• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
173641999 pemimpin-demokratis
 

173641999 pemimpin-demokratis

on

  • 134 views

 

Statistics

Views

Total Views
134
Views on SlideShare
134
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
1
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    173641999 pemimpin-demokratis 173641999 pemimpin-demokratis Document Transcript

    • BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya manusia memegang peranan yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan dan tujuan dari suatu organisasi, sumber daya manusia ini menunjang organisasi dengan karya, bakat, dan dorongan yang dimilikinya. Prestasi kerja merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh setiap pekerja. Hal ini merupakan satu cermin kualitas seorang pekerja. Semakin bagus prestasi kerja seorang pekerja, karyawan, maka semakin berkualitas pekerja atau karyawan tersebut. Pada sisi lainnya, bagaimana seorang pemimpin mengarahkan dan membimbing para pekerja ternyata mempunyai andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pekerja atau karyawan dalam menyelesaikan tugas dan kewajibannya. Dengan kata lain, ada pengaruh gaya kepemimpinan seorang pemimpin terhadap prestasi kerja. Pemimpin adalah sosok panutan yang secara sepakat dijadikan sebagai orang terdepan dari kegiatan hidup. Sosok ini mempunyai tugas dan kewajiban untuk memberikan perlindungan dan bantuan secara pribadi dan mengelola kegiatan agar dapat mencapai tujuan yang sudah diprogramkan. Dan, selanjutnya hal tersebut dapat menentukan tingkat karier pekerja atau karyawan. Setiap pemimpin mempunyai gaya tersendiri dalam menyelenggarakan kegiatan dalam kelompoknya. Gaya memimpin seseorang sangat menentukan tingkat keberhasilan kerja dari pekerja atau karyawannya. Semakin baik gaya kepemimpinannya, maka semakin tinggi tingkat keberhasilan kerja karyawannya. Kepemimpinan dapat juga diartikan sebagai kemampuan untuk mengarahkan pengikutpengikutnya untuk bekerja sama dengan kepercayaan serta tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan mereka. Seorang pimpinan selalu mempunyai wewenang untuk memerintah bawahan dengan gaya kepemimpinannya masing-masing. Dan bawahan akan menerima perintah tersebut dengan pandangan yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena 1
    • faktor perbedaan latar belakang pendidikan, pengalaman dan lingkungan masyarakat. Seorang pimpinan harus mampu menyikapi permasalahan yang timbul dalam perusahaan atau organisasi yang dipimpinnya. Dengan demikian, seorang pimpinan harus mampu mengatasi berbagai macam masalah baik yang menyangkut perusahaan maupun yang menyangkut karyawannya agar terbina semangat kerja yang tinggi, dengan semangat tersebut, maka output yang dihasilkan dapat memberikan kontribusi yang besar baik bagi karyawan maupun perusahaan itu sendiri. Pemimpin mengalihkan rencana-rencana menjadi kegiatan dan membuat rencana-rencana tersebut menjadi kenyataan. Pemimpin mengadakan komunikasi dengan rekan-rekan dan bawahannya untuk menyampaikan rencana tersebut, menjelaskan tujuannya, memberitahukan tugas masing-masing dan berusaha membangkitkan semangat kerja. Indonesia sedang marak menggalakkan demokrasi di segala bidang. Perusahaan tentunya juga tidak ketinggalan melakukan berbagai adaptasi untuk menciptakan iklim demokrasi di lingkungannya. Jika dahulu hanya atasan saja yang bisa berpendapat, maka sekarang banyak perusahaan membuka peluang karyawan dari berbagai tingkatan untuk menyampaikan pemikirannya. Lebih jauh lagi, karyawan di berbagai level bisa menilai kinerja dari orang disekitarnya, baik itu rekan, bawahan, bahkan atasan. Bagaimana hal ini terjadi? Penggunaan evaluasi 360 derajat telah memungkinkan iklim demokrasi masuk ke jantung perusahaan. Dalam evaluasi ini setiap orang menilai atasan, rekan kerja, dirinya dan bawahan. Setiap orang juga dinilai oleh atasan langsung, bawahan dan rekan kerja. Karena pemimpin yang demokratis merupakan pemimpin yang harus menghindari terjadinya sikap mendominasi dalam pengambilan keputusan. Ada beberapa permasalahan dalam kepemimpinan demokratis, salah satu masalah yang berlarut adalah masalah kedisiplinan dan ketidak patuhan. Banyaknya pegawai yang tidak berada di kantor pada jam kerja tanpa alasan yang jelas, ketidak hadiran, keterlambatan datang maupun pulang lebih awal dari yang seharusnya menjadi sebuah kebiasaan yang tidak terkontrol. Kondisi saat ini menunjukkan mulai berkurangnya semangat para pegawai untuk hadir bekerja. Sedangkan kemungkinan pegawai sengaja tidak menggunakan mesin absen untuk mendata kehadirannya juga merupakan berkurangnya keinginan atau 2
