BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1. Thaharah
Dalam pembahasan fiqh, secara umum selalu diawali dengan uraian tentang th...
B. Rumusan Masalah
1. Thaharah
Menurut tradisi kitab-kitab fiqih pembahasan thaharah selalu ditempatkan pada poin yang
per...
BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN IBADAH
Secara etimologi, kata ibadah berasal dari bahasa Arab, dari kata abdun artinya ham...
Kesucian dalam ajaran Islam dijadikan syarat sahnya sebuah ibadah, seperti shalat, thawaf,
dan sebagainya. Bahkan manusia ...
(Hasbi Asy-Syidiqi, 59).
Dalam pengertian lain shalat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba dengan
Tuhannya seba...
4. Ada pendengaran, artinya anak yang sejak lahir tuna rungu (tuli) tidak wajib mengerjakan
sholat.
5. Suci dari haid dan ...
b. Wajib tidak tertentu seperti puasa nazar yang hanya menyebut bilangan harinya tanpa
waktu yang telah ditentukan untuk m...
F. Puasa Ramadhan
1. Hukum Puasa Ramadhan
Para ulama sepakat bahwa hukum puasa adalah fardu. Hukum ulama sepakat bahwa
apa...
I. Hal-Hal yang Dibolehkan Pada Saat Berpuasa
1. Menggunakan celak dan parfum
2. Mencium wewangian
3. Injeksi dan infuse
4...
caranya agar puasa kita dapat mengantarkan diri kita mencapai pengalaman bertemu dengan
Allah ? Intisari dari amal ibadah ...
perjalanan dan pengalaman diri kita, ketika diciptakan oleh Allah pada pertama kali, yaitu
ketika diri kita terendam dalam...
“Apakah engkau mengira sesungguhnya penghuni gua dan raqim itu adalah termasuk tanda-
tanda Kami yang mengagumkan? Ketika ...
hamba mengangkat dirinya sebagai tuhan, karna berpatokan bahwa tuhan adalah aku dan aku
adalah tuhan dengan mengikut serta...
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Thaharah adalah bersih dari kotoran atau mensucikan diri
2. Sholat merupakan inti (kunci)...
DAFTAR PUSTAKA
 Al-Jazairi Abu Bakr Jabir. 2000. Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim. Darul Falah.
 Jakarta.
 Rifa‟I Muh...
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil „Alamin segala Puji dan Syukur Penulis Panjatkan kepada Allah SWT
yang telah memberika...
DAFTAR ISI
Kata pengantar....................................................................................................
HUBUNGAN TAHARA DENGAN SHALAT DAN
HUBUNGAN SHALAT DENGAN PUASA
DISUSUN OLEH :
NAMA : SITTI NURBAYA
JURUSAN : PAUD
SEMESTER...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Hubungan tahara dengan shalat 3

668 views
569 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
668
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
6
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hubungan tahara dengan shalat 3

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Thaharah Dalam pembahasan fiqh, secara umum selalu diawali dengan uraian tentang thaharah. Secara khusus, dalam semua kitab atau buku fiqh ibadah selalu diawali dengan thaharah. Hal ini tidak lain karena thaharah ( bersuci ) mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan dengan ibadah. Sebaliknya, ibadah juga berkaitan erat dengan thaharah. Artinya, dalam melaksanakan suatu amalan ibadah, seseorang harus terlebih dahulu berada dalam keadaan bersih lagi suci, baik dari hadas besar maupun hadas kecil, termasuk sarana dan prasarana yang digunakan dalam beribadah, mulai dari pakaian, tempat ibadah dan lain sebagainya. Dengan kata lain, thaharah dengan ibadah ibarat dua sisi mata uang, dimana dimana antara satu sisi dengan sisi lainnya tidak dapat dipisahkan. 2. Shalat Sering kali kita sebagai orang islam tidak mengetahui kewajiban kita sebagai mahluk yang paling sempurna yaitu sholat, atau terkadang tau tentang kewajiban tapi tidak mengerti terhadap apa yang dilakukaan. Selain itu juga bagi kaum fanatis yang tidak menghargai tentang arti khilafiyah, dan menganggap yang berbeda itu yang salah. Oleh karena itu mari kita kaji bersama tentang arti shalat, dan cara mengerjakannya serta beberapa unsur didalamnya. Dalam pembahasan kali ini juga di paparkan sholat dan macamnya. Shalat merupakan salah satu kewajiban bagi kaum muslimin yang sudah mukallaf dan harus dikerjakan baik bagi mukimin maupun dalam perjalanan. Shalat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. Islam didirikan atas lima sendi (tiang) salah satunya adalah shalat, sehingga barang siapa mendirikan shalat ,maka ia mendirikan agama (Islam), dan barang siapa meninggalkan shalat,maka ia meruntuhkan agama (Islam). Shalat harus didirikan dalam satu hari satu malam sebanyak lima kali, berjumlah 17 rakaat. Shalat tersebut merupakan wajib yang harus dilaksanakan tanpa kecuali bagi muslim mukallaf baik sedang sehat maupun sakit. Selain shalat wajib ada juga shalat – shalat sunah. 3. Puasa Menurut bahasa puasa berarti imsak atau menahan, sedangkan puasa menurut syariat ialah menahan dengan niat ibadah dari makanan, minuman, hubungan suami istri dan semua hal- hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenam matahari.
