Intervensi keperawatan

6,350 views
6,034 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,350
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
57
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Intervensi keperawatan

  1. 1. C. INTERVENSI NO 1 DIAGNOSA KEPERAWATAN Pola napas tidak efektif berhubungan dengan terjadinya herniasi batang otak ditandai dengan dispnea. TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI KEPERAWATAN HASIL Mempertahankan pola pernapasan Pantau frekwensi, irama, normal/efektif, bebas sianosis kedalaman pernapasan. Catat dengan GDA dalam batas normal ketidak teraturan pernapasan. pasien Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya, posisi miring sesuai indikasi. Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam yang efektif jika pasien sadar. Lakukan penghisapan dengan ekstra hati-hati, jangan lebih dari 10-15 detik. Catat karakter, warna dan kekeruhan dari sekret. Kolaborasi : - Pantau atau gambarkan analisa gas darah, tekanan oksimetri - Lakukan ronsen toraks ulang - Lakukan fisioterapi dada jika ada indikasi. RASIONAL Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal (umumnya mengikuti cedera otak) atau menandakan lokasi /luasnya keterlibatan otak. Pernapasan lambat, periode apnea dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis. Untuk memudahkan ekspansi paru/ventilasi paru dan menurunkan kemungkinan lidah jatuh yang menyumbat jalan napas. mencegah/menurunkan atelektasis. Penghisapapan pada trachea yang lebih dalam harus dilakukan dengan ekstra hati-hati, karena hal tersebut dapat mengakibatkan hipoksia yang menimbulkan vasokonstriksi yang pada akhirnya akan berpengaruh cukup besar terhadap perfusi serebral. - Menentukan kecukupan pernapasan. Keseimbangan asam basa dan kebutuhan akan 15
  2. 2. terapi. - melihat kembali keadaan ventilasi dan tanda-tanda komplikasi yang berkembang (seperti atelektasis atau bronkopneumonia). - Walaupun merupakan kontraindikasi pada pasien dengan peningkatan TIK fase akut namun tindakan ini seringkali berguna pada pada akut rehabilitasi untuk memobilisasi dan memberikan jalan napas dan menurunkan risiko atelektasis/komplikasi paru lainnya. 2 Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penekanan vaskuler serebral ditandai dengan hipoksia dan iskemia jaringan. Tujuan : Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan, kognisi, dan fungsi motorik/sesnsorik. Kriteria hasil : Tanda vital stabil dan tak ada tanda-tanda peningkatan TIK. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK. Pantau/catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar (misalnya Skala Coms Glascow) Evaluasi keadaan pupil, catat ukuran, ketjaman, kesamaan antara kiri dan kanan, dan 16 menentukkan pilihan intervensi, penurunan tanda gwjala neurologis atau kegagalan dalam pemulihannya setelah serangan awal mungkin menunjukan bahwa pasien itu perlu dipindahkan ke perawatan intensif untuk memantau TIK dan atau pembedahan Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan
  3. 3. reaksinya terhadap cahaya. Kaji perubahan pada penglihatan, seperti adanya penglihatan yang kabur, ganda, lapang pandang menyempit dan kedalaman persepsi. Kaji l;etak/gerakan mata, catat apakah pada posisi tengah atau ada deviasi pada satu sisi atau kebawah. Catat pula hilangnya refleks DOLLS EYE. Catat ada tidaknya refelks-refleks tertentu seperti refleks menelan, batuk dan Babinski dan sebagainya Pertahankan kepala/leher pada posisi tengah/posisi netral, sokong dengan gulungan handuk kecil. Hindari pemakaian bantal besar pada kepala. 17 lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP Gangguan penglihatan, yang dapat diakibatkan oleh kerusakan mikroskopik pada otak, mempunyai konsekwensi terhadap keamanan dan juga akan mempengaruhi pilihan intervensi. Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotor (N.III) dan berguna untuk menentukan apakah batang otak masih baik. Ukuran/kesamaan ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis. Respon terhadap cahaya mencerminkan fungsi yang terkoordinasi dari saraf cranial optikus dan okulomtorius Posisi dan gerakan mata membantu menemukan lokasi area otak yang terlibat. Tanda awal dari peningkatan TIK adalah kegagalan dalam kegagalan dalam abduksi pada mata, mengindikasikan penekanan/trauma pada saraf cranial V.Hilangnya DOLLS EYE mengindikasikan adanya penurunan pada fungsi batang otak dan prognosisnya jelek.
