Trafo distribusi

13,729 views

Published on

1 Comment
9 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
13,729
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
595
Comments
1
Likes
9
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Trafo distribusi

  1. 1. TRANSFORMATOR DISTRIBUSIA. TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan praktikum,mahasiswa diharapkan dapat : 1. Menentukan karakteristik-karakteristik trafo 3 fasa pada berbagai jenis pembebanan. 2. Mengetahui rugi-rugi transformator pada berbagai jenis hubungan transformator 3 fasa. 3. Mengetahui besarnya efisiensi transformator pada berbagai jenis hubungan transformator.B. TEORI DASAR 1. Pengertian Transformator Transformator adalah suatu alat untuk memindahkan daya listrik arus bolak-balik dari suatu rangkaian ke rangkaian lainnya secara induksi elektromagnetik. Transformator dapat dibedakan atas beberapa klasifikasi,yaitu trafo daya;trafo distribusi dan trafo instrumentasi.Trafo yang akan dipraktekkan adalah trafo distribusi.Transformator distribusi adalah trafo yang memindahkan besaran tegangan yang besarnya di atas 1 MVA, dan umumnya dipakai pada saluran transmisi. Pada dasarnya,suatu transformator itu terdiri dari dua atau lebih kumparan yang dihubungkan oleh medan magnetik bersama (mutual magnetic field).Bila satu diantara kumparan inti,yang primernya dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik,akan timbul fluks bolak-balik yang amplitudonya bergantung pada tegangan primer dan jumlah lilitan.Fluks bersama akan menghubungkan kumparan yang lain, yang sekundernya akan menginduksikan tegangan di dalamnya yang nilainya bergantung pada jumlah lilitan sekunder.
  2. 2. 2. Prinsip Kerja Transformator distribusi bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik dengan adanya gandengan magnet antara dua sisi,yaitu sisi primer dan sisi sekunder,dimanagandengan ini dapat berupa tipe cangkang dan tipe inti yang secara skema dapat dilihat pada gambar di bawah ini. e2 V2 V1 e1 N1 N2 Arah fluks Gambar 1. Skema prinsip kerja transformator. Dimana: V1 = Tegangan pada sisi masukan (primer) V2 = Tegangan pada sisi keluaran (sekunder) N1 = Jumlah lilitan pada sisi primer N2 = Jumlah lilitan pada sisi sekunder e1 = GGL yang timbul pada sisi primer e2 = GGL yang timbul pada sisi sekunder Apabila kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan, maka akan mengalir arus bolak-balik I1 pada kumparan tersebut.Oleh karena itu kumparan mempunyai inti,arus I1 menimbulkan fluks magnet yang juga berubah-ubah pada intinya.Akibatnya adanya fluks magnet yang berubah- ubah pada kumparan akan timbul GGL induksi e1.
  3. 3. Besarnya GGL induksi pada kumparan primer adalah : dΦ e1 = − N 1 ( Volt ) ......................................... (1) dtDimana: e1 = GGL induksi pada kumparan primer N1 = Jumlah lilitan kumparan primer dΦ = Perubahan garis-garis gaya magnet dalam satuan weber (1 weber = 108 maxwell) dt = Perubahan waktu dalam detikBesarnya GGL induksi pada kumparan sekunder adalah : dΦ eP = N 2 (Volt ) ...................................... (2) dtDimana : N2 = Jumlah lilitan kumparan sekunder. Harga efektifnya adalah : Vrms = emax / 2 = 2 N π f Φ max / 2 = 4,44 N f Φ max ........................................... (3) Persamaan di atas menyatakan hubungan antara GGL (e) dan fluks (Φ)serta belitan (N).Untuk sisi masukan besarnya fluks yang dihasilkan dapatdituliskan: Qmax = e1 / 4,44 . N 1 . f ................................................... (4) Untuk sisi keluaran tegangan GGL yang dihasilkan oleh fluks yangmengalir dalam rangkaian magnetik dapat dituliskan : e 2 = N 2 .2.π . f .Qmax = 4,44 N 2 . f 2 .Qmax ............................................... (5)Perbandingan transformator dapat dituliskan sebagai berikut : e1 N1 V I a = = = 1 = 1 ........................................ .(6) e2 N2 V2 I2