    • semangat pegawai untuk mematuhi peraturan perusahaan yang berlaku. Selain ketidakhadiran terdapat masalah keterlambatan dan pulang lebih awal dari yang seharusnya yang tidak di data secara tertulis oleh perusahaan. Namun demikian, kedua hal tersebut terus berlangsung dan berangsur menjadi kebiasaan bagi para pegawai. Kebiasaan yang tidak sehat ini jelas merupakan salah satu kerugian perusahaan dalam segi waktu yang berpotensi menurunkan hasil kinerja pegawai tersebut. Motivasi pemimpin sangat menetukan semangat kerja pegawai karena dengan semangat kerja yang tinggi, suatu pekerjaan dapat diselesaikan secara giat dan tujuan organisasi akan dapat terealisasi secara lebih cepat dan lebih baik. Namun mempengaruhi orang lain/bawahannya, sebelum kekuasaan itu digunakan untuk seorang pemimpin harus terlebih dahulu melakukan pendekatan kepada bawahannya baik dengan memberi imbalan/hadiah terhadap yang bekerja lebih giat, memberi pujian, maupun dengan memenuhi kebutuhan karyawan tentunya yang sewajarnya 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian Kepemimpinan, demokrasi, dan kepemimpinan demokratis ? 2. Apa saja ciri-ciri pemimpin yang demokratis ? 3. Apa perbedaan kepemimpinan demokratis dengan otoriter ? 4. Bagaimana pemimpin demokratis yang efektif ? 5. Bagaimana demokratisasi pada perusahaan ? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan demokratis 2. Untuk mengetahui apa saja ciri-ciri yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang demokratis 3. Untuk mengetahui perbedaan antara pemimpin yang demokratis dengan pemimpin yang otoriter. 4. Untuk mengetahui seperti apa pemimpin demokratis yang efektif 5. Untuk mengetahui bagaimana demokratisasi pada perusahaan 3
    • BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Kepemimpinan Demokratis 2.1.1 Konsep Kepemimpinan Kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi dalammenentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan memperbaiki kelompok dan budayanya (Veithzal Rivai, 2006). Selain itu juga mempengaruhi interprestasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut moncoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang dilihat. Dalam hal ini usaha menyamakan persepsi diantara orang yang akan mempengaruhi perilaku dengan orang yang akan dipengaruhi menjadi sangat penting kedudukannya.” (Thoha, 2001:49). Menurut Manullang dan Mariho Manullang (2001) kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses mempengaruhi orang lain untuk berguna mewujudkan tujuan-tujuan yang ditentukan. Dengan melihat uraian diatas, dapat disimpulkan beberapa unsur yang terdapat pada defenisi tersebut : 1.) Kemampuan mempengaruhi orang lain ; 2.) Kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan dan orang lain ; 3.) Untuk mencapai tujuan organisasi ; 4.) Menitikberatkan pada kemampuan seseorang dalam memimpin. Kepemimpinan merupakan proses dalam mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan di situasi tertentu (Wahjosumidjo, 1994). Adapun ciri-ciri pemimpin menurut Rodger D. Collons dalam Husein (2001) adalah sebagai berikut : 1.) Kelancaran bahasa ; 4
    • 2.) Kemampuan memecahkan masalah ; 3.) Kesadaran dan kebutuhan ; 4.) Keluwesan ; 5.) Kecerdasan ; 6.) Kesediaan menerima tanggung jawab ; 7.) Keterampilan sosial ; 8.) Kesadaran akan diri dan lingkungan. b. Gaya Kepemimpinan Ahmad Rusli dalam kertas kerjanya Pemimpin Dalam Kepimpinan Pendidikan (1999) Menyatakan pemimpin adalah individu manusia yang diamanahkan memimpin subordinat (pengikutnya) ke arah mencapai matlamat yang ditetapkan. C. N. Cooley (1902) Pemimpin itu selalu merupakan titik pusat dari suatu kecenderungan, dan pada kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau diamati secara cermat akan akan ditemukan kecenderungan yang memiliki titik pusat. Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Ada 8 teori kepemimpinan, salah satu yang akan saya bahas disini adalah Teori Gaya Kepemimpinan Demokratis. 2.1.2 Demokratis Demokrasi adalah salah satu bentuk pemerintahaan dalam sebuah negara dengan kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung atau melalui perwakilan. Kata demokrasi itu sendiri berasal dari Yunani, yaitu dēmokratía yang terbentuk dari kata dêmos yang berarti rakyat, dan Kratos yang berarti kekuasaan, sehingga kata dēmokratía berarti kekuasaan rakyat. 5
    • Demokratis dapat digambarkan melalui ciri dari suatu kelompok/masyarakat yang memiliki unsur-unsur popular sovereignty, freedom, equality, individualism dan social responsibility. Secara sederhana, popular sovereignty dapat diartikan memutuskan suatu permasalahan berdasarkan kesepakatan bersama antara anggota kelompok. Kesepakatan ini dapat persetujuan seluruh anggota (consensus model), berdasarkan suara terbanyak (majority rules model), atau berdasarkan pengaruh dari anggota atau yang memiliki pengaruh lebih dalam kelompok tersebut (influence model). Menurut H. Harris Soche (Yogyakarta : Hanindita, 1985) Demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu kekusaan pemerintahan itu melekat pada diri rakyat atau diri orang banyak dan merupakan hak bagi rakyat atau orang banyak untuk mengatur, mempertahankan dan melindungi dirinya dari paksaan dan pemerkosaan orang lain atau badan yang diserahi untuk memerintah. Menurut Hannry B. Mayo Kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana di mana terjadi kebebasan politik. Menurut International Commission of Jurist Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusankeputusan politik diselenggarakan oleh warga Negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. Menurut C.F. Strong Demokrasi adalah Suatu sistem pemerintahan di mana mayoritas anggota dewan dari masyarakat ikut serta dalam politik atas dasar sistem perwakilan yang menjamin pemerintah akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya pada mayoritas tersebut. 6
