Askep infark miokard

7,541 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
7,541
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
153
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Askep infark miokard

  1. 1. BAB I KONSEP MEDIS A. DEFINISI Infark miokard ( kadang disingkat AMI / infark miokard akut) adalah kematian/nekrosis jaringan miokard akibat penurunan secara tiba-tiba aliran darah arteri koronaria ke jantung atau terjadinya peningkatan kebutuhan oksigen secara tiba-tiba tanpa perfusi arteri koronaria yang cukup. B. JENIS-JENIS MIOKARD INFARK a) Miokard Infark Subendokardial Daerah subendokardial merupakan daerah miokard yang amat peka terhadap iskemia dan infark. Miokard infark subendokardial terjadi akibat aliran darah subendokardial yang relatif menurun dalam waktu lama sebagai akibat perubahan derajat penyempitan arteri koroner atau dicetuskan oleh kondisikondisi seperti hipotensi, perdarahan dan hipoksia. Derajat nekrosis dapat bertambah bila disertai peningkatan kebutuhan oksigen miokard, misalnya akibat takikardia atau hipertrofi ventrikel. Walaupun pada mulanya gambaran klinis dapat relatif ringan, kecenderungan iskemia dan infark lebih jauh merupakan ancaman besar setelah pasien dipulangkan dari Rumah Sakit. b) Miokard Infark Transmural Pada lebih dari 90 % pasien miokard infark transmural berkaitan dengan trombosis koroner. Trombosis seing terjadi di daerah yang mengalami penyempitan arteriosklerotik. Penyebab lain lebih jarang ditemukan. Termasuk disini misalnya perdarahan dalam plaque aterosklerotik dengan hematom intramural, spasme yang umumnya terjadi di tempat aterosklerotik yang emboli 1
  2. 2. koroner. Miokard infark dapat terjadi walau pembuluh koroner normal, tetapi hal ini amat jarang. C. ETIOLOGI Intinya AMI terjadi jika suplai oksigen yang tidak sesuai dengan kebutuhan tidak tertangani dengan baik sehingga menyebabkab kematian sel-sel jantung tersebut. Beberapa hal yang menimbulkan gangguan oksigenasi tersebut diantaranya: 1. Berkurangnya suplai oksigen ke miokard. Menurunya suplai oksigen disebabkan oleh tiga factor, antara lain: a. Faktor pembuluh darah Hal ini berkaitan dengan kepatenan pembuluh darah sebagai jalan darah mencapai sel-sel jantung. Beberapa hal yang bisa mengganggu kepatenan pembuluh darah diantaranya: Aterosklerosis pembuluh darah koroner, Sumbatan total arteri oleh trombus/emboli,spasme, dan arteritis. Spasme pembuluh darah bisa juga terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya, dan biasanya dihubungkan dengan beberapa hal antara lain: (a) mengkonsumsi obat-obatan tertentu; (b) stress emosional atau nyeri; (c) terpapar suhu dingin yang ekstrim, (d) merokok. b. Faktor Sirkulasi Sirkulasi berkaitan dengan kelancaran peredaran darah dari jantung keseluruh tubuh sampai kembali lagi ke jantung. Sehingga hal ini tidak akan lepas dari factor pemompaan dan volume darah yang dipompakan. Kondisi yang menyebabkan gangguan pada sirkulasi diantaranya kondisi hipotensi. Stenosis maupun isufisiensi yang terjadi pada katup-katup jantung (aorta, mitrlalis, maupun trikuspidalis) menyebabkan menurunnya cardac out put (COP). Penurunan COP yang diikuti oleh penurunan sirkulasi menyebabkan bebarapa 2
  3. 3. bagian tubuh tidak tersuplai darah dengan adekuat, termasuk dalam hal ini otot jantung. c. Faktor darah Darah merupakan pengangkut oksigen menuju seluruh bagian tubuh. Jika daya angkut darah berkurang, maka sebagus apapun jalan (pembuluh darah) dan pemompaan jantung maka hal tersebut tidak cukup membantu. Hal-hal yang menyebabkan terganggunya daya angkut darah antara lain: anemia, hipoksemia, dan polisitemia. 2. Meningkatnya kebutuhan oksigen tubuh Pada dikompensasi orang normal diantaranya meningkatnya dengan kebutuhan meningkatkan denyut oksigen jantung mampu untuk meningkatkan COP. Akan tetapi jika orang tersebut telah mengidap penyakit jantung, mekanisme kompensasi justru pada akhirnya makin memperberat kondisinya karena kebutuhan oksigen semakin meningkat, sedangkan suplai oksigen tidak bertambah. Oleh karena itu segala aktivitas yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan oksigen akan memicu terjadinya infark. Misalnya: aktivtas berlebih, emosi, makan terlalu banyak dan lain-lain. Hipertropi miokard bisa memicu terjadinya infark karea semakin banyak sel yang harus disuplai oksigen, sedangkan asupan oksien menurun akibat dari pemompaan yang tidak efektive. D. FAKTOR RESIKO Secara garis besar terdapat dua jenis factor resiko bagi setiap orang untuk terkena AMI, yaitu factor resiko yang bisa dimodifikasi dan factor resiko yang tidak bisa dimodifikasi. 3
  4. 4. a. Faktor Resiko Yang Dapat Dimodifikasi Merupakan factor resiko yang bisa dikendalikan sehingga dengan intervensi tertentu maka bisa dihilangkan. Yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya: Merokok Peran rokok dalam penyakit jantung koroner ini antara lain: menimbulkan aterosklerosis; peningkatan trombogenessis dan vasokontriksi; peningkatan tekanan darah; pemicu aritmia jantung, meningkatkan kebutuhan oksigen jantung, dan penurunan kapasitas pengangkutan oksigen Merokok 20 batang rokok atau lebih dalam sehari bisa meningkatkan resiko 2-3 kali disbanding yang tidak merokok. Konsumsi alcohol Meskipun ada dasar teori mengenai efek protektif alcohol dosis rendah hingga moderat, dimana ia bisa meningkatkan trombolisis endogen, mengurangi adhesi platelet, dan meningkatkan kadar HDL dalam sirkulasi, akan tetapi semuanya masih controversial Tidak semua literature mendukung konsep ini, bahkan peningkatan dosis alcohol dikaitkan dengan peningkatan mortalitas cardiovascular karena aritmia, hipertensi sistemik dan kardiomiopati dilatasi. Infeksi Infeksi Chlamydia pneumoniae , organisme gram negative intraseluler dan penyebab umum penyakit saluran perafasan, tampaknya berhubungan dengan penyakit koroner aterosklerotik Hipertensi sistemik. Hipertens sistemik menyebabkan meningkatnya after load yang secara tidak langsung akan meningkan beban kerja jantung. Kondisi seperti ini akan memicu hipertropi ventrikel kiri sebagai kompensasi dari meningkatnya after load yang pada akhirnya meningkatan kebutuhan oksigen jantung. 4
  5. 5. Obesitas Terdapat hubungan yang erat antara berat badan, peningkatan tekanan darah, peningkatan kolesterol darah, DM tidak tergantung insulin, dan tingkat aktivitas yang rendah. Kurang olahraga Aktivitas aerobic yang teratur akan menurunkan resiko terkena penyakit jantung koroner, yaitu sebesar 20-40 %. Penyakit Diabetes Resiko terjadinya penyakit jantung koroner pada pasien dengan DM sebesar 2- 4 lebih tinggi dibandingkan orang biasa. Hal ini berkaitan dengan adanya abnormalitas metabolisme lipid, obesitas, hipertensi sistemik, peningkatan trombogenesis (peningkatan tingkat adhesi platelet dan peningkatan trombogenesis). b. Faktor Resiko Yang Tidak Dapat Dimodifikasi Merupakan factor resiko yang tidak bisa dirubah atau dikendalikan, yaitu diantaranya: Usia Resiko meningkat pada pria datas 45 tahun dan wanita diatas 55 tahun (umumnnya setelah menopause) Jenis Kelamin Morbiditas akibat penyakit jantung koroner (PJK)pada laki-laki dua kali lebih besar dibandingkan pada perempuan, hal ini berkaitan dengan estrogen endogn yang bersifat protective pada perempuan. Hal ini terbukti insidensi PJK meningkat dengan cepat dan akhirnya setare dengan laki pada wanita setelah masa menopause Riwayat Keluarga 5
  6. 6. Riwayat anggota keluarga sedarah yang mengalami PJK sebelm usia 70 tahun merupakan factor resiko independent untuk terjadinya PJK. Agregasi PJK keluarga menandakan adanya predisposisi genetic pada keadaan ini. Terdapat bukti bahwa riwayat positif pada keluarga mempengaruhi onset penderita PJK pada keluarga dekat RAS Insidensi kematian akiBat PJK pada orang Asia yang tinggal di Inggris lebih tinggi dibandingkan dengan peduduk local, sedangkan angka yang rendah terdapat pada RAS apro-karibia Geografi Tingkat kematian akibat PJK lebih tinggi di Irlandia Utara, Skotlandia, dan bagian Inggris Utara dan dapat merefleksikan perbedaan diet, kemurnian air, merokok, struktur sosio-ekonomi, dan kehidupan urban. Tipe kepribadian Tipe kepribadian A yang memiliki sifat agresif, kompetitif, kasar, sinis, gila hormat, ambisius, dan gampang marah sangat rentan untuk terkena PJK. Terdapat hubungan antara stress dengan abnnormalitas metabolisme lipid. Kelas social Tingkat kematian akibat PJK tiga kali lebih tinggi pada pekerja kasar lakilaki terlatih dibandingkan dengan kelompok pekerja profesi (missal dokter, pengacara dll). Selain itu frekuensi istri pekerja kasar ternyata 2 kali lebih besar untuk mengalami kematian dini akibat PJK dibandingkan istri pekerja professional/nonmanual. 6
  7. 7. D. PATOFISIOLOGI AMI (akut miokard infark) terjadi ketika iskemia yang terjadi berlangsung cukup lama yaitu lebih dari 30-45 menit sehingga menyebabkan kerusakan seluler yang ireversibel. Bagian jantung yang terkena infark akan berhenti berkontraksi selamanya. Iskemia yang terjadi paling banyak disebabkan oleh penyakit arteri koroner/coronary artery disease (CAD). Pada penyakit ini terdapat materi lemak (plaque) yang telah terbentuk dalam beberapa tahun di dalam lumen arteri koronaria (arteri yang mensuplay darah dan oksigen pada jantung) Plaque dapat rupture sehingga menyebabkan terbentuknya bekuan darah pada permukaan plaque. Jika bekuan menjadi cukup besar, maka bisa menghambat aliran darah baik total maupun sebagian pada arteri koroner. Terbendungnya aliran darah menghambat darah yang kaya oksigen mencapai bagian otot jantung yang disuplai oleh arteri tersebut. Kurangnya oksigen akan merusak otot jantung. Jika sumbatan itu tidak ditangani dengan cepat, otot jantung ang rusak itu akan mulai mati. Selain disebabkan oleh terbentuknya sumbatan oleh plaque ternyata infark juga bisa terjadi pada orang dengan arteri koroner normal (5%). Diasumsikan bahwa spasme arteri koroner berperan dalam beberapa kasus ini. Spasme yang terjadi bisa dipicu oleh beberapa hal antara lain: mengkonsumsi obat-obatan tertentu; stress emosional; merokok; dan paparan suhu dingin yang ekstrim. Spasme bisa terjadi pada pembuluh darah yang mengalami aterosklerotik sehingga bisa menimbulkan oklusi kritis sehingga bisa menimbulkan infark jika terlambat dalam penangananya. Letak infark ditentukan juga oleh letak sumbatan arteri koroner yang mensuplai darah ke jantung. Terdapat dua arteri koroner besar yaitu arteri koroner kanan dan kiri. Kemudian arteri koroner kiri bercabang menjadi dua yaitu 7
  8. 8. Desenden Anterior dan arteri sirkumpeks kiri. Arteri koronaria Desenden Anterior kiri berjalan melalui bawah anterior dinding ke arah afeks jantung. Bagian ini menyuplai aliran dua pertiga dari septum intraventrikel, sebagaian besar apeks, dan ventrikel kiri anterior. Sedangkan cabang sirkumpleks kiri berjalan dari koroner kiri kearah dinding lateral kiri dan ventrikel kiri. Daerah yang disuplai meliputi atrium kiri, seluruh dinding posterior, dan sepertiga septum intraventrikel posterior. Selanjutnya arteri koroner kanan berjalan dari aorta sisi kanan arteri pulmonal kearah dinding lateral kanan sampai ke posterior jantung. Bagian jantung yang disuplai meliputi: atrium kanan, ventrikel kanan, nodus SA, nodus AV, septum interventrikel posterior superior, bagian atrium kiri, dan permukaan diafragmatik ventrikel kiri. Berdasarkan hal diatas maka dapat diketahui jika infark anterior kemungkinan disebabkan gangguan pada cabang desenden anterior kiri, sedangkan infark inferior bisa disebabkan oleh lesi pada arteri koroner kanan. Berdasarkan ketebalan dinding otot jantung yang terkena maka infark bisa dibedakan menjadi infark transmural dan subendokardial. Kerusakan pada seluruh lapisan miokardiom disebut infark transmural, sedangkan jika hanya mengenai lapisan bagian dalam saja disebut infark subendokardial. Infark miokardium akan mengurangi fungsi ventrikel karena otot yang nekrosis akan kehilangan daya kotraksinya begitupun otot yang mengalami iskemi (disekeliling daerah infark). Secara fungsional infark miokardium menyebabkan perubahan-perubahan sebagai berikut: Daya kontraksi menurun Gerakan dinding abnormal (daerah yang terkena infark akan menonjol keluar saat yang lain melakukan kontraksi) Perubahan daya kembang dinding ventrikel Penurunan volume sekuncup. Penurunan fraksi ejeksi 8
  9. 9. Gangguan fungsional yang terjadi tergantung pada beberapa factor dibawah ini: Ukuran infark,jika mencapai 40% bisa menyebabkan syok kardiogenik Lokasi Infark dinding anterior mengurangi fungsi mekanik jantung lebih besar dibandingkan jika terjadi pada bagian inferior. Sirkulasi kolateral berkembang sebagai respon terhadap iskemi kronik dan hiperferfusi regional untuk memperbaiki aliran darah yang menuju miokardium. Sehingga semakin banyak sirkulasi kolateral, maka gangguan yang terjadi minimal. Mekanisme kompensasi bertujuan untuk mempertahankan curah jantung dan perfusi perifer. Gangguan akan mulai terasa ketika mekanisme kompensasi jantung tidak berfungsi dengan baik. E. TANDA DAN GEJALA Tidak semua serangan mulai secara tiba-tiba disertai nyeri yang sangat parah seperti yang sering kita lihat pada tayangan TV atau sinema. Tanda dan gejala dari serangan jantung tiap orang tidak sama. Banyak serangan jantung berjalan lambat sebagai nyeri ringan atau perasaan tidak nyaman. Bahkan beberapa orang tanpa gejala sedikitpun (dinamakan silent heart attack) Akan tetapi pada umumnya serangan AMI ini ditandai oleh beberapa hal berikut: a. Nyeri Dada Mayoritas pasien AMI (90%) datang dengan keluhan nyeri dada. Perbedaan dengan nyeri pada angina adalah nyer pada AMI lebih panjang yaitu minimal 30 menit, sedangkan pada angina kurang dari itu. Disamping itu pada angina biasanya nyeri akan hilang dengan istirahat akan tetapi pada infark tidak.Nyeri dan rasa tertekan pada dada itu bisa disertai dengan keluarnya keringat dingin atau perasaan takut. 9
  10. 10. Mskipun AMI memiliki cirri nyeri yang khas yaitu menjalar ke lengan kiri, bahu, leher sampai ke epigastrium, akan tetapi pada orang tertentu nyeri yang terasa hanya sedikit. Hal tersebut biasanya terjadi pada manula, atau penderita DM berkaitan dengan neuropathy. Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak mereda, biasanya diatas region sternal bawah dan abdomen bagian atas, ini merupakan gejala utama. Keparahan nyeri dapat meningkat secaara menetap sampai nyeri tidak tertahankan lagi. Nyeri tersebut sangat sakit, seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri). Nyeri mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional), menetap selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan istirahat atau nitrogliserin (NTG). Nyeri dapat menjalar ke arah rahang dan leher. Nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis berat, pening atau kepala terasa melayang dan mual muntah. Pasien dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena neuropati yang menyertai diabetes dapat mengganggu neuroreseptor (menumpulkan pengalaman nyeri) b. Sesak Nafas Sesak nafas bisa disebabkan oleh peningkatan mendadak tekanan akhir diastolic ventrikel kiri, disamping itu perasaan cemas bisa menimbulkan hipervenntilasi. Pada infark yang tanpa gejala nyeri, sesak nafas merupakan tanda adanya disfungsi ventrikel kiri yang bermakna c. Gejala Gastrointestinal 10
  11. 11. Peningkatan aktivitas vagal menyebabkan mual dan muntah, dan biasanya lebih sering pada infark inferior, dan stimulasi diafragma pada infak inferior juga bisa menyebabkan cegukan d. Gejala Lain Termasuk palpitasi, rasa pusing, atau sinkop dari aritmia ventrikel, dan gejala akibat emboli arteri (misalnya stroke, iskemia ekstrimitas) F. PENANGANAN Tujuan dari penanganan pada infark miokard adalah menghentikan perkembangan serangan jantung, menurunkan beban kerja jantung (memberikan kesempatan untuk penyembuhan) dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Berikut ini adalah penanganan yang dilakukan pada pasien dengan AMI: Berikan oksigen meskipun kadar oksigen darah normal. Persediaan oksigen yang melimpah untuk jaringan, dapat menurunkan beban kerja jantung. Oksigen yang diberikan 5-6 L /menit melalu binasal kanul. pasang monitor kontinyu EKG segera, karena aritmia yang mematikan dapat terjadi dalam jam-jam pertama pasca serangan. Pasien dalam kondisi bedrest untuk menurunkan kerja jantung sehingga mencegah kerusakan otot jantung lebih lanjut. Mengistirahatkan jantung berarti memberikan kesempatan kepada sel-selnya untuk memulihkan diri. Pemasangan IV line untuk memudahkan pemberan obat-obatan dan nutrisi yang diperlukan. Pada awal-awal serangan pasien tidak diperbolehkan mendapatkan asupa nutrisi lewat mulut karena akan meningkatkan kebutuhan tubuh erhadap oksigen sehingga bisa membebani jantung. Pasien yang dicurigai atau dinyatakan mengalami infark seharusnya mendapatkan aspirin (antiplatelet) untuk mencegah pembekuan darah. 11
  12. 12. Sedangkan bagi pasien yang elergi terhadap aspirin dapat diganti dengan clopidogrel. Nitroglycerin dapat diberikan untuk menurunkan beban kerja jantung dan memperbaiki aliran darah yang melalui arteri koroner. Nitrogliserin juga dapat membedakan apakah ia Infark atau Angina, pada infark biasanya nyeri tidak hilang dengan pemberian nitrogliserin. Morphin merupakan antinyeri narkotik paling poten, akan tetapi sangat mendepresi aktivitas pernafasan, sehingga tdak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat gangguan pernafasan. Sebagai gantinya maka digunakan petidin Pada prinsipnya jika mendapatkan korban yang dicurigai mendapatkan serangan jantung, segera hubungi 118 untuk mendapatkan pertolongan segera. Karena terlambat 1-2 menit saa nyawa korban mungkin tidak terselamatkan lagi. Obat-obatan yang digunakan pada pasien dengan AMI diantaranya: 1. Obat-obatan trombolitik Obat-obatan ini ditujukan untuk memperbaiki kembali airan darah pembuluh darah koroner, sehingga referfusi dapat mencegah kerusakan miokard lebih lanjut. Obat-obatan ini digunakan untuk melarutkan bekuan darah yang menyumbat arteri koroner. Waktu paling efektive pemberiannya adalah 1 jam stelah timbul gejal pertama dan tidak boleh lebih dari 12 am pasca serangan. Selain itu tidak boleh diberikan pada pasien diatas 75 tahun Contohnya adalah streptokinase 2. Beta Blocker Obat-obatan ini menrunkan beban kerja jantung. Bisa juga digunakan untuk mengurangi nyeri dada atau ketidaknyamanan dan juga mencegah serangan jantung tambahan. Beta bloker juga bisa digunakan untuk memperbaiki aritmia. 12
  13. 13. Terdapat dua jenis yaitu cardioselective (metoprolol, atenolol, dan acebutol) dan non-cardioselective (propanolol, pindolol, dan nadolol) 3. Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) Inhibitors Obat-obatan ini menurunkan tekanan darah dan mengurangi cedera pada otot jantung. Obat ini juga dapat digunakan untuk memperlambat kelemahan pada otot jantung. Misalnya captropil 4. Obat-obatan antikoagulan Obat- obatan ini mengencerkan darah dan mencegah pembentukan bekuan darah pada arteri. Missal: heparin dan enoksaparin. 5. Obat-obatan Antiplatelet Obat-obatan ini (misal aspirin dan clopidogrel) menghentikan platelet untuk membentuk bekuan yang tidak diinginkan. Jika obat-obatan tidak mampu menangani/menghentikan serangan jantung., maka dpat dilakukan tindakan medis, yaitu antara lain a. Angioplasti Tindakan non-bedah ini dapat dilakukan dengan membuka arteri koroner yang tersumbat oleh bekuan darah. Selama angioplasty kateter dengan balon pada ujungnya dimasukan melalui pembuluh darah menuju arteri koroner yang tersumbat. Kemudian balon dikembangkan untuk mendorong plaq melawan dinding arteri. Melebarnya bagian dalam arteri akan mengembalikan aliran darah. Pada angioplasti, dapat diletakan tabung kecil (stent) dalam arteri yang tersumbat sehingga menjaganya tetap terbuka. Beberapa stent biasanya dilapisi obat-obatan yang mencegah terjadinya bendungan ulang pada arteri. b. CABG (Coronary Artery Bypass Grafting) Merupakan tindakan pembedahan dimana arteri atau vena diambil dari bagian tubuh lain kemudian disambungkan untuk membentuk jalan pintas 13
  14. 14. melewati arteri koroner yang tersumbat. Sehingga menyediakan jalan baru untuk aliran darah yang menuju sel-sel otot jantung. Setelah pasien kembali ke rumah maka penanganan tidak berhenti, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan: Mematuhi manajemen terapi lanjutan dirumah baik berupa obat-obatan maupn mengikuti program rehabilitasi. Melakukan upaya perubahan gaya hidup sehat yang bertujuan untuk menurunkan kemungkinan kekambuhan, misalnya antara lain: menghindari merokok, menurunkan BB, merubah dit, dan meningatkan aktivitas fisik. 14
  15. 15. BAB II KONSEP KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN a. Aktivitas/Istrahat Gejala : kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur Pola hidup menetap, jadwal olahraga tidak teratur Tanda : takikardi, dispnea pada istrahat dan aktivitas b. Sirkulasi Gejala : riwayat infark sebelumnya, penyakit arteri koroner,gagal jantung kronis, masalah tekanan darah, diabetes melitus. Tanda : TD : dapat normal atau naik/turun ;perubahan postural dicatat dari tidur Sampai duduk/berdiri. Nadi : dapat normal ; penuh/takkuat, atau lemah/kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat; tidak teratur (distritmia) mungkin terjadi. Bunyi jantung : bunyi jantung ekstra ; S3/S4 mungkin menunjukan gagal Jantung/penurunan kontraktilitas atau komplain ventrikel. Murmur : bila ada menunjukan gagal katup atau disfungsi otot papilar. Friksi : dicurigai perikarditis Irama jantung : dapat teratur atau tidak teratur Edema : distensi vena juguler, edema dependen/perifer, edema umum. Krekels mungkin ada dengan gagal jantung/ventrikel. Warna : pucat atau sianosis/kulit abu-abu, kuku datar pada membran mukosa dan bibir. 15
  16. 16. c. Integritas Ego Gejala : menyangkal gejala penting/adanya kondisi Takut mati, perasaan ajal sudah dekat Marah pada penyakit/perawatan yang tak perlu Kuatir tentang keluarga, kerja, keuangan Tanda : menolak, menyangkal, cemas, kurang kontak mata Gelisah, marah, perilaku menyerang Fokus pada diri sendiri/nyeri d. Eliminasi Tanda : normal atau bunyi usus menurun e. Makanan/Cairan Tanda : mual, kehilangan nafsu makan, bersendawa, yeri ulu hati/terbakar Gejala : penurunan turgor kulit; kulit kering berkeringat Muntah Anoreksia Perubahan berat badan f. Higiene Gejal/tanda : kesulitan melakukan tugas perawatan diri g. Neurosensori Gejala : pusing, berdenyut selama tisur atau saat bangun (duduk atau istrahat) Tanda : perubahan mental Kelemahan 16
  17. 17. h. Nyeri/Ketidaknyamanan Gejala :nyeri dada yang tiimbulnya mendadak (dapat/tak berhubungan dengan aktivitas), tidak dengan dengan istrahat atau nitrogliserin lokasi : tipikal pada dada anterior, substernal, prekordia : dapat menyebar ke tangan, rahang, wajah. Kualitas : churusing, menyempit, berat, menetap, tertekan. Intensitas : biasanya 10 pada skala 1 – 10 Tanda : wajah meringis, perubahan postur tubuh. Menangis, merintih, meregang, menggeliat Menarik diri, kehilangan kontak mata Respon otomatik : perubahan frekuensi/irama jantung, tekanan darah, Pernapasan, warna kulit/kelembaban. Kesadaran. i. Pernapasan Gejala : dispnea dengan/tanpa kerja, dispnea nokturnal Batuk dengan tanpa produksi sputum Riwayat merokok, penyakit pernapasan kronik Tanda : peningkatan frekuensi pernapasan, napas sesak/kuat Pucat atau sianosis Bunyi napas : bersih atau krekels/mengi Sputum : bersih, merah muda kental j. Interaksi Sosial Gejala : stress Kesulitan koping dengan stressor ang ada misalnya penyakit dan perawatan di rumah sakit. Tanda : kesulitan istrahat dengan tenang, respon terlalu emosi (marah terus menerus). 17
  18. 18. k. Pemeriksaan Diagnostik Penegakan diagnosa serangan jantung berdasarkan gejala, riwayat kesehatan prbadi dan kelarga, serta hasil test diagnostic. a. EKG (Electrocardiogram) Pada EKG 12 lead, jaringan iskemik tetapi masih berfungsi akan menmghasilkan perubahan gelombang T, menyebabkan inervasi saat aliran listrik diarahkan menjauh dari jaringan iskemik, lebih serius lagi, jaringan iskemik akan mengubah segmen ST menyebabkan depresi ST. Pada infark, miokard yang mati tidak mengkonduksi listrik dan gagal untuk repolarisasi secara normal, mengakibatkan elevasi segmen ST. Saat nekrosis terbentuk, dengan penyembuhan cincin iskemik disekitar area nekrotik, gelombang Q terbentuk. Area nekrotik adalah jaringan parut yang tak aktif secara elektrikal, tetapi zona nekrotik akan menggambarkan perubahan gelombang T saat iskemik terjasi lagi. Pada awal infark miokard, elevasi ST disertai dengan gelombang T tinggi. Selama berjam-jam atau berhari-hari berikutnya, gelombang T membalik. Sesuai dengan umur infark miokard, gelombang Q menetap dan segmen ST kembali normal. Gambaran spesifik pada rekaman EKG Daerah infark Perubahan EKG Anterior Elevasi segmen ST pada lead V3 -V4, perubahan resiprokal (depresi ST) pada lead II, III, aVF. Inferior Elevasi segmen T pada lead II, III, aVF, perubahan resiprokal (depresi ST) V1 – V6, I, aVL. 18
  19. 19. Lateral Elevasi segmen ST pada I, aVL, V5 – V6. Posterior Perubahan resiprokal (depresi ST) pada II, III, aVF, terutama gelombang R pada V1 – V2. Ventrikel kanan Perubahan gambaran dinding inferior b. Test Darah Selama serangan, sel-sel otot jantung mati dan pecah sehingga proteinprotein tertentu keluar masuk aliran darah. Kreatinin Pospokinase (CPK) termasuk dalam hal ini CPK-MB terdetekai setelah 6-8 jam, mencapai puncak setelah 24 jam dan kembali menjadi normal setelah 24 jam berikutnya. LDH (Laktat Dehidrogenisasi) terjadi pada tahap lanjut infark miokard yaitu setelah 24 jam kemudian mencapai puncak dalam 3-6 hari. Masih dapat dideteksi sampai dengan 2 minggu.Iso enzim LDH lebih spesifik dibandingkan CPK-MB akan tetapi penggunaan klinisnya masih kalah akurat dengan nilai Troponin, terutama Troponin T. Seperti yang kita ketahui bahwa ternyata isoenzim CPK-MB maupun LDH selain ditemukan pada otot jantung juga bisa ditemukan pada otot skeletal. Troponin T & I merupakan protein merupakan tanda paling spesifik cedera otot jantung, terutama Troponin T (TnT)Tn T sudah terdeteksi 3-4 jam pasca kerusakan miokard dan masih tetap tinggi dalam serum selama 1-3 minggu.Pengukuran serial enzim jantung diukur setiap selama tiga hari pertama; peningkatan bermakna jika nilainya 2 kali batas tertinggi nilai normal. c. Coronary Angiography Coronary angiography merupakan pemeriksaan khusus dengan sinar x pada jantung dan pembuluh darah. Sering dilakukan selama serangan untuk menemukan letak sumbatan pada arteri koroner. Dokter memasukan kateter 19
  20. 20. melalui arteri pada lengan atau paha menujua jantung. Prosedur ini dinamakan kateterisasi jantung, yang merupakan bagian dari angiografi koroner Zat kontras yang terlihat melalui sinar x diinjeksikan melalui ujung kateter pada aliran darah. Zat kontras itu memingkinkan dokter dapat mempelajari aliran darah yang melewati pembuluh darah dan jantung Jika ditemukan sumbatan, tindakan lain yang dinamakan angioplasty, dpat dilakukan untuk memulihkan aliran darah pada arteri tersebut. Kadang-kadang akan ditempatkan stent (pipa kecil yang berpori) dalam arteri untuk menjaga arteri tetap terbuka. B. KLASIFIKASI DATA Data subjektif : Takikardi Dispnea Jantung berdebar Nyeri dada yang mendadak Merasa kesakitan pada area dada yang menjalar ke bahu, wajah, lengan, leher Nyeri seperti ditusuk-tusuk, tertekan Merasakan nyeri yang tidak hilang dengan istrahat maupun nitrogliserin Marasa kesulitan untuk tidur Merasa lemah Takut mati Merasa ajal sudah dekat Menyangkal Mual Anoreksia Merasa tidak nyaman Merasa lemah Klie merasa bingung dengan keadaan penyekitnya 20
  21. 21. Data objektif : Wajah meringis Merintih Menggeliat Nampak sesak Bunyi usus menurun Muntah Penurunan berat badan Bunyi jantung ekstra ; S3 dan S4 Tekanan darah menurun Takikardi Dispnea dengan/tanpa kerja Dispnea nokturnal Kesulitan istrahat dengan tenang Irama jantung tidak teratur Nampak gelisah Menolak. Menyangkal Wajah pucat Sianosis Membran mukosa bibir pucat Capilary refill time melambat (lebih dari 3 detik) Penurunan turgor kulit Kesulitan melakukan tugas perawatan diri Perubahan mental Nampak lemah Sering bertanya tentang penyakit Menguap Palpebra hitam Ketakutan Tonus otot menurun 21
  22. 22. C. ANALISA DATA No 1 Symtomps Etiologi DS : Problem Pola napas tidak Klien merasa sesak efektif DO : Dispnea dengan/tanpa kerja Nampak sesak Dispnea nokturnal Ekpansi paru tidak sempurna 2 DS : Nyeri Nyeri dada yang mendadak. Merasa kesakitan pada area dada yang menjalar ke bahu, wajah, lengan, leher. Nyeri seperti ditusuktusuk, tertekan. Merasakan nyeri yang tidak hilang dengan istrahat maupun nitrogliserin. DO : Wajah meringis Merintih Menggeliat 3 DS : Penurunan curah 22
  23. 23. jantung Jantung berdebar DO : Tekanan darah menurun Bunyi jantung ekstra ; S3 dan S4 Takikardi Irama jantung tidak teratur 4 DS : Nutrisi kurang dari kebutuhan Mual tubuh Anoreksia DO : Bunyi usus menurun Muntah Penurunan berat badan 5 DS : Gangguan perfusi jaringan perifer Merasa lemah DO : Wajah pucat Sianosis Membran mukosa bibir pucat Capilary refill time melambat (lebih dari 3 detik) Penurunan turgor kulit 6 DS : Intoleransi Merasa lemah aktivitas 23
  24. 24. Malas beraktivitas DO : Nampak lemah Tonus otot menurun 7 DS : Ansietas Takut mati Merasa ajal sudah dekat Menyangkal DO : Nampak gelisah Perubahan mental ketakutan 8 DS : Gangguan pola Marasa kesulitan tidur untuk tidur Merasa tidak nyaman DO : Nampak kesulitan istrahat dengan tenang Menguap Palpebra hitam 9 DS : Defisit perawatan diri Ketidaknyamanan Merasa tidak melakukan bisa kativitas perawatan diri DO : Ketidakmampuan melakukan perawatan 24
  25. 25. diri Penurunan fungsi umum 10 DS : Kurang Klie merasa bingung dengan pengetahuan keadaan penyekitnya. DO : Sering bertanya tentang penyakit. Nampak keingungan. D. DIAGNOSA KEPERAWATA 1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelebihan cairan pada paru ditandai dengan DS : Klien merasa sesak DO : Dispnea dengan/tanpa kerja Nampak sesak Dispnea nokturnal Ekpansi paru tidak sempurna 2. Nyeri berhubungan dengan penurunan aliran darah koroner ditandai dengan DS : Nyeri dada yang mendadak. Merasa kesakitan pada area dada yang menjalar ke bahu, wajah, lengan, leher. 25
  26. 26. Nyeri seperti ditusuk-tusuk, tertekan. Merasakan nyeri yang tidak hilang dengan istrahat maupun nitrogliserin. DO : Wajah meringis Merintih Menggeliat 3. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beruhubungan dengan kontraktilitas miokard berkurang ditandai dengan DS : Jantung berdebar DO : Tekanan darah menurun Bunyi jantung ekstra ; S3 dan S4 Takikardi Irama jantung tidak teratur 4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh aliran darah ke saluran gastrointestinal menurun ditandai dengan DS : Mual Anoreksia DO : Bunyi usus menurun Muntah Penurunan berat badan 5. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan beruhubungan dengan suplai darah ke seluruh jaringan berkurang ditandai dengan DS : 26
  27. 27. Merasa lemah DO : Wajah pucat Sianosis Membran mukosa bibir pucat Capilary refill time melambat (lebih dari 3 detik) Penurunan turgor kulit 6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai darah dan kebutuhan oksigen jaringan ditandai dengan DS : Merasa lemah Malas beraktivitas DO : Nampak lemah Tonus otot menurun 7. Ansietas berhubungan dengan pola penyakit dan hospitalisasi ditandai dengan DS : Takut mati Merasa ajal sudah dekat Menyangkal DO : Nampak gelisah Perubahan mental Ketakutan 8. Gangguan pola tidur berhubungan dengan efek nyeri ditandai dengan DS : 27
  28. 28. Marasa kesulitan untuk tidur Merasa tidak nyaman DO : Nampak kesulitan istrahat dengan tenang Menguap Palpebra hitam 9. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan DS : Ketidaknyamanan Merasa tidak bisa melakukan kativitas perawatan diri DO : Ketidakmampuan melakukan perawatan diri Penurunan fungsi umum 10. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit ditandai dengan DS : Klie merasa bingung dengan keadaan penyekitnya. DO : Sering bertanya tentang penyakit. Nampak keingungan. E. PRIORITAS KEPERAWATAN 1. Memperbaiki/mempertahankan oksigenasi/ventilasi adekuat 2. Menghilangkan nyeri 3. Mencegah/meminimalkan terjadinya komplikasi miokard 4. Perbaikan nutrisi yang adekuat 28
  29. 29. 5. Perfusi jaringan yang adekuat 6. Toleran terhadap aktivitas 7. Menghilangkan cemas 8. Meningkatkan pola tidur 9. Memaksimalkan perawatan diri 10. Memberiakn informasi tentang proses penyakit. F. INTERVENSI KEPERAWATAN No 1 Diagnosa Tujuan Intervensi Pola napas tidak Tujuaan : efektif Pola berhubungan efektif Kaji fungsi pernapasan. ditandai dengan sianosis dan dini komplikasi. Berikan perhatian terhadap status volume cairan. Untuk mencegah kelebihan cairan pada ada paru dan jantung. merasa Berikan dorongan pada pasien Unutk untuk DS : Klien Untuk mendeteksi tanda napas dengan kelebihan adekuat cairan pada paru Tidak Rasional pengumpulan napas dalam dan mencegah mengubah posisi. Dispnea Mengoptimilkan Kolaborasi DO : dalam dasar paru. Berikan posisi semi fowler sesak ekspansi cairan pemberian ventilator dengan/tanpa paru, mengurangi beban fungsi paru. kerja Nampak sesak Dispnea nokturnal Ekpansi paru tidak sempurna 2 Nyeri Tujuan : Kaji keluhan pasien mengenai Data tersebut membantu 29
  30. 30. berhubungan nyeri dada, meliputi : lokasi, menentukan dengan penurunan hilang radiasi, dan aliran yang mempengaruhinya. koroner Nyeri darah dada durasi dan faktor ditandai efek penyebab nyeri serta dada merupakan garis dasar untuk dengan membandingkan DS : gejala pasca terapi. Nyeri dada yang Berikan istirahat fisik dengan Untuk mengurangi rasa mendadak. punggung ditinggikan tidak nyaman serta dispnea kesakitan pada dan istirahat fisik Merasa juga dapat area dada yang mengurangi menjalar oksigen jantung. bahu, ke wajah, lengan, leher. Nyeri seperti ditusuk-tusuk, Kolaborasi dengan tim medis Untuk pemberian : otot  Obat vasodilator (NTG) dan antikoagulan. konsumsi memulihkan jantung untuk memastikan peredaan tertekan.  Terapi trombolitik. maksimum Merasakan nyeri  Preparat analgesik (inhalasi yang hilang tidak dengan istrahat maupun nitrogliserin. DO : (Morfin Sulfat).  Pemberian oksigen bersamaan dengan analgesik dan nyeri oksigen menurunkan yang berkaitan dengan tingkat nyeri rendahnya oksigen bersirkulasi). Wajah meringis Merintih Menggeliat 30 yang
  31. 31. 3 Penurunan curah Tujuan : Pantau tekanan darah, nadi darah Indikator klinis perifer. keadekuatan jantung Takanan berhubungan normal jantung. dengan Tidak terdengar memungkinkan beruhubungan bunyi dini/tindakan dengan abnormal kontraktilitas Bunyi jantung dari curah Pemantauan deteksi terhadap dekompensasi. jantung miokard berkurang normal Pantau irama jantung sesuai Distritmia umum pada indikasi. pasien dengan penyakit ditandai dengan Tanda-tanda umum, berkenaan DS : sianosis hilang. dengan peningkatan Jantung tekanan berdebar atrium serta abnormalitas DO : volume konduksi. Tekanan darah menurun Bunyi dan Tingkatkan/dorong tirah Menurunkan volume baring dengan kepala tempat jantung darah yang kembali ke tidur ditinggikan 45 derajat. jantung (preload) yang ekstra ; S3 dan memungkinkan S4 oksigenasi, menurunkan Takikardi regangan jantung. Irama jantung tidak teratur Diskusikan/demonstrasikan Reduksi ensietas dapat teknik manajemen stress. menurunkan jantung stimulasi simpatis dan beban kerja jantung. Berikan oksigen suplemen. Memberikan oksigen untuk ambilan miokard dalam upaya 31 untuk
  32. 32. mengkompensasi peningkatan kebutuhan oksigen. 4 Nutrisi kurang dari Tujuan : Jelaskan klien dan keluarga Klien kebutuhan tentang pentingnya makanan dapat bagi tubuh. pentingnya aliran tubuh Masukan darah ke makanan saluran adekuat gastrointestinal Mual dan keluarga mengetahui makanan bagi tubuh. dan menurun ditandai muntah Monitor jumlah makanan yang Untuk mengetahui masuk besarnya makanan yang dengan hilang/berkurang DS : Peningkatan Monitor adanya muntah dan Sebagai berat badan catat jumlah, frekuensi dan melakukan warna. keperawatan Mual Anoreksia dikonsumsi. DO : Bunyi untuk tindakan dan pengobatan selanjutnya. usus Berikan makanan yang menurun bervariasi menurut dietnya Muntah untuk merangsang nafsu makan. Agar klien termotivasi merangsang dapat dan nafsu makan. Penurunan berat badan data Berikan makanan dalam porsi Untuk mengurangi 32
  33. 33. kecil namun sering. perasaan dan memenuhi kebutuhan makanan bagi klien. Tambahan asupan protein. Protein tambahan membantu perbaikan dan penyembuhan jaringan, trigliserida rantai sedang meningkatkan absorbsi lemak dan vitamin larut dalam lemak mencegah untuk masalah malabsorbsi. Kolaborasi dengan tim medik Sebagai untuk menghambat pemberian obat anti emetik. terapi untuk rangsangan mual dan muntah. 5 Gangguan perfusi Tujuan : Kaji/periksa suhu kulit dan nadi Untuk jaringan perifer dengan sering. perfusi perifer Kesadaran jaringan yang berhubungan dalam dengan normal (kompos Biarkan pasien di atas tempat Unutk beruhubungan mentis) tidur atau kursi istirahat. kelebihan beban kerja dengan batas menentukan adekuat. suplai Tidak pusing mengurangi jantung. darah ke seluruh Kolaborasi dengan tim medis Untuk memperbanyak jaringan berkurang pemberian oksigen. suplai oksigen ditandai dengan bersirkulasi. DS : Merasa lemah DO : Wajah pucat 33 yang
  34. 34. Sianosis Membran mukosa bibir pucat Capilary time (lebih refill melambat dari 3 detik) Penurunan turgor kulit 6 Intoleransi Tujuan : Kaji toleransi pasien terhadap Parameter aktivitas Toleran terhadap aktivitas menggunakan resppon fisiologis pasien berhubungan aktivitas parameter nyeri terhadap stress aktivitas dengan Dapat kelemahan dan kelemahan. ; dada, dan menunjukan indikator derajat ketidakseimbangan melakukan pengaruh kelebihan kerja antara suplai darah aktivitas jantung. dan oksigen kebutuhan keseharian jaringan Kaji kesiapan meningkatkan untuk Stabilitas fisiologi pada aktivitas istrahat penting untuk ditandai dengan misalnya DS : kelemahan/kelelahan, TD/nadi penurunan Merasa lemah Berikan aktivitas individual. pada latihan. beraktivitas tingkat stabil peningkatan aktivitas Malas memajukan Nampak lemah Tonus Tehnik penghematan kebutuhan anjurkan menyikat DO : bantuan sesuai energi menurunkan gigi dengan duduk. penggunaan energi dan sehingga otot memabantu keseimbamgan menurun suplai dan kebutuhan oksigen. Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam memilih Meningkatkan toleransi terhadap 34 kemajuan
  35. 35. periode aktivitas. aktivitas dan mencegah kelemahan. 7 Ansietas Tujuan : Kaji tingkat kecemasan pasien Data berhubungan Kecemasan dan memberikan dengan pola hilang/berkurang penyakit keluarganya serta dan Tidak gelisah mekanisme koping. tersebut informasi mengenai perasaan sehat secara umum dan hospitalisasi Dapat menerima psikologis ditandai dengan kondisi penyakit gejala pasca terapi dapat DS : sehingga dibandingkan. Takut mati Kaji Merasa ajal sudah spiritual. kebutuhan bimbingan Jika pasien memerlukan dukungan keagamaan, dekat konseling agama akan Menyangkal membantu mengurangi kecemasan DO : dan rasa takut. Nampak gelisah Perubahan mental Biarkan pasien dan keluarganya Kecemasan yang tidak Ketakutan mengekspresikan dapat kecemasan dan ketakutannya. dihilangkan (respons stress) meningkatkan konsumsi oksigen jantung. Manfaatkan waktu kunjungan Kehadiran yang anggota keluarga dapat fleksibel, yang dukungan memungkinkan kehadiran mengurangi keluarga membantu pasien maupun keluarga. untuk kecemasan mengurangi kecemasan pasien. Dukung partisipasi aktif dalam Rehabilitasi jantung program rehabilitasi jantung. yang diresepkan dapat membantu menghilangkan ketakutan 35 akan
  36. 36. kematian, dapat meningkatkan perasaan sehat. Ajarkan tehnik pengurangan stress. Pengurangan dapat stress membantu mengurangi konsumsi oksigen miokardium dan dapat meningkatkan perasaan sehat. 8 Gangguan pola Tujuan : tidur berhubungan Pola Tentukan aktivitas dengan efek nyeri istrahat yang kebiasaan tidur Mengkaji perlunya dan biasanya dan perubahan yang mengidentifikasi terjadi. intervensi yang tepat. ditandai dengan teratur Berikan tempat tidur yang Meningkatkan DS : Menunjukan nyaman. kenyamanan tidur serta peningkatan Marasa dukungan kesulitan untuk pola tidur tidur Merasa fisiologis/psikologis. Kurangi kebisingan. Memberikan tidak nyaman DO : situasi kondusif saat tidur Dorong posisi nyaman , bantu Pengubahan dalam mengubah posisi. mengubah area tekanan Nampak dan kesulitan posisi istrahat. meningkatkan istrahat dengan Tingkatkan tenang kenyamanan waktu tidur mis; relaksasi. Menguap masase, mempunyai Palpebra hitam hangat. segelas regimen susu air Meningkatkan soporifik, sintesis efe Susu kualitas meningkatan serotonin, neurotransmitter membantu yang pasien tertidur dan tidur lebih 36
  37. 37. lama. 9 Defisit perawatan Tujuan : Idebtifikasi diri umum (0-4 : 0: perawatan diri menentukan tingkat dengan kelemahan berbagai secara penuh, 1: memerlukan kemampuan pasien ditandai dengan aktivitas penggunaan dalam DS : perawatan berhubungan Dapat melakuka Ketidaknyaman diri dengan mandiri an peralatan, tingkat fungsi alat atau memerlukan dan bantuan 2: Sebagai dasar dalam melakkukan aktivitas perawatan diri. pengawasan orang lain, 3: memerlukan Merasa bantuan tidak dan pengawasan bisa melakukan orang lain dan peralatan atau kativitas alat, 4: tergantung dan tidak perawatan diri dapat berpartisipasi). Pertahnkan mobilitas, kontrol Mendukung Ketidakmampua terhadap nyeri dan program kemandirian fisik dan n latihan. emosional. DO : melakukan perawatan diri Kaji hambatan terhadap Penurunan partisipasi dalam perawatan meningkatakan fungsi umum diri kemandirian, yang akan identifikasi untuk modifikasi lingkunngan. Menyiapkan meningkatkan untuk harga diri. 10 Kurang Tujuan : Kaji pengetahuan Memahami tentang berhubungan tentang pengobatannya, identifikasi pengobatan dapat dengan kurangnya prognosis sumber memberi dasar informasi tentang penyakit diterima klien penyakit pengetahuan klien Penyakit dan informasi yang informasi pada klien dan prosedur pengetahuan bagi klien ditandai Informasi dengan Memberi tentang panyakit yang adekuat dideritanya. DS : Klie merasa Buat bingung dengan pembelajaran rancangan Sebagai petunjuk dalam yang proses terapi penyakit 37
  38. 38. keadaan mencakup : penyekitnya.  Jenis DO : Sering dan memudahkan dalam Penyakit dan penyebabnya. bertanya pelaksanaannya. menghindari  Upaya penanggulangan tentang penyakit. seperti pemberian obat- Nampak hal-hal memperburuk obatan, tindakan operasi keingungan. yang Serta keadaan penyakit. bila ada indikasi.  Prognosa dan prevalensi Penyakit.  Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan hal yang lebih buruk dan kondisi yang mempercepat penyembuhan. Laksanakan bersama pembelajaran dengan anggota Pelaksanaan pembelajaran bersama keluarga, perhatian kondisi anggota keluarga dapat klien dan lingkungannya. meningkatkan perawatan pemulangan pasien di rumah dan lingkungan yang dapat memperingan penyakit. 38 kondisi

×