• Like
  • Save
Karya tulis ilmiah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Karya tulis ilmiah

on

  • 244 views

 

Statistics

Views

Total Views
244
Views on SlideShare
244
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
14
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Karya tulis ilmiah Karya tulis ilmiah Document Transcript

    • KARYA TULIS ILMIAH PERBAIKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BILANGAN BULAT MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (NHT) DI KELAS IV SDN 16 KABAWO KABUPATEN MUNA OLEH WIWIN WULANDARI LA ODE NIM : 816463629 POKJAR : KATOBU Diajukan sebagai Bahan Laporan Pengembangan Kemampuan Profesional (PKP) PROGRAM STUDI STRATA SATU (S-1) PGSD FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ-KENDARI 2014
    • ABSTRAK Wiwin Wulandari Wa Ode, NIM. 816463629. Meningkatkan Hasil Belajar BIlangan Bulat Melalaui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT di Kelas IV SD Negeri 16 Kabawo Kabupaten Muna. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya prestasi hasil belajar murid kelas IV SDN 16 Kabawo dalam materi Bilangan Bulat. Berdasarkan identifikasi peneliti bahwa hal ini disebabkan faktor pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran matematika termasuk bilangan bulat. Peneliti meyakini bahwa dengan menggunakan pendekatan pemebelajaran kooperatif tipe NHT ini dapat meningkatkan hasl belajar murid. Rumusan masalah penelitian ini adalah ”Apakah penerapan pembelajaran kooeperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar murid pada materi bilangan bulat pada kelas IV SD Negeri 16 Kabawo?”. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika, khususnya pada materi pokok perkalian dan pembagian; (2) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok bilangan bulat melalui pendekatan pembelajaran kooperatif tipe NHT di IV SD Negeri 16 Kabawo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe Kepala Bernomor (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas IV SD Negeri 16 Kabawo pada materi bilangan bulat. Hal ini terlihat bahwa hasil evaluasi pada pra siklus hanya 6 orang (40%) murid yang mencapai target KKM mata pelajaran Matematika dari 15 orang murid kelas IV SD Negeri 16 Kabawo Tahun Pelajaran 2013/2014. Kemudian, setelah pelaksanaan tindakan sikklus I terdapat 10 murid (66,67%) yang telah mencapai target KKM, dan pada hasil evaluasi siklus II terdapat 13 (86,67%) murid yang telah mencapai nilai KKM. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika murid kelas IV SDN 16 Kabawo dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe NHT. Kata kunci : pembelajaran Koperatif NHT, Motivasi, hasil belajar matematika v
    • BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemampuan seorang guru dalam mengelola pembelajaran di kelas merupakan harapan dan tuntutan setiap perubahan kurikulum. Tujuan dan orientasi dari pengelolan pembelajaran itu adalah untuk terciptanya kondisi proses pembelajaran yang interaktif yang berpusat pada murid dan menyenangkan bagi murid. Berdasarkan identifikasi peneliti bahwa pelaksanaan pembelajaran Matematika di kelas IV SDN 16 Kabawo guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini dilihat dari segi kegiatan murid selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, yakni murid bekerja untuk dirinya sendiri, pandangan ke arah papan tulis, mendengarkan guru dan belajar dari guru, serta hanya guru yang mengambil keputusan dan murid hanya pasif. Yang seharusnya adalah guru perlu mengaktifkan murid daripada guru yang lebih berperan sebagai subyek pembelajaran. Kegiatan pembelajaran konvesional oleh guru Matematika mengakibatkan kurangnya antusias dan motivasi murid dalam proses pembelajaran di kelas. Murid lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru, diam dan enggan dalam mengemukakan pertanyaan maupun pendapat. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran yang dilakukan oleh guru cenderung hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Padahal dalam kerangka pembelajaran matematika, murid mesti dilibatkan secara mental, fisik dan sosial untuk membuktikan sendiri tentang kebenaran dari teori-teori dan hukum-hukum matematika yang telah dipelajarinya melalui proses ilmiah. Jika hal ini tidak tercakup dalam proses pembelajaran dapat dipastikan penguasaan konsep matematika akan kurang dan akan menyebabkan rendahnya hasil belajar murid yang pada akhirnya akan mengakibatkan rendahnya mutu pendidikan. 1
    • Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas IV SD Negeri 16 Kabawo diperoleh informasi bahwa prestasi belajar matematika murid di sekolah tersebut masih tergolong rendah, khusunya pokok bahasan Bilangan Bulat. Hal ini dapat dilihat dari dokumen guru kelas bahwa dari 15 murid hanya tidak ada murid yang mendapatkan nilai 85-100 (sangat baik), hanya 2 murid yang mendapatkan nilai antara 70-84 (Baik), 4 orang mendapatkan nilai 55-69 (Cukup), 6 orang siswa yang mendapatkan nilai 46-54 (kurang), dan 3 orang murid yang memperoleh nilai 0-45 (sangat kurang). Data ini bila dibandingkan dengan persentase keberhasilan pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran Matematika yakni 70, maka dapat dikatakan bahwa persentase keberhasilan belum mencapai target yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena murid pasif dalam proses pembelajaran, sehingga daya serap murid terhadap materi bilangan bulat rendah. Selama ini mereka hanya menerima apa saja yang diberikan oleh guru dan tidak pernah bertanya kepada guru atau teman yang lebih tahu jika mereka mengalami kesulitan dan murid yang bisa menjawab tidak mau memberikan penjelasan kepada murid lain yang belum mengerti. Guru kurang memiliki kemampuan menciptakan iklim pembelajaran yang mengaktifkan murid dalam proses pembelajaran. Peneliti menduga model pembelajaran yang digunakan selama ini belum efektif. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika murid. Mengacu pada masalah rendanhya kemampuan murid dalam materi Bilangan Bulat, maka diharapkan guru perlu memilih model pembelajaran yang dapat menumbuhkan minat dan motivasi belajar murid. Setelah dilakukan diskusi dengan teman guru, disepakati bahwa cara untuk meningkatkan kemampuan operasi hitung bilangan bulat pada murid kelas IV SDN 16 Kabawo adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Kepala Bernomor (NHT). Model pembelajaran kooperatif tipe Kepala Bernomor (NHT) dapat melibatkan murid dalam suasana belajar yang menyenangkan, karena murid 2
    • dilibatkan dalam kegiatan diskusi dan pembagian tugas yang jelas. Model pembelajaran yang telah disepakati merupakan tindakan alternatif untuk mengatasi masalah rendahnya kemampuan matematika murid. Model pembelajaran ini lebih mengutamakan keaktifan murid dan memberi kesempatan murid untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Menurut Trianto (2007:41) bahwa di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang murid yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku, dan satu sama lain saling membantu. Mereka akan saling bekerja sama secara aktif dan demokratis. Model pembelajaran kooperatif dapat merubah peran guru dari peran terpusat pada guru ke peran pengelola aktivitas kelompok kecil. Sehingga dengan demikian peran guru yang selama ini monoton akan berkurang dan murid akan semakin terlatih untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, bahkan permasalahan yang dianggap sulit sekalipun. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT ini menjamin keterlibatan total semua murid dalam mengerjakan tugas yang diberikan sehingga murid harus bekerjasama secara aktif mulai dari materi awal ke materi selanjutnya, sifat mata pelajaran matematika yang bersifat deduktif sehingga materi sifat operasi hitung bilangan bulat harus diajarkan secara terstruktur mulai dari sifat komutatif, asosiatif dan distributif. Dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT setiap murid akan saling bertukar pikiran dan harus mampu menjawab soal sesuai dengan nomornya. Namun, semua anggota harus mampu mengetahui dan menyelesaikan semua soal yang diberikan oleh guru. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi. 3
