1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budidaya kakao (Theobroma cacao L.) dewasa ini ditinjau dari penambahan luas areal ...
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mendapatkan interaksi antar jenis klon dan lama penyimpanan entres terhadap
pertumbuhan sambung s...
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Kakao
Kakao termasuk tanaman perkebunan berumur tahunan. Tanaman tahunan ini dapat
mu...
3. Jenis Trinitario, merupakan campuran atau hibrida dari jenis Criollo dan Forastero
secara alami, sehingga kakao ini san...
2.1.1.3 Daun
Sama dengan sifat percabangannya, daun kakao juga bersifat dimosfirme artinya
bersifat tumbuh ke dua arah. Pa...
20° LU, tinggi tempat 0 s/d 600 m dpl, suhu yang terbaik 24°C s/d 28°C dan angin yang
kuat (lebih dari 10 m detik
-1
) ber...
konservasi lahan dibandingkan dengan produksi buahnya. Sementara itu ada beberapa
kelemahan perbanyakan secara generatif, ...
perbanyakan tanaman dengan okulasi adalah persyaratan batang bawah dan batang atas.
Batang bawah harus memenuhi persyarata...
helai daun. Mata tunas yang berwarna coklat menandakan okulasi mengalami kegagalan.
Keberhasilan okulasi sangat tergantung...
2. Faktor pelaksanaan
Faktor pelaksanaan memegang peranan penting dalam penyambungan. Menurut Rochiman
dan Harjadi (1973) ...
berdaya hasil tinggi serta memiliki kualitas mutu hasil yang sesuai dengan tuntutan
produsen dan konsumen merupakan salah ...
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan di kebun petani yang terletak di Desa b...
4 - 5 mata tunas. Entres berupa cabang plagiotrop berwarna hijau atau hijau kecoklatan
dan sudah mengayu, dengan ukuran di...
51
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Selama percobaan berlangsung pertumbuhan entres hasil sambung samping tanaman
kakao tidak menga...
BAB V
PEMBAHASAN
Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara perlakuan jenis
klon dengan lama p...
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Tidak terdapat interaksi antara jenis klon dan lama penyimpanan entres
terhadap pertumbuh...
DAFTAR PUSTAKA
1. Amin, Sarmidi. 2005. Teknologi Pasca Panen Kakao Untuk Masyarakat Perkakaoan
Indonesia. BPPT Press: Jaka...
TUGAS : ILMU FALAQ
PENGARUH ILMU ALAMIAH DASAR
TERHADAP TRASPORTASI DAN
KOMUNIKASI
DISUSUN OLEH :
NAMA : MILA DARMA
PRODI ...
2013
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala Puji dan Syukur Penulis Panjatkan kepada Allah SWT
yang telah memb...
DAFTAR ISI
Kata Pengantar....................................................................................................
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Fild stadi tanaman cacao

1,436 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,436
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
14
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Fild stadi tanaman cacao

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budidaya kakao (Theobroma cacao L.) dewasa ini ditinjau dari penambahan luas areal di Indonesia terutama kakao rakyat sangat pesat, karena kakao merupakan salah satu komoditas unggulan nasional setelah tanaman karet, kelapa sawit, kopi, dan teh. Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berperan penting bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia terutama dalam penyediaan lapangan kerja baru, sumber pendapatan petani dan penghasil devisa bagi negara. Kakao merupakan tanaman tahunan yang mulai berbunga dan berbuah umur 3-4 tahun setelah ditanam. Apabila pengelolaan tanaman kakao dilakukan secara tepat, maka masa produksinya dapat bertahan lebih dari 25 tahun, selain itu untuk keberhasilan budidaya kakao perlu memperhatikan kesesuaian lahan dan faktor bahan tanam. Penggunaan bahan tanam kakao yang tidak unggul mengakibatkan pencapaian produktivitas dan mutu biji kakao yang rendah, oleh karena itu sebaiknya digunakan bahan tanam yang unggul dan bermutu tinggi (Raharjo, 1999). Keberhasilan usaha penyambungan tanaman kakao dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya, kondisi tanaman dan lingkungan, tingkat kesehatan batang bawah, kelembaban udara dan intensitas penyinaran serta penggunaan klon-klon unggul yang dapat beradaptasi dengan iklim mikro (Sunanto, 1994). Lama penyimpanan dan media penyimpanan batang atas sebelum dilakukan penyambungan juga berpengaruh terhadap keberhasilan penyambungan (Djazuli, dkk. 1999). Waktu yang baik untuk melakukan penyambungan adalah pada saat cuaca cerah, namun ada pula yang menyebutkan bahwa penyambungan pada awal musim kemarau memberikan hasil yang lebih baik dari pada musim hujan, tetapi hal tersebut perlu dikaji lebih lanjut (Zaubin dan Suryadi, 1999). 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalah yang digunakan sebagai dasar penelitian ini adalah : 1. Apakah interaksi antara jenis klon dan lama penyimpanan entres berpengaruh terhadap pertumbuhan sambung samping kakao di Desa bangun sari ? 2. Apakah jenis klon entres berpengaruh terhadap pertumbuhan sambung samping kakao di desa Bangun Sari ? 3. Apakah lama penyimpanan entres berpengaruh terhadap pertumbuhan sambung samping kakao di Desa Bangun Sari ?