  2. 2. B. Rumusan Masalah 1. Thaharah Menurut tradisi kitab-kitab fiqih pembahasan thaharah selalu ditempatkan pada poin yang pertama karena thaharah termasuk ibadah pokok yang diwajibkan sebagaimana halnya ibadah-ibadah pokok lainnya seperti shalat, puasa dan zakat. Di antara bersuci yang diperintahkan ialah wudhu, mandi dan membersihkan najis dari badan dan pakaian dan semua itu inti dari bersuci. 2. Shalat Shalat dalam agama islam merupakan ibadah yang paling utama karena demikian utamanya, maka shalat menjadi pembeda antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman. Rasulullah SAW menyatakan dalam hadistnya : barangsiapa yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, maka ia telah kafir yang nyata (H.R Tabrani) Kemudian Rasulullah SAW menegaskan bahwa shalat merupakan tiang agama. 3. Puasa Puasa di bulan Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat. Hukumnya fardu ain atas setiap muslim yang sudah baligh. Puasa diisyaratkan pada tahun kedua Hijriah sesudah turunnya perintah shalat dan zakat. Puasa sudah bermula sejak awal manusia diciptakan di tandai dengan peristiwa pelarangan Allah SWT kepada nenek kita Adam dan Hawa pada saat memakan buah khuldi di surga.
  3. 3. BAB II PEMBAHASAN 1. PENGERTIAN IBADAH Secara etimologi, kata ibadah berasal dari bahasa Arab, dari kata abdun artinya hamba (abdi), ibadah artinya pengabdian. Jadi, ibadah dimaksudkan sebagai sarana pengabdian atau penyembahan kepada Allah. Secara termonologi, pengertian ibadah banyak ragamnya sesuai dengan sudut pandang masing-masing ulama, antara lain sebagai berikut : A. Pengertian umum ibadah ialah : sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya B. Menurut - ulama Tauhid, ibadah ialah : mengesakan Allah, membesarkan-Nya dengan sepenuh-penuhnya, serta menghinakan diri kita dan menundukkan jiwa kepada-Nya. Ulama tauhid menyamakan ibadah dengan Tauhid, sesuai dengan Q.S. al-Nisa (4) : 36. C. Menurut ulama tasawwuf, ibadah ialah : perbuatan seorang mukallaf yang berlawanan dengan kehendak hawa nafsunya dalam rangka mengagungkan Tuhannya. Menurut ulama tasawwuf, ibadah itu mempunyai tiga bentuk, yaitu :  Mengharapkan pahala dan terhindar dari siksa-Nya.  Karena memandang bahwa Allah berhak untuk di sembah tanpa memperdulikan apakah yang akan diperoleh daripada-Nya.  Karena Allah sangat dicintainya, sehingga senantiasa berusaha untuk dekat dengan-Nya.  Menurut ulama - fiqhi, ibadah ialah : segala yang dikerjakan untuk memperoleh ridha Allah dan mengharapkan pahala di akhirat.  Menurut ulama akhlak, ibadah ialah : melaksanakan dengan ketaatan badaniya, dan menyelenggarakan segala ketentuan syariat. 2. HUBUNGAN THAHARAH, SHALAT, DAN PUASA A. Pengertian serta Macam-macam Thaharah 1. Pengertian Thaharah Pengertian thaharah secara bahasa adalah ”bersuci dan bebersih dari kotoran material dan immaterial”. Sedangkan maknanya secara syariat adalah “mengangkat hadats dan menghilangkan najis”. Mengangkat hadats itu terjadi dengan menggunakan air bersama niat. Yaitu di seluruh tubuh juka ia adalah hadats besar atau si anggota tubuh yang empat jika ia adalah hadats kecil. Bersuci bisa menggunakan apa yang menggantikan air ketika tidak ada air atau tidak mampu menggunakannya, yaitu dengan cara tayamum.1