    • B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian perbaikan perbaikan pembelajaran ini adalah ”Apakah penerapan pembelajaran kooeperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar murid pada materi bilangan bulat pada kelas IV SD Negeri 16 Kabawo? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar murid pada materi bilangan bulat melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT di kelas IV SD Negeri 16 Kabawo. D. Manfaat Penelitian a) Bagi Murid. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar Murid pada materi pokok hitung bilangan bulat bagi kelas IV -1 SD Negeri 16 Kabawo. b) Bagi Guru. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru, terutama dalam memperbaiki dan meningkatkan kualiatas pembelajaran di kelas. c) Bagi sekolah. Penelitian diharapkan akan memberikan citra yang baik bagi sekolah bila murid memperoleh prestasi yang baik dalam mata pelajaran Matematika. 4
    • BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif 1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil bagi murid untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar, (Sugiyanto, 2008:35). Menurut Trianto (2007: 41) bahwa pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Semua anggota dalam tiap kelompok saling membantu anggota yang lain dalam kelompok yang sama dan bergantung satu sama lain untuk mencapai keberhasilan kelompok dalam belajar. Wina (2006:240) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran kelompok yang melibatkan keaktifan murid dalam proses pembelajaran di kelas, yang selama ini proses pembelaajran di dominasi oleh guru dan siswa atau murid lebih banyak yang pasif. Selanjutnya, Wina menjelaskan bahwa akhir-akhir ini dianjurkan agar para guru menerapkan pembelaajran kooperatif dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Dia menegaskan bahwa setidaknya ada dua alasan penting. Pertama, beberapa penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. Pembelajaran kooperatif dilakukan dengan membentuk kelompok kecil yang anggotanya heterogen untuk bekerja sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan masalah, tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai 5
    • tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Suatu pembelajaran dalam kelompok kecil harus terdiri dari beberapa siswa yang mempunyai sejumlah pengetahuan tentang masalah yang dipersoalkan. Nasution (2006 : 201). Menurut Lie (2010) pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang bersifat gotong royong atau kerja sama. Dalam pembelajaran kooperatif ini ada beberapa teknik yang dilakukan dalam melakukan kegiatan diskusi, sehingga dalam kegiatan diskusi menjadi lebih menyenangkan. Menurut Lie (2010: 18) berbagai dampak negatif dalam penggunaan metode kerja kelompok tersebut seharusnya bisa dihindari, jika saja guru mau meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian dalam persiapan dan penyusunan metode kerja kelompok. Yang diperkenalkan dalam metode pembelajaran kooperatif bukan sekadar kerja kelompoknya, melainkan pada penstrukturannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Etin Solihatin (2005:4) bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari anggota kelompok itu sendiri. Selanjutya, Etin Solihatin (2005:5) dalam dalam penerapan pembelajaran kooperatif ada beberapa teknik atau tipe yang dapat digunakan oleh guru, antara lain : 1) tipe mencari pasangan 2) bertukar pasangan 3) berpikir-berpasangan-berempat 4) berkirim salam dan soal 5) kepala bernomor 6) dua tinggal dua tamu 7) keliling kelompok 6
    • 8) kancing gemerincing 9) keliling kelas 10) lingkaran kecil dan lingkaran besar 11) tari bambu 12) jigsaw 13) bercerita 14) nik yang disebutkan diatas, penulis mengambil satu tipe dalam melaksanakan berpasangan Beberapa tipe pembelajaran kooperatif yang telah dikemukakan di atas, peneliti memilih pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor (Numbered Heads Together) atau NHT. Tujuan peneliti menggunakan tipe tersebut adalah agar para murid yang kemampuan rendah dapat mengerjakan tugas dengan dibantu oleh murid yang kemampuan tinggi. Dalam melakukan kegiatan diskusi siswa selalu melakukan pengelompokkan sendiri sehingga siswa yang memiliki kemampuan yang kurang hanya duduk dan diam. Oleh karena itu seorang guru melakukan cara dengan menggunakan teknik kepala bernomor dalam pembelajaran kooperatif. Sehingga dengan metode atau teknik yang dilakukan siswa yang memiliki kemampuan dapat membantu siswa yang kurang memahami. Hal ini dapat saling berkomunikasi antar anggota. Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Dalam penilaian, siswa mendapat nilai pribadi dan nilai kelompok siswa bekerja sama dengan metode pembelajaran kooperatif. Mereka saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk tes. Kemudian, masing-masing mengerjakan tes sendiri dan menerima nilai pribadi. Nilai kelompok bisa dibentuk dengan beberapa cara. Pertama, nilai kelompok bisa diambil dari nilai terendah yang didapat oleh siswa dalam kelompok. Kedua, nilai 7
    • kelompok juga bisa diambil dari rata-rata semua anggota kelompok dari ”sumbangan” setiap anggota. 2. Unsur-Unsur Dalam Pembelajaran Kooperatif Menurut Roger & Johnson (Lie, 2010:31) ada lima unsur model pembelajaran kooperatif yakni : (1) Saling ketergantungan positif, (2) Tanggung jawab perseorangan, (3) Tatap muka, (4) Komunikasi antar anggota, (5) Evaluasi proses kelompok. 1. Saling Ketergantungan Positif Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya, untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehinngga setiap anggota kelompoknya harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. 2. Tanggung Jawab Perseorangan Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok. 3. Terjadinya interaksi tatap muka Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu kepala saja. Lebih jauh lagi, hasil kerja sama ini jauh lebih besar daripada jumlah hasil masing-masing anggota. 4. Komunikasi Antaranggota Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajar cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap 8
    • siswa mempunyai keahlian para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. 5. Evaluasi Proses Kelompok Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatif. 3. Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran Kooperatif Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas model pembelajaran kooperatif, yakni : (1) pengelompokkan, (2) semangat gotong royong, dan (3) penataan ruang kelas. 1. Pengelompokkan Dalam pengelompokkan kelas pembelajaran kooperatif ada dua kelompok yaitu homogen dan heterogen. a. Pengelompokkan homogen berdasarkan prestasi belajar sangat disukai karena tampaknya bermanfaat. Pertama, pengelompokkan cara ini praktis dan mudah dilakukan secara administratif. Selanjutnya, pengelompokkan homogen berdasarkan hasil prestasi dilakukan untuk memudahkan pengajaran. Guru memang menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mengajar siswa yang berlainan kemampuan belajarnya dalam satu kelompok atau kelas. Jika mengajar terlalu cepat, siswa yang lamban akan tertinggal. Sebaliknya, jika terlalu lambat, siswa yang cerdas akan merasa bosan dan akhirnya mengabaikan atau mengacau kelas. Oleh karena itu, pengelompokkan homogen dianggap bisa menyelesaikan masalah pengajaran. Dibalik segala manfaatnya, pengelompokkan homogen ternyata mempunyai banyak dampak negatif. Pengelompokkan berdasarkan kemampuan sama dengan memberikan cap atau label tiap-tiap peserta didik, ini bisa menjadi vonis yang diberikan terlalu dini, terutama 9