  2. 2. 1.3 Tujuan Penelitian 1. Mendapatkan interaksi antar jenis klon dan lama penyimpanan entres terhadap pertumbuhan sambung samping kakao. 2. Mendapatkan pengaruh jenis klon entres terhadap pertumbuhan sambung samping kakao. 3. Mendapatkan pengaruh lama penyimpanan entres terhadap pertumbuhan sambung samping kakao. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dan membantu petani menemukan cara atau metode yang praktis, murah serta jenis klon dan lama penyimpanan entres sebelum melakukan penyambungan sehingga tidak merugikan patani dalam merehabilitasi tanaman kakao. 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pemanfaatan teknologi sambung samping dalam melakukan rehabilitasi tanaman kakao.
  3. 3. 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Kakao Kakao termasuk tanaman perkebunan berumur tahunan. Tanaman tahunan ini dapat mulai berproduksi pada umur 3-4 tahun . Tanaman kakao menghasilkan biji yang selanjutnya bisa diproses menjadi bubuk coklat. Sistematik tanaman kakao menurut Tjitrosoepomo (1988) adalah sebagai berikut: Kakao merupakan tanaman perkebunan di lahan kering, dan jika di usahakan secara baik dapat berproduksi tinggi serta menguntungkan secara ekonomis. Sebagai salah satu tanaman yang dimanfaatkan bijinya, maka biji kakao dapat dipergunakan untuk bahan pembuat minuman, campuran gula-gula dan beberapa jenis makanan lainnya bahkan karena kandungan lemaknya tinggi biji kakao dapat dibuat cacao butter/mentega kakao, sabun, parfum dan obat-obatan. Sunanto (1994) mengatakan bahwa sesungguhnya terdapat banyak jenis tanaman kakao, namun jenis yang paling banyak ditanam untuk produksi cokelat secara besar-besaran hanya tiga jenis, yaitu: 1. Jenis Criollo, yang terdiri dari Criollo Amerika Tengah dan Criollo Amerika Selatan. Jenis ini menghasikan biji kakao yang mutunya sangat baik dan dikenal sebagai kakao mulia. Jenis kakao ini terutama untuk blending dan banyak dibutuhkan oleh pabrik-pabrik sebagai bahan pembuatan produk- produk cokelat yang bermutu tinggi. Saat ini bahan tanam kakao mulia banyak digunakan karena produksinya tinggi serta cepat sekali mengalami fase generatif. 2. Jenis Forastero, banyak diusahakan diberbagai negara produsen cokelat dan menghasilkan cokelat yang mutunya sedang atau bulk cacao, atau dikenal juga sebagai ordinary cacao. Jenis Forastero sering juga disebut sebagai kakao lindak. Kakao lindak memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebih baik, relatif lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit dibandingkan kakao mulia. Endospermanya berwarna ungu tua dan berbentuk bulat sampai gepeng, proses fermentasinya lebih lama dan rasanya lebih pahit dari pada kakao mulia.
