Your SlideShare is downloading. ×
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Karya ilmiah ut raha
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Karya ilmiah ut raha

84

Published on

Published in: Devices & Hardware
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
84
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang harus ditangani oleh suatu bangsa, karena pada hakekatnya pendidikan merupakan proses untuk membangun manusia dalam mengembangkan dirinya agar dapat menghadapi segala perubahan dan permasalahan yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan pembelajaran, suasana belajar dan proses belajar membantu peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sendiri. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif dalam mempelajari sesuatu dengan mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Menurut teori konstruviksi, siswa harus membangun sendiri pengetahuan yang ada di benaknya. Guru hanya berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan siswa sendiri yang membangun pengetahuannya melalui interaksi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok dalam proses pembelajaran. SDN 9 Lawa merupakan salah satu Sekolah Dasar yang ada di kecamatan Lawa. Berdasarkan data hasil evaluasi belajar siswa setelah proses pembelajaran selesai, nilai rata-rata yang diperoleh siswa untuk mata pelajaran IPS adalah 68,57 dari KKM 75. Diantara 21 siswa, jumlah siswa yang tuntas hanya 28,57% dan yang tidak tuntas sebesar 71,42% . Dengan adanya masalah ini penulis terdorong untuk mengadakam perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa melaui penelitian tindakan kelas (PTK). Berdasarkan latar belakang diatas maka dirumuskan judul penelitian yaitu : “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran IPS Materi Penjajahan Belanda di Indonesia Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Pada Siswa Kelas V SD Negeri 9 Lawa Kec. Wadaga Kab. Muna Tahun Pelajaran 2013/2014”
  • 2. 2 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS materi penjajahan Belanda di Indonesia pada siswa kelas V SDN 9 Lawa Kec. Wadaga Kab. Muna tahun pelajaran 2013/2014 ? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan dari rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah untuk membuktikan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS materi penjajahan Belanda di Indonesia pada siswa kelas V SDN. 9 Lawa Kec. Wadaga Kab. Muna tahun pelajaran 2013/2014. D. Manfaat penelitian 1. Bagi Pendidikan Dengan penelitian perbaikan pembelajaran ini diharapkan agar pendidikan di Indonesia dalam era globalisasi ini semakin meningkat dan dapat bersaing di kanca internasional 2. Bagi guru Dengan penelitian perbaikan pembelajaran ini guru dapat mengetahui cara meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan menjadi contoh bagi guru lain untuk memperbaiki strategi pembelajaran. 3. Bagi siswa Dapat meningkatkan hasil belajar IPS
  • 3. 3 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Defenisi Hasil Belajar Siswa Pembelajaran dapat dipandang sebagai suatu proses membantu anak untuk mengembangkan dan mengubah perilaku dan pribadi dimana anak mengembangkan gagasan, sikap, pengetahuan, apresiasi dan keterampilan sesuai dengan standar kompetensi dan kurikulum SD yang telah ditetapkan. Rochman Natawidjaja (1984) mengemukakan lima unsur yang mempengaruhi kegiatan belajar siswa di sekolah, yaitu unsur tujuan, pribadi siswa, bahan pelajaran, perlakuan guru, dan fasilitas. Kegiatan belajar siswa merupakan perpaduan dari unsur-unsur tersebut. Keberhasilan belajar mungkin akan kurang, jika salah satu dari unsur itu tidak memdai keadaannya. (Agus Taufik,dkk, 2012:5.21). Hasil belajar siswa diartikan sebagai hasil perubahan tingkah laku setelah mengikuti pelajaran pada suatu materi dalam kurung waktu tertentu. Sudjana (2001:22) mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima hasil belajarnya. Hasil belajar masing-masing siswa diketahui setelah guru melakukan evaluasi baik secara lisan selama proses pembelajaran maupun secara tertulis pada akhir pembelajar. Dengan mengetahui hasil belajar siswakita dapat mengetahui sejauh mana perubahan prilaku siswa sebagai akibat dari kegiatan pembelajaran. Hasil belajar adalah hasil perubahan tingkah laku seseorang siswa setelah memperoleeh pelajaran. Hasil belajar biasanya digambarkan dengan nilai atau angka atau huruf. Dalam hubungan ini hamalik (1983:56) mengemukakan bahwa “ hasil belajar seseorang merupakan perilaku yang dapat diukur hasil belajar menunjukan kepada individu sebagai pelakunya,hasil belajar dapat dievaluasi dengan menggunakan standar tertentu baik berdasarkan kelompok atau norma
