Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
996
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
2
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Nurhidayah A. Ritonga; WPS no. 13 April 2007 1 s t draft t Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 3 Nurhidayah A. Ritonga; WPS no. 13 April 2007 1 s t draft t Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 3 Latar Belakang Undang-undang Nomor 32 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah menetapkan bidang kesehatan sebagai salah satu urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh kotamadya/kabupaten. Penyelenggaraan urusan wajib oleh daerah merupakan perwujudan otonomi yang bertanggungjawab sebagai pengakuan hak dan kewenangan daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul. Rumahsakit sebagai suatu organisasi yang khusus memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat harus dilihat sebagai suatu institusi yang sangat fital demi kelangsungan hidup manusia. Penanganan kasus gawat darurat pada setiap rumahsakit khususnya obstetri sering menjadi sorotan publik sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan yang sering merasa terabaikan dan tidak jarang berakhir pada kematian. Kematian dan kesakitan ibu sebenarnya dapat dikurangi atau dicegah dengan berbagai usaha perbaikan dalam bidang pelayanan kesehatan obstetri. Pelayanan kesehatan tersebut dinyatakan sebagai bagian integral dari pelayanan dasar yang terjangkau seluruh masyarakat. Kegagalan dalam penanganan kasus kedaruratan obstetri umumnya disebabkan oleh kegagalan mengenal resiko kehamilan, keterlambatan rujukan, kurangnya sarana yang memadai untuk perawatan ibu hamil dengan risiko tinggi maupun pengetahuan tenaga medis, paramedis dan penderita dalam mengenal kehamilan resiko tinggi, secara dini, masalah dalam pelayanan obstetri, maupun kondisi ekonomi. Penyebab utama tingginya angka kematian ibu ialah adanya 3 terlambat (3T) yaitu terlambat mencari pertolongan, terlambat mencapai tempat tujuan dan terlambat memperoleh penanganan yang tepat setelah tiba ditempat tujuan. Pelayanan gawat darurat bertujuan menyelamatkan kehidupan penderita
  • 2. , sering dimanfaatkan hanya untuk memperoleh pelayanan pertolongan pertama dan bahkan pelayanan rawat jalan. Pelayanan gawat darurat terdiri dari; falsafah dan tujuan, administrasi dan pengelolaan, staf dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan staf dan program pendidikan, evaluasi dan pengendalian mutu. Menurut Parwirohardjo (2005), kehamilan lewat waktu atau post term adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu. Jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan serotinus adalah kehamilan yang berlangsung lebih Etiologi Etiologi belum diketahui secara pasti namun faktor yang dikemukaan adalah hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain seperti herediter, karena postmaturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu (Rustam, 1998). Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan oksitosin tubuh dan reseptor terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan lewat waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap rangsangan, karena ketegangan psikologis atau kelainan pada rahim (Manuaba, 1998). Menurut Sujiyatini (2009), etiologinya yaitu penurunan kadar esterogen pada kehamilan normal umumnya tinggi. Factor hormonal yaitu kadar progesterone tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Factor lain adalah hereditas, karena post matur sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu. Patofisiologi Serotinus dari 42 minggu. LANDASAN TEORI SEROTINUS (POST DATE / POST MATUR) { 23 Agustus 2009 @ 20:37 } · { Uncategorized } LANDASAN TEORI SEROTINUS (POST DATE / POST MATUR)
  • 3. 1. A. Definisi Kehamilan post matur menurut Prof. Dr. dr. Sarwono Prawirohardjo adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap di hitung dari HPHT. Sedangkan menurut Ida Bagus Gde Manuaba kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melebihi waktu 42 minggu belum terjadi persalinan. 1. B. Etiologi Penyebab pasti belum diketahui, faktor yang dikemukakan adalah : 1. Hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. 2. Herediter, karena post naturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu 3. Kadar kortisol pada darah bayi yang rendah sehingga disimpulkan kerentanan akan stress merupakan faktor tidak timbulnya His 4. Kurangnya air ketuban 5. Insufiensi plasenta 1. C. Permasalahan Kehamilan Lewat Waktu Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia sampai kematian adalam rahim. Makin menurunnya sirkulasi darah menuju sirkulasi plasenta dapat mengakibatkan : 1. Pertumbuhan janin makin lambat 2. terjadi perubahan metabolisme janin 3. Air ketuban berkurang dan makin kental 4. Sebagian janin bertambah berat, serhingga memerlukan tindakan persalinan 5. Berkurangnya nutrisi dan O2 ke janin yang menimbulkan asfiksia dan setiap saat dapat meninggal di rahim. 6. Saat persalinan janin lebih mudah mengalami asfiksia. (Menurut Manuaba dalam Buku Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan, 1998) 1. D. Tanda Bayi Post Matur 2. Tanda postterm dapat di bagi dalam 3 stadium (Sarwono Prawirohardjo) : 1. Stadium I Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas. 1. Stadium II Gejala di atas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit
  • 4. 1. Stadium III Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat 1. Tanda bayi Postmatur (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998) 1. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram) 2. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur 3. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang 4. Verniks kaseosa di bidan kurang 5. Kuku-kuku panjang 6. Rambut kepala agak tebal 7. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel 1. E. Diagnosa 1. Bila tanggal HPHT di catat dan diketahui wanita hamil, diagnosis tidak sukar 2. Bila wanita tidak tahu, lupa atau tidak ingat, atau sejak melahirkan yang lalu tidak dapat haid dan kemudian menjadi hamil, hal ini akan sukar memastikannya. Hanyalah dengan pemeriksaan antenatal yang teratur dapat diikuti tinggi dan naiknya fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya janin dapat membantu diagnosis. 3. Pemeriksaan berat badan diikuti, kapan menjadi berkurang, begitu pula lingkaran perut dan jumlah air ketuban apakah berkurang. 4. Pemeriksaan rontgenologik, dapat dijumpai pusat-pusat penulangan pada bagian distal femur, bagian proksimal tibia, tulang kuboid, diameter bipariental 9,8 cm atau lebih. 5. USG : ukuran diameter bipariental, gerakan janin dan jumlah air ketuban 6. Pemeriksaan sitologik air ketuban : air ketuban diambil dengan amniosentesis, baik transvaginal maupun transabdominal. Air ketuban akan bercampur lemak dari sel-sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru nil maka sel-sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. Bila : 1. Melebihi 10% : kehamilan di atas 36 minggu 1. Melebihi 50% : kehamilan di atas 39 minggu 7. Amnioskopi : melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurut warnanya karena dikeruhi mekonium. 8. Kardiotografi : mengawasi dan membaca DJJ, karena insufiensi plasenta 9. Uji Oksitosin (stress test) : yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan. 10. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin 11. Pemeriksaan PH darah kepala janin 12. Pemeriksaan sitologi vagina (Menurut Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Jilid I, 1998)
  • 5. 1. F. Pengaruh terhadap ibu dan janin Terhadap ibu : partus lama, kesalahan letak, insersia uteri, perdarahan postpartum. Terhadap janin : jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan 40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh post maturitas pada janin bervariasi : berat badan janin dapat bertambah besar, tetp, dan ada yang berkurang, sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan. Bayi besar dapat menyebabkan disproporsi sefalopelvik. Oligohidramnion dapat menyebabkan kompresi tali pusat, gawat janin sampai bayi meninggal. Keluarnya mekoneum yang dapat menyebabkan aspirasi mekoneum. (Menurut Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Jilid I, 1998) 1. G. Penatalaksanaan 2. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik- baiknya. 3. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiense plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat 4. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi. 5. Bila : 6. Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim 7. Terdapat hipertensi, pre-eklampsia 8. Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas 9. Pada kehamilan > 40-42 minggu Maka ibu dirawat di rumah sakit 1. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada 1. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang 2. Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau 3. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin. 2. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar; dan kemungkinan diproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan narsoka, jadi pakailah anestesi konduksi. (Menurut Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Jilid I, 1998) 1. H. Pertimbangan Persalinan Anjuran (induksi) Persalinan anjuran bertujuan untuk dapat :
