BAB 1
PENDAHULUAN
1
1.1 Latar Belakang
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk mengandung setelah sekurangkurangnya satu ...
2

Pada tekanan ini pula bisa menyebabkan saluran telur mengalami (spasme),
sehingga sulit dilewati sel telur atau spermat...
3

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merumuskan masalah penelitian
adakah hubungan antara i...
4

1.4.2

Bagi Institusi Pendidikan

Merupakan masukan untuk meningkatkan pengetahuan khususnya tentang
hubungan antara in...
5

BAB 2
5

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Infertilitas
2.1.1 Pengertian Infertilitas
Pasangan yang telah kawin dan hi...
6

2.1.3 Penyebab
Sebab-sebab gangguan fertilitas kadang sulit diketahui, baik pada wanita
maupun pada pria (Wilson, Carri...
7

tuba, tetapi mungkin mencegah sebuah telur yang dibuahi untuk sampai ke rongga
uterus. Hal ini menyebabkan kehamilan ek...
8

bergerak sebelum sperma sampai di kanal serviks. Jumlah lendir dan perubahan
fisiknya dipengaruhi oleh adanya darah, ba...
9

2.1.4.2 Lama perkawinan
Penyelidikan lamanya waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kehamilan
menunjukkan bahwa 32,7%...
Inf ertilitas
Frustasi: Faktor emos i ketegangan
Spasme tuba fallopii
bersalah, berdosa dan marah
Ovulasi defek
isolasi di...
11

3. Pekerjaan
Pekerjaan yang dekat dengan faktor panas dalam waktu yang lama
dapat mempengaruhi kesuburan suami, juga a...
12

payudaranya tidak bisa berkembang dan gonadnya abnormal. Wanita ini infertil.
Harus dicari bukti kelainan sistem tubuh...
13

2.2. Konsep Dasar Depresi
14

2.2.1 Batasan
Gangguan dalam suasana perasaan yang sifatnya menetap (Ibrahim, A, 1999
dalam Mardianto, dkk, 2002).
Gan...
15

Seseorang yang sehat jiwanya bisa saja jatuh dalam depresi apabila yang
bersangkutan tidak mampu menanggulangi

streso...
16

amat terbatas
2.2.318Lebih suka menjaga jarak, menghindari keterlibatan dengan orang
2.2.319Suka mencela, mengkritik, ...
17

hipersomnia (terlalu banyak tidur). Gangguan ini seringkali disertai dengan
mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, misal...
18

Psikoterapi dapat diberikan secara individu, kelompok, atau
pasangan sesuai dengan gangguan psikologik yang mendasarim...
19

dekompensasi yang akan datang. Temui pasien sesering mungkin dan secara
teratur, tetapi jangan samapai selamanya. Kena...
20

baru
4) Membantu pasien dalam mengaplikasikan keterampilan
baru
Terapi kelompok sangat efektif untuk terapi jangka pen...
21

3.

Terapi Kejang Listrik

Merupakan terapi pilihan bila:
1) Obat tidak berhasil
2) Kondisi

pasien

menuntut

remisi
...
22

oleh vitamin B1 (tiamin), asam folat, dan asam pantotenat. Vitamin B6 dan vitamin C
yang ada pada susu turut membantu ...
Faktor yang mempengaruhi:
nfertilitas
Umur I
Lama pernikahan
Psikologis
Makanan dan lingkungan
Gangguan hubungan seksual
P...
24

3.1

Hipotesis
Menurut Soekidjo Notoatmodjo hipotesis pada hakekatnya adalah dugaan

sementara terhadap terjadinya hub...
25
25
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian adalah seluruh dari perencanaan untuk menjawab ...
4.2 Kerangka Kerja
Menentukan populasi Pasangan
infertilitas yang memeriksakan
diri di Unit Rawat Jalan Infertil
RSU Dr. S...
4.3 Populasi, Sampel dan Sampling
4.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut dari masa...
4.3.2.2 Besar sampel
Dalam penentuan besar sampel dimana populasi < 1000, maka digunakan
rumus (Nursalam, 2003):
N. Z². p....
4.4 Variabel Penelitian
4.4.1 Variabel
Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda
terhadap ses...
Variabel
Infertilitas

Depresi

Definisi
operasional
Pasangan suami
istri setelah
bersenggama
secara teratur
(2 – 3 kali
s...
data (Notoadmodjo, 2002). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini untuk
mengetahui infertilitas adalah kuesioner den...
kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan
kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan.
Cara menilai tingkat depr...
*Nilai 17 atau di atasnya yang menetap menunjukkan bahwa anda mungkin
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji k...
tidak bersedia diteliti maka peneliti tidak boleh memaksa.

4.10.2 Anonymity
Untuk menjaga kerahasiaan responden peneliti ...
BAB 5
HASIL PENELITIAN, ANALISIS HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian
Dalam bab ini akan disajikan hasil ...
35
Data ini menggambarkan karakteristik responden yang terdapat di Unit Rawat
Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya, yan...
≥ 5 – 10 tahun
≥ 10 tahun
Jumlah

4
1
19

21,05
5,26
100,00

Analisis Data :
Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bah...
Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari 19 responden, sebanyak 16
responden (84,21 %) adalah wanita infertili...
Tabel 5.5 Tabulasi Silang Hubungan Antara Infertilitas dengan Tingkat Depresi pada
Wanita Infertilitas di Unit Rawat Jalan...
Tabel 5.6 Analisis Uji Korelasi dari Spearman’s Rho untuk Mengetahui Hubungan
Antara Infertilitas dengan Tingkat Depresi P...
Dapat dijelaskan bahwa hampir seluruh responden masih mempunyai sisa waktu yang
panjang untuk kemungkinan bisa dihamilkan....
responden (18, 75 %) adalah wanita infertilitas primer dengan tingkat depresi
gangguan mood, dan 5 responden (31,25 %) ada...
rentang waktu yang panjang untuk kemungkinan bisa dihamilkan.
Hal ini menunjukkan bahwa wanita infertilitas yang tidak men...
BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan
Berdasarkan analisis data dan penghitungan statistik pada bab ini akan ditarik
kesi...
44
dan memperluas tujuan penelitian yaitu dengan ikut meneliti faktor yang
mempengaruhi infertilitas misalnya umur dan lam...
Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta
Nursalam. dan Siti Pariani, 2001. Pendekatan Prakti...
Hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di unit rawat jalan infertil
Hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di unit rawat jalan infertil
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di unit rawat jalan infertil

2,670 views
2,489 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,670
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
48
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di unit rawat jalan infertil

  1. 1. BAB 1 PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk mengandung setelah sekurangkurangnya satu tahun melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan (Bobak, 2004). Definisi ini mengandung arti suatu ketidakmampuan untuk hamil atau mengandung anak sampai anak tersebut lahir hidup pada saat pasangan memutuskan untuk memperoleh anak. Ketidakmampuan untuk hamil dan melahirkan anak secara mengejutkan dialami oleh 15% sampai 20% orang dewasa yang sehat (Evans, dkk, 1989 dalam Bobak, 2004). Gangguan konsep diri seksual seringkali dialami individu. Pasangan yang meminta bantuan untuk mengatasi gangguan fertilitas pasti telah memutuskan untuk memiliki seorang anak. Kehidupan dalam keluarga tanpa kehadiran anak, terasa tidak lengkap, sebab salah satu fungsi keluarga belum terpenuhi. Keluarga merasa tersisih, masing-masing anggota keluarga merasa tidak normal dibanding keluarga lainnya. Mereka merasa rendah diri, mudah tersinggung, emosinya labil, gairah untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi berkurang, karena merasa tidak punya generasi penerus yang bisa meneruskan cita-citanya. Melihat kondisi seperti ini harus segera diatasi, karena tekanan jiwa atau emosi yang berkelanjutan bisa menurunkan kesuburan pasangan, sehingga makin tertekan jiwanya semakin sulit untuk mendapatkan keturunan. Tekanan jiwa pada istri akan menyebabkan terganggunya ovulasi, sel telur tidak bisa dan jarang berproduksi.
  2. 2. 2 Pada tekanan ini pula bisa menyebabkan saluran telur mengalami (spasme), sehingga sulit dilewati sel telur atau spermatozoa. Selain itu, karena tekanan jiwa, hubungan suami istri menjadi terganggu, malas dan tidak bergairah. Keadaan ini semuanya menyebabkan kesuburan tersebut lebih parah lagi (Samsul, 2004). Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Zamralita,Psi dan Henny E. Wirawan, M. Hum, Psi dalam jangka waktu antara tanggal 12 Juli-30 Oktober 2000 dengan melibatkan responden berjumlah 4 orang, semuanya perempuan telah didiagnosis infertil secara medis, didapatkan hasil penelitian terhadap keempat responden membuktikan dasar teori yang dikemukakan oleh Keye et al (1995), Miller dan Brooten (1996), serta Wentz et al (1998) bahwa infertilitas yang dialami oleh seorang istri menyebabkan dampak psikologis pada dirinya, seperti munculnya perasaan frustasi, depresi yang cukup berat, stress, perasaan tidak sempurna dan kurang berarti serta hubungan suami istri juga mengalami masalah. Dari hasil studi pendahuluan di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya, diperoleh data bahwa pada tahun 2004 terdapat 228 pasangan infertilitas yang tercatat sebagai pasien baru dan 920 pasangan infertilitas yang tercatat sebagai pasien lama. Tahun 2005 terdapat 172 pasangan infertilitas yang tercatat sebagai pasien baru dan 607 pasangan infertilitas yang tercatat sebagai pasien lama dan pada tahun 2006 terdapat 181 pasangan infertilitas yang tercatat sebagai pasien baru dan 365 pasangan infertilitas yang tercatat sebagai pasien lama. Dari hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan tersebut, peneliti ingin mengetahui hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya.
  3. 3. 3 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merumuskan masalah penelitian adakah hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya. 1.3.2 Tujuan Khusus 1.3.2.1 Mengidentifikasi wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr Soetomo Surabaya. 1.3.2.2 Mengidentifikasi tingkat depresi pada wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU. Dr. Soetomo Surabaya. 1.3.2.3 Menganalisis hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Bidan Meningkatkan pengetahuan bidan tentang hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya.
  4. 4. 4 1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan Merupakan masukan untuk meningkatkan pengetahuan khususnya tentang hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas. 1.4.3 Bagi Peneliti Memperluas wawasan berpikir terutama dalam mengenal hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas.
  5. 5. 5 BAB 2 5 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Infertilitas 2.1.1 Pengertian Infertilitas Pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta telah berusaha selama satu tahun tetapi belum hamil (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1999). Bila sepasang suami istri, setelah bersenggama secara teratur (2-3 kali/minggu), tanpa mengalami metode pencegahan, belum mengalami kehamilan selama satu tahun (Mansjoer, 2002). Ketidakmampuan untuk mengandung setelah sekurang-kurangnya satu tahun melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan (Bobak, dkk, 2004). Suatu keadaan pasangan yang sudah menikah lebih dari satu setengah tahun tanpa kontrasepsi, tidak punya anak (Taher, Akmal, 2004). 2.1.2 Macam-Macam Infertilitas 2.1.2.1 Infertilitas Primer Keadaan dimana istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan (Wiknjosastro, Hanifa, 2005). 2.1.2.2 Infertilitas Sekunder Keadaan dimana istri pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan (Wiknjosastro, Hanifa, 2005).
  6. 6. 6 2.1.3 Penyebab Sebab-sebab gangguan fertilitas kadang sulit diketahui, baik pada wanita maupun pada pria (Wilson, Carrington, 1991 dalam Bobak, dkk, 2004). Faktor pada pria mungkin hanya bertanggung jawab sebesar 30% pada pasangan yang tidak fertil, tetapi pada pasangan lain faktor ini mungkin memberi kontribusi sebesar 10%. Faktor tuba diidentifikasi pada sekitar 25% pasangan infertilitas, gangguan ovulasi pada sekitar 20% pasangan infertilitas atau faktor serviks pada sekitar 15% pasangan infertilitas. Faktor lain (5%) atau faktor yang tidak dapat dijelaskan (5%) bertanggung jawab sebagai penyebab sisanya. 2.1.3.1 Faktor Tuba (Peritoneum) Infertilitas tuba dan ujung fimbrianya dapat menurun atau hilang akibat infeksi, adesi atau tumor. Infeksi klamidia secara negatif mempengaruhi fungsi tuba dan mengalami fertilitas (Eggert, Kruse, dkk, 1990 dalam Bobak, dkk, 2004). Pada kasus yang jarang, salah satu tuba dapat tidak ditemukan. Adalah mungkin untuk menemukan salah satu relatif lebih pendek daripada tuba yang lain. Kondisi ini seringkali dihubungkan dengan uterus yang berkembang secara tidak normal. Inflamasi di dalam tuba atau keterlibatan bagian luar tuba atau ujung fimbria merupakan penyebab utama gangguan fertilitas. Adesi tuba, yang disebabkan infeksi pelvis (misalnya ruptur apendiks), dapat menyebabkan gangguan fertilitas. Apabila infeksi yang disertai rabas purulen pada akhirnya sembuh, terbentuk adesi jaringan parut. Dalam proses tersebut, tuba dapat menjadi tertutup di suatu titik di sepanjang badan tuba tersebut. Tuba dapat tertutup di ujung fimbria atau tuba menjadi rusak dan berkelok-kelok akibat adesi. Adesi dapat memungkinkan sperma yang kecil melewati
  7. 7. 7 tuba, tetapi mungkin mencegah sebuah telur yang dibuahi untuk sampai ke rongga uterus. Hal ini menyebabkan kehamilan ektopik yang dapat merusak tuba secara keseluruhan (Bobak, dkk, 2004). 2.1.3.2 Faktor Uterus Kelainan kongenital uterus jauh lebih banyak yang terjadi daripada yang diduga. Anomali perkembangan minor uterus cukup umum tenjadi, anomali mayor lebih jarang terjadi. Histerosalpingografi dapat menunjukkan uterus ganda atau variaasi kongenital yang anomali. Tumor miometrium dan tumor endometrium (misalnya polip atau mioma juga dapat dideteksi melalui pemeriksaan sinar-X pada wanita infertilitas. Sindroma Asherman, suatu adesi uterus atau jaringan parut, ditandai oleh hipomenorea atau amenore. Adesi yang sebagian atau secar total menutup kavum uterus, merupakan akibat intervensi bedah, seperti kuretase dalam skala besar (scraping), setelah suatu aborsi (elektif atau spontan). Histeroskop bermanfaat untuk memverifikasi anomali intrauterin. Endometritis (inflamasi endometrium) dapat diakibatkan oleh sebab-sebab infeksi serviks atau tuba uterina (misalnya infeksi klamidia). Wanita yang memiliki banyak pasangan seks lebih rentan terhadap infeksi endometrium daripada wanita yang monogami (Bobak, dkk, 2004). 2.1.3.3 Faktor Vaginal-Servikal Infeksi vaginal-serviks (misalnya trikomonas vaginitis) meningkatkan keasaman cairan vagina dan menurunkan sifat basa lendir serviks. Dengan demikian, infeksi vagina seringkali merusak atau secara drastis mengurangi jumlah sperma yang
  8. 8. 8 bergerak sebelum sperma sampai di kanal serviks. Jumlah lendir dan perubahan fisiknya dipengaruhi oleh adanya darah, bakteri patogen, dan iritan, seperti IUD atau tumor. Stres emosi berat, terapi antibiotik, dan penyakit, seperti diabetes melitus, mengubah keasaman lendir. Sekitar 20% wanita infertilitas memiliki antibodi sperma. Produksi antibodi salah satu anggota spesies melawan sesuatu yang biasanya ditemukan di dalam spesies tersebut disebut isoimunisasi. Sperma dapat tidak bergerak di dalam lendir serviks atau tidak mampu berpindah ke dalam uterus. Suatu insiden aglutinasi sperma yang lebih besra terjadi pada wanita yang mengalami gangguan fertilitas yang tidak dapat dijelaskan. Namun signifikasi dan realibilitas tes yang benar untuk imobilisasi sperma atau aglutinasi tidak pasif (Bobak, dkk, 2004). 2.1.4 Faktor yang mempengaruhi fertilitas 2.1.4.1 Umur Masa reproduksi merupakan masa yang terpenting bagi wanita dan berlangsung kira – kira 33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan siklus pada alat genital bermakna untuk memungkinkan kehamilan. Pada masa ini terjadi ovulasi kurang lebih 450 kali, dan selama ini wanita berdarah selama 1800 hari. Biarpun pada umur 40 tahun ke atas perempuan masih dapat dihamilkan, fertilitas menurun cepat sesudah umur tersebut (Wiknjosastro, H, 2005). Untuk pria puncak kesuburan adalah usia 24-25 tahun dan 21-24 tahun untuk wanita, sebelum usia tersebut kesuburan belum benar matang dan setelahnya berangsur menurun.
  9. 9. 9 2.1.4.2 Lama perkawinan Penyelidikan lamanya waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kehamilan menunjukkan bahwa 32,7% hamil dalam satu bulan pertama, 57% dalam 3 bulan, 72,1% dalam 6 bulan, 85,4% dalam 12 bulan, dan 93,4% dalam 24 bulan. Waktu median yang diperlukan untuk menghasilkan kehamilan ialah 2,3 bulan sampai 2,8 bulan. Makin lama pasangan itu kawin tanpa kehamilan, makin turun kejadian kehamilannya. Oleh karena itu, kebanyakan dokter baru menganggap ada masalah infertilitas kalau pasangan yang ingin punya anak itu telah dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan lebih dari 12 bulan (Wiknjosastro, Hanifa, 2005). 2.1.4.3 Psikologis Sekalipun tidak jelas, tetapi nyata dapat menghambat kehamilan antara lain karena masalah tertekan karena sosial ekonomi belum stabil, masih dalam pendidikan dan emosi karena didahului orang lain hamil (Manuaba, Ida Bagus Gde, 2001). Tekanan jiwa pada istri akan menyebabkan terganggunya ovulasi, sel telur tidak bisa diproduksi. Pada tekanan ini pula bisa menyebabkan saluran telur mengalami spasme sehingga sulit dilewati sel telur atau spermatozoa (Samsul, 2004).
  10. 10. Inf ertilitas Frustasi: Faktor emos i ketegangan Spasme tuba fallopii bersalah, berdosa dan marah Ovulasi defek isolasi diri Frekuensi hubungan seks berkurang Impoten psikologis Sebagai gambaran daMpatsadliajahbEajrakkaunlas esibagai berikut: Orgasme jarang 10 (Manuaba, Ida Bagus Gde, 2001) 2.1.4.4 Makanan dan lingkungan Walaupun belum jelas mekanismenya, kekurangan protein dan vitamin tertentu dapat menyebabkan infertilitas. Lingkungan baik fisik, khemis maupun biologis (panas, radiasi, rokok, narkotik dan alkohol). 1. Merokok Pada pria bisa menyebabkan oligozoospermia dan pada wanita bisa menyebabkan abortus, gangguan pertumbuhan bayi intrauterin (IUGR). 2. Alkohol Pada pria dapat menyebakan gangguan spermatogenesis, radiasi, dan penyakit infeksi, dan dapat menurunkan kesuburan baik pria maupun wanita.
  11. 11. 11 3. Pekerjaan Pekerjaan yang dekat dengan faktor panas dalam waktu yang lama dapat mempengaruhi kesuburan suami, juga adanya radiasi atau zat kimiawi dalam pekerjaan. 2.1.4.5 Gangguan hubungan seksual Hubungan seksual yang normal akan menghasilkan timbunan semen di vagina. Hal ini tidak akan terjadi, jika dijumpai keadaan seperti yang tercantum pada (Manuaba, Ida Bagus Gde, 2001): 1. Kesalahan teknik senggama Penetrasi tidak sempurna ke vagina. 2. Gangguan psikososial Impotensi ejakulasi prekoks dan vaginismus. 3. Ejakulasi abnormal Kegagalan ejakulasi akibat pengaruh obat, ejakulasi retrograd ke dalam vesika urinaria pasca rostatektomi. 4. Kelainan anatomi Hipospadia, epispadia, dan penyakit peyronie. 2.1.4.6 Penyakit Perlu dilakukan pemeriksaan fisik lengkap secara menyeluruh dan diikuti pengkajian spesifik traktus reproduksi. Perkembangan karakteristik seks sekunder yan tidak adekuat (seperti distribusi lemak tubuh dan rambut yang tidak sesuai) dapat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipofisis hipotalamus atau aberasi genetik misalnya Sindrom Turner. Wanita yang menderita Sindrom Turner biasanya pendek ,
