 Beranda
 About
tiara3arza
Jenius itu 1% inspirasi & 99% keringat
Stay updated via RSS
 Tulisan-tulisan Terbaru
o MEMOR...
4) Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot
hingga mencapai lapisan serosa di...
c. Plasenta akreta
d. Kelainan bentuk plasenta
2.4 Patofisiologi
Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontrak...
secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.
2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta :
1. Kelainan...
oksitosin untuk mempertahankan uterus.
d. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manua...
7. Pengevaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, diulangi kembali proses manajemen
yang benar terhadap...
1. Solusio plasenta ringan
a. Terlepasnya plasenta kurang dari ¼ luasnya
b. Tidak memberikan gejala klinik dan ditemukan s...
C. pemerikasaan penunjang, dengan ultrasonografi, dijumpai perdarahn antara plasenta dan
dinding abdomen
5. PENANGANAN SOL...
Solusio plasenta
Kejadian Hamil tua
Inpartu
Anamnesa Mendadak
Terdapat trauma
Perdarahn dengan nyeri
Keadaan umum Tidak se...
2.1.2 Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi kejadian 2 /1000
kehamilan. Pada tu...
• Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus.
• Gangguan kesadaran dalam bentuk somnolen sampai koma.
(Mochtar,...
2.1.6.5 Beritahukan kadang-kadang pada beberapa wanita hanya tidur di rumah sakit saja,
telah banyak mengurangi mual dan m...
2.2 Konsep Asuhan Kebidanan
2.2.1 Pengkajian
2.2.1.1 Identitas
a. Nama Klien
Digunakan untuk membedakan antara klien satu ...
Pada kasus hyperemesis gravidarum aktivitanya terganggu karena biasanya badanya terasa
lemah.
h. Imunisasi TT
Untuk menceg...
8. Kelenjar limfe : tidak ada
9. Dada
Jantung : ictus cordis regular
Paru-paru : tidak ada ronchi dan wheezing
Payudara
- ...
x/menith. Suhu 36-37 0CIbu merasa cemas Konseling lebih lanjut
2.2.3 Indentifikasi Diagnosa / Masalah Potensial
Pada langk...
2.2.7.7 Ibu telah mendapatkan terapi obat
2.2.7.8 Ibu bersedia untuk datang pada kunjungan ulang berikutnya ( Diktat Asuha...
2. Manifestasi klinis
Karena abortus spontan banyak jenisnya maka untuk lebih memudahkan berikut beberapa
macam abortus da...
e. Hilangnya tanda – tanda kehamilan
g. Berat badan ibu menurun
h. Besar uterus lebih kecil dari umur kehamilan
Abortus se...
b) Jika tipe homolog HLA atau antipaternal antibody tinggi, akan berlangsung abortus
c) Kehamilan dipertahankan oleh kompo...
e) Pada sindrom antifosfolipid, antibodi fosfolipid mempunyai hubungan dengan kejadian
trombisis vena, trombosis arteri, a...
a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat.
Ke...
Bentuk ini menjadi mola karnosa apaila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi
organisasi sehingga semuanya t...
tindakan lanjutan (yindakan medic atau rujukan)
c. Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas kesehat...
c. Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet sulfas Ferosus 600 mg/hari
selama 2 minggu disertai anjuran meng...
atau tidak.
j) Makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan.
k) BAK dan BAB terakhir ber...
Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi,
adanya caput atau moulage, bagian m...
3) Pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit dengan pemberian infus.
4) Membantu melakukan tindakan kuretase
5) Berkolabor...
disebut kontek rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 dengan misi
menurunkan angka kematian maternal da...
e. Dapat melakukan implementasi secara efektif dan ifisien pada Ny “M”
f. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan p...
Pencegahan dan Pengobatan:
Di daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfat
fe...
Kebutuhannya bagi ibu hamil sekitar 1000mg:
1) 500mg untuk meningkatkan jumlah sel darah merah
2) 300mg untuk bayi
3) 200m...
Fundus, TT, Tablet Fe). Jika pemeriksaan Antenatal Care kurang atau tidak ada sama sekali
maka akan semakin tinggi angka k...
b. Memakan makanan yang banyak mengandung bahan pembentuk protein sel darah merah
seperti :
1) Telur
2) Susu
i. Ibu hamil ...
Ibu hamil dengan kehamilan resiko tinggi adalah ibu hamil yang mempunyai resiko atau
bahaya yang lebih besar pada kehamila...
mortalitas
c. Asupan cairan tidak adekuat
d. Diet serat tidak cukup
e. Suplementasi zat besi
f. Kebiasaan defekasi yang bu...
c. Riwayat menstruasi
Yang dikaji adalah menarche,siklus haid, lamanya haid, banyaknya,dan adanya dismenorrhoe
saat haid.
...
f. Pola eliminasi
1) BAB
Pada kehamilan TM III biasanya ibu hamil mengalami gangguan pencernaan seperti
konstipasi. Hal in...
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Beranda
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Beranda

543 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
543
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Beranda

  1. 1.  Beranda  About tiara3arza Jenius itu 1% inspirasi & 99% keringat Stay updated via RSS  Tulisan-tulisan Terbaru o MEMORIAN’t In ANDALAS CITY 2008 – 2011 o RETENSIO PLASENTA o SOLUSIO PLASENTA o HIPER EMESIS GRAVIDARUM o ABORTUS INKOMPLIT o EFUSI PLEURA o ANEMIA DALAM KEHAMILAN o KEHAMILAN SEROTINUS o DISTOSIA BAHU o SISTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS  Kategori o Uncategorized (15) Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘kuliah ASKEB 4’ RETENSIO PLASENTA Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 . Landasan Teori 2.1 Pengertian Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini (early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan. Menurut Sarwono Prawirohardjo : Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir. Jenis retensio plasenta : 1) Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis. 2) Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium. 3) Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/memasuki miometrium.
  2. 2. 4) Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus . 5) Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh konstruksi ostium uteri. Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena : a). plasenta belum lepas dari dinding uterus; atau b). plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan. Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan; jika lepas sebagian, terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena: a) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva); b) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta). c) Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta). 2.2 Anatomi Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15 sampai 20 cm dan tebal lebih kurang 2.5 cm. beratnya rata-rata 500 gram. Tali-pusat berhubungan dengan plasenta biasanya di tengah (insertio sentralis). Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Bila diteliti benar, maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu vili koriales yang berasal dari korion, dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis. Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua basalis. Pada sistole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur ke dalam ruang interviller sampai mencapai chorionic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua vili koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena di desidua. Plasenta berfungsi: sebagai alat yang memberi makanan pada janin, mengeluarkan sisa metabolisme janin, memberi zat asam dan mengeluarkan CO2, membentuk hormon, serta penyalur berbagai antibodi ke janin. 2.3 Etiologi A. Etiologi dasar meliputi : 1) Faktor maternal a. Gravida berusia lanjut b. Multiparitas 2) Faktor uterus a. Bekas sectio caesaria, sering plasenta tertanam pada jaringan cicatrix uterus b. Bekas pembedahan uterus c. Anorrali dan uterus d. Tidak efektif kontraksi uterus e. Pembentukan kontraksi ringan f. Bekas curetage uterus, yang terutama dilakukan setelah abortus g. Bekas pengeluaran plasenta secara manual h. Bekas endometritis 3) Faktor plasenta a. Plasenta previa b. Implantasi corneal
  3. 3. c. Plasenta akreta d. Kelainan bentuk plasenta 2.4 Patofisiologi Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah berkontraksi, sel miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif, dan kavum uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil. Pengecian mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta. Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat- serat oto miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini menekan pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan berhenti. Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala tiga persalinan. Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu: 1.Fase laten, ditandai oleh menebalnya duding uterus yang bebas tempat plasenta, namun dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis. 2.Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta melekat (dari ketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm). 3.Fase pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya dari dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan tempat melekatnya plasenta. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa. 4. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta bergerak turun, daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rongga rahim. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 89% plasenta lepas dalam waktu satu menit dari tempat implantasinya. Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada pancaran darah yang mendadak, uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus meninggi ke arah abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina, serta tali pusat yang keluar lebih panjang. Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan yang diberikan oleh dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah rahim atau atas vagina. Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-abdominal. Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat mengeluarkan plasenta secara spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan artifisial untuk menyempurnakan persalinan kala tinggi. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan menekan dan mengklovasi uterus, bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat. 2.4 Gejala Klinis a. Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan. b. Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi
  4. 4. secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus. 2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta : 1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta pembentukan constriction ring. 2. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa; implantasi di cornu; dan adanya plasenta akreta. 3. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan , seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus. 2.5 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi meliputi: a. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan. b. Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi organ. c. Sepsis d. Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk memiliki anak selanjutnya 2.6 Prognosis Prognosis tergantung dari lamanya, jumlah darah yang hilang, keadaan sebelumnya serta efektifitas terapi. Diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat sangat penting. 2.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat. 2. Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung protrombin time (PT) dan activated Partial Tromboplastin Time (aPTT) atau yang sederhana dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain. 2.8 Diagnosa Banding Meliputi plasenta akreta, suatu plasenta abnormal yang melekat pada miometrium tanpa garis pembelahan fisiologis melalui garis spons desidua. 2.9 Pencegahan a. Pencegahan resiko plasenta adalah dengan cara mempercepat proses separasi dan melahirkan plasenta dengan memberikan uterotonika segera setelah bayi lahir dan melakukan penegangan talipusat terkendali. Usaha ini disebut juga penatalaksanaan aktif kala III b. Mengamati dan melihat kontraksi uterus. 2.10 Penanganan Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah: a. Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah. b. Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi. c. Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips
  5. 5. oksitosin untuk mempertahankan uterus. d. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus. e. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. f. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. g. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder. B. KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN Manajemen kebidanan adalah metode kerja profesi dengan menggunakan langkah pemecahan masalah sehingga merupakan alur dari pengorganisasian, pemikiran dan langkah-langkah data suatu urusan yang logis yang menguntungkan baik bagi pasien maupun bidan. Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periode. Proses ini dimulai dengan mengumpulakn data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkah tersebut adalah : 1. Pengumpulan Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang telah diperlukan secara sistematis untuk mengevaluasi keadaan pasien secara lengkap 2. Interpretasi Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data tersebut. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang di tegakkan bidan dalam lingkup praktek kabidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan : 1. Diagnosa persalinan a. Ibu Inpartu b. Normal atau tidak c. KU ibu dan janin 3. Antisipasi diagnosa atau masalah potensial Mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial yang mungkin akan terjadi berdasarkan maslah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi 4. Tindakan segera atau kolaborasi Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk di konsulkan atau ditangani bersama anggota tim anggota kesehatan yang lainnya dengan kondisi pasien 5. Perencanaan Merencanakan asuhan menyeluruh yang di dukung dengan penjelasan yang sungguh rasional sebagi dasar untuk mengambil keputusan sesuai dengan langkah sebelumnya. 6. Pelaksanaan Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman
  6. 6. 7. Pengevaluasi Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, diulangi kembali proses manajemen yang benar terhadap aspek kehidupan SOLUSIO PLASENTA Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 I. Landasan Teori 1. PENGERTIAN SOLUSIO PLASENTA Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi di atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Proses solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan dalam desidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplasenter. Hematoma dapat semakin membesar kearah pinggir plasenta sehingga amniokhorion sampai terlepas, perdarahan akan keluar melalui ostium uteri (perdarahan keluar), sebaliknya apabila amniokhorion tidak terlepas, perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan tersembunyi). Penyulit terhadap ibu dalam bentuk: 1. Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah 2. Terjadinya penurunan tekanan darah, peningkatan nadi, dan pernafasan 3. Penderita tampak anemis 4. Dapat menimbulkan pembekuan darah 5. Menimbulkan perdarahan postpartum 6. Peningkatan timbunan darah di belakang plasenta yang menyebabkan rahim keras, padat, dan kaku 7. Menyababkan asfiksia ringan sampai kematian janin dalam rahim 2. PENYEBAB SOLUSIO PLASENTA Solusio plasenta merupakan keadaan gawat kebidanan yang memerlukan perhatian karena penyulit yang ditimbulkan terhadap ibu maupun janin. Penyebab solusio plasenta : 1. Trauma langsung terhadap uterus hamil • Terjatuh terutama tertelungkup • Tendangan anak yang sedang digendong 2. Tindakan kebidanan • Setelah versi luar • Setelah memecahkan ketuban • Persalinan anak kedua hamil kembar 3. Tali pusat yang pendek • Hamil pada usia tua • Mempunyai tekanan darah tinggi • Pre-eklampsi atau eklampsia • Tekanan vena kava inferior yang tinggi • Kekurangan asam folik 3. GAMBARAN KLINIK SOLUSIO PLASENTA Tergantung dari seberapa bagian plasenta yang terlepas.
