Your SlideShare is downloading. ×
120126447 kebidanan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

120126447 kebidanan

469
views

Published on


0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
469
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
6
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. KTI PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL DI RS. MUHAMMADIYAH GRESIK BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tingginya angka kematian ibu (AKI) menempatkan Indonesia pada urutan teratas di Asean. Departemen Kesehatan menyebutkan angka kematian ibu di Indonesia mencapai 334/100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian ibu yaitu 28% karena perdarahan, eklamsia 24%, komplikasi puerperium 8%, abortus 5%, partus eklamsia 24%, trauma obstetrik 3%, lain-lain 11%. (Mengatasi Keluhan Hamil, 2008) Menurut Hartati Fauzi Bowo, kematian ibu dapat dicegah hingga 22% yaitu melalui Ante Natal Care (ANC) yang teratur, mendeteksi dini adanya komplikasi dalam kehamilan, hidup secara sehat dengan pemenuhan gizi yang seimbang, pelaksanaan inisiasi menyusui dini dalam persalinan, serta pelaksanaan senam hamil secara teratur. (H. Fauzi Bowo, Menurunkan Angka Kematian Ibu, 2008). Senam hamil adalah senam yang dilakukan pada masa kehamilan dengan tujuan untuk mempersiapkan fisik dan mental ibu hamil, dengan harapan proses kelahiran akan berjalan lancar
  • 2. dan aman. Latihan senam hamil yang dilakukan secara teratur baik ditempat latihan maupun di rumah dalam waktu senggang dapat menuntun ibu hamil ke arah persalinan yang fisiologis selama tidak ada keadaan patologis yang menyertai kehamilan. Ibu hamil yang melakukan senam hamil secara teratur selama masa kehamilannya dilaporkan dapat memberikan keuntungan pada saat persalinan yaitu pada masa kala aktif (kala II) menjadi lebih pendek, mencegah terjadinya letak sungsang dan mengurangi terjadinya insinden sectio caesaria. (Harian Suara Merdeka, 2008) Jumlah ibu hamil yang yang ada di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2008 sebanyak 23.169 orang yang terbagi dari 45 puskesmas. Dari jumlah ibu hamil tersebut hanya 2.475 orang yang aktif melakukan senam hamil sesuai jadwal yang dianjurkan. (Dinkes,banyuwangikab,2007) Jumlah ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tapanrejo pada tahun 2008 sebanyak 295 orang, dari jumlah data tersebut sebanyak 58 orang yang melakukan senam hamil secara rutin sesuai jadwal. (Data Puskesmas Tapanrejo, 2008) Dengan adanya data di atas, pengetahuan tentang senam hamil sangatlah kurang, jadi peneliti ingin mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah Desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah Desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2009?
  • 3. C. Tujuan Penelitian Mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah di desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2009. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktisi Dapat memberikan masukan yang berarti bagi ibu hamil dalam meningkatkan pengetahuan tentang senam hamil khususnya melalui perspektif motivasi. 2. Manfaat Teoritis Dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan kebidanan, khususnya yang terkait dengan pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil. 3. Manfaat Diri Sendiri Memperdalam pengetahuan dan meningkatkan kemampuan peneliti dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh kedalam lingkungan penelitian, serta memberi pengalaman dalam penelitian selanjutnya. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori
  • 4. 1. Definisi Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Senam Hamil a) Pengetahuan 1) Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinganya. Pengetahuan/kognitif merupakan domain yag sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003:121). Sedangkan menurut Notoadmodjo (2003:267) karena dengan pengalaman seseorang sudah melakukan proses belajar (learning) dapat diartikan sebagai proses untuk menambah pengetahuan, pemahaman keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman atau melakukan studi (proses belajar mengajar). 2) Tingkat Pengetahuan Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif (Notoadmojo. 2003:121-124) dibagai dalam enam tingkat, yaitu: a) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai penmgingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajariu atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat
  • 5. pengetahuan yang paling rendah. Katakerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebut, menguraikan, mendefinisikan dan menyatakan. b) Memahami (comperehensif) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh menyimpulkan, meramalkan terhadap obyek yang dipelajari. c) Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode dan prinsip. d) Analisis (analysis) Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu sama yang lain. Kemampuan analisa dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. e) Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kelompok untuk meletakkan atau menghubungkan bagianbagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu
  • 6. kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyelesaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. f) Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk justifikasi penilaian terjadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada. 3) Pengukuran Tingkat Pembelajaran Menurut Notoadmodjo (2003:122) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin kita ketahui atau pengukuran dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas. 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Ada beberapa faktor yang berpengaruh pengetahuan seseorang: a) Usia Usia dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, semakin tua usia seseorang tingkat kemampua dan kematangan seseorang akan lebih tinggi baik dari cara berfikir maupun dalam segi penerimaan informasi. b) Jenis kelamin
  • 7. Jenis kelamin dikatakan dapat mempengaruhi pengetahuan, terutama berkaitan dengan perilaku model laki dan perempuan. Individu melakukan modeling sesuai dengan jenis kelaminnya. c) Tingkat Pendidikan Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang, makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga lebih banyak pula pengetahuan yang ia dapatkan. d) Intelegensi Pada prinsipnya pengetahuan kemampuan penyesuaian diri dan cara-cara pengambilan keputusan individu yang berintelegensi tinggi atau banyak berpartisipasi dan lebih cepat, dan tepat dalam keputusan. e) Status sosial ekonomi Status ekonomi berpengaruh terhadap tingkah lakunya, yang beradal dari keluarga mampu atau sosial ekonominya tinggi dimungkinkan memiliki sikap positif memandang masa depan. (Notoatmodjo, 2003). 5) Pengertian Perilaku Perilaku manusia adalah respon seseorang terhadap rangsangan lain dari subyek dan memiliki dua macam bentuk respon pasif dan aktif. Respon pasif yaitu saat seseorang mendapat respon, respon itu hanya diterima tanpa berusaha memberikan reaksi. Sedangkan respon aktif adalah begitu seseorang mendapat respon langsung memberikan tanggapan respon tersebut. 6) Proses Adopsi Perilaku
  • 8. Dari pengalaman dan penelitian bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahun akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Sebelum orang mengadopsi perilaku baru, didalam dirinya melewati tahap-tahap berikut: a) Sadar Seseorang menjadi sadar akan adanya produk baru, tetapi kekurangan informasi mengenainya. b) Tertarik Seseorang akan menjadi tertarik untuk mencari informasi mengenai produk baru. c) Evaluasi Seseorang harus mempertimbangkan apakah produk baru tersebut masuk akal atau tidak. d) Mencoba Dimana seseorang telah mencoba perilaku baru. e) Adopsi Seseorang memutuskan secara penuh dan teratur sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikap terhadap stimulus. (Adiyono. W, 2008) b. Konsep Kehamilan
  • 9. Kehamilan adalah masa mulai terjadinya konsepsi sampai lahirnya bayi. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam tiga triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai enam bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai sembilan bulan. (Yayasan Bina Pustaka, Sarwono Prawirohardjo, 2006:89) Kehamilan adalah proses mulai dengan konsepsi atau pembuahan sampai dengan menjelasng proses kehamiulan (obstetri Fisiologi Unpad, 2003). Proses mulai terjadinya pertemuan sel telur dengan sperma sampai menjelasng keluarnya hasil konsepsi dalam rahim disebut hamil (Prof. Dr. Ida Bagus Gede Manuaba, SPOG, 2003:105). c. Konsep Senam Kehamilan Sejak tahun 1972 latihan senam hamil yang disusun secara metodis telah diberikan dirumah sakit Hasan Sadikin sebagai bagian dari pelayanan prenatal care, yang kemudian dilanjutkan dengan latihan-latihan yang dilakukan diberbagai rumah sakit-rumah sakit besar maupun rumah sakit kebupaten yang ada di Indonesia. 1) Pengertian Senam Hamil Menurut Sitorus (2001) senam hamil merupakan senam yang diberikan kepada ibu hamil bila masa kehamilannya diatas 22 minggu sampai saat akan melahirkan. Dengan tujuan untuk mempersiapkan fisik dan mental ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, dengan harapan
  • 10. proses persalinan yang dihadapi dapat berjalan dengan aman dan lancar. Senam hamil harus secara rutin dilakukan 2 kali dalam satu minggu. 2) Tujuan Senam Hamil Adapun tujuan dilakukannya latihan senam hamil selama masa kehamilan terutama usia kehamilan 22 minggu keatas adalah sebagai berikut: a) Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, otot-otot dasar panggul, ligamen dan jaringan serta fasia yang sangat berperan dalam mekanisme proses. b) Melonggarkan persendian-persendian yang berhubungan dengan proses persalinan. c) Membentuk sikap tubuh yang prima, sehingga dapat membantu mengatasi keluhan-keluhan yang dirasakan ibu. d) Memperoleh cara melakukan kontraksi dan relaksasi yang sempurna. e) Menguasai tehnik-tehnik pernapasan dalam persalinan. f) Dapat mengatur diri dalam ketenagaan. 3) Manfaat Senam Hamil Manfaat senam hamil antara lain sebagai berikut: a) Dapat membantu dalam metabolisme tubuh selama kehamila, membantu fungsi jantung sehingga para ibu hamil akan merasa lebih sehat dan tidak merasa sesak nafas.