    • 2.1.3 Kepemimpinan Demokratis Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi. Pemimpin menempatkan dirinya sebagai pengontrol, pengatur dan pengawas dari organisasi tersebut dengan tidak menghalangi hak-hak bawahannya untuk berpendapat. Dia juga berfungsi sebagai penghubung antar departemen dalam suatu organisasi. Organisasi yang dibuat dengan teori demokratis ini pun memiliki suatu kelebihan, dimana setiap tugas dan wewenang dari pengurus organisasi tersebut diatur sedemikian rupa, sehingga jelas bagian-bagian tugas dari masingmasing pengurus, yang mana nantinya tidak akan terjadi campur tangan antar bagian dalam organisasi tersebut. Pembagian tugas ini juga sangat efisien dan efektif bila diterapkan dalam suatu organisasi dimana tujuan utama dari organisasi adalah tercapainya tujuan dan kepentingan bersama. Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya Pemimpin yang bertipe demokratis menafsirkan kepemimpinannya sebagai indikator, hubungan dengan bawahannya bukan sebagai majikan terhadap pembantunya, melainkan sebagai saudara tua diantara temen-teman sekerjanya. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulasi bawahannya agar bekerja secara kooperatif untuk mencapai tujuan bersama. Dalam tindakan dan usaha-usahanya, selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya, serta mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya. Dalam melaksanakan tugasnya, pemimpin yang demokratis mau menerima bahkan mengharapkan pendapat dan saran-saran dari bawahannya, juga kritik-kritik yang dapat membangun dari para bawahan yang diterimanya sebagai umpan balik dan dijadikan bahan pertimbangan dalam tindakan-tindakan berikutnya. 7
    • 2.2 Ciri-Ciri Kepemimpinan Demokratis Gaya kepemimpinan demokratis berciri: 1. Wewenang pimpinan tidak mutlak Yaitu keputusan pimpinan bisa dipengaruhi oleh masukan dari bawahan, bukan sebagai bentuk interferensi, dalam hal ini lebih ditekankan dari asas musyawarah 2. Pimpinan melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan Tidak semua keputusan bergantung pada pimpinan semata. Bawahan memiliki wewenang untuk membuat keputusan, namun masih berada dalam batas sewajarnya 3. Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan Setiap keputusan yang diambil tidak hanya berasal dari pimpinan mutlak, namun telah dimusyawarahkan terlebih dahulu bersama bawahannya 4. Kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan 5. Komunikasi berlangsung timbal balik Komunikasi antara pimpinan dan bawahan berlangsung dengan baik, tanpa adanya rasa takut atau canggung karena jabatan 6. Pengawasan dilakukan secara wajar Pemimpin tidak melakukan pengawasan kegiatan secara over atau over protective, sehingga tidak ada tekanan pada bawahan saat melakukan kegiatannya, bawahan pun menjunjung tinggi kepercayaan yang diberikan atasannya 7. Prakarsa datang dari pimpinan maupun bawahan Pemrakarsa dari suatu kegiatan yang bermanfaat bagi organisasi tersebut tidak hanya berasal dari pimpinan, bawahan pun diberikan hak yang seluas-luasnya untuk memprakarsai sesuatu yang berdampak positif bagi organisasi tersebut 8. Banyak kesempatan bagi bawahan untuk mengeluarkan pendapat 9. Bawahan bebas untuk berpendapat sesuai dengan asas demokrasi 10. Tugas diberikan bersifat permintaan Tugas yang diberikan pimpinan bisa berasal dari permintaan bawahan yang tentunya berdampak positif bagi organisasi tersebut 11. Pujian dan kritik seimbang Pimpinan dan bawahan tidak selalu saling memuji atau mengkritik, kedua-duanya berjalan seimbang sesuai dengan kebutuhan organisasi tersebut 12. Pimpinan mendorong prestasi bawahan 8
    • 13. Kesetiaan bawahan secara wajar Bawahan tidak bersifat sebagai budak yang selalu manut pada atasannya, namun bawahan tetap memiliki rasa hormat yang tinggi pada atasannya 14. Memperhatikan perasaan bawahan Pemimpin bersikap mengayomi kepada bawahan, sehingga pemimpin mengerti apa masalah yang ada pada bawahan, sehingga pemimpin bisa mengambil kebijakan dengan segera 15. Suasana saling percaya, menghormati dan menghargai 16. Suasana yang selalu harmonis dalam lingkungan organisasi 17. Tanggung jawab dipikul bersama Kelebihan yang paling utama, yaitu saling bekerja sama dalam mencapai tujuan organisasi 2.3 Pemimpin Demokratis yang Efektif Pemimpin Demokrasi yang efektif adalah :  Mau terus belajar Pemimpin tidak boleh hanya puas dengan apa yang sudah ia miliki saat ini. Ia harus belajar terus menerus agar lebih memiliki wawasan yang luas dan bisa menularkan ilmu-ilmunya kepada bawahannya.  Berorientasi pada pelayanan Pembeli merupakan raja yang harus kita hormati dan kita istimewakan. Karena melalui pembeli, usaha yang kita miliki akan tersebar luas. Oleh sebab itu, pelayanan yang mengutamakan kepuasan pengunjung sangatlah penting untuk memajukan usaha yang kita miliki. Pemimpin wajib mengorientasikan organisasi atau perusahaannya agar memiliki pelayanan yang sangat baik kepada pelanggannya.  Memberikan energi positif Setiap pemimpin harus mampu memberikan energi yang baik kepada bawahannya. Agar bawahan selalu memiliki semangat kerja yang kuat. Pemimpin bisa selalu bersifat adil dan ramah kepada bawahannya, agar bawahan tidak memiliki rasa malas 9
