SMK-MAK kelas10 smk seni rupa agung - Presentation Transcript
A. Agung Suryahadi
SENI RUPA
A. Agung Suryahadi
untuk SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
A. Agung Suryahadi
Seni Rupa
Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan
Produktif
SMK
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
Seni Rupa
Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan
Produktif
Untuk SMK
Penulis : A. Agung Suryahadi
SUR SURYAHADI, A. Agung
Seni Rupa, Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan Produktif :
SMK/oleh A. Agung Suryahadi. ---- Jakarta : Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
xv. 404 hlm
Daftar Pustaka : 401-403
Diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan
penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk
disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh
penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft
copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar
ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,
kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan.
Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dengan
diselesaikannya penulisan buku ini. Judul buku ini dipilih untuk memberikan
suatu kesan dan pemahaman bahwa belajar seni rupa dapat membuat orang
menjadi peka secara estetik yang diharapkan mempengaruhi kepekaan budi
pekerti yang selama ini banyak diharapkan untuk mempengaruhi kehidupan
yang teduh di masyarakat. Selain itu juga memberikan dampak kepada
kemampuan kreatif imajinatif dan produktif dalam membuat karya seni,
akhirnya karena memiliki wawasan yang luas tentang nilai-nilai seni maka
diharapkan dengan belajar melalui buku ini membimbing siswa untuk memiliki
sikap apresiatif terhadap hasil seni dan budaya bagsa serta hasil kebudayaan
lainnya serta cinta kepada lingkungan hidup.
Buku ini tidak akan dapat terwujud jika tidak adap bantuan dari pihak lain,
terutama kepada jajaran Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
yang telah memberi kesempatan penulis untuk ikut dalam program penulisan
buku-buku bagi pendidikan kejuruan. Terimakasih pula kepada jajaran P4TK
Seni dan Budaya yang telah mengusulkan penulis untuk ikut sebagai penulis
buku-buku kejuruan, tak lupa pula kepada anak dan istri yang telah memberi
dorongan dan membantu penulis dalam menyelesaikan buku ini.
Buku ini dapat berfungsi ganda, pertama berguna bagi siswa dan guru SMK
Seni dan Budaya untuk mendalami seni rupa, kedua juga dapat digunakan
sebagai rujukan guru dan siswa sekolah non-kejuruan seni untuk memperdalam
tentang pe-lajaran seni di sekolah mulai dari tingkat sekolah dasar dan
menengah.
Kami menyadari buku ini masih belum sempurna, untuk itu penulis
mengharapkan ada masukan dan kritikan terhadap buku ini untuk penyem-
purnaannya. Akhirnya diharapkan buku ini dapat sedikit menyumbangkan
pengetahuan bagi dunia pendidikan khususnya pendidikan seni rupa baik
kejuruan maupun non kejuruan.
Yogyakarta, November
2007
Penulis.
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan i
Pengantar penulis
Pengantar Direktur Pembinaan SMK ii
Daftar Isi iii
Daftar Gambar vii
Sinopsis
Deskripsi konsep penulisan
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Belajar Seni Rupa 4
C. Seni Rupa Indonesia Sebagai Sumber Penciptaan 7
D. Isi Buku 9
BAB II WAWASAN SENI RUPA 16
A. Pengertian Tentang Seni 16
B. Pengertian Tentang Seni Rupa 21
C. Seni Rupa Dalam Kehidupan Manusia 22
1. Seni Rupa Dalam Kehidupan Beragama 23
2. Seni rupa Dalam Aktivitas Ekonomi 28
3. Seni rupa Dalam Kehidupan Politik 30
4. Seni rupa Dalam Pendidikan 31
D.Seni rupa Indonesia 34
1. Zaman Prasejarah 35
a. Zaman Paleolithikum 35
b. Zaman Mesolithikum 35
c. Zaman Neolithikum 36
d. Zaman Megalithikum 37
e. Zaman Perunggu 38
2. Zaman Sejarah 39
a. Zaman Penyebaran Agama-Agama India 39
b. Zaman Penyebran Agama Islam 45
c. Zaman Pengaruh Kebudayaan Eropa 47
d. Zaman Kemerdekaan 50
e. Seni Rupa Etnis Indonesia 53
1) Seni Batik 53
2) Wayang 56
3) Keris 59
f. Seni Rupa Bali 61
g. Potensi Yang Dimiliki Indonesia 75
E.Seni Rupa Mancanegara 75
1. Mesir 75
2. Yunani 79
3. Romawi 83
4. Renaissnace Dan Eropa 87
5. India 112
6. Cina 117
7.Jepang 120
BAB III PENGETAHUAN BAHAN DAN ALAT SENI RUPA 126
A. Bahan dan Alat Seni Rupa Dua Dimensi 126
1. Pena 126
2. Kuas 128
iii
3. Kertas 128
4. Kanvas 129
5. Karet Penghapus 130
6. Papan Gambar 130
B. Eksplorasi Bahan Seni Rupa Dua Dimensi 131
1. Arang 131
2. Pensil 135
3. Pastel 139
4. Tinta 144
5. Cat Air 147
6. Cat Poster 151
7. Cat Akrilik 153
8. Cat Minyak 155
C. Media Campuran Seni Rupa Dua Dimensi 158
D. Bahan dan Alat Seni Rupa Tiga Dimensi 160
1. Bahan Lunak 161
2. Bahan Liat 161
3. Bahan Keras 163
BAB IV MENINGKATKAN KEPEKAAN PERSEPSI ESTETIK 166
A. Belajar Melalui Unsur Seni Rupa 168
1. Unsur Garis 168
2. Unsur Ruang 173
3. Unsur Bentuk 177
4. Unsur Warna 186
5. Unsur Tekstur 200
B. Prinsip Pengorganisasian Unsur Seni Rupa 202
1. Mengarahkan Perhatian 203
a. Pengulangan 203
b. Selang-Seling 205
c. Rangkaian 206
d. Transisi 207
e. Gradasi 208
f. Irama 209
g. Radiasi 211
2. Prinsip Memusatkan 212
a. Konsentrasi 213
b. Kontras 214
c. Penekanan 218
3. Prinsip Menyatukan 221
a. Proporsi 221
b. Keseimbangan 223
c. Harmoni 228
d. Kesatuan 229
e. Ekonomi 233
f. Hubungan Dengan Lingkungan 234
BAB V MENGGAMBAR DAN MEMBENTUK SEBAGAI DASAR 235
BERKARYA SENI RUPA
A. Menggambar Dan Melukis 236
1. Menggambar Sketsa 236
a. Sketsa sebagai Catatan Visual 239
b. Sketsa sebagai Media Studi Bentuk dan Warna 240
c. Sketsa sebagai Awal Berkarya Seni Rupa 243
d. Sketsa sebagai Seni Sketsa 245
iv
2. Menggambar Perspektif dan Proyeksi 249
a. Menggambar Perspektif 249
b. Menggambar Proyeksi 254
3. Menggambar Alam Benda 256
a. Menggambar Alam Benda Hitam Putih dengan teknik dry brush 261
b. Menggambar Alam benda dengan Warna 262
4.Menggambar Tumbuhan-Tumbuhan dan Binatang 265
a. Menggambar Tumbuh-Tumbuhan 265
b. Menggambar Binatang 270
5. Menggambar Manusia 275
6. Menggambar Ilustrasi 280
a. Ilustrasi untuk cerita pendek 284
b. Ilustrasi sampul buku cerita 284
c. Ilustrasi cerita bergambar 285
d. Ilustrasi untuk ilmu pengetahuan 285
e. Ilustrasi untuk cerita fiksi 286
7. Teknik Cetak Dua Dimensi 287
a. Teknik Cetak Tunggal 288
b. Teknik Cukil 290
c. Teknik Intaglio 290
8. Menggambar Ornamen 295
a. Ornamen Nusantara 296
b. Ornamen Mancanegara 299
9. Menggambar Huruf 301
B. Membentuk Tiga Dimensi 305
1. Membentuk dengan tanah liat 305
a. Teknik pijit/pinch 305
b. Teknik lempeng/slab 306
c. Teknik pilin coil 307
d. Teknik putar 307
2. Membentuk dengan bahan keras 308
a. Kayu 308
b. Batu 308
c. Logam 309
3. Jenis Seni Rupa Tiga Dimensi 309
a. Relief 309
b. Karya Frontal 312
c. Full Round 313
d. Walk-Through 318
BAB VI KREATIF MELALUI SENI RUPA 321
A. Pengertian Kreativitas 321
B. Seni rupa dan Kreativitas 322
C. Proses Kreatif dalam Seni Rupa 324
D. Tipe Proses Kreatif dalam Seni Rupa 325
1. Tipe Terstruktur dan Sintesa 326
2. Tipe Intuitif dan Emosional 333
E. Berpikir Imajinatif 335
1. Fantasi 336
2. Analogi 336
3. Ilusi 337
4. Humor 339
5. Animasi 341
F. Berpikir Alternatif 341
G. Berpikir Inovatif 343
v
H. Berpikir Kongkrit 350
BAB VII APRESIASI SENI RUPA 354
A. Pengertian Apresiasi Seni Rupa 354
B. Hal yang Diperlukan dalam Apresiasi Seni Rupa 354
1. Pengetahuan tentang Seni Rupa 354
2. Kegemaran terhadap Karya Seni Rupa 355
3. Kepekaan Estetik 355
4. Sikap Penghargaan terhadap Seni Rupa 356
C. Aspek Apresiasi Seni Rupa 356
1. Tema Permasalahan 356
2. Teknik Garapan 359
3. Unsur dan Pengorganisasian 361
4. Kreativitas 362
D. Pendekatan dalam Melakukan Apresiasi Seni 364
1. Pendekatan Kritik 364
a. Jenis Kritik Seni 364
b. Gaya Kritik Seni 366
2. Pendekatan Analitik 368
a. Deskripsi 368
b. Analisis 371
c. Interpretasi 373
d. Judgement 373
3. Pendekatan Kognitif 374
a. Favoritisme 375
b. Keindahan dan Realisme 375
c. Ekspresi 376
d. Gaya dan Bentuk 376
e. Otonomi 377
4. Pendekatan Aplikatif 377
5. Pendekatan Kesejarahan 377
6. Pendekatan Problematik 378
7. Pendekatan Semiotik 379
BAB VIII Penutup 385
A. Pentingnya Pendidikan Kejuruan Seni rupa 385
B. Pendidikan Seni Rupa dan Kriya Indonesia Masa Depan 387
C. Manfaat Buku Ini Sebagai Pendukung Belajar Seni Rupa 391
D. Kiat Sebagai Siswa Calon Seniman 394
Glosarium 397
Kepustakaan 401
Lampiran Gambar
Daftar Nama Yang Terlibat Penulisan
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Gambar Halaman
1. Gambar di dinding gua prasejarah 1
2. Benda-benda seni dalam kehidupan manusia 2
3. Alat perlengkapan manusia jaman modern yang 2
mema-sukkan seni dalam produk-produk
teknologi
4. Hasil bidang seni rupa, lukisan, patung, keramik 3
dan ukiran logam
5. Patung karya G. Sidharta dan lukisan karya Agus 4
Djaya
6. Lukisan ‘Kalarahu’ Nyoman Gunarsa 5
7. Dua produk seni etnis tradisional Indonesia: 7
lukisan teradisional bali dan kain dari NTT
8. Topeng Kalimantan dan topeng Jawa 8
9. Relief Jawa Tengah, Jawa Timur dan Keris Bali 9
10. Patung karya I Nyoman Cokot 10
11. Lukisan karya Antonio Blanco 11
12. Sketsa catatan untuk melukis 12
13. Sketsa dilanjutkan menjadi lukisan 12
14. Pengembangan kreativitas melalui rangsang 14
visual
15. Foto dan lukisan pemandangan 17
16. Produk seni rupa tradisonal tiga dimensi: patung, 14
ukir-an dan kendi keramik
17. Patung Dewa Siwa 20
18. Produk seni murni dan seni terpakai 20
19. Berbagai produk seni rupa 22
20. Yantra Bindu 24
21 Seni Sesaji dalam ritual Agama Hindu di Bali 25
22. Patung Buddha 25
23. Lukisan Nabi Adam diturunkan ke bumi 26
24. Wayang Kulit Jawa: Dewi Sinta dan Hanuman 27
25. Wayang Kulit Jawa: Bima dan raksasa 28
26. Iklan Shampo di koran 29
27. Iklan Kopi di majalah 29
28. Kegiatan seni rupa di TK 32
29. Lukisan Anak : bermain Layang-layang 33
30. Fungsi otak kanan dan otak kiri 34
31. Peninggalan Zaman Batu Tua 35
32. Lukisan pada dinding gua 36
33. Peninggalan Zaman Batu Baru 37
34. Patung Zaman Megalitikum 37
35. Nakara 38
36. Bagian atas nakara 38
37. Prasasti Batu Tulis dari Kutai dan Batu Sangkar 39
38. Candi Prambanan 40
39. Candi Borobudur 41
40. Relief Candi Borobudur 42
41. Relief Candi Borobudur 42
42. Motif Kepala Kala dari Jawa Tengah dan Jawa 43
Timur
43. Motif Teratai, Linga Yoni, Kinara-Kinari 44
44. Menara mesjid Kudus 45
45. Ukiran dalam medalion Masjid Mantingan, Jepara 46
46. Gapura Mesjid Sendangduwur Tuban 46
47. Lukisan Gunung Merapi karya Raden Saleh 47
48. Lukisan ‘Perburuan Harimau’ karya Raden Saleh 48
49. Lukisan ‘Pemandangan di Jawa’ Karya Abdullah 48
SR
50. Lukisan ‘ Balai Desa Minangkabau’ karya Wakidi 49
51. Lukisan ‘ Pemandangan Sudut Jakarta ‘ karya 50
Ernest Dezentje
52. Lukisan ‘Tetangga’ karya Sudjojono 51
53. Lukisan ‘ Mencari Kutu Kepala’ Karya Hendra 52
Gunawan
54. Patung ‘ Gadis dan Kodok’ Karya Trubus 53
55. Motif batik Parang dan Kawung 54
56. Motif batik gaya Cirebon 54
57. Batik kreasi baru 55
58. Bentuk-bentuk wayang 57
59. Pertunjukan Wayang Bali, bentuk wayang golek 58
60. Keris Bali dan Jawa 60
61. Nakara Pejeng 62
62. Hiasan muka manusia pada Nakara Pejeng 63
63. Lukisan dan patung tradisional Bali 65
64. Beberapa bentuk bagian tubuh tokoh lukisan 66
tradisional Bali
65. Dua bentuk tokoh lukisan wayang tradisional 66
Kamasan Bali
66. Lukisan Walter Spies dan Lukisan R. Bonnet 67
67. Lukisan Ida Bagus Made: Seni Pertunjukan 68
68. Lukisan I Gusti Nyoman Lempad: Pedagang Nasi 68
69. Lukisan Anak Agung Gede Sobrat: Percikan Air 69
Tirta
70. Lukisan I Gusti Ketut Kobot: Krisna Murti 70
71. Patung Karya I.B. Nyana dan I Nyoman Cokot 71
72. Lukisan Arie Smith, Ketut Soki dan Ketut Tagen 72
73. Lukisan I Nyoman Erawan: Bingkai Rusak 73
74. Lukisan I Nyoman Gunarsa: Dua Penari Bali 74
75. Relief berwarna, Mesir Kuno 76
76. Mummi, relief, dan tempat menyimpan organ 77
dalam orang yang meninggal
77. Patung Binatang dan lukisan potret pada 78
kuburan
78. Kuil Parthenon 80
79. Pot Bunga Yunani 81
80. Patung Venus dan prajurit dari Ruice 82
81. Relief patung pada kubur Batu 83
82. Colosseum tahun 80 Masehi 84
83. Relief pada altar Ara Pacis 85
84. Patung potret Zaman Romawi kuno 86
85. Lukisan Dinding Zaman Romawi kuno 86
86. Dewi Venus Muncul dari Laut 87
87. Michelangelo, Pieta 88
88. Michelangelo, Adam diturunkan ke bumi 89
89. Lukisan ‘Monalisa’ karya Leonardo Da Vinci 90
90. Lukisan ‘Pertunangan Arnaltini’ karya Jan Van 91
viii
Eyck
91. Lukisan ‘ Jan Six’ karya Rembrandt 92
92. Gialorenso Bernini , Patung The Ecstacy of St. 94
Teresa
93. Jeane Honore Fragonard, The Swing 95
94. Jacques-Louis David, The Oath of Horatii 95
95. John Constable, The Haywain 96
96. William Turner, Snow Storm 97
97. Gustave Courbet, The Stone Breaker 97
98. Claude Monet, The Haystack 98
99. Paul Cezanne, Still Life With Apples 99
100. Edward Munch, The Scream 100
101. Van Gogh, Stary Night 101
102. Henri Matisse, The Red Studio 102
103. Andre Derain, The Pool of London 102
104. Pablo Picasso, Violin and Grapes, dan George 104
Braque, The Portuguese
105. Marcel Duchamp, Nude Decending Staircase 105
106. Piet Mondrian, The Gray Tree 106
107. Vassily Candinski, Improvisation No.3 106
108. Jackson Pollock, No. 14 107
109. Jean Arp, Automatic Drawing 108
110. Salvador Dalli, Apparition of Face and Fruit-dish 108
and a Beach
111. Andy Warhol, Green Coca-Cola Bottles dan Roy 109
Lichtenstein, Roto Broil
112. Bill Martin, Abalone Sheel 110
113. Christo, Running Fence 111
114. Relief dari Mohenjodaro 112
115. Patung Wanita Mahenjodaro 113
116. Yantra Segitiga 114
117. Yantra Segiempat 115
118. Patung Dewa Siwa 116
119. Ornamen Kembang dari Batu Giok 117
120. Patung Boddhisatva dari Dinasti Song 118
121. Lukisan Wang Hui dan Guo Kogong 119
122. Patung Keramik Bangsa Jomon, Jepang 121
123. Genta perunggu dan patung petani, Jepang 122
124. Kaligrafi Bodhidharma karya Hakui Ekaku 123
125. Lukisan Otani Oniji karya Toshusai Sharaku 124
126. Foto Taman Istana Katsura, Kyoto 125
127. Taman Ryoanji 125
128. Jenis pena 127
129. Gambar dengan pena 127
130. Jenis kuas 128
131. Papan gambar 131
132. Gambar pemandangan dengan bahan arang 132
133. Goresan arang, Kate Kolowitz, Self Potrait 133
134. Bunga anggrek, Laki-laki tertidur 134
135. Leonardo da Vinci, The Virgin and the Child 134
136. Gambar goresan pensil cat air 137
137. Lukisan pemandangan dengan bahan pensil cat 138
air
138. Gambar rumah di kebun 138
139. Menggosok pastel dengan tissue 141
ix
140. Karya Seni Lukis dengan bahan dan teknik pastel 141
141. Goresan pastel 142
142. Lukisan dengan Pastel 143
143. Gambar dengan Tinta Hitam 145
144. Sketsa dengan tinta cina 146
145. Lukisan klasik Cina dengan cat air 149
146. Gorean dengan cat air 150
147. Goresan dengan cat poster 152
148. Goresan dengan cat akrilik 154
149. Lukisan cat akrilik 154
150. Goresan cat minyak 157
151. Dullah, Tentara Pendudukan, cat minyak 157
152. Omar, Hendak mencuci; Sudjojono, Dibalik 158
Kelambu
153. Goresan campuran pensil dan pastel 159
154. Jenis-jenis tanah liat 162
155. Benda-benda dari tanah liat 163
156. Patung dari logam dan batu 165
157. Lukisan bahan pastel, cat air dan cat minyak 167
158. Patung dengan teknik teknik dan bahan berbeda 168
159. Unsur bentuk dan garis 168
160. Bahan dan teknik membuat garis 171
161. Gambar hanya dengan garis 172
162. Potensi garis membuat ilusi 173
163. Ruang Positif dan ruang negatif 174
164. Ruang positif dan negatif dengan linear dan areal 175
per-spektif
165. Lukisan dengan areal perspektif 175
166. Lukisan dengan linear perspektif 176
167. Aplikasi ruang positif dan negatif 177
168. Bentuk organis dua dimensi dan tiga dimensi 178
169. Bentuk organis dan geometris dengan ilusi tiga 179
dimensi
170. Bentuk organis dan geometris bervolume 180
171. Aplikasi warna panas dan warna dingin 190
172. Aplikasi warna intensitas tinggi dan rendah 191
173. Aplikasi warna primer 192
174. Penerapan warna monokromatik 193
175. Warna monokromatik dengan aksen warna merah 194
176. Penggunaan warna monokromatik 194
177. Penerapan warna analogus 195
178. Penerapan warna komplementer 196
179. Penerapan warna monokromatik, analogus, dan 196
komplementer
180. Tekstur dengan teknik marbling 200
181 Tekstur semu dengan teknik cipratan 200
182. Tekstur kasar dengan bahan kulit telur 201
183. Tekstur kasar dengan teknik batik 201
184. Prinsip pengulangan teratur dan tak teratur 204
185. Prinsip selang-seling 205
186. Prinsip rangkaian 206
187. Prinsip transisi 207
188. Prinsip gradasi 209
189. Prinsip irama 210
190. Prinsip radiasi 212
x
191. Prinsip konsentrasi 213
192. Prinsip kontras 215
193. Penerapan prinsip kontras 216
194. Stuart Davis, Seme, 217
195. Penerapan prinsip penekanan 218
196. Agus Djaya, Dalam Taman Nirwana 219
197. Henri Rousou, The Dream 220
198. Penerapan prinsip proporsi pada lukisan 222
pemandangan
199. Penerapan Prinsip Keseimbangan Mendatar, 224
Vertikal dan Radial
200. Penerapan prinsip keseimbangan pada lukisan, 226
patung dan relief
201. Penerapan prinsip keseimbangan informal 227
202. Prinsip harmoni 228
203. Prinsip kesatuan 230
204. Penerapan prinsip kesatuan dalam lukisan 231
205. Penerapan prinsip keseimbangan, Irama, 232
Pengulangan dalam patung
206. Prinsip ekonomi dalam lukisan 233
207. Goresan berbagai variasi garis 238
208. Variasi Garis Membentuk Image 238
209. Dua sketsa Henk ngantung 239
210. Studi anggota tubuh manusia 240
211. Studi Sybil oleh Michelangelo 241
212. Studi Anatomi Manusia Oleh Leonardo da Vinci 242
213. Studi Guernica oleh Pcasso 242
214. Hasil studi gambar binatang peserta diklat 242
215. Rakit Medusa oleh Delacroix 243
216. Studi Rakit Medusa oleh Delacroix 244
217. Studi Rakit Medusa oleh Delacroix 244
218. Aguste Rodin, The Gate of Hell 245
219. Seni sketsa oleh Nyoman Gunarsa 246
220. Seni sketsa Henri Matisse 247
221. Seni sketsa Henk Ngantung 247
222. Seni Sketsa Picasso dan Christiano 248
223. Memahami perspektif 250
224. Gambar proyeksi 254
225. Gambar Kerja Penerapan proyeksi dan Perspektif 255
226. Gambar alam benda: sepatu dan buah dengan 257
pensil
227. Kursi tua dan pipa cerutu, karya Van Gogh 258
228. Gambar alam benda dengan krayon dan pastel 259
229. Gambar alam benda dengan cat air dan spidol 260
230. Proses menggambar alam benda dengan teknik 261
dry brush
231. Proses menggambar alam benda dengan warna 263
akrilik
232. Menggambar Alam Benda dengan Cat Air 264
233. Gambar tumbuh-tumbuhan 233
234. Gambar rerumputan oleh Durrer dengan cat air 266
235. Gambar semak dengan pastel kapur 267
236. Gambar pepohonan oleh siswa SMK 268
237. Menggambar Daun dengan Pastel Minyak 269
238. Jenis Binatang Menyusui 270
xi
239. Kuda Liar di Padang Rumput 271
240. Sketsa binatang 272
241. Gambar binatang oleh Rembrant dan Durrer 272
242. Gambar burung oleh peserta diklat 273
243. Langkah Menggambar Kucing 274
244. Proporsi tubuh Laki-Laki Dewasa 276
245. Proporsi Tubuh Orang Dewasa 277
246. Gambar bagian kepala 278
247. Gambar torso 278
248. Langkah Menggambar Potret dengan Akrilik 279
249. Dullah, Wanita Desa 280
250. Ilustrasi berbeda fungsi 281
251. Ilustrasi fantasi 282
252. Ilustrasi Buku Pelajaran Untuk Anak-anak 284
253. Ilustrasi cerita anak 285
254. Ilustrasi ilmu pengetahuan 286
255. Ilustrasi cerita fiksi 287
256. Teknik Monoprint 288
257. Teknik Cukil 289
258. Teknik Dry Point 290
259. Teknik Etsa 291
260. Gambar ornamen karya peserta diklat 296
261. Ornamen motif daerah 297
262. Gambar ornamen dengan menyederhanakan 298
263. Gambar ornamen dengan pengayaan 298
264. Ornamen Kuno dari Berbagai Negara 299
265. Motif Meander, Singa, Burung dari Spanyol 300
266. Motif Muka, Naga, Manusia 301
267. Contoh Logo 305
268. Proses membentuk tanah liat dengan teknik pijit 306
/ pinch
269. Proses membentuk tanah liat dengan teknik 307
lempeng
270. Proses membentuk tanah liat dengan teknik 307
pilin/coil
271. Proses membentuk tanah liat dengan teknik 308
putar
272. Relief rendah 309
273. Relief tinggi 311
274. Patung frontal 313
275. Jenis patung full round 314
276. Rongga-rongga persegi 316
277. Bentuk kubus dengan teknik potong, tempel 316
278. Bentuk Limas dengan teknik potong, lipat, dan 317
toreh
279. Karya seni walk through oleh Helin Zimmerman 319
280. Karya seni Walk through oleh Robert Morris 319
281. Karya Abdul Azis 323
282. Karya Fajar Sidik 323
283. Karya Dullah dan Lee Man-Fong 327
284. Karya Basuki Abdulah dan Lee Man-Fong 327
285. Karya seni lukis dekoratif Bali dan Walter Spies 328
286. Karya seni Lukis Widayat dan Kuswadji 329
287. Karya Marc Chagall 330
288. Sketsa abstrak Henry Moore 330
xii
289. Karya Monet dan Cezanne 331
290. Konsep bentuk kubisme 332
291. Guernica karya Picasso 333
292. Karya Durrer, Affandi, dan Pollock 334
293. Konsep bentuk ekspresionisme 335
294. Karya M.C. Escher, Born with Union 335
295. Karya Marc Chagall, Birthday 337
296. Pemanfaatan ilusi optik dalam seni rupa 338
297. Karya Hopmekler, Jimmy Carter dan kawannya 339
298. Karikatur G.M Sudarta 340
299. Animasi dalam lukisan dan keramik 340
300. Visual brain storming 342
301. Karya Erawan, Kekunoan 345
302. Karya Martin Sharp, dan Lucas Maramas 346
303. Karya Spies, dan Bonnet 347
304. Pengembangan kombinasi dan sinergi bentuk 347
305. Pengembangan kombinasi dan sinergi bentuk 348
306. Karya Salvador Dali, The persistence of memory 349
307. Pengembangan dan penyatuan garis dan bentuk 350
308. Pengembangan bentuk organis 351
309. Tiga karya Picasso periode biru 357
310. Lukisan wayang beber 358
311. Lukisan Wayang Kamasan 358
312. Prose membuat patung Rodin 360
313. Karya Trubus dan Sadali 361
314. Karya Manaise Manipik, Good Spirit 366
315. Karya Lee Man-Fong, Menenun 368
316. Karya Sudjojono dan karya Lee Man-Fong 369
317. Karya G. Sidartha dan Irianti Marmaya 370
318. Karya Marc Chagall, The Gree Violinist 372
319. Analisis the Gree Violinist 374
320. Unsur rupa sebagai tanda 379
321. Hubungan antar unsur 382
xiii
SINOPSIS
Pendidikan kejuruan seni pada dasarnya menyangkut empat
hal pokok yakni: ketrampilan teknik, kepekaan estetik,
kreativitas, dan apresiasi. Keempat hal ini saling berkaitan satu
sama lainnya, apabila lebih disederhanakan hanya menyangkut
dua hal yaitu ketrampilan teknik dan kepekaan estetik. Kenapa
keempat hal ini menjadi hal pokok dalam pendidikan kejuruan
seni? Apabila dicermati bidang seni intisarinya adalah estetik
atau keindahan, hal ini sebenarnya melekat dalam kehidupan
manusia. Orang tidak dapat membuat karya seni tetapi ia
memiliki sense of beauty, hal ini dapat dilihat ketika memilih
sesuatu ia memilih dengan pertimbangan bentuk dan warna yang
disukainya, ketika ada lagu yang sesuai dengan kesukaannya ia
merasa senang itulah perasaan keindahan yang dimiliki setiap
manusia.
Untuk membuat karya seni selain memiliki rasa keindahan,
orang harus memiliki kemampuan cara membuatnya, kemam-
puan cara melakukannya. Mau membuat gambar ia harus
memiliki kemampuan cara menggambar, ingin dapat menari
harus memiliki cara melakukan gerak tari, begitu puLa berlaku
jika ingin membuat jenis seni lainnya. Apabila berhenti pada cara
membuat dan melakukan maka seseorang hanya dapat meniru,
untuk lebih meningkatkan kemampuan maka seseorang yang
berkiprah dalam seni ia harus memiliki kemampuan mencipta
yang disebut dengan kemampuan kreatif. Kemampuan kreatif
dimiliki oleh manusia, dan kemampuan ini pula yang membe-
dakan status manusia dengan mahluk lainnya di bumi ini.
Kemampuan inilah yang meNyebabkan peradaban manusia dapat
berkembang hingga saat ini. Binatang mampu membuat sarang
tetapi tidak berkembang, mereka hanya dituntun oleh insting
secara alami dan bentuk sarangnya dari waktu ke waktu tetap
sama. Sedang manusia, bentuk tempat tinggal berkembang terus
karena kemampuan daya kreatifnya. Sesungguhnya kemampuan
kreatif manusia itu merupakan anugrah yang sangat luar biasa
jika dikembangkan dengan baik. Selanjutnya ketika manusia
telah dapat mencipta, ia harus dibekali pula oleh kemampuan
untuk memelihara dan menghargai ciptaannya, hal ini pula yang
menandakan manusia memiliki peradaban.
Jadi buku ini dikembangkan dengan landasan alami, yakni
menggali potensi manusia yang berhubungan dengan kemam-
puan estetik, dan kreativitas yang dimilikinya sejak lahir. Maka
materi yang diuraikan menyangkut tentang wawasan yang
berhubungan dengan seni rupa untuk memberikan perspektif
yang lebih luas sebagai dasar intelektualitas dalam bidang seni.
Selanjutnya buku ini berisi pula latihan-latihan untuk memben-
tuk ketrampilan seni rupa dengan menggunakan berbagai jenis
bahan, utamanya bahan seni rupa dua dimensi yang mudah
didapat, latihan meningkatkan kepekaan estetik dan kemampu-
an kreatif, serta kemampuan menghargai karya seni rupa dengan
menggunakan beberapa teknik analisisnya.
Demikianlah buku seni rupa ini disusun dengan harapan
dapat memberikan sedikit wawasan bahwa seni rupa memiliki
potensi yang perlu dikembangkan dalam kehidupan manusia.
xv
DESKRIPSI KONSEP PENULISAN
Penulisan buku ini dilandasi oleh pengalaman dalam mengajar
di SMA, DIII Guru Kesenian, DIII Politeknik Seni Yogyakarta
beberapa tahun dan memberikan diklat seni rupa kepada guru-
guru seni rupa dan kriya sejak kurun waktu tahun 1982 hingga
2007. Dari pengalaman belajar seni rupa kemudian menga-
jarkannya kepada siswa, mahasiswa dan guru; pengalaman dan
pengetahuan tersebut dikonstruksikan menjadi buku ini yang
terdiri dari delapan bab ini. Secara garis besar buku ini berisikan
teori dan praktek sebagai suatu yang tidak dapat dipisahkan. Bab
I sebagai pedahuluan menyangkut tentang manfaat seni rupa
dalam kehidupan manusia serta potensi Indonesia dalam bidang
seni budaya dan kekayaan alam melimpah yang dapat digunakan
menciptakan karya seni bagi kesejahteraan masyarakat.
Bab II berisikan tentang wawasan seni rupa yang melandasi
bab-bab selanjutnya. Sebab pengetahuan tentang seni secara
lebih luas diperlukan untuk menggerakkan potensi estetik dan
kreatif. Bab III menyangkut masalah pengetahuan bahan dan
alat, hal ini diperlukan sebelum mulai praktek karena berbagai
jenis alat dan bahan memiliki karakter masing-masing yang perlu
diketahui dan dikuasi cara menggunakannya. Bab IV merupakan
sesi untuk mengasah kepekaan estetik sebagai dasar dari
kegiatan seni. Kepekaan estetik merupakan core dalam kegiatan
seni, jadi perlu dipertajam sehingga dalam membuat karya seni
diikuti dengan pertimbangan estetik yang baik. Bab V berisikan
latihan teknik menggambar dan membentuk sebagai dua kegiatan
pokok yang melandasi penciptaan seni dua dan tiga dimensi. Bab
VI adalah pengasahan kemampuan kreatif yang sangat penting
dalam berkesenian agar tidak mandeg dalam menciptakan
bentuk-bentuk seni yang baru. Bab VII adalah pengasahan
kemampuan memelihara dan menghargai ciptaan seni sebagai
bagian dari kebudayaan manusia. Bab VIII sebagai bab penutup
merupakan refleksi kondisi pendidikan kejuruan yang perlu
mendapat perhatian dan dikembangkan guna kepentingan stra-
tegi budaya dan perekonomian rakyat berbasis kepada seni rupa
dan kriya yang memiliki potensi sangat besar.
Demikianlah konsep dasar penulisan buku ini semoga
memberikan manfaat bagi perkembangan pendidikan kejuruan
seni di tanah air.
A. Latar Belakang
Dapatkah dibayangkan apabila dunia ini tanpa seni ? Tanpa lukisan,
ukiran, musik, tari ? Seni telah hadir sejak awal kehidupan manusia.
Manusia kuno yang hidup di gua-gua telah meninggalkan bukti berupa
artifact seni rupa (lukisan) pada dinding gua. Mungkin zaman itu mereka
tidak menyadari, bahwa apa yang dibuatnya mengandung keindahan,
mungkin mereka lebih menyadari bahwa tanda pada dinding gua yang
dibuatnya tersebut adalah memiliki kegunaan yang berhubungan dengan
keyakinan mereka yang bersifat spiritual. Sehubungan dengan itu, seni
selama berabad-abad sangat dekat hubungannya dengan sistem
kepercayaan atau religi suatu kelompok masyarakat atau bangsa. Pada
perkembangan selanjutnya, seni tidak lagi hanya berkaitan dengan
religi bahkan berperan hampir di setiap kegiatan dalam kehidupan
manusia.
Perhatikan hasil-hasil teknologi berupa pesawat ruang angkasa,
pesawat terbang, mobil, kereta api, sepeda motor, televisi, radio, kompor
gas, kotak sabun semua dalam proses pembuatannya memerlukan
pertimbangan keindahan. Selanjutnya perhatikan upaya-upaya promosi
untuk barang komoditi dan ideologi politik juga peristiwa-peristiwa
kenegaraan tidak luput dari peran seni, baik seni rupa atau pun seni
Gambar 1. Lukisan purba pada dinding gua di Papua
(Sumber: Indonesian Heritage, 2002).
1
pertunjukan. Demikianlah seni tidak dapat lepas dari kehidupan manusia,
lwalaupun tidak sebagai kebutuhan pokok, namun seni melekat dan
digunakan setiap hari tanpa sepenuhnya disadari oleh manusia sebagai
penggunanya.
a b
Gambar 2. Alat perlengkapan kehidupan manusia etnis tradisional dengan tekonolgi
sederhana (Sumber:Richter, Aerts and Crefts of Indonesia, 1993)
a b
Gambar 3. Alat perlengapan manusia zaman modern, dengan teknologi canggih
(Sumber : Majalah Garuda, 2007).
Dengan dibutuhkannya seni dalam kehidupan sehari-hari, seharusnya
peluang untuk menekuni profesi dalam bidang kesenian cukup banyak.
Na-mun sayang, karena anggapan masyarakat bahwa bidang kesenian
memerlukan bakat atau talenta khusus, maka banyak orang takut untuk
menekuninya. Selain itu, ada persepsi bahwa bidang kesenian juga
2
dianggap tidak menjanjikan kehidupan masa depan yang sejahtera
karena dari kenyataan banyak seniman merana hidupnya di hari tua.
a b
d
c
Gambar 4. Produk bidang seni rupa berupa lukisan patung, keramik, ukiran logam
(Sumber: a Anne Richter, 1994; b,c,d Indonesian Heritage, 1998)
Sekolah seni khususnya seni rupa sebenarnya sangat mem-beri
harapan, karena dalam seni rupa banyak keterampilan yang dapat
dipelajari dan dibutuhkan di masyarakat, seperti menggambar, melukis,
mengukir, mematung, membuat sablon, membuat sketsa, membatik,
membuat reklame, membuat dekorasi dan sebagainya. Dari sekian
3
banyak keahlian pokok tersebut masih ada sub-sub ketrampilan yang
jumlahnya sangat banyak. Misalnya, menggambar memiliki sub
keterampilan membuat sketsa, menggambar manusia, pepohonan,
binatang, meng-gambar suasana dan sebagainya. Bidang-bidang
pekerjaan yang membutuhkan kemampuan seni rupa juga sangat
banyak, seperti ilustrator di media masa, visualizer atau drafter di biro
reklame, designer tekstil di pabrik tekstil, dekorator interior dan eksterior
banyak dibutuhkan pada pembuatan taman dan bangunan-bangunan
baru. Perupa seharusnya tidak bergantung untuk dipekerjakan karena
tamatan sekolah seni rupa telah dibekali dengan berbagai jenis
ketrampilan sehingga memungkinkan untuk bekerja mandiri.
B. Belajar Seni Rupa
Dalam belajar seni rupa, ada beberapa hal pokok yang harus dikuasai
dan dimiliki, yakni pertama, kepekaan estetik atau keindahan,
keterampilan teknik, dan imajinasi kreatif. Kepekaan estetik atau rasa
keindahan harus dimiliki oleh setiap orang yang memilih profesi bidang
kesenian karena inti dari seni adalah keindahan.
a
Gambar 5. (a) ’ Tangisan Dewi Batari’, patung karya G. Sidarta Soegijo (sumber:
Indonesian Heritage, 1998), (b) ’Tari Teruna Jaya’ lukisan karya Agus Jaya (Sumber:
Buku Koleksi Presiden Soekarno ).
4
Keindahan berada pada rasa. Apabila berhubungan dengan
penglihatan, maka ketajaman rasa keindahan berada pada kepekaan
visual yang perlu diasah secara terus menerus agar mencapai
ketajamannya. Begitu pula dengan keterampilan teknik menggunakan
alat dan bahan berhubungan erat dengan kepekaan estetik. Keduanya
tidak dapat dipisahkan seperti halnya pada gambar (6) antara rasa
keindahan dan keterampilan teknis lebur menjadi satu. Orang tidak akan
dapat menikmati keindahan ekspresinya jika tidak memiliki kepekaan
estetik yang memadai. Begitu pula senimanya tanpa menguasai
ketrampilan teknik dan kepekaan estetik tidak akan dapat menghasilkan
karya seni rupa yang baik.
Gambar 6. Nyoman Gunarsa, Kalarahu( Sumber:
Katalog Pameran Lukisan ’Moksa’ Nyoman Gunarsa, 2004)
Kedua, wawasan yang luas dan imajinasi kreatif yang tinggi sangat
membantu mengembangkan kemampuan dalam membuat karya seni
yang hebat. Namun, hal yang tidak kalah pentingnya adalah kemauan
dan motivasi yang kuat untuk bekerja keras, membina hubungan dengan
pihak-pihak yang membutuhkan seni guna mencapai cita-cita menjadi
perupa yang berhasil. Lihatlah seniman-seniman besar, mereka di
samping memiliki kemampuan teknik dan kepekaan estetik dan imajinasi
yang tinggi, mereka juga pekerja keras untuk dapat meraih cita-citanya.
Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, tidak ada keberhasilan tanpa
pengorbanan. Dengan menyadari hal ini, profesi bidang kesenian dapat
5
berhasil dengan baik, bila secara total mencurahkan segenap waktu,
upaya dan energi untuk mencapainya. Seni rupa sangat menjanjikan
untuk itu. Masalah umum yang ada di sekolah adalah upaya membimbing
siswa secara efektif dalam bidang seni yang masih perlu dimantapkan.
Secara umum keterampilan yang diperoleh oleh siswa lebih bertumpu
karena pencariannya dengan latihan sendiri.
Ada dua cara belajar seni rupa yang sederhana tetapi efektif agar
berhasil yaitu meniru dan melakukan eksperimen. Meniru merupakan
sifat alami manusia, dengan meniru manusia dapat hidup. Lihatlah bayi,
dia dapat berjalan, berbicara dan mengerjakan hal lainnya adalah dengan
meniru. Begitu pula dalam dunia seni rupa, pada tahap awal belajar salah
satunya adalah dengan meniru. Meniru cara kerja guru, seniman yang
telah lebih dahulu mengetahui cara kerja menggambar, melukis,
mematung. Kemudian meniru apa yang ada di lingkungan, seperti meniru
bentuk benda, pohon, binatang, manusia, bangunan, mesin, kendaraan
dan sebagainya. Dalam belajar dengan proses meniru sebenarnya yang
dilakukan adalah melatih ketajaman penglihatan dan melatih koordinasi
tangan untuk menguasai alat dan bahan yang digunakan. Penguasaan
kemampuan ini dapat terlihat ketika menggambar dengan meniru suatu
benda. Apabila hasil gambarnya ada ketidaksesuaian bentuk maupun
warna dengan benda aslinya, maka yang terjadi adalah kekurangan
kemampuan dalam melihat dan menirukan melalui teknik dengan alat dan
bahan yang digunakan. Di dalam tradisi belajar seni rupa di Eropa
misalnya, meniru merupakan suatu cara yang ditempuh oleh seniman-
seniman besar, seperti Rubens meniru karya Leonardo da Vinci. Tradisi
ini terus berlanjut hingga saat ini di sekolah-sekolah seni di Inggris.
Mahasiswa dengan seijin otoritas di suatu galeri atau museum sengaja
meniru salah satu karya materpiece dari pelukis ternama. Maksudnya
adalah melakukan studi keteknikan (tapak tilas) melukis dari sang
maestro yang nantinya dapat dikembangkan oleh sang siswa untuk
mendapatkan ciri khas dalam karyanya. Bagaikan sang Maestro
menuntun calon seniman baru melalui karyanya. Dalam dunia seni rupa
sering kali meniru disalahartikan. Padahal metode ini merupakan salah
satu langkah untuk membuka jendela kreatif yang sangat didambakan
dalam dunia seni, yaitu menjadi seniman yang kreatif.
Selanjutnya setelah memahami cara kerja seni rupa yang dipilih, agar
tidak terbenam ke dalam dunia tiru-meniru, seorang seniman harus
melangkah ke tahap berikutnya, yaitu menjadi seniman inovator dan
kreator. Menjadi inovator dan kreator, seorang seniman harus selalu
melakukan eksperimen. Langkah awal adalah melakukan perubahan cara
kerja, atau mengubah pola bentuk dan warna yang telah dikuasai dengan
menambah atau mengurangi, sehingga apa yang dibuat mengalami
perkembangan. Dengan melakukan eksperimen secara terus menerus
6
seorang seniman kreator sebenarnya sama dengan seorang ilmuwan
peneliti yang bekerja di laboratorium untuk mendapatkan hal-hal baru dari
apa yang ditekuninya. Laboratorium seniman adalah studio atau bengkel
kerja, untuk itu tempat kerja harus dilengkapi dengan sarana
pengembangan yang diperlukan. Selanjutnya, seniman juga tidak puas
dan berhenti hanya pada permainan teknik, estetik dan ekspresi, ia juga
dapat melangkah ke tahap selanjutnya yaitu seniman yang mampu
merumuskan fenomena kebenaran melalui perenungan, kontemplasi
yang diungkapan dalam karya-karya seninya.
C. Seni Rupa Indonesia Sebagai Sumber Penciptaan
Guna mendapatkan sumber penciptaan, Indonesia memiliki kekayaan
warisan seni dan budaya yang sangat kaya. Selama ini orientasi
berkesenian selalu mengacu kepada konsep dan citra kesenian berasal
dari negara barat. Hal ini bukanlah salah karena pada kenyataannya ilmu
tentang seni banyak berkembang di negara-negara tersebut. Namun, kini
dalam era teknologi informasi yang demikian maju kiranya pengetahuan
tentang seni di manapun ada, khususnya di Indonesia perlu digali
sumber-sumber penciptaan seni karena sangat banyak yang dapat
dikembangkan dan diungkapkan sesuai dengan kondisi zaman saat ini.
Selain informasi yang mudah didapat tentang berbagai jenis seni,
kemampuan berpikir sistematik dalam melakukan penelitian dan
pengembangan telah dimiliki Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya
a
b
Gambar 7. (a) Lukisan tradisional Bali, (b) Kain tenun dari NTT (sumber: a. Koleksi
Presiden Soekarno, b. Icon of Art Museum Nasional Jakarta).
7
ilmuwan dan seniman Indonesia memanfaatkan kemampuan tersebut
dalam bidang seni, khususnya seni rupa, guna mengembangkan seni
rupa yang bersumber dari budaya lokal.
Perhatikanlah wayang beber dari Jawa Tengah, wayang kulit dan
batik dari Yogyakarta, lukisan dan patung tradisional Bali, motif-motif dari
Papua, Tana Toraja, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara semua itu
dapat dijadikan sumber penciptaan dalam menciptakan seni rupa
Indonesia yang baru. Perhatikan pula bagaimana pola kerja para empu
zaman dahulu yang mampu menciptakan karya-karya agung dan abadi,
perhatikan pula landasan dasar mereka dalam mencipta. Dapatkah
semua itu dikemas kembali, disesuaikan dengan kondisi zaman saat ini?
Jika hal ini dapat dilakukan oleh generasi muda dalam bidang seni rupa,
niscaya seni dan budaya Indonesia akan tercipta dalam kurun waktu
yang tidak terlalu lama, dan perlu diingat bahwa suatu budaya baru lahir
karena evolusi memerlukan waktu panjang.
Gambar 8. (a) Topeng Kalimantan, (b) Topeng Jawa (sumber: a. Pusaka Indonesia, b.
Icon of Art, Museum Nasional Jakarta).
Potensi seni Indonesia bagaikan raksasa yang masih tertidur karena
terbuai dengan gebyar seni mancanegara yang saat ini sangat kuat
arusnya masuk melalui berbagai jenis media dan pariwisata. Hal ini tidak
dapat dielakkan, begitu pula perubahan tak dapat dibendung, oleh karena
itu dibutuhkan kearifan dan kreativitas para seniman dalam meresponnya
guna menghasilkan seni baru sesuai zaman namun memiliki karakter
asalnya. Bagaikan seorang nelayan yang tidak dapat mengubah arus
angin, ia tidak membuang perahunya tetapi harus mengubah posisi
8
layarnya untuk menyesuaikan dengan arah angin untuk memanfaatkan
energinya sehingga perahunya dapat melaju dengan kencang sampai ke
tujuan yang diharapkan. Apabila seni dan budaya Indonesia mandeg,
berhenti hanya sebatas bangga oleh kekayaan tanpa upaya untuk
menyesuaikan dengan arus perubahan, akan terlibas oleh arus
perubahan yang kuat sehingga dapat tenggelam dalam pusarannya. Jadi,
kemampuan kreatif, inovatif dan adaptif dalam hal ini sangat diperlukan,
untuk itu sudah saatnya sinergi antara bidang-bidang yang relevan
dilakukan dengan intensif. Misalnya profesi seniman tidak dapat hidup
sendiri menutup diri, ia harus memiliki banyak jaringan untuk
memperkenalkan konsep dan karya seninya, untuk itu dibutuhkan
kemampuan bidang lain seperti kurator dan kritikus untuk mengulasnya,
diperlukan kemampuan pemasaran untuk mempromosikannya.
b
a
Gambar 9. (a) Relief gaya Jawa Tengah (atas) dan Relief gaya Jawa Timur
(bawah), (b) Keris Bali.
D. Isi Buku
Buku ini merupakan gagasan dan cara alternatif lain dalam belajar-
mengajar seni terutama seni rupa, oleh karena itu buku ini diperuntukkan
kepada siswa atau calon siswa yang ingin menekuni seni rupa sebagai
pilihannya. Selain ditujukan kepada siswa, buku ini juga berguna bagi
guru-guru seni khususnya guru seni rupa kejuruan maupun non-kejuruan.
untuk digunakan sebagai bahan acuan pokok dalam melaksanakan
pembelajaran. Guru seni lainnya juga dapat menggunakan buku ini
9
sebagai acuan dan sumber gagasan dalam melaksanakan tugasnya
sebagai guru seni. Hal-hal yang dibutuhkan dalam belajar seni rupa
diuraikan mulai dari bab 2, yaitu tentang wawasan seni. Bagian ini
bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang seni dan seni rupa,
serta fungsi seni dalam kehidupan manusia. Selanjutnya mengenai
wawasan seni Indonesia sangat penting diketahui sebelum mengetahui
tentang seni dari mancanegara. Wawasan seni Indonesia sangat penting
untuk dimiliki oleh siswa, karena selain bersifat afektif, juga sebagai
landasan dalam menciptakan seni baru yang memiliki sumber akar
budaya dimana seni tersebut diciptakan. Selanjutnya wawasan tentang
seni mancanegara juga perlu diketahui dalam kaitannya dengan era
global dan meluaskan wawasan sehingga tidak ketinggalan dengan
perkembangan yang ada di luar negeri.
Setelah memahami tentang seni dilanjutkan tentang pemahaman
tentang bahan yang digunakan dalam seni rupa. Guna memahaminya
dilakukan dengan mempelajari teori tentang alat dan bahan dan
dilanjutkan dengan praktek. Bahan seni rupa yang dipelajari secara garis
besar dibedakan menjadi dua, yaitu bahan seni rupa dua dimensi dan
tiga dimensi. Secara teori dan praktek alat dan bahan dipahami melalui
Gambar 10. Patung karya I
Nyoman Cokot (sumber:
Indonesian Heritage)
10
jenis dan karakteristiknya. Pemahaman melalui praktek lebih ditekankan
kepada percobaan dan eksplorasi terhadap kemungkinan dan
keterbatasan setiap bahan. Hal ini penting dilakukan dalam upaya
menguasai segi keteknikannya.
Gambar 11. Antonio Blanco, Wanita Bali
(Sumber: Koleksi Presiden Soekarno ).
Selanjutnya pada bab 4 dibahas tentang kepekaan persepsi estetik
(keindahan) sebagai masalah pokok dalam dunia seni. Tanpa kepekaan
estetik seorang pekerja seni tidak akan mampu menciptakan karya seni
yang baik, karena inti dari karya seni dalam konteks ini adalah
memberikan pengalaman keindahan kepada penikmatnya. Maka pada
bagian ini kepekaan persepsi (visual) estetik diasah melalui paraktek
menyusun unsur-unsur visual yang memiliki kualitas estetik menjadi
suatu komposisi yang unik dan mengandung cita rasa keindahan.
11
Gambar 12. Sketsa
catatan untuk melukis
(sumber: Mc Daniel
Richard)
Gambar 13. Sketsa
dilanjutkan menjadi lukisan
dengan media cat
minyak(sumber:McDaniel
Richard )
12
Kepekaan rasa estetik tidak dapat dimiliki secara serta merta,
pengasahan kepekaan ini memerlukan waktu cukup panjang. Selain
dilakukan dengan praktek langsung, pengasahan juga dilakukan melalui
pengamatan langsung terhadap unsur-unsur yang mengandung nilai
keindahan, baik dalam karya manusia maupun yang ada di alam. Tugas-
tugas latihan dapat berupa responsi verbal maupun visual. Responsi
verbal adalah kegiatan mendeskripsikan apa yang diamati, dialami
secara visual, sedang responsi visual mencatat secara visual melalui
kegiatan sketsa, mengungkapkan dengan detail apa yang dilihat dan
diamati.
Pada bab 5, dilakukan latihan untuk mengasah ketajaman persepsi
estetik visual dengan kegiatan menggambar. Kegiatan sketsa bertujuan
untuk melatih keluwesan dan kecekatan koordinasi tangan dengan mata
dalam menangkap sebuah wujud benda. Kemampuan membuat sketsa
merupakan salah satu hal yang sangat mendasar dalam dunia seni rupa.
Sketsa dibedakan menjadi dua jenis, pertama sketsa murni bersifat
ekspresif bertujuan untuk mengasah dan latihan mengungkapkan ke-
pekaan estetik (gb. 11), kedua, sketsa sebagai catatan visual yang dapat
digunakan untuk kegiatan seni rupa lanjutannya, seperti melukis (gb. 12
dan 13), mematung, dan membuat desain.
Selain sketsa, dipelajari pula perspektif dan proyeksi. Perspektif
memiliki tujuan untuk memberikan kemampuan mengungkapkan ilusi
optik tiga dimensi pada bidang dua dimensi, sedang proyeksi memberi
kemampuan untuk menggambarkan sebuah benda dari berbagai sudut
pandang. Kemampuan proyeksi penting dimiliki ketika membuat sebuah
desain produk. Selanjutnya bagian akhir bab ini berisikan latihan meng-
gambar berbagai jenis benda hidup maupun benda mati yang tujuannya
adalah untuk menguasai bentuk dan karakter benda masing-masing.
Pada bagian ini siswa dilatih untuk belajar melihat dengan seksama
tentang benda-benda yang ada di lingkungan. Tujuannya adalah melatih
ketajaman persepsi penglihatan dan koordinasi dengan kecekatan atau
keterampilan tangan dalam menggaris dan membuat bentuk.
Pada bab 6 ditekankan pada pengembangan imajinasi kreatif.
Kemampuan ini sangat penting tidak hanya dalam bidang seni rupa te-
tapi juga dalam bidang-bidang lainnya. Kemampuan kreatiflah yang
sebenarnya mengubah dan mengembangkan kebudayaan manusia
sehingga berkembang sangat cepat pada saat ini. Dalam latihan melalui
seni rupa siswa dipacu kemampuannya untuk mengkongkritkan atau me-
wujudkan secara visual angan-angannya dengan berbagai cara berpikir
alternatif dan imajinatif guna mendapatkan solusi terbaik. Mengembang-
kan kemampuan inovatif adalah latihan mengubah apa yang telah ada
untuk menjadi baru, hal ini merupakan salah satu dari kemampuan
13
kreatif. Kemampuan kreatif melalui kegiatan seni rupa sangat mungkin
untuk dilatihkan dan dikembangkan. Sekali seseorang berkembang
kemampuan divergent thinking-nya akan bermanfaat selama hidupnya,
dan mereka menjadi orang yang kaya dengan gagasan. Hal ini sangat
dibutuhkan dalam pengembangan kebudayaan manusia. Jadi siswa yang
kreatif diharapkan menjadi kreator-kreator di masa depan. Dengan
demikian pengembangan kemampuan-kemampuan pokok dalam seni
rupa adalah meliputi pengembangan kemampuan teknis meng-gunakan
alat dan bahan, mengasah kepekaan estetik, serta kemampuan berpikir
alternatif atau kreatif. Pada bab 7 dilatihkan cara melakukan analisis dan
mendeskripsikan nilai hasil karya seni dan memberikan apresiasi
terhadap kualitas baik dan buruk karya seni. Latihan men-deskripsikan
pada hakekatnya menyeimbangkan kemampuan visual dan kemampuan
verba. Tercapainya keseimbangan antara kemampuan visualisasi dan
kemampuan verbalisasi diharapkan dikemudian hari siswa mampu
menjelaskan apa yang dibuat. Biasanya pekerja seni sulit men-jelaskan
apa yang mereka buat, maka selama pendidikan latihan verbalisasi
sangat dibutuhkan.
a
B
Gambar 14. Pengembangan kreatifitas bentuk melalui rangsang visual Gambar (a),
Gambar (b) hasil pengembangan rangsang visual menjadi bentuk yang dikenali.
(Sumber: Agung Suryahadi, 2005).
14
Pengembangan kemampuan verbalisasi dilakukan melalui latihan
analisis dengan pendekatan analitik, kognitif, dan semiotik. Dengan
pendekatan analitik siswa dilatih untuk dapat menelaah kualitas sebuah
karya seni, sedang melalui pendekatan kognitif siswa dilatih untuk
mengidentifikasi dan mengungkapkan secara detail apa yang mereka
perhatikan dalam sebuah karya seni rupa. Dengan pendekatan semiotik
siswa mencari hubungan tanda dengan tanda dan tanda dengan
penggunanya.
Sebagai penutup adalah bab 8. Dalam bagian ini direfleksikan tentang
manfaat belajar melalui seni untuk dijadikan dasar pegangan dalam
meniti profesi sebagai seorang perupa yang memiliki kepekaan estetik,
keterampilan teknik dan kreativitas serta memiliki sikap apresiatif
terhadap segala bentuk hasil ciptaan manusia dan alam lingkungan.
Sikap apresiatif terhadap hasil budaya dan lingkungan penting sekali
dimiliki oleh generasi muda, oleh karena hasil-hasil seni budaya bangsa
dan lingkungan harus dihayati nilainya bagi keberlangsungan kebuda-
yaan bangsa dan kehidupan manusia yang berkualitas dan berbudaya.
Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap menghargai, memiliki dan
mau memelihara untuk kelestariannya. Upaya ini sangat perlu dilakukan
dan ditanamkan secara terus menerus pada setiap pribadi siswa agar
menjadi suatu kebiasaan. Usaha pembiasaan diri merupakan salah satu
cara yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai ke dalam diri manusia.
Oleh sebab itu sebagai siswa yang menggeluti bidang seni biasakanlah
untuk menghayati nilai karya manusia, nilai lingkungan yang berguna
bagi kehidupan manusia beradab.
15
A. Pengertian Tentang Seni
Pernahkah Anda merasa senang ketika melihat pemandangan alam,
atau melihat sebuah lukisan? Kita juga sering merasa senang ketika
makan enak, ketemu teman lama, namun perasaan senang tersebut
tidaklah sama kualitasnya. Perasaan senang bertemu teman lama dan
melihat pemandangan penyebabnya berbeda, bertemu teman lama
mungkin disebabkan oleh karena rindu lama tak bersua, teman itu baik
dan dekat dengan kita. Senang melihat lukisan pemandangan
disebabkan dalam lukisan tersebut ada kualitas unsur-unsur visualnya
yang memberikan pengalaman pada perasaan kita akan adanya
hubungan yang harmonis. Hal ini sama dengan karya seni, tetapi karya
seni dibuat oleh manusia dan pemandangan alam diciptakan oleh
Tuhan.
Untuk itu, jika kata seni merupakan terjemahan dari kata art dalam
bahasa Inggris, maka menurut Herbert Read seni berarti suatu bentuk
yang menyenangkan. Hal yang menyenangkan tersebut dapat memberi
kepuasan kepada perasaan, dan perasaan tersebut dapat disenangkan
apabila kita dapat menemukan hubungan kesatuan dan harmoni dalam
hubungan formal yang terjadi pada persepsi kita. Selanjutnya rasa
keindahan pada karya seni berada pada tahap kedua dalam prosesnya.
Ada tiga tahap dalam kegiatan berkarya seni, tahap pertama adalah
menguasai kualitas atau karakteristik materi atau unsur seni rupa yang
digunakan berupa garis, bentuk, warna dan tekstur; tahap kedua adalah
pemberian ekspresi terhadap kualitas unsur dan susunannya.
Rasa estetik tersebut berada pada tahap satu dan dua dari proses
kegiatan berkarya seni. Berlandaskan batasan tersebut dapat diketahui
ada empat hal yang dapat dikupas dalam mengamati dan menganalisis
nilai estetik seni rupa yaitu keterampilan teknik, kualitas material,
susunan materi, dan kualitas ekspresi atau fungsi untuk seni terpakai.
Kualitas ekspresi yang ada pada karya seni memberikan kualitas
karakter berbeda antara karya seni satu dengan lainnya. Selain itu faktor
individu senimannya juga berperan besar dalam memberikan corak pada
karya yang dibuatnya sehingga membuat penampilan karya satu dengan
seniman lainnya memiliki perbedaan. Selanjutnya tentang estetik Dick
Hartoko mengatakan, bahwa kata estetik berasal dari bahasa Yunani
aesthesis yang berarti pencerapan, persepsi, pengalaman, perasaan, dan
pandangan. Menurutnya kata ini pertama kali digunakan oleh seorang
a
b
Gambar 15.(a) Pemandangan asli di pelabuhan Jayapura,(Foto:Agung Suryahadi,2007,
(b) hasil rekaman pelukis tentang keindahan alam (Sumber: Koleksi Presiden Soekarno
II).
17
filsuf Jerman bernama Baumgarten guna menunjukkan kepada cabang
filsafat yang berhubungan dengan seni dan keindahan. Dikatakan, ke-
indahan ada dua jenis yaitu keindahan objektif dan keindahan subjektif.
Subjektif karena keindahan berada pada pikiran manusianya dan objektif
karena keindahan berada pada objek di luar diri manusia, dapat berupa
suasana atau benda. Perbedaannya terletak pada keindahan yang
terdapat di alam dan keindahan buatan manusia terdapat dalam karya
seni.
.
b
a
Gambar 16. (a) Patung Bali
peniup seruling, (b) Ukiran pada
tameng dari Papua, (c) Kendi
Keramik dari Cina (sumber: a.
foto Agung Suryahadi, b dan c.
Indonesian Heritage).
c
Menurut Harry Broudy, karya seni rupa mengandung beberapa
properti, yaitu sensory properties, formal properties, technical properties,
dan expressive properties Hal ini hampir sama dengan apa yang
dikemukan oleh Read, guna mengetahui kandungan estetik suatu karya
18
seni dapat dianalisis berdasarkan aspek properti tersebut. Berbeda
dengan Marian L. Davis formal property disebutnya sebagai prinsiples of
organization atau prinsip pengorganisasian unsur yang dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu prinsip yang bersifat mengarahkan, memusatkan, dan
menyatukan perhatian. Prinsip mengarahkan terdiri dari beberapa
prinsip, yaitu pengulangan, selang-seling, rangkaian, irama, transisi,
gradasi, dan radiasi. Prinsip memusatkan terdiri dari tiga jenis, yaitu
penekanan, konsentrasi, dan kontras.
Prinsip menyatukan terdiri dari prinsip proporsi, keseimbangan,
harmoni, dan kesatuan. Tujuan dari seluruh prinsip pengorganisasian
adalah untuk mendapatkan susunan atau komposisi yang ‘harmonis’ dan
memiliki ‘kesatuan’ antara unsur-unsur yang disusun dan dengan ide
penciptaan. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bab 4.
Marvin Rader dan Betram Jessup menyebutnya sebagai organic unity
yang memiliki tiga aspek yaitu adequacy, economy, dan internal
coherence Adequacy menunjukan bila penikmat karya seni merasa puas
dalam menyaksikan sebuah karya seni, karena karya itu lengkap tidak
ada yang kurang, economy jika sebuah karya seni tidak berlebihan dan
tidak bertaburan dengan unsur-unsur yang kurang penting. Perhatikan
gambar (16 a), dalam karya seni patung tersebut bentuk manusia dibuat
dengan penyederhanaan namun dapat mengungkapkan expresi irama
suara tentang orang yang sedang bermain seruling. Dalam hal itu unsur
visual (garis, bentuk, warna dan tekstur) yang digunakan diolah untuk
mengikuti ungkapan rasa sebagaimana halnya patung Siwa yang sedang
bertempur dan mengalahkan lawannya banyak menggunakan ungkapan
garis diagonal sehingga geraknya terlihat dinamis (gb.17). Internal
cohenrence menunjukkan bahwa dalam karya itu ada hubungan yang
erat antara bagian-bagiannya: antara warna dengan warna, warna
dengan bentuk, bentuk dengan bentuk, bentuk dengan warna dan
dengan tema. Selanjutnya mengenai ekspresi agak mirip dengan apa
yang diungkapkan oleh Read, bahwa ekspresi dalam seni mengandung
pengertian ganda, pertama sebagai perilaku pengungkapan pikiran dan
perasaan, kedua sebagai isi atau nilai yang diungkapkan mencerminkan
’roh’ karya seni ang dibuat.
Berdasarkan latar belakang penciptaannya, seni dibedakan menjadi
dua jenis yaitu seni murni dan seni terpakai. Disebut seni murni karena
ketika proses awal penciptaannya seni tersebut bukan dimasudkan untuk
digunakan keperluan tertentu seperti untuk ilustrasi, propaganda, wadah,
dan sebagainya (gb. 18 a ). Sebaliknya seni pakai, pada proses awal
penciptaanya sudah dimaksudkan untuk diaplikasikan atau digunakan
keperluan tertentu (gb. 18 b dan c). Seni murni lebih dominan meng-
ungkapkan kualitas estetik dan karakter obyek penciptaan serta seniman
19
sebagai subyek penciptanya. Namun, uniknya setelah seni murni itu
selesai diciptakan dapat digunakan untuk keperluan lainnya seperti untuk
ilustrasi, penghias ruang atau halaman. Jadi perbedaannya terletak
terutama dalam awal prosesnya, dalam sikap batin seniman pembuatnya.
Ringkasnya, seni murni niat pembuatannya adalah untuk ekspresi dan
Gambar 17. Patung Dewa Siwa.
(Sumber: Indonesian Heritage).
a c
b
Gambar 18. Produk Seni murni dan seni terpakai pada keramik
20
Perhatikan gambar 18 a, dari sisi fungsi berbeda dengan
gambar 18 b dan c, apa sebabnya? Diskusikan dengan teman-
temanmu !
menunjukan pribadi senimannya, dan seni pakai untuk tujuan kegunaan
tertentu. Pada gambar (16a) patung Peniup Seruling bukan digunakan
untuk fungsi tertentu dan pada gambar (18 a) keramik kelihatan sebagai
wadah namun secara fungsional sulit digunakan, sedang gambar (18b
dan c) dilihat dari struktur bentuknya memang tujuannya untuk fungsi
wadah benda cair.
B. Pengertian Seni Rupa
Seni rupa dengan jenis seni lain intinya adalah sama yaitu sama-sama
buatan manusia yang mengandung ekspresi dan atau keindahan.
Namun, seni rupa utamanya dinikmati oleh indra penglihatan. Hal yang
dinikmati dalam seni rupa adalah sepert apa yang telah diuraikan
sebelumnya, yakni kualitas unsur-unsur rupa yang disusun dan memiliki
kualitas harmoni, kesatuan dan ekspresi. Jadi seni rupa adalah seni yang
nampak oleh indra penglihatan dan wujudnya terdiri dari unsur rupa
berupa titik, garis, bidang atau ruang, bentuk atau wujud, warna, gelap
terang, dan tekstur. Seni rupa dapat sebagai properti pendukung jenis
seni lainnya seperti seni tari dan teater. Apabila membahas kedua jenis
seni tersebut juga tidak lepas membahas aspek seni rupanya.
Berdasarkan wujud dan bahannya seni rupa dibedakan menjadi dua yaitu
seni rupa dua dimensional dan seni rupa tiga dimensional. Selanjutnya
berdasarkan jenisnya seni rupa terdiri dari beberapa cabang seni yakni
seni lukis, seni grafis, seni patung, seni dekorasi, seni komunikasi visual,
dan seni kriya atau seni kerajinan. Pada saat ini seni kriya berkembang
menjadi seni kriya murni dan seni kriya terpakai. Dalam buku ini tidak
dibahas masing-masing cabang seni tersebut karena cakupannya sangat
luas.
Buku ini membahas dan melatihkan inti dari kegiatan seni rupa,
dengan asumsi apabila intinya telah dikuasai semua cabang seni rupa
dapat dilakukan. Namun perlu menambah kemampuan keteknikan
masing-masing cabang seni rupa yang ditekuni. Inti kemampuan dalam
seni rupa adalah menguasai keteknikan seni rupa dua dan tiga dimen-
sional, kepekaan estetik, kreativitas, dan wawasan seni budaya. Itulah
kemampuan pokok yang harus dimiliki oleh seorang pekerja seni rupa,
keempat kemampuan tersebut berhubungan satu dengan lainnya tidak
dapat salah satu diabaikan.
21
C. Seni Rupa Dalam Kehidupan Manusia
Kehadiran seni rupa dalam kehidupan manusia telah terjadi sejak
zaman purba ketika ma-nusia masih hidup di gua-gua (gb. 1) hingga saat
ini. Hal itu membuktikan bahwa seni rupa melekat dalam kehidupan
manusia. Seni rupa hadir hampir di setiap sektor kehidupan manusia,
seperti dalam kegiatan agama, politik, ekonomi, teknologi, dan ke-
manapun kita pergi seni rupa selalu ada. Dalam kehidupan rumah
tangga misalnya, peralatan dapur, pakaian, kamar mandi, halaman
rumah, topeng, jam tangan, semuanya tersentuh oleh seni (gb. 19).
a b c
d f
e
Gambar 19. Macam-macam seni rupa: (a) seni lukis, (b) seni tenun, (c) seni
perhiasan logam, (d) seni dekorasi interior, (e) seni dekorasi eksterior, (f) seni
anyam ( Sumber: (a) Gombrich, (b) anne Richter, (c) Majalah Garuda, (d)
Majalah Poleng, (e) Majalah ASRI, (f) Indonesian Heritage).
22
Dalam acara televisi maupun di jalanan banyak kita jumpai seni
reklame. Pada benda yang kita lihat itu semua memiliki sentuhan
keindahan. Seni rupa dalam kehidupan sehari-hari, menurut Malvin
Rader merupakan salah satu bagian yang penting dalam kehidupan
manusia. Misalnya, aktivitas makan sebagai salah satu kebutuhan dasar
manusia dikelilingi oleh berbagai keindahan seni. Perhatikan sendok,
garpu, piring, dan gelas minum yang digunakan, pada alat-alat tersebut
terdapat unsur-unsur seni yang menyertainya. Pada proses
pembuatannya salah satunya menggunakan pertimbangan keindahan
selain kenyamanan dan keamanan bagi penggunanya.
Dalam kegiatan sehari-hari, orang pada zaman sekarang
menggunakan pakaian dan aksesoris di tubuhnya yang selalu
menggunakan pertimbangan keindahan, agar yang menggunakannya
merasa percaya diri dan bangga terhadap apa yang dikenakannya.
Perhatikan arloji, sepatu, baju, celana, gaun, bros, cincin, tidak satupun
benda tersebut dalam wujud fisiknya tidak menggunakan sentuhan
keindahan. Sama halnya dengan aktivitas tidur memerlukan berbagai
produk seni seperti selimut, sarung bantal, sprei, bed cover, tempat tidur,
lampu, dan lain sebagainya. Begitu pula ruang tamu, pemilik rumah pasti
menginginkan tampilannya seindah mungkin dengan diberi lukisan pada
dindingnya, vas bunga di meja, maksudnya adalah agar dapat
menyenangkan perasaan orang yang melihatnya. Dengan demikian, seni
rupa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari dan
merupakan bagian yang integral dengan kebutuhan biologis manusia.
Semakin modern peradaban manusia, semakin banyak produk seni rupa
yang diinginkannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga
masa depan seni tidak akan pudar selama manusia masih memiliki rasa
keindahan untuk dipuaskan, selama manusia menginginkan untuk
mendengar dan melihat sesuatu yang menyenagkan dan menenangkan
pikiran dan perasaannya.
1. Seni rupa dalam kehidupan beragama
Hubungan seni dan agama memiliki sejarah yang paling tua, mulai
dari kepercayaan manusia yang paling sederhana yaitu magi,
berkembang menjadi animisme, hingga menjadi agama seni terus
mengiringinya. Di dalam theory magi and religi diuraikan bahwa
timbulnya seni karena adanya dorongan-dorongan gaib. Salmon Reinoch
mengatakan, bahwa kehadiran seni digunakan untuk mendapatkan
tenaga-tenaga gaib bagi kepentingan berburu. Lukisan pada zaman
prasejarah yang ada di gua-gua mengilustrasikan, bahwa sebelum
berburu binatang orang pada zaman itu melakukan upacara menusuk-
nusukkan tombaknya pada lukisan binatang di dinding gua itu.
Maksudnya untuk mendapatkan tenaga gaib agar ia berhasil menangkap
23
binatang buruannya. Dalam perkembangan berikutnya, yaitu sistem
kepercayaan yang disebut animisme, bahwa benda-benda memiliki roh,
seni berkembang pula menjadi lukisan dan patung tentang roh-roh
manusia, hewan, dan roh alam. Selanjutnya ketika evolusi kepercayaan
manusia tentang spiritualitas berkembang menjadi agama wujud seni
semakin dibutuhkan sebagai representasi kepercayaan atau keagamaan
manusia dalam bentuk patung-patung atau lukisan-lukisan dua
dimensional. Pada masa Mesir Kuno misalnya, merupakan gambaran
pemujaan terhadap para dewa. Begitu pula dalam peradaban India dan
China kuno, perwujudan seni sangat erat kaitannya dengan pemujaan
terhadap para dewa.
Gambar 20. Yantra Bindu (sumber:
Goegle.com : Indian Culture)
Di India meditasi merupakan kegiatan spiritual dalam mengontrol
pikiran untuk dipusatkan kepada manifestasi kekuasaan Tuhan. Sarana
untuk pemusatan pikiran disebut dengan yantra (gb. 20) dapat berupa
gambar abstrak geometris dapat pula dalam bentuk yang realistik berupa
patung dewa. Namun dalam peradaban modern pun seringkali seni
berkaitan erat dengan keagamaan. Perhatikanlah kegiatan setiap agama,
tentu ada unsur seni yang digunakan agar kegiatan keagamaan yang
dilakukan terasa tidak ‘gersang’.
Hubungan seni dan agama tidak hanya terdapat dalam seni rupa,
tetapi hampir dalam seluruh cabang seni selalu berkaitan dengan agama.
Dalam menyuratkan ayat-ayat suci Al-Quran melahirkan seni kaligrafi,
karena dalam ajaran Islam tidak diperbolehkan menggambarkan mahluk
hidup, maka perkembangannya dalam seni rupa Islam adalah dalam
bentuk ragam hias atau ornamen untuk menghias mesjid.
24
Gambar 21. Sesaji dalam ritual
agama Hindu (Foto: A.Agung
Suryahadi, 2006).
Gambar 22. Patung
Budha dalam sikap
Dyana Mudra (sumber:
Indonesian Heritage).
Dalam agama Hindu Dharma seni dan agama seakan tidak dapat
dipisahkan karena saling memberi. Seni mendapat inspirasi tematik dari
agama, sedang agama menggunakan seni untuk meng-artikulasikan
paham atau ajaran-ajarannya sehingga mudah dipahami oleh masyakat
luas dan menyenangkan. Selain itu kegiatan seni merupakan perwu-
25
judan bhakti pemeluk Hindu kepada Tuhan sebagai pencipta alam
semesta. Misalnya, seni sesaji (gb. 21 ) selain berfung sebagai yantra
juga sebagai perwujudan bhakti umat Hindu untuk mempersembahkan
kembali apa yang telah dianugrahkan oleh Tuhan kepada umat manusia
sehingga sesaji mengandung segala jenis hasil bumi yang disusun
secara indah. Maka seni dalam hal ini juga mengandung etika. Dengan
demikian setiap kegiatan ritual dalam.
agama Hindu tidak dapat lepas dari kegiatan berkesenian, hampir seluruh
seni terlibat dalam ritual yang berskala besar. Hal ini menyebabkan
artefak seni dalam Agama Hindu sangat banyak. Di dalam Agama Budha,
Konghucu dan Nasrani penggunaan seni dalam kegiatan keagamaan
juga sangat banyak.
Di Candi Borobudur misalnya, ada ribuan relief dan patung yang
menggambarkan kehidupan Sidharta Gautama dan Budha sedang
melakukan meditasi (gb. 22). Dari segi anatomi plastis, patung tersebut
mengalami penyederhanaan, yang tujuannya mungkin untuk lebih
menggambarkan suasana yang kontemplatif waktu meditasi dibanding-
kan keceriaan duniawi.
Gambar 23. Nabi Adam ketika diturunkan ke bumi, Michel Angelo.
(sumber: Gombrich)
26
Gambar 24. Wayang kulit Jawa: Hanuman dan Dewi Shinta
(Sumber: Ann Richter )
Dalam gereja banyak dijumpai lukisan relief dan patung yang
menggambarkan kehidupan para nabi termasuk kehidupan Yesus
Kristus. Hal ini nampak sekali dalam geraja-gereja zaman Renaissance di
Eropa. Misalnya pada langit-langit Gereja St. Chapel digambarkan oleh
Michel Angelo ketika Nabi Adam (gb. 23) diperintahkan Tuhan turun ke
bumi karena tidak mau mengikutikan larangan-Nya. Dalam gambar
tersebut nampak ekspresi memelas nabi Adam dan ketegangan
pertemuan antara telunjuk Nabi Adam dengan telunjuk petugas Ilahi
yang menurunkannya ke bumi. Tema keagamaan sangat kuat
mengilhami penciptaan karya-karya seni yang abadi, tak terkecuali di
Indonesia seperti halnya wayang yang sarat dengan falsafah kehidupan,
sekarang dijadikan sebagai peninggalan warisan kebudayaan manusia
yang bernilai tinggi. Kisah Ramayana (gb. 24) diungkapkan dalam bentuk
wayang menggambarkan kesetiaan seorang wanita bernama Dewi Shinta
kepada suaminya Ramawijaya.
Dalam epos Mahabarata dimensinya sangat luas karena dapat
dipandang dari berbagai sudut padang falsafah kehidupan. Misalnya, sifat
taat kepada perintah guru dalam lakon Dewa Ruci (gb. 25), yaitu ketika
Bima diminta mencari air amerta oleh gurunya yang mustahil untuk
diperoleh, tetapi Bima dengan tekad yang sangat kuat ia harus men-
dapatkannya. Bima sangat percaya kepada gurunya walaupun memper-
27
taruhkan jiwa dan raganya. Akhirnya ia berhasil mendapatkan apa yang
dinginkannya. Lakon ini juga memiliki dimensi tentang simbolisasi
pencarian jati diri seseorang dalam mendaki kehidupan spiritual yang
penuh dengan rintangan dan berbahaya. Perhatikan perjalanan Bima ke
Gambar 25. Bima berhasil mengalahkan raksasa penghalangnya dalam
mendapatkan air kehidupan (Sumber: Ann richter ).
hutan, ke gunung dan terakhir ke laut. Semua perjalanan tersebut meng-
gambarkan pencarian melalui perbuatan tulus dan menyelam ke dalam
lautan pikiran yang penuh dengan gejolak. Namun karena keteguhan hati
dan dalam bimbingan hati nurani yang tulus dan suci, semuanya dapat
diatasi dan sang diri bertemu dengan diri sejati yang dilambangkan
dengan Dewa Ruci yang kecil dengan bentuk fisik sama dengan Bima
berada dalam hati sanubarinya, namun Bima yang besar dapat masuk ke
dalam tubuhnya dan di sana Bima dapat menyaksikan kejadian di alam
semesta.
2. Seni rupa dalam aktivitas ekonomi
Seni dapat menjadi sebuah produk yang penting dalam kegiatan
ekonomi. Beberapa negara di Asia telah menempatkan produk seni
sebagai penghasil devisa negara yang dapat diperhitungkan. Negara
28
Cina misalnya membangun pusat kegiatan dan pemasaran produk seni
secara besar-besaran.
Di dalam sejarahnya, perubahan sosial dalam suatu negara biasanya
dimotori golongan kelas menengah ke atas. Begitu pula dalam
perkembangan seni, menyebabkan lahirnya bentuk seni yang cocok
dengan selera mereka. Sebagai komunitas yang mapan dari sisi
ekonomi, mereka dapat mengendalikan kecenderungan bentuk seni
sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Gambar 26. Iklan
sampo di Koran
(sumber: Kompas
Minggu, 6 Sept. 2007)
Gambar 27. Iklan kopi di
majalah (Sumber: Majalah
Garuda).
29
Aktivitas seni rupa dan ekonomi pada saat ini semakin semarak,
karena memiliki hubungan sangat dekat dengan pencitraan suatu
produk. Misalnya, seni reklame memegang peran yang sangat penting
untuk promosi dan pemasarannya. Tanpa sentuhan seni, kegiatan
promosi tidak akan menarik, sehingga perusahan-pe-rusahaan tidak
ragu mengeluarkan dana yang besar guna mem-promosikan hasil
produksinya melalui seni rupa dalam bentuk iklan di majalah, surat
khabar (gb. 26, 27), TV dan bahkan melalui Internet yang harga
tayangnya jauh lebih murah dan lebih efisien dibanding dengan media
lainnya. Pada saat ini orang dapat melakukan transaksi dari rumah dan
tidak harus datang langsung ke tempat penjualan barang di toko atau
super market. Dengan melihat tayangan di internet yang meyediakan
segala jenis barang kebutuhan terutama barang non-makanan orang
dapat memesannya dan dalam beberapa waktu dapat diterima di rumah.
Pembayarannya pun tidak dalam bentuk tunai karena dilakukan melalui
internet. Perkembangan teknologi ini diprediksi akan mengubah budaya
dan peradaban manusia secara radikal karena kegiatan dapat dilakukan
secara maya melalui teknologi informasi tersebut.
3. Seni rupa dalam kehidupan politik
Politik merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia,
sehingga mempengaruhi terhadap sektor kehidupan lainnya. Seni rupa
dalam kehidupan politik di Indonesi, pernah pada tahun 1950-1960an
dimanfaatkan oleh partai-partai untuk menggalang masa. Mereka
mendirikan organisasi-organisasi kesenian. Misalnya Partai Komunis
Indonesia menggunakan para seniman untuk tujuan-tujuan politik
mereka, dengan mendirikan organisasi politik seperti Lekra yang muncul
sebagai bagian dari kepentingan kekuasaan dari partai komunis saat itu.
Sehingga pada waktu pemberontakan G30S/PKI banyak seniman seni
rupa ditangkap dan dipenjarakan.
Pada saat ini, partai politik tidak mendirikan organisasi-organsasi
kesenian seperti tahun 1950an, tetapi masih melibatkan seniman guna
mencapai tujuan politiknya. Misalnya dalam seni komunikasi grafis,
sebagai cabang seni rupa, banyak terlibat dalam pembuatan poster,
spanduk, kaos dan atribut partai lainnya. Dalam hal ini seni rupa dalam
politik bukan sebagai bagian ideologi partai tetapi mendukung promosi
program partai yang disampaikan kepada masyarakat secara visual.
Senimannya pun tidak terlibat secara intens dalam kegiatan partai.
Selain seni rupa dimanfaatkan oleh partai, seni rupa juga banyak
digunakan oleh rezim pemerintah yang berkuasa. Pada zaman Orde
Lama hingga Orde Baru seni rupa khususnya seni patung, banyak
digunakan untuk memperingati kejadian bersejarah. Patriotisme para
30
pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari
cengkraman penjajahan Belanda dan Jepang, tokoh negarawan, serta
nilai-nilai kemanusiaan diwujudkan sehingga pada kedua zaman itu
banyak didirikan patung monumen terutama di ibukota negara dan
hampir di seluruh ibukota provinsi dan kabupaten.
4. Seni rupa dalam pendidikan
Dalam konsepsi pendidikan, secara teoretik gambaran tentang
manusia Indonesia telah tertuang secara jelas dalam rumusan tujuan
Pendidikan Nasional Indonesia, yakni membentuk manusia seutuhnya
lahir dan batin. Dalam dunia pendidikan ada empat aliran yang
berhubungan dengan pengembangan pendidikan khususnya pendidikan
seni.
Pertama, faham progressivisme yakni suatu paham dalam pendidikan
yang menekankan pada kebebasan, keaktifan dan kreativitas;
essensialisme memandang bahwa budaya hanya me-rupakan salah
satu dimensi dalam kehidupan manusia. Se-lanjutnya, perenialisme
menekankan bahwa akal budi manusia mempunyai kedudukan yang
amat penting, sehingga aktivitas pendidikan perlu mengupayakan
perkembangannya seoptimal mungkin. Dalam aliran ini guru dipandang
memiliki kedudukan sentral. Terakhir, re-konstruksionisme memandang
manusia sebagai mahluk sosial. Manusia tumbuh dan ber kembang
dalam kaitannya dengan proses sosial dan sejarah perkembangan
masyarakat. Dalam kaitan ini pendidikan memiliki peran penting untuk
mengadakan pembaharuan dan pembangunan masyarakat. Dengan
demikian, pendidikan seni memiliki keterkaitan dengan paham tersebut
terutama dengan paham progresif yang me-mentingkan kebebasan,
keaktifan dan kreativitas, sebab karakteristik kegiatan seni tidak dapat
lepas dari sifat tersebut (gb. 28, 29). Melalui pendidikan seni diharapkan
dapat melahirkan generasi yang kreatif, memiliki kecerdasan dan
kehalusan budi dalam mengantisipasi perubahan yang terjadi di
masyarakat sebagai yang diharapkan oleh paham perenial dan
rekonstruksi.
Alam ini dipenuhi dengan berbagai jenis mahluk hidup, salah satunya
adalah manusia. Dalam menjalani kehidupannya manusia berbeda
dengan mahluk hidup lainnya. Manusia hidup dengan kemampuan cipta,
rasa, dan karsanya, sedang mahluk lainnya hidup dengan menggunakan
nalurinya. Dengan kemampuan yang dimilikinya itu manusia mampu
menciptakan apa yang menjadi kebutuhannya. Seni lahir karena
kebutuhan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui berbagai
jenis media yang berhubungan dengan pancaindera – media yang dapat
31
dilihat, didengar, diraba, dibau, dan dikecap yang kemudian bermuara
pada rasa dalam hati atau kalbu. Kelima indera yang dimiliki manusia itu
Gambar 28. Kegiatan seni rupa di sekolah Taman
Kanak-kanak (Foto: Agung Suryahadi, 2005).
ingin dipuaskan. Untuk keperluan itu manusia mengubah dan menyusun
kualitas material dari yang berkualitas ’apa adanya’ menjadi memiliki
kualitas berbagai jenis rasa. Kemudian nilai rasa tersebut (terutama yang
berhubungan dengan pendengaran dan penglihatan) oleh para ahli
estetika disebut sebagai rasa keindahan - the sense of pleasurable
ralation is the sense of beauty (Read, 1972 : 18), sehingga lahirlah seni
rupa, seni musik, seni tari, seni teater, seni sastra. Hal-hal yang membuat
manusia mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam wujud
karya seni disebabkan sejak lahir manusia telah dibekali dengan
kemampuan untuk itu. Jadi pada dasarnya semua indera manusia ingin
dipuaskan, penglihatan melalui mata, pendengaran melalui telinga,
penciuman melalui hidung, pengecap melalui lidah, peraba melalui
tangan. Hanya pemuasan melalui mata, dan pendengaran baru disebut
seni, sedang pemuasan melalui indera lainnya seperti hidung, lidah, dan
telapak tangan belum dapat dikatakan sebagai seni.
32
Coba bayangkan bagaimana jika kehidupan manusia tanpa
diiringi oleh seni ?
Gambar 29. Bermain layang-layang, karya Dian Pertiwi,
2006.(Koleksi P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta.
Para ahli neurophsychologist menemukan bahwa otak manusia terdiri
dari dua hemisphere yaitu belahan otak kiri dan otak kanan yang masing-
masing memiliki fungsi berbeda dan memiliki potensi sama untuk
berkembang (gb. 30). Hemisphere kiri memiliki fungsi mengontrol
rational, analytical thinking, language skills, mathematical functions, and
sequentially order-ed think-ing’, sedang otak kanan mengontrol intuittive
functions, spatial orientation, spatial construction, crafts, skills, art, music,
creative expression, and the recognition of images (Roukes, 1984:32).
Selanjutnya Howard Gardner yang terkenal dengan ‘multiple intelligence-
nya’ merumuskan bahwa manusia memilki potensi tujuh jenis kecerdasan
yaitu : language, music, logic and mathematics, visual-spatial con-
ceptualization, bodily-kinesthetic, knowledge of other person, dan know-
ledge of ourselves ( Gardner, 1983 :105). Dengan demikian sangat pasti
secara alamiah manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan
potensi seni yang dimilikinya. Namun sayang dalam kenyataan hanya
beberapa aspek yang mendapat prioritas untuk berkembang. Apabila
33
dicermati, seni memiliki dua aspek yang berguna bagi manusia yakni
aspek produk dan aspek prosesnya. Pertama, produk atau karya seni
bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia, karena dengan
menghayati karya seni seseorang dapat memahami kemungkinan cara
baru dalam berfikir, merasakan dan membayangkan, sehingga karya seni
memiliki banyak informasi tentang kehidupan.
Hemisphere Hemisphere
Kanan Kiri
Gambar 30. Fungsi otak kanan
dan otak kiri
Manfaat seni yang kedua, yakni proses berkarya seni. Hal ini dalam
pendidikan di sekolah umum (TK, SD, SMP, dan SMA) merupakan hal
yang sangat penting. Di dalam proses kegiatan berkesenian terjadi
beberapa aktivitas fisik dan psikologis yang dapat merangsang dan
mengembangkan kapasitas potensi-potensi pada diri manusia, baik per-
tumbuhan fisik maupun mentalnya. Lowenfeld mengiden-tifikasikan ada
beberapa hal yang dapat berkembang pada diri manusia melalui proses
berkesenian antara lain pertumbuhan emosi, intelektual, fisik, persepsi,
sosial, estetik, dan kreatifitas. Oleh sebab itu peran seni dalam
pendidikan adalah untuk mencapai tujuan pendidikan agar manusia lebih
utuh kepribadiannya berkembang karakter, potensi atau kapasitas yang
dimiliki oleh manusia.
D. Seni Rupa Indonesia
Claire Holt kesulitan untuk secara tegas membagi tahap
perkembangan seni budaya Indonesia, karena setiap daerah
perkembangannya tidak sama. Ada daerah yang masih berada dalam
tahap zaman prasejarah, ada daerah yang telah memasuki zaman
modern. Namun, ia berusaha membuat periodesasinya sebagai berikut.
34
1. Zaman Prasejarah
Zaman prasejarah rentang waktunya sangat panjang sampai manusia
mengenal tulisan yang kemudian disebut zaman sejarah. Zaman
prasejarah Indonesia berakhir pada abad keempat dengan
diketemukannya tulisan berupa prasasti pada batu. Zaman prasejarah
Indonesia diklasi-fikasikan menjadi beberapa zaman sebagai berikut.
Gambar 31. Peninggalan zaman batu
tua (sumber: Soekmono, 1973)
a. Zaman Paleolithikum (Zaman Batu Tua), rentang waktunya tidak
jelas, wujud dan ciri peninggalannya adalah berupa alat-alat batu yang
dipecah secara kasar dan diduga digunakan sebagai alat pemotong,
penumbuk, dan kapak (gb.31). Periode ini merupakan yang terpanjang
dalam sejarah kemanusiaan, pada zaman ini manusia hidup tidak
menetap atau nomaden yaitu berpindah-pindah sebagai pemburu dan
pengumpul makanan, tinggal dalam gua, menggunakan alat batu untuk
keperluannya sehari-hari seperti alat pemotong, alat pemecah. Mereka
sudah menggunakan api dan memiliki sistem kepercayaan dengan
berpusat kepada magic dan supranatural.
b. Zaman Mesolithikum (Zaman Batu Pertengahan), rentang waktunya
juga tidak jelas diperkirakan 10, 000 tahun yang lalu. Wujud dan ciri
peninggalannya berupa benda-benda terbuat dari tulang, kerang, dan
tanduk, serta lukisan pada dinding batu dan gua, banyak terdapat di
Indonesia Timur (gb. 1, dan 32). Manusia zaman ini sudah mulai
bercocok tanam dan memlihara ternak. Mereka hidup berkelompok,
menggunakan panah untuk berburu dan membuat manik-manik serta
gerabah. Selain itu mereka juga membuat lukisan pada dinding gua-gua
35
berupa bentuk tangan, kaki, serta binatang seperti kadal (gb. 32), kura-
kura, burung, dan benda-benda langit berupa matahari, bulan, serta
perahu. Menurut para ahli hal ini memiliki hubungan dengan kepercayaan
mereka, misalnya bentuk tangan merupakan tanda berduka jika keluarga
mereka ada yang meninggal dunia. Kemudian bentuk kadal sebagai
simbol nenek moyang dan di sekitarnya ada bentuk-bentuk ikan yang
menandakan bahwa kehidupan mereka tergantung dari menangkap ikan.
Gambar 32. Lukisan pada dinding gua
(sumber: Indonesian Heritage)
Bentuk kadal juga digunakan berlanjut hingga zaman sejarah, misalnya di
lingkungan masyarakat Batak di Sumatera Utara, bentuk kadal
dipahatkan pada daun pintu dengan empat buah bentuk mirip payudara
perempuan. Bentuk ini menyimbolkan nenek moyang yang terdiri dari laki
dan perempuan. Bentuk laki-laki diwakili oleh kadal disebut boraspati,
bentuk perempuan direpresentasikan oleh bentuk payudara disebut
bagok. Melihat dari nama boraspati diasumsikan sebagai pengaruh
penamaan setelah Agama Hindu menyebar di Nusantara.
c. Zaman Neolithikum ( Zaman Batu Baru), diperkirakan rentang
waktunya mulai dari 2500 S.M – 1000 S.M. Periodesasinya berbeda
secara geografis, misalnya Asia Tenggara berbeda dengan Asia Barat
Daya. Peninggalan zaman ini di Indonesia diperkirakan banyak
dipengaruhi oleh imigran dari Asia Tenggara berupa pengetahuan
tentang kelautan, pertanian, dan peternakan berupa kerbau, babi, dan
anjing. Alat-alat berupa gerabah, alat pembuat pakaian kulit kayu, tenun,
teknik pembentukan kayu dan batu dalam bentuk mata panah, lumpang,
beliung (gb.33), hiasan kerang, gigi binatang, dan manik-manik. Seiring
dengan berkembangnya ke-terampilan dan kemampuan bercocok tanam
yang dibantu oleh kerbau untuk membajak tanah, kerbau juga dijadikan
sebagai binatang simbolik tentang kekuatan dan kekuasaan. Hal ini
36
nampak hingga saat ini menjadi bagian kehidupa adat-istiadat dalam
masyarakat Sumatera Barat, Kalimantan, dan Sulawesi.
Gambar 33.
Alat batu
peninggalan
zaman Batu
Baru
d. Zaman Megalithikum (Zaman Batu Besar), pada zaman ini
peninggalan yang menonjol adalah bentuk-bentuk menhir atau tugu
peringatan, tempat duduk dari batu, altar, bangunan berundag, peti kubur
atau sarkopagus, bentuk-bentuk manusia, binatang yang dipahat pada
batu-batu dengan ukuran besar (gb.34). Peninggalan ini banyak terdapat
di Sulawesi Tengah.
Gambar 34. Patung Zaman Megalitikum
Bangunan berundak memiliki hubungan kepercayaan kepada leluhur
dan kepada yang suci, bahwa bagian yang lebih tinggi adalah tempat suci
yaitu gunung. Oleh sebab itu bangunan suci, tempat pemujaan leluhur
banyak dibangun pada tempat yang tinggi. Penerapan konsep ini sampai
37
saat ini digunakan oleh masyarakat Hindu Dharma di Bali dalam
membuat tempat tinggal terutama tempat suci pura.
e. Zaman Perunggu (Zaman Logam), waktunya diperkirakan kurang
lebih 300 S.M. Peninggalan-peninggalan yang nyata dari zaman ini
adalah berupa peralatan yang dibuat dari perunggu. Gambar-gambar
tentang burung terdapat pada genderang, burung enggang memiliki
hubungan dengan kepercayaan hidup setelah kematian dan kebangkitan.
Sehubungan dengan itu burung merupakan simbol dari dunia atas,
kepercayaan ini terdapat di Kalimantan dan Sumatera Utara.
Selain bentuk burung peninggalan zaman perunggu yang menonjol
adalah benda yang disebut Nekara diduga sebagai alat upacara (gb. 35,
36) sehingga sampai sekarang disucikan oleh masyarakat di tempat
Gambar 35. Nakara (sumber:
Museum Nasional Jakarta.
Gambar 36. Bagian atas Nakara
(sumber: Museum Nasional
Jakarta)
nekara itu berada. Nekara yang terbesar saat ini berada di Pura
Penataran Sasih Pejeng Bali Berdasarkan dongeng tradisi lisan
masyarakat Bali menganggap nekara itu bagian dari bulan yang jatuh di
Bali. Hiasan pada badan nekara banyak berupa bentuk geometris,
adapula hiasan muka manusia, burung, gajah, bahkan kodok. Teknik
pembuatannya diperkirakan oleh para ahli meng-gunakan teknik cetak
38
cor yang disebut a cire perdue, dan menyebar dari benua Asia atau
Indonesia bagian barat ke arah timur Indonesia sampai di pulau Alor.
2. Zaman Sejarah
Zaman sejarah Indonesia ditandai oleh penemuan tulisan pada
prasasti batu. Sebelum diketemukan prasasti tersebut sejarah Indonesia
seakan gelap karena tidak adanya petunjuk yang authentik tentang
keberadaan budaya yang sebenarnya telah berkembang jauh sebelum
ada prasasti. Ada sementara orang mengatakan bahwa di Indonesia
sebenarnya telah dikenal budaya tulis-menulis dengan huruf sebelum
adanya huruf yang diperkenalkan dari luar Indonesia, namun sayangnya
bukti yang sah mengenai hal itu belum diketemukan sampai saat ini,
huruf-huruf etnis yang ada seperti di Sumatera Utara, di Lampung, dan di
Sulawesi Selatan belum diteliti keberadaannya. Sistem kepercayaan
memang telah ada jauh sebelum agama-agama dari luar masuk ke
Indonesia, namun hal itu tidak diakui sebagai agama karena tidak
memenuhi kriteria dibanding agama yang ada saat ini. Pembagian zaman
sejarah di Indonesia diklasifikasikan menjadi empat, sebagai berikut.
a b
Gambar 37. Prasati batu tulis dari Kutai, (b) Parasati Adityawarman,
Batu Sangkar (sumber: Soekmono)
a. Zaman Penyebaran Agama-Agama India
Zaman sejarah Indonesia mulai dikenal dengan munculnya kerajaan-
kerajaan yang bernafaskan Hindu. Hal ini ditandai dengan
diketemukannya prasasti-prasasti pada batu yang menggunakan huruf
Palawa di dekat Sungai Cisedana Bogor Jawa Barat, di Kutai Kalimantan
39
Timur dan Sumatera Barat (gb.37). Penemuan bukti sejarah itu
diperkirakan keber-adaannya pada abad ke 4-5 Masehi. Agama yang
berasal dari India adalah Agama Hindu dan Agama Budha.
Peninggalannya selain prasasti juga berupa bangunan suci keagamaan
berupa candi tersebar terutama di pulau Sumatera, Jawa, dan Bali.
Peninggalan candi yang terkenal adalah Candi Prambanan (gb. 38)
merupakan peninggalan kerajaan Mataram Hindu dan Candi
Borobudur dari Agama Budha (gb 39). Keduanya berlokasi di Jawa
Tengah, namun saat ini Candi Prambanan berada di perbatasan Jawa
Tengah dan Yogyakarta. Pada kedua candi tersebut terdapat ribuan
panel relief dengan tema religius.
Gambar 38. Candi Prambanan
Pada Candi Borobudur dipahatkan relief tentang kehidupan Sidharta
Gautama (gb. 40, 41), sedang relief di Candi Prambanan
menggambarkan cerita Ramayana yang terkenal di dunia. Selain kedua
candi besar tersebut masih ada candi dengan ukuran lebih kecil yakni
Candi Dieng peninggalan Hindu di dataran tinggi Dieng dan Candi
Mendut serta Pawon peninggalan Budha berada di dekat Candi
Borobudur. Kerajaan Hindu terbesar Majapahit di Jawa Timur yang
pernah menguasai Nusantara. peninggalan candinya tidak sebesar candi
zaman Hindu di Jawa Tengah, namun banyak meninggalkan candi-candi
kecil bertebaran terutama di Jawa Timur dan Bali, serta beberapa karya
40
sastra yang lestari dan fungsional sampai saat ini khususnya di daerah
Bali.
Seni patung yang terdapat di Candi Borobudur baik yang diletakkan di
relung-relung candi dan di dalam stupa adalah patung Budha dengan
sikap sedang bermeditasi dan dengan berbagai sikap mudranya. Di
Candi Prambanan patung-patungnya menggambarkan dewa-dewa
Agama Hindu seperti Dewa Brahma, Wisnu, Siwa, Durga, Agastya,
Ganesha dan patung kendaraan Dewa Tri Murti berupa patung Lembu
Nandi, Angsa, dan Garuda. Bentuk candi patung dan relief pada ke-
Gambar 39. Candi Borobudur.
dua candi tersebut masih sangat kuat dipengaruhi oleh seni rupa dan
arsitektur India. Bentuk reliefnya realis dekoratif. Menurut analisis
Permadi Tabrani keistimewaan pada candi Borobudur adalah dalam
menggambarkan beberapa adegan yang waktunya berbeda sekaligus
dalam satu panel. Banyak posisi figur-figurnya menggunakan pedoman
struktur bentuk gerak tribangga sehingga terlihat tidak kaku. Ragam hias
yang penting terdapat pada badan candi antara lain Kalamakara yang
biasanya terdapat pada bagian atas pintu masuk candi (gb.42). Bentuk
ini merupakan simbolisasi dari waktu (kala), bahwa apapun yang ada di
dunia ini tidak luput untuk memasuki lorong waktu, semua ditelan oleh
sang waktu. Kembang padma atau teratai (gb. 43 a) sering dijumpai pada
peninggalan Hindu dan Budha. Kedua agama ini memandang bunga
teratai sebagai bunga suci karena sebagai tempat duduknya para
dewata. Selain itu dalam tradisi yoga pusat-pusat energi dalam tubuh
manusia disebut cakra juga digambarkan dalam bentuk bunga teratai.
Hiasan berbentuk swastika digunakan pula oleh kedua agama tersebut.
Dalam agama Hindu swastika merupakan lambang perputaran alam
41
semesta yang tidak pernah berhenti oleh karenanya sekaligus juga
sebagai lambang keselamatan dan kehidupan. Arah perputarannya dari
kiri ke kanan, namun swastika Budha perputarannya terbalik. Ragam hias
binatang juga banyak dijumpai pada relief-relief candi, salah satu yang
Gambar 40. Relief penari di depan Pangeran Sidharta Gautama
Gamar 41. Relief ketika Budha melakukan
meditasi dengan mudra Bumi Sparsa.
menarik adalah mahluk kahyangan yang disebut kinara-kinari yaitu
mahluk berbadan burung dan berkepala manusia berpasangan laki-laki
dan perempuan mengapit pohon kalpa taru (gb. 43 c) sebagai lambang
pohon surga yang memberikan segala keinginan manusia. Selain diapit
oleh kinara-kinari dalam beberapa hiasan pohon kalpa taru di apit oleh
burung merak dan diantara dua hiasan kalpa taru terdapat patung singa
dalam relung kecil. Pada Candi Prambanan, reliefnya menggambarkan
tentang epos Ramayana.
Dalam peninggalan situs Agama Hindu sering diketemukan wujud
simbol yang disebut Lingga Yoni (gb. 43 b) merupakan artefak penting
dalam Agama Hindu karena digunakan sebagai media menghubungkan
diri manusia dengan Siwa sebagai Tuhan. Lingga dan Yoni merupakan
simbolisasi dari rwa binedha yaitu dua hal berbeda dari kemahakuasaan
Tuhan sehingga menyebabkan adanya alam semesta beserta isinya.
Dua hal tersebut yaitu laki-laki dan perempuan, siang dan malam, halus
kasar, tinggi rendah, dan sebagainya; hanya saja dalam visualisasinya
42
penekanannya lebih kepada laki-laki dan perempuan sehingga
simbolisasi yang realistik (alat kelamin laki-laki sebagai lingga dan alat
kelamin perempuan sebagai yoni) menyebabkan muncul persepsi
negatif di masyarakat. Padahal kalau ditelusuri lebih jauh hal tersebut be
Gambar 42. a. Kepala Kala dari
zaman Hindu Jawa Tengah awal,
b.Kepala Kala dari zaman Jawa
Tengah peralihan ke zaman Hindu
Madya, c. Kepala Kala dari zaman
Hindu Jawa Timur (sumber:
Museum Nasional Jakarta dan
Indonesiaan Heritage.
berhubungan dengan penghormatan kepada nenek moyang, orang tua
(bapak/lingga dan Ibu/yoni) yang telah melahirkan dan membesarkan,
selain itu lingga dan yoni juga bermakna kesuburan, oleh karena
pertemuan kedua kekuatan berbeda tersebut dapat melahirkan sesuatu.
Hal yang menarik pada Candi Borobudur adalah struktur ba-
ngunannya. Menurut Stutterheim, bangun candi Borobudur merupakan
kombinasi piramid dari timur tengah dengan stupa India. Struktur
bangunan terbagi menjadi tiga tingkat, berturut dari bawah yaitu
kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Ketiga tingkatan itu merupakan
refleksi dari tingkatan kehidupan spiritual manusia secara alami menurut
pandangan Budha. Tingkatan kama adalah tahap kehidupan manusia
yang masih diliputi oleh berbagai jenis hawa nafsu duniawi, kemudian
43
meningkat ke tingkat rupa masih terikat dengan wujud dan simbol, dan
tingkatan arupa tahapan kehidupan sudah bebas dari keduniawian.
Pada masa Hindu dan Budha seni rupa yang menggunakan bahan
keras (batu dan logam) seperti patung, senjata, alat upacara, sangat
banyak peninggalannya, sedangkan seni rupa yang menggunakan bahan
lunak seperti lukisan dan ukiran kayu tidak banyak dapat diketahui
jejaknya karena mudah hancur dimakan zaman selain faktor vandalisme
oleh manusia.
b
a
c
Gambar 43. a. Motif Teratai, b. Linga-Yoni, c. Kinara-Kinari.
44
b. Zaman Penyebaran Agama Islam
Perkembangan agama Islam di Indonesia diperkirakan mulai tahun 1250
hingga sekarang. Hal ini diawali dari daerah pesisir Sumatera dan Jawa,
dimana daerah pesisir merupakan kota pelabuhan dan perdagangan.
Penyebaran Islam dilakukan oleh para pedagang dari Parsi dan Gujarat.
Menurut Holt pada awal abad ke – 16 kerajaan Islam di pantai Utara
Jawa Tengah merebut kekuasaan Majapahit. Pada akhir abad – 16
muncul kerajaan Islam Mataram sebagai suatu kesultanan, kemudian
setelah Belanda menduduki Indonesia kerajaan tersebut di-pecah
menjadi kerajaan kecil yaitu Surakarta dan Yogyakarta.
Gambar 44. Menara Mesjid
Kudus (sumber: Soekmono,
1973)
45
Gambar 45. Ukiran
dalam medalion dari
masjid Mantingan
Jepara (sumber: Soek-
mono 1973)
Peninggalan kesenian zaman Islam yang terkenal adalah mesjid Kudus
dan menaranya (gb.44) yang masih mengadopsi bentuk bangunan
bergaya Hindu dengan atapnya bertumpang dan gapura Mesjid Sendang
Duwur (gb. 46). Selain itu hal yang menonjol dalam seni Islam adalah
stilisasi bentuk tumbuh-tumbuhan, wayang, dan seni kaligrafi (gb.45).
Stilasi tersebut dilakukan karena dalam ajaran Islam tidak diperkenankan
meng gambarkan mahluk hidup terutama binatang. Sebagai kon-
sekwensinya bentuk-bentuk mahluk hidup (manusia, binatang) sering
digayakan dan dibentuk dengan huruf-huruf Arab.
Gambar 46. Gapura
mesjid Sendangdu-
wur Tuban (
sumber:Soekmono,1973)
.
46
c. Zaman Pengaruh Kebudayaan Eropa
Masuknya pengaruh kebudayaan Eropa dimulai juga melalui aktivitas
perdagangan dengan bangsa Portugis pada pertengahan abad 16.
Komoditas utama yang diperdagangkan adalah rempah-rempah,
selanjutnya disusul oleh kedatangan bangsa Belanda, Spanyol, dan
Inggris. Persaingan ketat dari ketiga bangsa tersebut dalam perdagangan
di Indonesia akhirnya dimenangkan oleh Belanda dengan mendirikan
VOC. Dari awalnya berdagang berlanjut menjadi pendudukan dan
menguasai pemerintahan berkepanjangan hingga tiga setengah abad
dan berakhir tahun 1945. Peninggalan Belanda yang paling penting
diwarisi Indonesia saat ini adalah Agama Katholik dan Kristen, sistem
pendidikan, serta beberapa infrastruktur berupa jalan dan bangunan fisik.
Pengaruh seni rupa Barat diduga telah mulai masuk ke Indonesia pada
abad ke-16 dibawa oleh para pedagang V.O.C yang digunakan untuk
hadiah kepada para pembesar kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti
lukisan besar yang diberikan kepada seorang raja di Bali, Sultan
Palembang, dan raja Surakarta.
Pengaruh seni lukis Barat secara nyata pada awal sekali dipelajari
oleh seorang putra bangsawan dari Jawa yaitu Raden Saleh Syarif
Bustaman pada abad ke-19. Raden Saleh belajar seni lukis Barat
langsung dengan tinggal di Eropa selama 20 tahun. Menurut pendapat
para ahli lukisan Raden Saleh mendapat pengaruh kuat dari Delacroix
(seorang pelukis terkenal pada zaman Renaissance) dengan gaya
romantiknya. Dengan keterampilannya yang baik Raden Saleh pulang ke
Indonesia dan banyak melukiskan tentang suasana Indonesia zaman
penjajahan Belanda seperti gunung Merapi yang sedang meletus (gb.47),
perkelahian antara singa dan banteng yang ditafsirkan sebagai perta-
Gambar 47. Raden
Saleh, Gunung Merapi,
(Sumber: Indonesian
Heritage).
47
rungan kaum pejuang nasionalis dengan penjajah. Selain itu lukisan
Raden Saleh yang terkenal di Indonesia adalah saat penangkapan
Pangeran Diponegoro dan Perburuan Harimau (gb.48). Raden Saleh
tidak menurunkan kemahirannya melukis ala Barat kepada masyarakat
Indonesia pada waktu itu, namun ketika Abdulah Surio Subroto dari Jawa
Gambar 48. Raden Saleh, Perburuan Harimau (Sumber: Indonesian Heritage)
Gambar 49. Abdulah SR., Pemandangan di Jawa .(sumber: Koleksi
Presiden Soekarno).
48
Barat kembali ke Indonesia setelah belajar melukis di Akademi Seni Rupa
Belanda, ia menularkan kemampuannya kepada anaknya sendiri sebagai
muridnya yang menjadi pelukis terkenal yaitu Basuki Abdulah dan anak
didiknya yang lain ialah Mas Pirngadi. Selain itu pelukis pribumi lainnya
yang belajar dengan orang Belanda ialah Wakidi, yang tinggal di
Sumatera Barat dan memiliki banyak murid. Abdulah Surio Subroto,
Basuki Abdulah, Wakidi dan pelukis sejenis lainnya mereka semua
sangat mahir melukis dengan gaya realis dan naturalis melukiskan
kondisi yang indah-indah dan menyenangkan ( gb. 49, 50, 51). Hal yang
demikian ini sangat ditentang oleh pelukis nasionalis yang menyebutnya
sebagai seni lukis “Indonesia Molek” (Mooi Indie).
Menurut pandangan mereka lukisan tersebut tidaklah
menggambarkan kondisi sesungguhnya tentang Indonesia. Pada tahun
1937, gerakan yang menentang seni lukis “Indonesia Molek” mendirikan
Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) dipimpin oleh Agus
Djayasuminta dan Sudjoyono dengan jumlah anggota sebanyak 20
orang. Upaya kelompok ini adalah untuk mencari terobosan teknik
melukis yang dirasa membosankan dan tidak mencerminkan suasana
Gambar 50. Wakidi, Balai Desa Minagkabau
(sumber: Koleksi Presiden Soekarno).
batin Indonesia yang sebenarnya. Kelompok ini mengembangkan sendiri
tema kerakyatan dan teknik melukisnya sebagaimana nampak dalam
lukisan Sudjojono ‘Tetangga’ (gb. 52) dan lukisan Hendra Gunawan
49
‘Mencari Kutu Kepala’ ( gb.53). Sudjojono terkenal dengan motto me-
lukisnya sebagai ‘jiwa ketok’, bahwa melukis tidak hanya sekedar
mengungkapkan fenomena keindahan di luar diri manusia tetapi juga
merupakan pencerminan dinamika jiwa pelukisnya. Dengan demikian
tersirat, bahwa seorang seniman seni lukis harus terus mencari apa yang
menjadi keinginannya dalam mengungkapkan gerak perasaan hatinya
sehingga dapat mencerminkannya dalam lukisan-lukisan yang dibuatnya.
Hal inilah yang dapat membedakan pelukis satu dengan lainnya baik
dalam preferensi pemilihan tema, warna dan bentuk. Dari sisi tema
misalnya, Sudjojono berbeda dengan Abdulah Surio Subroto, begitu pula
dalam warna dan bentuk serta goresan dan sapuan kuasnya. Perbedaan
antar individu meluas menjadi perbedaan faham antar kelompok yaitu
antar “Mooi Indie” dengan kelompok Persagi. Perbedaan paham
membuat dunia seni lukisa zaman itu menjadi dinamis sehingga
melahirkan banyak seniman seni lukis. Dinamika tersebut tidak terjadi
dalam bidang seni rupa lainnya. Hal ini menyebabkan seni lukis menjadi
bidang seni satu-satunya yang paling banyak dibahas dan memiliki
dimensi keilmuan seni yang paling maju di samping seni musik yang
sifatnya lebih eksak.
Gambar 51. Ernest Dezentje, Pemandangan Sudut Jakarta
(sumber: Koleksi Presiden Soekarno
d. Zaman Kemerdekaan
Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945,
namun baru berdaulat penuh pada tahun 1950. Guna mengembangkan
50
seni budaya, pemerintah mendirikan sekolah dan perguruan tinggi seni.
Pada tahun 1947 di Bandung lahir Sekolah Seni Rupa Bandung sebagai
bagian dari Institut Teknologi Bandung, selanjutnya pada tahun 1950
berdiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Selain sekolah formal
berdiri pula sangar-sanggar seni sejak sebelum kemerdekaan sebagai
tempat kegiatan seniman seni rupa berkarya dan berdiskusi, di antaranya
adalah Pusat Tenaga Pelukis Rakyat, didirikan oleh Djayengasmoro
Seniman Indonesia Muda didirikan oleh Sudjojono, Pelukis Rakyat oleh
Affandi. Selain itu ada seniman yang menguasai seni lukis sekaligus seni
patung yaitu Trubus dalam gaya realis (gb 54).
Sebenarnya sejak sebelum kemerdekaan para pemimpin bangsa telah
berupaya untuk mencari format kebudayaan Nasional, misalnya dengan
lahirnya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, dideklarasikannya
sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Pencarian kebudayaan Nasional
masih terus bergulir hingga sekarang dengan segala pasang surutnya
dan pernah terjadi perdebatan di antara para ahli, di satu kutub ingin
mencari budaya yang berasal dari akar budaya daerah, di pihak lain ingin
mencari budaya yang universal. Apabila dicermati, kawasan budaya
Indonesia merupakan pertemuan dari berbagai jenis budaya, puncak-
Gambar 52. Sudjojno,
Tetangga (sumber:
Koleksi Presiden
Soekarno)
51
puncak budaya yang ada merupakan hasil pembauran berbagai budaya
dengan budaya setempat, mulai dari masuknya budaya India, Cina,
Timur Tengah, dan Eropa. Saat ini datangnya berbagai jenis budaya dari
berbagai bangsa dan negara semakin bertambah hebat melalui kegiatan
perdagangan, pariwisata, dan yang paling kuat datangnya melalui media
komunikasi audio-visual dengan berbagai nilai positif dan negatif masuk
menjadi bagian kehidupan seharí-hari masyarakat Indonesia. Selain itu
banyak pula anak bangsa yang belajar ke luar negeri dan sepulangnya
sudah pasti membawa pengaruh terutama pada pengetahuan,
keterampilan dan sikapnya.
Dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan, sekolah dan
perguruan tinggi seni telah banyak menghasilkan budayawan dan
seniman akademisi. Sebagai bangsa yang memiliki akar budaya yang
kuat, sudah seharusnya bangsa Indonesia terutama para cendekiawan
dalam bidang seni dan budaya dapat merespon kondisi zaman yang
terus berubah dengan cepat dengan merumuskan setrategi budaya yang
baik.
Gambar 53. Hendra
Gunawan, Mencari
Kutu Kepala ( sumber:
Koleksi Presiden
Soekarno ).
52
Gambar 54. Trubus, Gadis
dan Kodok (sumber: Koleksi
Presiden Soekarno)
e. Seni Rupa Etnis Indonesia
Seperti yang telah diketahui bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni
budaya yang sangat kaya, dari sekian banyak itu ada beberapa yang
termasuk seni rupa yang menonjol untuk diperhatikan dan dibahas
secara lebih khusus, di antaranya adalah batik, wayang, dan keris.
Ketiga jenis seni rupa ini sangat populer hingga ke manca negara.
1) Seni Batik
Seni batik di Indonesia usianya telah sangat tua, namun belum
diketahui secara pasti kapan mulai berkembang di Indonesia, khususnya
di Jawa. Banyak negara seperti India, Cina, Thailand, dan terakhir
Malaysia, mengakui bahwa batik berasal dari sana. Namun demikian,
dalam kenyataannya perkembangan batik yang menjadi sangat populer
dan mendunia berasal dari Indonesia-Jawa. Hal ini dibuktikan dengan
diadopsinya istilah batik ke dalam bahasa Inggris. Jejak penggunaan kain
batik diketemukan pada patung dan relief di candi-candi. Dalam per-
kembangan penggunaannya sejak masa kerajaan di Jawa, penggunaan
batik menunjukan status kebangsawanan dan ritual yang sedang
diselenggarakan. Misalnya untuk motif-motif tertentu seperti parang-
barong, parang-rusak hanya boleh dikenakan oleh raja, kemudian ketika
ada ritual perkawinan, sang pengantin dianjurkan menggunakan motif
truntum, atau sidomukti yang memiliki makna harapan positif bagi sang
pengantin. Namun, saat ini aturan tradisi tersebut sudah kurang ditaati
oleh kebanyakan masyarakat.
53
a b
Gambar 55. (a) Motif Parang, (b) Motif Kawung (sumber: Amri Yahya).
Motif batik jumlahnya tak terhitung banyaknya, motif-motif batik
memiliki ciri khas yaitu hasil dari stilasi dan abstraksi, disusun se
cara acak dan mengikuti prinsip pengulangan, selang-seling dengan arah
diagonal, vertikal, ataupun horizontal. Dilihat dari gaya dan corak motif
batik dapat dibedakan menjadi dua, yakni motif batik pedalaman dan pe-
a b
Gambar 56 . (a) Motif Awan / Mega Mendung, (b) Motif Tumbuh-tumbuhan (sumber: Amri Yahya)
sisir. Batik pedalaman diwakili oleh Surakarta dan Yogyakarta cenderung
warnanya berat dan gelap terdiri dari hitam, biru, putih, dan coklat (gb.55
a,b]. Bentuk motifnya merupakan abstraksi dan stilasi alam lingkungan
seperti motif parang, garuda, hujan, kawung dan sebagainya. Sedangkan
batik pesisir warnanya cerah, ringan dan bebas (gb. 56 a,b). Bentuk
motifnya banyak berupa stilasi dari alam seperti gunung, awan, burung,
tumbuh-tumbuhan, naga, kaligrafi Arab. Hal ini diduga banyak mendapat
54
pengaruh dari seni rupa Cina karena kontak perdagangan terutama di
daerah Pekalongan.
Teknik membatik pada prinsip dasarnya adalah tutup dan celup untuk
mendapatkan motif yang diinginkan. Alat dan bahan utama yang
digunakan adalah berupa canting, wajan, dan kompor, sebelum ada
kompor pembatik menggunakat anglo (tungku kecil dibuat dari gerabah).
Bahan penutupnya disebut malam terdiri dari campuran gondorukem,
damar mata kucing, microwax, lemak binatang, minyak kelapa, dan lilin
bekas. Bahan pewarnanya terdiri dari pewarna alami dan sintetis.
Pewarna alami berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti daun pohon jati ,
daun teh, akar menggkudu, untuk warna coklat; daun indigo untuk
warna biru. Pewarna sintetis ada beberapa jenis yang populer yang dijual
di toko yaitu Naphtol, Indigosol dan rhemasol. Bahan kain yang biasa
digunakan adalah kain dari bahan katun dan sutera. Kain dengan bahan
dasar sintetis kurang cocok menggunakan bahan pewarna tersebut.
a b
c d
Gambar 57. (a) Bambang Oetoro, Kreasi Baru, (b) Amri Yahya, Kaligrafi, (c) Kuwat dan
Simuharjo, Kreasi Baru, (d) Kuswadji,K, Lampor.
55
Untuk mencairkan malam dilakukan dengan memanaskannya. Malam
dimasukkan ke dalam wajan kecil yang diletakkan di atas tungku kecil
tanah liat yang disebut anglo, bahan bakarnya digunakan arang kayu.
Teknik membatik dengan menggunakan canting dilakukan selama
berabad-abad. Pada tahun 1840 teknik membatik mengalami kemajuan
dengan diketemukannya ’canting cap’ sehingga mempercepat proses
produksi. Hal ini didukung pula dengan diketemukannya warna sintetis
pada tahun 1918 di kawasan Eropa yang dapat memperpendek proses
pewarnaan. Penggunaan warna alami dapat memakan waktu berhari-
hari, sedangkan pewarnaan sintetis hanya memerlukan waktu beberapa
menit, dengan demikian produksi kain batik mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Selain teknik batik dengan menggunakan malam,
adapula teknik membatik tidak mengunakan malam yang disebut kain
jumputan. Motif kain ini didapat dengan menggunakan teknik mengikat
kain dengan benang, motif-motifnya sangat terbatas pada bentuk bulat
karena teknik ikat tidak seleluasa menggunakan lilin dan canting dalam
membentuk motif yang diinginkan.
Kemampuan kreatif menyebabkan terjadinya suatu perkembangan,
begitu pula terjadi pada seni batik. Pada sekitar tahun 1966 - 1970,
seniman-seniman di Yogyakarta melakukan eksperimen menggunakan
teknik batik menjadi seni lukis. Pembaharuan ini dipelopori oleh Sulardjo
seorang pengusaha batik bekerjasama dengan seniman-seniman lainnya
yaitu Kuswadji, Bagong Kusudihardjo, Kusanadi, Abas Alibasyah,
Gustami disusul oleh Amri Yahya, Bambang Oetoro dan lain-lainnya.
Dari eksperimen mereka lahirlah motif-motif dan teknik membatik baru
(gb.57 ) . Selanjutnya batik tidak hanya sebagai kain batik yang berfungsi
sebagai penutup badan, namun berkembang menjadi media ekspresi
seni lukis batik yang banyak digeluti oleh seniman seni rupa dalam dan di
luar negeri.
2) Wayang
Indonesia boleh bangga karena mewarisi kesenian wayang yang
diakui sebagai warisan peradaban manusia yang berkualitas tinggi oleh
lembaga kebudayaan dunia Unesco. Sama halnya dengan batik, wayang
juga belum diketahui dengan pasti kapan mulainya, siapa pencipta
awalnya, dan dimana tempat dilahirkan. Banyak versi pendapat
mengenai wayang, ada yang menduga wayang merupakan hasil seni dan
budaya asli Indonesia yang berkaitan dengan dunia para leluhur. Ada
pula yang berpendapat wayang berasal dari India. Namun dalam misteri
dan kenyataannya wayang telah hadir pada relief-relief candi di Jawa
Timur (gb. 58 a, c).
56
a
b c
d e
f
Gambar 58. (a) Arjuna Wiwaha, Relief Candi Sarawana Jawa Timur, (b) Arjuna, wayang Bali,
(c) Samba dan Tilotama, Candi Kedaton Jawa Timur (sumber: Claire Holt), (d) Arjuna,wayang
Jawa, (e) Semar, versi Jawa, (f) Wayang Golek, Sunda/simboliknya, sumber: Ann Richter
Wayang Gedhog kurang jelas makna Jawa Barat ( ceritera yang
dilakonkan berupa legenda Panji dan Damarwulan dari Jawa Timur.
Secara etimologi wayang berarti bayangan, penamaan ini mungkin
karena wayang dinikmati melalui bayangannya (gb. 59a ) Jenis wayang
cukup banyak namun yang populer di masyarakat adalah wayang kulit
dan wayang golek. Wayang kulit terbuat dari kulit binatang khususnya
kulit sapi, dan wayang golek terbuat dari kayu untuk bagian badan dan
kepala, bahan kain digunakan untuk pakaiannya.
57
Menurut tempat atau daerah, ada beberapa jenis wayang antara lain
wayang Sunda, wayang Jawa, wayang Madura, wayang Bali, dan
wayang Sasak. Wayang Sunda lebih dominan wayang goleknya (gb. 58 f,
59 b), sedang wayang lainnya yang disebut wayang kulit antara daerah
satu dengan lainnya berbeda dalam ungkapan bentuknya. Wayang Jawa
dan Madura ukuran bentuknya lebih besar dibanding wayang Bali dan
wayang Sasak. Wayang Bali sangat mirip dengan relief pada badan
candi di Jawa Timur (gb. 58 b).
Berdasarkan cerita yang dilakonkan, menurut Calire Holt wayang
dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu wayang Purwa, wayang Gedhog, dan
wayang Madya. Wayang Purwa berarti wayang awal atau mula-mula,
cerita yang dilakonkan mengambil cerita Hindu yang berasal dari India.
Cerita atau mitos Hindu dibedakan menjadi empat, yakni: Adiparwa,
Arjuna Sasrabahu, Mahabaratha, dan Ramayana. Wayang Madya berarti
tengah, mengambil ceritera tentang silsilah raja Jawa terutama raja
Jayabaya dari Kediri Jawa Timur.
a
Gambar 59. (a) Pertunjukan wayang Bali (sumber: Bali Traveler
Guide, (b) Karakter orang biasa dalam wayang Golek
b
Karakter wayang Purwa dapat diklasifikasikan menurut oposisi
berlawanan, yakni halus x keras, baik x jahat, dewa x raksasa, kesatria x
jahat. Kedua karakter berlawanan ini dapat diidentifikasikan melalui
tampilan fisiknya. Misalnya tokoh keras matanya bulat, tokoh halus
matanya sipit kepala menunduk. Tokoh jahat mulutnya bertaring, tokoh
kesatria tersenyum. Sifat-sifat tokoh yang digambarkan dapat pula dilihat
dari warnanya. Tokoh keras warnanya coklat tua, atau merah, sedang
tokoh halus warnanya kekuningan, dan putih. Secara tradisional wayang
difungsikan untuk melakukan ruwatan atau pembersihan seseorang dari
sial dan kemalangan karena waktu kelahirannya atau kondisi hidupnya,
58
juga pembersihan desa jika dirasa terjadi banyak bencana, hama, dan
wabah penyakit. Biasanya ceritera yang dipentaskan untuk ruwatan
adalah Murwakala. Selain itu wayang juga berfungsi untuk mendidik
masyarakat dalam hal moral dan agama serta sebagai hiburan, sehingga
untuk menjadi seorang dalang harus menguasai berbagai disiplin dan
kemampuan.
3) Keris
Keris memiliki sejarah yang panjang dan penyebarannya tidak hanya di
Jawa, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia bahkan ke utara hingga
Philipina, dan ke barat hingga Malaysia. Bukti autentik tentang keris
terekam pada relief candi Penataran di Jawa Timur pada abad ke 13 dan
candi Sukuh pada abad ke 15. Keris bagi masyarakat khususnya di Jawa
dan Bali tidak hanya berfungsi sebagai senjata, tetapi juga berfungsi
sebagai pusaka keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Pada
zaman kerajaan keris amat penting fungsinya sebagai pusaka kerajaan
dan dianggap memiliki kekuatan ’sakti’ yang melindungi keluarga raja dan
masyarakat.
Menurut Soedarso ada beberapa ciri-ciri keris yaitu: (a) keris terdiri
dari dua bagian yaitu bilah atau badan keris dan pangkal keris disebut
ganja, (b) keris selalu bermata dua atau tajam kedua sisinya, (c) bentuk
keris selalu asimetris, (d) posisi bilah terhadap ganja tidak tegak lurus, (e)
Keris dibuat dengan teknik tempa dari kombinasi beberapa jenis logam.
Jadi menurut kriteria ini, apabila ada senjata di luar kriteria itu bukan
disebut keris.
Selain sebagai benda bertuah, keris juga memiliki nilai seni yang
tinggi. Bentuk keris ada yang bergelombang (luk) dan ada yang lurus
(gb. 59 a, c), bagian ujung bawah (ganja) dekat gagang lebih lebar dari
pada ujung atasanya dan ada yang berhiaskan naga, burung, singa dan
sebagainya. Kadang ada yang diberi hiasan ornamen dengan emas dan
permata. Bahan keris terdiri dari cam-puran berbagai jenis logam seperti
besi, baja, tembaga, nikel ditempa dan dibentuk menjadi satu kesatuan.
Dalam proses pembentukannya logam nikel yang warnanya paling
terang membentuk motif hiasan abstrak yang disebut pamor. Kiranya
pamor terbentuk ketika badan keris ditempa dengan panas yang tinggi
sehingga membentuk motif-motif pamor yang tak terduga sebelumnya,
seperti halnya teknik marbling ketika cat minyak dituang ke dalam air lalu
bentuk catnya ditangkap dengan kertas. Pamor yang didapat dengan
cara ini disebut sebagai pamor tiban, dan ini dipercaya sebagai anugrah
dari Tuhan. Pamor jenis ini antara lain disebut Beras Wutah, Mrutu Sewu,
59
a b c
Gambar 60. (a) Keris Bali, (b) Gagang Keris Bali (sumber: Bali Traveler Guide), (c) Keris
Jawa (sumber: Keraton Jogjakarta)
dan Tunggak Sem, sedangkan motif yang sengaja didesain, dibentuk,
dikontrol dan distandarkan bentuknya disebut pamor rekan antara lain
pamor Adeg, Ron Genduru, Ri Ider, dan Naga Rangsang. Sebenarnya
jenis pamor keris jumlahnya ada lebih dari seratus motif. Jenis-jenis
pamor tersebut diyakini masing-masing memiliki kekuatan spiritual
tertentu. Misalnya ada pamor untuk kewibawaan berarti cocok untuk
pemimpin, sedangkan pamor untuk mendapat rezeki cocok untuk
pedagang dan pengusaha. Standarisasi bentuk pamor keris berguna
untuk menentukan tuah dan kegunaannya. Di Bali tuah keris utamanya
dilihat dari hitungan panjang berbanding lebar keris tepat di bagian
tengah antara ujung dan pangkal keris. Lebar keris disebut lumbang rai,
untuk mengukurnya dapat digunakan janur atau tali. Janur dilipat-lipat
sesuai lebar keris dan jumlah hasil lipatan menentukan tuah keris, makna
dari keris yang diukur adalah sebagai tabel 1 berikut.
60
Tabel 1 . Makna Keris
No. Jumlah Nama Makna / Kegunaan
Lumbang
Rai
1. 10 Pemiliknya merusak diri sendiri.
Kala ngamah
awak
2. 11 Pemilik dan keluarganya men-jadi hina untuk waktu
Durga masiyung
lama.
3. 12 Kemiskinan dan kesakitan di-alami oleh
Lara muwuh
pemiliknya.
4. 13 Pemilik keris ini akan mendapat kedamaian dan
Bima kosa krana
keuntungan dalam usahanya, prajurit akan hidup
panjang jika memiliki keris ini.
5. 14 Keris ini baik dimiliki oleh dukun, dokter, orang
Darmawangsa
yang se-ring sembahyang, keinginannya selalu
terpenuhi oleh orang lain maupun Tuhan
6. 15 Pemilik keris dapat melihat musuhnya yang tidak
Arjuna sakti
kasat mata. Keris ini baik dimiliki oleh kaum
kesatria dan pedagang. Pemilik juga memiliki
banyak teman, jika laki-laki dicintai wanita, apa
yang dikerjakan berhasil, tetap men-dapat
keberuntungan.
7. 16 Pemiliki tidak bahagia, kekuatan keris dapat
Suksma angel
membahayakannya.
8. 17 Pemilik mudah mendapat per-tolongan, baik bagi
Naga samparna
dukun yang menggunakan pengobatan tradisi-onal.
9. 18 Baik disimpan di dalam rumah, pemiliknya
Sesangkep
disenangi teman dan familiy tidak baik dibawa ber-
purna
pergian.
10. 19 Tidak baik dibawa bepergian, baik disimpan di
Durga Katemu
rumah untuk meniadakan masalah. Keris ini dapat
digunakan untuk keperluan yang tidak baik jika
dibawa ke luar rumah.
Sumber : Eiseman
f. Seni Rupa Bali
Bali sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
memiliki ciri khas tersendiri dalam seni dan budayanya. Berbeda dengan
Jawa dan daerah lainnya, Seni dan budaya tradisi di Bali bagai sebuah
garis lurus yang tidak pernah terputus karena adanya perubahan.
Pengaruh budaya dari luar yang masuk dijadikan sebagai sumber
pengembangan dalam satu nafas bingkai khas Bali. Oleh karenanya
apapun yang masuk ke Bali akan menjadi Bali. Sebagai contoh dalam hal
seni rupa, prinsip-prinsip seni rupa Barat diperkenalkan pada tahun
1930an oleh seniman Belanda dan Jerman yaitu Bonnet dan Walter
Spies, seni rupa asli bukan menjadi pudar malah mengalami
perkembangan pesat karena tumbuh subur seni baru yang mencairkan
kebekuan tradisi. Dengan demikian perlu diketahui dan dipelajari
bagaimana masyarakat / seniman Bali secara alami mengadopsi
61
pengaruh budaya dari luar dengan tidak meninggalkan ciri khas yang
telah mengakar dan dimiliki selama berabad-abad.
Gambar 61. Nakara Pejeng
(sumber: Indonesian Heritage)
Seni rupa Bali kuno baru diketahui dari beberapa peninggalan yang
diketemukan antara lain berupa hiasan pada nekara di Desa Pejeng.
Hiasan tersebut berupa garis, bentuk geometris dan muka manusia
mengenakan hiasan telinga (gb.61 dan 62 ) .Selanjutnya perkembangan
seni rupa diperkirakan setelah Agama Hindu berkembang di Bali sekitar
abad ke-8 dengan berdirinya Candi Besakih di lereng Gunung Agung.
Seni rupa berkembang semakin intensif setelah adanya hubungan
kerajaan Bali dan Jawa serta mencapai puncaknya ketika Majapahit me-
luaskan kekuasaannya di Bali dengan pusat pemerintahan di Klungkung.
Seni ukir logam dan seni lukis berkembang pesat di Desa Kamasan
Klungkung tidak lepas pula dari peran raja pada waktu itu. Tema-tema
yang dilukiskan menyangkut ajaran-ajaran agama yang banyak diambil
dari epos Mahabaratha dan Ramayana (gb.63a), selain itu adapula yang
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang disebut reroncodan,
namun tema ini jarang dibuat. Tema lain yang unik adalah mengenai ka
lender yang terdiri dari pelelintangan atau perbintangan, wariga atau tika
yaitu baik buruknya hari, pewatekan mengenai perwatakan seseorang,
dan pelelindon tentang makna gempa bumi.
Agama Hindu memberikan inspirasi kepada para seniman untuk
menciptakan berbagai bentuk seni, oleh sebab itu seni memiliki
62
hubungan yang sangat erat dengan agama. Seni lukis dan patung
misalnya, banyak digunakan dalam kegiatan keagamaan seperti upacara
Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya dan Manusa Yadnya. Seni lukis banyak
digunakan untuk mengilustrasikan perbintangan ( gb.63c), mendidik
moral masyarakat (gb.63d) menghias tempat pura dan istana.
Gambar 62. Hiasan muka manusia
pada nakara.
Khusus untuk konsep ruang, di Bali menggunakan klasifikasi dua dan
tiga. Hal ini paling sering dijumpai dalam seni arsitektur, tata ruang desa,
dan tempat tinggal semuanya mengacu kepada manusia sebagai
mikrokosmos. Manusia itu simetris kiri kanan, dan terdiri dari bagian kaki,
badan, dan kepala degan orientasi vertikal. Tempat suci misalnya, ruang
terbagi menjadi tiga, jabaan (ruang bagian luar) sebagai tempat hiburan;
jaba tengah (ruang bagian tengah) tempat peneriamaan tamu, persiapan
ritual; dan jeroan ( ruang bagian dalam) sebagai ruang yang paling suci
berfungsi sebagai tempat sembahyang. Untuk tata ruang desa terdiri dari
palemahan (sawah, ladang, kebun, hutan, binatang), pawongan (tempat
tinggal manusia), parhyangan (tempat suci pemujaan). Orientasi arah
penataan membujur utara – selatan atau timur – barat, utara dan timur
merupakan arah yang suci bagi umat Hindu Dharma dan pertemuan
utara dan timur adalah timur laut sebagai arah yang paling sakral.Utara
dianggap suci, dimungkinkan karena konsep zaman purba bahwa utara
sebagai tempat tinggi, tempat tinggi adalah gunung tempat
bersemayamnya para leluhur dan roh suci. Di Bali digunakan Gunung
Agung sebagai otientasi arah utara. Selanjutnya timur bagi umat Hindu
merupakan pusat alam semesta, mulainya kehidupan karena dari timur
matahari bersinar yang memberi energi bagi kehidupan di bumi.
Demikian konsep pembagian ruang di Bali yang mempengaruhi karya
seni terutama yang berhubungan dengan keagamaan.
Selain itu, ada hal yang berhubungan dengan seni adalah taksu.
Taksu sebenarnya tidak hanya berlaku bagi profesi berkesenian,
fenomena ini dapat berlaku bagi setiap orang. Apabila ia seorang penari,
63
ketika di atas panggung ia sangat menarik, yang tidak cantik menjadi
nampak cantik, yang lucu menjadi sangat lucu. Jika ia seorang seniman
seni rupa karya-karyanya memiliki bobot, apabila ia seorang politikus
kata-katanya memukau banyak orang ketika berpidato. Jadi taksu
merupakan suatu kekuatan yang ada pada diri seseorang yang dapat
meningkatkan kualitas kinerjanya. Taksu ada yang dibawa sejak lahir,
ada pula yang didapat dengan melakukan treatment spiritual tertentu
(nglakoni) yang dituntun oleh seorang ahli dalam hal itu. Namun,
semuanya itu tergantung pula dari anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Unsur rupa seperti bentuk dan warna dalam seni lukis semuanya
memiliki pedoman yang baku, sehingga penampilan seni lukis ini memiliki
kesamaan (gb. 64) Bentuk karakter tokoh dibedakan menjadi dua yaitu
karakter halus dan karakter keras. Mereka dibedakan secara fisik
terutama dari bentuk mata dan mulut, kedua unsur ini segera dapat
dikenali karena karakter halus digambarkan dengan mata sempit, dan
mulut tersenyum serta warna kulit terang seperti kuning oker atau putih.
Sebaliknya karakter keras digambarkan dengan mata bulat melotot ,
mulut bertaring dan warna kulit coklat tua. Bentuk karakter halus adalah
untuk menggambarkan tokoh kesatria, dan dewa; sedangkan bentuk
karakter keras yang meng-gunakan taring adalah untuk menggambarkan
raksasa dan yang tidak menggunakan taring adalah kesatria seperti
Bima. Penggambaran ini berlaku juga untuk tokoh punakawan, rakyat
biasa, dan binatang. Misalnya punakawan dari pihak kesatria memiliki
mata sipit, sebaliknya punakawan dari pihak raksasa matanya bulat.
Semua bentuk binatang memiliki mata bulat dan binatang buas mulutnya
bertaring.
Seni patung dan relief banyak digunakan dalam menghias pura, amat
jarang dijumpai patung dewa seperti zaman Hindu di Jawa. Tradisi
seperti ini mencair ketika bangsa-bangsa Eropa masuk ke Bali. Mereka
menemukan seni dan budaya masyarakat Bali yang unik dan alamnya
yang indah, sehingga menarik perhatian banyak seniman Eropa
berkunjung ke Bali bahkan menetap dan kawin dengan penduduk
setempat. Di antara seniman yang tertarik dan tinggal di Bali dan peduli
terhadap pengembangan seni dan budaya Bali ialah Walter Spies dari
Jerman dan Rudolf Bonnet dari Belanda, belakangan disusul oleh Arie
Smith. Spies dan Bonnet bersama dengan penguasa di daerah Ubud
Cokorda Gede Agung mendirikan perkumpulan seniman bernama
Pitamaha. Dalam perkumpulan ini Spies dan Bonnet memperkenalkan
materi dan teknik melukis ala Eropa seperti cat minyak, prinsip anatomi
dan perspektif. Dalam perkumpulan itu ada beberapa seniman Bali yang
bergabung di antaranya ialah I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung
Gede Sobrat, I Gusti Ketut Kobot, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made,
64
a
c
b
d e
Gambar 63. (a, c,d) Lukisan tradisional Bali (sumber: Koleksi Presiden Soekarno dan Bali Traveler
Guide, (b, e) Patung tradisional Bali penghias pintu gerbang pura (sumber: Bali Traveler Guide)
dan lain-lainnya. Setelah mempelajari konsep berkarya seni rupa ala
Barat, perubahan terjadi dalam tema dan teknik melukis maupun
mematung. Tema melukis yang tadinya hanya menyangkut tentang
keagamaan berubah menjadi tema kehidupan sehari-hari. Pada gambar
(67) Ida Bagus Made menggambarkan seni pertujukan dalam rangka hari
suci di pura, begitu pula Anak Agung Gede Sobrat pada gambar (69)
menggambarkan kegiatan ritual di dalam pura yaitu ketika seorang
pemangku memercikkan air suci tirta kepada orang yang telah selesai
melakukan persembahyangan. Teknik melukis yang dikembangkan
sebenarnya teknik half tone, namun di Bali disebut teknik abur-aburan.
65
a b
c d
g h
e f
Gambar 64. Beberapa bentuk bagian-bagian tubuh tokoh lukisan tradisional Kamasan
Bali: (a, b) bentuk muka karakter halus dan keras; (c,d) bentuk mulut karakter halus
laki-laki dan perempuan, keras dan tua; (e,f) bentuk mata karakter halus laki-laki,
perempuan, keras dan tua; (g,h) bentuk badan karakter halus dan keras. (sumber:
A.Agung Suryahadi).
Gambar 65. Dua bentuk tokoh dalam lukisan wayang Kamasan: (a) Bima sebagai tokoh
kesatria keras, (b) Arjuna sebagai tokoh kesatria halus (sumber: Miguel Cobarrubias).
66
Tahap melukisnya cukup sederhana, pertama membuat sketsa
(ngreka) di atas kanvas dengan pensil, selanjutnya sket dipertebal
dengan tinta menggunakan pena terbuat dari bambu, kegiatan ini disebut
nyawi. Tahap berikutnya adalah menerapkan warna hitam memberikan
tone gelap terang sehingga menimbulkan kesan volume pada obyek
A
Gambar 66. (a) Walter Spies, Pemandangan
Desa di Bali (sumber: Bali Traveler Guide), (b)
Rudolf Bonnet, Wanita Bali Menghaturkan Sesaji
(sumber: Koleksi Presiden Soekarno).
b
benda dan ruang kedalaman pada ruang negatif. Selanjutnya
memberikan warna pada obyek dan latar belakang, serta memperjelas
kembali tone gelap terang dan terakhir memberikan penekanan dengan
warna putih (highlight) pada bagian-bagian tertentu yang dianggap paling
terang pada obyek disebut nyenter. Berbeda dengan Lempad pada
gambar (68) dan Kobot pada gambar (70), Lempad memiliki ciri khas
karena lukisannya tidak diberi warna, ia masih mempertahankan teknik
melukis tradisional yang disebut sigar mangsi yang sebenarnya adalah
gradasi warna hitam putih. Ia hanya mempertebal garis tepi obyek yang
dilukis, namun tema-temanya sudah menggambarkan kehidupan sehari-
hari. Kobot masih melukiskan tema keagamaan tetapi teknik melukisnya
adalah teknik abur-aburan. Ciri khas Kobot adalah sedikit menggunakan
67
warna dan yang dominan adalah tone hitam putihnya. Teknik melukis ini
kemudian disebut sebagai gaya Ubud yang berkembang hingga saat ini.
Gambar 67. Ida Bagus Made, Seni Pertunjukan, (sumber: Koleksi Presiden Soekarno).
Gambar 68. I
Gusti Nyoman
Lempad,
Pedagang Nasi
(sumber:
Indonesian
Heritage).
Perkembangan seni lukis terjadi tidak hanya di Ubud, di luar Ubud
juga mengalami perkembangan antara lain di Desa Batuan, Sanur dan
Denpasar. Di Batuan dipelopori oleh I Gusti Wija dan I Nyoman Djata,
68
gaya lukisannya agak berbeda dengan Ubud walaupun proses
melukisnya sama. Gaya Batuan bentuk-bentuknya lebih kecil dan tone
hitam lebih kuat. Sebenarnya di Denpasar dan Sanur juga pernah
berkembang seni lukis yang berpijak dari seni lukis tradisional namun
sayang tidak dapat berlanjut. Salah satu tokohnya ialah I Gusti Made
Deblog dengan ciri khas lukisannya hanya menggunakan hitam putih dan
cenderung surealistik.
Gambar 69. Anak Agung Gede Sobrat, Percikan Air Tirta (sumber: Koleksi Presiden
Soekarno)
Seiring dengan berkembangnya seni lukis, dalam bidang seni patung
juga mengalami perkembangan hanya personal yang mengembangkan
tidak sebanyak dalam bidang seni lukis. Di antara tokoh pembaharu seni
patung di Bali yang terkemuka angkatan Pitamaha adalah Ida Bagus
Nyana dan I Nyoman Cokot. Gaya mereka sangat berbeda walaupun
sama-sama berangkat dari seni tradisi dan menggunakan bahan kayu,
hasil akhirnya berbeda. Ida Bagus Nyana mengembangkan seni patung
tradisi dengan menstilasi, memanjangkan bentuk dan tekstur permukaan
patung sangat halus (gb.71a), sedang I Nyoman Cokot memilih kayu-
kayu dan akarnya yang telah keropos dimakan rayap. Imajinasinya
mengikuti image-image yang timbul dari sosok kayu yang dipahatnya,
serta image Cokot lebih bernafaskan seni patung primitif dan magis
69
dengan tekstur permukaan kasar memberikan ekspresi sangat kuat (gb.
70b ).
Gambar 70. I Gusti
Ketut Kobot, Krisna
Murti (sumber: Koleksi
Presiden Soekarno).
Perkembangan seni lukis berikutnya adalah lahirnya gaya Young
Artist. Pada tahun 1960-an, Arie Smith juga seorang seniman lukis dari
Belanda melakukan eksperimen dengan memfasilitasi anak-anak petani
di Desa Panestanan Ubud dengan menyediakan bahan dan alat untuk
melukis. Mereka dibiarkan melukis dengan caranya sendiri, akhirnya lahir
gaya seni lukis baru berbeda dengan gaya ubud sebagai pendahulunya.
Lukisan Young Artist ditandai dengan warna-warna yang segar (gb. 72
b,c) karena intensitasnya tinggi dan bentuk-bentuknya datar dan naif
layaknya bentuk yang dibuat oleh anak-anak pada umumnya. Tema-tema
yang dilukiskan meliputi suasana lingkungan hidup di Bali. Uniknya
70
walaupun bebas menentukan pilihan teknik dan tema, masih menyimpan
ciri khas Bali.
Periode berikutnya, pada tahun 1960 - 1970 generasi muda Bali
banyak yang melanjutkan ke sekolah-sekolah perguruan tinggi seni di
Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar. Hal ini berdampak pada
perkembangan seni rupa di Bali, karena seniman-seniman yang lahir
secara akademis ini diwarnai oleh kebebasan dan kreativitas mencipta
dan estetika tinggi. Ada yang masih menggali ciri-ciri Bali, ada pula yang
lepas bebas sepenuhnya.
a
b
Gambar 71. (a) Ida Bagus Nyana, Seorang wanita dengan binatang kesayangannya, (b) I
Nyoman Cokot, Bubuksah dan Gagang Aking Mengendarai Macan (sumber: Indonesian
Heritage).
Beberapa seniman akademis terkemuka di Bali diantaranya ialah I
Nyoman Gunarsa, I Made Wianta, I Made Jirna, I Nyoman Erawan dan
71
lain-lainnya. Sementara seni lukis Bali modern berkembang sangat cepat,
namun pematung Bali modern tidak sebanyak pematung tradisional,
namun demikian ada pematung Bali terkemuka dan mengerjakan proyek
raksasa Garuda Wisnu Kencana di Nusa Dua Bali ialah I Nyoman Nuarta
tinggal di Bandung memperkuat kasanah seni patung Nasional.
a b
c
Gambar 72. (a) Arie Smith, Pura di Bali, (b) Ketut Soki, Panen Padi, (c) Ketut Tagen, Prosesi.
I Nyoman Gunarsa terkenal karena lukisannya yang ekspresif dengan
spontanitas tinggi. Obyek lukisannya banyak menampilkan seni budaya
72
Bali seperti seni pertunjukkan dan mitos-mitos berasal dari cerita Hindu.
Tema seni pertunjukan banyak melukiskan tentang seni tari (gb.74)
dengan warna-warna ceria. Salah satu tema mitologi yang ia ungkapkan
adalah tentang Kalarahu (gb 6). Mitos ini juga ada di Jawa, yaitu
menyangkut tentang terjadinya gerhana matahari dan bulan.
Kejadiannya merupakan lanjutan dari mitos Pemutaran Gunung Mandara
Giri yang dilakukan oleh para dewa dan rakasasa, tujuannya adalah
untuk mendapatkan air Amerta Kamandalu atau air kehidupan untuk
hidup abadi. Setelah amerta keluar diperbutkan oleh para dewa dan
raksasa yang pada akhirnya dikuasai oleh para dewa. Ketika Dewa Siwa
Gambar 73. I Nyoman Erawan, Bingkai Rusak (sumber:
Katalog Erawan: Pralaya).
73
membagi-bagikan air tersebut kepada para dewa, seorang raksasa
menyelundup dengan berubah wujud menyerupai dewa. Pada saat ia
kebagian amerta diketahui oleh Dewa Surya (Matahari) dan Dewi Ratih
(Bulan) dan melaporkannya kepada Dewa Wisnu, seketika itu senjata
cakranya yang ampuh dilempar dan memenggal kepalanya. Karena
amerta telah sempat diminum hingga tenggorokan kepalanya tetap hidup
dan badanya mati. Sejak itu Kalarahu terus dendam kepada Dewa Surya
dan Dewi Ratih dan selalu mengejarnya, ketika sempat ditangkap dan
ditelannya kedua dewa itu keluar lagi lewat tenggorokannya Kalarahu.
Sebenarnya mitos tersebut sebagai suatu cara menjelaskan tentang
keabadian sang waktu.
Gambar 74. I Nyoman Gunarsa, Dua Penari Bali (foto: Agung Suryahadi )
74
Berbeda dengan Gunarsa yang lukisannya eskpresif dua dimensi,
Erawan terkenal karena kolase dan seni instalasinya. Sejak masa kuliah
ia selalu mencari bahan alternatif untuk melukis misalnya pada gambar
(73) dengan Judul Bingkai Rusak, ia menggunakan bingkai rusak atau
sengaja dirusak dan dibakar untuk mendapatkan kesan artistik. Berbeda
dengan Gunarsa yang lukisannya eskpresif dua dimensi, Erawan terkenal
karena kolase dan seni instalasinya.
g. Potensi yang dimiliki Indonesia dan pengembangannya
Setelah meraih kemerdekaan kini nasib dan masa depan seni dan
budaya Indonesia terletak ditangan bangsa sendiri. Banyak potensi yang
dimiliki baik potensi alam, budaya dan manusia, hanya mampukah
bangsa ini mengelolanya? Oleh karena itu siswa-siswi sekolah seni rupa
dan kriya di masa depan harus dapat mengembangkan kemampuan
kreatifnya dalam menciptakan karya seni dengan menggunakan bahan
lokal dan juga desain yang bertolak dari kekayaan budaya Indonesia.
Sumber daya alam yang memiliki hubungan dengan pengembangan
potensi seni dan budaya adalah hasil hutan berupa kulit dan serat kayu.
Hasil tambang berupa mas, perak tembaga, timah, perunggu, begitu pula
hasil laut berupa mutiara dan kerang dapat dibuat produk perhiasan yang
mahal harganya. Potensi sumber daya alam ini dapat dihambat
’kepunahannya’ jika terlebih dahulu diwujudkan dalam bentuk produk
sebelum diekspor dan nilai tambah serta efek gandanya berlipat untuk
kesejahteraan masyarakat.
E. Seni Rupa Manca Negara
Seni rupa mancanegara yang banyak memberikan pengaruh penting
terhadap seni rupa Indonesia adalah seni rupa India, Cina dan Eropa.
Pengaruh mereka hingga kini masih nampak kuat keberadaannya pada
perkembangan seni di Indonesia. Selain itu seni dan kebudayaan besar
di dunia ada beberapa yang perlu diketahui antara lain seni dan budaya
Mesir, Yunani, Romawi, Jepang, dan Maya di Amerika.
1. Mesir
Seni rupa Mesir Kuno merupakan hasil kebudayaan yang sangat tua
dan termasyur di dunia karena peninggalan berupa piramid dan sphink
hingga saat ini masih menjadi misteri bagaimana manusia 2700 tahun
sebelum Masehi dapat membuat bangunan dengan menggunakan
teknologi yang belum jelas diketahui oleh orang modern. Selain itu
peninggalan seni rupanya juga sangat mengagumkan seperti lukisan,
75
patung, dan relief. Gagasan pembangunan piramid oleh masyarakat
Mesir kuno adalah untuk menyimpan jenazah raja yang meninggal dunia.
Hal ini berkaitan dengan kepercayaan mereka bahwa raja adalah titisan
dewa sehingga ketika meninggal dunia agar arwahnya tetap hidup di
alam akhirat, badan wadagnya harus dipelihara agar tidak rusak dengan
Gambar 75. Relief berwarna dengan bahan kayu, menggambarkan Pharaoh
Tutan-Khamen bersama permaisurinya (sumber: Gombrich .)
cara dibalsem dan dibungkus dengan kain putih, kemudian diletakkan
dalam peti batu tepat di tengah-tengah piramid. Selain itu tubuh, terutama
76
bagian kepalanya, dibuat patung dan diletakkan di atas peti jenazahnya.
Beberapa ciri seni rupa Mesir Kuno adalah penyederhanaan pada bentuk
patung manusia, tidak mengenal perspektif pada lukisannya. Ketika
menggambarkan adegan tokoh-tokohnya terlihat dari samping, tokoh
penting digambarkan lebih besar. Relief-reliefnya pipih dan timbul,
terkadang diberi warna (gb 76 b).
b
a
c
Gambar 76. (a) Mumi, (b) Relief menggambarkan roh
dengan sesajinya, (c) Tempat menyimpan organ dalam
orang yang meninggal (sumber: http://www.google. co.id/
Egypt)
a. Kepercayaan Hidup Setelah Mati
Mengawetkan jenazah merupakan kebutuhan berkaitan dengan ke-
percayaan hidup setelah kematian merupakan kepercayaan penting pada
zaman Mesir Kuno, mereka menggangap roh orang meninggal akan
kembali menggunakan raganya suatu saat nati. Pada zaman 3000
Sebelum Masehi saat dimulainya zaman Pharaoh jenazah ditanam dalam
77
kuburan di pasir dengan beberapa sesaji yang sederhana. Panas dan
kekeringan yang bersifat alami mengawetkannya dengan sedikit bantuan
pembalseman. Selanjutnya seiring perkembangan masyarakat, cara
penguburan menjadi lebih meningkat kualitasnya, karena dilakukan
perawatan terhadap jenazah untuk melindunginya dari kehancuran.
Jenazah dibuat mumi dibungkus kain dengan pola dekoratif. Bagian
muka biasanya ditutup dengan topeng dari bahan semacam tanah liat
atau dari bahan logam menyerupai orangnya yang meninggal (gb 76a).
Bagian organ dalam dipisahkan dari tubuhnya dan ditempatkan pada
tempat sejenis tabung dari tanah liat atau batu (gb.76c). Wadah ini dise-
a b
Gambar 77. (a) Kucing sebagai
binatang suci, (b) Burung elang
lambing Dewa Horus, (c) Lukisan
potret di kuburan (sumber:
http://www.google. co.id/ Egypt) .
c
78
but Canopic Jars ditutupi dengan empat bentuk yaitu: kepala manu-
sia, kera baboon, elang, dan serigala sebagai lambang empat roh pe-
lindung yang disebut Empat Putra Horus. Dalam periode tertentu hiasan
pada dinding kuburan, peralatan yang digunakan untuk roh disertakan
dalam pemakaman. Misalnya perahu adalah untuk menyeberangi air di
akhirat.
b. Kuburan Mesir
Banyak yang diketahui tentang hidup dan seni pada zaman Mesir
Kuno dapat dijumpai pada kuburan-kuburan yang dipersiapkan untuk
melindungi jenazah orang yang meninggal. Masyarakat Mesir pada waktu
itu percaya bahwa kehidupan yang akan datang harus dipersiapkan dan
dilengkapi secara detail, sebagai hasilnya kuburan dihiasi dengan
penggambaran orang yang meninggal (gb. 76b) seperti kegiatan selama
hidupnya dan sesaji yang dibutuhkan oleh roh untuk bekal kehidupannya
di akhirat yang terdiri dari berbagai jenis minuman dan makanan dan
pewarna mata untuk melindunginya dari terpaan sinar matahari Mesir
yang panas. Oleh karena roh hidup dalam dunia dewa maka ada standar
sesaji yang dipersembahakan yakni yang serba baik dan suci sesuai
dengan apa dipersembahkan kepada para dewa.
c. Binatang Suci
Dalam kepercayaan agama Mesir Kuno, para dewa diasosiasikan
dengan aspek alam dan kosmos, khususnya yang berhubungan dengan
geografi secara lokal atau episode pengalaman hidup dan mati manusia.
Misalnya Osiris adalah dewa tumbuh-tumbuhan dan fecondity adalah
dewa yang sangat penting dalam kehidupan setelah kematian. Istrinya
Isis adalah kepala mourner dan juga sebagai image keibuan. Beberapa
dewa memiliki binatang diasosiasikan dengan binatang itu dan beberapa
digambarkan dengan sifat binatang. Dewa Thot yang berkepala ibis
sebagai contohnya adalah dewa sastra dan tulisan juga sebagai dewa
bulan. Di antara sekian banyak binatang, kucing (gb. 77a) bagi
masyarakat Mesir Kuno merupakan binatang suci.
2. Yunani
Seni Yunani Kuno, seperti halnya seni zaman Mesir Kuno, juga
merupakan hasil kebudayaan manusia yang sangat tua usianya.
Keberadaaanya diperkirakan telah ada pada abad 7-5 sebelum Masehi.
Kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno merupakan asal muasal
kebudayaan Eropa yang ada saat ini. Kesenian Yunani Kuno dikenal
melalui peninggalan arsitekturnya yang indah dan megah serta patung-
patung realis dengan bentuk anatomi sangat sempurna. Dalam seni rupa
maupun arsitektur hal penting yang menjadi peninggalan zaman Yunani
79
Kuno adalah tentang proporsi bentuk dan pembagian ruang yang disebut
’Proporsi Emas’ atau Golden Section: bahwa perbandingan bagian yang
pendek dengan bagian yang panjang adalah 1 : 1,618. Proporsi ini juga
dijumpai di alam, yakni pada pertumbuhan pepohonan dan pada
pertumbuhan kulit kerang dan juga pada manusia. Proporsi ini hampir
diterapkan dalam setiap karya seni rupa dan arsitektur (gb. 78, 79).
Seni Yunani Kuno dapat dibedakan menjadi beberapa periode, yakni
Geometric, Archaic, Classical dan Hellenistic. Periode Geometric
dimulai sekitar 1000 tahun sebelum Masehi. Pada masa ini pot dihiasi
dengan motif abstrak geometris dan diakhiri dengan motif-motif ketimuran
seperti teratai, bentuk singa, sphinx dan ornamen berkembang semakin
halus. Periode Archaic ditandai dengan produksi patung dan bentuk
berwarna hitam pada pot. Kekuatan niaga didominasi oleh dua kelompok
etnis yakni Corinth dan Athen. Produksi pot keramik mereka dijual
diseluruh daerah di Yunani dan menyebar hingga Spanyol, Ukraina dan
Italia dan mengalahkan produksi daerah lainnya. Warna-warna keramik
pada masa ini dibatasi oleh teknik pembakarannya yang hanya
mendapatkan warna hitam, merah, putih, dan kuning.
Gambar 78. Kuil
Parthenon
(sumber:
Gombrich)
Pada seni patungnya sangat dipengaruhi oleh patung Romawi dan
menjadi model patung klasik di kawasan Eropa. Dalam hal bahan
dipengaruhi oleh Mesir dan Mesopotamia yang menggunakan batu
tetapi bentuknya lebih dinamis dibanding patung Mesir. Ada tiga gaya
dalam pengambaran manusia dalam patung yaitu: patung telanjang
berdiri, patung berdiri dengan draperi pada pakaiannya, dan patung
duduk. Semua menggambarkan tentang pemahaman kesempurnaan
dengan ketepatan anatomi bentuk tubuh manusia. Hal ini menjadi subyek
yang sangat pokok dalam kesenian Yunani, melihat bentuk tubuh dewa
sama dengan bentuk tubuh manusia, tidak ada perbedaan antara seni
sakral dan seni sekuler. Oleh karenanya, tubuh manusia dipandang dari
keduanya yaitu suci dan duniawi. Hingga akhirnya masyarakat melarang
80
penggambaran tubuh wanita telanjang pada abad IV sebelum Masehi
yang menyebabkannya menjadi kurang penting dalam perkembangan
seni patung Yunani.
Patung-patung yang dibuat bukan semata untuk keperluan artistik,
tetapi pembuatannya banyak didasari dari pesanan para bangsawan dan
negara yang digunakan sebagai monumen publik, sebagai persembahan
di tempat suci keagamaan atau sebagai tanda pada kuburan. Patung-
patung tersebut tidak semuanya menggambarkan tokoh individual tetapi
lebih kepada nilai-nilai keindahan, keibaan, penghormatan, dan peng-
orbanan. Nilai-nilai tersebut selalu digambarkan dalam bentuk tubuh
pemuda telanjang (kouros/kouroi) walaupun ditempatkan pada ku-
buran orang tua. Patung telanjang pemuda (kouros/kouroi) gayanya
hamper sama. Gradasi dalam status sosial digambarkan dengan ukuran
besar kecilnya dibanding nilai artistiknya.
Gambar 79. Pot Bunga Yunani
dengan hiasan geometris
(sumber: Paul Zelanski)
81
Pada zaman klasik (500 tahun sebelum Masehi) terjadi perubahan
besar dalam seni patung Yunani karena diperkenalkannya konsep
demokrasi yang mengakhiri kekuasaan bangsawan yang diasosiasikan
oleh patung kouroi. Pada masa ini terjadi perubahan gaya dan fungsi
patung, teknik menggambarkan posenya berkembang menjadi lebih
naturalistik dengan wujud patung manusia realistik (gb. 80 ). Seni patung
a b
Gambar 80. (a) Venus dari Milo, abad 1 sebelum Masehi, (b) Prajurit dari Riace,
abad 5 sebelum Masehi (sumber: Paul Zelanski ).
pada masa ini penggunaannya diperluas yaitu digunakan sebagai relief
pada tempat-tempat suci dan pemakaman. Selain itu para filusuf dan
karyanya juga mewarnai pemikiran orang di seluruh dunia hingga saat ini,
antara lain karya Plato, dan Aristoteles. Plato misalnya, menganggap
82
bahwa lukisan merupakan tiruan dari tiruan, karena apabila pelukis
melukis meja, meja tersebut sebenarnya merupakan tiruan dari dunia ide
pembuatnya. Jadi menurut pandangan ini pelukis yang melukiskan benda
buatan manusia adalah meniru tiruan dari pembuat awalnya.
Gambar 81. Relief patung pada
kubur batu dari Hegeso, abad 5
sebelum Masehi (sumber:
Gombrich).
3. Romawi
Seni dan budaya Eropa selain didasari oleh kebudayaan Yunani Kuno
juga didasari oleh kebudayaan Romawi yang terkenal karena
kerajaannya sangat agresif dalam melebarkan wilayah kekuasaannya.
Seni budaya Romawi pada awalnya sangat mirip dengan seni Etruscan,
oleh karenanya memiliki hubungan yang dekat dengan seni budaya
Yunani. Seni budaya Romawi menemukan ciri khasnya bersamaan
dengan perkembangan sistem pemerintahannya yang bersifat republic
sekitar 500 tahun sebelum masehi. Masyarakat Romawi sangat senang
dengan seni potret, yaitu penggambaran orang persis seperti aslinya
terutama orang terkenal (gb. 83). Sebaliknya masyarakat Yunani lebih
bersifat idealis yakni menggambarkan manusia secantik mungkin dan
seatletis mungkin bagi laki-laki. Namun masyarakat Romawi lebih
menyukai yang relistik.
Masyarakat Romawi nampaknya memiliki sistem kepercayaan melalui
seni rupanya, bahwa orang yang meninggal dunia dibuat image-nya
seindah mungkin agar arwahnya bahagia sehingga tidak mengganggu
orang yang masih hidup. Oleh karena itu, selama Romawi berbentuk
83
republik, banyak sekali karya seni berupa potret lukisan maupun patung.
Sekitar 200 tahun sebelum masehi Romawi mulai menduduki Yunani,
dan hal ini membuat perubahan dalam gaya seninya. Ketika pasukan
Romawi memasuki Yunani mereka banyak melihat karya seni di tempat-
Gambar 82.
Colloseum, tahun 80
Masehi (sumber:
Gombrich)
tempat pemujaan, di kuburan, di tempat-tempat umum, dan di perumahan
penduduk. Hal ini mempengaruhi pikiran orang Romawi menjadi lebih
ramah dari pada watak aslinya. Akhirnya, apapun yang dikerjakan oleh
orang Yunani, dalam berkesenian orang Romawi ingin memilikinya,
mereka membawa pulang ke Romawi banyak sekali karya seni bangsa
Yunani. Mereka juga membawa pematung Yunani untuk membuat karya
seni di Romawi. Perkembangan kesenian Romawi hingga abad ke 2
Masehi masih meneruskan tradisi potret sebagai pengaruh Yunani (gb.
84).
Seniman Romawi menggunakan seni sebagai propaganda
kekaisaran dan juga ada banyak lukisan dinding yang menghiasi
perumahan (gb.85). Lukisan dinding pada zaman ini diklasifikasikan
menjadi empat macam tipe, pertama berupa fresco pada dinding yang
menyerupai panel marmer. Tipe kedua, seniman mulai menambah
sesuatu pada imitasi marmer tersebut pada lukisan dindingnya berupa
buah-buahan, bunga, dan burung. Tipe ketiga obyek lukisan berkembang
menjadi suasana lengkap pada seluruh dinding seperti orang bercakap-
cakap duduk di kursi seakan ada ruang tiga dimensi selain ruang yang
sebenarnya. Tipe keempat adalah variasi kedaerahan yang ada di ba-
wah kekaisaran Roma yang meliputi seluruh Eropa. Setiap daerah me-
ngembangkan keseniannya dengan menambahkan gagasan baru berasal
dari Romawi.
84
Gambar 83. Altar Ara Pacis, Abad ke 2 sebelum Masehi sumber:http://www.google.
co.id/ Roman Art)
Pada abad ketiga sesudah Masehi ada beberapa gagasan baru masuk
kepada seni budaya Romawi. Pertama, akibat perang dengan Jerman,
dalam karya seninya ditambahkan adegan ‘berdarah’ dalam ungkapan
keseniannya yang menggambarkan kepala terpenggal, pemerkosaan
atau penderitaan lainnya. Kedua, dalam hal keteknikan membuat patung
banyak menggunakan drill dibanding pahat seba-gaimana biasanya. Hal
ini disebabkan karena teknik drill lebih mudah dan cepat untuk
membuat patung dan memberikan tampilan yang berbeda dibanding
dengan teknik pahat. Ketiga, perkembangan tema kesenian banyak
menggambarkan tentang roh, mungkin karena banyak mendapat
pengaruh Agama Kristen. Hal ini dapat dilihat dalam penggambaran
orang lebih banyak melihat ke atas, maksudnya ke sorga atau ke dewa,
akibatnya seniman kurang menaruh perhatian dalam menggarap
bagian badan karena dianggap kurang penting, kadang lengan dan kaki
nampak terlalu pendek dan kepala terlalu besar. (gb. 85) Fenomena ini
berlanjut hingga masa jatuhnya kekaisaran Romawi pada abad keempat
Masehi. Selain kesenian, kebudayaan Romawi juga banyak membangun
jalan dari Roma ke daerah jajahannya, membangun tempat pertunjukan,
tempat ibadah, mereka menemukan teknik membuat kubah, teknik
membuat semen dan beton.
85
Gambar 84. Patung potret (sumber:
http://www.google.co.id/Roman Art)
.
Gambar 85. Lukisan dinding tipe ketiga (sumber: http.//www. Google.co.id/
Roman Art).
86
Gambar 86. Dewi Venus muncul
dari laut, abad 4 Masehi
(sumber:http://www.google.co.id/Ro
man Art).
4. Renaissance dan Eropa
Istilah Reanissance muncul pertama kali di Italia pada abad XIV, atau
awal abad XV yang berarti kelahiran kembali. Hal ini muncul ketika
masyarakat Italia pada waktu itu mengagumi karya seni yang dibuat oleh
seniman berupa puisi dan lukisan, mereka menganggap bahwa karya
seni para seniman sebaik karya seni zaman klasik Yunani dan Romawi.
Hal inilah memicu masyarakat Italia untuk menggali kembali nilai-nilai
kebudayaan klasik terutama Romawi yang pernah jaya tetapi dihan-
curkan oleh bangsa Jerman dari suku Goths dan Vandal. Dari sinilah
muncul istilah barbar dan vandalisme yang berarti suka merusak sesuatu
yang bernilai baik. Oleh masyarakat Italia, antara zaman kejatuhan
Romawi hingga zaman Renaissance disebut sebagai periode Ghotic.
Perkembangan Renaissance tidak dapat lepas dari perkembangan
perekonomian di kota Florence sebagai pusat kota bisnis. Hal ini
melahirkan banyak keluarga kaya yang memerlukan karya seni untuk
87
membuat istana-istana mereka. Guna melahirkan kembali keunggulan
kedua zaman tersebut para senimannya mempelajari patung dan
arsitekturnya secara cermat terutama prinsip harmoni dan simetrinya.
Zaman ini melahirkan tokoh arsitek bernama Filppo Brunellechi (1377-
1446). Dengan diketemukannya prinsip perspektif, dua tokoh seni lukis
bernama Giotto dan Fran Angelico yang memanfaatkan temuan Bru-
nellechi untuk diterapkan ke dalam lukisan-lukisannya.
Awal Renaissance juga melahirkan konsep berpikir logis yang tadinya
lebih didominasi dengan cara berpikir religius, walaupun masih melayani
kebutuhan gereja terutama dalam kesenian (arsitektur dan seni rupa).
Pada waktu itu seniman harus menguasai beberapa disiplin ilmu yakni
tata bahasa, ilmu ukur, filosofi, pengobatan, astronomi, perspektif, seja-
Gambar 87. Michelangelo, Pieta,
1499 (sumber: Gombrich
rah, anatomi, teori desain, dan aritmatik. Maka pada puncaknya zaman
Renaissance tidak mengherankan Itali pada waktu itu melahirkan banyak
seniman genius yang menguasai berbagai disiplin ilmu, antara lain yang
terkenal adalah Michelangelo dan Leonardo da Vinci.
Michelangelo dikagumi karena kepiawaiannya mematung dan melukis.
Ia membuat patung Pieta (gb.87) yang sangat terkenal karena
kesempurnaan teknik, bentuk dan keindahannya dibuat pada waktu
masih berusia 24 tahun. Selain itu karyanya yang mengagumkan adalah
lukisannya yang menghias langit-langit gereja Sistine Chapel (gb. 88),
88
Gambar 88. Michelangelo, Adam di turunkan ke bumi, lukisan langit-langit
Gereja St. Chapel, 1508-1512 (sumber: Gombrich)
orang menikmati lukisan ini harus menengadah seakan kejadian religius
tentang nabi Adam dibuang ke Bumi oleh Tuhan terjadi di langit. Menurut
orang menikmati lukisan ini harus menengadah seakan kejadian religius
tentang nabi Adam dibuang ke Bumi oleh Tuhan terjadi di langit. Menurut
pandangannya bahwa badan manusia adalah penjara bagi roh, badannya
harus mencerminkan kesempurnaan sebagai refleksi keilahian roh yang
ada di dalamnya. Ia mengerjakan lukisan tersebut selama berbulan-bulan
dalam posisi berbaring.
Leonardo da Vinci adalah seorang jenius yang menguasai banyak
disiplin ilmu termasuk seni, sehingga ia dianggap sebagai cermin dari
manusia zaman Reanissance. Kejeniusannya membuatnya ia menguasai
ilmu teknik, matematik, musik, puisi, arsitektur, ilmu alam, seni rupa dan
seni patung. Ia secara terus-menerus mempelajari binatang, tumbuh-
tumbuhan, anatomi tubuh manusia, gerakan air, peran sinar dan bayang
an dengan tujuan agar dapat memahami tentang alam lebih baik. Di
dalam bidang seni rupa, sketsa-sketsa tubuh manusia sampai saat ini
masih digunakan sebagai acuan oleh para seniman dalam mengung-
kapkan anatomi plastis manusia. Dalam mengungkapkan kesan emo-
sional, dramatis serta fokus perhatian pada lukisannya, Leonardo da
89
Gambar 89. Leonardo da
Vinci, Monalisa, 1502
(sumber: Gombrih)
Vinci menerapkan prinsip chiaroscuro (keseimbangan antara gelap dan
terang). Ia pula yang mengembangkan teknik sfumato (memperlembut
bagian tepi bentuk) untuk mendapatkan kesan kabur yang meng-
hilangkan efek tajam pada bagian tepi. Salah satu lukisannya yang
terkenal adalah Mona Lisa (gb.89). Seniman seni lukis yang lain dan
terkenal dalam zaman puncak Renaissance adalah Raphael. Lukisannya
mencerminkan harmonisasi antara nafas klasik, reason, dan idealisme.
Pencapaian dan penemuan besar yang terjadi di Italia pada zaman
Renaissance menjadikan daya tarik bagi intelektual dan seniman di lain
negara. Akhirnya etos Reanissance dalam mengembangkan budaya
berdasarkan rasio menyebar ke bagian utara Eropa, antara lain ke
Jerman, Perancis, Spanyol, Hungaria, dan Belanda. Pengaruh Renais-
sance tidak hanya pada kesenian, tetapi juga merambah ke bidang-
bidang lainnya, antara lain bidang perdagangan, penjelajahan alam, tek-
nologi, sehingga kerajaan-kerajaan di Eropa melakukan ekspedisi ke luar
90
Eropa. Inilah awal dari keinginan bangsa Eropa untuk menjelajahi dunia
dan menaklukkan negeri-negeri yang dikunjunginya.
Gambar 90. Jan Van Eyck, Pertunangan Arnolfilni ( sumber: Gombrich)
Perkembangan selanjutnya berdampak pada perkembangan yang
pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi hingga sekarang.
91
Era Renaissance juga melahirkan seniman-seniman besar di Eropa, dari
Belanda yang menonjol adalah Jan van Eyck bersaudara. Mereka ter-
kenal karena penemuan cat minyak untuk melukis. Hal ini menjadi per-
hatian zaman itu karena pada umumnya pelukis menggunakan cat
tempera dengan medium air sebagai pengencernya. Cat minyak memiliki
beberapa keunggulan karena lebih kuat dan lebih tahan terhadap air dan
kelembaban. Selain van Eyck seniman lainnya dari Eropa adalah Albert
Durer, ia berasal dari Hungaria dan belajar tentang Renaissance di
Gambar 91 . Rembrant, Jan Six ( sumber: Gombrich)
92
Jerman. Kemudian, pada akhir Renaissance dari Belanda muncul
Rembrandt yang terkenal karena mengeksploitasi chiaroscuro untuk
mendapatkan kesan teatrikal dan emosional dalam lukisannya (gb 91).
Hal-hal penting yang perlu diperhatian dalam melukis teknik tradisional
Renaissance adalah: pertama, menekankan kepada penguasaan teknik
menggunakan alat dan bahan untuk mendapatkan image sesempurna
mungkin sesuai dengan apa yang dilihat. Kedua, adalah ketepatan
bentuk baik proporsi di dalam bentuk itu sendiri juga proporsi antara
bentuk dengan bentuk yang digambar. Penerapan chiaroscuro untuk ge-
lap terang agar memfokuskan perhatian dan suasana dramatik,
selanjutnya adalah teknik sfumato guna mendapatkan kelembutan pada
setiap tepi bentuk yang mendukung pada efek ilusi volumenya.
5. Lahirnya Aliran-Aliran Dalam Seni Rupa
Pada abad ke 17 di Eropa, kaum bangsawan, kelompok menengah
dan gereja sebagai patron bidang kesenian. Seni berkembang mejadi
lebih realistik dan narturalistik serta langsung menyentuh perasaan
pengamatnya, serta ukurannya besar, gaya ini disebut sebagai gaya
Baroque. Di Italia tokohnya dalam seni lukis adalah Caravaggio, Diego
Velazquez, dalam seni patung Gianlorenzo Bernini terkenal dengan
patungnya The Ecstacy of St Teresa. Di belahan Utara Eropa ada pelukis
ternama Paul Rubens dari Antwerp dengan lukisannya The Assumption
of the Virgin, dan di Belanda ada Rembrant terkenal dengan teknik
chiaroscuro dan sfumatonya. Selain dalam bidang seni lukis dan patung,
dalam bidang seni arsitektur juga berkembang pesat, dengan munculnya
orang kaya baru bekerjasama dengan pihak gereja, mereka senang
membuat istana, gereja dan bangunan-bangunan besar yang indah. Akhir
zaman Barocque disebut zaman Racoco, pada zaman ini formalisme
dalam lukisan ditinggal, para seniman berupaya melepaskan diri dari
aturan-aturan akademis dalam membuat komposisi. Ciri dari karya seni
lukis zaman ini adalah suasana gembira tentang keadaan yang indah
dengan manusia-manusia cantik di alam dan komposisi dinamis dari
obyek yang dilukiskan.
a. Neo Klasik
Sebagai reaksi gaya Baroque dan Racoco, muncul pandangan baru
tentang estetika. Dalam seni lukis para seniman berupaya menggali
kembali ide-ide estetik zaman klasik Yunani dan Romawi. Untuk itu
pelukis merekonstruksi bentuk-bentuk patung Yunani dan Romawi ke
dalam lukisannya karena peninggalan lukisan tidak banyak. Maka
lahirlah pandangan baru dalam mengungkapkan gagasan yang disebut
Neo Klasik. Dalam seni lukis dipelopori oleh Jacques-Louis David dengan
93
lukisannya yang terkenal The Oath of the Horatii (gb.94), komposisinya
statis dan suasananya mencekam dengan sedikit menampilkan obyek.
Gambar 92 . Gialorenso Bernini, The Ecstacy of St Teresa
(sumber: Paul Zelanski).
94
Gambar 93. Jeane
Honore Fragonard, The
Swing (sumber: Paul
Zelanski).
Gambar 94. Jacques-Louis David, The Oath of Horatii ( sumber: Paul Zelanski).
95
b. Romantisme
Romatisme lahir juga sebagai reaksi atas kebiasaan mencipta dalam
seni rupa yang mengutamakan emosi dan imajinasi dari pada logika dan
harmoni dari nilai-nilai klasik. Hal ini berbarengan dengan lahirnya paham
Neoklasik, perbedaaanya adalah pada esetetika Neoklasik cenderung
impersonal, sedangkan estetika Romantik lebih menonjolkan perasaan
sendiri ketika melihat suatu suasana atau kejadian atau potensi bahan
yang digunakan. Tokoh-tokoh pelukis aliran ini yang ternama antara lain
John Constable, Turner, dan Theodore Gericault. Constable lebih tertarik
melihat pemandangan pedesaan (gb. 95), Turner tertarik dengan sifat
warna murni yang mempengaruhi emosi, dan Gericault tertarik dengan
kejadian dramatis sehingga melahirkan karya Rakit Medusa yang
terkenal.
Gambar 95 . John Constable, The Haywain (sumber: Gombrich)
96
Gambar 96. Joseph Mallord William Turner, Snow Storm (sumber: Paul Zelanski)
Gambar 97. Gustave Courbet, The Stone Breaker (sumber: Paul Zelanski)
97
c. Realisme
Di Perancis pada sekitar tahun 1850 hingga 1875 ada pendekatan
baru dalam melukis, Sebelumnya seniman hanya mengandalkan
imajinasi dan perasaannya dalam berkarya, pendekatan baru ini
menginginkan pengungkapan kondisi yang nyata dari apa yang dilihat
tanpa tambahan idealisme senimannya. Pelopor gerakan ini adalah
Honore Daumier dan Gustave Courbet terkenal dengan ungkapannya:
“Show me an angle and I’ll paint one”. Hal ini berarti ia ingin melukiskan
kondisi sebenarnya dari apa yang dilihatnya, bahwa keindahan yang di
berikan oleh alam adalah mengatasi semua yang dikerjakan oleh
seniman, hal ini ditunjukan oleh lukisannya dengan judul The Stone
Breaker (gb. 97).
d. Impresionisme
Pada pameran yang diselenggarakan pada tahun 1863 di Salon resmi
di Perancis, lukisan realisme oleh para juri dan kurator akademis
dianggap tidak baik, termasuk lukisannya Eduard Manet yang berjudul
Déjeuner sur l’Herbe . Menurut Manet keindahan lukisan terletak pada
keindahan warna, gelap terang/cahaya, pola, dan brushstroke-nya pada
permukaan kanvas. Pernyataan Manet ini mendapat dukungan dari
seniman lainnya, mereka menolak penggambaran ceritera, dan suasana
realistik. Sebagai gantinya mereka mencari kesan cahaya yang sebentar
menerpa obyek dalam waktu dan kondisi yang berlainan. Pandangan ini
direalisasikan oleh Eduard Manet dengan lukisannya yang terkenal
Rouen Cathedral dan The Haystack (gb.98). Kaum impresionis
mengungkapkan efek cahaya alami terhadap benda.
Gambar 98. Claude Monet, The Haystack (sumber: Paul Zelanski)
98
e. Post-Impresionisme
Paham impresionisme terus berlanjut dan melahirkan paham baru
yang dimotori oleh Cezanne. Ia menolak pandangan sebelumnya
terutama penggunaan perspektif sejak zaman Renaissance dan
pandangan kaum impresionis yang melukiskan kesan cahaya pada
benda, ia ingin mengembangkan seni rupa dua dimensional dari goresan,
ia membuat lapisan-lapisan ruang, bentuk geometris, irama warna, garis
dan bentuk dengan hati-hati menyusun hubungan-hubungan bentuk
dalam bidang lukisan. Dalam sebuah karyanya berjudul Still Life with
Apples, ia berkonsentrasi dalam mendapatkan keindahan melalui
keseimbangan, intensitas warna, kesan kedalaman ruang walaupun ia
melakukan distorsi terhadap obyeknya. Tokoh lain yang terkenal dari
kelompok impresionisme adalah George Seurat, van Gogh dan Gauguin.
Gambar 99 . Paul Cezanne, Still Life With Apples (sumber: Paul Zelanski).
f. Expresionisme
Disebut ekspresionisme karena senimannya menjelajah ke dalam
batin, sehingga apa yang diungkapkan adalah bentuk psikologis dari
senimannya. Hal ini nampak pada karya Edvard Munch dengan judul The
Scream dibuat dengan media campuran cat minyak, pastel dan kasein.
Munch mengungkapkan rasa takut yang dialaminya melalui tarikan garis
99
dan warna bergelombang memenuhi bidang lukisannya. Van Gogh juga
termasuk ekspresionis yang sangat terkenal. Ia lahir di Belanda pada
tahun 1853, putra seorang pendeta. Pada waktu muda ia sangat religius
Gambar 100 . Edvard
Munch, The Scream
(sumber: Paull
Zelanski).
dan menjadi penghotbah di depan para pekerja tambang di Inggris dan
Belgia. Awal mulanya ia sangat terkesan dengan lukisannya Milet yang
penuh dengan pesan sosial sehingga ia memutuskan untuk menjadi
pelukis. Oleh adiknya Theo yang bekerja sebagai karyawan di Artshop ia
diperkenalkan dengan seorang pelukis impresionis. Selanjutnya ia
memutuskan untuk pergi ke Arles di Perancis Selatan, dengan harapan ia
dapat bekerja dengan tenang. Selama bekerja sebagai pelukis di Arles
hidupnya dibantu oleh adiknya Theo, ia banyak menulis surat kepada
Theo mengukapkan kesulitan hidupnya. Akhirnya setelah setahun ia
frustrasi dan menjadi gila, pada tahun 1889 ia masuk rumah sakit gila
namun ia masih sempat melukis, setelah empat belas bulan dalam
perawatan ia akhirnya bunuh diri dalam usia 38 tahun. Lukisan-lukisan-
nya yang terkenal saat ini ia kerjakan dalam kurun waktu tiga tahun.
Dalam sebuah surat kepada adiknya, ia mengatakan, bahwa ketika
emosinya sangat kuat ia melukis tanpa menyadari apa yang dibuatnya,
seperti halnya orang menulis surat dengan penuh emosi ia meng-
goreskan kuasnya seperti menggoreskan pena di atas kertas menuliskan
kata-kata emosional. Begitu pula kaum ekspresionis melukiskan emo-
100
sinya dengan goresan dan warna diiringi oleh ledakan emosi pada
perasaannya. Perhatikan lukisannya dengan judul Starry Night (gb. 101),
ia menggunakan obyek malam hari ketika langit penuh bintang emosinya
meletup tercurahkan menjadi sebuah lukisan dengan tarikan kuas yang
kuat, tegas, bintang-bintang sinarnya berpendar bergulung-gulung
mewakili emosinya yang meledak-ledak.
Di Dresden Jerman pada tahun 1905, kelompok ekspresionis mem-
bentuk Die Bruck ( The Bridge) tokoh-tokohnya adalah Enrst Ludwig
Kirchner, Erich Eckel, Otto Muller dan lain-lainnya. Karya-karya mereka
mengungkapkan tetang kekerasan. Kelompok ini berakhir setelah de-
lapan tahun, namun telah dapat melahirkan gaya baru dalam seni rupa di
Jerman. Selang beberapa tahun setelah munculnya Die Bruck, pada
tahun 1911 lahir pula kelompok lain di Munich yang bernama The Blaue
Reiter ( The Blue Rider) dipelopori oleh Kandinsky dan Jawlensky.
Kelompok ini banyak mengungkapkan kelesuan dan kemarahan dalam
karya seni rupanya.
Gambar 101. Van Gogh, Stary Naight, (sumber: Belinda Thompson and Michael Howard)
g. Fauvisme
Fauvisme lahir ketika seklompok pelukis dipimpin oleh Matisse
mengadakan pameran pada tahun 1901 di Perancis. Karya lukisan yang
dipamerkan dianggap sangat revolusioner karena pembaharuannya
101
dalam menampilkan konsep estetiknya oleh karena itu kelompok ini
dijulukis le Fauves atau the Wild beast. Mereka meninggalkan semua
konsep deskriptif naturalistik dalam pengunaan warna dan dalam bebera-
Gambar 102 . Henri Matisse, The Red Studio (sumber: Paul Zelanski).
Gambar 103. Andre Derain, The Pool of London (sumber: Paul Zelanski)
102
pa hal juga penggunaan bentuk. Sebaliknya mereka menggunakan
unsur-unsur seni rupa tersebut sebagai unsur atau ekspresi dari esensi
tentang sesuatu, bebas dari asosiasi yang ketat tentang lingkungan yang
dikenal sebagaimana halnya seni lukis realis dan naturalistik. Dengan
demikian mereka memberi warna benda bukan warna benda yang dilihat
sebagaimana pelukis realis dan naturalis, mereka memberi warna-warna
benda sesuai dengan kemauan dan selera mereka dalam menafsir-
kannya untuk mencapai harmoni dan kesatuan. Hal ini tercermin dari
karya Matisse dengan judul The Red Studio (gb.102) dan karya Andre
Derain The Pool of London (gb103) . Dalam The Red Studio Matisse
menggunakan warna secara murni dan datar, sebagian dari bentuk-
bentuknya hanya berupa kontur dengan dominasi warna merah maroon
di seluruh bidang. Berbe-da dengan Andre Derain dalam karyanya The
Pool of London, ia masih terikat dengan perspektif namun sangat bebas
dalam menafsirkan warna. Kelompok ini bubar setelah tiga tahun.
h. Kubisme
Kubisme dikembangkan oleh Picasso dan Georges Braque, sebenar-
nya dimulai oleh Cezanne tentang konsepnya dalam memandang obyek
lukisannya, yaitu bahwa bentuk yang kita lihat dapat dikembalikan
kepada bentuk aslinya yaitu bentuk geometris. Pada periode sebelumnya
Picasso mengungkapkan gagasan dalam lukisannya masih terikat de-
ngan bentuk-bentuk senyatanya, ia hanya berkiprah dalam pemba-
haruan warna mengikuti emosi dan perasaannya dalam mengungkapkan
obyek yang diamatinya. Selanjutnya pada tahun 1907 ia terinspirasi oleh
konsep geomaterisnya Cezanne dan bentuk-bentuk stilisasi patung dari
Afrika. Dengan mengkombinasikan kedua hal tersebut ia mengem-
bangkan gaya seni lukis baru yang disebut kubisme. Kubisme merupakan
seni rupa yang dihasilkan karena studi terhadap seni-seni purba, konsep-
konsep seni tersebut diungkapkan dalam bahasa rupa baru. Salah satu
konsepnya adalah menggambarkan beberapa sudut pandang sekaligus
dalam sebuah lukisan, misalnya pandangan depan, samping dan atas.
Hasilnya memang bukan benda sebagaimana yang dilihat tetapi susunan
unsur-unsur dari obyek benda yang dilukis. Kubisme dibedakan menjadi
Kubisme Analitik cenderung memecah-mecah obyek kemudian me-
nyusun kembali dalam susunan berbeda serta tidak mementingkan warna
(gb. 104) Kubisme Sintetik merupakan lanutan dari Kubisme Analitik
tetapi lebih memberikan penekanan kepada unsur-unsur rupa seperti
warna dan tekstur. Akibat dari pemecahan obyek dan penyusunan
kembali, lukisan obyek menjadi lain dari penampakan aslinya, inilah salah
satu cara membuat abstraksi terhadap suatu kenyataan obyek.
103
a
b
Gambar 104. (a) Pablo Picasso, Violin and Grapes (sumber: Gombrich), George Braque, The
Portuguese (sumber: Paul Zelanski)
i. Futurisme
Di Italia pada tahun 1910 muncul reaksi oleh kelompok seniman yang
dipelopori oleh Marcel Ducamp terhadap industrialisasi dan perubahan
gaya hidup modern yang serba bergerak dan berubah sangat cepat.
Komsepsi estetiknya adalah berupaya menangkap karakteristik dari
kekuatan, kecepatan dan perubahan dalam kehidupan modern. Hal ini
terungkap secara visual dalam lukisan Duchamp dengan judul Nude
Descending a Staircase (gb. 105). Dalam lukisan tersebut ia meng-
abstraksikan obyeknya dan menjajarkannya menjadi suatu rang-kaian
bentuk bagaikan potografi yang menggunakan teknik stop-action waktu
memotret orang bergerak sehingga terekam bentuk gerakannya.
104
Gambar 105. Marcel Duchamp,
Nude Decending a Staircase
(sumber: Paul Zelanski).
j. Seni Abstrak
Pada tahun yang sama dengan perkembangan futurisme, Vassily
Kandinsky pelukis kelahiran Rusia mengembangkan seni lukis dengan
konsepsi abstraksinya, bahwa seni lukis harus bebas dari arti, repre-
sentasi naturalistik, dan standar estetik yang bersifat akademis. Ia meng-
gunakan warna-warna lepas dari asosiasi fenomena bentuk duniawi,
tetapi menggiring pengamat lukisannya kepada realitas spiritual yang
nonmaterial (gb. 107). Tokoh lain yang sangat berpengaruh dalam seni
lukis abstrak adalah Piet Mondrian, proses abstraksinya sangat mudah
dipahami dalam lukisan serial pohon (gb. 106). Seni rupa abstrak adalah
seni yang mengungkapkan intisari atau esensi dari suatu obyek yang
nyata, jadi bukan menggambarkan apa yang kasat mata. Dalam
perkembangan selanjutnya mondrian tidak lagi bertolak dari suatu obyek,
namun betul-betul sepenuhnya murni tanpa obyek dengan lukisan
berupa komposisi warna-warna.
105
a
b
Gambar 106 . Proses abstraksi Piet Mondrian: (a)
Tree II, (b) The Gray Tree, (c) Flowering Apple
Tree (sumber: Paul Zelanski.
c
Gambar107. Vassily
Kandinski, Imprvisation
No. 30 (sumber: Paul
Zelanski).
106
k. Abstrak Ekspresionisme
Aliran ini berkembang di Amerika Serikat setelah perang dunia II. Para
eksponennya menolak keterikatan yang ada dalam seni-seni rupa yang
telah ada. Karya mereka menekankan kepada ekspresi spontanitas dari
gerakan tubuh, dan semua ruang dalam kanvas adalah penting. Salah
satu tokohnya yang terkenal adalah Jackson Pollock dan William de
Koning. Khususnya Pollock gaya lukisannya disebut action painting,
karena dalam kegiatan melukisnya Pollock mencipratkan warna di atas
kanvas yang lebar di lantai dengan gerakan seluruh tubuhnya (gb.108).
Gambar 108. Jackson Pollock, No 14 (sumber: Paul Zelanski).
l. Dadisme
Pada tahun 1916 di Zurich Jerman lahir kelompok ekstrim dalam
berkesenian, mereka anti rasional dan anti estetik. Kelompok tersebut
bernama Dada yang tidak memiliki arti beranggotakan seniman seni rupa
dan sastra. Sesuai dengan idenya, kelompok Dada menjungkirbalikkan
nilai-nilai seni yang telah mapan, karya-karyanya kadang-kadang humor
dengan menambahkan sesuatu pada tiruan sebuah karya terkenal,
misalnya lukisan Monalisa diberi kumis, memanfaatkan barang-barang
bekas dan semuanya menentang analisis logika dan kelaziman nilai seni
secara tradisional yaitu estetika yang diciptakan oleh seniman.
107
Gambar 109. Jean Arp,Automatic
Drawing (sumber: Paul Zelanski).
Jean Arp misalnya, untuk menghilangkan keterikatan kepada bentuk-
bentuk yang telah dikenal, ia menggambar mengikuti gerak tangannya,
sehingga gambarnya diberi judul Automatic Drawing (gb. 109).
m. Surealisme
Perkembangan selanjutnya adalah lahirnya aliran Surealisme dalam
seni rupa di antara masa perang Dunia I dan II. Berlandaskan kepada
teori Sigmund Freud tentang alam bawah sadar, para seniman
menggunakannya sebagai sumber gagasan dalam melahirkan image
yang unik, yaitu apa yang ada jauh di dalam alam pikiran manusia. Untuk
Gambar
110.
Salvador
Dali,
Apparition of
Face and
Fruit-dish an
a Beach
(sumber:
Gombrich)
108
itu para pelukis memanfaatkan bentuk-bentuk nyata menjadi bentuk-
bentuk dalam mimpi yang tidak logis. Surealism sebenarnya akronim dari
Super-realism, sebab apa yang diungkapkan dalam lukisan merupakan
hal-hal diluar kenyataan. Bagi kaum surealis seni tidak dapat diciptakan
ketika kita berada dalam pikiran sadar dan logis dengan berbagai bentuk
reasoning, seni yang baik dapat lahir dari alam bawah sadar manusia
yang tidak logis tanpa reasoning. Tokoh-tokoh surealisme yang terkenal
antara lain Salvador Dali dan Max Ernst.
n. Pop Art
Kata Pop Art merujuk kepada suatu perkembangan gaya seni modern
antara 1956 dan 1966 di London Inggris dan berimbas ke New York di
Amerika. Dalam perkembangannya Pop Art memiliki tiga karakteristik
utama yaitu, pertama, Pop Art adalah figuratif dan realis. Kedua, Pop Art
lahir di lingkungan perkotaan dan melihat kepada apa yang ada di
lingkungan tersebut. Oleh karena itu para seniman menggunakan bahan-
bahan dari obyek yang sedang populer di masyarakat perkotaan
khususnya yang berbau komersial seperti komik, kartun, gambar majalah,
iklan, kemasan dalam berbagai jenisnya kaleng minuman, barang-barang
bekas; dunia pertunjukan pop termasuk film Hollywood, musik pop, radio,
televisi dansebagainya. Ketiga, seniman pop yang menggunakan bahan-
bahan tersebut dengan cara sedemikian rupa, memilih bahan yang belum
pernah digunakan sebelumnya untuk menarik perhatian pengamat.
b
a
Gambar 111. (a) Andy Warhol, Green Coca-Cola Bottles, (b) Roy Lichtenstein, Roto Broil
(sumber: Simon Wilson)
109
o. Realisme Baru
Dalam hingar-bingar perkembangan seni rupa kontemporer terutama
seni abstrak, beberapa seniman kembali kepada seni dengan garapan
yang lebih realistik terhadap obyek-obyek nyata tetapi bukan yang
tradisional. Mereka melakukan eksplorasi terhadap obyek-obyek industri
seperti toko, restoran, mobil, manusia dengan ciri-ciri khusus. Ungkapan
bentuk-bentuknya menjadi super-realistik dengan keterampilan teknik dan
kecermatan yang tinggi sehingga mirip hasil fotografi. Untuk menda-
patkan teknik melukis realisnya seniman menggunakan alat-alat teknologi
seperti proyektor untuk membuat sketsa dari obyek yang digambar agar
mendapatkan akurasi bentuknya.
Gambar 112 . Bill Martin, Abalone Shell (sumber: Paul Zelanski).
p. Seni Instalasi
Konsep seni pada saat ini terus berkembang, apapun yang dikatakan
dan dihasilkan oleh seniman dapat dipandang sebagai seni; museum dan
galeri tidak lagi hanya memamerkan lukisan dan patung, tetapi suatu
desain tiga dimensi yang dipasang hanya untuk beberapa waktu
kemudian dibongkar. Selain itu ada pula yang memanfaatkan lingkungan
alam, gedung, benda-benda yang ada dalam kehidupan manusia
dibungkus dengan kain, ada pula lingkungan alam dibentuk atau diberi
asesoris dengan benda-benda yang telah ada dalam skala besar. Seni
rupa yang demikian disebut seni instalasi. Instalasi berasal dari bahasa
Inggris installation yang berarti memasang, menyatukan dan mengkon-
110
Gambar 113 . Christo, Running Fence (sumber: Paul Zelanski)
konstruksikan. Dalam kegiatannya seni instalasi memasang,
menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa
merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Biasanya makna
dalam persoalan-persoalan sosial-politik, diangkat dalam konsep seni
instalasi ini. Dalam kontek visual merupakan perupaan yang menyajikan
visual tiga dimensional yang memperhitungkan elemen-elemen ruang,
waktu, suara, cahaya, gerak dan interaksi spektator (pengunjung
pameran) sebagai konsepsi akhir dari olah rupa (Wikipedia Indonesia).
Tujuan dari seni instalasi ini ada berbagai macam, misalnya untuk
111
menghilangkan kejenuhan dengan kegiatan seni rupa konvensional, ada
pula yang menginginkan kejutan, dan ketakjuban dengan sesuatu yang
aneh dan mencengangkan. Christo misalnya ia tidak segan-segan
membungkus tebing karang di tepi pantai, membungkus gedung-gedung
besar, dan pada gambar 113, ia membuat pagar dengan kain berkilo-kilo
meter panjangnya di gurun pasir. Membuat seni instalasi memberikan
ruang kebebasan lebih kepada seniman, tidak terikat dengan kaidah-
kaidah estetik yang biasanya digeluti, ada semacam pelepasan
kepenatan dengan kegiatan rutinitas berkarya seni yang melelahkan.
Kegiatan seni instalasi juga memberikan peluang kepada seniman untuk
melakukan eksplorasi terhadap kemampuan kreativitasnya menggunakan
bahan-bahan seni rupa yang inkonvensional dengan memanfaatkan
berbagai jenis media yang diketemukan dalam kehidupan sehari-hari
sebagaimana halnya pada gambar 301 a dan b.
5. India
Seni India sama halnya dengan seni Yunani dan Romawi yang
memiliki sejarah panjang. Sejarah kebudayaan India mulai terungkap dari
peninggalan kota kuno Harappa dan Mahenjodaro. Dari peninggalan
tersebut diketahui bahwa bangsa India kuno telah memiliki seni dan ke-
budayaan yang tinggi.
Gambar 114. Relief-relief dari kota kuno Mahenjodaro (sumber: )
http://www.google. co.id/ Indian Art and Philoshopy)
112
Dari kota Mahenjodaro diketemukan patung wanita (gb.115) menari
dengan anatomi yang jelas dan juga pada bentuk-bentuk patung
binatangnya. Seni klasik India sangat kental dipengaruhi oleh filosofi
agama Hindu sehingga tercermin dalam setiap jenis seni terutama seni
arsitektur, patung, relief dan seni lukisnya. Seni India muncul dan
berhubungan erat dengan ritual seperti memuja dewa, mengusir
kekuatan negatif, kelahiran dan kematian; dari pengucapan mantra me-
nimbulkan gerakan (mudra); dari gerakan, obyek dan peralatan
digunakan untuk persembahan berupa sesaji dan susunannya me-
nimbulkan keindahan. Kebutuhan untuk ruang sakral melahirkan tempat
pemujaan (bangunan candi) dan yantra sebagai fokus peribadatan,
simbol dan icon merupakan kekuatan dewata.
Gambar 115. Patung wanita di
reruntuhan kota kuno
mahenjodaro (sumber:
http://www. Google.co.id/Indian
Art and Philosophy).
113
Perkembangan seni India sangat dipengaruhi oleh filosofi di antaranya
aliran Tantra, yakni suatu aliran filosofi keagamaan yang memandang
bahwa manusia sebagai micro cosmos sama dengan alam semesta atau
macro cosmos. Jagat kecil ada dalam jagat besar dan jagat besar ada
dalam jagat kecil. Jagat besar mempengaruhi kehidupan jagat kecil
sebagai individu. Mahluk individu dan mahluk universal adalah satu. Jadi
semua yang ada dalam alam raya juga ada dalam alam individu. Guna
mendapatkan hubungan antara kedua alam tersebut dalam ajaran Tantra
divisualisasikan menjadi simbol yang dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu: (a) bentuk-bentuk geometri sebagai representasi dewa disebut
yantra, (b) representasi tubuh manusia sebagai simbol alam semesta,
dan (c) bentuk-bentuk ikonografi.
Gambar 116. Yantra segitiga Mahejodaro
(sumber: http://www.google. co.id/ Indian Art
and hilosophy)
Yantra berasal dari kata Sanskrit yam berarti memegang, mem-
pertahankan. Dalam kegiatan yoga meditasi digunakan sebagai media
untuk konsentrasi pikiran. Yantra disusun dari bentuk-bentuk geometris
seperti lingkaran, segitiga, segiempat sebagai simbol psikologis kesa-
daran manusia. Prinsipnya adalah bentuk yang sama berasal dari satu
titik disusun secara berulang, bertautan dan mengembang ke luar dari
titik pusat. Penggunaannya adalah ketika sang meditator melakukan
114
meditasi, penglihatan ditujukan kepada titik pusat yantra. Tujuannya
adalah untuk memusatkan pikiran dan pada level tertentu sang meditator
mengalami efek psikologis, pikirannya lebur dengan titik pusat
pandangan. Hal ini diyakini berdampak kepada kekuatan konsentrasi
pikiran yang digunakan dalam berbagai keperluan yang bersifat spiritual.
Gambar 117 . Yantra segiempat di dalamnya yantra lingkran berwujud teratai
Mahejodaro (sumber: http://www.google. co.id/ Indian Art and hilosophy)
.
Setiap bentuk memiliki makna yang berbeda, bentuk segitiga berarti
tiga hal yang universal, seperti penciptaan, pemeliharaan dan pelebur-
an; masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Ketika digunakan untuk
yantra segitiga digunakan dapat berdiri atau terbalik, segitiga berdiri
melambangkan maskulin sedang segitiga sebaliknya adalah feminim.
Bentuk lingkaran mengandung makna keabadian karena sifat ling-
karan tidak ada ujungnya, ketika digunakan sebagai yantra biasanya
ditempatkan di tengah segiempat. Selanjutnya segi empat melam-
bangkan totalitas arah mata angin yang menyatukan bumi dalam
keteraturan. Segi empat memiliki empat pintu pada setiap arah dan
dikenal sebagai pintu kosmik yang melambangkan jalan dari alam
duniawi ke alam spiritual yang suci dalam yantra. Ke empat pintu tersebut
dijaga oleh kekuatan dewata yang menjaga kesucian yang ada di dalam
dari intervensi kekuatan negatif.
115
Dalam pandangan Hindu, khususnya ajaran Tantra, tubuh manusia
merupakan miniatur alam semesta oleh karenanya apa yang terjadi di
alam semesta juga terefleksi dalam tubuh manusia secara fisik dan
psikologis. Siapa yang mengetahui kebenaran yang ada dalam tubuh
manusia akan mengetahui kebenaran yang ada di alam semesta. Untuk
itu, ada dua hal penting yang dipelajari mengenai konsep tubuh manusia
sebagai microcosmos adalah tentang cakra dan kundalini. Cakra adalah
tujuh titik pusat energi utama yang ada dalam tubuh manusia terletak di
sepanjang tulang punggung mulai dari bawah di antara kemaluan dan
anus. Cakra berurutan ke atas hingga ubun-ubun, sedangkan kundalini
merupakan energi kosmos yang terletak pada cakra paling bawah. Dalam
ajaran Tantra kedua hal inilah menjadi pusat perhatian dalam meditasi
untuk dapat didayagunakan. Orang yang telah menguasainya diyakini
mampu menyatu dengan alam semesta sesuai dengan kemauannya.
Gambar 118. Patung
Dewa Siwa sebagai
dewa tertinggi dalam
sekte Siwa dalam
Agama Hindu
Mahejodaro (sumber:
http://www.google.
co.id/ Indian Art and
hilosophy)
.
Dalam penciptaan karya seni yang bersifat religius tidak boleh keluar
dari pedoman yang telah ada karena simbol yang dibuat merupakan
wujud standar secara spiritual. Kemampuan kreatif seniman merupakan
116
bagian dari ekspresi kolektif secara keseluruhan. Dalam membuat patung
seorang dewa dengan banyak tangan merupakan simbolisasi dari
kekuasaanNya (gb.118), selanjutnya ada standar yang yang harus
dikuasai oleh seniman, antara lain sebagai berikut:
a. Pengetahuan tentang batu,
b. Struktur komposisi,
c. Teknik mengukir batu,
d. Susunan unsur-unsur patung,
e. Representasi karakter,
f. Kesatuan dari bagian-bagian.
6. Cina
Seni sebagai bagian dari kebudayaan Cina usianya sudah sangat tua.
Periodesasinya dibagi berdasarkan dinasti yang memerintah. Seni Cina
sangat dipengaruhi oleh para filusuf, guru spiritual, dan juga pemimpin
politik. Bentuk awal seni Cina pada Zaman Batu Baru adalah berupa
gerabah dan batu giok, kemudian berkembang menggunakan bahan
perunggu pada zaman Dinasti Song. Selanjutnya, penggunaan bahan
kayu dan bambu dimulai sekitar abad pertama Masehi bersamaan
dengan masuknya ajaran Budha yang baru populer pada abad ke 4
Masehi, pada zaman itu pula diperkenalkan porselin.
Gambar 119. Ornamen kembang dengan bahan batu giok
Dinasti Jin , 1115-1234 Masehi (sumber: http://www.google.
co.id/ Chinese Art)
117
Perkembangan agama Budha di Cina berlangsung hingga abad ke-8
Masehi. Pada zaman imperial, seni kaligrafi dan lukisan sangat dihargai
di lingkungan istana, yang dibuat di atas kain sutra dan berlangsung
hingga diketemukannya bahan dari kertas. Pada zaman dinasti Tang,
sangat terbuka dengan pengaruh kesenian dari luar, sehingga patung-
patung Cina pada zaman ini banyak dipengaruhi oleh patung India zaman
Gupta untuk mendukung ajaran Taoisme.
Pada dinasti Song seni lukis mengalami perkembangan pesat dengan
ekspresi lembut pada lukisan-lukisan pemandangannya. Nampak bentuk-
bentuk gunung diberi kontur yang kabur untuk memberi kesan kejauhan.
Dalam zaman inilah penekanan pada lukisan terletak pada nilai-nilai
spiritual dibanding nilai emosional.
Gambar 120. Patung
Bodhisatwa dari Dinasti
Song, 960-1279 Masehi
(sumber: http://www.
Google.co.id/Chinese
Art)
Pada dinasti Song seni lukis mengalami perkembangan pesat dengan
ekspresi lembut pada lukisan-lukisan pemandangannya. Nampak bentuk-
bentuk gunung diberi kontur yang kabur untuk memberi kesan kejauhan.
118
Dalam zaman inilah penekanan pada lukisan terletak pada nilai-nilai
spiritual dibanding nilai emosional.
Pada periode selanjutnya ditandai oleh dua dinasti yang kuat yaitu
Dinasti Ming dan Qing. Seni rupa pada Dinasti Ming perkembangannya
terletak pada penyempurnaan pewarnaan lukisan dibanding dengan
lukisan pada Dinasti Song. Pada Dinasti Qing yang berkembang pesat
adalah seni opera. Atas usaha seorang ahli dari Sekolah Shanghai, seni
tradisional China mencapai klimaksnya kembali dalam bidang seni lukis.
Usahanya itu adalah pengembangan teknik melukis tradisional dan
menghargai hasil-hasil karya masterpiece kuno.
a b
Gambar 121. (a) Wang Hui, Puncak-puncak gunung, (b)Gao Kogong,
Bebukitan dan Awan, 1270-1310 Masehi (sumber:
http://www.google.co.id/Chinese Art.).
119
Salah satu prinsip yang diajarkan dalam seni rupa Cina kuno, adalah
bagi seorang seniman agar menjadi kreatif ia harus melatih batinnya
melakukan konsentrasi karena seni tidak dapat dipisahkan dengan
spiritualisme. Hal ini berhubungan dengan ajaran Taoisme yang berarti
jalan yang menyimpan banyak rahasia, sumber kreativitas, sumber
kehidupan yang berada di lubuk hati yang paling dalam. Ajaran lainnya
dari guru spiritual Cina Konfusius, adalah pengandaian seniman seperti
halnya kertas putih sebelum diberikan warna ke atasnya. Sama halnya
dengan seniman, ia harus putih sebelum mulai berkarya. Maksud yang
lebih jauh adalah mungkin sang guru mengharapkan seniman jika ingin
mendapat sesuatu yang murni ia harus melepas semua yang ada
dibenaknya, sehingga gagasan orisinal menampakkan dirinya. Ada
beberapa ciri unik dari lukisan Cina klasik yaitu spontanitas goresan cat
air, sebagaimana halnya lukisan Jepang. Terkadang ukurannya meman-
jang ke bawah sebagaimana terlihat pada gambar (98a). Bentuk baru
seni rupa Cina dipengaruhi oleh gerakan kebudayaan baru, dengan
mengadopsi teknik Barat yang menggunakan cat minyak dan meng-
angkat tema-tema realisme sosialis.
7. Jepang
Seni dan budaya Jepang tidak dapat lepas dari pengaruh budaya luar
Jepang. Sejak zaman prasejarah ada beberapa gelombang budaya luar
masuk dan mempengaruhinya. Gelombang pertama bangsa yang men-
diami Jepang disebut bangsa Jomon kira-kira 11000 – 300 tahun se-
belum Masehi. Mereka masih hidup dengan berburu, bertani tetapi
nomaden, namun telah dapat membuat tempat berteduh, membuat ge-
rabah dan manik-manik dari batu kristal yang disebut dogu. Gelombang
kedua masuk bangsa Yayoi kira-kira 350 tahun sebelum Masehi, pening-
galannya pertama kali diketemukan di daerahTokyo. Mereka sudah mam-
pu menanam padi, membuat senjata dari tembaga, dan genta dari
perunggu disebut dotaku serta membuat keramik dengan teknik bakar di
dalam tungku. Gelombang ketiga yang masuk ke Jepang adalah bangsa
Kofu atau Tumulus kira-kira pada tahun 250 – 552 Masehi. Ketiga suku
bangsa yang mendiami Jepang kemudian membuat pemerintahan, karya
seni mereka terbuat dari kombinasi perunggu dengan cermin, sebagai
lambang aliansi dan patung tanah liat yang disebut haniwa ditempatkan
dekat kuburan.
Sama halnya dengan Cina, kesenian Jepang juga memiliki sejarah
yang panjang. Dalam perkembangannya, pengaruh Agama Budha sangat
kuat, sebagai gelombang keempat dimulai sekitar abad ke-7 – ke-8
Masehi dalam satu doktrinnya yang berkaitan dengan seni yaitu: Zen
langsung menuju ke dalam hati manusia, lihat sifat aslimu dan kamu akan
menjadi Budha”. Kemudian pada abad ke-9 Jepang mulai menjauh dari
Cina dan mengembangkan bentuk keseniannya sendiri sehingga seni
120
yang bersifat sekuler dan religius berkembang sangat pesat hingga akhir
abad ke-15. Pada tahun 1467 – 1477 Jepang mengalami krisis politik,
ekonomi, dan social dan berlangsung lebih kurang satu abad. Kemudian
dalam kepemimpinan Kaisar Tokugawa Shogunate peran agama banyak
berkurang dalam kehidupan masyarakat. Seni menjadi sangat sekuler
a
b
Gambar 122. (a) Patung Keramik, (b) Umataka zaman pemerintahan bangsa Jomon
(sumber: Joan Stanley Baker).
yakni digunakan dan dinikmati dalam kehidupan sehari-hari untuk
memenuhi kebutuhan manusia terhadap keindahan yang sifatnya sangat
duniawi. Namun demikian pengaruh meditasi Zen Budisme dalam seni
lukis nampak banyak ruang kosong terungkapkan dalam lukisan,
mungkin kekosongan tersebut merupakan refleksi dari kegiatan meditasi
yang memang mencari kekosongan pikiran secara psikologis untuk
mendapatkan keheningan dan kejernihan pikiran. Hal ini juga mungkin
mempengaruhi seni taman Jepang yang memiliki ciri khas sangat kuat.
Menulis dengan kuas merupakan kebiasaan yang telah mentradisi, hal
ini menyebabkan masyarakat sangat sensitif terhadap nilai estetik suatu
121
lukisan. Seni kaligrafi Jepang dan Cina begitu pula lukisannya memiliki
kesamaan nafas. Lukisan tradisinya mengutamakan spontanitas dalam
menggunakan kuas dengan media tinta hitam maupun cat air menjadi
ciri khusus yang tidak dapat ditandingi oleh tradisi seni lukis lainnya di
dunia. Dalam seni rupa, selain tradisi melukis, pada periode Edo tahun
1603, muncul pula seni tradsional lainnya yaitu teknik cetak kayu sebagai
suatu teknik berekspresi yang sangat popular di kalangan seniman dan
menghasilkan hasil cetak warna-warni yang sangat indah. Salah seorang
a
b
Gambar 123. (a) Dotaku genta perunggu zaman Yayoi, (b) Haniwa patung petani
membawa bajak dari bahan gerabah (sumber: Joan Stanley Baker).
seniman yang terkenal pada zaman Edo ialah Kano Tanyu cucu dari
seniman terkenal Eitoku Kano. Ia banyak melukis untuk istana di Kyoto
122
dan Nagoya. Salah satu lukisannya yang terkenal berjudul Menangkap
Ikan Malam hari dengan Burung Pemangsa, lukisannya dibuat di atas
enam buah panel besar.
Seni patung Jepang mendapat pengaruh kuat dari seni patung Cina,
pada tahun 1183 seniman patung Cina diboyong ke Jepang untuk
merestorasi kepala patung Budha yang rusak di Todaiji. Untuk me-
ngerjakannya ia banyak dibantu oleh seniman patung Jepang dan di-
selesaikan dalam beberapa generasi. Kedatangan seniman patung Cina
banyak meninggalkan pengaruh kepada seniman patung Jepang ter-
utama dalam meningkatkan nafas realisme dan penyederhanaannya.
Gambar 124. Hakui Ekaku, Kaligrafi
Bodidarma, abad 17 (sumber:
http://www.google.co.id/Japanese
Art)
Seni tradisional Jepang lainnya yang menonjol di dunia adalah seni
pertamanan yang juga tidak ada yang menandingi keindahannya, ka-
rena memanfaatkan keindahan karakter alami batu, karang, pasir,
rumput, pohon, dan air termasuk juga gemerisiknya angin yang menerpa
pepohonan. Seperti nampak dalam gambar 126 kolam dibelah dengan
jalan setapak kemudian disambung dengan steping stone. Semuanya
dibuat dengan meniru alam dengan cermat, sehingga dapat memberikan
123
suasana seakan kita berada di alam yang sesungguhnya. Padahal kita
sedang berada di dalam karya seni yang dapat kita alami secara nyata.
Unsur-unsurnya dapat kita sentuh dan orang yang masuk ke taman juga
dapat berperan sebagai unsur karya seni.
Gambar 125. Toshusai
Sharaku, Otani Oniji II,
1794, teknik cetak
warna.
Pada taman Ryoanji (gb.127) karena taman ini merupakan tempat suci,
maka pengaruh Zen tentang ketenteraman nampak pada keluasan
halaman dengan hamparan pasir putih bergaris-garis yang sengaja
dibuat dengan alat menyerupai garpu dalam proses pembentukannya..
Dengan taman diatur seperti itu berarti lingkungan dapat digunakan
sebagai media berkarya seni. Taman juga biasanya didukung oleh seni
bonsai, yaitu pengerdilan pohon yang menyebar saat ini ke seluruh dunia.
Gelombang terakhir dari kebudayaan luar mempengaruhi Jepang
adalah kebudayaan Barat pada tahun 1867 yang terkenal dengan zaman
Meiji yang terkenal dengan masa Restorasi Meiji. Era ini merupakan era
keterbukaan bagi Jepang untuk menyerap teknologi Barat. Oleh karena-
nya banyak pemuda-pemuda Jepang di kirim ke Eropa untuk mempelajari
budaya Eropa terutama teknologinya. Dalam perkembangan selanjutnya
124
Jepang dapat mengejar ketertinggalan teknologi dari Eropa dan saat ini
berkembang sangat pesat serta dalam beberapa hal dapat mengungguli
Eropa dan Amerika.
Gambar 126. Taman
Istana Katsura,
Kyoto, dari periode
Edo, (sumber: Paul
Zelanski.
Gambar 127. Taman Ryoanji (sumber: Paul Zelanski).
125
Pengetahuan alat dan bahan dalam bidang seni rupa sangat
penting bagi perupa, sebab tanpa pengetahuan tentang karaker
bahan dan cara menggunakannya mustahil seorang perupa dapat
membuat karya seni rupa yang baik. Oleh sebab itu pemahaman dan
keterampilan menggunakan alat dan bahan merupakan salah satu
yang harus dikuasai oleh seorang perupa jika hendak menghasilkan
karya yang baik.
A. Alat dan Bahan Seni Rupa Dua Dimensi
Sesuatu yang dapat membuat tanda goresan dapat dikatakan
sebagai media atau alat untuk menggambar. Ada banyak sekali jenis alat
dan bahan menggambar. Pada bab sebelumnya telah dibahas beberapa
jenis alat dan bahan untuk membuat karya dua dimensi, jenis dan alat
tersebut hampir sama dengan alat dan bahan untuk menggambar. Oleh
karena itu pada bagian ini akan dibahas yang belum terbahas
sebelumnya. Perlu pula diingat bahwa dalam kegiatan menggambar tidak
boleh lepas dari percobaan secara individu untuk mendapatkan alat dan
bahan yang cocok dengan kemampuan dan kesenangan masing-masing.
1. Pena
Penggunaan pena untuk kegiatan menggambar telah dimulai sejak
abad pertengahan. Garis yang dihasilkan oleh pena bervariasi
ketebalannya dan ini tergantung pula dari jenis dan bentuknya. Garis
yang dihasilkan pena lebih kuat dan pasti dibanding garis yang dihasilkan
oleh pensil. Ada beberapa jenis pena, baik yang dapat dibuat sendiri
maupun yang dapat dibeli di toko, dan kualitasnya pun bervariasi.
a. Pena bambu, pena ini tidak perlu dibeli di toko karena dapat dibuat
dan diatur sendiri bentuk ketebalan ujungnya yang menghasilkan
goresan. Biasanya pena ini dibuat dari jenis batang barnbu kecil. Ambil
batang atau ranting bambu yang kecil dan lurus, lalu potong menjadi
ukuran 20 cm. Kemudian ujungnya dibuat runcing atau pipih tergantung
dari tebal tipisnya garis yang diinginkan. Kelemahan pena ini tidak dapat
menyimpan tinta sehingga dalam penggunaannya harus sering
dicelupkan ke tinta agar dapat membuat goresan dengan terus menerus.
b. Pena bulu, pena bulu yang baik apabila bulu itu memang sudah lepas
dari binatangnya (ayam, angsa, bebek, merak dan sebagainya), karena
sudah cukup kerasa. Garis yang dihasilkan dengan pena bulu sangat
jelas dan indah, sehingga jenis pena ini sering digunakan untuk menulis
indah.
c. Pena Batang, seperti halnya pena bambu, pena batang ini juga,
berasal dari ranting atau batang pohon, tidak ada pohon yang khusus
untuk ini. Ambil sebatang ranting pohon, kemudian potong menjadi 20 cm
lalu raut ujungnya sesuai dengan tebal tipisnya garis yang diinginkan.
Pena batang ini lebih lembut dibanding pena bambu. Dalam
penggunaannya juga harus sering dicelupkan ke dalam tinta.
d. Pena Logam, pena
logam sudah umum digu-
nakan dan dapat dibeli di
toko. Tebal tipisnya garis
yang dihasilkan tergan-
tung dari bentuk ujung
penanya. Keunggulan je-
nis pena ini dapat meng-
Gambar 128.
garis lebih lancar dan
Jenis pena bulu,
menyimpan tinta sehingga
pena logam, pena
tidak terlalu sering mence- batang, pena bam-
lupkannya ke dalam tinta. bu.
b
a
Gambar 129. (a) Tarzan (sumber: Burne Hogarth ),(b) Albrecht Durrer, pillows (sumber: Colin
Saxton, Art School)
127
2. Kuas
Kuas merupakan alat pokok dalam menggambar, selain pena dan
pensil. Mutu kuas ditentukan oleh mutu bulunya dan teknik
mencengkeramkan pada gagangnya. Bentuk goresan yang dihasilkan
ditentukan oleh bentuk, ketebalan dan panjang bulunya. Bulu kuas cat air
berbeda dengan bulu kuas cat minyak. Bulu dari serat tumbuhan baik
untuk cat air karena daya serapnya baik sedangkan untuk cat minyak
kuas yang berkualitas dibuat dari bulu binatang dan nilon. Ukuran kuas
dibuat bervariasi sesuai dengan teknik dan proses pembentukan
gambarnya. Saat ini banyak jenis kuas di jual di pasaran, kuas yang
mutunya baik lebih mahal harganya tetapi cukup tahan lama dan dapat
menghasilkan karya yang bermutu, terutama dalam membuat karya yang
halus dan detail agak sulit jika menggunakan mutu kuas yang kurang
baik.
Gambar 130. Jenis Kuas cat minyak
3. Kertas
Namun ribuan tahun yang lalu, manusia telah membuat tanda pada
permukaan batu, atau kulit kayu. Selanjutnya pada zaman Mesir Kuno
digunakan papirus dan kulit kambing untuk membuat surat dan
menggambar.Pada zaman dinasti Han di Cina, ada seorang bernama
Ts’ai Lun membuat kertas dengan campuran kain, serat yang dibuat
bubur lalu dikeringkan pada pada permukaan datar. Temuan ini
dipresentasikan kepada raja, dan disiarkan ke seluruh negeri bahwa
temuan Lun tersebut dapat digunakan untuk keperluan menulis dan
menggambar dengan tinta. Sejak saat itu pembuatan kertas terus
disempurnakan dan divariasikan jenisnya hingga saat ini. Secara umum
ada dua jenis kertas untuk keperluan menggambar atau melukis yaitu
kertas buatan pabrik dan kertas buatan tangan. Kertas buatan pabrik
terstandar kualitasnya, sedang kertas buatan tangan dibuat khusus untuk
mendapatkan karakter tertentu guna keperluan khusus pula.
128
Untuk keperluan menggambar pada saat ini ada banyak jenis kertas
yang dapat dijumpai di pasaran dengan berbagai kualitas dan ukuran.
Namun yang penting diingat dalam memilih kertas untuk menggambar
adalah kualitas permukaannya, sebab menggambar dengan pensil
kertasnya berbeda dengan menggambar menggunakan cat air. Kertas
yang permukaannya halus dan keras sangat baik digunakan untuk
menggambar dengan pena dan tinta. Permukaan kertas yang kasar baik
untuk arang, krayon, pastel dan pensil lunak. Bagi pemula, penggunaan
kertas sebaiknya yang harganya murah dan dengan kualitas cukup.
Kertas produksi Padalarang dan Blabak baik untuk tahap belajar karena
cocok untuk setiap jenis media seperti arang, pensil, pastel, krayon, cat
air, cat poster dan cat akrilik. Kertas manila karena permukaannya halus
baik untuk menggambar dengan bahan tinta tetapi kurang baik untuk
menggambar dengan pastel. Sebenarnya, di toko alat-alat melukis dan
menggambar tersedia jenis-jenis kertas yang telah disesuaikan dengan
karakter bahan perwarnanya. Ada kertas khusus untuk pastel, pensil dan
cat air, namun harganya cukup mahal. Namun, untuk menjelajahi
karakter kertas dengan berbagai media pewarna gunakanlah seluruh
jenis kertas yang dijumpai, dengan demikian dapat menambah
pengalaman untuk mengetahui karakteristiknya.
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam menggunakan kertas
adalah cara menyimpannya. Kertas yang telah ada gambarnya
hendaknya jangan dilipat-lipat, untuk itu diperlukan map khusus yang
dibuat sendiri dengan karton tebal agar gambar yang telah dibuat tidak
rusak. Selain itu dalam belajar seni rupa, seorang calon seniman seni
rupa harus memiliki buku sketsa yang dapat dibawa kemana-mana untuk
selalu melatih tangan agar dapat menghasilkan sketsa atau gambar
dengan kualitas garis yang luwes dan baik
4. Kanvas
Menurut sejarahnya, sebelum diketemukan kanvas para pelukis
menggunakan bidang lukisan dari bahan papan. Hal ini tentu kurang
praktis karena berat untuk dibawa dan tidak dapat digulung sehingga
mengambil tempat. Kanvas diketemukan menyusul setelah dikete-
mukannya cat minyak, bidang untuk melukis ini lebih praktis dan terbuat
dari bahan kain. Kain dibentangkan pada spanram kemudian diberi
lapisan perekat untuk menutup pori-pori kain dan selanjutnya diberi
lapisan cat dasar. Cat dasar dapat dari cat dengan medium minyak dapat
juga cat dengan medium air. Kanvas dengan cat dari medium minyak
tidak dapat digunakan untuk melukis dengan medium air kecuali cat
akrilik. Namun cat dasar kanvas dengan medium air lebih fleksibel karena
dapat digunakan melukis menggunakan cat dengan medium minyak
maupun air. Daya tahan kanvas lebih lemah dibanding dengan bidang
gambar dari bahan kayu, terutama dengan kelembaban.
129
Kualitas kanvas dibedakan berdasar kelenturan, daya tahan dan
tekturnya. Kanvas yang baik pada umumnya jika daya tahannya tinggi
terhadap perubahan cuaca, lentur dan teksturnya halus. Hal ini
ditentukan oleh kualitas kain dan teknik pemberian cat dasar yang
digunakan. Kain linen adalah kain yang memiliki daya tahan tinggi dan
agak stabil jika dibentangkan, sedangkan kain katun elastisitasnya sangat
tingi. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kualitas kanvas akan lebih
baik mencoba berbagai jenis kain untuk dibuat kanvas, dan hal ini dapat
menentukan pilihan yang paling tepat sesuai dengan keinginan dan
kecocokan dalam menerapkan teknik melukisnya.
Cat dasar yang baik digunakan disebut acrylic gesso primer yang
dalam penggunaannya menggunakan air sebagai medium pengencernya.
Cat dasar untuk kanvas ini akomodatif terhadap cat minyak maupun
akrilik yang menggunakan pengencer air.
5. Karet Penghapus
Menurut sejarah, pada masa Ialu penghapus dibuat dari bahan kulit
yang empuk. Kemudian setelah diketemukan karet dan plastik kualitas
bahan penghapus bertambah meningkat menjadi lebih baik. Penghapus
yang terbuat dari karet yang empuk sangat baik untuk menghapus
gambar yang terbuat dari pensil dan arang.
Dalam penggunaan karet penghapus harus disesuaikan dengan
jenisnya. Penghapus yang keras tidak baik digunakan untuk menghapus
goresan pensil pada kertas yang lunak. Penghapus keras memang dibuat
bukan untuk menghapus pensil tetapi untuk menghapus goresan tinta.
Penghapus yang lunak biasanya digunakan untuk menghapus goresan
pensil. Kalau membuat goresan-goresan putih pada blok hitam dari pensil
(dalam teknik dry brush), penghapus yang digunakan harus dibuat tipis
ujungnya dengan mengirisnya menggunakan pisau. Perlu diperhatikan
penghapus yang sering digunakan dapat menjadi kotor, jika telah
kelihatan hitam segera bersihkan dengan menggosokkannya di kertas
lain hingga bersih.
6. Papan Gambar
Dalam kegiatan menggambar sangat penting memiliki papan gambar
untuk dapat bekerja lebih baik, karena dengan papan gambar kertas yang
digunakan menggambar permukaannya lebih rata dan stabil. Papan
gambar biasanya digunakan untuk menggambar di luar ruangan, oleh
sebab itu salah satu persyaratannya papan harus ringan dan kuat. Papan
yang baik bagi pemula dianjurkan menggunakan papan dari bahan
tripleks dengan ukuran tebal 3 mm, panjang 55 cm dan lebar 50 cm.
Spesifikasi ini dapat menahan kertas agar tidak bergerak oleh terpaan
angin. Agar posisinya tidak miring digunakan penjepit kertas atau selotip,
130
namun harus hati-hati karena bahan perekatnya dapat merobek kertas
pada waktu mau melepaskannya.
b
a
Gambar 131. (a) Papan gambar, (b) Standar Gambar
B. Eksplorasi Bahan Seni Rupa Dua Dimensi
Jenis alat dan bahan untuk seni rupa sebenarnya sangat banyak
sebab apa saja yang ada dilingkungan kita dapat digunakan sebagai
bahan membuat karya seni rupa. Namun, dalam pembahasan ini dibatasi
pada penggunaan alat dan bahan seni rupa dua dan tiga dimensional
yang lumrah digunakan dikalangan perupa seperti arang, pensil, pastel,
cat air, cat poster, cat akrilik, karton, tanah liat, plastisin, gip, kayu dan
sebagainya.
1. Arang
Di antara sekian banyak bahan untuk membuat karya seni rupa dua
dimensional, arang adalah bahan yang paling mudah untuk didapat
karena jika tidak ada bahan lain arang dapat dibuat sendiri. Ambil bilah-
bilah kayu yang tingkat kekerasannya sedang, kemudian bakar menjadi
bara; tutuplah rapat-rapat dalam wadah dari bahan tanah liat dan bila
baranya telah padam anda sudah mendapatkan arang. Mudah bukan?
Perhatikan, kayu yang sangat keras atau sangat lunak kurang baik untuk
dibuat arang gambar. Sebab kayu yang amat keras arangnyapun keras
dan sulit untuk mendapatkan goresan yang baik, begitu pula kayu yang
amat lunak arangnyapun amat rapuh. Maka bahan kayu yang digunakan
sebaiknya kayu yang tidak keras atau sebaliknya tidak terlalu lunak, dari
referensi yang ada, untuk membuat arang batang yang baik digunakan
adalah kayu pohon jeruk. Namun, karena ada banyak jenis kayu maka
diperlukan banyak percobaan dalam mendapatkan alternatif arang yang
berkualitas baik.
131
Goresan yang dibuat dengan arang sangat rapuh karena mudah
rontok dan terhapus sehingga untuk menguatkannya diperlukan bahan
pelapis pengawet seperti fixative dengan cara disemprotkan atau
dioleskan atasnya, jika karya sudah dianggap selesai. Resiko untuk tidak
merusak gambar atau lukisan yang telah dibuat, lebih baik menggunakan
zat pelapis dengan menyemprotkannya, karena tidak ada kontak
langsung antara alat dengan karya sebagaimana menggunakan kuas.
Pada saat ini ada empat jenis arang yang dijual di pasaran, yaitu arang
batangan, arang serbuk,
Gambar 132. Pemandangan dengan bahan arang (sumber: Richard McDaniel)
arang pensil, dan arang cetak atau pres. Arang batangan, arang pensil,
dan arang pres baik untuk membuat garis sedangkan arang serbuk baik
digunakan untuk blocking dan shading serta teknik dry brush, karena
serbuk arang tersebut tinggal menerapkannya ke atas kertas dengan
menggunakan tisu atau kain halus. Sifat yang menyenangkan dari arang
adalah gambar dapat dengan mudah diperbaiki jika ada yang terasa
kurang terutama dalam menggambar realis atau naturalis. Karena arang
mudah dihapus.
Bahan arang sangat baik bagi pemula menggeluti seni rupa dua
dimensional, karena bahan tersebut mudah didapat dan murah, sehingga
untuk latihan meluweskan goresan dan pemahaman tentang gelap terang
sangat baik digunakan. Namun, bukan berarti karya seni rupa dengan
menggunakan arang tidak berkualitas dan murahan. Teknik berkarya
132
dengan menggunakan arang merupakan awal ’keberangkatan’ menekuni
bidang seni rupa dua dimensional dan jika ditekuni secara mendalam
juga dapat menghasilkan karya yang berkualitas baik. Perhatikan gambar
132 dan 133, pelukisnya memanfaatkan efek tekstur kasar dalam
menggambarkan pohon dan gunung, sebaliknya pada gambar 134,
goresan arang dibuat halus mengikuti tekstur obyek yang digambar, yaitu
bunga anggrek dan kulit manusia. Jadi menggambar dengan arang
dengan hitam putih dapat menghasilkan gambar yang baik.
Gambar 133. Kathe Kolowitz, Self-Potrait (sumber:
Paul Zelanski).
Pelukis kenamaan zaman Renaissance seperti Leonardo da Vinci
(gb.133), Rembrant dan Durrer, sangat mahir menggunakan arang untuk
melukis. Seharusnya para pemula banyak menggunakan arang untuk
melatih keterampilan dasar dalam membuat bentuk dan ilusi tiga dimen-
Perhatikan gambar (132, 133, 134, 135)
dengan seksama, bagaimana potensi arang
dapat digunakan untuk membuat karya seni
rupa yang berkualitas
sional pada kertas. Perhatikan gambar 134, pelukisnya sangat maghir
dalam memanipulasi arang dalam membuat ilusi volume tiga dimensi
terhadap obyek yang digambar. Perhatikan gambar 134a tone atau gelap
terang yang membentuk plastisitas helai bunga dibuat dengan cermat,
133
diberi latar belakang gelap, sehingga obyek bunga menonjol. Pada
gambar 134b, tone gelap terang juga dapat membentuk ilusi volume pada
manusia yang digambar dengan menonjolkan plastisitas kepala dan
lengan yang kekar. Pemahaman terhadap plastisitas dilakukan melalui la-
b
a
Gambar 134. (a)Bunga anggrek (sumber : Richard McDaniel ),(b) Laki-laki tertidur
(sumber: Burne Hogsrth )
Gambar 135.
Leonardo da
Vinci,The Virgin and
the
Child and with St.
Anne and St. John
the Baptist
(sumber; Paul
Zelanski)
134
tihan dengan arang, kelak faedahnya akan mempermudah penggunaan
bahan menggambar yang lain. Menggunakan bahan arang merupakan
dasar pemahaman tentang pembentukan plastisitas yang dihasilkan
dengan kecekatan teknik membuat tone gelap terang khususnya pada
kegiatan gambar dan melukis realis. Pada kedua jenis seni rupa ini, tone
gelap terang menjadi salah satu unsur seni rupa yang penting dalam
mendapatkan ilusi tiga dimensi pada bidang datar. Untuk itu perlu
melakukan latihan yang intens agar dapat menguasainya dengan baik.
Tugas :
Untuk lebih menghayati bagaimana cara menggunakan bahan arang,
lakukanlah latihan berikut ini. Ambilah selembar kertas gambar dan
sebatang arang, lalu buatlah goresan-goresan berupa blok dan garis
dengan berbagai variasinya. Dapat menggunakan jari, kertas atau
kain untuk membuatnya. Ulangi latihan ini beberapa kali dan per-
hatikan hasilnya. Amati bagaimana potensi goresan arang itu dan
pikirkanlah bagaimana menerapkannya menjadi sebuah karya seni
rupa.
2. Pensil
Selain arang, pensil juga merupakan alat sederhana dalam
pembuatan karya seni rupa dua dimensional. Menurut sejarahnya, pensil
mulai berkembang pada abad ke 16 ketika diketemukannya bahan grafit
secara kebetulan dibawah pohon tumbang karena badai di desa
Barrowdale, Cumberland, Inggris. Grafit merupakan benda menyerupai
batu hitam mengkilap tetapi dapat menghasilkan tanda hitam yang
135
awalnya dinamakan plumbago dalam bahasa Latin. Grafit kemudian
digunakan untuk berbagai keperluan terutama sebagai bahan menulis
dan menggambar dengan cara ditajamkan dan dibungkus dengan
benang agar mudah dipegang. Pada perkembangannya di akhir abad ke
18, Nicolas Jacques Conte diminta oleh Napoleon untuk mengem-
bangkan pensil. Ia mencampur serbuk grafit dengan tanah liat untuk
membuatnya keras. Semakin banyak campuran tanah liat semakin keras
pensil yang dihasilkan dan tanda yang dihasilkan semakin tipis warna
hitamnya. Jadi dengan perbandingan campuran grafit dan pensil, gelap
terang tanda yang dihasilkan oleh pensil menjadi bervariasi. Campuran
grafit dan tanah liat dibakar dan dimasukkan ke dalam tabung kecil
terbuat dari kayu sebagaimana halnya pensil yang kita ketahui saat ini.
Derajat kekerasannya ditentukan oleh jumlah kandungan grafitnya
sehingga untuk kepentingan penggunaannya pensil dibuat dalam variasi
dengan sistim bertingkat. Untuk dapat mengenalinya, pensil dengan kode
H menunjukkan bahwa pensil itu keras (hard) sedangkan dengan kode B
adalah pensil lebih lunak dan hitam (black). Pensil 3H lebih keras
dibanding pensil 2H, begitupula pensil 3B lebih hitam hasil goresannya
dibanding pensil 1B.
Untuk keperluan berkarya seni rupa dianjurkan menggunakan
pensil hitam yang lunak (B). Penggunaannya dalam praktek, biasanya
pensil keras H digunakan untuk sketsa awal kemudian dilanjutkan penye-
lesaiannya dengan pensil B dalam berbagai variasi kepekatan. Namun
perlu diperhatikan bahwa pensil H karena sangat keras, jika digunakan,
sering membuat kertas gambar ’luka’ dan bekasnya sulit dihilangkan.
Selain pensil H ada jenis pensil HB yang merupakan pensil dengan
kekerasan yang sedang. Pensil ini baik untuk memulai pekerjaan awal
berupa sketsa karena tidak merusak kertas dan hasil goresannya tidak
terlalu tipis atau gelap. Pensil yang terlalu lunak dan pekat kurang baik
untuk sketsa awal karena agak sulit dihapus. Menghapus sket atau
goresan gunakan penghapus karet yang selunak mungkin agar kertas
tidak luka waktu digosok. Upayakan jangan terlalu sering menghapus
agar kertas tetap terjaga kondisinya. Pada waktu menghapus jaga
tekanan penghapus pada kertas, begitu pula jaga kebersihan penghapus,
karena apabila penghapus sudah terlalu sering digunakan warna hitam
pensil akan melekat pada penghapus dan dapat membuat kotor kertas
gambar. Oleh karenanya, bersihkan penghapus karet dengan
menggsokkannya pada kertas yang tidak terpakai dan gunakan alas
kertas ketika tangan menggambar dan menyentuh bagian yang tidak
sedang dikerjakan tetapi sudah ada goresan pensilnya. Upaya ini adalah
untuk tetap menjaga kebersihan gambar.
136
Gambar 136. Goresan-
goresan pensil cat air
dan pensil warna biasa.
137
Pensil berwarna agak berbeda dengan kedua jenis pensil hitam
sebelumnya, karena diproduksi tidak berdasar tingkatan kualitas tetapi
berdasar jumlah warna. Seiring dengan perkembangan teknologi, pensil
berwarna ada yang diproduksi sebagai kombinasi dengan cat air dan
pastel. Dalam penggunaan pensil cat air, pada awalnya sama dengan
penggunaan pensil pada umumnya, hanya untuk proses selanjutnya
digunakan kuas cat air basah yang dikuaskan di atas goresan pensil dan
goresan tersebut akan mencair sehingga warnanya memiliki karakter
Selanjutnya perhatikan karya pensil warna dan pensil cat air berikut
ini, kenali potensi dan karakter teknik cat air yang digunakannya.
Gambar 137.
Peman-dangan
(sumber: Richard
McDaniel)
Gambar 138. The
Woodstock Office,
(sumber: Richard
McDaniel).
138
sama dengan cat air namun masih terlihat bekas goresan pensilnya. Hal
itu menjadi ciri khasnya yang tersendiri. Pensil ini sangat praktis
digunakan untuk membuat karya out door karena tidak banyak
memerlukan perlengkapan sebagaimana halnya melukis menggunakan
bahan cat minyak.
Kelemahan pensil berwarna biasa maupun pensil cat air adalah
warna-warna yang dihasilkan tidak cemerlang seperti halnya warna yang
dihasilkan pastel atau perwarna lainnya. Perhatikan gambar 137 dan 138,
warna pensil cat air pada gambar pemandangan tersebut nampak
lembut, goresannya pun tidak dapat ’garang’ sebagaimana halnya
goresan cat minyak, akrilik dan pastel. Untuk melindungi agar awet,
gambar yang telah dihasilkan perlu diberi pelapis fixatif. Pelapis ini ada
dua jenis kemasan yaitu dalam bentuk spray dapat langsung
disemprotkan dan yang dalam botol harus menggunakan kuas.
Tugas:
Untuk lebih dapat menhayati tentang cara penggunaan pensil,
lakukanlah latihan berikut ini. Ambilah selembar yertas kemudian
buatlah goresan-goresan berupa garis dan blok dengan berbagai
variasinya dengan menggunakan jenis pensil H dan B. Perhatikan
perbedaan efeknya dan potensi artistiknya. Setelah selesai ambil
lembar yertas yang lain gunakan pensil berwarna untuk membuat
goresan-goresan seperti sebelumnya. Perhatikan hasilnya dan
amati perbedaan efeknya!
3. Pastel
Pastel adalah media menyerupai kapur tulis tetapi dibuat dengan
pigmen warna dicampur dengan zat pengikat berupa resin dan plaster.
139
Bahan ini dicampur, dibuat pasta kemudian dibentuk batangan lalu
dikeringkan. Kualitas pastel tergantung dari komposisi bahannya. Pastel
dengan warna cerah biasanya bahan plasternya sedikit, karena bahan ini
berfungsi untuk mengurangi cerahnya pigmen warna. Pigmen warna
cerah disebabkan oleh tingginya konsentrasi (extract) pigmen yang dibuat
dari dedadunan, bagian tertentu binatang (tulang, lemak), dan bahan
sintetis. Baik buruknya kualitas pastel maupun bahan pewarna lainnya
sangat tergantung pada daya tahannya terhadap sinar. Artinya, warna
tidak cepat berubah jika terkena sinar matahari langsung, tidak pecah,
tidak berubah dalam jangka waktu panjang. Hal ini penting diperhatikan
karena akan mempengaruhi pula kualitas karya. Selain berbentuk kapur
tulis, pada saat ini diproduksi pastel dalam bentuk pensil, namun di
Indonesia belum banyak beredar.
Derajat kekerasan pastel ditentukan oleh komposisi bahannya. Pastel
yang keras dan tidak mudah patah disebabkan karena banyak
mengandung bahan pengikat, sedangkan pastel yang mudah patah
mengandung sedikit pengikat. Pada saat ini ada dua jenis pastel dalam
kemasan yang dapat dijumpai di pasaran yaitu pastel kapur dan pastel
minyak. Pastel kapur sangat mudah patah dan hasil goresannya pun
mudah rontok. Oleh sebab itulah kertas yang digunakan untuk
menggambar dan melukis dengan pastel yang dipilih memiliki tekstur
kasar untuk menahan warna pastel sehingga tidak mudah rontok. Namur
demikian keistimewaan warna pastel kapur yaitu powdery kesan khas
warna kapur. Sebaliknya pastel minyak lebih kuat daya lekatnya karena
mengandung pengikat minyak. Oleh sebab itu goresannya pun
berkesan seperti cat minyak.
Di dalam penggunaannya, pastel dapat diterapkan dengan membuat
garis atau arsiran dan dikombinasi blok tipis atau sebaliknya dengan blok
yang tebal menutup permukaan kertas. Menggunakan pastel perlu
didukung peralatan dan bahan lainnya seperti alat peruncing untuk
mendapatkan ujung runcing ketika membuat garis atau bagian yang kecil.
Peruncing pastek dapat menggunakan amril yang dilekatkan pada papan
atau menggunakan peruncing pensil. Untuk pastel kapur dapat meng-
gunakan karet penghapus yang lembut untuk memperbaiki kesalahan
atau membuat efek lighting dalam menggambar benda-benda yang
mengkilat. Sedang untuk pastel minyak, jika ada kesalahan dalam
penerapan warnanya dapat ditumpang dengan warna yang lain, dan jika
warnanya tebal dapat dikerok dengan pisau ‘cutter’. Percampuran warna
dapat dilakukan langsung di atas kertas dengan menggosokkan kain atau
jari, atau alat lainnya seperti kuas, kapas, dan tisu. Pencampuran dapat
pula dilakukan di luar kertas dengan membuatnya menjadi serbuk terlebih
dahulu, lalu serbuk tersebut dicampur hingga menjadi homogen sebelum
digunakan. Apabila batang pastel sudah kotor, bersihkan dengan
menggunakan kain.
140
Gambar 139: Menggosok
pastel dengan tisu atau kain
halus agar mendapat kesan
halus dan warna tercampur
(sumber : Stan Smith).
Pastel yang telah pendek dan sulit untuk menggunakannya dapat di
daur ulang, kumpulkan warna yang sejenis kemudian tumbuk hingga
halus, kemudian dicampur dengan bahan perekat dari getah (gum) lalu
dibentuk dengan mencetaknya. Selanjutnya pastel daur ulang tersebut
dapat digunakan setelah dikeringkan beberapa hari.
Amati kedua karya seni lukis ini dengan menggunakan pastel!
Bagaimana pelukisnya mengunakan karakter pastel ? Perhatikan
kesan teksturnya, apakah ada perbedaan
a b
Gambar 140. Karya-karya seni lukis dengan bahan dan teknik pastel dan tema gadis : (a)
Wardoyo, pastel minyak, (b) Basuki Abdulah, pastel kapur .
141
Perhatikan goresan-goresan pastel kapur dan minyak berikut ini !
Bagaimana potensi pastel dapat digunakan untuk melukis?
a b c
d
Gambar 141. Goresan-Goresan Pastel
Perhatikan pula penerapannya ke dalam lukisan
berikut
142
a
b c
Gambar 142. (a) Gambar pantai, (b) Gambar sapi, (c)
Gambar alam benda, (e) Singa bersayap
143
Tugas :
Lakukanlah tugas ini untuk mengetahui dengan sebenarnya tentang
potensi estetik (keindahan) dari bahan pastel tersebut.
Ambil sehelai kertas gambar pastel A4
Gunakan pastel kapur untuk membuat goresan-goresan dengan
berbagai variasinya
Kembangkan rasa keindahan anda pada waktu membuat
goresan
Setelah selesai, ambil yertas gambar pastel yang lain dan
gunakan pastel minyak untuk membuat goresan sama dengan
prosedur sebelumnya.
Perhatikan dalam membuat goresan tidak harus selalu berupa
garis, dapat pula berupa blok dan dalam membuatnya dapat
menggunakan alat bantu seperti alat gosok ‘torchon’, yertas kain
dan sebagainya.
Perhatikan pula contoh-contoh sebagai acuan
4. Tinta
Tinta merupakan salah satu bahan yang sudah tua usianya guna
membuat karya seni rupa . Pada abad pertengahan, di Cina, India,
Jepang dan Eropa tinta sudah digunakan untuk berbagai keperluan,
seperti menulis surat dan menggambar. Pada saat ini tinta gambar dibuat
dari pigmen warna, shellac dicampur air, sedang pada jaman dahulu tinta
hitam dibuat dari campuran jelaga dengan lem dan sejenis cuka. Dengan
berkembangnya teknologi, tinta tidak lagi hanya hitam, sekarang banyak
dijual tinta dengan warna-warni. Secara tradisional, dalam penggunaan
tinta memerlukan alat berupa pena dan kuas. Pena tidak hanya berupa
pena standar yang dibuat oleh pabrik untuk menggambar atau menulis,
tetapi dapat pula menggunakan pena buatan tangan dari bambu, tangkai
bulu unggas, kayu atau bahan lain dengan maksud mendapatkan variasi
144
garis yang artistik. Perhatikan potensi tinta dengan menggunakan pena
logam dalam membuat sketsa dan gambar hitam putih (gb. 143 dan 144)
Perhatikan karya berikut ini, bagaimana ketrampilan pembuatnya
menggunakan alat pena, kuas dan bahan tinta. Kemudian lakukan
latihan membuat goresan dengan tinta dan menyusun bentuk dan
garis dengan tonasi dari terang ke gelap, amati dan rasakan
potensi keindahannya!
a
Dua buah karya hitam putih
ini memiliki kekuatan pada
penggunaan siluet serta
tone hitam putih dalam
menggambarkan
background
dan foreground. Pada
gambar (a) ada tonasi yang
mengesankan areal
perspektif, sedangkan pada
gambar (b) hanya siluet
tetapi dengan
karakter bentuk yang
tepat dan mengesakan sua-
sana senja hari.
b
Gambar 143. (a dan b) Gambar suasana hanya dengan tinta hitam
(sumber:Burne Hogart)
145
Ada beberapa istilah untuk menunjukkan kualitas ketahanan tinta
yakni permanent, lightfast, archival. Istilah permanent menunjukkan
bahwa tinta tersebut tahan lama setelah berkali-kali dicuci, lightfast
berarti tinta tersebut tahan lama untuk tidak luntur jika sering terkena
sinar matahari langsung. Archival merupakan tinta atau material lain
dengan daya tahan yang amat tinggi sehingga kuat berabad-abad
lamanya. Ada istilah lain untuk tinta yaitu waterproof menunjukkan bahwa
tinta tersebut tidak dapat cair kembali jika terkena air, sedang non-
waterproof dapat cair kembali jika diberi air dengan kuas basah, berarti
gambar dapat diubah atau diperbaiki. Sifatnya lebih luwes jika digunakan
untuk menggambar atau melukis. Tinta waterproof baik digunakan untuk
kontur sehingga jika menggunakan warna lain tidak berubah bentuknya.
Jenis tinta ini banyak digunakan pada lukisan tradisional Bali.
Gambar 144. I Ketut Mara, Seorang Dewi (Sumber: Koleksi
P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta).
146
Tugas Latihan
Agar lebih memehami tentang bentuk, lakukanlah latihan berikut.
Dengan pesil hitam buatlah skesta bentuk binatang dan bentuk
tumbuhan dengan tepat.
Setelah bentuk digambar dengan tepat beri kontur dengan tinta
hitam.
Selanjutnya bentuk-bentuk diblok penuh dengan tinta hitam.
Tugas selanjutnya buat gambar yang sama dengan tambahan
tonasi obyek sebagai latar belakangnya.
Gunakan contoh gambar sebagai acuan.
5. Cat Air
Cat air adalah media seni rupa yang memiliki sifat khusus yaitu
tembus pandang / transparan. Apabila terjadi susunan warna tumpang
tindih maka warna yang tertindih tidak tertutup sepenuhnya. Bahkan dari
garis tumpang tindih itu menimbulkan efek warna campurannya. Cat air
menggunakan air sebagai medium pengencernya sehingga tidak dapat
digunakan di atas kanvas cat minyak. Kertas yang digunakan sebaiknya
khusus untuk cat air, karena daya serapnya telah disesuaikan dengan
sifat cat air yang harus banyak menggunakan air dalam penggunaannya.
Cat air tidak digunakan untuk pewarna yang tebal dan pekat, karena jika
digunakan secara tebal dan pekat pengeringannya lama dan ke-
mungkinan merusak kertas jika tertempel dengan kertas atau benda lain.
Pada waktu mengeluarkannya tidak boleh diambil dengan kuas yang
basah langsung dari tubenya, sebab jika air masuk ke dalam tube warna
di dalam akan menjadi keras dan tidak dapat dikeluarkan. Dalam
menggunakannya keluarkanlah warna cat air secukupnya di atas palet
cat air. Kemudian tetesi air secukupnya dan aduk sampai rata baru dapat
digunakan dengan menguaskan di atas kertas.
147
Dalam penggunaannya cat air harus 'sekali gores jadi’ dan tidak bisa
diperbaiki kembali jika ada kesalahan. Oleh sebab itu penggunaan cat air
harus betul-betul cermat, penuh konsentrasi dan berhati-hati. Sebelum
menerapkan warna, sebaiknya kertas dibersihkan dahulu dengan
menggunakan kapas atau tisu lembab dengan cara mengusapkannya di
permukaan kertas dengan lembut dan hati-hati agar kertas tidak luka.
Kapas atau tisu jangan terlalu basah karena dapat menyebabkan kertas
bergelombang. Pembersihan ini penting dilakukan untuk menghilangkan
kotoran-kotoran pada permukaan kertas yang dapat mengganggu
penyerapan warna yang digunakan. Teknik pewarnaan dengan cat air
biasanya mulai dari warna tipis dan ringan kemudian secara perlahan
diberikan tonasinya ke warna yang lebih kuat. Cat yang masih basah
tidak dapat segera ditindih dengan warna lain karena warna akan
bercampur dan nampak kotor, untuk itu harus ditunggu sampai warna
setengah kering.
Perhatikan karya pada gambar (145 a dan b), yang pertama hanya
menggunakan hitam putih, tetapi kemampuan teknik menggunakan cat
air atau tinta yang menggunakan media air sangat piawai. Kesan
suasana berkabut dengan air terjun berwarna putih sangat sulit didapat
jika tidak sering latihan pengunaannya secara spontan. Kedua pada
gambar (145 b) penggunaan cat air berwarna juga tidak kalah piawinya
dengan teknik hitam putih. Tidaklah mudah membuat goresan spontan
yang menggambarkan wujud realistik , namun pada gambar atau lukisan
ini penggambaran pohon bunga dan burung secara spontan dapat
dicapai dengan sempurna. Perhatikan bentuk dan warna daun, bunga,
dan burung dan gerakannya, semuanya sangat ’pantas’ dan dikerjakan
dengan sempurna. Bagaimana pelukis Cina dapat menggunakan teknik
cat air demikian sempurna? Latihan dan kebiasaan merupakan kunci
utamanya karena masyarakat Cina menulis dengan menggunakan kuas
dan tinta. Jadi, kalau senimannya melukis tidak ada hambatan teknis.
Oleh sebab itu jika ingin berhasil melukis dengan teknik cat air tidak ada
lain kuncinya adalah latihan dan latihan terus menerus sehingga dapat
dikuasai karakter cat air tersebut, diketahui kelebihan dan keterbatasan-
nya.
Selain cat air, ada bahan cat yang sejenis disebut tempera dan
sifatnya juga transparan. Namur pada saat ini jarang digunakan dan di
toko pun sulit diketemukan. Pada zaman Renaissance tempera banyak
digunakan sebelum diketemukan cat minyak. Tempera terbuat dari
serbuk pigment warna dengan médium pengencer air murni dan zat
Amati karya cat air berikut diskusikan dengan teman mengenai
teknik yang digunakan dan bagaimana pula proses pengerjaannya.
Amati efek cat air yang menjadi ciri khasnya. Kemudian coba
menirunya, untuk mengetahui tekniknya, lalu coba membuat gambar
tentang lingkunganmu dengan teknik yang sama
148
a
b
Gambar 145. Lukisan klasik Cina dengan ciri
khas goresan yang spontan, transparan sebagai ciri khasnya
(sumber: (a,b) Koleksi Presiden Soekarno
149
a b
d
c
Gambar 146. Goresan-goresan cat air
perekatnya menggunakan kuning telur. Namur saat ini tela hada cat
tempera yang diproduksi secara sintetis, ada médium pencairnya
menggunakan air, ada pula tempera pengencernya menggunakan
terpentin. Untuk itu perhatikan labelnya, jira ada label “O-W” (oil-water)
berarti tempera tersebut dicairkan dengan air, apabila ada label “W-O”
(water-oil) berarti pengencernya menggunakan terpentin. Dalam
pengunaannya, tempera digunakan tipis, jika digunakan terlalu tebal
setelah kering dapat mengelupas. Tempera efektif digunakan pada
kanvas dengan cat dasar gesso dengan permukaan yang halus. Cat
tempera memungkin digunakan dengan berbagai variasi teknik seperti
150
cipratan, transparan, atau dengan dikerok untuk mendapatkan warna
yang semula. Jadi lebih luwes dibandingkan cata ir.
Tugas :
Untuk menghayati karakter cat air lakukanlah latihan berikut ini :
Ambil selembar kertas cat air ukuran A4, bersihkan dengan
kapas lembab.
Keluarkan beberapa jenis warna cat air dari tubenya, beri air dan
aduk sampai rata.
Dengan kuas cat air berbagai ukuran buatlah percobaan
goresan-goresan dengan berbagai variasinya.
Setelah selesai cermati hasil goresan itu, kenali efek-efek yang
baik dari goresan cat air tersebut
6. Cat Poster
Cat poster tergolong jenis cat air karena untuk medium pengencernya
menggunakan air. Cat ini berbeda dengan cat air biasa karena sifatnya
yang cepat kering dan dapat digunakan seperti cat minyak yakni teknik
penggunaannya dengan wama pekat karena tidak banyak menggunakan
air. Cat ini cepat kering, oleh karena itu warna awal dapat segera
ditumpang dengan warna berikutnya. Sifat lainnya adalah wamanya datar
dan rata maka selain dapat digunakan dengan teknik brush stroke yang
ekspresif atau untuk gambar dekoratif yang memerlukan warna-warna
rata dan datar. Kelemahan warna ini tidak baik digunakan terlalu tebal
karena ketika kering cepat pecah dan rontok. Selain itu jika warna yang
sudah diterapkan kena percikan air akan menjadi tidak rata. Sesuai
dengan namanya, cat ini sangat baik untuk menggambar atau melukis
poster dengan goresan-goresan kuas yang kuat dan tegas sebagai ciri
khasnya. Kelemahan lainnya yang cukup unik adalah binatang lalat
senang dengan warna ini, jika tidak waspada menyimpan gambar dapat
rusak karena dimakan olehnya.
Coba perhatikan karya cat poster berikut, diskusikan dengan
teman bagaimana pembuatnya menggunakan cat poster dapat
menghasilkan karya yang baik
151
a b
c
Gambar 147 . (a dan b) Goresan cat poster, (c) Karya I Ketut Mara mahasiswa D III Guru
Kesenian PPPG Kesenian Yogyakarta, 1987
152
Tugas Latihan
Sebelum membuat karya yang sebenarnya lakukanlah latihan
berikut ini untuk mengetahui karakter dan cara menggunakan cat
poster yang sesungguhnya:
Gunakanlah kertas gambar biasa
Keluarkan beberapa warna cat poster dari tube seperlunya dan
taruh di atas palet cat air
Beri sedikit air dan aduk sampai rata
Gunakan kuas cat air atau cat minyak buatlah eksperimen
goresan dalam berbagai variasinya
Cari kemungkinan dari cat poster itu, coba bandingkan hasil
campuran air yang banyak dan sedikit, bagaimana pula
warnanya yang tumpang-tindih
Gunakan contoh di atas sebagai acuan
7. Cat Akrilik
Cat akrilik tergolong cat baru karena diciptakan dan diproduksi
beberapa puluh tahun yang lalu. Cat ini dibuat dengan bahan pigmen
sintetik yaitu polyvinyl accetate (plastik). Cat ini juga termasuk keluarga
cat air. Dalam penggunaannya dapat menggunakan air sebagai
pengencernya dan dapat juga digunakan secara langsung dari tubenya,
seperti menggunakan cat minyak atau dengan kuas dan 'air brush'.
Selain dikuaskan dengan tebal, cat akrilik dapat juga digunakan
secara tipis seperti cat air. Cat akrilik sangat cepat kering. Oleh sebab itu,
kuas yang digunakan harus cepat dimasukkan ke air. Jika tidak kuas
akan menjadi rusak karena warna yang ada pada kuas mengering sulit
untuk dibersihkan.
153
Gambar 148. Goresan cat akrilik.
Perhatikan karya berikut yang dibuat dengan
media akrilik apakah anda sudah pernah
menggunakannya ? Apa keistimewaannya ?
Gambar 149. Nelayan, karya I Ketut Marra mahasiswa DIII Guru
Kesenian PPPG Kesenian Yogyakarta 1987.
Perhatikan ! Gunakan contoh di atas sebagai acuan,
kemudian lakukanlah latihan membuat goresan cat akrilik
dengan kuas. Amati hasilnya, kenali efek-efek yang indah,
kenapa sampai bisa demikian ?
154
8. Cat Minyak
Penggunaan cat minyak untuk membuat lukisan sudah dimulai
ratusan tahun yang lalu, diawali oleh Jan Van Eyck dari Belanda.
Selanjutnya penggunaan cat minyak meluas karena memberikan
keleluasaan kepada para pelukis untuk mengungkapkan idenya serta
kualitasnya yang melebihi media sebelumnya. Cat minyak dapat
digunakan untuk menggambarkan ilusi keruangan dengan memainkan
gelap terang dari benda yang digambarkan. Pada awal penggunaanya
cat minyak diterapkan di atas panel, kemudian disadari bahwa panel
kurang fleksibel dan sulit untuk dibawa ke mana-mana. Lalu
ditemukanlah kanvas yang terbuat dari kain yang dapat digulung
sehingga lebih mudah untuk dibawa pergi terutarna jika pelukisnya ingin
bekerja di luar ruangan (out door), misalnya melukis pemandangan.
Sesuai dengan namanya, dalam penggunaannya cat minyak
memerlukan minyak khusus untuk mencairkannya dan daya keringnya
sangat lambat. Cat minyak terdiri dari bahan pigment, minyak dari
tumbuh-tumbuhan, dan terpentin. Pigmen warna adalah bahan warna
berupa serbuk alami, atau sintetis. Pigmen warna berasal dari mineral
(tanah), tumbuh-tumbuhan, dan binatang tertentu, akan tetapi saat ini
kebanyakan yang digunakan adalah bahan sintetis yang berasal dari
bagian industri bahan bakar minyak bumi. Kualitas cat minyak ditentukan
oleh kehalusan dan kepekatan pigmennya yang dicampur dengan
minyak. Setiap pigmen memiliki karakteristik tingkat kekeringan dan
stabiltasnya jika terkena sinar matahari langsung.
Ada beberapa pigmen yang memiliki karakter, khususnya warna putih.
Titanium wahite misalnya memiliki sifat menutup cat sebelumya dan
dapat mempermuda warna lainnya. Zinc white adalah untuk
mendapatkan efek transparan, Lead white memiliki karakter stabil dan
elastis.
Oleh sebab itu untuk membersihkan kuas dan palet setelah selesai
bekerja, terlebih dahulu menggunakan minyak tanah atau terpentin,
selanjutnya baru dicuci dengan air dan sabun. Alat dan bahan bantu
155
menggunakan cat minyak relatif lebih banyak dibandingkan
menggunakan media lainnya. Kuas yang digunakan adalah kuas khusus
cat minyak yang dalam satu setnya terdiri kurang lebih kuas nomor 1
hingga 12, disamping kuas khusus untuk mengerjakan bagian-bagian
tertentu dari lukisan yang dibuat. Keistimewaan cat minyak adalah tahan
terhadap perubahan cuaca sehingga karya lukisan yang menggunakan
cat minyak dapat bertahan berabad-abad. Dalam perkembangan
penggunaannya, cat minyak dapat ditorehkan langsung dari tubenya ke
atas kanvas guna keperluan ekspresi yang ingin diungkapkan oleh
pelukisnya.
Kelemahan cat minyak adalah baunya yang sangat kuat dan
menyebabkan udara dalam ruangan menjadi pengap. Oleh karena itu,
untuk menjaga kesehatan diperlukan ruang khusus untuk bekerja dengan
ventilasi yang dapat mengatur sirkulasi udara dengan baik. Selain itu
kelemahan cat minyak ketika telah menjadi lukisan adalah tidak tahan
terhadap kelembaban. Untuk menghindarinya, apabila lukisan digantung
di tembok harus ada celah antara tembok dan lukisan. Maksudnya
adalah untuk memberikan sirkulasi udara di belakang lukisan, sehingga
lukisan terhindar dari kelembaban. Ada beberapa tanda terjadinya
kerusakan pada lukisan cat minyak yaitu retak, keriput, kering, berjamur.
Cat lukisan dapat retak jika kualitas cat minyak kurang baik, perubahan
cuaca yang ekstrim, tidak stabilnya percampuran pigmen dan minyak.
Keriput dapat disebabkan karena kesalah dalam percampuran warna,
atau ada unsur lain yang tercampur seperti air. Warna lukisan dapat
kering disebabkan oleh tidak ratanya cat dasar pada kanvas, sehingga
bagian yang tipis dapat menyerap minyak pada cat yang digunakan.
Lukisan dapat berjamur jika menempel pada diding lembab dalam waktu
yang lama.
Tugas Latihan :
Untuk mengetahui karakter dan potensi cat minyak yang
sesungguhnya lakukanlah latihan berikut ini :
Ambilah sebidang kanvas cat minyak 30x 30 cm, taruh di atas
meja atau standar lukis
Keluarkan beberapa warna cat minyak dari tubenya di atas palet
Keluarkan pula minyak cat seperlunya dalam wadah yang
disediakan
Dengan kuas ambilah minyak cat itu dan cairkanlah warna-
warna, mulailah mencoba membuat goresan dengan kuas di atas
kanvas.
Bebaskanlah perasaan, lakukanlah percobaan dengan berbagai
variasi arah dan ketebalan goresan, buatlah pula warna-warna
yang tumpang tindih kembangkan kemampuan untuk menguasai
teknik penggunaan cat minyak.
156
Selanjutnya pada kanvas yang lain gunakan cat minyak untuk
membuat bentuk-bentuk dengan ilusi tiga dimensi. Untuk latihan
ini fokuskan perhatian pada teknik pembuatan gelap terang.
Perhatikan contoh sebagai acuan.
Gambar 150. Goresan-goresan cat minyak
PerhatikannIah karya-karya yang menggunakan cat
minyak berikut ini, bagaimana potensi cat minyak
digunakan membuat karya seni rupa berupa lukisan
realis?
Gambar 151. Dullah, Tentara Pendudukan (sumber: Koleksi Presiden Soekarno)
157
a
Gambar 152. (a) Omar, Hendak
Mencuci, (b) Soedjojono, Di Balik
Kelambu, (sumber: Koleksi
Presiden Soekarno
b
B. Media Campuran Seni Rupa Dua Dimesional
Media campuran sering disebut mixed media. Maksud dari istilah ini
adalah menujukan kepada penggunaan kombinasi lebih dari satu bahan
seni rupa dua dimensional, misalnya cat air dikombinasi dengan pastel,
pensil dikombinasi dengan pastel dan seterusnya. Penggunaan media
campuran tujuannya tidak lain untuk mendapatkan efek-efek artistik yang
tidak didapatkan dalam penggunaan media tunggal. Media campuran
sangat menantang karena menggabungkan sifat media yang berbeda,
seperti cat minyak dengan cat akrilik, cat minyak menggunakan minyak
sebagai medium pengencernya, sedang cat akrilik menggunakan air; dua
medium ini sangat kontras. Namun jika dari sifat kontras tersebut dapat
dikendalikan efeknya, maka akan mendapatkan karya yang artistik dan
158
unik. Hal yang penting untuk dipertimbangkan adalah prosedurnya,
medium yang mana didahulukan, karena hal ini menentukan efek yang
ditimbulkannya. Misalnya, cat akrilik lebih dahulu diterapkan karena
sifatnya cepat kering dan dapat digunakan membuat efek tekstur. Setelah
kering diterapkan cat minyak, kemudian sebelum kering disapu dengan
lap maka dapat menimbulkan efek tekstur yang menarik sesuai dengan
pembentukan awalnya perupa tonjolan-tonjolan warna akrilik yang tebal.
Media akrilik sangat fleksibel karena dapat dikombinasi dengan berbagai
media seperti pastel, pensil, tinta, arang, atau untuk mendapatkan efek
tekstur yang unik dapat dicampur dengan serbuk gergaji, pasir dan
material lainnya.
a b
c d
Gambar 153. Goresan- goresan campuran pensil dan pastel
159
Penggunaan cat air juga dapat dicampur dengan media lain seperti
pastel,akrilik, pensil hitam, pensil warna, atau media kering lainnya.
Prosedurnya dapat bolak-balik, masksudnya dapat cat air lebih dahulu
kemudian dilanjutkan dengan media lainnya. Misalnya, untuk membuat
efek tekstur terlebih dahulu digunakan pastel minyak, selanjutnya
diterapkan cat air. Oleh karena pastel mengandung minyak, maka ketika
cat air dikuaskan warna pastel tidak hilang oleh warna cat air dengan
demikian tekstur dapat tercipta oleh goresan-goresan pastel. Selain
dengan pastel minyak, cat air dapat dikombinasi dengan pensil, tinta,
akrilik dan cat minyak. Jadi pada dasarnya seluruh material untuk seni
rupa dua dimensi dapat dicampur atau dikombinasi penggunaanya dalam
menciptakan karya seni rupa.
C. Bahan dan Alat Seni Rupa Tiga Dimensional
Pada bab sebelumnya telah disinggung sedikit mengenai seni rupa
tiga dimensional. Pada bab ini akan dibahas lebih jauh tentang alat,
bahan seni rupa tiga dimensional dengan tujuan agar setiap siswa
memahami potensinya dan dapat mengembangkan kepekaan estetik
sebagai dasar untuk membuat karya tiga dimensional selanjutnya. Oleh
sebab itu di dalam latihan penekanannya bukan membuat karya seni
rupa yang sesungguhmya, tetapi sifatnya lebih kepada eksplorasi ter-
hadap unsur seni rupa terutama unsur wujud dan sifat bahan yang
digunakan. Dalam pembahasan alat dan bahan seni rupa tiga dimen-
sional ini karena penekanannya bukan membuat karya seni tiga dimensi
yang sesungguhnya, dan kecenderungannya lebih kepada pemahaman
karakter unsur seni rupa tiga dimensional melalui eksplorasi terhadap
kualitas bahan untuk mendapatkan kualitas artistiknya. Seni rupa dua
dimensional hanya terdiri dari dimensi panjang dan lebar, sedangkan seni
rupa tiga dimensional ditambah dengan ketebalan.
Kalau kita cermati sebenarnya kita hidup berada di dalam ruang. Apa
yang ada di sekitar kita bukan gambar pipih yang hanya memiliki panjang
dan lebar, tetapi ruang yang memiliki kedalaman dan ujud yang memiliki
panjang, lebar dan ketebalan atau volume. Oleh karena itu, untuk
membuat karya seni rupa tiga dimensional, seorang perupa harus
mampu berimajinasi tentang ujud dari setiap arah dan sisi benda yang
akan dibuat.
Sebelum melaksanakan praktek untuk membuat karya seni rupa tiga
dimensional perlu mengenal terlebih dahulu karakter beberapa bahan
dan alat yang digunakan.
160
Untuk eksplorasi wujud tiga dimensional ada beberapa jenis bahan
dan alat. Bahan-bahan tersebut dikategorikan menjadi tiga, yakni : bahan
lunak, bahan liat, dan bahan keras. Semua bahan itu memiliki ka-
rakternya masing-masing dan harus diketahui oleh perupa dan kriyawan.
Namun pada praktek ini, dan mengingat beberapa keter-batasan, tidak
semua bahan sempat digunakan.
1. Bahan Lunak
Kertas, karton, gabus dan styrofoam termasuk bahan lunak.
Bahan-bahan ini relatif mudah didapat dan membentuknya dapat dengan
alat yang sederhana seperti pisau, silet dan gunting. Bahkan tanpa
alatpun, kertas dapat dilipat langsung dengan tangan tanpa bantuan alat
yang lain. Latihan dengan bahan lunak ini lebih banyak menggunakan
bahan karton. Jenis karton cukup banyak, namun untuk latihan dengan
teknik potong dan toreh gunakanlah karton yang kaku agar bentuk yang
dibuat tidak mudah melengkung. Untuk teknik melipat, karton tebal dan
kaku tidak baik digunakan karena sulit dilipat. Walaupun dapat digunakan
tetapi hasilnya kurang baik. Bagi pemula karton dan styrofoam sangat
baik digunakan untuk latihan memahami seni rupa tiga dimensional.
Untuk styrofoam, agar mendapatkan hasil potongan yang baik, perlu
menggunakan alat khusus yang dapat dibeli di toko dan harganya pun
tidak terlalu mahal. Apabila menggunakan pisau kadang-kadang hasil
potongan kurang baik
2. Bahan Liat
Bahan liat ada beberapa jenis, seperti tanah liat, gips, plastisin dan
lilin. Dalam latihan ini digunakan bahan tanah liat yang mudah didapat
karena hampir ada di seluruh tempat, hanya pengolahannya perlu
ditingkatkan kualitasnya.Tanah liat ada beberapa jenis, yaitu : Earthen-
ware, stoneware, raku dan porselin. Tanah liat sangat mudah dibentuk.
Untuk itu ada beberapa teknik dasar dalam pembentukannya dan
memiliki cirinya masing-masing. Hal ini dibahas dalam bab V.
Earthenware pada umumnya dikenal berwarna merah, namun ada
juga yang berwarna putih. Jenis tanah liat ini paling banyak digunakan
karena mudah mendapatkannya. Untuk pembakaran dengan tungku
diperlukan panas 1000ºC, dan untuk mengglasirnya diperlukan panas
1040º C - 1160º.
161
a
b
c d
Gambar 154. Jenis tanah liat (a) Earthen Ware, (b) Stone Ware, (c) Porselin, (d) Raku
Stoneware berbeda dengan earthenware karena memerlukan suhu
yang lebih tinggi dalam pembakaran glasirnya, yaitu untuk bakaran
biscuit diperlukan panas 1000º C dan untuk glasir 1200-1300º C.
Stoneware hasilnya lebih berat dan kuat dibanding earthenware. Efek
lebih halus dapat dihasilkan jika menggunakan teknik reduksi dalam
pembakarannya. Untuk itu perlu digunakan tungku yang dapat dimatikan
dengan seketika.
162
Porselin merupakan jenis tanah liat yang sangat halus dan hasilnya
keras. kehalusannya hampir seperti glasir jika digunakan untuk memoles
tanah liat lainnya dan dibakar dengan suhu bakaran glasir. Porselin
memiliki kualitas bening yang tidak dimiliki oleh tanah liat lainnya dan
dapat juga dibuat kusam. Sifatnya sangat cepat kering namun masih
memungkinkan untuk dibentuk, sekalipun dengan teknik putar. Untuk
pembakaran biscuit dibutuhkan panas 1000º C dan untuk glasir 1240 -
1300º C.
Bahan raku merupakan jenis tanah liat yang kasar karena
mengandung pertikel butiran pasir. Ketika telah menjadi produk bahan
raku ini memberikan kesan tekstur seperti batu. Untuk pembakaran
biskuit memerlukan temperatur panas lebih rendah dari jenis tanah liat
lainnya yaitu sekitar 900º C, sedangkan untuk glasir 800-1000º C. Bahan
raku dapat dibakar beberapa kali hingga mendapatkan hasil pembakaran
yang diinginkan.
Gambar 155. Benda-benda dari bahan eartheware (a) Periuk kuno dari NTT,
(b) Kendi dari Zaman Majapahit (sumber: Museum Nasional)
3. Bahan Keras
Yang termasuk bahan keras adalah kayu, batu dan logam. Ketiga
jenis bahan ini telah digunakan oleh perupa dan kriyawan sejak jaman
dahulu untuk membuat karya seni rupa dan kriya. Karena bahan ini sukar
dibentuk, maka memerlukan alat-alat khusus seperti alat potong berupa
gergaji, gunting, alat pembentuk berupa pahat dan sebagainya. Di antara
ketiga bahan itu yang paling banyak peralatannya adalah logam, karena
di samping jenis alat di atas dibutuhkan pula peralatan lain, seperti alat
penyambung berupa las serta alat pelebur dan pencetak.
163
a. Kayu
Hampir seluruh kebudayaan masyarakat menggunakan kayu sebagai
bahan untuk produk seni rupa dan kriya. Hal ini disebabkan karena,
hampir di seluruh penjuru dunia ada kayu. Tingkat kekerasan kayu
berbeda-beda, yakni kayu sangat keras, keras, sedang, dan lunak. Hal ini
akan menentukan cara pengerjaannya. Kayu sangat keras sangat sulit
membentuknya, sedang kayu lunak mudah patah, untuk itu dibutuhkan
pengalaman yang cukup untuk mengetahui sifat-sifat kayu termasuk
tekstur, serat, dan daya tahannya terhadap perubahan cuaca. Namun
demikian, dibanding bahan keras lainnya kayu relatif mudah dibentuk
dengan menggunakan alat peraut (pisau), gergaji, pahat, dan ketam
dalam membuat benda seni rupa dan kriya seperti patung, mainan anak,
peralatan rumah tangga dan sebagainya. Alat utama dan minimal yang
harus dimiliki untuk mengerjakan kayu dalam seni rupa adalah pisau raut,
dan pahat dengan berbagai jenis dan fungsi serta alat pemukulnya.
Dengan kedua jenis alat ini seorang perupa telah dapat membuat produk
seni rupa tiga dimensi dengan teknik raut, ukir, dan membentuk.
Beberapa hal yang perlu diketahui tentang kondisi kayu adalah faktor
kekeringan dan pengawetan, serat, dan mata kayu. Kekeringan dan
pengawetan harus menjadi pertimbangan serius dalam mengerjakan
produk seni dengan bahan kayu, oleh karena banyak kasus terjadi
produk kayu yang diekspor ke luar negeri sering mengalami masalah
pecah dan dimakan hama atau ’bubukan’ sehingga kayu menjadi kropos.
Faktor kekeringan yang baik adalah kadar air dibawah 12 persen. Jadi
bagi perupa yang menggunakan bahan dasar kayu utuk karyanya perlu
mempelajari teknologi pengawetan dan pengeringannya dengan baik.
Serat kayu ada beberapa macam, dan hal ini perlu juga diketahui
sifatnya karena berhubungan dengan cara mengerjakannya. Ada
beberapa jenis serat kayu yakni serat lurus dan rapat, serat kasar, dan
serat diagonal. Serat kayu lurus dan rapat adalah sangat baik untuk
pmembuat produk seni, serat kasar dan serta diagonal memerlukan
kehati-hatian dan kesabaran dalam mengerjakannya. Selain serat ada
pula bagian lapisan kayu yang dapat digunakan untuk mengetahui mudah
dan sulit dalam mengerjakan; lapisan kayu yang warnanya cerah dan
lebar menandakan kayu tersebut mudah untuk dikerjakan, sebaliknya
lapisan yang gelap lebih keras dan sulit untuk mengerjakannya. Untuk
referensi lebih detail tentang sifat kayu lihat dalam Wood Carving Basic
tulisan Allan dan Gill Bridgewater.
b. Batu
Karya seni rupa yang menggunakan batu biasanya dalam wujud
patung dan relief. Bahan batu jenisnya bervariasi, ada batu pualam,
marmer, onix dan batu kali. Sejak zaman dahulu batu telah digunakan
untuk membuat benda-benda yang berhubungan dengan ritual. Pada
164
zaman purba batu digunakan untuk alat potong seperti kapak. Hasilnya
untuk pemujaan nenek moyang. Belakangan berkembang menjadi wujud
lingga dan yoni. Oleh karena bahannya tahan lama menyebabkan karya-
karya dengan bahan ini menjadi tidak lekang dimakan jaman, sehingga
jejak seni rupa yang menggunakan bahan batu sangat banyak
diketemukan. Jenis bahan batu ada beberapa macam, yaitu mamer, onix,
batu andesit dan batu paras. Marmer adalah jenis batu yang paling keras
sebaliknya batu paras adalah jenis batu yang paling lunak.
a
b
Gambar 156. (a) Patung Dewa Kuwera dengan bahan logam (sumber: Museum Nasional,
(b)Patung Penunggang Kuda dari Nias bahan batu.
c. Logam
Ada beberapa nama bahan logam yang kekerasannya juga bertingkat,
yaitu: aluminium, besi, baja, tembaga, perunggu, kuningan, nikel, emas,
perak dan platina. Bahan-bahan ini dalarn pembentukannya dapat
langsung ditekuk, dikenteng, disambung dengan las maupun harus
dicairkan untuk keperluan teknik cor. Bahan logam tahan sangat lama,
misalnya perunggu, tembaga, kuningan, perak dan emas yaitu jenis
logam yang anti karat, sehingga karya-karya dengan bahan ini dapat
tahan berabad-abad dan tidak rusak. Di Indonesia hal ini telah dibuktikan
oleh peninggalan seni rupa jaman pra Hindu, jaman Hindu, Budha dan
Islam berupa patung, relief, alat upacara dan perhiasan.
165
Menyaksikan karya seni atau membuat karya seni, khususnya seni
rupa, memerlukan kepekaan persepsi terutama yang berhubungan
dengan masalah keindahan atau disebut estetik atau disebut the sense of
beauty. Ada tiga cara yang umum untuk melatih kepekaan persepsi
penglihatan. Pertama dengan latihan melihat langsung berbagai jenis
karya seni rupa. Kedua dengan cara latihan membuat langsung karya
seni rupa. Ketiga, dengan membaca ulasan atau keterangan mengenai
seni rupa.
Pada umumnya orang yang melihat langsung karya seni akan mudah
mencerna jika karya seni rupa itu wujudnya realis. Artinya, karya seni
rupa itu menggambarkan secara nyata tentang kondisi sesungguhnya
dari suatu kenyataan. Namun apabila karya seni rupa itu tampilan
wujudnya bukan realis atau bukan mengungkapkan kondisi
sesungguhnya dari suatu kenyataan, maka secara umum orang akan
mulai merasa tidak dapat puas menikmatinya. Kenapa hal itu dapat
terjadi? Hal ini dapat dikiaskan sebagai orang yang belum ‘melek huruf’
lalu disuruh membaca sebuah kata atau kalimat. Orang tersebut tidak
dapat mengetahui makna bentuk huruf atau rangkaian huruf yang
membentuk kata, atau rangkaian kata yang membentuk kalimat. Begitu
pula orang yang pertama kali mendengarkan percakapan bahasa asing
tentu apa yang didengarnya hanya merupakan bunyi yang keluar dari
orang yang bercakap tanpa diketahui maknanya.
Untuk mengetahui dan dapat memahami karya seni rupa yang
nampaknya ‘asing’ karena wujudnya tidak menampilkan kenyataan yang
sudah dikenal baik, seseorang perlu mengetahui ‘bahasa’ rupa dan
propertinya. Bahasa rupa itu disebut unsur-unsur seni rupa dan prinsip
pengorganisasiannya. Namun demikian, hal ini belumlah cukup sebab
bahasa rupa itu dipahami bukan dengan pengertian nalar atau logika,
tetapi dapat dipahami dengan kehalusan perasaan yang berhubungan
dengan the sense of beauty. Kepekaan estetik ini sangat penting,
terutama bagi orang yang berprofesi dalam bidang seni, karena
kepekaan estetik merupakan hal pokok dalam dunia seni. Bagi
masyarakat umum juga penting karena hakekat menjadi manusia salah
satunya memiliki kebutuhan untuk menikmati keindahan, baik yang ada di
alam maupun buatan manusia.
Kepekaan estetik tidak mudah didapat, maksudnya tidak secepat
menghafal sebuah rumus-rumus kimia atau matematik atau per-
bendaharaan kata. Kepekaan didapat dengan mengasah setiap saat.
Orang yang hidup di lingkungan masyarakat seni akan lebih cepat
memiliki kepekaan estetik dibanding yang tinggal terpencil dari pusat
budaya dan seni. Namun demikian, setiap orang memilikinya, karena hal
ini telah ada dan dibawa sejak lahir. Selain itu kenyataan telah
membuktikan, bahwa masyarakat yang masih terbelakang pun dalam
peradaban ini dapat menghasilkan karya seni. Berarti secara naluriah
manusia memang membutuhkan seni dalam kehidupannya.
Dalam mengasah kepekaan estetik tersebut, dalam seni rupa
dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu secara produktif melalui praktek,
apresiatif melalui kegiatan analisis karya seni rupa baik langsung maupun
melalui mediator, dan melalui alat bantu visual,seperti buku, slide, foto
reproduksi dan sebagainya.
Perhatikanlah karya-karya seni rupa (gb 157 dan 158) berikut !
a c
b
Gambar 157 . (a) Bonnet, Pengarit, (b) Basuki Abdulah, Penari Bali, (c) Nyoman Gunarsa, Dua Penari Bali
(sumber: (a,b)Koleksi Presiden Soekarno, (c) Foto Agung Suryahadi)
Dari enam jenis karya seni rupa di atas ini semuanya memberikan kesan
‘rasa’ yang berbeda. Perhatikan gambar (157 a, b dan c), begitu pula
gambar patung (158 a,b,c). Dapatkah diungkapkan perasaan atau kesan
apa yang disampaikan oleh masing-masing karya seni rupa tersebut?
Setiap orang akan memberikan ungkapan yang berbeda, hal ini
tergantung dari kemampuan kepekaan persepsi visual seseorang dalam
‘mencerna’ unsur-unsur yang ada dalam karya itu, yang juga dipengaruhi
oleh latar belakang pengalaman setiap individu dalam intensitasnya
‘bergaul’ dengan karya seni rupa. Agar dapat efektif mengasah kepekaan
167
persepsi visual yang berhubungan dengan estetik, pembahasan unsur-
unsur seni rupa disajikan melalui teori dan praktek.
a
b
c
Gambar 158. (a) Ratu dan putrinya, karya patung zaman Mesir Kuno (b) Thorn Puller, karya patung
zaman Helenistik, (c) Nyoman Nuarta (sumber: (a,b) Paul Zelanski, (c) Indonesian Heritage).
A. Unsur Seni Rupa
1. Unsur Garis
Garis adalah salah satu unsur seni rupa yang paling pokok, sebab
garis merupakan unsur rupa yang ada dimana-mana. Untuk lebih
memahami tentang garis coba perhatikan bagian tepi sebuah benda,
perhatikan jejak yang ditinggalkan oleh binatang melata di atas tanah
berdebu, batas pandangan di laut lepas, tiang listrik, cabang pohon, kilat
yang menyambar, retak pada tembok. Setelah itu dapatkah anda
mernahami apakah garis itu ?
Perhatikanlah bentuk-bentuk di bawah ini ?
a b c d e
Gambar 159 . Unsur seni rupa: bentuk (a,b) dan garis (c,d,e)
168
Perhatikanlah bentuk a dan b, apa yang menyebabkan bentuk itu
berbeda? Lihat pula garis-garis yang ada di sebelahnya, cermati
satu persatu, bagaimana perasaan anda melihat setiap garis itu ?
Pada dasarnyaya garis itu hanya ada dua, yaitu garis lurus dan garis
lengkung. Garis-garis lainnya merupakan pengembangan dan variasi dari
kedua jenis garis tersebut dan menyampaikan karakter yang berbeda.
Walaupun garis itu sederhana, ia dapat menyampaikan suatu perasaan
dan ini tergantung dari kondisi jenis garis tersebut, yaitu tebal tipisnya,
posisi dan arahnya.
Sebuah garis lengkung tebal menyampaikan kesan yang berbeda
dibanding dengan garis lengkung tipis, apalagi dengan garis lurus dalam
posisi yang berbeda tentu akan memberikan kesan yang sangat berbeda
dalam perasaan kita. Terwujudnya sebuah bentuk disebabkan karena
garis yang membatasi ruang, baik nyata maupun sugestif. Sifat-sifat garis
yang membatasi itu menentukan pula sifat bentuk yang dihasilkannya.
Oleh sebab itu, keterampilan dalam membuat garis erat hubungannya
dengan keterampilan membuat bentuk dengan garis.
Penggunaan garis dalam seni rupa tidak hanya pada karya dua
dimensional, perhatikanlah (gb. 158 c) karya Nyoman Nuarta. Garis
dalam karya itu sangat efektif digunakan dalam membuat patung yang
ekspresif. Hampir seluruh wujud patung terbentuk dari garis sehingga
patung kelihatan seperti dibalut oleh kain namun memberi ekpresi
dinamis oleh karena patung itu seakan bergerak oleh ilusi garis. Sama
pula halnya dengan (gb. 157 b dan c). Dalam kedua lukisan tersebut
ekspresi garis sangat memegang peran penting dalam menghasilkan
lukisan yang bersifat dinamis dan ekspresif.
Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan garis adalah
mengetahui potensi ekspresi garis tersebut. MisaInya jika ingin
menyampaikan karakter kuat, berani dan agresif tentu harus meng-
gunakan garis yang sesuai untuk itu, misalnya garis tebal, rata, tajam dan
halus. Jika ingin menyampaikan suatu sifat yang lembut dan halus
gunakanlah garis lengkung tipis dan tak terputus. Namun, perlu diingat
bahwa hal itu tidak selalu demikian karena yang lebih menentukan adalah
bagaimana perasaan itu dapat diwakili oleh garis yang dibuat. Seorang
yang membuat garis dengan perasaan yang terkonsentrasi pada waktu
menggoreskannya hasilnya berbeda dengan orang yang hanya sekedar
membuat garis. Agar dapat selaras antara gerak perasaan dengan gerak
tangan dalam menghasilkan garis yang diinginkan diperlukan latihan dan
latihan yang terus menerus. Untuk keperluan itu lihatlah aspek dan sifat
beberapa garis di bawah ini, rasakan perbedaan kesan yang
disampaikan, kemudian latihlah tangan membuat garis sesuai dengan
perasaan yang dikehendaki.
169
Tabel 2. Garis dan Kesan Efek Fisiknya
No Aspek Variasi Tampilan Kesan Fisik
- Kesan kaku, keras,
1. Jenis : - Lurus
tajam.
- Lengkung - Lembut, empuk, halus
- Dinamis mengalun.
- Berombak
bergerak, menyenang-
kan
- Zigzag - Kaku, tegang,
panas, menakutkan
- Menambah berat,
2. Ketebalan: - Tebal
berani, kasar, tegas
- Tipis - Halus, ringan, ragu
- Tak - Lancar, konsisten,
3. Kontinyuitas
: Terputus tidak ragu
- Tersendat, ragu,
- Terputus
kurang berani
- Titik-Titik - Ritmis, ragu
- Tegak Lu- - Kesan tinggi,
4. Arah: me-
rus nyempit
- Mendatar - Melebar, pendek, te-
nang, mati, istirahat
- Diagonal - Dinamis, tidak stabil,
oleng.
5. Ekspresif - Spontan, berani,
segar
170
Tugas latihan
Perhatikanlah garis-garis berikut ini, gunakanlah sebagai acuan,
kemudian latihlah tangan dengan membuat berbagai jenis garis
dengan berbagai jenis alat dan bahan seperti pensil, pastel, tinta
dan arang.
a b
e
c d f
Gambar 160. Berbagai jenis bahan dan teknik membuat garis, hasil latihan peserta Diklat
Dasar Seni Rupa/Kekriyaan P4TK Seni dan Budaya
Latihan membuat garis selain untuk melancarkan tangan dalam
membuat garis juga berlatih mengamati potensi garis, baik keterbatasan
maupun kelebihannya. Pada gambar 160 a, garis dibuat dengan tinta dan
dengan alat pena, dilakukan ekplorasi tebal tipisnya, serta efek-efek
171
visualnya untuk mendapatkan nilai estetiknya. Pada gambar 160 b garis
spontan dengan tinta dikombinasi degan warna cat air. Pada gb.160 c,
garis dibuat di atas tekstur kasar dengan arah melingkar menuju ke pusat
di tengah. Gambar 160 d, garis dibuat dengan pensil tumpang tindih dan
membentuk irama bergelombang. Gambar 160 e, garis-garis lengkung
dengan variasi arah dan ketebalan memberikan kesan dinamis. Gambar
160 f, garis tidak hanya dapat dibuat dengan alat yang runcing, namun
dapat pula memanfaatkan batas tepi kertas dengan teknik arsiran dan
gosok. Masih ada banyak kemungkinan lain dalam membuat garis untuk
mendapatkan nilai estetik dan ekpresinya, baik dengan media dua
dimensional dan tiga dimensional selain itu pada gb. 161 dan 162, garis
dapat digunakan untuk membentuk ilusi tiga dimensional. Pada gambar
tersebut, arah garis yang disusun secara teratur dan berulang-ulang
dapat membentuk ilusi ruang serta gerakan.
a
b
Gambar 161 . Dua gambar dengan hanya menggunakan garis
172
a
b
Gambar 162. Ilusi Garis (sumber: Robert H. McKim)
2. Unsur Ruang
Ruang termasuk unsur seni rupa yang pokok. Dengan adanya ruang,
maka karya seni rupa dapat dibuat. Ada ruang dua dimensional (bidang)
ada pula tiga dimensional. Sebuah titik di atas kertas ada pada ruang
datar, sedang kita ada pada ruang berongga. Penggunaan ruang pada
permukaan datar menyangkut hubungan antara ruang datar (bidang) latar
belakang dengan figur (bentuk). Dalam istilah keruangan hal ini disebut
sebagai ruang positif (bentuk) dan ruang negatif, yaitu ruang di belakang
atau di sekitar bentuk atau latar belakang. Apabila bentuk datar v(ruang
positif) dan latar belakang datar ukurannya sama, dapat menimbulkan
bentuk yang simultan dan penglihatan mata kita dipaksa untuk melihat
kedua bentuk secara bersamaan. Efek ini dapat menyebabkan mata
kelelahan untuk mengidentifikasikannya (gb. 163 b)
173
a b
Gambar 163. (a) Positif dan negatif, (b) Positif negatif simultan
Membuat karya seni rupa pada dasarnya merupakan kegiatan meng-
organisasikan ruang positif dan ruang negatif, dalam susunan yang baik
interaksi keduanya dapat mencapai harmoni.
Dengan diketemukannya perspektif pengorganisasian ruang dalam
bidang dua dimensional semakin berkembang, sebab dengan meng-
gunakan prinsip perspektif dimungkinkan untuk menggambarkan ilusi
ruang dengan kedalaman pada bidang datar. Dalam prinsipnya ada dua
jenis perspektif, pertama, benda-benda yang posisinya sejajar semakin
menjauh akan kelihatan semakin mengecil menuju kepada titik lenyap
pada garis batas pandangan hal ini disebut linear perspektif (gb.164),
kedua, benda-benda yang menjauh akan semakin kabur karena
pengaruh atmosfer, sedang benda yang dekat terlihat lebih terang dan
besar, prinsip ini disebut areal perspektif (gb.162, 163). Penggunaan
perspektif sangat penting bagi pelukis naturalis dan realis, kedua jenis
perspektif terkadang digunakan secara bersamaan untuk mendapatkan
ilusi tiga dimensi lebih efektif. Perhatikan gambar 165 pepohonan
semakin jauh semakin mengecil, begitu pula warna semakin jauh
semakin melemah intensitasnya.
Perhatikan pula gambar berikut ! Bagaimana caranya
menggambarkan ilusi ruang ?
174
Gambar 164. Ruang positif negatif dengan areal perspektif.
Gambar 165. Albert Biersatdt, The Rocky Mountain (sumber: Paul Zelanski)
175
Gambar 166 . Jacopo Tintoretto, The Finding of the Body of St Mark
( sumber: Paul Zerlanski)
Tugas Latihan
Agar mengetahmi potensi ruang yang sesungguhnya lakukanlah
latihan belikut ini:
Camkanlah tentang perbedaan ruang negatif dan ruang positif
Pada kertas gambar A4 susunlah ruang positif secara tumpang
tindih dan gunakan tinta hitam sebagai warnanya
Dengan kertas yang lain susunan ruang positif dan negatif dalam
perbandingan yang sama, gunakan pula tinta hitam sebagai
warnanya
Perhatikan hasilnya dan cermati hal-hal yang kurang me-
muaskan perhatian
Gunakan contoh sebagai acuan
176
Gambar 167 . Contoh Ruang positif dan negatif karya peserta
Diklat Desain Dasar Seni Rupa/Kriya P4TK Seni Budaya
3. Unsur Bentuk
Bentuk merupakan salah satu unsur seni rupa yang menentukan
keberhasilan sebuah karya seni rupa dan kriya. Namun di samping istilah
bentuk ada pula istilah wujud untuk membedakan antara 'image' (2
dimensional) yang memiliki panjang dan lebar pada area yang datar
dengan 'image' (3 dimensional) yang memiliki panjang, lebar, dan
volume/tebal pada area dengan kedalaman.
177
Bagan 1 . Bentuk dan wujud
Lihatlah kedua karya ini, dapatkah anda mendapatkan perbedaan
dan persamaannya ?
a b
Gambar 168. (a) Bentuk organik dua dimensi, (b) Bentuk organik tiga dimensi
Bentuk ada karena dibatasi oleh garis. Garis yang membatasi
bidang menjadikan bentuk dan karakter bentuk itu ditentukan oleh jenis
garis yang membatasinya itu. Bentuk yang dibatasi oleh garis lurus
karakternya berbeda dengan bentuk yang dibatasi oleh garis lengkung.
Pembatasan bidang oleh garis ini menghasilkan dua jenis bentuk yaitu
178
bentuk geometris dan bentuk organis (gb.169). Bentuk geometris
struktumya teratur misaInya: segitiga, segiempat dan bulat; sedangkan
bentuk organis strukturnya tidak teratur dan banyak terdapat pada
bentuk-bentuk alami seperti pepohonan, akar, tulang binatang, mahluk di
dalam lautan dan sebagainya.
a b
Bagan 2 . (a) Bentuk organis, (b) Bentuk
Selanjutnya perhatikanlah bentuk-bentuk di bawah ini, kesan apa
saja yang timbul dalam hati ketika memperhatikannya ?
a b
Gambar 169. Bentuk dengan ilusi tiga dimensi, (a) Bentuk organis, (b) Bentuk geometris.
Dalam seni rupa dua dimensional (nirmana datar) sejak dahulu telah
dilakukan upaya untuk menggambarkan ilusi tiga dimensional atau ruang
pada bidang datar. Salah satunya adalah dengan cara tumpang tindih
179
atau overlapping (gb.169, 170). Kita tahu bahwa bila sesuatu tersusun
dalam posisi tumpang tindih maka ada suatu celah di antara bentuk-
bentuk tersebut dan celah itu adalah ruang. Cara lain adalah dengan
memberikan sinar dan bayangan pada bentuk itu dengan teknik arsiran
dan blok (gb. 169,170).
Perhatikanlah gambar di bawah ini! Apakah anda dapat melihat
adanya perbedaan bentuk dan teknik menggambarkannya ?
Gambar 170 .
Bentuk-bentuk
organis dan ge-
ometris bervol-
ume, karya pe-
serta Diklat Da-
sar Seni Rupa/
Kekriyaan.
a b
d
c
Pada gambar (a) arsiran untuk memberikan kesan volume diterapkan pada tepi
bentuk organis, sedang pada gambar (b) bagian gelap menggunakan teknik blok
pada bagian yang tidak atau sedikit kena sinar, Namun pada bentuk geometris
dapat juga diterapkan teknik arsiran untuk mendapatkan ilusi tiga dimensional
(gb.170a,d).
180
4. Unsur Warna
Dalam seni rupa warna sangat esensial, karena penampilan pertama
yang diperhatikan orang selain bentuk adalah warna. Warnalah yang
menyebabkan kita berhenti sejenak untuk melihat kain yang dijual di
sebuah toko, demikian juga war-na menyebabkan kita dapat mengenali
sebuah benda. Bagaimana rupa dunia ini jika tidak ada warna ? Lalu
apakah warna itu ?
a. Teori Warna
Ada beberapa pendapat yang mencoba menjelaskan tentang warna,
namun yang menonjol dan aplikatif dalam bidang seni rupa adalah teori
cahaya dan teori pigmen. Teori cahaya dipelopori oleh Sir Isaac
Newton yang mengatakan bahwa warna yang kita Iihat pada suatu benda
berasal dari cahaya putih matahari. Hal ini dibuktikannya dengan
membiaskan cahaya putih itu dengan prisma kaca (bagan 3 ). Hasil yang
keluar dari prisma itu berupa tujuh spektrum warna.
Selanjutnya menurut teori itu kita dapat melihat warna sebuah benda
karena benda tersebut menyerap dan memantulkan spektrum warna ke
mata kita.
Bagan 3 . Pembiasan cahaya putih
menjadi warna dengan prisma
kaca
MisaInya kita melihat warna merah suatu benda karena hanya
spektrum merah yang dipantulkan, sedang yang lainnya diserap oleh
benda tersebut. Jika benda itu kelihatan abu-abu artinya seluruh
spektrum dipantulkan setengah, jika kelihatan hitam seluruh spektrum
diserap dan apabila putih seluruh spektrum dipantulkan secara penuh.
Dalam teori pigmen dinyatakan bahwa warna itu terdapat pada
pigmen dan hanya ada tiga jenis warna pokok,yaitu merah, biru dan
kuning. Warna-warna itu tidak bisa didapat dengan mencampur, warna-
warna tersebut adalah warna murni. Teori ini dipelopori oleh Prang
Brewster. Dalam perkembangannya warna dikelompokkan menjadi tiga,
186
yakni warna primer, warna sekunder dan warna tertier. Warna primer
merupakan warna induk karena warna sekunder didapat dengan
mencampur warna-warna primer sedang warna tertier didapat dengan
mencampur warna primer dan sekunder. Tiga kelompok warna itu
tersusun dalam lingkaran warna dan lingkaran warna tersebut dapat
digunakan sebagai pedoman dasar penggunaan warna. Uraian
selanjutnya tentang warna dalam buku ini adalah berdasarkan teori
Prang.
Lingkaran Warna
Bagan 4 . Tint & Shade, dan lingkaran warna
Kelompok Warna Nama Warna
Warna Primer : Merah, Biru, Kuning
Warna Sekunder : Hijau, Jingga, Ungu
Warna Tertier : Kuning Jingga, Merah Jingga, Ungu
Merah, Ungu Biru, Hijau Biru, Hijau
Kuning
187
Tugas Latihan
Agar dapat memahami percampuran warna lakukan latihan berikut
ini :
Pada kertas gambar A4 buatlah sebuah lingkaran dan bagi
lingkaran itu menjadi dua belas bagian yang sama.
Tentukan bagian paling atas sebagai ruang warna kuning,
kemudian searah jarum jam adalah berturut-turut warna kuning
jingga, jingga, merah jingga, merah, ungu merah, ungu, biru
ungu, biru, hijau biru, hijau dan hijau kuning.
Selanjutnya isilah ruang-ruang tersebut dengan warna cat poster
sesuai dengan namanya.
Untuk mendapatkan warna sekunder campurlah dua warna
primer dengan perbandingan 1:1 ( k+b=h, k+m=j, b+m=u). Begitu
pula untuk mendapatkan warna tertier campurlah warna primer
dengan sekunder 1:1.
Dengan kertas gambar A4 yang lain buatIah sebuah segitiga
sama sisi
Bagilah ruang segi-tiga itu menjadi tiga bagian, kemudian pada
bagian tersebut terapkanlah warna-warna primer
Pada kertas yang lain buatIah segi-empat sama sisi dan bagi
menjadi empat bagian. Seterusnya terapkanlah empat warna
yang saling berhadapan pada lingkaran warna pada empat ruang
pada segi-empat tersebut
Perhatikan dengan seksama bagaimana kelihatannya warna-
warna yang saling berjajar itu baik pada lingkaran maupun pada
segi-tiga dan segi-empat Kenalilah sifat-sifat warna itu dengan
perasaaan anda, warna yang menonjol, menyurut, panas, dingin,
bergetar dan sebagainya.
b. Temperatur Warna
Warna-warna dalam lingkaran warna selain dikelompokkan menjadi
tiga kelompok wama dapat pula diklasifikasikan menjadi dua kelompok
warna menurut temperaturya, yaitu warna panas dan warna dingin.
Warna-warna yang temasuk kelompok wama panas adalah : kuning,
kuning jingga, jingga, merah jingga, merah dan merah ungu; sedangkan
yang termasuk warna dingin adalah: ungu, ungu biru, biru, hijau biru,
hijau dan hijau kuning. Kesan temperatur yang ditimbulkannya
disebabkan karena kebiasaan dari keadaan yang ada setiap hari di
lingkungan kita. Pengalaman kita menunjukkan bahwa sesuatu yang
berwarna merah, jingga, kuning adalah panas; misalnya: api, matahari,
dan logam yang dilelehkan. Sebaliknya sesuatu yang berwarna violet,
188
hijau, biru adalah dingin; misalnya : laut, danau, dan pegunungan. Hijau
dan ungu dapat menjadi panas jika pada unsurnya lebih banyak
mengandung warna panas, seperti kuning dan merah. Warna yang paling
panas adalah kuning dan yang paling dingin adalah ungu. Sedangkan
kelompok warna netral adalah abu-abu, hitam dan putih. Sebenarya
hitam dan putih bukanlah warna sebab hanya berupa gelap dan terang .
Value dan intensity juga dapat mengandung temperatur warna ini. Value
yang terang kelihatan lebih panas daripada value yang gelap, begitu pula
warna yang intesitasnya penuh kesannya lebih panas dibandingkan
dengan warna yang intensitasnya lebih lemah. Penerapan warna panas
dan dingin akan efektif jika disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Misalnya, pada terik matahari jika menggunakan warna panas suasana
akan lebih menjadi panas, untuk itu dalam kondisi panas akan lebih baik
jika menerapkan warna dingin.
Hal yang sama adalah penggunaan warna pada ruang atau
perlengkapan anak-anak, seperti ruangan, pakaian, dan mainan. Untuk
anak-anak lebih baik menggunakan warna ringan yang ceria, tidak
menggunakan warna-warna berat dan kusam. Hal ini sesuai dengan sifat
anak-anak yang menyukai hal-hal yang menggembirakan. Jadi secara
alami berbeda dengan selera orang dewasa yang sering menyesuaikan
dengan kondisi kegemaran dan kejiwaannya.
Tugas Latihan
Untuk dapat memahami potensi warna lakukanlah latihan berikut ini:
Ambil selembar kertas gambar, lalu buatIah bentuk-bentuk
geometris dengan ukuran yang bervariasi, gunakan pensil.
Pertimbangkan dan rasakan susunannya, jika dirasa sudah baik
terapkanlah warna-warna panas pada bentuk dan latar
belakangnya . Gunakan warna cat poster
Dengan prosedur yang sama buatIah bentuk-bentuk organis
dengan warna-warna dingin
Bandingkan kedua hasil karya itu dan rasakan temperatur
warnanya!
189
b
a
Gambar 171. Aplikasi warna panas (a) dan warna dingin (b)
c. Dimensi Warna
Jumlah warna diperkirakan kurang lebih ada 30.000 jenis. Setiap
warna sesungguhnya mengandung tiga aspek yaitu : Hue, Value dan
Intensity. Perbedaan warna disebabkan oleh ketiga aspek tersebut dan
setiap aspek memiliki peran khusus dan berinteraksi satu dengan lainnya.
Hue adalah nama warna pada lingkaran warna dan keberadaannya
ditentukan oleh adanya sinar langsung maupun tak langsung. Hue murni
intensitasnya tinggi dan biasanya hue sangat kuat menarik perhatian.
Value merupakan istilah untuk menunjukkan terang gelapnya hue.
Hue yang mumi jika ditambah putih disebut tint dan bila hue murni
ditambah hitam disebut shade. Aplikasi dari kedua hal ini tampak dalam
membuat tone warna terutama gelap terang untuk ilusi tiga dimensional
pada lukisan realis begitu pula pada karya-karya jenis lainnya yang datar
seperti pada karya grafis, dekorasi interior dan sebagainya.
Intensity adalah cerah suramnya wama. Warna yang cerah memiliki
intensitas yang tinggi, sedangkan warna suram memiliki intensitas
rendah. Hitam, putih dan abu-abu adalah warna suram yang tidak
memiliki intensitas hue. Oleh sebab itu warna abu-abu dapat berperan
190
sebagai warna netral yang dapat menyatukan warna lainnya terutama
warna kontras. Warna hitam dapat mengikat warna-warna kontras oleh
karena hitam menyerap cahaya, karena warna-warna kontras yang
intensitasnya tinggi kekuatan refleksi cahayanya dikurangi oleh warna
hitam jika digunakan sebagai latar belakang, atau sebagai kontur garis
tepi bentuk. Putih adalah sebaliknya dari hitam karena memantulkan
seluruh gelombang spektrum warna, sehingga warna kelihatan lebih
cerah di atas putih. Sedangkan abu-abu memantulkan setengah dari
setiap spektrum warna.
Untuk lebih memahami bagaimana peran warna dalam seni rupa
perhatikanlah karya-karya berikut. Perhatikan cerah suramnya,
gelap terangnya dan bagaimana perannya dalam ruang dan bentuk ?
a
Gambar172. (a)
Aplikasi warna-
warna intesitas
tinggi, (b) Aplikasi
warna-warna
intesitas rendah.
b
191
Tugas Latihan
Untuk dapat memahami
potensi warna lakukanlah
latihan berikut ini:
Ambil selembar kertas
gambar, lalu buatIah
bentuk-bentuk geo-
metris dengan ukuran
yang bervariasi, guna-
kan pensil.
Pertimbangkan dan ra-
sakan susunannya, jika
dirasa sudah baik te-
rapkanlah warna-warna
panas pada bentuk dan
latar be-lakangnya . Gambar 173 . Aplikasi warna primer
Gunakan warna cat
poster
Dengan prosedur yang
sama buatIah bentuk-
bentuk organis dengan
warna-warna dingin
Bandingkan kedua ha-
sil karya itu dan rasa-
kan temperatur war-
nanya!
Perhatikan warna-warna yang ada di alam disekeliling anda. Apakah
ada kombinasi warna yang tidak menyenangkan? Alam sangat
bijaksana, lihatlah warna-warna bunga, walaupun kontras dengan
daunnya yang hijau tetapi tetap menyenangkan. Pelajarilah itu !
d. Skema warna
Bagaimana caranya mengkombinasikan warna? Walaupun selera
dalam memilih dan mengkombinasikan warna itu sifatnya sangat pribadi,
pertanyaan tadi maksudnya untuk mengetahui apakah ada pedoman
dalam penyusunan kombinasi warna. Skema warna memberikan suatu
kunci bagaimana mendapatkan susunan warna serasi yang dapat
diterapkan ke dalam karya seni rupa dan kriya. Namun demikian kunci
skema warna ini bukanlah harga mati, ini hanyalah suatu tuntunan jika
192
menemui kebuntuan dalam upaya mendapatkan warna yang diharapkan.
Hal yang sangat menentukan adalah suasana hati berupa ketajaman
rasa dalam menentukan warna. Sumber penggunaan skema warna ini
adalah lingkaran warna. Ada beberapa kunci untuk mendapatkan warna
yang serasi yaitu monokromatik, analogus dan komplementer.
Monokromatik, susunan warna ini berdasarkan satu hue; 'mono' berarti
satu dan 'kromatik' berarti warna. Dalam kombinasinya menggunakan
satu nada warna, yaitu hue murni ditambah dengan tint dan shade.
Keharmonisan mudah dicapai, namun perlu variasi dalam unsur lainnya
agar tidak membosankan. Pada gambar berikut motif divariasikan
ukurannya, dan susunan pengulangan motif secara acak, walaupun
motifnya sejenis terasa tidak membosankan. Pada gambar 175 susunan
warna monokromatik diberi aksen merah, sehingga merah menjadi
dominan dan pusat perhatian. Warna merah memiliki intensitas yang kuat
sehingga mengalahkan warna lainnya, selain itu merah dalam bentuk
segitiga bersifat kontras dengan bentuk bulat dengan warna abu-abu
dengan tiga variasinya sehingga susunan sangat menarik perhatian
dengan latar belakang hitam. Susunan bentuk bulat sangat menarik
walaupun dalam satu nada, oleh karena ukuran dan susunannya yang
dinamis seakan bentuk bulat tersebut bergerak-gerak seperti gelembung-
gelembung di udara. Penyusunan dengan cara demikian sangat baik
menghindari kejemuan karena bentuk dan nada warna yang monotone.
Gambar 174. Penerapan warna monokromatik
193
Gambar175 . Warna monokromatik dengan aksen warna
primer merah
Gambar 176. Penggunaan warna monokromatik
194
Analogus, susunan warna yang terdiri dari dua sampai empat warna
yang bersebelahan dalam lingkaran warna dengan satu warna primer.
Susunan warna ini juga mudah untuk mendapatkan harmoni karena
hampir semuanya memiliki nada warna yang sama, misalnya ungu
memiliki unsur biru, ungu biru memiliki unsur yang sama pula. Pada
susunan berikut biru merupakan aksen yang tidak kontras sehingga
harmoni tidak sulit untuk didapat. Sedangkan latar belakang abu-abu
sebagai warna netral juga menyatukan warna dan bentuk yang agak
berbeda dalam kualitasnya. Susunan analogus lebih menarik karena ada
salah satu warna pokok yang menonjol sebagai penekanan perhatian.
Hal ini berbeda dengan warna monokromatik karena semua warna
senada. Pada susunan berikut, warna dan bentuk saling berinteraksi,
misalnya bentuk ungu dalam garis spiral geometris berhubungan
dengan bentuk biru dalam garis spiral organik namun kontras dalam
kualitasnya, yaitu sifat geometris dan organisnya dari kedua jenis garis
sehingga hubungannya tidak menjadi monotone walau warnanya senada.
Gambar 177. Penerapan warna analogus
Komplementer, yaitu susunan warna yang berhadapan dalam lingkaran
warna. Skema warna ini terdiri beberapa macam. Perhatikan tabel
berikut. Warna komplemen pada dasarnya adalah warna kontras, apabila
disusun secara tepat dapat sangat menarik perhatian, namun sebaliknya
jika kontras tidak dapat dikontrol dapat menyebabkan tidak nyaman pada
penglihatan. Dalam susunan warna berikut, kontras diikat dengan latar
195
Gambar 178 . Penerapan warna komplementer
belakang hitam sehingga dapat menjadi harmoni. Susunan terlihat
dinamis karena karena warna-warna yang diterapkan pada bentuk-
bentuk kontras memancar dari satu titik pusat di sudut kiri bawah.
Dengan demikian hitam sangat kuat menyatukan unsur-unsur yang
berbeda.
Gambar 179. Penggunaan warna komplementer.
196
Bagan 5. Skema Warna
Sumber: Marial L. Davis.
e. Makna Warna
Hal yang perlu juga diketahui dalam menggunakan warna adalah
tentang bahasa warna. Walaupun sesungguhnya bahasa warna sangat
subyektif dalam mengartikan dan menggunakannya, namun secara
umum warna dingin dan gelap dengan intensitas yang rendah kelihatan
lebih tenang, meditatif dan introspektif. Sebaliknya warna panas dengan
intensitas tinggi dapat memberi kesan cerah, kelihatan dinamis, lincah
dan menonjol. Dengan demikian kedua jenis warna ini memiliki sifat
kontras, jika digunakan dengan tepat proporsinya dapat memberikan
kesan perasaan yang menyenangkan.
Sebagai acuan, para ahli telah mengartikan warna sebagai tabel
berikut .
197
Tabel 3 . Makna Warna
Nama Warna Makna Warna
cinta, nafsu, kekuatan, semangat, tenaga,
Merah :
ketertarikan, bahaya, kemarahan.
spirit, enerji, kekuatan, berani dan tindakan.
Merah – Orange :
hangat, ceria, muda, kenikmatan.
Orange :
kebahagiaan, kemakmuran, keramahan, optimisme,
Kuning – orange:
dan keterbukaan.
terang, pintar, bijaksana, hangat .
Kuning :
persaudaraan, muda, hangat, baru.
Kuning - hijau :
muda, belum berpengalaman, tumbuh, kaya,
Hijau :
kesegaran, kalem dan istirahat.
diam, santai, halus, setia.
Biru - hijau :
damai, setia, tertahan, konservatif, pasif hormat,
Biru :
kesedihan, kelembutan.
spiritualisme, kerendahan hati, kedewasaan, kehor-
Biru - ungu :
matan, kelelahan.
keajegan, keagungan, dramatis, dominan, misteri,
Ungu :
formal, melankoli, tenang.
tegang, terasing, dramatis.
Merah - ungu :
tidak formal, hangat, alamiah, persahabatan,
Cokelat :
kemanusiaan, seperti tanah.
kehormatan, berduka, formal, kematian, muram, tak
Hitam :
menentu, sedih, misteri.
ketenangan, penyerahan, keagungan, netral.
Abu-abu :
kesenangan, harapan, kemurnian, mustahil,
Putih :
kebersihan, spiritualisme, kenikmatan, pemberian
maaf, pencerahan, kesucian.
Sumber: Marian L. Davis
198
Tugas A : Studi Observasi Warna di Lingkungan
Agar lebih dapat mengahayati bagaimana arti sebuah warna coba
amati lingkungan anda di rumah, di sekitar rumah dan di kampung
anda. Warna apa yang dominan dalam lingkungan itu dan bagai-
mana perasaan anda tentang warna tersebut? Selain itu amati warna
pakaian dari teman-teman anda, warna apa yang dominan
dikenakannya lalu tanyakan kenapa mereka menyukai warna ter-
sebut! Kemudian untuk melatih perasaan anda lihatlah warna langit
yang biru bersih, warna api yang menyala, warna tanah, warna daun
dari pepohonan, resapi betul warna-warna itu dan apakah ada
perbedan rasa yang dimiliki olek setiap warna itu? Tuliskan hasil
pengamatan itu sebagai laporan sebanyak 3 halaman A4, satu
setengah spasi.
Tugas B : Latihan Pengembangan Motif dan Penerapan Warna
Untuk dapat memahami bagaimana menyusun warna serasi yang
menurut kunci skema warna sebaiknya lakukanlah latihan berikut :
Pergilah ke kebun, pilih sebuah pohon besar, pohon bunga atau
sejenis rerumputan. Amati dengan cermat batangnya, daunnya,
bunganya mungkin juga ada buahnya
Mulailah membuat sket dari beberapa bagian pohon tersebut
secara terpisah-pisah. Gambar ini merupakan studi dari pohon
itu yang nantinya akan dipindahkan menjadi sebuah motif
sederhana.
Dengan kertas lain buatlah lima buah motif berdasarkan bentuk-
bentuk dari pohon yang telah digambar tadi
Pilih salah satu motif yang paling disenangi kemudian beri warna
monokromatik dengan warna poster atau cat air.
Dengan prosedur yang sama buatlah gambar studi dari berbagai
obyek, dapat binatang atau benda-benda lainnya yang ada
disekitar anda, kentudian terapkan pula skema-skema warna
lainnya : analogus dan kontplementer.
Gunakan contoh-contoh di atas sebagai acuan.
199
5. Unsur Tekstur
Perhatikanlah tekstur berikut, bagaimana anda melihat dan
merasakan permukaannya? Untuk lebih nyata lagi lihatlah permukaan
lantai di bawah anda, sepatu anda, kaca jendela, almari dan kalau bisa
lihat permukaan sebuah karya seni rupa atau kriya. Bagaimana
kelihatannya? Bagaimana pula, rasanya kalau diraba ? Semua itu
menunjukkan kepada kondisi permukaan suatu benda. Dapatkah anda
mendefinisikan tekstur itu lebih jelas?
Gambar 180. Tekstur
dengan teknik mar-
bling karya peserta
Diklat Dasar Seni
Rupa/Kekriyaan
Tekstur sangat menentukan keberhasilan sebuah karya seni rupa dan
kriya, karena bersamaan dengan warna, tekstur menentukan kualitas
permukaan yang terlihat paling awal. Dalam seni rupa dan kriya tekstur
dapat dianalisa melalui dua aspek, yaitu kualitas raba suatu permukaan
dan kualitas visual suatu benda. Oleh sebab itu, tekstur dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu tekstur kasar dan tekstur semu.
Gambar 181 .
Tekstur semu
dengan teknik
cipratan
200
Karya mahasiswa Poliseni Yogyakarta
Tekstur kasar bereaksi terhadap cahaya dengan memancarkan,
menyerap dan memantulkannya. Oleh sebab itu tekstur dapat sebagai
penetralisir unsur-unsur yang tidak serasi, misaInya warna-warna yang
saling bertentangan dapat serasi di atas tekstur kasar. Hal itu disebabkan
karena permukaan tekstur kasar tidak rata. Karena tonjolan permukaan
menyebabkan ada bayangan hitam yang sifatnya mengikat dan
menyerap cahaya sehingga warna menjadi harmonis.
Gambar 183. Tekstur kasar
dengan teknik batik/lilin dan
cipratan
201
Tugas latihan
Agar berhasil menggunakan tekstur dalam karya seni rupa dan
kerajinan lakukanlah latihan berikut:
Ambil selembar kertas gambar A4
Keluarkan beberapa warna cat air dari tubenya secukupnya dan
taruh di palet, kemudian beri air dan aduk hingga rata.
Ambil warna dengan kuas cat air no. 4 lalu cipratkan ke atas
kertas berulang-ulang.
Untuk mendapatkan tekstur semu yang unik, semasih cat belum
kering dapat ditimpa atau kertas dimiring-miringkan sehingga cat
meleleh membentuk tekstur semu secara spontan.
Gunakan kertas yang lain kuaskan lem kertas di atasnya secara
tipis Ambil kertas tisu, basahi dan tempelkan pada permukaan
kertas yang sudah diberi lem
Pada waktu menempel dapat dibuat kerut-kerut yang membentuk
tekstur kasar kemudian dikeringkan.
Setelah kering, permukaan yang telah bertekstur itu dapat diberi
warna. Gunakan warna kontras untuk mengetahui bagaimana
tekstur kasar itu dapat menetralisirnya.
Perhatikan karya tekstur yang telah dibuat itu, rasakan !
Bagaimana perbedaan antara tekstur nyata dan tekstur semu ?
Untuk memperkaya perbendaharaan tekstur lakukanlah
percobaan yang banyak !
B. Prinsip Pengorganisasian Unsur Seni Rupa
Suatu kalimat akan mudah dimengerti jika susunan kata-katanya
menggunakan tata bahasa yang baik. Begitu pula dengan karya seni rupa
dan kriya, akan nyaman dilihat jika menerapkan prinsip-prinsip
pengorganisasian dengan mantap. Prinsip pengorganisasian unsur seni
rupa dan kriya adalah tuntunan dasar dalam mengatur suatu komposisi
dari unsur-unsur tersebut. Karena itu dalam penerapannya tidak kaku
atau terpaku dengan contoh yang ditawarkan dalam buku ini. Contoh-
contoh tersebut harus digunakan sebagai acuan, dikembangkan dan
dijelajahi kemungkinan-kemungkinannya. Secara umum ada tiga tipe
prinsip pengorganisasian, yaitu bersifat mengarahkan, memusatkan dan
menyatukan.
Prinsip yang mengarahkan menuntun perhatian dari satu tempat ke
tempat lainnya, membuat klimaks dan menekankan arah dalam suatu
komposisi. Prinsip ini terdiri dari pengulangan, selang-seling, rangkaian,
202
transisi, gradasi, irama dan radiasi. Prinsip yang bersifat memusatkan
cenderung menonjolkan dan memfokuskan perhatian kepada suatu
bagian yang khusus dalam komposisi. Prinsip ini terdiri dari konsentrasi,
kontras dan penekanan. Prinsip menyatukan menuntun perhatian kepada
seluruh bagian dari kornposisi, menghubungkan dan menyatukan unsur-
unsur serta prinsip-prinsip yang digunakan. Oleh karenanya prinsip ini
paling rumit dibandingkan dengan lainnya.
Seluruh jenis prinsip dapat diterapkan secara struktural maupun
dekoratif, namun ada yang lebih cocok diterapkan secara dekoratif,
seperti selang-seling dan konsentrasi. Prinsip pengorganisasian mempe-
ngaruhi struktur, fungsi dan hiasan sebuah karya. Oleh sebab itu seorang
pekerja seni rupa dan kriya harus mengetahui betul karakter dan potensi
setiap, prinsip pengorganisasiannya agar dapat mengembangkan dalam
menerapkannya ke dalam karyanya dengan baik.
1. Prinsip Mengarahkan
a. Pengulangan
Prinsip pengulangan merupakan
prinsip pengorganisasian unsur yang
paling sederhana dan paling men-
dasar. dalam penerapannya prinsip
ini menggunakan unsur yang sama
berulang-ulang dalam lokasi yang
berbeda. Dengan prinsip ini per-
hatian dituntun mengikuti suatu arah
susunan unsur dalam komposisi dan
cepat mendapatkan harmoni dan
kesatuan. Namun karena mengulang
hal yang sama dapat cepat mem-
bosankan. Pengulangan ada dua
macam yaitu pengulangan teratur
dan pengulangan tak teratur. Peng-
ulangan teratur menerapkan unsur
sama dalam segala hal sedang
pengulangan tak terratur ada sedikit
variasi sehingga, kelihatan lebih me-
narik. Perhatikan contoh gambar gu- b
nakan sebagai acuan untuk latihan.
Bagan 5. Prinsip Pengulangan (a)
Pengulangan Teratur, (b) Pengulangan tak
teratur
203
b
a
Gambar 184 . (a) Pengulangan tak teratur, (b) pengulangan teratur.
Tugas Latihan
Lakukanlah latihan berikut ini agar dapat menghayati bagaimana
menerapkan unsur-unsur seni rupa secara berulang-ulang.
Buatiah satu jenis bentuk geometris dan susun secara berulang
dengan ukuran yang sama, gunakan pensil dengan goresan tipis.
Setelah dirasa susunannya baik terapkanlah warna yang sama
pada setiap bentuk itu. Gunakan warna cat poster
Dengan kertas yang lain gambarlah sebuah bentuk organis dan
susun secara berulang dengan variasi ukuran, selanjutnya beri
warna dengan tone yang berbeda.
Amati hasilnya, apakah bisa diterapkan ke dalam karya seni rupa
dan kerajinan?
204
b. Selang-Seling
Prinsip selang-seling me-
nerapkan dua jenis unsur
yang berbeda dan di-
susun secara bergantian.
Meskipun prinsip ini me-
ngarahkan perhatian, te-
tapi tidak selancar prinsip
pengulangan,karena ada
tempo perhatian yang
tertahan oleh perbedaan
unsur yang di-susun. Bagan 6. Selang-seling bentuk dan warna
Perbedaan unsur biasa-
nya dalam satu jenis
misalnya; unsur bentuk.
Dalam susunan itu hanya
ada bentuk geometris
yang berbeda, seperti se-
gitiga dan bulatan. Prin-
sip ini lebih kuat bila
warna-warna pada ben-
tuknya juga selang-se-
lingnya sama. Perhati-
kanlah contoh (gb.185)
bagaimana bentuk dan
warna di-susun secara
bergantian.
Gambar 185 . Penerapan Prinsip Selang-Seling, karya
mahasiswa DIII Poliseni Yogyakarta
Tugas Latihan
Resapi latihan berikut ini dan lakukanlah dengan penuh
perhatian :
Buatah kolom-kolom persegi dengan pensil pada kertas gambar
anda.
Pilih dua jenis bentuk binatang kemudian pada kolom-kolom
tersebut gambarlah kedua bentuk binatang itu dengan
menempatkannya secara selang-seling.
Selanjumya terapkanlah warna yang berbeda pada bentuk
binatang itu.
Perhatikanlah hasilnya, amati dan rasakan. Jika ada yang kurang
sempurna perbaiki. Pikirkan apakah prinsip ini dapat diterapkan
dalam seni rupa dan kerajinan ?
205
c. Rangkaian
Rangkaian merupakan
satu unit susunan unsur
yang disusun secara ber-
ulang dalam satu kom-
posisi. Susunan dari unit-
unit itu menuntun dan me- Bagan 7. Prinsip Rangkaian
ngarahkan perhatian kepa-
da suatu klimaks. Unit
unsur-unsur itu tidak harus
selalu sama, mungkin da-
lam satu unit ada beberapa
unsur, misalnya satu unit
terdiri dari garis dan bentuk
dan gabungan dari unit itu
dapat membentuk motif
Perhatikanlah contoh (gb.
186) gunakan sebagai acu-
an dalam latihan.
Gambar 186 . Penerapan Prinsip Rangkaian
Tugas Latihan
Lakukanlah latihan ini agar dapat menyusun unsur dengan
prinsip rangkaian.
Buatlah kolom-kolom segi-empat pada kertas gambar dengan
pensil.
kemudian dengan tinta hitam dan alat pena isilah kolom-
kolom itu dengan berbagai jenis unsur, terutama garis dan
bentuk
Setiap kolom terdapat unsur-unsur yang berbeda.
Perhatikan hasilnya, pikirkan apakah dapat diterapkan dalam
seni rupa dan kerajinan ?
206
d.Transisi
Transisi disebut seba-
gai perubahan dari satu
kondisi ke kondisi yang a
lain. Dalam seni rupa dan
kerajinan, ini merupakan
prinsip yang mengarah-
kan secara halus melalui
perubahan yang ditampil-
kan. Tidak ada tingkatan b
perubahan, tidak ada per-
bedaan kondisi dalam
proses perubahannya, ti-
dak disadari ada per-
ubahan karena kehalus- c
annya. Kekuatan prinsip
Bagan 8. Prinsip transisi: (a) Transisi garis, (b) Transisi
ini justru pada kehalusan
ruang, (c) Transisi warna dan tekstur
perubahannnya sehingga
dalam beberapa hal, prin-
sip termasuk prinsip yang
menyatukan hal-hal yang
berbeda. Biasanya tran-
sisi dikonotasikan hanya
terhadap warna, tetapi
sebenamya dapat dite-
rapkan kepada setiap un-
sur. Perhatikan ( gb. 187)
gunakan sebagai acuan
dalain praktek.
Gambar 187 . Kehalusan gradasi dapat memunculkan
transisi warna.
207
Tugas Latihan
Prinsip ini sangat penting dalam seni rupa dan kerajinan terutama
dalam menyerasikan unsur-unsur yang tidak sama. Oleh sebab itu
lakukanlah latihan berikut ini untuk lebih menguasai potensinya.
Letakkan kertas gambar dalam posisi melintang, di sebelah
kiri taruh cat poster warna merah, dan di sebelah kanan taruh
warna poster kuning.
Secara perlahan lelehkan kedua warna itu menuju ke tengah
dengan kuas, setelah kedua warna bertemu gunakan kuas
untuk mencampur warna tersebut dengan menguasnya
secara berulang sehingga pertemuan warna itu betul-betul
tercampur dengan halus.
Lakukanlah ladhan transisi ini terhadap unsur yang lain,
gunakan contoh gb. sebagai acuan.
e. Gradasi
Tingkatan merupakan ciri
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
khas prinsip gradasi. Ting-
katan tersebut adalah satu
a
perubahan dari sebuah un-
sur. Karena merupakan ting-
katan maka unsur tersebut
sama dalam segala hal ke-
cuali ukuran pada unsur
garis, ruang, dan bentuk, dan
value dalam warna. Tanpa
b
kita sadari gradasi ini sering
digunakan dalam kehidupan
kita sehari-hari, misalnya
tingkatan dalam belajar di se-
kolah, tingkatan dalam la-
pisan masyarakat, dalam ku-
alitas benda produk indus-tri
dan sebagainya. Dalam seni
rupa prinsip ini sangat kuat
mengarahkan perhatian. Un-
tuk membuat gradasi di-per-
lukan lebih dari dua tingka-
tan. Prinsip ini jika digunakan
C
dalam tingkatan yang pan-
Bagan 5. Prinsip Gradasi jang, yang dapat menim-
bulkan ilusi ruang tiga dimen-
sional.
208
Gambar 188 . Penerapan Prinsip
Gradasi warna
a
Tugas Latihan
Gunakan kertas gambar A4, tentukan sebuah bentuk organis
untak digambar.
Buatlah perubahan bentuk itu dalam lima tingkatan dalam lima
kolom, sehingga perubahannya dari besar ke kecil bisa dari atas
ke bawah atau sebaliknya
Gunakan dua warna dan terapkan secara bertingkat pula.
Setelah selesai pikirkan bagaimana menerapkannya ke dalam
karya anda.
f. lrama
Di dalam seni rupa dan seni
kerajinan irama merupakan susunan
kesan gerakan dari unsur visual. a
Kesan gerakan itu mungkin mengalir
bergelombang, putus-putus, zig-zag
dan sebagainya. Irama akan lebih
kuat efeknya bila dilakukan secara
berulang. Irama dalam seni rupa
dapat dianalogikan dengan irama b
Bagan 9. (a) Irama Berombak, (b) Irama Zigzag
dalam seni musik. Unsur-unsur visual
209
seperti garis, bentuk dan warna dapat
diulang, dikelompokkan, dibe-sarkan
dikecilkan disusun dalam suatu
bidang dapat memberi kesan irama.
Irama mempengaruhi ukuran bidang
menjadi lebih besar karena sifatnya
yang dinanis. Penerapan garis
lengkung lebih mudah untuk men-
dapatkan kesan irama, diban-dingkan
unsur-unsur lainnya. Walaupun irama
dapat juga dicapai dengan unsur
bentuk dan ruang. Gerakan irama
dapat ke berbagai arah dapat dimulai
dari pinggir maupun tengah. Per-
hatikan contoh gb.189 (a,b) dan
gunakan sebagi acuan dalam latihan.
b
Gambar 189. (a) Penerapan Irama berombak, (b)
penerapan irama Zigzag
a
Dalam kedua karya ini yang paling
jelas terlihat adalah irama garis.
Kedua gambar memiliki irama yang
kontras; gambar (189a) irama ga-
risnya zig-zag oleh karenanya kesan
yang disampaikan tajam, gambar (189
b) irama garisnya mengalun begitu
pula susunan bentuk mengikuti irama
garis sehingga kesannya lembut
menyenangkan.
210
Tugas Latihan
Lakukanlah latikan berikut ini agar dapat memahami potensi prinsip
Irama sebagai pedoman untuk menyusun unsur seni rupa.
Gunakan kertas gambar A4, buatlah garis-garis bergelombang
dari sisi kiri ke sisi kanan.
Buatiah susunan bentuk geometis dengan mengikuti gerak garis
tersebut
Berilah warna-warna analogus pada bentuk itu dan warna netral
pada latar belakangnya
Dengan kertas lain dengan prosedur yang sama, buatlah
susunan bentuk organis dengan jenis irama yang lain.
Perhatikan hasilnya , pikirkan tentang penerapannya ke dalam
karya seni rupa dan kriya.
g. Radiasi
Perhatikanlah matahari yang baru terbit di ufuk timur, perhatikan pula
bunga yang berhelai daun lancip. Keduanya memiliki sifat pancaran
menuju titik pusat. Prinsip radiasi mengikuti sifat pancaran itu. Dalarn
menyusun unsur-unsur seni rupa penampilannya menyampaikan kesan
gerakan memancar dari suatu titik pusat ke segala arah. Titik pusat dapat
nampak secara nyata maupun tidak kelihatan, dan dapat dimulai dari
setiap sisi atau dari tengah. Prinsip ini sangat kuat mengarahkan
perhatian jika penerapannya tepat. Misalnya bentuk-bentuk yang kecil
diletakkan dekat dengan titik pusat pancaran dan bentuk-bentuk yang
besar menjauh dari titik pusat. Begitu pula value warna terang dekat titik
pusat dan yang gelap jauh dari titik pusat.
Bagan 10. Prinsip Radiasi
211
a b
Gambar 190 . Penggunaan Prinsip Radiasi
Tugas Latihan
Gunakan kertas gambar A4 dan buadah garis-garis yang
memancar dari satu titik pusat di tengah kertas.
Buatlah bentuk-bentuk geometris yang mengikuti gerak garis
yang memancar, dimana bentuk yang kecil didekatkan ke titik
pusat pancaran dan yang besar jauh dari titik pusat itu.
Dengan warna pastel terapkanlah warna-warna panas pada
bentuk-bentuk itu dan warna netral pada latar belakang.
Dengan prosedur yang sama buatIah pancaran titik pusatnya
tidak kelikatan dan posisinya tidak harus ditengah kertas.
Terapkan bentuk organis, warna dingin dan warna netral.
Pikirkan tentang aplikasinya ke dalam karya seni rupa dan kria.
2. Prinsip Memusatkan
Bagan 11. Prinsip konsentrasi
212
a. Konsentrasi
Prinsip ini merupakan susunan dari perkembangan satu bentuk yang
memiliki satu pusat. Prinsip ini mirip prinsip radiasi. Jika radiasi
memancar dari satu titik pusat, sedangkan konsentrasi membesar dari
satu bentuk atau bentuk-bentuk ber-putar mengarah kepada satu titik.
Bentuk-bentuk itu dapat geometris atau organis. Konsentrasi sangat kuat
memfokuskan perhatian, sehingga penerapannya harus dipertimbangkan
dengan matang. Unsur-unsur yang dapat diterapkan dengan prinsip ini
hanya garis, ruang dan bentuk, sedangkan tekstur dan warna hanya
mendukung efektifitasnya.
a
Gambar 191 . Penggunaan Prinsip
Konsentrasi
b
213
Tugas Latihan
Ambilah kertas gambar A4, buatlah sebuah bentuk geometris.
Besarkanlah ukuran bentuk itu dengan menarik garis yang
identik dengan kontur bentuk tersebut. Lakukanlah hal ini
beberapa kali.
Buat bentuk lain di sebelah bentuk yang pertama itu lalu
besarkanlah ukuran bentuk itu dengan cara yang sama dengan
sebelumnya.
Buat bentuk-bentuk yang sama sehingga susunannya dirasa
sudah baik lalu terapkan warna-warna panas dan dingin pada
bentuk itu dengan gradasi dari tua ke muda mulai dari tepi
bentuk.
Pikirkanlah tentang penerapannya ke dalam karya seni rupa dan
kria
b. Kontras
Kehidupan ini terjadi karena kontras: ada siang-malam, pria-wanita,
panas-dingin, sedih-bahagia dan seterusnya. Dalam seni rupa banyak
yang menghindari penerapan kontras, padahal dapat memberikan daya
tarik yang luar biasa bagi penglihatan.
Perhatikanlah pohon bunga, lihat warna daunnya hijau, lihat warna
bunganya yang merah, itu merupakan susunan unsur warna kontras
antara daun dan bunga tentu menyenangkan untuk dilihat. Kenapa
bisa demikian ?
Kontras adalah suatu perasaan tentang perbedaan sesuatu. Dalam
seni rupa, kontras justru digunakan untuk memperlihatkan hal-hal yang
tidak sama atau untuk tujuan fokus perhatian. Jika kontras digunakan
secara bijaksana akan menghasilkan susunan unsur yang menarik.
Tetapi sebaliknya jika terlalu banyak kontras dapat menyebabkan su-
sunan menjadi kacau. Kontras juga dapat digunakan untuk menim-bulkan
ilusi mengurangi ukuran, apabila bentuk terlihat terlalu tinggi, garis
horizontal ditempatkan pada pada bentuk itu dapat mengurangi kesan
yang tinggi. Kontras juga dapat memberikan keseimbangan, misalnya
dalam suatu komposisi jika terlalu berat ke kanan dapat diseimbangkan
dengan menempatkan sesuatu di sebelah kiri dengan posisi mengarah ke
luar sebelah kiri. Dengan demikian komposisi yang tadinya mengarah ke
kanan ditarik ke kiri oleh sesuatu yang ditempatkan mengarah ke kiri.
214
Bagan 12. Prinsip Kontras
Gambar 192 . Penerapan Prinsip Kontras: Kontras warna dan bentuk.
215
Gambar 193 . Penerapan Prinsip Kontras: Kontras warna dan bentuk.
Perhatikan gambar 192 ada dua unsur kontras, yakni unsur bentuk
dan warna. Bentuk segitiga dan bentuk organik bergelombang adalah
kontras begitu pula warna biru pada bentuk segi tiga dan warna orange
pada bentuk lainnya. Masih mirip dengan gambar 192, pada gambar 193
ada dua jenis kontras bentuk dan warna, namun pada unsur warna ada
empat warna kontras yaitu biru dan orange, serta kuning dan ungu.
Fungsi kontras yang paling kuat jika digunakan tidak berlebihan dapat
membuat susunan tidak membosankan.
Temukan unsur-unsur apa saja yang kontras dalam karya ini?
Bagaimana pendapatmu tentang kontras dalam karya tersebut,
diskusikan dengan teman anda !
216
Gambar 194 .
Stuart Davis,
Seme, 1953,
(sumber: Paul
Zelanski ).
Tugas Latihan
Gunakan kertas gambar A4, susunlah dua jenis bentuk
geometris yang bertentangan, gunakan pensil untuk
membentuknya.
Setelah dirasa susunan sudah baik maka selanjutnya gunakan
pastel dan terapkan warna komplementer pada bentuk tersebut
serta warna netral pada latar belakang.
Gunakan kertas yang lain, berilah tekstur pada kertas itu dengan
cipratan-cipratan cat air.
Setelah kering buatIah susunan bentuk-bentuk geometris dan
organis di atas tekstur itu.
Terapkan warna komplemen triad pada bentuk-bentuk tersebut
Perhatikan hasilnya dan pikirkan bagaimana kontras diterapkan
ke dalam karya seni rupa dan kerajinan baik dalam struktur dan
hiasannya.
Gunakan contoh berikut sebagai acuan.
217
c. Penekanan
b
a
Gambar 195 . Penerapan Prinsip Penekanan
c
Perhatikanlah gambar 195 di atas ! Dimana perhatian anda
dipusatkan? Kenapa demikian? Diskusikan dengan teman!
Penekanan sebagai salah satu prinsip yang memusatkan perhatian
berbeda dengan dua prinsip sebelumnya. Prinsip ini lebih bebas karena
dalam menempatkan 'centre of interest' dalam komposisi tidak terikat
dengan gerakan arah garis, tetapi dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperti mengelompokan bentuk, memberikan warna yang berbeda dari
sekitarnya, memberikan hiasan atau motif sehingga perhatian tertuju
kepada tempat yang ingin ditonjolkan. Selain itu dapat pula salah satu
218
unsur diisolasi untuk mendapat perhatian khusus dan klimaks pada karya
yang dibuat. Prinsip ini sering juga disebut sebagai prinsip dominan atau
prinsip subordinasi, yang mana ada satu aspek yang mendominasi
lainnya. Apabila dalam suatu komposisi ada lebih dari satu fokus
perhatian harus diperhatikan kekuatannya jangan membuat fokus
perhatian dengan kekuatan sama, karena hal tersebut dapat membuat
kekacauan. Namun demikian tidak semua karya seni rupa dan kriya atau
kerajinan memiliki penekanan perhatian, biasanya hal tersebut ada pada
karya-karya desain tekstil yang motif-motifnya disusun secara berulang
dalam ukuran yang sama memenuhi ruang.
Selanjutnya perhatikan pula aplikasi prinsip pengorganisasian pada
gambar 196 ! Bagaimana prinsip yang diterapkan?
Gambar 196 . Agus Djaja, Dalam Taman nirwana (sumber: koleksi Presiden Soekarno
219
Gambar 197 . Henri Rousou, The Dream (sumber: Paul Zelanski)
Tugas Latihan
Lakukanlah latihan berikut agar mengetahui bagaimana potensi
prinsip penekanan dapat digunakan untuk menyusun unsur-unsur
seni rupa.
Gunakan kertas gambar A4, berilah tekstur yang lembut dengan
warna-warna yang intensitasnya lemah.
Buatlah susunan bentuk segi empat sama sisi dengan
menerapkan prinsip penekanan, dapat dengan mengelompokan,
membedakan warna, atau memberikan motif.
Terapkan warna-warna dingin pada bentuk-bentuk tersebut.
Perhatikan hasiInya dan pikirkan bagaimana menerapkan ke
dalam karya seni rupa dan kerajinan.
Gunakan contoh berikut sebagai acuan.
220
3. Prinsip Menyatukan
a. Proporsi
Salah satu cara membuat susunan nampak menyenangkan adalah
melalui penerapan prinsip proporsi. Prinsip ini tidak hanya terdapat dalam
seni rupa, yang menakjubkan proporsi terdapat pada semua benda yang
ada di alam ini. Pada tubuh manusia misalnya, tubuhnya dapat terlihat
menarik jika proporsinya tepat antara bagian tubuh yang satu dengan
lainnya antara kepala dengan seluruh badan, anatara telapak tangan
dengan lengan, antara hidung dan tinggi kepala dan seterusnya.
Proporsi merupakan hasil dari hubungan perbandingan antara jarak,
jurnlah, tingkatan, dan bagian disebut sebagai proporsi atau hubungan
satu bagian dengan bagian lain dan keseluruhan dalam suatu susunan.
Sebuah karya seni rupa dan seni kerajinan dikatakan berhasil jika unsur-
unsurnya disusun berdasarkan suatu proporsi. Proporsi dapat diterapkan
pada karya nirmana datar maupun nirmana ruang. Dengan proporsi da-
pat ditelaah bagian-bagian dari sebuah karya atau keseluruhan dari karya
itu. Pada dasarnya proporsi dapat dilihat dari empat tingkatan, yaitu :
1. Di dalam satu bagian, seperti perbandingan antara panjang dan
lebar.
2. Di antara bagian-bagian, perbandingan antara satu bentuk dengan
bentuk lainnya dalam satu susunan.
3. Bagian dengan keseluruhan, perbandingan antara bentuk-bentuk
dalam susunan dengan keseluruhannya.
4. Keseluruhan dengan sekitarnya, perbandingan antara seluruh
susunan dengan apa yang ada disekitarnya
Perhatikanlah gambar bagan di bawah ini !
a b c
Bagan 13. Beberapa jenis proporsi
221
Dari suatu test yang dilakukan oleh Patrick Carpenter terhadap
beberapa kelompok orang yang berbeda pekerjaannya, ternyata hasilnya
menunjukkan bahwa pembagian bidang (bagan 13c) yang disenangi oleh
sebagian besar partisipan. Pembagian bidang itu berdasarkan proporsi
Golden Section atau proporsi emas. Proporsi ini berasal dari Yunani
Kuno yang berpijak kepada pembagian secara matematik yaitu bagian
yang kecil cukup menarik perhatian dan bagian yang besar cukup kecil
untuk menjadi pembandingnya kira-kira perbandingannya 3 : 5 atau 5 : 8.
Misalnya pada pembagian bidang di atas lebarnya dua pertiga dari
panjangnya. Dari percobaan itu menunjukkan bahwa proporsi yang
menarik adalah pembagian yang secukupnya dan tidak berlebihan.
Pembagian yang sama kurang menarik karena statis, begitu pula
pembagian yang berlebihan yang membuat salah satu menjadi dominan.
Oleh karena itu, proporsi (bagan13c) merupakan proporsi alami.
Secara tidak disadari pertumbuhan mahluk hidup proporsi fisiknya
mengikuti proporsi ’emas’ tersebut.
Selanjutnya perhatikan pula analisa proporsi terhadap hasil lukisan
di bawah ini!
b
Gambar 198 . (a) Pemandangan di Pegunungan (b)
Pemandangan di Cina (sumber: Koleksi Presiden
Soekarno
a
222
Tugas Latihan
Karena Proporsi sangat penting dalam kegiatan penyusunan
komposisi maka untuk memahaminya lakukanlah latihan berikut ini.
Ambilah sebuah benda seni rupa dan kerajinan.
Analisalah proporsi benda tersebut. Bagaimana pembagian
bidangnya ?
Gunakan kertas A4, buatlah tiga buah segi empat panjang
dengan pensil.
Bagilah ketiga bidang itu berdasarkan ketiga proporsi tersebut di
atas, selanjutnya berilah warna kepada bidang-bidang tersebut.
Dengan kertas gambar yang lain buatlah tiga buah gambar benda
pakai yang masing-masing menerapkan ketiga jenis proporsi
tersebut di atas.
Amati hasilnya, bagaimana menurut anda penerapan proporsi
tersebut ?
b. Keseimbangan
Bagaimana pendapatmu tentang keseimbangan dalam seni rupa?
Konsep tentang keseimbangan menyangkut hal berat, ukuran, dan
kepadatan yang ada pada perasaan kita jika melihat sebuah karya.
Keseimbangan tercapai jika ada suatu perasaan akan kesamaan,
keajegan dan kestabilan.
Ada tiga jenis keseimbangan yaitu: keseimbangan mendatar,
keseimbangan tegak lurus dan keseimbangan radial. Keseimbangan
mendatar unsur yang disusun mengikuti arah garis mendatar bagan 14a,
begitu pula keseimbangan tegak lurus mengikuti posisi garis vertikal
bagan 14b, dan keseimbangan radial mengikuti arah garis ke segala arah
bagan 14c.
Tipe keseimbangan ada dua, yaitu keseimbangan formal atau simetris
dan keseimbangan informal atau asimetris. Dalam keseimbangan formal
kedua bagian dari pusat keseimbangan identik dalam segala hal satu
dengan lainnya. Keseimbangan ini lebih mudah dicapai, tetapi sifatnya
lebih statis, sedang pada keseimbangan informal atau asimetris bagian-
bagian di sebelah pusat keseimbangan berbeda tetapi dapat memberikan
perasaan kesetaraan. Tentu hal ini memerlukan interaksi yang lebih rumit
di antara unsur yang disusun. Hasilnya lebih dinamis dibanding kese-
imbangan formal.
223
b
a
Gambar 199. Penerapan prinsip
keseimbangan mendatar, vertikal dan
radial.
c
224
Bagan 14 . Jenis Prinsip Keseimbangan: a. Keseimbangan mendatar,
b. Keseimbangan tegak lurus, c. Kseimbangan radial
a b
c
Lihatlah karya seni rupa berikut, jelaskan tentang prinsip
keseimbangan yang diterapkan masing-masing dalam karya
tersebut. Carilah garis porosnya di tengah dengan demikian akan
lebih mudah melihat kanan-kiri, atas- bawah untuk menentukan jenis
keseimbangan yang diterapkan.
225
a b
c d
Gambar 200 . Penerapan prinsip keseimbangan pada lukisan , patung dan relief: (a) Nyoman Gunarsa,
penari (foto: Agung Suryahadi), (b) Botticeli, The Birth of Venus (sumber: Paul Zelanski), (c) Henry Moore,
The Reclining Figure (sumber: Gombrich), Relief di Candi Surawana, Arjuna Wiwaha (sumber:
Soekmono).
a
b
Bagan 15. Tipe Prinsip Keseimbangan: a. Keseimbangan simetris,
b. Keseimbangan asimetris
226
Gambar 201 . Thomas Gainsborough, Mr. And Mrs Andrew, (sumber: Paul zelanski).
Perhatikan gambar 201, diskusikan dengan teman !
Keseimbangan apa yang diterapkan dalam lukisan itu?
Tugas Latihan
Keseimbangan dalam suatu karya seni rupa dan kerajinan juga
menentukan keberhasilannya. Jika tidak ada keseimbangan,
perasaan menjadi tidak puas melihat karya tersebut Untuk itu
lakukanlah latihan ini agar mengalami langsung bagaimana
menyusun unsur seni rupa agar seimbang dan menarik perhatian.
Tentukanlah jenis dan tipe keseimbangan apa yang akan di-
praktekan.
Gunakan pensil dan buatlah susunan bentuk-bentuk organis
pada kertas gambar A4.
Selanjunya jika dirasa keseimbangan susunan bentuk itu sudah
tercapai, terapkanlah warna berdasarkan skema warna
komplemen 'single split' (lihat skema warna).
Dalam menerapkan warna harus hati-hati, pertimbangkan dan
rasakan betul keseimbangannya
Selanjunya pikirkan tentang penerapannya dalam seni rupa.
227
c. Harmoni
Untuk memahami tentang harmoni atau keselarasan coba perhatikan
jari-jari anda. Perhatikan bentuknya, warnanya, garis-garisnya, teks-
turnya. Apakah ada kesamaan? Apakah anda senang melihatnya?
Kemudian jelaskan bagaimana unsur rupa yang terdapat pada jari anda
itu!
Harmoni merupakan suatu perasaan kesepakatan, kelegaan suasana
hati, suatu yang menyenangkan dari kombinasi unsur dan prinsip yang
berbeda, namun memiliki kesamaan dalam beberapa unsurnya. Semua
unsur, semua bagian dikompromikan, bekerja sama satu dengan lainnya
dalam suatu susunan yang memiliki keselarasan. Dalam (gb. 202 a) ke-
a b
Gambar 202 . Penerapan Prinsip Harmoni karya peserta Diklat Dasar Seni Rupa/Kriya
samaan bentuk dan warna dasar hitam mengikat unsur warna yang
berbeda, dan dikompromikan, diarahkan oleh prinsip yang memusat
sehingga harmoni dan kesatuan dapat dicapai. Berbeda dengan (gb.202
b) yang hanya terdiri dari hitam putih dengan bentuk dominan segi
empat. Kontras terjadi dengan adanya sedikit lingkaran dan bentuk segi
empat hitam dan putih. Perbedaan tersebut juga diikat dengan warna
hitam. Keunikannya terletak pada adanya empat pusaran bentuk yang
membuat empat pusat perhatian, namun, tiga pusaran itu memiliki
kesamaanyang diimbangi oleh pusaran bentuk hitam pada latar
belakang.
228
Tugas Latihan
Latihan ini sangat penting dilakukan untuk mengasah kepekaan rasa
anda dalam menyusun suatu komposisi yang selaras.
Gunakan kertas gambar A4, lalu susunlah bentuk-bentuk organis
dan geometis.
Upayakan bentuk-bentuk itu dapat dikompromikan satu dengan
lainnya Boleh menggunakan dua atau lebih prinsip
pengorganisasian
Setelah itu terapkanlah tekstur dan warna analogus.
Perhatikan dan perbaiki hal-hal yang belum selaras dan
pertimbangkan tentang penerapannya dalam karya seni rupa dan
kerajinan.
d. Kesatuan
Kesatuan merupakan perasaan adanya kelengkapan, menyeluruh,
intergrasi total, kualitas yang menyatu dan selesai. Dalam kesatuan ada
hubungan dari seluruh bagian dalam susunan bekerjasama untuk
konsistensi, kelengkapan dan kesempumaan. Ini adalah puncaknya dari
seluruh prinsip pengorganisasian unsur seni rupa setelah prinsip har-
moni. Kesatuan dicapai dalam suatu komposisi menciptakan suatu
hubungan yang kuat antar unsur yang disusun (gb, 203 ), dapat karena
setiap unsur saling sentuh satu dengan lainnya atau berdialog satu
dengan lainnya, dapat karena adanya ketegangan saling tarik menarik
antar bagian. Jadi kesatuan secara skematik dapat terlihat nyata dapat
pula hanya tersirat karena hanya persepsi kita yang merasakan adanya
kebersamaan.
Perbedaan utama antara keserasian dan kesatuan adalah bahwa
pada harmoni semuanya berhubungan secara indah tetapi belum tentu
utuh. Kesatuan memberikan sentuhan akhir, perasaan yang lengkap dan
selesai. Dalam suatu susunan kemungkinan ada keserasian tanpa
kesatuan, tetapi kesatuan tidak bisa diperoleh jika tanpa adanya ke-
serasian. Misalnya, sekuntum bunga merupakan satu kesatuan yang
serasi tetapi jika salah satu helai bunganya rontok kesatuannya tidak ada
tetapi masih ada keserasian. Oleh karena itu kesatuan tidak bisa ada
salah satu dari unsur atau bagian yang hilang. Setiap bagian terkait
dengan bagian lainnya untuk menjadi keseluruhan yang utuh.
229
Perhatikan dua kuntum bunga
ini, pada bunga a terlihat
bunganya masih utuh, setiap
bagian mengandung unsur
yang sama dan terkait satu
sama lainnya. Pada bunga b
satu helai daun bunganya
hilang sehingga kesatuan dari
susunan daun bunga yang
indah itu menjadi rusak.
b
a
Gambar203 . Penerapan Prinsip Kesatuan
230
Selanjutnya Perhatikan karya-karya berikut
ini. Diskusikan dengan teman tentang
kesatuannya !
a b
Gambar 204. (a) A. Agung Suryahadi, The Zipped Lady, (b) Yudiantoro, Kuda-Kuda Binal,
(c) Basuki Sumartono, Apa yang di dalam, (d) Heri Dono, Unttitled (sumber: (a) Agung
Suryahadi, b,c,d (Katalog pameran Rekreasi 80)
231
a b
Gambar 205. (a) Dani Daoed, Crossing, (b) Dunadi, Embarang (sumber: Katalog
Pameran Patung Yogya).
Tugas Latihan
Ini adalah tugas terakhir dari latihan menyusun prinsip peng-
organisasian, oleh karena itu lakukanlah latihan ini dengan sebaik-
baiknya.
Ambil selembar kerlas gambar A 4, dengan pensil buatlah
susunan bentuk geometis dan organis.
Dalam menyusun bentuk-bentuk ita terapkanlah dua sampai tiga
prinsip pengorganisasian sekaligus.
Setelah selesai membuat bentuk-bentuk berdasar tiga prinsip itu,
selanjutnya terapkanlah warna-warna monokromatik dengan
satu hue tambahan.
Dengan prosedur yang sama terapkan empat prinsip sekaligus
dan gunakan pula warna ganda komplemen ditambah warna
netral.
Setelah selesai perhatikan bagaimana prinsip kesatuan itu dapat
diterapkan ke dalam karya seni rupa?
232
e. Ekonomi
Prinsip ekonomi merupakan salah satu prinsip menyatukan dengan
membuang hal-hal detail yang dirasa kurang esensial sehingga
visualisasi yang ditampilkan sesedikit mungkin tetapi dapat memberikan
nilai yang paling penting dari apa yang dimaksud oleh senimannya.
Prinsip ini dapat memberi kelegaan perasaan karena persepsi tidak
disibukkan oleh banyak hal. Hal ini banyak diterapkan di dalam seni rupa
Jepang klasik karena pengaruh dari ajaran Zen Budisme dan pada saat
ini banyak mempengaruhi seni dan arsitektur modern dalam istilah yang
berbeda yaitu minimalis. Prinsip ini juga diterapkan dalam Bauhaus suatu
lembaga pendidikan seni di Jerman terutama mengenai desain yaitu
Less is more , maksudnya suatu kemungkinan mensugestikan ide-ide
yang kompleks dalam seni rupa atau desain dengan hanya menampilkan
sedikit visualisasi.
b
a
Gambar 206. (a) Vas bunga produk dinasti Ch’ing di Cina (sumber: Paul Zelanski), (b)
Hasegawa Tohaku, Hutan Pinus (sumber: Joan Stanley Baker)
Prinsip ekonomi yang ditampilkan dalam kedua karya ini nampak
dengan jelas, pada gambar (206 a) vas bunga tidak ada hiasan dan
hanya menampilkan warna merah sehingga perhatian tertumpu pada
bentuk vas secara keseluruhan, pada gambar (206 b) Hasegawa dalam
menggambarkan hutan finus hanya menekankan lepada beberapa pohon
di latar depan dan beberapa pohon dengan tone warna lebih lemah di
latar belakang. Namun dapat mensugestikan bahwa itu adalah gambar
hutan.
233
f. Hubungan dengan Lingkungan
Salah satu hal yang perlu diketahui oleh seniman adalah untuk apa
dan siapa karya seni itu diciptakan. Apakah karya seni itu sebagai karya
seni murni ? Berarti yang akan menikmati adalah terbatas kepada
masyarakat yang paham dan mencintai seni, karya tersebut tentu akan
disimpan sebagai koleksi pribadi, galeri atau museum. Apabila karya seni
tersebut diciptakan untuk memenuhi kebutuhan fungsional bagi masya-
rakat, maka karya tersebut perlu mempertimbangkan segmentasi atau
lapisan masyarakat yang menjadi sasaran? Karya ini dalam prosesnya
memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain jenis ke-butuhan setiap
lapisan masyarakat yang menjadi sasaran karya seni, kemudian per-
timbangan kenyamanan, keamanan, kekuatan dan seba-gainya. Apabila
karya seni itu untuk diposisikan di tempat umum atau di suatu lingkungan
tertentu, karya seni tersebut perlu dipertimbangkan bahwa keber-
adaannya serasi dengan lingkungan sekitarnya. Kesesuaian tersebut
meliputi ukuran, bentuk dan warnanya juga daya tahan jika berada
ditempat terbuka.
Pertimbangan ukuran perlu menjadi perhatian seperti luas atau ukuran
ruang yang tersedia untuk sebuah karya seni, sehingga tidak terlalu
besar dan tidak pula terlalu kecil. Maka dalam hal ini pertimbangan
proporsi ruang dengan bentuk sangat diperlukan. Selanjutnya pertim-
bangan bentuk, warna, dan tekstur adalah untuk menyesuaikan rupa
karya seni dengan lingkungan agar dapat menyatu, tidak lepas, dan
berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Untuk
itu unsur-unsur seni harus dapat ’berdialog’ dengan unsur-unsur
lingkungannya. Maksudnya aspek karya seni memiliki hubungan yang
serasi dengan aspek sekitarnya, dapat dinikmati dengan baik oleh orang-
orang yang berada di lingkungan karya seni tersebut.
234
Menggambar merupakan suatu usaha untuk mengkomunikasikan
perasaan dan pikiran secara visual kepada orang lain. Anak-anak senang
dengan kegiatan menggambar, karena dengan menggambar mereka
dapat menuangkan pengalamannya mewujudkan simbol-simbol visual
dari apa yang pernah dilihatnya melalui bidang gambar.
Kegiatan menggambar pada dasarnya memerlukan alat dan bahan
yang sangat sederhana untuk dapat membuat tanda goresan. Beberapa
garis digoreskan pada bidang datar dapat memberikan suatu kesan
simbol tentang bentuk yang ada di sekitar kita. Dengan demikian pikiran
dan perasaan dapat diungkapkan dalam bentuk visual melalui kegiatan
menggambar, sehingga menggambar termasuk kegiatan mendasar
dalam berkarya seni rupa. Kegiatan menggambar dapat pula di-
analogikan dengan kegiatan menulis. Sebelum dapat menulis kalimat
seseorang harus dapat menulis huruf dan kata terlebih dahulu, demikian
pula dengan kegiatan berkarya seni rupa dan kria. Sebelum dapat
membuat karya seni rupa dan kria terlebih dahulu harus dapat
menggambar seluruh bentuk-bentuk yang ada di sekitar kita.
Pada bab ini akan dipelajari berbagai jenis dan teknik menggambar
yang sangat bermanfaat sebagai bekal dasar bagi siswa yang ingin
meniti karierya dalam bidang seni rupa. Jenis menggambar adalah
berupa kelompok tugas tentang obyek khusus yang digunakan sebagai
sarana untuk latihan. Maksud dari tugas-tugas yang harus dilaksanakan
adalah untuk melatih kemampuan penglihatan dalam mengamati unsur-
unsur rupa dan melatih koordinasinya dengan tangan. Selain itu,
memupuk kebiasaan untuk mencari alternatif teknik menggambar yang
inovatif dan sesuai dengan kemampuan dan kepribadian siswa. Untuk
keperluan ini siswa tidak perlu takut menggunakan bahan dan alat yang
baru. Jika terbiasa, menggunakan satu bahan misaInya pensil, coba
menggunakan bahan lainnya seperti cat air dan pastel. Coba pula
mencampur bahan-bahan tersebut untuk mendapatkan efek visual yang
baru. Berupayalah untuk bersikap kritis terhadap apa yang telah dibuat;
lihat dan evaluasi kekurangan dan kelebihannya. Bandingkan dengan
karya orang lain dan karya-karya yang telah dibuat sebelumnya. Dengan
demikian dapat diketahui sampai sejauh mana, kemampuan anda dalam
menggambar.
Ada beberapa hal pokok yang perlu diketahui dalam menggambar,
misalnya pengetahuan tentang alat dan bahan yang digunakan untuk
menggambar serta kemampuan mengamati secara mendetail terhadap
bentuk yang ada di disekitar kita sebagai sumber belajar. Oleh sebab itu
pada bab ini akan dibahas sedikit tentang alat dan bahan menggambar
serta beberapa jenis dan teknik menggambar. Hal ini sangat penting
untuk diketahui dan dilatihkan agar siswa memiliki pengalaman dan bekal
keterampilan menggambar sebagai dasar berkarya seni rupa selanjutnya.
A. Menggambar dan Melukis
Menggambar dan melukis sering menjadi pertanyaan di masyarakat
umum. Memang kedua jenis kegiatan ini cukup membingungkan karena
hasilnya sering memiliki persamaan yang sulit dibedakan; yang mana
hasil menggambar dan yang mana hasil melukis. Ada yang mengem-
balikan ke bahasa Inggris, menggambar berarti to draw, melukis berarti to
paint. Hasilnya adalah drawing dan painting. To draw berarti juga mena-
rik, dalam hal ini menarik garis untuk menirukan bentuk yang dilihat atau
dibayangkan; sedangkan to paint berarti mengecat, yakni menggunakan
cat untuk menirukan bentuk benda yang dilihat dan dibayangkan. Dalam
perkembangannya, melukis mengandung pengertian tentang pengung-
kapan pikiran dan perasaan atau idealisasi senimannya tentang estetika,
yaitu nilai-nilai keindahan yang dianutnya. Maka berdasar hal tersebut
kiranya dapat dibedakan, bahwa pengertian menggambar mengandung
arti bahwa seniman dengan menggunakan alat dan bahan tertentu mem-
buat goresan menirukan bentuk-bentuk yang dilihatnya ke atas bidang
dua dimensi. Sedangkan melukis berarti pengungkapan pikiran dan
perasaan seniman dapat ke atas bidang dua dimensi maupun tiga
dimensi dengan menggunakan alat dan bahan cat warna atau media
lainnya yang dianggap dapat mewakili idealisasi senimannya. Jenis dan
teknik menggambar dan melukis cukup banyak. Namun untuk keperluan
buku ini beberapa hal pokok yang relevan dibahas sesuai dengan pe-
ngembangan keterampilan dalam bidang seni rupa. Jenis dan teknik
menggambar tersebut antara lain tentang sketsa, perspektif dan proyeksi,
menggambar alam benda, menggambar tumbuh-tumbuhan dan binatang,
menggambar motif hias atau ornamen, menggambar manusia,
menggambar suasana, dan menggambar ilustrasi.
1. Menggambar Sketsa
Menggambar sketsa merupakan bagian dasar dari menggambar,
sedangkan menggambar merupakan kegiatan dasar seni rupa, baik seni
rupa dua dimensional maupun tiga dimensional. Hanya dengan
menggunakan secarik kertas dan sebuah pensil pikiran dapat
236
divisualisasikan dalam wujud sketsa. Kegiatan membuat sketsa
merupakan tradisi sejak zaman Renaissance. Namun demikian, di
Indonesia khususnya di Bali, membuat sketsa sudah dilakukan sejak
zaman dahulu oleh seniman tradisional yang disebut ngreka. Kegiatan ini
mendahului kegiatan melukis tradisional. Ngreka dilakukan dengan
membuat bentuk-bentuk di atas kanvas tradisional dengan menggunakan
alat tajam dari bambu yang diraut berfungsi sebagai pena. Tintanya
dibuat dari jelaga dicampur dengan cairan perekat ancur. Saat ini bahan-
bahan tradisional terebut telah diganti dengan alat dan bahan yang lebih
modern berupa pena dan tinta Cina hitam.
Dalam pembahasan ini yang dimaksud menggambar sketsa adalah
menggambar hanya dengan menggunakan garis dengan segala
variasinya. Menggaris dalam kegiatan menggambar merupakan sesuatu
yang sangat penting dan mendasar. Dari goresan garis dapat diketahui
seberapa kemampuan, ketrampilan dan kepekaan keindahan pem-
buatnya. Oleh karena itu kegiatan ini sangat mendasar dan penting untuk
melatih keterampilan tangan dalam menggambar dan kepekaan estetik.
Sebagai unsur seni rupa garis merupakan awal dari pembuatan sebuah
karya seni rupa dan kriya, karena garis memberi bentuk awal curahan
gagasan yang hendak diwujudkan.
Garis memberi karakter terhadap bentuk yang dibuat karena setiap
garis memiliki sifat dan sekaligus dapat mencerminkan arti visual dari
sebuah bentuk karya yang dipersepsi oleh indera penglihatan kita.
Membuat garis pada dasarnya merupakan hasil gabungan dari ketram-
pilan dan kepekaan rasa. Oleh karena itu makin sering menggaris makin
trampil dan peka perasaan visualnya. Kegiatan menggambar hanya
dengan menggunakan garis, yang lazim disebut sketsa, sangat penting
bagi seseorang yang bekerja dalam bidang seni rupa dan kriya.
Perhatikan ! Apabila dicermati dengan baik, lingkungan kita penuh
dengan garis. Ada garis lurus pada tepi meja, ada garis bergelombang
pada batas tepi sebuah pot bunga dan atap rumah dan ada garis
lengkung pada tepi bibir gelas. Semua itu kalau ingin divisualisasikan
kembali harus digambar terlebih dahulu. Apabila kita punya gagasan
yang indah untuk sebuah benda seni rupa, sebelumnya harus dapat
dibuat konsep dalam bentuk gambar, sedang gambar tidak dapat lepas
dari kegiatan menggaris. Latihan pada bagian ini bertujuan untuk melatih
kecekatan tangan dalam membuat bentuk dengan garis, melatih
kecepatan indera penglihatan dalam menangkap bentuk yang hendak
digambar dan meningkatkan kepekaan rasa keindahan visual.
237
Perhatikan contoh-contoh Garis Berikut Ini !
Gambar 207. Berbagai jenis garis pendek-pendek
Gambar 208. Variasi garis membentuk image karya peserta Diklat Dasar Seni Rupa
/Kekriyaan P4Tk Seni dan Budaya Yogyakarta.
Sebelum latihan membuat sketsa, ada baiknya melakukan latihan
melemaskan tangan dengan membuat berbagai jenis garis dengan pensil
dan tinta. Latihlah tangan anda menarik garis lurus tanpa bantuan mistar
berulang kali sampai garis yang dihasilkan kelihatan stabil, selanjutnya
buat pula garis lengkung, zig-zag, bergelombang dengan berbagai variasi
ketebalan. Buatlah berbagai jenis garis pendek-pendek dengan berbagai
238
variasi dan komposisi agar tidak bosan. Pada awaInya memang ragu
namun jika sudah berulang kali garis anda akan terlihat luwes dan indah.
Ada beberapa jenis sketsa jika di kelompokkan sesuai dengan
tujuannya yaitu sketsa sebagai catatan, sketsa sebagai studi bentuk,
sketsa sebagai awal melukis, dan sketsa sebagai seni sketsa. Masing-
masing jenis sketsa ini memiliki karakternya sendiri-sendiri.
a. Sketsa sebagai catatan visual
Tradisi Renaissance dalam seni rupa berpengaruh sangat besar di
seluruh dunia. Seniman zaman itu menggunakan sketsa salah satunya
sebagai sebuah catatan visual yang digunakan sebagai acuan dalam
membuat karya-karyanya. Seniman seni lukis, kemanapun mereka pergi,
selalu membawa perlengkapan berupa papan gambar dan kertas
layaknya membawa kamera untuk merekam hal-hal yang menarik
perhatiannya. Dengan demikian dibutuhkan kecepatan dan kecekatan
merekam bentuk-bentuk dalam kejadian atau peristiwa. Dalam hal inilah
ketrampilan antara koordinasi tangan dan mata sangat diperlukan dimiliki
oleh perupa khususnya pelukis. Henk Ngantung misalnya, membuat
sketsa-sketsa zaman perjuangan. Buku kumpulan sketsanya dapat
dijadikan sebagai dokumen sejarah tentang suasana zaman perjuangan.
Selain mengenai perjuangan, catatan visual Henk Ngantung juga me-
nyangkut kegiatan masyarakat sehari-hari di sawah, di rumah, di pasar
dan sebagainya sehingga dapat dijadikan catatan historis sosiologis
tentang kehidupan masyarakat pada zamannya, sehingga catatan visual-
nya tidak hanya berguna untuk dunia seni tetapi juga dapat dimanfaatkan
oleh bidang sejarah dan sosiologi sebagaihalny relief-relief pada dinding
candi atau lukisan pada dinding gua zaman prasejarah.
Gambar 209 . Henk Ngantung, Membatik, dan latiha meliter (sumber: Kumpulan Sketsa Henk
Ngantung)
239
b. Sketsa sebagai media studi bentuk dan warna
Seorang seniman seni rupa sangat penting memahami dan
menguasai bentuk-bentuk dan warna yang ada di lingkungannya. Mereka
perlu melakukan studi visual tentang semua bentuk dan warna yang ingin
dijadikan subyek dalam karyanya. Pelukis dan pematung sejak zaman
Renaissance menggunakan sketsa sebagai suatu cara melakukan studi
bentuk. Oleh karena sketsa berfungsi sebagai cara melakukan studi ben-
tuk, maka bentuk-bentuk sketsa jenis ini dibuat tidak harus utuh. Mungkin
a
c
b
Gambar 210. Studi anggota tubuh manusia (sumber: Gombrich dan Klaus Dunkelberg)
dalam satu gambar hanya ada satu atau beberapa bagian dari obyek
yang dipelajari. Maksudnya adalah mempelajari plastisitas, proporsi suatu
240
obyek secara mendetail. Sketsa studi ini dapat hanya berupa garis
dengan arsiran atau ditambah dengan blok cat air untuk mendapatkan
efek gelap terang untuk memunculkan plastisitas bentuk. Studi mendetail
tentang suatu obyek sangat penting dilakukan oleh para perupa terutama
yang menekuni gaya realisme. Seorang realis harus hafal bentuk-bentuk
plastisitas semua obyek. Tanpa rajin melakukan studi melalui sketsa, ia
tidak banyak memiliki perbendaharaan bentuk.
Studi untuk sebuah lukisan sangat serius dilakukan oleh para pelukis
zaman Renaissance, seperti apa yang dilakukan oleh Michel Angelo
dalam mempersiapkan lukisan langit-langit Gereja Sistine Chaple (gb.
210a, 211). Hal yang sama dilakukan oleh Delacroix sebelum melukis
Medusa yang menggemparkan (gb. 216, 217). Ia melakukan studi visual
dengan membuat sketsa orang-orang yang meninggal dunia sebagai
korban tenggelamnya sebuah kapal penumpang. Picasso juga
melakukan studi sebelum membuat lukisan dinding Gurnica (gb. 213).
Dalam melakukan studinya mereka melakukan eksplorasi bentuk-bentuk,
Gambar 211 .
Studi Sibyl untuk
langit-langit Gereja
Sistine Chapel
(sumber: Colin
Saxton)
241
Gambar 213. Picasso , studi Guernica
Gambar 212. Leonardo da Vinci,
Studi Anatomi Manusia, (sumber:
Gombrich).
Gambar 214. Bentuk dan anatomi kuda karya peserta diklat Seni Rupa P4 TK Seni dan Budaya
Yogyakarta
untuk mendapatkan anatomi yang tepat mereka menggunakan model,
sehingga Delacroix misalnya, melakukan studi langsung terhadap
jenazah korban tenggelamnya Rakit Medusa di rumah sakit. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan gambaran ekspresi yang tepat dari orang
yang menjadi korban. Perhatikan gambar (215, 216) bagaimana ekspresi
orang yang dalam keadaan sekarat atau meninggal dunia. Dengan
mengetahui kondisi yang sebenarnya, Delacroix mampu membuat karya
seni lukis yang besar dan sangat berhasil serta terkenal pada zamannya.
242
c. Sketsa sebagai awal berkarya seni rupa
Dalam dunia seni lukis ada banyak cara mengungkapkan gagasan,
misalnya dengan cara spontanitas, yaitu langsung melukis di atas sebuah
bidang gambar tanpa memerlukan sketsa terlebih dahulu. Cara ini
memerlukan kemahiran teknis yang tinggi dan nilainya terletak pada
ungkapan spontan yang tidak dapat diulang kembali. Cara lain dengan
membuat beberapa sketsa alternatif kemudian dipilih alternatif terbaik
untuk dituangkan ke atas bidang gambar. Ada pula langsung membuat
sketsa di atas kanvas, biasanya pelukis naturalis dan realis dan juga
pelukis tradisional Bali melakukan hal ini. Cara kedua merupakan sketsa
sebagai pendahuluan atau kegiatan awal sebelum melukis atau membuat
patung. Perlu diketahui bahwa membuat patung belum ada yang
dilakukan secara spontan kecuali pematung tradisional yang telah hafal
dengan bentuk dan atribut patung yang sama dari zaman ke zaman.
Oleh karenanya, seniman pematung modern sangat membutuhkan
sketsa sebelum mulai membuat patung. Aguste Rodin, sebelum mem-
buat jendela dengan patung yang berjudul The Gate of Hell, idenya ber-
Gambar 215. Delacroix, Rakit Medusa (sumber: Paul Zelanski).
243
Gambar 216. Delacroix, Studi Korban Rakit Medusa
Gambar 217. Delacroix, Studi korban dalam Rakit
Medusa 2
244
asal dari sebuah sketsa yang sangat sederhana (gb. 218 a). Dari sketsa
yang sederhana tersebut kemudian dikembangkan menjadi model dari
tanah liat, setelah modelnya sempurna lalu dibuat cetakannya. Jadi,
sketsa berupa gagasan kreatif yang sepintas melintas di benak ditangkap
dan dituangkan secara visual. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan
membuat sketsa sangat penting dalam dunia seni rupa terutama yang
membutuhkan perencanaan matang seperti seni patung patung, grafis
komunikasi, seni kriya, dan desain untuk benda-benda indutri.
a b
Gambar 218. Aguste Rodin, The Gate of Hell (sumber: Paul Zelanski)
d. Sketsa sebagai seni sketsa
Sketsa sebagai sebuah seni tidak memerlukan ketepatan bentuk,
namun yang dipentingkan adalah ungkapan estetik berdasarkan
rangsang visual dari obyek yang diperhatikan. Jadi dalam hal ini
membuat sketsa hampir sama dengan melukis secara spontan yang
dibatasi dengan goresan-goresan yang esensial saja. Oleh karena itu
kemampuan yang dibutuhkan adalah menangkap hal yang esensial dari
sebuah obyek. Sebuah obyek tegak dapat pula diungkapkan dengan
garis meliuk, atau miring. Hal ini tergantung dari suasana batin sang
perupa dalam mengungkapkannya secara visual dan nilai estetik yang
dianutnya. Pada gambar 219, Nyoman Gunarsa lebih banyak bekerja di
studio, bentuk-bentuk yang dibuatnya lebih banyak berupa pengalaman
tentang seni budaya Bali sebagai lingkungan budayanya. Oleh sebab itu
245
ia mampu mengungkapkannya tanpa melihat langsung ke obyek yang
dilukisnya dengan lancar tanpa hambatan perbendaharaan visual yang
diperlukannya, sehingga spontanitas dapat dicapai. Namun demikian ada
pula kelemahannya, yakni upaya mengekspresikan idealisasi dapat
terjebak pada pengulangan-pengulangan jika tidak sering melakukan
pengamatan dan catatan visual langsung terutama mengenai detail-
detail yang kadang sulit untuk diingat.
Gambar 219 . I Nyoman Gunarsa,
Alam Kahyangan Bebas (sumber:
Katalog ”Moksa” Nyoman Gunarsa).
246
Gambar 220.
Henri Matise,
Gadis di depan
Aquarium
(sumber: Paul
Zalanski).
Perhatikan karya Matise (gb. 220) dan Picasso (222 a), keduanya
hanya menggunakan garis dengan lancar dan luwes dalam
mengungkapkan suasana batinnya. Berbeda dengan Nyoman Gunarsa
selain menggunakan garis ia juga mahir menggunakan warna cat air un-
tuk mendukung bentuk dengan garis yang dibuatnya dengan lancar.
Selain itu, komposisi yang dibuat terasa berat di atas, ringan di bawah,
tetapi masih dalam keseimbangan dan kesatuannya tetap terjaga. Sketsa
yang dibuat sekaligus juga menjadi sebuah lukisan. Di lain pihak Henk
Ngantung memvisualisasikan gagasannya dengan garis dan blok tinta
untuk mendukung bentuk-bentuknya (gb. 221) dan Cristiano membuat
sket wajah gadis langsung dengan konte (gb. 222 b).
Gambar 221
. Ngantung,
dua sapi di
jalan
berlumpur
247
a b
Gambar 222. (a) Picasso, sketsa tiga gadis, (b) Cristiano, Wajah Gadis Kecil (sumber: (a)
Paul Zelanski , (b) Koleksi Presiden Soekarno)
Tugas Latihan
Latihan ini sangat penting untuk melatih keterampilan tangan dalam
membentuk dengan garis, maka lakukanlah dengan bersungguh-
sungguh !
Setiap hari buatlah 10 sketsa dari berbagai obyek dengan
menggunakan kertas buram atau kertas bekas yang sebaliknya
belum digunakan. Upayakan mengunakan tinta hitam dan
cobalah berbagai jenis pena (pena logam, pena batang, pena
bulu) untuk mengetahui kualitas garis yang dihasilkannya.
Diskusikan dengan guru pembimbing dan teman hasil-hasil
sketsa yang telah dibuat, perhatikan nasehat don kritiknya
sehingga kekurangan dapat diiperbaiki.
Pilihlah sketsa yang dianggap baik oleh anda, guru dan teman
dan kumpulkan serta dijilid sebagai porto-foliomu.
248
2. Menggambar Perspektif dan Proyeksi.
a. Menggambar perspektif
Lingkungan ini adalah tiga dimensional sebagai sebuah benda yang
memiliki panjang, lebar dan ketebalan atau volume. Benda itu berada
pada ruang yang memiliki kedalaman. Kita sebagai wujud dilingkupi oleh
ruang. Dalam beberapa hal menggambar sama dengan menulis. Menulis
adalah kegiatan untuk mengungkapkan sesuatu secara verbal. Apabila
kita duduk menggambar suatu benda di depan kita, sebenarnya kita
mengungkapkan benda itu melalui gambar. Oleh karena itu diperlukan
pemahaman dan keterampilan tentang cara mengungkapkan wujud tiga
dimensi ke atas bidang datar melalui prinsip perspektif.
Kegiatan menggambar membutuhkan beberapa keterampilan agar
hasil gambarnya baik, yaitu keterampilan teknik meliputi ketrampilan
membentuk pada bidang dua dimensional berdasar linear perspektif,
mewarna berdasar areal perspektif dan mengungkapkan karakter benda
yang digambar seperti keras, lunak, pejal, kasar, halus dan sebagainva.
Sebelum dapat menggambar, terlebih dahulu ia harus dapat menguasai
prinsip dan teknik perspektif. Sebab perspektif merupakan suatu cara
dalam mentransformasikan wujud tiga dimensional ke atas permukaan
bidang dua dimensional. Dalam transformasi berupa gambar itu terdapat
ilusi ruang tiga dimensional yang disebabkan karena penerapan teknik
dan prinsip perspektif.
Agar lebih memahami tentang prinsip perspektif coba pergi ke alam
terbuka, jika mungkin ada jalan lurus atau rel kereta api.
Perhatikanlah jalan atau rel itu bagaimana kondisinya bila semakin
jauh, apakah jalan atau rel itu semakin menyempit, apakah sisi
kanan dan kirinya bertemu pada suatu titik pada garis mendatar?
Apa yang diperhatikan itulah perspektif. Selanjutnya perhatikanlah
gambar berikut coba buat garis yang bertemu pada satu titik pada
garis mendatar pada gambar tersebut.
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya ilusi
perspektif. Apabila kita perhatikan gambar di atas dapat kita ketahui di
mana posisi kita berada. Dari posisi kita, terutama posisi mata
menentukan bentuk perspektif itu. Jika kita berada di pantai dan kita
melihat ke depan akan kita temukan garis mendatar yang membentang
sangat luas, garis itu adalah batas pandangan kita yang merupakan
pertemuan antara kaki langit dengan permukaan bumi. Posisi garis ini
mengikuti posisi pandangan mata kita dan menyebabkan perubahan
yang terjadi terhadap bentuk yang kita lihat. Apabila kita tengkurap di
permukaan bumi garis batas pandangan itu tingginya mengikuti posisi
249
mata kita, begitu pula kalau kita berada di atas gunung. Selain garis
batas pandang ada pula yang disebut titik lenyap, maksudnva seluruh
benda ini jika dijajarkan semakin jauh akan terlihat semakin kecil dan
menuju kepada suatu titik lenyap yang berada pada garis batas pandang
itu. Oleh sebab itu dalam menggambar dengan perspektif titik lenyap
yang digunakan dalam tiga posisi tergantung dari bagaimana posisi
benda yang ingin digambarkan.
Dalam perspekfif satu titik lenyap biasanya digunakan untuk
menggambarkan penampakan dari arah depan obyek. Apabila dalam
perspektif ada dua titik lenyap biasanya digunakan untuk meng-
gambarkan dua sisi obyek, yaitu dari arah depan dan samping, se-
dangkan perspektif tiga titik lenyap untuk menggambarkan pandangan
depan, samping dan khusus benda yang tinggi. Dalam ungkapan seni
rupa agak berbeda dengan arsitektur yang menggambarkan perspektif
harus tepat, untuk seni rupa perspektif hanyalah untuk membantu
pemahaman tentang ilusi keruangan terutama untuk seni lukis naturalis
dan realis.
Gambar 223 . Memahami posisi benda dalam perspektif
(sumber: Stan Smith (a), Colin Saxton (b) Atan Simth ).
Tugas Latihan
Lakukanlah praktek berikut ini agar dapat memahami tentang
bagaimana menggambarkan benda dengan menggunakan prinsip
perspektif.
250
Tugas a. Perspekhf satu titik
lenyap pandangan dari atas
dan bawah.
a. Gunakan selembar kertas
gambar A4.
b. Buatlah garis mendatar (ab)
sepanjang 20 cm sebagai
garis batas pandang.
c. Carilah titik ( o ) tengah
garis itu dari titik tengah itu
buatlah empat buah garis,
memancar ke atas .
d. Tentukan satu titik ( c )
pada salah satu garis yang
memancar ke atas, kemu-
dian pada titik itu tarik garis
sejajar garis batas pandang
menuju ke titik (d ) garis di
sebelahnya.
e. Tarik garis tegak lurus ke Contoh perspektif satu titik lenyap
atas dari (c) dan (d)
sepanjang 3 cm (ce dan df),
kemudian tarik garis sejajar
lagi yang menghubungkan
garis (cf). e f
f. Tarik garis sejajar di bawah
garis (cd) yang menghu-
bungkan (co) dengan (do),
dengan demikian anda su-
dah mendapatkan gam-bar c d
sebuah balok dipan-dang
dari depan atas dengan
menggunakan prinsip per-
spektif satu titik lenyap.
a b
o
251
Tugas b. Perspektif Dua Titik
Lenyap.
Sebagat haInya tugas di atas
buatlah garis batas pandang
sepanjang 20 cm (ab)
Titik lenyapnya dapat ujung garis
itu atau tidak pada ujung garis.
Tariklah tiga buah garis
memancar dari titik (a) ke sebelah
kanan dan dari titik (b) ke sebelah
kiri sehingga garis-garis itu saling
silang.
Pada titik pertemuan empat garis
yang di bagian atas berilah tanda
c,d,e,f
Dari titik c, d dan e tarik garis
tegak lurus sehingga bertemu
dengan garis dibawahnya dan beri
tanda g, h dan i sehingga menjadi
garis cg, df dan ei. Contoh perspektif dua titik lenyap
Dengan demikian anda telah men-
dapatkan gambar balok pandang-
an dari bawah, samping dan de-
d
pan.
c e
g f i
h
a b
252
Tugas c. Perspektif Tiga Titik
Lenyap.
Buat garis sejajar (ab) dan (cd)
Masing-masing dari titik (a) tarik
tiga garis memancar ke bawah
kanan dan dari (b) tiga garis
memancar ke bawah kiri sehingga
saling silang
Pertemuan tiga garis dari (a dan b
menemukan titik pertemuan
(e,f,g,h, dan j)
Tentukan sebuah titik lenyap (o) di
tengah (cd)
Hubungkan (o) dengan (e, g, h).
Hubungan (o) dengan (e)
menemukan (i) dan (k), dengan
demikian didapatan sebuah kubus
pandangan atas.
Tugas selanjutnya dapatkah anda Contoh perspektif tiga titik lenyap
menggambar benda dengan tiga
jenis perspektif tadi?
a b
f
e g
h
i k
j
c o d
253
Tugas Latihan
Buatlah sebuah gambar sebuah bentuk sederhana dengan mene-
rapkan masing ketiga prinsip perspektif.
b. Menggambar Proyeksi
Menggambar proyeksi adalah kelanjutan dari menggambar perspektif.
Jika menggambar perspektif memberi keterampilan tentang meng-
gambarkan ilusi tiga dimensional pada bidang datar maka proyeksi
memberi keterampilan untuk menggambarkan secara mendetail bagian-
bagian sisi dari benda yang digambar. Oleh sebab itu, keterampilan
menggambar proyeksi ini sangat penting untuk dipelajari oleh siswa jika
ingin dapat membuat suatu desain benda produk seni rupa dan seni
kerajinan dengan baik.
Gambar 224 . Contoh gambar proyeksi
(sumber: Collin Saxton)
Ada beberapa jenis menggambar proyeksi, seperti planometri, isometri
dan oblique. Namun dalam pembahasan ini akan dikemukakan tentang
proyeksi orthografi. Proyeksi ini sangat bermanfaat dalam menggam-
254
barkan berbagai bentuk, dimensi dan susunan bagian-bagiannya. Prinsip
dari proyeksi ini adalah melihat tiga sisi sebuah benda, yakni dari atas,
samping dan dari depan. Untuk itu obyek ditempatkan dalam sebuah
kotak imajiner kemudian bagian sisi dari benda yang menghadap ke sisi
kotak diproyeksikan ke sisi kotak itu kemudian kotak itu dibuka maka
anda akan mendapatkan proyeksi dari benda. Agar lebih jelas perhati-
kanlah contoh gambar berikut.
Perhatikanlah contoh gambar teknik berikut ini, bagaimana
penerapan perspektif dan proyeksi sebagai gambar penuang-
an gagasan untuk membuat benda produk seni pakai tiga
dimensi ! Dapatkah anda membuatnya ?
Gambar 225. Gambar kerja penerapan proyeksi dan perspektif terhadap rencana
pembuatan produk seni terpakai ‘tempat koran’ (sumber: koleksi PPPPTK Seni dan
Budaya Sleman – Yogyakarta).
255
Tugas Latihan.
Lakukanlah latihan berikut ini agar anda dapat membuat gambar
proyeksi guna keperluan pembuatan desain produk.
Gunakan kertas gambar A4 dan pensil 2R
Buatlah sebuah gambar kubus di mana pada sisi samping dan
belakang kubus itu ada masing-masing sebuah lubang segi tiga
dan segi empat
Dapatkah anda membuat gambar proyeksinya seperti contoh
gambar di atas ?
Selanjutnya dengan kertas lain buat sebuah gambar rencana
pembuatan produk benda seni terpakai dengan menerapkan
proyeksi dan perspektif !
3. Menggambar Alam Benda
Istilah dalarn bahasa Inggris untuk alam benda adalah 'still life'. Kata
ini mengandung makna tentang menggambar secara langsung suatu
benda diam yang sengaja disusun untuk keperluan itu. Kegiatan
menggambar alam benda sebagai subyek utama diketahui mulai sejak
abad XIV. Sebelum itu gambar alam benda hanya sebagai pendukung
dari sebuah tema utama lukisan. Ada beberapa kemampuan yang harus
dikuasai dalam menggambar alam benda yaitu :
a. Memilih dan menyusun benda yang akan digambar serta menentukan
sudut pandang yang baik.
b. Mentransformasikan bentuk tiga dimensi ke atas bidang dua dimensi
dengan garis dan unsur lainnya.
c. Menjadikan ilusi tiga dimensi terhadap benda yang digambar dengan
menerapkan prinsip perspektif, memberikan warna dan gelap terang.
d. Mentransformasikan karakter benda yang digambar misalnya karakter
benda keras, lunak, liat, dan pejal.
Apabila keempat syarat minimal ini dikuasai, niscaya menggambar
alam benda dapat berhasil. Sebelum praktek, ada baiknya mem-
perhatikan gambar di bawah ini. Lihatlah bagaimana teknik dan bahan
yang digunakan, bentuk-bentuk benda yang digambar, gelap terang dan
karakter bendanya.
Masalah pertama yang menjadi pertimbangan untuk menggambar
alam benda adalah tentang jenis benda apa yang ingin digambar, karena
pemilihan terhadap obyek yang digambar itu menentukan keber-
hasilannya. Ada dua macam obyek dalam menggambar alam benda,
yakni obyek buatan manusia dan obyek alami. Obyek tidak perlu yang
muluk-muluk, benda sederhanapun dapat menjadi obyek dan
256
menghasilkan gambar yang baik. Hal ini tergantung dari bagaimana kita
dapat mengenali keindahan dari benda itu untuk diungkapkan secara
visual. Selain itu penyusunan terhadap obyek perlu mendapat perhatian
pula, tidak perlu.
a
b
Gambar 226. (a) Sepatu, karya siswa SMK 2 Kasihan Batul, (b) Buah, karya peserta diklat Dasar
Seni Rupa/Kekriyaan.
susunan yang penuh dengan kerumitan. Susunan yang baik unsur yang
sederhana tetapi dapat menarik perhatian. Lihatlah contoh gambar atau
lukisan alam benda yang dibuat oleh Van Gogh pada gambar (227).
Sebuah kursi tua dapat dijadikan obyek yang menarik dan menghasilkan
karya yang berkualitas tinggi. Dalam karya ini Van Gogh berhasil
mengungkapkan karakter kursi tersebut dengan teknik yang memiliki ciri
khas tersendiri. Oleh sebab itu para siswa diharapkan berlatih terus
sehingga menguasai berbagai teknik menggambar yang kemudian dapat
mengembangkan ciri khasnya masing-masing.
Dalam mentransformasikan wujud tiga dimensional menjadi gambar
dua dimensional pengetahuan dan keterampilan tentang perspektif
sangat membantu untuk menciptakan ilusi keruangan. Selain itu,
kemampuan membuat skala dari ukuran sebenarnya menjadi lebih kecil
atau lebih besar adalah hal penting. Biasanya menggambar alam benda
jarang menerapkan ukuran yang lebih besar dari obyek aslinya, paling
besar sama dengan ukuran sebenarnya (life size). Menggambar alam
benda yang ukurannya lebih kecil dan disesuaikan dengan ukuran kertas,
pengukuran skalanya dapat dilakukan dengan teknik yang sangat
sederhana tetapi efektif. Dengan hanya menggunakan batang pensil,
tangan direntangkan lurus ke depan dan pensil dipegang tegak lurus
diarahkan kepada benda yang digambar, mata dipicingkan lalu ibu jari
257
digunakan untuk menandai ukuran benda yang digambar pada batang
pensil itu kemudian digunakan sebagai skala gambar pada kertas
gambar.
Gambar 227. Vincent Van Gogh, Kursi dan
Pipa Cerutu (sumber: Stan Smith.)
258
a
Gambar 228 .
(a) Buah pier , bahan
krayon (sumber:
Richard Mc. Daniel ),
(b) Vas bunga, bahan
pastel (sumber:
Parramon’s
Educational Team )
b
Dalam pemberian warna dan gelap terang diperlukan ketajaman
penglihatan. Seperti halnya mengukur obyek, untuk memberi kesan gelap
terang pandangan mata kita harus difokuskan pula dengan memicingkan-
Dalam pemberian warna dan gelap terang diperlukan ketajaman peng-
lihatan. Seperti halnya mengukur obyek, untuk memberi gelap terang
pandangan mata kita harus difokuskan pula dengan memicingkan-nya.
259
Dengan demikian kontras gelap terang semakin jelas terlihat, sehingga
memudahkan dalam pemberian tone gelap terang dan warna pada
gambar. Gelap terang bertujuan untuk membuat ilusi tiga dimensional
terhadap gambar. Oleh sebab itu, kemampuan teknik dalam konteks ini
sangat menentukan keberhasilan sebuah gambar, selain pengaturan
pencahayaan pada waktu menyusun benda yang hendak digambar.
Selanjutnya, dalam memberi karakter terhadap gambar agar sesuai
dengan benda aslinya, diperlukan kepekaan dan teknik pewamaan yang
mantap. Hal ini akan dicapai jika melaksanakan latihan secara terus
menerus untuk mempertajam penglihatan, memperhalus perasaan dan
menguasai teknik penggunaan bahan.
a b
c
Gambar 229. (a) Alam benda dengan teknik dan bahan cat air, (b) Alam benda dengan
cat minyak, (c) alam benda dengan teknik titik-titik (pointilis) dari alat spidol.
260
a. Menggambar Alam Benda Hitam Putih dengan teknik ‘dry brush’
Kegiatan menggambar alam benda dalam bidang seni rupa termasuk
dasar bagi kegiatan berkarya seni rupa selanjutnya, sebab dalam
kegiatannya latihan pengamatan terhadap ujud sebuah benda
merupakan kegiatan untuk mencermati bentuk dan plastisitasnya. Cara
1. Susunlah dua buah botol
be-ning dengan latar bela-
kang gelap agar dapat mem-
beri kontras yang tajam
2. Buatlah sketsa kedua botol
dengan pensil dengan go-
resan tipis.
3. Berilah latar belakang de-
ngan warna hitam, kemu-
1
dian warna tersebut di go-
sok dengan kertas tisu atau
kain yang lembut agar men-
dapatkan warna yang rata.
4. Kain atau tisu yang telah
digu-nakan menggosok la-
tar belakang tadi, gunakan
untuk menggosok bentuk
botol sehingga mendapat-
kan warna hitam tipis.
5. Gunakan karet penghapus 2
yang telah diruncingkan un-
tuk mendapatkan ’high-
light’ pada botol.
6. Selanjutnya berikan sentuh-
an akhir dengan penekanan-
penekanan pada bagian ge-
lap di botol dengan arang/
pastel.
3
Gambar 230. Proses mengambar dengan teknik dry brush
261
ini sangat efektif untuk melatih perasaan dalam merasakan karakter
permukaan setiap benda dan melatih untuk mengingat wujud sebuah
benda. Benda yang digambar tidak berubah-ubah posisinya, dengan
demikian pengamatan dapat dilakukan secara terus menerus terhadap
struktur dan unsur benda tersebut, hal ini memberi kesempatan untuk
pencerapan oleh persepsi terhadap kualitas benda yang diamati, yaitu
warna, tekstur, plastisitas yang diakibatkan oleh lekak-lekuk benda serta
gelap terang yang diakibatkan oleh cahaya yang menerpa benda.
Perhatikanlah cara menggambar alam benda tanpa warna pada gambar
235 di atas sebagai teknik awal yang perlu dikuasai.
Tugas Latihan.
Ini adalah latihan lanjutan setelah melakukan latihan membuat
perspektif dan sketsa, latihan ini penting dilakukan untuk
meningkatkan keterampilan dalam memberi kemantapan dalam
membuat ilusi tiga dimensional dengan gelap terang dan pewarnaan
serta mengasah kepekaan rasa dan ketajaman penglihatan.
1. Ambilah dua buah benda, susunlah benda tersebut dalam
komposisi yang sedap dipandang
2. Buatlah sket kedua benda tersebut di atas kertas gambar
3. Berilah arsiran tipis pada bagian-bagian benda yang gelap
4. Secara perlahan, tebalkan bagian yang gelap tersebut
5. Gunakan bagian yang paling gelap untuk membandingkan tonasi
gelap terang pada bagian yang lain
b. Menggambar Alam Benda dengan Warna
Menggambar alam benda dengan warna agak berbeda dengan
menggambar alam benda hanya dengan hitam putih mengguakan pensil
atau arang. Warna yang dapat digunakan ada banyak jenisnya, antara
lain warna medium kering, seperti pensil berwarna, pastel, dan krayon;
ada pula warna dengan medium basah seperti cat air, cat poster, cat
akrilik, dan cat minyak. Semua bahan ini memiliki sifat yang berbeda-
beda seperti yang telah diuraikan dalam bab III. Oleh karena memiliki
sifat yang berbeda, maka menggambar alam benda dengan warna perlu
penguasaan yang berbeda pula. Contoh berikut adalah menggunakan cat
akrilik. Akrilik memiliki sifat warna cerah, oleh kaena itu cocok untuk
menggambarkan benda-benda dengan warna yang intensitasnya tinggi.
Jeruk memiliki warna kuning, aple warna merah dan hijau. Dalam contoh
latihan berikut adalah menggambar alam benda aple, dan jeruk yang
memiliki warna cerah dan komposisi sederhana. Potensi akrilik mirip cat
minyak tetapi cepat kering. Oleh karenanya kuas yang digunakan harus
sering dimasukkan ke dalam air agar tidak rusak. Oleh karena cepat ke-
262
Langkah-Langkah Menggambar
Alam Benda dengan Warna
Akrilik
Langkah 1: sket
outline benda
model dan warna
dasar
Langkah 2:
Memberikan
warna-warna
terang pada bagian
yang terkena
cahaya dan sedikit
latar belakang
Langkah 3:
Menekankan gelap
terang pada benda
dan latar belakang
Langkah 4: Mem-
berikan highlight
dan finishing touch
Gambar 231. Langkah menggambar alam benda dengan warna akrilik
263
Langkah Menggambar Alam Benda
dengan Cat Air
1. Bersihkan kertas dengan kapas
lembab dengan perlahan dan
keringkan.
2. Setelah sket tipis dengan pensil
selesai, terapkanlah warna biru
tipis keabu-abuan sebagai warna
dasar dengan cat air yang telah
dicairkan sebelumnya pada wadah
palet.
3. Biarkan bagian yang mengkilat
terkena cahaya tetap putih sebagai
highlight nantinya.
4. Secara perlahan, setelah warna
dasar pertama agak kering,
terapkan warna berikutnya yang
mendekati warna benda, yaitu
coklat dengan bergradasi
5. Secara perlahan ketika warna
cklat muda telah kering, terapkan
warna coklat tua pada bagian yang
gelap. Berikan sentuhan akhir pada
bagian yang paling pekat.
Gambar 232 . Menggambar Alam Benda dengan Cat Air (sumber: Hasel Harrison)
264
ring kecenderungan penggunaannya menggunakan teknik brush stroke
dengan sapuan-sapuan kuas yang lugas. Oleh karenanya teknik ini sulit
untuk digunakan melukis realis dengan permukaan halus, hasil gambar
lebih bersifat ekspresif dengan tarikan kuas yang kuat. Warna diterapkan
secara berulang tumpang tindih sehingga warna menjadi tebal.
Untuk itu perhatikan contoh langkah-langkah menggambar alam
benda dengan warna akrilik (gb.231) dan warna cat air (gb.232).
Perhatikan cara mewarnanya, pemberian gelap terang untuk men-
dapatkan ilusi tiga dimensional. Selanjutnya lakukan latihan mandiri
dengan mengacu kepada tahapan contoh gambar tersebut.
4. Menggambar Tumbuhan-Tumbuhan dan Binatang
Dunia tumbuhan dan binatang sangat kaya dengan jenis rupa dan ini
sangat menyenangkan untuk digunakan sebagai sumber gagasan dalam
bidang seni rupa dan seni kerajinan. Mulai belajar menggambar tum-
buhan dan binatang lebih baik jika dilakukan melalui pengamatan lang-
sung tehadap obyek. Hal ini dapat memberikan banyak perbendaharaan
rupa yang berguna dalam peningkatan dan pengembangan gagasan
selanjutnya.
Menggambar tumbuhan dan binatang ada perbedaannya, misalnya
tumbuhan yang diam dapat diamati secara tetap, sedangkan binatang
tidak karena selalu bergerak. Oleh sebab itu, untuk menggambar
binatang secara langsung lebih memerlukan kecepatan dan ketajaman
penglihatan dibanding menggambar tumbuhan.
a. Menggambar Tumbuhan-Tumbuhan
Sebelum mulai menggambar, perlu diketahui terlebih dahulu tentang
dunia tumbuhan terutama jenis kelompoknya. Untuk itu kerjakanlah tugas
mendapatkan informasi tersebut !
Tugas awal adalah mencari tahu tentang kelompok dalam
tumbuhan, diskusikan dengan teman atau cari informasi di
perpustakaan tentang kelompok tumbuhan dan ciri-ciri dari setiap
kelompok. Selanjutnya pergilah ke luar amati kelompok rerumputan
yang ada di halaman atau lahan yang luas yang belum terusik oleh
tangan manusia. Kenali jenis dan rupa dari kelompok rerumputan
itu; warnanya, bentuknya, seratnya, bariknya. Selanjutnya amati
kelompok perdu dekat sungai, lalu pohon-pohon yang beraneka
jenisnya. Dari sekian jenis pepohonan itu apakah ada daun, batang,
dan bunga yang sama bentuk dan warnanya dan bagaimana pula
perbedaannya ?
265
.
Gambar 233. Pepohonan
karya peserta diklat Dasar
Seni Rupa/Kriya P4TK
Seni dan Budaya Yogya-
karta.
Menggambar tumbuh-tumbuhan sama dengan menggambar obyek
lainnya. Yang penting adalah bagaimana melakukan persepsi terhadap
bentuk, warna dan karakter dari setiap jenis dan kelompok tumbuhan itu,
kemudian dipindahkan ke atas bidang gambar. Dalam hal ini diperlukan
kecermatan dalam mengamati dari setiap detailnya. Untuk itu lakukanlah
latihan-latihan berikut ini.
Gambar 234 . Durrer, rerumputan hasil studi cat air
266
1) Menggambar rerumputan
Jenis rerumputan sangat banyak tetapi untuk mengetahui tentang
sifat rupa kelompok tumbuh-tumbuhan ini cobalah pilih salah satu
dan jadikan obyek latihan menggambar.
Tugas Latihan Menggambar Rerumputan
Gunakan kertas gambar A4 dan pensil 3B
Ambil satu pohon rumput dan amati bentuk helai daun dan
bunganya, mulailah mengadakan studi gambar/visual tentang
rumput itu secara mendetail.
Ambil sejenis rumput yang lain, amati perbedaan dengan rumput
sebelumnya, lalu lakukan pula studi gambar dengan teliti.
Dengan kertas gambar lain dan pensil cobalah menggambar jenis
rerumputan tadi dalam kelompoknya.
Gunakan contoh gambar sebagai acuan, dan jangan menirunya.
Selanjutnya dapatkah anda menggambar kelompok rerumputan
dengan warna .
2) Menggambar Perdu/Semak
Semak atau perdu memiliki karakter berbeda dengan pepohonan,
karena secara fisik semak atau perdu lebih kecil dan terdiri dari berbagai
jenis tumbuh-tumbuhan yang berbeda. Lalukanlah latihan berikut ini.
Tugas Menggambar Perdu
b. Gunakan kertas gambar A4
dan pensil 3b.
c. Ambil contoh batang dan
daun dari beberapa jenis
perdu.
d. Lakukanlah studi gam-bar
secara mendetail terhadap
jenis perdu itu.
e. Dengan kertas gambar yang
lain buatlah ‘out line’ dari
kelompok perdu itu.
f. Selanjutnya buatlah gambar
Gambar 235. Pohon perdu dengan bahan
lebih mendetail dari kelom-
pastel
pok perdu tadi dengan war-
na.
267
3) Menggambar Pohon
Pohon jenisnya sangat banyak dan karakternya fisiknya berbeda-beda
mulai dari batang, daun, bunga, dan buahnya. Menggambar pada
dasarnya mengamati secara fisik dan memindahkannya ke atas bidang
datar atau kertas. Untuk itu latihan menggambar berbagai jenis pohon
sangat penting sebagai perbendaharaan visual, latihan dapat dilakukan
bagian perbagian sebelum menggambar secara keseluruhan. Dapat
mulai dari mengamati karakter batang, daun dan bagian-bagian lainnya.
Tugas menggambar po-
hon-pohonan
Pilihlah sebuah po-
hon di halaman.
Gunakan kertas gam-
bar A4 dan pensil 3B.
Amati batang tum-
buhan itu, dahan, ca-
bang dan daunnya
ser-ta bagian lainnya.
Selanjutnya, mulailah
menggambarnya
dengan ‘out line’ ke-
mudian dilanjutkan
dengan membuat de- Gambar 236. Pepohonan karya siswa SMKN 2 Kasihan
Bantul
tail bagian-bagiannya
dengan pensil ver-
warna.
Berikut ini adalah langkah-langkah latihan menggambar daun dengan
bahan pastel, garis-garis daun dapat dibuat dengan menggunakan benda
tajam digoreskan untuk membentuk garis-garis urat daun. Perhatikanlah
contoh langkah-langkah menggambar berikut, kemudian lanjutkan de-
ngan latihan sendiri mengambil sehelai jenis daun yang dan lakukan
dengan mengacu kepada contoh-contoh langkah berikut.
268
Langkah-Langkah Menggambar Daun dengan Pastel Minyak
1. Ambil dua tangkai daun yang telah
tua, sket tipis dengan pensil atau
langsung dengan pastel warna kuning.
2. Perhatikan warna dasar apa yang
dominan pada kedua daun itu ! Jadikan
warna dominan muda sebagai warna
dasar, orange kuning dan hijau kuning
3. Beri tone warna gelap terang
sesuaikan dengan warna aslinya, pada
daun orange kuning ada warna tepi
orange sehingga nampak bergradasi.
4. Setelah penerapan gelap terang
selesai, gunakan alat tajam untuk
membuat urat-urat daun
5. Beri sentuhan akhir dengan detail-
detail warna dan goresan urat daun
yang dirasa masih perlu.
Gambar 237. Menggambar daun dengan bahan pastel minyak (sumber: Hasel Harisson).
269
b. Menggambar Binatang
Seperti halnya menggambar tumbuhan, maka sebelum latihan
menggambar binatang lakukanlah tugas berikut ini
Cari informasi tentang binatang ke perpustakaan terutama
tentang jenis dan bentuknya, kemudian diskusikan dengan
teman tentang pengelompokan jenis binatang tersebut.
Binatang sangat kaya akan rupa. Lihat kelompok unggas. Dalam
suatu kelompok itu bentuk dan warnanya tidak ada yang sama. Begitu
pula pada kelompok binatang yang lain. Untuk itu, dalam menggambar
binatang diperlukan pengenalan terhadap bentuk dan anatomi setiap
kelompok binatang itu. Bentuk binatang melata berbeda dengan bentuk
binatang air, binatang menyusui berkaki empat berbeda bentuknya
dengan binatang kelompok unggas. Bahkan dalam satu kelompok
terdapat pula perbedaannya; misalnya dalam kelompok binatang
menyusui, bentuk kuda berbeda dengan bentuk anjing berbeda pula
dengan bentuk sapi.
Perhatikan bentuk binatang dan gambar binatang di bawah
ini ! Cermati bentuk keseluruhannya dan anatominya serta
cara menggambarnya !
Gambar 238. Jenis-jenis Binatang menyusui (sumber: Edwin Gould & George McKay).
270
Gambar 239. Kuda liar di padang rumput (sumber: Edwin Gould & George McKay).
271
Gambar 240. Sketsa kera, anak anjing, dan kucing
a
b
Gambar 241 . (a) Rembrant, Gajah, (b) Durrer, Kelinci (sumber: Gombrich)
272
Gambar 242. Burung karya peserta Diklat Dasar Seni Rupa/ Kekriyaan
P4Tk Seni dan Budaya Yogyakarta.
Langkah- Langkah Menggambar Kucing
Kesulitan menggambar binatang adalah karena mereka tidak jenak,
tidak seperti manusia dapat disuruh untuk diam. Oleh sebab itu
diperlukan pengamatan yang cermat tentang bentuk, warna, dan
geraknya. Agar mendapatkan bentuk yang baik buatlah sketsa studi yang
banyak dari binatang yang akan digambar. Pada saat ini dapat dibantu
dengan kamera untuk merekam warna dan posisi binatang yang
disenangi. Gunakan kamera sebagai alat bantu, tetapi jangan tergantung
karena itu hanyalah alat yang gunanya untuk membantu kesempurnaan
bekerja. Walaupun ada kamera kemampuan membuat sketsa yang
cekatan sangat diperlukan. Setelah mantap dengan pilihan sketsa lalu
pindahkan ke atas kertas atau kanvas. Untuk itu, sebagai contoh dan
acuan perhatikan langkah-langkah menggambar kucing dengan media
pensil cat air di bawah ini.
273
1. Pindahkan sketsa kucing yang
telah dibuat ke atas kertas gambar
untuk cat air, atau ke atas kanvas
dengan cat dasar akrilik dengan
pensil.
2. Goreskan pensil cat air secara
tipis mengikuti warna asli kucing.
2. Secara bertahap diterapkan
warna-warna menjadi lebih pekat,
dan goresan pensil diccairkan
dengan kuas yang basah.
3. Perhitungkan pula warna latar
belakang dan lingkungan agar
gambar tidak nampak mengambang.
4. Secara perlahan kerjakan detail-
detail bulu kucing yang ervariasi
antara kuning oker, coklat tua, putih
dan hitam
5. Gambar kucing selesai, latar
belakang dan meja tempat kucing
berdiri merupakan tambahan,
sehingga kucing nampak dalam
suatu suasana di sebuah ruangan.
Gambar 243. Langkah-langkah menggambar kucing (sumber: Hazel Harrison).
274
Tugas Latihan
Setelah mengamati bentuk binatang dan cara menggambarnya,
lakukanlah latihan di bawah ini.
Siapkan alat dan bahan untuk menggambar seperti pensil,
kertas, penghapus dan papan gambar.
Tentukan jenis binatang menyusui yang akan digambar kalau
mungkin binatang yang tidak sulit ditemui seperti kucing, anjing,
sapi, kerbau, kambing dan lainnya.
Amati bentuk binatang itu secara seksama mulai dari kepala
hingga kaki.
Mulailah menggambar binatang itu secara global kemudian
bentuklah bagian-bagian dari badan binatang mulai dari kepala
hingga kaki secara global pula.
Selanjumya mulailah secara bertahap memberikan detail pada
setiap bagiannya.
Gunakanlah contoh-contoh sebagai acuan.
5. Menggambar Manusia
Menggambar manusia memerlukan keterampilan dan ketekunan yang
lebih dibanding menggambar obyek lainnya. Hal ini disebabkan karena
bentuk tubuh manusia memiliki anatomi tubuh dan plastisitas yang
kompleks dan sekaligus indah. Untuk dapat menguasainya dibutuhkan
pengetahuan tentang anatomi plastis tubuh manusia, yaitu tentang
fenomena permukaan bentuk tubuh manusia. Calon seniman seni rupa
tidak perlu mempelajari ilmu anatomi layaknya mahasiswa kedokteran,
yang dibutuhkan hanyalah pengetahuan penampakan luarnya dan
penyebab timbulnya plastisitas tubuh tersebut. Oleh sebab itu calon
seniman seni rupa harus mengetahui apa yang ada dibalik kulit manusia
utamanya unsur pembentuknya yaitu tulang dan otot, ketika tulang dan
otot bergerak bentuk permukaan tubuh berubah, sehingga orang yang
diam anatomi plastisnya berbeda dengan orang dalam keadaan
bergerak. Hal ini tentu sangat penting untuk diketahui oleh seniman seni
rupa yang ingin memperdalam seni ilustrasi grafis seni lukis realis yang
banyak memerlukan gambar manusia.
Menelusuri kembali tentang pengetahuan anatomi manusia, hal ini
dimulai pada zaman Mesir Kuno dan trutama Zaman Yunani Kuno.
Seniman Yunani Kuno sangat tertarik pada keindahan tubuh, mereka
mendapatkan proporsi ideal tinggi manusia adalah tujuh setengah kali
panjang kepalanya, sedangkan Leonardo da Vinci mematok proporsi
ideal tinggi manusia adalah delapan kali tinggi kepalanya. Seniman
275
Yunan Ploclitus pada abad ke 5 Sebelum Masehi, menentukan bahwa
olahragawan atau atlit adalah manusia yang memiliki anatomi dan
proporsi yang ideal, sehingga banyak patung-patung Yunani Kuno
menggambarkan keindahan tubuh telanjang tidak lain karena nilai
keindahannya. Tradisi ini kemudian pada zaman Renaissance diikuti oleh
seniman patung terutama Michael Angelo yang gemar menggunakan
model laki-laki atletis telanjang karena keindahan anatomi plastisnya..
Gambar 244. Proporsi tubuh laki-laki dewasa (sumber: Diktat Diklat Guru SMK Seni dan
Budaya).
Anatomi tubuh manusia memang rumit, namun demikian, untuk
memudahkan memahami dan menggambarnya perlu diketahui terlebih
dahulu bentuk dasarnya. Bahwa bentuk dasar tubuh manusia jika
dikembalikan ke bentuk esensinya dapat menjadi rangkaian bentuk
silinder bervolume serta terbentuk oleh otot-otot utama sebagai gambar
(244, 245). Agar lebih memahaminya diperlukan latihan mandiri secara
terus menerus, oleh karena itu diperlukan buku sketsa yang dapat dibawa
setiap saat kemana-mana. Menggambar anatomi tidak harus selalu utuh
seluruh tubuh, dapat dilakukan dengan menggambar setiap bagian tubuh,
seperti bagian kepala dari segala arah, bagian tangan dengan berbagai
gerakan begitu pula bagian kaki. Dalam setiap kesempatan gunakan
276
kesempatan untuk membuat sketsa agar dapat menguasai bentuk-bentuk
manusia secara baik.
Gambar 245. Proporsi tubuh orang dewasa (sumber: Stan Smith & Colin Saxton).
Sebagai yang dijelaskan sebelumnya, bahwa tinggi tubuh manusia
dewasa normal tingginya 7, 5 – 8 tinggi kepalanya, namun menjadi
berbeda pada tinggi tubuh remaja, anak dan bayi. Selain ukuran tinggi
tubuh, adapula ciri khusus pada bentuk tubuh wanita maupun laki-laki.
Hal yang paling menonjol pada perbedaan tubuh wanita dan laki-laki,
wanita pinggulnya lebih lebar dibanding bahunya sedang laki-laki
sebaliknya. Garis tepi tubuh wanita lebih lembut dibanding laki-laki
terutama garis tepi pada bagian dahi, alis dan rambut serta bagian bawah
terdiri dari hidung, mulut, telinga dan dagu. Jika dibagi dua secara tegak
lurus, bagian kiri dan kanan adalah simetris (gb. 244).
277
Gambar 246: Gambar bagian kepala (sumber: Stan Smith)
Bagian badan biasanya disebut torso, yang terbentuk oleh tiga
bagian, yaitu bagian dada, bagian perut dan pinggul. Bagian badan
sangat lentur karena disangga oleh tulang belakang yang dapat di-
gerakkan melengkung ke depan, ke belakang, ke samping dan ber-putar.
Anggota badan manusia terdiri dari tangan dan kaki. Tangan dibentuk
oleh tiga bagian, yaitu lengan atas, lengan bawah dan telapak tangan,
sedangkan kaki terdiri dari paha, betis dan telapak kaki. Seluruh bagian
tubuh manusia memiliki karakter bentuknya masing-masing dan setiap
bentuk memiliki kerumitan dalam menggambarnya. Untuk itu diperlukan
Gambar 247. Gambar bagian torso/badan (sumber: Gombrich dan Paul Zelanski)
278
pengetahuan tentang anatomi plastis tubuh manusia. Hal ini sangat
penting diketahui oleh siswa dalam kaitannya dengan menggambar
manusia secara realistik. Pengetahuan tentang anatomi plastis akan
memudahkan dalam memahami bentuk manusia secara keseluruhan.
Dengan anatomi diketahui susunan tulang sebagai kerangka bangun
tubuh manusia karena tulang itu adalah tempat melekatnya otot dan
daging sehingga bentuknya mempengaruhi panampakan permukaan
tubuh. Perhatikan gambar berikut tentang teknik menggambar bagian
muka dengan cat minyak.
Langkah-Langkah Menggambar Potret
Gambar 248. Langkah-langkah menggambar potret dengan akrilik
(sumber: Hazel Harrison)
279
Gambar 249. Dullah,
Wanita Desa (foto:
A.Agung Suryahadi)
Tugas latihan
Agar lebih dapat mengetabui bagaimana uniknya bentuk tubuh
manusia perhatikanlah tubuhmu sendiri dalam cermin. Lihat tiap-
tiap bagiannya, sambil duduk coba menggambar bagian-bagian itu
secara terpisah kepala, badan, tangan dan kaki. Gunakan contoh di
atas sebagai acuan. Mulailah dari posisi yang paling mudah
misalnya kepala dari depan, badan dari depan. Teruskan dengan
variasi berbagai posisi
6. Menggambar Ilustrasi
Kata ilustrasi berasal dari bahasa, Inggris 'illustrate' yang berarti
menjelaskan dengan contoh gambar, kejadian, musik dan sebagainya.
Dari ilustrasi itu apa yang dibahas menjadi lebih jelas. Teknik membuat
ilustrasi secara visual sangat banyak, namun dalam pembahasan ini
hanya diuraikan tentang beberapa teknik menggambar ilustrasi yang
pokok dengan media hitam putih. Menggambar ilustrasi dapat dibuat
dengan berbagai media dan gaya dan kegunaannya pun bermacam-
macam. Bentuk ilustrasi harus mencerminkan pokok masalahnya,
sehingga ilustrasi dapat menunjang sesuatu yang jelas. Oleh sebab itu,
seorang ilustrator harus memahami apa yang hendak diilustrasikan dan
perlu memiliki imajinasi yang tinggi. Gambar ilustrasi ada beberapa jenis
yaitu ilustrasi untuk cerita, ilustrasi untuk ilmu pengetahuan, dan ilustrasi
untuk sampul buku. Ilustrasi untuk cerita dimaksudkan sebagai pen-
280
jelasan secara visual tentang isi suatu cerita dan dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa jenis yaitu ilustrasi cerita pendek, ilustrasi ceritera
komik dan ilustrasi ceritera fiksi atau khayalan. Untuk mengambar
ilustrasi cerita novel dan cerita pendek, illustrator harus mampu
mengambil bagian yang menarik dan dapat mewakili cerita keseluruhan
untuk dilustrasikan. Ilustrasi untuk ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk
memberikan gambaran secara visual tentang suatu bentuk atau suatu
proses kejadian, seperti pertumbuhan mahluk dan proses produksi.
Bagian yang diilustrasikan tentu bagian yang sulit dibayangkan, sehingga
dengan visualisasi orang akan dapat lebih mudah memahami. Ilustrasi
sampul buku berfungsi memberikan gambaran visual tentang isi dalam
buku itu. Biasanya ilustrasi yang ditampilkan adalah bagian yang paling
menarik dari isi buku tersebut sehingga orang tertarik untuk melihat dan
membacanya. Dalam menggambar ilustrasi, seorang illustrator harus baik
menggambar bentuknya, seperti menggambar alam benda, manusia,
flora dan fauna, sekaligus mahir dalam menggunakan berbagai jenis alat
dan bahan menggambar. Tanpa kemahiran ini tidak mungkin menjadi
seorang illustrator berhasil dengan baik.
Agar lebih jelas, perhatikanlah gambar berikut ! Kenali jenis ilustrasi
tersebut, kenali pula bagian-bagian yang menarik dan kurang menarik
perhatian, serta pemilihan adegannya.
b
a
Gambar 250 . Ilustrasi berbeda fungsi (sumber: (a) Eiseman, (b) PLH SMK).
281
Diskusikan dengan teman tentang apa fungsi ilustrasi gambar
berikut, bagaimana komposisinya, apakah yang diilustrasikannya?
Bagaimana perasaanmu melihat gambar tersebut, apakah gambar
tersebut memberikan image tentang bentuk yang belum pernah ada
di dunia atau apa pendapatmu tentang gambar tersebut. Dapatkan
digunakan sebagai ilustrasi tertentu?
Gambar 251 . Ilustrasi unik karya peserta Diklat Guru Seni SMA P4 TK seni dan Budaya
Yogyakarta.
Tugas Latihan
Sebelum membuat ilustrasi bacalah cerita pendek berikut!
Salah Memuji
Oleh: A. Agus Hadi
Ada seorang janda bernama Yani hidup di suatu desa yang jauh dari
kota. Ia hidup bersama seorang anaknya laki-laki bernama Danda,
usianya baru menginjak lima tahun. Suaminya sudah setahun meninggal
dunia karena sakit keras. Untuk keperluan hidup dan menghidupi anak
satu-satunya ia bekerja serabutan, kadang sebagai tukang cuci
tetangganya, kadang ia mengasuh anak-anak yang dititipkan oleh orang
tuanya. Sekali waktu dimintai tolong oleh ibu-ibu tua untuk memijit
tubuhnya yang lelah. Di lain waktu ia pergi ke pasar untuk menjadi kuli
angkut barang. Sering dalam sehari ia tidak mendapat pekerjaan, berarti
ia tidak mendapatkan uang. Namun karena ulet ia sempat pula
282
menyisihkan uang dari upah bekerjanya yang tidak menentu, sehingga
dapat melanjutkan hidup dengan anaknya.
Yani khawatir dengan nasib masa depan anaknya, karena ia masih
kecil dan tidak ada saudara yang bias dititipi kemanapun Yani pergi Dana
ikut serta. Suatu hari ia pergi ke pasar untuk menjadi kulit angkut barang,
ketika ibunya sedang sibuk bekerja, Danda pergi sendiri di tengah pasar.
Pada siang hari ia merasa lapar, tetapi ibunya belum juga nampak.
Kebetulan ia melewati ibu-ibu penjual kue, ketika penjual kue pergi
sebentar mengantar pesanan, Danda memberanikan diri mengambil
beberapa potong kue. Ia lalu pergi mencari ibunya sambil makan kue
yang baru diambilnya. Ketika ibunya datang dan bertanya: “Danda makan
apa” ?. Danda menjawab bahwa ia baru mengambil kue dari ibu-ibu
pedagang kue di dalam pasar. Ibunya tersenyum dan mengatakan:
“Kamu pintar nak, bias berusaha sendiri”. Dengan demikian Danda
merasa tidak bersalah, bahkan ia merasa ibunya senang karena ia dapat
mencari makan sendiri. Keesokan harinya dan hari-hari seterusnya
Danda makin berani, lalu menjelang remaja ia punya kelompok anak-
anak tidak sekolah dan pekerjaannya mencuri, mencopet, dan memeras
orang terutama para wanita jika berjalan sendirian di tempat sepi.
Setelah dewasa Danda tumbuh menjadi perampok yang ditakuti
karena tidak segan-segan melukai dan bahkan membunuh korbannya
jika melawan. Ia menjadi pemimpin kelompok perampok bank. Setiap
pulang ia selalu membawakan ibunya uang dalam jumlah yang banyak,
dan ibunya merasa bangga dan selalu memuji Danda karena ia telah
menjadi orang kaya. Namun ibunya tidak tahu bahwa Danda adalah
kepala perampok yang berdarah dingin. Suatu hari dalam operasinya di
suatu bank, polisi telah mengendus gerak geriknya. Ketika Danda dan
kelompoknya masuk ke dalam bank, satu regu polisi datang mengge-
rebegnya. Terjadi tembak-menembak seru, tiga orang anak buah Danda
tertembak dan tewas, Danda selamat tetapi ia menyerah karena merasa
sudah tidak dapat melarikan diri. Akhirnya ia tertangkap dan masuk
penjara.
Yogyakarta, Januari 2008.
Agar memiliki keterampilan dalam membuat ilustrasi
dari sebuah cerita lakukan latihan berikut !
283
a. Ilustrasi cerita pendek.
Tentukan adegan yang paling menarik dalam cerita itu untuk
divisualisasikan.
Buatlah beberapa alternatif sketsa dari adegan-adegan yang
menarik dalam cerita tersebut.
Tentukan sebuah adegan untuk dibuat ilustrasinya.
Dengan pensil B buatIah sketsa dengan goresan tipis pada
kertas gambar A4.
Setelah selesai secara keseluruhan tebalkan garis-garisnya
dengan tinta.
Beri gelap terang dengan teknik arsiran silang menggunakan
pena
b. Ilustrasi sampul buku cerita
Untuk membuat sampul buku cerita lakukan latihan berikut !
Gunakan contoh ilustrasi sampul buku cerita bergambar
berkut.
Pilih salah satu adegan dalam cerita pendek di atas.
Bayangkan dengan jelas adegan tersebut dalam imajinasimu.
Buatlah lima buah alternatif sketsanya.
Pilih salah satu yang terbaik menurut gurumu dan dirimu
sendiri
Pindahkan ke atas gambar yang baik
Gunakan cat air atau cat poster untuk penyelesasiannya.
Gambar 252. Ilustrasi sampul buku pelajaran bahasa Inggris untuk
Anak-anak.
284
c. Ilustrasi cerita bergambar
Berdasarkan cerita pendek di atas buatlah cerita bergambarnya.
Gunakan cerita bergambar berikut ini sebagai acuan.
Gambar 253. Ilustrasi cerita anak-
anak (sumber: Majalah Kreativitas
Mombi.)
d. Ilustrasi untuk ilmu pengetahuan
Carilah sebuah artikel tentang ilmu pengetahuan.
Bacalah dengan seksama tentang apa yang ada dalam artikel
tersebut.
Identifikasi bagian yang menonjol, tetapi kurang jelas
keterangannya karena sulit dibayangkan.
Tentukan bagian yang hendak divisualisasikan.
Dengan pensil B cobalah memvisualisasikan apa yang
dijelaskan dalam artikel itu. Perjelas gambar itu dengan tinta
gunakan contoh sebagai acuan.
285
Gambar 254:
Ilustrasi ilmu
pengetahuan
(sumber: PLH
SMK).
e. Ilustrasi untuk cerita fiksi
Bacalah sebuah cerita fiksi atau anda dapat berimajinasi
tentang sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Tentukan adegan yang paling menarik dari cerita khayalan
tersebut
Cobalah menggambarkannya dengan goresan-goresan tipis
pada kertas A4.
Tebalkan sket itu dengan tinta, beri gelap terang dengan
arsiran dan blok.
Selanjutnya buatlah lima buah sketsa alternatif tentang cerita
khayalan ke bulan.
Pilihlah salah satu yang terbaik, lalu pindahkan ke atas kertas
gambar yang baik.
Setelah sketsa selesai, warnailah dengan pensil berwarna.
Hasilnya diskusikan dengan teman sejawat dan guru,
mintalah saran dan kritiknya.
286
a b
c d
Gambar 255. Ilustrasi Fiksi: (a,b) Children of Dune (sumber: Frank Herbert), Fiksi Komik anak-anak:
(c,d) DB Master
7. Teknik Cetak Dua Dimensi
Teknik cetak merupakan bagian dari seni seni rupa dan sering
disebut sebagai seni grafis. Seni ini dapat berperan sebagai seni
rupa murni maupun seni rupa pakai. Teknik cetak manual dalam
seni grafis ada banyak jenisnya antara lain cetak tunggal
(monoprint), teknik cetak relief atau teknik cukil, teknik intaglio,
287
teknik etsa, teknik cetak saring atau disebut pula teknik sablon.
Teknik cetak pada dasarnya digunakan untuk melipatgandakan
sebuah gambar dengan citra yang sama dalam jumlah banyak.
Walaupun teknik cetak pada saat ini telah maju karena
menggunakan teknologi canggih, namun teknik cetak manual
masih digunakan dan digemari oleh sebagian seniman karena efek
estetiknya memiliki ciri khas yang tidak dapat dicapai melalui
teknologi canggih. Teknik-teknik cetak manual dapat bernilai
ekonomis dalam kondisi tidak tersedia peralatan canggih, misalnya
teknik cetak relief dan teknik sablon dapat digunakan untuk
kebutuhan melipatgandakan suatu image yang bersifat komersial
misalnya pembuatan spanduk dan label pada benda-benda pakai.
a. Teknik Cetak Tunggal
Teknik cetak tunggal (monoprint) merupakan teknik cetak yang
sederhana. Sesuai namanya, teknik cetak ini tidak dapat
menghasilkan image yang digandakan karena tidak menggunakan
klise untuk dapat dicetak kembali. Teknik ini menggunakan alas
gambar dapat berupa batu datar yang permukaannya halus atau
papan sebagai tempat bahan warna berupa tinta cetak yang
diterapkan dengan menggunakan roler. Pada warna tinta cetak
yang telah rata dengan ketebalan secukupnya kemudian dibuat
Gambar 256. Agung Suryahadi, Kepala-Kepala, monoprint.
288
image dengan membuat goresan menggunakan alat tajam atau
kuas. Selanjutnya untuk merekam image yang telah dibuat, kertas
gambar atau kertas cetak khusus ditempelkan di atasnya,
kemudian kertas diusap dengan sedikit menekan menggunakan
tangan atau alat yang permukaannya halus agar warna menempel
pada kertas. Akhirnya setelah diperkirakan warna telah rata
menempel pada kertas, kertas ditarik dan image yang dibuat
berpindah ke atas kertas (gb.256). Pada saat ini keberadaan
monoprint masih terjadi kontroversi, ada pihak yang setuju dan
tidak setuju sebagai karya seni grafis. Pihak yang tidak setuju
berpegang kepada kesepakatan Internasional tentang prinsip kerja
seni grafis, bahwa produk seni grafis dapat direproduksi dengan
memiliki kualitas kesamaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tetapi sebagai karya seni kreatif keberadaan karya seni rupa
monoprint dapat diterima oleh karena memiliki karakter dari proses
kerja indirect (tidak langsung).
Gambar 257.
Stephen Alcorn,
Don Juan, Cukil
kayu / lino
(sumber: Paul
Zelanzki).
289
b. Teknik Cukil
Teknik cukil sudah sangat tua usianya, teknik ini berkembang di
daratan Cina, Jepang dan Eropa. Media yang digunakan sebagai
klise adalah kayu, kayu lapis atau harboard. Image yang dibuat
dihasilkan dari permukaan kayu yang dicukil menggunakan alat
khusus yang menyerupai pahat. Prinsip kerjanya adalah
mendapatkan garis, ruang positif (permukan yang timbul) dan
negatif (permukaan yang cekung). Garis dan ruang negatif yang
dihasilkan cukilan tidak terkena warna, sebaliknya garis dan ruang
positif terkena warna (gb.257). Bidang yang timbul dikenai tinta dan
akan dipindahkan ke permukaan bidang cetak. Sebagai pengganti
papan atau kayu dapat digunakan bahan yang disebut lino, yang
dibuat khusus sebagaimana halnya harboard dengan permukaan
halus.
c. Teknik Intaglio
Teknik cetak intaglio, kata intaglio berasal dari bahasa Italia dan
dan disebut engraving dalam bahasa Inggris. Teknik ini
menggunakan plat logam sebagai alas menggambar, plat logam
yang digunakan biasanya adalah plat tembaga. Teknik ini kebalikan
dari teknik cukil dalam membuat image, pada teknik cukil bagian
negatif tidak terkena tinta, sedang pada teknik intaglio bagian
negatif bidang justru terkena tinta. Teknik cetak intaglio terdiri dari
beberapa jenis yaitu: dry point,
etsa, sugartint, mezotint. Teknik dry
point, prose pembuatan klise tidak
menggunakan proses pengasaman,
sedang yang lainnya mengunakan
pengasaman.
1) Teknik Dry Point
Dalam teknik dray point untuk
mendapatkan image, plat digores
dengan alat tajam dari bahan baja,
prinsipnya sama halnya dengan
mengunakan pensil dalam mem-
buat garis dan bentuk. Gambar
pada plat berfungsi sebagai gambar
Gambar 258. Marry Cassatt, The
negatif sehingga dapat digandakan.
Cares (sumber: Paul Zelanzki).
Guna mencetak gambar yang ada
290
Pada plat ke atas kertas, plat dilumuri dengan tinta cetak. Tinta
meresap ke dalam goresan dan tinta pada permukaan ditipiskan
dengan menggunakan kain halus. Selanjutnya kertas diletakkan di
atas plat, selanjutnya plat dan kertas dipres menggunakan alat pres
agar dapat mengeluarkan tinta untuk melekat pada kertas, untuk itu
tekanan harus sangat kuat. Berbeda dengan teknik cukil untuk
mendapatkan image-nya, kertas tidak dipres dengan kuat tetapi
diusap dengan tekanan yang secukupnya dan hati-hati. Selan-
jutnya ketika kertas di angkat image akan nampak sesuai dengan
apa yang ada pada plat namun posisinya terbalik ( gb. 258).
Gambar 259.
Keith Myhill, Back
Hut Window,
Koleksi Agung
Suryahadi.
2) Teknik etsa
Teknik etsa, teknik ini menggunakan bahan sama dengan
intaglio yaitu berupa plat logam seperti tembaga, aluminium, besi,
namun prinsip sedikit berbeda karena untuk mendapatkan goresan
garis dan bentuk plat dilumuri dengan bahan yang dapat
melindungi plat dari kikisan bahan air keras. Permukaan yang telah
dilumuri dengan zat waxy resist secara rata digores dengan alat
tajam dari baja, selanjutnya plat dimasukkan ke dalam cairan air
keras. Goresan yang menembus lapisan malam hingga ke
permukaan logam akan terkikis oleh air keras, selanjutnya lapisan
291
dibersihkan dengan merebus jika menggunakan malam dan
mengunakan tinner jika mengunakan vernis, setelah itu akan
nampak goresan yang dikikis oleh air keras. Celah goresan inilah
yang menyimpan tinta kemudian dipres ke atas kertas. Teknik etsa
tidak hanya dapat menghasilkan image linear, dapat juga
menghasilkan image bidang-bidang positif tergantung dari bagian
yang tertutup dengan bahan waxy resist. Tone atau gelap terang
warna dapat dicapai dengan memvariasikan lamanya plat dalam
cairan air keras. Semakin lama di rendam semakin dalam
pengikisan, hal ini berarti warna semakin pekat, sehingga keda-
laman dapat diatur dengan menutup secara berurutan (gb. 259).
Hal yang membedakan sugartint, mezotint dengan etsa terletak
pada efek tekstur yang dapat dihasilkan untuk memperlihatkan
karakter dan gradasi warna yang bisa dicapai melalui pemanfaatan
bahan dan alat yang berbeda dalam proses pembuatan klise.
Misalnya sugartint memungkinkan munculnya terkstur seperti
permukaan batu, besi karatan dsb. Proses pembuatan klise,
sebelum diasam permukaan lempengan logam dilumuri dengan
serbuk gula atau gondorukem kemudian logam dipanaskan se-
hingga lumuran gondorukem meleleh membentuk tekstur sesuai
dengan kepekatan yang diatur.
3) Teknik Sablon
Teknik cetak yang sangat populer di masyarakat adalah teknik
sablon, teknik ini dapat dilakukan secara sederhana dengan hanya
menggunakan kertas atau mika sebagai klisenya. Gambar di buat
pada kertas atau mika, bagian yang direncana terkena warna
dilubangi dengan menggunakan pisau silet atau cutter. Prinsip
kerja yang paling sederhana warna akan tercetak melalui lubang
tersebut. Tumpang tindih warna atau jumlah warna menentukan
jumlah klise yang dibuat, oleh karena warna pertama yang ingin
dipertahankan harus dilindungi dengan klise yang sama dengan
bagian yang tidak dilubangi. Penerapan warna dapat digunakan
dengan kuas dapat pula dengan karet busa dengan menekannya
atau menggunakan alat semprot manual atau elektronik. Teknik
sablon yang lebih canggih disebut silkscreen, disebut demikian
karena menggunakan kain khusus seperti sutra sebagai alat
penyaring warna yang akan melekat ke permukaan kain atau
kertas, sehingga teknik ini disebut pula teknik cetak saring. Teknik
ini cukup rumit dan memerlukan lebih dari satu jenis bahan dan alat
292
namun dapat mentransfer gambar dapat lebih sempurna, bahkan
pemindahan gambar yang rumit maupun foto dapat dipindahkan
pada klise melelui proses kamar gelap (fotografi).
Proses teknik cetak saring ada beberapa jenis, yakni sebagai
berikut.
a. Cara menutup atau gambar langsung, adalah kain
dibentangkan pada bingkai kayu, kemudian bagian-bagian yang
tidak dikehendaki terkena warna ditutup dengan lapisan tertentu
seperti selotip, lem, lithographic crayon atau menggambar
langsung di atas screen dengan menggunakan cairan screen
laquen yang kualitasnya baik. Apabila ada kesalahan, gambar
dengan cairan tersebut dapat dihapus dengan menggunakan
cairan thinner atau xylol. Apabila gambar telah jadi maka screen
siap digunakan, selanjutnya kertas diletakkan dibawah kain
screen dengan alas yang sangat rata. Zat pewarna diletakkan di
atas dan sepanjang screen, lalu warna dioleskan dengan alat
yang disebut rakel. Warna meresap melalui pori-pori kain dan
melekat di atas permukaan kertas yang ada di bawahnya. Guna
mendapatkan warna-warni diperlukan bentangan kain yang lain
dengan gambar yang sama dan menutup bagian yang telah
berwarna sebelumnya.
b. Cara resist film, film yang digunakan adalah film khusus
pengerjaan sablon. Film diletakkan di atas gambar yang akan
disablon, selanjutnya lapisan film beserta kertasnya digores
dengan menggunakan pisau cutter, lalu ditempelkan pada
screen dan distrika hingga goresan melekat pada kertas.
Setelah itu kertas dapat dilepas dari filmya dan gambar melekat
pada screen dan siap untuk digunakan proses membuat
gambar cetak dengan teknik sablon.
c. Cara cetak afdruk, cara ini lebih canggih yaitu dengan proses
afdruk untuk membuat klise pada screen. Proses ini ada dua
macam yakni dengan menggunakan bahan chromatin dan
photo – emulsion. Chromatin merupakan bahan yang sangat
peka terhadap sinar sehingga memerlukan waktu sangat
singkat untuk pengeringan-nya. Caranya adalah demikian,
larutkan chromatin dengan air panas dengan perbandingan 1 : 5
dalam satu wadah dan aduk hingga chromatin larut dalam air.
Selanjutnya screen dilapisi cairan chromatin tersebut hingga
rata dengan mengguakan kuas atau alat perata lainnya dan
keringkan dalam kamar gelap dengan menggunakan oven atau
hair dryer. Setelah kering, letakkan klise film yang akan dicetak
293
dengan posisi terbalik pada permukaan screen dan tindih
dengan kaca tebal. Pada bagian bawah screen diberi bantalan
spon dan di atas spon diberi kertas karbon hitam untuk
mendapatkan gambar klise yang lebih tajam. Berikutnya
lakukan penyinaran pada sinar matahari selama 15 detik, atau
menggunakan lampu 100 watt sebanyak 4 buah selama 3
hingga 5 menit dan atur jarak lampu dengan screen kurang
lebih 30 hingga 50 cm. Siecara prinsip dasar chromatin yang
tertutup oleh gambar tidak terkena sinar lampu sehingga tetap
mentah, sebaliknya chromatin yang langsung terkena sinar
lampu akan matang dan menutup secara kuat pori-pori screen.
Selanjutnya screen disiram dengan air panas dan disemprot
dengan air dingin yang deras untuk melepas chromatin yang
mentah agar pori-pori berlubang sesuai dengan gambar yang
diinginkan. Penyiraman tidak boleh dilakukan dengan cara
menggosok karena dapat membuat gambar klise kurang baik
karena pori-pori screen dapat buntu. Akhirnya screen
dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di tempat yang teduh
atau menggunakan kipas. Tursir atau tutup jika ada bagian-
bagian gambar yang rusak dengan cairan chromatin dan jemur
kembali hingga kering. Setelah itu screen digunakan sebagai
klise untuk digunakan mencetak gambar.
Teknik pembuatan klise secara fotografis adalah dengan
menggunakan photo-emulsion, prosesnya tidak jauh berbeda
dengan chromatin, hanya bahan-bahannya yang tidak sama.
Teknik ini menggunakan alat, bahan dan fungsinya antara lain
diazol photo emulsion (terdiri dari diazol biru atau putih), screen
lak, diazol filler, diazol remover, sensitizer dan alat berupa
coater dan kertas rekat. Diazol merupakan cairan kental yang
digunakan untuk memindahkan atau mengafdruk gambar dari
film ke atas screen. Lak berfungsi untuk melapisi screen yang
telah diafdruk agar tahan terhadap gosokan dalam menyablon
kain. Diazol filler berguna untuk mentursir bagian-bagian klise
screen yang kurang sempurna dengan menggunakan pena atau
kuas. Diazol remover berguna untuk menghapus gambar pada
screen jika ingin digunakan lagi dengan gambar yang berbeda.
Proses pengafdrukan dengan bahan photo-emulsion adalah
demikian. Beberapa jam sebelum digunakan, diazol dan
sensitizer dicampur dalam satu wadah dan diaduk hingga rata
dan disimpan pada tempat yang teduh. Selanjutnya oleskan
campuran tersebut ke permukaan screen dengan menggunakan
294
coater atau mika hingga rata. Keringkan di tempat teduh
dengan menggunakan hair dryer atau kipas angin, stelah cukup
kering letakkan klise film di atas screen dalam posisi terbalik.
Letakkan di atasnya lembar kaca bening, dan letakkan spon
atau busa tebal di bawah screen dan papan dibawah busa.
Selanjutnya dilakukan penyinaran pada terik matahari atau
dapat menggunakan beberapa buah lampu neon. Setelah
selesai penyinaran pisahkan screen dengan kaca, klise, busa
dan papan, semprot screen dengan air deras selama kurang
lebih setengah jam lalu keringkan dan olesi dengan cairan
hartemittel untuk memperkuat klise, lalu keringkan. Selanjutnya
pinggiran screen dilapisi dengan kertas rekat agar rapi, akhirnya
screen siap digunakan untuk mencetak gambar pada screen.
Proses pencetakaan sama dengan yang telah dijelaskan di
atas.
4) Teknik digital
Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini
berkembang teknik digital print. Teknik ini menggunakan teknologi
komputer, oleh karena itu untuk dapat melakukannya diperlukan
kemampuan mengoperasikan program-program komputer yang
berhubungan dengan seni rupa dan teknik cetak digital. Penemuan
teknologi komputer merupakan perubahan besar yang terjadi
dalam bidang teknik berkarya seni rupa, karena dengan alat
komputer banyak pekerjaan seni rupa dapat diambil alih asalkan
menguasai pengoperasian programnya seperti program photo
shop, corel draw yang dapat digunakan untuk menggambar,
melukis, dan mengubah foto menjadi lukisan.
8. Menggambar Ornamen.
Gambar ornamen biasa pula disebut gambar hias. Disebut
sebagai gambar hias karena gambar itu dibuat sengaja untuk
difungsikan sebagai hiasan pada suatu gambar atau rencana
hiasan pada karya tiga dimensional, misaInya sebagai hiasan tepi,
hiasan sudut baik karya dua maupun tiga dimensional. Penerapan
ornamen dapat pada beberapa jenis benda produk seni rupa dan
arsitektur, ornamen biasanya digunakan pada seni rupa pakai
seperti pada keramik, tekstil dan ukir kayu. Ornamen ada hampir di
seluruh kebudayaan di dunia, untuk itu dalam mempelajari
ornamen tidak hanya ornamen Nusantara juga ornamen Manca-
295
negara yang tak terhitung banyaknya perlu diketahui guna mem-
perkaya perbendaharaan dan ide penciptaannya.
a. Ornamen Nusantara
Perhatikan gambar berikut ini dapatkah anda mengenali untuk apa
gambar hias itu, dan dari daerah mana asaInya ?
Gambar 260. Gambar hias berasal dari dua daerah karya peserta diklat Program Guru
Baru SMK Seni dan Budaya P4TK Seni dan Budaya.
Dalam seni rupa tradisional gambar ornamen sangat penting
digunakan sebagai penghias berbagai benda seni kerajinan. Seni
kerajinan kita sangat kaya dengan berbagai jenis gambar hias baik
gambar hias yang bercorak geometris maupun organis. Gambar
ornamen biasanya merupakan suatu hasil dari penyederhanaan
obyek atau penggayaan / stilasi obyek yang digambar. Obyek yang
dijadikan gambar hias dapat dari seluruh benda yang ada di
lingkungan kita ini, misalnya manusia, binatang, tumbuhan, batu,
gunung dan sebagainya.
Perhatikan gambar hias berikut, diskusikan dengan teman benda
apa saja yang dijadikan obyek, bagaimana caranya merubah obyek
menjadi gambar hias, apa kira-kira fungsi dari gambar hias
tersebut.?
296
Gambar 261. Motif Hias dari berbagai daerah
Tugas Latihan.
Ini adalah latihan amat penting untuk dilakukan agar dapat membuat
gambar hias yang dapat digunakan dalam berbagai keperluan
menghias dalam bidang seni rupa dan kerajinan.
Menyederhanakan.
Pilihlah sebuah obyek untuk digambar
Gunakan kertas gambar A4 dan pensil 2B bagi kertas itu
menjadi dua secara vertikal.
Gambarlah obyek itu secara realis pada bagian atas kertas
tersebut.
Pada bagian bawah buatlah penyederhanaan bentuk itu dengan
cara hilangkanlah bagian-bagian yang rumit, ulangi kembali
menggambarnva dengan bentuk yang lebih sederhana tanpa
menghilangkan ciri khasnya.
Pikirkanlah bagaimana fungsinya kemudian.
297
Gambar 262. Gambar hias penyederhanaan motif karya peserta Diklat Guru ketrampilan SMK P4
TK Seni dan Budaya
Menggayakan / Stilasi.
Dengan prosedur yang sama seperti di atas gambarlah obyek
yang disenangi
Di bawahnya buatlah gambar stilasinya dengan cara melebihkan
panjangnya, lekukannya, tonjolannya, mengecilkan besarnya dan
sebagainya.
Rencanakan pula bagaimana penempatannya kemudian.
Lihat contoh gambar sebagai acuan.
Gambar 263. Gambar hias penggayaan/stilisasi karya peserta Diklat Guru ketrampilan SMK P4 TK
Seni dan Budaya
298
b. Ornamen Mancanegara
Ornamen dari Mancanegara tidak jauh berbeda sifatnya dengan
ornamen Nusantara yaitu bersifat abstrak geometris dan penggayaan dari
apa yang ada di lingkungan yaitu flora, fauna dan manusia seperti
beberapa gambar berikut.
Gambar 264. Ornamen kuno
dari berbagai negara dengan
motif abstrak.
Ornamen abstrak geometris sering dijumpai hampir pada semua
kesenian etnik kuno di seluruh dunia sebagaimana halnya pada gambar
266 a, motif meander dikombinasi dengan garis-garis zigzag, garis
diagonal, bentuk wajik dan kembang diterapkan pada sejenis pot atau
tempat air hanya terdiri dari susunan garis. Hal seperti ini juga dapat
dijumpai pada hiasan dari Tana Toraja. Lainnya halnya pada gambar
(265 b dan c) dari Spanyol menggunakan motif burung dan singa yang
distilasi diterapkan pada benda keramik mirip dengan motif batik dari
Pekalongan. Pada gambar (266 a dan b) motif naga dan muka manusia
berasal dari Cina, kedua motif juga banyak dijumpai di Jawa dan Bali
sebagai motif tradisional, sedang gambar (266 c) motif manusia dari
kebudayaan Maya di Amerika Utara diterapkan sebagai hiasan baju.
299
b
a c
Gambar 265. (a) Motif meander diterapkan pada badan pot, (b) Motif singa dan (c) motif burung dari
Spanyol diterapkan pada benda keramik (sumber: Eva Wilson)
Cina, kedua motif juga banyak dijumpai di Jawa dan Bali sebagai motif
tradisional, sedang gambar (266 c) motif manusia dari kebudayaan Maya
di Amerika Utara diterapkan sebagai hiasan baju.
300
a
c
b
Gambar 266. (a ) Motif muka, (b) motif naga keduanya berasal dari Cina, (c) Motif manusia dari
Amerika Utara (sumber: Eva Wilson).
9. Gambar Huruf.
Huruf merupakan suatu simbol visual yang disepakati oleh manusia
dalam melambangkan suaranya secara visual. Sebuah huruf belum
memiliki arti jika belum dirangkai. Bila huruf hidup dan mati dirangkai ba-
rulah dia memiliki suatu arti yang disebut sebagai kata, dan bila kata
dirangkai menjadi kalimat akan memiliki arti yang lebih luas.
Sebenarnya ada banyak jenis huruf di dunia ini. Bangsa-bangsa yang
memiliki kebudayaan tua dan tinggi biasanya memiliki huruf sebagai
salah satu media komunikasinya. Misalnya Mesir, Cina, India, Arab, Je-
pang, dan Thailand. Sebenarnya Indonesia memiliki huruf tetapi sifat-nya
etnis dan tidak dikembangkan misalnya huruf Jawa, Bali, Lampung dan
Batak. Pada pembahasan ini dibahas mengenai huruf yang digunakan
secara internasional, yaitu huruf Romawi dan Latin.
Manusia mengenal huruf sebenarnya sudah sejak masih hidup di
dalam gua. Namun yang paling dimengerti sebagai huruf setelah
peradaban manusia lebih maju yakni pada jaman Mesir Kuno telah
menggunakan tiga jenis huruf yaitu hieroglyph digunakan untuk
menuliskan inskripsi suci, hieratic digunakan oleh para pendeta, dan
demotic digunakan untuk urusan kehidupan sehari-hari. Huruf hieroglyph
301
adalah gambar sebagai perlambang suara disebut ponogram. Kebu-
dayaan kuno lain yang telah menggunakan huruf terdapat pada
kebudayaan Cina yang mulai dikenal oleh Eropa setelah Marco Polo
pada tahun 1275 berkunjung ke Cina pada waktu pemerintahan Kaisar
Kubilai Khan. Pada sistemnya hurufnya satu huruf mewakili satu kata, hal
ini berbeda dengan sistem huruf Barat untuk mendapatkan kata harus
menggabungkan beberapa huruf.
Dewasa ini huruf Latin dan Romawi digunakan hampir di seluruh
dunia termasuk Indonesia. Huruf ini sebenarnya warisan dari kebudayaan
Phonic dari semenanjung Mideterania (Syria) yang aslinya terdiri dari 22
jenis huruf. Kemudian bangsa Yunani mengadopsi huruf bangsa Phonic
pada tahun 1000 sebelum Masehi dan manambah lima huruf pada tahun
403 sebelum Masehi. Selanjutnya bangsa Romawi mengadopsi huruf
Yunani dengan menambah dua huruf dan mengganti ucapan alpha,
beta, gamma, delta, menjadi ucapan yang saat ini digunakan yaitu
A,B,C,D. Dari huruf Yunani dan Romawi ini lalu berkembang menjadi
berbagai jenis huruf yang digunakan di seluruh dunia.
Ada beberapa jenis huruf yang sering digunakan sebagai berikut.
.
Modern Uncial :
Half Uncial : Carolingian:
Versal : Gothic :
Humanis Bookhand: Italic :
302
Di dalam komunikasi grafis ada dua aspek pokok, yaitu gambar
bentuk dan huruf. Gambar huruf dalam hubungannya dengan komunikasi
grafis merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab sebuah gambar
untuk reklame tanpa ada kata-kata yang melibatkan huruf akan kurang
bermakna dan kurang efektif dalam mencapai tujuannya. Oleh sebab itu
disamping gambar huruf berfungsi sebagai hal yang pokok ia harus pula
memiliki nilai estetik yang tinggi. Untuk itu hal yang penting diperhatikan
adalah bentuk huruf susunan dan pengaturan penempatannya.
Sebelum praktek, perlu diketahui bahwa huruf Romawi dan Latin
bentuk variasinya sangat banyak. Tetapi secara garis besar kedua ma-
cam huruf itu dapat dikelompokan menjadi huruf Serif dan Sans Serif
atau disebut pula sebagai huruf Baskerville dan Gill San. Dalam bahasa
Indonesia lazim disebut sebagai huruf berkait dan tak berkait.
ABCDE
ABCDE (berkait) (tak berkait)
Dalam menulis huruf ada banyak alat yang dapat digunakan seperti
berbagai jenis pena dan kuas yang saat ini juga ada di pasaran, termasuk
pena yang khusus untuk menulis indah. Apabila ingin membuat sendiri
dapat pula membuat pena dengan tangkai bulu unggas, bambu dan kayu.
Kuas juga memiliki banyak jenis dan bentuknya. Untuk menulis huruf
dengan batang hurufnya persegi, hendaknya kuas pipih yang digunakan.
Sedangkan untuk menulis huruf dengan batang huruf bulat, kuasnya
dipilih yamg lancip.
Tugas Latihan.
Ini adalah latihan untuk membuat huruf dan sangat penting untuk
dilakukan oleh siswa karena dapat memberi ketrampilan yang
berkaitan erat dengan pembuatan karya grafis yang memerlukan
gambar huruf.
303
Tugas a. Menggambar berbagai jenis huruf.
Gambarlah huruf - huruf yang telah disediakan oleh guru.
Gunakaniah kertas dan pensil B
Kemudian berilah tinta hitam pada huruf yang telah digambar
itu.
Selanjutnya dengan kertas yang lain gambarlah huruf-huruf itu
dalam variasi ukurannya (besar dan kecil).
Tugas b. Menggambar Slogan.
Pilihlah sebuah slogan yang anda senangi.
Pada kertas A4 gambarlah slogan itu dengan salah satu jenis
huruf , gunakan pensil B. Perhatikan jarak dan spasinya.
Jika sudah selesai berilah tinta dengan menggunakan pena dan
kuas.
Tugas c. Menggambar Logo.
Diskusikan dengan teman tentang apa yang disebut sebagai
logo, jilia tidak puas tanyakan kepada guru.
Dengan pensil B dan kertas gambar A4 buatlah beberpa alternatif
tentang logo dari nama anda.
Pilihlah salah satu dari alternatif itu dan selesaikan dengan tinta.
304
Gambar 267. Beberapa contoh logo
B. Membentuk Tiga Dimensi
1. Membentuk dengan tanah liat
a. Teknik pijit / pinch, teknik ini merupakan teknik yang paling
sederhana dalam mengerjakan tanah liat, karena tidak memerlukan alat
bantu yang banyak, tetapi cukup dengan tangan. Tanah liat dapat
dibentuk dengan memijit-mijitnya menjadi sebuah bentuk. Namun untuk
menghaluskan permukaannya diperlukan alat bantu seperti alat butsir,
spon dan sebagainya.
305
Gambar 268. Teknik Pijit (pinch)
(sumber: Tony Birks)
b. Teknik lempeng/slab, dalam teknik ini tanah liat dibuat lempeng
terlebih dahulu dengan menggunakan rol kayu. Selanjutnya setelah
mencapai ketebalan tertentu, tanah liat dipotong dengan pisau khusus
dan bentuknya disesuaikan dengan bentuk yang akan dibuat. Untuk
menyambung potongan itu digunakan tanah liat cair.
306
b
a c
e
e
d
Gambar 269. Proses pembentukan dengan teknik lempeng dan cetak sederhana.
(sumber: Geraldine Christy)
c. Teknik Pilin coil, dengan teknik ini terlebih dahulu tanah liat dibuat
pilin. Untuk membuat bentuk yang dinginkan, pilin tanah liat itu
ditempatkan secara tumpang berdasar bentuk yang akan dibuat. Agar
pilin itu melekat perlu ditekan dengan jari dan selanjutnya diratakan
dengan memukul-mukulnya pakai kayu.
Gambar 270. Proses teknik pilin (sumber: Paul Zelanski)
d. Teknik Putar, teknik ini paling sulit dibanding teknik lainnya, sebab
alat yang digunakan harus dapat dikuasai dan dikoordinasikan dengan
tangan secara baik. Sebelum dikerjakan tanah liat harus dipadatkan
dahulu dengan meremas dan menekan berulang kali yang tujuannya
307
untuk menghilangkan udara dalam tanah. Kemudian tanah liat itu
ditempatkan di tengah-tengah alat putar, lalu kedua tangan yang basah
diletakkan pada tanah liat itu . Selanjutnya alat diputar dan tanah liat
dibentuk oleh tangan dengan menekan dan menariknya ke atas.
Gambar 271. Proses teknik putar (sumber: Geraldine Christy)
2. Membentuk dengan bahan keras
a. Kayu
Hampir seluruh kebudayaan masyarakat menggunakan kayu sebagai
bahan untuk produk seni rupa dan kriya. Hal ini disebabkan, hampir di
seluruh penjuru dunia ada kayu. Tingkat kekerasan kayu bermacam-
macam, namun demikian, kayu relatif mudah dibentuk dengan menggu-
nakan gergaji, pahat, dan ketam dalam membuat benda seni rupa dan
kriya seperti patung, mainan anak, perabot rumah tangga dan
sebagainya.
b. Batu
Karya seni rupa yang menggunakan batu biasanya dalam wujud
patung dan relief. Bahan batu jenisnya bervariasi, ada batu pualam,
marmer, onix dan batu kali. Sejak zaman dahulu batu telah digunakan
untuk membuat benda-benda yang berhubungan dengan ritual. Pada
zaman purba batu digunakan untuk alat potong seperti kapak, untuk
membuat benda pemujaan nenek moyang, kemudian berkembang
menjadi wujud lingga dan yoni. Oleh karena bahannya tahan lama maka
308
karya-karya dengan bahan ini menjadi tidak lekang dimakan waktu,
sehingga jejak seni rupa yang menggunakan bahan batu sangat banyak
diketemukan.
c. Logam
Ada beberapa nama bahan logam yang kekerasannya juga bertingkat
yaitu: aluminium, besi, baja, tembaga, perunggu, kuningan, nikel, emas,
perak dan platina. Bahan-bahan ini dalarn pembentukannya dapat
langsung ditekuk, dikenteng, disambung dengan las maupun harus
dicairkan untuk keperluan teknik cor. Bahan logam cukup tahan lama,
misalnya perunggu, tembaga, kuningan, perak dan emas adalah jenis
logam yang anti karat sehingga karya-karya dengan bahan ini tahan
berabad-abad dan tidak rusak.
3. Jenis Seni Rupa Tiga Dimensi
Karya seni rupa tiga dimensional sering pula disebut nirmana ruang
yang dapat dikategorikan menurut tingkatan kadar dimensinya.
a. Relief
Relief merupakan wujud yang dikembangkan dari suatu bidang yang
memiliki ketebalan. Prinsipnya ada rongga (ruang negatif) dan ada ujud
(ruang positif). Biasanya wujud dengan volume menonjol ke luar serta
melekat pada latar belakang. Teknik mengerjakan relief tidak selalu
menggunakan pahat untuk membentuk, tetapi dapat pula dengan teknik
a b
Gambar 272. (a)Relief Raja Hesire dari Mesir 2700 Sebelum Masehi, (b) Relief
Peperangan Raja Asurnasrpal II dari Asiria 850 Sebelum Masehi (sumber:
Gombrich)
309
menempel material yang digunakan. Prinsip utama relief adalah, adanya
asosiasi tiga dimensional dan wujudnya menempel pada latar belakang,
sehingga relief hanya dapat dilihat dari depan. Berdasarkan tebal tipisnya
ujud relief sebagai ruang positif, maka relief dapat diklasifikasikan
menjadi dua jenis, yaitu: relief rendah dan relief tinggi.
1) Relief Rendah, pada relief ini wujudnya timbul dari latar belakang
sangat tipis, namun jika diterpa sinar, ketebalannya akan nampak
sebagai akibat efek bayangan yang ditimbulkannya terhadap batas
tepi dari wujud tersebut. Uang logam adalah salah satu contoh dari
relief ini, begitu pula ukiran tradisional dari Tana Toraja, relief
peninggalan jaman Mesir Kuno dan Siria Kuno (gb. 272) yang dibuat
dengan bahan batu.
Tugas Latihan
Lakukanlah latihan ini agar dapat memahami bagaimana membuat
relief rendah dengan bahan lunak yang sederhana.
Gunakan kertas HVS, buatlah beberapa sket alternatif tentang
susunan bentuk-bentuk geometris dengan pensil,
Ambil dua lembar potongan karton ukuran 30x40 cm.
Pilih salah satu sket alternatif susunan bentak geometris itu dan
pindahkan ke atas salah satu karton dengan menggambarnya
kembali dengan pensil,
Potong gambar itu dengan pisau 'cutter' Ialu tempelkan dengan
lem pada karton yang satunya.
Berilah warna-warna netral akrilik, dengan demikian anda sudah
mendapatkan sebuah karya relief rendah dengan menggunakan
bahan dan teknik yang paling sederhana.
Gunakan contoh sebagai acuan.
2) Relief Tinggi, pada relief jenis ini secara teknis muncul wujud dari
latar belakang paling sedikit setengah dari tebal bidang. Relief ini
wujudnya lebih jelas terlihat karena ruang negatifnya jauh lebih dalam
dibanding relief rendah. Kedalaman ruang negatif memberikan gelap
terang lebih kontras sehingga wujud yang terkena sinar menjadi
menonjol. Contoh dari relief ini adalah relief pada candi Borobudur
dan candi Prambanan.
310
Perhatikan contoh refief tinggi pada (gb.274) bagaimana wujud itu
dapat terlihat menonjol ?
Gambar 273. Relief pada kubur batu Zaman Romawi 220-230 Masehi, bahan
marmer (sumber: Paul Zelanski)
Pada gambar (273) pemahat pada zaman 230 tahun Sebelum Masehi
telah memiliki keterampilan tinggi dalam membentuk bahan marmer yang
keras menjadi terlihat lembut. Bentuk-bentuk draperi kain yang digam-
barkan sangat luwes, begitu pula pada wujud manusianya nampak plastis
sesuai dengan karakternya.
Tugas Latihan
Latihan ini penting sekali dilaksanakan agar siswa dapat mencoba
bagaimana membuat karya nirmana ruang dalam bentuk relief
dengan bahan yang sederhana.
Buatlah beberapa sket alternatif susunan bentuk organis dengan
pensil pada kertas HVS atau kertas gambar lainnya.
Pilih salah satu dari sket tersebut, kemudian sempurnakan
dengan menggambar kembali dengan pensil pada kertas gambar
ukuran 35 x 45 cm
Buatlah lempengan tanah liat dengan ukuran 35 x 45 x 5 cm
Buatlah sket yang sama dengan sebelumnya pada lempengan
tanah liat itu.
Dengan alat cukil dari bambu atau kayu secara perlahan buang
bagian tanah liat pada ruang negatif.
Sempurnakan bentuk-bentuk positif secara perlahan sampai
mendapatkan bentuk yang diinginkam
311
Keringkan relief itu dengan sempurna sebelum dibakar dalam
tungku.
Gunakan gb. sebagai acuan.
b. Karya Frontal
Kata frontal berasal dari bahasa Inggris yang berarti dari, pada atau di
garis depan. Jenis karya tiga dimensional ini sengaja dirancang untuk
dilihat hanya dari pandangan depan. Wujudnya tiga dimensional penuh
dan dapat dilihat dari segala arah. Hal ini berbeda dengan relief yang
hanya dapat dilihat dari pandangan depan saja karena menempel pada
dinding. Ukuran jenis karya ini tidak besar misaInya cincin, gelang
tangan, kalung dan beberapa karya seni rupa dari bahan gelas dan kayu.
Karena dilihat dari satu bagian depan saja maka fokus pengerjaan dan
perhatian tercurah pada bagian tersebut. Misalnya sebuah cincin tidak
mungkin fokus perhatian kita ditempatkan pada bagian belakang, karena
fungsinya tidak memungkinkan untuk itu.
Banyak karya patung zaman dahulu yang digunakan sebagai media
pemujaan antara lain berwujud karya frontal karena hanya dilihat dari
pandangan depan. Hal ini mungkin berhubungan dengan fungsinya,
bahwa patung merupakan media berupa simbolisasi dari kemahakuasaan
Tuhan yang divisualisasikan dalam bentuk tiga dimensional sebagai
wujud dewa yang fisiknya mirip manusia. Ketika para pemuja melakukan
pemujaan seakan berhadapan dengan dewa yang dimaksud. Oleh
karena itu bagian belakangnya patung tidak berfungsi sebagaimana
patung-patung yang ada di candi-candi di Jawa. Begitu pula dengan seni
sesaji, pembuatan bagian depan mendapat perhatian lebih besar, gam-
bar (gb. 274b) adalah sebuah image dua kepala manusia laki-laki dan
perempuan dalam satu badan terbuat dari tepung beras yang digoreng
merupakan item dari sebuah sesaji.
312
a b
Gambar 274. Senmut dengan putrinya, Mesir Kuno 1450 Sebelum Masehi (sumber: Paul
Zelanski), Ardhnareswari, Unsur sesaji Bali (foto: Agung Suryahadi).
Tugas Latihan
Lakukanlah latihan ini agar dapat menghayati bagaimana membuat
karya frontal yang termasuk jenis karya tiga dimensional (nirmana
ruang).
Buatlah beberapa sket alternatif yang menggambarkan
kehidupan binatang.
Dengan teknik pijit, buatlah bentuk setengah silinder dengan
tanah liat
Pilih salah satu sket alternatif yang terbaik kemudian
sempurnakan dan pindahkan ke atas permukaan bentuk
setengah silinder tadi. Gunakan alat tajam untuk menggoresnya.
Secara perlahan gunakan alat cukil untuk menghilangkan tanah
pada bagian ruang negatif.
Bentuklah bagian ruang positif (wujud) dengan hati-hati,
gunakan alat-alat butsir untuk membuat detailnya.
Setelah selesai keringkan karya itu dengan sempurna sebelum
dibakar.
c. 'Full Round'
Inilah jenis karya yang betul-betul tiga dimensional karena sengaja
dirancang agar dapat dilihat dari segala penjuru. Oleh sebab itu,
perencanaan dan pembuatannya lebih rumit dibanding jenis karya
313
lainnya. Pada proses perencanaan harus menggunakan 'penglihatan
imajinasi' terhadap seluruh sisi karya yang ingin dibuat. Selain itu harus
dipertimbangkan pula bagaimana si penglihat termotivasi untuk melihat
ke setiap sudut pandang dari karya itu. Dengan demikian seluruh bagian
sisi karya harus menarik perhatian, tidak ada bagian yang kurang
menarik dan lepas dari pandangan. Oleh karenanya hubungan setiap
unsur harus kuat keserasian dan kesatuannya.
a b
c
Gambar 275. (a) Zoltan Kemeny, Fluctuation, logam (sumber: Gombrich), (b) Rodin, The
hand of God, marmer (sumber: Gombrich), (c)Barbara Hepworth, Pendour, Kayu dicat
(sumber: Paul Zelanski).
314
Berdasar 'solid' nya karya 'full round' ini dapat diklasifikasikan
menjadi tiga, yakni wujud berongga, wujud padat dan wujud padat
berongga. Wujud berongga susunannya terdiri dari rongga-rongga
yang membentuk satu kesatuan wujud, rongganya dapat berupa
geometris maupun organis (gb. 276a). Wujud padat tidak kelihatan
ada rongga (gb 276b), wujud itu utuh dan padat biasanya bahannya
dari jenis bebatuan dan kayu, tetapi ada juga karya yang kelihatan
padat namun di dalamnya ada rongga, sehingga padatnya semu dan
rongganya tidak berperan secara estetik tetapi lebih kepada
pertimbangan teknik. Contohnya adalah karya dengan bahan logam
dengan teknik cor. Wujud padat berongga adalah kombinasi antara
rongga dan kepadatan wujud, keduanya berperan secara estetik.
Lihat (gb.275c), bagaimana peran rongga sebagai ruang negatif
berinteraksi dengan ujud padat sebagai ruang positif. Karya jenis ini
biasanya menggunakan bahan kayu atau batu, karena lebih efisien,
tidak membuat kepadatan wujud karena dibuat dari bahan yang
secara alami sudah padat. Selain itu dapat juga memanfaatkan sifat
alami bahan terutama tekstur permukaan batu maupun kayu. Pada
gambar (275a) wujud tiga dimensional itu terbentuk dari susunan
plat logam berirama dan berongga. Sebaliknya Rodin menggunakan
bahan mamer yang padat dan keras yang memahatkan ide
simboliknya tentang Tangan Tuhan (gb.275b). Hepworth meng-
gunakan kayu dalam mengungkapkan gagasan tiga dimensi. Pada
patung abstrak ini terdapat permainan ruang oval positif dan negatif
sehinga harmoni mudah didapat.
Tugas Latihan
Untuk dapat memahami bagaimana membuat karya nirmana
ruang (tiga dimensional), latihan berikut penting dilakukan
karena menyangkut latihan pembuatan wujud-wujud sederhana
baik wujud geometris mampun organis. Gunakan bahan yang
mudah didapat dan dibentuk.
Tugas Latihan 1
Membuat rongga-rongga segi empat dengan bahan karton dan
teknik berkait.
Potonglah karton tebal menjadi ukuran 40 x 5 cm
sebanyak 16 lembar.
Bagilah setiap lembar karton itu menjadi 8 bagian (a 5
cm), cukup ditandai dengan pensil.
Buatlah celah sepanjang setengah dari lebar karton pada
bagian yang ditandai pensil tadi.
Kaitkanlah lembar-lembar karton itu melalui celah-celah
yang telah dibuat, dengan demikian anda telah
mendapatkan rongga-rongga segi empat.
315
Gambar 276.
Rongga-rongga
Segiempat karya
peserta diklat Dasar
Seni Rupa /Kriya
guru SMK Seni dan
Budaya
Tugas Latihan 2
Membuat bentuk kubus bervariasi dengan bahan sterofoam dan
dengan teknik potong, lipat tempel.
a. Buatlah sket wujud kubus dengan pensil.
b. Tentukan ukurannya misalnya 30 x 30 x 30 cm
c. Potonglah sterofoam itu dengan alat potong khusus sesuai
ukuran, jira sterofoam tipis dapat dilipatkan ketebalannya
dengan mengelemnya.
d. Bentuklah bagaian-bagian bentuk sesuai sketsa, gunakan
pisau ‘cutter’ yang tajam agar hasilnya bagus
e. Sambung dan tempel bagian-bagian yang telah dibentuk
dengan lem bagian yang menghubungkan bidang-bidang
untuk menjadi kubus.
Gambar 277. Bentuk kubus dan rvariasinya, bahan
Sterofoam karya mahasiswa Poliseni Yogyakarta
316
Gambar 278.
Bentuk Limas
Berongga
Membuat limas padat berongga dengan karton dan dengan
teknik potong, lipat dan tempel.
a. Lihat gambar (gb. 278) sebagai acuan.
b. Buatlah sketsa bentuk limas dengan variasinya dan
tentukan ukurannya.
c. Tuangkan bentuk limas tersebut menjadi pola di atas karton
d. Dengan menggunakan pisau ’cutter’ torehlah pola limas itu
sesuai bentuk yang telah digambar
e. Setelah selesai, lipat pola limas tersebut dan satukan
dengan lem.
f. Terakhir ada bagian torehan yang dilipat, ada yang dibuang
sesuai sketsa yang direncanakan.
Membuat balok berongga dengan variasi pada permukaan
setiap sisi dengan teknik toreh, lipat, potong dan tempel.
a. Perhatikan contoh gambar sebagai acuan.
b. Buatlah pola yang dapat membentuk wujud balok dengan
karton.
c. Sebelum lembar karton dilipat dan disambung dengan lem
untuk membentuk balok, buatlah torehan yang membentuk
lingkaran atau segi tiga yang akan menjadi sisi permukaan
balok tersebut.
d. Ketika pola karton telah dilipat dan disambung menjadi
balok, bentuk torehan tadi ditarik dan dilipat ke luar
sehingga didapat lubang berupa ruang negatif sesuai
dengan bentuk yang dibuat. Sedang lipatan torehan yang
tidak lepas menjadi ruang posistif yang membentuk suatu
variasi kualitas permukaan dari sisi balok.
317
Tugas Latihan 3
Membuat wujud geometris dengan bahan tanah liat dan teknik
lempeng.
a. Buatlah sket alternatif tentang bentuk-bentuk geometris tiga
dimensional.
b. Pilihlah salah satu dari sket bentuk geometris itu dan
tentukan ukuran-.
c. Buatlah lempengan tanah liat dengan menggunakan rol
kayu.
d. Potong lempengan tanah liat itu sesuai dengan ukuran
bidang-bidang yang ada pada wujud itu.
e. Sambung lempengan bidang-bidang itu dengan tanah liat
cair, namun sebelumnya pada bagian yang akan disambung
permukaannya dibuat kasar dan berilah sedikit tekanan
pada sambungan agar tanah liat dapat menempel dengan
baik.
f. Haluskan permukaan yang kurang rata, jika wujud masif beri
sedikit lubang pada salah satu permukaannya agar tidak
pecah pada waktu pembakaran.
d. ’Walk-Through’
Jenis karya ini agak berbeda dengan sebelumnya karena karya
ini melibatkan lingkungan sebagai bagiannya. Oleh sebab itu karya
tiga dimensi lainnya hanya merupakan salah satu unsur dari jenis
karya ini,karena ditempatkan mengikuti susunan keseluruhan karya
itu. Untuk dapat menikmati karya ini, kita harus masuk ke dalamnya
melihat dari berbagai sudut pandang, melihat dari dekat dan
mungkin menyentuh bagian-bagian dari karya itu agar dapat
merasakan kualitas permukaannya. Contoh nyata dari karya ini
adalah taman, dekorasi interior dan bangunan. Oleh sebab itu,
ukuran jenis karya ini tentu lebih luas dari karya seni rupa lainnya
dan melibatkan lebih banyak ruang dari pada bentuk. Perhatikan
gambar (279) batu-batu sebagai unsur taman sekaligus sebagai
patung, kontras dengan lantai dan bentuk kolam yang geomtris
tetapi memberi perasaan yang menyenangkan. Berbeda dengan
gambar (280), Robert Morris menggunakan lingkungan sebagai
media estetiknya dengan membentuk tempat peresapan dan
reklamasi menjadi artistik dengan kesan garis melingkar berulang.
318
Gambar 279. Hellín Zimmerman, Marabar, taman dan patung (sumber: Paul Zelanski)
Gambar 280. Robert Morris, Earthenwork ( sumber: Paul Zelanski)
319
Tugas Latihan
Tugas ini baik sekati dilakukan secara berkelompok, sebab
pada kenyataannya pekerjaan dalam jenis karya ini sangat berat
dilakukan secara individual. Misalnya membuat taman atau
membuat display pada ruang pameran. Tugas ini sangat
penting dilakukan agar mendapat pengalaman bagaimana
menyusun unsur-unsur seni rupa dalam ruang tiga dimensional
yang sesungguhnya.
a. Bentuklah kelompok dan pilih ketua kelompoknya.
b. Tentukan jenis karya 'walk through' apa yang mau dibuat
(taman, display).
c. Buatlah sket denah dari karya itu.
d. Diskusikan dalam kelompok denah itu sebelum diputuskan
untuk memulai bekerja. Identifikasikan jenis pekerjaan untuk
mengerjakan karya itu dan identifikasikan pula prioritas
pekerjaan yang akan dilaksanakan.
e. Bagi tugas dalam kelompok.
f. Mulailah mengerjakan dari pekerjaan yang sederhana ke
pekerjaan yang rumit.
320
Banyak orang tidak percaya bahwa kreativitas dapat dikembangkan
melalui kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan oleh anggapan
banyak orang bahwa kreativitas merupakan bakat atau bawaan sejak
lahir yang dimiliki oleh orang-orang tertentu. Kiranya apapun kemampuan
manusia merupakan bawaan, namun kadar dari setiap keahlian yang
dimiliki manusia dalam hal-hal tertentu berbeda satu orang dengan orang
lainnya. Ada orang baik dalam berbahasa verbal, namun yang lain lebih
baik dalam bahasa visual atau menggambar. Hasil penelitian oleh para
ahli belum sepenuhnya dapat mengungkapkan apakah sebenarnya yang
terjadi pada otak manusia ketika proses kreatif berlangsung. Diakui oleh
para ahli psikologi bahwa sangat sulit mengukur dan menilai kreativitas.
Bagi orang yang kreatif juga sulit mengungkapkan apa yang men-
jadikannya kreatif dan dari mana sumber kreatifnya didapat. Banyak dari
mereka mengatakan bahwa gagasan kreatifnya muncul secara tiba-tiba
dan kadang tidak memiliki hubungan dengan apa yang terjadi
sebelumnya.
Terlepas dari sulitnya mengungkap misteri kreativitas, kemampuan
kreativitas manusia telah membuktikan sebagai peyebab berkembangnya
kebudayaan dan peradaban manusia. Daya kreativitas itu memancar dari
otak manusia yang dikongkritkan menjadi berbagai kreasi sehingga
manusia menjadi mahluk yang berkebudayaan dan berperadaban.
Berbeda dengan mahluk lainnya yang mana mereka hidup berdasarkan
nalurinya. Burung misalnya dapat membuat sarang, perbuatannya itu
bukan karena daya ciptanya. Burung dituntun oleh naluri dan sarang
yang dibuatnya tidak pernah mengalami perubahan. Sebaliknya manusia
membuat tempat tinggal berkembang dari zaman ke zaman, mulai dari
hidup di dalam gua, di atas pohon hingga sekarang membuat bangunan
bertingkat-tingkat dengan teknologi yang canggih karena kemampuan
daya cipta, rasa dan karsanya.
A. Pengertian Kreativitas
Istilah kreatif sering digunakan dalam berbagai konteks untuk
menjelaskan perilaku tertentu manusia dalam melahirkan gagasan. Kata
kreatif berasal dari bahasa Inggris creative yang berarti memiliki
kemampuan untuk mencipta. Jadi kreativitas itu berlaku untuk semua
bidang kegiatan manusia yang ditekankan kepada kemampuan
menghasilkan hal-hal baru yang belum pernah dibuat atau dikerjakan
orang lain dan kemampuan mengembangkan sesuatu yang telah ada
menjadi baru dengan merombak dan menyusunnya kembali. Kreativitas
juga berarti kemampuan untuk menyadari adanya masalah, kesenjangan,
dan berupaya mencari kemungkinan solusi terbaik, membuat rencana
untuk implementasinya secara mandiri atau berkelompok dan mengem-
bangkan kriteria untuk melakukan evaluasinya. Selain itu kreativitas juga
dapat berarti kemampuan melakukan percobaan dan eksplorasi terhadap
sesuatu untuk mendapatkan atau menemukan hal-hal yang unik dan
baru, sehingga hasil temuan itu berbeda dengan apa yang telah ada.
Studi telah banyak dilakukan untuk mengungkap tentang kreativitas.
Beberapa ahli menyimpulkan bahwa siswa yang kreatif memiliki ciri-ciri
tertentu misalnya tidak memerlukan dorongan atau motivasi agar mau
bekerja atau belajar. Biasanya dalam mengerjakan tugas melampaui dari
yang ditugaskan, mendapatkan gagasan berbeda dalam megerjakan
sesuatu. Anak kreatif tidak takut mencoba hal-hal baru dari pada hanya
sekedar mengerjakan tugas. Ia senang melakukan observasi, tidak peduli
akan hasilnya meskipun berbeda dengan yang ditugaskan. Memiliki
kemampuan melahirkan gagasan yang banyak dan relevan dengan
permasalahan, serta mampu menyesuaikan diri dengan cepat. Selain itu
ia juga berani mengambil resiko dan bekerja secara mendetail dalam
mengembangkan hal sederhana menjadi jelas. Guildford mengatakan
bahwa ada lima hal berbeda yang terjadi dalam proses mental manusia,
yaitu: kognisi, ingatan, berpikir convergent, berpikir divergent, dan
evaluasi. Kreativitas merupakan kegiatan berpikir divergent, yaitu
kemampuan berpikir alternatif dalam mencari solusi permasalahan.
B. Seni Rupa dan Kreativitas
Seni pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan kreativitas, sebab
dimana ada seni disitu ada kreasi. Dalam seni, seorang seniman
memerlukan kemampuan kreatif dalam mewujudkan karya-karyanya.
Ketika seorang seniman meciptakan sebuah karya seni ada beberapa
aktivitas fisik dan psikologi yang terjadi. Kegiatan fisik jelas terlihat dari
tindakan yang dilakukan dan dari keterampilan yang diperlihatkannya,
seperti melukis, menari, bermain musik, atau bermain drama. Namun,
kegiatan kejiwaan tidak nampak, inilah sebenarnya yang sangat pen-
ting dalam kreativitas sebagai kegiatan pikiran dan perasaan.
Dalam seni rupa banyak yang dapat ditempuh untuk mewujudkan
kreativitas. Tidak semua aspek harus harus dikreatifkan. Wujud kreatif
322
Gambar 281. Abdul Aziz
pembaharuannya dalam hal
menampilkan subyek
manusia seakan keluar dari
kanvasnya (sumber:
Majalah Visual Art)
Gambar 282. Fajar
Sidik pembaharuan
dalam melukiskan
bidang-bidang abstrak
(sumber: Indonesian
Heritage).
323
dapat hanya dalam hal penggunaan bahan, atau teknik, atau perwarnaan
atau bentuk-bentuk yang diungkapkan saja. Misalnya Abdul Aziz,
(gb.281) menjelaskan kreatif dalam mengungkapkan subyek lukisannya,
seperti nampak keluar dari kanvas, sedangkan teknik melukisnya sama
dengan teknik melukis realis pada umumnya. Fajar Sidik yang tadinya
melukis realis, setelah mendalami lebih jauh tentang seni rupa, ia
menemukan gagasan tentang seni abstrak yang hanya menampilkan su-
sunan bidang dan warna yang disebutnya sebagai dinamika keruangan
(gb. 282). Bahan dan cara melukisnya masih sama dengan bahan dan
cara melukis dengan cat minyak pada umumnya. Nyoman Nuarta dalam
seni patung, ia melakukan pembaharuan dalam hal teknik, bahan dan
ungkapan bentuk subyek patungnya (gb. 158c). Ia membuat patung tidak
seperti biasanya dengan tekstur halus dan masif, namun ia meman-
faatkan tekstur kasar dari sifat materi yang digunakan dalam memun-
culkan kesan seakan patungnya telah rusak dimakan zaman. Salah
seorang pematung yang mengadopsi seni patung tradisional dan
mengungkapkannya dengan bahasa rupa masa kini adalah G. Sidarta.
Hal ini jelas sekali nampak pada patung yang diberi judul Tangisan Dewi
Batari (gb.5a). Ungkapan nilai tradisi tersebut nampak pada unsur-unsur
bentuk dan warna yang digunakannya, bentuk patung menyerupai
Barong Landung dari Bali dan Ondel-Ondel dari Jakarta.
Pencarian hal-hal baru dalam seni rupa terus dilakukan oleh para
seniman, sumber-sumber inspirasi di sekitar banyak sekali hanya
kemampuan untuk menjadikannya sebuah karya kreatif yang perlu terus
dikembangkan. Fenomena seni rupa baru, seni instalasi merupakan
suatu gejala keinginan seniman untuk dapat menerobos kebuntuan
dalam berkreasi. Hal ini terjadi di seluruh dunia, karena manusia selalu
menginginkan perubahan termasuk dalam berkesenian.
C. Proses Kreatif Dalam Seni Rupa
Proses kreatif berada di dalam benak, pada awalnya banyak
melibatkan intuisi dan bawah sadar, imajinasi, dan emosi, selanjutnya
melibatkan logika dan tindakan untuk solusi dan realisasinya. Hal ini
sesuai dengan temuan para ahli neuropsikologi, bahwa kemampuan
intusi, kreativitas dan emosi yang berada pada hemisphere otak sebelah
kanan berinteraksi dengan kemampuan logika, analitis, yang berada
pada belahan hemisphere otak sebelah kiri. Oleh karena itu kemampuan
kreatif tidak dapat berdiri sendiri tanpa melibatkan kemampuan logika
analitis dan tindakan nyata untuk merealisasikannya. Dari temuan para
ahli neuropsikologi setiap orang memiliki kapasitas kreatif hanya
kadarnya yang berbeda oleh, karenanya dapat dikembangkan atau
324
dimaksimalkan melalui berbagai cara, salah satunya adalah melalui
latihan yang terstruktur. Biasanya gagasan kreatif muncul secara intuitif
berupa gambaran sepintas yang belum jelas, kemudian dihubungkan
dengan persepsi sadar, sejak itu gagasan bukan lagi bersifat intuitif tetapi
sudah merupakan pengalaman alam sadar. Untuk mendapatkan gagasan
kreatif perlu aktif, tidak ada gagasan muncul tanpa suatu upaya.
Kreativitas adalah sesuatu yang bergerak, apabila tidak beranjak dari
satu kondisi ’yang itu-itu saja’ maka perlu upaya ke luar dari belenggunya
untuk menuju ke alam kreatif yang luas dan tak terbatas. Upaya kreatif
adalah menyenangkan, karena adanya gagasan-gagasan segar sehingga
suatu kondisi yang mandeg akan mengalir, inilah yang menyebabkan
peradaban manusia tidak statis. Benak manusia selalu bergerak, energi
yang menggerakkannya akan lebih bermanfaat jika dapat digunakan
untuk memikirkan hal-hal yang sifatnya kreatif berguna bagi perkembang-
an kebudayaan dan peradaban manusia.
Frank E. William dalam Bob Eberly, membedakan proses kreatif yang
dapat mendukung ekspresi kreatif menjadi dua yaitu Cognitive Processes
dan Affective Processes. Cognitive Processes terdiri dari fluensi yaitu
keluwesan dalam berpikir dengan menghasilkan gagasan dalam jumlah
yang banyak dalam waktu singkat; fleksible yakni kemampuan
menyesuaikan pikiran dan memberi gagasan alternatif dan pandangan
yang berbeda; orisinilaitas dapat menghasilkan gagasan yang lain dan
unik serta memberi respon yang cerdas, tidak biasa, dan baru elaborasi
yakni kemampuan untuk memperkaya, menghaluskan ide yang masih
sederhana detai menjadi lengkap dan elegan. Untuk Affective Processes
terdiri dari curiosity yaitu rasa ingin tahu yang besar; bersedia mengambil
resiko ditandai dengan perasaan bebas untuk menerka dan tidak takut
salah, berspekulasi, avonturir; suka menghadapi hal-hal yang rumit dan
menyusunnya untuk menjadi teratur dan senang menghadapi tantangan;
intuisi yaitu berpikir cepat dan mencerna gagasan atau informasi secara
mandiri.
D. Tipe Proses Kreatif Seni Rupa
Gagasan yang dilahirkan oleh manusia tidak secara serta merta lahir,
suatu gagasan baru yang diciptakan manusia mengalami suatu proses.
Ada beberapa teori mengenai terjadinya proses kreatif, Graham Wallas
mengklasifikasikan menjadi empat tahap dengan pendekatan masalah
yakni: tahap pertama disebut preparation, pada tahap ini masalah
diselidiki dari segala aspek untuk dapat melmandangnya secara obyektif.
Tahap kedua disebut sebagai masa incubation yakni orang tidak
menyadari sedang memikirkan suatu masalah, tahap ketiga disebut tahap
ilmunination yaitu ketika munculnya gagasan-gagasan yang baik untuk
memecahkan masalah. Tahap terakhir adalah verification, pada tahap ini
325
terjadi pengujian dari gagasan atau solusi yang dipilih dan juga sebagai
tahap penyempurnaan untuk dapat dijadikan produk yang dapat berlaku
secara umum.
Selain Wallas, ada pula rumusan dari Kandinski seorang pelukis
kenamaan Rusia. Berdasarkan pengalamannya dalam menggeluti seni
lukis, ia merumuskan proses kreatifnya menjadi tiga tahap yaitu: tahap
pertama disebut impresion ketika seorang seniman mendapat kesan
langsung dari alam yang dicurahkan ke dalam bentuk gambar. Tahap
kedua adalah improvisation sebagai ekspresi terdalam yang sifatnya
non-material, dan terakhir adalah composition sebagai tahap pem-
bentukan elspresi dan perasaan secara perlahan dengan pem-betulan
dan pengulangan untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan. Seniman
adalah salah satu kelompok manusia kreatif begitu pula ilmuwan.
Seniman bekerja biasanya menggerakkan kemampuan kreatifnya dengan
memilih atau mendapat sekilas gagasan dari suatu fenomena seperti
kondisi benda, suasana, mimpi dan sebagainya. Kemudian dari sekilas
gagasan itu dikembangkan, dilakukan eksplorasi dapat secara terstruktur
dan sintesa, intuitif dan emosional, abstraksi dapat masuk dalam
keduanya. Proses kreatif dapat pula terjadi bukan karena rangsang yang
menyenangkan tetapi muncul dari suatu masalah. Misalnya Delacroix
tidak puas menyaksikan kecelakaan di laut yang menyebabkan banyak
korban dari penumpangnya sementara awak kapal selamat, dan
pemerintah tidak banyak menaruh perhatian. Dengan masalah itu
menimbulkan kejengkelan dan ini dijadikan motivasi untuk melahirkan
karya luar biasa dengan judul Rakit Medusa (gb 215). Gerakan Dadaisme
di Eropa dan Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia berawal pula dari
rasa ketidakpuasan terhadap kemapanan sehingga menimbulkan
pembrontakan melalui cara seni rupa.
1. Tipe terstruktur dan sintesa
Proses kreatif seniman seni rupa tipe terstruktur dan sintesis
melahirkan perupa dengan berbagai tipe yaitu realis, naturalis, dekoratif,
impresioni, surealis, kubistis, dan abtrak. Keenam jenis seniman ini pada
awal bekerja prosesnya sama yaitu mencari gagasan dengan melakukan
pengamatan atau observasi, dan proses eksplorasi selanjutnya meng-
ambil cara yang berbeda.
Seniman atau perupa dengan gaya naturalis dan realis mungkin
setelah mendapatkan gagasan atau emosi estetiknya tergugah oleh
suatu kondisi benda atau suasana dapat langsung menangkap keindahan
itu dengan melukiskannya di tempat, atau membuat catatan berupa sket-
sa kemudian dikembangkan di studio tempat kerjanya. Bagi kelompok
dekoratif, surealis dan kubistis mereka juga mengambil jalur berbeda,
setelah mendapat gagasan mereka mungkin membuat catatan lalu
bekerja di studio. Seniman dengan tipe prose kreatif terstruktur dan sinte-
326
a
Gambar 283. (a) Dullah, Pintu Gerbang Bali, (b) Lee
Man-Fong, Penari Legong (sumber: Koleksi Presiden
b
Soekarno
a
Gambar 284. (a) Basuki Abdulah, Pemandangan,
(b) Lee Man Fong, Gadis Bali (sumber: Koleksi
Presiden Soekarno).
b
327
sis sangat banyak, di antaranya ialah Basuki Abdulah, Dullah, Trubus,
Sudjojono, Wakidi. Seniman dengan tipe ini pada saat ini banyak dibantu
dengan peralatan hasil teknologi yaitu kamera. Mereka tidak perlu
lagi berlama-lama bekerja di luar langsung di alam terbuka, Dullah
misalnya, dalam melukis pemandangan maupun model tidak bekerja
berhari-hari di alam terbuka menghadap ke pemandangan yang dilukis-
nya atau menahan model manusia yang dilukisnya dalam waktu lama. Ia
banyak dibantu oleh fotografi dan penyelesaiannya dapat dilanjutkan di
studio. Dengan kepiawian teknik yang dimilikinya para seniman realis
dapat menyelesaikan lukisannya, dan kadang warnanya lebih indah dari
aslinya (gb.284 a).
Gambar 285 (a) Anonim, Lukisan Bali Kuno (sumber: Koleksi Presiden Soekarno), (b) Walter
Spies, (sumber: Indonesian Heritage).
Seniman pada jalur dekoratif (gb.285 dan 286) bekerja dengan ke-
mampuannya menggayakan atau stilasi obyek yang menarik perhati-
annya. Seniman jenis ini bekerja kadang sepenuhnya di dalam studio
dituntun oleh cita rasa estetiknya membuat benda-benda menjadi
berirama. Gaya ini banyak dilakukan oleh desainer tekstil, perhatikan
motif kain batik, tenun, kadang bentuk benda disederhanakan kadang
dilebih-lebihkan. Perwujudannya dalam seni lukis, pewarnaan biasanya
datar seperti lukisan Wayang Beber dan Klasik Kamasan bentuk-
bentuknya penuh dengan stilasi. Namun demikian ada yang meng-
kombinasikannya dengan tipe naturalis dan realis dengan menerapkan
teknik halftone dan prinsip perspektif seperti Henri Rousseau, Widayat,
Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan seniman-seniman Bali hasil didikannya.
328
b
Gambar 286. (a) Widayat, Manusia, Pohon dan
Satwa, (b) Kuswadji, Lampor (sumber: (a)
Indonesian Heritage, (b) Soedarso, SP)
a
Tipe surealis memfantasikan obyeknya sehingga hasilnya nampak
seperti suasana mimpi. Kaum surealis banyak diilhami oleh ilmu psikologi
terutama tentang teori bawah sadar oleh psikolog Sigmund Freud. Dalam
ungkapannya ada tipe realistik dan abstrak. Tipe realistik sebenarnya
kelompok ini berkarya berdasar benda-benda realistik kasat mata tetapi
pengungkapan terhadap benda-benda tersebut dihubungkan dengan hal-
hal yang tidak logis melalui penerapan perspektif terbalik, ilusi optik,
gelap terang, posisi yang tidak logis dan sebagainya. Seniman seni lukis
yang tersohor dalam gaya surealisnya adalah, Chirico, Miro, Marc Chagal
(gb. 287), dan Salvador Dali (gb. 306). Dalam seni patung Henri Moore
setiap saat ia tidak mau kehilangan image-imagenya karena patung tidak
dapat secara serta merta dibuat maka ia tuangkan dalam catatan berupa
sketsa-sketsa abstraksi tentang manusia (gb. 288).
329
Gambar 287. Marc Chagall, The Players (sumber: Ingo F. Walther)
Gambar 288. Abstraksi Henry
Moore (sumber: Robert H. McKim)
330
Tipe analitik bekerja menyeimbangkan emosi estetiknya dengan
kemampuan rasional analitis. Gaya Impresionisme lahir karena hasil
analisis terhadap kondisi sinar yang menerpa benda, bahwa warna benda
akan mengalami perubahan seiring dengan bergeraknya matahari dari
timur ke barat. Warna pagi berbeda dengan warna siang begitu pula
dengan warna sore. Hal ini dibuktikan oleh Claude Monet dengan melukis
langsung suatu obyek dalam waktu yang berbeda. Hasil kesan mata dan
perasaan terhadap warna berbeda karena perubahan kondisi sinar yang
menerpa benda. Gambar (289a) adalah kesan warna siang hari pada
gereja gereja Catedral Rouen, kesadaran terhadap perubahan kesan
warna terhadap mata merupakan kemampuan menganalisa kondisi
lingkungan yang diungkapkan dalam wujud lukisan. Kubisme juga lahir
karena hasil analisis terhadap kondisi benda. hal ini dimulai oleh kesadar-
a b
Gambar 289. (a) Claude Monet, Detail Rouen Chatredal, (b) Paul Cezanne, Maount
Saint Victoire (sumber: Paul Zelanski)
an Paul Cezanne dalam mencermati kondisi benda yang dilukisnya. Ia
melihat bahwa sebenarnya permukaan benda terdiri dari berbagai
susunan warna dan bentuk lalu ia mengungkapkan hal itu dalam
lukisannya (gb.289b). Hal ini selanjutnya dikembangkan lebih intensif
oleh Picasso dan Braque. Konsep kubisme yang kuat mengatakan bahwa
benda-benda dapat dikembalikan ke bentuk aslinya yaitu bentuk-bentuk
geometris, dan sebuah benda yang kita lihat bukalah benda yang
sebenarnya, oleh karena bagian atas, bagian depan, bagian bawah tidak
nampak. Dengan pandangan itu kaum kubistis mengungkapkannya ke
dalam lukisan dengan bentuk-bentuk dari berbagai sudut pandang dalam
satu lukisan. Hasilnya suatu lukisan dengan bentuk-bentuk yang aneh
(gb. 290, 291).
331
a b
c
Gambar 290. Konsep bentuk
kubisme ( sumber: Patric Carpenter)
332
Gambar 291. Pablo Picasso, Guernica (sumber: Paul Zelanski)
2. Tipe intuitif dan emosional
Affandi misalnya sebelum melukis dengan gaya ekspresionisnya, ia
melakukan observasi berkeliling ke tempat-tempat yang dirasa dapat
memberikan ’secercah’ gagasan untuk merangsang emosi estetiknya.
Setelah mendapat gagasan dari suatu obyek, obyek itu diamati terus
sehingga dapat menangkap hubungan antara rasa estetiknya dengan
obyek, hal ini menimbulkan emosinya tak terbendung sehingga ia harus
melukis cepat-cepat dengan metode plototan agar tidak kehilangan
moment yang sangat menggairahkan itu. Kondisi inilah yang menye-
babkan ia melukis bagaikan orang kesurupan (gb. 292b). Dalam gambar
(292a) Durrer mengambarkan The Scream dengan mendistorsi bentuk
manusianya dan menggambarkan lingkungannya dengan gerakan garis
dinamis bergelombang, dalam hal ini yang lebih dominan adalah emosi
Durrer yang dituangkan ke atas bidang gambar. Pengungkapan emosi
juga dilakukan secara non-figuratif atau abstrak, pada gambar (292c)
Jacson Pollock menumpahkan emosinya dengan cipratan warna dan hal
yang paling sulit menganalisa hubungan luapan emosi itu dengan judul
lukisannya. Kadang judul hanya sebagai pemberian label dan tidak ada
hubungan sama sekali dengan nilai ekspresi yang diungkapkan menjadi
lukisan. Namun demikian aspek teknik masih sangat dibutuhkan agar
dapat mengakomodasi bentuk emosi yang ditumpahkan ke atas kanvas
atau jenis permukaan lainnya.
333
b
a
c
Gambar 292 . (a) Durrer, The Scream, (b) Affandi, Adu Ayam di Bali, (c) Jackson Pollock,
autuumn Rhytm, (sumber: (a,c) Paul Zelanski, (b) Koleksi Presiden Soekarno)
334
Gambar 293. Konsep perubahan / deformasi bentuk ekspresionisme
(sumber: Patrick Carpenter)
Proses kreatif terjadi awalnya karena adanya stimulan, kemudian
stimulan itu dikembangkan untuk medapatkan konsep, Finke dan kawan-
kawan menyebutnya sebagai Geneplore, yaitu suatu model pengem-
bangan kreativitas melalui proses generative dan explorative.
Berdasarkan proses yang dilakukan oleh para seniman dalam
membuat karya-karyanya, maka untuk pengembangan dan pembahasan
kreativitas dalam buku ini dibedakan menjadi berpikir imajinatif, berfikir
alternatif, berpikir inovatif, dan berpikir kongkrit yang memiliki hubungan
erat dengan seni rupa.
E. Berpikir Imajinatif
Kreativitas selain bersifat intuitif juga erat ekali hubungannya dengan
imajinasi, sebab apapun bentuk kreasi sebelum dilahirkan menjadi wujud
tertentu terlebih dahulu dibentuk dalam benak yang disebut imajinasi.
Harry Broudy menyebut imajinasi sebagai benihnya kreativitas dan
sebagai bagian dari kognisi manusia yaitu kemampuan untuk berpikir,
mengingat, mengemukakan alasan, membayangkan sesuatu dalam ke-
giatan hidup sehari-hari. Dalam kenyataannya memang imajinasi me-
nuntun manusia untuk melakukan sesuatu, sebelum menjadi tingkah laku
terlebih dahulu tergambar dalam imajinasi. Jadi imajinasi merupakan
induknya berpikir kreatif; dalam imajinasi ada fantasi, memori, analogi,
abstraksi, humor dan sebagainya.
335
Gambar 294 . Escher, Bond of Union
1. Fantasi
Ketika kita berangan-angan sedang ada di bulan saat itu kita
berfantasi, ketika kita berangan-angan tentang sesuatu yang tidak pernah
ada di dunia ini kita sedang berfantasi. Fantasi merupakan kemampuan
manusia dalam berimajinasi atau membayangkan tentang sesuatu dalam
benak, mungkin sesuatu yang tidak mungkin ada, atau yang pernah ada.
Penggunaan fantasi dalam seni rupa dapat melahirkan karya-karya yang
mengagumkan, unik karena dapat membawa pikiran kepada dunia yang
lain. Jadi fantasi diarahkan kepada hal-hal yang tidak ada dan belum
pernah ada di dunia (gb 294). Fantasi merupakan dasar dari semua jenis
kegiatan imajinasi seperti berpikir analogi dan ilusi karena dalam berpikir
analogi dan ilusi juga melibatkan fantasi. Kekhususan fantasi adalah tidak
melibatkan cara berpikir analogi dan ilusi. Menurut Feldman, fantasi
dapat terbentuk melalui cerita mitos, mimpi dan halusinasi, ilmu dan
teknologi, serta ilusi.
2. Analogi
Analogi secara literal berarti kesetaraan dalam perbandingan,
proporsi, dalam pengertiannya yang lebih luas berati kias yaitu kesamaan
336
antara sesuatu yang berbeda, dengan menggunakan kiasan masalah
dapat lebih mudah dipahami, misalnya otak manusia sama dengan
komputer. Hal ini dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa pikiran dan
prilaku manusia dapat diubah sesuai dengan program yang di-install ke
dalam otaknya. Dalam seni rupa, sebuah lukisan atau patung dapat
dianalogikan ke dalam irama kehidupan: ada kontras, irama menye-
nangkan, sedih, kusam dan sebagainya. Dengan mengandaikan seperti
itu dapat menggerakkan kemampuan kreatif untuk mencipta. Gambar 300
misalnya, Marc Chagall karena antusiasnya dengan hari ulang tahun
istrinya ia meluapkan kegembiraannya dengan menggambarkan dirinya
seakan melayang ketika memberikan ciuman selamat ulang tahun (gb.
295).
Gambar 295. Marc Chagall Birth Day (sumber: Ingo F. Walther)
3. Ilusi
Ilusi optik digunakan dalam seni rupa terutama seni lukis sejak di-
temukannya perspektif oleh Brunelleschi pada zaman Reanissance.
Prinsip ini digunakan untuk menggambarkan kesan tiga dimensional
dalam bidang dua dimensional. Selanjutnya pengungkapan ilusi optik
terus berkembang seperti M.C Escher menggunakan ilusi optik dalam
karya-karya grafisnya sehingga dapat menciptakan karya yang unik
337
kadang mendekati humor yang menggelitik. Karya-karya Escher banyak
megeksploitasi susunan simultan antara ruang positif dan negatif dengan
prinsip transisi sehingga menimbulkan ilusi optik (gb. 301b). Kedua jenis
ruang dimanfaatkan menjadi bentuk yang sama namun dalam arah yang
berbeda. Selain itu dalam versi yang lain Escher memanfaat manipulasi
perspektif sehingga penampilan karyanya menjadi aneh (gb. 296a) Ilusi
juga dieksploitasi oleh perupa Op Art seperti Victor Vasarely menampil-
kan karya-karya unik dari gagasan yang sederhana karena hanya dengan
menggunakan kepiawiannya menyusun transisi warna dan bentuk-bentuk
geometris ia mampu menciptakan ilusi optik pada lukisannya, bentuk
kelihatan bergetar (gb. 296c) kadang pada karya yang lain bentuk
berputar-putar.
b
a
Gambar 296. (a) M.C Escher, Relativity,
(b) M.C Escher, Circle Limit I (sumber:
M.C. Escher The Graphic Work),(c) Victor
Vasarely, Super Impose (sumber: Paul
Zelanski).
c
338
4. Humor
Humor tidak saja bersifat verbal, dapat pula dungkapkan secara
visual. Kaum karikaturis merupakan kelompok humoris dalam seni rupa.
Sering dengan gaya humor seni rupa digunakan untuk kritik terhadap
pemerintah atau orang-orang terkenal karena perilakunya. Di antara
seniman yang menggunakan humor sebagai jalur berkaryanya adalah
G.M Sudarta yang biasanya muncul setiap minggu di harian Kompas (gb.
298). Hofmeklers seorang pelukis Israel melukis tokoh-tokoh terkenal
dunia dengan gaya karikatur, gaya ini menggunakan kepiawaiannya
dalam menangkap karakter obyek yang diungkapkan dengan menstilasi
bentuk namun tidak menghilangkan kesamaan dengan bentuk aslinya
(gb.297).
Gambar 297. (a) Hopmekler, Jimmy Carter and Friends
(sumber: Hofmeklers People),
339
Gambar 298. G.M. Sudarta, Oom Pasikom (sumber; Kompas Sabtu 24 November 2007)
b
Gambar 299. (a) Marc Chagall, Listening to the Cock,
(sumber: Ingo F. Walther) (b) Eileen, Duckling Stone
(sumber: Porselen Amerika).
a
340
5. Animasi
Animasi adalah cara mengungkapkan fantasi dengan memberikan
image mahluk hidup kepada benda mati. Dalam seni rupa upaya kreatif
jenis ini banyak digunakan dalam cerita bergambar atau komik dan
pelukisan mitos, oleh karenanya animasi dibedakan animasi
’menghidupkan benda mati’ dan animasi memanusiakan benda atau
binatang. Pada gambar (299a) Marc Chagall mengungkapkan tentang
sepasang manusia dengan satu badan babi betina dan di bagian bawah
ayam betina dengan telur dan latar belakang merah. Eileen pada gambar
(299b) membuat mangkuk sup porselen dengan bentuk kombinasi kepala
bebek sehingga mangkukya kelihatan lain dan menarik perhatian dengan
tiga kepala bebek muncul dari tutup dan badan mangkuk. Dalam seni
lukis dan patung tidak banyak seniman menggunakan cara ungkapan
dengan animasi.
F. Berpikir Alternatif
Berpikir alternatif sering disebut sebagai berpikir divergent, yakni
kemampuan melahirkan gagasan yang berbeda-beda namun masih
dalam satu arah tujuan untuk mendapatkan pilihan yang terbaik, atau
berpikir tentang cara yang berbeda dalam mendekati permasalahan,
berpikir yang tidak lazim untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
Kebalikan dari berpikir ini adalah berpikir linear, yakni dalam menentukan
keputusan tidak ada pilihan lain karena hanya ada satu alternatif. Dalam
seni rupa berpikir alternatif dapat dilakukan melalui latihan-latihan secara
figural dan eksploratif dalam melahirkan bentuk-bentuk. Satu bentuk
dapat dibuat bentuk-bentuk lain dalam mendapatkan satu bentuk baru
yang terbaik. Hal itu dapat dilihat dalam cara kerja Henry More (gb. 288)
dengan membuat banyak sketsa studi untuk patung-patung abstrak yang
akan dibuatnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Picasso dalam
persiapan membuat mural Guernica, dengan demikian ia punya
kesempatan untuk memilih bentuk-bentuk yang terbaik untuk disusun
menjadi komposisi. Berpikir alternatif merupakan dasar dari kegiatan
kreatif, karena semua kegiatan berpikir kreatif lainnya dapat dikombi-
nasikan dengan cara berpikir alternatif ini.
341
a b
c d
Gambar 300. (a) Biota laut sebagai sumber pengembangan bentuk (sumber: Nicholas
Roukes), (b) Hasil pengembangan bentuk oleh peserta Diklat Guru Seni SMA P4 TK Seni
dan Budaya.
Dalam gambar (300) peserta diklat di PPPPTK Seni dan Budaya diberi
rangsang visual berupa foto-foto dari biota bawah laut berupa kerang dan
terumbu karang yang bentuknya unik. Mereka memilih beberapa jenis
342
bentuk biota laut untuk dikembangkan menjadi masing-masing tiga ben-
tuk baru. Dalam memilih mereka memiliki kebebasan untuk menye-
suaikan image-image dengan imajinasinya sehingga dapat lebih mudah
untuk mengem-bangkannya. Bentuk asli memancing bentuk surealistik
karena bentuk-bentuk yang dihasilkannya sangat fantastik dan unik.
Untuk pengem-bangan selanjutnya bentuk-bentuk tersebut dapat
digunakan menjadi berbagai jenis produk seni rupa dan seni kriya seperti
lukisan, motif tekstil, keramik dan sebagainya. Dari latihan-latihan yang
diberikan, ternyata bentuk-bentuk alami sangat mudah memunculkan
bentuk baru yang fantastik. Begitu pula bentuk buatan manusia dapat
melahirkan bentuk-bentuk baru yang tak terbatas. Dalam pengembangan
bentuk perlu diperhatikan, bahwa tidak semua jenis bentuk dapat
memancing keluarnya gagasan dan tidak semua orang dapat dengan
cepat terpancing imajinasinya. Dari studi empiris yang dilakukan bentuk
geometris yang bersudut-sudut lebih sulit memancing imajinasi dibanding
bentuk lingkaran hal ini berlaku bagi anak-anak maupun orang dewasa.
Dengan demikian guna memperlancar dan mempercepat intensitas
latihan menggunakan bentuk organis lebih produktif dalam pengem-
bangan bentuk-bentuk yang fantastik.
Tugas Latihan
Kembangkanlah bentuk-bentuk di bawah ini menjadi masing-masing
lima bentuk yang dapat dikenali.
a b c d e
G. Berpikir Inovatif
Apabila seseorang tidak puas dengan apa yang ada baik berupa
benda maupun suatu kondisi kemudian ia melakukan perubahan dengan
menambah atau mengurangi maka ia telah mengembangkan kemam-
puan berpikir inovatif. Bepikir inovatif dan alternatif dapat dikombinasikan,
343
karena inovatif berarti memperbaharui sesuatu, maka dalam melakukan
pembaharuan perlu alternatif. Untuk pengembangan kreativitas ada
beberapa metode yang dapat digunakan. Bob Eberly menyarankan
dengan scamper yang berarti lari bermain seperti anak-anak. Kata ini
digunakan sebagai akronim SCAMPER yang masing-masing hurufnya
memiliki makna sebagai berikut.
Substitute = Orang atau benda dapat berganti peran satu sama
S
lainnya.
Apakah ada cara lain menggunakan hal ini ?
Combine = Mengombinasikan atau menyatukan.
C
Apa yang terjadi jika hal ini disatukan ?
Adapt = Menyesuaikan terhadap kondisi atau maksud.
A
Apakah ada hal lain seperti ini?
Animate = Memberi wujud hidup
Modify = Mengubah, menukar bentuk atau kualitas Memperluas,
M
Maginify = membesarkan bentuk atau kualitas
Minify = Memperkecil, memperingan, memperlambat, mengurangi
frekuensi
Dapatkah ini dibayangkan menjadi tambah besar atau
tambah kecil
Put to other Menggunakan lain dari yang dimaksud semula.
P
uses =
Eliminate = Memindahkan, menghilangkan suatu bagian, kualitas.
E
Bagaimana jika ini dihilangkan?
Reverse = Menempatkan, menggunakan secara bertentangan atau
R
terbalik.
Rearange = Mengubah susunan, menyusun kembali.
Apakah yang terjadi jika ini dibalik atau disusun kembali
komposisinya?
Menggerakkan gagasan-gagasan kreatif dengan metode Scamper ini
sangat dapat diterapkan ke dalam seni rupa. Banyak seniman entah
sengaja atau tidak telah menggunakannya dalam menciptakan karya-
karyanya yang kreatif. Dalam substitute misalnya, Erawan (gb.301)
mengunakan bingkai yang seharusnya untuk membingkai lukisan atau
foto, ia gunakan sebagai media melukis. Dengan kreativitas, media untuk
membuat karya seni rupa menjadi tidak terbatas apa saja yang nampak
oleh penglihatan dapat digunakan sebagai media. Substitute tidak hanya
pada bahan, dapat pula dilakukan pada teknik, misalnya teknik batik yang
tadinya untuk membuat kain batik pada perkembangannya digunakan
untuk teknik melukis. Pada gambar (gb.302a) Martin Sharp dan kawan-
kawannya mengganti ruang tamu menjadi karya seni yang diberi judul
The Stone Room. Selain itu pada gambar (gb.302b) Lucas Maramas
344
mengganti fungsi buku, pisau, paku, silet dirangkai menjadi satu karya
seni.
Pada aspek combine dapat dilakukan mengombinasikan bahan,
misalnya pastel dengan cat air, arang dengan pastel, cat akrilik dengan
cat minyak. Combine atau kombinasi dapat pula dilakukan gaya, misal-
nya gaya dekoratif dengan realis (gb. 303a) dan (gb. 303b) Walter Spies
dan Rudolf Bonnet mengkombinasikan gaya naturalis dan realis dengan
dekoratif. Pun dapat dilakukan lintas jenis misalnya patung dengan
lukisan, seni pakai dengan seni murni. Pada gambar 301 Erawan meng-
gunakan kemampuan kreatif dan estetiknya dalam mengombinasikan
beberapa media yang sangat berbeda seperti kayu, lukisan tradisional
Kamasan, cat minyak, cat emas dengan teknik menempel dan bakar
untuk mendapatkan kesan antik, semuanya disusun menjadi komposisi
yang harmonis.
Gambar 301. Erawan, Kekunoan (sumber: Katalog Pralaya Erawan).
345
Nicholas Roukes mengembangkan metode untuk pengembangan
kreativitas dengan synectic. Menurutnya synectic berasal dari bahasa
Yunani synectikos yang berarti mengabungkan hal-hal yang berbeda
agar memiliki hubungan kesatuan. Apabila kreativitas merupakan suatu
upaya menyatukan sesuatu yang berbeda menjadi struktur baru maka
kemampuan berpikir synectic sangat diperlukan yaitu kemampuan untuk
mengombinasikan menjadi kesatuan yang harmonis. Pada gambar (304
dan 305) mahasiswa calon guru seni rupa dan kerajinan mengem-
bangkan bentuk-bentuk kombinasi yang ada di sekitar, mereka diminta
memilih sebuah kata kemudian kata tersebut divisualisasikan. Setelah
masing-masing individu mendaptakan gambar sesuai dengan kata yang
dipilih mereka dibagi menjadi kelompok-kelompok, dalam kelompok
mereka diminta untuk menggabungkan hasil visualisasinya. Hasilnya
sangat menakjub-kan, imajinasinya liar dan bentuk-bentuk kombinasi
yang dihasilkan tak terduga, aneh, dan seram. Gambar (305a)
merupakan kombinasi bentuk kata kuda, laki-laki, gadis, ikan dan ular.
Gambar (305b) adalah kombinasi bentuk dari kata burung, topi, ikan dan
manusia. Dalam menyusun kombinasi bentuk, bentuk pokok meng-
hasilkan bentuk-bentuk baru dalam bentuk pokok tersebut. Hal ini
disebabkan dalam bentuk pokok ada asoiasiasi bentuk dalam bentuk
plastisnya, misalnya bentuk kaki kuda mengasosiasikan bentuk ikan,
pada perutnya ada bentuk kepala manusia dan sebagainya (gb.305a)
b
a
Gambar 302. (a) Martin Sharp, The Stone Room (sumber: Yellow House Catalog), (b)
Lucas Maramas Book 4 (sumber: Paul Zelanski)
346
Hal yang baik dari metode pengembangan ini dapat dilakukan dalam
kelompok dan ini dapat menumbuhkan kemampuan bersinergi dalam
menuangkan gagasan sehingga mampu melahirkan produk bentuk yang
kuat dan konstruktif karena dipertimbangkan oleh beberapa hasil pe-
mikiran. Transformasinya metode ini dapat diaplikasikan dalam kegiat-an
lain yang bersifat kreatif.
b
a
Gambar 303. (a) Walter Spise Bali Nan Biru (sumber: Puri Bhkati Renatama, (b) Rudolf
Bonnet Dua GAdis Bali Mengusung Tempayan (sumber: Koleksi Presiden Soekarno).
a b
Gambar 304. Pengembangan bentuk berkelompok, karya peserta diklat calon guru SMK
347
a
b
Gambar 305. Pengembangan bentuk berkelompok, karya peserta diklat calon guru SMK
348
Tugas Latihan
1. Buatlah karya seni rupa dengan mengganti aspeknya misalnya
tekniknya, warnanya, bentuknya, fungsinya, pilih salah satu!
2. Buat pula karya seni rupa dengan mengkombinasikan beberapa
bahan.
Gambar 306. Salvador Dali, The Persitence of Memory (sumber: Paul Zelanski)
Modify adalah mengubah suatu dapat bentuk, warna, atau kualitas;
dalam gambar (306) Salvador Dali mengubah kualitas benda keras
menjadi lembek, sehingga ungkapan visual dalam lukisannya berjudul
The Persistence of Memory arloji digambarkan seperti layaknya terbuat
dari bahan yang lembek, atau elastis. Dalam lukisannya, Salvador Dali
menyampirkan benda keras yang telah digambarkan menjadi lembek
tersebut pada batang pohon kering, pada lantai persegi dengan latar
belakang laut dan bukit kering dan lingkungan yang sepi, sehingga
lukisan tersebut memberi kesan kepada penggambaran di dunia tak nya-
ta. Perubahan kualitas dapat memberikan bentuk-bentuk yang me-
ngejutkan karena aneh dan lain dari kenyataan empiris.
349
H. Berpikir Kongkrit
Dalam teori psikologi perkembangan ada tahap kemampuan orang
berpikir kongkrit. Piaget (1970) menyebutnya sebagai tahap congcrete
operational, yakni kemampuan seorang anak dalam mengidentifikasi dan
memahami secara logis perubahan terjadi secara fisik dalam sebuah
benda namun sebagaian besar karakteristiknya masih tetap. Seorang
designer atau arsitek menggunakan imajinasinya untuk berpikir kongkrit
dalam merencanakan sebuah rangcangan benda atau bangunan.
Seorang pelukis, pematung, kriyawan termasuk orang yang berpikir kong-
a b
c d
Gambar 307. Pengembangan bentuk berdasar rangsang visual garis.dan bantuk , karya
peserta diklat guru SMK
krit dalam menuangkan gagasannya karena apa yang diinginkan dan di-
lakukan selalu tergambar dalam pikirannya. Kiranya tidak hanya ketiga
profesi itu yang menggunakan berpikir kongkrit, hampir seluruh manusia
dalam hidupnya menggunakan berpikir secara kongkrit. Dalam berpikir
alternatif gagasan visual masih samar-samar, akan tetapi dalam berpikir
konkrit sudah jelas pilihan mana yang paling baik dan bagaimana bentuk
350
senyatanya yang akan dibuat. Nampaknya berpikir kongkrit ini merupa-
kan muara dari kemampuan kreatif karena apa yang akan diwujudkan
sudah nampak jelas.
Pada gambar (307dan 308) dalam pengembangan kreativitas visual
calon guru SMK SB, mereka diberikan rangsang visual berupa garis-garis
dan bentuk yang masih merupakan susunan unsur yang belum jelas
maksudnya. Dengan kemampuan imajinasi dan fantasi mereka merespon
garis-garis tersebut. Hasilnya setiap individu memberikan respon berbe-
da sesuai dengan latar belakang pengalaman dan ingatan mereka
masing-masing. Aspek memori dalam hal ini sebagai perbendaharaan
visual sangat menentukan respon yang diberikan. Selain itu dalam
memberikan respon, ada hal penting dalam latihan tersebut yaitu
meningkatkan kemampuan dalam menghubungkan unsur-unsur yang
terpisah antara garis yang berbeda karakter, antara garis dan bentuk
menjadi satu kesatuan. Jadi latihan ini memberikan kesempatan kepada
peserta diklat untuk latihan melihat masalah dan menutupnya dengan
mencaru hubungan-hubungannya sehingga harmonis.
a
b
Gambar 308. Pengembangan bentuk organis menjadi bentuk yang lengkap dan dapat
dikenali, karya peserta diklat guru SMK
Gambar (307b) adalah respon dari peserta yang sering menyaksikan
pertunjukan kuda kepang, walaupun dalam kenyataan tidak ada dua
orang mengendarai kuda kepang, hal ini dapat memberi tafsiran bahwa
penunggang yang lebih kecil berada paling atas di punggung orang yang
lebih besar adalah spirit yang merasuk kedalam tubuh manusia yang
351
menunggangi kuda kepang tersebut. Pada kenyataannya, memang
pemain kuda kepang sering sampai kepada taraf trance dan jika ia di-
pukul dengan cemeti tidak luka, makan pecahan-pecahan kaca tidak
menjadikannya sakit perut atau mulutnya luka. Masyarakat menganggap
pemain kuda kepang tersebut kesurupan roh sehingga tubuhnya tidak
dapat dilukai. Berbeda pada respon gambar (307c, d), respon pada
gambar (c) menandakan responden dalam memorinya ingat kepada
mobil antik, dan respon pada gambar (d) mengingatkan kepada rumah-
rumah di pedesaan Jawa. Berbeda lagi dengan respon dari rangsang
visual berupa bentuk tetesan benda cair (gb. 308a), responnya bukan
sebagai benda yang menetes tetapi bentuk tersebut bagi pe-
ngembangnya mengasosiasikan kepada bungkusan yang digendong
seseorang (308b). Jadi berpikir kongkrit merupakan berpikir yang
senyatanya. Berdasarkan pengalaman dan memori berupa benda dan
peristiwa, digunakan sebagai acuan menuangkan perbendaharaan
bentuk dalam suatu bidang, direalisasikan dalam wujud rupa. Seorang
arsitek dan desiner sangat nyata dalam bepikir kongkritnya, karena untuk
direalisasikan oleh orang lain wujud yang direncanakan harus sudah
pasti.
Tugas Latihan
Kembangkanlah susunan bentuk dan garis di bawah ini menjadi
bentuk yang dapat dikenali dan lengkap.
Masing-masing susunan dikembangkan menjadi lima buah.
a b
352
c d
353
A. Pengertian Apresiasi Seni Rupa
Kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris to appreciate yang berarti
menghargai, menilai, menyadari, mengerti. Namun dalam New Webster’s
Encyclopedic Dictionary diartikan sebagai ...the act of valuing or
estimating,...awareness of aesthetic value. Jadi pengertian apresiasi seni
adalah suatu kegiatan dalam menafsirkan nilai karya seni khususnya seni
rupa sehingga menyadari dan dapat menghargai terhadap nilai yang
terkandung di dalamnya. Guna melakukan apresiasi diperlukan beberapa
hal antara lain berupa pengetahuan tentang seni rupa dan kepekaan
perasaan yang berhubungan dengan keindahan. Oleh sebab itu kemam-
puan setiap individu dalam melakukan apresiasi adalah berbeda.
Kemudian melakukan apresiasi berbeda pula perlakuannya dilihat dari
jenis dan gaya karya seni, misalnya antara karya seni rupa realis dan
abstrak. Pada jenis karya realis segera dapat diidentifikasi kemampuan
senimannya dalam mewujudkan kenyataan, sedang dalam karya abstrak
agak rumit karena menyangkut kemampuan artikulasi abstraksi
senimannya terhadap konsep yang ditampilkannya. Untuk itu dibutuhkan
ekstra kepekaan estetik dalam melihat hubungan aspek dan unsur yang
ada di dalamnya. Dalam melakukan apresiasi ada beberapa pendekatan
di ataranya adalah pendekatan kritik, analitik, dan pendekatan kognitif,
pada dasarnya pendekatan pertama dan kedua adalah lebih bersifat kritik
seni, yang kedua sifatnya lebih mendalam, dan ketiga merupakan
pentahapan kamampuan dalam mengidentifikasikan suatu karya seni.
B. Hal Yang Diperlukan Dalam Apresiasi Seni Rupa
Untuk melakukan apresiasi seni ada beberapa hal yang perlu dimiliki
oleh seorang apresiator yaitu sebagai berikut.
1. Pengetahuan tentang seni rupa
Dalam melakukan apresiasi seni rupa pengetahuan tentang seni rupa
sangat diperlukan. Pengetahuan tersebut meliputi kesejarahan, bahan
yang digunakan dan bahasa rupa yang diaplikasikan dalam karya seni
rupa. Kesejarahan diperlukan agar dapat melihat kehadiran seni rupa
secara diakronis, dan mengetahui bagaimana hubungan karya seni rupa
yang dihadapi dengan karya-karya seni rupa yang telah ada sebelumnya
sehingga dapat menemukan runtutan kehadirannya apakah ada
pengaruh dari seni rupa yang lalu atau murni diciptakan oleh senimannya
sebagai suatu penemuan yang spektakuler. Untuk mengetahui karya
Raden Saleh misalnya, apakah teknik dan gaya yang dimilikinya murni
ciptaannya atau mendapat pengaruh dari gurunya dan teman-temannya
selama belajar di Negeri Belanda. Pengetahuan tentang teknik, bahan
dan bahasa rupa berguna untuk melakukan analisis visual karya seni
rupa. Tanpa pengetahuan tentang teknik, bahan dan bahasa rupa
apresiator tidak akan dapat menikmati apa yang dilihatnya dalam karya
yang diapresiasi misalnya tentang bentuk dan warnanya, bagaimana
tentang komposisinya hal ini diuraikan dalam bab II, III, dan IV.
Pengetahuan tersebut mendasari baik untuk praktek menekuni profesi
sebagai senirupawan maupun sekedar untuk mengetahui dunia seni
rupa atau untuk bekal dalam menikmati karya seni rupa yang banyak
ragamnya.
2. Kegemaran terhadap karya seni rupa
Kegemaran terhadap karya seni rupa maksudnya menyukai dan
mencintai karya seni rupa. Menyukai karya seni rupa mempermudah
untuk melakukan apresiasi, karena dengan meyukainya berarti selalu
ingin menikmati dengan melihatnya. Seorang kolektor adalah seorang
apresiator yang baik karena ia tidak hanya menyukai tetapi dilanjutkan
hingga memiliki karya seni rupa dan mau menghargainya dengan nilai
uang yang tidak sedikit. Tanpa menyukai atau gemar menyaksikan karya
seni rupa tidak mungkin dapat melakukan apresiasi, karena karya seni
rupa hanya dapat diapresiasi dengan indera penglihatan. Gemar tidaknya
seseorang menikmati karya seni rupa tergantung dari kepribadiannya
karena tidak semua orang senang menikmatinya. Biasanya kegemaran
terhadap karya seni rupa dapat tumbuh karena melalui latar belakang
pendidikan yang memang belajar tentang seni, atau tumbuh karena ingin
meningkatkan kualitas hidup dengan menikmati karya seni rupa seperti
lukisan, patung, atau benda kriya diakibatkan oleh pergaulan dan
ekonomi yang telah mapan.
3. Kepekaan estetik
Kepekaan estetik merupakan yang utama dalam melakukan apresiasi
seni rupa. Kepekaan estetik dapat diandaikan tentang pemahaman
terhadap bahasa visual, dapat mengidentifikasi kualitas unsur karya seni
rupa yaitu dapat merasakan kondisi warna, garis, bentuk, dan teksturnya.
355
Misalnya dapat merasakan bahwa karya tersebut dingin, dinamis, tenang,
mencekam, magis dan sebagainya. Dapat mengidentifikasi hubungan-
hubungan antar unsur misalnya warna yang satu terlalu dominan, atau
bentuk yang satu tidak sesuai dengan bentuk di sebelahnya atau karya
tersebut kurang seimbang. Hal penting lainnya selain memiliki kepekaan
estetik adalah dapat mengidentifikasi ketrampilan teknis yang sangat
menentukan keberhasilan sebuah karya seni. Tidak ada karya seni rupa
yang berkualitas baik tanpa kematangan teknik karena ini mempengaruhi
kualitas unsur yang digunakan sebagai media untuk mengekspresikan
gagasan sang seniman.
4. Sikap penghargaan terhadap karya seni rupa
Sikap penghargaan tehadap karya seni timbul setelah tiga hal di atas
dimiliki. Apabila ketiga hal di atas telah dimiliki secara otomatis sikap
menghargai akan timbul. Misalnya, pengrusakan benda-benda seni
disebabkan karena tidak dimilikinya ketiga hal tersebut, sehingga
menganggap sebuah arca batu yang indah sama dengan batu lainnya,
sebuah lukisan sama dengan selembar kain atau kertas. Ada juga orang
telah memiliki pengetahuan, kesukaan, dan kepekaan estetik tetapi
mencuri benda-benda seni hal ini biasanya dilatarbelakangi oleh masalah
ekonomi dan mental yang tidak baik yaitu tidak tahan terhadap godaan
uang, tidak jujur dan rakus.
C. Aspek Apresiasi Seni Rupa
Telah banyak diketahui bahwa pada umumnya ada dua aspek yang
dapat diapresiasi dalam karya seni rupa yaitu bentuk dan isinya. Bentuk
merujuk kepada tampilan kualitas fisik karya seni rupa berupa unsur
visual, prinsip pengorganisasian unsur, teknik atau cara membuatnya dan
materi yang digunakan. Menurut Paul Zelanski aspek isi karya seni rupa
meliputi tema yang diungkapkan, emosi, gagasan, simbol, narasi, dan
nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian pemba-
hasan aspek seni rupa yang diapresiasi difokuskan kepada (1) masalah
yang diungkapkan, (2) teknik garapan, (3) unsur dan pengorganisasi-
annya, (4) gagasan kreatif, (5) ekspresi.
1. Tema Permasalahan
Tema yang diangkat oleh seniman sangat luas cakupan areanya, oleh
karena itu banyak seniman dalam memilih tema dibatasi sesuai dengan
preferensi senimannya. Ada yang mengangkat tema kemasyarakatan,
alam, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan atau yang lebih bersifat
abstrak seperti tema religius, kasih sayang, atau kehidupan sehari-hari
senimannya, lamunan atau mimpi-mimpimya dan bahkan ada meng-
356
angkat tema sepenuhnya abstrak. Permasalahan merupakan awal
kemudian menjadi tema, dan itu bagaikan pintu bagi seniman untuk
b
a
Gambar 309. Tiga lukisan Picasso
dalam periode biru (a) Pemain gitar
Tua, (b) Orang Yahudi tua, (c)
Pasangan laki-laki dan Perempuan
(sumber: Paul Zelanski dan Mario
De Micheli).
c
357
menjelajahi dunia idenya. Kadang seniman berangkat tanpa batasan
permasalahan atau tema kemudian dalam prosesnya ia menemukan
gagasan untuk dikembangkan.
Tema dapat dijadikan sebagai fokus pembahasan dalam berkarya
dan dapat membentuk gaya dalam tampilan karya seorang seniman, dari
sejarah timbulnya gaya dalam seni rupa dapat diketahui bahwa kaum
impresionis memfokuskan visualisasinya terhadap kesan cahaya yang
menimbulkan kesan warna berbeda-beda seiring bergeraknya matahari
sebagai sumber cahaya. Kaum kubis memfokuskan pembahasan visual-
nya kepada esensi bentuk dan penampakannya, dan kaum surealis
Gambar 310.
Lukisan
wayang beber
Jawa
a
Gambar 311.
Lukisan
wayang
tradisional
kamasan Bali.
b
358
fokus kepada alam bawah sadar seperti mimpi dan paranoid. Seniman itu
bebas menentukan kemana arah pembahasan visual yang digarapnya.
Picasso menggunakan periodesasi dalam mengungkapkan per-
masalahan visualnya sehingga ia tidak mandeg dalam satu gaya, dalam
periode birunya permasalahan yang diungkapkan adalah kemiskinan dan
kesedihan (gb. 309). Namun ada juga seniman yang takut beranjak dari
kemapanan teknik dan gaya yang telah diraihnya, takut gagal dengan
penjelajahan yang baru atau takut dibilang tidak memiliki kepribadian.
Sebenarnya seni tumbuh seiring tumbuhnya fisik dan pisikologis
senimannya, jadi apabila ada perubahan terjadi hal itu mungkin karena
terjadi perubahan dalam diri sang seniman. Mungkin ia dipengaruhi oleh
seniman lain, atau oleh budaya lain yang memikat perhatiannya, jadi
hubungan karya seni dengan senimannya sangat dekat karena karya
seni merupakan ungkapan pikiran dan perasaan sang seniman. Melihat
karya seorang seniman sama dengan melihat apa yang dipikir dan
dirasakannya. Seni tradisional dan kerakyatan permasalahan dan
ungkapan visualnya cenderung seragam dan ajeg (gb. 310 dan 311),
walau sebenarnya jika dicermati ada perbedaan tampilan dari satu
seniman dengan seniman lainnya. Dapat terjadi perbedaan bentuk,
warna namun secara menyeluruh cenderung sama.
2. Teknik Garapan
Teknik garapan dalam membuat karya seni rupa sangat pokok dan
menentukan karena dapat mempengaruhi nilai estetik karya seni yaitu
baik dan buruknya. Oleh sebab itu kemahiran menggunakan alat dan
bahan menjadi syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang seniman.
Tidak ada karya seni yang berkualitas baik tetapi teknik pengerjaannya
jelek, namun sebaliknya jika aspek estetiknya kurang dapat ditutupi oleh
kemahiran teknik yang tinggi. Ketrampilan teknik sebagai dasar berkarya
seni harus betul-betul dikuasai terlebih dahulu sebelum melangkah ke
aspek selanjutnya. Teknik, alat, dan bahan saling terkait. Dalam seni lu-
kis misalnya alat dan bahan yang digunakan menentukan teknik. Cat air
tidak dapat digunakan seperti cat minyak karena potensi estetik cat air
adalah pada efek transparannya. Namun memungkinkan untuk dikombi-
nasi atau dicampur guna mendapatkan efek artistik yang diinginkan oleh
senimannya yang sering disebut mixed media.
Dalam seni patung ada beberapa teknik mebentuk seperti teknik
pahat, teknik cor, dan teknik las. Ada seniman patung menguasi
ketiganya, ada yang fokus spesialisasi hanya dalam satu teknik.
Seniman patung Yunani dan Romawi kuno sangat mahir dalam teknik
memahat marmer, dan mereka mampu mematungkan kesan kain yang
halus, luwes dan transparan dengan media yang amat keras. Di daerah
lain, seniman Cina kuno juga sangat mahir dalam membuat keramik dan
memahat batu giok yang kekerasannya hampir sama dengan marmer,
359
begitu pula seniman lukis klasiknya sangat mahir melukis dengan media
tinta dengan kuas secara spontan. Seniman ukir dari Jepara dan Bali
sangat trampil dalam memahat kayu. Ketrampilan tinggi dapat dimiliki
jika latihan secara terus menerus. Untuk seni rupa baik dua dimensional
maupun tiga dimesional, teknik awal yang perlu dikuasai adalah teknik
a
b
Gb. 312. Aguste Rodin, Pintu
Neraka (sumber: Paul Zelanski)
c
360
menggambar sketsa, sebab kemampuan sketsa dibutuhkan paling awal
menuangkan gagasan yang muncul dalam benak Aguste Rodin misalnya,
dalam membuat patung yang disebut ‘pintu neraka’, ia terlebih dahulu
membuat sketsa kasar (gb. 312a ) , kemudian membuat model juga
masih samar-samar (gb. 312b) sebelum membuat patung yang
sebenarnya (gb.312c).
3. Unsur dan Pengorganisasian
Aspek penting yang menjadi perhatian dalam melakukan apresiasi
adalah kualitas unsur rupa dan kemampuan seniman dalam meng-
organisasikan unsur tersebut menjadi suatu komposisi. Aspek ini sangat
menentukan setelah kemahiran teknik yang dimiliki oleh seniman, pada
aspek inilah dapat dilihat kepekaan estetik seniman dalam menggunakan
unsur tersebut sebagai ‘bahasa rupa’ dalam me-nyampaikan pikiran dan
perasaannya. Kualitas unsur yang dimaksud adalah bagaimana kualitas
garis, ruang, bentuk, warna, tekstur di-gunakan. Ada yang menggunakan
semuanya, ada yang menggunakan beberapa jenis. Pada seni rupa realis
dua dimensi ditambah dengan unsur gelap terang, pada unsur seni rupa
tiga dimensional ruang menjadi rongga, ada volume dan tekstur yang do-
a b
Gambar 313. (a) Trubus, Putri Indonesia (sumber: Koleksi Presiden Soekarno), (b)
Ahmad Sadali, Bukit Abu-Abu (sumber Indonesian Heritage).
361
minan. Dalam seni rupa dua dimensi yang paling segera nampak dari
bahasa rupa yang digunakan adalah bentuk dan warna.
Kesulitan bagi masyarakat umum dalam mengapresiasi seni non-
figuratif karena kriteria yang biasanya digunakan adalah seni rupa
realistik (gb. 313b), apabila ungkapan seniman dapat menampilkan
sebuah lukisan sama dengan kenyataan itulah yang dianggap seni rupa
yang baik. Sering dari hal ini kita mendengar ungkapan: oh... lukisannya
hidup” maksudnya adalah persis dengan kenyataan empiris sehari-hari.
Bahkan ada mitos pelukis realis yang berhasil apabila melukis kembang,
kupu-kupu pun hinggap pada lukisan tersebut karena dikira kembang
yang sesungguhnya.
Dalam menikmati seni rupa abstrak, sebenarnya itulah ungkapan
bahasa rupa yang murni karena belum dimuati dengan manipulasi optik,
dan tujuan lainnya. Maksudnya warna belum digunakan untuk meng-
gambarkan kulit atau pohon dengan daun dan kembangnya. Warna
berbicara sebagai warna, tekstur sebagai tekstur bukan sebagai tekstur
kulit manusia atau tekstur kulit pohon. Jadi dialog antara unsur rupa
dengan apresiator keberhasilannya tergantung dari kepekaannya
‘memahami’ bahasa rupa tersebut yang tidak dapat diungkapkan secara
bahasa verbal. Memahami bahasa rupa lebih cenderung dengan
perasaan bukan dengan logika atau penalaran seperti kita memahami
kata atau kalimat.
4. Kreativitas
Seniman sebenarnya termasuk manusia kreatif, karena kegiatan seni
yang dilakukannya sarat dengan kegitan kreatif. Tentang kreativitas telah
diuraikan dalam bab VI. Mengacu kepada uraian tersebut maka untuk
melakukan apresiasi salah satunya adalah mengenali aspek kreatif
senimannya. Aspek ini memiliki arti penting dalam seni karena kreativitas
menjadi salah satu bagian dari kegiatan seni. Ada tahap-tahap kreativitas
yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat kemampuan seniman
dalam membuat karya seninya. Menurut Lasy Corporation dari Jerman,
tahap kreativitas mulai dari penguasaan teknik, meniru model, melakukan
inovasi dan akhirnya kreasi. Kreasi adalah kemampuan untuk men-
dapatkan sesuatu yang baru dan orisinal dan hal ini berbeda dengan
inovasi yang sifatnya mengubah yang telah ada menjadi kelihatan baru.
Jadi menurut tahapan ini kemampuan kreatif berada paling akhir dari
proses kreatif. Kreativitas dalam seni rupa ada banyak dimensinya, se-
mua berdasar dari gagasan atau ide yang dapat diterapkan pada setiap
aspek seni rupa misalnya kreatif dalam penggunaan alat dan bahan,
penggunaan warna dan bentuk, atau kreatif dalam penampilan.
362
Agak berbeda dengan pendapat Paul Zelanski, bahwa dalam
melakukan apresiasi ada beberapa tataran yang dilihat yaitu: rasa
(feeling), pendapat kritikus terhadap seniman sebagai pencipta karya seni
yang diapresiasi, kemampuan teknik, ide atau yang ditampilkan dalam
karya seni, sejarah atau periodesasi senimannya. Sering tanpa disadari,
perasaan kita tersentuh ketika menyasikan karya seni misalnya
menyaksikan patung Pieta karya Michelangelo (gb. 87). Pada patung itu
tergambarkan bagaimana kasih seorang ibu terhadap putranya yang
sekarat bahkan telah meninggal dunia dalam pangkuannya. Setiap karya
seni dibuat senimannya tentu dengan menyelipkan suatu ‘rasa’ ke
dalamnya. Rasa tersebut dapat bermacam-macam, mungkin hal ini
setara dengan ekspresi yang dimaksud oleh Herbert Read. Kemampuan
mengungkapkan rasa yang ingin disampaikan oleh sang seniman ter-
gantung dari kemampuannya mengelola unsur seni rupa serta menguasai
penggunaan bahannya. Mengelola unsur seni rupa maksudnya adalah
bagaimana sang seniman mampu menggunakan karakter unsur seperti
garis, bentuk, warna, dan tekstur untuk mewakili perasaannya. Selanjut-
nya bagaimana kemampuan seniman menghubungkan kemampuan
tekniknya menggunakan alat dan bahan dengan karakter unsur sebagai
wakil dari perasaannya. Keberhasilannya adalah terletak dari hubungan
kedua aspek ini.
Selain kondisi emosi, pendapat kritikus tentang seorang seniman dan
karyanya sangat berpengaruh terhadap sikap kita dalam melakukan
apresiasi terhadap suatu karya seni. Tidak ada rumus yang paling tepat
dalam menentukan kualitas baik buruknya karya seni, biasanya orang
cenderung memberi respon negatif terhadap sebuah karya seni yang
baru dan kreatif. Hal ini memerlukan waktu, setelah sekian lama,
kemampuan masyarakat meningkat dalam melakukan apresiasi maka
karya seni ang kreatif itu akan diterima oleh masyarakat luas. Contohnya
kasus Van Gogh dan Jackson Polock, masyarakat kebanyakan bahkan
masyarakat penikmat senipun terkadang memandang karya mereka tidak
bermutu karena keluar dari standar yang sedang berlaku di masyarakat.
Dalam hal ini peran kritikus seni rupa sangat penting untuk mendidik dan
meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan apresiasi dengan
memberi penjelasan tentang nilai-nilai yang disampaikan oleh seorang
seniman kreatif. Dengan demikian peran kritkus seni sangat menentukan
perkembangan apresiasi masyarakat terhadap karya seni. Namun demi-
kian, ada pula sisi negatifnya ketika seorang kritikus berkolaborasi de-
ngan seniman dan kolektor, pendapat sang kolektor dapat menjadi tidak
obyektif. Dapat terjadi pula ketika seorang kritikus menjadi komersial
dengan memasang tarif tinggi kepada sang seniman untuk diangkat
karyanya di media masa. Untuk itu, kejujuran dalam mengungkap kebe-
naran, ketulusan, dan kualitas karya seni rupa menjadi sangat penting
bagi semua pihak yang mencintai dunia seni yang bermutu.
363
Tataran selanjutnya dalam melakukan apresiasi seni menurut Zelanski
adalah keahlian teknik dan desain yang ditampilkan oleh seniman. Hal ini
dibahas dalam bab 3 tentang teknik dan bahan, dan bab 4 tentang
kepekaan estetik. Untuk melakukan apresiasi terhadap sebuah karya seni
rupa pengetahuan tentang teknik dan utamanya tentang kepekaan estetik
sangat diperlukan. Kedua hal ini memiliki hubungan timbal balik, karena
tanpa kematangan teknik sulit untuk mencapai keindahan yang di-
inginkan, begitu pula tanpa kepekaan estetik sulit merealisasikan teknik
yang telah dikuasai.
Ide atau gagasan merupakan satu aspek dalam karya seni yang harus
diketahui, ide ini bukan sekedar tema tetapi menyangkut sesuatu yang
ingin disampaikan oleh senimannya. Untuk mengetahui itu yang di-
perlukan adalah deskripsi dari sang seniman tentang karyanya. Hal yang
terakhir perlu diketahui dalam melakukan apresiasi adalah tentang se-
jarah, atau perkembangan senimannya dalam berkarya, juga mengenai
kehidupan personalnya, dan motivasinya dalam berkarya. Hal ini juga
penting untuk diketahui, sehingga memahami bagaimana sang seniman
sampai pada jenis karya yang dibuatnya. Kadang ada seniman karena
idealismenya tinggi dan motivasi untuk mendapatkan sesuatu yang baru
sangat kuat bergejolak dalam dirinya sebagai titik tolak menciptakan
karyanya maka ia rela meninggalkan semua yang telah dimilikinya.
D. Pendekatan Dalam Melakukan Apresiasi Seni Rupa
Dalam melakukan apresiasi seni rupa ada beberapa pendekatan yang
dapat dilakukan, yaitu pendekatan kritik seni, analitik, dan kognitif.
Ketiganya memiliki cirinya tersendiri.
1. Pendekatan kritik
Pendekatan kritik maksudnya melakukan apresiasi dengan cara kritis,
dalam melakukan kritisi terhadap karya seni ada empat jenis dan tiga
gaya dalam melakukannya.
a. Jenis kritik seni, menurut Feldman ada empat jenis kritik seni yaitu:
Kritik jurnalistik, pedagogik, ilmiah, dan populer.
1) Kritik jurnalistik, merupakan upaya mengulas suatu karya seni
biasanya ketika ada pameran. Ciri-ciri dari kritik jurnalistik ini bahasanya
mudah dimengerti namun ulasannya tidak mendalam tetapi singkat dan
padat. Kritik ini semacam berita dengan ulasan ringan ditujukan kepada
pembaca berita surat kabar dan majalah sebagai informasi tentang
peristiwa seni yang sedang berlangsung dengan tambahan ringkasan
tentang tema yang diungkap dalam karya yang dipamerkan.
Keterbatasan kritik ini karena jangkauannya kepada masyarakat umum
364
bukan masyarakat penggemar seni sehingga tidak menggunakan ulasan
yang mendalam untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat
umum tentang karya seni yang dipamerkan.
Tugas Latihan
Buatlah ulasan singkat sebanyak satu halaman quarto tentang
sebuah pameran seni rupa.
2) Kritik pedagogik, biasanya kritik ini dilakukan oleh guru seni ter-
hadap siswanya dengan tujuan meningkatkan kematangan teknik dan
estetik siswa. Ulasan tidak keras, kriteria tidak terlalu berat tetapi bersifat
mendorong semangat siswa untuk bekerja dan belajar meningkatkan
prestasinya. Tugas utama guru dalam memberikan kritik terhadap karya
siswa adalah dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan siswa dalam hal
teknis dan estetiknya, dan mengarahkan siswa berdasarkan bakat dan
kemampuannya yang tepat. Dalam hal ini guru dituntut memiliki kepeka-
an estetik yang lebih dibanding siswanya dan memberikan bimbingan
selama dalam proses berkarya dan memberi kesimpulan pada akhirnya.
Tugas Latihan
Bersama dengan teman, diskusikan karya seni rupamu secara
bergantian, menyoroti masalah teknik, kualitas unsur seni rupa dan
komposisinya.
3) Kritik ilmiah atau akademis, jenis kritik ini menampilkan analisis
yang mendalam dengan data-data lengkap dan hasil evaluasi yang dapat
dipertanggung jawabkan. Kegunaan kritik ini adalah penyelidikannya
terhadap prestasi artitistik baik seni tradisional maupun kontemporer.
Kritik ini paling dapat mendekati tentang apa yang dimaksud oleh
senimannya dalam menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam karya
seni. Kritik ini termasuk pendekatan analitik dengan tahapan-tahapan
yang harus dilaluinya.
Tugas Latihan
Carilah informasi tentang seorang seniman di daerahmu atau dekat
tempat tinggalmu, informasi meliputi riwayat hidupnya dan tenik
berkaryanya, atau seniman ternama lainnya di tingkat nasional.
365
4) Kritik populer, jenis kritik seni rupa ini dapat dilakukan oleh setiap
orang yang tertarik dalam bidang seni. Hasil kritik berbeda-beda sesuai
dengan perhatian dan intensitas lingkungan individu masing-masing,
namun kecendrungan secara keseluruhan populasi dalam menentukan
kualitas seni ditentukan oleh pendapat mayoritas. Sebagaimana halnya
kontes menari dan menyanyi di televisi penilaian dilakukan pula oleh
publik, namun yang menentukan adalah kombinasi antara pendapat
publik dan profesional judgement oleh juri.
Tugas Latihan
Buatlah sebuah ulasan bebas sepanjang satu halaman kwarto
tentang karya seni berikut ini !
Gambar 314 . Manaise Manipik, Good Spirit, bahan tulang ikan paus (sumber: Paul
Zelanski).
b. Gaya kritik seni, dalam melakukan kritik ada gaya atau tipenya.
Menurut Sudarmaji, dalam melakukan kritik seni dapat dilakukan melalui
tiga tipe atau gaya yaitu: kontekstual, Intrinsik, dan komparatif.
1) Kontekstual, melakukan kritik secara kontekstual berarti tidak
hanya menggunakan kriteria estetik, juga dipertimbangkan norma-norma
366
yang berlaku di masyarakat yang berhubungan dengan moral, psikologi,
sosiologi, dan religi. Oleh sebab itu dalam melakukan kritik perlu mem-
pertimbangkan apakah sebuah karya seni patut di gelar di depan umum
sementara masyarakatnya sangat religius, apakah tidak menyinggung
perasaan masyarakat dan sebagainya. Misalnya Affandi banyak meng-
ambil tema kerakyatan terutama masyarakat kelas bawah, berarti secara
kontekstual Affandi peduli dengan kondisi masyarakat yang masih dibelit
oleh kemiskinan. Jadi kritik dalam hal ini dilakukan dari beberapa sudut
pandang yang terkait dengan seni.
Tugas Latihan
Buatlah sebuah ulasan tentang sebuah karya seni rupa , coba
hubungkan karyanya dengan masyarakat sekitar tempat tinggalnya
apakah ada hubungannya secara visual, atau ekspresinya
mengandung unsur-unsur masyarakat sekitarnya atau hubungkan
dengan sistem kepercayaannya /agamanya.
2) Intrinsik, gaya kritik ini dapat dikatakan murni untuk kepentingan
estetik, karena yang diulas terfokus kepada nilai estetikanya tanpa dibe-
bani dengan hal lain. Nilai-nilai estetik yang terkait meliputi kemahiran
teknik dalam menggunakan alat dan bahan, kemahiran dalam menyusun
elemen-elemen estetik yang menjadi harmoni dan kesatuan dalam
sebuah karya yang utuh.
3) Komparatif, kritik dilakukan dengan membandingkan karya
seorang seniman dengan seniman lain, karya seniman dengan daerah
asalnya, dengan teman sejawatnya atau dengan karya seni suatu kelom-
pok masyarakat. Misalnya karya Van Gogh dibandingkan dengan karya
cukilan kayu Jepang, karya Picasso dengan patung Afrika atau dengan
temannya George Braque yang sama-sama mengembangkan kubisme.
Karya Kartika dengan Affandi sebagai bapak dan gurunya. Dengan
membandingkan dapat diketahui posisi dan kualitas karya seorang
seniman.
Tugas Latihan
Susunlah ulasan sepanjang satu halaman kwarto tentang sebuah
karya seni rupa berikut ini, amati dan ulaslah tentang kualitas teknik
dan kualitas unsur-unsur yang digunakannya.
367
Gambar 315. Lee Man Fong, Menenun , konte, pastel kapur
(sumber: Koleksi Presiden Soekarno).
Tugas Latihan
Bandingkanlah kedua karya seni rupa/lukisan berikut ini, dari sisi
gaya, teknik, dan kualitas unsur-unsurnya (garis, bentuk, warna,
tekstur) dan kualitas ekspresinya !
2. Pendekatan Analitik
Pendekatan analitik dikembangkan oleh Feldman dan Plummer, pen-
dekatan ini merupakan suatu cara melakukan apresiasi dengan melaku-
kan analisis terhadap sebuah karya seni rupa dilihat dari beberapa sudut
pandang dan tahapan yakni sebagai berikut.
a) Deskripsi
Deskripsi merupakan kegiatan awal dari apresiasi, yaitu mengenal dan
menemukan segala informasi tentang karya yang diapresiasi, misalnya
identitas senimannya, keterampilan teknik dan bahan yang digunakan,
konsep penciptaan, tema yang ditampilkan yang tidak nampak secara
kasat mata. Untuk menemukan identitas seniman jika senimannya masih
hidup dilakukan dengan wawancara langsung jika memungkinkan, jika
seniman sudah meninggal dunia dapat dilakukan studi dokumen selama
368
b
a
Gambar 316 . (a) Sudjojono, Dibalik Kelambu Terbuka, (b) Lee Man-Fong, Wanita
Jepang (sumber: Koleksi Presiden Soekarno)
ia masih hidup dan melakukan wawancara dengan keluarga terdekat dan
teman-teman dekatnya. Tujuan mendapatkan identitas seniman adalah
guna mendapatkan gambaran secara utuh tentang kepribadiannya yang
tentunya mempengaruhi secara fisik karakter ciptaannya. Selanjutnya
untuk mendapatkan informasi tentang teknik dan bahan yang digunakan
dapat diamati secara langsung, dan jika ada yang meragukan dapat pula
dilakukan observasi langsung ke studio tempat sang seniman bekerja,
jika diijinkan mengamati langsung ketika ia sedang dalam proses me-
ngerjakan karya seninya. Melihat studionya secara langsung sehingga
mendapat gambaran lengkap tentang cara kerja sang seniman dan ini
menambah nilai obyektivitas dalam melakukan analisis karyanya. Me-
mang ada seniman yang tidak senang diamati ketika sedang dalam
proses bekerja dan ini tergantung dari kepribadian senimannya. Misalnya
Affandi, ketika melukis di depan umum ia tidak peduli dengan orang di
sekitar yang menontonnya. Untuk mendapatkan hal-hal yang tidak kasat
mata, seperti konsep penciptaan, tema yang ditampilkan perlu melakukan
studi dengan wawancara kepada senimannya atau membaca katalognya
jika ada. Dari data dan infromasi yang telah di dapat kemudian dilanjut-
369
kan analisis terhadap karya yang dibuatnya. Kegiatan seperti ini terma-
suk studi mendalam, bagaimana jika hanya kebetulan melihat pameran,
bagaimana mau melakukan apresiasi? Dalam kondisi yang demikian
deskripsi yang dilakukan adalah dengan melihat langsung karya yang
dipamerkan dan menelusuri konsep-konsep yang dikemukakan melalui
katalog pamerannya.
Karya-karya figuratif tidak terlalu sulit untuk dideskripsikan (gb. 315
dan, 316), namun karya-karya dengan penampilan non-figuratif (gb.313b)
memerlukan kecermatan dalam mendeskripsikan secara kasat mata,
namun yang dapat dilakukan adalah mendeskripsikan kondisi fisik dari
unsur-unsurnya, prinsip-prinsipnya namun belum sampai kepada pe-
nilaian seperti komposisinya tidak seimbang, yang dapat dilakukan pada
tahap ini adalah menjelaskan warna yang diaplikasikan, garis-garis yang
digunakan (jika ada). Kemudian menjelaskan tentang teknik hanya men-
ceritakan bagaimana sapuan kuasnya, bagaimana cara membuat tekstur
dan sebagainya. Jika mengatakan teksturnya terlalu kuat maka itu telah
sampai kepada evaluasi. Dengan demikian sebenarnya pada tahap
deskripsi menurut Feldman ada dua hal yang dikerjakan yaitu pertama
mendapatkan temuan terhadap apa yang dapat dilihat dalam sebuah
karya, kedua deskripsi teknis yakni uraian bagaimana karya tersebut
dibuat.
b
Gambar 317. (a) G.Sidharta, Lahirnya Seorang Dewi, (b) Irianti
Marmaya, Tujuh Bidadari.
a
Dalam mendeskripsikan karya Marc Chagall The Green Violinist,
deskripsi visual dapat digambarkan apa adanya tentang bentuk, warna,
komposisi, namun sulit mendapatkan latar belakang ide penciptaannya
karena tidak ada katalognya. Sebagai gantinya harus mencari informasi
370
melalui buku-buku yang menceritakan tentang Marc Chagall untuk dapat
mendeskripsikannya. Mendeskripsikan karya Marc Chagall ini nampak-
nya yang menonjol adalah menyangkut tentang bentuk yang unik ditam-
pilkan dalam lukisan seperti baju pemain dilukiskan tidak seperti biasanya
karena dilukiskan patah-patah. Lalu muka pemain biola hijau begitu pula
tangan kanannya, sedang tangan kirinya berwarna krem. Hal unik lainnya
yang dideskripsikan adalah tentang celana, baju, dan rumah-rumah
sebagai latar belakang ditempatkan di bagian bawah dan bagian atas.
Dalam latar belakang juga ada binatang, manusia dan posisi manusia di
atas melayang, lalu warna dominan latar belakang.
Untuk analisis dapat mulai dari kualitas unsur visualnya seperti
bentuk, warna, ruang dan tekstur. Kemudian diuraikan tentang kenapa
visualisasi baju yang dikenakan digambarkan patah-patah, apa yang
mempengaruhi Marc Chagall dalam visualisasinya? Bagaimana ia me-
nyusun bentuk dan warna sehingga menjadi seimbang, dan keseim-
bangan apa yang digunakannya. Untuk analisis memang dibutuhkan
pengetahuan mengenai kehidupan pelukisnya, bagaimana pandangan-
nya tentang melukis, ia hidup dimana, siapa pelukis lain yang dikagumi,
dan sebagainya. Dengan data-data tersebut analisa dapat lebih
mendetail. Jika tidak ada referensi kita hanya dapat melakukan analisis
sampai dipermukaan, kemudian interpretasinya mungkin berbeda dengan
apa yang dimaksud oleh sang pelukis. Untuk hal ini uraian berikut adalah
contoh tentang aspek analisisnya.
b) Analisis
Dalam melakukan analisis yang dilakukan adalah menemukan kualitas
estetik unsur-unsur yang digunakan, hubungan-hubungan antar unsur
yang disusun, kesesuaian konsep dengan ungkapan visualnya.
Bagaimana kualitas garis, bentuk, warna dan tekstur, dan bagaimana
unsur-unsur itu disusun hinga menjadi suatu susunan kesatuan yang
harmonis. Untuk hal ini perlu merujuk kepada bab IV tentang persepsi
estetik. Sebagai misal The Green Violinist, Marc Chagall ( gb. 318)
melukis mural untuk Moscow’s Jewish Theatre. Sesuai dengan konteks-
nya hampir semua image yang diungkapkan menyangkut masalah musik.
Secara keseluruhan komposisi bentuk disusun berdasarkan kese-
imbangan vertikal dengan tipe asimetris. Image utama pemain biola
dominan di tengah sebagai latar depan (fore ground). Ungkapan visual
tidak konvensional karena muka pemain biola dan telapak tangan peng-
gesek biola diberi warna hijau, ungkapan baju jas pemain menggunakan
pola geometris kubismedigambarkan dengan bidang patah-patah, kaku
dan keras dengan warna ungu. Celana panjang kotak-kotak, yang
sebelah kiri kotaknya digunakan sebagai jendela bangunan bertingkat.
Sepatunya, satu berwarna hitam dan satunya berwarna krem, ini
371
merupakan keunikan visualisasi yang mungkin dipengaruhi oleh cara
ungkapan kaum surealisme. Sebagai latar belakang bagian bawah meng-
Gambar 318. Marc Chagall, The Green
Violinist (sumber: Ingo F. Wakther)
gambarkan lingkungan perumahan begitu pula bagian atas sehingga
pembagian bidang vertikal dapat dikurangi kesan memanjang ke atas.
Sebagai aksen-aksen kecil dibawah ada kepala binatang mungkin keledai
menegadah ke atas. Untuk mengimbangi biola terlalu ke depan di-
belakang pemain biola ada gambar manusia kecil seperti memegang
gitar, di bagian atas di awan dengan warna kelabu hitam dan putih ada
manusia melayang, semua obyek di latar belakang warnanya tidak
sekuat warna subyek utama, warna tanah putih seakan menggambar-
kan suasana musim dingin karena dominan warna putih salju, areal
perspektif diterapkan dengan baik dan fokus perhatian sangat kuat pada
pemain biola.
372
c) Interpretasi
Untuk melakukan interpretasi hal yang perlu diungkap adalah tentang
‘makna’ yang terkandung dalam sebuah karya seni. Dalam hal ini ada
dua hal yaitu makna fisik (fisikoplastis) dan makna yang ada di balik
penampilan fisik tersebut (ideoplastis) sebagai hal yang sulit jika tidak
dapat data yang lengkap. Secara fisik, lukisan Chagall dapat diungkap
gaya dan pengaruh yang ada dalam karyanya serta bagaimana ia
menyusun image-imagenya. Kemudian tentang makna yang terkandung
dalam karya betul-betul memerlukan interpretasi dari ungkapan kualitas
fisiknya jika tidak ada data tentang latar belakang penciptaannya. Dari
analisis yang dilakukan ungkapan visual Marc Chagall dipengaruhi oleh
kubisme dan surealisme. Pengaruh kubisme nampak jelas pada bagian
jas, baju dan celana panjang sebelah kanan (gb.319a), kemudian
surealisme pada penempatan bentuk-bentuknya secara keseluruhan
(gb.319 b,c) dengan keseimbangan vertikal untuk mendapatkan harmoni
dan kesatuan (gb.319d). Untuk makna dibalik penampilan fisiknya
(ideoplastisnya) dapat mengacu kepada judulnya, yang diungkap adalah
seorang pemain biola. Kemungkinan interpretasinya adalah bahwa
Chagall senang memainkan biola atau ia mengagumi pemain biola dalam
suatu pertunjukkan di musim dingin. Warna hijau pada muka pemain
mungkin tidak memiliki makna simbolik tertentu tetapi hanya ungkapan
puitis Chagall untuk mendapatkan estetika yang berbeda daripada mem-
berikan warna literal apa adanya. Kemudian image manusia melayang di
latar belakang dapat memiliki arti kias ketika ia mendengarkan suara
biola yang merdu atau hanya mengungkapkan suatu keanehan dalam
mendukung komposisinya. Warna ungu pada jas pemain dapat juga
berarti kias tentang perasaan sang pemain atau perasaan Chagall ketika
menghayati kehidupan sang violinist.
d) Judgement
Menurut Feldman kita tidak dapat melakukan judgement jika belum
sampai kepada interpreatasi tentang karya yang dianalisis. Judgement
merupakan suatu kegiatan dalam menentukan tingkat nilai baik dan buruk
sebuah karya seni. Untuk melakukan ini informasi dari kegiatan se-
belumnya sangat diperlukan. Menurut Feldman ada dua hal yang penting
dalam menentukan kualitas karya seni yaitu tujuan seniman dalam
membuat karya dan keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut
sehingga yang menentukan adalah aspek teknik dalam meng-ungkapkan
gagasannya secara estetik, perbandingan secara historis dengan seni
yang sejenis, dan keaslian atau originalitas. Dalam kasus Chagall tidak
dapat diragukan kemampuan tekniknya walaupun ia mendapat pengaruh
kubisme dan surealisme untuk mendukung ekspresi estetiknya, namun
orisinalitas gagasannya tidak dapat ditandingi oleh seniman di masanya.
Jadi kesimpulan dari karya Chagall ini adalah baik.
373
b
a
d
c
Gambar 319 . Analisis karya Chagall The Green Violinist: (a) Analisis pengaruh kubisme,
(b, c) analisis ungkapan surealisme, (d) analisis komposisi dan keseimbangan.
Tugas Latihan
Coba analisa karya seni berikut ini dengan pendekatan analitik,
mulai dari mendeskripsikan, analisis, interpretasi hingga judgement.
Buatlah analisis sepanjang empat halaman folio.
3. Pendekatan Kognitif
Pendekatan ini dikembangkan oleh Michael Parson, dalam penjelas-
annya setiap orang berbeda dalam memberikan respon terhadap karya
seni karena tergantung dari perkembangan kognitifnya yang berhubung-
an dengan karya seni. Ia membedakan lima tingkat kemampuan melaku-
kan apresiasi dan kadang masing-masing tingkat overlaping satu dengan
lainnya sehingga menjadi sangat rumit, tetapi kalau dicermati ada hal-hal
penting yang dapat dipelajari. Namun sebelumnya ia menjelaskan
tentang empat aspek dalam karya seni dan keempat aspek itu ada dalam
masing-masing tahap. Keempat aspek tersebut meliputi subyek; ekspresi;
medium, bentuk dan gaya; judgement.
Subyek yang dimaksud adalah sesuatu yang diekspresikan dalam
bentuk karya seni, dapat kasat mata, dapat pula abstrak. Contohnya:
anjing, kucing, manusia adalah kasat mata; bahagia, sedih adalah
abstrak. Subyek ini ada terutama pada tahap kedua dan ketiga seperti
obyek keindahan berupa bunga, binatang, dan pemandangan. Realisme
374
mengenai image dalam karya seni rupa merupakan gambaran nyata
sebagai hal utama dan juga kemampuan teknis dalam menggarap bahan
menjadi karya yang nampak relaistik.
Ekspresi dalam karya seni tercermin dari tampilannya, pada tahap
pertama menyangkuta masalah pikiran, perasaan dan prilaku, meliputi
perasaan gembira, sedih, marah dan lain-lainnya. Pada tahap kedua ter-
cermin tentang pengungkapan perasaan, menghubungkan seniman
dengan lukisannya, serta konsep tentang ekspresi senimannya dan tahap
ketiga mengenai subyektivitas, ekspresi individual dan interpretasi. Tahap
keempat mengenai ekspresi adalah kebenaran interpretasi, dan publisitas
karya seni.
Medium, bentuk, dan gaya; medium adalah benda-benda yang
digunakan seniman dan dilihat oleh apresiator berupa cat, kertas, batu,
kayu, logam dan sebagainya. Bentuk mencakup unsur yang disusun
berupa komposisi, dan gaya merupakan kesamaan artikulasi dari bebe-
rapa karya seni. Aspek ini dimulai dari tahap kedua hingga keempat.
Aspek judgement terdiri dari dua hal yaitu kriteria untuk menilai karya
seni dan apresiator sebagai penilai, aspek ini dimulai dari tahap kedua
hingga kelima.
Lebih detail mengenai tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.
a) Favoritisme
Tahap ini disebut pula tahap pertama, karakteristik utama tahap ini
adalah refleksi intuitif yang sifatnya subyektif sangat kuat terhadap karya
seni. Terutama terhadap susunan warna, apresiator mengerti bahwa
karya seni memiliki makna tetapi tidak mengetahui secara pasti, secara
psikologis tahap ini tidak mempedulikan pendapat orang orang lain,
dalam hal estetik karya seni terutama lukisan merupakan obyek yang
menyenangkan baik figuratif maupun non-figuratif. Ungkapan-ungkapan
yang sering ada pada tahap ini seperti “saya suka warnanya” atau “ saya
suka bentuknya seperti anjing” tanpa memandang lukisan itu secara
teknik dan estetik baik atau buruk.
b) Keindahan dan realisme
Tahap ini adalah tahap kedua, yang menonjol cirinya adalah tentang
subyek dalam karya seni, representasi yang ditampilkannya. Karya seni
yang baik adalah jika merepresentasikan sesuatu dan realistik yang
menampilkan emosi subyeknya seperti tersenyum, sedih, dan gerakan.
Secara psikologis tahap ini menghargai pendapat orang lain, dan secara
estetik tahap ini menyadari adanya sesuatu yang dilukiskan pada karya
seni secara realistik. Ungkapan-ungkapan yang sering dilontarkan dalam
tahap ini seperti “lukisannya seperti sunguhan’, atau “ini sangat sesuai
375
dengan aslinya”. Jadi tahap ini menyangkut tentang karya seni sebagai
suatu yang dapat dinikmati oleh penggambarannya yang menyenangkan
perasaan. Tahap kedua ini responsi terhadap karya seni adalah seputar
penggambaran perasaan dari setiap bentuk dan menghubungkan satu
dengan lainnya. Menghubungkan karakter seniman dengan karya
seninya, seniman punya motif dan alasan untuk menciptakan karya seni.
c) Ekspresi
Pada tahap ini ada kesadaran tentang ekspresi yang diungkapkan
dalam karya seni yaitu adanya perasaan senimannya atau pengalaman
rasa apresiatornya. Sehingga tahap ini beranggapan bahwa tujuan karya
seni adalah untuk mengekspresikan pengalaman seseorang, keindahan
subyeknya menjadi yang kedua. Kreativitas, keaslian, kedalaman rasa
adalah sangat dihargai. Secara psikologis tahap ini lebih maju dalam
mengalami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan, dan secara estetik
tahap ini menyadari adanya hal yang tidak relevan dengan keindahan
subyek karena yang dicari adalah kualitas ekspresi karya yang
ditampilkan. Ungkapan-ungkapan yang sering terdengar pada tahap ini
misalnya, “lihat distorsi bentuknya sangat kuat mengungkapkan perasaan
senimannya” atau “sapuan kuasnya sangat tepat mengekspresikan gerak
subyeknya”. Pada hakekatnya tahap ini menyangkut tiga hal yaitu:
pertama tentang subyektivitas, bahwa karya seni harus dipahami secara
mental karena karya seni mengandung pemikiran, emosi yang sifatnya
subyektif. Kedua adalah ekspresi individu, oleh karena itu karya seni
dipahami secara individual agar mengetahui apa yang dikasud oleh
senimannya. Ketiga adalah interpretasi, yaitu hubungan timbal balik
seniman dan apresiatornya dengan media karya seni. Dalam hal ini
apresiator mengalami apa yang dialami oleh senimannya berupa ekspresi
yang ada dalam karya seni.
d) Gaya dan bentuk
Memasuki tahap ini karyas seni bukan lagi bersifat individual, tetapi
lebih bersifat sosial. Tahap ini membicarakan tentang karya seni dari
segala aspeknya mungkin tekniknya, bentuk-bentuknya, apresiator
berbincang satu dengan lainnya mebahas dan menginterpretasikan karya
seni yang mereka saksikan. Makna karya seni terangkat oleh apa yang
diperbincangkan oleh kelompok-kelompok apresiator dan ini melebihi
makna yang diinterpretasikan oleh individual. Secara psikologis hal ini
lebih rumit dibandingkan mendapatkan makna secara individual, dan
individu kadang mendapatkan makna dari membaca beberapa
interpretasi tentang karya yang dinikmati dan melihat bagaimana masing-
masing interpretasi memaknainya. Secara estetik apresiator
mendapatkan makna karya seni dari media yang digunakan, bentuk dan
gayanya dan mampu membedakan makna literal yang ada pada subyek
376
karya seni dengan makna apa yang dicapai dalam karya tersebut dan
mengidentifikasi gayanya dengan menghubungkannya secara historis.
Selain itu tahap ini menganggap ulasan karya seni dapat menuntun
persepsi dan melihat evaluasi karya seni sebagai hal yang obyektif.
Ungkapan-ungkapan yng sering terlontar seperti: “ Lihat kesedihan dalam
ungkapan warna dan tarikan garisnya” atau “bentuk-bentuk dan warna
lukisan ini mengingatkan kepada kaum kubisme” Dalam tahap ini
kebenaran interpretasi dapat dilakukan melalui dialog dan membanding-
kannya dengan pendapat orang lain dan karya seni yang diapresiasi,
kualitas karya seni tidak dilihat secara subyektif tetapi melalui pendapat
kolektif.
e) Otonomi
Pada tahap ini apresiator secara mandiri membuat judgement
terhadap karya seni dan menyesuaikan kriterianya dengan perkembang-
an zaman. Pengalaman sangat menentukan untuk melakukannya.
Selanjutnya, menurut Soedarso ada tiga pendekatan apresiasi yaitu
aplikatif, kesejarahan, dan problematik.
4. Pendekatan Aplikatif
Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman tentang
karya seni melalui keterlibatan langsung membuat karya seni.
Pendekatan ini sangat efektif karena sang apresiator dapat menghayati
langsung dan mendalam bagaimana liku-liku penciptaan karya seni.
Bagaimana kesulitan menggunakan alat dan bahan, bagaimana menda-
patkan warna dan bentuk yang harmonis. Misalnya untuk apresiasi
wayang, apresiator membaca cerita lalu memilih tokoh wayang dan
kemudian membuatnya. Jadi dengan metode learning by doing memberi
kesempatan kepada apresiator secara aktif mengalami hingga
menghayati proses penciptaan karya seni.
Tugas Latihan
Pilih sebuah jenis karya seni etnis Indonesia, dapat batik, keris, atau
wayang. Temukan informasi tentang seni tersebut, ambil sebuah
contoh karyanya, kemudian cobalah menirunya dengan seksama.
5. Pendekatan Kesejarahan
Pendekatan kesejarahan merupakan pengembangan apresiasi seni
melalui penelusuran sejarah perkembangan seni, dari periode ke periode,
lahirnya seni mengikuti perkembangan masyarakat. Dengan pendekatan
377
ini apresiator akan lebih dapat memahami suatu karya seni misalnya
tentang cerita wayang lakonnya diambil dari mana dan apa isi ceritanya,
lalu tentang batik kenapa batik pedalaman seperti Yogya dan Surakarta
lebih gelap dibanding batik pesisiran di Pekalongan. Kemudian per-
kembangan seni di Indonesia mulai dari zaman prasejarah hingga saat ini
kenapa begitu bervariasi. Dengan mengetahui proses perkembangan
seni dapat memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang karya
seni. Kemudian hal ini juga dapat diterapkan kepada seniman secara
individu, misalnya perkembangan teknik melukis Affandi dari realisme
hingga ekspresionisme dengan menggunakan teknik plototan.
Pendekatan kesejarahan tidak pula dapat lepas dari pendekatan
sosiologis jika ingin mengetahui perkembangan seni suatu kelompok
masyarakat, dalam tataran individu tidak dapat lepas dari pendekatan
psikologis dan biografis.
Tugas Latihan
Buatlah sebuah uraian sepanjang dua halaman folio tentang
perkembangan sebuah seni rupa. Pilih perkembangan seni rupa
suatu masyarakat, atau perkembangan seni rupa dari individu
seniman.
6. Pendekatan Problematik
Dengan pendekatan ini seni dipahami melalui pemahaman makna dan
pencarian jawaban seputar seni; seperti makna seni, hubungan seni
dengan keindahan, seni dan ekspresi, seni dengan alam, fungsi seni rupa
bagi kehidupan manusia, jenis seni rupa, gaya dalam seni rupa dan
sebagainya. Dengan pendekatan ini apresiator dapat lebih holistik (utuh
dan luas) memahami seni. Misalnya tentang problem kenapa manusia
membutuhkan seni ? Apa peran seni dalam kehidupan manusia dan
seterusnya. Kelemahan pendekatan ini terlalu teoritis, namun demikian
untuk mengurangi kejenuhan teori dapat dilakukan variasi dengan alat
peraga visual dan variasi tugas untuk didiskusikan.
Tugas Latihan
Susunlah karya tulis sepanjang dua halaman folio dengan topik
sebagai berikut.
- Makna seni rupa dalam kehidupan sehari
- Perbedaan keindahan seni dan keindahan alam
- Jenis-jenis seni rupa tradisional dan fungsinya
378
7. Pendekatan Semiotik
Seni rupa merupakan karya manusia yang penuh dengan tanda dan
makna, untuk mengungkapkannya dapat dilakukan melalui pendekatan
semiotika. Menurut Aart van Zoest istilah semiotika berasal dari bahasa
Yunani semion yang berarti tanda, yang saat ini menjadi cabang ilmu
yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan tanda. Semiotika sangat kental dengan masalah
bahasa verbal sebagai media komunikasi, namun dalam perkembangan-
nya penggunaannya merambah ke berbagai bidang ilmu termasuk seni
rupa. Oleh karena seni rupa pada dasarnya berupa tanda dan media
komunikasi non-verbal, maka pendekatan semiotika dapat digunakan
untuk keperluan analisis bahasa visual yang ada pada seni rupa.
Ada dua orang tokoh terkenal sebagai perintis semiotika, yaitu
Ferdinand de Sausure dari Perancis dan Charles Sanders Peirce dari
Amerika. Teori semiotika Sausure berangkat dari bahasa sedang Peirce
memulainya dari logika. Dalam pembahasan ini semiotika Peirce diguna-
kan untuk melakukan analisis seni rupa terutama dalam hal identifikasi
klasifikasi tanda dengan ciri-cirinya. Dalam perkembangan selanjutnya
Marco de Marinis melakukan penelitian selama delapan tahun tentang
semiotika seni pertunjukan yang mengurai lapisan-lapisannya sehingga
dapat pula digunakan sebagai model analisis karya seni rupa secara
tekstual, dan hal ini tidak jauh dengan properti-properti yang ada dalam
estetika.
Penggunaan tanda dalam seni rupa sangat banyak, berkaitan dengan
itu menurut Peirce analisisnya meliputi ide, objek, dan makna. Ide dapat
dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang
terdapat dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu. Tanda
merupakan kajian pokok dalam semiotika. Sesuatu agar dapat berfungsi
sebagai tanda memiliki beberapa ciri, yaitu harus dapat diamati, dapat
difahami, representatif, interpretatif, dan memiliki latar (ground) berupa
perjanjian, peraturan, dan kebiasaan yang dilembagakan yang disebut
dengan kode. Kiranya seni rupa memenuhi ciri-ciri tersebut.
Gambar 320. Garis, bentuk dan warna sebagai tanda dalam seni rupa
Guna menelaah tanda, Peirce mengklasifikasikan tanda menjadi tiga,
yaitu berdasarkan sifat ground-nya (latarnya), berdasarkan relasi dengan
denotatum-nya, serta berdasar interpretant-nya. Pembagian tanda
379
berdasar latarnya ada tiga jenis yaitu qualisign, sinsign, dan legisign.
Qualisign merupakan suatu tanda berdasarkan suatu sifat misalnya
warna cat agar berfungsi sebagai tanda harus diberi bentuk dan disusun
berdasar suatu pedoman. Selanjutnya seni rupa jika dilihat dari
sinsignnya, yaitu sebagai tanda berdasar atas tampilannya, misalnya
untuk mengenal apakah sebuah wujud disebut gambar atau lukisan,
dapat dilihat dari unsur-unsur yang ada pada wujud tersebut menurut
kriteria yang disepakati dalam masyarakat. Hal ini berkaitan dengan
legisign, yaitu bentuk tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku
umum dalam lingkungan budaya tertentu berlaku sebagai konvensi, atau
sebagai kode.
Mengenai hubungan tanda dengan denotatum-nya atau objeknya
dibedakan menjadi tiga. Pertama ikon, yaitu sesuatu yang berfungsi
sebagai penanda mirip atau serupa dengan bentuk objeknya atau
denotatumnya, misalnya dalam sebuah lukisan ada bentuk matahari,
bulan, rumah, dan sebagainya. Kedua indeks, yaitu tanda yang berfungsi
sebagai penanda yang mengisyaratkan adanya petanda atau tanda yang
menandakan adanya tanda lain. Langit mendung sebagai tanda akan
hujan, badan lesu menandakan kurang sehat. Dalam seni rupa misalnya
warna cerah sebagai indeks suasana hati senimannya ceria sebaliknya
indek kesedihan adalah warna-warna suram dan kusam. Pada gambar
(309), tiga buah lukisan Picasso memiliki indeks bahwa lukisan tersebut
menggambarkan kemurungan, dan kesedihan yaitu pose subyek
menggunakan skematik garis melengkung. Ketiga adalah simbol, me-
rupakan hubungan yang telah dibentuk secara tradisional dan lazim di
masyarakat serta tergantung dari suatu aturan yang berlaku umum agar
pengguna siimbol mengetahui arti yang terkandung di dalamnya. Simbol
memiliki sifat arbitrer dalam hubungannya antara objek dengan
rujukannya. Misalnya dalam seni rupa bentuk dan warna dapat bersifat
simbolik hal ini tergantung dari maksud senimannya menggunakan unsur-
unsur sebagai media ungkapnya, sehingga pendekatan semiotik dapat
pula mencakup pendekatan simbolik.
Selanjutnya hubungan antara tanda dengan interpretant-nya dibedakan
menjadi tiga dan berguna dalam melakukan interpretasi terhadap tanda
yang dianalisis. Pertama, suatu tanda adalah rheme bila dapat diin-
terpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan denotatum
yang belum jelas dan menjadi jelas sebagai denotatum jika tanda ter-
sebut diberi predikat denotatum. Misalnya dalam kalimat ‘faktor penentu
keberhasilan adalah x’ jika x tersebut diganti dengan kata ‘ketekunan’
barulah denotatumnya dapat diinterpretasikan.
380
Tabel 5 . Model Analisis Trikotomi Tanda
Analisis Sintaksis
Kebermaknaan Hubungan Tanda
Tanda Ground: dasar, latar Denotatum: Interpretant:
sehingga tanda apa yang interpretasi arti
disebut sebagai dirujuk oleh akibat dari latar
tanda. tanda. dan denotatum.
Qualisign ( sifat tanda Icon ( kemiripan
Makna Pertama Rheme
perlu wadah): tanda dengan (kemungkinan-
- sifat unsur yang dirujuk kemungkinan
- prinsip komposisi - patung arti timbul oleh
binatang denotatum
- gambar wajah tertentu):
- judul karya seni
Sinsign (tampilan Index ( tanda Decisign ( arti
Makna Kedua
khas tanda): sebagai tanda dengan
- unsur digunakan petunjuk): kepastian):
khusus oleh seniman - tanda khusus - ciri khusus
sehingga menjadi ciri yang yang memberi
khasnya menunjukan ciri kepastian karya
karya seorang seniman tertentu
seniman
Legisign:(penggunaan Symbol (tanda Argument (arti
Makna Ketiga
tanda menjadi sebagai tanda berlaku
kebiasaan, representasi): umum):
peraturan): - Image yang - semua seni
- seorang seniman digunakan oleh rupa
yang telah memiliki seniman mengandung
ciri khas selalu sebagai media unsur rupa,
menggunakan tanda ungkapannya semua seniman
yang mirip dengan seni rupa
tanda sebelumnya menggunakan
unsur rupa
dalam berkarya.
Analisis Semantik
denotatum yang belum jelas dan menjadi jelas sebagai denotatum jika
tanda tersebut diberi predikat denotatum. Misalnya dalam kalimat ‘faktor
381
penentu keberhasilan adalah x’ jika x tersebut diganti dengan kata
‘ketekunan’ barulah denotatumnya dapat diinterpretasikan.
Dalam seni rupa (lukisan, patung) dapat dilihat unsur pembentuknya
seperti tema atau judul sehingga karya seni rupa itu memiliki nama
tertentu, misalnya dua penari, guernica, rakit medusa karya seni lukis itu
menunjukkan kepada dua orang penari, kondisi akibat perang untuk
guernica dan kecelakaan laut untuk rakit medusa. Kedua, tanda sebagai
decisign atau decentsign. Dalam hal ini tanda memberikan informasi
tentang denotatumya. Misalnya, dalam analisis seni rupa, dapat diper-
hatikan apakah unsur-unsur yang digunakan telah sesuai dengan apa
yang diungkapkan dalam katalog, misalnya dalam katalog diuraikan
tentang tujuan seniman adalah untuk mengungkapkan kondisi sosial
masyarakat yang masih dililit oleh kemiskinan. Kemudian dalam
ungkapan karyanya apakah mencer-minkan hal itu, jika kemiskinan tanda
yang digunakan berupa pemandangan yang indah, gadis cantik denga
warna cerah maka terjadi kesalahan hubungan tanda dengan
denotatumnya. Ketiga, hubungan tanda dengan interpretannya sebagai
sesuatu yang berlaku umum dan mengandung kebenaran disebut
sebagai argument. Penerapannya dalam analisis seni rupa yang
menggunakan banyak tanda visual adalah bagaimana tanda-tanda itu
dalam ruang lingkup umum yang berlaku dalam lingkungan masyarakat.
Misalnya semua lukisan yang menggunakan warna-warna cerah
memberikan kesan perasaaan menggembirakan.
Di samping ketiga klasifikasi tentang semiotika yang diulas oleh
Zoest, tanda dapat pula dianalisis melalui tiga hal yang disebut gramatika
semiotika, yaitu dari segi sintaksis, semantik, dan pragmatik. Sintaksis
yakni mengenai hubungan antara tanda dengan tanda lain dalam
membentuk suatu pengertian, misalnya hubungan bentuk (+) dengan
warna merah yang memberikan pengertian suatu institusi yang
mengelola bantuan untuk kemanusiaan. Namun jika warnanya bukan
a. Hubungan kontras b. Hubungan harmoni
Gambar 321. Hubungan antar unsur
382
merah maka pengertiannya menjadi lain. Untuk itu diperlukan latar
belakang dari tanda itu guna interpretasi makna simboliknya, sehingga
dalam tahap ini sudah menuju kepada semantik karena mencari
hubungan antara tanda dengan apa yang diinterpretasikan. Selanjutnya
jika analisis dilakukan terhadap hubungan tanda dengan pengguna tanda
maka sampai kepada taraf analisis pragmatik. Apabila analisis sampai
pada taraf ini perlu pengetahuan lain seperti psikologi dan sosiologi.
Dalam seni rupa hubungan sintaksis kecendrungannya menyangkut
masalah harmoni dan kesatuan, tanda dalam hal ini berarti unsur rupa.
Jadi hubungan antara unsur satu dengan unsur lainnya seperti warna
dengan warna, bentuk dengan bentuk, warna dengan bentuk, bentuk
dengan ruang (gb 321). Selanjutnya mengenai semantik menyangkut
hubungan unsur-unsur rupa dengan judul sebagai rujukannya. Apakah
unsur-unsur rupa yang digunakan sebagai media ungkap sesuai dengan
judulnya? Namun sulitnya, dalam seni rupa non-figuratif kadang judul
hanyalah berfungsi sebagai nama yang bukan untuk dikonotasikan
dengan makna kata dalam judul itu.
Menurut Soedarsono berdasarkan pendapat Marco de Marinis
menguraikan, bahwa dalam seni pertunjukan ada beberapa layers yang
harus dianalisis agar mendapatkan gambaran yang holistik seperti lakon,
pemain, busana, iringan, tempat pentas, bahkan juga penonton. Apabila
hal ini dikaitkan dengan seni rupa tidak jauh berbeda dengan seni
pertunjukan karena dalam seni rupa juga ada lapisan-lapisan seperti
tema atau judul, bahan dan teknik, unsur seni rupa dan prinsip
pengorganisasiannya, serta ekspresi yang terkandung didalamnya.
Melakukan analisis dengan pendekatan semiotik sangatlah rinci dan
rumit, analisis dapat dilakukan antara hubungan tanda dengan tanda, dan
tanda dengan penggunanya yaitu antara karya seni dengan senimannya
dan dengan apresiatornya. Oleh sebab itu melakukan analisis tergantung
dari tujuan pencapaian analisis. Sebuah lukisan dapat dianalisis melalui
model trikotomi tanda Peirce, yakni mulai dari latar adanya tanda
(lukisan), denotasi atau denotatum tentang apa yang dirujuk oleh lukisan
sebagai tanda, dan tentang makna dari hubungan tanda (hubungan
unsur) dalam seni lukis dan hubungan lukisan dengan senimannya dan
dengan masyarakat penggemarnya.
Analisis hubungan antar tanda dalam seni lukis sebenarnya
menyangkut hubungan kualitas unsur-unsur seni rupa, misalnya kualitas
warna merah dengan warna lainnya apakah terjadi harmonisasi atau
kontras. Kemudian hubungan dalam susunannya yang membentuk
komposisi, apakah dalam komposisi diterapkan prinsip-prinsip kese-
imbangan, apa jenis keseimbangannya, apa ada pengulangan dan prin-
383
sip lainnya dalam mebentuk kesatuan. Jadi analisis semiotik dalam hal ini
sebenarnya adalah analisis estetik terapan.
Kemudian analisis hubungan tanda atau lukisan dengan apa yang
dirujuknya, maksudnya adalah apa yang menjadi tujuan dibuatnya lukisan
tersebut. Hal ini berhubungan dengan landasan dasar penciptaannya,
sebuah lukisan pasti memiliki alasan atau dasar pertimbangan sebagai
rujukannya dan ini berhubungan dengan gaya dan tema. Kaum im-
presionis misalnya, melukis karena punya idealisasi bahwa cahaya yang
menerpa benda berbeda kesannya pada indera penglihatan seiring
dengan perubahan waktu, yakni waktu pagi, waktu siang, dan waktu sore.
Ide penciptaan kaum impresionis berbeda dengan kaum kubis karena
kaum kubis memandang sebuah benda dapat dianalisis bentuknya dapat
dipecah-pecah, dapat dilihat sekaligus dari berbagai sudut pandang,
dapat dikembalikan kepada bentuk esensinya. Dengan latar belakang ini
lukisan menampilkan bentuk-bentuk baru hasil dari respon terhadap
bentuk-bentuk yang dilihat. Tema dalam hal ini merupakan judul dari
lukisan yang dibuat untuk menghantarkan apresiator terhadap apa yang
diungkapkan dalam lukisan.
Selanjutnya hubungan tanda dengan makna yang dikandung dalam
lukisan hal ini tergantung apakah visualisasi mewakili apa yang dimaksud
oleh pelukisnya. Ada pelukis yang menyampaikan makna secara harfiah,
ada secara simbolis, ada pula yang tidak memberikan makna apa-apa
terhadap hasil karyanya.
384
Bagian ini penting untuk diketahui oleh para siswa karena
menyangkut pendidikan kejuruan seni yang ditekuni serta ringkasan dari
uraian isi buku. Dengan membaca bagian ini siswa memperoleh
gambaran secara cepat bagaimana manfaat menekuni profesi kejuruan
seni dan bagaimana belajar seni rupa secara menyeluruh.
A. Pentingnya Pendidikan Kejuruan Seni Rupa
Seni rupa memiliki potensi yang cukup baik dikembangkan dalam
sistem pendidikan di indonesia, selain bakat yang dimiliki oleh
masyarakatnya ada kekayaan warisan budaya yang luar biasa dalam
seni rupa atau seni kriya sangat perlu dikembangkan. Ada seni lukis etnis
atau tradisional Bali yang terus tumbuh subur sehingga bermanfaat bagi
kesejahteraan masyarakat karena berkembangnya di tengah masyarakat
dan dikembangkan oleh masyarakatnya sendiri. Apabila jenis seni rupa
lainnya dapat berkembang seperti seni lukis tradisional Bali tentu hal ini
akan bermanfaat bagi perkembangan seni rupa sebagai bagian dari
kebudayaan Indonesia selain bermanfaat pula bagi kesejahteraan
masyarakat luas. Oleh karenanya, sekolah seni rupa yang ada
peningkatan kualitasnya baik peralatan maupun sistem pendidikannya
sangat perlu mendapat perhatian. Sekolah-sekolah seni yang ada telah
banyak melahirkan seniman-seniman yang berkualitas di tanah air, oleh
karena hampir semua seniman seni rupa yang terkenal saat ini mereka
keluaran dari sekolah seni rupa di tingkat pendidikan menengah dan
perguruan tinggi. Hal ini menunjukan bahwa sekolah seni telah meng-
hasilkan tamatan yang berkualitas walaupun tidak semua tamatan
sekolah seni menjadi seniman. Selain menjadi seniman, tamatan se-
kolah seni banyak yang mengisi profesi guru seni, pegawai swasta dalam
bidang seni seperti desainer, ilustrator, visualizer dan sebagainya.
Sekolah seni rupa banyak memberikan keterampilan sehingga ketika
selesai menempuh pendidikan mereka telah memiliki bekal keterampilan
alternatif, artinya banyak pilihan keterampilan yang dapat dikembangkan
di masyarakat. Memang untuk menjadi seniman yang berkualitas baik
diperlukan pendidikan yang lebih terfokus dan profesional ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi karena tamatan sekolah seni rupa dengan
keterampilan di tingkat menengah belum siap untuk menjadi seniman.
Kecuali tamatan tersebut latihan terus menerus selama beberapa tahun
secara mandiri. Oleh karena profesi seniman memerlukan keterampilan
teknis yang tinggi program pelatihannya perlu dirancang lebih terstruktur
dengan bimbingan yang intesif. Melihat kenyataan yang ada,
keberhasilan pendidikan kejuruan seni tidak dapat lepas dengan dunia
kerja seni. Sebagai contoh, masyarakat di Jepara dan Bali, ling-
kungannya sangat mendukung karena di masyarakat kegiatan seni
menjadi kegiatan sehari-hari. Jadi peserta didik atau siswa selepas
sekolah, banyak dari mereka sudah masuk ke dunia kerja secara alami,
Setelah tamat mereka sudah tidak asing dengan nilai-nilai dunia kerja
dan mereka telah memiliki pekerjaan yang jelas. Di tempat lain sekolah
kejuruan seni belum tumbuh dan dibutuhkan secara alami oleh
masyarakatnya, anggapan masyarakat terhadap sekolah kejuruan seni
masih samar-samar, untuk bekerja apa kelak jika anak-anak selesai
menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Sebenarnya keterampilan seni sangat dibutuhkan di masyarakat,
hanya industri seni belum berkembang merata di Indonesia. Pengkajian
tentang hal ini oleh pemerintah daerah sangat penting untuk dilakukan,
terutama berhubungan dengan keinginan membuka program keahlian
seni di suatu daerah. Di sisi lain kebutuhan mengembangkan seni
tradisional kedaerahan dibutuhkan sekali pada saat ini namun hal ini
belum seimbang dengan kebutuhan mengembangkan sekolah atau
pendidikan seni untuk menghasilkan tamatan, sebagai ujung tombak
pelestari dan pengembang seni dan budaya di masyarakat. Melihat
kenyataan ini kiranya, sekolah seni rupa yang ada saat ini sangat penting
untuk ditingkatkan kualitasnya disesuaikan program-programnya untuk
memenuhi kebutuhan tenaga seni rupa di masyarakat. Sehubungan
dengan itu pengembangan sekolah kejuruan seni di Indonesia Tengah
dan Timur masih perlu mendapat perhatian guna menyeimbangkan
perkembangan seni dan budaya di Indonesia. Potensi seni rupa di kedua
daerah tersebut sangat besar, begitu pula sumber daya alam untuk
bahan membuat karya seni berlimpah, oleh sebab itu perleu ada strategi
khusus untuk mengembangkannya. Misalnya, jika belum ada tenaga
pengajar yang memadai diberlakukan program bea siswa, atau pelatihan
khusus bagi pemuda-pemudanya yang tertarik dalam dunia seni. Di
Toraja dominan seni rupa dan kriya, di Sulawesi Utara dominan seni
musik begitu pula di daerah Maluku, di Papua seni musik dan seni rupa
atau kriya sangat potensial, dan di Nusa Tenggara Timur sangat
potensial seni tenunnya. Namun sayangnya pendidikan kejuruan seni
belum merespon potensi-potensi yang baik ini akibatnya sekolah seni
rupa dan kriya tidak tumbuh secara kokoh dan alami seperti di kedua
daerah tadi. Jadi berdasarkan pemetaan yang sekilas ini perlu ada tindak
lanjut pelaksanaan pengkajian yang mendalam untuk mengembangkan
seni rupa Indonesia yang modern. Sangat ironis apabila Indonesia di
masa depan menjadi negara modern tetapi kehilangan akar seni dan
budayanya yang memiliki nilai tinggi dan sebaliknya dikembangkan atau
diambil oleh negara lain yang peduli dengan kesenian.
386
Gambar 320 . Lukisan Tradisional Kamasan Klungkung Bali berkembang menjadi
lukisan gaya baru Ubud dan batuan (foto: Agung Suryahadi)
B. Pendidikan Seni Rupa dan Seni Kriya di Indonesia di Masa Depan
Kita boleh bangga dengan menepuk dada sebagai negara terbesar di
Asia Tenggara memiliki kekayaan seni budaya yang luar biasa ragamnya.
Namun kebanggaan tidaklah cukup hanya gembar-gembor dengan
kekayaan itu, tetapi perlu ada tindakan setrategis nyata dalam mengelola
kekayaan seni budaya itu secara arif dan bijaksana demi keber-
langsungan dan kebermanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat.
Bentuk-bentuk seni budaya Indonesia terutama seni rupa dan kriyanya
sangat potensial untuk dikembangkan, dikemas menjadi bentuk seni
budaya dengan selera estetik masa kini dan ini memiliki daya saing yang
kuat di tingkat global. Untuk itu perlu ada perubahan sikap dari
pendukung seni dan budaya di setiap daerah, perubahan sikap yang
utama adalah adanya hasrat ingin berubah dari seluruh warga sekolah
dan lapisan masyarakat. Dari kasus-kasus perubahan dan keber-
hasilannya dalam bidang seni dan budaya, dapat dilihat beberapa daerah
yang telah terlebih dahulu melakukannya dan berhasil. Perubahan
menuju kepada keberhasilan di suatu masyarakat perlu ada pelopor,
pemimpin, ada ahli dalam bidangnya dan ada manajer yang
mengelolanya.
Contoh-contoh keberhasilan perubahan dalam seni rupa dan kriya
telah diuraikan dalam bab II, yaitu perubahan paradigma seni lukis
tradisional Bali, dan perubahan paradigma seni Batik di Yogya. Kedua
perubahan yang berhasil di kedua daerah tersebut disebabkan oleh
adanya hasrat untuk berubah dan keterbukaan masyarakatnya dan
387
diawali oleh tokoh-tokoh masyarakatnya. Perubahan di Ubud Bali
dipelopori oleh pemimpin daerahnya dan didampingi oleh ahli dalam
bidang seni rupa terutama seni lukis. Di Yogyakarta perubahan fungsi
dan teknik seni batik terjadi karena dipelopori oleh tokoh-tokoh
senimannya dengan melakukan eksperimen yang tak kenal lelah dan
didukung oleh masyarakatnya. Untuk keberlangsungannya diberikan
bimbingan promosi dan pemasaran agar pembaharuan produk diketahui
oleh masyarakat luas dan laku untuk dijual. Untuk kasus Ubud promosi
dan pemasarannya difasilitasi oleh dua orang pelukis asing sebagai
tenaga ahli dengan melaksanakan pameran di luar negeri misalnya di
Singapura. Oleh karena karya-karya seninya terjual, seniman semakin
semangat bekerja dan memiliki uang untuk membeli bahan yang lebih
berkualitas dengan demikian perkembangannya berjalan terus.
Beruntung bagi kedua daerah - Bali dan Yogya - sebagai daerah tujuan
wisata utama di Indonesia sehingga produk-produk seni rupa dan
kriyanya banyak dicari dan dibeli oleh wisatawan mancanegara.
Pariwisata di kedua daerah menjadi andalan dalam penjualan benda seni
dan kriya. Bagaimana dengan daerah lain? Untuk sementara ini, Bali
masih sebagai etalase produk seni dan budaya Indonesia bagi pembeli-
pembeli dari luar negeri. Hampir seluruh produk seni rupa dan kriya
Indonesia di pasarkan di Bali. Namun mengandalkan pariwisata sangat
rentan dan sensitif terhadap berbagai macam isue yang berbau negatif,
seperti keamanan, penyakit dan bencana alam. Oleh sebab itu, bagi
daerah lain yang tidak mengandalkan pariwisata untuk mengembangkan
pasarnya perlu mencari aternatif lain.
Gambar 321 . Wayang beber Jawa Tengah, dapatkah menjadi lukisan modern?
(foto: Agung Suryahadi)
388
Melihat perubahan yang terjadi di kedua daerah, apakah di daerah lain
tidak memungkinkan ? Pengembangan seni rupa dan kriya di daerah-
daerah sangat penting, untuk terjadinya keseimbangan perkembangan
seni dan budaya di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini yang terjadi ada
daerah yang sangat maju dalam seni dan budaya, ada daerah yang
tertinggal. Untuk mencapai keseimbagan, salah satu melalui lembaga
pendidikan formal atau melalui pendidikan dan pelatihan singkat. Melihat
banyaknya masyarakat usia produktif yang tidak memiliki pekerjaan,
pelatihan ketrampilan seni rupa dan kriya menjadi salah satu alternatif.
Sektor ini tidak memerlukan peralatan berat atau canggih, dan sektor ini
dijamin ramah lingkungan. Misalnya, latihan mengukir hanya perlu alat
pahat, latihan menggambar yang paling sederhana hanya memerlukan
kertas dan pensil. Apabila telah terampil, yang bersangkutan hanya perlu
bekal alat pahat dan keuletan dalam berusaha niscaya dapat hidup
dengan baik. Ini merupakan kebutuhan minimal untuk kerja individual,
namun jika menginginkan menjadi industri memang memerlukan
peralatan yang lebih canggih menyesuaikan dengan perkembangan
teknologi.
Gambar 322 .
Bagong Kusudihardjo,
Topeng (foto: A .Agung
Suryahadi).
Guna mengadopsi perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan,
pendidikan formal melalui sekolah adalah sebagai salah satu tempat
terjadinya transfer kebudayaan seperti iptek tersebut. Agar sekolah seni
389
rupa tidak ketinggalan, sangat perlu memasukkan materi iptek yang
dapat terintergrasi dengan materi lainnya. Contoh nyata adalah pada saat
ini komputer dapat sebagai alat untuk menggambar dan melukis,
pengetahuan kimia terapan sangat dibutuhkan pada bidang keahlian
tekstil, keramik, kayu, dan kulit.
Gambar 323 . Made Kedol Subrata,
Candi Prambanan (foto: A.Agung
Suryahadi).
Gambar 324 . Trihono, Perkelahian Rahwana dengan Jatayu
(foto: A.Agung Suryahadi)
390
Singkatnya, di masa depan sinergi antara seni dan teknologi sangat
penting, karena produk-produk yang sarat teknologi juga sarat dengan
seni. Ketika dalam suatu produk ada unsur seni dan teknologi maka
produk tersebut akan digemari oleh masyarakat. Tamatan sekolah
kejuruan seni diharapkan natinya mampu menjadi agen-agen perubahan
sehingga seni dan budaya Indonesia tidak mandeg, oleh sebab itu peran
sekolah kejuruan seni sebagai persemaian seniman-seniman muda yang
akan melanjutkan kelestarian dan pengembangan seni dan budaya
Indonesia sangat diperlukan.
C. Manfaat Buku Ini Sebagai Pendukung Belajar Seni Rupa
Buku ini diterbitkan dengan harapan dapat memberi bekal dasar
dalam meniti karier di bidang seni rupa. Sebagai yang telah diuraikan
dalam bab pendahuluan, buku ini disusun berdasarkan kebutuhan
minimal untuk mempelajari seni rupa. Hal ini dapat tercermin dari materi
yang dibahas. Bab II membekali wawasan seni kepada siswa, uraiannya
menyangkut seni rupa Indonesia dan seni rupa mancanegara. Hal yang
dapat dipelajari dalam wawasan seni tersebut adalah pertama, mengenai
wawasan seni rupa Indonesia. Sebagai suatu upaya untuk mengetahui
identitas seni budaya sendiri, wawasan seni Indonesia atau wawasan
seni Nusantara sangat penting.
Dalam dunia yang semakin mengglobal identitas bangsa dan negara
semakin diperlukan, sehingga ada negara yang ingin mencari
identitasnya melalui pengakuan terhadap jenis seni negara lain. Oleh
sebab itu wawasan kebangsaan melalui seni sangat penting untuk
mengetahui identitas suatu bangsa. Dalam buku ini, untuk wawasan
seni rupa Indonesia masih terbatas pada masalah batik, keris dan seni
rupa etnis Bali. Padahal masih ada banyak materi yang belum sempat
dipelajari dan diuraikan tersebar di daerah-daerah sebagai kekayaan
budaya bangsa. Ada unsur-unsur seni lokal yang dapat diangkat menjadi
universal, dalam hal ini ada yang telah digarap baik oleh seniman
Indonesia dan mancanegara. Pada seni batik misalnya, seniman-
seniman di Yogyakarta sebagai pelopor melakukan eksplorasi terhadap
potensi teknik dan motif batik sehingga melahirkan seni lukis batik yang
bersifat individual dan universal. Maksudnya setiap individu seniman
dapat mengembangkan ekspresi individunya melalui teknik dan motif
tradisional yang dikembangkan sebagai unsur visualnya. Seniman
mancanegara yang menimba inspirasi dari seni etnik tradisional
Indonesia cukup banyak, mulai dari Walterspies, Bonnet, Le Mayeur,
Donal Frend dan sebagainya. Uniknya semua mereka menggali dan
bermukim di Bali. Dengan wawasan seni rupa Indonesia para siswa
sebagai generasi muda diharapkan mengembangkan kesadaran dan
motivasinya untuk juga menggali seni etnik tradisional Indonesia
391
sehingga memiliki manfaat dalam mengembangkan kebudayaan
Indonesia melalui kesenian.
Selain wawasan tentang seni budaya Indonesia, sangat penting pula
dipelajari tentang seni dari mancanegara. Dalam buku ini masih terbatas
hanya tentang seni dari beberapa negara; mulai dari seni rupa Mesir
yang paling kuno, kemudian Yunani, Romawi, India, Cina, dan Jepang.
Pada bagian ini juga masih banyak yang belum dibahas seperti seni
budaya Sumeria, Timur Tengah, Pasifik, Indian Amerika. Wawasan seni
dan budaya mancanegara memberi perspektif lebih luas kepada siswa
sehingga menyadari dimana posisi seni dan budaya Indonesia dalam
keterkaitannya dengan seni budaya di dunia. Dalam wawasan seni
budaya mancanegara ada hal-hal yang positif dapat dipetik,
sebagaimana halnya seni rupa Mesir Kuno yang telah maju sejak 3000
tahun sebelum Masehi, perkembangan seni dan kebudayaan Barat yang
pada awalnya berlandaskan kepada seni dan budaya klasik Yunani dan
Romawi hingga dapat berkembang dengan pesat dan mempengaruhi
seni dan budaya di seluruh dunia pada saat ini. Selain itu diuraikan pula
tentang bagaimana seniman-seniman seni rupa mengembangkan
konsep-konsepnya sehingga seni rupa dapat berkembang. Dengan
pengetahuan itu diharapkan dapat memberi inspirasi untuk melakukan
transformasi seni budaya bangsa sendiri dan memaklumi keberadaan
dan perilaku bangsa lain.
Guna mengembangkan kemampuan dan keterampilan seni rupa,
terlebih dahulu perlu mengetahui tentang jenis, sifat bahan, serta alat
yang digunakan. Untuk itu bab III merupakan latihan penguasaan teknik;
namun baru diuraikan tentang beberapa bahan seni rupa dua
dimensional yang pokok dan konvensional seperti arang, pensil, pastel,
cat air, cat akrilik, dan cat minyak. Sedang pada bahan seni rupa tiga
dimensional masih sebatas bahan lunak seperti kertas dan tanah liat.
Bahan yang lain seperti kayu, batu, dan logam masih sebatas
pengenalan, dan belum sempat dibahas secara mendetail. Sebagai
pemula pengenalan terhadap beberapa bahan yang akan digunakan
sangat penting. Tidak semua bahan dapat cocok digunakan oleh setiap
orang. Oleh karenanya ekplorasi berbagai jenis bahan juga bermaksud
untuk mendapatkan kesesuaian dengan masing-masing individu siswa.
Seorang siswa mungkin sangat berbakat hanya menggunakan arang
untuk mengambar dan melukis, tetapi tidak baik menggunakan bahan
yang lain. Ada pula siswa menjadi sangat bergairah jika menggunakan
media campuran karena dapat memberi peluang kepada potensi
kreatifnya dalam menjelajahi berbagai potensi jenis bahan dan
mengkombinaikannya menjadi sebuah karya seni yang bermutu.
392
Dalam menciptakan karya seni kepekaan estetik menjadi suatu yang
sangat penting. Hal ini disebabkan karena estetik merupakan salah satu
muatan yang terkandung dalam karya seni. Tanpa kandungan estetik
karya seni tidak akan menarik dan menyenangkan atau memuaskan
perasaan manusia sebagai penikmatnya. Oleh sebab itu dalam bab IV
siswa diharapkan belajar tentang potensi unsur-unsur seni rupa sebagai
aspek pokok pembentuknya, serta prinsip-prinsip mengorganisasikan
sehingga menjadi suatu susunan atau komposisi yang estetik. Dalam hal
ini siswa bagaikan calon manajer yang mempelajari manajemen untuk
mengetahui karakter unsur menajemen dan mengetahui cara
mengorganisasikan dan mengevaluasi baik dan buruknya. Hal yang perlu
disadari adalah, bahwa kepekaan estetik tidak serta merta dapat dimiliki,
karena berhubungan dengan persaan maka untuk mengasahnya agar
menjadi tajam memerlukan proses dan waktu. Latihan terus menerus dan
banyak mengamati karya-karya seni merupakan salah satu cara yang
telah lazim dilaksanakan dan berhasil.
Selain mengasah kepekaan estetik hal yang menyangkut teknik dan
mendasar perlu dimiliki oleh calon seniman seni rupa adalah kemampuan
menggambar dan membentuk. Pembahasan diuraikan dalam bab V,
ditampilkan contoh-contoh karya dan beberapa visualisasi prosesnya
untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang cara menggambar
dengan berbagai jenis bahan dan alat. Visualisasi teknik tidak seluruhnya
ditampilkan, namun dalam penugasan disampaikan uraian verbal untuk
memberi kesempatan kepada siswa menggunakan imajinasi masing-
masing dalam menafsirkannya.
Dalam uraian menggambar lebih menggunakan pendekatan tematik,
seperti menggambar alam benda, menggambar tumbuh-tumbuhan dan
binatang, menggambar manusia, menggambar huruf, dan menggambar
ilustrasi. Khusus menggambar perspektif dan proyeksi diuraikan dasar-
dasarnya untuk memberi bekal dasar bagi siswa yang senang untuk
meniti profesi sebagai pelukis pemandangan, pematung, dan desainer
iindustri kerajinan. Selanjutnya untuk bagian membentuk tiga dimensional
baru sebatas membentuk dengan bahan kertas dan tanah liat dengan
beberapa jenis keteknikannya. Bahan tiga dimensi lainnya belum dibahas
secara lengkap.
Seorang seniman yang baik biasanya memiliki kemampuan kreativitas
yang tinggi, tanpa kemampuan kreatif seorang seniman akan mandeg.
Jadi kreativitas mutlak perlu dalam bidang kesenian. Untuk itu apabila
diperhatikan, dalam bab VI diuraikan pengetahuan tentang kreativitas,
ditampilkan tentang contoh-contoh seniman berhasil karena kreatif, serta
contoh-contoh dalam mengembangkan kemampuan kreativitas seni rupa
serta latihan mengembangkan kemampuan kreatif menciptakan bentuk-
393
bentuk baru. Ada beberapa aspek yang dapat dijadikan sebagai obyek
untuk berkreasi, kreatif dalam bidang seni rupa dapat pada aspek
bahannya, bentuknya, warnanya, komposisinya, temanya. Biasanya jika
tema konsepnya kreatif, aspek-aspek lainnya akan mengikuti. Misalnya
Picasso, adalah seniman seni rupa yang kreatif dalam konsep dan aspek-
aspek hasil karya lainnya juga menjadi kreatif. Ketika ia dalam konsep
periode biru, warna-warna lukisannya menggunakan dominan warna biru
dan itu menjadi ciri khas lukisannya, begitu pula ketika konsepnya pindah
ke periode pink, warna lukisannya menggunakan dominan warna pink.
Lalu ia pindah ke konsep analisis bentuk, bentuk-bentuk lukisannya
berubah menjadi kubisme. Jadi konsep bagi seorang seniman seni rupa
merupakan hasil perenungan kreatifnya, ia bagaikan seorang filusuf
untuk selalu merenung dan mengungkapkan kebenaran tentang
fenomena yang ada di alam ini. Seniman seharusnya tidak berhenti pada
tataran estetik dalam berkarya, ia dapat melanjutkannya ketataran
filosofis sehingga dapat memperkaya konsep-konsep berkesenian.
Seorang seniman tidak hanya mampu berkarya, ia perlu juga secara
kritis melakukan analisis, minimal kepada karyanya sendiri. Hal ini
diuraikan dalam bab VII yang bertujuan memberi bekal kemampuan
melakukan analisis secara sistematik ketika melihat karya seni rupa
kepada calon seniman. Hal ini juga bertujuan meningkatkan kepekaan
estetik sehingga dapat mempengaruhi perkembangan dalam
menciptakan karya seni rupa. Akhirnya dalam bab VIII ini merupakan
ringkasan dari seluruh isi buku.
D. Kiat Sebagai Siswa Calon Seniman
Sebagai seorang siswa yang bercita-cita meniti profesi sebagai
seniman perlu memiliki kiat-kiat agar dapat berhasil dalam studi
kemudian melanjutkan terjun di masyarakat secara mandiri. Namun
biasanya, setelah selesai belajar di Sekolah Menengah Kejuruan Seni
dan Budaya seorang tamatan memilih beberapa jalur, yaitu: bekerja
secara mandiri, bekerja dengan orang lain, atau melanjutkan ke pen-
didikan yang lebih tinggi. Ada pula yang banting stir memilih bidang lain
karena bekal berkeseniannya tidak dapat digunakan dalam dunia kerja
seperti menjadi sopir, atau pekerjaan lain yang tidak ada hu-bungannya
dengan seni.
Tamatan yang memilih jalur mandiri biasanya perlu waktu
pematangan dengan praktek secara terus menerus dengan keuletan
yang tinggi sehingga mendapat pengakuan dari masyarakat tentang
keterampilannya. Hal ini jarang terjadi kecuali sang tamatan memiliki
bakat yang luar biasa sehingga ia memiliki kepercayaan diri untuk
mandiri. Sebagian besar tamatan memilih jalur bekerja dengan orang
394
lain atau di perusahaan tertentu jika tidak melanjutkan pendidikan.
Tamatan yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dan orang tuanya
mampu secara ekonomi, banyak yang melanjutkan ke pendidikan yang
lebih tinggi di perguruan tinggi seni yang ada di tanah air.
Dari pengamatan yang dilakukan, siswa calon seniman yang berhasil
kebanyakan yang memiliki kemauan kuat untuk belajar. Beberapa kiat
untuk itu adalah sebagai berikut.
1. Memotivasi diri untuk berhasil dalam belajar, sebagai calon
seniman yang hendak menginjak dewasa perlu mengembangkan
kesadaran diri bahwa sebagian besar keberhasilan bukan
ditentukan oleh orang lain, melainkan oleh kemauan dan upaya diri
sendiri.
2. Oleh karena sekolah kejuruan menekankan kepada keterampilan,
maka untuk menguasai keterampilan cara yang terbaik adalah
dengan latihan yang terus menerus dalam bidang seni rupa.
Latihan yang pokok ada dalam buku ini misalnya membuat sketsa,
menggambar, dan membentuk.
3. Dalam latihan memerlukan bahan yang tidak sedikit, oleh sebab itu
karena masih dalam taraf belajar, gunakanlah bahan yang murah
dan mudah didapat. Misalnya dalam membuat sketsa gunakan
kertas buram, jika tidak ada kertas buram menggunakan kertas
bekas yang dibaliknya masih kosong. Ada seorang seniman yang
sangat berhasil, dalam latihan membuat sketsa menggunakan
setiap kertas yang diketemukannya, seperti kertas pembungkus,
kertas karton kemasan yang dibaliknya kosong.
4. Membuat sketsa dengan target setiap harinya, oleh karena itu jika
mungkin membuat sketsa minimal sebanyak sepuluh buah sketsa
setiap hari untuk meluweskan keterampilan tangan dalam
membentuk. Membentuk kelompok informal dengan dengan
teman-teman untuk membuat acara sketsa dan menggambar
bersama ke lokasi yang menarik. Jika mungkin memiliki buku
sketsa yang dapat dibawa kemanapun pergi. Buatlah sketsa di
tempat-tempat umum untuk melatih mental agar tidak canggung
berhadapan dengan orang banyak.
5. Melakukan eksplorasi setiap jenis bahan yang ada untuk
menguasai karakter dan potensinya. Mendalami ketrampilan atau
teknik seni rupa tertentu seperti batik, sablon untuk dapat cepat
menghasilkan uang guna dapat menunjang studi.
6. Untuk praktek, tidak mengantungkan diri hanya praktek ketika di
sekolah. Lakukan diskusi dengan teman-teman dan saling kritik
terhadap karya yang telah dibuat. Atau minta saran-saran kepada
teman yang lebih senior atau seniman yang telah berhasil.
395
7. Sering-sering menyaksikan pameran seni rupa atau pergi ke
galeri-galeri, museum atau mengunjungi studio-studio seniman
untuk mengasah kepekaan persepsi.
8. Membaca berita atau artikel di media masa tentang seni rupa atau
seni lainnya untuk meluaskan wawasan kesenirupaan.
9. Apabila di sekolah ada internet, lakukanlah browsing untuk melihat
informasi mengenai seni rupa dari seluruh dunia, Jika mungkin
belajarlah mengoperasikan komputer dengan program photoshop
dan corel draw agar tidak ketinggalan tentang dunia teknologi yang
sedang berkembang saat ini.
10. Terakhir hal yang paling penting untuk selalu diingat dan dilakukan
adalah menggali seni rupa Indonesia dari akar budaya Indonesia
sehingga muncul seni baru sebagai bagian dari Indonesia yang
modern.
Inilah sepuluh kiat bagi siswa calon seniman seni rupa yang telah
banyak dilakukan oleh seniman-seniman yang berhasil meniti karier
sebagai seniman. Selamat belajar.
396
GLOSARIUM
Abur-aburan Teknik melukis tradisional Bali
khususnya di Desa Ubud dan Batuan
yang memberikan gelap terang secara
transisi, mirip dengan teknik half tone
Adjacent Jenis kombinasi warna, komplemen
yang terdiri dari tiga warna dimana
ada satu warna berhadapan ditambah
satu warna yang ada disebelah salah
satu dari wama yang berhadapan itu.
(Lihat gambar pada bagian warna).
Air Brush Alat yang berperan sebagai kuas
tetapi dalam menerapkan warna
dilakukan dengan cara
menyemprotkan melalui bantuan
kompresor sebagai penyimpan dan
pengeluar angin
Akumulasi Bersatu melalui percampuran
Analogus Jenis kombinasi warna yang terdiri
dari tiga sampai empat warna
bersebelahan dalam lingkaran warna
dimana padakornbinasi warna itu ada
satu warna primer
Aplikatif Dapat diterapkan
Artistik Mengandung nilai keindahan
Areal perspektif Areal. perspektif = Prinsip
perspektif dalam mengungkapkan
ruang dimana,benda yang jauh
digambarkan semakin kabur untuk
membuat ilusi ruang dengan
kedalaman.
Asosiasi Mengira, menyangka, seakan
memunculkan sesuatu
Blocking Menutup dengan warna
Brush stroke Goresan kuas yang kuat,tegas dan
berani
Cyan Warna biru terang
Cutter Pisau pemotong yang tipis, taJam dan
dapat dibuang bagiannya yang
tumpul
Detail Bagian yang kecil-kecil dalam karya
seni rupa dan kria.
Dimensi Matra, aspek dalam ruang pada seni
dan kria
Double split Jenis kombinasi warna komplemen
atau kontras yang terdiri dari empat
warna berhadapan dalam lingkaran
wama diselingi oleh satu warna yang
bersebelahan. (Lihat gambar pada
bagian warna).
Estetik Nilai keindahan
Eksplorasi Penjelajahan terhadap sesuatu, untuk
menemukan hal-hal yang baru dari
apa vang dijelajahi itu.
Ekspresi Ungkapan pikiran dan perasaan
terefleksi dalam karya seni
Eksakta Ilmu pasti: matematik, kimiaf, fisika
dan sebagainya.
Figur Istilah dalam seni rupa mengenai
bentuk; non-figuratif berarti tanpa
bentuk.
Fiksi Khayal, tidak nyata.
Focus Pemusatan.
Full round Tiga dimensi penuh, dapat dilihat dari
seluruh sudut pandang,
Geometris Mengenai ilmu, ukur; bentuk
geometris adalah bentuk yang ada
dalarn ilmu ukur dengan strukturnya
yang teratur.
Hue Nama warna : hue merah, hue biru
dsb.
llusi Seakan ada tetapi nyatanya tidak ada.
Intensity Kekuatan warna, cerah suramnya
warna.
Image Gambaran ujud dalarn benak, imaji.
Imajinasi Gambar dalam pikiran
Karya frontal Jenis karya seni rupa dengan tiga
dimensi penuh tetapi hanya untuk
disaksikan dari bagian depan saja.
Komunikasi Hubungan dengan kata, rupa,gerakan
dsb.
Komparatif Bandingan
Komoditi Barang yang diperjual belikan
Komplementer Berhadapan, warna yang berhadapan
dalarn lingkaran warna.
Life-size Ukuran yang sebenarnya
Linear perspektif Prinsip perspektif untuk
menggambarkan ilusi ruang dengan
398
kedalaman dimana bentuk yang jauh
ukurannya semakin mengecil.
Magenta Warna merah lembayung
Mentransmisikan Memindahkan
Monokromatik Susunan warna yang mengadung satu
hue warna
Ngreka Sketsa awal dengan garis dalam
melukis tradisional Bali di Desa
Kamasan dan tempat lainnya di Bali
Organis Bentuk menyerupai mahluk hidup,
struktur tidak teratur
Overlaping Tumpang tindih
Palet Tempat mencapur cat
Perspektif Cara atau prinsip menggambarkan
suasana tiga dimensi
Pigmen Zat warna yang terkandung dalam
benda
Powdery Sifat atau penampakan seperti kapur
Proporsi Perbandingan antara bagian pada
benda
Shade Menggelapkan warna dengan
campuran hitam
Single split Jenis komposisi warna kontras atau
komple-men, satu warna berhadapan
dengan dua warna bersebelahan
dalam lingkaran wama(Lihat gambar
pada bagian warna).
Silinder Bentuk bulat panjang bervolume,
tabung.
Sketsa Gambar hanya dengan garis atau
goresan yang mengandung unsur
bentuk.
Solid Padat, tidak berongga
Tetrad komplemen Jenis kombinasi warna komplemen
atau kontras yang terdiri dari empat
warna dimana masing-masing
diselingi oleh dua warna dalam
lingkaran wama.Lihat garnbar pada
bagian warna)
Tint Membuat warna lebih terang dengan
mencam-purkan warna putih.
Torso Bagian badan manusia dari dada
sampai pinggul
Transparan Tembus pandang
Triad komplemen Jenis kombinasi warna kontras yang
399
terdiri dari tiga warna berhadapan
dimana masing-masing diselingi dua
warnadalarn lingkaran wama.(Lihat
gambar pada bagian warna)
Tube Tempat cat dari aluminium yang
bentuknya seperti tempat pasta gigi.
Value Gelap terangnya warna
Walk-Through Jenis karya tiga dimensi yang
melibatkan lingkungan sebagai bagian
dari karya itu.
400
KEPUSTAKAAN
Abdulah, Irwan (2006) Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.
Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Appellof, Marian Ed. (1992) Everything You Ever Wanted to Know
About Water Color, New Cork, Watson-Guptil Publication.
Ave, Joop et.al (1978) Puri Bhakti Rena Tama, Museum Istana
Kepresidenan.
Baker, Joan Stanley (1984) Japanese Art, London, Tahmes and
Hudson
Bangun, Sem C. (2001) Kritik Seni Rupa. Bandung, Penerbit ITB.
Barnes, Rob (1987) Teaching Art to Young Children, London,
Unwin Hyman.
Barrer, Chris (2005) Cultural Studies: Teori & Praktik. Terj.
Nurhadi. Yogyakarta, Kreasi Wacana.
Birk, Tony (1979) Pottery, London, A Pan Original Books Ltd.
Broudy, Harry S. (1987) “Theory and Practice in Aesthetic
Education. Studies in Art Education, Chicago, Rand McNally &
Co.
Christy, Greraldine and Sara Pearch (1991) Step by Step Art School
Ceramic, London, The Hamlyn Publishing Group Limitted.
Darby, Max (1986) Image in Life, Victoria, Ministry of education
(School Division).
Dewantara, Ki Hadjar ( 1994) Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian
II Kebudayaan, Yogyakarta, Majelis Luhur Persatuan
Tamansiswa.
Dunkelberg, Klaus (1984) Drawing The Nude: The Body, Figures,
Forms,New York, Van Nostrand Reinhold Company.
Eberly, Bob (1989) Scamper On, Australia, Hawker Brownlow
Education.
Eisner, Elliot W. & David W. Ecker ( 1970) ‘Some Historical
Development in Art Education’ dalam George Papas Concept in
Art Education an Anthology of Current Issues, Florida: The
MacMillan Company.
Feldman, Edmund Burke (1967) Art As Image and Idea,
Englewood Cliffs, Prentice-Hall, INC.
Fischer, Joseph (1994) The Folk Art of Java, Oxford, Oxford
University Press.
Gardner, Howard ( 1983) A cognitive View of the Art. Artistic
Intelligences, Art Education, Oxford, Pergamon Press
Geertz, Clifford (1973) Interpretation of Culture, New Cork, Basic
Books, Inc., Publisher.
Gombrich, E.H (1978) The Story of Art, London, Phaidon.
Guilford, J.P (1968) Intelligence, Creativity and Their Educational
Implications California: Robert R.Knapp,Publisher.
Haer, Debbie Guthrie , Juliete Morrilot, Irene Toh, Ed. (2000) Bali
a Travellers’s Companion, Singapore, Archipelago Press.
Harrison, Hazle (2006) Art School: How to Saint and Draw,
London, Hermes Houses.
Holt, Claire (2000) Melacak Jejak-Jejak Perkembangan Seni Di
Indonesia, Terj. R.M. Soedarsono. Bandung, Masyarakat Seni
Pertunjukkan Indonesia.
Homekler, Ori (1982) Homekler’s People, London, Europa
Publication Limited.
Irving, Kaufman ( 1966) Art and Education New York, The
MacMillan Company.
Jaxtheimer, Bodo W.(1982) How to Paint and Draw, London,
Thames and Hudson.
Koentjaraningrat (2002) Pengantar Ilmu Antrpologi, Jakarta,
Rineka Cipta.
___________ (2002) Manusia dan Kebudayaan di Indonesia.
Jakarta: Penerbit Jambatan, 2002.
Lansing, Kenneth M ( 1969 ) Art, Artist, And Art Education, New
York, McGraw-Hill Book Company.
Lowenfeld, Viktor( 1970) Creative and Mental Growth, London,
MacMillan Publishing Company.
McKim, Robert H. (1972) Experiences in Visual Thinking,
California, Wadsworth Publishing Company.
Mistchell, W.J.T. ( ) Iconology: Image, Text, Ideology, Chicago,
The University of Chicago Press
Ngantung, Henk (1981) Sketsa-Sketsa Henk Ngantung, Jakarta,
Penerbit Sinar Harapan.
Parramon’s Editorial Team (1998) All About Tehniques in Oil, New
York, Barron’s Educational Series, Inc.
Parramon’s Editorial Team (1998) All About Tehniques in Pastel,
New York, Barron’s Educational Series, Inc.
Parson, J. Michael ( 1987) How We Understand Art, New York,
Cambridge University Press.
Peursen, van (1976). Setrategi Kebudayaan, terjemahan Dick
Hartoko, Yogyakarta, Percetakan Kanisius.
Pritzker, Pamela (1975) Max Ernst, New York, Leon Amiel
Publisher.
Read, Herbert ( 1968) The Meaning of Art, London, Faber & Faber.
Richter, Ann (1993) Art and Craft of Indonesia,San Francisco,
Chronicle Books.
Roukes, Nicholas (1980) Design Synectics, Worcester, Davis
Publication, Inc.
402
------------- (1984) Art Synectics, Worcestr, Davis Publication Inc.
Saxton, Collin (1981) Art School, London, McMilan.
Sidaway, Ian (1996) The Mixed Media, London, A Quarto Book.
Sitowati, Retno Suliastianingsih & Jphn N. Miksic (2006) Icons of
art, Jakarta, Museum Nasional.
Smith, Ralph A. (1986) Excelence in Art Education, Virginia,
National Art Education Association.
Smith, Stan (1984) Anatomy Perspective and Composition for The
Artist, New York, Watson-Guptil Publication.
Sediawati, Edi (2006) Budayaan Indonesia:Kajian Arkeologi, Seni,
dan Sejarah. Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.
Soedarso SP. Tinjauan Seni, Yogyakarta, Saku Dayar Sana.
___________ Seni Lukis Batik Indonesia, Yogyakarta, Taman
Budaya
Soekmono (1973) Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1.
Yogyakarta, Penerbit Kanisius.
Soemantri, Hilda et.al (2002) Indonesian Heritage, Yakarta. P.T
Widyadara.
Spradley, James.P Culture and Cognition, London, Chandler
Publishing Company.
Sternberg, Robert J. Ed. (1999) Handbook of Creativity, United
Kingdom, Cambridge University.
Sudarmadji et.al (1985) Apresiasi Seni, Jakarta, Badan Pelaksana
Pembanguan Proyek Ancol, PT. Pembangunan Jaya.
Thompson, Belinda and Michel Howard (1988)
Impresionism,London, Bison Books Ltd.
Walter, Ingo F. and Rainer Metzger (1987) Marc Chagall,Hamburg,
Taschen .
Wilson, Simon (1974) Pop, London, Tahmes and Hudson.
Yudoseputro, Wiyoso (1993) Pengantar Wawasan Seni Budaya,
Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Zelanski, Paul & Mary Pat Fisher (1988) The Art of Seeing, London,
Bay Books.
Zimmer, Heinrich (2003) Sejarah Filasafat India, Yogyakarta,
Pustaka Pelajar.
Zoetmoelder (2004), Kamus Bahasa Jawa Kuna,Jakarta, P.T
Gramedia Pusataka Utama.
403
ISBN XXX-XXX-XXX-X
Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang
Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digu-
nakan dalam Proses Pembelajaran.
HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00
2 comments
Comments 1 - 2 of 2 previous next Post a comment