  • 6. 1. Merangsang otot rahim berkontraksi, sehingga persalinan berlangsung 2. Membuktikan ketidakseimbangan antara kepala janin dengan jalan lahir bishop telah menetapkan beberapa penilaian agar persalinan induksi dapat berhasil seperti yang ditujukan pada tabel berikut : Keadaan fisik Nilai Total Nilai Pembukaan serviks 0 cmPerlunakan 0- 30% Konsistensi serviks kaku Arah serviks ke belakang Kedudukan bagian terendah -3 0 Pembukaan 1-2 cmPerlunakan serviks 40- 50% Konsistensi serviks sedang Arah serviks ke tengah Kedudukan bagian terendah -2 1 Pembukaan 3-4 cmPerlunakan 60-70% Konsistensi serviks lunak Kedudukan bagian terendah -1-0 2 Pembukaan di atas 5 cmPerlunakan 80% + 3 1. I. Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode: 1. Metode Stein Persalinan anjuran mulai pagi hari. 1. Pukul 6.00 : 30 cc oleum ricini 2. Pukul 7.00 : bisulfas kinine 0,200 gr 3. Pukul 8.00 : bisulfas kinine 0,200 gr + klisma air sabun hangat 1 liter 4. Pukul 9.00 : bisulfas kinine, suntikan pituitrin 0,2 cc 5. Pukul 10.00 : bisulfas kinine, suntikan pituitrin 0,2 cc 6. Pukul 11.00 : bisulfas kinine, suntikan pituitrin 0,2 cc 7. Pukul 12.00 : bisulfas kinine, suntikan pituitrin 0,2 cc 8. Pukul 14.00 : hanya suntikan pituitrin 0,2 cc 9. Pukul 16.00 : hanya suntikan pituitrin 0,2 cc 10. Pukul 18.00 : hanya suntikan pituitrin 0,2 cc
  • 7. Sekalipun metode stein sudah ditinggalkan, tetapi untuk pengetahuan bidan masih perlu diketahui. Selama metode stein, kehamilan lewat waktu akan mendapatkan : 1. 1,2 gr bisulfas kinine 2. 1,4 cc pituitrin injeksi Persalinan anjuran dengan metode ini di luar rumah sakit berbahaya karena dapat terjadi : 1. Kontraksi rahim yang kuat sehingga dapat mengancam : 1) Ketuban pecah saat pembukaan kecil 2) Ruptura uteri membakat 3) Gawat janin dalam rahim 1. Kelambatan melakukan rujukan, dapat merugikan penderita. 1. Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon) Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin atau sintosinon 5 unit dalam 500 cc glukosa 5%, banyak dipergunakan. Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana, dan mulai dengan 8 tetes, dengan teknik maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes sampai kontraksi optimal tercapai. Bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan, ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam. 1. Memecahkan kebutan Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat persalinan. Setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang mengandung 5 unit oksitosin. 1. Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin Telah diketahui bahwa kontraksi otot rahim terutama dirangsang oleh prostaglandin. Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (Nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria). (Menurut Manuaba dalam Buku Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan, 1998)
  • 8. 1. J. Sikap bidan dalam penanganan kehamilan lewat waktu Kehamilan lewat waktu dapat membahayakan janin karena sensitif terhadap rangsangan kontraksi, yang menimbulkan asfiksia sampai kematian dalam rahim. Dalam melakukan pengawasan hamil dapat diperkirakan bahwa kehamilan lewat waktu dengan : 1. Anamnesa. 2. Kehamilan belum lahir setelah melewati waktu 42 minggu 3. Gerak janinnya makin berkurang dan kadang-kadang berhenti sama sekali. Hasil anamnesa penderita perlu diperhatikan sebagai dasar permulaan. 1. Hasil pemeriksaan Hasil pemeriksaan dapat dijumpai : 1. Berat badan ibu mendatar atau menurun 2. Air ketuban terasa berkurang 3. Gerak janin menurun 1. Bagaimana sikap bidan Menghadapi keadaan demikian bidan dapat bersikap : 1. Melakukan konsultasi dengan dokter 2. Menganjurkan untuk melakukan persalinan di rumah sakit 3. Penderita dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang adekuat. (Menurut Manuaba dalam Buku Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan, 1998) 1. K. Pengelolaan Intrapartum 2. Pasien tidur miring sebelah kiri 3. Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin 4. Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal 5. Perhatikan jalannya persalinan 6. Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermi dan polisitemi (Dikutip dari Buku Maternal dan Neonatal, 2002) 1. L. Mencegah Aspirasi Mekoneum Apabila ditemukan cairan ketuban yang terwarnai mekoneum harus segera dilakukan resusitasi sebagai berikut : 1. Penghisapan nasofaring dan drofaring posterior secara agresif sebelum dada janin lahir
  • 9. 2. Bila mekoneum tampak pada pita suara, pemberian venitasi dengan tekanan positif dan tangguhkan dahulu sampai trakea telah di latubasi dan penghisapan yang cukup. 3. Intubasi trakea harus dilakukan rutin bila ditemukan mekoneum yang tebal. (Dikutip dari Buku Maternal dan Neonatal, 2002) KEHAMILAN SEROTINUS Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kematian ibu dan angka kematian bayi merupakan indikator yang paling penting untuk melakukan penilaian kemampuan suatu negara untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, khususnya dalam bidang obstetri. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan data Biro Pusat Statistik (BPS) angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di seluruh dunia mencapai 515 ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu meninggal hampir setiap menit karena komplikasi kehamilan dan persalinannya. Sedangkan angka kematian bayi di Indonesia pada tahun 2007 2-5 kali lebih tinggi mencapai 34 per 1000 kelahiran hidup atau 2 kali lebih besar dari target WHO yaitu sebesar 15% per kelahiran hidup (Suprayitno, 2007). Adapun penyebab kematian perinatal adalah kelainan kongenital, prematuritas, trauma persalinan, infeksi, gawat janin dan asfiksia neonatorum. Terjadinya gawat janin di sebabkan oleh induksi persalinan, infeksi pada ibu, perdarahan, insufisiensi plasenta, prolapsus tali pusat, kehamilan dan persalinan preterm dan postterm. Persalinan postterm menunjukkan bahwa kehamilan telah melampaui waktu perkiraan persalinan menurut hari pertama menstruasinya. Ballantyne 1902 seperti dikutip Manuaba, seorang bidan Scotlandia, untuk pertama kali menyatakan bahwa janin yang terlalu lama dalam kandungan dapat membahayakan dirinya dan ibunya saat persalinan berlangsung. Kemudian berturu-turut 1950 Clifford mengemukakan tentang sindrom postterm baby, sedangkan 1960 Mc Clure menyatakan bahwa angka kematian bayi dengan kehamilan postdate semakin meningkat (Manuaba, 2007). Menurut WHO persalinan postterm adalah keadaan yang menunjukkan bahwa kehamilan
  • 10. berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari. Defenisi ini didasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa persalinan postterm dengan disertai gawat janin mempunyai kontribusi terhadap out come kesehatan yang buruk atau 10% dari persalinan adalah persalinan postterm (Hidayat, 2009). Faktor yang merupakan predisposisi terjadinya persalinan postterm diantaranya faktor ibu adalah karena hanya sebagian kecil ibu yang mengingat tanggal menstruasi pertamanya dengan baik dan adanya gangguan terhadap timbulnya persalinan seperti pengaruh esterogen, oksitosin dan saraf uterus. Banyaknya kasus persalinan postterm di Indonesia yang tidak dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sebesar 22% (Prawirohardjo, 2008). Beberapa ahli dapat menyatakan bahwa persalinan preterm akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postterm diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Jika taksiran persalinan telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan bidan harus tetap siaga pada reabilitas taksiran persalinan tersebut. Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. Penyebab kematian tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007). Bertolak dari pernyataan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam rangka mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki keahlian diberikan penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu bersalin . Melalui pembinaan tersebut penulis dapat memahami berbagai proses yang terjadi selama ibu hamil dan bersalin, sehingga dapat menerapkan asuhan kebidanan yang tepat dan aman. B. Batasan Masalah Dalam penulisan kasus ini penulis membatasi masalah yaitu penerapan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. 2. Tujuan Khusus 1. Dapat melaksanakan pengkajian data dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan pada pada kasus persalinan postterm. 2. Dapat menegakkan diagnosa, mengkaji masalah dan kebutuhan pada kasus persalinan postterm. 3. Dapat mengidentifikasi masalah potensi yang mungkin terjadi pada kasus persalinan postterm. 4. Dapat menentukan tindakan segera pada kasus persalinan postterm. 5. Dapat membuat rencana asuhan pada kasus persalinan postterm sebagai dasar untuk melaksanakan asuhan kebidanan. 6. Dapat melakukan implementasi secara efektif dan efisien pada kasus persalinan postterm. 7. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada kasus persalinan postterm. 8. Dapat melakukan pendokumentasian pada kasus persalinan postterm.
  • 11. D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Penulis a. Menambah wawasan dan pengetahuan, serta agar penulis dapat melaksanakan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. b. Berperan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas pada klien. c. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan dalam mencari pemecahan masalah tersebut BAB II LANDASAN TEORITIS A. Persalinan Postterm 1. Pengertian Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007). Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin ( Varney Helen, 2007). Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata- rata 28 hari (Prawirohardjo, 2008). 2. Etiologi Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya (Ilmu Kebidanan, 2008) faktor penyebab kehamilan postterm adalah : a. Pengaruh Progesteron Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin , sehingga terjadinya kehamilan dan persalinan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron. b. Teori Oksitosin Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebabnya. c. Teori Kortisol/ACTH janin Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai “pemberi tanda” untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anansefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan.