  7. 7. 1. Solusio plasenta ringan a. Terlepasnya plasenta kurang dari ¼ luasnya b. Tidak memberikan gejala klinik dan ditemukan setelah persalinan c. Keadaan umum ibu dan janin tidak mengalami gangguan d. Persalinan berjalan dengan lancar pervaginam 2. Solusio plasenta sedang a. Terlepasnya plasenta lebih dari ¼ tetapi belum mencapai 2/3 bagian b. Dapat menimbulkan gejala klinik • Perdarahan dengan rasa sakit • Perut terasa tegang • Gerak janin berkurang • Palpasi bagian janin sulit diraba • Auskultasi jantung janin dapat terjadi asfiksia ringan dan sedang • Pada pemeriksaan dalam ketuban menonjol • Dapat terjadi gangguan pembekuan darah 3. Solusio plasenta berat a. Lepasnya plasenta lebih dari 2/3 bagian b. Terjadi perdarahan disertai rasa nyeri c. Penyulit pada ibu : • Terjadi syok dengan tekanan darah menurun , nadi, dan pernafasan meningkat • Dapat terjadi gangguan pembekuan darah • Penderita tampak anemis • Saat dipalpasi janin susah untuk diraba • Pemerikasaan dalam ketuban tegang dan menonjol 4. DIAGNOSIS SOLUSIO PLASENTA Diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan dengan melakukan : a. Anamnesa • Terjadi perdarahan disertai rasa nyeri • Terjadi spontan atau karena trauma • Perut terasa nyeri • Diikuti penurunan sampai terhentinya gerakan janin dalam rahim b. Pemeriksaan 1. Pemeriksaan fisik umum • Keadaan umum penderita tidak sesuai dengan jumlah perdarahan • Tekanan darah menurun, nadi dan pernafasan meningkat • Penderita tampak anemis 2. Pemeriksaan khusus a. Palpasi abdomen • Perut tegang terus menerus • Terasa nyeri saat dipalpasi • Bagian janin sukar ditemukan b. Auskultasi • Denyut jantung janin bervariasi dan asfiksia ringan sampai berat c. Pemeriksaan dalam • Terdapat pembukaan • Ketuban tegang dan menonjol
  8. 8. C. pemerikasaan penunjang, dengan ultrasonografi, dijumpai perdarahn antara plasenta dan dinding abdomen 5. PENANGANAN SOLUSIO PLASENTA 1. Solusio plasenta ringan • Perut tegang sedikit, perdarahan tidak terlalu banyak • Keadaan janin masih baik dapat dilakukan penanganan secara konservatif • Perdarahan berlangsung terus ketegangan makin meningkat dengan janin yang masih baik dilakukan SC • Perdarahan yang berhenti dan keadaan baik pada kehamilan premature dilakukan perawatan inap 2. Solusio plasenta tingkat sedang dan berat Penanganannya dilakukan di rumah sakit karena dapat membahayakan jiwa penderita. Tatalaksananya adalah : • Pemasangan infuse dan transfusi darah • Memecahkan ketuban • Induksi persalinan atau dilakukan SC 3. Sikap bidan dalam menghadapi solusio plasenta • Bidan merupakan tenaga andalan masyarakat untuk dapat memberikan pertolongan kebidanan, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal. Dalam menghadapi perdarahan pada kehamilan, sikap bidan yang paling utama adalah melakukan rujukan ke rumah sakit. Dalam melakukan rujukan diberikan pertolongan darurat : • Pemasangan infuse • Tanpa melakukan pemerikasaan dalam • Diantar petugas yang dapat memberikan pertolongan • Mempersiapkan donor dari masyarakat atau keluarganya • Menyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan untuk memberikan pertolangan pertama 6. KOMPLIKASI SOLUSIO PLASENTA 1. Penyulit (komplikasi) ibu a. Perdarahan dapat menimbulkan • Variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok • Perdarahan tidak sesuai dengan keadaan penderita anemis sampai syok • Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma b. Gangguan pembekuan darah • Masuknya tromboplasin ke dalam sirkulasi darah menyebabkan pembekuan darah intravascular dan disertai hemolisis • Terjadi penurunan fibrinogen sehingga hipofibrinogen dapat menganggu pembekuan darah c. Oliguria • Terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin berkurang d. Perdarahan postpartum • Pada solusio plasenta sedang sampai berat terjadi infiltrasi darah ke otot rahim, sehingga menganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan karena atonia uteri • Kegagalan pembekuan darah menambah beratnya perdarahan 2. Penyulit pada janin Perdarahan yang terimbun di belakang plasenta menganggu sirkulasi dan nutrisi kearah janin dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai berat dan kematian dalam rahim.
  9. 9. Solusio plasenta Kejadian Hamil tua Inpartu Anamnesa Mendadak Terdapat trauma Perdarahn dengan nyeri Keadaan umum Tidak sesuai dengan perdarahan Anemis, tekanan darah menurun, nadi dan pernafasan meningkat Disertai pre-eklampsi atau eklampsia Palpasi abdomen Tegang, nyeri Bagian janin sulit diraba DJJ Asfiksia samapai mati tergantung lepasnya plasenta Pemerikasaan dalam Ketuban tegang menonjol HIPER EMESIS GRAVIDARUM Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 2.1 Konsep Medis 2.1.1 Definisi 2.1.1.1 Definisi kehamilan a. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke tujuh sampai 9 bulan. (Prawirohardjo. 2002 : 89) b. Kehamilan adalah mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari ovulasi pelepasan ovum, terjadi migrasi spermatozoa dan ovum, terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot, terjadi nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba, 1998 : 95) c. Kehamilan adalah dimulai dari ovulasi sampai partus ialah kira-kira 280 hari (40 minggu), kehamilan ini disebut kehamilan mature atau cukup bulan dan apabila kehamilan lebih dari 40 minggu disebut post mature dan kehamilan antara 28 – 36 minggu disebut kehamilan prematur. (Wiknjasastro, 1995 : 125). 2.1.1.2 Definisi Hyperemesis gravidarum a. Adalah emosi gravidarum yang berat dan berlangsung sampai 4 bulan sehingga pekerjaan sehari-hari menjadi buruk (Prawiharjo 1999:275) b. Adalah mual muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk, paling sering dijumpai pada kehamilan trimester I terutama ditemukan pada primigravida (Mansjoer, 1999:259) c. Adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena menjadi dehidrasi (Mochtar, 1998:195) d. Adalah gejala mual muntah yang berat yang dapat berlangsung sampai 4 bulan yang di sebabkan karena meningkatnya kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum. (Prawirohardjo,2001 :274)
  10. 10. 2.1.2 Etiologi Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi kejadian 2 /1000 kehamilan. Pada tubuh wanita yang hamil terjadi perubahan-perubahan yang cukup besar yang mungkin merusak keseimbangan di dalam badan. Faktor predisposisi yang telah dikemukakan oleh beberapa penulis sebagai berikut : 2.1.2.1. Faktor adaptasi dan Hormonal. Pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum. Dapat dimasukan dalam ruang lingkup factor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia, wanita primigravida, kehamilan ganda, mola hidatidosa, diabetes, akibat peningkatan kadar HCG. 2.1.2.2. Faktor organik. Karena masuknya vili chorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu. 2.1.2.3. Faktor Psikologi Hubungan factor psikologi dengan kejadian hiperemesis gravidarum belum jelas. Besar kemungkinan bahwa wanita yang menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan rumah tangga, diduga dapat menjadi factor kejadian hiperemesis gravidarum. 2.1.2.4. Faktor Alergi Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan vili korialis yang masuk kedalam peredaran darah ibu, maka factor alergi dianggap dapat menyebabkan kejadian hiperemesis gravidarum. (Manuaba : 1998; 209-210). 2.1.3 Tingkatan hyperemesis gravidarum 2.1.3.1 Hyperemesis Gravidarum Tingkat I • Muntah berlangsung terus • Makan berkurang • Berat badan menurun • Kulit dehidrasi, tonusnya lemah • Nyeri epigastrium • Tekanan darah turun dan nadi meningkat • Lidah kering • Mata tampak cekung 2.1.3.2 Hyperemesis Gravidarum Tingkat II • Penderita tampak lebih lemah • Gejala dehidrasi makin tampak, mata cekung, turgor kulit makin kurang, lidah kering dan kotor. • Tekanan darah turun, nadi meningkat. • Berat badan makin menurun • Mata ikterik • Terjadinya gangguan buang air besar • Mulai tampak gejala gangguan kesadaran menjadi apatis. • Nafas berbau. 2.1.3.3 Hyperemesis Gravidarum Tingkat III • Muntah berkurang • Keadaan wanita hamil menurun, tekanan darah turun, nadi meningkat dan suhu naik, keadaan dehidrasi makin jelas.
  11. 11. • Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus. • Gangguan kesadaran dalam bentuk somnolen sampai koma. (Mochtar, 1998 : 195) 2.1.4 Patofisiologi Perasaan mual akibat men Ada yang menyatakan bahwa mual dan muntah adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormone estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari system saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tgetapi factor psikologik merupakan factor utama, disamping pengaruh hormonal Hiperemesis gravidarum ini bisa mengakibatkan cadangan karbohirat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energy karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah ketosis dengan timbulnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yamg diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraselular dan plasma berkurang. Natrium klorida darah turun,demikian pula klorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah kejaringan berkurang hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan berkurang pula dan tertimbunnya zat metabolic yang toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, danterganggunya keseimbangan elektrolit, dapt terjadi robekan pada selaput lendir esophagus dan lambung,dengan akibat perdarahan gastro intestinal. Meningkatnya kadar estrogen. Pengaruh estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem syaraf pusat atau akibat dari pengosongan asam lambung. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah-muntah yang berlebihan, yang dapat merusak hati. Dapat terjadi robekan pada selaput lendir esophalus dan lambung. (Prawihardjo: 277) 2.1.5 Diet Pada Ibu Hamil Dengan Hyperemesis Gravidarum Makanan yang perlu di hindari adalah lemak dan makanan yang berminyak yang cenderung menimbulkan rasa mual. Karena itu disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang digoreng. Mentega, margarin , minyak, daging babi asin,saos selada, kue kering, kulit kue tart dan kuah daging hanya boleh dimakan sedikit. Bawang merah dan putih, merica, cabe, serta bumbu sebaiknya dihindari. Makanan yang dapat menimbulkan gas (ketimun, brokoli, kol, bawang, lobak cina dan kacang kering juga tidak boleh disantap. (Arisman, 2004: 23) 2.1.6 Penanganan 2.1.6.1 Beritahu ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya. 2.1.6.2 Lakukan pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan dan kepada ibu-ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut, juga tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak, tetapi dalam porsi sedikit-sedikit namun sering jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa mual dan muntah. Defekasi hendaknya diusahakan teratur. 2.1.6.3 Berikan terapi obat menggunakan sedative (luminal, stesolid), Vitamin (B1 dan B6), anti muntah ( mediamer B6, Drammamin, Auopres, Avomin, Torecan), antacid. 2.1.6.4 Anjurkan bagi ibu hamil yang mengalami hiperemis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di rumah sakit.