  4. 4. Dimana: a = Perbandingan trafo e1 = GGL pada sisi primer e2 = GGL pada sisi sekunder N1 = Jumlah lilitan belitan primer N2 = Jumlah lilitan belitan sekunder V1 = Tegangan yang timbul pada sisi primer V2 = Tegangan yang timbul pada sisi sekunder I1 = Arus yang timbul pada sisi primer I2 = Arus yang timbul pada sisi sekunder3. Rangkaian Ekivalen Tidak seluruh fluks (Φ) yang dihasilkan oleh arus pemagnetan Im merupakan fluks bersama (Φm), sebagian dari padanya hanya mencakup kumparan primer (Φ1) atau kumparan sekunder saja (Φ2).Dalam model rangkaian (rangkaian ekivlen) yang dipakai untuk menganlisa kerja suatu transformator,adanya fluks bocor Φ1 dan Φ2 ditunjukkan sebagai reaktansi X1 dan X2.Sedangkan rugi tahanan ditunjukkan dengan R1 dan R2.Dengan demikian model rangkaian dapt dilihat pada gambar berikut ini. R1 1 X1 I1 I2 R2 X2V1 Rc Xm E1 E2 Z IC Im N1 N2 Gambar 2. Rangkaian ekivalen transformator. Keterangan gambar:
  5. 5. V1 = Tegangan sumber R1 = Tahanan belitan peimer R2 = Tahanan belitan sekunder X1 = Reaktansi belitan primer X2 = Reaktansi belitan sekunder I1 = Arus primer I2 = Arus sekunder Rc = Tahanan inti besi Xm= Reaktansi inti besi Ic = Harga arus yang membentuk rugi-rugi inti besi dalam pembentukan magnet Im = Harga arus efektif di dalam pembentukan magnet e1 = GGL induksi pada kumparan primer e2 = GGL induksi pada kumparan sekunder N1 = Jumlah lilitan pada kumparan primer N2 = Jumlah lilitan pada kumparan sekunder Z = Beban4. Rugi-rugi Trafo Rugi-rugi trafo yang berupa rugi inti atau rugi bsi dan rugi yang terdapat pada kumparan primer dan sekunder.Untuk mengurangi rugi besi haruslah diambil inti besi yang penampangnya cukup besar agar fluks magnet mudah mengalir di dalamnya.Untuk memperkecil rugi tembaga,harus diambil kawat tembaga yang luas penampangnya cukup besar untuk mengalirkan arus yang diperlukan.Rugi inti terdiri dari rugi arus Eddy dan rugi hysterisis.Rugi arus Eddy timbul akibat adanya arus pusar inti yang dapat menghasilkan panas.Adapun arus pusar inti ditentukan oleh tegangan induksi pada inti pada inti yang menghasilkan perubahan –perubahan fluks magnet.Rugi hysterisis merupakan rugi tenaga yang disebabkan oleh flukd magnet bolak balik.
  6. 6. Rugi Tembaga Rugi Tembaga B e Sunber Kumparan Fluks Kumparan b primer Bersama Sekunder a n Fluks Bocor Fluks Bocor Rugi inti = Hysterisis + Arus Eddy Gambar 3. Proses timbulnya rugi-rugi inti dan rugi-rugi tembaga. Rugi tembaga (PCU) Rugi-rugi tembaga merupakan rugi-rugi yang disebabkan oleh arus beban yang mengalir pada kawat yembaga. 2 PCU = I P . RP ................................................... (7) Rugi besi (Pm)s Pm = ( I m . Cos φ ) 2 . R P ......................................... (8) Untuk mencari besarnya efisiensi pada trafo dapat kita lihat padapersamaan berikut ini:η= Daya keluaran = Daya keluar = 1− ∑ Rug − rugi ...... (9) Daya masukan Daya + ∑ Rugi − rugi Daya masukanDimana: ∑ Rugi − rugi = P CU + Pin5. Hubungan – hubungan Transformator 3 fasa
  7. 7. Ada empat cara merangkai belitan primer dan sekunder pada trafo 3 fasa untuk memindahkan energi dari sistem tiga fasa ke sistem 3 fasa yang lain, diantaranya adalah sebagai berikut.1) Hubungan Y - ∆ Diagram penyambungan untuk hubungan ini dimana polaritas semuanya adalah subtraktif dan juga terlihat kedudukan relatif dari tegangan-tegangan jaringan (antara fasa/line to line) dan tegangan-tegangan perfasa (fasa ke netral) terlihat bahwa terdapat pergeseran 30o antara tegangan jaringan primer dengan sekunder,jika tegangan jaringan adalah V1 dan V2 maka trafo harus dirancang agar primernya bekerja pada tegangan V1 / 3 dan sekundernya pada V2 seperti pada gambar nerikut: R r S s T t
  8. 8. IR IW R IS IU S IT T IV W1 U1 V1 W1 U1 V1 V2 W2 U2 V2 W2 U2 PRIMER SEKUNDER Gambar 4. Trafo hubungan Y - ∆ .2) Hubungan ∆ - Y Dengan kembali menganggap bahwapolaritas semua trafo adalah subtraktif.Diagram penyambungan ini menunjukkan menunjukkan hungan waktu fasa antara tegangan primer dan sekunder disini terdapat pergeseran sudut 90O,tetapi arahnya berlawanan dengan gambar 4.4.Trafo dirancang agar primernya bekerja pada tegangan V1 dan sekundernya bekerja pada tegangan V2 3. R r S s R t
  9. 9. IW R IS IU S IT T IV W1 U1 V1 W1 U1 V1 V2 W2 U2 PRIMER SEKUNDER Gambar 5. Trafo hubungan ∆ - Y3) Hubungan Y – Y Pada hubungan ini terminal-terminak ditandai secara subtraktif sesuai aturan dengan tegangan primernya ditentukan R,S dan T sedangkan sekundernya adalah r,s dan t .Perlu diingat bahwa jika tegangan primer adalah P1 dan tegangan sekundernya adalah V2 maka tegangan primer dan sekunder pada setiap trafo adalah V1 / 3 dan V2 3 . R r S s T t
  10. 10. IW R IS IU S IT T IV W1 U1 V1 W1 U1 V1 V2 W2 U2 PRIMER SEKUNDER Gambar 6. Trafo hubungan Y – Y.4) Hubungan ∆ - ∆ Pada gambar di bawah ini masing-masing polaritas dihubungkan secara baik pada sisi primer dan sekundernya.Semua belitan primer dirncang untuk bekerja pada tegangan V1 sedangkan belitan sekundernya dirancang untuk mampu bekerja pada tegangan penuh V2. R r S s T t
  11. 11. IW R IS IU S IT T IV W1 U1 V1 W1 U1 V1 V2 W2 U2 V2 W2 U2 PRIMER PRIMER Gambar 7. Trafo hubungan ∆ - ∆.6. Pengujian Trafo 1) Beban Nol / Tanpa beban Percobaan ini mempunyai beberapa tujuan diantaranya : 1. Membandingkan nilai tegangan primer dan tegangan sekunder. 2. Mengetahui karakteristik tegangan antara sisi primer dan sisi sekunder. Untuk selanjutnya percobaan beban nol dapat kita lihat pada gambar rangkaian di bawah ini. A A V1 V2 Gambar 8. Rangkaian pengujian tanpa beban.
  12. 12. 2) Berbeban Percobaan berbeban dilakukan dengan tujuan yaitu : 1. Untuk mengetahui karakteristik suatu tarnsformator. 2. Untuk mengetahui rugi-rugi pada transformator. 3. Untuk mengetahui efisiensi transformator. Rangkaian untuk percobaan berbeban dapat dilihat pada gambar di bawah ini. A A a R V1 V2 L C (a) R1 r1L1 A1 A4 V1 R2 r2 V4L2 S1 s1 Regulator A2 A5 AC Beban 3-Ø YL3 V2 S2 s2 V5 T1 t1 A3 A6 V A V AN W1 V3 T2 t2 V6 W2 SISI PRIMER SISI SEKUNDER (b) Gambar 9. Rangkaian pengujian berbeban.
  13. 13. Untuk selanjutnya beban dapat diganti-ganti dengan beban R – C ; R – L ; dan R – L – C . Kesemuanya ini dilakukan agar pada setiap pembebanan dapat diketahui perubahan arus yang terjadi.C. ALAT DAN BAHAN 1. Trafo 3 Ø 1 buah 2. Regulator 3 Ø 1 buah 3. Wattmeter 2 buah 4. Amperemeter 6 buah 5. Voltmeter 8 buah 6. Multimeter 1 buah 7. Beban R, L dan C masing-masing 1 buah 8. Kabel secukupnya.
  14. 14. D. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Percobaan Beban Nol a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. b. Membuat rangkaian seperti pada gambar 10. (Trafo dihubung Y - Y). c. Jika rangkaian sudah benar,memberi suplay tegangan (VL-N) sebesar 30 V. d. Mencatat semua pembacaan alat ukur ke dalam tabel pengamatan yang telah disediakan. e. Mengulangi prosedur 3 dan 4 untuk suplay tegangan 40, 50, 60, dan 70 V. f. Mengulangi prosedur 2 sampai 5 untuk hubungan trafo yang lainnya. g. Percobaan selesai. 2. Percobaan Berbeban
  15. 15. a. Membuat rangkaian seperti pada gambar 10. (Trafo dihubung Y – Y). Dengan beban R dan C. b. Jika rangkaian sudah benar, memberi suplai tegangan (VL-L) sebesar 90 V.Memutar selektor pembebanan mulai dari 1, 2, 3, 4 dan 5. c. Mencatat semua pembacaan alat ukur ke dalam tabel pengamatan yang telah tersedia. d. Percobaan selesai.F. DATA HASIL PERCOBAAN TANPA BEBAN a. Hubungan Y-Y (Y380 / Y220) Primer Sekunder V V V V V V V V V V V V 1 2 3 12 23 31 1 2 3 12 23 31(V (V (V) (V) (V) (V (V (V (V (V (V (V
  16. 16. ) ) ) ) ) ) ) ) ) 1 33 33 3330 30 30 56 56 56 8 18 18 2 44 44 4440 40 40 75 75 75 4 24 24 2 54 54 5450 50 50 90 90 90 9 29 29 10 10 10 3 64 64 6460 60 60 7 7 7 4 34 34
  17. 17. 12 12 12 4 74 74 7470 70 70 5 5 5 0 40 40 catatan : rasio belitan (a = 1.73) b. Hubungan Y-∆ (Y380 / ∆127) Primer Sekunder V V V V V V 1 23 31 1 23 31V V 1 2 V (V) (V (V (V 3 2 2(V (V (V) (V ) (V ) )) ) ) )30 30 30 59 59 59 2 20 20
  18. 18. 0 240 40 40 75 75 75 5 25 25 350 50 50 92 92 92 1 31 31 10 10 10 360 60 60 8 8 8 7 37 37 12 12 12 470 70 70 7 7 7 2 42 42 catatan : rasio belitan (a = 2.99)
  19. 19. c. Hubungan ∆-Y (∆ 220 / Y 220) Primer Sekunder V V V V V 23 31 1 2 31V V V 12 1 2 (V (V V (V 3 2 3(V (V (V ) ) (V) (V (V )) ) ) ) )30 30 30 18 18 18 31 31 3140 40 40 23 23 23 41 41 4150 50 50 29 29 29 52 52 5260 60 60 34 34 34 61 61 61
  20. 20. 70 70 70 41 41 41 73 73 73 catatan : rasio belitan (a = 1) d. Hubungan ∆-∆ (∆220 / ∆127) Primer Sekunder V V V V V V 12 23 31 12 23 31 (V (V (V (V (V (V) ) ) ) ) ) 30 30 30 18 18 18 40 40 40 24 24 24
  21. 21. 50 50 50 30 30 30 60 60 60 35 35 35 70 70 70 41 41 41catatan : rasio belitan (a = 1.73)
  22. 22. G. ANALISA HASIL PERCOBAAN TANPA BEBAN a. Hubungan Y-Y (Y380 / Y220) dengan a =1,73 Mencari perbandingan belitan trafo hubungan Y-Y berdasarkan hasil percobaan (data ke-1) , jika diketahui pada sisi primer V12 = 56 dan pada sisi sekunder V12 = 33 V12 ( primer ) 56 maka, a = = = 1,69 V12( sekunder ) 33 Berikut tabel hasil perbandinagan belitan trafo hubungan Y-Y Primer Sekunder V V a 12 12 V (V) V (V) 1 1 (V) (V) 30 56 18 33 1,69 40 75 24 44 1,7 50 90 29 54 1,66
  23. 23. 60 107 34 64 1,67 70 125 40 74 1,68 a rata-rata 1,68Grafik hubungan V12 (primer) dan V12 (sekunder)Penjelasan Grafik :Grafik diatas menunjukkan tegangan keluaran sisi sekunder lebih kecildari pada tegangan sisi primer (trafo berfungsi sebagai step down) denganperbandingan belitan a = 1,68
  24. 24. b. Hubungan Y-∆ (Y380 / Y127) dengan a = 2,99 Mencari perbandingan belitan trafo hubungan Y-∆ berdasarkan hasil percobaan (data ke-1) , jika diketahui pada sisi primer V12 = 59 dan pada sisi sekunder V12 = 20 V12 ( primer ) 59 maka, a = = = 2,95 V12( sekunder ) 20 Berikut tabel hasil perbandinagan belitan trafo hubungan Y-∆ Primer Sekunder V a 12 V (V) V (V) 1 12 (V) 30 59 20 2,95 40 75 25 3 50 92 31 2,96 60 108 37 2,91
  25. 25. 70 127 42 3 a rata-rata 2,964 Grafik hubungan V12 (primer) dan V12 (sekunder) Penjelasan Grafik : Grafik diatas menunjukkan tegangan keluaran sisi sekunder lebih kecil dari pada tegangan sisi primer (trafo berfungsi sebagai step down) dengan perbandingan belitan a = 2,964c. Hubungan ∆-Y (Y220 / Y220) dengan a = 1
  26. 26. Mencari perbandingan belitan trafo hubungan ∆-Y berdasarkan hasilpercobaan (data ke-1) , jika diketahui pada sisi primer V12 = 30 dan padasisi sekunder V12 = 31 V12 ( primer ) 30maka, a = = = 0,96 V12( sekunder ) 31Berikut tabel hasil perbandinagan belitan trafo hubungan ∆-Y Primer Sekunder V a 12 V (V) V (V) 12 1 (V) 30 18 31 0,96 40 23 41 0,97 50 29 52 0,96 60 34 61 0,98
  27. 27. 70 41 73 0,95 0,96 a rata-rata 4Grafik hubungan V12 (primer) dan V12 (sekunder)Penjelasan Grafik :Grafik diatas menunjukkan tegangan keluaran sisi sekunder sama dengantegangan sisi primer (trafo tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena
  28. 28. tidak menaikkan dan menurunkan tegangan) dengan perbandingan belitan a = 0,964d. Hubungan ∆-∆ (Y220 / Y127) dengan a =1,73 Mencari perbandingan belitan trafo hubungan ∆-∆ berdasarkan hasil percobaan (data ke-1) , jika diketahui pada sisi primer V12 = 30 dan pada sisi sekunder V12 = 18 V12 ( primer ) 30 maka, a = = = 1,66 V12( sekunder ) 18 Berikut tabel hasil perbandinagan belitan trafo hubungan Y-Y Sekunde Primer r a V (V) 12 V (V) 12 30 18 1,66 40 24 1,66
  29. 29. 50 30 1,66 60 35 1,71 70 41 1,70 a rata-rata 1,678Grafik hubungan V12 (primer) dan V12 (sekunder)Penjelasan Grafik :
  30. 30. Grafik diatas menunjukkan tegangan keluaran sisi sekunder lebih kecil dari pada tegangan sisi primer (trafo berfungsi sebagai step down) dengan perbandingan belitan a = 1,678H. KESIMPULAN PERCOBAAN TANPA BEBAN 1. Untuk Hubungan Y–Y (380 V/220 V dengan a = 1,73) hasil perhitungan perbandingan trafo pada sisi primer dan sisi sekunder adalah 1,68 (a rata- rata), jadi trafo ini bertfungsi sebagai trafo step down a>1. 2. Untuk hubungan Y–Δ (380 V/127 V dengan a = 2,99) hasil perhitungan perbandingan trafo pada sisi primer dan sisi sekunder adalah 2,964 (a rata- rata), jadi trafo ini berfungsi sebagai trafo step down a>1. 3. Untuk hubungan Δ–Y (220 V/220 V dengan a = 1) hasil perhitungan perbandingan trafo pada sisi primer dan sisi sekunder adalah 0,964 (a rata- rata), jadi trafo dengan hubung ini tidak berfungsi sebagaimana trafo pada umumnya karena tidak menaikkan dan menurunkan tegangan a = 1. 4. Untuk hubungan Δ–Δ (220 V/127 V dengan a = 1,73) hasil perhitungan perbandingan trafo pada sisi primer dan sisi sekunder adalah 1,678 (a rata- rata), jadi trafo ini berfungsi sebagai trafo step down a>1.
  31. 31. I. DATA HASIL PERCOBAAN BERBEBAN PRIMER SEKUNDER P1R C V1 V2 V3 V12 V23 V31 I1 I2 I3 V1 V2 V3 V12 V23 V31 I1 I2 I3 IN KET. (W (V) (V) (V) (V) (V) (V) (A) (A) (A) (V) (V) (V) (V) (V) (V) (A) (A) (A) (A) )11 11 15 15 15 95 95 95 0.1 0,1 0,1 90 90 90 0,1 0,1 0,1 52 52 52 0 41 1 6 6 6 6 9 922 22 15 15 15 0,1 0,1 0,1 95 95 95 0,2 0,3 0,3 90 90 90 52 52 52 0 32 2 6 6 6 8 8 8 9 8 533 33 15 15 15 0,3 0,3 0,3 95 95 95 0,5 0,5 90 90 90 52 52 52 0,5 0 4 Seimbang3 3 6 6 6 1 1 1 5 544 44 15 15 15 0,4 0,4 0,4 95 95 95 0,7 0,7 0,6 90 90 90 52 52 52 0 44 4 6 6 6 1 1 1 4 4 755 55 15 15 15 0,5 0,5 0,5 95 95 95 0,9 0,9 0,8 90 90 90 52 52 52 0 35 5 6 6 6 1 1 1 4 2 4 catatan : trafo dihubung Y-Y dan beban R diseri dengan beban C (hubung Y)
  32. 32. J. ANALISA HASIL PERCOBAAN BERBEBAN a. Menghitung cos ø pada sisi beban Sebagai contoh analisa data, maka diambil data ke-1 untuk hubungan Y–Y. Dik : P1 = 4 Watt V1 = 52 Volt I1 = 0.16 A Dit : cos ø = ... ? Peny : P1θ Cos = VP × I P 4 = 52 × 0,16 Ø = 0,48 Dengan menggunakan cara yang sama, maka hasil analisa untuk mencari cos ø pada sisi beban trafo dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Jenis beban P1 (W) V1 (V) I1 (A) cos ø Ket. R C 111 111 4 52 0,16 0,48 222 222 3 52 0,29 0,19 333 333 4 52 0,55 0,13 Seimbang 444 444 4 52 0,74 0,1 555 555 3 52 0,94 0,06 cos ø rata-rata 0,192 b. Pembuktian In Sebagai contoh analisa data, maka diambil data ke-1. Dik : I1 = 0,16 A I2 = 0,19 A I3 = 0,19 A Dit : In secara teori ?
  33. 33. Penye : In = I1 + I2 + I3 = 0,16 < 0o + 0,19 < 120o + 0,19 <240o = (0,16 + j 0) + (-0,095+ j 0,16) + (-0,095 – j 0,16) = -0,03 + j 0 = 0,03 < 180o In = 0,03 < 180º A Dengan menggunakan cara yang sama, maka hasil analisa untuk mencari In teori dapat dilihat pada tabel di bawah ini. No. Beban In teori (A) ǀIn teoriǀ (A) In praktikum (A) 1. 0,03 < 180º 0,03 0 2. 0,077 < 165,06º 0,077 0 R-C 3. 0,047 < 57,99º 0,047 0 seimbang 4. 0,069 < 59,74º 0,069 0 5. 0,092 < 49,38º 0,092 0 Pembahasan Tabel hasil analisa data : Pada percobaan beban seimbang didapatkan IN (TEORI) ≈ IN , (PRAKTIKUM) dimana beban seimbang IN = 0.K. KESIMPULAN PERCOBAAN BERBEBAN
  34. 34. 1.Pada percobaan beban seimbang secara teori dan perhitungan didapatkan tidak ada arus yang mengalir ke titik netral (hubungan Y) atau IN = 0.2.Hasil analisa pembuktian IN = 0 didapatkan IN (TEORI) ≈ IN (PRAKTIKUM). Berikut data perbandingan In secara teori dan In praktikum. In teori (A) In praktikum (A) 0,03 0 0,077 0 0,047 0 0,069 0 0,092 03.Untuk percobaan beban seimbang ini didapatkan cos ø rata-rata beban sebesar 0,192.

×