  • 12. d. Saraf Uterus Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebabnya. e. Heriditer Beberapa penulis menyatakan bahwa seseorang ibu yang mengalami kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seseorang ibu mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar kemungkinan anak perempuannya mengalami kehamilan postterm. 3. Diagnosa Tidak jarang seorang bidan mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis karena diagnosis ditegakkan berdasarkan umur kehamilan, bukan terhadap kondisi kehamilan. Diagnosis dapat ditentukan melalui (Prawirohardjo, 2008) : a. Riwayat Haid Diagnosis tidak sulit untuk ditegakkan apabila hari pertama haid terakhir (HPHT) diketahui dengan pasti. Untuk riwayat haid yang dapat dipercaya, diperlukan beberapa kriteria antara lain, 1) Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya 2) Siklus 28 hari dan teratur 3) Tidak minum pil antihamil setidaknya 3 bulan terakhir Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele. Berdasarkan riwayat haid, seseorang penderita yang ditetapkan sebagai kehamilan dan persalinan postterm kemungkinan adalah sebagai berikut: 1) Terjadi kesalahan dalam menetukan tanggal haid terakhir atau akibat menstruasi abnormal. 2) Tanggal haid terakhir diketahui jelas, tetapi terjad kelambatan ovulasi. 3) Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir dan kehamilan memang berlangsung lewat bulan (keadaan ini sekitar 20-30% dari seluruh penderita yang diduga kehamilan postterm). b. Riwayat Pemerikasaan Antenatal 1) Tes Kehamilan Bila pasien melakukan tes imunologik sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu. 2) Gerak Janin Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 18-20 minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24 minggu pada multigravida. 3) Denyut Jantung Janin (DJJ) Dengan stetoskop Laenec DJJ dapat didengar mulai umur 18-20 minggu, sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada umur kehamilan 10-12 minggu. Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut: 1) Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif. 2) Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler. 3) Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerakan janin pertama kali.
  • 13. 4) Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec. c. Tinggi Fundus Uteri Dalam trimester pertama pemeriksaan tinggi fundus uteri serial dalam sentimeter dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. Lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar. d. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama,hamper dapat dipastikan usia kehamilan. Pada trimester pertamapemeriksaan panjang kepala-tungging (crown-rump length/CRL) memberikan ketepatan kurang lebih 4 hari dari taksiran persalinan. e. Pemeriksaan Radiologi Dapat dilakukan dengan melihat pusat penulangan. Gambaran epifiisis femur bagian distal paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu, epifisis tibia proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu dan epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu. f. Pemeriksaan Laboratorium 1) Kadar lesitin/spinngomielin Bila lesitin/spinngomielin dalam cairan amniom kadarnya sama, maka umur kehamilan sekitar 22-28 minggu, lesitin 1,2 kali kadar spingomielin: 28-32 minggu, pada kehamilan genap bulan rasio menjadi 2:1 . Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm, tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakah janin cukup umur/matang untuk dilahirkan yang berkaitan dengan mencegah kesalahan dalam tindakan pengakhiran kehamilan. 2) Aktivitas tromboplastin cairan amniom Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu. 3) Sitologi cairan amnion Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih. 4) Sitologi vagina Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. 4. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada persalinan postterm adalah: a. Terhadap Ibu Persalinan postterm dapat menyebabkan distosis karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai seperti partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, robekan luas jalan lahir, dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikkan angka mordibitas dan mortalitas (Prawirohardjo, 2006). b. Terhadap Janin Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia, hipoksia, hipovolemia, asidosis, hipoglikemia, hipofungsi adrenal sampai kematian dalam rahim (Saifuddin, 2002).
  • 14. 5. Tanda Bayi Postmatur Tanda postmatur dapat di bagi dalam 3 stadium (Prawirohardjo, 2008) : a. Stadium I Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas. b. Stadium II Gejala diatas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit. c. Stadium III Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat. Menurut Manuaba 2007, tanda bayi postmatur adalah: a. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram). b. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur. c. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang. d. Verniks kaseosa di badan berkurang. e. Kuku-kuku panjang. f. Rambut kepala agak tebal. g. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel. 6. Penatalaksanaan Tindakan yang penting dilakukan (Saifuddin, 2002) adalah: a. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya. b. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat. c. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi. d. Bila : 1) Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim. 2) Terdapat hipertensi, pre-eklampsia. 3) Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas. 4) Pada kehamilan > 40-42 minggu. Maka ibu dirawat di rumah sakit : e. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada. 1) Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang. 2) Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin. 3) Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin. f. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan diproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan narkosa, jadi pakailah anestesi konduksi. 7. Pertimbangan Persalinan Anjuran Persalinan anjuran bertujuan untuk dapat (Wiknjosastro, 2000): a. Merangsang otot rahim berkontraksi, sehingga persalinan berlangsung. b. Membuktikan ketidakseimbangan antara kepala janin dengan jalan lahir bishop telah menetapkan beberapa penilaian agar persalinan induksi dapat berhasil seperti yang ditujukan
  • 15. pada tabel berikut : Tabel 1.1 Skor Bishop Keadaan Fisik Nilai Total Nilai Pembukaan serviks 0 cm perlunakan 0-30% Konsistensi serviks kaku Arah serviks ke belakang Kedudukan bagian terendah -3 0 0 Pembukaan 1-2 cm perlunakan serviks 40-50% Konsistensi serviks sedang Arah serviks ke tengah Kedudukan bagian terendah -2 1 1 Pembukaan 3-4 cm perlunakan 60-70% Konsistensi serviks lunak Kedudukan bagian terendah -1-0 2 2 Pembukaan di atas 5 cm perlunakan 80% + 3 3 Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode (Manuaba, 2007): a. Metode Stein Metode Steinsche merupakan metode lama, tetapi masih perlu diketahui, yaitu: a) Penderita diharapkan tenang pada malam harinya. b) Pada pagi harinya diberikan enema dengan caster oil atau sabun panas. c) Diberikan pil kinine sebesar 0,200 gr, setiap jam sampai mencapai dosis 1,200 gr. d) Satu jam setelah pemberian kinine pertama, disuntikkan oksitosin 0,2 unit/jam sampai tercapai his yang adekuat. Persalinan anjuran dengan metode ini di luar rumah sakit berbahaya karena dapat terjadi : 1) Kontraksi rahim yang kuat sehingga dapat mengancam : ketuban pecah saat pembukaan kecil, ruptura uteri membakat, gawat janin dalam rahim. 2) Kelambatan melakukan rujukan, dapat merugikan penderita. 3) Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon). b. Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin atau sintosinon 5 unit dalam 500 cc glukosa 5%. Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana, dan mulai dengan 8 tetes, dengan teknik maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes sampai kontraksi optimal tercapai. Bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan, ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam. c. Memecahkan ketuban Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat persalinan. Setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang mengandung 5 unit oksitosin. d. Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin Telah diketahui bahwa kontraksi otot rahim terutama dirangsang oleh prostaglandin. Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (Nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria).
  • 16. e. Pompa Payudara atau Stimulasi Putting Beberapa studi skala besar telah mengevaluasi keamanan dan keefektifitasaan stimulasi payudara sebagai metede induksi persalinan. Namun, efek komulatif dari banyak studi yang menggunakan pompa payudara atau stimulasi putting manual yang di kombinasi dengan landasan fisiologi perubahan serviks. Penanganan yang beragam termasuk pompa payudara listrik otomatis yang menstimulasi masing-masing payudara selama15 menit, diselingi periode istirahat selama15 menit, stimulasi payudara dengan pijatan lembut menggunakan kompresan hangat dan lembab salama 1 jam sebanyak 3 kali sehari, stimulasi payudara selama 45 menit tiga kali sehari dan pijatan lembut pada kedua payudara secara bergantian selama waktu 3 jam sehari. Kelemahan penelitian ini meliputi kurangnya kepatuhan dalam melaksanakan intervensi yang di anjurkan, jumlah anggoata sedikit dalam kelompok, kontrol minim terhadap variabel penting, seperti usia gestasi, dan kriteria intervensi yang tidak dapat di andalkan. Wanita yang mencoba teknik ini sebaiknya di peringatkan membatasi kontak dengan puting sehingga tidak terlalu hiperstimulasi uterus. Tabel 1.2 Bagan Penanganan Kehamilan Postterm Kriteria Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang umur kehamilannya lebih dari 42 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir Kategori Kehamilan postterm tanpa kelainan Kehamilan postterm dengan kelainan Penilaian 1) Skor Bishop 2) Pemantauan janin 3) Letak janin 1) Skor Bishop >5 2) Baik 3) Normal 1) Skor Bishop 41 minggu (rujuk ) Puskesmas 1) Penilaian umur kehamilan HPHT 2) Riwayat obstetri yang lalu 3) Tinggi fundus uteri 4) Faktor risiko 5) Kehamilan > 41 minggu (rujuk ) Rumah Sakit 1) Penilaian ulang umur kehamilan 2) Penilaian Skor Bishop 3) Pemeriksaan fetal assessment 4) USG 5) NST (kalau perlu CST) Skor Bishop 5 Anak tidak besar NST reaktif Penempatan normal Lakukan induksi (sambil observasi)
  • 17. 8. Pengelolaan selama persalinan Selama proses persalinan yang penting di lakukan (Prawirohardjo, 2008) adalah : a. Pemantauan yang baik terhadap ibu (aktivitas uterus) dan kesejahteraan janin. Pemakaian continuous electronic fetal monitoring sangat bermanfaat. b. Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan. c. Awasi jalannya persalinan. d. Persiapan oksigen dan bedah sesar bila sewaktu-waktu terjadi gawat janin. e. Cegah terjadinya aspirasi mekonium dengan mengusap wajah neonatus dan dilanjutkan resusitasi sesuai dengan prosedur pada janin dengan cairan ketuban bercampur mekonium. f. Segera setelah lahir,bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hiovolemi, hipotermi dan polisitemi. g. Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda posmaturitas. h. Hati-hati kemungkinan terjadi distosia bahu. Sedangkan dalam buku acuan nasional pelayaan kesehatan maternal dan neonatal, pengelolaan intrapartum dapat dilakukan dengan : a. Pasien tidur miring sebelah kiri. b. Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin. c. Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal. d. Perhatikan jalannya persalinan. e. Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermi dan polisitemi. Apabila ditemukan cairan ketuban yang terwarnai mekoneum harus segera dilakukan resusitasi sebagai berikut : a. Penghisapan nasofaring dan orofaring posterior secara agresif sebelum dada janin lahir. b. Bila mekoneum tampak pada pita suara, pemberian ventilasi dengan tekanan positif dan tangguhkan dahulu sampai trakea telah di intubasi dan penghisapan yang cukup. c. Intubasi trakea harus dilakukan rutin bila ditemukan mekoneum yang tebal. B. Gawat Janin 1. Pengertian Gawat janin adalah keadaan yang terjadi bila janin tidak menerima oksigen yang cukup sehingga janin mengalami hipoksia (APN, 2008). Gawat janin adalah keadaan hipoksia janin (Prawirohardjo, 2000). Indikator gawat janin yaitu: a. Bradikardi : DJJ 160 kali/menit. 2. Etiologi Janin yang beresiko tinggi terjadinya kegawatan (APN, 2008) : a. Janin yang pertumbuhannya terhambat. b. Janin dari ibu dengan diabetes. c. Janin preterm dan postterm. d. Janin dengan kelainan letak.. e. Janin dengan kelinan bawaan / infeksi. Gawat janin dalam persalinan dapat terjadi bila: a. Persalinan berlangsung lama.
  • 18. b. Induksi persalinan dengan oksitosin. c. Ada perdarahan / infeksi. d. Insufisiensi plasenta, pretem / eklampsia. 3. Tanda-tanda Gawat Janin DJJ abnormal (APN, 2008) : a. DJJ dalam persalinan bervariasi dan kembali normal setelah beberapa waktu, jika tidak kembali normal menunjukkan adanya hipoksia. b. Bradikardi terjadi diluar HIS dan tidak menghilang setelah HIS, ini menunjukkan gawat janin. c. Takikardi reaksi adanya demam pada ibu, obat-obatan, amnionitis. d. Bila ibu tidak mengalami takikardi, tapi DJJ > 160 kali / menit, hal ini menunjukkan hipoksia. 4. Penanganan Bila terjadi gawat janin dalam persalinan dapat dilakukan (APN, 2008) : a. Periksa pembukaan serviks. b. Jika pembukaan serviks masih kecil, segera lakukan rujukan dan apabila pembukaan serviks sudah lengkap, periksa penurunan kepala. c. Jika penurunan kepala kurang dari Hodge III, segera lakukan rujukan dan apabila penurunan kepala berada pada Hodge III-IV dapat dilakukan persalinan pervaginam dengan ibu diberikan oksigen dan mengatur posisi ibu dalam keadaan Mc Robert. d. Kala II dipercepat dengan melakukan episiotomi, vacuum ekstraksi, memberikan injeksi dexamethason dengan tujuan memperbaiki DJJ , serta mengatur posisi ibu dan kristeler. e. Kontrol DJJ setiap 5 menit. f. Periksa tekanan darah,nadi,suhu ibu setiap 10 menit. g. Bradikardi terjadi pada kala II akibat kompresi tali pusat persalinan lancar, tidak perlu dilakukan tindakan. C. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Postterm a. langkah I : Pengumpulan Data Dasar 1) Data Subjektif a) Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi. b) Keluhan utama , merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan. Kemungkinan yang ditemui pada kasus persalinan postterm ini adalah ibu mengeluhkan bahwa kehamilannya telah lewat dari taksiran persalinannya. c) Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis persalinan postterm dari siklus haidnya . d) Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu HPHT, riwayat hamil muda dan tua, frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan muda maupun tua yang pernah dialami. e) Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada menderita penyakit jantung, DM, ipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-
  • 19. obatan ataupun makanan dan pernah transfusi darah ,atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa. f) Riwayat penyakit keluarga yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, dan riwayat keturunan kembar yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit tersebut. g) Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya ibu baru hamil setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko. h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang dikaji adalah fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau apakah ibu ada mempunyai riwayat persalinan postterm, jenis persalinan yang bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak sekarang. i) Riwayat keluarga berencana, kemungkinan ibu pernah menggunakan alat –alat kontrasepsi atau tidak. j) Makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan. k) BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses persalinan berlangsung. 2) Data Objektif a) Pemeriksaan umum Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui keadaan gizi pasien. b) Pemeriksaan khusus I. Inspeksi Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan ekstremitas atas maupun bawah serta HIS. II. Palpasi Dengan menggunakan cara leopold: Leopold I : Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin Leopold II: Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong atau kepala. Leopold III: Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah
  • 20. terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala. Leopold IV: Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP. III. Auskultasi Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur. IV. Perkusi Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat. V. Penghitungan TBBJ Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm – 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi. VI. Pemeriksaan Dalam Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi, adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul (bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica, coksigis dan arcus pubis > 900). c) Pemeriksaan Penunjang I. Darah Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr % dan TM II 10,5 gr %) Hb ≥ 11 gr% : tidak anemia Hb 9-10 gr% : anemia ringan Hb 7-8 gr% : anemia sedang Hb ≤ 7 gr% : anemia berat II. Urine Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan dan persalinan normal protein dan glukosa urine negative. III. Aktivitas tromboplastin cairan amniom Pemeriksaan ini membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu. IV. Sitologi cairan amnion Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih. V. Sitologi vagina Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. b. Langkah II: Interprestasi Data Data dasar di interprestasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah di
  • 21. identifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya yaitu: 1) Diagnosa Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya. 2) Masalah Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan janin yang memburuk karena terjadi gawat janin, nyeri akibat luka episiotomi. 3) Kebutuhan Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti: a) Berikan ibu dukungan psikologis. b) Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu saat persalinan. c) Lakukan episiotomi untuk mempercepat kala II dan bila terjadi gawat janin. d) Jahit laserasi akibat episiotomi. e) Berikan ibu rasa nyaman dengan membersihkan dan mengganti pakaian ibu. f) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. g) Anjurkan ibu untuk istirahat. c. Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah: 1) Terjadinya gawat janin. 2) Distosia bahu. 3) Perdarahan postpartum. 4) Atonia uteri. 5) Anemia . d. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera. Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah: 1) Untuk gawat janin. I. Atur posisi ibu miring kekiri. II. Berikan oksigen. III. Lakukan episiotomi. IV. Injeksikan dexamethason. V. Pasang infuse RL jika diperlukan. VI. Lakukan resusitasi setelah janin lahir. 2) Distosia bahu. I. Atur posisi ibu dengan MC Robert. II. Lahirkan bahu janin dalam waktu 60 detik. III. Lakukan episiotomi luas. IV. Tarik kepala janin cunam kebawah dan berikan tekanan pada supra simfisis. 3) Perdarahan postpartum. I. Pasang infuse RL dan oksigen. II. Periksa laserasi. III. Jahit laserasi. IV. Berikan uterotonika. V. Lakukan manual atau KBI dan KBE pada kasus atonia uteri. e. Langkah V:Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
  • 22. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu: a) Kala I Tindakan yang perlu dilakukan adalah: 1) Melakukan pemeriksaan TTV setiap 2-3 jam. 2) Pemeriksaan DJJ setiap ½ jam dan setiap 5 menit jika terjadi gawat janin. 3) Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong. 4) Memperhatikan keadaan patologis. 5) Pasien tidak diperkenankan mengedan. 6) Memberikan dukungan psikologis. 7) Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami,keluarga. 8) Mengatur aktivitas dan posisi. 9) Menjaga privasi. 10) Penjelasan tentang kemajuan persalinan. 11) Menjaga kebersihan diri. 12) Mengatasi rasa panas 13) Pemenuhan nutrisi dan hidrasi b) Kala II 1) Posisi ibu saat meneran (posisi duduk atau setengah duduk, posisi jongkok atau berdiri, posisi merangkak atau berbaring miring kekiri). 2) Memberikan dukungan pada ibu. 3) Memimpin mengedan. 4) Pemantauan DJJ setiap selesai mengedan. 5) Menolong kelahiran bayi (dengan melakukan episiotomi jika terjadi gawat janin). 6) Periksa tali pusat. 7) Melahirkan bahu. 8) Melahirkan sisa tubuh bayi. 9) Bayi dikeringkan dan dihangatkan seluruh tubuhnya. 10) Melakukan rangsangan taktil. 11) Lakukan resusitasi jika ditemukan bayi asfiksia. c) Kala III 1) Manajemen aktif kala III (injeksi oksitosin 10 iu secara im, melakukan PTT, massase fundus uteri) 2) Cara pelepasan plasenta adalah: I. Secara Schultze Pelepasan plasenta dimulai dari pertengahan, sehingga plasenta lahir diikuti oleh pengeluaran darah. II. Secara Duncan Pelepasan plasenta dimulai dari daerah tepi, sehingga terjadi perdarahan dan diikuti oleh pelepasan plasenta. 3) Tanda-tanda pelepasan plasenta I. Rahim naik disebabkan karena plasenta yang telah lepas jatuh kedalam segmen bawah rahim atau bagian atas vagina dan mengangkat rahim. II. Bagian tali pusat yang lahir menjadi lebih panjang. III. Rahim menjadi lebih bundar bentuknya dan lebih keras. IV. Keluar darah dengan tiba-tiba.