  • 11. b) Membantu mengendorkan ketegangan dan perasaan cemas. c) Mencegah terjadinya kelainan telak. d) Membimbing wanita menuju persalinan yang fisiologis) (Pedoman Singkat Perawatan Ibu, Bayi dan Balita, 2008) 4) Syarat-syarat mengikuti senam hamil Sebelum mengikuti senam hamil, ada syarat-syarat yang harus diperhatikan, antara lain: a) Telah melakukan pemeriksaan kesehatan dan kehamilan oleh dokter atau bidan. b) Latihan dilakukan setelah kehamilan 22 minggu. c) Latihan secara teratur. 5) Larangan atau kontra indikasi mengikuti senam hamil Senam hamil seharusnya dapat dikuti oleh semua wanita hamil yang tanpa komplikasi atau kelaina, adapun wanita hamil yang tidak boleh melakukan senam hamil apabila ibu tersebut mengalami: a) Seorang ibu hamil tidak mutlak dilarang mengikuri senam hamil apabila pada masa kehamilan terdapat kondisi seperti berikut: (1) Penyakit jantung (2) Penyakit paru
  • 12. (3) Servix inkompeten (servix membuka) (4) Kehamilan kembar (5) Riwayat perdarahan pada trimester II dan III (6) Kelainan letak ari-ari seprti plasenta previa (7) Preklamsi maupun hipertensi (8) Riwayat keguguruan b) Seorang wanita relatif tidak boleh mengikuti senam hamil apabila: (1) Ibu hamil menderita anemia berat. (2) Riwayat diabetes melitus (3) Kegemukan yang sangat hebat (obesitis) (4) Badan ibu terlalu kurus (BMI di bawah 12) (5) Penyakit-penyalit dengan riwayat operasi tulang. (6) Perokok berat 6) Bentuk-bentuk latihan senam hamil a) Latihan Pendahuluan (1) Latihan pertama
  • 13. Duduk tegak bersandar pada kedua lengan, kedua tungkai kaki diluruskan dan dibuka sedikit, seluruh tubuh lemas (relax) (2) Latihan kedua Duduk tegak kedua tungkai kaki lurus dan rapat. Letakkan tungkai kanan di atas tungkai kiri, kemudian tekan tungkai kiri dengan seluruh kekutan tungkai kanan, sambil mengempiskan dinding perut sebelah atas simpisis pubis dan mengerutkan liang dubur. Beberapa saat kemudian relax. Lakukan gerakan ini dengan tungkai kiri yang diatas dan lakukan juga sebanyak 8 kali. (3) Latihan ketiga Angkat tungkai kiri ke atas dan letakkan kembali. Lakukan gerakan secara berganti-gantian dengan tungkai kanan sebanyak 8 kali. (4) Latihan keempat Duduk sila dan tegak. Kedua tangan di atas bahu dan kedua lengan samping mammae. Tekan samping mammae dengan sisi lengan atas. Kemudian putarkan kedua lengan tersebut kedepan, keatas samping telinga belakang dan kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan ini sebanyak 8 kali. (5) Latihan kelima Berbaring terlentang, kedua lengan disamping badan dan kedua lutut ditekuk. Angkat panggul sampai badan dan kedua tungkai atas membentuk sudut dengan lantai dan ditahan oleh kedua kaki dan bahu turunkan perlahan-lahan dan relax.
  • 14. (6) Latihan keenam Berbaring terlentang, kedua lengan disamping badan, tungkai lurus dan relax. Panjangkan tungkai dengan menarik tungkai kiri mendekati bahu kiri dan kembali ke posisi semula, kedua lutut tidak boleh ditekuk, lakukan gerakan ini 2 kali berturut-turut kemudian lakukan gerakan ini sebaliknya pada tungkai kanan, sehingga latihan ini berturut-turut dilakukan sebanyak 8 kali. Tujuan Pendahuluan: (1) Menjaga daya kontraksi otot-otot tubuh (2) Menjajagi luas gerakan persendian (3) Mengurangi kekakuan-kekauan yang terjadi pada permulaan latihan. Latihan pendahuluan dilakukan kurang lebih 5 menit. b) Latihan Inti Latihan inti pada senam hamil terdiri dari beberapa gerakan, antara lain: (1) Latihan membentuk sikap tubuh Latihan membentuk sikap yaitu latihan untuk memperoleh sikap tubuh yang baik. (2) Latihan kontraksi dan relaksasi Latihan kontraksi dan relaksasi yaitu latihan untuk memperoleh dan mengatur sikap tubuh yang relax pada saat diperlukan.
  • 15. (3) Latihan pernafasan Latihan pernapasan yaitu latihan untuk menguasi berbagai teknik pernapafasan sehingga pada saatnya dapat digunakan sesuai dengan kepentingannya. Gerakan-gerak diatas dapat dilakukan melalui beberapa gerakan: (1) Latihan bernafas Terlentang dilantai atau ranjang yang telah diberi bantal, dengan lutut dibengkokkan serta kaki rata pada lantai. Bernafas pelan-pelan untuk menggeser iga-iga kesamping membuka bentuk seperti huruf V terbalik didepan yang terbentuk oleh iga, kemudian biarkan nafas keluar dengan lembut dan bisa dilakukan dengan mulut tertutup maupun mulut terbuka sebanyak 8 kali. (2) Latihan kaki Duduk dikursi dengan kaki disokong diatas bangku sewaktu berbaring. (a) Bengkokkan dan regangkan pergelangan kaki sebanyak 8 kali. (b) Bengkokkan dan regangka jari-jari kaki sebanyak 8 kali. (c) Putar kaki membentuk lingkaran dalam kedua arah 8 kali. (3) Latihan berjongkok Berdiri dengan kaki menapak lantai yang sejajar serta terpisah 45 cm serta bergantung dengan sokongan yang kuat. Berjongkok kembali di atas tumit, mulai dengan merotasi lutut kearah luar, latihan berjongkok akan dapat dirasakan manfaatnya pada saat persalinan berlangsung.
  • 16. (4) Latihan memiringkan panggul Terlentang atau miring, kerutkan otot perut dan dasar panggul, tahan lalu lepaskan. (5) Latihan koreksi sikap Berdiri mantap dengan kaki hampir sejajar serta semua jari kaki ditekan pada lantai bersama berat badan diatas lengkungan kaki, miringkan panggul kearah atas, kembangkan dada dengan pernapasan yang meregangkan iga dan lihat bahwa payudara dibawa kedepan diatas dinding perut. Kemudian angkat kepala kearah langit-langit seolah-olah ia digantung diatas. Tujuan latihan ini: (1) Membentuk sikap tubuh yang bak. (2) Melatih otot-otot panggul untuk kontraksi dan relaksasi. (3) Melatih pernapasan untuk menghadapi proses persalinan. c) Latihan Penenangan (1) Lengan dan tangan Genggam tangan, kerutkan lengan dengan kuat tahan, lepaskan. (2) Tungkai dan kaki Terlentang atau miring, luruskan kaki (dorso fleksi) tahan beberapa detik lepaskan. (3) Perut dan dasar panggul
  • 17. Terlentant atau miring, kerutkan otot perut dan dasar panggul, tahan lalu lepaskan. (4) Seluruh tubuh Terlentang atau miring, konraksikan atau kencangkan semua otot sambil nafas dada pelan, teratur lalu relaks (bayngkan hal menyenangkan) Tujuan latihan penenangan (1) Merileksasikan kembali otot-otot yang sedikit tegang pada latihan inti. (2) Mengurangi stress. (3) Memulihkan kembali tenaga yang sedikit hilang pada saat latihan inti. (Adiyono. W, 2008) B. Kerangka Konseptual
  • 18. Gambar 2.1: Kerangka konseptual gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil = diteliti = tidak diteliti (Notoatmodjo, 2003:69) BAB 3 METODE PENELITIAN Pada bab ini akan dijabarkan tentang metodologi penelitian yang akan digunakan oleh peneliti yaitu sebagai berikut: A. Jenis dan Rancang Bangun Penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Deskriptif adalah pengumpulan informasi mengenai status gejala yang ada yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif tidak dimasukkan untuk menguji hipotesa tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. (Arikunto, S. 2006:309-310)
  • 19. Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud untuk menggambarkan pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah Desa Tapanrejo Kecamatan Muuncar. B. Variabel Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dll). (Nursalam, 2003:101). 1. Jenis Variabel Variabel dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel yaitu gambaran pengetahan ibu hamil tentang senam hamil. 2. Definisi Operasional Definisi operasional adalah unsur penelitian yang mengungkapkan bagaimana mangukur suatu variabel. DEFINISI VARIABEL KRITERIA SKALA OPERASIONAL Gambaran Pengetahuan yang 76 – 10% = baik pengetahuan dimaksud yaitu 56 – 75% = cukup ibu yang 40 – 45% = kurang hamil sesuatu tentang senam dipahami, dimengerti <40% = rendah hamil oleh meliputi: ibu yang (Arikunto, 2006) Ordinal
  • 20. 1. Pengertian 2. Tujuan dan manfaat 3. Syarat dan larangan 4. Bentuk-bentuk 5. Pelaksanaan Gambar : 3.1. Definisi operasional gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil. C. Populasi Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian adalah ibu hamil yang ada di desa Tapanrejo, Muncar mulai bulan Juli sampai bulan Agustus 2009 sebanyak 30 orang. D. Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti, yang dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2003). Sampel dalam penelitian ini adalah total sample yaitu semua ibu hamil yang ada di desa Tapanrejo yaitu sebanyak 30 orang. E. Lokasi Penelitian 1. Lokasi Penelitian
  • 21. Penelitian akan dilaksanakan di BPS Indun Djuharijah desa Tapanrejo Kecamatan Muncar. 2. Waktu Penelitian Waktu penelitian akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juli sampai dengan 8 Agustus 2009. F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Terdapat dua hal pertama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu: kualitas instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketetapan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu instrument yang telah teruji validitas dan reliablilitasnya, belum tentu untuk menghasilkan data yang valid dan reabel, apabila instrument tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya (Prof. Dr. Sugiyono, 2005:156). Instrument pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrument kuesioner multiple choice yaitu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahun ibu hamil trimester III terhadap keberhasilan melakukan senam hamil dengan mengedarkan formulir daftar pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada responden untuk mendapatkan jawaban. G. Teknik Analisis Data 1. Teknik Pengolahan Data Teknik pengolahan data yang dilakukan yaitu setelah data-data terkumpul dilakukan langkahlangkah sebagai berikut: a. Persiapan
  • 22. 1) Mengecek nama dan kelengkapan identitas responden. 2) Mengecek kelengkapan data. 3) Mengecek macam isian data (editing) b. Memberikan tanda kode pada jawaban secara angka untuk mempermudah dalam melakukan tabulasi dan analisa data selanjutnya. Jawaban benar nilainya 1 dan jawaban salah nilaian 0 (Arikunto:2006) 2. Analisa Data Setelah data terkumpul selanjutnya dianalisa dan disajikan dalam bentuk prosentase. a. Prosentase Keterangan: P = prosentease x = jawaban benar yang dipilih responden y = jumlah seluruh pertanyaan dalam kuesioner. (Nursalam, 2003) Selanjutnya dimasukkan pada kriteria obyektif sebagai berikut:
  • 23. 76 – 100% = baik 56 – 75% = cukup 40 – 55% = kurang < style=""> = rendah (Arikunto, 2006) b. Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk tekstular dan tabel. Tekstular adalah suatu bentuk penyajian data penelitian dalam bentuk kalimat. Tabel adalah penyajian hasil penelitian yang sistematik numerik yang tersusun dalam kolom atau jajaran. (Notoatmodjo, 2003:194) H. Etika Penelitian Dalam melaksanakan penelitian ini terlebih dahulu harus mengajukan ijin kepada kepala Puskesmas Tapanrejo, Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi yang dipakai sebagai tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan kemudian dilakukan penelitian dengan menekankan kepada masalah etika yang meliputi: 1. Lembar persetujuan menjadi subyek Lembar persetujuan menjadi subyek akan diedarkan sebelum penelitian dilakukan pada seluruh subyek yang akan diteliti. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari kesalahapahaman
  • 24. dalam dan sesudah dilakukan penelitian. Jika subyek bersedia diteliti, maka subyek harus menandatangani lembar persetujuan. Jika subyek menolak dijadikan responden, maka peneliti tetap menghormati hak-hak subyek. 2. Anominity Demi terjaga kerahasiaan dan identitas subyek, maka peneliti tidak mencantumkan nama subyek pada lembar kuesionr, hanya saja lembar tersebut diberi kode nomor tertentu. 3. Confidentality (kerahasiaan) Informasi yang telah dikumpulkan subyek, dijamin kerahasiaannya oleh peneliti. BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Pada bab ini dibahas tentang hasil penelitian mengenai gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Berdasarkan judul dan tujuan maka dalam bab ini akan dibahas tentang 2 karakteristik yang meliputi: 1. Data Umum
  • 25. Data umum yang diperoleh meliputi gambaran lokasi penelitian, umur, pendidikan, pekerjaan, urutan kehamilan dan umur kehamilan ibu hamil yang menjadi responden. Gambaran lokasi penelitian sebagai berikut: - Luas : Wilayah 172,566 m2 - Ketenagaan : bidan, asisten bidan - Fasilitas : ruang periksa, ruang bersalin, ruang nifas dan ruang tunggu. - Jenis Pelayanan : Pelayanan ibu bersalin, pelayanan KB, pelayanan ANC, pelayanan pemeriksaan kesehatan. Adapun data umum yang diperoleh sebagai berikut: a. Karakteristik Usia Responden Tabel 4.1 : Distribusi frekwensi berdasarkan umur ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009 Frekwensi (f) No Prosentase (%) Usia 1. <> 2 6,67 2. 20 – 35 tahun 22 73,33 3. > 35 tahun 6 20 30 100 JUMLAH Menunjukkan bahwa umur ibu yang menjadi responden terbanyak adalah 20 – 35 tahun mencapai 73,33%.
  • 26. b. Karakteristik Tingkat Pendidikan Responden Tabel 4.2 : Distribusi frekwensi berdasarkan tingkat pendidikan ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi No Prosentase (%) 23,33 Pendidikan 1. SD (f) 7 2. SMP 11 36,67 3. SMA/Sederajat 9 30 4. Perguruan Tinggi 3 10 30 100 JUMLAH Menunjukkan bahwa pendidikan ibu hami yang menjadi responden terbanyak adalah lulusan SMA/sederajat yang mencapai 36,67%. c. Karakteristik Pekerjaan Responden Tabel 4.3 : Distribusi frekwensi berdasarkan tingkat pekerjaan ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi (f) No Prosentase (%) Pekerjaan 1. Tidak bekerja 21 70 2. Bekerja 9 30 30 100 JUMLAH Menunjukkan bahwa ibu yang tidak bekerja lebih banyak 70% daripada ibu yang bekerja 30%. d. Karakteristik Tingkat Paritas Responden
  • 27. Tabel 4.4 : Distribusi frekwensi berdasarkan paritas ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi Prosentase (f) No (%) Urutan Kehamilan 1. Primi 14 46,66 2. Multi 16 53,34 3. Grande Multi 0 0 30 100 JUMLAH Menunjukkan bahwa multi grafida paling banyak yaitu 16 responden atau 53,34%. e. Karakteristik Umur Kehamilan Responden Tabel 4.5 : Distribusi frekwensi umur kehamilan ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi No Prosentase (%) 3,34 Umur Kehamilan 1. Trimester I (f) 1 2. Trimester II 10 33,64 3. Trimester III 19 63,33 30 100 JUMLAH Menunjukkan bahwa usia kehamilan trimester III lebih banyak yaitu 63,33%. 2. Data Khusus a. Data pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil
  • 28. Tabel 4.6 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi No Prosentase (f) 2 13 14 1 30 (%) 6,67 43,33 46,67 3,33 100 Pengetahuan 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang 4. Rendah JUMLAH Berdasarkan tambel 4.6 di atas dapat diketahui sebanyak 14 responden berpengetahuan kurang (46,67%). b. Data pengetahuan ibu hamil tentang pengertian senam hamil Tabel 4.7 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang pengertian senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi No Prosentase (f) 2 6 17 5 30 (%) 6,67 20 56,66 16,67 100 Pengetahuan 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang 4. Rendah JUMLAH Berdasarkan tambel 4.8 di atas dapat diketahui lebih dari 50% yaitu 17 responden (56,66%) memiliki pengetahuan kurang tentang pengertian senam hamil c. Data pengetahuan ibu hamil tentang tujuan dan manfaat senam hamil
  • 29. Tabel 4.8 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang tujuan dan manfaat senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi No Prosentase (f) 1 16 10 3 30 (%) 3,34 33,33 33,64 10 100 Pengetahuan 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang 4. Rendah JUMLAH Berdasarkan tambel 4.8 di atas dapat diketahui lebih dari 50% yaitu 16 responden (53,33%) memiliki pengetahuan tentang tujuan dan manfaat senam hamil dalam batasan yang cukup. d. Data pengetahuan ibu hamil tentang syarat dan larangan senam hamil Tabel 4.9 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang syarat dan larangan senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi No Prosentase (f) 1 7 15 7 30 (%) 3,34 23,33 50 23,33 100 Pengetahuan 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang 4. Rendah JUMLAH Berdasarkan tambel 4.9 di atas dapat diketahui sebanyak 15 responden (50%) memiliki pengetahuan kurang tentang syarat dan larangan senam hamil. e. Data pengetahuan ibu hamil tentang bentuk-bentuk senam hamil
  • 30. Tabel 4.10 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang bentuk-bentuk senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi No Prosentase (f) 4 11 12 3 30 (%) 13,33 36,67 40 10 100 Pengetahuan 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang 4. Rendah JUMLAH Berdasarkan tabel 4.10 di atas dapat diketahui dari 50% yaitu 12 responden (40%) memiliki pengetahuan krang tentang bentuk-bentuk senam hamil. f. Data pengetahuan ibu hamil tentang pelaksanaan senam hamil Tabel 4.11 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang pelaksanaan senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009. Frekwensi No Prosentase (%) 3,33 Pengetahuan 1. Baik (f) 1 2. Cukup 6 20 3. Kurang 12 40 4. Rendah 11 36,67 30 100 JUMLAH Berdasarkan tambel 4.11 di atas dapat diketahui sebagian besar memiliki pengetahuan kurang tentang pelaksanaan senam hamil yaiut 12 responden (40%). B. Pembahasan
  • 31. 1. Pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Juhrijah Berdasarkan analisa data dan interpretasi data yang didapat bahwa kurang dari 50% ibu hamil berpengetahuan kurang yaitu 14 responden (46,67%). Hasil analisa ini didukung oleh umur responden, dari data dapat diketahui bahwa sebagai besar responden berumur 20 – 35 tahun yaitu 22 responden (73,33%) dan terdapat 6 responden (20%) yang berumur > 35 tahun. Sedangkan yang berumur < style=""> tahun yaitu 2 responden (6,67%). Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Jadi semakin banyak umur atau semakin tua seseorang maka akan membuat tidak sedikit seseorang itu malas akan mempelajari sesuatu. Selain itu, hasil analisisi ini dapat dilatarbelakangi pendidikan yang rendah dan tidak pernah mendapatkan informasi tentang senam hamil dan sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang senam hamil. Sebanyak 11 responden (36,67%) berpendiikan SMP, sedangkan ibu hamil yang berpendidikan SMA yaitu 9 responden (30%), sebanyak 7 responden (23,33%) ibu hamil berpendidikan SD dan hanya 3 responden (10%) ibu hamil yang berasal dari Perguruan Tinggi. Pendidikan sangat menunjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan ibu hamil. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan. 2. Pengetahuan ibu hamil tentang pengertian senam hamil Berdasarkan analisa data dan interprestasi yang didapat bahwa lebih dari 50% ibu hamil berpengetahuan kurang yaitu 17 responden (56,66%) kurang dari 50% ibu hamil berpengetahuan
  • 32. kurang yaitu 17 responden (56,66%), kurang dari 50% ibi hamil berpengetahuan cukup yaitu 6 responden (20%), ibu hamil yang berpengetahuan rendah yaitu 5 responden (16,67%) dan hanya 2 responden (6,67%) yang berpengetahuan baik. Sebagian besar responden kurang bisa memahami tentang pengertian senam hamil dikutip oleh (Notoatmodjo, 2003) hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang kurang yaitu SMP dan SD disamping itu juga tidak pernah mendapat mendapat informasi. Lebih dari 50% berpengetahuan kurang itu 17 responden (56,66%). Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang salah tentang pengertian senam hamil pada item. Hal ini dapat dilatarbelakangi pendidikan yang tidak pernah mendapatkan informasi tentang senam hamil dan sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang senam hamil. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan. 3. Pengetahuan ibu hamil tentang tujuan dan manfaat senam hamil Berdasarkan analisa data dan interpretasi data dapat diketahui bahwa sebagian besar berpengetahuan cukup yaitu 16 responden (53,33%), kurang dari 50% yaitu responden (33,4%) ibu hamil berpengetahuan kurang, 3 responden (10%) berpengetahuan rendah dan hanya 1 responden (3,34%) yang berpengetahuan baik. Sebagian besar responden berpengetahuan cukup yaitu 16 responden (53,33%). Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang cukup yaitu SMP dan SMA, disamping itu juga pernah mendapat informasi tentang perkembangan ibu hamil. Hal ini dapat diperkuat Notoatmodjo (2005) menyatakan bahwa pengalaman merupakan guru yang baik yang bermakna bahwa pengalaman itu sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.
  • 33. Berdasarkan uraian diatas, semakin tinggi pendidikan maka semakin baik pula dalam mengaplikasikan materi dalam perkembangan kehamilannya yang diperoleh. Respoden yang berpendidikan tinggi akan lebih baik dalam keaktifan membawa kehamilannya kedalam proses persalinan yang fisiologis dibandingkan dengan responden yang berpendidikan rendah dan tidak pernah mendapatkan informasi. Meskipun ada responden yang tidak mempunyai pengalaman dalam senam hamil namun berpendidikan tinggi dan pernah mendapat informasi akan membentuk pengetahuan ang baik. Hal ini dimungkinkan karena memahami informasi tentang perkembangan kehamilan yang diperoleh, menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa memahami yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan atau mengintegrasikan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapt diinterprestasikan dengan benar. 4. Pengetahuan ibu hamil tentang syarat dan larangan senam hamil Berdasarkan analisa data dan interpretasi data dapat diketahui bahwa sebanyak 50% dari responden berpengetahuan kurang, 7 responden (23,33%) berpengetahuan baik, 7 responden (23,33%) berpengetahuan rendah, dan hanya 1 responden (3,34%) berpengetahuan baik. Sebanyak 50% responden berpengetahuan kurang. Hal ini dapat dilihat dari paritas responden yaitu sebanyak 16 responden (53,34%) merupakan multi, 14 responden (46,66%) ibu hamil merupakan primi. Ibu hamil dengan kehamilannya yang pertama belum pernah mendapatkan informasi dan tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang senam hamil. Hal ini dapat diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan.
  • 34. Kurang dari 50% responden berpengetahuan baik yaitu 7 responden (23,33%), meskipin ada responden berlatarbelakang pendidikan hanya SMP, namun pernah mendapat infromasi dari media atau penyuluhan dan mempunyai pengalaman tentang senam hamil. Hal ini disebabkan oleh infromasi yang didapat menurut Notoatmodjo (2005) mengatakan pengalaman merupakan guru yang baik, yang bermakna bahwa pengalaman itu merupakan guru terbaik, yang bermaka bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, dan pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Pendidikan berhubungan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, ketrampilan dan aspek kelakuan yang lain, dan merupakan proses belajar dan mengajar. Pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan (Notoatmodjo, 2003). 5. Pengetahuan ibu hamil tentang bentuk-bentuk senam hamil Berdasarkan analisa data dan interpretasi data dapat diketahui bahwa kurang dari 50% yaitu 12 responden (40%) berpengetahuan kurang. Kurang dari 50% ibu hamil yaitu 11 responden (36,67%) berpengetahuan vukup, sebanyak 4 responden (13,33%) berpengetahuan baik dan sebanyak 3 responedn (10%) berpengetahuan rendah. Kurang dari 50% berpengetahuan kurang yaitu 12 responden (40%). Hal ini dilihat dari item soal tentang bentuk-bentuk senam hamil. Pencapaian pengetahuan kurang hal ini disebabkan pendidikan yang rendah, sama sekali tidak mempunyai pengalaman dan tidak pernah mendapatkan infromasi. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2003) bahwa pengalaman merupakan guru yang baik untuk memperoleh pengetahuan.
  • 35. Sebagian besar responden berpengetahuan cukup yaitu 11 responden (36,6750. hal ini dapat dilihat dari latar pendidikan dan mempunyai pengalaman dalam kehamilan, pada umumnya semakin tinggi pendidikan maka akan semakin baik pula pengetahuannya. Pengetahuan itu sendiri merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan uraian diatas, semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin baik pula dalam mengaplikasikan materi dalam mengaplikasikan materi dalam perkembangan kehamilan yang iperoleh. Responden yang berpendidikan tinggi akan lebih baik dalam keaktifan membawa kehamilannuya dibandingkan dengan responden yang berpendidikan rendah dan tidak pernah mendapatkan informasi. 6. Pengetahuan ibu hamil tentang pelaksanaan senam hamil Berdasarkan analisa data dan interpretasi data dapat diketahuai bahwa kurang dari 50% yaitu 12 responden (40%) berpengetahuan kurang. Kurang dari 50% ibu hamil yaitu 11 responden (36,67%) berpengetahuan rendah, sebanyak 6 responden (20%) berpengetahuan cukup, dan sebanyak 1 responden (3,34%) berpengetahuan baik. Sebagian besar responden berpengetahuan kurang yaitu 12 responden (40%). Hal ini dilihat dari jawaban yang benar pada item soal pelaksanaan senam hamil dengan memberikan penyuluhan tentang senam hamil. Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang rendah, disamping itu juga ditunjang sebelumnya mereka ada yang pernah mendapatkan informasi tentang pelaksanaan senam hamil.
  • 36. Kurang dari 50% berpengetahuan rendah yaitu 11 responden (36,67%), pencapaian pengetahuan rendah mungkin disebabkan pendidikan rendah, sama sekali tidak mempunyai pengalaman dan tidak pernah mendapati informasi. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman merupakan guru yang baik dan merupakan sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Sebanyak 6 responden (30%) berpengetahuan cukup. Hal ini dikarenakan informasi mengenai senam hamil pada ibu hamil adalah informasi khusus yang tidak didapat dibangku sekolah atau perguruan tinggi umum kecuali sekolah kesehatan. Adapun informasi mengenai senam hamil biasanya diperoleh melalui penyuluhan kesehatan atau melalui tenaga kesehatan baik di BPS maupun di Posyandu. Dengan demikian pemberian informasi mengenai senam hamil yang diberikan akan mudah diterima oleh responden ehingga akan semakin termotivasi untuk melakukan stimulasi perkembangan kehamilan pada ibu hamil. BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini akan disajikan hasil kesimpulan dan saran dari penelitian gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharjiah. A. Simpulan
  • 37. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Banyuwangi sebagian besar berpengetahuan kurang yaitu 14 responden (46,67%). B. Saran 1. Bagi Peneliti a. Dapat menambah pengetahuan tentang senam hamil. b. Menerapkan ilmu yang sudah didapat selama di bangku kuliah dan menambah pengalaman dalam penerapan riset, terutama tentang senam hamil. 2. Bagi Tempat Penelitian Dapat mengetahui tentang senam hamil dan diharapkan lebih aktif dalam memberikan penyuluhan dengan melalui berbagai media seperti leaflet, CD dan lain-lain. 3. Bagi Institusi Kesehatan/Perpustakaan a. Dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada ibu hamil. b. Lebih memperbanyak referensi bahan mata kuliah tentang ibu hamil terutama senam hamil. 4. Bagi Masyarakat Masyarakat mendukung kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan terutama tentang senam hamil.
  • 38. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S., (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Mochtar, Rustam, (1998). Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC. Nursalam, (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian. Jakarta: Saleba Medika. Notoatmodjo, S.,(2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta. Sastrawinata, S. (2003). Obstetri Fisiologi. Unpad, Bandung. Purnomo, W. (2002). Kumpulan Bahan Kuliah. Prawirohardjo, S. (2006). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. Sari, Y. (2008). Pedoman Singkat Perawatan Ibu, Bayi dan Balita. Sugiyono, (2003). Metode Penelitian Administrasi. Jakarta: Al Fabeta . Adiyono, W. (2008). Ragam Senam Hamil. http://www.media-indonesia.com/berita.html. Andjun, Judi, J. (2003). Mengurangi http://www.glorinet.org/wanitahamil.html. Rasa Bascom, (2009). Konsep Perilaku Kesehatan. http://spaplikom3gtloh.blogspot.com Fauzi Bowo, H. (2008). Menurunkan Angka Kematian Ibu http://www.selatan,jakarta.go.id/pkk/index.php Cemas Dengan Senam Hamil.
  • 39. KTI '' Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Senam Hamil diwilayah Kerja Puskesmas Paringin'' BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Senam hamil merupakan terapi latihan gerak yang diberikan pada ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya baik fisik maupun mental dalam menghadapi persalinan. Ibu hamil sangat membutuhkan tubuh yang sehat dan bugar. Oleh karena itu, selain makan secara teratur, ibu hamil harus cukup istirahat dan berolahraga sesuai dengan kebutuhannya, salah satu olahraga yang baik untuk ibu hamil adalah senam hamil. Senam hamil sangat diperlukan oleh setiap ibu hamil, karena senam hamil dapat membuat tubuh yang bugar dan sehat, dan dapat membuat ibu hamil tetap mampu menjalankan aktivitas sehari – hari, sehingga stres akibat rasa cemas menjelang persalinan akan dapat diminimalkan (Indiarti, 2008). Meskipun tubuh cukup sehat dan dapat menyesuaikan diri dengan adanya perubahanperubahan yang terjadi tapi akan sangat membantu jika melakukan olahraga atau senam hamil. Biasanya proses pemulihan setelah melahirkan pun akan lebih cepat dibandingkan tubuh yang kondisinya kurang baik. Dengan berlatih senam hamil secara teratur, tingkat kesadaran secara keseluruhan terhadap hakekat hidup bertambah, kelelahan pun akan berkurang dan ini akan membuat semangat bertambah.(Musbikin 2005).
  • 40. Salah satu penelitian yang dilakukann di Yogyakarta oleh Oetomo, Sofoewan (1998) juga menunjukkan bahwa 100 wanita primigravida, didapat bahwa kejadian partus lama lebih kecil secara bermakna (1,9%-15%). Dikalangan wanita hamil yang melakukan senam hamil juga lama persalinan kala II nya juga bermakna lebih singkat dari pada yang tidak melakukan senam hamil. Secara statistik resiko relatifnya 0,125; artinya resiko partus lama pada ibu yang melakukan senam hamil 0,125 kali dibandingkan dengan ibu yang tidak melakukan senam hamil. (Supriatmaja, www.resep.web.id). Berdasarkan data yang didapat dari Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan jumlah ibu hamil yang berkunjung ada 298 dan yang melakukan senam hamil hanya 60 orang pada bulan november sampai desember 2010. Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang telah dilakukan pada 6 ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Paringin didapatkan 4 diantaranya tidak mengetahui tentang senam hamil, tujuan, manfaat, tata cara dan persyaratan yang harus diperhatikan dalam melakukan senam hamil dan 2 diantaranya mengetahui tentang senam hamil, mereka melakukan senam hamil karena mengikuti saran teman dan ibu belum sepenuhnya mengetahui manfaat senam hamil. Dengan melakukan latihan atau gerakan yang dilakukan dalam senam hamil akan memiliki tujuan dan manfaat tertentu seperti yang dikemukakan oleh Mellyna Huliana ,2002 menyatakan bahwa senam hamil mempunyai tujuan mempersiapkan mental ibu hamil yaitu tercapainya ketenangan rohani dan terbentuknya kepercayaan diri. Pada wanita hamil, selama pengawasan antenatal diperiksa tentang kehamilanya dan diberikan nasehat-nasehat serta dibeberapa rumah sakit telah dilakukan senam hamil. Sesungguhnya senam hamil bukanlah suatu hal yang aneh dan luar biasa karena wanita-wanita di negara maju sangat menyukai senam dan latihan fisik, baik saat hamil maupun diluar kehamilan, untuk menjaga
  • 41. kondisi fisik dan mentalnya. Di Indonesia hal ini baru disadari oleh sekelompok masyarakat kota – kota besar yang modern dan maju demikian pula halnya, dengan latihan senam hamil (Mochtar, 1998). Kurangnya pengetahuan ibu terhadap senam hamil mengakibatkan kurangnya minat dan keinginan ibu untuk melakukan kegiatan senam hamil tersebut. Sehingga berdampak negatif terhadap keadaan ibu dan janinnya. Dampak tersebut meliputi, terjadinya perdarahan pervagina, memperlambat proses persalinan, rentan terhadap kelahiran prematur, adanya tanda kelainan pada janin, eklamsi / pre eklamsi dan sebagainya. Dampak yang akan terjadi dapat dicegah jika Latihan senam hamil tersebut dilakukan secara teratur baik ditempat latihan maupun di rumah dalam waktu senggang dapat menuntun ibu hamil ke arah persalinan yang fisiologis selama tidak ada keadaan patologis yang menyertai kehamilan. Ibu hamil yang melakukan senam hamil secara teratur selama masa kehamilannya dilaporkan dapat memberikan keuntungan pada saat persalinan yaitu pada masa kala aktif (kala II) menjadi lebih pendek, mencegah terjadinya letak sungsang dan mengurangi terjadinya insiden sectio caesaria. Mengingat pentingnya senam hamil, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil. A. Rumusan Masalah 1. Pernyataan Masalah Ibu tidak mengetahui pentingnya pelaksanaan senam hamil, Berdasarkan study pendahuluan yang telah dilakukan peneliti di wilayah kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan terhadap 6 responden ibu hamil melalui wawancara, didapat 4 diantaranya tidak mengetahui tentang
  • 42. senam hamil, tujuan, manfaat, tata cara dan persyaratan yang harus diperhatikan dalam melakukan senam hamil dan 2 diantaranya mengetahui tentang senam hamil, mereka melakukan senam hamil karena mengikuti saran teman dan ibu belum sepenuhnya mengetahui manfaat senam hamil. 2. Pertanyaan Masalah Berdasarkan latar belakang maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di wilayah kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan. B. Rruang Lingkup Penelitian 1. Ruang Lingkup Materi Penelitian yang dilakukan rencananya akan mengukur tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan Tahun 2011. 2. Ruang Lingkup Responden Ibu hamil yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan Tahun 2011. 3. Ruang Lingkup Tempat Penelitian dilakukan bertempat di Wilayah Kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan Tahun 2011. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil. 2. Tujuan Khusus
  • 43. a. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang definisi senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan Tahun 2011. b. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang tujuan senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan Tahun 2011. c. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang manfaat senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan Tahun 2011. d. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang syarat-syarat senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan Tahun 2011. e. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang tahapan latihan senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangantahun 2011. f. Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang kontraindikasi senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Paringin Kabupaten Balangan Tahun 2011. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti a. Untuk menambah ilmu pengetahuan, pengalaman dan wawasan tentang pengetahuan yang dimiliki ibu hamil tentang senam hamil. b. Untuk mengembangkan wawasan tentang metodologi penelitian. 2. Bagi Profesi Keperawatan Memberikan masukan informasi pada profesi keperawatan tentang gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil. 3. Bagi Instansi Pendidikan Diharapkan dapat menjadi bahan pustaka, menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut tentang keperawatan martenitas.
  • 44. 4. Bagi Responden ( pasien) Untuk memberikan informasi kepada responden tentang pengertian senam hamil, manfaat senam hamil dan untuk promosi senam hamil di masyarakat. E. Sistematika Penulisan Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulisan menggunakan sistematika sebagai berikut: Bab I pendahuluan menguraikan tentang: latar belakang masalah, perumusan masalah, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II tinjauan pustaka yang menguraikan tentang : konsep dasar yang terdiri dari definisi pengetahuan, definisi Kehamilan, definisi Senam Hamil, dan kerangka konsep. Bab III Metode penelitian menguraikan tentang: desain penelitian, kerangka kerja, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, definisi operasiaonal, metode pengumpulan data, pengolahan dan analisa data, keterbatasan, dan etika penelitian. Bab IV Hasil dan Pembahasan menguraikan tentang: gambaran umum lokasi penelitian dan hasil pengukuran serta pengamatan terhadap variabel yang diteliti, analisa / pembahasan masalah dan pemecahan/cara mengatasi masalah tersebut. Bab V Kesimpulan dan Saran Menguraikan tentang: kesimpulan penelitian yang merupakan jawaban dari masalah penelitian, serta saran yang berisikan solusi masalah atau rekomendasi untuk melakukan BAB II TINJAUAN PUSTAKA penelitian lebih lanjut.
  • 45. A. Konsep Dasar Pengetahuan 1. Definisi Pengetahuan Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Penginderaan terhadap objek tersebut menghasilkan berbagai informasi dan pengalaman yang didapatkan oleh responden untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal. Pengetahuan termasuk dalam domain kognitif, dimana pengetahuan merupakan komponen selain dari sikap dan tindakan untuk merubah perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2003). Menurut Notoatmodjo (2003), sebelum mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu : a. Awareness(kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek). b. Interest(tertarik) Terhadap stimulus atau obyek tersebut. Disini subyek sudah mulai timbul. c. Evaluation(menimbang-nimbang) Terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Trial
  • 46. Dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. e. Adoption Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. 2. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : a. Tahu (know) Tahu adalah mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalamnya adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik terhadap suatu bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah, kata kerja untuk mengukurnya antara lain adalah menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan dan menyatakan. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. c. Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus, metode, prinsip dalam suatu konteks / situasi lain.
  • 47. d. Analisis (analysis) Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu subjek kedalam suatu komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau suatu kemampuan untuk menyusun formulasi yang baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (perilaku) dan perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan (Notoatmojdo, 2003). 3. Pengukuran Tingkat Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penulisan atau responden.
  • 48. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui dapat kita sesuaikan dengan tingkatan tingkatan di atas (Notoatmojdo, 2003). 4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Ada beberapa faktor yang berpengaruh pengetahuan seseorang : a. Usia Usia dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, semakin tua usia seseorang tingkat kemampua dan kematangan seseorang akan lebih tinggi baik dari cara berfikir maupun dalam segi penerimaan informasi. b. Jenis Kelamin Jenis kelamin dikatakan dapat mempengaruhi pengetahuan, terutama berkaitan dengan perilaku model laki dan perempuan. Individu melakukan modeling sesuai dengan jenis kelaminnya. c. Tingkat Pendidikan Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang, makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga lebih banyak pula pengetahuan yang ia dapatkan. d. Intelegensi Pada prinsipnya pengetahuan kemampuan penyesuaian diri dan cara-cara pengambilan keputusan individu yang berintelegensi tinggi atau banyak berpartisipasi dan lebih cepat, dan tepat dalam keputusan. e. Status Sosial Ekonomi Status ekonomi berpengaruh terhadap tingkah lakunya, yang beradal dari keluarga mampu atau sosial ekonominya tinggi dimungkinkan memiliki sikap positif memandang masa depan. (Notoatmodjo, 2003).
  • 49. Sedangkan menurut Irmayanti, (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain : a. Pendidikan Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok serta usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Semakin tinggi pendidikan, semakin banyak ilmu dan pengetahuan yang didapatkan. a. Keterpaparan informasi Informasi sebagai cara untuk menerjemahkan pengetahuan. Informasi dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari serta diteruskan melalui komunikasi interpersonal atau melalui media massa antara lain televisi, radio, koran dan majalah. b. Pengalaman Pengalaman merupakan upaya memperoleh pengetahuan.Sejalan dengan bertambahnya usia seseorang maka pengalaman juga semakin bertambah. Seseorang cenderung menerapkan pengalamannya terdahulu untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. B. Kehamilan 1. Pengertian Kehamilan Kehamilan adalah Masa mulai terjadinya konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya kehamilan normal 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 trimester yaitu trimester pertama dimulai dari hasi konsepsi sampai 3 bulan, trimester kedua dari bulan keempat sampai trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Prawirohardjo, 2006). 6 bulan
  • 50. Kehamilan mempengaruhi perubahan fisik dan mental emosi ibu. Pada masa kehamilan emosi mudah naik dan turun. Muncul rasa cemas dan takut menhadapi persalinan dan kondisi bayi dalam kandungan. Hal tersebut bisa diakibatkan perubahan hormon dalam tubuh serta ada keinginan ibu mendapat perhatian dari suami dan lingkungannya, karenanya ibu hamil perlu memantau perkembangan kesejahteraan janin dengan bertanya ke bidan atau ke dokter dan mengikuti kursus persalinan ’’selama hamil aktivitas fisik seperti olahraga harus tetap dilakukan’’. C. Senam Hamil 1. Pengertian Senam Hamil Senam hamil adalah latihan fisik berupa beberapa gerakan tertentu yang dilakukan khusus untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil. (Mandriwati,2008). Senam hamil adalah terapi latihan gerak yang diberikan kepada ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya, baik persiapan fisik maupun mental untuk mengahadapi dan mempersiapkan persalinan yang cepat, aman dan spontan (Mellyna, 2002). Senam hamil adalah sebuah program berupa latihan fisik yang sangat penting bagi calon ibu untuk mempersiapkan saat persalinannya (Indiarti, 2008). 2. Tujuan Senam Hamil Tujuan senam hamil menurut Mellyna,(2002) yaitu : a. Mencegah terjadinya deformitas (cacat) kaki pada ibu dan memelihara fungsi kaki ibu sehingga dapat menahan berat badan yang semakin meningkat,rasa nyeri, telapak kaki yang semakin ceper, varises, bengkak, dan lain – lain.
  • 51. b. Melatih dan menguasai tehnik pernapasaan yang berperan penting selama kehamilan dan persalinan, dengan demikian proses relaksasi dapat berlangsung lebih cepat dan kebutuhan oksigen tubuh dapat terpenuhi. c. Memperkuat dan mempertahankan elastisitas Otot – otot perut, ligamentum, otot – otot dasar panggul, dan otot – otot paha bagian dalam. Dengan demikian proses kontraksi dan relaksasi yang berhubungan dengan persalinan dapat dikuasai. d. Membentuk sikap tubuh yang sempurna selama kehamilan, dengan demikian ibu hamil dapat mengatasi keluhan – keluhan yang timbul akibat terjadinya perubahan bentuk – bentuk tubuh misal sakit pinggang, sakit punggung, dan kejang. e. Memperoleh relaksasi tubuh yang sempurna dengan memberikan latihan – latihan kontraksi dan relaksasi. Relaksasi yang sempurna diperlukan selama kehamilan, pada proses persalinan, mengatasi stress, rasa sakit dari his dan sebagainya. f. Mendukung ketenangan fisik Selain tujuan persiapan fisik, senam hamil memiliki tujuan untuk mempersiapkan mental ibu hamil, yaitu tercapainya ketenangan rohani dan terbentuknya rasa percaya diri. 3. Syarat – syarat senam hamil a. Kehamilan berjalan normal dengan rekomendasi dari Dokter atau Bidan. b. Kehamilan berusia minimal 5 bulan. c. Diutamakan pada kehamilan yang pertama atau kehamilan berikutnya yang mengalami kesulitan persalinan atau melahirkan prematur.
  • 52. d. Latihan harus dilakukan secara teratur dalam suasana tenang. e. Berpakaian cukup longgar. f. Menggunakan kasur atau matras jangan di lantai. Sedangkan menurut Mandriwati,(2008) syarat–syarat senam hamil yaitu : a. Sebelum melakukan latihan harus dilakukan pemeriksaan kesehatan dan minta nasehat Dokter atau Bidan . b. Latihan sebaiknya dilakukan di Rumah Sakit atau Klinik Bersalin. 4. Manfaat Senam Hamil Menurut (Mandriawati,2008) manfaat senam hamil adalah : a. Mengatasi sembelit (konstipasi), kram dan nyeri punggung. b. Memperbaiki sirkulasi darah c. Membuat tubuh segar dan kuat dalam aktivitas sehari-hari. d. Tidur lebih nyenyak. e. Mengurangi resiko kelahiran premature. f. Mengurangi stress. g. Membantu mengembalikan bentuk tubuh lebih cepat setelah melahirkan. h. Tubuh lebih siap dan kuat di saat proses persalinan. i. Bertemu dengan calon ibu lain bila ibu melakukannya kelas senam hamil.(Huliana,2001).
  • 53. 5. Tahapan Senam Hamil Menurut Mandriwati, (2008) tahapan senam hamil dibagi menjadi 2 bagian yaitu : a. Latihan Pendahuluan Tujuannya untuk melemaskan otot – otot supaya tidak terjadi kekakuan pada otot sebelum memulai senam hamil. b. Latihan Inti Tujuan dari latihan inti ini adalah untuk membentuk sikap tubuh, dan untuk melatih pernapasan ibu. Bentuk–bentuk latihan inti diberikan menurut umur kehamilan, yaitu : 1) Latihan untuk kehamilan minggu ke-22 sampai 25. 2) Latihan untuk kehamilan pada minggu ke-28 sampai 30. 3) Latihan untuk kehamilan pada minggu ke-31 sampai 34. 4) Latihan untuk kehamilan pada minggu ke-35 sampai melahirkan. 6. Tahapan Latihan Senam Hamil Menurut Mellyna,(2002) latihan senam hamil dibagi menjadi : a. Latihan I (pelemasan otot paha bagian dalam / dari pangkal paha sampai lutut bagian dalam) 1) Kegunaan Agar kedua paha dapat dibuka selebar mungkin untuk memperluas jalan lahir pada saat persalinan.
  • 54. 2) Sikap tubuh (a) Duduk bersila dengan santai dan nyaman. (b) Kedua telapak tangan diletakkan di atas lutut. 3) Tahap – tahap gerakan (a) Tekan kedua lutut ke bawah dengan bantuan berat badan sehingga menyentuh kasur atau matras. (b) Usahakan bagian pantat jangan sampai terangkat dari kasur atau matras. (c) Lakukan sebanyak 15-30 kali gerakan dalam 1 kali latihan (1 hari).
  • 55. Gambar 2.1 Tahap gerakan pelemasan otot paha bagian dalam / dari pangkal paha sampai lutut bagian dalam) b. Latihan II (latihan otot – otot kaki) 1) Kegunaan (a) Memperlancar sirkulasi darah kaki. (b) Mencegah terjadinya pembengkakan pada pergelangan kaki. 2) Sikap (a) Duduk dengan kedua lutut lurus, bersandar, kedua lengan yang diletakkan disamping kanan. Gambar 2.2 Sikap latihan otot–otot kaki
  • 56. 3) Tahap - tahap gerakan Gerakan tegak lurus dan menunduk datar (dorsi fleksi dan plantar fleksi). (a) Tegakkan kedua telapak kaki. Posisi lutut bagian belakang menekan kasur sehingga betis dan lutut bagian belakang terasa sakit. (b) Tundukkan kedua telapak kaki bersama jari-jarinya pada posisi datar. Lakukan beberapa kali ulangan. Gambar 2.3 Tahap Gerakan tegak lurus dan menunduk datar Gerakan menutup dan membuka (inversi dan eversi) (a) Tegakkan kedua telapak kaki, hadapkan kedua telapak kaki satu sama lain, posisi lutut tetap menghadap ke atas, lalu tegakkan kembali. (b) Gerakan telapak kaki kebawah, buka kesamping, tegakkan, lalu kembalikan ke posisi semula (posisi telapak kaki tetap berhadapan).
  • 57. Gambar 2.4 Gerakan menutup dan membuka (inversi dan eversi) Gerakan memutar (sirkulasi duksi) (a) Tegakkan kedua telapak kaki, tundukkan ke bawah, buka ke samping secara memutar, lalu tegakkan kembali. (b) Tegakkan kedua telapak kaki, buka dari atas ke samping secara memutar, tundukkan kedua telapak kaki, dan tegakkan kembali. (c) Lakukan setiap gerakan 3 - 4 kali dalam 1 kali latihan (1 hari). Jika terjadi pembengkakan, lakukan gerakan ini sebanyak mungkin. Gambar 2.5 Gerakan memutar (sirkulasi duksi)
  • 58. c. Latihan III (latihan dasar pernapasan) Kegunaan 1) Melatih ketenangan. 2) Mempercepat sirkulasi darah. 3) Mencukupi kebutuhan oksigen bagi ibu dan janinnya. Latihan dasar pernapasan terdiri dari pernapasan perut, pernapasan iga-iga, pernapasan dada, dan pernapasan panting. a) Pernafasan perut 1) Kegunaan Untuk melemaskan dinding perut sehingga akan mempermudah pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter atau bidan. 2) Sikap (a) Pakaian dilonggarkan (pada bagian dada dan pinggang). (b) Tidur terlentang dengan 1 bantal, kedua lutut dibengkokkan, dan dibuka sebesar 20 cm. (c) Kedua telapak tangan diletakkan di atas perut (disekitar pusat) sebagai perangsang.
  • 59. Gambar 2.6 Sikap latihan dasar pernapasan perut 3) Tahap - tahap gerakan (a) Secara perlahan - lahan, keluarkan nafas dari mulut (tiup) sambil menekankan tangan ke dinding perut (mengempiskan perut). (b) Tarik napas dari hidung dengan mulut tertutup (perut akan mengembang dan mendorong kedua tangan ke atas). (c) Konsentrasikan gerakan ini di sekitar perut.Usahakan bagian dada tidak mengembang / mengempis. (d) Lakukan sebanyak 6 kali gerakan di pagi hari (bangun tidur) dan dimalam hari (sebelum tidur). b) Pernafasan iga-iga 1) Kegunaan Untuk memperoleh oksigen sebanyak mungkin dibutuhkaan oleh ibu dan janinnya.
  • 60. 2) Sikap (a) Pakaian dilonggarkan (pada bagian dada dan pinggang). (b) Tidur terlentang dengan 1 bantal, kedua lutut dibengkokkan, dan dibuka sebesar 20 cm. (c) Kedua tangan mengepal dan diletakkan pada iga-iga sebagai perangsang. Gambar 2.7 Sikap Latihan Pernafasan iga-iga 3) Tahap-tahap gerakan (a) Secara perlahan-lahan, keluarkan nafas dari mulut (tiup) sambil menekankan tangan pada bagian iga-iga (iga-iga akan menyempit). (b) Tarik nafas dari hidung dengan mulut tertutup sehingga iga-iga akan mengembang dan mendorong kedua tangan ke luar. (c) Lakukan sebanyak 6 kali gerakan di pagi hari (bangun tidur) dan di malam hari (sebelum tidur). c) Pernafasan dada 1) Kegunaan
  • 61. Untuk mengurangi rasa sakit dalam menghadapi persalinan. 2) Sikap (a) Pakaian dilonggarkan (pada bagian dada dan pinggang). (b) Tidur terlentang dengan 1 bantal, kedua lutut dibengkokkan dan di buka sebesar 20 cm. (c) Kedua telapak tangan diletakkan di dada bagian atas sebagai perangsang. Gambar 2.8 Sikap Latihan Pernafasan dada 3) Tahap-tahap gerakan (a) Secara perlahan - lahan, keluarkan nafas dari mulut (tiup) sambil menekankan tangan ke dada (rongga dada mengempis). (b) Tarik nafas dengan mulut terbuka. Rongga dada akan mengembang dan mendorong kedua tangan (jangan menarik nafas dari hidung karena akan menimbulkan rasa sakit). (c) Lakukan 6 kali gerakan di pagi hari (bangun tidur) dan di malam hari (sebelum tidur). d) Pernafasan panting 1) Kegunaan (a) Untuk beristirahat / menghilangkan kelelahan setelah ibu mengejan di saat persalinan.
  • 62. (b) untuk menghindari bengkak atau robeknya jalan lahir. 2) Sikap (a) Pakaian dilonggarkan (pada bagian dada dan pinggang). (b) Tidur terlentang dengan 1 bantal, kedua lutut dibengkokkan dan dibuka sebesar 20 cm. (c) Tangan di atas dada. 3) Tahap-tahap gerakan (a) Keluarkan nafas pendek atau setengah jarak nafas dengan mulut terbuka, lalu tarik nafas pendek atau setengah jarak nafas dengan mulut terbuka sehingga irama pernafasan menjadi lebih cepat (seperti habis lari cepat). (b) Lakukan sebanyak 6 kali geerakan di pagi hari (bangun tidur) dan malam hari (sebelum tidur). d. Latihan IV (latihan untuk memperbaiki posisi panggul yang jatuh ke depan) Dengan bertambahnya usia kehamilan, perut akan jatuh ke depan dan pantat akan jatuh ke belakang. Melalui penguluran otot perut akan terjadi cekungan pada pinggang bagian belakang (sikap lordose) sehingga menimbulkan rasa pegal dan sakit pinggang. Melalui pengeluaran otot pantat akan timbul rasa sakit pada lipatan paha. 1) Kegunaan (a) Mengembalikan posisi panggul yang berat ke depan. (b) Mengurangi / mencegah rasa pegal, sakit pinggang, punggung, dan rasa sakit pada lipatan paha.
  • 63. 2) Sikap (a) Tidur terlentang dengan bantal tipis, kedua lutut dibengkokkan. (b) Kedua tangan meraba tonjolan-tonjolan tulang di panggul depan sebagai pengontrol. Gambar 2.9 Sikap latihan untuk memperbaiki posisi panggul yang jatuh ke depan 3) Tahap-tahap gerakan (a) Tundukkan kepala, kerutkan ke dalam sehingga lepas dari kasur atau matras. (b) Kempeskan perut sehingga punggung menekan kasur dan tonjolan tulang akan bergerak ke belakang. (c) Lepaskan kerutan sehingga tonjolan tulang akan bergerak kembali ke depan dan seterusnya. (d) Lakukan sebanyak 15-30 kali gerakan dalam 1 kali latihan (1 hari). (e) Gerakan ini dapat juga dilakukan dengan posisi merangkak, mengepel lantai. Lakukan sebanyak 5-6 kali gerakan dalam satu kali latihan. e. Latihan V (latihan menguatkan otot perut) 1) Kegunaan sepert
  • 64. (a) Mencegah terjadinya perut gantung. (b) Memperkuat otot perut. 2) Sikap (a) Posisi merangkak, kedua lengan sejajar bahu, kedua lutut sejajar panggul. (b) Kepala dan badan sejajar kasur/matras (sikap awal). Gambar 2.10 sikap latihan menguatkan otot perut 3) Tahap-tahap gerakan (a) Tundukkan kepala dengan lemas, kempeskan perut, tahan sehingga punggung menjadi bengkok. (b) Kerutkan pantat, kemudian lepaskan kerutan. (c) Pandangan ke depan sehingga punggung menjadi cekung. (d) Lakukan sebanyak 6 kali gerakan dalam 1 kali latihan (1 hari). (e) Latihan ini bisa dilakukan sambil mengepel. Caranya, posisi duduk di atas tumit, tangan kanan memegang kain pel. Lakukan posisi merangkak, tundukkan kepala
  • 65. dengan lemas, kempeskan perut, lalu pel lantai dengan cara mundur sambil mempertahankan kerutan perut. Jika lelah, kembali duduk di tumit dan lepaskan kerutan sambil membilas kain pel. Lakukan kegiatan mengepel lantai sampai selesai. Kegiatan mengepel dilakukan cukup 1 kali sehari dan 1 kamar saja. Gambar 2.11 Latihan tahap gerakan menguatkan otot perut f. Latihan VI (latihan menguatkan otot pantat) 1) Kegunaan (a) Untuk mencegah timbulnya wasir pada waktu mengejan. (b) Menguatkan otot pantat apabila sudah timbul wasir. 2) Sikap (a) Tidur terlentang tanpa bantal (supaya leher tidak sakit). (b) Kedua lutut dibengkokkan dan agak direnggangkan. (c) Tumit didekatkan ke pantat, kedua tangan di samping badan. 3) Tahap-tahap gerakan (a) Kerutkan pantat ke dalam sehingga lepas dari kasur atau matras.
  • 66. (b) Angkat penggul ke atas sejauh mungkin (otot pantat tetap berkerut). Tahan selama 6 hitungan, kemudian turunkan panggul secara perlahan (pantat masih berkerut). Sampai di bawah lepaskan kerutan pantat tersebut. Lakukan sebanyak 6 kali gerakan dalam 1 kali latihan (1 hari). Gambar 2.12 Latihan tahap gerakan menguatkan otot pantat g. Latihan VII (latihan menguatkan otot dasar panggul) 1) Kegunaan (a) Melemaskan otot dasar panggul yang kuat dalam keadaan yang santai. Pada saat mengejan otot akan mengendur secara aktif sehingga kepala bayi akan keluar dengan mudah. Dengan demikian, otot dasar panggul yang lemas tidak akan mudah robek pada saat melahirkan. 2) Sikap (b) Tidur terlentang dengan 1 bantal, kedua lutut dibengkokkan, dan dibuka sekitar 20 cm. (c) Kedua tangan di samping badan. Gambar 2.13 Sikap latihan menguatkan otot dasar panggul
  • 67. 3) Tahap-tahap gerakan (a) Kerutkan pantat, tarik bagian antara pangkal paha ke dalam, dan kempeskan perut. Langkah ini dilakukan seperti menahan buang air kecil. (b) Tahan sampai 6 hitungan, kemudian lepaskan perlahan-lahan. Ulangi tahap ini dan tingkatkan sampai 15 hitungan. (c) Lakukan sebanyak 6 kali gerakan dalam 1 kali latihan (1 hari). h. Latihan VIII (latihan menguatkan otot betis) 1) Kegunaan (a) Untuk mencegah terjadinya kejang di bagian betis. 2) Sikap (b) Berdiri tegak di belakang kursi yang diduduki orang lain atau berpegangan pada sesuatu yang berat. Cara memegangnya, ibu jari menghadap ke bawah dan jari-jari lainnya menghadap ke atas. (c) Kaki agak direnggangkan sekitar 20 cm, badan lurus, serta pandangan ke depan. 3) Tahap-tahap gerakan (a) Tundukkan kepala, lalu jongkok perlahan-lahan tanpa mengangkat tumit dari lantai (tumit tetap menapak di lantai).
  • 68. (b) Setelah jongkok, lemaskan bahu, kempeskan perut, dan secara perlahan kembali berdiri tegak. (c) Lepaskan kerutan perut serta arahkan pandangan ke depan. (d) Lakukan sebanyak 6 kali gerakan dalam 1 kali latihan (1 hari) Gambar 2.14 Tahap gerakan latihan menguatkan otot betis i. Latihan IX (pendidikan sikap sempurna) Kegunaan a) Menguatkan otot-otot tubuh sehingga dapat menyempurnakan sikap tubuh wanita hamil. Dengan cara ini, wanita hamil memiliki refleks untuk tetap menjaga dan mempertahankan sikap tubuh yang baik dan sempurna, baik pada posisi duduk, berdiri, atau berjalan. Posisi panggul yang normal adalah kunci dari sikap tubuh yang sempurna. Latihan sikap baik dan sempurna pada posisi terlentang 1) Sikap
  • 69. (a) Tidur terlentang dengan menempatkan kedua telapak kaki pada dindingdan posisi lulut lurus. 2) Tahap-tahap gerakan (a) Kerutkan pantat, kempeskan perut, tekan bahu ke kasur, posisikan leher sehingga pandangan lurus ke atas, lalu pejamkan mata. (b) Rasakan posisi sikap sempurna beberapa saat, lalu buka mata Anda. (c) Lakukan sebanyak 5-6 kali dalam satu kali latihan . Latihan sikap baik dan sempurna pada posisi duduk 1) Sikap (a) Duduk sila, tangan di atas paha (pada posisi duduk, pantat tidak perlu dikerutkan dipakai untuk duduk). 2) Tahap-tahap gerakan (a) Kempeskan perut, tarik bahu kebalakang, serta posisikan leher sehingga pandangan kedepan. Lakukan gerakan ini sambil melakukan kegiatan sehari-hari, misalnya membaca dan berhias. Gambar 2.15 Tahap gerakan Latihan sikap baik dan sempurna pada posisi duduk
  • 70. Latihan sikap baik dan sempurna pada posisi berdiri 1) Sikap (a) Berdiri dengan otot pantat sudah berkerut. 2) Tahap-tahap gerakan (a) Kempeskan perut, tarik bahu ke belakang, serta posisikan leher sehingga pandangan lurus ke depan. (b) Lakukan gerakan ini sambil melakukan kegiatan sehari - hari , seperti menggoreng dan menyetrika. Gambar 2.16 tahap gerakan Latihan sikap baik dan sempurna pada posisi berdiri Sikap dan sempurna saat mengambil barang dari bawah atau menaruh barang kebawah 1) Sikap (a) Pada posisi sikap baik berdiri. 2) Tahap-tahap gerakan. (a) Posisi badan berdiri, lalu langkahkan kaki kanan ke depan sebanyak 1 langkah.
  • 71. (b) Bengkokkan lutut, lalu jongkok dan ambil barang yang dimaksud. (c) Kembalikan kaki kanan ke posisi semula dengan pandangan ke depan. (d) Untuk menaruh barang, lakukan langkah di atas mulai dari urutan terakhir. (e) Lakukan hal yang sama saat berjalan atau sambil membawa perlengkapanke kamar mandi. Gambar 2.17 tahap gerakan Sikap dan sempurna saat mengambil barang dari bawah atau menaruh barang kebawah Latihan sikap baik dan sempurna pada posisi bangun setelah berbaring 1) Kegunaan (a) Untuk menghindarkan ketegangan otot-otot perut saat bangun yang sering menimbulkan rasa sakit yang hebat. (b) Memberikan kesempatan aliran darah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan posisi tubuh agar tidak pingsan. 2) Sikap (a) Tidur terlentang dengan satu bantal dan kedua lutut dibengkokkan. 3) Tahap-tahap gerakan (a) Geserkan tubuh ke tepi tempat tidur
  • 72. (b) Miringkan tubuh ke arah yang dituju. (c) Dengan bantuan kedua tangan, bangunlah secara perlahan dan turunkan kaki. (d) Diamlah beberapa saat dengan posisi duduk agar sirkulasi darah lancar kembali. (e) Setelah merasa nyaman, barulah berdiri. (f) Lakukan gerakan ini setiap kali meskipun dalam keadaan terburu-buru. Begitu pula jika ingin bangkit dari tempat duduk, condongkan tubuh perlahan dan diamlah sejanak sebelum berdiri. Gambar 2.18 Tahap gerakan Latihan sikap baik dan sempurna pada posisi bangun setelah berbaring j. Latihan X (latihan anti sungang) 1) Kegunaan (a) Mempertahankan dan memperbaiki posisi janin agar bagian kepala tetap dibawah. 2) Sikap (a) Posisi merangkak di atas kasur atau matras, kedua lengan sejajar bahu, kedualutut sejajar, dan panggul agak direnggangkan.
  • 73. 3) Tahap-tahap gerakan (a) Letakkan kepala di antara kedua tangan. Hadapkan kepala ke kiri atau kekanan. (b) Letakkan siku di atas kasur atau matras, lalu jauh siku sejauh mungkin kesamping ke kiri dan kanan sehingga bagian dada menyentuh kasur atau matras. (c) Lakukan sebanyak 3 kali gerakan, masing-masing dengan kepala menghadap ke kiri dan ke kanan dalam 1 kali latihan (1 hari). (d) Untuk peningkatan, gerakan ini dapat diawali selama 5 menit, kemudian tingkatkan sampai 15-20 menit. Gambar 2.19 Tahap gerakan latihan anti sungang k. Latihan XI (belajar mengejan dilakukan jika kehamilan sudah mencapai usia 8,5 bulan)
  • 74. Belajar mengejan 1) Kegunaan (a) Untuk mempersiapkan kondisi mengejan yang benar. 2) Sikap (a) Duduk bersila sambil bersandar dengan 1 bantal melintang di punggung. (b) Kedua tangan diletakkan pada dada bagian atas dengan siku lemas. Gambar 2.20 Sikap latihan belajar mengejan 3) Tahap-tahap gerakan (a) Tarik dan keluarkan nafas dengan mulut terbuka sebanyak 3 kali ulangan. (b) Tarik nafas dengan mulut terbuka. Lalu keluarkan nafas bunyi (sepertiorang mengeluh) sebanyak 3 kali ulangan. (c) Tarik nafas yang dalam dengan mulut terbuka, lalu tahan sampai 10 detik. Selanjutnya, keluarkan nafas, jika memungkinkan keluarkan nafas bunyi. Lakukan latihan ini sebanyak 3 kali ulangan.
  • 75. (d) Lakukan latihan mengejan biasa. Caranya, ganti tarikan nafas yang ditahan dengan mengejan biasa. Tarik nafas yang dalam dengan mulut terbuka, tundukkan kepala, kempeskan pertu, lalu mengejan (seperti buang air kecil). Terakhir keluarkan nafas bunyi. (e) Lakukan sebanyak 3 kali mengejan dalam 1 kali latihan (1 hari). Tindakan mengejan yang sebenarnya (pada kehamilan 36 minggu) 1) Kegunaan (a) Untuk memperlancar proses kelahiran jika pembukaan sudah lengkap (sebesar 10 cm). 2) Sikap (a) Posisi ½ duduk dengan bersandar pada 2 bantal. Satu bantal bagianbelakang dengan arah melintang untuk menyokong kepala dan bantalbagian depan dengan arah membujur untuk menyokong pinggang. (b) Kedua lutut dibengkokkan dan agak renggang. (c) Kedua tangan diletakkan di depan lutut dari arah samping luar.
  • 76. Gambar 2.21 Sikap Tindakan mengejan 3) Tahap-tahap gerakan (a) Tarik kedua lutut bersamaan ke samping luar sejauh mungkin sehingga telapak kaki lepas dari kasur atau matras (dalam posisi ini ibu mengejan). (b) Tarik nafas yang dalam dengan mulut terbuka. Lakukan bersamaan dengan menarik kedua lutut (posisi tangan tetap pada lutut). (c) Tundukkan kepala, kempeskan perut, lalu mengejan (seperti buang air kecil sekuat-kuatnya). Keluarkan nafasbunyi, tangan tetap pada lutut. (d) Lakukan pernafasan panting untuk menghilangkan rasa lelah, kemudian lanjutkan tindakan mengejan seperti tahap sebelumnya. (e) Dalam satu his (rasa mules) yang baik, seorang ibu diharapkan dapat mengejan sebanyak 3 kali berturut-turut. (f) Lakukan 3 kali mengejan dalam 1 kali latihan (1 hari). l. Latihan XII ( istirahat penuh atau sempurna ) 1) Kegunaan (a) Untuk melatih ketenangan agar mulut rahim / kandungan dapat membuka dengan wajar dan cepat sehingga proses persalinan dapat berjalan lancar. 2) Sikap
  • 77. (a) Posisi tidur miring ke kiri atau ke kanan (bayinya tidak banyak bergerak) sehingga perut dapat tersangga dengan baik. Bantal dipasang miring, kepala diletakkan pada bantal bagian atas lengan atas diletakkan pada bantal bagian samping dengan ketiak terbuka. (b) Lengan yang ada di bawah diletakkan di belakang punggung dengan siku sedikit bengkok. (c) Kaki yang ada di atas diletakkan ke depan dengan lutut sedikit bengkok, sedangkan kaki yang ada di bawah diletakkan ke belakang dengan lutut sedikit bengkok pula. (d) Kepala ditundukkan agar punggung menjadi bengkok. Gambar 2.22 Sikap istirahat penuh atau sempurna 3) Tahap-tahap gerakan (a) Kerutkan beberapa kelompok otot, mulai kelompok otot pergelangan kaki sampai panggul, bahu, lengan, sampai ke otot-otot muka. Hasil akhir akan tercapai kerutan otot-otot seluruh badan. (b) Lepaskan kerutan sehingga akan terasa nikmat. (c) Setelah selesai, lakukan istirahat jasmani secara toral. (d) Lakukan istirahat mental dengan posisi yang sama sambil memejamkan mata dan bernafas dengan mulut terbuka. Irama pernafasan makin lama makin panjang dan lambat. (e) Untuk mencapai mengganggu harus dilepaskan. 4) Tahap-tahap istirahat mental istirahat mental secara total, segala pikiran yang
  • 78. (a) Bengkokkan jari-jari kaki dengan kuat, posisi telapak tegak, tahan, lalu lepaskan. Lakukan sebanyak 2 kali ulangan. (b) Bengkokkan jari-jari kaki dengan kuat, posisi telapak tegak, tahan, lalu kempeskan perut, kerutkan pantat, tahan dan lepaskan. Lakukan sebanyak dua kali ulangan. (c) Bengkokkan jari - jari kaki dengan kuat, posisi telapak tegak, tahan, lalu kempeskan perut, kerutkan pantat, tahan, rapatkan bahu ke badan, genggam jari-jari tangan dengan kuat, tahan, dan lepaskan. Lakukan sebanyak dua kali ulangan. (d) Bengkokkan jari-jari kaki dengan kuat, posisi telapak tegak, tahan, lalu kempeskan perut, kerutkan pantat, tahan, rapatkan bahu ke badan, genggam jari-jari tangan dengan kuat, tahan, pejamkan mata, kerutkan alis dengan kuat, rapatkan rahang dengan kuat, tahan, dan lepaskan. Lakukan sebanyak 3-4 kali ulangan. (e) Jika kondisi jasmani sudah lelah, konsentrasikan pikiran pada proses pernafasan saja jangan memikirkan hal-hal yang lainnya). (f) Setelah selesai, keluarkan nafas dari mulut (tiup), kemudian tarik nafas dengan mulut terbuka sebanyak tiga kali ulangan. Tiup nafas panjang-panjang, lalu tarik nafas dengan mulut terbuka. (g) Lanjutkan pernafasan dengan irama yang semakin panjang dan lambat sampai anda tertidur. Saat terjaga, jangan langsung bangun, tetapi tidur terlentang dulu dan konsentrasikan pikiran, lalu bangun. (h) Lakukan latihan ini 1 kali sehari sesudah makan siang atau malam (sebelum tidur). 4) Kontra indikasi Senam Hamil Kontraindikasi senam hamil menurut Mandriwati, (2008) yaitu : a) Penyakit miokardialatif.
  • 79. b) Kelainan jantung. c) Tromboflebitis. d) Emboli paru. e) Isoimunisasi akut. f) Rentan terhadap kelahiran premature. g) Perdarahan pervaginam. h) Ada tanda kelainan pada janin. i) Hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan. D. Kerangka Konsep
  • 80. Faktor yang mempengaruhi 1. Pendidikan 2. Informasi 3. Budaya 4. Pengalaman 5. Sosial ekonomi Tingkat Pengetahuan 1. Baik 2. Cukup baik 3. Kurang baik Pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil Gambar 2.23 Kerangka Konsep Keterangan : : Variabel yang diteliti --------- : Variabel yang tidak diteliti