    • bagi peserta yang kurang mampu. Padahal, Penilaian guru pada saat membuat keputusan dalam pengelompokkan belum tentu benar dan tidak mungkin bisa mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya dan menyeluruh. b. Pengelompokkan heterogen merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam metode pembelajaran kooperatif. Kelompok heterogenitas bisa dibentuk dengan memperhatikan keaneka ragaman gender, latar belakang agama, sosio-ekonomi dan etnik, serta kemampuan akademis. Dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelajaran kooperatif biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang. Secara umum, kelompok heterogen disukai oleh para guru yang telah memakai metode pembelajaran kooperatif karena beberapa alasan. Pertama, kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung. Kedua, kelompok ini meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, agama, etnik, dan gender. Ketiga, kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk setiap tiga orang. Salah satu kendala yang mungkin dihadapi guru dalam pengelompokkan heterogen adalah keberatan dari pihak siswa yang berkemampuan akademis tinggi (atau orang tua mereka pada tingkat sekolah dasar). Siswa dari kelompok ini bisa merasa “rugi” dan dimanfaatkan tanpa bisa mengambil manfaat apa- apa dalam kegiatan belajar pembelajaran kooperatif karena rekan-rekan mereka dalam kelompok tidak lebih pandai dari mereka. Tidak jarang, protes ini juga disampaikan kepada guru baik secara langsung maupun tidak langsung. Kepada siswa ataupun orang tua semacam ini, perlu dijelaskan bahwa sebenarnya siswa dengan kemampuan akademis tinggi pun akan menarik manfaat secara kognitif dan afektif dalam kegiatan belajar pembelajaran kooperatif bersama siswa-siswa lain dengan 10
    • kemampuan yang kurang. Mengajar adalah guru yang terbaik. Dengan mengajarkan apa yang seseorang baru pelajari, dia akan lebih bisa menguasai atau menginternalisasi pengetahuan dan keterampilan barunya. 2. Semangat Kerja sama (Gotong Royong) Agar kelompok bisa bekerja sama secara efektif dalam proses pembelajaran gotong royong, masing-masing anggota kelompok perlu mempunyai semangat gotong royong. Semangat gotong royong ini bisa saja dirasakan dengan membina niat dan kiat siswa dalam bekerja sama dengan siswa-siswa lainnya. Niat siswa bisa dibina dengan beberapa kegiatan yang bisa membuat relasi masing-masing anggota kelompok lebih erat seperti di bawah ini : 1. Kesamaan Kelompok Kelompok akan merasa bersatu jika mereka bisa menyadari kesamaan yang mereka miliki. Kesamaan ini tidak berarti menyeragamkan semua keinginan, minat, dan kemampuan anggota kelompok. Merasa diri dikenal dan diterima oleh kelompoknya merupakan hal yang sangat penting bagi terlaksananya kerja sama dalam kelompok. 2. Identitas Kelompok Berdasarkan kesamaan mereka, kelompok bisa merundingkan nama yang tepat untuk kelompok mereka. Setiap anggota kelompok harus dimintai pendapat dan keputusan tidak boleh jika ada yang tidak setuju dengan nama yang dipilih. Masing-masing kelompok juga bisa membuat atribut yang menyatukan kelompok mereka tanpa mengorbankan keunikan pribadi. Salah satu contoh adalah membuat topi dari bahan-bahan sederhana. Topi-topi dalam satu kelompok tidak harus sama. 3. Sapaan dan Sorak Kelompok Untuk lebih memperat hubungan dalam kelompok, siswa bisa disuruh menciptakan sapaan dan sorak khas kelompok. Menyapa 11
    • tidak harus dengan berjabat tangan. Siswa bisa didorong mengembangkan kreativitas mereka dengan menciptakan cara menyapa rekan-rekan dalam satu kelompok yang disesuaikan dengan identitas kelompok mereka. Sapaan dan sorak kelompok ini bisa dipakai berulang-ulang selama tahun ajaran untuk keperluan beberapa keperluan. Dalam saat-saat seperti ini, guru bisa membangunkan siswa-siswi yang mengantuk dan menghidupkan semangat belajar siswa dengan meluangkan beberapa detik saja untuk sapaan dan sorak kelompok 3. Penataan Ruang Kelas Penataan ruang kelas sangat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang dipakai di kelas. Penataan ruang yang klasikal dengan semua bangku menghadap kesatu arah (guru dan papan tulis) sangat sesuai dengan metode ceramah. Dalam metode ini, guru berperan sebagai narasumber yang utama, atau mungkin juga satu-satunya. Dalam pembelajaran kooperatif, guru lebih berperan sebagai fasilitator. Tentu saja, keputusan guru dalam penataan ruang kelas harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi ruang kelas dan sekolah. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah: ukuran ruang kelas, jumlah siswa, tingkat kedewasaan siswa, toleransi guru dan kelas terhadap kegaduhan dan lalu lalangnya siswa, pengalaman guru dalam melaksanakan metode pembelajaran kooperatif, dan pengalaman siswa dalam melakasanakan metode pembelajaran kooperatif. 4. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Pembelajaran Tradisional (konvensional) Dalam pembelajaran tradisional dikenal pula belajar kelompok, meskipun demikian, ada sejumlah perbedaan esensial antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional. pembelajaran tertera pada tabel 1. 12
    • Tabel 1. Perbedaan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran tradisional menurut Sugiyanto (2008: 40) Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran Tradisional Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada promotif. Guru sering membiarkan siswa mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok. Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok. Kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang akan memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Akuntabilitas individual yang sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok, sedangkan para anggota kelompok lainnya hanya ‘enak-enak saja’ atas keberhasilan temannya yang dianggap ‘pemborong’. Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang akan memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Kelompok belajar biasanya homogen. Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman dalam memimpin bagi para anggota kelompok. Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dan dibiarkan untuk memilih para pemimpin anggotanya dengan cara masing-masing. Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong Keterampilan sosial sering tidak diajarkan secara 13
    • royong secara langsung diajarkan. langsung. Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerjasama antar anggota kelompok. Guru sering melakukan pemantauan melalui observasi dan intervensi oleh pada saat belajar kelompok sedang berlangsung. Guru memperhatikan secara langsung proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar Guru tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai). Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas 5 .Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Menurut Sugiyanto (2008:41) pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa keuntungan : a) meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial, b) memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan, c) memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial, d) memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen, e) menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois, 14
    • f) membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa, g) berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan, h) meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia, i) meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif, j) meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik, k) meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas. Tetapi disamping adanya keuntungan dalam pembelajaran kooperatif, pembelajaran kooperatif juga mempunyai kelemahan- kelemahan antara lain sebagai berikut : 1. Kerja kelompok seringkali hanya melibatkan kepada siswa yang mampu, sebab mereka cukup memimpin dan mengarahkan kepada mereka yang kurang mampu. 2. Strategi ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda-beda pula. 3. Keberhasilan strategi kelompok ini tergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau bekerja sendiri. 6. Pembelajaran Kooperatif Teknik Kepala Bernomor Menurut Lie (2010:59) teknik belajar mengajar kepala bernomor (Numbered Heads) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa uuntuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran untuk semua tingkatan usia anak didik. Teknik pelaksanaannya : 15
