Your SlideShare is downloading. ×
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Artikel tesis
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Artikel tesis

287

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
287
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
15
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN KERJA DAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DENGAN KINERJA GURU SMA NEGERI DI KECAMATAN WANGI-WANGI Drs. Muhidin, M.Pd. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara lingkungan kerja dan kepemimpinan kepala sekolah secara terpisah maupun secara bersama-sama dengan kinerja guru pada SMA Negeri di Kecamatan Wangi-wangi. Metode yang digunakan adalah survei dengan pendekatan korelasional. Populasi penelitian berjumlah 125 orang, ditarik sampel sebanyak 35 orang menggunakan teknik sampling proposional Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas melalui uji coba secara empirik. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara lingkungan kerja dan kepemimpinan kepala sekolah baik secara terpisah maupun secara bersama-sama dengan kinerja guru SMA Negeri di Kecamatan Wangi-wangi Kata Kunci: lingkungan kerja, kepemimpinan, kinerja, hubungan, signifikan. A. Pendahuluan Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab Undang-undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pencapaian tujuan pendidikan nasional, berhubungan erat dengan lingkungan kerja, kepemiminan kepala sekolah dan kinerja guru sebagai ujung tombak pelaksanaan tugas pendidikan. Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional agar bangsa menjadi negara yang besar, merdeka, berdaulat, dan dapat menentukan nasib bangsa kita sendiri. Untuk keperluan tersebut, diperlukan kualitas sumberdaya manusia yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk terus mengembangkan diri. Berbagai referensi menyatakan bahwa lingkungan kerja dapat memberikan kontribusi yang berarti untuk meningkatkan kinerja individu maupun lembaga. Lingkungan kerja perlu diciptakan sedemikan rupa sehingga menjadi kondisi yang memadai, karena lingkungan kerja merupakan tempat melakukan kegiatan rutin yang idealnya dapat memberikan rasa aman, tenang, gembira, serta menjamim keselamatan dan kesehatan bagi setiap orang di mana saja ia bekerja. Lingkungan kerja yang dimaksud dalam uraian ini adalah “suatu kondisi yang bersifat dinamis baik fisik maupun non fisik yang terjadi di suatu tempat kerja dalam rangka melakukan suatu pekerjaan. Lingkungan kerja yang kondusif, baik secara fisik maupun non fisik yang meliputi penataan ruangan yang nyaman, lingkungan kerja yang bersih, terpenuhinya sarana dan prasaran yang dibutuhkan, kemudian
  • 2. pimpinan yang bijak, jalinan komunikasi antara sesama yang harmomis, pembagian kerja yang proporsional, tentu saja memberikan dukungan yang positif bagi seseorang, termasuk guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya terkait dengan proses pembelajaran di sekolah. Dalam konteks persekolahan, kepala sekolah merupakan pimpinan tertinggi dalam lingkungan sekolah yang dibinanya. Maju atau mundurnya suatu sekolah, secara langsung maupun tidak langsung sangat terkait kepada kepemimpian kepala sekolah, karena kepala sekolah yang diberi tanggungjawab tertinggi di sekolah untuk melakukan pengelolaan dan mengorganisasian baik secara administratif maupun secara akademik. Kepala sekolah adalah seseorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah (Wahyosumidjo, 2002: 23). Demikian penting dan strategisnya peran seorang kepala sekolah dalam memajukan sekolah, sehingga kepala sekolah diharuskan memiliki kompetensi yang handal, kemampuan, kreativitas, dan dapat memberikan pelayanan yang prima kepada warga sekolah agar dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara profesional. Direktur Jenderal pendidikan Menegah Umum (Depdiknas, 2000: 15) menyatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang mendorong untuk menwujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut untuk mempunyai kompetensi manajerial yang memadai agar mampu mengambil inisiatif untuk meningkatkan mutu sekolah. Guru sebagai subyek untuk berinteraksi langsung dengan murid dalam proses belajar mengajar diturut berperan serta dalam pemingkatan kualitas pendidikan. Seorang guru harus memahami fungsinya, karena hal tersebut akan mempengaruhi cara bertindak dan bertutur sehubungan dengan pekerjaannya di kelas. Pengetahuan dan pemahamannya tentang kompetensi guru akan mendasari pada kegiatannya sebagai guru. Guru yang setiap hari bergaul dengan murid dan mengemban tugas sebagai pendidik, berkewajiban membantu pertumbuhan dan perkembangan murid menuju pada kedewasaan. Bantuan tersebut bukan hanya pada aspek intelektual, akan tetapi berkenaan dengan sikap, minat, perkembangan emosi dan perkembangan sosial. Upaya-upaya peningkatan kinerja guru, berhubungan erat dengan lingkungan kerja dan kepemimpinan kepala sekolah. Lingkungan kerja yang kondusif dan kepemimpinan kepala sekolah yang profesional merupakan faktor pendukung yang memungkinkan guru untuk bekerja dengan tenang, fokus pada tugas-tugas yamg diembanya, serta termotivasi untuk maju. Di kemukakan oleh Mulyasa (2005: 11) bahwa guru memegang peranan cukup penting baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan pegembangan kurikulum bagi kelasnya. Dengan demikian guru melakukan penyempurnaan terhadap kurikulum dan perangkat pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan kualitas kerja guru sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan, yang dapat dilihat dari proses belajar dan hasil belajar peserta didik. Dari segi proses guru dapat dikatakan berhasil bila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, maupun mental sosial dalam pembelajaran. Dari segi hasil guru dapat dikatakan berhasil apabila pembelajaran mampu merubah perilaku sebagian besar peserta didik karena penguasan kompetensi yang lebih baik.
  • 3. Guru harus memahami kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik dan pengajar yang professional sehingga senantiasa terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebangai perwujudan sikap dan tidak puas terhadap kemampuan yang dimilikinya. Bekerja sebangai mekanisme dan rutin dengan menggunakan pola mengajar yang tetap, tidak memungkinkan guru mengembangkan kompetensi secara efektif. Kreativitas dan inisiatif guru harus dimanfaatkan secara kongrit agar para guru memperoleh pengalaman dalam meningkatkan kemampuan sebagai tenaga professional. Pengalaman professional yang berharga hanya mungkin diperoleh dari guru-guru yang berani dan yang selalu bersedia mengeluarkan ide, gagasan dan prakarsa untuk memperbaiki dan mengembangkan kompetensi mengajar kepada siswa. Kompetensi mengajar perlu didukung oleh kompetensi manajerial kepala sekolah agar tercipta suasana dan iklim kerja yang kondusif bagi guru dalam meningkatkan kompetensi mengajarnya. Dalam konteks persekolahan, pencapaian tujuan pendidikan nasional sangat ditentukan oleh kinerja guru yang memerlukan dukungan lingkungan sekolah yang kondusif dan kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis serta professional. Usman (2006:50) menyatakan bahwa guru yang memiliki kinerja adalah guru yang memiliki kualitas dalam menyusun rencana program pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran dan menyampaikan materi dengan baik. Kinerja guru akan lebih baik, jika guru memiliki kualitas yang tinggi, kesadaran untuk bekerja, adanya imbalan atau gaji yang