  • 23. 4) Cara pemeriksaan plasenta sudah lepas, yaitu: I. Perasat kustner Dengan Perasat kustner tali pusat diregangkan dengan satu tangan dan tangan lainnya menekan perut atas symfisis, jika tali pusat masuk, maka plasenta belum lepas. II. Perasat klein Ibu disuruh mengejan, sehingga tali pusat ikut serta turun atau memanjang. Bila mengejan dihentikan dapat terjadi tali pusat tertarik kembali,maka plasenta belum terlepas ataupun sebaliknya. III. Perasat strassman Tali pusat diregangkan dan rahim diketok, bila getarannya sampai pada tali pusat berarti plasenta belum lepas. 5) Pemeriksaan plasenta dan selaputnya 6) Pemeriksaan laserasi d) Kala IV 1) Lakukan massase uterus untuk merangsang kontraksi. 2) Evaluasi TFU. 3) Jahit laserasi. 4) Bersihkan ibu dang anti pakaian. 5) Evaluasi KU ibu. 6) Pantau TTV, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua. 7) Pantau suhu ibu selama dua jam pertama 8) Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua 9) Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana menilai kontraksi uterus yang normal 10) Lakukan perawatan bayi dengan memberikan vitamin K dan salep mata 11) Bersihkan peralatan. 12) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. 13) Anjurkan ibu utuk istirahat. 14) Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya. 15) Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala empat persalinan dihalaman belakang partograf. e) Langkah V:Melaksanakan Perencanaan Perencanaan bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh klien bahkan anggota kesehatan lainnya yang mana bidan berkolaborasi. Bidan juga bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan yang telah di rencanakan. f) Langkah VII:Evaluasi Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan persalinan,dari hasil pelaksanaan perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan dan menunjukkan perbaikan kondisi apabila banyi ataupun ibu sempat mengalami masalah yang harus segera ditangani. g) Pendokumentasian Pendokumentasian kasus dibuat dalam bentuk matrik dengan menggunakan 7 langkah varney. DAFTAR PUSTAKA
  • 24. Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran :EGC Prawiroharjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. _____. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Varney, Helen Dkk.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC Wiknjosastro. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. APN. 2008. Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta: Institusi DEPKES RI Share this:  Twitter  Facebook6  Memuat... Related ANEMIA DALAM KEHAMILANIn "kuliah ASKEB 4" PERTOLONGAN PERTAMA ASFIKSIA NEONATORUMIn "kuliah ILMU KESEHATAN ANAK" DISTOSIA BAHUIn "kuliah ASKEB 2" Tinggalkan Balasan DISTOSIA BAHU ANEMIA DALAM KEHAMILAN Dp tiaraarza.wordpress.com./2011/kehamilan serotinus.
  • 25. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan serotinus dahulu tidak dianggap sebagai suatu masalah selain bahwa kehamilan serotinus sering disertai dengan makrosomia dan pelahiran yang sulit. Namun, akhir-akhir ini kehamilan lewat waktu merupakan suatu masalah yang sering dibicarakan berkaitan dengan angka kematian perinatal yang meningkat bermakna sehingga mendorong diadakannya intervensi seperti pelahiran atau penelusuran kesejahteraan janin dalam rahim.(Cunningham, 2001) Insiden kehamilan serotinus sangat bervariasi tergantung pada kriteria yang digunakan untuk diagnosis. Frekuensi yang dilaporkan berkisar 4-14% dengan rata-rata sekitar 10%. Sebagai perbandingan, 11% kelahiran hidup di Amerika Serikat adalah kehamilan preterm yang merupakan penyebab kematian utama dari neonatus, sedangkan kehamilan serotinus sekitar 8%. Dan terdapat kecenderungan bahwa ibu akan mengalami kehamilan serotinus berulang. Di Norwegia, insiden kehamilan serotinus berturutan meningkat dari 10% menjadi 27% bila kehamilan pertama adalah serotinus dan menjadi 39% bila terjadi kehamilan serotinus dua kali berturutan sebelumnya. (Mathai Matthews, 2004) Penyebab dari kehamilan serotinus tidak diketahui, tetapi ada faktor risiko yang berupa primiparitas, kehamilan serotinus sebelumnya, janin yang dikandung laki-laki, faktor genetik dan faktor hormonal. Laursen et al mempelajari kembar monozygot dan dizygot dan perkembangan mereka menjadi kehamilan serotinus. Mereka menemukan bahwa terdapat faktor genetik dari ibu dan bukan dari ayah yang mengarah pada kehamilan serotinus. (Buttler Jennifer R, 2006) Saat ini yang menjadi masalah pada kehamilan serotinus adalah kapan dan dengan cara apa akan dilakukan terminasi pada kehamilan yang serotinus Pada beberapa kasus misalnya tidak bisa dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dalam rahim, oligohidramnion, (intra uterine growth retardation) IUGR yang merupakan kehamilan dengan risiko tinggi mungkin dilakukan terminasi kehamilan pada usia kehamilan yang lebih cepat. Pada kasus lain, ada beberapa pilihan untuk mempertimbangkan kapan terminasi dilakukan dengan mempertimbangkan umur kehamilan, pemeriksaan serviks, taksiran berat janin, pertimbangan dari pasien, dan riwayat kehamilan lalu. Pada kehamilan serotinus, morbiditas dan mortalitas perinatal tidak meningkat pada kehamilan yang diterminasi pada 40-41 minggu, dan menjadi dua kali lipat bila umur kehamilan lebih dari 42 minggu dan meningkat 6 kali lipat pada umur kehamilan 43 minggu.(Buttler, 2006) Masalah utama dalam kehamilan serotinus adalah bahwa mortalitas perinatal yang meningkat. Hal ini dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan sebelum intervensi yang dilakukan untuk kehamilan yang melampaui 42 minggu dilakukan. Penelitian di Swedia menunjukkan bahwa mortalitas perinatal meningkat ketika kehamilan melampaui 41 minggu. Lucas dkk (1965) membandingkan hasil akhir perinatal pada kehamilan serotinus dan kehamilan yang dilahirkan antara usia gestasi 38-41 minggu, ternyata semua komponen mortalitas perinatal yaitu kematian antepartum, intrapartum, dan neonatal meningkat pada usia gestasi 42 minggu dan sesudahnya. Peningkatan yang paling signifikan adalah kematian intrapartum. (Muray E, 2000). Dalam tahun 2002-2003 di Indonesia berdasarkan data yang diperoleh melalui Survey Demogravi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) angka kematian ibu berada pada 307 per 100.000 kelahiran hidup, Sedangkan angka kemaian bayi berada pada 51,0 per 1000 kelahiran hidup. (Profil, Kes, Depkes, 2003)
  • 26. Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995, penyebab kematian ibu adalah perdarahan (45,2 %), eklamsia (12,9 %), komplikasi abortus (11,1 %), sepsis (9,6 %), anemia (1,6 %) dan penyebab tidak langsung (14,1 %) secara garis besar kematian ibu digolongkan dalam faktor (a) reproduksi (b) komplikasi obstetri (c) pelayanan kesehatan (d) sosio ekonomi (Ilmu Kebidanan 2002). Berdasarkan data yang diperoleh dan profil Kesehatan Propinsi Sul-Sel tahun 2004 angka kematian ibu 110 per 100.000 kelahiran hidup dengan penyebab kematian perdarahan sebanyak 60 orang (54,55 %), infeksi 7 orang (3,855 %), pre eklamsia/eklamsia 13 orang (15,38 %), lain- lain 30 orang (16,68 %). (Profil Kes AKI 2004) Data yang didapatkan dari hasil pencatatan dan pelaporan di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep tahun 2008, jumlah ibu hamil serotinus sebanyak 57 orang dari 356 ibu hamil (Profil Dinas Kesehatan Pangkep). Tingginya tingkat kejadian serotinus tidak lepas dari berbagai faktor dan sangat berpengaruh terhadap tingkat mortalitas dan morbiditas seorang ibu, antara lain kurang gizi, penyakit ibu dan infeksi. Selain itu faktor umur ibu, paritas, pendidikan , sosial ekonomi, umur kehamilan, dapat juga menjadi faktor penting dalam kontribusi terjadinya serotinus. Berdasarkan pada latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Kejadian Kehamilan Serotinus di RSUD Pangkep Periode Januari – Desember 2008”. 1 BABIPENDAHULUANA . L a t a r B e l a k a n g Kehamilan serotinus dahulu tidak dianggap sebagai suatu masalah selain bahwa kehamilan serotinus sering disertai dengan makrosomia dan pelahiran yang sulit. Namun, akhir-akhir ini kehamilan lewat waktu merupakan suatu masalah yang sering dibicarakan berkaitan dengan angka k e m a t i a n p e r i n a t a l y a n g m e n i n g k a t b e r m a k n a s e h i n g g a m e n d o r o n g diadakannya intervensi seperti pelahiran atau penelusuran kesejahteraan janin dalam rahim (Cunningham, 2011) # i n g g i n y a a n g k a k e m a t i a n i b u ( $ K % " m a s i h m e r u p a k a n m a s a l a h kesehatan di %ndonesia dan juga mencerminkan kualitas pelayanan kesehatan selama kehamilan dan ni&as. $K% di %ndonesia masih merupakan salah satu yang tertinggi di Negara $sia #enggara, yaitu ' per 1!!.!!! kelahiran hidup. illenium )evelopment *oals ( )*" menargetkan penurunan $K% menjadi 1! per 1!!.!!! kelahiran hidup pada tahun !1+. $K% di %ndonesia turun secara bertahap dari ! (1 " menjadi ' per 1!!.!!! kelahiran hidup dalam kurun waktu 1! tahun (1 - !! ". Namun, hal ini masih jauh dari target )*. /erdasarkan prediksi /0 . $K% pada tahun !1+ masih sebesar 12 per 1!!.!!! kelahiran
