Askep trauma dada lia &  ian Akper pemkab muna
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Askep trauma dada lia & ian Akper pemkab muna

on

  • 2,370 views

 

Statistics

Views

Total Views
2,370
Views on SlideShare
2,368
Embed Views
2

Actions

Likes
0
Downloads
38
Comments
0

1 Embed 2

https://twitter.com 2

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Askep trauma dada lia &  ian Akper pemkab muna Askep trauma dada lia & ian Akper pemkab muna Document Transcript

  • A. Konsep penyakit 1.pengertian -. Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh benturan pada dinding dada yang mengenai tulang rangka dada, pleura paru-paru, diafragma ataupun isi mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat menyebabkan gangguan system pernafasan dan kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor (80%), terjatuh, pukulan dada dan kecelakaan pada bidang industri. 2. Etiologi 1. Mekanisme kecelakaan a. Kecelakaan kendaraan bermotor b. Tertembak pada daerah dada c. Tertusuk pada daerah dada 2. Penyakit yang mendahului a. Asma b. Tuberkulosis c. Bronkhitis d. Pneumonia 3.klasifikasi Trauma toraks dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu trauma tembus dan tumpul a. Trauma tembus (tajam). - Terjadi diskontinuitas dinding toraks (laserasi) langsung akibat penyebab trauma - Terutama akibat tusukan benda tajam (pisau, kaca, dsb) atau peluru - Sekitar 10-30% memerlukan operasi torakotomi
  • b. Trauma tumpul - Tidak terjadi diskontinuitas dinding toraks. - Terutama akibat kecelakaan lalu-lintas, terjatuh, olahraga, crush atau blast injuries. - Kelainan tersering akibat trauma tumpul toraks adalah kontusio paru. - Sekitar <10% yang memerlukan operasi torakotomi 4. PATOFISIOLOGI Trauma dada sering menyebabkan gangguan ancaman kehidupan. Luka pada rongga thorak dan isinya dapat membatasi kemampuan jantung untuk memompa darah atau kemampuan paru untuk pertukaran udara dan oksigen darah. Bahaya utama berhubungan dengan luka dada biasanya berupa perdarahan dalam dan tusukan terhadap organ.Hipoksia, hiperkarbia, dan asidosis sering disebabkan oleh trauma thorax. Hipokasia jaringan merupakan akibat dari tidak adekuatnya pengangkutan oksigen kejaringan oleh karena hipivolemia (kehilangan darah),pulmonary ventilation/perfusionmismatch(contohkontusio, hematoma, kolapsalveolus )dan perubahan dalam tekanan intratthorax ( contoh : tension pneumothorax, pneumothoraxterbuka ). Hiperkarbia lebih sering disebabkan oleh tidak adekuatnya ventilasi akibat perubahan tekanan intrathorax atau penurunan tingkat kesadaran. Asidosis metabolik disebabkan oleh hipoperfusi dari jaringan ( syok ). Fraktur iga. Merupakan komponen dari dinding thorax yang paling sering mngalami trauma, perlukaan pada iga sering bermakna, Nyeri pada pergerakan akibat terbidainya iga terhadap dinding thorax secara keseluruhan menyebabkan gangguan ventilasi. Batuk yang tidak efektif intuk mengeluarkan sekret dapat mengakibatkan insiden atelaktasis dan pneumonia meningkat secara bermakna dan disertai timbulnya penyakit paru – paru. Pneumotoraks diakibatkan masuknya udara pada ruang potensial antara pleura viseral dan parietal. Dislokasi fraktur vertebra torakal juga dapat ditemukan bersama dengan pneumotoraks. Laserasi paru merupakan penyebab tersering dari pnerumotoraks akibat trauma tumpul.Dalam keadaan normal rongga toraks dipenuhi oleh paru-paru yang pengembangannya sampai dinding dada oleh karena adanya tegangan permukaan antara kedua permukaan pleura. Adanya udara di dalam rongga pleura akan menyebabkan kolapsnya jaringan paru. Gangguan ventilasi-perfusi terjadi karena darah menuju paru yang kolaps tidak mengalami ventilasi sehingga tidak ada oksigenasi. Ketika pneumotoraks terjadi, suara nafas menurun pada sisi yang terkena dan