  4. 4. 3. Jenis Trinitario, merupakan campuran atau hibrida dari jenis Criollo dan Forastero secara alami, sehingga kakao ini sangat heterogen. Kakao jenis Trinitario menghasilkan biji yang termasuk fine flavour cacao dan ada yang termasuk bulk cacao. Jenis Trinitario antara lain hybride Djati Runggo (DR) dan Uppertimazone Hybride (kakao lindak). Kakao ini memiliki keunggulan pertumbuhannya cepat, berbuah setelah berumur 2 tahun, masa panen sepanjang tahun, tahan terhadap penyakit VSD (Vascular streak dieback) serta aspek agronominya mudah. 2.1.1 Karakteristik tanaman kakao 2.1.1.1 Akar Kakao adalah tanaman dengan surface root freeder, artinya sebagian akar lateralnya (mendatar) berkembang dekat permukaan tanah, yaitu pada kedalaman (jeluk) 0 – 30 cm. Menurut Himme (Smyth, 1960 dalam Puslit Kopi dan Kakao 2004) 56% akar lateral tumbuh pada jeluk 0-10 cm, 26% pada jeluk 11- 20 cm, 14% pada jeluk 21-30 cm, dan hanya 4% tumbuh pada jeluk diatas 30 cm dari permukaan tanah. Jangkauan akar lateral jauh dari luar proyeksi tajuk tanaman, selain itu pada akar kakao terdapat cendawan mikoriza yang membantu penyerapan unsur hara tertentu terutama unsur P. Tanaman kakao yang dikembangkan secara vegetatif tidak memiliki akar tunggang, namun nantinya akan membentuk dua akar yang menyerupai akar tunggang (Susanto, 1994). 2.1.1.2 Batang dan cabang Habitat asli tanaman kakao adalah hutan tropis dengan naungan pohon- pohon yang tinggi, curah hujan tingi, suhu sepanjang tahun relatif sama, serta kelembaban tinggi dan relatif tetap. Kondisi habitat seperti itu, tanaman kakao akan tumbuh tinggi tetapi bunga dan buahnya sedikit. Jika dibudidayakan di kebun, tinggi tanaman umur tiga tahun mencapai 1,8 – 3,0 meter dan pada umur 12 tahun dapat mencapai 4,50 – 7,0 meter (Hall, 1932 dalam Puslit Kopi dan Kakao 2004). Tanaman kakao bersifat dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop atau tunas air (wiwilan atau chupon), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping disebut dengan plagiotrop (cabang kipas atau fan
  5. 5. 2.1.1.3 Daun Sama dengan sifat percabangannya, daun kakao juga bersifat dimosfirme artinya bersifat tumbuh ke dua arah. Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,5-10 cm, sedangkan pada tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya 2,5 cm (Hall, 1932, dalam Puslit Kopi dan Kakao, 2004). Bentuk helai daun bulat memanjang (oblongus), ujung daun meruncing (acuminatus), dan pangkal daun runcing (acatus). Susunan tulang daun menyirip dan tulang daun menonjol kepermukaan bawah helai daun. Permukaan daun licin dan mengkilap. 2.1.1.4 Bunga Tanaman kakao berbunga sepanjang tahun dan tumbuh secara berkelompok pada bantalan bunga yang menempel pada bunga tua, cabang- cabang dan ranting-ranting (Sunanto, 1994). Tanaman kakao bersifat kauliflori, artinya bunga tumbuh dan berkembang dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang. Tempat bunga tersebut semakin lama semakin membesar dan menebal atau biasa disebut dengan bantalan bunga ( cushion) (Puslit Kopi dan Kakao, 2004). 2.1.1.5 Buah dan biji Warna buah tanaman kakao sangat beragam, tetapi pada dasarnya hanya ada dua macam warna. Buah yang ketika muda berwarna hijau atau hijau agak putih jika sudah masak akan berwarna kuning. Sementara itu, buah yang ketika muda berwarna merah, setelah masak berwarna jingga (orange). Kulit buah memiliki 10 alur dalam dan dangkal silih berganti. Untuk jenis Criollo dan Trinitario alur buah nampak jelas, kulit tebal tetapi lunak dan permukaan kasar. Sedangkan jenis Forastero umumnya permukaan halus atau rata dan kulit buah tipis ( Susanto, 1994; Puslit Kopi dan Kakao, 2004). 2.1.2 Syarat tumbuh Di daerah tempat asalnya (Amerika Selatan), tanaman kakao tumbuh subur di hutan- hutan dataran rendah dan hidup dibawah naungan pohon-pohon yang tinggi. Kesuburan tanah, kelembaban udara, suhu dan curah hujan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman kakao. Susanto (1994) mengatakan bahwa kakao mempunyai persyaratan tumbuh sebagai berikut : curah hujan 1.600 – 3.000 mm tahun -1 atau rata-rata optimalnya 1.500 mm tahun -1 yang terbagi merata sepanjang tahun (tidak ada bulan kering), garis lintang 20° LS samapai