    • a. Setiap siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. c. Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini. d. Guru memanggil salah satu nomor. Setiap dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama. Ada lima unsur seperti yang telah dibahas, untuk memenuhi kelima unsur tersebut memang dibutuhkan proses yang melibatkan niat dan kiat (will and skill) para anggota kelompok. Para pembelajar harus mempunyai niat untuk bekerja sama dengan yang lainnya dalam kegiatan belajar pembelajaran kooperatif yang akan saling menguntungkan. Selain niat, Para pembelajar juga harus menguasai kiat-kiat berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Agar kelompok bisa bekerja secara efektif dalam proses pembelajaran gotong royong, masing-masing anggota kelompok perlu mempunyai semangat ini tidak diperoleh dalam sekejap. Semangat gotong royong ini bisa dirasakan dengan membina niat dan kiat siswa dalam bekerja sama dengan siswa-siswi yang lainnya. Menurut Lie (2010:5) pendidik perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar berdasarkan beberapa pokok pemikiran berikut ini : a. Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa. Guru menciptakan kondisi dan situasi siswa membentuk makna dari bahan pelajaran melalui suatu proses belajar dan menyimpannya dalam ingatan yang sewaktu-waktu dapat diproses dan dikembangkan (Piaget, 1952 & 1960 ; Freire, 1970). b. Siswa membangun pengetahuan secara aktif. Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa, bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa. Siswa tidak menerima pengetahuan dari guru atau 16
    • kurikulum secara pasif. Teori Skemata menjelaskan bahwa siswa mengaktifkan struktur kognitif mereka dan membangun struktur-struktur baru untuk mengakomodasi masukan-masukan pengetahuan yang baru Jadi, penyusunan pengetahuan yang terus-menerus menempatkan siswa sebagai peserta yang aktif (Anderson & Armbruster, 1982 : Piaget, 1952 & 1960). c. Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa. Kegiatan belajar mengajar harus lebih menekankan pada proses daripada hasil. Setiap orang pasti mempunyai potensi. d. Pendidikan adalah interaksi pribadi diantara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa. Kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial. Belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga proses yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan yang lain dan membangun pengertian dan pengetahuan bersama ( Johnson, & Smith, 1991 ). B. Pengertian Tipe Kepala Bernomor (NHT) Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan tipe fakta-fakta dan informasi dasar yang berfungsi untuk mengatur interaksi pembelajaran kooperatif yang terdiri atas empat tahap yang digunakan untuk mereview siswa. pembelajaran ini juga dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang tingkat kesulitannya terbatas. NHT sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok. Dalam proses pembelajaran menggunakan model NHT guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menujuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut. Menurut Muhammad Nur (2005:78), dengan cara tersebut akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Selain itu pembelajaran kooperatif tipe NHT memberi kesempatan kepada 17
    • siswa untuk membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Ibrahim, (2000:7) bahwa dengan belajar kooperatif akan memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademik penting lainnya serta akan memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademis. Dengan adanya keterlibatan total semua siswa tentunya akan berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa. Siswa akan berusaha memahami konsep-konsep ataupun memecahkan permasalahan yang disajikan oleh guru. Saat siswa termotivasi dalam kegiatan belajar belajar maka mereka akan berusaha untuk mencari ide-ide baru dan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Siswa dalam satu kelompok yang heterogen saling bertukar pikiran. Anita Lie (2000: 17) bahwa Tipe Numbered Head Together (NHT) adalah tipe kooperatif dimana siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok yang heterogen yang beranggotakan 4-6 orang. Dalam setiap kelompok siswa yang pintar dapat mengajari temannya yang kurang sehingga dapat menumbuhkan rasa sosial diantara setiap anggota kelompok. Berdasarkan beberapa teori tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa Pembelajaran kooperatif tipe Kepala Bernomor atau Numbered Head Togheter (NHT) adalah suatu model pembelajaran yang proses pelaksanaannya guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen dimana guru akan menunjuk nomor siswa berdasarkan penomoran dalam kelompok untuk mengerjakan soal yang diberikan setelah proses pengerjaan soal bersama-sama dalam kelompok tanpa memberitahu siswa terlebih dahulu sehingga semua siswa secara tidak langsung harus bertanggung jawab secara pribadi kepada keberhasilan kelompoknya. Langkah-langkah Penerapan Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Menurut Trianto (2007:63) adapun tahapan dalam pembelajaran Numbered Head Together (NHT) antara lain yaitu 1) penomoran, 2) mengajukan pertanyaan, 3) berfikir bersama, dan 4) menjawab. Adapun 18
    • langkah-langkah penerapan model Numbered Head Together (NHT) dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Tahap I : Penomoran Dalam fase ini guru membagi siswa ke dalam kelompok terdiri 1-6 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 – 6 2) Tahap 2 : Mengajukan pertanyaan Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dalam bentuk kalimat Tanya 3) Tahap 3 : Berfikir bersama Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim. 4) Tahap 4 : Menjawab Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. C. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran, karena keberhasilan guru dalam mengajar dapat diukur dari hasil belajar. Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar. Hasil belajar merupakan hasil proses belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik pada setiap pembelajaran di kelas. Di dalam proses pembelajaran, guru sebagai pengajar sekaligus pendidik memegang peranan dan tanggung jawab yang besar dalam rangka membantu meningkatkan keberhasilan peserta didik dipengaruhi oleh kualitas 19
    • pengajaran dan faktor intern dari siswa itu sendiri. Dalam setiap mengikuti proses pembelajaran di sekolah sudah pasti setiap peserta didik mengharapkan mendapatkan hasil belajar yang baik, sebab hasil belajar yang baik dapat membantu peserta didik dalam mencapai tujuannya. Hasil belajar yang baik hanya dicapai melalui proses belajar yang baik pula. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang baik. Pandangan di atas sejalan dengan Hamalik (2001:159) bahwa hasil belajar menunjukkan kepada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya derajat perubahan tingkah laku siswa. Hal yang sama juga dikemukakan Nasution (2006:36) hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi tindak belajar mengajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2002:36) hasil belajar adalah hasil yang ditunjukkan dari suatu interaksi tindak belajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan. 20
    • BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN A. Subyek, Tempat, Waktu, dan Pihak yang Membantu Subyek penelitian ini adalah murid kelas IV SD Negeri 16 Kabawo Kabupaten Muna dengan jumlah murid 15 orang. Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan pada bulan Mei Tahun Pelajaran 2013/2014. Dalam melaksanakan penelitian perbaikan pembelajaran ini, peneliti dibantu oleh salah seorang rekan guru di SD Negeri 16 Kabawo. Hal ini sangat penting untuk mengamati kegiatan murid dan guru dalam kegiatan proses pembelajaran di kelas. B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran Prosedur yang dijalankan dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini adalah mengacu pada desain prosedur penelitian tindakan. Dalam hal ini peneliti mengacu pada prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang digambarkan oleh Ahmad (1999) dalam Saminanto (2010:8), yaitu sebagai berikut: Berdasarkan alur penelitian tindakan pada bagan atau gambar 1 di atas, maka dapat dijelaskan bahwa alur penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: 1. Identifikasi masalah. Identifikasi masalah merupakan tahap pertama dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan bagaimana S I K L U S P T K Pelaksanaan Tindakan I Alternatif Pemecahan Masalah Indentifikasi Permasalahan Observasi IAnalisis DataRefleksi I Catatan: Apabila Siklus 1 belum behasil lanjut ke siklus ke 2 Gambar 1. Alur Penelitian tindakan oleh Saminanto (2010:8) 21