  • 27. hidup. 0eningkatan jumlah penduduk dan jumlah kehamilan berisiko turut mempengaruhi sulitnya pencapian target ini. / e r d a s a r k a n p r e d i k s i / i r o e n s u s K e p e n d u d u k a n $ m e r i k a , p e n d u d u k %ndonesia akan mencapai ++ juta pada tahun !1+ dengan jumlah kehamilan berisiko sebesar 1+- !3 dari seluruh kehamilan.%nsiden kehamilan serotinus sangat bervariasi tergantung pada kriteria yang digunakan untuk diagnosis. 4rekuensi yang dilaporkan berkisar 5-153 dengan rata-rata sekitar 1!3. ebagai perbandingan, 113 kelahiran hidup di $ m e r i k a e r i k a t a d a l a h k e h a m i l a n p r e t e r m y a n g m e r u p a k a n p e n y e b a b kematian utama dari neonatus, sedangkan kehamilan serotinus sekitar '3. )an terdapat kecenderungan bahwa ibu akan mengalami kehamilan serotinus berulang. )i Norwegia, insiden kehamilan serotinus berturutan meningkat dari presus-serotinus Jumat, 24 Februari 2012 “Manajemen Kebidanan Intranatal Dengan Persalinan Serotinus" BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 36 tentang Kesehatan menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu kesejahteraan yang harus diwujudkan seseuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana yang dimaksud dalam Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Yang dijabarkan dalam pasal 1 berbunyi “kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental dan spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. (http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita4/1.uu36-09-kesehatan. 15 Agustus 2011)
  • 28. Menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2007, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 228/100.000 kelahiran hidup. Bila mengacu pada Ekstrapolasi Biro Pusat Statistik maka kecenderungan penurunan AKI telah mengarah pada jalur yang diinginkan yaitu 265/100.000 kelahiran hidup pada Tahun 2006 dan Tahun 2007 walaupun interpretasi secara global menyebutkan bahwa perjalanan menuju target Millennium Development Goals (MDGs) 2015 masih diluar jalurnya. Namun telah disepakati bahwa cakupan pelayanan oleh tenaga terlatih adalah kunci dari perbaikan status kesehatan ibu, bayi dan anak serta mencapai target yang diinginkan. Tenaga kesehatan terampil adalah pelaku yang mampu menjaga dan menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir dari kematian atau kesakitan yang seharusnya dapat dicegah atau dihindarkan melalui upaya dan pertolongan tepat waktu dan adekuat. (Gulardi Wiknjosastro 2008, hal 1) Kehamilan dan persalinan adalah proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, tetapi kehamilan dan persalinan ini pada manusia setiap saat terancam penyakit dan komplikasi yang dapat membahayakan ibu maupun janinnya sehingga memerlukan pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang memadai. (Manuaba, 2010). Kehamilan lewat bulan (serotinus) ialah kehamilan yang berlangsung lebih dari perkiraan hari taksiran persalinan yang dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), dimana usia kehamilan telah melebihi 42 minggu (> 294 hari). Kehamilan lewat waktu merupakan salah satu kehamilan yang beresiko tinggi, dimana dapat terjadi komplikasi pada ibu dan janin. Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari HPHT. Kehamilan lewat waktu juga bisa disebut serotinus atau postterm pregnancy yaitu kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu atau 294 hari. Beberapa penulis menghitung waktu 42 minggu setelah Haid Terakhir (HT) ada pula yang mengambil 43 minggu. (Hanifa W, 2005) Masalah kesehatan ibu hamil yang pokok yaitu adanya komplikasi-komplikasi terhadap kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari adalah usia kehamilan antara 38 sampai 42 minggu dan ini merupakan periode dimana terjadi persalinan normal. Kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu disebut sebagai serotinus atau postterm atau kehamilan lewat waktu angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10% bervariasi antara 3,5-14% (Hanifa, W. 2005). Penyebab partus serotinus belum diketahui dengan pasti. Diduga faktor-faktor yang dapat mempengaruhi antara lain faktor yang mengganggu mulainya persalinan baik faktor ibu, plasenta maupun anak (Sardiansah, online, diakses Tanggal 25 juni 2011 pukul 16.30 wita). Faktor lain yang
  • 29. mempengaruhi berkenaan dengan berbagai faktor demografi tersebut seperti paritas, umur, riwayat postterm sebelumnya dan status sosial ekonomi (Hanifa, W. 2005). Data statistik menunjukkan angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan cukup bulan. Data itu menunjukkan angka kematian dalam kehamilan cukup bulan sebesar 1-2% sedangkan dalam kehamilan lewat waktu mencapai 5-7%. (Varney. online, 25 Juni 2011). Kondisi bayi yang lahir dengan kelahiran serotinus biasanya mengalami kelainan fisik akibat kekurangan makanan dan oksigen. Angka kejadian serotinus berkisar 10% dan pada kondisi ini dapat menyebabkan resiko kematian perinatal. Resiko kematian perinatal akibat serotinus dapat menjadi 3 kali dibandingkan dengan kehamilan aterm. Kematian janin akibat serotinus yaitu terjadi pada 30% sebelum persalinan, 55% dalam persalinan dan 15% postnatal, hal ini disebabkan hipoksia dan asfiksia mekonium. (Hanifa, W. 2002). Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota di Sulawesi Selatan pada Tahun 2006 sebanyak 133 orang atau 101,56 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan pada Tahun 2007 sebanyak 143 kematian atau 92,89 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk Tahun 2008 jumlah kematian ibu maternal mengalami penurunan menjadi 121 orang atau 85,17 per 100.000 kelahiran hidup dan pada Tahun 2009 menurun lagi menjadi 118 orang atau 78,84 per 100.000 KH. Kematian ibu maternal tersebut terdiri dari kematian ibu hamil (19%), kematian ibu bersalin (46%), dan kematian ibu nifas (35%). (http://dinkes-sulsel 2011, diakses Tanggal 04 April 2011) Data yang diambil Di BPS Sukmah Kel. Tibojong Kab. Bone Jumlah persalinan serotinus Januari sampai dengan Juli 2011 yaitu 2 persalinan (16,7%). Persalinan adalah tugas dari seorang ibu yang harus dihadapi dengan tabah, walaupun tidak jarang mereka merasa cemas dalam menghadapi masalah tersebut. Dalam persalinan terjadi perubahan-perubahan fisik yaitu ibu akan merasa sakit pinggang dan perut, merasa kurang enak, capek, lesu, tidak enak badan, tidak bisa tidur nyenyak, sering mendapatkan kesulitan dalam bernafas dan perubahan-perubahan psikis yaitu merasa ketakutan sehubungan dengan dirinya sendiri, takut kalau terjadi bahaya pada dirinya pada saat persalinan, takut tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya, takut yang dihubungkan dengan pengalaman yang sudah lalu misalnya mengalami kesulitan pada persalinan yang lalu. Ketakutan karena anggapannya sendiri bahwa persalinan itu merupakan hal yang membahyakan. Oleh karena itu, mereka memerlukan penolong yang dapat dipercaya, sehingga dapat
  • 30. memberikan bimbingan dan selalu siap di depan dalam mengatasi kesukaran. (Vicky Chapman 2006, hal 5) Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka penulis sebagai calon bidan tertarik melakukan studi kasus untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menolong persalinan yang tertuang dalam karya tulis ilmiah dengan judul “Manajemen Kebidanan Intranatal pada Ny. “S” Dengan Persalinan Serotinus di BPS Sukmah Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone”. B. Ruang Lingkup Ruang lingkup pembahasan dalam penulisan ini adalah Manajeman Kebidanan Intranatal pada Ny. “S” Persalinan Serotinus di BPS Sukmah, Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone Tanggal 04 - 10 Mei 2011. C. Tujuan Penulisan Tujuan yang diharapkan oleh penulis dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut : 1. Tujuan umum Mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny. “S” Dengan Serotinus di BPS Sukmah, Kel. Tibojong, Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone, sesuai dengan wewenang bidan. 2. Tujuan khusus a. Dapat melaksanakan pengkajian dan analisa data pada Ny. “S” Dengan Serotinus di BPS Sukmah Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone. b. Dapat merumuskan diagnosa/masalah aktual pada Ny. “S” Dengan Serotinus di BPS Sukmah Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone. c. Dapat merumuskan diagnosa/masalah potensial pada Ny. “S” Dengan Serotinus di BPS Sukmah Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone.