  6. 6. 20° LU, tinggi tempat 0 s/d 600 m dpl, suhu yang terbaik 24°C s/d 28°C dan angin yang kuat (lebih dari 10 m detik -1 ) berpengruh jelek terhadap tanaman kakao. Kecepatan angin yang baik bagi tanaman kakao adalah 2-5 m detik -1 karena dapat membantu penyerbukan, kemiringan tanah kurang dari 45% dan tekstur tanah terdiri dari 50% pasir, 10% - 20% debu dan 30% - 40% lempung. Tekstur tanah yang cocok bagi tanaman kakao adalah tanah liat berpasir dan lempung liat berpasir. 2.2 Perbanyakan Tanaman Kakao Tanaman kakao dapat diperbanyak dengan dua cara yaitu perbanyakan secara generatif maupun vegetatif. Cara perbanyakan generatif dewasa ini sangat jarang digunakan lagi dalam penyediaan bahan tanam untuk usaha perkebunan, karena dengan cara ini akan menghasilkan tanaman dengan tipe pertumbuhan yang tidak seragam dan terjadi segregasi genetis (Prawoto dan Bambang, 1996). Tujuan dari perbanyakan tanaman adalah untuk menghasilkan tanaman baru sejenis yang sama unggul atau bahkan lebih. Caranya adalah dengan menumbuhkan bagian-bagian tertentu dari tanaman induk yang memiliki sifat unggul (Agro Media, 2007). 2.2.1 Teknik perbanyakan kakao secara generatif Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan menanam biji yang dihasilkan dari penyerbukan bunga jantan (serbuk sari) dan bunga betina (kepala putik). Benih kakao termasuk golongan benih rekalsitran sehingga memerlukan penanganan khusus (Puslit Kopi dan Kakao, 2004). Dikatakan benih rekalsitran karena ketika masak fisiologi kadar airnya tinggi yakni lebih dari 40%, viabilitas benih akan hilang dibawah ambang kadar air yang relatif tinggi yaitu lebih dari 25%, untuk tahan dalam penyimpanan memerlukan kadar air yang tinggi. Benih kakao yang dikeluarkan dari buahnya tanpa disimpan dengan baik akan berkecambah dalam waktu 3–4 hari dan dalam keadaan normal benih akan kehilangan daya tumbuhnya 10– 15 hari (Soedarsono, 1976 ). Keunggulan tanaman hasil perbanyakan secara generatif adalah sistem perakarannya yang kuat dan rimbun, oleh karena itu sering dijadikan sebagai batang bawah untuk okulasi atau sambungan. Selain itu, tanaman hasil perbanyakan secara generatif juga digunakan untuk program penghijauan dilahan- lahan kritis yang lebih mementingkan
  7. 7. konservasi lahan dibandingkan dengan produksi buahnya. Sementara itu ada beberapa kelemahan perbanyakan secara generatif, yaitu sifat biji yang dihasilkan sering menyimpang dari sifat pohon induknya. Jika ditanam ratusan atau ribuan biji yang berasal dari satu pohon induk yang sama akan menghasilkan banyak tanaman baru dengan sifat yang beragam. Ada sifat yang sama atau bahkan lebih unggul dibandingkan dengan sifat pohon induknya, namun ada juga yang sama sekali tidak membawa sifat unggul pohon induk, bahkan lebih buruk sifatnya. Keragaman sifat dipengaruhi oleh mutasi gen dari pohon induk jantan dan betina (Agro Media, 2007). 2.2.2 Teknik perbanyakan kakao secara vegetatif Perbanyakan tanaman secara vegetatif akan menghasilkan populasi tanaman homogen dalam sifat-sifat genetiknya. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara cangkok, rundukan, setek dan kultur jaringan (AgroMedia, 2007 ). Perbanyakan vegetatif pada tanaman kakao dikenal tiga macam cara yang lazim digunakan, yaitu okulasi (budding), sambung pucuk (top grafting) dan sambung samping (side grafting), namun akhir-akhir ini dikembangkan juga perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan (tissue culture) atau yang lebih dikenal dengan istilah Somatik Embryogenesis (SE). 2.2.2.1 Okulasi (budding) Penempelan atau okulasi (budding) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa, sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. Bagian tanaman yang ditempelkan atau disebut batang atas, entres (scion) dan merupakan potongan satu mata tunas (Prastowo dan Roshetko, 2006). Rukmana (1997) mengemukakan bahwa hal yang penting untuk diperhatikan dalam
  8. 8. perbanyakan tanaman dengan okulasi adalah persyaratan batang bawah dan batang atas. Batang bawah harus memenuhi persyaratan antara lain: pertumbuhan dan perakarannya baik (kuat), tahan kekurangan dan kelebihan air, memiliki pertumbuhan yang seimbang dengan batang atas dan tahan terhadap hama dan penyakit. Persyaratan batang atas adalah berproduksi tinggi, berpenampilan menarik, tahan terhadap hama dan penyakit dan digemari oleh masyarakat luas. Syarat lain yang perlu diperhatikan pada waktu pengambilan entres adalah kesuburan dan kesehatan pohon induk. Peningkatkan kesuburan pohon induk, biasanya tiga minggu sebelum pengambilan batang atas dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK. Kesehatan pohon induk ini penting karena dalam kondisi sakit, terutama penyakit sistemik mudah sekali ditularkan pada bibit. Entres diambil setelah kulit kayu cabangnya dengan mudah dapat dipisahkan dari kayunya (dikelupas). Bagian dalam kulit kayu (kambium) akan tampak berair menandakan kambiumnya aktif, sehingga bila mata tunasnya segera diokulasikan akan mempercepat pertautan dengan batang bawah. Menurut Prawoto (1991) pada okulasi tanaman kakao telah