  • 4. 4 yang telah ditetapkan. Hasil belajar menunjukan pula hasil kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan sadar”.( yusuf: 2007) Setiap kegiatan pembelajaran diarahkan pada upaya pencapaian belajar secara maksimal. Dalam hal ini siswa diharapkan dapt memiliki perubahan tingkah laku dan prestasi secara baik sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Purwonto (1990:86) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah prestasi yaang dicapai, dilaksanakan dan dikerjakan. Sejalan dengan itu, Dimyati dan Mudjiono (1994:26) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan (prestasi yang dicapai memiliki sejumlah keterampilan yang ditandai dengan standarisasi nilai sesuai dengan tujuan yang ditetapkan). Prestasi yang dicapai, dilaksanakan dan dikerjakan dalam kegiatan proses belajar mengajar dan ditandai dengan standarisasi penilaian.Untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal tergantung pada penggunaan teori belajar yang baik pula. Teori belajar secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu 1) Teori belajar menurut ilmu jiwa daya. 2) Teori belajar menurut teori asosiasi dan 3) teori belajar menurut ilmu jiwa gestalt (Slameto,2002:9) Hasil penilaian belajar siswa dirumuskan dalam suatu ungkapan yang bermacam-macam. Namun pada umumnya dinyatakan dengan angka-angka yang mempunyai skala tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat mujiono (1993:26) yang mengatakan bahwa hasil belajar adalah sebuah kegiatan belajar mengajar yang menghendaki tercapainya tujuan pengajaran dimana hasil belajar siswa ditandai dengan skala nilai. Dari uraian diatas menunjukan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai perolehan siswa setelah menjalani kegiatan belajar yang ditandai dengan nilai.penilaian dalm penelitian ini dillakukan dalam bentuk tes uraian. Hasil belajar yang diperoleh menggambarkan kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah diajarkan
  • 5. 5 B. Model pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning) Pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran (Anonim, 2002:11 dalam yusuf 2007). Tujuan penting dari pembelajaran kooperatif adalah untuk menjabarkan kepada siswa keterampilan kerjasama. Menurut Davidson dan Worsham yang dimaksud dengaan cooperative learning adalah pembelajaran yang sistematis dengan mengelompokan siswa dan menciptakan model pembelajaran yang efektif, mengintegrasikan keterampilan soosial yang bermuatan akademis. Sedangkan menurut johnson, cooperative learning merupakan kegiatan belajar mengajar, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar dan bekerjasama untuk sampai pada pengalaman yang optimal, baik pengalaman individu,maupun pengalaman kelompok. Ada 4 prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif menurut kagan dalam yusuf, (2007): 1. Interaksi siswa yang berkelanjutan atau sosial (tingkat aktifitas siswa) 2. Akuntabilitas individu ( tingkat kepercayaan diri dan harga diri) 3. Saling ketergantungan yang positif 4. Partisipasi yang setara. Variasidalam pembelajaran kooperatif tersebut antara lain : Think Pair Share (TPS), Student Team achievement aivision (STAD),Team games Tournament(TGT), Numbered Head Together (NHT) dan JIGSAW.
  • 6. 6 Metode pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan dan kekurangan dibanding dengan metode lain, kelebihannya yaitu meningkatkan kemampuan siswa, meningkatkan rasa percaya diri, menumbuhkan keinginan untuk menggunakan pengetahuan dan keahliannya, dan memperbaiki hubungan antar kelompok. Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah memerlukan kesiapan yang rumit untuk melaksanakan, bila terjadi persaingan negatif maka hasilnya akan buruk, bila ada siswa yang malas atau ada yang ingin berkuasa dalam kelompok mengakibatkan usaha kelompok tidak berjalan sebagaimana mestinya, adanya siswa yang tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam kelompok belajar. C. Pembelajaran Tipe Think Pair Share (TPS) a. Pengertian pembelajaran Tipe Think Pair Share (TPS) Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang mmpu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam seting kelompok secara keseluruhan. Think Pair Share (TPS) pertama kali dikembangkan oleh Lyman pada tahun 1981. Resiko dalam pembelajaran think pair share relatif rendah dan struktur pembelajaran kolaboratif pendek, sehingga sangat ideal bagi guru dan siswa yang baru belajar kolaboratif. Think Pair Share merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Think pair share menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota). Ibrahim (2000) yang menyatakan bahwa model pembelajran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya 3 tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.. sedangkan menurut Slavin (dalam Yusuf 2007: 11) model pembelajaran ini digunakan untuk menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan
  • 7. 7 kelompoknya. Oleh karena itu siswa dituntut untuk bekerja sama dengan kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama. b. Manfaat Pembelajaran Think-Pair-Share Menurut Spencer Kagan ( dalam Yusuf, 2007) manfaat Think-Pair-Share adalah : 1. para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik. 2. para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpkir ketika menggunakan Think-Pair-Share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi. c. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Guru menggunakan langkah-langkah atau alur pembelajaran sebagai berikut a. Langkah ke 1 : Guru menyampaikan pertanyaan Aktifitas : Guru melakukan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajran, dan menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan. b. Langkah ke 2 : Siswa berpikir secara individual Aktifitas : Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikiranya masing-masing.