  • 31. d. Dapat melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi pada Ny. “S” Dengan Serotinus di BPS Sukmah Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone. e. Dapat merencanakan tindakan asuhan kebidanan pada Ny. “S” Dengan Serotinus di BPS Sukmah Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone. f. Dapat melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada Ny. “S” Dengan Serotinus di BPS Sukmah Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone. g. Dapat melaksanakan evaluasi asuhan kebidanan pada Ny. “S” Dengan Serotinus di BPS Sukmah Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone. h. Dapat melaksanakan dokumentasi asuhan kebidanan pada Ny. “S” Dengan Serotinus di BPS Sukmah, Kel. Tibojong Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone. D. Manfaat Penulisan 1. Bagi penulis Dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta tambahan pengalaman yang sangat berharga dalam penerapan asuhan kebidanan dengan Persalinan Serotinus. 2. Bagi Institusi Sebagai persyaratan dalam menyelesaikan ujian akhir jenjang pendidikan Diploma III Akademi Kebidanan Bina Sehat Nusantara dan sebagai bahan acuan/pedoman bagi institusi jurusan kebidanan untuk penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) selanjutnya. 3. Bagi pelayanan masyarakat a. Sebagai masukan bagi institusi kesehatan khususnya kebijaksanaan dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan bayinya. b. Sebagai sumber informasi bagi tenaga kesehatan dalam melaksanakan manajemen asuhan kebidanan dengan persalinan Serotinus. E. Metode Penulisan
  • 32. Penulisan karya tulis ini menggunakan metode : 1. Studi kepustakaan Membaca literatur yang menerangkan dan berhubungan dengan persalinan serotinus baik berupa buku- buku, diktat dan karya tulis. 2. Studi kasus Melakukan asuhan kebidanan dengan kasus intranatal serotinus melalui pendekatan konsep manajemen kebidanan dengan menggunakan teknik : a. Anamnese Suatu pembicaraan yang ditujukan kepada klien untuk memperoleh informasi secara akurat. b. Pemeriksaan fisik Penulis menggunakan teknik ini untuk mengamati secara langsung keadaan klien dengan melakukan pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi dan pemeriksaan laboratorium. c. Pengkajian psikososial Pengkajian psikosoisal dilakukan untuk mengetahui perasaan/suasana emosi serta pandangan klien dan keluarga terhadap masalah yang dihadapi. 3. Wawancara Melakukan pengumpulan data atau informasi melalui wawancara yang ada hubungannya dengan status klien. 4. Observasi Melakukan pengumpulan data atau informasi melalui observasi keadaan klien. 5. Diskusi Penulis menggunakan tanya jawab dengan dokter atau bidan yang menangani langsung bayi tersebut serta berdiskusi dengan dosen pernbimbing Karya Tulis Ilmiah ini. 6. Studi dokumentasi
  • 33. Melakukan pengumpulan data atau informasi melalui catatan, arsip yang ada hubungannya dengan status klien. F. Sistematika Penulisan Penulisan karya tulis ini dibagi dalam 5 (lima) bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Ruang Lingkup C. Tujuan Penulisan D. Manfaat Penulisan E. Metode Penulisan F. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar tentang persalinan serotinus yang meliputi : 1. Pengertian 2. Etiologi 3. Mekanisme Persalinan 4. Insiden 5. Tanda dan Gejala Persalinan 6. Diagnosis 7. Penatalaksanaan B. Konsep Dasar Manajemen Kebidanan, meliputi : 1. Pengertian
  • 34. 2. Langkah/step manajemen kebidanan 3. Pendokumentasian (SOAP) BAB III TINJAUAN KASUS A. Langkah 1. Pengkajian dan analisa data B. Langkah 2. Merumuskan diagnosa/masalah aktual C. Langkah 3. Merumuskan diagnosa/masalah potensial D. Langkah 4. Melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi E. Langkah 5. Merencanakan tindakan asuhan kebidanan F. Langkah 6. Melaksanakan tindakan asuhan kebidanan G. Langkah 7. Melaksanakan evaluasi asuhan kebidanan dan membuat catatan perkembangan H. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini penulis menguraikan tentang kesenjangan antara teori dan fakta yang ada, dibahas secara sistematis mulai dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Yang terdiri dari kesimpulan hasil pelaksanaan studi kasus serta saran-saran operasional untuk meningkatkan kualitas asuhan kebidanan.
  • 35. Kamis, 30 Mei 2013 ASKEB IBU HAMIL PATOLOGI DENGAN SEROTINUS BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah besar di Negara berkembang, di Negara miskin sekitar 25 - 50% kematian wanita subur disebabkan hal yang berkaitan dengan assessment safe mother hood tahun 1990 – 1991, suatu hasil kegiatan ini adalah rekomendasi rencana kegiatan 5 tahun dalam bentuk strategi rasional untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI), sedangkan penyebab tak langsung kematian ibu antara lain anemia, Kurang Energi Kronis (KEK) dan keadaan “4 terlalu” (terlalu tua, muda, dan banyak). (Sarwono, 2008). Kehamilan merupakan peristiwa luhur dan merupakan proses reproduksi yang dialami seseorang, setiap wanita hamil membawa resiko yang bersifat dinamis. Artinya kehamilan normal dapat berubah menjadi resiko tinggi atau sebaliknya. Misalnya seorang ibu hamil normal bisa mengalami kelainan letak pada kehamilan preterm, terutama pada TM II, letak dan presentasi janin belum stabil yang bisa beresiko terhadap ibu dan janinnya sehingga ibu hamil perlu mewaspadai terjadinya resiko dalam kehamilan, baik kehamilan primi atau multi, kehamilan tetap membawa resiko. Pada multigravida sering umumnya mengalami banyak masalah, karena memiliki pengalaman sebelumnya. Sedangkan pada primigravida sering mengahadapi beberapa masalah yang berkaitan dengan adaptasi kehamilan dimana ibu merasa terganggu, maka diperlukan asuhan antenatal bagi seluruh ibu hamil untuk memonitor dan mendeteksi resiko tinggi kehamilan normal. Berdasarkan gambaran di atas asuhan antenatal sangat penting dalam upaya penurunan angka kematian ibu. Yakni, melakukan pencegahan dengan menemukan faktor resiko tinggi ibu hamil melalui pemeriksaan kehamilan secara berkala sesuai dengan program KIA untuk menjamin kualitas atau mutu pelayanan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) merupakan bagian terpenting yang secara efektif
  • 36. dapat membantu ibu hamil dalam memecahkan masalah terutama pada multigravida dengan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan fisiologi. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil patologis dengan serotinus menggunakan menajemen menurut Varney. 2. Tujuan Khusus a) Melakukan pengkajian dan pengumpulan data pada ibu hamil dengan serotinus. b) Menentukan interpretasi data dasar pada ibu hamil dengan serotinus c) Menentukan diagnosa potensial pada ibu hamil dengan serotinus d) Menentukan antisipasi tindakan segera pada ibu hamil dengan serotinus. e) Menentukan perencanaan asuhan kebidanan secara menyeluruh yang akan dilakukan pada ibu hamil dengan serotinus. f) Melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya pada ibu hamil dengan serotinus. g) Melakukan evaluasi atas tindakan yang sudah dilakukan pada ibu hamil dengan serotinus. h) Menilai kesenjangan asuhan yang dilakukan dilapangan dengan teori C. Manfaat 1. Manfaat teoritik Memberikan sumbangan teoritik bagi ilmu kebidanan terutama dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil patologis. 2. Manfaat praktik A. Bagi BPS Sukani S.SiT Sebagai masukan dalam memberikan pelayanan kepada ibu hamil patologis di BPS Sukani S.SiT. B. Bagi pasien Memberikan tambahan pengetahuan lebih jauh tentang kehamilan patologis. C. Bagi penulis Diharapkan dapat menambah pengalaman, pengetahuan dan melaksanakan asuhan pada ibu hamil patologis. D. Pembatasan Kasus
  • 37. Sasaran: Ibu Hamil Dengan Serotinus Tempat: BPS Sukani S.SiT Waktu : 22 Desember 2012 pukul: 14.30 wib E. Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk pengumpulan data pada kasus ini adalah: 1. Wawancara yaitu dengan mewawancarai klien atau keluarga secara langsung melalui lisan. 2. Dokumentasi yaitu teknik pencatatan dari data yang sudah dikumpulkan untuk dijadikan bahan pendukung dalam menganalisa data. 3. Observasi yaitu dengan pengamatan langsung terhadap objek penelitian. 4. Studi kepustakaan yaitu referensi dari berbagai buku dan internet sebagai bahan acuan. BAB II ISI 2.1 Kehamilan
  • 38. Pengertian Kehamilan lewat waktu merupakan kehamilan yang melebihi waktu 42 minggu belum terjadi persalinan (Manuaba. 1998). Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap (Mansjoer, Arif. 2001). Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melampaui umur 294 hari (42 minggu) dengan segala kemungkinan komplikasinya (Manuaba. 2001). Kehamilan posterm, disebut juga kehamilan serotinus, kehamilan lewat waktu, kehamilan lewat bulan, prolonged pregnancy, extended pregnancy, postdate/ posdatisme atau pascamaturitas, adalah kehamilan yang berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari ((WHO 1977, FIGO 1986) Sarwono. 2008). 2.2 Etiologi Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan oksitosin tubuh, dan reseptor terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan lewat waktu terjadi sebalinya, otot rahim tidak sensitif terhadap rangsangan, karena ketegangan psikologis atau kelainan pada rahim. (Manuaba. 1998). Tidak timbulnya his karena kurangnya air ketuban, insufisiensi plasenta, dan kerentanan akan stres (Mansjoer, Arif. 2001). Menurut Sarwono (2008) sampai saat ini sebab terjadinya kehamilan postterm belum jelas. Beberapa teori yang diajukan pada umumnya menyatakan bahwa terjadinya kehamilan postterm sebagai akibat gangguan terhadap timbulnya persalinan. Beberapa teori diajukan antara lain sebagai berikut; Pengaruh progesteron Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekular pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin, sehingga beberapa penulis menduga bahwa terjadinya kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron. 2. Teori oksitosin
  • 39. Pemakaian okitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebab kehamilan postterm. 3. Teori Kortisol/ACTH janin Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai “pemberi tanda” untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anensefalus, hipoplasia adrenalin adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan. 4. Saraf uterus Tekanan pada ganglion servilkalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan dimana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebab terjadinya kehamilan postterm. 5. Heriditer Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. 2.3 Manifestasi Klinis Menurut Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba (1998; hal 225) 1. Kehamilan belum lahir setelah melewati 42 minggu. 2. Gerak janin makin berkurang dan kadang-kadang berhenti sama sekali. 3. Berat badan ibu mendatar atau menurun. 4. Air ketuban terasa berkurang. 5. Gerak janin menurun. Sedangkan menurut Arif Mansjoer (2001. Hal 276).