dibuktikan bahwa batang bawah juga mempengaruhi kadar unsur hara daun batang atas dan kualitas hasilnya, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap mutu hasil biji. Syamsul (2010) mengatakan bahwa penyambungan tanaman dari satu varietas atau dari satu spesies memang dapat dilakukan tanpa mengalami kesukaran. Lain halnya dengan okulasi yang dilakukan antar spesies biasanya sedikit mengalami kesukaran karena antar batang atas dan batang bawah kadang-kadang terdapat perbedaan fisiologis. Okulasi dilakukan dengan metode okulasi fokert. Kulit batang bawah disayat secara melintang dengan lebar 6-12 mm, kemudian dikupas ke arah bawah dengan panjang 2-3 cm sehingga terbentuk lidah. Lidah kemudian dipotong dengan menggunakan pisau okulasi dan disisakan seperempat bagian. Mata tunas dari cabang entres disayat dengan kayunya sepanjang ± 2 cm. Selanjutnya mata tunas disisipkan pada sayatan batang bawah, lalu diikat dengan tali plastik yang telah disiapkan (Gambar 2.1). Pengikatan dimulai dari bagian bawah ke atas (sistem genting bertingkat) agar pada waktu hujan atau penyiraman air tidak masuk ke dalam okulasian. Setelah okulasi berumur dua minggu, tali plastik dibuka. Mata tunas yang berwarna hijau menandakan bahwa okulasi berhasil (hidup). Batang bawah kemudian dipotong dengan menyisakan dua
  9. 9. helai daun. Mata tunas yang berwarna coklat menandakan okulasi mengalami kegagalan. Keberhasilan okulasi sangat tergantung pada kondisi batang bawah dan jenis tali okulasi. Prastowo dan Roshetko (2006) mengatakan bahwa waktu terbaik pelaksanaan okulasi adalah pada pagi hari, antara jam 07.00 - 11.00, karena saat tersebut tanaman sedang aktif berfotosintesis sehingga kambium tanaman juga dalam kondisi aktif dan optimum, diatas jam 12.00 daun mulai layu, tetapi ini bisa diatasi dengan menempel di tempat yang teduh sehingga terhindar dari sinar matahari langsung (Puslit Kopi dan Kakao Indonesia, 2004). 2.3.1 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyambungan Faktor yang berpengaruh terhadap penyambungan (Anonim, 2010) dibagi menjadi tiga faktor: 1. Faktor tanaman Kesehatan batang bawah yang akan digunakan sebagai bahan perbanyakan perlu diperhatikan. Batang bawah yang kurang sehat, proses pembentukan kambium pada bagian yang dilukai sering terhambat. Keadaan ini akan sangat mempengaruhi keberhasilan penyambungan (Sugiyanto, 1995, dalam Hamid, 2009). Pendapat ini didukung oleh Garner dan Chaudri (1976, dalam Hamid, 2009) yang mengemukakan bahwa batang bawah berpengaruh kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga pemilihan tanaman yang digunakan sebagai batang bawah sama pentingnya dengan pemilihan varietas yang akan digunakan sebagai batang atas. Berhasilnya pertemuan entris dan batang bawah bukanlah jaminan adanya kompatibilitas pada tanaman hasil sambungan, sering terjadi perubahan pada entris maupun pada tanaman hasil sambungan, misalnya pembengkakan pada sambungan, pertumbuhan entris yang abnormal atau penyimpangan pertumbuhan lainnya, dimana keadaan ini disebut inkompatibel. Kondisi ini dapat disebabkan oleh perbedaan struktur antara batang atas dan batang bawah atau ketidakserasian bentuk potongan pada sambungan (Rochiman dan Harjadi, 1973). Batang bawah dan batang atas yang mampu menyokong pertautan dengan baik dan serasi disebut kompatibel (Winarno, 1990)
  10. 10. 2. Faktor pelaksanaan Faktor pelaksanaan memegang peranan penting dalam penyambungan. Menurut Rochiman dan Harjadi (1973) kecepatan penyambungan merupakan pencegahan terbaik terhadap infeksi penyakit. Pemotongan yang bergelombang dan tidak sama pada permukaan masing-masing batang yang disambungkan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan (Hartman dan Kester, 1976). Kehalusan bentuk sayatan dari suatu bagian dengan bagian lain sangat penting untuk mendapatkan kesesuaian posisi persentuhan cambium, disamping itu ketrampilan dan keahlian dalam pelaksanaan penyambungan maupun penempelan serta ketajaman alat-alat yang digunakan juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pekerjaan tersebut (Winarno, 1990). 3. Faktor lingkungan Cahaya matahari sangat kuat akan berpengaruh terutama pada saat pelaksanaan penyambungan, oleh karena itu penyambungan dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari. Penyambungan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau. Selain untuk menghindari kebusukan, pada musim kemarau batang sedang aktif mengalami pertumbuhan serta entris yang tersedia cukup masak (Sugiyanto, 1995, dalam Hamid, 2010). 2.4 Klon – klon Unggul pada Tanaman Kakao Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kakao Indonesia adalah masih belum digunakannya bahan tanam unggul yang sesuai kondisi lingkungan setempat. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas kakao adalah dengan perbaikan bahan tanam (Anonim, 2010). Pemuliaan tanaman melalui pengujian klon, persilangan antar klon, pengujian keturunan serta pemilihan individu pohon terpilih untuk menghasilkan klon baru merupakan cara untuk mendapatkan bahan tanam unggul. Kegiatan tersebut dilakukan secara berkesinambungan agar diperoleh bahan tanam unggul yang memiliki sifat produksi tinggi dan cepat menghasilkan buah, kualitas atau mutu hasilnya sesuai dengan keinginan konsumen dan toleran terhadap hama dan penyakit (Puslit Kopi dan Kakao, 2004). Langsa (2007) mengatakan bahwa penggunaan klon unggul harus diyakini mempunyai dampak positif terhadap peningkatan produksi dan mutu hasil, sehingga ketersediaan klon unggul mutlak diperlukan. Produk bahan tanam unggul kakao yang
  11. 11. berdaya hasil tinggi serta memiliki kualitas mutu hasil yang sesuai dengan tuntutan produsen dan konsumen merupakan salah satu komponen penting dalam menunjang pembangunan bisnis perkebunan kakao. Ketersediaan dan penggunaan bahan tanam unggul tersebut akan mampu meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia di pasar internasional. Bahan tanam unggul baru diharapkan dapat meningkatkan produksi dan mutu hasil kakao. Upaya untuk mendapatkan klon kakao yang mempunyai sifat produksi yang tinggi, stabil dan beradaptasi baik, serta mempunyai beberapa sifat sekunder yang menguntungkan mutlak diperlukan. Terdapat beberapa klon kakao yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian sejak tahun 2006 yang lalu karena mempunyai produksi yang lebih tinggi, mutu hasilnya baik, tahan terhadap hama dan penyakit utama seperti penggerek buah kakao (PBK), Helopeltis sp, Vasculas steak diabeck (VSD) adalah ICCRI 03, ICCRI 04, Sulawesi 1, Sulawesi 2. (Deptan, 2009). Rata-rata potensi daya hasil dari masing-masing jenis kakao tersebut diatas adalah 1,5 – 2,9 ton ha -1 (Lampiran 1,2,3 dan 4).
  12. 12. BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Percobaan Percobaan ini dilaksanakan di kebun petani yang terletak di Desa bangun sari Kecamatan Lasalepa, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Ketinggian tempat percobaan adalah 120 meter diatas permukaan laut (dpl). Pemilihan lokasi ini ditetapkan berdasarkan hasil surve y lokasi pada sentra-sentra produksi tanaman kakao yang rata-rata umur tanaman kakao pada lokasi tersebut berkisar antara 15-20 tahun. Sumber klon untuk batang atas (entres B. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan meliputi : plastik sungkup transparan, tali rafiah, label pengamatan, dan larutan alkosorb. Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah: gunting pangkas, pisau okulasi , penggaris, meteran, jangka sorong, kamera, dan alat tulis menulis. C. Pelaksanaan Percobaan - Persiapan lahan Lahan yang dipergunakan adalah kebun petani yang sudah ada tanaman kakao dewasa umur 15 – 20 tahun. Areal dibagi menjadi tiga blok (ulangan), dimana masing – masing ulangan terdapat 45 tanaman. - Penyiapan batang bawah Batang bawah yang digunakan adalah kakao dewasa umur 15 - 20 tahun, pertumbuhan baik, sehat dan sedang bertunas. Batang bawah yang akan disambung terlebih dahulu dilakukan pemupukan, pemangkasan, penyiangan gulma serta pengendalian hama dan penyakit. - Penyediaan batang atas (entres) Entres diambil dari perkebunan milik Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember yang secara individu telah diseleksi terkecuali klon lokal Bali. Penyediaan batang atas (entres) yang digunakan adalah entres dari klon kakao lokal Bali, Sulawesi 1, Sulawesi 2, ICCRI 03 dan ICCRI 04. Batang atas dipilih dari ranting yang baik, dan tidak terserang hama dan penyakit, bentuknya lurus panjang sekitar 15 cm dan terdiri dari
  13. 13. 4 - 5 mata tunas. Entres berupa cabang plagiotrop berwarna hijau atau hijau kecoklatan dan sudah mengayu, dengan ukuran diameter 0,75-1,0 cm. Pengemasan entres Entres yang telah diambil langsung disambung pada hari itu juga, namun karena pada percobaan ini jarak antara kebun sumber entres dengan lokasi penelitian cukup jauh dan terdapat perlakuan dimana entres disimpan beberapa hari kemudian baru dilakukan penyambungan, maka entres dikemas terlebih dahulu (Gambar 4.2) dengan cara sebagai berikut : 1. Potong entres sepanjang ± 45 cm, masukkan kedalam dos ukuran 45 cm x 20 cm x 23 cm berisi media yang dilapisi plastik. 2. Media terdiri dari kertas koran yang telah dibasahi dengan air dan dicampur dengan larutan alcosorb tiga g dan setelah itu dibungkus dengan plastik. 