    • untuk bekerja. Karena ia akan merasa sangat menghargai pemimpinnya yang mampu memberikan energi positif bagi mereka.  Mempercayai orang lain Kepercayaan seorang pemimpin kepada bawahan sangatlah penting, karena bawahan akan selalu berusaha lebih baik dalam menjalankan pekerjaannya ketika pemimpin memberikan kepercayaan kepada mereka, dan pemimpin percaya bahwa mereka mampu menjalankan tugas yang sudah diberikan. Jika seorang pemimpin tidak percaya kepada bawahannya, maka bawahan tidak bisa mengeluarkan kemampuannya secara total, sehingga akan menghambat ide-ide baru yang muncul dari pikiran mereka.  Memiliki keseimbangan hidup Pemimpin yang memiliki keseimbangan dalam hidupnya dapat menjadi pemimpin yang berkharismatik. Keseimbangan hidup merupakan keadaan dimana antara kemampuan intelegensi, spiritual dan emotional berada pada kedudukan sama rata. Ia pintar, namun tidak lupa akan Tuhan nya, dan mampu mengendalikan emosi nya kepada bawahan-bawahan ketika mereka sedang memimpin.  Jujur pada diri sendiri Tidak ada gunanya ketika seorang pemimpin tidak bisa jujur, apalagi terhadap dirinya sendiri. Karena kejujuran merupakan kunci utama keberhasilan. Pemimpin yang mampu jujur pada dirinya sendiri pasti juga akan jujur terhadap apa yang ia pimpin.  Mau melihat hidup sebagai sesuatu yang baru Setiap hari harus merupakan sesuatu yang baru bagi seorang pemimpin, agar mereka selalu memiliki semangat yang tinggi dalam setiap langkahnya. Untuk mengatasi kebosanan dalam memimpin, diperlukan hal-hal baru di setiap harinya. Seperti ide-ide yang selama ini belum pernah terpikir, tantangan baru dalam perusahaannya atau yang lainnya. Hal ini bisa dilakukan dengan sharing bersama bawahannya. Mengingat pemimpin yang demokratis merupakan pemimpin yang mempertimbangkan saran dari bawahannya.  Memegang teguh prinsip 10
    • Seorang pemimpin pasti memiliki prinsip dalam hidupnya dan pada apa yang ia pimpin. Prinsip tersebut harus selalu dipegang teguh, jangan sampai terlepas. Karenadengan prinsip, kita mampu mencapai tujuan-tujuan yang ingin kita capai dalam usaha kita. Ketika seorang pemimpin tidak memiliki prinsip, maka apa yang akan terjadi? Usaha yang mereka pimpin tidak akan memiliki waktu yang lama, mereka tidak memiliki pendirian yang tepat dalam memimpin suatu perusahaan, sehingga mudah bagi musuh untuk menghancurkan usaha yang mereka pimpin.  Menjadikan sinergi sebagai prinsip memimpin Seorang pemimpin lahir untuk masa depan yang lebih baik, dan dia memiliki anugerah untuk menjadi mujizat bagi semua orang yang mempercayainya. Sinergi sebagai prinsip kepemimpinan akan menjadikan dia sebagai seorang pemimpin yang mampu memeluk erat - erat semua keragaman bersama semua kebaikan dalam satu fungsi yang menyatukan dia dengan semua orang yang dia pimpin dalam satu kekuatan besar yang optimal untuk menghasilkan kinerja terbaik kepemimpinannya. Sinergi sebagai prinsip kepemimpinan akan merangsang sebuah kekuatan maha dahsyat bagi kekuatan kepemimpinan untuk menjadi penghubung paling andal di antara satu kepentingan dengan kepentingan lain dalam satu hubungan harmonis yang luas. Sinergi sebagai prinsip kepemimpinan tidak akan menjadikan kepemimpinan sebagai sebuah konsep formalitas saja, melainkan menjadikannya sebagai sosok sentral yang paling penting untuk memberdayakan, menyatukan, menggerakkan, dan menghasilkan kinerja tertinggi. Sinergi merupakan hubungan yang melebihi hubungan apapun, dan sinergi ada di dalam semua aspek kepemimpinan setiap orang. Tanpa sinergi positif kepemimpinan seseorang akan terasa gersang dan tidak kreatif. Sinergi sebagai hukum alam yang menciptakan empati khusus antara seorang pemimpin dengan kehidupannya dalam mengelola semua keragaman, dan perbedaan yang harus dia pimpin. Sinergi mengajarkan prinsip untuk menghargai semua perbedaan, dan mengurangi semua kelemahan agar dapat menciptakan proses kreatifitas tingkat tinggi untuk mendorong semua orang yang terlibat menjadi lebih berkontribusi terhadap masa depan yang lebih cerah. 11
    • Sinergi selalu akan merangsang pemikiran seorang pemimpin untuk menghindari bekerja bersama organisasi usang yang statis dan secara proaktif bekerja bersama organisasi terbarukan yang dinamis. Sinergi juga mengarahkan seorang pemimpin untuk selalu memiliki kemampuan belajar, dan terlibat secara aktif dalam proses perjalanan sukses yang berkesinambungan. Pemimpin yang menjadikan sinergi sebagai prinsip kerja kepemimpinannya akan selalu bekerja dengan melihat persepsi banyak orang dalam wawasan yang luas terhadap semua kenyataan yang ada, menjadi seorang penggerak organisasi yang mampu membangkitkan antusiasme dan motivasi tertinggi banyak orang, mampu menjadi pengikat kekuatan emosional semua orang untuk berjuang menghasilkan karya terbaik, mampu membangun budaya kerja yang berprinsip kepada cara berkomunikasi positif secara sinergistik, dimana semua orang secara tulus membuka pikiran, hati, dan keyakinan untuk semua potensi baru, alternatif baru, pilihan baru, dan semua ini untuk menciptakan keyakinan dan kepercayaan tinggi agar semua upaya kreatifitas menjadi wujud nyata. Dia seorang pemimpin yang mampu melibatkan semua orang untuk