  12. 12. 12 payudaranya tidak bisa berkembang dan gonadnya abnormal. Wanita ini infertil. Harus dicari bukti kelainan sistem tubuh yang lain, yaitu: 1. Gangguan endokrin Sebelum insulin ditemukan pada awal tahun 1920-an, diabetes dan kehamilan sangat tidak berhubungan. Banyak wanita diabetes pada masa usia subur tidak fertil dan sebagian besar dari mereka yang hamil tidak mampu mengandung sampai usia cukup bulan. 2. Gangguan thyroid 1) Hipertiroidisme Hipertiroidisme pada wanita dapat menyebabkan anovulasi dan amenore. Apabila pengontrolan hipertiroidisme tidak adekuat selama masa hamil, risiko kelahiran prematur dan lahir mati meningkat (Bobak, dkk, 2004). 2) Hipotiroidisme Hipotiroidisme selama masa hamil jarang terjadi karena wanita dengan kondisi ini seringkali infertil. Wanita hamil dengan hipotiroidisme memiliki risiko lebih tinggi mengalami aborsi seperti pada trimester pertama (Bobak, dkk, 2004).
  13. 13. 13 2.2. Konsep Dasar Depresi
  14. 14. 14 2.2.1 Batasan Gangguan dalam suasana perasaan yang sifatnya menetap (Ibrahim, A, 1999 dalam Mardianto, dkk, 2002). Gangguan alam perasaan yang sering ditemukan ditandai dengan penurunan afek, gangguan psikomotor, kognitif dan vegetatif (Hagop, S, 1995 dalam Joyce, dkk, 2000). Salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (affective/mood disorder), yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya (Hawari, D, 2004). 2.2.2 Etiologi Depresi Bila ada seorang menderita depresi maka ternyata bahwa ada salah satu diantara kesembilan penyebab di bawah ini pada penderita depresi, antara lain (Iskandar, Y, 1988 dalam Zulkarnaen, dkk, 1995): 2.2.2.1 Kekecewaan 2.2.2.2 Terperangkap (Problem perkawinan/problem rumah tangga) 2.2.2.3 Penolakan cinta 2.2.2.4 Pasca kuasa 2.2.2.5 Tujuan yang terlalu mudah 2.2.2.6 Kurang percaya diri 2.2.2.7 Perbandingan yang pincang 2.2.2.8 Penyakit dan obat 2.2.2.9 Kehamilan dan persalinan 2.2.3 Ciri Kepribadian Depresif
  15. 15. 15 Seseorang yang sehat jiwanya bisa saja jatuh dalam depresi apabila yang bersangkutan tidak mampu menanggulangi stresor psikososial yang dialaminya. Selain daripada itu ada juga yang lebih rentan (vulnerable) jatuh dalam keadaan depresi dibandingkan dengan orang lain. Orang yang lebih rentan ini (beresiko tinggi) biasanya mempunyai corak kepribadian depresif, yang ciri-cirinya antara lain sebagai berikut: 2.2.31Pemurung, sukar untuk bisa senang, sukar untuk merasa bahagia 2.2.32Pesimis menghadapi masa depan 2.2.33Memandang diri rendah 2.2.34Mudah merasa bersalah dan berdosa 2.2.35Mudah mengalah 2.2.36Enggan bicara 2.2.37Mudah merasa haru, sedih dan menangis 2.2.38Gerakan lamban, lemah, lesu, kurang energik 2.2.39Seringkali mengeluh sakit ini dan itu (keluhan-keluhan psikosomatik) 2.2.310Mudah tegang, agitatif, gelisah 2.2.311Serba cemas, khawatir, takut 2.2.312Mudah tersinggung 2.2.313Tidak ada kepercayaan diri 2.2.314Merasa tidak mampu dan tidak berguna 2.2.315Merasa selalu gagal dalam usaha, pekerjaan ataupun studi 2.2.316Suka menarik diri, pemalu dan pendiam 2.2.317Lebih suka menyisihkan diri, tidak suka bergaul dan pergaulan sosial
  16. 16. 16 amat terbatas 2.2.318Lebih suka menjaga jarak, menghindari keterlibatan dengan orang 2.2.319Suka mencela, mengkritik, konvensional 2.2.320Sulit mengambil keputusan 2.2.321Tidak agresif, sikap oposisinya dalam bentuk pasif-agresif 2.2.322Pengendalian diri terlampau kuat, menekan dorongan/impuls diri 2.2.323Menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan 2.2.324Lebih senang berdamai untuk menghindari konflik ataupun konfrontasi Ciri-ciri kepribadian depresif tersebut di atas pada setiap diri seseorang tidak harus sama mencakup semua gejala-gejala secara keseluruhan. Seseorang baru dikatakan mengalami gangguan depresi manakala yang bersangkutan mengalami gangguan di bidang fisik (somatik) maupun psikis sedemikian rupa sehingga mengganggu fungsi dalam kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di sekolah/kampus, di tempat kerja ataupun di pergaulan lingkungan sosialnya. 2.2.4 Gejala Klinis Depresi Gejala klinis depresi adalah sebagai berikut: 2.2.41Afek disforik, yaitu perasaan murung, sedih, gairah hidup menurun, tidak semangat, merasa tidak berdaya 2.2.42Perasaan bersalah, berdosa, penyesalan 2.2.43Nafsu makan menurun 2.2.44Berat badan menurun 2.2.45Konsentrasi dan daya ingat menurun 2.2.46Gangguan tidur: insomnia (sukar/tidak dapat tidur) atau sebaliknya
  17. 17. 17 hipersomnia (terlalu banyak tidur). Gangguan ini seringkali disertai dengan mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, misalnya mimpi orang yang telah meninggal. 2.2.47Agitasi atau retardasi psikomotor (gaduh gelisah atau lemah tak berdaya) 2.2.48Hilangnya rasa senang, semangat dan minat, tidak suka lagi melakukan hobi, kreativitas menurun, produktivitas juga menurun 2.2.49Gangguan seksual (libido menurun) 2.2.410Pikiran-pikiran tentang kematian, bunuh diri. Gejala depresi dapat pula diderita oleh orang yang mengalami stresor psikososial yang berkaitan dengan hilangnya kedudukan/jabatan/kekuasaan. Sekumpulan gejala-gejala mental dalam istilah umum disebut post power syndrome (sindrom pasca kuasa) dan gejala depresi yang ditimbulkannya disebut depresi pasca kuasa. Selain daripada itu gejala depresi dapat pula dialami oleh orang yang mengalami stroke, disebut sebagai depresi pasca stroke. 2.2.5 Penatalaksanaan Depresi Semua pasien depresi harus mendapatkan psikoterapi, dan beberapa memerlukan tambahan terapi fisik. Jenios terapi bergantung dari diagnosis, berat penyakit, umur pasien, dan respons terhadap terapi sebelumnya (Utama, H, 2005). 2.2.5.1 Psikoterapi Merupakan terapi yang digunakan untuk menghilangkan keluhankeluhan dan mencegah kambuhnya gangguan psikologik atau pola perilaku maladaptif. Terapi ini dilakukan dengan jalan pembentukan hubungan yang profesional antara terapis dengan pasien.
  18. 18. 18 Psikoterapi dapat diberikan secara individu, kelompok, atau pasangan sesuai dengan gangguan psikologik yang mendasarimya. Beberapa hal dapat menjadi pertimbangan untuk pemilihan jenis psikoterapi yang diindikasikan. Beberapa pasien dan klinisi sangat meyakini manfaat intervensi psikoterapi tetapi ada pula yang sebaliknya yaitu tidak percaya dengan psikoterapi. Berdasarkan ini, keputusan untuk melakukan psikoterapi sangat dipengaruhi oleh penilaian dokter maupun pasiennya. 1. Terapi Kognitif Terapi ini bertujuan untuk menghilangkan gejala depresi melalui usaha yang sistematis yaitu merubah cara pikir maladaptif dan otomatik pada pasien-pasien depresi. Dasar pendekatannya adalah suatu asumsi bahwa kepercayaan-kepercayaan yang mengalami distorsi tentang diri sendiri, dunia, dan masa depan dapat menyebabkan depresi. Pasien harus menyadari cara berpikirnya yang salah. Kemudian, ia harus belajar cara merespons cara pikir yang salah tersebut dengan cara yang lebih adaptif. 2. Terapi Perilaku Terapi ini sering digunakan bersama-sama dengan terapi kognitif yang bertujuan meningkatkan aktivitas pasien, mengikutkan pasien dalam tugastugas yang dapat meningkatkan perasaan menyenangkan. 3. Psikoterapi Suportif Psikoterapi ini membantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya. Membantu memecahkan problem eksternal (misalnya masalah pekerjaan dan rumah tangga). Latih pasien untuk mengenal tanda-tanda
  19. 19. 19 dekompensasi yang akan datang. Temui pasien sesering mungkin dan secara teratur, tetapi jangan samapai selamanya. Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi dapat memprovokasi kemarahan terapis (melalui kemarahan dan tuntutan yang tidak masuk akal). 4. Psikoterapi Psikodinamik Dasar terapi ini adalah kerentanan psikologik terjadi akibat konflik perkembangan yang tidak selesai. Terapi ini dilakukan dalam periode jangka panjang. Perhatian pada terapi ini adalah defisit psikologik yang menyeluruh yang diduga mendasari gangguan depresi. Misalnya, problem yang berkaitan dengan rasa bersalah, rasa rendah diri, berkaitan dengan pengalaman yang memalukan. 5. Psikoterapi Dinamik Singkat Berlangsung lebih pendek dan bertujuan menciptakan lingkungan yang aman buat pasien. Pasien dapat mengenal materi konfliknya dan dapat mengekspresikannya. 6. Terapi Kelompok Tidak ada bentuk terapi kelompok yang spesifik. Ada beberapa keuntungan terapi kelompok antara lain: 1) Biaya lebih murah 2) Ada destigmatisasi dalam memandang orang lain dengan problem yang sama 3) Memberikan kesempatan untuk memainkan peran dan mempraktikkan keterampilan perilaku interpersonal yang
  20. 20. 20 baru 4) Membantu pasien dalam mengaplikasikan keterampilan baru Terapi kelompok sangat efektif untuk terapi jangka pendek pasien rawat jalan. Ia juga lebih efektif untuk depresi ringan. Untuk depresi yang lebih berat, terapi individu lebih efektif. 7. Terapi Perkawinan Problem perkawinan dan keluarga sering menyertai depresi. Ia dapat mempengaruhi penyembuhan fisik. Oleh karena itu, perbaikan hubungan perkawinan merupakan hal penting dalam terapi ini. 8. Psikoterapi Berorientasi Tilikan Jangka terapi cukup lama, berguna pada pasien depresi minor kronik tertentu dan beberapa pasien dengan deprei mayor yang mengalami remisi tetapi mempunyai konflik. 2.2.5.2 Terapi Biologik 1. Lithium Bermanfaat dalam pengobatan depresi bipolar akut dan beberapa depresi unipolar. Ia cukup efektyif paad bipolar serta untuk mempertahankan remisi dan begitu pula pada beberapa pasien unipolar. 2. Antikonvulsan Terlihat sama baiknya dengan lithium meskipun kurang efektif untuk pemeliharaan. Antidepresan dan lithium dapat dimulai secara bersamasama dan lithium diteruskan setelah remisi.
  21. 21. 21 3. Terapi Kejang Listrik Merupakan terapi pilihan bila: 1) Obat tidak berhasil 2) Kondisi pasien menuntut remisi segera (misalnya: bunuh diri yang akut) 3) Pada beberapa depresi psikotik 4) Pada pasien yang tidak dapat mentoleransi obat (misalnya: pasien tua yang berpenyakit jantung). Lebih dari 90% pasien memberikan respons. 4. Latihan Fisik Lari dan renang dapat memperbaiki depresi dengan mekanisme biologis yang belum dimengerti dengan baik. 2.2.6 Pencegahan depresi Pola kehidupan modern yang cenderung mengutamakan pekerjaan membuat pola biologis tubuh menjadi terganggu. Perubahan ini terkadang tidak hanya sebatas fisik, tetapi berpengaruh juga terhadap metabolisme tubuh. Dalam mencegah dan mengatasi stress , umumnya kerja jantung menjadi lebih cepat sehingga sirkulasi darah juga lebih cepat. Perbaikan sistem kekebalan tubuh dapat membantu mengurangi stress. Perbaikan ini dibantu oleh mineral seng (zinc), vitamin C dan vitamin B12, serta asam amino lisin. Mekanisme lainnya adalah dengan mengendalikan kadar glukosa darah yang dilakukan oleh biotin dan niasin. Pemeliharaan dan peredaan ketegangan saraf serta pencegahan depresi juga dibantu
  22. 22. 22 oleh vitamin B1 (tiamin), asam folat, dan asam pantotenat. Vitamin B6 dan vitamin C yang ada pada susu turut membantu pembentukan serotonin dan hormon melatonin (Astawan, Made, 2007).
  23. 23. Faktor yang mempengaruhi: nfertilitas Umur I Lama pernikahan Psikologis Makanan dan lingkungan Gangguan hubungan seksual Penyakit Gejala 23 1. Depresi Perubahan selera makan Perubahan 23 waBkAtuBti3dur Khawatir dan curiga KERANGPaKnAik KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS Kehilangan ketertarikan Gangguan konsentrasi 3.1 Kerangka KonseptuaMl erasa tidak berguna Mudah marah dan frustasi Kehilangan nafsu seksual Menyendiri Berpikir lebih baik mati Ket: : diteliti : tidak diteliti Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Hubungan Antara Infertilitas dengan Tingkat Depresi pada Wanita Infertilitas Infertilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur, lama pernikahan, psikologis, makanan dan lingkungan, gangguan hubungan seksual, dan penyakit. Dalam hal ini, infertilitas akan menyebabkan depresi, perubahan selera makan, dan gejala lainnya. Dalam penelitian ini, akan diteliti hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas.
  24. 24. 24 3.1 Hipotesis Menurut Soekidjo Notoatmodjo hipotesis pada hakekatnya adalah dugaan sementara terhadap terjadinya hubungan variabel yang akan diteliti. Untuk itu agar analisis penelitian terarah maka perlu dirumuskan suatu hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas.
  25. 25. 25 25 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Desain penelitian adalah seluruh dari perencanaan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul selama proses penelitian (Notoatmodjo, 2002). Penelitian ini bersifat analitik menggunakan desain penelitian cross sectional, dimana peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel sesaat, variabel sebab atau risiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek yang diukur atau dikumpulkan secara simultan (dalam waktu bersamaan). Gangguan mood Depresi ringan Infertil primer Depresi sedang Depresi parah Depresi ekstrim Wanita infertilitas Gangguan mood Depresi ringan Infertil sekunder Depresi sedang Depresi parah Depresi ekstrim Gambar 4.1 Desain Penelitian Hubungan Antara Infertilitas dengan Tingkat Depresi pada Wanita Infertilitas
  26. 26. 4.2 Kerangka Kerja Menentukan populasi Pasangan infertilitas yang memeriksakan diri di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Menentukan sampling Simple Random Sampling Mengambil sampel Wanita infertilitas yang memeriksakan dirinya di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya mulai tanggal 25 Juni – 09 Juli 2007 Memberikan kuesioner pengukur Depresi Beck Mengolah data Editing, coding, tabulating Menganalisis data Uji korelasi dari Spearman’s Rho Menyajikan hasil penelitian Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian Hubungan Antara Infertilitas dengan Tingkat Depresi pada Wanita Infertilitas
  27. 27. 4.3 Populasi, Sampel dan Sampling 4.3.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut dari masalah yang diteliti. Variabel tersebut berupa orang, kejadian, perilaku atau sesuatu lain yang akan dilakukan pada penelitian ( Nursalam, 2003 ). Populasi dalam penelitian ini adalah pasangan infertilitas yang memeriksakan diri di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya. 4.3.2 Sampel Sampel adalah bagian dari keseluruhan dari objek yang diteliti dan dianggap mewakili populasi ( Notoatmodjo, 2002 ). Sampel dalam penelitian ini adalah wanita infertilitas yang memeriksakan dirinya di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya mulai tanggal 25 Juni – 09 Juli 2007. 4.3.2.1 Kriteria inklusi sampel Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2003). Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: 1) Wanita infertilitas yang berkunjung di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya. 2) Wanita infertilitas yang mampu membaca dan menulis 3) Wanita infertilitas yang bersedia dilakukan penelitian
  28. 28. 4.3.2.2 Besar sampel Dalam penentuan besar sampel dimana populasi < 1000, maka digunakan rumus (Nursalam, 2003): N. Z². p. q n= d (N – 1) + Z. p. q Keterangan: n = Perkiraan jumlah sampel N = Perkiraan besar populasi Z = Nilai standar normal untuk α = 0,05 (1,96) p = Perkiraan proporsi, jika tidak diketahui dianggap 50 % q = 1 – p (100 % - p) D = Tingkat kesalahan yang dipilih (d = 0,05) Maka, besar sampel: 546. 1,96². 0,5. 0,5 n= 0,05 (546 – 1) + 1,96. 0,5. 0,5 = 18,90 = 19 Jadi, besar sampel adalah 19 wanita infertilitas 4.3.3 Sampling Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi dan populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling, yaitu bahwa setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel.
  29. 29. 4.4 Variabel Penelitian 4.4.1 Variabel Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dll) (Soepato, taat Putra, dan Haryanto, 2000 dalam Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini terdapat dua macam variabel yaitu: 4.4.1.1 Variabel Independen Merupakan variabel yang nilainya menentukan variabel lain (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini, variabel independen adalah infertilitas. 4.4.1.2 Variabel Dependen Merupakan variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain. Dalam penelitian ini variabel dependen adalah tingkat depresi. 4.4.2 Definisi Operasional Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam dan Siti Pariani, 2001).
  30. 30. Variabel Infertilitas Depresi Definisi operasional Pasangan suami istri setelah bersenggama secara teratur (2 – 3 kali seminggu), tanpa mengalami metode pencegahan dan belum mengalami kehamilan selama satu tahun. Gangguan kejiwaan yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, dan putus asa. Kategori Skala Infertilitas ada 2 Nominal macam yaitu: 1. Infertilit as primer 2. Infertilit as sekunder Ordinal Dari seluruh pernyataan pada pengukur Depresi Beck kemudian hasilnya diinterpretasikan pada kriteria sebagai berikut: perasaan wajar, gangguan mood, depresi ringan, sedang, parah dan ekstrim. Alat ukur Kuesioner Kuesioner Skor 1. Infertilitas primer adalah keadaan dimana istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. 2. Infertilitas sekunder adalah keadaan dimana istri pernah hamil, akan tetapi tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Jawaban diberi skor sesuai dengan jumlah dari pernyataan yang dipilih dari tiap nomor dan diinterpretasikan dalam kategori pengukur Depresi Beck sebagai berikut: Perasaan wajar: nilai 1 – 10 Gangguan mood: nilai 11 – 16 Depresi ringan: nilai 17 – 20 Depresi sedang: 21 – 30 Depresi parah: 31 – 40 Depresi ekstrim: nilai ≥ 40 4.5 Instrumen Penelitian Alat atau instrumen adalah alat- alat yang akan digunakan untuk mengumpulkan
  31. 31. data (Notoadmodjo, 2002). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui infertilitas adalah kuesioner dengan menanyakan lama menikah dan jumlah kehamilan. Sedangkan untuk mengukur tingkat depresi menggunakan kuesioner pengukur depresi beck yang merupakan sebuah alat ukur pengukur kemurungan yang dapat dipercaya, yang mendeteksi ada atau tidaknya depresi serta secara tepat menunjukkan tingkat keparahannya (Burns, M, 1988). 4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr.Soetomo mulai tanggal 25 Juni – 09 Juli 2007. 4.7 Pengumpulan Data Adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2003). Pengumpulan data dilakukan pada wanita infertil di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya yang memenuhi kriteria menggunakan instrumen penelitian. 4.8 Analisis Data Cara menilai infertil: Infertilitas primer : Keadaan dimana istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Infertilitas sekunder : Keadaan dimana istri pernah hamil, akan tetapi tidak terjadi
  32. 32. kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Cara menilai tingkat depresi: Menggunakan kuesioner pengukur Depresi Beck menggunakan Hamilton Rating Scale for Depression (HRS-D). Kuesioner ini bersifat terbuka dengan menggunakan skor dimana responden hanya memilih pernyataan yang tersedia. Setelah menyelesaikan kuesioner tersebut, maka nilai dari masing – masing pernyataan dijumlahkan seluruhnya. Karena nilai tertinggi yang bisa diperoleh pada satu pertanyaan adalah tiga, maka jumlah total tertinggi yang mungkin bagi seluruh kuesioner dengan jumlah nomor dua puluh satu adalah enam puluh tiga (yang berarti bahwa responden melingkari nilai tiga di setiap nomor). Karena nilai terendah di setiap nomor adalah nol, maka nilai total terendah pada test adalah nol (yang berarti bahwa responden melingkari nilai nol di setiap nomor). Kemudian dianalisis dengan skor penilaian menggunakan pengukur depresi beck dengan kriteria hasil seperti di bawah ini: Nilai total Tingkat-tingkat depresi* 1.10 Naik turunnya perasaan ini tergolong wajar 11.16 Gangguan ”mood” atau rasa murung yang ringan 17-20 Garis batas depresi ringan 21-30 Depresi sedang 31-40 Depresi parah ≥40 Depresi ekstrim
  33. 33. *Nilai 17 atau di atasnya yang menetap menunjukkan bahwa anda mungkin Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi dari Spearman’s Rho karena tujuan uji penelitian ini bersifat korelasi dengan skala variabel ordinal. 4.9 Pengolahan Data Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data sebagai berikut: 4.9.1 Editing Editing adalah proses memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan, ini berarti bahwa semua kuesioner harus diteliti satu persatu tentang kelengkapan pengisian dan kejelasan penelitiannya. Jika terdapat jawaban yang tidak jelas penulisannya atau ada butir pertanyaan yang tidak terisi, maka yang bersangkutan diminta untuk memperjelas atau melengkapinya. 4.9.2 Coding Merupakan pemberian kode pada setiap kategori yang ada dalam variabel terutama data klasifikasi. 4.9.3 Tabulating Merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa dengan membuat tabel-tabel sesuai dengan analisis yang dibutuhkan. 4.10Masalah Etika 4.10.1 Informed consent Merupakan lembar persetujuan yang diberikan kepada responden kemudian peneliti menjelaskan maksud dan tujuan peneliti, jika responden bersedia untuk menjadi responden maka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut, jika
  34. 34. tidak bersedia diteliti maka peneliti tidak boleh memaksa. 4.10.2 Anonymity Untuk menjaga kerahasiaan responden peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data. 4.10.3 Confidentiality Menjelaskan masalah-masalah responden yang harus dirahasiakan dlam penelitian. Kerahasiaan data yang diberikan oleh subjek dijamin oleh peneliti.
  35. 35. BAB 5 HASIL PENELITIAN, ANALISIS HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Dalam bab ini akan disajikan hasil penelitian dan analisis hasil penelitian tentang hubungan infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya. Data hasil penelitian ini akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan akan diberikan uraian secara deskriptif di bawahnya. Berikut ini pada data akan ditampilkan dalam tabel distribusi frekuensi dengan dua bentuk yaitu data umum dan data khusus. Data umum menampilkan karakteristik responden meliputi umur dan lama menikah. Sedangkan data khusus akan menggambarkan hubungan antar variabel yang akan disajikan dalan bentuk tabulasi silang. Untuk mengetahui hubungan antar variabel akan diuji dengan uji korelasi dari Spearman’s Rho. Tingkat kemaknaan dalam penelitian ini adalah ≤ 0,05 dengan tingkat signifikasi adalah p= 0,000, artinya bila korelasi lebih besar dari tingkat signifikasi maka H0 ditolak dan H1 diterima. 5.1.1 Data Umum
  36. 36. 35 Data ini menggambarkan karakteristik responden yang terdapat di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya, yang meliputi sebagai berikut 5.1.1.1 Umur Umur responden yang terdapat di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya pada 25 Juni – 09 Juli 2007 Umur < 21 tahun 21-40 tahun Jumlah Frekuensi 19 19 Prosentase (%) 0,00 100,00 100,00 Analisis Data : Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dari 19 responden, semuanya (100,00%) berumur antara 21-40 tahun. 5.1.1.2 Lama Menikah Lama menikah responden yang terdapat di Unit Rawat jalan RSU Dr. Soetomo Surabaya dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lama Menikah di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya pada 25 Juni – 09 Juli 2007 Lama Menikah ≥ 1 – 2 tahun ≥ 2 – 5 tahun Frekuensi 6 8 Prosentase (%) 31,58 42,11
  37. 37. ≥ 5 – 10 tahun ≥ 10 tahun Jumlah 4 1 19 21,05 5,26 100,00 Analisis Data : Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari 19 responden, sebanyak 8 wanita infertilitas (42,11%) yang lama menikah diantara ≥ 2 – 5 tahun. 5.1.2 Data Khusus Berikut ini pada data khusus akan ditampilkan tabel distribusi frekuensi berdasarkan macam infertilitas dan tingkat depresi pada wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya. 5.1.2.1 Macam Infertilitas Macam infertilitas responden yang terdapat di Unit Rawat jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Macam Infertilitas pada Wanita Infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya pada 25 Juni – 09 Juli 2007 Macam Infertilitas Frekuensi Prosentase (%) Primer 16 84,21 Sekunder 3 15,79 Jumlah 19 Analisis Data : 100,00
  38. 38. Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari 19 responden, sebanyak 16 responden (84,21 %) adalah wanita infertilitas primer. 5.1.2.2 Tingkat Depresi Tingkat depresi responden yang terdapat di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Depresi di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya pada 25 Juni – 09 Juli 2007 Tingkat Depresi Frekuensi Prosentase (%) Normal 6 31,58 Gangguan Mood 4 21,05 Garis Batas Depresi Ringan 4 21,05 Depresi Sedang 5 Jumlah 19 26,32 100,00 Analisis Data : Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari 19 responden, sebanyak 5 responden (26,32%) berada dalam depresi sedang. 5.1.2.3 Tabulasi Silang Hubungan Antara Infertilitas dengan tingkat Depresi pada Wanita Infertilitas Hubungan antara infertil dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
  39. 39. Tabel 5.5 Tabulasi Silang Hubungan Antara Infertilitas dengan Tingkat Depresi pada Wanita Infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya pada 25 Juni – 09 Juli 2007 Tingkat Depresi Macam Total Infertil Normal % n Depresi Depresi Mood n Ganguan Ringan Sedang % n % n % n % Primer Sekunder 5 31,25 3 18,75 4 25,00 4 25,00 16 100,00 1 33,33 1 33,33 0 0,00 1 33,33 3 Jumlah 6 31,58 4 21,05 4 21,05 5 26,32 19 100,00 100,00 Analisis Data : Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dari 19 responden, sebanyak 4 responden (25,00%) adalah wanita infertilitas primer dengan tingkat depresi ringan. 5.2 Analisis Uji Korelasi dari Spearman Untuk Mengetahui Hubungan Antara Infertilitas dengan Tingkat Depresi pada Wanita Infertilitas Hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas setelah dilakukan analisis uji korelasi dari Spearman’s Rho dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
  40. 40. Tabel 5.6 Analisis Uji Korelasi dari Spearman’s Rho untuk Mengetahui Hubungan Antara Infertilitas dengan Tingkat Depresi Pada Wanita Infertilitas di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya Spearman’s rho Koefisien korelasi macam infertil Koefisien korelasi tingkat depresi Macam Infertil 1,000 -0,027 Tingkat Depresi -0,027 1,000 Analisis Data : Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa koefisien korelasi lebih kecil dari tingkat signifikasi maka H0 diterima yang berarti tidak ada hubungan antara Infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita Infertilitas. 5.3 Pembahasan 5.3.1 Data Umum 5.3.1.1 Umur Dalam penelitian ini diperoleh prosentase umur responden berumur antara 21 – 40 tahun yaitu 19 responden (100,00%). Menurut Hanifa Wiknjosastro (2005), pada umur 40 tahun ke atas perempuan masih dapat dihamilkan dan fertilitas akan menurun cepat sesudah umur tersebut. Dalam hal ini, semua responden masih dapat dihamilkan karena masih berada dalam masa reproduksi sehat. 5.3.1.2 Lama Menikah Pada penelitian ini diperoleh prosentase lama menikah responden antara ≥ 1 – 5 tahun yaitu 14 responden (73,69 %). .Menurut Hanifa Wiknjosastro (2005), makin lama pasangan menikah tanpa kehamilan semakin turun kejadian kehamilannya.
  41. 41. Dapat dijelaskan bahwa hampir seluruh responden masih mempunyai sisa waktu yang panjang untuk kemungkinan bisa dihamilkan. 5.3.2 Data Khusus 5.3.2.1 Macam Infertilitas Pada penelitian ini diperoleh prosentase macam infertilitas responden adalah infertilitas primer yaitu 16 responden (84,21 %). Hal ini disebabkan karena pada wanita infertilitas primer akan lebih mengalami gangguan konsep diri seksual dibandingkan dengan wanita dengan infertilitas sekunder walaupun wanita dengan infertilitas sekunder tersebut pernah mengalami kehamilan tapi keguguran (abortus). 5.3.2.2 Tingkat Depresi Pada penelitian ini diperoleh prosentase tingkat depresi responden adalah sebanyak 10 responden (52,63 %) tidak mengalami depresi. Hal ini dihubungkan dengan umur dan lama menikah responden, dimana semua responden masih berada dalam masa reproduksi sehat dan masih mempunyai sisa waktu yang panjang untuk dapat dihamilkan. 5.3.2.3 Hubungan Antara Infertilitas dengan Tingkat Depresi pada Wanita Infertilitas Pada penelitian ini diperoleh prosentase hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas yaitu masing-masing 4 responden (25,00%) adalah wanita infertilitas primer dengan tingkat depresi ringan dan sedang, tiga
  42. 42. responden (18, 75 %) adalah wanita infertilitas primer dengan tingkat depresi gangguan mood, dan 5 responden (31,25 %) adalah wanita infertilitas primer dengan tingkat depresi berada dalam batas normal (tidak mengalami depresi), dan masingmasing 1 responden (33,33%) adalah wanita infertilitas sekunder dengan tingkat depresi sedang, ringan dan berada di dalam batas normal (tidak mengalami depresi). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji korelasi dari Spearman’s Rho didapatkan bahwa koefisien korelasi lebih kecil dari tingkat signifikasi yang berarti tidak ada hubungan antara infertlitas dengan tingkat depresi pada wanita infetilitas. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Keye et al (1995), Miller dan Brooten (1996), serta Wentz et al (1998) bahwa infertilitas yang dialami oleh seorang istri menyebabkan dampak psikologis pada dirinya seperti munculnya perasaan frustasi, depresi yang cukup berat, stress, perasaan tidak sempurna dan kurang berarti serta hubungan suami istri juga mengalami masalah. Dari tabel 5.1 dapat dijelaskan bahwa dari 19 responden, semuanya (100,00 %) berumur antara 21 – 40 tahun. Hal itu berarti bahwa semua responden masih berada dalam masa reproduksi sehat dan masih mempunyai rentang waktu yang cukup panjang untuk dapat dihamilkan. Dari tabel 5.2 dapat dijelaskan bahwa dari 19 responden, sebagian besar responden (73,69 %) lama menikahnya antara ≥ 1 – 5 tahun sehingga sebagian besar reponden masih mempunyai rentang waktu yang panjang untuk dapat dihamilkan. Terkait dengan kesimpulan dari tabel 5.1, dapat dijelaskan bahwa walaupun semua responden merupakan wanita infertilitas baik primer maupun sekunder namun mereka masih berada dalam masa reproduksi sehat dan sebagian besar masih mempunyai
  43. 43. rentang waktu yang panjang untuk kemungkinan bisa dihamilkan. Hal ini menunjukkan bahwa wanita infertilitas yang tidak mengalami depresi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain umur dan lama menikah. Karena selama wanita infertilitas tersebut masih berada dalam masa reproduksi sehat dan lama menikah belum terlalu lama, maka masih besar kemungkinan wanita infertilitas dapat dihamilkan dan selama masih ada kemungkinan tersebut secara langsung hal ini akan mempengaruhi tingkat depresi responden.
  44. 44. BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan Berdasarkan analisis data dan penghitungan statistik pada bab ini akan ditarik kesimpulan sebagai berikut : 6.1.1 Dari 19 responden di Unit Rawat Jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya hampir seluruhnya merupakan wanita infertilitas primer. 6.1.2 Dari 19 responden di Unit Rawat jalan Infertil RSU Dr. Soetomo Surabaya sebagian besar tidak mengalami depresi. 6.1.3 Hasil analisis uji statistik dengan menggunakan uji korelasi dari Spearman diperoleh bahwa koefisien korelasi lebih kecil dari tingkat signifikasi dengan demikian H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti tidak ada hubungan antara infertilitas dengan tingkat depresi pada wanita infertilitas. 6.2 Saran Berdasarkan dari hasil kesimpulan pada penelitian di atas maka peneliti menyarankan untuk penelitian selanjutnya untuk lebih memperbanyak jumlah sampel
  45. 45. 44 dan memperluas tujuan penelitian yaitu dengan ikut meneliti faktor yang mempengaruhi infertilitas misalnya umur dan lama pernikahan. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Infertilitas Picu Gangguan Mental [Internet] 16th, May. Available from: http://www.radarsulteng.com [accessed November, 9th, 2006] Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Bobak. Lowdermilk. Dan Jensen. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC Hanifa, W. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Hawari, D. 2004. Manajemen Stress dan Depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ismari. 2006. Konsep diri pada Wanita Infertil di Unit Rawat Jalan RSU. Dr. Soetomo Surabaya. Surabaya Joyce, K. Yuniar, S. dan Haniman, F.2000. Depresi pada Ibu yang Mempunyai Anak Autistik di Poliklinik Jiwa Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya Kartono, K. 1992. Psikologi Wanita (Jilid 2) Mengenal Wanita Sebagai Ibu dan Nenek. Bandung: Mandar Maju Koblinsky, M. Timyan, J. dan Gay, J. 1997. Kesehatan Wanita Sebuah Perspektif Global. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Mantja, Z, A. Dan Hartono. 1995. Aspek Depresi pada Penyandang Epilepsi. Semarang Manuaba, Ida Bagus Gde. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC
  46. 46. Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam. dan Siti Pariani, 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: CV. Info Medika Pecherney, A, H. Polan, M, L. Lee, R, D. dan Boyers, P, S. 1997. Seri Skema Diiagnosis dan Penatalaksanaan Infertilitas. Jakarta: Binarupa Aksara Samsul. 2004. Tatkala Si Mungil Memanggil Papah atau Mamah [Internet] 22nd, May. Available from: http://www.bkkbn.go.id [accessed November, 9th, 2006] Tjokronegoro, A. dan Utama, H. 2004. Metodologi Penelitian Bidang Kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Zamralitan. dan Wirawan, H. 2003. Dampak Psikologis pada Diri Seorang Istri yang Mengalami Infertilitas [Internet] 21st, April. Available from: http://www.psikologi-untar.com [accessed November, 9th, 2006]

×