3. Bahan entres diatur sedemikian rupa sehingga setiap bahan tertutupi oleh kertas koran yang telah dibasahi dengan air secukupnya dan setiap satu ikatan plastik berisi 50 entris. 4. Entres yang akan disambung pada hari ke tiga dan ke enam dibungkus dengan pelepah pisang dan plastik kemudian disimpan dalam ruangan yang sejuk sehingga kesegaran entres tetap terjaga. D. Analisis Data Data yang dikumpulkan dianalisis secara stastistik dengan analisis varian (analisis sidik ragam) sesuai dengan rancangan yang digunakan. Apabila interaksi memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap variabel yang diamati, maka dilanjutkan dengan uji beda rata-rata dengan uji jarak berganda Duncan 5 %. Bila hanya perlakuan tunggal yang berpengaruh nyata (P<0,05), maka dilanjutkan uji beda rata- rata dengan uji BNT 5% (Gomes dan Gomes, 1995). Pada penelitian ini terdapat perlakuan yang datanya nilai nol, sehingga data tersebut harus di transformasi dengan √x+½ sebelum dianalisis. Hubungan antara lama penyimpanan entres dengan pertumbuhan entres dianalisis dengan analisis regresi non linier sederhana dan hasil ditampilkan dalam bentuk gambar (Petersen, 1994)
  14. 14. 51 BAB IV HASIL PENELITIAN Selama percobaan berlangsung pertumbuhan entres hasil sambung samping tanaman kakao tidak mengalami gangguan yang berarti baik oleh serangan hama dan penyakit maupun gangguan lainnya. Pemeliharaan sambungan seperti penyiangan gulma, pemangkasan tunas air, dan pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara teratur sehingga pertumbuhan entres tidak terganggu. Data yang dianalisis pada penelitian ini adalah data yang telah ditransformasi dengan √x+0,5 pada seluruh variabel pengamatan kecuali persentase sambung hidup. Transformasi data dilakukan karena pada perlakuan lama penyimpanan entres hari ke-6 (H6) terdapat data 0 (nol) pada ulangan I, II dan III pada seluruh variabel pengamatan pertumbuhan antara lain: luas daun, diameter tunas, jumlah daun, panjang tunas, dan jumlah tunas. Perlakuan yang nilainya 0 (nol) tidak berarti entres hasil sambung samping pada kakao tersebut mati. Entres tersebut masih hidup yang ditandai dengan warna entres masih hijau dan telah terjadi pertautan (kompatibilitas) dengan batang bawah, tetapi belum
  15. 15. BAB V PEMBAHASAN Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara perlakuan jenis klon dengan lama penyimpanan entres terhadap semua variabel yang diamati antara lain: persentase sambung hidup, luas daun, diameter tunas, jumlah daun, panjang tunas, dan jumlah tunas (Tabel 5.1). Hal ini berarti masing- masing perlakuan baik jenis klon maupun lama penyimpanan entres tidak saling mempengaruhi sehingga tidak terjadi interaksi terhadap kedua perlakuan tersebut. Perlakuan jenis klon tidak berbeda nyata terhadap persentase sambung hidup (Tabel 5.2) dan beberapa variabel pertumbuhan antara lain: luas daun, diameter tunas, jumlah daun, panjang tunas, dan jumlah tunas, sedangkan lama penyimpanan entres 0, 3, dan 6 hari berbeda sangat nyata. Hal ini berarti antara kelima jenis klon tersebut mempunyai pengaruh yang sama baik terhadap pertumbuhan tunas sambung samping, walaupun pada klon ICRRI 03 cenderung pertumbuhan lebih baik, disamping itu pula diduga karena entres diambil dari jenis kakao yang sama (kakao mulia) sehingga mempunyai kemampuan yang sama atau keragaman genetik yang homogen dalam pertumbuhan. Persentase sambung hidup tertinggi dicapai klon Sulawesi 1, ICRRI 03, dan ICRRI 04 masing –masing 60,3 % (Gambar 6.2). Hal ini diduga karena terjadi pertautan yang lebih baik antara batang atas dan batang bawah serta kemampuan yang lebih baik antara batang atas dan batang bawah untuk tumbuh menjadi satu tanaman baru dan secara genetis serasi (kompatibel). Menurut Ashari (1995) bahan tanam yang disambung akan menghasilkan persentase kompatibilitas yang tinggi apabila tanaman tersebut masih dalam satu spesies atau satu klon. Apabila tanaman yang akan disambung mempunyai kekerabatan yang agak jauh misalnya berbeda dalam level ordo biasanya kompatibilitasnya rendah. Entres yang akan disambung harus selalu berada dalam kondisi fisiologis yang baik, sehingga mempunyai peranan yang sangat penting terhadap keberhasilan sambung hidup (Ditjenbun, 2006). Keberhasilan penyambungan juga dapat terjadi klon entres diambil dari pohon induk yang sehat, sehingga mengandung nutrien yang cukup untuk pembentukan kalus dan kambium baru. Selain itu klon entres yang cukup tua mampu mengurangi kehilangan lengas yang berlebihan. Penelitian ini menggunakan umur klon entres yang sama yang dicirikan dengan warna entres hijau kecoklatan sehingga hasil persentase sambung hidup relatif sama.