  • pada perkusi hipesonor. Foto toraks pada saat ekspirasi membantu menegakkan diagnosis. Terapi terbaik pada pneumotoraks adalah dengan pemasangan chest tube lpada sela iga ke 4 atau ke 5, anterior dari garis mid-aksilaris. Bila pneumotoraks hanya dilakukan observasi atau aspirasi saja, maka akan mengandung resiko. Sebuah selang dada dipasang dan dihubungkan dengan WSD dengan atau tanpa penghisap, dan foto toraks dilakukan untuk mengkonfirmasi pengembangan kembali paru-paru. Anestesi umum atau ventilasi dengan tekanan positif tidak boleh diberikan pada penderita dengan pneumotoraks traumatik atau pada penderita yang mempunyai resiko terjadinya pneumotoraks intraoperatif yang tidak terduga sebelumnya, sampai dipasang chest tubeHemothorax. Penyebab utama dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah interkostal atau arteri mamaria internal yang disebabkan oleh trauma tajam atau trauma tumpul. Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga dapat menyebabkan terjadinya hemotoraks. A.PENYIMPANGAN KDM a. - Akselerasi Kerusakan yang terjadi merupakan akibat langsung dari penyebab trauma. Gaya perusak berbanding lurus dengan massa dan percepatan (akselerasi) sesuai dengan hukum Newton II (Kerusakan yang terjadi juga bergantung pada luas jaringan tubuh yang menerima gaya perusak dari trauma tersebut. Pada luka tembak perlu diperhatikan jenis senjata dan jarak tembak; penggunaan senjata dengan kecepatan tinggi seperti senjata militer high velocity (>3000 ft/sec) pada jarak dekat akan mengakibatkan kerusakan dan peronggaan yang jauh lebih luas dibandingkan besar lubang masuk peluru. b. Deselerasi Kerusakan yang terjadi akibat mekanisme deselerasi dari jaringan. Biasanya terjadi pada tubuh yang bergerak dan tiba-tiba terhenti akibat trauma. Kerusakan terjadi oleh karena pada saat trauma, organ-organ dalam yang mobile (seperti bronkhus, sebagian aorta, organ visera, dsb) masih bergerak dan gaya yang merusak terjadi akibat tumbukan pada dinding toraks/rongga tubuh lain atau oleh karena tarikan dari jaringan pengikat organ tersebut.
  • c. Torsio dan rotasi Gaya torsio dan rotasio yang terjadi umumnya diakibatkan oleh adanya deselerasi organorgan dalam yang sebagian strukturnya memiliki jaringan pengikat/fiksasi, seperti Isthmus aorta, bronkus utama, diafragma atau atrium. Akibat adanya deselerasi yang tiba-tiba, organorgan tersebut dapat terpilin atau terputar dengan jaringan fiksasi sebagai titik tumpu atau poros-nya. d. Blast injury - Kerusakan jaringan pada blast injury terjadi tanpa adanya kontak langsung dengan penyebab trauma. Seperti pada ledakan bom. - Gaya merusak diterima oleh tubuh melalui penghantaran gelombang energi. 5. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala yang sering muncul pada penderita trauma dada; a. Nyeri pada tempat trauma, bertambah pada saat inspirasi. b. Pembengkakan lokal dan krepitasi yang sangat palpasi. c. Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek. d. Dyspnea, takipnea e. Takikardi f. Tekanan darah menurun. g. Gelisah dan agitasi h. Kemungkinan cyanosis. i. Batuk mengeluarkan sputum bercak darah. j. Hypertympani pada perkusi di atas daerah yang sakit.