    • upaya guru untuk meningkatkan hasil belajar murid kelas IV SD Negeri 16 Kabawo dalam materi operasi hitung bilangan bulat. 2. Alternatif pemecahan masalah. Tahapan selanjutnya setelah identifikasi masalah adalah alternatif pemecahan masalah, yakni upaya-upaya apa yang akan dilakukan oleh guru atau peneliti dalam meningkatkan hasil belajar murid dalam materi operasi hitung bilangan bulat. Salah satu di antaranya adalah dengan memperbaiki proses pebelajaran melalui penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe Kepala Bernomor (NHT). Langkah-langkah aletrnatif pemecahan masalah adalah sebagai berikut: 1. Menyiapkan atau membuat Rencana Perbaikan Pembelaajran (RPP) 2. Menyiapkan atau membuat Lembar Observasi untuk Murid 3. Melakukan atau membuat Lembar Observasi untuk Guru 4. Menyiapkan tes untuk mengetahui hasil belajar murid pada materi operasi hitung bilangan bulat. 3. Pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan tindakan ini adalah berkaitan dengan langkah-langkah guru atau peneliti untuk solusi pemecahan masalah yang telah diidentifikasi, yakni pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Kepala Bernomor (NHT). 4. Observasi. Observasi merupakan rangkaian pelaksanaan tindakan, yakni mengamati kegiatan murid dan guru apakah sudah sesuai dengan skenario pembelajaran atau belum, sebagaimana yang telah dicantumkan dalam Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang dipersipkan. 5. Analisis data. Dalam tahapan ini, guru atau peneliti menganalis data-data yang telah dicatat dan dikumpulkan selama pelaksanaan tindakan. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah telah atau sudah mencapai sesuai dengan indikator atau target yang dicapai. 6. Refleksi. Dalam tahapan ini guru atau peneliti merefleksi seluruh kegitan atau peristiwa selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Mengidentifikasi kembali hal-hal yang masih kurang dalam pelaksanaan tindakan dan mempertahankan hal-hal yang dianggap baik. Dan apabila pelaksanaan tindakan ini belum 22
    • berhasil, maka akan ditindak lanjuti lagi pada siklus berikutnya, sampai tujuan berhasil atau tercapai. C. Teknik Analisis Data dan Indikator Ketercapaian Tindakan Data yang dikumpul pada setiap siklus dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Teknik ini digunakan untuk menganalisis kelebihan atau kelemahan dalam pelaksanaan tindakan, serta untuk merefleksi proses pelaksanaan pembelajaran secara keseluruhan dan untuk memperoleh kesimpulan, dan selanjutnya untuk program perbaikan pada siklus berikutnya. Ada dua indikator keberhasilan dalam penelitian ini, yakni (1) keberhasilan individual, yakni apabila nilai murid telah mencapai KKM 68, dan (2) Keberhasilan kelompok, yakni tindakan perbaikan pembelajaran ini dikategorikan berhasil apabila minimal 80% murid telah memperoleh nilai ≥ 68 sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran Matematika pada kelas IV SDN 16 Kabawo. 23
    • BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran Penelitian ini diawali dengan kegiatan pra tindakan. Pra tindakan ini dilakukan untuk mendapatkan fakta atau data berkaitan dengan proses pembelajaran Matematika di kelas IV SD Negeri 16 Kabawo. Dari hasil kegiatan pra tindakani ini, peneliti memperoleh gambaran bahwa (1) penerapan pembelajaran Matematika yang dilakukan oleh guru kelas IV SD Negeri 16 Kabawo masih menggnakan model pembelajaran yang konvensional, yakni guru menjalaskan materi operasi hitung bilangan bulat hanya menceremai murid, sehingga murid hanya mendengarkan penjelasan guru. Murid hanya diberikan kesempatan untuk bertanya bila belum mengerti atas penjelasan guru. Murid hanya hanya diberi kesempatan menyesaikan soal di papan tulis, tetapi hanya kepada murid yang telah mengerti atas penjelasan guru dengan cara mengancungkan tangan terlebih dahulu. Model pembeljaran seperti ini tentunya tidak menumbuhkan partisipasi murid, karena hanya murid berani dan mengerti saja yang diberi kesempatan untuk maju ke papan tulis mengerakan soal operasi hitung bilangan bulat sedangkan murid yang lainnya menjadi penonton. Berdasarkan kondisi pembelajaran Matematika di atas telah berdampak pada rendahnya hasil belajar matematika pada murid kelas IV SD Negeri 16 Kabawo yang pada kesempatan ini materi bilangan bulat yang dijadikan sampel data hasil belajar matematika kelas SD Negeri 16 Kabawo. Hal ini terlihat bahwa hasil tes materi bilangan bulat hanya 6 orang (40%) murid yang mencapai target KKM mata pelajaran Matematika dari 15 orang murid kelas IV SD Negeri 16 Kabawo Tahun Pelajaran 2013/2014. Dari hasil identifikasi diperoleh data bahwa rendahnya hasil belajar murid pada materi operasi hitung dan bilangan bulat adalah: (1) kurangnya pemahaman atau pengetahuan guru terhadap model-model pembelajaran yang dapat menumbuhkan dan meningkatan motivasi dan partisipasi murid dalam 24
    • proses pembelajaran di kelas; (2) pembelajaran yang diterapka oleh guru membosankan dan otoriter dalam menjelaskan materi; (3) kurangnya bimbingan guru dan kesempatan bagi murid untuk menyelesaikan tugas-tugas atau soal-soal secara berkelompok untuk saling berdiskusi dengan teman- temannya. 2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan. Kegitan ini dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran mengenai keaktifan anak dalam proses pembelajaran, keterlaksaan skenario atau langkah-langkah pembelajaran oleh guru atau peneliti, dan peningkatan hasil belajar murid ada materi operasi hitung bilangan bulat. Ada 3 faktor atau komponen yang diamati dalam kegiatan tindakan siklus I ini, yakni (1) keaktifan anak dalam proses pembelajaran; (2) Kegiatan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor (NHT); dan (3) hasil belajar anak setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe kKepala bernomor (NHT). Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan Siklus I adalah sebagai berikut ini. 1. Perencanaan Pada tahap ini, peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan. Proses persiapan ini dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan guru di kelas IV SD Negeri 16 Kabawo sebagai kolaborator pada proses penelitian ini. Perangkat pembelajaran yang dibuat oleh peneliti adalah: 1) Membuat skenario pelaksanaan tindakan berupa rencana perbaikan pembelajaran untuk tindakan Siklus I. 2) Membuat lembar observasi untuk mengamati aktivitas anak didik dan guru dalam proses pembelajaran Siklus I. 3) Membuat alat bantu mengajar yang diperukan pada tahap Siklus I 4) Mendesain alat evaluasi untuk melihat hasil belajar anak didik. 25
    • Setelah peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran di atas, selanjutnya peneliti melaksanakan tindakan pada Siklus I. 2. Pelaksanaan Tindakan Pada tahap ini, peneliti melaksanakan skenario pembelajaran dalam rangka untuk memfasilitasi murid untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar murid sesuai dengan rencana perbaikan pembelajaran yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tindakan perbaikan pembelajaran pada Siklus I ini dilakukan dalam 2 kali pertemuan, dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut ini. 1) Kegiatan Awal Pada kegiatan awal, guru memberikan salam dan berdoa bersama anak didik. Selanjutnya, guru memotivasi dan menfokuskuan perhatian anak melalui pengenalan tentang tema pelajaran yang dibawakan atau diajarkan. Kemudian guru bercakap-cakap dengan anak didik, serta menjelaskan kegiatan akan dilaksanakan oleh anak didik. Guru memperkenalkan materi kepada murid 2) Kegiatan Inti Pada kegiatan ini, guru mendesain kegiatan, yakni guru member penjelasn singkat cara membaca dan menuliskan lambing bilangan bulat pada garis bilangan, guru melakukan tanya jawab untuk menggali pemahaman konsep murid, guru membagi murid dalam tiga kelompok yang anggotanya terdiri dari 5 orang, guru memberikan contoh lambing bilangan, guru membimbing kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan, guru mempersilahkan setiap kelompok untuk menyajikan atau memaparkan hasil diskusi kelompoknya dan memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapinya, dan guru menanggapi dan melengkapi jawaban murid serta memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik. 3) Kegiatan Akhir Pada kegiatan penutup, guru bersama murid menyimpulkan materi pelajaran, guru memberikan tindak lanjut, dan guru membimbing murid berdoa pulang, dan mengucapkan salam. 26