  4. 4. Kesucian dalam ajaran Islam dijadikan syarat sahnya sebuah ibadah, seperti shalat, thawaf, dan sebagainya. Bahkan manusia sejak lahir hingga wafatnya juga tidak bisa lepas dari masalah kesucian. Oleh karena itu para ulama bersepakat bahwa berthaharah adalah sebuah kewajiban. Sehingga Allah sangat menyukai orang yang mensucikan diri sebagaimana firman berikut ini: “ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang bersuci “ (QS. al-Baqarah/2: 222) Dalam sebuah hadis dijelaskan pula: “ Kesucian itu sebagian dari iman.”2 Secara umum ruang lingkup thaharah ada dua, yakni membersihkan najis ( istinja’ ) dan membersihkan hadas. Dari masing-masing ruang lingkup akan diperinci lagi. Dalam istinja’ akan dibahas mengenai benda najis, bahan untuk membersihkan najis, dan cara membersihkan najis. 2. Macam-macam Thaharah a. Wudlu Dalam perkembangannya, wudlu sebagai wahana mensuciakan diri dari hadas kecil, dapat digantikan dengan praktek penyucian lainnya yaitu ketika tidak didapatkan air. b. Tayamum Menurut pengertian bahasa, tayammum berarti maksud atau tujuan. Sedang menurut pengertian syariat, tayamum berarti menuju ke pasir untuk mengusap wajah dan sepasang tangan dengan niat agar diperbolehkan melakukan shalat. 2. Faedah Shalat A. Pengertian Sholat Sholat berasal dari bahasa Arab As-Sholah ( ), sholat menurut Bahasa (Etimologi) berarti Do'a dan secara terminology / istilah, para ahli fiqih mengartikan secara lahir dan hakiki. Secara lahiriah shalat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat – syarat yang telah ditentukan (Sidi Gazalba,88). Adapun scara hakikinya ialah” berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan didalam jiwa rasa kebesarannya dan kesempurnaan kekuasaan- 3. Nya”atau” mendahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua-duanya.
  5. 5. (Hasbi Asy-Syidiqi, 59). Dalam pengertian lain shalat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba dengan Tuhannya sebagai bentuk, ibadah yang di dalamnya merupakan amalan yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan syara‟ (Imam Bashari Assayuthi, 30). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa shalat adalah merupakan ibadah kepada Tuhan, berupa perkataan dengan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syara”. Juga shalat merupakan penyerahan diri (lahir dan bathin) kepada Allah dalam rangka ibadah dan memohon rido- Nya. B. Tujuan Shalat Sholat dalam agama islam menempati kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh ibadat manapun juga, ia merupakan tiang agama dimana ia tak dapat tegak kecuali dengan itu. Adapun tujuan didirikannya shalat menurut Al-Qur‟an dalam surah Al –Ankabut : 45 Artinya: Kerjakanlah shalat sesungguhnya shalat itu bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Juga allah mengfirmankannya dalam surah An-Nuur: 56 Artinya : Dan kerjakanlah shalat, berikanlah zakat, dan taat kepada Rasul, agar supaya kalian semua diberi rahmat. Dari dalil – dalil Al-Qur'an di atas tidak ada kata – kata perintah shalat dengan perkataan “laksanakanlah” tetapi semuanya dengan perkataan “dirikanlah”. Dari unsur kata – kata melaksanakan itu tidak mengandung unsur batiniah sehingga banyak mereka yang Islam dan melaksanakan shalat tetapi mereka masih berbuat keji dan munkar. Sementara kata mendirikan selain mengandung unsur lahir juga mengandung unsur batiniah sehingga apabila shalat telah mereka dirikan, maka mereka tidak akan berbuat jahat. C. Syarat-Syarat Shalat • Syarat Wajib Shalat 1. Islam 2. Baligh 3. Berakal “Telah diangkat pena itu dari tiga perkara, yaitu dari anak-anak sehingga ia dewasa (baligh), dari rang tidur sehingga ia bangun dan dari orang gila sehingga ia sehat kembali.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).