  4. 4. 3 Nyeri berhubungan dengan Tujuan : Mandiri : peningkatan tekanan intrakanial Nyeri hilang/terkontrol Kaji keluhan nyeri, perhatikan ditandai dengan wajah Kriteria hasil : lokasi, intensitas,( skala1-10 menyeringai dan merintih Menunjukan ),ferkuensi, dan waktu.menandai ekspresi kesakitan. gejala nonverbal mis: kenyamanan. gelisah,takikardia, meringis. Dapat melakukan istrahat dengan Dorong pengungkapan perasaan. baik. Berikan aktivitas hiburan,mis: membaca, berkujung, dn menonton telivisi Lakukan tindakan paliatif, mis: pengubahan posisi, masase, rentang gerak pada sendi yang sakit. Berikan kompres hangat/lembab pada sisi injeksi pentamidin/IV selama 20 menit setelah 18 Penurunan refleks menandakan adanya kerusakan pada tingkat otak tengah atau batang otak dan sangat berpengaruh langsung terhadap pasien. Refleks Babinski positif mengindikasikan adanya trauma sepanjang jalur piramida pada otak Kepala yang miring pada satu sisi akan menekan vena jugularis dan menghambat aliran darah vena.yang selanjutnya akan meningkatkan TIK. Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan /refelusi komplikasi Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut, sehingga mengurangi presepsi akan ansietas rasa sakit. Memfokuskan kembali perhatian; mungkin dapat meningkatkan kemampuan untuk menanggulangi. Meningkatkan relaksasi/menurunkan ketegangan otot Injeksi ini diketahui sebagai penyebab rasa sakit dan akses steril Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat. Dapat menurunkan
  5. 5. 4 pemberian Instrusikan pasien/dorong untuk menggunakan visualisasi/bimbingan imajinasi, relaksasi progesif, tehnik napas dalam Berikan perawatan oral Kolaborasi : Berikan analgetik/antipiuretik, analgesik narkotik. Gunakan ADP ( analgesik yang dikontrol pasien) untuk memberikan analgesia 24 jam dengan dosis prn. Resiko obstruksi jalan napas Tujuan : Kaji adanya gangguan bunyi berhubungan dengan Aktivitas perawatan diri dapat /pola nafas dan kelemahan immobilisasi, penumpukan terpenuhi dengan baik secar Catat sianosis atau perubahan secret. mandiri warna kulit, tmasuk membran Kriteria hasil : mukosa dan kuku. kebutuhan narkotik analgesik ( depresan SSP) dimana telah terjadi proses degeneratif neuro motorik Ulserasi/lesi oral mungkin menyebabkan ketidak nyamanan, Memberikan penurunan nyeri/tidak nyaman ; mengurangi demam. Obat yang dikontrol pasien berdasarkan waktu 24 jam mempertahankan kadar analgesia darah tetap stabil, mencegah kekurangan ataupun kelebihan obat-obatan. Adanya gangguan bunyi pernapasan menunjukkan adanya obstruksi jalan napas. Akumulasi sekret atau pengaruh jalan napas dapat mengganggu oksigenasi organ vital dan jaringan. Tingkatkan tirah baring/batasi Menurunkan konsumsi oksigen atau kebutuhan selama periode penurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala. Berikan tambahan oksigen yang sesuai Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi/menurunnya penurunan 19