  12. 12. 2.1.6.5 Beritahukan kadang-kadang pada beberapa wanita hanya tidur di rumah sakit saja, telah banyak mengurangi mual dan muntahnya. 2.1.6.6 Berikan terapi psikologik yaitu pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal, dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba hilangkan factor psikologis seperti keadaan social ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan. 2.1.6.7 Berikan penambahan cairan yaitu infuse dekstrosa atau glukosa 5% sebanyak 2 – 3 liter dalam 24 jam. 2.1.6.8 Berikan obat-obatan seperti telah dikemukakan diatas. 2.1.6.9 Beritahukan kepada ibu hamil yang menderita hipermesis gravidarum, pada beberapa kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita, dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan. (mochtar, 1998 : 196). 2.1.7 Penatalaksanaan 2.1.7.1 Memberitahukan ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya 2.1.7.2 Melakukan pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu hamil yang menderita hyperemesis gravidarum dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut, tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak tetapi dalam porsi sedikit namun sering dan jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi karena dapat merangsang mual dan muntal kembali. 2.1.7.3 Memberikan terapi obat menggunakan sedative (luminal, stesolid), vitamin (B1dan B6), anti muntah (mediamer B6, dramamamin, auopres, avomin, torecan), antacid. 2.1.7.4 Menganjurkan bagi ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum tingkat I dan II harus dirawat inap dirumah sakit. 2.1.7.5 Memberitahukan pada beberapa ibu hamil yang menderita hiperemesis hanya dengan beristirahat tidur ditempat tidur saja telah dapat membantu mengurangi mual dan muntahnya. 2.1.7.6 Memberikan terapi psikologik yang pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal dan fisiologis jadi tidak perlu takut dan khawatir. Coba hilangkan factor psikologik seperti keadaan social ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan. 2.1.7.7 Memberikan penambahan cairan atau infuse dekstrosa atau glukosa 5 % sebanyak 2 – 3 liter dalam 24 jam. Jika diperlukan. 2.1.7.8 Menganjurkan pemeriksaan kehamilan lebih sering ke dokter. 2.1.7.9 Menjelaskan kepada ibu pentingnya tanda-tanda bahaya kehamilan. 2.1.7.10 Memberitahukan pada ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum, beberapa kasus dan bila terapi sudah dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan. ( Diktat Asuhan kebidanan I ) 2.1.8 Evaluasi 2.1.8.1 Ibu sudah mengetahui keadaan dirinya dan kehamilannya 2.1.8.2 Ibu sudah tahu cara pencegahannya 2.1.8.3 Ibu telah mendapat terapi obat 2.1.8.4 Ibu bersedia untuk beristirahat 2.1.8.5 Ibu tahun tentang terapi psikologik 2.1.8.6 Ibu akan rajin untuk selalu memeriksakan kehamilannya. 2.1.8.7 Ibu tahu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan. 2.1.8.8 Ibu bersedia untuk selalu datang setiap kunjungan ulang berikutnya atau bila ada keluhan.
  13. 13. 2.2 Konsep Asuhan Kebidanan 2.2.1 Pengkajian 2.2.1.1 Identitas a. Nama Klien Digunakan untuk membedakan antara klien satu dengan yang lainnya (Manuaba, 1998 : 326) b. Umur Digunakan untuk mengetahui masa reproduksi klien beresiko tinggi atau tidak. Wanita hamil umumnya tidak boleh kurang dari 16 tahun dan lebih dari 35 tahun. (Manuaba, 1998 : 326) c. Kebangsaan Sebagian masyarakat beranggapoan bahwa wanita kullit hitam lebih kuat dari pada kulit putih. (Manuaba, 1998 : 326) d. Agama untuk memudahkan dalam memberikan nasehat spiritual sesuai dengan kepercayaan yang dianut. (Manuaba, 1998 : 326) e. Pendidikan Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien, sehingga dalam memberikan asuhan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan. (Manuaba, 1998 : 326) f. Pekerjaan Untuk mengetahui tingkat ekonomi klien. (Manuaba, 1998 : 326) g. Alamat Untuk memudahkan dimana tempat tinggal klien, sehingga memudahkan petugas kesehatan dalam melakukan kunjungan rumah(Manuaba, 1998 : 326) 2.2.1.2 Anamnesa Pada tanggal ………………….pukul………… 1. Alasan kunjungan ini Untuk mengetahui berapa kali ibu memeriksakan kehamilannya. 2. Riwayat Kehamilan a. Riwayat Mesntruasi Yang perlu ditanyakan adalah : menarche untuk mengetahui keadaan alat kelamin dalam normal atau tidak, siklus menstruasi untuk mengetahui adanya penyakit yang menyertai. Haid terakhir lamanya, banyaknya darah yang keluar, konsistensinya, teratur tidaknya haid yang digunakan untuk membantu diagnosa lamanya kehamilan dan untuk memperhitungkan taksiran persalinan. b. Pergerakan anak Pada kasus Hyperemesis Gravidarum pergerakan belum dirasakan karena pada kasus ini terjadi pada trimester I. c. Tanda- tanda kehamilan Pada kasus hamil untuk menemukan apakah kehamilan ini diketahui melalui proses pemeriksaan laboratorium. d. Keluhan Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya klien mengeluh mual dan muntah yang berlebihan. e. Diet / makan Makan dan jenis makanan pada kasus hyperemesis gravidarum makanan yang berlemak merangsang mempengaruhi ibu yang mengakibatkan tidak nafsu makan. f. Pola eliminasi Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya pasien BAB mengalami konstipasi dan BAKnya mengalami oliguri. g. Aktivitas sehari – hari
  14. 14. Pada kasus hyperemesis gravidarum aktivitanya terganggu karena biasanya badanya terasa lemah. h. Imunisasi TT Untuk mencegah tetatus nenatorum, maka ibu hamil sebaiknya mendapatkan imunisasi TT2 kali dengan interval 4 minggu dari TT1. i. Kontrasepsi yang pernah digunakan Untuk mengetahui kontrasepsi apa yang pernah digunakan. 3. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu Untuk mengetahui masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan yang ditanyakan berapa kali itu hamil atau sekarang ini putra yang keberapa. 4. Riwayat Penyakit yang pernah diderita Karena penyakit yang pernah diderita dapat timbul kembali karena keadaan ibu yang lemah pada waktu kehamilan atau setelah melahirkan nanti. Pertanyaan yang diajukan nanti adalah apakah pernah menderita penyakit hepatitis yang bisa menurun pada bayi melalui trans plasenta, penyakit jantung, paru-paru, diabetes mellitus, gemelli, apakah alergi terhadap makanan dan obat-obatan, apakah punya kebiasaan merokok dan minum jamu-jamuan. 5. Susunan keluarga yang tinggal dirumah. Digunakan untuk mengetahui struktur keluarga yang tinggal serumah, serta berapa besar tanggungan hidup keluarga yang dapat berpengaruh pada kehamilan. Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, nifas untuk mengetahui apakah ibu punya keyakinan dengan kehamilan, persalinan, nifas atau tidak. 6. Riwayat kesehatan keluarga. Karena dalam kehamilan daya tahan tubuh ibu menurun bila ada penyakit yang menular dapat lekas menular kepada ibu dan mempengaruhi janin. ( Prawirohardjo : 2002 : 278 ) 2.2.1.3 Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum Keadaan emosional Kesadaran 2. Tanda-tanda vital Tensi Pulse (nadi) ::::: Pada kasus hiperemesis gravidarum umumnya lemah.StabilMenurun dari composmentis sampai komaPada kasus hiperemesis gravidarum 100/60 mmHg, normalnya : 120/80 mmHg. Pada kasus hiperemesis gravidarum denyut nadinya meningkat > 100 x menit.(Prawirohardjo, 2002 : 278) 3. Muka Kelopak mata : Cekung Konjungtiva : Pucat Sklera : Putih Cloasma gravidarum : ada atau tidak ada. Oedem : ada atau tidak ada 4. Hidung Polip : ada atau tidak ada Pendarahan : ada atau tidak ada Sekret : ada atau tidak ada Peradangan : ada atau tidak ada 5. Mulut dan Gigi Caries : ada atau tidak ada Gusi : ada pendarahan atau tidak ada Tonsil : ada pembengkakan atau tidak ada 6. Telinga Sekret : tidak ada 7. Kelenjar tiroid : tidak ada
  15. 15. 8. Kelenjar limfe : tidak ada 9. Dada Jantung : ictus cordis regular Paru-paru : tidak ada ronchi dan wheezing Payudara - Bentuk : simetris - Kebersihan : bersih - Benjolan : tidak ada - Rasa Nyeri : tidak ada 10. Punggung dan pinggang Posisi tulang belakang : lordosis Pinggang nyeri : tidak ada nyeri ketuk 11. Ekstermitas atas dan bawah Oedema kanan / kiri : tidak ada Kekakuan sendi dan otot : tidak ada varises kanan/kiri : tidak ada Reflek patella : kanan/kiri positif 12. Abdomen Linea : Tidak ada Striae : Tidak ada Pembesaran : sesuai umur kehamilan atau tidak Benjolan : tidak ada Konsistensi : lembek 13. TFU Leopold I a. Pemeriksa menghadap kearah muka ibu hamil b. Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian dalam fundus c. Konsistensi uterus Leopold II a. Menentukan batas samping rahim kanan dan kiri b. Menentukan letak punggung janin Leopold III a. Menentukan apa yang terdapat dibagian terbawah b. Untuk menentukan bagian terbawah janin apakah bagian tersebut sudah masuk pintu atas panggul atau belum ( jika belum bagian terbawah tersebut dapat digoyangkan ) Leopold IV a. Pemeriksaan menghadap kearah kiri ibu hamil b. Seberapa jauh bagian terbawah janin masuk pintu atas panggul. ( Mochtar : 1990;92 ) 14. Fetus DJJ : belum terdengar 15. Anogenital Vagina : Terdapat tanda chadwick, elastisitas bertambah, tidak ada pembengkakan kelenjar bartolini dan skene. Anus : Tidak ada haemoroid 2.2.2 Interprestasi Data DiagnosaDasarMasalahKebutuhan :::: G…P…A…, Gravida….minggu, janin teraba balotement dengan keadaan ibu hamil mengalami hiperemesis gravidarum tingkat I /ringan.a. Muntah > 10 x dalam 24 jamb. Mata cekungc. Bibir keringd. Berat badan turune. Tekanan darah sistole 90-130 mmHg, diastole 60-90 mmHgf. Pernafasan 16-20 x/menitg. Nadi 60-100