  • 8. 8 c. Langkah ke 3: Setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan Aktifitas : Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka paling benar atau paling meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat dilengkapi dengan LKS sehingga kumpulan soal latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok. d. Langkah ke 4 : Siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas Aktifitas : Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual atau kelompok didepan kelas. e. Langkah ke 5 : Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah Aktifitas : Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil pemecahan masalah ang telah mereka diskusikan. Kegiatan “berpikir-berpasangan-berbagi” dalam model Think-Pair-Share memberikan keuntungan. Siswa secara individu dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time), Sehingga kualitas jawaban juga dapat meningkat. Menurut Jones (2002), akuntabilitas berkembang karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya, kemudian pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa jarang atau bahkan tidak pernah berbicara didepan kelas paling tidak memberikan ide atau jawaban karena pasangannya.( Ibrahim,2000:26) Frank Lyman dan koleganya (dalam Ibrahim,2000:27) menerapkan langkah- langkah pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share sebagai berikut : a. Tahap 1: Thinking (berpikir) Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
  • 9. 9 b. Tahap 2: Pairing (berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini dapat berbagi jawaban jika telah diaajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. c. Tahap 3 : Sharing (berbagi). pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempatpasangan telah mendapat kesempatan. Langkah-langkah model pembelajaran tersebut apabila dikaji dengan baik, maka akan memberikan peluang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan menerapkan konsep,keterampilan berkomunikasi, dan keterampilan diskusi mengajukan pertanyaan. Dalam Implementasinya secara teknis Howard (2006) mengemukakan lima langkah utama dalam pembelajaran dengan teknik think pair share, sebagai berikut : - Step 1 : Guru memberitahukan sebuah topik dan menyatakan berapa lama setiap siswa akan berbagi informasi dengan pasangan mereka. - Step 2 : Guru akan menetapkan waktu berpikir secara individual. - Step 3 : Dalam pasangan, pasangan A akan berbagi; pasangan akan mendengar - Step 4 : Pasangan B kemudian akan merespon pasangan A. - Step 5 : Pasangan berganti peran. d. karakteristik pembelajaran think pair share Karakteristik model think pair share siswa dibimbing secara mandiri, berpasangan, dan saling berbagi untuk menyelesaikan permasalahan. Model ini selain diharapkan dapat menjembatani dan mengarahkan proses belajar mengajar juga mempunyai dampak lain yang sangat bermanfaat bagi siswa. Beberapa akibat yang dapat ditimbulkan dari model ini adalah siswa dapat berkomunikasi secara
  • 10. 10 langsung oleh individu lain yang dapat saling memberi informasi dan dapat bertukar pikiran serta mampu berlatih untuk mempertahankan pendapatnya jika pendapat itu layak untuk dipertahankan.(hartina 2008) e. kelebihan dan kekurangan pembelajaran think pair share. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share adalah: a) memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan- pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru,serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan b) siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah, c) siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang, d) siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar, e) memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran (Hartina, 2008: 12). Senada dengan pendapat Hartina, Lie (2005: 46) mengemukakan bahwa kelebihan dari kelompok berpasangan (kelompok yang teridiri dari 2 orang siswa) adalah sebagai berikut : 1. akan meningkatkan pasrtisipasi siswa, 2) cocok untuk tugas sederhana, 3) lebih banyak memberi kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, 4) interaksi lebih mudah, dan 5) lebih mudah dan cepat membentuk kelompok. Sedangkan kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa) adalah: 1. Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir sistematik,
  • 11. 11 2) lebih sedikit ide yang masuk, dan 3) Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan sehingga banyak kelompok yang melapor dan dimonitor. Selain itu, menurut Lie, keuntungan lain dari teknik ini adalah teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share adalah sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak (Hartina, 2008: 12). Dalam think pair share, guru menantang dengan pertanyaan terbuka dan memberi siswa beberapa menit untuk memikirkan pertanyaan itu. Hal ini penting karena memberikan kesempatan siswa untuk mulai merumuskan jawaban dengan mengambil informasi dari memori jangka panjang. Siswa kemudian berpasangan dengan satu anggota kelompok kolaboratif atau tetangga yang duduk di dekatnya dan mendiskusikan ide-ide mereka tentang pertanyaan selama beberapa menit. Guru dalam hal ini dapat mengatur pasangan yang tidak sekelompok untuk menciptakan variasi gaya gaya belajar bagi siswa. Struktur think pair share memberikan kesempatan yang sama pada semua siswa untuk mendiskusikan ide- ide mereka. Hal ini penting karena siswa mulai untuk membangun pengetahuan mereka dalam diskusi ini, di samping untuk mengetahui apa yang mereka dapat lakukan dan belum ketahui. Proses aktif ini biasanya tidak tersedia bagi siswa dalam pembelajaran tradisional. Setelah beberapa menit guru dapat memilih secara acak pasangan yang ingin berbagi di hadapan kelas. Proses ini dapat dilakukan dengan meminta inisiatif siswa. Siswa biasanya lebih rela untuk merespon setelah mereka memiliki kesempatan untuk mendiskusikan ide-ide mereka dengan teman sekelas karena jika jawabannya salah, rasa malu dapat dirasakan bersama. Selain itu, tanggapan yang diterima sering lebih intelektual sehingga melalui proses ini siswa dapat mengubah atau merefleksi ide-ide mereka.
