SMK-MAK kelas10 smk seni tari rahmida - Presentation Transcript
Rahmida Setiawati
untuk
Sekolah Menengah Kejuruan
Seni
Tari
SENI TARI
untuk SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Rahmida Setiawati
Departemen Pendidikan Nasional
Rahmida Setiawati
SENI TARI
SMK
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
SENI TARI
Untuk SMK
Penulis : Rahmida Setiawati
Editor : Melina Suryadewi
SET SETIAWATI, Rahmida
s Seni Tari untuk SMK oleh Rahmida Setiawati---- Jakarta : Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
xiv. 417 hlm
Daftar Pustaka : 413-417
Diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan
penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk
disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh
penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft
copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar
ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,
kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan.
Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
KATA PENGANTAR
Puja-puji syukur kami panjatkan ke Hadurat Tuhan Yang
Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat-Nya kepada hambanya,
sehingga kami dapat menyajikan buku “Seni Tari” ini kepada para
pembaca.
Buku Seni Tari ini disusun terutama untuk menunjang
pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun
2004 Sekolah Menengah Kejuruan Seni Pertunjukan. Buku ini dapat
digunakan siswa untuk menggali dan meletakdasarkan pengetahuan
tentang tari agar mereka dapat menjadi tenaga yang profesional dan
siap pakai pada mampu terjun di kalangan masyarakat. Melalui buku
ini siswa dapat mengembangkan pengetahuannya di bidang tari
sebagai bekal penunjang kemampuannya, dan untuk menghadapi
era teknologi dan informasi yang makin meng “global”.
Penetapan penulisan buku ini adalah sebagai alternatif
dalam upaya pengembangan wawasan dan pengetahuan tentang
tari khususnya hubungannya dengan pendidikan tari. Materi yang
disajikan lebih ditekankan pada teori semi praktis diharapkan agar
mudah dipahami. Oleh karena itu, buku ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi pembaca.
Penyusunan buku ini pada dasarnya mengacu pada
beberapa sumber, data-data dokumen bidang tari, serta
pengetahuan yang dimiliki penulis selama menekuni bidang tari.
Secara kolaboratif, dasar penetapan penulisan buku mendapat
amanah tentang misi bahwa sistem pendidikan Nasional yang
dikembangkan di Indonesia masih kurang menaruh perhatian
terhadap out, sehingga penafsiran terhadap komponen pendidikan
membias untuk ditafsirkan.
Dalam rangka pengembangan ke arah tujuan yang
diharapkan, maka secara konseptual buku ini disusun berdasarkan
konsep penulisan yang dari apa yang harus dikuasi oleh peserta
didik, pecinta tari, anak yang belajar tari. Dengan munculnya
pertanyaan dasar tersebut maka penulis mengidentifikasi beberapa
kemungkinan yang dapat dijadikan bahwa sebagai kajian untuk
menulis buku yang dibutuhkan peserta didik, pecinta tari, dan anak
yang belajar menari sebagai obyek.
Tahap awal yang telah teridentifikasi adalah bahwa yang
dibutuhkan oleh obyek adalah pengetahuan tentang wawasan tari,
bagaimana cara bergerak efektif dan efesien, cakupan pengetahuan
yang bersifat afaektif adalah memahami tentang tari dan selanjutnya
bagaimana tahap-tahap mencari dan membuat tarian,
mengorganisasikan serta memasarkan produk, hingga pada
membuat kemasan tarian yang berkembang di sekitar wilayah
dimana anak dapat tumbuh dan berkembang seiring budayanya.
iii
Oleh sebab itu, penulis menyajikan isi buku ini dengan
mengidentifikasi dari wawasan kebudayaan, Olah Tubuh, Tari-tarian
Nusantara, Koreografi dan Komposisi Tari, seni Manajemen dan
Organisasi Seni Pertunjukan, serta Kemasan Wisata. Cakupan isi
yang dijadikan dasar untuk melengkapi isi buku, lebih diarahkan
pada bentuk implementasi data yang dinaturalisasikan, sehingga
diharapkan pembaca dapat memahami isi buku dengan makna baca
yang mudah dicerap.
Harapan penulis, semoga buku ini dapat berguna bagi
pembaca khalayak. Untuk penyempurnaan buku ini, masalah
keterbacaan isi buku sangat dinantikan. Kritik dan saran pembaca
akan kami gunakan untuk perbaikan buku secara sinergis.
Penulis menyadari bahwa buku ini masih banyak kekurangan
dan kekhilafan baik isi maupun panyajiannya. Segala tegur-sapa
serta saran dan kritik dari para ahli yang berwenang dan para
pembaca yang bersifat membangun senantiasa diterima dengan
lapang dada.
Akhirnya tak lupa diucapkan terima kasih kepada Pemimpin
PENULISAN BUKU KEJURUAN, juga kepada rekan-rekan dan
handai tolan serta semua pihak yang turut serta menangani buku ini.
Semoga bermanfaat adanya.
Jakarta, Juni 2008
Penulis
iv
DAFTAR ISI
JUDUL i
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR BAGAN xii
DAFTAR TABEL xiv
PETA KOMPETENSI xv
BAB I WAWASAN SENI
A. Kebudayaan dan Permasalahannya ......................................... 1
B. Pengertian Kesenian ...................................................................... 5
C. Proses Kreatif dan Pendidikan Kesenian ......................................... 8
D. Pengertian Tari
1. Gerak ...................................................................... 21
2. Ruang ...................................................................... 34
3. Waktu ...................................................................... 38
4. Tenaga .................................................................................... 40
5. Ekspresi .................................................................................... 43
BAB II OLAH TUBUH
A. Kompetensi Dasar ..................................................................... 45
B. Pendahuluan ................................................................................... 46
C. Teknik Gerak, Pengolahan, Pelenturan Tubuh ......................... 69
D. Penguasaan gerak Olah Tubuh ...................................................... 99
BAB III TARI-TARIAN INDONESIA DAN MANCANEGARA
A. Tari-tarian dan Masyarakat ...................................................... 149
B. Tari Berdasarkan Penyajian ...................................................... 159
1. Tari Daerah .................................................................... 168
2. Tari Rakyat .................................................................... 178
3. Tari Balet ....................................................................
4. Tari Modern ................................................................
5. Tari Musik Opera .....................................................
6. Tari Rekreasi ......................................................
C. Tari Berdasarkan Fungsi
1. Tari Upacara ..................................................................... 177
2. Tari Upacara adat ....................................................... 178
3. Tari Religi ..................................................................... 179
4. Tari Pergaulan ..................................................................... 180
5. Tari Teatrikal ..................................................................... 183
D. Apresiasi tari Nusantara ......................................................
E. Nilai Keindahan Tari ......................................................
BAB IV KOREOGRAFI
A. Pengetahuan Dasar Komposisi tari ........................................ 222
B. Elemen-elemen Dasar Komposisi tari ........................................ 223
1. Desain Gerak ..................................................................... 224
2. Desain Musik ..................................................................... 225
3. Desain Lantai ..................................................................... 228
4. Desain Atas ..................................................................... 229
5. Desain Dramatik..................................................................... 232
6. disain Dinamik ...................................................................... 235
7. Komposisi Kelompok ........................................................ 237
8. Desain Tema ..................................................................... 240
9. Desain Rias dan Busana ...................................................... 241
10. Desain Properti................................................................... 245
11. Desain Tata Lampu dan Sound........................................... 253
12. Penyusunan acara............................................................... 256
v
BAB V MANAJEMEN PRODUKSI TARI
A. Konsep Manajemen dan Organisasi Pertunjukan ............................................ 330
B. Organisasi Seni Pertunjukan ......................................................................... 332
C. Orientasi dan karakter Seni Pertunjukan .......................................................... 334
D. Fungsi Manajemen ...................................................................................... 335
E. Kaitan Organisasi dan Manajemen Pertunjukan ........................................... 337
F. Pengorganisasian Kegiatan ........................................................................ 340
1. Pengorganisasian ....................................................................................... 341
2. Pengarahan ....................................................................................... 341
3. Gaya Kepemimpinan ......................................................................... 341
4. Pengendalian ....................................................................................... 342
a Pimpinan Produksi .........................................................................
b Pimpinan Kerumahtanggaan ..........................................................
(1.2) Bagian Karcis .......................................................................................
(2) Pimpinan artistik .......................................................................................
(2.1) Pimpinan panggung
(2.2)
BAB VI PERKEMBANGAN PENGETAHUAN-PENGETAHUAN TARI
A. Seni Pertunjukan Kemasan
1. Seni Pertunjukan Kemasan Betawi
2. Seni Pertunjukan Kemasan Jawa Barat
3. Seni Pertunjukan Kemasan Jawa Tengah
4. Seni Pertunjukan Kemasan Jawa Timur
5. Seni Pertunjukan Kemasan Bali
6. Seni Pertunjukan Kemasan Sumatra Barat
7. Seni Pertunjukan Kemasan Sumatra Utara
8. Seni Pertunjukan Kemasan nanru Aceh Darussalam
B. Standar Kepenarian
C. Standar Kompetensi Tari
vi
SENI TARI
DAFTAR GAMBAR
Gambar. 1.1 Tengkorak (Anggota Gerak Bagian Atas Manusia
berfungsi
Gambar. 1.2 Anggota Gerak Bagian Tengah/Thorak Tubuh
Manusia
Gambar. 1.3 Tari Gambar Anggota Gerak Bagian Bawah/Kaki
Manusia
Gambar. 1.4 Tari Bedoyo 9 (Sembilan)
Gambar. 1.5 Tari Gejolak
Gambar. 1.6 Tari Topeng Cirebon (fibrasi badan, tangan, dan
goyangan kepala)
Gambar. 1.7 Tari Bima Suci (gerak patah-patah diselingi
hentakan pada kaki
Gambar. 1.8 Tari Topeng Cirebon (fibrasi badan dan goyang
kepala)
Gambar. 1.9 Tari Oncarowo
Gambar. 1.10 Gumyak Banyumasan
Gambar. 1.11 Arak Cerano pada Sekapur Sirih
Gambar. 1.12 Motif Sembah Tari Sekapur Sirih
Gambar. 1.13 Penari Jaipongan
Gambar. 1.14 Mahasiswa Tari sedang Workshop Olah Tubuh
Gambar. 1.15 Penari Klana Cirebon Rentang Tangan
Gambar. 1.16 Penari Saman berbanjar
Gambar. 1.17 Motif Agem Penari Margapati
Gambar. 1.18 Pemain teater eksplor peran
Gambar. 1.19 Peraga mengembangkan ruang gerak
Gambar. 1.20 Penari Bimo Suci
Gambar. 1.21 Penghayatan gerak penari balet
Gambar. 1.22 Lompatan penari balet
Gambar 1.23 Sinkronisasi gerak penari balet
Gambar 1.24 Sinkronisasi gerak penari balet
Gambar. 1.25 Ekspresi mimik secara Polos karakter humor
Gambar. 1.26 Penari melepas senyum kepada penonton.
Gambar. 1.27 Ekspresi penari senyum dikulum
Gambar. 2.1 Pose penegangan otot perut dan tangan serta
kaki
Gambar. 2.2 Penegangan otot perut dan kaki
Gambar. 2.3 Pose disain Kerucut
Gambar. 2.4 Anatomi Tubuh Manusia
Gambar. 2.5 Pose satu kaki tumpuan dan rentang tangan
iv
SENI TARI
Gambar. 2.6 Berdiri Tegak
Gambar 2.7 Koordinasi 2 peraga
Gambar. 2.8 Koordinasi 3 peraga
Gambar. 2.9 Sinkronisasi 2 peraga Satu peraga memegang
pangkal perut
Gambar. 2.10 Tendangan ke depan bertumpu satu kaki
Gambar. 2.11 Bentuk Apel memiliki ketebalan tubuh(peraga)
Gambar. 2.12 Bentuk Pir lebih langsing(peraga)
Gambar. 2.13 Bentuk tongkat lebih kuruslagi(peraga)
Gambar. 2.14 Posisi tidur terlentang dan penegangan otot
kaki, perut, Tangan.
Gambar. 2.15.A Kontraksi kaki menarik pangkal kaki ke depan
ke belakang
Gambar. 2.15 B Sikap ketegangan paha pada sikap Jongkok
Gambar. 2.16-2.18 Sikap Nungging dapat dilakukan gerakan
melibatkan pinggul dan kepala mengulur ke
bawah, lutut tetap lurus. Kedua tangan membuka
kedua kaki jinjit. Gerakan dapat dilakukan
dengan melakukan tarikan anggota tubuh bagian
tungkai dan kepala tegap, agar tidak pusing.
Pada gerak dasar berikut Kedua kaki jinjit angkat
kedua kaki ke atas berkali kali
Gambar. 2.19 Contoh gerakan sinkronisasi kaki, tangan dan
dada ke depan
Gambar. 2.20 Tidur posisi kaki satu dilipat ke dalam
Gambar. 2.21 Kaki kanan di lipat direbahkan ke sisi kiri dari
posisi dasar
Gambar. 2.22 Duduk kaki terbuka sumbu tgerak di pantat
Gambar. 2.23 Tidur tertelungkup dengan ke dua tangan
menyangga kepala
Gambar. 2.24 Tidur tertelungkup menarik kaki ke dalam
punggung kembali lurus lagi
Gambar. 2.25 Posisi tidur sambil mengangkat ke dua kaki
hingga membentuk 90
Gambar. 2.26 Pengembangan gerak mengangkat kaki lurus
bertumpu pada satu kaki.
Gambar. 2.28 Nungging
Gambar. 2.29 Membokong
Gambar. 2.30 Sinkronisasi pengembangan gerak Nungging ke
berbagai bentuk gerak
Gambar. 2.31 Pengolahan gerakan kepala dan seluruh anggota
badan
v
SENI TARI
Gambar. 2.32 Kordinasi gerakan bagian samping peraga dalam
upaya melatih otot
Gambar. 2.33 Contoh gerak: Latihan keterpaduan teknik gerak
ketika penari naik ke
Gambar 2.34 dan 2.35 Improvisasi lompatan di udara dan
koordinasi gerak
Gambar. 2.36 Tangan menahan tarikan kaki, penegangan pada
kaki
Gambar. 2.37 Tangan dan kaki saling tarikan, pada saat
melompat
Gambar. 2.38 Sinkronisasi 2 peraga kerjasama mengisi ruang
gerak
Gambar. 2.39 Keseimbangan gerak saat menahan penari
sedang melayang
Gambar. 2.40 Gerak melayang posisi miring pada saat
melompat.
Gambar. 2.41 Sinkronisasi intensitas gerak melayang di udara
dalam teknik lompatan.
Gambar. 2.42 Sinkronisasi gerak 2 peraga putri
Gambar. 2.43 Kesatuan kesan dengan beragam penghayatan
gerak oleh peraga putri.
Gambar. 2.44 dan 2.45 Pose membungkuk, bertumpu di satu
kaki dengan pengolahan ruang tari oleh
anggota gerak tangan.2 peraga putri.
Gambar. 2.46A Penegangan pelvis/pinggul. Kontraksi kaki
dengan arah berlawanan
Gambar. 2.46B Penegangan otot perut dan paha
Gambar. 2.47 Penegangan otot perut dan paha saat mendak
dan rentang tangan
Gambar. 2.48. Penegangan otot perut dan paha melalui tarikan
kaki
Gambar. 2.50. Sikap jongkok bertumpu pada tumit jinjit, lutut,
tangan sbg penyangga
Gambar. 2.51 Tidur menarik tangan dan dada, penegangan
otot perut dan paha
Gambar. 2.52 Mirip gambar 2.51, Tidak menarik kaki
penegangan otot perut
Gambar. 2.53 Sikap mirip 2.50 Badan condong ke depan, kaki,
paha dan perut kencang
Gambar. 2.59. Tumpuan satu kaki sebagai penyangga mirip gb.
2.50 kontraksi otot paha
Gambar. 2.56 Kaki kangkang badan condong ke depan
kontraksi otot perut dan paha
vi
SENI TARI
Gambar. 2.57 Penegangan otot penegangan otot kaki, dam
tangan kanan.
Gambar. 2.58 Penegangan otot perut, paha. Kontraksi badan
dan rentang tangan
Gambar. 2.59 Sikap mirip gb. 2.50 Kontraksi otot paha
Gambar. 2.61 Sikap bongkok, penegangan otot perut dan paha
secara sinergis
Gambar. 2.62 Sinkronisasi 2 peraga dengan cakupan tangan,
dan angota gerak lain
Gambar. 2.62 Sinkronisasi 3 peraga dengan cakupan tangan,
dan angota gerak lain
Gambar. 2.64 Pembentuk Anggota Gerak Bagian Atas, tengah
dan bawah level tinggi
Gambar. 2.65 Pembentuk Anggota Gerak Bagian Atas, tengah
dan bawah level bawah
Gambar. 2.66 Penguatan otot pinggang dan kaki Anggota
gerak bagian atas atau kepala
Gambar. .2.67 dan 2.68 Pembentuk Anggota Gerak Ats, tengah
dan bawah menyeluruh
Gambar. 2.69 Sikap jengkeng santai, kontraksi pada kaki
Gambar. 2.70 Berdiri santai, kontraksi kaki dan menyangga
pada tari Bambu Gila
Gambar. 2.71 Berdiri jinjit, putaran, penguatan kontraksi kaki
dan penguasaan payung
Gambar. 2.72 Kontraksi kaki, tangan dan tendangan serta
lipatan kaki sambil bergerak.
Gambar. 2.73 Duduk santai, perpindahan formasi, kontraksi
pada kaki pada tarian Aceh
Gambar. 2.74 Kontraksi pada tangan dan jari pada tari
Gambar. 2.75 Melayang, kontraksi kaki, perut, dan kedua
tangan pada tari tradisional
Gambar. 2.76 Duduk berdiri jongkok, kontraksi kaki dan
tangan saat jengkeng
Gambar. 3.1 Tari Gejolak
Gambar. 3.2 Tari Gumyak
Gambar. 3.3 Tari Kresno-Bladewa
Gambar. 3.4 Tari Bedhaya 9 (Sembilan)
Gambar. 3.5 Tari Klana Cirebon
Gambar. 3.6 Tari Legong-Kreasi
Gambar. 3.7 Gruda
Gambar. 3.8 Gambyong
Gambar. 3.9 Bersih Desa
Gambar. 3.10 Trandak
vii
SENI TARI
Gambar. 3.60- 3.61 Tari Warak Dugder
Gambar. 3.62 Tari Kebyar KEbeng)
Gambar. 3.63 Tari Reog Polodero
Gambar. 3.64 Tari DolAlaK
Gambar. 3.65 Tari Nditita
Gambar. 3.66 Tari Balet Ngu Yen She
Gambar. 3.67 Tari Cinta Bunda
Gambar. 3.68 Tari Balet
Gambar. 3.69 Untuk Mama
Gambar. 3.70 TarI Gambyong Kolosal
Gambar. 3.71 Ngremo Mall
Gambar. 3.72 Tari Ngelajau
Gambar. 3.72 Tari Turun Kuaih Ainen
Gambar. 3.73 . Rancak di Nan Jombang
Gambar. 3.74 Tari Payung
Gambar. 3.75 Tari Tabal Gumpita
Gambar. 3.76 Tari Joget Lambak
Gambar. 3.77 Tari Tabot
Gambar. 3.78 Tari Sekapur Sirih
Gambar 3.79 dan 3.80 Tari Bachincak-an
Gambar. 3.81-3.82 Tari Ngelajau
Gambar. 3.83 Tari Nyi Kembang
Gambar. 3.84. Tari Topeng
Gambar. 3.85 Tari Nyi Kembang
Gambar. 3.86. dan 3.87 Ttari Dogdog Lojor
Gambar. 3.88. Tari Jaipongan
Gambar. 3.89 A.Tari Gagahan
Gambar. 3.89 B Repertoar Golek Ayun-ayun
Gambar. 3.90 Tari Kresno Baladewa
Gambar. 3.91 Tari Warak Dugder
Gambar. 3.92 Tari Bersih Desa
Gambar. 3..93 Tari Gelang Ro’om
Gambar. 3.94 dan 3.95 Tari Badawang Nala
Gambar. 3.96 .dan 3.97 Tari Taume Anuku
Gambar. 3.98 A dan 3.98 B Tari Lupak Gurantang
Gambar. 3.99 dan 3.100 Tentengkoren
Gambar. 3.101 dan 3.102 Tari Randa Nabia
Gambar. 3.103 dan 3.104 Tari Pa’Jinang
Gambar. 3.105 Tari Ponggayo
Gambar. 3. 106 Tari Pabete Pasapu
Gambar. 3.107 Tari Kondo Bulang
Gambar. 3.108 Tari Tano Doang
Gambar. 3.109 Tari Perang
ix
SENI TARI
Gambar. 3.110 dan 3.111 Tari Dara Juanti
Gambar. 3.112 Tari Tarik Lalan
Gambar. 3.113 dan 3.114 Tari Baharuan
Gambar. 3.115 -3.116 Tari Giring-giring
Gambar. 3.117 Tari Milau
Gambar. 3.118 Tari Persembahan
Gambar. 3.119 dan 3.120 Tari Bambu Gila
Gambar. 3.121 dan 3.122 Tari Ndaitita
Gambar. 3.123 dan 3.124 Tari Dhalaalail Panggung Jati
Gambar. 3.125 dan 3.126 Tari Tepulut
Gambar. 4.1 Perangkat Gamelan Sunda
Gambar. 4.2 Perangkat Gamelan Jawa
Gambar. 4.3 - 4.4 Alat musik diatonis Gitar, Drum
Gambar. 4.5 Kostum Annien (Riau)
Gambar. 4.6 Kostum Tari Katiak (Riau)
Gambar. 4.7 Kostum tari Nyi Kembang(DKI)
Gambar. 4.8 Kostum Gruda, Fantasi (Bali)
Gambar. 4.9 Trunajaya (Bali), Gb.
Gambar 4.10 Sangkrae(KalTeng),)
Gambar. 4.13 Dogdoglojor(Jabar)
Gambar 4.14 Ngelajau(Lampung)
Gambar. 4.15 dan 4.16 Riasan untuk Memberikan ketegasan
garis wajah saja
Gambar. 4.17 Karakter Putra Gagah
Gambar. 4.17 Karakter Putri Halus
Gambar. 4.20 Stage Proscenium
Gambar. 4.21 Jumlah saka dan area pentas Pendopo
Gambar. 4.22 Stage Proscenium
Gambar. 4.24 Panggung dan Lapangan Terbuka
Gambar. 4.23 Bentuk Panggung
Gambar. 4.25 Eksplorasi Gerak Mahasiswa Gb. 4.26
Improvisasi Gerak mhs
Gambar. 4.27 Instruktur memberi pengarahan Eksplorasi
Gambar. 4.28 Penari memperagakan tendangan pada level
bawah
Gambar. 4.29 Saman (Aceh)
Gambar. 4.30 Jaipongan (Jabar)
Gambar. 4.31 Kembangan 1 Pencak Silat Gb. 4.32 Panggung
dan Lapangan Terbuka
Gambar. 4. 33-4.34 Tari Jaipongan (Jabar)
Gambar 4.35 Pendet (Bali)
Gambar. 4.36 Prajurit (Bali)
Gambar. 4.37 Saman(Aceh)
x
SENI TARI
Gambar. 4.38 Jaipongan (Jabar)
Gambar. 4.39-4.40 Tari Gelang Ro’om
Gambar. 4.41 Tari Dogdoglajor
Gambar. 4.42 Tari Jibeng Rebana
Gambar. 4..43 Tari Ngelajau
Gambar. 4.44 Turun Kauih Aunen
Gambar. 4.46 Tari Randa Nabia
Gambar. 4.45 Tari Gelang Ro’om
Gambar. 5.1 Teater Anruang (Bandung)
Gambar. 5.2 Sa nggar Saraswati (Tari Bali)
Gambar. 5.3 Teater Mat Suya) (STSI BDG)
Gambar. 5.4 Tari Pendet/Bali (Kedutaan Jepang)
Gambar. 5.5 Nakoda Kapal Teater Grazz (STSI Bandung)
Gambar. 5.6 Pimprod memberi arahan
Gambar. 5.7 Pimprod recek kesiapan kerja
Gambar. 5.8 Pimrum tangga Tumpengan
Gambar. 5.9 Rileks habis kerja
Gambar. 5.10 -5.11 Profil Ticket Box Bagian Karcis dan
Marketing
Gambar. 5.12 Persiapan kipas pada Gejolak
Gambar. 5.13 Penataan Kipas pada Gejolak
Gambar. 5.14 Disain tata Cahaya Gejolak
Gambar. 5.15 Pengarahkan kepada penari
Gambar. 5.16 Pimpinan Artistik pengarahan sebelum pentas
Gambar. 5.17-5.18 Pimpinan Stage dan kru fasilitasi tempat
atihan
Gambar. 5.19 Kru Stage kerja di balik stage
Gambar. 5.20 Hasil Kerja Penata Cahaya
Gambar. 5.21 Penata cahaya memberi efek
Gambar. 5.22 Hasil Kerja Penata Cahaya
Gambar. 5.23 Penata cahaya memberi efek
Gambar. 5.24 Kru Musik fasilitasi pemusik
Gambar. 5.25 Penata Musik memberi
Gambar. 5.26 Kru penata properti menata level/trap di depan
anggung
Gambar 5.27 Koreografi mahasiswa (hasil kerja penata
busana dan rias
Gambar. 5.28 Penari berias diri setelah mendapat arahan iñata
rias
Gambar. 5.29 Kerja penata rias membantu menata rambut
Gambar. 5.30 Tata rias wajah pada tari Bedoyo
Gambar. 5.31 Tata rias pada karakter Gagah Putra
Gambar. 5.32 Ratu Angin
xi
SENI TARI
Gambar. 5.33 Busana saat gladi kotorGambar. 5.34
Busana Gladi bersih
Gambar. 5.35 Tata rias sehari-hari untuk peran putra tanpa
karakter
Gambar. 5.36 Tata rias wajah putri tanpa karakter
Gambar. 5.37 Pose penari yang telah di rias menggunakan
rebana
Gambar. 5.38 Model-model setelah mrnggunakan busana tari
Gambra. 6.1 Tari Topeng Blantek
Gambar. 6.2 Tari Topeng Cirebon
Gambar. 6.3 Tari Jaipongan
Gambar. 6.4 Tari Gambyong
Gambar. 6.5 Tari Karonsih
Gambar. 6.6 A Tari Jaranan
Gambar. 6.6 B Tari Ngremo
Gambar. 6.7 Tari Margapati
Gambar. 6.8 Tari Belibis
Gambar. 6.9 Tari Randai
Gambar. 6.13 A Tari Gundala-gundala
Gambar. 6.13 B Tor-tor
Gambar. 6.11-612 Motif gerak Tari Saman
Gambar. 6.13 Tari Saudati
xii
SENI TARI
DAFTAR BAGAN
Bagan 1.1 Peta Seni dalam konteks Budaya
Bagan 1.2 Peta Konsep Model Profesional
Bagan 2.1 Tujuan Kompetensi Belajar Buku Ini
Bagan 2.2 Sistem Pernafasan yang baik
Bagan 2.3 Sistem Nafas
Bagan 3.1 Deskripsi Struktur Ide dalam Koreografi
Bagan 3.2 Prototipe 8 Kriteria dalam Memenuhi Kemampuan
Menari
Bagan 3.3 Joged Mataram
Bagan 3.4 Keterampilan Tari: Peta Keterukuran Keterampilan
Tari untuk Penari.
Bagan 4.1 Elemen-elemen Komposisi Tari
Bagan 4.2 Peta Konsep Penuangan Kreatif gerak menurut
Laban
Bagan 4.3 Peta Konsep Ide Alam Sekitar
Bagan 4.4 Ide Ulang Tahun menjadi Topik
Bagan 4.5 Keragaman Pengalaman Estetis Anak
Bagan 4.5 Skema Imajinasi Gerak Siswa
Bagan 5.1 Karakteristik Organisasi Pertunjukan
Bagan 5.2 Status Pengelola
Bagan 5.3 Hubungan Seniman dan Pemerintah
Bagan 5.4 Organisasi Manajemen
Bagan 5.5 Organisasi Produksi Seni dan Manajemen
Bagan 6.1 Kolaborasi seni pertunjukan dan pariwisata
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
xiii
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Motif Gerak Tari Tunggal
Tabel 1.2 Motif gerak Kelompok
Tabel 2.1 Hubungan Teknik Gerak, Kelenturan dan Peniruan
Gerak
Tabel 2.2 Dosis Pernafasan
Tabel 2.3 Motif gerak Individu
Tabel 2.4 Gerak tari kelompok
Tabel 2.5 Gerakan dan pola lantai
Tabel 3.1 Kesenian dan Upacara dalam kehidupan manusia
Tabel 4.1 Teknik, kelenturan da imitasi
Tabel 6.1 Sumber Buku Stahdar Kompetensi Nasional Tari
DIKMENJUR
xiv
SENI TARI
PETA KOMPETENSI
Sistem pendidikan yang dianut bangsa Indonesia pada sebelum
abad 20an hanya berbasis pada masukan dan proses saja, pada hakikatnya
kurang dinamis, efektif dan efesien dan muaranya berhenti di tempat.
Dalam upaya percepatan dan pengembangan pendidikan ke depan sangat
dibutuhkan adanya penetapan standar kompetensi bagi setiap pengetahuan
yang bersifat edukatif maupun populer. Hal ini untuk memberikan stimulus
terhadap penetapan.
Standar dalam pendidikan terdiri atas standar akademik yang
merefleksikan pengetahuan dan ketarampilan esensial disiplin ilmu yang
diajarkan di lembaga pendidikan. Di sisi lain, standar kompetensi
merupakan bentuk proses atau hasil kegiatan yang didemonstrasikan
peserta didik sebagai penerapan, pengetahuan, keterampilan yang telah
dipelajari. Dengan demikian secara konseptual peta konsep yang harus
diberikan kepada peserta didik berwujud berbagai pengetahuan dan
keterampilan yang mengarah pada proses bagaimana peserta didik telah
mempelajarinya.
Secara konseptual, standar kompetensi menekankan kepada
kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar performasi tertentu,
sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan
seperangkat kompetensi. Hal ini sebagai tahapan lanjut yang
mengedepankan peserta didik tumbuh rasa tanggung jawab, partisipasi,
dan implementasinya baik di lembaga pendidikan maupun di masyarakat
dan ini menjadi bagian dari tugas kita menyebarkan pengetahuan dan
keterampilan yang bermanfaat.
Oleh sebab itu agar dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas,
di bawah ini dapat digambarkan peta kompetensi yang harus dicapai
peserta didik dalam mempelajari tari adalah sebagai berikut:
Melaksanakan dasar Mendiskripsikan Menirukan berbagai Membaca
musik seni berbagai ritme, ritme, tempo, berbagai ritme,
Pertunjukan (SP) tempo, dinamika dinamika tempo, dinamika
Melaksanakan dasar Mendiskripsikan Menunjukan Memperagakan
SP artistik bentuk gerak
musik seni
Pertunjukan (SP)
Melaksanakan Mendiskripsikan Mendiskripsika Mempelajari Apresiasi
Sejarah tari
Apresiasi Tari wawasan tari n jenis, bentuk tari
Nusantara
dan gaya tari
Melaksanakan Mendiskripsika Praktik tari
praktik tari n teknik tari Nusantara
xv BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 1
BAB I
WAWASAN SENI
A. Kebudayaan dan Permasalahannya
Budaya berasal dari kata budi dan daya. Budi bermakna akal
dan batin yang digunakan untuk menimbang perbuatan baik dan
buruk, benar dan salah. Makna perbuatan di dalamnya dilihat dari
watak, perangai, tabiat, akhlak perbuatan baik dengan ikhtiar.
Di sisi lain, daya mengandung arti tenaga, kekuatan, pengaruh,
cara atau jalan akal dalam berikhtiar. Dengan demikian budaya
berarti kekuatan yang mendorong seseorang untuk bertabiat baik,
benar dengan melalui cara-cara yang dapat menimbang perbuatan
yang harus dan tidak boleh dilakukan.
Pakar budaya Kuntjoroningrat dalam buku Simbolisme
Budaya Jawa yang dikutip Budiono H, menyatakan bahwa kata
budaya berasal dari bahasa Sansekerta (bhuddhayah) adalah
bentuk jamak dari buddi yang berarti budi dan akal. Selanjutnya,
Koencoroningrat menguraikan dan menjabarkan bahwa kebudayaan
terdiri dari tujuh unsur universal dan terdiri dari aspek-aspek sebagai
berikut di bawah ini.
Tujuh (7) unsur kebudayaan adalah sebagai berikut:
1. Sistem religi dan upacara keagamaan,
2. Sistem dan organisasi kerjasama,
3. Sistem pengetahuan,
4. Bahasa,
5. Kesenian,
6. Sistem mata pencaharian hidup,
7. Sistem teknologi dan peralatan,
Para siswa yang kami sayangi, mengacu pada ke tujuh unsur
kebudayaan tersebut di atas, salah satu yang akan dibahas dalam
buku ini adalah kesenian. Kesenian khususnya menyangkut salah
satu aspek seni yakni seni tari.
Kesenian dalam bentuk kegiatan merupakan budi daya
manusia. Kesenian merupakan perwujudan gagasan-gagasan
tradisional yang diperoleh secara historis. Kesenian hubungannya
dengan nilai-nilai merupakan bentuk simbolisasi, mencipta karya
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 2
atau berkarya yang berarti memberi bentuk tujuan/visi manusia
secara pribadi.
Kebudayaan merupakan warisan fakta-fakta budaya yang
memiliki makna apabila dituangkan melalui konsep pikir, perasaan,
berkeindahan secara bebas. Dengan demikian, kebudayaan dapat
membentuk tingkah laku manusia yang harmonis secara bebas.
Kebudayaan pada dasarnya merupakan proses mencapai
tingkah laku yang sempurna. Kaitan berkebudayaan dengan
kehidupan bermasyarakat atau berkebangsaan sebagai kontaks
budaya dalam konteks kebersamaan, manusia berkelompok
membentuk warisan tata cara dan pernyataan maksud dalam
mencapai tujuan bersama.
Secara histories. akumulasi pernyataan kebudayaan dapat
dituangkan dalam bentuk hubungan tata cara dan tingkah laku yang
disepakati sesuai adat kebiasaan, adat yang diatur dalam agama.
Hal tersebut dapat dibuktikan melalui perilaku suku bangsa dalam
berkebudayaan akan selalu berupaya melakukan adaptasi atau
penyesuaian dalam perilaku berbudi pekerti santun, terpuji, dan
berbudi bahasa serta bertutur yang baik.
Manusia berbudaya dapat dipandang lebih tinggi dibanding
dengan makhluk lain di dunia. Manusia menghasilkan hasil budaya,
konsep cara berpikir, dan kemampuan mengorganisasikan ingatan,
dan motif bertindak melalui ungkapan pikiran yang dimiliki. Konteks
budaya manusia bermacam bentuknya. Secara teoretis, konteks
budaya manusia berbentuk tulisan, perilaku, implementasi motif
ungkapan verbal (lisan) .
Para siswa yang tercinta, perjalanan hidup manusia di dalam
menerapkan pengalaman perilakunya dimodifikasi untuk mencapai
tujuan hidupnya. Manusia menomorsatukan peran fungsi kelakuan
fungsi rohaniah dalam bentuk kemauan yang ditunjukan. Hal
tersebut biasanya bertujuan untuk mengungkapkan kemauan,
maksud tujuan agar dapat dibicarakan atau menjadi buah bibir.
Dengan demikian, dalam pelaksanaannya perilaku dan penghayatan
rohani manusia dapat saling bertolak belakang.
Kemampuan manusia untuk menalarkan budaya erat
hubungannya dengan kemampuan berpikir, kepekaan perilaku, dan
kreativitas dan eksperimen imajinasi dalam mewujudkan hasil budi
daya (budaya). Cara-cara tersebut muncul pada saat mencari ide,
menjabarkan ide, dan memproses terwujudnya komunitas
berkesenian.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 3
Kemampuan menuangkan ide seperti disebut di atas patut
disyukuri. Prosedur mewujudkan kreativitas dan imajinasi hasil
budaya sangat penting. Kualitas perwujudannya dapat dilakukan
seseorang melalui menempatkan kelebihan berpikir dan
berimajinasi. Seseorang dalam melakukan perwujudan keseniannya
mutlak syarat yang harus dikembangkan. Hal ini dapat digunakan
untuk membedakan manusia dengan mahluk lain. Perwujud
melaksanakan kebudayaan manusia dikembangkan sesuai konsep
hasil budaya dengan berbagai pilihannya.
Hasil budaya tersebut di atas selanjutnya digunakan manusia
sebagai alat untuk beradaptasi dengan lingkungan alam, terutama
tujuannya untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan. Dengan
demikian kemampuan untuk melahirkan gagasan, arah dan tujuan
yang ingin dicapai, hingga perubahan yang diharapkan terutama
dalam melahirkan satu konsep yang dibayangkan, dipikirkan, dan
dicita-citakan manusia yang bersangkutan selalu berhubungan
dengan orientasi budaya dan tingkat adaptasinya di dalam
pengembangan yang diharapkan.
Ilustrasi tentang kemampuan manusia untuk melahirkan
kreativitas dan imajinasi inilah yang selanjutnya digunakan oleh
penulis untuk memahami corak-ragam kesenian yang pada tingkat
adaptasinya sebagai hasil budaya. Konsekuensi logis yang harus
ada adalah menjadi pencerahan hasil budaya manusia untuk
difokuskan dalam bentuk kesenian.
Kesenian yang telah mapan telah mempola membentuk
identitas, dalam perkembangannya disosialisasikan menjadi hasil
budaya nenek moyang atau leluhur yang siap diwariskan. Nilai
budaya nenek moyang telah mencapai pemahaman yang tinggi.
Falsafah yang terkandung bermakna dan memiliki bobot. Hal ini
dapat tersirat di dalamnya dengan mengajarkan berbagai makna
dalam isi yang berbudi luhur. Makna simbolis budaya nenek moyang
yang telah diwariskan secara implicit sebagai pernyataan budaya.
Kurun waktu yang berjalan terus hingga akhir zaman, wujud
kebudayaan yang salah satu sisi diungkapkan dalam bentuk
kesenian sangat bervariasi. Pencapaian tingkat penghayatannya
diarahkan untuk mencapai standar hasil kesenian hingga pada
tingkat adaptasinya untuk mewujudkan hasil pemikiran manusia
secara beragam. Pada masa datang hasil seni diharapkan bisa
menjadi panutan, cahaya hidup, dan sumber inspirasi penciptaan.
Konsep dasar yang dapat dituangkan melalui seni tersirat sebagai
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 4
pijakan dari pengembangan budi dan daya manusia dalam
memecahkan dilema masalah yang dihadapi manusia. Reputasi
kesenian yang tampil tersebut selanjutnya menjadi model bermacam
jenis seni yang ada di bumi.
Kendala yang dihadapi dalam menyatakan hasil kesenian
berhubungan dengan sesuatu yang dibayangkan, dipikirkan, dan
dicita-citakan. Produk kesenian yang diwujudkan pada hakikatnya
harus dianalisis atau dirinci sehingga pada bentuk yang muncul
mampu menjelaskan khasanah refleksi kehidupan manusia agar
masuk akal atau logis. Kesenian di Indonesia berwujud hasil budaya
manusia Indonesia yang secara integral diakui oleh kalangan
pendidikan dan ini digunakan bahan pembelajaran.
Para siswa yang kami cintai, kesenian sebagai wujud hasil
kreasi manusia patut diakomodasi ke dalam tulisan buku ini.
Sebagai hasil kreasi yang diinventarisasi sejak awal sangat positif.
Pendokumentasian seni tari kurang ditumbuhkembangkan. Penulis
pada kesempatan ini memposisikan penulisan buku sebagai satu
personifikasi rasa empati, simpati, dan pengayaan bahan bacaan
siswa dan masyarakat tentang Seni Tari.
Langkah mengupayakan apresiasi lebih dini terhadap buku
Seni Tari sudah layaknya dipikirkan. Hal ini dipentingkan sebagai
literatur atau bahan bacaan yang digunakan sebagai pijakan
transformasi budaya siswa Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) untuk
sekarang dan masa yang akan datang. Hal ini bertujuan agar siswa
sebagai generasi penerus tidak menjadi kehilangan warisan budaya.
Kesempatan ini secara kebetulan menjadi momen yang tidak
disia-siakan untuk memaparkan kompleksitas Seni Tari,
hubungannya dengan seni lain, jenis dan wahana seni tari, serta
perspektif seni tari untuk masa datang serta bagaimana peran fungsi
dan harapan ke depan agar mampu diantisipasi oleh generasi yang
akan datang sehingga tidak layu sebelum berkembang.
Dengan perkataan lain, dapat dijelaskan bahwa konversi seni
dan budaya dalam wadah Seni Tari adalah sebagai salah satu
asset budaya yang ada di Indonesia. Cakupan ini ditulis sebagai
arah pandang generasi datang untuk pembelajaran. Kronologi yang
diharapkan agar generasi penerus tidak akan mengalami degradasi
mental untuk belajar keseniannya sendiri kepada bangsa lain. Pada
muaranya, hasil kesenian yang direpresentasikan ini tidak putus
mata rantainya, hingga kita kehilangan seni dan budaya bangsa
sendiri.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 5
Oleh sebab itu, rangkaian mata rantai penulisan,
penelusuran, argumentasi, dan pernyataan yang terkandung dalam
buku ini tidak semata-mata untuk dikukuhi sebagai amalan pendapat
penulis saja, melainkan sebagai hasil kesenian yang dicacah-
gabungkan menjadi hasil penulisan informasi banyak pihak,
sehingga generasi berikut tidak kehilangan arah untuk melestarikan
dan mengembangkan kesenian sendiri agar lebih inovatif, variatif,
akomodatif, dan perspektif. Patut disadari bahwa perkembangan
zaman dan teknologi yang sangat pesat dapat digunakan untuk
mengubah momen ini menjadi penting. Perkembangan ini harus
dapat dimanfaatkan untuk konservasi, revitalisasi, dan transformasi
kesenian agar tidak punah.
Dokumentasi dan pelestarian kesenian harus dilakukan
sebagai upaya untuk mencegah agar generasi berikut tidak buta
budaya atau kesenian bangsa sendiri. Selanjutnya, pada
implementasinya bentuk penyadaran kepada generasi penerus kita
agar mau dan sanggup bertanggung jawab dalam pewarisan dan
pengembangan ke mana arah dan laju kesenian kita akan dibawa.
B. Pengertian Kesenian
Para siswa yang bahagia, dalam banyak buku antropologi
disebutkan bahwa salah satu cabang kebudayaan adalah kesenian.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa kebudayaan sebagai
keseluruhan cara hidup manusia, dalam bentuk warisan sosial yang
diperoleh seseorang dan kelompoknya serta merupakan bagian
yang dianggap jamak bagi lingkungan dan komunitasnya harus
diwariskan. Hal tersebut berhubungan dengan penjabaran konsep
dan replika penciptaan manusia.
Menurut Kuncoroningrat (1986), kebudayaan dibagi ke dalam
tiga sistem, yakni pertama sistem budaya yang lazim disebut adat-
istiadat. Kedua sistem sosial yang merupakan suatu rangkaian
tindakan yang berpola dari manusia. Ketiga, system teknologi
sebagai modal peralatan manusia untuk menyambung keterbatasan
jasmaniahnya.
Bagaimana manusia menghargai ketiga sistem di atas, pada
sesungguhnya manusia itu sendiri butuh aktivitas demi menjamin
terpenuhinya kebutuhan. Hal penting yang diperlukan untuk
menyatakan maksud adalah peran fungsi budaya dalam tatanan
kehidupan secara lahiriah dan batiniah.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 6
Secara eksplisit, fungsi kebudayaan manusia yang
difungsikan untuk memahami dan mengintegrasikan lingkungan dan
pengalaman adalah hasil kesenian. Kesenian akan menjadi panduan
agar dapat dijadikan kerangka dasar di dalam mewujudkan kelakuan
biasanya dinyatakan dengan maksud yang disamarkan. Atau
dengan istilah lain, seni merupakan pernyataan simbolisme makna
dan maksud penciptanya.
Menurut pandangan penulis, bahwa berdasarkan konteks
kesenian yang memiliki banyak ragam, cabang-cabang seni memiliki
banyak jenis, salah satu unsurnya adalah seni tari (kesenian tari).
Kesenian tari yang ada ini pada awalnya terjadi disebabkan adanya
lapisan-lapisan ekspresi jiwa manusia yang bertumpu kepada
sejarah dari zaman ke zaman. Rekapitulasi kesenian tari secara
periodic selanjutnya menghasilkan bermacam kreasi terutama
berhubungan dengan aspek kesenian tari itu sendiri.
Jenis-jenis kesenian tari tertentu mempunyai kelompok
pendukung yang memiliki fungsi berbeda. Adanya perubahan fungsi
kesenian tari yang ada dapat membentuk perubahan hasil-hasil
seninya. Hal tersebut disebabkan oleh adanya dinamika masyarakat,
kreativitas, dan pola tingkah laku manusia yang beradaptasi dalam
konsteks kemasyarakatan. Di sinilah kesenian tari menjadi
berkembang, bersosialisasi, dan beradaptasi dalam lingkungan
sosial-budaya baik secara sendiri maupun melalui pemahaman
sosialisasi manusia di kalangan pendukungnya berkembang secara
sporadis membentuk modifikasi kesenian tari yang baru dalam
bentuk seni tari yang berwawasan teknologi.
Seperti di depan telah disinggung, unsur kebudayaan salah
satunya adalah kesenian (Kuntjoroningrat: 2002, 12-35).
Selanjutnya, macam dan jenis kesenian yang ada terdiri dari banyak
jenis. Kesesuaian yang sering diperbincangkan adalah bahwa
kesenian dibatasi dengan ruang lingkup yang sudah diprogram oleh
pemerintah meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
Cabang Kesenian (Jenis-jenis Seni)
1. Seni rupa,
2. Seni musik,
3. Seni tari,
4. Seni teater,
5. Seni kerajinan,
6. Seni berwawasan teknologi
7. Seni-seni lainnya.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 7
Secara konseptual peta seni dalam konsep kebudayaan
dapat dilihat pada bagan di bawah ini adalah sebagai berikut:
Kebudayaan
6 aspek lain Kesenian
Kebudayaan
Seni Rupa
Seni Musik
Seni Tari
Seni Teater
Kerajinan Tangan
Seni Berteknologi
Bagan 1.1
Peta Seni dalam konteks Budaya
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 8
C. Wawasan Seni dan Proses Kreatif, serta Pendidikan
Kesenian
Siswa yang budiman, pada kesempatan lanjut dapat
dipahami, kesenian sebagai produk merupakan hasil dari segala
potensi manusia menyangkut cipta, rasa, dan karsa. Kesenian
memiliki unsur keluhuran (nilai etis), unsur keindahan (estetik), dan
hasil dari emosi (rasa) serta rasio (akal) manusia (Ki Hajar
Dewantoro: 2002, 12-24).
Ragam kesenian terjadi karena adanya kontak budaya yang
terutama pada lapisan-lapisan komunitas seni dan kesenian itu
sendiri, sehingga bersemi dan mengakar pada pendukungnya.
Selanjutnya, kontak budaya yang berkembang lebih lanjut tumbuh-
menyebar bertumpu pada perjalanan sejarah dari zaman ke zaman.
Jenis-jenis kesenian beraneka-ragam. Kesenian jenis
tertentu memiliki fungsi-fungsi yang berbeda satu dengan lainnya.
Adanya perubahan fungsi ke perubahan bentuk pada hasil-hasil
kesenian, menjadikan dinamika masyarakat pendukungnya berubah.
Hal tersebut seperti dihalaman sebelumnya telah disebut
memperlihatkan bahwa dalam konteks kemasyarakatan, arah dan
perkembangan seni semakin variatif. Oleh sebab itu, perubahan dan
tumbuh kembangnya yang bervariasi tersebut memberikan corak
yang beragam pada jenis kesenian.
Dengan demikian apabila ditinjau dari contoh paradigma
kesenian tersebut, kesenian menjadi bagian integral yang dapat
menempatkan manusia untuk ambil bagian di dalamnya. Hal
tersebut berhubungan dengan membentuk, mengatur, dan
mengembangkan kesenian itu sendiri agar menjadi bentuk baru atau
reservasi bentuk lama menjadi bentuk modifikasi. Pada akhirnya
akan mampu berubah wujud menjadi hakiki kesenian yang
mengakar.
Pernyataan tentang bentuk baru seni, modifikasi, dan
perubahan wujud di dalamnya tersirat proses kreatif yang tidak
hanya dua pihak yang terlibat, melainkan tiga yaitu kesadaran
manusia yang realis, medium ungkap seni, serta kemungkinan
tentang ruang penciptaan menempati kedudukan yang mutlak.
Dengan demikian dapat dicatat, bahwa proses kreatif merupakan
pertemuan dan pertautan ganda antara kesadaran manusia dengan
realitas di satu sisi dan pada sisi lain kesadaran dan keterampilan
seniman dengan media yang digunakan secara bergiliran dipilih,
dibentuk, dan disusun menjadi lambang-lambang seni beserta
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 9
eksistensinya sehingga terjadi pertautan lambang seni yang memiliki
hubungan struktural guna mengungkapkan pengalaman yang
dialami seniman, bulat, utuh, dan dibalut ke dalam makna simbolis.
Proses kreatif pada implementasinya adalah pembinaan
kemampuan pemahaman konseptual untuk terwujudnya berbagai
segi seni. Dalam pendidikan, peserta didik diberi pengetahuan dan
dilatih bagaimana cara membuat konsep dan gejala yang
generalisasinya memuat tentang gejala kesenian. Penuangan
konsep dan generalisasi kesenian dilakukan melalui proses kreatif.
Usaha penyelamatan, pewarisan, pengembangan dan penciptaan
baru seni bertolak dari kesenian tradisional dan nontradisional.
Pengembangan seni dan konservasi di bidang penciptaan
menekankan proses kreatif. Ada asumsi yang menyatakan bahwa
kesenian tidak dapat dipelajari secara ilmiah dan digeneralisasikan.
Pandangan ini pada dasarnya hanya salah satu pendapat. Pada sisi
yang dilakukan secara ilmiah, konsep-konsep kesenian dan
generalisasi tentang seni timbul sebagai bentuk kerancuan yang
muncul kurang informatif dan adaptif. Selama gejala dan asumsi
tentang bagaimana cara dan penjelasan pola pikir tentang konsep
dan generalisasi seni masuk akal, maka tafsiran intelektual kesenian
diharapkan dapat diterima, rasional, serta menjadi karya seni yang
merupakan pengetahuan yang kurang lengkap, ilmiah secara
empiris dapat diterima.
Masalah pemanduan bakat, penafsiran pendidikan dan
latihan adalah kerangka yang harus dilewati seseorang dalam
belajar kesenian melalui proses kreatif. Jika pendidikan yang
demikian harus dilengkapi dengan melalui pernyataan makna
simbolis yang mampu dijelaskan secara logika, maka seni yang
dibentuk melalui penciptaan karya-karya baru menjadi formal dan
ilmiah. Dengan demikian proses kreatif yang sejak awal sebagai
prosedur pembelajaran, pelatihan, dan pernyataan makna simbolis
akan dapat merepresentasikan keilmiahannya mana kala mampu
dijabarkan secara logis, obyektif sebagai bagian kenyataan, dan
dilakukan secara prosedural yang masuk akal.
Kesenian secara prinsip memiliki beberapa cabang seni.
Cabang seni yang tumbuh dan mengakar di pendukungnya banyak
didominasi oleh cabag seni yang secara eksplisit dapat disebutkan
adalah seni rupa, seni musik, seni tari, seni drama (teater), seni
kaligrafi, dan seni lain yang pada perkembangannya menjadi bagian
dari paradigma kesenian secara empiris.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 10
1. Seni Rupa,
Seni rupa merupakan salah satu cabang kesenian. Seni rupa
memiliki wujud pasti dan tetap yakni dengan memanfaatkan unsur
rupa sebagai salah satu wujud yang diklasifikasikan ke dalam bentuk
gambar, lukis, patung, grafis, kerajinan tangan, kriya, dan
multimedia.
Kompetensi dasar yang harus dicapai bidang seni rupa
adalah meliputi kemampuan memahami dan berkarya lukis,
kemampuan memahami dan membuat patung, kemampuan
memahami dan berkarya grafis, kemampuan memahami dan
membuat kerajinan tangan, serta kemampuan memahami dan
berkarya atau membuat sarana multimedia. Terminologi ini pada
dasarnya telah ditetapkan sebagai kecakapan seseorang yang
mampu menguasai bidang kerupawanan.
Seni rupa telah mengakar mulai zaman animisme dan
dinamisme hingga jaman melenium. Seni Rupa menjadi salah satu
bagian cabang seni yang secara performatif mempresentasikan
wujud yang kasat mata. Ilusi tentang wujud dapat diserap dan
dirasakan ke dalam klasifikasi bentuk seperti telah disebut pada
bagian atas.
Representasi bentuk seni rupa dipertimbangkan secara
sinergis melalui perhelatan media yang digunakan sebagai dasar
perwujudan rupa. Secara kontekstual seni rupa merupakan wujud
mediasi bentuk kasat mata yang dekat ke arah perlambang gambar,
lukis, patung, kerajinan tangan kriya dan multimedia. berhubungan
dengan unsur cabang kesenian.
2. Seni Musik,
Unsur bunyi adalah elemen utama seni musik. Unsur lain
dalam bentuk harmoni, melodi dan notasi musik merupakan wujud
sarana yang diajarkan. Media seni musik adalah vokal dan
instrumen. Karakter musik instrumen dapat berbentuk alat musik
Barat dan alat musik Nusantara/tradisional. Jenis alat musik
tradisional antara lain terdiri dari seruling, gambang kromong,
gamelan, angklung, rebana, kecapi, dan kolintang serta arumba.
Jenis alat musik Barat antara lain terdiri dari piano, gitar, flute, drum,
musik elektronik, sintetiserr, seksopon, dan terompet.
Kompetensi dasar yang harus dicapai dalam mempelajari
seni musik meliputi kemampuan memahami dan berkarya musik,
pemahaman pengetahuan musik mencakup harmoni, melodi dan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 11
notasi musik serta kecerdasan musikal yang memungkinkan
seseorang dapat beradaptasi dengan perangkat musik secara cepat.
Di sisi lain, kemampuan memahami dan membuat notasi,
kemampuan mengaransemen, serta praktik dasar maupun mahir
dalam banyak alat atau instrumen secara terampil, serta
kemampuan memahami dan membuat multimedia.
Seni musik yang lebih mempromosikan unsur bunyi sebagai
medium dasar musik lebih memiliki proporsi pada bunyi yang teratur,
bunyi yang berirama, serta paduan bunyi yang menjurus kepada
eksperimental bunyi secara harafiah tanpa ritme, melodi maupun
harmoni. Seni musik banyak berkembang pada komunitas
masyarakat yang memiliki aliran klasik, ekspresionis,
eksperimentalis, dan fluonsis dengan memetakan perkembangan
musik melalui bunyi-bunyian yang tidak berirama dan bernada.
Seni musik tumbuh-kembang sejak zaman Renaissance
hingga abad milenium. Secara progresif aliran musik yang
berkembang pada saat ini lebih ke arah musik yang memiliki tonasi,
interval, dan harmoni secara varian.
Seni musik lebih transparan dalam bentuk hasil karyanya.
Bunyi sebagai media ungkap menjadi salah satu alat komunikasi
dalam menginternalisasikan makna bunyi ke dalam penerjemahan
kuantum dari pikiran aranjer(penata musik) ke penonton. Oleh sebab
itu, dibutuhkan pemaknaan artikulasi penataan musik terhadap cara
penyampaian makna musik untuk dapat dimengerti oleh penonton.
Dengan demikian makna penataan musik semakin mudah dipahami,
dimengerti dan menjadi media komunikasi antara penata musik
dengan penghayat musiknya.
3. Seni Teater,
Kompetensi dasar bidang seni teater mencakup kemampuan
memahami dan berkarya teater, kemampuan memahami dan
membuat naskah, kemampuan memahami berperan di bidang
casting kemampuan memahami dan membuat setting atau tata
teknik pentas panggung dan penciptaan suasananya sebagai
perangkat tambahan dalam membidangi seni teater.
Di sisi lain, kemampuan memahami untuk berperan di luar
dirinya adalah penguasaan khusus yang harus dikuasai secara
teknis dalam berkarya teater. Kemampuan memahami dan membuat
sarana dan prasarana perlengkapan berbasis multimedia adalah
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 12
pendekatan aktual yang harus dikuasai seorang dramawan dalam
kaitannya dengan penyajian teater berbasis teknologi.
Seni teater juga sebagai bagian integral kesenian memiliki
media ungkap suara dalam wujud pemeranan. Cara atau teknik ini
lebih mengutamakan terciptanya casting, pembawaan, diksi,
intonasi, pengaturan laring dan faring secara konsisten adalah
bagian penting dari penjelmaan profesi yang harus dimiliki.
4. Seni Tari,
Media ungkap tari adalah gerak. Gerak tari merupakan gerak
yang diperhalus dan diberi unsur estetis. Gerak dalam tari berfungsi
sebagai media untuk mengkomunikasikan maksud-maksud tertentu
dari koreografer. Keindahan tari terletak pada bentuk kepuasan,
kebahagiaan, baik dari koreografer, peraga dan penikmat atau
penonton.
Kompetensi dasar dalam mempelajari seni tari mencakup
praktik dasar dan mahir dalam penguasaan gerak tari meliputi tari
tradisional maupun tari garapan, kemampuan memahami arah dan
tujuan koreografer dalam konsep koreografi kelompok. Kemampuan
memahami dan berkarya tari (koreografi) adalah keterampilan
khusus berhubungan dengan kepekaan koreografi, di sisi lain
diharapkan memiliki kepekaan memahami aspek-aspek tari dan
aspek keindahan secara teknis. Sebagai penyesuaian abad modern,
kemampuan memahami dan membuat perangkat multimedia
hubungannya dengan tari adalah bentuk penyesuaian sumber daya
manusia dalam adaptasinya dengan teknologi.
Perwujudan ekspresi budaya melalui gerak yang dijiwai serta
diikat nilai-nilai budaya menjadi patokan dasar atau standar ukur tari
untuk dikaji menjadi bentuk tari-tarian daerah di Indonesia. Sebagai
salah satu unsur terpenting kesenian di Indonesia dalam wujud
performa gerak, dibutuhkan adanya kehidupan sosial dan spiritual
masyarakat pendukungnya. Peran dan fungsi tarian yang begitu
penting hingga kini pada puncak kesenian daerah menjadi simbol
dan puncak tari sebagai budaya di daerah yang bersangkutan. Jenis
tari yang telah menjadi puncak budaya daerah sangat erat untuk
dijadikan sebagai tarian yang diunggulkan daerah.di mana tarian
tersebut berasal.
Beraneka ragam tari-tarian yang diwarisi masyarakat daerah
di Indonesia baik yang sakral maupun yang sekuler, tradisional
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 13
maupun nontradisional. Bentuk tarian dari zaman prasejarah
hingga zaman modern, produk dari zaman tertentu membantu
sejarah kehidupan tarian untuk dapat tumbuh-kembang hingga akhir
zaman.
Seni tari memerlukan media gerak. Gerak murni atau wantah
tidak memiliki maksud-maksud tertentu. Gerak maknawi memiliki
makna maksud-maksud tertentu dan apabila dibangun dengan unsur
keindahan, maka gerakan tari semakin halus, estetis, dan geraknya
memiliki bangunan ekspresi bentuk yang diungkapkan manusia
untuk dinikmati.
Seni tari banyak dipengaruhi oleh kepercayaan dinamisme
dan animisme. Oleh sebab itu, sejak zaman dulu tarian sudah
memiliki peran fungsi yang sentral dalam kehidupan beragama.
Peran tari dalam upacara terkait dengan cara dan tujuan yang terkait
dalam prosesi suatu upacara keagamanaan atau ritual.
Seni tari mewariskan bentuk-bentuk tradisi maupun
nontradisi. Sifat—fungsi magis-ritual yang dipengaruhi kepercayaan
animisme dinamisme mampu menjadi kekuatan sentral dalam setiap
upacara keagamaan. Dalam perkembangannya, seni tari tradisional
pada akhirnya mewariskan seni pertunjukan baru dan inovatif
melalui dramatari prembun, hingga sendratari jenis kesenian yang
lahir pada zaman modern.
Pada masyarakat modern yang dinamis ini, kehadiran seni
tari memerlukan hadirnya penari yang baik, guru-guru tari yang
profesional, dan pemikir-pemikir yang mampu merumuskan masa
depan tari secara proporsional. Oleh sebab itu, beberapa hal harus
diperhatikan menyangkut penguasaan teknik tari agar dapat
memenuhi syarat sebagai penari yang profesional.
5. Kerajinan Tangan
Cabang kesenian ini pada dasarnya memprioritaskan kepada
keterampilan tangan dalam bentuk benda hasil kerajinan. Hal
kerajinan tangan mencakup unsur-unsur bordir, renda, seni lipat,
seni dekoratif, serta seni yang menekankan keterampilan tangan.
Seni dan pengetahuan lain dapat dipahami dan diketahui
oleh pembaca dalam upaya pengembangan kepribadian dan
keanekaragaman. Dalam suatu kehidupan akan terasa hambar dan
gersang apabila kita tidak memiliki kesenian. Kesenian dapat
menyempitkan aspek budaya dan memperluas cakrawala serta
keanekaragaman pengetahuan seseorang. Secara aktual kesenian
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 14
yang ada berwujud musik, rupa, teater, dan tari secara multilingual,
multikultural, dan multidimensional.
Pada akhir ulasan ini dapat diakumulasi, mana cabang seni
yang paling kalian senangi. Coba berilah contoh salah satu cabang
seni yang paling kamu senangi dalam bentuk karya seni yang
pernah kalian buat atau kalian kenali.
6. Seni Berwawasan Teknologi
Pertumbuhan perkembangan ilmu pengetahuan secara
signifikan mampu mengadopsi berbagai penerapan pengetahuan ke
dalam munculnya cabang pengetahuan baru. Salah satu reformasi
di bidang pengetahuan yang berhubungan dengan seni adalah
munculnya cabang seni berhubungan dengan pemanfaatan alat-alat
canggih.
Cabang pengetahuan seni yang berhubungan dengan
pemanfaatan teknologi adalah munculnya cabang seni, seperti seni
peran (khususnys sinetron), pendokumentasian (sinema), audio-
visual (keproduseran) dan lain-lain. Wahana penjajagan
pengetahuan di bidang yang berhubungan dengan pemanfaatan
alat-alat canggih tersebut memunculkan garapan pengetahuan di
bidang seni peran dan adaptasinya.
Munculnya cabang seni berwawasan teknologi menjadi
pertanda bahwa wahana pengembangan seni dan pengetahuan
kesenian dalam kaitannya dengan wawasan teknologi mampu
mengadaptasikan pengetahuan baru sebagai wadah penuangan
bakat-bakat seni berhubungan dengan penggunaan alat-alat
canggih.
Kesenian sebagai sebuah metodologi memperkenalkan
seseorang memahami obyek ke dalam permasalahan-permasalahan
yang dikaitkan dengan pekerjaan seni dan bersosialisasi. Dengan
imajinasi, seseorang yang mempelajari seni dapat berangan-angan
terutama dalam menemukan hal baru, menciptakan hal baru, serta
memodivikasi berbagai temuan yang sudah ada ke bentuk baru
sebagai representasi sesuatu yang telah lama ada.
Cabang-cabang kesenian seperti telah disebut di atas
merupakan kekuatan dasar yang sangat efektif untuk mendatangkan
inspirasi bagi banyak orang. Imajinasi seseorang yang belajar
kesenian dapat dikembangkan secara lebih luas dengan
meningkatkan dan mengembangkan bahasa gerak, rupa, bunyi, dan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 15
suara untuk tetap tumbuh dan berkembang menurut tingkat dan
reputasi bahasa tubuh, bahasa gerak, serta bahasa bunyi
dikombinasikan dengan pendekatan psikologis.
Kegiatan kesenian yang terbungkus dalam pembuatan seni
berupa karya seni berhubungan dengan refleksi ide-ide, dan
tindakan-tindakan yang terkait dengan proses berkesinambungan.
Kegiatan seni melibatkan beberapa aspek multilingual, multikultural
dan multidimensional mampu menjangkau secara luas atas
beberapa hal yakni.
1. Menyiapkan pendidikan yang sejajar,
2. Mengembangkan pengetahuan berbagai budaya,
3. Memberikan nilai masyarakat, Mengenalkan budaya dalam
dunia pendidikan, serta,
4. Membantu pendidik dan terdidik mengembangkan perspektif
multibudaya.
Dalam ranah khusus, konsep pengembangan kewirausahaan
menjadi konsep dasar pengembangan penulisan buku ini. Sebagai
bahan kajian, jawaban yang integral dapat menjembatani lahirnya
pengembangan kewirausahaan ke dalam pendidikan model
profesional. Model ini digunakan dalam pendidikan untuk mencetak
profesionalisme penari yang berkualitas, memiliki kompetensi,
memiliki kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan
profesionalismenya baik di depan umum maupun di lingkup
pendidikan formal yang dimiliki.
Model profesional sebagai alat pengemban pendidikan di
dalamnya memiliki indikator yang dapat menjadi arah pelaku seni
yang kompeten terhadap penciptaan seni dan seperangkat keahlian
dalam gaya, teknik, dan metodologi yang dapat digunakan sebagai
pendekatan keahlian yang diterapkan. Konsep profesional ini
dibekali dengan ide yang dibalut kerja kreatif, jadwal terprogram,
serta proses penuangan yang dilandasi oleh profesionalisme
sehingga pengalaman ke depan menjadi semakin terasah.
Penekanan kerja mandiri dan tindak kreatif yang terstruktur
menjadi kemampuan profesional menjadi semakin bertumpu pada
landasan yang kuat dan memadai. Dengan demikian proses ke
depan terjadi simulasi yang mengerucut dan mampu menjadikan
seseorang yang mempelajari dengan konsep profesional dapat
menciptakan kewirausahaan secara jelas.
Di sini dibutuhkan penempaan yang memiliki landasan basis
profesional sehingga diharapkan memenuhi kebutuhan seorang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 16
profesional menjadi tangguh dalam berwirausaha serta potensial
dalam menghadapi tantangan di masa depan. Dengan demikian
wahana konsep ini selayaknya digunakan untuk menempa bibit-bibit
profesional menjurus ke jalur yang sudah diatur atau ketentuan yang
tidak dapat ditawar lagi.
Beberapa indikator profesional dalam bentuk keterampilan
adalah sebagai berikut di bawah ini.
a. Menekankan kepada produk/hasil,
b. Pengetahuan profesionalisme menjadi model yang dicita-
citakan,
c. Obyektivitas dan latihan menjadi pengalaman batin yang
terasah,
d. Gaya penyampaian dan teknik profesional menjadi simbol
konsep profesional,
e. Prosedur imitatif, latihan, demonstrasi, dan unjuk kreativitas
simbol profesionalismenya,
f. Kemampuan, kemahiran, dan penampilan diri menjadi watak
dan karakteristik konsep profesional mampu berkembang
mandiri, dan berkelompok koloni.
g. Karakteristik berproses dalam menghasilkan produk
berkualitas adalah simbol pematangan diri dan penempaan
mentalita pengalaman yang terasah dalam performa
profesionalisme yang diidamkan.
h. Profesionalisme yang dibina meliputi pelaku profesional, artis
dan koreografer.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 17
KONSEP PROFESIONAL SENIMAN
Pelaku Tari, Kritikus Tari, dan
Koreografer, serta Artis
Karakteristik berproses dalam Kemampuan, kemahiran, dan
menghasilkan produk penampilan diri menjadi watak
berkualitas adalah simbol dan karakteristik konsep
profesional
pematangan diri dan
penempaan mentalita
Gaya penyampaian dan teknik
profesional menjadi simbol
konsep profesional,
Prosedur imitatif, Pengetahuan Obyektivitas dan
latihan, demonstrasi, profesionalisme latihan menjadi
dan unjuk kreativitas menjadi model pengalaman batin
yang dicita-citakan
simbol yang terasah,
profesionalismenya
Peminat, Pemerhati, dan
Pecinta Kesenian
Bagan 1.2
Peta Konsep Model Profesional
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 18
Dalam lingkup pendidikan, dari level sekolah dasar (SD)
hingga sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), secara spesifik peserta
didik diarahkan untuk memiliki sejumlah kompetensi pada setiap
lingkup seni yang dipelajari. Batas dan standar kompetensi yang
ditetapkan berangkat dari cakupan indikator kompetensi yang
digunakan sebagai dasar pertimbangan pencapaian uraian bahasan
yang disajikan dibutuhkan kriteria tentang kompetensi dasar dan
kompetensi yang diharapkan hingga tuntas.
Lebih dari itu, cakupan kompetensi dasar dan tercapainya
kompetensi belajar kesenian bagi siapapun yang memiliki perhatian
dan empati menjadi indikasi pemenuhan standar kompetensi yang
ditawarkan oleh masing-masing cabang seni. Pada akhirnya
tercapainya standar kompetensi yang dituangkan secara utuh dalam
bidang seni yang seharusnya dituntaskan pembaca, peserta didik,
dan siapapun yang memiliki empati untuk mempelajari kesenian
lebih mendalam dibutuhkan banyak prasyarat yang kurang lebih
dapat disimak dan dipelajari sebagai berikut di bawah ini.
Uraian tentang unsur-unsur budaya pada khususnya
mencakup kesenian cukup luas. Oleh karena itu agar pembahasan
dapat terfokus, maka uraian di bawah akan dibatasi dalam bidang
seni tari. Dalam buku ini pembahasan seni tari akan terfokus,
sehingga seni tari dapat lebih mudah dipahami secara teoretik.
Pembahasan mengenai seni tari ditujukan untuk apresiasi saja. Oleh
karena itu, bidang seni lain akan dibahas pada bab lain secara
terpisah.
Para pembaca budiman, pada kesempatan ini dapat
disampaikan bahwa buku ini pada dasarnya diperlukan untuk
pembaca yang berminat mempelajari tentang tari. Konsep yang
dituangkan dalam bagian buku yang akan dipelajari adalah mulai
dari bagaimana cara-cara bergerak yang taktis, efektif, dan
bersinergi dan motivasi tinggi melalui olah tubuh.
Selanjutnya, untuk mempelajari pemetaan pengetahuan lain
dalam buku ini berhubungan dengan tari dan latar belakang sosial
budayanya. Tari dan sosial budaya yang melatarbelakangi sangat
erat hubungannya peran fungsinya di masyarakat. Bukti yang
menunjukan hal itu adalah tari berperan fungsi dalam kehidupan
manusia.
Hal tersebut apabila belum cukup, mengingat untuk
mendalami tari secara lebih luas maka masalah tentang adanya
berbagai kegiatan yang mampu digunakan sebagai lahan dan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 19
wahana dalam mengorganisasikan dan menata tari masih harus
dipelajari. Pengetahuan dimaksud adalah berhubungan dengan
manajemen produksi dan koreografi tari. Di samping itu, terkait pula
dengan:
1. Kekuatan, kecepatan, dan fokus,
2. Memperkuat bentuk disain gerak dalam komposisi tari,
3. Memperkuat ekspresi gerak tari dan ide pengembangan
gerak dan musik, peralatan tari
D. Pengertian Tari
Para siswa yang budiman, perlu kami jelaskan di sini bahwa
di bawah ini adalah beberapa pendapat tentang pengertian tari.
Pendapat tentang tari tersebut mendefinisikan, bahwa secara
simulasi memiliki pengertian beragam.
Tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi
dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk
gerak yang simbolisasinya sebagai ungkapan si pencipta (Haukins:
1990, 2). Masalah ungkapan tari sebagai ekspresi subyektif juga
dikemukakan oleh La Meri, di sini ungkapan dimaksud lebih diubah
proporsinya menjadi bentuk obyektif.
Di sisi lain diungkapkan oleh Soedarsono, tari adalah
ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerak ritmis yang
indah. Selanjutnya, pola dan struktur dari alur gerakan lebih
berirama. Porsi alur gerak anggota tubuh diselaraskan dengan bunyi
musik atau gamelan. Di mana bunyi gamelan diatur oleh irama yang
sesuai dengan maksud dan tujuan tari (Soeryodiningrat).
Dalam koridor yang tetap berorientasi pada gerak Curt Sach
menjelaskan bahwa tari merupakan gerak yang ritmis. Apabila dikaji
secara menyeluruh, dapat diosimpulkan bahwa tari adalah gerak
ritmis yang indah yang diiringi musik dan membentuk kesatuan
maksud yang dapat digunakan untuk menjelaskan makna yang
menyusunnya.
Elemen dasar tari adalah gerak tubuh manusia. Gerak secara
aktual tidak dapat dipisahkan dengan unsur ruang, tenaga, dan
waktu. Oleh sebab itu, tari secara umum merupakan bentuk
penjabaran dari gerak, ruang, tenaga, dan waktu.
Tari secara prinsip banyak diasumsikan oleh banyak
kalangan sebagai cabang seni yang memiliki elemen dasar berupa
gerak. Tari secara akumulatif adalah keindahan ekspresi jiwa
manusia yang diungkapkan melalui gerak ritmis yang indah dari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 20
tubuh manusia, gerak yang distilisasi atau diperhalus dan dibalut
oleh estetika keindahan sehingga menjadi bentuk seni.
Tari dapat dinikmati melalui berbagai acara seperti acara
televisi, hajad kaul, pernikahan, maupun berbagai kegiatan lain
berfungsi sebagai acara pergelaran tari, paket tontonan dan
kegaiatan kenegaraan maupun acara-acara berkaitan dengan
keagamaan dan upacara adat.
Tari merupakan salah satu cabang seni, sebagai media
ungkap yang digunakan adalah tubuh. Tari mendapat perhatian
besar di masyarakat. Tari ibarat bahasa gerak merupakan alat
ekspresi manusia yang digunakan untuk media komunikasi dimana
secara universal dapat dinikmati oleh siapa saja, dan pada waktu
kapan saja.
Sebagai sarana komunikasi, tari memiliki peranan yang
penting dalam kehidupan masyarakat. Berbagai even tari dapat
berperanfungsi menurut kepentingannya. Masyarakat membutuhkan
tari bukan saja sebagai kepuasan estetis, melainkan dibutuhkan juga
sebagai sarana upacara yang berhubungan dengan agama dan
adat, maupun keperluan tertentu lainnya.
Apabila disimak secara khusus, tari membuat seseorang
tergerak untuk mengikuti irama musik dan gerak tari, maupun unjuk
kemampuan dan kemauan kepada umum secara jelas. Tari
memberikan penghayatan rasa, empati, simpati, dan kepuasan
tersendiri terutama bagi orang yang menyukai tari serta bagi
pendukungnya.
Tari pada kenyataan sesungguhnya merupakan penampilan
gerak tubuh, Oleh karena itu, tubuh sebagai alat ungkap untuk
komunikasi verbal dan bahasa tubuh sangat penting perannya bagi
manusia. Gerakan tubuh dapat dinikmati sebagai bagian dari
komunikasi bahasa tubuh. Dengan itu tubuh memiliki peran dan
fungsi menjadi bahasa gerak untuk memperoleh makna gerakan.
Tari merupakan salah satu cabang seni yang mendapat
perhatian besar di masyarakat. Tari ibarat bahasa gerak merupakan
alat ekspresi manusia. Sebagai sarana atau media komunikasi yang
universal, tari menempatkan diri pada posisi yang dapat dinikmati
oleh siapa saja dan pada waktu kapan saja.
Tari memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan
manusia. Berbagai acara yang ada dalam kehidupan manusia, tari
digunakan untuk keperluan sesuai kepentingannya. Masyarakat
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 21
membutuhkan tari bukan saja sebagai kepuasan estetis saja,
melainkan juga sebagai upacara agama dan adat.
Dalam konteksnya, tari terdiri beberapa unsur meliputi gerak,
ritme, tenaga, dan musik, serta unsur pendukung lainnya. John
Martin dalam The Modern Dance, menyatakan bahwa tari menjadi
bentuk pengalaman gerak yang paling awal bagi kehidupan
manusia. Manusia lahir ke dunia yang dilakukan gerak berhubungan
dengan jantung, tubuh, dan ruang alam dunia.
Gerak tari memiliki makna denyutan tubuh yang
memungkinkan manusia hidup, di dalamnya terdapat ekspresi.
Gerak tari dimaksud sebagai media ungkap tari sebagai bentuk
keinginan/hasrat manusia, direfleksi melalui gerak baik secara
spontan, maupun dalam bentuk ungkapan komunikasi kata-kata,
gerak-gerak maknawi ataupun bahasa tubuh/gesture. Secara
khusus, tari sebagai ungkapan gerak maknawi hadir dalam wujud
gerak dan elemen pendukungnya yang terdiri dari cabang seni lain.
Banyak unsur yang menyatu dan secara langsung dapat
ditonton ketika menikmati tarian. Tari dinikmati pada saat tarian di
atas pentas. Dengan demikian gambaran tari menurut
Soeryobrongto adalah gerak-gerak anggota tubuh yang selaras
dengan bunyi musik. Irama musik sebagai iringan tari dapat
mengungkapkan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan (Jazuli,
1994:44).
Pada dasarnya tari memiliki irama atau ritme. Tari di
dalamnya mempelajari gerakan yang bersumber dari kehidupan
sehari-hari manusia, baik yang berbentuk gerakan berpindah tempat
(locomotive movement) dan gerak di tempat (stationary movement),
mewujudkan momentum gerak yang tidak dapat dipisahkan dengan
ruang, waktu, dan tenaga.
Di sisi lain Hawkins yang menyebutkan, tari adalah ekspresi
perasaan manusia yang diubah ke dalam imajinasi dalam bentuk
media gerak. Simbolis gerakan tersebut menjadi gambaran atau
representasi dari ungkapan si penciptanya (Hawkins, 1990:2).
Sussanne K Langer pada sisi lain menyatakan bahwa tari
adalah gerak ekspresi manusia yang indah. Gerakan yang ada
dapat dinikmati melalui penghayatan rasa dengan penghayatan
ritme tertentu. Menelaah kedua pendapat tersebut di atas, maka tari
adalah pernyataan gerak ritmis yang indah mengandung ritme. Oleh
sebab itu, tari merupakan ungkapan hasrat yang secara periodik
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 22
digerakan sebagai pernyataan komunikasi ide maupun gagasan dari
penciptanya.
Pada sisi lain Suryodiningrat menyatakan dalam buku Babad
Lan Mekaring Djoged Djawi bahwa tari merupakan gerak seluruh
anggota tubuh yang selaras dengan irama musik (gamelan) dan
diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud tertentu. Sejalan
pendapat Suryobrongto, Soedarsono menambahkan bahwa tari
adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerak-
gerak ritmis yang indah. Demikian pengertian tari secara menyeluruh
dapat didefinisikan sebagai gerak tubuh manusia yang indah diiringi
musik ritmis yang memiliki maksud tertentu.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tari adalah
gerak-gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan musik,
diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu
dalam tari. Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa tari merupakan
desakan perasaan manusia di dalam dirinya untuk mencari
ungkapan beberapa gerak ritmis.Tari juga bisa dikatakan sebagai
ungkapan ekspresi perasaan manusia yang diubah oleh imajinasi
dibentuk media gerak sehingga menjadi wujud gerak simbolis
sebagai ungkapan koreografer. Sebagai bentuk latihan-latihan, tari
digunakan untuk mengembangkan kepekaan gerak, rasa, dan irama
seseorang. Oleh sebab itu, tari dapat memperhalus pekerti manusia
yang mempelajarinya.
Untuk memperoleh pengertian tari lebih mendalam, maka
diperlukan informasi tentang unsur tari, aspek tari, dan pendukung
tari melalui sumber media dalam bentuk foto-foto, VCD tari, serta
media lain yang dapat menambah referensi tentang apa itu tentang
tari.
1. Gerak
Unsur utama tari adalah gerak. Gerak pada dasarnya
merupakan fungsionalisasi dari tubuh manusia (anggota gerak
bagian kepala, badan, tangan, dan kaki), ruang secara umum (ruang
gerak yang terdiri dari level, jarak, atau cakupan gerak), waktu
sebagai jeda (berhubungan dengan durasi gerak, perubahan sikap,
posisi, dan kedudukan), tenaga untuk menghayati gerak (kualitas
gerak berhubungan dengan kuat, lemah, elastis dan kaku dan
personifikasi gerakan).
Gerak sebagai unsur penting suatu tarian akan selalu
berhubungan dengan ruang, waktu, dan tenaga. Reproduksi gerak
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 23
dimulai dari pengerutan dan peregangan otot, kontraksi otot, dan
kapasitas perubahan volume ruang dan perpindahan tempat yang
direpresentasikan melalui waktu gerakan dilakukan.
Gerakan tubuh manusia dalam wujud gerak sehari-hari,
gerak olah raga, gerak bermain, gerak bekerja, gerakan pencak-
silat, serta gerak untuk berkesenian. Jenis gerakan seperti tersebut
diatas, apabila harus diwujudkan ke dalam bentuk gerak tari pada
puncaknya harus distilisasi atau didistorsi.
Tari merupakan relaksasi dan penegangan otot yang secara
penghayatan menghasilkan ekspresi gerak untuk berkesenian.
Gerakan tari berwujud jenis gerak yang telah distilisasi atau
didistorsi. Wujud gerakan yang secara impulsif bersifat lembut dan
mengalir, tegas terputus-putus, dan tegang-kendur dan gabungan
lemas-kencang, lambat-cepat, patah-patah-mengalir dan sebagainya
adalah bentuk distorsi dan stilisasi gerak yang menjadi ciri pembeda
gerakan sehari-hari dengan gerakan tari.
Gerakan tubuh manusia secara umum terbagi menjadi tiga
wilayah gerak. Menurut Evelyn Pearch gerakan berpusat pada
anggota gerak bagian atas (Caput) anggota gerak bagian tengah
(Thorax), dan anggota gerak bagian bawah (Ladix/Pedix). Masing-
masing anggota gerak dapat bergerak masing-masing serta pada
kapasitas lebih variatif dapat bergerak secara koordinatif. Pembagian
wilayah gerak dapat dilihat pada uraian di bawah ini sebagai berikut.
Sumber: Buku Evelyn Pearch
Gb. 1.1 Gambar Tengkorak (Anggota Gerak Bagian Atas Manusia berfungsi sebagai
pusat kendali dan penyeimbang tubuh.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 24
Anggota gerak bagian tengah (thorax) memiliki cakupan
karakteristik gerak kurang fleksibel. Hal ini lebih ditujukan sebagai
penopang dan pembentuk sikap anggota gerak bagian atas dan
bawah. Kedudukan anggota gerak bagian tengah terkesan statis,
namun memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan sikap dan
kedudukan anggota gerak lainnya.
Sumber: Buku Evelyn Pearch
Gb. 1.2 Gambar: Anggota Gerak Bagian Tengah/Thorak Tubuh Manusia
sebagai kerangka yang mewadahi alat dalam manusia sebagai sarana kerja
kehidupan kita)
Lebih lanjut Laban membagi ke dalam anggota wilayah gerak
dalam hubungannya dengan porsi tubuh, yaitu anggota gerak bagian
kepala terpusat pada bagian kepala dengan leher sebagai
pengendali(Caput), anggota gerak bagian badan terdiri dari badan
hingga pangkal pelvis atau pinggul, tangan(Thorax).
Anggota gerak bagian bawah terdiri dari pangkal paha
hingga ibu jari kaki (Ladix) yang secara masing-masing
jangkauannya berbeda sesuai kebutuhan ruang yang dapat
dijangkau oleh anggota gerak tubuh.
Faktor space meliputi ruang gerak, misalnya level,
jarak/rentangan atau tingkatan gerak. Faktor time lebih diproyeksikan
pada waktu, misalnyai durasi gerak dan dan faktor dynamics lebih
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 25
menekankan kualitas atau tekstur gerak, misalnya gerak yang kuat,
lemah, elastis, aksentuasi, penekanan (Ann Hutchinson, 1989:2).
Anggota gerak bagian bawah (ladix) memiliki suatu
karakteristik gerak yang dinamis dan fleksibel. Dinamisasi dan
fleksibilitasnya digunakan sebagai alat gerak perpindahan yang lebih
banyak, sebagai tumpuhan tubuh, dan juga menjadi alat gerak yang
potensial terutama bagi manusia yang normal (tidak cacat).
Kapabilitas gerak lebih ditujukan sebagai penopang dan pembentuk
sikap anggota gerak bagian atas dan tengah. Kedudukan anggota
gerak bagian bawah mampu beradaptasi secara sinergis dengan
anggota gerak tubuh lainnya.
Sumber: Buku Evelyn Pearch
Gb. 1.3 Gambar Anggota Gerak Bagian Bawah/Kaki Manusia memiliki kemampuan
beranjak yang begitu cepat, luas, dan dinamis.
Ayo para siswa, sekarang coba simak dan lakukan beberapa kriteria
gerak yang harus coba kalian lakukan. Gerakan terdiri dari patahan
bagian tubuh dan koordinasi gerak seluruh tubuh.
1. Gelengkan kepala, dan lanjutkan dengan memutar ke kanan
dan arah sebaliknya.
2. Lakukan gerakan tubuh dengan memutar bagian
thorak/dada
3. Gekan langkah kaki ke kanan dan ke kiri, maju-mundur dan
memutar salkah satu kaki sebagai tumpuhan.
4. lakukan kordinasi gerak antara anggota gerak bagian
bawah, tengah dan atas secara sinkronisasi.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 26
Gerakan berciri stakato atau patah-patah dan mbanyu mili,
biasanya dilakukan untuk memperjelas jenis dan karakter gerak tari.
Ciri dan karakteristik gerak tari yang demikian biasanya dapat
diidentifikasi menjadi gerak tari yang telah diproses melalui stilisasi
gerak. Di bawah ini dapat disimak beberapa motif gerak pada tari
tradisi di indonesia secara umum dapat diikuti adalah sebagai
berikut. Gerak tari yang berkonsep gerakan yang mengalir secara
kontinyu terdapat pada grak tari Bedoyo Songo (Sembilan). Pada
gerak tari yang lebih menekankan pada gerak perubahan secara
cepat, stakato, dan veriasi level pada tari Garapan Tari Gejolak
(Tradisional Jambi)
Sumber: Koleksi DisbudPar
Gb.1.4 Tari Bedoyo 9 (Sembilan)
Gerakan tari Klasik (istana) karakter gerakan bersifat mengalir secara
kontinyu/mbanyu mili
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 1.5 Tari Gejolak
Gerak tari Pengambangan Tradisi Jambi tegas, patah-patah diselingi hentakan pada
kaki dan tangan (koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 27
Pada gerakan tari klasik di bawah ini memiliki ciri gerak
lebih atraktif dan penuh fleksibilitas. Karakter gerak yang
diperagakan lebih cenderung merupakan gerakan karakter tari
putra. Tari Topeng Cirebon sebagai karakter tari klasik putra
dari Jawa Barat/Kasepuhan Cirebon (gambar atas), pada
gambar bawah dapat dilihat konsep garapan tari klasik gaya
tari Surakarta bertajuk Bima Suci.
Sumber: Koleksi Ojang Jurusan Tari UNJ
Gb. 1.6 Tari Topeng Cirebon (fibrasi badan, rentang tangan, dan goyangan kepala
sangat dominan pada tari topeng Cirebon).
Sumber: koleksi Pribadi
Gb. 1.7 Tari Bima Suci (Klasik Gaya Surakarta) gerak patah-patah diselingi
hentakan pada kaki dan tangan (Koleksi Rahmida dan Bambang)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 28
Marilah coba kita perhatikan beberapa foto tarian di bawah ini
yang memiliki kedekatan dengan sistem gerak anggota gerak tubuh
dan karakter gerak dari motif gerak tari yang merupakan rumpun
gerak tari campuran gaya tari kerakyatan, klasik dan pengembangan
tradisi yang padat dicontohkan melalui figur gambar di bawah ibi
adalah sebagai berikut Gaya tari tradisional kasepuhan Cirebon
(Topeng Cirebon), gaya tari klasik tradisional Bali (Oncorowo), dan
gaya tari kerakyatan dari Banyumasan (Gumyak).
Sumber: koleksi Ojang Jurusan Tari UNJ
Gb. 1.8 Tari Topeng Cirebon (fibrasi badan, rentang tangan, dan goyangan kepala
sangat dominan pada tari topeng Cirebon).
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: koleksi Pribadi
Gb. 1.9 Tari Oncarowo Gb. 1.10 Gumyak Banyumasan
Gb 1.8 Nebar Sonder pada Topeng Cirebon dan Gb 1.9 Motif gerak Pendapan pada
tari Oncarowo. Gb. 1.10 Motif gerak Rentang Helmet pada Tari Gumyak (Koleksi
Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 29
1.1 Gerak Dasar
Pengertian gerak dasar adalah gerakan patokan. Ketentuan-
ketentuan gerak ditetapkan guna mengatur dan menumbuhkan
keselarasan gerak bagi yang melakukan(penari). Ketentuan gerakan
harus dipatuhi, sehingga wujud prinsip-prinsip gerak patokan dapat
dijadikan standar. Patokan gerak digunakan sebagai unit kompetensi
gerak yang harus dilakukan penari sebagai bentuk unjuk kepenarian.
Para siswa apabila dicermati secara teliti, gerak tari masih
memiliki bagian yang lebih kecil lagi yang disebut dengan ragam
gerak. Ragam gerak sebagai bagian terkecil gerak tari disebut
dengan motif (Royce: 1980, 67). Penari yang memperagakan gerak
secara totalitas terdiri dari motif gerak-motif gerak.
Motif gerak tari terdiri dari motif anggota gerak bagian kepala,
tangan, badan, dan kaki. Ragam gerak tersebut terpola dalam
konteksnya terbagi menjadi gerak pokok, gerak khusus, gerak
peralihan, dan gerak penghubung(Iyus Rusliana: 1989, 20), Motif
gerak tari tradisional Betawi, antara lain terdiri dari Selancar, Rapet
Nindak, Pakblang, Kewer, Blongtur, dan Gibang. Gerakan peralihan
terdiri dari Koma, Cendoliyo, Gonjingan.
Contoh lain dari motif gerak pada tari Jambi yaitu Gerak
Sembah, Nyetangaen, Ngenak Cincin, Ngenak Gelang, Ngenak
Subang, Nyanggul, Nyelak, Tegak berdiri, Ngaco, Nyilau, Begaya,
Lenggang, Melenggang Turun Naik, Kedidi Merentang, Nyerah
Sekapur Sirih. Pada gerak peralihan didominasi gerak Trisik dan
gerak Jalan Melambai.
Sumber: Koleksi Deden Jurusan Tari UNJ
Gb. 1.11 Arak Cerano pada Sekapur Sirih
Sumber: Koleksi Deden Jurusan Tari UNJ
Gb. 1.12 Motif Sembah Tari Sekapur Sirih
Gb. 1.11 -- 1.12 Motif gerak Sembah dan pemberian sirih kepada tamu yang
digormati padaTari Sekapur Sirih
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 30
Beberapa motif ragam gerak tari secara kapabel dapat
dicontohkan menjadi tari model. Secara inaguratif beberapa model
tarian yang dicontohkan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.2 Motif Gerakan Tari Tunggal atau Gerakan Individu
No Anggot Kompetensi Uraian Teknik Gerak Keterangan
a Gerak Gerak
1 Anggota Kepala Gerakan ke samping Bentuk dan sikap ke
Gerak (Caput) kanan/kiri. Gerakan ke dua kaki rapat (level
Bagian relaksasi depan/belakang. tinggi, sedang,
Atas dengan leher Gerakan berpaling ke rendah), terbuka dan
kanan/kiri, memutar ke sikap tertentu seperti
kanan/kiri. Gerakan Tanjak-Tancep,
supinasi, dan Rapal, Adeg-adeg,
mengayun, kuda-kuda,
mengangguk, berputar.
Pronasi pada Badan kontraksi, rileks, Pangkal leher
ekstensor penegangan otot pada sebagai tumpuhan
bertumpu seluruh anggota tubuh. gerakan, sendi leher
pada otot Gerakan pacak gulu, berperan sentral.
tengkorak gebesan, gileg,
gelieur, anggukan dan
gelengan kepala,
tengok kanan/kiri.
2 Anggota Sikap Badan Meliuk-liuk, mengkerut- Gerak Olah Tubuh
Gerak (Thorax) kerut, pinggul(pelvis) pada pemanasan
Bagian pronasi pada berputar dan berporos gerak.
Tengah ruas tulang, pada cranum. Pelvis
supinasi pada bergerak sebatas
pusat kemampuan sesuai
tumpuhan motif ragam tari yg
gerakan yang dilakukan. Kontraksi
ada setiap otot di sekitar Thorax
sendi yang secara sendiri atau
sedang bersama-sama
difungsikan. memberi daya lentur
pada penguatan Gerak scalula pada
gerakan tubuh. tari Klono Topeng
Gerakan badan ke dan atau pada
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 31
samping kanan/kiri, ke Topeng Cirebon.
depan/belakang. Vibrasi perut yang
Vibrasi scapula, ogek dilakukan oleh Tokoh
lambung, Pronasi pada Jin Besar, Tuyul dan
kontraksi tulang Yul Sinetron Tuyul &
scapula dan perut mba Yul.
membentuk gerakan
khsusus.
Bentuk dan Gerakan bahu-skapula Bentuk dan sikap
sikap anggota ke atas/bawah, tangan bergerak
gerak tangan. supinasi ke depan, secara sendiri.
Gerakan belakang. Bentuk dan sikap
bervariasi. Grakan tangan lurus, tangan-kordinasi
tekukan pada siku, dengan anggota
tekukan pada palmar gerak yang lain.
tangan, serta gerakan
jari-jari melakukan
gerak pada bentuk dan
sikap motif gerak
tertentu atau khusus. Sikap palmar dari
Gerakan kordinatif tangan Ngiting,
pada sendi bertumpu Nyempurit, Ngruji,
pada sentral gerak dan sikap tangan
bahu, lengan atas, pokok. Bentuk dan
lengan bawah, palmar Sikap gerakan
tangan, dan jari-jari tangan Elieu pada
membentuk sikap gerak dasar tari
tertentu. Motif grak tari India, Nyeluntir pada
tertentu yang tari gendhing
digerakan secara ideal Sriwijaya, dan Nguya
sesuai tuntutan frase pada tari dasar
ragam gerak tari. Thailand. Gerak
dasar tersebut bila
dipadu dengan gerak
dasar senam dan
gerak pemanasan
mampu melatih gerak
tangan sesuai porsi
dan penegangan
pada gerak tari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 32
tertentu atau
merupakan
penegangan tangan
semata.
Goyang pinggul ke Harmoinisasi goyang
Pelvis
sebagai kanan/kiri dengan pinggul, memberi
penopang, volume dan reaktivitas kesan gerak seksi
Cranum gerak tertentu. bagai orang lain.
sebagai Kecepatan, macam Goyang plastik,
otorizet. goyangan, dilakukan goyang pantat pada
Gerakan dan sesuai keterampilan Jaipongan, goyang
getaran individu, masing- pinggul oleh
pinggul, masing berbeda-beda. penyanyi dangdut.
sensualitas,
kelenturan
pada paha,
Kolumna
vertebralis,
berfungsi
sebagai
penyengga
dan
tumpuhan
gerak
bertugas
menopang
dan
mengkontrol
gerakan
3 Anggota Support Kaki Kepala mengangguk- Gerakan Jalan,
Gerak (Ladix) angguk-badan Geser, Kengser,
Bagian merunduk, kepala jalan kaki pada tarian
Bawah menggeleng badan kuda-kuda, kaki
mengikuti sikap gerak berputar dengan
kepala. Kepala –badan tumpuan satu atau
berputar bersama kedua kaki adalah
dengan berguling atau dominasi gerak
variasi gerakan kpala anggota bawah.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 33
badan dan kedua Teknik Tumpuhan
tangan bergoyang kaki pada tari balet,
dalam posisi Salto, loncat
membungkuk, semua harimau, strugel track
gerakan dilakukan di udara, kiprah
dalam posisi kedua perang pada tari-
kaki rapat atau jika tarian Yogyakarta.
mungkin bertumpu satu
kaki.
4 Anggota Kontraksi Kepala mengangguk- Gerakan tersebut
Gerak gerakan angguk-badan dilakukan pada saat
Atas kepala-badan merunduk, kepala olah tubuh. Gerak
dan dari supinasi menggeleng badan pada tari
Bawah kerangka mengikuti sikap gerak Rebana/Rangguk
axial. kepala. Kepala –badan (Jambi) peragaan
Anggota berputar bersama gerak sering
gerak atas- dengan berguling atau dilakukan.
pinggul variasi gerakan kpala Peragaan gerak motif
kerangka badan dan kedua Rodat, Zamrah, dan
tulang tangan bergoyang tari-tarian berciri
(appendikuler) dalam posisi kerakyatan
membungkuk, semua mengutamakan
gerakan dilakukan gabungan gerak ke
dalam posisi kedua dua anggota tubuh
kaki rapat atau jika ini.
Kepala- mungkin bertumpu satu
badan-tangan kaki. Gerak pada tari
dengan Kepala mematuk- Belibis (Bali) Tari
melakukan matuk, kaki lenagkah Merak (Jawa-Sunda)
penegangan ke depan/belakang, seperti gerakan
kaki-kepala samping kanan/kiri. burung.
proksimal-
Tekukan kepala dan Gerak rol, loncat
sentripetal
kaki lurus pada gerak harimau, Keept up
roll atau guling
5 Anggota Sinartrosis, Sinkronisasi gerak Jalan lurus, Lampah
Gerak sinkondrosis, tulang dan jaringan Ringdom, Putar
Atas- sinfibrosis, dimana kedua tulang tangan sikap kaki
Tengah- diarthrosis antara tidak terjadi efek jalan lurus ke smua
Bawah gerakan. penjuru,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 34
Kordinasi ke2 tulang Putaran Tubuh ke
yang berhubungan semua arah.
oleh adanya jaringan
tulang rawan yang
beroperasional secara
tepat.
Kedua tulang yang Tegak dan bongkok
beroperasional badan.
dihubungkan oleh Pacak Gulu, Gileg,
tulang tengkorak. Galier, dan Godeg.
Kedua tulang tidak Gelang kepala, meng
saling menunjang angguk-anggukan
gerak. Gerakan kepala, tengok kanan
dilakukan pada sendi /kiri
peluru, sendi poros Putar kaki
pada tulang bahu, dasargerak balet.
tulang panggul, serta
pada karpal dan
Gerakan merendah
falang.
atau mendak,
Sinkronisasi karpal
dan falang dalam Nindak, Tanjekan,
menunjang gerakan Mapal, Ngeseh, dan
secara terpadu. variasi gerakan
kepala, badan,
tangan, dan kaki.
Tabel 1.1 Motif Gerak Tari Tunggal
Tugas:
1. Coba lakukan gerakan memutar sendi peluru, sendi poros
pada tulang bahu ke segala arah sesuai petunjuk motif
individu. Gabungkan salah satu gerakan di atas dengan
salah satunya adalah motif gerak supinasi step dan slip.
2. Lakukan gerakan ngeseh, nindak secara individu
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 35
1.3 Motif Gerakan Tari Berpasangan atau Kelompok
No Anggota Kompetensi Uraian Keterangan
Gerak Gerak Teknik Gerak
1 Anggota Kepala Gerakan Bentuk dan sikap
Gerak (Caput) supinasi duduk (tari Saman)
Bagian ayunan, atau kedua kaki (level
Atas anggukan, tinggi, sedang,
berputar. rendah) pada tari
Saudati, tari garapan
lain.
2 Anggota Badan(Thorak Gerakan Bentuk dan sikap ke
Gerak ) relaksasi dan dua kaki rapat (level
Bagian supinasi tinggi, sedang,
Tengah anggota rendah), terbuka dan
tubuh secara sikap tertentu seperti
periodik dan Tanjak-Tancep,
temporer. Rapal, Adeg-adeg,
kuda-kuda.
Gerakan Tari Topeng
Cirebon, dan topeng
Klono.
3 Anggota Kaki(Ladix) Gerakan Bentuk dan sikap ke
Gerak supinasi slip, dua kaki rapat (level
Bagian step(langkah tinggi, sedang,
Bawah ganda), lenso, rendah), terbuka dan
straidel.(Jung sikap tertentu seperti
kir balik) Tanjak-Tancep,
Rapal, Adeg-adeg,
kuda-kuda,
Tabel 1.2 Motif gerak Kelompok
Tugas:
3. Coba lakukan gerakan sesuai petunjuk motif individu yang
salah satunya adalah motif gerak supinasi step dan slip.
4. Lakukan gerakan mapal berkelompok.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 36
2. Ruang
Ruang adalah sesuatu yang harus diisi. Ruang dalam tari
mencakup aspek gerak yang diungkapkan oleh seorang penari
yang membentuk perpindahan gerak tubuh, posisi yang tepat,
dan ruang gerak penari itu sendiri.
Ruang tari bersentuhan langsung dengan penari. Ruang
gerak penari merupakan batas paling jauh yang dapat dijangkau
penari. Di sisi lain, ruang menjadi salah satu bentuk dari
imajinasi penari dalam mengolah ruang gerak menjadi bagian
yang digunakan untuk berpindah tempat, posisi dan kedudukan.
Gambar di bawah ini menunjukan posisi penari yang menghadap
ke samping ruang gerak pada bagian depan, dan belakang
tampak frontal (Tari Jaipongan), Mahasiswa tari sedang olah
tubuh ruang tercipta dari jarak mahasiswa, gerakan olah tubuh,
dan sikap dan posisi berdiri masing-masing mahasiswa.
)
Sumber: Koleksi Ojang Jurusan Tari
)
Gb. 1.13 Penari Jaipongan
Sumber: Koleksi Deden Jurusan Tari UNJ
Gb. 1.14 Mahasiswa Tari sedang Workshop Olah Tubuh
Gb. 1.13 dan 1.14 menunjukan perbedaan ruang gerak tarian di atas
memerlukan ruang gerak luas karena gerakan berpindah tempat, ruang gerak
gambar Olah Tubuh bagian bawah cukup luas jangkauan gerak saja.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 37
Sumber: Koleksi Ojang Jurusan Tari UNJ
Gb. 1.15 Penari Klana Cirebon Rentang Tangan
Sumber: Koleksi Deden Jurusan Tari UNJ
Gb. 1.16 Penari Saman berbanjar
Gb. 1.15 Penari Klana Cirebon membutuhkan ruang gerak tangan kiri yang
lebar, dan tangan kanan tolak pinggang. Gambar 1.16 Penari Saman bawah
membutuhkan ruang gerak untuk adaptasi gerak kepala, ke dua tangan
sebatas ruang duduk penari yang saling merapat. (perhatikan gambar: Tari
Klana atas, dan Tari Saman Bawah.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 38
Ruang gerak penari tercipta melalui desain. Desain adalah
gambaran yang jelas dan masuk akal tentang bentuk/wujud ruang
secara utuh. Bentuk ruang gerak penari digambarkan secara
bermakna ke dalam atas desain atas dan desain lantai (La Mery:
1979: 12). Ruang gerak tari diberi makna melalui garis lintasan
penari dalam ruang yang dilewati penari.
Kebutuhan ruang gerak penari berbeda-beda. Jangkauan
gerak yang dimiliki oleh setiap gerakan sesungguhnya juga dapat
membedakan jangkauan gerak penari secara jelas. Bentuk dan
ruang gerak yang dimiliki oleh penari yang membutuhkan jangkauan
gerak berhubungan dengan kebutuhan dan kesanggupan penari
dalam melakukan gerakan. Dengan demikian penari dalam
melakukan gerakan sesuai pengarahan koreografer. Koreografer
dalam mendesain ruang gerak penari ditentukan oleh kesesuaian
bagaimana penari bergerak dan tercapainya desain yang sesuai
dengan kebutuhan gerakan tersebut dilakukan oleh penari. Dengan
demikain penari sangat membutuhkan sensitivitas rangsang gerak
sebagai bentuk ekspresi keindahan gerak yang dilakukan.
Kebutuhan ekspresi gerak oleh penari berhubungan dengan
kemampuan penari menginterpretasikan kemauan koreografer
dalam melakukan gerakan yang diberikan. Dengan itu terjadi
sinkronisasi kemauan koreografer dalam mendesain gerak dengan
kepekaan penari dalam menafsirkan gerakan melalui peta ruang.
Penari tidak semata-mata memerlukan ruang gerak yang
lebar saja. Kebutuhan ruang gerak yang sempit juga menjadi bagian
penerjemahan ruang gerak tari oleh penari. Ruang gerak penari
menjadi alat yang ampuh dalam menciptakan desaian tentang ruang
oleh penari maupun koreografer.
Ruang gerak penari yang membutuhkan jangkauan gerak
luas untuk dilakukan membutuhkan teknik dan karakterisasi gerak
yang dalam oleh penari. Kebutuhan teknik gerak yang harus
dilakukan penari adalah bagaimana penari mengawali dan
mengakhiri gerakan serta dengan teknik gerak seperti apa penari
harus menuntaskan harapan gerak yang harus dilakukan.
Penari dalam mengekspresikan jangkauan gerak
membutuhkan ekspresi gerak yang sepadan dengan jangkauan
gerak yang harus dilakukan. Ekuivalensi gerak dan jangkauan gerak
menjadi tuntutan koreografer dalam menciptakan ruang gerak penari
serta penghayatan yang diperlukan penari dalam mencapai tujuan
gerakan tersebut dilakukan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 39
Di bawah ini masih terkait motif gerak dan ruang yang
diciptakan oleh penari dalam bentuk ruang gerak penari adalah
sebagai berikut. Sikap Agem pada tari klasik Bali (Margapati).
Eksplorasi suasana kesedihan pada gerak teater (gambar
suasana kacau)
Sumber: Koleksi Deden Jurusan Tari UNJ
Gb. 1.17 Motif Agem Penari Margapati
Sumber: Koleksi Deden Jurusan Tari UNJ
Gb. 1.18 Pemain teater eksplor peran
Pada Gb. 1.17 dan Gb. 1.18 menunjukkan perbedaan Ruang gerak kedua
gambar Gerak Agem Tari Bali butuh ruang gerak yang luas, pada pemain teater
dengan kontraksi anggota gerak bagian tengah/badan dan anggota gerak
bagian bawah butuh ruang gerak sempit (Koleksi Deden Jurusan Tari)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 40
3. Waktu
Dalam tarian, dinamika tari terwujud melalui cepat-lambat
gerakan dilakukan oleh penari. Unsur dinamika ini apabila
dijabarkan membutuhkan waktu gerak. Penari bergerak
menggunakan bagian anggota tubuh dengan cara berpindah
tempat, berubah posisi, dan merubah kedudukan tubuh
membutuhkan waktu.
Kebutuhan waktu yang diperlukan untuk perpindahan,
perubahan posisi, dan perubahan kedudukan tubuh
membutuhkan waktu. Perubahan gerak, perpindahan tempat,
dan penempatan kedudukan sikap tubuh ekuivalen dengan
kebutuhan waktu yang dapat dijelaskan melalui cepat-lambat,
panjang-pendek, dan banyak-sedikit gerakan dilakukan butuh di
dalam proses yang terjadi. Dengan demikian waktu menjadi
bagian integral dari gerakan yang dilakukan.
Tempo gerakan merupakan panjang-pendek, cepat-lama
gerakan dilakukan. Waktu dalam tari dimensi dari tempo gerak.
Tempo gerak dapat membangun imaji tari secara keseluruhan
dalam bentuk garapan tari atau koreografi tari.
Sumber: Deden Jurusan Seni Tari UNJ
Gb. 1.19 Peraga mengembangkan ruang gerak
Gb. 1.19 Pergaan membawa beban sambil berpindah tempat Instruktur, dan
Peraga Tunggal sedang memberikan contoh bergerak di area stage secara
integral dapat mengakomodatif kebutuhkan gerak yang banyak motif dan ruang
gerak luas , ruang pentas yang luas dan ruang gerak bervariasi, dan waktu
yang cukup memakan banyak tenaga dan waktu lama. Perhatikan gambar
Instruktur Olah Tubuh yang bergerak di atas Stage (Koleksi Jurusan Tari)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 41
Desain waktu berhubungan dengan kecepatan gerak, situasi,
dan kondisi emosional penari. Pemahaman waktu dapat juga terkait
dengan masalah teknik pengendalian gerak, intensitas gerak,
kualitas gerak, dan proses mengaktualisasikan gerakan ke dalam
konsep waktu.
Konsep membangun waktu dalam tari dipraktikan melalui
imajinasi gerak terutama hubungannya dengan panjang-pendek
gerak, kuat-lemah gerak menjadi konsep tentang rangkaian gerak
dalam bentuk kalimat gerak. Usaha untuk membangun waktu lebih
dapat dijabarkan ke dalam bagaimana gerakan dilakukan sesuai
kebutuhan waktu yang ada.
Dalam tari, konsep waktu bisa dihadirkan dengan motif gerak
duduk-duduk saja, atau dengan berdiri-jongkok, atau gerak lain yang
tidak memerlukan perpindahan tempat secara mendasar. Kebutuhan
waktu dalam tari adalah sebagai manifestasi kebutuhan gerak
hubungannya dengan bagaimana gerakan tersebut ingin dilakukan
sesuai kebutuhan ruang, dan kebutuhan pentas tari. Oleh sebab itu,
koreografer dalam menyikapi kebutuhan waktu biasanya
mengoptimalkan pengembangan kreativitas gerakan ke dalam
bentuk pengolahan gerak secara melalui rancangan konsep garapan
tarinya.
Waktu yang dibutuhkan oleh gerakan menjadi salah satu
konsep tarian. Hal ini menjadi salah satu indikator yang sangat
dibutuhkan dalam pengembangan suatu koreografi. Dengan
demikian, elemen waktu menjadi ukuran frase gerak. denyut nadi
gerak, dan pendalaman ruang gerak secara imajinatif.
Keadaan diam manusia nadinya tetap bergerak di sini waktu
berdenyut yang dibutuhkan adalah seiring dengan kebutuhan waktu
bernafas. Atau dengan istilah lain, walaupun diam seorang penari di
atas pentas, secara fisik tidak ada aktivitas gerak namun secara
performa yang berhubungan dengan waktu terjadi keselarasan
antara gerak, waktu berdenyut, waktu menghayatai denyutan nadi
hingga harus beranjak ke posisi lain adalah menjadi bagian
kebutuhan waktu dalam bernafas.
Berdasarkan uraian ini konsep gerak-ruang-waktu seperti
telah dicontohkan pada halaman berikut dapat dikatakan bahwa
waktu adalah salah satu unsur yang saling terkait dengan lainnya.
Ketiga unsur di atas adalah trisula yang sangat memiliki peran sama
dan saling mendukung untuk kebutuhan suatu koreografi.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 42
Perhatikan gambar di bawah ini pengolahan waktu
hubungannya dengan perpindahan komposisi/pola lantai. Pada saat
lalu penari menghadapt depan(frontal), sesaat kemudian sambil
mengeluarkan sapu tangan merubah arah hadap ke sisi kanan
penari sehingga menghadap kanan sisi panggung (stage).
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 1.20 Penari Bimo Suci
Gambar 1.19 merupakan bentuk pengolahan ruang pentas, ruang gerak di atas
stage membutuhkan waktu yang lebih lama perubahan formasi penari dibanding
pada gerak di tempat saja. Ruang pentas untuk pindah tempat butuh waktu bisa
lama/cepat sesuai kebutuhan. (Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
4. Tenaga
Dalam gerak tari yang diperagakan indikasi yang
menunjukkan intensitas gerak menjadi salah satu faktor gerakan
tersebut dapat dilakukan dan dihayati. Tenaga terwujud melalui
kualitas gerak yang dilakukan.
Pencerminan penggunaan dan pemanfaatan tenaga yang
disalurkan ke dalam gerakan yang dilakukan penari merupakan
bagian dari kualitas tari sesuai penghayatan tenaga. Penghasil
gerak dalam hubungannya dengan penggunaan tenaga dalam
mengisi gerak tari sehingga menjadi dinamis, berkekuatan, berisi,
dan antiklimak merupakan cara membangun tenaga dalam menari.
Ekstensi (penegangan) dan relaksasi (pengendoran) gerak
secara keseluruhan berhubungan dengan kualitas, intensitas, dan
penghayatan gerak tari. Teknik mengakumulasi kualitas dan
intensitas gerak tari seyogyanya dikordinasikan melalui perintah
kerja otak secara kordinatif. Apabila hal ini dapat terkontrol, maha
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 43
masalah yang lain berhubungan dengan kebutuhan tenaga untuk
gerakan tari menjadi semakin terkontrol, terkendali, dan memenuhi
harapan.
Penyaluran tenaga dan ekspresi memberi kehidupan watak
tari semakin nyata. Perhatikan gambar di bawah ini adalah penari
putri yang ditopang serta kekuatan dekatan pada penari
berpasangan, kekuatan lompatan penari pria pada saat melayang.
Gambar tersebut menunjukan intensitas dan tensi gerakan yang
terpusat pada inti gerakan).
Sumber: Internet
Gb. 1.21 Penghayatan gerak penari balet
Sumber: Koleksi Internet
Gb. 1.22 Lompatan penari balet
Penguasaan tenaga pada tumpuhan kaki ke dua penari yang berpasangan
Gb. 1.21. Lompatan kulminasi penari balet Gb. 122
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 44
Sumber: Internet
Gambar 1.23 Sinkronisasi gerak penari balet
Gb. 1.23 Gambar disain lanjutan konsistensi garis tangan, tahanan kaki untuk
tumpuhan butuh tenaga yang disalurkan dalam menari
Sumber: Koleksi Internet
Gambar 1.24 Sinkronisasi gerak penari balet
Tugas :
1. Para siswa yang budiman, Coba lakukan gerakan dengan intensitas
lompatan seperti pada gb. 1.24 Gambar menunjukan, penegangan otot
tangan yang terbuka, kekuatan saling kait ke tiga penari putri di atas
menunjukan jalinan kekuatan gerak pada penghayatan penari balet.
Tersebut di atas.
2. Lakukan teknik lompatan dengan melayanga setinggi mungkin dengan
menempatkan gaya gerak tubuh seringan munkin. Lakukan gerakan
tersebut seperti pada gambar 1.22
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 45
5. Ekspresi
Perlu para siswa ketahui, dalam kehidupan sehari-hari,
manusia mengekspresikan diri bergantung pada situasi psikologis
yang bersangkutan dalam menghadapi berbagai masalah. Ekspresi
diri manusia secara umum berbeda cara dan ungkapnannya.
Ungkapan ekspresi di dalam tari lebih cenderung dimanipulasi atau
sering disebut distilisasi. Perbedaan ekspresi diri secara langsung
dan ekspresi tari berhubungan terletak pada perubahan psikologis
pembawaan suatu karakter. Ungkapan penghayatan ekspresi diri
terletak pada perbedaan ekspresi sehari-hari lebih vulgar.
Sebagai ilustrasi, marah, sedih, dan senyum dalam
kehidupan sehari-hari dapat diekspresikan dengan berbagai cara
sesuai kepekaan diri di dalam melakukan luapan kemarahan dan
rasa senyum. Dalam tari semua ungkapan yang diperagakan harus
distilisasi/didistorsi, sehingga wujud ungkapannya menjadi berbeda
dengan keadaan sehari-hari. Di sinilah letak pembeda cara
menghayati sebuah ungkapan ekspresi diri dan penghayatan
karakter dalam seni maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Ekspresi dalam tari lebih merupakan daya ungkap melalui
tubuh ke dalam aktivitas pengalaman seseorang yang selanjutnya
dikomunikasikan kepada penonton/pengamat menjadi bentuk
gerakan jiwa, kehendak, emosi atas penghayatan peran yang
dilakukan. Dengan demikian daya penggerak diri penari ikut
menentukan penghayatan jiwa ke dalam greget (dorongan
perasaan, desakan jiwa, ekspresi jiwa dalam bentuk tari yang
terkendali). Gambar pada lembaran ini dan berikut adalah ekspresi
tari yang berbeda-beda.
Sumber: Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb. 1.25 Ekspresi mimik secara Polos karakter humor
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 46
Perhatikan ekspresi wajah penari di bawah ini memberikan
senyuman kepada penonton. Ekspresi wajah dibutuhkan dalam pertunjukan
untuk memberikan penguatan kepada penonton tentang penghayatan
penari atau pelakon teater.
Sumber: Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb 1.26 Penari melepas senyum kepada penonton.
Sumber: Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb. 1.27 Ekspresi penari senyum dikulum
Tugas:
1. Lakukan ekspresi murung, menangis, tersenyum dan tertawa
terbahak-bahak.
2. Coba lakukan ekspresi senyum di kulum. Marah dengan cara
menunjukan kesalahan pada seseorang., atau menyuruh
nada memerintah
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 47
BAB II
OLAH TUBUH
A. Kompetensi Dasar
Kompetensi buku ini pembaca diharapkan menuntaskan
bacaan secara keseluruhan, sehingga pembaca baik pelajar,
guru, maupun masyarakat luas mengerti dan memahami tari.
Untuk mencapai pemahaman bacaan, selanjutnya dapat
diidentifikasi melalui bagan di bawah ini. Adalah sebagai berikut
di bawah ini:
Olah Tubuh
Kecepatan dan Ketahanan dan
Teknik Gerak
Kelenturan Gerak Keseimbangan
Gerak
Tulang, Sendi Otot,
dan Pernafasan
ANATOMI
Bagan 2.1
Tujuan Kompetensi Belajar Buku Ini
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 48
B. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang, Tujuan dan Manfaat Olah Tubuh
Perlu siswa ketahui di sini bahwa aktivitas manusia pada
dasarnya terbatas pada ruang, waktu dan tenaga. Hal ini terjadi
karena sepanjang kehidupannya manusia memiliki kesempatan
untuk mendapatkan istirahat, makan-minum, dan memanfaatkan
waktu luang dalam aktivitas di luar kebiasaan yang setiap harus
dilakukan.
Berbagai aktivitas kegiatan manusia dilakukan melalui
berbagai macam bentuk, tujuan dan hasil yang ingin dicapai oleh
masing-masing manusia yang bersangkutan. Dengan itu manusia
membutuhkan penyesuaian terhadap masalah klasik di atas yakni
tenaga, ruang, dan waktu.
Siswa yang baik, organ tubuh manusia baik yang
berbentuk ideal maupun berbagai kekurangan yang ada,
sebaiknya dalam melakukan segala aktivitas disesuaikan dengan
konstruk tubuh yang dimiliki. Jumlah dan takaran yang dilakukan
dapat diinventaris berupa aktivitas yang berhubungan langsung
untuk membangun dan membentuk tubuh agar ideal. Oleh sebab
itu, skala prioritas yang dibutuhkan adalah perhatian yang serius
manakala aktivitas yang dilakukan tersebut tepat sasaran yang
diharapkan, serta mengacu kepada jumlah dan takaran yang
sebaiknya ditentukan secara benar.
Siswa-siswa yang banyak belajar pasti banyak tahu tujuan
kita melakukan olah tubuh adalah memperoleh kesegaran dan
kebugaran hakiki atas berbagai bentuk dan strategi sasaran
latihan yang diterapkan. Bentuk pelatihan yang harus dijalani
sesuai jumlah dan takaran yang diberikan. Dengan demikian
tujuan utama melakukan olah tubuh adalah membangun tubuh
yang sehat, membentuk tubuh yang ideal, menempatkan aktivitas
olah tubuh sebagai bentuk keseimbangan aktivitas yang
memenuhi kesehatan jasmani dan rokhani secara imbang dan
memenuhi standar kualitas kesehatan.
Tujuan melakukan pembentukan tubuh melalui perangkat
olah tubuh adalah membentuk tubuh agar serasi, ideal, dan sehat
lahir dan batin. Olah tubuh ditujukan untuk memberikan bentuk
latihan dan kebiasaan yang dilakukan dalam rangka membangun
fisik secara sehat.
Manusia melakukan aktivitasnya dengan bergerak. Seperti
banyak diketahui, bahwa di dalam melakukan olah tubuh, menari,
dan senam seseorang tidak dapat mengontrol pernafasan yang
dilakukan. Pada akibatnya, pernafasan yang dilakukan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 49
menimbulkan kelelahan, hingga tidak tertutup kemungkinan
timbulnya tidak sadarkan diri. Secara garis besar, gerakan yang
dilakukan seseorang menggunakan pernafasan baik secara
teratur maupun tidak teratur.
Unsur utama kesehatan pada dasarnya adalah melakukan
bentuk pernafasan yang baik dan benar. Pelatihan menyangkut
pernafasan dapat dilakukan dengan melalui cara-cara yang sehat
dan teknik melakukan yang benar. Oleh sebab itu, di sini
diperlukan adanya cara-cara melakukan pernafasan secara benar
dengan melalui sikap dan kebiasaan yang dianjurkan oleh
kesehatan.
Pernafasan yang baik dan benar dilakukan dengan cara
merekonstruksi organ tubuh dan sistem pernafasan yang teratur.
Dengan demikian teknis dan alur bernafas yang dilakukan
membawa manfaat yang benar-benar diharapkan.
Mekanisme pernafasan adalah untuk menerima dan
menghirup oksigen pada saat menarik nafas untuk diedarkan ke
seluruh tubuh, kemudian mengeluarkan zat asam arang keluar
tubuh adalah sistema pernafasan yang setiap saat dan setiap hari
selagi manusia masih hidup terus menerus dilakukan. Kebiasaan
ini dalam proses yang terus menerus, sehingga darah kita tetap
bersih dari berbagai racun tubuh dan sel-sel yang mengganggu
dalam tubuh kita. Apabila terjadi kondisi yang kurang
menguntungkan, maha proses aliran pernafasan-penghirupan
dan pembuangan-pengeluaran oksigen (O2) dan asam arang
(CO2) apabila terjadi gangguan dapat diperbaiki serta diberikan
energi agar intensitas gerak kita dapat terjamin kekuatannya.
Melalui penjelasan di atas dapat diketahui, untuk lebih
mengetahui cara-cara yang baik untuk berolah tubuh, menari, dan
melakukan senam harus memperhatikan cara-cara pernafasan.
Seperti telah disinggung di atas, pernafasan yang teratur berarti
pernafasan secara wajar, yang dilakukan tanpa beban dalam
kaitan dengan kegiatan keseharian maupun melakukan olah raga
berat. Jenis pernafasan ini cenderung kepada aktivitas istirahat,
jalan biasa, serta aktivitas sehari-hari.
Pernafasan jenis yang tidak teratur dilakukan melalui
kegiatan yang tidak biasanya. Aktivitas yang digunakan dalam
bentuk kegiatan yang memiliki beban. Contohnya pada setiap
habis melakukan olahraga, maraton, sprint, terkejut, srta banyak
contoh lagi.
Untuk memperhatikan semua aktivitas kegiatan yang
dilakukan hubungannya dengan pernafasan adalah olah tubuh,
menari dan gerak senam. Di sisi banyak orang kurang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 50
memperhatikan pentingnya pernafasan dan pengaturan nafas
dalam melakukan aktivitas olah tubuh, menari maupun
melakukan senam. Kecenderungan menunjukan bahwa faktor
gerak lebih dipentingkan hubungannya dengan artistiknya saja,
bukan pada kepentingan penggunaan pernafasan kaitannya
dengan intensitas gerak, kualitas gerak, dan gerakan terjaga
dengan baik.
Pernafasan dalam melakukan olah tubuh harus teratur
dan diatur secara baik. Tingkat kesulitan gerak olah tubuh
hendaknya diikuti dengan pengaturan nafas yang baik, sehingga
gerakan dapat dilakukan secara sempurna dan gerakan dapat
dihayati dengan baik pula. Oleh sebab itu, di sini perlu kerangka
konsep tentang gerakan seperti apa harus menggunakan teknik
pernafasan separti apa, begitu sebaliknya, gerakan yang sesuai
dengan pola melakukan pernafasan menjadi tujuan untuk dapat
melakukan gerakan sesuai tujuan pernafasan.
Teknik yang diberikan berdasarkan porsi energi yang akan
diperoleh secara baik, sehingga kita tidak masuk perangkap
bahwa keterhubungan antara teknik. Gerakan dengan melalui
pemanfaatan sistema dan penggunaan sistema pernafasan harus
diatur sedemikian rupa, sehingga karena larut malam maka
gerakan energis yang telah dikeluarkan disimpan oleh tubuh,
akibat seburuk apapun faktor kelelahan harus turun.
Selanjutnya, perlu diantisipasi bahwa teknik pernafasan
seperti apa yang harus dikembangkan, maka cara melakukan
pernafasan menjadi tujuan. Pernafasan adalah cara mengatur
nafas selaras dengan cara melakukan gerak secara sesuai. Oleh
sebab itu, pernafasan yang baik dalam olah tubuh adalah
melakukan pernafasan yang mampu mendatangkan manfaat bagi
gerak tubuh, ketahanan tubuh, kelenturan serta keserasian
gerakan dapat dihayati.
Teknik pernafasan sebenarnya merupakan pertukaran gas
O2 dan CO2. Proses ganda yang terjadi di dalam gas didalamnya
jaringan pernafasan dalam dan pernafasan luar terkordinasi
secara baik.
Pengertian tentang pernafasan merupakan proses
menghirup udara ke dalam tubuh adalah mengisi O2 (oksigen) ke
dalam paru-paru melalui udara, sehingga tubuh terisi persediaan
O2 dengan CO2(korban dioksida). Hal ini secara otomatis
menjadi suatu proses bersenyawanya O2, C(Carbon) dalam
jeringan. Proses ini pada dasarnya dapat diidentifikasi berupa
proses metabolisme tentang sifat dan sikap melakukan penarikan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 51
nafas, mengeluarkan, dan melepas, dan membuang CO2 dan
H2O yang tidak didukung banyak orang adalah bahwa
Aktivitas olah tubuh yang terlatih sejak awal dengan
melakukan pernafasan teratur ke dalam sistem pernafasan yang
baik dan sehat. Kelenturan tubuh prima berawal dari melatih
anggota gerak tubuh bagian atas, tengah, dan bawah baik secara
terpisah maupun terkordinasi melalui pengaturan sirkulasi udara
dan keteraturan gerak tubuh agar tercapai sinkronisasi gerak
anggota tubuh secara tepat dan benar. Selanjutnya,
keseimbangan fisik dan mental menjadi target yang pantas dalam
membiasakan perilaku hidup dan menjaga serta mengatur
kesehatan tubuh menjadi terlatih-trampil dan terbiasa.
Apabila hal ini menjadi kenyataan, niscaya bagaimana kita
dapat memposisikan diri dengan melalui latihan yang teratur,
kebiasaan yang sehat hingga menetapkan porsi latihan yang
tepat maka badan kita menjadi sehat benar. Kondisi ini perlu
diimbangi dengan pembiasaan makan dan minum yang
dianjurkan olah kesehatan agar konstat yang dipenuhi secara
tepat dapat mendatangkan manfaat yang positif. Hal ini menjadi
dambaan bagi semua orang yang membutuhkan sehat dan
kebugaran serta kenikmatan hidup yang mensejahterakan.
Adapun proses pernafasan pada dasarnya memiliki tujuan
antara lain yaitu.
• Pembiasaan bernafas teratur dan melalui berbagai aktivitas
yang seberat apapun kita dapat melakukan secara energis
dan dalam situasi yang tepat benar.
• Melalui sistema pernafasan yang dianjurkan, kita harus
memahami proses terjadinya pernafasan serta pengaruh yang
timbul terhadap rangsang otot-otot pada organ pernafasan
secara dini, dengan itu pembiasaan melakukan pernafasan
yang baik harus diterapkan.
• Penghirupan oksigen secara teratur dan membuang carbon
dioksida atau zat asam arang yang tidak dibutuhkan tubuh
kita pada lingkungan yang sehat dan hijau.
• Membiasaan teksion-dan relaktension terhadap organ tubuh
pernafasan sehingga dapat melatih kekuatan dan kebiasaan
otot organ pernafasan kita menjadi sempurna.
• mengkordinasikan para-paru, jantung dan katup anak tekak
agar tetap sehat melalui sistema pernafasan yang teratur dan
terbiasa pada lingkungan yang bersih dan terjaga, sehingga
kita dapat menetralisir racun-racun tubuh dan organ
pernafasan menjadi kuat dan tahan imunitas.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 52
Konsentrasi menghela nafas atau menghirup udara sekuat
tenaga dan menghembuskan dan membuang zat asam aranag
secara baik dibutuhkan kecenderungan menahan nafas secara
tepat. Hal ini berhubungan dengan menyimpan sebanyak-
banyaknya oksigen (()2) serta secepat mungkin mengeluarkan
zat asam arang agar kondisi tersebut tidak membahayakan tubuh
kita dari racun-racun tubuh yang bakal terindikasi pada saat
menahan nafas secara tidak tepat. Oleh sebab itu, di sini
dibutuhkan ketahanan saluran pernafasan yang prima serta
terganggunya sistema pernafasan secara tiba-tiba sehingga kita
tidak terbatuk-batuk. Konsentrasi akan terganggu apabila
sistema pernafasan kita kurang lancar dan mengalami banyak
hambatan.
Ruang lingkup pernafasan terdiri dari banyak cara di
dalam melatih dan mengoptimalkan kerja organ pernafasan
secara baik dan benar. Materi latihan terdiri dari melakukan
pemusatan pikiran dan fakus menenangkan pikiran saat
melakukan latihan pernafasan, Mengatur nafas mulai dari
menghela/menghirup nafas-menahan nafas- hingga
menghembuskan/mengeluarkan nafas secara tepat,
membusungkan dan mengempiskan dada, membuka dan
menutup mulut secara baik dan benar sehingga kondisi tersebut
apabila terjaga dapat melakukan pernafasan yang menyehatkan.
Pelatihan di atas membutuhkan sistema dan cara kerja
organ tubuh kita secara prima dan teratur dengan baik. Oleh
sebab itu, cara dan strategi melakukan pernafasan dibutuhkan
dalam bentuk latihan pernafasan ini. Secara tertruktur, cara dan
strategi pelatihan pernafasan dapat dijelaskan adalah sebagai
berikut:
Paru-paru sebagai organ tubuh dalam yang berfungsi
mengatur sistema pernafasan dan pertukaran zat-zat dalam
tubuh harus memiliki porsi kerja yang tepat. Hal ini berhubungan
dengan sirkulasi udara dari luar dan dalam tubuh menghasilkan
energi yang cukup. Sistema pernafasan memerlukan kerja organ
tubuh yang terdiri dari paru-paru, rongga hidung, mulut, anak
tekak, pangkal tenggorokan, dan kerongkongan merupakan organ
tubuh yang berfungsi pada sistema pernafasan.
Secara umum fungsi Pernafasan didukung oleh beberapa
saluran yang terdapa di dalam alat pernafasan yang terdiri dari
sebagai berikut:
• Nares Anterior adalah saluran yang ada di dalam lubang
hidung di mana saluran ini bermuara di dalam bagian rongga
vestibulum hidung.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 53
• Rongga hidung adalah saluran yang dilapisi selaput lendir
yang kaya akan pembuluh darah yang bersambungan dengan
sinus yang memiliki lubang ke rongga hidung.
• Farinx (tekak) adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar
tengkorak persambungannya sama dengan usopagus berada
pada tulang rawan krikoid.
• Larinx (tengkorak0 adalah saluran yang memisahkan kolumna
vertebra yang berjalan dari saluran servikalia dan masuk ke
dalamnya masuk hingga trachea.
• Paru-paru ada dua. Alat ini merupakan alat pernafasan
utama. Paru-paru mengisi rongga dada, terletak di sebelah
kanan dan kiri dan di tengah terpisah oleh jantung beserta
pembuluh darah besar lainnya dan berbentuk kerucut apx
(puncak). Di atasnya muncul klavikula yang berada di dasar
leher. Sewaktu udara melalui hidung, udara disaring oleh
bulu-bulu vestibulum da karena permukaan lendir yang dilalui
menjadi hangat maka penguapan air permukaan lendir
menjadi lembab.
• Hidung menghubungkan sinus udara paranasa;is masuk ke
rongga hidung. Lubang-lubang nasolakrimal yang
menyalurkan ke rongga hidung dan lubang-lubang
nalasokrimal menyalurkan ke bagian dalam bawah rongga
nasalis hingga hidung.
• Proses tersebut berulang terus menerus dan berlangsung
secara bolak-balik antara udara O2 masuk kemudian zat
asam arang CO2 keluar.
Mekanisme kimiawi atau fungsi fisiologi pertukaran
oksigen(O2) dan carbonhidrat(CO2) ini merupakan proses utama
dalam pengendalian dan pengaturan frekuensi, kecepatan, dan
gerakan pernafasan. Pernafasan eksternal atau pernafasan
melalui paru-paru O2 dihirup melalui hidung dan mulut, kemudian
disalurkan ke dalam trachea-pipa bronchial-pipa kapiler
pulmunaris. Dalam pengendaliannya sangat mempengarui
gerakan-gerakan olah tubuh, menari dan senam. Apabila pada
saat melakukan gerakan pernafasan paru-paru tidak boleh
menyimpang sehingga tidak timbul efek-efek negatif gerakan
tersebut di atas, kegiatan yang kita lakukan harus menggunakan
pengendalian keluar-masuk O2 dan co2 berjalan sedikit demi
sedikit dan secara perlahan-lahan. Cara melakukan pernafasan
adalah menyesuaikan irama gerak dengan teknik menghirup
udara pernafasan melalui hidung dan muut. Gerakan yang kita
lakukan semuanya harus benar. Contoh gerakan lembut
menggunakan pernafasan hidung, gerakan cepat dan tiba-tiba
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 54
menggunakan pernafasan mulut. Gerakan yang dilakukan
berhubungan dengan kebutuhan jumlah udara yang dihirup agar
kita tidak terhindar dari kelelehan, dan hal ini dilakukan dengan
melalui menghirup udara perlahan, menahan, dan mengeluarkan
pada porsi kurang lebih 30 detik. Ekivalen gerakan dan
banyaknya udara yang dihirup seimbang, maka teknik gerak dan
konstruk gerakan menjadi mudah dihayati, dirasakan, dan
dituangkan ke dalam gerakan artistik. Banyak oksigen yang
dihirup dimanfaatkan untuk mencukupi enersi yang dibutuhkan
oleh tenaga gerak dan besar kemungkinan harus berhubungan
dengan tenaga yang harus dikeluarkan. Oleh sebab itu, masalah
energi yang dibutuhkan dengan banyaknya Oksigen yang dihirup
ekivalen dengan jumlah udara yang diproses melalui cukupnya
pernafasan yang dilakukan. Dengan demikian gerakan yang
dilakukan dapat dihayati tanpa terengah-engah. Hal ini ditandai
adanya jumlah udara yang dihirup apabila kuang dari jumlah
energi yang dibutuhkan, maka pada saat kita melakukan gerakan
merasa terengah-engah atau pada ujungnya dapat menyebabkan
kekurangan oksigen sehingga pingsan.
Tidak teraturnya pernafasan dengan efisiensi gerak yang
dilakukan menyebabkan efek ke dalam tubuh secara tidak
proporsional. Pernafasan yang tidak teratur menyebabkan
merusak tubuh dan anggota tubuh lainnya karena jumlah O2
yang dihirup dan CO2 yang dikeluarkan dapat mempengaruhi
reproduksi O2 dan cO2 secara kurang tepat pada akibatnya
tubuh kita keracunan zat. Apabila kebiasaan ini berlangsung terus
menerus mengakibatkan tubuh terasa sakit, sesak nafas, hingga
mengakibatkan gangguan jantung, lebih fatalnya dapat mendadak
susah bernafas atau anfal jantung. Hal ini akan dapat
mengakibatkan kematian.
Sirkulasi pernafasan diawali dari pertukaran gas dalam
darah pada saat pengambilan zat pembakaran (O2) pada saat
menarik nafas yang dilanjutkan pengedaran zat tersebut ke
seluruh tubuh dalam bentuk gelembung udara selanjutnya,
setelah ke luar dari paru-paru karbondioksida (CO2)
dihembuskan melalui cara mengeluarkan udara dengan cara
menghela nafas panjang dengan melalui sistema pernafasan
yang dilakukan sehingga anggota organ tubuh dalam kita
langsung meregang. Latihan pernafasan dilakukan dengan cara
memperbesar rongga dada dengan melakukan cara kerja otot-
otot organ dalam pada sistema pernafasan dengan membentuk
konstruksi sirkulasi udara melalui organ dalam alat pernafasan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 55
dengan cara menghela nafas panjang sehingga cara atau teknik
ini dapat menghasilkan pernafasan yang baik dan benar.
Pentingnya latihan pernafasan harus bekerja secara
sistematis, dengan melalui kerja praktis ke arah kerja paru-paru
mengembangkan bagian-bagian otot tertentu dalam menghirup
nafas, posisi hidung yang terbuka baik mulai dari katup hingga
pada ujung anak tekak sehingga rongga dada terbuka benar,
kemudian pada saat rongga dada mngempis kemudian tulang iga
bergerak sehingga memposisikan kerongkongan dan rongga
perut menutup hingga mendesak udara ke luar dari paru-paru
melalui hembusan nafas maka proses ini menjadi akumulasi kerja
otot-otot organ dalam pernafasan kita semakin terlatih dan
terbiasa. Dengan demikian terjadi kerja organ tubuh dalam
pernafasan kita secara teratur dan terbiasa menjadi salah satu
indikasi kerja pernafasan kita teratur baik.
Dalam latihan olah tubuh tidak hanya otot-otot organ
tubuh bagian luar kita saja yang dilatih, melainkan organ tubuh
bagian dalam juga harus dibiasakan terlatih sehingga otot-otot
dalam dan luar harus diregangkan secara seimbang.
Konstabilitas ini harus terjaga. Fungsi poernafasan dan
peregangan otot-otot baik organ bagian dalam maupun luar dapat
memperbaiki racun dan sel tubuh yang terpakai maupun terbuang
semakin menjamin kekuatannya. Hal ini pada akhirnya dapat
membantu intensitas energi tubuh untuk dapat melakukan
berbagai aktivitas secara maksimal dengan pemanfaatan yang
optimal.
Tugas:
1. Para siswa, kalian pasti telah memahami teks di atas.
Sekarang coba jelaskan pernyataan di bawah ini.
a. Zat apa yang dihirup kita pada saat bernafas,
sebaliknya zat apa yang kita keluarkan pada saat
bernafas.
b. Bagaimana cara kerja otot pada saat kontraksi atau
melakukan aktivitas gerakan.
2. Alat-alat pernafasan apa saja yang bekerja pada saat
manusia bernafas? Sebutkan salah satu yang memiliki
karakteristik untuk melakukan pernafasan pada manusia?
3. Adakah hubungan antara pernafasan yang kita lakukan
dengan pemanfaatan energi secara nyata dalam
kehidupan?. Bagaimana kinerja pernafasan dalam peran
aktivitas penggunaan energi tersebut. Jelaskan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 56
Apakah kalian pernah mendengar slogan yang berbunyi di
bawah ini yakni.
DALAM JIWA YANG SEHAT TERDAPAT TUBUH YANG KUAT
Apabila slogan di atas dipahami secara sungguh-sungguh,
maka tubuh kita harus diberi pelatihan gerak yang menunjang
aktivitas dan vitalitas tubuh secara prima. Kesiapan kita untuk
melakukan berbagai gerakan mulai dari motif gerak yang
sederhana hingga pada gerakan yang memiliki tingkat kesulitan
gerak akan siap secara fisik. Dengan demikian tubuh mampu
melakukan gerak sesulit apapun.
Kesiapan tubuh untuk melakukan gerakan mulai dari
gerak sederhana hingga gerakan yang berteknik gerak tinggi
dapat dilekukan secara baik dan tanpa kesulitan. Oleh sebab itu,
persiapan tubuh atas pemanasan, pengembangan gerak hingga
pada gerakan tari maupun balet dapat dilakukan secara baik.
Secara umum uraian di atas dapat diperjelas mengenai
peran dan fungsi otot serta sendi serta beberapa prinsip dasar
gerakan yang dapat digunakan sebagai peragaan dalam Olah
Tubuh di masa akan datang.
Sumber: Koleksi Internet Sumber: Internet
Gb. 2.1 Pose penegangan otot perut Gb. 2.2 Penegangan otot perut
dan tangan serta kaki dan kaki
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 57
Sumber: Internet
Gb. 2.3 Pose disain Kerucut
Penegangan terletak pada dada, dan paha(penari pi) penegangan pada dua
tangan, kaki ada (penari pa) Gb. 2.1 Sikap dan pose gerak tidaka ada kaki
terjadi ketegangan gb 2.2 Anggota gerak bagian bawah terjadi pegenagan
otot.bagian perut, dada, bagian skapula terjadi penegangan gb. 2.3
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 58
2. Anatomi Permukaan
Berdasarkan porsinya, anggota
tubuh kita terbagi menjadi tiga
bagian yang terdiri dari anggota
gerak bagian atas (Caput),
anggota gerak bagian tengah
(Thorax) dan anggota gerak
bagian bawah (Ladix).
Gerakan secara umum terbagi
dalam tiga wilayah gerak.
Pembagian wilayah gerak meliputi
3 katagori gerak menurut Evelyn
Pearch adalah sebagi berikut,
anggota gerak bagian atas
(Caput) anggota gerak bagian
tengah (Thorax), dan anggota
gerak bagian bawah
(Ladix/Pedix). Selanjutnya, ke
tiga bagian anggota gerak
digunakan sebagai dasar tiap
bahasan gerak buku ini. Ciri
anggota gerak bagian tersebut
menjadi istilah buku ini.
Seorang pakar tari Pendidikan
dan tari Kreatif yakni Laban
menjelaskan anggota gerak
bagian kepala (Caput), tubuh atau
badan (Thorax) termasuk tangan,
kaki (Ladix) masing-masing
jangkauannya berbeda kebutuhan
ruang yang dimiliki. Faktor space
meliputi ruang gerak, misalnya
level, jarak/rentangan atau
tingkatan gerak. Faktor time lebih
diproyeksikan pada waktu,
misalnyai durasi gerak dan dan
faktor dynamics lebih menekankan
kualitas atau tekstur gerak,
misalnya gerak yang kuat, lemah,
elastis, aksentuasi, penekanan
(Ann Hutchinson, 1989:2).
Sumber: Buku Evelyn Pearch
Gb. 2.4 Anatomi Tubuh Manusia
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 59
Anggota gerak di atas pada prinsipnya merupakan
kesatuan yang terpisah akan tetapi dapat bekerja sama dengan
baik. Masing-masing anggota gerak tubuh ini secara mekanistik
dapat bergerak secara sendiri-sendiri maupun bergerak secara
kordinatif.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.5 Pose satu kaki tumpuan dan rentang tangan
Perhatikan Gb 2.5 Tumpuan satu kaki dan rentang
tangan terdapat penegangan otot tangan dan paha.
Koordinasi Caput/anggota gerak atas menghadap
samping kiri. Kepala bisa menghadap depan, dan
badan mengikuti arah garis pandangan mata. (Koleksi
Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.6 Berdiri Tegak
Perhatikan gb 2.6 arah hadap frontal seluruh anggota badan dn kepala ke arah
depan. Tangan kaki, tubuh tidak ada ketegangan (tention) otot anggota gerak
bagian atas, tangan dan kaki bawah relaks.(Koleksi Rahmida dan Bambang
Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 60
3. Dasar-dasar Peragaan
Seseorang yang terbiasa melakukan gerakan, tanpa
persiapan apapun. Pada jaman dahulu manusia bergerak untuk
naluri makan saja atau menyambung hidup. Akan tetapi sekarang
nilai bergerak menjadi berubah bahwa bergerak untuk kebutuhan
pemuasan batin, dan bangga untuk diri sendiri.
Pada dasarnya banyak persiapan yang harus dilakukan
apabila seseorang akan memulai bergerak untuk olah tubuh,
menari dan senam agar benar-benar fit. Persiapan menjelang
bergerak olah tubuh, menari dan senam dibutuhkan agar kita
menghindari dri berbagai kemungkinan yang timbul pada waktu
ke depan. Hal ini dipentingkan dalam kaitan dengan
pembentukan sikap, tubuh, dan mentalita serta psikis agar benar-
benar mampu menjalankan latihan dan kerja berat tubuh dalam
kaitan dengan aktivitas yang harus dilakukan tersebut.
Seseorang yang akan melakukan oleh tubuh, menari dan
senam penting mempersiapkan tubuhnya dengan gerakan-
gerakan pemanasan dan peregangan. Gerakan pemanasan
sebagai gerakan awal bertujuan untuk mempersiapkan yang
bersangkutan agar pada waktu ke depan telah siap menerima
gerakan yang sulit dan memiliki tantangan kesulitan gerak secara
periodik. Gerakan pelemasan dimaksud bertujuan untuk
mempersiapkan diri melakukan gerakan yang memiliki beban dan
gerakan yang banyak tantangan terhadap otot dan organ tubuh
secara mekanistik.
Gerakan pemanasan adalah gerakan ringan untuk
memperkenalkan organ tubuh kita dalam bentuk gerakan kecil,
gerakan pengenalan, gerakan untuk merangsang otot agar
mengenali kebutuhan gerak.
Gerakan pelemasan yang dimaksud adalah pelemasan
otot-otot dan sendi-sendi pada tubuh manusia. Sendi dan otot
diperkenalkan menerima rangsang gerak yang semula kaku dan
terasa kurang memiliki daya gerak, maka latihan pelemasan
menjdi salah satu rangsang otot dan sendi untuk dirangsang agar
tidak kaku lagi atau lemas. Target gerakan diperkenalkan untuk
memberikan rangsang awal bagi otot dan sendi. Tujuan ke depan
agar kita tidak mengalami kram.
Kepentingan gerakan pelemasan bagi orang yang telah
lama melakukan olah tubuh, menari dan senam pada dasarnya
telah dipahami. Bagi para pemula gerakan pemanasan sangat
perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk pembniasaan agar
pemula tidak kaget dalam melakukan aktivitas olah tubuh, menari
dan senam pada kadar gerak yang berat dan memiliki tingkat
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 61
kesulitan gerak yang tinggi. Hal ini bertujuan untuk memberikan
stimulus terhadap kemampuan gerak pemula dalam
hubungannya dengan kebiasaan melakukan gerakan yang
memiliki mtingkat kesulitan gerak tinggi, gerakan tiba-tiba, serta
gerakan yang bersifat memerlukan kekuatan otot.
Di sisi lain, kebutuhan pelemasan otot dan sendi
dibutuhkan untuk tujuan memperkenalkan perubahan sturtur otot
dan sendi secara cepat. Sebagai contoh, gerakan oleh tubuh, tari,
dan senam butuh kekuatan otot dan sendi secara jelas.
Penghayatan gerak tari membutuhkan penghayatan yang dalam
atas kemampuan rangsang otot dan sendi secara cepat.
Penguatan ekspresi gerak, ketahana gerak dalam kaitan dengan
penguasaan gerak, hingga bagaimana struktur gerak yang
dibutuhkan untuk mengantisipasi kecepatan dan ketahanan
gerak agar memiliki kemampuan berubah maka di sini
membutuhkan rangsang otot dan latihan sendi secara signifikan.
Tubuh manusia yang hidup membutuhkan rangsang gerak
berhubungan dengan kekuatan organ tubuh seperti paru-paru,
jantung, otot, sendi dan tulang secara maksimal. Korsinasi gerak
hubungannya dengan organ tubuh seperti disebut sangat erat
dan saling menunjang. Organ tubuh secara langsung
berhubungan dengan gerak maka terkait juga dengan otot, sendi,
tulang, serta pernafasan yang dalam hal ini paru-paru, serta
ketahanan gerak yang dalam hal ini jantung.
Untuk mendapatkan keterampilan gerak orang yang
melakukan ollah tubuh, menari dan senam salah satunya adalah
mempersiapkan kerja organtubuh secara prima dan
menempatkan peran fungsi kerja organ tubuh pada upaya untuk
melatih dan menciptakan kelenturan dan kekuatan otot,
memperkuat persendian, meningkatkan sensitifitas syarat
melalaui peregangan otot, mempersiapkan kekuatan persendian
dan tulang agar mampu menopang gerak dan rangsang kerja otot
secara maksimal, mempersiapkan kerja sinergis pernafasan agar
mampu mengembang tugas melakukan, mempertahankan, dan
membuat gerakan menjadi berkualitas dan memiliki intensitas
yang tinggi terhadap rangsang gerak itu sendiri.
Dalam melakukan olah tubuh, menari dan senam yang
bersangkutan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
• Porsi latihan bertahap, dimulai dari gerakan yang ringan ke
berat.
• Sebelum melakukan gerakan harus melakukan gerakan
pelemasan
• Memahami pengetahuan tentang otot dan sendi.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 62
• Olah tubuh, menari dan senam dilakukan dari bagian per
bagian atau dari konstruk ke konstruk ragam gerak.
Apabila latihan olah tubuh, menari dan senam dilakukan
secara terprogram dan rutin, maka yang bersangkutan akan
mendapatkan hasil yang maksimal. Hal tersebut jelas bahwa
berhubungan dengan koalitas gerak dan ketahana otot dan sndi
secara prima. Masalah kesiapan tubuh seorang penari, pesenam
dalam kenyataan harus mampu mengatur kegiatan yang baru
dilakukan kemudian dilakukan lagi gerakan peregangan. Gerak
peregangan diperlukan sebagai normalisasi terhadap verja organ
tubuh dan alat pernafasan sehabis melakukan gerakan yang
bersifat tiba-tiba, gerakan yang memiliki beban, dan gerakan yang
membutuhkan penghayatan khsusu untuk jenis karakter gerak
tertentu.
Gerakan peregangan dilakukan sebagai bentuk
penormalan kembali kebugaran tubuh adalah sebagai tindak
lanjut atas ketegangan-ketegangan organ tubuh estela
melakukan verja berat dan verja keras. Normalisasi dilakukan
dalam Proxy yang tidak perlu intensitas tinggi. Hal ini bertujuan
agar ketegangan otot dan sndi jangan meningkat lagi.
Peregangan otot tubuh memiliki tempat berpegang pada
tulang. Ujung bagian otot seperti tali atau pipih (urat/tendo)
biasanya menentukan letak dan daya lekat serabut ototnya. Otot
dalam bentuk tendo yang panjang menempatletakan anggota
badan mudah digerakan. Pada persendian origo atau serabut
yang pipih yang terletak pada tulang berada di bagian prosimal,
sehingga tulang prosimal pada persendian menjadi akibat dari
kerja otot lain. Dengan demikian terjadi peregangan yang
menyebabkan kekuatan dan ketahanan serabut otot dalam
kondisi gerakan berat telah dilakukan.
Hubungan arah tarikan otot dengan persendian dapat
menyebabkan fleksio, adductio atau rottatio pada sebuah
persendian ditentukan oleh hubungan antara arah tarikan otot
dengan arah gaya gerak yang dalam posisi kontraksi. Contoh
adanya arah tarikan berada di bagian anterior dapat terjadi pada
extentio di tungkai bawah. Kontraksi otot dengan tarikan yang
berada di bagian sendi siku akan terjadi flextio pada lengan
bawah.
Sebuah otot yang menarik dengan arah tarikan ke arah
lateral pada sendi paha akan terjadi gerakan tungkai ke arah
sendi paha tergolong pada sendi peluru yang memiliki tiga sumbu
gerak. Tarikan otot lateral pada lengan bawah tidak mungkin
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 63
terjadi oleh karena sendi siku agar mempengaruhi gerak engsel
.Melalui penjelasan tersebut, bahwa sendi aniaxial hanya akan
terjadi gerakan flextio dan extentio saja.
Hubungan tarikan otot dengan persendian perlu mendapat
perhatian terutama pada jenis persendian yang memiliki tiga
sumbu gerak. Kondisi yang sering terjadi bahwa gerakan pada
saat itu disebabkan oleh adanya kontraksi kerja flextior, setelah
titik pusat gerak sendi bekerja sebagai abductor maka sendi yang
memiliki tiga sumbu gerak harus diperhitungkan kemungkinan
terjadinya gerakan sampingan yang dapat terjadi apabila
diinginkan. Gerakan anggota tubuh yang murni memiliki
ketepatan dalam mewujudkan satu kemurnian gerak dari anggota
tubuh tertentu.
Aktivitas manusia yang segudang jumlahnya membuat
yang bersangkutan semakin repot dan faktor kelelahan
menderanya. Unsur kesibukan yang ada dan kelelahan diri yang
dimiliki akan terasa dinikmati apabila kita melakukan pembiasaan
kegiatan yang mampu menjunjang kesehatan dan kebugaran
tubuh.
Faktor yang dihadapi oleh seseorang yang sibuk dan
kelelahan adalah dengan melakukan kebiasaan aktivitas
kesehatan dan kebugaran tubuh secara serius dan menerapkan
kebiasaan latihan yang dapat memberikan manfaat secara baik
dan benar. Oleh sebab itu, di sini dibutuhkan adanya aktivitas
berupa kegiatan rutin yang dapat membentuk dan menstabilkan
kondisi tubuh tetap prima dan stabil.
Sebagai ilustrasi: dapat digambarkan di sini, ketika
sekelompok anak-anak sedang melakukan aktivitas permainan
secara bersama-sama. Mereka menarik nafas dan
menghembuskan nafas sekencang-kencangnya tanpa
menghiraukan berbagai akibat yang ditimbulkan. Kebiasaan yang
dilakukan tanpa diperhitungkan oleh anak yang bersangkutan.
Manfaat yang diperoleh anak tersebut adalah kekuatan-
kekuatan yang dihasilkan ditunjukan untuk berbagai kompetisi
yang masing-masing tonjolkan. Anak-anak terbiasan melakukan
kompetisi ini dengan cara dan aturan main yang disepakati
bersama. Hal ini seperti dapat dilihat pada gambar di bawah yang
menunjukan bahwa sekelompok anak melakukan lompatan
bersama untuk meraih jangkauan tertinggi dan terjauh pada saat
menceburkan diri ke sungai secara spontan.
Kemampuan manusia untuk bergerak dan pindah tempat
memerlukan gerakan. Gerakan memungkinkan adanya
kerjasama antara rangka dan otot. Otot yang menempel pada
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 64
tulang atau rangka satu dengan lainnya menghubungkan tulang
dengan kulit. Otot memiliki daya kontraksi. Oleh sesb itu otot
disebut alat gerak aktif sedang tulang disebut alat gerak pasif.
Tabel Hubungan Teknik Gerak, Kelenturan dan Peniruan
Gerak
Teknik Gerak Kelenturan Peniruan Gerak
TEKNIK GERAK : KELENTURAN : PENIRUAN
merupakan cara merupakan ekspresi GERAK :
dan aturan di dalam gerak dalam bentuk merupakan
melakukan gerakan kemampuan kemampuan untuk
yang dituntut sesuai fleksibilitas di dalam mengadaptasikan
dengan alur dan mengembangkan teknik, cara dan
proses gerak dan menirukan proses melakuan
dengan tidak gerak dengan gerakan sesuai
menyimpang ditunjang adanya model yang
kepada konstruksi keterampilan dicontohkan
struktur anggota mahasiswa dalam
tubuh dengan rangka
didasarkan kepada mengelaborasi
kemampuan unsur-unsur
ketahanan, ketahanan,
kecepatan serta kecepatan dan atau
keseimbangan keseimbangan
gerak itu sendiri
SIKAP TUBUH : INTENSITAS : KETEPATAN :
merupakan merupakan merupakan ukuran
konstruksi ideal kekuatan dari tata atau staandar
bentuk/struktur dan cara gerakan yang
tubuh baik dalam mahasiswa disesuaikan dengan
posisi diam maupun melakukan gerak gerakan dimana
bergerak, sikap ini sesuai proses dan mahasiswa
sangat baik dan alur secara diharuskan untuk
benar disesuai aje/kontinyu dapat melakukan
dengan pada saat penyesuaian gerak
mahasiswa dengan cara
melakukan peniruan gerakan
teknik/cara bergerak seperti gerakan
sesuai dengan yang diinstruksikan
diinstruksikan oleh dosen
ataupun kebutuhan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 65
lain yang
berhubungan
dengan tuntunan
yang diharapkan
STRUKTUR KWALITAS INTERPRETASI
GERAK : GERAK : GERAK :
merupakan aturan merupakan standar merupakan medium
dan proses dimana maksimal bagi mahasiwa di
dalam aktualisasi kemampuan dalam menafsirkan
disesuaikan dengan gerakan yang gerakan model ke
kebutuhan gerak dituntut untuk dalam elaborasi
dimana salah satu melakukan gerakan berikut
atau bersama dari kolaborasi gerak sesuai dengan
anggota tubuh dalam rangka kemampuan dan
tersebut digerakan memenuhi teknik mahasiswa
ketahanan, yang bersangkutan
kecepatan dan
keseimbangan
gerakan yang
diekspresikan
VARIASI GERAK :
merupakan bentuk
pengembangan
gerakan dalam
upaya menjajagi
seberapa
jauh/kreatif
kemampuan
elaborasi gerak
mahasiwa ke dalam
bentuk gerak baru
Tabel 2.1 Hubungan Teknik Gerak, Kelenturan dan Peniruan Gerak
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 66
Di bawah ini beberapa contoh gerak hubungannya dengan
kelenturan, dan peniruan gerak sebagai berikut.
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb 2.7 Koordinasi 2 peraga Gb. 2.8 Koordinasi 3 peraga
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 2.9 Sinkronisasi 2 peraga Satu peraga memegang pangkal perut
Kontraksi tarikan otot kaki dan tumpuan jari menjadi tumpuan Gb. 2.7-2.8.
Kontraksi tubuh ketiga penari terlihat pada organ punggung, kaki dan perut, jari
kaki dan tangan Gb. 2.9 (Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 67
Ilustrasi gambar di atas pada dasarnya sebagai bentuk
latihan sederhana dimana sekelompok anak melakukan aktivitas
menarik nafas secara sederhana, kemudian melepaskanya dalam
bentuk kompetisi lompatan-loncatan dalam meraih jangkauan dan
tujuan.
Peragaan lain yang dapat dilakukan melalui cara sebagai
berikut analisis butir-butir gerakan dengan menempatkan
konstruksi latihan ke arah sasaran di bawah ini
Gambar menunjukan kontraksi otot
pelvis dan anggota gerak bagian bawah
serta pelemasan pada anggota gerak
tangan. Gb. 2.10 ini menekankan
anggota gerak bagian bawah terjadi
kontraksi secara keseluruhan dan otot
pelvis, perut dan kaki.
Sumber Internet
Gb. 2.10 Tendangan ke depan bertumpu satu kaki
Tugas:
Siswa-siswa telah pahami uraian di atas, bukan? Lakukan
sekarang.
4. Ambil posisi berdiri sempurna, Coba lakukan gerakan
rangkaian dengan berpatokan pada gambar 2.5, 2.6, dan
berikutnya sesuai keiningnan kalian dengan merangkai 4
motif gerak lagi.
5. coba kalian buat rangkaian gerak dengan prinsip pada
tabel rangkaian gerak seperti pada tabel 2.1!!
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 68
B. Bentuk Tubuh terbaik ANDA
Secara umum Chrissie GM membagi bentuk tubuh kita
menjadi 3 bentuk. Adapun bentuk tubuh dimaksud adalah
sebagai berikut.
1. Bentuk Apel,
Bentuk tubuh berciri Apel dimiliki oleh seseorang yang
menyimpan lemak pada bagian tubuh anggota gerak bagian
tengah, mulai dari dada hingga pinggul. Ciri bentuk tubuh
seperti ini memiliki kecenderungan tubuh bagian luar dan
dalam terkesan bulat. Tipe apel memiliki resiko terserang
diabetes, stroke, tekanan darah tinggi, dan penyakit ginjal.
Orang-orang yang bertipe bentuk apel perlu latihan gerakan
dalam bentuk lari-lari jarak jauh, latihan gerak naik turun
tangga secara rutin, dan menahan bentuk latihan olah tubuh
dengan konsentrasi pada pengencangan perut, dada, dan
paha. Hal ini akan berdampak kepada resiko kesehatan
tubuh bagian tengah dan membuat penampilan menjadi
berbeda.
Anggota gerak bagian atas dan bawah kurang banyak
terpengaruh oleh bentuk tubuh semacam ini. Biasanya
anggota gerak yang banyak dipengaruhi adalah anggota
gerak bagian tengah. Kecenderungan bentuk tubuh seperti
ini biasanya memiliki kegiatan yang berhubungan dengan
senam-ritmik. Kegiatan jenis ini membantu aktivitas
mengekspresikan anggota gerak bagian tengan secara
maksimal. Adapun sasaran gerak yang dicapai juga
melibatkan anggota gerak bagian bawah semakin lincah,
perpindahan posisi dan sikap lebih efektif dikembangkan
melalui senam ritmik. Oleh sebab itu senam menjadi pilihan
orang yang memiliki bentuk tubuh semacam ini Gb. 2.11.
Gb 2.11 Bentuk Apel memiliki
ketebalan tubuh(peraga)
(Koleksi Rahmida dan Bambang
Jurusan Tari UNJ)
Sumber Koleksi Pribadi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 69
2. Bentuk Pir,
Orang-orang yang memiliki bentuk tubuh semacam ini
biasanya menimbun lemak di bagian pinggul, paha, dan
betis. Bentuk tubuh ini lebih memilih kegiatan yang
berhubungan dengan tarian, bersepeda, atau senam
sebagai pilihan yang mungkin melelahkan. Orang-orang
berbentuk tubuh seperti per memiliki pinggul yang lebih
lebar dibandingkan dengan lebar bahu.
Kecenderungan orang yang memiliki bentuk tubuh per
bagian atasnya terlihat langsing dan kurang proporsional,
karena idealisme bentuk tubuh dan kondisi badan kurang
harmonis. Dengan demikian kurang sesuaian bentuk tubuh
bagian atas dan bawah menjadi kendala dalam melakukan
aktivitas yang berhubungan dengan kelincahan, dan
reflektivitas gerak yang lebih taktis dan terampil.
Resiko penyakit yang ada pada orang yang memiliki bentuk
tubuh pir lebih sedikit dibandingkan bentuk tubuh apel.
Dalam penampilan, bentuk tubuh pir kurang percaya diri.
Hal ini terkadang memberi stimulus yang kurang positif bagi
orang yang memiliki bentuk tubuh pir. Biasanya sering
frustasi, karena orang tipe tubuh pir sangat sulit untuk
memperbaiki idealisme bentuk tubuh Gb. 2.11
r
Sumber Koleksi Pribadi
Gb 2.12 Bentuk Pir lebih langsing(peraga)
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 70
3. Bentuk Tongkat
Orang-orang yang memiliki bentuk tubuh tipe tongkat
memiliki pinggang yang lebih kecil dibandingkan dengan
bentuk pinggulnya. Orang yang memiliki tipe tubuh ini
dikatakan kurus, langsing, dan ceking. Mereka yang bertipe
pinggul kecil seperti ini tidak kelebihan berat badan. Dalam
skala ukur yang klasik, pinggang yang lebih besar
dibandingkan dengan pinggulnya dapat mempengaruhi cara
aktivitas dan pada selanjutnya apabila mengalami
perkembangan bentuk badan orang tipe ini akan berbentuk
seperti tipe apel.
Beban berat yang susah dihilangkan adalah orang tipe
bentuk tongkat sangat sulit dan sangat lama mengurangi
berat badan secara proporsional. Oleh sebab itu kegiatan
menari sangat dianjurkan untuk tipe bentuk tubuh ini, atau
menggunakan alat kesehatan yang memiliki resistensi untuk
mengurangi berat badan untuk bentuk tubuh yang memiliki
kegemukan di daerah pinggul.
Aktivitas yang biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki
tipe bentuk badan seperti ini adalah menari, jalan cepat,
bersepeda, dan aktivitas dengan menggunakan alat
pelangsing pinggul.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb 2.13 Bentuk tongkat lebih kuruslagi(peraga)
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 71
Dalam perkembangan jaman seperti Semarang ini,
masalah yang terjadi di masyarakat ádalah bahwa
kecenderungan banyak wanita berusaha untuk memiliki tubuh
yang ideal dan sempurna. Idealisme wanita untuk dapat memiliki
bentuk tubuh yang diharapkan ádalah bahwa kebutuhan bentuk
tubuh yang sempurna menjadi idaman banyak wanita.
Di camping idealisme bentuk tubuh wanita menjadi
idaman banyak wanita, bentuk pinggul dan paha juga jadi pilihan
lain agar tubuh wanita menjadi tidak gamang atau canggung
apabila keseluruhan posturnya menjadi idaman banyak kaum
lelaki. Kecenderungan pilihan postur yang dapat didentifikasi
yakni bahwa masalah bagian tubuh yang lebih tabal biasanya
lemak, dan ketebalan lemak yang ada biasanya susah diubah
bentuknya.
Beberapa orang yang memiliki pinggul dan tulang pinggul
yang lebih lebar sehingga tidak ada latihan yang dapat atau
mampu mengubah struktur dasar tulang yang dimiliki oleh mereka
yang bertulang pinggul tabal. Identifikasi bentuk tubuh ini
kaitannya dengan porsi tubuh yang ideal berhubungan juga
dengan bentuk pinggul dan paha yang harmonis. Klasifikasi tipe
tubuh lainnya yakni somatotif dibedakan berdasarkan
kecenderungan yang dimiliki adanya otot dan lemak yang
menempel dalam tubuh atau tulang.
Beberapa studi yang membedakan bentuk tubuh wanita yang
menunjukan bentuk tubuh dan keharmonisannya. Keharmonisan
bentuk postur tubuh dimaksud secara umum dapat dibagi menjadi
3 golongan (Chrisie G-Mundy) yang dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Bentuk ektomorf
Mereka yang memiliki bentuk tubuh seperti ektomorf
dicirikan adanya bentuk tubuh yang panjang dan tinggi.
Orang orang tipe tubuh seperti ini cenderung sulit
menambah berat badan.
Bentuk tubuh seperti ini biasanya dimiliki oleh orang-orang
yang berprofesi foto model, penari, pesenam, dan pejalan
kaki atau pelari jarak jauh. Upaya meningkatkan berat
badan Sangay sulit dilakukan oleh wanita bertipe ini.
Orang-orang yang memiliki tipe bentuk tubuh seperti ini
Sangay sedikit.
2. Bentuk Mesomorf
Bentuk tubuh seperti mesomorf dicirikan dapat
membentuk otot dengan cepat. Kecenderungan orang
yang berbentuk tubuh mesomorf pendek dan gemuk.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 72
Orang-orang tipe tubuh mesomorf cenderung kuat dan
sulit untuk mengurangi berat baan. Kapabilitas menambah
berat badan melalui banyak aktivitas yang dilakukan.
Bentuk tubuh mesomorf biasanya menunjukan berat
badan yang lebih besar saat berdiri di atas timbangan, hal
ini terjadi disebabkan perbandingan jumlah otot lebih
banyak dari pada jumlah lemak di dalam tubuh. Minat
kegiatan yang dimiliki oleh orang-orang tipe ini berprofesi
orang yang senang senam ritmik, wanita yang berprofesi
olah ragawati, wanita yang banyak aktivitas duduk terus
menerus dalam aktivitas kerjanya. Upaya penambahan
berat badan, penyaluran energi, dan pemanfaatan
melakukan Olah tubuhnya lebih ditujukan untuk
kebugaran, kesehatan, dan memenuhi peluang waktu
yang cukup panjang.
3. Endo MOrf ahila bentuk tubuh yang berpresentase lemak
sedikit. Hal yang harus diingat bahwa mempertimbangkan
bentuk tubuh yang bersumber pada 3 katagori, seperti
disebut di atas bentuk tubuh terakhir adalak Endomorf.
Bentuk tubuh endomorf dimiliki oleh orang-orang yang
cenderung memiliki presentase lemak tubuh yang lebih
tinggi dan membutuhkan banyak waktu yang lebih lama
untuk mengurangi lemak tubuh. Berat badan yang dimiliki
menunjukan lebih besar. Mereka berdiet dan rajin berolah
raga. Mereka memiliki otot yang lebih lembut dan daya
tahan tubuhnya lebih constan dibandingkan dengan ke
dua bentuk tubuh di atas.
Tugas:
Para siswa bentuk tubuh manusia bermacam-macam. Bagaimana
bentuk tubuh kalian sendiri. Coba sekarang lakukan gerakan
yang sesuai bentuk tubuh kalian.
1. Ambil posisi berdiri sempurna, Coba lakukan gerakan
rangkaian dengan berpatokan pada gambar 2.5, 2.6, dan
berikutnya sesuai keiningnan kalian dengan merangkai 4
motif gerak lagi.
2. Coba kalian lakukan gerakan sesuai beberapa motif pose
yang ada dalam gambar-gambar motif bentuk tubuh pada
uraian buku ini. Gerakan lain dapat kalian lakukan melalui
gabungan antara bentuk tubuh dengan prinsip pada tabel
rangkaian gerak seperti pada tabel 2.1!!
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 73
C. Teknik Gerak melalui Pengolahan dan Pelenturan Tubuh
1. Kesiapan Tubuh dan Pengolahan Otot
Dalam bagian yang mempelajari anatomi, ilmu urai yang
mempelajari suatu bangun atau bentuk dengan uraian-uraian ke
bagian–bagian yang melandasinya. Ilmu urai gerak dapat dibagi
ke dalam alat gerak pasif dan alat gerak aktif yakni otot-otot tubuh
kita.
Kita diharapkan mempelajari sifat-sifat jaringan otot.
Jaringan otot memiliki daya elastisiteas (pegas daya kerut, dan
daya ulur. Daya pegas atau elastisitas dan daya kerut yang
dimiliki satu jaringan otot menyebabkan otot bersifat elastis.
Apabila kekuatan daya elasitas terhenti, maka otot yang
bersangkutan akan kembali pada keadaan panjang semula.
Menurut beberapa penelitian yang pernah dilakukan, otot
dapat mengkerut hingga setengah panjang normalnya. Panjang
serabut otot yang dapat mengkerut struktur otot akann
mempengaruhi tingkat kependekannya.
Perbedaan struktur susunan otot yang melekat pada sendi
atau tulang membedakan tingkat klasifikasi kemampuan
mendatangkan enersi agar mampu bergerak khususnya di dalam
rangka. Dengan demikian apabila terjadi peregangan, maka
kontraksi otot akan cepat kembali semula.
Kemampuan otot untuk mengkerut dan meregang mampu
menghadirkan enersi terutama untuk memenuhi kebutuhan gerak,
dengan itu kapasitas gerak yang mampu dikembangkan oleh otot
dalam menjelajah intensitas gerak yang mampu dilakukan
menjadi bentuktersendiri ketahanan, kelenturan , dan intensitas
otot dalam menghadirkan sumber gerakan.
Dalam upaya menyusun ragam-ragam gerak secara utuh
harus dikordinasikan antar anggota gerak dengan anggota gerak
lainnya. Elemen gerak yang mampu dengan cara menyusun pola
dan kordinasi gerak, maka gerakan yang timbul menjadi gugus
gerakan yang terangkai secara alami. Menurut pengolahan
elemen-elemen dasar maka pola gerak dapat terangkai melalui
kordinasi.
Untuk keperluan olah tubuh, tubuh sebagai alat gerak.
Gerakan-gerakan tertentu dapat dikembangkan melalui gerak-
gerak dasar tubuh secara teknis. Kemampuan dan kelenturan
yang dapat dilakukan bergantung dari kebiasaan, ketepatan, dan
rangsang gerak yang sering digunakan secara intensif.
Elemen gerak dipelajari dalam bentuk ragam-ragam gerak
pada suatu tarian. Pada pengetahuan olah tubuh, gerak dilakukan
berdasarkan rangsang gerak baik yang datang dari otot tak sadar
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 74
yang disebut otot badan. Jaringan otot yang membentuk alat
gerak kita bersifat aktif. Otot tersebut merupakan pembawa
kontraksi yang sangat besar.
Pembawa kemungkina gerak dimaksud disebut miofibril
yang terdasap di dalam sel-sel otot yang dibedakan menjadi 3
yakni otot polos merupakan otot pembelah yang bertugas
mempertahankan kontraksi. Otot sarang lintang membentuk otot
yang cepat kontraksinya. Kerja otot ini bekerja menurut kemauan
kita. Otot jantung membentuk jaringan jantung, dan merupakan
media diantara otot polos dan otot badan.
Untuk mempertegas bahwa elemen gerak yang digunakan
untuk pendorong aktifnya otot dalam memberikan aset intensitas
gerak, perlu dipelajari elemen gerak yang ada hubungannya
dengan elemen gerak pada sikap dasar badan kita kaitannya
dengan latihan olah tubuh.
Elemen dasar yang perlu diketahui untuk kepentingan
olah tubuh sebagai berikut adalah Sikap Jongkok, Nungging,
Kangkang, Jinjit, dan duduk serta tiduran (Anonim: 1989, 4-18).
Beberapa contoh sikap gerak dasar yang pada selanjutnya
digunakan sebagai landasan kordinasi gerak dapat dilihat melalui
gambar-gambar dibawh ini adalah sebagai berikut:
Sumber Koleksi Pribadi
Perhatikan Gb. 2.14 Posisi tidur terlentang dan penegangan otot kaki, perut,
Tangan.
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 75
Sumber Koleksi Pribadi
Perhatikan gambar Duduk santai, kontraksi kaki menarik pangkal kaki ke depan
ke belakang Lihat gambar 2.15 A
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
Peragaan gerakan yang ditujukan ke anggota gerak
bagian bawah perlu dilakukan. Hal ini untuk mencegah agar tidak
kram atau kesemutan. Tujuan pemanasan dilakukan untuk
anggota gerak bawah untuk meopang kemampuan kaki sebagai
penyangga dan melakukan aktivitas berhubungan dengan
perpindahan tempat dan teknik jalan, lompat, loncat.
Latihan dilakukan dengan menekuk kaki ke atas-ke
bawah, meluruskan-menekuk kaki, serta lari di tempat maupun
lari pemanasan dengan mengelilingi area latihan. Lihat latihan di
bawah ini sebagai contoh yaitu jongkok berdiri.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.15 B Sikap ketegangan paha pada sikap Jongkok
Motif jongkok memperhatikan posisi kaki jinjit. Sikap ini diteruskan berdiri
kembali kejongkok, diulang berkali-kali Tumpuhan berat badan pada ujung kaki.
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 76
Lakukan beberapa gerakan berasal dari sikap dasar di atas
beberapa menit. Latihan gerak bertumpu pada pelemasan badan
dengan cara membongkokkan dan tegakkan badan, jinjit dan naik
turun, serta memainkan salah satu kaki dengan bertumpu pada
kaki penyangga kanan dan kiri secara bergantian.
Perhatikan contoh pose yang menunjukan latihan untuk
persiapan tubuh dan anggota gerak bagian bawah.
Sumber Koleksi Pribadi
Sumber Koleksi Pribadi
Sumber Koleksi Pribadi
Gambar dalam sikap Nungging dapat dilakukan gerakan melibatkan pinggul dan
kepala mengulur ke bawah, lutut tetap lurus. Kedua tangan membuka kedua
kaki jinjit. Gerakan dapat dilakukan dengan melakukan tarikan anggota tubuh
bagian tungkai dan kepala tegap, agar tidak pusing. Pada gerak dasar berikut
Kedua kaki jinjit angkat kedua kaki ke atas berkali kali Gb. 2.16-2.18
Perhatikan gambar sikap di atas tetap santai, Kontraksi pada kaki.
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 77
2. Pemanasan dan Gerak Dasar
Seperti telah disinggung pada uraian terdahulu, bahwa
pemanasan atau pengenalan gerak dilakukan pada tahap yang
paling awal. Gerakan gerakan yang dilakukan merupakan
gerakan yang berhubungan dengan pengenalan gerak.
Porsi gerakan pemanasan lebih diutamakan untuk
pengenalan gerak terhadap rangsang otot yang berada pada
daerah setempat dimana gerakan tersebut ditujukan. Gerakan
lebih difokuskan pada tujuan gerak untuk merangsang otot yang
berhubungan dengan sentral gerakan.
Pada gerakan pemanasan lebih khusus untuk
merangsang sensori otot yang paling utama pada sentral gerak.
Dengan demikian terjadi penciptaan gerak dasar pada anggota
gerak bagian dimaksud. Secara pintas beberapa gerakan
pemanasan dapat dilakukan mencakup pada bagian anggota
gerak tertentu serta untuk tujuan tertentu pada sesnsori gerakan
yang ada.
Beberapa tip gerakan pemanasan dapat diuraikan adalah
sebagai berikut:
a. Gerak anggota gerak bagian atas atau kepala (Caput)
terdiri dari gerakan mengangguk-anggukan dan
menengadahkan kepala, menggeleng-gelengkan kepala,
memiringkan kepala ke samping kanan dan kiri, serta
memutar kepala ke arah kanan dan kiri melingkar 360
derajad secara teratur.
b. Gerakan kepala di atas, dimulasi gerakkannya dapat
dilakukan pada saat tubuh sedang duduk, berdiri dengan
merapatkan ke dua kaki dengan tangan sikap sempurna
dan lepas ke bawah, atau posisi kaki kangkang dengan
membuka pada posisi yang ideal sesuai kebutuhan bagi
yang melakukan.
c. Pada pola latihan pemanasan gerak berikut dapat
dilakukan terutama hubungannya dengan gerakan kaki.
Kaki dari posisi berdiri sempurna kemudian jongkok,
menungging, berdiri. Posisi thorax megikuti gerakan atau
mengisi sinkronisasi gerak dalambentuk tangan di
pinggang, atau memposisikan berada menjulur ke depan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 78
Perhatikan contoh pose yang menunjukan latihan untuk
persiapan tubuh dan anggota gerak bagian bawah.
Sumber Koleksi Pribadi
Perhatikan gambar Gb. 2.19 Salah satu contoh gerakan pada
latihan sinkronisasi kedua kaki menekuk tangan menjulur ke
depan dada
Perhatikan gambar tekukan kaki merendah santai, Kontraksi pada kaki Gb. 2.19
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
d. Gerak latihan pemanasan berikut dapat dilakukan dengan
gerakan pada pola senam lantai. Porsi tubuh dan bagian
anggota gerak berada pada posisi di atas lantai secara
maksimal. Ketentuan umum yang dapat digarisbawahi
adalah bahwa dominasi gerakan berada pada level
bawah, lebih dominan di atas lantai, dan perkembangan
gerak dan variasinya lebih diutamakan untuk tujuan
penguatan otot tertentu pada sasaran gerak dimaksud.
Adapun jenis dan macam gerakan dapat diuraikan adalah
sebagai berikut:
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 79
Apabila kalian memerlukan alas untuk landasan,
siapkanlah peralatan tersebut, kemudian porsi gerak
lakukan mulai dari tidur sempurna, angkat salah satu kaki
ke atas sehingga membentuk sudut 90 derajad secara
bergantian antara kaki kanan dan kiri. Lakukan gerakan
tersebut beberapa kali, kemudian ubah variasi gerakan
Lipat kedua kaki dan lurudkan kembali. Gerakan tersebut
lakukan beberapa kali. Latihan ini untuk tujuan penguatan
pelvis atau pinggul kita. Di sisi lain sasaran gerk juga
untuk kebutuhan penguatan otot kaki mulai dari anggota
gerak bagian bawah(ladix) hingga pangkal pinggul.
Gerakan berikut adalah lipat kaki dan gulingkan ke arah
sisi lawan dari bagian kaki dilipat, gulingkan ke arah
samping kanan dan kiri secara bergantian. Latihan ini
ditujukan untuk penguatan otot bagian paha dan pinggul
secara sinergis. Lihat gambar di bawah ini menunjukan
bentuk latihan yang dilakukan.
Sumber Koleksi Pribadi
Gambar 2.20 Tidur posisi kaki satu dilipat ke dalm
Perhatikan gambar Tiduran sambil mengangkat kaki sebelah membentuk kaki
bagian bawah sejajar tubuh. Kontraksi kaki dan perut dengan menari dan
meletakan kembali kaki posisi tidur lurus. Lihat gambar 2.20
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 80
Perbedaan gerakan dapat dilakukan untuk
mengetahui bagaimana kontraksi otot pinggul dapat
dirasakan. Hal ini dengan melakukan gerakan sebagai
berikut.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.21 Kaki kanan di lipat direbahkan
ke sisi kiri dari posisi dasar
Perhatikan gambar Duduk santai, Kontraksi pada kaki Gb. 2.21 (Koleksi
Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
e. Gerak latihan pemanasan berikut dapat dilakukan dengan
melakukan laihan gerakan dengan posisi awal duduk
sempurna, buka kaki lebar sehingga membentuk posisi 90
derajad atau lebih. Anggukan kepala, badan, dan lipat
punggung semaksimal dapat dilakukan. Arag gerakan
badan adalah membungkukan sesuai lebar kaki.
Pembagian porsi arah gerakan menurut kita sesuai
dengan pola gerakan yang sarankan untuk beberaka kali
gerakan dan diulang secara terstruktur. Sasaran gerak
ditujukan untuk penguatan otot pinggang, Pinggul (pelvis),
dan otot kaki pada saat meregang dan menegangkan otot
bagian Paha (Femur), Betis (Febula).
Kecermatan gerakan dan cara merasakan
kontraksi otot harus dihayati. Hal ini menjadi dasar
bagaimana merasakan gerakan agar dapat dilakukan baik
dan benar. Cara tersebut dengan tujuan untuk
menghindari terjadinya salah urat dalam melakukan gerak
dimaksud.
Secara akumulasi kedua gerak paling akhir pada
dasarnya merupakan gerak rangkaian. Tujuan simulasi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 81
gerak untuk mendapatkan potensi sentral gerak pada
daerah pinggul secara jelas dan dapat dihayati.
Pada sesi berikut adalah latihan yang ditujukan
untuk sasaran yang sama namun untuk bentuk yang
berbeda adalah membuka kaki kemudian menempelkan
kedua tangan ke lantai dan lipat badan kita hingga benar-
benar merapat ke lantai. Contoh gerakan dapat dilihat
melalui gambar di bawah ini.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.22 Duduk kaki terbuka sumbu tgerak di pantat
. Perhatikan gambar: pose menunjukan sesi kedua latihan Gb.2.22 dapat
diperagakan melalui format pose dasar di atas.
Perhatikan gambar Duduk santai, Kontraksi pada kaki
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
Porsi gerakan pemanasan dapat dilakukan dengan
f.
melalui motif gerakan tidur tertelungkup, kemudian lipat
kaki atau anggota gerak bagian bawah secara bergantian
antara kaki kanan dan kaki kiri. Posisi dasar berikut
lakukan gerakan berguling-guling ke arah kanan maupun
kiri. Porsi latihan ini adalah untuk penguatan otot paha
dan otot tangan. Gerakan ini dibarengi dengan
meluruskan tangan ke atas lurus searah dengan badan.
Latihan ini merupakan peregangan pada otot-otot paha,
tangan, dan perut.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 82
Untuk mendapatkan bentuk penghayatan pada gerakan yang
dimaksud maka coba perhatikan gambar di bawah ini.
Lakukan petunjukan yang tertera pada petunjuk gambar.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.23 Tidur tertelungkup dengan ke dua tangan menyangga kepala
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.24 Tidur tertelungkup menarik kaki ke dalam punggung kembali lurus lagi,
Gerakan diulang beberapa kali atau variasi dengan satu kaki secara bergantian
dan bervariasi lihat gambar 2.25
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 83
Di bawah ini beberapa gerak pemanasan mulai dari sikap
tidur, duduk, hingga pada gerakan berdiri secara bervariasi.
Sebagian contoh lihat gambar di bawah ini, yaitu:
Sumber Koleksi Pribadi
Posisi tidur sambil mengangkat ke dua kaki hingga membentuk 90 derajad.
Konstruksi sikap dasar dikembangkan melalui gerakan kaki ke berbagai arah.
Lakukan latihan beberapa menit.
(Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
Sumber Internet
Pengembangan gerak mulai dari mengangkat kaki lurus ke atas, bertumpu pada
satu kaki.Gerakan dilakukan secara koordinasi dan kerja sama melalui 2 penari
dalam bentuk pengolahan ruang Gb. 2.26 da 2.27
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 84
Latihan gerakan yang bersifat penguatan bagian lain
dapat dilakukan dalam bentuk penguatan otot anggota gerak
bagian bawah dan perut secara sinergis. Pola gerakan bertumpu
pada proses berdiri kemudian membongkuk hingga tangan
menyentuh lantai.
Pola gerakan ini bertumpu kepada gerakan naik turun
secara teratur bagian pinggul secara terus menerus. Gerakan
dilakukan beberapa kali, kemudian divariasi ke gerakan dengan
menggeser tangan sebagai tumpuan melontarkan ke dua kaki ke
arah belakang.
Kombinasi gerakan lain kaki bertumpu pada ke dua belah
kaki, posisi tidak semitris. Gerakan kaki ke depan dan ke
belakang secara bergantian. Gerakan diulang dan direvitalisasi
menjadi bentuk gerakan baru yang memungkinkan berdiri atau
bertumpu pada ke dua tangan(standent). Kaki diangkat ke atas
bila bisa dilakukan dalam konstruksi kedua kaki lurus benar.
Sebagai ilustrasi, Latihan standent dilakukan dengan
bersandar pada tembok atau dinding, sehingga bis tepat rata
benar.. Hal ini menjaga agar keseimbangan tubuh saat sandar di
dinding tembok sebagai sandaran.
Gb. 2.28
Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi
Sumber Koleksi Pribadi
Gambar 2.28-2.30Sinkronisasi pengembangan sikap dasar Nungging ke
berbagai bentuk gerak dengan menggeser salah satu kaki menjadi tumpuhan.
Gerakan dilakukan beberapa kali
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 85
Untuk mendapatkan bentuk penghayatan pada gerakan
yang dimaksud maka coba perhatikan gambar di bawah ini.
Lakukan petunjukan yang tertera pada petunjuk gambar.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.31 menunjukkan Pengolahan gerakan kepala dan seluruh anggota badan
agar terjadi akumulasi peregangan di bagian perut, tangan, dan kepala.
Sumber Koleksi Pribadi
Perhatikan contoh latihan
Kordinasi gerakan bagian samping peraga dalam upaya melatih otot bagian
samping perut, dada, pingganag, dan paha sampng Gb. 2.32.
Perhatikan gambar Duduk santai, Kontraksi pada kaki Gb. 2.31
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 86
3. Gerak dan Keseimbangan
Gerak merupakan pengalaman yang paling awal dalam
kehidupan manusia. Manusia melakukan gerakan untuk
memenuhi sejumlah aktivitas, mobilisasi ruang dan penjelajahan
diri dengan memanfaatkan media ungkap gerak. Aktivitas dan
mobilisasi gerak di atas dapat dikontrol melalui pengerahan
enersi atau kekuatan gerak.
Konstruksi pengerahan enersi dapat dilakukan secara
berbeda-beda. Masing-masing kekuatan pengerahan enersi
mampu menciptakankesan indah dan bernilai artistik.
Pengendalian gerak merupakan proses pengendoran dan
penegangan kekuatan otot terhadap tendon secara terkendali.
Dalam kenyataan sehari-hari, penguasaan kekuatan otot
terhadap tendon dilakukan dengan cara-cara yang unik, strategis,
efektif dan efesien apabila terkontrol secara baik. Strategi ini
disebut teknik gerak yang teratur dan terkontrol secara
mekanistik.
Teknik gerak tergantung kepada aksi sebab dan akibat
yang dilakukan secara sadar dalam bentuk gerakan yang
terkendali. Terciptanya gerakan yang memenuhi artistik gerak
dan membentuk aktualisasi aspek-aspek imajinasi kepekaan
gerak, dan perkembangan psikologis seseorang dapat disebut
sebagai gerakan yang seimbang. Kebersamaan antara gerkan
yang terkendali dan diimplementasikan secara seimbang
dilakukan melalui kendali seluruh bagian anggota gerak manusia
mulai dari anggota gerak bagian atas, tengah, dan bawah secara
bersama dan kordinatif.
Pada bagian-bagian tubuh yang bergerak sendiri-sendiri
maupun secara bersama dalam kordinasi yang harmonis sangat
dibutuhkan oleh aktivitas Olah Tubuh. Kesemua bagian dari
anggota gerak bagian atas, tengah, dan bawah pada prinsipnya
dilalui melalui aksi tention dan balance. Pada sisi lain, anggota
gerak bagian tubuh yang tidak bergerak berada pada posisi sikap
relaks, tidak ada penegangan, dan menjurus kepada status
anggota tubuh yang tidak bergerak/statis.
Kebutuhan gerak tergantung bagaimana dan untuk apa
tujuan gerakan tersebut digerakan. Pengembangan gerakan
dapat dikolaborasi secara sendiri-sendiri dalam bentuk gerak
mandiri maupun dalam kelompok. Untuk memenuhi variasi gerak,
selanjutnya diciptakan bentuk aktualisasi hasil kreatif gerak yang
mampu diungkapkan oleh siswa dalam kegiatan Olah Tubuh,
menari maupun kegiatan senam.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 87
Semakin banyak pengalaman gerakan yang dapat
dilakukan oleh siswa, semakin banyak pula dasar-dasar gerak
yang digunakan untuk merekonstruksi pengalaman Olah Tubuh
secara maksimal. Siswa diberi banyak pertanyaan tentang jenis
gerakan, motif gerakan, dan gerakan yang diciptakan oleh siswa
sendiri adalah kompetensi belajar Olah tubuh yang ditargetkan.
Dalam hubungan itu perlu ditambahkan, pembentukan
pola-pola pengalaman gerak sebagai tujuan belajar siswa dalam
Olah tubuh tidak boleh dilupakan bahwa keputusan akhir
menyengkut kemampuan siswa mempertimbangkan terpilihnya
bentuk gerak yang mendasari konsep penyusunan gerak,
mereduksi gerak hingga penciptaan gerak-gerak secara mandiri
menjadi gerak kreatif siswa sangat didamkan oleh guru dan
pendidik atau instruktur Olah Tubuh siswa.
Sumber Internet
Perhatikan Gb. 2.33 Contoh gerak: Latihan keterpaduan teknik gerak ketika
penari naik ke bahu penari putra. Gerakan lebih diproyeksikan pada
sinkronosasi.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 88
Untuk memperkaya khasanah gerak siswa, diperlukan
adanya pencarian gerak untuk merekonstruksi gerakan dapat
dilakukan dengan cara-cara melakukan pelatihan dan
penjelajahan gerak. Jelajah gerak dilakukan dengan
memanfaatkan pengembangan gerak berdasarkan hasil pelatihan
gerak yang sudah ada, mengubah gerak sehari-hari menjadi
bentuk gerak baru yang dibungkus ke dalam gerak estetik,
respons ritmis, modifikasi gerak secara bertahap, hingga
mengungkapkan pengalaman-pengalaman ritmis ke dalam
imajinasi tertentu berhubungan dengan kemampuan untuk
mengadopsi gerak, memvariasi gerak, hingga kepada kepekaan
mencipta gerak.
Gb.2.34
Sumber Internet
Sumber Koleksi Pribadi
Gambar 2.34 dan 2.35 Improvisasi lompatan dan kesan sesaat di udara,
Gambar kedua menunjukan:kerja sama 2 penari dengan berbagai aspek,
penguasaan gerak, kelenturan gerak, dan kekuatan otot kaki dalam Gb. 2.35
menunjang teknik dan intensitas gerak.
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 89
Kedua gambar di bawah ini menunjukan perbedaan
keseimbangan tubuh peraga. Gambar atas menunjukan pola
motif gerak yang masih kurang sempurna, namun bentuk dan
latihan dapat digunakan sebagai bahan latihan rutin yang mampu
menjadi pendalaman keseimbangan tubuh secara perlahan
namun pasti.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.36 Tangan menahan tarikan kaki, penegangan pada kaki
.
Sumber Modern Dance Joan Martin
Gb. 2.37 Tangan dan kaki saling tarikan, pada saat melompat
Gambar 2.36 dan 2.37 memperlihatkan sebagai
Kedua gambar menunjukan keseimbangan gerak pada saat melayang dan pada
saat kordinasi antara dua penari putra dan putri.
Perhatikan gambar Duduk santai, Kontraksi pada kaki
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 90
Sinkronisasi kedua peraga di bawah ini menunjukan
kematangan, totalitas penghayatan gerak, dan teknik gerak
secara profesional. Perbedaan penghayatan terdapat pada cara
memperagakan gerak sinkronisasi. Gambar atas masih dalam
taraf belajar, gambar bawah dilakukan penari profesional secara
baik dan sempurna.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.38 sinkronisasi 2 peraga kerjasama mengisi ruang gerak
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
Sumber Modern Dance John Martin
Gambar 2.39 adalah gambar menunjukan keseimbangan gerak pada saat
menahan tumpuan penari yang sedang melayang di udara.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 91
Teknik gerak keseimbangan yang lebih baik dan cukup
memadai untuk ukuran penari profesional tergambar pada cara
dan kemampuan mengungkapkan teknik gerak. Sinkronisasi dan
keterauran mengatur ritme gerak mampu dilakukan bagi peraga
yang memiliki pengalaman dan profesional.
Sumber Modern Dance John Martin
Gb. 2.40 Gerak melayang posisi miring pada saat melompat.
Sumber Modern Dance John Martin
Gambar 2.41 Gerakan menunjukkan sinkronisasi gerak intensitas melayang di
udara dalam teknik lompatan.
Gambar Gb. 2.40 dan 2.41 memperlihatkan sebagai berikut:
Kedua gambar menunjukan keseimbangan gerak pada saat melayang di udara
oleh penari putri tunggal dan kelompok penari putra.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 92
Untuk mendapatkan bentuk penghayatan pada gerakan
yang dimaksud maka coba perhatikan gambar di bawah ini.
Lakukan petunjukan yang tertera pada petunjuk gambar.
Sumber Koleksi Pribadi
Gambar 2.42 menunjukkan sinkronisasi gerak 2 peraga putri.
Sumber Koleksi Pribadi
Gambar 2.43 Kesatuan kesan dengan beragam penghayatan gerak oleh
peraga putri.
Perhatikan gambar Duduk santai, Kontraksi pada kaki
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 93
4. Kedudukan, Sikap dan Posisi Tubuh pada saat Gerak
4.1 Gerak dan Tubuh
Gerak terlihat secara jelas apabila sesuatu benda
mengalami perpindahan dari satu posisi ke posisi lain, satu
tempat ke tempat lain, atau satu sikap ke sikap lain. Pada
manusia gerakan dapat terlihat dalam bentuk gerakan tubuh
manusia.
Dalam gerak terkandung tenaga atau energi yang
mencakup ruang dan waktu. Gejala gerak menjadi pertanda
kehidupan. Gerakan yang timbul sebagai bentuk tenaga, dan
proses gerak berlangsung pada manusia memerlukan ruang,
waktu, situasi dan kondisi yang berhubungan tenaga. Besar kecil
tenaga yang dibutuhkan dapat mempengaruhi ekspresi yang
ditimbulkan.
Gerak tubuh yang bersifat komunikatif berhubungan
dengan ekspresi penghayatan yang dilakukan. Ekspresi
kemarahan membutuhkan penghayatan gerak yang lebih banyak
dibanding kesediahan. Begitu pula sebaliknya ekspresi
kesediahan yang berlebihan pada saat tertentu dapat
menimbulkan penghayatan gerak yang berlebihan, karena
berhubungan dengan kurangnya kontrol penghayatan secara
teknis. Dengan demikian penghayatan ekspresi dalam tari
dibutuhkan penghayatan ekspresi teknis yang mendalam.
Gerakan dapat dilakukan di tempat, pada saat lain
memerlukan perpindahan tempat. Di sisi lain gerakan yang
dilakukan di tempat, biasanya lebih membutuhkan ruang gerak
dan volume gerak. Dua unsur ruang gerak dan volume gerak
menjadi tumpuan gerakan tersebut dilakukan secara jelas dan
masing-masing akan nampak perbedaannya khususnya untuk
suatu penghayatan gerak.
Dalam tari kedua gerak di tempat dan berpindah tempat
apabila dipadukan secara baik dapat memberikan kesan gerak
yang dinamis. Kedinamisan gerak lebih berkembang variatif
apabila terjadi sinkronisasi gerakan secara variatif dan dinamis
melalui penghayatan ekspresi gerak yang teknis tinggi.
Kedinamisan dan kevariasian gerak dapat tercapai dengan
melalui gerkan peralihan yang sesuai, sehingga gerakan lancar
atau tidak terkesan terputus.
Kelancaran gerak inilah yang dalam tari disebut sebagai
gerakan yang teratur atau seperti aliran air(mbanyu mili). Gerakan
yang bersifat air mengalir sebagaian banyak menjadi ciri gerakan-
gerakan untuk tari putri. Sebaliknya, gerakan yang bersifat patah-
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 94
patah dan lebih digerakan secara tegas dan cepat lebih dominan
sebagai ciri gerakan tari putra.
Gerakan bersifat lembut dan mengalir, serta terputus-
putus dan tegas merupakan pola gerak yang menjadi ciri
pembeda antara gerakan tari putra dan tari putri. Gerakan yang
berada diantara gerakan berciri stakato atau patah-patah dan
mbanyu mili, disebut gerak tari tengahan, biasanya dilakukan
untuk jenis karakter herak tari tengahan atau alusan. Uraian ciri
gerak ini sering dilihat pada jenis tari yang berasal dari daerah
jawa(tari Surakarta dan tari Yogyakarta).
4.2 Gerak pada Anggota Gerak Bagian Tubuh
Gerakan secara umum anggota gerak terbagi dalam tiga
wilayah gerak. Hal ini seperti telah dijelaskan terdahulu bahwa
pembagian wilayah gerak sesuai tubuh manusia dalam 3 katagori
gerak dikembangkan oleh Evelyn Pearch yakni anggota gerak
bagian atas (Caput), anggota gerak bagian tengah (Thorax), dan
anggota gerak bagian bawah (Ladix/Pedix).
Selanjutnya, ke tiga bagian anggota gerak dikembangkan
dalam pembahasan buku ini sebagai ciri bagian gerak. Secara
umum ke tiga bagian anggota gerak tersebut dikatagori ke dalam
anggota gerak yang lazim disebut dan istilah kunci peta konsep
anatomi tubuh sesuai menurut uraian buku ini.
Pakar tari Pendidikan bernama Rudolf Laban menjelaskan
anggota gerak bagian kepala (Caput), tubuh atau badan (Thorax)
termasuk tangan, kaki(Ladix) masing-masing jangkauannya
berbeda atas kebutuhan ruang. Ruang gerak misalnya level,
jarak/rentangan atau tingkatan gerak. Ruang Waktu lebih
diproyeksikan pada durasi gerak dan dynamics gerak lebih
menekankan kepada kualitas atau tekstur gerak. Misalnya gerak
yang kuat, lemah, elastis, aksentuasi, penekanan (Ann
Hutchinson, 1989:2).
Kegiatan penciptaan gerak pada dasarnya sebagai
landasan bagi siswa terhadap penciptaan bentuk gerak. Upaya
menciptakan bentuk gerak meruapakan langkah konkret
konstruksi penciptaan bentuk gerak. Penciptaan bentuk gerak
sebagai bagian dari alih transformasi tentang respons-respons
imitatif ke dalam konsep imajinasi. Konsep ini selanjutnya diberi
bentuk, konvigurasi, dan kekuatan-kekuatan yang disebut gestalt
adalah menjadi simbolisasi aransemen gerak dan identitas sikap,
posisi, maupun perubahan tentang aspek gerak.
Komunikasi melalui gerak yang dapat diidentifikasi
memberikan stimulus sebagai rangsang aktif bagi siswa untuk
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 95
melakukan perubahan sikap, posisi dan kedudukan gerakan di
dalam ruang. Oleh sebab itu, masalah gerak dan keseimbangan
selayaknya dijadikan momentum dalam mempelajari aturan gerak
dalam ruang gerak.
Gerakan yang diberikan kepada siswa dimulai dari
pemberian instruksi tentang banyak-sedikitnya pengalaman gerak
guru dalam menentukan bagian-bagian anggota gerak dalam
tubuh secara periodik.
Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi
Gambar 2.44 dan 2.45 pose membungkuk dan bertumpu di satu kaki dengan
pengolahan ruang tari oleh anggota gerak tangan.2 peraga putri.
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
Sumber Internet
Perhatikan gambar di atas tarikan kaki pada pelvis atau pinggul. Kontraksi pada
kaki dengan arah berlawanan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 96
Kunci tahap awal dalam belajar tari adalah menggerakan
tubuh sebagai bahasa isyarat. Kunci pemahaman tentang gerak
tubuh sebagai alat komunikasi tidak lepas untuk
mengkomunikasikan maksud dan tujuan koreografer. Secara
jelas gerak sebagai media komunikasi dapat dalam bentuk isyarat
tubuh. Oleh sebab itu bahasa komunikasi gerak tubuh adalah
dialog gerak oleh pengamat (penonton dan kritikus tari).
Komunikasi gerak yang disampaikan kepada pengamat
memiliki makna dan penghayatan yang berbeda-beda. Untuk
pengamat yang telah berpengalaman, makna gerak dan
penghayatan tarinya dapat dipahami. Komunikasi makna gerak
yang terlihat menjadi bagian sarana yang dievaluasi. Oleh sebab
itu, penghayatan gerakan muncul sebagai bentuk ungkapan
koreografer melalui penari dapat dengan mudah untuk dikoreksi.
Sebaliknya, bagi pengamat yang masih awam, masalah makna
gerak dimengerti sebagai atraksi gerak saja.
Gerakan yang memiliki penghayatan dalam dari penari
dapat memberikan pengaruh emosi bagi pengamat. Gerakan
yang statis dan membosankan, menjadi sisi penilaian negatif
pengamat. Hal ini bisa merupakan penilaian emosional belaka,
bukan berdasarkan sisi kekuranagn dan kelebihan karya tarinya.
Dalam tari, di samping sebagai bahasa isyarat tarian
harus dapat memberikan makna dari gerakan yang tampil. Hal ini
dituntut dalam tari, karena dalam tarian diperlukan adanya
keindahan gerak. Keindahan gerakan tidak semata-mata berupa
gerakan yang dinamis, menghentak, dan banyak variasi.
Gerakan yang indah bisa ditimbulkan melalui teknik kesulitan
gerak, keterpaduan gerak bahkan melalui sinkronisasi gerak
statis dan gerak dinamis.
Paduan gerak yang membangun kesan tari berhubungan
dengan bagaimana gerakan dapat ditarikan. Oleh sebab itu, pada
gerakan yang bersifat atraktif biasanya digunakan sebagai
dinamisasi gerak tari secara ekslusif. Gerakan atraktif atau
demontrasi gerak yang bersifat atraktif cenderung sebagai
demosntrasi gerak ketika tarian sudah diangap menjemukan.
Gerak tubuh merupakan elemen dasar tari. Gerak tari
merupakan gerakan sehari-hari yang diperhalus
(distrosi/distirilisasi). Gerakan keseharian dapat menjadi gerak tari
apabila diperhalus(didistorsi/distirilisasi). Atau dengan perkataan
lain dapat dijelaskan bahwa gerakan keseharian yang diberi
makna akan berubah menjadi gerakan bermakna atau maknawi.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 97
Contoh gerakan keseharian, gerakan yang diperhalus,
dan gerakan yang memiliki makna dapat dilihat pada gambar di
bawah ini adalah sebagai berikut:
Gabungan anggota gerak bagian atas, tengah, dan bawah
diperlihatkan untuk banyak tujuan gerak. Dalam belajar-mengajar
tari, unsur permainan dapat digunakan sebagai ide dasar
pencarian gerak tari bagi tari anak-anak. Unsur percintaan bagi
orang dewasa juga dapat menjadi rangsang atau stimulus ide
tariannya, hal ini brerhubungan dengan gerak bercinta yang
dipilih harus diperhalus/distirilisasi ke arah arah gerak maknawi.
Media gerak tubuh secara hakiki dapat dilakukan dalam
bentuk banyak ragam. Variasi gerakan goyang, jongkok menekuk
lutut, berbaris berbanjar, mengayun-ayunkan tangan dan kaki,
merapatkan sikap tangan ke depan dada kesemua gerakan
dilakukan baik masing masing orang maupun bersama juiga
merupakan gerakan kombinasi. Gerakan yang dilakukan tersebut
dapat dilakukan oleh masing-masing personal atau oleh banyak
orang mengisyaratkan gerakan tarian yang jelas.
Gerak murni (pure movement atau wantah) adalah
gerak untuk mendapatkan bentuk artistik dan tidak memiliki
maksud tertentu. Geraan jenis ini biasanya lebih ke arah bentuk
gerak keseharian dan spontanitas sifat gerakannya.
Di sisi lain, gerak maknawi (gesture) adalah gerak wantah
yang mengandung makna tertentu biasanya gerakan telah
diperhalus atau distilisasi. Gerakan Lumaksono adalah stilisasi
dari gerak jalan dalam tarian Jawa. Gerak Nuding dalam tari Bali
adalah stilisasi dari pernyataan marah dengan makna
memberikan penekanan menuding atau mengumpat kepada
orang yang ditunjuk.
Gerakan-gerakan bermakna dihayati sebagai gerakan tari.
Gerakan tersebut sebagai akumulasi distorsi atau stirilisasi
gerakan-gerakan keseharian. Kekuatan dan ke dalaman gerak
yang diekspresikan merupakan gerakan yang diperhalus atau
gerakan bermakna, gerakan ini sebagai bentuk gerakan
meniru(imitatif). Tubuh dalam membahasakan gerakan harus
menjadi landasan dari hasil gerak eksplorasi dan improvisasi
gerak. Proses imitasi gerak dapat dilakukan dengan melakukan
pendalaman bahasa isyarat maupun memaknai gerak agar lebih
dapat dimengerti.
Bentuk gerakan simitri pada gerakan manusia merupakan
profil gerakan yang terdiri dari gerakan sebelah kanan dan kiri
sama bentuk dan sikap. Gerakan ini memiliki ciri kuat kesan
gerak kokoh, kuat, dan angkuh temteramental gerakan. memiliki
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 98
kelemahan Walaupun secara kurang sempurna sifat simitri
merupakan sifat setangkep. Selanjutnya, pada sisi lain gerakan
manusia dapat bersifat tidak simitri. Ketidaksimetrian gerakan
pada manusia memiliki kesan gerak tidak kokoh, tidak mantap,
dan kesan goyah. Pola gerak dan komposisi simitri
mencerminkan dua sisi yang saling berlawanan. Bentuk dan sikap
kesemitrian gerak dalam posisi yang saling berhadapan atau
sikap gerak lainnya jika memungkinkan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa tarian dapat hadir didukung
elemen estetis dan aspek pendukung tari yang melekat di
dalamnya. Oleh sebab itu, penjelasan berikutnya adalah masalah
unsur lain yang menjadi pembangun pengertian tari adalah
masalah ruang.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2 2.46. Penegangan otot perut dan paha
Sumber Koleksi DEPBUDPAR
Gb. 2. 47 Penegangan otot perut dan paha saat mendak dan rentang tangan
Perhatikan gambar Duduk santai, Kontraksi pada kaki Gb. 2.47
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 99
Pelatihan Kekuatan otot berikut ditujukan pada bagian
perut, paha, dan daya tahan nafas. Secara umum penjelasan
digambarkan melalui bagan dan gambar di bawah ini.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.48. Penegangan otot perut dan paha melalui tarikan kaki
Perhatikan gambar tengkurap santai, Kontraksi pada perut dan kaki
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
Tugas:
Siswa-siswa apakah kalian telah bisa mengikuti bermacam gerak
seperti terlihat pada pose-pose gambar pada uraian gerak pada
Subbab ini. Coba sekarang lakukan gerakan pengembangan
gerak berdasarkan motif gerak yang ada pada uraian subbab ini.
3. Ambil posisi sikap sempurna, Coba lakukan rangkaian
gerakan dengan berpatokan pada pose-pose gambar
subbab ini, dan berikutnya lakukan 4 motif gerakan
rangkaian subbab ibi.
4. Coba kalian lakukan gerakan ulangan gerak seperti motif
pose gambar yang ada dalam uraian subbab ini. gambar-
gambar motif hanya sebagai ide bentuk saja. Gerakan lain
dapat kalian lakukan melalui gabungan antara motif yang
terlihat pada pose dengan kreativitas gerak kalian.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI100
4.3 Olah Nafas untuk Gerakan
Ditinjau dari proses latihan yang padaGb 2.52 selanjutnya
dilakukan, Olah nafas menjadi bagian penting yang harus
dilakukan. Hal ini seperti telah disinggung di bagian terdahulu,
bahwa olah nafas dibagi ke dalam 3 golongan sebagai berikut:
1. Golongan pemula:
Bagi mereka yang baru memulai latihan olah tubuh, olah
nafas yang dilakukan harus dijalani secara rutin sejak awal
pengarahan tersebut dilakukan. Olah nafas dengan pernafasan
paru-paru.Jenis pernafasan dibagi ke dalam 3 bagian olah nafas
adalah sebagai berikut:
Gerakan menghirup udara/oksigen melalui hidung secara
perlahan-lahan sebanyak-banyaknya. Gunakan pernafasan dada
dan perut. Waktu yang digunakan untuk menghirup udara kira-
kira 4 detik, sedangkan pada saat menghembuskan udara yang
telah terkumpul di dalam paru-paru jangan terburu-buru
dikeluarkan. Tahan nafas hingga 4 detik, kemudian baru
keluarkan. Hal tersebut inilah yang disebut dengan pernafasan
dengan tiga tahap.
Secara umum tahap-tahap pernafasan dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Tarik Nafas Tahan Nafas
Hembuskan
Bagan 2.2 Sistem Pernafasan yang baik
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI101
Untuk keperluan tertentu, olah nafas dapat dilakukan
dengan sikap badan duduk tegak tidak bersandar, atau duduk
santai dengan punggung bersandar. Dalam keadaan terpaksa,
olah pernafasan dapat dilakukan secara berbaring.
Latihan olah nafas ini dilakukan selama 5 menit. Setelah
olah pernafasan dilakukan pernafasan perut selama 10 menit.
Dengan demikian olah pernafasan berlangsung selama 15 menit.
Selama latihan posisi dan sikap badan seperti dijelaskan di
bagian atas. Sebaiknya latihan ini dapat siswa lakukan selama 15
tiap hari, terutama setelah waktu subuh dan kamu bangun pagi –
pagi benar.
Peningkatan latihan disarankan terus menerus dilakukan,
dengan itu maka pernafasan kita semakin teratur, sehingga
dalam keadaan terkejut, tergesa-gesa, serta dalam keadaan
darurat sekalipun jantung kita terasa nyaman saja atau
setidaknya tidak terlalu banyak mengalami depresi.
Peringatan, semua dosis latihan yang sebaiknya dilakukan di
atas adalah ukuran maksimal. Jika siswa telah sampai pada dosis
12 hitungan, tahan nafas 20 hitungan hingga menghembuskan
nafas sampai 25 hitungan maka latihan yang telah kita lakukan
adalah selama 20 menit. Oleh sebab itu standar ini sudah
dirasakan cukup atau telah memenuhi kuantum standardivikasi
pernafasan yang cukup teratur.
2. Pada tingkat menengah,
Masa latihan lebih dari 3 bulan. Ada dua macam jenis
pernafasan yakni masing-masing jenis berbeda. Pada tingkat ini,
mulai diperkenalkan oleh nafas dengan empat tahap. Tahapan
pernafasan untuk tingkat menengah dapat dipelajari memakan
waktu sekitar 6 bulan.
Olah nafas empat tahap hanya boleh dilakukan oleh
mereka yang sudah melewati tahap pemula, serta sudah sampai
pada tahap pernafasan menengah. Seseorang yang menjalani
olah pernafasan tahap ini sedikitnya 3 bulan. Olah nafas empat
tahap akibatnya bisa buruk apabila salah dalam latihan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI102
Prinsip latihan olah nafas empat tahap adalah sebagai
berikut:
Tarik Tahan Nafas Nafas
Nafas
Tarik Hembuskan
THembuskans
Nafas
Bagan 2.3 Sistem Nafas
Hirup nafas perlahan-lahan hingga hitungan 6 detik.
Hembuskan nafas selama 6 detik juga. Dalam keadaan paru-paru
kosong, tahan nafas 6 hitungan. Latihan emapat tahap olah
pernafasan secara jelas dapat diuraikan terdiri dari beberapa
waktu yang dapat tergambar melalui tabel di bawah ini sebagai
berikut:
No Minggu Dosis Latihan Waktu
ke Latihan
1 1 6 detik 12 menit
2 2 6 detik 12 menit
3 3 8 detik 12 menit
4 4 8 detik 15 menit
5 5 10 detik 15 menit
6 6 dst 12 detik 15 menit
2.2 Tabel Dosis Pernafasan
Pada olah pernafasan menengahpun digunakan pernafasan perut
dan dada. Pengembangan waktu latihan dapat dilakukan selama
4-6 menit waktu tambahnya. Dengan demikian terjadi pelatihan ini
selama 30 menit.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI103
5. Olah Pernafasan Lanjutan:
Olah nafas tingkat lanjutan dapat lebih memperdalan jenis
pernafasan empat tahap. Olah nafas tingkat ini lebih
memprioritaskan kepada cara menghirup udara secara santai,
menahan dengan santai, dan menghembuskan dengan santai
pula. Kondisi latihan olah nafas pada tahap ini masalah dosis dan
cara latihan bisa dipilih sesuai kebutuhan, kekuatan dn program
keterauran yang memmungkinkan pelaku untuk memahami dan
mempraktikan olah nafas empat tahap sesuai pengetahuan yang
dimiliki. Dengan demikian terjadi akumulasi pengaturan pernafasn
yang dapat mewujudkan yang bersangkutan menjadi orang yang
mampu mengatur nafas secara teratur, tenang, dan konsisten.
D. KETAHANAN TUBUH DAN LATIHAN BENTUK
Secara umum pengetahuan tentang tubuh harus
kitaketahui benar, hal ini agar kita dapat menerapkan bentuk dan
latihan gerak yang tepat bagi tubuh ideal kita. Kesesuaian bentuk
tubuh dan latihan gerak yang diterapkan memiliki sinkronisasi
yang terarah, pada khususnya apabila latihan diterapkan akan
membawa dampak yang positif terhadap latihan dasar yang
digunakan. Oleh sebab itu dibutuhkan strategi awal untuk
mempelajari bentuk gerak, bentuk tubuh kaitannya dengan porsi
latihan yang bakal diberikan.
Bentuk tubuh yang berbeda-beda ditentukan oleh gaya
hidup, kebiasaan makan, dan cara yang dapat mempengaruhi
terjadinya perubahan drastis bentuk tubuh yang dengan
kebiasaan dan pelatihan dapat terbentuk dengan sendirinya.
Muara bentuk tubuh lebih terkonsentrasi pada bagian tengah,
khususnya bagian-bagian tertentu tersebut cukup rentan karena
dapat dirancang dan digunakan untuk menopang berat badan
sehingga sering kali cenderung berubah bentuk.
Kebiasaan yang kurang terlatih dan terkondisi pada
bagian-bagian tubuh kita dapat menyebabkan penumpukan
lemak, terutama pada bagian pinggul, paha, dan dada.
Bagaimanapun, sel-sel lemak tidak akan memiliki masalah
apabila kita mampu menyimpan kalori untuk digunakan sebagai
dasar gerak untuk melatih ketahanan tubuh. Dengan demikian
kita hanya membutuhkan diet secara sehat dengan
dikombinasikan dengan olah tubuh melalui proyek latihan gerak
yang sesuai dengan bentuk tubuh kita.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI104
1. Latihan bentuk Anggota Gerak Bagian Bawah
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.49 Penegangan otot perut dan paha
Perhatikan gambar Duduk kaki lurus ke depan kontraksi pada kaki Gb. 2.49
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
Dalam penjelasan di bawa ini bagaimana bentuk dan
penghayatan gerakan dimaksud maka coba perhatikan gambar di
halaman ini sesuai petunjuk gambar yakni.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.50. Sikap jongkok bertumpu pada lutut tangan menyangga di paha kiri,
penegangan otot perut dan paha
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI105
2.33
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.51 Tidur menarik tangan dan dada, penegangan otot perut dan paha
Perhatikan gambar tidur santai kemudian menarik dada dan kaki, kontraksi pada
kaki perut Gb. 2.51 (Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
Latihan pengolahan kaki pada posisi level bawah atau
memanfaatkan kepekaan anggota gerak bagian bawah secara
benar. Gb. Tampak menguasai kaki dalam posisi sikap badan
tidur tertelungkup.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.52 Mirip gambar 2.51,
Tidak menarik kaki
penegangan otot perut
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.53 Sikap mirip 2.50 anggota badan
condong ke depan dengan tarikan kaki melalui penegangan perut dan paha
Perhatikan gambar jengkeng condong santai, kontraksi pada kaki Gb. 2.53
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI106
Petunjuk:
Kelenturan tubuh yang prima berasal dari melatih anggota
gerak tubuh bagian atas, tengah dan bawah baik secara
terpisah maupun kordinasi. Pengaturan gerak dilakukan
dengan mempertimbangkan sirkulasi pernafasan atau udara,
keteraturan gerak tubuh agar tercapai sinkronisasi gerak
anggota tubuh secara seimbang.
Pastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat, siap untuk
melakukan olah tubuh.
Latihan Otot Bagian Bawah
Otot tubuh manusia selalu berhubungan dengan dimana
manusia yang sebagian besar otot melekat pada kerangka
tubuh manusia. Otot dapat menggerakan bagian-bagian
kerangka yang satu dengan lainnya mengalami pergerakan.
Pinggul
Pada awalnya kaki membuka atau terkangkang, pinggul
diputar ke kanan dank e kiri dengan gerak kaki secara
bertahap.
Paha
Pangkal paha, tungkai atas, tungkai bawah, otot kaki,
berfungsi untuk mempengaruhi gerakan anggota tubuh
bagian bawah yang tergolong ke dalam anggota gerak
bagian bawah tubuh.
Tulang Kelangkang,alat penghubung gerakan pinggul yang
selalu berhubungan dengan tulang.
Lutut
Alat bagian tubuh yang berfungsi untuk mengontrol gerakan
kaki, seperti melompat, meloncat, berlari, menendang,
merendah dan jongkok.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI107
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb. 2.59. Tumpuan satu kaki sebagai penyangga mirip gb. 2.50
kontraksi otot paha bagian kaki yang ditekuk dan sebagai tumpuan
Kualitas kontraksi berbeda antara satu penari dengan lainnya dari 2 peraga di
atas
Perhatikan gambar Duduk santai, Kontraksi pada kaki Gb. 2.54
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI108
Latihan:
Setelah membaca materi di atas, maka diperlukan tugas
sebagai latihan daya ingat kalian:
1. Uraikan fungsi otot yang kamu ketahui dalam kegiatan
olah tubuh?.
2. Pembagian tubuh kita terdiri dari 3 anggota gerak.
Sebutkan dan jelaskan (dengan gambar)
3. Apa yang kamu ketahui tentang Olah Tubuh,
kepentingan olah tubuh dalam kegiatan menari?.
4. Dari Penjelasan dalam bab ini maka tirukan gerakan
dengan baik,
Coba lakukan setiap motif gerak 3 X
Coba lakukan motif gerakan dengan variasi dan
level.gerakan.
5. apa yang harus dipersiapkan dalam latihan Olah
Tubuh, sebut dan jelaskan (menurut pengalaman
kamu)
6. Keterkaitan otot dan tubuh hubungannya dengan gerak,
7. Apa alat dan pakaian yang digunakan?.
8. Kelebihan berolah tubuh dan berolah tari dapat
menimbulkan kejenuhan, kenapa demikian, dan
bagaimana cara mengatasinya
9. Aspek-aspek manajemen kegiatan tentang olah tubuh
diperlukan adanya teknik, kelenturan, peniruan gerak.
Bagaimana cara kamu melakukan ketiga aspek
tersebut.
Sebagai bahan renunga yang digunakan sebagai bentuk
koreksi, di bawah ini diberikan tugas kepada para pembaca.
Adapun pembaca dapat memanfaatkan pengalaman gerak
pribadi sebagai bagian penghayatan yang diungkapkan. Oleh
sebab itu, tugas mandiri yang dapat diberikan adalah sebagai
berikut:
Bagaimana menurut pendapat kalian tentang latihan gerak yang
paling baik dikerjakan atau menjadi tugas kalian.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI109
Rangkuman:
Kerangka dalam Anatomi hubungannya dengan Gerak:
• Jari tangan (finger) berfungsi untuk mengontrol gerak,
penegasan ekspresi wajah agar menjadi hidup, dinamis,
dan ekspresif (contoh sikap-sikap tangan pada tari Jawa,
getaran tangan pada tari bali)
• Jari kaki berfungsi untuk menopang gerak kaki, berjalan,
e. Latihan bentuk Anggota Gerak Bagian Tengah
jinjit untuk keindahan (gerak pada tari Balet, trisik pada
tari Jawa, Sunda)
• Pergelangan kaki (Palmar) sebagai poros mengatur
keseimbangan gerak dan tubuh, dan dapat dibantu oleh
tulang.
• Pergelangan tangan (Plantar) untuk mengatur gerakan
putaran pada tangan terutama latihan dasar-dasar
penggunaan property atau alat-alat Bantu untuk seni
pertunjukan.
• Gerak siku (Elbows) berfungsi mengontrol gerakan
tangan, gerakan putaran tangan pada lengan, tekukan
dan gerakan yang dapat dikendalikan oleh tulang pada
siku.
• Gerak bahu (shoulden) bagian tubuh yang berfungsi
mengatur gerakan putaran pada pundak. Berperan untuk
kesejajaran dan keseimbangan.
Rangkuman:
• Gerak memerlukan tenaga, ruang, dan waktu (wiraga)
• Besar kecilnya tenaga yang dibutuhkan dapat
mempengaruhi ekspresi
• Gerak tubuh yang bersifat komunikatif berhubungan
dengan ekspresi, penghayatan yang dilakukan (wirasa)
• Gerak memerlukan irama, dan disesuaikan dengan
kebutuhan disain/bentuk geark (Wirama).
• Kelancaran Gerak juga disebut sebagai gerak teratur.
• Kegiatan gerak olah tubuh pada dasarnya sebagai
landasan bsgi siswa sebagai modal penciptaan bentuk
gerak.
• Gerak terdiri dari gerak murni tidak mempunyai arti,
• Gerak maknawi adalah gerak yang memiliki arti.
.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI110
Dalam penjelasan gambar di bawah ini bagaimana cara
menghayati gerakan. Perhatikan gambar di halaman ini cara
melakukan dan menghayati sesuai petunjuk gambar, adalah
Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.56 Kaki kangkang badan Gb. 2.57 Penegangan otot
condong ke depan kontraksi penegangan otot kaki,
otot perut dan paha dam tangan kanan.
Peregangan pada otot perut,
pinggul, dan tangan serta kepala
sebagai efek samping. Gb.
Proporsi menunjukan tention pada
perut, pinggul, dan kepala.
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb. 2.58 Penegangan otot perut dan paha
Perhatikan gambar berdiri santai, kontraksi pada badan rentang tangan
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI111
Dalam penjelasan di bawa ini bagaimana bentuk dan
penghayatan gerakan dimaksud maka coba perhatikan gambar di
halaman ini sesuai petunjuk gambar yakni.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.59. Sikap mirip gb. 2.50
kontraksi otot paha
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.61 Sikap bongkok, penegangan otot
perut dan paha secara sinergis
Perhatikan Gambardi atas. Gerakan mulai dari berdiri sikap
sempurna, badan dibungkuk secara mengalir.
Berikut badan dibungkuk-bungkukan hingga
Posisi badan dan kaki 90 derajad. Lakukan latihan
selama beberapa kali, hal ini untuk menguatkan
otot perut, ekspresi rambut, dan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI112
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb. 2.62 Gambar sinkronisasi 2 peraga dengan cakupan tangan, dan angota
gerak lainnya.
Gambar menunjukan sinkronisasi gerakan dua peraga putri melalui paduan
gerak berpasangan. Teknik gerak penari putrimau naik ke atas punggung pria
coba perhatikan.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 2.62 Gambar sinkronisasi 3 peraga dengan cakupan tangan, dan angota
gerak lainnya.
Perhatikan gambar Duduk santai, Kontraksi pada kaki Gb. 2.63
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI113
Untuk penjelasan penegangan otot pada anggota gerak
tertentu, di bawa ini bagaimana teknik dan penghayatan gerak
sesuai tujuan. Coba perhatikan gambar di halaman ini adalah
petunjuk gambar yakni.
Sumber Koleksi DEPBUDPAR
Gb. .2.64. Latihan pembentuk Anggota Gerak Bagian Atas, tengah dan
bawah posisi level tinggi
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. .2.65. Latihan pembentuk Anggota Gerak Bagian Atas, tengah dan
bawah posisi level Bawah/duduk
Gambar 2.64—2.65 menunjukan performa Intensitas gerak, penghayatan dan
teknik yg ditampilkan oleh penari tunggal, peraga tunggal dengan penghayatan
dalam. Fese latihan dan pentas, perhatikan gambar duduk santai, dan berdiri
menari kontraksi pada kaki dan paha
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI114
Rangkuman:
Olah Tubuh.
Cara melakukan sesuatu organisasi gerakan terhadap
segenap gerakan bagian badan manusia dalam rangka
mencapai tujuan.
Olah tubuh sebagaian besar yang dipelajari dititikberatkan
pada pembentukan kelenturan, keseimbangan, kesehatan,
dan kebugaran tubuh. Materi mencakup bagian-bagian
tubuh secara terkordinasi, gerak tari bentuk, baik tari
tradisional, tari Nontradisional atau kreasi baru
(kontenporere).
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb. 2.66 Latiihan penguatan otot pinggang dan kaki
Anggota gerak bagian atas atau kepala dalam posisi menunduk dan meliukan
badan secara terstruktur ke samping kanan.
Perhatikan gambar Duduk santai, Kontraksi pada kaki Gb. 2.66
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI115
D. KETAHANAN TUBUH DAN LATIHAN BENTUK 2
Gerak pada dasarnya memiliki intensitas yang membentuk
kapasitas extention (penegangan) dan relaxtention
(pengendoran). Gerakan yang memiliki daya penegangan dan
daya pengendoran mampu membentuk ketahanan tubuh secara
baik.
1. Potensi Intensitas Gerak
Olah tubuh bila dilakukan secara benar dan tepat dapat
membantu pembentukan otot tubuh, dan mengencangkan otot-
otot tubuh menjadi kondisi fisik yang prima melalui latihan-latihan
kesegaran jasmani.
Dalam Singgih D. Gunarsa menyatakan, latihan
kesegaran jasmani dalam materi penyegaran tubuh, latihan
pernafasan, latihan penyegaran otot dan saraf punggung,
pinggang, kaki, pencernaaan makanan serta latiihan
memperlancar peredaran darah. Latihan olah tubuh dapat
membentuk peningkatan energi fisik dan kejiwaan. Latihan yang
akan diuraikan ini adalah latihan penyegaran badan disertai
konsentrasi, guna rnelatih mental atau pikiran yang menyatu yang
seiring disebut meditasi (lihat bentuk Gb. 2.48-2.49).
Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi
Gb. .2.67.dan 2.68 Latihan pembentukan anggota gerak bagian, tengah dan
atas secara menyeluruh
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI116
Latihan untuk Meningkatkan Eergi Fisik dan Kejiwaan
Kurang lebih 30’ untuk dapat menenangkan dan
mengosongkan pikiran. Mulailah dengan rileks fisiknya yaitu: jari-
jari kaki, tumit, betis, lutut, otot, paha, pinggang, jari-jari tangan,
pergelangan tangan, lengan otot, bahu, leher, otot-otot
muka/wajah, otot sekitar mata, telinga, kepala. Setelah itu tutup
mata dengan imajinasi dan konsentrasi.
Dalam konsentrasi bayangkan warna merah muda.
Sedangkan imajinasi seluruh kepribadian terisi energi, yang
dikombinasi dengan tiga elemen yaitu: visualisasi, perasaan,
kemauan.
1.1 Contoh Latihan Gerak
a. Cara mengontrol energi perasaan dan kemauan :
Ciptakan perasaan senggang, hangat, keinginan baik,
rasakan dalam dada, visualisasikan bagai sinar muda
berpancar ke seluruh tubuh.
b. Visualisasikan dalarn pikiran.
c. Rasakan kasih sayangdalarn pikiran, lihatlah a\\van merah
rnuda menyeberangi.
d. Buang sernua pikiran itu dan anggap selesai.
e. Latihan Untuk Meningkatkan Energi Fisik
Untuk mempertinggi energi psikis dilakukan dengan cara
latihan bernapas. Sebagai contoh latihan pernafasan ada 3
cara yaitu :
Cara Pertama :
a. Berdiri di udara terbuka.
b. Kaki dibentangkan, tangan diangkat ke samping (horizontal).
c. Tarik napas dalam 5 hitungan.
d. Langsung keluarkan napas 10 hitungan, irama hitungan
sama.
e. Ulangi latihan 10 kali.
f. Latihan ini dapat dilakukan dengan duduk tegak di kursi dan
sambil jalan di udara terbuka, dapat dilakukan dimana saja.
Cara Kedua :
a. Duduk tegak punggung lurus, kepala tegak, kaki bersila,
bagian tumit sentuhkan kedua kaki, tangan ditumpukkan
diatas pangkuan atau letakkan di depan dada, posisi berdoa.
b. Ambil napas dalam-dalam melalui hidung ritmis 8 hitungan.
c. Tahan napas dalam paru-paru 12 hitungan (konstan).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI117
d. Keluarkan napas melalui hidung 10 hitungan (biasakan). Pada
waktu mengeluarkan napas alihkan udara ke persimpangan
jalan atau saluran pernapasan kerongkongan (seperti suara
kucing).
e. Ulangi latihan 5 kali.
Cara Ketiga (Khusus Pernapasan) :
a. Duduk bersila dengan badan dikendorkan (rileks) punggung
tegak, jangan bungkuk, tangan dipangkuan diatas lutut, mata
dipejamkan tunduk sedikit, pikiran bersih.
b. Tarik napas dalam-dalam secara perlahan pusatkan pikiran
dalam penarikan napas seakan-akan otot perut yang tertarik
ke atas.
c. Tahan napas selama mungkin (10-15 detik) pikiran pusat di
rongga dada, seakan-akan menembus paru-paru.
d. Lepaskan napas perlahan-lahan hingga posisi perut kembali
sama, pusatkan pikiran pada gerakan lepasnya pernapasan.
e. Ulangi gerakan pernapasan selama 7-10 kali + 20 menit.
f. Latihan ini dianjurkan setiap pagi sebelum melakukan
kegiatan.
1. Latihan Melancarkan Peredaran Darah.
• Latihan melancarkan peredaran darah dapat memberi
daya hidup bagi semua organ tubuh, dengan cara.
• Rebahlah terlungkup dengan perut dan dada datar di
lantai.
• Angkatlah kedua betis ke atas dan tangkaplah dengan
kedua tangan. Tariklah kedua kaki rapat ke depan,
sehingga paha dan dada agak terangkat di atas, julurkan
leher dan kepala tinggi-tinggi ke atas.
• Diamkan posisi ini sekuat mungkin, makin lama makin
baik, sementara pusatkan pikiran kepada peredaran darah
dari seluruh tubuh dari ujung kepala ke ujung kaki.
• Setelah itu turunkan kaki dan tangan kembali pada sikap
semula. Istirahat sejenak tanpa bangkit dari posisi
terlungkup.
• Ulangi sikap dan gerakan berturut-turut selama lima belas
menit (15’).
2. Latihan Penguatan Otot.
• Latihan ini bertujuan untuk menguatkan otot-otot, dan
syaraf anggota tubuh serta melancarkan mekanisme
organ tubuh. Urutan gerakannya sebagai berikut.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI118
• Rebahlah terlentang dengan santai, lurus datar.
• Angkat paha ke atas dan tekukan kedua betis, lurus ke
depan, jari-jari tangan terbuka di atas kedua lutut.
• Letakkan.jari-jari terbuka di atas kedua lutut.
• Angkat leher dan kepala mendongak ke atas.
• Konsentrasi pikiran arahkan pada getaran otot-otot dan
syaraf di seluruh anggota badan.
• Pertahankan posisi ini 1-2’ istirahat diam, ulangi 2 sampai
3 kali.
3. Latihan Untuk Punggung Dan Pencernaan.
• Latihan ini bertujuan untuk penguatan punggung dan
pencernaan serta organ dalam perut. Urutan gerakannya
(pencernaan) :
• Duduklah dengan kaki terjulur ke depan.
• Bungkukan punggung ke depan berikut leher dan kepala
hingga hampir menyentuh lutut kaki. Kedua tangan
luruskan ke depan memegang ujung betis.
• Pusatkan pikiran pada getaran syaraf-syaraf dan sumsum
tulang belakang serta otot-otot perut.
• Pertahankan posisi ini selama satu atau dua menit,
istirahat sejenak Ulangi kembali 2-3 kali.
6. Latihan Bagian Punggung
• Urutan gerak :
• Rebahlah telentang dengan kepala di atas bantal.
• Angkat kedua kaki ke atas tinggi-tinggi, boleh ditopang
dengan tangan memegang pinggang.
• Bila kedua pinggang sudah tegak, goyangkan sedikit kaki
ke depan atau ke belakang.
• Pusatkan konsentrasi pada otot-otot pinggang dan
punggung dan pertahankan posisi selama satu menit (1’),
istirahat sebentar. Ulangi 2-3 kali.
7. Latihan Bagian Kaki
• Latihan ini bertujuan untuk menguatkan kaki yang
berfungsi menopang seluruh badan.
• Rebahlah telentang dengan lurus dan datar, kedua belah
tangan rileks di samping kanan dan kiri badan.
• Menirukan gerak dengan cara menggerakkan kepala ke
atas dan bawah, ke samping kiri dan samping kanan,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI119
serta memutar gerak kepala ke arah kiri sebatas
jangkauan gerak atau sebaliknya.
• Peserta secara individu dapat merumuskan dan
menganalisa bagian kepala yang mendapat penekanan
gerak yang tepat.
Kriteria
Untuk tugas di atas peserta ditekankan untuk rnenirukan
gerakan setepat dan sebaik mungkin serta mengetahui letak
penekanan gerak dan bagaimana gerak kepala untuk
digerakkan.
Sikap bagian anggota gerak tubuh bagian tengah. Dengan
memberikan sejumlah gerakan anggota gerak tengah, peserta
dapat meniru dan menganalisa titik sentral gerak yang
mendapat penekanan gerak. Peserta dapat mengkoordininasi
kekuatan dalam mempergunakan otot daya tahan tubuh dan
mengetahui kornponen-kornponen yang ada dalarn tubuh
manusia.
Deskripsi Tugas
1. Menirukan gerakan yang diberikan guru.
2. Menganalisa sentral gerak yang menjadi kekuatan gerak
sekaligus mengetahui hubungan koordinasi gerak secara
tepat, benar.
3. Menirukan dan merangkai gerak yang telah diberikan serta
memberi variasi dan tekanan secara tepat.
Kriteria
Untuk tugas diatas pengajar/guru harus memberi instruksi
sumber gerak yang jelas, agar tidak rnenimbulkan efek
sampingan terhadap gerak yang dilakukan, mengetahui letak-
Ietak gerakan yang benar.
1.2 Sikap bagian anggota gerak tubuh bagian bawah.
- Setelah diberikan contoh gerak yang berdasarkan anggota
tubuh bagian atas, tengah, peserta dapat merumuskan bentuk
dan kecepatan gerak secara praktis dari gerakan kaki dalam
melangkah, meloncat, menjinjit dan dapat menggabungkan
antara gerakan bagian atas, bawah secara baik dan benar.
- Peserta dapat mengetahui kemampuan dalam mengendalikan
keseimbangan tubuh, memahami kemampuan menggunakan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI120
kekuatan dan kelenturan otot dan daya tahan tubuh sewaktu
bergerak
- Peserta dapat memahami kesan garis (desain atas) yang
terbentuk dari perpindahan satu anggota tubuh ke bentuk yang
lain (isolation) berdasarkan ruang, waktu dan tenaga
Deskripsi Tugas
1. Peserta berjalan, melangkah, meloncat, menjinjit dan
menggerakkan kaki dengan cara tumpuan sebelah kaki
sebagai penyangga atau kedua kaki dalam keadaan
melompat, jalan, putar jinjit tidur, rebah dilakukan gerakan
semaksimal mungkin.
2. Peserta mengadakan dan menganalisa komponen-komponen
tubuh yang berkaitan dengan kekuatan dan kelenturan otot
sewaktu menerima beban gerakan.
3. Peserta dapat menganalisa serta menguraikan
mempertahankan keseimbangan kekuatan tubuh
Peserta dapat memilih pola-pola gerakan dalam membentuk
kesan garis, perpindahan gerak, dapat mengontrol dalam
penguasaan ruang, waktu tenaga dilakukan dengan statis dan
dinamis.
Kriteria
1. Untuk tugas diatas, peserta harus banyak berlatih secara rutin
dan serius untuk mencapai tujuan, mendapatkan teknik-teknik
gerak yang mudah dan benar.
2. Peserta mengetahui kekuatan otot serta kelenturan dalam
menerima beban sewaktu bergerak, dapat mengetahui pola-
pola yang ada, memahami garis, bentuk-bentuk gerak dalam
ruang, waktu, tenaga.
1.3. Teknik Gerak Pendingin (Cooling Down)
Peserta mampu melakukan gerak perenggangan serta
pendinginan setelah otot-otot berkontraksi.
Deskripsi Tugas
- Peserta dapat melakukan gerakan-gerakan benturan ringan
dan melakukan peregangan at at secara statis, sehingga
tubuh dapat menjadi segar kembali dan normal.
- Peserta menguraikan gerakan-gerakan ringan sehingga
denyutan nadi menjadi turon.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI121
Kriteria
- Peserta harus dapat mengoreksi gerakan secara terampil dan
memperoleh pengalaman-pengalaman bergerak.
Peserta ditekankan harus memahami teknik benturan ringan dan
berat secara statis dan dinamis.
1.4 Sentuhan Emosional (Keseimbangan, Kekuatan, Kelenturan)
1. Secara langsung.
• Dengan adanya guru memberikan sejumlah instruksi sentuhan
emosional, langsung melalui gerak dengan berpasangan, atau
kelompok (lebih dari 2 orang) peserta dapat memberikan respon
balik terhadap gerakan aksi yang memberi rangsangan sentuhan
gerak, baik dilakukan dengan keseimbangan kekuatan maupun
kelenturan dalam bergerak.
1. Deskripsi Tugas.
• Peserta secara kelenturan, kekuatan, maupun keseimbangan
(fleksible) gerak pribadi, kemudian dapat merespon gerak aksi
yang datang dari luar sebagai rangsang gerak secara langsung.
• Peserta dapat mengetahui secara tepat dan benar, bagian dari
anggota tubuh yang tersentuh gerak aksi secara emosional yang
teratur, untuk selanjutnya digerakkan paling awal sampai akhir,
melalui respon gerak di dalam ruang, waktu, tenaga.
• Peserta dapat menguraikan gerak dan menganalisa gerak
secara mempertahankan keseimbangan tubuh.
Kriteria
• Responsi gerak dilakukan peserta jika bagian anggota gerak
tubuh yang tersentuh/terangsang aksi gerak dari luar harus
digerakkan lebih dahulu.
• Peserta ditekankan dapat mengetahui dan memahami
gerakan pengendalian keseimbangan, kelenturan, kekuatan
gerak tubuh dalam menerima beban sewaktu bergerak.
Secara Tidak Langsung
Jika diberikan instruksi tentang tanggapan (respon) secara tidak
langsung, peserta dapat memberikan umpan balik arti tanggapan
yang datang dari orang lain, untuk mengikuti reaksi tanggapan
gerak secara baik dan benar.
Deskripsi Tugas
1. Peserta dapat memaharni tanggapan gerak secara cepat
untuk merespon gerak.
2. Latihan gerak dan merespon gerak.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI122
Kriteria
Untuk tugas ini, peserta harus teliti dan mengetahui gerak yang
diperoleh dan memberi tanggapan dari awal sampai selesai.
1.5 Rangsang Musik (Music Stimulus) atau iringan.
Peserta diperdengarkan musik tertentu atau musik ilustrasi,
peserta dapat bergerak menurut ekspresi dalam merespon
bunyi dan bergerak praktis dan taktis. Dan peserta dapat
melihat secara cermat dinamika gerak sesuai dengan iringan
yang didengar.
Deskripsi tugas
- Peserta dapat bergerak berirama dengan musik yang didengar
dan dipilih.
- Peserta dapat bergerak melawan irama dan suasana musik
yang didengar.
Kriteria
Untuk tugas ini, peserta hendaknya teliti dan mempunyai
pengalaman yang banyak mendengar musikJiringan yang sudah
ada, sehingga peserta akan mempunyai pengalaman gerak
dengan merespon musik baik secara improvisasi maupun imitasi.
1.3. Paket Garapan Gerak.
Dengan banyaknya pengalaman melakukan gerak yang telah
dilatih, dan dibuat pada materi yang diajarkan, maka peserta
dapat mengkoordinasi, menyusun gerak ke dalam paket
garapan geakan yang naratif secara efektif baik individu
maupun kelompok.
Deskripsi Tugas.
Peserta dapat mencari gerakan yang sesuai dengan gerak yang
diharapkan agar dapat dievaluasi menjadi paket gerak yang
dilakukan secara individu dan kelompok. Peserta mencari dan
mengolah gerak, desain gerak, dinamika dan musik iringan
maupun musik ilustrasi yang dapat mendukung paket garapan.
Kriteria
• Peserta dapat merangkai pola gerak yang telah ada dan
dibuat sendiri.
• Merespon kejelian di dalam mengungkapkan gerak serta
dapat merangkai pola-pola gerak yang telah dipelajari menjadi
paket.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI123
2. Latihan Pola Irama dan Irama gerak
Dalam mementukan porsi latihan yang sebaiknya kalian
lakukan, maka melalui informasi buku ini dapat disampaikan
bahwa bebera kiat dapat kalian pelajari. Kiat dimaksud
sesungguhnya bukan hargamati, namun karena diperhatiakan
beberapa hal pada lembar berikut.
Motif Gerakan Individu
No Anggota Kompetensi Uraian Teknik Keterangan
Gerak Gerak Gerak
1 Anggota Kepala (Caput) Gerakan ke Bentuk dan sikap
Gerak relaksasi samping ke dua kaki rapat
Bagian dengan leher kanan/kiri. (level tinggi,
Atas Gerakan ke sedang, rendah),
depan/belakang. terbuka dan
Gerakan berpaling sikap tertentu
ke kanan/kiri, seperti Tanjak-
memutar ke Tancep, Rapal,
kanan/kiri. Adeg-adeg,
Gerakan supinasi, kuda-kuda,
dan mengayun,
mengangguk,
berputar.
Pronasi pada Badang kontraksi, Pangkal leher
ekstensor rileks, penegangan sebagai
bertumpu pada otot pada seluruh tumpuhan
otot tengkorak anggota tubuh. gerakan, sendi
Gerakan pacak leher berperan
sentral.
gulu, gebesan,
gileg, gelieur,
anggukan dan
gelengan kepala,
tengok kanan/kiri.
2 Anggota Sikap Badan Meliuk-liuk, Gerak Olah
Gerak (Thorax) mengkerut-kerut, Tubuh pada
Bagian pronasi pada pinggul(pelvis) pemanasan
Tengah ruas tulang, berputar dan gerak.
supinasi pada berporos pada
pusat cranum. Pelvis
tumpuhan bergerak sebatas
gerakan yang kemampuan
ada setiap sesuai motif ragam
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI124
sendi yang tari yg dilakukan.
sedang Kontraksi otot di
difungsikan. sekitar Thorax
secara sendiri atau
bersama-sama Gerak spalula
memberi daya pada tari Klono
lentur pada Topeng dan atau
penguatan pada Topeng
gerakan tubuh. Cirebon. Vibrasi
Gerakan badan ke perut yang
samping dilakukan oleh
kanan/kiri, ke Tokoh Jin Besar
depan/belakang. Tuyul dan Yul.
Vibrasi skapula,
ogak lambung,
Pronasi pada
kontraksi tulang
skapula dan perut
membentuk
gerakan khsusus.
Bentuk dan Gerakan bahu- Bentuk dan sikap
sikap anggota skapula ke tangan bergerak
gerak tangan. atas/bawah, secara sendiri.
Gerakan supinasi ke depan, Bentuk dan sikap
bervariasi. belakang. tangan-kordinasi
Grakan tangan dengan anggota
lurus, tekukan gerak yang lain.
pada siku, tekukan
pada palmar
tangan, serta
gerakan jari-jari
melakukan gerak Sikap palmar dari
pada bentuk dan tangan Ngiting,
sikap motif gerak Nyempurit,
tertentu atau Ngruji, dan
khusus. sikap tangan
Gerakan kordinatif pokok. Bentuk
pada sendi dan Sikap
bertumpu pada gerakan tangan
sentral gerak Elieu pada gerak
bahu, lengan atas, dasar tari India,
lengan bawah, Nyeluntir pada
palmar tangan, tari gendhing
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI125
dan jari-jari Sriwijaya, dan
membentuk sikap Nguya pada tari
tertentu. Motif grak dasar Thailand.
tari tertentu yang Gerak dasar
digerakan secara tersebut bila
ideal sesuai dipadu dengan
tuntutan frase gerak dasar
ragam gerak tari. senam dan gerak
pemanasan
mampu melatih
gerak tangan
sesuai porsi dan
penegangan
pada gerak tari
tertentu atau
merupakan
penegangan
tangan semata.
Pelvis sebagai Goyang pinggul ke Harmoinisasi
penopang, kanan/kiri dengan goyang pinggul,
Cranum volume dan memberi kesan
sebagai reaktivitas gerak gerak seksi bagai
otorizet. tertentu. orang lain.
Gerakan dan Kecepatan, Goyang plastik,
getaran macam goyangan, goyang pantat
pinggul, dilakukan sesuai pada Jaipongan,
sensualitas, keterampilan goyang pinggul
kelenturan individu, masing- oleh penyanyi
pada paha, masing berbeda- dangdut.
beda.
Kolumna
vertebralis,
berfungsi
sebagai
penyengga dan
tumpuhan
gerak bertugas
menopang dan
mengkontrol
gerakan
3 Anggota Support Kaki Kepala Gerakan Jalan,
Gerak (Ladix) mengangguk- Geser, Kengser,
Bagian angguk-badan jalan kaki pada
Bawah merunduk, kepala tarian kuda-kuda,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI126
menggeleng kaki berputar
badan mengikuti dengan tumpuan
sikap gerak satu atau kedua
kepala. Kepala – kaki adalah
badan berputar dominasi gerak
bersama dengan anggota bawah.
berguling atau Teknik
variasi gerakan Tumpuhan kaki
kpala badan dan pada tari balet,
kedua tangan Salto, loncat
bergoyang dalam harimau, strugel
posisi track di udara,
membungkuk, kiprah perang
semua gerakan pada tari-tarian
dilakukan dalam Yogyakarta.
posisi kedua kaki
rapat atau jika
mungkin bertumpu
satu kaki.
4 Anggota Kontraksi Kepala Gerakan tersebut
Gerak gerakan mengangguk- dilakukan pada
Atas dan kepala-badan angguk-badan saat olah tubuh.
Bawah dari supinasi merunduk, kepala Gerak pada tari
kerangka axial. menggeleng Rebana/Rangguk
Anggota gerak badan mengikuti (Jambi)
atas-pinggul sikap gerak peragaan gerak
kerangka kepala. Kepala – sering dilakukan.
tulang badan berputar Peragaan gerak
(appendikuler) bersama dengan motif Rodat,
berguling atau Zamrah, dan tari-
variasi gerakan tarian berciri
kpala badan dan kerakyatan
kedua tangan mengutamakan
Kepala-badan- bergoyang dalam gabungan gerak
tangan dengan posisi anggota tubuh
melakukan membungkuk,
penegangan semua gerakan Gerak pada tari
kaki-kepala dilakukan dalam Belibis (Bali) Tari
posisi kedua kaki Merak (Jawa-
proksimal-
rapat atau jika Sunda) seperti
sentripetal
mungkin bertumpu gerakan burung.
satu kaki.
Kepala mematuk- Gerak rol, loncat
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI127
matuk, kaki harimau, Keept
lenagkah ke up
depan/belakang,
samping
kanan/kiri.
Tekukan kepala
dan kaki lurus
pada gerak roll
atau guling
5 Anggota Sinartrosis, Sinkronisasi gerak Jalan lurus,
Gerak sinkondrosis, tulang dan jaringan Lampah
Atas- sinfibrosis, dimana kedua Ringdom, Putar
Tengah- diarthrosis tulang antara tidak tangan sikap
Bawah terjadi efek kaki jalan lurus
gerakan. ke smua
penjuru,
Kordinasi ke2 Putaran Tubuh
tulang yang ke semua arah.
berhubungan oleh
adanya jaringan
tulang rawan yang
beroperasional Tegak dan
secara tepat. bongkok badan.
Pacak Gulu,
Kedua tulang yang Gileg, Galier,
beroperasional dan Godeg.
dihubungkan oleh
tulang tengkorak.
Gelang
kepalaangguk-
Kedua tulang tidak anggukan
saling menunjang kepala, tengok
gerak. Gerakan kanan /kiri
dilakukan pada Putar kaki
sendi peluru, sendi dasargerak
poros pada tulang balet.
bahu, tulang
panggul, serta Gerakan
pada karpal dan merendah atau
falang. mendak,
Sinkronisasi Nindak,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI128
karpal dan falang Tanjekan,
dalam menunjang Mapal, Ngeseh,
gerakan secara dan variasi
terpadu. gerakan kepala,
badan, tangan,
dan kaki.
Tabel 2.3 Motif gerak Individu
Motif Gerakan Berpasangan atau Kelompok
No Anggota Kompetensi Uraian Teknik Keterangan
Gerak Gerak Gerak
1 Anggota Kepala (Caput) Gerakan Bentuk dan sikap
Gerak supinasi duduk (tari Saman)
Bagian ayunan, atau kedua kaki
Atas anggukan, (level tinggi, sedang,
berputar. rendah) pada tari
Saudati, tari garapan
lain.
1 Anggota Badan(Thorak) Gerakan Bentuk dan sikap ke
Gerak relaksasi dan dua kaki rapat (level
Bagian supinasi tinggi, sedang,
Tengah anggota tubuh rendah), terbuka dan
secara periodik sikap tertentu seperti
dan temporer. Tanjak-Tancep,
Rapal, Adeg-adeg,
kuda-kuda.
Gerakan Tari Topeng
Cirebon, dan topeng
Klono.
1 Anggota Kaki(Ladix) Gerakan Bentuk dan sikap ke
Gerak supinasi slip, dua kaki rapat (level
Bagian step, lenso, tinggi, sedang,
Bawah straidel. rendah), terbuka dan
sikap tertentu seperti
Tanjak-Tancep,
Rapal, Adeg-adeg,
kuda-kuda,
Tabel 2.4
Gerak tari kelompok
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI129
E. PENGUASAAN GERAK OLAH TUBUH
1. Latihan Pemanasan
Program latihan penting bagi siswa dan guru. Latihan-
latihan menjadikan rangkaian program latihan yang cocok dapat
disesuaikan dengan kebiasaan kita masing-masing atau jadwal
pelajaran yang berlaku dalam Olah Tubuh.
Program latihan hendaknya dirancang agar dapat membangun
kekuatan tubuh, mengembangkan kelenturan fisik, serta latihan
olah tubuh dapat merubah bentuk badan, membakar lemak,
mengencangkan otot, dn berpenampilan indah dan menarik.
Tujuan pernafasan untuk meningkatkan kecepatan nadi,
memanaskan dan mengencangkan otot di setiap bagian tubuh ,
sehingga bermanfaat bagi tubuh untuk melakukan gerakan
selanjutnya. Musik digunakan sebaiknya yang dapat memberikan
stumulus untuk bergerak agar lebih semangat dn agreasif. gai
Gerakan pemanasan dapat dilakukan 10 menit,
• Gerakan bagian kepala dan gerakan bagian leher,
• Gerakan bahu, lengan bersama dengan bagian samping,
• Otot dada, bahu, dan panggul,
• Otot pinggul,
• Otot tungkai dan pinggang,
• Sehabis latihan istirahat 2 menit kemudian lakukan gerakan
inti
Keuntungan pemanasan
• Otot dapat berkontraksi secara cepat, dan mampu
merespons gerak secara reflektif.
• Menghindari cedera,
• Menambah kepekaan syarat,
• Mengoptimalkan kordinasi gerakan secara baik,
• Pembuluh darah lebar, sehingga aliran darah lancer.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI130
2. Latihan Inti
1. Latihan Inti (Latihan Kelenturan)
• Untuk menyusun ragam-ragam gerak secara utuh,
dirangkai, elemen-elemen gerak yang satu dengan yang
lain.
• Selama latihan harus dengan percobaan dan memadukan
dengan gerak yang telah dipelajari.
• Ada lima elemen posisi dasar gerak untuk kepentingan
Olah Tubuh adalah
1. Sikap Jongkok
Caranya duduk jongkok dengan mendekatkan lutut ke
dada. Telapak kaki jinjit dengan tangan memegang lutut
atau direntangkan ke depan. Tumpuhan berat badan
pada ujung telapak kaki (lakukan beberapa menit).
(Latihan Kelenturan)
2. Sikap Nungging
Caranya dalam
sikap nungging
gerakan
melibatkan pinggul
dan kepala lurus
ke bawa, lutut
tetap lurus kaki
tetap menapak ke
lantai kedua
tangan menyentuh
lantai.(lakukan
gerakan beberapa
menit).
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Perhatikan Gambar. 2.69 Sikap jengkeng santai, kontraksi pada kaki
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI131
1. Lanjutan
3. Sikap Jinjit
Caranya posisi berdiri dengan ujung kaki Gambar
semaksimal
mungkin. Kekuatan badan dalam posisi jinjit, tangan
tarik julurkan dengan pandangan lurus ke depan.
Badan ditopang oleh kedua ujung jari kaki dan
konsentrasi penuh.
Tarikan kencang pada betis, otot tungkai, dan telapak
kaki sehingga tumpuhan menjadi kokh dan kuat
(lakukan beberapa menit).
2. Latihan Inti (Latihan Kekuatan)
4. Sikap Kangkang
Caranya badan dan kepala tegak kedua kaki
direntangkan ke samping. Pandangan lurus ke depan
dengan konsentrasi penuh.
Rasakan tarikan otot meregang, manfaatkan otot menjadi
kuat daya tahan mekin kuat.
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Perhatikan gambar 2.70
berdiri santai, kontraksi pada kaki dan menyangga bambu pada tari Bambu Gila
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI132
3. Pemanasan
Berdiri sambil mengangkat tumit digerakan secara bergantian
hitungan 1-8
• Posisi dan gerakan kaki sama, sambil mengayunkan tangan,
• Posisi dan gerakan sama, akan tetapi memutarkan pergelangan
kaki
2. Melompat dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Tangan di depan
memegang mulut.
3. Otot dapat berkontraksi secara cepat, dan mampu merespons
gerak secara reflektif.
4. Berdiri dengan tumpuhan ujung jari, perut diperkecil ke dalam ke
dua tangan ke atas setinggi jangkauan.
5. Berjalan di tempat,
6. Lari-lari di tempat,
7. Latihan gerakan kepala, tarik leher ke kanan dan ke kiri.
Tundukan kepala ke depan dan ke belakang tahan hingga 3
menit.
8. Gerakan mengangkat bahu (posisi berdiri dengan kaki terbuka,
9. Gerakan bagian lengan (lengan diangkat setinggi bahu),
10. Latihan pinggang, putar pinggang sesuai arah jarum jam,
gerakan putaran sebaliknya.
11. Ayunan ke dua tangan ke samping, tarik ke belakang diikuti
badan (putar), lalu kedua tangan tarik ke atas. Bungkukan badan
dan ikuti gerakan tangan ke bawah menyentuh lantai. Posisi
kembali semula.
12. tarik bagian pinggang kiri ikuti gerakan tangan kiri ke atas
samping, tangan kanan ke bawah. Kembali ke posisi semul dan
gerakan ulang sebaliknya.
13. Lakukan tekukan ke depan agar pinggang mendapat posisi
gerak seimbang. Posisi pinggul dan kepala mengikuti badan ke
bawah tekuk dengan ke dua tangan bersentuhan dengan melipat
tangan di depan dada.
14. Gerakan bagian lutut angkat kaki kanan dan kaki kiri tahan
(lakukan bergantian)
15. Lutut kanan tekuk hingga menempel lantai, lutut kiri dan telapak
kaki menapak atau menempel lantai lakukan 8 kali. Secara
bergantian.
16. Kedua lutut lurus, keseimbangan gerak dipertahankan tarik
badan dan tangan ke depan kaki lurus posisinya, tahan pinggul
sehingga nampak elastis.
17. Meregang otot lutut, pegang bawah ini adalah sikap badan
Perhatikan gambar-gambar di kaki/betis sehingga dasar
gerak
membungkuk rasakan tarikan tumit. Tarik tangan kiri ke
betis/paha kanan tangan kanan lurus ke atas lakukan sebaliknya.
18. Pegang kedua pergelangan kaki/betis lakukan tarikan badan ke
bawah tarik nafas teratur. Gerakan ulang, selanjutnya kembali
posisi semula.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI133
4. Latihan Inti (Penguasaan Keterampilan Gerak)
• Penguasaan keterampilan dapat menambah kemantapan Olah Tubuh.
Gerak dasar tari tradisi dan gerak olah tubuh yang dijadikan sebagai inti
latihan misalnya:
• Melakukan gerakan kaki,
• Ayunan tangan,
• Lompatan,
• Putar-jonkok,
• Gerak-gerak tari tradisional dan Nontradisional,
• Motif-motif gerak keterampilan menggunakan alat,
• Penghayatan total Olah Tubuh dengan diiringi irama musik sederhana,
variasi untuk membantu penghayatan, dinamika gerak, keindahan gerak,
penghayatan dengan memakai property.
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Perhatikan gambar 2.71 berdiri jinjit, putaran, dan penguatan pada kontraksi
pada kaki dengan penguasaan payung tari Ngebayak
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI134
Gerakan berikut adalah, tangan bertumpu di lantai, badan
membungkuk, dorong kaki kanan dan kaki kiri secara bergantian.
Lakukan beberapa kali gerakan ini.
• Latihan otot dengan dorongan kaki ke belakang, tangan ke
atas berlawanan dengan kaki . Laian, beberapa kali
gerakan, ulang!.
• Lakukan gerakan kaki maju ke depan, dengan pinggul
lakukan kengser, lenggang, dan lain lagi.
• Gerakan pinggng otot kaki regang, pantat, pinggul, ke
belakang. Atau kamu dapat melakukan gerakan tradisional.
• Goyang Plastik, goyang pantat).
• Gerakan tangan dn pergelangan buka –tutup. Posisi kaki
terbuka dan merendah.
• Gerakan posisi duduk/tiduran angkat kaki membentuk
huruh V dan lakukan senam jenis gerakan kaki terbuka.
Posisi tidur tertelungkup menutup dan membuka pangkal
lutut.
• Gerakan kaki angkat-jatuhkan kembali dengan membentuk
sudut 90 derajat. Gerakan Sit UP.
• Gerakan kaki semacam Balet.
• Gerakan otot paha. Duduk lakukan berapa macam posisi
duduk, sila, dan simpuh badan ditopang ke dua kaki.
• Telapak kaki rapatkan
• Duduk Kedua kedua kaki diluruskan Gerakan
mengencangkan paha
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Perhatikan gambar 2.72 berdiri santai, kontraksi pada kaki dan tangan yang
melakukan tendangan, lipatan kaki serta menyangga bambu sambil bergerak.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI135
1. Sikap badan berdiri atau duduk letakan kedua tangan
di atas paha arah telapak ke atas,
2. Tarik nafas perut, tahan 4 detik.
Posisi sama tarik kedua telapak tangan sambil
mengepal letakan ke depan dada. Lalu menurunkan
kepala sedikit mata dipejamkan.
3. Hirup nafas dalam-dalam lakukan selama 12 detik
bayangkan keberanian, dan rasa kepercayaan diri.
4. Berdiri dengan satu kaki berada di depan jaraknya
dua kaki 60 cm kuda-kud depan, kaki belakang
berjingkat tangan di pinggang. Tarik nafas tahan lalu
keluarkan sambil berteriak sekeras-kerasnya
......................aaaaach.
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Perhatikan gambar Gb. 2.73 Duduk santai, perpindahan formasi, kontraksi pada
kaki pada tarian Aceh di atas
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI136
1. Untuk kekuatan tangan sikap berdiri kuda-kuda (jarak
kaki 60 cm) tubuh tegak ke depan.
2. Sikap tangan seperti orang sedang sembah. Tetapi
kedua telapak tangan jangan sampai merapat kira-kira 2
cm, jarak pandang lurus ke depan.
3. Hirup nafas perlahan melalui hidung, tahan, lalu sambil
tarik tangan kanan gunakan nafas perut, sambil gunakan
kekuatan alam (bentuk posisi tangan seperti memanah)
kaki sedikit teknik, sikap dipertahankan., lalu hembuskan
nafas perlahan-lahan dalam waktu 8 detik.
4. Gerak Ulap-ulap (melihat) sikap berdiri kaki sedikit
terbuka, arah lutut kaki ke depan ke dua tangan lurus.
Lakukan gerakan tarik kedua tangan ke dalam dekat dada,
tahan nafas. Hembuskan perlahan-lahan 8 detik tahan di
tenggorokan, hembuskan nafas.
5. Pernafasan perut
Posisi bisa berdiri bisa duduk.
Tarik nafas dengan pernafasan perut dalam waktu 10-12
detik. Sambil membayangkan kekuatan alam hirup udara
tarik kedua siku sampai ke belakang, perlahan-lahan
kepala menengadah, dada tarik ke depan kedua bahu tarik
ke belakang. Tahan 10-12 menit. Hembuskan nafas sambil
bayangkan semua sikap ragu-ragu, bimbang.
Posisi masih berdiri dengan kedua tangan merentang ke
samping. Ujung ke dua tangan diputar perlahan-lahan buat
lingkaran kecil makin lama makin melebar. Seluruh otot
tanganotot bahu, punggung di regangkan.
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Perhatikan gambar 2.74 berdiri santai, kontraksi pada tangan dan jari pada tari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI137
1. Kordinasi gerak olah tubuh/tari traisional dan tari
Nontradisional dengan menggunakan property sebagai
gerak Inti. (Hal 24 dan 75).
2. Apabila ingin memunculkan gerakan-gerakan ekspresif
dan kreatif dalam latihan, maka sumber-sumber gerak
tari dapat diperoleh dalam aktivitas kehidupan sehari-
hari. Gerak tradisional dan gerak Balet dan lainnya
sebagai variasi.
3. Kordinasi alat dengan gerak juga berkaitan dengan
penguasaan teknik.
4. Batasan gerak untuk latihan melihat kebutuhandan
kondisi latihan.
5. Besar-kecil jangkauan gerak yang dilatih ada
hubungannya dengan perasan kita.
6. Perubahan gerak lembut ke keras atau kuat erat
kaitannya dengan perasaan. Untuk itu siswa harus
melakukan olah tubuh sesuai kebutuhan latihan dan
penguasaan teknik dasar gerak, disiplin latihan dan
cara merancang pola-pola gerak ruang dan waktu
irama, dan alat disesuaikan dengan keinginan kita.
Sumber GNP TMII Jakarta
Perhatikan gambar 2.75 berjalan sambil melayang santai, kontraksi pada kaki,
daerah perut, dan kedua tangan pada tari tradisional
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI138
3. Pendinginan
3.1 Latihan pendinginan adalah untuk mengembangkan
kondisi fisik dan otot kepada kondisi semula. Kegunaan
pendinginan adalah :
• Mengendorkan otot,
• Menurunkan suhu tubuh,
• Mengurangi ketegangan,
• Proses relaksasi dan denyut jantung nadi kembali
normal.,
• Latihan penutup.
Gerakan latihan yang dapat dilakukan adalah gerakan yang
bersifat ringan, dan lambat.
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Perhatikan gambar 2.76 duduk santai, berdiri jongkok, kontraksi kaki dan
tangan yang merentang pada saat jengkeng putri pada tari Nyi Kembang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI139
Latihan Pendinginan
• Posisi tidur relaks, gerak kedua kaki secara perlahan tarik atau
rapatkan dan letakan kedua tangan di atas posisi perut
• Turunkan relaks,
• Posisi berdiri dengan merentangkan kedua tangan sejajar lalu
tangan ayunkan,
• Duduk pegang kedua lutut sambil menarik nafas pelan-pelan
badan ditidurkan atau terentang jari-jari tangan dan kaki
kendorkan.
• Berdiri perlahan-lahan, Ayunkan tangan, busungkan dada, tarik
salah satu tangan ke atas pandangan seolah-olah berada
diawang-awang,
• Perhatikan beberapa hal dalam pendinginan. Kembalikan tubuh
ke posisi awal, sehingga kondisi dapat segar kembali.
• Pendinginan lakukan 3-5 menit.
• Tidak ada istirahat pada sat pendinginan.
• Gerakan pelan agak lembut, relaks,
• Musik iringan yang lembut dapat digunakan untuk membawa kita
pada hal yang lebih relaks dan tidak ada beban.
• Latihan pendinginan tahan nafas kemudian hembuskan,
• Rasakan semua oto dan aliran darah kita relaks,
• Lakukan gerak sesuai dengan teknik gerak, wiraga, wirama,
wirasa,
• Pilih musik etnik yang kamu suka,
• Latihan dilakukan secara individu, berpasangan, kelompok dan
pola lantai secara bervariasi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI140
Gerakan Olah Tubuh dan Latihan
No Uraian Gerak Pola Lantai Pola
Hitungan
1 Badan berdiri tegak, Di lakukan di Dua kali 1-8
sikap pandangan tempat
mata lurus ke depan,
tangan bertolak
pinggang. Lakukan
gerak gelengan
kepala tunggal dan
ganda ke kanan dan
ke kiri secara
bergantian.
2 Badan berdiri tegak, Idem Dua kali 1-8
sikap pandangan
mata lurus ke depan,
tangan bertolak
pinggang. Lakukan
gerak anggukan
kepala secara tunggal
dan ganda ke atas
dan ke bawah secara
bergantian.
3 Badan berdiri tegak, idem Dua kali 1-8
sikap pandangan
mata lurus ke depan,
tangan bertolak
pinggang. Lakukan
gerak menengok/
menolehkan kepala
tunggal dan ganda ke
kanan dan ke kiri
secara bergantian.
4 Badan berdiri tegak, Pola lintasan Empat kali
sikap pandangan dapat garis hitungan 1-8
mata lurus ke depan, lurus, lingkaran,
tangan bertolak atau dalam
pinggang. Lakukan formasi sesuai
gerak jalan dengan kebutuhan
langkah kaki secara
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI141
sedikit terbuka pada
anggota gerak lutut
dan paha. Gerak ini
dapat dilakukan
bergantian kaki kanan
da kiri.
5 Badan berdiri tegak, Gerakan di
sikap pandangan tempat
mata lurus ke depan,
tangan bertolak
pinggang. Lakukan
gerak kepala memutar
ke arah kanan
membentuk 360
derajad. Gerakan
kepala dapat
dilakukan ke arah kiri
atau arah sebaliknya.
Badan berdiri tegak, Idem
6
sikap pandangan
mata lurus ke depan,
tangan bertolak
pinggang. Lakukan
gerak menganagkat
bahu dan
menurunkan bah
Gerak ini dilakukan
bergantian.
Badan berdiri tegak, Idem
7
sikap pandangan
mata lurus ke depan,
tangan bertolak
pinggang. Lakukan
gerak memutar sendi
bahu ke depan dan ke
belakang dengan
gerak cepat atau
lambat. Gerak ini
dapat dilakukan
bergantian arah atau
sebaliknya.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI142
Badan berdiri tegak, Idem
8
sikap pandangan
mata lurus ke depan,
tangan melebar ke
samping kanan/kiri.
Lakukan gerak
memutar tangan ke
arah depan dan
belakang secara
bergantian. Gerakan
memutar tangan
dapat dilakukan
secara cepat / lambat
secara bergantian.
Badan berdiri tegak, Idem Delapan kali
9
sikap pandangan hitungan 1-8
mata lurus ke depan,
tangan bertolak
pinggang. Lakukan
gerak jalan dengan
langkah kaki secara
sedikit terbuka pada
anggota gerak lutut
dan paha. Gerak ini
dapat dilakukan
bergantian kaki kanan
da kiri.
Badan berdiri tegak, Dua kali 1-8
10 Idem
sikap pandangan mata
lurus ke depan, tangan
angkat ke atas dan
lakukan gerakan jari
meregam secara
bertahap. Gerakan
menjulurkan tangan ke
atas baik tangan kanan
dan kiri secara
bergantian. Posisi kaki
jinjit seolah-olah
meraih benda yang
berada paling jauh.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI143
Posisi badan tetap Berdiri di Dua kali 1-8
11
berdiri tegak, sikap tempat di
pandangan mata lurus selingi dengan
ke atas mengikuti alur berjalan setapat
gerak tangan, tangan demi setapak
kiri lurus ke atas sambil
meregam jari jemari
seolah-olah meraih
sesuatu yang ada di
atas. Gerakan ini dapat
dilakukan dengan
kedua kaki jinjit.
Pindahkan posisi idem Dua kali 1-8
12
badan tetap berdiri
tegak, sikap
pandangan mata lurus
ke atas mengikuti alur
gerak tangan, tangan
kanan lurus ke atas
sambil meregam jari
jemari seolah-olah
meraih sesuatu yang
ada di atas. Gerakan
ini dapat dilakukan
dengan kedua kaki
jinjit.
Atur posisi badan tetap idem Dua kali 1-8
13
berdiri tegak, buka
tangan ke arah
samping hingga
membentuk huruf V,
sikap pandangan mata
lurus ke depan
putarkan badan ke
kanan-ke kiri, ayunkan
ke dua tangan ke sisi
kanan- ke kiri. Gerakan
ini dilakukan secara
bergantian.
Atur posisi badan tetap idem Dua kali 1-8
14
berdiri tegak, kemudian
buka kaki hingga posisi
merentang rendah,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI144
tangan ke arah
samping hingga
membentuk garis lurus.
pandangan mata lurus
ke depan atur posisi
sikap badan
merendah-naik secara
periodik. Gerakan ini
dilakukan naik turun
secara bergantian.
Tangan sebelah Berjalan Tiga kali 1-8
15
ditekuk ke arah dada, memutar atau
tangan sebelah lainnya di tempat
lurus horisontal sejajar
dengan bahu, atur kaki
kaki kiri sebelah
ditekuk ke luar, dan
sebelah lainnya
diluruskan. Posisi
badan tempat
merendah ke arah
samping. Posisi badan
rendah ke samping.
Dengan itu saling
berhadapan..
Atur posisi badan tetap idem Tiga kali 1-8
16
berdiri tegak, buka
tangan ke arah
samping hingga
membentuk huruf V,
sikap pandangan mata
lurus ke depan
putarkan badan ke
kanan-ke kiri, ayunkan
ke dua tangan ke sisi
kanan- ke kiri. Gerakan
ini dilakukan secara
bergantian.
Posisi badan terbuka Idem 24 Tiga kali 1-8
17
merendah, tangan
membuka arah
samping lurus hingga
membentuk huruf I,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI145
jari-jari lurus
pandangan mata lurus
ke depan putar badan
ke kanan-kiri putarkan
badan ke kanan-ke kiri,
ayunkan ke dua tangan
ke sisi kanan-ke kiri.
Gerakan ini dilakukan
bergantian.
Tangan sebelah Posisi Dua kali 1-8
18
ditekuk ke arah dada, tergantung
sebelah tangan lainnya kebutuhan atau
luus. Atur posisi badan sesuai
merendah ke samping kehendak
kanan, dengan saling
membelakangi. Kedua
tangan lurus ke depan,
kaki sebelah kaki
kanan ditekuk dan kaki
kiri lurus kesamping.
Posisi badan
merendah ke depan.
Badan berdiri tegak, Idem Dua kali 1-8
20
pandangan lurus ke
depan, tangan di
samping paha
Ke dua kaki lurus ke Idem
21
depan, kaki sebelah Dua kali 1-8
ditekuk dan sebelah
lainnya diluruskan,
pandangan mengarah
kaki yang lurus setapak
ke depan. Pandangan
ke arah depan, badan
merendah arah
pandangan menatap
depan ias berulang
tahun.
Posisi badan sedikit Idem Dua kali 1-8
22
membungkuk, tangan
lurus sejajar dengan
bahu membentuk
garislurus horisontal.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI146
Kaki kanan mundur
selangkah, kaki kiri
kunci di tempat
pandangan ke depan
posisi badan medium
menghadap depan.
Posisi badan rendah Idem Dua kali 1-8
23
dengan tangan lurus ke
bawah vertikal sambil
menahan, dun gerakan
kaki sebelah kanan
ditekuk sebelah kiri
lurus.
Posisi badan rendah idem Dua kali 1-8
24
dengan tangan sejajar
dengan bahu
horisontal, kakai kanan
ditekuk 90 derajad dan
kaki kiri lurus. Arah
hadap ke depan.
Posisi badan rendah idem Dua kali 1-8
25
kemudian berguling ke
arah kanan, putaran ke
kanan maksimal
hingga ke posisi
tertelungkup, untuk
kembali posisi semula
posisi badan
merendah.
Posisi badan tidur idem Empat kali
26
lurus, badan berguling hitungan 1-8
sehingga terlentang,
kemudian merunduk
jongkok hingga menuju
posisi berdiri
sempurna, selanjutnya
melompat setinggui-
tingginya. Berteriak ach
melepaskan
pergerakan tubuh
secara sempurna.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI147
Berdiri tegak tangan idem Dua kali 1-8
27
kanan membentuk
sudut 45 derajad,
tangan kiri di samping
paha kaki kanan dan
kaki kiri melangkah ke
depan, arah hadap
muka searah dengan
tangan.
Atur sikap posisi badan Idem Dua kali 1-8
28
membungkuk, tangan
kanan siku-siku 45
derajad tangan kanan
lurus horisontal ke
depan, kaki kiri
melangkah ke
belakang arah hadap
ke bawah.
Posisi berdiri satu kaki, idem Dua kali 1-8
29
kaki kanan ditekuk
dipegangi tangan kiri,
tangan kanan lurus
dialgonal, badan dan
mrmbongkok sambil
mengganti posisi sikap
sempuna.
Posisi badan idem Dua kali 1-8
30
menunduk, berdiri
dengan tumpuan kaki
kiri, kaki kanan
dikebelakangkan lurus
di sehingga.
Posisi badan Dua kali 1-8
31
membongkok, kedua
tangan ditelepaskan
hingga tergantung
relaks, kemudian
lipatkan ke dua tangan
ke atas selanjutnya
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI148
kedua tangan
dilipatkan hingga lurus
vertikal, tepat berada di
belakang punggung
dan arah hadap ke
bawah. Posisi gerakan
diulang secara
berturut-turut
Posisi badan idem
32
membungkuk Dua kali 1-8
perlahan-lahan menuju
siikap sempurna, ke
dua kaki melebar, dan
tangan membentu
huruf V ke atads sesuai
harapan penata gerak,
Posisi berdiri satu kaki, idem Dua kali 1-8
34
badan condong ke
depan dan kaki kanan
tekuk pegangi dengan
tangan tangan kanan,
luruskan kaki kanan
kemudian ke belakang
sehingga posisi seperti
terbang. sambil
menahan posisi dan
gerakan kaki sebelah
kanan lurus badan
semakin condong ke
depan, sehingga badan
lurus dengan kaki
kanan..
Posisi badan rendah idem Dua kali 1-8
35
dengan tangan lurus ke
bawah vertikal sambil
menahan, dun gerakan
kaki sebelah kanan
ditekuk sebelah kiri
lurus.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI149
Posisi badan rendah idem Dua kali 1-8
36
dengan tangan lurus ke
bawah vertikal sambil
menahan, dun gerakan
kaki sebelah kanan
ditekuk sebelah kiri
lurus. Dalam
melakukan gegakan ini
penguatan otot perut,
ketegangan pada
bagian kaki juga harus
dirasakan. Hal ini untuk
menentukan
keberhasilan tujuan
gerakan yang
menekankkan
penguatan otot perut,
kaki, dan pinggul.
Pola gerakan berikut Membuat Hitungan dan
37
adalah pada tahap lingkaran atau posisi
awal lari biasa dan garis lurus ke tergantung
membuat lingkaran, depan pada kebutuhan
pada saat yang tepat ruang yang atau sesuai
gunakan kecepatan lari luas. tempat
dengan lompatan kaki latihan
setinggi mungkin
dengan jangkauan
gerak yang jauh. Posisi
dan sikap badan tegak,
kekuatan gerak pada
bagian pelvis atau
pinggul. Kaki
diupayakan lurus ke
depan dan ke belakang
bila beluk mampu
minimal sikap kaki
harus tetap lurus.
Pola gerakan berikut Membuat Hitungan dan
38
adalah melompat lingkaran atau posisi
dengan posisi dan garis lurus ke tergantung
sikap tubuh tegap. depan pada kebutuhan
Lompatan dilakukan ruang yang atau sesuai
dengan teknik luas. tempat
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI150
melipatkan kaki latihan
sedalam mungkin ke
arah dada, kaki lainnya
melipat ke arah
pinggang. Pada saat
diudara gunakan
keseimbangan gerak
dengan menjaga posisi
tubuh seperti terbang,
sehingga tidak banyak
beban yang diambil,
atau daya meringankan
tubuh harus dilakukan
sehingga pada saat
melayang tidak
terdapat kontraksi pada
bagian tubuh
manapun. Kondisi ini
apabila tercipta maka
potensi gerak dan
teknik melayang
diudara menjadi bentuk
gerak yang indah,
tanpa ada ikatan yang
saling tarik menarik
kontraksi pada seluruh
anggota gerak yang
digunakan pada saat
bergerak.
Gerakan repertoar Membuat Hitungan dan
39
yang agak sulit apabila lingkaran atau posisi
dapat dilakukan garis lurus ke tergantung
menjadi bagus. Cara depan pada kebutuhan
dan teknik yang sudah ruang yang atau sesuai
dilihat adalah pada luas. tempat
gambar 2.40. Uraian latihan
geraknya adalah lari
perlahan, kemudian
mempercepat lari untuk
mendapatkan waktu
untuk mengembangkan
kaki ke arah sisi kanan
atau kiri. Pada saat
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI151
melompat usahakan
kaki, badan dan
seluruh tubuh dalam
posisi miring ke
samping tetap tegap
dan apabila mungkin
maksimal hingga posisi
kemiringan 45-60
derajad ke arah
samping. Setelah
pada posisi kemiringan
yang maksimal dapat
dilakukan, rapatkan
kaki pada sisi tujuan
gerak untuk
mengepaknya
sehingga tujuan
maksimum kemiringan
tubuh diimbangi
dengan posisi sikap
kaki yang mencapai
maksimal ke arah
samping.
Sinkronisasi gerak ini Membuat Hitungan dan
40
harus dilakukan secara lingkaran atau posisi
berpasangan. garis lurus ke tergantung
Rapatkan tubuh depan pada kebutuhan
dengan posisi saling ruang yang atau sesuai
bertemu badan. Kedua luas. tempat
peraga saling mengkait latihan
tangan untuk saling
jaga keseimbangan.
Salah satu peraga
kemudian membentuk
posisi kangkang dan
mengangkat tubuh
peraga lain untuk
berada di atas
punggung peraga yang
mengambil posisi sikap
kuda-kuda kangkang.
Jaga kedua belah
pihak dalam kondisi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI152
seimbang. Gerakan
berikut dapat dilakukan
oleh peraga yang
berada di atas
punggung peraga yang
berada di bawah.
Lakukan dengan
membentuk disain kaki
terbuka ke samping,
lurus ke atas, memutar
kaki ke sisi kemana
tujuan dapat dilakukan.
Kesimbangan gerakan
kedua peraga harus
kerja sama sedemikian
baik, sehingga terjaga
teknik dan cara
melakukan gerakan
secara sempurna serta
sikap kuda-kuda yang
tidak mudah goyah.
Gambar Tabel 2.5 Gerakan dan pola lantai
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI153
BAB III
TARI-TARIAN INDONESIA DAN
MANCANEGARA
A. Tari-Tarian dan Masyarakat Indonesia
Para siswa yang kami cintai, pada pembahasan bab ini
kalian akan dikenalkan banyak seni tari tradisi di Indonesia.
Indonesia adalah negara yang kaya atas keragaman budaya dan
suku bangsa. Setiap suku bangsa dan budaya memiliki ciri dan
kekhasan yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah
lainnya. Perpaduan budaya antar suku bangsa dapat
mempengaruhi perubahan. Hal ini disebut akulturasi. Perbedaan
pengaruh budaya dari satu suku bangsa dan suku bangsa lain
terjadi karena adanya kontak budaya dan hal ini sulit dihindari.
Pengaruh tersebut sa;ah satunya terjadi pada budaya seni tari.
Pada tari klasik Jawa Yogyakarta dan Surakarta dikenal
istilah Hasto Sawando, yang tertuang pada sikap tubuh, tangan
dan kaki yang antara lain adalah ngithing, nyempurit, ngepel,
ngruji. Konsep tentang sikap tari tersebut di Jawa dipahami
sebagai bentuk sikap anggota gerak yang kerap disebut motif
tangan, kaki, dan badan.
Pada tari-tarian manca daerah, tarian merupakan bentuk
seni pertujukan, akan tetapi pada sisi tertentu tarian merupakan
bentuk ritual upacara dan perayaan hari besar di daerah tertentu
pula. Kondisi ini menggambarkan bahwa perbedaan tujuan dan
bentuk penyajiaannya pada ujungnya mempengaruhi format
pertunjukan dan peran fungsi tari di masyarakat.
Pada tarian daerah yang ada di daerah tertentu musik
iringan tarinya digunakan adalah seperangkat gamelan slendro
dan pelog yang disebut satu pangkon. Di daerah lain banyak
menggunakan alat musik yang terdiri dari kendang, kenthong,
keprak, gitar, terbang/rebana, akordion, dan masih banyak lagi.
Lagu-lagu yang digunakan ada yang memiliki jenis lagu
Islami dalam bentuk salawatan. Tetapi pada sisi lain, lagu yang
ada terdiri dari lagu-lagu jenis keroncong, dan masih banyak lagi
yang antara lain adalah lagu-lagu dolanan dan lagu-lagu daerah
tertentu yang ada di sekitar tarian tersebut.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI154
Sarana magis juga ada pada tari daerah tertentu. Hal ini
tidak dapat dipungkiri bahwa pertunjukan magis menjadi model
terutama untuk tari daerah tertentu atau pertunjukan tarian
tertentu sering dikaitkan dengan kondisi klimaks tari yang
memperagakan penari dalam keadaan trance atau tidak sadar
diri. Menurut Soedarsono, trance adalah keadaan dimana penari
mamainkan peranan penting dalam komunitas dengan kekuatan-
kekuatan di luar batas kemampuan manusia umumnya. Cara ini
sering disebut kerasukan makhluk halus atau kekuatan
supranatural.
Untuk melestarikan tari-tarian daerah adalah dengan cara
merevitalisasi kembali tarian atau mengadopsi tarian ke dalam
bentuk pertunjukan lain, yakni dengan melalui pembelajaran di
sekolah-sekolah melalui bentuk intrakurikuler maupun
ekstrakurikuler seperti di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah
Tingkat Pertama (SLTP), atau Sekolah Menengah Tingkat Atas
(SLTA).
Tari-tarian tertentu pada puncaknya akan menjadi maskot
budaya daerah. Hal tersebut banyak dimiliki oleh masyarakat
tertentu, akan tetapi dalam kenyataan tarian tertentu mampu
bertahan lestari bahkan menjadi simbul budaya bangsa Indonesia
karena intensitas dan daya magis tarian tersebut pada saat
pertunjukan.
Tari-tarian yang mengalami puncak budaya daerah pada
saat tertentu mampu menjadi maskot bangsa. Banyak tarian yang
mampu menjadi maskot bangsa adalah banyak tarian yang
berasal dari Bali, Saman dan Saudati (Aceh), Topeng (Jabar),
Srimpi dan Bedoyo, Prawiroguno, Prawirowatang (Jawa Tengah
dan Yogyakarta), serta masih banyak tari-tarian lain yang
menduduki puncak sama di daerah menjadi maskot daerah
tertentu seperti Alang Babega (Smbar), Gending Sriwijaya
(Sumsel), Cangget (Lampung), Tabot (Bengkulu), Dolalak
(Purworejo), Tari Geliat Bedug (Banten), Jothil (Gunung Kidul),
Gandrung (Banyuwangi/Jawa Timur), Rangde (Bali), Ndi (Irian
Jaya),
Kebudayaan masyarakat Jawa pada umumnya sangat
dekat dengan kebudayaan atau masyarakat keraton . Kondisi ini
patut disyukuri, bukan sebaliknya, tari-tarian di Indonesia pada
umumnya adalah memiliki dua karakter yakni terdiri dari tari
tradisional dan tari nontradisional.
Tari-tarian di Jawa Tengah patut disyukuri karena
terpelihara dengan baik. Hal ini dibuktikan oleh Bratawijaya
bahwa budaya masyarakat Jawa tidak dapat dipisahkan dari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI155
budaya keraton Yogyakarta Hadiningrat dan Pakualaman
Surakarta (Thomas Wiyasa B: 1997, 77).
Sejak dahulu, masyarakat Jawa sudah mengenal adanya
Tuhan. Hidup di dunia ada yang mengatur selain manusia. Budi
Herusatoto menyatakan bahwa roh ada, roh yang paling kuat dari
manusia. Herusatoto, Mitos dan magis yang ada sejak zaman
prasejarah diyakini oleh manusia selalu mengganggu dan
membuat situasi menjadi kurang berjalan sesuai harapan.
Orang-orang Jawa masih ada yang menganut paham
animisme dan dinamisme begitu kuat dan kental. Hal ini tidak
dapat dipungkiri bahwa mereka sulit dipengaruhi telah hadirnya
agama yang tumbuh dan berkembang di sampingnya. Agama-
agama yang telah ada di sekitar mereka adalah agama Islam,
Hindu, Budha, Kristen, Katholik, dan agama yang dianut suku
Khonghucu.
Pada masa tahun 1970-an, pengaruh animisme dan
dinamisme masih terasa, pengaruh Budha dann Hindu hingga
masa kini juga kuat mazhabnya. Hal ini juga berpengaruh kepada
sikap dan perilaku orang Jawa pada umumnya bahwa tindakan
religius orang Jawa masih memuja dewa-dewa, salah satunya
adalah dewa Padi. Pembuatan sajen atas keselamatan nenek
moyang terkait pada acara-acara tertentu berhubungan dengan
kesenian rakyat sintren, tayub, gugur gunung, ebegan, jothil, dan
masih banyak lagi jenis kesenian rakyat.
Kesenian rakyat yang berkembang di masyarakat Jawa
terdiri dari kesenian jaran kepang atau kuda lumping, tayub,
sintren, dolalak, gugur gunung, ebegan, jothil, dan lain-lain.
Kesenian rakyat ini dalam pementasannya ada yang berakhir
dengan trance atau mendem. Pada acara tertentu kesenian
rakyat jenis ini dipentaskan secara periodik dan terprogram
melalui berbagai acara yang tepat pada saat dipentaskan.
1. Kesenian Rakyat dan Upacara Adat
Tari Tradisional dalam upacara adat saling berkaitan, baik
sebagai pelengkap maupun sebagai perantara mencapai tujuan.
Sebagai contoh, tarian untuk keselamatan dan perlindungan
biasanya masyarakat mengadakan pertunjukan kesenian.
Kesenian tertentu sangat dekat dengan konteks budaya dan
tujuan dilakukannya upacara keselamatan dan perlindungan.
Tari-tarian tertentu tersebut sering digunakan untuk
upacara perkawinan, khitanan, dan bersih desa dan banyak acara
lainnya. Secara hirarki pelaksanaan dan tata cara pertunjukan,
tari-tarian tertentu pada pementasannya diatur dalam bentuk
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI156
upacara. Tata cara pementasan dapat dirinci dan diatur
sedemikian rupa sehingga dalam pelaksanaannya mampu
berjalan lancar, tertib, dan selesai tepat waktu. Namun dalam
kegiatan lain, pementasan tari-tarian tertentu dipentaskan banyak
mengalami hambatan.
Secara ilustratif kegiatan pelaksanaan pementasana
acara kesenian dan tradisi upacara tertentu kurang berjalan
seperti harapan. Misalnya pada saat upacara perkawinan secara
umum dapat berlangsung kurang lebih seperti di bawah ini.
Upacara diawali dengan acara pengenalan lebih dekat
keluarga mempelai pria ke mempelai wanita. Acara bertujuan
agar keluarga pria mengenal calon menantu. Selanjutnya, acara
lamaran bertujuan meminta secara resmi calon penganten wanita
untuk dijadikan istri. Acara berikutnya adalah memberikan
peningset atau ikatan dalam bentuk seperangkat pakaian
lengkap, kepada calon pengantin wanita sesuai tanggal dan hari
yang ditetapkan. Sehari menjelang pernikahan dilakukan siraman
baik pihak mempelai wanita maupun mempelai pria dilakukan
mandi secara simbolis yang menunjuka bahwa ke dua mempelai
berangkat dalam badan yang bersih. Pada acara ini juga dikenal
sebagai widodareni (Jawa) yakni acara dimana berbagai kerabat
mempelai pria dan mempelai wanita saling bersilahturahmi.
Kemudian dilanjutkan upacara panggih pada pagi harinya dengan
melakukan sederetan upaca prosesi sampai akad nikah hingga
keduanya ke pelaminan.
Untuk keperluan upacara bersih desa dapat dilakukan
dengan beberapa tahapan yang kurang lebih dapat disebutkan
adalah sebagai berikut. Upacara tradisi bersih desa dilaksanakan
dalam setahun sekali yakni pada saat penduduk setelah menuai
panen raya secara serentak. Tujuan pelaksanaan upacara adalah
untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan bahwa
masyarakat diberi limpahan keberhasilan panen, cukup untuk
digunakan beberapa bulan ke depan dari hasil bumi yang
diperoleh pada panen raya ini. Hal ini menunjukan bahwa Dewi
Sri atau Dewi Padi mengabulkan permintaan masyarakat. Tata
cara dan bentuk model pertunjukannya secara umum dapat
diuraikan di bawah ini. Adapun prosesi kegiatan upacara yang
telah lama dan dilestarikan dengan beberapa tahapan adalah
sebagai berikut:
1. Menyimpan padi di lumbung secara rapi,
2. Membersihkan jalan, kebun, halaman masjid dan
bergotongroyong,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI157
3. Mengadakan masak bersama dan kunjung-mengunjungi
antar tetangga,
4. Mengadakan hiburan salah satunya pertunjukan
kesenian/tari-tarian.
Adapun beberapa catatan kesenian/tari yang digunakan
untuk upacara seperti di depan telah disebut adalah
No Kesenian/tarian Asal Daerah Jenis Upacara
1 Dolalak Purworejo/Jateng Bersih Desa
2 Barong Bali Keagamaan
3 Rangde Bali Tolak Bala
4 Sekapur Sirih Jambi Penyambutan tamu
5 Pangayo Sulawesi Selatan Kematian
6 Pakarena idem Penyambutan tamu
7 Bisu idem Pelantikan Kepala Suku
8 Bedhoyo 5 dan 9 Surakarta Pelantikan Raja
9 Srimpi 9 Surakarta Turunnya Raja
10 Bedhoyo Anglir Yogyakarta Naik tahta Raja
11 Jothil Idem Panen
12 Ndi Irian Jaya/Papua Pelantikan Kepala Suku
13 Tabot Bengkulu Pelantikan Ketua Suku
14 Piring Minang/Sumbar Panen
15 Galombang idem Penyambutan tamu
16 Tor-tor Sumatra Utara Idem
17 Cewan idem Idem
18 Mainang P Kampai idem Pergaulan Remaja
19 Karambik idem Melaut
20 Saman/Saudati Aceh/NAD Penyambutan tamu
21 Bantal Tapok idem Pernikahan, bayi lahir
22 Gendhing Sriwijaya Sumatra Selatan Penyambutan tamu
23 Paget Penganting idem Pernikahan
24 Sinjang idem Pergaulan Remaja
25 Pasembahan Riau Penyambutan tamu
26 Japin idem Tamu kenegaraan
27 Cangget Lampung Idem
28 Selampit Delapan Jambi Pergaulan Remaja
29 Topeng Jawa Barat Klasik/Kenegaraan
30 Jaipongan idem Pergaulan sosial/masal
31 Ogoh-ogoh Bali Ngaben/lematian
32 Bondoyudo idem Kepahlawanan
33 Ngemo dan Jejejr Jawa timur Pergaulan Sosial
34 Belian KalTim penyembuhan
35 Topeng Jakarta/DKI Idem
36 Ngarojeng idem Panen
37 Lense Sulawesi Tenggara Upacara laut
38 Dabang Sulawesi Tengah Upacara Asah Gigi
39 Kataga NTT Upacara sambut Tamu
40 Kecak Bali Keagamaan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI158
Pelaksanaan upacara di atas, pada dasarnya untuk setiap
daerah dan tata cara tradisinya yang dikembangkan memiliki
karakteristik dan fungsi yang berbeda pula. Hal ini bergantung
kepada karakteristik masyarakat masing-masing daerah yang
meyakini dan mempercayai bahwa pelaksanaan bentuk upacara
tradusi dimaksud memiliki kekuatan harapan agar di kemudian
hari semakin meningkat keberhasilannya dan mendatangkan
berkah yang positif bagi kelancaran dan kelangsungan kegiatan
seperti yang diharapkan.
2. Kesenian Rakyat dan Acara Lain:
Kesenian atau tari-tarian di banyak daerah banyak
digunakan untuk beberapa keperluan menyangkut pertemuan
antar kerabat, klangenan, dan kepentingan lainnya. Kesenian
atau tari-tarian tertentu yang telah mencapai puncak budaya
daerah mampu menyedot perhatian masyarakat. Kesenian atau
tari-tarian yang telah dikenal masyarakat sering digunakan untuk
pelengkap acara adat, suguhan bagi tamu yang dihormati, dan
ajang-ajang festival tertentu yang cukup diandalkan oleh daerah
tertentu.
Beberapa festival dan ajang parade tari daerah yang
sering dilaksanakan oleh lembaga tertentu dan mengacu kepada
konsep visitasi atau sekedar parade menjadi kegiatan yang
dirancang secara terpadu. Kegiatan tahunan yang melibatkan
acara tujuh belas agustusan (17 Agustus) memilih beberapa
peserta yang dianggap layak dan memadai untuk dijadikan
kegiatan monumental sehingga dapat memacu lahirnya kesenian
baru dan tari-tarian yang digarap secara apik akan dapat
memberdayakan peran fungsi kesenian atau tari-tarian semakin
komplit dan luas cakupannya.
Selain berbagai acara yang telah disebut di atas, kegiatan
yang berhubungan dengan menyambut tamu kenegaraan dan
pementasan di istana negara sering dijadikan anjang pemilihan
kesenian atau tari-tarian untuk memenuhi kebutuhan acara
dimaksud. Pementasan pada acara pawai artis, pawai obor, dan
kegiatan lainnya berupa paket wisata dan liburan, paket acara
tertentu untuk kesenian tertentu dilaksanakan sebagai berikut di
bawah ini:
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI159
No Kesenian/tarian Asal Daerah Jenis Upacara
1 Serampang Sumut Pergaulan Remaja
Duabelas
2 Baluse idem Pesta Rakyat
3 Dampeng NAD Pesta Rakyat
4 Ranu Labuan idem Upacara Melaut
5 Payung Sumbar Pergaulan Remaja
6 Kain/Tenun idem Pergaulan remaja
7 Joged(t) Riau Pergaulan Remaja
8 Catuk idem Labuhan
9 Bidadari Bengkulu Remaja putri
pesolek
10 Karan idem Hiburan
11 Burung putih Sumsel Pelestarian
12 Sinjang idem Pergaulan
13 Badana Lampung Selamat datang
14 Babarau (cemeti) idem Pinangan
15 Kembang Paray Jabar Remaja putri
akilbalik
16 Candra dewi idem Remaja putri
pesolek
17 Ronggeng DKI Serial rakyat
18 Cokek DKI Pergaulan Topeng
19 Karonsih Jateng Penyambutan
pengantin
20 Menak Yogyakarta Sosial Rakyat
21 Langendryan idem Turunnya raja
22 Athandak Madura/Jatim Upacara ka
23 Emprak-emprak Jatim Ngamen/Tledek
24 Padoa NTT Pergaulan
25 Dadara NTB Pergaulan remaja
26 Kartili NTB Hiburan Rakyat
27 Kandasara Sulteng Pengusir Makhluk
halus
28 Kalegos Sultra Pingitan/wanita akil
balik
29 Pajaga Sulsel Upacara tertentu
30 Capin KalBAr Pergaulan
31 Perang KalTim Pengusir bencana
32 Giring-giring Kalteng WanitaPubertas
33 Lenso Maluku Pergaulan muda-
mudi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI160
34 Yospan Papua Upacara Sedekah
Bumi
35 Topeng Panji KalSel Pengembaraan
36 Mbis Papua Persembahan
37 Kebyar duduk Bali Pertumbuhan
remaja putri
38 Dana Sumsel Pergaulan
39 Angguk Jambi Pergaulan
40 Baris Bali Kepahlawanan
Tabel 3.1 Kesenian dan Upacara dalam kehidupan manusia
3. Kedudukan Kesenian atau Tari-tarian dalam Pertunjukan
Pada abad milenium ini, banyak koreografer-koreografer
yang mampu menembus jajaran penata tari kelas dunia dan
lingkup nasional. Aktivitas yang dikembangkan adalah
menggarap koreografi atau kesenian daerah yang digarap
kembali (restorasi). Mereka adalah orang-orang terpilih dan
kreatif serta memiliki ciri khas yang berbeda-beda dalam
membuat koreografi.
Perbedaan koreografi zaman dahulu dengan sekarang
terletak pada peran fungsi yang dijadikan tujuan garap. Secara
kolektif, koreografi yang memenuhi standar kebutuhan dan
kepentingan bersama untuk masyarakat pada umumnya
dikonsentrasikan pada kesenian yang dikenal oleh kalangan luas.
Kesenian pada zaman sekarang telah dibantu melalui editing
peralatan audio-visual sehingga karya yang ada dapat
didokumentasikan.
Pada saat ini berkembang tren bahwa tari rakyat maupun
tari klasik telah dikoreografi dengan tatanan konsep garap yang
modern, sehingga dalam penyajian mampu membentuk
koreografi yang sangat berbeda dengan kesenian atau tari-tarian
yang sebenarnya alami dan sederhana. Seniman-seniman tari
zaman sekarang dalam membuat koreografi mengemas ke dalam
bentuk yang menarik dan enak ditonton. Pada satu sisi, ciri dan
karakteristik tari mengalami perubahan. Di sisi lain, terjadi
modernisasi koreografi secara fundamental sehingga koreografi
menjadi semakin hilang keasliannya.
Kesenian yang telah ada di kalangan masyarakat tertentu
yang telah membumi peran fungsi di masyarakat selalu
menghadirkan bentuk pertunjukan yang erat dengan masyarakat
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI161
pendukungnya. Hal ini menjadi melekat manakala kesenian
tersebut menjadi salah satu cermin budaya yang ada dan masih
kuat mengakar pada masyarakat tertentu. Tarian atau kesenian
jenis ini cenderung menjadi maskot daerah yang dapat membumi
sepanjang masa, hal ini berhubungan dengan kepunahan
masyarakatnya. Kesenian yang memiliki peran fungsi seperti ini
biasanya menjadi kesenian yang dapat berkomunikasi dengan
masyarakat dan sekaligus menjadi seni tontonan masyarakat.
4. Hubungan Tari dengan Seni Lain
Dalam menelaah hubungan tari dengan seni lainnya
adalah faktor variasi dari nilai perkembangan kehidupan manusia.
Tari diselenggarakan warga masyarakat dalam menjalankan ritual
keagamaan maupun kegiatan lain berhubungan dengan norma
kehidupan manusianya.
Norma hidup terwujud dalam tata cara yang berbeda-
beda. Oleh karena itu, istilah tari hendak dipakai untuk
mengamati hubungan budaya maka tari digolong-golongkan ke
dalam tatanan hidup manusia.
Menurut Budiono (a987), norma hidup manusia dikaitkan
dengan tatanan seni rupa, seni sastra, seni suara, seni tari, seni
musik, seni drama. Secara berturut, di bawah ini akan dijelaskan
hubungan tari dengan seni lain meliputi wawasan berikut.
Hubungan seni tari dengan seni Rupa memiliki ikatan
yang erat menyangkut materi bentuk yang ada. Secara jelas
keduanya memiliki sumbangan visualisasi terutama dari segi tata
rias. Wujud ekspresi mimik penari dan daya tambahnya dirubah
dengan bentuk karakter riasan wajah. Efek cahaya membantu
memperkuat intensitas penyinaran terhadap bentuk tata rias yang
dibentuk dari visualisasi dari seni rupa. Pemakaian rias yang
nenadai dab kontekstual, berdampak kepada efek penghayatan
yang dilakukan penari terhadap penonton.
Keterampilan merias wajah, kemampuan membuat
gambar, dan pengolahan warna menjadi indikator yang sulit
dipisahkan dari seni rupa sebagai bekat keterampilan materi
bentuk seni. Oleh sebab itu, penaridiharapkan harus mampu
membuat riasa wajah dan keterpaduannya menjadi keterampilan
yang diharapkan dala tari.
Keteraikatan tari dengan tata busana juga menjadi
penguat hubungan seni rupa dengan seni tari. Nilai simbolis tata
busana menjadi salah satu kontribusi keserasianpenataan warna
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI162
dalam kostum seni tari. Semakin tari memperoleh penghargaan
dari kostum yang digunakan.
Ketepatan memakai kostum dan konsep penyesuaiannya
dengan rias wajah maupun karakter tari yang diperagakan
menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Manfaat memadukan warna, keterampilan membuat disain, dan
kebiasaan memakai kostum secara mandiri menambah
kepercayaan penari dalam melakukan peran tarian bagi sebuah
pementasan.
Seni tari hubungannnya dengan dekorasi mampu
diwujudkan secara performansif melalui tata teknik pentas.
Masalah tata teknik pentas berhubungan dengan setting atau
pembentukan imaji panggung melalui dekorasi. Pemandangan,
keberadaan benda-benda di atas panggung menjadi penunjang
suatu pertunjukan tari., latar belakang atau bechdrop, dan wujud
dekorasi yang ada di sekitar pementasan tari adalah bentuk
kontribusi dekorasi untuk lebih membentuk imaji semakin
berkesan, meunjang garapan, dan diharapkn bersama pada saat
pementasan mulai, berlangsung, dan berakhirnya pementasan.
Masalah asesoris busana menjadi beberapa pilihan
apabila koreografer akan menyusun paduan warna, bentuk, dan
komposisi ornamen asesoris. Dengan demikian perlu
diselaraskan antara karakter, kostum, warna dan bentuk tata rias.
Tata rias menjadi daya tarik dalam mewujudkan ekspresi dan
dapat menguatkan visualisasi ekspresi.
Keterkaita tari dengan Seni Musik pada pembahasan ini
akan direduksi ke dalam peran musik dalam tari. Hal ini terutama
hubungannya dengan fungsi musik dalam tari. Musik dapat
mengilhami terciptanya tarian, di sisi lain musik juga menjadi
komponen iringan maupun pengisi suasana tari. Peran fungsi
musik secara umum menjadi penguat gerakan tari diperagakan
oleh penari.
Musik sebagai bagian pertunjukan, musik memiliki
kontribusi sebagai iringan tari hal ini dapat dinikmati pada saat
gerak tari dilakukan penari sambil menghayati musik iringannya.
Penari yang berpengalaman, musik dijadikan tumpuan untuk
menghayati ekspresi mimik dan menuangkan gerakan secara
maksimal. Dengan demikian musik menjadi salah satu aspek
penuntun irama gerak, iringan gerak, dan memperkuat trempo
dan kedalaman penghayatan tari secara maksimal.
Hubungan tari dengan drama lebih cenderung
dibutuhkannya efek estetis dalam bentuk wicara, penonjolan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI163
peran, pemilihan adegan yang disket ke dalam repertoar tari, atau
bagian-bagian adegan tari yang diharapkan. Pada bentuk
pengolahan struktur dramatik, peran seni drama sangat menonjol.
Hal ini akan berhubungan dengan bagaimana cara mengatur
awal pementasan, pada saat berlangsungnya adegan-adegan
serta teknik mencapai klimaks garapan tari akan menambah
hidup-matinya koreografi tari disajikan.
Hubungan tari dengan seni sastra adalah lebih terkait
dengan pengeditan unsur ceritera, cuplikan inti ceritera,
komunikasi garapan tari apabila menggunakan bahasa verbal.
Hal ini lebih nampak pada bagaimana seorang seniman tari
mengambil inti ceritera untuk ditarikan. Apabila dimungkinkan
maka pada garapan tari dengan menggunakan visualisasi
ceritera, bentuk sastra, hingga kepada epos yang dapat
dituangkan ke dalam garapan tari semakin menarik untuk dikaji.
Garapan tari yang representatif akan menggunakan
konsep penuangan unsur sastra semakin dominan. Hal ini dimulai
dari konsep membuat naskah tari dalam bentuk proposal,
dancescrip, dan pengantar catatan tentang garapan tari secara
akademik.
Sastra tampak dalam wujud kata-kata, dialog, serta
nyanyian yang digunakan untuk iringan tari. Formulasi keterkaitan
sastra dalam bentuk koreografi tari biasanya terfokus pada
penulisan catatan tari dalam bentuk lembar persetujuan
koreografi untuk dipentaskan setelah melalui proses bimbingan
bagi siswa dan mahasiswa yang belajar di perguruan seni tari.
Maket catatan tari yang tertuang dalam bentuk sastra
catatan tari biasanya dalam melakukan konsultasi sangat inten
dan teratur. Personifikasi penuangan sastra ke dalam pendukung
garapan tari saling mengisi. Oleh sebab itu, dibutuhkan sistem
penulisan yang dapat memberikan pengertian dan pencerahan
bagi orang yang awam atas reposisi garapan tarinya.
Sastra juga dapat digunakan sebagai pijakan dalam tari.
Hal ini lebih dikomunikasikan menjadi ide pijakan tari, ide
penggarapan tari, ide yang dapat menjadikan maksimalisasi
penggunaan sastra secara baik dan benar. Garapan tari dalam
bentuk pengantarnya dengan sinopsis. Sinopsis sebagai
pengantar bisa berupa ringkasan ceritera, jalan ceritera atau
ungkapan isi garapan tari dalam bentuk prosa atau puisi.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI164
B. Tari-tarian berdasarkan Penyajiannya
Secara umum tarian berdasarkan penyajiannya dapat
diklasifikasi menjadi bagan di bawah ini adalah sebagai berikut:
Tari Primitif
Tari Rakyat
Tari Tari Tradisional
Tari Klasik
Tari Kreasi Baru
1. Tari Primitif
Tari Primitif dikoreografi berorientasi pada segi artistik.
Tarian ini berarti digarap lebih menekankan pada segi estetika
seni. Tarian jenis ini secara umum berkembang di masyarakat
yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Tari
Primitif biasanya merupakan wujud kehendak, berupa pernyataan
maksud dilaksanakan dan permohonan tarian tersebut
dilaksanakan. Dengan demikian tarian ini lebih dengan
pernyataan maksud masyarakat dalam melaksanakan keinginan
bersama. .
Ciri-ciri tari Primitif pada dasarnya dalam bentuk
koreografi sederhana, bertujuan untuk kehendak tertentu,
sehingga ungkapan ekspresi yang dilakukan berhubungan
dengan permintaan yang diinginkan. Ciri-ciri tersebut seperti:
• Gerak dan iringan sangat sederhana, berupa hentakan
kaki, tepukan tangan atau simbol suara atau gerak-gerak
saja yang dilakukan.
• Gerakan dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya :
menirukan gerak binatang, karena akan berburu, proses
inisiasi (pemotongan gigi), pesta kelahiran, perkawinan,
keberuntungan panen, dan sebagainya.
• Instrumen sangat sederhana, terdiri dari tifa, kendang atau
instrumen yang hanya dipukul-pukul secara tetap, bahkan
tanpa memperhatian dinamika,
• Tata rias masih sederhana, bahkan biasa berakulturasi
dengan alam sekitar,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI165
• Tari ini bersifat sakral, tarian ini untuk keperluan upacara
keagamaan/kepercayaan
• Tarian primitif tumbuh dan berkembang pada masyarakat
sejak zaman prasejarah yang memiliki kepercayaan
animisme dan dinamisme, keunikan tari primitif walaupun
gerak, musik, dan ornamen maupun tata pemanggungan
sederhana namun masih tetap menarik. Budaya ini luntur
akibat hilang kebersamaan dengan pola pikir masyarakat
primitif
• Tarian primitif dasar geraknya adalah maksud atau
kehendak hati, dan pernyataan kolektif
• Tarian primitif berkembang pada masyarakat yang
menganut pola tradisi primitif atau purba dimana
berhubungan dengan pemujaan nenek moyang dan
penyembahan leluhur.
Gambar-gambar di bawah ini adalah beberapa contoh Tari
Primitif yag masih berkembang hingga kini.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.1 Tari Bailita Gb 3.2 Tari Dayang Modan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI166
2. Tari Tradisional
Tari Tradisional adalah tari yang secara koreografis telah
mengalami proses garap yang sudah baku. Tarian tradisional
telah mengalami proses kulturasi atau pewarisan budaya yang
cukup lama. Jenis tarian ini bertumpu pada pola-pola tradisi atau
kebiasaan yang sudah ada dari nenek moyang, garapan tari
bersifat pewarisan kultur budaya yang disampaikan secara turun-
temurun.
Contoh tarian di bawah ini yang masih kental dengan
kultur tradisi seperti Tari Gruda (Bali), Tari Gambyong (Jateng0,
Tari Baladewa Kresna (Surakarta), Bedoyo (Yogya-Surakarta).
Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi
Gb.3.3 Tari Gruda Gb. 3.4 Tari Gambyong
(Gb. 3.3 dan 3.4 Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari UNJ)
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.5 Kresno-Bladewa Gb. 3.6 Bedhaya 9 (Sembilan)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI167
Tari ada yang digarap berdasarkan konsep tradisional.
Beberapa contoh tari di bawah ini adalah konsep garapan tari
yang berpijak pada tari tradisional adalah tari Gejolaj
(Garapan Tradisi Jambi), Gumyak (garapan tradisi Banyumas-
Jateng), tari Bersih Desa (Garapan Tradisi Jawa Timur), tari
Trandak dari (Nusa Tenggara Timur).
Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi
Gb 3.7 Gejolak Gb. 3.8 Gumyak
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi Anj. TMII Jkt
Gb. 3.9 Bersih Desa Gb. 3.10 Trandak
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI168
Tari di bawah ini juga masih terkait dengan tarian
tradisional. Konsep yang dikembangkan berpijak pada tradisi
Betawi dan Jawa Barat.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi TMII Jakarta
Gb. 3.11 Topeng Gb. 3.12 Merak
Pada kesempatan ini coba kita ingat, sebutkan tari-
tari daerah yang berasal dari kota kelahiran kita lainnya. Tari
Tradisional yang dimaksud merupakan tari yang sudah
dikenal secara umum, menjadi warisan budaya secara turun-
temurun. Tari daerah setempat di lingkungan kita.
Pada sisi lain tari tradisional secara jelas dikelompokkan
lagi ke dalam tiga jenis tarian yang meliputi tari primitif, tari rakyat,
dan tari klasik. Pembahasan yang berhubungan dengan jenis-
jenis tari tersebut di atas agar lebih fokus dapat diuraikan melalui
uraian berikut.
2.1 Tari Rakyat
Tarian ini berorientasi pada koreografi yang berkembang
di masyarakat. Tarian Pergaulan dapat dilihat di lingkungan
masyarakat pendukung yang bersangkutan. Tari pergaulan ini
lahir dan berkembang di lingkungan masyarakat luas. Konsep
koreografi sederhana, berpola pada tradisi yang sudah lama
diakui sebagai bagian kehidupan masyarakat sekitar, menjadi
milik masyarakat sebagai warisan budaya yang sudah ada.
Contohnya : Tari Ketuk Tilu (dari Jawa Barat), Tari Tayuban (dari
Jawa Tengah), Tari Lengger (dari Banyumas), Tari Gandrung
(dari Banyuwangi).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI169
Di bawah ini ada beberapa koreografi yang dikomposisi
berdasarkan pola pengembangan tradisional yang disesuaikan
dengan tuntutan jaman. Kebutuhan pengembangan tari tidak
serta merta meninggalkan nilai-nilai tradisi yang ada dan
berkembang sebelumnya. Beberapa tarian tersebut antara lain
lihat pada halaman ini adalah sebagai berikut di bawah ini.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.13 Dolalak Gb. 3.14 Dolalak
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb. 3.15 Ngelajau Gb. 3.16 Bechincak-an
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.17 Tari Ngelajau Gb. 3.18 Tari Nyak Puan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI170
Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb. 3.19 Tari Ngelajau GB. 3.20 Tari PaJinang
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta
Gb. 3.21 Tari Manikam Gb. 3.22 Dogdog Lojor
2.2 Tari Klasik/Istana
Tari ini lahir dan berkembang di lingkungan istana atau
kalangan priyayi . Tari ini telah mengalami proses kristalisasi
melalui tata garap secara artistik yang tinggi. Garapan tarian telah
menempuh perjalanan sejarah yang cukup lama. Konsep
penataan telah terbentuk setelah mengalami perubahan yang
matang. Contoh jenis tarian ini antara lain Tari Bedhoyo (dari
Surakarta/Jawa Tengah, Yogyakarta), Tari Legong (Bali), Tari
Klana Cirebon (Jawa Barat).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI171
Beberapa jenis tari yang disebut pada uraian terdahulu
tentang tari Klasik dapat dilihat pada gambar di bawah ini adalah
sebagai berikut. Tari Bedoyo (Yogyakarta dan surakarta), Tari
Legong Kraton (Bali), dan tari Klana Cirebon dari Kasepuhan.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.23-3.24 Tari Bedhoyo 9 (Sembilan)
Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Sumber Koleksi Ojang
Gb. 3.25 Tari Legong Gb. 3.26 Tari Klana Cirebon
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI172
Langen Mandra Wanara adalah tarian yang dilakukan
dengan konsep menari secara jongkok. Penari ke luar dan masuk
dari wings/sisi kanan dan kiri panggung. Gaya tari yang
dipertunjukan termasuk gaya tari klasik Yogyakarta. Sebagaian
banyak konsep pemanggungan dilaksanakan/dipentaskan dalam
bentuk pendopo. Mahasiswa dan Dosen Isi Yogyakarta pernah
menampilkan pemanggungan di pentas Proscenium, konsep
tersebut banyak mengalami kendala.
Di sisi lain ada bentuk-bentuk tarian klasik dalam bentuk
garapan dapat dikatagori dengan garapan tari dengan berdialog.
Pada jenis tarian ini cenderung memanfaatkan unsure dialog
prosa memberi corak dan bentuk yang sekaligus menjadi lebel
jenis tarian ini. Secara lengkap jenis tarian ini disebut Wayang
Orang (Wayang Wong).
Contoh bentuk Wayang Orang. Wayang Wong adalah
drama tari dengan dialog prosa, yang mengambil ceritera dari
Ramayana dan Mahabarata.
Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.27 Baratayuda
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI173
3. Tari nontradisional/Kreasi Baru
Tari Nontradisional adalah tarian yang tidak berpijak pada
pola tradisi dan aturan yang sudah baku.Tarian ini merupakan
bentuk ekspresi diri yang memiliki aturan yang lebiht bebas,
namun secara konseptual tetap mempunyai aturan. Contohnya
tari-tari karya Bagong Kusudiardjo (Tari Yapong, Tari Wira
Pertiwi, dan sebagainya), Tari Cantik (karya Wiwik Widyastuti),
Tari Gitek Balen (karya Abdul Rochim), Tari Nandak Ganjen
(karya Entong Sukirman) dan dibawah ini contoh lain yakni.
Sumber Koleksi Internet Sumber Koleksi DepBudPar
Gb 3.28.Tari Cinta Ibunda Gb. 3.29 Bratasena
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.30 Tari Nyi Kembang Gb. 3.31 Tari Ngelajau
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI174
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.32-3.33 Tari Turun Kuaih Ainen
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb.3.34-3.35 Tari Gelang Ro’on
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.36-3.37 Tari Sarampuah
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI175
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.38 Tari HoArya Gb. 3.39 Tari Janda Nadia
Tari Nontradisional yang telah dikoreografi dengan latar
budaya Tradisional Indonesia banyak ragam dan variasinya.
Penggunaan teknik tarinya tidak berpijak pada pola tradisi dan
aturan yang teratur dan rumit. Beberapa contoh tari yang telah
menggunakan teknik gerak nontradisional adalah.i
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.40 Gelang Ro’om Gb. 3.41 Tari Ranah di nan Jombang
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.42 Tari Janda Nabia Gb. 3.43 Tari Ho Arya
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI176
Tugas:
Kalian telah membaca dan mungkin memahami sedikit-sedikit
tentang uraian di atas, benar?! Sebagai bentuk latihan di sini
akan diberikan beberapa latihan.
1. Sekarang ini berapa banyak propinsi yang ada di
Indonesia?.
2. Coba sebutkan beberapa contoh (5) tarian yang ada di
propinsi dimana kalian tinggal?1.
3. Berdasarkan koreografi tarian di bagi ke dalam berapa
jenis?
4. Jelaskan perbedaan jenis tari Tradisional Rakyat dan tari
Tradisional Primitif?
5. Dapatkan kalian melakukan tari tradisional Rakyat yang
berasal dari di daerah dimana kalian tinggal (Minimal 2
tarian).
Ulasan Koreografis:
Perbedaan penyajian tari ke tiga komposisi di atas adalah
bahwa Tari Rei lebih berorientasi kepada garapan teatrikal,
pertempuran kompeni dan Pangeran Jayakarta. Visi teater
dominan walaupun kadar garapan tari cukup memadai. Konsep
garapan Mbya lebih berorientasi gaya tari klasik Surakarta,
walaupun eksplorasi gerak individu koreografer mampu
menunjukkan jati diri koreografer secara benar. Konsep gaya tari
Sumrah lebih ke garapan tari kerakyatan Jawatimuran. Unsur ciri
Jawatimuran kental dengan bumbu gaya gerak tari kerakyatan
versi Banyuwangian.
Coba sebutkan tari nontradisional/Kreasi Baru yang kita
kenal lainnya. Coba berikan beberapa contoh tari yang pernah
Anda lihat, mari kita diskusikan bersama dengan teman di
sekitar, beri komentar dan penjelasan tarian beberapa
koreografer tari kreasi dari daerah sekitar kita, kita bahas
bersama.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI177
Berdasarkan Peran Fungsi Tari
Pada dasarnya seni memiliki peran fungsi yang banyak di
masyarakat, salah satunya termasuk tari. Pada masyarakat
tertentu, tari berperan sebagai sarana untuk pernyataan
kehendak. Kebanyakan fungsi ini ada pada jenis tari Primitif. Tari
yang berperan untuk kepentingan upacara lebih didominasi tari-
tarian jenis Tradisional yang luhur dan berkembang pada
masyarakat tertentu saja
Apabila ada tarian upacara yang berkembang di
masyarakat memiliki peran fungsi lain adalah sebagai wujud
ungkapan syukur atau pernyataan terima kasih saja, biasanya
didominasi oleh tari-tarian yang berkembang untuk upacara adat.
1. Tari Upacara
Tari upacara adalah tarian yang digunakan untuk
keperluan upacara. Pada daerah tertentu di Indonesia, tarian
jenis ini berhubungan erat dengan masyarakat yang masih
memfungsikan tarian untuk keperluan upacara. Ciri utama Tari
Upacara antara lain hidup dan berkembang dalam tradisi yang
kuat, memelihara/berlatar belakang agama Hindu, sarana
memuja dewa (keagamaan), serta kegiatan/prosesi tradisi yang
menjadi simbol masyarakat maka tarian jenis ini berkembang
subur dan diwariskan.
Contoh tari-tarian upacara yang intens dipelihara dan
dilestarikan dengan memegang tradisi kuat upacaranya antara
lain Tari Ndi (dari Irian Jaya), Abhisekharama (tari
penobatan/ulang tahun penobatan raja ditampilkan Tari Bedhoyo
Ketawang, Bedhoyo 5 dan Bedhoyo 9 (Surakarta) dan Tari
Bedhoyo Semang (Yogyakarta).
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. Tari 3.44 Nyak Puan Gb. 3.45 Tari Nyak Puan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI178
Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.46 Tari Nyak Puan
2. Tari Upacara Adat
Tari yang digunakan untuk penyambutan biasanya
berhubungan dengan keperluan adat. Tarian jenis ini biasanya
untuk penyambutan tamu agung atau tamu terhormat. Beberapa
contoh tari untuk upacara adat sebagai berikut di bawah ini.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.47 Tari Janra UPeuteh Gb. 3.48 Tari Dolalak
Penyambutan tamu Agung atau Tamu Terhormat.
Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Sumber Koleksi Anj TMII Jkt
Gb. 3.49 Tari Mandau Gb. 3.50 Tari PupUtAy
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI179
3. Tari Religi/Agama
Tarian religi atau agama biasanya pada saat
dipertunjukkan banyak terkait dengan acara-acara prosesi
upacara tertentu. Bentuk-bentuk upacara yang digelar meliputi
arak pengentin, kelahiran, penyambutan tamu agung, injak telur,
Kematian, potong rambut, dan beberapa acara prosesi lain yang
selalu dipelihara oleh masyarakat di lingkungan dimana tarian
tersebut difungsikan. Dengan demikian pada pertunjukannya
selalu dikaitkan dan disatukan ke dalam ritual atau prosesi
upacara yang dilaksanakan.
Kesatuan tari dengan prosesi upacara sangat dekat
dengan mode pertunjukannya. Oleh sebab itu, tarian tertentu dan
prosesinya selalu dipergelarkan secara menyatu dalam satu
pertunjukan. Di bawah ini ada beberapa tari yang terkait dengan
prosesi tertentu adalah sebagai berikut.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi I Made Bandem
Gb. 3.51 Tari TabOt (Bengkulu) G b. 3.52 Tari Rejang
Sumber I Made Bandem
Gb. 3.53 Tari Kecak (Bali)
Tarian ini merupakan tari upacara. Upacara digelar untuk minta sesuatu akan
lebih baik dipentaskan di pura. Tujuan untuk menghadirkan roh nenek
moyang. Biasanya dominan terkait dengan acara permohonan sesuatu
atas pageblug/marabahaya yang mengancam warga desa.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI180
Tarian upacara adat atau agama ini pada saat tertentu
juga dapat dipresentasikan dalam acara-acara lain yang
berhubungan dengan berbagai peristiwa yang sesuai untuk
pertunjukan tarian tersebut. Oleh sebab itu, tarian ini eksis dari
zaman dulu hingga sekarang.
Pertunjukan tari-tarian pergaulan cukup diandalkan pada
daerah masing-masing untuk digunakan sebagai promosi daerah.
Berbagai kegiatan(even) dan keperluan adat tarian ini hadir
sebagai suguhan pertunjukan yang menarik bagi wisatawan lokal
maupun mancanegara. Secara khusus pertunjukan tarian di
bawah ini konsep koreografinya untuk keperluan upacara maupun
pertunjukan pada kegiatan atau acara-acara yang penting.
4. Tari Pergaulan
Tarian ini berciri pergaulan muda dan mudi. Tarian ini
biasanya dilakukan saat bulan purnama. Tarian pergaulan muda
mudi ini merupakan tari sosial yang memiliki latar belakang cerita.
Tarian ini sebagai wujud suka cita warga desa saat menyambut
panen, bersih desa. Penyajian merupakan pertemuan antara
kaum muda/laki-laki dan mudi/putri.
Ciri-ciri yang nampak pada tari-tarian jenis ini adalah :
1. Gerak tari ini dilakukan berpasangan, mengikuti selera kaum
muda dan mudi, dan masyarakat secara umum.
2. Tarian ini dilaksanakan pada saat bulan pernama didominasi
kalangan remaja putra dan putri atau dewasa tua. Pesta
dilakukan di arena yang luas atau tanah lapang. Pelaksanaan
pertunjukan untuk keperluan upacara merupakan puncak dari
kegiatan panen besar pada waktu siang harinya.
3. Tarian ini sebagai sarana pergaulan laki-laki/perempuan,
dewasa tua sebagai kegiatan hajad banyak warga desa.
Sumber Jurusan tari Sumber GNP TMII
Gb. 3.54 Tari Ngremo Gb. 3.55 Tari Sisingaan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI181
Beberapa contoh tari sosial di bawah ini berkembang
baik di Indonesia adalah yakni Tari Lenso, Tari Serampang Dua
Belas, Tari Joget, Tari Gandrung, Tari Tayub dll.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.56-3.57 Bersih Desa
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 3.58 .Jepen Rebana Gb. 3..59 Sanduri
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII JKt
Gb. 3.60- 3.61 Tari Warak Dugder
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI182
5. Tari Teatrikal
Ciri tarian jenis ini adalah bahwa tarian ini merupakan
bentuk pertunjukan yang dikemas secara lengkap antara unsur
seni rupa, musik teater, dan tari. Pertunjukan digarap komunikasi
dengan penonton, sehingga kesan teatrikal nampak.
Salah satu contoh adalah Kesenian Betawi. Pada jaman
dahulu hidup dan berkembang kesenian ini. Kesenian ini memiliki
mode penyajian secara teatrikal. Konsumsi pertunjukan lebih
diarahkan untuk ceritera rakyat. Unsur ceritera dapat digunakan
sebagai media untuk improvisasi di atas panggung. Masalah lain
yang dapat difungsikan adalah unsur dialog atau komunikasi
dengan penonton. Oleh sebab itu pertunjukan ini sangat digemari
di kalangan masyarakat luas terutama masyarakat luas.
Selain kesenian Betawi, yang memiliki potensi
pengembangan budaya asli dari daerah setempat. Contoh-contoh
kesenian tersebut antara ini lain sebab: dalah tari Topeng Betawi,
Tari Topeng Gong, Tari Rengganis (Betawi/Jakarta), Jenis Ebeg,
Tari Buncis (Banyumas), Reog Ponorogo dengan Dadap-Pentul-
Kuda Kepang (Ponorogo/Jatim). Ludrug.
Sumber Koleksi Anj. TIMTI Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.62 Tari Kebyar KEbeng) Gb. 3.63 Tari Reog Polodero
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI183
Gb. 62
C. PERKEMBANGAN TARI
1. TARI DAERAH
2. TARI RAKYAT
3. TARI BALET
4. TARI MODERN
5. TARI MUSIK
PANGGUNG/OPERA
6. TARI REKREASI
1.Tari Daerah (Adat)
Kesenian (Tari) dan upacara adat sepertinya saling berkaitan,
baik sebagai pelengkap maupun perantara untuk mencapai
tujuan. Memohon keselamatan, perlindungan, biasanya
mengadakan pertunjukan kesenian.
Kesenian(Tari) Dolalak (Purworejo) dan Barong (Bali)
sangat dekat dengan masyarakatnya. Tarian ini sering
dijadikan pelengkap adat yakni untuk perkawinan dan upacara
agama.
1. Tarian ini tumbuh dan berkembang pada sekelompok suku
baik yang berada di pedalaman/di lingkungan masyarakat
ramai.
2. Konsep koreografinya memegang ketat pada tradisi-tradisi
masyarakat atau adat secara ketat, sehingga sangat
menjujung tradisi nenek moyang yang mewariskannya.
3. Akulturasi dengan Alam lingkungan menjadi sarana mediasi.
Tarian ini dikoreografi berhubungan dengan masalah-
masalah religi dan kebiasaan-kebiasaan sosial yang dianut
dan diyakini, sehingga implementasi upacaranya
dilaksanakan sesuai tradisi yang turun temurun.
4. Tarian ini lebih menekankan pada ritual-ritual atau upacara,
sehingga memiliki perberbedaan dengan tarian rakyat,
karena tarian rakyat.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI184
2. Tari Rakyat
1. Tari Rakyat tumbuh dan
berkembang di lingkungan
masyarakat. Bentuk tarinya
merupakan ekspresi
masyarakat pendukungnya.
2. Ciri gerak tari sederhana
dengan diulang-ulang.
asesoris, dan musik
iringannya sangat
sederhana. Kostum tari
sangat mencolok warnanya,
merupakan perpaduan
Sumber Koleksi DepBudPar
warna warni dan biasanya
memiliki banyak ragam
Gb. 3.64 Tari DolAlaK
i bentuk yang terlihat
mencolok.
3. Ungkapan ekspresinya
merupakan pernyataan
kehendak.
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.65 Tari Nditita
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI185
3. Tari Balet
Ciri-ciri tari ini adalah
1. Balet merupakan suatu tarian yang mempunyai disiplin
tinggi dan aturan-aturan ketat serta didasari tradisi-
tradisi tua
2. Tari-tari yang ada pada saat itu berorientasi pada
pertunjukan-pertunjukan klasik, pendekatan koreografis
bertema kontemporer.
3. Tari balet termasuk ke dalam tarian klasik, oleh karena
itu tarian ini memiliki aturan teknik gerak yang baku,
dengan standar tari yang tinggi.
Tari Balet di Indonesia
menjadi konsumsi kaum
elit pecinta dan yang
mempunyai bakat tari
saja, karena dikelola
secara profesional
dengan berbagai fasilitas
dan penunjang dana
yang cukup memadai.
Sumber Internet
Gb. 3.66 Tari Balet Ngu Yen She
Pada Grup tari balet kelompok tertentu banyak mendapat
dukungan dana dan fasilitas untuk pembinaan dan
pengembangan kelompok balet. Hal ini diprakarsai oleh pengelola
sanggar yang telah berpengalaman di berbagai kegiatan peristiwa
dikelola dengan melakukan berbagai pendekatan ke pihak
pemerintah maupun swasta melalui prosedur yang baik.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI186
4. Modern Dance
1. Modern dance mempunyai bentuk mengekspresikan artistic
yang bersifat individual
2. Awal tari modern , karena adanya penolakan terhadap
bentuk yang formal seperti pada tari balet
3. Lebih menekankan pada ekspresi artistik dari
pertunjukkannya atau penampilan individual dengan teknik
dan gaya tari dari koreografer yang sifatnya kontemporer.
4. Selain itu menghindari pada penekanan teknik.
Sumber Koleksi GKJ Jkt
Gb. 3.67 Tari Cinta Bunda
Sumber Koleksi Kusnadi
Gb. 3.68 Tari Balet
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI187
5. Tari Musik Panggung/Opera
1. Tarian ini merupakan perpaduan antara gerak tari, dramatikal,
dan musik iringan. Koreografi tarian ini lebih bersifat
kolaborasi, dengan demikian ketiga unsur seni yang
mendukung tidak menjadikan dominan pada salah satunya.
2. Tarian ini biasanya dipergelarkan di suatu tempat yang banyak
ditengerai banyak pengunjung yang datang ke situ. Tempat
tersebut disebut dengan tempat berkumpulnya massa (Broad
Way)
3. Kolaborasi gerak pada tarian ini mengandung unsur-unsur
Balet, Jazz dan beberapa tarian etnik untuk tari-tarian yang
berasal dari Eropa, tarian yang ada di Indonesia biasanya
berupa tarian yang dipergelarkan pada saat untuk
mengamen.
4. Mode penyajian tarian ini berbentuk yang hangat dan
baru(spektakuler), terkadang penyesuaian dari tarian yang
dipergelarkan secara besar-besaran atau pada tarian jenis ini
sebagai promosi.
5. Contoh di Indonesia tari-tarian karya Guruh Sukarno Putra
Sumber Koleksi GKJ
Gb. 3.69 Untuk Mama
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI188
6. Recreational Dance(Tari Rekreasi)
1. Tarian ini merupakan pertunjukan individual dari tari rakyat
tradisi negara-negara Eropa maupun Indonesia.
2. Yang menari biasanya merupakan pewaris etnik
3. Bentuknya mempunyai kesamaan dengan tari tradisional
Indonesia.
4. Tarian ini biasanya merupakan satu bagian yang universal
sifatnya (bisa dilakukan oleh siapa saja)
5. Di mancanegara tarian ini dipentaskan oleh ribuan orang
yang disebut dengan ROUND
6. Saat ini menjadi tarian yang kompleks karena adanya
perubahan-perubahan koreografis.
7. Tarian ini tumbuh dan berkembang di masyarakat urban
atau pendatang.
Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.70 TarI Gambyong Kolosal
Sumber Koleksi Kusnadi
Gb. 3.71 Ngremo Mall
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI189
Tugas :
Marilah kita bersama mendiskusikan tentang tari-tarian
yang berkembang dewasa ini. Marilah kita amati melalui video
tari-tarian Nusantara maupun tari yang berkembang di daerah
sekitar. Berdasarkan konsep garapan dan peran tari di
masyarakat termasuk ke dalam kelompok jenis tarian mana pada
CD yang diputar kita putar. Lihat dan amati, selanjutnya
ceriterakan tentang tarian yang telah kita apresiasi. Diskusikan
dengan kelompok dan presentasikan kemudian.
RANGKUMAN
Pada hakikatnya, tarian dapat dilihat dari berbagai
sudut pandang terutama menyngkut kepada gerak, ruang,
dan waktu. Gerak sebagai ekspresi atau sebagai ungkapan
perasaan koreografer, penari, maupun seniman selaras
dengan irama atau musik.
Gerak sehari-hari dapat dijadikan gerak tari apabila
diperhalus atau diperindah. Gerak tari harus diberi aspek
estetis (keindahan). Oleh sebab itu, tari merupakan
ekspresi gerak yang indah dengan diiringin musik atau
ritme.
Jenis tari dilihat dari pola garapan dibagi 2 yaitu
Tari Tradisional dan Tari Nontradisional/tari kreasi. Tari
Tradisional dibagi tiga yakni Tari Primitif, Tari Rakyat, dan
Tari Klasik/Istana. Selanjutnya, Tari berdasarkan orientasi
Peran/fungsi dibagi menjadi 3 yaitu Tari Uapacara (tari
Adat dan Tari Religi /Agama), Tari Sosial/Pergaulan, dan
Tari Teatrikal/Pertunjukan.
Perkembangan tari secara umum dapat diamati
berdasarkan bentuknya dapat disebut sebagai berikut:
Tari Daerah, Tari Rakyat, Tari Balet, Tari Modern Dance,
Tari Musik Panggung atau Opera, Tari Pendidikan. Pada
masing-masing bentuk tari di atas, dalam
perkembangannya didukung oleh masyarakat
pendukungnya. Rentan atau kelemahan tari Klasik yang
berkembang saat ini lebih cenderung semakin sedikit
diapresiasi oleh banyak orang. Prosentasi tarian ini
ditonton tidak sembarang waktu, melainkan banyak orang
menonton koreografi tari yang memiliki pola garapan
bebas.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI190
Tugas:
1. Coba kalian buat suatu skema dari pembahasan bab ini ke
dalam maket kerja kalian.
2. Apakah ada diantara beberapa tarian di daerah kalian yang
telah kalian pahami benar-benar, termasuk rumpun jenis
tarian yang mana buatlah klasifikasi tari yang ada di sekitar
propinsi kalian.
3. Apakah kalian dapat melakukan tarian yang kalian kenali dari
sekian banyak yang berkembang di daerah kalian.
D. APRESIASI TARI NUSANTARA
Dalam sejarah perjalanan hidup manusia yang banyak
memiliki aktivitas, kesenian menjadi sarana yang dapat
digunakan untuk memberi pencerahan keseimbangan jiwa agar
memiliki pengembangan kemampuan jiwa ke arah seimbang dan
selaras. Yang bersangkutan dituntut untuk mampu menoreh dan
memiliki keseimbangan jiwa melalui cara dan apresiasi kehidupan
dalam berbagai bentuk. Salah satu pencerahannya adalah
melalui apresiasi kesenian.
Konsep apresiasi pada dasarnya mengamati seni melalui
berbagai media, baik elektronik maupun non-elektronik.
Pengalaman menunjukan bahwa apresiasi terhadap seni kurang
diminati oleh banyak kalangan. Hal ini dapat terjadi mengingat
manusia banyak dituntut untuk berlomba-lomba memenuhi
kebutuhan hidup sebanyak dan seluas mungkin. Dengan
demikian baru dapat merasakan seni ketika kondisi tubuh menjadi
kenyang dan terpenuhi kebutuhan fisiknya.
Tetapi para siswa dan guru, kita harus ingat dan
memahami,bahwa kebutuhan jiwa dapat terpenuhi tidak melalui
makan atau minum saja, melainkan kita harus melakukan
pemenuhan kesegaran jiwa dengan cara memberikan santapan
jiwa. Santapan jiwa dapat dipenuhi dengan pencerahan berbagai
rangsang atau stimulus berhubungan dengan keindahan,
khayalan, cita-cita maupun pencerahan lain yang dapat
digunakan oleh jiwa sebagai sarana berpikir santai, penuh
vitalitas, hingga mampu membentuk kepribadian jiwa secara utuh.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI191
Masyarakat pada umumnya dapat melakukan apresiasi
secara ortodoks yakni dengan melihat pertunjukan tari secara
santai dan menurut cara yang dapat dilakukannya. Kemampuan
seseorang untuk melakukan apresiasi tari dilakukan dengan cara
yang lebih kompleks dapat menjadikan yang bersangkutan
memahami pemaknaannya. Secara umum tahap-tahap apresiasi
terhadap tari dapat dijelaskan adalah sebagai berikut di bawah
ini.
1) Persepsi,
2) Pengetahuan,
3) Pengertian,
4) Analisa,
5) Penilaian,
6) Apresiasi,
7) Produksi (Jecquline Smith: sumber)
Teknik dalam melakukan apresiasi agar mendapatkan
sesuatu yang diharapkan harus melalui suatu pendekatan.
Adapun pendekatan yang praktis dapat digunakan dalam
mengapresiasi tari meliputi beberapa konteks yakni:
1) Pendekatan aplikatif yang bersangkutan secara
langsung masuk ke dalam lingkup di mana kesenian tersebut
tumbuh dan berkembang,
2) Pendekatan kesejarahan cara ini secara ortodok
membaca dan mempelajari literatur tertulis, jika memungkinkan
masih bisa dilakukan dengan melakukan wawancara dengan
orang yang terlibat dalam sejarah dimana tarian tersebut tumbuh
dan berkembang
3) Pendekatan problematik pendekatan ini secara umum
merupakan cara yang fenomental. Cara dan perilaku dalam
mendekati obyek harus dengan melalui pemecahan masalah
secara elaborasi (menarik hubungan satu obyek dengan pelaku
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI192
atau dengan masyarakat dimana tari tersebut tumbuh dan
berkembang).
Tidak dapat dipungkiri bahwa tarian hadir berwujud
gerakan. Apresiasi gerak tari didukung faktor pendukung tari dan
aspek-aspek estetik bentuk tari. Gerak tari yang dapat dilihat dan
dicerna merupakan gerakan yang didistorsi/stilisasi. Hal ini
berhubungan dengan bentuk koreografi yang dipelajari pada
pembahasan pengetahuan tari.
Pendukung tari meliputi kostum, musik iringan, tata teknik
pentas, serta faktor estetik yang menurut Elizabeth R Hayes
disebut sebagai kesatuan tari yang hadir dalam pertunjukan.
Upaya yang dapat dilakukan dalam menghayati koreografi tari
atau tarian sesungguhnya kesan yang menarik bahkan
menakjubkan apabila hadir berperan fungsi bagi sebuah
penghayatan apresiasi.
Dorongan untuk melihat koreografi tari akan meningkat
apabila wujud eswtetik bentuk tari secara harmoni dan konstruktif
mampu dicerap oleh pemirsa atau penonton. Dalam persoalan ini
langkah untuk menjelaskan tujuh aspek pencerapan apresiasi
yang secara teoretis dijadikan sebagai pendekatan.
Pendekatan tujuh aspek teoretis digunakan untuk kegiatan
apresiasi tari. Pengamatan tari-tari Nusantara secara koreografis
mendasarkan pada jenis tari, peran-fungsi tari, dan
perkembangan Tari Tradisional, Tari Nontradisional, Tari
Upacara, Tari Pergaulan dan Tari Teatrikal. Apresiasi dimulai
tumbuh kembang dimana asal muasal tari-tari tersebut ada.
Adapun dapat dijelaskan seperti uraian di bawah ini.
Aceh dan Sumatra Utara, Kental imbas pengaruh Melayu. Ciri
dan bentuk tari lebih dekat ke rumpun tari Melayu. Sumatra
Utara (Sumut) tari Tor-tor gerak merapatkan dan
mengembangkan ke dua telapak tangan sambil bergerak di
tempat dan geser kaki, Tari Cawan dengan membawa cewan di
atas kepala. Tari Serampang Dua belas dengan gerak
berpasangan muda mudi yang sedang berdendang. Tari
Manduda, Tari Kain, Tari Andung-andung, Tari Angguk, Tari Tari
Mainang Pulau Kampai, Tari Baluse, Tari Tononiha, tari Terang
Bulan, Tari Pisu Suri, Tari Baina, Tari Tari Barampek, Tari
Basiram Tari Bulang Jagar, Tari Buyut Managan Sihala, Tari
Cikecur, Tari Kapri, Tari Karambik dll.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI193
Daerah Istimewa Aceh atau Nanru Aceh Darusalam
(NAD).Tari Saman dengan gerakan rampak dan berselang-seling,
Tari Saudati ciri tari dengan menepuk anggota tubuh penari
masing-masing adalah penampakan ciri ke dua tari-tarian
tersebut., Tari Anyung, Tari Ranu Labuhan. Tari Asuk,Tari Bak
Saman, Tari Bantal Tepok tari ini langsung menggunakan bantal
sebagai komando ritmik dan dinamika gerak melalui menepok
bantal. Tari Bines, Bungong Sie Yung-yung, Tari Cincang
Nangka, Tari Cuwek, Tari Landak Sampot, Tari Dampeng, Tari
Kederen, Tari Labehati, Tari Lanieu, Tari Apeut, Contoh Tari
adalah Tari Ngelajau.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPa
Gb. 3.72 Tari Ngelajau Gb. 3.73 Tari Turun Kuaih Ainen
Liak-liuk gerakan lenggok, gerakan patah-patah diikuti
ayunan kaki, alunan gerak dengan alur-rentang sempit, serta
gerak enersi penuh dan sinergis menjadi salah satu pembeda
ciri motif gerak dan bentuk gerak tari 5 wilayah propinsi yakni
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI194
Sumatra Barat, Riau, Sumatra Selatan, Jambi,
Bengkulu. Motif gerak pembeda tersebut secara spesifik
menjadi rumpun kalimat gerak tari-kalimat gerak tari yang hampir
sama dari ke 5 wilayah rumpun tari seperti disebut di atas. Dalam
penyajian tari dari ke 5 wilayah propinsi tersebut secara jelas
menjadi pembanding koreografi tari secara umum. Oleh sebab
itu, Bentuk tari ke lima wilayah propinsi tersebut menarik
diungkapkan.
Sumatra Barat dengan pola kombinasi gerakan silat dan
gerakan patah-patah serta ayunan kaki dan tangan menjadi ciri
gerak dalam banyak tarian yang dikembangkan pada
koreografinya. Riau dengan gerakan khas Zapin yang
mengandalkan gerakan berpindah tempat melalui lompatan kaki
dengan tangan sedikit pasif adalah motif gerak yang dominan
pada ciri geraknya. Jambi dengan lebih banyak mengandalkan
dominasi motif-motif gerakan alunan, gerakan tangan serta
lompat kecil-kecil atau pendek-pendek banyak dikembangkan
pada gerakan tari putri di sisi lain. Sumatra Selatan dan Bengkulu
dengan alunan gerak secara lembut dan mengalun banyak
dikembangkan pada motif gerak pada Tari Putri kesemuanya
menjadi indikasi motif dan kalimat gerak tari yang nampak mudah
dibedakan.
Secara umum representasi motif dan kalimat gerak pada
beberapa tari-tarian di kelima wilayah tersebut secara jelas
terlihat saat diapresiasi. Beberapa tarian mengandung motif dan
kalimat gerak tari yang representatif disamakan. Motif dan kalimat
gerak tari yang ada dan berkembang di Indonesia kaya atas
estetika etnik yang masing-masing menjadi ciri gerak tarinya.
Coba simak secara teliti beberapa contoh repertoar tari
di bawah in,i di mana perbedaan dan kesamaan motif dan kalimat
gerak tarian tersebut. Jelaskan hubungan tari-tarian tersebut
dengan tradisonal etnik asal tari. Lakukan perbandingan secara
empiris tari yang telah ditonton. Catat dan uraikan perbedaan dan
persamaan tarian yang baru kalian apresiasi tersebut. Secara
umum ulasan menyangkut keseluruhan perbedaan dan
kesamaan tari yang ada lebih detail dan khusus diberi simpulan-
simpulan yang pantas dijadikan dasar tentang apresiasi yang
kalian lakukan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI195
Sumatera Barat Tari Piring, tari Payung, tari Rambai, tari
Lilin, Tari Ampun Mende, Tari Kain, Tari Karambik, contoh tarian
yang ada di bawah ini adalah tari Rancak di nan Jombang
(garapan)
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.74 .Rancak di Nan Jombang.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI196
Riau: tari Japin, tari Persembahan tari Joget, tari Joget
Lambak, Tari Zapin, Tari Ambong, Tari Catuk, contoh tarian di
bawah ini adalah tari Tabal Gumpita, Tari Lambak, ( Riau )
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.75 Tari Tabal Gumpita Gb. 3.76 Tari Joget Lambak
Bengkulu: tari Massal Andun, tari Massal Kijjai, tari Gandai,
tari Sekapur Sirih, tari Bidadari, tari Tabot (untuk penyambutan tgl 1 – 10
bulan Muharam)., tari Kain, tari Karan merupakan tari hiburan bengkulu
selatan ditarikan remaja putri. Tari Keris, tari Kikuk, Contoh di bawah ini
adalah tari tabot (Bengkulu)
Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.77 Tari Tabot
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI197
Jambi, Tari Sekapur Sirih (tari untuk penyambutan tamu
Agung dan pejabat daerah yang hadir ke Jambi).Tari Joget
Batanghari adalah tarian berpasangan, biasanya dilakukan
sebagai ungkapan kebahagian bersama, maka tari ini berbentuk
tari sosial.Tari Dana Sarah adalah tari menangkap ikan tari
Angguk, tari Depan Tulang Belut, tari Kipas Perentah, tari Sauh, ,
tari Gunjing, tari Mandi Taman, Tari Kain, tari Kelit Lang, tari
Kepak Balam dll.
Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.78. Tari Sekapur Sirih
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI198
Sumatera Selatan, Tari Tepak/tari Tanggai dan tari
Gending Sriwijaya (tari penyambutan), tari Paget Pengantin dan
tari Ngibing (tari pengantin), tari Tabur, tari Burung Putih, tari
Melimbang, tari Temu, tari Dana dan tari Sinjang (tari
rakyat/pergaulan).Tari Andun, Tari Bebe, tari Badaek, Tari
Badalung, Tari Bayang Sangik, Tari Bedug dll
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gambar di atas adalah 3.79.dan 3..80 Tari Bachincak-an
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI199
Lampung memiliki budaya batas. Posisi geografis
sangat menguntungkan. Hal ini ditengarai adanya transformasi
tari dari Jawa ke Lampung. Ini menjadi pijakan gaya tari tidak
dapat dihindari. Tari-tarian yang berkembang di sini antara lain
tari Cangget tari putri dengan repertoar mendemonstrasikan
gerakan jari dengan property Cangget. Ayunan Tangan, Gerakan
geser kaki digunakan sebagai pola komposisi tari Tari Badana
tarian pria sebagai ungkapan selamat datang. Tari Babarau
(Cemeti) digunakan sebagai tari adat untuk melakukan pinangan
kepada mempelai putri dengan properti cemeti. Gerak dinamis
antara gerak patah-patah pada kaki dan tangan serta gerak
pencak. tari Batin, tari Melinting, tari Lepas. Tari Arus, Tari Bebe.
Sumber Koleksi DepBudP
Gb. 3.81 Tari Ngelajau
Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.82 Tari Ngelajau
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI200
Jakarta, Tari Cokek adalah tarian tradisi Betawi yang terdiri
dari Topeng depan, topeng Cantik, serta Topeng Angga. Tarian ini
merupakan bentuk penggambaran karakter topeng. Tari Blenggo, Tari
Ronggeng, Tari Topeng Gong, Tari Ngarojeng, Tari Gong, Tari
Tayub(Nayub).
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.83 Tari Nyi Kembang Gb. 3.84. Tari Topeng
.
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.85 Tari Nyi Kembang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI201
a Barat: Tari Kalana Topeng (Cirebon) adalah tari klasik dari kasunanan
cirebon. Komposisi tari pada tahun 1912 oleh Cik Anggar Resmi. Tari
Merak, Tari Topeng, Tari Capang, Tari Dewi, Tari Doger, , Tari
Kandagan, Tari Kembang Puray, Tari Keris, Tari Ketuk Tilu, Tari
Longser, Tari Candra dewi, Tari Keurseus.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.86 .dan 3.87 Ttari Dogdog Lojor
Sumber Koleksi Ojang Jurusan Tari UNJ
Gb. 3.88 Tari Jaipongan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI202
YOGYAKARTA, tari Bedhoyo, tari Srimpi, tari Golek
Lima, adalah tari tradisional Kalsik yang digunakan untuk upacara
tertentu. Pertunjukan tidak sembarang orang dapat melihat.
Tarian ini biasanya terkait dengan upacara ngasung atau jengkar
Sinuwun Dalem (Raja turun keprabon bertemu rakyat di
peringgitan).
Tari Menak(Klasik) gaya gerak dengan laku
dodok/jongkok. Pergelaran di Pendopo. Konsep dan mode
garapan Langendriyan dan berperan dengan melalui tembang.
dll.
Sumber Koleksi Kusnadi
Gb. 3.89 A.Tari Gagahan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI203
Jawa Tengah, Tari Srimpi 5, Tari Srimpi 9, tari Bondan, tari
Golek, Tari Karonsih, Tari Lawung,Tari Retnosari,Tari Panji, Tari
Saptoretno, Tari Surenglaga, Tari Bondoyudo, Tari Anoman Kataksini,
Tari Bondoboyo, Tari Kridohumangsah, tari Rantoyo, Tari Menak
Koncar, Tari Menak Jinggo Dayun.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.90 Tari Kresno Baladewa Gb. 3.91Tari Warak Dugder
Jawa Timur, Tari NgRemo, tari Topeng (Madura), tari
Bapong, tari Jejer. Tari Atandak, Tari Embat-embat, Tari Emprak(tari
putra/putri berpakaian wanita, pertunjukan secara berkeliling, berperan
seperti tledek atau Ledek.
Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.92 Tari Bersih Desa Gb. 3..93 Tari Gelang Ro’om
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI204
Bali, Tari Pendet, tari Kecak, tari Legong, Tari Barong,
Tari Kecak, Tari Rangde, Tari Amiles Siku, Tari Ampok-ampok,
Tari Andir Legong Keraton, Tari Arja, Tari Badong, Tari Bajra, Tari
Barong, Tari Basur, Tari Cak, Tari Cawan, Tari Dag, Tari Janger,
Tari Ende, Tari Kebyar, contoh di bawah ini adalah tari Badawang
Nata (Garapan Bali)
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.94 dan 3.95 Tari Badawang Nala
Nusa Tenggara Timur, tari Lenda Nusa Malole, tari
Likurai, tari Padoa, tari Carana, tari Soka Papak, Tari Ana Keka,
Tari Bial Tojong, Tari Bidu, tari Danding, Tari Deda Lolon, Tari
Dio doe, Tari Elilola, Tari Kabana, Tari Kadhi Sago Alu, Tari
Kataga tari tradisional putra yang terdiri dari gerakan hentakan
kaki & tangan. Tari Kei dll
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.96 .dan 3.97 Tari Taume Anuku
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI205
Sumber Koleksi Anj. TMII Jkt
Gb. 3.98 A dan 3.98 B Tari Lupak Gurantang
Sulawesi Utara, Tari Lenso tari berpasangan muda-mudi,
ditarikan pada saat pesta dan bulan purnama. Tari Kabela aalah tari
penghormatan tamu agung daerah, dilakukan kelompok gadis. Tari
Maengket, tari Turutenden, tari Kebesaran. Tari Kaka Lumpang tari
hiburan rakyat di SulUt. Tari Kartili tarian hiburan rakyat SulUt. Tari
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber GNP TMII Jkt
Gb. 3.99 dan 3.100 Tentengkoren
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI206
Sulawesi Tengah, Tari Dabang adalah tari
upacara mengasah gigi, kitanan, serta penobatan putri masa
akil balig. Tari Kandasara adalah tari ritual penghalau setan.
tari Ana Tete, Tari Banggai, tari Ando
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.101 Tari Randa Nabia
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI207
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.101 Tari Randa Nabia
Sulawesi Barat, Tarian dari Sulawesi Barat memiliki
banyak kesamaan dengan tari daerah Sulawesi lainnya. Secara
umum beberapa tarian yang ada antara lain adalah tarian
Pajinang seperti gambar di bawah ini.
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.103 dan 3.104 Tari Pa’Jinang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI208
Sulawesi Tenggara, Tari Lense (menceritakan kehidupan
laut), tari Linda, tari Lumunse, tari Mombesara, tari Dinggu, Tari Dero,
Tari Kalegoa tari pingitan gadis Sul Teng, gadis akil balig harus
menarikan tari ini. Tari Salonde, Tari Kancara, Tari Katumbu, Tari
Lumanse, tari Mangaro, Tari Modero, Tari Moana, Tari Modelusi, Tari
Moese,Tari Moleba, Tari Morasa, Tari Morengku, Tari Motaro dll.
Pada tarian panggayo ini penari bergerak lemah gumulai.
Pergerakan tari lebih banyak memainkan kain sarung sebagai
properti tari. Pada saat tertentu kain sarung juga dimanfaatkan
sebagai sarana untuk keperluan garapan dengan memberikan
kesan latar penutup, kain sarung menjadi sarana untuk melakuka
visualisasi peroperti tari lainnya.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 3.105 Tari Ponggayo
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI209
Sulawesi Selatan, Tari Pajaga ini adalah tari kelompok
property tari menggunakan mandau, dilakukan oleh penari Putri
dan. Tarian ini sakral dan untuk upacara tertentu saja. Tari
Pakarena(Klasik) adalah tarian lembut gerakan mengalun
berkembang di Makasar. Tari Bissu tarian kaum Banci mandau
property tarinya. Tari Kajangki adalah tari upacara Perang. Tari
Lule, tari Padudupa, tari Pagalung, tari Mananeng, tari Pasuloni, tari
Moseng, tari Pettenung, tari Bisaro. Tari Alu-alu, Tari Alusu, Tari
Cip Cip Po, Tari Daok Bulang, Tari datu Museng, tari Denggo, Tari
Dumono, Tari Losa-losa, Tari Mak Bandong, Tari Mak Jekne-jekne,
Tari Mak Randing, Tari Maklatu Kopi, Tari Makrencong-rencong,
Tari Maluyya, Tari Malemmo, Tari Manganeng, Tari Mangayo, Tari
Mangandak, Tari Mappacci, contoh tari-tarian di bawah ini adalah
Tari Pabate Pasapu, Tari Kondo Bulang, Tari Tano Doang).
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 3. 106 Tari Pabete Pasapu
Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.107 Tari Kondo Bulang Gb. 3.108 Tari Tano Doang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI210
Kalimantan Timur, Tari Belian adalah tari untuk
menyembuhkan orang sakit. ditarikan pada masa paceklik, oleh 4
wanita, 1 orang lelaki(pawang). Gerak kaki tangan bebas kadang
berputar seperti gangsing.Tari Anggo, Tari Gantar, tari Perang, tari
Hudok, Tari Belahong, Tari Belaong, Tari Bekuku, Tari Bejo Ujo, Tari
Burung Enggang, Tari Datun dll.
Sumber Koleksi DepBudPar
Gb. 3.109 Tari Perang
KaBarat: tari Capin Tari Jongjana, tari Amboga, tari
Totokng, tarsaku Ayu, tari Tandasambas, tari Sirang, tari
TemboPada beberapa tarian dari Kalimantan Barat memiliki latar
belakang budaya yang dekat dengan pesisir. Ciri tariannya lebih
dipengaruhi alam sekitarnya. Beberapa jenis tari yang ada antara
lain adalah:
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3110 dan 3.111 Tari Dara Juanti
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI211
Pada tarian di Kalimantan Selatan banyak yang memiliki motif
dan bentuk penyajian yang hampir sama pada ke empat wilayah
daerah tersebut. Kalimantan Selatan memiliki tari-tarian yaitu
tari Tirik Lalan, tari Japin Sigan, tari Topeng Panji, tari Gandut,
tari Mantang, Baksa (Ajaran, Tameng,Tumbak), tari Balian Bukit,
Tari Bogam.
Sumber Koleksi Anj TMII Jkt
Gb. 3.112 Tari Tarik Lalan
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.113 dan 3.114 Tari Baharuan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI212
Kimantan Tengah: tari Giring-giring, tari Mandau
Talawang dan Kapuas, tari Manjuluk Sipa, tari Kinyah Bawi, tari
Boleong Dadah, Tari Tambung, tari Kinyah Pampulu, Tari
Banggai, Tari Badeder, Tari Bahala, Tari Balian Bawo, Tari
Bukung, Tari Kangkurung, Tari Kanjan, Tari Karaenta, Tari
Kinyah Danum.
Sumber Koleksi Jursuan Tari UNJ Sumber Koleksi Anj. TMII
Gb. 31.115 Tari Giring-giring Gb. 3.116 Tari Giring-giring
Maluku, Tari Caka Lele, tari Lenso, tari Mutiara, Tari
Dendang Dilale, Tari Denge-denge, Tari Dodobol, Tari Maru Putih,
Tari Mabileose, Tari Due
Sumber Koleksi TMII Jkt Sumber Koleksi TMII Jkt
Gb. 3.117 Tari Milau Gb. 3.118 Tari Persembahan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI213
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.119 dan 3.120 Tari Bambu Gila
Irian Jaya, Tari Yospan, tari Wor, tari Dombe., Tari
Aluyen, Tari Aniri, Tari Aya Nende, Tari Det Pok Mbui, Tari Dow
mamun, Tari Etol, Tari Kampu, Tari Meitoro Meisawe,TariMbis Pok
Mbui, Tari Meto, Tari Ndi, Tari Mooni.
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.121 dan 3.122 Tari Ndaitita
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI214
Pada Buku ini diselipkan beberapa tari daerah propinsi
yang baru di Indonesia. Tari Daerah dimaksud adalah tari daerah
Banten dengan tari Dhalaalail Panggungjati dan Bangka Belitung
(Babel) Tari Tepulut.
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.123 dan 3.124 Tari Dhalaalail Panggung Jati
Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt
Gb. 3.125 dan 3.126 Tari Tepulut
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI215
Setelah kalian mengenal tari-tari tradisi Indonesia, pelajari
dengan seksama jenis-jenis tari tari yang memiliki peran fungsi di
masyarakat sesuai pola garapan, penyajian dan perkembangan
yang dimilikinya. .
Sbagai contoh di sini dapat disebut tari Gending Sriwijaya
merupakan tari upacara, untuk penghormatan tamu agung,
upacara pengantin. Tarian ini mempunyai pola lantai yang sangat
sederhana, penyajiannya cukup unik, di mana pengantin wanita
ikut menari bersama penari lainnya.
Coba kalian sebutkan lagi tari-tari lainnya yang ada di
Indonesia seperti contoh di
atas dilengkapi dengan asal daerahnya. Cermati bentuk-
bentuk tari tersebut secara spesifik, baik melalui gambar
maupun pengamatan langsung.
Analisalah tari-tari yang kalian amati, kemudian uraikan
berdasar pendapat kalian. Coba kalian jelaskan tentang irama,
bentuk gerak, iringan tarinya, serta bandingkan dengan satu atau
beberapa tarian lain yang kalian pahami.
Contoh kegiatan apresiasi terhadap tari Gending
Sriwijaya,
sekarang Anda apresiasi bentuk tari lainnya, misalnya tari
karya Bagong Kusudiarjo
(Jawa Tengah), tari karya Tjetje Soemantri (Jawa Barat), tari
karya Gusmiati Suid
(Padang), tari karya Retno Maruti (klasik Jawa Tengah)
bahkan mungkin tari-tarian
Guruh Soekarno Putra yang spektakuler, tari karya Sardono
(kontemporer) atau
tari-tari yang sering digunakan “penari latar”.
Cobalah kalian temukan dan kenali tentang identifikasi tari-tari
yang kalian lihat melalui video yang kalian tonton pada waktu
guru kalian memberi tugas. Bagaimana peran fungsi tari yang
kalian amati, pola garapan, penyajian, gerak, rias-busana, dsb.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI216
Kemudian kalian dapat memetik nilai-nilai serta makna
dari tari Gending Sriwijaya berdasarkan sinopsis tarian tersebut
dan beri komentar terhadap gerak-gerak yang diamati. Rasakan
dengan menghayati bagian per bagian dari gerak tarinya, dan
terakhir kalian dapat menemukan tari yang serupa atau sejenis
dari daerah lain.
Amati salah satu bentuk Tari Tradisional, Tari Nontradisional,
Tari Upacara, Tari Pergaulan/Sosial, Tari Teatrikal secara
seksama. Pahami isinya dan klasifikasikan tari kalian amati
tersebut ke dalam fungsinya. Cobalah kalian
menspesifikasikan ke dalam aspek mode penyajian dan bentuk
tarinya, sehingga tarian tersebut dapat kalian simpulkan
termasuk ke dalam jenis, peran dan bagaimana kedudukan
perkembangannya pada waktu sekarang, nilai atau pesan apa
yang ingin disampaikan melalui repertoar tari tersebut.
Sudah pada tingkat manakah kegiatan pencermatan dalam
wujud apresiasi ini?.
Latihan
1. Melalui tayangan tari-tarian yang telah kita amati, coba
jelaskan latar belakang, fungsi-peran tari dalam kehidupan
masyarakatnya. Sebutkan ciri gerak spesifik yang
menunjukkan tari tersebut sebagai Tari Upacara (Adat)
2. Buat Analisis apresiasi jenis tari Tradisional Indonesia.
Bagaimana kegiatan apresiasi terhadap suatu Koreografi
tari Tradisional.
Adapaun teknik penyampaiannya sebagai berikut: 1) Judul
Tari, 2) Nama dan asal koreografer, 3) Sinopsis atau uraian
singkat tentang proses koreografi, nama dan jumlah penari 4)
Jenis tari, fungsi-peran atau tujuan tari, 5) Waktu dan tempat
pertunjukan, 6) Keunikan gerak ditinjau (aspek tari), 7) Ide pijakan
gerak, 8) Ekspresi gerak atau ekspresi penari, 9) Musik iringan
tari, 10) Tata rias dan busana, 11) Properti, 12) Setting atau
stage, 13) Pola lantai, 14) Tata cahaya atau lighting.
Kegiatan apresiasi ini diakhiri dengan melakukan penilaian
terhadap tari yang diamati, baik dengan ukuran kualitatif maupun
kuantitatif sesuai dengan kesepakatan diantara kelompok. Perlu
diingat kajian budaya yang telah diuraikan pada bab sebelumnya
dapat memberikan kontribusi dalam mengulas tanggapan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI217
terhadap tari yang diamati, karena pada dasarnya bahwa budaya
masyarakat setempat akan mempengaruhi tehadap bentuk tari
yang dihasilkan, sehingga masing-masing tari akan memiliki
keunikan berdasarkan ciri atau karakteristik masyarakatnya.
Rangkuman
Apresiasi adalah kegiatan pengamatan atau menonton
suatu bentuk karya tari, tetapi lebih pada mencermati dan
menganalisis isi (makna) yang terkandung dalam koreografi
tari tersebut. Kegiatan apresiasi diakhiri dengan memberikan
penilaian/penghargaan sehingga diharapkan mampu
mengkualifikasi koreografi tari tersebut.
Kegiatan apresiasi harus disesuaikan dengan
karakteristik yang menonton (siswa, guru, mahasiswa) karena
tingkat apresiasi ditentukan kebiasaan masyarakat
penonton. Masyarakat Bali memiliki tingkat apresiasi yang
tinggi, karena tarian menjadi ekspresian spriritual masyarakat
Bali.
Tujuh tahap kegiatan apresiasi dapat dijadikan
sebagai media teknik memberikan ulasan siswa, guru,
mahasiswa.Tahapan tersebut dapat digunakan sebagai pijakan
mencermati isi, menganalisis, menghargai dan
memproduksi koreografi berdasarkan hasil pengamatan.
Unsur kreatif dan inovatif dapat digunakan sebagai
pengembangan berkarya (kolaborasi) pertunjukan tari yang
spektakuler (hasil perpaduan tari tradisi, kreasi dan moderen).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI218
PETA KONSEP ESTETIKA TARI
Estetika Tari
Keunikan Ide-ide Teknik Tari
Estetika Kreatif Tari-tari
Pendidikan
Pengamatan
Proses Kreatif Berdasarkan Hasil
Apresiasi Komposisi Tari
Bagan 3. 1
Deskripsi Struktur Ide dalam Koreografi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI219
E. NILAI-NILAI KEINDAHAN TARI
Keindahan tidak nampak sebagai makna nilai. Keindahan
sesuatu bukan merupakan kualitas obyek. Nilai keindahan suatu
benda belum menjadi jaminan indah bagi semua yang
menghargainya. Keindahan bentuk seni dapat dikenali melalui
kenyataan pengaruh-pengaruh karya yang telah memberikan
batas-batas kemampuan kita di dalam menghayatinya.
Keindahan benda seni yang kita tangkap melalui panca indra,
merupakan keindaha yang semu sifatnya.
Pada hakikatnya, keindahan berpedoman kepada
pengertian yang mempersyaratkan adanya kepentingan selera,
pemahaman, kepekaan, membedakan dan mengapresiasi makna
sebuah bentuk karya seni (Jazuli: 2003, 113). Penghayatan
terhadap berbagai kebutuhan tentang selera, yang mampu
menimbulkan makna terhadap penghayatan simbol-simbol
sebagai media dalam karya seni baik berhubungan dengan
gerak(tari), nada(musik), garis dan warna (rupa), serta wahana
komunikasi adalah kemampuan bagaimana cara kita untuk
mengapresiasi dan menghayatinya.
Dalam seni tari, proyeksi munculnya keindahan tari adalah
bagaimana kesan makna yang dapat diartikulasikan kita menjadi
bentuk kepuasan suatu pengalaman estetik yang pada saat itu
hadir sebagai bentuk gerak yang sangat indah, adalah kesan-
kesan yang dapat dimaknai sebagai pemenuhan kebutuhan
estetis kita. Arti kenikmatan dan perwujudan sesuatu kesatuan
tentang gerak beserta pendukungnya yang berfungsi secara
inderawi bekerja merespons bentuk-bentuk seni menjadi
bermakna bagi kehidupan kita.
Dalam memahami nilai-nilai keindahan karya seni tari
tidak boleh terikat dengan masyarakatnya atau kita masuk ke
dalam situasi dan keadaan lingkungan dari mana tari tersebut
berasal. Oleh karena itu, keindahan tari ditetapkan berdasarkan
kesepakatan lingkungan, alasan dimana wiraga, wirasa, dan
wirama tari dan gerak hadir secara bersama.
Kenyataan inilah dimana situasi keindahan makna sebuah
nilai keindahan dapat terproyeksi secara benar, tanpa intrik, dan
pengaruh yang bakal menciptakan situasi dimana rasa
keberpihakan menjadi dewa dalam menentukan keindahan
sebuah karya seni. Namun demikian, hal yang terjadi dalam
menilai suatu keindahan tari di Jawa telah mematok melalui
sejumlah kriteria mencakup beberapa unsur penting seperti dapat
dilihat dalam bagan konsep di bawah ini sebagai berikut:
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI220
Pacak: Pancat:
Kriteria yang ditetapkan dan Kesinambungan motif gerak
ditaati dalam melakukan gerak. satu dengan lainnya. Dalam tari
Penari mampu mencapai perubahan gerak harus selaras
ekspresi gerak dengan dan serasi.
ketentuan karakter peran.
Luwes: Wilet:
Sifat selaras dan harmonis Kreativitas penari dalam
penari dalam menghayati gerak. bergerak. Gaya gerak pribadi
Penari harus mampu dalam teknik gerak jadi
mengendalikan gerak, bukan ketentuan. Penari harus mampu
sifat aslinya atau lebih untuk menggerakan tari lebih menarik.
karakter peran.
Lulut: Irama:
Kriteria menghayati gerak Kriteria mengatur kecepatan,
secara mengalir (mbanyu mili) tempo, tekanan gerak dipahami
Artinya rangkaian gerak runut, dan dihayati berkaitan dengan
dihafal, berkesinambungan. irama tari dan musik. ketentuan
Penari mampu menghayati gerakan tari.
gerak.
Ulat: Gendhing:
Kriteria ekspresi mimik guna Kriteria pemahaman musik,
mencapai dramatik, peran, dan gendhing, dan instrumen
ungkapan gerak (marah, sedih, menjadi penguasaan penari.
tenang, lucu, dan sebagainya). Musik iringan harus
direfleksikan secara baik
melalui penampilan dan
suasana. taati dalam
melakukan gerak. Penari
mampu mencapai ekspresi
gerak dengan ketentuan
karakter peran
Bagan 3.2
Prototipe 8 Kriteria dalam Memenuhi Kemampuan Menari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI221
Joged Mataram
Nilai normatif tari baru saja bergulir. Tari Jawa
Yogyakarta, Tari Surakarta, dan Tari Bali merupakan awal
terwujudnya Standarisasi Tari. Pendidikan Menengah Kejuruan
(Dikmenjur) secara Nasional sebagai lembaga pemula yang
menetapkan tari memiliki standar di Indonesia. Walaupun
terkesan terlambat, Dikmenjur secara periodik menetapkan
standar tari bagi Tari-tarian Sunda, Sulawesi, Tari Jawa Timur,
dan Tari Sumatra Barat.
Secara performatif ketentuan standar penilaian untuk
kepenarian yang telah disepakati dan didukung oleh masyarakat
di mana komponen Daerah ikut bertanggung jawab atas
penetapan serupa. Pemberlakukan ketentuan nilai normatif tari
tersebut diakui banyak kalangan.
Pada Joged Mataram, masalah Sawiji, Greget, Sengguh,
Ora Mingkuh juga menjadi wujud performansi dari kriteria dasar
ketentuan normatif tarinya. Secara umum masalah yang sama
dimiliki pada beberapa daerah lain di Indonesia. Secara lengkap
informasi tersebut dapat dilihat pada buku standarisasi tari-tarian
sebagai berikut yakni. Sulawesi, Bali, Sumatra Barat yang diacu
da dijadikan landasan kepenarian dakui dan dijadikan acuan
secara konsisten.
GREGET:
SEWIDJI: Daya kekuatan emosi.
Konsentrasi diarahkan pada satu
Ungkapan ekspresi peran
tujuan. Kesadaran konsentrasi dalam
untuk mewujudkan dinamika,
menari merupakan kesanggupan
kontrol gerak, pengendalian
gerakan yang diperagakan.
diri sexcara maksimal.
Makna kesanggupan melakukan
Kedalaman penghayatan
sesuatu yang sedang dilakukan dalam
gerak, peran dan
bentuk atiket dan impresif.
pengendalian diri yang paling
penting dalam melakukan
gerak tari.
ORA MINGKUH: SENGGUH:
Ketebalan prinsip percaya diri. Kepercayaan pribadi yang
Biasanya berhubungan dengan dapat digunakn untuk
penjiwaan karakter tokoh, jenis gerak memaknai gerak, kedalaman
yang dilakukan, serta makna yang isi karakter, serta kepercayaa
harus diungkapkan secara memenuhi yang dapat digunakan untuk
syarat membantu aktivitas yang
dilakukan.
Bagan 3.3 Karajkter tokoh harus menjadi
Joged Mataram simbol peraga dalam
membawakan peran. Peran
terkait dengan penghayatan
tokoh
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI222
Dalam tari tradisional, ikatan wiraga, wirama, dan wirasa
(3 W) dalam perkembangannya dipakai sebagai cara
mengevaluasi kualitas penari dalam menari. Pengkatagorian yang
lazim digunakan berhubungan dengan irama, dramatik, dan
suasana tari. Konsep ketiga W ini pada pelaksanaan di suatu
momen sangat berperan fungsi dalam cara menilai bentuk fisik,
kemampuan menguasai irama atau iringan tari, serta
penghayatan prima terhadap karakter, penghayatan gerak serta
olah rasa.
Secara singkat keterkaitan ketiga W adalah sebagai
berikut:
WIRAGA:
WIRASA
Keterampilan penari diukur melalui
indeks yang menentukan kualitas Tari melalui simbol
tarinya. Kualitas menyangkut kepada gerak
bentuk sikap dan geraknya secara direpresentasikan
berkesinambungan dan memenuhi membawa misi. Misi
standar kualitas penghayatan gerak. inilah yang digunakan
oleh wirasa untuk
disampaikan kepada
audien.
Oleh sebab itu wujud
penghayatan atas
wirasa lebih
ditekankan pada
penghayatan karakter
WIRAMA : peran, gerak yang
dilakukan, dan
ekspresi yang
Kemampuan penguasaan irama, baik
ditampilkan menjadi
hubungan dengan gerak dan
bagian dari wirasa tari.
musiknya. Kepekaan tari menentukan
kualitas penghayatan atas gerak dan
musiknya.
Bagan 3.4
Bagan Keterampilan Tari: Peta Keterukuran Keterampilan Tari untuk Penari.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 222
BAB IV
KOREOGRAFI
Pengetahuan Komposisi dan Mencipta Tari
A. Pengetahuan Dasar Komposisi Tari
Dalam membicarakan komposisi tari atau penciptaan
karya (koreografi), hal utama yang harus diketahui adalah
pengetahuan dasar komposisi tari. Pengetahuan tentang
komposisi tari pada dasarnya merupakan alat untuk membahas-
tuntas berbagai hal yang dibutuhkan menyangkut komposisi tari
(koreografi).
Pengetahuan komposisi tari secara hakiki menjadi bahan
yang diacu secara dasar dalam hubungan dengan koreografi.
Landasan ini digunakan karena berbagai pengetahuan berkenaan
koreografi ada di situ. Dengan demikian secara tidak langsung
pengetahuan dasar komposisi menjadi wahana untuk mengantar
seseorang membuat komposisi tari atau koreografi.
Pengetahuan komposisi tari menjadi sumber yang dapat
digunakan untuk produksi tari. Sarana ini sebagai wahana di
dalamnya terdiri dari berbagai elemen umum yang secara khusus
mampu membedah tata cara dan teknik perencanaan bagi
seseorang dalam mengkomposisi tari atau koreografi.
1. Apa komponen komposisi tari?
Berdasarkan beberapa sumber penulis yang ada
kaitannya dengan pengetahuan komposisi tari seperti La Mery,
Jecquiline Smith, Rudolf Laban, Elizabeth R Hayes dan masih
banyak lagi, mereka ikut bertanggung jawab dalam kaitan dengan
teori-teori yang dapat digunakan sebagai referensi komposisi tari.
Pengetahuan untuk membuat komposisi tari atau koreografi
sebenarnya dapat dipahami secara umum saja. Akan tetapi bagi
pemula yang baru dan harus bekerja secara ilmiah, referensi ini
selayaknya jangan ditinggalkan.
Beberapa sumber buku tentang pengetahuan komposisi
tari, menyebutkan bahwa tahap-tahap membuat komposisi tari
secara lahiriah menjadi suatu fase atau proses kreativitas yang
mendalam terjadi pada seseorang. Acuan yang ada selanjutnya
digunakan untuk proses kreatif yang pada akhirnya dapat lahir
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 223
dan dijadikan suatu patokan di mana pijakan tersebut selanjutnya
dapat digambarkan mengacu pada pola-pola sebagai berikut
1 Mengkhayalkan
• Dapatkan akses khayalan, masukkan ke kapasitas
ingatan, tuangkan ingatan kembali menjadi khayalan-
khayalan yang dapat menciptakan khayalan baru.
• Bebaskan proses berpikir yang tidak-tidak, sehingga
khayalan-khayalan yang muncul dapat berkembang, dan
dengan senantiasa berganti-ganti dengan sangat cepat
(seperti kaleidoskop).
• Gunakan khayalan dan daya imajinasi sebagai alat
penemuan.
2 Merasakan
• Belajar melihat, menyerap, dan merasakan secara
mendalam apa yang dapat digunakan sebagai jaminan
munculnya khayalan berupa ide
• Menjadi sadar akan sensasi dalam diri berkaitan dengan
kesan-kesan penginderaan.
3 Menghayati
• Menghayati perasaan yang berkaitan dengan temuan-
temuan dalam kehidupan menjadi sadar akan sensasi-
sensasi dalam tubuh.
4 Mengejawantahkan
• Temukan kualitas-kualitas estetis yang secara integral
berkaitan dengan bayangan-bayangan dan curahan
pikiran yang berkembang.
• Biarkan curahan pikiran yang muncul dalam bentuk
pemahaman dan khayalan-khayalan yang mampu
diejawantahkan atau dituangkan menjadi ide-ide gerak
yang dapat melawati pengalaman awal.
5 Memberi Bentuk
• Biarkan ide terbentuk secara alamiah
• Gabungkan unsur-unsur estetis sedemikian rupa sehingga
bentuk akhir dari tarian melahirkan ilusi yang diinginkan
dan secara metafora menampilkan angan-angan dalam
batin.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 224
B. ELEMEN-ELEMEN DASAR KOMPOSISI TARI
Seperti telah disinggung pada pengantar pengetahuan
komposisi tari tentang membuat komposisi tari atau koreografi
bahwa referensi yang banyak terkait dengan koreografi adalah
buku karangan Elizabeth R Hayes dan Jequeline M Smith, La
Merry, Laban, maka di bawah ini secara berturut dapat dijelaskan
peta konstruksi pengetahuan koreografi secara jelas dapat
diuraikan adalah sebagai berikut.
1. Disain Gerak
Manusia beraktivitas sehari-hari memerlukan gerakan
tubuhnya, dalam memanfaatkan gerakan yang tanpa disadari
gerak mendukung aktivitasnya secara maksimal. Dalam kaitan
dengan tari, gerak merupakan unsur yang penting, dimiliki
seorang penari sebagai sumber untuk aktivitas menari.
Gerakan menari merupakan gerak yng digunakan untuk
mengungkapkan perasaan, dengan harapan untuk mendapatkan
tanggapan orang lain. Gerakan tari berbeda dengan gerakan
bekerja atau gerakan olah raga, karena gerak tari sebagai
ungkapan ekspresi sedangkan gerakan olah raga untuk prestasi.
Masalah gerak pada dasarnya merupakan unsur utama
dalam tari. Bentuk, format, dan sikap maupun posisi gerak
menentukan bagaimana suatu gerakan harus diperagakan.
Format gerak berhubungan perubahan sikap, posisi, dan
kedudukan dari suatu benda.
Disain gerak secara nyata merupakan unsur 3 dimensi
yang memiliki panjang, lebar dan volume. Kedudukan gerak
didesain menjadi bentuk benda selama menempati posisi,
kedudukan, dan momen berpindah dari satu posisi ke posisi lain.
Gerak dalam tari secara kedalaman memiliki merupakan
media ungkap dari pernyataan dan ekspresi. Dalam tarian gerak
merupakan unsur baku. Gerak terdiri dari tenaga, ruang dan
waktu dan berhubungan erat dengan wirasa, wirama, dan wiraga.
Tenaga dalam gerak tari berhubungan dengan energi
yang dikeluarkan untuk bergerak sesuai kebutuhan intensitas,
kualitas, dan tekanan. Intensitas banyak sedikitnya berhubungan
dengan tenaga untuk pergerakan, tekanan atau aksen
berhubungan dengan penggunaan energi secara merata atau
tidak melalui penyaluran kekuatan bergerak dari seorang penari.
Kualitas gerak juga menjadi prioritas gerakan dipelajari.
Tenaga yang disalurkan menghasilkan bentuk, gerakan
mengayun, mengalir, bergetar, menahan dan sebagainya sangat
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 225
bergantung pada bagaimana teknik seorang penari melakukan
kualitas gerakan secara sempurna.
Para siswa coba lakukan dalam hal ini bagaiama kalian
mampu merasakana gerakan yang dapat dilakukan secara
berbeda dalam kaitannya dengan jenis gerakan tegang, kendur,
mengalir, dan patah-patah. Coba jelaskan perbedaan yang dapat
kalian rasakan melalui pengalaman bergerak secara terus
menerus khususnya pada saat kalian belajar menari.
Gerakan tari dapat dibentuk melalui disain yang dibuat.
Bentuk dan kapasitas serta kebutuhan tenaga yang disalurkan
menjadi makna gerakan tari yang pada nantinya diungkapkan.
Standar gerak tari dibutuhkan untuk ungkapan ekspresi, kekuatan
dan jangkauan gerak, serta kedalaman makna gerak yang dapat
dirasakan secara terstruktur oleh peraga tari dalam menarikan
suatu tarian. Oleh sebab itu, bentuk, konstruksi, dan kedalaman
isi suatu tarian sangat menentukan bagaimana tari dapat
menimbulkan kesan emosi bagi pengamat atau yang
menontonnya.
Para siswa sekalian, coba rasakan bagaimana kalian
mampu mengolah gerakan-gerakan yang memiliki sifat gerak
mengalir, mengayun, patah-patah, tegang-kendur serta berbagai
jenis gerakan yang dapat didesain secara mudah oleh kalian
sendiri.
2. Disain Musik
Musik pada dasarnya bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh
sumber bunyi. Jenis musik yang teratur disebut ritme, sedangkan
yang tidak teratur dapat disebut dengan bunyi saja. Bunyi yang
teratur sesungguhnya merupakan disain musik. Masalah tempo
atau ritme, dinamik dan sinkop yang terdapat dalam bunyi suatu
musik dapat membentuk irama dan dinamik yang mampu
menggugah rasa kita untuk mengekspresikan gerak.
Bentuk wujud dan variasi bunyi yang ditimbulkan melalui
alat musik dapat digunakan untuk memberi ruh musik yang
digunakan untuk mengiringi koreografi. Motif, bentuk, jenis, dan
dinamiknya dapat bermacam-macam bentuk. Teknik dan cara
memainkan alat musiknya juga berbeda satu jenis alat dengan
alat lainnya. Desain musik agar dapat menghidupkan koreografi
perlu digunakan kemampuan musical yang berhubungan dengan
bekal kemampuan dan kecakapan dalam mengukur kekuatan
serta bagaimana teknik menghasilkan dinamika secara variatif.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 226
Musik orkestra berperan dalam memberikan bermacam
warna bunyi dan variasi alat yang digunakan. Secara kuantitatif
peralatan musik yang banyak mampu menghadirkan kesan
dinamis, hegenitas, serta banyak penafsiran yang digunakn untuk
mencapai klimaks garapan. Di sisi lain, secara kualitas instrument
alat musik yang banyak tidak signifikans untuk menghadirkan
klimaks yang berkesan dan memiliki kekuatan garapan. Paduan
keduanya secara sinergis dapat menghidupkan koreografi
semakin kaya penuangan ekspresi musikal.
Cara garap desain musik dapat dikembangkan dengan
melalui penggunaan alat musik tradisonal dalam bentuk gamelan,
musik diatonis dalam wujud alat-alat musik barat. Melalui
penggunaan jenis alat musik yang berbeda watak dan jenis
memiliki karakter yang dapat digunakan untuk memberi corak
irama, tekanan, ritmik, dan alunan suara secara tepat dan benar.
Tantangan mendasar yang paling mencolok apabila
koreografer yang tidak memilikibekal ilmu musik dan musical
yang tinggi akan tabu an tidak mengerti kepekaan musikal yang
harus dituangkan dalam musik iringannya. Apabila hal ini terjadi
akan membawa dampak yang kurang positif dalamm
koreografinya.
Koreografer yang memiliki kecakapan ganda akan
menjadi asset pengetahuan yang tidak henti-henti dalam
penggarapan koreografinya, hal ini membutuhkan kemampuan
dan keterampilan keduanya di bidang seni.
Masalah desain musik yang paling pokok adalah memiliki
konsep bagaimana cara mewujudkan bentuk awal,
perkembangan, klimaks, penahanan akhir dan penurunan secara
koreografis. Penggunaan alat musik yang dibutuhkan dapat
memberikan keserasian musik iringan dan bentuk koreografi yang
dikembangkan secara maksimal. Cara dan teknik ini sangat
dibutuhkan dalam penataan koreografi yang lebih mendasar.
Kemampuan seseorang dalam menghidupkan musik
memiliki karakter bunyi serta kekuatan untuk membangkitkan
impresi rasa bagi pendengarnya dibutuhkan penghayatan rasa
bunyi secara khusus. Kepekaan rasa musical inilah yang dapat
digunakan oleh seseorang dalam menghidupkan dinamika secara
harsontal dimana dalam pengolahan rasa musik lebih ditentukan
pada bagaimana cara seseorang tersebut dalam mengusun,
merangka, dan menata melodi, dinamika, dan sinkop-sinkop
bunyi secara variatif, mendalam, dan dengan menggunakan
teknik sentuhan musical yang professional.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 227
Kemampuan dan kekuatan menjalin rasa musical menjadi
bentuk musik yang memiliki kapasitas dan intensitas rasa musical
ditentukan pada hasil elaborasi dalam mendesain musik secara
cermat. Kecermatan yang dimaksud inilah merupakan sentral
kepekaan musik dari seorang yang mampu menggarap musik
secara hidup dan penuh sentuhan.
Di bawah ini adalah jenis alat musik Gamelan Jawa yang
berlaras Pelog dan Slendro (Pelog dan Salendro/Sunda). Alat
musik lain dalam bentuk alat musik diatonis seperti contoh gitar,
piano, drum, organ, dan lain-lain.
Sumber: Jurusan Tari UNJ Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb. 4.1 Perangkat Gamelan Sunda Gb. 4.2 Perangkat Gamelan Jawa
Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gambar 4.3 - 4.4 alat musik diatonis Gitar dan Dram
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 228
3. Desain Lantai
Garis-garis yang dilalui oleh penari disebut desain lantai.
Gambar desain lantai ini dalam pengertian lain adalah garis yang
dibentuk oleh formasi penari kelompok. Secara umum desain ini
terbagi ke dalam dua bagian yakni desain garis lurus dan disain
garis lengkung.
Aspek desain lantai dapat tergambar secara ilustratif
melalui lintasan gerak penari. Penari membuat konsep ruang
pentas yang secara geografis berhubungan dengan garis, ruang
gerak, dan posisi penari pada saat diam.
Garis menyudut atau diagonal, lengkung, zigzag, lurus,
bahkan berbentuk lingkaran dapat terlihat penonton melalui
gerakan melintas penari saat bergerak. Gerakan dengan
berpindah tempat dilakukan secara jelas hubungannya dengan
gerak tangan, kaki, tubuh, kepala.
Pola garis lurus dapat dibuat ke depan, ke belakang, dan
ke samping atau serong. Formasi garis lurus juga dapat dalam
bentuk segitiga, segi empat, huruf T, huruf V, dan bentuk lain
seperti desain zigzag atau kebalikannya. Di sisi lain, garis
lengkung dapat berwujud ular, spiral, lingkaran, angka delapan
dan sebagainya.
Garis lurus yang dilukis di lantai memberikan kesan
sederhana tetapi kuat, sedangkan pada desain garis lengkung
memiliki kesan lembut dan lemah. Pola garis yang dan tergambar
di lantai untuk bentuk garis dijumpai pada tari-tarian Klasik Jawa,
tari Hula-hula dari Hawai, dan banyak tari-tarian rakyat yang
masih belum banyak digarap.
Desain garis lengkung banyak terdapat pada jenis tari
komunal kerakyatan yang berciri kegembiraan. Pada jenis tari-
tarian dari Muangthai dan Jepang juga Tari Tradisi Klasiknya
banyak menggunakan desain garis lengkung.
Gerakan jalan, lari cepat, geser ke kanan-kiri, secara
dinamis dapat dilakukan dengan variasi gerak dan pola gerakan
berulang atau berganti-ganti (kanan-kiri). Beberapa variasi
gerakan yang nyata dan pola gambar yang dilukiskan pada lantai
dibayangkan secara imajinatif dalam angan-angan.
Sifat disain di bawah ini lebih menunjukan pada sifat-sifat
yang mirip antara satu sisi dengan sisi lainnya. Siswa dapat
melihat bagaimana bentuk dan model sifat desain yang
berhubungan dengan sifat yang simetri dan tidak simetri.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 229
4. Desain Atas
Disain atas dilukiskan melalui gerakan mengayun-ayun
atau melambaikan tangan di atas garis bahu. Ruang desain atas
dapat diciptakan lagi melalui gerakan yang sesaat melayang di
udara dengan dasar kaki sebagai tumpuhan berada di atas
permukaan lantai atau landasan tumpu.
Gerakan yang memiliki kesan disain atas dilakukan penari
dengan cara meloncat, melompat, melayang sesaat di udara.
Batas-batas gerak yang memberi nkesan desain atas secara
geometris berhubungan dengan tiga dimensi, tidak bertumpu
pada lantai dasar atau tempat bertumpu, serta dimungkinkan
bertumpu di landasan tetapi kesan gerakan yang dilakukan lebih
ada dalam posisi di atas lantai. Dengan demikian aspek
gerakannya memiliki tiga dimensi.
Desain tiga dimensi berhubungan dengan volume gerak,
jangkauan besar/kecil dan atau sempit-luasnya gerakan, panjang
lebar dan tinggi membentuk volume/isi. Batas-batas ruang desain
atas tari yang dibutuhkan adalah volume besar-kecilnya gerakan.
Jangkauan terluas atau terpanjang yang mampu dilakukan oleh
masing-masing penari.
Karakter gerak yang biasa dilakukan untuk penghayatan
menunjukan desain atas adalah pernyataan ungkapan rasa
syukur kepada Yang Maha Kuasa dengan menengadahkan
kepala, merentangkan ke dua tangan ke atas, serta melakukan
selebrasi yang berhubungan dengan kontaks bicara dari hati
dengan Tuhan melalui penghayatan pandangan mata ke atas,
kepala ditengadahkan, serta gerakan lai yang berhubungan
dengan pernyatakan simbol gerakan yang berhubungan dengan
desain atas. Pelaksanaan gerakan dilukiskan untuk mendapatkan
kesan gerakan dilakukan di atas garis bahu. Pemahaman gerak
seperti telah disebut adalah dengan mewujudkan teknik gerakan
menengadahkan kepala dan gerakan ke dua tangan ke atas.
Desain atas secara obyektif masih diperdebatkan. Konsep
disain ini secara mendalam masih dipertanyakan. Kesan gerakan
yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi desain atas
mencakup beberapa kesan, secara rinci dapat disebut yakni.
a. Desain Datar, merupakan desain yang secara horisontal
dilihat dari depan penonton. Badan dan postur penari
tanpa perspektif. Anggota gerak tubuh mengarah ke
samping dan kesan yang ada memiliki makna konstruktif,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 230
tenang, kejujuran, dan umpan balik yang terkesan
dangkal.
b. Desain Dalam, desan ini dari arah depan penonton
memiliki kesan dalam. Anggota tubuh dan postur yang
ada mengarah ke belakang,. Ke depan, dan serong.
Desain ini memiliki makna yang dalam terlihat oleh
penonton.
c. Desan Vertikal, penggunaan desain ini menempatkan
posisi anggota tubuh dan postur menjulur ke atas. Tungkai
dan lengan lengan mengarah ke atas atau ke bawah.
Kesan yang ada nampak egosentris, pasrah, menyerah,
dan lebih dalam lagi kurang berdaya.
d. Desain Horison, penggunaan desain ini menempatkan
posisi anggota tubuh dan postur mengarah ke garis
horison. Sebagian anggota gerak tubuh, kepala, dan kaki
berada satu lajur lurus horisontal. Porsi tubuh mengarah
sejajar garis tanah, kesan yang ada nampak tercurah.
e. Desain kontras dalam implementasinya menggunakan
garis-garis bersilang. Anggota gerak badan dan garis-
garis yang akan bertemu apabila dilanjutkan memberikan
kesan pertemuan garis yang ada di angan-angan. Desain
ini memiliki kesan kuat, penuh energi, kebingungan
karena kesan garisnya nampak terputus, dan tidak menuju
ujung garis.
f. Desain Murni, disain ini ditimbulkan oleh postur tubuh
penari. Desain ini tidak menggunakan desain kontras.
Desain memiliki kesan tenang, lembut, dan bersahaja.
g. Desain Statis, desain ini menggunakan pose-pose tubuh
sebagai unsur yang dominan pokok. Kunci tubuh menjadi
pertimbangan desain ini tetap kokoh karena anggota
tubuh yang lain bisa melakukan gerakan. Penggunaan
lengan penari secara horisontal dan terus menerus, kaki
bergerak ke kanan dan ke kiri. Kesan desain ini nampak
teratur.
h. Desain lurus, desain ini menggunakan garis-garis lurus
pada anggota tubuh seperti torso, tungkai, lengan dan
badan menjadi kunci yang dapat memberikan kesan.
Kesan yang dimiliki adalah sederhana, kokoh. Desain ini
apabila digunakan terus menerus akan membosankan.
i. Desain Lengkung, desain ini dibentuk melalui kontur
badan dan anggota tubuh lain dari penari. Dsain ini
menarik. Kesan yang nampak halus, lembut, akan tetapi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 231
apabila kurang hati-hati menggunakannya dapat
menimbulkan kesan lemah.
j. Desain bersudut, desain ini banyak menggunakan
tekukan-tekukan tajam pada sendi sendi siku, lutut,
pangkal lengan, pangkal paha. Desain ini menimbulkan
kekuatan mendalam. Apabila kurang hati-hati, kekuatan
gerak tidak diimbangi penghayatannya dapat
menimbulkan kesan gerakan tidak menarik dan
membosankan.
k. Desain Spiral, desain ini menggunakan desain lengkung
berupa lingkaran lebih dari satu yang searah dengan
badan dan anggota badan. Kesan disain ini menarik
perhatian penonton karena penggunaan lingkaran-
lingkaran itu.
l. Desain Medium, desain berada pada desain atas dan
bawah. Desain ini dipusatkan pada anggota bawah hingga
ke bagian pinggang penari. Desain ini memiliki kesan
penuh emosi.
m. Desain Tinggi, desain ini dibatasi oleh kemungkinan gerak
dari anggota badan penari hingga ke bagian atas. Bagian
yang memiliki kesan intelektual spiritual yang kuat
disebabkan oleh dukungan bentuk pemujaan atas bentuk
lengen dan arah kepala yang mengarah ke atas.
n. Desain Rendah, desain yang dipusatkan pada daerah
dada hingga pinggang penari. Desain ini memiliki kesan
penuh daya hidup, pada sisi lain memberi corak kekuatan
gerak yang terfokus pada anggota gerak badan.
o. Desain Terlukis, desain gerak yang dihasilkan melalui
impul salah satu atau beberapa anggota gerak badan
hubungannya dengan penggunaan properti yang
digerakan untuk menghasilkan kesan tertentu.
Pemaknaan gerak hubungannya dengan penggunaan
properti agar dapat menyempaikan makna yang
disiratkan. Contoh angin ribut dengan menggerakan
properti sampur atau kain lainnya dengan gerakan tidak
teratur, lingkaran-lingkaran puting beliung, dan ombak laut
dengan membuat kesan gerak naik turun.
p. Desain Lanjutan, desain ini berupa lanjutan desain gerak
yang tertunda. Kelanjutan gerak yang dicatat dan kesan
pikiran menjadi modus dalam melukiskan kesan gerak
dilanjutkan. Kesan desain ini juga dapat dilukiskan melalui
pandangan lanjutan, kesan gerak dengan bantuan properti
secara lanjutan menjadi salah satu indikasi kesan ini
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 232
diwujudkan. Kesan adanya garis lanjutan ditimbulkan oleh
anggota tubuh lain dari penari terutama mata, rambut,
tangan dan kaki dalam wujud gerakan lanjutan yang tidak
tampak secara nyata. Contoh memarahi orang, maka
gerakan tangan memberi aba melakukan ancaman
beberapa kali ke arah korban. Kesan ini memberikan
indikasi bahwa orang tersebut sedang dimarahi. Contoh
lain, seorang memiliki badan yang bagus, maka
penggunaan bahasa isyarat tubuh dapat digunakan
sebagai mediasi menyatakan maksud pernyataan.
q. Desain Tertunda, kesan ini ditimbulkan dengan
memanfaatkan piranti anggota tubuh penari untuk
melakukan gerakan secara bertahap.
r. Desain Simetris, desain simetris adalah desain yang
dibuat dengan menempatkan garis-garis anggota tubuh
yang kanan dan kiri berlawanan arah tetapi sama. Lengan
kanan lurus ke samping kanan, lengan kiri lurus ke
samping kiri. Tangan kanan tolak pinggang, maka tangan
kiri juga tolak pinggang. Desain ini memiliki kesan kokoh,
tenang, tetapi apabila terlalu banyak digunakan
menyebabkan kejenuhan.
s. Desain Asimetris, desain asimetris dibuat dengan
menempatkan garis-garis anggota tubuh kanan dan kiri
tidak sama. Posisi tangan kanan lurus ke samping kanan,
tangan kiri bertolak pinggang. Desain ini menarik dan
dinamis. Kesan kurang kokoh. Desain asimetris sangat
diminati oleh penonton, sehingga kesan yang ada harus
jelas perbedaannya. Tarian yang memiliki desain asimetris
sangat menguntungkan dan sangat menarik bagi
penonton.
5. Dramatik
Dramatik pada sesungguhnya menjadi unsur yang
menghidupkan suatu tari. Unsur dramatik biasanya menjadi
bagian kesan suatu komposisi tari atau koreografi secara
keseluruhan. Dramatik menjadi watak garapan koreografi.
Dramatik berhubungan dengan klimaks atau ending. Koreografi
yang kesan puncak atau klimaksnya tidak berkesan terasa
hambar untuk dihayati.
Apabila koreografi digarap secara professional, kesan
puncak mampu memberi akses pengalaman estetik yang
berhubungan dengan koreografi. Seseorang yang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 233
berpengalaman dalam membuat dramatik, biasanya sering
diingat olah banyak orang. Garapan tentang koreografi unsur
dramatik sangat diperhatikan. Hal ini dipertimbangkan sebagai
roh yang bakal digunakan untuk singgah di benak pemirsa atau
penonton atau pengamat.
Dramatik terdiri dua tahap. Tahap satu dramatik dapat
digarap dalam bentuk Kerucut Tunggal (garapan koreografi dibuat
dengan mamatok ide garapan bahwa puncak atau klimaks
digarap satu kali saja. Artinya dapat dikatakan bahwa puncak
garapan komposisi atau koreografi terjadi sekali selanjutnya
penurunan.
Di sisi lain, Kerucut Ganda adalah garapan koreografi
yang dibuat dengan mamatok ide garapan menggunakan puncak
atau klimaks dua kali. Artinya puncak garapan komposisi atau
koreografi terjadi dua kali pada puncak pertama digunakan
sebagai stimulus untuk mengembangkan koreografi untuk
mengakhiri dengan puncak sesungguhnya. Selanjutnya, setelah
klimaks ke dua dilakukan penurunan secara cepat, pada saat ini
penurunan secara cepat dan kesan penutup garapan yang
biasanya digunakan lebih tinggi dari kliamks pertama atau puncak
pertama. Klimaks kedua berbeda atau lebih tinggi dari klimaks
pertama.
Ada dua macam jenis dramatic yakni berbentuk kerucut
tunggal dan kerucut ganda. Desain kerucut tunggal dipakai untuk
drama dan teori Bliss Perry. Teori ini mempresentasikan bahwa
drama yang sukses harus digarap dengan desain kerucut
tunggal. Secara umum dapat dijelaskan bahwa desain ini
diilustrasikan seseorang yang mendaki gunung. Yang
bersangkutan memulai dari ngarai menuju puncak memerlukan
kekuatan menanjak. Perjalanan naik agak lambat, makin ke atas
harus makin banyak energi yang dikeluarkan. Oleh sebab itu,
pada saat yang kritis energi penuh harus dikeluarkan, maka
dengan demikian puncak pemanfaatan energi yang diperoleh
jangan digunakan. Energi yang diterima digunakan untuk
mencapai takaran klimaks dari perjalanan
Setelah puncak atau klimaks tercapai, proses turun
dengan energi yang telah mengendur atau semakin banyak
energi yang diperas, sehingga dalam kurun waktu yang menjadi
titik beku energi, maka gerakan pengenduran menjadi titik beku
energi maka gerakan pengenduran diperlukan untuk mencapai
titik dasar lagi. Dengan demikian sampai terjadi titik dasar
pendakian hingga perjalanan menuruni gunung yang sudah
berakhir menjadi teknik yang perlu diperhatikan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 234
Dalam suatu garapan drama, klimaks harus tercapai
setelah membuat penanjakkan yang cukup lama dan penuh
energi, sehingga apabila klimaks telah tercapai harus segera
menyelesaikan akhir garapandan sesaat kemudian segera
melakukan penurunan. Titik puncak penggarapan klimaks harus
dibarengi dengan kesan. Jangan sampai kesan klimaks
dilewatkan. Lengkapnya garapan, harus ada kesan yang
dijadikan momen bagi penonton. Secara teknis bentuk dramatik
kerucut tunggal dapat digambarkan sebagai berikut di bawah ini
Klimaks
Perkembangan Penyelesaian akhir
Permulaan
Disain Kerucut Tunggal, terjadi hanya satu klimaks saja.
Klimaks
Klimaks Kecil
Permulaan
Penyelesaian Akhir
Disain Kerucut Tunggal, terjadi hanya dua kali atau lebih dua kali klimaks.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 235
6. Dinamika
Untuk mencapai puncak garapan, dibutuhkan dinamika.
Dinamika pada dasarnya merupakan pengetahuan tentang efek-
efek kekuatan dalam menghasilkan gerakan. Pengetahuan
tentang dinamika pada dasarnya berhubungan dengan
penggunaan tenaga dalam melakukan gerakan yang di dalamnya
terdapat intensitas, tekanan atau aksen, kualitas gerak.
Penggunaan besar kecilnya tenaga apabila
dikombinasikan dengan pengaturan ruang, gerak dan waktu
membuahkan berbagai macam kontras antara keras-lembut,
cepat-kuat-bertenaga, cepat-lembut-tenaga dan sebagainya.
Masalah dinamika yang menjadi perhatian adalah apa dan
bagaimana penggunaan dinamika dikembangkan.
Wujud dinamika dalam gerak lebih banyak terdapat pada
anggota gerak bagian atas dan bawah. Dalam tari-tarian wilayah
timur, dinamika gerak mudah dicapai dengan baik dari pada tari-
tarian wilayah barat yang lebih banyak menggunakan anggota
gerak menggunakan tungkai. Peneliti tentang dinamika
menyatakan bahwa ekspresi fisik manusia lebih banyak
menonjolkan gerak spiritual dan intelektual pada bagian badan,
kemungkinan tersebut digunakan sebagai penyelaras dinamika
gerak dan komposisi.
Badan bagian atas sangat jelas ditempatkan sebagai
ekspresi gerak. Puncak pemanfaatan gerak untuk mencapai
puncak ekspresi dilakukan dengan lengan tangan, kepala, torso
bagian atas. Hal ini banyak dikembangkan pada tari-tarian dari
belahan timur Indonesia. Di sisi lain, ada beberapa contoh tari-
tarian yang menggunakan dinamika sebagai pencapai puncak
atau klimaks garapan melalui kaki secara maksimal. Salah satu
ciri yang ada dan terjadi dalam tari-tarian Indonesia adalah tari-
tarian dari Irian Jaya atau Papua. Di Spanyol, gaya tari yang
menuangkan tercapainya klimaks dengan kaki sebagai unsur
utama. Kaki sebagai pengembang pertama dalam
pengembangan dinamika tari-tarian Spanyol.
Dinamika dapat diwujudkan bermacam-macam teknik.
Pergantian level dari tinggi ke rendah atau sebaliknya, pergantian
tempo dari cepat ke lambat atau sebaliknya, serta pergantian
tekanan gerak lambat ke cepat atau sebaliknya dan lain-lain
masih banyak yang dapat dikembangkan.
Pergantian atau perubahan gerakan dari badan atau
anggota gerak lain tertentu dari lemah ke kuat dapat menghasilka
dinamika. Gerakan patah-patah juga memungkinkan terjadinya
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 236
dinamika secara mekanik. Perubahan pose gerak satu ke pose
gerak lain apabila dilakukan secara tepat dan penghayatan yang
tinggi menciptakan dinamika yang ekspresif. Gerakan ini
dilakukan oleh penari yang memiliki inner tari yang cukup
memadai.
Dinamika yang tajam dan tinggi dapat merangsang kesan
emosi. Dinamika lembut, sedang, tenang, dapat melahirkan
gerakan lembut perlahan dan kurang greget. Daya dan kekuatan
gerak membuat orang penari mampu melakukan gerakan-
gerakan tari penuh energi di atas pentas.
Aturan-aturan yang berlaku pada gaya tari dapat dibantu
dengan memberikan watak tari ke dalam dinamika greget. Greget
merupakan dorongan perasaan yang kuat, desakan batin atau
ekspresi dari dinamika batin melalui pengendalian yang
sempurna tanpa menuju kekerasan.
Dinamika dapat diwujudkan dengan berbagai cara,
misalnya lewat pengaturan level, pergantian tempo, dan tekanan
dari lemah ke kuat, keras ke lembut, dan sebagainya. Dinamika
komposisi tari menjadi roh dalam komposisi tari.
Garapan koreografi berhubungan dengan suasana yang
diinginkan. Melalui teknik dinamika yang diterapkan dapat
digunakan untuk mengkatorl dan meningkatkan kualitas garapan
koreografi agar semakin tajam dan tinggi sehingga memiliki
akurasi yang tinggi. Kualitas garapan koreografi salah satunya
dapat ditentukan oleh dinamika apabila garapan biasa-biasa saja.
Hal ini telah dilakukan dan dikembangkan.
Masalah gerak, masalah musik, masalah teknis lainnya
dapat dikembangkan melalui teknik dinamika. Kebutuhan tentang
dinamika di sisi lain dapat digunakan untuk memperpanjang dan
memperpendek tarian yang dipertontonkan. Teknik dinamika
secara jelas dapat diuraikan pada uraian sebagi berikut.
• Contoh pengelolaan teknik dinamika adalah:
• Makin lama makin keras/kuat disebut Cressendo.
• Makin lama makin lembut atau pelan disebut Decressendo.
• Diperkeras/diperkuat/keras disebut Accelerando.
• Diperlembut/diperlembut/pelan disebut Ritardando
• Makin lama mengalun disebut Pianisimo.
• Makin lama keras disebut Forte.
• Teknik dinamika yang dicapai dengan melakukkan gerakan
patah-patah disebut Stakato.
• Teknik dinamika yang dicapai dengan melakukkan gerakan
mengalun disebut Legato.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 237
Teknik dinamika yang dicapai dengan melakukkann
gerakan tertentu dalam koreografi satu dengan yang lain dalam
bentuk dinamika maka perpaduannya akan dapat menimbulkan
daya tarik, tidak membosankan, dan penuh variasi maka akan
dapat menyihir atau lebih tepatnya memukau bagi penonton.
7. Komposisi Kelompok
Pada tari garapan solo atau tunggal dan duet atau
berpasangan komposisi kelompok yang digunakan sederhana
dibandingkan dengan komposisi garapan tiga orang atau lebih.
Desain tari kelompok akan lebih variatif dikembangkan untuk tari-
tarian yang memiliki jumlah penari lebih dari tiga.
Variasi jumlah penari dalam kaitannya dengan
penggunaan desain tari kelompok sangat signifikans diterapkan
untuk komposisi tari lebih dari tiga orang. Variasi desain tari
kelompok akan lebih berkembang apabila dibandingkan dengan
tari-tarian yang memiliki jumlah penari lebih dari tiga orang.
Efektivitas penerapan dan pengolahan aspek disain
kelompok dapat mewujudkan kesan mendalam, tergarap secara
baik, menarik, dan penuh sensifisitas yang tinggi dan mendasar.
Apabila terjadi sebaliknya, kesan garapan akan menjadi
membosankan bahkan lebih buruk dari pada format garapan
tunggal. Dengan demikian, pada garapan tari kelompok
dibutuhkan penghayatan mendesain tari kelompok agar semakin
cermat, teliti, dan memperhitungkan kemungkinan yang dapat
membosankan dan menjemukan secara dini. Oleh sebab itu,
perlu menjadi catatan bahwa koreografi akan dinamis sensitive
dan menarik mampu menghadirkan garapan yang sinergis.
Dinamika untuk komposisi penari kelompok lebih dari lima
orang dapat divariasikan melalui elemen keindahan kelompok.
Kelima unsurnya mencakup pada aspek union atau serempak
adalah semua penari melakukan gerakan secara serempak,
bergerak dengan motif dan bentuk gerak yang sama, arah hadap
dan arah pelaksanaan gerakan secara bersama-sama.
Aspek balance atau berimbang dapat dikombinasikan
dengan memberi formasi posisi pada saat melakukan gerakan
secara berimbang antara bagian kanan dan kiri, atas dan bawah,
depan dan belakang. Keseimbangan posisi maupun gerakan
berhubungan langsung dengan akumulasi penilaian akhir dari
sikap gerakan, formasi, kedudukan dan posisi masing-masing
penari antara belah satu dengan belahan yang lain secara
seimbang.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 238
Aspek broken atau terpecah biasanya diciptakan melalui
kesan gerakan dari posisi satu kelompok yang menyatu,
kemudian pada saat berikut formasi berubah membentuk situasi
pergerakan penari bergerak ke berbagai tujuan. Dalam waktu
singkat penari melakukan gerakan yang masing-masing berbeda
arah hadap, arah tujuan, serta pencapaian tujuan dalam
memenuhi jangkauan gerak, posisi suatu kedudukan, dan formasi
yang harus dicapai dan dipenuhi oleh masing-masing penari
secara berbeda. Sehingga, pergerakan penari memamg benar-
benar bebas untuk bergerak, mencapai formasi dengan gerakan
yang bebas.
Aspek alternate atau selang-seling diilustrasikan dalam
bentuk gerakan yang dilakukan oleh penari secara bergantian,
berurutan, dan atau penentuan gerak antara kelompok penari
yang dalam posisi genap dan ganjil secara berbeda. Formasi
gerakan selang seling atau alternate diwujudkan melalui gerakan
yang saling menyusul, antara urutan satu penari dengan penari
lainnya. Ilustrasi gerakan yang berturutan dikembangkan dengan
wujud gerakan penari yang saling menyusul dari urutan penari
hingga mencapai keseluruhan penari yang berbanjar atau bersap
melakukan gerakan yang sama tetapi secara urut.
Teknik gerakan cannon atau secara bergantian dicapai
dengan melakukan gerakan penari dengan motif sama tetapi
dalam melaksanakan gerakan secara berbeda antara penari yang
dalam posisi ganjil dan genap saling bergantian. Motif perubahan
gerakan lebih menekankan kepada kesan gerakan dimana penari
bergerak secara saling menyusul antara penari yang berada
diurutan genap dan ganjil secara serempak, dengan motif gerak
yang sama, serta dengan perbedaan saat yang ditentukan secara
sama juga.
Secara khusus dapat dikoreksi bahwa teknik dalam
mengembangkan desain kelompok seperti diuraikan di atas pada
dasarnya bukan sebagai jaminan yang baik dan sempurna
apabila memanfaatkan teknik dinamika di atas suatu koreografi
menjadi sempurna. Variasi dalam menjabarkan teknik dinamika
ke dalam tari kelompok diharapkan mampu menjadi daya tarik
yang mempesona dalam suatu koreografi, bukan sebaliknya
bahwa kesan yang muncul komposisi kelompok menjadi kurang
indah, kurang pengolahan teknik desain, atau bahkan seperti
sudah disebut bahwa koreografi semakin kacau balau, hilang
karakter koreografinya hingga sampai komposisi kelompoknya
amburadul atau tidak sesuai harapan koreografer. .
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 239
Kredibilitas seorang koreografer dapat mencerminkan
kemampuan meramu dan mengkomposisi koreografi semakin
menarik, mempesona, dan mewujudkan impian keindahan
garapannya. Cara dan teknik dinamika yang disajikan
membutuhkan pengalaman yang matang dan dalam atas
karismatik koreografi yang digarap secara brilian.
Secara actual desain kelompok terpecah masing-masing
penari memiliki kebebasan mengeksplor panggung secara bebas.
Gerakan yang dilakukan untuk penari dengan bermacam gerak,
sejumlah penari tersebut harus melakukan gerakan masing-
masing dengan bergerak ke berbagai arah.
Penjabaran terpecah dijelaskan dengan bentuk gerakan
dimulai dari komposisi berbaris, membuat lingkaran untuk penari
yang ada dinomor urut ganjil atau genap secara serempak
bergerak sama ke segala arah. Teknik ini juga bisa
dikembangkan untuk desain alternate, cannon.
Variasi pengembangan desain di atas teknik desain
dikembangkan untuk penataan koreografi kelompok yang
memiliki pengolahan desain tari kelompok secara mendasar,
mulai dari komposisi yang paling sederhana yakni garis lurus
adalah bentuk penjelmaan desain tari kelompok secara lebih
proporsional, kredibel, dan dapat menciptakan koreografi menjadi
lebih operasional dan menunjukkan kemampuan dan
keterampilan secara kualitatif.
Desain kelompok untuk garapan tari tunggal
pengembangan bentuk kombinasi dapat diterapkan secara
sederhana. Teknik desain yang dikembangkan dalam koreografi
tunggal harus mampu memberikan kesan tarian semakin
berkualitas. Kesungguhan untuk melakukan penerapan teknik
dinamika ke dalam formasi tarian harus lebih bila dibandingkan
dengan desain kelompok untuk tari kelompok. Professional dan
kemampuan yang mendalam di dalam mewujudkan kemampuan
mewujudkan penerapan desain kelompok secara baik dan
sempurna diburtuhkan kunci sukses suatu koreografi tari tunggal
yang lebih sulit dan mendasar dari pada untuk tari kelompok.
Performa garapan koreografi untuk memanfaatkan desain
kelompok menjadi semakin hidup, dinamis, dan memiliki watak
garapan membutuhkan kemampuan dan ketajaman teknik
mengolah desain kelompok secara elaboratif dan variatif harus
dapat menciptakan kesan desain tari kelompok semakin
berkualitas dan professional. Jam terbang pengalaman membuat
koreografi menjadi semakin elaboratif dan kreatif, sehingga enak
dan indah ditonton sebagai sajian yang membangkitkan apresiasi.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 240
8. Tema
Tema dikembangkan mulai dari konsep yang dibimbing
secara awal dan mendasar oleh pengajar, instruktur atau tenaga
ahli koreografi. Tema diwujudkan dalam bentuk sejumlah
pertanyaan meliputi:
• Apakah itema dapat ditarikan?
• Apakah ide gerak dari tema tersebut dapat ditarikan?
• Apakah hubungan konsep dan ide tema dapat
dieksplorasikan?
• Apakah pengembangan tema dapat diwujudkan ke dalam
urutan gerak?
• Masih banyak pertanyaan yang diajukan agar tema dapat
diwujudkan ke dalam bentuk tari
Tema dipilih untuk direfleksikan menuju pertanyaan
tentang tema dapat ditarikan. Tema dikembangkan menjadi
sumber inspirasi tentang bagaimana memadukan tema ke dalam
bentuk gerakan yang akan dipilih dengan itu maka pilihan tema
terjawab.
Tema dikembangkan menjadi sejumlah refleksi tentang
apakah tema cocok dengan bentuk gerak yang dipilih. Apakah
pemilihan tema dapat diidentifikasi ke dalam sub-sub tematik
yang dapat mencerminkan terwujudnya kumpulan motif gerak,
rangkaian kalimat gerak, dan konstruksi koreografi.
Tema dipilih didukung oleh kecakapan eksplorasi gerak
yang sesuai dan sepadan dengan tema yang dipilih. Kesesuaian
tema dengan pilihan hasil eksplorasi gerak menjadi kunci pilihan
tema ditetapkan. Dengan perkataan lain, hasil eksplorasi gerak
didasarkan tema pilihan. Dengan demikian, pilihan tema juga
menjadi dasar pijakan eksplorasi gerak, improvisasi gerak dan
penataan gerak.
Perwujudan tema menurut La Mery membagi tes uji tema
sebagai berikut:
• Keyakinan koreografer atas nilai tema,
• Dapatkan tema ditarikan,
• Efek sesaat tema kepada koreografer dan penari,
• Perlengkapan teknik tari koreografer dan penari,
• Fasilitasi yang diperlukan pertunjukan (musik, tempat, busana
tari)
Tema yang bernilai adalah tema yang orisinil. Orisinilitas
tema ditarikan sebagai sumber dalam pemilihan tema dari bentuk
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 241
koreografi sebelumnya. Apabila tema menjadi bukan orisinil, uji
kemudian harus dilakukan dengan tema yang ditarikan.
Tema orisinil ditarikan lebih baik. Banyak ceritera menarik
yang tidak dapat dikomunikasikan. Pilihan tema yang demikian
harus dihindari. Apabila anda memiliki kemampuan kea rah itu,
pilihlah tema yang memiliki dasar orisinil untuk dikoreografikan.
Tema dapat diungkapkan dalam bentuk dramatari.
Dramatari yang dikemukakan dalam wujud pemaknaan kata-kata,
ungkapan tari yang memiliki makna simbolis, dan kapasitas
pemilihan gerak yang memiliki dampak sinergis terhadap struktur
nasihat yang diungkapkan melalui penjelasan gerak, pemaknaan
gerak yang tepat dan memenuhi harapan penonton.
9. Rias dan Busana
Rias busana pada prinsipnya merupakan pendukung
dalam tari. Unsur ini pada garapan tertentu sangat vital
dibutuhkan terutama untuk memperdalam atau menunjukan
adanya karakter atau penokohan, yang ada dalam garapan
koreografi. Sehingga, melalui rias dan busana dapat mewujudkan
visi karakter atau tokoh yang diharapkan.
Pada konteks tertentu rias dan busana juga dibutuhkan
untuk tujuan penonjolan terhadap penampilan suatu bentuk seni
pertunjukan dalam rangka digunakan sebagai bagian upacara
keagamaan, upacara adat, dan bentuk tarian untuk upacara
tertentu.
Pada sisi lain rias dan busana menjadi kebutuhan yang
sekender mana kala dalam garapan lebih dibutuhkan pada
konsep pertunjukan secara naturalistik. Rias dan busana
digunakan sebatas kebutuhan garis wajah saja dan pembalut
tubuh penari. Saat tertentu busana terlihat sederhana untuk jenis
tari nontradisi.
Sumber: Anjungan TMII Jakarta Sumber: GMP TMII Jakarta
Gb. 4.5 Kostum Annien (Riau) Gb. 4.6 Kostum Tari Katiak (Riau)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 242
Sumber: GMP TMII Jakarta Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb. 4.7 Kostum tari Nyi Kembang(DKI) Gb. 4.8 Kostum Gruda, Fantasi (Bali)
Gambar 4.5-4.8 Searah Jarum jam kostum
Kostum Tari Anniem (Riau), Katiak (Sumbar)
Nyi Kembang(Betawi), Gruda (Bali).
Perhatikan gambar di bawah ini menunjukkan identifikasi
wujud dan perkembangan pemakaian busana tari daerah.
Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.
Sumber: Jurusan Tari UNJ Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb. 4.9 Trunajaya (Bali), Gb. 4.10 Sangkrae(KalTeng),)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 243
Gb. 12
Sumber: Jurusan Tari UNJ Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb. 4.11 Batagak (Sumbar) Gb. 4.12 Pendet (Bali)
Sumber: Jurusan Tari UNJ Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb. 4.13 Dogdoglojor(Jabar) Gb 4.14 Ngelajau(Lampung)
Gambar di atas menunjukan Rias Garis Wajah ( tidak menunjukkan karakter)
tatarias Batagak(Sumbar) dan Ngelajau(Lampung), Pendet dan Lojor
(Karakteri).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 244
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd. Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb. 4.15 dan 4.16 Riasan untuk Memberikan ketegasan garis wajah saja
Gambar di bawah ini menunjukan tipe riasan untuk
karakter. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut.
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd. Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb. 4.17 Karakter Putra Gagah Gb. 4.17 Karakter Putri Halus
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 245
10. Properti
Properti adalah semua peralatan yang digunakan untuk
pementasan tari. Properti tari tentu saja disesuaikan dengan
kebutuhan koreografi. Properti tari merupakan properti yang
dibutuhkan dalam koreografi tari. Pada kenyataannya terdiri dari
dance property/properti tari dan stage property/perlengkapan
panggung. Dance property terdiri dari peralatan tari yang
dipegang penari secara langsung. Stage property adalah semua
peralatan yang berada di atas panggung dan menjadi sarana
yang langsung maupun tidak langsung melengkapi konsep suatu
koreografi di mana dalam penerapannya diletakkan di area
pentas atau di panggung untuk mendukung koreografi.
Stage panggung yang terkait dengan peralatan baik
langsung maupun tidak langsung dimanfaatkan pada saat
pementasan terdiri dari trap (level foundation) yang berfungsi
membuat kesan penari lebih di atas, di bawah standar panggung.
Peralatan panggung lain yang secara khusus menjadi pilihan
setting atau perlengkapan panggung menjadi dukungan dalam
pementasan koreografi.
Bentuk dan format trap bermacam-macam. Ada yang
berbentuk segi empat panjang, bujur sangkar, segi enam, segi
delapan, tinggi 20 cm, 40 cm, dan 60 cm serta masih banyak
bentuk lainnya.
Jenis stage property di desain untuk memberikan dampak
positif pementasan koreografi menjadi lebih indah, berkualitas,
dan memiliki kesan yang menarik bagi penonton, di samping
tujuan penggunaan lebih ke arah penggunaan teknis dalam
koreografi.
Properti tari pada dasarnya dapat digunakan untuk
membenkan keindahan bentuk koreografi secara baik. Hal ini
apabila terjadi, kesan koreografi akan lebih mendalam.
Penggunaan properti yang ditawarkan dapat digunakan
untuk mengembangkan formulasi keindahan koreografi. Di sisi
lain apabila penguasaan penari terhadap property kurang
sempurna, ini menjadi kebalikan bahkan kesan ini menjadi kunci
kindahan koreografi menjadi tidak tercapai.
Penguasaan properti tari oleh penari mutlak merupakan
persyaratan yang harus dimiliki. Kunci ini menjadi indikasi
kebutuhan properti dalam suatu koreografi, dibutuhkan Apabila
tuntutan koreografi menjadi utama dalam penggunaan property
maka penari harus dibekali keterampilan yang lebih di dalam
memperagakan keterampilan penguasaan property.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 246
Properti yang efektif digunakan sebagai alat bantu dalam
koreografi harus konstruktif, memenuhi standar properti, apabila
mungkin kualitas property menjadi tuntutan mutlak dalam
pemenuhan kebutuhan property dalam koreografi.
Penggunaan property tari harus mempertimbangkan jenis,
fungsi, dan asas pakai properti secara baik dan benar. Proporsi
penggunaan property tari secara mendasar menentukan
penguasaan keterampllan penguasaan penari secara pokok.
Kualitas penguasaan penari atas properti tari yang digunakan
menjadi salah satu teknik tari yang dibutuhkan dalam format
koreografi yang berkualitas. Properti tari banyak ragam bentuk
dan jenisnya Cakupan yang sering digunakan antara lain
meliputi selendang (sampur), kipas, rebana, payung, tongkat,
keris, cundrik, pedang, mandau, tombak, kendang, piring, panah
dan masih banyak lagi.
Pada sisi lain, dalam dunia pendidikan penggunaan model
dan jenis properti tari meliputi : Sarung, piring, payung, bola,
selendang, kipas, dimungkinkan replika properti tari yang ada
dapat digunakan sebagai property yang asli digunakan. Hal ini
dibutuhkan unsur kreativitas dalam menjabarkan makna
penggunaan properti imitasi menjadi pilihan properti asli tidak
dipilih.
Penguasaan properti tari dapat memunculkan bentuk
penguasaan dan pengembangan propert. Pengembangan
penguasaan properti dengan ide yang dilaksanakan perlu
elaborasi. Dengan demikian untuk pengembangan secara umum
terhadap penguasaan properti dibutuhkan luang waktu untuk
eksplorasi ide dan penuangan gagasan gerak dalam memainkan
atau menguasai properti. Oleh sebab itu penguasaan properti
identik dengan bagaimana cara teknik menguasai atau teknik
menggerakan properti.
Perlu diperhatikan bagi koreografer untuk berhati-hati
memilih dan menetapkan properti tari untuk mengusung
koreografinya. Penggunaan properti tari dipilih tentu saja sudah
dipertimbangkan masak-masak bagaimana pengolahan properti
tari digunakan.
Pilihan atau penggunaan properti tari jangan sampai
mengganggu makna gerak yang akan disampaikan koreografer
dalam menyampaikan misi tarinya. Penempatan properti tari dan
stage property secara bersama menjadi bagian utuh dalam
merefleksikan kesatuan koreografi agar menjadi semakin
menarik, padat, dan memenuhi kualitas penggunaannya.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 247
Pertimbangan penggunaan properti tari dan setting
panggung harus benar-benar fungsional. Kebutuhan keduanya
jangan mengganggu koreografi dipentaskan. Fungsi properti tari
dan setting panggung menjadi tujuan penyajian koreografi secara
proporsional. Gambar di bawah ini yang menunjukan fungsi peran
properti tari dan setting panggung dalam koreografi.
Sumber BSN TMII Sumber BSN TMII
Gb. 4.18 dan 4.19 Toya dan Selendang berfungsi sebagai properti tari
Sumber BSN TMII Sumber BSN TMII
Gb. 4.20 dan 4.21 Sesaji dan payung berfungsi sebagai piranti panggung.
Sumber BSN TMII Sumber BSN TMII
Gb. 4.22 Tari Manyong Gb. 4.23 Tari Manyong
Gambar 4.22 dan 4.23 di atas menunjukan Sisingaan dan Ranting berfungsi
ganda sebagai properti tari dan piranti panggung.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 248
11 Tata Pentas
Seperti telah disinggung dalam setting panggung, tata
teknik pentas bahwa untuk memenuhi kualitas koreografi sebagai
ilmu akan menempatkan panggung menjadi wahana pementasan
koreografi. Pada penerapannya, tata teknik pentas sebagai
sarana penempatan properti panggung secara umum. Dalam
pengembangan, properti panggung dirancang untuk mendukung
ilmu tata teknik pentas.
Teknik pentas adalah mengadaptasikan penempatan
properti panggung secara profesional. Pada koreografi yang
menjabarkan pengembangan ide, penempatan tata teknik pentas
dirancang untuk kebutuhan pentas secara matang, profesional,
spektakuler, memenuhi harapan koreografer dan penonton.
Untuk menempatkan wahana replika, properti panggung
menjadi alternatifnya. Oleh sebab itu, replika yang akan
ditempatkan di atas pentas, menjadi sarana yang disarankan
untuk mencapai kualitas pementasan secara maksimal.
Bingkai-bingkai bermacam disain properti panggung
secara kualitas diharapkan dapat mendukung pementasan.
Peralatan dalam bentuk lain, replika panggung yang dibutuhkan,
dan banyak lagi tentang properti panggung yang oleh koreografer
dipikirkan untuk menopang keberhasilan koreografi menjadi
pilihan tata teknik pentas yang diharapkan.
Dalam suatu pertunjukan memerlukan sarana dan fasilitas
tempat untuk penyelenggaraannya. Di beberapa tempat di
Indonesia telah mengenal bentuk-bentuk tempat pertunjukan atau
tempat pentas dengan banyak bentuk. Tempat dimaksud meliputi
lapangan sebagai arena terbuka, pendopo, pemanggungan
(staging), halaman pura, serta bangsal sebagai tempat
pergelarannya.
Pemanggungan tersebut di atas merupakan istilah yang
berasal dari Barat, selanjutnya, istilah tersebut diadopsi dan
dijabarkan kembali menjadi bahasa yang telah umum di
percakapan sehari-hari kita, sehingga banyak orang telah
mengenal dan memahami sebagai pengetahuan yang biasa. Di
bawah ini ada beberapa bentuk pemanggungan yang telah
dikenal kita. Secara detail dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pemanggungan bentuk Pendopo adalah tempat
pementasan yang pada awalnya digunakan untuk pementasan
tari klasik di daerah Yogyakarta dan Surakarta. Konsep pendopo
pada awalnya lahir untuk kalangan orang terpandang, karena
pendopo dimiliki oleh orang setingkat Wedono atau Penewu ke
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 249
atas. Tempat ini memiliki ruangan yang ditopang banyak
penyangga berupa kayu, tiang, dan besi beton.
Kapasitas bentuk dan kualitas pendopo berhubungan
dengan strata atau kedudukan orang yang memiliki atau
mengelola pendopo. Di bawah ini contoh pendopo yakni.
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb.4.24 Panggung Pendopo
Model pemanggungan bentuk lain adalah Proscenium
Stage. Bentuk pemanggungan ini sudah cukup tersebar di
seluruh wilayah Indonesia. Kapasitas dan personifikasinya sudah
banyak yang memenuhi standar (representasional).
Stage Proscenium secara umum tergantung kepada
bagaimana ruang pementasan tersebut akan dibentuk. Dalam
kenyataannya telah banyak yang disesuaikan sesuai standar
internasional. Contoh di Jakarta adalah Gedung Kesenian Jakarta
(GKJ), Teater Tanah Air Indonesia (TMII) dengan fasilitas space
staging ( panggung di udara atau para penari dalam berperan
menggunakan link kawat yang diatur sedemikian sehingga penari
atau peraga seperti terbang).
Penonton dalam menikmatipertunjukan dari depan saja
(frontal). Arah dan sudut pandang ditujukan terfokus pada arena
pentas. Konsep kanan dan kiri terdapat layar atau sekat
pembatas yang disebut side wing. Di depan panggung terdapat
area sedikit yang disebut sebagai apron. Biasanya sisi kanan dan
kiri atau sekitar apron terdapat ruang yang digunakan untuk
menata instrumen musik.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 250
Di bawah ini digambarkan contoh Stage Proscenium
sebagai berikut.
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb. 4.25 Stage Proscenium
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb.4.26 Jumlah saka dan area pentas Pendopo
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 251
Konsep pemanggungan secara umum dapat dijelaskan
berdasarkan bentuk dan kapasitas penonton yang dapat
memanfaatkan situasi dan kondisinya secara interprestasi untuk
memenuhi kebutuhan pada saat menonton pertunjukan adalah
sebagai berikut.
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb.4.27 Panggung Melingkar
Pada bentuk tapal kuda, penonton menyaksikan pertunjukan dari arah depan
melingkar separoh bola. Atau dengan perkataan lain, penonton melihat
pertunjukan dari arah depan separoh bola.
Bentuk pemanggung yang dirancang secara sederhana
dan bentuk ini sudah klasik adalah bentuk lapangan terbuka.
Secara bebas bentuk lapangan terbuka dapat dijelaskan bahwa
penonton dapat melihat dari segala penjuru. Penonton
memanfaatkan celah yang dapat digunakan untuk melihat atau
menyaksikan pertunjukan melalui sudut pandang yang luas,
terbuka, dan lebih bebas atau santai dalam menikmati sajian.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 252
Adapun bentuk panggung terbuka dapat dilihat pada
gambar di bawah ini sebagai berikut.
.
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd
Gb. 4.28 Panggung dan Lapangan Terbuka
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb.4.29 Bentuk Panggung
Konsep secara sinergis, kebersamaan panggung, tangga berundak, tratag atau
tenda
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 253
1.2. Tata Lampu dan Sound
Pada seni tradisional, kelengkapan produksi yang paling
tidak diperhatikan adalah masalah penataan lampu dan sound.
Pertunjukan dilakukan di bawah terik matahan atau di bawah
terang bulan pumama, dengan lampu minyak atau petromak saja
sudah dapat digunakan untuk memenuhi penyajian pementasan
tersebut.
Perkembangan teknologi dan pengetahuan yang terjadi,
menempatkan pemikiran tentang tata lampu dan sound
berkualitas diwujudkan. Kualitas gedung pertunjukan yang
representati. Harus memenuhi perlengkapan ideal dan sempurna
bagi pementasan. Kebutuhan atas pengadaan tata lampu dan
tata suara menjadi pilihan terbaik kualitas pertunjukan.
Kebutuhan pemanggungan yang berkualitas di berbagai
daerah dan berbagai tempat pertunjukan di Indonesia belum
merata. Hal ini menjadi masalah yang beragam. Penataan tata
lampu dan tata sound yang seharusnya membantu pementasan
jangan hanya salah penempatan atau pemilihan standar kualitas
pemanfaatan menjadi boomerang pementasan menjadi tidak
berkualitas.
Kelengkapan produksi tata lampu menjadi pilihan dalam
pementasan menempati peran tersendiri dalam pertunjukan
Tanpa cahaya yang alami, baik buatan manusia maupun ciptaan
Tuhan tontonan menjadi gelap Peranan tata lampu sebagai
penerangan, di sisi lain juga harus mampu menciptakan inner
garapan menjadi seolah penonton berada dalam ilusi koreografi
yang dapat memberikan imeji keindahan sesuai dengan pesan
yang diharapkan koreografer.
Fungsi tata lampu antara lain sebagai penerang,
penciptaan suasana,
penguatan adegan, kualitas pencahayaan, serta efek khusus
pementasan Tata lampu sebagai penerangan jelas tidak
diragukan lagi Asal ada penerangan pasti lampu semakin terang.
Bentuk dan wujud tata lampu bermacam-macam
perlengkapan lampu
diantaranya ada lampu khusus yang disebut Spot Light jumlah
disesuaikan dengan kapasitas gedung. Strip Light (lampu garis)
biasanya digunakan untuk menerangi dua hingga jalur area
pentas saja yang masing-masing berjarak sekitar 2-4 meter dari
deret lampu strip yang ada.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 254
Lampu backdrop juga diperlukan agar pada posisi pang
belakang dan lampu yang dipakai murni menjadi bagian yang
digunakan untuk menerangi latar belakang panggung secara
umum. Formulasi warna lampu biasanya digunakan colour bright
yang terdiri dari warna-warna biru, merah, kuning, dan general.
Perlu diingat, koreografer yang jeli memenfaatkan momen
penataan tata lampu akan menyesuaikan penggunaan tata lampu
dan tata warna lampu lebih mendalam. Penentuan warna lampu
dan pemilihan kostum tari dipertimbangkan melalui dasar
kesesuaian yang ideal.
Penciptaan suasana garapan dapat diciptakan melalui
penggunaan media penataan tata lampu secara professional.
Sebagai ilustrasi dapat diberikan di sini, sebuah koreografi yang
pada saat itu membutuhkan suasana perasaan hati sedang sedih,
musik iringan sendu, lirih, dan menyayat, apabila diberi
penerangan tata lampu yang benderang maka koreografi menjadi
tidak sesuai.
Teknik penataan lampu yang dikembangkan adalah
melalui penyinaran dengan kualitas warna biru, lampu yang
temaram, dan warna-warna teduh akan mampu menciptakan
suasana yang cocok dalam memenuhi kontribusi suasana
koreografi yang diharapkan. Begitu pula sebaiiknya, dalam situasi
perang, tata lampu disesuaikan dengan pencahayaan bahwa
warna lampu merah, semakin pekat merah dapat mendukung
suasana apalagi didukung kualitas gerak, penghayatan, dan
kedalaman isi gerak serta penciptaan colour yang sempurna
semakin diharapkan memenuhi kualitas pertunjukan.
Penguatan adegan dilakukan dengan penataan lampu
yang dapat diciptakan melalui daerah-daerah terang dan gelap
secara dramatis. Di sisi lain penguatan ekspresi tari dapat
digunakan untuk membantu penghayatan agar tercapai tujuan
adegan.
Penggunaan overhead spotlight atau follow spot light
untuk lampu tunggal pada peran khusus atau ditokohkan berada
dalam jarak tembaknya. Efek bayangan agar tidak terlihat pada
penari yang ditokohkan ke penari lain menjadi pilihan tercapainya
adegan yang diharapkan. Pemisahan tokoh dengan kelompok
penari lain menjadi prioritas untuk memberikan batas
pencahayaan yang jelas sesuai tempat, pemeranan, dan tentunya
kualitas pencahayaan yang diharapkan secara menyeluruh pada
saat adegan tersebut menjadi momen yang dipilih.
Kualitas pencahayaan sangat penting. Hal ini tidak
semata-mata adegan menjadi gelap, tetapi kualitas pandang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 255
penonton menjadi lebih terbantu melalui pencahayaan yang
memenuhi standar kualitas yang diharapkan. Masalah intensitas
penyinaran tata lampu, warna pilihan untuk lampu khusus
maupun lampu general, distribusi tata lampu di sekitar panggung
dan di area panggung, serta efek khusus yang diharapkan
menjadi pilihan tercapainya koreografi mantap dipertunjukkan.
Efek pencahayaan dapat merugikan, adegan kuang sempurna,
kurang memenuhi harapan, dan kurang mencapai tujuan
koreografis. Oleh karena itu, masalah intensitas penyinaran harus
sesuai catatan tari, warna pilihan harus sesuai adegan yang
dibutuhkan pada saat adegan, distribusi penyinaran dan
pemilihan warna yang dibutuhkan harus menjadi pengendali
tercapainya adegan yang dibutuhkan, serta efek sinar menjadi
salah satu kunci pemilihan tata lampu semakin sempurna dan
memenuhi standar kualitas koreografi yang baik dan memenuhi
syarat pementasan.
Pencahayaan dapat mewujudkan adegan dan penyinaran,
koreografi semakin hidup, dramatis, dan memenuhi kualitas
koreografi yang diharapkan.
Standar ini semakin diharapkan apabila penari dapat lebih
jelas melihat hubungannya dengan kualitas gerak yang
diperagakan, ekspresi yang dilakukan, dan efek koreografi yang
diharapkan.
Efek khusus pementasan dapat menjadi kurang baik
apabila penyinaran kurang memadai, penempatan lampu khusus
yang kurang tepat ditembakkan kepada tokoh khusus, serta
pemanfaatan efek lampu yang kurang tepat dibutuhkan untuk
suatu adegan. Hal ini menjadi jelas pada saat koreografi tampil
sejak awal hingga akhir dilangsungkan. Efek khusus yang dipilih
biasanya menyangkut kepada bagaimana tata lampu memenuhi
kualitas pemeranan, penciptaan suasana, dan pemilihan yang
lebih penting untuk terciptanya ending atau klimaks garapan
tersebut.
Penataan suara diperlukan dalam tata teknik pentas. Hal
ini bertujuan agar dapat mendukung pementasan untuk
memenuhi konsep garapan. Penuangan koreografi yang
dipentaskan secara professional butuh tata suara yang memadai.
Hal ini menjadi pendukung dalam pementasan. Kualitas tata
suara harus memenuhi harapan koreografer. Oleh sebab itu,
penempatan setting tata suara yang berkualitas menjadi salah
satu indikasi standar pementasan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 256
12. Penyusunan Acara
Pertimbangan adanya susunan acara dalam suatu
pertunjukan dipehukan, ini bertujuan agar pertunjukan tidak
monoton dan membosankan bagi penonton. Pertunjukan yang
menampilkan koreografer-koreografer tari dipilih berdasarkan
kualitas mulai dari yang memiliki bobot sedang hingga klimaks
yang memenuhi persyaratan dalam suatu pertunjukan.
Pemilihan tata susun urutan koreografi dipertimbangkan
berhubungan dengan pilihan koreografer, pilihan cerita, pilihan
asal tarian, hingga pada kualitas koreografi yang disusun
berdasarkan pada urutan penampilan dari yang memiliki kualitas
paling sederhana hingga pada penampilan yang berbobot.
Pilihan terhadap personal koreografer memang menjadi
pilihan kendala, tetapi dalam suatu pementasan yang berkualitas
pertimbangan atas penaikan kualitas koreografi menjadi
pertimbangan akhir untuk menunjukan serentetan penyajian pada
pergelaran tersebut semakin menarik, memenuhi syarat, pada
kualitas pertunjukan yang diharapkan mencapai sasaran.
Nomor penampilan dijadikan pilihan dalam tata susun
acara atau pergelaran dilengkapi dengan buku program yang
disusun sebagai panduan pementasan yang akan dipergelarkan
kepada penonton atau kepada penghayat yang akan menikmati
pertunjukan. Panduan acara dibutuhkan sebagai informasi yang
akurat tentang pertunjukan tersebut dapat diikuti secara teliti
oleh penonton.
Hal ini juga bertujuan agar penonton memperoleh
informasi awal tentang isi pertunjukan, susunan koreografer, serta
siapa saja yang terlibat dalam pertunjukan tersebut. Dengan
demikian informasi tersebut menjadi panduan sekaligus informasi
yang akan dihayati selama mengikuti pementasan paada saat
pertunjukan tersebut digelar.
Susunan acara ibarat kemudi pada saat penonton akan
mengikuti wisata pertunjukan. Di sisi lain, susunan acara juga
merupakan desain dramatik yang harusnya diikuti mulai dari awal,
perkembangan, klimaks dan penurunan secara koreografis atau
sesuai prosedur menikmati penyajian seni
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 257
C. KOREOGRAFI BASIS KOMPETENSI
Secara konseptual koreografi adalah gambar gerak yang
menunjukkan bahwa aspek tari dibangun berdasarkan struktur
peta elemen komposisi tari. Bagan tentang dasar komposisi tari
dan elemen komposisi tari di bawah ini. Untuk memperjelas
pembahasan tentang aspek-aspek koreografi tari, secara umum
dapat dilihat pada bagan komposisi (pada pembahasan
tersendiri), dan selanjutnya uraian difokuskan mulai dari
pertanyaan awal apa yang dimaksud dengan koreografi.
Apa yang dimaksud KOMPOSISI TARI atau KOREOGRAFI
Koreografi adalah pengetahuan penyusunan tari atau
teknik untuk mengkomposisikan bagian-bagian gerak dan desain
komposisi yang saling berhubungan menjadi bentuk kesatuan
yang utuh. Seorang koreografer dalam mencipta sebuah tarian
mempunyai satu motivasi yang cukup kuat dan penting,
mempunyai tujuan. Kegiatan atau proses mencipta satu imajinasi
kreatif guna mempersatukan bentuk.
Pengalaman belajar koreografi siswa atau penata tari
dapat didorong untuk berpikir tentang karya kreatif. Teknik dan
strategi membuat koreografi adalah dengan mencoba membuat
pola gagasan dengan konsep permulaan tengah, akhir. Proses
melakukan eksperimen atau proses mencoba di dalamnya
tentunya juga memberikan perhatian terhadap elemen komposisi,
konsep-konsep dan prinsip komposisi sampai pada keindahan
koreografi.
Dengan cara demikian di atas, siswa atau penata tari
memerlukan berbagai hubungan teknik gerak menjadi bentuk,
memahami komposisi secara lengkap (secara teori telah
diuraikan dalam materi komposisi). Kesatuan bentuk yang
selanjutnya diproses melalui tahap-tahap koreografi menjadi
jawaban atas berbagai motivasi yang cukup kuat dan penting
untuk mewujudkan suatu koreografi yang akan
dipertanggungjawabkan ke depan publik.
Bagaimana cara anak mengembangkan pengetahuan
tentang komposisi tari sebenarnya kurang begitu paham atas
banyak teori yang harus diberikan. Bagi kalangan anak-anak
pengetahuan secara praktis dan pragmatis adalah tujuan yang
akan diraih. Oleh sebab itu, dalam rangka mengoptimalkan
pengetahuan menata tari bagi anak-anak lebih ditekankan pada
sistem bimbingan yang menerapkan cara belajar terbimbing.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 258
Konsep ini biasanya dapat membantu anak untuk berusaha
menemukan dan mengenali gerakan yang dimiliki, dicari, dan
dikembangkan secara tepat dan efesien.
Cara-cara belajar yang terbimbing sangat membantu anak
untuk mendekatkan pada bagaimana cara anak bergerak,
menggerakan, dan mengembangkan secara tepat dan benar.
Oleh sebab itu dibutuhkan konsep belajar terbimbing yang dapat
mengantarkan anak menjadi aktif secara mandiri.
Bagaimana anak harus bergerak, adalah menjadi indikasi
pertama yang harus ditanamkan pada anak secara awal. Hal ini
berhubungan dengan upaya meminimalisir anak pemalu menjadi
lebih berani dan tidak canggung untuk bergerak. Langkah kedua
setelah mau bergerak anak harus dipancing agar mau dan tidak
segan mengungkapkan kemauannya untuk mengembangkan
gerakan.
1. Proses kreatif garapan melalui kerja studio
Koreografi tidak dapat dipisahkan dengan kreativitas.
Manusia mempunyai kapasitas yang unik untuk berpikir
dan bertindak kreatif. Dengan demikian, yang dapat
menjadikan seseorang dapat berlaku kreatif, tentunya
memiliki ciri-ciri tertentu, kecakapan menguasai sesuatu
dan sensitifitas estetis, imajinasi, dan kekuatan kreatif.
1.1 Eksplorasi
• Eksplorasi termasuk berpikir, berimajinasi, merasakan,
dan merespon. dalam bentuk penjelajahan atau
penjajakan. Eksplorasi dapat dilakukan tergantung pada
objek yang digunakan sebagai pijakan. Tampak nyata
atau yang belum kelihatan nyata atau angan-angan juga
bisa digunakan sebagai sumber garapan. Wujud tampak
dapat berupa gerak, irama, tema, hubungan sosial. Di sisi
lain, wujud yang tidak kelihatan nyata misalnya isi gunung,
isi laut, atau berbagai hal yang ditabukan oleh banyak
kalangan.
Eksplorasi dalam pengertiannya adalah sebagai proses
pencarian gerak menuju pada pembentukan tari.
Internalisasi isi penjajagan adalah menentukan gerak,
mengembangkan gerak secara teratur. Masalah
pengembangan ide, konsep dan strategi diwujudkan
melalui penyatuan atau tahap merangkum keseluruhan
elemen komposisi, elemen keindahan dan pengetahuan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 259
komposisi tari yang terkait secara utuh berdasarkan
pertimbangan pengalaman yang telah dan akan dilakukan.
Sumber: Jurusan Tari UNJ Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb.4.30 Eksplorasi Gerak Mahasiswa Gb. 4.31 Improvisasi Gerak mhs
Perhatikan gambar, kelompok mahasiswa yang sedang konsentrasi , mencari
gerak untuk menemukenali diri. Hal ini diharapkan mahasiswa mampu dan
memperoleh pematangan ide secara mandiri.
Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb. 4.32 Instruktur memberi pengarahan Eksplorasi
Perhatikan gambar di atas instruktur olah tubuh sedang melakukan pencarian
gerak secara perorangan, di sini dituntut pematangan ide.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 260
Sumber GNP TMII Jkt
Gb. 4.33 Tari Rancak di nan Jombang
Penari memperagakan tendangan pada level bawah
1.2 Improvisasi
• lmprovisasi ditandai dengan spontanitas dan terkendali
untuk melakukan gerak mengusi ruang waktu, tenaga,
level, mengolah tempo dan ritme.
• Proses visualisasinya bertumpu pada mencoba
kemungkinan gerak atas dasar rangsang gerak, raba,
rasa, ide berhubungan dengan rangsang musik melalui
melodi, dinamika, irama, tempo, kepekaan bunyi, peran
dan alat bantu.
• Improvisasi memberikan kesempatan yang lebih besar
pada imajinasi, seleksi dan mencipta daripada eksplorasi.
Tindakan dapat lebih dalam dan menghasilkan respons
yang unik.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 261
Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb.4.34 Saman (Aceh)
Sumber: Ojang Jurusan Tari UNJ
Gb. 4.35 Jaipongan (Jabar)
Sumber: Jurusan Tari UNJ Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb.4.36 Kembangan 1 Pencak Silat Gb. 4.37 Panggung dan Lapangan Terbuka
Gambar Gb. 4.36- Gb. 4.37 dua penari putri di halaman ini sedang eksplorasi
nyanyian dan gerak. Gambar dua kelompok silat sedang mencari kembangan
silat berdasar situasi sekitar.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 262
1.3 Forming (membentuk, mengkomposisi)
• Forming adalah pembentukan atau penyusunan ke dalam
komposisi atau penciptaan tari menjadi bentuk koreografi.
lni merupakan hasil dari eksplorasi dan improvisasi.
• Kebutuhan membuat komposisi tumbuh dari hasrat
manusia untuk memberi bentuk terhadap sesuatu yang
ditemukan. Produk yang mendatangkan bentuk kesatuan
yang baru disebut tari.
• Unsur-unsur yang terkait dalam membuat komposisi tari
telah ada pada materi komposisi atau dapat dilihat pada
bagian karya keseluruhan dan dasar-dasar keindahan
bentuk.
Sumber: Ojang Jurusan Tari UNJ Sumber: Ojang Jurusan Tari UNJ
Gb. 4. 38-4.39 Tari Jaipongan (Jabar)
Sumber: Jurusan Tari UNJ
4.40 Pendet (Bali)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 263
Sumber: Jurusan Tari UNJ Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb. 4.41 Prajurit (Bali) Gb. 4.42 Saman(Aceh)
Sumber: Ojang Jurusan Tari UNJ
Gb. 4.43 Jaipongan (Jabar)
Gambar ketiga koreografi adalah pengolahan properti (gb. 4.41) , gerakan
(gb.4.42) dan ruang pentas (4.43).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 264
2 Pengolahan Kreatif Gerak dengan Keindahan Gerak
• Pada dasarnya orang memiliki potensi kreatif, walaupun
kadarnya berbeda-beda, akan tetapi perIu dipupuk, dibina
dikembangkan melalui pendidikan dan latihan. Kreativitas
memungkinkan manusia untuk meningkatkan kuaIitas
dirinya, melahirkan penemuanpenemuan baru, ide-ide
baru, gagasan yang dapat memberikan interpretasi pada
pencipta dan pengembangan berkarya.
• Kreativitas adalah kemampuan membuat kombinasi baru
berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada
(S.L Utami Munandar). Setiap pengembangan dalam
proses kreativitas memberikan tantangan dan percaya
untuk diadakan percobaan dengan cara meningkatkan
kemampuan keterampilan, aktivitas, dapat
mengungkapkan ciri gerak pribadi.
Sumber: GNP TMII Jkt Sumber: GNP TMII Jkt
Gb. 4.44-4.45 Tari Gelang Ro’om
Perhatikan Gambar di atas proses melepaskan kain pada kostum
tari sebagai bentuk kreativitas garapan ke dalam penguasaan
gerak, ruang dan koreografi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 265
Keindahan gerak berhubungan dengan pengolahan
elemen tubuh agar dapat mengi ruang, gerak, dan waktu. Cara
dan teknik yang harus dilakukan adalah dengan mengoptimalkan
kemampuan elaborasi gerak ke dalam unsur ruang, gerak dan
waktu.
Bagaimana teknik yang harus dilakukan oleh penari untuk
dapat menerjemahkan maksud dan harapan penata tari,
dibutuhkan adanya kemampuan untuk memenuhi aspirasi penata
tari. Cakupan teknik gerak, kemampuan personal, dan
kecerdasan penari dalam melaksanakan tujuan gerak sangat
bergantung kepada bagaimana kedua belah pihak mendiskusikan
dalam pelaksanaan pergelaran.
Pengolahan kreatif gerak untuk dapat memenuhi
kebutuhan ruang, gerak dan waktu dalam pelaksanaannya
memiliki kesejajaran dengan pengalaman penari dalam membaca
dan menerjemahkan kemauan penata tari. Dalam hal ini
dibutuhkan adanya kemampuan seorang penari dalam menjawab
tantangan yang diberikan penata tari. Oleh sebab itu, di sini perlu
adanya latihan inten dan komunikasi yang sejalan antara penata
tari dan penari.
Sumber: GNP TMII Jkt Sumber: GNP TMII Jkt
Gb. 4.46 Tari Dogdoglajor Gb. 4.47 Tari Jibeng Rebana
Perhatikan proses penggunaan kendang dan rebana sebagai properti tari
(kreativitas koreografi mengolah desain lanjutan)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 266
3. Pengolahan Kreatif Gerak dan Keindahan Bentuk Tari
Potensi kreatif yang dimiliki orang kadarnya berbeda--
beda. Proses melahirkan bentuk dan motif kreatif sangat unik
antara seorang dengan lainnya. Kreativitas perlu dipupuk, dibina
dikembangkan ke dalam bentuk pendidikan dan latihan yang
terarah.Pada akhirnya bentuk kreatif dapat terwujud dalam
bentuk, kadar, dan tafsiran motif yang berbeda satu sama
lainnya. Penemuan-penemuan ide-ide baru dalmproses kraetif
tari seperti contoh di bawah ini.
Sumber: GNP TMII Jkt
Gb. 4..48 Tari Ngelajau
Sumber: GNP TMII Jkt
Gb. 4.49 Turun Kauih Aunen
Perhatikan gambar di atas 4.48-Gb. 4.49 dituangkan ke dalam kreativitas
pengolahan gerak split, dan properti tari dalam bentuk gerakan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 267
Perhatikan gambar di bawah ini adalah pengolahan kreativi9tas gerak,
properti, dan pengolahan ruang, gerak dan waktu.
.
Sumber: GNP TMII Jkt
Gb. 4.50 Tari Randa Nabia
Sumber: GNP TMII Jkt
Gb. 4.51 Tari Gelang Ro’om
Perhatikan gambar di atas 4.50-Gb. 4.51 dituangkan ke dalam kreativitas
pengolahan properti payung dengan ruang gerak sempit, dan split dengan
melakukan gaya gerak ke depan seirama alur gerak kaki dan tubuh untuk
menghindari adanya kefatalan gerak.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 268
Setiap orang memiliki kemampuan rasa dan pengolahan
pikiran secara sinergis. Kemampuan dan kepakaan tersebut pada
setiap orang berbeda. Seseorang yang memiliki kepekaan rasa
yang tinggi terhadap tarian, dan sekaligus sebagai pemeran tari
maka yang bersangkutan akan mampu menerjemahkan
keindahan gerak melalui kreativitasnya.
Kemampuan yang lebih tersebut biasanya dimiliki pada
seorang penari yang juga kompeten terhadap penataan tari.
Kedua bekal itu apabila dilatih terus menerus maka yang
bersangkutan akan dapat menafsirkan bagaimana cara dan
teknik pengolahan gerak ke dalam ruang, gerak dan waktu.
Banyak orang yang memiliki kemampuan satu jenis saja,
biasanya yang bersangkutan hanya mampu bergerak atau
mengevaluasi saja. Apabila salah satu kemampuan tidak dimiliki
oleh banyak orang tersebut pada akibatnya mereka kurang dapat
membaca situasi dan mengevaluasi tari secara menyeluruh. Oleh
sebab itu, pada mereka harus diberi jalan dengan melalui diskusi
secara bersama dalam rangka pengembangan gerak dan
kreativitas secara maksimal.
Kecenderungan yang dimiliki oleh seseorang yang mampu
bergerak saja, yang bersangkutan memiliki kemampuan teknik
gerak secara primaq, terampil, dan taktis. Di sisi lain pada
seseorang yang mampu dan memiliki kemampuan pengolahan
gerak terkadang lupa akan bagaimana teknik gerak yang taktis
harus dilakukan dan dikembangkan secara terstruktur.
Dengan demikian di sini diperlukan adanya banyak orang
yang mampu dan memiliki kepekaan rasa pengeolahan gerak
secara baik. Oleh sebab itu, tahapan menuju ke arah kemampuan
yang dapat dikuasai keduanya dibutuhkan pengalaman
berkesenian tari khususnya secara benar-benar. Pada akhirnya
kerja tekun dan konsisten akan dapat memperoleh harpan seperti
yang dicitakan.
4. Konsep Keterampilan Seni Tari
Banyak teori yang menunjukkan berbagai cara yang dapat
ditempuh untuk keterampilan seni tari. Siswa dalam melakukan
kegiatan seni tari, mempunyai kekuatan komunikatif, dan
mempunyai esensi dalam kehidupan manusia.. Dengan demikian
manusia mempunyai kapasitas pembawaaan untuk menghayati
dan mengerti gerak yang dilakukan dan membutuhkan
perombakan (distorsi) dan penghalusan (stilisasi), gerak diperoleh
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 269
dari gerak bekerja atau kegiatan sehari-hari dengan cara
bermain.
Secara mendasar Laban mengemukakan pandangan
gerak dapat dilihat dari empat. Untuk jelasnya, aspek bentuk yaitu
1. Bentuk badan (Body)
2. Bentuk usaha (Effort)
3. Bentu aksi (Shape)
4. Bentuk ruang (Space)
1. Bentuk badan (body)
Menggambarkan kegiatan yang dilakukan bagian atas dari
badan (torso) dan anggota -anggota badan aksi tubuh :
tekukan, rentangan. loncat, berpindah, belok, gerak isyarat,
diam, imbang, ujud badan, simetris, asimetris dll.
2. Bentuk usaha (Effort)
Mengungkapkan mutu gerak dengan tipe atau jenis tenaga
yang digunakan dalam gerak : cepat ringan, ayunan bebas,
mengambang tertahan, tekanan, pelan; menjalur, terputus dll.
3. Bentuk aksi (Shape)
Yang menekankan pada aksi, mengungkapkan gerakan yang
terkait dengan komponen-komponen dalam badan, organ
dalam tubuh, bagian otot-otot dalam menunjang atau
mempengaruhi aktifitas eksternal, setengah lari, berjalan,
beralih, berlutut, bergerak, merentang dll.
4. Bentuk ruang (Shape)
Bagian dari sistem yang menggambarkan tempat, jumlah dan
simetris, ruang eksternal yang digunakan selama gerakan ini
berlangsung. Level rendah, sedang, tinggi, wujud ruang
sudut, lurus, arah kiri, kanan, diagonal, silang, rata.
Unsur penjabaran secara umum yang penting dalam
penciptaan koreografi selalu terkait beberapa hal yang
berhubungan aspek dasar-dasar keindahan, elemen komposisi,
elemen tari, dan dasar-dasr kelompok koreografi secara matrikal
dapat dilihat keterhubungannya adalah sebagai berikut:
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 270
Performansi penghayatan tari yang dilakukan oleh
seseorang bergantung dari kesungguhan yang bersangkutan
dalam menekuninya. Tari sebagai momentum pertunjukan, lebih
menempatkan kecirian individual, kesan yang ditangkap
pandangan penonton, dan pengolahan teknik dan kolaborasi
gerakan ke dalam momen sesaat. Kesan yang ada pada
kenyataannya cepat hilang dari ingatan, cepat terlupakan, dan
berlangsung secara terus menerus seiring dengan proses
penciptaan.
Di sini dibutuhkan adanya daya serat yang tinggi bagi
seseorang yang menekuni tari. Cara dan kualitas yang dapat
dicerp bias dalam bentuk mencatat berbagai kronologis
perubahan gerak dan kebutuhan kreativitas yang dituangkan.
Oleh sebeb itu, cara yang paling tepat dalam melakukan
pengolahan gerak dan pengembangannya melalui kreativitas
harus dideskripsikan atau setidaknya dicatat sesuai dengan kode,
cara, dan teknik mengingat secara cepat.
Pengolahan dan pengembangan gerakan ke dalam
sebuah tarian berhubungan dengan beberapa ilmu yang dapat
mendukung secara konstruktif terhadap penyusunan pengolahan
gerak hubungannya dengan kreativitas. Beberapa pakar tari telah
mengidentifikasi bahwa tari sebagai gerak yang memiliki momen
perlu diingat, dicacat, dan didokumentasi.
Rangkaian gerak yang tercipta pada sesungguhnya
melalui proses yang panjang dan konstruktif. Secara umum cara
dan rekonstruksi tari ditopang dengan pengetahuan secara
kolaborasi adalah sebagai berikut di bawah ini.
Improvisasi
Pencarian Gerak Gerakan Forming
Eksplorasi dicabakan Rekonstruksi
Agar pembaca dapat memperoleh gambaran tentang
rekonstruksi tari berdasarkan kecenderungan penerapan
beberapa aspek berhubungan dengan unsure berikut yang
dijelaskan di halaman selanjutnya yakni Elemen Komposisi Tari.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 271
Elemen-elemen Kompoaiai Tari
Unity (Kesatuan)
Variaty(Variasi)
Dasar-dasar Keindahan Contras (Kontras)
Bentuk Transition(Transisi)
Sequence(Keterkaitan)
Balance (Keseimbangan)
Klimax(Klimak)
Elemen-elemen Elemen-elemen Elemen Kompo Deain Elemen
Komposisi Tari Dasar Tari sisi Kelompok Dinamika dalam
Gerak Komposi
1. Gerak Tari 1. Gerak 1. Union Mempercepat Ruang
2. Desain Lantai 2. Tubuh (Serempak) Memperlambat Waktu
3. Desain Atas 3. Ruang 2. Balance( Memperkuat Dramatik
4. Dramatik 4. Waktu Seimbang) Memperlembut
5. Dinamika 5. Tenaga 3. Broken(Terpeca Mengalir
6. Komp. Kelp h) Tekanan
7. Disain Musik 4. Alternate(Selan Patah-patah
8. Tema g-seling) Mengalun
9. Rias Busana 5. Canon(Berganti
10. Property an)
11. Tata Pentas
12. Tata Lampu
13.Penyusunan
Acara
Bagan 4.1
Elemen-elemen Komposisi Tari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 272
D. ESTETIKA DALAM KOMPOSISI TARI
Estetika tradisional pada dasarnya merupakan unsur
keindahan. Keindahan untuk dipahami oleh pelaku yang aktif
berkesenian, termasuk seniman dan para akademisi harus
memiliki konsep dasar keindahan dalam suatu penciptaan.
Tahap keindahan dimulai dari Ide dasar yang muncul tiba-
tiba. Bentuk awal adalah kemauan untuk mempeta unsur-unsur
seni ke dalam suatu penciptaan. Selanjutnya, proses kreatif
menjabarkan berbagai tanggapan yang dilakukan dalam proses
berkesenian secara runut ke dalam kerja studio.
Di sisi lain, bagi kalangan tertentu estetika tradisional
adalah sebagai sesuatu yang sulit dimengerti. Pokok masalah
tentang keindahan yang dipahami terkadang kurang dapat
dicerna secara jelas, matang dan mendalam. Di sini menu
tentang keindahan diharapkan mampu digunakan untuk
pemenuhan kepuasan batin semata. Bentuk estetika seni
tradisional Indonesia dibutuhkan dan ukuran acuannya tersendiri.
Estetika seni Indonesia diyakini banyak variasinya. Hal ini
tercermin banyak etnik yang menghuni warisan estetika seni
Indonesia. Estetika etnik Indonesia memiliki folkways masing-
masing. Pada sesungguhnya, asumsi ini tidak benar semuanya.
Setidaknya, hal ini seperti dikatakan Sumarsan melalui jelajah
kritis bahwa konsep Adiluhung Jawa terhadap pencarian estetika
Indonesia dalam telaah Ledek Banyumasan, ledek Blora, dan
Kaleran masih jauh dari kesamaan yang ditawarkan.
Salah satu pertimbangan dalam menggali estetika
Indonesia diharapkan dapat hidup dalam kebudayaan yang
tumbuh dan berkembang dari zaman dahulu hingga Indonesia
sekarang. Usaha mencoba untuk membedah estetika Indonesia
secara dini bagi pemula dalam hal ini siswa, guru, dan
mahasiswa harus dengan kriteria yang dipertimbangkan
kesamaannya. Asumsi yang ada disepakati bahwa sasaran baca
buku ini bukan bagi kritikus seni, penulis budaya, praktisi seni dan
segolongannya, akan tetapi bagi kalangan siswa itu sendiri.
Apresiasi karya seni tari dapat ditelaah melalui
pengamatan berdasarkan estetika tradisional. Estetika tradisional
cukup mampu digunakan untuk menelaah kasus-kasus tari yang
sedang berkembang dewasa ini. Secara umum dapat dijelaskan,
estetika tradisional yang berkembang sekarang bertumpu pada
logika bentuk dan isi, keduanya menjadi fondasi bagaimana seni
ditelaah secara detail. Masalah inner kehendak sangat resistensi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 273
ke dalam karya tari dalam banyak bentuk masih kurang
diperhitungkan.
Perlu dicermati, pelaku aktif (seniman, kritikus seni)
sewaktu melakukan apresiasi berusaha memahami beberapa
pikiran berhubungan dengan:
(1) bentuk atau wujud beserta isi seni yang disampaikan,
(2) pelaku seni (siapa obyek dan konsumsi publiknya),
(3) ide konsep dalam melahirkan karya atau kontekstual,
(4) gaya dan aliran yang digunakan sebagai pijakan dalam
menuangkan ide.
Aspek yang dicermati dalam karya tari adalah bentuk dan isi agar
dapat diserap oleh panca indera (elemen komposisi dan
pendukungnya). Selanjutnya, pemahaman tentang keindahan
karya seni memiliki nilai yang disebut dengan Indah. Keindahan
dalam seni adalah merupakan satu nilai. Nilai merupakan unsur
yang dapat memuaskan keinginan manusia. Benda seni dapat
digunakan untuk memuaskan keinginan manusia, termasuk
adalah karya tari.
Indah adalah suatu nilai. Nilai tari dipakai untuk
memberikan arti suatu tarian(elemen komposisi dan elemen
pendukungun tari). Nilai tersebut dapat dikelompokkan menjadi
dua yaitu nilai intrinsik dan ekstrinsik.
Nilai ekstrinsik nilai benda tersebut. Jenis nilai benda
merupakan kesatuan dari hubungan bentuk dan isinya.
Pemahaman tentang indah awalnya mencakup nilai seni, alam,
moral dan intelektual. Perkembangannya, keindahan adalah nilai
estetis murni. Atik Sopandi berusaha mengungkap, penemuan
beberapa kecenderungan bahwa pengamatan nilai indah adalah
kesatuan hubungan bentuk dan isi yang ada pada kesadaran kita.
Teori keindahan dikembangkan lagi menjdai 5 jenis
katagori adalah :
• Teori subyektif yaitu ciri menciptakan keindahan suatu benda
sesungguhnya tidak ada, yang ada hanyalah tanggapan
perasaan dalam diri seseorang yang mengamati.
• Teori Obyektif menciptakan sesuatu keindahan, sifat yang
ada pada benda yang bersangkutan.
• Teori Campuran adalah gabungan antara subyektifisme dan
obyektifisme.
• Teori Perimbangan keindahan adalah benda tercipta dari
ukuran, jumlah dan susunan yang memepunyai perimbangan
tertentu.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 274
• Teori Proporsi keindahan tercipta dari tidak adanya
keteraturan, yang tersusun dari daya hidup, penggambaran,
kelimpahan dan pengungkapan perasaan.
RANGKUMAN
• Keindahan adalah nilai, nilai diperlukan untuk dapat
memahami karya seni tari
• Keindahan adalah nilai estetis
• Nilai merupakan kemampuan sesuatu yang dapat
memuaskan keinginan manusia dalam karya seni
• Nilai digolongkan menjadi nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik
E. KREATIVITAS TARI
Melalui proses mengalami kita memperoleh pemahaman.
Pendekatan ini mempunyai peran yang penting untuk
menentukan berhasil atau tidaknya siswa membuat komposisi tari
atau koreografi sebagai hasil belajar yang diinginkan. Dari uraian
ini, maka untuk mencapai tujuan belajar hendaknya guru
menggunakan pendekatan dalam hubungan timbal balik antara
siswa dan guru.
1. Seniman (Kepribadian)
Tujuan utama bagi seorang seniman adalah berkarya seni
dengan keahlian tinggi dan memiliki keperibadian sehingga hasil
yang diciptakan dapat ditampilkan pada penonton atau
masyarakat umum. Begitu juga pendukung seninya diciptakan
untuk secara penuh menjadi seorang seniman yang tampil
sebagai ahli atau artis professional.
Tidak seorang seniman pun sanggup membiarkan
temperamen hadir antara dirinya dengan kenyataan-kenyataan
ilmu yang merupakan penemuan-penemuan di dalam hasil karya,
karena ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang seniman bukan
mencetak seni, akan tetapi membantu menuju seni yang
sebenarnya. Ketika sedang membuat suatu pengalaman berkarya
seni, untuk mengetahui kondisi-kondisi di atas, maka akan
mengetahui apa yang diciptakan dan mana yang akan digarap,
dengan melalui pengalaman, keterampilan sebenar-sebenarnya,
dengan memperkuat pemahaman individu yang berkaitan dengan
kemampuan keterampilan berkarya seni.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 275
Karena seni menjadi bagian kehidupan individual teknik
dan keterampilan haruslah dialami dalam suatu cara yang
mengakui koneksi-koneksi serta disiplin-disiplin. Ini akan
terkandung dalam pengalaman-pengalaman yang terdapat dalam
dunia inteletual, emosi-emosi dan jiwa, dan tidak dalam hubungan
keterampilan seta bentuk yang berubah-ubah tanpa kontrol.
Selanjutnya seniman yang kreatif memiliki ciri-ciri
kepribadian atau karakteristik yang sama meskipun latar
belakang pekerjaan mereka berbeda-beda dalam berkarya seni,
namun mereka bebas berpikir dan bertindak, tidak m udah
dipengaruhi oleh desakan-desakan sosial bila mereka yakin telah
benar, menyukai hal-hal rumit dan baru, menghargai dan
mempunyai rasa humor dan sangat menekankan pada nilai
estetis.
Untuk itu, maka kemampuan untuk memperoleh kualitas
pada karya seni yang merupakan ekspresi bentuk, gaya yang
dapat mendukung kenikmatan, emosi, penghargaan dalam
kepribadian individual, suatu hasil dari pengalaman didalam
keterampilan untuk mengkreasi, menampilkan dan memandang
suatu seni (rupa, musik dan tari) sebagai imbalan dari kepuasan
yang diharapkan dari penonton. Dari beberapa kenyataan uraian
di atas, seorang seniman dapat memperoleh : Pengenalan
Pengalaman Keterampilan Pandangan social (dari
masyarakat).
Dari uraian tadi, maka Anda akan kenal secara mendalam
apa dan bagaimana karya seni dibuat seorang seniman,
bagaimana latar belakang keunikan dan liku-liku seniman. Karena
itu Anda juga mengetahui, apakah seniman dalam berkarya seni
memiliki pendekatan sejarah, sejauh mana pengalaman individu,
bagaimana hubungan seni dengan keindahan, bagaimana aliran
seninya, bagaimana keterampilan dan kreatifitas seniman itu
berkarya dll. Agar Anda dapat memperoleh gambaran, tentunya
Anda sebagai guru memberikan pengarahan terlebih dahulu
kepada siswa ditempat-tempat yang akan dikunjungi, atau
pameran, pergelaran mana yang dikunjungi, atau kunjungan ke
sanggar-sanggar, studio seni, menonton televisi, video, museum
dll dengan tujuan setelah itu anda memperoleh laporan dari siswa
dan dalam bentuk laporan tertulis, lisan maupun kliping, bahkan
siswa Andapun dapat mendemonstrasikan hal-hal yang didapat
dengan cara kegiatan-kegiatan seni masing-masing dari karya
seniman terkait. Contoh seniman-seniman dengan ciri khasnya :
Agus Djaya terkenal dengan lukisan potret diri, minuman tuak dan
sabung ayam, Bagong Kusudiardjo seorang pelukis, penari dan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 276
koreografer yang melukis figur-figur wayang, karya tarinya berciri
Jawa tradisional dan mencipta tarian anak-anak seperti Tari kupu-
kupu, Tari Kijang, Tari Blekdikdot, Tari Gembira dll.R.I Maradawa,
seorang seniman dari Yogyakarta yang terkenal dengan tari-tari
klasik gaya Yogyakarta.
2. Pendekatan Proses Berkarya
Proses perubahan bagaimanapun sering terjadi dalam
praktek sebelum suatu model dapat didefinisikan dan sungguh-
sungguh praktek harus dikembangkan sebelum mengurangi arti
keaslian.
Pengalaman yang subjektif dari kreasi dan ekspresi
selama kegiatan seni, sedangkan obyek jika ada sesuatu sebagai
hasil dari pengalaman seni, telah dinilai lebih dalam batas-batas
perasaan pribadi, seperti : rasa kepuasan, emosi, bebas dan
senang. Sedangkan kreatifitas itu sendiri merupakan kemampuan
berekspresi dan keahlian sosial dalam kerja individu maupun
kelompok yang tidak bisa terlepaskan dengan unsure-unsur seni,
komposisi maupun pengetahuan yang terkait dengan penciptaan
seni dalam hasil karya seni.
Berdasarkan hal tersebut, membuat suatu proses
penciptaan sampai pada bentuk penampilan mengekspresikan
secara menyeluruh bersifat subyektif. Sesungguhnya proses
mental dilibatkan dalam kerja kreatif yang mana tidak dapat dilihat
dan tidak dikritik melainkan hanya dapat ditampilkan sebagai hasil
ciptaan selama proses berlangsung. Dalam konteks pertunjukan
yang sungguh-sungguh untuk apa yang dipandang dari segi daya
kreatifitas, imajinasi rasa, prinsip memerlukan estetika. Lebih
lanjut anda dapat melihat bahwasanya keahlian proses
pertunjukan seperti focus, karakteristik, penonjolan arti
keterampilan, seniman tidak dapat diduga tanapa mengacu paa
pembagian ilmu pengetahuan. Selanjutnya proses dalam
menciptakan seni dimulai dari eksplorasi, imajinasi, seleksi dan
final dapat diperkaya dibuat selera, sebagai anggapan guru cocok
untuk pengalaman murid-murid dan kemampuan. Siswa
menangani tugas-tugas dari guru, siswa harus jelas tujuan pada
penciptaannya, maupun temuan-temuan harus dipelajari dan
mengetahui syarat-syarat, prinsip-prinsip sehingga dapat
mengetahui nuansa ekspresi terhadap isi dan bentuk dari
pertunjukan, pameran yang diinginkan hidup dan menimbulkan
rasa dalam penampilan.
Pengembangan kreativitas dan imajinasil membuat orang
bertanggung jawab tugas yang diberikan, dalam seni merupakan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 277
ketentuan pertunjukan/penampilan. Hal yang sama dalam
konteks penampilan, pameran seni dengan membuat referensi
seni (tari, musik dan rupa), siswa dapat menjadi paham, kenal
dengan ide-ide pikiran umum dan apa yang merupakan keahlian
melalui pengalaman pertunjukan seni.
Jika keterampilan dalam pendidikan seni yang diduga
secara obyektif, siswa menyajikan, mengekspresikan dan dapat
mengapresiasikan seni, maka siswa ditentukan untuk membuat
melalui laporan, mencatat atau dilihat melalui paket ciptaan
siswa. Bagaimana siswa menciptakan, perlu dilatih,
diinterprestasikan para seniman. Jadi penciptaan, pertunjukan
(pameran) dan apresiasi memberikan suatu tingkat
kesinambungan terhadap seni dalam model pendidikan seni.
Jelaslah, bahwa proses awal dalam menciptakan karya seni
adalah kreativitas dalam mengekspresikan suatu perasaan nyata
alam imajinasi individual, sesudah meneliti menyatakan refleksi
perasaan, langkah berikutnya aalah selesai dari improvisasi pola
kegiatan seni yang baru, dan ini dapat dibuat. Bagaimanapun
harus ada interaksi antara perasaan dan pengetahuan.
3. Hasil Karya (Produk) Seni
Sebuah karya seni akan kelihatan kualitas produk (hasil)
dengan bagus dan indah apabila kualitas keahlian dari sebuah
proses dan kreatifitas berjalan dengan baik. Penempatan utama
harus ditempatkan pada pengembangan pengetahuan siswa
selama dalam proses belajar di sekolah. Pengetahuan yang
bermacam-macam dan sangat bervariasi, seperti siswa harus
tahu gaya dan kaidah seni, guru dapat memberikan sumber-
sumber yang kaya dengan ide untuk menciptakan seni,
memperluas batasan konsep seni dan menawarkan suatu
kerangka pustaka dalam rangka menyusun, memprogram
persepsi dari kerja seni.
Dalam konteks penampilan, pameran seni dengan
membuat ciptaan pribadi, akhirnya siswa dapat menjadi paham,
kenal dengan ide, pikiran umum dari apa yang merupakan
keahlian siswa yang dilakukan melalui pengalaman, proses
sampai pada hasil (Product) seni dalam pementasan dan
pameran. Di lain pihak, pengetahuan seni merupakan suatu
persyaratan untuk berkreasi, berimajinasi dan berekspresi dan
elemen-elemen yang terkait pada proses kreatif. Di samping itu,
pengetahuan juga dapat membantu proses kreatif, apabila
mengerti latar belakang dan unsur karya di dalamnya terdapat
juga kemahiran, kedisiplinan yang luas, teknik dan kriteria dari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 278
subyek atau aktivitas. Siswa memperoleh pengetahuan melalui
pengalaman belajar dan perasaan seni akan terjadi jika siswa
telah mengalami pembuatan karya seni. Perasaan subyektif ini
adalah pikiran (cognitive) dan perasaan mengetahui rangsangan
seni yang diperoleh. Anda juga telah mengetahui bahwa ekspresi
dalam seni muncul sebagai salah satu campuran dari
pengalaman subyektif dalam kebiasaan yang berasal dari
pengetahuan yang obyektif. Siswa anda perlu mengetahui
bagaimana mengobyektifkan pengalaman subyektif mereka
melalui media artistik, serta harus mempunyai tujuan yang jelas
pada produk-produk alamiah yang menjadi tema individu untuk
mengatasi persoalan dan perasaan.
Bagaimana mengembangkan keterampilan sebagai
bagian dari seni dalam pendidikan?. Lebih lanjut dalam laporan,
disebutkan bagaimana bantuan khusus dalam sosial merupakan
keterkaitan dari studi seni. Sehingga pengetahuan dan
keterampilan dikembangkan dan diperkirakan kriteria yang perlu
dirumuskan untuk menentukan apakah siswa tahu, mengerti dan
dapat mengerjakan konteks seni sampai pada produksi (hasil)
karya seni.
Dari ketiga pendekatan konsep perencanaan apresiasi
seni diatas, maka konsep-konsep dan kemampuan dapat
dibentuk ,melalui suatu proses kreasi, penampilan, pameran
dengan cara menonton melihat karya seni. Maka jelaslah disini,
anda dapat mendalami apa arti suatu pendidikan yang dapat
anda ketahui bahwa belajar apresiasi seni melalui beberapa
pengalaman yang berlangsung dapat dilihat dari berbagai sudut.
4. Membuat Karya Seni (Menata)
• Interpretasi ide harus dimengerti
• Dapat diterjemahkan dalam bentuk seni secara simbolis
• Jenis seni drama, musik, tari rupa dengna bentuk
kontemporer, abstrak, jazz, balet dan daerah setempat.
• Harus merencanakan untuk menggelar ide, kualitas dan
waktu
• Membuat rencana agar jumlah peserta yang terlibat dengan
kegiatan seni dan keterkaitan dengan ide harus dapat
disajikan posisi, group.
• Memilah dan menyatukan ide dengan membuat bentuk
• Mencari bentuk yang sesuai antara komposisi yang terkait
dengan pola maupun desain.
• Membuat ungkapan, mengulangi dalam waktu yang sama,
ruang hubungan antara konfigurasi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 279
• Mengerti bentuk normal, pengulangan, mengolah estetika
• Membuat tahap-tahap elemen komposisi seni
• Menampilkan dalam bentuk pergelaran atau pameran
• Melihat aturan penonton, mencatat rencana dan hasil
F. DASAR DASAR KEINDAHAN (Elizabeth R Hayes)
1. Unity (Kesatuan)
Keindahan secara prinsip menjadi unsur terpenting dalam
koreografi. Elemen yang membentuk konsep keindahan suatu
karya merupakan gabungan unsur-unsur keindahan. Unsur ini
harus ada dan merupakan kesatuan yang utuh.
Kesatuan aspek gerak, ruang dan waktu yang hadir harus
dihayati dan dimengerti. Hasil kesatuang aspek unsur tari harus
mencapai vitalitas, sehingga keutuhan yang diharapkan
memperlihatkan kesatuan yang saling berhubungan.
Prinsip kesatuan keindahan dalam koreografi merupakan
bentuk organisasi penari. Masing-masing penari bekerja dan
bergerak dalam kegiatan yang secara total membentuk kesatuan
kelompok pergerakan sehingga menjadi hidup dan dinamis di
atas pentas.
2. Variaty(Variasi)
Variasi pada dasarnya adalah proses pembentukan
struktur tari. Penyusunan dan perangkaian gerak oleh penari tidak
terputus-putus. Variasi semua aspek dasar keindahan yang ada
dan hubungannya dengan unsur tari terdiri gerak, ruang dan
waktu secara kreatif.
Dalam proses struktur tari, gerakan dimungkinkan tidak
ada putus-putusnya. Kepentingan variasi gerakan dikembangkan
dalam kerangka integritas. Kebutuhan variasi gerak, ruang, dan
waktu tidak boleh mengorbankan makna kesatuan. Tidak ada
variasi atau perkembangan yang berarti tidak kreatif. Hasil
akhirnya koreografi membosankan.
3. Kontras (Kontras)
Adalah posisi dimana posisi, kedudukan, dan sikap dalam
keadaan yang saling berlawanan, atau terjadinya situasi yang
tidak seimbang antara belah kanan dan belah kiri. Setidaknya
terjadi kondisi dimana posisi, sikap, dan kedudukan tertentu tidak
sama dengan lainnya.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 280
4. Transition(Transisi)
Adalah Motif gerak yang dipilih dan digunakan sebagai
sarana untuk perpindahan atau transisi. Teknik ini tidak dapat
berdiri sendiri, tetapi harus menyatu dalam kesatuan gerakan
yang akan disambungkan.
5. Repetation(Pengulangan)
Pengulangan sebagai elemen konstruksi berarti persis
sama. Pengulangan dalam seni dapat ditafsirkan sebagi
pernyataan kembali(restate), penguatan kembali (reinforce),
gema ulang(reecho), menmgingat kembali (recall). Repetisi
ditekankan pada unsur cannon atau berganti-berurutan. Gerakan
tertentu terus berhenti, disusul penari lain bergerak mengikuti
pendahulunya.
Dalam struktur koreografi prinsip pengulangan bertujuan
variasi tetapi jangan membosankan. Satu materi gerak yang
menjadi ciri khas dari tarian itu, sebaiknya perlu diulang beberapa
kali dengan maksud untuk lebih menampakkan kebebasan
bentuk tarian.
6. Sequence(Keterkaitan/Kontinyuitas)
Kontinyuitas sebuah tarian yang menarik perhatian para
pengamat akan menopang vitalitas dan intensitas pengalaman,
sehingga iring-iringan yang rapi dari berbagai macam aspek tari
secara berangsur-angsur menampilkan pengertian yang
mendalam bagi pengamat. Oleh sebab itu, bagian gerakan yang
dirangkai atau disusun memiliki arti sama dan disimpulkan secara
bersama.
7. Balance (Keseimbangan)
Berkaitan dengan penyusunan tiap-tiap bagian gerak yang
secara professional diatur dan disusun menjadi kesatuan yang
tepat melalui pengaturan pola lantai, dan bagian-bagian
komposisi lain yang saling berhubungan.
8. Klimax(Klimaks)
Dalam konsep garapan nonliteral, koreografi
membutuhkan klimaks keutuhan struktur permulaan, tahap
perkembangan hingga akhir penyelesaiannya klimaks harus
terjadi. Suatu komposisi yang berangkat dari pengembangan ke
titik puncak, diakhiri dengan kesan yang mendalam.
Di sisi lain, pada koreografi literal baik dramatari maupun
koreografi dramatik klimaks menggambarkan titik puncak
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 281
dramatik. Konsep klimaks dapat dikembangkan melalui bentuk
kerucut tunggal maupun ganda.
9. Harmony(Harmonis)
Adalah pengaturan bagian-bagian kekuatan garapan yang
saling mempengaruhi dalam koreografi.
G. KONSEP GARAPAN (Jachklin Smitt)
Ciri-Ciri Komposisi Tari
1. Sifat Dasar Komposisi : pembentukan bersama unsur-unsur
selaras yang dengan hubungan dan penyatuan membentuk
sesuatu yang dapat di identifikasi.
2. Materi Dasar : penata tari harus sepenuhnya sadar unsur
alamiah sehingga ia dapat sebaiknya menentukan cara
seleksi, menghaluskan dan mengkombinasikannya
3. Metode Konstruksi : untuk mencapai keberhasilan penataan
tari maka penata tari harus mengetahui awal kemungkinan-
kemungkinan seperti unsur-unsur bahan sebuah tari, metode
konstruksi yang menghasilkan bentuk tari dan sebuah
pengertian tentang gaya dimana penata tari berkarya.
4. Mengajar Komposisi Tari : pengetahuan tari sebagai bentuk
seni hanya dapat dicapai melalui pengalaman menari,
menyusun, mementaskan dan mengamatinya. Kunci
keberhasilan komposisi tergantung inspirasi artistik dan intuisi
seseorang, penguasaan perbendaharaan gerak secara luas
sebagai makna ekspresi, pengetahuan tentang bagaimana
menciptakan wujud dari struktur seni.
• Gerak dan Arti
• Bahasa Dasar Gerak bahasa sehari-hari sebagai upaya
komunikasi dapat dijumpai melalui gerak seperti ungkapan
verbal yang menjelaskan suasana hati dan pikiran dan
pengendalian rasa
• Analisa Bahasa : penata tari memerlukan suatu makna
analisa isi sehingga ia dapat mengambil gejala pola
perilaku manusia, menghaluskannya, menambah sana
sini, menyusun variasi, mengambil intisari, meluaskan,
menonjolkan bagian tertentu menurut kebutuhan
komposisinya.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 282
• Penetapan Isi : penata tari dapat menggunakan analisa
laban untuk membantu analisi isi gerak dan mengabarkan
mana yang menjadi perhatiannya, memillih aksi dan
warna melalui usaha apapun, tata ruang atau hubungan
isi.
• Eksplorasi Tema : penata tari harus mencari dan
mengalami keluasaan tema sehingga ia menjadi
sepenuhnya bebas dengan gerak dan konotasi rasa atau
arti. Dalam mencari tema ia harus mengumpulkan
sebanyak-banyaknya gerak tanpa pemikiran komposisi
sehingga kaya akan pengalaman gerak.
• Gerak dan Makna : bahasa komunikasi yang luas dan
variasi dari berbagai kombinasi unsur-unsurnya dalam
konteks tari gerak sebaiknya dimengerti sebagai
bermakna dalam kedudukan dengan lainnya.
• 3.2 Metode Konstruksi I
• 3.2.1 Rangsang Tari
• Rangsang Tari : sesuatu yang membangkitkan pikir
semangat atau mendorong kegiatan.
• Rangsang Dengar : sesuatu yang dipakai untuk mengiringi
tari
• Rangsang Visual : dapat timbul dari gambar, patung,
obyek, pola, wujud
• Rangsang Kinestetik Gerak Tertentu berfungsi sebagai
rangsang kinestetis sehingga tari tercipta berdasarkan
gerak itu sendiri
• Rangsang Peraba menghasilkan respons kinestetis yang
kemudian menjadi motivasi tari
• Rangsang Gagasan : gerak dirangsang dan dibentuk
dengan intensi untuk menyampaikan gagasan.
• 3.2.2 Tipe Tari
• Tari Abstrak : tanpa program yang konkret atau tanpa
menggunakan cerita
• Tari Murni dan Studi : tari yang berasal dari rangsang
kinestetis dan secara eksklusif hanya memandang gerak
itu sendiri. Sesuatu studi itu murni, tetapi sebuah tari
dapat juga murni dan lebih dari sebuah studi, artinya
penataan tari telah berkonsentrasi pada tema materi yang
terbatas.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 283
• Tari Dramatik : gagasan yang dikomunikasikan sangat
kuat dan penuh daya pikat, dinamis, dan banyak
ketegangan dan dimungkinkan melibatkan konflik antara
orang seorang dalam dirinya atau dengan orang lain.
• Tari Komik : membuat bagian tubuh bergerak secara aneh
dengan koordinasi diluar sifat normal.
• 3.2.3 Bagaimana cara Pencarian Gerak dalam Koreografi
Tari
• Penyajian Representasional Murni: perlu didiskusikan
peñata tari secara matang. Konsep yang harus dituangkan
berupa peniruan gerak akan dominant. Hal ini
berhubungan dengan penuangan kembali simbol dan hal
yang kurang representatif harus bisa dikenali.
• Improvisasi : rangsang musik untuk spontanitas gerak.
• 3.2.4 Metode Konstruksi II
• Keseluruhan dibuat dari beberapa komposisi dan
komponen penata tari :
• Tubuh penari sebagai instrumen yang memiliki isi, wujud
dan kapasitas aksi.
• Gerak yang mempunyai kelengkapan fisik waktu, berat,
ruang dan alunan-alunan interaksi yang menentukan
bentuk aksi.
• Ruang lingkungan yang dapat diwujudkan melalui gerak.
• Hubungan yang dapat terjadi antara tubuh dengan
sesuatu yanmg lain atau orang lain.
• 3.2.5 Bentuk
• Suatu tari bertujuan untuk mengkomunikasikan gagasan
dan oleh karena itu begitu banyak hal terdapat dalam tari
lebih dari sekedar rangkaian gerak.
• Pengembangan dan Variasi Motif
• Motif
• Preaston-Dunlop (1963) menyatakan motif gerak
merupakan pola gerak sederhana, tetapi di dalamnya
terdapat sesuatu yang memiliki kapabilitas untuk
dikembangkan.
• Jenis Motif
• Setiap tari memiliki motifnya sendiri dan setiap motif
mempunyai karakter sendiri yang mungkin tidak dipakai
untuk tari lainnya.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 284
• Panjang Motif
• Penekanan Isi
• Isi usaha gerak dapat menjadi motif gerak adalah sebuah
tata hubungan aksi usaha (effort), dan ruang dimana tidak
satupun dari aspek tersebut dapat hadir tanpa yang lain
dalam motif, tetapi satu atau lebih dapat mendapatkan
penekanan dari lainnya.
• Motif Menuju Komposisi
• Penata tari yang menata tari tunggal akan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
• Gagasan ditetapkan melalui isi gerak yang diatur dalam
motif, berikut pengembangan dan variasinya.
• Cukup ada pengulangan untuk mendapatkan konfirmasi
imaji gerak.
• Aspek waktu dan ruang begitu menarik dan bervariasi
serta meningkatkan makna.
• Metode Konstruksi III
• Kelompok sebagai elemen ekspresif: setiap penari dalam
kelompok mempunyai peranan utama yang harus
ditampilkan secara harmonis untuk memberikan
sumbangan daya hidup secara keseluruhan.
• Pertimbangan jumlah kelompok: penata tari harus berhati-
hari mempertimbangkan berapa jumlah penari yang
dibutuhkannya karena masing-masing harus mempunyai
kontribusi tafsir gagasannya.
• Penempatan dan wujud kelompok: penempatan ruang dan
wujud kelompok mempunyai efek dan makna gerak.
• Motif, pengembangan dan variasi: sebuah motif ditetapkan
melalui gerak rampak seluruh kelompok yang memerlukan
pengulangan dan pengembangan sehingga menjadi jelas
maknanya. Pengulangan yang sama melalui
pengembangan dan variasi motif dapat dijumpai baik
dalam kelompok maupun sendiri.
• Aspek waktu
• Rampak : rampak simultan, saling mengisi secara
simultan, kontras secara simultan, baris belakang dan
depan simultan baris baris belakang dan depan
berturutan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 285
3.4 Metode konstruksi IV
• Desain Waktu
• Gerak dan frase gerak
Frase dapat dimulai dengan dinamika, gerakan dalam
suasana tertentu dan berakhir dengan kelembutan/sebaliknya
atau peningkatan menuju ledakan pada bagian tengah dan
berakhir semakin lembut.
• Ritme dan Bentuk
Pengorganisasian Bentuk : Bentuk Binter, Bentuk Terner,
Bentuk Rondo, Tema dan Variasi (tema menjadi dasar variasi
yang sering dibuat dengan bentuk sekuensial dengan diikuti
oleh bermacam-macam pengambangan atau variasi), Canon
atau Fuga komposisi dimana satu atau dua tema/motif
diulang/dimulai oleh penari-penari tertentu silih berganti.
3.5 Metode Konstruksi V
• Motif (dasar) konstruksi
• Pengulangan
• Variasi dan kontras
• Proporsi dan imbangan
• Transisi
• Pengembangan logis
• Kesatuan
3.6 Kebebasan penata tari
• Imajinansi dan intuisi
• Pengetahuan materi gerak
• Pengetahuan metode konstruksi
• Pengenalan pengetahuan bentuk melalui pengalaman estetis
yang semakin banyak diperoleh setelah pengalaman melihat
tarian orang lain dan karya seni lainnya.
Imajinasi dan reaksi awal penata tari terhadap stimulus isi materi
Reaksi awal penata tari terhadap stimulus hingga menimbulkan
kesadaran akan menuju pada penata tari dapat membayangkan
hasil tariannya. Hasilnya baik disekitar kerangka kerja maupun
hanya sebagian kecil berlanjut sebagai pengarah tanggapan
gerak terhadap stimulus.
3.7 Imajinasi Selama Penataan Tari
Sebagai materi :
Penata tari dapat menyajikan sebuah pernyataan yang sangat
sederhana, tetapi kesederhanaan isi geraknya dapat dituangkan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 286
secara imajinatif dalam arti penjajaran kepekaan dan diilhami
penggunaan pengulangan.
3.8 Bentuk Tari
• Motif unsur bentuk tari :
Pengulangan, variasi, kontras, klimaks, proporsi, berimbang,
transisi, pengembangan logis dan kesatuan.
3.9 Intuisi
• Intuisi tanpa pengetahuan
• Pengetahuan mengesampingkan intuisi
• Intuisi dengan pengetahuan
• Intuisi dan sedikit pengetahuan
Intuitif ini selanjutnya digunakan untuk mengelaborasi
unsure keindahan yang telah diajukan pada teori Unsur
Keindahan adalah sebagai berikut.
• Unity : elemen yang harus ada dan menjadi kesatuan yang
utuh, meliputi keserasian gerak, musik, kostum, rias, dan
pendukung lainnya dipelajari secara matang dalam kelas
secara detail yang lebih operasional telah menjadi spirit dari
koreografi yang tertuang berdasarkan jabaran dari hasil jadi
koreografi tari.
• Variety : berarti banyak variasi yang dikembangkan ke dalam
unsur ini meliputi gerakan cepat-lambat, desain dalam-
tertunda-datar, level atas-medium-bawah, gerak mengalun-
stakato, desain asimetri-simetri dan masih banyak lagi yang
diakumulasi menjadi kesan varietas dari komponen dalam
komposisi tari.
• Repetation : merupakan bentuk pengulangan gerak secara
bervariasi pada tempo atau kesempatan yang berbeda.
Konsep penerapan gerakan yang diulang maupun kronologis
pengulangannya biasanya akan berhubungan dengan variasi
bentuk gerak, desain gerak serta akomodasinya terhadap
tema garapan yang ditonjolkan.
• Contras : biasanya lebih berhubungan dengan pengulangan
gerakan yang bersifat membosankan. Konsep ini lebih
mengantarkan pada persepsi gerakan yang dilakukan secara
beda, dengan harapan untuk mendapatkan kesan yang
dinamis dengan cara gerak lambat .ke cepat, gerak
mengalun ke gerak patah-patah, atau gerakan yang bersifat
lembut ke gerakan yang bersifat keras penuh tenaga atau
inner penghayatan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 287
• Transition : memiliki makna gerakan dilakukan tidak hanya
pada satu posisi saja, melainkan dengan mobilisasi yang lebih
bervariasi ke dalam uraian di tengah pentas (dead center),
panggung depan (up stage), dan panggung belakang (down
stage), atau dikanan dan kiri panggung depan (up right-left
stage), dikanan dan kiri panggung belakang (down right-left
stage), dan seterusnya.
• Sequence : bermakna gerakan dilakukan secara berkaitan,
gerakan yang satu dengan gerakan lainnya tertata secara
berkesinambungan atau dengan istilah lain gerakan mengalun
pada ritme gerak secara teratur.
• Climax : biasanya lebih ditonjolkan kepada gerakan atau pose
gerakan yang dibutuhkan untuk memberikan kesan agar
penataan gerak atau koreografi telah berakhir berdasarkan
tema garapan. Hal ini berhubungan dengan kesan gerak,
klimaks garapan atau penonjolan ide garapan yang terstruktur
dalam koreografi yang dipentaskan.
G. GERAK KREATIF
Gerak kreatif adalah gerakan yang dapat dikembangkan
menjadi bentuk lain. Teknik, cara dan implementasi
mengembangkannya dengan melalui mencoba kemungkinan
gerak dikembangkan menjadi gerakan lain yang berbeda dengan
gerak asalnya. Gelagat untuk mampu menunjukkan berbagai
teknik dan cara variasi gerakan dapat ditempuh melalui uji
keterampilan kreatif dalam proses kreatif.
Siswa di sekolah sebaiknya diberikan pengalaman gerak
kreatif dalam menari. Kegiatan tari bagi siswa ditujukan untuk
menemukenali diri secara mandiri, hal ini dengan menunjukan
kepada diri maupun siswa lain ke dalam aktivitas pencarian gerak
pada saat menari secara maksimal. Dengan demikian siswa
memiliki kapasitas untuk menghayati dan mengerti gerak yang
dilakukan sendiri sebagai refleksi diri dan sekaligus rekresinya.
Banyak teori yang menunjukkan berbagai cara yang dapat
ditempuh untuk keterampilan seni tari. Siswa dalam melakukan
kegiatan seni tari, mempunyai kekuatan komunikatif, dan
mempunyai isensi dalam kehidupan manusia. Dengan demikian
manusia mempunyai kapasitas pembawaan untuk menghayati
dan mengerti gerak yang dilakukan dan membutuhkan
perombakan (distersi) dan penghalusan (stilisasi), gerak diperoleh
dari gerak bekerja atau kegiatan seharian dengan cara suasana
bermain.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 288
Untuk jelasnya, secara mendasar Laban mengemukakan
pandangan tentang gerak yang dapat dilihat melalui empat aspek.
Adapaun aspek bentuk dimaksud terdiri dari unsur sebagi berikut:
Bentuk Badan (Body) Bentuk Usaha (Effort)
Bentuk Aksi (Shape)
Bentuk Ruang (Space)
Bagan 4.2
Peta Konsep Penuangan Kreatif gerak menurut Laban
Penuangan tentang bagaimana cara dan strategi
pengembangan gerak dalam format gerak kreatif dibutuhkan
penjabaran masalah body, spce, effort, dan shape secara variatif.
Upaya yang dilakukan misalnya adalah mengkombinasikan
gerakan-gerakan dalam bentuk langkah-langkah tarian. Gerakan
yang termasuk dalam langkah-langkah tarian untuk pandangan
Laban meliputi gallop, slide, skip, ¾ run, waltz run, step-hop, two-
step, polka, waltz balance, waltz mazurka merupakan bentuk
gerakan yang ditampilokan menjadi sebuah pola gerak tari
tradisional.
Banyak tarian yang belum diklarifikasi berdasarkan
pandangan laban, bahwa langkah-langkah tarian menjadi sebuah
aktivitas yang dapat memancing dan menumbuhkan daya kreatif
anak dalam menari.
Penelusuran tentang bagaimana cara anak
mengembangkan konteks gallop, slide, skip, ¾ run, waltz run,
step-hop, two-step, polka, waltz balance, waltz mazurka melalui
landasan dasar body, spce, effort, dan shape merupakan bagian
yang terus menerus perlu dibimbing.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 289
Pada sisi lain, kondisi yang terjadi menunjukan bahwa
anak-anak yang lebih dewasa lebih berhasil dalam mempelajari
tari rakyat secara mudah dan dengan menggunakan metode yang
lebih kreatif. Landasan tubuh, ruang, waktu dan tenaga
dimanfaatkan secara maksimal untuk menerapkan pola-pola
gerak yang ditemukan sendiri dan sekaligus mengembangkan
gerak secara maksimal ke dalam hasil rangsang musik, gerak,
dan rangsang lainnya yang dapat digunakan sebagai bahan untuk
memancing kreatif. Dengan demikian munculnya gerakan yang
baru telah ditopang dengan kemampuan mengoptimalkan empat
unsur yang disebut sebagai landasan teori secara benra dan
berhasil.
1. Gerak
Pada dasarnya semua makhluk hidup adalah bergerak.
Khusus untuk anak-anak senang bergerak. Gerak sebagai alat
pendidikan memiliki indikasi terhadap penguasaan fisik, fleksibel,
koordinatif, bahasa tubuh.
Gerak berfungsi untuk memacu kemampuan psikomotorik.
Dalam keadaan tertentu dapat berperan dalam menunjang
kemampuan kognitif. Berdasarkan perbendaharaan kata dan
pemecahan masalah secara kreatif, gerak dapat membantu dan
meredam munculnya pertumbuhan emosi. Dengan demikian
dapat umbuh melalui kerjasama dengan orang lain melalui rasa
percaya diri (self Esteem)
2. Ruang
Ruang merupakan suatu tempat. Ruang dapat berupa
ruang pribadi, ruang umum. Level merupakan posisi atau
kedudukan. Dalam kehidupan sehari-hari lebih diartikan kepada
level tinggi, level sedang, dan level rendah. Arah biasanya
menunjukan tujuan. Arah dapat diidentifikasi ke dalam tujuan ke
arah depan, ke arah belakang, ke arah kanan, ke arah kiri, ke
arah atas, dan ke arah bawah.
Langkah menunjukan arah. Kemana langkah dilakukan
maka yang bersangkutan akan menuju arah sasaran. Ukuran
pada dasarnya menunjukan bentuk, volume atau isi dan
kapasitas yang dimiliki oleh sesuatu dimana masuk dalam
ukuran. Ukuran terdiri dari ukuran besar, sedang, dan kecil.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 290
Hubungan di atas, di bawah, di sekitar, melalui, bersama, bagian
yang dilaluinya.
3. Kualitas Kecepatan
Lambat, sedang, cepat, Kombinasi antara ketiga unsur
secara variatif
• Irama
Teratur- tidak teratur, pendek- panjang, keras-lembut, tinggi-
rendah
• Bobot
Berat- ringan, intensitas –pengendoran, tention-relaktention
• Tenaga
Lembut-Kasar, lunak- kuat, berotot-tidak berotot,
• Alur
Bebas- terikat, mengalir-patah-patah, spontan-terencana.
• Fokus
Satu fokus- banyak fokus, terpecah-satu konsentrasi
4. Komposisi
Menemukan gerakan-gerakan baru yang berdasarkan prinsip dan
makna dari gerakan tersebut. Di dalam arti sebuah gerak memiliki
desain keruangan dan bentuk konstruksi.
5. Macam Dasar Gerak
• Desain : garis-garis yang statis. Terdapat dua aspek : ruang
waktu yang terselimuti oleh sekuens gerak.
• Dinamika
• Irama
• Motivasi
6. Desain
• Desain Simetri (seimbang) dan Asimetri (tidak seimbang)
dalam ukuran tubuh penari antara sisi kanan dan kiri.
• Desain untuk seorang pelaku atau lebih
• Desain frase gerakan-gerakan yang berhubungan dengan
desain waktu, karena perpaduan antara gerakan-gerakan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 291
yang berbeda tempo-temponya atau ritmenya. Teori frase
sebuah teori penataan gerakan dalam desain waktu.
• Desain ruang pentas.
• Dalam tari, latihan teknik yang dilakukan didalam studio
tidaklah riil, artinya tidak sama dengan ruang pentas yang
sesungguhnya. Pada hakekatnya setiap tempat mempunyai
kepekaan yang dapat memperkuat dan memperlemah ritme.
Masing-masing tempat akan mengendor kekuataannya
apabila terlalu sering digunakan, hal ini dapat disegarkan
kembali dengan sesekali meninggalkannya.
Nilai Arah Dalam Gerak
• Arah lurus kedepan adalah yang paling kuat, karena tubuh
penari serta seluruh dinamikanya berkomunikasi secara
langsung.
• Arah ke samping
• Arah diagonal
• Arah melingkar
• Lighting adalah satu sarana yang sering digunakan. Lighting
mampu membangun klimaks dan menghilangkan sosok tubuh
bila diminati.
Desain kelompok kecil
• Kelompok kecil/grup adalah istilah yang dalam tari timbul
bersamaan dengan lahirnya tari modern. Sebelumnya untuk
membedakan para penari biasa dengan penari-penari utama,
kata grup dipilih untuk lebih menjelaskan hubungan-hubungan
antara penari modern dengan ide demokrasi .
Dinamika
• Dinamika, peranan dinamika dalam tari adalah sebagai
penambah daya tarik, Dinamika meliputi daerah luas yang
membentang dari selembut pasta sampai sekeras palu-
godam. Dan area ini seluruhnya memberikan kemungkinan
kombinasi tiada habisnya, baik dalam tempo dan dalam tensi :
pelan-lembut bertenaga, perlahan halus tanpa tegangan
(penuh mimpi), cepat lembut tanpa ketegangan cepat-tajam
bertenaga, agak tajam dengan sedikit tenaga.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 292
Ritme
• Ritme adalah unsur yang paling kuat dan menyakinkan
disamping kebebasan teknik gerak. Diantaranya ada ritme
pernafasan, ritme emosional.
• Ritme pernafasan pola ini membentuk dunia gerak tersendiri
dan sangat erat hubungan dengan hidup
• Ritme emosional penggunaannya lebih universal sering kali
menjadi tujuan akhir dalam seluruh komposisi.
Motivasi dan gestur
• Sebuah gerak tidak mungkin dilakukan tanpa motivasi, gerak
harus ditopang oleh sesuatu tujuan motivasi adalah bagian
inti dari sebuah komposisi tari sedangkan gesture dahan atau
cabangnya.
7. Gestur
• Gesture sosial, gerakan yang mirip dengan ungkapan kata
yang mudah dikenali oleh banyak orang sehingga tidak
dibutuhkan lagi mencari penggantinya.
• Gestur fungsional, gerakan-gerakan yang merupakan kata
yang sangat berfaedah yang dapat diterapkan kedalam
komposisi (menyisir rambut, tidur, menjahit)
• Gestur ritual, berhubungan dengan aspek-aspek formal
kehidupan beragama.
• Gesture emosional, menggambar suasana-suasana
emosional tertentu.
• Tari adalah satu-satunya seni pertunjukan yang telah bercerai
dari kata-kata. Naratif : melengkapi fakta-fakta seperti
tempat, waktu, massa, identitas.
8. Musik
• Tidak semua musik sesuai sebagai pengiring tari. Wilayah
musik dibatasi oleh tiga hal : melodi, ritme dan dramatik.
• Memerlukan bentuk fisik kombinasi dengna unsur seni dan
kemampuan teknik
• Diperlukan koordinasi khusus, ketepatan, kelancaran kontrol,
keseimbangan dengan ketenangan dan penuh kepercayaan
• Konsentrasi pada penampilan dengan ekspresi melalui
variasi, unsur seni, estetika, dan dinamika
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 293
• Menampilkan tarian dan bagian seni pengertian kualitas
formal
• Menampilkan tema dengan ekspresi seni
• Melatih dan mencoba ekspresi bentuk seni dengan unsure
komposisi seni
• Membutuhkan kualitas penampilan yang difokuskan dalam
mengekspresikan dengan arti
• Memusatkan garis, pola desain ke bentuk komposisi
• Memperlihatkan kejelasan dan kesatuan bentuk
• Mengobservasi, menjabarkan, menganalisa dan
mengevaluasi seluruh aspek yang menyangkut kreasi dan
penampilan.
• Proses keterampilan kreativitas seni, penampilan dari melihat
suatu seni akan membentuk suatu kemampuan dalam
apresiasi seni untuk sebuah karya seni dan bentuk seni
Siswa akan belajar membedakan hasil yang diperoleh,
dilihat dengan meningkatkan ketelitian, kecermatan dan
kepekaan dari kualitas karya seniman, hasil ciptaan sendiri,
bentuk karya seni tradisi yang telah ada, dari penampilan
langsung dalam belajar bagaimana mendapatkan deskripsi,
interpretasi dan evaluasi, dimana siswa mempersiapkan seni,
dilihat dari bentuk seni, gaya ekspresi, teknik dan hasil.
Dalam apresiasi lebih lanjut siswa akan belajar mendapatkan
sumber informasi dan ciri-ciri secara rinci baik itu tentang
seniman, latar belakang, proses seni ataupun hasil karya seni
perkembangan dan sejarah seni juga kebutuhan penampilan
seni.
G. Tugas
Dari beberapa pengalaman teknik di atas, jika pengajaran
berdasarkan sumber tersebut, terseleksi pada obyek
pelajaran dan akan memperkaya seni, estetika dan budaya di
masa mendatang, dan dapat dipergunakan guru maupun
siswa secara seimbang. Siswa diberikan suatu tugas
mengulangi kembali karya, bentuk seni secara keseluruhan
atau bagian yang diulang dengan interprestasi dengan cara
sendiri.
Bagaimanapun juga, belajar merupakan hal yang
kompleks dan contoh pentingnya membentuk karya seni siwa
perlu petunjuk tugas dari guru, dengan beberapa cara untuk
membantu mencapai obyek.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 294
1. Tugas Melihat
Dari beberapa pengalaman,pameran seni memerlukan
imajinasi dari penonton yang melihat. Untuk itu guru sangat
diperlukan untuk membimbing kegiatan tersebut. Pada tahap
melihat, siswa menonton tanpa bicara. Setelah selesai siswa
harus bicara/berkomentar tentang apa yang dilihatnya. Cara yang
dipergunakan, yaitu menyertakan pertanyaan yang telah
disiapkan guru dalam bentuk diskusi, memerlukan observasi
siswa, membuat perbandingan, menjabarkan, membuat
interpretasi dan komentar maupun evaluasi dari hasil yang dilihat
siswa. Selanjutnya guru-siswa dapat menyeleksi melalui hasil
jawaban dan pertanyaan apa yang mereka apresiasikan dan
kemungkinan menambah pandangan, juga dapat menambah
wawasan kualitas, saling membantu serta mengerti yang lebih
jelas dari kelompok atau teman-teman yang berperan aktif
melihat, sehingga dapat memberikan komentar secara rasional
dari wawasan yang didapat, maupun estetika yang terlihat dalam
menonton pertunjukan, pameran atau melihat video dan gambar-
gambar.
2. Tugas Penampilan
Dalam mempelajari seni, guru hendaknya mempunyai
kedekatan pengajaran langsung, sehingga siswa dapat
mengulang secara tepat, dengan cara melihat aspek yang terkait
maupun kualitas guna memperluas penampilan dalam proses
belajar. Metode penampilan dari guru juga dapat dibantu dengan
menggunakan video, notasi, gambar atau bentuk-bentuk dasar
paket yang telah dibuat atau siswa, sedangkan bentuk paket seni
yang merupakan kreasi guru, hendaknya dapat memberikan
sebuah arti dan didiskusikan secara detail sehingga siswa
mendapatkan rasa pada penampilan kedalam pengalaman siswa.
3. Tugas Kreasi
Banyak cara guru agar mendapatkan sebagai dasar siswa
untuk menimbulkan kreatifitas. Siswa kemungkinan bertanya dari
bagian kebagian yang dilihat dan mencoba membicarakannya,
diikuti kemudian mengkreasikan dari hasil kreasi mereka sendiri.
Disamping itu, siswa dapat memberikan indikasi kepda pembaca,
penonton, pengamat seni, keuntungan belajar dari sumber dalam
bentuk kemampuan kreativitas seni. Belajar dan memberi seperti
yang dibuat kreatifitas (kreasi) siswa sendiri dari sumbernya,
merupakan sesuatu yang baru, individu dan nilai kreatifitasnya
pun berupa karya seni tergantung siswa dalam mengetahui dan
mengerti disiplin teknik dari bentuk seni dengan mempelajari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 295
secara mendalam. Jadi seni dan apresiasi estetika pada
kemampuan persepsi siswa pada arah, dimana karya seni dan
keahlian harus dari awalnya secara obyektif berdasarkan sumber
atau tugas kreasi.
4. Tugas Sejarah/Budaya
Anda sebagai guru harus mendorong siswa untuk
mempelajari karya seni, bentuk seni sebagai hasil atau budaya,
pengertian karakteristik seni atau sejarah dan perkembangan
seni, wawasan seni dan budaya sejak awal. Karena di dalam
mengenal hal tersebut, berarti siswa dapat melihat
perkembangannya, memberikan pemecahan masalah dan dapat
memahami suatu karya seni tradisi maupun perkembangan
zaman yang terbaru (modern). Dengan demikian, beberapa
sumber diperlukan dalam masalah ini, melalui membaca,
memperhatikan dan membuat kritik perbandingan juga dapat
mengenal serta mengklasifikasikan sehingga karakter dan bentuk
karya seni akan lebih dapat dimengerti dan diterangkan.
5. Paket Sumber :
Sebagai guru dalam memberikan materi pelajaran
pendidikan seni diperlukan sumber paket yang bervariasi, seperti
penampilan pada video, mempelajari karya/bentuk seni yang
sudah ada (tradisi), artikel, majalah sumber, pergi ke museum,
membuat dan mempelajari karya seni. Lebih lanjut, jika sumber
dasar pengajaran aktivitas siswa dapat terpusat, proses belajar
akan lebih efektif, di samping itu siswa mengerti sebuah karya
seni, seniman dan latar belakangnya.
Paket yang dimaksud :
• Video
• Dokumentasi dan komentar
• Latar belakang seniman, biografi, pameran dan pertunjukan
• Foto-foto, video dari seniman yang tersedia
• Catatan seni, tentang karya seni, komposisi, unsure seni dan
perangkat alat pendukung lainnya
• Pementasan seni
• Foto-foto yang menyangkut kebutuhan alat seperti kostum,
gambar yang diperlukan dan diperlihatkan
• Tulisan/catatan sejarah budaya referensi dan informasi
lainnya.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 296
NO TEKNIK GERAK : KELENTURAN : PENIRUAN
Teknik gerak Merupakan GERAK :
merupakan cara ekspresi gerak Merupakan
dan aturan di dalam bentuk kemampuan untuk
dalam melakukan kemampuan mengadaptasikan
gerakan yang fleksibilitas di teknik, cara dan
dituntut sesuai dalam proses melakukan
dengan alur dan mengembangkan gerakan sesuai
proses gerak dan menirukan model yang
dengan tidak gerak ditunjang dicontohkan
meyimpang adanya
kepada konstruksi keterampilan
struktur anggota mahasiswa dalam
tubuh dengan rangka
didasarkan mengelaborasi
kepada unsur-unsur
kemampuan ketahanan,
ketahanan, kecepatan atau
kecepatan seta keseimbangan
keseimbangan
gerak itu sendiri.
STRUKTUR KWALITAS INTERPRETASI
GERAK : GERAK : GERAK :
Merupakan aturan Merupakan Merupakan
dan proses gerak standard medium bagi
dimana dalam maksimal mahasiswa di
aktualisasi kemampuan dalam
disesuaikan gerakan yang menafsirkan
dengan dituntut untuk gerakan model ke
kebutuhan gerak melakukan dalam elaborasi
dimana salah satu kolaborasi gerak gerakan berikut
bersama dari dalam rangka sesuai dengan
anggota tubuh memenuhi kemampuan dan
tersebut ketahanan, teknik mahasiwa
digerakan kecepatan dan yang
keseimbangan bersangkutan.
gerakan yang
diekspresikan
VARIASI GERAK
adalah tentang
pengembangan
gerakan yang
bertujuan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 297
menjajagi
seberapa kreatif
kemampuan
elaborasi gerak
mahasiwa.
Tabel 4.1 Teknik, kelenturan da imitasi
6. Kontribusi konstruk dalam penciptaan gerakan Individu
Pengalaman belajar koreografi peserta/penata tari dapat
didorong untuk berpikir tentang karya kreatif dengan mencoba
membuat tari yang mempunyai permulaan tengah, akhir didalam
mencoba tentunya juga memberikan perhatian terhadap elemen
komposisi, konsep-konsep prinsip komposisi sampai pada
keindahan koreografi.
Dengan cara demikian di atas, penata tari (peserta)
memerlukan berbagai hubungan teknik gerak menjadi bentuk,
memahami komposisi secara lengkap (secara teori telah
diuraikan dalam materi komposisi).
Aspek-aspek khusus dari proses koreografi terdiri :
6.1 Aspek isi
Isi merupakan pusat masalah dari sebuah karya tari. Isi
adalah pokok arti dimana suatu yang harus dihasilkan dari
kehendak, keinginan si penata tari.
6.2 Aspek bentuk
Bentuk adalah wujud, rangkaian-rangkaian gerak yang
dilakukan penari, pengaturan laku, atau bentuk keseluruhan.
6.3 Aspek teknik
Sarana untuk mencapai sasaran, berkaitan dengan
kemampuan ketrampilan dalam mengungkapkan gerak,
penari mempunyai makna komunikatif. Teknik mempunyai
daya tarik dan membantu suatu pertunjukan lebih baik.
6,4 Aspek proyeksi
Proyeksi adalah hubungan magis dari rencana penata tari
dengan persepsi penonton.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 298
7. Proses Kreativitas Garapan Kerja Studio
Kerja studio adalah pekerjaan yang dilakukan di ruangan,
bengkel, atau laboratorium secara mandiri. Cara kerja dilakukan
dengan memilah dan memilih berbagai komponen yang terpakai
atau unsur terpilih setelah melakukan eksplorasi di lapangan atau
improvisasi di tempat yang digunakan oleh suatu percobaan.
Di bidang seni kerja studio bermacam-macam. Untuk seni
rupa bisa di bengkel seni atau di ruangan khusus yang
representatif digunakan untuk melakukan percobaan tentang
kesenirupaannya. Di bidang tari dilakukan di studio yang cukup
luas dan memadai untuk melakukan eksperimentasi gerak. Dalam
seni musik, kerja studio dilakukan bisa di tempat rekaman atau di
ruang yang dapat digunakan untuk membuat repertoar musik.
Kebutuhan studio bagi seni tari merupakan hal yang harus
terpenuhi. Hal ini berhubungan dengan penjajagan atas gerakan
yang telah dipertimbangkan melalui hasil eksplorasi, improvisasi,
bahkan kajian lapangan berhubungan dengan koreografi.
Koreografi tidak dapat dipisahkan dengan kreativitas.
Manusia mempunyai kapasitas yang unik untuk berpikir dan
bertindak kreatif. Dengan demikian, yang dapat menjadi
seseorang dapat dikatakan berlaku kreatif tentunya memiliki ciri-
ciri tertentu, kecakapan menguasai, sensitivitas estetis, imajinasi,
kekuatan kreatif.
Cara dan pelaksanaan kerja studio dalam koreografi
biasanya terkait dengan uji coba gerakan, penetapan repertoar
gerak, hingga pada pemantapan untuk mendalami gerak-gerak
yang terpilih dalam forming atau komposisi tari. Pemantapan
kerja studio dianggap perlu karena koreografer apabila telah
mendapatkan ide berhubungan dengan gerak, ide berhubungan
dengan pengembangan kreatif, dan teknik melakukan gerakan
agar konstruktif dilakukan dalam studio.
Proses studio dapat digunakan sebagai cara dan
rekonstruksi terhadap gerakan yang terpilih, ide yang harus
dijabarkan ke dalam gerakan, hingga pada penetapan gerak-
gerak yang cocok dan sesuai diterapkan pada koreografi yang
disusunnya. Pemantapan kerja studio berhubungan dengan pola
untuk mendapatkan bentuk gerak yang sesuai, bentuk gerak
pendukung ide, serta gerakan yang dipandang mampu digunakan
untuk mengelaborasi koreografi semakin baik dan indah.
Langkah-langkah yang diterapkan dalam studio adalah
memprioritaskan gerakan yang dipilih sesuai harapan koreografi,
menetapkan gerakan yang digunakan sebagai urutan gerak
sebagai konstruk koreografi secara teliti dan melalui uji coba
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 299
gerak agar semakin mantap dan sekuen atau teratur, tahapan
berikut adalah menetapkan gerakan-gerakan mana saja yang
sudah jelas untuk dikomposisikan ke dalam koreografi. Setelah
memperoleh penetapan hasil kerja studio, kerja berikutnya adalah
melakukan verifikasi terhadap gerakan apakah dapat dilakukan
atau ditarikan secara benar dan tepat untuk dipadukan dengan
musik iringan tarinya.
8. Pengolahan Kreatif Gerak dengan Keindahan Bentuk Tari
Pada dasarnya orang memiliki potensi kreatif, walaupun
kadarnya berbeda-beda, akan tetapi perIu dipupuk, dibina
dikembangkan melalui pendidikan dan latihan. Kreativitas
memungkinkan manusia untuk meningkatkan kuaIitas dirinya,
melahirkan penemuanpenemuan baru, ide-ide baru, gagasan
yang dapat memberikan interpretasi pada pencipta dan
pengembangan berkarya.
Kreativitas adalah kemampuan membuat kombinasi baru
berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada (S.L
Utami Munandar). Setiap pengembangan dalam proses
kreativitas memberikan tantangan dan percaya untuk diadakan
percobaan dengan cara meningkatkan kemampuan keterampilan,
aktivitas, dapat mengungkapkan ciri gerak pribadi.
Apabila dicermati, komponen bodi, usaha, ruang, dan aksi
merupakan kesatuan yang salaing mengisi untuk mengahdirkan
gerak secara kumulatif. Kesejajaran posisi dan konstruk empat
unsur bodi, usaha, ruang dan aksi menjadi bagian penting dalam
tari menurut Laban. Agar kita mendapat gambaran yang lebih
detail atas bagaimana kinerja masing-masing unsur dapat
disimak melalui uraian sebagai berikut.
Pada kebanyakan orang cara kerja dan konstruksi gerak
yang dapat dilakukan berbeda-beda. Masalah intensitas,
kepekaan rasa gerak, dan penghayatannya memiliki teknik
penyaluran tenaga secara bermacam dan bervariasi. Pada
kalangan tertentu rekonstruksi gerak lebih ke arah penghayatan
yang dirasakan ke dalam, akan tetapi pada sebagian banyak
orang lebih ke arah ungkapan ekspresi yang ke luar secara apa
adanya.
Dalam kaitan dengan masalah lain, bodi, usaha, ruang
dan aksi apabila direfleksikan ke dalam penghayatan gerak yang
beragam dapat menghadirkan bentuk gerak dan kreativitasnya.
Kecenderungan bentuk gerak dan penghayatan yang disalurkan
dengan memanfaatkan bodi, usaha, ruang dan aksi yang berbeda
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 300
pada akhirnya dapat memebentuk keindahan gerak yang
bervariasi.
Penghayatan gerak yang berbeda dengan memanfaatkan
tenaga aksi, pengplahan ruang, dan dapat menghadirkan teknik
dinamika secara akurat. Teknik dinamika dapat lahir dengan
mengendalikan gerak secara terukur antara keras lembut, tegang
kendur, cepat lambat secara koordinatif.
Cara dan teknik seperti dijelaskan tersebut di atas dapat
muncul dan digunakan dalam teknik gerak tari. Konsistensi
pengembangan gerak melalui pendalaman keras-lembut, cepat-
lambat, kendur-kencang menjadi salah satu bagian yang penting
untuk membentuk keindahan tari melalui penghayatan gerak
melalui tenaga dan gerak tubuh.
Cara lain yang masih dapat dikembangkan melalui proses
pendalaman gerak ini adalah memanfaatkan gerakan
direpresentasikan dalam ruang gerak yang sempit-luas, ruang
gerak sesuai jangkauan gerak dengan gerakan yang
membutuhkan ruang gerak yang luas, adalah pengembangan
gerak berdasarkan teknik pengolahan ruang secara tepat.
Penjajagan
Eksplorasi termasuk berpikir, berimajinasi merasakan, dan
merespon, dalam bentuk penjelajahan atau penjajakan.
Eksplorasi dapat dilakukan tergantung pada objek kelihatan nyata
atau yang belum kelihatan nyata atau angan-angan. Wujud
kelihatan nyata yaitu gerak, irama, tema, hubungan sosial,
sedangkan wujud yang tidak kelihatan nyata seperti isi gunung,
laut, dll.
Eksplorasi sebagai pencarian gerak yang menuju pada
pembentukan tari (menetukan gerak, mengembangkan gerak
secara teratur). Mampu mengembangkan ide konsep dan strategi
untuk melakukan keseluruhan elemen terkait.
Bergerak secara spontan
Improvisasi ditandai dengan spoiltanitas dan terkendali
untuk melakukan gerak mengusir ruang waktu, tenaga, level,
mengolah tempo dan ritme. Proses visualisasinya bertumpu pada
mencoba kemungkinan gerak atas dasar rangsang gerak, raba,
rasa, ide berhubungan dengan rangsang musik melalui melodi,
dinamika, irama, tempo, kepekaan bunyi, peran dan alat Bantu.
Improvisasi memberikan kesempatan yang lebih besar
dari imajinasi, seleksj dan mencipta daripada eksplorasi.
Tindakan lebih dalam dan menghasilkan respon yang unik.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 301
Membuat suatu komposisi bentuk
Forming adalah pembentukan penyusunan ke dalam
komposisi atau penciptaan tari menjadi bentuk koreografi. Ini
merupakan hasil dari eksplorasi dan improvisasi.
Kebutuhan membuat komposisi tumbuh dari hasrat
manusia untuk memberi bentuk terhadap sesuatu yang
ditemukan. Produk yang mendatangkan bentuk kesatuan yang
baru disebut tari.
Unsur-unsur yang terkait dalam membuat komposisi tari
telah ada pada .materi komposisi dilihat bagian pada karya
keseluruhannya dan dasar-dasar keindaban bentuk.
9. Pengolahan Kreativitas Gerak Dengan Keindahan Bentuk Tari
Pada dasarnya orang memiliki potensi kreatif, walaupun
kadarnya berbeda-beda, akan tetapi perlu dipupuk, dibina
dikembangkan melalui pendidikan dan latihan. Di dalam
melakukan kreativitas kemungkinkan manusia untuk
meningkatkan kualitas dirinya, melahirkan penemuan-penemuan
baru, ide-ide baru, gagasan yang dapat memberikan interpretasi
pada pencipta dan pengembangan berkarya.
Konsep Keterampilan Seni Tari
Banyak teori yang menunjukkan berbagai cara yang dapat
ditempuh untuk keterampilan seni tari. Siswa dalam melakukan
kegiatan seni tari, mempunyai kekuatan komunikatif, dan
mempunyai esensi dalam kehidupan manusia.. Dengan demikian
manusia mempunyai kapasitas pembawaaan untuk menghayati
dan mengerti gerak yang dilakukan dan membutuhkan
perombakan (distorsi) dan penghalusan (stilisasi), gerak diperoleh
dad gerak bekerja atau kegiatan seharian dengan cara bermain.
Secara umum dapat dilihat melalui peta konsep yang
dapat digambarkan dalam pembahasan ini. Pada halaman berikut
selanjutnya, akan digambarkan peta konsep penuangan kreatif
secara tgaris besar. Untuk lebih jelas tentang gambaran
dimaksud, secara mendasar Laban mengemukakan pandangan
kraetivitas gerak kreatif yang dapat dilihat melalui bagan konsep
penuangan kreatif yanterdiri dari empat aspek.
Keterampilan tari biasanya dimiliki oleh seseorang yang
berbakat di bidang tari. Faktor keberbakatan menjadi penting
karena kebanyakan orang sangat jarang mau dan mampu
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 302
melakukan kegiatan berkesenian. Oleh sebab itu, faktor bakat
seni menjadi sesuatu yang dapat mendorong dan meningkatkan
aktivitas berkesenian terhadap seni yang disenangi dan menjadi
bakatnya.
Di bidang seni tari, bakat tari seseorang lebih banyak
dimiliki oleh kalangan wanita. Keluwesan keindahan bentuk tubuh
yang dimiliki oleh penari biasanya ideal dan cukup representatif.
Memenuhi struktur, bodi, dan keterampilan gerak secara lugas
dan terampil.
Penciptaan tarian baru sesungguhnya merupakan
keterampilan untuk mewujudkan perasaan bentuk simbolis.
Bentuk dalam tari timbul sebagai akibat pengaruh konsep dan ide
yang kuat serta prinsip-prinsip komposisi.
Pengalaman untuk membuat koreografi dapat
diklarifikasikan ke dalam orientasi konsep dan ide garapan.
Secara leksikal koreografi berarti pemilihan menyangkut aspek-
aspek yang ada dalam komposisi tari. Pemaknaan komposisi tari
berupa penyusunan dan pembentukan.
Pematangan konsep dan ide koreografi pada selanjutnya
dikembangkan melalui proses kreatif yang secara teoritikal seperti
disebutkan Doris Humpray adalah melalui tahap-tahap
Eksplorasi, Improvisasi, dan Seleksi Gerak atau Forming.
Dengan demikian tari sebagai bentuk seni pertunjukan
harus dikemas, ditata, dan disusun secara estetis. Perwujudan
bentuk keindahan yang ada lebih ditekankan kepada bentuk tari
sebagai koreografi dan membutuhkan unsur elemen-elemen
komposisi tari sebagai pembentuk disain dan dinamika. Beberapa
elemen penting dalam pemetaan keindahan atau estetis
koreografi dapat dilihat melalui peta dasar sebagai berikut:
• Proses Eksplorasi
adalah berpikir, berimajinasi, merasakan merespons dan
melakukan beberapa penjajakan yang berhubungan dengan
konsep dan ide serta elemen-elemen terkait.
• Improvisasi
adalah menopang perumpamaan dan mengembangkan ide-ide
gerakan dengan bermacam-macam cara
• Seleksi (Forming)
adalah membentuk, menyusun, komposisi sebagai kebutuhan
untuk membentuk sesuatu yang telah ditentukan dalam
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 303
eksplorasi, improvisasi. Pada seleksi merupakan proses
pemilihan dan penyatuan kontrol dan dorongan imajinatif.
• Proses kreatif ini sama dengan pengalaman koreografi yang
telah dijelaskan pada uraian terdahulu di bagian depan.
H. KEUNIKAN IDE
Ide berkaitan dengan tema yang akan diungkapkan
menjadi pesan atau makna tari berupa penerjemahan kehendak
koreografer. Tema tari merupakan ide yang diambil berdasarkan
pengalaman hidup, musik, drama, legenda, sejarah, psikologi,
literatur, upacara, agama, folklor, kondisi-kondisi sosial, fantasi
dan hasrat tertentu.
Karya tari ada yang mengambil gagasan berdasarkan sumber-
sumber kehidupan primitif yang berkaitan dengan alam.
Keunikan dalam ide harus memperhatikan : 1) nilainya, 2)
dapatkah ditarikan, 3) kesan bagi penonton, 4) unsur pendukung
dari penyusunan karya tari termasuk penari, 5) kemungkinan-
kemungkinan praktis yang berhubungan dengan ruang tari
(stage), lighting, kostum, musik, dan sebagainya. Selain itu
keunikan ide dapat dilihat dari unsur gerak yang terdiri dari :
Gerak Murni
• Gerak murni adalah gerak tidak wantah. Gerak semata-
mata untuk mendapatkan bentuk artistiknya saja.
Gerak Maknawi
• Gerak maknawi adalah gerak tari yang diungkapkan
memiliki maksud di samping keindahan geraknya.
Gerak Asimetris
• Gerak yang tidak memiliki keseimbangan/sebangun, baik
ruang maupun desainnya.
Gerak Simetris
• Gerak sebangun. Gerakan berada pada ruang dan
desainnya.
• Keunikan ide dikembangkan berdasarkan pengekspresian
diri. Ekspresi gerakan mampu memunculkan dapat
memiliki keunikan, yang tidak dimiliki orang lain atau tarian
lainnya. Keunikan tersebut dapat dilihat dari :
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 304
1. Dasar Pijakan
Bentuk tari terkait dasar pijakan. Ini sebagai sumber
pengayaan penciptaan.
Pijakan Tradisi
Tari tradisional adalah tari yang lahir, tumbuh, berkembang
dalam suatu masyarakat yang kemudian diturunkan atau
diwariskan secara terus menerus dari generasi ke generasi.
Tarian tradisional diakui oleh masyarakat pendukungnya. Bentuk
tari tradisional merupakan bahan untuk dipikirkan, diolah dan
digarap, sehingga melahirkan bentuk-bentuk baru. Bentuk tari
tradisional digarap berdasarkan pijakan tradisi yang berkembang
di sekitar wilayah tarian.asal. sehingga akan menghasilkan
bentuk tari yang baru setelah melalui proses pengkomposisian.
2. Pijakan Gaya
Keseluruhan yang dijadikan dasar bagi orang untuk
menandai identitas mereka terdiri dari sesuatu yang disebut
dengan gaya (style). Gaya dalam tari tersusun dari simbol-
simbol, bentuk-bentuk dan orientasi-orientasi nilai yang
mendasarnya. Pijakan gaya terkadang digunakan sebagai
pijakan dalam menggarap suatu bentuk tari.
2.1 Spesifikasi
Spesifikasi dalam tari memunyai batasan lebih kepada
sesuatu yang khusus/unik yang tidak dimiliki daerah lain dan atau
orang lain.
Spesifikasi Gerak Tradisi
Pada tari tradisi terungkap ciri-ciri tertentu khas daerah
yang bersangkutan yang berbeda dengan daerah lainnya.
Spesifikasi Gaya
Umumnya suatu tarian dibentuk melalui pilihan-pilihan
kreatif untuk memperagakan gaya-gaya tertentu, bahkan
dalam prosesnya terkadang menambahkan atau membuang
beberapa sehingga mengubah suatu gaya dan membentuk gaya
yang baru Di bawah ini merupakan skema pengembangan
keunikan gagasan yang awalnya hanya dimulai dari anggota
tubuh, namun apabila dipraktikkan hasilnya merupakan keunikan
gerak yang terdapat dalam tari Zapin.
Tubuh dikembangkan menjadi bagian gerak badan
(antara lain dalam bentuk gerak membungkuk-berdiri tegap-
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 305
doyong), bagian kepala (dikembangkan gerak mengangkat dagu-
menggeleng-menagguk-mendongak), bagian kaki (dikembangkan
gerak jinjit-berjalan-berlari-bersimpuh), bagian tangan
(dikembangkan gerak mengepal-menangkis). Selanjutnya
dikombinasikan antara gerak badan (membungkuk) – kepala
(mengangkat dagu) – tangan (mengepal) – kaki (berjinjit). Apabila
dilakukan berulang-ulang dengan hitungan bervariasi, maka akan
terbentuk ragam gerak seperti tari Zapin. Dari imajinasi ini
kemudian ditarik suatu tema yaitu “langkah Zapin”
Keunikan gagasan yang dapat diambil sebagai tema dari
karya-karya tari di Nusantara dapat diangkat :
o Tema lingkungan dan alam sekitar, seperti gerak-gerak angin
bertiup, pohon bergoyang, air yang mengalir di sungai,
berkaiatan dengan perburuan, mata pencaharian (nelayan,
peranian, dsb)
Tema logika matematika, seperti gerak tangan yang
o
membentuk bermacam-macam sudut, komposisi kelompok
dengan permainan jumlah penari atau menggunakan pola
soal cerita matematika.
Tema kehidupan sehari-hari, seperti bermain peran, jenis
o
permainan anak yang biasa dilakukan (dolanan), dsb.
Tema dengan menggunakan property, di mana property dapat
o
sebagai pendukung tari untuk mengekspresikan gerak, seperti
bermain tali/pita, kentongan, tempurung, payung, topeng, dsb.
Keunikan gagasan dalam tari dapat pula dikembangan
melalui model integrasi atau model keterpaduan yang merupakan
hasil adaptasi dari karya Forgoty (1991), model ini bersifat antar
mata pelajaran dan tumpang tindih (over laping). Model ini
memadukan lintas beberap mata pelajaran, penggabungannya
melalui pengaturan prioritas yang ada dalam kurikulum dan
lintasan yang terjadi diantara prioritas tersebut yang mencakup
konsep-konsep atau tema, keterampilan-keterampilan yang perlu
dikembangkan.
Karakteristik model integrasi 1) pendekatan lintas disiplin
ilmu (memadukan mata pelajaran) yang berbeda bidang ilmunya,
2) pusat minat dari konsep yang tumpang tindih antar mata
pelajaran dari beberapa bidang kajian, 3) kegiatan
perencanaannya diawali dengan telaah kurikulum untuk melihat
adanya tumpang tindih konsep, 4) konsep yang tumpang tindih
diangkat menjadi focus belajar (Forgoty,1991).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 306
Penggunaan model integrasi secara tepat dilakukan dengan
terlebih dahulu menyusun bagan sebagai cara pemahaman
utuh adanya keterpaduan dan untuk penggalian informasi,
selanjutnya guru merancang bagan model integrasi tersebut
seperti pengembangan bentuk “web” seperti yang telah
digambarkan di atas.
I. TEKNIK DALAM SENI TARI
Teknik dalam seni tari berkaitan dengan keterampilan
melakukan teknik gerak dan penguasaan gaya atau style. Gaya
(style) itu sendiri tersusun dari simbol-simbol, bentuk-bentuk
(form) dan orientasi-orientasi nilai yang mendasarinya, sehingga
gaya menandai identitas dan keseluruhan ciri yang kompleks
yang dijadikan dasar bagi seseorang (Royce, 1975:54). Teknik
gaya tradisional berhubungan dengan gerak individu yang dapat
diungkapkan dalam gaya menari bagi masing-masing penari.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 307
Sebagai contoh berikut ini uraian teknik gerak dan gaya
tari tradisional dari beberapa daerah.
Tari Teknik Gerak Teknik Gerak Teknik Gerak Teknik
Daerah Kaki tangan Kepala gerak badan
Indonesia
Melayu Jalan Tangan Tegak lurus
melenggang melenting ke depan
Langkah Menabur Kepala
kembang bunga mengikuti
Langkah gerak tangan
bersilang
Langkah
menjunjung
Langkah
biasa
Step di
tempat
Round kecil
Round
Langkah
maju
Langkah
mundur
Minang Langkah Sembah Kepala
Panjang Tapuak siku mengikuti
Pitungguah teteh gerak tangan
Pajak Baro Saleko ketek
Titi Batang Jinjing Bantai
Rentak Cepu Batanam
Betawi Jingke Jewer Seliyer Break-breok Gitek
Gejug Jimpit jeriji Nglumet lele Goyang
Kepret panggul
Ukel Goyang
Kewer nglume
Sunda Rengkuh Sembada Gilek Ajeg
Adeg-adeg Baplang Godeg Obah taktak
kembar Lontang Godeg oray Galiyer
Masekon Kepret soder meuntas
Sasag Seblak
Tindak sonder
Mincid Tumpang tali
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 308
Keupat Jiwir soder
Geser Capit soder
Nyawang
Jawa Srisig Kebyok Pacak gulu Ngeleyek
Madal pang Seblak Noleh Degeg
Kengser Kipat tekukan Nyoklek pajeg Ogek
Mancat Ukel Tatapan lambung
Lumaksana tanggung Ngglebok
mager timun Ukel wetan
Enjer Lembeyan
Minger Ngembat
Gejug Ulap-ulap
Bali Tapak sirang Ngeseh Nyeledet
pada Ngombak Melek/Dedeli
Ngeed ngangkel ng
Agem Ngombak
Ngumbang rangkep
Mipil/Mapal Agem kanan
Ngider Agem kiri
Jerijing
Tabel 4.2 Hubungan Tari dan Gerak
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 309
Teknik gerak tari di atas merupakan contoh beberapa
ragam gerak pada tari tradisi daerah Melayu, Minang, Betawi,
Jawa, Sunda, dan Bali. Kalian dapat melakukannya dengan
bantuan guru dan temanmu yang mengenal gerak-gerak tersebut.
Pengamatan karya tari membutuhkan kesiapan fisik,
psikis dan intelektual. Fisik berkaitan dengan kemampuan mata
dan telinga menangkap objek karya. Psikis adalah kesiapan batin
seseorang di dalam pengamatan adakah dalam keadaan tertekan
atau santai. Intelektual berkaiatan dengan kesiapan pengetahuan
yang berkaitan dengan objek yang diamati. Ketiga hal ini sangat
diperlukan karena akan terkait dengan hasil suatu pengamatan.
Dengan kesiapan tiga hal tersebut diharapkan dapat memperkecil
kekeliruan di dalam memberikan tanggapan.
Hal perlu dipahami di dalam mengamati karya tari adalah
adanya faktor subjektif dan objektif. Di dalam pengamatan ada
hal-hal yang perlu dicermati dari benda (karya tari). Hal ini
bertolak dari pengeratian bahwa yang menjadikan benda itu indah
adalah karena adanya sifat yang melekat pada benda indah, dan
tidak terkait dengan orang yang mengamati. Selain itu juga
dikatakan bahwa munculnya keindahan itu karena adanya
tanggapan perasaan dari pengamat. Ke dua hal ini menjadi
signifikan bagi hasil pengamatan karya tari apabila menjadi satu
kesatuan. Jadi keindahan itu ada karena proses hubungan antara
benda (karya tari) dan alam pikiran orang yang mengamati.
Di dalam pengamatan, kemampuan visual akan
membuahkan persepsi yang berbeda-beda. Kemampuan kognitif
(intelektual) juga berpengaruh terhadap persepsi imajinasi
demikian juga psikis. Ketiga hal ini akan menetukan subjektivitas
dan objektivitas pengamat di dalam mencermati karya tari.
Pengamatan tidak hanya mengandalkan kemampuan optik saja
tetapi juga keluasan pengetahuan intelektual dan estetis yang
dimiliki seseorang dan dalam keadaan yang bagaimana kejiwaan
seseorang. Apabila pengamatan karya tari didominasi oleh salah
satu aspek saja maka hasil analisis menjadi subjektif. Oleh
karena itu pengamatan yang baik diperlukan kesiapan fisik, psikis
dan intelektual yang berjalan bersama-sama. Dengan kata lain
mengamati karya tari dibutuhkan bekal pengalaman estetis dan
pengalaman intelektual.
Pengalaman estetis atau pengalaman apresiasi dapat
diperoleh melalui kesinambungan di dalam melihat pementasan
karya tari, belajar menari. Sedangkan pengalaman intelektual
akan terasah melalui kegiatan membaca dan diskusi.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 310
RANGKUMAN
• Pengamatan karya tari membutuhkan kesiapan fisik,
psikis dan inteletual
• Teori subjektivitas dan objektivitas mendasari di dalam
pengamatan karya seni
• Pengalaman apresiasi dan pengalaman intelektual
merupakan faktor mendasar dalam proses
penghargaan karya tari.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 311
J. KOREOGRAFI
1. Pengertian Koreografi
Koreografi adalah pengetahuan penyusunan tari atau
mengkomposisikan bagian-bagian gerak dan disain komposisi
yang saling berhubungan antara elemen komposisi tari,
keindahan dalam gerak dan teknik konstruksi menjadi satu
kesatuan yang utuh. Dalam rangka penyajian, koreografi
dipresentasikan dalam bentuk seni pertunjukan.
Secara harafiah, koreografi terdiri dari dua suku kata yakni
Choreo berarti menata dan Grafien berarti gambar. Makna yang
utuh bahwa koreografi merupakan proses kerja kreatif yang pada
khususnya dalam rangka menyusun atau menata tarian.
Sehubungan banyak referensi yang dapat digunakan
sebagai pijakan dalam menyusun atau menata tari, penulis dalam
hal ini menguatkan bahwa prosedur koreografi secara filosofis
dapat dilakukan secara tunggal dan kelompok sesuai yang sering
kali ditetapkan untuk suatu koreografi.
Berkenaan dengan koreografi kelompok, proses
mempertimbangkan syarat-syarat pokok harus ditetapkan.
Beberapa dekade yang telah dilewati, pendidikan tari telah
mengenal koreografi kelompok. Berdasar referensi yang ada
dalam pendidikan seni tari banyak yang menggunakan buku yang
ditawarkan adalah tentang Dance Composation and
Production(Elizabeth R Hayes: 1978) dan Dance Composation: A
Practical Guide for Teachers (Jacquilene M Smith: 1989).
Seperti telah disinggung di depan, Bagaimana menyusun
atau menata tarian dari banyak penari menjadi kesatuan bentuk
yang berarti merupakan proses penyeleksian dan pembentukan
gerak menjadi wujud tarian. Pengembangan aspek-aspek gerak,
ruang dan waktu dimatangkan melalui konkritisasi atau proses
pembentukan konsep dan ide garapan.
Proses koreografi akan menjadi rumit karena dalam
finalisasi terkait dengan banyak pihak seperti penari, pemusik,
dan orang dibalik garapan seperti penata lampu, penata
panggung, penata musik dan unsur yang terkait dalam proses
koreografi tersebut dipentaskan.
Aktivitas menyusun atau menata tarian berhubungan
dengan proses kreatif yang akan ditempuh oleh koreografer.
Secara umum proses koreografi yang implementasinya
dikembangkan melalui proses kreatif dilakukan secara terstruktur
terdiri dari eksplorasi, improvisasi, dan Seleksi atau Forming.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 312
Bagi seseorang yang akan melakukan proses kreatif
dalam upaya menyusun tarian, tahap awalnya adalah melakukan
penjajagan terhadap konsep dan ide dasar untuk garapan. Tidak
dapat dipungkiri bahwa konsep dan ide dasar garapan
merupakan jantung dari proses kreatif dalam menyusun atau
menata tari. Atau dengan perkataan lain dapat dikaji bahwa
konsep dan ide garapan merupakan inti proses koreografi.
Tugas utama fasilitator atau pembimbing koreografi bagi
siswa didik atau mahasiswa memberikan pengalaman belajar
dengan cara memberi motivasi dan bimbingan melalui berbagai
macam tingkatan perkembangan. Tingkat perkembangan
dimaksud dapat melalui cara mendengar, melihat beberapa
bentuk pola garapan tari yaitu tari Tradisional dan tari
Nontradisional.
Berdasarkan pengalaman stimulus tingkatan
perkembangan yang ada selanjutnya dijadikan orientasi garapan
dan memunculkan ide sehingga gambaran konsep (hasil
pengalaman masa lalu, pengalaman yang ada, ide kreatif) ke
dalamannya dikaji secara benar sehingga maksud tari yang
dibuat jelas dan konstruktif.
Selanjutnya, berdasarkan pemetaan konsep dan ide
garapan yang sudah dimatangkan disinkronisasikan ke dalam
pemetaan lanjut dengan cara memperhatikan beberapa hal di
bawah ini adalah sebagai berikut:
• Gagasan dasar dan latar belakang/tema tari sehingga tujuan
yang digarap jelas.
• Mengerti tentang keadaan, kebutuhan, penonton/lapangan
kerja,
• Gagasan dibuat artistik, orisionalitas, terutama dapat
menimbulkan tanggapan emosional dan membangkitkan
rasa,
• Mempertimbangkan isi gerak, ruang, waktu, tenaga dan
elemen komposisi
• Mempertimbangkan pola garapan sebagai seni pertunjukan,
• Mempertimbangkan koreografi Tunggal atau Kelompok,
Pada kegiatan proses penciptaan tari materi proses
penciptaan menitik beratkan pada aspek penemuan-penemuan
gerak dan merangkaikan gerak. Proses kreatif menyusun gerakan
dapat diuraian adalah sebagai berikut improvisasi, eksplorasi dan
forming (komposisi).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 313
1.1 Eksplorasi
Proses eksplorasi adalah mengelaborasi ide ke dalam
gagasan penemuan gerak. Proses ini sangat berguna bagi
seseorang yang akan menempuh pengalaman tari. Pengerahan
berpikir imajinasi dilakukan dengan cara eksplorasi (penjajagan),
berarti Anda termasuk berpikir, berimajinasi untuk merasakan dan
merespons.
Eksplorasi diarahkan untuk mengungkap kemampuan dan
kreativitas yang dimiliki masing-masing. Pencapaian tujuan yang
diharapkan adalah wujud hasil belajar eksplorasi gerak, kemudian
jelaskan dan ditafsirkan atau diinterpretasikan sesuai daya
tangkap pikiran.
Pernyataan hasil gagasan dalam bentuk gerkan d lakukan
dalam bentuk ulangan gerak yang dipertunjukan kepada
pembimbing eksplorasi, atau representasi hasil temuan dijelaskan
berdasarkan hasil temuan yang diperoleh. Ilustrasi: misal
mengekspresikan tentang ide gerakan takut, gerakan yang
dilakukan dengan volume gerak yang sempit, tertutup,
membayangkan ketakutan diri, dan mengekspresikan ketakutan
yang dialami.
1.2 Improvisasi
Improvisasi proses peningkatan pengembangan kreatif.
Aktivitas gerak yang dihasilkan pada saat improvisasi adalah
mencari kemungkinan gerak sebanyak-banyaknya. Prosedur
bergerak spontanitas. Improvisasi memberikan kesempatan yang
lebih banyak bagi yang bersangkutan untuk berimajinasi,
menciptakan ilusi gerak dan merepresentasikan gerakan hasil
eksplorasi.
Improvisasi menjadi tumpuan pengalaman
pengembangan gerak, menerjemahkan tafsir gerak, dan
memperoleh teknik prosedur gerak yang lebih representatif atau
menemukan teknik gerak sesuai prosedur gerak yang tidak
menimbulkan efek kesulitan gerak. Hasil penemuan gerak atau
ide menjadi suatu kepuasan tersendiri.
Masalah teknik dan alur gerak biasanya sudah dapat
distimulsi pada kegiatan improvisasi. Di samping itu, apabila pada
kesempatan ini baru digunakan sebagai proses penemuan gerak,
pada kesempatan ini harus memperoleh gerakan yang sudah
dapat dikembangkan sebanyak mungkin, atau diarahkan pada
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 314
motif dan frase gerak yang terstruktur sesuai alur gerak yang
tidak mengganggu teknik gerak.
Secara umum dapat dijelaskan bahwa tujuan improvisasi
adalah meningkatkan motivasi dan memberikan pengalaman
aktivitas yang diarahkan secara mandiri atau sendiri. Improvisasi
mendorong ingatan-ingatan pengalaman imajinasi,menyampaikan
kesan-kesan, dan merespons imajinasi baru dan
mengembangkan ide-ide gerak.
Di samping itu improvisasi mengembangkan pengalaman-
pengalaman eksplorasi dan respons imajinasi. Improvisasi
dengan dibantu eksplorasi mampu melahirkan kesadarn baru
melakukan gerakan sesuai aalur gerak, mengendalikan teknik
gerak, serta melakukan penemuan dan pengembangan ide dan
imajinasi untuk dapat menemukan gerak pribadi masing-masing.
1.3 Forming (Pembentukan)
Membuat komposisi berarti kalian menata bagian-bagian
yang saling berhubungan menjadi bentuk kesatuan yang utuh.
Kemampuan dalam merangkai gerak tari ke dalam satu
komposisi tidak dapat dipisahkan dengan kreativitas yan melalui
tahapan seperti improvisasi dan eksplorasi, yang kemudian
dipadukan dengan unsur-unsur yang terkait dengan pengetahuan
tari dan artistic srta tingkah laku kreativitas maupun
perkembangannya dan mempunyai tujuan
Menyusun atau mengkomposisi tari, memerlukan
penekanan unsur tari dengan desain, irama, motivasi, ide.
Dengan demikian unsur materi komposisi perlu dihayati dan
dimengerti, metode penyusunan dan pengkombinasian berbagai
unsur harus dipelajari dan dipraktekan
Sebagaimana yang sering dijabarkan bahwa materi dasar
tari adalah gerak, maka belajar menari adalah belajar menguasai
keterampilan psikomotorik dengan mengaitkan serta
mengkoordinasikan gerakan-gerakan dari anggota tubuh. Dengan
demikian pembelajaran gerak tari harus disesuaikan dengan
kemampuan motorik siswa, yang bergantung pada kematangan
otot.
Dengan adanya belajar kegiatan menari seperti contoh-
contoh di atas, diperlukan kreativitas yang berhubungan dengan
kemampuan berpikir menyangkut sikap dan perasaan seseorang.
Namun kreativitas dalam sikap seseorang mencerminkan
kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), orisinalitas berpikir, serta
kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 315
Memperkaya, memperinci) suatu gagasan. Dengan demikian
orang kreatif ialah orang yang menggunakan imajiansinya untuk
memecahkan persoalan. Berarti, Anda maupun siswa yang
belajar tari dapat mengungkapkan gerak melalui gerak pribadi
dan mengembangkan melalui potensi kreatif yang dapat
menemukan gerak orisinalitas.
Materi ini merupakan wadah siswa untuk
mengembangkan perasaan keindahan, belajar untuk menarikan
suatu tarian melalui gerak pribadinya dalam membina kreativitas
dan menciptakan sesuatu yang indah. Selanjutnya, kegiatan ini
mempunyai tujuan apresiasi agar siswa dapat menghargai nilai-
nilai yang terkandung di dalam seni tari.
1.4 Proses, Produk dan Kepribadian
Proses
Proses: Kemampuan berpikir kreatif, analitis, imajinatif dan
dapat mempertimbangkan kondisi yang ada sesuai dengan materi
gagasan, dan ide.
Proses membuat Karya Seni (Menata)
• Interprestasi ide harus dimengerti
• Dapat diterjemahkan dalambentuk seni secara sibolis
• Jenis senni drama, musik, tari rupa dengan bentuk
kontemporer abstrak, jazz, balet dan daerah setempat
• Harus merencanakan untuk menggelar ide, kualitas, dan
waktu
• Membuat rencana agar jumlah peserta ang terlibat dengan
kegiatan seni dan keterkaitan dengan ide harus dapat
disajikan posisi, group
• Memilah dan menyatukan ide dengan membuat bentuk
• Mencari bentuk yang sesuai dengan waktu yang sama, ruang
hubungan antara konfigurasi
• Mengerti bentuk normal, pengulangan, mengolah estetika
• Membuat tahap-tahap elemen komposisi seni
• Menampilkan dalam bentuk pergelaran atau pameran
• Melihat aturan penonton, mencatat rencana dan hasil
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 316
Produk
Produk : Kemampuan mencipta yang baru, menggabungkan
hal-hal yang baru atau keterampilan kreatif untuk
menggabungkan materi-materi yang telah ada dan lainnya.
• Keterampilan mengekspresikan gerak
• Kemampuan mengembangkan ragam gerak melalui media
ungkap yang telah ditentukan
• Kemampuan membuat komposisi yang bervariasi
• Keterampilan untuk membuat seni dan mengungkapkan
kreatifitas gerak dan terdapat pada ketentuan-ketentuan dari
unsur yang terkait, seperti wiraga, wirama maupun unsur-
unsur tari obyek tari yang direspon
Karya Seni/Penampilan Bentuk Seni
• Memerlukan bentuk fisik kombinasi dengan unsur seni dan
kemampuan teknik
• Diperlukan koordinasi khusus, ketepatan, kelancaran, kontrol,
keseimbangan dengan ketenangan dan penuh kepercayaan
• Konsentrasi pada penampilan dengan ekspresi melalui
variasi,unsur seni, estetika, dan dinamika
• Menampilkan tarian dan bagian seni pengertian kualitas
formal
• Menampilkan tema dengan ekspresi seni
• Melatih dan mencoba ekspresi bentuk seni dengan unsur
komposisi seni
• Membutuhkan kualitas penampilan yang difokuskan dalam
mengekspresikan dengan arti
• Memusatkan garis, pola desain ke bentuk komposisi
• Memperlihatkan kejelasan dan kesatuan bentuk
• Kepribadian : Menyangkut kebebasan berpikir dan bertindak,
menyukai kegiatan dan lainnya
• Dari tiga aspek tersebut, khususnya yang dapat dilihat
langsung dapat dievaluasi dan yang berkaitan dengan
kemampuan kreatif dalam seni tari, yaitu :
• Kemampuan berpikir lancar, yaitu berkaitan dengan
pengembangan gerak dalam berimprovisasi
• Berpikir lentur, berkaitan dengan pengembangan gerak dalam
bereksplorasi
• Berpikir unik, berkaitan dengan penemuan-penemuan gerak
orisinal
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 317
• Berpikir elaborasi berkaitan era dengan mengembangkan
gerak dari gerak yang pernah dilihat dan direncanakan
• Berpikir tinggi, berkaitan dengan berpikir analitis logis dan
dapat diterima, dilihat oleh orang lain.
K. TARI PENDIDIKAN
Koreografi tari Pendidikan adalah pengetahuan
penyusunan tari atau mengkomposisikan bagian-bagian gerak
dan disain komposisi yang saling berhubungan menjadi satu
kesatuan yang utuh. Dalam pengembangan pendidikan, proses
kreatif merupakan pengembangan proses kreatativitas yang
pengembangannya memberikan tantangan dan percaya diri untuk
peningkatkan, kemampuan dan keterampilan, aktivitas peserta
didik agar dapat mengungkapkan ciri gerak pribadi.
Koreografi tari Pendidikan penyusunan gerak
dipresentasikan dalam bentuk ungkapan ekspresi peserta didik.
Bentuk koreografi merupakan pengalaman gerak yang
menampilkan dominasi gerak ciri pribadi. Oleh sebab itu,
kemampuan membuat kombinasi gerak, model ungkapan
ekspresi, dan informasi pengalaman estetik peserta didik
dituangkan lebih merupakan representasi dari pengalaman gerak
pribadi. Dengan demikian hasil evaluasinya lebih
meletakdasarkan kepada unsur proses lebih ditekankan dari
pada bentuk.
Tari pendidikan dapat dikembangkan berdasarkan
tematik. Akumulasi penerapan dan strategi pengembangnya
secara konseptual dapat dijelaskan sebagai berikut:
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 318
BAGAIMANA CARA MENGEMBANGKAN PETA
KONSEP BERDASARKAN TEMA TERTENTU
Benda-benda di Cita-cita atau
sekitar yang dapat tujuan hidup
dimanfaatkan
konsep Ide
Alam Sekitar
Hewan dan LIngkungan
Tumbuhan Keluarga
Bimbingan
Ilmu Pengetahuan
guru
yang dimanfaatkan
Bagan 4.3 Peta Konsep Ide Alam Sekitar
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 319
Kondisi ulang Pernik Ulang
tahun yang tahun
identik meriah
riang gembira
ULANG
TAHUN
Kado special Acara yang
ulang tahun khusus buat
ulang tahun
Benda-benda yang
hubungan dengan ulang
tahun
Terompet Balon
Ide dikembangkan di
sini
Kembang Api Permen
Bagan 4.4 Ide Ulang Tahun menjadi Topik
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 320
Keragaman Pengalaman Estetik
IDE
PENGALAMAN
CERITERA HIDUP DIRI EPOS
• Gerakan unik
• Kegiatan unik
• Acara unik
• Pemanfaatan benda-benda unik (khusus
ultah)
• Pengalaman hidup yang khusus
• Pengalaman keseharian yang lucu
• Pengalaman berkomunitas yang menjadi
idola
• Segala sesuatu yang dapat merangsang
ide baru
Bagaimana anak mengungkapkan
• Melalui bimbingan
• Melalui pengalaman gerak pribadi
• Melalui motif-motif ceritera yang
disampaikan dengan dipancing
pertanyaan yang mampu
Bagan 4.5 Keragaman Pengalaman Estetis ANAK
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 321
Di sisi lain Laban seorang pakar anatomi dan tari
pendidikan menyatakan bahwa secara konseptual laban
membagi ruang ke dalam ruang pribadi dan ruang umum. Ruang
pribadi adalah ruang yang langsung bersentuhan dengan tubuh si
penari atau (Stationari Movement). Batas imajinasi ruang
geraknya adalah sebatas jangkauan gerakan yang dapat
dikrembangkan oleh penari. Jangkauan gerak tangan dan kakinya
dilakukan dalam posisi di tempat. sedangkan ruang umum adalah
ruangan di luar tubuh penari. Jangkauan gerak dapat ditempuh
melalui perpindahan tempat asal ke tempat lain (Laban, 1992:85).
Gerak terkecil atau paling pendek disebut motif. Motif-
motif gerak selanjutnya apabila dirangkaikan membentuk frase
gerak. Gerak Tari pada hakikatnya secara harafiah merupakan
rangkaian motif-frase yang membentuk kalimat gerak.
Rudolf Laban adalah pencetus educational dance atau
yang dikenal juga dengan tari pendidikan (educational dance), tari
kreatif (creative dance) dan tari ekspresif (expressive dance) yaitu
suatu model pembelajaran tari di sekolah umum yang
menekankan kepada kebebasan berekspresi gerak pribadi siswa
yang berasal dari gerak keseharian saperti berjalan, berlari dan
sebagainya dengan metode kreatif.
Karena menekankan kepada kreativitas peserta didik
melalui kebebasan berekspresi gerak dalam pembelajarannya,
maka tari pendidikan yang dicetuskan Rudolf Laban itu disebut
juga tari kreatif, tari ekspresif atau creative movement (gerak
kreasi). Di dalam bukunya yang berjudul Modern Educational
Dance, Laban (1976) menuangkan pemikirannya mengenai
pendekatan untuk pembelajaran tarii di sekolah umum, sebagai
berikut : “in school, where art education is fostered, it is not atisitc
perfection or the creation and performance of sensational dances
which is aimed at, but the beneficial effect of the creative activity
of dancing upon the personality of pupil”.
Melalui pernyataan Laban tersebut di atas dapat diuraikan
bahwa tari pendidikan menekankan kepada pembelajaran kreatif
namun tidak berorientasi kepada hasil akhir yang berupa
pertunjukan yang megah atau pertunjukan yang mengandung
nilai-nilai seni yang tinggi, sebagaimana misalnya tarian yang
diciptakan oleh seorang koreografer. Dalam hal ini Laban
menyatakan bahwa sumbangan positif dari aktivitas tari kreatif
hendaknya lebih ditekankan kepada perkembangan kepribadian
siswa.
Setiap orang mempunyai dorongan alamiah untuk
menampilkan gerak-gerak tertentu yang tanpa disadari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 322
menampilkan gerakan seperti “tarian”, oleh karenanya Laban
merumuskan tugas yang harus dilakukan oleh seorang guru tari,
pertama membimbing siswa untuk menumbuhkan spontanitas
gerak dan kedua membimbing siswa belajar memahami prinsip-
prinsip untuk melakukan atau menguasai geraknya.
Mengenai spontanitas gerak, Ulmann (dalam Laban,
1976) menjelaskan bahwa melalui gerak tubuh siswa dapat
belajar berekspresi diri untuk menghubungkan hal-hal yang
batiniah sifatnya, yang berada dalam dirinya, kepada dunia luar.
Selain itu melalui kesan yang diterimanya dari luar dirinya, siswa
belajar untuk bereaksi secara spontan mengungkapkan apa yang
ada di dalam pikiran dan perasaannya. Ini berarti siswa belajar
untuk mengekspresikan kehadiran energi kehidupan melalui
gerka tarinya.
Melalui penekanan ekspresi individu pada pembelajaran
tari pendidikan berarti bahwa siswa dibina untuk memperoleh
peluang yang besar dalam mengembangkan keunikan dirinya
melalui ekspresi gerak pribadinya yang berbeda antara seorang
siswa dengan siswa lainnya.
Gerak manusia merupakan ide dasar dari tumbuhnya tari
pendidikan, gerak tersebut adalah gerak keseharian atau gerak
yang universal yang dimiliki manusia seperti berjalan, berputar,
melompat, dll. Jenis gerak ini dikenal sebagai gerak dasar (basic
movement). Gerak terkait dengan factor ruang, tenaga, waktu dan
aliran geraknya, sedangkan usaha (effort) merupakan energi
yang menggerakannya. Hal ini merupakan pengetahuan yang
perlu diserap oleh siswa untuk memperoleh manfaat dari belajar
menari secara kreatif. Selanjutnya Laban menekankan dalam tari
pendidikan digabungkan antara pengetahuan gerak dan
kemampuan kreatif yang dinyatakan sebagai tujuan yang penting
dalam pendidikan.
Mendukung uraian Laban tersebut, tari sebagaimana juga
kesenian lainnya merupakan pengetahuan yang bermanfaat,
namun siswa dengan bimbingan guru harus membiasakan dirinya
untuk belajar dan berlatih memperagakan ritme dan bentuknya
dengan jelas untuk dapat menyerap manfaat dari tari pendidikan
tersebut.
Sebagai contoh guru memberikan rangsang gerak
keseharian seperti berjalan, berputar, melompat dls, kemudian
dari gerak yang dilakukan tersebut diberi irama, ritme gerak,
dinamika, pengulangan hitungan gerak, sehingga secara tidak
langsung gerak keseharian tersebut menjadi suatu bentuk tari
kreatif yang menarik gerak pribadi siswa.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 323
Dari penjelasan Laban serta dari contoh di atas dapat
diketahui bahwa dalam tari pendidikan terdapat tahapan belajar
menari, pertama-tama bagi siswa yang baru belajar menari
dengan metode kreatif, ditekankan pembelajaran untuk
menumbuhkan kemampuan berekspresi diri melalui gerak tarinya
secara spontan dan bebas. Pada tahapan berikutnya siswa
belajar untuk menguasai prinsip atau aturan geraknya. Dalam hal
ini mempelajari unsur-unsur gerak merupakan hal yang penting
dalam pembelajaran tari dengan metode kreatif.
Berikutnya Laban menjelaskan tugas selanjutnya dalam
mengembangkan tari pendidikan, yaitu menumbuhkan ekspresi
artistik siswa melali pembelajaran tari dengan metode kreatif.
Sehubungan dengan terdapat dua tujuan penting yang harus
dicapai sebagaimana diuraikan di bawah ini : “ One is to aid the
creative expression of children by producting dances appropriate
to their grifts and to the stage of their development. The other is to
foster the capacity for taking part in the higher emit of communal
dances produced by the teacher.”
Dari kutipan tersebut dapat diartikan bahwa tujuan yang
pertama adalah membimbing siswa untuk dapat berekspresi
kreatif guna menghasilkan tariannya sendiri yang sesuai dengan
kemampuan dan tahapan perkembangannya, sebagai produk
kreatif siswa. Tujuan yang ke dua adalah membimbing siswa
untuk dapat ikut serta dalam pertunjukan komunitas sekolah yang
diproduksi oleh guru. Dengan demikian pembelajaran tari dengan
metode kreatif yang dicetuskan oleh Laban tidak hanya
mendorong siswa berekspresi bebas tanpa ada bentuk akhirnya,
tetapi mempersyaratkan siswa juga untuk membuat suatu hasil
akhir sebagai produk kreatifnya, yang sesuai dengan
perkembangan dan kemampuan siswa.
Begitu pula dengan Burton (dalam Kraus, dkk, 1977)
memaparkan penerapan movement education dalam pendidikan
jasmani merupakan pelajaran terpadu yang kontribusinya berupa
pengembangan respons gerakan yang efektif, efesien dan
ekspresif dalam diri siswa untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan yang dikomunikasikannya kepada orang lain.
Pembelajaran ini menekankan pada kesadaran tubuh dan diri
siswa, penguasaan keterampilan gerak dan pendekatannya
berpusat pada siswa untuk mengembangkan diri siswa sebagai
individu yang spontan, kreatif dan mampu belajar untuk
menemukan sendiri (self-discovery).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 324
Buatlah satu bentuk tari kreatif hasil pengembangan gerak
pribadi anak dengan menggunakan media tertentu (misalnya
payung, sapu, kursi, dsb). Kembangkan dengan berbagai level,
arah hadap dan variasi hitungan.
Amati hasil pengembangan gerak peserta didik tersebut,
kemudian beri ulasan berdasarkan tahapan apresiasi yang telah
dipelajari pada kegiatan Belajar I, maka akan didapatkan satu
materi ajar pembelajaran tari yang komprehensif. Produksi dalam
tahapan akhir apresiasi dapat dihasilkan dari proses kreatif tari
pendidikan.
Pada pebelajaran ini penyampaian materi lebih kepada
memberikan atau mendorong motivasi peserta didik terhadap
munculnya sifat-sifat kreatif. Rasa ingin tahu dapat menjadi
motivasi utama untuk mendorong peserta didik dalam proses
menjadi kreatif. Para guru perlu memberikan keragaman
pengalaman melalui eksplorasi dan melakukan sesuatu terhadap
hal tersebut. Hasrat untuk mencintai dan menghargai
(penghargaan) juga merupakan pendorong motivasi peserta didik
dalam proses kreatif. Apabila seorang guru hanya memberikan
persetujuan tentang apa yang baik menurut standar guru sendiri,
maka hal ini akan membatasi kreativitas sebagai individu yang
memiliki hak untuk berkembang (Fraser,1991:21).
• Saling menghargai pendapat antar teman, menerima materi
gerak yang diberikan antar teman, mengembangkan
kemampuan berpikir kreatif dan berkomunikasi, di samping
mengembangkan aspek multidimensional, multilingual dan
multikultural.
• Yang utama adalah mengembangkan bakat dan kreativitas.
• Terjadi interaksi antar dan inter personal.
Materi pembelajaran kreatif untuk mengembangkan
kemampuan dasar manusia yaitu 1) kemampuan fisik, perceptual,
pikir, emosional, kreativitas, sosial dan estetika, sehingga
diharapkan memiliki akan tercapai pendidikan yang bersifat
multidimensional, 2) kemampuan komunikasi ide/gagasan,
pendapat, pengalaman, pemecahan persoalan, perasaan melalui
bahasa tari (pendidikan bersifat multilingual) dan 3) sikap
berbudaya sehingga diharapkan menjadi bangsa yang beradab,
melalui kepekaan penghayatan yang tinggi, saling menghormati
dan menjaga akan keragaman budaya sendiri dan budaya asing
(multikultural).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 325
L. Bentuk Pembelajaran Tari Rekreasi
Repreduktif atau Rekreasi yang digunakan adalah
metode imitatif, latihan/ drill/pengulangan. Dengan latihan dan
pengukangan diperlukan dan peserta didik dapat
mengekspresikan dan mengingat ungkapan gerak yang sudah
diperoleh.
Siswa akan belajar membedakan hasil yang diperoleh,
dilihat dengan meningkatkan ketelitian, kecermatan dan
kepekaan dari kualitas karya seniman, hasil ciptaan sendiri,
bentuk karya seni tradisi yangt elah ada, dari penampilan
langsung dalam belajar bagaimana mendapatkan deskripsi,
interpretasi dan evaluasi, dimana siswa akan mempersiapkan
seni, dilihat dari bentuk seni gaya ekspresi, teknik dan hasil.
Dengan belajar meniru (pendekatan imitatif)
Dalam rekreasi lebih lanjut siswa akan belajar
mendapatkan sumber informasi dan ciri-ciri secara rinci baik itu
tentang gerak, latar belakang, proses seni ataupun hasil karya
seni perkembangan dan sejarah seni juga kebutuhan penampilan
seni.
Melihat Bentuk Seni Rekreasi/Rekreasi
• Mengobservasi, menjabarkan, menganalisa dan
mengevaluasi seluruh aspek yang menyangkut kreasi dan
penampilan. Seperti siswa pribadi maupun kelompok
• Proses keterampilan kreativitas seni, penampilan dari melihat
suatu seni akan membentuk suatu kemampuan dalam
apresiasi seni untuk sebuah karya seni dan bentuk seni
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 326
M. Pendekatan Kreatif Dan Rekreasi
Kreatif Siswa Rekreasi/Bentuk Tari
1. Pola Bermain 1. Pola Cerita/Latar Belakang.
2. Pola Cerita/Ide Kreatif 2. Bentuk gerak
3. Pengamatan daerah/etnik/bentuk karya
4. Pendekatan Kreatifitas guru dengan pendekatan
- Eksplorasi imitatif
- Improvisasi 3. Pengamatan
5. Gerak Individu 4. Imitasi/menirukan
6. Gerak Berpasangan - Ragam-ragam gerak
7. Kerja Kelompok - Iringan dan gerak
8. Properti 5. Demonstrasi Guru
9. Komposisi (bentuk tari) 6. Mengulang gerak dari guru
10. Penampilan (individu)
7. Berpasangan
8. Properti
9. Komposisi Kelompok (bentuk
tari tradisi)
10. Penampilan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI 327
PENGEMBANGAN IMAJINASI DAN PEMBELAJARAN TARI
PENDIDIKAN
Pengembangan gerak imajinatif
Pendekatan
Belajar
- Kreatifitas gerak pribadi (eksplorasi,
improvisasi)
Proses - Imitasi gerak (bentuk tari dari guru
- Apresiatif (mengamati, mencerap,
melakukan pentas seni)
- Ide gerak (kreatif)
Materi - Bentuk tari karya guru (imitatif)
- Mengekspresikan, melakukan
pertunjukan (apresiatif)
- Menempatkan probelma melalui ide dan
Belajar judul tari (reproduktif)
- Membahas mengekspresikan
- Gerak guru Saya yakin gerak pribadi
- Saya yakin dapat melakukan gerak
kupu-kupu (menirukan)
Eksplorasi dan
- Gerak kreatif (kereta api)
Menirukan - Rangkaian (gerak imitatif dan kreatif)
- Saya dapat mengungkapkan
- Kegiatan Kreatif
- Eksplorasi
Evaluasi - Penugasan
Tanya jawan
- Melakukan ungkapan gerak
- Kegiatan Reproduktif
- Dengan drill/latihan
- Dengan repetisi/pengulangan
Bagan 4.5
Skema Imajinasi Gerak Siswa
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI328
BAB V
MANAJEMEN PRODUKSI TARI
Laju pertumbuhan dan pengembangan ilmu bidang seni
pertunjukan cukup pesat. Hal ini ditandai dengan adanya seni
pertunjukan yang semakin beragam dan memiliki nuansa garapan
dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Wahana baru dalam
dunia seni pertunjukan dapat dinikmati pada setiap kegiatan
festival, kompetisi, summit art, dan pertunjukan seni pada tingkat
dunia. Salah satu perhatian dapat ditujukan berhubungan dengan
manajemen organisasi seni pertunjukan yang profesional.
Manajemen seni pertunjukan di Indonesia sangat sedikit
kajiannya. Hal ini berhubungan dengan kapasitas penyelenggara
pertunjukan yang telah dikelola oleh lembaga pemerintah maupun
lembaga terkait secara swadana. Bentuk penanganan masalah
seni pertunjukan yang profesional bukan sesuatu yang
tersembunyi. Selanjutnya, pengetahuan yang berhubungan
manajemen seni pertunjukan sering diabaikan.
Para siswa bila kalian paham maka hal ini adalah
dilematis bagi kalian, lembaga seni yang bergerak di bidang seni
pertunjukkan seperti sekolahan kalian, masalah manajemen
organisasi seni pertunjukan sangat dibutuhkan. Hal ini dapat
dirasakan dengan masih sangat minimnya literatur yang
memaparkan manajemen organisasi seni pertunjukan untuk
dijadikan rujukan dalam belajar manajemen organisasi seni
pertunjukan. Buku yang beredar di pasaran sebagian banyak
adalah manajemen organisasi saja.
Selebihnya, buku yang menjadi rujukan dalam bidang
manajemen organisasi seni pertunjukan didominasi oleh buku
manajemen umum dan organisasi umum. Oleh sebab itu literatur
manajemen seni pertunjukan sudah saatnya ditulis, hal ini dengan
mengingat bahwa buku manajemen seni pertunjukan masih
kurang jika boleh disebut adalah minim sekali.
Hal ini diakibatkan kurang kompetennya penulis dalam
membidangi kedua bidang kajian tersebut secara komprehensif.
Sedikitnya, pakar manajemen organisasi dan pakar seni
pertunjukan secara sepihak kurang berani memaparkan masalah
kedua bidang kajian tersebut secara bersama, dengan demikian
terjadi keraguan pada para penulis masalah manajemen
organisasi seni pertunjukan secara mandiri.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI329
Organisasi seni pertunjukan di Indonesia tumbuh mekar,
sehingga telah banyak lembaga yang secara profesional
mengaklamasikan diri sebagai lembaga yang mengelola seni
pertunjukan. Di sisi lain, pengelolaan yang agak mirip dengan
pengelola seni pertunjukan kajian tersebut adalah event organizer
yang telah menjamur di Jakarta. Namun demikian masih
minimnya buku-buku yang membimbing para event organizer
dan praktisi yang mempelajari manajemen organisasi mengaku
masih kurang literatur di lapangan.
Kondisi ini sangat memprihatinkan. Di satu sisi,
organisasi-organisasi yang bergerak di bidang seni pertunjukan
masih kurang memperhatikan aspek manajemen
pemberdayaannya. Dengan demikian terjadi ketimpangan pada
tantangan ke depan dalam bidang pengembangan, pelestarian,
dan reservasinya.
Banyak organisasi seni pertunjukan yang dalam beberapa
waktu langsung gulung tikar. Hal ini berhubungan dengan aspek
menajemen yang dikelolanya kurang profesional. Satu sisi
biasanya manajemen yang diterapkan mengandalkan manajemen
persaudaraan atau manajemen pertemanan. Oleh sebab itu
terjadi tarik ulur dalam masalah pemecahan manajemen secara
profesional.
Banyak seni pertunjukan tradisional mengalami
keruntuhan. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya penanganan
manajemen organisasi yang kurang tepat di lapangan. Gradasi
semakin menurunnya organisasi seni pertunjukan yang kurang
menerapkan manajemen organisasi secara baik dapat
menjadikan organisasi seni pertunjukan tersebut kurang
profesional, kurang ditangani secara profesional, dan hingga
beberapa hal yng ditangani secara profesional menjadi kurang
dapat berkembang sesuai harapan kita bersama. para penonton
yang semakin lama enggan dan cepat-cepat berpaling untuk
menonton seni pertunjukkan tradisional, dan beralihnya minat
publik terhadap tontonan yang mampu mendatangkan rasa
penawar penat menjadi pilihan penonton untuk meninggalkan
seni pertunjukan.
Kondisi ini patut kita perhatikan. Hal ini harus disikapi lebih
profesional, dewasa, dan mengkaji tantangan ke depan sebagai
bagian dari pembenahan atau setidaknya merancang program
secara sistematis dan memiliki strategi untuk mengoptimalkan
manajemen seni pertunjukan khususnya seni pertunjukan
tradisional yang lebih inovatif, berwawasan prospek, serta mampu
menjawab tantangan masa. Dengan demikian untuk tetap lestari,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI330
maju dan berkembang, serta menjadi idola bagi penonton di
semua kalangan dibutuhkan manajemen organisasi yang
profesional, mumpuni, dan mengoptimalkan berbagai pihak dan
celah dalam rangka bekerja bahu membahu, serta menerapkan
staf untuk bisa bekerja mandiri dan optimal dalam mendatangkan
celah kesempatan yang memungkinkan membawa dampak
kemajuan bagi usaha manajemen organisasi yang diharapkan.
A. KONSEP MANAJEMEN & ORGANISASI PERTUNJUKAN
Siswa-siswa sekalian, sebelum belajar tentang
manajemen organisasi pertunjukan akan lebih bijak kita mengerti
lebih dahulu apa yang dimaksud dengan manajemen, organisasi,
dan kemudian organisasi seni pertunjukan.
Pengertian organisasi adalah sekelompok orang yang
secara bersama-sama mencapai tujuan. Tujuan kebersamaan
dilandasi atas dasar kesepakatan orang-orang yang ada di
dalamnya, dimana para pemegang tampuk kendali organisasi
menetapkan ke mana langkah dan arah organisasi tersebut
bersandar.
Pencapaian tujuan organisasi ditekankan kepada prinsip
mencapai tujuan secara bersama ke dalam proporsi berbagai
kegiatan yang diberdayakan sebagai bagian dari kegiatan yang
dilakukan bersama, disemangati bersama, hingga menentukan
arah dan tujuan sesuai kesepakatan bersama. Organisasi yang
baik akan menerapkan manajemen yang kooperatif.
Seperti di atas telah disinggung bahwa organisasi pada
dasarnya adalah kelompok orang yang secara bersama atau
pemimpin organisasi yang ditetapkan bersama menyepakati
untuk bersama mencapai sasaran yang dituju. Organisasi terdiri
dari berbagai staf yang secara kolektif salang berkait dan
bekerjasama menetapkan tujuan dengan segala daya upaya
terutama untuk mencapai tujuan secara bersama.
Komponen prinsip yang secara integral adalah bahwa
orang-orang, tujuan, dan indikator yang digunakan untuk
mencapai tujuan dikendalikan secara profesional dalam
memenuhi tercapainya sasaran yang diharapkan. Organisasi
yang profesional dikelola melalui manajemen organisasi yang
baik, transparan, dan kooperatif.
Organisasi seni pertunjukan di Indonesia cukup banyak.
Kemampuan, kemauan, dan kesanggupan untuk
mengembangkan diridari organisasi seni pertunjukan di Indonesia
sangat minim. Hal ini ditandai kurangnya penerapan manajemen
yang profesional oleh organisasi seni pertunjuka secara baik dan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI331
benar. Penerapan manajemen seni pertunjukan di Indonesia lebih
didasarkan kepada budaya otoritas pimpinan organisasi,
manajemen organisasi bersifat kekeluargaan, serta organisasi
seni pertunjukan yang lebih mantap dipilih untuk kesenangan
bersama dan kepuasan bersama cukup.
Kondisi penanganan organisasi seni pertunjuka yang
demikian jelas lambat laun membawa dampak yang besaratas
semakin jenuhnya orang-orang yang ada di dalamnya, kurangnya
power yang proporsional orang luar untuk ikut campur atau
empati atas laju dan arah organisasi seni pertunjukan
menetapkan tujuan da arah kendali organisasi secara transparan,
sehati, dan asas praduga tak bersalah yang kurang dihargai
dalam menetapkan awal suatu organisasi seni pertunjukan
ditetapkan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa organisasi seni
pertunjukan yang dikelola semakin baik dan profesional mampu
mengantarkan tujuan anggotanya untuk sampai pada sasaran
yang diharapkan, begitu juga sebaliknya. Dari sini didefinisikan
bahwa organisasi kesenian yang terdiri dari banyak seniman atau
orang yang memiliki sifat dan sikap berkesenian secara sepakat
bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama terutama pada
bidang garapan mengolah seni pertunjukan sebagai kajian
organisasi.
Terbentuknya organisasi seni pertunjukan adalah
merupakan konsekuensi logis dari kelompok orang yang memiliki
minat berkesenian, empati terhadap berkesenian serta memiliki
perhatian tentang kesenian membentuk organisasi seni
pertunjukan. Selanjutnya, mereka menetapkan arah, sasaran dan
tujuan organisasi dengan mengelola berbagai aspek yang harus
diberdayakan agar dapat menjadi penopang laju, tujuan, dan arah
sasaran organisasi seni pertunjukan tersebut dilaksanakan.
Dengan demikian organisasi seni pertunjukan tersebut memiliki
badan hukum, sertifikasi organisasi, dan kredibilitas pengelolaan
sebuah organisasi yang berorientasi dan wawasan produksi karya
seni.
Para siswa, kalian mungkin sudah pernah mendengar
beberapa grup teater, sanggar tari, dan kelompok seni yang ada
di lingkungan kalian. Di sini sebut saja Teater Koma, Teater
Tanah Air, Teater Mbeling, Teater Utan Kayu, Sanggar Tari Cipta,
Sanggar Maya Pasundan, Sanggar Tari Bagong Kusuddihardjo
yang dikenal Padepokan Bagong, Sanggar Sekapur Sirih,
Sanggar lukis Kak Wayan Yoga, Sanggar Lukis Tino Sidin,
Lembaga Peduli Anak Nusantara, Kelompok Wayang Orang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI332
Barata, Kelompok Wayang Orang Cipto Kawedar, Ketoprak
Wargo Budoyo, Ketoprak Cipta Mandala, Kelompok Lawak
Srimulat, Kelompok Lawak Patrio, Kelompok Musik Peterpan,
Kelompok Musik Radja, Kelompok Musik Slank, Kelompok Musik
Ungu, dan lain lagi adalah personifikasi dari organisasi seni
pertunjukan yang prinsip landasan yang dimiliki telah diketahui
arah, sasaran, dan tujuan organisasi berbasis kesenian yang
dikelola secara profesional dan maksimal.
Personifikasi organisasi seni pertunjukan tersebut di atas
pada mulanya telah ada dan berkembang di Indonesia. Dalam
kurun waktu yang berjalan dengan kompetitif yang tinggi terhadap
komitmennya dengan jaman, maka organisasi seni pertunjukan
tersebut hingga kini ada yang masih eksis, sedang gonjang-
ganjing bahkan hingga telah punah.
Konsekuensi logis ini pada dasarnya merupakan bukti
pertaruhan komitmen organisasi dalam memberdayakan berbagai
staf dan personil untuk dapat bekerjasama, berkerja sinergis, dan
bekerja mempertaruhkan reputasi demi kelangsungan organisasi
yang dimilikinya. Adalah naif, organisasi seni pertunjukan tanpa
memproduksi aspek seni untuk suatu penampilan. Oleh sebab itu,
dalam waktu ke depan dituntut komitmennya untuk memproduksi
hasil karya seni secara periodik, berkala, dan terprogram
sehingga dalam laju ke depan mampu menjadi pandega dan
barometer seni pertunjukan yang produktif, inovatif, dan kreatif.
Tantangan produksi yang memiliki produktisi berkala,
inovatif dalam menyajikan kontektual garapan, dan kreatif
mengembangkan materi garapan adalah bentuk seni pertunjukan
yang harus dipentaskan oleh organisasi seni pertunjukan
dimaksud. Dengan demikian organisasi tersebut yang secara
regulasi memiliki dana dan pendanaan yang mampu digunakan
untuk mencerminkan produksi karya seninya.
B. ORGANISASI SENI PERTUNJUKAN
Di bagia atas telah disinggung tentang beberapa
organisasi seni pertunjukan yang terdiri dari kelompok Teater
Koma (Riantiarno), teater Mat Suya (ISI Yogyakarta), teater Gen
(Putu Wijaya), teater Grazz( Sekolah Tinggi Seni Indonesia/STSI
Bandung), teater Mbeling (Kuta Q), Sanggar Tari Cipta (Farida
Utomo), Sanggar Argahari (Ibu Melly), Sangar Teratai Putih (Ibu ,
Sanggar Sekapur Sirih (Ibu Rahmida S), Sanggar Tari Saraswati
(I Gusti Agus Perbawa), Sanggar Lukis Gubug Semper(I Wayan
Kuta), Sanggar Pelangi Nusantara (Bapak Sampurno), Kelompok
Wayang Orang Barata (Nardi), Kelompok Wayang Orang Cipto
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI333
Kawedar (Rusman-Darsih), Ketoprak Wargo Budoyo (Bani
Saptoto), Ketoprak Cipta Mandala (Jendral Kunti Harsoyo),
Kelompok Lawak Srimulat (Bapak Timbul), Kelompok Lawak
Patrio (Akri), Kelompok Musik Peterpan (Ariel), Kelompok Musik
Radja(Roseta), Kelompok musik Slank (Yoga), Kelompok Musik
Ungu (Pasha), dan lain lain adalah personifikasi organisasi seni
yang menetapkan sasaran dan tujuan maupun garis-garis
pengembangan organisasi dilakukan bersama dan dalam
komitmen bersama.
Hingar-bingar munculnya seni pertunjukan di Indonesia
pada awaknya sebagai wujud organisasi seni pertunjukan yang
ada pada saat itu. Namun dalam perjalanan, nasib kelompok seni
pertunjukan ditentukan oleh performa masing-masing kelompok
melalui komitmen bersamanya. Komitmen bersama yang kuat
menjadi pendorong wadah seni pertunjukan semakin eksis.
Cermin organisasi seni pertunjukan digawangi kepentingan
diri yang tinggi. Apabila organisasi seni pertunjukan kurang sehat,
dalam perkembangan akan cepat bubar. Apabila organisasi seni
pertunjukan kurang sadar lingkungan mempercepat proses
bubarnya organisasi dengan keputusan individual yang kurang
proporsional..
Sumber: Koleksi Deden Jurusan Tari UNJ
Gb. 5.1 Teater Anruang (Bandung)
Sumber: Koleksi Jurusan Tari UNJ
Gb.5.2 Sa nggar Saraswati (Tari Bali)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI334
Sumber: Koleksi Deden Jurusan Tari UNJ Sumber: Jurusan Tari UNJ
Gb. 5.3 Teater Mat Suya) Gb. 5.4 Tari Pendet/Bali
(STSI BDG) ( Kedutaan Jepang)
Sumber: Koleksi Deden Jurusan Tari UNJ
Gb. 5.5 Nakoda Kapal Teater Grazz (STSI Bandung)
C. ORIENTASI & KARAKTER ORGANISASI PERTUNJUKAN
Klasifikasi orientasi keterlibatan pengelola dalam
organisasi seni pertunjukan dalam menerapkan manajemennya
mempengaruhi orientasi organisasi dalam menjalankan laju dan
perkembangan organisasi. Organisasi seni pertunjukan muncul
membawa misi pengembangan karya cipta seni. Orientasi dapat
bersifat bisnis dapat juga sebagai wadah pengembangan bakat
seni yang dituangkan pada setiap produksinya.
Banyak organisasi seni pertunjukan yang berorientasi
untuk produksi saja, atau memandang bahwa karya seni menjadi
salah satu bagian perencanaan program yang dijadikan kalender
kegiatan produksi. Dengan demikian masalah manajemennya
diatur berdasarkan format penempatan staf yang disesuaikan
dengan kebutuhan pementasan. Manajemen organisasinya
tumbuh kembang sebagai wahana menyalurkan hasil karya seni
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI335
sebagai hobi, kajian ilmu, dan finansial diperoleh melalui
pengelola itu sendiri atau staf yang bekerja maksimal mencari
seponsor seadanya sebagai finansial tambahan, selebihnya para
pelaku yang membiayai produksi.
Di sisi lain, terjadi bahwa organisasi seni pertunjukan
berorientasi kepada bisnis, maka wujud performansinya berbeda.
Organisasi ini menjadikan karya seni sebagai pencarian nafkah,
untuk mendatangkan keuntungan berlipat, serta realisasi
pementasannya berharap dari aset sponsorship yang dijadikan
sumber devisa dalam produksi seninya. Organisasi seni yang
berorientasi bisnis memandang seni sebagai suatu komoditas
bisnis atau industri. Organisasi ini banyak diminati oleh kalangan
yang banyak berkembang di lahan pencari nafkah.
Secara garis besar prototipe bentuk organisasi ini dapat
digambarkan melalui model di bawah ini.
Banyak Kegiatan
B C
Jenis Kegiatan
Fokus Kegiatan
A D
Fokus Banyak Fungsi
Bagan 5.1 Karakteristik Organisasi Pertunjukan
D. Fungsi manajemen
Keterlibatan pengelola dalam menjalankan organisasi
menentukan pilihannya. Ada organisasi seni pertunjukan yang
pengelolanya terlibat menjalankan manajemennya. Pengelola
bertindak sebagai koreografer, artis, produser, pimpinan produksi,
dan secara langsung mencurahkan total waktu untuk masalah
manajemen organisasi yang dipimpinnya.
Banyak organisasi seni pertunjukan yang masih belum
memiliki tenaga pengelola secara total. Waktu yang tidak dimiliki
untuk mengurusi penyelenggaraan organisasi seni secara
profesional membutuhkan pengelola dan peleksana produksi
dalam jumlah yang terbatas. Ada kecenderungan, organisasi seni
pertunjukan yang berorientasi bisnis maka pengelola
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI336
terjunlangsung menangani produksi. Organisasi yang berorientasi
pada karya seni pengelola menyediakan waktu paruh untuk
penanganan produksi secara langsung. Secara umum perspektif
karakteristik organisasi ini dapat digambarkan sebagai berikut:
F G
Profit bisnis, organisasi Berorientasi kepada
Bisnis dikelola paruh waktu. karya seni semata,
Keterlibatan pengelola tetapi organisasi
merangkapsebagai dikelola oleh
pelaku seni pengelola yang total
waktunya.
Orientasi
Organisasi
E H
Berorientasi kepada
Organisasi berorientasi
bisnis dan organisasi
Karya pada karya seni semata.
Seni dikelola oleh
Dikelola pelaku seni itu
pengelola yang
sendiri, keterlibatannya
menyediakan waktu
paruh waktu. Pengelola
secara penuh atau
merangkap sebagai
Total
total dimanej dalam
artis, koreografer,
waktu
setiap produksi dan
produser, sutradara,
pementasannya.
marketing, dsb
Paruh Waktu
Bagan 5.2. Status Pengelola
Melalui matrik yang telah dijelaskan pada lembar
terdahulu, keterlibatan pengelola ditunjukan melalui maket
gambar Bagan 1. Berdasarkan pengamatan yang telah dipelajari
secara mendalam, orientasi berkarya pada organisasi seni
pertunjukan yang bergerak di bidang bisnis dan paruh waktu
berbeda karakteristiknya. Bentik organisasi seni pertunjukan yang
menyediakan pengelola dan pengelolaan ditangani secara
mandiri memiliki publik penonton yang berbeda karakteristiknya.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI337
E. KAITAN ORGANISASI DAN MANAJEMEN PERTUNJUKAN
Organisasi seni pertunjukan dalam melakukan produksi
melalui proses. Proses terkait dirancang mulai tahapan awal
hingga pementasan. Untuk masing-masing cabang seni proses
produksi berbeda. Perbedaan dimulai dari perencanaan hingga
tahap pementasan. Cabang seni teater misalnya dimulai dari
penulisan skenario, casting, pelatihan, pencarian tempat pentas,
penataan panggung, penataan cahaya, penyediaan kostum,
properti, promosi dan sebagainya.
Tahapan tersebut di atas hampir sama dijumpai
pementasan pada seni tari, musikal, dan bentuk-bentuk seni
pertunjukan. Pada seni rupa persiapan kemungkinan agak
berbeda dengan bentuk seni pertunjukan.
Oleh karena organisasi seni pertunjukan mempunyai
keinginan agar produksi seninya dapat dinikmati oleh masyarakat,
maka kebutuhan minat masyarakat harus diperhatikan.
Organisasi seni pertunjukan berkewajiban mendidik dan
meningkatkan taraf apresiasi seni kepada masyarakat secara
proporsional. Pihak organisasi seni pertunjukan harus berinteraksi
dengan masyarakat apa yang diinginkan dan bagaimana bentuk
penyajiannya dapat disuguhkan,.
Organisasi seni pertunjukan harus terbuka atas respons
yang masuk. Interaksi kontak kesenian menjadi salah satu
bangunan pola perkembangan dan rekonstruksi hasil karya agar
mampu menjadi barometer produksi seni yang berimbang.
Kebutuhan seniman, penghayat, dan kritikus seni menjadi salah
satu jembatan menuju revitalisasi seni pertunjukan menjadi
berkualitas, modivikatif, dan sesuai publik.
Aspek lingkungan secara langsung menjadi sumber acuan
dalam menjaga kontinuitas berkarya atau produksi seni. Faktor ini
harus diperhatikan mengingat masalah strategi pemasaran,
sponsorship, penonton, dan elemen pendukung seni mampu
menyedot perhatian publik adalah menjadi kunci strategi
pengembangan seni pertunjukan eksis di masyarakat. Faktor
yang ikut berperan dalam kontinuitas produksi karya seni yang
secara tidak langsung menjadi salah satu penunjang (empati,
respons) adalah faktor poliik, ekonomi, pemerintah, masyarakat,
teknologi harus diperhatikan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI338
Secara garis besar masalah yang berpengaruh dalam
produktifitas karya seni baik langsung maupun tidak langsung
dapat digambarkan sebagai berikut di bawah ini.
Politik
Ekonomi
Pemerintah
Sosial Teknologi
Pemasok Penonton
Proses Karya Seni
Bagan 5.3 Hubungan Seniman dan Pemerintah
Manajemen akan membantu organisasi seni pertunjukan
di dalam mewujudkan harapannya untuk memproduksi karya
secara maksimal. Regulasi ke arah itu diupayakan dengan
melalui pemberdayaan berbagai komponen yang terkait untuk
bersinergis dalam membangun jaringan yang tanggam seperti
proporsi rumah laba-laba. Apabila berbagai komponen
pendukung yang dirasakan dapat digunakan sebagai stimulus
dalam mempermulus laju dan perkembangan produksi seni
pertunjukan sebaiknya dilakukan secara komprehensif.
Di sini faktor keberuntungan, perencanaan produksi,
strategi penerapan dan penggunaan celah yang mendatangkan
peluang bisnis besar perlu diterapkan walaupun pada kapasitas
produksi untuk oenyajian karya seni sebagai hobi saja. Dengan
demikian diperlukan kerja keras berbagai komponen yang terlibat
dan sekaligus upaya penanganan hambatan harus diminimalisir
secara tepat, sehingga pelaksanaan produksi karya seni menjadi
pilihan dan harapan bersama.
Di sisi lain Masalah manajemen sebagai basis dalam
pengelolaan suatu organisasi seni pertunjukan memiliki
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI339
kompetensi yang sangat krusial dalam menentukan laju dan arah
pengembangan dari suatu seni pertunjukan. Secara umum dalam
pengelolaan terasa sangat gampang, namun dalam
peleksanaannya memerlukan penanganan yang sangat rumit,
butuh perhatian khsusus serta lebih diutamakan pada
pemngalaman empirik menjadi sumber dalam melaksanakan dan
sekaligus menetapkan keberhasilan produksi karya seni secara
proporsional.
Di bawah ini maket yang menunjukkan penanganan
manajemen seni pertunjukan berdasarkan beberapa rekomendasi
dari pihak-pihak yang telah lama memproduksi suatu karya seni
dalam momentum atau even pertunjukan yang sebagaian besar
ditetapkan secara kronologis-empiris sebagai berikut:
Perencanaan Pengorganisasian
Pengendalian Pengarahan
Bagan 5.4 Organisasi Manajemen
Hal ini didasarkan kepada misi organisasi yang
menjalankan secara bisnis dan secara pemenuhan hobi atau
tuntutan program produksi mempertimbangkan dana atau
finansial sebagai kunci kerja produksinya. Di sini artis dan
merangkap pengelola untuk mengembangkan produksinya
berusaha mempertahankan pengembangan karya seni. Pada sisi
lain, Pengelola yang menyediakan total waktu menjadi kredibilitas
taruhan dalam menjalankan manajemen produksinya secara
maksimal.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI340
F. PENGORGANISASIAN KEGIATAN
Pengorganisasian dilakukan agar para staf yang ada
dalam organisasi seni pertunjukan dapat maksimal dalam
menjalankan kerja dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya.
Hal ini diwujudkan dalam bentuk struktur organisasi dan uraian
pekerjaan yang harus dilakukan, dipertanggungjawabkan dan
dikonsolidasikan kepada antar berbagai staf yang terkait dalam
organisasi.
1. Pengorganisasian
Untuk menjamin kemampuan orang-orang yang ada di dalam
organisasi agar dimanfaatkan secara optimal.
(a) Bentuk
• Struktur organisasi,
• Uraian pekerjaan,
• Mekanisme kerja antar staf.
(b) Proses Organisasi
• Merinci pekerjaan –pekerjaan,
• Mengelompokan pekerjaan-pekerjaan,
• Membagi tugas,
• Menyusun mekanisme kordinasi.
(c) Fungsional
• Organisasi dibagi berdasarkan kelompok-
kelompokfungsional seperti produksi, keuangan,
pemasaran, dan sumber daya manusia.
(d) Kegiatan
• Organisasi dibagi berdasarkan kegiatan yang dilakukan,
misalnya musik, teater, tari,
(e) Wilayah
• Organisasi berdasarkan tempat organisasi beroperasi,
misal Srimulat Solo, cabang Surabaya, Jakarta, dll.
(f) Proses
• Organisasi dibagi berdasarkan jenis proses yang
dilakukan. Bagian penelitian, penulisan, koreografi,
pelatihan dan pementasan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI341
2. Pengarahan
Pengarahan dalam suatu organisasi memiliki ciri bentuk
yang berbeda satu organisasi dengan lainnya. Perbedaan
ditentukan oleh gaya kepemimpinan, pola pengembangan teori
kepemimpinannya.
Pengaraham meliputi organisasi instruksi, motivasi, teknik
menyampaikan komunikasi tujuan organisasi kepaeda staf agar
menjalankan tugasnya dengan baik.
(a). Asumsinya teori X (berpikir negatif) mencakup
• Pola perintah, pengawasan, dan menghindari tanggung
jawab, serta mementingkan jaminan keamanan.
(b). Asumsinya teori Y (berpikir positif) mencakup
• Adanya pengerahan tenaga fisik dan mental untuk bekerja
pada hakikatnya sama dengan bermain dan istirahat,
• Pengawasan da ancaman bukan satu-satunya cara untuk
mencapai tujuan organisasi,
• Menyetujui tujuan merupakan bagian yang erat
hubungannya dengan kebutuhan mencapai penghargaan
atas prestasinya,
• Orang bersedia menerima tanggung jawab dan mencari
kondisi yang cocok untuk bekerja,
• Orang mempunyai kemampuan berimajinasi, kecerdasan,
dan kreativitas memecahkan masalah,
• Potensi intelektual orang baru sebagian yang digunakan,
3. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan pada dasarnya menjadi ciri bentuk
organisasinya. Perangai dan tingkah laku pimpinan dapat
mempengaruhi sistem dan cara pengambilan kebijakan yang
diorganisasikannya.
(a) Otokratis, memusatkan penguasaan dan pengambilan
keputusan dari pimpinan. Pimpinan yang memiliki ciri
demikian cenderung menggunakan asumsi negatif berpikir.
(b) Partisipasif, gaya kepemimpinan seperti ini melibatkan
bawahan dalam pengambilan keputusan. Pimpinan demikian
cenderung berpandangan teori Y.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI342
(c) Demokratis, gaya kepemimpinan menyerahkan keputusan
kepada kelompok. Gaya kepemimpinan yang terbaik
dikembangkan pada pola ini. Pertimbangan menyangkut iklim
organisasi, kelompok, sifat pekerjaan, faktor lingkungan
menjadi kendali mutu dalam mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan otokratis dipakai bila kelompok yang dihadapi
memerlukan tindakan cepat dan tegas.
• Pertimbangan tentang kepribadian dan pengalaman
pemimpin,
• iklim dan kebijakan organisasi,
• karakter harapan dan tingkah laku atasan,
• karakter dan tingkah laku bawahan,
• sifat pekerjaan dan harapan dan tingkah laku rekan sejawat
menjadi pertimbangan.
MotivasiI
• Kebutuhan yang mendorong untuk melakukan sesuatu
yang pada ujungnya menyebabkan orang bertingkah lakuk
tertentu dalam mencakai tujuan,
Pengaruh karakteristik individu, pekerjaan, sistem, dan kondisi
organisasi untuk dihayati secara benar-benar.
4. PENGENDALIAN
Proses pengendalian pada dasarnya merupakan
mekanisme yang berfungsi atau memastikan tercapainya sasaran
yang ditetapkan dalam perencanaan suatu organisasi.
Pengendalian bermakna menetapkan standar dan pengukuran
prestasi, ketercapaian prestasi, membandingkan hasil dengan
standar serta mengambil tindakan secara ekonomis, tepat waktu,
dapat dimengerti, dan dapat diterima.
• Menetapkan standar dan pengukuran prestasi,
pengendalian standar dikembangkan dari sasaran
perencanaan. Kriteria standar biasanya dihasilkan dari
bentuk sasaran yang ditetapkan berdasar kriteria spesifik.
Bagaimana hasil dilakukan dengan obyektifikasi untuk
menghasilkan pengukuran prestasi yang ditetapkan.
• Mengukur hasil atau prestasi, dilakukan melalui cara
pengukuran yang sudah ditetapkan dengan baik.
• Membandingkan hasil dengan standar, adalah prosedur
pengukuran dengan membandingkan antara hasil dengan
standar. Deviasi yang ada dan terjadi harus diminimalikan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI343
Pengukuran yang bersifat kualitatif membutuhkan
interpretasi/pengambilan keputusan secara sesuai
penetapan, atau berupa penafsiran. Keputusan yang
diambilop memerlukan tindakan akurat, cepat dan tegas.
• Mengambil tindakan, Melalui hasil perbandingan tindakan
harus dilakukan. Persoalan penyimpangan, akibat
negatifnya dipilih seminimal mungkin. Tindakan harus
membawa dampak yang positif bagi pengambilan
keputusan.
Pengendalian yang baik harus membawa dampak sebagai
berikut:
• Fokus pada masalah penting, prioritas sasaran.
• Ekonomis, tidak mahal dan hasil yang dicapai memiliki
dampak positif bagi organisasi.
• Tepat waktu, upaya pendikteksian secara dini atas target.
Akumulasi mudah dipahami dan diterima kalangan
organisasi
Tipe atau ciri-ciri organisasi yang bertujuan
mengembangkan karya seni sebagai sandaran banyak dimiliki
oleh lembaga pendidikan yang membina dan mengembangkan
para mahasiswa bergerak sebagai subyek di dalam mengelola,
produksi karya, dan memasarkan hasil karyanya sendiri melalui
berbagai media dan alat siar lainnya.
Secara umum lembaga pendidikan dalam menangani
hasil karya sendiri dengan marketing sendiri dilakukan secara
sederhana hingga pada babagan yang dapat diapresiasi secara
tinggi yakni dengan melakukan teknik marketing secara
profesional. Bentuk dan jenis yang dikembangkan dari reduksi
yang sederhana hingga pada pembagian staf yang cukup
proporsional dan melalui seleksi terhadap setiap personal yang
menduduki jabatan pada organisasi seni pertunjukan tersebut
secara profesional juga. Di sini dapat dicontohkan figur atau
prototip organisasi seni pertunjukan yang dikembangkan salah
satunya di Universitas Negeri Jakarta yakni melalui bagan
personel dan uraian job deskripsi tugas masing-masing personel
yang menggawangi jabatan tersebut adalah sebagai berikut pada
lembar selanjutnya..
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI344
Secara konstruk bagan format organisasi di atas dapat
digambarkan bagan dapat digambarkan seperti di bawah ini
Pimpinan Produksi
Pimpinan
Pimpinan Artistik
Kerumahtanggaan
Bagian Karcis Kerumahtanggaan
Penata Sound dan
Musik & Kru
Penata Cahaya &
Kru
Pen
Proper
Penata Rias dan
Kostum & Kru
Pimpinan
Panggung & Kru
Bagan 5.5 Organisasi Produksi Seni dan Manajemen
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI345
Agar dapat memperjelas tentang keberadaan organisasi
seni pertunju7kan yang seperti apa dan bagaimana sistem
pengelolaannya, di bawah ini dicontohkan organisasi seni
pertunjukan yang ada di lembaga istatinsional di kantor kami
adalah sebagai berikut..:
(1) Pimpinan Produksi
Pimpinan produksi adalah orang yang ditunjuk untuk
mengorganisir pementasan suatu seni pertunjukan. Pimpinan
produksi bertanggung jawb secara keseluruhan atas pelaksanaan
dan keberhasilan produksi seni dipergelarkan. Komitmen kerja,
tanggung jawab personal, dan kapasitas kerjanya serta
kapabilitas performa untuk mengatur dan memimpin produksi
menjadi tanggungjawabnya. Tugas keberhasilan dan selesainya
produksi menjadi taruhan bahwa pimpinan produksi seni
pertunjukan juga menjadi ujung tombak terdepan dalam
penyelenggaraan hingga selesainya pementasan maupun
laporan pelaksanaan kegiatan dilakukan.
Pimpinan produksi harus memahami peran, tugas, dan
tanggung jawabnya sebagai tampimpinnan dan ia berada di
garda depan produksi seni pertunjukan dalam menjalankan tugas
produksi. Tugas kontroling kerja kerumahtanggaan, operasional
staf, pemilihan tempat pementasan, hingga standar kualifikasi
gedung yang digunakan sebagai pertunjukan produksi adalah
kacakapan tugas yang diembannya.
Peran pimpinan produksi dalam pelaksanaan pementasan
menjadi motor gerak bawahan agar seluruh staf mau dan mampu
bekerja maksimal atau allout, sehingga, sukses dan tercapainya
pementasan menjadi berbobot adalah target yang diharapkan
bersama dan merupakan simbol keberhasilan pimpinan produksi
dalam mengawal anak buahnya.
Tanggung jawab pimpinan produksi adalah menentukan
keberhasilan dan terlaksanannya pemantasan karya seni
pertunjukan. Target operasional yang harus dicapai dengan
melalui cara memotivasi bawahan, mendorong pelaksanaan
produksi sampai pada puncak harapan adalah bentuk tanggung
jawab yang dipikulnya. Oleh sebab itu, produksi karya seni yang
dipentaskan merupakan taruhan tugas, tanggung jawab dan
kerangka kerja yang harus diimplementasikan secara maksimal.
Pada lembar berikut kalian dapat melihat profil organisasi
Seni Pertunjukan yang ada di beberapa
sekolah/institut/Universitas seni di Indonesia yang bekerja untuk
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI346
produksi karya seni perguruan tinggi masing-masing. Secara
umum dapat dilihat pada beberapa pembagian staf sesuai
kebutuhan, personifikasi dan jenis atau macam pergelaran seni
atau penyajian seni yang dilaksanakan.
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.6 Pimprod memberi arahan Gb. 5.7 Pimprod recek kesiapan kerja
Perhatikan gambar: Potret kerja Pimpinan Produksi mengarahkan personal staf
kerja produksi dan yang terlibat di dalamnya
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
(1.1) Pimpinan Kerumahtanggaan
Pimpinan Kerumahtanggaan dalam suatu produksi karya
seni pertunjukan merupakan salah staf yang bertugas
mengemban pelayanan publik serta bertanggung jawab kepada
pimpinan produksi dalam layanan staf dan layanan publik.
Pelayanan ditujukan kepada seluruh staf produksi yang bekerja
menyelenggarakan produksi seni pertunjukan. Layanan kepada
publik diberikan dalam hubungan pemberian servis kepada
penonton mulai dari pembelian karcis, pelayanan gedung, hingga
kenyamanan yang absurd bagi penonton agar penonton merasa
dihargai dan dihormati secara tepat.
Tugas pelayanan publik dilakukan mulai dari kenyamanan
menjamu penonton, pelayanan/seles servis pemesanan karcis,
hingga suasana pementasan agar berjalan lancar dan nyaman
menjadi bagian tugas yang harus diciptakan. Kondisi pelayanan
sejak awal pertunjukan, istirahat, hingga akhir pementasan
menjadi kordinasi seksi kerumahtanggaan di dalam gedung dan
di luar gedung. Artinya, kompleks pertunjukan harus bersih
keributan, suasana yang menjadi kekuatan emosi penonton untuk
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI347
menikmati pertunjukan secara antusia, empati, dan simpati serta
nyaman.
Pelayanan kepada staf produksi dalam bentuk
memberikan kesejahteraan berupa layanan konsumsi sejak
penyelenggaraan produksi mulai dari rapat pertama, pelatihan,
gladi kotor, gladi bersih, pementasan/pertunjukan hingga acara
pembubaran produksi. Layanan tersebut terkait dalam bentuk
kesejahteraan dan pemenuhan konsumsi secara rutin acara
kegiatan berlangsung.
Hak dan kewajiban kepala kerumahtanggaan adalah
berkonsultasi kepada pimpinan produksi dan pimpinan artistik
dalam hal layanan staf. Dalam layanan publik kepala bagian ini
minta dengar pendapat publik berkenaan dengan bagaimana
teknik danoperasional servis yang dapat memuaskan publik, serta
memberikan layanan cepat pesan melalui komunikasi bebas
pulsa atau komunikasi lain dalam bentuk antaran servis.
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.8 Pimrum tangga Tumpengan Gb. 5.9 Stafrum rileks habis kerja
Sebelum kerja produksi
Perhatikan gambar: Potret kerja Pimpinan Kerumahtanggaan.
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
(1.2) Bagian Karcis
Staf ini sebagai bawahan staf kerumahtanggaan. Mereka
bertanggung jawab atas penjualan dan pembelian karcis
pertunjukan. Jumlah pengeluaran dan pemasukan harus
seimbang. Komoditas terciptanya layanan yang manusiawi dan
berwibawa menjadi misi yang harus ditampilkan staf ini dalam
bentuk layanan publik secara langsung.
Hal dan kewajiban yang dilakukan dalam bentuk melayani
penonton dengan ramah, murah senyum, serta menawan dan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI348
menarik, sehingga penghargaan terhadap penonton cukup
disegani. Kewajiban yang harus dilakukan berupa layanan publik
secara langsung ditunjukan melalui kontak interaksi dengan itu
baik-buruk layanan akan tercermin dari penampilan pada saat itu.
Hak yang dimiliki oleh staf ini adalah konsultasi dan
konsolidasi kepada pimpinan staf produksi melalui mandat dan
kepada pimpinan kerumahtanggaan secara langsung tentang
tugas, kewajiban, dan tanggung jawab kerja yang harus
direfleksikan.
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.10 -5.11 Profil Ticket Box Bagian Karcis dan Marketing
Perhatikan gambar atas: potret liflet promo hasil kerja Bagian Karcis
di samping melakukan penjualan karcis di bok karcis
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
(2) Pimpinan Artistik
Pimpinan artistik adalah pimpinan produksi yang bertindak
dan bertanggung jawab atas karya seni yang diproduksikan.
Tanggung jawab artistik karya, performa penyajian hingga tata
urut pementasan agar dapat menyajikan urutan pementasan yang
harmonis adalah menjadi tanggung jawab pimpinan artistik.
Pimpinan artistik memiliki hak dan kewajiban berhubungan
dengan keartistikan karya seni yang dipentaskan. Berbagai
capaian karya seni dipertunjukan menjadi bagian tanggung jawab
moral yang tidak dapat dibayarkan melalui penataan artistik karya
seni. Dengan demikian masalah teknis, tata letak setting, tata
indah pencahayaan, dan artistiknya kostum artis menjadi
tanggung jawaqb yang diemban oleh pimpinan artistik.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI349
Pimpinan artistik membawahi staf yang bertugas pada
saat karya seni dipertunjukan di atas panggung atau stage.
Berbagai kejadian, kejanggalan, keajaiban, dan kesuksesan di
atas panggung atau kerangka pementasan karya seni menjadi
konstruk perintah terhadap staf yang ada dibawah tanggung
jawab pimpinan artistik.
Hak dan kewajiban pimpinan artistik adalah konsultasi
teknis pementasan dengan pimpinan produksi. Kewajibannya
adalah membimbing, mengarahkan , dan mengkordinasikan staf
di bawah artistik yang operasional di atas panggung atau terkait
dalam pementasan saat berlangsung.
Staf bawahan pimpinan artistik terdiri dari Pimpinan
Panggung & Kru, Penata Cahaya & Kru, Penata Sound dan
Musik & Kru, Penata Properti & Kru, Penata Rias dan Kostum &
Kru, serta petugas gedung yang secara operasional diatur oleh
pimpinan panggung.
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.12 Persiapan kipas pada Gejolak Gb. 5.13 penataan Kipas pada Gejolak
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.14 Disain tata Cahaya Gejolak Gb. 5.15 Pengarahkan kepada penari
Perhatikan gambar: Potret kerja pimpinan Artistik adalah mengevaluasi dan
mengarahkan dari hasil kerja bawahan (kostum disainer, penata cahaya, penata
panggung). Tujuan untuk terciptanya kondisi artistik pementasan
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI350
Simulasi dalam pertunjukan yang sedang berlangsung,
pimpinan ini berperan mengevaluasi hasil tata cahaya, tata
panggung, dan organisasi kerjasama antar bawahan Pimpinan
Artistik.
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.16 Pim Artistik pengarahan sebelum pentas
Perhatikan gambar: Poterk kerja Pimpinan Artistik
Pembenahan dan perancangan disain pertunjukan agar artistik (Koleksi
Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
(2.1) Pimpinan Panggung & Kru
Orang yang berada dalam kordinasi di panggung. Secara
umum dia disebut stage manager. Tugas dan tanggung jawab
pimpinan dan staf panggung adalah mengatur urutan
pementasan berdasarkan advis pimpinan artistik serta
mengakumulasi berbagai kebutuhan mulai dari alat-alat musik
yang digunakan pementasan hingga bagaimana setting,
pencahayaan, musik dan efek musik serta berbagai kebutuhan
lain yang diminta pimpinan produksi atau penyaji karya seni
dalam suatu produksi pementasan.
Pimpinan panggung dan staf dalam menjalankan
tugasnya berkonsultasi dengan staf lain di bawah pimpinan
artistik. Kordinasi dengan staf di bawah pimpinan produksi dalam
hal tata cara dan tata aturan yang mengatur penonton pada saat
pementasan dilaksanakan. Secara umum tugas dan tanggung
jawab pimpinan panggung dan staf ganda baik kepada pimpinan
produksi maupun pimpinan artistik. Tanggung jawab morak
diberikan kepada pimpinan produksi, sedang tanggung jawab
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI351
tugas yang diemban merupakan tanggung jawab kepada
pimpinan artistik.
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.17-5.18 Pimpinan Stage dan kru fasilitasi tempat latihan
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.19 Kru Stage kerja di balik stage
Perhatikan gambar: poterk kerja kru dan penata panggung
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
(2.2) Penata Cahaya & Kru
Penata cahaya bertanggung jawab langsung kepada
pimpinan artistik, namun secara hirarki laporan kejadian
berdasarkan prasaran penyaji karya seni tanggung jawab penata
cahaya secara tidak langsung bertanggung jawab kepada
pimpinan panggung dan penyaji.
Beban tanggung jawab dan tugas penata cahaya adalah
menjadi sumber sukses dan artistiknya pementasan karya seni
yang dipergelarkan. Masalah pencahayaan, terang-padamnya
lampu, serta bagaimana cara mengatasi apabila terjadi
kecelakaan matinya lampu dari Perusahaan Listrik Negara (PLN)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI352
adalah menjadi beban moran tanggung jawab yang diemban oleh
pimpinan tata cahaya.
Hak dan kewajibannya adalah konseling kepada pimpinan
artistik, pimpinan panggung dan penyaji karya seni. Kewajibannya
adalah memberikan layanan kepuasan atas artistik tidaknya
pementasan karya seni yang dipergelarkan.
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.20 Hasil Kerja Penata Cahaya Gb. 5.21 Penata cahaya memberi efek
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.22 Hasil Kerja Penata Cahaya Gb. 5.23 Penata cahaya memberi efek
Perhatikan gambar: potret kerja kru dan penata cahaya
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI353
(2.3) Penata Sound dan Musik & Kru
Penata musik dan sound juga bertanggung jawab
langsung kepada pimpinan artistik, namun secara hirarki mati-
hidup, keras-lembut, jernih-paraunya musik dan sound harus
dilaporkan kepada pimpinan panggung untuk konsolidasi, serta
bahan laporan kepada penyaji karya seni yang dipergelarkan.
Kejadian yang muncul sebagai akibat kelalaian dan
kecelakaan pementasan dapat mempengaruhi kualitas
pementasan dalam ukuran kualitas musik dan sound. Tanggung
jawab yang diemban berdasarkan dilakukan berdasarkan
prasaran penyaji. Penata musik dan sound secara tidak langsung
bertanggung jawab kepada pimpinan panggung dan penyaji karya
seni
Beban tanggung jawab dan tugas penata musik dan
sound adalah menjadi sumber sukses dan kualitas musik yang
disajikan dalam pementasan. Artistiknya pementasan karya seni
yang dipergelarkan dalam hubungannya dengan musik dan
sound menjadi beban moran tanggung jawab yang diemban oleh
pimpinan musik dan sound.
Hak dan kewajibannya sama denga staf lain di bawah
pimpinan artistik, adalah konseling kepada pimpinan artistik,
pimpinan panggung dan penyaji karya seni. Kewajiabannya
adalah memberikan layanan kepuasan atas kualitas musik dan
sound pada saat pementasan karya seni yang berlangsung.
Sumber: Koleksi Pribadi Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.24 Kru Musik fasilitasi pemusik Gb. 5.25 Penata Musik memberi
arahan pemusik
Perhatikan gambar: potret kerja kru dan penata musik
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI354
(2.4) Penata Properti & Kru
Penata properti dan kru bertanggung jawab langsung
kepada pimpinan artistik, namun secara herarki masih sama
dengan staf lain dilingkungan artistik yakni melaporankan
kejadian dan layanan pemesanan yang diminta penyaji karya seni
dan prasaran penata artistik berdasarkan pada saat kebutuhan
alat diminta oleh kedua belah pihak. Beban tanggung jawab dan
tugas penata properti adalah menjadi layanan pemenuhan
kepada penyaji karya seni dan tuntutan artistik garapan
berdasarkan prasaran dari pimpinan artistik.
Sukses dan artistiknya pementasan karya seni yang
dipergelarkan kebutuhan properti yang diharapkan penyaji dan
pimpinan artistik diberikan sepenuhnya atau layanan purna
lengkap kepada kedua belah pihak. Masalah kelengkapan
properti untuk kebutuhan penari tanggung jawab staf ini.
Bagaimana cara mengatasi apabila tidak ada properti yang
diminta oleh penyaji karya seni dan pimpinan artistik menjadi
beban tugas dan tanggung jawab pimpinan properti dan kru.
Hak dan kewajibannya sama dengan staf di bawah
pimpinan artistik yakni berkonsultasi kepada pimpinan artistik,
pimpinan panggung dan penyaji karya seni. Kewajiabannya
adalah memberikan layanan kepuasan atas artistik tidaknya
pementasan karya seni yang dipergelarkan.
Di bawah ini menunjukan gambar potret kerja penata
properti dan kru. Tugasnya mendisain dan memasang properti di
atas pentas, persiapan dan menyediakan properti yang
dibutuhkan penari pada saat pertunjukan.
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.26 Kru penata properti menata level/trap di depan panggung
Perhatikan gambar: potret kerja kru dan penata properti
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI355
(2.5) Penata Rias dan Kostum & Kru
Penata rias dan kostum secara umum pada produksi
yang besar dibagi pada masing-masing pos antara rias dan
kostum. Namun untuk produksi karya seni yang terbatas kedua
tugas dipegang oleh satu staf saja. Penata rias dan kostum
bertanggung jawab langsung kepada pimpinan artistik, penyaji
karya, serta melakukan konsolidasi dengan pimpinan panggung.
Hirarki penguasaan konsep riasan, pemakaian kostum
hingga modivikasinya menjadi tanggung jawab penata kostum
dan penata rias. Konsultasi kepada penata tari secara konsolidasi
penting dilakukan. Laporan kejadian kurang terakomodasinya
kebutuhan penata tari dikonsultasikanpenata Artistik. Prasaran
penata tari dalam hal hasil kerjanya menjadi tanggung jawab
penata rias dan busana berdasar pemenuhan dari penata tari,
dengan asumsi hasil kerja kurang serasi dan kurang tepat
sasaran. Penata rias dan busana harus
mempertanggungjawabkan kepada penonton apabila dijumpai
terdapat reaksi balik dari penonton, hal ini berhubungan dengan
kepuasan kerja penata rias dan busana.
Beban tanggung jawab dan tugas penata rias dan busana
menjadi bagian pertanggungjawaban kepada pimpinan artistik.
Pementasan tari yang dipergelarkan harus mampu memenuhi
harapan penata tari. Masalah riasan dan pemakaian busana
apabila terjadi kecelakaan misal busana copot atau kedodoran,
lunturnya riasan menjadi beban moral tanggung jawab yang
diemban penata rias dan busana secara terbuka.
Hak dan kewajibannya berkonsultasi kepada pimpinan
artistik, penata panggung dan penata tari. Usaha memberi
layanan atas bentuk riasan dan pemakaian kostum tari yang
dipentaskan jadi bagian tugas kolektif dengan pimpinan artistik.
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.27 Koreografi mahasiswa (hasil kerja penata busana dan rias
Perhatikan gambar: Poterk kerja Penata Busana dalam berperan mewujudkan
konsep penata tari di bidang rias dan busana agar pertunjukan sesuai tokoh.
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI356
Penata rias dalam melakukan pekerjaannya diarahkan
oleh pimpinan artistik dan sesuai hasil diskusi dengan penata tari.
Kerja penata rias mendisain riasan wajag, mengubah karakter
tokoh, dan membuat desain fantasi bisa diminta oleh penata tari.
Di bawah ini adalah gambar bagaimana kerja penata rias
mengarahkan penari, dan membantu merias penari.
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.28 Penari berias diri setelah mendapat arahan piñata rias
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.29 Kerja penata rias membantu menata rambut
Perhatikan gambar: Potret kerja Penata rias dalam berperan mewujudkan
konsep penata tari di bidang rias dan busana agar pertunjukan sesuai tokoh.
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI357
Perhatikan gambar di bawah ini adalah hasil; kerja penata
rias dan busana tari yang sudah jadi sesuai harapan penata tari.
Beberaga gambar model penari yang telah dirias dan memakai
busana tari.
Penataan rias dan busana tradisional Klasik Jawa.
Gambar di bawah menunjukan perbedaan garis wajah antara
orang biasa, rias keseharian, dan rias karakter, misalnya yaitu.
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb. 5.30 Tata rias wajah pada tari Bedoyo
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb.5.31 Tata rias pada karakter Gagah Putra
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI358
Busana Tradisional yang diusung melalui konsep tari-tari
tradisional Klasik, atau tari rakyat di berbagai wilayah Indonesia.
Gambar di bawah ini sebagai contoh sebagai berikut.
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.33Busana saat gladi kotor
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.32 Ratu Angin
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.34 Busana Gladi bersih
Perhatikan gambar: Poterk kerja Penata Busana dalam berperan mewujudkan
konsep penata tari di bidang rias dan busana agar pertunjukan sesuai tokoh.
(Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI359
Tata Rias untuk riasan keseharian hanya mempertebal
garis wajah. Tujuannya untuk memberikan penegasan terhadap
lekuk dan ornamen wajah secara lebih mendalam. Riasan untuk
laki-laki biasanya jarang dilakukan kecuali bagi yang memiliki
kecenderungan tampil beda di depan masyarakat.
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb. 5.35 Tata rias sehari-hari untuk peran putra tanpa karakter
Sumber: Grafis Haviz Muharyadi SPd.
Gb.5.36 Tata rias wajah putri tanpa karakter
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI360
Kelompok model yang dipotret setelah dirias dan diberi
busana tari. Contoh gambar pose di bawah ini menunjukan
variasi bentuk, motif, ornamen, dan perangkat tari yang
diabadikan secara acak.
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.38 Model-model setelah dirias dan
memakai busana tari
Sumber: Koleksi Pribadi
Gb. 5.37 Pose penari yang telah di rias
Menggunakan rebana
Perhatikan gambar: Hasil kerja Penata Busana dan penata pentas dalam
berperan mewujudkan konsep penata tari di bidang rias dan busana dan pentas
agar pertunjukan sukses (Koleksi Rahmida dan Bambang Jurusan Tari)
Setelah kalian telah mempelajari dan mencermati
berbagai pengetahuan tentang produksi tari di atas, bagaimana
tanggapan kalian. Apakah kalian dapat memahami tentang uraian
yang telah kalian baca?.
Tugas untuk kalian, coba bentuk dan rancang konsep
pelaksanaan pementasan karya-karya seni siswa di tempat
kalian. Pelaksanakan disesuaikan kebutuhan antar waktu.
Pergelaran karya seni dipergelarkan dalam rangka perpisahan,
ulang tahun sekolah, hari-hari sejarah Nasional, dan keperluan
lain. Sebagai contoh kegiatan pergelaran yang dapat kalian
rancang adalah pergelaran karya seni dalam rangka perpisahan
kelas satu dan dua dengan kelas tiga.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI361
BAB VI
PERKEMBANGAN PENGETAHUAN
BIDANG TARI
A. Seni Pertunjukan Kemasan
Kota Jakarta sebagai Ibu kota negara Indonesia memiliki
kompleksitas yang beragam dan menjadi ciri kota besar di
Indonesia di samping kota-kota besar lainnya. Kota besar di
berbagai negara dan daerah Indonesia dihuni oleh berbagai suku
dari penjuru Nusantara.
Kemajuan pengetahuan dan teknologi, menumbuhkan
konsep pengembangan budaya dalam konsep industri wisata
pada kota besar di berbagai daerah di Indonesia. Perkembangan
seni pertunjukan yang ada juga menjadi simbol dari representasi
cara menyajikan dan model pengemasan yang representatif
untuk disajika dalam kemasan wisata. Oleh sebab itu, muncul
pemikiran bagaimana suatu kemasan seni pertunjukan dapat
disajikan dalam momen paket wisata yang dapat menjajinjikan.
Konsekuensi logis adalah bahwa paket wisata bentuk dan
mode penyajiannya memiliki ciri yang berbeda dengan kemasan
aslinya. Hal ini patut dipertimbangkan mengingat bahwa kemasan
wisata bertujuan sebagai kemasan yang disajikan untuk
kepentingan sesaat. Pada sisi lain, apabila wisatawan
memerlukan kemasan tari tradisional asli sesuai bentuk dan
mode penyajiannya disarankan untuk mendatangi tempat atau
narasumber tari tradisional yang secara representatif menggali
dan melestarikan tarian dimaksud.
Dampak yang berkembang ide munculnya kemasan untuk
industri wisata kurang greget, produk statis, seadanya, menjadi
kambing hitam dari refleksi munculnya kemasan wisata. Namun
hikmah yang dapat dipetik, bahwa kemasan yang terkesan coba-
coba, belum memiliki bentuk yang perfect, serta belum dapat
diangkat menjadi produk yang handal ini menjadi penilaian yang
kurang reproduktif dalam bentuk dan mode seni untuk tujuan
tertentu yakni pariwisata.
Semakin ramainya industri pariwisata, seni tari tampil ke
permukaan. Aktivitas seni tari membawa dampak semakin
banyaknya frekuensi pentas tari untuk industri pariwisata. Hal ini
tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan pasar seiring dengan
kebutuhan penyangga sarana wisatawan membutuhkan hiburan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI362
Maka muncullah di berbagai tempat wahana untuk wisata seperti
hotel, restoran, taman-taman wisata hiburan menjadi sentra
industri seni tari wisata dipentaskan.
Paradigma perkembangan wisata dengan keterkaitan
seninya, seni tari untuk produk wisata menuntut adanya unitas
yang mesti terjadi adanya penyesesuaian diri atas terwujudnya
kesatuan sistem. Aspek kehidupan kemanusiaan, kedudukan tari
sebagai pelengkap, kredibilitas kebutuhan sesaat, dan produk
wisata lebih ditekankan menjadi pertimbangan bentuk dan mode
tari dipentaskan. Pemikiran mendalam, bahwa pertunjukan
tariyang bertujuan untuk sesaat tidak memiliki konteks tujuan
melepas begitu saja terhadap akar budaya yang dimiliki oleh
masyarakat aslinya. Tidak mustahil bahwa kemasan seni tari
untuk wisata tidak semena-mena demi kepentingan wisata saja
kemudian membuat kemasan produk wisata seadanya.
Pandangan ini keliru, ini menjadi salah satu alternatif strategi bagi
studi lanjut tentang tari sebagai aset industri wisata ( Arief Eko:
2004, 50-59).
Kontek kepariwisataan dimengerti sebagai pemberdayaan
nilai ekonomis melalui sejumlah komuditas. Penambahan
penghasilan bangsa banyak digali melalui potensi ini.
Pengembangan kepariwisataan secara eksplisit dirumuskan
melalui kunjungan wisata dan bagaimana menyajikan
kepariwisataannya. Modifikasi memperkenalkan dan
medayagunakan potensi sumber wisata untuk peningkatan
potensi sumber daya manusia (SDM), kondisi geografis, kondisi
budaya menjadi pilihan dan alternatif munculnya industri
pariwisata dalam bentuk komoditas kemasan seni tari untuk
wisata.
Secara konseptual model kepariwisataan yang sebaiknya
digarap mencakup beberapa pemikiran di bawah ini sebagai
berikut:
Seni
Seni Kemasan Industri
Pertunjukan
Wisata Pariwisata
Tradisional
Bagan 6.1 Kolaborasi seni pertunjukan dan pariwisata
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI363
Peta konsep di atas selanjutnya dikembangkan melalui
penelitian menyangkut masalah urbanisasi dan imigrasi etnis lain
di dunia, mewujudkan wajah kekayaan kesenian Nusantara yang
berkembang. Di sisi lain, kemajuan teknologi dan ilmu
pengetahuan memperdaya tumbuhnya kreativitas dan
kompleksitas kehidupan manusianya ke dalam tatanan baru di
bidang pariwisata. Secara berjenjang peta penelitiannya dapat
digambarkan sebagai berikut di bawah ini:
Urbanisasietnisnusantara Imigrasietnis di dunia
Kekayaan Budaya Nusantara
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Era Globalisasi
Kemauan mengadakan relasi dengan Bangsa Lain
Dampak terhadap seni pertunjukan tradisional memperkaya
atau menurunkan Budaya Nusantara
Pendekatan Multidisiplin
Upaya teknik pengemasan melalui enam cirri kemasan
wisata menurut Soedarsono
Hadirnya wisata asing, hadir wisata seni.
Hadir wisatawan asing/local memperkaya seni tradisional
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI364
Kondisi budaya nasional khususnya tari sebagai produk
wisata dikenali di banyak daerah. Oleh karena itu, kemasan
industri wisata dalam bentuk tari untuk seni pertunjukan wisata
menempatkan tari sebagai obyek wisata. Masalah teknis yang
kemudian muncul, tari dipersiapkan sebagai obyek yang
digunakan untuk pemenuhan industri pariwisata secara
akumulatif.
Sebagai produk kemasan tari digarap lebih dalam bentuk
genre. Di sisi lain, tari dikemas tidak untuk meninggalkan fungsi
dan bentuk kepemilikan masyarakat yang ada. Pemanfaatan tari
dikemas berdasarkan kemasan wisata berlatar belakang pada
kondisi geografis, kondisi budaya akar budayanya menjadi kunci
kemasan wisata tersebut dipentaskan. Alasan tari dipentaskan
berdasarkan kondisi geografis dan akar budaya masyarakatnya
dengan tujuan bahwa masyaraklat tetap masih memiliki kemasan
wisata tari yang ada. Oleh sebab itu, tari yang biasanya dikemas
seadanya dipoleh dengan menggunakan spotlight, dan
diperkenalkan eyeshedow, serta dalam bentuk genre.
Untuk tari tradisional kerajaan yang akrab dengan
kecanggihan, kemapanan, tradisi yang dipegang sangat erat
untuk komoditas kepariwisataan digenre untuk pangsa pasar luar
negeri, dan penyajian di depan wisatawan. Dengan demikian
masalah kesempurnaan bentuk dan mode penyajian mengalami
perubahan. Pertunjukan semegah dan seagung di istana mungkin
banyak mengalami pergeseran. Garapan-garapan fastform demi
kebutuhan wisata menjadi tujuan untuk menjawab permasalahan
kondisi geografis dan kondisi budaya menjadi konsumsi publik
dipentaskan.
Penciptaan karya budaya selalu merupakan penciptaan
kembali apa yang telah dicapai dan diendapkan dalam tradisi
kebudayaan yang bersangkutan. Tidak ada kemungkinan lain
manusia sebagai makhluk yang menyejarah, masa lalu adalah
warisan dan masa kini adalah inisiatif yang digunakan untuk
memperbaharui. Dengan demikian masa depan bergantung
kepada karya budaya yang dilakukan pada saat ini. Oleh sebab
itu kita harus melakukan tindakan pada masa kini untuk
menyongsong masa datang agar memiliki corak dan ragam
budaya yang menjadi tidak punah.
Konsekuensi logis dari modernisasi adalah revolusi
industri. Cara ini memacu kemajuan teknologi yang berdampak
kepada memperpendek jarak hubung dan memperderas
komunikasi antar bangsa sehingga melahirkan kondisi saling
kebergantungan antar bangsa dalam semua aspek kehidupan.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI365
Seberapa tingkat adaptasinya masing-masing bangsa yang dapat
mengukur sesuai porsi dan kebutuhan yang seharusnya
dilakukan. Oleh sebab itu, internalisasi adaptasi budaya semakin
diperlukan untuk kebutuhan yang dikembangkan sebatas
ketercapaian yang diharapkan.
Keragaman etnik yang membawa kekayaan budaya tidak
ternilai harganya. Hal ini juga ikut menjadi corak ragam budaya
yang mempengaruhinya. Oleh sebab itu, dalam memberikan ciri
dan bentuk kemasan wisata dari etnik budayanya juga terjadi
keragaman yang tidak dapat dipungkiri. Dengan demikian corak
budaya dan ragam etnik yang ada menjadi bentuk kemasan
wisata yang dapat digunakan sebagai bentuk seni pertunjukan
yang dapat digunakan sebagai paket wisata daerah khususnya di
kota besar di Indonesia.
Di bawah ini beberapa kemasan wisata yang telah
menjadi trend dan ciri wajah seni tari produk wisata di beberapa
daerah di Indonesia. Oleh karena kondisi dan situasi yang tidak
memungkinkan tari pentas dalam kapasitas yang sebenarnya,
maka kemasan wisata daeri beberapa etnik di bawah ini telah
menjadi maskot yang telah diakui oleh beberapa pendukungnya
dalam komunitas yang sering dipentaskan antara lain adalah
sebagai berikut di bawah ini:
1. Bentuk seni pertunjukan Khas Betawi
Ada tiga jenis kemasan wisata yang dimiliki etnik Betawi
berdasarkan beberapa sumber terdiri dari Tari Kembang
Lambang Sari, Tari Ondel-ondel, dan Musik Gambang Kromong.
Pertunjukan tari dan musik ini telah memiliki ciri seni wisata yang
nilai jualnya telah diakui. Potensi Tari Kembang Lambang Sari
telah memiliki nilai jual dan nilai seni yang cukup memadai. Di sisi
lain, Tari Ondel-ondel dan Musik Gambang Kromong belaum
memiliki standar kualitas yang membanggakan, hal ini
disebabkan adanya kehidupan para pelaku seninya yang masih
belum memiliki standar kehidupan seperti yang diharapkan.
Jakarta sebagai sentra Metropolitan memiliki banyak
ragam budaya. Hal ini terjadi karena proses urbanisasi
masyarakat dari daerah ke Jakarta dengan membawa berbagai
budaya yang pada selanjutnya dikembangkan di Jakarta.
Dalam kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, banyak seni
tari yang berasal dari daerah dikembangkan di Jakarta melalui
pembinaan anak-generasi muda lewat sanggar tari sanggar tari.
Hal ini membawa dampak tumbuh mekarnya tari-tarian daerah
dapat berkembang di Jakarta. Oleh sebab itu Pemkot DKI melalui
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI366
dinas terkait mengkhususkan paket wisata melalui tari-tarian yang
telah lama berkembang di Jakarta yakni Topeng yang berciri
macam-macam.
Sumber Koleksi Chandra Alumni Jurusan Tari UNJ
Gb. 6.1 Tari Topeng Blantek
2. Bentuk Seni Pertunjukan Khas Jawa Barat
Bentuk seni pertunjukan di jawa barat ada empat jenis
kemasan wisata yang dimiliki terdiri dari Jaipongan, Breakpong,
Debus, dan Kacapi Suling. Dalam etnik Jawa Barat yang dikenal
Sunda berdasarkan sumber yang dipercaya, keempat bentuk seni
wisata tersebut memenuhi kualitas penciptaan yang diharapkan
namun nilai jual produk kemasan belum memenuhi standar
kualitas yang diharapkan. Pertunjukan tari dan musik yang
diproduksi daerah ini telah memiliki ciri seni wisata yang nilai
jualnya masih kurang dapat menunjang standar kehidupan pelaku
seninya. Potensi keempat produk wisata ini belum dapat
digunakan untuk memenuhi standar kualitas kehidupan yang
membanggakan bagi pelaku seni karena banyak aspek yang
harus ditopang terutama menyangkut pada penghargaan
pemerintah daerah, semakin menurunnya promosi wisata di
daerah Jawa barat, dan penghayatan budaya pelaku seni yang
kurang komitmen terhadap kualitas penghidupan secara merata,
sehingga job dan datangnya kontaks wisata menjadi pilihan untuk
semakin terserapnya produk wisata secara kunatitas untuk
menopang kehidupan sehari-hari bagi pelaku seninya.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI367
Sumber Koleksi Ojang Jurusan Tari UNJ
Gb. 6.2 Tari Topeng Cirebon
Sumber Chandra Alumni Jurusan Tari UNJ
Gb. 6.3 Tari Jaipongan
Potret Kemasan Tari Topeng Cirebon untuk wisata Kasunanan
(Gambar Atas)
Jaipongan untuk kalangan masyarakat luas (Gambar Bawah).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI368
3. Bentuk Seni Pertunjukan Khas Jawa Tengah
Bentuk seni pertunjukan di Jawa Tengah terdiri dari
Wayang Wong Barata, Sendratari Ramayana, Wayang Kulit, tari-
tari karya Bagong Kusudiharjo. Semua jenis pertunjukan tersebut
sudah memenuhi ciri karakteristik seni wisata yang
dipersyaratkan akan tetapi masalah kualitas nilai jual dan bentuk
seni wisata yang digunakan untuk memenuhi kualitas kehidupan
bagi pelaku seninya kurang sesuai harapan. Produk penciptaan
seni yang diharapkan belum mampu mendongkrak nilai jual
produk kemasan untuk memenuhi standar kualitas hidup yang
diharapkan.
Pertunjukan tari dan wayang yang diproduksi daerah ini
telah memiliki ciri seni wisata yang nilai jualnya masih kurang
dapat menunjang standar kehidupan pelaku seninya. Potensi
keempat produk wisata ini sudah dapat digunakan untuk
memenuhi standar kualitas penyajian wisata yang secara teknis
dapat disajikan dimanapun dan dalam waktu kapanpun.
Secara komoditas, standar penciptaan dan penjualan
produk seni wisatanya hanya Sendratari Ramayana saja yang
dapat digunakan untuk memenuhi penghidupan bagi pelaku
seninya. Hal ini terkait dengan bentuk wisata lain yakni wisata
Candi Prambanan di daerah Yogyakarta yang digunakan sebagai
basis komoditas produk ini dipentaskan.
Sumber Koleksi DepBUd PAr
Gb. 6.4 Tari Gambyong
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI369
Sumber Koleksi Chandra Alumni Jurusan Tari UNJ
Gb. 6.5 Tari Karonsih
Kemasan Tari Gambyong, Kemasan Wayang Orang, Musikal
Gamelan berbentuk Uyon-uyon
4. Bentuk Seni Pertunjukan Khas Jawa Timur
Ada dua seni kemasan pertunjukanwisata yang
representatif dijadikan kemasan wisata di Jawa Timur yakni Tari
Jejer Gandrung dan Jaran Goyang.
Tari Jejer Gandrung merupakan tarian selamat datang.
Pertunjukannya dilakukan pada upacara pernikahan, penerimaan
tamu terhormat, dan acara-acara di lokasi wisata diberbagai
belahan Jawa Timur. Pertunjukannya sangat menarik, singkat,
padat koreografis. Kemasan tarian ini sangat memungkinkan
untuk produk seni wisata, karena mudah dicerna, penonton dapat
merespons tarian tersebut secara mudah dan komunikatif.
Tari Jaran Goyang merupakan tarian kreasi baru yang
menggambarkan pria yang ditolah cintanya oleh seorang gadis.
Berkat aji pengasihan yang dimiliki berupa Jaran Goyang, gadis
tersebut dapat bertekuk lutut dan mau menerima cintanya.
Peristiwa pertunjukan tarian ini pada dasarnya dikemas
sesuai konsumsi seni wisata. Nilai jual dan nilai pemenuhan
penghidupan standar kualitas pelaku seni sedikit lebih baik
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI370
dibandingkan beberapa seni wisata di banyak daerah di wilayah
Indonesia. Dengan demikian nilai jual dan kualitas seni
kemasannya telah lebih baik dibandingkan seni wisata lainnya.
Sumber Koleksi Chandra Alumni Jur. Tari UNJ Sumber Koleksi Internet
Gb. 6.6 A Tari Jaranan Gb. 6.6 B Tari Ngremo (Jawatimuran/Banyuwangian)
Potret Kemasan Tari Bersih Desa dan Ngremo untuk kalangan masyarakat luas
di Jawa Timur dan turis asing (Gambar Atas Koleksi: Internet).
5. Bentuk Seni Pertunjukan Khas Bali
Dalam mengajukan beberapa seni wisata dari Pulau
Dewata ini, banyak tari-tarian dari Pulau Bali ini telah dikemas
sebagai kemasan wisata. Standar kualitas dan nilai jualnya cukup
representatif untuk digunakan memenuhi kualitas penghidupan
pelaku seninya. Tari Pendet, Tari Tenun, Tari Baris, Tari Rangde,
dan lain-lain telah diidentifikasi memenuhi standar kemasan.
Sasaran pementasan kemasan wisata tari-tarian di atas
telah dipentaskan di berbagai hotel, mal, lokasi wisata baik di Bali
maupun di berbagai daerah di Indonesia. Ada rumor yang
menyiratkan bahwa Bali merupakan representasi Indonesia.
Dengan kondisi tersebut sangat menguntungkan Bali, bahwa
secara eksplisit diakui bahwa Bali dikenal sebagai Indonesia.
Dilihat dari komoditas yang berkembang di pasar,
pertunjukan tari-tarian Bali lebih proporsional menjadi sandaran
pelaku seni yang membidangi tari-tarian bali dan konsteks nilai
jual dan nilai seninya telah banyak diakui oleh turis atau
wisatawan dari mancanegara.
Peristiwa pertunjukan tari-tarian dari Bali pada dasarnya
dikemas sesuai konsumsi seni wisata. Nilai jual untuk memenuhi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI371
standar kualitas pemenuhan penghidupan dalam rangka
memenuhi standar kualitas pelaku seni lebih diatas rata-rata lebih
baik dibandingkan beberapa seni wisata di banyak daerah di
wilayah Indonesia. Dengan demikian nilai jual dan kualitas seni
kemasannya telah lebih baik dibandingkan seni wisata lainnya.
Sumber Jurusan Tari UNJ
Gb. 6.7 Tari Margapati
Sumber Koleksi Chandra Alumni Jurusan Tari UNJ
Gb. 6.8 Tari Belibis
Potret Kemasan Tari Pendet dan Panji Semirang untuk kalangan
masyarakat luas Penari Etnik Jepang.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI372
6. Bentuk Seni Pertunjukan Khas Sumatra Barat
Dilihat dari komoditas yang telah dikembangkan di
Sumatra Barat dalam hubungannya dengan kemasan wisata
yang ada dan berkembang di pasar adalah pertunjukan Tari
Piring dan Tari Rantak Kudo lebih proporsional menjadi standar
kualitas nilai seninya, kedua tari tersebut telah banyak diakui oleh
banyak kalangan bahwa tari-tarian tersebut memenuhi standar
kualitas nilai seni dan kuantitas pengakuan dari turis atau
wisatawan dari mancanegara. Para wisman apabila disuguhi
tari0tarian tersebut terutama di wilayah Minangkabau, merasa
menjadi bagian dari tatanan di dalamnya. Pementasan yang
berdurasi singkat, menarik, dan memenuhi harapan diakui
sebagai kemasan wisata yang dapat menjadi ciri dan corak
ragam budaya Minangkabau.
Pertunjukan tari-tarian dari Sumatra Barat pada dikemas
sesuai konsumsi produk seni wisata. Nilai jual ke dua tarian ini
mampu memenuhi standar kualitas pemenuhan penghidupan
pelaku seni terutama dalam rangka memenuhi standar kualitas
kehidupannya. Dengan demikian nilai jual dan kualitas seni
kemasannya mampu digunakan sebagai maskot wisata
Minangkabau secara proporsional.
Sumber Jurusan Tari UNJ
Gb. 6.9 Tari Randai
Potret Kemasan Tari Piring dan tari Rantak Kudo, Randai untuk
kalangan turis Lokal dan Asing Etnik Minang
(Gambar Atas Koleksi: E Yetty Jurusan Tari.).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI373
7. Bentuk Seni Pertunjukan Khas Sumatra Utara
Komoditas Tari Tor-tor yang berkembang di pasar mampu
digunakan sebagai seni pertunjukan wisata di daerah Sumatra
Utara. Tari-tarian asal Sumatra Utara berkiblat pada Tari Tor-tor.
Tarian ini secara proporsional menjadi sandaran pelaku seni yang
membidangi tari-tarian Sumatra Utara. Konsteks nilai jual dan
nilai seninya telah banyak diakui oleh turis atau wisatawan dari
manca negara yang berkunjung dan menikmati wisata seni di
Sumatra Utara.
Pertunjukan Tari Tor-tor dari Sumut dikemas padat,
singkat, dan menarik sesuai konsumsi seni wisata. Nilai jual untuk
memenuhi standar kualitas pemenuhan penghidupan dan nilai
jual belinya masih dibawah standar kualitas yang diharapkan.
Upaya memenuhi standar kualitas pelaku seni masih terasa jauh
dari harapan. Dengan demikian untuk menjadi sandaran bagi
pelaku seni dan produk wisata di Indonesia secara maksimal
masih perlu penangangan serius dalam upaya peningkatan agar
seperti seni wisata lainnya di Indonesia.
Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 6.13 A Tari Gundala-gundala Gb.6.13B Tor-tor
8. Bentuk Seni Pertunjukan Khas Aceh
Dilihat dari komoditas yang berkembang di pasar,
pertunjukan tari-tarian Aceh berada nomor dua pengakuannya
untuk seni wisata Indonesia setelah Bali. Aceh lebih proporsional
menjadi bagian dari Indonesia menyangkut wisata seninya karena
harus dan patut diakui bahwa Tari Saman, Tari Saudati menjadi
maskon tari-tarian Indonesia bagi wisatawan mancanegara.
Upaya peningkatan atas sandaran hidup bagi pelaku seni tari-
tarian Aceh cukup significan bagi yang membidangi tari-tarian
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI374
Aceh. Konsteks nilai jual dan nilai seninya telah banyak diakui
oleh turis atau wisatawan dari manca negara bahwa Tari Saman
dan Tari Saudati yang terrenal dinamis, atraktif, dan penuh imej
menjadikan artistiknya tari tersebut semakin diminati oleh
wisatawan untuk selalu menikmati tarian diberbagai acara, waktu,
dan kebutuhan hajad yang mampu dielaborasikan oleh tari-tarian
tersebut.
Peristiwa pertunjukan kedua tarian Aceh tersebut pada
dasarnya cocok sebagai konsumsi seni wisata. Nilai jual dalam
rangka memenuhi standar kualitas pelaku seni cukup
menjanjikan. Dengan demikian nilai jual dan kualitas seni
kemasannya mampu menjamin pelaku seni menekuni seni
kemasan wisata tersebut sebagai sandaran hidupnya.
Sumber Koleksi Pribadi
Gb. 6.11-612 Motif gerak Tari Saman
Gambar Koleksi Jurusan tari
Sumber Majalah Myung Hui
Gb. 6.13 Tari Saudati
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI375
B. Standarisasi Kepenarian
Dalam sejarah perkembangan tari, mempelajari teknik tari
merupakan langkah awal seorang penari dalam belajar tari.
Dalam berbagai keadaan, mempelajari seni tari baik tradisi
maupun nontradisi banyak membantu keterampilannya terutama
untuk menjadi penari, sehingga bentuk tari apapun yang
diperagakan harus dapat dikuasai dengan baik.
Selanjutnya, sikap profesional penguasaan teknik tari
bentuk tari-tarian Nusantara yang dipelajari harus dapat dikuasai
secara sempurna, sehingga keprofesionalannya menjadi bagian
penting dalam kehidupan yang bersangkutan. Ditinjau secara
kenyataan, kemampuan dan keterampilan memperagakan tari
berdasarkan pada tingkat kesulitan melakukan gerak, adaptasi
budaya tarian tersebut dan kesanggupan melakukan pendekatan
budayanya menjadi indikator pemahaman spesifikasi tarian dalam
kaitannya dengan wiraga, wirama dan wirasa tari.
Profesionalisme yang bersangkutan dapat tercermin secara jelas
oleh penari pada saat memperagakan tari secara terampil dan
luwes.
Faktor kepenarian yang berkembang dewasa ini, telah
dirujuk menjadi salah satu bentuk kompetensi tari. Sikap
profesional dalam menunjukan kemampuan menari yang diberi
judul standarisasi kepenarian. Beberapa kompentensi
mengenai profesional kepenarian yang telah distandarisasi
dinyatakan dalam tahapan kemampuan menari secara
profesional yang dapat ditunjukan oleh seseorang yang telah
menduduki level profesional dalam jenis tari mancadaerah di
Indonesia.
Tahap-tahap akreditasi telah ditetapkan, secara aklamasi
disetujui bahwa bentuk performa kepenarian yang telah
dilaksanakan di bawah ini ada beberapa tarian dari mancadaerah
di Indonesia yang mendapat sertifikasi pada masing-masing
daerah dengan melalui tahap-tahap penyusunan kompetensi,
penetapan profesionalisme, seminar daerah, seminar nasional
hingga ditetapkan menjadi level kepenarian maka daerah yang
telah mendapat standarisasi kepenarian berhubungan dengan
beberapa tarian dan jenis tari yang disertifikasikan terdiri dari
beberapa daerah adalah sebagai berikut dapat disebutkan di
bawah ini.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI376
No Daerah Tingkat I Tingkat II Tingkat III/IV Profesional
1 Yogyakarta Pemula Muda Madya Keempuan
2 Surakarta Pemula Muda Madya Keempuan
3 Bali Pemula Muda Madya Keempuan
4 Sunda Pemula Terampil Mahir Keempuan
5 JaTim Pemula Terampil Mahir Keempuan
6 SumBar Tagak- Ukua Padang Raso-Pareso
Tagun JoJangko Kutiko
Garak-garik
7 Sulawesi Pinangka Pinangka Pinangka Pinangka Pa
Rao Talu
C. Sandar Kompetensi
Pada daerah lain di Indonesia masih banyak daerah yang
belum digali dan dilakukan klarifikasi. Berbagai kemungkinan
yang ada, standar yang dikembangkan untuk daerah lain di
Indonesia menunggu rekomendasi yang harus dilakukan secara
lebih lanjut terutama menyangkut eksisnya tarian dalam
hubungan standar kepenarian yang diharapkan.
Dengan demikian perlu digali kemungkinan dan celah
yang harus dipersiapkan yang dapat dicari menyangkut standar
kepenarian yang akan dibakukan. Unsur yang dapat digali secara
mendalam dan standar ukur yang dapat diterapkan hubungannya
dengan tingkat kemampuan dan profesional kepenarian masing-
masing wilayah secara proporsional untuk menjadi bahan
pekerjaan yang dipertimbangkan.
Sebagai apresiasi tentang standar kepenarian yang telah
dikembangkan dari beberapa daerah di bawah ini dikemukakan
standar kepenarian yang dapat dicontohkan:
1. Unit Kompetensi : Kode dan nomor urut tarian dalam
standar kepenarian,
2. Judul Unit : Nama Tari
3. Deskripsi Unit : Kriteria tari yang diujikan dan bentuk
tarinya
4. Elemen Tari : Idikator pengujian kompetensi
5. Syaratan Unjuk Kerja: Ketentuan yang harus dipenuhi untuk
melakukan uji,
6. Panduan Penilaian: Ketentuan diuji, Aspek Kritis jadi
pedoman utama
7. Kompetensi Kunci:Telah ditetapkan dalam standar
kepenarian,
8. Level : Uji diterminasi dalam level kepenarian
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI377
1. Standar Kompetensi Kepenarian Tari Jawa Surakarta
Kode Unit: SKA.TPI.001(1)A
Judul Unit: Menarikan Tayungan (Rantaya) PutriTingkat 1/Pemula
Uraian Unit Tari Tayungan (Rantaya) Putri adalah tari tunggal putri yang
memiliki perbendaharaan gerak yang lengkap sebagai dasar
untuk dapat menarikan tari putri tunggal gaya Surrakarta dengan
penguasaan unsur wiraga, yang telah didukung oleh pemahaman
wirama dan wirasa dalam kadar yang masih ringan
Sub Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja
Menarikan Rantaya Putri 1. Diperagakannya secara tepat dan benar pola-pola
Mampu menarikan Tayungan gerak tayungan (Rantaya) putri :
(Rantaya)Putri 1. trapsilantaya
2. sembahan sila
3. sembahan jengkeng, tancep
4. sabetan
5. lumaksana lembehan kanan
6. negigel
7. lumaksana nayung
8. lumaksana ridong sampur
9. sindet kiri
10. lumaksana ukel karna
11. ombak banyu srisig
12. sekaran laras sawit
13. sekaran lembehan
14. sekaran engkyek
15. nikelwarti
Persyaratan Unjuk Kerja:
1. Tersedianya ruangan yang cukup luas untuk menari, biasanya tayungan putri
dilakukan dengan mengitari ruangan yang luas atau pendhapa
2. Iringan untuk menari telah dipersiapkan dengan baik, dalam bentuk rekaman audio
atau iringan gamelan secara langsung (live)
3. Busana tari yang diperlukan biasanya menggunakan kain serta sampur
Acuan Penilaian :
1. Dalam menarikan tayungan putri dituntut wiraga yang berkaitan dengan sikap dasar
tari (adeg) dan sikap laku tari (patrap) serta dapat melakukan teknik-teknik gerak,
baik teknik gerak kaki, tubuhm tangan, dan kepala, serta pandangan mata (polatan)
secara tepat
2. Dalam melakukan tari juga diperlukan pemahaman irama gerak dengan irama
iringan atau karawitan tari yang sesuai sehingaga dapat melakukan seleh gerak
sesuai dengan seleh gendhing
3. Dalam menari perlu pula menghayati karakteristik ragam-ragam gerak tari sesuai
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI378
dengan irama gendhing dan karakter tari yang dilakukan
4. Hafal susunan ragam-ragam gerak tari yang dibawakan baik dalam bentuk maupun
dalam teknik serta menghayati ragam-ragam gerak tari dalam kadar yang ringan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI379
Kode Unit: SKA.TPI.002(1)
Judul Unit: Menarikan Tari Kukila Tingkat 1/Pemula
Uraian Unit Tari Kukila adalah tari tunggal putri yang memiliki perbendaharaan
gerak yang menggambarkan gerak-gerak binatang dalam hal ini
burung Kukila yang lincah, gerak-gerak itu merupakan gerak
representataif (wadhag), dengan penguasaan unsur wiraga, yang
telah didukung oleh unsur wirama dan wirasa dalam kadar yang
ringan
Sub Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja
Menarikan Kukila 1. Diperagakannya secara tepat dan benar pola-pola
1. Mampu menarikan bagian gerak:
Maju Beksan (Iringan 1.1 srisig
Lancaran Rena-Rena) 1.2 ulap=ulap tawing kiri-kanan
1.3 ulap-ulap tawing kanan-kiri
2. Mampu menarian Bagian
Beksan I (Iringan Irama II) 2. Diperagakannya secara tepat dan benar pola-pola
gerak:
2.1 asta rimang, nacah, srisig
2.2 kebyok kanan, menthong srisig mundur
2.3 srampang, tawing kanan, srisig dilanjtukan
tawing kiri, lembehan 2x, srisig
2.4 agem Bali kiri-kanan, menthong mundur
2.5 srisig nacah ngusap cucuk 4x
2.6 malangkerik lenggut 3x, srisig
2.7 lampah sunda
2.8 ngelus cucuk gedheg 4x
2.9 rimong, entrakan 4x
3. Mampu menarian Bagian 2.10 nacah tawing lenggut 2x, srisig
Beksan II (Iringan
Lancaran) 3. Diperagakannya secara tepat dan benar pola-pola
gerak:
3.1 srisig samberan (kebyok-kebyok)
3.2 srisig maju
3.3 srampang mundur
3.4 srisig kanan, srisig kiri, seling mecut 3x, srisig
kanan
Persyaratan Unjuk Kerja:
1. Tersedianya arena pentas yang cukup luas untuk manri, mengingat gerak yang
dilakukan lebih banyak pada gerak-gerak berpindah tempat
2. Tersedianya gendhing iringan tari yang digunakan baik dalam bentuk rekaman kset
atau CD yang disiapkan untuk mengiringi tari ini
3. Menggunakan busana Tari Kukila yang didisain tidak menganggu gerak penari serta
untuk mendukung karakter tari
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI380
Acuan Penilaian :
1. Dalam menari Tari Kukila masih menekankan pada unsur wiraga yang lebih menunjuki
pada penguasaan bentuk dan teknik, terutama ketepatan melakukan teknik-teknik
gerak, baik teknik gerak kaki, tubuh, tangan, dan kepala, serta pandangan mata
(polatan)
2. Dalam hal wirama menekankan pada ketepatan melakukan irama gerak dengan irama
iringan atau karawitan tari atau ketepatan melakukan seleh gerak sesuai dengan seleh
gendhing
3. Wirasa yang ingin dicapai adalah gerak-gerak burung Kukila yang lincah melalui
penghayatan karakteristik ragam-ragam gerak tari sesuai dengan irama gendhing dan
karakter Tari Kukila
4. Hafal seluruh pola gerak dan melakukannya secara urut sesuai dengan susunanTari
Kukila
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI381
Kode Unit: SKA.TPG.003(3)A
Judul Unit: Menarikan Tari Klana Topeng Tingkat 3/Madya
Uraian Unit Tari Klana Topeng adalah tari tunggal putra gagah yang
memerankan tokoh Klana Sewandana yang menggunakan poperti
topeng memiliki ragam gerak sangat kaya, juga berbagai variasi
suasana, termasuk karawtian tarinya. Pada tingkat ini berkaitan
dengan penguasaan Hastha Sawanda serta memenuhi konsep
sengguh, mungguh, dan lungguh
Sub Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja
Menarikan Klana Topeng 1. Dihayati dan dijiwainya pola-pola gerak
1. Mampu menarikan Bagian 1.1. jengkeng
Maju Beksan 1.2. nikelwarti
(Gend.Bendrong Laras 1.3. sembahan
Pelog Pathet Nem)
2. Mampu menarikan Bagian 2. :Dihayati dan dijiwainya pola-pola gerak
2.1. ambil topeng, berdiri, memaki topeng, pacak
Maju Gawang
(Gend.Laiwung Laras jangga
Pelog Pathet Nem) 2.2. ulap-ulap kiri, trecet, obah bahu, pacak jangga
2.3. lumaksana 4x, besut, tanjak miring kanan
2.4. seblak sampur kiri ulap-ulap kiri
2.5. glebag kanan kebyok sampur kanan, kiri
kebyok
2.6. ulap-ulap kiri, trecet, obah bahu, pacak jangga
2.7. lumaksana ombak banyu, srisig, besut, tanjak
kanan
3. Mampu Menarikan Bagian 3. Dihayati dan dijiwainya pola-pola gerak :
3.1. kedua tangan malangkerik, ogek lambung
Beksan (Gend.Pucung
Rubuh Laras Pelog Pathet 3.2. ukel miwir busana, genjot
Nem)(Gend.Bendrang 3.3. mlintir brengos 3x, ngracik, genjot, tanjak
kanan
Laras Pelog Pathet Nem)
3.4. lumaksana 3x, besut, tanjak
3.5. ogek lambung, genjot
3.6. sabetan, pondhongan, besut, tanjak
3.7. lumaksana malangkerik
3.8. pondhongan, besut, menthang kiri
3.9. ogekan, besut, lumaksana
3.10. besut, tanjak bapang, kebat nogowangsul
3.11. bopongan, lumaksana jajag, ombak banyu,
besut, tanjak
4. Mampu menarikan Bagian 4. Dihayati dan dijiwainya pola-pola gerak :
Kiprahan (Gend.Bendrong 4.1. ogek lambung, ngigel jangga, entragan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI382
Laras Pelog Pathet Nem) 4.2. trap jamang, lombo ngracik, entragan
4.3. ngelus bara, entragan
4.4. tumpang tali, ngracik, entragan
4.5. ngracut, ulap-ulap kanan, pondhongan maju,
srisig mundur, besut tancep
5. Mampu menarikan Bagian 5. Dihayati dan dijiwainya pola-pola gerak :
Gambyongan (Gend. 5.1. Kengser, panggel, batangan
Eling-Eling Laras Pelog 5.2. Ogekan lambung, tawing, kengser ukel karna
Pathet Nem) 5.3. Laku telu, nacah
5.4. Kebyok, srisig, tanjak
5.5. Entragan kanan, ulap-ulap kiri, nubruk
5.6. Lampah mundur, besut tanjak, entragan
5.7. Pondhongan maju, mundur, besut, tancep
6. Mampu menarikan Bagian 6. Dihayati dan dijiwainya pola-pola gerak :
Mundur Gawangn 6.1. Kirig, capeng, cancut
(Sampak Laras Pelog 6.2. Ombak banyu, srisig, besut tanjak
Pathet Nem) 6.3. Nikelwarti, jengkeng
6.4. Sembahan, gedheg
Persyaratan Unjuk Kerja:
1. Tersedianya arena pentas atau ruangan yang digunakan untuk menari
2. Tersedianya gendhing iringan tari yang digunakan, baik rekaman kaset atau CD
atau penyajian gamelan secara langsung (live)
3. Tersedianya peralatan yang penting yaitu: topeng dengan bantuk tertentu sesuai
dengan karakter perannya
4. Tersedianya dan dipakainya busana dan rias Tari Klana Topeng untuk mendukung
karakter tari yang disajikan
Acuan Penilaian :
1. Ketepatan melakukan teknik-teknik gerak, baik teknik gerak tubuh, tungkai, kaki,
tangan dan kepala
2. Ketepatan melakukan teknik gerak kaki untuk perlaihan gerak dan berpindah
tempat
3. Ketepatan melakukan arah pandangan mata (polatan)
4. Harmonisasi antara gerak penari dengan iringan musik
5. Keluwesan gerak yang dilakukan secara mengalir dan alus
6. Pengembangan variasi gerak sebagai ekspresi diri penari yang sesuai dengan
karakter yang diperagakan
7. Penguasan terhadap irama gerak dengan iringan atau karawatian tari
8. Penguasaan melakukan seleh gerak sesuai dengan seleh gendhing
9. Memiliki kemampuan dalam menggarap ruang, pola lantai, dan gawang sehingga
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI383
pertunjukan tarinya terasa lebih hidup
10. Memiliki kemampuan menginterpretasikan karakter tari yang disajikan dan
menerapkannya dalam pertunjukan tari
11. Menjiwai secara menyeluruh karakter tari yang disajikan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI384
Kode Unit: SKA.BPA.002(2)A
Judul Unit: Menarikan Tari Karna Tinandhing Tingkat 2/Muda
Uraian Unit Tari Karna Tinandhing adalah tari berpasangan putra alus bertema
keprajuritan yang menampilkan karakter satriya dan konflik serta
perang yaitu arjuna dan Adipati Karna, menggunakan properti
dhadhap, keris gendewa dan anak panah dengan penguasaan
kemampuan tari sesuai dengan kriteria Hastha Sawanda
Sub Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja
Menarikan Tari Karna 1. Diperagakan dengan luwes, selaras, dan mengalir
Tinandhing pola-pola gerak:
1. Mampu menarikan Bagian 1.1. trapsila, sembahan sila
Maju Beksan (Slepengan 1.2. jengkeng, sembahan, pacak gulu
Slendro Sanga) 1.3. sabetan tanjak sawega dhadhap (pada posisi
berdiri)
1.4. lumaksana bambangan
1.5. ombak banyu, srisig tawing dhadhap
(berpindah ke gawang utama)
1.6. kebyok kiri, nikerlawarti (seleh dhadhap),
ngebyok sampur, gedheg, sila
2. Mampu menarikan Bagian 2. Diperagakan dengan luwes, selaras, dan mengalir
Beksan I (Gendhing pola-pola gerak:
2.1. silantaya, sembahan disertai gedheg, menjadi
Gandakusumo Sl.Sanga)
jengkeng
2.2. sembahan laras
2.3. besut, tanjak kanan sawega dhadhap (pada
posisi berdiri)
2.4. ngigel penthangan asta menjadi adu lawan
atau berhadapan
2.5. tanjak kanan tawing kanan, ngleyek, ogek
lambung
2.6. tawing kiri, menthang kiri, nglerek mangering
ngembat kiri
2.7. kebyok kiri, (adu kiri), besut (adu kanan),
tanjak panggah kanan
2.8. hoyog, ngembat, besut, kicat 4x, ebat ngiris,
tempe, srisig
2.9. besut – tanjak panggah (gawang prapatan),
loyog ngembat seblak asta, penari adu kiri
pada gawang prapatans
3. Mampu menarikan Bagian 3. Diperagakan dengan luwes, selaras, dan mengalir
pola-pola gerak:
Beksan (Ldr. Clunthang
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI385
SL.Sanga) 3.1. hoyog genjotan, srisig mundur ngigel, ukel
leyekan
3.2. ngunus dhuwung – tanjak panggah kiri, tanjak
panggah kanan
3.3. nyabet – besut, giyul – pacak jangga
3.4. besut – tanjak kanan, sawega dhuwung, srisig
(adu kiri)
3.5. tanjak panggah kiri, lengseran saling
mendorong ke kanan dan ke kiri dan saling
menusuk dan menangkis
3.6. tawing kiri sawega dhuwung, giyul, mrenjak,
nampa, ebat naga wangsul, ebat ngancap
3.7. tanjak panggah kiri, hoyog, tanjak panggah
kanan
3.8. nyabet – besut, tanjak tancep kanan sawega
dhuwung
4. Mampu menarikan Bagian 4. Diperagakan dengan luwes, selaras, dan mengalir
pola-pola gerak:
Perangan (Slepengan
Sl.Sanga) 4.1. sabetan, tanjak sawega dhuwung adu kanan,
srisig (adu kiri)
4.2. sudukan: tusuk, tangkis, saling mengejar dan
dikejar, srisig ke gawang semula
4.3. tanjak – ebat ngancap, tanjak panggah kiri
4.4. sudukan tangkisan dhadhap, menjadi lengser
ke kanan
4.5. tanjak kanan sawega (memasukkan keris ke
dalam rangkanya)
4.6. nikerlwarti (melatakkan dhadhap dan
mengambil gendewa)
4.7. ngunus panah – ngancap, ngembat dan
melepas anak panah
4.8. kengser, dn tanjak kiri, nikelwarti
5. Mampu menarikan Bagian 5. Diperagakan dengan luwes, selaras, dan mengalir
Mundur Beksan (Sampak pola-pola gerak:
SL.Sanga) 5.1. trapsila, ulap-ulap tawing
5.2. sabetan, tanjak
5.3. lumaksana ridong sampur
5.4. besut, srisig, kebyok kiri, nikelwarti, seleh
gendewa
5.5. trapsila, sembahan sila, sembahan jengkeng
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI386
5.6. sabetan, tanjak kanan
5.7. srisig, besut, tanjak panggah
5.8. nikelwarti - gedheg
Persyaratan Unjuk Kerja:
1. Adanya penari putra alus sebagai pasangan
2. Tersedianya ruangan yang cukup luas untuk menari, mengingat tari ini merupakan
tari berpasangan yang dalam geraknya ditampilkan gerak perang, kengseran dan
srisigan maka dibutuhkan ruangan kurang lebih 6 x 8 meter
3. Tersedianya seperangkat gamelan laras Slendro dengan para pengrawit yang
terampil untuk menabuh gamelan atau kaset atau CD rekaman iringan Tari Karna
Tinanding
4. Tersedianya properti yang dibutuhkan dalam menari yaitu dhadhap, keris, dan anak
panah
5. Tersedia dan dipakainya busana dan rias Tari Karna Tinanding untuk mendukung
karakter tari yang disajikan
Acuan Penilaian :
1. Ketepatan dalam melakukan bentuk dasar atau pola dasar dan kualitas sesuai
dengan karakter tari yang dibawakan
2. Ketepatan dalam melakukan gerak peralihan yang diperhitungkan secara cermat,
terutama mengenai gerak tungkai dan ujung kaki dalam berpindah tempat
3. Ketepatan melakukan pandangan mata atau ekspresi wajah sesuai dengan
kualitas, karakter peran yang dibawakan, serta suasana yang dicapai
4. Keharmonisan hubungan antara penari dengan gerak dan irama gendhing,
sehingga gerak yang dilakukan mengalir seakan-akan tidak dipikirkan, sehingga
tampak keutuhan antara gerak tari, iringan tari dan karakter tari yang diwujudkan
5. Keluwesan atau kualitas gerak yang sesuai dengan bentuk dan karakter tari yang
disajikan, mampu atau terampil bergerak sempurna
6. garap variasi gerak yang dikemabngkan berdasarkan kemampuan dan interpretasi
penarinya menjadi gerak yang khas
7. Ketepatan menafsirkan dan melakukan gerak dan iringan tari dan alur tari secara
keseluruhan
8. Ketepatan menafsirkan rasa gendhing terutama yang berkaitan seleh gendhing,
pola tabuhan, rasa lagu, irama, tempo, rasa seleh,dan kalimat lagu
9. Menguasai garap ruang dan pola lantai sesuai dengan tari yang disajikan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI387
2. Standar Kompetensi Kepenarian Tari Bali
Kode Unit: BAL.TPK.001(1)A
Judul Unit: Memperagakan Sikap Tubuh dan Gerak-Gerak Dasar Tingkat
1/Pemula
Uraian Unit Peragaan Sikap Tubuh dan Gerak-Gerak Dasar ini sangat dibuthkan
dalam menarikan semua tari putra, baik yang berkarakter keras
maupun manis. Seseorang yang telah hafal dan dapat melakukan
sikap tubuh dan gerak-gerak dasar ini, dengan baik dan benar, akan
bisa menarikan tari Bali putra dengan baik
Sub Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja
Memperagakan Sikap Tubuh 1. Dapat dilakukannya dengan benar siakp-sikap dasar
dan Gerak-gerak Dasar Tari Bali putra yang meliputi:
1. Mampu memperagakan 1.1. posisi kaki
Bagian Sikap Dasar Tari 1.1.1 tapak sirang
Bali Putra 1.1.2 kembang kanan
1.1.3 agem kanan
1.1.4 agem kiri
1.1.5 jari kaki ditekuk ke atas
1.2. sikap badan
1.2.1 perut dikempiskan/dikencangkan
1.2.2 dada dibusungkan/ditekan ke atas
1.3. posisi tangan
1.3.1 posisi tangan agem kanan
1.3.2 posisi tangan agem kiri
1.3.3 telapak tangan dan jari tangan ditekuk
kebelakang
1.4. posisi kepala
1.4.1 posisi kepala tegak
1.4.2 pandangan lurus ke depan atau nuek
1.5. sikap mata
1.5.1 biasa atau normal
1.5.2 terbuka lebar (nelik atau nyelik
1.5.3 terbuka biasa dengan pandangan tajam
(nyureng)
1.5.4 terbuka lebar dan berputar-putar (dileh-dileh)
2. Mampu memperagakan 2. Dapat dilakukannya gerak-gerak dasar untuk
Bagian Gerak-gerak 2.1. kaki
Dasar 2.1.1 majalan tindak-tindak
2.1.2 goyal-goyal
2.1.3 malpal
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI388
2.1.4 milpil
2.1.5 nyaregseg
2.1.6 nyigcig/ngicig
2.1.7 miles dan ngiser
2.1.8 glatik mapah
2.1.9 nyilat
2.1.10 nglangsut
2.1.11 nayog
2.1.12 makirig udang
2.2. tangan
2.2.1 girahan
2.2.2 ngeletik
2.2.3 ulap-ulap
2.2.4 nuding
2.2.5 nabdab karna
2.2.6 nabdab gelung
2.2.7 nabdab pinggel
2.2.8 nepuk dada
2.2.9 nyigug
2.3. leher
2.3.1 kipekan
2.3.2 gulu wangsul
2.3.3 nyegut
2.3.4 ngileg
2.4. gerakan mata
2.4.1 nyaledet
2.4.2 nyarere
2.4.3 ngaliyer
2.4.4 nyureng
2.4.5 mendra
2.4.6 nguler
3. Dapat dilakukan dengan banar gerak-gerak
3. Mampu memperagakan Agem/ngagem
Bagian Ragam-ragam 3.1 Agem pokok
Gerak Dasar 3.1.1 agem kanan dan agem kiri
3.1.2 ulap-ulap, agem wula ngawa sari, ngraja
singa, ngembat, mentang laras, nepuk
dada, nyigug, dan ngrajeg
3.2 tandang
3.2.1 dapat dilakukannya gerakan berjalan biasa
(majalan), berjalan pelan mengayun
(gayal-gayal),berjalan cepat dan berat
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI389
(malpal), berjalan cepat dan ringan (milpil),
melangkah dengan ceat ke samping dalam
langkah pendek-pendek atau nyaregseg,
berlari ringan dengan langkah tidak
beraturan (nyigcig/ngicig)
3.2.2 bisa diragakannya berbagai kombinasi
gerak seperti glatik mapah, nyilat,
nglangsut, nayog, makiring udang
3.3 tangkis
Dapat dilakukannya variasi gerakan tangan
nabdab karna, nabdab gelung, nabdab pinggel,
nepuk dada, nyigug dan ngombak
3.4 tangkep
bisa diperlihatkannya ekspresi muka senang,
(makenyem/makenyung), marah (nyelik/nelik), terkejut
(makesiab), sedih (sedih), jatuh cinta (ngaras), nyarere
Persyaratan Unjuk Kerja:
1. Ada ruangan yang mencukupi (4 m x 4m) untuk memperagakan tarian ini
2. Tersedianya musik iringan, baik dalam bentuk rekaman maupun gamelan hidup
Acuan Penilaian :
1. Hafal dan dapat melakukan semua sikap tubuh serta gerak-gerak dasar tari Bali putra
yang dtelah diuraikan di atas, secara baik dan benar
2. Bisa melakukan semua sikap tubuh dan gerak-gerak dasar yang telah disebutkan di
atas sesuai dengan wiraga, wirama, wirasa serta dengan patokan agem, tandang,
tangkis dan tangkep tari Bali putra
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI390
Kode Unit: BAL.TPK.004(2)A
Judul Unit: Menarikan Tari Topeng Keras Tingkat 2/Muda
Uraian Unit Tari Topeng Keras adalah satu tarian putra (tunggal) memakai topeng,
dengan perbendaharaan gerak yang sederhana tetapi membutuhkan
kemampuan penari untuk menyesuaikan gerak dengan ekspresi
topeng. Tarian ini biasanya ditampilkan sebagai pembuka
(penglembar) dari pertunjukan drama tari topeng, dilakukan dengan
penekanan pada penguasaan terhadap jalinan wiraga dan wirama
yang didukung kesadasan dan kepahaman akan wirasa
Sub Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja
Menarikan Tari Topeng Keras 1. Diperagakan dengan elah tepat dan serasi ragam
1. Mampu menarikan Bagian gerak pokok yang ada pada bagian ini:
Mungkah lawang 1.1. Mungkah langse
1.1.1. ngagem
1.1.2. miles
1.1.3. nabdab kampuh
1.1.4. nyegut
1.1.5. ngangsel
1.2. ngeseh bawak
2. Mampu menarikan Bagian 2. Diperagakan dengan elah tepat dan serasi ragam
gerak pokok yang ada pada bagian ini:
Nayog
2.1. pajalan
2.2. pajaib
2.3. ngagem kana-kiri
2.3.1. nyeledet
2.3.2. ulap-ulap
2.3.3. nabdab gelung
2.3.4. nepuk dada
2.3.5. nyogok
3. Mampu menarikan Bagian 3. Diperagakan dengan elah tepat dan serasi ragam
gerak pokok yang ada pada bagian ini:
Ngopak lantang ngalih
3.1. ngelier
pajeng
3.2. malincer dengan langkah milpil
3.3. gelatik nuut papah
3.4. ngigelang pajeng
3.5. malpal
4. Mampu menarikan Bagian 4. Diperagakan dengan elah tepat dan serasi ragam
gerak pokok yang ada pada bagian ini:
Gayal-gayal
4.1 tindak-tindak
4.2 oyog-oyog
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI391
5. Mampu menarikan Bagian 5. Diperagakan dengan elah tepat dan serasi ragam
gerak pokok yang ada pada bagian ini:
Ngawjang
5.1 matetanganan
5.2 nyingsing kampuh
6. Mampu menarikan Bagian 6. Diperagakan dengan elah tepat dan serasi ragam
gerak pokok yang ada pada bagian ini:
Ngopak lantang
penyuwud 6.1 nulih kuri
6.2 nyaregseg
Persyaratan Unjuk Kerja:
1. Ada ruangan yang mencukupi (4 m x 4m) untuk memperagakan tarian ini
2. Tersedianya musik iringan, baik dalam bentuk rekaman maupun gamelan hidup
3. Ada busana Tari Topeng Keras, Topeng Dedeling yang akan dikenakan beserta
kebutuhan tata riasnya
Acuan Penilaian :
1. Kemampuan dan keterampilan dalam memakai tata rias (make-uup) dan tata busana
Tari Topeng Keras
2. Ketepatan dan keterampilan menarikan keenam bagian yang ada dalam struktur Tari
Topeng Keras (mungkah lawang, nayog, ngopak lantang ngalih pajeng, gayal-gayal,
ngawejang, dan ngopak lantang panyuwud)
3. Keterampilan dalam membawakan Tari Topeng Keras kesesuaiannya dengan
penguasaan jalinan wiraga dan wirama yang baik serta didukung pemahaman wirasa
sesuai dengan patokan agem, tandang dan tangkep
4. Keterampilan bergerak secara elah (ketepatan teknik dan kesesuaiannya dengan irama
musik iringan tari serta karakter topeng yang dipakai) dan penguasaanya di atas
pentas
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI392
Kode Unit: BAL.TPI.002(1)A
Judul Unit: Menarikan Tari Condong Legong Kraton Tingkat 1/Pemula
Uraian Unit Tari Condong Legong Kraton adalah sebuah tarian klasik Bali untuk
putri, yang memiliki perbendaharaan gerak yang lengkap dan rumit
yangsangat dibutuhkan untuk mendasari keterampilan dalam
melakukan semua tari putri dan bebancilan, dilakukan dengan
penekanan kemampuan pada penguasaan wiraga yang didukung
pemahaman/kesadaran akan wirama dan wirasa
Sub Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja
Menarikan Tari Condong 1. Dapat diperagakan dengan baik dan benar gerak-
Legong Kraton gerak:
1. Mampu menarikan Bagian 1.1. mungkah lawang
Pertama (Papesan) 1.2. ngagem
1.3. ngegol
1.4. ngelo
1.5. tangkep
1.6. ngenjet
1.7. ngenjet pala
2. Mampu menarikan Bagian 1.8. nyaregseg
Kedua Kidang rebut 2. Dapat diperagakan dengan baik dan benar gerak-
gerak:
muring/ngalih
pajeng/ngosok bunga 2.1. ngumbang
2.2. kidang rebut muring
3. Mampu menarikan Bagian
Ketiga Ngigelang kepet
3. Dapat diperagakan dengan baik dan benar gerak-
gerak:
3.1 nyemak kepet
3.2 mehbeh ngelilit
3.3 lelasan megat yeh
4. Mampu menarikan Bagian 3.4 ngepik
Keempat Petangkilan 3.5 ngumbang
4. Dapat diperagakan dengan baik dan benar gerak-
gerak:
4.1 ulap-ulap
4.2 ngenjet ngirig
4.3 ngumbang
Persyaratan Unjuk Kerja:
1. Ada ruangan yang mencukupi (4m x 4m) untuk memperagakan tarian ini
2. Tersedianya musik iringan baik dalam bentuk rekaman maupun gamelan hidup
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI393
3. Ada busana Tari Legong Kraton, kipas, beserta kebutuhan tata riasnya
Acuan Penilaian :
1. Kemampuan dan keterampilan dalam memakai tata rias (make-uup) dan tata busana
Tari Condong Legong Kraton
2. Ketepatan dan keterampilan menarikan keempat bagian yang ada dalam struktur Tari
Condong Legong Kraton (papeson, kidang rebut muring, ngigelang kepet, nangkil)
dengan ragam-ragam gerak yang ada pada Tari condong Legong Kraton
3. Keterampilan dalam membawakan Tari Condong Legong Kraton dengan wiraga dan
wirama yang benar serta didukung pemahaman wirasa sesuai dengan patokan agem,
tandang dan tangkep, juga pola keruangannya di atas pentas
4. Kemampuan menari sesuai pemahaman terhadap karakter condong dan struktur musik
Condong Legong Kraton
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI394
3. Standar Kompetensi Kepenarian Tari Jawa
Yogyakarta
YGY.TPI.002 (1) A
UNIT KOMPETENSI
Menarikan Tari Golek Tingkat /Pemula
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Tari Golek adalah tari yang merupakan bentuk repertoar tari tunggal yang pada dasarnya
didukung oleh satu orang penari, meskipun bias pula dibawakan lebih dari satu penari. Tarian ini
dilakukan dengan penguasaan wiraga gerak dan teknik gerak) yang telah dilengkapi dengan
unsure wirama (ketepatan irama) dan wirasa (penjiwaan) meskipun belum pada keluluhan yang
menyeluruh.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Menarikan tari Golek,
Mampu menarikan bagian Maju Beksan, Diperagakannya secara tepat gerak yang
digunakan dalam maju beksan tari Golek yaitu:
1. Sembahan silo.
2. Kapang-kapang encot,
3. Kicat cangkol udhet,
4. Nyamber kanan,
5. Sembahan jengkeng,
Mampu menarikan beksan pokok Diperagakannya secara tepat gerak yang
digunakan dalam beksan pokok tari Golek yaitu:
1. Sembahan silo,
2. Ngguddha kiri panjang,
3. Cathok udhet majeng mundur,
4. Muryani busana (Ulap-ulap, tasikan, atrap
jamang)
5. Lampah semang ngembat astha,
6. Nyamber kanan,
7. Kicat ngilo rangkep,
8. Kicat mandhe udhet ngarcik,
9. Lampah kipat udhet,
10. Lampah atur-atur,
11. Kengser,
12. Tinting,
13. Pendhapan,
14. Muryani busana (ukel astha, atrap
sumping, embat-embat),
15. Nggudha kiri,
16. Ongkek panggel,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI395
Diperagakannya dengan tepat gerak yang
Mampu menarikan bagian Mundur Beksan digunakan dalam mundur beksan tari Golek
yaitu:
1. Kapang-kapang encot,
2. Nyamber kanan,
3. Sendi mapan jengkeng,
4. Sembahan jengkeng,
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Untuk menunjukan tarian dibutuhkan ruang yang mencukupi(sekitar 9 X 12 M)
2. Adanya alat untuk memainkan musik (rekaman) kaset /CD yang bisa digunakan untuk untuk
mengiringi tarian, atau dengan seperangkat alat musik Gamelan lengkap yang dimainkan
secara langsung.
3. Tempat rias untuk penari memakai kostum lengkap (yang bisa dibebankan untuk dibawanya
sendiri atau disediakan dengan kelengkapan yang standar),
PANDUAN PENILAIAN
1. Tari Golek dapat dipertunjukan secara utuh dan lengkap dengan tat arias, busana dan iringan
,
2. Bisa memakai kostum tari dan atau kain, kebaya secara benar,
3. Bisa menunjukan peragaan yang tepat /hafalan dan teknik gerak dari sikap dan pola-pola
gerak Tari Golek,
4. Menunjukan pemahaman terhadap pola struktur iringan tari dan penguasaan ruang pentas,
5. tari Golek untuk tingkat I /pemula ini menitikberatkan pada penguasaan aspek wiraga, dimana
ketiga bagian di atas dapat ditarikan secara tepat dan benar sesuai dengan pola-pola gerak
yang telah ditetapkan, tetapi telah didukung oleh pemahaman wirama (ketepatan irama) dan
wirasa (penjiwaan yang berlaku bagi tarian ini.
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
2 1 1 1 1 1 1
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI396
YGY.TPI.002 (1) A
UNIT KOMPETENSI
Menarikan Tari Klana Alus Tingkat 2 /Muda
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Tari Klana Alus adalah bentuk repertoar tari tunggal putra yang secara representative
menampilkan tari pokok Kalangkinantang alus(kagok Kalangkinantang) engkrang, dan beberapa
variasi muryani busana. Tarian ini dilakukan dengan penguasaan wiraga gerak dan teknik gerak)
yang telah dilengkapi dengan unsure wirama (ketepatan irama) dan wirasa (penjiwaan) meskipun
belum pada keluluhan yang menyeluruh.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Menarikan tari Klana Alus,
Mampu menarikan bagian Maju Gendhing, Diperagakannya secara tepat gerak yang
digunakan dalam maju beksan tari Golek yaitu:
1. Sembahan silo dan jengkeng.
2. Sabetan,
3. Kalangkinantang Alus,
4. Ulap-ulap miring dan ulap-ulap methok
lamba ngracik,
5. Miling-miling lamba ngracik
6. Ethung-ethung lamba ngracik,
Mampu menarikan bagian Nglana Diperagakannya secara tepat gerak yang
digunakan dalam beksan pokok tari Golek yaitu:
1. Engkrang,
2. Keplok astha,
3. Usap rawis,
4. Miwir rekma,
5. Lembehan,
6. Atur-atur,
7. Menjangan Ranggah,
8. Sekar suwun,
9. Pendhapan,
10. Nyamber, Wedhi kengser
Diperagakannya dengan tepat gerak yang
Mampu menarikan bagian Mundur Gendhing digunakan dalam mundur beksan tari Golek
yaitu:
1. Ngilo,
2. Kagok kalangkinantang,
3. Tayungan miring,
4. Ombak banyu,
5. Nyandhak minger balik,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI397
6. Ukel jengkeng,
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Untuk menunjukan tarian dibutuhkan ruang yang mencukupi(sekitar 9 X 12 M)
2. Adanya alat untuk memainkan musik (rekaman) kaset /CD yang bisa digunakan untuk untuk
mengiringi tarian, atau dengan seperangkat alat musik Gamelan lengkap yang dimainkan
secara langsung.
3. Tempat rias untuk penari memakai kostum lengkap (yang bisa dibebankan untuk dibawanya
sendiri atau disediakan dengan kelengkapan yang standar),
PANDUAN PENILAIAN
1. Tari Klana Alus dapat dipertunjukan secara utuh dan lengkap dengan tat arias, busana dan
iringan ,
2. Bisa memakai kostum tari dan atau kain, kebaya secara benar,
3. Bisa menunjukan keluwesan dan keselarasan peragaan yang dari sikap dan pola-pola gerak
Tari Klana Alus,
4. Menunjukan pemahaman terhadap pola struktur iringan tari dan penguasaan ruang pentas,
5. Tari Klana Alus untuk tingkat 2 /Muda ini menitikberatkan pada penguasaan aspek wiraga,
dimana ketiga bagian di atas dapat ditarikan secara tepat dan benar sesuai dengan pola-pola
gerak yang telah ditetapkan, tetapi telah didukung oleh pemahaman wirama (ketepatan irama)
dan wirasa (penjiwaan yang berlaku bagi tarian ini.
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
2 2 2 2 2 2 1
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI398
YGY.TPI.002 (1) A
UNIT KOMPETENSI
Menarikan Tari Bedhaya Tingkat 3/Madya
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Tari Bedhaya adalah tari kelompok yang merupakan bentuk repertoar tari yang didukung oleh
sembilan orang penari dengan penguasaan wiraga (hafalan, teknik dan rasa gerak), wirama (rasa
ketepatan irama) dan wirasa (tanpa hambatan teknis) yang telah luluh dalam penghayatan dan
penjiwaan gerak.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Menarikan tari Bedhaya,
Mampu menarikan bagian Kapang-kapang Dihayati dan dijiwai gerak yang digunakan
dalam kapang-kapang maju menuju gawang
Maju,
tengah yang terdiri dari:
1.. Sembahan silo
2. NOleh mendhak,
3. Kapang-kapang,
Mampu menarikan bagian pokok Dihayati dan dijiwai gerak yang digunakan
dalam kapang-kapang maju menuju gawang
tengah yang terdiri dari
1. Sembahan silo,
2. Sembahan jengkeng,
3. Ngenceng,
4. Ngenceng enjot,
5. ngenceng jengkeng
6. Nggrudha jengkeng,
7. Impang encot,
8. Lembehan,
9. Samberan,
10. Tasikan mubeng,
11. Pendapan,
12. Pendhapan ngregem udhet,
13. Impang ngewer udhet,
14. Ukel astha,
15. Cathok udhet majeng mundur,
16. Ngancap,
17. Ngancap nyathok,
18. Kicat,
19. Kipat astha,
20. Jangkung miling,
21. Duduk wuluh,
22. Nglayang,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI400
Dihayati dan dijiwai gerak yang digunakan
Mampu menarikan bagian Kapang-kapang dalam kapang-kapang mundhur menuju
gawang tengah yang terdiri dari
Mundur
1. Sembahan silo,,
2. Noleh mendhak yang dilakukan sesuai
kebutuhan,
3. Kapang-kapangg,
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Delapan orang penari putrid sebagai kelengkapan jumlah pendukung tari,
2. Untuk menunjukan tarian dibutuhkan ruang yang mencukupi(sekitar 9 X 12 M)
3. Adanya alat untuk memainkan musik (rekaman) kaset /CD yang bisa digunakan untuk untuk
mengiringi tarian, atau dengan seperangkat alat musik Gamelan lengkap yang dimainkan
secara langsung.
4. Tempat rias untuk penari memakai kostum lengkap (yang bisa dibebankan untuk dibawanya
sendiri atau disediakan dengan kelengkapan yang standar),
PANDUAN PENILAIAN
1. Tari Bedhaya dapat dipertunjukan secara utuh dan lengkap dengan tat arias, busana dan
iringan ,
2. Bisa memakai kostum tari dan atau kain, kebaya secara benar,
3. Bisa menunjukan peragaan yang tepat /hafalan dan teknik gerak dari sikap dan pola-pola
gerak Tari Golek,
4. Menunjukan pemahaman terhadap pola struktur iringan tari dan penguasaan ruang pentas,
5. Tari Bedhaya untuk tingkat 3 /Madya ini sudah mencakup keseluruhan penguasaan ketiga
aspek wiraga, dimana ketiga bagian di atas dapat ditarikan secara tepat dan benar sesuai
dengan pola-pola gerak yang telah ditetapkan, tetapi telah didukung oleh pemahaman wirama
(ketepatan irama) dan wirasa (penjiwaan yang ditetapkan adaptasi dan interprestasinya.
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
3 3 3 3 3 3 3
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI401
4. Standar Kompetensi Kepenarian Tari Jawa Timuran
JAT. BAN.TPI.003 (2) A
UNIT KOMPETENSI
Menarikan Tari Jejer
Tingkat 2/Terampil
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Tari Jejer adalah bentuk tari tunggal putrid dengan gaya gerak tari Banyuwangian yang ritmis dan
dinamis menggunakan property kipas. Tarian ini dilakukan dengan penguasaan teknik gerak tari
dan hafalan (wiraga), ketepatan gerak dengan irama (wirama), dan pemahaman dan pennjiwaan
tari (wirasa) meskipun belum sampai pada tahap menyeluruh..
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Mampu menarikan tari Jejer. Diperagakan dengan baik ragam-ragam gerak
sebagai berikut:
Mampu menarikan bagian ragam Nyiji Kerep 1. Ngiwir/njimpit sampur,
2. Sagah kanan
3. Nipah/nantang sampur,
4. Ngiwig/nyirig,
5. Langkah papat,
6. Umbul sampur,
7. Liwungan/ngalang,
8. Singgitan/sindetan,
9. Ngijig,
10. Ngiji kerep menggok/laku kerep genjot egol,
Mampu meenarikan bagian ragam Laku nyiji Diperaqakan dengan baik ragam-ragam gerak
kerep cangkah ngayon 1. Sagah kiri,
2. Ngipah sampur,
3. Gedrug,
4. Songkloh,
5. Deleg,
6.Jingket,
7. Egol,
8. Ngalang,
9. Ropetan,
Diperagakan dengan baik ragam-ragam gerak:
Mampu menarikan bagian ragam Podo nonton 1. Ninjak,
2. Glebegan,
3. Ngalang,
4. Miring sagah kiri,
5. Ngeranjang gulo,
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI402
Mampu menarikan bagian ragam Kembang Diperagakan dengan baik ragam-ragam gerak
Menur 1. Sagah kanan,
2. Deleg ngulo,
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Tersedia ruangan yang mencukupi untuk menarikan tarian ini,
2. Tersedia iringan tari dapat berupa rekaman kaset/CD ataupun dari alat musik tari berupa
seperangkat gamelan lengkap yang dimainkan secara langsung.
3. Tersedia properti tari berupa Sampur dan Kipas,
4. Tersedia seperangkat busana tari Jjer dan alat rias yang digunakan menarikan tarian ini untuk
mendukung karakter tari.
PANDUAN PENILAIAN
1. 1.. Ketepatan melakukan teknik-teknik gerak tubuh, kaki, tangan, kepala, dan ekspresi wajah,
2. Ketepatan melakukan teknik gerak peralihan/engsel dan berpindah tempat,
3. Hafal urutan tari termasuk ketepatan edalam teknik gerak tari,
4. Keserasian antara gerak penari dengan iringan musik tari,
5. Penguasaan terhadap irama gerak dengan irama iringan/musik tari,
6. Penguasaan ruang dan pola lantai dalam menari,
7. Ketepatan dan keserasian dalam memakai tata busana dan rias tar.
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
2 1 1 1 2 2 1
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI403
JAT. BAN.BPP.003 (3) A
UNIT KOMPETENSI
Menarikan Tari Jaran Goyang
Tingkat 3/Mahir
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Tari Jaran Goyang adalah jenis tari berpasangan dengan gaya Banyuwangian yang
menggunakan gerak-gerak lincah dan ritmis. Tarian ini menggambarkan seorang pemuda yang
sedang jatuh cinta dan menggunakan aji jaran goyang untuk mendapatkan dambaan hati. Tarian
ini berpasangan pada tingkat mahir ini dilakukan dengan penguasaan teknik gerak dan hafalan,
serta rasa gerak (wiraga), ketepatan dengan irama (wirama), dan pemahaman dan penjiwaan tari
(wirasa) yang telah menyeluruh dan menyatu ke dalam karakter tari.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Mampu menarikan tari Jaran Goyang. Diperagakan dengan baik ragam-ragam gerak
sebagai berikut:
Mampu menarikan bagian ragam gerak 1. Ngropel sedang,
Condro Dewi 2. Ngropel kerep,
3. Layung,
4. Deleg,
5. Sagah,.
Mampu meenarikan bagian Wak Aji I Diperaqakan dengan baik ragam-ragam gerak
1. Ngloro,
2. Srisig,
3. Sagah,
4. Nyarah
Diperaqakan dengan baik ragam-ragam gerak
Mampu menarikan bagian akhir Uber-uberan. 1. Solahan,
2. Ropelan Kerep,
3. Egol,
4. Deleg mantuk,
Diperaqakan dengan baik ragam-ragam gerak
Mampu meenarikan bagian Wak Aji I 1. Ropelan sedang,,
2. Ngiwir,
3. Nyerawat kembang,
4. Geliyeng,
5. Kedanan,
6. Nangis,
7. Ngajak,
8. Ngeloro
Diperaqakan dengan baik ragam-ragam gerak
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI404
1. Solahan,
Mampu meenarikan bagian ragam Ugo-ugo 2. Ngiji Lombo,
3. Ropelan kerepI
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Adanya penari putr dan putrid secara berpasangan,
2. Tersedia ruangan yang mencukupi untuk menarikan tarian ini,
3. Tersedia iringan tari dapat berupa rekaman kaset/CD ataupun dari alat musik tari berupa
seperangkat gamelan lengkap yang dimainkan secara langsung.
4. Tersedia properti tari berupa Sampur ,
5. Tersedia seperangkat busana tari Jaran Goyang (putrid dan putra) dan alat rias yang
digunakan menarikan tarian ini untuk mendukung karakter tari.
PANDUAN PENILAIAN
1. Ketepatan melakukan teknik-teknik gerak tubuh, kaki, tangan, kepala, dan ekspresi wajah,
2. Ketepatan melakukan teknik gerak peralihan dan berpindah tempat,
3. Hafal urutan tari termasuk ketepatan edalam teknik gerak tari,
4. Keserasian antara gerak penari dengan iringan musik tari,
5. Penguasaan terhadap irama gerak dengan irama iringan/musik tari secara keseluruhan,
6. Pengembangan variasi gerak sebagai ekspresi dari penari sesuai dengan karakter tari,
7. Kemampuan menginternalisasikan karakter tari yang disajikan dengan interaksi yang
harmonis antar penari,
8. Menjiwai secara menyeluruh karakter tari yang disajikan,
9. Penguasaan ruang dan pola lantai dalam menari,
10. Ketepatan dan keserasian dalam memakai tata busana dan rias tar.
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
3 3 3 3 2 3 3
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI405
5. Standar Kompetensi Kepenarian tari Sulawesi
TRI.BG02.001.01.
UNIT KOMPETENSI
Tari Pabbekenna Majinna
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Unit ini ditarikan secara kelompok oleh penari anak-anak putri dengan menggunakan property
selendang dengan menekankan pada penguasaan teknik Maccule-cule Selendang dan ekspresi
wajah.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Mampu menarikan tari Pabbekenna Majinna Tari Pabbekenna Majinna ditarikan dengan
secara utuh urutan gerak sebagai berikut:
1. Syukkuru Ri Pammase Dewata Sewwae
Menarikan tari inti Pabbekenna Majinna 2. Maccule-cule Selendang,
3. Bosi Turung,
4. Mario Marennu,
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Tersedia ruangan seluas 6mX6m untuk sebanyak-banyaknya 7 penari yang dipergunakan
untuk pergelaran tari Pabbekenna Majinna,
2. Tersedia musik iringan kaset/CD musik lagu Ongkona Sindereng atau berupa seperangkat
alat musik 1 Gandang, 1 Suling, Bulo Reppasa, Baccing, yang dimainkan secara langsung.
3. Tersedia properti tari berupa Selendang 7 warna pelangi,
4. Tersedia seperangkat busana tari Pabbekenna Majinna berupa Baju Bodo Lipa Sebbe dan
perhiasan Geno.
PANDUAN PENILAIAN
1. Mampu menarikan tari Pabbekenna Majinna secara utuh,
2. Ketepatan gerak, keserasian gerak dan penguasaan ruang pentas atau pola lantai
3. Penguasaan ruang dan pola lantai,
4. Ketepatan memakai busana tari Pabbekenna Majinna dan keserasian tata rias.
Aspek Kritis
Ketepatan menggerakan teknik gerak Syukkuru ri Pammase Dewata Sewwae, Maccule-cule
selendang, Bosi Turung, dan Mario Marennu.
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
1 1 1 1 1 1 1
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI406
TRI.TJ02.012.01.
UNIT KOMPETENSI
Tari Manimbong
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Unit ini ditarikan secara kelompok penari putra dengan menggunakan Simbong dengan
menekankan penguasaan teknik penguasaan suara.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Mampu menarikan tari Manimbong secara Tari Manimbong ditarikan dengan urutan gerak
utuh, sebagai berikut:
1. Pe’Ketabe,
2. Ma’ Pannoni Simbong,
3. Massiman,
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Tersedia ruangan seluas 8mX8m yang sebanyak-banyaknya dipergunakan 12 penari untuk
pergelaran tari Manimbong,
2. Tersedia musik iringan kaset/CD musik Manimbong berupa seperangkat alat musik Gandang,
dengan Vokal Internal dimainkan secara langsung,
3. Tersedia properti dan kostum busana tari Manimbong, berupa Simbong dan Tanduk Tedong
serta perhiasan untuk mendukung tari Pajaga Sulessena.
PANDUAN PENILAIAN
1. Mampu menarikan tari Manimbong secara utuh,
2. Ketepatan dan keserasian gerak dan irama musik diserta ekspresi wajah,
3. Penguasaan ruang dan pola lantai,
4. Ketepatan memakai busana tari dan keserasian tata rias tari Manimbong.
Aspek Kritis
Ketepatan menarikan teknik Ma’Pannoni Simbong
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
2 2 2 2 2 2 2
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI407
TRI.TJ02.013.01.
UNIT KOMPETENSI
Tari Pangayo
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Unit ini ditarikan secara kelompok oleh 4 sampai 12 penari putri dengan menekankan penguasaan
teknik gerak gembira dan dinamis
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Mampu menarikan tari Tollo Tolona Mina Tari Bugi ditarikan dengan urutan ragam gerak
secara utuh, sebagai berikut:
- Menarikan teknik anganta’ sebagai gerak 1. Ma’ppalla,
awal, 2. Ma’ Battukan,
- Menarikan inti gerak tari Pangayo 3. Meta’da,
- Menarikan gerak akhir dengan teknik 4. Semba’na,
Massayo 5. Katarimangan,
6. Massayo.
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Tersedia ruangan seluas 6mX6m yang dipergunakan 6 penari untuk pergelaran tari Bugi,
2. Tersedia musik iringan kaset/CD musik tari Pangayo berupa seperangkat alat musik 2
Gendang, 1 Gong yang dimainkan secara langsung,
3. Tidak mempergunakan property,
4. Tersedia properti tari dan kostum busana tari Pangayo Bugi dan perhiasan untuk mendukung
tari Bugi.
PANDUAN PENILAIAN
1. Mampu menarikan tari pangayo secara utuh,
2. Ktepatan gerak dan keserasian antara gerak dan irama musik diserta ekspresi wajah,
3. Penguasaan ruang dan pola laintai,
4. Ketepatan memakai busana tari dan keserasian tata rias tari Pangayo.
Aspek Kritis
Ketepatan menarikan teknik menggeser kaki tanpa kelihatan pergerakannya.
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
3 3 3 3 3 3 3
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI408
6. Standar Kompetensi Kepenarian Tari Sumatra Barat
TRI.MI02.002.01.
UNIT KOMPETENSI
Tari Layang-layang Gusmiati Suid
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Unit ini ditarikan secara kelompok oleh penari putra dan putri dengan berpasangan dengan
gerak bunga silat.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Menarikan tari Layang-layang secara utuh Ragam gerak diperagakan berdasarkan
urutan gerak sebagai berikut:
2. Sambah,
3. Malapeh Layang-layang,
4. Bungo Kambang,
5. Arak,
6. Maelo banang,
7. Silang Timpo,
8. Mamintal Tali,
9. Galatiak,
10. Mamanciang,
11. Langkah Baranak Buang,
12. Galek,
13. Alang Tabang
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Tersedia ruangan cukup untuk menarikan tarian ini.,
2. Tersedia iringan tari berupa kaset/CD alat musik tari berupa seperangkat instrument
talempong yang lengkap dinamika secara langsung atau live.
3. Tersedia seperangkat busana tari Layang-layang dan tata rias yang digunakan dalam
tarian ini untuk mendukung karakter.
PANDUAN PENILAIAN
Aspek Kritis:
Ketepatan Gerak dan irama tari
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
1 1 1 1 1 1 1
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI409
TRI.MI02.005.01.
UNIT KOMPETENSI
Tari Sandang Pangan Huriah Adam
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Unit ini ditarikan oleh penari putri secara tunggal dengan menggunakan materi gerak bunga silat.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Menarikan tari Sandang Pangan, Ragam gerak diperagakan berdasarkan urutan
gerak sebagai berikut:
Menarikan tari Sandang Pangan secara utuh 1. Mancaliak Hari,
2. Macangkau,
3. Manyemai,
4. Mancabuik,
5. Maikek,
6. mambajak,
7. Batanam,
8. Manyambik,
9. Maangin,
10. Mambalah,
11. Mangukua,
12. Baliak..
PERSYARATAN UNJUK KERJA
1. Tersedia ruangan cukup untuk menarikan tarian ini.,
2. Tersedia iringan tari berupa kaset/CD alat musik tari berupa seperangkat instrument minang
yang dimainkan secara langsung atau live.
3. Tersedia property tari berupa piring dan cincin,
4. Tersedia seperangkat busana tari Sandang Pangan dan tata rias yang digunakan dalam tarian
ini untuk mendukung karakter tari.
PANDUAN PENILAIAN
1. Mengetahui latar belakang penciptaan tari Sandang Pangan Huriah Adam,
2. Ketepatan melakukan teknik-teknik gerak Siagnjua Lalai,
3. Ketepatan melakukan teknik-teknik gerak tubuh, tangan, kaki, kepala pada ekspresi wajah,
4. Ketepatan melakukan gerak peralihan dan perpindahan tempat,
5. Hafal urutan tari termasuk ketepatan dalam teknik gerak tari,
6. Keserasian gerak dan penguasaan iringan tari,
7. Penguasaan terhadap irama gerak dan irama tari secara keseluruhan,
8. Penguasaan ruang dan pola lantai menari.
9. Ketepatan dan keserasian dalam memakai rias dan busana tari.
Aspek Kritis:
Ketepatan ritme gerak dan iringan tari.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI410
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
1 1 2 2 2 2 2
Level
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI411
TRI.MI02.020.01.
UNIT KOMPETENSI
Menarikan Tari Sauik Randai Firmansyah
JUDUL UNIT
DESKRIPSI UNIT
Unit ini ditarikan secara kelompok oleh penari putra atau putri dengan materi gerak bunga silat.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA
Menarikan tari Sauik Randai Ragam gerak diperagakan berdasarkan urutan
gerak sebagai berikut:
Menarikan bagian awal tari 1. Langkah biasa
2. Saik Kalatiak,
3. Langkah Sambah,
4. Tapuak Kalatiak,
5. Langkah Tusuak Bagalombang,
6. Mancak
Menarikan bagian tengah tari Ragam gerak diperagakan berdasarkan urutan
gerak sebagai berikut:
1. Duduak takua Lapiah,
2. Jantiak Talingo, tangan dorong puta miko,
3. Tapuak tangan puta egang jalo,
4. Jantiak ayun piriang duduak,
Bagian Tegak
1. Jantiak ayun piriang tagak
2. Jantiak ayun piriang langkah,
3. Tusuk kanan belakang dorong,
4. Jalan Leguran Randai,
5. Langkah takan tusuk ateh simpia kiri,
6. Sambah takan tapuak sampiang,
Tangah Puncak:
1.. Sauak balah sampian,
2. Tusuak ateh sampiang, langkah baranak,
3. Tusuak sampiang ateh malambai,
4. Alang Tapuak step,
Ragam gerak diperagakan berdasarkan urutan
gerak:
1.. Sambah amtak Kalatiak,
Menarikan bagian akhir tari 2. Sauak simpia, galuan Katiak (L)
Langkah alang tang silang (P)
3. Sambah antak kalatiak ,
4. Tusuak dodo step
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI412
Batasan Variabel
1. Tersedia ruangan cukup untuk menarikan tarian ini,
2. Tersedia iringan tari berupa kaset/CD alat musik tari berupa seperangkat instrument berupa
indang dan Vokal.
3. Tersedia seperangkat busana tari Sauik Randai dan tata rias yang digunakan dalam tarian ini
untuk mendukung karakter tari ini.
PANDUAN PENILAIAN
1. Mengetahui synopsis dan latar belakang penciptaan tari Sauik Randai Firmansyah,
2. Ketepatan melakukan teknik-teknik gerak tari Sauik Randai Firmansyah yaitu pitunggua, kuda-
kuda, tapuak galembong,
3. Ketepatan melakukan teknik-teknik gerak tubuh, tangan, kaki, kepala pada setiap ragam gerak
tari,
4. Ketepatan melakukan gerak peralihan dan perpindahan tempat,
5. Penguasaan terhadap irama-irama gerak tari secara keseluruhan,
6. Keserasian gerak dan penguasaan iringan tari,
7. Penguasaan terhadap irama gerak dan irama tari secara keseluruhan,
8. Penguasaan ruang dan pola lantai menari.
9. Pengembangan variasi gerak sebagai ekspresi diri penari sesuai karakter tari,
10. Kemampuan menginternalisasikan karakter tari yang disajikan,
11. Menjiwai secara menyeluruh karakter tari yang disajikan.
Aspek Kritis
1. Ketepatan melakukan teknik-teknik gerak pitunggua dan kudo-kudo,
2. Ketepatan melakukan gerak tapuak galembong.
A B C D E F G
Kompetensi Kunci
3 3 3 3 3 3 3
Level
Tabel 6.1 Sumber Buku Stahdar Kompetensi Nasional Tari DIKMENJUR
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Ronald . 1976. Selecting and Developing Media for Instruction.
Wiscosin: American Society for Training and Development,.
Autard-Jaqualine Smith. 1996. Dance Composition (ed 3). London : A & B
Black,.
__________________.1994.The Art of Dance in Education. London : A & B
Black,
Anonim. 1999 Panggung Jurnal Seni Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung
No.13 Bandung: STSI Bandung.
________1992 Jurnal Seni edisi II/03 Juli 1992 Yogyakarta : ISI Yogyakarta.
Bellman, Willard F. 1994 Lighting The Stagei Art and Practice. Second edition
SanFransisco: Harper and Row.
Devi Triana, Dinny, dkk. 2001 Pendidikan Seni Tari Di Sekolah Menengah
Umum Jakarta : Seminar dan Lokakrya Pendidikan Seni,..
Djoyonegoro, Wardiman. 1998 Pengembangan Sumber Daya manusia Melalui
Sekolah Menengah Kejuruan Jakarta : Jayakarta Agung Offset.
Fraser, Lynch Diane. 1991. Discoverring and Developing Creativity.
Americans:A Dance Horizons Book Princeton Book Company,
Publisher,
Harmoko. 1993. Tari Tradisional Indonesiai. Jakarta: Yayasan Harapan Kita,
Jakarta.
Hadi Sumandiyo. 1996. Aspek-aspek dasar Komposisi Kelompok Yogyakarta;
Manthili. Yogyakarta.
Hawkins, Alma M. 1990. Mencipta Lewat Tari. Terj. Y Sumandiyohadi.
Yogyakarta; ISI Yogyakarta.
Humphrey, Doris. 1983. Seni Menata Tari. Terj. Sal Murgiyanto. Jakarta :
Dewan Kesenian Jakarta,
Jamal MId, 1982. Tari Pasambahan dan galombang di Pesisir Selatan. Padang
Panjang: ASKI Padang Panjang
Jakob Sumarjo. 2000. Mfilsafat Seni. Bandung; ITB Bandung.
Jazuli, M. 1994 Telaah Teoritis Seni Tari. Semarang : IKIP Semarang
Press,
Kusmayati , 2001. Perubahan Seni Pertunjukan Untuk Apa, Untuk Siapa.
Yogyakarta :Jurnal Penelitian ISI Yogyakarta Vol. 3
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI414
Murgiyanto, Sal. 1983. Koreografi : Pengetahuan Dasar Komposisi Tari.
Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
_____________, 1979/80. Ptopeng Malang Pertunjukan Drama Tari di Daerah
Kabupaten Malang. Jakarta : Proyek Sarana Budaya Departemen
Pendidikan Nasional
Kraus, Richard. 1969. History of The Dance in Art and Education. Englewood
Cliffs, New Jersey : Prentice Hall. Inc.,
Laban, Rudolf.1976. Modern Educational Dance (ed 3) (Revised by Ulman).
London Macdonald and Evans,
Laban, Rudolf. 1975. Modern Educational Dance. London: MacDonald and
Evans..
La Meri. 1965. Dance Composition: The Basic Elements. Massachusetta :
Jacob’s
Pillow Dance Festival, Inc.
Langer, Zussane. 1988. Problematika Senii. Terj. FX Widaryanto. Bandung; ISI
Bandung.
Muhadjir. 1986. Mpesta Seni Budaya Betawi. Jakarta; Dinas Kebudayaan DKI
Jakarta.
Munandar, Utami. 1996. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.
Petunjuk Bagi Para Guru dan Orang Tua. Jakarta: Gramedia
Widiasarana Indonesia Jakarta.
Murgyanto, Sal. 1983. Koreografi: Pengetahuan Dasar Komposisi Tari. Jakarta;
Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan
Nasional Jakarta.
Parani, Yulianti. 1975. Pengantar Pengetahuan Tari. Jakarta : LPKJ,
Permas, Achsan. 2003. Manajemen Seni Pertunjukan. jakarta; PPM Jakarta.
Pratjichno, Bambang dan Wiwiek Sipala, Sumiani, dkk. 2005 Standarisasi Tari
Sulawesi Jakarta: Departemen Pendidikan Menengah Kejuruan,
Departemen Pendidikan Nasional.
Rofik, Arif, 2002. Pestetika Tari Warok dalam Perkembangan Budaya Warok di
Ponorogo. Denpasar: Tesis Pasca Sarjana Universitas Udayana
Rusliana, Iyus, Gugum Gumbira, dan Bambang Pratjichno, dkk. 2004
Standarisasi Tari Sunda Jakarta: Departemen Pendidikan Menengah
Kejuruan, Departemen Pendidikan Nasional.
Samah, Ardi, 1983. Tari Rakyat Minangkabau Padang: Pengembangan
Kesenian Sumatra Barat.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI415
Slater, Wendy. 1990. Teaching Modern Educational Dance. Plyamonth: Norttoc
house
Soedarso, SP. 1987. Tinjauan Seni : Sebuah Pengantar Untuk
Apresiasi
Seni. Yogyakarta : Suku Dayak Sana.
Surya Dewi, Ina. 2003. Pengantar Tari Pendidikan. Makalah Kuliah Perdana
Jurusan Seni Tari FBS Universitas Negeri Jakarta,
Sedyawati, Edi. , 1984 Tari. Jakarta: Pustaka Jaya.
. 1986. Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah Tari
Jakarta : Direktorat Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian
Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Smith, Jacquline. 1985 Komposisi Tari : Sebuah Petunjuk Praktis Bagi Guru.
Terj. Ben Suharto. Yogyakarta : Ikalasti,.
Soedarsono, 1998. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Jakarta :
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
. 1997. Tari Tradisional Indonesia. Jakarta : Harapan Kita,.
_________, 1992. Pengantar Apresiasi Seni Tari. Jakarta : Balai Pustaka.
_________, 1976. Pengantar Komposisi Tari. Yogyakrta : ASTI Yogyakarta.
Sudarso SP. 1978. Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar untuk Apresiasi Senii.
Yoyakarta; Suku Dayak Sana.
Sukatmo, Tuti dan Udin Saripudin. 1994. Mteori Belajar dan Model
Pembelajaran Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional Jakarta.
Sumarsam. 2003. Gamelan. Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal
Indonesia. Yogyakarta; Pustaka Pelajar Yogyakarta.
Syafi Jatmiko. 2003. Materi dan Pembelajaran Kertakesi. Jakarta; Universitas
Terbuka Jakarta.
SYarif, Mustika, 1991. Tari Rakyat Minangkabau (Makalah) Padang: Makalah
Universitas Padang panjang.
Tambayong 1999. Mdasar-dasar Dramaturgi. Bandung; Pustaka Prima.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SENI TARI416
Tumbidjo, Datuk. 1984. Seni Gerak Minangkabau Padang: Pengembangan
Kesenian Sumatra Barat.
Yampolsky, Phiplips. 2001. Konsep Pendidikan Apresiasi Seni Nusantara.
Makalah Seminar dan Lokakarya Pendidikan Seni 18 – 20 April
Yetti, Elindra, Nursilah, dan Rahmida Setiawati. dkk. 2005 Standarisasi Tari
Sumatra Barat Jakarta: Departemen Pendidikan Menengah Kejuruan,
Departemen Pendidikan Nasional.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN A SENI TARI i
GLOSARI
Agem
Sikap dasar tari bali. Kaki terbuka kuda-kuda menyamping. Gerakan
yang dilakukan di tempat.
Agem kanan
Sikap dasar dengan kaki terbuka condong badan ada di belahan
bagian kanan.
Agem kiri,
Sikap posisi lawan agem kanan, condong badan ke kiri.
Ajeng-ajengan
Saling berhadapan
Alang Tabang
Gerakan seperti memotong alang-alang
Arak,
Sejenis minuman bertuak
Alang Tapuak step,
Bertepuk seperti gerak burung elang, langkah ganda
Apresiasi
Mengerti dan menjadi sensitive terhadap segi-segi estetik, sehingga
mampu menikmati dan menilai
Asta rimang,
Sikap tangan meregam seperti cengkeram macan
Atur-atur,
Salah satu motif tari dalam muryani busana
Atrap Jamang,
Menggunakan jamang atau hiasan kepala.
Atrap sumping,
Menggunakan sumping sebagai hiasan telinga.
Bangomate
Gerak yang dilakukan pada sikap berdiri setelah rakit tiga-tiga pada tari
Bedhoyo
Batanam,
Melakukan gerakan seperti menanam
Baliak
Membalikan tubuh
Bungo Kambang,
Bungan yang melayang di atas air
Besut,
Gerakan peralihan di tempat dengan menggerakan kaki dengan cara
mengangkat-meletakan kaki tumpuan secara cepat
Besut, giyul
Sikap gerak besut, sedikit menggerakan pangkal pinggul untuk
digoyang ke kiri-ke kanan
Bopongan,
Sikap gerak besut, dengan sikap tangan seperti sedang membopong
anak kecil/bayi.
Cathok udhet majeng mundur,
Gerak tangan cathok sampur dilengkapi kipat dan seblak dengan
variasi kaki maju-mundur.
Deleg mantuk,
Deleg dengan menggangguk
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN A SENI TARI ii
Duduk wuluh,
Dgerak uduk bersila menopang tangan
Duduak takua Lapiah,
Duduk menekur sambil menjalin
Egol
Gerak pinggul ke kiri-ke kanan
Entrakan
Mengalunkan gerak kedua tangan di depan dada, dengan
menggerakan lutut patah-patah- naik-turun
Entragan kanan,
Gerakan entrakan di posisi bagian belahan kanan
Eksplorasi gerak
Penjelajahan atau pencarian gerak
Ethung-ethung lamba ngracik,
Gerakan menghitung secara perlahan-lahan
Engkrang,
Motif gerak tari gagah dengan mempermainkan sampur
Forming gerak
Pembentukan atau perangkaian gerak
Hoyog
Sikap menari (tanjak) tubuh digerakan ke samping kanan dan kiri
bergantian, lutut dilipat kea rah dalam(supinasi)
Hoyog genjotan
Sikap dasar hoyog dengan melakukan pergantian kaki tumpuan secara
cepat
Gedrug,
Gerakan tumit telapak kaki ke lantai/tanah
Gidrah,
Gerak Ngenceng divariasimenyilang kaki dan tumpang tali
Genjotan
Gerak ayunan tubuh ke atas-bawah
Gulu wangsul
Gerakan/perubahan sikap kembali ke posisi semula
Gayal-gayal
berjalan cepat dan berat digoyang ke kanan-kiri
Galatiak,
Gerakan menjentikan jari
Geliyeng,
Gerakan seolang kena taburan bunga
Glebegan,
Gerakan melenturkan tubuh
IImprovisasi gerak
Imajinasi spontanitas gerak
Impang encot,
Gerakan kaki menyilang depan- belakang kaki tumpuan divariasi
melangkah ke samping
Impang ngewer udhet,
Gerak impang divariasi tangan ngawet
Impang lembehan,
Gerak impang diselingi mengayunkan lengan tangan
Iring-iringan,
Saling berurutan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN A SENI TARI iii
Jalan Leguran Randai,
Berjalan melingkar
Jantiak ayun piriang tagak
Proses berdiri sambil menjentik dan mengayunkan piring
Jantiak ayun piriang langkah,
Menjentik piring divarisi mengayun dna melangkah
Jantiak ayun piriang duduak,
Posisi duduk divariasi menjentik dan mengayunkan piring
Jantiak Talingo, tangan mendorong puta miko,
Menjentik sambil mengayun tangan ke depan berputar
Jingket,
Gerak bahu (obah bahu)
Jangkung miling,
Gerak kaki separoh jinjit divariasi menyelimutkan sampur ke lengan
bagian atas.
Jengkeng
Sikap dasar tari posisi bertumpu pada sebelah kaki
Kalangkinantang Alus
Motif gerak tari gagah dengan sikap lengan asimetris sifat gerak
agresif-kontraksi
Kagok kalangkinantang,
Motif gerak tari alus dengan sikap lengan asimetris dengan variasi
kualitas kontraksi gerak yang berubah-ubah ddiselingi gerak kepala.
Kebyok kiri, nikerlawarti (seleh dhadhap),
Memainkan sampur divariasi putaran tangan (bukan lengan).
Kicat ngilo rangkep,
Gerak kicat diisi mendak jinjit divariasi ngilo
Kicat mandhe udhet
Kicat step hitungan setengah divariasi tangan mendhe
Kapang-kapang encot,
Jalan divariasi gerak encot pada tiap langkah
Kebyok sampur
Gerakan memainkan sampur
Kengser,
Rangkaian gerak buka-tutup kaki pada ujung depan kaki gajul dan
belangan tumit dengan cara geser ke samping
Kreatif
Kemapuan mencipta sesuatu yang baru
Komposisi
Menata kembali dengan memperhatikan unsur-unsur estetika tari
Manajemen
Kipekan
Gerakan memalingkan kepala-patah-patah
Kapang-kapang,
Jalan dengan sikap kaki dan badan tegak lurus, lengan tangan
menggantung
Kicat Boyong,
Gerakan kicat bersama seusai perangan pada Srimpi dan Bedhoyo
Kicat Tawing,
Kicat divariasi gerak tawingl memutar tangan di samping kepala
Kipat astha,
Kicat divarisi ukel tangan
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN A SENI TARI iv
Kupu tarung, endha, pendhapan ngebat,
Gerakan beradu siku dengan lawan, berputar sambil trisig jalan jinjit
Laku telu,
Jalan variasi tilangkah
Lumaksana
Rangkaian gerak jalan dengan karakter masing-masing peran
Lumaksana nayung
Gerak karakter jalan untuk tari gagahan
lumaksana ridong sampur
Gerak karakter jalan untuk tari sambil menyelimutkan sampur di lengan
bawah
Lumaksana lembehan kanan
Gerak karakter jalan tari sambil lenggang tangan
Lembehan Lumaksana ukel karna
Gerak karakter jalan tari sambil lumaksono
Lombo ngracik,
Gerakan utama ganda
L ampah sunda
Jalan pada tari-tarian Sunda
Lampah mundur, besut tanjak, entragan
Gerakan jalan mundur
Lumaksana bambangan
Gerak karakter jalan untuk tari putra alus
Lampah atur-atur,
Berjalan atur-atur
Lembehan,
Jalan lenggnag pada tari jawa
Lampah sekar,
Jalan kembangan
Langkah papat,
Jalan dengan variasi langkah empat
Langkah Sambah,
Gearakan mel;angkah sambil menyembah
Langkah Tusuak Bagalombang,
Jalan menerobos gelombang
Langkah takan tusuk ateh simpia kiri,
Jalan menusuk-nusk ke kanan-kiri
Langkah alang tang silang
Langkah ke samping sambil menyilang
Majalan tindak-tindak
Berjalan biasa divariasi melenggok-lenggok
Malangkerik,
Bertolak pinggang
Mancak
Gerakan berhias diri
Manajemen Produksi
Kegiatan dalam merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan
kegiatan produksi
Maccule-cule Selendang,
Memainkan selendang
Mambajak,
Gerakan mencangkul dengan bajak
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN A SENI TARI v
Mario Marennu
Memperbaiki jala
Mamintal Tali,
Memintal tali jala
Mamanciang,
Gerakan memancing
Manyemai,
Gerakan menanam tumbuahan
Mancaliak Hari,
Gerakan melihat situasi hari semakin sore
Mancabuik,
Mencabut dan mengambil benih
Maikek,
Mengikat benih
Mayang mekar,
Bunga yang sedang kuncup mekar
Malapeh Layang-layang,
Gerakan melepas layang-layang
Maelo banang,
Menggulung benang
Mlebet lajur,
Masuk dalam lajur tari Bedhoyo
Mingger, Mubeng)
Memutar posisi badan ke samping terus berputar
Mlampah majeng,
Melangkah ke arah depan
Mlampah gajah ngoling,
Melangkah sambil diselingi meliukan badan
Musik Internal
Musik yang berasal dari tubuh penari itu sendiri (seperti tepuk tangan,
teriakan, hentakan kaki, ptikan jari, dsb)
Musik Eksternal
Musik ypengiring tari yang berasal dari luar diri penari (seperti
seperangkat gamelan, orkestra/bunyi-bunyian yang dimainkan orang
lain)
Mapal
Berjalan cepat dan ringan
Milpil
Melangkah dengan cepat ke samping dalam langkah pendek-pendek
Matetanganan
Mungkah lawang
Gerakan imitasi membuka pintu
Mehbeh ngelilit
Gerakan dalam sikap mengambil gendewa
Manyambik,
Gerakan separti memangkas rumput
Maangin,
Gerakan variasi mengayunkan tangan ke kanan-kiri
Mambalah,
Gerakan membelah
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN A SENI TARI vi
Muryani busana
Gerakan berbusana divariasi gerak percepatan dan perlambatan
sesuai iringan dipandu kendang
Miling-miling
Gerakan melihat-lihat
Miwir rekma,
Gerakan membelai rambut
Menjangan Ranggah,
Gerakan menyerupai kijang menjangan yang sedang manari
Nubruk
Gerakan menubruk
Ngigel
Gerakan berjalan merendah ganda variasi tangan lipat di depan dadal
Nabdab gelung
Gerakan membenahi rambut untuk diikat
Nacah
Melangkah miring gerakan cepat
Nepuk dada
Gerakan memukul dada
Ngancap,
Posisi badan miring lurus, posisi kaki tegang
Nglangsut
Gerakan muncur kalang perang
Ngeletik
Gerakan menyentil
Ngenjet
Gerakan menekan
Ngumbang
Menjemput
Ngegol
Berjalan merendah sambil goyang pinggul
Ngelo
Bercermin
Ngeseh bawak
Sikap dasar tari dengan tumpuan kaki terbuka sambil didorong ke
depan-belakang
Ngelier
Gerakan memutar kepala
Nyamber kanan,
Gerakan sesaat untuk trisig divariasi sikat tangan menggapai sampuri
Ngumbang
Gerakan jalan merendah divariasi menabur bunga
Ngelus bara
Membelai-belaik boro kostumtari yang ada di bagian depan paha
penari
Nyilat
Memainkan ragam gerak pencak
Nikerlwarti
Ngunus panah
Gerakan mengambil anak panah
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN A SENI TARI vii
Nuding
Gearakan menunjuk
Nyarere
Gerakan seolah-olah tidur
Noleh mendhak,
Melihat ke samping posisi merendah
Ngembat,
dapat dilakukannya gerakan berjalan biasa (majalan), berjalan pelan
mengayun
Nyaregseg,
berlari ringan dengan langkah tidak beraturan
Nyigcig/ngicig)
bisa diragakannya berbagai kombinasi gerak seperti glatik mapah,
nyilat, Nglangsut, nayog, makiring udang
tangkis Dapat dilakukannya variasi gerakan tangan nabdab karna,
nabdab gelung, Nabdab pinggel, nepuk dada, nyigug dan ngombak
tangkepbisa diperlihatkannya ekspresi muka senang,
(makenyem/makenyung), marah (Nyelik/nelik), terkejut (terkesiap),
sedih (sedih), jatuh cinta (ngaras), nyarere
Wedhi kengser
Menggeserkan kaki seperti pasir tertiup angin
Ngunus dhuwung
Menghunus keris
Ngusap suryan,
Gerakan mengelap/membersihkan muka
Nggrudha jengkekng,
Posisi sikap jengkeng sambil melakukan sele
Nropel sedang,
Menggnadakan gerakan dalam tempo sedang
Ngropel kerep,
Menggnadakan gerakan dalam tempo cepat
Nglayang,
Gerakan seperti terbang melayang
Nangis,
Gerakan seperti menangis
Obah bahu,
Menggerakan bah
Ogekan lambung,
Melakukan gerak patah-patah di badian lambung
Organisasi
Sekumpulan orang (dua orang atau lebih) yang sepakat bekerja sama
untuk mencapai tujuan bersama
Ombak banyu, srisig tawing dhadhap (berpindah ke gawang utama)
Pacak jangga
Menggerakan kepala saat sembahan
Pajalan
Berjalan
Pacak jangga
Memutar kepala bertumpu pada leherl
Persepsi
Mengenal, mengetahui dan memahami
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN A SENI TARI viii
Proses merencanakan kegiatan, mengorganisasi orang-orang, mengarahkan
orang-orang dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan
organisasi
Pasopati, Nyuduk, Encot-encot, nyaplak,
Perangan ( Ngunus dhuwung, Ngunus Puletan, Mundur, Nyarungaken keris)
Pe’Ketabe,
Gerak memutar ke samping
Representasional
Menceriterakan kembali pengalaman hidup, gerakan, dan perilaku
sejaran
Repetisi
Ceritera, penyajian, atau apapun yang diulan
Ropetan,
Langkah kaki step
Stilasi
Menyederhanakan gerak dengan meniru gerak alam
(seperti gerak bermain, gerak bekerja, dan lain-lain)
Sekaran laras sawit
Gerakan kembangan sederhana
Sekaran lembehan
Gerakan kembangan jalan melenggang
Srampang,
Gerak mentekel
Sabetan,
Gerak yang didominasi gerak kaki srisig dengan berpindah tempat
divariasi gerak cathok tangan
Srisig samberan (kebyok-kebyok)
Berjalan jinjit sambil memainkan sampur
Srisig maju
Gerak jalan jinjit ke depan
Srampang mundur
Gerak memangkas mundur
Seblak sampur kiri ulap-ulap kiri
Memainkan sampur
Gerakan merapatkan kedua tangan didepan dada seperti orang menyembang
Srisig
Berjalan dengan sikat jinjit
Sudukan:
Gerakan menusuk
Sawega dhuwung
Gerakan mengasah keris
Sembahan silo.
Sikap tari dengan merapatkan ke daua tangan seperti memuja lepada
pencipta dalam posisi duduk
Sembahan jengkeng,
Sembahan pada posisi jengkeng
Sabetan tanjak sawega dhadhap
Gerak sabetan divariasi ukel di depan dada
Sambah,
Gerak sembahan
Saik Kalatiak,
Menyayat sambil mengelitik
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN A SENI TARI ix
Sambah takan tapuak sampiang,
Menyeruak air ke arah samping
Sambah anak Kalatiak,
Sembahan sambil menghentakan kaki dan mengelitik
Sauak simpia, galuang Katiak
Menyauk air sambiul menggetik
Sendhawa,
Gerakan batuk
Tancep
Sikapdasar kaki pada tari Jawa. Kaki terbukamembentuk formasi
khusus
Tasikan mubeng,
Gerakan kembangan tari pada tari tertentu
Tayungan miring,
Berjalan tari ke arah samping
Tapuak Kalatiak,
Bertepuk sambil menggelitik
Tapuak tangan puta egang jalo,
Bertepuk tangan sambil memutar dan manarik jala
Tusuk kanan belakang dorong,
Mendorong sambil menusuk ke kanan-kiri
Tusuak ateh sampiang, langkah baranak,
Melangkah sambil menusuk ke atas dan samping
Tusuak sampiang ateh malambai,
Menusuk ke samping kanan atas sambil
Tusuak dodo step
Gerak step sambil menusuk dada
Tinting,
Gerak srisik jinjit divariasi gerak tangan njimpil sampur
Tindak-tindak
Jalan jalan tari
Ulap-ulap kiri,
Gerakan seolah olah melihat
Ulap-ulap tawing kiri-kanan
Gerakan seolah melihat sambil ukel tangan di samping telingan
Ulap-ulap tawing kanan-kiri
Motif sikapjengkeng sambil ukeltangan di sam
Ulap-ulap ukel,
Motif gerak ulap-adivariasi ukel
Ulap-ulap cathok,
Gearakan ulap diselingi
Umbul sampur,
Gerakan mengilustrasikan umbul22 dengan sampur
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 1
CURICULUM VITAE
1. Nama : Drs. Bambang Pratjichno, M.Pd
2. Tempat/Tgl Lahir : Purwokerto, 29 November 1956
3. NIP : 131 755 404
4. Instansi : Jurusan Tari Universitas Negeri Jakarta
5. Alamat : Komp. UNJ Rwmangun Jakarta 13220.
6. Telpon : 021. 4710547
7. Pendidikan : S1 Komposisi Tari ISI Yogyakarta
: S2 Pengembangan Kurikulum IKIP Bdg.
8. Pelatihan a. Aplicate Approach (AA) 1994/1995
b. Peneliti Muda 1995
c. Pembimbing Metodologi 1996/1997
d. Pelatihan Usulan Due Like 1998
e. Pelatihan Program IBA 1999
9. Perkumpulan Profesi: a. Anggota Masyarakat Seni 1997
b. Forum Indonesian Dance Festival
Sie Tari Pendidikan 1997
10. Riwayat Pekerjaan:a. Dosen Seni Tari sejak 1988
b. Ketua Program Tari 1996 – 1997
c. Ketua SP 4 Jurusan Tari 2005-2006
d. Ketua Penulis SKN Tari Sunda 2004
e. Ketua Penulis SKN Tari Sulawesi (2005)
A. JURNAL
• Pornografi dalam Dunia Seni Tari (Jurnal Harmonia UNS,
2006)
• Profesionalisme Guru dalam menghadapi Era Globalisasi,
dalam Lomba Karya Ilmiah Lustrum UNJ Jakarta Ke VIiI
tahun 2005
• Seni Tutur dan Dalang Jumblung Banyumasan (jurnal
Humaniora UNS, 2004)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 2
B. PENELITIAN
• Minat Pelajar SLTA s DKI Jakarta kerjasama dengan
Dinas Kebudayaan dan Permuseuman (2006)
• Minat Baca Masyarakat Tangerang Kerjasama
• dengan perpustakaan KabupatenTangerang (2004)
• Pengembangan Gerak melalui Alur Gerak Berdasarkan
Keseimbangan (Penelitian), 2003
• Proses Aktualisasi Gerak Anak dalam Rekonstruksi Tarian
Anak SD, Maklah, 2002
• Konsep Pengembangan Kurikulum di SLTP, 2001
• Kurikulum Pelatihan Tari sebagai Upaya Penyelarasan bagi
Sanggar Tari, 2001
D. Penulis Buku:
• Penulis Buku Ayo Menari Penerbit Erlangga (2007)
• Seni Tari untuk SMK Dikmenjur (2007)
• Seni dan Budaya untuk SMK (2007)
• Seni Tari untuk SMK (2007) Penerbit Yudistira
• Penulis Bahan Ajar Kajian Kurikulum (2006)
• Standar Kompetensi Nasional Tari ( Sulawesi -2005,
• Sunda -2004)
E. MAKALAH
• Pengantar Koreografi bagi guru Taman Kanak-kanak (2007)
DepBudPar.
• Pelatihan Olah Tubuh dan Kreativitas Tari untuk Guru
Sekolah Dasar. Dalam rangka pelatihan Tari untuk guru SD,
Dinas Kebudayaan, 2007
• Pengetahuan Dasar Tari dan Komposisi untuk Guru
Sekolah Dasar. Dalam penataran tari guru SD, Suku Dinas
Jakarta Timur, 2005
• Elaborasi Terampil Polesan dan Guratan Wajah untuk Tari
Tradisional dan Nontradisional sebagai Wujud Profesi
Penata Rias. LPKM UNJ, Penulisan Integrasi Bahan Ajar
(IBA), 2005
• Prevalensi Pemetaan Tata Rias Wajah Berdasarkan Bentuk
Mata terhadap Jenis dan Bahan Rias yang digunakan bagi
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 3
Calon Profesional. LPKM UNJ, Penulisan Integrasi Bahan
Ajar (IBA), 2005
• Pendidikan Seni Tari di Sekolah Lanjutan Pertama. UNJ dan
Ford Foundation, Jakarta, 2003
• Sistematika Pelatihan Tari Jawa, dalam Acara Sistematika
Pelatihan Seni Tari oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta,
2002
Jakarta, 29 Mei 2008
Drs. Bambang Pratjichno, MPd
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 4
CURICULUM VITAE
1. Nama : Dra. Rahmida Setiawati, MM
2. Tempat/Tanggal Lahir : Bengkulu, 5 Mei 1960
3. Alamat Kantor : Komp. UNJ Rwmangun JakTim
Nomor Telpon/FAX/Email : 4712136/4710547
Alamat Rumah : Jl. Swakarsa IV/54 Rt 10/Rw 03
Pondok Kelapa Jakarta Timur
No. Telepon/HP : 8646547
4. Agama : Islam
5. Jenis Kelamin : Perempuan
6. Status : Menikah
7. Pendidikan Formal : S1 Komposisi Tari ISI Yogyakarta
(1986)
: S2 STEI Manajemen SDM 1998
8. Pengalaman :
A. Pengalaman Kerja dan Jabatan:
a. Ketua Program Tari (1990-1993)
b. Ketua Jurusan Sendratasik (2000-2003)
c. Sekretaris Jurusan Sendratasik (1995-1999)
d. Anggota Senat Fakultas Bahasa dan Seni (1995-2007)
e. Anggota Senat Universitas Negeri Jakarta (2003-2007)
f. Satya Lencana Karya Satya 10 tahun
g. Divisi Maerketing LAM UNJ (2002-2007)
h. Dosen Pendidikan Anak Usia Dini FIP UNJ (2000-
Sekarang)
i. Pengajar Lokakarya Pelatih Tari Anak-anak DKI (1995)
j. Dosen Jurusan Seni Tari dan LAM UNJ
k. Juri Lomba Karya Tari di Dinas Kebudayaan (1999-2001)
pada tiap even Pelatihan Guru Tari Sekolah Dasar
l. Aktivitas Forum Pndidikan Festival Dance Indonesia
(1996-2001).
m. Anggota Indonesian Dance Festival 1996-2003)
n. Anggota Aktif APSI Jakarta 2005-2007
o. Pelatihan Manajemen Mutu (2000)
p. Pelatihan Manajemen Internal (2004)
q. Perencanaan Pembelajaran dan Komposisi Tari bagi guru
TK 2007
r. Yuri Lomba tari siswa SMU se DKI (2007)
s. Juri Penulisan Naskah Buku Sayembara Penulisan Buku
(2007) Pusat Buku.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 5
t. Anggota Penyusun Standar Penulisan Buku Seni Budaya
BNSP 2007 Depdiknas
u. Penyusun Standar Kompetensi guru SMK Produktif
(2007) BNSP Depdiknas
v. TIM Verivikasi Persiapan Pelaksanaan dan Evaluasi Uji
Kompetensi SMK (2006-2008)
w. Pelatihan CAP (2003)
B. Penatar :
1. Penataran Guru Kesenian SD Wilayah Jakarta Timur (2006,
2005, 2004, 2003)
2. Penataran Guru-guru IGTKI Departemen Agama wilayah
Jakarta Timur (2006)
3. Penataran Guru Kesenian SD DKI (2004)
4. Penataran Guru Kesenian TK (2004)
5. Pelatihan Pengelolaan Kesenian Kerjasama Dinas Pariwisata
DKI Jakarta (2001)
6. Penataran Guru Igra Radhatul Alfort Kerjasama Departemen
Agama tahun 2006
7. Penatar Pelatihan Tari Guru Taman Kanak-kanak 2005-2007
8. Pelatihan Olah Tubuh bagi Guru Sekolah Dasar (Dinas
Kebudayaan (2000).
9. Pelatihan Tari dan Pengetahuan Dasar Tari bagi Guru Sekolah
Dasar (Dinas Kebudayaan (2000).
10. Pelatihan dan Kreativitas Gerak bagi Guru SD Dinas
Kebudayaan (2007)
11. Pelatihan Pembelajaran Tari bagi Guru SMU Dinas
Kebudayaan (2004)
12. Panitia Juri Porseni PTK-PWF (2007)
13. Seminar dan Sertifikasi Profesi Guru UNJ (2006)
C. Penelitian Masyarakat
1. Pembelajaran Tari Anak Usia Dini Di Kelurahan Jatinegara
(2006)
2. Pembelajaran Tari Guru Anak Usia Dini (2004)
3. Life Skill Program Rintisan Kelompok Bermain dengan Ditjen.
PLS
4. Peserta Didik sebagai Fokus penelusuran Kurikulum Tari Dinas
Kebudayaan (1999).
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 6
D. Jurnal
1. Kompetensi sebagai basis Pendidikan Seni (2007) Humaniora
2. Pengembangan dan Prediksi Seni Tari (2005) Humaniora
3. Topeng dalam seni panggung (2004) Humaniora
E. Karya Ilmiah:
1. Suasana dan waktu belajar di sekolah terhadap prestasi
belajar siswa SMP Se Jakarta Timur (1995)
2. Media pendidikan sebagai model efektif untuk
pembelajaran tari bagi anak taman kanak-kanak hingga
Pendidikan hingga Pendidikan Dasar (1996)
3. Media pembelajaran Tari yang kreatif dalam meningkatan
prestasi tari peserta didik (1998)
4. Masa Orientasi Siswa bidang kesenian Dirjen Dikmenun
(1998)
5. Kontinum Pertautan Esttis Bentuk dan Implikasinya
Pelatihan Guru Tari Sumber Cipta (1998)
6. Elaborasi Gerak Peserta Didik Usia 6-10 dalam
Merekonstruksi Tari Seminar di Dinas Kesenian dalam
rangka Penyusunan Kurikulum Seni Sekolah Dasar (1999)
7. Tari Rangguk dan Lenggang Patah Sembilan Dinas
Kesenian (1999)
8. Peserta didik sebagai fokus penelusuran kurikulum Tari
Seminar di Dinas Kebudayaan dalam ragka Penyusunan
Kurikulum Seni Sekolah Dasar (1999)
9. Pelatihan Olah Tubuh dan Kreativitas Tari untuk Guru
Sekolah (2000)
10. Pengetahuan Dasar Tari dan Komposisi untuk Guru
Sekolah Dasar. Dalam Penataran Tari Guru SD, Suku
Dinas Jakarta Timur (2000)
11. Konstelasi Peningkatan Pendidikan scara bersama antara
Dunia Industri dan Perguruan Tinggi yang Harmonis
menuju Otonomi Daerah yang Propesional
12. Forum FBS ke VII Sawangan Bogor (2000)Akselerasi
Peningkatan Mutu dan Otonomi Jurusan Sendratasik FBS
dalammembangun Visi dan Misi menyongsong SDM
berkualitas di Masa Datang Forum FBS ke VII Sawangan
Bogor (2000)
13. Peran posisi Intertainmen dalam pengembangan SDM
pelaku Tari LPKM UNJ
14. Penulisan Integrasi Bahan Ajar (IBA) 2000
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 7
15. Keterampilan Bentuk Tari Dinas Kebudayaan (2000)
16. Pengetahuan Dasar Tari dan Komposisi untuk Guru SD
Dinas Kebudayaan (2000)
17. Pelatihan Olah Tubuh dan Kreativitas Gerak bagi Guru Sd
Dinas Kebudayaan (2000)
18. Metode Belajar Mengajar tari, Dinas Kebudayaan (2000)
19. Karakteristik Model Pembelajaran Tari bagi
Pengembangan Kewirausahaan Mata Kuliah Praktik Tari
IBA UNJ (2000)
20. Penguasaan Teknik Gerak dan Gaya menampilkan Tari
Tradisional mahasiswa IBA UNJ (2000)
21. Pengetahuan dan Pembelajaran Seni tari di Sekolah
dasar, Dinas Kebudayaan DKI (2001)
22. Dasar Gerak dan Bentuk Tari Minangkabau Dinas
Kebudayaan DKI (2001)
23. Sistematika Pelatihan Tari Betawi, Dinas Kebudayaan DKI
(2001)
24. Alat Peraga sebagai Sarana meningkatkan Kreativitas
Anak dalam menari (2001)
25. Unsur pencak silat dalam tari Minangkabau (2005)
26. Media Pembelajaran Tari yang kreatif untuk
meningkatkan belajar tari Anak Taman Kanak-kanak 2003
27. Kontinum Pertautan Estetik Bentuk dan Implikasinya bagi
Guru Tari (2002-2003) Sumber Cipta.
28. Konstelasi Peningkatan Mutu dan Otonomi Jurusan
Sendratasik (2000)
29. Peran posisi Intertainer dalam pengembangan SDM
pelaku Tari (2000)
30. Keterampilan Bentuk Tari Dinas Kebudayaan (2000)
31. Model Belajar Mengajar Tari Dinas Kebudayaan (2003)
32. Karakteristik Model Pembelajaran Tari bagi
Pengembangan Kewirausahaan (2000)
33. Unsur Gerak dan tari Minangkabau Dinas Kebudayaan
2001
34. Alat Peraga sebagai sarana peningkatan Kreativitas Anak
dalam menari (2001)
35. Penelitian Minat Siswa SMU terhadap Kesenian Dinas
Kebudayaan DKI (2006)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 8
F. Karya Tari
1. Gerak (1985)
2. Putri Rainun (TMII 1989)
3. Selendang Mayang (1990)
4. Putri Gading Cempaka (TMII Anjungan Bengkulu 1989)
5. Lenggok (1998)
6. Bola (Tari Pendidikan untuk Siswa SD IDF 2002)
7. Do’a
8. Bermain Topeng (2003)
9. Bobodoran (2003)
10. Tari Rangguk dan Tari Lenggang Patah Sembilan (2000)
11. Bola (GKJ-Tari Pendidikan untuk Siswa SD(IDF 2002)
G. Punulisan Buku
1. Seni Tari untuk SMK Dikmenjur (2007)
2. Seni dan Budaya untuk SMK Dikmenjur (2007)
3. Seni dan Budaya untuk SMK Yudistira (2006)
4. Penulis Standar Kompetensi Tari Minang 2005
5. Penyusunan Soal Kompetensi Guru Seni Tari FIP-Puskur
(2005).
6. Pengembangan Bahan Ajar TK Puskur-Lemlit UNJ (2004
G. Mata Kuliah yang ditempuh
1. Mata kuliah Tari Pendidikan I
2. Mata kuliah Tari Pendidikan II
3. Mata Kuliah Tari Pendidikan III
4. Mata kuliah Tari Betawi I
5. Mata kuliah Tari Betawi II
6. Mata kuliah Tari Betawi III
7. Mata kuliah Perencanaan Pengajaran
8. Mata kuliah Komposisi Tari I
9. Mata kuliah Interaksi Belajar Menhgajar
10. Mata kuliah Tari Sumatra
11. Mata kuliah Tari Melayu
12. Mata Kuliah Skripsi
13. Mata Kuliah PPL
14. Mata Kuliah Olah Tubuh I
15. Mata kuliah Keterampilan Belajar Mengajar (LAM UNJ)
Jakarta, Desember 2007
Dra. Rahmida Setiawati, MM
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 9
CURICULUM VITAE
Nama : Dinny Devi Triana, S.Sn, M.Pd
NIP : 132 135 262
Tempat/Golongan : Karawang, 9 Desember 2007
Jabatan : Dosen Jurusan Seni Tari
Instansi : FBS Universitas Negeri Jakarta
Alamat Kantor : Jln. Rwmangun Muka Jakarta
Timur
Telp/FAX kantor : (021) 4710547/ 4710547
Alamat Rumah : Kompl. Pengairan Rawasmut Blok
C No. 43
Jl. Chairil Anwar Bekasi Timur
Telp/Fax Rumah : (021) 8800440/ 8800440
Pendidikan : S1 Institut Seni Indonesia
Yogyakarta Jurusan Seni Tari
S2 Penelitian & Evaluasi
Pendidikan UNJ
Pengalaman :
A. Penatar :
1. Penataran Guru Kesenian SD Wilayah Jakarta Timur (2006,
2005, 2004, 2003)
2. Penataran Guru-guru IGTKI Departemen Agama wilayah
Jakarta Timur (2006)
3. Penataran Guru Kesenian SD DKI (2004)
4. Penataran Guru Kesenian TK (2004)
5. Pelatihan Pengelolaan Kesenian Kerjasama Dinas Pariwisata
DKI Jakarta
(2001)
B. Penelitian Masyarakat :
1. Pembelajaran Tari Anak Usia Dini Di Kelurahan Jatinegara
(2006)
2. Pembelajaran Tari Guru Anak Usia Dini (2004)
3. Life Skill Program Rintisan Kelompok Bermain Dengan Ditjen.
PLS (2005)
C. Penelitian :
1. Pembelajaran Tari Melalui Respons Terbimbing (2000)
2. Pengembangan Instrumen Penilaian Tari Karya Mahasiswa
LPTK (2004)
3. Hubungan Kemampuan Berpikir Kreatif Dengan Hasil Karya
Mahasiswa LPTK 2006
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 10
4. Minat Baca Masyarakat Tangerang Kerjasama dengan
perpustakaan Kabupaten
Tangerang (2004)
5. Minat Pelajar SLTA s DKI Jakarta kerjasama dngan Dinas
Kebudayaan dan Permuseuman (2006)
D. Penulis Buku :
1. Penulis Buku Kerajinan Tangan dan Kesenian Penerbit
Gracindo (2004)
2. Penulis Modul Strategi Pembelajaran Seni Tari Universitas
Terbuka (2004)
3. Jurnal Harmonia (2004, 2006)
4. Jurnal Artistika FBS (2000)
5. Buku : Seni Budaya kelas IX, X, XI. Penerbit:(2007)
E. Perumus/Penyusun :
1. Pengembangan Bahan Ajar TK/RA (Kerjasama Lemlit UNJ-
Puskur) (2004)
2. Modl Pengembangan Pembelajaran Kesenian Kerjasama
Puskur (2005)
3. Penyusunan Soal Kompetensi Guru Sni Tari Kerjasama FIP
UNJ (2005)
4. Penyusunan Tes Diagnostik SMP mata pelajaran Seni
Budaya kerjasama
Dikdasmen (2007)
F. Pemakalah :
1. Semnas : Pembelajaran Tari dengan Metode Global (UNESA
2004)
2. Semnas : Penilaian Tari Karya Mahasiswa LPTK (Himpunan
Evaluasi Pendidikan
Indonesia Yogyakarta 2005)
G. Pengajaran :
1. Tutor UT (2003 sampai sekarang)
2. LAM UNJ Mk. Metodologi Penelitian, Evaluasi Pendidikan
(2004,2005,2006)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 11
CURICULUM VITAE
Nama : Dra.Elindra Yetti,MPd
NIP : 132 259 274
Pekerjaan : Dosen Jurusan Seni Tari FBS UNJ
Instansi : Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
Agama : Islam
Alamat : Boulevar Hijau Blok C2/25 Harapan Indah
Bekasi Barat.
HP. 08128030360
Riwayat Pendidikan :
● SD Negeri I Padang Tarab Kec.Baso (Sumbar) Lulus tahun
1981
● SMP Negeri I Bukittinggi (Sumbar) Lulus tahun
1984
● SMA PSM Bukittinggi (Sumbar) Lulus tahun
1987
● D3 Sendratasik IKIP Padang Lulus tahun
1990
● S1 Seni Tari IKIP Yogyakarta Lulus tahun
1993
● S2 PUD Universitas Negeri Jakarta Lulus tahun
2003
Pengalaman Kerja dan Jabatan
1. Penatar pada diklat Pertunjukan Kesenia Tradisional (
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Badan Litbang
dan Diklat, 2001)
2. Penatar pada Diklat TOT Kerajinan Tangan dan Kesenian
Bagi Guru SD (Departemen Pendidikan Nasional
Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah,
2003, 2004)
3. Penatar pada Pelatihan Kesenian bagi Guru SD Jakarta
Timur (Sudin Kebudayaan dan Permuseuman Jakarta
Timur, 2004, 2005,2006)
4. Juri Lomba Tari kreasi antar SD DKI Jakarta (Depdiknas,
2004)
5. Juri Lomba Tari Kreasi antar TK IGRA Jakarta Timur.
6. Penyusun Standar Kompetensi Nasional (SKN) Bidang
Keahlian Tari Minang, 2005)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 12
7. Pelaksana Kegiatan Program Rintisan Kelompok Bermain
(Lifeskill) kerjasama UNJ dengan Dirjen PLSP Diknas,
2005)
8. Penatar pada Pelatihan Peningkatan Kreativitas Guru TK
se- Propinsi Riau di Pekan Baru, tahun 2006)
Makalah
1. Karakteristik Seni Tari di Sekolah Dasar (Diknas, 2003)
2. Seni Tari Sebagai Media Pembelajaran di SD (Diknas,
2003)
3. Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini melalui
Pendidikan Seni Tari (Diknas,2003)
4. Wawasan Kebudayaan (Balitbang Diklat Pariwisata, 2001)
5. Kebudayaan dan Dinamika Masyarakat ( Balitbang Diklat
Pariwisata,2001)
6. Tata Rias Tari (Balitbang Diklat Pariwisata,2001)
7. Kurikulum Pendidikan Seni Tari di SD 92003)
Penelitian
1. Meningkatkan Kemampuan Anak dalam Menari Tari
Tradisional Minangkabau Melalui Penguasaan Dasar
Gerak Pencak Silat (2003)
2. Pencak Silat dalam Tari Tradisional Minangkabau (2006)
3. Minat Pelajar SLTA se DKI Jakarta Tarhadap Kesenian
(2006)
Jurnal
Meningkatkan Kemampuan Anak dalam Menari Tari
Tradisional Minangkabau Melalui Penguasaan Dasar Gerak
Pencak Silat (2003)
Pengabdian Kepada Masyarakat
1. Pelatihan Penataan Rias Tari bagi Guru SD se Jakarta
Timur (2003)
2. Pelatihan Tari Pendidikan bagi Guru TK se Jakarta Timur
(2006)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 13
Karya Tari
1. Kasiah Tak Talarai (1990)
Demikianlah riwayat hidup ini telah dibuat dengan sebenarnya.
Jakarta, 1 Desember 2007
Dra.Elindra Yetti,MPd
Mata Kuliah Yang Diampu
1. Tari Sumatera
2. Tari Melayu
3. Tari Pendidikan I
4. Tari Pendidikan II
5. Olah Tubuh I
6. Tata Rias dan Busana Tari
7. Sejarah Seni tari
8. Keterpaduan Seni
9. Perencanaan Pengajaran Tari
10. Interaksi Belaja Mengajar
11. Pembinaan Kompetensi Mengajar
12. Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 14
CURICULUM VITAE
Nama : Irsyad Ridho, SPd. MHum.
NIP :
Pekerjaan : Dosen Jurusan Bahasa Indonesiai FBS
UNJ
Instansi : Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bintaro Puspita II/G5 Bintaro Permai
Jakarta 12320.
HP. 021.99845808
Email : icadredo@yahoo.com atau
irsyad@jcce-omline.com
Riwayat Pendidikan :
● SD Center Candakila Pelaihari Lulus tahun 1984
● SMP Negeri I Pelaihari Lulus tahun 1987
● SMA Negeri I Pelaihari Lulus tahun 1990
● S1 Pendidikan Bahasa Indonesia UNJ Lulus tahun 1999
● S2 Cultural Studies Universitas Indonesia Lulus tahun 2006
Pengalaman Kerja dan Jabatan
1. Pengajar/Dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra UNJ 2000
sampai sekarang.
2. Pengajar/Dosendi Jurusan Sastra Jepang Universitas Nasional
2007.
3. Direktur Penelitian di Jakarta Centre for Cultural Studies
4. Pemakalah pada Media Literacy Workshop pada Jurusan
Teknologi Pendidikan UNJ dan Jakarta Universitas Negeri
Semarang, 2005.
5. Peserta penataran calon Penerjemah Buku Ajar Perguruan
Tinggi, Dirjen Dikti DEPDIKNAS 2001.
6. Editor dan Penulis Buku Pendidikan, Proyek Peradaban
Terbengkelai, Transbook, 2006.
7. Editor dan Penulis Buku Menggugat Ujian Nasional,
Memperbaiki Kualitas Pendidikan, Teraju, 2007.
8. Penulis buku Teori Sastra, Universitas Terbuka, 2007.
9. Sutradara dan Penulis Naskah Batavia 1629: Sebuah
Rekonstruksi Sejarah, Dinas Pariwisata DKI Jakarta, 2002.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
LAMPIRAN CV SENI TARI 15
10. Juri Sayembara Penulisan Naskah Drama tingkat
Nasional untuk Guru SD, SMP, dan SMA Pusat Perbukuan
DEPDIKNAS, 2007.
Jakarta, 1 Desember 2007
Irsyad Ridho, SPd.MHum.
BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
FORMAT OBSERVASI SENI TARI
Kemampuan yang diamati : Keterampilan mengungkapkan dan menyusun gerak melalui media ungkap, alat dan unsur terkait dalam tari ciptaan
pribadi
Nama : _____________________________________ Kelas : _____________________________________
Tugas : _____________________________________ Hari/Tgl : _____________________________________
No Jenis Kegiatan Tari Kreatif Ciptaan Pribadi SKOR Keterangan
A B C D E
1 Keterampilan siswa untuk mengungkapkan gerak
pribadi secara sontan (improvisasi)
2 Keterampilan siswa untuk menjelajah gerak
(eksplorasi)
3 Keterampilan siswa untuk menggabungkan gerak
yang sudah ditentukan
4 Keterampilan siswa untuk mengembangkan gerak
dan mengolah teknik gerak melalui ruang, waktu,
tenaga sesuai dengan irama
5 Keterampilan siswa untuk merangkai gerak dan
menyusun gerak dengan unsur komposisi tari
sebagai hasil ciptaan bentuk gerak pribadi.
Keterangan : Guru Pengamat :
A=Sangat baik
B=Baik
C=Cukup Tandatangan :
D=Kurang Nama Jelas
E=Sangat kurang
FORMAT OBSERVASI SENI TARI
Kemampuan yang diamati : Keterampilan mengungkapkan dan menyusun gerak melalui media ungkap, alat dan unsur terkait dalam tari ciptaan
pribadi
Nama : _____________________________________ Kelas : _____________________________________
Tugas : _____________________________________ Hari/Tgl : _____________________________________
No Jenis Kegiatan Tari Kreatif Ciptaan Pribadi SKOR Keterangan
A B C D E
1 Keterampilan siswa untuk mengekspresikan gerak yang telah
dicontohkan guru
2 Keterampilan siswa untuk mengungkapkan gerak secara berurutan
yang telah diberikan guru (hafalan)
3 Keterampilan siswa untuk mengungkapkan gerak dengan ruang,
waktu, dan tenaga
4 Keterampilan siswa untuk mengungkapkan secara benar-benar
(wirega)
5 Keterampilan siswa untuk mengungkapkan gerak dengan irama
(wirama)
6 Keterampilan siswa untuk menhayati gerak (wirasa) sesuai dengan
bentuk tari yang diterima
7 Keterampilan siswa dalam teknik kerja kelompok/berpasangan
Keterangan : Guru Pengamat :
A=Sangat baik
B=Baik
C=Cukup Tandatangan :
D=Kurang Nama Jelas
E=Sangat kurang
FORMAT OBSERVASI SENI TARI
Kemampuan yang diamati : Keterampilan mengungkapkan dan menyusun gerak melalui media ungkap, alat dan unsur terkait dalam tari ciptaan
pribadi
Nama : _____________________________________ Kelas : _____________________________________
Tugas : _____________________________________ Hari/Tgl : _____________________________________
No Jenis Kegiatan Tari Kreatif Ciptaan Pribadi SKOR Keterangan
A B C D E
1 Keterampilan siswa mengungkapkan perasaan gembira melalui gerak
2 Kemampuan siswa merespon gerak dalam bentuk ruang, waktu, dan tenaga dari
yang dilihat maupun diungkapkan
3 Kemampuan siswa untuk mengungkapkan sedih (emosional) melalui gerak
4 Kemampuan siswa merespon stimulus yang ditangkap melalui gerak dan irama
5 Kemampuan siswa untuk menangkap stimulus cerita yang diberikan oleh guru
melalui respon gerak
6 Kemampuan siswa untuk menangkap pesan melalui bentuk gerak, merespon gerak
yang diberikan guru
7 Kemampuan siswa untuk mengungkapkan gerak melalui respon dengan media atau
alat gerak pribadi
8 Kemampuan siswa untuk menilai dan merespon perasaan dalam bentuk kelompok,
gerak dengan elemen komposisi terkait.
Keterangan : Guru Pengamat :
A=Sangat baik
B=Baik
C=Cukup Tandatangan :
D=Kurang Nama Jelas
E=Sangat kurang
ISBN XXX-XXX-XXX-X
Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang
Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digu-
nakan dalam Proses Pembelajaran.
HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00
ISBN XXX-XXX-XXX-X
Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang
Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digu-
nakan dalam Proses Pembelajaran.
HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00
0 comments
Post a comment