  16. 16. x/menith. Suhu 36-37 0CIbu merasa cemas Konseling lebih lanjut 2.2.3 Indentifikasi Diagnosa / Masalah Potensial Pada langkah ini dapat diidentifikasi diagnosa atau masalah potensial lain berdasarkan rangkaian masalah atau diagnosa yang sudah teridentifikasi. Diagnosa potensial Pada janin : IUGR, Abortus Pada ibu : Hyperemesis gravidarum sedang / tingkat II 2.2.4 Identifikasi Kebutuhan Segera Dalam teori mengatakan bagi penderita hiperemesis gravidarum tingkat I tidak diperlukan kolaborasi dengan SpOG. (Mochtar, 1998 : 195). 2.2.5 Perencanaan Asuhan secara menyeluruh 2.2.5.1 Kaji ulang keluhan ibu. 2.2.5.2 Berikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema muka, tangan, dan kaki, pendarahan pervaginam. 2.2.5.3 Anjurkan ibu makan yang tidak merangsang mual dan berminyak. 2.2.5.4 Anjurkan makan sedikit tapi sering 2.2.5.5 Anjurkan banyak minum air. 2.2.5.6 Hindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung. 2.2.5.7 Berikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut. 2.2.5.8 Berikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (Mediamer B6, Drammamin, Avomin, Torecan); antasida dan anti mulas. 2.2.5.9 Anjurkan pemeriksaan hamil lebih sering. 2.2.5.10 Segera datang bila terjadi keadaan abnormal ( Diktat Asuhan Kebidanan I ) 2.2.6 Pelaksanaan 2.2.6.1 Mengkaji ulang keluhan ibu. 2.2.6.2 Memberikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema pada muka, tangan dan kaki, perdarahan pervaginam. 2.2.6.3 Menganjurkan ibu untuk tidak makan makanan yang berminyak karena dapat merangsang kembali mual. 2.2.6.4 Menganjurkan ibu makan sedikit tapi sering 2.2.6.5 Menganjurkan banyak minum air. 2.2.6.6 Menghindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung. 2.2.6.7 Memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut. 2.2.6.8 Memberikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (mediamer, B6, Drammamin, Avopreg, Avomin, Torecan, Antisida dan anti mulas). 2.2.6.9 Menganjurkan pemeriksaan hamil lebih sering. 2.2.6.10 Menganjurkan segera datang bila terjadi keadaan abnormal. ( Diktat Asuhan Kebidanan I ) 2.2.7 Evaluasi 2.2.7.1 Ibu mengerti dan bisa mengulangi konseling yang diberikan. 2.2.7.2 Ibu bersedia untuk tidak makan-makanan yang berminyak 2.2.7.3 Ibu bersedia makan sedikit tapi sering 2.2.7.4 Ibu bersedia banyak minum 2.2.7.5 Ibu bersedia untuk tidak memakan makanan dan meminum-minuman yang asam 2.2.7.6 Ibu tahu dan mengerti tentang keadaan kehamilannya
  17. 17. 2.2.7.7 Ibu telah mendapatkan terapi obat 2.2.7.8 Ibu bersedia untuk datang pada kunjungan ulang berikutnya ( Diktat Asuhan Kebidanan I ) ABORTUS INKOMPLIT Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 A. KONSEP ABORTUS SPONTAN 1. Pengertian Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat – akibat tertentu pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan (Prawirohardjo,2006). Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho,2010) Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi dari luar untuk mengakhiri kehamilan tersebut, terminologi umum untuk masalah ini adalah keguguran seperti abortus imminens, insipiens, komplit, inkomplit, dan missed abortion. Sedangkan abortus buatan adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan, terminologi untuk keadaan ini adalah pengguguran, aborsi atau abortus provokatus (Prawirohardjo,2006). Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, sedangkan abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal (Manuaba, 2008). Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus dimana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum, perdarahannya masih terjadi dan jumlahnya bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus (Saifuddin, 2002). Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih berada di dalam uterus (Prawirohardjo,2006) Abortus imminens adalah abortus yang mengancam, perdarahannya bisa berlanjut beberapa hari atau dapat berulang. Dalam keadaan ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan. Beberapa kepustakaan menyebutkan beberapa resiko dapat terjadi seperti prematuritas dan gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (Sujiyatini dkk,2009) Abortus insipiens di diagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan banyak, kadang – kadang disertai gumpalan darah disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi servik sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat diraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan (Sujiyatini dkk,2009)
  18. 18. 2. Manifestasi klinis Karena abortus spontan banyak jenisnya maka untuk lebih memudahkan berikut beberapa macam abortus dan manifestasi klinisnya : Tabel 2.1 Manifestasi Klinis Abortus (Manuaba,2007) Jenis abortus Manifestasi klinisnya Abortus imminen a. Terasa nyeri / kram ringan pada abdomen b. Disertai perdarahan ringan, encer c. Perdarahan bercak, dan sedang d. Pemeriksaan dalam/spekulum: 1) Servik tertutup 2) Hegar positif 3) Piskacek positif 4) Chadwieck positif e. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan f. Hasil konsepsi masih dalam uterus g. Tes kehamilan positif Abortus insipien a. Terasa nyeri / kram berat b. Perdarahan banyak bahkan disertai gumpalan c. Pemeriksaan dalam : 1) Servik membuka 2) Ketuban menonjol 3) Terasa kontraksi uterus berlanjut d. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan e. Belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi f. Tes kehamilan mungkin masih positif Abortus inkomplit a. Nyeri hebat b. Perdarahan banyak c. Sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian masih berada di dalam uterus d. Pemeriksaan dalam : 1) Servik masih membuka, mungkin teraba jaringan sisa 2) Perdarahan mungkin bertambah setelah pemeriksaan dalam e. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan f. Tes kehamilan mungkin masih positif akan tetapi kehamilan tidak dapat dipertahankan. Abortus komplit a. Nyeri perut sedikit b. Ekspulsi total jaringan hasil konsepsi c. Perdarahan sedikit d. Pemeriksaan dalam 1) Servik terbuka sedikit terkadang sudah menutup 2) Jaringan kosong 3) Perdarahan minimal e. Uterus besarnya kecil dari usia kehamilan f. Tidak ada lagi gejala kehamilan dan tes kehamilan negative Abortus tertunda (missed abortion) a. Janin sudah meninggal dalam rahim tetapi tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. b. Tanpa ada rasa nyeri c. Perdarahan bisa ada, bisa tidak d. Payudara terasa mengecil
  19. 19. e. Hilangnya tanda – tanda kehamilan g. Berat badan ibu menurun h. Besar uterus lebih kecil dari umur kehamilan Abortus sepsis a. Disertai rasa nyeri dan panas b. Perdarahan ringan dari jalan lahir dan berbau c. Rahim terasa nyeri saat perabaan d. Adanya tanda – tanda infeksi pada genitalia Abortus habitualis Abortus spontan yang terjadi 3 kali berturut – turut atau lebih Gb. 2.1 Kondisi rahim sesuai dengan jenis abortus (Prawirohardjo,2006) 3. Etiologi Abortus inkomplit merupakan salah satu abortus spontan, banyak faktor penyebab terjadinya abortus spontan. Penyebab abortus spontan (Manuaba,2009) : a. Faktor genetik 1) Kelainan kromosom Kelainan kromosom yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah trisomi, monosomi, triploid/tetraploid 2) Abortus dua kali karena kelainan kromosom terjadi 80% 3) Sindrom Ehlers – Danlos Yaitu suatu keadaan membran endometrium sangat rapuh sehingga mudah ruptur atau pecah (rupture membrane abortus spontan) b. Faktor hormonal 1) Defisiensi luetal 2) Abortus berulang karena faktor hormonal sekitar 35 – 50% 3) Ibu hamil menderita penyakit hormonal. Seperi diabetes mellitus dan gangguan kelenjar tyroid c. Kelainan anatomi uterus 1) Sub mukosa mioma uteri 2) Kelainan kongenital uterus seperti, septum, uterus arkuatus yang berat, terdapat polip uteri 3) Serviks inkompeten d. Faktor infeksi genitalia interna 1) Toxoplasmosis 2) Sitomegalovirus 3) Rubela 4) Herpes simpleks 5) Infeksi endometrium (klamidia, toksoplasmosis, mycoplasma hominis e. Intoksikasi agen eksternal 1) Intoksikasi bahan anestesi 2) Kecanduan (alkohol. Perokok, agen lainnya) f. Postur ibu hamil 1) Kurus, BB kurang dari 40 kg 2) Gemuk, BB diatas 80 kg g. Faktor paternal 1) Hiperspermatozoa, jumlah sperma lebih dari 250 juta 2) Oligospermatozoa, jumlah sperma kurang dari 20 juta 3) Prinsipnya kekurangan DNA h. Faktor imunologis 1) Faktor alloimmune a) Penolakan maternal terhadap hasil konsepsi yang mengadakan implantasi
  20. 20. b) Jika tipe homolog HLA atau antipaternal antibody tinggi, akan berlangsung abortus c) Kehamilan dipertahankan oleh komponen : (1) Lokal autoimmune reaksi sehingga menetralkan antipaternal antibody yang dijumpai pada sebagian ibu hamil (2) Faktor hormonal dari plasenta yaitu human chorionic gonadotropin dan progesterone 2) Faktor antibody autoimun, terutama : a) Antibody antiphosfolipid : (1) Menimbulkan thrombosis, infrak plasenta, perdarahan (2) Gangguan sirkulasi dan nutrisi menuju janin dan diikuti abortus (3) Antibody anticardiolipin, dalam lupus anticoagulant (LAC) (4) Menghalangi terbentuknya jantung janin sehingga akan menyebabkan abortus. Nugroho juga membagi faktor pencetus terjadinya abortus menjadi dua (Nugroho,2010) a. Faktor fetal Sekitar 2/3 dari abortus spontan pada trimester pertama merupakan anomaly kromosom dengan ½ dari jumlah tersebut adalah trisomi autosom dan sebagian lagi merupakan triploidi, tetraploidi atau monosomi 45X. b. Faktor maternal 1) Faktor – faktor endokrin a) Beberapa gangguan endokrin telah terlibata dalam abortus spontan berulang, termasuk diantaranya adalah diabetes mellitus tak terkontrol, hipo dan hipertiroid, hiperkresi luteinizing hormone, insufisiensi korpus luteum atau disfungsi fase luteal dan penyakit polikistik ovarium b) Pada perkembangan terbaru peranan hiperandrogenemia dan hiperprolaktinemia telah dihubungkan dengan terjadinya abortus berulang 2) Faktor – faktor anatomi a) Anomaly uterus termasuk malformasi kongenital, defek uterus yang di dapat , leiomioma dan inkompetensia serviks. b) Meskipun anomali – anomali ini sering dihubungkan dengan abortus spontan, insiden, klasifikasi dan peranannya dalam etiologi masih belum diketahui secara pasti . Penelitian lain menunjukkan wanita dengan anomali didapat seperti asherman’s syndrome, adhesi uterus dan anomali didapat melalui paparan dietilestilbestrol memiliki angka kemungkinan hidup fetus yang lebih rendah dan meningkatnya angka kejadian abortus. 3) Faktor – faktor immunologi a) Pada kehamilan normal, system imun maternal tidak bereaksi terhadap spermatozoa atau embrio, namun 40% pada abortus berulang diperkirakan secara imunologis kehadiran fetus tidak dapat di terima. b) Respon imun dapa dipicu oleh beragam faktor endogen dan eksogen, termasuk pembentukan antobodi antiparental, gangguan autoimun yang mengarah pada pembentukan antibodi autoimun (antibody antifosfolipid, antibody antinuclear, aktivasi sel B poliklonal), infeksi, bahan – bahan toksik dan stress. 4) Trombofilia a) Trombofilia merupakan keadaan hiperkoagulasi yang berhubungan dengan predisposisi terhadap trombolitik b) Kehamilan akan mengawali keadaan hiperkoagulasi dan melibatkan keseimbangan antara jalur prekoagulan dan antikoagulan c) Trombofilia dapat merupakan kelainan yang herediter atau didapat d) Terdapat hubungan antara antibodi antifosfolipid yang didapat dan abortus berulang dan semacam terapi dan kombinasi terapi yang melibatkan heparin dan aspirin telah direkomendasikan untuk menyokong pemeliharaan kehamilan sampai persalinan.
