belum melakukan perawatan diri, ekspresi wajah meringis bila nyeri, tampak luka operasi di daerah abdomen, kelemahan, keterbatasan rentang gerak, aktivitas dibantu, klien merasa cemas, klien tidak mengetahui tentang cara merawat payudara, pengeluaran ASI belum lancar, luka masih tampak basah, masih terpasang kateter serta klien selalu bertanya tentang keadaan penyakitnya. Pada pengkajian studi kasus di temukan data pada klien Ny. R antara lain klien mengeluh nyeri pada luka operasi dan dirasakan secara hilang timbul, nyeri tekan pada area sekitar luka operasi dengan skala 6 (0-10), klien dibantu oleh keluarga dalam memenuhi personal hygienenya, keadaan umum lemah, ektivitas klien dibantu keluarga, klien tampak kusam, klien belum mandi,
  • 83. 83 klien belum sikat gigi, keramas, ekspresi wajah meringis, kateter sudah di lepas, terpasang infus RL. Dari pengkajian di atas penulis mendapatkan kesenjangan antara teori dan fakta yang ada dari hasil pengkajian Klien Ny. R. Kesenjangan ini terjadi disebabkan oleh karena manusia merupakan makhluk yang unik dimana dalam memberikan respon terhadap masalah kesehatan atau penyakit baik respon bio, psiko, sosial, spiritual, dan kultural berbeda-beda setiap individu. 2. Diagnosa Keperawatan Pada tinjauan teori, Diagnosa Keperawatan yang ditemukan Pada Klien Ny. R Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang adalah sebagai berikut : a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan pembedahan. b. Gangguan kebutuhan istrahat dan tidur berhubungan dengan nyeri terus menerus. c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan/keterbatasan gerak dan kelemahan fisik. d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi tentang penyakitnya. e. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang status kesehatan dan keadaan pasca operasi.
  • 84. 84 f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi yang masih basah. g. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pendarahan. Sedangkan Diagnosa Keperawatan yang ditemukan pada studi kasus sebagai hasil analisa dan penetapan masalah Keperawatan ditemukan empat Diagnosa Keperawatan adalah sebagai berikut : a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi yang masih basah d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya Dengan demikian antara teori Konsep Keperawatan dan Studi Kasus terjadi kesenjangan, dimana Diagnosa Keperawatan yang ada pada teori tidak ditemukan dalam studi kasus yaitu gangguan kebutuhan istrahat dan tidur, kecemasan serta resiko tinggi kekurangan volume cairan. Adanya kesenjangan ini karena tidak adanya tanda dan gejala yang menunjang pada studi kasus untuk mengangkat masalah tersebut karena masalah diangkat disesuaikan dengan kondisi klien pada saat pengkajian, interpretasi data dan analisa
  • 85. 85 data. Selain itu respon individu terhadap stress atau penyakit berbeda-beda, sehingga dalam merumuskan diagnosa keperawatan disesuaikan dengan keadaan data yang mendukung. 3. Perencanaan Pada tahap ini penulis bersama klien dan keluarga klien menyusun rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan masalah yang muncul. Perencanaan disesuaikan dengan kebutuhan klien, situasi dan kondisi serta sarana dan prasarana yang ada diruangan. Penulis akan menguraikan kesenjangan yang terjadi pada penyusunan rencana keperawatan berdasarkan teori dan studi kasus klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang sebagai berikut : a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan. Intervensi berdasarkan teori tetapi tidak ada pada kasus yaitu anjurkan klien untuk melakukan mobilisasi secara bertahap sedangkan intervensi pada studi kasus yang tidak terdapat pada teori yaitu atur posisi yang nyaman bagi klien. Untuk intervensi pada studi kasus dan tidak terdapat pada tinjauan teori penulis bersama-sama dengan klien dan keluarga klien membuat rencana keperawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan klien.
  • 86. 86 Berdasarkan uraian diatas maka penulis mendapatkan kesenjangan dalam penyusunan rencana keperawatan, dimana tidak semua rencana keperawatan yang ada pada teori ditetapkan dalam kasus dan sebaliknya. Hal ini dikarenakan dalam membuat suatu rencana keperawatan penulis berpatokan pada keadaan atau kondisi klien pada saat itu serta disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang ada di Rumah Sakit. b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi masih basah. Intervensi pada studi kasus tetapi tidak ada pada tinjauan teori yaitu beri HE pada klien dan keluarga klien tentang pentingnya perawatan luka. Intervensi ini di cantumkan dalam studi kasus karena pengetahuan tentang perawatan luka sangat penting bagi klien dan keluarga untuk mempercepat proses penyembuhan. 4. Implementasi Pada tahap ini implementasi merupakan kelanjutan dari perencanaan yang telah disusun tetapi penulis mendapat kesenjangan sehingga dalam implementasi tidak semua intervensi dilaksanakan yaitu pada Diagnosa Keperawatan defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak dengan intervensi lakukan perawatan vulva hygiene. Hal ini disebabkan dalam pelaksanaan implementasi, penulis berpatokan pada keadaan atau
  • 87. 87 kondisi klien saat itu dimana klien tidak mau dilakukan perawatan vulva hygiene. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan sebaiknya perawat memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Menciptakan lingkungan yang terapeutik dengan menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik. b. Membantu mengatasi masalah sesuai dengan kebutuhan klien baik bio, psiko, sosial, spiritual dan kultural. c. Meningkatkan harga diri klien d. Semua tindakan keperawatan yang diberikan pada klien harus dapat dipertanggung jawabkan dan dipertanggung gugatkan. e. Implementasi dalam keperawatan sifatnya berkesinambungan karena waktu yang disediakan kurang memadai oleh karena itu kerja sama dengan perawat ruangan dalam pemberian Asuhan Keperawatan sehingga pelaksanaan tindakan keperawatan berkelanjutan. f. Melibatkan klien, keluarga dan tim kesehatan lainnya dalam proses keperawatan. 5. Evaluasi Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan dimana untuk menilai suatu keberhasilan pelaksanaan keperawatan dengan mengacu pada tercapainya tujuan yang ditetapkan.
