BAB II
KAJIAN PUSTAKA, PENELITIAN RELEVAN, KERANGKA
BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A.

Kajian Pustaka
1. Motivasi Bela...
11

Motivasi adalah proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan
mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Ada bany...
12

daripada siswa yang termotivasi secara eksternal. Pelajar yang mandiri dengan
sadar merencanakan dan memantau pembelaj...
13

pembelajaran perilaku oleh Skinner (1953) bahwa motivasi adalah
konsekuensi dari penguatan. Nilai tindakan penguatan t...
14

yang mandiri tampil lebih baik daripada siswa yang termotivasi secara eksternal.
Pelajar yang mandiri dengan sadar mer...
15

Ada beberapa peran motivasi yang penting dalam pembelajaran.
Menurut Iskandar (2009: 1982), beberapa peran motivasi di...
16

Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran yang
dipelajarinya. Jadi motivasi akan senanti...
17

haras dikerjakan guna mencapai tujuan. Contoh: Untuk menghadapi ujian
siswa (peserta didik) supaya lulus dan mendapat ...
18

bakar yang dapat menggerakkan mesin. Motivasi yang baik dan memadai dapat mendorong
siswa menjadi lebih aktif dalam be...
19

Motivasi dan pembelajaran adalah dua hal yang saling mempengaruhi.
pembelajaran adalah kegiatan yang mengubah tingkah ...
20

motivator siswa agar memiliki semangat dan kemauan untuk belajar yang lebih
aktif, kreatif, dan inovatif. Selama kegia...
21

Tentunya pujian yang bersifat membangun, (5) Hukuman. Hukuman diberikan
kepada siswa yang berbuat kesalahan saat prose...
22

Menurut Rohani (2004: 19) lingkungan belajar didefinisikan sebagai
segala sesuatu yang dapat mendukung pembelajaran it...
23

kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor
yang berperan penting dalam belajar seorang s...
24

penting. Selanjutnya Hamalik (2002: 196) menjelaskan bahwa lingkungan
yang mendukung proses belajar dikategorikan ke d...
25

sedang belajar memecahkan soal akan terganggu bila ada orang lain yang
mundar-mandir di dekatnya atau keluar masuk kam...
26

imajinasi. Selanjutnya Slavin (2009: 154) menjelaskan bahwa manajemen
ruang kelas adalah metode yang digunakan untuk m...
27

karakteristik seperti tinggi dan besar badan, nada suara, roman muka, gerakgerik, dan lain-lain. Sedangkan karakterist...
28

kelas, maka akan memungkinkan terjadinya kegaduhan, konflik atau
pertentangan yang berarti memerlukan tindakan pengelo...
29

Lingkungan belajar pada hakekatnya adalah melakukan pengelolaan
lingkungan belajar. Menurut Rianto (2007: 1) bahwa pen...
30

dengan baik tanpa adanya dukungan dari perlatan yang memadai. Dalam
proses belajar dan mengajar, semakin lengkap peral...
31

sorang siswa harus dapat mengatur waktu belajarnya sendiri dengan
cermat. Dalam pengaturan waktu belajar, seorang haru...
32

sekolah. Lingkungan sosial ini berfungsi untuk menciptkan suasana belajar
yang aman, nyaman, dan kondusif. Suasana kel...
33

mendukung belajar, menjadikan siswa berkata bahwa belajar itu segar, hidup,
dan penuh semangat. Dari cara menempel pst...
34

perilaku yang baik dan juga dapat memperlihatkan teladan yang baik
khususnya dalam hal belajar seperti misalnya rajin ...
35

bagi seorang anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwanto (2004: 141)yang
mengatakan bahwa keluarga merupakan lingkun...
36

tidak mendukung belajar siswa. Untuk mendukung belajar siswa, perlu
diciptakan suasana rumah yang, rapi, tenang dan te...
37

hubungan anak dengan anak, bahan pelajaran yang terlalu tinggi, alat-alat
belajar di sekolah, jam-jam pelajaran yang k...
38

pendidikan. Karena begitu pentingnya arti belajar, maka belajarpun diarahkan
pada tercapainya pemahaman yang lebih lua...
39

tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana
proses belajar itu berlangsung.
Whittaker dalam...
40

individu dan lingkungannya, sehingga mereka lebih mampu berinteraksi
dengan lingkungannya. Suatu proses belajar dilaku...
41

perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan kondisional, (2) perubahan yang
terjadi secara sadar, (3) perubahan dala...
42

Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan
pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang dis...
43

Konstruktivis percaya bahwa “pembelajar mengonstruksi realitasnya
sendiri atau paling tidak menafsirkannya berdasarkan...
44

Menurut Hamalik (2002: 32-33) bahwa belajar yang efektif sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor kondisional yang ada. F...
45

5)

Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman
belajar antara yang lama dengan yang baru,...
46

akan dipelajari dirasakan bermakna bagi dirinya.
Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang
baik maka belajar juga ...
47

Dari pendapat para ahli di atas dapat pahami bahwa belajar adalah
merupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang dilakuk...
48

keterampilan kognitif; (2) ketampilan untuk bertindak atau keterampilan
motorik; (3) keterampilan bereaksi atau bersik...
49

Sudjana

(2002:

34)

berpendapat

bahwa

hasil

belajar

adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia m...
50

Triyuni (2009: 117) Hasil belajar merupakan salah satu ukuran keberhasilan
pencapaian tujuan pembelajaran. Hasil belaj...
51

Mengacu pada beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar adalah perubahan perilaku dalam arti d...
52

Banyak faktor yang mempengaruhi dalam aspek psikologis yang
dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan penget...
53

diiringi dengan kebencian terhadap lingkungan sekitarnya, maka
dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa tersebut...
54

e). Motivasi siswa, pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal
organisme, baik manusia ataupun hewan yang mendo...
55

c.

Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial
Hakikat IPS, adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia

sebagai makhluk s...
56

peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang
demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga...
57

didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada
bidang ilmu yang berkaitan .
Mata pelajaran IPS di j...
58

dan kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan
negara.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasiona...
59

merupakan mata pelajaran yang berorientasi tidak hanya pengembangan
intelektual, tetapi juga sikap dan ketrampilan.
IP...
60

kehidupannya, mulai dari tingkat SD sampai SMA, atau membekali dan
mempersiapkan peserta didik untuk dapat melanjutkan...
61

Penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang
dilakukan oleh Yuliana tahun 2011 yang berju...
62

korelasi seperti ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0,339 dan koefisien
determinasi sebesar 0,115 yang berart...
63

diri yang dimiliki dapat mendorong seorang siswa untuk menyelesaikan segala
sesuatu yang berkaitan dengan tugas yang d...
64

Dengan demikian diduga bahwa terdapat hubungan yang positif antara
kepercayaan diri siswa dengan motivasi berlajar. Se...
65

siswa dengan staf administrasi sekolah. Dengan adanya penataan lingkungan
belajar yang baik diharapkan proses belajar ...
66

3.

Hubungan antara Motivasi Belajar dan Lingkungan Belajar
secara Bersama-sama dengan Hasil Belajar
Seperti telah dik...
67

dalam lingkungan yang kondusif seperti penataan ruang belajar yang baik,
ketersediaan udara yang segar, hubungan komun...
68

kepercayaan diri siswa dan semakin tidak kondusif lingkungan belajar maka
makin rendah motivasi belajar siswa.

C. Hip...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Bab ii SMA NEGERI 1 RAHA

1,691

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,691
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
38
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Bab ii SMA NEGERI 1 RAHA "