  6. 6. 4. Ada pendengaran, artinya anak yang sejak lahir tuna rungu (tuli) tidak wajib mengerjakan sholat. 5. Suci dari haid dan nifas. 6. Sampai dakwah Islam kepadanya. • Syarat Sah Shalat 1. Suci dari dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar. 2. Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis. 3. Menutup aurat. Aurat laki-laki antara pusat sampai lutut dan aurat perempuan adalah seluruh badannya kecuali muka dan tepak telangan. 4. Telah masuk waktu sholat, artinya tidak sah bila dikerjakan belum masuk waktu shalat atau telah habis waktunya. 5. Menghadap kiblat. 3. Faedah Puasa A. Pengertian Puasa adalah meninggalkan makanan, minuman, pernikahan dan pembicaraan (Ibnu Manzur, 1968). Pengertian menurut etimologi pada dasarnya menunjukkan bahwa puasa memiliki makna menahan, meninggalkan dan menjauhkan. B. Rukun Puasa Ruku puasa ada dua yaitu : 1.Menahan segal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 187 (QS. 2 : 187). Dalam puasa hal-hal yang harus ditahan atau dicegah tidak semata-mata makan, minum dan hubungan seksual, tetapi juga perkataan kotor dan perbuatan tidak pantas. 2. Niat Niat adalah tekad kuat (`azam) untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Niat puasa cukup didalam hati tidak perlu diucapkan dengan lisan (Sayid Sabiq, 1992). C. Macam-macam Puasa 1. Puasa Fardu a. Fardu tertentu seperti puasa dibulan ramadhan. b. Fardu tidak tertentu yaitu tidak memiliki waktu tertentu seperti pelunasan puasa kafarat membunuh, puasa menyamakan istri dengan ibu kandungnya, dll. 2. Puasa Wajib Puasa wajib terdiri dari : a. Wajib tertentu, seperti puasa nazar yang telah ditentukan waktu pelaksanaanya.
  7. 7. b. Wajib tidak tertentu seperti puasa nazar yang hanya menyebut bilangan harinya tanpa waktu yang telah ditentukan untuk melaksanakannya. 3. Puasa Sunnah a. Puasa enam hari dibulan syawal b. Puasa disaat berjihad atau berjuang c. Puasa hari arafah d. Puasa bulan muharram e. Puasa asyura 4.Puasa yang Dilarang a. Puasa pada hari raya b. Puasa pada hari-hari tasyrik (pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah) c. Puasa pada hari yang diragukan d. Puasa pada hari jum`at e. Puasa ad dahrYaitu puasa dilakukan sepanjang tahun tanpa memperhatikan apakah hari-hari itu dilarang atau tidak. f. Puasa wisall g. Puasa paruh kedua bulan syakban h. Puasa seorang istri tanpa seizin suami D. Tujuan Puasa Firman Allah surat Al-Baqarah ayat 183 menyebut tujuan puasa yaitu takwa. Taqwa yang dalam Bahasa Indonesia berarti menjaga atau memelihara diri. Sedangkan menurut termonologi taqwa berarti menjaga atau memelihara diri agar terbebas dari azab, dari siksa, laknat dan murka dari kutukan Allah SWT. E. Hikmah Puasa Hikmah ibadah adalah manfaat atau nilai taubah diluar tujuan yang diperoleh dari pengalaman beribadah. Hikmah puasa ditinjau dari pendidikan : 1. Mendidik kejujuran Berpuasa tidak seorangpun yang mengawalinya, kecuali barangkali dari pihak keluarga. 2. Mendidik kedisiplinan Kedisiplinan adalah sikap tunduk dan patuh pada peraturan yang berlaku. 3. Mendidik kesadaran akan kemampuan dan batas kemampuan pribadi Allah membolehkan orang sakit dan orang bepergian untuk berbuka puasa. (Qs. 2 : 184).
  8. 8. F. Puasa Ramadhan 1. Hukum Puasa Ramadhan Para ulama sepakat bahwa hukum puasa adalah fardu. Hukum ulama sepakat bahwa apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan terkena siksa. 2. Landasan Hukum a. Al-Qur`an 1) Al-Baqarah ayat 183 (Qs. 2 : 183) 2) Al-Baqarah ayat 185 (Qs. 2 : 185) b. As-Sunah 3. Keutamaan bulan ramadhan a. Pembukaan pintu surga b. Penutupan pintui neraka dan pembelengguan syaitan-syaitan c. Pengampunan dosa-dosanya yang telah lalu G. Batalnya Puasa Adapun hal-hal yang membatalkan puasa yaitu ada dua macam yaitu : 1. Batal puasa dan wajib mengqada a. Makan Minum dengan sengaja Seorang dalam keadaan berpuasa dengan sengaja makan atau minum, maka puasanya batal dan harus mengqada. b. Terpaksa dan tersalah Seorang pembantu rumah tangga dipaksa dengan ancaman oleh majikan untuk berbuka. c. Muntah sengaja d. Sengaja mengeluarkan sperma e. Haid dan nifas Wanita yang sedang berpuasa kemudian melahirkan yang berarti dia melahirkan darah nifas atau datang haid. Puasa wanita batal walaupun pada waktu sore menjelang waktu magrib. f. Murtad g. Niat berbuka H. Sunnah-Sunnah Puasa Orang-orang yang berpuasa dusunnahkan antara lain : 1. Menyegarkan berbuka 2. Berbuka dengan kurma atau minum air 3. Berdoa seusai berbuka 4. Makan sahur 5. Mengakhirkan makan sahur