mendapatkan jawaban dan hasil terbaik dari setiap tugas yang mereka kerjakan, dia juga seorang pemimpin yang secara cerdas mampu melakukan pendistribusian kerja melalui kekuasaan dan kontrol yang jelas dan sederhana. Sinergi sebagai prinsip kepemimpinan akan mendorong pemimpin untuk mengembangkan semua potensi kemampuan sumber daya, khususnya sumber daya manusia menjadi lebih dinamis dan kreatif dalam menjawab semua tantangan yang muncul. Dia seorang pemimpin yang muncul untuk mengelola semua kekuatan dan menghilangkan semua kelemahan dalam sebuah proses kerja yang selalu lebih peduli kepada kesatuan dan keutuhan sumber daya manusianya dalam sebuah hubungan kerja yang harmonis dan super kreatif. Sinergi sebagai prinsip kepemimpinan mengajarkan pembaruan dan perubahan ke arah masa depan yang lebih baik, yang akan menjadi prioritas utama. Sinergi sebagai prinsip kepemimpinan menjadikan semua perbedaan untuk dimanfaatkan secara maksimal dalam upaya menghasilkan kinerja unggulan, dan mengatasi semua hambatan dan kelemahan melalui cara kerja terefektif yang terukur risikonya secara detail. 12
    • Sinergi sebagai prinsip kepemimpinan membungkus watak dan karakter seorang pemimpin dengan nilai - nilai kerja yang jelas dan terdefinisi untuk dapat diberdayakan oleh semua orang dalam upaya menemukan sasaran kerja yang tepat sasaran, sesuai dengan misi, dan visi organisasi. Sinergi sebagai prinsip kepemimpinan harus menjadi andalan kesuksesan kolaborasi kerja antara pemimpin dengan semua kekuatan sumber dayanya, sebagai pemimpin ia harus menunjukkan kekuatan dirinya untuk bekerja melewati semua batasan dan mampu membangun hubungan kerja yang harmonis antara unit kerja dalam sebuah rangkaian gerbong organisasi yang utuh dan penuh. Sinergi tidak pernah mengajarkan untuk terpisah - pisah, sinergi selalu berprinsip menjadikan semua kekuatan organisasi dalam bentuk unit kerja - unit kerja menjadi satu kesatuan utuh dan penuh dalam bentuk organisasi besar. Pemimpin dalam sinergi sebagai prinsip kepemimpinan akan selalu berkosentrasi dan berfokus untuk membangun persepsi yang sama, menjadi motivator ulung dalam menggerakkan sumber daya, dan memberdayakan semua peran dan fungsi kerja secara optimal dalam komunikasi yang sinergistik. Keterampilan sumber daya manusia untuk membentuk hubungan kerja yang bersinergi di dalam keutuhan organisasi, akan membawa manfaat besar dalam konsep sinergi sebagai prinsip kepemimpinan. Sinergi sebagai prinsip kepemimpinan diharapkan dapat mewujudkan kemitraan kerja antara semua kekuatan dan potensi sumber daya manusia dalam sebuah semangat dan motivasi kerja yang mengedepankan keharmonisan hubungan kerja yang efektif, kreatif, dan efi sien dalam sebuah sinergi yang tulus, ikhlas, dan cerdas.  Selalu memperbaharui diri Pemimpin yang terus-menerus pada perjalanan pengembangan diri dan tidak rentan terhadap tiba. Ini berarti mereka tahu mereka selalu meningkatkan keterampilan dan kualitas mendasar untuk memastikan mereka mengembangkan tingkat penguasaan dalam 3 kunci kepemimpinan pertama mendasar. Menjadi seorang pemimpin membutuhkan komitmen, disiplin, cinta apa yang mereka lakukan, dan etos kerja yang tak tertandingi terfokus. Mereka melakukan apa yang 13
    • mereka sukai, disiplin dalam tugas-tugas di tangan dan fokus selama waktu kerja mereka. 2.4 Perbedaan Kepemimpinan Demokratis dan Otoriter Bidang urusan Otoriter Demokratis Pembuat perencanaan Pemimpin Pemimpin & kelompok Pemecah masalah Pemimpin Pemimpin & kelompok Pembuat keputusan Pemimpin Pemimpin & kelompok Arah komunikasi Ke bawah Bawah,atas,menyilang Tanggung jawab Pemimpin Pemimpin & kelompok Tanggung jwb akhir Pemimpin Pemimpin Kepercayaan Tidak ada Tinggi Hubungan Rendah Tinggi Wewenang Tidak ada Banyak Manajemen krisis Baik Buruk Perubahan Buruk Baik 2.5 Demokratisasi pada Perusahaan Sedikit perusahaan modern yang dijalankan dengan cara demokratis. Proses demokratis dalam perusahaan tidak berhubungan dengan kotak suara atau pembuatan keputusan dengan referendum. Ini lebih mengenai memanfaatkan energi dan kreativitas perusahaan, menciptakan suatu lingkungan yang mendukung perubahan dan adaptasi dan yang memberdayakan dan mendorong para kolega untuk membuat kontribusi. Gary Hamel, penulis bisnis dan mitra penelitian di Harvard Business School, mengingatkan kita tentang sejumlah kebenaran yang diterima secara umum tentang dunia 14
    • modern: kekuatan pasar bebas dan kemampuannya untuk memecahkan bahkan masalah alokasi yang paling rumit sekalipun; kebutuhan akan keragaman dalam ekosistem apapun sehingga perusahaan bisa beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah; keharusan bagi para individu untuk bekerja karena mereka termotivasi untuk meningkatkan kehidupannya dan bukan karena mereka diperintah untuk melakukan demikian. Kekuatan yang amat kuat ini masih hanya dimanfaatkan secara kurang sempurna dalam perusahaan-perusahaan modern. Hamel mengemukakan bahwa terdapat sangat sedikit pemimpin yang sempurna dan kelebihan proses demokratis ialah bahwa proses-proses ini mengkompensasi terbatasnya jumlah pemimpin yang sempurna dengan cara memaksimalkan “orang-orang jenius dalam diri orang awam”. Tantangan sebenarnya bagi pemimpin bukan pada usaha