  1. 1. BAB II KAJIAN PUSTAKA, PENELITIAN RELEVAN, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka 1. Motivasi Belajar a. Pengertian Motivasi Motivasi berpangkal dari kata motif, yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan (Fathurrohman dan Sutikno, 2007: 19). Motivasi diistilahkan sebagai ungkapan tingkah laku yang giat dan diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Sukadi, (2007: 37) mengungkapkan bahwa motivasi adalah keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Sejalan pendapat di atas Sutikno (2007: 137) mengemukakan motivasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk bergerak, baik disadari maupun tidak disadari. Lebih lanjut Sutikno (2007: 138) menyatakan bahwa ada tiga komponen utama dalam motivasi, yaitu (1) kebutuhan, (2) dorongan, dan (3) tujuan.
  2. 2. 11 Motivasi adalah proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Ada banyak jenis, intensitas, tujuan, dan arah motivasi yang berbeda-beda. Motivasi untuk belajar sangat berperan penting bagi siswa dan guru, (Slavin, 2009: 144). Dalam teori pembelajaran perilaku oleh Skinner, motivasi adalah konsekuensi dari penguatan. Namun, nilai tindakan penguatan bergantung pada banyak faktor, dan kekuatan motivasi mungkin saja berbeda dalam siswa yang berbeda. Dalam teori kebutuhan manusia Maslow, yang didasarkan pada hierarki kebutuhan, orang harus memuaskan kebutuhan tingkat yang lebih rendah (kekurangan) mereka sebelum mereka nanti termotivasi untuk mencoba memuaskan kebutuhan tingkat yang lebih tinggi (pertumbuhan) mereka. Konsep Maslow tentang kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan tertinggi, didetinisikan sebagai keinginan untuk menjadi apa saja yang sanggup dicapai seseorang. Teori atribusi berupaya memahami penjelasan orang tentang keberhasilan atau kegagalan mereka. Asumsi intinya ialah bahwa orang akan mencoba mempertahankan citra diri yang positif; sehingga ketika terjadi hal-hal yang baik, orang menghubungkannya dengan kemampuan mereka sendiri, sedangkan mereka cenderung menghubungkan peristiwa yang negatif dengan faktor di luar kendali mereka. Lokasi kendali dapat bersifat internal (keberhasilan atau kegagalan terjadi karena upaya atau kemampuan pribadi) atau eksternal (keberhasilan atau kegagalan terjadi karena keberuntungan atau kesulitan tugas). Siswa yang merupakan pelajar yang mandiri tampil lebih baik
  3. 3. 12 daripada siswa yang termotivasi secara eksternal. Pelajar yang mandiri dengan sadar merencanakan dan memantau pembelajaran mereka dan dengan demikian, mengingat lebih banyak. Teori pcngharapan berpendapat bahwa motivasi seseorang untuk mencapai sesuatu bergantung pada produk perkiraan orang itu tentang peluang kcberhasilannya dan nilai yang diaberikan pada keberhasilan. Motivasi seharusnya berada pada tingkat maksimum pada tingkat probabilitas keberhasilan sedang. Implikasi motivasi dalam pendidikan adalah bahwa tugas pembelajaran seharusnya tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sulit. Menurut Hamalik, (2008: 173) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi terdiri dari dua macam, yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal adalah motivasi yang datang dari dalam diri individu, sedangkan motivasi eksternal adalah motivasi yang timbul akibat adanya dorongan dari luar individu (Sukadi, 2007: 37). Motivasi adalah proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Ada banyak jenis, intensitas, tujuan, dan arah motivasi yang berbeda-beda. Motivasi untuk belajar sangat berperan penting bagi siswa dan guru (Slavin, 2006: 144). Dalam teori
  4. 4. 13 pembelajaran perilaku oleh Skinner (1953) bahwa motivasi adalah konsekuensi dari penguatan. Nilai tindakan penguatan tergantung pada banyak faktor, dan kekuatan motivasi dapat berbeda bentuknya untuk siswa yang berbeda (Smith, 2009: 77). Teori motivasi yang paling populer adalah teori hierarki kebutuhan manusia yang dikemukakan oleh Maslow (1954). Teori tersebut menyatakan bahwa orang harus memuaskan kebutuhan tingkat yang lebih rendah tingkatannya sebelum mereka termotivasi untuk mencoba memuaskan kebutuhan tingkat yang lebih tinggi (pertumbuhan). Dalam teori Maslow tentang kebutuhan manusia, dijelaskan bahwa aktualisasi diri merupakan kebutuhan tertinggi yang didefinisikan sebagai keinginan manusia untuk menjadi apa saja yang sanggup dicapai oleh seseorang (Maslow, 1970: 35 dan 46). Teori atribusi berupaya memahami penjelasan orang tentang keberhasilan atau kegagalan mereka. Asumsi intinya ialah bahwa orang akan mencoba mempertahankan citra diri yang positif; sehingga ketika menghubungkannya dengan kemampuan terjadi mereka hal-hal yang baik, sendiri, sedangkan orang mereka cenderung menghubungkan peristiwa yang negatif dengan faktor di luar kendali mereka. Lokasi kendali dapat bersifat internal (keberhasilan atau kegagalan terjadi karena upaya atau kemampuan pribadi) atau eksternal (keberhasilan atau kegagalan terjadi karena keberuntungan atau kesulitan tugas). Siswa yang merupakan pelajar
  5. 5. 14 yang mandiri tampil lebih baik daripada siswa yang termotivasi secara eksternal. Pelajar yang mandiri dengan sadar merencanakan dan memantau pembelajaran mereka dan dengan demikian, mengingat lebih banyak (Salavin, 2009: 144). Teori pengharapan berpendapat bahwa motivasi seseorang untuk mencapai sesuatu bergantung pada produk perkiraan orang itu tentang peluang kcberhasilannya dan nilai yang diaberikan pada keberhasilan. Motivasi seharusnya berada pada tingkat maksimum pada tingkat probabilitas keberhasilan sedang. Implikasi motivasi dalam pendidikan adalah bahwa tugas pembelajaran seharusnya tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sulit (Handoko, 2003: 263). Motivasi berhubungan dengan: (a) arah perilaku; (b) kekuatan respons (yakni usaha) setelah belajar siswa memilih mengikuti tindakan tertentu, dan; (c) ketahanan perilaku, atau seberapa lama seseorang itu terus menerus berperilaku menurut cara tertentu (Yamin, 2006: 154). b. Motivasi Belajar Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal yang terjadi pada diri siswa yang sedang belajar. Beberapa indikator motivasi belajar bagi siswa menurut Uno (2007: 23) adalah (a) adanya hasrat dan keinginan berhasil; (b) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar; (c) adanya harapan dan cita-cita masa depan; (d) adanya penghargaan dalam belajar; (e) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar; (f) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan efektif dan efisien. Dalam proses pembelajaran motivasi berhubungan dengan kebutuhan untuk belajar. Teori behaviorisme menjelaskan motivasi sebagai fungsi rangsangan (stimulus) dan respon, sedangkan apabila dikaji menggunakan teori kognitif, motivasi merupakan fungsi dinamika psikologis yang lebih rumit, melibatkan kerangka berpikir siswa terhadap aspek perilaku.
  6. 6. 15 Ada beberapa peran motivasi yang penting dalam pembelajaran. Menurut Iskandar (2009: 1982), beberapa peran motivasi diantaranya adalah: 1. Peran motivasi dalam penguatan belajar. Peran motivasi dalam hal ini dihadapkan pada suatu kasus yang memerlukan pemecahan masalah. Misalnya seorang siswa yang kesulitan dalam menjawab soal matematika akhirnya dapat memecahkan soal matematika dengan bantuan rumus matematika. 2. Usaha untuk memberi bantuan dengan rumus matematika dapat menimbulkan penguatan belajar. Motivasi ini dapat menentukan hal-hal apa yang di lingkungan siswa yang dapat memperkuat perbuatan belajar. Untuk itu seorang guru perlu memahami suasana lingkungan belajar siswa sebagai bahan penguat belajar. 3. Peran Motivasi dalam memperjelas Tujuan Belajar. Peran ini berkaitan dengan kemaknaan belajar yaitu siswa akan tertarik untuk belajar jika yang dipelajarinya sedikitnya sudah bisa diketahui manfaatnya bagi siswa . 4. Peran Motivasi menentukan Ketekunan dalam Belajar. Seseorang yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajari sesuatu dengan baik dan tekun, dan berharap memperoleh hasil yang baik. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Menurut Sardiman (2006: 84) kegiatan belajar sangat memerlukan motivasi. Motivation is an assential condtion of learning. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi.
  7. 7. 16 Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran yang dipelajarinya. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa (peserta didik). Motivasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kagiatan siswaan, tidak ada kegiatan pemebelajaran tanpa motivasi, oleh karena itu motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam mencapai tujuan atau hasil dari pemebelajaran. Menurut Iskandar (2009: 192-193) bahwa peranan motivasi dalam pemebelajaran adalah: 1) Peran motivasi sebagai motor penggerak atau pendorong Kegiatan Siswaan. Motivasi dalam hal ini berperan sebagai motor penggerak utama bagi siswa untuk belajar, baik berasal dari dalam dirinya (internal) maupun dari luar diri (eksternal) untuk melakukan proses pemebelajaran. 2) Peran motivasi memperjelaskan tujuan siswaan. Motivasi bertalian dengan suatu tujuan, tanpa ada tujuan maka tidak akan ada motivasi seseorang. Oleh sebab itu, motivasi sangat berperan penting dalam mencapai hasil pemebelajaran siswa (peserta didik) menjadi optimal. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan bagi siswa (peserta didik) yang harus dikerjakan sesuai dengan tujuan tersebut. 3) Peran motivasi menyeleksi arah perbuatan. Di sini motivasi dapat berperan menyeleksi arah perbuatan bagi siswa (peserta didik) apa yang
  8. 8. 17 haras dikerjakan guna mencapai tujuan. Contoh: Untuk menghadapi ujian siswa (peserta didik) supaya lulus dan mendapat hasil yang baik, maka siswa (pesertas didik) harus mempu menyisihkan waktu yang optimal untuk kegiatan belajar dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk menontonTV, mebaca novel, bermain, karena tidak sesuai dengan tujuan. 4) Peran motivasi internal dan eksternal dalam pemebelajaran. Dalam kegiatan siswaan, motivasi internal biasanya muncul dari dalam diri siswa (peserta didik) sedangkan motivasi eksternal siswa dalam pemebelajaran umumnya di dapat dari guru (pendidik). Jadi dua motivasi ini harus disinergikan dalam kegiatan pemebelajaran, apabila siswa (peserta didik) ingin meraih hasil yang baik. 5) Peranmotivasimenentukanketekunandalampemebelajaran. Seorang siswa (peserta didik) yang telah termotivasi untuk belajar, tentu dia akan berusaha seoptimal mungkin untuk belajar dengan tekun. Dengan harapan mendapat hasil yang baik dan lulus. Peran motivasi melahirkan prestasi. Motivasi sangat berperan dalam pemebelajaran siswa (peserta didik) dalam meraih prestasi belajar. Tinggi rendahnya prestasi seseorang siswa (peserta didik) selalu dihubungkan tinggi rendahnya motivasi pemebelajar seseorang siswa tersebut. Dalam proses pembelajaran, peran motivasi motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan
  9. 9. 18 bakar yang dapat menggerakkan mesin. Motivasi yang baik dan memadai dapat mendorong siswa menjadi lebih aktif dalam belajar dan dapat meningkatkan prestasi belajar di kelas. Guru memiliki peranan penting dalam menumbuhkan motivasi belajar peserta didiknya melalui berbagai aktivitas belajar yang didasarkan pada pengalaman dan kemampuan guru kepada siswa secara individual. Selain guru orang tua juga sangat berperan aktif dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa di rumahnya. Menurut Djamarah (2002: 114) bahwa dalam proses belajar motivasi sangat diperlukan. Indikator seseorang yang memiliki motivasi belajar adalah: (a) tekun dalam belajar, (b) ulet menghadapi kesulitan, (c) perhatian dalam belajar, (d) berprestasi dalam belajar, dan (e) mandiri dalam belajar. Slavin (2009: 106) mengemukakan bahwa konsep motivasi berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang telah diperkuat pada masa lalu mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk diulangi dibanding perilaku yang belum diperkuat atau bahkan telah diberikan hukuman. Sejalan pendapat di atas Fathurrohman dan Sutikno (2007: 18) menyatakan bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar adalah siswa yang tekun dalam belajar, memiliki perhatian dalam belajar, ulet menghadapi kesulitan, berprestasi dalam belajar, dan mandiri dalam belajar. Motivasi belajar mempunyai peranan penting dalam me mberi rangsangan, semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan proses belajar (Iskandar, 2009: 191).
  10. 10. 19 Motivasi dan pembelajaran adalah dua hal yang saling mempengaruhi. pembelajaran adalah kegiatan yang mengubah tingkah laku melalui latihan dan pengalaman sehingga menjadi lebih baik sebagai hasil dari penguatan yang dilandasi untuk mencapai tujuan. Motivasi merupakan salah satu determinan penting dalam proses pembelajaran, seseoarang siswa yang tidak mempunyai motivasi untuk belajar, maka tidak akan mungkin aktivitas belajar terlaksana dengan baik, sedang bagi guru apabila tidak mempunyai motivasi untuk mengajakan ilmunya kepada siswa juga tidak akan ada proses pembelajaran (Iskandar, 2009: 180-181). Motivasi belajar bisa timbul karena faktor instrinsik atau faktor dari dalam diri manusia yang disebabkan oleh dorongan atan keinginan akan kebutuhan belajar, harapan, dan cita-cita (Slavin, 2009: 115). Faktor ekstrinsik juga mempengaruhi motivasi belajar. Faktor ekstrinsik berupa adanya penghargaan, dan lingkungan belajar yang menyenangkan. Guru memiliki peranan penting dalam menumbuhkan motivasi belajar peserta didiknya melalui berbagai aktivitas belajar yang didasarkan pada pengalaman dan kemampuan guru kepada siswa secara individual. Selain guru orang tua juga sangat berperan aktif dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa di rumahnya (Slavin, 2009: 145). Salah satu tugas pokok yang melekat pada diri seseorang guru adalah sebagai motivator bagi siswa agar memilki semangat dan kemauan untuk lebih giat dalam belajar. Sosok seorang guru di depan kelas adalah sebagai
  11. 11. 20 motivator siswa agar memiliki semangat dan kemauan untuk belajar yang lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Selama kegiatan belajar di kelas, fak tor motivasi memegang peranan yang besar untuk menjaga kelangsungan pembelajaran siswa di kelas dalam tingkat kesungguhan dan ketekunan belajar yang tinggi di kelas. Ada dua motivasi yang dapat timbul pada diri siswa yaitu; motivasi yang tumbuh dari kesadaran pribadi utnuk melakukan sesuatu yang didorong oleh keinginan, cita-cita, harapan, dan adapula motivasi yang muncul dari luar diri siswa (motivasi eksternal). Tugas seorang guru sebagai motivator untuk mendorong, menggerakkan supaya siswa melakukan atau tidak melakukan sesuatu untuk tercapainya tujuan pembelajaran di kelas. Hal-hal yang perlu dilakukan guru dalam membangkitkan motivasi siswa belajar di kelas menurut (Iskandar, 2009: 190-191) adalah: (1) Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa. Pada awal pembelajaran seharusnya guru terlebih dahulu menjelaskan mengenai tujuan pembelajaran yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar motivasi siswa dalam belajar, (2) Hadiah (Reward). Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Pemberian hadia untuk siswa yang berprestasi akan memacu semangat mereka untuk belajar lebih giat. Pemberian hadia untuk siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi, (3) Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya, (4) Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.
  12. 12. 21 Tentunya pujian yang bersifat membangun, (5) Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses pembelajaran. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya, (6) Membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke siswa, (7) Membentuk kebiasaan belajar yang baik, (8) Membantu kesulitan belajar siswa secara individual maupun kelompok, (9) Menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, dan (10) Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan belajar Menurut Reid, (2007: 20) ada beberapa hal membuat siswa termotivasi dalam belajar yaitu: (1) karena tugas, (2) karena penghargaan, (3) pengaruh kelompok teman sebaya, (4) karena umpan balik, (5) karena pencapaian prestasi, (6) karena lingkungan, dan (7) karena sekolah. Dengan demikian maka yang dimaksud dengan motivasi belajar dalam penelitian ini adalah dorongan internal yang terjadi pada diri seorang siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, yang ditunjukkan oleh beberapa indikator motivasi belajar siswa yaitu; (a) ada keinginan untuk berhasil, (b) tekun dalam belajar, (c) ulet menghadapi kesulitan belajar, (d) perhatian dalam belajar, (e) berpretsai dalam belajar, dan (f) mandiri dalam belajar. 2. Lingkungan Belajar
  13. 13. 22 Menurut Rohani (2004: 19) lingkungan belajar didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat mendukung pembelajaran itu sendiri yang dapat difungsikan sebagai sumber pembelajaran atau sumber belajar. Yang dimaksud dengan lingkungan belajar siswa dalam penelitian ini adalah lingkungan belajar siswa di rumah atau tempat tinggal siswa dan lingkungan belajar siswa di sekolah. Ahiri (2008: 122) mengemukakan bahwa lingkungan adalah kondisi yang diciptakan oleh pola hubungan antara pribadi dalam lingkungan tersebut. Sedangkan Hodgetts dan Kuratko dalam Ahiri (2008: 122) mengemukakan bahwa sulit untuk mendefinisikan secara jelas istilah lingkungan. Hal ini disebabkan terlalu banyak unsur-unsur dalam kondisi yang mempengaruhi lingkungan. Namun demikian, ada empat unsur utama yang berperan dalam pembentukan kondisi lingkungan, yaitu: (1) pengambilan keputusan praktis oleh pimpinan, (2) arus komunikasi antara pribadi, (3) motivasi berprestasi, dan (4) perhatian terhadap tugas. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan atau pengaruh tertentu kepada individu” (Hamalik, 2002: 195). Sementra itu menurut Rohani (2004: 19) lingkungan belajar didefinisikan sebagai ”segala sesuatu yang dapat mendukung pembelajaran itu sendiri yang dapat difungsikan sebagai sumber pembelajaran atau sumber belajar”. Hal ini mempunyai arti bahwa lingkungan sebagai komponen pembelajaran faktor
  14. 14. 23 kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor yang berperan penting dalam belajar seorang siswa. Hamalik (2002: 28) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Sementara itu inti dari belajar adalah pengalaman dan pengalaman ini diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial. Dengan demikian, berdasarkan definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa lingkungan belajar adalah segala sesuatu yang berada di luar diri siswa yang dapat mendukungnya dalam proses belajar. Menurut Hamalik (2002: 195) lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna atau pengruh tertentu kepada individu. Proses pendidikan selalu berlangsung dalam lingkungan tertentu. Lingkungan tersebut mencakup lingkungan fisik, dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia, yang merupakan tempat pendidikan dan sekaligus merupakan pengdukung bagi berlangsungnya proses pendidikan. Sedangkan lingkungan sosial merupakan lingkungan pergaulan antar manusia, pergaulan antar pendidik serta orang lain yang terlibat dalam interaksi pendidikan. Lingkungan sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang
  15. 15. 24 penting. Selanjutnya Hamalik (2002: 196) menjelaskan bahwa lingkungan yang mendukung proses belajar dikategorikan ke dalam empat kategori yaitu: (1) lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat baik kelompok besar maupun kelompok kecil, (2) lingkungan personal adalah lingkungan individu sebagai pribadi yang berpengaruh terhadap pribadi atau individu lain, (3) lingkungan alam (fisik) adalah semua sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar, dan (4) lingkungan kultural yang merupakan hasil budaya dan teknologi yang dapat dijadikan sumber belajar dan dapat menjadi faktor npendukung pembelajarans, dalam hal ini termasuk sistem nilai, norma, dan adat kebiasaanl. Bloom dalam Tarmidi (2006: 2) mendefinisikan lingkungan dengan kondisi, pengaruh dan rangsangan dari luar yang meliputi pengaruh fisik, sosial, dan intelektual yang mempengaruhi peserta didik. Faktor lingkungan dapat dikelompokan atas lingkungan alami atau lingkungan fisik, dan lingkungan sosial. Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembaban udara berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Belajar pada keadaan udara yang segar akan lebih baik hasilnya dari pada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap (Depdiknas, 2003: 73). Lingkungan sosial, yang berwujud manusia dan representasinya berpengaruh langsung terhadap proses dan hasil belajar. Seseorang yang
  16. 16. 25 sedang belajar memecahkan soal akan terganggu bila ada orang lain yang mundar-mandir di dekatnya atau keluar masuk kamarnya, atau bercakap-cakap didekat tempat belajarnya. Representase manusia seperti potret, tulisan, rekaman suara juga berpengaruh. Lingkungan sosial yang lain seperti suara mesin pabrik, hiruk pikuk lalu lintas, juga berpengaruh terhadap proses belajar. Inilah antara lain alasannya mengapa gedung sekolah didirikan di tempat yang jauh dari pabrik atau tempat kerja dan jauh dari keributan lalu lintas Menurut Suparno, dkk., (2005: 33) Belajar akan berlangsung secara efektif dalam situasi kelas yang kondusif, artinya kelas, ruangan tempat pembelajaran berlansung harus bersih, nyaman, tenang, serta penuh dengan rasa saling mempercayai, sehingga menimbulkan rasa anam bagi yang belajar. Dalam kondisi belajar seperti itu, siswa akan tertantang untuk bertanya dan mengerjakan tugas, mengungkapkan pendapat atau mengajukan pendapat, serta menanggapi persalahan karena mereka merasa aman dan nyaman, tidak takut berbuat salah. Slavin (2009: 154) mengemukakan bahwa strategi untuk menyediakan lingkungan pembelajaran yang efektif tidak hanya meliputi mencegah dan menanggapi perilaku yang buruk tetapi juga menyangkut penggunaan waktu di kelas secara baik, menciptakan atmosfer yang kondusif bagi minat belajar, dan membolehkan siswa melakukan kegiatan belajar yang melibatkan pikiran dan
  17. 17. 26 imajinasi. Selanjutnya Slavin (2009: 154) menjelaskan bahwa manajemen ruang kelas adalah metode yang digunakan untuk mengorganisasi kegiatan belajar di kelas, pengajaran, struktur fisik, dan menggunakan waktu dengan efektif, menciptakan lingkungan pembelajaran yang bahagia dan produktif, dan meminimalkan masalah perilaku dan gangguan lain. Sedangkan disiplin adalah metode yang digunakan untuk mencegah masalah perilaku terjadi atau menanggapi masalah perilaku dengan maksud mengurangi kejadianya pada masa yang akan datang. Menurut Sukmadinata (2004: 5) bahwa proses pendidikan selalu berlangsung dalam lingkungan tertentu. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, sosial, intelektual, dan nilai-nilai. Lingkungan fisik terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia yang merupakan tempat dan sekaligus memberikan dukungan bagi berlangsungnya proses pendidikan. Lingkungan sosial merupakan lingkungan pergaulan antar manusia, pergaulan antar pendidik serta orang-orang lainnya yang terlibat dalam interaksi pendidikan. Interaksi pendidikan dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dan corak pergaulan antara orang-orang yang terlibat dalam interaksi tersebut, baik pihak peserta didik maupun guru dan pihak lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa tiap orang memiliki karakteristik pribadi masing-masing, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok. Karakteristik ini meliputi
  18. 18. 27 karakteristik seperti tinggi dan besar badan, nada suara, roman muka, gerakgerik, dan lain-lain. Sedangkan karakteristik psikis seperti sifat sabar, pemarah (temperamen), sifat jujur, setia (watak), kemampuan intelektual, seperti jenius, cerdas, bodoh, serta kemampuan psikomotor seperti cekatan dan terampil. Proses pembelajaran siswa memerlukan sesuatu lingkungan yang memungkinkan siswa berkomunikasi, baik dengan guru, dengan temannya maupun dengan lingkungannya. Sardiman (2006: 147) mengemukakan bahwa untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, selain dipengaruhi oleh komponen-komponen pokok seperti materi, metode yang diterapkan, media yang dipergunakan dan lain-lain, juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya yaitu soal hubungan antara guru dengan siswa. Kelas bukan sekedar ruangan tempat berkumpul siswa-siswa untuk mempelajari sesuatu dari gurunya, tetapi kelas merupakan lingkungan masyarakat kecil yang mencerminkan keadaan masyarakat luas di luar sekolah. Di dalam kelas pada saat yang sama berkumpul sejumlah anak yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, serta perbedaan individu seperti fisik, kematangan psikologis dan emosional, bakat dan intelegensi, kecepatan belajar, sikap pada diri sendiri, sikap kepada orang lain, dan jenis kelamin. Oleh karena itu dengan keberagaman komponen-komponen yang ada di dalam
  19. 19. 28 kelas, maka akan memungkinkan terjadinya kegaduhan, konflik atau pertentangan yang berarti memerlukan tindakan pengelola kelas yang kondusif. Dimensi mengelola kelas menurut Sardiman (2006: 169) meliputi tiga ranah, yaitu: (a) menyediakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya proses pembelajaran, (b) mengatur tata ruang kelas yang memadai, (c) menciptakan iklim belajar yang serasi. Sedangkan menurut Mulyasa (2005: 16) bahwa lingkungan belajar yang kondusif antara lain dapat berkembang melalui berbagai layanan dan kegiatan sebagai berikut : (a) memberikan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pembelajaran, (b) memberikan pembelajaran remedial bagi peserta didik yang kurang berhasil atau berhasil rendah, (c) mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, aman dan nyaman bagi perkembangan potensi seluruh peserta didik secara optimal, (d) menciptakan kerja sama dan saling menghargai, baik antara peserta didik maupun antara peserta didik dengan guru dan pengelola pembelajaran lainnya, (e) melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan belajar dan pembelajaran, (f) mengembangkan proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dengan guru, sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai sumber belajar, dan (g) mengembangkan sistem evaluasi dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri sendiri (self evaluation).
  20. 20. 29 Lingkungan belajar pada hakekatnya adalah melakukan pengelolaan lingkungan belajar. Menurut Rianto (2007: 1) bahwa pengelolaan kelas merupakan upaya guru untuk menciptakan dan mengendalikan kondisi belajar, serta mengendalikannya bia terjadi ganguan dan penyimpangan sehingga proses belajar dapat berlansung optimal. Menurut Walgito (2004: 155) apabila kita berbicara tentang lingkungan belajar, maka kita akan membahas masalah yang berhubungan dengan tempat, alat-alat untuk belajar, suasana, waktu, dan pergaulan. Untuk lebih jelasnya, secara lebih terperinci hal-hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Tempat Tempat belajar yang baik merupakan tempat yang tersendiri, yang tenang, mempunyai warna dinding yang tidak menyolok dan di dalam ruangan tidak terdapat hal-hal yang dapat mengganggu perhatian. Disamping itu juga perlu diperhatikan mengenai suhu, penerangan dan ventilasi udara dengan baik. 2. Alat-alat untuk belajar Dalam proses belajar dan mengajar, peralatan dan perlengkapan belajar merupakan komponen penting yang turut menentukan kualitas pembelajaran. Proses belajar dan mengajar tidak akan dapat berjalan
  21. 21. 30 dengan baik tanpa adanya dukungan dari perlatan yang memadai. Dalam proses belajar dan mengajar, semakin lengkap peralatan yang ada, maka PBM akan dapat berjalan dengan lebih baik. 3. Suasana Suasana belajar disini adalah berbagai elemen atau aspek dalam lingkungan yang ada dalam proses belajar siswa. Suasana disini berkaitan dengan hal atau peristiwa yang sering terjadi di sekitar siswa dalam aktivitas belajarnya. Suasana belajar merupakan salah satu aspek yang dapat mendukung proses belajar siswa. Dengan melihat begitu pentingnya aspek suasana belajar dalam proses belajar siswa, maka perlu diciptakan suasana yang tenang, tenteram dan damai yang dapat mendukung proses belajar siswa baik di sekolah maupun di sekitar tempat tinggalnya. 4. Waktu. Dalam masalah penetapan waktu belajar, hendaknya dapat diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Dalam pelaksanaan proses belajar dan mengajar di sekolah sebaiknya dilakukan pada waktu pagi hari. Hal ini dimaksudkan bahwa diwaktu pagi hari kondisi siswa masih dalam keadaan segar. Masalah waktu belajar yang sering dihadapi oleh siswa adalah waktu yang ada untuk belajar tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu
  22. 22. 31 sorang siswa harus dapat mengatur waktu belajarnya sendiri dengan cermat. Dalam pengaturan waktu belajar, seorang harus dapat mencari dan membagi waktu yang ada dengan adil antara waktu untuk belajar, bermain, aktivitas lain-lain dan juga waktu istirahat. 5. Pergaulan. Pergaulan anak, dalam hal ini adalah dengan siapa anak itu bermain akan berpengaruh terhadap belajar anak. Apabila anak dalam bergaul memilih dengan teman yang baik, maka akan berpengaruh baik terhadap diri anak, dan sebaliknya apabila anak bergaul dengan teman yang kurang baik, maka akan membawa pengaruh yang tidak baik pada diri anak. Saroni (2006: 82-84) mengemukakan bahwa lingkungan belajar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses belajar berlansung. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Kedua lingkungan ini dalam proses belajar harus saling mendukung sehingga siswa merasah betah di sekolah dan mau mengikuti proses belajar sadar, bukan karena tekanan ataupun keterpaksaan. Lingkungan fisik yaitu lingkungan yang ada di sekitar siswa, baik itu di kelas, di sekolah atau di luar sekolah yang dapat dioptimalkan pengelolaannya agar interkasi pembelajaran lebih efektif dan efisien. Lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antar personal yang ada lingkungan
  23. 23. 32 sekolah. Lingkungan sosial ini berfungsi untuk menciptkan suasana belajar yang aman, nyaman, dan kondusif. Suasana kelas yang kondusif dapat mendukung berkembangnya pemikiran siswa. Menurut Mariana (2005: 13) lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi untuk kesuksesan seluruh siswa. Lingkungan tersebut mencakup ruangan fisik tempat berlansungnya belajar, lingkungan sosial, dan lingkungan psikologis siswa dapat mendorongnya untuk belajar. Kelebihan pandangan Mariana dari ahli lainnya adalah adanya lingkungan psikologis, berarti bahwa lingkungan belajar itu tidak cukup jika hanya dilihat dari lingkungan fisik dan sosial, tetapi yang lebih penting adalah lingkungan psikologis, karena walaupun lingkungan fisik tempat belajar sangat memadai dan lingkungan sosial sangat kondusif tetapi jika siswa tidak memiliki motivasi dan minat untuk belajar maka tetapi hasil belajar siswa tidak akan baik. Sebaliknya walaupun lingkungan fisik tidak memadai dan lingkungan sosial kunrang kondusif, tetapi siswa memiliki motivasi dan minat belajar yang tinggi maka hasil belajar siswa akan tinggi. Sidik (2005: 148) mengemukakan bahwa lingkungan belajar yang menarik minat dan menunjang siswa dalam belajar erat kaitannya dengan keadaan lingkungan fisik kelas, pengaturan ruangan, pengelolaan siswa, dan pemanfaatan sumber belajar. Lingkungan belajar yang ditata rapi untuk
  24. 24. 33 mendukung belajar, menjadikan siswa berkata bahwa belajar itu segar, hidup, dan penuh semangat. Dari cara menempel pster di dinding, pengaturan bangku, penyusunan bahan-bahan pembelajaran, sampai pada kebersihan kelas, semua menjadi inspirasi dalam belajar. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan sekolah, dan kegiatan yang berpusat pada siswa merupakan iklim sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa (Slameto, 2003: 64). Lingkungan belajar di sekolah merupakan situasi yang turut serta mempengaruhi kegiatan belajar individu. Hamalik (2002: 195) menyatakan bahwa lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki pengaruih tertentu kepada individu. Lingkungan belajar sebagai faktor eksternal siswa yang mempengaruhi prestasi belajar siswa menurut Syah (2003: 152) dapat digolongkan menjadi dua yaitu: lingkungan sosial dan ligkungan nonsosial. Untuk lebih jelasnya, lingkungan belajar siswa tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Lingkungan Sosial Lingkungan sosial adalah seluruh warga sekolah, baik itu guru, karyawan maupun teman-teman sekelas, semuanya dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Para guru yang dapat menunjukkan sikap dan
  25. 25. 34 perilaku yang baik dan juga dapat memperlihatkan teladan yang baik khususnya dalam hal belajar seperti misalnya rajin membaca, hal tersebut dapat memberikan motivasi yang positif bagi belajar siswa. Demikian halnya apabila teman-teman di sekolah mempunyai sikap dan perilaku yang baik serta memiliki semacam etos belajar yang baik seperti misalnya rajin belajar akan berpengaruh positif terhadap belajar siswa. Lingkungan sosial siswa di rumah antara lain adalah masyarakat, tetangga dan juga teman-teman bergaul siswa di rumah yang mempunyai andil cukup besar dalam mempengaruhi belajar siswa. Keadaan masyarakat yang serba kekurangan, tidak memperhatikan masalah pendidikan dan juga temanteman bergaul siswa yang suka keluyuran, begadang, suka minum-minum apalagi teman lawan jenis yang amoral, pezinah, pemabuk dan lain sebagainya tentu akan menyeret siswa kepada bahaya besar dan kemungkinan besar akan mengganggu proses belajarnya. Jadi apabila siswa dalam bergaul memilih teman yang baik, maka akan berpengaruh baik terhadap belajar siswa, dan sebaliknya apabila siswa memilih bergaul dengan anak yang tidak baik, maka akan membawa dampak yang tidak baik pada dirinya. Lingkungan sosial yang dominan dalam mempengaruhi kegiatan belajar siswa adalah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Hal ini dapat dipahami, karena lingkungan keluarga merupakan lingkungan belajar pertama dan utama
  26. 26. 35 bagi seorang anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwanto (2004: 141)yang mengatakan bahwa keluarga merupakan lingkungan belajar pertama sebelum anak masuk dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Sifat dan sikap orang tua dalam mengelola keluarga (cara mendidik), ketegangan keluarga dan dapat memberi dampak positif maupun negatif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peran keluarga dalam hal ini adalah orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar anak. Orang tua harus berperan aktif dalam mendukung keberhasilan anaknya dengan berusaha semaksimal mungkin memenuhi semua kebutuhan anak dalam belajar. 2. Lingkungan Non-sosial Lingkungan non-sosial siswa yang berpengaruh terhadap belajarnya diantaranya adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal siswa, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar siswa dan juga mass media. Untuk menyelenggarakan pendidikan di sekolah, gedung merupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi oleh sekolah. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka keberadaan gedung sekolah harus diperhatikan dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Rumah dengan kondisi yang sempit dan berantakan serta kondisi perkampungan tempat tingal siswa yang padat, bising dan sebagainya sangat
  27. 27. 36 tidak mendukung belajar siswa. Untuk mendukung belajar siswa, perlu diciptakan suasana rumah yang, rapi, tenang dan tenteram. Suasana tersebut dapat tercipta ketika dalam keluarga terdapat hubungan yang harmonis antara orang tua dengan anak atau anak dengan anggota keluarga yang lain. Dalam susana rumah yang tenang dan tenteram, selain akan kerasan dan betah tinggal di rumah, mereka juga dapat belajar dengan baik dan dapat membantu meraih prestasi belajar yang optimal. Lingkungan belajar yang kondusif, baik lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah akan menciptakan ketenangan dan kenyaman siswa dalam belajar, sehingga siswa akan lebih mudah menguasi materi belajar secara maksimal. Slameto (2003: 72) menyatakan bahwa lingkungan yang baik perlu diusahakan agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap siswa sehingga dapat belajar dengan sebaik-baiknya. Lingkungan pendidikan dibagi menjadi tiga bagian yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat (Sudarmanto, 2007: 3). Menurut Aqib (2002: 65-67)) lingkungan yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan keluarga terdiri dari:orang tua, suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga. Lingkungan sekolah terdiri dari; cara penyajian pelajaran yang tidak menarik, hubungan guru dengan murid,
  28. 28. 37 hubungan anak dengan anak, bahan pelajaran yang terlalu tinggi, alat-alat belajar di sekolah, jam-jam pelajaran yang kurang baik. Lingkungan masyarakat terdiri dari: media massa, teman bergaul, kegiatan dalam masyarakat, dan corak kehidupan tetangga. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar merupakan segala sesuatu baik disengaja maupun tidak disengaja diciptakan untuk mendukung kegiatan belajar yang meliputi kondisi ruang fisik belajar, tata letak ruang belajar, kondisi alat-alat belajar, aturan dan kedisiplinan, suasana tempat belajar, ruang kelas yang aman dan nyaman, hubungan antara siswa dengan siswa, dan hubungan antara siswa dengan guru. 3. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial a. Pengertian Belajar Belajar hakekatnya adalah suatu proses yang diketahui dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar diindikasikan oleh perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan, keterampilan dan kemampuan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada diri individu yang belajar (Trianto, 2009: 7). Salah satu cara untuk mengetahui sesuatu adalah dengan cara belajar. Belajar adalah setiap usaha pendidikan, karena tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada
  29. 29. 38 pendidikan. Karena begitu pentingnya arti belajar, maka belajarpun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dalam mendalami mengenai proses perubahan manusia. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Belajar merupakan suatu proses perubahan yang relatif permanen dalam pengetahuan dan perilaku seseorang yang diakibatkan oleh pengalaman. Pengalaman yang sengaja didesian untuk mengingkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang akan menyebabkan berlansungnya proses belajar (Smith dan Ragan, 2003: 21). Definisi belajar yang dikemukakan oleh Sminth dan Ragan ini mengandung beberapa konsep penting yaitu (1) durasi perubahan perilaku bersifat reletif permanen, (2) perubahan terjadi pada struktur dan isi pengetahuan orang yang belajar, (3) penyebab terjadinya peru bahan pengetahuan dan perilaku adalah pengalaman yang dialami oleh siswa, bukan pertumbuhan atau perkembangan, dan (4) proses belajar dapat berlansung baik dalam situasi formal maupun dalam situasi informal. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi siswa dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu kegiatan belajar merupakan aktivitas yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, hal ini berati bahwa berhasil
  30. 30. 39 tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar itu berlangsung. Whittaker dalam Djamarah (2002: 12) mendefinisikan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi siswa dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu kegiatan belajar merupakan aktivitas yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, hal ini berati bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar itu berlangsung. Menurut Sardiman (2006: 20) bahwa pengertian belajar dapat dilihat secara mikro maupun secara makro. Dalam pengertian luas (makro) belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit (mikro) belajar diartikan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian yang seutuhnya. Dalam belajar juga tercakup segenap aspek tingkah laku yang akan mengarah pada perubahan sebagai hasil belajar. Menurut Usman dan Setiawati (2001: 4) mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu, dalam