  16. 16. BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan 1. Tidak terdapat interaksi antara jenis klon dan lama penyimpanan entres terhadap pertumbuhan sambung samping (side grafting) kakao. 2. Sambung samping pada tanaman kakao dapat digunakan segala jenis klon dan pertumbuhan vegetatifnya tidak dipengaruhi oleh jenis klon. 3. Lama penyimpanan entres selama enam hari sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan sambung samping kakao, semakin cepat entres disambung semakin baik pertumbuhannya dan rata-rata waktu optimal pertumbuhan entres adalah 26,67 jam 6.2 Saran 1. Penggunaan klon ICCRI 03 dianjurkan karena terdapat kecendrungan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik dibandingkan dengan klon-klon lainnya. 2. Pengukuran suhu dan kelembaban di tempat penelitian sangat penting dilakukan karena pertumbuhan entres sambung samping sangat dipengaruhi oleh keadaan suhu dan kelembaban 3. Pelaksanaan penyambungan sebaiknya tidak boleh lebih dari 26,67 jam setelah entres di potong, sehingga pertumbuhan entres lebih optimal.
  17. 17. DAFTAR PUSTAKA 1. Amin, Sarmidi. 2005. Teknologi Pasca Panen Kakao Untuk Masyarakat Perkakaoan Indonesia. BPPT Press: Jakarta. 2. Anonymous a, 2013. Morfologi Tanaman Kakao (online)http://id.shvoong.com/exact- sciences/biology/2073810-morfologi-tanaman-kakao/#ixzz2Mqi5utYR Diakses tanggal 10 Maret 2013. 3. Anonymous b, 2013. Hama dan Penyakit Utama Tanaman Kakao Beserta Pengendaliaanya (online) http://www.pdfchaser.com/KAKAO%E2%80%A6YANG- NIKMAT-SULIT-DIRAWAT.html Diakses tanggal 10 Maret 2013 4. Winarsih S. dan A. A. Prawoto. 1995. Pedoman Teknis Rehabilitasi Tanaman Kakao Dewasa dengan Metode Sambung Samping (side-cleft grafting). Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember. 5. Wood, G.A.R. and R.A. Lass. 1985. Cocoa. Tropical Agriculture Series. Longman. London, and New York.
  18. 18. TUGAS : ILMU FALAQ PENGARUH ILMU ALAMIAH DASAR TERHADAP TRASPORTASI DAN KOMUNIKASI DISUSUN OLEH : NAMA : MILA DARMA PRODI :ILMU PEMERINTAHAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI
  19. 19. 2013 KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala Puji dan Syukur Penulis Panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, namun penulis menyadari studi banding ini belum dapat dikatakan sempurna karena mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjunan kita semua habibana wanabiana Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya. study banding ini penulis membahas mengenai “BUDIDAYA KAKAO”, dengan study banding penulis mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih atas segala perhatiannya. Raha, Juli 2013 Penyusun
  20. 20. DAFTAR ISI Kata Pengantar......................................................................................................... i Daftar Isi................................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... 1 A. Latar Belakang.............................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah..........................................................................................1 C. Tujuan Penelitian........................................................................................... 2 D. Manfaat Penelitian........................................................................................ 2 BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................... 3 2.1 Tanaman Kakao........................................................................................... 3 2.2 Perbanyakan Tanaman Kakao....................................................................... 6 BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................................................. 12 A. Tempat Dan Waktu Percobaan.................................................................... 12 B. Bahan Dan Alat Percobaan........................................................................... 12 C. pelaksanaan percobaan................................................................................ 12 D. Analisa Data.................................................................................................. 13 BAB IV PENUTUP................................................................................................. 15 A. Kesimpulan.................................................................................................. 15 B. Saran............................................................................................................. 16 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 17

×