  • 12. 12 Struktur Think Pair Share juga meningkatkan keterampilan komunikasi lisan siswa ketika mereka mendiskusikan ide-ide mereka dengan satu sama lain. “Intermezzo” singkat ini juga dapat dijadikan kesempatan yang tepat bagi guru untuk membahas konsep yang akan didiskusikan atau dipelajari siswa pada periode berikutnya. Salah satu variasi dari struktur think pair share ini adalah siswa dapat menuliskan pikiran mereka di sebuah kartu dan mengumpulkannya. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk melihat apakah ada masalah dalam pemahaman mereka. Pembelajaran Think Pair Share juga mengembangkan keterampilan, yang sangat penting dalam perkembangan dunia saat ini. Pembelajaran Think Pair Share bisa mengajarkan orang untuk bekerja bersama-sama dan lebih efisien, biasanya kegiatan praktik perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Dengan bekerja sama, dua orang dapat menyelesaikan sesuatu lebih cepat. D. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Istilah pendidikan IPS dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia masih relatif baru digunakan. Pendidikan IPS merupakan padanan dari social studies dalam konteks kurikulum di Amerika Serikat. Istilah tersebut pertama kali digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1913 mengadopsi nama lembaga Sosial Studies yang mengembangkan kurikulum di Amerika Serikat (Marsh, 1980) Kurikulum pendidikan IPS tahun 1994 sebagaimana yang dikatakan oleh Hamid Hasan (1990), merupakan fusi dari berbagai disiplin ilmu, Martoella (1987) mengatakan bahwa pembelajaran Pendidikan IPS lebih menekankan pada aspek “pendidikan” dari pada “transfer konsep”, karena dalam pembelajaran pendidikan IPS peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya. Tujuan lain dari pendidikan IPS adalah untuk mengembangkan kemampuan peserta didik menggunakan penalaran dalam mengambil keputusan setiap
  • 13. 13 persoalan yang dihadapinya (Gross, 1978). Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan ilmu pengetahuan sosial berusaha membantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya (Kosasih, 1994). Pada dasarnya tujuan dari pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pembelajaran ilmu pengetahuan sosial di sekolah diorganisasikan secara baik. Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS, tampaknya dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjembatani tercapainya tujuan tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metode dan strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan (Kosasih, 1994), agar pembelajaran pendidikan ilmu pengetahuan sosial benar-benar mampu mengondisikan upaya pembekalan kemampuan dan keterampilan dasar bagi peserta didik untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Hal ini dikarenakan pengondisian iklim belajar merupakan aspek penting bagi tercapainya tujuan pendidikan
  • 14. 14 E. HIPOTESIS TINDAKAN Hipotesis adalah merupakan suatu jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenaran masih harus diuji terlebih dahulu secara empiris (Sumadi Suryabrata, 2003:21). Oleh karena itu agar rumusan jawaban dapat dipecahkan, maka peneliti memerlukan suatu pedoman yang digunakan sebagai tuntunan. Berdasarkan lendasan teori dan pengertian hipotesis maka dalam penelitien ini penulis dapat merumuskan hipotesis sebagai berikut : Melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas V SD Negeri 9 Lawa kec. Wadaga kab. Muna tahun pelajaran 2013/2014