  9. 9. I. Hal-Hal yang Dibolehkan Pada Saat Berpuasa 1. Menggunakan celak dan parfum 2. Mencium wewangian 3. Injeksi dan infuse 4. Mandi dan untuk menghilangkan dahaga dan rasa panas 5. Mencicipi makanan (hanya sebatas menggunakan lidah, tidak boleh sampai ditelan) 6. Mengunyak makan untuk anak 7. Berbekam dan donor darah 8. Memasuki waktu subuh belum sempat mandi jinabat 9. Menggosok gigi 2. HUBUNGAN ANTARA SHALAT DENGAN PUASA Dalam agama Islam, kita mengenal istilah Rukun Islam, yang terdiri dari lima perkara yaitu : syahadat, shalat, puasa. zakat dan haji. Kelima perkara itu merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan, makanya perkara tersebut dinamakan rukun, yang artinya satu kesatuan atau tidak terpisah. Sebenarnya kata “rukun” berasal dari serapan bahasa Arab, yaitu ruku‟ yang artinya sudut atau siku. Sedangkan Islam berarti damai. Berdasarkan arti ini, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kedamaian (Islam) dapat ditempuh dengan lima sudut jalan dimana kelima sudut tersebut saling berhubungan. Kelima sudut Islam tersebut, dapat diumpamakan gambar segi empat : Berdasarkan gambar segiempat, terlihat bahwa sudut puasa merupakan pusat dari empat sudut rukun Islam lainnya. Kalau dikaitkan dengan jari tangan kita, rukun Islam dapat diumpamakan jari tengah adalah simbol puasa, sedangkan jari jempol simbol dari syahadat, jari telunjuk simbol dari shalat, jari manis simbol dari zakat dan jari kelingking simbol dari haji. Kelima jari tangan kita merupakan satu kesatuan yang utuh dan sempurna. Mengapa ibadah puasa menjadi pusat dari rukun Islam ? Inilah misteri yang akan kita bahas. Kita sudah mengetahui bahwa hanya ibadah puasalah yang bersifat sangat rahasia kerena untuk mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak hanya dirinya dan Allah-lah yang mengetahuinya. Sehingga ibadah puasa menjadi rahasia bagi seorang hamba dengan Tuhannya. “Setiap amal anak Adam adalah untuk anak Adam itu sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan memberi ganjaran atas puasanya itu”. (HR Bukhari) Dari Hadits tersebut, ternyata hanya ibadah puasalah yang amalnya diperuntukkan Allah. Kemudian hanya Allah yang berhak memberi ganjaran atas puasanya itu. Apakah ganjaran bagi orang yang berpuasa itu ? terlihat dengan jelas bahwa ganjaran bagi orang yang berpuasa adalah kegembiraan ketika berbuka dan bertemu dengan Allah. Selama ini kita sudah berpuasa sekian tahun, akan tetapi, sudahkah kita mendapat pengalaman spiritual yang sangat mengembirakan yaitu bertemu dengan Allah Yang Maha Indah ? Kalau kita sudah berpuasa tapi belum pernah bertemu dengan Allah, lalu bagaimana
  10. 10. caranya agar puasa kita dapat mengantarkan diri kita mencapai pengalaman bertemu dengan Allah ? Intisari dari amal ibadah puasa adalah menahan, mengekang dan mengendalikan diri kita dari makan dan minum serta dorongan hawa nafsu kita yang keluar dari sembilan lubang kehidupan yang ada dikepala dan tubuh kita. Proses menahan aktivitas inderawi ini, sebenarnya sudah pernah kita alami dan lakukan, tetapi sayangnya kita telah melupakan peristiwa tersebut. Pengalaman berpuasa itu adalah ketika diri kita masih berupa janin bayi yang berada dalam kandungan seorang ibu. Di dalam kandungan tersebut, kita sebagai bayi, tidak melakukan aktivitas inderawi, karena kita sedang berendam dalam air ketuban yang mengalir dan bersirkulasi. Dengan kata lain, saat itu kita tidak makan dan minum melalui lubang mulut, kita juga tidak melakukan buang air besar dan kecil, tidak berbicara kotor, tidak melihat dan mendengar hal-hal yang berbau maksiat. Singkatnya kita memang sedang melakukan ibadah puasa secara kafah atau total selama sembilan bulan. Saat itulah kita sedang menerima dan menikmati kegembiraan yang luar biasa, yaitu kita sedang mendapat curahan kasih dan sayang dari Allah di alam rahim. Kita saat itu tidak merasakan bahagia atau sedih, panas atau dingin, manis atau pahit dan sebagainya. Mengapa hal itu bisa kita alami ? karena kita saat itu sedang bertatap muka (tawajuh) dengan Allah di alam rahim-Nya. Sesuai dengan firman-Nya : “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Wajah Allah, yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kehanifan dan aku tidak termasuk orang musyrik” (QS Al An‟am 6 :179) Setelah lahir, pintu indera jasmani kita terbuka dan mulai menikmati keindahan duniawi, disisi lain pintu-pintu indera batin kita perlahan mulai tertutup, sehingga lambat laun kita melupakan pengalaman bertemu dengan Allah ketika