  31. 31. 40 individu dan lingkungannya, sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Suatu proses belajar dilakukan baik melalui jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah yang berlangsung terus-menerus dan akan membawa individu ke arah kedewasaan yang pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku untuk dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Menurut Purwanto (2004: 85) bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang tidak baik. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil dari belajar. Menurut Slameto (2003: 8) bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, yang dicapai melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa perubahan yang terjadi dalam diri individu banyak sekali jenisnya karena itu sudah barang tentu tidak semua perubahan dalam diri individu merupakan hasil belajar. Lebih lanjut Slameto (2003:15) menyatakan bahwa ciri-ciri perubahan dalam belajar adalah: (1)
  32. 32. 41 perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan kondisional, (2) perubahan yang terjadi secara sadar, (3) perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, (4) perubahan dalam belajar bersifat permanen, (5) perubahan dalam belajar memiliki tujuan yang terarah, (6) perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. Menuru Trianto (2010: 9) bahwa inti dari belajar adanya perubahan tingkah laku karena adanya suatu pengalaman. Perubahan tingkah laku tersebut dapat berupa perubahan keterampilan, pengetahuan, pemahaman, dan apresiasi. Pengalaman dalam proses belajar adalah bentuk interaksi antara individu dengan lingkungan. Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada indi-vidu yang terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena pertum-buhan atau perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir. Manusia banyak belajar sejak lahir dan bahkan ada yang berpendapat sebelum lahir. Bahwa antara belajar dan perkembangan sangat erat kaitannya. Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja mau-pun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar. Perubahan yang di-maksud adalah perubahan perilaku tetap berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan yang baru diperoleh individu. Sedangkan pengalaman merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sebagai sumber belajarnya. Jadi, belajar di sini diartikan sebagai proses perubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang terampil menjadi lebih terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi ke-biasaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri.
  33. 33. 42 Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil dari belajar. Belajar adalah proses mendapatkan perubahan yang relatif tetap dalam pengertian, sikap, pengetahuan, informasi, kemampuan, dan keterampilan (Good dan Jare, 1990: 213). Menurut teori konstruktivisme bahwa pengetahuan sebagai hasil dari kegiatan belajar adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri, bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Konstruktivisme menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, maka tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari dari pengalaman konkrit, aktifitas kolaboratif dan refleksi dan interpretasi. Seseorang yang belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pengalamannya dan persepektif yang didalam menginterprestasikannya (http://dian75. wordpress.com/ 2010/07/29/).
  34. 34. 43 Konstruktivis percaya bahwa “pembelajar mengonstruksi realitasnya sendiri atau paling tidak menafsirkannya berdasarkan pada persepsi-persepsi pengalaman mereka, sehingga pengetahuan individu menjadi sebuah fungsi dari pengalaman, struktur mental, dan keyakinan-keyakinan seseorang sebelumnyayang digunakan untuk menafsirkan objekdan peristiwa (Good & Brophy, 1990: 258). Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman. Pembelajaran adalah sebuah interpretasi personal terhadap dunia. Pembelajaran adalah sebuah proses aktif yang di dalamnya makna dikembangkan atas dasar pengalaman. Pertumbuhan konseptual datang dari negosiasi makna, pembagian perspektif ganda, dan perubahan bagi representa-si pembelajaran internal kolaboratit. kita Pembelajaran melalui harus disituasikan dalam seting yang realistis; pengujian harus diintegrasikan dengan tugas dan bukan sebuah aktivitas yang terpisah (Sternberg, 1997: 217).
  35. 35. 44 Menurut Hamalik (2002: 32-33) bahwa belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kondisional yang ada. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut. 1) Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan; siswa yang belajar melakukan banyak kegiatan baik kegiatan neural system, seperti melihat, mendengar, merasakan, berpikir, kegiatan motoris, dan sebagainya maupun kegiatankegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, kebiasaan, dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu digunakan secara praktis dan diadakan ulangan secara kontinu di bawah kondisi yang serasi, sehingga penguasaan hasil belajar menjadi lebih mantap. 2) Belajar memerlukan latihan, dengan jalan: relearning, recalling, dan reviewing agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai kembali dan pelajaran yang belum dikuasai akan dapat lebih mudah dipahami. 3) Belajar siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil dan mendapatkan kepuasannya. Belajar hendaknya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. 4) Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya. Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan men-dorong belajar lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan frustrasi.
  36. 36. 45 5) Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman belajar antara yang lama dengan yang baru, secara berurutan diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan pengalaman. 1) Pengalaman masa lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah dimiliki oleh siswa, besar peranannya dalam proses belajar. Pengalaman dan pengertian itu menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan pengertian-pengertian baru. 2) Faktor kesiapan belajar. Murid yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. Faktor kesiapan ini erat hubungannya dengan masalah kematangan, minat, kebutuhan, dan tugas-tugas perkembangan. 3) Faktor minat dan usaha. Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik daripada belajar tanpa minat. Minat ini timbul apabila murid tertarik akan sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang
  37. 37. 46 akan dipelajari dirasakan bermakna bagi dirinya. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar juga sulit untuk berhasil. 4) Faktor-faktor fisiologis. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses belajar. Badan yang lemah, lelah akan menyebabkan perhatian tak mungkin akan melakukan kegiatan belajar yang sempurna. Karena itu faktor fisiologis sangat menentukan berhasil atau tidaknya murid yang belajar. 10) Faktor intelegensi. Murjd yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar, karena ia lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran dan lebih mudah rrtengingat-ingatnya. Anak yang cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan lebih cepat mengambil keputusan. Hal ini berbeda dengan siswa yang kurang cerdas, para siswa yang lamban.
  38. 38. 47 Dari pendapat para ahli di atas dapat pahami bahwa belajar adalah merupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang dilakukan siswa sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya sehingga menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dinyatakan dengan hasil belajar. Perubahan yang dimaksud meliputi aspek kognitif, efektif, maupun psikomotor. b. Hasil Belajar Menurut Jihad dan Haris (2008: 14) bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegaitan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional. Bloom (1975) dalam Jihad dan Haris (2008: 14-15) berpendapat bahwa hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat kategori yaitu (1) pengetahuan tentang fakta; (2) pengetahuan tentang prosedural; (3) pengetahuan tentang konsep; dan (4) pengetahuan tentang prinsip. Sedangkan keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu (1) keterampilan untuk berpikir atau
  39. 39. 48 keterampilan kognitif; (2) ketampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik; (3) keterampilan bereaksi atau bersikap; dan (4) keterampilan berinteraksi. Putra (2009: 172) bahwa hasil belajar adalah hasil usaha yang diperoleh siswa melalui proses belajar berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, yang diukur melalui tes. Hasil belajar diperoleh dengan cara melakukan evaluasi atau penilaian yang merupakan tindak lanjut atau cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran. Kemajuan hasil belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan demikian penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Menurut Hamalik (200 2: 28) bahwa hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan sikap-sikap, serta apersepsi dan abilitas. Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah dilakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pengajaran. Setelah melalui pembelajaran, maka siswa diharapkan dapat mencapai tujuan belajar yang disebut sebagai hasil belajar yaitu kemampuan yang dimiliki siswa setelah menjalani proses belajar.
  40. 40. 49 Sudjana (2002: 34) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa (Hamalik, 2002: 37). Menurut Chaplin dalam Susanto (2001: 19) bahwa hasil belajar adalah hasil karya akademis yang dinilai oleh guru ataupun melalui tes-tes yang dibakukan maupun kombinasi dari keduanya. Dali dalam Susanto (2001: 19) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan prestasi atau perolehan. Dalam hal ini hasil belajar dapat diartikan sebagai suatu prestasi yang diperoleh setelah mengikuti proses belajar mengajar. Seorang siswa dikatakan telah belajar jika adanya perubahan tingkah laku pada siswa tersebut, yaitu perubahan tingkah laku yang menetap. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku pada siswa tersebut merupakan hasil dari belajar. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku.” Hasil belajar adalah penguasaan hubungan yang telah diperoleh sehingga orang itu dapat menampilkan pengalaman dan penguasaan bahan pelajaran yang telah dipelajari (http://one.indoTesis.com. 2 Juli 2009).
  41. 41. 50 Triyuni (2009: 117) Hasil belajar merupakan salah satu ukuran keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Hasil belajar merupakan salah satu ukuran keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran (http://Tesis. unila.ac.id. 7 Agustus 2009). Kingsly dalam Basri (2008: 219) membagi tiga macam hasil belajar yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Mengacu pada pendapat tersebut maka hasil belajar adalah merupakan bukti keberhasilan yang dicapai seseorang setelah melalui kegiatan pembelajaran di sekolah dalam kurun waktu tertentu. Hasil belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka. Mengacu pada pendapat tersebut maka hasil belajar adalah merupakan bukti keberhasilan yang dicapai seseorang setelah melalui kegiatan pembelajaran di sekolah dalam kurun waktu tertentu. Hasil belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka. Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar. Belajar itu adalah suatu proses dalam diri seseorang yang berusaha memperoleh sesuatu dalam bentuk perubahan tingkah laku yang relatif menetap. Perubahan tingkah laku dalam belajar sudah ditentukan berdasarkan kemampuan siswa.
  42. 42. 51 Mengacu pada beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku dalam arti diperolehnya kemampuankemampuan baru yang berlaku secara permanen dan perubahan perilaku tersebut karena adanya upaya dan pengalaman yang diakibatkan oleh pengaruh internal dan ekstemal. Syah (2003: 132) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yakni sebagai berikut : a. Faktor Internal Siswa Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Yang termasuk dalam faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah : 1). Aspek fisiologis Kondisi tubuh dan tegangan otot yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dengan sendirinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ-organ tubuh siswa seperti indera pendengaran dan indera penglihatan juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan yang disajikan di kelas maupun yang dipelajarinya sendiri. 2). Aspek psikologis
  43. 43. 52 Banyak faktor yang mempengaruhi dalam aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pengetahuan siswa. Namun demikian diantara faktor-faktor yang ada, faktor rohaniah pada umumnya dipandang lebih esensial. Faktor rohania meliputi: a). Intelegensi kemampuan siswa, intelegensi psiko-fisik untuk pada umumnya mereaksi merupakan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang cepat. Jadi intelegensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi memang harus diakui bahwa peranan otak dalam hubungannya dengan intelegensi manusia lebih menonjol dari pada organ-organ tubuh lainnya, sebab otak merupakan menara pengontrol hampir seluruh aktivitas manusia. b). Sikap siswa, sikap adalah gejala internal yang berdimensi efektif berupa kecenderungan untuk memberikan reaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap suatu obyek, baik secara positif maupun secara negatif. Sikap siswa yang positif terutama terhadap pelajaran dan guru merupakan tanda yang baik terhadap proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya sikap siswa yang negatif terhadap guru dan mata pelajaran yang disajikan, apalagi bila
  44. 44. 53 diiringi dengan kebencian terhadap lingkungan sekitarnya, maka dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa tersebut. c). Bakat siswa, bakat secara umum dapat diartikan sebagai potensi untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan individu untuk melaksanakan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Seseorang siswa yang berbakat dalam bidang pendidikan ekonomi misalnya akan jauh lebih mudah menyerap informasi, pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan bidangnya (ekonomi) dibandingkan dengan siswa lainnya yang tidak memiliki bakat dalam bidang ekonomi. d). Minat siswa, secara sederhana minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Seseorang siswa yang memiliki minat dalam bidang ekonomi akan lebih mudah untuk memahami informasi dan pengetahuan dalam bidang tersebut bila dibandingkan dengan siswa lainnya yang tidak memiliki minat.
  45. 45. 54 e). Motivasi siswa, pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme, baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini motivasi berarti pemasok daya atau yang mendorong untuk berbuat secara terarah. b. Faktor Eksternal siswa Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa. Yang termasuk dalam faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah : 1). Faktor lingkungan sosial Lingkungan sosial seperti guru, staf administrasi dan teman-teman sekolah dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. Guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin belajar dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa. 2). Faktor lingkungan non-sosial Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non-soaial yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain, bidang sekolah dan letaknya, keadaan dan waktu belajar, juga yang terpenting adalah fasilitas belajar siswa seperti keadaan tempat belajar, alat tulis menulis, meja, kursi serta buku teks dan lain-lain.
  46. 46. 55 c. Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial Hakikat IPS, adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dengan sesamanya. Dengan kemajuan teknologi pula sekarang ini orang dapat berkomunikasi dengan cepat di manapun mereka berada melalui handphone dan internet. Kemajuan Iptek menyebabkan cepatnya komunikasi antara orang yang satu dengan lainnya, antara negara satu dengan negara lainnya. Dengan demikian maka arus informasi akan semakin cepat pula mengalirnya. Oleh karena itu diyakini bahwa “orang yang menguasai informasi itulah yang akan menguasai dunia”. Suatu tempat atau ruang dipermukaan bumi, secara alamiah dicirikan oleh kondisi alamnya yang meliputi iklim dan cuaca, sumber daya air, ketinggian dari permukaan laut, dan sifat-sifat alamiah lainnya. Jadi bentuk muka bumi seperti daerah pantai, dataran rendah, dataran tinggi, dan daerah pegunungan akan mempengaruhi terhadap pola kehidupan penduduk yang menempatinya. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS,
  47. 47. 56 peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai (Depdiknas, 2006: 417). Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. menurut Mulyono (2002: 8) memberi batasan IPS adalah merupakan suatu pendekatan interdsipliner (Inter-disciplinary Approach) dari pelajaran Ilmu-ilmu Sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang Ilmu-ilmu Sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh Said (2006: 4) bahwa IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, politik. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta
  48. 48. 57 didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan . Mata pelajaran IPS di jenjang pendidikan SMP/MTS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan dalam hal (1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, (2) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, (3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, (4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global (Depdiknas, 2006: 417). Selanjutnya dijelaskan bahwa ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek (1) Manusia, Tempat, dan Lingkungan, (2) Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan, (3) Sistem Sosial dan Budaya, (4) Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan. Secara rinci Hasan (2002: 40) merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu: (1) pengetahuan dan pemahaman, (2) sikap hidup belajar, (3) nilai-nilai sosial dan sikap, (4) keterampilan. Sejalan dengan tujuan pendidikan IPS maka (Sumaatmadja, 2006: 69) menyatakan bahwa pendidikan IPS adalah “membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, keterampilan,
  49. 49. 58 dan kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk pendidikan dasar dan menengah memuat tentang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai (Depdiknas, 2006: 417). Mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. Berdasarkan tuntutan permen tersebut sangat jelas bahwa IPS
  50. 50. 59 merupakan mata pelajaran yang berorientasi tidak hanya pengembangan intelektual, tetapi juga sikap dan ketrampilan. IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science), maupun ilmu pendidikan (Soemantri. 2001: 89). Social Scence Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS), menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”. Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya. Strategi penyampaian pengajaran IPS di sekolah yang berlansung saat ini, sebagaian besar adalah didasarkan pada suatu tradisi, yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga, kota, region, negara, dan dunia. Tipe kurikulum seperti ini disebut “The Wedining Horizon or Expanding Enviroment Curriculum” (Mahmud, 2009: 5). Menurut Gunawan (2011: 3) bahwa pendidikan IPS di sekolah merupakan mata pelajaran atau bidang kajian yang menduduki konsep dasar berbagai ilmu sosial yang disusun melalu pendekatan pendidikan dan pertimbangan psikologis, serta kebermaknaanya bagi siswa dalam
  51. 51. 60 kehidupannya, mulai dari tingkat SD sampai SMA, atau membekali dan mempersiapkan peserta didik untuk dapat melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi khususnya dalam bidang ilmu social diperguruan tinggi. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka yang dimaksud dengan hasil belajar adalah kemampuan kognitif yang diperoleh siswa dari proses belajar sebagai proses perwujudan segala upaya yang telah dilakukan selama proses pem,belajaran IPS berlangsung yang dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. B. Penelitian Relevan Adapun penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini, di antaranya adalah: penelitian yang dilakukan oleh Sambudiono tahun 2009 dalam penelitiannya yang berjudul hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa menemukan adanya hubungan yang positif dan sangat signifikan antara motivali belajar dengan hasil belajar siswa seperti ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar anatara motivasi belajar dengan hasil belajar sebesar 0.433 dengan koefisien determinasi sebasar 18,75 yangt berarti sekitar 19% variasi hasil belajar ditentukan oleh variasi motivasi belajar siswa.