  21. 21. e) Pada sindrom antifosfolipid, antibodi fosfolipid mempunyai hubungan dengan kejadian trombisis vena, trombosis arteri, abortus atau trombositopenia. Namun, mekanisme pasti yang menyebabkan antibodi fosfolipid mengarah ke trombosis masih belum diketahui f) Pada perkembangan terbaru, beberapa gangguan trombolitik yang herediter atau didapat telah dihubungkan dengan abortus berulang termasuk faktor V leiden, defisiensi protein antikoagulan dan antitrombin, hiperhomosistinemia, mutasi genetik protrombin, dan mutasi homozigot pada gen metileneterhidrofolat reduktase. 5) Infeksi a) Infeksi – infeksi maternal yang memperlihatkan hubungan yang jelas dengan abortus spontan termasuk sifilis, parvovirus B19, HIV dan malaria. b) Brusellosis, suatu penyakit zoonosis yang paling sering menginfeksi manusia melalui produk susu yang tidak dipasteurisasi juga dapat menyebabkan abortus spontan. 6) Faktor – faktor eksogen Meliputi bahan – bahan kimia : a) Gas anestesi (1) Nitrat oksida dan gas – gas anestesi lainnya diyakini sebagai faktor resiko untuk terjadinya abortus spontan. (2) Pada suatu tinjauan oleh Tannebaum dkk, wanita yang bekerja dikamar operasi sebelum dan selama kehamilan mempunyai kecendrungan 1,5 sampai 2 kali untuk mengalami abortus spontan. (3) Pada suatu penelitian meta-analisis yang baru, hubungan antara pekerjaaan maternal yang terpapar gas anestesi dan resiko abortus spontan digambarkan adalah 1,48 kali dari pada yang tidak terpapar. b) Air yang tercemar (1) Suatu penelitian prospektif di California menemukan hubungan bermakna antara resiko abortus spontan pada wanita yang terpapar trihalometanan dan terhadap salah satu turunannya, bromodikhlorometana. (2) Demikian juga dengan wanita yang tinggal di daerah Santa Clara, daerah yang dengan kadar bromide pada air permukaan paling tinggi tersebut, memiliki resiko 4 kali lebih tinggi untuk mengalami abortus spontan. c) Dioxin Dioxin telah terbukti menyebabkan kanker pada manusi dan binatang dan menyebabkan anomali reproduksi pada binatang. Beberapa penelitian pada manusai menunjukkan hubungan antara dioxin dan abortus spontan. d) Pestisida Resiko abortus spontan telah diteliti pada sejumlah kelompok pekerja yang menggunakan pestisida 7) Gaya hidup merokok dan alkoholisme Penelitian epidemiologi mengenai merokok tembakau dan abortus spontan menemukan bahwa merokok dapat sedikit meningkatkan resiko untuk terjadinya abortus spontan. Namun hubungan antara merokok dan abortus spontan tergantung pada faktor–faktor lain termasuk konsumsi alkohol, perjalanan reproduksi, waktu gestasi untuk abortus spontan, kariotipe fetal, dan status sosial ekonomi. Peningkatan kejadian abortus spontan pada wanita alkoholik mungkin berhubungan dengan akibat tak langsung dari gangguan terkait alkoholisme. 8) Radiasi Radiasi ionisasi dikenal menyebabkan gangguan hasil reproduksi termasuk malformasi kongenital, restriksi pertumbuhan intrauterine dan kematian embrio. Sedangkan menurut Sarwono hal – hal yang menyebabkan abortus spontan dibagi atas : (Prawirohardjo,2006)
  22. 22. a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat. Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil-hamil muda. Faktor- faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan diantaranya: 1) Kelainan kromosom. Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks 2) Lingkungan kurang sempurna. Bila lingkungan di endometrium disekitar tempat implantasi kurang sempurna, pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi akan terganggu 3) Pengaruh dari luar. Radiasi, virus, obat-obat, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen. b. Kelainan plasenta Endarteritis dapat terjadi pada vili koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun. c. Penyakit ibu Biasanya penyakit maternal berkaitan dengan abortus euploidi. Peristiwa abortus tersebut mencapai puncaknya pada kehamilan 13 minggu, karena pada saat terjadinya abortus lebih belakangan, pada sebagian kasus dapat ditentukan etiologi abortus yang dapat dikoreksi. Sejumlah penyakit, kondisi kejiwaan dan kelainan perkembangan pernah terlibat dalam peristiwa abortus euploidi. Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain dapat menyebakan abortus. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus. Anemia berat, keracunan, laparotomi, peritonitis umum, dan penyakit menahun seperti brusellosis, mononukleosis, infeksiosa, toksoplasmosis, juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang. d. Kelainan traktus genitalis Retroversio uteri, mioma uteri atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Tetapi harus diingat bahwa hanya retroversio uteri gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting. Sebab lain abortus dalam trimester ke II adalah servik inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan pada servik, dilatasi servik berlebihan, konisasi, amputasi, atau robekan servik yang tidak dijahit. 4. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi korialis menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniature. Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas dan mungkin pula janin telah mati lama. Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang cepat maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah, isi uterus dinamakan mola kruenta.
  23. 23. Bentuk ini menjadi mola karnosa apaila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi organisasi sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberose, dalam hal ini amnion tampak berbenjol – benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion. Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi diamana janin mengering dan karena cairan amnion berkurang maka ia jadi gepeng (fetus kompressus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus) Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak segera dikeluarkan adalah terjadinya maserasi, kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena terisi cairan dan seluruh janin berwarna kemerah – merahan dan dapat menyebabkan infeksi pada ibu apabila perdarahan yang terjadi sudah berlangsung lama.(Prawirohardjo,2005), 5. Diagnosa dan Prognosa Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering terdapat pula terasa mules. Kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis atau imunologik. Harus diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan servik dan adanya jaringan dalam kavum uteri atau vagina (Prawirohardjo,2006) Dugaan abortus diperlukan beberapa kriteria sebagai berikut : a. Terdapat keterlambatan datang bulan b. Terjadi perdarahan c. Disertai sakit perut d. Dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi e. Pemeriksaan tes hamil dapat masih positif atau sudah negatif. Hasil pemeriksaan fisik terhadap penderita bervariasi a. Pemeriksaan fisik bervariasi tergantung jumlah perdarahan b. Pemeriksaan fundus uteri : 1) Tinggi dan besarnya fundus tetap dan sesuai usia kehamilan 2) Tinggi dan besarnya sudah mengecil 3) Fundus uteri tidak teraba diatas simfisis Pemeriksaan dalam : a. Servik uteri masih tertutup b. Servik sudah terbuka dan dapat teraba ketuban dan hasil konsepsi dalam kavum uteri atau pada kanalis servikalis c. Besarnya rahim atau uterus mengecil d. Konsistensinya lunak. (Sujiyatini,2009) Sebagai kemungkinan diagnosis lain harus dipikirkan yaitu kehamilan ektopik yang terganggu, mola hidatidosa, kehamilan dengan kelainan pada servik. Untuk penegakan diagnose disesuaikan dengan gejala klinis masing – masing abortus. Sedangkan untuk prognosa abortus juga tergantung pada jenis abortus dan kondisi pasien (Prawirohardjo,2006). 6. Penatalaksanaan Penanganan umum : a. Lakukan penilaian awal untuk menentukan kondisi pasien (gawat darurat, komplikasi berat atau masih cukup stabil) b. Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisasi pasien sebelum melakukan
  24. 24. tindakan lanjutan (yindakan medic atau rujukan) c. Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk kerumah sakit. 1) Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahan hebat segera atasi komplikasi tersebut 2) Gunakan jarum infuse besar (16G atau lebih besar) dan berikan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan garam fisiologis atau Ringer d. Periksa kadar Hb, golongan darah dan uji padanan silang (crossmatch) a. Bila terdapat tanda – tanda sepsis, berikan antibiotic yang sesuai b. Temukan dan hentikan segera sumber perdarahan c. Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan perkembangan lanjut (Prawirohardjo,2006) Tabel 2.2 Penatalaksanaan abortus sesuai dengan jenis abortus (Prawirohardjo,2006) Jenis abortus Penatalaksanaannya Abortus imminen a. Tidak diperlukan pengobatan medic yang khusus b. Istirahat (tirah baring), agar aliran darah ke uterus meningkat dan ransang mekanik berkurang c. Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas berlebihan atau melakukan hubungan seksual d. Bila perdarahan berhenti lakukan asuhan antenatal terjadwal e. Bila perdarahan berlanjut, nilai kondisi janin melalui tes kehamilan atau USG Abortus insipiens a. Uterus harus segera dikosongkan untuk menghindari perdarahan yang banyak atau syok karena rasa mules dan sakit yang hebat b. Pasang infuse, sebaiknya diertai oksitosin drip untuk mempercepat pengeluaran hasil konsepsi c. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilakukan dengan kuretase atau dengan cunam abortus disusul dengan kerokan d. Sebelum dilakukan kuretase diberikan antibiotika prifilaksis e. Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilakukan atau usia gestasi lebih besar dari 16 minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan : f. Infuse oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat dinaikkan hingga 40 tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi rahim hingga terjadi pengeluaran hasil konsepsi 1) Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian 2) Misoprostol 400 mg peroral dan apabila masih diperlukan dapat diulangi dengan dosis yang sam setelah 4 jam dari dosis awal. Abortus inkomplit a. Bila disertai syok karena perdarahan segera pasang infuse dengan cairan NaCl fisiologis atau cairan Ringer Laktat, bila perlu disusul dengan transfuse darah b. Setelah syok teratasi, lakukan kerokan c. Pasca tindakan berikan injeksi metal ergometrin maleat intra muscular untuk mempertahankam kontraksi otot uterus d. Perhatikan adanya tanda – tanda infeksi e. Bila tak ada tanda – tanda infeksi berikan antibiotika prifilaksis (ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg) f. Bila terjadi infeksi beri ampisilin I g dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam Abortus komplit a. Tidak memerlukan pengobatan khusus, cukup uterotonika atau kalau perlu antibiotika b. Apabila kondisi pasien baik, cukup diberikan tablet ergometrin 3×1 tablet/hari untu 3 hari
  25. 25. c. Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet sulfas Ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu disertai anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan, daging, telur). Untuk anemi berat berikan transfusi darah d. Jika infeksi berikan antibiotika profilaksis Abortus tertunda (missed abortion) a. Karena sering plasenta melekat maka penanganan harus dirumah sakit b. Periksa kadar fibrinogen atau test perdarahan dan pembekuan darah sebelum tindakan kuretase. Bila normal jaringan konsepsi dapat segera dikeluarkan, teapi bila kadarnya rendah ( 7gr/dl (anemia) atau dicurigai adanya infeksi Tubektomi Segera Sesuai untuk pasangan yang ingin menghentikan fertilitas, jika dicurigai adanya infeksi, tunda samapi keadaan jelas. Jika Hb kurang dari 7g/dl, tunggu sampai anemia telah diperbaiki. Sediakan metode alternatif seperti kondom. B. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA ABORTUS INKOMPLIT a. langkah I : Pengumpulan Data Dasar 1) Data Subjektif a) Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi. b) Keluhan utama , merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan. Kemungkinan yang ditemui pada kasus abortus inkomplit ini adalah ibu mengeluhkan bahwa keluar darah yang banyak dari kemaluannya, darah bergumpal dan berwarna merah segar yang disertai nyeri hebat pada perut bagian bawah. c) Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis apakah ibu benar-benar hamil . d) Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu HPHT, riwayat hamil muda dan tua, frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui tua kehamilan ibu serta taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan. e) Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada mengalami keguguran sebelumnya, menderita penyakit jantung, DM, ipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi darah ,atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa. f) Riwayat penyakit keluarga yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, dan riwayat keturunan kembar yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit tersebut. g) Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya ibu baru hamil setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko. h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang dikaji adalah fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau apakah ibu ada mempunyai riwayat abortus, jenis persalinan yang bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak sekarang. i) Riwayat keluarga berencana, kemungkinan ibu pernah menggunakan alat –alat kontrasepsi
  26. 26. atau tidak. j) Makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan. k) BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses persalinan berlangsung. 2) Data Objektif a) Pemeriksaan umum Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui keadaan gizi pasien. b) Pemeriksaan khusus I. Inspeksi Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan ekstremitas atas maupun bawah serta HIS. II. Palpasi Dengan menggunakan cara leopold: Leopold I : Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin Leopold II: Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong atau kepala. Leopold III: Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala. Leopold IV: Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP. III. Auskultasi Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur. IV. Perkusi Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat. V. Penghitungan TBBJ Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm – 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi. VI. Pemeriksaan Dalam
  27. 27. Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi, adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul (bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica, coksigis dan arcus pubis > 900). c) Pemeriksaan Penunjang I. Darah Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr % dan TM II 10,5 gr %) Hb ≥ 11 gr% : tidak anemia Hb 9-10 gr% : anemia ringan Hb 7-8 gr% : anemia sedang Hb ≤ 7 gr% : anemia berat II. Urine Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan dan persalinan normal protein dan glukosa urine negative. III. USG Untuk memeriksa apakah kantong gestasi masih utuh dan cairan amnion masih ada. b. Langkah II: Interprestasi Data Data dasar di interprestasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah di identifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya yaitu: 1) Diagnosa Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya. 2) Masalah Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan janin yang memburuk karena sudah keluarnya sebagian sisa jaringan. 3) Kebutuhan Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti: a) Berikan informasi dan konseling untuk mengatasi kecemasan ibu b) Berikan ibu dukungan psikologis. c) Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan kuretase c. Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah: 1) Infeksi 2) Perdarahan 3) Syok 4) Anemia . d. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera. Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah: Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik e. Langkah V:Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu: Tindakan yang perlu dilakukan adalah: 1) Memberikan inform consent untuk tindakan kuretase 2) Melakukan pemeriksaan TTV
  28. 28. 3) Pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit dengan pemberian infus. 4) Membantu melakukan tindakan kuretase 5) Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi obat-obatan 6) Memberikan dukungan psikologis. 7) Pemenuhan nutrisi dan hidrasi 8) Konseling alat kontrasepsi pasca abortus f. Langkah VI:Melaksanakan Perencanaan Perencanaan bisa dilakukan oleh bidan atau dokter dan sebagian oleh klien. Bidan juga bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan yang telah di rencanakan. g. Langkah VII:Evaluasi Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan persalinan,dari hasil pelaksanaan perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan dan menunjukkan perbaikan kondisi apabila banyi ataupun ibu sempat mengalami masalah yang harus segera ditangani. h. Pendokumentasian Pendokumentasian kasus dibuat dalam bentuk matrik dengan menggunakan 7 langkah varney DAFTAR PUSTAKA JNPK _KR. 2008. Pelayanan obsetri dan neonatal emergensi dasar (PONED) Kusmiyati, Dkk. 2009. Perawatan ibu hamil. Yogjakarta : Fitramaya Nugroho, taufan. 2010. Buku ajar obstetric. Yogjakarta : Nuha Medika Manuaba. 2007. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : Buku Kedokteran EGC PPKC. 2002. Pelatihan manajemen asuhan kebidanan. Jakarta Prawirohardjo, S. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka ANEMIA DALAM KEHAMILAN Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized Tag:kuliah ASKEB 4 0 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Didunia ini setiap menit perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan, dengan kata lain 1.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Di Indonesia 2 orang meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan nifas. Setiap menit 20 anak balita meninggal. Dengan kata lain 20.000 anak balita meninggal setiap hari dan 10,6 juta anak balita meninggal setiap tahun. (university of Indonesia “make every mother and child count” 7 april 2005). Tingginya angka kesakitan dan kehamilan pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah yang besar. Dilaporkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia berkisar 334/100.000 kelahiran hidup. (panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal) di Sumbar AKI 116/100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB 9,96/1000 kelahiran hidup. Dan dipadang angka kematian ibu 13/100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi 3,4/1000 kelahiran hidup. (Profil Kesehatan Sumbar). Didalam rencana Strategi Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010
  29. 29. disebut kontek rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 dengan misi menurunkan angka kematian maternal dan neonatal melalui pemantauan system kesehatan yang menjamin akses terhadap intervensi yang cost effective berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga dan masyarakat melalui kegiatan mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta menjamin kesehatan maternal dan neonatal sebagai prioritas program pembangunan nasional. Selain itu intervensi dalam safe motherhood melakuakn pendekatan dengan mengganggap semua kehamilan berisiko dan setiap ibu hamil agar mempunyai akses pertolongan persalianan yang aman. Diperkirakan 15% kehamilan akan mengalami resiko tinggi dan komplikasi obstetri yang dapat membahayakan kehidupan ibu maupun janinnya bila tidak ditangani dengan memadai (Buku Acuan Nasional Pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal, 2000) Penyebab kematian ibu yang terbanyak disebabkan oleh komplikasi obstetric. Komplikasi obstetric ini tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya. Penyebab kematian ibu dan perinatal umumnya desebabkan oleh sebab langsung seperti pendarahan, eklampsi, infeksi dan sebab tidak langsung yaitu rendahnya tingkat pendidikan, sosial ekonomi, terlambatnya mendapat pertolongan persalinan atau rujukan yang dikenal dengan istilah 3T (Terlambat mengenal komplikasi, Terlambat membuat keputusan, Terlambat merujuk) dan pertolongan persalinan oleh dukun yang kurang memperhatikan sterilisasi dan aborsi illegal (Pusdeknakes, 2003) Seorang bidan baru yang dikatakan profesional jika ia amapu melakukan tugas kebidanan sesuai standar dan hasil yang memuaskan. Ia terlatih memberikan perawatan dan nasehat yang diperlukan bagi seorang wanita selam hamil ,persalianan dan nifas. Untuk melakukan persalinan normal atas tanggung jawab sendiri dan untuk merawat bayi baru lahir. Setiap saat ia harus mengenali tanda-tanda bahaya yang menandakan keadaan yang abnormal atau kemungkianan akan timbul keadaan yang abnormal yang mengharuskan melakukan rujukan. (Pusdiknakes,2003). Bertolak dari pertanyaan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam rangka mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki keahlian diberikan penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu hamil yang dimulai pada kehamilan semester III Melalui pembinaan tersebut, penulis dapat memahami bebagai proses dan perubahan yang terjadi pada ibu selama hamil, sehingga dapat menerapkan asuhan kebidanan yang tepat dan aman. B. Batasan Masalah Dalam penulisan kasus ini penulis membatasi masalah yaitu penerapan manajemen kebidanan pada Ny.”M” dimulai pada Trimester III pada usia kehamilan 36-37 minggu dengan kehamilan normal. C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan manajemen kebidanan pada Ny “ M” pada Trimester III dengan kehamilan normal. 2. Tujuan Khusus a. Dapat melaksanakan pengkajian data dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan pada Ny “M” pada masa kehamilannya. b. Dapat menegakkan diagnosa, mengkaji masalah dan kebutuhan pada Ny “M” c. Dapat mengidentifikasi masalah potensi yang mungkin terjadi pada Ny “M” d. Dapat membuat rencana asuhan pada Ny “M” sebagai dasar untuk melaksanakan asuhan kebidanan.
  30. 30. e. Dapat melakukan implementasi secara efektif dan ifisien pada Ny “M” f. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada Ny “M” D. Manfaat Penulisan 1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pelayanan dengan menggunakan manejemen asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi 2. Berperan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas pada klien. 3. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan dalam mencari pemecahan masalah tersebut. BAB II TINJAUAN TEORITIS a. LANDASAN TEORI 1. Defenisi Anemia dalam Kehamilan Anemia adalah kondisi ibu dengan jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah kurang dari 12% gram (Winkjosastro,2002) sedangkan Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah dibawah 11% gram pada usia kehamilan 4-7 bulan (Saifuddin,2002). Jadi Anemia bukan penyakit kurang darah tapi, kurangnya sel darah merah karena jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah yang rendah dalam darah. 2. Jenis – Jenis Anemia dalam Kehamilan Anemia dalam kehamilan dapat di bagi menjadi: a. Anemia defesiensi besi (62,3%) Anemia defisiensi besi adalah Anemia yang terjadi akibat kekurangan bahan pembentuk protein sel darah merah dalam darah. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsure besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyk besi keluar dari badan , misalnya perdarahan. Diagnosis: 1) Untuk Anemia defesiensi besi yang berat di tandai dengan ciri-ciri yang khas yaitu mikrisitosis dan hipokromasia 2) Untuk Anemia defesiensi besi yang ringan tidak selalu di tandai dengan cirri-ciri khas , banyak yang bersifat normositer dan normokrom Sifat lain yang khas yaitu : a) Kadar besi serum rendah b) Daya ikat besi serum tinggi c) Protoporfirin eritrisit tinggi d) Tidak di temukan hemosiderin dalam sum-sum tulang Prognosis: Prognosis Anemia defesiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak . Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi lain . anemia berat dalam kehamilan muda yang tidak di obati dapat menyebabkan abortus dan dalam kehamilan tua dapat menyebabkan partus lama , perdarahan post partum dan infeksi. Walaupun bayi yang di lahirkan dari ibu yang menderita anemia defesiensi besi tidak menunjukkan Hb yang rendah, namun cadangan besinya kurang yang barubeberapa bulan kemudian tampak sebagai anemia infatum.