  • 15. 15 BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN A. Subjek (Tempat dan Waktu ) 1. Subjek penelitian Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 9. Jumlah siswa yang diteliti ada 21 siswa terdiri 8 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. 2. Tempat dan waktu penelitian Pelaksanaan penelitian pembelajaran ini dilaksanakan di SD Negeri 9 Lawa Kec. Wadaga Kab. Muna tahun pelajaran 2013/2014. Pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS) kelas V . Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014. Jadwal pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1. Selasa, 13 Mei 2014 diadakan siklus I 2. Selasa, 20 Mei 2014 diadakan siklus II B. Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri atas 1 kali pertemuan ( 2 jam pelajaran)Secara operasional tahap-tahap dalam kegiatan penelitian pada siklus I dan II adalah sebagai berikut : 1. Perencanaan Tindakan Adapun yang dilakukan pada tahap siklus I adalah
  • 16. 16 a. Berdiskusi dengan supervisor 2 tentang rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPP) materi penjajahan Belanda di Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) b. Membuat lembar observasi untuk melihat cara mengajar guru dan partisipasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). c. Menyiapkan media/ alat pembelajaran yang sesuai dengan skenario pembelajaran berupa gambar-gambar penjajahan Belanda di indonesia. d. mendesain alat evaluasi belajar siklus I untuk mengukur tingkat keberhasilan dari proses belajar mengajar sekaligus melihat perkembangan/ peningkatan hasil belajar siswa tentang penjajahan Belanda di Indonesia. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 9 Lawa. Kegiatan penelitian ini dilakukan melalui 2 siklus, setiap siklus melalui 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Penulis bertugas sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar. Dan pada saat pelaksanaan tindakan penulis di bantu oleh supervisor 2 yang bertugas untuk mengamati aktifitas siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung dan memberikan masukan kepada guru setelah pembelajaran selesai. Pengamatan dilakukan berdasarkan lembar observasi yang telah dibuat. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan langkah-langkah yang telah disusun. Adapun langkah-langkahnya yaitu : 1 Memberi salam,berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing dan mengecek kehadiran
  • 17. 17 2. Guru mempersentasekan model pembelajaran kooperatif tipe Think pair Share (TPS) kepad siswa. 3. Memotifasi dan apersepsi : menjelaskan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran 4. Guru menjelaskan secara singkat materi penjajahan Belanda di Indonesia 5. Guru mengajukan beberapa pertanyaan/ permasalahan seputar penjajahan Belanda di Indonesia dalam selebaran kertas. 6. Guru memberikan waktu dalam beberapa menit untuk memikirkan sendiri jawaban dari permasalahan yang telah di berikan (Think). 7. Guru mebagi siswa kedalam kelompok yang terdiri dari 2 orang untuk mendiskusikan jawaban mereka (Pair). 8. Guru meminta kepada tiap pasangan berbagi dengan seluruh kelas dengan cara mempersentasikan hasil diskusinya hasil diskusinya di depan kelas secara bergiliran sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan (Share) 9. Guru membuat kesimpulan dari hasil diskusi. 10. Memberikan tes ujian atau kuis yang bersifat individu. 11. Memberikan waktu kepada siswa untuk mengerjakan kuis. 12. Pengumpulan kuis secara individu. 13. Guru menutup proses belajar mengajar.