  • 6. SISTEM YANG MEMPENGARUHI a. Sifat jaringan tubuh Jenis jaringan tubuh bukan merupakan mekanisme dari perlukaan, akan tetapi sangat menentukan pada akibat yang diterima tubuh akibat trauma. Seperti adanya fraktur iga pada bayi menunjukkan trauma yang relatif berat dibanding bila ditemukan fraktur pada orang dewasa. Atau tusukan pisau sedalam 5 cm akan membawa akibat berbeda pada orang gemuk atau orang kurus, berbeda pada wanita yang memiliki payudara dibanding pria, dsb. s Lokasi tubuh tempat trauma sangat menentukan jenis organ yang menderita kerusakan, terutama pada trauma tembus. Seperti luka tembus pada daerah pre-kordial. Arah gaya trauma atau lintasan trauma dalam tubuh juga sangat mentukan dalam memperkirakan kerusakan organ atau jaringan yang terjadi. Perlu diingat adanya efek "ricochet" atau pantulan dari penyebab trauma pada tubuh manusia. Seperti misalnya : trauma yang terjadi akibat pantulan peluru dapat memiliki arah (lintasan peluru) yang berbeda dari sumber peluru sehingga kerusakan atau organ apa yang terkena sulit diperkirakan 7.MANAJEMEN MEDIK 1. Konservatif a. Pemberian analgetik b. Pemasangan plak/plester c. Jika perlu antibiotika d. Fisiotherapy 2. Operatif/invasif a. Pamasangan Water Seal Drainage (WSD). b. Pemasangan alat bantu nafas. c. Pemasangan drain. d. Aspirasi (thoracosintesis).
  • e. Operasi (bedah thoraxis) f. Tindakan untuk menstabilkan dada: 1) Miring pasien pada daerah yang terkena. 2) Gunakan bantal pasien pada dada yang terkena g. Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif, didasarkan pada kriteria sebagai berikut: 1) Gejala contusio paru 2) Syok atau cedera kepala berat. 3) Fraktur delapan atau lebih tulang iga. 4) Umur diatas 65 tahun. 5) Riwayat penyakit paru-paru kronis. h. Pasang selang dada dihubungkan dengan WSD, bila tension Pneumothorak mengancam. i. Oksigen tambahan. 8. KOMPLIKASI a. Surgical Emfisema Subcutis Kerusakan pada paru dan pleura oleh ujung patahan iga yang tajam memungkinkan keluarnya udara ke dalam cavitas pleura dari jaringan dinding dada, paru. Tanda-tanda khas: penmbengkakan kaki, krepitasi. b. Cedera Vaskuler Di antaranya adalah cedera pada perikardium dapat membuat kantong tertutup sehingga menyulitkan jantung untuk mengembang dan menampung darah vena yang kembali. Pembulu vena leher akan mengembung dan denyut nadi cepat serta lemah yang akhirnya membawa kematian akibat penekanan pada jantung.
  • c. Pneumothorak Adanya udara dalam kavum pleura. Begitu udara masuk ke dalam tapi keluar lagi sehingga volume pneumothorak meningkat dan mendorong mediastinim menekan paru sisi lain. d. Pleura Effusion Adanya udara, cairan, darah dalam kavum pleura, sama dengan efusi pleura yaitu sesak nafas pada waktu bergerak atau istirahat tetapi nyeri dada lebih mencolok. Bila kejadian mendadak maka pasien akan syok. Akibat adanya cairan udara dan darah yang berlebihan dalam rongga pleura maka terjadi tanda – tanda : 1) Dypsnea sewaktu bergerak/ kalau efusinya luas pada waktu istirahatpun bisa terjadi dypsnea. 2) Sedikit nyeri pada dada ketika bernafas. 3) Gerakan pada sisi yang sakit sedikit berkurang. 4) Dapat terjadi pyrexia (peningkatan suhu badan di atas normal). e. Plail Chest Pada trauma yang hebat dapat terjadi multiple fraktur iga dan bagian tersebut. Pada saat insprirasi bagian tersebut masuk sedangkan saat ekspirasi keluar, ini menunjukan adanya paroxicqalmution (gerakan pernafasan yang berlawanan) f. Hemopneumothorak
  • Yaitu penimbunan udara dan darah pada kavum pleura. B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1 . Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10). Pengkajian pasien dengan trauma thoraks (. Doenges, 1999) meliputi : a.Aktivitas / istirahat Gejala : dipnea dengan aktivitas ataupun istirahat. b. Sirkulasi Tanda : Takikardia ; disritmia ; irama jantunng gallops c. Integritas ego Tanda : ketakutan atau gelisah. d. Makanan dan cairan Tanda : adanya e. Nyeri/ketidaknyamanan pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan. Gejala : nyeri uni lateral, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan, tajam dan nyeri, menusuk-nusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan menyebar ke leher,bahudanabdomen.Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengkerutkan wajah. f.Pernapasan Gejala : kesulitan bernapas ; batuk ; riwayat bedah dada/trauma, penyakit paru kronis, inflamasi,/infeksi paaru, penyakit interstitial menyebar, keganasan ; pneumothoraks spontan sebelumnya, PPOM.Tanda : Takipnea ; peningkatan kerja napas ; bunyi napas turun atau tak ada ; fremitus menurun ; perkusi dada hipersonan ; gerakkkan dada tidak sama ; kulit pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subkutan ; mental ansietas, bingung, gelisah, pingsan ; penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif. g. Keamanan Gejala : adanya trauma dada ; radiasi/kemoterapi untuk keganasan. h.Penyuluhan/pembelajaran Gejala : riwayat factor risiko keluarga, TBC, kanker ; adanya bedah intratorakal/biopsyparu. B. Pemeriksaan Fisik
  • 1.           Sistem Pernapasan : Sesak napas Nyeri, batuk-batuk. Terdapat retraksi klavikula/dada. Pengambangan paru tidak simetris. Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain. Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor/hipersonor/timpani, hematotraks (redup) Pada asukultasi suara nafas menurun, bising napas yang berkurang/menghilang. Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas. Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. Gerakan dada tidak sama waktu bernapas. Sistem Kardiovaskuler :     Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk. Takhikardia, lemah Pucat, Hb turun /normal. Hipotensi. .  Tidak ada kelainan. .  Sistem Persyarafan : Sistem Perkemihan. Tidak ada kelainan. . Sistem Pencernaan :  Tidak ada kelainan. . Sistem Muskuloskeletal - Integumen.  Kemampuan sendi terbatas.  Ada luka bekas tusukan benda tajam.  Terdapat kelemahan.  Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.  Sistem Endokrine : Terjadi peningkatan metabolisme.  Kelemahan. Sistem Sosial / Interaksi.  Tidak ada hambatan.
  •  Spiritual : Ansietas, gelisah, bingung, pingsan. Pemeriksaan Diagnostik :   Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural. Pa Co2 kadang-kadang menurun.  Pa O2 normal / menurun.  Saturasi O2 menurun (biasanya).  Hb mungkin menurun (kehilangan darah).  Toraksentesis : menyatakan darah/cairan, PemeriksaanPenunjang 1) Radiologi : foto thorax (AP). 2) Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun. 3) Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa. 4) Hemoglobin : mungkin menurun. 5) Pa Co2 kadang-kadang menurun. 6) Pa O2 normal / menurun. 7) Saturasi O2 menurun (biasanya). 8) Toraksentesis : menyatakan darah 9) Diagnosis fisik :  Bila pneumotoraks < 30% atau hematothorax ringan (300cc) terap simtomatik, observasi.  Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase cavum pleura dengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit.  Pada keadaan pneumothoraks yang residif lebih dari dua kali harus dipertimbangkan thorakotomi  Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800 cc segera thorakotomi. ANALISA DATA a.perubahan rasa nyaman [nyeri] Bd paska oprasi ditandai dengan DS:klien menyaratan nyeri DO:klien mengerang kesakitan dan bedrest
  • b.gangguan pola nafas Bd penekanan pada thoraks ditandai dengan DS:klien mengatakan sesak nafas DO:RR 32x/menit dyispnea c.penurunan kesadaran Bd perdarahan yang banyak ditandai DS:klien tidak sadar perdarahan yang terus menerus DO:klien tampak pucat TD>N 2 . Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan merupaka suatu pernyataan dari masalah pasien yang nyata ataupun potensial dan membutuhkan tindakan keperawatan sehingga masalah pasien dapat ditanggulangi atau dikurangi  Gangguan Perfusi Jaringan berhubungan dengan Hipoksia, tidak adekuatnya pengangkutan oksigen ke jaringan  Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidakmaksimal karena trauma, hipoventilasi  Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.  Perubahan kenyamanan : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.  Resiko terjadinya syok Hipovolemia berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler  Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage.  Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.  Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma  Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi tentang penyakit, Tindakan invasive ditandai dengan anxietas 3. INTERVENSI
  • .Intervensi N Diagn Tujuan dan kriteria hasil o osa Intervensi Rasional 1 Dx Setelah diberikan asuhan -Kaji faktor -Deteksi dini untuk 1 keperawatan selama(…x..) jam penyebab dari memprioritaskan diharapkandapatmempertahankanpe situasi/keadaan intervensi, mengkaji rfusijaringandengan KH : individu/penyebab status a.Tanda-tanda vital penurunan perfusi neurologi/tanda- jaringan tanda kegagalan dalam batas normal b.Kesadaran meningkat untuk menentukan -Monitor GCS dan perawatan mencatatnya kegawatan atau -Monitor keadaan tindakan c.menunjukkan umum pasien pembedahan perfusi adekuat -Berikan oksigen - Menganalisa tambahan sesuai tingkat kesadaran indikasi -Kolaborasi - Memberikan informasi tentang pengawasan hasil derajat/keadekuatan pemeriksaan perfusi jaringan dan laboraturium. membantu Berikan sel darah menentukan keb. merah intervensi. lengkap/packed produk darah sesuai indikasi - Memaksimalkan transport oksigen ke jaringan -Mengidentifikasi defisiensi dan
  • kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi 2 Dx 2 Setelah diberikan asuhan -Berikan posisi -Meningkatkan keperawatan selama(…x…) jam yang nyaman, inspirasi maksimal, diharapkan biasanya dengan meningkatkan dapatmempertahanjalannafaspasien peninggian kepala ekspansi paru dan dengan KH : tempat tidur. Balik ventilasi pada sisi a.Mengalami ke sisi yang sakit. yang tidak sakit. perbaikan Dorong klien untuk duduk sebanyak pertukaran gas-gas mungkin. pada paru. -Observasi fungsi b.Memperlihatkan pernapasan, catat frekuensi frekuensi pernapasan yang pernapasan, dispnea atau perubahan tanda- efektive. c.Adaptive mengatasi tanda vital. - Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat penyebab. menunjukkan klien bahwa terjadinya syock tindakan tersebut faktor-faktor -Jelaskan pada sehubungan dengan dilakukan untuk hipoksia. menjamin -Pengetahuan apa keamanan. yang diharapkan -Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
  • lambat dan dalam. -Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 – 2 jam -Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. -Mempertahankan tekanannegatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan 3 Dx 3 Setelah diberikan asuhan -Jelaskan klien -Pengetahuan yang keperawatan selama (…x…) jam tentang kegunaan diharapkan akan diharapkanjalannafaspasien normal batuk yang efektif membantu dengan KH : dan mengapa mengembangkan a.Menunjukkan batuk terdapat kepatuhan klien yang efektif. penumpukan sekret terhadap rencana di saluran teraupetik b.Tidak ada lagi Pernapasan penumpukan sekret di -Ajarkan klien terkontrol adalah tentang metode melelahkan dan yang tepat tidak efektif, pengontrolan menyebabkan batuk. frustasi -Auskultasi paru -Pengkajian ini sebelum dan membantu sesudah klien mengevaluasi batuk. keefektifan upaya sal. Pernapasan c.Klien tampak nyaman. - Dorong atau -Batuk yang tidak batuk klien
  • berikanperawatan - Hiegene mulut mulut yang baik yang baik setelah batuk meningkatkan rasa -Kolaborasi dengan tim kesehatan lain Pemberian antibiotika atau expectorant kesejahteraan dan mencegah bau mulut. -Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya 4 Dx 4 Setelah diberikan asuhan -Jelaskan dan -Pendekatan dengan keperawatan selama (..x..) jam bantu klien dnegan menggunakan diharapkannyeriberkurangdengan tindakan pereda relaksasi dan KH : nyeri nonfarmakologi a.Nyeri berkurang/ nonfarmakologi lainnya telah dan non invasive menunjukkan dapat diatasi b.Dapat mengindentifikasi -Berikan kesempatan waktu keefektifan dalam mengurangi nyeri meningkatkan/ menurunkan nyeri -Istirahat akan nyeri dan berikan merelaksasi semua posisi yang aktivitas yang istirahat bila terasa jaringan sehingga nyaman ; misal akan meningkatkan waktu tidur, kenyamanan. belakangnya c.Pasien tidak gelisah. dipasang bantal -Pengetahuan yang akan dirasakan
  • kecil -Tingkatkan pengetahuan tentang : sebabsebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik -Analgetik memblok -Kolaborasi lintasan nyeri, denmgan dokter, sehingga nyeri akan pemberian berkurang analgetik -Pengkajian yang -Observasi tingkat nyeri, dan respon perawat data yang menit setelah obyektif untuk pemberian obat mencegah analgetik untuk kemungkinan mengkaji komplikasi dan efektivitasnya. melakukan Serta setiap 1 - 2 intervensi yang jam setelah Dx 5 memberikan motorik klien, 30 5 optimal akan tepat. tindakan perawatan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama (..x..) jam diharapkan klien tidak mengalami syok hipovolemik dengan KH : selama 1 - 2 hari -Untuk memonitor kondisi pasien -Monitor keadaan selama perawatan umum pasien terutama saat terjadi -Tanda Vital dalam batas normal -Observasi vital (N: 120-60 x/menit, S : 36-37o C, sign setiap 3 jam RR : 20x/menit) atau lebih perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok -Jelaskan pada -Perawat perlu terus
  • pasien dan mengobaservasi keluarga tanda vital sign untuk perdarahan, dan memastikan tidak segera laporkan terjadi presyok / jika terjadi syok perdarahan -Dengan melibatkan -Kolaborasi : pasien dan keluarga Pemberian cairan maka tanda-tanda intravena perdarahan dapat - Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombosit segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan. - Kaji kulit dan identifikasi pada -Cairan intravena tahap perkembangan luka diperlukan untuk -Kaji lokasi, ukuran, warna, Dx 6 bau, serta jumlah 6 mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat dan tipe cairan luka -Untuk mengetahui Setelah diberikan asuhan - Pantau keperawatan selama (..x..) jam peningkatan suhu diharapkan dapat mencapai tubuh penyembuhan luka pada waktu yang sesuaidengan KH : a.tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan -Berikan perawatan melakukan tindakan luka dengan tehnik lebih lanjut. aseptik. Balut luka dengan kasa kering b.luka bersih tidak lembab dan tidak dan steril, gunakan kotor plester kertas -mengetahui sejauhmanaperkemb angan luka mempermudah c.Tanda-tanda vital dalam batas -Kolaborasi dalammelakukan normal atau dapat ditoleransi. tindakan lanjutan tindakan yang tepat
  • sepertimelakukand -mengidentifikasi ebridement tingkat keparahan -Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan -Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan Dx 7 aktivitas 7 -Ajarkan dan luka akan mempermudah intervensi -suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan -tehnik aseptik pantau pasien membantu Setelah diberikan asuhan dalam mempercepat keperawatan selama (..x..) jam halpenggunaan alat penyembuhan luka diharapkan pasien akan bantu dan mencegah menunjukkan tingkat mobilitas optimaldengan KH : -Ajarkan dan dukung pasien a.penampilan yang seimbang b.melakukan pergerakkan dan perpindahan c.mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi dalam latihan ROM aktif dan pasif terjadinya infeksi -agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak -Kolaborasi dengan menyebar luas pada ahli terapi fisik area kulit normal atau okupasi lainnya. -Pantau tandatanda vital -Lakukan perawatan luka dengan teknik -mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi -mempengaruhi penilaian terhadap
  • aseptic -Lakukan Dx 8 kemampuan aktivitas apakah perawatan terhadap karena 8 prosedur invasif ketidakmampuan Setelah diberikan asuhan seperti infuse ataukah keperawatan selama (..x..) jam atupun ketidakmauan diharapkaninfeksi tidak terjadi / Bullowdraignase terkontroldengan KH : -Kolaborasi untuk a.tidak ada tanda-tanda infeksi pemberian seperti pus antibiotic c.Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. kemampuan aktivitas optimal b.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor -menilai batasan -Observasi keadaan Luka -Menjelaskan kepada pasien -mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot tentang penyakit yang di derita Setelah diberikan asuhan Dx 9 keperawatan selama (..x..) jam diharapkananxietas tidak 9 terjadidenganKH : -sebagai suaatu sumber untuk -Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya mengembangkanper encanaan dan mempertahankan/m eningkatkan mobilitas pasien -Minta klien / -Pasien dapat mengungkapkan keluarga pemahamannya tentang penyakit, mengulangi prognosis dan pengobatannya kembali tentang materi yang telah diberikan -Diskusikan pentingnya melihat -mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat -mengendalikan penyebaran mikroorganisme
  • ulang mengenai pengobatan secara teratur -Berikan dorongan untuk melakukan kunjungan tindak lanjut dengan dokter. patogen -untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial -antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme pathogen -untuk mencegah infeksi yang berkelanjutan -memberikan pengetahuan pasien yang dapat memilih berdasarkan informasi -mengetahui seberapa jauh pengalaman klien dan keluarga tentang penyakitnya -mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan
  • -untuk memudahkan pengendalian terhadap kondisi kronis dan pencegahan terhadap komplikasi -agar pasien mengetahui perkembangan penyakitnya. 4.IMPLEMENTASI Dx 1 1. Kaji faktor penyebab dari situasi/keadaan individu/penyebab penurunan perfusi jaringan 2. Memonitor GCS dan mencatatnya 3. Memonitor keadaan umum pasien 4. Memberikan oksigen tambahan sesuai indikasi 5. Mengkolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi Dx 2 1. Memberikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. 2. Mengobservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. 3. Menjelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. 4. Menjelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paruparu.
  • 5. Membantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam 6. Memperhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 – 2 jam Dx 3 1. Menjelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif 2. Mengajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk 3. Mengajarkan Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk 4. Memberikan perawatan mulut yang baik setelah batuk 5. Memberikan antibiotika atau expectorant Dx 4 1. Membantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasive 2. Memerikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan memberikan posisi yang nyaman 3. Meningkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung 4. Berkolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik 5. Mengobservasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya Dx 5 1. Memonitor keadaan umum pasien 2. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih 3. Menjelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan 4. Berkolaborasi : Pemberian cairan intravena 5. Berkolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombosit Dx 6 1. Mengkaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka 2. Mengkaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka 3. Memantau peningkatan suhu tubuh 4. Memberikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas
  • 5. Berkolaborasitindakansepertimelakukan debridement Dx 7 1. Mengkaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan 2. Menentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas 3. Mengajarkan pasien dalam hal penggunaan alat bantu 4. Mengajarkan pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif 5. Berkolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi Dx 8 1. Memantau tanda-tanda vital 2. Melakukan perawatan luka dengan teknik aseptic 3. Melakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infuse atupun Bullow draignase 4. Berkolaborasi untuk pemberian antibiotic 5. Mengobservasi keadaan Luka Dx 9 1. Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit yang di derita. 2. Mengkaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya 3. Meminta klien / keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan Mendiskusikan pentingnya melihat ulang mengenai pengobatan secara teratur 4. Berikan dorongan untuk melakukan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.
  • Tugas : KMB I Dosen : Saad Abdulah.S.Kep.M.Kes ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TRAUMA DADA DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 1 1.HARIATI 2.ASLIA 3.NURUL HUSNA 4.WA SUFIAH 5.SUDARTO SAHIDI 6.RAHAYU 7.LA ODE HALAMI AKADEMI KEPERAWATAN PEMKAB MUNA 2012/2013