DOSEN : SAAD ABDUH, S.Kep, M.Kes
TUGAS : KMB II
ASKEP PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM
PERNAPASAN ATAS“ISPA”
OLEH
KELOMPO...
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya sehingga penyus...
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................
DAFTAR ISI...
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi
saluran p...
BAB II
PEMBAHASAN
I. KONSEP PENYAKIT
A. DEFENISI
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Bagian Atas Adalah infeksi-infeksi...
C. PATOFISIOLOGI
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) disebabkan oleh virus atau kuman,
haemophylus influenzae, clamydia...
F. MANIFESTASI KLINIS
1) Non pneumonia
Ditandai dengan batuk, pilek, tanpa disertai dengan sesak nafas.
2) Pneumonia
Batuk...
H. MANAJEMEN MEDIK
Pencegahan : pada bayi dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup,
dengan demikian sekret dap...
II. KONSEP ASKEP
A. PENGKAJIAN
a. Biodata
 Identitas Klien
Nama : Nn.Z
Umur : 4 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Pe...
T :Keluhan dirasakan pada saat klien beristirahat
Riwayat penyakit dahulu : Klien tidak pernah mengalami penyakit seperti
...
Data Obyektif :
Frekuensi napas cepat
Klien nampak batuk
Porsi makan tidak dihabiskan
Berat badan menurun
c. Analisa Data
...
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukkan sekresi pada jalan
napas ditandai denga...
mampu bernafas dengan
mudah, tidak ada pursed lips)
 Menunjukkan jalan nafas yang
paten (klien tidak merasa
tercekik, ira...
nadi
 Monitor frekuensi
dan irama
pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola
pernapasan
abnormal
 Monitor suhu,
warn...
 Rencanakan monitoring suhu
secara kontinyu
 Monitor TD, nadi, dan RR
 Monitor warna dan suhu kulit
 Monitor tanda-tan...
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan
sistolik)
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
3 Ketidaks...
perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
 Monitor mual dan muntah
...
hidup yang mungkin
diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang
akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
 D...
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Bagian Atas Adalah infeksi-infeksi yang
terutama meng...
DAFTAR PUSTAKA
http://berita19.wordpress.com/2013/02/13/infeksi-pada-saluran napas-atas/)
http://ligiamartakasra.wordpress...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Askep ispa AKPER PEMKAB MUNA

5,186

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
5,186
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
65
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Askep ispa AKPER PEMKAB MUNA

  1. 1. DOSEN : SAAD ABDUH, S.Kep, M.Kes TUGAS : KMB II ASKEP PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN ATAS“ISPA” OLEH KELOMPOK IX: WD.ST.HARNIATI NUR IKRA INTAN SYAHIFA HASRAT AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN MUNA 2012/2013
  2. 2. KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Askep ini tepat pada waktunya. Askep ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah „‟ KMB II„‟. Adapun askep ini membahas mengenai ASKEP KLIEN DENGAN ISPA. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak – pihak yang telah mendukung dan memberikan bimbingan dalam penyusunan askep ini. Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan askep ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan karena faktor batasan pengetahuan penyusun, maka penyusun dengan senang hati menerima kritikan serta saran – saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan askep ini. Semoga hasil dari penyusunan askep ini dapat dimanfaatkan bagi generasi mendatang, khususnya mahasiswa D-III Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Muna. Akhir kata, melalui kesempatan ini penyusun makalah mengucapkan banyak terima kasih. Raha, Februari 2013 Penyusun
  3. 3. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... BAB I : PENDAHULUAN............................................................................. A. Latar belakang.......................................................................... B. Tujuan Penulisan....................................................................... C. Metode Penulisan...................................................................... D. Ruang Lingkup.......................................................................... BAB II : PEMBAHASAN ................................................................... A.KONSEP PENYAKIT 1 Pengertian................................................................................ 2 Klasifikasi……………………………………………………..... 3 Etiologi.................................................................................... 4 Patofisiologi dan penyimpangan KDM...........………………………………………………….. 5 Manifestasi Klinis...................................................................... 6 Komplikasi…………………..................................................... 7 Prosedur Diagnostik............................................................. 8 Manajemen Medik.............................................................. B.KONSEP ASKEP 1. Pengkajian.................................................................................. 2. Diagnosa Keperawatan.............................................................. 3. Rencana Keperawatan............................................................... 4. Implementasi Kepwrawatan....................................................... BAB III PENUTUP A. Kesimpulan................................................................................ B. Saran ......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari dan mulai diperkenalkan pada tahun 1984 setelah dibahas dalam lokakarya Nasional ISPA di Cipanas. Istilah ini merupakan padanan istilah bahasa inggris yakni Acute Respiratory Infections (ARI). ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA umumnya berlangsung selama 14 hari. Yang termasuk dalam infeksi saluran nafas bagian atas adalah batuk pilek biasa, sakit telinga, radang tenggorokan, influenza, bronchitis, dan juga sinusitis. B. TUJUAN Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah selain untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah KMB II, juga agar pembaca seperti layaknya penyusun askep ini mendapatkan informasi atau wawasaan mengenai “Askep Klien dengan Infeksi Saluran Napas Atas”. C. RUMUSAN MASALAH 1. Jelaskan Konsep peyakit ISPA ! 2. Jelaskan Konsep asuhan keperawatan penyakit ISPA !
  5. 5. BAB II PEMBAHASAN I. KONSEP PENYAKIT A. DEFENISI Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Bagian Atas Adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas disebelah atas laring. Kebanyakan penyakit saluran nafas mengenai bagian atas dan bawah secara bersama-sama atau berurutan, tetapi beberapa di antaranya melibatkan bagian-bagian spesifik saluran nafas secara nyata.Yang tergolong Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA) bagian atas diantaranya adalah : Nasofaringitis akut (selesma), Faringitis Akut (termasuk Tonsilitis dan Faringotosilitis) dan rhinitis. Penyebaran infeksi (bila terjadi) tergantung pada pertahanan tubuh dan infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca. B. ETIOLOGI Beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca. Factor Pencetus ISPA,antara lain: 1. Usia Anak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita atau terkena penyakit ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih rendah. 2. Status Imunisasi Anak dengan status imunisasi yang lengkap, daya tahan tubuhnya lebih baik dibandingkan dengan anak yang status imunisasinya tidak lengkap. 3. Lingkungan Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di kota-kota besar dan asap rokok dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada anak.
  6. 6. C. PATOFISIOLOGI Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) disebabkan oleh virus atau kuman, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma, dan pneumokokus yang menyerang dan menginflamasi saluran pernafasan (hidung, pharing, laring) dan memiliki manifestasi klinis seperti demam, meningismus, anorexia, vomiting, diare, abdominal pain, sumbatan pada jalan nafas, batuk, dan suara nafas wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan. D. DAMPAK Terhadap Berbagai Sistem Tubuh 1. Sistem Pencernaan Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidak mampuan dalam memasukan dan mencerna makanan. 2. Sistem Perkemihan Adanya peningkatan frekuensi urin dan peningkatan masukan cairan. 3. Sistem Persyarafan Adanya penurunan fungsi sensorik dan nyeri dada. 4. Sistem Integument Muka menjadi memerah ketika batuk. E. KLASIFIKASI Dalam penentuan klasifikasi, penyakit dibedakan atas dua kelompok, yakni kelompok untuk umur 2 bulan hingga kurang dari 5 tahun dan kelompok umur kurang dari dua bulan. a. Untuk kelompok umur 2 bulan - <5 tahun klasifikasi dibagi atas : 1) Pneumonia berat 2) Pneumonia 3) Bukan Pneumonia. b. Untuk kelompok umur < 2 bulan klasifikasi dibagi atas: 1) Pneumonia berat 2) Bukan Pneumonia
  7. 7. F. MANIFESTASI KLINIS 1) Non pneumonia Ditandai dengan batuk, pilek, tanpa disertai dengan sesak nafas. 2) Pneumonia Batuk, pilek disertai dengan sesak nafas atau nafas cepat. a) pneumonia tidak berat Tanda dan gejala antara lain : Batuk, pilek dan nafas cepat 2 bulan sampai 1 tahun lebih dari 50 x / mnt 1 sampai 5 tahun lebih dari 40 x / mnt b) Pneumonia berat Tanda dan gejala antara lain : Batuk, pilek, sakit bagian tenggorokan dengan nafas cepat atau sesak nafas Pada umur kurang dari 2 bulan, nafas cepat lebih dari 60 x / mnt Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum. G. PROSEDUR DIAGNOSTIK Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari pernafasan. Pola, cepat (tachynea) atau normal. Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin. Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum.
  8. 8. H. MANAJEMEN MEDIK Pencegahan : pada bayi dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar.Terapi akut di lakukan dengan : Antibiotik, karena eksaserbasi akut biasanya disertai infeksi Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. Influenza dan S. Pneumonia, maka digunakan ampisilin 4 x 0.25-0.56/hari atau eritromisin 4x0.56/hari Augmentin (amoksilin dan asam klavulanat) dapat diberikan jika kuman penyebab infeksinya adalah H. Influenza dan B. Cacarhalis yang memproduksi B. Terapi oksigen diberikan jika terdapata kegagalan pernapasan karena hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2.
  9. 9. II. KONSEP ASKEP A. PENGKAJIAN a. Biodata  Identitas Klien Nama : Nn.Z Umur : 4 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Status Perkawinan : Belum menikah Agama : Islam Suku/bangsa : Muna/Indonesia Pendidikan : - Pekerjaan : - Alamat : Desa Watoputih  Identitas penanggung jawab Nama : Ny.N Umur : 36 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Status Perkawinan : Kawin Agama : Islam Suku/bangsa : Muna/ Indonesia Pendidikan : S1 Pekerjaan : PNS Alamat : Desa watoputih Hub. dengan Klien : Ayah klien b. Riwayat Kesehatan Keluhan utama : Batuk Riwayat Keluhan Utama : Berdasarakan anamnese dengan klien(PQRST) P :Keluarga klien mengatakan klien batuk berdahak yang sebabkan karena adanya obstruksi pada hidung dengan sekret yang menyumbat saluran napas Q :Secara berulang-ulang R : Sifat keluhan menetap pada daerah tenggorokan dan dada S :2 (0-5).
  10. 10. T :Keluhan dirasakan pada saat klien beristirahat Riwayat penyakit dahulu : Klien tidak pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya sekarang Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien Riwayat sosial : lingkungan tempat tinggal klien bersih c. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan a. Inspeksi - Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan - Tonsil tampak kemerahan dan edema - Tampak batuk tidak produktif - Tidak ada jaringan parut pada leher - Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung. b. Palpasi - Adanya demam - Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan padanodus limfe servikalis - Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid c. Perkusi Suara paru normal (resonance) d. Auskultasi - Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru d. Klasifikasi Data Data Subyektif : Keluarga Klien mengatakan sesak napas Keluarga klien mengatakan sering batuk Keluaraga klien mengatakan berat badannya menurun Keluarga klien mengatakan kurang nafsu makan
  11. 11. Data Obyektif : Frekuensi napas cepat Klien nampak batuk Porsi makan tidak dihabiskan Berat badan menurun c. Analisa Data No Symptom Etiology Problem 1 DS :  Klien mengatakan sesak napas  Klien mengataka sering batuk DO :  Batuknya berdahak  Frekwensi napas cepat Terpapar polusi udara yang terus menerus Hypertrofi dan hyperplasia kelenjar mucus serta metaplasisel goblek Sekret terakumilasi pada jalan napas Penurunan kemampuan untuk mengeluarkan secret Bersihan jalan naps tidak efektif Bersihan jalan naps tidak efektif 2 DS :  Klien mengatakan kurang nafsu makan  Klien mengatakan berat badannya menurun DO :  Porsi makan tidak dihabiskan Infasi mikroorganisme dalam tubuh Meningkatkan aktivitas seluler Gangguan kebutuhan pemenuhan nutrisi Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
  12. 12. B. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukkan sekresi pada jalan napas ditandai dengan : DS :  Keluarga klien mengatakan sesak napas  Keluarga klien mengatakan sering batuk DO :  Nampak sesak napas b. Gangguan Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidak mampuan dalam memasukan dan mencerna makanan ditandai dengan; DS :  Keluarga klien mengatakan kurang nafsu makan  Keluarga klien mengatakan berat badannya menurun DO :  BB menurun  Porsi makan tidak dihabiskan c. Hipertermi berhubungan dengan invasi mikroorganisme. d. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan ISPA berhubungan dengan kurang informasi. C. RENCANA KEPERAWATAN NO DIAGNOSE KEPERAWATAN NOC NIC 1 Bersihan jalan nafas napas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru. NOC :  Respiratory status : Ventilation  Respiratory status : Airway patency  Vital sign Status Kriteria Hasil :  Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, Airway Management Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan Pasang mayo bila perlu
  13. 13. mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)  Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal) Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan) Lakukan fisioterapi dada jika perlu Keluarkan sekret dengan batuk atau suction Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan Lakukan suction pada mayo Berikan bronkodilator bila perlu Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan. Monitor respirasi dan status O2 Terapi oksigen  Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea  Pertahankan jalan nafas yang paten  Atur peralatan oksigenasi  Monitor aliran oksigen  Pertahankan posisi pasien  Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi  Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi Vital sign Monitoring  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR  Catat adanya fluktuasi tekanan darah  Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri  Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan  Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas  Monitor kualitas dari
  14. 14. nadi  Monitor frekuensi dan irama pernapasan  Monitor suara paru  Monitor pola pernapasan abnormal  Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit  Monitor sianosis perifer  Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)  Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign 2 Hipertermi b/d invasi mikroorganisme NOC : Thermoregulation Kriteria Hasil : Suhu tubuh dalam rentang normal Nadi dan RR dalam rentang normal Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing Fever treatment  Monitor suhu sesering mungkin  Monitor IWL  Monitor warna dan suhu kulit  Monitor tekanan darah, nadi dan RR  Monitor penurunan tingkat kesadaran  Monitor WBC, Hb, dan Hct  Monitor intake dan output  Berikan anti piretik  Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam  Selimuti pasien  Lakukan tapid sponge  Kolaborasipemberian cairan intravena  Kompres pasien pada lipat paha dan aksila  Tingkatkan sirkulasi udara  Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil Temperature regulation  Monitor suhu minimal tiap 2 jam
  15. 15.  Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu  Monitor TD, nadi, dan RR  Monitor warna dan suhu kulit  Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi  Tingkatkan intake cairan dan nutrisi  Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh  Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas  Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negatif dari kedinginan  Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan emergency yang diperlukan  Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang diperlukan  Berikan anti piretik jika perlu Vital sign Monitoring  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR  Catat adanya fluktuasi tekanan darah  Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri  Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan  Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas  Monitor kualitas dari nadi  Monitor frekuensi dan irama pernapasan  Monitor suara paru  Monitor pola pernapasan abnormal  Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit  Monitor sianosis perifer  Monitor adanya cushing triad
  16. 16. (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)  Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign 3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d ketidak mampuan dalam memasukan dan mencerna makanan NOC :  Nutritional Status : food and Fluid Intake  Nutritional Status : nutrient Intake  Weight control Kriteria Hasil :  Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan  Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan  Mampumengidentifikasi kebutuhan nutrisi  Tidak ada tanda tanda malnutrisi  Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan  Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti Nutrition Management  Kaji adanya alergi makanan  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.  Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe  Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C  Berikan substansi gula  Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi  Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)  Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.  Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori  Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi  Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan Nutrition Monitoring  BB pasien dalam batas normal  Monitor adanya penurunan berat badan  Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan  Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan  Monitor lingkungan selama makan  Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan  Monitor kulit kering dan
  17. 17. perubahan pigmentasi  Monitor turgor kulit  Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah  Monitor mual dan muntah  Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht  Monitor makanan kesukaan  Monitor pertumbuhan dan perkembangan  Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva  Monitor kalori dan intake nuntrisi  Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.  Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet 4 Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan ISPA b/d kurang informasi. NOC :  Kowlwdge : disease process  Kowledge : health Behavior Kriteria Hasil :  Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan  Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar  Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya. Teaching : disease Process  Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.  Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat  Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat  Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat  Hindari jaminan yang kosong  Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat  Diskusikan perubahan gaya
  18. 18. hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit  Diskusikan pilihan terapi atau penanganan  Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan  Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat  Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan cara yang tepat  Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat D. IMPLEMENTASI Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Pada situasi nyata sering implementasi jauh berbeda dengan rencana. Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak dengan pasien dilaksanakan dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan serta peranserta pasien yang diharapkan. Setelah semua tindakan dilaksanakan beserta respon pasien kemudian data tindakan tersebut di dokumentasikan. E. EVALUASI Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada pasien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi dua, yaitu evaluasi hasil/sumatif dilakukan dengan membandingkan respon pasien pada tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan.
  19. 19. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Bagian Atas Adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas disebelah atas laring. Kebanyakan penyakit saluran nafas mengenai bagian atas dan bawah secara bersama-sama atau berurutan, tetapi beberapa di antaranya melibatkan bagian-bagian spesifik saluran nafas secara nyata.Yang tergolong Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA) bagian atas diantaranya adalah : Nasofaringitis akut (selesma), Faringitis Akut (termasuk Tonsilitis dan Faringotosilitis) dan rhinitis. B. SARAN Dalam penulisan askep ini masih kurang dari kesempurnaan karena kurangnya referensi yang kami dapatkan. Jadi, kritik dan saran yang sifatnya membangun khususnya dari dosen pembimbing maupun dari rekan-rekan pembaca sangat kami harapkan untuk kesempurnaan askep ini kedepannya.
  20. 20. DAFTAR PUSTAKA http://berita19.wordpress.com/2013/02/13/infeksi-pada-saluran napas-atas/) http://ligiamartakasra.wordpress.com/2013/02/11/askep-ISPA/ Price,Sylvia.Edisi 6.Patofisiologi Konsep klinis proses penyakit.Kedokteran.EGC :Jakarta Tambayong, Jan.2000.Patofisiologi Untuk Keperawatan.Kedokteran.EGC :Jakarata.

×