    • 3. Hasil Observasi/Evaluasi Proses Tindakan Siklus I Peneliti bersama guru melakukan evaluasi dan pengamatan pada setiap pertemuan. Setelah kegiatan evaluasi dilaksanakan, maka penilaian anak yang diperoleh pada setiap pertemuan dikumpulkan dan direkapitulasi dalam format penilaian untuk kegiatan tindakan Siklus I. Setelah itu, peneliti melakukan analisis data. Setelah dilakukan analisis data pada pelaksanaan tindakan pembelajaran pada siklus I adalah sebagai berikut ini. a) Keaktifan anak dalam proses pembelajaran Berdasarkan data hasil pengamatan yang berkaitan dengan keaktifan anak dalam proses pembelajaran, peneliti memperoleh gambaran bahwa proses pembelajaran bilangan bulat dengan menggunankan pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah masih terdapat 10 (50%) anak yang belum aktif secara maksimal dalam kegiatan kelompokya. Artinya, bahwa keterlibatan guru dalam membibing anak masih dominan, namun telah menunjukkan telah ada perkembangan keaktifan dan perhatian anak dalam kegiatan pembelajaran. Data penelitian menunjukkan bahwa sebelum pelaksanaan tindakan berada pada rata-rata persentase 40% meningkat menjadi 50% pada tindakan siklus I. Hal ini menggambarkan ada peningkatan keaktifan dan perhatian anak dalam kegiatan pembelajaran bilangan bulat dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada tindakan siklus I, walaupun masih jauh dari indikator keberhasilan yang diharapkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh anak belum terbiasa terlibat dalam proses pembelajaran dengan kegiatan pembelaajran kooperatif tipe NHT. Untuk lebih jelasnya data keaktifan murid dapat dilihat pada Tabel 4.1 di bawah ini. 27
    • Tabel 4.1 Data Aktivitas Murid pada Siklus I No Aktivitas murid Pencapaian Kriteria 1. Kedisplinan dalam kelompok 66.7 2. Kerja sama 61.1 3. Keaktifan 66.7 4. Keseriusan 55.6 5. Mengambil bagian untuk menjawab/menjelaskan pertanyaan sesuai dengan nomor kepala yang dimilikinya 55.6 6. Menjawab dan menanggapi pertanyaan kelompok lain 50.0 7. Menghargai pendapat orang lain 50.2 Berdasarkan data tabel 4.1 di atas, diperoleh informasi bahwa persentase kedisplinan, kerja sama, keaktifan, keseriusan, mengambil keputusan dan memecahkan masalah, menjawab dan menanggapi pertanyaan kelompok lain, dan menghargai pendapat orang lain, murid dalam model pembelajaran pemecahan masalah masih kriteria cukup. Kriteria cukup pada kedisplinan, kerja sama, keaktifan, keseriusan, mengambil keputusan dan memecahkan masalah, menjawab dan menanggapi pertanyaan kelompok lain, dan menghargai pendapat orang lain murid, dikarenakan model pembelajaran pemecahan masalah merupakan hal yang baru. Beberapa murid hanya bermain, tidak memperhatikan tugas yang diberikan, bahkan sering mengganggu temannya yang serius melakukan pembelajaran. b) Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Berdasarkan data hasil pengamatan yang berkaitan kemampuan guru dalam menerapkan kegiatan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siklus I telah 28
    • sesuai langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang telah dirancang dalam Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan. Indikatornya, adalah guru telah berperan sebagai pembimbing dan fasilitator dalam membelajarkan murid. Pelaksanaan tindakan pada pembelajaran bilangan bulat yang dilakukan guru sesuai dengan rancangan yang dibuat dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini. Tabel 4.2 Pelaksanaan tindakan oleh guru pada siklus I No. Pelaksanaan komponen racangan Kegiatan Jumlah komponen Persentase (%) 1. Terlaksana 10 71,4 2. Kurang terlaksana 4 28,6 (Sumber : Olahan data Observasi kegiatan Guru) Berdasarkan tabel 4.2 tersebut, terlihat bahwa pada siklus I masih banyak komponen pembelajaran yang telah dirancang kurang terlaksana, sehingga efektifitas pembelajaran kurang tercapai. Banyaknya komponen yang kurang terlaksana, karena kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran belum maksimal. c. Hasil Evaluasi Untuk mengetahui sejauh mana kemajuan hasil belajar dan kemampuan memahami materi murid selama kegiatan pembelajaran, maka guru melaksanakan evaluasi. Evaluasi ini dilakukan pada akhir kegiatan siklus I dengan menggunakan tes tertulis berupa tes bentuk uraian. Adapun hasil belaajr belajar murid setelah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini. 29
    • Tabel 4.3 Hasil evaluasi belajar murid pada siklus I No Keberhasilan Jumlah murid Persentase (%) 1. Tuntas 10 66,67% 2. Tidak tuntas 5 33.33% Indikator keberhasilan pada penelitian ini, adalah apabila murid mencapai nilai KKM atau lebih yaitu ≥ 68 dan ketuntasan klasikal apabila 80% dari murid telah memperoleh nilai ≥ 68. Berdasarkan data tabel 4.1 hasil evaluasi pada siklus I nampak bahwa indikator yang ditetapkan belum mencapai target yang diharapkan, karena keberhasilan murid secara klasikal adalah 66,67%, masih jauh dari target ketuntasan yaitu 80%. d. Hasil Refleksi Siklus I pembelajaran bilangan bulat di kelas IV SD Negeri 16 Kabawo dengan model pembelajaran kooperatif tipe Kepala bernomor (NHT) belum dapat berjalan secara optimal, karena guru mata pelajaran belum pernah melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran ini sehingga murid belum terbiasa dengan model pembelajaran kelompok. Hal ini mengakibatkan murid masih banyak yang ramai pada saat pelajaran berlangsung karena murid belum terbiasa dengan modal pembelajaran pemecahan masalah. Murid masih sibuk sendiri untuk menyeseaikan tugas yang diberikan oleh guru selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung. Dari beberapa aspek yang diamati dalam proses pembelajaran bilangan bulat dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif ada beberapa kendala yang ditemukan sebagai berikut: a. Memberikan teguran kepada murid yang berprilaku negatif kurang terlaksana, karena guru berpindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain 30
    • b. Murid menyelesaikan tugas kelompok masing-masing masih ada murid yang bertanya pada kelompok lain. c. Kelompok menyelesaikan tugas dalam waktu yang tersedia kurang terlaksana, karena semua anggota kelompok belum mampu memanfaatkan waktu dalam menyelesaikan tugas. d. Setiap anggota kelompok ikut berperan aktif belum terlaksana, karena masih ada murid yang bermasa bodoh disebabkan oleh mengharap bantuan teman kelompokknya. e. Guru bersama murid menyimpulkan pelajaran kurang terlaksana karena terbatasnya waktu. Berdasarkan refleksi diatas dapat diketahui bahwa penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe Kepala Bernomor (NHT) bahwa motivasi dan hasil belajar murid masih rendah. Pada siklus II perlu adanya pemantapan langkah kerja model pembelajaran kooperatif tipe Kepala Bernomor (NHT), dengan mengatasi kendala yang terdapat pada siklus I. 3. Pelaksanaan Tindakan Siklus II Pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus II juga dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Kegitan ini juga dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran mengenai keaktifan anak dalam proses pembelajaran, keterlaksaan skenario atau langkah-langkah pembelajaran oleh guru atau peneliti, dan peningkatan hasil belajar murid pada materi bilangan bulat setelah melihat kelemahan atau kekurangan pada pelaksanaan pada siklus I. Dengan demikian, ada 3 faktor atau komponen juga yang diamati dalam kegiatan tindakan siklus II ini, yakni (1) keaktifan anak dalam proses pembelajaran; (2) Kegiatan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor (NHT); dan (3) hasil belajar anak setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Kepala bernomor (NHT). Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan Siklus II adalah sebagai berikut ini. 31
