116428671 karya-tulis-ilmiah-andeska

5,851 views
5,647 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,851
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
61
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

116428671 karya-tulis-ilmiah-andeska

  1. 1. KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PELAKSANAAN MENYUSUI BAYI PADA IBU PRIMIPARA DI PUSKESMAS SAWAH LEBAR KOTA BENGKULU TAHUN 20012 Disusun Oleh: ANDESKA MAMA NPM : 0924260002 DB AKADEMI KEBIDANAN DEHASEN BENGKULU TAHUN 2012
  2. 2. KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PELAKSANAAN MENYUSUI BAYI PADA IBU PRIMIPARA DI PUSKESMAS SAWAH LEBAR KOTA BENGKULU TAHUN 2012 Diajukan Sebagai Persayaratan Untukm Memperoleh Gelar Ahli Madya Kebidanan Disusun Oleh: ANDESKA MAMA NPM : 0924260002 DB AKADEMI KEBIDANAN DEHASEN BENGKULU TAHUN 2012 i
  3. 3. ii
  4. 4. MOTTO : Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda namun bukan berarti kehancuran bagi segalanya , tetapi pelajaran dan peringatan terhadap apa yang telah dilakukan dan apa yang akan kita lakukan nantinya. ( Andeska mama 2012) KuPersembahkan Kepada :  Bapak dan ibu tercinta yang mendo’akan dan membantu aku dalam mewujudkan cita – citaku.  Kakak dan Adikku tersayang yang telah memberikan motivasi dan do’anya demi keberhasilan ku.  Teman dekatku yang telah membantu aku dalam menyelesaikan makalah Karya Tulis Ilmiah ini.  Dan teman –teman seperjuangan almamater. iii
  5. 5. ABSTRAK Ibu primipara , ASI seringkeluar pada hari ke-3 dan jumlah ASI selama 3 hari pertama hanya 50 Ml ( kira-kira 3 sendok makan). Namun ,bila hal ini tidak dipahami, banyak ibu yang merasa ASInya kurang. Pengetahuan ibu tentang menyusui sangat mempengaruhi pelaksanaan manajemen laktasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan Pengetahuan Ibu dengan pelaksanaan menyusui bayi pada ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas sawah Lebar Kota Bengkulu. Jenis penelitian adalah cross sectional. Popilasi penelitian Ibu primipara di wilayah puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. Jumlah sampel sebanyak 70. Analisa statistic yang digunakan adlah analisa univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chisquare. Hasil penelitian Hampir setengah (44,29%) berpengetahuan kurang, Lebih sebagian (64,29%) ibu primipara pelaksanaan menyusui kurang. Ada hubungan pengetahuan ibu dengan pelaksanaan menyusui bayi pada Ibu Primipara di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu (ρ= 0,005). Kepada puskesmas Sawah lebar Kota bengkulu Untuk meningkatkatkan pengetahuan menyusui bayi melalui penyuluhan sehingga mereka memahami dan menjalankan pelaksanaan menyusui dengan baik dan benar. Kata kunci : Primapara, Pengetahuan, Pelaksaan Menyususi. iv
  6. 6. KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya maka penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang merupakan tugas akhir dalam menyelesaikan program DIII Kebidanan di Akademi Kebidanan Dehasen Bengkulu yang berjudu “HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PELAKSANAAN MENYUSUI BAYI PADA IBU PRIMIPARA DI PUSKESMAS SAWAH LEBAR KOTA BENGKULU TAHUN 2012 Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak, oleh karena itu perkenankanlah penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dra. Hj. Ice Rakizah Syafrie, M.Kes Selaku Direktris Akademi Kebidanan Dehasen Bengkulu. 2. Renni F Permatasari, SST, selaku ketua program Studi Diploma III kebidanan Akademi Kebidanan Dehasen Bengkulu. 3. Hj. Martha Heryati, S.Sos M.Kes selaku Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. 4. Indra Iswari, SST, SKM, MM selaku Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. 5. Kepada Ayahanda dan ibunda serta saudaraku yang telah memberikan semangat dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini. v
  7. 7. 6. Kepada semua teman-teman sealmamater di Akedemi Kebidanan Dehasen Bengkulu. 7. Semua pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Penulis ucapkan terimah kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan membalas kebaikan yang telah diberikan dengan pahala yang setimpal. Bengkulu, Agustus 2012. Penulis vi
  8. 8. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... . ii MOTTO DAN KUPERSEMBAHKAN....................................................... iii ABSTRAK...................................................................................................... iv KATA PENGANTAR ................................................................................... vi DAFTAR ISI .................................................................................................. vii DAFTAR TABEL .......................................................................................... ix DAFTAR BAGAN .......................................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. . xi BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang ........................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ....................................................................... 3 C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 3 D. Manfaat Penelitian ...................................................................... 4 E. Keaslian penelitian ...................................................................... 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan ................................................................................ 5 B. Konsep Menyusui ....................................................................... 12 C. Hubungan pengetahuan ibu primipara dengan pelaksanaan menyusui ..................................................................................... 14 D. Kerangka Konsep ………………………………………….. ..... 16 vii
  9. 9. E. Hipotesisis ................................................................................... 16 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ......................................................................... 17 B. Definisi Operasional.................................................................... 17 C. Populasi dan Sampel ................................................................... 18 D. Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................... 19 E. Metode Pengumpulan Data ......................................................... 20 F. Metode Analisa data .................................................................... 21 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Jalannya Penelitian ………………………………………………. 43 B. Gambaran Lokasi Penelitian …………………………………… 43 C. Hasil Penelitian ………………………………………………… 45 D. Pembahasan ……………………………………………………. 47 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……………………………………………………. 51 B. Saran …………………………………………………………… 52 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… LAMPIRAN viii 53
  10. 10. DAFTAR TABEL No. Tabel Tabel 1.1 Tabel 3.1. Tabel 4.1. Tabel 4.2. Tabel 4.3. Judul Cakupan Pemberian ASI Eksklusif terendah di Kota Bengkulu Definisi Operasional Distribusi Responden Menurut Pengtahuan di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu Bulan April Tahun 2012 Distribusi Responden Menurut Pengtahuan di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu Bulan April Tahun 2012 Hubungan Pengetahuan dengan pelaksanan menyusui pada ibu yang memiliki bayi 0-12 bulan di puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu tahun 2012 ix Halaman 3 38 45 45 46
  11. 11. DAFTAR BAGAN No. Bagan Bagan 2.1 Kerangka Konsep Judul Bagan Bagan 3.1 Desain Penelitian Cross Sectional 22 Bagan 3.2. Variabel Penelitian 37 x Halaman 34
  12. 12. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Jadwal Penelitian Lampiran 2. Surat permohonan menjadi responden Lampiran 3. Surat pernyataan bersedia menjadi responden Lampiran 4. Kuesioner Lampiran 5. Master Tabel Lampiran 6. Hasil pengolahan data Lampiran 7. Surat izin pengambilan data awal Lampiran 8. Surat rekomendasi penelitian Lampiran 9. Surat Izin Penelitian Lampiran 10. Surat Keterangan selesai penelitian xi
  13. 13. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehadiran bayi yang baru saja lahir merupakan saat paling membahagiakan buat pasangan suami istri, tentu banyak hal harus disiapkan, dan salah satu terpenting adalah memberi Air Susu Ibu (ASI). Menurut pernyataan bersama World Heald Organization (WHO)/United Nations International Children Emergency Fund (UNICEF) menyusui adalah suatu cara yang tidak ada duanya dalam memberikan makanan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat serta mempunyai pengaruh biologis dan kejiwaan unik terhadap kesehatan ibu dan bayi. Memberikan ASI pada bayi harus didukung pula dengan teknik menyusui yang benar agar manfaat dari ASI tersebut juga lebih maksimal (Depkes RI, 2009). Data WHO (2009), menyatakan pemberian ASI Eksklusif di dunia hanya mecapai 45,34% dan sebagian besar tersebar di negara berkembang, salah satunya Indonesia (WHO, 2009). Pencapaian ASI Eksklusif di Indonesia masih kurang, hal ini berdasarkan data hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008– 2009, pemberian ASI eksklusif pada bayi berumur 2 bulan hanya (64%). Persentase ini kemudian menurun cukup tajam menjadi (46%) pada bayi berumur 2-3 bulan dan (14%) pada bayi berumur 4 – 5 bulan (KBI,2009). Permasalahan yang utama adalah perilaku menyusui yang kurang mendukung, 1
  14. 14. 2 faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, gencarnya promosi susu formula, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung PPASI, kurangnya rasa percaya diri ibu bahwa ASI cukup untuk bayinya dan ibu yang bekerja (Depkes RI, 2009). Pada saat pemberian ASI banyak kebanykan ibu-ibu belum mengetahui bagaimana cara menyusui dengan baik dan benar, sehingga banyak susu keluar yang menyebabkan bayi menelan hawa terlalu banyak sehingga muntah, belum banyak diketahui oleh ibu muda atau calon ibu. Tidak jarang bayi di beri susu buatan karena disangka ibunya kurang mengeluarkan susu, namun sebenarnya kurangnya pengeluaran air susu ibu disebabkan kesalahan teknik menyusui (Atika, 2010). Keluhan dan kesulitan saat menyusui sering muncul, apalagi jika ibu adalah pengalaman pertama. Mulai dari ASI tidak keluar dengan lancar, puting payudara luka, hingga si kecil rewel karena belum bisa menyusui dengan benar. Kesulitan menyusui biasanya terjadi ketika ibu baru melahirkan anak pertama. Selain ini merupakan pengalaman baru, biasanya ibu juga masih canggung dalam menggendong si kecil, atau bahkan mudah panik jika dia menangis keras karena sesuatu hal. Sebaliknya bayi baru lahir harus belajar cara menyusui yang benar (Supriyadi, 2002). Minggu pertama setelah persalinan seorang ibu lebih peka dalam emosi, maka seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui (Soetjiningsih, 2007). Minggu pertama juga merupakan masa adaptasi ibu, dimana dalam teori rubbin dibagi menjadi beberapa
  15. 15. 3 tahap yaitu taking in, taking on/hold, letting go. Terutama pada periode taking on/hold ibu berusaha keras untuk menguasai tentang keterampilan merawat bayi misal: menggendong, menyusui, memandikan dan memasang popok (Depkes RI, 2009). Kurangnya asupan ASI pada minggu pertama akan berdampak ikterik pada bayi. Kebanyakan ikterik adalah keadaan fisiologis yang merupakan tindakan penyesuaian protektif terhadap lingkungan di luar uterus, biasanya terjadi pada 2 – 3 hari setelah kelahiran, biasanya hilang dalam 7 – 10 hari, meskipun kadar bilirubin tetap meningkat untuk beberapa minggu. Biasanya mencapai puncak 3 – 5 hari setelah kelahiran yaitu < 15 mg/dl. Kondisi ini berhubungan dengan masukan kolostrum yang tidak memadai atau terlambat. Karena kolostrum/ASI memiliki efek laksatif, merangsang keluarnya mekonium dan menurunkan kadar bilirubin (Biordan, 2002). Berdasarkan data yang diperoleh di dinas kesehatan Kota Bengkulu, pada tahun 2010 cakupan pemberian ASI ekslusif terendah berada di puskesmas Sawah Lebar (12,20%) dari 459 bayi, terendah kedua Puskesmas Lingkar Barat (19,23%) dari 182 bayi dan terendah ketiga di Puskesmas Padang Serai (19,48%) dari 231 bayi (Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, 2010).
  16. 16. 4 Tabel 1. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif terendah di Kota Bengkulu Nama Puskesmas Jumlah Bayi Sawah Lebar 459 Lingkar Barat 182 Padang Serai 231 Lingkar Timur 645 Kandang 234 Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, 2010 Cakupan ASI Eksklusif 12,20% 19,83% 19,48% 21,2% 25,3% Pencapaian cakupan pemberian ASI eksklusif di kota Bengkulu lebih rendah dari cakupan ASI ekslusif nasional. Target ASI ekslusif nasional sebesar 80%. Rendahya cakupan ini dikarenakan oleh beberapa faktor terutama kurangnya sosialisasi pemberian ASI ekslusif dari 4 bulan menjadi 6 bulan, selain itu dapat disebabkan karena kurangya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI ekslusif, social dan ekonomi keluarga yang kurang memadai. Rendahnya pemberian ASI ekslusif di kota bengkulu dapat juga disebabkan karena terjadinya perubahan jam kerja, sehingga kebanyakan ibu-ibu susah mengatur waktu untuk menyusui,sedangkan tempat menyusui di kantor-kantor belum tersedia (Dinas Kesehatan Kota Bengkulu,2007) Pengetahuan ibu tentang menyusui sangat mempengaruhi pelaksanaan menyusui itu sendiri. Pengetahuan akan mengubah perilaku ibu dalam pelaksanaan tindakan yang tepat bagi bayi dalam hal ini pelaksanaan manajemen laktasi. Ibu yang tahu tentang pentingnya ASI ekslusif akan memberikan sepenuhnya kepada bayi demi kesehatan bayinya sebaliknya ibu yang memiliki pengetahuan kurang tidak memberikan ASI eksklusif (Arini, 2008).
  17. 17. 5 Pada primipara , ASI sering keluar pada hari ke-3 dan jumlah ASI selama 3 hari pertama hanya 50 Ml ( kira-kira 3 sendok makan). Namun ,bila hal ini tidak dipahami, banyak ibu yang merasa ASInya kurang, sehingga mendorong pemberian susu formula yang mengakibatkan produksi ASI berkurang. Jika pemberian prelacteal feeding yaitu minum,makan sebelum ASI keluar,lebih-lebih jika prelacteal feeding tersebut menggunakan botol dot. Hal ini akan menyebabkan bayi bingung puting (nipple confuse) akibat perbedaan mekanisme menyusui pada payudara ibu dan pada botol dot. Bayi akan lebih suka minum dari botol dot karena tanpa banyak tenaga susu bisa diisap dengan mudah (Arini, 2008) Survei awal peneliti tanggal 2-3 Januari 2012 terhadap 10 ibu di puskesmas Sawah Lebar menunjukan 5 ibu memiliki pengetahuan kurang dan 3 diantara 5 ibu tersebut pelaksanaan menyusuinya kurang baik. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti mengenai “Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Bayi Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah lebar Kota Bengkulu “. Objek penelitian yang diambil ibu pada primípara karena ibu yang baru pertama kali memiliki bayi cenderung memiliki pengetahuan yang kurang tentang pemberian ASI (Arini, 2008). B. Rumusan Masalah Bedasarkan uraian latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah masih banyak ibu primipara di wilayah kerja puskes-
  18. 18. 6 mas Sawah Lebar yang pelaksanaan menyusuinya tidak baik dan pertanyaan penelitian ini adalah apakah ada Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Bayi Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui apakah ada Hubungan Pengetahuan Ibu dengan pelaksanaan menyusui bayi pada ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. 2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya gambaran Pengetahuan Ibu Primipara tentang menyusui bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar. b. Diketahuinya gambaran Pelaksanaan Menyusui pada Ibu Primipara di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar. c. Diketahuinya Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui bayi Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu D. Manfaat Penelitian 1. Untuk Peneliti Diharapkan dapat membandingkan antara teori tentang Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Pada Ibu Primipara di wilayah
  19. 19. 7 kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu yang didapatkan selama studi dengan kenyataan dilapangan. 2. Untuk Puskesmas Hasil peneliti ini dapat digunakan sebagai sarana informasi kesehatan mengenai pelaksanaan menyusui. 3. Untuk Institusi Pendidikan Hasil penelitian in dapat membantu dalam proses pembelajaran 4. Untuk Peneliti Lain Diharapkan berguna sebagai data dasar dalam penelitian selanjutnya mengenai pelaksanaan menyusui. E. Keaslian Penelitian Penelitian ini sudah pernah diteliti oleh: 1. Irwan Sadi (2009) ” Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Pati Semarang”. Perbedaannya dengan peneliti ini yaitu pada polulasi yang diambil. 2. Nelson (2003) “Faktor resiko penyebab Tidak terlaksananya Pemberian ASI Eksklusif di RS Dr Soetomo tahun 2003”.Universitas Diponegoro. Sampel yang digunakan 56 orang dengan metode penelitian Crossestional didapatkan hubungan yang bermakna antara factor intrinsic dan ekstrinsik dengan Pemberian ASI pada nilai p < 0,05. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu pada variabel independen, populasi, waktu dan tempat penelitian.
  20. 20. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1. Defenisi Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun baik mengenai mata fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi tanpa memiliki metode dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. (Supriyanto, 2003). Pengetahuan merupakan suatu usaha yang mendasari seseorang berfikir secara ilmiah, sedangkan tingkatannya tergantung pada ilmu pengetahuan atau dasar pendidikan orang tersebut. (Nursalam dan Pariani, 2001) Pengetahuan adalah merupakan hasil “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang mana penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia yakni indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba yang sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo, 2003). Jadi kesimpulan dari pengetahuan adalah suatu usaha seseorang untuk berfikir secara ilmiah yang tingkatannya tergantung pada ilmu pengetahuan atau dasar pendidikan orang tersebut atau berpengetahuan adalah keseluruhan yang belum tersusun dengan baik mengenai mata fisik dan terhadap suatu ob- 8
  21. 21. 9 jek tertentu yang mana pengindraan ini terjadi melalui pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dan sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. 2. Tingkat Pengetahuan Notoatmodjo (2003), mengemukakan bahwa ada enam tingkat pengetahuan yang dicapai dalam domain kognitif yaitu: a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Untuk mengukur bahwa seseorang atau tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan. menyatakan dan sebagainya b. Memahami (Comprehention) Memahami (Comprehention) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar, orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya, aplikasi ini diarti-
  22. 22. 10 kan dapat sebagai aplikasi atau penggunaan hukum, rumus metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis (Analysys) Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja dapat menggambarkan, membedakan, mengelompokkan dan seperti sebagainya. Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan sebagainya. e. Sintesa (Syntesis) Adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formasi baru dari informasi-informasi yang ada misalnya dapat menyusun, dapat menggunakan, dapat meringkasan, dapat mnyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian itu berdasarkan suatu kreteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek pene-
  23. 23. 11 litian atau responden kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui dapat kita lihat sesuai dengan tingkatan-tingkatan diatas. 3. Cara Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. (Notoatmodjo, 2005). Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif yaitu : Baik : Hasil presentase > 75% Kurang : Hasil presentase ≤ 75% 4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Notoadmodjo (2005), mengemukakan terbentuknya pengetahuan dipengaruhi: a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu. b. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus. c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru. e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus (Notoadmodjo, 2003).
  24. 24. 12 Faktor yang mempengaruhi pengetahuan meliputi: a. Umur Makin tua umur seseorang maka proses perkembangan mentalnya makin baik akan tetapi pada umur tertentu bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat ketika umur belasan tahun. b. Intelegensi Suatu kemampuan untuk belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru c. Lingkungan Seseorang dapat mempelajari hal yang baik dan juga hal yang buruk tergantuk pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada perilaku. B. Konsep Menyusui 1. Definisi Menyusui Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan air susu ibu (ASI) dari payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu . Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ekslopedia bebas.Menyusui adalah cara yang alami dan fisiologis untuk memberikan nutrisi ke bayi dan balita, dan ASI adalah susu yang dibuat khusus untuk bayi manusia. Bukti eksperimental menyimpulkan bahwa air susu ibu adalah gizi terbaik untuk bayi (Depkes RI, 2007).
  25. 25. 13 Menyusui artinya memberikan makanan kepada bayi yang langsung dari payudara . Menyusui adalah proses alamiah, berjuta-juta ibu diseluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI. Walaupun demikian dalam lingkungan kebudayaan kita saat ini melakukan hal yang alamiah tidaklah selalu mudah (Utami Roesli, 2000) 2. Definisi Ibu Primipara Primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama kalinya (Mochtar, 2008). Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup besar untuk hidup di dunia luar matur atau prematur (bagian obstetri dan ginekologi fakultas kedokteran Universitas Padjajaran). Dari definisi kajian penulis maka disimpulkan primipara adalah wanita yang melahirkan bayi untuk pertama kalinya. 3. Air Susu Ibu (ASI) ASI adalah makanan terbaik yang dapat diberikan ibu kepada anaknya yang baru dilahirkannya. Komposisi ASI berubah setiap saat sesuai dengan kebutuhan bayi dan bila diberikan dengan baik dan benar dapat memenuhi kebutuhan untuk tumbuh kembang bayi secara optimal sampai 6 (enam) bulan. Selain itu ASI mengandung makrofag, limfosit dan antibodi yang dapat mencegah bayi terinfeksi dengan penyakit tertentu. Pemberian ASI mempunyai pengaruh biologis dan emosional yang luar biasa terhadap kesehatan ibu dan anak serta terdapatnya hubungan yang erat antara menyusui ekslusif dan penjarangan kelahiran (Weni, 2009).
  26. 26. 14 Keberhasilan dalam menyusui menurut San Diego Lactacion clinic dalam Soetjiningsih (2007) dipengaruhi adanya dukungan keluarga, informasi yang jelas dan profesi atau tenaga kesehatan. Pendidikan ibu dan keluarga , nutirisi yang adekuat juga akan mempengaruhi proses dalam menyusui. Bayi segera mungkin disusukan setelah lahir. Pemberian ASI tidak dijadwal, sesuai keinginan bayi dengan menggunakan kedua payudara setiap menyusui secara bergantian (Weni, 2008). 4. Manfaat Menyusui Menurut Ramaiah (2007) dalam bukunya asi dan Menyusui, menyusui bermanfaat baik untuk psikologis ibu maupun bayi. Berikut manfaat yang diperoleh bayi, ibu, masyarakat, maupun negara adalah sebagai berikut : a. Untuk Bayi 1) Komposisi sesuai kebutuhan. Air susu setiap spesies makhluk hidup yang menyusui itu berbeda-beda sesuai dengan laju pertumbuhan dan kebiasaan menyusu anaknya. Jadi, ASI memang dirancang sedemikian rupa untuk bayi manusia. 2) Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan. Dengan manajemen laktasi yang baik, produksi ASI cukup sebagai makanan tunggal untuk pertumbuhan bayi normal sampai usia enam bulan. 3) ASI mengandung zat pelindung . Antibodi (zat kekebalan tubuh) yang terkandung dalam ASI akan memberikan perlindungan alami bagi bayi baru lahir. Antibodi dalam ASI ini belum bisa ditiru pada susu formula.
  27. 27. 15 4) Perkembangan psikomotorik lebih cepat. Berdasarkan penelitian, bayi yang mendapat ASI bisa berjalan dua bulan lebih cepat bila dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula. 5) Menunjang perkembangan kognitif. Daya ingat dan kemampuan bahasa bayi yang mendapat ASI lebih tinggi bila dibandingkan bayi yang diberi susu formula. 6) Menunjang perkembangan penglihatan. Hal ini antara lain karena ASI mengandung asam lemak omega 3. 7) Memperkuat ikatan batin ibu-anak. Rasa aman dalam diri bayi akan tumbuh saat ia berada dalam dekapan ibunya. Ia menikmati sentuhan kulit yang lembut dan mendengar bunyi jantung sang ibu seperti yang telah dikenalnya selama dalam kehamilan. 8) Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat. Melalui proses menyusui, anak akan belajar berbagi dan memberikan kasih sayang pada orang-orang di sekitarnya. 9) Dasar untuk perkembangan kepribadian yang percaya diri. Terjalinnya komunikasi langsung antara ibu dan bayinya selama proses menyusui akan meningkatkan kelekatan di antara mereka. Rasa lekat dan percaya bahwa ada seseorang yang selalu ada apabila dibutuhkan lambat laun akan berkembang menjadi percaya pada diri sendiri. b. Bagi Ibu 1) Mencegah perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula . Hal ini karena hormon progesteron yang merangsang kontraksi otot-otot di saluran ASI sehingga ASI terperah keluar juga akan merangsang kontraksi rahim. Jadi, susuilah bayi segera
  28. 28. 16 setelah lahir, agar tidak terjadi perdarahan pasca persalinan dan proses pengerutan rahim berlangsung lebih cepat. 2) Mencegah anemia defisiensi zat besi. Bila perdarahan pasca persalinan tidak terjadi atau berhenti lebih cepat, maka risiko kekurangan darah yang menyebabkan anemia pada ibu akan berkurang. 3) Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil, dengan menyusui, cadangan lemak dalam tubuh ibu yang memang disiapkan sebagai sumber energi selama kehamilan untuk digunakan sebagai energi pembentuk ASI akan menyusut. Penurunan berat badan ibu pun akan terjadi lebih cepat. 4) Menunda kesuburan. Pemberian ASI dapat digunakan sebagai cara mencegah kehamilan. Namun, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: bayi belum diberi makanan lain, bayi belum berusia enam bulan; dan ibu belum haid. 5) Menimbulkan perasaan dibutuhkan. Rasa bangga dan bahagia karena dapat memberikan sesuatu dari dirinya demi kebaikan bayinya dan akan memperkuat hubungan batin antara ibu dan bayinya. 6) Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium. 7) Penelitian membuktikan bahwa ibu yang memberikan ASI secara eksklusif memiliki risiko terkena kanker payudara dan kanker ovarium 25% lebih kecil bila dibandingkan ibu yang tidak menyusui secara eksklusif. c. Bagi Masyarakat dan Negara 1) Penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat-obatan. Angka kematian dan kesakitan bayi yang mendapat ASI akan berkurang. Selain
  29. 29. 17 itu, dengan tertundanya masa subur ibu, penggunaan obat/alat KB dapat dihemat untuk beberapa bulan. 2) Penghematan devisa untuk pembelian susu formula dan perlengkapan menyusui. Pemerintah dapat menghemat biaya pengeluaran untuk membeli susu formula, botol, dot, dan bahan bakar minyak/gas yang diperlukan dalam mempersiapkan air panas untuk membuat susu formula. 3) Mengurangi polusi, pemberian ASI tidak akan menyebabkan terjadinya tumpukan kaleng/karton susu dan pencemaran udara. 4) Mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Anak yang jarang sakit dan tumbuh-kembang dengan optimal kan tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berpotensi sebagai SDM yang berkualitas (Weni, 2009). 5. Manajemen Laktasi Agar laktasi berjalan dengan baik, diperlukan manajemen yang baik dalam laktasi, langkah dan teknik menyusui yang baik dan benar baik posisi maupun perlekatan ibu dan bayi dalam pelaksanaan menyusui (Soejitningsih, 2005). Periode sesudah bayi lahir saat ASI dibentuk dan dikeluarkan disebut Masa Laktasi. Lama masa laktasi tergantung motivasi dan kemampuan penerapan manajemen laktasi. Perlu diperhatikan agar setiap bayi dalam 4-6 bulan pertama kehidupan hanya diberi ASI(termasuk kolostrum). Bayi dalam kondisi baik dirawat gabung dengan ibunya untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan fisik dan psikis bayi. Selama ASI belum keluar pada 2-3 hari setelah kelahiran, bayi sehat tidak perlu diberi makanan/cairan lain, te-
  30. 30. 18 tapi hanya perlu menghisap kolostrum. Setelah usia 4-6 bulan, secara bertahap berikan makanan pendamping ASI. ASI dapat terus diberikan sampai anak usia 2 tahun (Mansjoer Arif,2002). 6. Anatomi dan Fisiologis Menyusui Buah dada terdiri atas sebuah putting yang menonjol di tengah-tengah daerah sempit berwarna cokelat atau merah muda disebut areola. Akibat pengaruh hormone wanita yang dihasilkan oleh indung telur, payudara wanita terus berkembang. Saluran susu tumbuh dari putting kemudian menyusui pada putting seorang wanita, hasil perangsangan fisik menyebabkan implus, pada ujung saraf dikirim ke kelenjar hypothalamus di otak dimana secara bergantian memberitahu kelenjar pituitary yang juga berada di otak untuk menghasilkan dua hormone yang disebut Oxsytocin dan Prolactin. Prolactin menyebabkan susu diproduksi dan Oxsytocin menyebabkan serat otot yang mengelilingi kelenjar Alveoli mengerut seprti pada otot rahim. Saat serat otot di sekelilingi kelenjar alveoli berkerut menyebabkan susu menjadi keluar yang disebut sebagai “aloran” dan dapat menimbulkan sensasi dalam payudara dan menyemprotkan susu dari putingnya. Suara tangisan bayi juga dapat memicu aliran, yang memperlihatkan bagaimana produksi susu dapat dipengaruhi secara psikologi dan kondisi lingkungan sama seperti saat menyusui. Saat menyusui, feromik, disimpan dalam alveoli dan lactiferous sinuses akan tetapi kebanyakan dari susu, hindmilk, diproduksi berdasarkan permintaan. Payudara tidak menyimpan susu, tetapi memproduksinya berdasarkan permintaan. Semakin besar permintaan, semakin banyak susu yang diproduksi.
  31. 31. 19 Hal-hal yang membantu refleks oksitosin adalah memikirkan hal-hal yang dapat menimbulkan rasa kasih terhadap bayi, suara bayi, raut muka bayi, dan rasa percaya diri. Sedangkan hal-hal yang dapat menghambat refleks oksitosin yaitu khawatir. Stress,Rasa nyeri dan Rasa ragu, untuk mengetahui Sensasi dan tandatanda refleks oksitosin aktif seorang ibu dapat mengalami perasaan perih atau pijatan ringan sebelum menyusui atau selama menyusui, ASI mengalir dari payudara saat ia memikirkan bayinya, atau mendengarkan tangisannya, ASI menetes dari payudara sebelahnya ketika bayi menyusui,ASI kelur dengan lancar dari payudara saat bayi melepaskan mulutnya selama pemberian ASI, Sakit nyeri akibat kontraksi yang kadang-kadang disertai kelurnya darah saat menyusui pada minggu-minggu pertama,Hisapan dan penelanan yang pelan oleh bayi yang menunjukkan ASI mengalir ke dalam mulutnya (POKDI ASI ST. CAROLUS DAN PPKC,2007) Menurut Soetjiningsih (2005) Bayi yang sehat mempunyai refleks intrinsic yang diperlukan untuk berhasil menyusui, yaitu: 1) “Rooting reflex” Bila bayi baru lahir disentuh pipinya, dia akan menoleh kearah sentuhan. Bila bibirnya dirangsang atau disentuh,dia akan membuka mulut dan berusaha mencari putting untuk menyusu. Keadaan ini dikenal dengan sebutan “rooting reflex”. 2) “Sucking reflex” (refleks menghisap) Refleks ini terjadi bila ada sesuatu yang merangsang langit-langit dalam mulut bayi, jika putting susu ibu menyentuh langit- langit belakang mulut bayi .terjadi refleks menghisap dan terjadi tekanan terhadap daerah areola oleh gusi, lidah bayi serta langit-langit, sehingga isi sinus laktiferus diperas keluar ke dalam rongga mulut bayi.
  32. 32. 20 3) Refleks menelan, bila ada cairan di dalam rongga mulut, terjdi refleks menelan. 7. Langkah – langkah Dan Teknik Menyusui Yang Baik Dan Benar Kenyamanan dalam menyusi bukan hanya terletak pada kenyamanan ibu, tetapi juga kenyamanan diri bayi sehingga, bayi dapat menghisap ASI dengan efektif dan efesien. Karena menyusui terdiri dari dua individu yang keduanya membutuhkan kenyamanan. Teknik menyusui merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi ASI dimana bila teknik menyusui tidak benar , dapat menyebabkan putting lecet dan menjadikan ibu tidak mau menyusui dan bayi jarang menyusui. Bila bayi jarang menyusui karena bayi enggan menyusu akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. 8. Sepuluh langkah pokok menuju keberhasilan menyusui Setiap pusat pelayanan kesehatan yang akan mempelopori pelayanan kesehatan ibu – anak harus : 1) Memiliki kebijakan tertulis tentang kegiatan menyusui yang secara rutin dikomunikasikan kepada seluruh staf pusat pelayanan kesehatan. 2) Memberikan pelatihan kepada seluruh staf agar terampil dalam mengimplementasikan kebijakan ini. 3) Memberikan informasi selengkapnya kepada ibu hamil tentang manfaat menyusui 4) Membantu ibu menyusui dalam 30 menit setelah persalinan. 5) Mempertahankan pemberian ASI walaupun mereka harus berpisah dari ibunya
  33. 33. 21 6) Tidak memberikan minuman lain kepada bayi selain ASI,kecuali atas indikasi medis. 7) Mempraktekan rawat gabung-mengusahakan agar ibu dan bayi dapat dirawat dalam satu ruang bersamaan 8) Memberikan dorongan agar ibu menyusui sesuai kebutuhan bayi 9) Tidak memberikan empeng atau dot pada bayi yang menyusu 10) Membentuk kelompok penduduk ASI dan menganjurkan ibu-ibu untuk bergabung dengan kelompok tersebut saat ibu keluar dari rumah sakit atau klinik. Pada tahun 2001 Wold Health Organization di dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. WHO dan UNICEF mrekomendasikan langkah-langkah brikut untuk memulai dan mencapai ASI eksklusif. 1) Menyusui dalam setengah sampai satu jam setelah kelahiran 2) Menyusui secara ekslusif dari 0-6 bulan hanya ASI. Artinya tidak ditambah makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun. 3) Menyusui kapanpun bayi meminta, sesering yang bayi mau, siang dan malam. 4) Tidak menggunakan botol susu maupun empeng. 5) Mengeluarkan ASI dengan memompa atau memeras dengan tangan, disaat tidak bersama anak. 6) Mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang. (POKDI ASI ST.CAROLUS DAN PPKC, 2007).
  34. 34. 22 9. Teknik Menyusui Yang Baik Dan Benar Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Weni, 2009). 1) Persiapan Menyusui Menurut Roesli (2000) langkah penting yang perlu ibu persiapkan untuk menyusui bayinya adalah : cuci tangan, setelah itu ibu membersihkan putting susu dengan air hangat setelah dibersihkan ibu dapat memilih dan mengatur posisi senyaman mungkin untuk menyusui. 2) Teknik Dasar Menyusui a) Sebelum menyusui keluarkan ASI sedikit, oleskan pada putting susu dan areola disekitarnya sebagai desinfektan dan untuk menjaga kelembaban putting. b) Letakkan bayi menghadap payudara ibu. Pegang belakang bahu bayi dengan satu tangan. Kepala bayi terletak dilengkungan siku ibu. Tahan bokong bayi dengan telapak tangan. Usahakan perut bayi menempel pada badan ibu dengan kepala bayi menghadap payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi) c) Untuk memasukkan payudara kemulut bayi, pegang payudara ibu dengan ibu jari diatas dan jari lain menopang di bawahnya. Jangan menekan putting susu atau areolanya saja. d) Beri rangsangan membuka mulut (rotting reflek) dengan cara menyentuh pipi atau sisi mulut bayi dengan putting. Setelah bayi membuka mulut, segera dekatkan putting ke mulut bayi. Jangan menjejalkan putting kemulutnya. Biarkan bayi mengambil inisiatif.
  35. 35. 23 e) Pastikan bayi tidak hanya menghisap putting, tetapi seluruh areola masuk ke dalam mulutnya. Jika bayi hanya menghisap bagian putting, kelenjarkelenjar susu tidak akan mengalami tekanan sehingga ASI tidak akan keluar maksimal. Selain itu, jika bagian putting saja yang diisap menyebabkan putting nyeri atau lecet. f) Gunakan jari untuk menekan payudara dan menjauhkan hidung bayi agar pernapasannya tidak terganggu. g) Jika bayi telah berhenti menyusui, tetapi masih tertahan di payudara jangan menariknya dengan kuat karena dapat menimbulkan luka. Pertama-tama dengan menekan payudara atau meletakkan jari pada ujung mulut bayi agar ada udara yang masuk. h) Selama menyusui tataplah bayi dengan penuh kasih saying. i) Jangan khawatir jika bayi belum terampil menghisap karena baik ibu maupun bayi masih belajar. Dibutuhkan ketenangan,kesabaran dan latihan agar proses menyusui menjadi lancar. (Danuatmaja,Bonny Dan Mila Meiliasari,2008) 3) Posisi Menyusui Posisi menyusui adalah posisi tubuh bayi dan badan ibu. Posisi merupakan kunci keberhasilan menyusui dan pelekatan yang baik.Dengan posisi menyusui yang benar, putting susu lecet tidak akan terjadi. Selain itu ASI pun akan mengalir secara optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya (Selasi,2008) Empat kunci utama dalam memposisikan bayi yaitu kepada dan tubuh bayi ada pada satu garis lurus, wajah bayi menghadap payudara dan
  36. 36. 24 hidungnya membentuk sudut cermin berhadapan dengan putting susu, ibu harus menggendong tubuh bayi sedekat mungkin dengan tubuhnya, dan menyokong di bagian bawah atau panggal paha bagian belakang (untuk bayi yang baru lahir). Selain posisi ibu juga berpengaruh dalam pelaksanaan menyusui. Berikut cara ibu menyokong payudara yaitu jari-jemari ibu diletakkan pada dinding dada dibawah payudara, telunjuk sebagai penyangga payudara dan jempol berada di atas putting susu (POKDI ASI ST CAROLUS DAN PPKC,2007). 4) Pelekatan Pelekatan,yaitu bagaimana mulut bayi melekat ke payudar ibu. Cara melekatkan mulut bayi ke payudara dengan benar yaitu : a) Dagu bayi melekat pada payudara,dan merangsang bibir bawah bayi dengan areola (lingkaran hitam disekitar putting) dan kemudian merangsang bibir atas bayi dengan putting. b) Tarik putting kearah hidung bayi, sehingga hidung bayi berhadapan dengan putting. c) Kita menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar d) Saat mulutnya terbuka lebar,lepaskan putting sehingga dia masuk ke mulut bayi. Tanda-tanda pelekatan yang baik : - Areola (yang hitam-hitam disekitar putting) bagian atas lebih banyak terlihat dari areola bagian bawah - Mulut bayi terbuka lebar - Bibir bayi dower (jableh)
  37. 37. 25 5) Dagu bayi melekat ke payudara ibu Pipi bayi mengembung tidak kempot Melepaskan Isapan Bayi Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya ganti menyusui pada payudara yang lain. Cara melepas isapan bayi dapat dilakukan dengan jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau dagu bayi ditekan ke bawah. 6) Menyedawakan Bayi Ketika menghisap putting, bayi ikut menelan udara yang dapat membuat perutnya penuh dan tidak enak sebelum ia menyelesaikan minumannya. Menyendawakan bayi sangat penting dan merupakan bagian dari menyusu atau paling sedikit saat bayi berpindah payudara. Ada tiga cara umum menyendawakan bayi : 1) Gendong bayi dengan kuat di pundak anda, wajah bayi menghadap kebelakang, beri dukungan dengan satu tangan pada bokongnya.Tepuk atau usap punggungnya dengan tangan lain. 2) Telungkupkan bayi di pangkuan,perutnya berada disalah satu kaki, kepalanya menyender salah satu kaki lainnya.Satu tangan anda memegangi tubuhnya dengan kuat, satu tangan lain menepuk atau mengusap punggungnya sampai bersendawa. 3) Duduk bayi dipangkuan, kepalanya menyender ke depan, dadanya ditahan dengan satu tangan dan pastikan kepalanya tidak mendongak ke belakang. Tepuk atau gosok punggungnya. (Danuatmaja, Bonny dan Mila Meiliasari, 2008)
  38. 38. 26 7) Cara Penegamatan Teknik Menyusui benar Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan putting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi tidak mau menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut : - Bayi tampak tenang. - Badan bayi menempel pada perut ibu. - Mulut bayi terbuka lebar. - Dagu bayi menempel pada payudara ibu. - Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk. - Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan. - Puting susu tidak terasa nyeri. - Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus. - Kepala bayi agak menengadah.(PERINASIA,2004) Menurut Prawiroharjo (2000), menjelaskan ada beberapa tanda yang dapat dijadikan ukuran bahwa ASI yang diberikan oleh ibu kepada bayi sudah cukup yaitu sebagai berikut : - Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam dan warna jernih sampai kuning - Bayi setidaknya menyusui 10-12 kali dalam 24 jam - Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali habis menyusui - Berat badan bayi bertambah.
  39. 39. 27 8) Lama Dan Frekuensi Menyusui - Menyusui bayi tidak perlu di jadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan setiap saat bayi membutuhkan - Asi dalam lambung bayi kosong dalam 2 jam - Bayi yang sehat akan menyusu selama 5-7 menit. 10. Hal-hal Yang Perlu Diperlukan selama Menyusui a) Nutrisi Meskipun umumnya keadaan gizi pada ibu hanya akan mempengaruhi kuantitas dan bukan kualitas ASInya, ibu menyusui selayaknya tidak membatasi konsumsi makanannya. Penurunan berat badan sesudah melahirkan sebaiknya tidak melebihi 0.5 kg/minggu.Pada 6 bulan pertama masa menyusui, yaitu saat bayi hanya mendapatkan ASI saja, ibu membutuhkan tambahan kalori sebanyak 700 kkal/hari,pada 6 bulan selanjutnya kira-kira 500kkal/hari. Jumlah cairan yang dibutuhkan ibu menyusui tentu lebih banyak dari biasaya.Oleh karena itu ibu menyusui dianjurkan minum 8-12 gelas per-hari. b) Istirahat Bila laktasi tidak berlangsung baik,biasanya penyebab utamanya adalah kelelahan pada ibu .Oleh karena itu, istirahat dan tidur yang cukup merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. c) Obat-obatan Pemakaian obat-obatan dalam masa menyusui perlu mendapatkan perhatian, apakah mempunyai efek positif atau negatif terhadap laktasi. d) Posisi ibu-bayi yang benar saat ibu menyusui Salah satu hal yang paling penting menentukan apakah bayi dapat mengeluarkan ASI secara efektif dari payudara ibunya,sehingga dapat minum
  40. 40. 28 ASI sampai puas, adalah posisi menyusui serta pelekatan mulut bayi pada payudara ibu. e) Diluar waktu menyusui Jangan membiasakan bayi menggunakan dot atau kempeng. Berikan ASI dengan sendok bila ibu tidak dapat menyusui bayinya. f) Ibu bekerja Selama cuti hendaknya ibu menyusui bayinya terus. Jangan membiasakan bayi menyusui dengan botol, bila masa cuti telah habis, ibu harus kembali bekerja dan tetap memberikan ASI pada bayi. g) Pemberian makanan pendamping ASI Makanan pendamping ASI hendaknya diberikan mulai usia bayi 4-6 bulan.Bila ibu bekerja , sebaiknya makanan pendamping ASI diberikan pada jam kerja, sehingga ASI dapat tetap diberikan bila ibu berada di rumah. h) Penyapihan Menghentikan pemberian ASI harus dilakukan secara bertahap dengan jalan meningkatkan frekuensi pemberian ASI secara bertahap dalam waktu 2-3 bulan. i) Klinik laktasi Pusat pelayanan kesehatan ibu dan anak harus memiliki pelayanan yang dapat meyakinkan setiap ibu dalam masa menyusui bahwa ia selalu dapat berkonsultasi untuk setiap masalah laktasi yang dialaminya. Untuk itu perlu diadakan klinik laktasi atau tenaga terlatih untuk membantunya pada sarana pelayanan kesehatan yang terdekat.
  41. 41. 29 11. Cara penyimpanan ASI ASI yang telah masukkan ke dalam cangkir/gelas tertutup dapat disimpan sebagai berikut : a) Dsimpan pada suhu kamar/ di udara terbuka (26 ’C) akan tahan selama 6-8 jam b) Dsimpan dalam termos berisi es batu (yang dibuat dari air matang) akan tahan selama 24 jam. c) ASI di simpan dalam lemari es tahan sampai 2-3 hari. d) Saat akan memberikan bayi ASI kepala dot di siram dengan air panas C. Hubungan Pengetahuan Ibu Primipara dengan Pelaksanaan Menyusui Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). Perilaku yang disadari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak disadari oleh pengetahuan, sehingga pengetahuan merupakan faktor yang penting untuk melakukan perubahan perilaku kesehatan, dengan sendirinya pengetahuan dapat diukur atau di observasi melalui media apa yang diketahui tentang objek (Harini, 2008). Pengetahuan primipara ibu tentang menyusui sangat mempengaruhi pelaksanaan menyusui itu sendiri. Ibu yang baru merasakan kehadiran bayi akan memiliki pengalaman yang sedikit dibanding ibu yang telah berpengalaman mengurus bayi. Pengetahuan akan mengubah perilaku ibu dalam pelaksanaan tindakan yang tepat bagi bayi dalam hal ini pelaksanaan manajemen laktasi. Ibu yang tahu tentang pentingnya ASI ekslusif akan memberikan sepenuhnya kepada
  42. 42. 30 bayi demi kesehatan bayinya sebaliknya ibu yang memiliki pengetahuan kurang tidak memberikan ASI eksklusif (Harini, 2008). Penelitian yang dilakukan Ibrahim (2002) di provinsi Daerah Istimewah Aceh, ibu yang memiliki pengetahuan yang baik mempunyai kesempatan dua kali untuk memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan kurang. Pengetahuan ibu yang kurang mengenai pemberian ASI akan mempengaruhi sikap dalam pelaksanaan menyususi, sikap tersebut meliputi sikap dalam pemenuhuan asupan gizi bagi produktifitas ASI yang akan dikonsumsi bayi, rutinitas ibu dalam menyusui bayi, teknik menyusui yang benar sampai pelaksanaan menyusui total hingga bayi berumur 6 bulan (pemberian ASI eksklusif). Pada ibu yang memiliki pengetahuan rendah penerapan dalam menyusui tentu akan buruk (Weni, 2009). D. Kerangka Konsep Variabel independent Variabel dependent Pengetahuan Pelaksanaan Menyusui Bagan 2.1. Kerangka Konsep
  43. 43. 31 E. Hipotesis Penelitian Ha : Ada Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Bayi Pada Ibu Primipara di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu Ho : Tidak ada Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Bayi Pada Ibu Primipara di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu.
  44. 44. BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik dalam bentuk rancangan cross sectional, dimana penelitian variabel independen (pengetahuan ibu primipara) dan variabel dependen (pelaksanaan menyusui) dikumpulkan pada waktu yang bersamaan (Notoatmodjo.2005). Pengetahuan diukur dengan menggunakan kuesioner, sedangkan pelaksanaan menyusui di observasi dengan menggunakan lembar observasi. B. Desain Penelitian Bagan 3.1 Desain Penelitian Cross Sectional Menyusui Baik Menyusui tidak baik Menyusui Ibu Primipara Cukup Pengetahuan Menyusui tidak cukup Menyusui Kurang Kurang menyusui 32
  45. 45. 33 C. Variabel Penelitian Menurut Green dalam Notoatmodjo (200), bahwa faktor predisposisi mempengaruhi prilaku kesehatan seseorang yaitu tingkat pendidikan dan pengetahuan. Penelitian disini hanya mengambil faktor pengetahuan. Bagan 3.2. Variabel Penelitian Variabel Independen Pengetahuan Ibu Primipara Pendidikan Sikap dan Presepsi Keterangan : = Diteliti = Tidak Diteliti Variabel Dependen Pelaksanaan Menyusui
  46. 46. 34 D. Definisi Operasional Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel Defenisi Operasional Cara ukur Alat ukur Pengetahuan ibu primipara (Independen) Informasi yang diketahui wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama kalinya mengenai menyusui.Meliputi kemampuan responden untuk menjawab pertanyaan tentang pengertian menyusui, manfaat menyusui,cara atau teknik menyusui yang benar . Kuesioner Lembar Kuesioner Cara / teknik yang tepat dilakukan dalam pemberian ASI . meliputi posisi dan pelekatan ibu dan bayi yaitu : posisi ibu ,respon, ikatan emosional,dan cara menyusui . Observasi (Pengamatan) Pelaksanaan menyusui (Dependen) Hasil ukur 0: Kurang bila jawaban benar ≤55% Skala ukur Ordinal 1: Cukup bila jawaban benar 56-75% 2: Baik bila jawaban benar >75% Lembar ceklist 0: Kurang jika persentase tanda menyusui berjalan baik ≤75% Nominal 1: baik jika persentase tanda menyusui berjalan baik >75% E. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah subjek dengan kareteristik tertentu yang menjadi sumber data dalam penelitian (Notoadmodjo, 2005). Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu primipara di wilayah puskesmas Sawah lebar tahun 2010 berjumlah 228 orang.
  47. 47. 35 2. Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi yang memenuhi kriteria untuk dijadikan objek penelitian. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara accidental sampling, yaitu secara kebetulan berkunjung ke puskesmas dan melakukan kunjungaan rumah sampai jumlah sampel yang telah ditentukan terpenuhi (Arikunto, 2006). Besar sampel yaitu dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: n= N 1  N (d 2 ) Keterangan: N = Populasi =228 d = Derajat kesalahan yang diterima (0,1) n= 228 1  .228(0,12 ) n= 228 1  2,28 n = 69,5 dibulatkan menjadi 70 orang. Dari populasi 228 maka jumlah sampel dibutuhkan 70. F. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu, pada tanggal 26 Mei Sampai dengan 26 Juni Tahun 2012.
  48. 48. 36 G. Teknik Pengumpulan, Pengolahan dan Analisis Data 1. Teknik pengumpulan data Data yang dikumpulkan adalah data primer yaitu variabel independen meliputi pengetahuan ibu primipara dan dengan wawancara ibu menggunakan kuesioner dan pelaksanaan menyusui dengan cheklist secara observasi. 2. Pengolahan data Data diolah melalui beberapa tahapan sebagai berikut, yaitu : Editing (Mengedit) Menilai tiap lembar kuesioner pada waktu penerimaan dari responden untuk memastikan bahwa pertanyaan terjawab sesuai dengan apa yang dialami oleh responden. Koding (Pengkodean) Memberikan kode terhadap jawaban yang diperoleh agar lebih mudah dan sederhana. Entry (Memasukan data) Memasukan data ke computer untuk dianalisis. Prosesing Data yang telah di kelompokkan kemudian diproses untuk menentukan hasil yang diperoleh melalui uji chi square. Cleaning Setelah memasukkan data selesai dan mendapatkan hasil data diperiksa kembali agar dapat memastikan tidak ada kesalahan.
  49. 49. 37 3. Analisis Data Menurut Suharsimi Arikunto, (2002) Analisis univariat, dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dengan rumus : f n  x100 % Keterangan : P : Jumlah presentase yang dicari f : Jumlah jawaban responden n : Jumlah Responden Persentase yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan interpretasikan data sebagai berikut: 0% - 25% = Sebagian kecil responden 26% - 49% = Hampir sebagian dari responden 50% = Setengah/sebagian dari responden 51% - 75% = Lebih dari sebagian responden 76% - 99% = Sebagian besar responden 100% = Seluruh Responden Analisis bivariat, digunakan untuk menerangkan hubungan pengetahuan dengan pelaksanaan menyusui, menggunakan rumus Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95 %, memakai spss pada komputer, dimana Analisis hasilnya adalah sebagai berikut (Arikunto, 2003) : Rumus Chie-Square: x² = ∑ ( O – E )²
  50. 50. 38 E dF = ( b – 1 ) ( k – 1) Keterangan : x² : Chi square O = Jumlah yang diamati E = Frekuensi yang diharapkan a. Ha diterima dan Ho ditolak, jika nilai p < 0.05 maka ada Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu b. Ha ditolak dan Ho diterima, jika nilai p ≥ 0.05 maka tidak ada Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu
  51. 51. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Jalannya Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pelaksanaan menyusui bayi pada ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah lebar Kota Bengkulu. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 26 Mei Sampai dengan 26 Juni Tahun 2012. Jenis data pada penelitian ini adalah data primer dimana data diambil secara langsung pada responden. Cara melakukan pengambilan data, pertama mengetahui semua ibu yang melahirkan anak pertama yang tercatat pada buku regester di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. Setelah alamat dan status primipara didapatkan, lalu peneliti melakukan pengambilan data pada ibu primipara yang berkunjung kepuskesmas serta melakukan kunjungan rumah sampai jumlah sampel 70 ibu primipara tercukupi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui wawancara dan observasi secara langsung. Pengolahan data dilakukan dengan tahapan editing, coding, processing dan cleaning data. Setelah itu diolah melalui analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel-tabel kemudian dianalisis secara univariat dan analisis bivariat. 39
  52. 52. 40 B. Gambaran Lokasi Penelitian Wilayah kerja puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu mempunyai kondisi daerah yang beriklim tropis merupakan daerah dataran rendah dengan luas wilayah ± 2,61 Km² meliputi 3 kelurahan yaitu kelurahan sawah lebar baru, kelurahan sawah lebar dan kelurahan kebun tebeng. Ketinggian dari permukaan laut ± 12 sampai dengan 15 meter. Jarak dengan bibir pantai ± 6-7 km. Adapun batas-batas wilayah kerja puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu sebagai berikut: 1. Sebelah Utara : Kelurahan Suka merindu 2. Sebelah Selatan : Kelurahan Panorama 3. Sebelah Timur : Desa Tanjung Agung 4. Sebelah Barat : Kelurahan Padang Jati C. Hasil Penelitian 1. Analisis Univariat Analisis univariat untuk memperoleh gambaran masing-masing variabel, yang di gambarkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dengan tujuan mengetahui variasi serta proporsi penyebaran. a. Pengetahuan Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan Responden dapat dilihat pada tabel 4.1. berikut ini.
  53. 53. 41 Tabel 4.1. Distribusi Responden Menurut Pengetahuan di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu Bulan April Tahun 2012 No 1 2 3 Pengetahuan Kurang Cukup Baik Jumlah Frekuensi (f) 31 24 15 70 Persentase (%) 44,29 34,29 21,43 100 Dari tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa dari 70 Responden hampir setengah (44,29%) berpengetahuan kurang. b. Pelaksanaan Menyusui Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan Responden dapat dilihat pada tabel 4.4. berikut ini. Tabel 4.4. Distribusi Responden Menurut Pengetahuan di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu Bulan April Tahun 2012 No 1 2 Pelaksanaan Menyusui Kurang Baik Jumlah Frekuensi (f) 45 25 70 Persentase (%) 64,29 35,71 100 Dari tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa dari 70 Responden lebih sebagian (64,29%) pelaksanaan menyusui kurang. 2. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen yaitu manajemen laktasi dengan paritas. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square (X²) dengan
  54. 54. 42 derajat kemaknaan (α) sebesar 5%. Hasil analisis bivariat dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4.5. Hubungan Pengetahuan dengan pelaksanan menyusui pada ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu tahun 2012. Pelaksanaan Menyusui Kurang Baik (f) (%) (f) (%) (f) (%) Kurang 26 83,87 5 16,13 31 100 Cukup 10 41,67 14 58,33 24 100 Baik 9 60,00 6 40 15 100 45 64,29 25 35,71 70 100 Pengetahuan Jumlah Total X² ρ 10,647 0,005 Dari analisis bivariat pada tabel 4.5 di atas dapat diketahui bahwa dari 45 ibu primipara berpengetahuan kurang, sebagian besar (83,87%) kurang dalam pelaksanaan menyusui. Dari 24 ibu primipara berpengetahuan cukup, lebih setengah (58,33%) baik dalam pelaksanaan menyusui. 15 ibu primipara berpenegtahuan baik (60,00%) kurang dalam pelaksanaan menyusui. Hasil uji Chi-square (х²) didapat х² hitung = 10,647 dan nilai ρ = 0.005 dengan nilai α = 0,05, maka dapat disimpulkan ρ < α. Ini menujukan secara statistic terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan pelaksa- naan menyusui bayi pada ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu.
  55. 55. 43 D. Pembahasan Hasil penelitian dari analisis univariat menunjukan bahwa hampir setengah (44,29%) ibu bayi primipara berpengetahuan kurang dan lebih sebagian (64,29%) ibu bayi primipara kurang dalam pelaksanaan menyusui. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan ibu hamil tentang Pelaksanaan menyusui . Ibu primipara kurang memahami cara melepaskan isapan bayi, member rangsangan pada bayi untuk menyusui dan tidak dapaat menyebutkan manfaaat ASI secara lengkap. Saat menyususi bayi tidak dipeluk dekat ibu, bibir bawah dagu bayi berhadapan dengan putting dan ibu mmelepaskan isapan bayi dari payudara saat bayi belum selesai. Hasil Rekesdas (2010) menunjukan bahwa semakin tinggi pengetahuan ibu maka semakin manajemen laktasi. Menurut teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo, (2003) bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, dan pengetahuan yang dimiliki oleh sesorang berkembang dengan tingkatan yang berbeda. Pengetahuan yang dimiliki oleh ibu bayi primipara pada tahap awal hanya sebatas tahu yaitu mengingat tentang menyususi bayi. Kemudian berkembang menjadi kemampuan memahami maksud pemberian ASI pada bayi, sehingga ibu bayi primipara mampu menerapkan pengetahuan menyususi bayi yang sudah dipelajarinya ke dalam kondisi dirinya.
  56. 56. 44 Kondisi tersbut diatas sesuai dengan laporan tahun 2010 dinkes Kota Bengkulu, bahwa di wilayah puskemas Sawah Lebar merupakan cakupan terendah dalam pemebrian ASI eksklusif di Kota Bengkulu (Dinkes Kota Bengkulu, 2011). Dari analisis bivariat uji Chi- square didapat kan nilai p = 0.005 < α=0.05. berarti dengan demikian menunjukan Ada Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Bayi Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu. Pada tahap berikutnya dia akan menganalisis bahwa pemberian ASI pada bayi merupakan tindakan tepat yang harus dilakukannya. Setelah menggabungkan berbagai pemahamannya tentang menyususi bayi secara utuh dan baik (tujuan, manfaat bagi bayi, manfat bagi ibu dan cara atau teknik menyusui dengan benar) maka ibu primipara akhirnya akan mengerti bahwa mendapatkan perlindungan menyususi bayi menjadi hal yang sangat penting untuk dirinya. Ibu bayi primipara yang pelaksanaan menyusui dengan baik tentu berdasarkan pengetahuannya baik tentang menyusui Untuk tingkat pengetahuan ibu bayi primipara kurang yang tidak melakukan menyususi bayi perlu ditingkatkan penyuluhan yang terus menerus baik melalui kelompok, individu maupun melalui kader posyandu sehingga ibu mengerti tentang perlunya pelaksanaan menyusui dengan baik dan benar. Penelitian ini sejalan dengan hasil Rekesdas (2010), bahwa cakupan pemberian ASI pada ibu primipara lebih rendah dari ibu multipara dan granmipara. Hal ini disebabkan ibu primipara belum memiliki pengalaman dan
  57. 57. 45 pengetahuan yang baik tentang pemberian ASI pada bayi. Untuk itu maka upaya edukasi gizi untuk meningkatkan kesadaran gizi bagi keluarga harus dimulai dari usia remaja, diharapkan akan membantu mempersiapkan remaja untuk memasuki jenjang perkawinan dan siap menjadi calon bapak dan calon ibu bagi bayi sehingga pada saat memiliki bayi sorang istri memiliki mampu menerapkan pelaksanaan menyusui dengan baik (Depkes RI, 2011). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Irwan Sadi (2009), Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan pelaksanaan menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Pati Semarang
  58. 58. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian hubungan Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Bayi Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah lebar Kota Bengkulu tahun 2012: 1. Hampir sebagian (44,29%) ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah lebar Kota Bengkulu tahun 2012 berpengetahuan kurang 2. Lebih dari sebagian (64,29%) ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah lebar Kota Bengkulu dengan pelaksanaan menyusui kurang. 3. Ada hubungan pengetahuan ibu dengan pelaksanaan menyusui bayi pada ibu primipara di Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu (ρ= 0,005). B. Saran 1. Bagi peneliti Dihrapkan penelitian ini menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam mengkaji permasalahan tentang hubungan pengetahuan ibu dengan pelaksanaan menyusui bayi pada ibu primipara. 39
  59. 59. 40 2. Untuk Puskesmas Kepada puskesmas Sawah lebar Kota bengkulu diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan ibu menyusui melalui penyuluhan sehingga ibuibu menusui dengan baik dan benar. 3. Untuk Institusi Pendidikan Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu dalam menambah bahan bacaan di perpustakaan dan dapat digunakan dalam kegiatan belajar. 4. Untuk Peneliti Lain Hendaknya melakukan penelitian dengan variabel lain yang diduga berhubungan dengan Pelaksanaan menyusui seperti pendidikan, status ekonomi dan pekerjaan
  60. 60. DAFTAR PUSTAKA Arini. 2008. Pengetahuan Ibu dalam Merawat Bayi. Erlangga. Jakarta Atika. 2002. Bayi dan Kebutuhannya. Trisakti. Jakarta Arikunto, 2006. Metodelogi Penelitian. Renika Cipta. Jakarta Biordan. 2002. Manfaat Pemberian ASI bagi Bayi. USU. Medan Danuatmaja, dkk, 2008. ASI Eksklusif. http://www.breastfeeding.com Diakses tanggal 24 Januari 2012 Depkes RI, 2007, Kebijakan Departemen Kesehatan Tentang Peningkatan Pemberian ASI Pekerja Wanita. Jakarta: Pusat Kesehatan Kerja Depkes RI,. Jakarta ............... 2009. Pemberian ASI pada bayi. Depkes RI. Jakarta Dinkes Kota Bengkulu, 2010. Profil Kesehatan Dinkes Kota Bengkulu Tahun 2010. Bengkulu: Dinkes Provinsi Bengkulu Harini, 2008. Buku Saku: Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: EGC. Ibrahim, 2002. Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Luksumawe. Skripsi. USU. Medan KBI,2009, Perubahan perilaku menyusui pada masyarakat perkotaan. Diakses dari http://ASI-Blog.KBI Pada tanggal 26 April 2012 Mansjoer Arif,2002. ASI Eksklusif. http://www.breastfeeding.com Diakses tanggal 24 Januari 2012 Mochtar. 2008. Pemberian ASI pada Ibu primipara. TSKB. Jakarta Nursalam, 2001. Pengetahuan dan Sikap Merawat Bayi. CV. Sagung Seto. Jakarta. Notoatmodjo, S. 2003. Metodelogi Penelitian. Penerbit Erlangga. Jakarta ……………….., Metodelogi Penelitian Kesehaatan. Penerbit Erlangga. Jakarta 41
  61. 61. 42 Prastya. 2005. Bayi dan Kebutuhan ASI. UNAND. Sumatera Selatan POKDI ASI ST.CAROLUS DAN PPKC, 2007, Permasalahan pemberian ASI di akses dari http:// st.carolus.ASI-bidan/hmtl. Pada tanggal 24 Januari 2012. Puspitasari, 2008. Management Laktasi. Penerbit Erlangga. Jakarta. Roesli. 2008. Management Memberikan ASI. Adi Karya. Jakarta Ramaiah 2007, Hubungan Dukungan Bidan Dengan Pelaksanaan Pemberian Asi Eksklusif Di UPTD Puskesmas Cingambul Kabupaten Majalengka. Yogyakarta: FK UGM. Rahmat. 2008. Gangguan tidur pada remaja. TS. Jakarta Saddok. 2001. Menwujudkan Bayi tumbuh Sehat dan Sempurna. TSKJ. Jakarta Selasi,2008. Kapita Selekta ASI dan Menyusui. Jakarta: Nuha Medeka. Supriyadi, 2002, Praktek Menyusui yang Benar. http://www.geocities.com. Diakses tanggal 28 Maret 2012 Soetjiningsih, 2007, Pentingnya ASI Bagi Ibu Menyusui. http://www.ayahbunda.co.id Diakses tanggal 21 April 2012 SDKI 2008– 2009, Hasil survey Kesehatan Dasar. Depkes RI. Jakarta Weni. 2008. Perawatan Bayi dan Balita. Jakarta WHO 2009, Intervensi Untuk Pemberian ASI. http://translate.google.co.id. Diakses tanggal 5 Februari 2012
  62. 62. 43
  63. 63. Lampiran 1 - RENCANA JADWAL PENELITIAN N o Novmber Kegiatan I I I PENDAHULUAN Mengidentifikasi masalah Pengambilan judul Pembuatan Proposal Konsul Pembimbing Perbaikan Proposal Ujian Proposal Perbaikan Proposal PELAKSANAAN Penelitian Pengolahan data I I I Mei Desember 1 2 3 4 PENYUSUNAN Laporan Konsul pembimbing Perbaikan dan penyelesaian Ujian KTI Perbaikan KTI Penggandaan KTI Januari 1 2 3 Februari 4 1 Maret April 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Juni Juli Agustus 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
  64. 64. Lampiran :2 Bengkulu, Mei 2012 Kepada Yth ………………… diWilayah Puskesmas Sawah lebar Kota Bengkulu Saya Yang bertanda tangan dibawah ini: 1. Nama 2. NIM : Andeska Mama : 0924260002 DB 3. Institusi Pendidikan : Akademi Kebidanan Dehasen Bengkulu Mengajukan permohonan pada ibu untuk menjadi responden dalam penelitian yang saya teliti dengan judul “Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Bayi Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah lebar Kota Bengkulu tahun 2012”, di tempat Ibu. Untuk kepentingan pengumpulan data penelitian ini, kami mengharapkan partisipasi Ibu dalam menjawab pertanyaan di bawah ini dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan pengetahuan, pendapat dan pengalaman yang dimiliki. Indentitas dan jawaban ibu akan dijamin kerahasiaannya. Terima kasih sebesar-besarnya atas kesediaan Ibu berpartisipasi dalam penelitian ini. Pemohon Andeska Mama
  65. 65. Lampiran: 3 SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan telah mendapatkan penjelasan dan bersedia untuk turut berpartisipasi sebagai responden dengan memberikan informasi yang jujur dan sebenar-benarnya serta tanpa paksaan dalam peenelitian dengan judul “Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Bayi Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah lebar Kota Bengkulu tahun 2012” Nama :………………………………………….. Umur :…………………………………………. Alamat :…………………………………………. Saya mengetahui bahwa keterangan yang saya berikan akan bermanfaat bagi penelitian ini. Sawah Lebar Kota Bengkulu, …..,……,2012 Responden (…………………)
  66. 66. Lampiran.4 KUESIONER PENELITIAN Saat ini kami dari Mahasiswa Akademi Kebidan Dehasen Bengkulu, sedang melakukan penelitian mengenai Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Menyusui Bayi Pada Ibu Primipara di wilayah kerja Puskesmas Sawah lebar Kota Bengkulu tahun 2012 di tempat Ibu. Untuk kepentingan pengumpulan data penelitian ini, kami mengharapkan partisipasi Ibu dalam menjawab pertanyaan di bawah ini dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan pengetahuan, pendapat dan pengalaman yang dimiliki. Terima kasih sebesar-besarnya atas kesediaan Ibu berpartisipasi dalam penelitian ini. No. Kuesioner :................................... Hari dan tanggal pengambilan data :.................................... A. DATA RESPONDEN 1. Nama :…………………………….. 2. Alamat :……………………………. 3. Umur :…………………………….. 4. Pendidikan :…………………………….. B. PENGETAHUAN 1. Apa pengertian menyusui? a. Memberikan air susu ibu pada bayi yang berasal dari payudara b. Memberikan susu formula c. Memberikan susu dengan dot 2. Apa pengertian ASI Eklusif? a. Memberikan ASI saja pada bayi selama 6 bulan b. Bayi tidak diberikan makanan atau minuman lain selama 6 bulan. c. A dan B benar
  67. 67. 3. Apa itu air susu ibu (ASI)? a. Makanan terbaik dan sempurna untuk bayi b. Mengandung zat gizi sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi c. A dan B benar 4. Apa manfaat pemberian ASI bagi bayi? a. Asi memiliki kandungan zat gizi yang sangat lengkap untuk memenuhi pertumbuhan dan perkembangan(kecerdasan) bayi sampai usia 6 bulan b. Meningkatkan jalinan kasih sayang antara bayi dan ibu c. A dan B benar 5. Apa manfaat memberikan ASI bagi ibu? a. Mengurangi perdarahan setelah melabirkan b. Mengurangi kemungkinan menderita kanker payudara c. A dan B benar 6. Bagaimana cara melihat pengamatan teknik menyusui yang benar? a. Bayi tampak tenang b. Badan bayi menempel pada perut bayi c. A dan B benar 7. Bagaimana cara memberikan rangsangan pada bayi untuk menyusui dengan benar…? a. Menyetuh pipi atau mulut bayi dengan putting susu b. Memasuk-masukan puting susu ke dalam mulut bayi secara paksa c. A dan B benar 8. Bagaimana cara menyusui yang baik dan benar? a. Sebaiknya sebelum menyusui, ibu mencuci tangan terlebih dahulu b. Ibu dan bayi harus berada dalam keadaan santai, tenang, dan nyaman c. A dan B benar 9. Bagaimana cara melepaskan isapan bayi saat menyusui? a. Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut atau dagu bayi ditekan kebawah b. Langsung melepaskan isapan bayi saat menyusui c. A dan B benar 10. Hal- hal apa sajakah yang harus di perhatikan selama menyusui? a. Nutrisi b. Istirahat c. A dan B benar
  68. 68. C. PELAKSANAAN MENYUSUI LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN PELAKSANAAN MENYUSUI Nama Ibu :____________________________ :_______________ Nama Bayi :____________________________ :_______________ Tanda menyusui berjalan baik : tan : UMUM IBU Ibu tampak Sehat Ibu tampak rileks dan nyaman nyaman Terlihat tanda bonding ibu – bayi bayi UMUM BAYI Bayi tampak sehat sakit Bayi tampak tenang dan rileks nangis Bayi mencari payudara (rooting) bila lapar (rooting) PAYUDARA Payudara tampak sehat kak Puting keluar dan lentur Terasa nyaman, tak nyeri Payudara ditopang dengan baik oleh jari2 di Yang jatuh dari Puting POSISI BAYI Kepala dan badan bayi dalam garis lurus Bayi dipeluk dekat dengan bayi ibu Seluruh badan bayi ditopang topang Bayi mendekat ke payudara, bir Tanggal Umur Bayi Tanda mungkin ditemukan kesuli- Ibu tampak sakit atau depresi Ibu tampak tegang dan tidak Tidak ada kontak mata ibu – Bayi tampak mengantuk atau Bayi tampak gelisah atau meBayi tidak mencari payudara Payudara tampak merah, bengPuting datar/terbenam Payudara atau puting nyeri Payudara ditopang dengan jari2 areola Leher dan kepala bayi terputar bayi tidak dipeluk dekat dengan Hanya leher dan kepala bayi diBayi mendekat ke payudara, bi-
  69. 69. hidung berhadapan dengan puting ing PELEKATAN BAYI Tampak lebih banyak areola diatas bibir bibir Mulut bayi terbuka lebar Bibir bawah terputar keluar Dagu bayi menempel pada payudara payudara MENGHISAP Hisapan lambat, dalam dengan istirahat Pipi membulat waktu menghisap menghisap Bayi melepaskan payudara waktu selesai ra Ibu merasakan tanda2 refleks oksitosin yang jelas Catatan : bawah/dagu berhadapan dg put- Lebih banyak areola dibawah Mulut bayi tak terbuka lebar Bibir bawah terputar kedalam Dagu bayi tidak menempel Hisapan dangkal dan cepat Pipi tertarik kedalam waktu Ibu melepaskan bayi dari payudaTidak tampak tanda oksitosin
  70. 70. Responden R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 R21 R22 R23 R24 R25 R26 R27 R28 R29 R30 R31 R32 R33 R34 R35 R36 P1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 P1 P3 P4 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 Pengetahuan Total Persentase Kategori Hasil p5 p6 p7 p8 p9 p10 Ukur 5 0 0 1 0 0 1 50 Kurang 0 8 1 1 1 1 0 1 80 Baik 2 5 1 0 0 1 1 0 50 Kurang 0 6 0 1 0 1 1 0 60 Cukup 1 4 0 1 1 0 0 0 40 Kurang 0 6 1 1 1 1 0 0 60 Cukup 1 5 1 0 1 0 1 1 50 Kurang 0 6 1 1 1 0 0 0 60 Cukup 1 6 1 0 1 0 1 0 60 Cukup 1 8 1 1 1 1 1 1 80 Baik 2 5 1 1 0 0 1 0 50 Kurang 0 7 1 1 0 1 0 1 70 Cukup 1 5 1 0 0 0 1 0 50 Kurang 0 8 0 1 1 1 1 1 80 Baik 2 5 1 0 1 0 1 1 50 Kurang 0 5 1 1 0 0 0 0 50 Kurang 0 7 1 0 1 0 1 1 70 Cukup 1 8 1 0 1 1 1 0 80 Baik 2 5 1 0 0 1 0 0 50 Kurang 0 7 1 0 0 1 1 1 70 Cukup 1 7 1 1 0 0 1 1 70 Cukup 1 8 1 0 1 1 1 1 80 Baik 2 6 1 1 0 1 0 1 60 Kurang 0 6 1 1 0 0 1 0 60 Cukup 1 9 1 1 1 1 0 1 90 Baik 2 5 0 1 0 0 0 0 50 Kurang 0 5 1 1 1 0 0 1 50 Kurang 0 9 1 1 1 1 1 1 90 Baik 2 5 0 0 1 1 0 0 50 Kurang 0 8 0 1 1 1 1 1 80 Baik 2 4 1 1 0 0 0 0 40 Kurang 0 5 1 0 1 0 0 1 50 Kurang 0 8 1 0 1 1 0 1 80 Baik 2 8 0 1 1 0 1 1 80 Baik 2 7 1 1 0 1 0 1 70 Cukup 1 5 0 1 1 0 0 0 50 Kurang 0
  71. 71. R37 R38 R39 R40 R41 R42 R43 R44 R45 R46 R47 R48 R49 R50 R51 R52 R53 R54 R55 R56 R57 R58 R59 R60 R61 R62 R63 R64 R65 R66 R67 R68 R69 R70 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 7 8 7 5 8 8 7 5 6 7 5 5 8 5 7 5 6 5 8 6 5 5 5 7 5 7 5 7 5 7 5 7 5 6 70 80 70 50 80 80 70 50 60 70 50 50 80 50 70 50 60 50 80 60 50 50 50 70 50 70 50 70 50 70 50 70 50 60 Cukup Baik Cukup Kurang Baik Baik Cukup Kurang Cukup Cukup Kurang Kurang Baik Kurang Cukup Kurang Cukup Kurang Baik Cukup Kurang Kurang Kurang Cukup Kurang Cukup Kurang Cukup Kurang Cukup Kurang Cukup Kurang Cukup 1 2 1 0 2 2 1 0 1 1 0 0 2 0 1 0 1 0 2 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1
  72. 72. Re sp on de n R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R1 0 R1 1 R1 2 R1 3 R1 4 R1 5 R1 6 R1 7 R1 8 R1 9 R2 0 R2 1 R2 2 R2 3 Pelakasanaan Menyusui Umum Ibu Umum Bayi P 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 P 4 1 1 1 1 1 1 0 1 1 P 2 0 1 1 0 0 1 1 1 1 p 3 1 1 0 1 0 0 0 1 0 P 5 0 1 0 1 0 1 1 1 1 P 6 1 1 0 1 1 1 0 1 0 Payudara P P P P 1 7 8 9 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 Posisi Bayi P 1 P1 1 2 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 Pelekatan Bayi Menghisap P1 3 1 1 1 0 1 1 0 1 0 P1 4 0 1 0 1 1 1 1 0 1 P1 5 1 1 1 1 0 1 0 1 1 P1 6 1 1 1 1 1 1 1 1 0 P1 7 0 0 0 0 1 1 1 0 1 P1 8 1 1 1 1 1 1 0 1 1 P1 9 1 0 1 1 0 1 1 0 1 P2 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 P 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 P 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0
  73. 73. R2 4 R2 5 R2 6 R2 7 R2 8 R2 9 R3 0 R3 1 R3 2 R3 3 R3 4 R3 5 R3 6 R3 7 R3 8 R3 9 R4 0 R4 1 R4 2 R4 3 R4 4 R4 5 R4 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1
  74. 74. 6 R4 7 R4 8 R4 9 R5 0 R5 1 R5 2 R5 3 R5 4 R5 5 R5 6 R5 7 R5 8 R5 9 R6 0 R6 1 R6 2 R6 3 R6 4 R6 5 R6 6 R6 7 R6 8 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1
  75. 75. R6 9 R7 0 Ke t 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 Tanda Berjalan : 1 baik Tanda ditemui ke0 sulitan 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1
  76. 76. Responden Pengetahuan R1 0 R2 2 R3 0 R4 1 R5 0 R6 1 R7 0 R8 1 R9 1 R10 2 R11 0 R12 1 R13 0 R14 2 R15 0 R16 0 R17 1 R18 2 R19 0 R20 1 R21 1 R22 2 R23 0 R24 1 R25 2 R26 0 R27 0 R28 2 R29 0 R30 2 R31 0 R32 0 R33 2 R34 2 R35 1 R36 0 R37 1 Pelaksanaan menyusui 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1
  77. 77. R38 R39 R40 R41 R42 R43 R44 R45 R46 R47 R48 R49 R50 R51 R52 R53 R54 R55 R56 R57 R58 R59 R60 R61 R62 R63 R64 R65 R66 R67 R68 R69 R70 2 1 0 2 2 1 0 1 1 0 0 2 0 1 0 1 0 2 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0
  78. 78. Frequencies Notes Output Created Comments Input 03-Jun-2012 10:55:09 Active Dataset Filter Weight Split File N of Rows in Working Data File Definition of Missing Missing Value Handling Cases Used Syntax Resources DataSet0 <none> <none> <none> 70 User-defined missing values are treated as missing. Statistics are based on all cases with valid data. FREQUENCIES VARIABLES=Pengetahuan Pelaksanaan /ORDER=ANALYSIS. Processor Time Elapsed Time 00:00:00.031 00:00:00.016 Statistics Pengetahuan N Valid Pelaksanaan 70 0 Missing 70 0 Frequency Table Pengetahuan Valid Kurang Cukup Baik Total Frequency 31 24 15 Percent 44.3 34.3 21.4 Valid Percent 44.3 34.3 21.4 70 100.0 100.0 Cumulative Percent 44.3 78.6 100.0
  79. 79. Pelaksanaan Valid Kurang Baik Total Frequency 45 25 Percent 64.3 35.7 Valid Percent 64.3 35.7 70 100.0 Cumulative Percent 64.3 100.0 100.0 Crosstabs Notes Output Created Comments Input Missing Value Handling 03-Jun-2012 10:55:24 Active Dataset Filter Weight Split File N of Rows in Working Data File Definition of Missing Cases Used Syntax Resources DataSet0 <none> <none> <none> 70 User-defined missing values are treated as missing. Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. CROSSTABS /TABLES=Pengetahuan BY Pelaksanaan /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ /CELLS=COUNT ROW TOTAL /COUNT ROUND CELL. Processor Time Elapsed Time Dimensions Requested Cells Available 00:00:00.031 00:00:00.015 2 174762 Case Processing Summary Cases Valid N Pengetahuan * Pelaksanaan Missing Percent 70 100.0% N Total Percent 0 .0% N Percent 70 100.0%
  80. 80. Pengetahuan Total Pengetahuan * Pelaksanaan Crosstabulation Pelaksanaan Kurang Baik Kurang Count 26 5 % within Pengetahuan 83.9% 16.1% % of Total 37.1% 7.1% Cukup Count 10 14 % within Pengetahuan 41.7% 58.3% % of Total 14.3% 20.0% Baik Count 9 6 % within Pengetahuan 60.0% 40.0% % of Total 12.9% 8.6% Count 45 25 % within Pengetahuan 64.3% 35.7% % of Total 64.3% 35.7% Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value a 10.647 11.062 4.571 70 df 2 2 1 Asymp. Sig. (2sided) .005 .004 .033 a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.36. Total 31 100.0% 44.3% 24 100.0% 34.3% 15 100.0% 21.4% 70 100.0% 100.0%
  81. 81. BIOGRAFI Nama : ANDESKA MAMA Tempat : Karya mulya, 8 january 1991 Agama : Islam Hoby : membaca buku, AL-QUR’AN Alamat : Lubuk Linggau Riwayat Pendidikan : SD Neger sp 11 karya mulya Tamat tahun 2002 SMP Negeri SP 1 Rejosari Tamat tahun 2006 SMA Negeri 2 lubuk linggau Tamat tahun 2009 Akademi Kebidanan Dehasen Bengkulu Tamat tahun 2012

×