Your SlideShare is downloading. ×
Informed choice & consent AKBID PARAMATA KABUPATEN MUNA
Informed choice & consent AKBID PARAMATA KABUPATEN MUNA
Informed choice & consent AKBID PARAMATA KABUPATEN MUNA
Informed choice & consent AKBID PARAMATA KABUPATEN MUNA
Informed choice & consent AKBID PARAMATA KABUPATEN MUNA
Informed choice & consent AKBID PARAMATA KABUPATEN MUNA
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Informed choice & consent AKBID PARAMATA KABUPATEN MUNA

2,932

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,932
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
35
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. MENGHADAPI MASALAH ETIK MORAL DAN DILEMA DALAM PRAKTIK KEBIDANAN A. Masalah Etik Moral dan Dilema dalam Praktik Kebidanan Untuk dapat menjalankan praktik kebidanan dengan baik tidak hanya dibutuhkan pengetahuan klinik yang baik, serta pengetahuan yang up to date, tetapi bidan juga harus mempunyai pemahaman isu etik dalam pelayanan kebidanan . menurut Daryl Koehn dalam The Ground of professional ethics, 1994 bahwa bidan dikatakan professional , bila menerapkan etika dalam menjalankan praktik kebidanan. Dengan memahami peran sebagai bidan, akan mendapatkan tanggung jawab profesionalisnya kepada pasien atau klien. Bidan berada pada posisi yang baik, yaitu menfasilitasi pilihan klien dan membutuhkan peningkatan pengetahuan tentang etik untuk menerapkan dalam strategi praktik kebidanan. B. INFORMED CHOICE Informed choice adalah membuat pilihan setelah menjelaskan pendapat setelah mendapatkan penjelasan tentang alternative asuhan yang akan dialaminya. Informasi dalam konteks ini : informasi yang lengkap sudah diberikan dan dipahami ibu, tentang pemahaman risiko, manfaat, keuntungan, kemungkinan hasil dari tiap pilihannya. Perbedaan pilihan (choice) dengan persetujuan (consent) : 1. Pilihan atau choice penting dari sudut pandang klien sebagai penerima jasa asuhan kebidanan, yang memberikan gambaran pemahaman masalah yang sesungguhnya dan merupakan aspek otonomi pribadi menentukkan pilihannya sendiri. Choice berarti ada alternative lain, ada lebih dari satu pilihan dan klien mengerti perbedaannya sehingga dia dapat menentukkan mana yang disukai atau sesuai dengan kebutuhannya.
  • 2. 2. Persetujuan (consent) penting dari sudut pandang bidan, karena berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedur yang akan dilakukan bidan. Jenis-jenis Pelayanan yang dapat dipilih oleh pasien antara lain : 1. Bentuk pemeriksaan ANC dan screening laboratorium ANC. 2. Tempat melahirkan. 3. Masuk kamar bersalin pada tahap awal persalinan. 4. didampingi waktu melahirkan. 5. Metoda monitor DJJ. 6. Argumentasi, stimulasi, induksi. 7. Mobilisasi atau posisi saat persalinan. 8. Pemakaian analgesia. 9. Episiotomi. 10. Pemecahan ketuban. 11. Penolong persalinan. 12. Keterlibatan suami pada waktu melahirkan. 13. Tekhnik pemberian minuman pada bayi. 14. Metode kontrasepsi. C. INFORMED CONSENT Menurut Culver and Gert, ada empat komponen yang harus dipahami pada suatu consent atau persetujuan : 1. Suka rela (voluntariness) suka rela mengandung makna bahwa pilihan yang dibuat adalah atas dasar sukarela tanpa ada unsur paksaan didasari informasi dan kompetensi. Sehingga pelaksanaan sukarela harus memenuhi unsur informasi yang diberikan sejelas-jelasnya. 2. Informasi (information) Jika pasien tidak tahu, sulit untuk dapat mendeskripsikan keputusan. Dalam berbagai kode etik pelayanan kesehatan bahwa informasi yang