  • 88. 88 Adapun evaluasi dari Asuhan Keperawatan yang dilakukan pada Ny. R yang dirawat selama empat hari perawatan mulai tanggal 7-10 Mei 2014 adalah dari empat diagnosa keperawatan yang ada pada tinjauan kasus hanya satu diagnosa keperawatan yang teratasi yaitu kurang pengetahuan sedangkan diagnosa yang belum teratasi adalah nyeri, defisit perawatan diri, dan resiko infeksi. Hal ini disebabkan beberapa masalah keperawatan membutuhkan waktu yang berbeda-beda dalam proses penyembuhan.
  • 89. 89 BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Setelah penulis mempelajari dan melaksanakan studi melalui pendekatan Proses Keperawatan Pada Klien Ny. R yang penulis laksanakan di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna dari tanggal 7-10 Mei 2014 dengan mengacu pada tujuan yang ingin dicapai, maka penulis mengambil kesimpulan : 1. Tahap awal proses keperawatan adalah pengkajian, yang meliputi pengumpulan data, klasifikasi data dan analisa data yang kemudian dirumuskan menjadi diagnosa keperawatan. Tehnik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, observasi partisipasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi, studi literatur dan kepustakaan. 2. Pada tahap diagnosa keperawatan, penulis menegakan diagnosa keperawatan berdasarkan data-data yang didapatkan pada klien dan disesuaikan dengan teori yang ada. Kemudian diprioritaskan berdasarkan kebutuhan dasar manusia dan keluhan yang betul-betul mengganggu atau mengancam kesehatan klien. 3. Pada tahap perencanaan, penulis membuat dan menyusun rencana tindakan keperawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan masalah Klien Pada Post Op Sectio Caesaria POD I a/i Letak Lintang
  • 90. 90 berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan keterampilan dalam melakukan prosedur tindakan keperawatan. 4. Implementasi merupakan realisasi dari perencanaan yang telah disusun sehingga dalam implementasi ini mengacu pada perencanaan yang merupakan pendukung berjalannya tahap pelaksanaan diantaranya kerja sama yang baik antara perawat, klien dan keluarga serta sarana dan prasarana yang tersedia sehingga memudahkan dalam setiap tindakan. Selain itu adanya dukungan serta bimbingan dari perawat pembimbing sehingga asuhan keperawatan dapat berjalan lancar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 5. Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dimana untuk menilai suatu keberhasilan pelaksanaan keperawatan dengan mengacu pada tercapainya tujuan yang ditetapkan dan terarah dengan adanya catatan perkembangan setelah diberikan asuhan keperawatan selama 4 hari, semua diagnosa teratasi. 6. Dokumentasi dimana penulis dapat mempresentasikan hasil dari proses keperawatan yang telah dilakukan secara sistematis berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan.
  • 91. 91 B. Rekomendasi Dalam melaksanakan asuhan keperawatan melalui pendekatan Proses Keperawatan Pada Klien Dengan Post OP Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang, penulis menyarankan : 1. Untuk Pihak Rumah Sakit Rumah Sakit diharapkan mampu memberikan pelayanan yang komperhensif yaitu bio, psiko, sosial dan spiritual kepada klien dengan menambah peralatan dan fasilitas yang memadai untuk menunjang pelaksanaan asuhan keperawatan. Selain itu juga perlu tambahan tenaga perawat terampil yang dapat membimbing para mahasiswa yang akan melakukan praktek keperawatan di Rumah Sakit. Perawat agar selalu menerapkan konsep asuhan keperawatan yang komperhensif dan meningkatkan frekuensi kontak dengan klien dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta adanya pendokumentasian yang lengkap dan akurat pada status kesehatan klien juga diperlukan adanya kerja sama yang baik dengan tim kesehatan lainnya untuk mempercepat proses kesembuhan klien. 2. Untuk Institusi Pendidikan Institusi dan penyelenggara diharapkan menyediakan buku-buku referensi yang memadai, yang menyangkut hal-hal terbaru tentang penatalaksanaan perawatan Klien Dengan Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang serta menyediakan waktu yang cukup untuk
  • 92. 92 pelaksanaan praktek keperawatan di rumah sakit dan studi kasus untuk penyusunan Karya Tulis Ilmiah dimasa yang akan datang. 3. Bagi Profesi Sebagai bahan masukan bagi rekan-rekan sejawat dalam melakukan penelitian lebih lanjut dengan permasalahan yang sama yaitu Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. 4. Bagi Penulis Sendiri Semoga Karya Tulis Ilmiah yang sederhana ini dapat menjadi bacaan dan acuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas dalam pemberian Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. Penulis jangan pernah puas dengan apa yang telah dicapai dalam pelaksanaan asuhan keperawatan tetapi perlu belajar lebih giat lagi agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk pelaksanaan asuhan keperawatan dimasa yang akan datang.

×