    • 1. Perencanaan Pada tahap ini, peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang telah diperbaharui sesuai dengan rekomendasi refleksi siklus I. Proses persiapan juga dilakukan dengan cara tetap berkonsultasi dengan guru di kelas IV SD Negeri 16 Kabawo sebagai kolaborator dalam penelitian ini. Perangkat pembelajaran yang dibuat oleh peneliti adalah: 1) Membuat skenario pelaksanaan tindakan berupa rencana perbaikan pembelajaran untuk tindakan Siklus II. 2) Membuat lembar observasi untuk mengamati aktivitas anak didik dan guru dalam proses pembelajaran Siklus II. 3) Membuat alat bantu mengajar yang diperukan pada tahap Siklus II 4) Mendesain alat evaluasi untuk melihat hasil belajar anak didik. Setelah peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran di atas, selanjutnya peneliti melaksanakan tindakan pada Siklus II. 2. Pelaksanaan Tindakan Pada tahap ini, peneliti melaksanakan skenario pembelajaran yang telah diperbaharui berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Tindakan perbaikan pembelajaran pada Siklus II ini juga dilakukan dalam 2 kali pertemuan, dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut ini. 1) Kegiatan Awal Pada kegiatan awal, guru memberikan salam dan berdoa bersama anak didik. Selanjutnya, guru memotivasi dan menfokuskuan perhatian anak melalui pengenalan tentang tema pelajaran yang dibawakan atau diajarkan. Kemudian guru bercakap-cakap dengan anak didik, serta menjelaskan kegiatan akan dilaksanakan oleh anak didik. Guru memperkenalkan materi kepada murid 2) Kegiatan Inti Pada kegiatan ini, guru mendesain kegiatan, yakni guru member penjelasn singkat cara membaca dan menuliskan lambing bilangan bulat pada garis bilangan, guru melakukan tanya jawab untuk menggali pemahaman konsep murid, guru membagi murid dalam tiga kelompok yang anggotanya 32
    • terdiri dari 5 orang, guru memberikan contoh lambing bilangan, guru membimbing kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan, guru mempersilahkan setiap kelompok untuk menyajikan atau memaparkan hasil diskusi kelompoknya dan memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapinya, dan guru menanggapi dan melengkapi jawaban murid serta memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik. 3) Kegiatan Akhir Pada kegiatan penutup, guru bersama murid menyimpulkan materi pelajaran, guru memberikan tindak lanjut, dan guru membimbing murid berdoa pulang, dan mengucapkan salam. 3. Hasil Observasi/Evaluasi Proses Tindakan Siklus I Peneliti bersama guru melakukan evaluasi dan pengamatan pada setiap pertemuan. Setelah kegiatan evaluasi dilaksanakan, maka penilaian anak yang diperoleh pada setiap pertemuan dikumpulkan dan direkapitulasi dalam format penilaian untuk kegiatan tindakan Siklus I. Setelah itu, peneliti melakukan analisis data. Setelah dilakukan analisis data pada pelaksanaan tindakan pembelajaran pada siklus I adalah sebagai berikut ini. a) Keaktifan anak dalam proses pembelajaran Berdasarkan data hasil pengamatan yang berkaitan dengan keaktifan anak dalam proses pembelajaran, peneliti memperoleh gambaran bahwa proses pembelajaran bilangan bulat dengan menggunankan pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah terdapat 13 (86.67 %) telah aktif secara maksimal dalam kegiatan kelompokya. Artinya, bahwa keterlibatan guru dalam membibing anak sudah tidak masih dominan lagi. Data penelitian menunjukkan bahwa sebelum pelaksanaan tindakan berada pada rata-rata persentase 40% meningkat menjadi 50% pada tindakan siklus I. Hal ini menggambarkan ada peningkatan keaktifan dan perhatian anak dalam kegiatan pembelajaran bilangan bulat dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada tindakan siklus II. Hal ini mungkin disebabkan anak tealah terbiasa terlibat dalam proses pembelajaran 33
    • dengan kegiatan pembelaajran kooperatif tipe NHT. Untuk lebih jelasnya data keaktifan murid dapat dilihat pada Tabel 4. di bawah ini. Tabel 4.4 Data Aktivitas Murid pada Siklus II No. Aktivitas murid mencapai Pencapaian Kriteria B C K 1 Kedisplinan dalam kelompok 83,3 √ 2 Kerja sama 83,3 √ 3 Keaktifan 94,4 √ 4 Keseriusan 77,4 √ 5 Mengambil bagian untuk menjawab/menjelaskan pertanyaan sesuai dengan nomor kepala yang dimilikinya 72,2 √ 6 Menjawab dan menanggapi pertanyaan kelompok lain 72,2 √ 7 Menghargai pendapat orang lain 77,8 √ Berdasarkan data pada Tabel 4.4 tersebut, diperoleh informasi bahwa persentase kedisplinan, kerja sama, keaktifan, keseriusan, mengambil keputusan dan memecahkan masalah, menjawab dan menanggapi pertanyaan kelompok lain, dan menghargai pendapat orang lain, murid dalam model pembelajaran pemecahan masalah sudah kriteria baik, karena bila dirata-rata persentase kegiatan murid diperoleh 80,16%. Walaupun keseriusan, mengambil keputusan dan memecahkan masalah, menjawab dan menanggapi pertanyaan kelompok lain,menghargai pendapat orang lain masih kriteria cukup, namun secara kuantitas persentase mengalami peningkatan. Hal ini berarti jumlah murid yang melaksanakan keempat indikator kegiatan murid telah meningkat. 34
    • b) Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Berdasarkan data hasil pengamatan yang berkaitan kemampuan guru dalam menerapkan kegiatan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siklus I telah sesuai langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang telah dirancang dalam Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan. Indikatornya, adalah guru telah berperan sebagai pembimbing dan fasilitator dalam membelajarkan murid. Pelaksanaan tindakan pada pembelajaran bilangan bulat yang dilakukan guru sesuai dengan rancangan yang dibuat dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini. Tabel 4.5 Pelaksanaan tindakan oleh guru pada siklus II No. Pelaksanaan komponen racangan Kegiatan Jumlah komponen Persentase (%) 1. Terlaksana 12 85,7 2. Kurang terlaksana 2 14,2 (Sumber : Olahan data Observasi kegiatan Guru) Berdasarkan tabel 4.5 tersebut, terlihat bahwa pada siklus II hampir semua komponen rancangan kegiatan guru telah terlaksana. Hal ini menggambarkan telah ada peningkatan kualitas pembelajaran oleh guru dalam menerapkan pembelajaran kelompok tipe NHT. Hal ini akan berdampak positif tehadap peningkatan hasil belajar murid pada materi bilangan bulat. c. Hasil Evaluasi Untuk mengetahui sejauh mana kemajuan hasil belajar dan kemampuan memahami materi murid selama kegiatan pembelajaran, maka guru melaksanakan evaluasi. Evaluasi ini dilakukan pada akhir kegiatan siklus I dengan menggunakan tes tertulis berupa tes bentuk uraian. Adapun hasil belaajr belajar murid setelah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini. 35
    • Tabel 4.6 Hasil evaluasi belajar murid pada siklus II No Keberhasilan Jumlah murid Persentase (%) 1. Tuntas 13 86,67% 2. Tidak tuntas 2 13.33% Indikator keberhasilan pada penelitian ini, adalah apabila murid mencapai nilai KKM atau lebih yaitu ≥ 68 dan ketuntasan klasikal apabila 80% dari murid telah memperoleh nilai ≥ 68. Berdasarkan data hasil penilaian pada siklus II ini nampak bahwa jumlah murid yang telah mencapai nilai KKM adalah 86,67%, hal ini berarti indikator keberhasilan pada siklus II sudah tercapai dan pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe NHT telah efektif meningkatkan hasil belajar murid. d. Hasil Refleksi Siklus II pembelajaran bilangan bulat di kelas IV SD Negeri 16 Kabawo dengan model pembelajaran kooperatif tipe Kepala bernomor (NHT) berjalan secara optimal, karena guru mata pelajaran sudah terbiasa melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran ini. Dari aspek murid juga telah terbiasa dengan model pembelajaran kelompok, dan murid lebih termotivasi dan antusias untuk belajar karena mereka merasa terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap anggota kelompok ikut berperan aktif dan bertanggung terhadap nomor tugas yang diberikan kepadanya oleh teman kelompokknya. B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran Beberapa temuan penting yang diperoleh dari penelitian ini dalam penerapan pembelajaran kooepratif tipe NHT, yakni: (1) Murid sangat termotivasi melakukan kegiatan dalam proses pembelajaran; (2) Meningkatnya hasil belajar murid pada materi bilangan bulat; (3) Harapan 36