  • 3. lengkap dibutuhkan agar mampu membuat keputusan yang tepat. Kurangnya informasi atau diskusi tentang risiko, efek samping tindakan, akan membuat pasien sulit mengambil keputusan, bahkan ada rasa cemas dan bingung. 3. Kompetensi (competence) Dalam konteks kompetensi bermakna suatu pemahaman bahwa seseorang membutuhkan sesuatu hal untuk mampu membuat keputusan dengan tepat, juga membutuhkan banyak informasi. 4. Keputusan (Decision) Pengambilan keputusan merupakan suatu proses, dimana merupakan persetujuan tanpa refleksi. Pembuatan keputusan merupakan tahap terakhir proses pemberian persetujuan. Keputusan penolakan pasien terhadap suatu tindakan harus divalidasi lagi apakah karena pasien kurang kompetensi. Jika pasien menerima suatu tindakan, beritahulah juga prosedur tindakan dan buatlah senyaman mungkin. Apakah Informed Consent? 1. Persetujuan yang diberikan pasien atau wilayahnya yang berhak terhadap bidan, untuk melakukan suatu tindakan kebidanan kepada pasien setelah memperoleh informasi lengkap dan dipahami mengenai tindakan yang akan dilakukan. 2. Informed consent merupakan suatu proses. 3. Secara hukum informed consent berlaku sejak tahun 1981, PP No. 8 Tahun 1981. 4. Informed consent bukan hanya suatu formulir atau selembar kertas, tetapi bukti jaminan informed consent telah terjadi. 5. Merupakan dialog antara bidan dengan pasien didasari keterbukaan akal pikiran, dengan bentuk birokratisasi penandatanganan formulir. 6. Informed consent berarti pernyataan kesediaan atau pernyataan penolakan setelah mendapat informasi secukupnya sehingga yang diberi
  • 4. informasi sudah cukup mengerti akan segala akibat dari tindakan yang akan dilakukan terhadapnya sebelum ia mengambil keputusan. 7. Berperan dalam mencegah konflik etik tetapi tidak mengatasi masalah etik, tuntutan, pada intinya adalah bidan harus berbuat yang terbaik bagi pasien atau klien. Informed consent mempunyai dua dimensi, yaitu sebagai berikut : 1. Dimensi hukum ,merupakan perlindungan pasien terhadap bidan yang berprilaku memaksakan kehendak, memuat: a. Keterbukaan informasi antara bidan dan pasien b. Informasi yang diberikan harus dimengerti pasien c. Memberi kesempatan pasien untuk memperoleh yang terbaik 2. Dimensi etik, mengandung nilai-nilai: a. Menghargai otonomi pasien b. Tidak melakukan interfensi melainkan membantu pasien bila diminta atau dibutuhkan c. Bidan menggali keinginan pasien baik secara subjektif atau hasil pemikiran rasional. Menurut KUHP pasal 1320 tentang syarat syahnya perjanjian atau consent adalah : 1. adanya kata sepakat, sepakat dari pihak tanpa paksaan, tipuaan maupun kekeliruan. 2. kecakapan yaitu seseorang memiliki kecakapan memberikan persetujuan, jika orang itu mampu melakukan tindakan hukum , dewasa dan tidak gila. 3. suatu hal tertentu, yaitu objek dalam persetujuan antara bidan dan pasien harus disebutkan dengan jelas dan terinci. 4. suatu sebab yang halal , maksudnya adalah isi persetujuan tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, tata tertb, kesusilaan norma dan hukum.
  • 5. Skema informed consent PASIEN BIDAN INFORMASI KEPUTUSAN CONSENT MENOLAK TTD FORM PERSETUJUAN MENOLAK TTD FORM PERSETUJUAN
  • 6. Skema informed consent PASIEN BIDAN INFORMASI KEPUTUSAN CONSENT MENOLAK TTD FORM PERSETUJUAN MENOLAK TTD FORM PERSETUJUAN

×