layak, serta mempunyai harapan masa depan. Akadum (1999:89) mengemukakan tujuh unsur yang merupakan indikaror perstasi kerja guru atau kinerja guru yaitu : (1) penguasan landasan pendidikan, (2) penguasan bahan pengajaran, (3) pengelolan program belajar mengajar, (4) penggunaan alat pelajaran, (5) pemahaman metode penilayaan, (6) pemahaman administrasi pendidikan, (7) pemahaman metode dan evaluasi pembelajaran. Kondisi yang ada di lapangan menunjukkan bahwa kinerja guru SMA Negeri yang ada di kecamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi belum optimal. Tentu saja banyak kemungkinan faktor yang dapat mempengaruhinya. Oleh sebab itu perlu pengkajian lebih jauh dan mendalam terhadap faktor-faktor tersebut, termasuk di dalamnya adalah kepemimpinan kepala sekolah dan pengelolaan lingkungan sekolah. Demikian pula masyarakat melihat bahwa hasil kerja guru selama ini belum menunjukan hasil yang memuaskan. Hal ini didasari kenyataan masih terdapatnya sejumlah guru yang tidak mentaati jam kerja, dengan datang dan pulang sebelum waktunya, meninggalkan tugas tanpa alasan yang jelas, masih ada guru yang mengajar yang tidak menggunakan rencana pengajaran, dan masih ada guru yang tidak melakukan analis hasil ulangan. Hal ini menunjukan betapa pentingnya penciptaan kondisi yang memungkinkan kualitas pelaksanaan tugasnya. Merujuk pada kenyataan di atas, maka dilakukan penelitianh mengenai hubungan antara lingkungan kerja dan kepemimpinan Kepala sekolah dengan kinerja guru SMA di Kecamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi, dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis hubungan, yang mencakup (1) Hubungan antara lingkungan kerja dengan kinerja guru Sekolah Menegah Atas Negeri di Kecamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi; (2) Hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru pada Sekolah Menegah Atas
  • 4. Negeri di Kecamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi; (3) Hubungan Lingkungan Kerja dan Kepemimpinan Kepala Sekolah secara bersama-sama dengan Kinerja Guru di Kecamatan wangi-wangi Kabupaten Wakatobi. B. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi Sulawesi Tenggara, pada semester ganjil 2011. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan penelitian Ex-Post-Facto dalam bentuk korelasional, yang dimaksudkan untuk menemukan ada tidaknya hubungan lingkungan kerja dan kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru SMA Negeri di Kecamatan Wangi-Wangi. Dalam penelitian ini terdapat tiga (3) variabel yang dikaji dan dianalisis yaitu dua (2) variabel bebas dan 1 (satu) variabel terikat. Variabel bebasnya adalah lingkungan kerja dinyatakan dengan X1 dan kepemimpinan kepala sekolah dinyatakan dengan X2,, sedangkan variabel terikatnya adalah kinerja guru dinyakatan dengan Y. Hubungan antara variabel yang dikaji dalam penelitian ini ditunjukkan pada gambar berikut ini. X1 Y X2 Gambar 1. Konstelasi hubungan antara variabel penelitian. Keterangan : X1 : Variabel lingkungan kerja X2 : Variabel kepemimpinan kepala sekolah Y : Variabel kinerja guru : Korelasi atau hubungan antara variabel. Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru SMA Negeri di Kecamatan Wangi-Wangi yang berasal dari empat SMA Negeri yaitu SMA Negeri 1 Wangi-Wangi, SMA Negeri 2 Wangi-Wangi, SMA Negeri 3 WangiWangi dan SMA Negeri 4 Wangi-Wangi yang berjumlah 128 orang. Kemudian sebagian dari jumlah populasi ini dijadikan sebagai sampel penelitian sebanyak 35 orang dan sampel untuk uji coba instrumen penelitian sebanyak 35 orang. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional random sampling. Tehnik ini dipilih karena jumlah populasi dari sekolah berbeda besarnya, dan karakteristik guru di setiap sekolah diasumsikan relatif sama.