  31. 31. Pencegahan dan Pengobatan: Di daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfat ferrosus atau glukonas ferrosus, cukup 1 tablet sehari. Selain itu, ibu di beri nasehat untuk makan lebih banyak protein dan sayur yang banyak mengandung mineral dan vitamin. b. Anemia megaloblastik (29,0%) Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan karena defesiensi asam folat. Diagnosis: Diagnosis anemia megaloblastik dibuat apabila ditemukan megeloblas atau promegaloblas dalam darah atau sum-sum tulang belakang Prognosis: Anemia megaloblastik dalam kehamilan mempunyai prognosis cukup baik . Pengobatan dengan asam folat hampir selalu berhasil. Pencegahan dan Pengobatan: 1) Asam folat 15-30 mg per hari 2) Vitamin B12 3×1 tablet per hari 3) Sulfas ferosus 3×1 tablet per hari 4) Pada kasus berat diberikan penambah darah c. Anemia hipolastik (8,0%) Anemia hipoplastik yaitu Anemia yang disebabkan oleh penurunan fungsi kerja sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah baru.Pengobatannya yaitu dengan transfuse darah. d. Anemia hemolitik (0,7%) Anemia hemolitik adalah Anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatanya. Gejala utamamya adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan. Pengobatanya: Tergantung pada jenis anemia ini serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obtan, hal ini tidak memberikan hasil sehingga penambah darah berulang dapat membantu penderita. 3. Gejala Anemia Pada Ibu Hamil a. Pucat b. Sering pusing c. Lemah, lelah, letih, lesu, lunglai d. Nafas terengah-engah e. Nyeri dada f. Mata berkunang-kunang g. Lidah luka h. Nafsu makan turun i. Mual dan muntah yang berlebihan pada hamil muda 4. Penyebab Anemia dalam Kehamilan Anemia dalam kehamilan disebabkan oleh kekurangan bahan pembentuk protein sel darah merah dan perdarahan secara mendadak bahkan tidak jarang keduanya saling berhubungan (Safuddin,2002). Menurut mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya aadal sebagai berikut: a. Kurangnya bahan pembentuk protein sel darah merah dalam makanan yang dikonsumsi,
  32. 32. Kebutuhannya bagi ibu hamil sekitar 1000mg: 1) 500mg untuk meningkatkan jumlah sel darah merah 2) 300mg untuk bayi 3) 200mg untuk mangganti kehilangan bahan pembentuk protein sel darah merah setiap hari Rata-rata ibu hamil normal perlu menyerap 3,5mg setiap hari atau meyerap 20% yang masuk. b. Penyerapan bahan pembentuk protein sel darah merah yang tidak sempurna akibat mencret yang sudah berlangsung lama, pembedahan tertentu pada slauran pencernaan seperti: lambung. Bahan pembentuk protein sel darah merah diserap dari saluran pencernaan. Sebagian besar diserap dari usu halus bagian atas terutama usus 12 jari. Bila terjadi gangguan saluran pencernaan, maka penyerapan dari saluran pencernaan menjadi tidak sempurna. Hal itu menyebabkan kurangnya jumlah bahan pembentuk protein sel darah merah didalam tubuh sehingga pembentukan sel darah merah terhambat. c. Kehilangan darah yang disebabkan oleh perdarahan menstruasi berat, luka, kanker dan perdarahan pada lambung dan usus akibat tindakan pemberian obat. Kehilangan banyak darah tersebut menyebabkan terkurasnya cadangan bahan pembentuk protein sel darah merah dalam tubuh sehingga pembentukan sel darah merah terganggu. d. Kurang gizi e. Penyakit-penyakit yang sudah berlangsung lama seperti TBC paru,cacing usus, malaria 5. Faktor Predisposisi Anemia Pada Ibu Hamil a. Umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia.Wintrobe (1987) menyatakan bahwa usia ibu dapat mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu semakin rendah usia ibu hamil maka semakin rendah kadar hemoglobinnya. Muhilal et al (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat kecendrungan semakin tua umur ibu hamil maka presentasi anemia semakin besar. Pada penelitian ini belum menunjukkan adanya kecendrungan semakin tua umur ibu hamil maka kejadian anemia semakin besar. Karena 80% ibu hamil berusia tidak berisiko yaitu antara 20 tahun hingga 35 tahun. b. Paritas Semakin banyak jumlah kelahiran (paritas), maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia Artinya ibu hamil dengan paritas tinggi mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami anemia dibanding yang paritas rendah c. Jarak Kehamilan Yang terlalu Dekat Salah satu penyebab yang dapat mempercepat terjadinya anemia pada wanita adalah jarak kelahiran pendek. Menurut Kramer (1987) hal ini disebabkan kekurangan nutrisi yang merupakan mekanisme biologis dan pemulihan factor hormonal dan adanya kecendrungan bahwa semakin dekat jarak kehamilan, maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia. d. Pengetahuan Pengetahuan kesehatan reproduksi menyangkut pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan, penyuluhan, tanda dan cara mengatasi anemia pada ibu hamil diharapkan dapat mencegah ibu hamil dari anemia. semakin rendah pengetahuan kesehatan reproduksi, maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia. e. Pemeriksaan Antenatal Care Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga professional yaitu Dr Ginekolog dan Bidan serta memenuhi syarat 5 T (TB, BB, Tekanan darah, Tinggi
  33. 33. Fundus, TT, Tablet Fe). Jika pemeriksaan Antenatal Care kurang atau tidak ada sama sekali maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia. f. Pola makan dan Kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe Gizi seimbang adalah pola konsumsi makan sehari-hari yang sesuai dengan kebutuhan gizi setiap individu untuk hidup sehat dan produktif. Agar sasaran keseimbangan gizi dapat dicapai, maka setiap orang harus menkonsumsi minimal 1 jenis bahan makanan dari tiap golongan bahan makanan yaitu KH, protein hewani dan nabati, sayuran, buah dan susu. (Kodyat, 1995). Kepatuhan menkonsumsi tablet Fe diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara menkonsumsi tablet Fe, frekuensi konsumsi perhari. Suplementasi besi atau pemberian tablet Fe merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah dan menanggulangi anemia, khususnya anemia kekurangan besi. Suplementasi besi merupakan cara efektif karena kandungan besinya yang dilengkapi asam folat yang sekaligus dapat mencegah anemia karena kekurangan asam folat.ibu hamil yang kurang patuh konsumsi tablet Fe mempunyai risiko untuk mengalami anemia dibanding yang patuh konsumsi tablet Fe. 6. Akibat Anemia Pada Ibu Hamil a. Akibat anemia pada usia kehamilan 3 bulan pertama 1) Dapat terjadi keguguran 2) Cacat bawaan b. Akibat anemia pada usia kehamilan 4-9 bulan 1) Persalinan belum cukup bulan 2) Perdarahan dalam melahirkan 3) Gangguan pertumbuhan bayi dalam kandungan 4) Bayi kekurangan oksigen dalam kandungan sampai menyebabkan kematian 5) Mudah terkena infeksi c. Akibat anemia saat melahirkan 1) Gangguan kekuatan mengejan 2) Melahirkan berlangsung lama 3) Tertahannya plasenta dan perdarahan saat melahirkan d. Akibat anemia terhadap bayi 1) Kematian dalam kandungan 2) Cacat bawaan 3) Kecerdasannya rendah 4) Bayi lahir dengan anemia 5) Berat badan bayi lahir kecil 7. Tujuan Pencegahan Anemia Pada Ibu Hamil Tujuan dari pencegahan anemia selama kehamilan adalah untuk menjaga keseimbangan jumlah protein sel darah merah dan zat pewarna merah pada sel darah ibu dan untuk mencegah kekurangan bahan pembentuk protein sela darah merah pada bayi. 8. Pencegahan dan Pengobatan Anemia Pada Ibu Hamil a. Pemberian tambahan bahan pembentuk protein sel darah merah selama masa kehamilan (± 90 tablet) dalam satu hari 1 tablet ( satu tablet mengandung 60 mg Fe dan 200 πg asam folat ) minum dengan air putih dan jangan minum dengan air kopi atau dengan air the karena akan menghambat penyerapan. Efek sampingnya yaitu : rasa tidak enak di hulu hati, mual, muntah dan mencret.
  34. 34. b. Memakan makanan yang banyak mengandung bahan pembentuk protein sel darah merah seperti : 1) Telur 2) Susu i. Ibu hamil 0-3 bulan = 1 gelas ii. Ibu hamil 4-7 bulan = 1 gelas iii. Ibu hamil 7-9 bulan = 1 gelas 3) Hati 4) Ikan iv. Ibu hamil 0-3 bulan = 1 ½ potong v. Ibu hamil 4-7 bulan = 2 potong vi. Ibu hamil 7-9 bulan = 3 potong 5) Daging 6) Tempe vii. Ibu hamil 0-3 bulan = 3 potong viii. Ibu hamil 4-7 bulan = 4 potong ix. Ibu hamil 7-9 bulan = 5 potong 7) Sayuran yang berwarna hijau tua (kangkung, bayam, daun katuk, daun singkong) x. Ibu hamil 0-3 bulan = ½ mangkok xi. Ibu hamil 4-7 bulan = 3 mangkok xii. Ibu hamil 7-9 bulan = 3 mangkok 8) Buah-buahan (jeruk, jambu biji, pisang, tomat) xiii. Ibu hamil 0-3 bulan = 2 buah xiv. Ibu hamil 4-7 bulan = 2 buah xv. Ibu hamil 7-9 bulan = 2 buah c. Periksa secepat mungkin apabila terdapat tanda-tanda anemia agara langkah-langkah pencegahan bisa segera dilakukan e. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN 1. Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil TM III Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah agar pelayanan yang komperhensif dapat tercapai. Proses manajemen terdiri dari tujuh langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secar periodic. Proses di mulai dengan pengumpulan data dasar yang berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tesebut membentuk kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap langkah-langkah dapat dipecah menjadi langkah tertentu dan ini bisa berubah sesuai dengan bagaiman keadaan pasien. Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut: LANGKAH 1: PENGUMPULAN DATA DASAR A. Anamnesa/ Data Subjektif a. Identitas isteri dan suami yang perlu di kaji adalah nama,umur, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, no.telp dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan no.telp yang berbeda dan umur juga untuk mengetahui factor resiko, jika umur ibu 35 tahun ini merupakan umur ynag berisiko bagi ibu hamil. Kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal (Haryono,2007)
  35. 35. Ibu hamil dengan kehamilan resiko tinggi adalah ibu hamil yang mempunyai resiko atau bahaya yang lebih besar pada kehamilan/persalinannnya dibandingkan dengan ibu hamil dengan kehamilan/persalinan normal. contohnya: Ibu dengan umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun Pada umur ini belum cukup dicapai kematangan fisik, mental dan fungsi dari calon ibu serupa ini, yang Tentunya menimbulkan keraguan jaminan bagi keselamatan kehamilan yang dialaminya, dan juga jaminan cinta kasih dan perawatan serta asuhan bagi anak yang akan dilahirkan.. Pada golongan ibu-ibu muda ini banyak diulas permasalahan dari segi psikiatri dan psikologi sosial, dan hampir semua ulasan akan menekankan pentingnya usaha khusus untuk melindungi anak-anak yang akan dilahirkan kemudian.sedangkan, Pada umur lebih dari 35 tahun perubahan yang terjadi karena proses menjadi tua dari alat-alat reproduksi dan jalan lahir, cenderung berakibat buruk pada proses kehamilan dan persalinannya. Pada kelompok tua ini lebih banyak ditemui berbagai kelainan seperti penyulit persalinan dan kehamilan, demikian pula dari jumlah persen yang ditemui. b. Keluhan utama Merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan. Kemungkinan yang ditemui pada kehamilan fisiologis pada TM III adalah: 1) Edema pada pergelangan kaki dan tangan Edema (pembengkakan karena pengumpulan cairan didalam jaringan) dianggap tanda bahaya kehamilan, tetapi sekarang para dokter mengenali bahwa pembengkan ringan pada pergelangan kaki dan kaki berkaitan dengan peningkatan pada cairan tubuh yang normal dan perlu pada kehamilan. Sebenarnya, 75% ibu hamil mengalami edema seperti ini pada suatu saat dari kehamilannya terutama diakhir hari, di cuaca panas, atau setelah berdiri atau duduk lama. Kebanyakan ibu hamil mengatakan bahwa edema akan hilang setelah tidur malam. Cara mengatasinya: a. Hindari berdiri lama dan duduk terlalu lama b. Melatih kaki untuk ditekuk ketika duduk dan berdiri c. Hindari kaos kaki yang ketat atau tali pita yang ketat pada kaki d. Bantu sistem tubuh untuk membuang produk sisa metabolisme dengan minum air putih minimal 10 gelas per hari. 2) Frekuensi kemih meningkat Hal ini terjadi karena tekanan uterus pada kandung kemih, nocturia akibat eksresi sodium yang menigkat dengan kehilangan air yang wajib dan bersamaan air dan sodium terperangkap didalam tungkai bawah selama siang hari karena stasis vena, pada malam hari terdapat aliran kembali vena yang meningkat dengan akibat peningkatan dalam jumlah output air seni. Cara mengatasi: a. Miringkan tubuh kedepan saat buang air kecil dan akan membantu mengosongkan kandung kemih sehingga mengurangi perjalanan kekamar mandi. b. Jangan kurangi minum di malam hari untuk mengurangi nocturia, kecuali jika nocturia mengganggu tidur dan menyebabkan keletihan c. Batasi minum bahan diuretiks alamiah seperti : kopi, teh, cola dengan cafein d. Ajarkan tanda-tanda UTI posisi yang berbaring miring kekiri dimalam hari untuk meningkatkan dieresis 3) Sembelit Sembelit berkaitan dengan setidaknya enam macam kondisi didalam tubuh, yaitu: a. Rahim yang membesar yang menekan kolon dan rectum sehingga mengganggu ekskresi b. Peningkatan kadar progesteronmerelaksasikan otot saluran cerna, serta menurunkan
  36. 36. mortalitas c. Asupan cairan tidak adekuat d. Diet serat tidak cukup e. Suplementasi zat besi f. Kebiasaan defekasi yang buruk g. Jarang berolahraga dan sering melewatkan satu waktu terutama sarapan Cara mengatasi: a. Bangun subuh lalu meminum segelas air jeruk hangat b. Lakukan gerak badan (harus seizin dokter) setiap hari c. Minum air setidaknya 8 sampai 10 gelas (2-3 liter) sehari, jumlah inipunharus dicocokan dengan besaran angka kecukupan energi d. Memperbanyak makanan yang kaya akan serat, paling tidak setiap pagi harus memakan sesendok teh tepung serealia e. Membatasi pemberian suplementasi zat besi menjadi bukan setiap hari, melainkan setiap dua hari sekali harus ditambah dan dimakan pada hari ketika suplemen tidak diberikan. 4) Nafas sesak (hiperventilasi) Ibu hamil sering merasakan sesak nafas, hal ini terjadi karena meningkatnya hormon progesteron yang bekerja pada pusat pernafasan, secara langsung menurunkan co2 dan meningkatnya o2. Selain itu, hiperventilasi disebabkan oleh uterus yang membesar sehingga menekan diafragma. Cara mengatasinya: a. Mengatur laju pernafasan dengan baik b. Secara periodik berdiri dan merentangkan lengan diatas kepala serta menarik nafas yang panjang. 5) Garis-garis pada perut atau peregangan pada perut Garis-garis diperut juga muncul pada trimester ke-2 tetapi lebih menonjol pada trimester ke- 3. Hal ini disebabkan karena perubahan hormon dan peregangan. Cara mengatasinya: a. Menjaga kestabilan berat badan b. Merawat kelenturan kulit c. Bagi ibu yang cocok dengan pemakain krim dan bahan pelembab lainya. d. Goresan peregangan pada ibu hamil secara bertahap akan memudar dan menjadi garis keperakan beberapa bulan setelah melahirkan. 6) Gatal-gatal Gatal-gatal terjadi pada ibu hamil disetiap trimester. Gatal-gatal disebabkan karena hipersensitif terhadap antigen plasenta. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan kompres dan mandi siram dengan air sejuk, kemudian gunakan cara madi yang oatmeal. 7) Perut kembung Ibu hamil pada trimester ke-3 sering mengalami perutnya kembung, sehingga ibu merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti itu. Perut kembung sering terjadi karena kemampuan jarak usus berkurang yang mengarah kepada keterlambatan pengosongan usus. Selain itu terjadi juga karena tekanan uterus yang membesar terhadap usus besar. Cara mengatasinya: a. Hindari makanan yang menghasilkan gas b. Mengunyah makanan secara sempurna c. Senam harian secara tertentu
  37. 37. c. Riwayat menstruasi Yang dikaji adalah menarche,siklus haid, lamanya haid, banyaknya,dan adanya dismenorrhoe saat haid. d. Riwayat kehamilan kini Yang dikaji yaitu: 1) HPHT untuk menentukan perkiraan persalinan menurut Naegle dan juga untuk menentukan tuanya kehamilan saat ibu datang apakah preterm ( jika usia kehamilan antara 28-39 minggu), aterm (jika usia kehamilan 38-42 minggu), post term (jika usia kehamilan lebih dari 42 minggu) 2) Keluhan –keluhan umum yang terjadi pada TM I,TM II dan TM III 3) Pergerakan janin 4) Pada primipara biasanya sudah terasa dalam kehamilan 20 minggu dan pada multipara pada usia kehamilan 16 minggu. Pada kehamilan TM III gerak janin normal dalam 24 jam sebanyak 20-24 kali Cara menghitung pergerakan janin: a) menghitung 1 menit penuh b) dengan mendengarkan 3×5 detik, kemudian jumlah bunyi jantung dalam 3×5 derik di kalikan dengan 4. Misalnya: 5 detik 5 detik 5 detik Kesimpulan 11 12 11 Teratur, frekuensi 136 x/i, anak baik 10 14 9 Tidak tertur,frekuensi 132x/i.asphyksia 8 7 8 Teratur, frekuensi 92x/I,asphyksia 5) Keluhan-keluhan yang pernah dirasakan Pengkajian ini bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan adanya tanda –tanda bahaya pada ibu hamil, seperti rasa 5L (lesu, lemah, lelah, letih, lunglai) yang menunjukkan gejala anemia, mual dan muntah yang lama, nyeri perut, sakit kepala berat dan penglihatan kabur kemungkinan gejala empending eklampsia. Pengeluaran cairan pervaginam terutama darah kemungkinan bisa terjadi perdarahan antepartum atau terjadi abortus bisa terjadi solusio plasenta pada kehamilan trimester III atau. Rasa nyeri/panas waktu BAK, rasa gatal pada vulva, vagian dan sekitarnya kemungkinan PMS, tegang pada tungkai dan oedema (tromboplebitis). 6) Imunisasi Jika ibu tidak pernah mendapatkan imunisasi TT, maka ia harus mendapatkan imunisasi TT paling sedikit 2 kali selama kehamilan di mulai TM II dan TM III. adapun tujuan imunisasi tersebut adalah untuk menghindari terjadinya tetanus neonaturum. e. Pola makan Tujuan untuk menentukan AKG pada ibu hamil Contoh: menu ibu hamil (menurut ukuran rumah tangga) 1) Nasi 4 x 200 gr (200 gr = 1 piring ukuran sedang) 2) Lauk 2 x 50 gr (50 gr = 1 potong sebesar kotak korek api) 3) Tempe 4 x 250 gr ( 100 gr = 2 potong sebesar kotak korek api) 4) Sayur 3 x 100 gr ( 100 gr = 1 mangkok sedang) 5) Susu 1 x 250 cc ( 250 cc = 1 gelas ukuran sedang) 6) Buahan 2 x 100 gr ( 100 gr = 1 potong papaya ukuran sedang) Perubahan pola makan yang dialami (termasuk ngidam, nafsu makan dan lain-lain). Pada TM III biasanya ibu mengalami peningkatan kebutuhan asupan nutrisi yang berguna untuk kesehatn ibu dan bayi.
  38. 38. f. Pola eliminasi 1) BAB Pada kehamilan TM III biasanya ibu hamil mengalami gangguan pencernaan seperti konstipasi. Hal ini dapat dicegah dengan meningkatkan konsumsi makanan yang berserat tinggi dan minum air minimal 6-8 gelas sehari. BAB normal yaitu minimal sekali sehari 2) BAK Pada kehamilan TM III, terjadi penekanan pada vesika urinaria oleh kepala janin sehingga frekuensi BAK ibu hamil meningkat. Namun, hal ini merupakan sesuatu yang fisiologis. g. Riwayat kehamilan ,persalinan dan nifas yang lalu 1) Fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang lalu minimal 2 tahun 2) Usia kehamilan aterm adalah 37 – 40 minggu 3) Jenis persalinan bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik 4) Komplikasi ibu dan bayi bertujuan untuk menentukan komplikasi yang mungkin terjadi pada persalinan berikutnya 5) Nifas yang lalu kemungkinan keadaan involusi uterus, lochea. Laktasi berjalan dengan normal atau disertai komplikasi 6) Keadaan anak apakah masih hidup sampai sekarang h. Riwayat kontrasepsi Kemungkinan klien pernah menggunakan kontrasepsi atau tidak. i. Riwayat kesehatan ibu 1) Riwayat kesehatan yang lalu Kemungkinan klien pernah menderita penyakit jantung, hipertensi, DM, dan pernah mengalami operasi dinding rahim . adanya riwayat alergi, riwayat transfuse darah dan riwayat kelainan jiwa 2) Riwayat kesehatan sekarang Kemungkinan klien sedang menderita penyakit jantung, DM, TBC, PMS dan penyakit lainnya. j. Riwayat kesehatan keluarga Untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit keturunan, penyakit menular seksual dan riwayat kehamilan kembar, karena hamil kembar sering bersifat menurun. k. Keadaan social , ekonomi dan spiritual Kemungkinan hubungan dengan keluarga, tetangga dan masyarakat , setelah kawin berapa lama baru hamil untuk melihat kemungkinan tingkatkesuburan klien, kemungkinan ekonomi yang kurang mencukupi dan kegiatan spiritual yang dilakukan apakah mengganggu kehamilan ibu. l. Aktivitas sehari-hari 1) Pekerjaan Ketidaknyamanan fisik yang di alami oleh ibu hamil TM III berhubungan dengan pengaruh – pengaruh hormon kehamilan sehingga ibu dianjurkan mengurangi aktifitas kerjanya. 2) Seksualitas Koitus di anjurkan untuk di hentikan pada 3-4 minggu menjelang persalinan, karena

×