  • 18. 18 b. Siklus II Adapun tindakan yang dilaksanakan pada siklus II adalah : 1. Menjelaskan kembali tentang langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Think Paair Share serta membimbing/ mengarahkan pada saat pembentukan kelompok dan menyampaikan hasil belajar siklus I dengan harapan siswa dapat termotivasi untuk belajar. 2. Mendorong siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan diskusi dan menekankan pentingnya kerjasama yang baik dari masing-masing anggota kelompok dengan menghargai perbedaan pada diri anggota kelompoknya dan tanggung jawab setiap anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama. 3. Memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan keberaniannya dalam bertanya, menjawab dan menanggapi hasil diskusi kelompok lain tanpa harus malu dan takut 4. Menyampaikan kepada siswa bahwa semua siswa bebas mengelurkan pendapat maupun idenya yang berhubungan dengan masalah diskusi. 5. Mengubah susunan anggota kelompok pada siklus II 3. Observasi Observasi merupakan proses perekaman dengan mengamati semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama penelitian tindakan kelas berlangsung. Dengan dilaksanakannya tindakan, peneliti melakukan observasi terhadap pelaksanaan dan hasil tindakan dari penerapan model pembelajaran kooperati tipe Think Pair Share (TPS) dengan cara mengadakan tes hasil belajar yang bersifat individual dalam bentuk tertulis. Tujuan dari observasi tersebut adalah untuk mengetahui seberapa jauh pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung dapat menghasilkan perubahan yang diinginkan
  • 19. 19 4. Refleksi a. Siklus I Pada proses belajar mengajar siklus I diperoleh beberapa hal yaitu : 1. proses pembentukan kelompok yang membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga waktu siswa berdiskusi bersama anggota kelompoknya berkurang. 2. Masih kurangnya siswa yang bertanya atau memberikan tanggapan terhadap permasalahan dalam pembelajaran. 3. ada beberapa siswa yang tidak berani mempersentasikan hasil diskusi kelompoknya. 4. kurangnya kerjasama dengan sesama anggota kelompok 5. suasana diskusi didominasi oleh siswa yang pandai. 6. masih ada beberapa siswa yang mengerjakan aktifitas lain selama pembelajaran. 7. hasil belajar siswa masih rendah atau belum mencapai 85% kriteria kelulusan maksiamal (KKM). Menyikapi berbagai masalah yang terjadi selama siklus I maka perbaikan dilakukan pada siklus II, lebih ditekankan pada pengelolaan kelas agar proses diskusi berjalan lancar dan siswa yang aktif selama proses pembelajaran lebih meningkat. b. Siklus II Berdasarkan kelemahan pada siklus I setelah diadakan perbaikan pada siklus II, terlihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dan semua kelemahan pada siklus I dapat diatasi walaupun terulang kembali pada siklus II. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 9
  • 20. 20 Lawa, hal ini dapat dilihat dari persentase siswa yang tuntas pada tes hasil belajar siklus II telah melebihi 61,90 % atau siswa yang tuntas pada siklus II mencapai 95,23%. Dengan tercapainya indiktor keberhasilan penelitian, maka penelitian tindakan kelas ini dapat diakhiri di siklus II C. Teknik Analisis Data Adapun teknik analisis data yang dilakukan untuk menganalisis data hasil belajar siswa kelas V SDN 9 Lawa adalah kualitatif-deskriptif dan analisis kuantitatif. Kualitatif-deskriptif digunakan untuk menjelaskan permasalahan tindakan yaitu berupa antuasisme siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media dan alat peraga, lembar observasi belajar mengajar dan jurnal refleksi diri guru. Sedangkan analisis-kuantitatif digunakan dalam bentuk skor tes hasil belajar siswa. D. Indikator Kinerja Data dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu kualitatif dan kuantitatif, maka keberhasilan penelitian tindakan dilihat dari dua segi yaitu segi proses dan segi hasil (nilai) siswa. Dari segi proses tindakan dikategorikan berhasil apabila di dalam proses pembelajaran siswa dapat mengakomodasikan pengetahuannya setelah mengikuti proses belajar mengajar dengan menggunakan media/alat peraga. Disamping itu, dikatakan berhasil dari segi proses apabila antusiasme siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dari segi pembelajaran, apabila 85% siswa sudah mendapat skor > 75 berarti tindakan tersebut sudah berhasil. Sebaliknya apabila siswa yang mendapat skor < 75 belum mencapai 85% berarti tindakan belum berhasil dan perlu diadakan tindakan selanjutnya.
  • 21. 21 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi setiap siklus a Data Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I Tabel 4.1 Hasil belajar IPS siklus I pada siswa kelas V SDN 9 Lawa No Nama Siswa Hasil Belajar Siswa Keterangan 1 Velan Afrial Hasdian 80 Tuntas 2 Yusna 75 Tuntas 3 Dwi Ayu 75 Tuntas 4 Mawarni 65 Tidak tuntas 5 Elan Febriani 70 Tidak tuntas 6 Sri Hartati Amili 70 Tidak tuntas 7 Ajma Sartikawati 75 Tuntas 8 Rani 75 Tuntas 9 Al Akram 75 Tuntas 10 Wawan Kurniawan 80 Tuntas 11 Ifan Saputra 85 Tuntas 12 Al Amin 90 Tuntas 13 Muh Ikram 75 Tuntas 14 Ld. Asfin 70 Tidak tuntas 15 Jerwani 65 Tidak tuntas 16 Aldi Afrizal 75 Tuntas 17 Ld. Afrizal 75 Tuntas 18 Alam Purnomo 65 Tidak tuntas 19 Nur Salim 60 Tidak tuntas 20 Rahmat 70 Tidak tuntas 21 Rion Arbil 75 Tuntas Jumlah 1545 Jumlah rata-rata 73,57 Jumlah siswa > 75 13 Jumlah siswa < 75 8 Persentase siswa > 75 61,90 Persentase siswa < 75 38,09
  • 22. 22 Data Nilai Siswa Pada Siklus I dapat diketahui bahwa : a. Jumlah Siswa yang mendapatkan nilai 60 ada 1 siswa, nilai 65 ada 3 siswa; nilai 70 ada 4 siswa; nilai 75 ada 9 siswa; nilai 80 ada 2 siswa; nilai 85 ada 1 siswa; nilai 90 ada 1 siswa, nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 90 dan nilai terendah 60 dengan nilai rata – rata yang diperoleh siswa sebesar 73,57. b. Siswa yang mendapatkan nilai > 75 sebanyak 13 siswa. c. Siswa yang mendapatkan nilai < 75 sebanyak 8 siswa. d. Siswa yang memiliki ketuntasan belajar ( dengan nilai 75 ke atas) sebanyak 13 siswa dari 21 siswa atau 61,90 %, sedangkan anak yang belum tuntas sebanyak 8 siswa dari 21 siswa atau 38,09 %. b. Data Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus II Tabel 4.3 Hasil belajar IPS siklus II pada siswa kelas V SDN 9 Lawa No Nama siswa Nilai hasil belajar Keterangan 1 Velan Afrial Hasdian 85 Tuntas 2 Yusna 100 Tuntas 3 Dwi Ayu 85 Tuntas 4 Mawarni 65 Tidak tuntas 5 Elan Febriani 75 Tuntas 6 Sri Hartati Amili 75 Tuntas 7 Ajma Sartikawati 75 Tuntas 8 Rani 75 Tuntas 9 Al Akram 85 Tuntas 10 Wawan Kurniawan 100 Tuntas 11 Ifan Saputra 100 Tuntas 12 Al Amin 100 Tuntas 13 Muh Ikram 85 Tuntas 14 Ld. Asfin 100 Tuntas 15 Jerwani 75 Tuntas 16 Aldi Afrizal 100 Tuntas
  • 23. 23 17 Ld. Afrizal 75 Tuntas 18 Alam Purnomo 100 Tuntas 19 Nur Salim 100 Tuntas 20 Rahmat 100 Tuntas 21 Rion Arbil 75 Tuntas Jumlah 1830 Jumlah rata-rata 87,14 Jumlah siswa > 75 20 Jumlah siswa < 75 1 Persentase siswa > 75 95,23 Persentase siswa < 75 4,76 Data Nilai Siswa Pada Siklus II dapat diketahui bahwa : a. Jumlah Siswa yang mendapatkan, nilai 65 ada 1 siswa; nilai 75 ada 7 siswa; nilai 85 ada 4 siswa;nilai 100 ada 9 siswa nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 100 dan nilai terendah 65 dengan nilai rata – rata yang diperoleh siswa sebesar 87,14. b. Siswa yang mendapatkan nilai > 75 sebanyak 20 siswa. c. Siswa yang mendapatkan nilai < 75 sebanyak 1 siswa. d. Siswa yang memiliki ketuntasan belajar ( dengan nilai 75 ke atas) sebanyak 20 siswa dari 21 siswa atau 87,14 %, sedangkan anak yang belum tuntas sebanyak 1 siswa dari 21 siswa atau 4,76%. B. Pembahasan Hasil Penelitian Hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS pada siswa kelas V SDN 9 Lawa. Peningakatan hasil belajar tersebut dapat di lihat pada tabel berikut :
  • 24. 24 No Nama Siswa Hasil Belajar Siswa Siklus I Siklus II 1 Velan Afrial Hasdian 80 85 2 Yusna 75 100 3 Dwi Ayu 75 85 4 Mawarni 65 65 5 Elan Febriani 70 75 6 Sri Hartati Amili 70 75 7 Ajma Sartikawati 75 75 8 Rani 75 75 9 Al Akram 75 85 10 Wawan Kurniawan 80 100 11 Ifan Saputra 85 100 12 Al Amin 90 100 13 Muh Ikram 75 85 14 Ld. Asfin 70 100 15 Jerwani 65 75 16 Aldi Afrizal 75 75 17 Ld. Afrizal 75 75 18 Alam Purnomo 65 100 19 Nur Salim 60 100 20 Rahmat 70 100 21 Rion Arbil 75 75 Jumlah 1545 1830 Jumlah rata-rata 73,04 87,14 Jumlah siswa > 75 13 20 Jumlah siswa < 75 8 1 Persentase siswa > 75 61,90 95,23 Persentase siswa < 75 38,09 4,76 Tabel di atas memberikan informasi bahwa pada nilai rata-rata kelas siklus I 73,04. Pada siklus I jumlah siswa yang mendapat nilai > 75 sebanyak 13 orang atau 61,90%. Dan jumlah siswa yang mendapat nilai < 75 sebanyak 8 orang atau 38,09%. Sedangkan nilai rata-rata pada siklus II sebesar 87,14.pada siklus II jumlah siswa yang mendapat nilai > 75 sebanyak 20 orang atau 95,23%. Dan