  • 5. Besarnya jumlah sampel yang diambil, didasarkan atas pertimbangan yang dikemukakan oleh Arikunto, (1998: 120) Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang telah dikembangkan berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun dengan mengacu pada definisi operasional variabel dalam bentuk skala Likert (skala lima). Sebelum digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, terlebih dahulu kuesioner diujicobakan untuk mengetahui validitas dan reliabitasnya. Uji validitas instrumen menggunakan korelasi product moment dan reliabilitas menggunakan alpha cronbach. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran umum tentang karakteristik data dari setiap variabel penelitian, yang terdiri dari rata-rata, median, modus, simpangan baku, varians, dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Sedangkan statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan korelasi dan regresi linear sederhana dan berganda. C. Hasil dan Pembahasan 1. Deskriptif Hasil Kinerja Guru (Y) Instrumen variabel Kinerja Guru yang dikembangkan dalam penelitian ini berjumlah 32 butir (item), dengan skor teoretik terendah 32, skor tertinggi 160, dan skor rata-rata 96. Dari hasil penelitian dan pengolahan data diperoleh skor empirik terendah 74, skor tertinggi 116. Dari hasil analisis deskriptif diperoleh skor rata-rata 95,49, skor modus 111,00, skor median 100,19, standar deviasi 13,46, dan variansi sebesar 181,20. Distribusi frekuensi dan histogram skor Kinerja Guru di SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1 di bawah ini. Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Skor Kinerja Guru di SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi (Y) Frek Absolut Frek Kumulatif Frek Relatif Kelas Interval (f) (f.k) (%) 74 - 80 7 7 20.00 81 - 87 4 11 11.43 88 - 94 8 19 22.86 95 - 101 2 21 5.71 102 - 108 4 25 11.43 109 - 115 9 34 25.71 116 – 122 1 35 2.86 Jumlah 35 100
  • 6. Histogram distribusi frekuensi skor variabel Kinerja Guru (Y) di SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi di gambarkan sebagai berikut: Frekuensi 10 9 8 7 6 5 0 4 3 73,5 80,5 87,5 94,5 101,5 108,5 115,5 122,5 SKOR Gambar 4.1. Histogram Distribusi Frekuensi Skor Kinerja Guru (Y) 2 Lingkungan Kerja (X1) 1 Instrumen variabel Lingkungan Kerja Guru di SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi yang dikembangkan dalam penelitian ini berjumlah 31 butir (item), dengan skor teoretik terendah 31, skor tertinggi 155, dan skor ratarata 93. Dari hasil penelitian dan pengolahan data diperoleh skor empirik terendah 79, skor tertinggi 123. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh skor rata-rata emprik 101,34, skor modus 109,68, median 104,40, standar deviasi 14,62, dan variansi 213,82 (hasil perhitungan selengkapnya pada lampiran 11). Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Skor Lingkungan Kerja Guru di SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi (X1) Frek Absolut Frek Kumulatif Frek Relatif Kelas Interval (f) (f.k) (%) 79 - 85 8 8 22.86 86 - 92 3 11 8.57 93 - 99 3 14 8.57 100 - 106 5 19 14.29 107 – 113 10 29 28.57 114 - 120 4 33 11.43 121 - 127 2 35 5.71 Jumlah 35 100.00
  • 7. Hsitogram distribusi frekuensi skor variabel Lingkungan Kerja (X1) Guru di SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi di gambarkan sebagai berikut: Frekuensi 10 9 8 7 6 5 0 4 78,5 85,5 92,5 99,5 106,5 113,5 120,5 127,5 SKOR Gambar 11.2. 3 Histogram Distribusi Frekuensi Skor Variabel Lingkungan Kerja (X1) 2 Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) 1 Instrumen variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah di SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi yang dikembangkan dalam penelitian ini berjumlah 35 butir (item), dengan skor teoretik terendah 35, skor tertinggi 175, dan skor rata-rata 105. Dari hasil penelitian dan pengolahan data diperoleh skor empirik terendah 79, skor tertinggi 131. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh skor rata-rata empirik 88,74, skor modus 85,70, skor median 94,70, standar deviasi 15,96 dan variansi 254,67 (perhitungan selengkapnya pada lampiran 11). Distribusi frekuensi skor Kepemimpinan Kepala Sekolah berdasarkan jawaban responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.3 di bawah ini. Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Skor Kepemimpinan Kepala Sekolah di SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi (X2) Kelas Frek Absolut Frek Kumulatif Frek Relatif Interval (f) (f.k) (%) 79 - 86 9 9 25.71 87 - 94 8 17 22.86 95 - 102 3 20 8.57 103 - 110 6 26 17.14 111 - 118 4 30 11.43
  • 8. 119 - 126 3 33 8.57 127 – 134 2 35 5.71 Jumlah 35 100.00 Hsitogram distribusi frekuensi skor variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) dan rangkuman hasil analisis deskriptif data ketiga variabel yang dikaji dalam penelitian ini, masing-masing ditunjukkan pada Gambar 4.3 dan Tabel 4.4 di bawah ini. Frekuensi 10 9 8 7 6 5 0 78,5 86,5 94,5 102,5 110,5 118,5 126,5 134,5 SKOR 4 Gambar 4.3 Histogram Distribusi Frekuensi Skor Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) 2 3 1 Tabel 4.4 Rangkuman Deskripsi Kinerja Guru (Y), Lingkungan Kerja (X1), dan Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) Y X1 X2 Statistik Teoretik Empirik Teoretik Empirik Teoretik Empirik Skor Min 32 74 31 79 35 79 Skor Maks 160 116 155 123 175 131 Rata-Rata 96 95,49 93 101,34 105 99,74 Median - 100,19 - 104,4 - 97,70 Modus - 111,00 - 109,68 - 85,70
  • 9. St Deviasi - 13,46 - 14,62 - 15,95 Varians - 181,20 - 213,82 - 254,67 Pengujian Persyaratan Analisis Uji normalitas data sampel dilakukan terhadap galat taksiran regresi Y atas X1, galat taksiran regresi Y atas X2, dan galat taksiran Y atas X1 dan X2 secara bersama-sama menggunakan uji Lilliefors (L0). Rangkuman hasil perhitungan dan kesimpulan penerimaan atau penolakan terhadap H0 ditunjukkan pada Tabel 4.5 berikut. Tabel 4.5. Rangkuman Hasil UJi Normalitas Galat Regresi Galat Regresi Ltabel Taksiran L0 Kesimpulan 0,05 0,01 Y atas X1 0,114ns 0,149 0,174 Normal Y atas X2 0,125ns 0,149 0,174 Normal ns 0,149 0,174 Normal Y atas X1 dan X2 0,070 Keterangan: ns = tidak signifikan Pengujian Hipotesis 1. Hubungan Kinerja Guru (Y) dengan Lingkungan Kerja (X1) Berdasarkan hasil perhitungan melalui regresi linear sederhana, diperoleh adanya hubungan positif antara Lingkungan Kerja(X1 dengan Kinerja Guru (Y) ) yang dinyatakan dalam bentuk persamaan regresi Y = 9.24 + 0.85 X1. Hasil perhitungan mengenai keberartian regresi dilakukan dengan menggunakan uji F, dan hasilnya ditunjukkan dalam Tabel 4.7 di bawah ini. Tabel 4.7 ANAVA Untuk Uji Keberartian Regresi Y atas X1 Sumber Variansi Db Regresi Residu (s) 1 33 Total 34 JK 5265,7 895,0 RJK 5285,7 27,1 F hitung Pvalue F tabel 0,01 4,15 194,15** 0,05 7,50 0,000 6160,7 Tuna 27 367,31 21,01 Cocok(TC) 6 527,69 87,94 0,24ns ---3,84 Galat Keterangan: ** = sangat signifikan; ns = tidak signifikan 7,31
  • 10. Berdasarkan tabel ANAVA di atas, menunjukkan bahwa nilai Fhitung regresi = 194,15 > Ftabel = 7,08 pada = 0,05 dan = 0,01. Hal ini memberikan indikasi bahwa persamaan regresi Y atas X1 adalah sangat signifikan, yang berarti terdapat hubungan yang positif dan berarti antara Kinerja Guru (Y) dengan Lingkungan Kerja (X1). Persamaan regresi tersebut berbentuk linear yang ditunjukkan oleh nilai F hituh (TC) = 0,24 yang lebih kecil dibandingkan Ftabel = 3,84 pada taraf nyata = 0,05. Secara visual hubungan linear itu digambarkan melalui plot regresi berikut. 115 Y 105 95 85 75 80 90 100 110 120 X1 Gambar 4.4. Plot Regresi Y atas X1 Kekuatan hubungan antara Lingkungan Kerja dengan Kinerja Guru pada SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi product moment ry1 = 0,925. Nilai statistik t untuk koefisien korelasi ini ialah thitung = 13,98, sedangkan nilai t tabel pada taraf nyata = 0,05 dan db = 33 adalah 2,04. Karena nilai thitung = 13,98 > ttabel = 2,04 maka dapat disimpulkan bahwa koefisien korelasi antara antara variabel Lingkungan Kerja dengan Kinerja Guru pada SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi bersifat signifikan. Besarnya konstribusi variabel Lingkungan Kerja dengan Kinerja Guru ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi r2 x 100% = 85,50. Ini dapat diartikan bahwa sebesar 85,50% kontribusi variabel Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Guru, sedangkan selebihnya 14,50% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini. 2. Hubungan Antara Kinerja Guru (Y) dengan Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) Berdasarkan hasil perhitungan melalui regresi linear sederhana diperoleh adanya hubungan positif antara Kinerja Guru (Y) dengan Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) yang dinyatakan dalam bentuk persamaan regresi ˆ Y 26.2 0.694 X 2 .Berdasarkan Tabel 4.9 , menunjukkan bahwa nilai F hitung
  • 11. regresi = 69,45 lebih besar dari F tabel = 7,50 pada = 0,01 sehingga disimpulkan bahwa persamaan regresi Y atas X2 adalah sangat signifikan. Dalam ha ini terdapat hubungan yang positif antara Kinerja Guru (Y) dengan Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) melalui persamaan regresi ˆ Y 26.2 0.694 X 2 . Tabel 4.9 ANAVA Untuk Uji Keberartian Regresi Y atas X2 Sumber Variansi db JK RJK Regresi Residu (s) 1 33 4176,2 1984,5 4176,2 60,1 Total 34 F hitung Pvalue 69,4** 0,000 F tabel 0,05 0,01 4,15 7,50 4,50 9,38 6160,7 Tuna Cocok(TC) 28 1216,0 43,43 0,34ns --Galat 5 668,5 111,42 Keterangan: ** = sangat signifikan; ns = tidak signifikan Persamaan regresi X2 atas Y berbentuk linear yang ditunjukkan oleh nilai F hitung (TC) = 0,34 yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai F tabel pada taraf nyata = 0,05. Secara visual hubungan itu digambarkan seperti pada Gambar 4.5. 120 110 Y 100 90 80 70 80 90 100 110 120 130 X2 Gambar 4.5. Plot Regresi Y atas X2 Kekuatan hubungan antara variabel Kinerja Guru dengan Kepemimpinan Kepala Sekolah dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi product moment ry2 = 0,82. Nilai statistik t untuk koefisien korelasi ini ialah thitung = 8,32. Untuk
  • 12. nilai t tabel pada taraf nyata = 0,05 dan db = 33 adalah 2,04. Karena nilai thitung > ttabel maka dapat disimpulkan bahwa koefisien korelasi antara variabel Kinerja Guru dengan Kepemimpinan Kepala Sekolah adalah signifikan. Besarnya konstribusi variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kinerja guru ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi r2y2 x 100% = 67,8%. Ini dapat diartikan bahwa sebesar 67,8% kontribusi variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kinerja . Hubungan Antara Kinerja Guru (Y) dengan Lingkungan Kerja (X 1) dan Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) Secara Bersama-sama Berdasarkan hasil perhitungan melalui regresi ganda, diperoleh adanya hubungan positif dan signifikan antara Lingkungan Kerja (X1) dan Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) secara bersama-sama dengan Kinerja Guru (Y) dengan  persamaan Y = 5.21 + 0.65 X1 + 0.25 X2. Hasil perhitungan mengenai keberartian regresi dilakukan dengan menggunakan uji F, dan hasilnya ditunjukkan dalam Tabel 4.10. Dari Tabel 4.10, terlihat bahwa nilai Fhitung untuk regresi (R) = 131,62 dan nilai Ftebel = 5,34 untuk taraf nyata = 0,01. Dalam hal ini, Fhitung > Ftabel maka diputuskan menolak H0 pada taraf nyata = 0,01. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara variabel Lingkungan Kerja (X1) dan Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) secara bersama-sama dengan Kinerja Guru (Y) melalui persamaan regresi  Y = 5.21 + 0.65 X1 + 0.25 X2. Tabel 4.11 ANAVA Untuk Uji Keberartian Regresi Ganda Y atas X1 dan X2 Sumber Variansi db Regresi (R) Sisa (S) 2 32 5493,00 667,7 2746,50 20,90 131,62** Total Dikorekasi 34 6160,70 - - JK RJK F hitung P value 0,000 F tabel 0,05 0,01 3,30 5,34 - - Keterangan: ** = sangat signifikan Kekuatan hubungan antara variabel Lingkungan Kerja (X1) dan variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X2) secara bersama-sama dengan Kinerja Guru (Y) ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi ganda Ry.12 = 0,94. Besarnya konstribusi variabel Lingkungan Kerja (X1) dan Kepemimpinan Kepala Sekolah 2 (X2) secara bersama-sama terhadap Kinerja Guru (Y) adalah R y.12 x 100% = 89,20%.