  52. 52. 61 Penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Yuliana tahun 2011 yang berjudul hubungan antara lingkungan belajar dan motivasi belajar dengan hasil belajar IPS di SMP negeri 1 Napabalano, menemukan adanya hubungan yang positif dan sangat signifikan antara lingkungan belajar dengan hasil belajar seperti yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0,546 dengan koefiein determinasi sebesar 29,81 yang berarti sekitar 30% variasi hasil belajar ditentukan oleh dukungan lingkungan belajar yang kondusif. Penelitian Yuliana juga menemukkan adanya hubungan antara motivasi belaja siswa dengan hasil belajar IPS di SMP negeri 1 Napabalano seperti ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0.602 dengan koefisien determinasi sebesar 0,362 yang berarti sekitar 36% variasi hasil belajar ditentukan oleh variasi motivasi belajar siswa. Penelitian Ilmi tahun 2011 yang berjudul hubungan antara motivasi belajar dan lingkungan belajar dengan hasil belajar juga menemukan adanya hubungan yang positif dan sangat siginifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar seperti ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0,617 dengan koefisisen determinasi 0,3807 yang berarti sekitar 38% variasi yang terjadi pada hasil belajar ditentukan oleh variasi motivasi belkajar. Penelitian ilmi juga menemukan adanya hubungan yang positif dan sangat signifikan antara lingkungan belajar dengan hasil belajar seperti ditunjukkan oleh koefisien
  53. 53. 62 korelasi seperti ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0,339 dan koefisien determinasi sebesar 0,115 yang berarti sekitar 12% variasi yang terjadi pada hasil belajar ditentukan oleh dukungan lingkungan belajar. Berdasarkan beberapa penelitian relevan tersebut, maka peneliti menganggap bahwa penelitian tentang hubungan antara motivasi belajar dan lingkungan belajar dengan hasil belajar siswa adalah penting untuk dilakukan dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa dan mengelola lingkungan belajar yang kondusif untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar. C. Kerangka Pikir 1. Hubungan antara Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar Kepercayaan diri adalah keyakinan dalam diri seseorang siswa akan kemampuan yang dimilikinya dalam melakukan tugas-tugas yang dibebankan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Kepercayaan diri siswa merupakan salah satu faktor yang menentukan motivasi belajar siswa. Kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang menjadikan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri, namun dengan rasa percaya
  54. 54. 63 diri yang dimiliki dapat mendorong seorang siswa untuk menyelesaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas yang diberikan guru di sekolah sesuai dengan kemampuan sendiri serta tidak menggantungkan diri pada orang lain, serta berani mengambil sikap sesuai dengan hati nuraninya. Siswa yang mempunyai kepercayaan diri tinggi, pada umumnya memiliki harapan sukses yang lebih tinggi dibanding dengan rasa tidak percaya dirinya akan mengalami kegagalan. Siswa yang kepercayaan dirinya tinggi akan selalu merasa optimis dalam mengerjakan setiap pekerjaan yang dihadapi sehingga selalu optimis untuk mencapai tujuan. Kepercayaan diri merupakan restasi merupakan salah satu faktor penting dalam psikologi pendidikan. Kepercayaan diri menunjukkan adanya upaya keras untuk memperoleh kesuksesan dan untuk memperoleh sesuatu sesuai dengan tujuan, sehingga mendorong siswa untuk selalu belajar dengan giat demi mencapai hasil belajar yang lebih baik. Siswa yang percaya diri tidak memiliki beban secara psikologi dalam belajar atau dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah sehingga terhindar dari sters dan akahirnya akan mampu menyelesaikan semua tugas atau ujian dengan baik dan akhirnya akan mendapatkan hasil lebih baik atau dapat mencapai tujuannya. Sebaliknya siswa yang tidak memiliki kepercayaan diri maka akan mengalami beban dalam belajar, dia selalu dibayang-bayangi oleh perasan gagal sehingga motivasinya untuk belajar menjadi rendah.
  55. 55. 64 Dengan demikian diduga bahwa terdapat hubungan yang positif antara kepercayaan diri siswa dengan motivasi berlajar. Semakin tinggi kepercayaan diri maka semakin tinggi motivasi belajar siswa, demikian sebaliknya bahwa semakin rendah kepercayaan diri siswa maka semakin rendah motivasinnya untuk belajar. 2. Hubungan Lingkungan Belajar dengan Hasil Belajar Lingkungan belajar mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar. Lingkungan belajar meiliputi lingkungan fisik, dan lingkungan non-fusik. lingkungan sosial berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Belajar dalam lingkungan yang kondusif seperti penataan ruang belajar yang baik, ketersediaan udara yang segar akan membuat siswa lebih betah untuk berada dalam kelas dan belajar sehingga hasil belajar siswa akan lebih tinggi dibanding dengan belajar dalam kondisi ruang kelas yang tidak tertata dengan baik, dan dengan keadaan udara yang panas dan pengap. Lingkungan sosial meliputi suasana hubungan interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan kepala sekolah, dan hubungan
  56. 56. 65 siswa dengan staf administrasi sekolah. Dengan adanya penataan lingkungan belajar yang baik diharapkan proses belajar siswa menjadi lebih baik dan hasil belajar yang diacapai siswa menjadi lebih tinggi. Lingkungan yang baik untuk kegiatan belajar adalah lingkungan yang memiliki media massa dan fasilitas belajar yang memadai, serta pola pergaulan dan kehidupan masyarakat bersifat positif dan menunjang kegiatan belajar. Lingkungan belajar yang ditata rapi untuk mendukung belajar, menjadikan siswa berkata bahwa belajar itu segar, hidup, dan penuh semangat. Dari cara menempel poster di dinding, pengaturan bangku, penyusunan bahanbahan pembelajaran, sampai pada kebersihan kelas, semua menjadi inspirasi dalam belajar. Dengan kata lain bahwa segala sesuatu yang ada dalam kelas akan menyampaikan pesan yang mamacu atau menghambat motivasi belajar Lingkungan belajar adalah situasi atau suasana dalam belajar baik yang berwujud fisik maupun non-fisik atau lingkungan sosial. Dalam belajar siswa memerlukan lingkungan belajar yang kondusif baik secara fisik maupun nonfisik. Dengan demikian maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan positif antara lingkungan belajar dengan motivasi belajar. Semakin kondusif lingkungan belajar maka semakin tinggi hasil belajar yang dicapai siswa, demikian sebaliknya bahwa semakin tidak kondusif lingkungan belajar siswa maka makin rendah hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
  57. 57. 66 3. Hubungan antara Motivasi Belajar dan Lingkungan Belajar secara Bersama-sama dengan Hasil Belajar Seperti telah dikemukakan di atas bahwa kepercayaan diri merupakan suatu dorongan dari dalam diri individu untuk mencapai suatu nilai kesuksesan. Di mana nilai kesuksesan tersebut mengacu pada perbedaannya dengan suatu keberhasilan atas penyelesaian masalah yang pernah diraih oleh individu maupun berupa keberhasilan individu lain yang dianggap mengandung suatu nilai kehormatan. Kepercayaan diri terdiri atas dorongan-dorongan dari dalam indvidu untuk dapat mencapai tujuan dan bertahan ketika menghadapi rintangan. Kebutuhan akan prestasi mendorong seseorang siswa untuk mengungguli siswa lainnya berdasarkan ukuran seperangkat Standar. Dengan kata lain kebutuhan akan prestasi mendorong seseorang siswa untuk selalu sukses dalam melakukan suatu kegiatan. Kebutuhan akan kekuasaan membuat seseorang siswa untuk berperilaku dengan suatu cara tertentu dimana orang lain tidak dapat berperilaku seperti itu. Faktor lain yang berhubungan dengan hasil belajar adalah lingkungan belajar. Lingkungan belajar mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, lingkungan belajar seperti lingkungan alami atau lingkungan fisik, dan lingkungan sosial berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Belajar
  58. 58. 67 dalam lingkungan yang kondusif seperti penataan ruang belajar yang baik, ketersediaan udara yang segar, hubungan komunikasi yang harmonis antara sesama siswa, dan antara siswa dengan guru dan seluruh warga sekolah akan membuat siswa lebih betah untuk berada dan belajar di kelas atau di sekolah sehingga hasil belajar yang dicapai siswa akan lebih tinggi dibanding dengan belajar pada lingkungan yang tidak kondisif atau kondisi ruang kelas yang tidak tertata dengan baik, dengan keadaan udara yang panas dan pengap, serta dengan pola hubungan komunikasi yang tidak harmonis, karena aka membuat siswa tidak betah berada di kelas atau di sekolah dan tidak nyaman dalam belajar sehingga hasil belajarnya rendah. Siswa yang memiliki kepercayaan diri dalam belajar apabila didukung oleh lingkungan belajar yang kondusif maka akan meningkatkan motivasi belajar tinggi bagi siswa, sebaliknya kepercayaan diri yang tinggi untuk belajarmotivasi siswa untuk belajar menjadi tidak maksimal. lingkungan belajar meliputi lingkungan fisik maupun non-fisik. Dengan demikian maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kepercayaan diri siswa siswa dan lingklungan belajar secara bersama-sama dengan motivasi belajar siswa. Semakin tinggi motivasi belajar siswa dan semakin kondusif lingkungan belajar maka semakin tinggi hasil belajar siswa, sebalikinya semakin rendah
  59. 59. 68 kepercayaan diri siswa dan semakin tidak kondusif lingkungan belajar maka makin rendah motivasi belajar siswa. C. Hipotesis Penelitian Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Ada hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa di SMP negeri 3 Raha. 2. Ada hubungan positif dan signifikan antara lingkungan belajar siswa dengan motivasi belajar siswa di SMP negeri 3 Raha. 3. Ada hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar dan lingkungan belajar siswa secara bersama-sama dengan hasil belajar siswa di SMP negeri 3 Raha.

×