  • 25. 25 jumlah siswa yang mendapat nilai < 75 sebanyak 1 orang atau 4,76%. Dari hasil diatas dapat di lihat bahwa dari siklus I ke seklus II mengalami peningkatan. Sebanyak 20 siswa sudah mencapai nilai diatas > 75 dari target 85%. Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Ibrahim (2000) yang menyatakan bahwa model pembelajran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya 3 tujun pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.. sedangkan menurut Slavin (dalam Yusuf 2007: 11) model pembelajaran ini digunakan untuk menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Oleh karena itu siswa dituntut untuk bekerja sama dengan kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama. Meningkatnya hasil belajar siswa merupakan cerminan dari keberhasilan dari proses pembelajaran. Oleh karena itu keaktifan dalam belajar sangat diperlukan dalam belajar. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menumbuhkan keberanian siswa untuk mngelurkan pendapat sehingga siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran dan lebih memotivasi siswa untuk belajar. Semakin besar motivasi dan keinginan dalam belajar maka ssemakin besar pula usaha siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang memuaskan. Dengan kegigihan itu menyebabkan siswa dapat memahami materi dan berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa pada pelajaran IPS siswa kelas V SDN 9 Lawa. Peneliti menyadari bahwa untuk meningkatkan hasil belajar siswa SDN 9 Lawa pada mata pelajaran IPS bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan kerja keras guru dalam pengelolaan kelas, apalagi dengan kemampuan siswa yang terbatas, baik dalam pelajaran IPS maupun dalam pola berpikir siswa. Namun membelajarkan siswa untuk berani mengungkkapkan ide, pemikiran dan meningkatkan hasil belajar IPS adalah hal yang paling penting
  • 26. 26 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa : 1 Rata-rata hasil belajar IPS kelas V SDN 9 Lawa meningkat dari siklus I ke siklus II dengan menerapkan model pembelajaran koperatif tipe Think Pair Share (TPS). 2. Hasil belajar siswa IPS kelas V SDN 9 Lawa siklus I mencapai 61,90% yang mencapai nilai KKM dan nilai rata-rata siswa sebesar 73;04 dan pada siklus II meningkat menjadi 95,23% yang mencapai nilai KKM dan nilai rata-ratanya sebesar 87,14. B. SARAN Bertitik tolak dari simpulan hasil penelitian tersebut diatas, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut : 1. Bagi Siswa a. siswa hendaknya dapat berperan aktif dengan menyampaikan ide atau pemikirannya pada proses pembelajaran sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan b. Meminta kepada guru agar bisa memilih pasangan yang akrab dengannya pada saat sesi diskusi dengan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS), sehingga mereka bisa nyaman dan lebih berani dalam mengemukakan pendapat satu sama lain.
  • 27. 27 2. Bagi Guru a. Guru aktif memotivasi siswa yang kurang memperhatikan dengan cara mengarahkan siswa agar mereka memikirkan terlebih dahulu permasalahan yang diajukan dengan memberikan waktu tunggu lebih lama, sehingga mereka memiliki bekal saat dilaksanakannya diskusi. b. Apabila dalam sesi diskus ada siswa yang kurang aktif bekerja sama dengan temannya, maka guru harus memberikan pendekatan dan bimbingan baik secara individu maupun kelompok dengan cara memberikan nasehat dan arahan agar tercipta komunikasi antara guru dengan siswa tersebut. c. Guru membakitkan rasa percaya diri pada siswa yang kurang merespon dengan cara mendekati siswa tersebut dan memberikan dorongan agar mereka berani dalam melakukan prsentasi di depan kelas dan mengemukakan ide/ pendapatnya. 3. Bagi Sekolah a. Mensosialisasikan model pembelajaran kooperetif Think Pair Share (TPS) kepada guru-guru dengan sharing pembelajaran agar mereka bisa menerapkannya di dalam kelas sehingga pembelajaran menjadi tidak monoton. b. Menerapkan waktu jeda yaitu saat ganti pelajaran, dengan begitu siswa bisa memiliki kesiapan dan bisa konsetrasi dalam meengikuti pelajaran yang selanjutnya, sehingga mereka akan lebih mendalami materi yang diajarkan karena di sekolah ini, saat ganti pelajaran guru langsung masuk kelas.

×