menjadi pemimpin yang sempurna tetapi pada pendirian struktur yang memungkinkan perusahaan untuk tumbuh dan berkembang dengan kepemimpinan mereka yang kurang dari sempurna. Kelebihan utama insitusi demokratis ialah kapasitas mereka untuk dapat beradaptasi dan berkembang. Hal ini, menurut Hamel, memberikan kita beberapa aturan desain untuk perusahaan modern: “Pemimpin harus benar-benar bertanggung jawab terhadap pegawai di garis depan; para pegawai ini harus merasa bebas untuk mengemukakan hak untuk tidak setuju; pembuatan kebijakan harus didesentralisasi sejauh memungkinkan; aktivisme harus dianjurkan dan dihargai.” Demokrasi dalam perusahaan tidak berhubungan dengan pengambilan segala keputusan dengan kotak suara. Ini lebih berkaitan dengan bagaimana memungkinkan orang-orang cerdas dalam perusahaan sebagai satu kesatuan untuk bisa mempengaruhi masa depan perusahaan. Pasar bebas dan institusi demokrasi memiliki daya adaptasi yang tidak terbatas. Sejarah membuktikan bahwa usaha-usaha untuk mengendalikan semuanya dengan kendali terpusat berakhir dengan kegagalan yang mengenaskan. Pemimpin sebaiknya tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi. Perusahaan harus dipandu, bukan dikendalikan, oleh pemimpin. Para kolega harus diundang untuk berkontribusi dan bahkan menyuarakan ketidaksetujuan tetapi tidak satu orang pun memiliki hak untuk menghalangi. Para kolega akan merasa diberdayakan saat pendapat mereka diminta dan dimasukkan ke dalam perilaku perusahaan. Perusahaan 15
    • yang dipandu dengan baik akan mampu beradaptasi dengan lingkungannya dengan cara yang paling efisien. 2.6 Pengaruh Gaya Kepemimpinan Demokratis Terhadap Kepuasan Kerja Setiap pemimpin dari organisasi atau perusahaan yang satu dengan yang lain mempunyai perbedaan dalam penerapan gaya kepemimpinan, yang mana penerapan gaya kepemimpinan itu memberikan pengaruh kepada para bawahan terutama terhadap kepuasan kerja yang dinyatakan dengan sikap bawahan terhadap pekerjaannya. Menurut penelitian yang diakukan oleh Branca dalam Efendi (2004:33), pada gaya kepemimpinan demokratis bawahan bekerja dengan penuh kegairahan. Sedangan pada gaya kepemimpinan otoriter bawahan bekerja penuh dengan perasaan tertekan dan bahkan sering terjadi ketegangan antara bawahan, dan pada gaya kepemimpinan laissez faire bawahan bekerja secara tidak teratur. Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa penerapan gaya kepemimpinan akan memberikan pengaruh terhadap kepuasan kerja bawahan. 2.7 Kekurangan dan Kelebihan Kepemimpinan Demokratis a. Kelebihan : Kelebihan dari kepemimpinan demokratis adalah seorang pemimpin memberikan kebebasan pada anggota kelompok untuk menentukan tujuan mereka sendiri,sehingga staf-stafnya dapat berkembang untuk meraih tujuan bersama. 1. Memberikan kebebasan yang besar kepada kelompok untuk mengadakan kontrol terhadap supervisor. 2. Merasa lebih bertanggung jawab dalam menjalankan pekerjaan. 3. Produktivitas lebih tinggi dari apa yang diinginkan manajemen dengabn catatn bila situasi memungkinkan. 4. Pemimpin dan bawahan dapat saling mengenal dan mengerti lebih dalam tentang hubungan kemanusiaan. Bawahan dapat membantu pemimpin dalam menghapi persoalan, jadi dapat saling mengisi kekurangan dan dapat saling mengisi. 16
    • b. Kekurangan : 1. Memberikan kebebasan yang besar kepada kelompok untuk mengadakan kontrol terhadap supervisor. 2. Merasa lebih bertanggung jawab dalam menjalankan pekerjaan. 3. Produktivitas lebih tinggi dari apa yang diinginkan manajemen dengabn catatn bila situasi memungkinkan. 4. Pemimpin dan bawahan dapat saling mengenal dan mengerti lebih dalam tentang hubungan kemanusiaan. Bawahan dapat membantu pemimpin dalam menghapi persoalan, jadi dapat saling mengisi kekurangan dan dapat saling mengisi. Karena di sini seorang pemimpin memberikan kesempatan dan hak yang seluas-luasnya kepada para stafnya, maka mereka memiliki banyak sekali pendapat yang berbeda,sehingga pemimpin sulit menentukan pendapat yang sesuai dengan anggota yang tidak menyetujui kesepakatan forum yang ada, maka terkadang terjadi suatu konflik atau perdebatan antara anggota forum dengan pemimpin. Contoh permasalahan dalam perusahaan yang kepemimpinnya demokratis : PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara yang sangat berperan bagi masyarakat di seluruh penjuru Indonesia. Perusahaan ini begitu besar karena merupakan satu-satunya pemasok tenaga listrik resmi dari pemerintah kepada rakyat Indonesia. PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang bertugas mamasok kubutuhan tenaga listrik khusus untuk wilayah Sumatera adalah PT. PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban Sumatera (P3BS). Organisasi ini bukanlah organisasi yang benarbenar baru karena P3BS merupakan penggabungan fungsi Penyaluran dari PT. PLN (Persero) Pembangkit dan Penyalur Sumatera Bagian Utara dan Selatan. Manager dan Assistant Manager di PT. PLN (Persero) UPT Pekanbaru selalu memperlakukan karyawannya dengan manusiawi, mengakui dan menjunjung harkat dan martabat karyawannya yang berarti bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas hanya pada kebutuhan yang bersifat materi, tetapi kebutuhan yang bersifat non materi seperti promosi, kebutuhan untuk memperoleh kesempatan, mengem bangkan potensi dan perilaku mendorong para bawahannya menumbuhkan serta mengembangkan daya inovatif 17
    • dan kreativitasnya. Dengan sungguh-sungguh mendengarkan pendapat, saran serta kritikan orang lain terutama para bawahannya, adapun gaya kepemimpinan yang cocok diterapkan di PT. PLN UPT Pekanbaru adalah gaya kepemimpinan demokratis, yang mana pemimpin harus menghindari terjadinya sikap mendominasi dalam pengambilan keputusan. Salah satu masalah yang berlarut adalah masalah kedisiplinan dan ketidak patuhan. Banyaknya pegawai yang tidak berada di kantor pada jam kerja tanpa alasan yang jelas, ketidak hadiran, keterlambatan datang maupun pulang lebih awal dari yang seharusnya menjadi sebuah kebiasaan yang tidak terkontrol. Masalah kedisiplinan dan ketidakpatuhan yang terjadi di PT. PLN (Persero) UPT Pekanbaru dapat dikatakan sebagai penurunan semangat kerja pegawai. Resiko dari hal ini adalah jelas akan mempengaruhi hasil atau kinerja dari para pegawai tersebut. Selain mempengaruhi mengakibatkan kejenuhan kinerja pegawai, turunnya semangat dan keputus asaan pegawai akan kerja dapat harapannya terhadap perusahaan. Kejenuhan akan membuat pegawai mencari alternatif kegiatan lainnya disela waktu kerja mereka. Sedangkan keputus asaan akan membuat pegawai berhenti berharap pada perusahaan dan akhirnya mencari pekerjaan lain. Kekurangan dan masalah ketidakdisiplinan serta ketidakpatuhan seharusnya tidak terjadi di perusahaan yang cukup besar ini. Terlebih perusahaan ini mempunyai seorang pemimpin yang seharusnya mencegah hal-hal tersebut terjadi dengan kepemimpinannya. Motivasi pemimpin sangat menetukan semangat kerja pegawai karena dengan semangat kerja yang tinggi, suatu pekerjaan dapat diselesaikan secara giat dan tujuan organisasi akan dapat terealisasi secara lebih cepat dan lebih baik. Namun untuk mempengaruhi orang lain/bawahannya, sebelum kekuasaan itu digunakan seorang pemimpin harus terlebih dahulu melakukan pendekatan kepada bawahannya baik dengan memberi imbalan/hadiah terhadap yang bekerja lebih memberi pujian, maupun dengan memenuhi kebutuhan giat, karyawan tentunya yang sewajarnya. 18
    • Cara memkasimalkan kepemimpinan yang demokratis Seorang pemimpin yang demokratis tidak akan mampu mencapai tujuannya apabila tidak didukung oleh pengikut-pengikutnya yang demokratis juga . Demokratis merupakan istilah yang sering kita pahami sebagai satu hal yang sangat positif. Dalam perjalanan kepemimpinan di negeri ini, kita menganut tipe kepemimpinan yang demokratis. Meskipun begitu, terkadang masih banyak pemimpin yang tidak memahami makna atau arti yang mendalam dari arti kata demokrasi itu sendiri. Untuk itu, penting bagi pemimpin menyadari betapa syarat makna dari arti itu dan perlu pengorbanan dalam mengaplikasikan hal tersebut. Tanpa pemahaman terhadap makna demokratis itu, maka sulit baginya untuk mengimplementasikan dalam aktivitasnya sebagai pemimpin. Pemimpin yang demokratis tentu perlu melakukan upaya-upaya agar segala tindak tanduk dan perilakunya menjadikan dirinya sosok yang menjadi panutan. Bila dicermati, banyak pemimpin yang secara teori dan pengetahuan tahu apa arti demokratis. Namun, pada saat praktik dan aplikasinya sangat bertentangan dengan yang seharusnya. Akan tetapi ada kemungkinan pemahaman sosok pemimpin terhadap apa yang dia katakan benar-benar sangat sulit untuk dibuktikan dengan perilakunya. Memang tidaklah mudah untuk melakukan satu kata dengan perbuatan. Istilah pemimpin secara umum merupakan interaksi antara dua atu lebih anggota dalam suatu institusi. Interaksi tersebut cenderung sering melibatkan bentuk dari situasi dan persepsi dari setiap anggota kelompok tersebut. Berkaitan dengan istilah umum tersebut menunjukkan bahwa jika seorang pemimpin hendak memimpin secara demokratis maka perlu menciptakan interaksi yang melibatkan setiap anggota dalam kelompok. Kendala-kendala dan hambatan dapat terjadi saat pemimpin menjalankan kepemimpinannya. Meskipun terkadang, sosok pemimpin „merasa‟ dan „menunjukkan‟ bahwa dirinya telah melakukan yang maksimal untuk kelompoknya. Akan tetapi, hal tersebut bisa saja diterima oleh orang yang dipimpinnya. 19
    • Perbedaan persepsi inilah yang dapat mengganggu jalannya setiap tugas yang diberikan. Kendala tersebut di antaranya adalah interupsi yang sangat bertolak belakang atau berseberangan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpin. Kendala ini menjadikan tidak kuatnya hubungan keduanya. Kendala lain adalah pemimpin yang tidak memberikan dukungan kepada orang-orang yang dipimpinnya agar dapat menciptakan hubungan yang positif. Pemimpin yang demokratis harus mampu untuk mendistribusikan tanggung jawab secara benar. Selain itu, juga dia harus mampu menempatkan kekuatan yang dimiliki oleh setiap anggota dalam kelompok. Namun memang hal tersebut bukan merupakan perkara mudah. Oleh karena itu pemimpin dituntut untuk mampu memberikan segenap waktu dan energinya agar dapat membuat orang-orang yang dipimpinnya yakin dan dia mampu membuat keputusan yang demokratis. Dukungan Seorang pemimpin yang demokratis tidak akan mampu mencapai tujuannya apabila tidak didukung oleh pengikut-pengikutnya yang demokratis juga. Untuk itu baik pemimpin maupun orang-orang yang dipimpin harus saling terkait dan saling memahami satu sama lain. John Gastil dari University of Wisconsin-Madison, USA (1994) mengemukakan bahwa terdapat beberapa hal penting bagi pengikut yang demokratis agar memiliki tanggung jawab. Pertama, pengikut demokratis harus siap untuk mengambil tanggung jawab untuk kesejahteraan mereka. Hal ini penting karena keseimbangan dengan kebebasan merupakan faktor penting menanamkan rasa tanggung jawab individu untuk bekerja sama dalam kelompok. Pengikut yang demokratis tidak begitu saja menerima tugas yang diberikan pemimpin. Akan tetapi mereka tetap berkesempatan untuk menyatakan hal-hal yang terkait dengan tanggung jawabnya. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi dan komunikasi kedua belah pihak menjadi faktor penting. Untuk menciptakan komunikasi tersebut, memang dibutuhkan pemahaman yang mendalam antara kedua belah pihak baik itu pemimpin maupun orang yang dipimpin. Bila 20
    • hal tersebut terhambat maka tidak akan memunculkan keseimbangan dalam mengemban tanggung jawab bersama. Kedua, orang-orang yang dipimpin harus memiliki tanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan dan putuskan. Jika anggota dalam kelompok tidak menyetujui keputusan bersama, maka mereka harus mampu untuk menyampaikan pendapatnya secara bebas tetapi tetap dibarengi dengan sikap dan cara yang tepat. Hal ini akan dapat melatih setiap anggota kelompok untuk memiliki ketrampilan bernegosiasi dengan tetap menjaga dan membangun setiap policy yang ada. Ketiga, pengikut yang demokratis memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk tetap menjaga kemandirian mereka. Pemimpin yang tidak demokratis kemungkinan akan mengeliminasi anggota-anggota yang yang tidak sejalan dengan mereka. Pemimpin demokratis memberikan kebebasan yang bertanggung jawab kepada pengikutnya. Oleh karena itulah orang-orang yang dipimpin harus mampu untuk melatih dirinya secara teratur untuk tetap memiliki kebebasan, pengakuan, penghargaan, dan penjagaan dari pemimpinnya. Keempat, tanggung jawab anggota merupakan sesuatu hal yang harus juga diakui oleh pemimpinnya. Pengikut yang demokratis sebaiknya secara terus menerus mengembangkan kemampuan kepemimpinannya. Hal ini akan membuktikan bahwa mereka mampu memimpin dan juga dipimpin. Idealnya, keduanya memiliki peran yang secara konstan mampu untuk melakukan perubahan setiap menit, jam, bulan atau tahun. Kelima, setiap individu akan memainkan peran baik itu sebagai pemimpin dan juga orang yang dipimpin. Terkait dengan peran tersebut maka setiap individu harus dapat bekerja sesuai dengan perannya tersebut. Saat seseorang menjadi anggota maka dia harus bekerja sesuai „perintah‟. Apabila terjadi penolakan atas peran yang dilakukannya maka akan berdampak pada tujuan yang ingin dicapai dalam suatu institusi.s Bila dalam kepemimpinan telah terjalin suatu interaksi dan komunikasi yang bertanggung jawab maka diharapkan segala rancangan dan rencana akan dapat diwujudkan. Untuk itu, pemimpin yang demokratis harus mampu memainkan perannya agar dapat menjadikan citra dirinya menjadi lebih baik. 21
    • Penting bagi pemimpin yang demokratis untuk memfasilitasi antara dirinya dan orang yang dipimpinnya agar dapat terlibat dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Dalam setiap aktivitasnya tentu akan ditemui kendala-kendala yang dapat mengganggu dan menghambat untuk meraih tujuan tersebut. Pemimpin yang baik dan demokratis diharapkan mampu memfasilitasi perasaan dan pikiran setiap anggotanya agar dapat meneruskan visi dan meraih tujuan yang diinginkan.(msb) 22
    • BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya Semangat kerja adalah faktor-faktor yang menjadi pendorong seseorang dalam bekerja. Semangat kerja perlu diperhatikan agar karyawan dapat bekerja dengan optimal, mengurangi keluhan dari karyawan dan dapat meningkatkan kinerja karyawan. Gaya kepemimpinan seorang pemimpin mempengaruhi semangat kerja karyawannya. Pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan demokratis memiliki banyak sifat yang positif. Hal ini lah yang disukai oleh para bawahan. Namun pemimpin yang demokratis cenderung memiliki sikap yang kurang tegas, dan lama dalam mengambil keputusan. 3.2 Saran 1. Untuk meningkatkan semangat kerja karyawan perusahaan perlu memperhatikan masalah absensi, kerjasama yang terjalin antar karyawan saat bekerja, kepuasan kerja dan disiplin karyawan. Apabila keempat faktor tersebut benar-benar diterapkan dalam perusahaan maka semangat kerja karyawan akan terwujud dengan baik. 2. Gaya kepemimpinan yang demokratis merupakan gaya kepemimpinan yang paling tepat untuk diterapkan di perusahaan, tapi pemimpin harus memiliki batasan dalam mendemokratisasi perusahaannya. 3. Karena gaya kepemimpinan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi semangat kerja karyawan. Untuk itu manajemen perusahaan perlu memperhatikan masalah gaya kepemimpinan agar berpengaruh baik terhadap semangat kerja karyawan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memimpin karyawan yang baik, menerapkan cara berkomunikasi yang tepat dan efektif dan berkoordinasi dengan karyawan agar semangat kerja karyawan mengalami peningkatan. 23