Paper Seminar Manajemen Keuangan (Analisis Rasio Industri Otomotif)

  • 5,667 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
5,667
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
157
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PERUSAHAAN PADA KELOMPOK INDUSTRI OTOMOTIF Disusun oleh: Nama : SEPTYATHA NPM : 2010120001 UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2013/2014
  • 2. i KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan kehendak-Nya saya dapat menyelesaikan makalah keuangan tentang “ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PERUSAHAAN PADA KELOMPOK INDUSTRI OTOMOTIF” dengan baik. Makalah ini saya susun dengan tujuan untuk memberikan wawasan para pembaca dari sisi pemilik perusahaan maupun investor tentang apa saja cara penilaian kinerja dari suatu perusahaan, khususnya kelompok industri otomotif yang ada di Indonesia. Selain itu, makalah ini saya susun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh nilai dalam mata kuliah Seminar Keuangan yang ada di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Inge Barlian, Dra., Ak., M.Sc. selaku dosen pembimbing dari mata kuliah ini, serta seluruh pihak yang sudah membantu dan memberikan masukan untuk penyelesaian makalah ini. Terbatasnya pengetahuan dan sempitnya waktu yang diberikan mungkin menjadikan makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Sebagai penutup, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan juga pembaca. Terima kasih. Bandung, 17 September 2013 Penulis
  • 3. ii DAFTAR ISI Kata Pengantar i Daftar Isi ii Bab 1 PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang Penelitian 1 1.2 Rumusan Masalah 4 1.3 Tujuan Penelitian 4 1.4 Kegunaan Penelitian 4 1.5 Kerangka Pemikirian 5 1.6 Metodologi Penelitian 6 1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian 6 Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA 7 2.1 Analisa Rasio 7 2.1.1 Analisis Rasio Likuiditas 7 2.1.2 Analisis Rasio Aktivitas 10 2.1.3 Analisis Rasio Hutang 13 2.1.4 Analisis Rasio Profitabilitas 15 2.1.5 Analisis Rasio Pasar 17 Bab 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 20 3.1 Kinerja Perusahaan Kelompok Industri Otomotif 22 3.1.1 Kinerja PT Astra Otoparts Tbk 22 3.1.1.1 Analisis Likuiditas 22 3.1.1.2 Analisis Aktivitas 24 3.1.1.3 Analisis Hutang 27 3.1.1.4 Analisis Profitabilitas 29 3.1.1.5 Analisis Pasar 32
  • 4. iii 3.1.2 Kinerja PT Gajah Tunggal Tbk 34 3.1.2.1 Analisis Likuiditas 34 3.1.2.2 Analisis Aktivitas 36 3.1.2.3 Analisis Hutang 39 3.1.2.4 Analisis Profitabilitas 40 3.1.2.5 Analisis Pasar 43 Bab 4 KESIMPULAN 51 Rekomendasi Bagi Para Investor 52 Lampiran 53 Daftar Pustaka 68
  • 5. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Bidang keuangan merupakan bidang yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Banyak perusahaan yang berskala kecil, menengah dan besar, akan mempunyai perhatian besar di bidang keuangan, terutama dalam perkembangan dunia usaha yang semakin maju, persaingan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya semakin ketat. Belum lagi kondisi perekonomian Indonesia sekarang yang tidak menentu menyebabkan banyaknya perusahaan yang tiba-tiba mengalami kebangkrutan maupun hengkang dari Indonesia. Oleh karena itu, agar perusahaan dapat bertahan atau bahkan bisa tumbuh dan berkembang, perusahaan harus mencermati kondisi dan kinerja perusahaan. Untuk mengetahui dengan tepat bagaimana kondisi dan kinerja perusahaan maka diperlukan suatu analisis yang tepat. Metode yang dapat dipakai untuk menilai kinerja perusahaan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data keuangan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan atau ikhtisar lainnya yang dapat digunakan untuk membantu para pemakai di dalam menilai kinerja perusahaan agar dapat mengambil keputusan yang tepat. Laporan keuangan digunakan oleh manajer untuk meningkatkan kinerja, oleh kreditor untuk mengevaluasi kemungkinan dibayarnya pinjaman, dan oleh pemegang saham untuk meramalkan laba, dividen, dan harga saham. Secara umum ada tiga bentuk laporan keuangan pokok yang dihasilkan oleh suatu perusahaan : 1. Neraca Neraca digunakan untuk menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu, yang meliputi asset perusahaan dan klaim atas asset tersebut. 2. Laporan Laba-Rugi Laporan laba-rugi merupakan laporan prestasi perusahaan selama jangka waktu tertentu. Tujuan utama dari laporan laba-rugi adalah melaporkan kemampuan perusahaan yang sebenarnya untuk memperoleh laba.
  • 6. 2 3. Laporan Arus Kas Laporan arus kas atau laporan perubahan posisi keuangan menyajikan informasi aliran kas masuk atau keluar bersih pada suatu periode, hasil dari tiga kegiatan pokok perusahaan yaitu operasi, investasi, dan pendanaan. Aliran kas diperlukan terutama untuk mengetahui kemampuan perusahaan yang sebenarnya dalam memenuhi kewajiban- kewajibannya. Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2002 : 4) tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut : a. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi. b. Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu. c. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Untuk menilai kinerja perusahaan, diperlukan beberapa tolok ukur. Tolok ukur yang sering digunakan adalah rasio atau indeks, yang menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya. Analisis dan interpretasi dari macam-macam rasio dapat memberikan pandangan yang lebih baik tentang kinerja perusahaan dibandingkan analisis yang hanya didasarkan atas data keuangan sendiri-sendiri yang tidak berbentu rasio. Jenis analisis bervariasi sesuai dengan kepentingan pihak-pihan yang melakukan analisis. Pemberi kredit dagang akan menaruh perhatian terutama kepada likuiditas perusahaan yang dianalisis karena tagihan mereka bersifat jangka pendek. Tagihan pemberi kredit jangka panjang, misalnya pemilik obligasi, bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, ia lebih berminat terhadap kemampuan arus kas untuk melunasi utang dalam jangka panjang. Pemilik obligasi mungkin akan menilai struktur modal perusahaan, sumber dan penggunaan dana, serta profitabilitas perusahaan. Seorang pemilik saham perusahaan pada prinsipnya lebih berkepentingan dengan keuntungan saat ini dan dimasa yang akan datang, dengan stabilitas keuntungan tersebut dan
  • 7. 3 perbandingannya dengan keuntungan perusahaan lain. Ia akan menaruh minat pada kondisi keuangan perusahaan sejauh hal itu dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan itu untuk berkembang, membayar deviden, dan menghindari kebangkrutan. Bagi perusahaan sendiri, analisis terhadap kinerja perusahaan akan membantu dalam hal perencanaan tersebut. Menurut Buku Manajemen Keuangan 1 karangan Prof. Dr. Ridwan S. Sundjaja, Drs., MSBA, Inge Barlian, Dra., Ak., M.Sc., dan Dharma Putra Sundjaja, SE., MFP (2010 : 173), ukuran kinerja dapat dianalisis dalam tiga kelompok : 1. Rasio Likuiditas 2. Rasio Aktivitas 3. Rasio Hutang 4. Rasio Profitabilitas 5. Rasio Pasar Analisis laporan keuangan akan lebih tajam apabila angka-angka keuangan dibandingkan dengan standar tertentu. Standar tersebut dapat berupa standar internal yang ditetapkan oleh manajemen, perbandingan historis atau membandingkan angka-angka keuangan dengan angka- angka masa sebelumnya, pembandingan dengan perusahaan atau industri sejenis. Tanpa pembandingan, tidak akan diketahui apakah kinerja suatu perusahaan menunjukkan perbaikan atau sebaliknya menunjukkan penurunan. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PERUSAHAAN PADA KELOMPOK INDUSTRI OTOMOTIF”.
  • 8. 4 1.2 Rumusan Masalah Penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan melihat pokok permasalahan sebagai berikut : a. Bagaimana kinerja dari PT Astra Otoparts Tbk dan PT Gajah Tunggal Tbk selama semester 1 2012 dan semester 1 2013. b. Bagaimana hubungan analisis dari rasio keuangan terhadap penilaian kinerja PT Astra Otoparts Tbk dan PT Gajah Tunggak Tbk. 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian yang penulis lakukan sehubungan dengan permasalahan yang diuraikan di atas untuk : a. Mengetahui apakah ada peningkatan maupun penurunan profit dari PT Astra Otoparts Tbk dan PT Gajah Tunggal Tbk pada Semester 1 2012 dan Semester 1 2013. b. Membandingkan dan menilai rasio keuangan dari PT Astra Otoparts terhadap PT Gajah Tunggal pada Semester 1 2012 dan Semester 1 2013. 1.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara langsung, maupun tidak langsung bagi perusahaan tempat penulis mengadakan penelitian, juga bagi masyarakat terutama pihak-pihak lain yang memerlukan dan bagi penulis sendiri. a. Bagi perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang bermanfaat didalam merencanakan serta menjalankan strategi perusahaan sehingga mencapai hasil yang positif bagi keuangan perusahaan dan unsur-unsur keuangan didalam perusahaan dapat dikontrol dengan baik. b. Bagi penulis Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dengan menerapkan teori-teori yang ada serta diterapkan secara nyata untuk menganalisa rasio- rasio keuangan yang ada di dalam perusahaan sehingga dapat mengetahui ada gejala dan masalah apa yang terjadi didalam keuangan suatu perusahaan.
  • 9. 5 c. Bagi pembaca Hasil penelitian dapat menambah wawasan dan pengetahuan sebagai bahan referensi dalam usaha untuk membantu pembaca memahami sesuatu yang bermanfaat dalam melakukan penelitian, serta bagi para investor dan pemegang saham dapat menilai apakah keuangan perusahaan tersebut bisa dinyatakan sehat atau tidak, supaya keputusan yang nantinya diambil akan tepat sasaran. 1.5 Kerangka Pemikiran Berdasarkan penelitian terdahulu, bahwa untuk mengetahui dengan tepat bagaimana kondisi dan kinerja perusahaan dapat dilakukan analisis terhadap laporan keuangan yang dimilikinya. Analisis laporan keuangan menurut Munawir (2010;35) adalah : “analisis laporan keuangan yang terdiri dari penelaahan atau mempelajari daripada hubungan dan tendensi atau kecenderungan (trend) untuk menentukan posisi keuangan dan hasil operasi serta perkembangan perusahaan yang bersangkutan”. Untuk membantu mengevaluasi laporan keuangan tersebut diperlukan suatu tolok ukur. Tolok ukur yang sering digunakan adalah berbentuk rasio atau indeks. Rasio keuangan merupakan suatu tolok ukur yang menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya. Analisis rasio keuangan yang menghubungkan unsur-unsur neraca dan laporan laba-rugi dan lainnya dapat memberikan gambaran tentang perusahaan dan posisinya pada saat ini. Analisis laporan keuangan meliputi dua jenis perbandingan. Pertama, dengan membandingkan rasio sekarang dengan yang lalu dan yang akan datang untuk perusahaan yang sama. Kedua, perbandingan meliputi perbandingan rasio perusahaan dengan perusahaan lainnya yang sejenis atau dengan rata-rata industri pada satu titik yang sama. Perbandingan tersebut dapat memberikan gambaran mengetani kinerja perusahaan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Analisis laporan keuangan dapat membantu manajemen untuk mengidentifikasi kekurangan dan kemudian melakukan tindakan untuk memperbaiki kinerja perusahaan, dan membuat keputusan yang rasional dalam hal perencanaan perusahaan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
  • 10. 6 1.6 Metodologi Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis, yaitu metode yang berusaha mengumpulkan data yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, menyajikan dan menganalisanya sehingga dapat memberikan gambaran yang cukup jelas atas objek yang diteliti dan kemudian dapat ditarik suatu kesimpulan. Teknik untuk pengumpulan data dilakukan dengan cara : 1. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan ini bertujuan untuk memperoleh data dari perusahaan yang sedang diteliti untuk kemudian dipelajari, diolah, dan dianalisis. 2. Penelitian Kepustakaan Penelitian kepustakaan adalah dengan cara mengumpulkan bahan-bahan dari berbagai sumber dan mempelajari literature-literatur yang berhubungan dengan topic pembahasan untuk memperoleh dasar teoritis. 1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian Penulis melakukan penelitian di perusahaan otomotif yang telah go public, yaitu PT Astra Otoparts Tbk dan PT Gajah Tunggal Tbk. Sedangkan rentang waktu yang diteliti dari perusahaan tersebut adalah Semester 1 (1 Januari – 30 Juni) 2012 dan Semester 1 (1 Januari – 30 Juni) 2013.
  • 11. 7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisa Rasio Menurut Munawir (2004:37) Analisis rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut. Menurut Mahmud M.Hanadie (2005:77) Analisis rasio adalah penggabungan yang menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam laporan keuangan, hubungan antara unsur laporan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana. Analisis ratio merupakan bentuk atau cara umum yang digunakan dalam analisis laporan keuangan dengan kata lain diantara alat-alat analisis yang selalu digunakan untuk mengukur kekuatan atau kelemahan suatu perusahaan di bidang keuangan adalah analisis ratio keuangan (Financial Ratio Analysis) Dalam Keown dkk (2002:60) tujuan dari analisis ratio adalah untuk membantu manager finansial memahami apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan, berdasarkan informasi yang tersedia dan sifatnya terbatas. Analisis ratio pada dasarnya tidak hanya berguna bagi kepentingan intern perusahaan saja melainkan juga pihak luar dan ini berbeda menurut kepentingan khusus dari analisis atau pihak yang berkepentingan. Analisis ratio berguna bagi para analisis intern untuk membantu manajemen membuat evaluasi mengenai hasil-hasil operasinya, memperbaiki kesalahan-kesalahan dan menghindari keadaan yang dapat menyebabkan kesultan keuangan. 2.1.1 Analisis Rasio Likuiditas Rasio likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan- perusahaan membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Likuiditas tidak hanya berkenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuannya mengubah aktiva lancar tertentu menjadi uang kas.
  • 12. 8 Riyanto (2008:25) menyatakan bahwa likuiditas adalah masalah yang berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Suatu perusahaan yang mempunyai alat-alat likuid sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus terpenuhi, dikatakan bahwa perusahaan tersebut likuid, dan sebaliknya apabila suatu perusahaan tidak mempunyai alat-alat likuid yang cukup untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus terpenuhi dikatakan perusahaan tersebut insolvable. Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar. Dengan demikian rasio likuiditas berpengaruh dengan kinerja keuangan perusahaan sehingga rasio ini memiliki hubungan dengan harga saham perusahaan. 2.1.1.1 Current Ratio (Rasio Lancar) Current ratio merupakan perbandingan antara aktiva lancar dan kewajiban lancar dan merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Current ratio menunjukkan sejauh mana akitva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dan kewajiban lancar semakintinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuidasi, sebaliknya current ratio yang terlalu tinggi juga kurang bagus, karean menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampulabaan perusahaan (Sawir, 2009:10). Apabila mengukur tingkat likuiditas dengan menggunakan current ratio sebagai alat pengukurnya, maka tingkat likuiditas atau current ratio suatu perusahaan dapat dipertinggi dengan cara (Riyanto, 2001:28): 1. Dengan utang lancar tertentu, diusahakan untuk menambah aktiva lancar. 2. Dengan aktiva lancar tertentu, diusahakan untuk mengurangi jumlah utang lancar.
  • 13. 9 3. Dengan mengurangi jumlah utang lancar sama-sama dengan mengurangi aktiva lancar. Current ratio dapat dihitung dengan formula: 𝑪𝒖𝒓𝒓𝒆𝒏𝒕 𝑹𝒂𝒕𝒊𝒐 = 𝑨𝒌𝒕𝒊𝒗𝒂 𝑳𝒂𝒏𝒄𝒂𝒓 𝑯𝒖𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒏𝒄𝒂𝒓 2.1.1.2 Quick Ratio (Rasio Cepat) Rasio ini disebut juga acid test rasio yang juga digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Penghitungan quick ratio dengan mengurangkan aktiva lancar dengan persediaan. Hal ini dikarenakan persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang likuiditasnya rendah dan sering mengalami fluktuasi harga serta menimbulkan kerugian jika terjadi likuiditas. Jadi rasio ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Sawir (2009:10) mengatakan bahwa quick ratio umumnya dianggap baik adalah semakin besar rasio ini maka semakin baik kondisi perusahaan. Quick ratio dapat dihitung dengan formula : 𝑄𝑢𝑖𝑐𝑘 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = Aktiva Lancar − Persediaan Hutang Lancar 2.1.1.3 Cash ratio (Rasio Kas) Rasio ini merupakan rasio yang menunjukkan posisi kas yang dapat menutupi hutang lancar dengan kata lain cash ratio merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan kas yang dimiliki dalam manajemen kewajiban lancar tahun yang bersangkutan. Cash Ratio dapat dihitung dengan formula: 𝐶𝑎𝑠ℎ 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = Kas Hutang Lancar
  • 14. 10 2.1.1.4 Modal Kerja Bersih (Net Working Capital) Menurut Wasis (1991, p.63) Modal kerja adalah dana yang ditanamkan dalam aktiva lancar, oleh karena itu dapat berupa kas, piutang, surat – surat berharga, persediaan dan lain-lain. Modal kerja bruto adalah keseluruhan dari aktiva / harta lancar yang terdapat dalam sisi debet neraca. Modal kerja bersih adalah keseluruhan harta lancar dikurangi utang lancar. Dengan perkataan lain modal kerja bersih adalah selisih antara aktiva lancar dikurangi dengan hutang lancar. Modal Kerja Bersih dapat dihitung dengan formula : 𝑁𝑒𝑡 𝑊𝑜𝑟𝑘𝑖𝑛𝑔 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 = 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 − 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 2.1.2 Analisis Rasio Aktivitas Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada padanya. Semua rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis aktiva. Rasio-rasio aktivitas menganggap bahwa sebaiknya terdapat keseimbangan yang layak antara penjualan dan beragai unsur aktiva misalnya persediaan, aktiva tetap dan aktiva lainya. Aktiva yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif. Yang termasuk ke dalam rasio aktivitas adalah sebagai berikut: 2.1.2.1 Perputaran Persediaan (Inventory Turnover) Inventory turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu, atau likuiditas dari inventory dan tendensi untuk adanya overstock (Riyanto, 2008:334). Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang dagang. Rasio ini merupakan indikasi yang cukup popular untuk menilai efisiensi operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen mengontrol modal yang ada pada persediaan. Rasio perputaran persediaan dihitung dengan formula: 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟 = Harga Pokok Penjualan Persediaan
  • 15. 11 𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑈𝑚𝑢𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 = Jumlah Hari Dalam 1 Tahun Inventory Turnover 2.1.2.2 Perputaran Piutang Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan yang erat dengan volume penjualan kredit. Posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulannya dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang tersebut yaitu dengan membagi total penjualan kredit (neto) dengan piutang rata-rata. Perputaran piutang dapat diukur dengan rumus : 𝑃𝑒𝑟𝑝𝑢𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑃𝑖𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 = Penjualan Piutang 𝑃𝑒𝑟𝑝𝑢𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑃𝑖𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 = 360 Rata − Rata Periode Tagih 2.1.2.3 Rata-Rata Periode Tagih Adalah jumlah rata-rata waktu yang diperlukan untuk menagih piutang. Rasio tersebut bermanfaat untuk mengevaluasi kebijakan pinjaman dan kebijakan penagihan. Rata-rata periode tagih dapat diukur dengan rumus : 𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑇𝑎𝑔𝑖ℎ = Piutang Rata − Rata Penjualan per Hari 𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑇𝑎𝑔𝑖ℎ = Piutang Penjualan Tahunan / 360 2.1.2.4 Rata-Rata Periode Bayar Adalah jumlah rata-rata waktu yang diperlukan untuk membayar hutang usaha. Rata-rata periode bayar dapat diukur dengan rumus : 𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝐵𝑎𝑦𝑎𝑟 = Hutang Usaha Rata − Rata Pembelian per Hari 𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝐻𝑎𝑟𝑖 = Pembelian Tahunan 360
  • 16. 12 2.1.2.5 Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover) Rasio ini merupakan perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap. Fixed assets turn over mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap seperti pabrik dan peralatan, dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan bersih yang dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva tetap (Sawir, 2003:17). Rasio ini berguna untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan menggunakan aktivanya secara efektif untuk meningkatkan pendapatan. Kalau perputarannya lambat (rendah), kemungkinan terdapat kapasitas terlalu besar atau ada banyak aktiva tetap namun kurang bermanfaat, atau mungkin disebabkan hal-hal lain seperti investasi pada aktiva tetap yang berlebihan dibandingkan dengan nilai output yang akan diperoleh. Jadi semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut. Perputaran aktiva tetap dihitung dengan rumus: 𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟 = Penjualan Aktiva Tetap Bersih 2.1.2.6 Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turnover) Total assets turnover merupakan perbandingan antara penjualan dengan total aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan kecepatan perputarannya total aktiva dalam satu periode tertentu. Total assets turn over merupakan rasio yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu (Syamsuddin, 2009:19). Total assets turnover merupakan rasio yang menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan. Jadi semakin besar rasio ini semakin baik yang berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba dan menunjukkan semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Dengan kata lain jumlah asset yang sama dapat memperbesar volume penjualan apabila assets turn overnya ditingkatkan atau diperbesar. Total assets turnover ini penting bagi para kreditur dan pemilik perusahaan, tapi akan lebih penting lagi bagi manajemen perusahaan, karena hal ini akan menunjukkan efisien tidaknya penggunaan seluruh aktiva dalam perusahaan.
  • 17. 13 Perputaran total aktiva dihitung sebagai berikut: 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟 = Penjualan Total Aktiva 2.1.3 Analisis Rasio Hutang Menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial baik jangka waktu pendek atau panjang apabila sekiranya perusahaan dilikuidasi. Suatu perusahaan yang solvable berarti bahwa perusahaan tersebut mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutanghutang nya begitu pula sebaliknya perusahaan yang tidak mempunyai kekayaan yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya disebut perusahaan yang insolvable. Rasio hutang terdiri dari: 2.1.3.1 Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio atau Ratio Leverage) Menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang pada pihak luar dan digunakan untuk mengukur hingga sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang. Struktur modal adalah pembelanjaan permanen dimana mencerminkan pengimbangan antar hutang jangka panjang dan modal sendiri. Modal sendiri adalah modal yang berasal dari perusahaan itu sendiri (cadangan, laba) atau berasal dari mengambil bagian, peserta, atau pemilik (modal saham, modal peserta dan lain-lain) (Riyanto, 2008:22). Jadi dapat disimpulkan bahwa debt to equity ratio merupakan perbandingan antara total hutang (hutang lancar dan hutang jangka panjang) dan modal yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya dengan menggunakan modal yang ada. Rasio hutang modal dihitung dengan formula: 𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = Hutang Jangka Panjang Ekuitas Pemegang Saham Menurut Syafri (2008:303) semakin kecil rasio hutang modal maka semakin baik dan untuk keamanan pihak luar rasio terbaik jika jumlah modal lebih besar dari jumlah hutang atau minimal sama.
  • 18. 14 2.1.3.2 Rasio Hutang (Debt Ratio) Rasio ini merupakan perbandingan antara total hutang dengan total aktiva. Sehingga rasio ini menunjukkan sejauh mana hutang dapat ditutupi oleh aktiva. Menurut Sawir (2008:13) debt ratio merupakan rasio yang memperlihatkan proposi antara kewajiban yang dimiliki dan seluruh kekayaan yang dimiliki. Rasio ini dihitung dengan rumus: 𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = Total Hutang Total Aktiva Apabila debt ratio semakin tinggi, sementara proporsi total aktiva tidak berubah maka hutang yang dimiliki perusahaan semakin besar. Total hutang semakin besar berarti rasio financial atau rasio kegagalan perusahaan untuk mengembalikan pinjaman semakin tinggi. Dan sebaliknya apabila debt ratio semakin kecil maka hutang yang dimiliki perusahaan juga akan semakin kecil dan ini berarti risiko financial perusahaan mengembalikan pinjaman juga semakin kecil. 2.1.3.3 Times Interest Earned / Coverage Ratio (Rasio Penutupan) Times interest earned merupakan perbandingan antara laba bersih sebelum bunga dan pajak dengan beban bunga dan merupakan rasio yang mencerminkan besarnya jaminan keuangan untuk membayar bunga utang jangka panjang. Sawir (2008:14) mengatakan bahwa : Rasio ini juga disebut dengan rasio penutupan (coverage ratio), yang mengukur kemampuan pemenuhan kewajiban bunga tahunan dengan laba operasi (EBIT) dan mengukur sejauh mana laba operasi boleh turun tanpa menyebabkan kegagalan dari pemenuhan kewajiban membayar bunga pinjaman. Time Interest Earned dapat dihitung dengan rumus: 𝑇𝑖𝑚𝑒 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑒𝑑 = Laba Bersih Sebelum Bunga dan Pajak (EBIT) Beban Bunga Jadi rasio hutang merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajibannya, untuk melunasi seluruh hutangnya yang ada dengan menggunakan seluruh aset yang dimilikinya apabila sekiranya perusahaan dilikuidasi. Dengan demikian rasio solvabilitas berpengaruh dengan kinerja keuangan perusahaan sehingga rasio ini memiliki hubungan dengan harga saham perusahaan.
  • 19. 15 2.1.4 Analisis Rasio Profitabilitas Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya. Efektifitas manajemen disini dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan. Rasio ini disebut juga rasio rentabilitas. Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatka laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya (Syafri, 2008:304). Rasio yang termasuk rasio profitabilitas antara lain: 2.1.4.1 Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) Gross profit margin merupakan rasio yang mengukur efisiensi pengendalian harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien (Sawir, 2009:18). Gross profit margin merupakan persentase laba kotor dibandingkan dengan sales. Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan sales, demikian pula sebaliknya, semakin rendah gross profit margin semakin kurang baik operasi perusahaan (Syamsuddin, 2009:61). Margin laba kotor dihitung dengan formula: 𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 = Penjualan − Harga Pokok Penjualan Penjualan 2.1.4.2 Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Semakin tinggi Net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan. Margin Laba Bersih dihitung dengan rumus: 𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 = Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) Penjualan
  • 20. 16 2.1.4.3 Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin) Adalah ukuran persentasi dari setiap hasil sisa penjualan sesudah semua biaya dan pengeluaran lain dikurangi kecuali bunga dan pajak atau laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan. Margin laba operasi mengukur laba yang dihasilkan murni dari operasi penjualan tanpa melihat beban keuangan (bunga) dan beban dari pemerintah (pajak) Margin laba operasi dihitung dengan rumus : 𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 = Laba Sebelum Bunga & 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 (𝐸𝐵𝐼𝑇) Penjualan 2.1.4.4 Hasil Atas Total Aset (Return On Investment) Return on investment merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total aktiva. Return on investment adalah merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan (Syamsuddin, 2009:63). Semakin tinggi rasio ini semakin baik keadaan suatu perusahaan. Return on investment merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva. (Syafri, 2008:63). Hasil atas total aset dihitung dengan rumus: 𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑜𝑛 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡 = Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) Total Aktiva 2.1.4.5 Hasil Atas Ekuitas (Return On Equity) Return on equity merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan total ekuitas. Return on equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan (Syafri, 2008:305). Return on equity adalah rasio yang memperlihatkan sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri (net worth) secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang saham perusahaan (Sawir 2009:20). ROE menunjukkan rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut rentabilitas usaha. Hasil atas ekuitas dapat dihitung dengan formula:
  • 21. 17 𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑜𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 = Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) Ekuitas 2.1.4.6 Pendapatan per Saham (Earning per Share) Earning per share adalah rasio yang menunjukkan berapa besar kemampuan perlembar saham dalam menghasilkan laba (Syafri, 2008:306). Earning per share merupakan rasio yang menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa (Syamsuddin, 2009:66). Oleh karena itu pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik akan earning per share. Earning per share adalah suatu indikator keberhasilan perusahaan. Pendapatan per saham dihitung dengan rumus: 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟 𝑆ℎ𝑎𝑟𝑒 = Pendapatan yang Tersedia bagi Pemegang Saham Biasa Jumlah Lembar Saham yang Beredar 2.1.5 Analisis Rasio Pasar Rasio pasar merupakan sekumpulan rasio yang menghubungkan harga saham dengan laba dan nilai buku per saham. Rasio ini memberikan petunjuk mengenai apa yang dipikirkan investor atas kinerja perusahaan di masa lalu serta prospek di masa mendatang (Moeljadi, 2006:75). Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat (investor) atau para pemegang saham menghargai perusahaan, sehingga mereka mau membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan nilai buku saham (Sutrisno, 2003:256). Menurut Hanafi (2004:43). Rasio pasar mengukur harga pasar saham perusahaan, relatif terhadap nilai bukunya. Sudut pandang rasio ini lebih banyak berdasar pada sudut pandang investor ataupun calon investor, meskipun pihak manajemen, juga berkepentingan rasio ini. Rasio modal saham atau rasio pasar terdiri dari: 2.1.5.1 Rasio Harga Pasar / Pendapatan (Price Earning Ratio) Menurut Moeljadi (2006:75), Price Earning Ratio (PER) menunjukan berapa banyak investor bersedia membayar untuk tiap rupiah dari laba yang dilaporkan. Oleh para investor rasio ini digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa yang akan datang. Kesediaan para investor untuk menerima kenaikan PER sangat bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan dengan peluang tingkat
  • 22. 18 pertumbuhan yang tingi, biasanya memiliki PER yang tinggi. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung memiliki PER yang rendah pula. (Prastowo 2005:96) Price Earning Ratio dihitung dengan rumus : 𝑃𝑟𝑖𝑐𝑒 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = Harga Pasar per Lembar Saham Biasa Pendapatan per Saham 2.1.5.2 Rasio Harga Pasar / Nilai Buku (Market to Book Value Ratio) Rasio ini menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi rasio ini, semakin besar tambahan wealth (kekayaan) yang dinikmati oleh pemilik perusahaan (Husnan, 2006:76) Menurut prastowo (2005:99),jika harga pasar berada di bawah nilai bukunya, investor memandang bahwa perusahaan tidak cukup potensial. Bila seorang investor pesimistik atau prospek suatu saham, banyak saham dijual pada harga di bawah nilai bukunya. Sebaliknya jika investor optimistic maka saham dijual dengan harga di atas nilai bukunya. Market to Book Value Ratio dihitung dengan rumus : 𝑀𝑎𝑟𝑘𝑒𝑡 𝑡𝑜 𝐵𝑜𝑜𝑘 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = Nilai Buku per Lembar Saham Biasa Jumlah Lembar Saham Biasa yang Beredar 2.1.5.3 Rasio Pendapatan Deviden (Dividend Yield Ratio) Dividend Yield adalah dividen yang dibayarkan dibagi dengan harga saham sekarang (Jones, 2004:41). Dividend yield dinyatakan dalam bentuk persentase yang merupakan salah satu komponen dari total return (Total Return = Yield + Price Change). Dividend yield merupakan sebagian dari total return yang akan diperoleh investor. Biasanya perusahaan yang mempunyai prospek pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai dividend yield yang rendah, karena dividen sebagian besar akan diinvestasikan kembali. Kemudian karena perusahaan dengan prospek yang tinggi akan mempunyai harga pasar saham yang tinggi, yang berarti pembaginya tinggi, maka dividend yield untuk perusahaan macam ini akan cenderung lebih rendah (Hanafi, 2004:43) Dividend Yield Ratio dihitung dengan rumus : 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑡 𝑌𝑖𝑒𝑙𝑑 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = Dividen per Lembar Saham Harga Pasar per Lembar Saham Biasa
  • 23. 19 2.1.5.4 Rasio Pembayaran Deviden (Dividend Payout Ratio) Rasio ini melihat bagian pendapatan yang dibayarkan sebagai dividen kepada investor. Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan (Hanafi, 2004:44) Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai rasio pembayaran dividen yang rendah. Sebaliknya perusahaan yang tingkat pertumbuhannya rendah akan mempunyai rasio yang tinggi. Pembayaran dividen juga merupakan kebijakan dividen perusahaan. Menurut Alwi (2003:78), semakin besar rasio ini maka semakin lambat atau kecil pertumbuhan pendapatan perusahaan. Dividend Payout Ratio dapat dihitung dengan rumus : 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑑 𝑃𝑎𝑦𝑜𝑢𝑡 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = Dividen per Lembar Saham Pendapatan per Lembar Saham × 100%
  • 24. 20 BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang didapatkan oleh penulis berdasarkan analisis terhadap laporan keuangan pada kelompok industri otomotif yang go public, meliputi : 1. PT Astra Otoparts Tbk PT Astra Otoparts Tbk (Astra Otoparts) adalah perusahaan komponen otomotif terkemuka Indonesia yang memproduksi dan mendistribusikan suku cadang kendaraan bermotor baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Sejarah Astra Otoparts bermula dari didirikannya PT Alfa Delta Motor pada tahun 1976, yang bergerak di perdagangan otomotif, perakitan mesin dan konstruksi. Setelah mengalami berbagai perubahan dan pergantian nama perusahaan, akhirnya pada tahun 1997 berganti nama menjadi PT Astra Otoparts dan pada tahun 1998 mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) dengan kode transaksi: AUTO. Sejak saat itu PT Astra Otoparts menjadi perusahaan publik dengan nama PT Astra Otoparts Tbk. Saat ini perusahaan telah bertransformasi menjadi perusahaan industri komponen otomotif terbesar di Indonesia yang didukung oleh enam unit bisnis dan 33 anak perusahaan dengan 34.566 orang karyawan. Beberapa anak perusahaan merupakan perusahaan patungan dengan sejumlah produsen komponen terkemuka dari Jepang, Cina, Eropa dan Amerika, seperti Aisin Seiki, Aisin Takaoka, Akashi Kikai Seisakusho, Akebono Brake, Asano Gear, Daido Steel, Denso, DIC Corporation, GS Yuasa, Juoku Technology, Kayaba, Keihin Seimitsu Kogyo, Mahle, NHK Precision, Nippon Gasket, Nittan Valve, Pirelli, SunFun Chain, Toyoda Gosei, Toyota Industries, Visteon, dan Aktiebolaget SKF. Suku cadang kendaraan bermotor produk Astra Otoparts diserap pasar segmen pabrikan otomotif atau Original Equipment for Manufacturer (OEM) dan segmen pasar suku cadang pengganti atau Replacement Market (REM). Pelanggan Astra Otoparts di segmen OEM diantaranya adalah Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks, Mitsubishi, Suzuki, Honda, Yamaha, Kawasaki, dan Hino. Sedangkan di segmen REM, produk Astra Otoparts sudah didistribusikan ke seluruh pelosok Nusantara, melalui 70 jaringan distribusi (48 diler di area luar Jawa-Bali dan 22 kantor penjualan di area Jawa-Bali) dan 12.000 toko suku cadang. Produk Astra Otoparts tidak hanya menguasai pasar dalam
  • 25. 21 negeri tetapi juga telah merambah ke lebih dari 40 negara di Timur Tengah, Asia Oceania, Afrika, Eropa, dan Amerika. Astra Otoparts memiliki dua kantor perwakilan masing-masing di Singapura dan Dubai. 2. PT Gajah Tunggal Tbk PT Gajah Tunggal Tbk memiliki dan mengoperasikan fasilitas produksi ban yang terintegrasi dan terbesar di Indonesia. Perusahaan didirikan pada tahun 1951 sebagai produsen ban sepeda, dan selama bertahun-tahun memperluas kapasitas produksi dan awal diversifikasinya dalam pembuatan ban sepeda motor dan ban dalam, serta akhirnya ke dalam pembuatan ban kendaraan penumpang dan komersial. Perusahaan mulai memproduksi ban sepeda motor pada tahun 1973 dan mulai memproduksi ban bias untuk penumpang dan kendaraan komersial pada tahun 1981. Pada tahun 1993, Perusahaan mulai memproduksi dan menjual ban radial untuk mobil penumpang dan truk ringan. Pada tahun 2010, Perusahaan melakukan pengembangan kemampuan produksi ban TBR. Bisnis utama Perusahaan mencakup pengembangan, pembuatan dan penjualan ban radial, ban bias, ban sepeda motor, ban dalam, flap dan rim tape, Perusahaan juga memproduksi serta menjual tali ban dan karet sintetis beserta olahan, yang merupakan komponen utama yang digunakan dalam pembuatan ban. Sebagian besar pendapatan Perusahaan adalah dari penjualan ban di Indonesia dan luar negeri. Perusahaan juga mendapatkan pendapatan dari penjualan produk yang terkait dengan ban, yang terdiri dari kain ban dan karet sintetis. Melalui divisi produk yang terkait dengan ban, selain menjual kepada pihak ketiga, Perusahaan juga memproduksi kain ban dan karet sintetis digunakan untuk memproduksi ban sendiri, hal ini sebagai bagian dari strategi untuk mengintegrasikan secara vertikal sarana produksi untuk merasionalisasi biaya produksi. Perusahaan mengoperasikan berbagai pabrik di Indonesia yang memproduksi ban radial untuk mobil penumpang, ban bias untuk truk dan bus, ban sepeda motor, ban TBR, dan ban dalam (baik untuk sepeda motor dan automotif serta aksesoris ban seperti flaps, rim tape dan O-rings ) dengan fasilitas pendukung yang mengolah karet yang direklamasi. Perusahaan juga mengoperasikan dua pabrik yang memproduksi produk yang terkait dengan ban yaitu kain ban dan karet sintetis. Pabrik yang memproduksi produk yang terkait dengan ban berlokasi di Tangerang dan Serang. Perusahaan juga
  • 26. 22 memiliki sekitar 100 hektar tanah di Karawang, yang rencananya akan digunakan sebagian untuk pengujian desain ban dan sisanya direncanakan akan digunakan untuk ekspansi dan diversifikasi lini manufaktur. Walaupun barang yang dihasilkan dari kedua perusahaan ini berbeda, namun Astra Oto Parts dan Gajah Tunggal bergerak di satu bidang industri yang sama yaitu otomotif. Karena hal inilah kedua perusahaan ini bisa membandingkan kinerja perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya. Penulis menganalisis laporan keuangan pada Semester 1 2012 dan Semester 1 2013 untuk mengetahui kinerja perusahaan tersebut pada industri otomotif. Analisis yang dilakukan oleh penulis untuk mengetahui kinerja perusahaan industri otomotif adalah sebagai berikut :  Analisis Likuiditas  Analisis Aktivitas  Analisis Hutang  Analisis Profitabilitas  Analisis Pasar 3.1 Kinerja Perusahaan Kelompok Industri Otomotif 3.1.1 Kinerja PT Astra Otoparts Tbk. 3.1.1.1 Analisis Likuiditas 1. Rasio Lancar (Current Ratio) Tabel 3.1 PT Astra Otoparts Tbk. Current Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Interpretasi 2012 3.198.306 2.453.413 1,30 Naik 2013 5.441.625 2.836.154 1,92 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Bila dilihat pada tabel diatas, terjadi peningkatan rasio lancar pada tahun 2013 dibanding tahun sebelumnya. Ini dikarenakan aktiva lancar di tahun 2013 terjadi
  • 27. 23 peningkatan yang cukup banyak apabila dibandingkan peningkatan terhadap hutang lancarnya. Angka rasio lancar pada tahun 2013 bisa dikatakan mendekati baik (Rasio Lancar = 2). 2. Rasio Cepat (Quick Ratio) Tabel 3.2 PT Astra Otoparts Tbk. Quick Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Aktiva Lancar - Persediaan Hutang Lancar Interpretasi 2012 2.136.291 2.453.413 0,87 Naik 2013 3.983.141 2.836.154 1,40 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Karena rasio cepat terjadi peningkatan dibanding tahun sebelumnya, biasanya diikuti juga dengan peningkatan rasio cepat yang bisa dilihat pada tabel. Namun apabila persediaan terlalu banyak, maka akan menurunkan rasio cepat dari perusahaan karena sifat dari persediaan yang kurang likuid. 3. Rasio Kas (Cash Ratio) Tabel 3.3 PT Astra Otoparts Tbk. Cash Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Kas Hutang Lancar Interpretasi 2012 461.576 2.453.413 0,19 Naik 2013 1.948.526 2.836.154 0,69 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Terlihat bahwa rasio kas pada tahun 2013 naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yang dikarenakan kas yang tersedia pada tahun 2013 naik hingga 4 kali lipat.
  • 28. 24 Namun, semakin banyak kas yang ada maka akan mengurangi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba. 4. Modal Kerja Bersih (Net Working Capital) Tabel 3.4 PT Astra Otoparts Tbk. Net Working Capital (dalam jutaan rupiah) Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar NWC Interpretasi 2012 3.198.306 2.453.413 744.893 Naik 2013 5.441.625 2.836.154 2.605.471 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Adanya peningkatan modal kerja bersih pada tahun 2013 mengindikasikan bahwa terjadi juga peningkatan didalam investasi perusahaan dalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat – surat berharga), piutang dagang dan persediaan dibandingkan tahun 2012. 3.1.1.2 Analisis Aktivitas 1. Perputaran Persediaan (Inventory Turnover) Tabel 3.5 PT Astra Otoparts Tbk. Inventory Turnover (dalam jutaan rupiah) Tahun Harga Pokok Penjualan Persediaan Interpretasi 2012 3.485.651 1.062.015 3,28 kali Turun 2013 4.180.274 1.458.484 2,87 kali Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013
  • 29. 25 Pada tahun 2013 terjadi penurunan perputaran persediaan yang mengindikasikan bahwa adanya penurunan efisiensi didalam pengelolaan persediaan barang dagang dibandingkan tahun 2012 karena semakin lamanya persediaan dipegang oleh perusahaan. 2. Perputaran Piutang Tabel 3.6 PT Astra Otoparts Tbk. Perputaran Piutang (dalam jutaan rupiah) Tahun Penjualan Piutang % Interpretasi 2012 4.161.580 1.097.248 3,79 Turun 2013 4.961.180 1.467.796 3,38 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Terjadi juga penurunan rasio perputaran piutang pada tahun 2013 dikarenakan saldo piutang yang naik. Ini dapat mengindikasikan bahwa perusahaan mempunyai kesulitan dalam penagihan piutang. 3. Rata-Rata Periode Tagih Tabel 3.7 PT Astra Otoparts Tbk. Rata-Rata Periode Tagih (dalam jutaan rupiah) Tahun Piutang Penjualan Semester / 180 % Interpretasi 2012 1.097.248 23.120 47,46 Naik 2013 1.467.796 27.562 53,25 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013
  • 30. 26 Nilai rata-rata periode tagih pada tahun 2013 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012, yang dapat menunjukkan bahwa pengelolaan kredit perusahaan kinerjanya menurun. 4. Rata-Rata Periode Bayar Tabel 3.8 PT Astra Otoparts Tbk. Rata-Rata Periode Bayar (dalam jutaan rupiah) Tahun Hutang Usaha Pembelian Semester / 180 % Interpretasi 2012 816.898 5.422 150,66 Turun 2013 1.250.639 17.416 71,81 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Kesulitan dalam rasio ini adalah mencari pembelian tahunan / semester karena tidak diperoleh dari laporan keuangan yang dipublikasikan. Namun bisa dilihat bahwa nilai rata-rata periode bayar pada tahun 2013 mengalami penurunan yang mengindikasikan bahwa adanya kelancaran didalam membayar hutang usaha. 5. Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover) Tabel 3.9 PT Astra Otoparts Tbk. Fixed Assets Turnover (dalam jutaan rupiah) Tahun Penjualan Aktiva Tetap Bersih % Interpretasi 2012 4.161.580 4.724.194 0,88 Turun 2013 4.961.180 7.142.940 0,69 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013
  • 31. 27 Terjadi penurunan pada rasio ini di tahun 2013 dibandingkan tahun 2012 mencerminkan tingkat efisiensi penggunaan aktiva tetap dari perusahaan yang menurun sehingga berdampak terhadap penjualan perusahaan. 6. Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turnover) Tabel 3.10 PT Astra Otoparts Tbk. Total Assets Turnover (dalam jutaan rupiah) Tahun Penjualan Total Aktiva % Interpretasi 2012 4.161.580 7.922.500 0,52 Turun 2013 4.961.180 12.584.565 0,39 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Efisiensi perusahaan didalam menggunakan seluruh aktivanya untuk menghasilkan penjualan kembali mengalami penurunan pada tahun 2013 apabila dibandingkan dengan tahun 2012. 3.1.1.3 Analisis Hutang 1. Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio atau Ratio Leverage) Tabel 3.11 PT Astra Otoparts Tbk. Debt to Equity Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Hutang Jangka Panjang Ekuitas Pemegang Saham % Interpretasi 2012 500.964 4.968.123 10,08 Turun 2013 600.352 9.148.059 6,56 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013
  • 32. 28 Terdapat penurunan rasio hutang terhadap ekuitas pada tahun 2013 mengindikasikan bahwa hutang jangka panjang perusahaan hanya sebesar 6,56% dari modal sendiri, dan perusahaan lebih menyukai menerbitkan saham baru dibandingkan menggunakan hutang jangka panjang. 2. Rasio Hutang (Debt Ratio) Tabel 3.12 PT Astra Otoparts Tbk. Debt Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Total Hutang Total Aktiva % Interpretasi 2012 2.954.377 7.922.500 37,29 Turun 2013 3.436.506 12.584.565 27,30 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Terdapat penurunan rasio hutang pada tahun 2013 dibandingkan tahun 2012 yang menggunakan hutang sebesar 27,30% dari total aktiva perusahaan. Semakin rendah persentase hutang, maka semakin baik bagi keuangan perusahaan. 3. Times Interest Earned / Coverage Ratio (Rasio Penutupan) Tabel 3.13 PT Astra Otoparts Tbk. Times Interest Earned (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Sebelum Bunga dan Pajak Beban Bunga % Interpretasi 2012 690.476 42.587 16,21 Turun 2013 695.395 66.228 10,50 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013
  • 33. 29 Terjadi penurunan pada rasio penutupan pada tahun 2013 menjadi 10,50 mengindikasikan bahwa laba operasi hanya boleh turun sebanyak itu agar tidak terjadi kegagalan dari pemenuhan kewajiban membayar bunga pinjaman, yang jauh lebih buruk bila dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 16,21. 3.1.1.4 Analisis Profitabilitas 1. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) Tabel 3.14 PT Astra Otoparts Tbk. Gross Profit Margin (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Kotor Penjualan % Interpretasi 2012 675.929 4.161.580 16,24 Turun 2013 780.906 4.961.180 15,74 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Terdapat penurunan margin laba kotor pada tahun 2013 yang disebabkan oleh harga pokok penjualan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan, karena itu keadaan operasi perusahaan relatif lebih baik pada tahun 2012 karena persentase margin laba kotor yang lebih tinggi. 2. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) Tabel 3.15 PT Astra Otoparts Tbk. Net Profit Margin (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) Penjualan % Interpretasi 2012 574.182 4.161.580 13,79 Turun 2013 556.027 4.961.180 11,20 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013
  • 34. 30 Terjadi penurunan persentase margin laba bersih pada tahun 2013 yang disebabkan oleh laba bersih setelah pajak tahun 2013 yang menurun bila dibandingkan pada tahun 2012, namun volume penjualan tahun 2013 melebihi volume penjualan tahun 2013. 3. Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin) Tabel 3.16 PT Astra Otoparts Tbk. Operating Profit Margin (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Operasi Bersih (EBIT) Penjualan % Interpretasi 2012 690.476 4.161.580 16,59 Turun 2013 695.395 4.961.180 14,02 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Berdasarkan rasio laba operasi bersih terhadap penjualan, maka diketahui bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba operasi bersih dari penjualan pada tahun 2013 terlalu rendah atau tidak mencapai target apabila dibandingkan dengan tahun 2012. Bisa juga terjadi kemungkinan bahwa adanya inefisiensi pada kegiatan diluar usaha perusahaan, sehingga menjadi beban laba usaha. 4. Hasil Atas Total Aset (Return On Investment) Tabel 3.17 PT Astra Otoparts Tbk Return on Investment (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) Total Aktiva % Interpretasi 2012 574.182 7.922.500 7,25 Turun 2013 556.027 12.584.565 4,42 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013
  • 35. 31 Berdasarkan Return on Investment, maka diperoleh bawa kinerja perusahaan mengalami penurunan. Penurunan ini disebabkan oleh profit margin yang menurun namun total aktiva yang terus meningkat. Jika penurunan ROI ini terus terjadi, maka akan mengakibatkan menurunnya kepercayaan investor atau pemilik modal kepada perusahaan, sehubungan dengan turunnya kemampuan investasi perusahaan. 5. Hasil Atas Ekuitas (Return on Equity) Tabel 3.18 PT Astra Otoparts Tbk. Return on Equity (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) Ekuitas % Interpretasi 2012 574.182 4.968.123 11,55 Turun 2013 556.027 9.148.059 6,07 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Dari tabel di atas diperoleh bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di tahun 2013 menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2012 karena kenaikan ekuitas tidak diiringi dengan kenaikan laba bersih setelah pajak. 6. Pendapatan per Saham (Earning per Share) Tabel 3.19 PT Astra Otoparts Tbk. Earning per Share (dalam jutaan rupiah) Tahun Pendapatan Bagi Pemegang Saham Lembar Saham % Interpretasi 2012 527.904 3.855,79 137 Turun 2013 518.618 4.819,73 108 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013
  • 36. 32 Pendapatan per saham pada tahun 2013 pun mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2012 karena laba bersih sebelum pajak yang menurun mengakibatkan pendapatan bagi pemegang saham ikut berkurang, namun jumlah lembar saham yang diterbitkan perusahaan naik hingga 25%. 3.1.1.5 Analisis Pasar 1. Rasio Harga Pasar / Pendapatan (Price Earning Ratio) Tabel 3.20 PT Astra Otoparts Tbk. Price Earning Ratio Tahun Harga Pasar / Lembar Saham Pendapatan / Saham Interpretasi 2012 3.425 137 25 Naik 2013 4.075 108 37,73 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Terjadi peningkatan rasio H/P pada tahun 2013 yang disebabkan oleh harga saham yang naik dan pendapatan/saham yang turun dibandingkan tahun 2012. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap perusahaan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. 2. Rasio Harga Pasar / Nilai Buku (Market to Book Value Ratio) Tabel 3.21 PT Astra Otoparts Tbk. Market to Book Value Ratio Tahun Harga Pasar / Lembar Saham Nilai Buku / Lembar Saham Interpretasi 2012 3.425 1.288,48 2,66 Turun 2013 4.075 1.898,04 2,15 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013
  • 37. 33 Terjadi penurunan rasio H/NB pada tahun 2013 menunjukkan bahwa investor pada tahun 2013 membayar harga yang lebih rendah untuk setiap saham perusahaan dibandingkan tahun 2012. 3. Rasio Pendapatan Deviden (Dividend Yield Ratio) Tabel 3.22 PT Astra Otoparts Tbk. Dividend Yield Ratio Tahun Dividen / Lembar Saham Harga Pasar / Lembar Saham % Interpretasi 2012 80 3.425 2,33 Turun 2013 91 4.075 2,23 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Adanya sedikit penurunan rasio pendapatan deviden dikarenakan harga pasar per lembar saham yang lebih tinggi daripada tahun sebelumnya walaupun dividen yang dibagikan tiap lembar saham juga ikut meningkat. 4. Rasio Pembayaran Deviden (Dividend Payout Ratio) Tabel 3.23 PT Astra Otoparts Tbk. Dividend Payout Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Dividen / Lembar Saham Pendapatan / Lembar Saham % Interpretasi 2012 80 137 58,39 Naik 2013 91 108 84,26 Sumber : Laporan Keuangan PT Astra Otoparts Tbk tahun 2012,2013 Terjadi peningkatan yang cukup drastis pada rasio pembayaran deviden dikarenakan pendapatan per lembar saham yang menurun pada tahun 2013 dibandingkan
  • 38. 34 tahun 2012 namun dividen yang diberikan per lembar saham meningkat sebanyak 11 Rupiah per lembarnya. 3.1.2 Kinerja PT Gajah Tunggal Tbk. 3.1.2.1 Analisis Likuiditas 1. Rasio Lancar (Current Ratio) Tabel 3.24 PT Gajah Tunggal Tbk. Current Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar % Interpretasi 2012 5.061.960 3.115.226 1,62 Naik 2013 6.323.647 2.728.284 2,31 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Bila dilihat pada tabel diatas, terjadi peningkatan rasio lancar pada tahun 2013 dibanding tahun sebelumnya. Ini dikarenakan aktiva lancar di tahun 2013 terjadi peningkatan yang cukup banyak namun hutang lancar semakin menurun. Angka rasio lancar pada tahun 2013 bisa dikatakan baik (Rasio Lancar = 2). 2. Rasio Cepat (Quick Ratio) Tabel 3.25 PT Gajah Tunggal Tbk. Quick Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Aktiva Lancar - Persediaan Hutang Lancar % Interpretasi 2012 3.405.113 3.115.226 1,09 Naik 2013 4.456.377 2.728.284 1,63 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013
  • 39. 35 Karena rasio cepat terjadi peningkatan dibanding tahun sebelumnya, biasanya diikuti juga dengan peningkatan rasio cepat yang bisa dilihat pada tabel. Kenaikan dari aktiva lancar dikurangi persediaan pada tahun 2013 tidak terlalu banyak, namun hutang lancar yang menurun ikut membantu meningkatkan rasio lancar perusahaan. 3. Rasio Kas (Cash Ratio) Tabel 3.26 PT Gajah Tunggal Tbk. Cash Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Kas Hutang Lancar % Interpretasi 2012 677.198 3.115.226 0,22 Naik 2013 1.617.670 2.728.284 0,59 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Rasio kas pada tahun 2013 naik cukup banyak dibanding tahun sebelumnya yang dikarenakan kas yang tersedia pada tahun 2013 naik 2,5 kali lipat dan ditambah dengan penurunan hutang lancar dari tahun sebelumnya. Namun, semakin banyak kas yang ada maka akan mengurangi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba. 4. Modal Kerja Bersih (Net Working Capital) Tabel 3.27 PT Gajah Tunggal Tbk. Net Working Capital (dalam jutaan rupiah) Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar % Interpretasi 2012 5.061.960 3.115.226 1.946.734 Naik 2013 6.323.647 2.728.284 3.595.363 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013
  • 40. 36 Adanya peningkatan modal kerja bersih pada tahun 2013 mengindikasikan bahwa terjadi juga peningkatan didalam investasi perusahaan dalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat – surat berharga), piutang dagang dan persediaan dibandingkan tahun 2012. 3.1.2.2 Analisis Aktivitas 1. Perputaran Persediaan (Inventory Turnover) Tabel 3.28 PT Gajah Tunggal Tbk. Inventory Turnover (dalam jutaan rupiah) Tahun Harga Pokok Penjualan Persediaan % Interpretasi 2012 5.257.562 1.656.847 3,17 kali Turun 2013 4.896.807 1.867.270 2,62 kali Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Pada tahun 2013 terjadi penurunan perputaran persediaan yang mengindikasikan bahwa adanya penurunan efisiensi didalam pengelolaan persediaan barang dagang dibandingkan tahun 2012 karena semakin lamanya persediaan dipegang oleh perusahaan namun harga pokok penjualan malah menurun. 2. Perputaran Piutang Tabel 3.29 PT Gajah Tunggal Tbk. Perputaran Piutang (dalam jutaan rupiah) Tahun Penjualan Piutang % Interpretasi 2012 6.365.825 1.793.217 3,55 Turun 2013 6.129.102 1.879.106 3,26 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013
  • 41. 37 Terjadi juga penurunan rasio perputaran piutang pada tahun 2013 dikarenakan saldo piutang yang naik tetapi penjualan yang terus menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Ini dapat mengindikasikan bahwa perusahaan mempunyai kesulitan dalam penagihan piutang. 3. Rata-Rata Periode Tagih Tabel 3.30 PT Gajah Tunggal Tbk. Rata-Rata Periode Tagih (dalam jutaan rupiah) Tahun Piutang Penjualan Semester / 180 % Interpretasi 2012 1.793.217 35.365,70 50,70 Naik 2013 1.879.106 34.050,57 55,18 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Nilai rata-rata periode tagih pada tahun 2013 mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun 2012, yang dapat menunjukkan bahwa pengelolaan kredit perusahaan kinerjanya menurun. 4. Rata-Rata Periode Bayar Tabel 3.31 PT Gajah Tunggal Tbk. Rata-Rata Periode Bayar (dalam jutaan rupiah) Tahun Hutang Usaha Pembelian Semester / 180 % Interpretasi 2012 1.295.552 5.683,95 227,93 Turun 2013 1.002.374 5.815,96 172,34 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013
  • 42. 38 Kesulitan dalam rasio ini adalah mencari pembelian tahunan / semester karena tidak diperoleh dari laporan keuangan yang dipublikasikan. Namun bisa dilihat bahwa nilai rata-rata periode bayar pada tahun 2013 mengalami penurunan yang mengindikasikan bahwa perusahaan semakin lancar didalam membayar hutang usaha. 5. Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover) Tabel 3.32 PT Gajah Tunggal Tbk. Fixed Assets Turnover (dalam jutaan rupiah) Tahun Penjualan Aktiva Tetap Bersih % Interpretasi 2012 6.365.825 7.336.835 0,87 Turun 2013 6.129.102 7.751.216 0,79 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Terjadi penurunan pada rasio ini di tahun 2013 dibandingkan tahun 2012 mencerminkan tingkat efisiensi penggunaan aktiva tetap dari perusahaan yang menurun sehingga berdampak terhadap penjualan perusahaan ataupun ketidakmampuan perusahaan didalam mengelola aktiva tetap. 6. Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turnover) Tabel 3.33 PT Gajah Tunggal Tbk. Total Assets Turnover (dalam jutaan rupiah) Tahun Penjualan Total Aktiva % Interpretasi 2012 6.365.825 12.398.795 0,51 Turun 2013 6.129.102 14.074.863 0,43 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013
  • 43. 39 Efisiensi perusahaan didalam menggunakan seluruh aktivanya untuk menghasilkan penjualan mengalami penurunan pada tahun 2013 apabila dibandingkan dengan tahun 2012. 3.1.2.3 Analisis Hutang 1. Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio atau Ratio Leverage) Tabel 3.34 PT Gajah Tunggal Tbk. Debt to Equity Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Hutang Jangka Panjang Ekuitas Pemegang Saham % Interpretasi 2012 4.445.591 4.837.978 92 Naik 2013 5.480.849 5.865.730 93 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Terdapat kenaikan rasio terhadap ekuitas pada tahun 2013 walaupun hanya sebesar 0,01%. Hutang jangka panjang yang tinggi disebabkan oleh perusahaan menerbitkan obligasi dan ekuitas pemegang saham yang meningkat berbanding dengan hutang jangka panjang menjadikan rasio hutang terhadap ekuitas tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan tahun 2012. 2. Rasio Hutang (Debt Ratio) Tabel 3.35 PT Gajah Tunggal Tbk. Debt Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Total Hutang Total Aktiva % Interpretasi 2012 7.560.817 12.398.795 61 Turun 2013 8.209.133 14.074.863 58 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013
  • 44. 40 Terdapat penurunan rasio hutang pada tahun 2013 sebanyak 3% apabila dibandingkan dengan tahun 2012. Semakin rendah persentase hutang, maka semakin baik bagi keuangan perusahaan. Karena itu struktur modal perusahaan yang terlalu banyak didanai oleh hutang akan membuat perusahaan membayar beban bunga yang cukup besar setiap tahunnya. 3. Times Interest Earned / Coverage Ratio (Rasio Penutupan) Tabel 3.36 PT Gajah Tunggal Tbk. Times Interest Earned (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Sebelum Bunga dan Pajak Beban Bunga % Interpretasi 2012 827.791 185.608 4,46 Turun 2013 854.037 282.261 3,03 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Terjadi penurunan pada rasio penutupan pada tahun 2013 dari 4,46 menjadi 3,03 mengindikasikan bahwa laba operasi hanya boleh turun sebanyak itu agar tidak terjadi kegagalan dari pemenuhan kewajiban membayar bunga pinjaman.
  • 45. 41 3.1.2.4 Analisis Profitabilitas 1. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) Tabel 3.37 PT Gajah Tunggal Tbk. Gross Profit Margin (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Kotor Penjualan % Interpretasi 2012 1.108.263 6.365.825 17,41 Naik 2013 1.232.295 6.129.102 20,10 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Terdapat kenaikan margin laba kotor pada tahun 2013 yang disebabkan oleh harga pokok penjualan yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan penjualan, sehingga dapat dikatakan bahwa perusahaan mengalami peningkatan kinerja pada margin laba kotor. 2. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) Tabel 3.38 PT Gajah Tunggal Tbk. Net Profit Margin (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) Penjualan % Interpretasi 2012 526.204 6.365.825 8,26 Turun 2013 459.513 6.129.102 7,50 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Terjadi penurunan persentase margin laba bersih pada tahun 2013 yang disebabkan oleh laba bersih setelah pajak tahun 2013 yang menurun bila dibandingkan pada tahun 2012 karena harus membayar beban bunga yang tinggi, yang diiringi juga dengan menurunnya penjualan pada tahun 2013.
  • 46. 42 3. Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin) Tabel 3.39 PT Gajah Tunggal Tbk. Operating Profit Margin (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Operasi Bersih (EBIT) Penjualan % Interpretasi 2012 827.791 6.365.825 13,00 Naik 2013 854.037 6.129.102 13,93 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Berdasarkan rasio laba operasi bersih terhadap penjualan, maka diketahui bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba operasi bersih dari penjualan pada tahun 2013 cukup baik walaupun penjualan menurun bila dibandingkan dengan tahun 2012. 4. Hasil Atas Total Aset (Return On Investment) Tabel 3.40 PT Gajah Tunggal Tbk. Return on Investment (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) Total Aktiva % Interpretasi 2012 526.204 12.398.795 4,24 Turun 2013 459.513 14.074.863 3,26 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Berdasarkan Return on Investment, maka diperoleh bawa kinerja perusahaan mengalami penurunan. Penurunan ini disebabkan oleh profit margin yang menurun namun total aktiva yang terus meningkat. Jika penurunan ROI ini terus terjadi, maka
  • 47. 43 akan mengakibatkan menurunnya kepercayaan investor atau pemilik modal kepada perusahaan, sehubungan dengan turunnya kemampuan investasi perusahaan. 5. Hasil Atas Ekuitas (Return on Equity) Tabel 3.41 PT Gajah Tunggal Tbk. Return on Equity (dalam jutaan rupiah) Tahun Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) Ekuitas % Interpretasi 2012 526.204 4.837.978 10,87 Turun 2013 459.513 5.865.730 7,83 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Dari tabel di atas diperoleh bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di tahun 2013 menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2012 karena kenaikan ekuitas tidak diiringi dengan kenaikan laba bersih setelah pajak akibat beban bunga yang tinggi. 6. Pendapatan per Saham (Earning per Share) Tabel 3.42 PT Gajah Tunggal Tbk. Earning per Share (dalam jutaan rupiah) Tahun Pendapatan Bagi Pemegang Saham Lembar Saham Interpretasi 2012 526.204 3.484,8 151 Turun 2013 459.513 3.484,8 132 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013
  • 48. 44 Pendapatan per saham pada tahun 2013 pun mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2012 karena laba bersih sebelum pajak yang menurun mengakibatkan pendapatan bagi pemegang saham ikut berkurang dengan jumlah lembar saham yang sama pada tahun 2012. 3.1.2.5 Analisis Pasar 1. Rasio Harga Pasar / Pendapatan (Price Earning Ratio) Tabel 3.43 PT Gajah Tunggal Tbk. Price Earning Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Harga Pasar / Lembar Saham Pendapatan / Saham Interpretasi 2012 2.325 151 15,40 Naik 2013 3.225 132 24,43 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Terjadi peningkatan rasio H/P pada tahun 2013 yang disebabkan oleh harga saham yang naik dan pendapatan/saham yang turun dibandingkan tahun 2012. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap perusahaan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
  • 49. 45 2. Rasio Harga Pasar / Nilai Buku (Market to Book Value Ratio) Tabel 3.44 PT Gajah Tunggal Tbk. Market to Book Value Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Harga Pasar / Lembar Saham Nilai Buku / Lembar Saham Interpretasi 2012 2.325 500 4,65 Naik 2013 3.225 500 6,45 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Terjadi kenaikan rasio H/NB pada tahun 2013 menunjukkan bahwa investor pada tahun 2013 membayar harga yang lebih tinggi untuk setiap saham perusahaan dibandingkan tahun 2012. 3. Rasio Pendapatan Deviden (Dividend Yield Ratio) Tabel 3.45 PT Gajah Tunggal Tbk. Dividend Yield Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Dividen / Lembar Saham Harga Pasar / Lembar Saham % Interpretasi 2012 27 2.325 1,16 Turun 2013 27 3.225 0,84 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Adanya sedikit penurunan rasio pendapatan deviden dikarenakan harga pasar per lembar saham yang lebih tinggi daripada tahun sebelumnya tetapi dividen per lembar saham yang dibagikan tetap sama seperti tahun sebelumnya.
  • 50. 46 4. Rasio Pembayaran Deviden (Dividend Payout Ratio) Tabel 3.46 PT Gajah Tunggal Tbk. Dividend Payout Ratio (dalam jutaan rupiah) Tahun Dividen / Lembar Saham Pendapatan / Lembar Saham % Interpretasi 2012 27 151 17,88 Naik 2013 27 132 20,45 Sumber : Laporan Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk tahun 2012,2013 Terjadi peningkatan yang lumayan pada rasio pembayaran deviden dikarenakan pendapatan per lembar saham yang menurun pada tahun 2013 dibandingkan tahun 2012 namun dividen yang diberikan per lembar saham masih sama seperti tahun sebelumnya.
  • 51. 47 Tabel 3.47 Ikhtisar Perbandingan Analisis Likuiditas Pada Kelompok Industri Otomotif Semester 1 2012 dan Semester 1 2013 Perusahaan Current Ratio Quick Ratio Cash Ratio NWC 2012 2013 2012 2013 2012 2013 2012 2013 PT Astra Oto Parts Tbk 1,30 1,92 0,87 1,40 0,19 0,69 744.893 2.605.741 PT Gajah Tunggal Tbk 1,62 2,31 1,09 1,63 0,22 0,59 1.946.734 3.595.363 Tabel 3.48 Ikhtisar Perbandingan Analisis Aktivitas Pada Kelompok Industri Otomotif Semester 1 2012 dan Semester 1 2013 Perusahaan Inventory Turnover Perputaran Piutang Rata-Rata Periode Tagih Rata-Rata Periode Bayar Fixed Asset Turnover Total Asset Turnover 2012 2013 2012 2013 2012 2013 2012 2013 2012 2013 2012 2013 PT Astra Oto Parts Tbk 3,28 2,87 3,79 3,38 47,46 53,25 150,66 71,81 0,88 0,69 0,52 0,39 PT Gajah Tunggal Tbk 3,17 2,62 3,55 3,26 50,70 55,18 227,93 172,34 0,87 0,79 0,51 0,43
  • 52. 48 Tabel 3.49 Ikhtisar Perbandingan Analisis Hutang Pada Kelompok Industri Otomotif Semester 1 2012 dan Semester 1 2013 Perusahaan Debt to Equity Ratio Debt Ratio Times Interest Earned 2012 2013 2012 2013 2012 2013 PT Astra Oto Parts Tbk 10,08% 6,56% 37,29% 27,30% 16,21% 10,50% PT Gajah Tunggal Tbk 92% 93% 61% 58% 4,46% 3,03% Tabel 3.50 Ikhtisar Perbandingan Analisis Profitabilitas Pada Kelompok Industri Otomotif Semester 1 2012 dan Semester 1 2013 Perusahaan Gross Profit Margin Net Profit Margin Operating Profit Margin Return on Investment Return on Equity Earning per Share 2012 2013 2012 2013 2012 2013 2012 2013 2012 2013 2012 2013 PT Astra Oto Parts Tbk 16,24% 15,74% 13,79% 11,20% 16,59% 14,02% 7,25% 4,42% 11,55% 6,07% 137 108 PT Gajah Tunggal Tbk 17,41% 20,10% 8,26% 7,50% 13% 13,93% 4,24% 3,26% 10,87% 7,83% 151 132
  • 53. 49 Tabel 3.51 Ikhtisar Perbandingan Analisis Pasar Pada Kelompok Industri Otomotif Semester 1 2012 dan Semester 1 2013 Perusahaan Price Earning Ratio Market to Book Value Ratio Dividend Yield Ratio Dividend Payout Ratio 2012 2013 2012 2013 2012 2013 2012 2013 PT Astra Oto Parts Tbk 25 37,73 2,66 2,15 2,33% 2,23% 58,39% 84,26% PT Gajah Tunggal Tbk 15,40 24,43 4,65 6,45 1,16% 0,84% 17,88% 20,45%
  • 54. 50 Tabel 3.52 Ikhtisar Perbandingan Rasio Antara PT Astra Otoparts Tbk. dan PT Gajah Tunggal Tbk.
  • 55. 51 BAB 4 KESIMPULAN Dari perbandingan lima rasio keuangan yang sudah dipaparkan di bab 3 antara PT Astra Otoparts Tbk dan PT Gajah Tunggal Tbk, dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Pada analisis likuiditas, PT Gajah Tunggal Tbk secara keseluruhan lebih baik dibandingkan PT Astra Otoparts Tbk karena rasio lancar dan rasio cepat yang lebih besar, baik tahun 2012 maupun tahun 2013. 2. Pada analisis aktivitas juga PT Gajah Tunggal Tbk secara keseluruhan lebih baik dibandingkan PT Astra Otoparts Tbk karena perputaran persediaan yang lebih cepat sehingga dari segi penjualan bisa lebih baik pada tahun 2012 maupun tahun 2013. 3. Pada analisis hutang PT Gajah Tunggal Tbk memiliki rasio yang sangat buruk apabila dibandingkan dengan PT Astra Otoparts Tbk, baik itu pada tahun 2012 maupun tahun 2013. Ini dikarenakan PT Gajah Tunggal Tbk menerbitkan obligasi dengan jumlah yang sangat besar (Rp 3,768 Trilyun pada tahun 2012 dan Rp 4,832 Trilyun pada tahun 2013) namun tidak menerbitkan lembar saham baru, dan PT Astra Otoparts Tbk sama sekali tidak menerbitkan obligasi tetapi menerbitkan lembar saham yang baru. 4. Pada analisis profitabilitas PT Gajah Tunggal Tbk unggul di rasio margin laba kotor namun kalah di rasio lainnya dibanding PT Astra Otoparts Tbk pada tahun 2012 dan 2013, ini dikarenakan PT Gajah Tunggal Tbk harus membayar beban bunga yang cukup tinggi akibat dari penerbitan obligasi dalam jumlah yang besar. 5. Pada analisis pasar yang perlu dilihat adalah rasio pembayaran deviden, karena cukup terpaut jauh antara PT Gajah Tunggal Tbk dengan PT Astra Otoparts Tbk. PT Astra Otoparts Tbk berani memberikan deviden yang lebih tinggi karena perusahaan mereka hanya meluncurkan produk sekuritas berupa saham saja sehingga beban bunga rendah, dan PT Gajah Tunggal Tbk sebaliknya, membagikan deviden rendah karena harus menanggung beban bunga dari meluncurkan obligasi. Kedua perusahaan ini pada tahun 2013 sama-sama mengalami penurunan kinerja,namun secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa PT Astra Otoparts lebih baik dibandingkan PT Gajah Tunggal.
  • 56. 52 Rekomendasi bagi pihak investor Ada 2 rekomendasi yang penulis berikan bagi para investor yang ingin menanamkan uangnya di perusahaan ini, yaitu : 1. Untuk investor yang ingin mendapatkan deviden yang tinggi serta adanya keuntungan dari jual beli saham, maka penulis menyarankan untuk membeli saham dari PT Astra Otoparts Tbk. karena pembagian deviden dari perusahaan yang cenderung naik dari tahun ke tahun, dalam hal ini bila dibandingkan deviden dari Semester 1 2012 terhadap Semester 1 2013. Saham PT Astra Otoparts Tbk lebih disarankan bagi investor yang risk averse karena harga saham cenderung stabil dan merupakan bagian dari PT Astra International Tbk. 2. Untuk investor yang ingin mendapatkan penghasilan untuk jangka panjang serta deviden yang stabil setiap tahunnya, penulis menyarankan untuk membeli saham dan juga obligasi dari PT Gajah Tunggal Tbk. karena struktur modal dari PT Gajah Tunggal Tbk yang sebagian besar berasal dari obligasi namun juga menerbitkan saham biasa dan tetap memberikan deviden yang stabil walaupun nilainya tidak terlalu besar (Rp 27 per lembar saham). Saham PT Gajah Tunggal Tbk lebih disarankan bagi investor yang risk taker karena harga saham cenderung berfluktuasi.
  • 57. 53 LAMPIRAN
  • 58. 54
  • 59. 55
  • 60. 56
  • 61. 57
  • 62. 58
  • 63. 59
  • 64. 60
  • 65. 61
  • 66. 62
  • 67. 63
  • 68. 64
  • 69. 65
  • 70. 66
  • 71. 67
  • 72. 68 DAFTAR PUSTAKA http://sg.finance.yahoo.com/q/hp?s=GJTL.JK&a=05&b=1&c=2012&d=05&e=30&f=2012&g=d http://sg.finance.yahoo.com/q/hp?s=GJTL.JK&a=05&b=1&c=2013&d=05&e=30&f=2013&g=d http://sg.finance.yahoo.com/q/hp?s=AUTO.JK&a=05&b=1&c=2012&d=05&e=30&f=2012&g= d http://sg.finance.yahoo.com/q/hp?s=AUTO.JK&a=05&b=1&c=2013&d=05&e=30&f=2013&g= d http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Ekonomi_Regional/KER/Jakarta/ker_dki_tw213.htm Annual Report 2012, PT Astra Otoparts Tbk Annual Report 2013, PT Astra Otoparts Tbk Annual Report 2012, PT Gajah Tunggal Tbk Annual Report 2013, PT Gajah Tunggal Tbk Arthur J. Keown dkk. 2002. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta : Salemba Empat. Bambang Riyanto. (2008). Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: Penerbit GPFE. Ikatan Akuntansi Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta, 2002. S. Munawir. (2010). Analisis Laporan Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta: Liberty Sundjaja, Ridwan S., Barlian, Inge & Dharma Putra Sundjaja (2010). Manajemen Keuangan 1, Bandung : Literata Lintas Media.