  • 13. 2. Pembahasan D. Penutup Kesimpulan Berdasarkan temuan sebagaimana yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut: a. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara Lingkungan Kerja dengan Kinerja Guru pada SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi. b. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru pada SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi. c. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara Lingkungan Kerja dan Kepemimpinan Kepala Sekolah secara bersama-sama dengan Kinerja Guru pada SMA Negeri Kecamatan Wangi-Wangi Wakatobi. Saran Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan di atas, maka untuk meningkatkan keinerja guru di Sekolah Menegah Atas Negeri Kecamatan Wangiwangi Kabupaten Wakatobi, disarankan sebagai berikut. a. Kinerja Guru dapat ditingkatkan melalui peningkatkan Lingkungan Kerja Guru dengan memperhatikan aspek fisik meliputi : (a) pemenuhan dan perningkatan kualitas sarana dan prasarana , (b) meningkatkan keamanan dan kenyamanan di lingkunagn sekolah, (c) menciptakan hubungan yang harmonis antara kepala sekolah dan guru, (d) menciptakan hubungan yang kondusi dan kerjasama yang baik antara sesama pegawai, dan (d) penciptaan hubungan iklim organisasi yang kondusif. b. Kinerja Guru dapat pula ditingkatkan melalui peningkatkan Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan cara: (a) meingkatkan kesejahteraan yang sesuai dengan volume kerja, (b) memberikan pengakuan atau penghargaam atas pekerjaan yang telah dilakukan, (c) meningkatkan tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, dan (d) memberikan perhatian dan kesempatan untuk pengembangan karier guru.Kesimpulan. Daftar Pustaka Arikunto, Suharsin, 1998. Prosedur Penelitian, Jakarta : Rineke Cipta. Akadum. 1999. Potret Guru Memesuki melinium ketiga. Suara pembaharua (http//www.Suara pembaharuan.com/NWS/1999/01/220199/Oped, dianus 7 juni 2008).
  • 14. Akil, 2006. Peranan Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam meningkatkan prestasi tenaga Kependidikan dan pengaruhnya terhadap Perstasi siswa di SMP Negeri Kabupaten Indramayu ( http://www.malang.ac.id/jurnal) tanggal 10 Mei 2009. Damim, Sudarman, 2000. Inovasi Pendidikan dalam Upaya meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia. Depdiknas, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta Balai Pustaka. ………, 2003. Undang-undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional. Jakarta : Depertemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. ……… 2006. Undang-undang Republik Indonesia No 14 tahun 200. Tentang guru dan Dosen. Jakarta : Depeertemen Pendidikan Nasional. Mulyana, 2002. Komunikasi Organisasi Strategi Memingkatkan kinerja. Bandung : Remaja Ros dan Karia. Robins,SP, 2006. Perilaku Organisasi. Jakarta : Gramedia

×