• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
SMK-MAK kelas10 smk seni rupa agung
 

SMK-MAK kelas10 smk seni rupa agung

on

  • 50,310 views

 

Statistics

Views

Total Views
50,310
Views on SlideShare
50,310
Embed Views
0

Actions

Likes
11
Downloads
1,822
Comments
7

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

17 of 7 previous next Post a comment

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • downloadnya gimana?????susaah
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • susah djgha downloadz x....
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • ssh btul download nya
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • its realll
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • downloadnya susah banged se?
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    SMK-MAK kelas10 smk seni rupa agung SMK-MAK kelas10 smk seni rupa agung Document Transcript

    • A. Agung Suryahadi SENI RUPA A. Agung Suryahadi untuk SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
    • A. Agung Suryahadi Seni Rupa Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan Produktif SMK Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional
    • Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang Seni Rupa Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan Produktif Untuk SMK Penulis : A. Agung Suryahadi SUR SURYAHADI, A. Agung Seni Rupa, Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan Produktif : SMK/oleh A. Agung Suryahadi. ---- Jakarta : Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. xv. 404 hlm Daftar Pustaka : 401-403 Diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008
    • KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK
    • PENGANTAR Dengan mengucapkan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dengan diselesaikannya penulisan buku ini. Judul buku ini dipilih untuk memberikan suatu kesan dan pemahaman bahwa belajar seni rupa dapat membuat orang menjadi peka secara estetik yang diharapkan mempengaruhi kepekaan budi pekerti yang selama ini banyak diharapkan untuk mempengaruhi kehidupan yang teduh di masyarakat. Selain itu juga memberikan dampak kepada kemampuan kreatif imajinatif dan produktif dalam membuat karya seni, akhirnya karena memiliki wawasan yang luas tentang nilai-nilai seni maka diharapkan dengan belajar melalui buku ini membimbing siswa untuk memiliki sikap apresiatif terhadap hasil seni dan budaya bagsa serta hasil kebudayaan lainnya serta cinta kepada lingkungan hidup. Buku ini tidak akan dapat terwujud jika tidak adap bantuan dari pihak lain, terutama kepada jajaran Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan yang telah memberi kesempatan penulis untuk ikut dalam program penulisan buku-buku bagi pendidikan kejuruan. Terimakasih pula kepada jajaran P4TK Seni dan Budaya yang telah mengusulkan penulis untuk ikut sebagai penulis buku-buku kejuruan, tak lupa pula kepada anak dan istri yang telah memberi dorongan dan membantu penulis dalam menyelesaikan buku ini. Buku ini dapat berfungsi ganda, pertama berguna bagi siswa dan guru SMK Seni dan Budaya untuk mendalami seni rupa, kedua juga dapat digunakan sebagai rujukan guru dan siswa sekolah non-kejuruan seni untuk memperdalam tentang pe-lajaran seni di sekolah mulai dari tingkat sekolah dasar dan menengah. Kami menyadari buku ini masih belum sempurna, untuk itu penulis mengharapkan ada masukan dan kritikan terhadap buku ini untuk penyem- purnaannya. Akhirnya diharapkan buku ini dapat sedikit menyumbangkan pengetahuan bagi dunia pendidikan khususnya pendidikan seni rupa baik kejuruan maupun non kejuruan. Yogyakarta, November 2007 Penulis.
    • DAFTAR ISI Lembar Pengesahan i Pengantar penulis Pengantar Direktur Pembinaan SMK ii Daftar Isi iii Daftar Gambar vii Sinopsis Deskripsi konsep penulisan BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Belajar Seni Rupa 4 C. Seni Rupa Indonesia Sebagai Sumber Penciptaan 7 D. Isi Buku 9 BAB II WAWASAN SENI RUPA 16 A. Pengertian Tentang Seni 16 B. Pengertian Tentang Seni Rupa 21 C. Seni Rupa Dalam Kehidupan Manusia 22 1. Seni Rupa Dalam Kehidupan Beragama 23 2. Seni rupa Dalam Aktivitas Ekonomi 28 3. Seni rupa Dalam Kehidupan Politik 30 4. Seni rupa Dalam Pendidikan 31 D.Seni rupa Indonesia 34 1. Zaman Prasejarah 35 a. Zaman Paleolithikum 35 b. Zaman Mesolithikum 35 c. Zaman Neolithikum 36 d. Zaman Megalithikum 37 e. Zaman Perunggu 38 2. Zaman Sejarah 39 a. Zaman Penyebaran Agama-Agama India 39 b. Zaman Penyebran Agama Islam 45 c. Zaman Pengaruh Kebudayaan Eropa 47 d. Zaman Kemerdekaan 50 e. Seni Rupa Etnis Indonesia 53 1) Seni Batik 53 2) Wayang 56 3) Keris 59 f. Seni Rupa Bali 61 g. Potensi Yang Dimiliki Indonesia 75 E.Seni Rupa Mancanegara 75 1. Mesir 75 2. Yunani 79 3. Romawi 83 4. Renaissnace Dan Eropa 87 5. India 112 6. Cina 117 7.Jepang 120 BAB III PENGETAHUAN BAHAN DAN ALAT SENI RUPA 126 A. Bahan dan Alat Seni Rupa Dua Dimensi 126 1. Pena 126 2. Kuas 128 iii
    • 3. Kertas 128 4. Kanvas 129 5. Karet Penghapus 130 6. Papan Gambar 130 B. Eksplorasi Bahan Seni Rupa Dua Dimensi 131 1. Arang 131 2. Pensil 135 3. Pastel 139 4. Tinta 144 5. Cat Air 147 6. Cat Poster 151 7. Cat Akrilik 153 8. Cat Minyak 155 C. Media Campuran Seni Rupa Dua Dimensi 158 D. Bahan dan Alat Seni Rupa Tiga Dimensi 160 1. Bahan Lunak 161 2. Bahan Liat 161 3. Bahan Keras 163 BAB IV MENINGKATKAN KEPEKAAN PERSEPSI ESTETIK 166 A. Belajar Melalui Unsur Seni Rupa 168 1. Unsur Garis 168 2. Unsur Ruang 173 3. Unsur Bentuk 177 4. Unsur Warna 186 5. Unsur Tekstur 200 B. Prinsip Pengorganisasian Unsur Seni Rupa 202 1. Mengarahkan Perhatian 203 a. Pengulangan 203 b. Selang-Seling 205 c. Rangkaian 206 d. Transisi 207 e. Gradasi 208 f. Irama 209 g. Radiasi 211 2. Prinsip Memusatkan 212 a. Konsentrasi 213 b. Kontras 214 c. Penekanan 218 3. Prinsip Menyatukan 221 a. Proporsi 221 b. Keseimbangan 223 c. Harmoni 228 d. Kesatuan 229 e. Ekonomi 233 f. Hubungan Dengan Lingkungan 234 BAB V MENGGAMBAR DAN MEMBENTUK SEBAGAI DASAR 235 BERKARYA SENI RUPA A. Menggambar Dan Melukis 236 1. Menggambar Sketsa 236 a. Sketsa sebagai Catatan Visual 239 b. Sketsa sebagai Media Studi Bentuk dan Warna 240 c. Sketsa sebagai Awal Berkarya Seni Rupa 243 d. Sketsa sebagai Seni Sketsa 245 iv
    • 2. Menggambar Perspektif dan Proyeksi 249 a. Menggambar Perspektif 249 b. Menggambar Proyeksi 254 3. Menggambar Alam Benda 256 a. Menggambar Alam Benda Hitam Putih dengan teknik dry brush 261 b. Menggambar Alam benda dengan Warna 262 4.Menggambar Tumbuhan-Tumbuhan dan Binatang 265 a. Menggambar Tumbuh-Tumbuhan 265 b. Menggambar Binatang 270 5. Menggambar Manusia 275 6. Menggambar Ilustrasi 280 a. Ilustrasi untuk cerita pendek 284 b. Ilustrasi sampul buku cerita 284 c. Ilustrasi cerita bergambar 285 d. Ilustrasi untuk ilmu pengetahuan 285 e. Ilustrasi untuk cerita fiksi 286 7. Teknik Cetak Dua Dimensi 287 a. Teknik Cetak Tunggal 288 b. Teknik Cukil 290 c. Teknik Intaglio 290 8. Menggambar Ornamen 295 a. Ornamen Nusantara 296 b. Ornamen Mancanegara 299 9. Menggambar Huruf 301 B. Membentuk Tiga Dimensi 305 1. Membentuk dengan tanah liat 305 a. Teknik pijit/pinch 305 b. Teknik lempeng/slab 306 c. Teknik pilin coil 307 d. Teknik putar 307 2. Membentuk dengan bahan keras 308 a. Kayu 308 b. Batu 308 c. Logam 309 3. Jenis Seni Rupa Tiga Dimensi 309 a. Relief 309 b. Karya Frontal 312 c. Full Round 313 d. Walk-Through 318 BAB VI KREATIF MELALUI SENI RUPA 321 A. Pengertian Kreativitas 321 B. Seni rupa dan Kreativitas 322 C. Proses Kreatif dalam Seni Rupa 324 D. Tipe Proses Kreatif dalam Seni Rupa 325 1. Tipe Terstruktur dan Sintesa 326 2. Tipe Intuitif dan Emosional 333 E. Berpikir Imajinatif 335 1. Fantasi 336 2. Analogi 336 3. Ilusi 337 4. Humor 339 5. Animasi 341 F. Berpikir Alternatif 341 G. Berpikir Inovatif 343 v
    • H. Berpikir Kongkrit 350 BAB VII APRESIASI SENI RUPA 354 A. Pengertian Apresiasi Seni Rupa 354 B. Hal yang Diperlukan dalam Apresiasi Seni Rupa 354 1. Pengetahuan tentang Seni Rupa 354 2. Kegemaran terhadap Karya Seni Rupa 355 3. Kepekaan Estetik 355 4. Sikap Penghargaan terhadap Seni Rupa 356 C. Aspek Apresiasi Seni Rupa 356 1. Tema Permasalahan 356 2. Teknik Garapan 359 3. Unsur dan Pengorganisasian 361 4. Kreativitas 362 D. Pendekatan dalam Melakukan Apresiasi Seni 364 1. Pendekatan Kritik 364 a. Jenis Kritik Seni 364 b. Gaya Kritik Seni 366 2. Pendekatan Analitik 368 a. Deskripsi 368 b. Analisis 371 c. Interpretasi 373 d. Judgement 373 3. Pendekatan Kognitif 374 a. Favoritisme 375 b. Keindahan dan Realisme 375 c. Ekspresi 376 d. Gaya dan Bentuk 376 e. Otonomi 377 4. Pendekatan Aplikatif 377 5. Pendekatan Kesejarahan 377 6. Pendekatan Problematik 378 7. Pendekatan Semiotik 379 BAB VIII Penutup 385 A. Pentingnya Pendidikan Kejuruan Seni rupa 385 B. Pendidikan Seni Rupa dan Kriya Indonesia Masa Depan 387 C. Manfaat Buku Ini Sebagai Pendukung Belajar Seni Rupa 391 D. Kiat Sebagai Siswa Calon Seniman 394 Glosarium 397 Kepustakaan 401 Lampiran Gambar Daftar Nama Yang Terlibat Penulisan vi
    • DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Gambar Halaman 1. Gambar di dinding gua prasejarah 1 2. Benda-benda seni dalam kehidupan manusia 2 3. Alat perlengkapan manusia jaman modern yang 2 mema-sukkan seni dalam produk-produk teknologi 4. Hasil bidang seni rupa, lukisan, patung, keramik 3 dan ukiran logam 5. Patung karya G. Sidharta dan lukisan karya Agus 4 Djaya 6. Lukisan ‘Kalarahu’ Nyoman Gunarsa 5 7. Dua produk seni etnis tradisional Indonesia: 7 lukisan teradisional bali dan kain dari NTT 8. Topeng Kalimantan dan topeng Jawa 8 9. Relief Jawa Tengah, Jawa Timur dan Keris Bali 9 10. Patung karya I Nyoman Cokot 10 11. Lukisan karya Antonio Blanco 11 12. Sketsa catatan untuk melukis 12 13. Sketsa dilanjutkan menjadi lukisan 12 14. Pengembangan kreativitas melalui rangsang 14 visual 15. Foto dan lukisan pemandangan 17 16. Produk seni rupa tradisonal tiga dimensi: patung, 14 ukir-an dan kendi keramik 17. Patung Dewa Siwa 20 18. Produk seni murni dan seni terpakai 20 19. Berbagai produk seni rupa 22 20. Yantra Bindu 24 21 Seni Sesaji dalam ritual Agama Hindu di Bali 25 22. Patung Buddha 25 23. Lukisan Nabi Adam diturunkan ke bumi 26 24. Wayang Kulit Jawa: Dewi Sinta dan Hanuman 27 25. Wayang Kulit Jawa: Bima dan raksasa 28 26. Iklan Shampo di koran 29 27. Iklan Kopi di majalah 29 28. Kegiatan seni rupa di TK 32 29. Lukisan Anak : bermain Layang-layang 33 30. Fungsi otak kanan dan otak kiri 34 31. Peninggalan Zaman Batu Tua 35 32. Lukisan pada dinding gua 36 33. Peninggalan Zaman Batu Baru 37 34. Patung Zaman Megalitikum 37 35. Nakara 38 36. Bagian atas nakara 38 37. Prasasti Batu Tulis dari Kutai dan Batu Sangkar 39 38. Candi Prambanan 40 39. Candi Borobudur 41 40. Relief Candi Borobudur 42 41. Relief Candi Borobudur 42 42. Motif Kepala Kala dari Jawa Tengah dan Jawa 43 Timur 43. Motif Teratai, Linga Yoni, Kinara-Kinari 44
    • 44. Menara mesjid Kudus 45 45. Ukiran dalam medalion Masjid Mantingan, Jepara 46 46. Gapura Mesjid Sendangduwur Tuban 46 47. Lukisan Gunung Merapi karya Raden Saleh 47 48. Lukisan ‘Perburuan Harimau’ karya Raden Saleh 48 49. Lukisan ‘Pemandangan di Jawa’ Karya Abdullah 48 SR 50. Lukisan ‘ Balai Desa Minangkabau’ karya Wakidi 49 51. Lukisan ‘ Pemandangan Sudut Jakarta ‘ karya 50 Ernest Dezentje 52. Lukisan ‘Tetangga’ karya Sudjojono 51 53. Lukisan ‘ Mencari Kutu Kepala’ Karya Hendra 52 Gunawan 54. Patung ‘ Gadis dan Kodok’ Karya Trubus 53 55. Motif batik Parang dan Kawung 54 56. Motif batik gaya Cirebon 54 57. Batik kreasi baru 55 58. Bentuk-bentuk wayang 57 59. Pertunjukan Wayang Bali, bentuk wayang golek 58 60. Keris Bali dan Jawa 60 61. Nakara Pejeng 62 62. Hiasan muka manusia pada Nakara Pejeng 63 63. Lukisan dan patung tradisional Bali 65 64. Beberapa bentuk bagian tubuh tokoh lukisan 66 tradisional Bali 65. Dua bentuk tokoh lukisan wayang tradisional 66 Kamasan Bali 66. Lukisan Walter Spies dan Lukisan R. Bonnet 67 67. Lukisan Ida Bagus Made: Seni Pertunjukan 68 68. Lukisan I Gusti Nyoman Lempad: Pedagang Nasi 68 69. Lukisan Anak Agung Gede Sobrat: Percikan Air 69 Tirta 70. Lukisan I Gusti Ketut Kobot: Krisna Murti 70 71. Patung Karya I.B. Nyana dan I Nyoman Cokot 71 72. Lukisan Arie Smith, Ketut Soki dan Ketut Tagen 72 73. Lukisan I Nyoman Erawan: Bingkai Rusak 73 74. Lukisan I Nyoman Gunarsa: Dua Penari Bali 74 75. Relief berwarna, Mesir Kuno 76 76. Mummi, relief, dan tempat menyimpan organ 77 dalam orang yang meninggal 77. Patung Binatang dan lukisan potret pada 78 kuburan 78. Kuil Parthenon 80 79. Pot Bunga Yunani 81 80. Patung Venus dan prajurit dari Ruice 82 81. Relief patung pada kubur Batu 83 82. Colosseum tahun 80 Masehi 84 83. Relief pada altar Ara Pacis 85 84. Patung potret Zaman Romawi kuno 86 85. Lukisan Dinding Zaman Romawi kuno 86 86. Dewi Venus Muncul dari Laut 87 87. Michelangelo, Pieta 88 88. Michelangelo, Adam diturunkan ke bumi 89 89. Lukisan ‘Monalisa’ karya Leonardo Da Vinci 90 90. Lukisan ‘Pertunangan Arnaltini’ karya Jan Van 91 viii
    • Eyck 91. Lukisan ‘ Jan Six’ karya Rembrandt 92 92. Gialorenso Bernini , Patung The Ecstacy of St. 94 Teresa 93. Jeane Honore Fragonard, The Swing 95 94. Jacques-Louis David, The Oath of Horatii 95 95. John Constable, The Haywain 96 96. William Turner, Snow Storm 97 97. Gustave Courbet, The Stone Breaker 97 98. Claude Monet, The Haystack 98 99. Paul Cezanne, Still Life With Apples 99 100. Edward Munch, The Scream 100 101. Van Gogh, Stary Night 101 102. Henri Matisse, The Red Studio 102 103. Andre Derain, The Pool of London 102 104. Pablo Picasso, Violin and Grapes, dan George 104 Braque, The Portuguese 105. Marcel Duchamp, Nude Decending Staircase 105 106. Piet Mondrian, The Gray Tree 106 107. Vassily Candinski, Improvisation No.3 106 108. Jackson Pollock, No. 14 107 109. Jean Arp, Automatic Drawing 108 110. Salvador Dalli, Apparition of Face and Fruit-dish 108 and a Beach 111. Andy Warhol, Green Coca-Cola Bottles dan Roy 109 Lichtenstein, Roto Broil 112. Bill Martin, Abalone Sheel 110 113. Christo, Running Fence 111 114. Relief dari Mohenjodaro 112 115. Patung Wanita Mahenjodaro 113 116. Yantra Segitiga 114 117. Yantra Segiempat 115 118. Patung Dewa Siwa 116 119. Ornamen Kembang dari Batu Giok 117 120. Patung Boddhisatva dari Dinasti Song 118 121. Lukisan Wang Hui dan Guo Kogong 119 122. Patung Keramik Bangsa Jomon, Jepang 121 123. Genta perunggu dan patung petani, Jepang 122 124. Kaligrafi Bodhidharma karya Hakui Ekaku 123 125. Lukisan Otani Oniji karya Toshusai Sharaku 124 126. Foto Taman Istana Katsura, Kyoto 125 127. Taman Ryoanji 125 128. Jenis pena 127 129. Gambar dengan pena 127 130. Jenis kuas 128 131. Papan gambar 131 132. Gambar pemandangan dengan bahan arang 132 133. Goresan arang, Kate Kolowitz, Self Potrait 133 134. Bunga anggrek, Laki-laki tertidur 134 135. Leonardo da Vinci, The Virgin and the Child 134 136. Gambar goresan pensil cat air 137 137. Lukisan pemandangan dengan bahan pensil cat 138 air 138. Gambar rumah di kebun 138 139. Menggosok pastel dengan tissue 141 ix
    • 140. Karya Seni Lukis dengan bahan dan teknik pastel 141 141. Goresan pastel 142 142. Lukisan dengan Pastel 143 143. Gambar dengan Tinta Hitam 145 144. Sketsa dengan tinta cina 146 145. Lukisan klasik Cina dengan cat air 149 146. Gorean dengan cat air 150 147. Goresan dengan cat poster 152 148. Goresan dengan cat akrilik 154 149. Lukisan cat akrilik 154 150. Goresan cat minyak 157 151. Dullah, Tentara Pendudukan, cat minyak 157 152. Omar, Hendak mencuci; Sudjojono, Dibalik 158 Kelambu 153. Goresan campuran pensil dan pastel 159 154. Jenis-jenis tanah liat 162 155. Benda-benda dari tanah liat 163 156. Patung dari logam dan batu 165 157. Lukisan bahan pastel, cat air dan cat minyak 167 158. Patung dengan teknik teknik dan bahan berbeda 168 159. Unsur bentuk dan garis 168 160. Bahan dan teknik membuat garis 171 161. Gambar hanya dengan garis 172 162. Potensi garis membuat ilusi 173 163. Ruang Positif dan ruang negatif 174 164. Ruang positif dan negatif dengan linear dan areal 175 per-spektif 165. Lukisan dengan areal perspektif 175 166. Lukisan dengan linear perspektif 176 167. Aplikasi ruang positif dan negatif 177 168. Bentuk organis dua dimensi dan tiga dimensi 178 169. Bentuk organis dan geometris dengan ilusi tiga 179 dimensi 170. Bentuk organis dan geometris bervolume 180 171. Aplikasi warna panas dan warna dingin 190 172. Aplikasi warna intensitas tinggi dan rendah 191 173. Aplikasi warna primer 192 174. Penerapan warna monokromatik 193 175. Warna monokromatik dengan aksen warna merah 194 176. Penggunaan warna monokromatik 194 177. Penerapan warna analogus 195 178. Penerapan warna komplementer 196 179. Penerapan warna monokromatik, analogus, dan 196 komplementer 180. Tekstur dengan teknik marbling 200 181 Tekstur semu dengan teknik cipratan 200 182. Tekstur kasar dengan bahan kulit telur 201 183. Tekstur kasar dengan teknik batik 201 184. Prinsip pengulangan teratur dan tak teratur 204 185. Prinsip selang-seling 205 186. Prinsip rangkaian 206 187. Prinsip transisi 207 188. Prinsip gradasi 209 189. Prinsip irama 210 190. Prinsip radiasi 212 x
    • 191. Prinsip konsentrasi 213 192. Prinsip kontras 215 193. Penerapan prinsip kontras 216 194. Stuart Davis, Seme, 217 195. Penerapan prinsip penekanan 218 196. Agus Djaya, Dalam Taman Nirwana 219 197. Henri Rousou, The Dream 220 198. Penerapan prinsip proporsi pada lukisan 222 pemandangan 199. Penerapan Prinsip Keseimbangan Mendatar, 224 Vertikal dan Radial 200. Penerapan prinsip keseimbangan pada lukisan, 226 patung dan relief 201. Penerapan prinsip keseimbangan informal 227 202. Prinsip harmoni 228 203. Prinsip kesatuan 230 204. Penerapan prinsip kesatuan dalam lukisan 231 205. Penerapan prinsip keseimbangan, Irama, 232 Pengulangan dalam patung 206. Prinsip ekonomi dalam lukisan 233 207. Goresan berbagai variasi garis 238 208. Variasi Garis Membentuk Image 238 209. Dua sketsa Henk ngantung 239 210. Studi anggota tubuh manusia 240 211. Studi Sybil oleh Michelangelo 241 212. Studi Anatomi Manusia Oleh Leonardo da Vinci 242 213. Studi Guernica oleh Pcasso 242 214. Hasil studi gambar binatang peserta diklat 242 215. Rakit Medusa oleh Delacroix 243 216. Studi Rakit Medusa oleh Delacroix 244 217. Studi Rakit Medusa oleh Delacroix 244 218. Aguste Rodin, The Gate of Hell 245 219. Seni sketsa oleh Nyoman Gunarsa 246 220. Seni sketsa Henri Matisse 247 221. Seni sketsa Henk Ngantung 247 222. Seni Sketsa Picasso dan Christiano 248 223. Memahami perspektif 250 224. Gambar proyeksi 254 225. Gambar Kerja Penerapan proyeksi dan Perspektif 255 226. Gambar alam benda: sepatu dan buah dengan 257 pensil 227. Kursi tua dan pipa cerutu, karya Van Gogh 258 228. Gambar alam benda dengan krayon dan pastel 259 229. Gambar alam benda dengan cat air dan spidol 260 230. Proses menggambar alam benda dengan teknik 261 dry brush 231. Proses menggambar alam benda dengan warna 263 akrilik 232. Menggambar Alam Benda dengan Cat Air 264 233. Gambar tumbuh-tumbuhan 233 234. Gambar rerumputan oleh Durrer dengan cat air 266 235. Gambar semak dengan pastel kapur 267 236. Gambar pepohonan oleh siswa SMK 268 237. Menggambar Daun dengan Pastel Minyak 269 238. Jenis Binatang Menyusui 270 xi
    • 239. Kuda Liar di Padang Rumput 271 240. Sketsa binatang 272 241. Gambar binatang oleh Rembrant dan Durrer 272 242. Gambar burung oleh peserta diklat 273 243. Langkah Menggambar Kucing 274 244. Proporsi tubuh Laki-Laki Dewasa 276 245. Proporsi Tubuh Orang Dewasa 277 246. Gambar bagian kepala 278 247. Gambar torso 278 248. Langkah Menggambar Potret dengan Akrilik 279 249. Dullah, Wanita Desa 280 250. Ilustrasi berbeda fungsi 281 251. Ilustrasi fantasi 282 252. Ilustrasi Buku Pelajaran Untuk Anak-anak 284 253. Ilustrasi cerita anak 285 254. Ilustrasi ilmu pengetahuan 286 255. Ilustrasi cerita fiksi 287 256. Teknik Monoprint 288 257. Teknik Cukil 289 258. Teknik Dry Point 290 259. Teknik Etsa 291 260. Gambar ornamen karya peserta diklat 296 261. Ornamen motif daerah 297 262. Gambar ornamen dengan menyederhanakan 298 263. Gambar ornamen dengan pengayaan 298 264. Ornamen Kuno dari Berbagai Negara 299 265. Motif Meander, Singa, Burung dari Spanyol 300 266. Motif Muka, Naga, Manusia 301 267. Contoh Logo 305 268. Proses membentuk tanah liat dengan teknik pijit 306 / pinch 269. Proses membentuk tanah liat dengan teknik 307 lempeng 270. Proses membentuk tanah liat dengan teknik 307 pilin/coil 271. Proses membentuk tanah liat dengan teknik 308 putar 272. Relief rendah 309 273. Relief tinggi 311 274. Patung frontal 313 275. Jenis patung full round 314 276. Rongga-rongga persegi 316 277. Bentuk kubus dengan teknik potong, tempel 316 278. Bentuk Limas dengan teknik potong, lipat, dan 317 toreh 279. Karya seni walk through oleh Helin Zimmerman 319 280. Karya seni Walk through oleh Robert Morris 319 281. Karya Abdul Azis 323 282. Karya Fajar Sidik 323 283. Karya Dullah dan Lee Man-Fong 327 284. Karya Basuki Abdulah dan Lee Man-Fong 327 285. Karya seni lukis dekoratif Bali dan Walter Spies 328 286. Karya seni Lukis Widayat dan Kuswadji 329 287. Karya Marc Chagall 330 288. Sketsa abstrak Henry Moore 330 xii
    • 289. Karya Monet dan Cezanne 331 290. Konsep bentuk kubisme 332 291. Guernica karya Picasso 333 292. Karya Durrer, Affandi, dan Pollock 334 293. Konsep bentuk ekspresionisme 335 294. Karya M.C. Escher, Born with Union 335 295. Karya Marc Chagall, Birthday 337 296. Pemanfaatan ilusi optik dalam seni rupa 338 297. Karya Hopmekler, Jimmy Carter dan kawannya 339 298. Karikatur G.M Sudarta 340 299. Animasi dalam lukisan dan keramik 340 300. Visual brain storming 342 301. Karya Erawan, Kekunoan 345 302. Karya Martin Sharp, dan Lucas Maramas 346 303. Karya Spies, dan Bonnet 347 304. Pengembangan kombinasi dan sinergi bentuk 347 305. Pengembangan kombinasi dan sinergi bentuk 348 306. Karya Salvador Dali, The persistence of memory 349 307. Pengembangan dan penyatuan garis dan bentuk 350 308. Pengembangan bentuk organis 351 309. Tiga karya Picasso periode biru 357 310. Lukisan wayang beber 358 311. Lukisan Wayang Kamasan 358 312. Prose membuat patung Rodin 360 313. Karya Trubus dan Sadali 361 314. Karya Manaise Manipik, Good Spirit 366 315. Karya Lee Man-Fong, Menenun 368 316. Karya Sudjojono dan karya Lee Man-Fong 369 317. Karya G. Sidartha dan Irianti Marmaya 370 318. Karya Marc Chagall, The Gree Violinist 372 319. Analisis the Gree Violinist 374 320. Unsur rupa sebagai tanda 379 321. Hubungan antar unsur 382 xiii
    • SINOPSIS Pendidikan kejuruan seni pada dasarnya menyangkut empat hal pokok yakni: ketrampilan teknik, kepekaan estetik, kreativitas, dan apresiasi. Keempat hal ini saling berkaitan satu sama lainnya, apabila lebih disederhanakan hanya menyangkut dua hal yaitu ketrampilan teknik dan kepekaan estetik. Kenapa keempat hal ini menjadi hal pokok dalam pendidikan kejuruan seni? Apabila dicermati bidang seni intisarinya adalah estetik atau keindahan, hal ini sebenarnya melekat dalam kehidupan manusia. Orang tidak dapat membuat karya seni tetapi ia memiliki sense of beauty, hal ini dapat dilihat ketika memilih sesuatu ia memilih dengan pertimbangan bentuk dan warna yang disukainya, ketika ada lagu yang sesuai dengan kesukaannya ia merasa senang itulah perasaan keindahan yang dimiliki setiap manusia. Untuk membuat karya seni selain memiliki rasa keindahan, orang harus memiliki kemampuan cara membuatnya, kemam- puan cara melakukannya. Mau membuat gambar ia harus memiliki kemampuan cara menggambar, ingin dapat menari harus memiliki cara melakukan gerak tari, begitu puLa berlaku jika ingin membuat jenis seni lainnya. Apabila berhenti pada cara membuat dan melakukan maka seseorang hanya dapat meniru, untuk lebih meningkatkan kemampuan maka seseorang yang berkiprah dalam seni ia harus memiliki kemampuan mencipta yang disebut dengan kemampuan kreatif. Kemampuan kreatif dimiliki oleh manusia, dan kemampuan ini pula yang membe- dakan status manusia dengan mahluk lainnya di bumi ini. Kemampuan inilah yang meNyebabkan peradaban manusia dapat berkembang hingga saat ini. Binatang mampu membuat sarang tetapi tidak berkembang, mereka hanya dituntun oleh insting secara alami dan bentuk sarangnya dari waktu ke waktu tetap sama. Sedang manusia, bentuk tempat tinggal berkembang terus karena kemampuan daya kreatifnya. Sesungguhnya kemampuan kreatif manusia itu merupakan anugrah yang sangat luar biasa jika dikembangkan dengan baik. Selanjutnya ketika manusia telah dapat mencipta, ia harus dibekali pula oleh kemampuan untuk memelihara dan menghargai ciptaannya, hal ini pula yang menandakan manusia memiliki peradaban. Jadi buku ini dikembangkan dengan landasan alami, yakni menggali potensi manusia yang berhubungan dengan kemam-
    • puan estetik, dan kreativitas yang dimilikinya sejak lahir. Maka materi yang diuraikan menyangkut tentang wawasan yang berhubungan dengan seni rupa untuk memberikan perspektif yang lebih luas sebagai dasar intelektualitas dalam bidang seni. Selanjutnya buku ini berisi pula latihan-latihan untuk memben- tuk ketrampilan seni rupa dengan menggunakan berbagai jenis bahan, utamanya bahan seni rupa dua dimensi yang mudah didapat, latihan meningkatkan kepekaan estetik dan kemampu- an kreatif, serta kemampuan menghargai karya seni rupa dengan menggunakan beberapa teknik analisisnya. Demikianlah buku seni rupa ini disusun dengan harapan dapat memberikan sedikit wawasan bahwa seni rupa memiliki potensi yang perlu dikembangkan dalam kehidupan manusia. xv
    • DESKRIPSI KONSEP PENULISAN Penulisan buku ini dilandasi oleh pengalaman dalam mengajar di SMA, DIII Guru Kesenian, DIII Politeknik Seni Yogyakarta beberapa tahun dan memberikan diklat seni rupa kepada guru- guru seni rupa dan kriya sejak kurun waktu tahun 1982 hingga 2007. Dari pengalaman belajar seni rupa kemudian menga- jarkannya kepada siswa, mahasiswa dan guru; pengalaman dan pengetahuan tersebut dikonstruksikan menjadi buku ini yang terdiri dari delapan bab ini. Secara garis besar buku ini berisikan teori dan praktek sebagai suatu yang tidak dapat dipisahkan. Bab I sebagai pedahuluan menyangkut tentang manfaat seni rupa dalam kehidupan manusia serta potensi Indonesia dalam bidang seni budaya dan kekayaan alam melimpah yang dapat digunakan menciptakan karya seni bagi kesejahteraan masyarakat. Bab II berisikan tentang wawasan seni rupa yang melandasi bab-bab selanjutnya. Sebab pengetahuan tentang seni secara lebih luas diperlukan untuk menggerakkan potensi estetik dan kreatif. Bab III menyangkut masalah pengetahuan bahan dan alat, hal ini diperlukan sebelum mulai praktek karena berbagai jenis alat dan bahan memiliki karakter masing-masing yang perlu diketahui dan dikuasi cara menggunakannya. Bab IV merupakan sesi untuk mengasah kepekaan estetik sebagai dasar dari kegiatan seni. Kepekaan estetik merupakan core dalam kegiatan seni, jadi perlu dipertajam sehingga dalam membuat karya seni diikuti dengan pertimbangan estetik yang baik. Bab V berisikan latihan teknik menggambar dan membentuk sebagai dua kegiatan pokok yang melandasi penciptaan seni dua dan tiga dimensi. Bab VI adalah pengasahan kemampuan kreatif yang sangat penting dalam berkesenian agar tidak mandeg dalam menciptakan bentuk-bentuk seni yang baru. Bab VII adalah pengasahan kemampuan memelihara dan menghargai ciptaan seni sebagai bagian dari kebudayaan manusia. Bab VIII sebagai bab penutup merupakan refleksi kondisi pendidikan kejuruan yang perlu mendapat perhatian dan dikembangkan guna kepentingan stra- tegi budaya dan perekonomian rakyat berbasis kepada seni rupa dan kriya yang memiliki potensi sangat besar. Demikianlah konsep dasar penulisan buku ini semoga memberikan manfaat bagi perkembangan pendidikan kejuruan seni di tanah air.
    • A. Latar Belakang Dapatkah dibayangkan apabila dunia ini tanpa seni ? Tanpa lukisan, ukiran, musik, tari ? Seni telah hadir sejak awal kehidupan manusia. Manusia kuno yang hidup di gua-gua telah meninggalkan bukti berupa artifact seni rupa (lukisan) pada dinding gua. Mungkin zaman itu mereka tidak menyadari, bahwa apa yang dibuatnya mengandung keindahan, mungkin mereka lebih menyadari bahwa tanda pada dinding gua yang dibuatnya tersebut adalah memiliki kegunaan yang berhubungan dengan keyakinan mereka yang bersifat spiritual. Sehubungan dengan itu, seni selama berabad-abad sangat dekat hubungannya dengan sistem kepercayaan atau religi suatu kelompok masyarakat atau bangsa. Pada perkembangan selanjutnya, seni tidak lagi hanya berkaitan dengan religi bahkan berperan hampir di setiap kegiatan dalam kehidupan manusia. Perhatikan hasil-hasil teknologi berupa pesawat ruang angkasa, pesawat terbang, mobil, kereta api, sepeda motor, televisi, radio, kompor gas, kotak sabun semua dalam proses pembuatannya memerlukan pertimbangan keindahan. Selanjutnya perhatikan upaya-upaya promosi untuk barang komoditi dan ideologi politik juga peristiwa-peristiwa kenegaraan tidak luput dari peran seni, baik seni rupa atau pun seni Gambar 1. Lukisan purba pada dinding gua di Papua (Sumber: Indonesian Heritage, 2002). 1
    • pertunjukan. Demikianlah seni tidak dapat lepas dari kehidupan manusia, lwalaupun tidak sebagai kebutuhan pokok, namun seni melekat dan digunakan setiap hari tanpa sepenuhnya disadari oleh manusia sebagai penggunanya. a b Gambar 2. Alat perlengkapan kehidupan manusia etnis tradisional dengan tekonolgi sederhana (Sumber:Richter, Aerts and Crefts of Indonesia, 1993) a b Gambar 3. Alat perlengapan manusia zaman modern, dengan teknologi canggih (Sumber : Majalah Garuda, 2007). Dengan dibutuhkannya seni dalam kehidupan sehari-hari, seharusnya peluang untuk menekuni profesi dalam bidang kesenian cukup banyak. Na-mun sayang, karena anggapan masyarakat bahwa bidang kesenian memerlukan bakat atau talenta khusus, maka banyak orang takut untuk menekuninya. Selain itu, ada persepsi bahwa bidang kesenian juga 2
    • dianggap tidak menjanjikan kehidupan masa depan yang sejahtera karena dari kenyataan banyak seniman merana hidupnya di hari tua. a b d c Gambar 4. Produk bidang seni rupa berupa lukisan patung, keramik, ukiran logam (Sumber: a Anne Richter, 1994; b,c,d Indonesian Heritage, 1998) Sekolah seni khususnya seni rupa sebenarnya sangat mem-beri harapan, karena dalam seni rupa banyak keterampilan yang dapat dipelajari dan dibutuhkan di masyarakat, seperti menggambar, melukis, mengukir, mematung, membuat sablon, membuat sketsa, membatik, membuat reklame, membuat dekorasi dan sebagainya. Dari sekian 3
    • banyak keahlian pokok tersebut masih ada sub-sub ketrampilan yang jumlahnya sangat banyak. Misalnya, menggambar memiliki sub keterampilan membuat sketsa, menggambar manusia, pepohonan, binatang, meng-gambar suasana dan sebagainya. Bidang-bidang pekerjaan yang membutuhkan kemampuan seni rupa juga sangat banyak, seperti ilustrator di media masa, visualizer atau drafter di biro reklame, designer tekstil di pabrik tekstil, dekorator interior dan eksterior banyak dibutuhkan pada pembuatan taman dan bangunan-bangunan baru. Perupa seharusnya tidak bergantung untuk dipekerjakan karena tamatan sekolah seni rupa telah dibekali dengan berbagai jenis ketrampilan sehingga memungkinkan untuk bekerja mandiri. B. Belajar Seni Rupa Dalam belajar seni rupa, ada beberapa hal pokok yang harus dikuasai dan dimiliki, yakni pertama, kepekaan estetik atau keindahan, keterampilan teknik, dan imajinasi kreatif. Kepekaan estetik atau rasa keindahan harus dimiliki oleh setiap orang yang memilih profesi bidang kesenian karena inti dari seni adalah keindahan. a Gambar 5. (a) ’ Tangisan Dewi Batari’, patung karya G. Sidarta Soegijo (sumber: Indonesian Heritage, 1998), (b) ’Tari Teruna Jaya’ lukisan karya Agus Jaya (Sumber: Buku Koleksi Presiden Soekarno ). 4
    • Keindahan berada pada rasa. Apabila berhubungan dengan penglihatan, maka ketajaman rasa keindahan berada pada kepekaan visual yang perlu diasah secara terus menerus agar mencapai ketajamannya. Begitu pula dengan keterampilan teknik menggunakan alat dan bahan berhubungan erat dengan kepekaan estetik. Keduanya tidak dapat dipisahkan seperti halnya pada gambar (6) antara rasa keindahan dan keterampilan teknis lebur menjadi satu. Orang tidak akan dapat menikmati keindahan ekspresinya jika tidak memiliki kepekaan estetik yang memadai. Begitu pula senimanya tanpa menguasai ketrampilan teknik dan kepekaan estetik tidak akan dapat menghasilkan karya seni rupa yang baik. Gambar 6. Nyoman Gunarsa, Kalarahu( Sumber: Katalog Pameran Lukisan ’Moksa’ Nyoman Gunarsa, 2004) Kedua, wawasan yang luas dan imajinasi kreatif yang tinggi sangat membantu mengembangkan kemampuan dalam membuat karya seni yang hebat. Namun, hal yang tidak kalah pentingnya adalah kemauan dan motivasi yang kuat untuk bekerja keras, membina hubungan dengan pihak-pihak yang membutuhkan seni guna mencapai cita-cita menjadi perupa yang berhasil. Lihatlah seniman-seniman besar, mereka di samping memiliki kemampuan teknik dan kepekaan estetik dan imajinasi yang tinggi, mereka juga pekerja keras untuk dapat meraih cita-citanya. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan. Dengan menyadari hal ini, profesi bidang kesenian dapat 5
    • berhasil dengan baik, bila secara total mencurahkan segenap waktu, upaya dan energi untuk mencapainya. Seni rupa sangat menjanjikan untuk itu. Masalah umum yang ada di sekolah adalah upaya membimbing siswa secara efektif dalam bidang seni yang masih perlu dimantapkan. Secara umum keterampilan yang diperoleh oleh siswa lebih bertumpu karena pencariannya dengan latihan sendiri. Ada dua cara belajar seni rupa yang sederhana tetapi efektif agar berhasil yaitu meniru dan melakukan eksperimen. Meniru merupakan sifat alami manusia, dengan meniru manusia dapat hidup. Lihatlah bayi, dia dapat berjalan, berbicara dan mengerjakan hal lainnya adalah dengan meniru. Begitu pula dalam dunia seni rupa, pada tahap awal belajar salah satunya adalah dengan meniru. Meniru cara kerja guru, seniman yang telah lebih dahulu mengetahui cara kerja menggambar, melukis, mematung. Kemudian meniru apa yang ada di lingkungan, seperti meniru bentuk benda, pohon, binatang, manusia, bangunan, mesin, kendaraan dan sebagainya. Dalam belajar dengan proses meniru sebenarnya yang dilakukan adalah melatih ketajaman penglihatan dan melatih koordinasi tangan untuk menguasai alat dan bahan yang digunakan. Penguasaan kemampuan ini dapat terlihat ketika menggambar dengan meniru suatu benda. Apabila hasil gambarnya ada ketidaksesuaian bentuk maupun warna dengan benda aslinya, maka yang terjadi adalah kekurangan kemampuan dalam melihat dan menirukan melalui teknik dengan alat dan bahan yang digunakan. Di dalam tradisi belajar seni rupa di Eropa misalnya, meniru merupakan suatu cara yang ditempuh oleh seniman- seniman besar, seperti Rubens meniru karya Leonardo da Vinci. Tradisi ini terus berlanjut hingga saat ini di sekolah-sekolah seni di Inggris. Mahasiswa dengan seijin otoritas di suatu galeri atau museum sengaja meniru salah satu karya materpiece dari pelukis ternama. Maksudnya adalah melakukan studi keteknikan (tapak tilas) melukis dari sang maestro yang nantinya dapat dikembangkan oleh sang siswa untuk mendapatkan ciri khas dalam karyanya. Bagaikan sang Maestro menuntun calon seniman baru melalui karyanya. Dalam dunia seni rupa sering kali meniru disalahartikan. Padahal metode ini merupakan salah satu langkah untuk membuka jendela kreatif yang sangat didambakan dalam dunia seni, yaitu menjadi seniman yang kreatif. Selanjutnya setelah memahami cara kerja seni rupa yang dipilih, agar tidak terbenam ke dalam dunia tiru-meniru, seorang seniman harus melangkah ke tahap berikutnya, yaitu menjadi seniman inovator dan kreator. Menjadi inovator dan kreator, seorang seniman harus selalu melakukan eksperimen. Langkah awal adalah melakukan perubahan cara kerja, atau mengubah pola bentuk dan warna yang telah dikuasai dengan menambah atau mengurangi, sehingga apa yang dibuat mengalami perkembangan. Dengan melakukan eksperimen secara terus menerus 6
    • seorang seniman kreator sebenarnya sama dengan seorang ilmuwan peneliti yang bekerja di laboratorium untuk mendapatkan hal-hal baru dari apa yang ditekuninya. Laboratorium seniman adalah studio atau bengkel kerja, untuk itu tempat kerja harus dilengkapi dengan sarana pengembangan yang diperlukan. Selanjutnya, seniman juga tidak puas dan berhenti hanya pada permainan teknik, estetik dan ekspresi, ia juga dapat melangkah ke tahap selanjutnya yaitu seniman yang mampu merumuskan fenomena kebenaran melalui perenungan, kontemplasi yang diungkapan dalam karya-karya seninya. C. Seni Rupa Indonesia Sebagai Sumber Penciptaan Guna mendapatkan sumber penciptaan, Indonesia memiliki kekayaan warisan seni dan budaya yang sangat kaya. Selama ini orientasi berkesenian selalu mengacu kepada konsep dan citra kesenian berasal dari negara barat. Hal ini bukanlah salah karena pada kenyataannya ilmu tentang seni banyak berkembang di negara-negara tersebut. Namun, kini dalam era teknologi informasi yang demikian maju kiranya pengetahuan tentang seni di manapun ada, khususnya di Indonesia perlu digali sumber-sumber penciptaan seni karena sangat banyak yang dapat dikembangkan dan diungkapkan sesuai dengan kondisi zaman saat ini. Selain informasi yang mudah didapat tentang berbagai jenis seni, kemampuan berpikir sistematik dalam melakukan penelitian dan pengembangan telah dimiliki Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya a b Gambar 7. (a) Lukisan tradisional Bali, (b) Kain tenun dari NTT (sumber: a. Koleksi Presiden Soekarno, b. Icon of Art Museum Nasional Jakarta). 7
    • ilmuwan dan seniman Indonesia memanfaatkan kemampuan tersebut dalam bidang seni, khususnya seni rupa, guna mengembangkan seni rupa yang bersumber dari budaya lokal. Perhatikanlah wayang beber dari Jawa Tengah, wayang kulit dan batik dari Yogyakarta, lukisan dan patung tradisional Bali, motif-motif dari Papua, Tana Toraja, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara semua itu dapat dijadikan sumber penciptaan dalam menciptakan seni rupa Indonesia yang baru. Perhatikan pula bagaimana pola kerja para empu zaman dahulu yang mampu menciptakan karya-karya agung dan abadi, perhatikan pula landasan dasar mereka dalam mencipta. Dapatkah semua itu dikemas kembali, disesuaikan dengan kondisi zaman saat ini? Jika hal ini dapat dilakukan oleh generasi muda dalam bidang seni rupa, niscaya seni dan budaya Indonesia akan tercipta dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, dan perlu diingat bahwa suatu budaya baru lahir karena evolusi memerlukan waktu panjang. Gambar 8. (a) Topeng Kalimantan, (b) Topeng Jawa (sumber: a. Pusaka Indonesia, b. Icon of Art, Museum Nasional Jakarta). Potensi seni Indonesia bagaikan raksasa yang masih tertidur karena terbuai dengan gebyar seni mancanegara yang saat ini sangat kuat arusnya masuk melalui berbagai jenis media dan pariwisata. Hal ini tidak dapat dielakkan, begitu pula perubahan tak dapat dibendung, oleh karena itu dibutuhkan kearifan dan kreativitas para seniman dalam meresponnya guna menghasilkan seni baru sesuai zaman namun memiliki karakter asalnya. Bagaikan seorang nelayan yang tidak dapat mengubah arus angin, ia tidak membuang perahunya tetapi harus mengubah posisi 8
    • layarnya untuk menyesuaikan dengan arah angin untuk memanfaatkan energinya sehingga perahunya dapat melaju dengan kencang sampai ke tujuan yang diharapkan. Apabila seni dan budaya Indonesia mandeg, berhenti hanya sebatas bangga oleh kekayaan tanpa upaya untuk menyesuaikan dengan arus perubahan, akan terlibas oleh arus perubahan yang kuat sehingga dapat tenggelam dalam pusarannya. Jadi, kemampuan kreatif, inovatif dan adaptif dalam hal ini sangat diperlukan, untuk itu sudah saatnya sinergi antara bidang-bidang yang relevan dilakukan dengan intensif. Misalnya profesi seniman tidak dapat hidup sendiri menutup diri, ia harus memiliki banyak jaringan untuk memperkenalkan konsep dan karya seninya, untuk itu dibutuhkan kemampuan bidang lain seperti kurator dan kritikus untuk mengulasnya, diperlukan kemampuan pemasaran untuk mempromosikannya. b a Gambar 9. (a) Relief gaya Jawa Tengah (atas) dan Relief gaya Jawa Timur (bawah), (b) Keris Bali. D. Isi Buku Buku ini merupakan gagasan dan cara alternatif lain dalam belajar- mengajar seni terutama seni rupa, oleh karena itu buku ini diperuntukkan kepada siswa atau calon siswa yang ingin menekuni seni rupa sebagai pilihannya. Selain ditujukan kepada siswa, buku ini juga berguna bagi guru-guru seni khususnya guru seni rupa kejuruan maupun non-kejuruan. untuk digunakan sebagai bahan acuan pokok dalam melaksanakan pembelajaran. Guru seni lainnya juga dapat menggunakan buku ini 9
    • sebagai acuan dan sumber gagasan dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru seni. Hal-hal yang dibutuhkan dalam belajar seni rupa diuraikan mulai dari bab 2, yaitu tentang wawasan seni. Bagian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang seni dan seni rupa, serta fungsi seni dalam kehidupan manusia. Selanjutnya mengenai wawasan seni Indonesia sangat penting diketahui sebelum mengetahui tentang seni dari mancanegara. Wawasan seni Indonesia sangat penting untuk dimiliki oleh siswa, karena selain bersifat afektif, juga sebagai landasan dalam menciptakan seni baru yang memiliki sumber akar budaya dimana seni tersebut diciptakan. Selanjutnya wawasan tentang seni mancanegara juga perlu diketahui dalam kaitannya dengan era global dan meluaskan wawasan sehingga tidak ketinggalan dengan perkembangan yang ada di luar negeri. Setelah memahami tentang seni dilanjutkan tentang pemahaman tentang bahan yang digunakan dalam seni rupa. Guna memahaminya dilakukan dengan mempelajari teori tentang alat dan bahan dan dilanjutkan dengan praktek. Bahan seni rupa yang dipelajari secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu bahan seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi. Secara teori dan praktek alat dan bahan dipahami melalui Gambar 10. Patung karya I Nyoman Cokot (sumber: Indonesian Heritage) 10
    • jenis dan karakteristiknya. Pemahaman melalui praktek lebih ditekankan kepada percobaan dan eksplorasi terhadap kemungkinan dan keterbatasan setiap bahan. Hal ini penting dilakukan dalam upaya menguasai segi keteknikannya. Gambar 11. Antonio Blanco, Wanita Bali (Sumber: Koleksi Presiden Soekarno ). Selanjutnya pada bab 4 dibahas tentang kepekaan persepsi estetik (keindahan) sebagai masalah pokok dalam dunia seni. Tanpa kepekaan estetik seorang pekerja seni tidak akan mampu menciptakan karya seni yang baik, karena inti dari karya seni dalam konteks ini adalah memberikan pengalaman keindahan kepada penikmatnya. Maka pada bagian ini kepekaan persepsi (visual) estetik diasah melalui paraktek menyusun unsur-unsur visual yang memiliki kualitas estetik menjadi suatu komposisi yang unik dan mengandung cita rasa keindahan. 11
    • Gambar 12. Sketsa catatan untuk melukis (sumber: Mc Daniel Richard) Gambar 13. Sketsa dilanjutkan menjadi lukisan dengan media cat minyak(sumber:McDaniel Richard ) 12
    • Kepekaan rasa estetik tidak dapat dimiliki secara serta merta, pengasahan kepekaan ini memerlukan waktu cukup panjang. Selain dilakukan dengan praktek langsung, pengasahan juga dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap unsur-unsur yang mengandung nilai keindahan, baik dalam karya manusia maupun yang ada di alam. Tugas- tugas latihan dapat berupa responsi verbal maupun visual. Responsi verbal adalah kegiatan mendeskripsikan apa yang diamati, dialami secara visual, sedang responsi visual mencatat secara visual melalui kegiatan sketsa, mengungkapkan dengan detail apa yang dilihat dan diamati. Pada bab 5, dilakukan latihan untuk mengasah ketajaman persepsi estetik visual dengan kegiatan menggambar. Kegiatan sketsa bertujuan untuk melatih keluwesan dan kecekatan koordinasi tangan dengan mata dalam menangkap sebuah wujud benda. Kemampuan membuat sketsa merupakan salah satu hal yang sangat mendasar dalam dunia seni rupa. Sketsa dibedakan menjadi dua jenis, pertama sketsa murni bersifat ekspresif bertujuan untuk mengasah dan latihan mengungkapkan ke- pekaan estetik (gb. 11), kedua, sketsa sebagai catatan visual yang dapat digunakan untuk kegiatan seni rupa lanjutannya, seperti melukis (gb. 12 dan 13), mematung, dan membuat desain. Selain sketsa, dipelajari pula perspektif dan proyeksi. Perspektif memiliki tujuan untuk memberikan kemampuan mengungkapkan ilusi optik tiga dimensi pada bidang dua dimensi, sedang proyeksi memberi kemampuan untuk menggambarkan sebuah benda dari berbagai sudut pandang. Kemampuan proyeksi penting dimiliki ketika membuat sebuah desain produk. Selanjutnya bagian akhir bab ini berisikan latihan meng- gambar berbagai jenis benda hidup maupun benda mati yang tujuannya adalah untuk menguasai bentuk dan karakter benda masing-masing. Pada bagian ini siswa dilatih untuk belajar melihat dengan seksama tentang benda-benda yang ada di lingkungan. Tujuannya adalah melatih ketajaman persepsi penglihatan dan koordinasi dengan kecekatan atau keterampilan tangan dalam menggaris dan membuat bentuk. Pada bab 6 ditekankan pada pengembangan imajinasi kreatif. Kemampuan ini sangat penting tidak hanya dalam bidang seni rupa te- tapi juga dalam bidang-bidang lainnya. Kemampuan kreatiflah yang sebenarnya mengubah dan mengembangkan kebudayaan manusia sehingga berkembang sangat cepat pada saat ini. Dalam latihan melalui seni rupa siswa dipacu kemampuannya untuk mengkongkritkan atau me- wujudkan secara visual angan-angannya dengan berbagai cara berpikir alternatif dan imajinatif guna mendapatkan solusi terbaik. Mengembang- kan kemampuan inovatif adalah latihan mengubah apa yang telah ada untuk menjadi baru, hal ini merupakan salah satu dari kemampuan 13
    • kreatif. Kemampuan kreatif melalui kegiatan seni rupa sangat mungkin untuk dilatihkan dan dikembangkan. Sekali seseorang berkembang kemampuan divergent thinking-nya akan bermanfaat selama hidupnya, dan mereka menjadi orang yang kaya dengan gagasan. Hal ini sangat dibutuhkan dalam pengembangan kebudayaan manusia. Jadi siswa yang kreatif diharapkan menjadi kreator-kreator di masa depan. Dengan demikian pengembangan kemampuan-kemampuan pokok dalam seni rupa adalah meliputi pengembangan kemampuan teknis meng-gunakan alat dan bahan, mengasah kepekaan estetik, serta kemampuan berpikir alternatif atau kreatif. Pada bab 7 dilatihkan cara melakukan analisis dan mendeskripsikan nilai hasil karya seni dan memberikan apresiasi terhadap kualitas baik dan buruk karya seni. Latihan men-deskripsikan pada hakekatnya menyeimbangkan kemampuan visual dan kemampuan verba. Tercapainya keseimbangan antara kemampuan visualisasi dan kemampuan verbalisasi diharapkan dikemudian hari siswa mampu menjelaskan apa yang dibuat. Biasanya pekerja seni sulit men-jelaskan apa yang mereka buat, maka selama pendidikan latihan verbalisasi sangat dibutuhkan. a B Gambar 14. Pengembangan kreatifitas bentuk melalui rangsang visual Gambar (a), Gambar (b) hasil pengembangan rangsang visual menjadi bentuk yang dikenali. (Sumber: Agung Suryahadi, 2005). 14
    • Pengembangan kemampuan verbalisasi dilakukan melalui latihan analisis dengan pendekatan analitik, kognitif, dan semiotik. Dengan pendekatan analitik siswa dilatih untuk dapat menelaah kualitas sebuah karya seni, sedang melalui pendekatan kognitif siswa dilatih untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan secara detail apa yang mereka perhatikan dalam sebuah karya seni rupa. Dengan pendekatan semiotik siswa mencari hubungan tanda dengan tanda dan tanda dengan penggunanya. Sebagai penutup adalah bab 8. Dalam bagian ini direfleksikan tentang manfaat belajar melalui seni untuk dijadikan dasar pegangan dalam meniti profesi sebagai seorang perupa yang memiliki kepekaan estetik, keterampilan teknik dan kreativitas serta memiliki sikap apresiatif terhadap segala bentuk hasil ciptaan manusia dan alam lingkungan. Sikap apresiatif terhadap hasil budaya dan lingkungan penting sekali dimiliki oleh generasi muda, oleh karena hasil-hasil seni budaya bangsa dan lingkungan harus dihayati nilainya bagi keberlangsungan kebuda- yaan bangsa dan kehidupan manusia yang berkualitas dan berbudaya. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap menghargai, memiliki dan mau memelihara untuk kelestariannya. Upaya ini sangat perlu dilakukan dan ditanamkan secara terus menerus pada setiap pribadi siswa agar menjadi suatu kebiasaan. Usaha pembiasaan diri merupakan salah satu cara yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai ke dalam diri manusia. Oleh sebab itu sebagai siswa yang menggeluti bidang seni biasakanlah untuk menghayati nilai karya manusia, nilai lingkungan yang berguna bagi kehidupan manusia beradab. 15
    • A. Pengertian Tentang Seni Pernahkah Anda merasa senang ketika melihat pemandangan alam, atau melihat sebuah lukisan? Kita juga sering merasa senang ketika makan enak, ketemu teman lama, namun perasaan senang tersebut tidaklah sama kualitasnya. Perasaan senang bertemu teman lama dan melihat pemandangan penyebabnya berbeda, bertemu teman lama mungkin disebabkan oleh karena rindu lama tak bersua, teman itu baik dan dekat dengan kita. Senang melihat lukisan pemandangan disebabkan dalam lukisan tersebut ada kualitas unsur-unsur visualnya yang memberikan pengalaman pada perasaan kita akan adanya hubungan yang harmonis. Hal ini sama dengan karya seni, tetapi karya seni dibuat oleh manusia dan pemandangan alam diciptakan oleh Tuhan. Untuk itu, jika kata seni merupakan terjemahan dari kata art dalam bahasa Inggris, maka menurut Herbert Read seni berarti suatu bentuk yang menyenangkan. Hal yang menyenangkan tersebut dapat memberi kepuasan kepada perasaan, dan perasaan tersebut dapat disenangkan apabila kita dapat menemukan hubungan kesatuan dan harmoni dalam hubungan formal yang terjadi pada persepsi kita. Selanjutnya rasa keindahan pada karya seni berada pada tahap kedua dalam prosesnya. Ada tiga tahap dalam kegiatan berkarya seni, tahap pertama adalah menguasai kualitas atau karakteristik materi atau unsur seni rupa yang digunakan berupa garis, bentuk, warna dan tekstur; tahap kedua adalah pemberian ekspresi terhadap kualitas unsur dan susunannya. Rasa estetik tersebut berada pada tahap satu dan dua dari proses kegiatan berkarya seni. Berlandaskan batasan tersebut dapat diketahui ada empat hal yang dapat dikupas dalam mengamati dan menganalisis nilai estetik seni rupa yaitu keterampilan teknik, kualitas material, susunan materi, dan kualitas ekspresi atau fungsi untuk seni terpakai. Kualitas ekspresi yang ada pada karya seni memberikan kualitas karakter berbeda antara karya seni satu dengan lainnya. Selain itu faktor individu senimannya juga berperan besar dalam memberikan corak pada karya yang dibuatnya sehingga membuat penampilan karya satu dengan seniman lainnya memiliki perbedaan. Selanjutnya tentang estetik Dick
    • Hartoko mengatakan, bahwa kata estetik berasal dari bahasa Yunani aesthesis yang berarti pencerapan, persepsi, pengalaman, perasaan, dan pandangan. Menurutnya kata ini pertama kali digunakan oleh seorang a b Gambar 15.(a) Pemandangan asli di pelabuhan Jayapura,(Foto:Agung Suryahadi,2007, (b) hasil rekaman pelukis tentang keindahan alam (Sumber: Koleksi Presiden Soekarno II). 17
    • filsuf Jerman bernama Baumgarten guna menunjukkan kepada cabang filsafat yang berhubungan dengan seni dan keindahan. Dikatakan, ke- indahan ada dua jenis yaitu keindahan objektif dan keindahan subjektif. Subjektif karena keindahan berada pada pikiran manusianya dan objektif karena keindahan berada pada objek di luar diri manusia, dapat berupa suasana atau benda. Perbedaannya terletak pada keindahan yang terdapat di alam dan keindahan buatan manusia terdapat dalam karya seni. . b a Gambar 16. (a) Patung Bali peniup seruling, (b) Ukiran pada tameng dari Papua, (c) Kendi Keramik dari Cina (sumber: a. foto Agung Suryahadi, b dan c. Indonesian Heritage). c Menurut Harry Broudy, karya seni rupa mengandung beberapa properti, yaitu sensory properties, formal properties, technical properties, dan expressive properties Hal ini hampir sama dengan apa yang dikemukan oleh Read, guna mengetahui kandungan estetik suatu karya 18
    • seni dapat dianalisis berdasarkan aspek properti tersebut. Berbeda dengan Marian L. Davis formal property disebutnya sebagai prinsiples of organization atau prinsip pengorganisasian unsur yang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu prinsip yang bersifat mengarahkan, memusatkan, dan menyatukan perhatian. Prinsip mengarahkan terdiri dari beberapa prinsip, yaitu pengulangan, selang-seling, rangkaian, irama, transisi, gradasi, dan radiasi. Prinsip memusatkan terdiri dari tiga jenis, yaitu penekanan, konsentrasi, dan kontras. Prinsip menyatukan terdiri dari prinsip proporsi, keseimbangan, harmoni, dan kesatuan. Tujuan dari seluruh prinsip pengorganisasian adalah untuk mendapatkan susunan atau komposisi yang ‘harmonis’ dan memiliki ‘kesatuan’ antara unsur-unsur yang disusun dan dengan ide penciptaan. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bab 4. Marvin Rader dan Betram Jessup menyebutnya sebagai organic unity yang memiliki tiga aspek yaitu adequacy, economy, dan internal coherence Adequacy menunjukan bila penikmat karya seni merasa puas dalam menyaksikan sebuah karya seni, karena karya itu lengkap tidak ada yang kurang, economy jika sebuah karya seni tidak berlebihan dan tidak bertaburan dengan unsur-unsur yang kurang penting. Perhatikan gambar (16 a), dalam karya seni patung tersebut bentuk manusia dibuat dengan penyederhanaan namun dapat mengungkapkan expresi irama suara tentang orang yang sedang bermain seruling. Dalam hal itu unsur visual (garis, bentuk, warna dan tekstur) yang digunakan diolah untuk mengikuti ungkapan rasa sebagaimana halnya patung Siwa yang sedang bertempur dan mengalahkan lawannya banyak menggunakan ungkapan garis diagonal sehingga geraknya terlihat dinamis (gb.17). Internal cohenrence menunjukkan bahwa dalam karya itu ada hubungan yang erat antara bagian-bagiannya: antara warna dengan warna, warna dengan bentuk, bentuk dengan bentuk, bentuk dengan warna dan dengan tema. Selanjutnya mengenai ekspresi agak mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Read, bahwa ekspresi dalam seni mengandung pengertian ganda, pertama sebagai perilaku pengungkapan pikiran dan perasaan, kedua sebagai isi atau nilai yang diungkapkan mencerminkan ’roh’ karya seni ang dibuat. Berdasarkan latar belakang penciptaannya, seni dibedakan menjadi dua jenis yaitu seni murni dan seni terpakai. Disebut seni murni karena ketika proses awal penciptaannya seni tersebut bukan dimasudkan untuk digunakan keperluan tertentu seperti untuk ilustrasi, propaganda, wadah, dan sebagainya (gb. 18 a ). Sebaliknya seni pakai, pada proses awal penciptaanya sudah dimaksudkan untuk diaplikasikan atau digunakan keperluan tertentu (gb. 18 b dan c). Seni murni lebih dominan meng- ungkapkan kualitas estetik dan karakter obyek penciptaan serta seniman 19
    • sebagai subyek penciptanya. Namun, uniknya setelah seni murni itu selesai diciptakan dapat digunakan untuk keperluan lainnya seperti untuk ilustrasi, penghias ruang atau halaman. Jadi perbedaannya terletak terutama dalam awal prosesnya, dalam sikap batin seniman pembuatnya. Ringkasnya, seni murni niat pembuatannya adalah untuk ekspresi dan Gambar 17. Patung Dewa Siwa. (Sumber: Indonesian Heritage). a c b Gambar 18. Produk Seni murni dan seni terpakai pada keramik 20
    • Perhatikan gambar 18 a, dari sisi fungsi berbeda dengan gambar 18 b dan c, apa sebabnya? Diskusikan dengan teman- temanmu ! menunjukan pribadi senimannya, dan seni pakai untuk tujuan kegunaan tertentu. Pada gambar (16a) patung Peniup Seruling bukan digunakan untuk fungsi tertentu dan pada gambar (18 a) keramik kelihatan sebagai wadah namun secara fungsional sulit digunakan, sedang gambar (18b dan c) dilihat dari struktur bentuknya memang tujuannya untuk fungsi wadah benda cair. B. Pengertian Seni Rupa Seni rupa dengan jenis seni lain intinya adalah sama yaitu sama-sama buatan manusia yang mengandung ekspresi dan atau keindahan. Namun, seni rupa utamanya dinikmati oleh indra penglihatan. Hal yang dinikmati dalam seni rupa adalah sepert apa yang telah diuraikan sebelumnya, yakni kualitas unsur-unsur rupa yang disusun dan memiliki kualitas harmoni, kesatuan dan ekspresi. Jadi seni rupa adalah seni yang nampak oleh indra penglihatan dan wujudnya terdiri dari unsur rupa berupa titik, garis, bidang atau ruang, bentuk atau wujud, warna, gelap terang, dan tekstur. Seni rupa dapat sebagai properti pendukung jenis seni lainnya seperti seni tari dan teater. Apabila membahas kedua jenis seni tersebut juga tidak lepas membahas aspek seni rupanya. Berdasarkan wujud dan bahannya seni rupa dibedakan menjadi dua yaitu seni rupa dua dimensional dan seni rupa tiga dimensional. Selanjutnya berdasarkan jenisnya seni rupa terdiri dari beberapa cabang seni yakni seni lukis, seni grafis, seni patung, seni dekorasi, seni komunikasi visual, dan seni kriya atau seni kerajinan. Pada saat ini seni kriya berkembang menjadi seni kriya murni dan seni kriya terpakai. Dalam buku ini tidak dibahas masing-masing cabang seni tersebut karena cakupannya sangat luas. Buku ini membahas dan melatihkan inti dari kegiatan seni rupa, dengan asumsi apabila intinya telah dikuasai semua cabang seni rupa dapat dilakukan. Namun perlu menambah kemampuan keteknikan masing-masing cabang seni rupa yang ditekuni. Inti kemampuan dalam seni rupa adalah menguasai keteknikan seni rupa dua dan tiga dimen- sional, kepekaan estetik, kreativitas, dan wawasan seni budaya. Itulah kemampuan pokok yang harus dimiliki oleh seorang pekerja seni rupa, keempat kemampuan tersebut berhubungan satu dengan lainnya tidak dapat salah satu diabaikan. 21
    • C. Seni Rupa Dalam Kehidupan Manusia Kehadiran seni rupa dalam kehidupan manusia telah terjadi sejak zaman purba ketika ma-nusia masih hidup di gua-gua (gb. 1) hingga saat ini. Hal itu membuktikan bahwa seni rupa melekat dalam kehidupan manusia. Seni rupa hadir hampir di setiap sektor kehidupan manusia, seperti dalam kegiatan agama, politik, ekonomi, teknologi, dan ke- manapun kita pergi seni rupa selalu ada. Dalam kehidupan rumah tangga misalnya, peralatan dapur, pakaian, kamar mandi, halaman rumah, topeng, jam tangan, semuanya tersentuh oleh seni (gb. 19). a b c d f e Gambar 19. Macam-macam seni rupa: (a) seni lukis, (b) seni tenun, (c) seni perhiasan logam, (d) seni dekorasi interior, (e) seni dekorasi eksterior, (f) seni anyam ( Sumber: (a) Gombrich, (b) anne Richter, (c) Majalah Garuda, (d) Majalah Poleng, (e) Majalah ASRI, (f) Indonesian Heritage). 22
    • Dalam acara televisi maupun di jalanan banyak kita jumpai seni reklame. Pada benda yang kita lihat itu semua memiliki sentuhan keindahan. Seni rupa dalam kehidupan sehari-hari, menurut Malvin Rader merupakan salah satu bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Misalnya, aktivitas makan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia dikelilingi oleh berbagai keindahan seni. Perhatikan sendok, garpu, piring, dan gelas minum yang digunakan, pada alat-alat tersebut terdapat unsur-unsur seni yang menyertainya. Pada proses pembuatannya salah satunya menggunakan pertimbangan keindahan selain kenyamanan dan keamanan bagi penggunanya. Dalam kegiatan sehari-hari, orang pada zaman sekarang menggunakan pakaian dan aksesoris di tubuhnya yang selalu menggunakan pertimbangan keindahan, agar yang menggunakannya merasa percaya diri dan bangga terhadap apa yang dikenakannya. Perhatikan arloji, sepatu, baju, celana, gaun, bros, cincin, tidak satupun benda tersebut dalam wujud fisiknya tidak menggunakan sentuhan keindahan. Sama halnya dengan aktivitas tidur memerlukan berbagai produk seni seperti selimut, sarung bantal, sprei, bed cover, tempat tidur, lampu, dan lain sebagainya. Begitu pula ruang tamu, pemilik rumah pasti menginginkan tampilannya seindah mungkin dengan diberi lukisan pada dindingnya, vas bunga di meja, maksudnya adalah agar dapat menyenangkan perasaan orang yang melihatnya. Dengan demikian, seni rupa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari dan merupakan bagian yang integral dengan kebutuhan biologis manusia. Semakin modern peradaban manusia, semakin banyak produk seni rupa yang diinginkannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga masa depan seni tidak akan pudar selama manusia masih memiliki rasa keindahan untuk dipuaskan, selama manusia menginginkan untuk mendengar dan melihat sesuatu yang menyenagkan dan menenangkan pikiran dan perasaannya. 1. Seni rupa dalam kehidupan beragama Hubungan seni dan agama memiliki sejarah yang paling tua, mulai dari kepercayaan manusia yang paling sederhana yaitu magi, berkembang menjadi animisme, hingga menjadi agama seni terus mengiringinya. Di dalam theory magi and religi diuraikan bahwa timbulnya seni karena adanya dorongan-dorongan gaib. Salmon Reinoch mengatakan, bahwa kehadiran seni digunakan untuk mendapatkan tenaga-tenaga gaib bagi kepentingan berburu. Lukisan pada zaman prasejarah yang ada di gua-gua mengilustrasikan, bahwa sebelum berburu binatang orang pada zaman itu melakukan upacara menusuk- nusukkan tombaknya pada lukisan binatang di dinding gua itu. Maksudnya untuk mendapatkan tenaga gaib agar ia berhasil menangkap 23
    • binatang buruannya. Dalam perkembangan berikutnya, yaitu sistem kepercayaan yang disebut animisme, bahwa benda-benda memiliki roh, seni berkembang pula menjadi lukisan dan patung tentang roh-roh manusia, hewan, dan roh alam. Selanjutnya ketika evolusi kepercayaan manusia tentang spiritualitas berkembang menjadi agama wujud seni semakin dibutuhkan sebagai representasi kepercayaan atau keagamaan manusia dalam bentuk patung-patung atau lukisan-lukisan dua dimensional. Pada masa Mesir Kuno misalnya, merupakan gambaran pemujaan terhadap para dewa. Begitu pula dalam peradaban India dan China kuno, perwujudan seni sangat erat kaitannya dengan pemujaan terhadap para dewa. Gambar 20. Yantra Bindu (sumber: Goegle.com : Indian Culture) Di India meditasi merupakan kegiatan spiritual dalam mengontrol pikiran untuk dipusatkan kepada manifestasi kekuasaan Tuhan. Sarana untuk pemusatan pikiran disebut dengan yantra (gb. 20) dapat berupa gambar abstrak geometris dapat pula dalam bentuk yang realistik berupa patung dewa. Namun dalam peradaban modern pun seringkali seni berkaitan erat dengan keagamaan. Perhatikanlah kegiatan setiap agama, tentu ada unsur seni yang digunakan agar kegiatan keagamaan yang dilakukan terasa tidak ‘gersang’. Hubungan seni dan agama tidak hanya terdapat dalam seni rupa, tetapi hampir dalam seluruh cabang seni selalu berkaitan dengan agama. Dalam menyuratkan ayat-ayat suci Al-Quran melahirkan seni kaligrafi, karena dalam ajaran Islam tidak diperbolehkan menggambarkan mahluk hidup, maka perkembangannya dalam seni rupa Islam adalah dalam bentuk ragam hias atau ornamen untuk menghias mesjid. 24
    • Gambar 21. Sesaji dalam ritual agama Hindu (Foto: A.Agung Suryahadi, 2006). Gambar 22. Patung Budha dalam sikap Dyana Mudra (sumber: Indonesian Heritage). Dalam agama Hindu Dharma seni dan agama seakan tidak dapat dipisahkan karena saling memberi. Seni mendapat inspirasi tematik dari agama, sedang agama menggunakan seni untuk meng-artikulasikan paham atau ajaran-ajarannya sehingga mudah dipahami oleh masyakat luas dan menyenangkan. Selain itu kegiatan seni merupakan perwu- 25
    • judan bhakti pemeluk Hindu kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Misalnya, seni sesaji (gb. 21 ) selain berfung sebagai yantra juga sebagai perwujudan bhakti umat Hindu untuk mempersembahkan kembali apa yang telah dianugrahkan oleh Tuhan kepada umat manusia sehingga sesaji mengandung segala jenis hasil bumi yang disusun secara indah. Maka seni dalam hal ini juga mengandung etika. Dengan demikian setiap kegiatan ritual dalam. agama Hindu tidak dapat lepas dari kegiatan berkesenian, hampir seluruh seni terlibat dalam ritual yang berskala besar. Hal ini menyebabkan artefak seni dalam Agama Hindu sangat banyak. Di dalam Agama Budha, Konghucu dan Nasrani penggunaan seni dalam kegiatan keagamaan juga sangat banyak. Di Candi Borobudur misalnya, ada ribuan relief dan patung yang menggambarkan kehidupan Sidharta Gautama dan Budha sedang melakukan meditasi (gb. 22). Dari segi anatomi plastis, patung tersebut mengalami penyederhanaan, yang tujuannya mungkin untuk lebih menggambarkan suasana yang kontemplatif waktu meditasi dibanding- kan keceriaan duniawi. Gambar 23. Nabi Adam ketika diturunkan ke bumi, Michel Angelo. (sumber: Gombrich) 26
    • Gambar 24. Wayang kulit Jawa: Hanuman dan Dewi Shinta (Sumber: Ann Richter ) Dalam gereja banyak dijumpai lukisan relief dan patung yang menggambarkan kehidupan para nabi termasuk kehidupan Yesus Kristus. Hal ini nampak sekali dalam geraja-gereja zaman Renaissance di Eropa. Misalnya pada langit-langit Gereja St. Chapel digambarkan oleh Michel Angelo ketika Nabi Adam (gb. 23) diperintahkan Tuhan turun ke bumi karena tidak mau mengikutikan larangan-Nya. Dalam gambar tersebut nampak ekspresi memelas nabi Adam dan ketegangan pertemuan antara telunjuk Nabi Adam dengan telunjuk petugas Ilahi yang menurunkannya ke bumi. Tema keagamaan sangat kuat mengilhami penciptaan karya-karya seni yang abadi, tak terkecuali di Indonesia seperti halnya wayang yang sarat dengan falsafah kehidupan, sekarang dijadikan sebagai peninggalan warisan kebudayaan manusia yang bernilai tinggi. Kisah Ramayana (gb. 24) diungkapkan dalam bentuk wayang menggambarkan kesetiaan seorang wanita bernama Dewi Shinta kepada suaminya Ramawijaya. Dalam epos Mahabarata dimensinya sangat luas karena dapat dipandang dari berbagai sudut padang falsafah kehidupan. Misalnya, sifat taat kepada perintah guru dalam lakon Dewa Ruci (gb. 25), yaitu ketika Bima diminta mencari air amerta oleh gurunya yang mustahil untuk diperoleh, tetapi Bima dengan tekad yang sangat kuat ia harus men- dapatkannya. Bima sangat percaya kepada gurunya walaupun memper- 27
    • taruhkan jiwa dan raganya. Akhirnya ia berhasil mendapatkan apa yang dinginkannya. Lakon ini juga memiliki dimensi tentang simbolisasi pencarian jati diri seseorang dalam mendaki kehidupan spiritual yang penuh dengan rintangan dan berbahaya. Perhatikan perjalanan Bima ke Gambar 25. Bima berhasil mengalahkan raksasa penghalangnya dalam mendapatkan air kehidupan (Sumber: Ann richter ). hutan, ke gunung dan terakhir ke laut. Semua perjalanan tersebut meng- gambarkan pencarian melalui perbuatan tulus dan menyelam ke dalam lautan pikiran yang penuh dengan gejolak. Namun karena keteguhan hati dan dalam bimbingan hati nurani yang tulus dan suci, semuanya dapat diatasi dan sang diri bertemu dengan diri sejati yang dilambangkan dengan Dewa Ruci yang kecil dengan bentuk fisik sama dengan Bima berada dalam hati sanubarinya, namun Bima yang besar dapat masuk ke dalam tubuhnya dan di sana Bima dapat menyaksikan kejadian di alam semesta. 2. Seni rupa dalam aktivitas ekonomi Seni dapat menjadi sebuah produk yang penting dalam kegiatan ekonomi. Beberapa negara di Asia telah menempatkan produk seni sebagai penghasil devisa negara yang dapat diperhitungkan. Negara 28
    • Cina misalnya membangun pusat kegiatan dan pemasaran produk seni secara besar-besaran. Di dalam sejarahnya, perubahan sosial dalam suatu negara biasanya dimotori golongan kelas menengah ke atas. Begitu pula dalam perkembangan seni, menyebabkan lahirnya bentuk seni yang cocok dengan selera mereka. Sebagai komunitas yang mapan dari sisi ekonomi, mereka dapat mengendalikan kecenderungan bentuk seni sesuai dengan apa yang diinginkannya. Gambar 26. Iklan sampo di Koran (sumber: Kompas Minggu, 6 Sept. 2007) Gambar 27. Iklan kopi di majalah (Sumber: Majalah Garuda). 29
    • Aktivitas seni rupa dan ekonomi pada saat ini semakin semarak, karena memiliki hubungan sangat dekat dengan pencitraan suatu produk. Misalnya, seni reklame memegang peran yang sangat penting untuk promosi dan pemasarannya. Tanpa sentuhan seni, kegiatan promosi tidak akan menarik, sehingga perusahan-pe-rusahaan tidak ragu mengeluarkan dana yang besar guna mem-promosikan hasil produksinya melalui seni rupa dalam bentuk iklan di majalah, surat khabar (gb. 26, 27), TV dan bahkan melalui Internet yang harga tayangnya jauh lebih murah dan lebih efisien dibanding dengan media lainnya. Pada saat ini orang dapat melakukan transaksi dari rumah dan tidak harus datang langsung ke tempat penjualan barang di toko atau super market. Dengan melihat tayangan di internet yang meyediakan segala jenis barang kebutuhan terutama barang non-makanan orang dapat memesannya dan dalam beberapa waktu dapat diterima di rumah. Pembayarannya pun tidak dalam bentuk tunai karena dilakukan melalui internet. Perkembangan teknologi ini diprediksi akan mengubah budaya dan peradaban manusia secara radikal karena kegiatan dapat dilakukan secara maya melalui teknologi informasi tersebut. 3. Seni rupa dalam kehidupan politik Politik merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia, sehingga mempengaruhi terhadap sektor kehidupan lainnya. Seni rupa dalam kehidupan politik di Indonesi, pernah pada tahun 1950-1960an dimanfaatkan oleh partai-partai untuk menggalang masa. Mereka mendirikan organisasi-organisasi kesenian. Misalnya Partai Komunis Indonesia menggunakan para seniman untuk tujuan-tujuan politik mereka, dengan mendirikan organisasi politik seperti Lekra yang muncul sebagai bagian dari kepentingan kekuasaan dari partai komunis saat itu. Sehingga pada waktu pemberontakan G30S/PKI banyak seniman seni rupa ditangkap dan dipenjarakan. Pada saat ini, partai politik tidak mendirikan organisasi-organsasi kesenian seperti tahun 1950an, tetapi masih melibatkan seniman guna mencapai tujuan politiknya. Misalnya dalam seni komunikasi grafis, sebagai cabang seni rupa, banyak terlibat dalam pembuatan poster, spanduk, kaos dan atribut partai lainnya. Dalam hal ini seni rupa dalam politik bukan sebagai bagian ideologi partai tetapi mendukung promosi program partai yang disampaikan kepada masyarakat secara visual. Senimannya pun tidak terlibat secara intens dalam kegiatan partai. Selain seni rupa dimanfaatkan oleh partai, seni rupa juga banyak digunakan oleh rezim pemerintah yang berkuasa. Pada zaman Orde Lama hingga Orde Baru seni rupa khususnya seni patung, banyak digunakan untuk memperingati kejadian bersejarah. Patriotisme para 30
    • pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari cengkraman penjajahan Belanda dan Jepang, tokoh negarawan, serta nilai-nilai kemanusiaan diwujudkan sehingga pada kedua zaman itu banyak didirikan patung monumen terutama di ibukota negara dan hampir di seluruh ibukota provinsi dan kabupaten. 4. Seni rupa dalam pendidikan Dalam konsepsi pendidikan, secara teoretik gambaran tentang manusia Indonesia telah tertuang secara jelas dalam rumusan tujuan Pendidikan Nasional Indonesia, yakni membentuk manusia seutuhnya lahir dan batin. Dalam dunia pendidikan ada empat aliran yang berhubungan dengan pengembangan pendidikan khususnya pendidikan seni. Pertama, faham progressivisme yakni suatu paham dalam pendidikan yang menekankan pada kebebasan, keaktifan dan kreativitas; essensialisme memandang bahwa budaya hanya me-rupakan salah satu dimensi dalam kehidupan manusia. Se-lanjutnya, perenialisme menekankan bahwa akal budi manusia mempunyai kedudukan yang amat penting, sehingga aktivitas pendidikan perlu mengupayakan perkembangannya seoptimal mungkin. Dalam aliran ini guru dipandang memiliki kedudukan sentral. Terakhir, re-konstruksionisme memandang manusia sebagai mahluk sosial. Manusia tumbuh dan ber kembang dalam kaitannya dengan proses sosial dan sejarah perkembangan masyarakat. Dalam kaitan ini pendidikan memiliki peran penting untuk mengadakan pembaharuan dan pembangunan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan seni memiliki keterkaitan dengan paham tersebut terutama dengan paham progresif yang me-mentingkan kebebasan, keaktifan dan kreativitas, sebab karakteristik kegiatan seni tidak dapat lepas dari sifat tersebut (gb. 28, 29). Melalui pendidikan seni diharapkan dapat melahirkan generasi yang kreatif, memiliki kecerdasan dan kehalusan budi dalam mengantisipasi perubahan yang terjadi di masyarakat sebagai yang diharapkan oleh paham perenial dan rekonstruksi. Alam ini dipenuhi dengan berbagai jenis mahluk hidup, salah satunya adalah manusia. Dalam menjalani kehidupannya manusia berbeda dengan mahluk hidup lainnya. Manusia hidup dengan kemampuan cipta, rasa, dan karsanya, sedang mahluk lainnya hidup dengan menggunakan nalurinya. Dengan kemampuan yang dimilikinya itu manusia mampu menciptakan apa yang menjadi kebutuhannya. Seni lahir karena kebutuhan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui berbagai jenis media yang berhubungan dengan pancaindera – media yang dapat 31
    • dilihat, didengar, diraba, dibau, dan dikecap yang kemudian bermuara pada rasa dalam hati atau kalbu. Kelima indera yang dimiliki manusia itu Gambar 28. Kegiatan seni rupa di sekolah Taman Kanak-kanak (Foto: Agung Suryahadi, 2005). ingin dipuaskan. Untuk keperluan itu manusia mengubah dan menyusun kualitas material dari yang berkualitas ’apa adanya’ menjadi memiliki kualitas berbagai jenis rasa. Kemudian nilai rasa tersebut (terutama yang berhubungan dengan pendengaran dan penglihatan) oleh para ahli estetika disebut sebagai rasa keindahan - the sense of pleasurable ralation is the sense of beauty (Read, 1972 : 18), sehingga lahirlah seni rupa, seni musik, seni tari, seni teater, seni sastra. Hal-hal yang membuat manusia mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam wujud karya seni disebabkan sejak lahir manusia telah dibekali dengan kemampuan untuk itu. Jadi pada dasarnya semua indera manusia ingin dipuaskan, penglihatan melalui mata, pendengaran melalui telinga, penciuman melalui hidung, pengecap melalui lidah, peraba melalui tangan. Hanya pemuasan melalui mata, dan pendengaran baru disebut seni, sedang pemuasan melalui indera lainnya seperti hidung, lidah, dan telapak tangan belum dapat dikatakan sebagai seni. 32
    • Coba bayangkan bagaimana jika kehidupan manusia tanpa diiringi oleh seni ? Gambar 29. Bermain layang-layang, karya Dian Pertiwi, 2006.(Koleksi P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta. Para ahli neurophsychologist menemukan bahwa otak manusia terdiri dari dua hemisphere yaitu belahan otak kiri dan otak kanan yang masing- masing memiliki fungsi berbeda dan memiliki potensi sama untuk berkembang (gb. 30). Hemisphere kiri memiliki fungsi mengontrol rational, analytical thinking, language skills, mathematical functions, and sequentially order-ed think-ing’, sedang otak kanan mengontrol intuittive functions, spatial orientation, spatial construction, crafts, skills, art, music, creative expression, and the recognition of images (Roukes, 1984:32). Selanjutnya Howard Gardner yang terkenal dengan ‘multiple intelligence- nya’ merumuskan bahwa manusia memilki potensi tujuh jenis kecerdasan yaitu : language, music, logic and mathematics, visual-spatial con- ceptualization, bodily-kinesthetic, knowledge of other person, dan know- ledge of ourselves ( Gardner, 1983 :105). Dengan demikian sangat pasti secara alamiah manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi seni yang dimilikinya. Namun sayang dalam kenyataan hanya beberapa aspek yang mendapat prioritas untuk berkembang. Apabila 33
    • dicermati, seni memiliki dua aspek yang berguna bagi manusia yakni aspek produk dan aspek prosesnya. Pertama, produk atau karya seni bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia, karena dengan menghayati karya seni seseorang dapat memahami kemungkinan cara baru dalam berfikir, merasakan dan membayangkan, sehingga karya seni memiliki banyak informasi tentang kehidupan. Hemisphere Hemisphere Kanan Kiri Gambar 30. Fungsi otak kanan dan otak kiri Manfaat seni yang kedua, yakni proses berkarya seni. Hal ini dalam pendidikan di sekolah umum (TK, SD, SMP, dan SMA) merupakan hal yang sangat penting. Di dalam proses kegiatan berkesenian terjadi beberapa aktivitas fisik dan psikologis yang dapat merangsang dan mengembangkan kapasitas potensi-potensi pada diri manusia, baik per- tumbuhan fisik maupun mentalnya. Lowenfeld mengiden-tifikasikan ada beberapa hal yang dapat berkembang pada diri manusia melalui proses berkesenian antara lain pertumbuhan emosi, intelektual, fisik, persepsi, sosial, estetik, dan kreatifitas. Oleh sebab itu peran seni dalam pendidikan adalah untuk mencapai tujuan pendidikan agar manusia lebih utuh kepribadiannya berkembang karakter, potensi atau kapasitas yang dimiliki oleh manusia. D. Seni Rupa Indonesia Claire Holt kesulitan untuk secara tegas membagi tahap perkembangan seni budaya Indonesia, karena setiap daerah perkembangannya tidak sama. Ada daerah yang masih berada dalam tahap zaman prasejarah, ada daerah yang telah memasuki zaman modern. Namun, ia berusaha membuat periodesasinya sebagai berikut. 34
    • 1. Zaman Prasejarah Zaman prasejarah rentang waktunya sangat panjang sampai manusia mengenal tulisan yang kemudian disebut zaman sejarah. Zaman prasejarah Indonesia berakhir pada abad keempat dengan diketemukannya tulisan berupa prasasti pada batu. Zaman prasejarah Indonesia diklasi-fikasikan menjadi beberapa zaman sebagai berikut. Gambar 31. Peninggalan zaman batu tua (sumber: Soekmono, 1973) a. Zaman Paleolithikum (Zaman Batu Tua), rentang waktunya tidak jelas, wujud dan ciri peninggalannya adalah berupa alat-alat batu yang dipecah secara kasar dan diduga digunakan sebagai alat pemotong, penumbuk, dan kapak (gb.31). Periode ini merupakan yang terpanjang dalam sejarah kemanusiaan, pada zaman ini manusia hidup tidak menetap atau nomaden yaitu berpindah-pindah sebagai pemburu dan pengumpul makanan, tinggal dalam gua, menggunakan alat batu untuk keperluannya sehari-hari seperti alat pemotong, alat pemecah. Mereka sudah menggunakan api dan memiliki sistem kepercayaan dengan berpusat kepada magic dan supranatural. b. Zaman Mesolithikum (Zaman Batu Pertengahan), rentang waktunya juga tidak jelas diperkirakan 10, 000 tahun yang lalu. Wujud dan ciri peninggalannya berupa benda-benda terbuat dari tulang, kerang, dan tanduk, serta lukisan pada dinding batu dan gua, banyak terdapat di Indonesia Timur (gb. 1, dan 32). Manusia zaman ini sudah mulai bercocok tanam dan memlihara ternak. Mereka hidup berkelompok, menggunakan panah untuk berburu dan membuat manik-manik serta gerabah. Selain itu mereka juga membuat lukisan pada dinding gua-gua 35
    • berupa bentuk tangan, kaki, serta binatang seperti kadal (gb. 32), kura- kura, burung, dan benda-benda langit berupa matahari, bulan, serta perahu. Menurut para ahli hal ini memiliki hubungan dengan kepercayaan mereka, misalnya bentuk tangan merupakan tanda berduka jika keluarga mereka ada yang meninggal dunia. Kemudian bentuk kadal sebagai simbol nenek moyang dan di sekitarnya ada bentuk-bentuk ikan yang menandakan bahwa kehidupan mereka tergantung dari menangkap ikan. Gambar 32. Lukisan pada dinding gua (sumber: Indonesian Heritage) Bentuk kadal juga digunakan berlanjut hingga zaman sejarah, misalnya di lingkungan masyarakat Batak di Sumatera Utara, bentuk kadal dipahatkan pada daun pintu dengan empat buah bentuk mirip payudara perempuan. Bentuk ini menyimbolkan nenek moyang yang terdiri dari laki dan perempuan. Bentuk laki-laki diwakili oleh kadal disebut boraspati, bentuk perempuan direpresentasikan oleh bentuk payudara disebut bagok. Melihat dari nama boraspati diasumsikan sebagai pengaruh penamaan setelah Agama Hindu menyebar di Nusantara. c. Zaman Neolithikum ( Zaman Batu Baru), diperkirakan rentang waktunya mulai dari 2500 S.M – 1000 S.M. Periodesasinya berbeda secara geografis, misalnya Asia Tenggara berbeda dengan Asia Barat Daya. Peninggalan zaman ini di Indonesia diperkirakan banyak dipengaruhi oleh imigran dari Asia Tenggara berupa pengetahuan tentang kelautan, pertanian, dan peternakan berupa kerbau, babi, dan anjing. Alat-alat berupa gerabah, alat pembuat pakaian kulit kayu, tenun, teknik pembentukan kayu dan batu dalam bentuk mata panah, lumpang, beliung (gb.33), hiasan kerang, gigi binatang, dan manik-manik. Seiring dengan berkembangnya ke-terampilan dan kemampuan bercocok tanam yang dibantu oleh kerbau untuk membajak tanah, kerbau juga dijadikan sebagai binatang simbolik tentang kekuatan dan kekuasaan. Hal ini 36
    • nampak hingga saat ini menjadi bagian kehidupa adat-istiadat dalam masyarakat Sumatera Barat, Kalimantan, dan Sulawesi. Gambar 33. Alat batu peninggalan zaman Batu Baru d. Zaman Megalithikum (Zaman Batu Besar), pada zaman ini peninggalan yang menonjol adalah bentuk-bentuk menhir atau tugu peringatan, tempat duduk dari batu, altar, bangunan berundag, peti kubur atau sarkopagus, bentuk-bentuk manusia, binatang yang dipahat pada batu-batu dengan ukuran besar (gb.34). Peninggalan ini banyak terdapat di Sulawesi Tengah. Gambar 34. Patung Zaman Megalitikum Bangunan berundak memiliki hubungan kepercayaan kepada leluhur dan kepada yang suci, bahwa bagian yang lebih tinggi adalah tempat suci yaitu gunung. Oleh sebab itu bangunan suci, tempat pemujaan leluhur banyak dibangun pada tempat yang tinggi. Penerapan konsep ini sampai 37
    • saat ini digunakan oleh masyarakat Hindu Dharma di Bali dalam membuat tempat tinggal terutama tempat suci pura. e. Zaman Perunggu (Zaman Logam), waktunya diperkirakan kurang lebih 300 S.M. Peninggalan-peninggalan yang nyata dari zaman ini adalah berupa peralatan yang dibuat dari perunggu. Gambar-gambar tentang burung terdapat pada genderang, burung enggang memiliki hubungan dengan kepercayaan hidup setelah kematian dan kebangkitan. Sehubungan dengan itu burung merupakan simbol dari dunia atas, kepercayaan ini terdapat di Kalimantan dan Sumatera Utara. Selain bentuk burung peninggalan zaman perunggu yang menonjol adalah benda yang disebut Nekara diduga sebagai alat upacara (gb. 35, 36) sehingga sampai sekarang disucikan oleh masyarakat di tempat Gambar 35. Nakara (sumber: Museum Nasional Jakarta. Gambar 36. Bagian atas Nakara (sumber: Museum Nasional Jakarta) nekara itu berada. Nekara yang terbesar saat ini berada di Pura Penataran Sasih Pejeng Bali Berdasarkan dongeng tradisi lisan masyarakat Bali menganggap nekara itu bagian dari bulan yang jatuh di Bali. Hiasan pada badan nekara banyak berupa bentuk geometris, adapula hiasan muka manusia, burung, gajah, bahkan kodok. Teknik pembuatannya diperkirakan oleh para ahli meng-gunakan teknik cetak 38
    • cor yang disebut a cire perdue, dan menyebar dari benua Asia atau Indonesia bagian barat ke arah timur Indonesia sampai di pulau Alor. 2. Zaman Sejarah Zaman sejarah Indonesia ditandai oleh penemuan tulisan pada prasasti batu. Sebelum diketemukan prasasti tersebut sejarah Indonesia seakan gelap karena tidak adanya petunjuk yang authentik tentang keberadaan budaya yang sebenarnya telah berkembang jauh sebelum ada prasasti. Ada sementara orang mengatakan bahwa di Indonesia sebenarnya telah dikenal budaya tulis-menulis dengan huruf sebelum adanya huruf yang diperkenalkan dari luar Indonesia, namun sayangnya bukti yang sah mengenai hal itu belum diketemukan sampai saat ini, huruf-huruf etnis yang ada seperti di Sumatera Utara, di Lampung, dan di Sulawesi Selatan belum diteliti keberadaannya. Sistem kepercayaan memang telah ada jauh sebelum agama-agama dari luar masuk ke Indonesia, namun hal itu tidak diakui sebagai agama karena tidak memenuhi kriteria dibanding agama yang ada saat ini. Pembagian zaman sejarah di Indonesia diklasifikasikan menjadi empat, sebagai berikut. a b Gambar 37. Prasati batu tulis dari Kutai, (b) Parasati Adityawarman, Batu Sangkar (sumber: Soekmono) a. Zaman Penyebaran Agama-Agama India Zaman sejarah Indonesia mulai dikenal dengan munculnya kerajaan- kerajaan yang bernafaskan Hindu. Hal ini ditandai dengan diketemukannya prasasti-prasasti pada batu yang menggunakan huruf Palawa di dekat Sungai Cisedana Bogor Jawa Barat, di Kutai Kalimantan 39
    • Timur dan Sumatera Barat (gb.37). Penemuan bukti sejarah itu diperkirakan keber-adaannya pada abad ke 4-5 Masehi. Agama yang berasal dari India adalah Agama Hindu dan Agama Budha. Peninggalannya selain prasasti juga berupa bangunan suci keagamaan berupa candi tersebar terutama di pulau Sumatera, Jawa, dan Bali. Peninggalan candi yang terkenal adalah Candi Prambanan (gb. 38) merupakan peninggalan kerajaan Mataram Hindu dan Candi Borobudur dari Agama Budha (gb 39). Keduanya berlokasi di Jawa Tengah, namun saat ini Candi Prambanan berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pada kedua candi tersebut terdapat ribuan panel relief dengan tema religius. Gambar 38. Candi Prambanan Pada Candi Borobudur dipahatkan relief tentang kehidupan Sidharta Gautama (gb. 40, 41), sedang relief di Candi Prambanan menggambarkan cerita Ramayana yang terkenal di dunia. Selain kedua candi besar tersebut masih ada candi dengan ukuran lebih kecil yakni Candi Dieng peninggalan Hindu di dataran tinggi Dieng dan Candi Mendut serta Pawon peninggalan Budha berada di dekat Candi Borobudur. Kerajaan Hindu terbesar Majapahit di Jawa Timur yang pernah menguasai Nusantara. peninggalan candinya tidak sebesar candi zaman Hindu di Jawa Tengah, namun banyak meninggalkan candi-candi kecil bertebaran terutama di Jawa Timur dan Bali, serta beberapa karya 40
    • sastra yang lestari dan fungsional sampai saat ini khususnya di daerah Bali. Seni patung yang terdapat di Candi Borobudur baik yang diletakkan di relung-relung candi dan di dalam stupa adalah patung Budha dengan sikap sedang bermeditasi dan dengan berbagai sikap mudranya. Di Candi Prambanan patung-patungnya menggambarkan dewa-dewa Agama Hindu seperti Dewa Brahma, Wisnu, Siwa, Durga, Agastya, Ganesha dan patung kendaraan Dewa Tri Murti berupa patung Lembu Nandi, Angsa, dan Garuda. Bentuk candi patung dan relief pada ke- Gambar 39. Candi Borobudur. dua candi tersebut masih sangat kuat dipengaruhi oleh seni rupa dan arsitektur India. Bentuk reliefnya realis dekoratif. Menurut analisis Permadi Tabrani keistimewaan pada candi Borobudur adalah dalam menggambarkan beberapa adegan yang waktunya berbeda sekaligus dalam satu panel. Banyak posisi figur-figurnya menggunakan pedoman struktur bentuk gerak tribangga sehingga terlihat tidak kaku. Ragam hias yang penting terdapat pada badan candi antara lain Kalamakara yang biasanya terdapat pada bagian atas pintu masuk candi (gb.42). Bentuk ini merupakan simbolisasi dari waktu (kala), bahwa apapun yang ada di dunia ini tidak luput untuk memasuki lorong waktu, semua ditelan oleh sang waktu. Kembang padma atau teratai (gb. 43 a) sering dijumpai pada peninggalan Hindu dan Budha. Kedua agama ini memandang bunga teratai sebagai bunga suci karena sebagai tempat duduknya para dewata. Selain itu dalam tradisi yoga pusat-pusat energi dalam tubuh manusia disebut cakra juga digambarkan dalam bentuk bunga teratai. Hiasan berbentuk swastika digunakan pula oleh kedua agama tersebut. Dalam agama Hindu swastika merupakan lambang perputaran alam 41
    • semesta yang tidak pernah berhenti oleh karenanya sekaligus juga sebagai lambang keselamatan dan kehidupan. Arah perputarannya dari kiri ke kanan, namun swastika Budha perputarannya terbalik. Ragam hias binatang juga banyak dijumpai pada relief-relief candi, salah satu yang Gambar 40. Relief penari di depan Pangeran Sidharta Gautama Gamar 41. Relief ketika Budha melakukan meditasi dengan mudra Bumi Sparsa. menarik adalah mahluk kahyangan yang disebut kinara-kinari yaitu mahluk berbadan burung dan berkepala manusia berpasangan laki-laki dan perempuan mengapit pohon kalpa taru (gb. 43 c) sebagai lambang pohon surga yang memberikan segala keinginan manusia. Selain diapit oleh kinara-kinari dalam beberapa hiasan pohon kalpa taru di apit oleh burung merak dan diantara dua hiasan kalpa taru terdapat patung singa dalam relung kecil. Pada Candi Prambanan, reliefnya menggambarkan tentang epos Ramayana. Dalam peninggalan situs Agama Hindu sering diketemukan wujud simbol yang disebut Lingga Yoni (gb. 43 b) merupakan artefak penting dalam Agama Hindu karena digunakan sebagai media menghubungkan diri manusia dengan Siwa sebagai Tuhan. Lingga dan Yoni merupakan simbolisasi dari rwa binedha yaitu dua hal berbeda dari kemahakuasaan Tuhan sehingga menyebabkan adanya alam semesta beserta isinya. Dua hal tersebut yaitu laki-laki dan perempuan, siang dan malam, halus kasar, tinggi rendah, dan sebagainya; hanya saja dalam visualisasinya 42
    • penekanannya lebih kepada laki-laki dan perempuan sehingga simbolisasi yang realistik (alat kelamin laki-laki sebagai lingga dan alat kelamin perempuan sebagai yoni) menyebabkan muncul persepsi negatif di masyarakat. Padahal kalau ditelusuri lebih jauh hal tersebut be Gambar 42. a. Kepala Kala dari zaman Hindu Jawa Tengah awal, b.Kepala Kala dari zaman Jawa Tengah peralihan ke zaman Hindu Madya, c. Kepala Kala dari zaman Hindu Jawa Timur (sumber: Museum Nasional Jakarta dan Indonesiaan Heritage. berhubungan dengan penghormatan kepada nenek moyang, orang tua (bapak/lingga dan Ibu/yoni) yang telah melahirkan dan membesarkan, selain itu lingga dan yoni juga bermakna kesuburan, oleh karena pertemuan kedua kekuatan berbeda tersebut dapat melahirkan sesuatu. Hal yang menarik pada Candi Borobudur adalah struktur ba- ngunannya. Menurut Stutterheim, bangun candi Borobudur merupakan kombinasi piramid dari timur tengah dengan stupa India. Struktur bangunan terbagi menjadi tiga tingkat, berturut dari bawah yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Ketiga tingkatan itu merupakan refleksi dari tingkatan kehidupan spiritual manusia secara alami menurut pandangan Budha. Tingkatan kama adalah tahap kehidupan manusia yang masih diliputi oleh berbagai jenis hawa nafsu duniawi, kemudian 43
    • meningkat ke tingkat rupa masih terikat dengan wujud dan simbol, dan tingkatan arupa tahapan kehidupan sudah bebas dari keduniawian. Pada masa Hindu dan Budha seni rupa yang menggunakan bahan keras (batu dan logam) seperti patung, senjata, alat upacara, sangat banyak peninggalannya, sedangkan seni rupa yang menggunakan bahan lunak seperti lukisan dan ukiran kayu tidak banyak dapat diketahui jejaknya karena mudah hancur dimakan zaman selain faktor vandalisme oleh manusia. b a c Gambar 43. a. Motif Teratai, b. Linga-Yoni, c. Kinara-Kinari. 44
    • b. Zaman Penyebaran Agama Islam Perkembangan agama Islam di Indonesia diperkirakan mulai tahun 1250 hingga sekarang. Hal ini diawali dari daerah pesisir Sumatera dan Jawa, dimana daerah pesisir merupakan kota pelabuhan dan perdagangan. Penyebaran Islam dilakukan oleh para pedagang dari Parsi dan Gujarat. Menurut Holt pada awal abad ke – 16 kerajaan Islam di pantai Utara Jawa Tengah merebut kekuasaan Majapahit. Pada akhir abad – 16 muncul kerajaan Islam Mataram sebagai suatu kesultanan, kemudian setelah Belanda menduduki Indonesia kerajaan tersebut di-pecah menjadi kerajaan kecil yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Gambar 44. Menara Mesjid Kudus (sumber: Soekmono, 1973) 45
    • Gambar 45. Ukiran dalam medalion dari masjid Mantingan Jepara (sumber: Soek- mono 1973) Peninggalan kesenian zaman Islam yang terkenal adalah mesjid Kudus dan menaranya (gb.44) yang masih mengadopsi bentuk bangunan bergaya Hindu dengan atapnya bertumpang dan gapura Mesjid Sendang Duwur (gb. 46). Selain itu hal yang menonjol dalam seni Islam adalah stilisasi bentuk tumbuh-tumbuhan, wayang, dan seni kaligrafi (gb.45). Stilasi tersebut dilakukan karena dalam ajaran Islam tidak diperkenankan meng gambarkan mahluk hidup terutama binatang. Sebagai kon- sekwensinya bentuk-bentuk mahluk hidup (manusia, binatang) sering digayakan dan dibentuk dengan huruf-huruf Arab. Gambar 46. Gapura mesjid Sendangdu- wur Tuban ( sumber:Soekmono,1973) . 46
    • c. Zaman Pengaruh Kebudayaan Eropa Masuknya pengaruh kebudayaan Eropa dimulai juga melalui aktivitas perdagangan dengan bangsa Portugis pada pertengahan abad 16. Komoditas utama yang diperdagangkan adalah rempah-rempah, selanjutnya disusul oleh kedatangan bangsa Belanda, Spanyol, dan Inggris. Persaingan ketat dari ketiga bangsa tersebut dalam perdagangan di Indonesia akhirnya dimenangkan oleh Belanda dengan mendirikan VOC. Dari awalnya berdagang berlanjut menjadi pendudukan dan menguasai pemerintahan berkepanjangan hingga tiga setengah abad dan berakhir tahun 1945. Peninggalan Belanda yang paling penting diwarisi Indonesia saat ini adalah Agama Katholik dan Kristen, sistem pendidikan, serta beberapa infrastruktur berupa jalan dan bangunan fisik. Pengaruh seni rupa Barat diduga telah mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-16 dibawa oleh para pedagang V.O.C yang digunakan untuk hadiah kepada para pembesar kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti lukisan besar yang diberikan kepada seorang raja di Bali, Sultan Palembang, dan raja Surakarta. Pengaruh seni lukis Barat secara nyata pada awal sekali dipelajari oleh seorang putra bangsawan dari Jawa yaitu Raden Saleh Syarif Bustaman pada abad ke-19. Raden Saleh belajar seni lukis Barat langsung dengan tinggal di Eropa selama 20 tahun. Menurut pendapat para ahli lukisan Raden Saleh mendapat pengaruh kuat dari Delacroix (seorang pelukis terkenal pada zaman Renaissance) dengan gaya romantiknya. Dengan keterampilannya yang baik Raden Saleh pulang ke Indonesia dan banyak melukiskan tentang suasana Indonesia zaman penjajahan Belanda seperti gunung Merapi yang sedang meletus (gb.47), perkelahian antara singa dan banteng yang ditafsirkan sebagai perta- Gambar 47. Raden Saleh, Gunung Merapi, (Sumber: Indonesian Heritage). 47
    • rungan kaum pejuang nasionalis dengan penjajah. Selain itu lukisan Raden Saleh yang terkenal di Indonesia adalah saat penangkapan Pangeran Diponegoro dan Perburuan Harimau (gb.48). Raden Saleh tidak menurunkan kemahirannya melukis ala Barat kepada masyarakat Indonesia pada waktu itu, namun ketika Abdulah Surio Subroto dari Jawa Gambar 48. Raden Saleh, Perburuan Harimau (Sumber: Indonesian Heritage) Gambar 49. Abdulah SR., Pemandangan di Jawa .(sumber: Koleksi Presiden Soekarno). 48
    • Barat kembali ke Indonesia setelah belajar melukis di Akademi Seni Rupa Belanda, ia menularkan kemampuannya kepada anaknya sendiri sebagai muridnya yang menjadi pelukis terkenal yaitu Basuki Abdulah dan anak didiknya yang lain ialah Mas Pirngadi. Selain itu pelukis pribumi lainnya yang belajar dengan orang Belanda ialah Wakidi, yang tinggal di Sumatera Barat dan memiliki banyak murid. Abdulah Surio Subroto, Basuki Abdulah, Wakidi dan pelukis sejenis lainnya mereka semua sangat mahir melukis dengan gaya realis dan naturalis melukiskan kondisi yang indah-indah dan menyenangkan ( gb. 49, 50, 51). Hal yang demikian ini sangat ditentang oleh pelukis nasionalis yang menyebutnya sebagai seni lukis “Indonesia Molek” (Mooi Indie). Menurut pandangan mereka lukisan tersebut tidaklah menggambarkan kondisi sesungguhnya tentang Indonesia. Pada tahun 1937, gerakan yang menentang seni lukis “Indonesia Molek” mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) dipimpin oleh Agus Djayasuminta dan Sudjoyono dengan jumlah anggota sebanyak 20 orang. Upaya kelompok ini adalah untuk mencari terobosan teknik melukis yang dirasa membosankan dan tidak mencerminkan suasana Gambar 50. Wakidi, Balai Desa Minagkabau (sumber: Koleksi Presiden Soekarno). batin Indonesia yang sebenarnya. Kelompok ini mengembangkan sendiri tema kerakyatan dan teknik melukisnya sebagaimana nampak dalam lukisan Sudjojono ‘Tetangga’ (gb. 52) dan lukisan Hendra Gunawan 49
    • ‘Mencari Kutu Kepala’ ( gb.53). Sudjojono terkenal dengan motto me- lukisnya sebagai ‘jiwa ketok’, bahwa melukis tidak hanya sekedar mengungkapkan fenomena keindahan di luar diri manusia tetapi juga merupakan pencerminan dinamika jiwa pelukisnya. Dengan demikian tersirat, bahwa seorang seniman seni lukis harus terus mencari apa yang menjadi keinginannya dalam mengungkapkan gerak perasaan hatinya sehingga dapat mencerminkannya dalam lukisan-lukisan yang dibuatnya. Hal inilah yang dapat membedakan pelukis satu dengan lainnya baik dalam preferensi pemilihan tema, warna dan bentuk. Dari sisi tema misalnya, Sudjojono berbeda dengan Abdulah Surio Subroto, begitu pula dalam warna dan bentuk serta goresan dan sapuan kuasnya. Perbedaan antar individu meluas menjadi perbedaan faham antar kelompok yaitu antar “Mooi Indie” dengan kelompok Persagi. Perbedaan paham membuat dunia seni lukisa zaman itu menjadi dinamis sehingga melahirkan banyak seniman seni lukis. Dinamika tersebut tidak terjadi dalam bidang seni rupa lainnya. Hal ini menyebabkan seni lukis menjadi bidang seni satu-satunya yang paling banyak dibahas dan memiliki dimensi keilmuan seni yang paling maju di samping seni musik yang sifatnya lebih eksak. Gambar 51. Ernest Dezentje, Pemandangan Sudut Jakarta (sumber: Koleksi Presiden Soekarno d. Zaman Kemerdekaan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, namun baru berdaulat penuh pada tahun 1950. Guna mengembangkan 50
    • seni budaya, pemerintah mendirikan sekolah dan perguruan tinggi seni. Pada tahun 1947 di Bandung lahir Sekolah Seni Rupa Bandung sebagai bagian dari Institut Teknologi Bandung, selanjutnya pada tahun 1950 berdiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Selain sekolah formal berdiri pula sangar-sanggar seni sejak sebelum kemerdekaan sebagai tempat kegiatan seniman seni rupa berkarya dan berdiskusi, di antaranya adalah Pusat Tenaga Pelukis Rakyat, didirikan oleh Djayengasmoro Seniman Indonesia Muda didirikan oleh Sudjojono, Pelukis Rakyat oleh Affandi. Selain itu ada seniman yang menguasai seni lukis sekaligus seni patung yaitu Trubus dalam gaya realis (gb 54). Sebenarnya sejak sebelum kemerdekaan para pemimpin bangsa telah berupaya untuk mencari format kebudayaan Nasional, misalnya dengan lahirnya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, dideklarasikannya sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Pencarian kebudayaan Nasional masih terus bergulir hingga sekarang dengan segala pasang surutnya dan pernah terjadi perdebatan di antara para ahli, di satu kutub ingin mencari budaya yang berasal dari akar budaya daerah, di pihak lain ingin mencari budaya yang universal. Apabila dicermati, kawasan budaya Indonesia merupakan pertemuan dari berbagai jenis budaya, puncak- Gambar 52. Sudjojno, Tetangga (sumber: Koleksi Presiden Soekarno) 51
    • puncak budaya yang ada merupakan hasil pembauran berbagai budaya dengan budaya setempat, mulai dari masuknya budaya India, Cina, Timur Tengah, dan Eropa. Saat ini datangnya berbagai jenis budaya dari berbagai bangsa dan negara semakin bertambah hebat melalui kegiatan perdagangan, pariwisata, dan yang paling kuat datangnya melalui media komunikasi audio-visual dengan berbagai nilai positif dan negatif masuk menjadi bagian kehidupan seharí-hari masyarakat Indonesia. Selain itu banyak pula anak bangsa yang belajar ke luar negeri dan sepulangnya sudah pasti membawa pengaruh terutama pada pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan, sekolah dan perguruan tinggi seni telah banyak menghasilkan budayawan dan seniman akademisi. Sebagai bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat, sudah seharusnya bangsa Indonesia terutama para cendekiawan dalam bidang seni dan budaya dapat merespon kondisi zaman yang terus berubah dengan cepat dengan merumuskan setrategi budaya yang baik. Gambar 53. Hendra Gunawan, Mencari Kutu Kepala ( sumber: Koleksi Presiden Soekarno ). 52
    • Gambar 54. Trubus, Gadis dan Kodok (sumber: Koleksi Presiden Soekarno) e. Seni Rupa Etnis Indonesia Seperti yang telah diketahui bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni budaya yang sangat kaya, dari sekian banyak itu ada beberapa yang termasuk seni rupa yang menonjol untuk diperhatikan dan dibahas secara lebih khusus, di antaranya adalah batik, wayang, dan keris. Ketiga jenis seni rupa ini sangat populer hingga ke manca negara. 1) Seni Batik Seni batik di Indonesia usianya telah sangat tua, namun belum diketahui secara pasti kapan mulai berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa. Banyak negara seperti India, Cina, Thailand, dan terakhir Malaysia, mengakui bahwa batik berasal dari sana. Namun demikian, dalam kenyataannya perkembangan batik yang menjadi sangat populer dan mendunia berasal dari Indonesia-Jawa. Hal ini dibuktikan dengan diadopsinya istilah batik ke dalam bahasa Inggris. Jejak penggunaan kain batik diketemukan pada patung dan relief di candi-candi. Dalam per- kembangan penggunaannya sejak masa kerajaan di Jawa, penggunaan batik menunjukan status kebangsawanan dan ritual yang sedang diselenggarakan. Misalnya untuk motif-motif tertentu seperti parang- barong, parang-rusak hanya boleh dikenakan oleh raja, kemudian ketika ada ritual perkawinan, sang pengantin dianjurkan menggunakan motif truntum, atau sidomukti yang memiliki makna harapan positif bagi sang pengantin. Namun, saat ini aturan tradisi tersebut sudah kurang ditaati oleh kebanyakan masyarakat. 53
    • a b Gambar 55. (a) Motif Parang, (b) Motif Kawung (sumber: Amri Yahya). Motif batik jumlahnya tak terhitung banyaknya, motif-motif batik memiliki ciri khas yaitu hasil dari stilasi dan abstraksi, disusun se cara acak dan mengikuti prinsip pengulangan, selang-seling dengan arah diagonal, vertikal, ataupun horizontal. Dilihat dari gaya dan corak motif batik dapat dibedakan menjadi dua, yakni motif batik pedalaman dan pe- a b Gambar 56 . (a) Motif Awan / Mega Mendung, (b) Motif Tumbuh-tumbuhan (sumber: Amri Yahya) sisir. Batik pedalaman diwakili oleh Surakarta dan Yogyakarta cenderung warnanya berat dan gelap terdiri dari hitam, biru, putih, dan coklat (gb.55 a,b]. Bentuk motifnya merupakan abstraksi dan stilasi alam lingkungan seperti motif parang, garuda, hujan, kawung dan sebagainya. Sedangkan batik pesisir warnanya cerah, ringan dan bebas (gb. 56 a,b). Bentuk motifnya banyak berupa stilasi dari alam seperti gunung, awan, burung, tumbuh-tumbuhan, naga, kaligrafi Arab. Hal ini diduga banyak mendapat 54
    • pengaruh dari seni rupa Cina karena kontak perdagangan terutama di daerah Pekalongan. Teknik membatik pada prinsip dasarnya adalah tutup dan celup untuk mendapatkan motif yang diinginkan. Alat dan bahan utama yang digunakan adalah berupa canting, wajan, dan kompor, sebelum ada kompor pembatik menggunakat anglo (tungku kecil dibuat dari gerabah). Bahan penutupnya disebut malam terdiri dari campuran gondorukem, damar mata kucing, microwax, lemak binatang, minyak kelapa, dan lilin bekas. Bahan pewarnanya terdiri dari pewarna alami dan sintetis. Pewarna alami berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti daun pohon jati , daun teh, akar menggkudu, untuk warna coklat; daun indigo untuk warna biru. Pewarna sintetis ada beberapa jenis yang populer yang dijual di toko yaitu Naphtol, Indigosol dan rhemasol. Bahan kain yang biasa digunakan adalah kain dari bahan katun dan sutera. Kain dengan bahan dasar sintetis kurang cocok menggunakan bahan pewarna tersebut. a b c d Gambar 57. (a) Bambang Oetoro, Kreasi Baru, (b) Amri Yahya, Kaligrafi, (c) Kuwat dan Simuharjo, Kreasi Baru, (d) Kuswadji,K, Lampor. 55
    • Untuk mencairkan malam dilakukan dengan memanaskannya. Malam dimasukkan ke dalam wajan kecil yang diletakkan di atas tungku kecil tanah liat yang disebut anglo, bahan bakarnya digunakan arang kayu. Teknik membatik dengan menggunakan canting dilakukan selama berabad-abad. Pada tahun 1840 teknik membatik mengalami kemajuan dengan diketemukannya ’canting cap’ sehingga mempercepat proses produksi. Hal ini didukung pula dengan diketemukannya warna sintetis pada tahun 1918 di kawasan Eropa yang dapat memperpendek proses pewarnaan. Penggunaan warna alami dapat memakan waktu berhari- hari, sedangkan pewarnaan sintetis hanya memerlukan waktu beberapa menit, dengan demikian produksi kain batik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Selain teknik batik dengan menggunakan malam, adapula teknik membatik tidak mengunakan malam yang disebut kain jumputan. Motif kain ini didapat dengan menggunakan teknik mengikat kain dengan benang, motif-motifnya sangat terbatas pada bentuk bulat karena teknik ikat tidak seleluasa menggunakan lilin dan canting dalam membentuk motif yang diinginkan. Kemampuan kreatif menyebabkan terjadinya suatu perkembangan, begitu pula terjadi pada seni batik. Pada sekitar tahun 1966 - 1970, seniman-seniman di Yogyakarta melakukan eksperimen menggunakan teknik batik menjadi seni lukis. Pembaharuan ini dipelopori oleh Sulardjo seorang pengusaha batik bekerjasama dengan seniman-seniman lainnya yaitu Kuswadji, Bagong Kusudihardjo, Kusanadi, Abas Alibasyah, Gustami disusul oleh Amri Yahya, Bambang Oetoro dan lain-lainnya. Dari eksperimen mereka lahirlah motif-motif dan teknik membatik baru (gb.57 ) . Selanjutnya batik tidak hanya sebagai kain batik yang berfungsi sebagai penutup badan, namun berkembang menjadi media ekspresi seni lukis batik yang banyak digeluti oleh seniman seni rupa dalam dan di luar negeri. 2) Wayang Indonesia boleh bangga karena mewarisi kesenian wayang yang diakui sebagai warisan peradaban manusia yang berkualitas tinggi oleh lembaga kebudayaan dunia Unesco. Sama halnya dengan batik, wayang juga belum diketahui dengan pasti kapan mulainya, siapa pencipta awalnya, dan dimana tempat dilahirkan. Banyak versi pendapat mengenai wayang, ada yang menduga wayang merupakan hasil seni dan budaya asli Indonesia yang berkaitan dengan dunia para leluhur. Ada pula yang berpendapat wayang berasal dari India. Namun dalam misteri dan kenyataannya wayang telah hadir pada relief-relief candi di Jawa Timur (gb. 58 a, c). 56
    • a b c d e f Gambar 58. (a) Arjuna Wiwaha, Relief Candi Sarawana Jawa Timur, (b) Arjuna, wayang Bali, (c) Samba dan Tilotama, Candi Kedaton Jawa Timur (sumber: Claire Holt), (d) Arjuna,wayang Jawa, (e) Semar, versi Jawa, (f) Wayang Golek, Sunda/simboliknya, sumber: Ann Richter Wayang Gedhog kurang jelas makna Jawa Barat ( ceritera yang dilakonkan berupa legenda Panji dan Damarwulan dari Jawa Timur. Secara etimologi wayang berarti bayangan, penamaan ini mungkin karena wayang dinikmati melalui bayangannya (gb. 59a ) Jenis wayang cukup banyak namun yang populer di masyarakat adalah wayang kulit dan wayang golek. Wayang kulit terbuat dari kulit binatang khususnya kulit sapi, dan wayang golek terbuat dari kayu untuk bagian badan dan kepala, bahan kain digunakan untuk pakaiannya. 57
    • Menurut tempat atau daerah, ada beberapa jenis wayang antara lain wayang Sunda, wayang Jawa, wayang Madura, wayang Bali, dan wayang Sasak. Wayang Sunda lebih dominan wayang goleknya (gb. 58 f, 59 b), sedang wayang lainnya yang disebut wayang kulit antara daerah satu dengan lainnya berbeda dalam ungkapan bentuknya. Wayang Jawa dan Madura ukuran bentuknya lebih besar dibanding wayang Bali dan wayang Sasak. Wayang Bali sangat mirip dengan relief pada badan candi di Jawa Timur (gb. 58 b). Berdasarkan cerita yang dilakonkan, menurut Calire Holt wayang dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu wayang Purwa, wayang Gedhog, dan wayang Madya. Wayang Purwa berarti wayang awal atau mula-mula, cerita yang dilakonkan mengambil cerita Hindu yang berasal dari India. Cerita atau mitos Hindu dibedakan menjadi empat, yakni: Adiparwa, Arjuna Sasrabahu, Mahabaratha, dan Ramayana. Wayang Madya berarti tengah, mengambil ceritera tentang silsilah raja Jawa terutama raja Jayabaya dari Kediri Jawa Timur. a Gambar 59. (a) Pertunjukan wayang Bali (sumber: Bali Traveler Guide, (b) Karakter orang biasa dalam wayang Golek b Karakter wayang Purwa dapat diklasifikasikan menurut oposisi berlawanan, yakni halus x keras, baik x jahat, dewa x raksasa, kesatria x jahat. Kedua karakter berlawanan ini dapat diidentifikasikan melalui tampilan fisiknya. Misalnya tokoh keras matanya bulat, tokoh halus matanya sipit kepala menunduk. Tokoh jahat mulutnya bertaring, tokoh kesatria tersenyum. Sifat-sifat tokoh yang digambarkan dapat pula dilihat dari warnanya. Tokoh keras warnanya coklat tua, atau merah, sedang tokoh halus warnanya kekuningan, dan putih. Secara tradisional wayang difungsikan untuk melakukan ruwatan atau pembersihan seseorang dari sial dan kemalangan karena waktu kelahirannya atau kondisi hidupnya, 58
    • juga pembersihan desa jika dirasa terjadi banyak bencana, hama, dan wabah penyakit. Biasanya ceritera yang dipentaskan untuk ruwatan adalah Murwakala. Selain itu wayang juga berfungsi untuk mendidik masyarakat dalam hal moral dan agama serta sebagai hiburan, sehingga untuk menjadi seorang dalang harus menguasai berbagai disiplin dan kemampuan. 3) Keris Keris memiliki sejarah yang panjang dan penyebarannya tidak hanya di Jawa, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia bahkan ke utara hingga Philipina, dan ke barat hingga Malaysia. Bukti autentik tentang keris terekam pada relief candi Penataran di Jawa Timur pada abad ke 13 dan candi Sukuh pada abad ke 15. Keris bagi masyarakat khususnya di Jawa dan Bali tidak hanya berfungsi sebagai senjata, tetapi juga berfungsi sebagai pusaka keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Pada zaman kerajaan keris amat penting fungsinya sebagai pusaka kerajaan dan dianggap memiliki kekuatan ’sakti’ yang melindungi keluarga raja dan masyarakat. Menurut Soedarso ada beberapa ciri-ciri keris yaitu: (a) keris terdiri dari dua bagian yaitu bilah atau badan keris dan pangkal keris disebut ganja, (b) keris selalu bermata dua atau tajam kedua sisinya, (c) bentuk keris selalu asimetris, (d) posisi bilah terhadap ganja tidak tegak lurus, (e) Keris dibuat dengan teknik tempa dari kombinasi beberapa jenis logam. Jadi menurut kriteria ini, apabila ada senjata di luar kriteria itu bukan disebut keris. Selain sebagai benda bertuah, keris juga memiliki nilai seni yang tinggi. Bentuk keris ada yang bergelombang (luk) dan ada yang lurus (gb. 59 a, c), bagian ujung bawah (ganja) dekat gagang lebih lebar dari pada ujung atasanya dan ada yang berhiaskan naga, burung, singa dan sebagainya. Kadang ada yang diberi hiasan ornamen dengan emas dan permata. Bahan keris terdiri dari cam-puran berbagai jenis logam seperti besi, baja, tembaga, nikel ditempa dan dibentuk menjadi satu kesatuan. Dalam proses pembentukannya logam nikel yang warnanya paling terang membentuk motif hiasan abstrak yang disebut pamor. Kiranya pamor terbentuk ketika badan keris ditempa dengan panas yang tinggi sehingga membentuk motif-motif pamor yang tak terduga sebelumnya, seperti halnya teknik marbling ketika cat minyak dituang ke dalam air lalu bentuk catnya ditangkap dengan kertas. Pamor yang didapat dengan cara ini disebut sebagai pamor tiban, dan ini dipercaya sebagai anugrah dari Tuhan. Pamor jenis ini antara lain disebut Beras Wutah, Mrutu Sewu, 59
    • a b c Gambar 60. (a) Keris Bali, (b) Gagang Keris Bali (sumber: Bali Traveler Guide), (c) Keris Jawa (sumber: Keraton Jogjakarta) dan Tunggak Sem, sedangkan motif yang sengaja didesain, dibentuk, dikontrol dan distandarkan bentuknya disebut pamor rekan antara lain pamor Adeg, Ron Genduru, Ri Ider, dan Naga Rangsang. Sebenarnya jenis pamor keris jumlahnya ada lebih dari seratus motif. Jenis-jenis pamor tersebut diyakini masing-masing memiliki kekuatan spiritual tertentu. Misalnya ada pamor untuk kewibawaan berarti cocok untuk pemimpin, sedangkan pamor untuk mendapat rezeki cocok untuk pedagang dan pengusaha. Standarisasi bentuk pamor keris berguna untuk menentukan tuah dan kegunaannya. Di Bali tuah keris utamanya dilihat dari hitungan panjang berbanding lebar keris tepat di bagian tengah antara ujung dan pangkal keris. Lebar keris disebut lumbang rai, untuk mengukurnya dapat digunakan janur atau tali. Janur dilipat-lipat sesuai lebar keris dan jumlah hasil lipatan menentukan tuah keris, makna dari keris yang diukur adalah sebagai tabel 1 berikut. 60
    • Tabel 1 . Makna Keris No. Jumlah Nama Makna / Kegunaan Lumbang Rai 1. 10 Pemiliknya merusak diri sendiri. Kala ngamah awak 2. 11 Pemilik dan keluarganya men-jadi hina untuk waktu Durga masiyung lama. 3. 12 Kemiskinan dan kesakitan di-alami oleh Lara muwuh pemiliknya. 4. 13 Pemilik keris ini akan mendapat kedamaian dan Bima kosa krana keuntungan dalam usahanya, prajurit akan hidup panjang jika memiliki keris ini. 5. 14 Keris ini baik dimiliki oleh dukun, dokter, orang Darmawangsa yang se-ring sembahyang, keinginannya selalu terpenuhi oleh orang lain maupun Tuhan 6. 15 Pemilik keris dapat melihat musuhnya yang tidak Arjuna sakti kasat mata. Keris ini baik dimiliki oleh kaum kesatria dan pedagang. Pemilik juga memiliki banyak teman, jika laki-laki dicintai wanita, apa yang dikerjakan berhasil, tetap men-dapat keberuntungan. 7. 16 Pemiliki tidak bahagia, kekuatan keris dapat Suksma angel membahayakannya. 8. 17 Pemilik mudah mendapat per-tolongan, baik bagi Naga samparna dukun yang menggunakan pengobatan tradisi-onal. 9. 18 Baik disimpan di dalam rumah, pemiliknya Sesangkep disenangi teman dan familiy tidak baik dibawa ber- purna pergian. 10. 19 Tidak baik dibawa bepergian, baik disimpan di Durga Katemu rumah untuk meniadakan masalah. Keris ini dapat digunakan untuk keperluan yang tidak baik jika dibawa ke luar rumah. Sumber : Eiseman f. Seni Rupa Bali Bali sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki ciri khas tersendiri dalam seni dan budayanya. Berbeda dengan Jawa dan daerah lainnya, Seni dan budaya tradisi di Bali bagai sebuah garis lurus yang tidak pernah terputus karena adanya perubahan. Pengaruh budaya dari luar yang masuk dijadikan sebagai sumber pengembangan dalam satu nafas bingkai khas Bali. Oleh karenanya apapun yang masuk ke Bali akan menjadi Bali. Sebagai contoh dalam hal seni rupa, prinsip-prinsip seni rupa Barat diperkenalkan pada tahun 1930an oleh seniman Belanda dan Jerman yaitu Bonnet dan Walter Spies, seni rupa asli bukan menjadi pudar malah mengalami perkembangan pesat karena tumbuh subur seni baru yang mencairkan kebekuan tradisi. Dengan demikian perlu diketahui dan dipelajari bagaimana masyarakat / seniman Bali secara alami mengadopsi 61
    • pengaruh budaya dari luar dengan tidak meninggalkan ciri khas yang telah mengakar dan dimiliki selama berabad-abad. Gambar 61. Nakara Pejeng (sumber: Indonesian Heritage) Seni rupa Bali kuno baru diketahui dari beberapa peninggalan yang diketemukan antara lain berupa hiasan pada nekara di Desa Pejeng. Hiasan tersebut berupa garis, bentuk geometris dan muka manusia mengenakan hiasan telinga (gb.61 dan 62 ) .Selanjutnya perkembangan seni rupa diperkirakan setelah Agama Hindu berkembang di Bali sekitar abad ke-8 dengan berdirinya Candi Besakih di lereng Gunung Agung. Seni rupa berkembang semakin intensif setelah adanya hubungan kerajaan Bali dan Jawa serta mencapai puncaknya ketika Majapahit me- luaskan kekuasaannya di Bali dengan pusat pemerintahan di Klungkung. Seni ukir logam dan seni lukis berkembang pesat di Desa Kamasan Klungkung tidak lepas pula dari peran raja pada waktu itu. Tema-tema yang dilukiskan menyangkut ajaran-ajaran agama yang banyak diambil dari epos Mahabaratha dan Ramayana (gb.63a), selain itu adapula yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang disebut reroncodan, namun tema ini jarang dibuat. Tema lain yang unik adalah mengenai ka lender yang terdiri dari pelelintangan atau perbintangan, wariga atau tika yaitu baik buruknya hari, pewatekan mengenai perwatakan seseorang, dan pelelindon tentang makna gempa bumi. Agama Hindu memberikan inspirasi kepada para seniman untuk menciptakan berbagai bentuk seni, oleh sebab itu seni memiliki 62
    • hubungan yang sangat erat dengan agama. Seni lukis dan patung misalnya, banyak digunakan dalam kegiatan keagamaan seperti upacara Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya dan Manusa Yadnya. Seni lukis banyak digunakan untuk mengilustrasikan perbintangan ( gb.63c), mendidik moral masyarakat (gb.63d) menghias tempat pura dan istana. Gambar 62. Hiasan muka manusia pada nakara. Khusus untuk konsep ruang, di Bali menggunakan klasifikasi dua dan tiga. Hal ini paling sering dijumpai dalam seni arsitektur, tata ruang desa, dan tempat tinggal semuanya mengacu kepada manusia sebagai mikrokosmos. Manusia itu simetris kiri kanan, dan terdiri dari bagian kaki, badan, dan kepala degan orientasi vertikal. Tempat suci misalnya, ruang terbagi menjadi tiga, jabaan (ruang bagian luar) sebagai tempat hiburan; jaba tengah (ruang bagian tengah) tempat peneriamaan tamu, persiapan ritual; dan jeroan ( ruang bagian dalam) sebagai ruang yang paling suci berfungsi sebagai tempat sembahyang. Untuk tata ruang desa terdiri dari palemahan (sawah, ladang, kebun, hutan, binatang), pawongan (tempat tinggal manusia), parhyangan (tempat suci pemujaan). Orientasi arah penataan membujur utara – selatan atau timur – barat, utara dan timur merupakan arah yang suci bagi umat Hindu Dharma dan pertemuan utara dan timur adalah timur laut sebagai arah yang paling sakral.Utara dianggap suci, dimungkinkan karena konsep zaman purba bahwa utara sebagai tempat tinggi, tempat tinggi adalah gunung tempat bersemayamnya para leluhur dan roh suci. Di Bali digunakan Gunung Agung sebagai otientasi arah utara. Selanjutnya timur bagi umat Hindu merupakan pusat alam semesta, mulainya kehidupan karena dari timur matahari bersinar yang memberi energi bagi kehidupan di bumi. Demikian konsep pembagian ruang di Bali yang mempengaruhi karya seni terutama yang berhubungan dengan keagamaan. Selain itu, ada hal yang berhubungan dengan seni adalah taksu. Taksu sebenarnya tidak hanya berlaku bagi profesi berkesenian, fenomena ini dapat berlaku bagi setiap orang. Apabila ia seorang penari, 63
    • ketika di atas panggung ia sangat menarik, yang tidak cantik menjadi nampak cantik, yang lucu menjadi sangat lucu. Jika ia seorang seniman seni rupa karya-karyanya memiliki bobot, apabila ia seorang politikus kata-katanya memukau banyak orang ketika berpidato. Jadi taksu merupakan suatu kekuatan yang ada pada diri seseorang yang dapat meningkatkan kualitas kinerjanya. Taksu ada yang dibawa sejak lahir, ada pula yang didapat dengan melakukan treatment spiritual tertentu (nglakoni) yang dituntun oleh seorang ahli dalam hal itu. Namun, semuanya itu tergantung pula dari anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa. Unsur rupa seperti bentuk dan warna dalam seni lukis semuanya memiliki pedoman yang baku, sehingga penampilan seni lukis ini memiliki kesamaan (gb. 64) Bentuk karakter tokoh dibedakan menjadi dua yaitu karakter halus dan karakter keras. Mereka dibedakan secara fisik terutama dari bentuk mata dan mulut, kedua unsur ini segera dapat dikenali karena karakter halus digambarkan dengan mata sempit, dan mulut tersenyum serta warna kulit terang seperti kuning oker atau putih. Sebaliknya karakter keras digambarkan dengan mata bulat melotot , mulut bertaring dan warna kulit coklat tua. Bentuk karakter halus adalah untuk menggambarkan tokoh kesatria, dan dewa; sedangkan bentuk karakter keras yang meng-gunakan taring adalah untuk menggambarkan raksasa dan yang tidak menggunakan taring adalah kesatria seperti Bima. Penggambaran ini berlaku juga untuk tokoh punakawan, rakyat biasa, dan binatang. Misalnya punakawan dari pihak kesatria memiliki mata sipit, sebaliknya punakawan dari pihak raksasa matanya bulat. Semua bentuk binatang memiliki mata bulat dan binatang buas mulutnya bertaring. Seni patung dan relief banyak digunakan dalam menghias pura, amat jarang dijumpai patung dewa seperti zaman Hindu di Jawa. Tradisi seperti ini mencair ketika bangsa-bangsa Eropa masuk ke Bali. Mereka menemukan seni dan budaya masyarakat Bali yang unik dan alamnya yang indah, sehingga menarik perhatian banyak seniman Eropa berkunjung ke Bali bahkan menetap dan kawin dengan penduduk setempat. Di antara seniman yang tertarik dan tinggal di Bali dan peduli terhadap pengembangan seni dan budaya Bali ialah Walter Spies dari Jerman dan Rudolf Bonnet dari Belanda, belakangan disusul oleh Arie Smith. Spies dan Bonnet bersama dengan penguasa di daerah Ubud Cokorda Gede Agung mendirikan perkumpulan seniman bernama Pitamaha. Dalam perkumpulan ini Spies dan Bonnet memperkenalkan materi dan teknik melukis ala Eropa seperti cat minyak, prinsip anatomi dan perspektif. Dalam perkumpulan itu ada beberapa seniman Bali yang bergabung di antaranya ialah I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat, I Gusti Ketut Kobot, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made, 64
    • a c b d e Gambar 63. (a, c,d) Lukisan tradisional Bali (sumber: Koleksi Presiden Soekarno dan Bali Traveler Guide, (b, e) Patung tradisional Bali penghias pintu gerbang pura (sumber: Bali Traveler Guide) dan lain-lainnya. Setelah mempelajari konsep berkarya seni rupa ala Barat, perubahan terjadi dalam tema dan teknik melukis maupun mematung. Tema melukis yang tadinya hanya menyangkut tentang keagamaan berubah menjadi tema kehidupan sehari-hari. Pada gambar (67) Ida Bagus Made menggambarkan seni pertujukan dalam rangka hari suci di pura, begitu pula Anak Agung Gede Sobrat pada gambar (69) menggambarkan kegiatan ritual di dalam pura yaitu ketika seorang pemangku memercikkan air suci tirta kepada orang yang telah selesai melakukan persembahyangan. Teknik melukis yang dikembangkan sebenarnya teknik half tone, namun di Bali disebut teknik abur-aburan. 65
    • a b c d g h e f Gambar 64. Beberapa bentuk bagian-bagian tubuh tokoh lukisan tradisional Kamasan Bali: (a, b) bentuk muka karakter halus dan keras; (c,d) bentuk mulut karakter halus laki-laki dan perempuan, keras dan tua; (e,f) bentuk mata karakter halus laki-laki, perempuan, keras dan tua; (g,h) bentuk badan karakter halus dan keras. (sumber: A.Agung Suryahadi). Gambar 65. Dua bentuk tokoh dalam lukisan wayang Kamasan: (a) Bima sebagai tokoh kesatria keras, (b) Arjuna sebagai tokoh kesatria halus (sumber: Miguel Cobarrubias). 66
    • Tahap melukisnya cukup sederhana, pertama membuat sketsa (ngreka) di atas kanvas dengan pensil, selanjutnya sket dipertebal dengan tinta menggunakan pena terbuat dari bambu, kegiatan ini disebut nyawi. Tahap berikutnya adalah menerapkan warna hitam memberikan tone gelap terang sehingga menimbulkan kesan volume pada obyek A Gambar 66. (a) Walter Spies, Pemandangan Desa di Bali (sumber: Bali Traveler Guide), (b) Rudolf Bonnet, Wanita Bali Menghaturkan Sesaji (sumber: Koleksi Presiden Soekarno). b benda dan ruang kedalaman pada ruang negatif. Selanjutnya memberikan warna pada obyek dan latar belakang, serta memperjelas kembali tone gelap terang dan terakhir memberikan penekanan dengan warna putih (highlight) pada bagian-bagian tertentu yang dianggap paling terang pada obyek disebut nyenter. Berbeda dengan Lempad pada gambar (68) dan Kobot pada gambar (70), Lempad memiliki ciri khas karena lukisannya tidak diberi warna, ia masih mempertahankan teknik melukis tradisional yang disebut sigar mangsi yang sebenarnya adalah gradasi warna hitam putih. Ia hanya mempertebal garis tepi obyek yang dilukis, namun tema-temanya sudah menggambarkan kehidupan sehari- hari. Kobot masih melukiskan tema keagamaan tetapi teknik melukisnya adalah teknik abur-aburan. Ciri khas Kobot adalah sedikit menggunakan 67
    • warna dan yang dominan adalah tone hitam putihnya. Teknik melukis ini kemudian disebut sebagai gaya Ubud yang berkembang hingga saat ini. Gambar 67. Ida Bagus Made, Seni Pertunjukan, (sumber: Koleksi Presiden Soekarno). Gambar 68. I Gusti Nyoman Lempad, Pedagang Nasi (sumber: Indonesian Heritage). Perkembangan seni lukis terjadi tidak hanya di Ubud, di luar Ubud juga mengalami perkembangan antara lain di Desa Batuan, Sanur dan Denpasar. Di Batuan dipelopori oleh I Gusti Wija dan I Nyoman Djata, 68
    • gaya lukisannya agak berbeda dengan Ubud walaupun proses melukisnya sama. Gaya Batuan bentuk-bentuknya lebih kecil dan tone hitam lebih kuat. Sebenarnya di Denpasar dan Sanur juga pernah berkembang seni lukis yang berpijak dari seni lukis tradisional namun sayang tidak dapat berlanjut. Salah satu tokohnya ialah I Gusti Made Deblog dengan ciri khas lukisannya hanya menggunakan hitam putih dan cenderung surealistik. Gambar 69. Anak Agung Gede Sobrat, Percikan Air Tirta (sumber: Koleksi Presiden Soekarno) Seiring dengan berkembangnya seni lukis, dalam bidang seni patung juga mengalami perkembangan hanya personal yang mengembangkan tidak sebanyak dalam bidang seni lukis. Di antara tokoh pembaharu seni patung di Bali yang terkemuka angkatan Pitamaha adalah Ida Bagus Nyana dan I Nyoman Cokot. Gaya mereka sangat berbeda walaupun sama-sama berangkat dari seni tradisi dan menggunakan bahan kayu, hasil akhirnya berbeda. Ida Bagus Nyana mengembangkan seni patung tradisi dengan menstilasi, memanjangkan bentuk dan tekstur permukaan patung sangat halus (gb.71a), sedang I Nyoman Cokot memilih kayu- kayu dan akarnya yang telah keropos dimakan rayap. Imajinasinya mengikuti image-image yang timbul dari sosok kayu yang dipahatnya, serta image Cokot lebih bernafaskan seni patung primitif dan magis 69
    • dengan tekstur permukaan kasar memberikan ekspresi sangat kuat (gb. 70b ). Gambar 70. I Gusti Ketut Kobot, Krisna Murti (sumber: Koleksi Presiden Soekarno). Perkembangan seni lukis berikutnya adalah lahirnya gaya Young Artist. Pada tahun 1960-an, Arie Smith juga seorang seniman lukis dari Belanda melakukan eksperimen dengan memfasilitasi anak-anak petani di Desa Panestanan Ubud dengan menyediakan bahan dan alat untuk melukis. Mereka dibiarkan melukis dengan caranya sendiri, akhirnya lahir gaya seni lukis baru berbeda dengan gaya ubud sebagai pendahulunya. Lukisan Young Artist ditandai dengan warna-warna yang segar (gb. 72 b,c) karena intensitasnya tinggi dan bentuk-bentuknya datar dan naif layaknya bentuk yang dibuat oleh anak-anak pada umumnya. Tema-tema yang dilukiskan meliputi suasana lingkungan hidup di Bali. Uniknya 70
    • walaupun bebas menentukan pilihan teknik dan tema, masih menyimpan ciri khas Bali. Periode berikutnya, pada tahun 1960 - 1970 generasi muda Bali banyak yang melanjutkan ke sekolah-sekolah perguruan tinggi seni di Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar. Hal ini berdampak pada perkembangan seni rupa di Bali, karena seniman-seniman yang lahir secara akademis ini diwarnai oleh kebebasan dan kreativitas mencipta dan estetika tinggi. Ada yang masih menggali ciri-ciri Bali, ada pula yang lepas bebas sepenuhnya. a b Gambar 71. (a) Ida Bagus Nyana, Seorang wanita dengan binatang kesayangannya, (b) I Nyoman Cokot, Bubuksah dan Gagang Aking Mengendarai Macan (sumber: Indonesian Heritage). Beberapa seniman akademis terkemuka di Bali diantaranya ialah I Nyoman Gunarsa, I Made Wianta, I Made Jirna, I Nyoman Erawan dan 71
    • lain-lainnya. Sementara seni lukis Bali modern berkembang sangat cepat, namun pematung Bali modern tidak sebanyak pematung tradisional, namun demikian ada pematung Bali terkemuka dan mengerjakan proyek raksasa Garuda Wisnu Kencana di Nusa Dua Bali ialah I Nyoman Nuarta tinggal di Bandung memperkuat kasanah seni patung Nasional. a b c Gambar 72. (a) Arie Smith, Pura di Bali, (b) Ketut Soki, Panen Padi, (c) Ketut Tagen, Prosesi. I Nyoman Gunarsa terkenal karena lukisannya yang ekspresif dengan spontanitas tinggi. Obyek lukisannya banyak menampilkan seni budaya 72
    • Bali seperti seni pertunjukkan dan mitos-mitos berasal dari cerita Hindu. Tema seni pertunjukan banyak melukiskan tentang seni tari (gb.74) dengan warna-warna ceria. Salah satu tema mitologi yang ia ungkapkan adalah tentang Kalarahu (gb 6). Mitos ini juga ada di Jawa, yaitu menyangkut tentang terjadinya gerhana matahari dan bulan. Kejadiannya merupakan lanjutan dari mitos Pemutaran Gunung Mandara Giri yang dilakukan oleh para dewa dan rakasasa, tujuannya adalah untuk mendapatkan air Amerta Kamandalu atau air kehidupan untuk hidup abadi. Setelah amerta keluar diperbutkan oleh para dewa dan raksasa yang pada akhirnya dikuasai oleh para dewa. Ketika Dewa Siwa Gambar 73. I Nyoman Erawan, Bingkai Rusak (sumber: Katalog Erawan: Pralaya). 73
    • membagi-bagikan air tersebut kepada para dewa, seorang raksasa menyelundup dengan berubah wujud menyerupai dewa. Pada saat ia kebagian amerta diketahui oleh Dewa Surya (Matahari) dan Dewi Ratih (Bulan) dan melaporkannya kepada Dewa Wisnu, seketika itu senjata cakranya yang ampuh dilempar dan memenggal kepalanya. Karena amerta telah sempat diminum hingga tenggorokan kepalanya tetap hidup dan badanya mati. Sejak itu Kalarahu terus dendam kepada Dewa Surya dan Dewi Ratih dan selalu mengejarnya, ketika sempat ditangkap dan ditelannya kedua dewa itu keluar lagi lewat tenggorokannya Kalarahu. Sebenarnya mitos tersebut sebagai suatu cara menjelaskan tentang keabadian sang waktu. Gambar 74. I Nyoman Gunarsa, Dua Penari Bali (foto: Agung Suryahadi ) 74
    • Berbeda dengan Gunarsa yang lukisannya eskpresif dua dimensi, Erawan terkenal karena kolase dan seni instalasinya. Sejak masa kuliah ia selalu mencari bahan alternatif untuk melukis misalnya pada gambar (73) dengan Judul Bingkai Rusak, ia menggunakan bingkai rusak atau sengaja dirusak dan dibakar untuk mendapatkan kesan artistik. Berbeda dengan Gunarsa yang lukisannya eskpresif dua dimensi, Erawan terkenal karena kolase dan seni instalasinya. g. Potensi yang dimiliki Indonesia dan pengembangannya Setelah meraih kemerdekaan kini nasib dan masa depan seni dan budaya Indonesia terletak ditangan bangsa sendiri. Banyak potensi yang dimiliki baik potensi alam, budaya dan manusia, hanya mampukah bangsa ini mengelolanya? Oleh karena itu siswa-siswi sekolah seni rupa dan kriya di masa depan harus dapat mengembangkan kemampuan kreatifnya dalam menciptakan karya seni dengan menggunakan bahan lokal dan juga desain yang bertolak dari kekayaan budaya Indonesia. Sumber daya alam yang memiliki hubungan dengan pengembangan potensi seni dan budaya adalah hasil hutan berupa kulit dan serat kayu. Hasil tambang berupa mas, perak tembaga, timah, perunggu, begitu pula hasil laut berupa mutiara dan kerang dapat dibuat produk perhiasan yang mahal harganya. Potensi sumber daya alam ini dapat dihambat ’kepunahannya’ jika terlebih dahulu diwujudkan dalam bentuk produk sebelum diekspor dan nilai tambah serta efek gandanya berlipat untuk kesejahteraan masyarakat. E. Seni Rupa Manca Negara Seni rupa mancanegara yang banyak memberikan pengaruh penting terhadap seni rupa Indonesia adalah seni rupa India, Cina dan Eropa. Pengaruh mereka hingga kini masih nampak kuat keberadaannya pada perkembangan seni di Indonesia. Selain itu seni dan kebudayaan besar di dunia ada beberapa yang perlu diketahui antara lain seni dan budaya Mesir, Yunani, Romawi, Jepang, dan Maya di Amerika. 1. Mesir Seni rupa Mesir Kuno merupakan hasil kebudayaan yang sangat tua dan termasyur di dunia karena peninggalan berupa piramid dan sphink hingga saat ini masih menjadi misteri bagaimana manusia 2700 tahun sebelum Masehi dapat membuat bangunan dengan menggunakan teknologi yang belum jelas diketahui oleh orang modern. Selain itu peninggalan seni rupanya juga sangat mengagumkan seperti lukisan, 75
    • patung, dan relief. Gagasan pembangunan piramid oleh masyarakat Mesir kuno adalah untuk menyimpan jenazah raja yang meninggal dunia. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan mereka bahwa raja adalah titisan dewa sehingga ketika meninggal dunia agar arwahnya tetap hidup di alam akhirat, badan wadagnya harus dipelihara agar tidak rusak dengan Gambar 75. Relief berwarna dengan bahan kayu, menggambarkan Pharaoh Tutan-Khamen bersama permaisurinya (sumber: Gombrich .) cara dibalsem dan dibungkus dengan kain putih, kemudian diletakkan dalam peti batu tepat di tengah-tengah piramid. Selain itu tubuh, terutama 76
    • bagian kepalanya, dibuat patung dan diletakkan di atas peti jenazahnya. Beberapa ciri seni rupa Mesir Kuno adalah penyederhanaan pada bentuk patung manusia, tidak mengenal perspektif pada lukisannya. Ketika menggambarkan adegan tokoh-tokohnya terlihat dari samping, tokoh penting digambarkan lebih besar. Relief-reliefnya pipih dan timbul, terkadang diberi warna (gb 76 b). b a c Gambar 76. (a) Mumi, (b) Relief menggambarkan roh dengan sesajinya, (c) Tempat menyimpan organ dalam orang yang meninggal (sumber: http://www.google. co.id/ Egypt) a. Kepercayaan Hidup Setelah Mati Mengawetkan jenazah merupakan kebutuhan berkaitan dengan ke- percayaan hidup setelah kematian merupakan kepercayaan penting pada zaman Mesir Kuno, mereka menggangap roh orang meninggal akan kembali menggunakan raganya suatu saat nati. Pada zaman 3000 Sebelum Masehi saat dimulainya zaman Pharaoh jenazah ditanam dalam 77
    • kuburan di pasir dengan beberapa sesaji yang sederhana. Panas dan kekeringan yang bersifat alami mengawetkannya dengan sedikit bantuan pembalseman. Selanjutnya seiring perkembangan masyarakat, cara penguburan menjadi lebih meningkat kualitasnya, karena dilakukan perawatan terhadap jenazah untuk melindunginya dari kehancuran. Jenazah dibuat mumi dibungkus kain dengan pola dekoratif. Bagian muka biasanya ditutup dengan topeng dari bahan semacam tanah liat atau dari bahan logam menyerupai orangnya yang meninggal (gb 76a). Bagian organ dalam dipisahkan dari tubuhnya dan ditempatkan pada tempat sejenis tabung dari tanah liat atau batu (gb.76c). Wadah ini dise- a b Gambar 77. (a) Kucing sebagai binatang suci, (b) Burung elang lambing Dewa Horus, (c) Lukisan potret di kuburan (sumber: http://www.google. co.id/ Egypt) . c 78
    • but Canopic Jars ditutupi dengan empat bentuk yaitu: kepala manu- sia, kera baboon, elang, dan serigala sebagai lambang empat roh pe- lindung yang disebut Empat Putra Horus. Dalam periode tertentu hiasan pada dinding kuburan, peralatan yang digunakan untuk roh disertakan dalam pemakaman. Misalnya perahu adalah untuk menyeberangi air di akhirat. b. Kuburan Mesir Banyak yang diketahui tentang hidup dan seni pada zaman Mesir Kuno dapat dijumpai pada kuburan-kuburan yang dipersiapkan untuk melindungi jenazah orang yang meninggal. Masyarakat Mesir pada waktu itu percaya bahwa kehidupan yang akan datang harus dipersiapkan dan dilengkapi secara detail, sebagai hasilnya kuburan dihiasi dengan penggambaran orang yang meninggal (gb. 76b) seperti kegiatan selama hidupnya dan sesaji yang dibutuhkan oleh roh untuk bekal kehidupannya di akhirat yang terdiri dari berbagai jenis minuman dan makanan dan pewarna mata untuk melindunginya dari terpaan sinar matahari Mesir yang panas. Oleh karena roh hidup dalam dunia dewa maka ada standar sesaji yang dipersembahakan yakni yang serba baik dan suci sesuai dengan apa dipersembahkan kepada para dewa. c. Binatang Suci Dalam kepercayaan agama Mesir Kuno, para dewa diasosiasikan dengan aspek alam dan kosmos, khususnya yang berhubungan dengan geografi secara lokal atau episode pengalaman hidup dan mati manusia. Misalnya Osiris adalah dewa tumbuh-tumbuhan dan fecondity adalah dewa yang sangat penting dalam kehidupan setelah kematian. Istrinya Isis adalah kepala mourner dan juga sebagai image keibuan. Beberapa dewa memiliki binatang diasosiasikan dengan binatang itu dan beberapa digambarkan dengan sifat binatang. Dewa Thot yang berkepala ibis sebagai contohnya adalah dewa sastra dan tulisan juga sebagai dewa bulan. Di antara sekian banyak binatang, kucing (gb. 77a) bagi masyarakat Mesir Kuno merupakan binatang suci. 2. Yunani Seni Yunani Kuno, seperti halnya seni zaman Mesir Kuno, juga merupakan hasil kebudayaan manusia yang sangat tua usianya. Keberadaaanya diperkirakan telah ada pada abad 7-5 sebelum Masehi. Kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno merupakan asal muasal kebudayaan Eropa yang ada saat ini. Kesenian Yunani Kuno dikenal melalui peninggalan arsitekturnya yang indah dan megah serta patung- patung realis dengan bentuk anatomi sangat sempurna. Dalam seni rupa maupun arsitektur hal penting yang menjadi peninggalan zaman Yunani 79
    • Kuno adalah tentang proporsi bentuk dan pembagian ruang yang disebut ’Proporsi Emas’ atau Golden Section: bahwa perbandingan bagian yang pendek dengan bagian yang panjang adalah 1 : 1,618. Proporsi ini juga dijumpai di alam, yakni pada pertumbuhan pepohonan dan pada pertumbuhan kulit kerang dan juga pada manusia. Proporsi ini hampir diterapkan dalam setiap karya seni rupa dan arsitektur (gb. 78, 79). Seni Yunani Kuno dapat dibedakan menjadi beberapa periode, yakni Geometric, Archaic, Classical dan Hellenistic. Periode Geometric dimulai sekitar 1000 tahun sebelum Masehi. Pada masa ini pot dihiasi dengan motif abstrak geometris dan diakhiri dengan motif-motif ketimuran seperti teratai, bentuk singa, sphinx dan ornamen berkembang semakin halus. Periode Archaic ditandai dengan produksi patung dan bentuk berwarna hitam pada pot. Kekuatan niaga didominasi oleh dua kelompok etnis yakni Corinth dan Athen. Produksi pot keramik mereka dijual diseluruh daerah di Yunani dan menyebar hingga Spanyol, Ukraina dan Italia dan mengalahkan produksi daerah lainnya. Warna-warna keramik pada masa ini dibatasi oleh teknik pembakarannya yang hanya mendapatkan warna hitam, merah, putih, dan kuning. Gambar 78. Kuil Parthenon (sumber: Gombrich) Pada seni patungnya sangat dipengaruhi oleh patung Romawi dan menjadi model patung klasik di kawasan Eropa. Dalam hal bahan dipengaruhi oleh Mesir dan Mesopotamia yang menggunakan batu tetapi bentuknya lebih dinamis dibanding patung Mesir. Ada tiga gaya dalam pengambaran manusia dalam patung yaitu: patung telanjang berdiri, patung berdiri dengan draperi pada pakaiannya, dan patung duduk. Semua menggambarkan tentang pemahaman kesempurnaan dengan ketepatan anatomi bentuk tubuh manusia. Hal ini menjadi subyek yang sangat pokok dalam kesenian Yunani, melihat bentuk tubuh dewa sama dengan bentuk tubuh manusia, tidak ada perbedaan antara seni sakral dan seni sekuler. Oleh karenanya, tubuh manusia dipandang dari keduanya yaitu suci dan duniawi. Hingga akhirnya masyarakat melarang 80
    • penggambaran tubuh wanita telanjang pada abad IV sebelum Masehi yang menyebabkannya menjadi kurang penting dalam perkembangan seni patung Yunani. Patung-patung yang dibuat bukan semata untuk keperluan artistik, tetapi pembuatannya banyak didasari dari pesanan para bangsawan dan negara yang digunakan sebagai monumen publik, sebagai persembahan di tempat suci keagamaan atau sebagai tanda pada kuburan. Patung- patung tersebut tidak semuanya menggambarkan tokoh individual tetapi lebih kepada nilai-nilai keindahan, keibaan, penghormatan, dan peng- orbanan. Nilai-nilai tersebut selalu digambarkan dalam bentuk tubuh pemuda telanjang (kouros/kouroi) walaupun ditempatkan pada ku- buran orang tua. Patung telanjang pemuda (kouros/kouroi) gayanya hamper sama. Gradasi dalam status sosial digambarkan dengan ukuran besar kecilnya dibanding nilai artistiknya. Gambar 79. Pot Bunga Yunani dengan hiasan geometris (sumber: Paul Zelanski) 81
    • Pada zaman klasik (500 tahun sebelum Masehi) terjadi perubahan besar dalam seni patung Yunani karena diperkenalkannya konsep demokrasi yang mengakhiri kekuasaan bangsawan yang diasosiasikan oleh patung kouroi. Pada masa ini terjadi perubahan gaya dan fungsi patung, teknik menggambarkan posenya berkembang menjadi lebih naturalistik dengan wujud patung manusia realistik (gb. 80 ). Seni patung a b Gambar 80. (a) Venus dari Milo, abad 1 sebelum Masehi, (b) Prajurit dari Riace, abad 5 sebelum Masehi (sumber: Paul Zelanski ). pada masa ini penggunaannya diperluas yaitu digunakan sebagai relief pada tempat-tempat suci dan pemakaman. Selain itu para filusuf dan karyanya juga mewarnai pemikiran orang di seluruh dunia hingga saat ini, antara lain karya Plato, dan Aristoteles. Plato misalnya, menganggap 82
    • bahwa lukisan merupakan tiruan dari tiruan, karena apabila pelukis melukis meja, meja tersebut sebenarnya merupakan tiruan dari dunia ide pembuatnya. Jadi menurut pandangan ini pelukis yang melukiskan benda buatan manusia adalah meniru tiruan dari pembuat awalnya. Gambar 81. Relief patung pada kubur batu dari Hegeso, abad 5 sebelum Masehi (sumber: Gombrich). 3. Romawi Seni dan budaya Eropa selain didasari oleh kebudayaan Yunani Kuno juga didasari oleh kebudayaan Romawi yang terkenal karena kerajaannya sangat agresif dalam melebarkan wilayah kekuasaannya. Seni budaya Romawi pada awalnya sangat mirip dengan seni Etruscan, oleh karenanya memiliki hubungan yang dekat dengan seni budaya Yunani. Seni budaya Romawi menemukan ciri khasnya bersamaan dengan perkembangan sistem pemerintahannya yang bersifat republic sekitar 500 tahun sebelum masehi. Masyarakat Romawi sangat senang dengan seni potret, yaitu penggambaran orang persis seperti aslinya terutama orang terkenal (gb. 83). Sebaliknya masyarakat Yunani lebih bersifat idealis yakni menggambarkan manusia secantik mungkin dan seatletis mungkin bagi laki-laki. Namun masyarakat Romawi lebih menyukai yang relistik. Masyarakat Romawi nampaknya memiliki sistem kepercayaan melalui seni rupanya, bahwa orang yang meninggal dunia dibuat image-nya seindah mungkin agar arwahnya bahagia sehingga tidak mengganggu orang yang masih hidup. Oleh karena itu, selama Romawi berbentuk 83
    • republik, banyak sekali karya seni berupa potret lukisan maupun patung. Sekitar 200 tahun sebelum masehi Romawi mulai menduduki Yunani, dan hal ini membuat perubahan dalam gaya seninya. Ketika pasukan Romawi memasuki Yunani mereka banyak melihat karya seni di tempat- Gambar 82. Colloseum, tahun 80 Masehi (sumber: Gombrich) tempat pemujaan, di kuburan, di tempat-tempat umum, dan di perumahan penduduk. Hal ini mempengaruhi pikiran orang Romawi menjadi lebih ramah dari pada watak aslinya. Akhirnya, apapun yang dikerjakan oleh orang Yunani, dalam berkesenian orang Romawi ingin memilikinya, mereka membawa pulang ke Romawi banyak sekali karya seni bangsa Yunani. Mereka juga membawa pematung Yunani untuk membuat karya seni di Romawi. Perkembangan kesenian Romawi hingga abad ke 2 Masehi masih meneruskan tradisi potret sebagai pengaruh Yunani (gb. 84). Seniman Romawi menggunakan seni sebagai propaganda kekaisaran dan juga ada banyak lukisan dinding yang menghiasi perumahan (gb.85). Lukisan dinding pada zaman ini diklasifikasikan menjadi empat macam tipe, pertama berupa fresco pada dinding yang menyerupai panel marmer. Tipe kedua, seniman mulai menambah sesuatu pada imitasi marmer tersebut pada lukisan dindingnya berupa buah-buahan, bunga, dan burung. Tipe ketiga obyek lukisan berkembang menjadi suasana lengkap pada seluruh dinding seperti orang bercakap- cakap duduk di kursi seakan ada ruang tiga dimensi selain ruang yang sebenarnya. Tipe keempat adalah variasi kedaerahan yang ada di ba- wah kekaisaran Roma yang meliputi seluruh Eropa. Setiap daerah me- ngembangkan keseniannya dengan menambahkan gagasan baru berasal dari Romawi. 84
    • Gambar 83. Altar Ara Pacis, Abad ke 2 sebelum Masehi sumber:http://www.google. co.id/ Roman Art) Pada abad ketiga sesudah Masehi ada beberapa gagasan baru masuk kepada seni budaya Romawi. Pertama, akibat perang dengan Jerman, dalam karya seninya ditambahkan adegan ‘berdarah’ dalam ungkapan keseniannya yang menggambarkan kepala terpenggal, pemerkosaan atau penderitaan lainnya. Kedua, dalam hal keteknikan membuat patung banyak menggunakan drill dibanding pahat seba-gaimana biasanya. Hal ini disebabkan karena teknik drill lebih mudah dan cepat untuk membuat patung dan memberikan tampilan yang berbeda dibanding dengan teknik pahat. Ketiga, perkembangan tema kesenian banyak menggambarkan tentang roh, mungkin karena banyak mendapat pengaruh Agama Kristen. Hal ini dapat dilihat dalam penggambaran orang lebih banyak melihat ke atas, maksudnya ke sorga atau ke dewa, akibatnya seniman kurang menaruh perhatian dalam menggarap bagian badan karena dianggap kurang penting, kadang lengan dan kaki nampak terlalu pendek dan kepala terlalu besar. (gb. 85) Fenomena ini berlanjut hingga masa jatuhnya kekaisaran Romawi pada abad keempat Masehi. Selain kesenian, kebudayaan Romawi juga banyak membangun jalan dari Roma ke daerah jajahannya, membangun tempat pertunjukan, tempat ibadah, mereka menemukan teknik membuat kubah, teknik membuat semen dan beton. 85
    • Gambar 84. Patung potret (sumber: http://www.google.co.id/Roman Art) . Gambar 85. Lukisan dinding tipe ketiga (sumber: http.//www. Google.co.id/ Roman Art). 86
    • Gambar 86. Dewi Venus muncul dari laut, abad 4 Masehi (sumber:http://www.google.co.id/Ro man Art). 4. Renaissance dan Eropa Istilah Reanissance muncul pertama kali di Italia pada abad XIV, atau awal abad XV yang berarti kelahiran kembali. Hal ini muncul ketika masyarakat Italia pada waktu itu mengagumi karya seni yang dibuat oleh seniman berupa puisi dan lukisan, mereka menganggap bahwa karya seni para seniman sebaik karya seni zaman klasik Yunani dan Romawi. Hal inilah memicu masyarakat Italia untuk menggali kembali nilai-nilai kebudayaan klasik terutama Romawi yang pernah jaya tetapi dihan- curkan oleh bangsa Jerman dari suku Goths dan Vandal. Dari sinilah muncul istilah barbar dan vandalisme yang berarti suka merusak sesuatu yang bernilai baik. Oleh masyarakat Italia, antara zaman kejatuhan Romawi hingga zaman Renaissance disebut sebagai periode Ghotic. Perkembangan Renaissance tidak dapat lepas dari perkembangan perekonomian di kota Florence sebagai pusat kota bisnis. Hal ini melahirkan banyak keluarga kaya yang memerlukan karya seni untuk 87
    • membuat istana-istana mereka. Guna melahirkan kembali keunggulan kedua zaman tersebut para senimannya mempelajari patung dan arsitekturnya secara cermat terutama prinsip harmoni dan simetrinya. Zaman ini melahirkan tokoh arsitek bernama Filppo Brunellechi (1377- 1446). Dengan diketemukannya prinsip perspektif, dua tokoh seni lukis bernama Giotto dan Fran Angelico yang memanfaatkan temuan Bru- nellechi untuk diterapkan ke dalam lukisan-lukisannya. Awal Renaissance juga melahirkan konsep berpikir logis yang tadinya lebih didominasi dengan cara berpikir religius, walaupun masih melayani kebutuhan gereja terutama dalam kesenian (arsitektur dan seni rupa). Pada waktu itu seniman harus menguasai beberapa disiplin ilmu yakni tata bahasa, ilmu ukur, filosofi, pengobatan, astronomi, perspektif, seja- Gambar 87. Michelangelo, Pieta, 1499 (sumber: Gombrich rah, anatomi, teori desain, dan aritmatik. Maka pada puncaknya zaman Renaissance tidak mengherankan Itali pada waktu itu melahirkan banyak seniman genius yang menguasai berbagai disiplin ilmu, antara lain yang terkenal adalah Michelangelo dan Leonardo da Vinci. Michelangelo dikagumi karena kepiawaiannya mematung dan melukis. Ia membuat patung Pieta (gb.87) yang sangat terkenal karena kesempurnaan teknik, bentuk dan keindahannya dibuat pada waktu masih berusia 24 tahun. Selain itu karyanya yang mengagumkan adalah lukisannya yang menghias langit-langit gereja Sistine Chapel (gb. 88), 88
    • Gambar 88. Michelangelo, Adam di turunkan ke bumi, lukisan langit-langit Gereja St. Chapel, 1508-1512 (sumber: Gombrich) orang menikmati lukisan ini harus menengadah seakan kejadian religius tentang nabi Adam dibuang ke Bumi oleh Tuhan terjadi di langit. Menurut orang menikmati lukisan ini harus menengadah seakan kejadian religius tentang nabi Adam dibuang ke Bumi oleh Tuhan terjadi di langit. Menurut pandangannya bahwa badan manusia adalah penjara bagi roh, badannya harus mencerminkan kesempurnaan sebagai refleksi keilahian roh yang ada di dalamnya. Ia mengerjakan lukisan tersebut selama berbulan-bulan dalam posisi berbaring. Leonardo da Vinci adalah seorang jenius yang menguasai banyak disiplin ilmu termasuk seni, sehingga ia dianggap sebagai cermin dari manusia zaman Reanissance. Kejeniusannya membuatnya ia menguasai ilmu teknik, matematik, musik, puisi, arsitektur, ilmu alam, seni rupa dan seni patung. Ia secara terus-menerus mempelajari binatang, tumbuh- tumbuhan, anatomi tubuh manusia, gerakan air, peran sinar dan bayang an dengan tujuan agar dapat memahami tentang alam lebih baik. Di dalam bidang seni rupa, sketsa-sketsa tubuh manusia sampai saat ini masih digunakan sebagai acuan oleh para seniman dalam mengung- kapkan anatomi plastis manusia. Dalam mengungkapkan kesan emo- sional, dramatis serta fokus perhatian pada lukisannya, Leonardo da 89
    • Gambar 89. Leonardo da Vinci, Monalisa, 1502 (sumber: Gombrih) Vinci menerapkan prinsip chiaroscuro (keseimbangan antara gelap dan terang). Ia pula yang mengembangkan teknik sfumato (memperlembut bagian tepi bentuk) untuk mendapatkan kesan kabur yang meng- hilangkan efek tajam pada bagian tepi. Salah satu lukisannya yang terkenal adalah Mona Lisa (gb.89). Seniman seni lukis yang lain dan terkenal dalam zaman puncak Renaissance adalah Raphael. Lukisannya mencerminkan harmonisasi antara nafas klasik, reason, dan idealisme. Pencapaian dan penemuan besar yang terjadi di Italia pada zaman Renaissance menjadikan daya tarik bagi intelektual dan seniman di lain negara. Akhirnya etos Reanissance dalam mengembangkan budaya berdasarkan rasio menyebar ke bagian utara Eropa, antara lain ke Jerman, Perancis, Spanyol, Hungaria, dan Belanda. Pengaruh Renais- sance tidak hanya pada kesenian, tetapi juga merambah ke bidang- bidang lainnya, antara lain bidang perdagangan, penjelajahan alam, tek- nologi, sehingga kerajaan-kerajaan di Eropa melakukan ekspedisi ke luar 90
    • Eropa. Inilah awal dari keinginan bangsa Eropa untuk menjelajahi dunia dan menaklukkan negeri-negeri yang dikunjunginya. Gambar 90. Jan Van Eyck, Pertunangan Arnolfilni ( sumber: Gombrich) Perkembangan selanjutnya berdampak pada perkembangan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi hingga sekarang. 91
    • Era Renaissance juga melahirkan seniman-seniman besar di Eropa, dari Belanda yang menonjol adalah Jan van Eyck bersaudara. Mereka ter- kenal karena penemuan cat minyak untuk melukis. Hal ini menjadi per- hatian zaman itu karena pada umumnya pelukis menggunakan cat tempera dengan medium air sebagai pengencernya. Cat minyak memiliki beberapa keunggulan karena lebih kuat dan lebih tahan terhadap air dan kelembaban. Selain van Eyck seniman lainnya dari Eropa adalah Albert Durer, ia berasal dari Hungaria dan belajar tentang Renaissance di Gambar 91 . Rembrant, Jan Six ( sumber: Gombrich) 92
    • Jerman. Kemudian, pada akhir Renaissance dari Belanda muncul Rembrandt yang terkenal karena mengeksploitasi chiaroscuro untuk mendapatkan kesan teatrikal dan emosional dalam lukisannya (gb 91). Hal-hal penting yang perlu diperhatian dalam melukis teknik tradisional Renaissance adalah: pertama, menekankan kepada penguasaan teknik menggunakan alat dan bahan untuk mendapatkan image sesempurna mungkin sesuai dengan apa yang dilihat. Kedua, adalah ketepatan bentuk baik proporsi di dalam bentuk itu sendiri juga proporsi antara bentuk dengan bentuk yang digambar. Penerapan chiaroscuro untuk ge- lap terang agar memfokuskan perhatian dan suasana dramatik, selanjutnya adalah teknik sfumato guna mendapatkan kelembutan pada setiap tepi bentuk yang mendukung pada efek ilusi volumenya. 5. Lahirnya Aliran-Aliran Dalam Seni Rupa Pada abad ke 17 di Eropa, kaum bangsawan, kelompok menengah dan gereja sebagai patron bidang kesenian. Seni berkembang mejadi lebih realistik dan narturalistik serta langsung menyentuh perasaan pengamatnya, serta ukurannya besar, gaya ini disebut sebagai gaya Baroque. Di Italia tokohnya dalam seni lukis adalah Caravaggio, Diego Velazquez, dalam seni patung Gianlorenzo Bernini terkenal dengan patungnya The Ecstacy of St Teresa. Di belahan Utara Eropa ada pelukis ternama Paul Rubens dari Antwerp dengan lukisannya The Assumption of the Virgin, dan di Belanda ada Rembrant terkenal dengan teknik chiaroscuro dan sfumatonya. Selain dalam bidang seni lukis dan patung, dalam bidang seni arsitektur juga berkembang pesat, dengan munculnya orang kaya baru bekerjasama dengan pihak gereja, mereka senang membuat istana, gereja dan bangunan-bangunan besar yang indah. Akhir zaman Barocque disebut zaman Racoco, pada zaman ini formalisme dalam lukisan ditinggal, para seniman berupaya melepaskan diri dari aturan-aturan akademis dalam membuat komposisi. Ciri dari karya seni lukis zaman ini adalah suasana gembira tentang keadaan yang indah dengan manusia-manusia cantik di alam dan komposisi dinamis dari obyek yang dilukiskan. a. Neo Klasik Sebagai reaksi gaya Baroque dan Racoco, muncul pandangan baru tentang estetika. Dalam seni lukis para seniman berupaya menggali kembali ide-ide estetik zaman klasik Yunani dan Romawi. Untuk itu pelukis merekonstruksi bentuk-bentuk patung Yunani dan Romawi ke dalam lukisannya karena peninggalan lukisan tidak banyak. Maka lahirlah pandangan baru dalam mengungkapkan gagasan yang disebut Neo Klasik. Dalam seni lukis dipelopori oleh Jacques-Louis David dengan 93
    • lukisannya yang terkenal The Oath of the Horatii (gb.94), komposisinya statis dan suasananya mencekam dengan sedikit menampilkan obyek. Gambar 92 . Gialorenso Bernini, The Ecstacy of St Teresa (sumber: Paul Zelanski). 94
    • Gambar 93. Jeane Honore Fragonard, The Swing (sumber: Paul Zelanski). Gambar 94. Jacques-Louis David, The Oath of Horatii ( sumber: Paul Zelanski). 95
    • b. Romantisme Romatisme lahir juga sebagai reaksi atas kebiasaan mencipta dalam seni rupa yang mengutamakan emosi dan imajinasi dari pada logika dan harmoni dari nilai-nilai klasik. Hal ini berbarengan dengan lahirnya paham Neoklasik, perbedaaanya adalah pada esetetika Neoklasik cenderung impersonal, sedangkan estetika Romantik lebih menonjolkan perasaan sendiri ketika melihat suatu suasana atau kejadian atau potensi bahan yang digunakan. Tokoh-tokoh pelukis aliran ini yang ternama antara lain John Constable, Turner, dan Theodore Gericault. Constable lebih tertarik melihat pemandangan pedesaan (gb. 95), Turner tertarik dengan sifat warna murni yang mempengaruhi emosi, dan Gericault tertarik dengan kejadian dramatis sehingga melahirkan karya Rakit Medusa yang terkenal. Gambar 95 . John Constable, The Haywain (sumber: Gombrich) 96
    • Gambar 96. Joseph Mallord William Turner, Snow Storm (sumber: Paul Zelanski) Gambar 97. Gustave Courbet, The Stone Breaker (sumber: Paul Zelanski) 97
    • c. Realisme Di Perancis pada sekitar tahun 1850 hingga 1875 ada pendekatan baru dalam melukis, Sebelumnya seniman hanya mengandalkan imajinasi dan perasaannya dalam berkarya, pendekatan baru ini menginginkan pengungkapan kondisi yang nyata dari apa yang dilihat tanpa tambahan idealisme senimannya. Pelopor gerakan ini adalah Honore Daumier dan Gustave Courbet terkenal dengan ungkapannya: “Show me an angle and I’ll paint one”. Hal ini berarti ia ingin melukiskan kondisi sebenarnya dari apa yang dilihatnya, bahwa keindahan yang di berikan oleh alam adalah mengatasi semua yang dikerjakan oleh seniman, hal ini ditunjukan oleh lukisannya dengan judul The Stone Breaker (gb. 97). d. Impresionisme Pada pameran yang diselenggarakan pada tahun 1863 di Salon resmi di Perancis, lukisan realisme oleh para juri dan kurator akademis dianggap tidak baik, termasuk lukisannya Eduard Manet yang berjudul Déjeuner sur l’Herbe . Menurut Manet keindahan lukisan terletak pada keindahan warna, gelap terang/cahaya, pola, dan brushstroke-nya pada permukaan kanvas. Pernyataan Manet ini mendapat dukungan dari seniman lainnya, mereka menolak penggambaran ceritera, dan suasana realistik. Sebagai gantinya mereka mencari kesan cahaya yang sebentar menerpa obyek dalam waktu dan kondisi yang berlainan. Pandangan ini direalisasikan oleh Eduard Manet dengan lukisannya yang terkenal Rouen Cathedral dan The Haystack (gb.98). Kaum impresionis mengungkapkan efek cahaya alami terhadap benda. Gambar 98. Claude Monet, The Haystack (sumber: Paul Zelanski) 98
    • e. Post-Impresionisme Paham impresionisme terus berlanjut dan melahirkan paham baru yang dimotori oleh Cezanne. Ia menolak pandangan sebelumnya terutama penggunaan perspektif sejak zaman Renaissance dan pandangan kaum impresionis yang melukiskan kesan cahaya pada benda, ia ingin mengembangkan seni rupa dua dimensional dari goresan, ia membuat lapisan-lapisan ruang, bentuk geometris, irama warna, garis dan bentuk dengan hati-hati menyusun hubungan-hubungan bentuk dalam bidang lukisan. Dalam sebuah karyanya berjudul Still Life with Apples, ia berkonsentrasi dalam mendapatkan keindahan melalui keseimbangan, intensitas warna, kesan kedalaman ruang walaupun ia melakukan distorsi terhadap obyeknya. Tokoh lain yang terkenal dari kelompok impresionisme adalah George Seurat, van Gogh dan Gauguin. Gambar 99 . Paul Cezanne, Still Life With Apples (sumber: Paul Zelanski). f. Expresionisme Disebut ekspresionisme karena senimannya menjelajah ke dalam batin, sehingga apa yang diungkapkan adalah bentuk psikologis dari senimannya. Hal ini nampak pada karya Edvard Munch dengan judul The Scream dibuat dengan media campuran cat minyak, pastel dan kasein. Munch mengungkapkan rasa takut yang dialaminya melalui tarikan garis 99
    • dan warna bergelombang memenuhi bidang lukisannya. Van Gogh juga termasuk ekspresionis yang sangat terkenal. Ia lahir di Belanda pada tahun 1853, putra seorang pendeta. Pada waktu muda ia sangat religius Gambar 100 . Edvard Munch, The Scream (sumber: Paull Zelanski). dan menjadi penghotbah di depan para pekerja tambang di Inggris dan Belgia. Awal mulanya ia sangat terkesan dengan lukisannya Milet yang penuh dengan pesan sosial sehingga ia memutuskan untuk menjadi pelukis. Oleh adiknya Theo yang bekerja sebagai karyawan di Artshop ia diperkenalkan dengan seorang pelukis impresionis. Selanjutnya ia memutuskan untuk pergi ke Arles di Perancis Selatan, dengan harapan ia dapat bekerja dengan tenang. Selama bekerja sebagai pelukis di Arles hidupnya dibantu oleh adiknya Theo, ia banyak menulis surat kepada Theo mengukapkan kesulitan hidupnya. Akhirnya setelah setahun ia frustrasi dan menjadi gila, pada tahun 1889 ia masuk rumah sakit gila namun ia masih sempat melukis, setelah empat belas bulan dalam perawatan ia akhirnya bunuh diri dalam usia 38 tahun. Lukisan-lukisan- nya yang terkenal saat ini ia kerjakan dalam kurun waktu tiga tahun. Dalam sebuah surat kepada adiknya, ia mengatakan, bahwa ketika emosinya sangat kuat ia melukis tanpa menyadari apa yang dibuatnya, seperti halnya orang menulis surat dengan penuh emosi ia meng- goreskan kuasnya seperti menggoreskan pena di atas kertas menuliskan kata-kata emosional. Begitu pula kaum ekspresionis melukiskan emo- 100
    • sinya dengan goresan dan warna diiringi oleh ledakan emosi pada perasaannya. Perhatikan lukisannya dengan judul Starry Night (gb. 101), ia menggunakan obyek malam hari ketika langit penuh bintang emosinya meletup tercurahkan menjadi sebuah lukisan dengan tarikan kuas yang kuat, tegas, bintang-bintang sinarnya berpendar bergulung-gulung mewakili emosinya yang meledak-ledak. Di Dresden Jerman pada tahun 1905, kelompok ekspresionis mem- bentuk Die Bruck ( The Bridge) tokoh-tokohnya adalah Enrst Ludwig Kirchner, Erich Eckel, Otto Muller dan lain-lainnya. Karya-karya mereka mengungkapkan tetang kekerasan. Kelompok ini berakhir setelah de- lapan tahun, namun telah dapat melahirkan gaya baru dalam seni rupa di Jerman. Selang beberapa tahun setelah munculnya Die Bruck, pada tahun 1911 lahir pula kelompok lain di Munich yang bernama The Blaue Reiter ( The Blue Rider) dipelopori oleh Kandinsky dan Jawlensky. Kelompok ini banyak mengungkapkan kelesuan dan kemarahan dalam karya seni rupanya. Gambar 101. Van Gogh, Stary Naight, (sumber: Belinda Thompson and Michael Howard) g. Fauvisme Fauvisme lahir ketika seklompok pelukis dipimpin oleh Matisse mengadakan pameran pada tahun 1901 di Perancis. Karya lukisan yang dipamerkan dianggap sangat revolusioner karena pembaharuannya 101
    • dalam menampilkan konsep estetiknya oleh karena itu kelompok ini dijulukis le Fauves atau the Wild beast. Mereka meninggalkan semua konsep deskriptif naturalistik dalam pengunaan warna dan dalam bebera- Gambar 102 . Henri Matisse, The Red Studio (sumber: Paul Zelanski). Gambar 103. Andre Derain, The Pool of London (sumber: Paul Zelanski) 102
    • pa hal juga penggunaan bentuk. Sebaliknya mereka menggunakan unsur-unsur seni rupa tersebut sebagai unsur atau ekspresi dari esensi tentang sesuatu, bebas dari asosiasi yang ketat tentang lingkungan yang dikenal sebagaimana halnya seni lukis realis dan naturalistik. Dengan demikian mereka memberi warna benda bukan warna benda yang dilihat sebagaimana pelukis realis dan naturalis, mereka memberi warna-warna benda sesuai dengan kemauan dan selera mereka dalam menafsir- kannya untuk mencapai harmoni dan kesatuan. Hal ini tercermin dari karya Matisse dengan judul The Red Studio (gb.102) dan karya Andre Derain The Pool of London (gb103) . Dalam The Red Studio Matisse menggunakan warna secara murni dan datar, sebagian dari bentuk- bentuknya hanya berupa kontur dengan dominasi warna merah maroon di seluruh bidang. Berbe-da dengan Andre Derain dalam karyanya The Pool of London, ia masih terikat dengan perspektif namun sangat bebas dalam menafsirkan warna. Kelompok ini bubar setelah tiga tahun. h. Kubisme Kubisme dikembangkan oleh Picasso dan Georges Braque, sebenar- nya dimulai oleh Cezanne tentang konsepnya dalam memandang obyek lukisannya, yaitu bahwa bentuk yang kita lihat dapat dikembalikan kepada bentuk aslinya yaitu bentuk geometris. Pada periode sebelumnya Picasso mengungkapkan gagasan dalam lukisannya masih terikat de- ngan bentuk-bentuk senyatanya, ia hanya berkiprah dalam pemba- haruan warna mengikuti emosi dan perasaannya dalam mengungkapkan obyek yang diamatinya. Selanjutnya pada tahun 1907 ia terinspirasi oleh konsep geomaterisnya Cezanne dan bentuk-bentuk stilisasi patung dari Afrika. Dengan mengkombinasikan kedua hal tersebut ia mengem- bangkan gaya seni lukis baru yang disebut kubisme. Kubisme merupakan seni rupa yang dihasilkan karena studi terhadap seni-seni purba, konsep- konsep seni tersebut diungkapkan dalam bahasa rupa baru. Salah satu konsepnya adalah menggambarkan beberapa sudut pandang sekaligus dalam sebuah lukisan, misalnya pandangan depan, samping dan atas. Hasilnya memang bukan benda sebagaimana yang dilihat tetapi susunan unsur-unsur dari obyek benda yang dilukis. Kubisme dibedakan menjadi Kubisme Analitik cenderung memecah-mecah obyek kemudian me- nyusun kembali dalam susunan berbeda serta tidak mementingkan warna (gb. 104) Kubisme Sintetik merupakan lanutan dari Kubisme Analitik tetapi lebih memberikan penekanan kepada unsur-unsur rupa seperti warna dan tekstur. Akibat dari pemecahan obyek dan penyusunan kembali, lukisan obyek menjadi lain dari penampakan aslinya, inilah salah satu cara membuat abstraksi terhadap suatu kenyataan obyek. 103
    • a b Gambar 104. (a) Pablo Picasso, Violin and Grapes (sumber: Gombrich), George Braque, The Portuguese (sumber: Paul Zelanski) i. Futurisme Di Italia pada tahun 1910 muncul reaksi oleh kelompok seniman yang dipelopori oleh Marcel Ducamp terhadap industrialisasi dan perubahan gaya hidup modern yang serba bergerak dan berubah sangat cepat. Komsepsi estetiknya adalah berupaya menangkap karakteristik dari kekuatan, kecepatan dan perubahan dalam kehidupan modern. Hal ini terungkap secara visual dalam lukisan Duchamp dengan judul Nude Descending a Staircase (gb. 105). Dalam lukisan tersebut ia meng- abstraksikan obyeknya dan menjajarkannya menjadi suatu rang-kaian bentuk bagaikan potografi yang menggunakan teknik stop-action waktu memotret orang bergerak sehingga terekam bentuk gerakannya. 104
    • Gambar 105. Marcel Duchamp, Nude Decending a Staircase (sumber: Paul Zelanski). j. Seni Abstrak Pada tahun yang sama dengan perkembangan futurisme, Vassily Kandinsky pelukis kelahiran Rusia mengembangkan seni lukis dengan konsepsi abstraksinya, bahwa seni lukis harus bebas dari arti, repre- sentasi naturalistik, dan standar estetik yang bersifat akademis. Ia meng- gunakan warna-warna lepas dari asosiasi fenomena bentuk duniawi, tetapi menggiring pengamat lukisannya kepada realitas spiritual yang nonmaterial (gb. 107). Tokoh lain yang sangat berpengaruh dalam seni lukis abstrak adalah Piet Mondrian, proses abstraksinya sangat mudah dipahami dalam lukisan serial pohon (gb. 106). Seni rupa abstrak adalah seni yang mengungkapkan intisari atau esensi dari suatu obyek yang nyata, jadi bukan menggambarkan apa yang kasat mata. Dalam perkembangan selanjutnya mondrian tidak lagi bertolak dari suatu obyek, namun betul-betul sepenuhnya murni tanpa obyek dengan lukisan berupa komposisi warna-warna. 105
    • a b Gambar 106 . Proses abstraksi Piet Mondrian: (a) Tree II, (b) The Gray Tree, (c) Flowering Apple Tree (sumber: Paul Zelanski. c Gambar107. Vassily Kandinski, Imprvisation No. 30 (sumber: Paul Zelanski). 106
    • k. Abstrak Ekspresionisme Aliran ini berkembang di Amerika Serikat setelah perang dunia II. Para eksponennya menolak keterikatan yang ada dalam seni-seni rupa yang telah ada. Karya mereka menekankan kepada ekspresi spontanitas dari gerakan tubuh, dan semua ruang dalam kanvas adalah penting. Salah satu tokohnya yang terkenal adalah Jackson Pollock dan William de Koning. Khususnya Pollock gaya lukisannya disebut action painting, karena dalam kegiatan melukisnya Pollock mencipratkan warna di atas kanvas yang lebar di lantai dengan gerakan seluruh tubuhnya (gb.108). Gambar 108. Jackson Pollock, No 14 (sumber: Paul Zelanski). l. Dadisme Pada tahun 1916 di Zurich Jerman lahir kelompok ekstrim dalam berkesenian, mereka anti rasional dan anti estetik. Kelompok tersebut bernama Dada yang tidak memiliki arti beranggotakan seniman seni rupa dan sastra. Sesuai dengan idenya, kelompok Dada menjungkirbalikkan nilai-nilai seni yang telah mapan, karya-karyanya kadang-kadang humor dengan menambahkan sesuatu pada tiruan sebuah karya terkenal, misalnya lukisan Monalisa diberi kumis, memanfaatkan barang-barang bekas dan semuanya menentang analisis logika dan kelaziman nilai seni secara tradisional yaitu estetika yang diciptakan oleh seniman. 107
    • Gambar 109. Jean Arp,Automatic Drawing (sumber: Paul Zelanski). Jean Arp misalnya, untuk menghilangkan keterikatan kepada bentuk- bentuk yang telah dikenal, ia menggambar mengikuti gerak tangannya, sehingga gambarnya diberi judul Automatic Drawing (gb. 109). m. Surealisme Perkembangan selanjutnya adalah lahirnya aliran Surealisme dalam seni rupa di antara masa perang Dunia I dan II. Berlandaskan kepada teori Sigmund Freud tentang alam bawah sadar, para seniman menggunakannya sebagai sumber gagasan dalam melahirkan image yang unik, yaitu apa yang ada jauh di dalam alam pikiran manusia. Untuk Gambar 110. Salvador Dali, Apparition of Face and Fruit-dish an a Beach (sumber: Gombrich) 108
    • itu para pelukis memanfaatkan bentuk-bentuk nyata menjadi bentuk- bentuk dalam mimpi yang tidak logis. Surealism sebenarnya akronim dari Super-realism, sebab apa yang diungkapkan dalam lukisan merupakan hal-hal diluar kenyataan. Bagi kaum surealis seni tidak dapat diciptakan ketika kita berada dalam pikiran sadar dan logis dengan berbagai bentuk reasoning, seni yang baik dapat lahir dari alam bawah sadar manusia yang tidak logis tanpa reasoning. Tokoh-tokoh surealisme yang terkenal antara lain Salvador Dali dan Max Ernst. n. Pop Art Kata Pop Art merujuk kepada suatu perkembangan gaya seni modern antara 1956 dan 1966 di London Inggris dan berimbas ke New York di Amerika. Dalam perkembangannya Pop Art memiliki tiga karakteristik utama yaitu, pertama, Pop Art adalah figuratif dan realis. Kedua, Pop Art lahir di lingkungan perkotaan dan melihat kepada apa yang ada di lingkungan tersebut. Oleh karena itu para seniman menggunakan bahan- bahan dari obyek yang sedang populer di masyarakat perkotaan khususnya yang berbau komersial seperti komik, kartun, gambar majalah, iklan, kemasan dalam berbagai jenisnya kaleng minuman, barang-barang bekas; dunia pertunjukan pop termasuk film Hollywood, musik pop, radio, televisi dansebagainya. Ketiga, seniman pop yang menggunakan bahan- bahan tersebut dengan cara sedemikian rupa, memilih bahan yang belum pernah digunakan sebelumnya untuk menarik perhatian pengamat. b a Gambar 111. (a) Andy Warhol, Green Coca-Cola Bottles, (b) Roy Lichtenstein, Roto Broil (sumber: Simon Wilson) 109
    • o. Realisme Baru Dalam hingar-bingar perkembangan seni rupa kontemporer terutama seni abstrak, beberapa seniman kembali kepada seni dengan garapan yang lebih realistik terhadap obyek-obyek nyata tetapi bukan yang tradisional. Mereka melakukan eksplorasi terhadap obyek-obyek industri seperti toko, restoran, mobil, manusia dengan ciri-ciri khusus. Ungkapan bentuk-bentuknya menjadi super-realistik dengan keterampilan teknik dan kecermatan yang tinggi sehingga mirip hasil fotografi. Untuk menda- patkan teknik melukis realisnya seniman menggunakan alat-alat teknologi seperti proyektor untuk membuat sketsa dari obyek yang digambar agar mendapatkan akurasi bentuknya. Gambar 112 . Bill Martin, Abalone Shell (sumber: Paul Zelanski). p. Seni Instalasi Konsep seni pada saat ini terus berkembang, apapun yang dikatakan dan dihasilkan oleh seniman dapat dipandang sebagai seni; museum dan galeri tidak lagi hanya memamerkan lukisan dan patung, tetapi suatu desain tiga dimensi yang dipasang hanya untuk beberapa waktu kemudian dibongkar. Selain itu ada pula yang memanfaatkan lingkungan alam, gedung, benda-benda yang ada dalam kehidupan manusia dibungkus dengan kain, ada pula lingkungan alam dibentuk atau diberi asesoris dengan benda-benda yang telah ada dalam skala besar. Seni rupa yang demikian disebut seni instalasi. Instalasi berasal dari bahasa Inggris installation yang berarti memasang, menyatukan dan mengkon- 110
    • Gambar 113 . Christo, Running Fence (sumber: Paul Zelanski) konstruksikan. Dalam kegiatannya seni instalasi memasang, menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Biasanya makna dalam persoalan-persoalan sosial-politik, diangkat dalam konsep seni instalasi ini. Dalam kontek visual merupakan perupaan yang menyajikan visual tiga dimensional yang memperhitungkan elemen-elemen ruang, waktu, suara, cahaya, gerak dan interaksi spektator (pengunjung pameran) sebagai konsepsi akhir dari olah rupa (Wikipedia Indonesia). Tujuan dari seni instalasi ini ada berbagai macam, misalnya untuk 111
    • menghilangkan kejenuhan dengan kegiatan seni rupa konvensional, ada pula yang menginginkan kejutan, dan ketakjuban dengan sesuatu yang aneh dan mencengangkan. Christo misalnya ia tidak segan-segan membungkus tebing karang di tepi pantai, membungkus gedung-gedung besar, dan pada gambar 113, ia membuat pagar dengan kain berkilo-kilo meter panjangnya di gurun pasir. Membuat seni instalasi memberikan ruang kebebasan lebih kepada seniman, tidak terikat dengan kaidah- kaidah estetik yang biasanya digeluti, ada semacam pelepasan kepenatan dengan kegiatan rutinitas berkarya seni yang melelahkan. Kegiatan seni instalasi juga memberikan peluang kepada seniman untuk melakukan eksplorasi terhadap kemampuan kreativitasnya menggunakan bahan-bahan seni rupa yang inkonvensional dengan memanfaatkan berbagai jenis media yang diketemukan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana halnya pada gambar 301 a dan b. 5. India Seni India sama halnya dengan seni Yunani dan Romawi yang memiliki sejarah panjang. Sejarah kebudayaan India mulai terungkap dari peninggalan kota kuno Harappa dan Mahenjodaro. Dari peninggalan tersebut diketahui bahwa bangsa India kuno telah memiliki seni dan ke- budayaan yang tinggi. Gambar 114. Relief-relief dari kota kuno Mahenjodaro (sumber: ) http://www.google. co.id/ Indian Art and Philoshopy) 112
    • Dari kota Mahenjodaro diketemukan patung wanita (gb.115) menari dengan anatomi yang jelas dan juga pada bentuk-bentuk patung binatangnya. Seni klasik India sangat kental dipengaruhi oleh filosofi agama Hindu sehingga tercermin dalam setiap jenis seni terutama seni arsitektur, patung, relief dan seni lukisnya. Seni India muncul dan berhubungan erat dengan ritual seperti memuja dewa, mengusir kekuatan negatif, kelahiran dan kematian; dari pengucapan mantra me- nimbulkan gerakan (mudra); dari gerakan, obyek dan peralatan digunakan untuk persembahan berupa sesaji dan susunannya me- nimbulkan keindahan. Kebutuhan untuk ruang sakral melahirkan tempat pemujaan (bangunan candi) dan yantra sebagai fokus peribadatan, simbol dan icon merupakan kekuatan dewata. Gambar 115. Patung wanita di reruntuhan kota kuno mahenjodaro (sumber: http://www. Google.co.id/Indian Art and Philosophy). 113
    • Perkembangan seni India sangat dipengaruhi oleh filosofi di antaranya aliran Tantra, yakni suatu aliran filosofi keagamaan yang memandang bahwa manusia sebagai micro cosmos sama dengan alam semesta atau macro cosmos. Jagat kecil ada dalam jagat besar dan jagat besar ada dalam jagat kecil. Jagat besar mempengaruhi kehidupan jagat kecil sebagai individu. Mahluk individu dan mahluk universal adalah satu. Jadi semua yang ada dalam alam raya juga ada dalam alam individu. Guna mendapatkan hubungan antara kedua alam tersebut dalam ajaran Tantra divisualisasikan menjadi simbol yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (a) bentuk-bentuk geometri sebagai representasi dewa disebut yantra, (b) representasi tubuh manusia sebagai simbol alam semesta, dan (c) bentuk-bentuk ikonografi. Gambar 116. Yantra segitiga Mahejodaro (sumber: http://www.google. co.id/ Indian Art and hilosophy) Yantra berasal dari kata Sanskrit yam berarti memegang, mem- pertahankan. Dalam kegiatan yoga meditasi digunakan sebagai media untuk konsentrasi pikiran. Yantra disusun dari bentuk-bentuk geometris seperti lingkaran, segitiga, segiempat sebagai simbol psikologis kesa- daran manusia. Prinsipnya adalah bentuk yang sama berasal dari satu titik disusun secara berulang, bertautan dan mengembang ke luar dari titik pusat. Penggunaannya adalah ketika sang meditator melakukan 114
    • meditasi, penglihatan ditujukan kepada titik pusat yantra. Tujuannya adalah untuk memusatkan pikiran dan pada level tertentu sang meditator mengalami efek psikologis, pikirannya lebur dengan titik pusat pandangan. Hal ini diyakini berdampak kepada kekuatan konsentrasi pikiran yang digunakan dalam berbagai keperluan yang bersifat spiritual. Gambar 117 . Yantra segiempat di dalamnya yantra lingkran berwujud teratai Mahejodaro (sumber: http://www.google. co.id/ Indian Art and hilosophy) . Setiap bentuk memiliki makna yang berbeda, bentuk segitiga berarti tiga hal yang universal, seperti penciptaan, pemeliharaan dan pelebur- an; masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Ketika digunakan untuk yantra segitiga digunakan dapat berdiri atau terbalik, segitiga berdiri melambangkan maskulin sedang segitiga sebaliknya adalah feminim. Bentuk lingkaran mengandung makna keabadian karena sifat ling- karan tidak ada ujungnya, ketika digunakan sebagai yantra biasanya ditempatkan di tengah segiempat. Selanjutnya segi empat melam- bangkan totalitas arah mata angin yang menyatukan bumi dalam keteraturan. Segi empat memiliki empat pintu pada setiap arah dan dikenal sebagai pintu kosmik yang melambangkan jalan dari alam duniawi ke alam spiritual yang suci dalam yantra. Ke empat pintu tersebut dijaga oleh kekuatan dewata yang menjaga kesucian yang ada di dalam dari intervensi kekuatan negatif. 115
    • Dalam pandangan Hindu, khususnya ajaran Tantra, tubuh manusia merupakan miniatur alam semesta oleh karenanya apa yang terjadi di alam semesta juga terefleksi dalam tubuh manusia secara fisik dan psikologis. Siapa yang mengetahui kebenaran yang ada dalam tubuh manusia akan mengetahui kebenaran yang ada di alam semesta. Untuk itu, ada dua hal penting yang dipelajari mengenai konsep tubuh manusia sebagai microcosmos adalah tentang cakra dan kundalini. Cakra adalah tujuh titik pusat energi utama yang ada dalam tubuh manusia terletak di sepanjang tulang punggung mulai dari bawah di antara kemaluan dan anus. Cakra berurutan ke atas hingga ubun-ubun, sedangkan kundalini merupakan energi kosmos yang terletak pada cakra paling bawah. Dalam ajaran Tantra kedua hal inilah menjadi pusat perhatian dalam meditasi untuk dapat didayagunakan. Orang yang telah menguasainya diyakini mampu menyatu dengan alam semesta sesuai dengan kemauannya. Gambar 118. Patung Dewa Siwa sebagai dewa tertinggi dalam sekte Siwa dalam Agama Hindu Mahejodaro (sumber: http://www.google. co.id/ Indian Art and hilosophy) . Dalam penciptaan karya seni yang bersifat religius tidak boleh keluar dari pedoman yang telah ada karena simbol yang dibuat merupakan wujud standar secara spiritual. Kemampuan kreatif seniman merupakan 116
    • bagian dari ekspresi kolektif secara keseluruhan. Dalam membuat patung seorang dewa dengan banyak tangan merupakan simbolisasi dari kekuasaanNya (gb.118), selanjutnya ada standar yang yang harus dikuasai oleh seniman, antara lain sebagai berikut: a. Pengetahuan tentang batu, b. Struktur komposisi, c. Teknik mengukir batu, d. Susunan unsur-unsur patung, e. Representasi karakter, f. Kesatuan dari bagian-bagian. 6. Cina Seni sebagai bagian dari kebudayaan Cina usianya sudah sangat tua. Periodesasinya dibagi berdasarkan dinasti yang memerintah. Seni Cina sangat dipengaruhi oleh para filusuf, guru spiritual, dan juga pemimpin politik. Bentuk awal seni Cina pada Zaman Batu Baru adalah berupa gerabah dan batu giok, kemudian berkembang menggunakan bahan perunggu pada zaman Dinasti Song. Selanjutnya, penggunaan bahan kayu dan bambu dimulai sekitar abad pertama Masehi bersamaan dengan masuknya ajaran Budha yang baru populer pada abad ke 4 Masehi, pada zaman itu pula diperkenalkan porselin. Gambar 119. Ornamen kembang dengan bahan batu giok Dinasti Jin , 1115-1234 Masehi (sumber: http://www.google. co.id/ Chinese Art) 117
    • Perkembangan agama Budha di Cina berlangsung hingga abad ke-8 Masehi. Pada zaman imperial, seni kaligrafi dan lukisan sangat dihargai di lingkungan istana, yang dibuat di atas kain sutra dan berlangsung hingga diketemukannya bahan dari kertas. Pada zaman dinasti Tang, sangat terbuka dengan pengaruh kesenian dari luar, sehingga patung- patung Cina pada zaman ini banyak dipengaruhi oleh patung India zaman Gupta untuk mendukung ajaran Taoisme. Pada dinasti Song seni lukis mengalami perkembangan pesat dengan ekspresi lembut pada lukisan-lukisan pemandangannya. Nampak bentuk- bentuk gunung diberi kontur yang kabur untuk memberi kesan kejauhan. Dalam zaman inilah penekanan pada lukisan terletak pada nilai-nilai spiritual dibanding nilai emosional. Gambar 120. Patung Bodhisatwa dari Dinasti Song, 960-1279 Masehi (sumber: http://www. Google.co.id/Chinese Art) Pada dinasti Song seni lukis mengalami perkembangan pesat dengan ekspresi lembut pada lukisan-lukisan pemandangannya. Nampak bentuk- bentuk gunung diberi kontur yang kabur untuk memberi kesan kejauhan. 118
    • Dalam zaman inilah penekanan pada lukisan terletak pada nilai-nilai spiritual dibanding nilai emosional. Pada periode selanjutnya ditandai oleh dua dinasti yang kuat yaitu Dinasti Ming dan Qing. Seni rupa pada Dinasti Ming perkembangannya terletak pada penyempurnaan pewarnaan lukisan dibanding dengan lukisan pada Dinasti Song. Pada Dinasti Qing yang berkembang pesat adalah seni opera. Atas usaha seorang ahli dari Sekolah Shanghai, seni tradisional China mencapai klimaksnya kembali dalam bidang seni lukis. Usahanya itu adalah pengembangan teknik melukis tradisional dan menghargai hasil-hasil karya masterpiece kuno. a b Gambar 121. (a) Wang Hui, Puncak-puncak gunung, (b)Gao Kogong, Bebukitan dan Awan, 1270-1310 Masehi (sumber: http://www.google.co.id/Chinese Art.). 119
    • Salah satu prinsip yang diajarkan dalam seni rupa Cina kuno, adalah bagi seorang seniman agar menjadi kreatif ia harus melatih batinnya melakukan konsentrasi karena seni tidak dapat dipisahkan dengan spiritualisme. Hal ini berhubungan dengan ajaran Taoisme yang berarti jalan yang menyimpan banyak rahasia, sumber kreativitas, sumber kehidupan yang berada di lubuk hati yang paling dalam. Ajaran lainnya dari guru spiritual Cina Konfusius, adalah pengandaian seniman seperti halnya kertas putih sebelum diberikan warna ke atasnya. Sama halnya dengan seniman, ia harus putih sebelum mulai berkarya. Maksud yang lebih jauh adalah mungkin sang guru mengharapkan seniman jika ingin mendapat sesuatu yang murni ia harus melepas semua yang ada dibenaknya, sehingga gagasan orisinal menampakkan dirinya. Ada beberapa ciri unik dari lukisan Cina klasik yaitu spontanitas goresan cat air, sebagaimana halnya lukisan Jepang. Terkadang ukurannya meman- jang ke bawah sebagaimana terlihat pada gambar (98a). Bentuk baru seni rupa Cina dipengaruhi oleh gerakan kebudayaan baru, dengan mengadopsi teknik Barat yang menggunakan cat minyak dan meng- angkat tema-tema realisme sosialis. 7. Jepang Seni dan budaya Jepang tidak dapat lepas dari pengaruh budaya luar Jepang. Sejak zaman prasejarah ada beberapa gelombang budaya luar masuk dan mempengaruhinya. Gelombang pertama bangsa yang men- diami Jepang disebut bangsa Jomon kira-kira 11000 – 300 tahun se- belum Masehi. Mereka masih hidup dengan berburu, bertani tetapi nomaden, namun telah dapat membuat tempat berteduh, membuat ge- rabah dan manik-manik dari batu kristal yang disebut dogu. Gelombang kedua masuk bangsa Yayoi kira-kira 350 tahun sebelum Masehi, pening- galannya pertama kali diketemukan di daerahTokyo. Mereka sudah mam- pu menanam padi, membuat senjata dari tembaga, dan genta dari perunggu disebut dotaku serta membuat keramik dengan teknik bakar di dalam tungku. Gelombang ketiga yang masuk ke Jepang adalah bangsa Kofu atau Tumulus kira-kira pada tahun 250 – 552 Masehi. Ketiga suku bangsa yang mendiami Jepang kemudian membuat pemerintahan, karya seni mereka terbuat dari kombinasi perunggu dengan cermin, sebagai lambang aliansi dan patung tanah liat yang disebut haniwa ditempatkan dekat kuburan. Sama halnya dengan Cina, kesenian Jepang juga memiliki sejarah yang panjang. Dalam perkembangannya, pengaruh Agama Budha sangat kuat, sebagai gelombang keempat dimulai sekitar abad ke-7 – ke-8 Masehi dalam satu doktrinnya yang berkaitan dengan seni yaitu: Zen langsung menuju ke dalam hati manusia, lihat sifat aslimu dan kamu akan menjadi Budha”. Kemudian pada abad ke-9 Jepang mulai menjauh dari Cina dan mengembangkan bentuk keseniannya sendiri sehingga seni 120
    • yang bersifat sekuler dan religius berkembang sangat pesat hingga akhir abad ke-15. Pada tahun 1467 – 1477 Jepang mengalami krisis politik, ekonomi, dan social dan berlangsung lebih kurang satu abad. Kemudian dalam kepemimpinan Kaisar Tokugawa Shogunate peran agama banyak berkurang dalam kehidupan masyarakat. Seni menjadi sangat sekuler a b Gambar 122. (a) Patung Keramik, (b) Umataka zaman pemerintahan bangsa Jomon (sumber: Joan Stanley Baker). yakni digunakan dan dinikmati dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap keindahan yang sifatnya sangat duniawi. Namun demikian pengaruh meditasi Zen Budisme dalam seni lukis nampak banyak ruang kosong terungkapkan dalam lukisan, mungkin kekosongan tersebut merupakan refleksi dari kegiatan meditasi yang memang mencari kekosongan pikiran secara psikologis untuk mendapatkan keheningan dan kejernihan pikiran. Hal ini juga mungkin mempengaruhi seni taman Jepang yang memiliki ciri khas sangat kuat. Menulis dengan kuas merupakan kebiasaan yang telah mentradisi, hal ini menyebabkan masyarakat sangat sensitif terhadap nilai estetik suatu 121
    • lukisan. Seni kaligrafi Jepang dan Cina begitu pula lukisannya memiliki kesamaan nafas. Lukisan tradisinya mengutamakan spontanitas dalam menggunakan kuas dengan media tinta hitam maupun cat air menjadi ciri khusus yang tidak dapat ditandingi oleh tradisi seni lukis lainnya di dunia. Dalam seni rupa, selain tradisi melukis, pada periode Edo tahun 1603, muncul pula seni tradsional lainnya yaitu teknik cetak kayu sebagai suatu teknik berekspresi yang sangat popular di kalangan seniman dan menghasilkan hasil cetak warna-warni yang sangat indah. Salah seorang a b Gambar 123. (a) Dotaku genta perunggu zaman Yayoi, (b) Haniwa patung petani membawa bajak dari bahan gerabah (sumber: Joan Stanley Baker). seniman yang terkenal pada zaman Edo ialah Kano Tanyu cucu dari seniman terkenal Eitoku Kano. Ia banyak melukis untuk istana di Kyoto 122
    • dan Nagoya. Salah satu lukisannya yang terkenal berjudul Menangkap Ikan Malam hari dengan Burung Pemangsa, lukisannya dibuat di atas enam buah panel besar. Seni patung Jepang mendapat pengaruh kuat dari seni patung Cina, pada tahun 1183 seniman patung Cina diboyong ke Jepang untuk merestorasi kepala patung Budha yang rusak di Todaiji. Untuk me- ngerjakannya ia banyak dibantu oleh seniman patung Jepang dan di- selesaikan dalam beberapa generasi. Kedatangan seniman patung Cina banyak meninggalkan pengaruh kepada seniman patung Jepang ter- utama dalam meningkatkan nafas realisme dan penyederhanaannya. Gambar 124. Hakui Ekaku, Kaligrafi Bodidarma, abad 17 (sumber: http://www.google.co.id/Japanese Art) Seni tradisional Jepang lainnya yang menonjol di dunia adalah seni pertamanan yang juga tidak ada yang menandingi keindahannya, ka- rena memanfaatkan keindahan karakter alami batu, karang, pasir, rumput, pohon, dan air termasuk juga gemerisiknya angin yang menerpa pepohonan. Seperti nampak dalam gambar 126 kolam dibelah dengan jalan setapak kemudian disambung dengan steping stone. Semuanya dibuat dengan meniru alam dengan cermat, sehingga dapat memberikan 123
    • suasana seakan kita berada di alam yang sesungguhnya. Padahal kita sedang berada di dalam karya seni yang dapat kita alami secara nyata. Unsur-unsurnya dapat kita sentuh dan orang yang masuk ke taman juga dapat berperan sebagai unsur karya seni. Gambar 125. Toshusai Sharaku, Otani Oniji II, 1794, teknik cetak warna. Pada taman Ryoanji (gb.127) karena taman ini merupakan tempat suci, maka pengaruh Zen tentang ketenteraman nampak pada keluasan halaman dengan hamparan pasir putih bergaris-garis yang sengaja dibuat dengan alat menyerupai garpu dalam proses pembentukannya.. Dengan taman diatur seperti itu berarti lingkungan dapat digunakan sebagai media berkarya seni. Taman juga biasanya didukung oleh seni bonsai, yaitu pengerdilan pohon yang menyebar saat ini ke seluruh dunia. Gelombang terakhir dari kebudayaan luar mempengaruhi Jepang adalah kebudayaan Barat pada tahun 1867 yang terkenal dengan zaman Meiji yang terkenal dengan masa Restorasi Meiji. Era ini merupakan era keterbukaan bagi Jepang untuk menyerap teknologi Barat. Oleh karena- nya banyak pemuda-pemuda Jepang di kirim ke Eropa untuk mempelajari budaya Eropa terutama teknologinya. Dalam perkembangan selanjutnya 124
    • Jepang dapat mengejar ketertinggalan teknologi dari Eropa dan saat ini berkembang sangat pesat serta dalam beberapa hal dapat mengungguli Eropa dan Amerika. Gambar 126. Taman Istana Katsura, Kyoto, dari periode Edo, (sumber: Paul Zelanski. Gambar 127. Taman Ryoanji (sumber: Paul Zelanski). 125
    • Pengetahuan alat dan bahan dalam bidang seni rupa sangat penting bagi perupa, sebab tanpa pengetahuan tentang karaker bahan dan cara menggunakannya mustahil seorang perupa dapat membuat karya seni rupa yang baik. Oleh sebab itu pemahaman dan keterampilan menggunakan alat dan bahan merupakan salah satu yang harus dikuasai oleh seorang perupa jika hendak menghasilkan karya yang baik. A. Alat dan Bahan Seni Rupa Dua Dimensi Sesuatu yang dapat membuat tanda goresan dapat dikatakan sebagai media atau alat untuk menggambar. Ada banyak sekali jenis alat dan bahan menggambar. Pada bab sebelumnya telah dibahas beberapa jenis alat dan bahan untuk membuat karya dua dimensi, jenis dan alat tersebut hampir sama dengan alat dan bahan untuk menggambar. Oleh karena itu pada bagian ini akan dibahas yang belum terbahas sebelumnya. Perlu pula diingat bahwa dalam kegiatan menggambar tidak boleh lepas dari percobaan secara individu untuk mendapatkan alat dan bahan yang cocok dengan kemampuan dan kesenangan masing-masing. 1. Pena Penggunaan pena untuk kegiatan menggambar telah dimulai sejak abad pertengahan. Garis yang dihasilkan oleh pena bervariasi ketebalannya dan ini tergantung pula dari jenis dan bentuknya. Garis yang dihasilkan pena lebih kuat dan pasti dibanding garis yang dihasilkan oleh pensil. Ada beberapa jenis pena, baik yang dapat dibuat sendiri maupun yang dapat dibeli di toko, dan kualitasnya pun bervariasi. a. Pena bambu, pena ini tidak perlu dibeli di toko karena dapat dibuat dan diatur sendiri bentuk ketebalan ujungnya yang menghasilkan goresan. Biasanya pena ini dibuat dari jenis batang barnbu kecil. Ambil batang atau ranting bambu yang kecil dan lurus, lalu potong menjadi ukuran 20 cm. Kemudian ujungnya dibuat runcing atau pipih tergantung dari tebal tipisnya garis yang diinginkan. Kelemahan pena ini tidak dapat menyimpan tinta sehingga dalam penggunaannya harus sering dicelupkan ke tinta agar dapat membuat goresan dengan terus menerus. b. Pena bulu, pena bulu yang baik apabila bulu itu memang sudah lepas dari binatangnya (ayam, angsa, bebek, merak dan sebagainya), karena sudah cukup kerasa. Garis yang dihasilkan dengan pena bulu sangat
    • jelas dan indah, sehingga jenis pena ini sering digunakan untuk menulis indah. c. Pena Batang, seperti halnya pena bambu, pena batang ini juga, berasal dari ranting atau batang pohon, tidak ada pohon yang khusus untuk ini. Ambil sebatang ranting pohon, kemudian potong menjadi 20 cm lalu raut ujungnya sesuai dengan tebal tipisnya garis yang diinginkan. Pena batang ini lebih lembut dibanding pena bambu. Dalam penggunaannya juga harus sering dicelupkan ke dalam tinta. d. Pena Logam, pena logam sudah umum digu- nakan dan dapat dibeli di toko. Tebal tipisnya garis yang dihasilkan tergan- tung dari bentuk ujung penanya. Keunggulan je- nis pena ini dapat meng- Gambar 128. garis lebih lancar dan Jenis pena bulu, menyimpan tinta sehingga pena logam, pena tidak terlalu sering mence- batang, pena bam- lupkannya ke dalam tinta. bu. b a Gambar 129. (a) Tarzan (sumber: Burne Hogarth ),(b) Albrecht Durrer, pillows (sumber: Colin Saxton, Art School) 127
    • 2. Kuas Kuas merupakan alat pokok dalam menggambar, selain pena dan pensil. Mutu kuas ditentukan oleh mutu bulunya dan teknik mencengkeramkan pada gagangnya. Bentuk goresan yang dihasilkan ditentukan oleh bentuk, ketebalan dan panjang bulunya. Bulu kuas cat air berbeda dengan bulu kuas cat minyak. Bulu dari serat tumbuhan baik untuk cat air karena daya serapnya baik sedangkan untuk cat minyak kuas yang berkualitas dibuat dari bulu binatang dan nilon. Ukuran kuas dibuat bervariasi sesuai dengan teknik dan proses pembentukan gambarnya. Saat ini banyak jenis kuas di jual di pasaran, kuas yang mutunya baik lebih mahal harganya tetapi cukup tahan lama dan dapat menghasilkan karya yang bermutu, terutama dalam membuat karya yang halus dan detail agak sulit jika menggunakan mutu kuas yang kurang baik. Gambar 130. Jenis Kuas cat minyak 3. Kertas Namun ribuan tahun yang lalu, manusia telah membuat tanda pada permukaan batu, atau kulit kayu. Selanjutnya pada zaman Mesir Kuno digunakan papirus dan kulit kambing untuk membuat surat dan menggambar.Pada zaman dinasti Han di Cina, ada seorang bernama Ts’ai Lun membuat kertas dengan campuran kain, serat yang dibuat bubur lalu dikeringkan pada pada permukaan datar. Temuan ini dipresentasikan kepada raja, dan disiarkan ke seluruh negeri bahwa temuan Lun tersebut dapat digunakan untuk keperluan menulis dan menggambar dengan tinta. Sejak saat itu pembuatan kertas terus disempurnakan dan divariasikan jenisnya hingga saat ini. Secara umum ada dua jenis kertas untuk keperluan menggambar atau melukis yaitu kertas buatan pabrik dan kertas buatan tangan. Kertas buatan pabrik terstandar kualitasnya, sedang kertas buatan tangan dibuat khusus untuk mendapatkan karakter tertentu guna keperluan khusus pula. 128
    • Untuk keperluan menggambar pada saat ini ada banyak jenis kertas yang dapat dijumpai di pasaran dengan berbagai kualitas dan ukuran. Namun yang penting diingat dalam memilih kertas untuk menggambar adalah kualitas permukaannya, sebab menggambar dengan pensil kertasnya berbeda dengan menggambar menggunakan cat air. Kertas yang permukaannya halus dan keras sangat baik digunakan untuk menggambar dengan pena dan tinta. Permukaan kertas yang kasar baik untuk arang, krayon, pastel dan pensil lunak. Bagi pemula, penggunaan kertas sebaiknya yang harganya murah dan dengan kualitas cukup. Kertas produksi Padalarang dan Blabak baik untuk tahap belajar karena cocok untuk setiap jenis media seperti arang, pensil, pastel, krayon, cat air, cat poster dan cat akrilik. Kertas manila karena permukaannya halus baik untuk menggambar dengan bahan tinta tetapi kurang baik untuk menggambar dengan pastel. Sebenarnya, di toko alat-alat melukis dan menggambar tersedia jenis-jenis kertas yang telah disesuaikan dengan karakter bahan perwarnanya. Ada kertas khusus untuk pastel, pensil dan cat air, namun harganya cukup mahal. Namun, untuk menjelajahi karakter kertas dengan berbagai media pewarna gunakanlah seluruh jenis kertas yang dijumpai, dengan demikian dapat menambah pengalaman untuk mengetahui karakteristiknya. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam menggunakan kertas adalah cara menyimpannya. Kertas yang telah ada gambarnya hendaknya jangan dilipat-lipat, untuk itu diperlukan map khusus yang dibuat sendiri dengan karton tebal agar gambar yang telah dibuat tidak rusak. Selain itu dalam belajar seni rupa, seorang calon seniman seni rupa harus memiliki buku sketsa yang dapat dibawa kemana-mana untuk selalu melatih tangan agar dapat menghasilkan sketsa atau gambar dengan kualitas garis yang luwes dan baik 4. Kanvas Menurut sejarahnya, sebelum diketemukan kanvas para pelukis menggunakan bidang lukisan dari bahan papan. Hal ini tentu kurang praktis karena berat untuk dibawa dan tidak dapat digulung sehingga mengambil tempat. Kanvas diketemukan menyusul setelah dikete- mukannya cat minyak, bidang untuk melukis ini lebih praktis dan terbuat dari bahan kain. Kain dibentangkan pada spanram kemudian diberi lapisan perekat untuk menutup pori-pori kain dan selanjutnya diberi lapisan cat dasar. Cat dasar dapat dari cat dengan medium minyak dapat juga cat dengan medium air. Kanvas dengan cat dari medium minyak tidak dapat digunakan untuk melukis dengan medium air kecuali cat akrilik. Namun cat dasar kanvas dengan medium air lebih fleksibel karena dapat digunakan melukis menggunakan cat dengan medium minyak maupun air. Daya tahan kanvas lebih lemah dibanding dengan bidang gambar dari bahan kayu, terutama dengan kelembaban. 129
    • Kualitas kanvas dibedakan berdasar kelenturan, daya tahan dan tekturnya. Kanvas yang baik pada umumnya jika daya tahannya tinggi terhadap perubahan cuaca, lentur dan teksturnya halus. Hal ini ditentukan oleh kualitas kain dan teknik pemberian cat dasar yang digunakan. Kain linen adalah kain yang memiliki daya tahan tinggi dan agak stabil jika dibentangkan, sedangkan kain katun elastisitasnya sangat tingi. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kualitas kanvas akan lebih baik mencoba berbagai jenis kain untuk dibuat kanvas, dan hal ini dapat menentukan pilihan yang paling tepat sesuai dengan keinginan dan kecocokan dalam menerapkan teknik melukisnya. Cat dasar yang baik digunakan disebut acrylic gesso primer yang dalam penggunaannya menggunakan air sebagai medium pengencernya. Cat dasar untuk kanvas ini akomodatif terhadap cat minyak maupun akrilik yang menggunakan pengencer air. 5. Karet Penghapus Menurut sejarah, pada masa Ialu penghapus dibuat dari bahan kulit yang empuk. Kemudian setelah diketemukan karet dan plastik kualitas bahan penghapus bertambah meningkat menjadi lebih baik. Penghapus yang terbuat dari karet yang empuk sangat baik untuk menghapus gambar yang terbuat dari pensil dan arang. Dalam penggunaan karet penghapus harus disesuaikan dengan jenisnya. Penghapus yang keras tidak baik digunakan untuk menghapus goresan pensil pada kertas yang lunak. Penghapus keras memang dibuat bukan untuk menghapus pensil tetapi untuk menghapus goresan tinta. Penghapus yang lunak biasanya digunakan untuk menghapus goresan pensil. Kalau membuat goresan-goresan putih pada blok hitam dari pensil (dalam teknik dry brush), penghapus yang digunakan harus dibuat tipis ujungnya dengan mengirisnya menggunakan pisau. Perlu diperhatikan penghapus yang sering digunakan dapat menjadi kotor, jika telah kelihatan hitam segera bersihkan dengan menggosokkannya di kertas lain hingga bersih. 6. Papan Gambar Dalam kegiatan menggambar sangat penting memiliki papan gambar untuk dapat bekerja lebih baik, karena dengan papan gambar kertas yang digunakan menggambar permukaannya lebih rata dan stabil. Papan gambar biasanya digunakan untuk menggambar di luar ruangan, oleh sebab itu salah satu persyaratannya papan harus ringan dan kuat. Papan yang baik bagi pemula dianjurkan menggunakan papan dari bahan tripleks dengan ukuran tebal 3 mm, panjang 55 cm dan lebar 50 cm. Spesifikasi ini dapat menahan kertas agar tidak bergerak oleh terpaan angin. Agar posisinya tidak miring digunakan penjepit kertas atau selotip, 130
    • namun harus hati-hati karena bahan perekatnya dapat merobek kertas pada waktu mau melepaskannya. b a Gambar 131. (a) Papan gambar, (b) Standar Gambar B. Eksplorasi Bahan Seni Rupa Dua Dimensi Jenis alat dan bahan untuk seni rupa sebenarnya sangat banyak sebab apa saja yang ada dilingkungan kita dapat digunakan sebagai bahan membuat karya seni rupa. Namun, dalam pembahasan ini dibatasi pada penggunaan alat dan bahan seni rupa dua dan tiga dimensional yang lumrah digunakan dikalangan perupa seperti arang, pensil, pastel, cat air, cat poster, cat akrilik, karton, tanah liat, plastisin, gip, kayu dan sebagainya. 1. Arang Di antara sekian banyak bahan untuk membuat karya seni rupa dua dimensional, arang adalah bahan yang paling mudah untuk didapat karena jika tidak ada bahan lain arang dapat dibuat sendiri. Ambil bilah- bilah kayu yang tingkat kekerasannya sedang, kemudian bakar menjadi bara; tutuplah rapat-rapat dalam wadah dari bahan tanah liat dan bila baranya telah padam anda sudah mendapatkan arang. Mudah bukan? Perhatikan, kayu yang sangat keras atau sangat lunak kurang baik untuk dibuat arang gambar. Sebab kayu yang amat keras arangnyapun keras dan sulit untuk mendapatkan goresan yang baik, begitu pula kayu yang amat lunak arangnyapun amat rapuh. Maka bahan kayu yang digunakan sebaiknya kayu yang tidak keras atau sebaliknya tidak terlalu lunak, dari referensi yang ada, untuk membuat arang batang yang baik digunakan adalah kayu pohon jeruk. Namun, karena ada banyak jenis kayu maka diperlukan banyak percobaan dalam mendapatkan alternatif arang yang berkualitas baik. 131
    • Goresan yang dibuat dengan arang sangat rapuh karena mudah rontok dan terhapus sehingga untuk menguatkannya diperlukan bahan pelapis pengawet seperti fixative dengan cara disemprotkan atau dioleskan atasnya, jika karya sudah dianggap selesai. Resiko untuk tidak merusak gambar atau lukisan yang telah dibuat, lebih baik menggunakan zat pelapis dengan menyemprotkannya, karena tidak ada kontak langsung antara alat dengan karya sebagaimana menggunakan kuas. Pada saat ini ada empat jenis arang yang dijual di pasaran, yaitu arang batangan, arang serbuk, Gambar 132. Pemandangan dengan bahan arang (sumber: Richard McDaniel) arang pensil, dan arang cetak atau pres. Arang batangan, arang pensil, dan arang pres baik untuk membuat garis sedangkan arang serbuk baik digunakan untuk blocking dan shading serta teknik dry brush, karena serbuk arang tersebut tinggal menerapkannya ke atas kertas dengan menggunakan tisu atau kain halus. Sifat yang menyenangkan dari arang adalah gambar dapat dengan mudah diperbaiki jika ada yang terasa kurang terutama dalam menggambar realis atau naturalis. Karena arang mudah dihapus. Bahan arang sangat baik bagi pemula menggeluti seni rupa dua dimensional, karena bahan tersebut mudah didapat dan murah, sehingga untuk latihan meluweskan goresan dan pemahaman tentang gelap terang sangat baik digunakan. Namun, bukan berarti karya seni rupa dengan menggunakan arang tidak berkualitas dan murahan. Teknik berkarya 132
    • dengan menggunakan arang merupakan awal ’keberangkatan’ menekuni bidang seni rupa dua dimensional dan jika ditekuni secara mendalam juga dapat menghasilkan karya yang berkualitas baik. Perhatikan gambar 132 dan 133, pelukisnya memanfaatkan efek tekstur kasar dalam menggambarkan pohon dan gunung, sebaliknya pada gambar 134, goresan arang dibuat halus mengikuti tekstur obyek yang digambar, yaitu bunga anggrek dan kulit manusia. Jadi menggambar dengan arang dengan hitam putih dapat menghasilkan gambar yang baik. Gambar 133. Kathe Kolowitz, Self-Potrait (sumber: Paul Zelanski). Pelukis kenamaan zaman Renaissance seperti Leonardo da Vinci (gb.133), Rembrant dan Durrer, sangat mahir menggunakan arang untuk melukis. Seharusnya para pemula banyak menggunakan arang untuk melatih keterampilan dasar dalam membuat bentuk dan ilusi tiga dimen- Perhatikan gambar (132, 133, 134, 135) dengan seksama, bagaimana potensi arang dapat digunakan untuk membuat karya seni rupa yang berkualitas sional pada kertas. Perhatikan gambar 134, pelukisnya sangat maghir dalam memanipulasi arang dalam membuat ilusi volume tiga dimensi terhadap obyek yang digambar. Perhatikan gambar 134a tone atau gelap terang yang membentuk plastisitas helai bunga dibuat dengan cermat, 133
    • diberi latar belakang gelap, sehingga obyek bunga menonjol. Pada gambar 134b, tone gelap terang juga dapat membentuk ilusi volume pada manusia yang digambar dengan menonjolkan plastisitas kepala dan lengan yang kekar. Pemahaman terhadap plastisitas dilakukan melalui la- b a Gambar 134. (a)Bunga anggrek (sumber : Richard McDaniel ),(b) Laki-laki tertidur (sumber: Burne Hogsrth ) Gambar 135. Leonardo da Vinci,The Virgin and the Child and with St. Anne and St. John the Baptist (sumber; Paul Zelanski) 134
    • tihan dengan arang, kelak faedahnya akan mempermudah penggunaan bahan menggambar yang lain. Menggunakan bahan arang merupakan dasar pemahaman tentang pembentukan plastisitas yang dihasilkan dengan kecekatan teknik membuat tone gelap terang khususnya pada kegiatan gambar dan melukis realis. Pada kedua jenis seni rupa ini, tone gelap terang menjadi salah satu unsur seni rupa yang penting dalam mendapatkan ilusi tiga dimensi pada bidang datar. Untuk itu perlu melakukan latihan yang intens agar dapat menguasainya dengan baik. Tugas : Untuk lebih menghayati bagaimana cara menggunakan bahan arang, lakukanlah latihan berikut ini. Ambilah selembar kertas gambar dan sebatang arang, lalu buatlah goresan-goresan berupa blok dan garis dengan berbagai variasinya. Dapat menggunakan jari, kertas atau kain untuk membuatnya. Ulangi latihan ini beberapa kali dan per- hatikan hasilnya. Amati bagaimana potensi goresan arang itu dan pikirkanlah bagaimana menerapkannya menjadi sebuah karya seni rupa. 2. Pensil Selain arang, pensil juga merupakan alat sederhana dalam pembuatan karya seni rupa dua dimensional. Menurut sejarahnya, pensil mulai berkembang pada abad ke 16 ketika diketemukannya bahan grafit secara kebetulan dibawah pohon tumbang karena badai di desa Barrowdale, Cumberland, Inggris. Grafit merupakan benda menyerupai batu hitam mengkilap tetapi dapat menghasilkan tanda hitam yang 135
    • awalnya dinamakan plumbago dalam bahasa Latin. Grafit kemudian digunakan untuk berbagai keperluan terutama sebagai bahan menulis dan menggambar dengan cara ditajamkan dan dibungkus dengan benang agar mudah dipegang. Pada perkembangannya di akhir abad ke 18, Nicolas Jacques Conte diminta oleh Napoleon untuk mengem- bangkan pensil. Ia mencampur serbuk grafit dengan tanah liat untuk membuatnya keras. Semakin banyak campuran tanah liat semakin keras pensil yang dihasilkan dan tanda yang dihasilkan semakin tipis warna hitamnya. Jadi dengan perbandingan campuran grafit dan pensil, gelap terang tanda yang dihasilkan oleh pensil menjadi bervariasi. Campuran grafit dan tanah liat dibakar dan dimasukkan ke dalam tabung kecil terbuat dari kayu sebagaimana halnya pensil yang kita ketahui saat ini. Derajat kekerasannya ditentukan oleh jumlah kandungan grafitnya sehingga untuk kepentingan penggunaannya pensil dibuat dalam variasi dengan sistim bertingkat. Untuk dapat mengenalinya, pensil dengan kode H menunjukkan bahwa pensil itu keras (hard) sedangkan dengan kode B adalah pensil lebih lunak dan hitam (black). Pensil 3H lebih keras dibanding pensil 2H, begitupula pensil 3B lebih hitam hasil goresannya dibanding pensil 1B. Untuk keperluan berkarya seni rupa dianjurkan menggunakan pensil hitam yang lunak (B). Penggunaannya dalam praktek, biasanya pensil keras H digunakan untuk sketsa awal kemudian dilanjutkan penye- lesaiannya dengan pensil B dalam berbagai variasi kepekatan. Namun perlu diperhatikan bahwa pensil H karena sangat keras, jika digunakan, sering membuat kertas gambar ’luka’ dan bekasnya sulit dihilangkan. Selain pensil H ada jenis pensil HB yang merupakan pensil dengan kekerasan yang sedang. Pensil ini baik untuk memulai pekerjaan awal berupa sketsa karena tidak merusak kertas dan hasil goresannya tidak terlalu tipis atau gelap. Pensil yang terlalu lunak dan pekat kurang baik untuk sketsa awal karena agak sulit dihapus. Menghapus sket atau goresan gunakan penghapus karet yang selunak mungkin agar kertas tidak luka waktu digosok. Upayakan jangan terlalu sering menghapus agar kertas tetap terjaga kondisinya. Pada waktu menghapus jaga tekanan penghapus pada kertas, begitu pula jaga kebersihan penghapus, karena apabila penghapus sudah terlalu sering digunakan warna hitam pensil akan melekat pada penghapus dan dapat membuat kotor kertas gambar. Oleh karenanya, bersihkan penghapus karet dengan menggsokkannya pada kertas yang tidak terpakai dan gunakan alas kertas ketika tangan menggambar dan menyentuh bagian yang tidak sedang dikerjakan tetapi sudah ada goresan pensilnya. Upaya ini adalah untuk tetap menjaga kebersihan gambar. 136
    • Gambar 136. Goresan- goresan pensil cat air dan pensil warna biasa. 137
    • Pensil berwarna agak berbeda dengan kedua jenis pensil hitam sebelumnya, karena diproduksi tidak berdasar tingkatan kualitas tetapi berdasar jumlah warna. Seiring dengan perkembangan teknologi, pensil berwarna ada yang diproduksi sebagai kombinasi dengan cat air dan pastel. Dalam penggunaan pensil cat air, pada awalnya sama dengan penggunaan pensil pada umumnya, hanya untuk proses selanjutnya digunakan kuas cat air basah yang dikuaskan di atas goresan pensil dan goresan tersebut akan mencair sehingga warnanya memiliki karakter Selanjutnya perhatikan karya pensil warna dan pensil cat air berikut ini, kenali potensi dan karakter teknik cat air yang digunakannya. Gambar 137. Peman-dangan (sumber: Richard McDaniel) Gambar 138. The Woodstock Office, (sumber: Richard McDaniel). 138
    • sama dengan cat air namun masih terlihat bekas goresan pensilnya. Hal itu menjadi ciri khasnya yang tersendiri. Pensil ini sangat praktis digunakan untuk membuat karya out door karena tidak banyak memerlukan perlengkapan sebagaimana halnya melukis menggunakan bahan cat minyak. Kelemahan pensil berwarna biasa maupun pensil cat air adalah warna-warna yang dihasilkan tidak cemerlang seperti halnya warna yang dihasilkan pastel atau perwarna lainnya. Perhatikan gambar 137 dan 138, warna pensil cat air pada gambar pemandangan tersebut nampak lembut, goresannya pun tidak dapat ’garang’ sebagaimana halnya goresan cat minyak, akrilik dan pastel. Untuk melindungi agar awet, gambar yang telah dihasilkan perlu diberi pelapis fixatif. Pelapis ini ada dua jenis kemasan yaitu dalam bentuk spray dapat langsung disemprotkan dan yang dalam botol harus menggunakan kuas. Tugas: Untuk lebih dapat menhayati tentang cara penggunaan pensil, lakukanlah latihan berikut ini. Ambilah selembar yertas kemudian buatlah goresan-goresan berupa garis dan blok dengan berbagai variasinya dengan menggunakan jenis pensil H dan B. Perhatikan perbedaan efeknya dan potensi artistiknya. Setelah selesai ambil lembar yertas yang lain gunakan pensil berwarna untuk membuat goresan-goresan seperti sebelumnya. Perhatikan hasilnya dan amati perbedaan efeknya! 3. Pastel Pastel adalah media menyerupai kapur tulis tetapi dibuat dengan pigmen warna dicampur dengan zat pengikat berupa resin dan plaster. 139
    • Bahan ini dicampur, dibuat pasta kemudian dibentuk batangan lalu dikeringkan. Kualitas pastel tergantung dari komposisi bahannya. Pastel dengan warna cerah biasanya bahan plasternya sedikit, karena bahan ini berfungsi untuk mengurangi cerahnya pigmen warna. Pigmen warna cerah disebabkan oleh tingginya konsentrasi (extract) pigmen yang dibuat dari dedadunan, bagian tertentu binatang (tulang, lemak), dan bahan sintetis. Baik buruknya kualitas pastel maupun bahan pewarna lainnya sangat tergantung pada daya tahannya terhadap sinar. Artinya, warna tidak cepat berubah jika terkena sinar matahari langsung, tidak pecah, tidak berubah dalam jangka waktu panjang. Hal ini penting diperhatikan karena akan mempengaruhi pula kualitas karya. Selain berbentuk kapur tulis, pada saat ini diproduksi pastel dalam bentuk pensil, namun di Indonesia belum banyak beredar. Derajat kekerasan pastel ditentukan oleh komposisi bahannya. Pastel yang keras dan tidak mudah patah disebabkan karena banyak mengandung bahan pengikat, sedangkan pastel yang mudah patah mengandung sedikit pengikat. Pada saat ini ada dua jenis pastel dalam kemasan yang dapat dijumpai di pasaran yaitu pastel kapur dan pastel minyak. Pastel kapur sangat mudah patah dan hasil goresannya pun mudah rontok. Oleh sebab itulah kertas yang digunakan untuk menggambar dan melukis dengan pastel yang dipilih memiliki tekstur kasar untuk menahan warna pastel sehingga tidak mudah rontok. Namur demikian keistimewaan warna pastel kapur yaitu powdery kesan khas warna kapur. Sebaliknya pastel minyak lebih kuat daya lekatnya karena mengandung pengikat minyak. Oleh sebab itu goresannya pun berkesan seperti cat minyak. Di dalam penggunaannya, pastel dapat diterapkan dengan membuat garis atau arsiran dan dikombinasi blok tipis atau sebaliknya dengan blok yang tebal menutup permukaan kertas. Menggunakan pastel perlu didukung peralatan dan bahan lainnya seperti alat peruncing untuk mendapatkan ujung runcing ketika membuat garis atau bagian yang kecil. Peruncing pastek dapat menggunakan amril yang dilekatkan pada papan atau menggunakan peruncing pensil. Untuk pastel kapur dapat meng- gunakan karet penghapus yang lembut untuk memperbaiki kesalahan atau membuat efek lighting dalam menggambar benda-benda yang mengkilat. Sedang untuk pastel minyak, jika ada kesalahan dalam penerapan warnanya dapat ditumpang dengan warna yang lain, dan jika warnanya tebal dapat dikerok dengan pisau ‘cutter’. Percampuran warna dapat dilakukan langsung di atas kertas dengan menggosokkan kain atau jari, atau alat lainnya seperti kuas, kapas, dan tisu. Pencampuran dapat pula dilakukan di luar kertas dengan membuatnya menjadi serbuk terlebih dahulu, lalu serbuk tersebut dicampur hingga menjadi homogen sebelum digunakan. Apabila batang pastel sudah kotor, bersihkan dengan menggunakan kain. 140
    • Gambar 139: Menggosok pastel dengan tisu atau kain halus agar mendapat kesan halus dan warna tercampur (sumber : Stan Smith). Pastel yang telah pendek dan sulit untuk menggunakannya dapat di daur ulang, kumpulkan warna yang sejenis kemudian tumbuk hingga halus, kemudian dicampur dengan bahan perekat dari getah (gum) lalu dibentuk dengan mencetaknya. Selanjutnya pastel daur ulang tersebut dapat digunakan setelah dikeringkan beberapa hari. Amati kedua karya seni lukis ini dengan menggunakan pastel! Bagaimana pelukisnya mengunakan karakter pastel ? Perhatikan kesan teksturnya, apakah ada perbedaan a b Gambar 140. Karya-karya seni lukis dengan bahan dan teknik pastel dan tema gadis : (a) Wardoyo, pastel minyak, (b) Basuki Abdulah, pastel kapur . 141
    • Perhatikan goresan-goresan pastel kapur dan minyak berikut ini ! Bagaimana potensi pastel dapat digunakan untuk melukis? a b c d Gambar 141. Goresan-Goresan Pastel Perhatikan pula penerapannya ke dalam lukisan berikut 142
    • a b c Gambar 142. (a) Gambar pantai, (b) Gambar sapi, (c) Gambar alam benda, (e) Singa bersayap 143
    • Tugas : Lakukanlah tugas ini untuk mengetahui dengan sebenarnya tentang potensi estetik (keindahan) dari bahan pastel tersebut. Ambil sehelai kertas gambar pastel A4 Gunakan pastel kapur untuk membuat goresan-goresan dengan berbagai variasinya Kembangkan rasa keindahan anda pada waktu membuat goresan Setelah selesai, ambil yertas gambar pastel yang lain dan gunakan pastel minyak untuk membuat goresan sama dengan prosedur sebelumnya. Perhatikan dalam membuat goresan tidak harus selalu berupa garis, dapat pula berupa blok dan dalam membuatnya dapat menggunakan alat bantu seperti alat gosok ‘torchon’, yertas kain dan sebagainya. Perhatikan pula contoh-contoh sebagai acuan 4. Tinta Tinta merupakan salah satu bahan yang sudah tua usianya guna membuat karya seni rupa . Pada abad pertengahan, di Cina, India, Jepang dan Eropa tinta sudah digunakan untuk berbagai keperluan, seperti menulis surat dan menggambar. Pada saat ini tinta gambar dibuat dari pigmen warna, shellac dicampur air, sedang pada jaman dahulu tinta hitam dibuat dari campuran jelaga dengan lem dan sejenis cuka. Dengan berkembangnya teknologi, tinta tidak lagi hanya hitam, sekarang banyak dijual tinta dengan warna-warni. Secara tradisional, dalam penggunaan tinta memerlukan alat berupa pena dan kuas. Pena tidak hanya berupa pena standar yang dibuat oleh pabrik untuk menggambar atau menulis, tetapi dapat pula menggunakan pena buatan tangan dari bambu, tangkai bulu unggas, kayu atau bahan lain dengan maksud mendapatkan variasi 144
    • garis yang artistik. Perhatikan potensi tinta dengan menggunakan pena logam dalam membuat sketsa dan gambar hitam putih (gb. 143 dan 144) Perhatikan karya berikut ini, bagaimana ketrampilan pembuatnya menggunakan alat pena, kuas dan bahan tinta. Kemudian lakukan latihan membuat goresan dengan tinta dan menyusun bentuk dan garis dengan tonasi dari terang ke gelap, amati dan rasakan potensi keindahannya! a Dua buah karya hitam putih ini memiliki kekuatan pada penggunaan siluet serta tone hitam putih dalam menggambarkan background dan foreground. Pada gambar (a) ada tonasi yang mengesankan areal perspektif, sedangkan pada gambar (b) hanya siluet tetapi dengan karakter bentuk yang tepat dan mengesakan sua- sana senja hari. b Gambar 143. (a dan b) Gambar suasana hanya dengan tinta hitam (sumber:Burne Hogart) 145
    • Ada beberapa istilah untuk menunjukkan kualitas ketahanan tinta yakni permanent, lightfast, archival. Istilah permanent menunjukkan bahwa tinta tersebut tahan lama setelah berkali-kali dicuci, lightfast berarti tinta tersebut tahan lama untuk tidak luntur jika sering terkena sinar matahari langsung. Archival merupakan tinta atau material lain dengan daya tahan yang amat tinggi sehingga kuat berabad-abad lamanya. Ada istilah lain untuk tinta yaitu waterproof menunjukkan bahwa tinta tersebut tidak dapat cair kembali jika terkena air, sedang non- waterproof dapat cair kembali jika diberi air dengan kuas basah, berarti gambar dapat diubah atau diperbaiki. Sifatnya lebih luwes jika digunakan untuk menggambar atau melukis. Tinta waterproof baik digunakan untuk kontur sehingga jika menggunakan warna lain tidak berubah bentuknya. Jenis tinta ini banyak digunakan pada lukisan tradisional Bali. Gambar 144. I Ketut Mara, Seorang Dewi (Sumber: Koleksi P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta). 146
    • Tugas Latihan Agar lebih memehami tentang bentuk, lakukanlah latihan berikut. Dengan pesil hitam buatlah skesta bentuk binatang dan bentuk tumbuhan dengan tepat. Setelah bentuk digambar dengan tepat beri kontur dengan tinta hitam. Selanjutnya bentuk-bentuk diblok penuh dengan tinta hitam. Tugas selanjutnya buat gambar yang sama dengan tambahan tonasi obyek sebagai latar belakangnya. Gunakan contoh gambar sebagai acuan. 5. Cat Air Cat air adalah media seni rupa yang memiliki sifat khusus yaitu tembus pandang / transparan. Apabila terjadi susunan warna tumpang tindih maka warna yang tertindih tidak tertutup sepenuhnya. Bahkan dari garis tumpang tindih itu menimbulkan efek warna campurannya. Cat air menggunakan air sebagai medium pengencernya sehingga tidak dapat digunakan di atas kanvas cat minyak. Kertas yang digunakan sebaiknya khusus untuk cat air, karena daya serapnya telah disesuaikan dengan sifat cat air yang harus banyak menggunakan air dalam penggunaannya. Cat air tidak digunakan untuk pewarna yang tebal dan pekat, karena jika digunakan secara tebal dan pekat pengeringannya lama dan ke- mungkinan merusak kertas jika tertempel dengan kertas atau benda lain. Pada waktu mengeluarkannya tidak boleh diambil dengan kuas yang basah langsung dari tubenya, sebab jika air masuk ke dalam tube warna di dalam akan menjadi keras dan tidak dapat dikeluarkan. Dalam menggunakannya keluarkanlah warna cat air secukupnya di atas palet cat air. Kemudian tetesi air secukupnya dan aduk sampai rata baru dapat digunakan dengan menguaskan di atas kertas. 147
    • Dalam penggunaannya cat air harus 'sekali gores jadi’ dan tidak bisa diperbaiki kembali jika ada kesalahan. Oleh sebab itu penggunaan cat air harus betul-betul cermat, penuh konsentrasi dan berhati-hati. Sebelum menerapkan warna, sebaiknya kertas dibersihkan dahulu dengan menggunakan kapas atau tisu lembab dengan cara mengusapkannya di permukaan kertas dengan lembut dan hati-hati agar kertas tidak luka. Kapas atau tisu jangan terlalu basah karena dapat menyebabkan kertas bergelombang. Pembersihan ini penting dilakukan untuk menghilangkan kotoran-kotoran pada permukaan kertas yang dapat mengganggu penyerapan warna yang digunakan. Teknik pewarnaan dengan cat air biasanya mulai dari warna tipis dan ringan kemudian secara perlahan diberikan tonasinya ke warna yang lebih kuat. Cat yang masih basah tidak dapat segera ditindih dengan warna lain karena warna akan bercampur dan nampak kotor, untuk itu harus ditunggu sampai warna setengah kering. Perhatikan karya pada gambar (145 a dan b), yang pertama hanya menggunakan hitam putih, tetapi kemampuan teknik menggunakan cat air atau tinta yang menggunakan media air sangat piawai. Kesan suasana berkabut dengan air terjun berwarna putih sangat sulit didapat jika tidak sering latihan pengunaannya secara spontan. Kedua pada gambar (145 b) penggunaan cat air berwarna juga tidak kalah piawinya dengan teknik hitam putih. Tidaklah mudah membuat goresan spontan yang menggambarkan wujud realistik , namun pada gambar atau lukisan ini penggambaran pohon bunga dan burung secara spontan dapat dicapai dengan sempurna. Perhatikan bentuk dan warna daun, bunga, dan burung dan gerakannya, semuanya sangat ’pantas’ dan dikerjakan dengan sempurna. Bagaimana pelukis Cina dapat menggunakan teknik cat air demikian sempurna? Latihan dan kebiasaan merupakan kunci utamanya karena masyarakat Cina menulis dengan menggunakan kuas dan tinta. Jadi, kalau senimannya melukis tidak ada hambatan teknis. Oleh sebab itu jika ingin berhasil melukis dengan teknik cat air tidak ada lain kuncinya adalah latihan dan latihan terus menerus sehingga dapat dikuasai karakter cat air tersebut, diketahui kelebihan dan keterbatasan- nya. Selain cat air, ada bahan cat yang sejenis disebut tempera dan sifatnya juga transparan. Namur pada saat ini jarang digunakan dan di toko pun sulit diketemukan. Pada zaman Renaissance tempera banyak digunakan sebelum diketemukan cat minyak. Tempera terbuat dari serbuk pigment warna dengan médium pengencer air murni dan zat Amati karya cat air berikut diskusikan dengan teman mengenai teknik yang digunakan dan bagaimana pula proses pengerjaannya. Amati efek cat air yang menjadi ciri khasnya. Kemudian coba menirunya, untuk mengetahui tekniknya, lalu coba membuat gambar tentang lingkunganmu dengan teknik yang sama 148
    • a b Gambar 145. Lukisan klasik Cina dengan ciri khas goresan yang spontan, transparan sebagai ciri khasnya (sumber: (a,b) Koleksi Presiden Soekarno 149
    • a b d c Gambar 146. Goresan-goresan cat air perekatnya menggunakan kuning telur. Namur saat ini tela hada cat tempera yang diproduksi secara sintetis, ada médium pencairnya menggunakan air, ada pula tempera pengencernya menggunakan terpentin. Untuk itu perhatikan labelnya, jira ada label “O-W” (oil-water) berarti tempera tersebut dicairkan dengan air, apabila ada label “W-O” (water-oil) berarti pengencernya menggunakan terpentin. Dalam pengunaannya, tempera digunakan tipis, jika digunakan terlalu tebal setelah kering dapat mengelupas. Tempera efektif digunakan pada kanvas dengan cat dasar gesso dengan permukaan yang halus. Cat tempera memungkin digunakan dengan berbagai variasi teknik seperti 150
    • cipratan, transparan, atau dengan dikerok untuk mendapatkan warna yang semula. Jadi lebih luwes dibandingkan cata ir. Tugas : Untuk menghayati karakter cat air lakukanlah latihan berikut ini : Ambil selembar kertas cat air ukuran A4, bersihkan dengan kapas lembab. Keluarkan beberapa jenis warna cat air dari tubenya, beri air dan aduk sampai rata. Dengan kuas cat air berbagai ukuran buatlah percobaan goresan-goresan dengan berbagai variasinya. Setelah selesai cermati hasil goresan itu, kenali efek-efek yang baik dari goresan cat air tersebut 6. Cat Poster Cat poster tergolong jenis cat air karena untuk medium pengencernya menggunakan air. Cat ini berbeda dengan cat air biasa karena sifatnya yang cepat kering dan dapat digunakan seperti cat minyak yakni teknik penggunaannya dengan wama pekat karena tidak banyak menggunakan air. Cat ini cepat kering, oleh karena itu warna awal dapat segera ditumpang dengan warna berikutnya. Sifat lainnya adalah wamanya datar dan rata maka selain dapat digunakan dengan teknik brush stroke yang ekspresif atau untuk gambar dekoratif yang memerlukan warna-warna rata dan datar. Kelemahan warna ini tidak baik digunakan terlalu tebal karena ketika kering cepat pecah dan rontok. Selain itu jika warna yang sudah diterapkan kena percikan air akan menjadi tidak rata. Sesuai dengan namanya, cat ini sangat baik untuk menggambar atau melukis poster dengan goresan-goresan kuas yang kuat dan tegas sebagai ciri khasnya. Kelemahan lainnya yang cukup unik adalah binatang lalat senang dengan warna ini, jika tidak waspada menyimpan gambar dapat rusak karena dimakan olehnya. Coba perhatikan karya cat poster berikut, diskusikan dengan teman bagaimana pembuatnya menggunakan cat poster dapat menghasilkan karya yang baik 151
    • a b c Gambar 147 . (a dan b) Goresan cat poster, (c) Karya I Ketut Mara mahasiswa D III Guru Kesenian PPPG Kesenian Yogyakarta, 1987 152
    • Tugas Latihan Sebelum membuat karya yang sebenarnya lakukanlah latihan berikut ini untuk mengetahui karakter dan cara menggunakan cat poster yang sesungguhnya: Gunakanlah kertas gambar biasa Keluarkan beberapa warna cat poster dari tube seperlunya dan taruh di atas palet cat air Beri sedikit air dan aduk sampai rata Gunakan kuas cat air atau cat minyak buatlah eksperimen goresan dalam berbagai variasinya Cari kemungkinan dari cat poster itu, coba bandingkan hasil campuran air yang banyak dan sedikit, bagaimana pula warnanya yang tumpang-tindih Gunakan contoh di atas sebagai acuan 7. Cat Akrilik Cat akrilik tergolong cat baru karena diciptakan dan diproduksi beberapa puluh tahun yang lalu. Cat ini dibuat dengan bahan pigmen sintetik yaitu polyvinyl accetate (plastik). Cat ini juga termasuk keluarga cat air. Dalam penggunaannya dapat menggunakan air sebagai pengencernya dan dapat juga digunakan secara langsung dari tubenya, seperti menggunakan cat minyak atau dengan kuas dan 'air brush'. Selain dikuaskan dengan tebal, cat akrilik dapat juga digunakan secara tipis seperti cat air. Cat akrilik sangat cepat kering. Oleh sebab itu, kuas yang digunakan harus cepat dimasukkan ke air. Jika tidak kuas akan menjadi rusak karena warna yang ada pada kuas mengering sulit untuk dibersihkan. 153
    • Gambar 148. Goresan cat akrilik. Perhatikan karya berikut yang dibuat dengan media akrilik apakah anda sudah pernah menggunakannya ? Apa keistimewaannya ? Gambar 149. Nelayan, karya I Ketut Marra mahasiswa DIII Guru Kesenian PPPG Kesenian Yogyakarta 1987. Perhatikan ! Gunakan contoh di atas sebagai acuan, kemudian lakukanlah latihan membuat goresan cat akrilik dengan kuas. Amati hasilnya, kenali efek-efek yang indah, kenapa sampai bisa demikian ? 154
    • 8. Cat Minyak Penggunaan cat minyak untuk membuat lukisan sudah dimulai ratusan tahun yang lalu, diawali oleh Jan Van Eyck dari Belanda. Selanjutnya penggunaan cat minyak meluas karena memberikan keleluasaan kepada para pelukis untuk mengungkapkan idenya serta kualitasnya yang melebihi media sebelumnya. Cat minyak dapat digunakan untuk menggambarkan ilusi keruangan dengan memainkan gelap terang dari benda yang digambarkan. Pada awal penggunaanya cat minyak diterapkan di atas panel, kemudian disadari bahwa panel kurang fleksibel dan sulit untuk dibawa ke mana-mana. Lalu ditemukanlah kanvas yang terbuat dari kain yang dapat digulung sehingga lebih mudah untuk dibawa pergi terutarna jika pelukisnya ingin bekerja di luar ruangan (out door), misalnya melukis pemandangan. Sesuai dengan namanya, dalam penggunaannya cat minyak memerlukan minyak khusus untuk mencairkannya dan daya keringnya sangat lambat. Cat minyak terdiri dari bahan pigment, minyak dari tumbuh-tumbuhan, dan terpentin. Pigmen warna adalah bahan warna berupa serbuk alami, atau sintetis. Pigmen warna berasal dari mineral (tanah), tumbuh-tumbuhan, dan binatang tertentu, akan tetapi saat ini kebanyakan yang digunakan adalah bahan sintetis yang berasal dari bagian industri bahan bakar minyak bumi. Kualitas cat minyak ditentukan oleh kehalusan dan kepekatan pigmennya yang dicampur dengan minyak. Setiap pigmen memiliki karakteristik tingkat kekeringan dan stabiltasnya jika terkena sinar matahari langsung. Ada beberapa pigmen yang memiliki karakter, khususnya warna putih. Titanium wahite misalnya memiliki sifat menutup cat sebelumya dan dapat mempermuda warna lainnya. Zinc white adalah untuk mendapatkan efek transparan, Lead white memiliki karakter stabil dan elastis. Oleh sebab itu untuk membersihkan kuas dan palet setelah selesai bekerja, terlebih dahulu menggunakan minyak tanah atau terpentin, selanjutnya baru dicuci dengan air dan sabun. Alat dan bahan bantu 155
    • menggunakan cat minyak relatif lebih banyak dibandingkan menggunakan media lainnya. Kuas yang digunakan adalah kuas khusus cat minyak yang dalam satu setnya terdiri kurang lebih kuas nomor 1 hingga 12, disamping kuas khusus untuk mengerjakan bagian-bagian tertentu dari lukisan yang dibuat. Keistimewaan cat minyak adalah tahan terhadap perubahan cuaca sehingga karya lukisan yang menggunakan cat minyak dapat bertahan berabad-abad. Dalam perkembangan penggunaannya, cat minyak dapat ditorehkan langsung dari tubenya ke atas kanvas guna keperluan ekspresi yang ingin diungkapkan oleh pelukisnya. Kelemahan cat minyak adalah baunya yang sangat kuat dan menyebabkan udara dalam ruangan menjadi pengap. Oleh karena itu, untuk menjaga kesehatan diperlukan ruang khusus untuk bekerja dengan ventilasi yang dapat mengatur sirkulasi udara dengan baik. Selain itu kelemahan cat minyak ketika telah menjadi lukisan adalah tidak tahan terhadap kelembaban. Untuk menghindarinya, apabila lukisan digantung di tembok harus ada celah antara tembok dan lukisan. Maksudnya adalah untuk memberikan sirkulasi udara di belakang lukisan, sehingga lukisan terhindar dari kelembaban. Ada beberapa tanda terjadinya kerusakan pada lukisan cat minyak yaitu retak, keriput, kering, berjamur. Cat lukisan dapat retak jika kualitas cat minyak kurang baik, perubahan cuaca yang ekstrim, tidak stabilnya percampuran pigmen dan minyak. Keriput dapat disebabkan karena kesalah dalam percampuran warna, atau ada unsur lain yang tercampur seperti air. Warna lukisan dapat kering disebabkan oleh tidak ratanya cat dasar pada kanvas, sehingga bagian yang tipis dapat menyerap minyak pada cat yang digunakan. Lukisan dapat berjamur jika menempel pada diding lembab dalam waktu yang lama. Tugas Latihan : Untuk mengetahui karakter dan potensi cat minyak yang sesungguhnya lakukanlah latihan berikut ini : Ambilah sebidang kanvas cat minyak 30x 30 cm, taruh di atas meja atau standar lukis Keluarkan beberapa warna cat minyak dari tubenya di atas palet Keluarkan pula minyak cat seperlunya dalam wadah yang disediakan Dengan kuas ambilah minyak cat itu dan cairkanlah warna- warna, mulailah mencoba membuat goresan dengan kuas di atas kanvas. Bebaskanlah perasaan, lakukanlah percobaan dengan berbagai variasi arah dan ketebalan goresan, buatlah pula warna-warna yang tumpang tindih kembangkan kemampuan untuk menguasai teknik penggunaan cat minyak. 156
    • Selanjutnya pada kanvas yang lain gunakan cat minyak untuk membuat bentuk-bentuk dengan ilusi tiga dimensi. Untuk latihan ini fokuskan perhatian pada teknik pembuatan gelap terang. Perhatikan contoh sebagai acuan. Gambar 150. Goresan-goresan cat minyak PerhatikannIah karya-karya yang menggunakan cat minyak berikut ini, bagaimana potensi cat minyak digunakan membuat karya seni rupa berupa lukisan realis? Gambar 151. Dullah, Tentara Pendudukan (sumber: Koleksi Presiden Soekarno) 157
    • a Gambar 152. (a) Omar, Hendak Mencuci, (b) Soedjojono, Di Balik Kelambu, (sumber: Koleksi Presiden Soekarno b B. Media Campuran Seni Rupa Dua Dimesional Media campuran sering disebut mixed media. Maksud dari istilah ini adalah menujukan kepada penggunaan kombinasi lebih dari satu bahan seni rupa dua dimensional, misalnya cat air dikombinasi dengan pastel, pensil dikombinasi dengan pastel dan seterusnya. Penggunaan media campuran tujuannya tidak lain untuk mendapatkan efek-efek artistik yang tidak didapatkan dalam penggunaan media tunggal. Media campuran sangat menantang karena menggabungkan sifat media yang berbeda, seperti cat minyak dengan cat akrilik, cat minyak menggunakan minyak sebagai medium pengencernya, sedang cat akrilik menggunakan air; dua medium ini sangat kontras. Namun jika dari sifat kontras tersebut dapat dikendalikan efeknya, maka akan mendapatkan karya yang artistik dan 158
    • unik. Hal yang penting untuk dipertimbangkan adalah prosedurnya, medium yang mana didahulukan, karena hal ini menentukan efek yang ditimbulkannya. Misalnya, cat akrilik lebih dahulu diterapkan karena sifatnya cepat kering dan dapat digunakan membuat efek tekstur. Setelah kering diterapkan cat minyak, kemudian sebelum kering disapu dengan lap maka dapat menimbulkan efek tekstur yang menarik sesuai dengan pembentukan awalnya perupa tonjolan-tonjolan warna akrilik yang tebal. Media akrilik sangat fleksibel karena dapat dikombinasi dengan berbagai media seperti pastel, pensil, tinta, arang, atau untuk mendapatkan efek tekstur yang unik dapat dicampur dengan serbuk gergaji, pasir dan material lainnya. a b c d Gambar 153. Goresan- goresan campuran pensil dan pastel 159
    • Penggunaan cat air juga dapat dicampur dengan media lain seperti pastel,akrilik, pensil hitam, pensil warna, atau media kering lainnya. Prosedurnya dapat bolak-balik, masksudnya dapat cat air lebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan media lainnya. Misalnya, untuk membuat efek tekstur terlebih dahulu digunakan pastel minyak, selanjutnya diterapkan cat air. Oleh karena pastel mengandung minyak, maka ketika cat air dikuaskan warna pastel tidak hilang oleh warna cat air dengan demikian tekstur dapat tercipta oleh goresan-goresan pastel. Selain dengan pastel minyak, cat air dapat dikombinasi dengan pensil, tinta, akrilik dan cat minyak. Jadi pada dasarnya seluruh material untuk seni rupa dua dimensi dapat dicampur atau dikombinasi penggunaanya dalam menciptakan karya seni rupa. C. Bahan dan Alat Seni Rupa Tiga Dimensional Pada bab sebelumnya telah disinggung sedikit mengenai seni rupa tiga dimensional. Pada bab ini akan dibahas lebih jauh tentang alat, bahan seni rupa tiga dimensional dengan tujuan agar setiap siswa memahami potensinya dan dapat mengembangkan kepekaan estetik sebagai dasar untuk membuat karya tiga dimensional selanjutnya. Oleh sebab itu di dalam latihan penekanannya bukan membuat karya seni rupa yang sesungguhmya, tetapi sifatnya lebih kepada eksplorasi ter- hadap unsur seni rupa terutama unsur wujud dan sifat bahan yang digunakan. Dalam pembahasan alat dan bahan seni rupa tiga dimen- sional ini karena penekanannya bukan membuat karya seni tiga dimensi yang sesungguhnya, dan kecenderungannya lebih kepada pemahaman karakter unsur seni rupa tiga dimensional melalui eksplorasi terhadap kualitas bahan untuk mendapatkan kualitas artistiknya. Seni rupa dua dimensional hanya terdiri dari dimensi panjang dan lebar, sedangkan seni rupa tiga dimensional ditambah dengan ketebalan. Kalau kita cermati sebenarnya kita hidup berada di dalam ruang. Apa yang ada di sekitar kita bukan gambar pipih yang hanya memiliki panjang dan lebar, tetapi ruang yang memiliki kedalaman dan ujud yang memiliki panjang, lebar dan ketebalan atau volume. Oleh karena itu, untuk membuat karya seni rupa tiga dimensional, seorang perupa harus mampu berimajinasi tentang ujud dari setiap arah dan sisi benda yang akan dibuat. Sebelum melaksanakan praktek untuk membuat karya seni rupa tiga dimensional perlu mengenal terlebih dahulu karakter beberapa bahan dan alat yang digunakan. 160
    • Untuk eksplorasi wujud tiga dimensional ada beberapa jenis bahan dan alat. Bahan-bahan tersebut dikategorikan menjadi tiga, yakni : bahan lunak, bahan liat, dan bahan keras. Semua bahan itu memiliki ka- rakternya masing-masing dan harus diketahui oleh perupa dan kriyawan. Namun pada praktek ini, dan mengingat beberapa keter-batasan, tidak semua bahan sempat digunakan. 1. Bahan Lunak Kertas, karton, gabus dan styrofoam termasuk bahan lunak. Bahan-bahan ini relatif mudah didapat dan membentuknya dapat dengan alat yang sederhana seperti pisau, silet dan gunting. Bahkan tanpa alatpun, kertas dapat dilipat langsung dengan tangan tanpa bantuan alat yang lain. Latihan dengan bahan lunak ini lebih banyak menggunakan bahan karton. Jenis karton cukup banyak, namun untuk latihan dengan teknik potong dan toreh gunakanlah karton yang kaku agar bentuk yang dibuat tidak mudah melengkung. Untuk teknik melipat, karton tebal dan kaku tidak baik digunakan karena sulit dilipat. Walaupun dapat digunakan tetapi hasilnya kurang baik. Bagi pemula karton dan styrofoam sangat baik digunakan untuk latihan memahami seni rupa tiga dimensional. Untuk styrofoam, agar mendapatkan hasil potongan yang baik, perlu menggunakan alat khusus yang dapat dibeli di toko dan harganya pun tidak terlalu mahal. Apabila menggunakan pisau kadang-kadang hasil potongan kurang baik 2. Bahan Liat Bahan liat ada beberapa jenis, seperti tanah liat, gips, plastisin dan lilin. Dalam latihan ini digunakan bahan tanah liat yang mudah didapat karena hampir ada di seluruh tempat, hanya pengolahannya perlu ditingkatkan kualitasnya.Tanah liat ada beberapa jenis, yaitu : Earthen- ware, stoneware, raku dan porselin. Tanah liat sangat mudah dibentuk. Untuk itu ada beberapa teknik dasar dalam pembentukannya dan memiliki cirinya masing-masing. Hal ini dibahas dalam bab V. Earthenware pada umumnya dikenal berwarna merah, namun ada juga yang berwarna putih. Jenis tanah liat ini paling banyak digunakan karena mudah mendapatkannya. Untuk pembakaran dengan tungku diperlukan panas 1000ºC, dan untuk mengglasirnya diperlukan panas 1040º C - 1160º. 161
    • a b c d Gambar 154. Jenis tanah liat (a) Earthen Ware, (b) Stone Ware, (c) Porselin, (d) Raku Stoneware berbeda dengan earthenware karena memerlukan suhu yang lebih tinggi dalam pembakaran glasirnya, yaitu untuk bakaran biscuit diperlukan panas 1000º C dan untuk glasir 1200-1300º C. Stoneware hasilnya lebih berat dan kuat dibanding earthenware. Efek lebih halus dapat dihasilkan jika menggunakan teknik reduksi dalam pembakarannya. Untuk itu perlu digunakan tungku yang dapat dimatikan dengan seketika. 162
    • Porselin merupakan jenis tanah liat yang sangat halus dan hasilnya keras. kehalusannya hampir seperti glasir jika digunakan untuk memoles tanah liat lainnya dan dibakar dengan suhu bakaran glasir. Porselin memiliki kualitas bening yang tidak dimiliki oleh tanah liat lainnya dan dapat juga dibuat kusam. Sifatnya sangat cepat kering namun masih memungkinkan untuk dibentuk, sekalipun dengan teknik putar. Untuk pembakaran biscuit dibutuhkan panas 1000º C dan untuk glasir 1240 - 1300º C. Bahan raku merupakan jenis tanah liat yang kasar karena mengandung pertikel butiran pasir. Ketika telah menjadi produk bahan raku ini memberikan kesan tekstur seperti batu. Untuk pembakaran biskuit memerlukan temperatur panas lebih rendah dari jenis tanah liat lainnya yaitu sekitar 900º C, sedangkan untuk glasir 800-1000º C. Bahan raku dapat dibakar beberapa kali hingga mendapatkan hasil pembakaran yang diinginkan. Gambar 155. Benda-benda dari bahan eartheware (a) Periuk kuno dari NTT, (b) Kendi dari Zaman Majapahit (sumber: Museum Nasional) 3. Bahan Keras Yang termasuk bahan keras adalah kayu, batu dan logam. Ketiga jenis bahan ini telah digunakan oleh perupa dan kriyawan sejak jaman dahulu untuk membuat karya seni rupa dan kriya. Karena bahan ini sukar dibentuk, maka memerlukan alat-alat khusus seperti alat potong berupa gergaji, gunting, alat pembentuk berupa pahat dan sebagainya. Di antara ketiga bahan itu yang paling banyak peralatannya adalah logam, karena di samping jenis alat di atas dibutuhkan pula peralatan lain, seperti alat penyambung berupa las serta alat pelebur dan pencetak. 163
    • a. Kayu Hampir seluruh kebudayaan masyarakat menggunakan kayu sebagai bahan untuk produk seni rupa dan kriya. Hal ini disebabkan karena, hampir di seluruh penjuru dunia ada kayu. Tingkat kekerasan kayu berbeda-beda, yakni kayu sangat keras, keras, sedang, dan lunak. Hal ini akan menentukan cara pengerjaannya. Kayu sangat keras sangat sulit membentuknya, sedang kayu lunak mudah patah, untuk itu dibutuhkan pengalaman yang cukup untuk mengetahui sifat-sifat kayu termasuk tekstur, serat, dan daya tahannya terhadap perubahan cuaca. Namun demikian, dibanding bahan keras lainnya kayu relatif mudah dibentuk dengan menggunakan alat peraut (pisau), gergaji, pahat, dan ketam dalam membuat benda seni rupa dan kriya seperti patung, mainan anak, peralatan rumah tangga dan sebagainya. Alat utama dan minimal yang harus dimiliki untuk mengerjakan kayu dalam seni rupa adalah pisau raut, dan pahat dengan berbagai jenis dan fungsi serta alat pemukulnya. Dengan kedua jenis alat ini seorang perupa telah dapat membuat produk seni rupa tiga dimensi dengan teknik raut, ukir, dan membentuk. Beberapa hal yang perlu diketahui tentang kondisi kayu adalah faktor kekeringan dan pengawetan, serat, dan mata kayu. Kekeringan dan pengawetan harus menjadi pertimbangan serius dalam mengerjakan produk seni dengan bahan kayu, oleh karena banyak kasus terjadi produk kayu yang diekspor ke luar negeri sering mengalami masalah pecah dan dimakan hama atau ’bubukan’ sehingga kayu menjadi kropos. Faktor kekeringan yang baik adalah kadar air dibawah 12 persen. Jadi bagi perupa yang menggunakan bahan dasar kayu utuk karyanya perlu mempelajari teknologi pengawetan dan pengeringannya dengan baik. Serat kayu ada beberapa macam, dan hal ini perlu juga diketahui sifatnya karena berhubungan dengan cara mengerjakannya. Ada beberapa jenis serat kayu yakni serat lurus dan rapat, serat kasar, dan serat diagonal. Serat kayu lurus dan rapat adalah sangat baik untuk pmembuat produk seni, serat kasar dan serta diagonal memerlukan kehati-hatian dan kesabaran dalam mengerjakannya. Selain serat ada pula bagian lapisan kayu yang dapat digunakan untuk mengetahui mudah dan sulit dalam mengerjakan; lapisan kayu yang warnanya cerah dan lebar menandakan kayu tersebut mudah untuk dikerjakan, sebaliknya lapisan yang gelap lebih keras dan sulit untuk mengerjakannya. Untuk referensi lebih detail tentang sifat kayu lihat dalam Wood Carving Basic tulisan Allan dan Gill Bridgewater. b. Batu Karya seni rupa yang menggunakan batu biasanya dalam wujud patung dan relief. Bahan batu jenisnya bervariasi, ada batu pualam, marmer, onix dan batu kali. Sejak zaman dahulu batu telah digunakan untuk membuat benda-benda yang berhubungan dengan ritual. Pada 164
    • zaman purba batu digunakan untuk alat potong seperti kapak. Hasilnya untuk pemujaan nenek moyang. Belakangan berkembang menjadi wujud lingga dan yoni. Oleh karena bahannya tahan lama menyebabkan karya- karya dengan bahan ini menjadi tidak lekang dimakan jaman, sehingga jejak seni rupa yang menggunakan bahan batu sangat banyak diketemukan. Jenis bahan batu ada beberapa macam, yaitu mamer, onix, batu andesit dan batu paras. Marmer adalah jenis batu yang paling keras sebaliknya batu paras adalah jenis batu yang paling lunak. a b Gambar 156. (a) Patung Dewa Kuwera dengan bahan logam (sumber: Museum Nasional, (b)Patung Penunggang Kuda dari Nias bahan batu. c. Logam Ada beberapa nama bahan logam yang kekerasannya juga bertingkat, yaitu: aluminium, besi, baja, tembaga, perunggu, kuningan, nikel, emas, perak dan platina. Bahan-bahan ini dalarn pembentukannya dapat langsung ditekuk, dikenteng, disambung dengan las maupun harus dicairkan untuk keperluan teknik cor. Bahan logam tahan sangat lama, misalnya perunggu, tembaga, kuningan, perak dan emas yaitu jenis logam yang anti karat, sehingga karya-karya dengan bahan ini dapat tahan berabad-abad dan tidak rusak. Di Indonesia hal ini telah dibuktikan oleh peninggalan seni rupa jaman pra Hindu, jaman Hindu, Budha dan Islam berupa patung, relief, alat upacara dan perhiasan. 165
    • Menyaksikan karya seni atau membuat karya seni, khususnya seni rupa, memerlukan kepekaan persepsi terutama yang berhubungan dengan masalah keindahan atau disebut estetik atau disebut the sense of beauty. Ada tiga cara yang umum untuk melatih kepekaan persepsi penglihatan. Pertama dengan latihan melihat langsung berbagai jenis karya seni rupa. Kedua dengan cara latihan membuat langsung karya seni rupa. Ketiga, dengan membaca ulasan atau keterangan mengenai seni rupa. Pada umumnya orang yang melihat langsung karya seni akan mudah mencerna jika karya seni rupa itu wujudnya realis. Artinya, karya seni rupa itu menggambarkan secara nyata tentang kondisi sesungguhnya dari suatu kenyataan. Namun apabila karya seni rupa itu tampilan wujudnya bukan realis atau bukan mengungkapkan kondisi sesungguhnya dari suatu kenyataan, maka secara umum orang akan mulai merasa tidak dapat puas menikmatinya. Kenapa hal itu dapat terjadi? Hal ini dapat dikiaskan sebagai orang yang belum ‘melek huruf’ lalu disuruh membaca sebuah kata atau kalimat. Orang tersebut tidak dapat mengetahui makna bentuk huruf atau rangkaian huruf yang membentuk kata, atau rangkaian kata yang membentuk kalimat. Begitu pula orang yang pertama kali mendengarkan percakapan bahasa asing tentu apa yang didengarnya hanya merupakan bunyi yang keluar dari orang yang bercakap tanpa diketahui maknanya. Untuk mengetahui dan dapat memahami karya seni rupa yang nampaknya ‘asing’ karena wujudnya tidak menampilkan kenyataan yang sudah dikenal baik, seseorang perlu mengetahui ‘bahasa’ rupa dan propertinya. Bahasa rupa itu disebut unsur-unsur seni rupa dan prinsip pengorganisasiannya. Namun demikian, hal ini belumlah cukup sebab bahasa rupa itu dipahami bukan dengan pengertian nalar atau logika, tetapi dapat dipahami dengan kehalusan perasaan yang berhubungan dengan the sense of beauty. Kepekaan estetik ini sangat penting, terutama bagi orang yang berprofesi dalam bidang seni, karena kepekaan estetik merupakan hal pokok dalam dunia seni. Bagi masyarakat umum juga penting karena hakekat menjadi manusia salah satunya memiliki kebutuhan untuk menikmati keindahan, baik yang ada di alam maupun buatan manusia. Kepekaan estetik tidak mudah didapat, maksudnya tidak secepat menghafal sebuah rumus-rumus kimia atau matematik atau per- bendaharaan kata. Kepekaan didapat dengan mengasah setiap saat.
    • Orang yang hidup di lingkungan masyarakat seni akan lebih cepat memiliki kepekaan estetik dibanding yang tinggal terpencil dari pusat budaya dan seni. Namun demikian, setiap orang memilikinya, karena hal ini telah ada dan dibawa sejak lahir. Selain itu kenyataan telah membuktikan, bahwa masyarakat yang masih terbelakang pun dalam peradaban ini dapat menghasilkan karya seni. Berarti secara naluriah manusia memang membutuhkan seni dalam kehidupannya. Dalam mengasah kepekaan estetik tersebut, dalam seni rupa dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu secara produktif melalui praktek, apresiatif melalui kegiatan analisis karya seni rupa baik langsung maupun melalui mediator, dan melalui alat bantu visual,seperti buku, slide, foto reproduksi dan sebagainya. Perhatikanlah karya-karya seni rupa (gb 157 dan 158) berikut ! a c b Gambar 157 . (a) Bonnet, Pengarit, (b) Basuki Abdulah, Penari Bali, (c) Nyoman Gunarsa, Dua Penari Bali (sumber: (a,b)Koleksi Presiden Soekarno, (c) Foto Agung Suryahadi) Dari enam jenis karya seni rupa di atas ini semuanya memberikan kesan ‘rasa’ yang berbeda. Perhatikan gambar (157 a, b dan c), begitu pula gambar patung (158 a,b,c). Dapatkah diungkapkan perasaan atau kesan apa yang disampaikan oleh masing-masing karya seni rupa tersebut? Setiap orang akan memberikan ungkapan yang berbeda, hal ini tergantung dari kemampuan kepekaan persepsi visual seseorang dalam ‘mencerna’ unsur-unsur yang ada dalam karya itu, yang juga dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman setiap individu dalam intensitasnya ‘bergaul’ dengan karya seni rupa. Agar dapat efektif mengasah kepekaan 167
    • persepsi visual yang berhubungan dengan estetik, pembahasan unsur- unsur seni rupa disajikan melalui teori dan praktek. a b c Gambar 158. (a) Ratu dan putrinya, karya patung zaman Mesir Kuno (b) Thorn Puller, karya patung zaman Helenistik, (c) Nyoman Nuarta (sumber: (a,b) Paul Zelanski, (c) Indonesian Heritage). A. Unsur Seni Rupa 1. Unsur Garis Garis adalah salah satu unsur seni rupa yang paling pokok, sebab garis merupakan unsur rupa yang ada dimana-mana. Untuk lebih memahami tentang garis coba perhatikan bagian tepi sebuah benda, perhatikan jejak yang ditinggalkan oleh binatang melata di atas tanah berdebu, batas pandangan di laut lepas, tiang listrik, cabang pohon, kilat yang menyambar, retak pada tembok. Setelah itu dapatkah anda mernahami apakah garis itu ? Perhatikanlah bentuk-bentuk di bawah ini ? a b c d e Gambar 159 . Unsur seni rupa: bentuk (a,b) dan garis (c,d,e) 168
    • Perhatikanlah bentuk a dan b, apa yang menyebabkan bentuk itu berbeda? Lihat pula garis-garis yang ada di sebelahnya, cermati satu persatu, bagaimana perasaan anda melihat setiap garis itu ? Pada dasarnyaya garis itu hanya ada dua, yaitu garis lurus dan garis lengkung. Garis-garis lainnya merupakan pengembangan dan variasi dari kedua jenis garis tersebut dan menyampaikan karakter yang berbeda. Walaupun garis itu sederhana, ia dapat menyampaikan suatu perasaan dan ini tergantung dari kondisi jenis garis tersebut, yaitu tebal tipisnya, posisi dan arahnya. Sebuah garis lengkung tebal menyampaikan kesan yang berbeda dibanding dengan garis lengkung tipis, apalagi dengan garis lurus dalam posisi yang berbeda tentu akan memberikan kesan yang sangat berbeda dalam perasaan kita. Terwujudnya sebuah bentuk disebabkan karena garis yang membatasi ruang, baik nyata maupun sugestif. Sifat-sifat garis yang membatasi itu menentukan pula sifat bentuk yang dihasilkannya. Oleh sebab itu, keterampilan dalam membuat garis erat hubungannya dengan keterampilan membuat bentuk dengan garis. Penggunaan garis dalam seni rupa tidak hanya pada karya dua dimensional, perhatikanlah (gb. 158 c) karya Nyoman Nuarta. Garis dalam karya itu sangat efektif digunakan dalam membuat patung yang ekspresif. Hampir seluruh wujud patung terbentuk dari garis sehingga patung kelihatan seperti dibalut oleh kain namun memberi ekpresi dinamis oleh karena patung itu seakan bergerak oleh ilusi garis. Sama pula halnya dengan (gb. 157 b dan c). Dalam kedua lukisan tersebut ekspresi garis sangat memegang peran penting dalam menghasilkan lukisan yang bersifat dinamis dan ekspresif. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan garis adalah mengetahui potensi ekspresi garis tersebut. MisaInya jika ingin menyampaikan karakter kuat, berani dan agresif tentu harus meng- gunakan garis yang sesuai untuk itu, misalnya garis tebal, rata, tajam dan halus. Jika ingin menyampaikan suatu sifat yang lembut dan halus gunakanlah garis lengkung tipis dan tak terputus. Namun, perlu diingat bahwa hal itu tidak selalu demikian karena yang lebih menentukan adalah bagaimana perasaan itu dapat diwakili oleh garis yang dibuat. Seorang yang membuat garis dengan perasaan yang terkonsentrasi pada waktu menggoreskannya hasilnya berbeda dengan orang yang hanya sekedar membuat garis. Agar dapat selaras antara gerak perasaan dengan gerak tangan dalam menghasilkan garis yang diinginkan diperlukan latihan dan latihan yang terus menerus. Untuk keperluan itu lihatlah aspek dan sifat beberapa garis di bawah ini, rasakan perbedaan kesan yang disampaikan, kemudian latihlah tangan membuat garis sesuai dengan perasaan yang dikehendaki. 169
    • Tabel 2. Garis dan Kesan Efek Fisiknya No Aspek Variasi Tampilan Kesan Fisik - Kesan kaku, keras, 1. Jenis : - Lurus tajam. - Lengkung - Lembut, empuk, halus - Dinamis mengalun. - Berombak bergerak, menyenang- kan - Zigzag - Kaku, tegang, panas, menakutkan - Menambah berat, 2. Ketebalan: - Tebal berani, kasar, tegas - Tipis - Halus, ringan, ragu - Tak - Lancar, konsisten, 3. Kontinyuitas : Terputus tidak ragu - Tersendat, ragu, - Terputus kurang berani - Titik-Titik - Ritmis, ragu - Tegak Lu- - Kesan tinggi, 4. Arah: me- rus nyempit - Mendatar - Melebar, pendek, te- nang, mati, istirahat - Diagonal - Dinamis, tidak stabil, oleng. 5. Ekspresif - Spontan, berani, segar 170
    • Tugas latihan Perhatikanlah garis-garis berikut ini, gunakanlah sebagai acuan, kemudian latihlah tangan dengan membuat berbagai jenis garis dengan berbagai jenis alat dan bahan seperti pensil, pastel, tinta dan arang. a b e c d f Gambar 160. Berbagai jenis bahan dan teknik membuat garis, hasil latihan peserta Diklat Dasar Seni Rupa/Kekriyaan P4TK Seni dan Budaya Latihan membuat garis selain untuk melancarkan tangan dalam membuat garis juga berlatih mengamati potensi garis, baik keterbatasan maupun kelebihannya. Pada gambar 160 a, garis dibuat dengan tinta dan dengan alat pena, dilakukan ekplorasi tebal tipisnya, serta efek-efek 171
    • visualnya untuk mendapatkan nilai estetiknya. Pada gambar 160 b garis spontan dengan tinta dikombinasi degan warna cat air. Pada gb.160 c, garis dibuat di atas tekstur kasar dengan arah melingkar menuju ke pusat di tengah. Gambar 160 d, garis dibuat dengan pensil tumpang tindih dan membentuk irama bergelombang. Gambar 160 e, garis-garis lengkung dengan variasi arah dan ketebalan memberikan kesan dinamis. Gambar 160 f, garis tidak hanya dapat dibuat dengan alat yang runcing, namun dapat pula memanfaatkan batas tepi kertas dengan teknik arsiran dan gosok. Masih ada banyak kemungkinan lain dalam membuat garis untuk mendapatkan nilai estetik dan ekpresinya, baik dengan media dua dimensional dan tiga dimensional selain itu pada gb. 161 dan 162, garis dapat digunakan untuk membentuk ilusi tiga dimensional. Pada gambar tersebut, arah garis yang disusun secara teratur dan berulang-ulang dapat membentuk ilusi ruang serta gerakan. a b Gambar 161 . Dua gambar dengan hanya menggunakan garis 172
    • a b Gambar 162. Ilusi Garis (sumber: Robert H. McKim) 2. Unsur Ruang Ruang termasuk unsur seni rupa yang pokok. Dengan adanya ruang, maka karya seni rupa dapat dibuat. Ada ruang dua dimensional (bidang) ada pula tiga dimensional. Sebuah titik di atas kertas ada pada ruang datar, sedang kita ada pada ruang berongga. Penggunaan ruang pada permukaan datar menyangkut hubungan antara ruang datar (bidang) latar belakang dengan figur (bentuk). Dalam istilah keruangan hal ini disebut sebagai ruang positif (bentuk) dan ruang negatif, yaitu ruang di belakang atau di sekitar bentuk atau latar belakang. Apabila bentuk datar v(ruang positif) dan latar belakang datar ukurannya sama, dapat menimbulkan bentuk yang simultan dan penglihatan mata kita dipaksa untuk melihat kedua bentuk secara bersamaan. Efek ini dapat menyebabkan mata kelelahan untuk mengidentifikasikannya (gb. 163 b) 173
    • a b Gambar 163. (a) Positif dan negatif, (b) Positif negatif simultan Membuat karya seni rupa pada dasarnya merupakan kegiatan meng- organisasikan ruang positif dan ruang negatif, dalam susunan yang baik interaksi keduanya dapat mencapai harmoni. Dengan diketemukannya perspektif pengorganisasian ruang dalam bidang dua dimensional semakin berkembang, sebab dengan meng- gunakan prinsip perspektif dimungkinkan untuk menggambarkan ilusi ruang dengan kedalaman pada bidang datar. Dalam prinsipnya ada dua jenis perspektif, pertama, benda-benda yang posisinya sejajar semakin menjauh akan kelihatan semakin mengecil menuju kepada titik lenyap pada garis batas pandangan hal ini disebut linear perspektif (gb.164), kedua, benda-benda yang menjauh akan semakin kabur karena pengaruh atmosfer, sedang benda yang dekat terlihat lebih terang dan besar, prinsip ini disebut areal perspektif (gb.162, 163). Penggunaan perspektif sangat penting bagi pelukis naturalis dan realis, kedua jenis perspektif terkadang digunakan secara bersamaan untuk mendapatkan ilusi tiga dimensi lebih efektif. Perhatikan gambar 165 pepohonan semakin jauh semakin mengecil, begitu pula warna semakin jauh semakin melemah intensitasnya. Perhatikan pula gambar berikut ! Bagaimana caranya menggambarkan ilusi ruang ? 174
    • Gambar 164. Ruang positif negatif dengan areal perspektif. Gambar 165. Albert Biersatdt, The Rocky Mountain (sumber: Paul Zelanski) 175
    • Gambar 166 . Jacopo Tintoretto, The Finding of the Body of St Mark ( sumber: Paul Zerlanski) Tugas Latihan Agar mengetahmi potensi ruang yang sesungguhnya lakukanlah latihan belikut ini: Camkanlah tentang perbedaan ruang negatif dan ruang positif Pada kertas gambar A4 susunlah ruang positif secara tumpang tindih dan gunakan tinta hitam sebagai warnanya Dengan kertas yang lain susunan ruang positif dan negatif dalam perbandingan yang sama, gunakan pula tinta hitam sebagai warnanya Perhatikan hasilnya dan cermati hal-hal yang kurang me- muaskan perhatian Gunakan contoh sebagai acuan 176
    • Gambar 167 . Contoh Ruang positif dan negatif karya peserta Diklat Desain Dasar Seni Rupa/Kriya P4TK Seni Budaya 3. Unsur Bentuk Bentuk merupakan salah satu unsur seni rupa yang menentukan keberhasilan sebuah karya seni rupa dan kriya. Namun di samping istilah bentuk ada pula istilah wujud untuk membedakan antara 'image' (2 dimensional) yang memiliki panjang dan lebar pada area yang datar dengan 'image' (3 dimensional) yang memiliki panjang, lebar, dan volume/tebal pada area dengan kedalaman. 177
    • Bagan 1 . Bentuk dan wujud Lihatlah kedua karya ini, dapatkah anda mendapatkan perbedaan dan persamaannya ? a b Gambar 168. (a) Bentuk organik dua dimensi, (b) Bentuk organik tiga dimensi Bentuk ada karena dibatasi oleh garis. Garis yang membatasi bidang menjadikan bentuk dan karakter bentuk itu ditentukan oleh jenis garis yang membatasinya itu. Bentuk yang dibatasi oleh garis lurus karakternya berbeda dengan bentuk yang dibatasi oleh garis lengkung. Pembatasan bidang oleh garis ini menghasilkan dua jenis bentuk yaitu 178
    • bentuk geometris dan bentuk organis (gb.169). Bentuk geometris struktumya teratur misaInya: segitiga, segiempat dan bulat; sedangkan bentuk organis strukturnya tidak teratur dan banyak terdapat pada bentuk-bentuk alami seperti pepohonan, akar, tulang binatang, mahluk di dalam lautan dan sebagainya. a b Bagan 2 . (a) Bentuk organis, (b) Bentuk Selanjutnya perhatikanlah bentuk-bentuk di bawah ini, kesan apa saja yang timbul dalam hati ketika memperhatikannya ? a b Gambar 169. Bentuk dengan ilusi tiga dimensi, (a) Bentuk organis, (b) Bentuk geometris. Dalam seni rupa dua dimensional (nirmana datar) sejak dahulu telah dilakukan upaya untuk menggambarkan ilusi tiga dimensional atau ruang pada bidang datar. Salah satunya adalah dengan cara tumpang tindih 179
    • atau overlapping (gb.169, 170). Kita tahu bahwa bila sesuatu tersusun dalam posisi tumpang tindih maka ada suatu celah di antara bentuk- bentuk tersebut dan celah itu adalah ruang. Cara lain adalah dengan memberikan sinar dan bayangan pada bentuk itu dengan teknik arsiran dan blok (gb. 169,170). Perhatikanlah gambar di bawah ini! Apakah anda dapat melihat adanya perbedaan bentuk dan teknik menggambarkannya ? Gambar 170 . Bentuk-bentuk organis dan ge- ometris bervol- ume, karya pe- serta Diklat Da- sar Seni Rupa/ Kekriyaan. a b d c Pada gambar (a) arsiran untuk memberikan kesan volume diterapkan pada tepi bentuk organis, sedang pada gambar (b) bagian gelap menggunakan teknik blok pada bagian yang tidak atau sedikit kena sinar, Namun pada bentuk geometris dapat juga diterapkan teknik arsiran untuk mendapatkan ilusi tiga dimensional (gb.170a,d). 180
    • 4. Unsur Warna Dalam seni rupa warna sangat esensial, karena penampilan pertama yang diperhatikan orang selain bentuk adalah warna. Warnalah yang menyebabkan kita berhenti sejenak untuk melihat kain yang dijual di sebuah toko, demikian juga war-na menyebabkan kita dapat mengenali sebuah benda. Bagaimana rupa dunia ini jika tidak ada warna ? Lalu apakah warna itu ? a. Teori Warna Ada beberapa pendapat yang mencoba menjelaskan tentang warna, namun yang menonjol dan aplikatif dalam bidang seni rupa adalah teori cahaya dan teori pigmen. Teori cahaya dipelopori oleh Sir Isaac Newton yang mengatakan bahwa warna yang kita Iihat pada suatu benda berasal dari cahaya putih matahari. Hal ini dibuktikannya dengan membiaskan cahaya putih itu dengan prisma kaca (bagan 3 ). Hasil yang keluar dari prisma itu berupa tujuh spektrum warna. Selanjutnya menurut teori itu kita dapat melihat warna sebuah benda karena benda tersebut menyerap dan memantulkan spektrum warna ke mata kita. Bagan 3 . Pembiasan cahaya putih menjadi warna dengan prisma kaca MisaInya kita melihat warna merah suatu benda karena hanya spektrum merah yang dipantulkan, sedang yang lainnya diserap oleh benda tersebut. Jika benda itu kelihatan abu-abu artinya seluruh spektrum dipantulkan setengah, jika kelihatan hitam seluruh spektrum diserap dan apabila putih seluruh spektrum dipantulkan secara penuh. Dalam teori pigmen dinyatakan bahwa warna itu terdapat pada pigmen dan hanya ada tiga jenis warna pokok,yaitu merah, biru dan kuning. Warna-warna itu tidak bisa didapat dengan mencampur, warna- warna tersebut adalah warna murni. Teori ini dipelopori oleh Prang Brewster. Dalam perkembangannya warna dikelompokkan menjadi tiga, 186
    • yakni warna primer, warna sekunder dan warna tertier. Warna primer merupakan warna induk karena warna sekunder didapat dengan mencampur warna-warna primer sedang warna tertier didapat dengan mencampur warna primer dan sekunder. Tiga kelompok warna itu tersusun dalam lingkaran warna dan lingkaran warna tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dasar penggunaan warna. Uraian selanjutnya tentang warna dalam buku ini adalah berdasarkan teori Prang. Lingkaran Warna Bagan 4 . Tint & Shade, dan lingkaran warna Kelompok Warna Nama Warna Warna Primer : Merah, Biru, Kuning Warna Sekunder : Hijau, Jingga, Ungu Warna Tertier : Kuning Jingga, Merah Jingga, Ungu Merah, Ungu Biru, Hijau Biru, Hijau Kuning 187
    • Tugas Latihan Agar dapat memahami percampuran warna lakukan latihan berikut ini : Pada kertas gambar A4 buatlah sebuah lingkaran dan bagi lingkaran itu menjadi dua belas bagian yang sama. Tentukan bagian paling atas sebagai ruang warna kuning, kemudian searah jarum jam adalah berturut-turut warna kuning jingga, jingga, merah jingga, merah, ungu merah, ungu, biru ungu, biru, hijau biru, hijau dan hijau kuning. Selanjutnya isilah ruang-ruang tersebut dengan warna cat poster sesuai dengan namanya. Untuk mendapatkan warna sekunder campurlah dua warna primer dengan perbandingan 1:1 ( k+b=h, k+m=j, b+m=u). Begitu pula untuk mendapatkan warna tertier campurlah warna primer dengan sekunder 1:1. Dengan kertas gambar A4 yang lain buatIah sebuah segitiga sama sisi Bagilah ruang segi-tiga itu menjadi tiga bagian, kemudian pada bagian tersebut terapkanlah warna-warna primer Pada kertas yang lain buatIah segi-empat sama sisi dan bagi menjadi empat bagian. Seterusnya terapkanlah empat warna yang saling berhadapan pada lingkaran warna pada empat ruang pada segi-empat tersebut Perhatikan dengan seksama bagaimana kelihatannya warna- warna yang saling berjajar itu baik pada lingkaran maupun pada segi-tiga dan segi-empat Kenalilah sifat-sifat warna itu dengan perasaaan anda, warna yang menonjol, menyurut, panas, dingin, bergetar dan sebagainya. b. Temperatur Warna Warna-warna dalam lingkaran warna selain dikelompokkan menjadi tiga kelompok wama dapat pula diklasifikasikan menjadi dua kelompok warna menurut temperaturya, yaitu warna panas dan warna dingin. Warna-warna yang temasuk kelompok wama panas adalah : kuning, kuning jingga, jingga, merah jingga, merah dan merah ungu; sedangkan yang termasuk warna dingin adalah: ungu, ungu biru, biru, hijau biru, hijau dan hijau kuning. Kesan temperatur yang ditimbulkannya disebabkan karena kebiasaan dari keadaan yang ada setiap hari di lingkungan kita. Pengalaman kita menunjukkan bahwa sesuatu yang berwarna merah, jingga, kuning adalah panas; misalnya: api, matahari, dan logam yang dilelehkan. Sebaliknya sesuatu yang berwarna violet, 188
    • hijau, biru adalah dingin; misalnya : laut, danau, dan pegunungan. Hijau dan ungu dapat menjadi panas jika pada unsurnya lebih banyak mengandung warna panas, seperti kuning dan merah. Warna yang paling panas adalah kuning dan yang paling dingin adalah ungu. Sedangkan kelompok warna netral adalah abu-abu, hitam dan putih. Sebenarya hitam dan putih bukanlah warna sebab hanya berupa gelap dan terang . Value dan intensity juga dapat mengandung temperatur warna ini. Value yang terang kelihatan lebih panas daripada value yang gelap, begitu pula warna yang intesitasnya penuh kesannya lebih panas dibandingkan dengan warna yang intensitasnya lebih lemah. Penerapan warna panas dan dingin akan efektif jika disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Misalnya, pada terik matahari jika menggunakan warna panas suasana akan lebih menjadi panas, untuk itu dalam kondisi panas akan lebih baik jika menerapkan warna dingin. Hal yang sama adalah penggunaan warna pada ruang atau perlengkapan anak-anak, seperti ruangan, pakaian, dan mainan. Untuk anak-anak lebih baik menggunakan warna ringan yang ceria, tidak menggunakan warna-warna berat dan kusam. Hal ini sesuai dengan sifat anak-anak yang menyukai hal-hal yang menggembirakan. Jadi secara alami berbeda dengan selera orang dewasa yang sering menyesuaikan dengan kondisi kegemaran dan kejiwaannya. Tugas Latihan Untuk dapat memahami potensi warna lakukanlah latihan berikut ini: Ambil selembar kertas gambar, lalu buatIah bentuk-bentuk geometris dengan ukuran yang bervariasi, gunakan pensil. Pertimbangkan dan rasakan susunannya, jika dirasa sudah baik terapkanlah warna-warna panas pada bentuk dan latar belakangnya . Gunakan warna cat poster Dengan prosedur yang sama buatIah bentuk-bentuk organis dengan warna-warna dingin Bandingkan kedua hasil karya itu dan rasakan temperatur warnanya! 189
    • b a Gambar 171. Aplikasi warna panas (a) dan warna dingin (b) c. Dimensi Warna Jumlah warna diperkirakan kurang lebih ada 30.000 jenis. Setiap warna sesungguhnya mengandung tiga aspek yaitu : Hue, Value dan Intensity. Perbedaan warna disebabkan oleh ketiga aspek tersebut dan setiap aspek memiliki peran khusus dan berinteraksi satu dengan lainnya. Hue adalah nama warna pada lingkaran warna dan keberadaannya ditentukan oleh adanya sinar langsung maupun tak langsung. Hue murni intensitasnya tinggi dan biasanya hue sangat kuat menarik perhatian. Value merupakan istilah untuk menunjukkan terang gelapnya hue. Hue yang mumi jika ditambah putih disebut tint dan bila hue murni ditambah hitam disebut shade. Aplikasi dari kedua hal ini tampak dalam membuat tone warna terutama gelap terang untuk ilusi tiga dimensional pada lukisan realis begitu pula pada karya-karya jenis lainnya yang datar seperti pada karya grafis, dekorasi interior dan sebagainya. Intensity adalah cerah suramnya wama. Warna yang cerah memiliki intensitas yang tinggi, sedangkan warna suram memiliki intensitas rendah. Hitam, putih dan abu-abu adalah warna suram yang tidak memiliki intensitas hue. Oleh sebab itu warna abu-abu dapat berperan 190
    • sebagai warna netral yang dapat menyatukan warna lainnya terutama warna kontras. Warna hitam dapat mengikat warna-warna kontras oleh karena hitam menyerap cahaya, karena warna-warna kontras yang intensitasnya tinggi kekuatan refleksi cahayanya dikurangi oleh warna hitam jika digunakan sebagai latar belakang, atau sebagai kontur garis tepi bentuk. Putih adalah sebaliknya dari hitam karena memantulkan seluruh gelombang spektrum warna, sehingga warna kelihatan lebih cerah di atas putih. Sedangkan abu-abu memantulkan setengah dari setiap spektrum warna. Untuk lebih memahami bagaimana peran warna dalam seni rupa perhatikanlah karya-karya berikut. Perhatikan cerah suramnya, gelap terangnya dan bagaimana perannya dalam ruang dan bentuk ? a Gambar172. (a) Aplikasi warna- warna intesitas tinggi, (b) Aplikasi warna-warna intesitas rendah. b 191
    • Tugas Latihan Untuk dapat memahami potensi warna lakukanlah latihan berikut ini: Ambil selembar kertas gambar, lalu buatIah bentuk-bentuk geo- metris dengan ukuran yang bervariasi, guna- kan pensil. Pertimbangkan dan ra- sakan susunannya, jika dirasa sudah baik te- rapkanlah warna-warna panas pada bentuk dan latar be-lakangnya . Gambar 173 . Aplikasi warna primer Gunakan warna cat poster Dengan prosedur yang sama buatIah bentuk- bentuk organis dengan warna-warna dingin Bandingkan kedua ha- sil karya itu dan rasa- kan temperatur war- nanya! Perhatikan warna-warna yang ada di alam disekeliling anda. Apakah ada kombinasi warna yang tidak menyenangkan? Alam sangat bijaksana, lihatlah warna-warna bunga, walaupun kontras dengan daunnya yang hijau tetapi tetap menyenangkan. Pelajarilah itu ! d. Skema warna Bagaimana caranya mengkombinasikan warna? Walaupun selera dalam memilih dan mengkombinasikan warna itu sifatnya sangat pribadi, pertanyaan tadi maksudnya untuk mengetahui apakah ada pedoman dalam penyusunan kombinasi warna. Skema warna memberikan suatu kunci bagaimana mendapatkan susunan warna serasi yang dapat diterapkan ke dalam karya seni rupa dan kriya. Namun demikian kunci skema warna ini bukanlah harga mati, ini hanyalah suatu tuntunan jika 192
    • menemui kebuntuan dalam upaya mendapatkan warna yang diharapkan. Hal yang sangat menentukan adalah suasana hati berupa ketajaman rasa dalam menentukan warna. Sumber penggunaan skema warna ini adalah lingkaran warna. Ada beberapa kunci untuk mendapatkan warna yang serasi yaitu monokromatik, analogus dan komplementer. Monokromatik, susunan warna ini berdasarkan satu hue; 'mono' berarti satu dan 'kromatik' berarti warna. Dalam kombinasinya menggunakan satu nada warna, yaitu hue murni ditambah dengan tint dan shade. Keharmonisan mudah dicapai, namun perlu variasi dalam unsur lainnya agar tidak membosankan. Pada gambar berikut motif divariasikan ukurannya, dan susunan pengulangan motif secara acak, walaupun motifnya sejenis terasa tidak membosankan. Pada gambar 175 susunan warna monokromatik diberi aksen merah, sehingga merah menjadi dominan dan pusat perhatian. Warna merah memiliki intensitas yang kuat sehingga mengalahkan warna lainnya, selain itu merah dalam bentuk segitiga bersifat kontras dengan bentuk bulat dengan warna abu-abu dengan tiga variasinya sehingga susunan sangat menarik perhatian dengan latar belakang hitam. Susunan bentuk bulat sangat menarik walaupun dalam satu nada, oleh karena ukuran dan susunannya yang dinamis seakan bentuk bulat tersebut bergerak-gerak seperti gelembung- gelembung di udara. Penyusunan dengan cara demikian sangat baik menghindari kejemuan karena bentuk dan nada warna yang monotone. Gambar 174. Penerapan warna monokromatik 193
    • Gambar175 . Warna monokromatik dengan aksen warna primer merah Gambar 176. Penggunaan warna monokromatik 194
    • Analogus, susunan warna yang terdiri dari dua sampai empat warna yang bersebelahan dalam lingkaran warna dengan satu warna primer. Susunan warna ini juga mudah untuk mendapatkan harmoni karena hampir semuanya memiliki nada warna yang sama, misalnya ungu memiliki unsur biru, ungu biru memiliki unsur yang sama pula. Pada susunan berikut biru merupakan aksen yang tidak kontras sehingga harmoni tidak sulit untuk didapat. Sedangkan latar belakang abu-abu sebagai warna netral juga menyatukan warna dan bentuk yang agak berbeda dalam kualitasnya. Susunan analogus lebih menarik karena ada salah satu warna pokok yang menonjol sebagai penekanan perhatian. Hal ini berbeda dengan warna monokromatik karena semua warna senada. Pada susunan berikut, warna dan bentuk saling berinteraksi, misalnya bentuk ungu dalam garis spiral geometris berhubungan dengan bentuk biru dalam garis spiral organik namun kontras dalam kualitasnya, yaitu sifat geometris dan organisnya dari kedua jenis garis sehingga hubungannya tidak menjadi monotone walau warnanya senada. Gambar 177. Penerapan warna analogus Komplementer, yaitu susunan warna yang berhadapan dalam lingkaran warna. Skema warna ini terdiri beberapa macam. Perhatikan tabel berikut. Warna komplemen pada dasarnya adalah warna kontras, apabila disusun secara tepat dapat sangat menarik perhatian, namun sebaliknya jika kontras tidak dapat dikontrol dapat menyebabkan tidak nyaman pada penglihatan. Dalam susunan warna berikut, kontras diikat dengan latar 195
    • Gambar 178 . Penerapan warna komplementer belakang hitam sehingga dapat menjadi harmoni. Susunan terlihat dinamis karena karena warna-warna yang diterapkan pada bentuk- bentuk kontras memancar dari satu titik pusat di sudut kiri bawah. Dengan demikian hitam sangat kuat menyatukan unsur-unsur yang berbeda. Gambar 179. Penggunaan warna komplementer. 196
    • Bagan 5. Skema Warna Sumber: Marial L. Davis. e. Makna Warna Hal yang perlu juga diketahui dalam menggunakan warna adalah tentang bahasa warna. Walaupun sesungguhnya bahasa warna sangat subyektif dalam mengartikan dan menggunakannya, namun secara umum warna dingin dan gelap dengan intensitas yang rendah kelihatan lebih tenang, meditatif dan introspektif. Sebaliknya warna panas dengan intensitas tinggi dapat memberi kesan cerah, kelihatan dinamis, lincah dan menonjol. Dengan demikian kedua jenis warna ini memiliki sifat kontras, jika digunakan dengan tepat proporsinya dapat memberikan kesan perasaan yang menyenangkan. Sebagai acuan, para ahli telah mengartikan warna sebagai tabel berikut . 197
    • Tabel 3 . Makna Warna Nama Warna Makna Warna cinta, nafsu, kekuatan, semangat, tenaga, Merah : ketertarikan, bahaya, kemarahan. spirit, enerji, kekuatan, berani dan tindakan. Merah – Orange : hangat, ceria, muda, kenikmatan. Orange : kebahagiaan, kemakmuran, keramahan, optimisme, Kuning – orange: dan keterbukaan. terang, pintar, bijaksana, hangat . Kuning : persaudaraan, muda, hangat, baru. Kuning - hijau : muda, belum berpengalaman, tumbuh, kaya, Hijau : kesegaran, kalem dan istirahat. diam, santai, halus, setia. Biru - hijau : damai, setia, tertahan, konservatif, pasif hormat, Biru : kesedihan, kelembutan. spiritualisme, kerendahan hati, kedewasaan, kehor- Biru - ungu : matan, kelelahan. keajegan, keagungan, dramatis, dominan, misteri, Ungu : formal, melankoli, tenang. tegang, terasing, dramatis. Merah - ungu : tidak formal, hangat, alamiah, persahabatan, Cokelat : kemanusiaan, seperti tanah. kehormatan, berduka, formal, kematian, muram, tak Hitam : menentu, sedih, misteri. ketenangan, penyerahan, keagungan, netral. Abu-abu : kesenangan, harapan, kemurnian, mustahil, Putih : kebersihan, spiritualisme, kenikmatan, pemberian maaf, pencerahan, kesucian. Sumber: Marian L. Davis 198
    • Tugas A : Studi Observasi Warna di Lingkungan Agar lebih dapat mengahayati bagaimana arti sebuah warna coba amati lingkungan anda di rumah, di sekitar rumah dan di kampung anda. Warna apa yang dominan dalam lingkungan itu dan bagai- mana perasaan anda tentang warna tersebut? Selain itu amati warna pakaian dari teman-teman anda, warna apa yang dominan dikenakannya lalu tanyakan kenapa mereka menyukai warna ter- sebut! Kemudian untuk melatih perasaan anda lihatlah warna langit yang biru bersih, warna api yang menyala, warna tanah, warna daun dari pepohonan, resapi betul warna-warna itu dan apakah ada perbedan rasa yang dimiliki olek setiap warna itu? Tuliskan hasil pengamatan itu sebagai laporan sebanyak 3 halaman A4, satu setengah spasi. Tugas B : Latihan Pengembangan Motif dan Penerapan Warna Untuk dapat memahami bagaimana menyusun warna serasi yang menurut kunci skema warna sebaiknya lakukanlah latihan berikut : Pergilah ke kebun, pilih sebuah pohon besar, pohon bunga atau sejenis rerumputan. Amati dengan cermat batangnya, daunnya, bunganya mungkin juga ada buahnya Mulailah membuat sket dari beberapa bagian pohon tersebut secara terpisah-pisah. Gambar ini merupakan studi dari pohon itu yang nantinya akan dipindahkan menjadi sebuah motif sederhana. Dengan kertas lain buatlah lima buah motif berdasarkan bentuk- bentuk dari pohon yang telah digambar tadi Pilih salah satu motif yang paling disenangi kemudian beri warna monokromatik dengan warna poster atau cat air. Dengan prosedur yang sama buatlah gambar studi dari berbagai obyek, dapat binatang atau benda-benda lainnya yang ada disekitar anda, kentudian terapkan pula skema-skema warna lainnya : analogus dan kontplementer. Gunakan contoh-contoh di atas sebagai acuan. 199
    • 5. Unsur Tekstur Perhatikanlah tekstur berikut, bagaimana anda melihat dan merasakan permukaannya? Untuk lebih nyata lagi lihatlah permukaan lantai di bawah anda, sepatu anda, kaca jendela, almari dan kalau bisa lihat permukaan sebuah karya seni rupa atau kriya. Bagaimana kelihatannya? Bagaimana pula, rasanya kalau diraba ? Semua itu menunjukkan kepada kondisi permukaan suatu benda. Dapatkah anda mendefinisikan tekstur itu lebih jelas? Gambar 180. Tekstur dengan teknik mar- bling karya peserta Diklat Dasar Seni Rupa/Kekriyaan Tekstur sangat menentukan keberhasilan sebuah karya seni rupa dan kriya, karena bersamaan dengan warna, tekstur menentukan kualitas permukaan yang terlihat paling awal. Dalam seni rupa dan kriya tekstur dapat dianalisa melalui dua aspek, yaitu kualitas raba suatu permukaan dan kualitas visual suatu benda. Oleh sebab itu, tekstur dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tekstur kasar dan tekstur semu. Gambar 181 . Tekstur semu dengan teknik cipratan 200
    • Karya mahasiswa Poliseni Yogyakarta Tekstur kasar bereaksi terhadap cahaya dengan memancarkan, menyerap dan memantulkannya. Oleh sebab itu tekstur dapat sebagai penetralisir unsur-unsur yang tidak serasi, misaInya warna-warna yang saling bertentangan dapat serasi di atas tekstur kasar. Hal itu disebabkan karena permukaan tekstur kasar tidak rata. Karena tonjolan permukaan menyebabkan ada bayangan hitam yang sifatnya mengikat dan menyerap cahaya sehingga warna menjadi harmonis. Gambar 183. Tekstur kasar dengan teknik batik/lilin dan cipratan 201
    • Tugas latihan Agar berhasil menggunakan tekstur dalam karya seni rupa dan kerajinan lakukanlah latihan berikut: Ambil selembar kertas gambar A4 Keluarkan beberapa warna cat air dari tubenya secukupnya dan taruh di palet, kemudian beri air dan aduk hingga rata. Ambil warna dengan kuas cat air no. 4 lalu cipratkan ke atas kertas berulang-ulang. Untuk mendapatkan tekstur semu yang unik, semasih cat belum kering dapat ditimpa atau kertas dimiring-miringkan sehingga cat meleleh membentuk tekstur semu secara spontan. Gunakan kertas yang lain kuaskan lem kertas di atasnya secara tipis Ambil kertas tisu, basahi dan tempelkan pada permukaan kertas yang sudah diberi lem Pada waktu menempel dapat dibuat kerut-kerut yang membentuk tekstur kasar kemudian dikeringkan. Setelah kering, permukaan yang telah bertekstur itu dapat diberi warna. Gunakan warna kontras untuk mengetahui bagaimana tekstur kasar itu dapat menetralisirnya. Perhatikan karya tekstur yang telah dibuat itu, rasakan ! Bagaimana perbedaan antara tekstur nyata dan tekstur semu ? Untuk memperkaya perbendaharaan tekstur lakukanlah percobaan yang banyak ! B. Prinsip Pengorganisasian Unsur Seni Rupa Suatu kalimat akan mudah dimengerti jika susunan kata-katanya menggunakan tata bahasa yang baik. Begitu pula dengan karya seni rupa dan kriya, akan nyaman dilihat jika menerapkan prinsip-prinsip pengorganisasian dengan mantap. Prinsip pengorganisasian unsur seni rupa dan kriya adalah tuntunan dasar dalam mengatur suatu komposisi dari unsur-unsur tersebut. Karena itu dalam penerapannya tidak kaku atau terpaku dengan contoh yang ditawarkan dalam buku ini. Contoh- contoh tersebut harus digunakan sebagai acuan, dikembangkan dan dijelajahi kemungkinan-kemungkinannya. Secara umum ada tiga tipe prinsip pengorganisasian, yaitu bersifat mengarahkan, memusatkan dan menyatukan. Prinsip yang mengarahkan menuntun perhatian dari satu tempat ke tempat lainnya, membuat klimaks dan menekankan arah dalam suatu komposisi. Prinsip ini terdiri dari pengulangan, selang-seling, rangkaian, 202
    • transisi, gradasi, irama dan radiasi. Prinsip yang bersifat memusatkan cenderung menonjolkan dan memfokuskan perhatian kepada suatu bagian yang khusus dalam komposisi. Prinsip ini terdiri dari konsentrasi, kontras dan penekanan. Prinsip menyatukan menuntun perhatian kepada seluruh bagian dari kornposisi, menghubungkan dan menyatukan unsur- unsur serta prinsip-prinsip yang digunakan. Oleh karenanya prinsip ini paling rumit dibandingkan dengan lainnya. Seluruh jenis prinsip dapat diterapkan secara struktural maupun dekoratif, namun ada yang lebih cocok diterapkan secara dekoratif, seperti selang-seling dan konsentrasi. Prinsip pengorganisasian mempe- ngaruhi struktur, fungsi dan hiasan sebuah karya. Oleh sebab itu seorang pekerja seni rupa dan kriya harus mengetahui betul karakter dan potensi setiap, prinsip pengorganisasiannya agar dapat mengembangkan dalam menerapkannya ke dalam karyanya dengan baik. 1. Prinsip Mengarahkan a. Pengulangan Prinsip pengulangan merupakan prinsip pengorganisasian unsur yang paling sederhana dan paling men- dasar. dalam penerapannya prinsip ini menggunakan unsur yang sama berulang-ulang dalam lokasi yang berbeda. Dengan prinsip ini per- hatian dituntun mengikuti suatu arah susunan unsur dalam komposisi dan cepat mendapatkan harmoni dan kesatuan. Namun karena mengulang hal yang sama dapat cepat mem- bosankan. Pengulangan ada dua macam yaitu pengulangan teratur dan pengulangan tak teratur. Peng- ulangan teratur menerapkan unsur sama dalam segala hal sedang pengulangan tak terratur ada sedikit variasi sehingga, kelihatan lebih me- narik. Perhatikan contoh gambar gu- b nakan sebagai acuan untuk latihan. Bagan 5. Prinsip Pengulangan (a) Pengulangan Teratur, (b) Pengulangan tak teratur 203
    • b a Gambar 184 . (a) Pengulangan tak teratur, (b) pengulangan teratur. Tugas Latihan Lakukanlah latihan berikut ini agar dapat menghayati bagaimana menerapkan unsur-unsur seni rupa secara berulang-ulang. Buatiah satu jenis bentuk geometris dan susun secara berulang dengan ukuran yang sama, gunakan pensil dengan goresan tipis. Setelah dirasa susunannya baik terapkanlah warna yang sama pada setiap bentuk itu. Gunakan warna cat poster Dengan kertas yang lain gambarlah sebuah bentuk organis dan susun secara berulang dengan variasi ukuran, selanjutnya beri warna dengan tone yang berbeda. Amati hasilnya, apakah bisa diterapkan ke dalam karya seni rupa dan kerajinan? 204
    • b. Selang-Seling Prinsip selang-seling me- nerapkan dua jenis unsur yang berbeda dan di- susun secara bergantian. Meskipun prinsip ini me- ngarahkan perhatian, te- tapi tidak selancar prinsip pengulangan,karena ada tempo perhatian yang tertahan oleh perbedaan unsur yang di-susun. Bagan 6. Selang-seling bentuk dan warna Perbedaan unsur biasa- nya dalam satu jenis misalnya; unsur bentuk. Dalam susunan itu hanya ada bentuk geometris yang berbeda, seperti se- gitiga dan bulatan. Prin- sip ini lebih kuat bila warna-warna pada ben- tuknya juga selang-se- lingnya sama. Perhati- kanlah contoh (gb.185) bagaimana bentuk dan warna di-susun secara bergantian. Gambar 185 . Penerapan Prinsip Selang-Seling, karya mahasiswa DIII Poliseni Yogyakarta Tugas Latihan Resapi latihan berikut ini dan lakukanlah dengan penuh perhatian : Buatah kolom-kolom persegi dengan pensil pada kertas gambar anda. Pilih dua jenis bentuk binatang kemudian pada kolom-kolom tersebut gambarlah kedua bentuk binatang itu dengan menempatkannya secara selang-seling. Selanjumya terapkanlah warna yang berbeda pada bentuk binatang itu. Perhatikanlah hasilnya, amati dan rasakan. Jika ada yang kurang sempurna perbaiki. Pikirkan apakah prinsip ini dapat diterapkan dalam seni rupa dan kerajinan ? 205
    • c. Rangkaian Rangkaian merupakan satu unit susunan unsur yang disusun secara ber- ulang dalam satu kom- posisi. Susunan dari unit- unit itu menuntun dan me- Bagan 7. Prinsip Rangkaian ngarahkan perhatian kepa- da suatu klimaks. Unit unsur-unsur itu tidak harus selalu sama, mungkin da- lam satu unit ada beberapa unsur, misalnya satu unit terdiri dari garis dan bentuk dan gabungan dari unit itu dapat membentuk motif Perhatikanlah contoh (gb. 186) gunakan sebagai acu- an dalam latihan. Gambar 186 . Penerapan Prinsip Rangkaian Tugas Latihan Lakukanlah latihan ini agar dapat menyusun unsur dengan prinsip rangkaian. Buatlah kolom-kolom segi-empat pada kertas gambar dengan pensil. kemudian dengan tinta hitam dan alat pena isilah kolom- kolom itu dengan berbagai jenis unsur, terutama garis dan bentuk Setiap kolom terdapat unsur-unsur yang berbeda. Perhatikan hasilnya, pikirkan apakah dapat diterapkan dalam seni rupa dan kerajinan ? 206
    • d.Transisi Transisi disebut seba- gai perubahan dari satu kondisi ke kondisi yang a lain. Dalam seni rupa dan kerajinan, ini merupakan prinsip yang mengarah- kan secara halus melalui perubahan yang ditampil- kan. Tidak ada tingkatan b perubahan, tidak ada per- bedaan kondisi dalam proses perubahannya, ti- dak disadari ada per- ubahan karena kehalus- c annya. Kekuatan prinsip Bagan 8. Prinsip transisi: (a) Transisi garis, (b) Transisi ini justru pada kehalusan ruang, (c) Transisi warna dan tekstur perubahannnya sehingga dalam beberapa hal, prin- sip termasuk prinsip yang menyatukan hal-hal yang berbeda. Biasanya tran- sisi dikonotasikan hanya terhadap warna, tetapi sebenamya dapat dite- rapkan kepada setiap un- sur. Perhatikan ( gb. 187) gunakan sebagai acuan dalain praktek. Gambar 187 . Kehalusan gradasi dapat memunculkan transisi warna. 207
    • Tugas Latihan Prinsip ini sangat penting dalam seni rupa dan kerajinan terutama dalam menyerasikan unsur-unsur yang tidak sama. Oleh sebab itu lakukanlah latihan berikut ini untuk lebih menguasai potensinya. Letakkan kertas gambar dalam posisi melintang, di sebelah kiri taruh cat poster warna merah, dan di sebelah kanan taruh warna poster kuning. Secara perlahan lelehkan kedua warna itu menuju ke tengah dengan kuas, setelah kedua warna bertemu gunakan kuas untuk mencampur warna tersebut dengan menguasnya secara berulang sehingga pertemuan warna itu betul-betul tercampur dengan halus. Lakukanlah ladhan transisi ini terhadap unsur yang lain, gunakan contoh gb. sebagai acuan. e. Gradasi Tingkatan merupakan ciri 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 khas prinsip gradasi. Ting- katan tersebut adalah satu a perubahan dari sebuah un- sur. Karena merupakan ting- katan maka unsur tersebut sama dalam segala hal ke- cuali ukuran pada unsur garis, ruang, dan bentuk, dan value dalam warna. Tanpa b kita sadari gradasi ini sering digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya tingkatan dalam belajar di se- kolah, tingkatan dalam la- pisan masyarakat, dalam ku- alitas benda produk indus-tri dan sebagainya. Dalam seni rupa prinsip ini sangat kuat mengarahkan perhatian. Un- tuk membuat gradasi di-per- lukan lebih dari dua tingka- tan. Prinsip ini jika digunakan C dalam tingkatan yang pan- Bagan 5. Prinsip Gradasi jang, yang dapat menim- bulkan ilusi ruang tiga dimen- sional. 208
    • Gambar 188 . Penerapan Prinsip Gradasi warna a Tugas Latihan Gunakan kertas gambar A4, tentukan sebuah bentuk organis untak digambar. Buatlah perubahan bentuk itu dalam lima tingkatan dalam lima kolom, sehingga perubahannya dari besar ke kecil bisa dari atas ke bawah atau sebaliknya Gunakan dua warna dan terapkan secara bertingkat pula. Setelah selesai pikirkan bagaimana menerapkannya ke dalam karya anda. f. lrama Di dalam seni rupa dan seni kerajinan irama merupakan susunan kesan gerakan dari unsur visual. a Kesan gerakan itu mungkin mengalir bergelombang, putus-putus, zig-zag dan sebagainya. Irama akan lebih kuat efeknya bila dilakukan secara berulang. Irama dalam seni rupa dapat dianalogikan dengan irama b Bagan 9. (a) Irama Berombak, (b) Irama Zigzag dalam seni musik. Unsur-unsur visual 209
    • seperti garis, bentuk dan warna dapat diulang, dikelompokkan, dibe-sarkan dikecilkan disusun dalam suatu bidang dapat memberi kesan irama. Irama mempengaruhi ukuran bidang menjadi lebih besar karena sifatnya yang dinanis. Penerapan garis lengkung lebih mudah untuk men- dapatkan kesan irama, diban-dingkan unsur-unsur lainnya. Walaupun irama dapat juga dicapai dengan unsur bentuk dan ruang. Gerakan irama dapat ke berbagai arah dapat dimulai dari pinggir maupun tengah. Per- hatikan contoh gb.189 (a,b) dan gunakan sebagi acuan dalam latihan. b Gambar 189. (a) Penerapan Irama berombak, (b) penerapan irama Zigzag a Dalam kedua karya ini yang paling jelas terlihat adalah irama garis. Kedua gambar memiliki irama yang kontras; gambar (189a) irama ga- risnya zig-zag oleh karenanya kesan yang disampaikan tajam, gambar (189 b) irama garisnya mengalun begitu pula susunan bentuk mengikuti irama garis sehingga kesannya lembut menyenangkan. 210
    • Tugas Latihan Lakukanlah latikan berikut ini agar dapat memahami potensi prinsip Irama sebagai pedoman untuk menyusun unsur seni rupa. Gunakan kertas gambar A4, buatlah garis-garis bergelombang dari sisi kiri ke sisi kanan. Buatiah susunan bentuk geometis dengan mengikuti gerak garis tersebut Berilah warna-warna analogus pada bentuk itu dan warna netral pada latar belakangnya Dengan kertas lain dengan prosedur yang sama, buatlah susunan bentuk organis dengan jenis irama yang lain. Perhatikan hasilnya , pikirkan tentang penerapannya ke dalam karya seni rupa dan kriya. g. Radiasi Perhatikanlah matahari yang baru terbit di ufuk timur, perhatikan pula bunga yang berhelai daun lancip. Keduanya memiliki sifat pancaran menuju titik pusat. Prinsip radiasi mengikuti sifat pancaran itu. Dalarn menyusun unsur-unsur seni rupa penampilannya menyampaikan kesan gerakan memancar dari suatu titik pusat ke segala arah. Titik pusat dapat nampak secara nyata maupun tidak kelihatan, dan dapat dimulai dari setiap sisi atau dari tengah. Prinsip ini sangat kuat mengarahkan perhatian jika penerapannya tepat. Misalnya bentuk-bentuk yang kecil diletakkan dekat dengan titik pusat pancaran dan bentuk-bentuk yang besar menjauh dari titik pusat. Begitu pula value warna terang dekat titik pusat dan yang gelap jauh dari titik pusat. Bagan 10. Prinsip Radiasi 211
    • a b Gambar 190 . Penggunaan Prinsip Radiasi Tugas Latihan Gunakan kertas gambar A4 dan buadah garis-garis yang memancar dari satu titik pusat di tengah kertas. Buatlah bentuk-bentuk geometris yang mengikuti gerak garis yang memancar, dimana bentuk yang kecil didekatkan ke titik pusat pancaran dan yang besar jauh dari titik pusat itu. Dengan warna pastel terapkanlah warna-warna panas pada bentuk-bentuk itu dan warna netral pada latar belakang. Dengan prosedur yang sama buatIah pancaran titik pusatnya tidak kelikatan dan posisinya tidak harus ditengah kertas. Terapkan bentuk organis, warna dingin dan warna netral. Pikirkan tentang aplikasinya ke dalam karya seni rupa dan kria. 2. Prinsip Memusatkan Bagan 11. Prinsip konsentrasi 212
    • a. Konsentrasi Prinsip ini merupakan susunan dari perkembangan satu bentuk yang memiliki satu pusat. Prinsip ini mirip prinsip radiasi. Jika radiasi memancar dari satu titik pusat, sedangkan konsentrasi membesar dari satu bentuk atau bentuk-bentuk ber-putar mengarah kepada satu titik. Bentuk-bentuk itu dapat geometris atau organis. Konsentrasi sangat kuat memfokuskan perhatian, sehingga penerapannya harus dipertimbangkan dengan matang. Unsur-unsur yang dapat diterapkan dengan prinsip ini hanya garis, ruang dan bentuk, sedangkan tekstur dan warna hanya mendukung efektifitasnya. a Gambar 191 . Penggunaan Prinsip Konsentrasi b 213
    • Tugas Latihan Ambilah kertas gambar A4, buatlah sebuah bentuk geometris. Besarkanlah ukuran bentuk itu dengan menarik garis yang identik dengan kontur bentuk tersebut. Lakukanlah hal ini beberapa kali. Buat bentuk lain di sebelah bentuk yang pertama itu lalu besarkanlah ukuran bentuk itu dengan cara yang sama dengan sebelumnya. Buat bentuk-bentuk yang sama sehingga susunannya dirasa sudah baik lalu terapkan warna-warna panas dan dingin pada bentuk itu dengan gradasi dari tua ke muda mulai dari tepi bentuk. Pikirkanlah tentang penerapannya ke dalam karya seni rupa dan kria b. Kontras Kehidupan ini terjadi karena kontras: ada siang-malam, pria-wanita, panas-dingin, sedih-bahagia dan seterusnya. Dalam seni rupa banyak yang menghindari penerapan kontras, padahal dapat memberikan daya tarik yang luar biasa bagi penglihatan. Perhatikanlah pohon bunga, lihat warna daunnya hijau, lihat warna bunganya yang merah, itu merupakan susunan unsur warna kontras antara daun dan bunga tentu menyenangkan untuk dilihat. Kenapa bisa demikian ? Kontras adalah suatu perasaan tentang perbedaan sesuatu. Dalam seni rupa, kontras justru digunakan untuk memperlihatkan hal-hal yang tidak sama atau untuk tujuan fokus perhatian. Jika kontras digunakan secara bijaksana akan menghasilkan susunan unsur yang menarik. Tetapi sebaliknya jika terlalu banyak kontras dapat menyebabkan su- sunan menjadi kacau. Kontras juga dapat digunakan untuk menim-bulkan ilusi mengurangi ukuran, apabila bentuk terlihat terlalu tinggi, garis horizontal ditempatkan pada pada bentuk itu dapat mengurangi kesan yang tinggi. Kontras juga dapat memberikan keseimbangan, misalnya dalam suatu komposisi jika terlalu berat ke kanan dapat diseimbangkan dengan menempatkan sesuatu di sebelah kiri dengan posisi mengarah ke luar sebelah kiri. Dengan demikian komposisi yang tadinya mengarah ke kanan ditarik ke kiri oleh sesuatu yang ditempatkan mengarah ke kiri. 214
    • Bagan 12. Prinsip Kontras Gambar 192 . Penerapan Prinsip Kontras: Kontras warna dan bentuk. 215
    • Gambar 193 . Penerapan Prinsip Kontras: Kontras warna dan bentuk. Perhatikan gambar 192 ada dua unsur kontras, yakni unsur bentuk dan warna. Bentuk segitiga dan bentuk organik bergelombang adalah kontras begitu pula warna biru pada bentuk segi tiga dan warna orange pada bentuk lainnya. Masih mirip dengan gambar 192, pada gambar 193 ada dua jenis kontras bentuk dan warna, namun pada unsur warna ada empat warna kontras yaitu biru dan orange, serta kuning dan ungu. Fungsi kontras yang paling kuat jika digunakan tidak berlebihan dapat membuat susunan tidak membosankan. Temukan unsur-unsur apa saja yang kontras dalam karya ini? Bagaimana pendapatmu tentang kontras dalam karya tersebut, diskusikan dengan teman anda ! 216
    • Gambar 194 . Stuart Davis, Seme, 1953, (sumber: Paul Zelanski ). Tugas Latihan Gunakan kertas gambar A4, susunlah dua jenis bentuk geometris yang bertentangan, gunakan pensil untuk membentuknya. Setelah dirasa susunan sudah baik maka selanjutnya gunakan pastel dan terapkan warna komplementer pada bentuk tersebut serta warna netral pada latar belakang. Gunakan kertas yang lain, berilah tekstur pada kertas itu dengan cipratan-cipratan cat air. Setelah kering buatIah susunan bentuk-bentuk geometris dan organis di atas tekstur itu. Terapkan warna komplemen triad pada bentuk-bentuk tersebut Perhatikan hasilnya dan pikirkan bagaimana kontras diterapkan ke dalam karya seni rupa dan kerajinan baik dalam struktur dan hiasannya. Gunakan contoh berikut sebagai acuan. 217
    • c. Penekanan b a Gambar 195 . Penerapan Prinsip Penekanan c Perhatikanlah gambar 195 di atas ! Dimana perhatian anda dipusatkan? Kenapa demikian? Diskusikan dengan teman! Penekanan sebagai salah satu prinsip yang memusatkan perhatian berbeda dengan dua prinsip sebelumnya. Prinsip ini lebih bebas karena dalam menempatkan 'centre of interest' dalam komposisi tidak terikat dengan gerakan arah garis, tetapi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengelompokan bentuk, memberikan warna yang berbeda dari sekitarnya, memberikan hiasan atau motif sehingga perhatian tertuju kepada tempat yang ingin ditonjolkan. Selain itu dapat pula salah satu 218
    • unsur diisolasi untuk mendapat perhatian khusus dan klimaks pada karya yang dibuat. Prinsip ini sering juga disebut sebagai prinsip dominan atau prinsip subordinasi, yang mana ada satu aspek yang mendominasi lainnya. Apabila dalam suatu komposisi ada lebih dari satu fokus perhatian harus diperhatikan kekuatannya jangan membuat fokus perhatian dengan kekuatan sama, karena hal tersebut dapat membuat kekacauan. Namun demikian tidak semua karya seni rupa dan kriya atau kerajinan memiliki penekanan perhatian, biasanya hal tersebut ada pada karya-karya desain tekstil yang motif-motifnya disusun secara berulang dalam ukuran yang sama memenuhi ruang. Selanjutnya perhatikan pula aplikasi prinsip pengorganisasian pada gambar 196 ! Bagaimana prinsip yang diterapkan? Gambar 196 . Agus Djaja, Dalam Taman nirwana (sumber: koleksi Presiden Soekarno 219
    • Gambar 197 . Henri Rousou, The Dream (sumber: Paul Zelanski) Tugas Latihan Lakukanlah latihan berikut agar mengetahui bagaimana potensi prinsip penekanan dapat digunakan untuk menyusun unsur-unsur seni rupa. Gunakan kertas gambar A4, berilah tekstur yang lembut dengan warna-warna yang intensitasnya lemah. Buatlah susunan bentuk segi empat sama sisi dengan menerapkan prinsip penekanan, dapat dengan mengelompokan, membedakan warna, atau memberikan motif. Terapkan warna-warna dingin pada bentuk-bentuk tersebut. Perhatikan hasiInya dan pikirkan bagaimana menerapkan ke dalam karya seni rupa dan kerajinan. Gunakan contoh berikut sebagai acuan. 220
    • 3. Prinsip Menyatukan a. Proporsi Salah satu cara membuat susunan nampak menyenangkan adalah melalui penerapan prinsip proporsi. Prinsip ini tidak hanya terdapat dalam seni rupa, yang menakjubkan proporsi terdapat pada semua benda yang ada di alam ini. Pada tubuh manusia misalnya, tubuhnya dapat terlihat menarik jika proporsinya tepat antara bagian tubuh yang satu dengan lainnya antara kepala dengan seluruh badan, anatara telapak tangan dengan lengan, antara hidung dan tinggi kepala dan seterusnya. Proporsi merupakan hasil dari hubungan perbandingan antara jarak, jurnlah, tingkatan, dan bagian disebut sebagai proporsi atau hubungan satu bagian dengan bagian lain dan keseluruhan dalam suatu susunan. Sebuah karya seni rupa dan seni kerajinan dikatakan berhasil jika unsur- unsurnya disusun berdasarkan suatu proporsi. Proporsi dapat diterapkan pada karya nirmana datar maupun nirmana ruang. Dengan proporsi da- pat ditelaah bagian-bagian dari sebuah karya atau keseluruhan dari karya itu. Pada dasarnya proporsi dapat dilihat dari empat tingkatan, yaitu : 1. Di dalam satu bagian, seperti perbandingan antara panjang dan lebar. 2. Di antara bagian-bagian, perbandingan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya dalam satu susunan. 3. Bagian dengan keseluruhan, perbandingan antara bentuk-bentuk dalam susunan dengan keseluruhannya. 4. Keseluruhan dengan sekitarnya, perbandingan antara seluruh susunan dengan apa yang ada disekitarnya Perhatikanlah gambar bagan di bawah ini ! a b c Bagan 13. Beberapa jenis proporsi 221
    • Dari suatu test yang dilakukan oleh Patrick Carpenter terhadap beberapa kelompok orang yang berbeda pekerjaannya, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa pembagian bidang (bagan 13c) yang disenangi oleh sebagian besar partisipan. Pembagian bidang itu berdasarkan proporsi Golden Section atau proporsi emas. Proporsi ini berasal dari Yunani Kuno yang berpijak kepada pembagian secara matematik yaitu bagian yang kecil cukup menarik perhatian dan bagian yang besar cukup kecil untuk menjadi pembandingnya kira-kira perbandingannya 3 : 5 atau 5 : 8. Misalnya pada pembagian bidang di atas lebarnya dua pertiga dari panjangnya. Dari percobaan itu menunjukkan bahwa proporsi yang menarik adalah pembagian yang secukupnya dan tidak berlebihan. Pembagian yang sama kurang menarik karena statis, begitu pula pembagian yang berlebihan yang membuat salah satu menjadi dominan. Oleh karena itu, proporsi (bagan13c) merupakan proporsi alami. Secara tidak disadari pertumbuhan mahluk hidup proporsi fisiknya mengikuti proporsi ’emas’ tersebut. Selanjutnya perhatikan pula analisa proporsi terhadap hasil lukisan di bawah ini! b Gambar 198 . (a) Pemandangan di Pegunungan (b) Pemandangan di Cina (sumber: Koleksi Presiden Soekarno a 222
    • Tugas Latihan Karena Proporsi sangat penting dalam kegiatan penyusunan komposisi maka untuk memahaminya lakukanlah latihan berikut ini. Ambilah sebuah benda seni rupa dan kerajinan. Analisalah proporsi benda tersebut. Bagaimana pembagian bidangnya ? Gunakan kertas A4, buatlah tiga buah segi empat panjang dengan pensil. Bagilah ketiga bidang itu berdasarkan ketiga proporsi tersebut di atas, selanjutnya berilah warna kepada bidang-bidang tersebut. Dengan kertas gambar yang lain buatlah tiga buah gambar benda pakai yang masing-masing menerapkan ketiga jenis proporsi tersebut di atas. Amati hasilnya, bagaimana menurut anda penerapan proporsi tersebut ? b. Keseimbangan Bagaimana pendapatmu tentang keseimbangan dalam seni rupa? Konsep tentang keseimbangan menyangkut hal berat, ukuran, dan kepadatan yang ada pada perasaan kita jika melihat sebuah karya. Keseimbangan tercapai jika ada suatu perasaan akan kesamaan, keajegan dan kestabilan. Ada tiga jenis keseimbangan yaitu: keseimbangan mendatar, keseimbangan tegak lurus dan keseimbangan radial. Keseimbangan mendatar unsur yang disusun mengikuti arah garis mendatar bagan 14a, begitu pula keseimbangan tegak lurus mengikuti posisi garis vertikal bagan 14b, dan keseimbangan radial mengikuti arah garis ke segala arah bagan 14c. Tipe keseimbangan ada dua, yaitu keseimbangan formal atau simetris dan keseimbangan informal atau asimetris. Dalam keseimbangan formal kedua bagian dari pusat keseimbangan identik dalam segala hal satu dengan lainnya. Keseimbangan ini lebih mudah dicapai, tetapi sifatnya lebih statis, sedang pada keseimbangan informal atau asimetris bagian- bagian di sebelah pusat keseimbangan berbeda tetapi dapat memberikan perasaan kesetaraan. Tentu hal ini memerlukan interaksi yang lebih rumit di antara unsur yang disusun. Hasilnya lebih dinamis dibanding kese- imbangan formal. 223
    • b a Gambar 199. Penerapan prinsip keseimbangan mendatar, vertikal dan radial. c 224
    • Bagan 14 . Jenis Prinsip Keseimbangan: a. Keseimbangan mendatar, b. Keseimbangan tegak lurus, c. Kseimbangan radial a b c Lihatlah karya seni rupa berikut, jelaskan tentang prinsip keseimbangan yang diterapkan masing-masing dalam karya tersebut. Carilah garis porosnya di tengah dengan demikian akan lebih mudah melihat kanan-kiri, atas- bawah untuk menentukan jenis keseimbangan yang diterapkan. 225
    • a b c d Gambar 200 . Penerapan prinsip keseimbangan pada lukisan , patung dan relief: (a) Nyoman Gunarsa, penari (foto: Agung Suryahadi), (b) Botticeli, The Birth of Venus (sumber: Paul Zelanski), (c) Henry Moore, The Reclining Figure (sumber: Gombrich), Relief di Candi Surawana, Arjuna Wiwaha (sumber: Soekmono). a b Bagan 15. Tipe Prinsip Keseimbangan: a. Keseimbangan simetris, b. Keseimbangan asimetris 226
    • Gambar 201 . Thomas Gainsborough, Mr. And Mrs Andrew, (sumber: Paul zelanski). Perhatikan gambar 201, diskusikan dengan teman ! Keseimbangan apa yang diterapkan dalam lukisan itu? Tugas Latihan Keseimbangan dalam suatu karya seni rupa dan kerajinan juga menentukan keberhasilannya. Jika tidak ada keseimbangan, perasaan menjadi tidak puas melihat karya tersebut Untuk itu lakukanlah latihan ini agar mengalami langsung bagaimana menyusun unsur seni rupa agar seimbang dan menarik perhatian. Tentukanlah jenis dan tipe keseimbangan apa yang akan di- praktekan. Gunakan pensil dan buatlah susunan bentuk-bentuk organis pada kertas gambar A4. Selanjunya jika dirasa keseimbangan susunan bentuk itu sudah tercapai, terapkanlah warna berdasarkan skema warna komplemen 'single split' (lihat skema warna). Dalam menerapkan warna harus hati-hati, pertimbangkan dan rasakan betul keseimbangannya Selanjunya pikirkan tentang penerapannya dalam seni rupa. 227
    • c. Harmoni Untuk memahami tentang harmoni atau keselarasan coba perhatikan jari-jari anda. Perhatikan bentuknya, warnanya, garis-garisnya, teks- turnya. Apakah ada kesamaan? Apakah anda senang melihatnya? Kemudian jelaskan bagaimana unsur rupa yang terdapat pada jari anda itu! Harmoni merupakan suatu perasaan kesepakatan, kelegaan suasana hati, suatu yang menyenangkan dari kombinasi unsur dan prinsip yang berbeda, namun memiliki kesamaan dalam beberapa unsurnya. Semua unsur, semua bagian dikompromikan, bekerja sama satu dengan lainnya dalam suatu susunan yang memiliki keselarasan. Dalam (gb. 202 a) ke- a b Gambar 202 . Penerapan Prinsip Harmoni karya peserta Diklat Dasar Seni Rupa/Kriya samaan bentuk dan warna dasar hitam mengikat unsur warna yang berbeda, dan dikompromikan, diarahkan oleh prinsip yang memusat sehingga harmoni dan kesatuan dapat dicapai. Berbeda dengan (gb.202 b) yang hanya terdiri dari hitam putih dengan bentuk dominan segi empat. Kontras terjadi dengan adanya sedikit lingkaran dan bentuk segi empat hitam dan putih. Perbedaan tersebut juga diikat dengan warna hitam. Keunikannya terletak pada adanya empat pusaran bentuk yang membuat empat pusat perhatian, namun, tiga pusaran itu memiliki kesamaanyang diimbangi oleh pusaran bentuk hitam pada latar belakang. 228
    • Tugas Latihan Latihan ini sangat penting dilakukan untuk mengasah kepekaan rasa anda dalam menyusun suatu komposisi yang selaras. Gunakan kertas gambar A4, lalu susunlah bentuk-bentuk organis dan geometis. Upayakan bentuk-bentuk itu dapat dikompromikan satu dengan lainnya Boleh menggunakan dua atau lebih prinsip pengorganisasian Setelah itu terapkanlah tekstur dan warna analogus. Perhatikan dan perbaiki hal-hal yang belum selaras dan pertimbangkan tentang penerapannya dalam karya seni rupa dan kerajinan. d. Kesatuan Kesatuan merupakan perasaan adanya kelengkapan, menyeluruh, intergrasi total, kualitas yang menyatu dan selesai. Dalam kesatuan ada hubungan dari seluruh bagian dalam susunan bekerjasama untuk konsistensi, kelengkapan dan kesempumaan. Ini adalah puncaknya dari seluruh prinsip pengorganisasian unsur seni rupa setelah prinsip har- moni. Kesatuan dicapai dalam suatu komposisi menciptakan suatu hubungan yang kuat antar unsur yang disusun (gb, 203 ), dapat karena setiap unsur saling sentuh satu dengan lainnya atau berdialog satu dengan lainnya, dapat karena adanya ketegangan saling tarik menarik antar bagian. Jadi kesatuan secara skematik dapat terlihat nyata dapat pula hanya tersirat karena hanya persepsi kita yang merasakan adanya kebersamaan. Perbedaan utama antara keserasian dan kesatuan adalah bahwa pada harmoni semuanya berhubungan secara indah tetapi belum tentu utuh. Kesatuan memberikan sentuhan akhir, perasaan yang lengkap dan selesai. Dalam suatu susunan kemungkinan ada keserasian tanpa kesatuan, tetapi kesatuan tidak bisa diperoleh jika tanpa adanya ke- serasian. Misalnya, sekuntum bunga merupakan satu kesatuan yang serasi tetapi jika salah satu helai bunganya rontok kesatuannya tidak ada tetapi masih ada keserasian. Oleh karena itu kesatuan tidak bisa ada salah satu dari unsur atau bagian yang hilang. Setiap bagian terkait dengan bagian lainnya untuk menjadi keseluruhan yang utuh. 229
    • Perhatikan dua kuntum bunga ini, pada bunga a terlihat bunganya masih utuh, setiap bagian mengandung unsur yang sama dan terkait satu sama lainnya. Pada bunga b satu helai daun bunganya hilang sehingga kesatuan dari susunan daun bunga yang indah itu menjadi rusak. b a Gambar203 . Penerapan Prinsip Kesatuan 230
    • Selanjutnya Perhatikan karya-karya berikut ini. Diskusikan dengan teman tentang kesatuannya ! a b Gambar 204. (a) A. Agung Suryahadi, The Zipped Lady, (b) Yudiantoro, Kuda-Kuda Binal, (c) Basuki Sumartono, Apa yang di dalam, (d) Heri Dono, Unttitled (sumber: (a) Agung Suryahadi, b,c,d (Katalog pameran Rekreasi 80) 231
    • a b Gambar 205. (a) Dani Daoed, Crossing, (b) Dunadi, Embarang (sumber: Katalog Pameran Patung Yogya). Tugas Latihan Ini adalah tugas terakhir dari latihan menyusun prinsip peng- organisasian, oleh karena itu lakukanlah latihan ini dengan sebaik- baiknya. Ambil selembar kerlas gambar A 4, dengan pensil buatlah susunan bentuk geometis dan organis. Dalam menyusun bentuk-bentuk ita terapkanlah dua sampai tiga prinsip pengorganisasian sekaligus. Setelah selesai membuat bentuk-bentuk berdasar tiga prinsip itu, selanjutnya terapkanlah warna-warna monokromatik dengan satu hue tambahan. Dengan prosedur yang sama terapkan empat prinsip sekaligus dan gunakan pula warna ganda komplemen ditambah warna netral. Setelah selesai perhatikan bagaimana prinsip kesatuan itu dapat diterapkan ke dalam karya seni rupa? 232
    • e. Ekonomi Prinsip ekonomi merupakan salah satu prinsip menyatukan dengan membuang hal-hal detail yang dirasa kurang esensial sehingga visualisasi yang ditampilkan sesedikit mungkin tetapi dapat memberikan nilai yang paling penting dari apa yang dimaksud oleh senimannya. Prinsip ini dapat memberi kelegaan perasaan karena persepsi tidak disibukkan oleh banyak hal. Hal ini banyak diterapkan di dalam seni rupa Jepang klasik karena pengaruh dari ajaran Zen Budisme dan pada saat ini banyak mempengaruhi seni dan arsitektur modern dalam istilah yang berbeda yaitu minimalis. Prinsip ini juga diterapkan dalam Bauhaus suatu lembaga pendidikan seni di Jerman terutama mengenai desain yaitu Less is more , maksudnya suatu kemungkinan mensugestikan ide-ide yang kompleks dalam seni rupa atau desain dengan hanya menampilkan sedikit visualisasi. b a Gambar 206. (a) Vas bunga produk dinasti Ch’ing di Cina (sumber: Paul Zelanski), (b) Hasegawa Tohaku, Hutan Pinus (sumber: Joan Stanley Baker) Prinsip ekonomi yang ditampilkan dalam kedua karya ini nampak dengan jelas, pada gambar (206 a) vas bunga tidak ada hiasan dan hanya menampilkan warna merah sehingga perhatian tertumpu pada bentuk vas secara keseluruhan, pada gambar (206 b) Hasegawa dalam menggambarkan hutan finus hanya menekankan lepada beberapa pohon di latar depan dan beberapa pohon dengan tone warna lebih lemah di latar belakang. Namun dapat mensugestikan bahwa itu adalah gambar hutan. 233
    • f. Hubungan dengan Lingkungan Salah satu hal yang perlu diketahui oleh seniman adalah untuk apa dan siapa karya seni itu diciptakan. Apakah karya seni itu sebagai karya seni murni ? Berarti yang akan menikmati adalah terbatas kepada masyarakat yang paham dan mencintai seni, karya tersebut tentu akan disimpan sebagai koleksi pribadi, galeri atau museum. Apabila karya seni tersebut diciptakan untuk memenuhi kebutuhan fungsional bagi masya- rakat, maka karya tersebut perlu mempertimbangkan segmentasi atau lapisan masyarakat yang menjadi sasaran? Karya ini dalam prosesnya memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain jenis ke-butuhan setiap lapisan masyarakat yang menjadi sasaran karya seni, kemudian per- timbangan kenyamanan, keamanan, kekuatan dan seba-gainya. Apabila karya seni itu untuk diposisikan di tempat umum atau di suatu lingkungan tertentu, karya seni tersebut perlu dipertimbangkan bahwa keber- adaannya serasi dengan lingkungan sekitarnya. Kesesuaian tersebut meliputi ukuran, bentuk dan warnanya juga daya tahan jika berada ditempat terbuka. Pertimbangan ukuran perlu menjadi perhatian seperti luas atau ukuran ruang yang tersedia untuk sebuah karya seni, sehingga tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil. Maka dalam hal ini pertimbangan proporsi ruang dengan bentuk sangat diperlukan. Selanjutnya pertim- bangan bentuk, warna, dan tekstur adalah untuk menyesuaikan rupa karya seni dengan lingkungan agar dapat menyatu, tidak lepas, dan berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Untuk itu unsur-unsur seni harus dapat ’berdialog’ dengan unsur-unsur lingkungannya. Maksudnya aspek karya seni memiliki hubungan yang serasi dengan aspek sekitarnya, dapat dinikmati dengan baik oleh orang- orang yang berada di lingkungan karya seni tersebut. 234
    • Menggambar merupakan suatu usaha untuk mengkomunikasikan perasaan dan pikiran secara visual kepada orang lain. Anak-anak senang dengan kegiatan menggambar, karena dengan menggambar mereka dapat menuangkan pengalamannya mewujudkan simbol-simbol visual dari apa yang pernah dilihatnya melalui bidang gambar. Kegiatan menggambar pada dasarnya memerlukan alat dan bahan yang sangat sederhana untuk dapat membuat tanda goresan. Beberapa garis digoreskan pada bidang datar dapat memberikan suatu kesan simbol tentang bentuk yang ada di sekitar kita. Dengan demikian pikiran dan perasaan dapat diungkapkan dalam bentuk visual melalui kegiatan menggambar, sehingga menggambar termasuk kegiatan mendasar dalam berkarya seni rupa. Kegiatan menggambar dapat pula di- analogikan dengan kegiatan menulis. Sebelum dapat menulis kalimat seseorang harus dapat menulis huruf dan kata terlebih dahulu, demikian pula dengan kegiatan berkarya seni rupa dan kria. Sebelum dapat membuat karya seni rupa dan kria terlebih dahulu harus dapat menggambar seluruh bentuk-bentuk yang ada di sekitar kita. Pada bab ini akan dipelajari berbagai jenis dan teknik menggambar yang sangat bermanfaat sebagai bekal dasar bagi siswa yang ingin meniti karierya dalam bidang seni rupa. Jenis menggambar adalah berupa kelompok tugas tentang obyek khusus yang digunakan sebagai sarana untuk latihan. Maksud dari tugas-tugas yang harus dilaksanakan adalah untuk melatih kemampuan penglihatan dalam mengamati unsur- unsur rupa dan melatih koordinasinya dengan tangan. Selain itu, memupuk kebiasaan untuk mencari alternatif teknik menggambar yang inovatif dan sesuai dengan kemampuan dan kepribadian siswa. Untuk keperluan ini siswa tidak perlu takut menggunakan bahan dan alat yang baru. Jika terbiasa, menggunakan satu bahan misaInya pensil, coba menggunakan bahan lainnya seperti cat air dan pastel. Coba pula mencampur bahan-bahan tersebut untuk mendapatkan efek visual yang baru. Berupayalah untuk bersikap kritis terhadap apa yang telah dibuat; lihat dan evaluasi kekurangan dan kelebihannya. Bandingkan dengan karya orang lain dan karya-karya yang telah dibuat sebelumnya. Dengan demikian dapat diketahui sampai sejauh mana, kemampuan anda dalam menggambar.
    • Ada beberapa hal pokok yang perlu diketahui dalam menggambar, misalnya pengetahuan tentang alat dan bahan yang digunakan untuk menggambar serta kemampuan mengamati secara mendetail terhadap bentuk yang ada di disekitar kita sebagai sumber belajar. Oleh sebab itu pada bab ini akan dibahas sedikit tentang alat dan bahan menggambar serta beberapa jenis dan teknik menggambar. Hal ini sangat penting untuk diketahui dan dilatihkan agar siswa memiliki pengalaman dan bekal keterampilan menggambar sebagai dasar berkarya seni rupa selanjutnya. A. Menggambar dan Melukis Menggambar dan melukis sering menjadi pertanyaan di masyarakat umum. Memang kedua jenis kegiatan ini cukup membingungkan karena hasilnya sering memiliki persamaan yang sulit dibedakan; yang mana hasil menggambar dan yang mana hasil melukis. Ada yang mengem- balikan ke bahasa Inggris, menggambar berarti to draw, melukis berarti to paint. Hasilnya adalah drawing dan painting. To draw berarti juga mena- rik, dalam hal ini menarik garis untuk menirukan bentuk yang dilihat atau dibayangkan; sedangkan to paint berarti mengecat, yakni menggunakan cat untuk menirukan bentuk benda yang dilihat dan dibayangkan. Dalam perkembangannya, melukis mengandung pengertian tentang pengung- kapan pikiran dan perasaan atau idealisasi senimannya tentang estetika, yaitu nilai-nilai keindahan yang dianutnya. Maka berdasar hal tersebut kiranya dapat dibedakan, bahwa pengertian menggambar mengandung arti bahwa seniman dengan menggunakan alat dan bahan tertentu mem- buat goresan menirukan bentuk-bentuk yang dilihatnya ke atas bidang dua dimensi. Sedangkan melukis berarti pengungkapan pikiran dan perasaan seniman dapat ke atas bidang dua dimensi maupun tiga dimensi dengan menggunakan alat dan bahan cat warna atau media lainnya yang dianggap dapat mewakili idealisasi senimannya. Jenis dan teknik menggambar dan melukis cukup banyak. Namun untuk keperluan buku ini beberapa hal pokok yang relevan dibahas sesuai dengan pe- ngembangan keterampilan dalam bidang seni rupa. Jenis dan teknik menggambar tersebut antara lain tentang sketsa, perspektif dan proyeksi, menggambar alam benda, menggambar tumbuh-tumbuhan dan binatang, menggambar motif hias atau ornamen, menggambar manusia, menggambar suasana, dan menggambar ilustrasi. 1. Menggambar Sketsa Menggambar sketsa merupakan bagian dasar dari menggambar, sedangkan menggambar merupakan kegiatan dasar seni rupa, baik seni rupa dua dimensional maupun tiga dimensional. Hanya dengan menggunakan secarik kertas dan sebuah pensil pikiran dapat 236
    • divisualisasikan dalam wujud sketsa. Kegiatan membuat sketsa merupakan tradisi sejak zaman Renaissance. Namun demikian, di Indonesia khususnya di Bali, membuat sketsa sudah dilakukan sejak zaman dahulu oleh seniman tradisional yang disebut ngreka. Kegiatan ini mendahului kegiatan melukis tradisional. Ngreka dilakukan dengan membuat bentuk-bentuk di atas kanvas tradisional dengan menggunakan alat tajam dari bambu yang diraut berfungsi sebagai pena. Tintanya dibuat dari jelaga dicampur dengan cairan perekat ancur. Saat ini bahan- bahan tradisional terebut telah diganti dengan alat dan bahan yang lebih modern berupa pena dan tinta Cina hitam. Dalam pembahasan ini yang dimaksud menggambar sketsa adalah menggambar hanya dengan menggunakan garis dengan segala variasinya. Menggaris dalam kegiatan menggambar merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar. Dari goresan garis dapat diketahui seberapa kemampuan, ketrampilan dan kepekaan keindahan pem- buatnya. Oleh karena itu kegiatan ini sangat mendasar dan penting untuk melatih keterampilan tangan dalam menggambar dan kepekaan estetik. Sebagai unsur seni rupa garis merupakan awal dari pembuatan sebuah karya seni rupa dan kriya, karena garis memberi bentuk awal curahan gagasan yang hendak diwujudkan. Garis memberi karakter terhadap bentuk yang dibuat karena setiap garis memiliki sifat dan sekaligus dapat mencerminkan arti visual dari sebuah bentuk karya yang dipersepsi oleh indera penglihatan kita. Membuat garis pada dasarnya merupakan hasil gabungan dari ketram- pilan dan kepekaan rasa. Oleh karena itu makin sering menggaris makin trampil dan peka perasaan visualnya. Kegiatan menggambar hanya dengan menggunakan garis, yang lazim disebut sketsa, sangat penting bagi seseorang yang bekerja dalam bidang seni rupa dan kriya. Perhatikan ! Apabila dicermati dengan baik, lingkungan kita penuh dengan garis. Ada garis lurus pada tepi meja, ada garis bergelombang pada batas tepi sebuah pot bunga dan atap rumah dan ada garis lengkung pada tepi bibir gelas. Semua itu kalau ingin divisualisasikan kembali harus digambar terlebih dahulu. Apabila kita punya gagasan yang indah untuk sebuah benda seni rupa, sebelumnya harus dapat dibuat konsep dalam bentuk gambar, sedang gambar tidak dapat lepas dari kegiatan menggaris. Latihan pada bagian ini bertujuan untuk melatih kecekatan tangan dalam membuat bentuk dengan garis, melatih kecepatan indera penglihatan dalam menangkap bentuk yang hendak digambar dan meningkatkan kepekaan rasa keindahan visual. 237
    • Perhatikan contoh-contoh Garis Berikut Ini ! Gambar 207. Berbagai jenis garis pendek-pendek Gambar 208. Variasi garis membentuk image karya peserta Diklat Dasar Seni Rupa /Kekriyaan P4Tk Seni dan Budaya Yogyakarta. Sebelum latihan membuat sketsa, ada baiknya melakukan latihan melemaskan tangan dengan membuat berbagai jenis garis dengan pensil dan tinta. Latihlah tangan anda menarik garis lurus tanpa bantuan mistar berulang kali sampai garis yang dihasilkan kelihatan stabil, selanjutnya buat pula garis lengkung, zig-zag, bergelombang dengan berbagai variasi ketebalan. Buatlah berbagai jenis garis pendek-pendek dengan berbagai 238
    • variasi dan komposisi agar tidak bosan. Pada awaInya memang ragu namun jika sudah berulang kali garis anda akan terlihat luwes dan indah. Ada beberapa jenis sketsa jika di kelompokkan sesuai dengan tujuannya yaitu sketsa sebagai catatan, sketsa sebagai studi bentuk, sketsa sebagai awal melukis, dan sketsa sebagai seni sketsa. Masing- masing jenis sketsa ini memiliki karakternya sendiri-sendiri. a. Sketsa sebagai catatan visual Tradisi Renaissance dalam seni rupa berpengaruh sangat besar di seluruh dunia. Seniman zaman itu menggunakan sketsa salah satunya sebagai sebuah catatan visual yang digunakan sebagai acuan dalam membuat karya-karyanya. Seniman seni lukis, kemanapun mereka pergi, selalu membawa perlengkapan berupa papan gambar dan kertas layaknya membawa kamera untuk merekam hal-hal yang menarik perhatiannya. Dengan demikian dibutuhkan kecepatan dan kecekatan merekam bentuk-bentuk dalam kejadian atau peristiwa. Dalam hal inilah ketrampilan antara koordinasi tangan dan mata sangat diperlukan dimiliki oleh perupa khususnya pelukis. Henk Ngantung misalnya, membuat sketsa-sketsa zaman perjuangan. Buku kumpulan sketsanya dapat dijadikan sebagai dokumen sejarah tentang suasana zaman perjuangan. Selain mengenai perjuangan, catatan visual Henk Ngantung juga me- nyangkut kegiatan masyarakat sehari-hari di sawah, di rumah, di pasar dan sebagainya sehingga dapat dijadikan catatan historis sosiologis tentang kehidupan masyarakat pada zamannya, sehingga catatan visual- nya tidak hanya berguna untuk dunia seni tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh bidang sejarah dan sosiologi sebagaihalny relief-relief pada dinding candi atau lukisan pada dinding gua zaman prasejarah. Gambar 209 . Henk Ngantung, Membatik, dan latiha meliter (sumber: Kumpulan Sketsa Henk Ngantung) 239
    • b. Sketsa sebagai media studi bentuk dan warna Seorang seniman seni rupa sangat penting memahami dan menguasai bentuk-bentuk dan warna yang ada di lingkungannya. Mereka perlu melakukan studi visual tentang semua bentuk dan warna yang ingin dijadikan subyek dalam karyanya. Pelukis dan pematung sejak zaman Renaissance menggunakan sketsa sebagai suatu cara melakukan studi bentuk. Oleh karena sketsa berfungsi sebagai cara melakukan studi ben- tuk, maka bentuk-bentuk sketsa jenis ini dibuat tidak harus utuh. Mungkin a c b Gambar 210. Studi anggota tubuh manusia (sumber: Gombrich dan Klaus Dunkelberg) dalam satu gambar hanya ada satu atau beberapa bagian dari obyek yang dipelajari. Maksudnya adalah mempelajari plastisitas, proporsi suatu 240
    • obyek secara mendetail. Sketsa studi ini dapat hanya berupa garis dengan arsiran atau ditambah dengan blok cat air untuk mendapatkan efek gelap terang untuk memunculkan plastisitas bentuk. Studi mendetail tentang suatu obyek sangat penting dilakukan oleh para perupa terutama yang menekuni gaya realisme. Seorang realis harus hafal bentuk-bentuk plastisitas semua obyek. Tanpa rajin melakukan studi melalui sketsa, ia tidak banyak memiliki perbendaharaan bentuk. Studi untuk sebuah lukisan sangat serius dilakukan oleh para pelukis zaman Renaissance, seperti apa yang dilakukan oleh Michel Angelo dalam mempersiapkan lukisan langit-langit Gereja Sistine Chaple (gb. 210a, 211). Hal yang sama dilakukan oleh Delacroix sebelum melukis Medusa yang menggemparkan (gb. 216, 217). Ia melakukan studi visual dengan membuat sketsa orang-orang yang meninggal dunia sebagai korban tenggelamnya sebuah kapal penumpang. Picasso juga melakukan studi sebelum membuat lukisan dinding Gurnica (gb. 213). Dalam melakukan studinya mereka melakukan eksplorasi bentuk-bentuk, Gambar 211 . Studi Sibyl untuk langit-langit Gereja Sistine Chapel (sumber: Colin Saxton) 241
    • Gambar 213. Picasso , studi Guernica Gambar 212. Leonardo da Vinci, Studi Anatomi Manusia, (sumber: Gombrich). Gambar 214. Bentuk dan anatomi kuda karya peserta diklat Seni Rupa P4 TK Seni dan Budaya Yogyakarta untuk mendapatkan anatomi yang tepat mereka menggunakan model, sehingga Delacroix misalnya, melakukan studi langsung terhadap jenazah korban tenggelamnya Rakit Medusa di rumah sakit. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran ekspresi yang tepat dari orang yang menjadi korban. Perhatikan gambar (215, 216) bagaimana ekspresi orang yang dalam keadaan sekarat atau meninggal dunia. Dengan mengetahui kondisi yang sebenarnya, Delacroix mampu membuat karya seni lukis yang besar dan sangat berhasil serta terkenal pada zamannya. 242
    • c. Sketsa sebagai awal berkarya seni rupa Dalam dunia seni lukis ada banyak cara mengungkapkan gagasan, misalnya dengan cara spontanitas, yaitu langsung melukis di atas sebuah bidang gambar tanpa memerlukan sketsa terlebih dahulu. Cara ini memerlukan kemahiran teknis yang tinggi dan nilainya terletak pada ungkapan spontan yang tidak dapat diulang kembali. Cara lain dengan membuat beberapa sketsa alternatif kemudian dipilih alternatif terbaik untuk dituangkan ke atas bidang gambar. Ada pula langsung membuat sketsa di atas kanvas, biasanya pelukis naturalis dan realis dan juga pelukis tradisional Bali melakukan hal ini. Cara kedua merupakan sketsa sebagai pendahuluan atau kegiatan awal sebelum melukis atau membuat patung. Perlu diketahui bahwa membuat patung belum ada yang dilakukan secara spontan kecuali pematung tradisional yang telah hafal dengan bentuk dan atribut patung yang sama dari zaman ke zaman. Oleh karenanya, seniman pematung modern sangat membutuhkan sketsa sebelum mulai membuat patung. Aguste Rodin, sebelum mem- buat jendela dengan patung yang berjudul The Gate of Hell, idenya ber- Gambar 215. Delacroix, Rakit Medusa (sumber: Paul Zelanski). 243
    • Gambar 216. Delacroix, Studi Korban Rakit Medusa Gambar 217. Delacroix, Studi korban dalam Rakit Medusa 2 244
    • asal dari sebuah sketsa yang sangat sederhana (gb. 218 a). Dari sketsa yang sederhana tersebut kemudian dikembangkan menjadi model dari tanah liat, setelah modelnya sempurna lalu dibuat cetakannya. Jadi, sketsa berupa gagasan kreatif yang sepintas melintas di benak ditangkap dan dituangkan secara visual. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan membuat sketsa sangat penting dalam dunia seni rupa terutama yang membutuhkan perencanaan matang seperti seni patung patung, grafis komunikasi, seni kriya, dan desain untuk benda-benda indutri. a b Gambar 218. Aguste Rodin, The Gate of Hell (sumber: Paul Zelanski) d. Sketsa sebagai seni sketsa Sketsa sebagai sebuah seni tidak memerlukan ketepatan bentuk, namun yang dipentingkan adalah ungkapan estetik berdasarkan rangsang visual dari obyek yang diperhatikan. Jadi dalam hal ini membuat sketsa hampir sama dengan melukis secara spontan yang dibatasi dengan goresan-goresan yang esensial saja. Oleh karena itu kemampuan yang dibutuhkan adalah menangkap hal yang esensial dari sebuah obyek. Sebuah obyek tegak dapat pula diungkapkan dengan garis meliuk, atau miring. Hal ini tergantung dari suasana batin sang perupa dalam mengungkapkannya secara visual dan nilai estetik yang dianutnya. Pada gambar 219, Nyoman Gunarsa lebih banyak bekerja di studio, bentuk-bentuk yang dibuatnya lebih banyak berupa pengalaman tentang seni budaya Bali sebagai lingkungan budayanya. Oleh sebab itu 245
    • ia mampu mengungkapkannya tanpa melihat langsung ke obyek yang dilukisnya dengan lancar tanpa hambatan perbendaharaan visual yang diperlukannya, sehingga spontanitas dapat dicapai. Namun demikian ada pula kelemahannya, yakni upaya mengekspresikan idealisasi dapat terjebak pada pengulangan-pengulangan jika tidak sering melakukan pengamatan dan catatan visual langsung terutama mengenai detail- detail yang kadang sulit untuk diingat. Gambar 219 . I Nyoman Gunarsa, Alam Kahyangan Bebas (sumber: Katalog ”Moksa” Nyoman Gunarsa). 246
    • Gambar 220. Henri Matise, Gadis di depan Aquarium (sumber: Paul Zalanski). Perhatikan karya Matise (gb. 220) dan Picasso (222 a), keduanya hanya menggunakan garis dengan lancar dan luwes dalam mengungkapkan suasana batinnya. Berbeda dengan Nyoman Gunarsa selain menggunakan garis ia juga mahir menggunakan warna cat air un- tuk mendukung bentuk dengan garis yang dibuatnya dengan lancar. Selain itu, komposisi yang dibuat terasa berat di atas, ringan di bawah, tetapi masih dalam keseimbangan dan kesatuannya tetap terjaga. Sketsa yang dibuat sekaligus juga menjadi sebuah lukisan. Di lain pihak Henk Ngantung memvisualisasikan gagasannya dengan garis dan blok tinta untuk mendukung bentuk-bentuknya (gb. 221) dan Cristiano membuat sket wajah gadis langsung dengan konte (gb. 222 b). Gambar 221 . Ngantung, dua sapi di jalan berlumpur 247
    • a b Gambar 222. (a) Picasso, sketsa tiga gadis, (b) Cristiano, Wajah Gadis Kecil (sumber: (a) Paul Zelanski , (b) Koleksi Presiden Soekarno) Tugas Latihan Latihan ini sangat penting untuk melatih keterampilan tangan dalam membentuk dengan garis, maka lakukanlah dengan bersungguh- sungguh ! Setiap hari buatlah 10 sketsa dari berbagai obyek dengan menggunakan kertas buram atau kertas bekas yang sebaliknya belum digunakan. Upayakan mengunakan tinta hitam dan cobalah berbagai jenis pena (pena logam, pena batang, pena bulu) untuk mengetahui kualitas garis yang dihasilkannya. Diskusikan dengan guru pembimbing dan teman hasil-hasil sketsa yang telah dibuat, perhatikan nasehat don kritiknya sehingga kekurangan dapat diiperbaiki. Pilihlah sketsa yang dianggap baik oleh anda, guru dan teman dan kumpulkan serta dijilid sebagai porto-foliomu. 248
    • 2. Menggambar Perspektif dan Proyeksi. a. Menggambar perspektif Lingkungan ini adalah tiga dimensional sebagai sebuah benda yang memiliki panjang, lebar dan ketebalan atau volume. Benda itu berada pada ruang yang memiliki kedalaman. Kita sebagai wujud dilingkupi oleh ruang. Dalam beberapa hal menggambar sama dengan menulis. Menulis adalah kegiatan untuk mengungkapkan sesuatu secara verbal. Apabila kita duduk menggambar suatu benda di depan kita, sebenarnya kita mengungkapkan benda itu melalui gambar. Oleh karena itu diperlukan pemahaman dan keterampilan tentang cara mengungkapkan wujud tiga dimensi ke atas bidang datar melalui prinsip perspektif. Kegiatan menggambar membutuhkan beberapa keterampilan agar hasil gambarnya baik, yaitu keterampilan teknik meliputi ketrampilan membentuk pada bidang dua dimensional berdasar linear perspektif, mewarna berdasar areal perspektif dan mengungkapkan karakter benda yang digambar seperti keras, lunak, pejal, kasar, halus dan sebagainva. Sebelum dapat menggambar, terlebih dahulu ia harus dapat menguasai prinsip dan teknik perspektif. Sebab perspektif merupakan suatu cara dalam mentransformasikan wujud tiga dimensional ke atas permukaan bidang dua dimensional. Dalam transformasi berupa gambar itu terdapat ilusi ruang tiga dimensional yang disebabkan karena penerapan teknik dan prinsip perspektif. Agar lebih memahami tentang prinsip perspektif coba pergi ke alam terbuka, jika mungkin ada jalan lurus atau rel kereta api. Perhatikanlah jalan atau rel itu bagaimana kondisinya bila semakin jauh, apakah jalan atau rel itu semakin menyempit, apakah sisi kanan dan kirinya bertemu pada suatu titik pada garis mendatar? Apa yang diperhatikan itulah perspektif. Selanjutnya perhatikanlah gambar berikut coba buat garis yang bertemu pada satu titik pada garis mendatar pada gambar tersebut. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya ilusi perspektif. Apabila kita perhatikan gambar di atas dapat kita ketahui di mana posisi kita berada. Dari posisi kita, terutama posisi mata menentukan bentuk perspektif itu. Jika kita berada di pantai dan kita melihat ke depan akan kita temukan garis mendatar yang membentang sangat luas, garis itu adalah batas pandangan kita yang merupakan pertemuan antara kaki langit dengan permukaan bumi. Posisi garis ini mengikuti posisi pandangan mata kita dan menyebabkan perubahan yang terjadi terhadap bentuk yang kita lihat. Apabila kita tengkurap di permukaan bumi garis batas pandangan itu tingginya mengikuti posisi 249
    • mata kita, begitu pula kalau kita berada di atas gunung. Selain garis batas pandang ada pula yang disebut titik lenyap, maksudnva seluruh benda ini jika dijajarkan semakin jauh akan terlihat semakin kecil dan menuju kepada suatu titik lenyap yang berada pada garis batas pandang itu. Oleh sebab itu dalam menggambar dengan perspektif titik lenyap yang digunakan dalam tiga posisi tergantung dari bagaimana posisi benda yang ingin digambarkan. Dalam perspekfif satu titik lenyap biasanya digunakan untuk menggambarkan penampakan dari arah depan obyek. Apabila dalam perspektif ada dua titik lenyap biasanya digunakan untuk meng- gambarkan dua sisi obyek, yaitu dari arah depan dan samping, se- dangkan perspektif tiga titik lenyap untuk menggambarkan pandangan depan, samping dan khusus benda yang tinggi. Dalam ungkapan seni rupa agak berbeda dengan arsitektur yang menggambarkan perspektif harus tepat, untuk seni rupa perspektif hanyalah untuk membantu pemahaman tentang ilusi keruangan terutama untuk seni lukis naturalis dan realis. Gambar 223 . Memahami posisi benda dalam perspektif (sumber: Stan Smith (a), Colin Saxton (b) Atan Simth ). Tugas Latihan Lakukanlah praktek berikut ini agar dapat memahami tentang bagaimana menggambarkan benda dengan menggunakan prinsip perspektif. 250
    • Tugas a. Perspekhf satu titik lenyap pandangan dari atas dan bawah. a. Gunakan selembar kertas gambar A4. b. Buatlah garis mendatar (ab) sepanjang 20 cm sebagai garis batas pandang. c. Carilah titik ( o ) tengah garis itu dari titik tengah itu buatlah empat buah garis, memancar ke atas . d. Tentukan satu titik ( c ) pada salah satu garis yang memancar ke atas, kemu- dian pada titik itu tarik garis sejajar garis batas pandang menuju ke titik (d ) garis di sebelahnya. e. Tarik garis tegak lurus ke Contoh perspektif satu titik lenyap atas dari (c) dan (d) sepanjang 3 cm (ce dan df), kemudian tarik garis sejajar lagi yang menghubungkan garis (cf). e f f. Tarik garis sejajar di bawah garis (cd) yang menghu- bungkan (co) dengan (do), dengan demikian anda su- dah mendapatkan gam-bar c d sebuah balok dipan-dang dari depan atas dengan menggunakan prinsip per- spektif satu titik lenyap. a b o 251
    • Tugas b. Perspektif Dua Titik Lenyap. Sebagat haInya tugas di atas buatlah garis batas pandang sepanjang 20 cm (ab) Titik lenyapnya dapat ujung garis itu atau tidak pada ujung garis. Tariklah tiga buah garis memancar dari titik (a) ke sebelah kanan dan dari titik (b) ke sebelah kiri sehingga garis-garis itu saling silang. Pada titik pertemuan empat garis yang di bagian atas berilah tanda c,d,e,f Dari titik c, d dan e tarik garis tegak lurus sehingga bertemu dengan garis dibawahnya dan beri tanda g, h dan i sehingga menjadi garis cg, df dan ei. Contoh perspektif dua titik lenyap Dengan demikian anda telah men- dapatkan gambar balok pandang- an dari bawah, samping dan de- d pan. c e g f i h a b 252
    • Tugas c. Perspektif Tiga Titik Lenyap. Buat garis sejajar (ab) dan (cd) Masing-masing dari titik (a) tarik tiga garis memancar ke bawah kanan dan dari (b) tiga garis memancar ke bawah kiri sehingga saling silang Pertemuan tiga garis dari (a dan b menemukan titik pertemuan (e,f,g,h, dan j) Tentukan sebuah titik lenyap (o) di tengah (cd) Hubungkan (o) dengan (e, g, h). Hubungan (o) dengan (e) menemukan (i) dan (k), dengan demikian didapatan sebuah kubus pandangan atas. Tugas selanjutnya dapatkah anda Contoh perspektif tiga titik lenyap menggambar benda dengan tiga jenis perspektif tadi? a b f e g h i k j c o d 253
    • Tugas Latihan Buatlah sebuah gambar sebuah bentuk sederhana dengan mene- rapkan masing ketiga prinsip perspektif. b. Menggambar Proyeksi Menggambar proyeksi adalah kelanjutan dari menggambar perspektif. Jika menggambar perspektif memberi keterampilan tentang meng- gambarkan ilusi tiga dimensional pada bidang datar maka proyeksi memberi keterampilan untuk menggambarkan secara mendetail bagian- bagian sisi dari benda yang digambar. Oleh sebab itu, keterampilan menggambar proyeksi ini sangat penting untuk dipelajari oleh siswa jika ingin dapat membuat suatu desain benda produk seni rupa dan seni kerajinan dengan baik. Gambar 224 . Contoh gambar proyeksi (sumber: Collin Saxton) Ada beberapa jenis menggambar proyeksi, seperti planometri, isometri dan oblique. Namun dalam pembahasan ini akan dikemukakan tentang proyeksi orthografi. Proyeksi ini sangat bermanfaat dalam menggam- 254
    • barkan berbagai bentuk, dimensi dan susunan bagian-bagiannya. Prinsip dari proyeksi ini adalah melihat tiga sisi sebuah benda, yakni dari atas, samping dan dari depan. Untuk itu obyek ditempatkan dalam sebuah kotak imajiner kemudian bagian sisi dari benda yang menghadap ke sisi kotak diproyeksikan ke sisi kotak itu kemudian kotak itu dibuka maka anda akan mendapatkan proyeksi dari benda. Agar lebih jelas perhati- kanlah contoh gambar berikut. Perhatikanlah contoh gambar teknik berikut ini, bagaimana penerapan perspektif dan proyeksi sebagai gambar penuang- an gagasan untuk membuat benda produk seni pakai tiga dimensi ! Dapatkah anda membuatnya ? Gambar 225. Gambar kerja penerapan proyeksi dan perspektif terhadap rencana pembuatan produk seni terpakai ‘tempat koran’ (sumber: koleksi PPPPTK Seni dan Budaya Sleman – Yogyakarta). 255
    • Tugas Latihan. Lakukanlah latihan berikut ini agar anda dapat membuat gambar proyeksi guna keperluan pembuatan desain produk. Gunakan kertas gambar A4 dan pensil 2R Buatlah sebuah gambar kubus di mana pada sisi samping dan belakang kubus itu ada masing-masing sebuah lubang segi tiga dan segi empat Dapatkah anda membuat gambar proyeksinya seperti contoh gambar di atas ? Selanjutnya dengan kertas lain buat sebuah gambar rencana pembuatan produk benda seni terpakai dengan menerapkan proyeksi dan perspektif ! 3. Menggambar Alam Benda Istilah dalarn bahasa Inggris untuk alam benda adalah 'still life'. Kata ini mengandung makna tentang menggambar secara langsung suatu benda diam yang sengaja disusun untuk keperluan itu. Kegiatan menggambar alam benda sebagai subyek utama diketahui mulai sejak abad XIV. Sebelum itu gambar alam benda hanya sebagai pendukung dari sebuah tema utama lukisan. Ada beberapa kemampuan yang harus dikuasai dalam menggambar alam benda yaitu : a. Memilih dan menyusun benda yang akan digambar serta menentukan sudut pandang yang baik. b. Mentransformasikan bentuk tiga dimensi ke atas bidang dua dimensi dengan garis dan unsur lainnya. c. Menjadikan ilusi tiga dimensi terhadap benda yang digambar dengan menerapkan prinsip perspektif, memberikan warna dan gelap terang. d. Mentransformasikan karakter benda yang digambar misalnya karakter benda keras, lunak, liat, dan pejal. Apabila keempat syarat minimal ini dikuasai, niscaya menggambar alam benda dapat berhasil. Sebelum praktek, ada baiknya mem- perhatikan gambar di bawah ini. Lihatlah bagaimana teknik dan bahan yang digunakan, bentuk-bentuk benda yang digambar, gelap terang dan karakter bendanya. Masalah pertama yang menjadi pertimbangan untuk menggambar alam benda adalah tentang jenis benda apa yang ingin digambar, karena pemilihan terhadap obyek yang digambar itu menentukan keber- hasilannya. Ada dua macam obyek dalam menggambar alam benda, yakni obyek buatan manusia dan obyek alami. Obyek tidak perlu yang muluk-muluk, benda sederhanapun dapat menjadi obyek dan 256
    • menghasilkan gambar yang baik. Hal ini tergantung dari bagaimana kita dapat mengenali keindahan dari benda itu untuk diungkapkan secara visual. Selain itu penyusunan terhadap obyek perlu mendapat perhatian pula, tidak perlu. a b Gambar 226. (a) Sepatu, karya siswa SMK 2 Kasihan Batul, (b) Buah, karya peserta diklat Dasar Seni Rupa/Kekriyaan. susunan yang penuh dengan kerumitan. Susunan yang baik unsur yang sederhana tetapi dapat menarik perhatian. Lihatlah contoh gambar atau lukisan alam benda yang dibuat oleh Van Gogh pada gambar (227). Sebuah kursi tua dapat dijadikan obyek yang menarik dan menghasilkan karya yang berkualitas tinggi. Dalam karya ini Van Gogh berhasil mengungkapkan karakter kursi tersebut dengan teknik yang memiliki ciri khas tersendiri. Oleh sebab itu para siswa diharapkan berlatih terus sehingga menguasai berbagai teknik menggambar yang kemudian dapat mengembangkan ciri khasnya masing-masing. Dalam mentransformasikan wujud tiga dimensional menjadi gambar dua dimensional pengetahuan dan keterampilan tentang perspektif sangat membantu untuk menciptakan ilusi keruangan. Selain itu, kemampuan membuat skala dari ukuran sebenarnya menjadi lebih kecil atau lebih besar adalah hal penting. Biasanya menggambar alam benda jarang menerapkan ukuran yang lebih besar dari obyek aslinya, paling besar sama dengan ukuran sebenarnya (life size). Menggambar alam benda yang ukurannya lebih kecil dan disesuaikan dengan ukuran kertas, pengukuran skalanya dapat dilakukan dengan teknik yang sangat sederhana tetapi efektif. Dengan hanya menggunakan batang pensil, tangan direntangkan lurus ke depan dan pensil dipegang tegak lurus diarahkan kepada benda yang digambar, mata dipicingkan lalu ibu jari 257
    • digunakan untuk menandai ukuran benda yang digambar pada batang pensil itu kemudian digunakan sebagai skala gambar pada kertas gambar. Gambar 227. Vincent Van Gogh, Kursi dan Pipa Cerutu (sumber: Stan Smith.) 258
    • a Gambar 228 . (a) Buah pier , bahan krayon (sumber: Richard Mc. Daniel ), (b) Vas bunga, bahan pastel (sumber: Parramon’s Educational Team ) b Dalam pemberian warna dan gelap terang diperlukan ketajaman penglihatan. Seperti halnya mengukur obyek, untuk memberi kesan gelap terang pandangan mata kita harus difokuskan pula dengan memicingkan- Dalam pemberian warna dan gelap terang diperlukan ketajaman peng- lihatan. Seperti halnya mengukur obyek, untuk memberi gelap terang pandangan mata kita harus difokuskan pula dengan memicingkan-nya. 259
    • Dengan demikian kontras gelap terang semakin jelas terlihat, sehingga memudahkan dalam pemberian tone gelap terang dan warna pada gambar. Gelap terang bertujuan untuk membuat ilusi tiga dimensional terhadap gambar. Oleh sebab itu, kemampuan teknik dalam konteks ini sangat menentukan keberhasilan sebuah gambar, selain pengaturan pencahayaan pada waktu menyusun benda yang hendak digambar. Selanjutnya, dalam memberi karakter terhadap gambar agar sesuai dengan benda aslinya, diperlukan kepekaan dan teknik pewamaan yang mantap. Hal ini akan dicapai jika melaksanakan latihan secara terus menerus untuk mempertajam penglihatan, memperhalus perasaan dan menguasai teknik penggunaan bahan. a b c Gambar 229. (a) Alam benda dengan teknik dan bahan cat air, (b) Alam benda dengan cat minyak, (c) alam benda dengan teknik titik-titik (pointilis) dari alat spidol. 260
    • a. Menggambar Alam Benda Hitam Putih dengan teknik ‘dry brush’ Kegiatan menggambar alam benda dalam bidang seni rupa termasuk dasar bagi kegiatan berkarya seni rupa selanjutnya, sebab dalam kegiatannya latihan pengamatan terhadap ujud sebuah benda merupakan kegiatan untuk mencermati bentuk dan plastisitasnya. Cara 1. Susunlah dua buah botol be-ning dengan latar bela- kang gelap agar dapat mem- beri kontras yang tajam 2. Buatlah sketsa kedua botol dengan pensil dengan go- resan tipis. 3. Berilah latar belakang de- ngan warna hitam, kemu- 1 dian warna tersebut di go- sok dengan kertas tisu atau kain yang lembut agar men- dapatkan warna yang rata. 4. Kain atau tisu yang telah digu-nakan menggosok la- tar belakang tadi, gunakan untuk menggosok bentuk botol sehingga mendapat- kan warna hitam tipis. 5. Gunakan karet penghapus 2 yang telah diruncingkan un- tuk mendapatkan ’high- light’ pada botol. 6. Selanjutnya berikan sentuh- an akhir dengan penekanan- penekanan pada bagian ge- lap di botol dengan arang/ pastel. 3 Gambar 230. Proses mengambar dengan teknik dry brush 261
    • ini sangat efektif untuk melatih perasaan dalam merasakan karakter permukaan setiap benda dan melatih untuk mengingat wujud sebuah benda. Benda yang digambar tidak berubah-ubah posisinya, dengan demikian pengamatan dapat dilakukan secara terus menerus terhadap struktur dan unsur benda tersebut, hal ini memberi kesempatan untuk pencerapan oleh persepsi terhadap kualitas benda yang diamati, yaitu warna, tekstur, plastisitas yang diakibatkan oleh lekak-lekuk benda serta gelap terang yang diakibatkan oleh cahaya yang menerpa benda. Perhatikanlah cara menggambar alam benda tanpa warna pada gambar 235 di atas sebagai teknik awal yang perlu dikuasai. Tugas Latihan. Ini adalah latihan lanjutan setelah melakukan latihan membuat perspektif dan sketsa, latihan ini penting dilakukan untuk meningkatkan keterampilan dalam memberi kemantapan dalam membuat ilusi tiga dimensional dengan gelap terang dan pewarnaan serta mengasah kepekaan rasa dan ketajaman penglihatan. 1. Ambilah dua buah benda, susunlah benda tersebut dalam komposisi yang sedap dipandang 2. Buatlah sket kedua benda tersebut di atas kertas gambar 3. Berilah arsiran tipis pada bagian-bagian benda yang gelap 4. Secara perlahan, tebalkan bagian yang gelap tersebut 5. Gunakan bagian yang paling gelap untuk membandingkan tonasi gelap terang pada bagian yang lain b. Menggambar Alam Benda dengan Warna Menggambar alam benda dengan warna agak berbeda dengan menggambar alam benda hanya dengan hitam putih mengguakan pensil atau arang. Warna yang dapat digunakan ada banyak jenisnya, antara lain warna medium kering, seperti pensil berwarna, pastel, dan krayon; ada pula warna dengan medium basah seperti cat air, cat poster, cat akrilik, dan cat minyak. Semua bahan ini memiliki sifat yang berbeda- beda seperti yang telah diuraikan dalam bab III. Oleh karena memiliki sifat yang berbeda, maka menggambar alam benda dengan warna perlu penguasaan yang berbeda pula. Contoh berikut adalah menggunakan cat akrilik. Akrilik memiliki sifat warna cerah, oleh kaena itu cocok untuk menggambarkan benda-benda dengan warna yang intensitasnya tinggi. Jeruk memiliki warna kuning, aple warna merah dan hijau. Dalam contoh latihan berikut adalah menggambar alam benda aple, dan jeruk yang memiliki warna cerah dan komposisi sederhana. Potensi akrilik mirip cat minyak tetapi cepat kering. Oleh karenanya kuas yang digunakan harus sering dimasukkan ke dalam air agar tidak rusak. Oleh karena cepat ke- 262
    • Langkah-Langkah Menggambar Alam Benda dengan Warna Akrilik Langkah 1: sket outline benda model dan warna dasar Langkah 2: Memberikan warna-warna terang pada bagian yang terkena cahaya dan sedikit latar belakang Langkah 3: Menekankan gelap terang pada benda dan latar belakang Langkah 4: Mem- berikan highlight dan finishing touch Gambar 231. Langkah menggambar alam benda dengan warna akrilik 263
    • Langkah Menggambar Alam Benda dengan Cat Air 1. Bersihkan kertas dengan kapas lembab dengan perlahan dan keringkan. 2. Setelah sket tipis dengan pensil selesai, terapkanlah warna biru tipis keabu-abuan sebagai warna dasar dengan cat air yang telah dicairkan sebelumnya pada wadah palet. 3. Biarkan bagian yang mengkilat terkena cahaya tetap putih sebagai highlight nantinya. 4. Secara perlahan, setelah warna dasar pertama agak kering, terapkan warna berikutnya yang mendekati warna benda, yaitu coklat dengan bergradasi 5. Secara perlahan ketika warna cklat muda telah kering, terapkan warna coklat tua pada bagian yang gelap. Berikan sentuhan akhir pada bagian yang paling pekat. Gambar 232 . Menggambar Alam Benda dengan Cat Air (sumber: Hasel Harrison) 264
    • ring kecenderungan penggunaannya menggunakan teknik brush stroke dengan sapuan-sapuan kuas yang lugas. Oleh karenanya teknik ini sulit untuk digunakan melukis realis dengan permukaan halus, hasil gambar lebih bersifat ekspresif dengan tarikan kuas yang kuat. Warna diterapkan secara berulang tumpang tindih sehingga warna menjadi tebal. Untuk itu perhatikan contoh langkah-langkah menggambar alam benda dengan warna akrilik (gb.231) dan warna cat air (gb.232). Perhatikan cara mewarnanya, pemberian gelap terang untuk men- dapatkan ilusi tiga dimensional. Selanjutnya lakukan latihan mandiri dengan mengacu kepada tahapan contoh gambar tersebut. 4. Menggambar Tumbuhan-Tumbuhan dan Binatang Dunia tumbuhan dan binatang sangat kaya dengan jenis rupa dan ini sangat menyenangkan untuk digunakan sebagai sumber gagasan dalam bidang seni rupa dan seni kerajinan. Mulai belajar menggambar tum- buhan dan binatang lebih baik jika dilakukan melalui pengamatan lang- sung tehadap obyek. Hal ini dapat memberikan banyak perbendaharaan rupa yang berguna dalam peningkatan dan pengembangan gagasan selanjutnya. Menggambar tumbuhan dan binatang ada perbedaannya, misalnya tumbuhan yang diam dapat diamati secara tetap, sedangkan binatang tidak karena selalu bergerak. Oleh sebab itu, untuk menggambar binatang secara langsung lebih memerlukan kecepatan dan ketajaman penglihatan dibanding menggambar tumbuhan. a. Menggambar Tumbuhan-Tumbuhan Sebelum mulai menggambar, perlu diketahui terlebih dahulu tentang dunia tumbuhan terutama jenis kelompoknya. Untuk itu kerjakanlah tugas mendapatkan informasi tersebut ! Tugas awal adalah mencari tahu tentang kelompok dalam tumbuhan, diskusikan dengan teman atau cari informasi di perpustakaan tentang kelompok tumbuhan dan ciri-ciri dari setiap kelompok. Selanjutnya pergilah ke luar amati kelompok rerumputan yang ada di halaman atau lahan yang luas yang belum terusik oleh tangan manusia. Kenali jenis dan rupa dari kelompok rerumputan itu; warnanya, bentuknya, seratnya, bariknya. Selanjutnya amati kelompok perdu dekat sungai, lalu pohon-pohon yang beraneka jenisnya. Dari sekian jenis pepohonan itu apakah ada daun, batang, dan bunga yang sama bentuk dan warnanya dan bagaimana pula perbedaannya ? 265
    • . Gambar 233. Pepohonan karya peserta diklat Dasar Seni Rupa/Kriya P4TK Seni dan Budaya Yogya- karta. Menggambar tumbuh-tumbuhan sama dengan menggambar obyek lainnya. Yang penting adalah bagaimana melakukan persepsi terhadap bentuk, warna dan karakter dari setiap jenis dan kelompok tumbuhan itu, kemudian dipindahkan ke atas bidang gambar. Dalam hal ini diperlukan kecermatan dalam mengamati dari setiap detailnya. Untuk itu lakukanlah latihan-latihan berikut ini. Gambar 234 . Durrer, rerumputan hasil studi cat air 266
    • 1) Menggambar rerumputan Jenis rerumputan sangat banyak tetapi untuk mengetahui tentang sifat rupa kelompok tumbuh-tumbuhan ini cobalah pilih salah satu dan jadikan obyek latihan menggambar. Tugas Latihan Menggambar Rerumputan Gunakan kertas gambar A4 dan pensil 3B Ambil satu pohon rumput dan amati bentuk helai daun dan bunganya, mulailah mengadakan studi gambar/visual tentang rumput itu secara mendetail. Ambil sejenis rumput yang lain, amati perbedaan dengan rumput sebelumnya, lalu lakukan pula studi gambar dengan teliti. Dengan kertas gambar lain dan pensil cobalah menggambar jenis rerumputan tadi dalam kelompoknya. Gunakan contoh gambar sebagai acuan, dan jangan menirunya. Selanjutnya dapatkah anda menggambar kelompok rerumputan dengan warna . 2) Menggambar Perdu/Semak Semak atau perdu memiliki karakter berbeda dengan pepohonan, karena secara fisik semak atau perdu lebih kecil dan terdiri dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang berbeda. Lalukanlah latihan berikut ini. Tugas Menggambar Perdu b. Gunakan kertas gambar A4 dan pensil 3b. c. Ambil contoh batang dan daun dari beberapa jenis perdu. d. Lakukanlah studi gam-bar secara mendetail terhadap jenis perdu itu. e. Dengan kertas gambar yang lain buatlah ‘out line’ dari kelompok perdu itu. f. Selanjutnya buatlah gambar Gambar 235. Pohon perdu dengan bahan lebih mendetail dari kelom- pastel pok perdu tadi dengan war- na. 267
    • 3) Menggambar Pohon Pohon jenisnya sangat banyak dan karakternya fisiknya berbeda-beda mulai dari batang, daun, bunga, dan buahnya. Menggambar pada dasarnya mengamati secara fisik dan memindahkannya ke atas bidang datar atau kertas. Untuk itu latihan menggambar berbagai jenis pohon sangat penting sebagai perbendaharaan visual, latihan dapat dilakukan bagian perbagian sebelum menggambar secara keseluruhan. Dapat mulai dari mengamati karakter batang, daun dan bagian-bagian lainnya. Tugas menggambar po- hon-pohonan Pilihlah sebuah po- hon di halaman. Gunakan kertas gam- bar A4 dan pensil 3B. Amati batang tum- buhan itu, dahan, ca- bang dan daunnya ser-ta bagian lainnya. Selanjutnya, mulailah menggambarnya dengan ‘out line’ ke- mudian dilanjutkan dengan membuat de- Gambar 236. Pepohonan karya siswa SMKN 2 Kasihan Bantul tail bagian-bagiannya dengan pensil ver- warna. Berikut ini adalah langkah-langkah latihan menggambar daun dengan bahan pastel, garis-garis daun dapat dibuat dengan menggunakan benda tajam digoreskan untuk membentuk garis-garis urat daun. Perhatikanlah contoh langkah-langkah menggambar berikut, kemudian lanjutkan de- ngan latihan sendiri mengambil sehelai jenis daun yang dan lakukan dengan mengacu kepada contoh-contoh langkah berikut. 268
    • Langkah-Langkah Menggambar Daun dengan Pastel Minyak 1. Ambil dua tangkai daun yang telah tua, sket tipis dengan pensil atau langsung dengan pastel warna kuning. 2. Perhatikan warna dasar apa yang dominan pada kedua daun itu ! Jadikan warna dominan muda sebagai warna dasar, orange kuning dan hijau kuning 3. Beri tone warna gelap terang sesuaikan dengan warna aslinya, pada daun orange kuning ada warna tepi orange sehingga nampak bergradasi. 4. Setelah penerapan gelap terang selesai, gunakan alat tajam untuk membuat urat-urat daun 5. Beri sentuhan akhir dengan detail- detail warna dan goresan urat daun yang dirasa masih perlu. Gambar 237. Menggambar daun dengan bahan pastel minyak (sumber: Hasel Harisson). 269
    • b. Menggambar Binatang Seperti halnya menggambar tumbuhan, maka sebelum latihan menggambar binatang lakukanlah tugas berikut ini Cari informasi tentang binatang ke perpustakaan terutama tentang jenis dan bentuknya, kemudian diskusikan dengan teman tentang pengelompokan jenis binatang tersebut. Binatang sangat kaya akan rupa. Lihat kelompok unggas. Dalam suatu kelompok itu bentuk dan warnanya tidak ada yang sama. Begitu pula pada kelompok binatang yang lain. Untuk itu, dalam menggambar binatang diperlukan pengenalan terhadap bentuk dan anatomi setiap kelompok binatang itu. Bentuk binatang melata berbeda dengan bentuk binatang air, binatang menyusui berkaki empat berbeda bentuknya dengan binatang kelompok unggas. Bahkan dalam satu kelompok terdapat pula perbedaannya; misalnya dalam kelompok binatang menyusui, bentuk kuda berbeda dengan bentuk anjing berbeda pula dengan bentuk sapi. Perhatikan bentuk binatang dan gambar binatang di bawah ini ! Cermati bentuk keseluruhannya dan anatominya serta cara menggambarnya ! Gambar 238. Jenis-jenis Binatang menyusui (sumber: Edwin Gould & George McKay). 270
    • Gambar 239. Kuda liar di padang rumput (sumber: Edwin Gould & George McKay). 271
    • Gambar 240. Sketsa kera, anak anjing, dan kucing a b Gambar 241 . (a) Rembrant, Gajah, (b) Durrer, Kelinci (sumber: Gombrich) 272
    • Gambar 242. Burung karya peserta Diklat Dasar Seni Rupa/ Kekriyaan P4Tk Seni dan Budaya Yogyakarta. Langkah- Langkah Menggambar Kucing Kesulitan menggambar binatang adalah karena mereka tidak jenak, tidak seperti manusia dapat disuruh untuk diam. Oleh sebab itu diperlukan pengamatan yang cermat tentang bentuk, warna, dan geraknya. Agar mendapatkan bentuk yang baik buatlah sketsa studi yang banyak dari binatang yang akan digambar. Pada saat ini dapat dibantu dengan kamera untuk merekam warna dan posisi binatang yang disenangi. Gunakan kamera sebagai alat bantu, tetapi jangan tergantung karena itu hanyalah alat yang gunanya untuk membantu kesempurnaan bekerja. Walaupun ada kamera kemampuan membuat sketsa yang cekatan sangat diperlukan. Setelah mantap dengan pilihan sketsa lalu pindahkan ke atas kertas atau kanvas. Untuk itu, sebagai contoh dan acuan perhatikan langkah-langkah menggambar kucing dengan media pensil cat air di bawah ini. 273
    • 1. Pindahkan sketsa kucing yang telah dibuat ke atas kertas gambar untuk cat air, atau ke atas kanvas dengan cat dasar akrilik dengan pensil. 2. Goreskan pensil cat air secara tipis mengikuti warna asli kucing. 2. Secara bertahap diterapkan warna-warna menjadi lebih pekat, dan goresan pensil diccairkan dengan kuas yang basah. 3. Perhitungkan pula warna latar belakang dan lingkungan agar gambar tidak nampak mengambang. 4. Secara perlahan kerjakan detail- detail bulu kucing yang ervariasi antara kuning oker, coklat tua, putih dan hitam 5. Gambar kucing selesai, latar belakang dan meja tempat kucing berdiri merupakan tambahan, sehingga kucing nampak dalam suatu suasana di sebuah ruangan. Gambar 243. Langkah-langkah menggambar kucing (sumber: Hazel Harrison). 274
    • Tugas Latihan Setelah mengamati bentuk binatang dan cara menggambarnya, lakukanlah latihan di bawah ini. Siapkan alat dan bahan untuk menggambar seperti pensil, kertas, penghapus dan papan gambar. Tentukan jenis binatang menyusui yang akan digambar kalau mungkin binatang yang tidak sulit ditemui seperti kucing, anjing, sapi, kerbau, kambing dan lainnya. Amati bentuk binatang itu secara seksama mulai dari kepala hingga kaki. Mulailah menggambar binatang itu secara global kemudian bentuklah bagian-bagian dari badan binatang mulai dari kepala hingga kaki secara global pula. Selanjumya mulailah secara bertahap memberikan detail pada setiap bagiannya. Gunakanlah contoh-contoh sebagai acuan. 5. Menggambar Manusia Menggambar manusia memerlukan keterampilan dan ketekunan yang lebih dibanding menggambar obyek lainnya. Hal ini disebabkan karena bentuk tubuh manusia memiliki anatomi tubuh dan plastisitas yang kompleks dan sekaligus indah. Untuk dapat menguasainya dibutuhkan pengetahuan tentang anatomi plastis tubuh manusia, yaitu tentang fenomena permukaan bentuk tubuh manusia. Calon seniman seni rupa tidak perlu mempelajari ilmu anatomi layaknya mahasiswa kedokteran, yang dibutuhkan hanyalah pengetahuan penampakan luarnya dan penyebab timbulnya plastisitas tubuh tersebut. Oleh sebab itu calon seniman seni rupa harus mengetahui apa yang ada dibalik kulit manusia utamanya unsur pembentuknya yaitu tulang dan otot, ketika tulang dan otot bergerak bentuk permukaan tubuh berubah, sehingga orang yang diam anatomi plastisnya berbeda dengan orang dalam keadaan bergerak. Hal ini tentu sangat penting untuk diketahui oleh seniman seni rupa yang ingin memperdalam seni ilustrasi grafis seni lukis realis yang banyak memerlukan gambar manusia. Menelusuri kembali tentang pengetahuan anatomi manusia, hal ini dimulai pada zaman Mesir Kuno dan trutama Zaman Yunani Kuno. Seniman Yunani Kuno sangat tertarik pada keindahan tubuh, mereka mendapatkan proporsi ideal tinggi manusia adalah tujuh setengah kali panjang kepalanya, sedangkan Leonardo da Vinci mematok proporsi ideal tinggi manusia adalah delapan kali tinggi kepalanya. Seniman 275
    • Yunan Ploclitus pada abad ke 5 Sebelum Masehi, menentukan bahwa olahragawan atau atlit adalah manusia yang memiliki anatomi dan proporsi yang ideal, sehingga banyak patung-patung Yunani Kuno menggambarkan keindahan tubuh telanjang tidak lain karena nilai keindahannya. Tradisi ini kemudian pada zaman Renaissance diikuti oleh seniman patung terutama Michael Angelo yang gemar menggunakan model laki-laki atletis telanjang karena keindahan anatomi plastisnya.. Gambar 244. Proporsi tubuh laki-laki dewasa (sumber: Diktat Diklat Guru SMK Seni dan Budaya). Anatomi tubuh manusia memang rumit, namun demikian, untuk memudahkan memahami dan menggambarnya perlu diketahui terlebih dahulu bentuk dasarnya. Bahwa bentuk dasar tubuh manusia jika dikembalikan ke bentuk esensinya dapat menjadi rangkaian bentuk silinder bervolume serta terbentuk oleh otot-otot utama sebagai gambar (244, 245). Agar lebih memahaminya diperlukan latihan mandiri secara terus menerus, oleh karena itu diperlukan buku sketsa yang dapat dibawa setiap saat kemana-mana. Menggambar anatomi tidak harus selalu utuh seluruh tubuh, dapat dilakukan dengan menggambar setiap bagian tubuh, seperti bagian kepala dari segala arah, bagian tangan dengan berbagai gerakan begitu pula bagian kaki. Dalam setiap kesempatan gunakan 276
    • kesempatan untuk membuat sketsa agar dapat menguasai bentuk-bentuk manusia secara baik. Gambar 245. Proporsi tubuh orang dewasa (sumber: Stan Smith & Colin Saxton). Sebagai yang dijelaskan sebelumnya, bahwa tinggi tubuh manusia dewasa normal tingginya 7, 5 – 8 tinggi kepalanya, namun menjadi berbeda pada tinggi tubuh remaja, anak dan bayi. Selain ukuran tinggi tubuh, adapula ciri khusus pada bentuk tubuh wanita maupun laki-laki. Hal yang paling menonjol pada perbedaan tubuh wanita dan laki-laki, wanita pinggulnya lebih lebar dibanding bahunya sedang laki-laki sebaliknya. Garis tepi tubuh wanita lebih lembut dibanding laki-laki terutama garis tepi pada bagian dahi, alis dan rambut serta bagian bawah terdiri dari hidung, mulut, telinga dan dagu. Jika dibagi dua secara tegak lurus, bagian kiri dan kanan adalah simetris (gb. 244). 277
    • Gambar 246: Gambar bagian kepala (sumber: Stan Smith) Bagian badan biasanya disebut torso, yang terbentuk oleh tiga bagian, yaitu bagian dada, bagian perut dan pinggul. Bagian badan sangat lentur karena disangga oleh tulang belakang yang dapat di- gerakkan melengkung ke depan, ke belakang, ke samping dan ber-putar. Anggota badan manusia terdiri dari tangan dan kaki. Tangan dibentuk oleh tiga bagian, yaitu lengan atas, lengan bawah dan telapak tangan, sedangkan kaki terdiri dari paha, betis dan telapak kaki. Seluruh bagian tubuh manusia memiliki karakter bentuknya masing-masing dan setiap bentuk memiliki kerumitan dalam menggambarnya. Untuk itu diperlukan Gambar 247. Gambar bagian torso/badan (sumber: Gombrich dan Paul Zelanski) 278
    • pengetahuan tentang anatomi plastis tubuh manusia. Hal ini sangat penting diketahui oleh siswa dalam kaitannya dengan menggambar manusia secara realistik. Pengetahuan tentang anatomi plastis akan memudahkan dalam memahami bentuk manusia secara keseluruhan. Dengan anatomi diketahui susunan tulang sebagai kerangka bangun tubuh manusia karena tulang itu adalah tempat melekatnya otot dan daging sehingga bentuknya mempengaruhi panampakan permukaan tubuh. Perhatikan gambar berikut tentang teknik menggambar bagian muka dengan cat minyak. Langkah-Langkah Menggambar Potret Gambar 248. Langkah-langkah menggambar potret dengan akrilik (sumber: Hazel Harrison) 279
    • Gambar 249. Dullah, Wanita Desa (foto: A.Agung Suryahadi) Tugas latihan Agar lebih dapat mengetabui bagaimana uniknya bentuk tubuh manusia perhatikanlah tubuhmu sendiri dalam cermin. Lihat tiap- tiap bagiannya, sambil duduk coba menggambar bagian-bagian itu secara terpisah kepala, badan, tangan dan kaki. Gunakan contoh di atas sebagai acuan. Mulailah dari posisi yang paling mudah misalnya kepala dari depan, badan dari depan. Teruskan dengan variasi berbagai posisi 6. Menggambar Ilustrasi Kata ilustrasi berasal dari bahasa, Inggris 'illustrate' yang berarti menjelaskan dengan contoh gambar, kejadian, musik dan sebagainya. Dari ilustrasi itu apa yang dibahas menjadi lebih jelas. Teknik membuat ilustrasi secara visual sangat banyak, namun dalam pembahasan ini hanya diuraikan tentang beberapa teknik menggambar ilustrasi yang pokok dengan media hitam putih. Menggambar ilustrasi dapat dibuat dengan berbagai media dan gaya dan kegunaannya pun bermacam- macam. Bentuk ilustrasi harus mencerminkan pokok masalahnya, sehingga ilustrasi dapat menunjang sesuatu yang jelas. Oleh sebab itu, seorang ilustrator harus memahami apa yang hendak diilustrasikan dan perlu memiliki imajinasi yang tinggi. Gambar ilustrasi ada beberapa jenis yaitu ilustrasi untuk cerita, ilustrasi untuk ilmu pengetahuan, dan ilustrasi untuk sampul buku. Ilustrasi untuk cerita dimaksudkan sebagai pen- 280
    • jelasan secara visual tentang isi suatu cerita dan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu ilustrasi cerita pendek, ilustrasi ceritera komik dan ilustrasi ceritera fiksi atau khayalan. Untuk mengambar ilustrasi cerita novel dan cerita pendek, illustrator harus mampu mengambil bagian yang menarik dan dapat mewakili cerita keseluruhan untuk dilustrasikan. Ilustrasi untuk ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara visual tentang suatu bentuk atau suatu proses kejadian, seperti pertumbuhan mahluk dan proses produksi. Bagian yang diilustrasikan tentu bagian yang sulit dibayangkan, sehingga dengan visualisasi orang akan dapat lebih mudah memahami. Ilustrasi sampul buku berfungsi memberikan gambaran visual tentang isi dalam buku itu. Biasanya ilustrasi yang ditampilkan adalah bagian yang paling menarik dari isi buku tersebut sehingga orang tertarik untuk melihat dan membacanya. Dalam menggambar ilustrasi, seorang illustrator harus baik menggambar bentuknya, seperti menggambar alam benda, manusia, flora dan fauna, sekaligus mahir dalam menggunakan berbagai jenis alat dan bahan menggambar. Tanpa kemahiran ini tidak mungkin menjadi seorang illustrator berhasil dengan baik. Agar lebih jelas, perhatikanlah gambar berikut ! Kenali jenis ilustrasi tersebut, kenali pula bagian-bagian yang menarik dan kurang menarik perhatian, serta pemilihan adegannya. b a Gambar 250 . Ilustrasi berbeda fungsi (sumber: (a) Eiseman, (b) PLH SMK). 281
    • Diskusikan dengan teman tentang apa fungsi ilustrasi gambar berikut, bagaimana komposisinya, apakah yang diilustrasikannya? Bagaimana perasaanmu melihat gambar tersebut, apakah gambar tersebut memberikan image tentang bentuk yang belum pernah ada di dunia atau apa pendapatmu tentang gambar tersebut. Dapatkan digunakan sebagai ilustrasi tertentu? Gambar 251 . Ilustrasi unik karya peserta Diklat Guru Seni SMA P4 TK seni dan Budaya Yogyakarta. Tugas Latihan Sebelum membuat ilustrasi bacalah cerita pendek berikut! Salah Memuji Oleh: A. Agus Hadi Ada seorang janda bernama Yani hidup di suatu desa yang jauh dari kota. Ia hidup bersama seorang anaknya laki-laki bernama Danda, usianya baru menginjak lima tahun. Suaminya sudah setahun meninggal dunia karena sakit keras. Untuk keperluan hidup dan menghidupi anak satu-satunya ia bekerja serabutan, kadang sebagai tukang cuci tetangganya, kadang ia mengasuh anak-anak yang dititipkan oleh orang tuanya. Sekali waktu dimintai tolong oleh ibu-ibu tua untuk memijit tubuhnya yang lelah. Di lain waktu ia pergi ke pasar untuk menjadi kuli angkut barang. Sering dalam sehari ia tidak mendapat pekerjaan, berarti ia tidak mendapatkan uang. Namun karena ulet ia sempat pula 282
    • menyisihkan uang dari upah bekerjanya yang tidak menentu, sehingga dapat melanjutkan hidup dengan anaknya. Yani khawatir dengan nasib masa depan anaknya, karena ia masih kecil dan tidak ada saudara yang bias dititipi kemanapun Yani pergi Dana ikut serta. Suatu hari ia pergi ke pasar untuk menjadi kulit angkut barang, ketika ibunya sedang sibuk bekerja, Danda pergi sendiri di tengah pasar. Pada siang hari ia merasa lapar, tetapi ibunya belum juga nampak. Kebetulan ia melewati ibu-ibu penjual kue, ketika penjual kue pergi sebentar mengantar pesanan, Danda memberanikan diri mengambil beberapa potong kue. Ia lalu pergi mencari ibunya sambil makan kue yang baru diambilnya. Ketika ibunya datang dan bertanya: “Danda makan apa” ?. Danda menjawab bahwa ia baru mengambil kue dari ibu-ibu pedagang kue di dalam pasar. Ibunya tersenyum dan mengatakan: “Kamu pintar nak, bias berusaha sendiri”. Dengan demikian Danda merasa tidak bersalah, bahkan ia merasa ibunya senang karena ia dapat mencari makan sendiri. Keesokan harinya dan hari-hari seterusnya Danda makin berani, lalu menjelang remaja ia punya kelompok anak- anak tidak sekolah dan pekerjaannya mencuri, mencopet, dan memeras orang terutama para wanita jika berjalan sendirian di tempat sepi. Setelah dewasa Danda tumbuh menjadi perampok yang ditakuti karena tidak segan-segan melukai dan bahkan membunuh korbannya jika melawan. Ia menjadi pemimpin kelompok perampok bank. Setiap pulang ia selalu membawakan ibunya uang dalam jumlah yang banyak, dan ibunya merasa bangga dan selalu memuji Danda karena ia telah menjadi orang kaya. Namun ibunya tidak tahu bahwa Danda adalah kepala perampok yang berdarah dingin. Suatu hari dalam operasinya di suatu bank, polisi telah mengendus gerak geriknya. Ketika Danda dan kelompoknya masuk ke dalam bank, satu regu polisi datang mengge- rebegnya. Terjadi tembak-menembak seru, tiga orang anak buah Danda tertembak dan tewas, Danda selamat tetapi ia menyerah karena merasa sudah tidak dapat melarikan diri. Akhirnya ia tertangkap dan masuk penjara. Yogyakarta, Januari 2008. Agar memiliki keterampilan dalam membuat ilustrasi dari sebuah cerita lakukan latihan berikut ! 283
    • a. Ilustrasi cerita pendek. Tentukan adegan yang paling menarik dalam cerita itu untuk divisualisasikan. Buatlah beberapa alternatif sketsa dari adegan-adegan yang menarik dalam cerita tersebut. Tentukan sebuah adegan untuk dibuat ilustrasinya. Dengan pensil B buatIah sketsa dengan goresan tipis pada kertas gambar A4. Setelah selesai secara keseluruhan tebalkan garis-garisnya dengan tinta. Beri gelap terang dengan teknik arsiran silang menggunakan pena b. Ilustrasi sampul buku cerita Untuk membuat sampul buku cerita lakukan latihan berikut ! Gunakan contoh ilustrasi sampul buku cerita bergambar berkut. Pilih salah satu adegan dalam cerita pendek di atas. Bayangkan dengan jelas adegan tersebut dalam imajinasimu. Buatlah lima buah alternatif sketsanya. Pilih salah satu yang terbaik menurut gurumu dan dirimu sendiri Pindahkan ke atas gambar yang baik Gunakan cat air atau cat poster untuk penyelesasiannya. Gambar 252. Ilustrasi sampul buku pelajaran bahasa Inggris untuk Anak-anak. 284
    • c. Ilustrasi cerita bergambar Berdasarkan cerita pendek di atas buatlah cerita bergambarnya. Gunakan cerita bergambar berikut ini sebagai acuan. Gambar 253. Ilustrasi cerita anak- anak (sumber: Majalah Kreativitas Mombi.) d. Ilustrasi untuk ilmu pengetahuan Carilah sebuah artikel tentang ilmu pengetahuan. Bacalah dengan seksama tentang apa yang ada dalam artikel tersebut. Identifikasi bagian yang menonjol, tetapi kurang jelas keterangannya karena sulit dibayangkan. Tentukan bagian yang hendak divisualisasikan. Dengan pensil B cobalah memvisualisasikan apa yang dijelaskan dalam artikel itu. Perjelas gambar itu dengan tinta gunakan contoh sebagai acuan. 285
    • Gambar 254: Ilustrasi ilmu pengetahuan (sumber: PLH SMK). e. Ilustrasi untuk cerita fiksi Bacalah sebuah cerita fiksi atau anda dapat berimajinasi tentang sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Tentukan adegan yang paling menarik dari cerita khayalan tersebut Cobalah menggambarkannya dengan goresan-goresan tipis pada kertas A4. Tebalkan sket itu dengan tinta, beri gelap terang dengan arsiran dan blok. Selanjutnya buatlah lima buah sketsa alternatif tentang cerita khayalan ke bulan. Pilihlah salah satu yang terbaik, lalu pindahkan ke atas kertas gambar yang baik. Setelah sketsa selesai, warnailah dengan pensil berwarna. Hasilnya diskusikan dengan teman sejawat dan guru, mintalah saran dan kritiknya. 286
    • a b c d Gambar 255. Ilustrasi Fiksi: (a,b) Children of Dune (sumber: Frank Herbert), Fiksi Komik anak-anak: (c,d) DB Master 7. Teknik Cetak Dua Dimensi Teknik cetak merupakan bagian dari seni seni rupa dan sering disebut sebagai seni grafis. Seni ini dapat berperan sebagai seni rupa murni maupun seni rupa pakai. Teknik cetak manual dalam seni grafis ada banyak jenisnya antara lain cetak tunggal (monoprint), teknik cetak relief atau teknik cukil, teknik intaglio, 287
    • teknik etsa, teknik cetak saring atau disebut pula teknik sablon. Teknik cetak pada dasarnya digunakan untuk melipatgandakan sebuah gambar dengan citra yang sama dalam jumlah banyak. Walaupun teknik cetak pada saat ini telah maju karena menggunakan teknologi canggih, namun teknik cetak manual masih digunakan dan digemari oleh sebagian seniman karena efek estetiknya memiliki ciri khas yang tidak dapat dicapai melalui teknologi canggih. Teknik-teknik cetak manual dapat bernilai ekonomis dalam kondisi tidak tersedia peralatan canggih, misalnya teknik cetak relief dan teknik sablon dapat digunakan untuk kebutuhan melipatgandakan suatu image yang bersifat komersial misalnya pembuatan spanduk dan label pada benda-benda pakai. a. Teknik Cetak Tunggal Teknik cetak tunggal (monoprint) merupakan teknik cetak yang sederhana. Sesuai namanya, teknik cetak ini tidak dapat menghasilkan image yang digandakan karena tidak menggunakan klise untuk dapat dicetak kembali. Teknik ini menggunakan alas gambar dapat berupa batu datar yang permukaannya halus atau papan sebagai tempat bahan warna berupa tinta cetak yang diterapkan dengan menggunakan roler. Pada warna tinta cetak yang telah rata dengan ketebalan secukupnya kemudian dibuat Gambar 256. Agung Suryahadi, Kepala-Kepala, monoprint. 288
    • image dengan membuat goresan menggunakan alat tajam atau kuas. Selanjutnya untuk merekam image yang telah dibuat, kertas gambar atau kertas cetak khusus ditempelkan di atasnya, kemudian kertas diusap dengan sedikit menekan menggunakan tangan atau alat yang permukaannya halus agar warna menempel pada kertas. Akhirnya setelah diperkirakan warna telah rata menempel pada kertas, kertas ditarik dan image yang dibuat berpindah ke atas kertas (gb.256). Pada saat ini keberadaan monoprint masih terjadi kontroversi, ada pihak yang setuju dan tidak setuju sebagai karya seni grafis. Pihak yang tidak setuju berpegang kepada kesepakatan Internasional tentang prinsip kerja seni grafis, bahwa produk seni grafis dapat direproduksi dengan memiliki kualitas kesamaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi sebagai karya seni kreatif keberadaan karya seni rupa monoprint dapat diterima oleh karena memiliki karakter dari proses kerja indirect (tidak langsung). Gambar 257. Stephen Alcorn, Don Juan, Cukil kayu / lino (sumber: Paul Zelanzki). 289
    • b. Teknik Cukil Teknik cukil sudah sangat tua usianya, teknik ini berkembang di daratan Cina, Jepang dan Eropa. Media yang digunakan sebagai klise adalah kayu, kayu lapis atau harboard. Image yang dibuat dihasilkan dari permukaan kayu yang dicukil menggunakan alat khusus yang menyerupai pahat. Prinsip kerjanya adalah mendapatkan garis, ruang positif (permukan yang timbul) dan negatif (permukaan yang cekung). Garis dan ruang negatif yang dihasilkan cukilan tidak terkena warna, sebaliknya garis dan ruang positif terkena warna (gb.257). Bidang yang timbul dikenai tinta dan akan dipindahkan ke permukaan bidang cetak. Sebagai pengganti papan atau kayu dapat digunakan bahan yang disebut lino, yang dibuat khusus sebagaimana halnya harboard dengan permukaan halus. c. Teknik Intaglio Teknik cetak intaglio, kata intaglio berasal dari bahasa Italia dan dan disebut engraving dalam bahasa Inggris. Teknik ini menggunakan plat logam sebagai alas menggambar, plat logam yang digunakan biasanya adalah plat tembaga. Teknik ini kebalikan dari teknik cukil dalam membuat image, pada teknik cukil bagian negatif tidak terkena tinta, sedang pada teknik intaglio bagian negatif bidang justru terkena tinta. Teknik cetak intaglio terdiri dari beberapa jenis yaitu: dry point, etsa, sugartint, mezotint. Teknik dry point, prose pembuatan klise tidak menggunakan proses pengasaman, sedang yang lainnya mengunakan pengasaman. 1) Teknik Dry Point Dalam teknik dray point untuk mendapatkan image, plat digores dengan alat tajam dari bahan baja, prinsipnya sama halnya dengan mengunakan pensil dalam mem- buat garis dan bentuk. Gambar pada plat berfungsi sebagai gambar Gambar 258. Marry Cassatt, The negatif sehingga dapat digandakan. Cares (sumber: Paul Zelanzki). Guna mencetak gambar yang ada 290
    • Pada plat ke atas kertas, plat dilumuri dengan tinta cetak. Tinta meresap ke dalam goresan dan tinta pada permukaan ditipiskan dengan menggunakan kain halus. Selanjutnya kertas diletakkan di atas plat, selanjutnya plat dan kertas dipres menggunakan alat pres agar dapat mengeluarkan tinta untuk melekat pada kertas, untuk itu tekanan harus sangat kuat. Berbeda dengan teknik cukil untuk mendapatkan image-nya, kertas tidak dipres dengan kuat tetapi diusap dengan tekanan yang secukupnya dan hati-hati. Selan- jutnya ketika kertas di angkat image akan nampak sesuai dengan apa yang ada pada plat namun posisinya terbalik ( gb. 258). Gambar 259. Keith Myhill, Back Hut Window, Koleksi Agung Suryahadi. 2) Teknik etsa Teknik etsa, teknik ini menggunakan bahan sama dengan intaglio yaitu berupa plat logam seperti tembaga, aluminium, besi, namun prinsip sedikit berbeda karena untuk mendapatkan goresan garis dan bentuk plat dilumuri dengan bahan yang dapat melindungi plat dari kikisan bahan air keras. Permukaan yang telah dilumuri dengan zat waxy resist secara rata digores dengan alat tajam dari baja, selanjutnya plat dimasukkan ke dalam cairan air keras. Goresan yang menembus lapisan malam hingga ke permukaan logam akan terkikis oleh air keras, selanjutnya lapisan 291
    • dibersihkan dengan merebus jika menggunakan malam dan mengunakan tinner jika mengunakan vernis, setelah itu akan nampak goresan yang dikikis oleh air keras. Celah goresan inilah yang menyimpan tinta kemudian dipres ke atas kertas. Teknik etsa tidak hanya dapat menghasilkan image linear, dapat juga menghasilkan image bidang-bidang positif tergantung dari bagian yang tertutup dengan bahan waxy resist. Tone atau gelap terang warna dapat dicapai dengan memvariasikan lamanya plat dalam cairan air keras. Semakin lama di rendam semakin dalam pengikisan, hal ini berarti warna semakin pekat, sehingga keda- laman dapat diatur dengan menutup secara berurutan (gb. 259). Hal yang membedakan sugartint, mezotint dengan etsa terletak pada efek tekstur yang dapat dihasilkan untuk memperlihatkan karakter dan gradasi warna yang bisa dicapai melalui pemanfaatan bahan dan alat yang berbeda dalam proses pembuatan klise. Misalnya sugartint memungkinkan munculnya terkstur seperti permukaan batu, besi karatan dsb. Proses pembuatan klise, sebelum diasam permukaan lempengan logam dilumuri dengan serbuk gula atau gondorukem kemudian logam dipanaskan se- hingga lumuran gondorukem meleleh membentuk tekstur sesuai dengan kepekatan yang diatur. 3) Teknik Sablon Teknik cetak yang sangat populer di masyarakat adalah teknik sablon, teknik ini dapat dilakukan secara sederhana dengan hanya menggunakan kertas atau mika sebagai klisenya. Gambar di buat pada kertas atau mika, bagian yang direncana terkena warna dilubangi dengan menggunakan pisau silet atau cutter. Prinsip kerja yang paling sederhana warna akan tercetak melalui lubang tersebut. Tumpang tindih warna atau jumlah warna menentukan jumlah klise yang dibuat, oleh karena warna pertama yang ingin dipertahankan harus dilindungi dengan klise yang sama dengan bagian yang tidak dilubangi. Penerapan warna dapat digunakan dengan kuas dapat pula dengan karet busa dengan menekannya atau menggunakan alat semprot manual atau elektronik. Teknik sablon yang lebih canggih disebut silkscreen, disebut demikian karena menggunakan kain khusus seperti sutra sebagai alat penyaring warna yang akan melekat ke permukaan kain atau kertas, sehingga teknik ini disebut pula teknik cetak saring. Teknik ini cukup rumit dan memerlukan lebih dari satu jenis bahan dan alat 292
    • namun dapat mentransfer gambar dapat lebih sempurna, bahkan pemindahan gambar yang rumit maupun foto dapat dipindahkan pada klise melelui proses kamar gelap (fotografi). Proses teknik cetak saring ada beberapa jenis, yakni sebagai berikut. a. Cara menutup atau gambar langsung, adalah kain dibentangkan pada bingkai kayu, kemudian bagian-bagian yang tidak dikehendaki terkena warna ditutup dengan lapisan tertentu seperti selotip, lem, lithographic crayon atau menggambar langsung di atas screen dengan menggunakan cairan screen laquen yang kualitasnya baik. Apabila ada kesalahan, gambar dengan cairan tersebut dapat dihapus dengan menggunakan cairan thinner atau xylol. Apabila gambar telah jadi maka screen siap digunakan, selanjutnya kertas diletakkan dibawah kain screen dengan alas yang sangat rata. Zat pewarna diletakkan di atas dan sepanjang screen, lalu warna dioleskan dengan alat yang disebut rakel. Warna meresap melalui pori-pori kain dan melekat di atas permukaan kertas yang ada di bawahnya. Guna mendapatkan warna-warni diperlukan bentangan kain yang lain dengan gambar yang sama dan menutup bagian yang telah berwarna sebelumnya. b. Cara resist film, film yang digunakan adalah film khusus pengerjaan sablon. Film diletakkan di atas gambar yang akan disablon, selanjutnya lapisan film beserta kertasnya digores dengan menggunakan pisau cutter, lalu ditempelkan pada screen dan distrika hingga goresan melekat pada kertas. Setelah itu kertas dapat dilepas dari filmya dan gambar melekat pada screen dan siap untuk digunakan proses membuat gambar cetak dengan teknik sablon. c. Cara cetak afdruk, cara ini lebih canggih yaitu dengan proses afdruk untuk membuat klise pada screen. Proses ini ada dua macam yakni dengan menggunakan bahan chromatin dan photo – emulsion. Chromatin merupakan bahan yang sangat peka terhadap sinar sehingga memerlukan waktu sangat singkat untuk pengeringan-nya. Caranya adalah demikian, larutkan chromatin dengan air panas dengan perbandingan 1 : 5 dalam satu wadah dan aduk hingga chromatin larut dalam air. Selanjutnya screen dilapisi cairan chromatin tersebut hingga rata dengan mengguakan kuas atau alat perata lainnya dan keringkan dalam kamar gelap dengan menggunakan oven atau hair dryer. Setelah kering, letakkan klise film yang akan dicetak 293
    • dengan posisi terbalik pada permukaan screen dan tindih dengan kaca tebal. Pada bagian bawah screen diberi bantalan spon dan di atas spon diberi kertas karbon hitam untuk mendapatkan gambar klise yang lebih tajam. Berikutnya lakukan penyinaran pada sinar matahari selama 15 detik, atau menggunakan lampu 100 watt sebanyak 4 buah selama 3 hingga 5 menit dan atur jarak lampu dengan screen kurang lebih 30 hingga 50 cm. Siecara prinsip dasar chromatin yang tertutup oleh gambar tidak terkena sinar lampu sehingga tetap mentah, sebaliknya chromatin yang langsung terkena sinar lampu akan matang dan menutup secara kuat pori-pori screen. Selanjutnya screen disiram dengan air panas dan disemprot dengan air dingin yang deras untuk melepas chromatin yang mentah agar pori-pori berlubang sesuai dengan gambar yang diinginkan. Penyiraman tidak boleh dilakukan dengan cara menggosok karena dapat membuat gambar klise kurang baik karena pori-pori screen dapat buntu. Akhirnya screen dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di tempat yang teduh atau menggunakan kipas. Tursir atau tutup jika ada bagian- bagian gambar yang rusak dengan cairan chromatin dan jemur kembali hingga kering. Setelah itu screen digunakan sebagai klise untuk digunakan mencetak gambar. Teknik pembuatan klise secara fotografis adalah dengan menggunakan photo-emulsion, prosesnya tidak jauh berbeda dengan chromatin, hanya bahan-bahannya yang tidak sama. Teknik ini menggunakan alat, bahan dan fungsinya antara lain diazol photo emulsion (terdiri dari diazol biru atau putih), screen lak, diazol filler, diazol remover, sensitizer dan alat berupa coater dan kertas rekat. Diazol merupakan cairan kental yang digunakan untuk memindahkan atau mengafdruk gambar dari film ke atas screen. Lak berfungsi untuk melapisi screen yang telah diafdruk agar tahan terhadap gosokan dalam menyablon kain. Diazol filler berguna untuk mentursir bagian-bagian klise screen yang kurang sempurna dengan menggunakan pena atau kuas. Diazol remover berguna untuk menghapus gambar pada screen jika ingin digunakan lagi dengan gambar yang berbeda. Proses pengafdrukan dengan bahan photo-emulsion adalah demikian. Beberapa jam sebelum digunakan, diazol dan sensitizer dicampur dalam satu wadah dan diaduk hingga rata dan disimpan pada tempat yang teduh. Selanjutnya oleskan campuran tersebut ke permukaan screen dengan menggunakan 294
    • coater atau mika hingga rata. Keringkan di tempat teduh dengan menggunakan hair dryer atau kipas angin, stelah cukup kering letakkan klise film di atas screen dalam posisi terbalik. Letakkan di atasnya lembar kaca bening, dan letakkan spon atau busa tebal di bawah screen dan papan dibawah busa. Selanjutnya dilakukan penyinaran pada terik matahari atau dapat menggunakan beberapa buah lampu neon. Setelah selesai penyinaran pisahkan screen dengan kaca, klise, busa dan papan, semprot screen dengan air deras selama kurang lebih setengah jam lalu keringkan dan olesi dengan cairan hartemittel untuk memperkuat klise, lalu keringkan. Selanjutnya pinggiran screen dilapisi dengan kertas rekat agar rapi, akhirnya screen siap digunakan untuk mencetak gambar pada screen. Proses pencetakaan sama dengan yang telah dijelaskan di atas. 4) Teknik digital Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini berkembang teknik digital print. Teknik ini menggunakan teknologi komputer, oleh karena itu untuk dapat melakukannya diperlukan kemampuan mengoperasikan program-program komputer yang berhubungan dengan seni rupa dan teknik cetak digital. Penemuan teknologi komputer merupakan perubahan besar yang terjadi dalam bidang teknik berkarya seni rupa, karena dengan alat komputer banyak pekerjaan seni rupa dapat diambil alih asalkan menguasai pengoperasian programnya seperti program photo shop, corel draw yang dapat digunakan untuk menggambar, melukis, dan mengubah foto menjadi lukisan. 8. Menggambar Ornamen. Gambar ornamen biasa pula disebut gambar hias. Disebut sebagai gambar hias karena gambar itu dibuat sengaja untuk difungsikan sebagai hiasan pada suatu gambar atau rencana hiasan pada karya tiga dimensional, misaInya sebagai hiasan tepi, hiasan sudut baik karya dua maupun tiga dimensional. Penerapan ornamen dapat pada beberapa jenis benda produk seni rupa dan arsitektur, ornamen biasanya digunakan pada seni rupa pakai seperti pada keramik, tekstil dan ukir kayu. Ornamen ada hampir di seluruh kebudayaan di dunia, untuk itu dalam mempelajari ornamen tidak hanya ornamen Nusantara juga ornamen Manca- 295
    • negara yang tak terhitung banyaknya perlu diketahui guna mem- perkaya perbendaharaan dan ide penciptaannya. a. Ornamen Nusantara Perhatikan gambar berikut ini dapatkah anda mengenali untuk apa gambar hias itu, dan dari daerah mana asaInya ? Gambar 260. Gambar hias berasal dari dua daerah karya peserta diklat Program Guru Baru SMK Seni dan Budaya P4TK Seni dan Budaya. Dalam seni rupa tradisional gambar ornamen sangat penting digunakan sebagai penghias berbagai benda seni kerajinan. Seni kerajinan kita sangat kaya dengan berbagai jenis gambar hias baik gambar hias yang bercorak geometris maupun organis. Gambar ornamen biasanya merupakan suatu hasil dari penyederhanaan obyek atau penggayaan / stilasi obyek yang digambar. Obyek yang dijadikan gambar hias dapat dari seluruh benda yang ada di lingkungan kita ini, misalnya manusia, binatang, tumbuhan, batu, gunung dan sebagainya. Perhatikan gambar hias berikut, diskusikan dengan teman benda apa saja yang dijadikan obyek, bagaimana caranya merubah obyek menjadi gambar hias, apa kira-kira fungsi dari gambar hias tersebut.? 296
    • Gambar 261. Motif Hias dari berbagai daerah Tugas Latihan. Ini adalah latihan amat penting untuk dilakukan agar dapat membuat gambar hias yang dapat digunakan dalam berbagai keperluan menghias dalam bidang seni rupa dan kerajinan. Menyederhanakan. Pilihlah sebuah obyek untuk digambar Gunakan kertas gambar A4 dan pensil 2B bagi kertas itu menjadi dua secara vertikal. Gambarlah obyek itu secara realis pada bagian atas kertas tersebut. Pada bagian bawah buatlah penyederhanaan bentuk itu dengan cara hilangkanlah bagian-bagian yang rumit, ulangi kembali menggambarnva dengan bentuk yang lebih sederhana tanpa menghilangkan ciri khasnya. Pikirkanlah bagaimana fungsinya kemudian. 297
    • Gambar 262. Gambar hias penyederhanaan motif karya peserta Diklat Guru ketrampilan SMK P4 TK Seni dan Budaya Menggayakan / Stilasi. Dengan prosedur yang sama seperti di atas gambarlah obyek yang disenangi Di bawahnya buatlah gambar stilasinya dengan cara melebihkan panjangnya, lekukannya, tonjolannya, mengecilkan besarnya dan sebagainya. Rencanakan pula bagaimana penempatannya kemudian. Lihat contoh gambar sebagai acuan. Gambar 263. Gambar hias penggayaan/stilisasi karya peserta Diklat Guru ketrampilan SMK P4 TK Seni dan Budaya 298
    • b. Ornamen Mancanegara Ornamen dari Mancanegara tidak jauh berbeda sifatnya dengan ornamen Nusantara yaitu bersifat abstrak geometris dan penggayaan dari apa yang ada di lingkungan yaitu flora, fauna dan manusia seperti beberapa gambar berikut. Gambar 264. Ornamen kuno dari berbagai negara dengan motif abstrak. Ornamen abstrak geometris sering dijumpai hampir pada semua kesenian etnik kuno di seluruh dunia sebagaimana halnya pada gambar 266 a, motif meander dikombinasi dengan garis-garis zigzag, garis diagonal, bentuk wajik dan kembang diterapkan pada sejenis pot atau tempat air hanya terdiri dari susunan garis. Hal seperti ini juga dapat dijumpai pada hiasan dari Tana Toraja. Lainnya halnya pada gambar (265 b dan c) dari Spanyol menggunakan motif burung dan singa yang distilasi diterapkan pada benda keramik mirip dengan motif batik dari Pekalongan. Pada gambar (266 a dan b) motif naga dan muka manusia berasal dari Cina, kedua motif juga banyak dijumpai di Jawa dan Bali sebagai motif tradisional, sedang gambar (266 c) motif manusia dari kebudayaan Maya di Amerika Utara diterapkan sebagai hiasan baju. 299
    • b a c Gambar 265. (a) Motif meander diterapkan pada badan pot, (b) Motif singa dan (c) motif burung dari Spanyol diterapkan pada benda keramik (sumber: Eva Wilson) Cina, kedua motif juga banyak dijumpai di Jawa dan Bali sebagai motif tradisional, sedang gambar (266 c) motif manusia dari kebudayaan Maya di Amerika Utara diterapkan sebagai hiasan baju. 300
    • a c b Gambar 266. (a ) Motif muka, (b) motif naga keduanya berasal dari Cina, (c) Motif manusia dari Amerika Utara (sumber: Eva Wilson). 9. Gambar Huruf. Huruf merupakan suatu simbol visual yang disepakati oleh manusia dalam melambangkan suaranya secara visual. Sebuah huruf belum memiliki arti jika belum dirangkai. Bila huruf hidup dan mati dirangkai ba- rulah dia memiliki suatu arti yang disebut sebagai kata, dan bila kata dirangkai menjadi kalimat akan memiliki arti yang lebih luas. Sebenarnya ada banyak jenis huruf di dunia ini. Bangsa-bangsa yang memiliki kebudayaan tua dan tinggi biasanya memiliki huruf sebagai salah satu media komunikasinya. Misalnya Mesir, Cina, India, Arab, Je- pang, dan Thailand. Sebenarnya Indonesia memiliki huruf tetapi sifat-nya etnis dan tidak dikembangkan misalnya huruf Jawa, Bali, Lampung dan Batak. Pada pembahasan ini dibahas mengenai huruf yang digunakan secara internasional, yaitu huruf Romawi dan Latin. Manusia mengenal huruf sebenarnya sudah sejak masih hidup di dalam gua. Namun yang paling dimengerti sebagai huruf setelah peradaban manusia lebih maju yakni pada jaman Mesir Kuno telah menggunakan tiga jenis huruf yaitu hieroglyph digunakan untuk menuliskan inskripsi suci, hieratic digunakan oleh para pendeta, dan demotic digunakan untuk urusan kehidupan sehari-hari. Huruf hieroglyph 301
    • adalah gambar sebagai perlambang suara disebut ponogram. Kebu- dayaan kuno lain yang telah menggunakan huruf terdapat pada kebudayaan Cina yang mulai dikenal oleh Eropa setelah Marco Polo pada tahun 1275 berkunjung ke Cina pada waktu pemerintahan Kaisar Kubilai Khan. Pada sistemnya hurufnya satu huruf mewakili satu kata, hal ini berbeda dengan sistem huruf Barat untuk mendapatkan kata harus menggabungkan beberapa huruf. Dewasa ini huruf Latin dan Romawi digunakan hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia. Huruf ini sebenarnya warisan dari kebudayaan Phonic dari semenanjung Mideterania (Syria) yang aslinya terdiri dari 22 jenis huruf. Kemudian bangsa Yunani mengadopsi huruf bangsa Phonic pada tahun 1000 sebelum Masehi dan manambah lima huruf pada tahun 403 sebelum Masehi. Selanjutnya bangsa Romawi mengadopsi huruf Yunani dengan menambah dua huruf dan mengganti ucapan alpha, beta, gamma, delta, menjadi ucapan yang saat ini digunakan yaitu A,B,C,D. Dari huruf Yunani dan Romawi ini lalu berkembang menjadi berbagai jenis huruf yang digunakan di seluruh dunia. Ada beberapa jenis huruf yang sering digunakan sebagai berikut. . Modern Uncial : Half Uncial : Carolingian: Versal : Gothic : Humanis Bookhand: Italic : 302
    • Di dalam komunikasi grafis ada dua aspek pokok, yaitu gambar bentuk dan huruf. Gambar huruf dalam hubungannya dengan komunikasi grafis merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab sebuah gambar untuk reklame tanpa ada kata-kata yang melibatkan huruf akan kurang bermakna dan kurang efektif dalam mencapai tujuannya. Oleh sebab itu disamping gambar huruf berfungsi sebagai hal yang pokok ia harus pula memiliki nilai estetik yang tinggi. Untuk itu hal yang penting diperhatikan adalah bentuk huruf susunan dan pengaturan penempatannya. Sebelum praktek, perlu diketahui bahwa huruf Romawi dan Latin bentuk variasinya sangat banyak. Tetapi secara garis besar kedua ma- cam huruf itu dapat dikelompokan menjadi huruf Serif dan Sans Serif atau disebut pula sebagai huruf Baskerville dan Gill San. Dalam bahasa Indonesia lazim disebut sebagai huruf berkait dan tak berkait. ABCDE ABCDE (berkait) (tak berkait) Dalam menulis huruf ada banyak alat yang dapat digunakan seperti berbagai jenis pena dan kuas yang saat ini juga ada di pasaran, termasuk pena yang khusus untuk menulis indah. Apabila ingin membuat sendiri dapat pula membuat pena dengan tangkai bulu unggas, bambu dan kayu. Kuas juga memiliki banyak jenis dan bentuknya. Untuk menulis huruf dengan batang hurufnya persegi, hendaknya kuas pipih yang digunakan. Sedangkan untuk menulis huruf dengan batang huruf bulat, kuasnya dipilih yamg lancip. Tugas Latihan. Ini adalah latihan untuk membuat huruf dan sangat penting untuk dilakukan oleh siswa karena dapat memberi ketrampilan yang berkaitan erat dengan pembuatan karya grafis yang memerlukan gambar huruf. 303
    • Tugas a. Menggambar berbagai jenis huruf. Gambarlah huruf - huruf yang telah disediakan oleh guru. Gunakaniah kertas dan pensil B Kemudian berilah tinta hitam pada huruf yang telah digambar itu. Selanjutnya dengan kertas yang lain gambarlah huruf-huruf itu dalam variasi ukurannya (besar dan kecil). Tugas b. Menggambar Slogan. Pilihlah sebuah slogan yang anda senangi. Pada kertas A4 gambarlah slogan itu dengan salah satu jenis huruf , gunakan pensil B. Perhatikan jarak dan spasinya. Jika sudah selesai berilah tinta dengan menggunakan pena dan kuas. Tugas c. Menggambar Logo. Diskusikan dengan teman tentang apa yang disebut sebagai logo, jilia tidak puas tanyakan kepada guru. Dengan pensil B dan kertas gambar A4 buatlah beberpa alternatif tentang logo dari nama anda. Pilihlah salah satu dari alternatif itu dan selesaikan dengan tinta. 304
    • Gambar 267. Beberapa contoh logo B. Membentuk Tiga Dimensi 1. Membentuk dengan tanah liat a. Teknik pijit / pinch, teknik ini merupakan teknik yang paling sederhana dalam mengerjakan tanah liat, karena tidak memerlukan alat bantu yang banyak, tetapi cukup dengan tangan. Tanah liat dapat dibentuk dengan memijit-mijitnya menjadi sebuah bentuk. Namun untuk menghaluskan permukaannya diperlukan alat bantu seperti alat butsir, spon dan sebagainya. 305
    • Gambar 268. Teknik Pijit (pinch) (sumber: Tony Birks) b. Teknik lempeng/slab, dalam teknik ini tanah liat dibuat lempeng terlebih dahulu dengan menggunakan rol kayu. Selanjutnya setelah mencapai ketebalan tertentu, tanah liat dipotong dengan pisau khusus dan bentuknya disesuaikan dengan bentuk yang akan dibuat. Untuk menyambung potongan itu digunakan tanah liat cair. 306
    • b a c e e d Gambar 269. Proses pembentukan dengan teknik lempeng dan cetak sederhana. (sumber: Geraldine Christy) c. Teknik Pilin coil, dengan teknik ini terlebih dahulu tanah liat dibuat pilin. Untuk membuat bentuk yang dinginkan, pilin tanah liat itu ditempatkan secara tumpang berdasar bentuk yang akan dibuat. Agar pilin itu melekat perlu ditekan dengan jari dan selanjutnya diratakan dengan memukul-mukulnya pakai kayu. Gambar 270. Proses teknik pilin (sumber: Paul Zelanski) d. Teknik Putar, teknik ini paling sulit dibanding teknik lainnya, sebab alat yang digunakan harus dapat dikuasai dan dikoordinasikan dengan tangan secara baik. Sebelum dikerjakan tanah liat harus dipadatkan dahulu dengan meremas dan menekan berulang kali yang tujuannya 307
    • untuk menghilangkan udara dalam tanah. Kemudian tanah liat itu ditempatkan di tengah-tengah alat putar, lalu kedua tangan yang basah diletakkan pada tanah liat itu . Selanjutnya alat diputar dan tanah liat dibentuk oleh tangan dengan menekan dan menariknya ke atas. Gambar 271. Proses teknik putar (sumber: Geraldine Christy) 2. Membentuk dengan bahan keras a. Kayu Hampir seluruh kebudayaan masyarakat menggunakan kayu sebagai bahan untuk produk seni rupa dan kriya. Hal ini disebabkan, hampir di seluruh penjuru dunia ada kayu. Tingkat kekerasan kayu bermacam- macam, namun demikian, kayu relatif mudah dibentuk dengan menggu- nakan gergaji, pahat, dan ketam dalam membuat benda seni rupa dan kriya seperti patung, mainan anak, perabot rumah tangga dan sebagainya. b. Batu Karya seni rupa yang menggunakan batu biasanya dalam wujud patung dan relief. Bahan batu jenisnya bervariasi, ada batu pualam, marmer, onix dan batu kali. Sejak zaman dahulu batu telah digunakan untuk membuat benda-benda yang berhubungan dengan ritual. Pada zaman purba batu digunakan untuk alat potong seperti kapak, untuk membuat benda pemujaan nenek moyang, kemudian berkembang menjadi wujud lingga dan yoni. Oleh karena bahannya tahan lama maka 308
    • karya-karya dengan bahan ini menjadi tidak lekang dimakan waktu, sehingga jejak seni rupa yang menggunakan bahan batu sangat banyak diketemukan. c. Logam Ada beberapa nama bahan logam yang kekerasannya juga bertingkat yaitu: aluminium, besi, baja, tembaga, perunggu, kuningan, nikel, emas, perak dan platina. Bahan-bahan ini dalarn pembentukannya dapat langsung ditekuk, dikenteng, disambung dengan las maupun harus dicairkan untuk keperluan teknik cor. Bahan logam cukup tahan lama, misalnya perunggu, tembaga, kuningan, perak dan emas adalah jenis logam yang anti karat sehingga karya-karya dengan bahan ini tahan berabad-abad dan tidak rusak. 3. Jenis Seni Rupa Tiga Dimensi Karya seni rupa tiga dimensional sering pula disebut nirmana ruang yang dapat dikategorikan menurut tingkatan kadar dimensinya. a. Relief Relief merupakan wujud yang dikembangkan dari suatu bidang yang memiliki ketebalan. Prinsipnya ada rongga (ruang negatif) dan ada ujud (ruang positif). Biasanya wujud dengan volume menonjol ke luar serta melekat pada latar belakang. Teknik mengerjakan relief tidak selalu menggunakan pahat untuk membentuk, tetapi dapat pula dengan teknik a b Gambar 272. (a)Relief Raja Hesire dari Mesir 2700 Sebelum Masehi, (b) Relief Peperangan Raja Asurnasrpal II dari Asiria 850 Sebelum Masehi (sumber: Gombrich) 309
    • menempel material yang digunakan. Prinsip utama relief adalah, adanya asosiasi tiga dimensional dan wujudnya menempel pada latar belakang, sehingga relief hanya dapat dilihat dari depan. Berdasarkan tebal tipisnya ujud relief sebagai ruang positif, maka relief dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu: relief rendah dan relief tinggi. 1) Relief Rendah, pada relief ini wujudnya timbul dari latar belakang sangat tipis, namun jika diterpa sinar, ketebalannya akan nampak sebagai akibat efek bayangan yang ditimbulkannya terhadap batas tepi dari wujud tersebut. Uang logam adalah salah satu contoh dari relief ini, begitu pula ukiran tradisional dari Tana Toraja, relief peninggalan jaman Mesir Kuno dan Siria Kuno (gb. 272) yang dibuat dengan bahan batu. Tugas Latihan Lakukanlah latihan ini agar dapat memahami bagaimana membuat relief rendah dengan bahan lunak yang sederhana. Gunakan kertas HVS, buatlah beberapa sket alternatif tentang susunan bentuk-bentuk geometris dengan pensil, Ambil dua lembar potongan karton ukuran 30x40 cm. Pilih salah satu sket alternatif susunan bentak geometris itu dan pindahkan ke atas salah satu karton dengan menggambarnya kembali dengan pensil, Potong gambar itu dengan pisau 'cutter' Ialu tempelkan dengan lem pada karton yang satunya. Berilah warna-warna netral akrilik, dengan demikian anda sudah mendapatkan sebuah karya relief rendah dengan menggunakan bahan dan teknik yang paling sederhana. Gunakan contoh sebagai acuan. 2) Relief Tinggi, pada relief jenis ini secara teknis muncul wujud dari latar belakang paling sedikit setengah dari tebal bidang. Relief ini wujudnya lebih jelas terlihat karena ruang negatifnya jauh lebih dalam dibanding relief rendah. Kedalaman ruang negatif memberikan gelap terang lebih kontras sehingga wujud yang terkena sinar menjadi menonjol. Contoh dari relief ini adalah relief pada candi Borobudur dan candi Prambanan. 310
    • Perhatikan contoh refief tinggi pada (gb.274) bagaimana wujud itu dapat terlihat menonjol ? Gambar 273. Relief pada kubur batu Zaman Romawi 220-230 Masehi, bahan marmer (sumber: Paul Zelanski) Pada gambar (273) pemahat pada zaman 230 tahun Sebelum Masehi telah memiliki keterampilan tinggi dalam membentuk bahan marmer yang keras menjadi terlihat lembut. Bentuk-bentuk draperi kain yang digam- barkan sangat luwes, begitu pula pada wujud manusianya nampak plastis sesuai dengan karakternya. Tugas Latihan Latihan ini penting sekali dilaksanakan agar siswa dapat mencoba bagaimana membuat karya nirmana ruang dalam bentuk relief dengan bahan yang sederhana. Buatlah beberapa sket alternatif susunan bentuk organis dengan pensil pada kertas HVS atau kertas gambar lainnya. Pilih salah satu dari sket tersebut, kemudian sempurnakan dengan menggambar kembali dengan pensil pada kertas gambar ukuran 35 x 45 cm Buatlah lempengan tanah liat dengan ukuran 35 x 45 x 5 cm Buatlah sket yang sama dengan sebelumnya pada lempengan tanah liat itu. Dengan alat cukil dari bambu atau kayu secara perlahan buang bagian tanah liat pada ruang negatif. Sempurnakan bentuk-bentuk positif secara perlahan sampai mendapatkan bentuk yang diinginkam 311
    • Keringkan relief itu dengan sempurna sebelum dibakar dalam tungku. Gunakan gb. sebagai acuan. b. Karya Frontal Kata frontal berasal dari bahasa Inggris yang berarti dari, pada atau di garis depan. Jenis karya tiga dimensional ini sengaja dirancang untuk dilihat hanya dari pandangan depan. Wujudnya tiga dimensional penuh dan dapat dilihat dari segala arah. Hal ini berbeda dengan relief yang hanya dapat dilihat dari pandangan depan saja karena menempel pada dinding. Ukuran jenis karya ini tidak besar misaInya cincin, gelang tangan, kalung dan beberapa karya seni rupa dari bahan gelas dan kayu. Karena dilihat dari satu bagian depan saja maka fokus pengerjaan dan perhatian tercurah pada bagian tersebut. Misalnya sebuah cincin tidak mungkin fokus perhatian kita ditempatkan pada bagian belakang, karena fungsinya tidak memungkinkan untuk itu. Banyak karya patung zaman dahulu yang digunakan sebagai media pemujaan antara lain berwujud karya frontal karena hanya dilihat dari pandangan depan. Hal ini mungkin berhubungan dengan fungsinya, bahwa patung merupakan media berupa simbolisasi dari kemahakuasaan Tuhan yang divisualisasikan dalam bentuk tiga dimensional sebagai wujud dewa yang fisiknya mirip manusia. Ketika para pemuja melakukan pemujaan seakan berhadapan dengan dewa yang dimaksud. Oleh karena itu bagian belakangnya patung tidak berfungsi sebagaimana patung-patung yang ada di candi-candi di Jawa. Begitu pula dengan seni sesaji, pembuatan bagian depan mendapat perhatian lebih besar, gam- bar (gb. 274b) adalah sebuah image dua kepala manusia laki-laki dan perempuan dalam satu badan terbuat dari tepung beras yang digoreng merupakan item dari sebuah sesaji. 312
    • a b Gambar 274. Senmut dengan putrinya, Mesir Kuno 1450 Sebelum Masehi (sumber: Paul Zelanski), Ardhnareswari, Unsur sesaji Bali (foto: Agung Suryahadi). Tugas Latihan Lakukanlah latihan ini agar dapat menghayati bagaimana membuat karya frontal yang termasuk jenis karya tiga dimensional (nirmana ruang). Buatlah beberapa sket alternatif yang menggambarkan kehidupan binatang. Dengan teknik pijit, buatlah bentuk setengah silinder dengan tanah liat Pilih salah satu sket alternatif yang terbaik kemudian sempurnakan dan pindahkan ke atas permukaan bentuk setengah silinder tadi. Gunakan alat tajam untuk menggoresnya. Secara perlahan gunakan alat cukil untuk menghilangkan tanah pada bagian ruang negatif. Bentuklah bagian ruang positif (wujud) dengan hati-hati, gunakan alat-alat butsir untuk membuat detailnya. Setelah selesai keringkan karya itu dengan sempurna sebelum dibakar. c. 'Full Round' Inilah jenis karya yang betul-betul tiga dimensional karena sengaja dirancang agar dapat dilihat dari segala penjuru. Oleh sebab itu, perencanaan dan pembuatannya lebih rumit dibanding jenis karya 313
    • lainnya. Pada proses perencanaan harus menggunakan 'penglihatan imajinasi' terhadap seluruh sisi karya yang ingin dibuat. Selain itu harus dipertimbangkan pula bagaimana si penglihat termotivasi untuk melihat ke setiap sudut pandang dari karya itu. Dengan demikian seluruh bagian sisi karya harus menarik perhatian, tidak ada bagian yang kurang menarik dan lepas dari pandangan. Oleh karenanya hubungan setiap unsur harus kuat keserasian dan kesatuannya. a b c Gambar 275. (a) Zoltan Kemeny, Fluctuation, logam (sumber: Gombrich), (b) Rodin, The hand of God, marmer (sumber: Gombrich), (c)Barbara Hepworth, Pendour, Kayu dicat (sumber: Paul Zelanski). 314
    • Berdasar 'solid' nya karya 'full round' ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yakni wujud berongga, wujud padat dan wujud padat berongga. Wujud berongga susunannya terdiri dari rongga-rongga yang membentuk satu kesatuan wujud, rongganya dapat berupa geometris maupun organis (gb. 276a). Wujud padat tidak kelihatan ada rongga (gb 276b), wujud itu utuh dan padat biasanya bahannya dari jenis bebatuan dan kayu, tetapi ada juga karya yang kelihatan padat namun di dalamnya ada rongga, sehingga padatnya semu dan rongganya tidak berperan secara estetik tetapi lebih kepada pertimbangan teknik. Contohnya adalah karya dengan bahan logam dengan teknik cor. Wujud padat berongga adalah kombinasi antara rongga dan kepadatan wujud, keduanya berperan secara estetik. Lihat (gb.275c), bagaimana peran rongga sebagai ruang negatif berinteraksi dengan ujud padat sebagai ruang positif. Karya jenis ini biasanya menggunakan bahan kayu atau batu, karena lebih efisien, tidak membuat kepadatan wujud karena dibuat dari bahan yang secara alami sudah padat. Selain itu dapat juga memanfaatkan sifat alami bahan terutama tekstur permukaan batu maupun kayu. Pada gambar (275a) wujud tiga dimensional itu terbentuk dari susunan plat logam berirama dan berongga. Sebaliknya Rodin menggunakan bahan mamer yang padat dan keras yang memahatkan ide simboliknya tentang Tangan Tuhan (gb.275b). Hepworth meng- gunakan kayu dalam mengungkapkan gagasan tiga dimensi. Pada patung abstrak ini terdapat permainan ruang oval positif dan negatif sehinga harmoni mudah didapat. Tugas Latihan Untuk dapat memahami bagaimana membuat karya nirmana ruang (tiga dimensional), latihan berikut penting dilakukan karena menyangkut latihan pembuatan wujud-wujud sederhana baik wujud geometris mampun organis. Gunakan bahan yang mudah didapat dan dibentuk. Tugas Latihan 1 Membuat rongga-rongga segi empat dengan bahan karton dan teknik berkait. Potonglah karton tebal menjadi ukuran 40 x 5 cm sebanyak 16 lembar. Bagilah setiap lembar karton itu menjadi 8 bagian (a 5 cm), cukup ditandai dengan pensil. Buatlah celah sepanjang setengah dari lebar karton pada bagian yang ditandai pensil tadi. Kaitkanlah lembar-lembar karton itu melalui celah-celah yang telah dibuat, dengan demikian anda telah mendapatkan rongga-rongga segi empat. 315
    • Gambar 276. Rongga-rongga Segiempat karya peserta diklat Dasar Seni Rupa /Kriya guru SMK Seni dan Budaya Tugas Latihan 2 Membuat bentuk kubus bervariasi dengan bahan sterofoam dan dengan teknik potong, lipat tempel. a. Buatlah sket wujud kubus dengan pensil. b. Tentukan ukurannya misalnya 30 x 30 x 30 cm c. Potonglah sterofoam itu dengan alat potong khusus sesuai ukuran, jira sterofoam tipis dapat dilipatkan ketebalannya dengan mengelemnya. d. Bentuklah bagaian-bagian bentuk sesuai sketsa, gunakan pisau ‘cutter’ yang tajam agar hasilnya bagus e. Sambung dan tempel bagian-bagian yang telah dibentuk dengan lem bagian yang menghubungkan bidang-bidang untuk menjadi kubus. Gambar 277. Bentuk kubus dan rvariasinya, bahan Sterofoam karya mahasiswa Poliseni Yogyakarta 316
    • Gambar 278. Bentuk Limas Berongga Membuat limas padat berongga dengan karton dan dengan teknik potong, lipat dan tempel. a. Lihat gambar (gb. 278) sebagai acuan. b. Buatlah sketsa bentuk limas dengan variasinya dan tentukan ukurannya. c. Tuangkan bentuk limas tersebut menjadi pola di atas karton d. Dengan menggunakan pisau ’cutter’ torehlah pola limas itu sesuai bentuk yang telah digambar e. Setelah selesai, lipat pola limas tersebut dan satukan dengan lem. f. Terakhir ada bagian torehan yang dilipat, ada yang dibuang sesuai sketsa yang direncanakan. Membuat balok berongga dengan variasi pada permukaan setiap sisi dengan teknik toreh, lipat, potong dan tempel. a. Perhatikan contoh gambar sebagai acuan. b. Buatlah pola yang dapat membentuk wujud balok dengan karton. c. Sebelum lembar karton dilipat dan disambung dengan lem untuk membentuk balok, buatlah torehan yang membentuk lingkaran atau segi tiga yang akan menjadi sisi permukaan balok tersebut. d. Ketika pola karton telah dilipat dan disambung menjadi balok, bentuk torehan tadi ditarik dan dilipat ke luar sehingga didapat lubang berupa ruang negatif sesuai dengan bentuk yang dibuat. Sedang lipatan torehan yang tidak lepas menjadi ruang posistif yang membentuk suatu variasi kualitas permukaan dari sisi balok. 317
    • Tugas Latihan 3 Membuat wujud geometris dengan bahan tanah liat dan teknik lempeng. a. Buatlah sket alternatif tentang bentuk-bentuk geometris tiga dimensional. b. Pilihlah salah satu dari sket bentuk geometris itu dan tentukan ukuran-. c. Buatlah lempengan tanah liat dengan menggunakan rol kayu. d. Potong lempengan tanah liat itu sesuai dengan ukuran bidang-bidang yang ada pada wujud itu. e. Sambung lempengan bidang-bidang itu dengan tanah liat cair, namun sebelumnya pada bagian yang akan disambung permukaannya dibuat kasar dan berilah sedikit tekanan pada sambungan agar tanah liat dapat menempel dengan baik. f. Haluskan permukaan yang kurang rata, jika wujud masif beri sedikit lubang pada salah satu permukaannya agar tidak pecah pada waktu pembakaran. d. ’Walk-Through’ Jenis karya ini agak berbeda dengan sebelumnya karena karya ini melibatkan lingkungan sebagai bagiannya. Oleh sebab itu karya tiga dimensi lainnya hanya merupakan salah satu unsur dari jenis karya ini,karena ditempatkan mengikuti susunan keseluruhan karya itu. Untuk dapat menikmati karya ini, kita harus masuk ke dalamnya melihat dari berbagai sudut pandang, melihat dari dekat dan mungkin menyentuh bagian-bagian dari karya itu agar dapat merasakan kualitas permukaannya. Contoh nyata dari karya ini adalah taman, dekorasi interior dan bangunan. Oleh sebab itu, ukuran jenis karya ini tentu lebih luas dari karya seni rupa lainnya dan melibatkan lebih banyak ruang dari pada bentuk. Perhatikan gambar (279) batu-batu sebagai unsur taman sekaligus sebagai patung, kontras dengan lantai dan bentuk kolam yang geomtris tetapi memberi perasaan yang menyenangkan. Berbeda dengan gambar (280), Robert Morris menggunakan lingkungan sebagai media estetiknya dengan membentuk tempat peresapan dan reklamasi menjadi artistik dengan kesan garis melingkar berulang. 318
    • Gambar 279. Hellín Zimmerman, Marabar, taman dan patung (sumber: Paul Zelanski) Gambar 280. Robert Morris, Earthenwork ( sumber: Paul Zelanski) 319
    • Tugas Latihan Tugas ini baik sekati dilakukan secara berkelompok, sebab pada kenyataannya pekerjaan dalam jenis karya ini sangat berat dilakukan secara individual. Misalnya membuat taman atau membuat display pada ruang pameran. Tugas ini sangat penting dilakukan agar mendapat pengalaman bagaimana menyusun unsur-unsur seni rupa dalam ruang tiga dimensional yang sesungguhnya. a. Bentuklah kelompok dan pilih ketua kelompoknya. b. Tentukan jenis karya 'walk through' apa yang mau dibuat (taman, display). c. Buatlah sket denah dari karya itu. d. Diskusikan dalam kelompok denah itu sebelum diputuskan untuk memulai bekerja. Identifikasikan jenis pekerjaan untuk mengerjakan karya itu dan identifikasikan pula prioritas pekerjaan yang akan dilaksanakan. e. Bagi tugas dalam kelompok. f. Mulailah mengerjakan dari pekerjaan yang sederhana ke pekerjaan yang rumit. 320
    • Banyak orang tidak percaya bahwa kreativitas dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan oleh anggapan banyak orang bahwa kreativitas merupakan bakat atau bawaan sejak lahir yang dimiliki oleh orang-orang tertentu. Kiranya apapun kemampuan manusia merupakan bawaan, namun kadar dari setiap keahlian yang dimiliki manusia dalam hal-hal tertentu berbeda satu orang dengan orang lainnya. Ada orang baik dalam berbahasa verbal, namun yang lain lebih baik dalam bahasa visual atau menggambar. Hasil penelitian oleh para ahli belum sepenuhnya dapat mengungkapkan apakah sebenarnya yang terjadi pada otak manusia ketika proses kreatif berlangsung. Diakui oleh para ahli psikologi bahwa sangat sulit mengukur dan menilai kreativitas. Bagi orang yang kreatif juga sulit mengungkapkan apa yang men- jadikannya kreatif dan dari mana sumber kreatifnya didapat. Banyak dari mereka mengatakan bahwa gagasan kreatifnya muncul secara tiba-tiba dan kadang tidak memiliki hubungan dengan apa yang terjadi sebelumnya. Terlepas dari sulitnya mengungkap misteri kreativitas, kemampuan kreativitas manusia telah membuktikan sebagai peyebab berkembangnya kebudayaan dan peradaban manusia. Daya kreativitas itu memancar dari otak manusia yang dikongkritkan menjadi berbagai kreasi sehingga manusia menjadi mahluk yang berkebudayaan dan berperadaban. Berbeda dengan mahluk lainnya yang mana mereka hidup berdasarkan nalurinya. Burung misalnya dapat membuat sarang, perbuatannya itu bukan karena daya ciptanya. Burung dituntun oleh naluri dan sarang yang dibuatnya tidak pernah mengalami perubahan. Sebaliknya manusia membuat tempat tinggal berkembang dari zaman ke zaman, mulai dari hidup di dalam gua, di atas pohon hingga sekarang membuat bangunan bertingkat-tingkat dengan teknologi yang canggih karena kemampuan daya cipta, rasa dan karsanya. A. Pengertian Kreativitas Istilah kreatif sering digunakan dalam berbagai konteks untuk menjelaskan perilaku tertentu manusia dalam melahirkan gagasan. Kata kreatif berasal dari bahasa Inggris creative yang berarti memiliki kemampuan untuk mencipta. Jadi kreativitas itu berlaku untuk semua
    • bidang kegiatan manusia yang ditekankan kepada kemampuan menghasilkan hal-hal baru yang belum pernah dibuat atau dikerjakan orang lain dan kemampuan mengembangkan sesuatu yang telah ada menjadi baru dengan merombak dan menyusunnya kembali. Kreativitas juga berarti kemampuan untuk menyadari adanya masalah, kesenjangan, dan berupaya mencari kemungkinan solusi terbaik, membuat rencana untuk implementasinya secara mandiri atau berkelompok dan mengem- bangkan kriteria untuk melakukan evaluasinya. Selain itu kreativitas juga dapat berarti kemampuan melakukan percobaan dan eksplorasi terhadap sesuatu untuk mendapatkan atau menemukan hal-hal yang unik dan baru, sehingga hasil temuan itu berbeda dengan apa yang telah ada. Studi telah banyak dilakukan untuk mengungkap tentang kreativitas. Beberapa ahli menyimpulkan bahwa siswa yang kreatif memiliki ciri-ciri tertentu misalnya tidak memerlukan dorongan atau motivasi agar mau bekerja atau belajar. Biasanya dalam mengerjakan tugas melampaui dari yang ditugaskan, mendapatkan gagasan berbeda dalam megerjakan sesuatu. Anak kreatif tidak takut mencoba hal-hal baru dari pada hanya sekedar mengerjakan tugas. Ia senang melakukan observasi, tidak peduli akan hasilnya meskipun berbeda dengan yang ditugaskan. Memiliki kemampuan melahirkan gagasan yang banyak dan relevan dengan permasalahan, serta mampu menyesuaikan diri dengan cepat. Selain itu ia juga berani mengambil resiko dan bekerja secara mendetail dalam mengembangkan hal sederhana menjadi jelas. Guildford mengatakan bahwa ada lima hal berbeda yang terjadi dalam proses mental manusia, yaitu: kognisi, ingatan, berpikir convergent, berpikir divergent, dan evaluasi. Kreativitas merupakan kegiatan berpikir divergent, yaitu kemampuan berpikir alternatif dalam mencari solusi permasalahan. B. Seni Rupa dan Kreativitas Seni pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan kreativitas, sebab dimana ada seni disitu ada kreasi. Dalam seni, seorang seniman memerlukan kemampuan kreatif dalam mewujudkan karya-karyanya. Ketika seorang seniman meciptakan sebuah karya seni ada beberapa aktivitas fisik dan psikologi yang terjadi. Kegiatan fisik jelas terlihat dari tindakan yang dilakukan dan dari keterampilan yang diperlihatkannya, seperti melukis, menari, bermain musik, atau bermain drama. Namun, kegiatan kejiwaan tidak nampak, inilah sebenarnya yang sangat pen- ting dalam kreativitas sebagai kegiatan pikiran dan perasaan. Dalam seni rupa banyak yang dapat ditempuh untuk mewujudkan kreativitas. Tidak semua aspek harus harus dikreatifkan. Wujud kreatif 322
    • Gambar 281. Abdul Aziz pembaharuannya dalam hal menampilkan subyek manusia seakan keluar dari kanvasnya (sumber: Majalah Visual Art) Gambar 282. Fajar Sidik pembaharuan dalam melukiskan bidang-bidang abstrak (sumber: Indonesian Heritage). 323
    • dapat hanya dalam hal penggunaan bahan, atau teknik, atau perwarnaan atau bentuk-bentuk yang diungkapkan saja. Misalnya Abdul Aziz, (gb.281) menjelaskan kreatif dalam mengungkapkan subyek lukisannya, seperti nampak keluar dari kanvas, sedangkan teknik melukisnya sama dengan teknik melukis realis pada umumnya. Fajar Sidik yang tadinya melukis realis, setelah mendalami lebih jauh tentang seni rupa, ia menemukan gagasan tentang seni abstrak yang hanya menampilkan su- sunan bidang dan warna yang disebutnya sebagai dinamika keruangan (gb. 282). Bahan dan cara melukisnya masih sama dengan bahan dan cara melukis dengan cat minyak pada umumnya. Nyoman Nuarta dalam seni patung, ia melakukan pembaharuan dalam hal teknik, bahan dan ungkapan bentuk subyek patungnya (gb. 158c). Ia membuat patung tidak seperti biasanya dengan tekstur halus dan masif, namun ia meman- faatkan tekstur kasar dari sifat materi yang digunakan dalam memun- culkan kesan seakan patungnya telah rusak dimakan zaman. Salah seorang pematung yang mengadopsi seni patung tradisional dan mengungkapkannya dengan bahasa rupa masa kini adalah G. Sidarta. Hal ini jelas sekali nampak pada patung yang diberi judul Tangisan Dewi Batari (gb.5a). Ungkapan nilai tradisi tersebut nampak pada unsur-unsur bentuk dan warna yang digunakannya, bentuk patung menyerupai Barong Landung dari Bali dan Ondel-Ondel dari Jakarta. Pencarian hal-hal baru dalam seni rupa terus dilakukan oleh para seniman, sumber-sumber inspirasi di sekitar banyak sekali hanya kemampuan untuk menjadikannya sebuah karya kreatif yang perlu terus dikembangkan. Fenomena seni rupa baru, seni instalasi merupakan suatu gejala keinginan seniman untuk dapat menerobos kebuntuan dalam berkreasi. Hal ini terjadi di seluruh dunia, karena manusia selalu menginginkan perubahan termasuk dalam berkesenian. C. Proses Kreatif Dalam Seni Rupa Proses kreatif berada di dalam benak, pada awalnya banyak melibatkan intuisi dan bawah sadar, imajinasi, dan emosi, selanjutnya melibatkan logika dan tindakan untuk solusi dan realisasinya. Hal ini sesuai dengan temuan para ahli neuropsikologi, bahwa kemampuan intusi, kreativitas dan emosi yang berada pada hemisphere otak sebelah kanan berinteraksi dengan kemampuan logika, analitis, yang berada pada belahan hemisphere otak sebelah kiri. Oleh karena itu kemampuan kreatif tidak dapat berdiri sendiri tanpa melibatkan kemampuan logika analitis dan tindakan nyata untuk merealisasikannya. Dari temuan para ahli neuropsikologi setiap orang memiliki kapasitas kreatif hanya kadarnya yang berbeda oleh, karenanya dapat dikembangkan atau 324
    • dimaksimalkan melalui berbagai cara, salah satunya adalah melalui latihan yang terstruktur. Biasanya gagasan kreatif muncul secara intuitif berupa gambaran sepintas yang belum jelas, kemudian dihubungkan dengan persepsi sadar, sejak itu gagasan bukan lagi bersifat intuitif tetapi sudah merupakan pengalaman alam sadar. Untuk mendapatkan gagasan kreatif perlu aktif, tidak ada gagasan muncul tanpa suatu upaya. Kreativitas adalah sesuatu yang bergerak, apabila tidak beranjak dari satu kondisi ’yang itu-itu saja’ maka perlu upaya ke luar dari belenggunya untuk menuju ke alam kreatif yang luas dan tak terbatas. Upaya kreatif adalah menyenangkan, karena adanya gagasan-gagasan segar sehingga suatu kondisi yang mandeg akan mengalir, inilah yang menyebabkan peradaban manusia tidak statis. Benak manusia selalu bergerak, energi yang menggerakkannya akan lebih bermanfaat jika dapat digunakan untuk memikirkan hal-hal yang sifatnya kreatif berguna bagi perkembang- an kebudayaan dan peradaban manusia. Frank E. William dalam Bob Eberly, membedakan proses kreatif yang dapat mendukung ekspresi kreatif menjadi dua yaitu Cognitive Processes dan Affective Processes. Cognitive Processes terdiri dari fluensi yaitu keluwesan dalam berpikir dengan menghasilkan gagasan dalam jumlah yang banyak dalam waktu singkat; fleksible yakni kemampuan menyesuaikan pikiran dan memberi gagasan alternatif dan pandangan yang berbeda; orisinilaitas dapat menghasilkan gagasan yang lain dan unik serta memberi respon yang cerdas, tidak biasa, dan baru elaborasi yakni kemampuan untuk memperkaya, menghaluskan ide yang masih sederhana detai menjadi lengkap dan elegan. Untuk Affective Processes terdiri dari curiosity yaitu rasa ingin tahu yang besar; bersedia mengambil resiko ditandai dengan perasaan bebas untuk menerka dan tidak takut salah, berspekulasi, avonturir; suka menghadapi hal-hal yang rumit dan menyusunnya untuk menjadi teratur dan senang menghadapi tantangan; intuisi yaitu berpikir cepat dan mencerna gagasan atau informasi secara mandiri. D. Tipe Proses Kreatif Seni Rupa Gagasan yang dilahirkan oleh manusia tidak secara serta merta lahir, suatu gagasan baru yang diciptakan manusia mengalami suatu proses. Ada beberapa teori mengenai terjadinya proses kreatif, Graham Wallas mengklasifikasikan menjadi empat tahap dengan pendekatan masalah yakni: tahap pertama disebut preparation, pada tahap ini masalah diselidiki dari segala aspek untuk dapat melmandangnya secara obyektif. Tahap kedua disebut sebagai masa incubation yakni orang tidak menyadari sedang memikirkan suatu masalah, tahap ketiga disebut tahap ilmunination yaitu ketika munculnya gagasan-gagasan yang baik untuk memecahkan masalah. Tahap terakhir adalah verification, pada tahap ini 325
    • terjadi pengujian dari gagasan atau solusi yang dipilih dan juga sebagai tahap penyempurnaan untuk dapat dijadikan produk yang dapat berlaku secara umum. Selain Wallas, ada pula rumusan dari Kandinski seorang pelukis kenamaan Rusia. Berdasarkan pengalamannya dalam menggeluti seni lukis, ia merumuskan proses kreatifnya menjadi tiga tahap yaitu: tahap pertama disebut impresion ketika seorang seniman mendapat kesan langsung dari alam yang dicurahkan ke dalam bentuk gambar. Tahap kedua adalah improvisation sebagai ekspresi terdalam yang sifatnya non-material, dan terakhir adalah composition sebagai tahap pem- bentukan elspresi dan perasaan secara perlahan dengan pem-betulan dan pengulangan untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan. Seniman adalah salah satu kelompok manusia kreatif begitu pula ilmuwan. Seniman bekerja biasanya menggerakkan kemampuan kreatifnya dengan memilih atau mendapat sekilas gagasan dari suatu fenomena seperti kondisi benda, suasana, mimpi dan sebagainya. Kemudian dari sekilas gagasan itu dikembangkan, dilakukan eksplorasi dapat secara terstruktur dan sintesa, intuitif dan emosional, abstraksi dapat masuk dalam keduanya. Proses kreatif dapat pula terjadi bukan karena rangsang yang menyenangkan tetapi muncul dari suatu masalah. Misalnya Delacroix tidak puas menyaksikan kecelakaan di laut yang menyebabkan banyak korban dari penumpangnya sementara awak kapal selamat, dan pemerintah tidak banyak menaruh perhatian. Dengan masalah itu menimbulkan kejengkelan dan ini dijadikan motivasi untuk melahirkan karya luar biasa dengan judul Rakit Medusa (gb 215). Gerakan Dadaisme di Eropa dan Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia berawal pula dari rasa ketidakpuasan terhadap kemapanan sehingga menimbulkan pembrontakan melalui cara seni rupa. 1. Tipe terstruktur dan sintesa Proses kreatif seniman seni rupa tipe terstruktur dan sintesis melahirkan perupa dengan berbagai tipe yaitu realis, naturalis, dekoratif, impresioni, surealis, kubistis, dan abtrak. Keenam jenis seniman ini pada awal bekerja prosesnya sama yaitu mencari gagasan dengan melakukan pengamatan atau observasi, dan proses eksplorasi selanjutnya meng- ambil cara yang berbeda. Seniman atau perupa dengan gaya naturalis dan realis mungkin setelah mendapatkan gagasan atau emosi estetiknya tergugah oleh suatu kondisi benda atau suasana dapat langsung menangkap keindahan itu dengan melukiskannya di tempat, atau membuat catatan berupa sket- sa kemudian dikembangkan di studio tempat kerjanya. Bagi kelompok dekoratif, surealis dan kubistis mereka juga mengambil jalur berbeda, setelah mendapat gagasan mereka mungkin membuat catatan lalu bekerja di studio. Seniman dengan tipe prose kreatif terstruktur dan sinte- 326
    • a Gambar 283. (a) Dullah, Pintu Gerbang Bali, (b) Lee Man-Fong, Penari Legong (sumber: Koleksi Presiden b Soekarno a Gambar 284. (a) Basuki Abdulah, Pemandangan, (b) Lee Man Fong, Gadis Bali (sumber: Koleksi Presiden Soekarno). b 327
    • sis sangat banyak, di antaranya ialah Basuki Abdulah, Dullah, Trubus, Sudjojono, Wakidi. Seniman dengan tipe ini pada saat ini banyak dibantu dengan peralatan hasil teknologi yaitu kamera. Mereka tidak perlu lagi berlama-lama bekerja di luar langsung di alam terbuka, Dullah misalnya, dalam melukis pemandangan maupun model tidak bekerja berhari-hari di alam terbuka menghadap ke pemandangan yang dilukis- nya atau menahan model manusia yang dilukisnya dalam waktu lama. Ia banyak dibantu oleh fotografi dan penyelesaiannya dapat dilanjutkan di studio. Dengan kepiawian teknik yang dimilikinya para seniman realis dapat menyelesaikan lukisannya, dan kadang warnanya lebih indah dari aslinya (gb.284 a). Gambar 285 (a) Anonim, Lukisan Bali Kuno (sumber: Koleksi Presiden Soekarno), (b) Walter Spies, (sumber: Indonesian Heritage). Seniman pada jalur dekoratif (gb.285 dan 286) bekerja dengan ke- mampuannya menggayakan atau stilasi obyek yang menarik perhati- annya. Seniman jenis ini bekerja kadang sepenuhnya di dalam studio dituntun oleh cita rasa estetiknya membuat benda-benda menjadi berirama. Gaya ini banyak dilakukan oleh desainer tekstil, perhatikan motif kain batik, tenun, kadang bentuk benda disederhanakan kadang dilebih-lebihkan. Perwujudannya dalam seni lukis, pewarnaan biasanya datar seperti lukisan Wayang Beber dan Klasik Kamasan bentuk- bentuknya penuh dengan stilasi. Namun demikian ada yang meng- kombinasikannya dengan tipe naturalis dan realis dengan menerapkan teknik halftone dan prinsip perspektif seperti Henri Rousseau, Widayat, Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan seniman-seniman Bali hasil didikannya. 328
    • b Gambar 286. (a) Widayat, Manusia, Pohon dan Satwa, (b) Kuswadji, Lampor (sumber: (a) Indonesian Heritage, (b) Soedarso, SP) a Tipe surealis memfantasikan obyeknya sehingga hasilnya nampak seperti suasana mimpi. Kaum surealis banyak diilhami oleh ilmu psikologi terutama tentang teori bawah sadar oleh psikolog Sigmund Freud. Dalam ungkapannya ada tipe realistik dan abstrak. Tipe realistik sebenarnya kelompok ini berkarya berdasar benda-benda realistik kasat mata tetapi pengungkapan terhadap benda-benda tersebut dihubungkan dengan hal- hal yang tidak logis melalui penerapan perspektif terbalik, ilusi optik, gelap terang, posisi yang tidak logis dan sebagainya. Seniman seni lukis yang tersohor dalam gaya surealisnya adalah, Chirico, Miro, Marc Chagal (gb. 287), dan Salvador Dali (gb. 306). Dalam seni patung Henri Moore setiap saat ia tidak mau kehilangan image-imagenya karena patung tidak dapat secara serta merta dibuat maka ia tuangkan dalam catatan berupa sketsa-sketsa abstraksi tentang manusia (gb. 288). 329
    • Gambar 287. Marc Chagall, The Players (sumber: Ingo F. Walther) Gambar 288. Abstraksi Henry Moore (sumber: Robert H. McKim) 330
    • Tipe analitik bekerja menyeimbangkan emosi estetiknya dengan kemampuan rasional analitis. Gaya Impresionisme lahir karena hasil analisis terhadap kondisi sinar yang menerpa benda, bahwa warna benda akan mengalami perubahan seiring dengan bergeraknya matahari dari timur ke barat. Warna pagi berbeda dengan warna siang begitu pula dengan warna sore. Hal ini dibuktikan oleh Claude Monet dengan melukis langsung suatu obyek dalam waktu yang berbeda. Hasil kesan mata dan perasaan terhadap warna berbeda karena perubahan kondisi sinar yang menerpa benda. Gambar (289a) adalah kesan warna siang hari pada gereja gereja Catedral Rouen, kesadaran terhadap perubahan kesan warna terhadap mata merupakan kemampuan menganalisa kondisi lingkungan yang diungkapkan dalam wujud lukisan. Kubisme juga lahir karena hasil analisis terhadap kondisi benda. hal ini dimulai oleh kesadar- a b Gambar 289. (a) Claude Monet, Detail Rouen Chatredal, (b) Paul Cezanne, Maount Saint Victoire (sumber: Paul Zelanski) an Paul Cezanne dalam mencermati kondisi benda yang dilukisnya. Ia melihat bahwa sebenarnya permukaan benda terdiri dari berbagai susunan warna dan bentuk lalu ia mengungkapkan hal itu dalam lukisannya (gb.289b). Hal ini selanjutnya dikembangkan lebih intensif oleh Picasso dan Braque. Konsep kubisme yang kuat mengatakan bahwa benda-benda dapat dikembalikan ke bentuk aslinya yaitu bentuk-bentuk geometris, dan sebuah benda yang kita lihat bukalah benda yang sebenarnya, oleh karena bagian atas, bagian depan, bagian bawah tidak nampak. Dengan pandangan itu kaum kubistis mengungkapkannya ke dalam lukisan dengan bentuk-bentuk dari berbagai sudut pandang dalam satu lukisan. Hasilnya suatu lukisan dengan bentuk-bentuk yang aneh (gb. 290, 291). 331
    • a b c Gambar 290. Konsep bentuk kubisme ( sumber: Patric Carpenter) 332
    • Gambar 291. Pablo Picasso, Guernica (sumber: Paul Zelanski) 2. Tipe intuitif dan emosional Affandi misalnya sebelum melukis dengan gaya ekspresionisnya, ia melakukan observasi berkeliling ke tempat-tempat yang dirasa dapat memberikan ’secercah’ gagasan untuk merangsang emosi estetiknya. Setelah mendapat gagasan dari suatu obyek, obyek itu diamati terus sehingga dapat menangkap hubungan antara rasa estetiknya dengan obyek, hal ini menimbulkan emosinya tak terbendung sehingga ia harus melukis cepat-cepat dengan metode plototan agar tidak kehilangan moment yang sangat menggairahkan itu. Kondisi inilah yang menye- babkan ia melukis bagaikan orang kesurupan (gb. 292b). Dalam gambar (292a) Durrer mengambarkan The Scream dengan mendistorsi bentuk manusianya dan menggambarkan lingkungannya dengan gerakan garis dinamis bergelombang, dalam hal ini yang lebih dominan adalah emosi Durrer yang dituangkan ke atas bidang gambar. Pengungkapan emosi juga dilakukan secara non-figuratif atau abstrak, pada gambar (292c) Jacson Pollock menumpahkan emosinya dengan cipratan warna dan hal yang paling sulit menganalisa hubungan luapan emosi itu dengan judul lukisannya. Kadang judul hanya sebagai pemberian label dan tidak ada hubungan sama sekali dengan nilai ekspresi yang diungkapkan menjadi lukisan. Namun demikian aspek teknik masih sangat dibutuhkan agar dapat mengakomodasi bentuk emosi yang ditumpahkan ke atas kanvas atau jenis permukaan lainnya. 333
    • b a c Gambar 292 . (a) Durrer, The Scream, (b) Affandi, Adu Ayam di Bali, (c) Jackson Pollock, autuumn Rhytm, (sumber: (a,c) Paul Zelanski, (b) Koleksi Presiden Soekarno) 334
    • Gambar 293. Konsep perubahan / deformasi bentuk ekspresionisme (sumber: Patrick Carpenter) Proses kreatif terjadi awalnya karena adanya stimulan, kemudian stimulan itu dikembangkan untuk medapatkan konsep, Finke dan kawan- kawan menyebutnya sebagai Geneplore, yaitu suatu model pengem- bangan kreativitas melalui proses generative dan explorative. Berdasarkan proses yang dilakukan oleh para seniman dalam membuat karya-karyanya, maka untuk pengembangan dan pembahasan kreativitas dalam buku ini dibedakan menjadi berpikir imajinatif, berfikir alternatif, berpikir inovatif, dan berpikir kongkrit yang memiliki hubungan erat dengan seni rupa. E. Berpikir Imajinatif Kreativitas selain bersifat intuitif juga erat ekali hubungannya dengan imajinasi, sebab apapun bentuk kreasi sebelum dilahirkan menjadi wujud tertentu terlebih dahulu dibentuk dalam benak yang disebut imajinasi. Harry Broudy menyebut imajinasi sebagai benihnya kreativitas dan sebagai bagian dari kognisi manusia yaitu kemampuan untuk berpikir, mengingat, mengemukakan alasan, membayangkan sesuatu dalam ke- giatan hidup sehari-hari. Dalam kenyataannya memang imajinasi me- nuntun manusia untuk melakukan sesuatu, sebelum menjadi tingkah laku terlebih dahulu tergambar dalam imajinasi. Jadi imajinasi merupakan induknya berpikir kreatif; dalam imajinasi ada fantasi, memori, analogi, abstraksi, humor dan sebagainya. 335
    • Gambar 294 . Escher, Bond of Union 1. Fantasi Ketika kita berangan-angan sedang ada di bulan saat itu kita berfantasi, ketika kita berangan-angan tentang sesuatu yang tidak pernah ada di dunia ini kita sedang berfantasi. Fantasi merupakan kemampuan manusia dalam berimajinasi atau membayangkan tentang sesuatu dalam benak, mungkin sesuatu yang tidak mungkin ada, atau yang pernah ada. Penggunaan fantasi dalam seni rupa dapat melahirkan karya-karya yang mengagumkan, unik karena dapat membawa pikiran kepada dunia yang lain. Jadi fantasi diarahkan kepada hal-hal yang tidak ada dan belum pernah ada di dunia (gb 294). Fantasi merupakan dasar dari semua jenis kegiatan imajinasi seperti berpikir analogi dan ilusi karena dalam berpikir analogi dan ilusi juga melibatkan fantasi. Kekhususan fantasi adalah tidak melibatkan cara berpikir analogi dan ilusi. Menurut Feldman, fantasi dapat terbentuk melalui cerita mitos, mimpi dan halusinasi, ilmu dan teknologi, serta ilusi. 2. Analogi Analogi secara literal berarti kesetaraan dalam perbandingan, proporsi, dalam pengertiannya yang lebih luas berati kias yaitu kesamaan 336
    • antara sesuatu yang berbeda, dengan menggunakan kiasan masalah dapat lebih mudah dipahami, misalnya otak manusia sama dengan komputer. Hal ini dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa pikiran dan prilaku manusia dapat diubah sesuai dengan program yang di-install ke dalam otaknya. Dalam seni rupa, sebuah lukisan atau patung dapat dianalogikan ke dalam irama kehidupan: ada kontras, irama menye- nangkan, sedih, kusam dan sebagainya. Dengan mengandaikan seperti itu dapat menggerakkan kemampuan kreatif untuk mencipta. Gambar 300 misalnya, Marc Chagall karena antusiasnya dengan hari ulang tahun istrinya ia meluapkan kegembiraannya dengan menggambarkan dirinya seakan melayang ketika memberikan ciuman selamat ulang tahun (gb. 295). Gambar 295. Marc Chagall Birth Day (sumber: Ingo F. Walther) 3. Ilusi Ilusi optik digunakan dalam seni rupa terutama seni lukis sejak di- temukannya perspektif oleh Brunelleschi pada zaman Reanissance. Prinsip ini digunakan untuk menggambarkan kesan tiga dimensional dalam bidang dua dimensional. Selanjutnya pengungkapan ilusi optik terus berkembang seperti M.C Escher menggunakan ilusi optik dalam karya-karya grafisnya sehingga dapat menciptakan karya yang unik 337
    • kadang mendekati humor yang menggelitik. Karya-karya Escher banyak megeksploitasi susunan simultan antara ruang positif dan negatif dengan prinsip transisi sehingga menimbulkan ilusi optik (gb. 301b). Kedua jenis ruang dimanfaatkan menjadi bentuk yang sama namun dalam arah yang berbeda. Selain itu dalam versi yang lain Escher memanfaat manipulasi perspektif sehingga penampilan karyanya menjadi aneh (gb. 296a) Ilusi juga dieksploitasi oleh perupa Op Art seperti Victor Vasarely menampil- kan karya-karya unik dari gagasan yang sederhana karena hanya dengan menggunakan kepiawiannya menyusun transisi warna dan bentuk-bentuk geometris ia mampu menciptakan ilusi optik pada lukisannya, bentuk kelihatan bergetar (gb. 296c) kadang pada karya yang lain bentuk berputar-putar. b a Gambar 296. (a) M.C Escher, Relativity, (b) M.C Escher, Circle Limit I (sumber: M.C. Escher The Graphic Work),(c) Victor Vasarely, Super Impose (sumber: Paul Zelanski). c 338
    • 4. Humor Humor tidak saja bersifat verbal, dapat pula dungkapkan secara visual. Kaum karikaturis merupakan kelompok humoris dalam seni rupa. Sering dengan gaya humor seni rupa digunakan untuk kritik terhadap pemerintah atau orang-orang terkenal karena perilakunya. Di antara seniman yang menggunakan humor sebagai jalur berkaryanya adalah G.M Sudarta yang biasanya muncul setiap minggu di harian Kompas (gb. 298). Hofmeklers seorang pelukis Israel melukis tokoh-tokoh terkenal dunia dengan gaya karikatur, gaya ini menggunakan kepiawaiannya dalam menangkap karakter obyek yang diungkapkan dengan menstilasi bentuk namun tidak menghilangkan kesamaan dengan bentuk aslinya (gb.297). Gambar 297. (a) Hopmekler, Jimmy Carter and Friends (sumber: Hofmeklers People), 339
    • Gambar 298. G.M. Sudarta, Oom Pasikom (sumber; Kompas Sabtu 24 November 2007) b Gambar 299. (a) Marc Chagall, Listening to the Cock, (sumber: Ingo F. Walther) (b) Eileen, Duckling Stone (sumber: Porselen Amerika). a 340
    • 5. Animasi Animasi adalah cara mengungkapkan fantasi dengan memberikan image mahluk hidup kepada benda mati. Dalam seni rupa upaya kreatif jenis ini banyak digunakan dalam cerita bergambar atau komik dan pelukisan mitos, oleh karenanya animasi dibedakan animasi ’menghidupkan benda mati’ dan animasi memanusiakan benda atau binatang. Pada gambar (299a) Marc Chagall mengungkapkan tentang sepasang manusia dengan satu badan babi betina dan di bagian bawah ayam betina dengan telur dan latar belakang merah. Eileen pada gambar (299b) membuat mangkuk sup porselen dengan bentuk kombinasi kepala bebek sehingga mangkukya kelihatan lain dan menarik perhatian dengan tiga kepala bebek muncul dari tutup dan badan mangkuk. Dalam seni lukis dan patung tidak banyak seniman menggunakan cara ungkapan dengan animasi. F. Berpikir Alternatif Berpikir alternatif sering disebut sebagai berpikir divergent, yakni kemampuan melahirkan gagasan yang berbeda-beda namun masih dalam satu arah tujuan untuk mendapatkan pilihan yang terbaik, atau berpikir tentang cara yang berbeda dalam mendekati permasalahan, berpikir yang tidak lazim untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Kebalikan dari berpikir ini adalah berpikir linear, yakni dalam menentukan keputusan tidak ada pilihan lain karena hanya ada satu alternatif. Dalam seni rupa berpikir alternatif dapat dilakukan melalui latihan-latihan secara figural dan eksploratif dalam melahirkan bentuk-bentuk. Satu bentuk dapat dibuat bentuk-bentuk lain dalam mendapatkan satu bentuk baru yang terbaik. Hal itu dapat dilihat dalam cara kerja Henry More (gb. 288) dengan membuat banyak sketsa studi untuk patung-patung abstrak yang akan dibuatnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Picasso dalam persiapan membuat mural Guernica, dengan demikian ia punya kesempatan untuk memilih bentuk-bentuk yang terbaik untuk disusun menjadi komposisi. Berpikir alternatif merupakan dasar dari kegiatan kreatif, karena semua kegiatan berpikir kreatif lainnya dapat dikombi- nasikan dengan cara berpikir alternatif ini. 341
    • a b c d Gambar 300. (a) Biota laut sebagai sumber pengembangan bentuk (sumber: Nicholas Roukes), (b) Hasil pengembangan bentuk oleh peserta Diklat Guru Seni SMA P4 TK Seni dan Budaya. Dalam gambar (300) peserta diklat di PPPPTK Seni dan Budaya diberi rangsang visual berupa foto-foto dari biota bawah laut berupa kerang dan terumbu karang yang bentuknya unik. Mereka memilih beberapa jenis 342
    • bentuk biota laut untuk dikembangkan menjadi masing-masing tiga ben- tuk baru. Dalam memilih mereka memiliki kebebasan untuk menye- suaikan image-image dengan imajinasinya sehingga dapat lebih mudah untuk mengem-bangkannya. Bentuk asli memancing bentuk surealistik karena bentuk-bentuk yang dihasilkannya sangat fantastik dan unik. Untuk pengem-bangan selanjutnya bentuk-bentuk tersebut dapat digunakan menjadi berbagai jenis produk seni rupa dan seni kriya seperti lukisan, motif tekstil, keramik dan sebagainya. Dari latihan-latihan yang diberikan, ternyata bentuk-bentuk alami sangat mudah memunculkan bentuk baru yang fantastik. Begitu pula bentuk buatan manusia dapat melahirkan bentuk-bentuk baru yang tak terbatas. Dalam pengembangan bentuk perlu diperhatikan, bahwa tidak semua jenis bentuk dapat memancing keluarnya gagasan dan tidak semua orang dapat dengan cepat terpancing imajinasinya. Dari studi empiris yang dilakukan bentuk geometris yang bersudut-sudut lebih sulit memancing imajinasi dibanding bentuk lingkaran hal ini berlaku bagi anak-anak maupun orang dewasa. Dengan demikian guna memperlancar dan mempercepat intensitas latihan menggunakan bentuk organis lebih produktif dalam pengem- bangan bentuk-bentuk yang fantastik. Tugas Latihan Kembangkanlah bentuk-bentuk di bawah ini menjadi masing-masing lima bentuk yang dapat dikenali. a b c d e G. Berpikir Inovatif Apabila seseorang tidak puas dengan apa yang ada baik berupa benda maupun suatu kondisi kemudian ia melakukan perubahan dengan menambah atau mengurangi maka ia telah mengembangkan kemam- puan berpikir inovatif. Bepikir inovatif dan alternatif dapat dikombinasikan, 343
    • karena inovatif berarti memperbaharui sesuatu, maka dalam melakukan pembaharuan perlu alternatif. Untuk pengembangan kreativitas ada beberapa metode yang dapat digunakan. Bob Eberly menyarankan dengan scamper yang berarti lari bermain seperti anak-anak. Kata ini digunakan sebagai akronim SCAMPER yang masing-masing hurufnya memiliki makna sebagai berikut. Substitute = Orang atau benda dapat berganti peran satu sama S lainnya. Apakah ada cara lain menggunakan hal ini ? Combine = Mengombinasikan atau menyatukan. C Apa yang terjadi jika hal ini disatukan ? Adapt = Menyesuaikan terhadap kondisi atau maksud. A Apakah ada hal lain seperti ini? Animate = Memberi wujud hidup Modify = Mengubah, menukar bentuk atau kualitas Memperluas, M Maginify = membesarkan bentuk atau kualitas Minify = Memperkecil, memperingan, memperlambat, mengurangi frekuensi Dapatkah ini dibayangkan menjadi tambah besar atau tambah kecil Put to other Menggunakan lain dari yang dimaksud semula. P uses = Eliminate = Memindahkan, menghilangkan suatu bagian, kualitas. E Bagaimana jika ini dihilangkan? Reverse = Menempatkan, menggunakan secara bertentangan atau R terbalik. Rearange = Mengubah susunan, menyusun kembali. Apakah yang terjadi jika ini dibalik atau disusun kembali komposisinya? Menggerakkan gagasan-gagasan kreatif dengan metode Scamper ini sangat dapat diterapkan ke dalam seni rupa. Banyak seniman entah sengaja atau tidak telah menggunakannya dalam menciptakan karya- karyanya yang kreatif. Dalam substitute misalnya, Erawan (gb.301) mengunakan bingkai yang seharusnya untuk membingkai lukisan atau foto, ia gunakan sebagai media melukis. Dengan kreativitas, media untuk membuat karya seni rupa menjadi tidak terbatas apa saja yang nampak oleh penglihatan dapat digunakan sebagai media. Substitute tidak hanya pada bahan, dapat pula dilakukan pada teknik, misalnya teknik batik yang tadinya untuk membuat kain batik pada perkembangannya digunakan untuk teknik melukis. Pada gambar (gb.302a) Martin Sharp dan kawan- kawannya mengganti ruang tamu menjadi karya seni yang diberi judul The Stone Room. Selain itu pada gambar (gb.302b) Lucas Maramas 344
    • mengganti fungsi buku, pisau, paku, silet dirangkai menjadi satu karya seni. Pada aspek combine dapat dilakukan mengombinasikan bahan, misalnya pastel dengan cat air, arang dengan pastel, cat akrilik dengan cat minyak. Combine atau kombinasi dapat pula dilakukan gaya, misal- nya gaya dekoratif dengan realis (gb. 303a) dan (gb. 303b) Walter Spies dan Rudolf Bonnet mengkombinasikan gaya naturalis dan realis dengan dekoratif. Pun dapat dilakukan lintas jenis misalnya patung dengan lukisan, seni pakai dengan seni murni. Pada gambar 301 Erawan meng- gunakan kemampuan kreatif dan estetiknya dalam mengombinasikan beberapa media yang sangat berbeda seperti kayu, lukisan tradisional Kamasan, cat minyak, cat emas dengan teknik menempel dan bakar untuk mendapatkan kesan antik, semuanya disusun menjadi komposisi yang harmonis. Gambar 301. Erawan, Kekunoan (sumber: Katalog Pralaya Erawan). 345
    • Nicholas Roukes mengembangkan metode untuk pengembangan kreativitas dengan synectic. Menurutnya synectic berasal dari bahasa Yunani synectikos yang berarti mengabungkan hal-hal yang berbeda agar memiliki hubungan kesatuan. Apabila kreativitas merupakan suatu upaya menyatukan sesuatu yang berbeda menjadi struktur baru maka kemampuan berpikir synectic sangat diperlukan yaitu kemampuan untuk mengombinasikan menjadi kesatuan yang harmonis. Pada gambar (304 dan 305) mahasiswa calon guru seni rupa dan kerajinan mengem- bangkan bentuk-bentuk kombinasi yang ada di sekitar, mereka diminta memilih sebuah kata kemudian kata tersebut divisualisasikan. Setelah masing-masing individu mendaptakan gambar sesuai dengan kata yang dipilih mereka dibagi menjadi kelompok-kelompok, dalam kelompok mereka diminta untuk menggabungkan hasil visualisasinya. Hasilnya sangat menakjub-kan, imajinasinya liar dan bentuk-bentuk kombinasi yang dihasilkan tak terduga, aneh, dan seram. Gambar (305a) merupakan kombinasi bentuk kata kuda, laki-laki, gadis, ikan dan ular. Gambar (305b) adalah kombinasi bentuk dari kata burung, topi, ikan dan manusia. Dalam menyusun kombinasi bentuk, bentuk pokok meng- hasilkan bentuk-bentuk baru dalam bentuk pokok tersebut. Hal ini disebabkan dalam bentuk pokok ada asoiasiasi bentuk dalam bentuk plastisnya, misalnya bentuk kaki kuda mengasosiasikan bentuk ikan, pada perutnya ada bentuk kepala manusia dan sebagainya (gb.305a) b a Gambar 302. (a) Martin Sharp, The Stone Room (sumber: Yellow House Catalog), (b) Lucas Maramas Book 4 (sumber: Paul Zelanski) 346
    • Hal yang baik dari metode pengembangan ini dapat dilakukan dalam kelompok dan ini dapat menumbuhkan kemampuan bersinergi dalam menuangkan gagasan sehingga mampu melahirkan produk bentuk yang kuat dan konstruktif karena dipertimbangkan oleh beberapa hasil pe- mikiran. Transformasinya metode ini dapat diaplikasikan dalam kegiat-an lain yang bersifat kreatif. b a Gambar 303. (a) Walter Spise Bali Nan Biru (sumber: Puri Bhkati Renatama, (b) Rudolf Bonnet Dua GAdis Bali Mengusung Tempayan (sumber: Koleksi Presiden Soekarno). a b Gambar 304. Pengembangan bentuk berkelompok, karya peserta diklat calon guru SMK 347
    • a b Gambar 305. Pengembangan bentuk berkelompok, karya peserta diklat calon guru SMK 348
    • Tugas Latihan 1. Buatlah karya seni rupa dengan mengganti aspeknya misalnya tekniknya, warnanya, bentuknya, fungsinya, pilih salah satu! 2. Buat pula karya seni rupa dengan mengkombinasikan beberapa bahan. Gambar 306. Salvador Dali, The Persitence of Memory (sumber: Paul Zelanski) Modify adalah mengubah suatu dapat bentuk, warna, atau kualitas; dalam gambar (306) Salvador Dali mengubah kualitas benda keras menjadi lembek, sehingga ungkapan visual dalam lukisannya berjudul The Persistence of Memory arloji digambarkan seperti layaknya terbuat dari bahan yang lembek, atau elastis. Dalam lukisannya, Salvador Dali menyampirkan benda keras yang telah digambarkan menjadi lembek tersebut pada batang pohon kering, pada lantai persegi dengan latar belakang laut dan bukit kering dan lingkungan yang sepi, sehingga lukisan tersebut memberi kesan kepada penggambaran di dunia tak nya- ta. Perubahan kualitas dapat memberikan bentuk-bentuk yang me- ngejutkan karena aneh dan lain dari kenyataan empiris. 349
    • H. Berpikir Kongkrit Dalam teori psikologi perkembangan ada tahap kemampuan orang berpikir kongkrit. Piaget (1970) menyebutnya sebagai tahap congcrete operational, yakni kemampuan seorang anak dalam mengidentifikasi dan memahami secara logis perubahan terjadi secara fisik dalam sebuah benda namun sebagaian besar karakteristiknya masih tetap. Seorang designer atau arsitek menggunakan imajinasinya untuk berpikir kongkrit dalam merencanakan sebuah rangcangan benda atau bangunan. Seorang pelukis, pematung, kriyawan termasuk orang yang berpikir kong- a b c d Gambar 307. Pengembangan bentuk berdasar rangsang visual garis.dan bantuk , karya peserta diklat guru SMK krit dalam menuangkan gagasannya karena apa yang diinginkan dan di- lakukan selalu tergambar dalam pikirannya. Kiranya tidak hanya ketiga profesi itu yang menggunakan berpikir kongkrit, hampir seluruh manusia dalam hidupnya menggunakan berpikir secara kongkrit. Dalam berpikir alternatif gagasan visual masih samar-samar, akan tetapi dalam berpikir konkrit sudah jelas pilihan mana yang paling baik dan bagaimana bentuk 350
    • senyatanya yang akan dibuat. Nampaknya berpikir kongkrit ini merupa- kan muara dari kemampuan kreatif karena apa yang akan diwujudkan sudah nampak jelas. Pada gambar (307dan 308) dalam pengembangan kreativitas visual calon guru SMK SB, mereka diberikan rangsang visual berupa garis-garis dan bentuk yang masih merupakan susunan unsur yang belum jelas maksudnya. Dengan kemampuan imajinasi dan fantasi mereka merespon garis-garis tersebut. Hasilnya setiap individu memberikan respon berbe- da sesuai dengan latar belakang pengalaman dan ingatan mereka masing-masing. Aspek memori dalam hal ini sebagai perbendaharaan visual sangat menentukan respon yang diberikan. Selain itu dalam memberikan respon, ada hal penting dalam latihan tersebut yaitu meningkatkan kemampuan dalam menghubungkan unsur-unsur yang terpisah antara garis yang berbeda karakter, antara garis dan bentuk menjadi satu kesatuan. Jadi latihan ini memberikan kesempatan kepada peserta diklat untuk latihan melihat masalah dan menutupnya dengan mencaru hubungan-hubungannya sehingga harmonis. a b Gambar 308. Pengembangan bentuk organis menjadi bentuk yang lengkap dan dapat dikenali, karya peserta diklat guru SMK Gambar (307b) adalah respon dari peserta yang sering menyaksikan pertunjukan kuda kepang, walaupun dalam kenyataan tidak ada dua orang mengendarai kuda kepang, hal ini dapat memberi tafsiran bahwa penunggang yang lebih kecil berada paling atas di punggung orang yang lebih besar adalah spirit yang merasuk kedalam tubuh manusia yang 351
    • menunggangi kuda kepang tersebut. Pada kenyataannya, memang pemain kuda kepang sering sampai kepada taraf trance dan jika ia di- pukul dengan cemeti tidak luka, makan pecahan-pecahan kaca tidak menjadikannya sakit perut atau mulutnya luka. Masyarakat menganggap pemain kuda kepang tersebut kesurupan roh sehingga tubuhnya tidak dapat dilukai. Berbeda pada respon gambar (307c, d), respon pada gambar (c) menandakan responden dalam memorinya ingat kepada mobil antik, dan respon pada gambar (d) mengingatkan kepada rumah- rumah di pedesaan Jawa. Berbeda lagi dengan respon dari rangsang visual berupa bentuk tetesan benda cair (gb. 308a), responnya bukan sebagai benda yang menetes tetapi bentuk tersebut bagi pe- ngembangnya mengasosiasikan kepada bungkusan yang digendong seseorang (308b). Jadi berpikir kongkrit merupakan berpikir yang senyatanya. Berdasarkan pengalaman dan memori berupa benda dan peristiwa, digunakan sebagai acuan menuangkan perbendaharaan bentuk dalam suatu bidang, direalisasikan dalam wujud rupa. Seorang arsitek dan desiner sangat nyata dalam bepikir kongkritnya, karena untuk direalisasikan oleh orang lain wujud yang direncanakan harus sudah pasti. Tugas Latihan Kembangkanlah susunan bentuk dan garis di bawah ini menjadi bentuk yang dapat dikenali dan lengkap. Masing-masing susunan dikembangkan menjadi lima buah. a b 352
    • c d 353
    • A. Pengertian Apresiasi Seni Rupa Kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris to appreciate yang berarti menghargai, menilai, menyadari, mengerti. Namun dalam New Webster’s Encyclopedic Dictionary diartikan sebagai ...the act of valuing or estimating,...awareness of aesthetic value. Jadi pengertian apresiasi seni adalah suatu kegiatan dalam menafsirkan nilai karya seni khususnya seni rupa sehingga menyadari dan dapat menghargai terhadap nilai yang terkandung di dalamnya. Guna melakukan apresiasi diperlukan beberapa hal antara lain berupa pengetahuan tentang seni rupa dan kepekaan perasaan yang berhubungan dengan keindahan. Oleh sebab itu kemam- puan setiap individu dalam melakukan apresiasi adalah berbeda. Kemudian melakukan apresiasi berbeda pula perlakuannya dilihat dari jenis dan gaya karya seni, misalnya antara karya seni rupa realis dan abstrak. Pada jenis karya realis segera dapat diidentifikasi kemampuan senimannya dalam mewujudkan kenyataan, sedang dalam karya abstrak agak rumit karena menyangkut kemampuan artikulasi abstraksi senimannya terhadap konsep yang ditampilkannya. Untuk itu dibutuhkan ekstra kepekaan estetik dalam melihat hubungan aspek dan unsur yang ada di dalamnya. Dalam melakukan apresiasi ada beberapa pendekatan di ataranya adalah pendekatan kritik, analitik, dan pendekatan kognitif, pada dasarnya pendekatan pertama dan kedua adalah lebih bersifat kritik seni, yang kedua sifatnya lebih mendalam, dan ketiga merupakan pentahapan kamampuan dalam mengidentifikasikan suatu karya seni. B. Hal Yang Diperlukan Dalam Apresiasi Seni Rupa Untuk melakukan apresiasi seni ada beberapa hal yang perlu dimiliki oleh seorang apresiator yaitu sebagai berikut. 1. Pengetahuan tentang seni rupa Dalam melakukan apresiasi seni rupa pengetahuan tentang seni rupa sangat diperlukan. Pengetahuan tersebut meliputi kesejarahan, bahan
    • yang digunakan dan bahasa rupa yang diaplikasikan dalam karya seni rupa. Kesejarahan diperlukan agar dapat melihat kehadiran seni rupa secara diakronis, dan mengetahui bagaimana hubungan karya seni rupa yang dihadapi dengan karya-karya seni rupa yang telah ada sebelumnya sehingga dapat menemukan runtutan kehadirannya apakah ada pengaruh dari seni rupa yang lalu atau murni diciptakan oleh senimannya sebagai suatu penemuan yang spektakuler. Untuk mengetahui karya Raden Saleh misalnya, apakah teknik dan gaya yang dimilikinya murni ciptaannya atau mendapat pengaruh dari gurunya dan teman-temannya selama belajar di Negeri Belanda. Pengetahuan tentang teknik, bahan dan bahasa rupa berguna untuk melakukan analisis visual karya seni rupa. Tanpa pengetahuan tentang teknik, bahan dan bahasa rupa apresiator tidak akan dapat menikmati apa yang dilihatnya dalam karya yang diapresiasi misalnya tentang bentuk dan warnanya, bagaimana tentang komposisinya hal ini diuraikan dalam bab II, III, dan IV. Pengetahuan tersebut mendasari baik untuk praktek menekuni profesi sebagai senirupawan maupun sekedar untuk mengetahui dunia seni rupa atau untuk bekal dalam menikmati karya seni rupa yang banyak ragamnya. 2. Kegemaran terhadap karya seni rupa Kegemaran terhadap karya seni rupa maksudnya menyukai dan mencintai karya seni rupa. Menyukai karya seni rupa mempermudah untuk melakukan apresiasi, karena dengan meyukainya berarti selalu ingin menikmati dengan melihatnya. Seorang kolektor adalah seorang apresiator yang baik karena ia tidak hanya menyukai tetapi dilanjutkan hingga memiliki karya seni rupa dan mau menghargainya dengan nilai uang yang tidak sedikit. Tanpa menyukai atau gemar menyaksikan karya seni rupa tidak mungkin dapat melakukan apresiasi, karena karya seni rupa hanya dapat diapresiasi dengan indera penglihatan. Gemar tidaknya seseorang menikmati karya seni rupa tergantung dari kepribadiannya karena tidak semua orang senang menikmatinya. Biasanya kegemaran terhadap karya seni rupa dapat tumbuh karena melalui latar belakang pendidikan yang memang belajar tentang seni, atau tumbuh karena ingin meningkatkan kualitas hidup dengan menikmati karya seni rupa seperti lukisan, patung, atau benda kriya diakibatkan oleh pergaulan dan ekonomi yang telah mapan. 3. Kepekaan estetik Kepekaan estetik merupakan yang utama dalam melakukan apresiasi seni rupa. Kepekaan estetik dapat diandaikan tentang pemahaman terhadap bahasa visual, dapat mengidentifikasi kualitas unsur karya seni rupa yaitu dapat merasakan kondisi warna, garis, bentuk, dan teksturnya. 355
    • Misalnya dapat merasakan bahwa karya tersebut dingin, dinamis, tenang, mencekam, magis dan sebagainya. Dapat mengidentifikasi hubungan- hubungan antar unsur misalnya warna yang satu terlalu dominan, atau bentuk yang satu tidak sesuai dengan bentuk di sebelahnya atau karya tersebut kurang seimbang. Hal penting lainnya selain memiliki kepekaan estetik adalah dapat mengidentifikasi ketrampilan teknis yang sangat menentukan keberhasilan sebuah karya seni. Tidak ada karya seni rupa yang berkualitas baik tanpa kematangan teknik karena ini mempengaruhi kualitas unsur yang digunakan sebagai media untuk mengekspresikan gagasan sang seniman. 4. Sikap penghargaan terhadap karya seni rupa Sikap penghargaan tehadap karya seni timbul setelah tiga hal di atas dimiliki. Apabila ketiga hal di atas telah dimiliki secara otomatis sikap menghargai akan timbul. Misalnya, pengrusakan benda-benda seni disebabkan karena tidak dimilikinya ketiga hal tersebut, sehingga menganggap sebuah arca batu yang indah sama dengan batu lainnya, sebuah lukisan sama dengan selembar kain atau kertas. Ada juga orang telah memiliki pengetahuan, kesukaan, dan kepekaan estetik tetapi mencuri benda-benda seni hal ini biasanya dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi dan mental yang tidak baik yaitu tidak tahan terhadap godaan uang, tidak jujur dan rakus. C. Aspek Apresiasi Seni Rupa Telah banyak diketahui bahwa pada umumnya ada dua aspek yang dapat diapresiasi dalam karya seni rupa yaitu bentuk dan isinya. Bentuk merujuk kepada tampilan kualitas fisik karya seni rupa berupa unsur visual, prinsip pengorganisasian unsur, teknik atau cara membuatnya dan materi yang digunakan. Menurut Paul Zelanski aspek isi karya seni rupa meliputi tema yang diungkapkan, emosi, gagasan, simbol, narasi, dan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian pemba- hasan aspek seni rupa yang diapresiasi difokuskan kepada (1) masalah yang diungkapkan, (2) teknik garapan, (3) unsur dan pengorganisasi- annya, (4) gagasan kreatif, (5) ekspresi. 1. Tema Permasalahan Tema yang diangkat oleh seniman sangat luas cakupan areanya, oleh karena itu banyak seniman dalam memilih tema dibatasi sesuai dengan preferensi senimannya. Ada yang mengangkat tema kemasyarakatan, alam, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan atau yang lebih bersifat abstrak seperti tema religius, kasih sayang, atau kehidupan sehari-hari senimannya, lamunan atau mimpi-mimpimya dan bahkan ada meng- 356
    • angkat tema sepenuhnya abstrak. Permasalahan merupakan awal kemudian menjadi tema, dan itu bagaikan pintu bagi seniman untuk b a Gambar 309. Tiga lukisan Picasso dalam periode biru (a) Pemain gitar Tua, (b) Orang Yahudi tua, (c) Pasangan laki-laki dan Perempuan (sumber: Paul Zelanski dan Mario De Micheli). c 357
    • menjelajahi dunia idenya. Kadang seniman berangkat tanpa batasan permasalahan atau tema kemudian dalam prosesnya ia menemukan gagasan untuk dikembangkan. Tema dapat dijadikan sebagai fokus pembahasan dalam berkarya dan dapat membentuk gaya dalam tampilan karya seorang seniman, dari sejarah timbulnya gaya dalam seni rupa dapat diketahui bahwa kaum impresionis memfokuskan visualisasinya terhadap kesan cahaya yang menimbulkan kesan warna berbeda-beda seiring bergeraknya matahari sebagai sumber cahaya. Kaum kubis memfokuskan pembahasan visual- nya kepada esensi bentuk dan penampakannya, dan kaum surealis Gambar 310. Lukisan wayang beber Jawa a Gambar 311. Lukisan wayang tradisional kamasan Bali. b 358
    • fokus kepada alam bawah sadar seperti mimpi dan paranoid. Seniman itu bebas menentukan kemana arah pembahasan visual yang digarapnya. Picasso menggunakan periodesasi dalam mengungkapkan per- masalahan visualnya sehingga ia tidak mandeg dalam satu gaya, dalam periode birunya permasalahan yang diungkapkan adalah kemiskinan dan kesedihan (gb. 309). Namun ada juga seniman yang takut beranjak dari kemapanan teknik dan gaya yang telah diraihnya, takut gagal dengan penjelajahan yang baru atau takut dibilang tidak memiliki kepribadian. Sebenarnya seni tumbuh seiring tumbuhnya fisik dan pisikologis senimannya, jadi apabila ada perubahan terjadi hal itu mungkin karena terjadi perubahan dalam diri sang seniman. Mungkin ia dipengaruhi oleh seniman lain, atau oleh budaya lain yang memikat perhatiannya, jadi hubungan karya seni dengan senimannya sangat dekat karena karya seni merupakan ungkapan pikiran dan perasaan sang seniman. Melihat karya seorang seniman sama dengan melihat apa yang dipikir dan dirasakannya. Seni tradisional dan kerakyatan permasalahan dan ungkapan visualnya cenderung seragam dan ajeg (gb. 310 dan 311), walau sebenarnya jika dicermati ada perbedaan tampilan dari satu seniman dengan seniman lainnya. Dapat terjadi perbedaan bentuk, warna namun secara menyeluruh cenderung sama. 2. Teknik Garapan Teknik garapan dalam membuat karya seni rupa sangat pokok dan menentukan karena dapat mempengaruhi nilai estetik karya seni yaitu baik dan buruknya. Oleh sebab itu kemahiran menggunakan alat dan bahan menjadi syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang seniman. Tidak ada karya seni yang berkualitas baik tetapi teknik pengerjaannya jelek, namun sebaliknya jika aspek estetiknya kurang dapat ditutupi oleh kemahiran teknik yang tinggi. Ketrampilan teknik sebagai dasar berkarya seni harus betul-betul dikuasai terlebih dahulu sebelum melangkah ke aspek selanjutnya. Teknik, alat, dan bahan saling terkait. Dalam seni lu- kis misalnya alat dan bahan yang digunakan menentukan teknik. Cat air tidak dapat digunakan seperti cat minyak karena potensi estetik cat air adalah pada efek transparannya. Namun memungkinkan untuk dikombi- nasi atau dicampur guna mendapatkan efek artistik yang diinginkan oleh senimannya yang sering disebut mixed media. Dalam seni patung ada beberapa teknik mebentuk seperti teknik pahat, teknik cor, dan teknik las. Ada seniman patung menguasi ketiganya, ada yang fokus spesialisasi hanya dalam satu teknik. Seniman patung Yunani dan Romawi kuno sangat mahir dalam teknik memahat marmer, dan mereka mampu mematungkan kesan kain yang halus, luwes dan transparan dengan media yang amat keras. Di daerah lain, seniman Cina kuno juga sangat mahir dalam membuat keramik dan memahat batu giok yang kekerasannya hampir sama dengan marmer, 359
    • begitu pula seniman lukis klasiknya sangat mahir melukis dengan media tinta dengan kuas secara spontan. Seniman ukir dari Jepara dan Bali sangat trampil dalam memahat kayu. Ketrampilan tinggi dapat dimiliki jika latihan secara terus menerus. Untuk seni rupa baik dua dimensional maupun tiga dimesional, teknik awal yang perlu dikuasai adalah teknik a b Gb. 312. Aguste Rodin, Pintu Neraka (sumber: Paul Zelanski) c 360
    • menggambar sketsa, sebab kemampuan sketsa dibutuhkan paling awal menuangkan gagasan yang muncul dalam benak Aguste Rodin misalnya, dalam membuat patung yang disebut ‘pintu neraka’, ia terlebih dahulu membuat sketsa kasar (gb. 312a ) , kemudian membuat model juga masih samar-samar (gb. 312b) sebelum membuat patung yang sebenarnya (gb.312c). 3. Unsur dan Pengorganisasian Aspek penting yang menjadi perhatian dalam melakukan apresiasi adalah kualitas unsur rupa dan kemampuan seniman dalam meng- organisasikan unsur tersebut menjadi suatu komposisi. Aspek ini sangat menentukan setelah kemahiran teknik yang dimiliki oleh seniman, pada aspek inilah dapat dilihat kepekaan estetik seniman dalam menggunakan unsur tersebut sebagai ‘bahasa rupa’ dalam me-nyampaikan pikiran dan perasaannya. Kualitas unsur yang dimaksud adalah bagaimana kualitas garis, ruang, bentuk, warna, tekstur di-gunakan. Ada yang menggunakan semuanya, ada yang menggunakan beberapa jenis. Pada seni rupa realis dua dimensi ditambah dengan unsur gelap terang, pada unsur seni rupa tiga dimensional ruang menjadi rongga, ada volume dan tekstur yang do- a b Gambar 313. (a) Trubus, Putri Indonesia (sumber: Koleksi Presiden Soekarno), (b) Ahmad Sadali, Bukit Abu-Abu (sumber Indonesian Heritage). 361
    • minan. Dalam seni rupa dua dimensi yang paling segera nampak dari bahasa rupa yang digunakan adalah bentuk dan warna. Kesulitan bagi masyarakat umum dalam mengapresiasi seni non- figuratif karena kriteria yang biasanya digunakan adalah seni rupa realistik (gb. 313b), apabila ungkapan seniman dapat menampilkan sebuah lukisan sama dengan kenyataan itulah yang dianggap seni rupa yang baik. Sering dari hal ini kita mendengar ungkapan: oh... lukisannya hidup” maksudnya adalah persis dengan kenyataan empiris sehari-hari. Bahkan ada mitos pelukis realis yang berhasil apabila melukis kembang, kupu-kupu pun hinggap pada lukisan tersebut karena dikira kembang yang sesungguhnya. Dalam menikmati seni rupa abstrak, sebenarnya itulah ungkapan bahasa rupa yang murni karena belum dimuati dengan manipulasi optik, dan tujuan lainnya. Maksudnya warna belum digunakan untuk meng- gambarkan kulit atau pohon dengan daun dan kembangnya. Warna berbicara sebagai warna, tekstur sebagai tekstur bukan sebagai tekstur kulit manusia atau tekstur kulit pohon. Jadi dialog antara unsur rupa dengan apresiator keberhasilannya tergantung dari kepekaannya ‘memahami’ bahasa rupa tersebut yang tidak dapat diungkapkan secara bahasa verbal. Memahami bahasa rupa lebih cenderung dengan perasaan bukan dengan logika atau penalaran seperti kita memahami kata atau kalimat. 4. Kreativitas Seniman sebenarnya termasuk manusia kreatif, karena kegiatan seni yang dilakukannya sarat dengan kegitan kreatif. Tentang kreativitas telah diuraikan dalam bab VI. Mengacu kepada uraian tersebut maka untuk melakukan apresiasi salah satunya adalah mengenali aspek kreatif senimannya. Aspek ini memiliki arti penting dalam seni karena kreativitas menjadi salah satu bagian dari kegiatan seni. Ada tahap-tahap kreativitas yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat kemampuan seniman dalam membuat karya seninya. Menurut Lasy Corporation dari Jerman, tahap kreativitas mulai dari penguasaan teknik, meniru model, melakukan inovasi dan akhirnya kreasi. Kreasi adalah kemampuan untuk men- dapatkan sesuatu yang baru dan orisinal dan hal ini berbeda dengan inovasi yang sifatnya mengubah yang telah ada menjadi kelihatan baru. Jadi menurut tahapan ini kemampuan kreatif berada paling akhir dari proses kreatif. Kreativitas dalam seni rupa ada banyak dimensinya, se- mua berdasar dari gagasan atau ide yang dapat diterapkan pada setiap aspek seni rupa misalnya kreatif dalam penggunaan alat dan bahan, penggunaan warna dan bentuk, atau kreatif dalam penampilan. 362
    • Agak berbeda dengan pendapat Paul Zelanski, bahwa dalam melakukan apresiasi ada beberapa tataran yang dilihat yaitu: rasa (feeling), pendapat kritikus terhadap seniman sebagai pencipta karya seni yang diapresiasi, kemampuan teknik, ide atau yang ditampilkan dalam karya seni, sejarah atau periodesasi senimannya. Sering tanpa disadari, perasaan kita tersentuh ketika menyasikan karya seni misalnya menyaksikan patung Pieta karya Michelangelo (gb. 87). Pada patung itu tergambarkan bagaimana kasih seorang ibu terhadap putranya yang sekarat bahkan telah meninggal dunia dalam pangkuannya. Setiap karya seni dibuat senimannya tentu dengan menyelipkan suatu ‘rasa’ ke dalamnya. Rasa tersebut dapat bermacam-macam, mungkin hal ini setara dengan ekspresi yang dimaksud oleh Herbert Read. Kemampuan mengungkapkan rasa yang ingin disampaikan oleh sang seniman ter- gantung dari kemampuannya mengelola unsur seni rupa serta menguasai penggunaan bahannya. Mengelola unsur seni rupa maksudnya adalah bagaimana sang seniman mampu menggunakan karakter unsur seperti garis, bentuk, warna, dan tekstur untuk mewakili perasaannya. Selanjut- nya bagaimana kemampuan seniman menghubungkan kemampuan tekniknya menggunakan alat dan bahan dengan karakter unsur sebagai wakil dari perasaannya. Keberhasilannya adalah terletak dari hubungan kedua aspek ini. Selain kondisi emosi, pendapat kritikus tentang seorang seniman dan karyanya sangat berpengaruh terhadap sikap kita dalam melakukan apresiasi terhadap suatu karya seni. Tidak ada rumus yang paling tepat dalam menentukan kualitas baik buruknya karya seni, biasanya orang cenderung memberi respon negatif terhadap sebuah karya seni yang baru dan kreatif. Hal ini memerlukan waktu, setelah sekian lama, kemampuan masyarakat meningkat dalam melakukan apresiasi maka karya seni ang kreatif itu akan diterima oleh masyarakat luas. Contohnya kasus Van Gogh dan Jackson Polock, masyarakat kebanyakan bahkan masyarakat penikmat senipun terkadang memandang karya mereka tidak bermutu karena keluar dari standar yang sedang berlaku di masyarakat. Dalam hal ini peran kritikus seni rupa sangat penting untuk mendidik dan meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan apresiasi dengan memberi penjelasan tentang nilai-nilai yang disampaikan oleh seorang seniman kreatif. Dengan demikian peran kritkus seni sangat menentukan perkembangan apresiasi masyarakat terhadap karya seni. Namun demi- kian, ada pula sisi negatifnya ketika seorang kritikus berkolaborasi de- ngan seniman dan kolektor, pendapat sang kolektor dapat menjadi tidak obyektif. Dapat terjadi pula ketika seorang kritikus menjadi komersial dengan memasang tarif tinggi kepada sang seniman untuk diangkat karyanya di media masa. Untuk itu, kejujuran dalam mengungkap kebe- naran, ketulusan, dan kualitas karya seni rupa menjadi sangat penting bagi semua pihak yang mencintai dunia seni yang bermutu. 363
    • Tataran selanjutnya dalam melakukan apresiasi seni menurut Zelanski adalah keahlian teknik dan desain yang ditampilkan oleh seniman. Hal ini dibahas dalam bab 3 tentang teknik dan bahan, dan bab 4 tentang kepekaan estetik. Untuk melakukan apresiasi terhadap sebuah karya seni rupa pengetahuan tentang teknik dan utamanya tentang kepekaan estetik sangat diperlukan. Kedua hal ini memiliki hubungan timbal balik, karena tanpa kematangan teknik sulit untuk mencapai keindahan yang di- inginkan, begitu pula tanpa kepekaan estetik sulit merealisasikan teknik yang telah dikuasai. Ide atau gagasan merupakan satu aspek dalam karya seni yang harus diketahui, ide ini bukan sekedar tema tetapi menyangkut sesuatu yang ingin disampaikan oleh senimannya. Untuk mengetahui itu yang di- perlukan adalah deskripsi dari sang seniman tentang karyanya. Hal yang terakhir perlu diketahui dalam melakukan apresiasi adalah tentang se- jarah, atau perkembangan senimannya dalam berkarya, juga mengenai kehidupan personalnya, dan motivasinya dalam berkarya. Hal ini juga penting untuk diketahui, sehingga memahami bagaimana sang seniman sampai pada jenis karya yang dibuatnya. Kadang ada seniman karena idealismenya tinggi dan motivasi untuk mendapatkan sesuatu yang baru sangat kuat bergejolak dalam dirinya sebagai titik tolak menciptakan karyanya maka ia rela meninggalkan semua yang telah dimilikinya. D. Pendekatan Dalam Melakukan Apresiasi Seni Rupa Dalam melakukan apresiasi seni rupa ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu pendekatan kritik seni, analitik, dan kognitif. Ketiganya memiliki cirinya tersendiri. 1. Pendekatan kritik Pendekatan kritik maksudnya melakukan apresiasi dengan cara kritis, dalam melakukan kritisi terhadap karya seni ada empat jenis dan tiga gaya dalam melakukannya. a. Jenis kritik seni, menurut Feldman ada empat jenis kritik seni yaitu: Kritik jurnalistik, pedagogik, ilmiah, dan populer. 1) Kritik jurnalistik, merupakan upaya mengulas suatu karya seni biasanya ketika ada pameran. Ciri-ciri dari kritik jurnalistik ini bahasanya mudah dimengerti namun ulasannya tidak mendalam tetapi singkat dan padat. Kritik ini semacam berita dengan ulasan ringan ditujukan kepada pembaca berita surat kabar dan majalah sebagai informasi tentang peristiwa seni yang sedang berlangsung dengan tambahan ringkasan tentang tema yang diungkap dalam karya yang dipamerkan. Keterbatasan kritik ini karena jangkauannya kepada masyarakat umum 364
    • bukan masyarakat penggemar seni sehingga tidak menggunakan ulasan yang mendalam untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang karya seni yang dipamerkan. Tugas Latihan Buatlah ulasan singkat sebanyak satu halaman quarto tentang sebuah pameran seni rupa. 2) Kritik pedagogik, biasanya kritik ini dilakukan oleh guru seni ter- hadap siswanya dengan tujuan meningkatkan kematangan teknik dan estetik siswa. Ulasan tidak keras, kriteria tidak terlalu berat tetapi bersifat mendorong semangat siswa untuk bekerja dan belajar meningkatkan prestasinya. Tugas utama guru dalam memberikan kritik terhadap karya siswa adalah dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan siswa dalam hal teknis dan estetiknya, dan mengarahkan siswa berdasarkan bakat dan kemampuannya yang tepat. Dalam hal ini guru dituntut memiliki kepeka- an estetik yang lebih dibanding siswanya dan memberikan bimbingan selama dalam proses berkarya dan memberi kesimpulan pada akhirnya. Tugas Latihan Bersama dengan teman, diskusikan karya seni rupamu secara bergantian, menyoroti masalah teknik, kualitas unsur seni rupa dan komposisinya. 3) Kritik ilmiah atau akademis, jenis kritik ini menampilkan analisis yang mendalam dengan data-data lengkap dan hasil evaluasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Kegunaan kritik ini adalah penyelidikannya terhadap prestasi artitistik baik seni tradisional maupun kontemporer. Kritik ini paling dapat mendekati tentang apa yang dimaksud oleh senimannya dalam menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam karya seni. Kritik ini termasuk pendekatan analitik dengan tahapan-tahapan yang harus dilaluinya. Tugas Latihan Carilah informasi tentang seorang seniman di daerahmu atau dekat tempat tinggalmu, informasi meliputi riwayat hidupnya dan tenik berkaryanya, atau seniman ternama lainnya di tingkat nasional. 365
    • 4) Kritik populer, jenis kritik seni rupa ini dapat dilakukan oleh setiap orang yang tertarik dalam bidang seni. Hasil kritik berbeda-beda sesuai dengan perhatian dan intensitas lingkungan individu masing-masing, namun kecendrungan secara keseluruhan populasi dalam menentukan kualitas seni ditentukan oleh pendapat mayoritas. Sebagaimana halnya kontes menari dan menyanyi di televisi penilaian dilakukan pula oleh publik, namun yang menentukan adalah kombinasi antara pendapat publik dan profesional judgement oleh juri. Tugas Latihan Buatlah sebuah ulasan bebas sepanjang satu halaman kwarto tentang karya seni berikut ini ! Gambar 314 . Manaise Manipik, Good Spirit, bahan tulang ikan paus (sumber: Paul Zelanski). b. Gaya kritik seni, dalam melakukan kritik ada gaya atau tipenya. Menurut Sudarmaji, dalam melakukan kritik seni dapat dilakukan melalui tiga tipe atau gaya yaitu: kontekstual, Intrinsik, dan komparatif. 1) Kontekstual, melakukan kritik secara kontekstual berarti tidak hanya menggunakan kriteria estetik, juga dipertimbangkan norma-norma 366
    • yang berlaku di masyarakat yang berhubungan dengan moral, psikologi, sosiologi, dan religi. Oleh sebab itu dalam melakukan kritik perlu mem- pertimbangkan apakah sebuah karya seni patut di gelar di depan umum sementara masyarakatnya sangat religius, apakah tidak menyinggung perasaan masyarakat dan sebagainya. Misalnya Affandi banyak meng- ambil tema kerakyatan terutama masyarakat kelas bawah, berarti secara kontekstual Affandi peduli dengan kondisi masyarakat yang masih dibelit oleh kemiskinan. Jadi kritik dalam hal ini dilakukan dari beberapa sudut pandang yang terkait dengan seni. Tugas Latihan Buatlah sebuah ulasan tentang sebuah karya seni rupa , coba hubungkan karyanya dengan masyarakat sekitar tempat tinggalnya apakah ada hubungannya secara visual, atau ekspresinya mengandung unsur-unsur masyarakat sekitarnya atau hubungkan dengan sistem kepercayaannya /agamanya. 2) Intrinsik, gaya kritik ini dapat dikatakan murni untuk kepentingan estetik, karena yang diulas terfokus kepada nilai estetikanya tanpa dibe- bani dengan hal lain. Nilai-nilai estetik yang terkait meliputi kemahiran teknik dalam menggunakan alat dan bahan, kemahiran dalam menyusun elemen-elemen estetik yang menjadi harmoni dan kesatuan dalam sebuah karya yang utuh. 3) Komparatif, kritik dilakukan dengan membandingkan karya seorang seniman dengan seniman lain, karya seniman dengan daerah asalnya, dengan teman sejawatnya atau dengan karya seni suatu kelom- pok masyarakat. Misalnya karya Van Gogh dibandingkan dengan karya cukilan kayu Jepang, karya Picasso dengan patung Afrika atau dengan temannya George Braque yang sama-sama mengembangkan kubisme. Karya Kartika dengan Affandi sebagai bapak dan gurunya. Dengan membandingkan dapat diketahui posisi dan kualitas karya seorang seniman. Tugas Latihan Susunlah ulasan sepanjang satu halaman kwarto tentang sebuah karya seni rupa berikut ini, amati dan ulaslah tentang kualitas teknik dan kualitas unsur-unsur yang digunakannya. 367
    • Gambar 315. Lee Man Fong, Menenun , konte, pastel kapur (sumber: Koleksi Presiden Soekarno). Tugas Latihan Bandingkanlah kedua karya seni rupa/lukisan berikut ini, dari sisi gaya, teknik, dan kualitas unsur-unsurnya (garis, bentuk, warna, tekstur) dan kualitas ekspresinya ! 2. Pendekatan Analitik Pendekatan analitik dikembangkan oleh Feldman dan Plummer, pen- dekatan ini merupakan suatu cara melakukan apresiasi dengan melaku- kan analisis terhadap sebuah karya seni rupa dilihat dari beberapa sudut pandang dan tahapan yakni sebagai berikut. a) Deskripsi Deskripsi merupakan kegiatan awal dari apresiasi, yaitu mengenal dan menemukan segala informasi tentang karya yang diapresiasi, misalnya identitas senimannya, keterampilan teknik dan bahan yang digunakan, konsep penciptaan, tema yang ditampilkan yang tidak nampak secara kasat mata. Untuk menemukan identitas seniman jika senimannya masih hidup dilakukan dengan wawancara langsung jika memungkinkan, jika seniman sudah meninggal dunia dapat dilakukan studi dokumen selama 368
    • b a Gambar 316 . (a) Sudjojono, Dibalik Kelambu Terbuka, (b) Lee Man-Fong, Wanita Jepang (sumber: Koleksi Presiden Soekarno) ia masih hidup dan melakukan wawancara dengan keluarga terdekat dan teman-teman dekatnya. Tujuan mendapatkan identitas seniman adalah guna mendapatkan gambaran secara utuh tentang kepribadiannya yang tentunya mempengaruhi secara fisik karakter ciptaannya. Selanjutnya untuk mendapatkan informasi tentang teknik dan bahan yang digunakan dapat diamati secara langsung, dan jika ada yang meragukan dapat pula dilakukan observasi langsung ke studio tempat sang seniman bekerja, jika diijinkan mengamati langsung ketika ia sedang dalam proses me- ngerjakan karya seninya. Melihat studionya secara langsung sehingga mendapat gambaran lengkap tentang cara kerja sang seniman dan ini menambah nilai obyektivitas dalam melakukan analisis karyanya. Me- mang ada seniman yang tidak senang diamati ketika sedang dalam proses bekerja dan ini tergantung dari kepribadian senimannya. Misalnya Affandi, ketika melukis di depan umum ia tidak peduli dengan orang di sekitar yang menontonnya. Untuk mendapatkan hal-hal yang tidak kasat mata, seperti konsep penciptaan, tema yang ditampilkan perlu melakukan studi dengan wawancara kepada senimannya atau membaca katalognya jika ada. Dari data dan infromasi yang telah di dapat kemudian dilanjut- 369
    • kan analisis terhadap karya yang dibuatnya. Kegiatan seperti ini terma- suk studi mendalam, bagaimana jika hanya kebetulan melihat pameran, bagaimana mau melakukan apresiasi? Dalam kondisi yang demikian deskripsi yang dilakukan adalah dengan melihat langsung karya yang dipamerkan dan menelusuri konsep-konsep yang dikemukakan melalui katalog pamerannya. Karya-karya figuratif tidak terlalu sulit untuk dideskripsikan (gb. 315 dan, 316), namun karya-karya dengan penampilan non-figuratif (gb.313b) memerlukan kecermatan dalam mendeskripsikan secara kasat mata, namun yang dapat dilakukan adalah mendeskripsikan kondisi fisik dari unsur-unsurnya, prinsip-prinsipnya namun belum sampai kepada pe- nilaian seperti komposisinya tidak seimbang, yang dapat dilakukan pada tahap ini adalah menjelaskan warna yang diaplikasikan, garis-garis yang digunakan (jika ada). Kemudian menjelaskan tentang teknik hanya men- ceritakan bagaimana sapuan kuasnya, bagaimana cara membuat tekstur dan sebagainya. Jika mengatakan teksturnya terlalu kuat maka itu telah sampai kepada evaluasi. Dengan demikian sebenarnya pada tahap deskripsi menurut Feldman ada dua hal yang dikerjakan yaitu pertama mendapatkan temuan terhadap apa yang dapat dilihat dalam sebuah karya, kedua deskripsi teknis yakni uraian bagaimana karya tersebut dibuat. b Gambar 317. (a) G.Sidharta, Lahirnya Seorang Dewi, (b) Irianti Marmaya, Tujuh Bidadari. a Dalam mendeskripsikan karya Marc Chagall The Green Violinist, deskripsi visual dapat digambarkan apa adanya tentang bentuk, warna, komposisi, namun sulit mendapatkan latar belakang ide penciptaannya karena tidak ada katalognya. Sebagai gantinya harus mencari informasi 370
    • melalui buku-buku yang menceritakan tentang Marc Chagall untuk dapat mendeskripsikannya. Mendeskripsikan karya Marc Chagall ini nampak- nya yang menonjol adalah menyangkut tentang bentuk yang unik ditam- pilkan dalam lukisan seperti baju pemain dilukiskan tidak seperti biasanya karena dilukiskan patah-patah. Lalu muka pemain biola hijau begitu pula tangan kanannya, sedang tangan kirinya berwarna krem. Hal unik lainnya yang dideskripsikan adalah tentang celana, baju, dan rumah-rumah sebagai latar belakang ditempatkan di bagian bawah dan bagian atas. Dalam latar belakang juga ada binatang, manusia dan posisi manusia di atas melayang, lalu warna dominan latar belakang. Untuk analisis dapat mulai dari kualitas unsur visualnya seperti bentuk, warna, ruang dan tekstur. Kemudian diuraikan tentang kenapa visualisasi baju yang dikenakan digambarkan patah-patah, apa yang mempengaruhi Marc Chagall dalam visualisasinya? Bagaimana ia me- nyusun bentuk dan warna sehingga menjadi seimbang, dan keseim- bangan apa yang digunakannya. Untuk analisis memang dibutuhkan pengetahuan mengenai kehidupan pelukisnya, bagaimana pandangan- nya tentang melukis, ia hidup dimana, siapa pelukis lain yang dikagumi, dan sebagainya. Dengan data-data tersebut analisa dapat lebih mendetail. Jika tidak ada referensi kita hanya dapat melakukan analisis sampai dipermukaan, kemudian interpretasinya mungkin berbeda dengan apa yang dimaksud oleh sang pelukis. Untuk hal ini uraian berikut adalah contoh tentang aspek analisisnya. b) Analisis Dalam melakukan analisis yang dilakukan adalah menemukan kualitas estetik unsur-unsur yang digunakan, hubungan-hubungan antar unsur yang disusun, kesesuaian konsep dengan ungkapan visualnya. Bagaimana kualitas garis, bentuk, warna dan tekstur, dan bagaimana unsur-unsur itu disusun hinga menjadi suatu susunan kesatuan yang harmonis. Untuk hal ini perlu merujuk kepada bab IV tentang persepsi estetik. Sebagai misal The Green Violinist, Marc Chagall ( gb. 318) melukis mural untuk Moscow’s Jewish Theatre. Sesuai dengan konteks- nya hampir semua image yang diungkapkan menyangkut masalah musik. Secara keseluruhan komposisi bentuk disusun berdasarkan kese- imbangan vertikal dengan tipe asimetris. Image utama pemain biola dominan di tengah sebagai latar depan (fore ground). Ungkapan visual tidak konvensional karena muka pemain biola dan telapak tangan peng- gesek biola diberi warna hijau, ungkapan baju jas pemain menggunakan pola geometris kubismedigambarkan dengan bidang patah-patah, kaku dan keras dengan warna ungu. Celana panjang kotak-kotak, yang sebelah kiri kotaknya digunakan sebagai jendela bangunan bertingkat. Sepatunya, satu berwarna hitam dan satunya berwarna krem, ini 371
    • merupakan keunikan visualisasi yang mungkin dipengaruhi oleh cara ungkapan kaum surealisme. Sebagai latar belakang bagian bawah meng- Gambar 318. Marc Chagall, The Green Violinist (sumber: Ingo F. Wakther) gambarkan lingkungan perumahan begitu pula bagian atas sehingga pembagian bidang vertikal dapat dikurangi kesan memanjang ke atas. Sebagai aksen-aksen kecil dibawah ada kepala binatang mungkin keledai menegadah ke atas. Untuk mengimbangi biola terlalu ke depan di- belakang pemain biola ada gambar manusia kecil seperti memegang gitar, di bagian atas di awan dengan warna kelabu hitam dan putih ada manusia melayang, semua obyek di latar belakang warnanya tidak sekuat warna subyek utama, warna tanah putih seakan menggambar- kan suasana musim dingin karena dominan warna putih salju, areal perspektif diterapkan dengan baik dan fokus perhatian sangat kuat pada pemain biola. 372
    • c) Interpretasi Untuk melakukan interpretasi hal yang perlu diungkap adalah tentang ‘makna’ yang terkandung dalam sebuah karya seni. Dalam hal ini ada dua hal yaitu makna fisik (fisikoplastis) dan makna yang ada di balik penampilan fisik tersebut (ideoplastis) sebagai hal yang sulit jika tidak dapat data yang lengkap. Secara fisik, lukisan Chagall dapat diungkap gaya dan pengaruh yang ada dalam karyanya serta bagaimana ia menyusun image-imagenya. Kemudian tentang makna yang terkandung dalam karya betul-betul memerlukan interpretasi dari ungkapan kualitas fisiknya jika tidak ada data tentang latar belakang penciptaannya. Dari analisis yang dilakukan ungkapan visual Marc Chagall dipengaruhi oleh kubisme dan surealisme. Pengaruh kubisme nampak jelas pada bagian jas, baju dan celana panjang sebelah kanan (gb.319a), kemudian surealisme pada penempatan bentuk-bentuknya secara keseluruhan (gb.319 b,c) dengan keseimbangan vertikal untuk mendapatkan harmoni dan kesatuan (gb.319d). Untuk makna dibalik penampilan fisiknya (ideoplastisnya) dapat mengacu kepada judulnya, yang diungkap adalah seorang pemain biola. Kemungkinan interpretasinya adalah bahwa Chagall senang memainkan biola atau ia mengagumi pemain biola dalam suatu pertunjukkan di musim dingin. Warna hijau pada muka pemain mungkin tidak memiliki makna simbolik tertentu tetapi hanya ungkapan puitis Chagall untuk mendapatkan estetika yang berbeda daripada mem- berikan warna literal apa adanya. Kemudian image manusia melayang di latar belakang dapat memiliki arti kias ketika ia mendengarkan suara biola yang merdu atau hanya mengungkapkan suatu keanehan dalam mendukung komposisinya. Warna ungu pada jas pemain dapat juga berarti kias tentang perasaan sang pemain atau perasaan Chagall ketika menghayati kehidupan sang violinist. d) Judgement Menurut Feldman kita tidak dapat melakukan judgement jika belum sampai kepada interpreatasi tentang karya yang dianalisis. Judgement merupakan suatu kegiatan dalam menentukan tingkat nilai baik dan buruk sebuah karya seni. Untuk melakukan ini informasi dari kegiatan se- belumnya sangat diperlukan. Menurut Feldman ada dua hal yang penting dalam menentukan kualitas karya seni yaitu tujuan seniman dalam membuat karya dan keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut sehingga yang menentukan adalah aspek teknik dalam meng-ungkapkan gagasannya secara estetik, perbandingan secara historis dengan seni yang sejenis, dan keaslian atau originalitas. Dalam kasus Chagall tidak dapat diragukan kemampuan tekniknya walaupun ia mendapat pengaruh kubisme dan surealisme untuk mendukung ekspresi estetiknya, namun orisinalitas gagasannya tidak dapat ditandingi oleh seniman di masanya. Jadi kesimpulan dari karya Chagall ini adalah baik. 373
    • b a d c Gambar 319 . Analisis karya Chagall The Green Violinist: (a) Analisis pengaruh kubisme, (b, c) analisis ungkapan surealisme, (d) analisis komposisi dan keseimbangan. Tugas Latihan Coba analisa karya seni berikut ini dengan pendekatan analitik, mulai dari mendeskripsikan, analisis, interpretasi hingga judgement. Buatlah analisis sepanjang empat halaman folio. 3. Pendekatan Kognitif Pendekatan ini dikembangkan oleh Michael Parson, dalam penjelas- annya setiap orang berbeda dalam memberikan respon terhadap karya seni karena tergantung dari perkembangan kognitifnya yang berhubung- an dengan karya seni. Ia membedakan lima tingkat kemampuan melaku- kan apresiasi dan kadang masing-masing tingkat overlaping satu dengan lainnya sehingga menjadi sangat rumit, tetapi kalau dicermati ada hal-hal penting yang dapat dipelajari. Namun sebelumnya ia menjelaskan tentang empat aspek dalam karya seni dan keempat aspek itu ada dalam masing-masing tahap. Keempat aspek tersebut meliputi subyek; ekspresi; medium, bentuk dan gaya; judgement. Subyek yang dimaksud adalah sesuatu yang diekspresikan dalam bentuk karya seni, dapat kasat mata, dapat pula abstrak. Contohnya: anjing, kucing, manusia adalah kasat mata; bahagia, sedih adalah abstrak. Subyek ini ada terutama pada tahap kedua dan ketiga seperti obyek keindahan berupa bunga, binatang, dan pemandangan. Realisme 374
    • mengenai image dalam karya seni rupa merupakan gambaran nyata sebagai hal utama dan juga kemampuan teknis dalam menggarap bahan menjadi karya yang nampak relaistik. Ekspresi dalam karya seni tercermin dari tampilannya, pada tahap pertama menyangkuta masalah pikiran, perasaan dan prilaku, meliputi perasaan gembira, sedih, marah dan lain-lainnya. Pada tahap kedua ter- cermin tentang pengungkapan perasaan, menghubungkan seniman dengan lukisannya, serta konsep tentang ekspresi senimannya dan tahap ketiga mengenai subyektivitas, ekspresi individual dan interpretasi. Tahap keempat mengenai ekspresi adalah kebenaran interpretasi, dan publisitas karya seni. Medium, bentuk, dan gaya; medium adalah benda-benda yang digunakan seniman dan dilihat oleh apresiator berupa cat, kertas, batu, kayu, logam dan sebagainya. Bentuk mencakup unsur yang disusun berupa komposisi, dan gaya merupakan kesamaan artikulasi dari bebe- rapa karya seni. Aspek ini dimulai dari tahap kedua hingga keempat. Aspek judgement terdiri dari dua hal yaitu kriteria untuk menilai karya seni dan apresiator sebagai penilai, aspek ini dimulai dari tahap kedua hingga kelima. Lebih detail mengenai tingkatan tersebut adalah sebagai berikut. a) Favoritisme Tahap ini disebut pula tahap pertama, karakteristik utama tahap ini adalah refleksi intuitif yang sifatnya subyektif sangat kuat terhadap karya seni. Terutama terhadap susunan warna, apresiator mengerti bahwa karya seni memiliki makna tetapi tidak mengetahui secara pasti, secara psikologis tahap ini tidak mempedulikan pendapat orang orang lain, dalam hal estetik karya seni terutama lukisan merupakan obyek yang menyenangkan baik figuratif maupun non-figuratif. Ungkapan-ungkapan yang sering ada pada tahap ini seperti “saya suka warnanya” atau “ saya suka bentuknya seperti anjing” tanpa memandang lukisan itu secara teknik dan estetik baik atau buruk. b) Keindahan dan realisme Tahap ini adalah tahap kedua, yang menonjol cirinya adalah tentang subyek dalam karya seni, representasi yang ditampilkannya. Karya seni yang baik adalah jika merepresentasikan sesuatu dan realistik yang menampilkan emosi subyeknya seperti tersenyum, sedih, dan gerakan. Secara psikologis tahap ini menghargai pendapat orang lain, dan secara estetik tahap ini menyadari adanya sesuatu yang dilukiskan pada karya seni secara realistik. Ungkapan-ungkapan yang sering dilontarkan dalam tahap ini seperti “lukisannya seperti sunguhan’, atau “ini sangat sesuai 375
    • dengan aslinya”. Jadi tahap ini menyangkut tentang karya seni sebagai suatu yang dapat dinikmati oleh penggambarannya yang menyenangkan perasaan. Tahap kedua ini responsi terhadap karya seni adalah seputar penggambaran perasaan dari setiap bentuk dan menghubungkan satu dengan lainnya. Menghubungkan karakter seniman dengan karya seninya, seniman punya motif dan alasan untuk menciptakan karya seni. c) Ekspresi Pada tahap ini ada kesadaran tentang ekspresi yang diungkapkan dalam karya seni yaitu adanya perasaan senimannya atau pengalaman rasa apresiatornya. Sehingga tahap ini beranggapan bahwa tujuan karya seni adalah untuk mengekspresikan pengalaman seseorang, keindahan subyeknya menjadi yang kedua. Kreativitas, keaslian, kedalaman rasa adalah sangat dihargai. Secara psikologis tahap ini lebih maju dalam mengalami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan, dan secara estetik tahap ini menyadari adanya hal yang tidak relevan dengan keindahan subyek karena yang dicari adalah kualitas ekspresi karya yang ditampilkan. Ungkapan-ungkapan yang sering terdengar pada tahap ini misalnya, “lihat distorsi bentuknya sangat kuat mengungkapkan perasaan senimannya” atau “sapuan kuasnya sangat tepat mengekspresikan gerak subyeknya”. Pada hakekatnya tahap ini menyangkut tiga hal yaitu: pertama tentang subyektivitas, bahwa karya seni harus dipahami secara mental karena karya seni mengandung pemikiran, emosi yang sifatnya subyektif. Kedua adalah ekspresi individu, oleh karena itu karya seni dipahami secara individual agar mengetahui apa yang dikasud oleh senimannya. Ketiga adalah interpretasi, yaitu hubungan timbal balik seniman dan apresiatornya dengan media karya seni. Dalam hal ini apresiator mengalami apa yang dialami oleh senimannya berupa ekspresi yang ada dalam karya seni. d) Gaya dan bentuk Memasuki tahap ini karyas seni bukan lagi bersifat individual, tetapi lebih bersifat sosial. Tahap ini membicarakan tentang karya seni dari segala aspeknya mungkin tekniknya, bentuk-bentuknya, apresiator berbincang satu dengan lainnya mebahas dan menginterpretasikan karya seni yang mereka saksikan. Makna karya seni terangkat oleh apa yang diperbincangkan oleh kelompok-kelompok apresiator dan ini melebihi makna yang diinterpretasikan oleh individual. Secara psikologis hal ini lebih rumit dibandingkan mendapatkan makna secara individual, dan individu kadang mendapatkan makna dari membaca beberapa interpretasi tentang karya yang dinikmati dan melihat bagaimana masing- masing interpretasi memaknainya. Secara estetik apresiator mendapatkan makna karya seni dari media yang digunakan, bentuk dan gayanya dan mampu membedakan makna literal yang ada pada subyek 376
    • karya seni dengan makna apa yang dicapai dalam karya tersebut dan mengidentifikasi gayanya dengan menghubungkannya secara historis. Selain itu tahap ini menganggap ulasan karya seni dapat menuntun persepsi dan melihat evaluasi karya seni sebagai hal yang obyektif. Ungkapan-ungkapan yng sering terlontar seperti: “ Lihat kesedihan dalam ungkapan warna dan tarikan garisnya” atau “bentuk-bentuk dan warna lukisan ini mengingatkan kepada kaum kubisme” Dalam tahap ini kebenaran interpretasi dapat dilakukan melalui dialog dan membanding- kannya dengan pendapat orang lain dan karya seni yang diapresiasi, kualitas karya seni tidak dilihat secara subyektif tetapi melalui pendapat kolektif. e) Otonomi Pada tahap ini apresiator secara mandiri membuat judgement terhadap karya seni dan menyesuaikan kriterianya dengan perkembang- an zaman. Pengalaman sangat menentukan untuk melakukannya. Selanjutnya, menurut Soedarso ada tiga pendekatan apresiasi yaitu aplikatif, kesejarahan, dan problematik. 4. Pendekatan Aplikatif Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman tentang karya seni melalui keterlibatan langsung membuat karya seni. Pendekatan ini sangat efektif karena sang apresiator dapat menghayati langsung dan mendalam bagaimana liku-liku penciptaan karya seni. Bagaimana kesulitan menggunakan alat dan bahan, bagaimana menda- patkan warna dan bentuk yang harmonis. Misalnya untuk apresiasi wayang, apresiator membaca cerita lalu memilih tokoh wayang dan kemudian membuatnya. Jadi dengan metode learning by doing memberi kesempatan kepada apresiator secara aktif mengalami hingga menghayati proses penciptaan karya seni. Tugas Latihan Pilih sebuah jenis karya seni etnis Indonesia, dapat batik, keris, atau wayang. Temukan informasi tentang seni tersebut, ambil sebuah contoh karyanya, kemudian cobalah menirunya dengan seksama. 5. Pendekatan Kesejarahan Pendekatan kesejarahan merupakan pengembangan apresiasi seni melalui penelusuran sejarah perkembangan seni, dari periode ke periode, lahirnya seni mengikuti perkembangan masyarakat. Dengan pendekatan 377
    • ini apresiator akan lebih dapat memahami suatu karya seni misalnya tentang cerita wayang lakonnya diambil dari mana dan apa isi ceritanya, lalu tentang batik kenapa batik pedalaman seperti Yogya dan Surakarta lebih gelap dibanding batik pesisiran di Pekalongan. Kemudian per- kembangan seni di Indonesia mulai dari zaman prasejarah hingga saat ini kenapa begitu bervariasi. Dengan mengetahui proses perkembangan seni dapat memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang karya seni. Kemudian hal ini juga dapat diterapkan kepada seniman secara individu, misalnya perkembangan teknik melukis Affandi dari realisme hingga ekspresionisme dengan menggunakan teknik plototan. Pendekatan kesejarahan tidak pula dapat lepas dari pendekatan sosiologis jika ingin mengetahui perkembangan seni suatu kelompok masyarakat, dalam tataran individu tidak dapat lepas dari pendekatan psikologis dan biografis. Tugas Latihan Buatlah sebuah uraian sepanjang dua halaman folio tentang perkembangan sebuah seni rupa. Pilih perkembangan seni rupa suatu masyarakat, atau perkembangan seni rupa dari individu seniman. 6. Pendekatan Problematik Dengan pendekatan ini seni dipahami melalui pemahaman makna dan pencarian jawaban seputar seni; seperti makna seni, hubungan seni dengan keindahan, seni dan ekspresi, seni dengan alam, fungsi seni rupa bagi kehidupan manusia, jenis seni rupa, gaya dalam seni rupa dan sebagainya. Dengan pendekatan ini apresiator dapat lebih holistik (utuh dan luas) memahami seni. Misalnya tentang problem kenapa manusia membutuhkan seni ? Apa peran seni dalam kehidupan manusia dan seterusnya. Kelemahan pendekatan ini terlalu teoritis, namun demikian untuk mengurangi kejenuhan teori dapat dilakukan variasi dengan alat peraga visual dan variasi tugas untuk didiskusikan. Tugas Latihan Susunlah karya tulis sepanjang dua halaman folio dengan topik sebagai berikut. - Makna seni rupa dalam kehidupan sehari - Perbedaan keindahan seni dan keindahan alam - Jenis-jenis seni rupa tradisional dan fungsinya 378
    • 7. Pendekatan Semiotik Seni rupa merupakan karya manusia yang penuh dengan tanda dan makna, untuk mengungkapkannya dapat dilakukan melalui pendekatan semiotika. Menurut Aart van Zoest istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani semion yang berarti tanda, yang saat ini menjadi cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. Semiotika sangat kental dengan masalah bahasa verbal sebagai media komunikasi, namun dalam perkembangan- nya penggunaannya merambah ke berbagai bidang ilmu termasuk seni rupa. Oleh karena seni rupa pada dasarnya berupa tanda dan media komunikasi non-verbal, maka pendekatan semiotika dapat digunakan untuk keperluan analisis bahasa visual yang ada pada seni rupa. Ada dua orang tokoh terkenal sebagai perintis semiotika, yaitu Ferdinand de Sausure dari Perancis dan Charles Sanders Peirce dari Amerika. Teori semiotika Sausure berangkat dari bahasa sedang Peirce memulainya dari logika. Dalam pembahasan ini semiotika Peirce diguna- kan untuk melakukan analisis seni rupa terutama dalam hal identifikasi klasifikasi tanda dengan ciri-cirinya. Dalam perkembangan selanjutnya Marco de Marinis melakukan penelitian selama delapan tahun tentang semiotika seni pertunjukan yang mengurai lapisan-lapisannya sehingga dapat pula digunakan sebagai model analisis karya seni rupa secara tekstual, dan hal ini tidak jauh dengan properti-properti yang ada dalam estetika. Penggunaan tanda dalam seni rupa sangat banyak, berkaitan dengan itu menurut Peirce analisisnya meliputi ide, objek, dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu. Tanda merupakan kajian pokok dalam semiotika. Sesuatu agar dapat berfungsi sebagai tanda memiliki beberapa ciri, yaitu harus dapat diamati, dapat difahami, representatif, interpretatif, dan memiliki latar (ground) berupa perjanjian, peraturan, dan kebiasaan yang dilembagakan yang disebut dengan kode. Kiranya seni rupa memenuhi ciri-ciri tersebut. Gambar 320. Garis, bentuk dan warna sebagai tanda dalam seni rupa Guna menelaah tanda, Peirce mengklasifikasikan tanda menjadi tiga, yaitu berdasarkan sifat ground-nya (latarnya), berdasarkan relasi dengan denotatum-nya, serta berdasar interpretant-nya. Pembagian tanda 379
    • berdasar latarnya ada tiga jenis yaitu qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign merupakan suatu tanda berdasarkan suatu sifat misalnya warna cat agar berfungsi sebagai tanda harus diberi bentuk dan disusun berdasar suatu pedoman. Selanjutnya seni rupa jika dilihat dari sinsignnya, yaitu sebagai tanda berdasar atas tampilannya, misalnya untuk mengenal apakah sebuah wujud disebut gambar atau lukisan, dapat dilihat dari unsur-unsur yang ada pada wujud tersebut menurut kriteria yang disepakati dalam masyarakat. Hal ini berkaitan dengan legisign, yaitu bentuk tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum dalam lingkungan budaya tertentu berlaku sebagai konvensi, atau sebagai kode. Mengenai hubungan tanda dengan denotatum-nya atau objeknya dibedakan menjadi tiga. Pertama ikon, yaitu sesuatu yang berfungsi sebagai penanda mirip atau serupa dengan bentuk objeknya atau denotatumnya, misalnya dalam sebuah lukisan ada bentuk matahari, bulan, rumah, dan sebagainya. Kedua indeks, yaitu tanda yang berfungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan adanya petanda atau tanda yang menandakan adanya tanda lain. Langit mendung sebagai tanda akan hujan, badan lesu menandakan kurang sehat. Dalam seni rupa misalnya warna cerah sebagai indeks suasana hati senimannya ceria sebaliknya indek kesedihan adalah warna-warna suram dan kusam. Pada gambar (309), tiga buah lukisan Picasso memiliki indeks bahwa lukisan tersebut menggambarkan kemurungan, dan kesedihan yaitu pose subyek menggunakan skematik garis melengkung. Ketiga adalah simbol, me- rupakan hubungan yang telah dibentuk secara tradisional dan lazim di masyarakat serta tergantung dari suatu aturan yang berlaku umum agar pengguna siimbol mengetahui arti yang terkandung di dalamnya. Simbol memiliki sifat arbitrer dalam hubungannya antara objek dengan rujukannya. Misalnya dalam seni rupa bentuk dan warna dapat bersifat simbolik hal ini tergantung dari maksud senimannya menggunakan unsur- unsur sebagai media ungkapnya, sehingga pendekatan semiotik dapat pula mencakup pendekatan simbolik. Selanjutnya hubungan antara tanda dengan interpretant-nya dibedakan menjadi tiga dan berguna dalam melakukan interpretasi terhadap tanda yang dianalisis. Pertama, suatu tanda adalah rheme bila dapat diin- terpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum yang belum jelas dan menjadi jelas sebagai denotatum jika tanda ter- sebut diberi predikat denotatum. Misalnya dalam kalimat ‘faktor penentu keberhasilan adalah x’ jika x tersebut diganti dengan kata ‘ketekunan’ barulah denotatumnya dapat diinterpretasikan. 380
    • Tabel 5 . Model Analisis Trikotomi Tanda Analisis Sintaksis Kebermaknaan Hubungan Tanda Tanda Ground: dasar, latar Denotatum: Interpretant: sehingga tanda apa yang interpretasi arti disebut sebagai dirujuk oleh akibat dari latar tanda. tanda. dan denotatum. Qualisign ( sifat tanda Icon ( kemiripan Makna Pertama Rheme perlu wadah): tanda dengan (kemungkinan- - sifat unsur yang dirujuk kemungkinan - prinsip komposisi - patung arti timbul oleh binatang denotatum - gambar wajah tertentu): - judul karya seni Sinsign (tampilan Index ( tanda Decisign ( arti Makna Kedua khas tanda): sebagai tanda dengan - unsur digunakan petunjuk): kepastian): khusus oleh seniman - tanda khusus - ciri khusus sehingga menjadi ciri yang yang memberi khasnya menunjukan ciri kepastian karya karya seorang seniman tertentu seniman Legisign:(penggunaan Symbol (tanda Argument (arti Makna Ketiga tanda menjadi sebagai tanda berlaku kebiasaan, representasi): umum): peraturan): - Image yang - semua seni - seorang seniman digunakan oleh rupa yang telah memiliki seniman mengandung ciri khas selalu sebagai media unsur rupa, menggunakan tanda ungkapannya semua seniman yang mirip dengan seni rupa tanda sebelumnya menggunakan unsur rupa dalam berkarya. Analisis Semantik denotatum yang belum jelas dan menjadi jelas sebagai denotatum jika tanda tersebut diberi predikat denotatum. Misalnya dalam kalimat ‘faktor 381
    • penentu keberhasilan adalah x’ jika x tersebut diganti dengan kata ‘ketekunan’ barulah denotatumnya dapat diinterpretasikan. Dalam seni rupa (lukisan, patung) dapat dilihat unsur pembentuknya seperti tema atau judul sehingga karya seni rupa itu memiliki nama tertentu, misalnya dua penari, guernica, rakit medusa karya seni lukis itu menunjukkan kepada dua orang penari, kondisi akibat perang untuk guernica dan kecelakaan laut untuk rakit medusa. Kedua, tanda sebagai decisign atau decentsign. Dalam hal ini tanda memberikan informasi tentang denotatumya. Misalnya, dalam analisis seni rupa, dapat diper- hatikan apakah unsur-unsur yang digunakan telah sesuai dengan apa yang diungkapkan dalam katalog, misalnya dalam katalog diuraikan tentang tujuan seniman adalah untuk mengungkapkan kondisi sosial masyarakat yang masih dililit oleh kemiskinan. Kemudian dalam ungkapan karyanya apakah mencer-minkan hal itu, jika kemiskinan tanda yang digunakan berupa pemandangan yang indah, gadis cantik denga warna cerah maka terjadi kesalahan hubungan tanda dengan denotatumnya. Ketiga, hubungan tanda dengan interpretannya sebagai sesuatu yang berlaku umum dan mengandung kebenaran disebut sebagai argument. Penerapannya dalam analisis seni rupa yang menggunakan banyak tanda visual adalah bagaimana tanda-tanda itu dalam ruang lingkup umum yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. Misalnya semua lukisan yang menggunakan warna-warna cerah memberikan kesan perasaaan menggembirakan. Di samping ketiga klasifikasi tentang semiotika yang diulas oleh Zoest, tanda dapat pula dianalisis melalui tiga hal yang disebut gramatika semiotika, yaitu dari segi sintaksis, semantik, dan pragmatik. Sintaksis yakni mengenai hubungan antara tanda dengan tanda lain dalam membentuk suatu pengertian, misalnya hubungan bentuk (+) dengan warna merah yang memberikan pengertian suatu institusi yang mengelola bantuan untuk kemanusiaan. Namun jika warnanya bukan a. Hubungan kontras b. Hubungan harmoni Gambar 321. Hubungan antar unsur 382
    • merah maka pengertiannya menjadi lain. Untuk itu diperlukan latar belakang dari tanda itu guna interpretasi makna simboliknya, sehingga dalam tahap ini sudah menuju kepada semantik karena mencari hubungan antara tanda dengan apa yang diinterpretasikan. Selanjutnya jika analisis dilakukan terhadap hubungan tanda dengan pengguna tanda maka sampai kepada taraf analisis pragmatik. Apabila analisis sampai pada taraf ini perlu pengetahuan lain seperti psikologi dan sosiologi. Dalam seni rupa hubungan sintaksis kecendrungannya menyangkut masalah harmoni dan kesatuan, tanda dalam hal ini berarti unsur rupa. Jadi hubungan antara unsur satu dengan unsur lainnya seperti warna dengan warna, bentuk dengan bentuk, warna dengan bentuk, bentuk dengan ruang (gb 321). Selanjutnya mengenai semantik menyangkut hubungan unsur-unsur rupa dengan judul sebagai rujukannya. Apakah unsur-unsur rupa yang digunakan sebagai media ungkap sesuai dengan judulnya? Namun sulitnya, dalam seni rupa non-figuratif kadang judul hanyalah berfungsi sebagai nama yang bukan untuk dikonotasikan dengan makna kata dalam judul itu. Menurut Soedarsono berdasarkan pendapat Marco de Marinis menguraikan, bahwa dalam seni pertunjukan ada beberapa layers yang harus dianalisis agar mendapatkan gambaran yang holistik seperti lakon, pemain, busana, iringan, tempat pentas, bahkan juga penonton. Apabila hal ini dikaitkan dengan seni rupa tidak jauh berbeda dengan seni pertunjukan karena dalam seni rupa juga ada lapisan-lapisan seperti tema atau judul, bahan dan teknik, unsur seni rupa dan prinsip pengorganisasiannya, serta ekspresi yang terkandung didalamnya. Melakukan analisis dengan pendekatan semiotik sangatlah rinci dan rumit, analisis dapat dilakukan antara hubungan tanda dengan tanda, dan tanda dengan penggunanya yaitu antara karya seni dengan senimannya dan dengan apresiatornya. Oleh sebab itu melakukan analisis tergantung dari tujuan pencapaian analisis. Sebuah lukisan dapat dianalisis melalui model trikotomi tanda Peirce, yakni mulai dari latar adanya tanda (lukisan), denotasi atau denotatum tentang apa yang dirujuk oleh lukisan sebagai tanda, dan tentang makna dari hubungan tanda (hubungan unsur) dalam seni lukis dan hubungan lukisan dengan senimannya dan dengan masyarakat penggemarnya. Analisis hubungan antar tanda dalam seni lukis sebenarnya menyangkut hubungan kualitas unsur-unsur seni rupa, misalnya kualitas warna merah dengan warna lainnya apakah terjadi harmonisasi atau kontras. Kemudian hubungan dalam susunannya yang membentuk komposisi, apakah dalam komposisi diterapkan prinsip-prinsip kese- imbangan, apa jenis keseimbangannya, apa ada pengulangan dan prin- 383
    • sip lainnya dalam mebentuk kesatuan. Jadi analisis semiotik dalam hal ini sebenarnya adalah analisis estetik terapan. Kemudian analisis hubungan tanda atau lukisan dengan apa yang dirujuknya, maksudnya adalah apa yang menjadi tujuan dibuatnya lukisan tersebut. Hal ini berhubungan dengan landasan dasar penciptaannya, sebuah lukisan pasti memiliki alasan atau dasar pertimbangan sebagai rujukannya dan ini berhubungan dengan gaya dan tema. Kaum im- presionis misalnya, melukis karena punya idealisasi bahwa cahaya yang menerpa benda berbeda kesannya pada indera penglihatan seiring dengan perubahan waktu, yakni waktu pagi, waktu siang, dan waktu sore. Ide penciptaan kaum impresionis berbeda dengan kaum kubis karena kaum kubis memandang sebuah benda dapat dianalisis bentuknya dapat dipecah-pecah, dapat dilihat sekaligus dari berbagai sudut pandang, dapat dikembalikan kepada bentuk esensinya. Dengan latar belakang ini lukisan menampilkan bentuk-bentuk baru hasil dari respon terhadap bentuk-bentuk yang dilihat. Tema dalam hal ini merupakan judul dari lukisan yang dibuat untuk menghantarkan apresiator terhadap apa yang diungkapkan dalam lukisan. Selanjutnya hubungan tanda dengan makna yang dikandung dalam lukisan hal ini tergantung apakah visualisasi mewakili apa yang dimaksud oleh pelukisnya. Ada pelukis yang menyampaikan makna secara harfiah, ada secara simbolis, ada pula yang tidak memberikan makna apa-apa terhadap hasil karyanya. 384
    • Bagian ini penting untuk diketahui oleh para siswa karena menyangkut pendidikan kejuruan seni yang ditekuni serta ringkasan dari uraian isi buku. Dengan membaca bagian ini siswa memperoleh gambaran secara cepat bagaimana manfaat menekuni profesi kejuruan seni dan bagaimana belajar seni rupa secara menyeluruh. A. Pentingnya Pendidikan Kejuruan Seni Rupa Seni rupa memiliki potensi yang cukup baik dikembangkan dalam sistem pendidikan di indonesia, selain bakat yang dimiliki oleh masyarakatnya ada kekayaan warisan budaya yang luar biasa dalam seni rupa atau seni kriya sangat perlu dikembangkan. Ada seni lukis etnis atau tradisional Bali yang terus tumbuh subur sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat karena berkembangnya di tengah masyarakat dan dikembangkan oleh masyarakatnya sendiri. Apabila jenis seni rupa lainnya dapat berkembang seperti seni lukis tradisional Bali tentu hal ini akan bermanfaat bagi perkembangan seni rupa sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia selain bermanfaat pula bagi kesejahteraan masyarakat luas. Oleh karenanya, sekolah seni rupa yang ada peningkatan kualitasnya baik peralatan maupun sistem pendidikannya sangat perlu mendapat perhatian. Sekolah-sekolah seni yang ada telah banyak melahirkan seniman-seniman yang berkualitas di tanah air, oleh karena hampir semua seniman seni rupa yang terkenal saat ini mereka keluaran dari sekolah seni rupa di tingkat pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Hal ini menunjukan bahwa sekolah seni telah meng- hasilkan tamatan yang berkualitas walaupun tidak semua tamatan sekolah seni menjadi seniman. Selain menjadi seniman, tamatan se- kolah seni banyak yang mengisi profesi guru seni, pegawai swasta dalam bidang seni seperti desainer, ilustrator, visualizer dan sebagainya. Sekolah seni rupa banyak memberikan keterampilan sehingga ketika selesai menempuh pendidikan mereka telah memiliki bekal keterampilan alternatif, artinya banyak pilihan keterampilan yang dapat dikembangkan di masyarakat. Memang untuk menjadi seniman yang berkualitas baik diperlukan pendidikan yang lebih terfokus dan profesional ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena tamatan sekolah seni rupa dengan keterampilan di tingkat menengah belum siap untuk menjadi seniman. Kecuali tamatan tersebut latihan terus menerus selama beberapa tahun secara mandiri. Oleh karena profesi seniman memerlukan keterampilan teknis yang tinggi program pelatihannya perlu dirancang lebih terstruktur
    • dengan bimbingan yang intesif. Melihat kenyataan yang ada, keberhasilan pendidikan kejuruan seni tidak dapat lepas dengan dunia kerja seni. Sebagai contoh, masyarakat di Jepara dan Bali, ling- kungannya sangat mendukung karena di masyarakat kegiatan seni menjadi kegiatan sehari-hari. Jadi peserta didik atau siswa selepas sekolah, banyak dari mereka sudah masuk ke dunia kerja secara alami, Setelah tamat mereka sudah tidak asing dengan nilai-nilai dunia kerja dan mereka telah memiliki pekerjaan yang jelas. Di tempat lain sekolah kejuruan seni belum tumbuh dan dibutuhkan secara alami oleh masyarakatnya, anggapan masyarakat terhadap sekolah kejuruan seni masih samar-samar, untuk bekerja apa kelak jika anak-anak selesai menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Sebenarnya keterampilan seni sangat dibutuhkan di masyarakat, hanya industri seni belum berkembang merata di Indonesia. Pengkajian tentang hal ini oleh pemerintah daerah sangat penting untuk dilakukan, terutama berhubungan dengan keinginan membuka program keahlian seni di suatu daerah. Di sisi lain kebutuhan mengembangkan seni tradisional kedaerahan dibutuhkan sekali pada saat ini namun hal ini belum seimbang dengan kebutuhan mengembangkan sekolah atau pendidikan seni untuk menghasilkan tamatan, sebagai ujung tombak pelestari dan pengembang seni dan budaya di masyarakat. Melihat kenyataan ini kiranya, sekolah seni rupa yang ada saat ini sangat penting untuk ditingkatkan kualitasnya disesuaikan program-programnya untuk memenuhi kebutuhan tenaga seni rupa di masyarakat. Sehubungan dengan itu pengembangan sekolah kejuruan seni di Indonesia Tengah dan Timur masih perlu mendapat perhatian guna menyeimbangkan perkembangan seni dan budaya di Indonesia. Potensi seni rupa di kedua daerah tersebut sangat besar, begitu pula sumber daya alam untuk bahan membuat karya seni berlimpah, oleh sebab itu perleu ada strategi khusus untuk mengembangkannya. Misalnya, jika belum ada tenaga pengajar yang memadai diberlakukan program bea siswa, atau pelatihan khusus bagi pemuda-pemudanya yang tertarik dalam dunia seni. Di Toraja dominan seni rupa dan kriya, di Sulawesi Utara dominan seni musik begitu pula di daerah Maluku, di Papua seni musik dan seni rupa atau kriya sangat potensial, dan di Nusa Tenggara Timur sangat potensial seni tenunnya. Namun sayangnya pendidikan kejuruan seni belum merespon potensi-potensi yang baik ini akibatnya sekolah seni rupa dan kriya tidak tumbuh secara kokoh dan alami seperti di kedua daerah tadi. Jadi berdasarkan pemetaan yang sekilas ini perlu ada tindak lanjut pelaksanaan pengkajian yang mendalam untuk mengembangkan seni rupa Indonesia yang modern. Sangat ironis apabila Indonesia di masa depan menjadi negara modern tetapi kehilangan akar seni dan budayanya yang memiliki nilai tinggi dan sebaliknya dikembangkan atau diambil oleh negara lain yang peduli dengan kesenian. 386
    • Gambar 320 . Lukisan Tradisional Kamasan Klungkung Bali berkembang menjadi lukisan gaya baru Ubud dan batuan (foto: Agung Suryahadi) B. Pendidikan Seni Rupa dan Seni Kriya di Indonesia di Masa Depan Kita boleh bangga dengan menepuk dada sebagai negara terbesar di Asia Tenggara memiliki kekayaan seni budaya yang luar biasa ragamnya. Namun kebanggaan tidaklah cukup hanya gembar-gembor dengan kekayaan itu, tetapi perlu ada tindakan setrategis nyata dalam mengelola kekayaan seni budaya itu secara arif dan bijaksana demi keber- langsungan dan kebermanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat. Bentuk-bentuk seni budaya Indonesia terutama seni rupa dan kriyanya sangat potensial untuk dikembangkan, dikemas menjadi bentuk seni budaya dengan selera estetik masa kini dan ini memiliki daya saing yang kuat di tingkat global. Untuk itu perlu ada perubahan sikap dari pendukung seni dan budaya di setiap daerah, perubahan sikap yang utama adalah adanya hasrat ingin berubah dari seluruh warga sekolah dan lapisan masyarakat. Dari kasus-kasus perubahan dan keber- hasilannya dalam bidang seni dan budaya, dapat dilihat beberapa daerah yang telah terlebih dahulu melakukannya dan berhasil. Perubahan menuju kepada keberhasilan di suatu masyarakat perlu ada pelopor, pemimpin, ada ahli dalam bidangnya dan ada manajer yang mengelolanya. Contoh-contoh keberhasilan perubahan dalam seni rupa dan kriya telah diuraikan dalam bab II, yaitu perubahan paradigma seni lukis tradisional Bali, dan perubahan paradigma seni Batik di Yogya. Kedua perubahan yang berhasil di kedua daerah tersebut disebabkan oleh adanya hasrat untuk berubah dan keterbukaan masyarakatnya dan 387
    • diawali oleh tokoh-tokoh masyarakatnya. Perubahan di Ubud Bali dipelopori oleh pemimpin daerahnya dan didampingi oleh ahli dalam bidang seni rupa terutama seni lukis. Di Yogyakarta perubahan fungsi dan teknik seni batik terjadi karena dipelopori oleh tokoh-tokoh senimannya dengan melakukan eksperimen yang tak kenal lelah dan didukung oleh masyarakatnya. Untuk keberlangsungannya diberikan bimbingan promosi dan pemasaran agar pembaharuan produk diketahui oleh masyarakat luas dan laku untuk dijual. Untuk kasus Ubud promosi dan pemasarannya difasilitasi oleh dua orang pelukis asing sebagai tenaga ahli dengan melaksanakan pameran di luar negeri misalnya di Singapura. Oleh karena karya-karya seninya terjual, seniman semakin semangat bekerja dan memiliki uang untuk membeli bahan yang lebih berkualitas dengan demikian perkembangannya berjalan terus. Beruntung bagi kedua daerah - Bali dan Yogya - sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia sehingga produk-produk seni rupa dan kriyanya banyak dicari dan dibeli oleh wisatawan mancanegara. Pariwisata di kedua daerah menjadi andalan dalam penjualan benda seni dan kriya. Bagaimana dengan daerah lain? Untuk sementara ini, Bali masih sebagai etalase produk seni dan budaya Indonesia bagi pembeli- pembeli dari luar negeri. Hampir seluruh produk seni rupa dan kriya Indonesia di pasarkan di Bali. Namun mengandalkan pariwisata sangat rentan dan sensitif terhadap berbagai macam isue yang berbau negatif, seperti keamanan, penyakit dan bencana alam. Oleh sebab itu, bagi daerah lain yang tidak mengandalkan pariwisata untuk mengembangkan pasarnya perlu mencari aternatif lain. Gambar 321 . Wayang beber Jawa Tengah, dapatkah menjadi lukisan modern? (foto: Agung Suryahadi) 388
    • Melihat perubahan yang terjadi di kedua daerah, apakah di daerah lain tidak memungkinkan ? Pengembangan seni rupa dan kriya di daerah- daerah sangat penting, untuk terjadinya keseimbangan perkembangan seni dan budaya di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini yang terjadi ada daerah yang sangat maju dalam seni dan budaya, ada daerah yang tertinggal. Untuk mencapai keseimbagan, salah satu melalui lembaga pendidikan formal atau melalui pendidikan dan pelatihan singkat. Melihat banyaknya masyarakat usia produktif yang tidak memiliki pekerjaan, pelatihan ketrampilan seni rupa dan kriya menjadi salah satu alternatif. Sektor ini tidak memerlukan peralatan berat atau canggih, dan sektor ini dijamin ramah lingkungan. Misalnya, latihan mengukir hanya perlu alat pahat, latihan menggambar yang paling sederhana hanya memerlukan kertas dan pensil. Apabila telah terampil, yang bersangkutan hanya perlu bekal alat pahat dan keuletan dalam berusaha niscaya dapat hidup dengan baik. Ini merupakan kebutuhan minimal untuk kerja individual, namun jika menginginkan menjadi industri memang memerlukan peralatan yang lebih canggih menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Gambar 322 . Bagong Kusudihardjo, Topeng (foto: A .Agung Suryahadi). Guna mengadopsi perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, pendidikan formal melalui sekolah adalah sebagai salah satu tempat terjadinya transfer kebudayaan seperti iptek tersebut. Agar sekolah seni 389
    • rupa tidak ketinggalan, sangat perlu memasukkan materi iptek yang dapat terintergrasi dengan materi lainnya. Contoh nyata adalah pada saat ini komputer dapat sebagai alat untuk menggambar dan melukis, pengetahuan kimia terapan sangat dibutuhkan pada bidang keahlian tekstil, keramik, kayu, dan kulit. Gambar 323 . Made Kedol Subrata, Candi Prambanan (foto: A.Agung Suryahadi). Gambar 324 . Trihono, Perkelahian Rahwana dengan Jatayu (foto: A.Agung Suryahadi) 390
    • Singkatnya, di masa depan sinergi antara seni dan teknologi sangat penting, karena produk-produk yang sarat teknologi juga sarat dengan seni. Ketika dalam suatu produk ada unsur seni dan teknologi maka produk tersebut akan digemari oleh masyarakat. Tamatan sekolah kejuruan seni diharapkan natinya mampu menjadi agen-agen perubahan sehingga seni dan budaya Indonesia tidak mandeg, oleh sebab itu peran sekolah kejuruan seni sebagai persemaian seniman-seniman muda yang akan melanjutkan kelestarian dan pengembangan seni dan budaya Indonesia sangat diperlukan. C. Manfaat Buku Ini Sebagai Pendukung Belajar Seni Rupa Buku ini diterbitkan dengan harapan dapat memberi bekal dasar dalam meniti karier di bidang seni rupa. Sebagai yang telah diuraikan dalam bab pendahuluan, buku ini disusun berdasarkan kebutuhan minimal untuk mempelajari seni rupa. Hal ini dapat tercermin dari materi yang dibahas. Bab II membekali wawasan seni kepada siswa, uraiannya menyangkut seni rupa Indonesia dan seni rupa mancanegara. Hal yang dapat dipelajari dalam wawasan seni tersebut adalah pertama, mengenai wawasan seni rupa Indonesia. Sebagai suatu upaya untuk mengetahui identitas seni budaya sendiri, wawasan seni Indonesia atau wawasan seni Nusantara sangat penting. Dalam dunia yang semakin mengglobal identitas bangsa dan negara semakin diperlukan, sehingga ada negara yang ingin mencari identitasnya melalui pengakuan terhadap jenis seni negara lain. Oleh sebab itu wawasan kebangsaan melalui seni sangat penting untuk mengetahui identitas suatu bangsa. Dalam buku ini, untuk wawasan seni rupa Indonesia masih terbatas pada masalah batik, keris dan seni rupa etnis Bali. Padahal masih ada banyak materi yang belum sempat dipelajari dan diuraikan tersebar di daerah-daerah sebagai kekayaan budaya bangsa. Ada unsur-unsur seni lokal yang dapat diangkat menjadi universal, dalam hal ini ada yang telah digarap baik oleh seniman Indonesia dan mancanegara. Pada seni batik misalnya, seniman- seniman di Yogyakarta sebagai pelopor melakukan eksplorasi terhadap potensi teknik dan motif batik sehingga melahirkan seni lukis batik yang bersifat individual dan universal. Maksudnya setiap individu seniman dapat mengembangkan ekspresi individunya melalui teknik dan motif tradisional yang dikembangkan sebagai unsur visualnya. Seniman mancanegara yang menimba inspirasi dari seni etnik tradisional Indonesia cukup banyak, mulai dari Walterspies, Bonnet, Le Mayeur, Donal Frend dan sebagainya. Uniknya semua mereka menggali dan bermukim di Bali. Dengan wawasan seni rupa Indonesia para siswa sebagai generasi muda diharapkan mengembangkan kesadaran dan motivasinya untuk juga menggali seni etnik tradisional Indonesia 391
    • sehingga memiliki manfaat dalam mengembangkan kebudayaan Indonesia melalui kesenian. Selain wawasan tentang seni budaya Indonesia, sangat penting pula dipelajari tentang seni dari mancanegara. Dalam buku ini masih terbatas hanya tentang seni dari beberapa negara; mulai dari seni rupa Mesir yang paling kuno, kemudian Yunani, Romawi, India, Cina, dan Jepang. Pada bagian ini juga masih banyak yang belum dibahas seperti seni budaya Sumeria, Timur Tengah, Pasifik, Indian Amerika. Wawasan seni dan budaya mancanegara memberi perspektif lebih luas kepada siswa sehingga menyadari dimana posisi seni dan budaya Indonesia dalam keterkaitannya dengan seni budaya di dunia. Dalam wawasan seni budaya mancanegara ada hal-hal yang positif dapat dipetik, sebagaimana halnya seni rupa Mesir Kuno yang telah maju sejak 3000 tahun sebelum Masehi, perkembangan seni dan kebudayaan Barat yang pada awalnya berlandaskan kepada seni dan budaya klasik Yunani dan Romawi hingga dapat berkembang dengan pesat dan mempengaruhi seni dan budaya di seluruh dunia pada saat ini. Selain itu diuraikan pula tentang bagaimana seniman-seniman seni rupa mengembangkan konsep-konsepnya sehingga seni rupa dapat berkembang. Dengan pengetahuan itu diharapkan dapat memberi inspirasi untuk melakukan transformasi seni budaya bangsa sendiri dan memaklumi keberadaan dan perilaku bangsa lain. Guna mengembangkan kemampuan dan keterampilan seni rupa, terlebih dahulu perlu mengetahui tentang jenis, sifat bahan, serta alat yang digunakan. Untuk itu bab III merupakan latihan penguasaan teknik; namun baru diuraikan tentang beberapa bahan seni rupa dua dimensional yang pokok dan konvensional seperti arang, pensil, pastel, cat air, cat akrilik, dan cat minyak. Sedang pada bahan seni rupa tiga dimensional masih sebatas bahan lunak seperti kertas dan tanah liat. Bahan yang lain seperti kayu, batu, dan logam masih sebatas pengenalan, dan belum sempat dibahas secara mendetail. Sebagai pemula pengenalan terhadap beberapa bahan yang akan digunakan sangat penting. Tidak semua bahan dapat cocok digunakan oleh setiap orang. Oleh karenanya ekplorasi berbagai jenis bahan juga bermaksud untuk mendapatkan kesesuaian dengan masing-masing individu siswa. Seorang siswa mungkin sangat berbakat hanya menggunakan arang untuk mengambar dan melukis, tetapi tidak baik menggunakan bahan yang lain. Ada pula siswa menjadi sangat bergairah jika menggunakan media campuran karena dapat memberi peluang kepada potensi kreatifnya dalam menjelajahi berbagai potensi jenis bahan dan mengkombinaikannya menjadi sebuah karya seni yang bermutu. 392
    • Dalam menciptakan karya seni kepekaan estetik menjadi suatu yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena estetik merupakan salah satu muatan yang terkandung dalam karya seni. Tanpa kandungan estetik karya seni tidak akan menarik dan menyenangkan atau memuaskan perasaan manusia sebagai penikmatnya. Oleh sebab itu dalam bab IV siswa diharapkan belajar tentang potensi unsur-unsur seni rupa sebagai aspek pokok pembentuknya, serta prinsip-prinsip mengorganisasikan sehingga menjadi suatu susunan atau komposisi yang estetik. Dalam hal ini siswa bagaikan calon manajer yang mempelajari manajemen untuk mengetahui karakter unsur menajemen dan mengetahui cara mengorganisasikan dan mengevaluasi baik dan buruknya. Hal yang perlu disadari adalah, bahwa kepekaan estetik tidak serta merta dapat dimiliki, karena berhubungan dengan persaan maka untuk mengasahnya agar menjadi tajam memerlukan proses dan waktu. Latihan terus menerus dan banyak mengamati karya-karya seni merupakan salah satu cara yang telah lazim dilaksanakan dan berhasil. Selain mengasah kepekaan estetik hal yang menyangkut teknik dan mendasar perlu dimiliki oleh calon seniman seni rupa adalah kemampuan menggambar dan membentuk. Pembahasan diuraikan dalam bab V, ditampilkan contoh-contoh karya dan beberapa visualisasi prosesnya untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang cara menggambar dengan berbagai jenis bahan dan alat. Visualisasi teknik tidak seluruhnya ditampilkan, namun dalam penugasan disampaikan uraian verbal untuk memberi kesempatan kepada siswa menggunakan imajinasi masing- masing dalam menafsirkannya. Dalam uraian menggambar lebih menggunakan pendekatan tematik, seperti menggambar alam benda, menggambar tumbuh-tumbuhan dan binatang, menggambar manusia, menggambar huruf, dan menggambar ilustrasi. Khusus menggambar perspektif dan proyeksi diuraikan dasar- dasarnya untuk memberi bekal dasar bagi siswa yang senang untuk meniti profesi sebagai pelukis pemandangan, pematung, dan desainer iindustri kerajinan. Selanjutnya untuk bagian membentuk tiga dimensional baru sebatas membentuk dengan bahan kertas dan tanah liat dengan beberapa jenis keteknikannya. Bahan tiga dimensi lainnya belum dibahas secara lengkap. Seorang seniman yang baik biasanya memiliki kemampuan kreativitas yang tinggi, tanpa kemampuan kreatif seorang seniman akan mandeg. Jadi kreativitas mutlak perlu dalam bidang kesenian. Untuk itu apabila diperhatikan, dalam bab VI diuraikan pengetahuan tentang kreativitas, ditampilkan tentang contoh-contoh seniman berhasil karena kreatif, serta contoh-contoh dalam mengembangkan kemampuan kreativitas seni rupa serta latihan mengembangkan kemampuan kreatif menciptakan bentuk- 393
    • bentuk baru. Ada beberapa aspek yang dapat dijadikan sebagai obyek untuk berkreasi, kreatif dalam bidang seni rupa dapat pada aspek bahannya, bentuknya, warnanya, komposisinya, temanya. Biasanya jika tema konsepnya kreatif, aspek-aspek lainnya akan mengikuti. Misalnya Picasso, adalah seniman seni rupa yang kreatif dalam konsep dan aspek- aspek hasil karya lainnya juga menjadi kreatif. Ketika ia dalam konsep periode biru, warna-warna lukisannya menggunakan dominan warna biru dan itu menjadi ciri khas lukisannya, begitu pula ketika konsepnya pindah ke periode pink, warna lukisannya menggunakan dominan warna pink. Lalu ia pindah ke konsep analisis bentuk, bentuk-bentuk lukisannya berubah menjadi kubisme. Jadi konsep bagi seorang seniman seni rupa merupakan hasil perenungan kreatifnya, ia bagaikan seorang filusuf untuk selalu merenung dan mengungkapkan kebenaran tentang fenomena yang ada di alam ini. Seniman seharusnya tidak berhenti pada tataran estetik dalam berkarya, ia dapat melanjutkannya ketataran filosofis sehingga dapat memperkaya konsep-konsep berkesenian. Seorang seniman tidak hanya mampu berkarya, ia perlu juga secara kritis melakukan analisis, minimal kepada karyanya sendiri. Hal ini diuraikan dalam bab VII yang bertujuan memberi bekal kemampuan melakukan analisis secara sistematik ketika melihat karya seni rupa kepada calon seniman. Hal ini juga bertujuan meningkatkan kepekaan estetik sehingga dapat mempengaruhi perkembangan dalam menciptakan karya seni rupa. Akhirnya dalam bab VIII ini merupakan ringkasan dari seluruh isi buku. D. Kiat Sebagai Siswa Calon Seniman Sebagai seorang siswa yang bercita-cita meniti profesi sebagai seniman perlu memiliki kiat-kiat agar dapat berhasil dalam studi kemudian melanjutkan terjun di masyarakat secara mandiri. Namun biasanya, setelah selesai belajar di Sekolah Menengah Kejuruan Seni dan Budaya seorang tamatan memilih beberapa jalur, yaitu: bekerja secara mandiri, bekerja dengan orang lain, atau melanjutkan ke pen- didikan yang lebih tinggi. Ada pula yang banting stir memilih bidang lain karena bekal berkeseniannya tidak dapat digunakan dalam dunia kerja seperti menjadi sopir, atau pekerjaan lain yang tidak ada hu-bungannya dengan seni. Tamatan yang memilih jalur mandiri biasanya perlu waktu pematangan dengan praktek secara terus menerus dengan keuletan yang tinggi sehingga mendapat pengakuan dari masyarakat tentang keterampilannya. Hal ini jarang terjadi kecuali sang tamatan memiliki bakat yang luar biasa sehingga ia memiliki kepercayaan diri untuk mandiri. Sebagian besar tamatan memilih jalur bekerja dengan orang 394
    • lain atau di perusahaan tertentu jika tidak melanjutkan pendidikan. Tamatan yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dan orang tuanya mampu secara ekonomi, banyak yang melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi di perguruan tinggi seni yang ada di tanah air. Dari pengamatan yang dilakukan, siswa calon seniman yang berhasil kebanyakan yang memiliki kemauan kuat untuk belajar. Beberapa kiat untuk itu adalah sebagai berikut. 1. Memotivasi diri untuk berhasil dalam belajar, sebagai calon seniman yang hendak menginjak dewasa perlu mengembangkan kesadaran diri bahwa sebagian besar keberhasilan bukan ditentukan oleh orang lain, melainkan oleh kemauan dan upaya diri sendiri. 2. Oleh karena sekolah kejuruan menekankan kepada keterampilan, maka untuk menguasai keterampilan cara yang terbaik adalah dengan latihan yang terus menerus dalam bidang seni rupa. Latihan yang pokok ada dalam buku ini misalnya membuat sketsa, menggambar, dan membentuk. 3. Dalam latihan memerlukan bahan yang tidak sedikit, oleh sebab itu karena masih dalam taraf belajar, gunakanlah bahan yang murah dan mudah didapat. Misalnya dalam membuat sketsa gunakan kertas buram, jika tidak ada kertas buram menggunakan kertas bekas yang dibaliknya masih kosong. Ada seorang seniman yang sangat berhasil, dalam latihan membuat sketsa menggunakan setiap kertas yang diketemukannya, seperti kertas pembungkus, kertas karton kemasan yang dibaliknya kosong. 4. Membuat sketsa dengan target setiap harinya, oleh karena itu jika mungkin membuat sketsa minimal sebanyak sepuluh buah sketsa setiap hari untuk meluweskan keterampilan tangan dalam membentuk. Membentuk kelompok informal dengan dengan teman-teman untuk membuat acara sketsa dan menggambar bersama ke lokasi yang menarik. Jika mungkin memiliki buku sketsa yang dapat dibawa kemanapun pergi. Buatlah sketsa di tempat-tempat umum untuk melatih mental agar tidak canggung berhadapan dengan orang banyak. 5. Melakukan eksplorasi setiap jenis bahan yang ada untuk menguasai karakter dan potensinya. Mendalami ketrampilan atau teknik seni rupa tertentu seperti batik, sablon untuk dapat cepat menghasilkan uang guna dapat menunjang studi. 6. Untuk praktek, tidak mengantungkan diri hanya praktek ketika di sekolah. Lakukan diskusi dengan teman-teman dan saling kritik terhadap karya yang telah dibuat. Atau minta saran-saran kepada teman yang lebih senior atau seniman yang telah berhasil. 395
    • 7. Sering-sering menyaksikan pameran seni rupa atau pergi ke galeri-galeri, museum atau mengunjungi studio-studio seniman untuk mengasah kepekaan persepsi. 8. Membaca berita atau artikel di media masa tentang seni rupa atau seni lainnya untuk meluaskan wawasan kesenirupaan. 9. Apabila di sekolah ada internet, lakukanlah browsing untuk melihat informasi mengenai seni rupa dari seluruh dunia, Jika mungkin belajarlah mengoperasikan komputer dengan program photoshop dan corel draw agar tidak ketinggalan tentang dunia teknologi yang sedang berkembang saat ini. 10. Terakhir hal yang paling penting untuk selalu diingat dan dilakukan adalah menggali seni rupa Indonesia dari akar budaya Indonesia sehingga muncul seni baru sebagai bagian dari Indonesia yang modern. Inilah sepuluh kiat bagi siswa calon seniman seni rupa yang telah banyak dilakukan oleh seniman-seniman yang berhasil meniti karier sebagai seniman. Selamat belajar. 396
    • GLOSARIUM Abur-aburan Teknik melukis tradisional Bali khususnya di Desa Ubud dan Batuan yang memberikan gelap terang secara transisi, mirip dengan teknik half tone Adjacent Jenis kombinasi warna, komplemen yang terdiri dari tiga warna dimana ada satu warna berhadapan ditambah satu warna yang ada disebelah salah satu dari wama yang berhadapan itu. (Lihat gambar pada bagian warna). Air Brush Alat yang berperan sebagai kuas tetapi dalam menerapkan warna dilakukan dengan cara menyemprotkan melalui bantuan kompresor sebagai penyimpan dan pengeluar angin Akumulasi Bersatu melalui percampuran Analogus Jenis kombinasi warna yang terdiri dari tiga sampai empat warna bersebelahan dalam lingkaran warna dimana padakornbinasi warna itu ada satu warna primer Aplikatif Dapat diterapkan Artistik Mengandung nilai keindahan Areal perspektif Areal. perspektif = Prinsip perspektif dalam mengungkapkan ruang dimana,benda yang jauh digambarkan semakin kabur untuk membuat ilusi ruang dengan kedalaman. Asosiasi Mengira, menyangka, seakan memunculkan sesuatu Blocking Menutup dengan warna Brush stroke Goresan kuas yang kuat,tegas dan berani Cyan Warna biru terang Cutter Pisau pemotong yang tipis, taJam dan dapat dibuang bagiannya yang tumpul Detail Bagian yang kecil-kecil dalam karya seni rupa dan kria. Dimensi Matra, aspek dalam ruang pada seni
    • dan kria Double split Jenis kombinasi warna komplemen atau kontras yang terdiri dari empat warna berhadapan dalam lingkaran wama diselingi oleh satu warna yang bersebelahan. (Lihat gambar pada bagian warna). Estetik Nilai keindahan Eksplorasi Penjelajahan terhadap sesuatu, untuk menemukan hal-hal yang baru dari apa vang dijelajahi itu. Ekspresi Ungkapan pikiran dan perasaan terefleksi dalam karya seni Eksakta Ilmu pasti: matematik, kimiaf, fisika dan sebagainya. Figur Istilah dalam seni rupa mengenai bentuk; non-figuratif berarti tanpa bentuk. Fiksi Khayal, tidak nyata. Focus Pemusatan. Full round Tiga dimensi penuh, dapat dilihat dari seluruh sudut pandang, Geometris Mengenai ilmu, ukur; bentuk geometris adalah bentuk yang ada dalarn ilmu ukur dengan strukturnya yang teratur. Hue Nama warna : hue merah, hue biru dsb. llusi Seakan ada tetapi nyatanya tidak ada. Intensity Kekuatan warna, cerah suramnya warna. Image Gambaran ujud dalarn benak, imaji. Imajinasi Gambar dalam pikiran Karya frontal Jenis karya seni rupa dengan tiga dimensi penuh tetapi hanya untuk disaksikan dari bagian depan saja. Komunikasi Hubungan dengan kata, rupa,gerakan dsb. Komparatif Bandingan Komoditi Barang yang diperjual belikan Komplementer Berhadapan, warna yang berhadapan dalarn lingkaran warna. Life-size Ukuran yang sebenarnya Linear perspektif Prinsip perspektif untuk menggambarkan ilusi ruang dengan 398
    • kedalaman dimana bentuk yang jauh ukurannya semakin mengecil. Magenta Warna merah lembayung Mentransmisikan Memindahkan Monokromatik Susunan warna yang mengadung satu hue warna Ngreka Sketsa awal dengan garis dalam melukis tradisional Bali di Desa Kamasan dan tempat lainnya di Bali Organis Bentuk menyerupai mahluk hidup, struktur tidak teratur Overlaping Tumpang tindih Palet Tempat mencapur cat Perspektif Cara atau prinsip menggambarkan suasana tiga dimensi Pigmen Zat warna yang terkandung dalam benda Powdery Sifat atau penampakan seperti kapur Proporsi Perbandingan antara bagian pada benda Shade Menggelapkan warna dengan campuran hitam Single split Jenis komposisi warna kontras atau komple-men, satu warna berhadapan dengan dua warna bersebelahan dalam lingkaran wama(Lihat gambar pada bagian warna). Silinder Bentuk bulat panjang bervolume, tabung. Sketsa Gambar hanya dengan garis atau goresan yang mengandung unsur bentuk. Solid Padat, tidak berongga Tetrad komplemen Jenis kombinasi warna komplemen atau kontras yang terdiri dari empat warna dimana masing-masing diselingi oleh dua warna dalam lingkaran wama.Lihat garnbar pada bagian warna) Tint Membuat warna lebih terang dengan mencam-purkan warna putih. Torso Bagian badan manusia dari dada sampai pinggul Transparan Tembus pandang Triad komplemen Jenis kombinasi warna kontras yang 399
    • terdiri dari tiga warna berhadapan dimana masing-masing diselingi dua warnadalarn lingkaran wama.(Lihat gambar pada bagian warna) Tube Tempat cat dari aluminium yang bentuknya seperti tempat pasta gigi. Value Gelap terangnya warna Walk-Through Jenis karya tiga dimensi yang melibatkan lingkungan sebagai bagian dari karya itu. 400
    • KEPUSTAKAAN Abdulah, Irwan (2006) Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta, Pustaka Pelajar. Appellof, Marian Ed. (1992) Everything You Ever Wanted to Know About Water Color, New Cork, Watson-Guptil Publication. Ave, Joop et.al (1978) Puri Bhakti Rena Tama, Museum Istana Kepresidenan. Baker, Joan Stanley (1984) Japanese Art, London, Tahmes and Hudson Bangun, Sem C. (2001) Kritik Seni Rupa. Bandung, Penerbit ITB. Barnes, Rob (1987) Teaching Art to Young Children, London, Unwin Hyman. Barrer, Chris (2005) Cultural Studies: Teori & Praktik. Terj. Nurhadi. Yogyakarta, Kreasi Wacana. Birk, Tony (1979) Pottery, London, A Pan Original Books Ltd. Broudy, Harry S. (1987) “Theory and Practice in Aesthetic Education. Studies in Art Education, Chicago, Rand McNally & Co. Christy, Greraldine and Sara Pearch (1991) Step by Step Art School Ceramic, London, The Hamlyn Publishing Group Limitted. Darby, Max (1986) Image in Life, Victoria, Ministry of education (School Division). Dewantara, Ki Hadjar ( 1994) Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian II Kebudayaan, Yogyakarta, Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. Dunkelberg, Klaus (1984) Drawing The Nude: The Body, Figures, Forms,New York, Van Nostrand Reinhold Company. Eberly, Bob (1989) Scamper On, Australia, Hawker Brownlow Education. Eisner, Elliot W. & David W. Ecker ( 1970) ‘Some Historical Development in Art Education’ dalam George Papas Concept in Art Education an Anthology of Current Issues, Florida: The MacMillan Company. Feldman, Edmund Burke (1967) Art As Image and Idea, Englewood Cliffs, Prentice-Hall, INC. Fischer, Joseph (1994) The Folk Art of Java, Oxford, Oxford University Press. Gardner, Howard ( 1983) A cognitive View of the Art. Artistic Intelligences, Art Education, Oxford, Pergamon Press Geertz, Clifford (1973) Interpretation of Culture, New Cork, Basic Books, Inc., Publisher. Gombrich, E.H (1978) The Story of Art, London, Phaidon.
    • Guilford, J.P (1968) Intelligence, Creativity and Their Educational Implications California: Robert R.Knapp,Publisher. Haer, Debbie Guthrie , Juliete Morrilot, Irene Toh, Ed. (2000) Bali a Travellers’s Companion, Singapore, Archipelago Press. Harrison, Hazle (2006) Art School: How to Saint and Draw, London, Hermes Houses. Holt, Claire (2000) Melacak Jejak-Jejak Perkembangan Seni Di Indonesia, Terj. R.M. Soedarsono. Bandung, Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia. Homekler, Ori (1982) Homekler’s People, London, Europa Publication Limited. Irving, Kaufman ( 1966) Art and Education New York, The MacMillan Company. Jaxtheimer, Bodo W.(1982) How to Paint and Draw, London, Thames and Hudson. Koentjaraningrat (2002) Pengantar Ilmu Antrpologi, Jakarta, Rineka Cipta. ___________ (2002) Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Jambatan, 2002. Lansing, Kenneth M ( 1969 ) Art, Artist, And Art Education, New York, McGraw-Hill Book Company. Lowenfeld, Viktor( 1970) Creative and Mental Growth, London, MacMillan Publishing Company. McKim, Robert H. (1972) Experiences in Visual Thinking, California, Wadsworth Publishing Company. Mistchell, W.J.T. ( ) Iconology: Image, Text, Ideology, Chicago, The University of Chicago Press Ngantung, Henk (1981) Sketsa-Sketsa Henk Ngantung, Jakarta, Penerbit Sinar Harapan. Parramon’s Editorial Team (1998) All About Tehniques in Oil, New York, Barron’s Educational Series, Inc. Parramon’s Editorial Team (1998) All About Tehniques in Pastel, New York, Barron’s Educational Series, Inc. Parson, J. Michael ( 1987) How We Understand Art, New York, Cambridge University Press. Peursen, van (1976). Setrategi Kebudayaan, terjemahan Dick Hartoko, Yogyakarta, Percetakan Kanisius. Pritzker, Pamela (1975) Max Ernst, New York, Leon Amiel Publisher. Read, Herbert ( 1968) The Meaning of Art, London, Faber & Faber. Richter, Ann (1993) Art and Craft of Indonesia,San Francisco, Chronicle Books. Roukes, Nicholas (1980) Design Synectics, Worcester, Davis Publication, Inc. 402
    • ------------- (1984) Art Synectics, Worcestr, Davis Publication Inc. Saxton, Collin (1981) Art School, London, McMilan. Sidaway, Ian (1996) The Mixed Media, London, A Quarto Book. Sitowati, Retno Suliastianingsih & Jphn N. Miksic (2006) Icons of art, Jakarta, Museum Nasional. Smith, Ralph A. (1986) Excelence in Art Education, Virginia, National Art Education Association. Smith, Stan (1984) Anatomy Perspective and Composition for The Artist, New York, Watson-Guptil Publication. Sediawati, Edi (2006) Budayaan Indonesia:Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada. Soedarso SP. Tinjauan Seni, Yogyakarta, Saku Dayar Sana. ___________ Seni Lukis Batik Indonesia, Yogyakarta, Taman Budaya Soekmono (1973) Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta, Penerbit Kanisius. Soemantri, Hilda et.al (2002) Indonesian Heritage, Yakarta. P.T Widyadara. Spradley, James.P Culture and Cognition, London, Chandler Publishing Company. Sternberg, Robert J. Ed. (1999) Handbook of Creativity, United Kingdom, Cambridge University. Sudarmadji et.al (1985) Apresiasi Seni, Jakarta, Badan Pelaksana Pembanguan Proyek Ancol, PT. Pembangunan Jaya. Thompson, Belinda and Michel Howard (1988) Impresionism,London, Bison Books Ltd. Walter, Ingo F. and Rainer Metzger (1987) Marc Chagall,Hamburg, Taschen . Wilson, Simon (1974) Pop, London, Tahmes and Hudson. Yudoseputro, Wiyoso (1993) Pengantar Wawasan Seni Budaya, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Zelanski, Paul & Mary Pat Fisher (1988) The Art of Seeing, London, Bay Books. Zimmer, Heinrich (2003) Sejarah Filasafat India, Yogyakarta, Pustaka Pelajar. Zoetmoelder (2004), Kamus Bahasa Jawa Kuna,Jakarta, P.T Gramedia Pusataka Utama. 403
    • ISBN XXX-XXX-XXX-X Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digu- nakan dalam Proses Pembelajaran. HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00