  6. 6. alveolar paru. 5 Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan fraktur mandibula, anoreksia ditandai dengan penurunan berat badan. Mendemonstrasikan kemajuan peningkatan berat badan sesuai tujuan. Tidak mengalami tandatanda malnutrisi, dengan nilai laboratorium dalam batas-batas normal. Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan, batuk dan mengatasi sekresi. Auskultasi bising usus, catat adanya penurunan/hilangnya atau suara yang hiperaktif. Timbang berat badan sesuai indikasi. Jaga keamanan saat memberikan makan pada pasien seperti tinggikan kepala tempat tidur selama makan atau selamam pemberian makan lewat NGT Berikan makan dalam jumlah kecil dan dalam waktu yang sering dengan teratur. Tingkatkan kenyaman, lingkungan yang santai termasuk sosialisasi saat makan. Anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai pasien. Kolaborasi : - Konsultasi dengan ahli gizi. - Pantau pemeriksaan laboratorium seperti albumin darah, zat besi, ureum/kreatinin, glukosa, AST/ALT dan elektrolit darah. - Berikan makan dengan cara 20 menentukan pemilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien terlindung dari aspirasi Bising usus membantu dalam menentukan respons untuk makan atau berkembangnya komplikasi seperti paralitik ileus. mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi menurunkan risiko regurgitasi atau terjadinya aspirasi meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi yang diberikan yang dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan. Dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makan - merupakan sumber yang efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori/nutrisi tergantung pada usia, berat badan, ukuran tubuh, dan keadaan penyakit sekarang. - mengidentifikasi defisiensi
  7. 7. yang sesuai seperti melalui NGT, melalui oral dengan makanan lunak dan cairan yang agak kental. 6 Gangguan keseimbangan cairan & elektrolit berhubungan dengan terjadinya herniasi batang otak, perangsangan saraf mual muntah ditandai dengan mual muntah. Tujuan : Klien menunjukkan keseimbangan cairan dan elektrolit, Kriteria hasil : - Anak mau makan sedikitsedikit tapi sering. - Klien tidak demam lagi, suhu tubuh dalam batas normal S : 37,7 . - Porsi makan dan minum dihabiskan. - Klien tidak sesak lagi. - Turgor kulit baik. Kaji perubahan tanda vital, contoh : peningkatan suhu/demam memanjang, takikardia, hipotensi ortostatik. Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa (bibir, lidah). Pantau masukan dan haluaran, catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Waspadai kehilangan yang tampak. Ukur berat badan setiap hari. Anjurkan kepada orang tua klien agar memberi minum 11/2-2 liter perhari sesuai kondisi individual. Kolaborasi dengan tim medis pemberian anti piretik, anti emetik. Berikan cairan IV tambahan sesuai keperluan. 21 nutrisi. Fungsi organ dan respons terhadap terapi nutrisi tersebut. - pemilihan rute pemberian tergantung pada kebutuhan dan kemampuan pasien Peningkatan suhu meningkatkan laju metabolik dan kehilangan cairan melalui evaporasi. TD ortostatik berubah dan peningkatan takikardia menunjukkan kekurangan cairan sistemik. Indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan oksigen tambahan Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian. Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan resiko dehidrasi. Berguna menurunkan kehilangan cairan Karena adanya penurunan masukan/banyak kehilangan cairan, penggunaan parenteral dapat memperbaiki/mencegah
  8. 8. 7 Gangguan persepsi sensori : penglihatan, berhubungan dengan penekanan pada nervus II dan III ditandai dengan penglihatan terganggu (kabur ketika melihat). Tujuan : Melakukan kembali/mempertahankan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi. Kriteria hasil : - mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlambatan residu. - Mendemonstrasikan perubahan perilaku/gaya hidup untuk mengkompensasi/defisit hasil. Evaluasi/pantau secara teratur perubahan orientasi, kemampuan berbicara, alam perasaan/afektif, sensorik dan proses piker Kaji kesadaran sensorik seperti respon sentuhan, panas/dingin, benda tajam/tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan letak tubuh. Perhatikan adanya masalah penglihatan atau sensasi yang lain. Hilangkan suara bising/stimuli yang berlebihan sesuai kebutuhan Buat jadual istirahat yang adekuat/periode tidur tanpa adanya gangguan. Gunakan penerangan siang atau malam hari. Kolaborasi : - Rujuk pada ahli fisioterapi, terapi okupasi, terpi wicara, dan terapi kognitif. kekurangan cairan. Fungsi serebral bagian atas biasanya terlebih dahulu oleh adanya gangguan sirkulasi, oksigenasi. Kerusakan dapat terjadi saat trauma awal atau kadangkadang berkembang setelahnya akibat dari pembengkakan atau perdarahan. Perubahan motorik, persepsi, kognitif dan kepribadian mungkin berkembang dan menetap dengan perbaikan respons secara perlahan-lahan atau tetap bertahan secara terus menerus pada derajat tertentu. Informasi penting untuk keamanan pasien. Semua sistem sensorik dapat terpengaruh dengan adanya perubahan yang melibatkan peningkatan atau penurunan sensitivitas atau kehilangan sensasi/kemampuan untuk menerima dan berespons secara sesuai pada suatu stimuli. menurunkan ansietas, respon emosi yang berlebihan/bingung yang berhubungan dengan sensorik yang berlebihan. Mengurangi kelelahan, mencegah 22
  9. 9. kejenuhan, memberikan kesempatan untuk tidur REM (ketidakadanya tidur REM ini dapat meningkatkan gangguan persepsi sensorik) Memberikan perasaan normal tentang pola perubahan waktu dan pola tidur/bangun. Pendekatan antar disiplin dapat menciptakan rencana penatalaksanaan terintegrasi yang didasarkan atas kombinasi kemampuan/ketidakmampuan secara individu yang unik dengan berfokus pada peningkatan evaluasi dan fungsi fisik, dan ketrampilan perceptual. 8 Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan penurunan system saraf otonom (perkemihan) ditandai dengan inkontinensia urin Berkemih dengan jumlah normal Mandiri tanpa retensi Kaji haluaran urine dan sistem Menunjukkan perilaku yang kateter/drainase, khususnya meningkatkan kontrol kandung selama fungsi irigasi kandung kemih. kemih Bantu pasien memilih posisi normal untuk berkemih, contoh berdiri, berjalan ke kamar mandi, dengan frekuensi sering setelah kateter dilepas Perhatikan waktu, jumlah berkemih, dan ukuran aliran 23 Retensi dapat terjadi karena edema area bedah, bekuan darah, dan spasme kandung kamih Mendorong pasase urine dan meningkatkan rasa normalitas Kateter biasanya dilapas 2-5 hari stelah bedah, tetapi berkemih dapat berlanjut menjadi masalah untuk beberapa waktu karena edema uretral dann kehilangan tonus Keterbatasan berkemih untuk tiap
  10. 10. 9 Hipertermi berhubungan dengan Tujuan : inflamasi ditandai dengan Menunjukan temperatur peningkatan suhu tubuh. tubuh dalam batas normal, dengan kriteria Suhu badan kembali normal Klien tidak merasa panas dan sakit setelah kateter di lepas. Perhatikan keluhan rasa penuh kandung kemih: ketidakmampuan berkemih, urgensi Dorongg pasien untuk berkemih bila terasa dorongan tetapi lebih dari 2-4 jam per protokol Uji volume residu bila ada keteter suprapubik Dorong pemasukan cairan 3 L sesuai toleransi. Batasi cairan pada malam, setelah keteter di lepas. Instruksikan passien untuk latihan perineal, contoh mengangkat bokong, menghentikan dan memulai aliran urine Pantau suhu badan pasien Pantau suhu lingkungan, batasi penggunaan pakaian yang tebal Berikan kompres hangat, hindari penggunaan kompres dengan alkohol Kolaborasi pemberian antiperetik 24 4 jam dapat menigkatkan tonus otot dan membantu latihan ulang kandung kemih Mengawasi keefektifan pengosongan kandung kemih. Mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran urine. Membantu meningkatkan kontrol kandung kemih, meminimalkan inkontinensia urine. Suhu yang tinggi Menunjukan proses penyakit infeksius. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis (kurva demam lanjut berakhir lebih dari 24 jam menunjukan pneumonia atau tifoid, demam remiten (bervariasi hanya beberapa derajat dalam arah tertentu ) menunjukan penyakit paru lainya, suhu yang kembali normal dalam peiode 24 jam menunjukan episodik septik. Suhu ruangan jumlah selimut harus
  11. 11. dirubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. Dapat membantu menurunkan panas tubuh akibat efek vasidilatasi pembuluh darah, Penggunaan alkohol dan es dapat kedinginan dan meningkatkan suhu secara aktual, dan alkohol dapat mengeringkan kulit. Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentral pada hipotalamus, meskipun demam dapat berguna untuk membatasi pertumbuhan arganisme dan meningkatkan autodestruksi dari sel-sel yang terinfeksi . 10 Resiko infeksi berhubungan Mempertahankan normotermia, dengan pemsangan kateter. bebas tanda-tanda infeksi, mencapai penyembuhan luka tepat waktu bila ada. Berikan perawatan aseptik dan antiseptik, pertahankan teknik cuci tangan yang baik. Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (seperti luka, garis jahitan), daerah yang terpasang alat invasi (terpasang infus dan sebagainya), catat karakterisitik dari drainase dan adanya inflamasi. Pantau suhu tubuh secara teratur. Catat adanya demam, mengigil, diaforosis, dan perubahan fungsi 25 Cara pertama untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya. Dapat mengindikasikan perkembangan sepsis yang selanjutnya memerlukan evaluasi atau tindakan dengan segera. Peningkatan mobilisasi dan pembersihan sekresi paru untuk
  12. 12. mental (penurunan kesadaran). Anjurkan untk melakukan napas dalam, latihan pengeluaran sekret paru secara terus menerus, observasi karakterisitk sputum. Berikan perawatan perawatan perineal. Pertahankan integritas dan sistem drainase urine tertutup jika menggunakannya. Anjurkan untuk minum adekuat. Observasi warna/kejernihan urine. Catat adanya bau busuk (yang tidak enak). Batasi pengunjung yang dapat menularkan infeksi atau cegah pengunjung yang mengalami infeksi saluran infeksi bagian atas. Kolaborasi : - Berikan antibiotik sesuai indikasi. - Ambil bahan pemeriksaan (spesimen) sesuai indikasi. 26 menurunkan risiko terjadinya pneumonia, atelektasis. Catatan : Drainase postural harus digunakan dengan hati-hati jika ada risiko terjadinya peningkatan TIK. R/ : Menurunkan kemungkinan terjadinya pertumbuhan bakteri atau infeksi yang merambah naik. Sebagai indicator dari perkembangan infeksi pada saluran kemih yang memerlukan tindakan dengan segera. Menurunkan pemajanan terhadap “pembawa kuman penyebab infeksi” - Terapi profilaktik dapat digunakan pada pasien yang mengalami trauma (perlukaan), kebocoran CSS atau setelah dilakukan pembedahan untuk menurunkan risiko terjadinya infeksi nosokomial. - Kultur/sensitivitas, pewarnaan gram Gram dapat dilakukan untuk memastikan adanya infeksi dan mengidentifikasi organisme penyebab dan untuk menentukan obat pilihan yang sesuai.
  13. 13. 12 Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi, penekanan pada daerah yang menonjol. 13 Ansietas berhubungan hopitalisasi ditandai dengan klien merasa cemas.  Mencegah cedera iskemik dermal  Berpartisipasi dalam perilaku menurunkan faktor resiko/kerusakan kulit, Sering ubah posisi, bahkan bila duduk di kursi Inspeksi kulit/titik tekanan secara teratur untuk kemerahan, berikan pijatan embut Pertahankan permukaan kulit kering dan bersih; linen kering/bebas kerutan Awasi tungkai terhadap kemerahan, perhatikan dengan ketat terhadap pembentukan ulkus Tinggikan ekstremitass bawah bila duduk Kolaborasi Berikan kasur air atau tekanan udara Awasi status area iskemik, ulkus. Perhatikan distribusi, ukuran, kedalaman, karakter, dan drainasse. Bersihkan dengan hidrogen peroksida, asam borak, atau larutan betadin sesuai indikasi Menyatakan kesadaran tentang Mandiri : perasaan sehat untuk Jamin pasien tentang kerahasiaan menghadapi penyakit. dalam batasan situasi tetantu. Rasa takut/cemas berkurang. Pertahankan hubungan yang sering dengan pasien.batasi Memahami prognosis penyakit. penggunaan baju pelindung dan masker. 27 Mencegah tekanan jaringan lama dimana sirkulasi telahterganggu, menurunkan resiko trauma jaringan Sirkulassi buruk pada jaringan, mencegah kerusakan kulit Lembab, area terkontaminasi memberikan media yang baik untuk pertumbuhan organisme patogen Potensial jalan massuk organisme patogen. Meningkatkan aliran balik vena menurunkan statis vena/ pembentukan edema Menurunkan tekanan jaringan dan membantu dalam memaksimalkan perfusi seluler untuk mencegah cedera dermal Perbaikan/lambatnya penyembuhan menunjukkan status perfusi jaringan dan keefektifitas intervensi. Memberikan penentraman hati lebih lanjut dan kesempatan bagi pasien untuk memicahkan masalah pada situasi yang diantisipasi . Menjamin bahwa pasien tidak akan sendiri atau di telantarkan , menunjukkan rasa menghargai,dan
  14. 14. Berikan informasi akurat dan konsisten mengenai prognosis.hindari argumentasi mengenai persepsi pasien terhadap situasi tersebut. Waspada terhadap tanda-tanda penolakan/depresi (MIS:menarik diri,marah,ucapan-ucapan yang tidak tepat).tetukan timbulnya ide bunuh diri dan kaji potensialnya skala 1-10. Berikan lingkungan terbuka di mana pasien akan merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menahan diri untuk berbicara. Ijinkan pasien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, putusasa tanpa konfrontasi. Berikan informasi bahwa persaannya adalah normal dan perlu di ekspresikan. Kenali dan dukung tapappasien/keluarga pada proses berduka. Jelaskan prosedur, berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab denggan jujur. Tetap berada bersama pasien selama prosedur dan konsultasi yang 28 menerima orang tersebut, mwmbantu meningkatkan rasapercaya. Dapat mengurangi ansietas dan ketidakmampuan pasien untuk membuat keputusan/pilihan berdasarkan realita. Pasien mungkin akan menggunakan mekanisme bertahan dengan penolakan dan terus berharap bahwa diagnosanya tidak akurat.rasa bersalah dan tekanan spritual mungkin akan menyebabkan pasien menarik diri bahwa bunuh diri adalah suatu alternatif Membantu pasien untuk merasa diterima pada kondisi sekarang tanpa perasaan dihakimi dan meningkatkan perasaan harga diri dan kontrol Peneriamaan perasaan akan menerima situasi Pilihan intervensi ditentukan oleh tahap berduka, perilaku, marah/menarik diri Informasi yang akurat akan membuat pasien dapat lebih efektif dalam menghadapi realitassituasi,sehingga dapat
  15. 15. menimbulkan ansietas. Identifikasi dan dorong interaksi pasien dengan sistem pendukung.dorng penhungkapan /interaksi dengan keluarga/orang terdekat. Berikan informasi yang dapaat di percaya dan konsisten, juga dukungan orang terdekat. Libatkan orang terrdekat sesuai petunjuk pada pengambilan keputusan bersifat mayor. Kolaborasi : rujuk pada koseling psikiatri MIS: perawat spesialis klinis, psikiater,pekerja sosial. 14 Intoleransi aktivitas Tujuan : berhubungan dengan penurunan Berpartisipasi dalam tonus otot ditandai dengan yang diinginkan. kelemahan. Toleran dalam keseharian. Peningkatan enrgi. Kriteria hasil : Mandiri : Kaji pola tidur dan catat perubahan dalam proses berpikir dan perilaku. aktivitas Rencanakan perawatan untuk menyediakan fase istrahat, atur aktivitas pada waktu pasien sangat berenergi. Ikutsertakan pasien/orang terdekat pada penyusunan rencana. Tetapkan keberhasilan aktivitas yang realistis dengan pasien. Bantu memenui kebutuhan aktivitas 29 mengurangi ansietas dan rasa takut akan ketidaktahuan Mengurangi perasaan terisolasi. Jika sistem pendukung ttidak tersedia bantuan dari luar dibutuhkan segera Menciptakan interaksi interpersonal yang lebih baik dan menurunkan ansietas dan rasa takut Menjamin adanya sistem pendukung bagi pasien dan memberikan kesempatan orang yang terdekat untuk berpartisipasi. Mungkin diperlukan bantuan lebih lanjut dalam berhadapan dengan diagnosa/prognosis, terutama jika timbul pikiran untuk bunuh diri Berbagai faktor dapat meningkatkan kelelahan, termasuk kurang tidur, penyakit SSP, tekanan emosi dan efek samping obat-obatan. Periode istrahat yang sering sangat dibutuhkan dalam memperbaiki/menghemat energi. Perencanaan akan membuat pasien menjadi aktif pada waktu dimana tingkat energi lebih tinggi, sehingga dapat memperbaiki
  16. 16. perawatan pribadi; pertahnakna tempat tidur dalam posisi rendah dan tempat lalulalang bebas dari perabotan, bantu dengna ambulasi. Dorong pasien untuk melakukan apapun yang mungkin. Misalnya perawatan diri, duduk dikursi, berjalan pergi makan siang. Meningkatkan tingkat aktivitas sesuai petunjuk. Pantau respon psikologis terhadap aktivitas, misalnya perubahan tekanan darah, frekuensi pernapasan atau jantung. Dorong masukan nutrisi. Kolaborasi : Berikan oksigen tambahan sesuai dengan petunjuk. Rujuk pada terappi fisik. 30 perasaan sehat dan kontrol diri. Mengusahakan kontrol diri dan perasaan berhasil. Mencegah timbulnya perasaan frustasi akibat kelelahan karena aktivitas berlebihan. Rasa lemas dapat membuat aktivitas keseharian hampir tidak mungkin bagi pasien untuk menyelesaikannya. Melindungu pasien dari cedera selama melakukan aktivitas. Memungkinkan penghematan energi, peningkatan stamina, dan mengizinkan pasien untuk lebih aktif tanpa menyebabkan kepenatan dan rasa frustasi. Toleransi bervariiasi tergantung pada status proses penyakit, status nutrisi, keseimbangan cairan, dan jumlah/tipe penyakit dimana pasien menjadi subjeknya. Pemasukan penggunaan nutrisi adekuat sangat penting bagi kebutuhan energi untuk akrtivitas. Adanya hipoksemia mengurangi persediaan oksigen untuk ambilan selular dan menunjang kelelahan. Latihan setiap hari terprogram dan aktivitas yang membantu pasien
  17. 17. mempertahankan kekuatan dan tonus otot meningkatkan rasa sejahtera. 31

×