    • agar murid lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dapat tercapai; (4) Keberhasilan penerapan model pembelajaran NHT ini sangat ditentukan oleh keterbiasaan guru dalam mengelola pembelajaran kooperatif. Tidak tercapainya target yang diharapakn pada siklus I disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: (1) Murid masih malu-malu untuk mengungkapkan pendapat dan pertanyaan pada saat diskusi kelompok berlangsung; (2) Murid belum memahami benar prosedur kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT; dan (3) Ada beberapa murid yang melakukan aktifitas diluar tugas yang diberikan dan mengganggu aktifitas anggota kelompokan lain, hal ini disebabkan karena guru masih kurang dalam memberikan bimbingan. Dari hasil refleksi, maka dilakukan perubahan strategi, dengan cara memberikan perhatian yang lebih serius kepada murid yang kurang aktif. Memberikan penghargaan bagi murid yang mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan pendapatnya. Pada siklus II proses pembelajaran dengan metode pembelajaran pemecahan masalah, guru sudah dapat menyiasati berbagi kekurangan dalam proses pembelajaran sehingga aktifitas murid semakin meningkat. Seluruh kegagalan pada siklus I dilakukan perbaikan pada siklus II sehingga peningkatan aktifitas dan hasil belajar dapat tercapai. Untuk aktifitas belajar murid pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Data Peningkatan Aktivitas Murid pada Siklus I dan Siklus II No. Aktivitas Murid Pencapain (%) Peningkata n Siklus I Siklus II % 1 Kedisiplinan dalam kelompok 66,7 83,3 16,6 2. Kerja sama 61,1 83,3 22,2 3. Keaktifan 66,7 94,9 27,7 37
    • 4. Keseriusan 55,6 77,8 22,2 5. Mengambil keputusan dan memecahkan masalah 50,0 72,2 22,2 6. Menjawab dan menaggapi pertanyaan kelompok lain 50,0 72,2 22,2 7. Menghargai pendapat orang lain 72,2 77,8 5,6 Berdasarkan tabel 4.7 diatas di atas terlihat bahwa ketujuh komponen hasil pengamatan aktivitas murid mengalami peningkatan. Komponen yang mengalami peningkatan yang paling tinggi adalah keaktifan murid. Hal ini karena murid semakin tertarik dengan model pembelajaran pemecahan masalah. Komponen yang mengalami peningkatan yang paling rendah adalah menghargai pendapat orang lain, hal ini karena murid selalu merasa lebih pintar di banding dengan temanya. Hasil pada siklus I mengenai kedisplinan, kerja sama, keaktifan, keseriusan, mengambil keputusan dan memecahkan masalah, menjawab dan menanggapi pertanyaan kelompok lain, masih kriteria cukup. Pada siklus II kedisplinan, kerja sama, keaktifan, murid sudah kriteria baik, sedangkan keseriusan, mengambil keputusan dan memecahkan masalah, menjawab dan menanggapi pertanyaan kelompok lain, dan menghargai pendapat orang lain,masih kriteria cukup. Keempat indikator kegiatan murid ini walaupun masih kriteria cukup, namun secara kuantitas presentasi mengalami kenaikan, artinya jumlah murid yang telah melaksanakan keempat indikator tersebut semakin bertambah. Untuk peningkatan hasil belajar pada siklus I dan II dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut ini. 38
    • Tabel 4.8 Hasil Belajar murid Siklus I dan II No Nama Nilai Murid Peningkatan (Inisial) Siklus I Siklus II Jumlah % 1 MJ 77 83 6 33.3 2 JAW 44 72 28 38.9 3 MY 72 77 5 6.5 4 SM 38 72 34 47.2 5 NW 44 50 6 12.0 6 Is 61 88 27 30.7 7 EA 44 50 6 12.0 8 IW 89 90 2 2.2 9 Uc 44 77 33 42.9 Berdasarkan hasil tabel 13 diatas, dapat dilihat terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Rata- rata nilai yang diperoleh pada siklus I adalah 60 dan siklus II adalah 76,7. Peningkatan yang paling tinggi diperoleh dari nilai 38 menjadi nilai 72 atau peningkatan sekitar 47,2% dan peningkatan yang paling rendah adalah perolehan nilai 72 menjadi nilai 77 atau peningkatan sekitar 6,5%. Secara keseluruhan murid kelas IV SD Negeri 16 Kabawo mengalami peningkatan hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran pemecahan masalah. Peningkatan ini diperoleh karena segala hambatan yang terdapat pada siklus I telah diatasi agar tidak terjadi lagi pada siklus II dengan 10 IS 59 72 6 8.3 11 LN 77 88 11 12.5 12 AM 50 72 22 30.6 13 LD MI 50 77 27 35.1 14 Ir 61 88 27 30.7 15 Sa 72 83 11 13.3 Rata-Rata 60 76,7 17,3 23.9 39
    • berbagai cara diantaranya meningkatkan pembimbingan kepada murid yang mengalami hambatan pada proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran pemecahan masalah. Untuk hasil belajar pada siklus I secara klasikal murid yang mencapai ketuntasan belajar mencapai 50,0 %, sedangkan pada siklus II secara klasikal murid yang mencapai ketuntasan belajar telah mencapai 85,7%. Hal ini memperlihatkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe NHT pemecahan masalah pada pembelajaran materi bilangan bulat dapat meningkatkan proses dan hasil pembelajaran. 40
    • BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, peneliti dapat simpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe Kepala Bernomor (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas IV SD Negeri 16 Kabawo pada materi bilangan bulat. Hal ini terlihat bahwa hasil evaluasi pada pra siklus hanya 6 orang (40%) murid yang mencapai target KKM mata pelajaran Matematika dari 15 orang murid kelas IV SD Negeri 16 Kabawo Tahun Pelajaran 2013/2014. Kemudian, setelah pelaksanaan tindakan sikklus I terdapat 10 murid (66,67%) yang telah mencapai target KKM, dan pada hasil evaluasi siklus II terdapat 13 (86,67%) murid yang telah mencapai nilai KKM. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika murid kelas IV SDN 16 Kabawo dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe NHT. B. Saran Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut: 1. Kepada guru-guru lain, kiranya dapat menerapkan pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran matematika. 2. Seorang guru harus kreatif dan berusaha menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik murid dan materi agar murid aktif dalam proses pembelajaran. 3. Kepada para peneliti berikutnya, diharapkan hasil peneliti ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam melaksanakan penelitian serupa. 4. Kepada SD Negeri 16 Kabawo diharapkan membuat kebijakan untuk menerapkan pendekatan pembelajaran kooperatif pada mata pelajaran Matematika. 41
    • DAFTAR PUSTAKA Cece Widjaja dan A.Tabrani. 1992. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya Etin Solihatin. 2005. Pengaruh Kooperatif Learning terhadap Belajar IPS ditinjau dari Gaya Belajar. Jakarta: Bumi Aksara Hamalik, Oemar, 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung Bumi Aksara. Ibrahim, Muslimin,dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa- University Press. Iqbal Ali. 2010. Numbered Head Together Artikel On-line. http://iqbalali.com. diakses tanggal 22-04-2011. Kasmadi, Hartono, 1991. Taktik Mengajar (Bagian dari Diskusi Tentang Teknik Mengajar). Semarang.: PT. IKIP Semarang Press. Lie, Anita. 2010. Cooperative Learning. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Muhammad Nur, dkk. 2005. Pendekatan-pendekatan Konstruktivis Dalam Pembelajaran. Surabaya : IKIP Surabaya. Nasution, 2006. Berbagai pendekatan dalam proses belajar & mengajar. Bandung: PT Bumi Aksara. Saminanto. 2000. Ayo Praktik PTK: Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: RASAIL Media Group. Sudjana, Nana, 2009. Belajar dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sugiyanto, 2008. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: PanitiaSertifikasi Guru Rayon 13 Trianto. 2007. Model model Pembelajaran inovatif berorientasi konstruksivistik. Surabaya: Prestasi Pustaka Uzer Usman, Drs, Muh dan Lilis Setiawati, Dra. 2001. Upaya OptimalisasiKegiatan Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya 42
    • Uzer Usman, Drs, Muh. Menjadi Guru Profesional. 2001. Bandung : PT. Remaja Rosdakary Wina Sanjaya, 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana 43