berpuasa di dalam kandungan tersebut. Untuk mendapatkan kembali pengalaman bertemu dengan Allah itu dengan berpuasa, di utuslah para Nabi dan Rasul dengan membawa Kitab-Kitab Suci-Nya, yang isinya adalah Peringatan (Adz Dzikra) yang mengingatkan kita, karena kita telah lupa ingatan terhadap asal mula kejadian kita dalam kandungan. Para Juru Ingat tersebut menyeru dengan satu seruan agar kita kembali menghadap dan menemui asal kita yaitu Allah dengan cara mengulang kembali ke awal mula kejadian diri kita dahulu. Seruan itu di isyaratkan dalam Al Qur‟an dan Injil : “Katakanlah : “Sesungguhnya aku mengajarkan kepada kamu dengan satu ajaran saja, yaitu bahwa kamu harus bangkit untuk menghadap Allah , berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian hendaklah kamu pikirkan , tiadalah sahabat kamu itu gila, dia tiada lain hanyalah pemberi Peringatan kepada kamu, sebelum datang azab yang sangat keras”. ( QS Saba‟ 34 : 46) “Sesungguhnya kamu akan datang kembali menemui Kami dengan sendiran seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula penciptaan, dan pada saat itu kamu akan meninggalkan dibelakangmu semua apa yang dianugerahkan Allah kepadamu.........”. (QS Al An‟am 6 : 94) “Yesus berkata : Sesungguhnya aku berkata kepadamu, Jika kamu tidak kembali seperti bayi dalamkandungan, sekali-kali kamu tidak dapat masuk ke dalam kerajan Allah”. (Injil, Matius 18 : 3) Jika kita ingin bertemu dengan Allah, kita harus menggingat dan mengulang kembali
  11. 11. perjalanan dan pengalaman diri kita, ketika diciptakan oleh Allah pada pertama kali, yaitu ketika diri kita terendam dalam air ketuban dan ketika inderawi kita sedang tidak berfungsi. Untuk mengulang kembali peristiwa itu Allah memerintahkan kita untuk melakukan ibadah puasa seperti yang pernah kita lakukan dahulu dalam kandungan seorang ibu. Inilah perintah puasa yang diisyaratkan oleh Allah dalam Al Qur‟an : “Wahai orang-orang yang beriman, telah ditetapkan atas kamu berpuasa seperti telah ditetapkan kepada orang-orang terdahulu dari kamu supaya kamu terpelihara”. (QS Al Baqarah 2 : 183) Berdasarkan ayat tersebut, Allah memerintahkan agar kita berpuasa kembali seperti puasa yang per nah kita lakukan dahulu dalam kandungan seorang ibu. Mungkin timbul pertanyaan dalam diri kita, bagaimana caranya kita kembali ke dalam kandungan atau alam rahim ? Kita sering tidak menyadari arti kata “kamaa”. Dalam ayat-ayat diatas. Dalam bahasa Arab, kata “kamaa” artinya adalah “seperti, sebagaimana atau bagaikan”. Dari arti ini dapat disimpulkan bahwa perintah untuk kembali ke awal kejadian adalah bukan dalam arti sesungguhnya, tetapi mirip dengan kejadian awal. Jadi kita harus mengkondisikan diri kita seperti kondisi yang mirip dengan suasana di dalam kandungan. Suasana dalam kandungan adalah penuh kedamaian, karena indera kita sedang tidak berfungsi. Begitupula jika kita melakukan ibadah puasa, kita bukan saja manahan diri dari makan dan minum saja tetapi juga harus menahan diri dari mendengar, melihat, dan mencium aroma yang ada di luar diri kita. Pada saat itu yang kita lakukan hanyalah berdzikrullah sampai kita bertemu dengan Allah, yang dikiaskan dengan munculnya “Asy Syamsu”(matahari) atau “Asy Syahru” (bulan). “....Barang siapa diantara kamu menyaksikan “syahra”, maka hendaklah ia berpuasa....”.(QS Al Baqarah 2 : 185) Kata “syahra” merupakan kata simbolis dari Nur Allah yang tajalli dalam diri orang yang berpuasa. Pada saat Nur Allah tajalli dalam diri dan tersaksikan, maka orang tersebut harus berpuasa dengan menahan diri untuk tidak makan, minum, mendengar, melihat, berbicara dan berfikir yang negatif. Inilah yang dikatakan dalam bahasa agama, bahwa kita mengawali berpuasa dengan sistem ru‟yat. Apakah yang diru‟yat oleh orang yang berpuasa ? tentunya adalah Ru‟yatullah (melihat Allah). Ada juga yang melakukan ibadah puasa dahulu baru kemudian nanti melihat “syahra”, inilah yang disebut dengan mengawali puasa dengan sistem “hisab”. Artinya seseorang menahan diri dulu dari aktifitas inderawi, baru kemudian secara perlahan dia akan melihat “syahra” atau Nur Allah. Berapa lama kita melakukan ibadah puasa, tergantung dari seberapa lama “Asy Syamsu” tersaksikan oleh pelaku puasa. Dengan kata lain lamanya puasa kita tergantung dari seberapa lama Nur Allah yang tajalli dan tersaksikan oleh mata batin kita. Inilah, yang dalam bahasa syariat, bahwa orang berpuasa dimulai dari terbitnya sinar matahari sampai terbenamnya sinar matahari. Peristiwa inilah yang diisyaratkan dalam Al Qur‟an.
  12. 12. “Apakah engkau mengira sesungguhnya penghuni gua dan raqim itu adalah termasuk tanda- tanda Kami yang mengagumkan? Ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berkata : “ Ya Tuhan kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan siapkanlah petunjuk dalam urusan kami”. Lalu Kami menutup telinga mereka di dalam gua itu bertahun-tahun lamanya. Kemudian Kami bangunkan mereka untuk Kami buktikan siapa yang lebih dapat menghitung masa mereka tinggal”. (QS Al Kahfi 18 : 9-12) “Dan engkau mengira mereka bangun padahal mereka tidur. Kami balikkan mereka ke kanan dan ke kiri sedang anjing mereka terbentang kedua lengannya di muka pintu gua...”. (QS Al Kahfi 18 : 18) Secara simbolis, ayat tersebut diatas sebenarnya mengisahkan peristiwa seorang yang sedang melakukan puasa dalam rangka bertemu dengan Allah, yang dilakukan oleh “ tujuh penghuni gua”. Ash Habul Kahfi artinya penghuni gua yang berjumlah tujuh. Ini adalah simbol dari tujuh rasa kesadaran yang menghuni tujuh lubang inderawi yang ada di kepala manusia. Sedang raqim (batu tulis) adalah simbol dari petunjuk yang telah ditanamkan dengan kuat dalam qalbu penghuni gua. Sedangkan anjing simbol dari struktur bangunan tubuh manusia. Ketika pengaruh kenikmatan duniawi yang tercerap oleh tujuh lubang inderawi kita, sudah sedemikian kuat. Maka kita harus secepatnya melindungi diri kita dari pengaruh kenikmatan duniawi tersebut dengan cara “berpuasa” menahan aliran kesadaran yang mengarah keluar menjadi ke arah dalam diri dengan cara menutup “pintu gua inderawi”. Setelah pintu gua inderawi tertutup, maka kita bermohon kepada Allah agar diberikan Rahmat dan Rahim serta Nur Hidayah. Munculnya Rahmat dan Hidayah ini dikiaskan dengan terlihatnya sinar matahari yang terbit dari kanan gua ke arah kiri gua. Dengan munculnya Nur Allah yang dikiaskan dengan “Sinar matahari” yang tersaksikan oleh mata batin kita, maka lambat laun kesadaran jasmani kita akan menghilang secara berangsur-angsur, sehingga kita tidak lagi mengingat lintasan peristiwa yang terjadi diluar diri kita, sampai kita terbangun kembali dengan kesadaran yang baru. 3. HUBUNGAN ANTARA TAHARA DENGAN SHALAT Allah SWT adalah Dzat yang suci menciptakan manusia dari suatu zat yang suci. Dan sesuatu yang berawal dari yang suci maka akan kembali dan diterima apabila dia telah suci. Didalam diri manusia terdapat dzat yang suci yang berasal dari tuhan mu, Tapi apakah yang dapat membedakan hamba dengan tuhannya?ternyata shalat lima waktulah yang dapat menjawabnya Shalat adalah media yang dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW, dan shalat pula lah yang dapat membedakan antara hamba dan tuhannya. Dimana posisi hamba adalah menyembah tuhannya. Shalat adalah wajib dikerjakan bagi hambanya. Didalam tubuh manusia terdapat zat yang berasal dari tuhannya, namun tidak pulalah seorang
  13. 13. hamba mengangkat dirinya sebagai tuhan, karna berpatokan bahwa tuhan adalah aku dan aku adalah tuhan dengan mengikut sertakan pemikiran bahwa dia berasal dari dzat yang suci sama dengan tuhan. Islam itu agama mudah untuk dipahami, tapi jangan untuk dimudah-mudahkan. Inti islam adalah shalat serta Thaharah(kesucian). Shalat berguna untuk mendekatkan diri dengan tuhanyna, serta membedakan antara hamba dengan tuhannya. Thaharah (kesucian) itu terdapat pada tingkah laku mulai dari : 1. Kesucian Pikiran 2. Kesucian Hati 3. Kesucian Pandangan(penglihatan) 4. Kesucian Pendengaran 5. Kesucian Perkataan 6. Kesucian/Kebersihan tubuh dari nazis 7. Kesucian/Kebersihan pakaian dari najis 8. Kesucian makan dan minuman yang dikonsumsi 9. Kesucian harta yang dimiliki
  14. 14. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Thaharah adalah bersih dari kotoran atau mensucikan diri 2. Sholat merupakan inti (kunci) dari segala ibadah juga merupakan tiang agama, dengannya agama bisa tegak dengannya pula agama bisa runtuh. Sholat mempunyai dua unsur yaitu dzohiriyah dan batiniyah. Unsur dzohiriyah adalah yang menyangkut perilaku berdasar pada gerakan sholat itu sendiri, sedangkan unsur yang bersifat batiniyah adalah sifatnya tersembunyi dalam hati karena hanya Allah-lah yang dapat menilainya. Shalat banyak macamnya ada shalat sunnah, ada juga sholat fardhu yang telah di tentukan waktunya. Khilafiyyah kaum muslimin tentang shalat adalah hal yang biasa karena rujukan dan pengkajiannya semuanya bersumber dari Al-Qur‟an dan hadis, hendaknya perbedaan tersebut menjadi hikmah keberagaman umat islam. 3. Puasa adalah meninggalkan makan, minuman, pernikahan dan pembicaraan. Puasa adalah rukun islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat islam, puasa memiliki banyak hikmah yaitu : 1. Mendidik kejujuran Berpuasa tidak seorangpun yang mengawasinya, kecuali barangkali dari pihak keluarganya. 2. Mendidik kedisiplinan Sikap tunduk dan patuh pada peraturan yang berlaku. 3. Mendidik kesadaran akan B. SARAN Agama Islam sangat memperhatikan masalah thararah karena dalam ilmu fiqih poin pertama yang dijumpai adalah masalah thaharah. Shalat, adalah tiang agama karena tanpa shalat berarti kita sama saja meruntuhkan agama. Ibarat rumah, kalau tidak ada tiangnya tentu akan runtuh. Puasa adalah menahan nafsu. Islam mengajak kita berpuasa agar menahan nafsu.
  15. 15. DAFTAR PUSTAKA  Al-Jazairi Abu Bakr Jabir. 2000. Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim. Darul Falah.  Jakarta.  Rifa‟I Muh. 1976. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. PT. Karya Toha Putra.  Semarang  Sakka Ambo. 1996. Modul Pendidikan Agama Islam. MKU Universitas Hasanuddin.  Makassar  Sumaji Muh Anis. 2008. 125 Masalah Thaharah. Tiga Serangkai. Solo  www.google.com. Diakses 17 September 2009  www.imajinasipendidikan.blogspot.com. Diakses 17 September 2009  www.wikipedia.com. Diakses 17 September 2009
  16. 16. KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil „Alamin segala Puji dan Syukur Penulis Panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, namun penulis menyadari makalah ini belum dapat dikatakan sempurna karena mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjunan kita semua habibana wanabiana Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya. makalah ini penulis membahas mengenai “HUBUNGAN TAHARA DENGAN SHALAT DAN HUBUNGAN SHALAT DENGAN PUASA”, dengan makalah ini penulis mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih atas segala perhatiannya. Raha, Juli 2013 Penyusun
  17. 17. DAFTAR ISI Kata pengantar......................................................................................................... i Daftar isi.................................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang....................................................................................................1 1.2. Rumusan Masalah........................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 2 1. Pengertian Ibadah ............................................................................................... 2 2. Hubungan Tahara, Shalat, dan Puasa.................................................................... 3 BAB III PENUTUP................................................................................................. 14 3.1. Kesimpulan......................................................................................................... 14 3.2. Saran................................................................................................................. 14 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 15
  18. 18. HUBUNGAN TAHARA DENGAN SHALAT DAN HUBUNGAN SHALAT DENGAN PUASA DISUSUN OLEH : NAMA : SITTI NURBAYA JURUSAN : PAUD SEMESTER : II UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI KELAS RAHA 2013

×