  • 40. Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang jarang, yaitu secara subyektif < 7x/ 20 menit atau secara obyektif dengan KTG <10x/ 20 menit. Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu yang terbagi menjadi: 1. Stadium I : Kulit kehilangan vernik kaseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas. 2. Stadium II : Seperti stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) di kulit. 3. Stadium III : Seperti stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat. 2.4 Komplikasi 2.4.1 Untuk ibu 2.4.1.1 Rasa takut akibat terlambat lahir. 2.4.1.2 Rasa takut menjalani operasi dengan akibatnya: Trias komplikasi ibu 2.4.2 Untuk janin 2.4.2.1 Oligohidramnion Air ketuban normal pada kehamilan 34-37 minggu adalah 1000cc, aterm 800cc, dan lebih dari 42 minggu 400cc. Akibat oligohidramnion adalah amnion menjadi kental karena mekonium (diaspirasi oleh janin), asfiksia intrauterin (gawat janin), pada in partu (aspirasi air ketuban, nilai Apgar rendah, sindrom gawat paru, bronkus paru tersumbat sehingga menimbulkan atelektasis). 2.4.2.2 Diwarnai Mekonium Mekonium keluar karena refleks vagus terhadap usus. Peristaltik usus dan terbukanya sfingter ani membuat mekonium keluar. Aspirasi air ketuban yang disertai mekonium dapat menimbulkan pernafasan bayi atau janin, gangguan sirkulasi bayi setelah lahir, dan hipoksia intrauterin sampai kematian janin. 2.4.2.3 Makrosomia Dengan plasenta yang masih baik, dapat terjadi tumbuh kembang janin dengan berat 4500 gram yang disebut makrosomia. Akibatnya terhadap persalinan adalah perlu dilakukannya tindakan operatif seksio sesaria, dapat menjadi trauma persalinan karena distosia bahu yang menimbulkan kematian bayi, atau trauma jalan lahir ibu. 2.4.2.4 Dismaturitas bayi
  • 41. Pada kehamilan 37 minggu, lias plasenta 11 m2 selanjutnya, terjadi penurunan fungsi sehingga plasenta tidak berkembang atau terjadi klasifikasi dan aterosklerosis pembuluh darah. Penurunan kemampuan nutrisi plasenta menimbulkan perubahan metabolisme menuju an aerob sehingga terjadi badan keton dan asidosis. Terjadi dismaturitas dengan gejala Clifford yang ditandai dengan: 1. Kulit : subkutan berkurang dan diwarnai mekonium; 2. Otot makin lemah; 3. Kuku tampak panjang; 4. Tampak keriput; 5. Tali pusat lembek, mudah tertekan dan disertai oligohidramnion. (Manuaba. 2008.) 2.5 Penatalaksanaan 2.5.1 Di Bidan Praktek Mandiri: 2.5.1.1 Melakukan konsultasi dengan dokter 2.5.1.2 Menganjurkan untuk melakukan persalinan di rumah sakit. 2.5.1.3 Merujuk pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang adekuat. 2.5.2 Di Rumah Sakit: Kehamilan lewat waktu memerlukan pertolongan induksi persalinan atau persalinan anjuran. Persalinan induksi tidak banyak menimbulkan penyulit bayi, asalkan dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang cukup. Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode: 2.5.2.1 Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon) Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin atau sintosinon 5 unit dalam 500 cc glukosa 5%, banyak digunakan. Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana, dan mulai dengan 8 tetes, dengan maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes sampai kontraksi optimal tercapai. Bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan, ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam atau lakukan opersai seksio sesarea. 2.5.2.2 Memecahkan ketuban
  • 42. Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat persalinan. Setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang mengandung 5 unit oksitosin. 2.5.2.3 Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin Telah diketahui bahwa kontrasi otot rahim terutama dirangsang oleh prostaglandin. Pemakaian sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (Nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria) (Manuaba..1998). Menurut Arief Mansjoer (2001) Penatalaksanaan kehamilan lewat waktu bila keadaan janin baik dapat dilakukan dengan cara: 1. Tunda pengakhiran kehamilan selama 1 inggu dengan menilai gerakan janin dan tes tanpa tekanan 3 hari kemudian, Bila hasil positif, segera lakukan seksio sesarea. 2. Induksi Persalinan. Menurut Sarwono Prawirohardjo (2008) sebelum mengambil langkah, bberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kehamilan postterm adalah sebagai berikut. 1. Menentukan apakah kehamilan memeang telah berlangsung lewat bulan atau bukan. Dengan demikian, penatalaksanaan ditujukan pada dua variasi dari postterm ini. 2. Identifikasi kondisi janin dan keadaan yang membahayakan janin. 3. Periksa kematangan serviks dengan skor bishop. Kematangan serviks ini memegang peranan penting dalam pengelolaan kehamilan postterm. Sebagian besar kepustakaan sepakat bahwa induksi persalinan dapat segera dilaksanakan baik pada usia 41 maupun 42 minggu bilamana serviks telah matang. Dalam buku Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi, Skor Bishop adalah suatu cara untuk menilai kematangan serviks dan responnya terhadap suatu induksi persalinan, karena telah diketahui bahwa serviks dengan skor bishop rendah (serviks belum matang) memberikan angka kegagalan yang lebih tinggi dibanding serviks yang matang. Lima kondisi yang dinilai dari serviks adalah: 1. Pembukaan (Dilatation) 2. Pendataran (Effacement) 3. Penurunan Kepala janin (Station)
  • 43. 4. Konsistensi (Consistency) 5. Posisi ostium uteri (Position) TABEL SKOR BISHOP SKOR 0 1 2 3 Pembukaan 0 1-2 3-4 5-6 Pendataran 0-30% 40-50% 60-70% 80% Stasion -3 -2 -1 +1 +2 Konsistensi Keras Sedang Lunak Amat lunak Posisi os Posterior Tengah Anterior Anterior CARA PEMAKAIAN Tambah 1 angka untuk Kurangi 1 angka untuk Pre-eklampsia Setiap normal partus Postdate Nullipara Ketuban negatif/lama BILA TOTAL SKOR KEMUNGKINAN BERHASIL GAGAL 0-4 50-60% 40-50% 5-9 90% 10% 10-13 100% 0% Yang disebut induksi persalinan persalinan berhasil dalam obstetri modern ialah: bayi lahir pervaginam dengan skor APGAR baik (>6), termasuk yang harus dibantu dengan ekstraksi forseps ataupun vakum. (Chrisdiono,2004) Bila serviks telah matang (dengan nilai bishop >5) dilakukan induksi persalinan dan dilkukan pengawasan intrapartum terhadap jalannya persalinan dan keadaan janin. Induksi pada serviks yang telah matang akan menurunkan resiko kegagalan ataupun persalinan tindakan (Sarwono, 2008). DAFTAR PUSTAKA
  • 44. Depkes RI. 2007. Meteri Ajar Penurunan Kematian Ibu Dan Bayi Baru Lahir. WHO-FKM UI. Jakarta. Hidayat. 2008. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta; Salemba Medika. Jepmenkes RI No.369/MENKES/SK/III/2007. Jakarta: Dekes RI Kusmiat, Y. 2008, Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya, Manuaba, I. 2008. Pengkajian Kesehatan. Jakarta: EGC Musliahtun, W.n, dkk .2009. Dokumentasi Pelayanan Kebidanan. Yogyakarta. Fitramaya Permenkes.No.1464/Menkes/2010. Standar Pratik Kebidanan.jakarta: Depkes RI. Saifuddin,B.A.2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirihardjo, Jakarta. Sulistyawati, Ari. 2001.Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan, Jakarta : Salemba Medika. Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia NO. 23/1992 Tentang Kesehatan. Jakarta: Depkes RI. Wahyiningsih, 2008. Etika Profesii Kebidanan. Yogyakarta : fitramaya Wiknjosatro, H. 2007, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Sarwono Prawirohardjo, Jakarta Varney, H, 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC