Askep abses paru AKPER PEMKAB MUNA
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
1,671
On Slideshare
1,671
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
6
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. t TUGAS: KMB II DOSEN:YATABA S.KeP Ns ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN ABSES PARU OLEHKELOMPOK X: 1.LISNA WATI 2.JAYAMIN 3.JASRIN 4.JUMHARIANI 5.LISNA TRIWULAN NDARI 6.SAIDA
  • 2. AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN MUNA 2012 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya hingga penulis dapat merampungkan pembuatan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN DENGANABSES PARU” Penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak – pihak yang telah mendukung dan memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Penyusun
  • 3. menyadari bahwa dalam penulisan askep ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan karena faktor batasan pengetahuan penyusun, maka penyusun dengan senang hati menerima kritikan serta saran – saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini ini. Semoga hasil dari penyusunan makalah ini dapat dimanfaatkan bagi generasi mendatang, khususnya mahasiswa D-III Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Muna. Akhir kata, melalui kesempatan ini penyusun makalah mengucapkan banyak terima kasih. Raha, februari 2012 Penyusun
  • 4. BAB I PENDAHULUAN
  • 5. A. Latar belakang Organ penting merupakan salah satu organ vital bagi kehidupan manusia. Khususnya berfungsi pada sistem pernapasan manusia. Bertugas sebagai tempat pertukaran oksigen yang dibutuhkan manusia dan mengeluarkan karbondioksida yang merupakan hasil sisa proses pernapasan yang harus dikeluarkan dari tubuh, sehingga kebutuhan tubuh akan oksigen tetap terpenuhi. Udara sangat penting bagi manusia, tidak menhirup oksigen selama beberapa menit dapat menyebabkan kematian. Itulah peranan penting paru-paru. Organ yang terletak di bawah tulang rusuk ini memang mempunyai tugas yang berat, belum lagi semakin tercemarnya udara yang kita hirup serta berbagai bibit penyakit yang berkeliaran di udara. Ini semua dapat menimbulkan berbagai penyakit paru-paru B. Tujuan 1. Mengetahui tentang definisi dari abses paru 2. Mengetahui Eteologi dari abses paru 3. Mengetahui klasifikasi dari abses paru 4. Mengetahui dampak terhadap berbagai sistem tubuh dari abses paru 5. Mengetahui patofisiologis dan penyimpangan KDM dari abses paru 6. Mengetahui tanda dan gejala dari abses paru 7. Mengetahui Prosedur diagnostik dari abses paru 8. Mengetahui menejemen medik dari abses paru 9. Mengetahui Pengkajian, Diagnosa, Intervensi, dan Evaluasi dengan masalah pada sistem pernafasan bawah
  • 6. C. Metode Penulisan Dalam memperoleh data atau informasi yang digunakan untuk penulisan makalah ini, penyusun mengambil dari internet yang relevan dan berbagai kajian pustaka dengan topik penulisan askep ini sebagai dasar untuk mengetahui dan memperkuat teori yang digunakan.
  • 7. BAB II PEMBAHASAN A. KONSEP PENYAKIT a. Pengertian Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnosea sama pula. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi, penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi, epilepsi tak terkontrol, kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol. Pada negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat, penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. Pada beberapa studi didapatkan bahwa kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru.
  • 8. B. Etiologi Pendapat dari Prof. dr. Hood Alsagaff (2006) tentang penyebab abses paru sesuai dengan urutan frekuensi yang ditemukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya adalah: 1. Infeksi yang timbul dari saluran nafas (aspirasi) 2. Sebagai 3. penyulit dari beberapa tipe pneumonia tertentu 4. Perluasan abses subdiafragmatika 5. Berasal dari luka traumatik paru 6. Infark paru yang terinfeksi Pravelensi tertinggi berasal dari infeksi saluran pernafasan, mikroorganisme penyebab umumnya berupa campuran dari bermacam-macam kuman yang berasal dari flora mulut, hidung, tenggorokan, termasuk kuman aerob dan anaerob seperti Streptokok, Basil fusiform, Spirokaeta, Proteus, dan lain-lain. Finegold SM dan Fishman JA (1998) mendapatkan bahwa organisme penyebab abses paru lebih dari 89% adalah kuman anaerob. Asher MI dan Beadry PH (1990) mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses paru terbanyak adalah stapillococous aureus.
  • 9. Kuman penyebab Abses Paru menurut Asher MI dan Beadry PH (1990) antara lain adalah sebagai berikut: 1. Staphillococcus aereus: Haemophilus influenzae types B, C, F, and nontypable; Streptococcus viridans pneumoniae; Alpha-hemolytic streptococci; Neisseria sp; Mycoplasma pneumoniae 2. Kuman Aerob: Haemophilus aphropilus parainfluenzae; Streptococcus group B intermedius; Klebsiella penumonia; Escherichia coli, freundii; Pseudomonas pyocyanea, aeruginosa, denitrificans; Aerobacter aeruginosa Candida; Rhizopus sp; Aspergillus fumigatus; Nocardia sp; Eikenella corrodens; Serratia marcescens 3. Sedangkan kuman Anaerob: Peptostreptococcus constellatus intermedius, saccharolyticu;s Veillonella sp alkalenscenens; Bacteroidesmelaninogenicus oralis, fragilis, corrodens, distasonis, vulgatus ruminicola, asaccharolyticus Fusobacterium necrophorum, nucleatum Bifidobacterium sp. Sedangkan Spektrum isolasi bakteri Abses paru akut menurut Hammond et al (1995) adalah: 1. Anaerob: Provetella sp; Porphyromonas sp; Bacteroides sp; Fusobacterium sp; Anaerobic cocci: Microaerophilic streptococci; Veilonella sp; Clostridium sp; Nonsporing Gram-positive anaerobes.
  • 10. 2. Aerob: Viridans streptococci; Staphylococcus sp; Corynebacterium sp; Klebsiella sp; Haemophilus sp; Gram-negative cocci Sedangkan menurut Finegold dan Fishmans (1998), Organisme dan kondisi yang berhubungan dengan Abses paru : 1. Bacteria Anaerob; Staphylococcus aureus, Enterbacteriaceae, Pseudomanas aeruginosa streptocicci, Legonella spp, Nocardia asteroides, Burkholdaria pseudomallei 2. Mycobacteria (often multifocal): M. Tuberculosis, M. Avium complex, M. Kansasii. 3. Fungi: Aspergillus spp, Mucoraceae, Histoplasma capsulatum, Pneumocystis carinii, Coccidioides immitis, Blastocystis homini 4. Parasit: Entamoeba histolytical, Paragonimus westermani, Stronglyoides stercoralis (post-obstructive) C.Patofisiologi Adanya mikrorganisme penyebab infeksi ↓ Masuk ke perenkim paru ↓
  • 11. inflamasi ↓ Lesi ↓ Lesi membentuk ruang ↓ Abses paru D. Manifestasi klinis Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu: 1. Panas badan Dijumpai berkisar 70% - 80% penderita abses paru. Kadang dijumpai dengan temperatur > 400 C.
  • 12. 2. Batuk, pada stadium awal non produktif. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe) 3. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru. 4. Nyeri yang dirasakan di dalam dada 5. Batuk darah 6. Gejala tambahan lain seperti lelah, penurunan nafsu makan dan berat badan. Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup pada perkusi, suara nafas yang meningkat, sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi. E.Pemeriksaan Penunjang Lab:leukosit meningkat (10.000-20.000/mm3 Pemeriksaan kultur sputum Radiologi Pemeriksaan scorologi F.Penatalaksanaan
  • 13. Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat ringannya infeksi paru. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses paru : 1. MedikaMentosa Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33%, pada era antibiotika maka tingkat kematian dan prognosa abses paru menjadi lebih baik. Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin, pada saat ini dijumpai peningkatan abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih dari 35% kuman gram negatif anaerob). Maka bisa dipikirkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole, atau kombinasi clindamycin dan Cefoxitin. Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem dengan ß Lactamase inhibitase pada penderita dengan pneumonia nosokomial yang berkembang menjadi Abses paru. Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon radiologis penderita. Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas, jadi diberikan antibiotika minimal 2-3 minggu. 2. Drainage Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru. Pada penderita
  • 14. Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi. 3. Bedah Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila: 1. Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika. 2. Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi 3. Infeksi paru yang berulang 4. Adanya gangguan drainase karena obstruksi.
  • 15. B.KONSEP ASKEP A.Pengkajian 1.aktifitas atau istirahat Gejala:klien tidak mampu melakukan aktifitas karena badany terasa lemah Tanda:klien Nampak lemah 2.sirkulasi Tanda:takikardi 3.pernapasan Gejala:klien mengatakan sulit bernafas dan batuk . Tanda:- klien Nampak sesak napas -batuk produktif dengan sputum kuning kehijauan dan berbau amis. 4.integritas ego Gejala :klien mengatakan stress pada penyakitnya. Tanda:gelisah 5.nyeri atau kenyamanan
  • 16. Gejala:klien mengatakan nyeri pada dadanya. Tanda:- klien memegang daerah yang nyeri -klien memegang daerah yang nyeri 6.makanan atau cairan Gejala:klien mengatakan nafsucmakanya menurun dan mual. Tanda: - penurunan berat badan. -porsi makan tidak dihabiskan. 7.neurosensori Tanda:perubahan mental. 8.keamanan Gejala:klien mengatakan demam Tanda:peningkatan suhu tubuh 9.seksualitas Gejala:penurunan minat melakukan hubungan seks
  • 17. Io.higiene Gejala:klien mengatakan tidak mampu melakukan perawatan diri Tanda:klien Nampak kusam 11.penyuluhan dan pembelajaran Gejala:klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya dan penangananya Tanda:-klien kurang mengetahui tentang penyakitnya. -klien Nampak bingung bila ditanya tentang penyakitnya B.Analisa data problem Etiologi symtom Bersihan jalan nafas tidak efektif Adanya infeksi perenkim paru ↓ Peningkatan produksi sputum ↓ Bersihan nafas tidak efektif DS:klien mengatakan sulit bernafas dan batuk DO:-Nampak sesak nafas -patuk produktif dengan sputum kuning kehijauan dan bau amis
  • 18. Gangguan rasa nyaman nyeri Infeksi parenkim paru ↓ Inflamasi parenkim paru ↓ Adanya abses paru dekat pleura ↓ terjadi pergesekan antara pleura parietaldan visceral saat respirasi ↓ impuls diteruskan di korteks cerebri ↓ nyeri dipersepsikan DS:- klien mengatakan nyeri dadanya DO:- Klien Nampak memegang dadanya saat nyeri -nampak meringis
  • 19. Gangguan keseimbangan suhu tubuh Adanya infeksi perenkim paru ↓ Inflamasi perenkim paru ↓ terjadi reaksi tubuh terhadap infeksi ↓ Peningkatan suhu tubuh ↓ Gangguan keseimbangan suhu tubuh DS:- klien mengatakan demam Do:- suhu tubuh meningkat
  • 20. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Adanya sputum yang berbau amis dan rasa sputum saat batuk produktif ↓ Anoreksia dan mual ↓ Intake nutrisi kurang ↓ Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh DS: - Klien mengatakan nafsu makanya menurun dan mual DO:- penurunan berat badan -porsi makan tidak dihabiskan
  • 21. Intoleransi aktifitas Infasi mikrooganisme penyebap pada parenkim paru ↓ Infeksi parenkim paru ↓ lesi ↓ abses ↓ Produksi sputum meningkat ↓ Sputum tertelan ↓ anoreksia ↓ Intake nutrisi berkurang ↓ Metabolism glukosa DS:- klien tidak mampu melakukan aktifitas sehari-hari karena terasa lemah -klienmengatakan kurang mampu melakukan perawatan diri karena badanya lemah DO:- klien Nampak lemah -klien Nampak kusam
  • 22. menurun ↓ ATP- ↓ Kurang energi Terjadi kelemahan ↓ Intoleransi aktifitas
  • 23. ansietas Adanya penyakit ↓ Perubahan status kesehatan ↓ Klien kurang terpapar informasi tentang penyakitnya ↓ Kurang pengetahuan ↓ ansietas DS:-klien mengatakan stress pada penyakitnya DO:- gelisah -perubahan mental(bingung) C.Diagnosa keperawatan 1.bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sputum ditandai dengan: DS: - klien mengatakan susah untuk bernafas DO:- Nampak sesak nafas
  • 24. -batuk produktif dengan warna kuning kehijauan dan berbau amis 2.gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya abses paru yang ditandai dengan DS:- klien mengatakan nyeri pada dadanya DO:- Klien Nampak memegang dadanya saat nyeri -klien Nampak meringis 3.gangguan keseimbangan suhu tubuh berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan: DS:- klien mengatakan merasa demam DO:- suhu tubuh meningkat 4.nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan: DS:- klien mengatakan nafsu makanya berkurang DO:- penurunan berat badan -Porsi makan tidak dihabiskan 5.intoleransi aktifitas berhubungan dengan dengan kelemahan ditandai dengan:
  • 25. DS:- klien tidak mampu melaksanakan aktifitas sehari- hari karena merasa lemah -klien mengatakan kurang mampumelakukan perawatan diri karena badanya lemah DO:-klien Nampak lemah -klien Nampak kusam
  • 26. D.Perencanaan Dx Tujuan intervensi Rasional 1. Tupan:setelah diberikan 7 hari askep bersihan jalan nafas dapat efektif Tupan: setelah diberikan 2 hari askep bersihan jalan nafas berangsur- angsur membaik dengan criteria: -klien dapat bernafas dengan baik -.putum berkurang a.berikan petunjuk kepada klien untuk batuk efektif b.berikan minum hangat c.kolaborasi dddengan tim medis dalam pemberian obat antibiotic,ekspetoran d.beri o2 dengan nasal kanul sesuai resep a.dengan batuk efektifdapat melancarkan bersihan jalan nafas alami b. cairan dapat memobilisasi dan mengeluarkan secret c.antibiotik dapat membunuh mikroorganismepenyakit dan ekspetoran mengencerkan dahak d.memberikan bantuan pernafasan bagi pasien agar bernafas dengan baik
  • 27. 2 Tupan:setelah diberikan askep nyeri dapat hilang Tupen: nyeri berkurang dengan kriteria -klien tidak mengeluh nyeri -wajah klien tenang a.ajarkan tehnik distraksi Pada klien b.anjurkan tehnik relaksasi dan nafas dalam c.atur posisi yang nyaman pada klien d.kolaborasi dengan medis dalam pemberian obat analgesik a.tehnik distraksi dapat menghilangkan perhatian pasien pada nyeri b tehnik relaksasi dan nafas dalam mengurangi nyeri c.posisi nyaman dapat memberikan rasa kenyamanan pada klien d.analgesik dapat menekan pusat nyeri 3. Tupan:setelah diberikan askep suhu tubuh kembali normal Tupen: setelah diberikan askep a. berikan kompres mandi hangat b.kolaborasi dengan medis dalam pemberian obat anti piretik a.kompres mndi hangat dapat membantu mengurangi demam b.antipiretikdapat mengurangi demam
  • 28. peningkatan suhu tubuhberangsur- angsur dengan kriteria -klien tidak mengeluh demam -suhu tubuh 36-37C 4. Tupan:setelah diberikan askep kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi Tupen: setelah diberikan askep berangsur-angsur nutrisi dapat terpenuhi dengan criteria -nafsu makan baik -porsi makan a.pantau kebiasaan diit pasien b.berikan makanan berfariasi dan sesuai dengan kesukan klien c.berikan makanan porsi kecil hangat dan menarik a.kebiasaan diit pasiendapat membantu dalam pelaksanaan intervensi b.makanan bervariasi mengurangi rasa jenuh c.porsi sering membantu meningkatkan masukan nutrisi,dan porsi kecil tidak membuat pasien bosan ,makanan menarik dapat menambah nafsu makan
  • 29. dihabiskan 5 Tupan:setelah diberikan askep klien dapat beraktifitas dengan baik Tupen: setelah diberikan askep secara berangsur- angsur dapatmelakukan aktifitas sehari –hari dengan criteria a.pantau sejauh mana kemampuan klien melakukan ADL b.imbangi aktifitas dengan istirahat yang cukup c.motivasi klien untuk melakukan aktifitas ringan d.libatkan keluarga dalam pemberian bantuan ADL a.membantu dalam pelaksanaan interfensi b.istirahat dapat mengurangi keluarga energy sehingga dapat mengurangi kelemahan c.motifasi menimbulkan dorongan bagi klien untuk dapat melaksanakan aktivitas ringan d.keluarga adalah orang terdekat yang dapat
  • 30. -klien dapat melakukan aktifitasnya -klien tidak lemas -PH terpenuhi pada klien membantu klien dalam memebantu kebutuhan ADL 6 Tupan:setelah diberikan askep aansietas dapat teratasi Tupen: setelah diberikan askep ansietas berangsur- angsur berkurang dengan kriteria -klien tidak gelisah -klien tidak bingung dan tidak stres a.bina hubungan saling percaya antara pasien dan perawat b.bantu pasien untuk mengungkap kecemasanya secara sportif c.berikan penjelasan tentang penyakitnya dengan kesembuhanya d.berikan pujian jika klien dapat bekerja sama dalam a.hubungan saling percaya menurunkan kecemasan klien b.mengungkapkan perasaan dapat mengurangi kecemasan c.penjelasan tentang penyakit dan kesembuhan dapat mengurangi kecemasan d.berikan pujian dapat memberikan motifasi dan
  • 31. mengatasi masalahnya mengurangi atau menghilangkan kecemasan
  • 32. BAB III PENUTUP A.kesimpulan Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnosea sama pula. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi, penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi.
  • 33. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi, epilepsi tak terkontrol, kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol. Pada negara- negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat, penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. Pada beberapa studi didapatkan bahwa kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru. B.saran Dalam penulisan askep ini masih kurang dari kesempurnaan karena kurangnya referensi yang kami dapatkan. Jadi, kritik dan saran yang sifatnya membangun khususnya dari dosen pembimbing maupun dari rekan-rekan pembaca sangat kami harapkan untuk kesempurnaan askep ini kedepannya.
  • 34. DAFTAR PUSTAKA 1. Asher MI, Beadry PH ; 1990, Lung Abscess in infections of Respicatory tract ; Canada 2. Baughman, Diane C; 2000; Keperawatan Medikal-Bedah: Buku saku untuk Brunner & Sudarth; Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta 3. Capernito, Linda Juall; 1998; Diagnosa keperawatan: Aplikasi pada praktek klinis; Edisi ke-6 Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta 4. Doenges, Marilynn E; 1999; Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien; Edisi ke-3 Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta 5. Finegold SM, Fishman JA; 1998; Empyema and lung Abcess; in Fishman’s Pulmonary Diseases and Disorders 3rd ed; Philadelphia 6. Hammond JMJ et al; 1995, The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess ; Chest ;; 937 – 41. 7. Hood Alsagaff, Prof. dr; 2006; Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru; Airlangga University Press, Surabaya
  • 35. 8. Kardjito, Thomas; 1994; Pedoman Diagnosis Therapi; Lab/UPF Ilmu Penyakit Paru RSUD dr. Sutomo, Surabaya 9. Sabiston; 1994; Buku ajar Bedah bag: 2; Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta 10. Sjahriar Rasad; 2005; Radiologi Diagnostik; Edisi ke-2; Balai penerbit FKUI, Jakarta 11. Smeltzer, Suzanne C; 2001; Buku ajar keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Sudarth; Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta
  • 36. DAFTAR ISI KATAPENGANTAR.......................................................................................DAFTARISI.. .................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang........................................................................................ B. Tujuan.................................................................................................... C. Metode................................................................................................. BABII KONSEP PENYAKIT ABSES PARU A.Pengertian.................................................................................... B.Etiologi................................................................................................. C.ManifestasiKlinis.................................................................................... D.Patofisiologi............................................................................................. E.Komplikasi............................................................................................... F.PemeriksaanPenunjang...........................................................................
  • 37. G.PenatalaksanaanMedis............................................................................ BAB III KONSEP ASKEP KLIEN DENGAN ABSES PARU A.Pengkajian............................................................................................ B.DiagnosaKeperawatan......................................................................... C.Intervensi................................................................................................. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan......................................................................................... B.Saran....................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA