• Like
Hubungan agama dengan profesi kedokteran hewan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

Hubungan agama dengan profesi kedokteran hewan

  • 550 views
Published

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
550
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
13
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. HUBUNGAN AGAMA DENGAN PROFESI KEDOKTERAN HEWAN Agama kontekstual yaitu mengaitkan sutau ajaran agama dengan ilmu yang dimiliki,yang diterapkan dengan kehidupan sehari-hari. Hubungan dengan profesi veteriner ialahtindakan medis tidak bertentangan dengan agama yang diyakini dan agama sebagai pedomansetiap tindakan veteriner. Tiap agama mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat baik, baik itu kepada sesamamanusia atau kepada makhluk Tuhan lainnya (hewan) :1. Tidak berbuat aniaya.2. Menghindarkan dari kurang makan dan beban berlebihan.3. Terhindar dari kelaparan.4. Prinsip kebebasan hidup.5. Menyelamatkan dari ancaman kematian.6. Bebas dari penderitaan.7. Azas bebas dari beban berat yang tidak sesuai kapasitas. Peran dokter hewan dalam melakukan tugasnya, tentu juga tidak boleh melencengdari hukum agama terutama agama yang dianutnya.Hukum agama yang bersangkutantentunya sudah terkandung dalam etika profesi dan peraturan terkait lainnya. Dalam ajaranagama terdapat ajaran mengenai perlakuan terhadap makhluk ciptaan Tuhan lainnya (hewan),otomatis dokter hewan yang akan selalu berinteraksi dengan hewan harus mengamalkanajaran tersebut, seperti memperlakukan hewan sesuai yang terkandung dalam five freedomanimal welfare karena prinsip kesejahteraan hewan tersebut tidal lain merupakan ekstraksiajaran agama secara umum. Hal-hal yang harus dipertanggungjawabkan tersebut dalambeberapa hadist.1. Alloh menurunkan penyakit dan Dia juga menurunkan obatnya (HR Malik)2. Barangsiapa yang mengobati namun tidak menguasai ilmu pengobatan maka ia harus bertanggungjawab (HR: Abu Dawud)3. Setiap penyakit ada obatnya, dan jika suatu obat mengena tepat pada penyakitnya, ia akan sembuh dengan izin Alloh Ta‟ala (Shohih Al-Jami‟ Ash-shighir)4. Jangan mencampur antara hewan yang sakit dengan yang sehat (HR:Bukhori dan Muslim)5. Jika kamu mendengar ia sedang mewabah di suatu daerah maka janganlah kamu masuk ke sana, dan jika ia mewabah di daerah, sementara kamu ada di dalamnya maka janganlah kamu keluar menghindarinya (HR: Bukhori dan Muslim) 1
  • 2. 6. Lalu Kami wahyukan kepadanya: buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan dapur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari setiap jenis, dan juga keluargamu, kecuali orang yang telah berlaku ketetapan (akan ditimpakan adzab) di atara mereka (QS Al-Mukminun : 27) (Widiyono , 2012)Konsep Dokter Muslim Konsep tentang dokter muslim ini terkait dengan etika kedokteran, menurut DrAhamd Alkandi, salah seorang pendiri Himpunan Kedokteran Islam merika Serikat danKanada, bahwa etika dianggap sebagai persyaratan penting untuk menjadi dokter. Ilmukeodkteran yang berkembang sedemikian pesat dan universal oleh kaum muslim perlu adaseleksi dan dipilih mana yang sesuai dengan norma dan kaidah islam. Dengan semangatgerakan islamisasi maka seluruh kehidupan muslim dijadikan sebagi pengalaman agama,untuk itu maka dicarilah pijakan-pijakan islami, juga dalam praktek pengobatan, atau lebihspesifik dokter (Zuhroni, 2003). Rumusan tentang dokter muslim, menurut Ja‟far Khadim Yamani, ilmu kedokterandapat dikatakan islami, jika memenuhi sembilan syarat dan karakteristik,yaitu: Pertama, dokter harus mengobati pasien dengan ihsan dan tidak melakukan hal-halyang bertentangan dengan al-Quran. Kedua, tidak menggunakan bahan haram atau dicampurdengan unsur haram. Ketiga, dalam pengobatan tidak boleh berakibat mencacatkan tubuhpasien, kecuali sudah tidak ada alternatif lain. Keempat, pengobatannya tidakberbau takhayyul, khurafat, bid’ah. Kelima, hanaya dilakukan oleh tenaga medis yangmenguasai di bidang medis. Keenam, dokter memiliki sifat-sifat terpuji, tidak memiliki rasairi, riya, takabur, senang merendahkan oranglain, serta sikap hina lainnya. Ketujuh, harusberpenampilan rapih dan bersih.Kedelapan, lembaga-lembaga pelayan kesehatan mestibersifat simpatik. Kesembilan, menjauhkan dan menjaga diri dari pengaruh atau lambang-lambang non-islamis (Zuhroni, 2003). Dalam kode etik kedokteran islam (Islamic code of Medical Ethics), yang merupakanhasil dari First International Conference on Islamic Medicine yang diselenggarakan 6-10Rabi‟ al-Awwal 1401 H. di Kuwait dan selanjutnya disepakati sebagai kode etik kedokteranislam, dirumuskan bebebrapa karakteristik yang semestinya dimiliki oleh dokter muslim. Isikode etik kedokteran islam tersebut terdiri atas 12 pasal. Rinciannya, Pertama, definisiprofesi kedokteran. Kedua, ciri-ciri para dokter. Ketiga, hubungan dokter dengan 2
  • 3. dokter. Keempat, hubungan dokterd dengan pasien. Kelima, rahasia profesi. Keenam, peranandokter dimasa perang. Ketujuh, tanggungjwab dan pertanggungjawaban. Kedelapan, kesucianjiwa manusia. Kesembilan, dokter dan masyarakat. Kesepuluh, dokter dan kemajuan biomedismodern. Kesebelas, pendidikan kedokteran. Keduabelas, sumpah dokter (Zuhroni, 2003). Semua butir diatas disebutkan seorang dokter muslim disamping sebagai orang yangbertakwa juga harus berakhlak mulia, seperti harus bijaksana, ramah, baik hati, pemaaf,pelindung, sabar, dapat dipercaya, bersikap baik tanpa membedakan tingkat sosial pasien,bersikap tenang, dan menghormati pasien. Secara teologis, dokter muslim harus menyadaribahwa soal kematian berada sepenuhnya ditangan Allah swt dan fungsi dokter hanya sebagaipenyelamaat kehidupan, berfungsi mempertahankan dan memlihara sebaik dan semampumungkin.disamping itu, dokter muslim harus dapat menjadi suri tauladan yang baik jugaharus profesional, dengan tetap pada prinsip ilmiah dan jujur. Lebih dari itu semua, doktermuslim juga diharuskan memilikki pengetahuan tantang undang-undang, cara-cara beribadahdan pokok-pokok fiqih sehingga dapat memnuntun pasien untuk melaksanakan kewajibanagamanya. Ditekankan pula seorang dokter harus berusaha menjauhkan diri dari praktek-praktek yang bertentangan dengan ajaran islam. Hal lain yang disarankan, dokter muslimharus rendah hati, tidak sombong serta bersikap tercela lainnya. Dalam bidang pengetahuandokter muslim diharuskan tetap menggali dan mencari penegtahuan agar tidak ketinggalandalam kemajuan ilmiah, dan upaya itu harus diaykini sebagai bentuk ibadah (Zuhroni, 2003). Abu al-Fadl merinci karakteristik dokter islam atas tiga hal. Pertama, percaya akanadnya kematian yang tidak terelakkan seperti banyak ditegaskan dalam nash. Ibnu Sinamengatakan, pengetahuan tentang pemeliharaan kesehatan itu tidak bisa membantu untukmenghindari kematian maupun membebaskan diri dari penderitaan lahir. Dengan pemahamandemikian, tidak berarti dokter muslim menentang teknologi biomedis bila berarti upayamempertahankan kehidupan dengan memberikan pasien pernapasan atau alat lain sejenis.Sebab, upaya menyelamatkan hidup adalah tugas mulia, siapa yang menyelamatkan hidupseorang manusia seolah ia menyelamatkan seluruh manusia (QS. 5:32). Kedua, menghormatipasien, diantaranya, berbicara dengan baik kepada pasien tidak membocorkan rahasia danperasaan pasien, tidak melakukan pelecehan seksual, itulah sebabnya pasien didampingipihak ketiga. Ketiga, pasrah kepada Allah swt sebagai Dzat Penyembuh. Berartimembebaskan dokter dari segala upaya diagnosis dan pengobatan. Dengan demikian, akanmenghindarkan perasaan bersalah jika segala upaya yang dilakukan mendapati kegagalan(Zuhroni, 2003). 3
  • 4. Etika/adab yang harus dimiliki dokter muslim Dokter muslim menurut Dr Zuhair Ahmad al-Sibai dan Dr Muhammad „Ali al-Bardalm karyanya al-Thabib, Adabun wa Fiqhuh, harus memiliki etika dan adab antara lain,bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, lebihmendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan metode ilmiah dalam berfikir, kasihsayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja dan mawas diri (Zuhroni, 2003).Hewan dalam Islam Binatang yang ada di muka Bumi (termasuk hewan temak) adalah makhluk ciptaanTuhan (Allah). Perhatian Tuhan terhadap hewan sebagai makhluknya tidak berbeda jauhdengan perhatian terhadap manusia. Hewan merupakan umat seperti halnya manusia. Didalam QS A1 Anam: 38 dijelaskan seperti berikut: "Dari tiadalah binatang-binatang yangada di bumi dan binaatang-binatang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umatjuga) seperti kamu,” Oleh karenanya manusia juga harus menghormati keberadaan hewandan hidup berdampingan (Winarso, 2008). Kemudian Allah menegaskan bahwa semua makhluk Allah beribadah kepada-Nyadan memuji-Nya meskipun dengan bahasa yang manusia tidak memahaminya: "Langit yangtujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak adasesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengertitasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QSBani Israail: 43). Allah mengatur rizki dan ketentuan atas hewan seperti halnya atas manusia.Hal ini dapat kita ketahui dalam QS Huud ayat 6 berikut: "Dan tidak ada suatu binatangmelata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahuitempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitabyang nyata (Lawh Mahfudz).” (Winarso, 2008). Islam membenarkan hak penggunaan hewan oleh manusia. Hewan-hewan di duniatelah diciptakan Allah swt. untuk dimanfaatkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.Namun, dalam memanfaatkan alam, manusia liarus menjaganya dari kerusakan yangmungkin timbul, sebab Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Manusiadapat mengambil manfaat yang banyak dari hewan ternak. Didalam ayat Al Quran, dijelaskanbahwa hewan diciptakan dengan berjenis-jenis manfaat untuk kesejahteraaan manusia. Diantaranya disebutkan bahwa hewan bermanfaat sebagai transportasi dan sumber pangan(Winarso, 2008). 4
  • 5. Tinjauan konsep five freedoom dari ajaran Islama. Bebas dari rasa lapar dan haus Hewan dialam liar mendapatkan makanan sendiri. Sejak hewan didomenstikasi maka terjadi perubahan perilaku hewan yang menjadi dibawah kendali manusia. Manusia wajib memberikan nafkah kepada hewan berupa makan dan minum yang dapat menopang hidupnya. Karena manusia telah memutuskan dirinya sebagai perantara rizki untuk ternak. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang melintasi sebuah jalan. Tiba-tiba ia merasa sangat haus, lalu menemukan sebuah sumur. Ia menuruninya untuk (mengambil air) minum. Selesai minum, ia keluar. Tatkala ia telah keluar, ia menjumpai seekor anjing yang menjulurkan-julurkan lidahnya sambil mencium tanah karena kehausan. Kemudian ia kembali menuruni sumur itu dan mengisi penuh sepatunya dengan air. Ia gigit sepatu itu hingga sampai lagi di tempat (anjing berada). Lalu ia meminumkamya kepada anjing itu. Allah swt. mengucapkan terimakasih kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya. Kisah serupa yang membenarkan ajaran tersebut adalah dikisahkan bahwa konon ada seekor anjing yang berputar-putar di sekeliling sebuah sumur yang hampir mati karena kehausan, tiba-tiba seeorang wanita tuna susila dari Bani lsrail melihatnya. lalu ia melepaskan sepatunya untuk mengambil air yang kemudian diminumkannya kepada anjing tersebut. Karena amalnya itulah kemudian Allah swt. berkenan mengampuninya.Sedangkan kisah yang menahan nafkah hewan piaraan, dikisahkan seorang wanita yang disiksa karena seekor kucing yang dikuningnya sanlpai mati. Hanya karena kucing itu ia masuk neraka. Sebab tatkala ia mengurungnya, ia tidak memberinya makan dan minum. Ia juga tidak mau melepaskannya untuk mencari makanan dari serangga dan tumbuh-tumbuhan.(Winarso, 2008)b. Bebas dari ketidaknyamanan Dalam Islam diajarkan untuk menempatkan hewan senyaman mungkin (tidak menempatkan hewan di daerah yang panas tanpa peneduh dan dipancang sehingga tidak memungkinkan hewan mencari ternpat yang menurutnya nyaman). Perkandangan akan melindungi hewan dari cuaca buruk dan lingkuugan yang berubah secara cepat. 5
  • 6. Perkandangan yang baik akan menyediakan kenyamanan bagi hewan karena menjaga kestabilan suhu dan kelembaban pada tingkat yang sesuai (Winarso, 2008).c. Bebas dari rasa sakit, luka/cedera dan penyakit Islam melarang umatnya mengadu binatang, karena tindakan tersebut menyakiti hewan dan merusak hewan. Penyakit produksi mungkin muncul pada hewan di petemakan. Namun Islam mengajarkan supaya berhati-hati dalam memelihara hewan. Pemanfaatan hewan untuk hekerja harus dalam keadaan sehat dan dikembalikan ke tempat pemeliharaannya dalam keadaan yang baik juga. Oleh karenanya pemanfaatan hewan dalam Islam tidak boleh melebihi kapasitas kerjanya. Perlakuan tersebut merusak hewan karena sangat memungkinkan hewan menderita luka dan cedera (Winarso, 2008).d. Bebas untuk menunjukkan perilaku normal Umat muslim diajarkan manajemen petemakan meskipun tidak terperinci. Allah memerintahkan manusia untuk menggembalakan ternaknya dalam Surat Taha ayat 54, “…dan gembalakanlah binatang-binatangmu…” Penggembalaan memungkinkan hewan mendapat ruang dan suasana yang mendukung ekspresi perilaku normal. Perilaku ini misalnya perilaku mandi debu, perilaku agonistic, perilaku bermain, eksplorasi, dan perilaku seksual. Dalam kisah Nabi Nuh selain amanat melestarikan lingkungan (alam) juga tergambarkan adanya jaminan kebebasan hewan untuk mengekspresikan perilaku bersosial dengan hewan sejenisnya dan perilaku berkembang biak karena berkembang biak merupakan perilaku yang sangat alamiah. (Winarso, 2008)e. Bebas dari rasa takut dan distress Rasulullah melarang hewan ditambatkan pada ternpat yang terik karena hewan itu tersiksa oleh panas, sementara ia tidak bisa berteduh atau mencari minun. Panas yang berlebih atau suhu sekitar yang sangat rendah dapat menyebabkan salah satunya adalah heat stress kemudian rnenyebabkan peningkatan metabolisme. Peningkatan metabolisme yang tidak perlu ini akan mengurangi produktivitas ternak dan efektivitas pakan. Menyalahgunakan hewan dengan menjadikannya sasaran lemparan, panah atau tembakan untuk bersenang-senang adalah perbuatan yang dilarang Rasulullah. Peneraan dengan teknik tato sering digunakan pada ternak sebagai penanda identitas. Ini dianjurkan dalam Islam, Rasulullah juga melakukannya sendiri terhadap hewan (unta) sedekah (riwayat Muslim). Namun Rasul melarang menato hewan di wajah (Winarso, 2008). 6
  • 7. Agama mempunyai persepsi yang berbeda-beda tentang relasi manusia dengan hewan temak. Agama Buddha dan Hindu cenderung untuk memberikan hak-hak asasi hewan yang setara dengan hak asasi manusia sehingga tidak memperbolehkan pemanfaatan dan penyembelihan hewan ternak dengan alasan penyakralan. Yahudi dan Nasrani memberikan manusia kekuasaan atas hewan, yang dalam ha1 ini posisi hewan lebih rendah daripada manusia. Sedangkan Islam memberikan penlahaman bahwa manusia adalah k11alifaA (pemimpin) di muka bumi sehingga bumi dan isinya tennasuk hewan dapat dimanfaatkan agar tercapai keuntungan dan kesejahteraan secara timbal balik (Winarso, 2008).Contoh Sudut Pandang Religiositas Profesi Veteriner: Kloning Kloning merupakan penggandaan suatu organisme kehidupan. Kloning dilakukandengan mengambil embrio dasar dari suatu makhluk hidup, kemudian memberikan instruksipada embrio tersebut agar bisa menjadi makhluk serupa. Sheikh Farid Washil (mantan MuftiMesir) menolak kloning reproduksi manusia karena dinilainya bertentangan dengan empatdari lima Maqashid asy-Syar‟iah: pemeliharaan jiwa, akal, keturunan, dan agama. Dalam halini cloning menyalahi pemeliharaan keturunan.Dari beberapa pendapat tersebut, kita bisamenyimpulkan bahwa cloning hukumnya haram karena lebih berpotensi menghasilkandampak buruk daripada dampak baiknya. Adapun kloning dalam ranah binatang dan tumbuh-tumbuhan, maka Islam secarajelas membolehkannya, apalagi kalau tujuannya untuk meningkatkan mutu pangan dankualitas daging yang dimakan manusia.Selain itu, karena binatang dan tumbuh-tumbuhantidak perlu mengetahui tentang asal-usul garis keturunannya. Upaya memperbaiki kualitas tanaman dan hewan serta meningkatkanproduktivitasnya tersebut menurut syariat Islam tidak apa-apa untuk dilakukan dari termasukaktivitas yang mubah hukumnya. Demikian pula memanfaatkan tanaman dan hewan dalamproses kloning guna mencari obat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit manusia –terutama yang kronisadalah kegiatan yang dibolehkan Islam, bahkan hukumnyasunnah(mandub). Sebab berobat hukumnya sunnah. Begitu pula memproduksi berbagai obat-obatan untuk kepentingan pengobatan hukumnya juga sunnah. Imam Ahmad telahmeriwayatkan hadis dari Anas ra.yang telah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda,“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia menciptakan pulaobatnya. Maka berobatlah kalian.” 7
  • 8. Oleh karena itu, dibolehkan memanfaatkan proses kloning untuk memperbaikikualitas tanaman dan mempertinggi produktivitasnya atau untuk memperbaiki kualitas hewanseperti sapi, domba, onta, kuda dan sebagainya. Juga dibolehkan memanfaatkan proseskloning untuk mempertinggi produktivitas hewan-hewan tersebut danmengembangbiakannya, ataupun untuk mencari obat bagi berbagai penyakit manusia,terutama penyakit-penyakit yang kronis (Abdul Qadim Zallum)(Lusi. 2008). Inseminasi Buatan Mengembangbiakkan dan pembibitan semua jenis hewan yang halal diperbolehkanoleh Islam, baik dengan jalan inseminasi alami (natural insemination) maupun inseminasibuatan (artificial insemination).Dasar hukum pembolehan inseminasi buatan ialah Pertama;Qiyas (analogi) dengan kasus penyerbukan kurma.Setelah Nabi Saw hijrah ke Madinah,beliau melihat penduduk Madinah melakukan pembuahan buatan (penyilangan/perkawinan)pada pohon kurma.Lalu Nabi menyarankan agar tidak usah melakukan itu.kemudian ternyatabuahnya banyak yang rusak. Setelah hal itu dilaporkan pada Nabi, beliau berpesan :“lakukanlah pembuahan buatan, kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” Oleh karenaitu, kalau inseminasi buatan pada tumbuh-tumbuhan diperbolehkan, kiranya inseminasibuatan pada hewan juga dibenarkan, karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Tuhanuntuk kesejahteraan umat manusia. (QS. Qaaf:9-11 dan An-Nahl:5-8). Kedua; kaidah hukumfiqih Islam “al-ashlu fil asya‟ al-ibahah hatta yadulla dalil „ala tahrimihi” (pada dasarnyasegala sesuatu itu boleh, sampai ada dalil yang jelas melarangnya).Karena tidak dijumpai ayatdan hadits yang secara eksplisit melarang inseminasi buatan pada hewan, maka berartihukumnya mubah.Hewan juga makhluk hidup seperti manusia, mempunyai nafsu dan naluriuntuk kawin guna memenuhi insting seksualnya, mencari kepuasan dan melestarikan jenisnyadi dunia. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa mengembangbiakkan semua jenishewan yang halal (yang hidup di darat, air dan terbang bebas di udara) diperbolehkan Islam,baik untuk dimakan maupun untuk kesejahteraan manusia (Annajah, 2009). Kastrasi Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang isinya hampir semaknadengan hadits diatas, dikatakan bahwa Rasul Allah Saw.melarang umat Islam berqurbandengan hewan yang al-mushfirrat (hewan yang rusak telinganya sehingga tampak bagiankulit dalamnya); al-musta‟ashalat (hewan yang tanduknya bergeser dari tempatnya); al-bahqa‟ (hewan yang matanya buta sebelah); al-musyayya‟at (hewan yang tidak laku dijual 8
  • 9. karena kurus dan lemah); dan al-kasra‟ (hewan yang sudah tua). Hadits di atas memberikangambaran tentang hewan yang tidak layak dijadikan hewan qurban adalah hewan yang cacatyang rincian kecacatan tersebut adalah kakinya pincang; matanya rusak; matanya butasebelah atau picek; sakit; kurus yang tidak bergajih lagi; kupingnya rusak bagian depan danbelakangnya, atau belah; kupingnya belah; sudah terlalu tua; tidak laku karena kurus danlemah; ompong gigi depannya; tanduk dan telinganya hilang setengahnya; dan tanduknyabergeser dari tempatnya. Ulama Hanabilah menjelaskan ciri-ciri hewan yang cacat yang boleh dijadikan hewanqurban tetapi makruh adalah dikebiri, tanpa tanduk sejak lahir (al-jammâ‟), kecil telinga atautidak bertelinga sejak lahir, tanpa ekor sejak lahir, di matanya terdapat warna putih tapi tidakmengganggu penglihatannya, dan sedang hamil (Ebrahim, 2004). Pelayanan Kesehatan dan Pemanfaatan Hewan Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Bila seekor anjing minumdari wadah milik kalian, maka cucilah 7 kali. (HR Bukhari 172, Muslim 279, 90).Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Sucinya wadah kalian yang dimasukimulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali.” Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslimdisebutkan salahsatunya dengan tanah.” (HR Muslim 279, 91, Ahmad 2/427)Maka seluruh ulama sepakat bahwa air liur anjing itu najis, bahkan levelnya najis yang berat(mughallazhah).Sebab untuk mensucikannya harus dengan air tujuh kali dan salah satunyadengan menggunakan tanah.Dan memelihara anjing dalam Islam tidak diharamkan, terutamabila digunakan untuk hal-hal yang berguna.Seperti untuk berburu, mencari jejak dansebagainya.Bahkan kita dibolehkan memakan hewan hasil buruan anjing telah diajar. Al-Quran mengistilahkannya dengan sebutan: mukallab.Mereka menanyakan kepadamu,“Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik danoleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamumengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apayang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu. Danbertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya (QS. Al-Maidah: 4). Pada Hakekatnya Islam mengajarkan pada umatnya untuk menyayangi binatang danmelestarikan kehidupannya. Di dalam Al-qur‟an, Allah SWT menekankan bahwa telahmenganugerahi manusia wilayah kekuasaan yang mencakup segala sesuatu didunia ini, halini tertuang dalam surat Al-Jatsiyah,45:13 yang artinya sebagai berikut : 9
  • 10. Dan Dia telah menundukan untukmu segala apa yang ada di langit dan segala apayang ada di muka bumi; semuanya itu dari Dia; sesungguhnya di dalam yang demikian ituterdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir (Q.S. Al-Jatsiyah,45:13). Menyangkut hewan atau satwa peliharaan, Al-Qur‟an dalam surat Al-Nahlmenyebutkan beberapa jalan di mana hewan-hewan tersebut memberi manfaat kepadamanusia : Dan dia telah menciptakan binatang ternak untukmu; padanya ada (bulu) yangmenghangatkan dan berbagai manfaat lainnya dan sebagiannya kamu makan (Q.S. Al-Nahl,16:5). Dan mereka membawakan muatan milikmu yang berat menuju tanah yang tidak dapatkau capai dengan selamat kecuali dengan upaya yang sangat berat; karena sesungguhnyaTuhanmu benar-benar maha pengasih dan penyayang (Q.S. Al-Nahl, 16:7) Dan dia telahmenciptakan kuda, bagal, dan keledai untukmu baik sebagai kendaraan maupun sebagaihiasan; dan Dia telah menciptakan makhluk-makhluk lainnya yang belum kamu ketahui (Q.S.Al-Nahl, 16:8). Suatu ketika Nabi melihat mayat seekor kambing, Beliau berkata: Milik siapakahkambing ini? Para sahabat berkata: ini milik budak Maimunah Ummul Mukminin, Nabiberkata: mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya? Mereka menjawab: tapi kambing inisudah mati. Kata beliau: sebenarnya yang dilarang adalah makan dagingnya (HR Bukhori danMuslim). Kehalalan hewan pada umumnya dan hewan ternak pada khususnya adalahberdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah:29, yang menyatakan bahwa semua yangada di planet bumi ini untuk kesejahteraan manusia. Dan juga surat Al-Maidah:2, yangmenyatakan bahwa semua hewan ternak dihalalkan kecuali yang tersebut dalam Al-An‟am:145, An-Nahl:115, Al-Baqoroh:173 dan Al-Maidah:3. Ketiga surat dan ayat yangpertama tersebut hanya mengharamkan 4 jenis makanan saja, yaitu bangkai, darah, babi danhewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Sedangkan surat dan ayat yang disebutterakhir mengharamkan 10 jenis makanan, yaitu 4 macam makanan yang tersebut di atasditambah 6, yakni: 1. Hewan yang mati tercekik, 2. Yang mati dipukul, 3. Yang mati terjatuh,4. Yang mati ditanduk, 5. Yang mati diterkam binatang buas, kecuali yang sempat disembelihdan 6. Yang disembelih untuk disajikan pada berhala. Mengenai hewan yang halal dan yangharam, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, yaitu: Ulama yang hanyamengharamkan 10 macam makanan/hewan yang tersebut dalam Al-Maidah:3, sebab ayat initermasuk wahyu terakhir yang turun. Mahmud Syaltut, mantan Rektor Univ. Al-Azhar 10
  • 11. mendukung pendapat ini. Ulama hadits menambah beberapa larangan berdasarkan haditsNabi, yaitu antara lain: semua binatang buas yang bertaring, semua burung yang berkukutajam, keledai peliharaan/jinak dan peranakan kuda dengan keledai. Rasyid Ridha,pengarang Tafsir Al-Manar berpendapat bahwa yang tidak jelas halal/haramnya berdasarkannash Al-Qur‟an itu ada dua macam: 1. semua jenis hewan yang baik, bersih dan enak/lezat(thayyib) adalah halal. 2. Semua hewan yang jelek, kotor dan menjijikan adalah haram.Namun kriteria baik, bersih, enak, menarik atau kotor, jelek dan menjijikan tidak adakesepakatan ulama di dalamnya.Apakah tergantung selera dan watak masing-masing orangatau menurut ukuran yang umum (Ebrahim, 2004). Percobaan Binatang Syariat tidak membahas secara langsung isu tentang eksperimen pada binatang.Fikihmerupakan ilmu pengetahuan yang menuntun umat Islam dalam menentukan mana keputusanmanusia yang berhubungan dengan isu-isu kontemporer yang dapat dibenarkan dan manayang tidak. Dengan kata lain, tindakan-tindakan tertentu yang dimotivasi oleh keterpaksaan(al-dharurah) dalam rangka melindungi salah satu dari kepentingan-kepentingan ini secarakondisional dapat dibenarkan. Atau, dapat pula dikatakan bahwa jika eksperimen pada hewandapat dilaksanakan dengan tujuan memperoleh pengetahuan yang benar-benar bermanfaatbagi kelestarian hidup manusia dan hewan, maka eksperimen tersebut dapat di setujui.Namun, apa yang diistilahkan sebagai kepentingan (manusia) yang mendesak (al-mashlahahal-dharuriyyah) ini lebih jauh dibatasi oleh prinsip-prinsip umum fikih sebagaimana berikut :1. Sesuatu yang dapat membawa kepada hal-hal yang diharamkan, maka hukumnya haram (Ibid, hal. 228)2. Seseorang yang terpaksa harus memilih antara dua hal yang buruk, maka ia harus memilih yang lebih kecil keburukannya untuk mencegah keburukan yang lebih besar. (Ibid, hal. 301)3. Sesuatu yang dihalalkan karena alasan tertentu akan menjadi tidak halal jika alasan kehalalannya itu tidak ada lagi (Ibid, hal.299)4. Menggunakan berbagai pilihan untuk hal-hal yang tidak ada ketentuannya (Fikih) tentangnya (Mashr, Animal in Islam, Hal. 19). Karena itu, dalam upaya menerapkan prinsip-prinsip fikih di atas pada kasus eksperimenterhadap binatang, maka dapat dikemukakan penarikan kesimpulan sebagaimana berikut :Peraturan ( i ) menyatakan bahwa tindakan menjadikan hewan sebagai objek eksperimen 11
  • 12. yang bersifat menyakiti dan tindakan-tindakan lain yang mengakibatkan kebutaan atau cacatpada hewan statusnya adalah Haram. Peraturan ( ii) membolehkan pengujian obat-obatan yang terkait dengan penyelamatannyawa pada hewan sebelum dinyatakan aman untuk digunakan pada manusia. Peraturan ( iii)menyatakan bahwa tindakan menjadikan hewan sebagai objek eksperimen yang sembarangan(tidak jelas keperluannya) status hukumnya adalah tidak boleh. Peraturan ( iv) memilikirelevansi dengan penyelidikan terkini tentang alternatif-alternatif bagi eksperimen padahewan dalam rangka meminimalisir pemanfaatan binatang dalam eksperimen (Ebrahim,2004). 12
  • 13. DAFTAR PUSTAKAAn-Najah, Ahmad Zein. 2009. Inseminasi Buatan. www.annajah.wordpress.com.Ebrahim, abul F.M., 2004. Kloning, Eutanasia, Transfudi Darah, Transplantasi Organ, dan Eksperiment pada Hewan. Jakarta: Penerbit Serambi.Lusi. 2008. Bayi tabung Menurut Ajaran Agama Islam. www.lusicaem.blogspot.com.Widiyono, I., 2012. Agama Kontekstual;:Islam dan Animal Welfare. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah MadaWinarso, Aji. 2008. Skripsi: kajian Kesejahteraan Hewan Ternak dalam Ajaran Agama Buddha, Hindu, Yahudi, Nasrani, dan Islam. Bogor: Istitut Pertanian Bogor.Zuhroni, 2003. Islam untuk Disiplin Ilmu Kesehatan dan Kedokteran 2 (Fiqh Kontemporer). Jakarta : Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. 13