Your SlideShare is downloading. ×
SMK-MAK kelas10 smk seni musik non klasik budi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

SMK-MAK kelas10 smk seni musik non klasik budi

28,805
views

Published on

Published in: Education, Business

1 Comment
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
28,805
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
1,960
Comments
1
Likes
4
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. quot; untuk Sekolah Menengah Kejuruan UGPKquot;OWUKMquot;PQPMNCUKMquot; Seni Musik Nonklasik I Budi Linggono wpvwmquot;UOMquot;quot; Kquot;Dwfkquot;Nkpiiqpq Fktgmvqtcvquot;Rgodkpccpquot;Ugmqncjquot;Ogpgpicjquot;Mglwtwcp Fktgmvqtcvquot;Lgpfgtcnquot;Ocpclgogpquot;Rgpfkfkmcpquot;Fcuctquot;fcpquot;Ogpgpicj Fgrctvgogpquot;Rgpfkfkmcpquot;Pcukqpcn
  • 2. Linggono, I Budi SENI MUSIK NON KLASIKAL Untuk SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
  • 3. Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang SENI MUSIK NON KLASIKAL Untuk SMK Penulis : Linggono, I Budi Ukuran Buku : …. x …. cm …… LIN Linggono, I Budi L Seni Musik Non Klasikal: untuk SMK/oleh Linggono, I Budi. Jakarta:Pusat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. vi. 521 hlm ISBN - - - Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008 Diperbanyak oleh….
  • 4. KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK iii
  • 5. KATA PENGANTAR Dengan melalui proses perjalanan yang cukup panjang bidang keahlian seni musik non klasik lahir, berdampingan dengan bidang keahlian musik klasik dan musik tradisi daerah lain, yang keberadaannya sudah lebih lama. Sudah sering kita saksikan bagaimana seni musik non klasik menjadi faktor penggerak yang positif bagi upaya pengembangan pendidikan apresiasi bagi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh sifatnya yang universal dengan teori-teori yang sudah ada sejak masa lalu. Di sisi lain peran musik non klasik secara ekonomi ikut menggerakkan roda perekonomian melalui industri-industri musik, seperti : pertunjukan musik, arranger, rekaman dan pemain-pemain musik. Pertanyaan yang sering muncul di tengah-tengah kalangan pendidik dan siswa di pelosok tanah air adalah bagaimana dan dimana bisa memperoleh buku musik non klasik untuk membantu dalam proses belajar mengajar seni musik non klasik? Kurangnya referensi tersebut, berdampak pada pemberian materi-materi yang diajarkan di sekolah tidak ada standard yang jelas. Di tengah kesulitan seperti itu, buku ini mencoba memberi solusi dalam upaya membantu para pendidik, siswa atau pencinta musik non klasik belajar secara terstandard. Bermain musik bukan berteori, buku ini tidak memberikan teori-teori yang banyak melainkan memberikan latihan- latihan secara aplikatif sehingga dengan bermain musik “kepekaan musikal” akan terlatih. Perlu kita renungkan bersama bahwa setiap pemusik harus mengenal dan mempraktekkan motto : “Membaca suara dan mendengar tulisan”. Mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat dalam membantu para pendidik dan siswa dalam belajar musik. Saran dan masukan untuk perbaikan tetap kami harapkan. Selamat belajar, semoga berhasil ! Penulis, iv
  • 6. DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN ………………………………………………. iii KATA PENGANTAR ……………………………………………. iv DAFT AR ISI ………………………………………………………. v BAGIAN I PENGETAHUAN MUSIK BAB 1 PENDAHULUAN ……………………………………………. 1-4 BAB 2 TEORI MUSIK ……………………………………….…….. 5 BAB 3 ILMU HARMONI …………………………………………… 39 BAGIAN II PRAKTEK INSTRUMEN POKOK (PIP) BAB 4 VOKAL …………………………………………………... 90 1. Jenis-jenis suara manusia ………………………….. 91 2. Pernafasan …………………………………………… 91 3. Sikap tubuh ……………………………….………….. 95 4.Membentuk suara …………………………….………. 96 5. Menyambung suku kata dan artikulasi …………….. 106 6. Resonansi …………………………….………………. 108 7. Intonasi ……………………………….……………….. 110 8. Phrasering ……………………………….……………. 110 9. Expresi ………………………………………………… 113 10. Penampilan …………………………………………. 116 11. Sifat Vokal dan Gaya Vokal………. ………………….. 117 12. Teknik vokal ………………………………………… 125 BAB 5 KEYBOARD ………………………………………………… 155 1. Jenis keyboard ………………………………………. 155 2. Teknik bermain keyboard …………………………… 157 v
  • 7. BAB 6 GITAR ……………………………………………………… 217 1. Gitar dan bagian-bagiannya ……………………….. 217 2. Cara menyetem gitar ……………………………….. 218 3. Latihan penjarian ……………………………………. 221 4. Latihan teknik memetik gitar ……………………….. 223 5. Latihan dengan tablature …………………………… 223 6. Latihan tangga nada ………………………………… 224 7. Latihan teknik memainkan gitar akustik …..……… 227 8. latihan teknik memainkan gitar elektrik …………… 261 BAB 7 BASS GITAR ………………………………………………. 278 1. Bass gitar dan bagian-bagiannya …………..……… 278 2. Cara menyetem bass gitar ………….….………….. 279 3. Teknik bermain bass gitar …………………………... 280 4. Perawatan bass gitar ………………………………… 286 5. Latihan tangga nada …………………………………. 288 6. Latihan nada-nada kromatis ………………………… 311 7. Latihan etude …………………………………………. 312 8. Latihan buah musik …………………………………… 323 BAB 8 SAXOPHONE ………………………………………………. 333 1. Pengenalan dan cara perawatannya ………………. 333 2. Teknik dasar bermain saxophone ………………….. 340 3. Teknik dan etude …………………………………….. 356 4. Buah musik ……………………………………………. 375 BAB 9 DRUM ………………………………………………………. 386 1. Mengenal drum ………………………………………. 386 2. Posisi tubuh dalam bermain drum …………………… 395 3. Notasi drum ……………………………………………. 398 4. teknik memukul ………………………………………… 401 5. Teknik memainkan drum ……………………………… 415 6. Bermain solo drum ……………………………………. 434 vi
  • 8. 7. Pengenalan gaya ……………………………………… 452 8. Etude …………………………………………………… 460 9. Buah musik ……………………………………………. 471 BAGIAN III PENGETAHUAN MIDI BAB 10 DASAR-DASAR MIDI ……………………………………… 480 BAB 11 MENULIS NOTASI …………………………………………. 486 BAB 12 MEMBUAT FILE MIDI ……………………………………. 507 GLOSARIUM …………………………………………………….. 516 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………….. 519 vii
  • 9. BAB 1 PENDAHULUAN Pelaksanaan pembelajaran program keahlian seni musik non klasik sampai saat ini masih banyak menghadapi kendala. Kendala terbesar yang dihadapi adalah kurangnya referensi, baik untuk guru mau- pun siswa. Program keahlian seni musik non klasik juga memiliki eksis- tensi yang sama dengan bidang-bidang keahlian yang lain yang terdapat pada kurikulum. Pembelajaran bidang keahlian seni musik non klasik, seperti juga pembelajaran bidang keahlian seni yang lain, bersifat prak- tik bukan bersifat teoritis. Artinya bahwa siswa diharapkan dapat menguasai keterampilan dalam membaca notasi, menulis notasi, me- nyanyi, membuat aransemen dan memainkan instrumen individu sesuai dengan pilihan siswa. Di dalam buku ini memberikan acuan berupa materi-materi yang harus dikuasai oleh siswa dalam menghadapi tuntutan pekerjaan di lingkungan dunia entertainment musik. Proses pembelajaran bidang ke- ahlian seni musik non klasik memerlukan waktu panjang, karena men- cakup suatu pekerjaan yang sangat luas. Dalam buku ini disajikan ber- bagai ruang lingkup keahlian meliputi vokal, gitar, bass gitar, saxophone, keyboard dan drums sebagai instrumen individu meliputi berbagai aliran gaya/style musik yang sangat luas, seperti pop, jazz, rock, dangdut dan jenis musik alternatif yang lain. Dengan keluasan materi tersebut, dalam buku ini perlu dibatasi dengan suatu pertimbangan bahwa akses yang paling besar adalah musik band dengan style musik populer. Jenis musik ini mendapat perhatian yang cukup besar dari masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, peranan dunia industri, mas media/TV diharapkan turut membantu mempercepat apresiasi masya- rakat terhadap dunia musik populer. Dengan demikian masyarakat diharapkan tidak hanya dapat berperan sebagai penikmat, namun dapat ditingkatkan menjadi pemain yang terlibat langsung di dalamnya. Meningkatnya apresiasi musik non klasik dan apresiasii ter- hadap dunia entertainment akan membuka peluang baru tumbuhnya profesi di dunia entertainment (musik populer). Kesempatan itu telah banyak dimanfaatkan oleh dunia industri, baik yang berhubungan dengan dunia pengelolaan pertunjukan maupun industri lainnya. Kesempatan-ke- sempatan tersebut pasti akan membawa manfaat: pertama, mening- katkan apresiasi masyarakat terhadap seni musik non klasik (populer); Kedua, adanya kompetisi diantara kelompok-kelompok musik, yang pada akhirnya mempengaruhi sikap profesionalisme yang berdaya saing dalam Seni Musik Non Klasik 1
  • 10. bidangnya; Ketiga, berkaitan dengan dunia bisnis pertunjukan, industri rekaman yang berujung adanya pergerakan ekonomi. Proses pembelajaran yang sistematis merupakan langkah yang harus dilakukan dengan kajian-kajian dan latihan-latihan materi. Sehingga produk pembelajaran dapat dijadikan tolok ukur untuk pencapaian kompetensi dalam bermain musik sesuai dengan ke-butuhan industri seni musik non klasik (populer). Musik klasik dan non klasik merupakan istilah yang sering di- pergunakan dalam kehidup-an musik sehari-hari, namun penger-tiannya belum jelas. Pada awalnya tidak ada istilah musik klasik atau gaya klasik. Menurut Ensiklopedi Indonesia dijelaskan bahwa klasik berarti suatu kar- ya jaman lampau yang mempunyai nilai tinggi serta ilmiah dan mem- punyai kadar keindahan yang tidak akan luntur sepanjang masa. Pada dunia musik, terminologi klasik sering dika-itkan dengan tradisi musik di dunia Barat dengan penggunaan instrumen yang mengacu pada tradisi Barat. Dalam sejarah musik, kata klasik mengacu pada sebuah periode tertentu yang ditandai oleh wafatnya Johan Sebastian Bach (1750) dan berakhirnya jaman Barok. Franz Schubert merupakan komponis zaman klasik dari Austria, meskipun karya-karyanya digolongkan ke dalam komposisi jaman Romantik periode 1820-1900. Istilah klasik dapat pula diartikan sebagai “puncak” perkembang-an dari suatu kebudayaan/kesenian yang ber- pengaruh pada jaman berikutnya, sehingga menimbulkan gaya baru. Walaupun demikian, bukannya jaman/gaya sebelumnya hanya dipandang sebagai karya-karya yang kurang sempurna. Dengan demikian sangat penting untuk mengkaji lebih dalam bahwa perkembangan kebu- dayaan/kesenian selalu terdiri dari banyak unsur yang saling berkaitan dan saling melengkapi. Perkembangan musik klasik nampak pada figur komponis Joseph Haydn dengan karya pertamanya berbentuk Simphoni No. 1 yang di cipta pada tahun 1759. Komponis tersebut mempelopori bentuk musik baru p ada waktu itu dengan susunan : Presto-Andante Cantabile-Menuetto-Scherzando. Pada umumnya pada jaman klasik instrumen musik yang digunakan dalam musik orkes klasik adalah : - Biola 1 - Picolo - Biola 2 - Oboe - Alto - Klarinet - Cello - Bassoon - Bass - Contra bassoon - Terompet - Trombone - Horn - Timpani Seni Musik Non Klasik 2
  • 11. Musik non klasik merupakan istilah yang sering digunakan dalam kehidupan dunia musik sehari-hari. Intinya dalam tinjauan bahasa me- rupakan lawan kata dari musik klasik. Musik non klasik adalah bagian yang sangat luas dari kehidupan musik secara umum . Perlu dipahami bahwa definisi formal tidak akan berhasil untuk men-jelaskan secara te- gas, karena definisi itu sendiri mengungkapkan makna, keterangan, ciri- ciri utama, ruang lingkup dan sebagainya. Secara umum definisi itu sendiri bersifat memberikan batasan, se-mentara musik non klasik akan sulit sekali untuk didefinisikan secara tegas. Pengertian umum yang paling simpel untuk masyarakat awam ter-hadap musik non klasik adalah musik populer, dengan kelompok band sebagai bentuk ekspresinya, sehingga dalam buku ini disajikan berbagai macam latihan, lagu, style dan karakter setiap alat musik pada kelompok band. Instrumen musik yang dipergunakan p ada ke-lompok band pada umumnya terdiri dari : vokal, gitar, bass gitar, saxophone, keyboard, dan drums. Walau-pun tidak menutup kemungkinan ada penambahan- penambahan instrumen musik yang lain. Pada intinya, musik non klasik adalah bagian yang sangat luas dari makna musik secara umum sehingga sangat perlu dipahami bahwa definisi formal tidak akan berhasil menjelaskan secara akurat. Definisi tentang musik non klasik dapat didefinisikan sebatas memberikan batasan-batasan saja. Hal ini juga akan mempengaruhi pula ruang ling- kup pekerjaan yang tidak mungkin ditentukan secara formal. Ruang lingkup materi seni musik non klasik adalah meliputi pengetahuan alat-alat musik, yang meliputi tentang karakter setiap ins- trumen musik seperti kompas/ambitus dan struktur dari instrumen musik. Pengetahuan ini merupakan dasar untuk mempelajari alat musik sebagai instrumen individu dan penyusunan aransemen. Instrumen Pokok (PIP) adalah instrumen pilihan yang merupakan instrumen mayor. Meliputi vokal, keyboard, gitar, bass gitas, saxophone dan drum. Secara garis besar materi disajikan meliputi: penyeteman (general/ tuning, harmonic tuning, quick tuning), fingering, picking, teknik tabulatur, major scale, minor scale, skiping, dumping, sliding, slur, bending, vibrator, staccato, arpegio, akor, barrechord, power chord, sound control, sound effect dan dilengkapi dengan etude/latihan; Materi bass gitar meliputi pengetahuan berbagai macam bass gitar, notasi musik yang diper-gunakan dalam bass gitar, cara bermain, penguasaan teknik, etude serta penguasaan repertoir musik. Harmonisasi di dalam bass gitar memegang peranan yang sangat penting dalam keseluruhan alur sebuah melodi. Nada bass adalah nada-nada yang mempunyai frekuensi rendah sehingga statusnya dapat menegaskan harmoni dari sebuah accord yang sedang dimainkan. Nada-nada yang dihasilkan dari bass secara tidak Seni Musik Non Klasik 3
  • 12. langsung akan menjadi patokan harmoni sehingga akan membantu mempertegas aksen-aksen yang sedang dimainkan; Materi dalam ber- main keyboard terdiri dari 2 macam, yaitu : bermain keyboard dalam anrambel (band) dan bermain solo keyboard ditambah dengan penguasaan teknologi berupa MIDI (Musical Instrument Digital Interface); Materi drums dalam bab ini mengupas beberapa hal antara lain teknik- teknik pukulan pada snare drums, cymbal, hi-hat dan bass drums, paradidle, flame, draf, ruff dan sebagainya. Irama disajikan berbagai jenis pola irama, seperti : slow rock, rock beat, latin rock, bossanova, funk beat, samba dan lain-lain. Buku ini selain untuk memperkenalkan jenis alat musik tersebut, juga sejarah dan perawatannya. Seni Musik Non Klasik 4
  • 13. BAB 2 TEORI MUSIK Kemampuan musikal seseorang dapat dideteksi melalui kemam- puannya dalam bermain musik. Meskipun teori musik bukan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dalam Program Musik Non Klasik namun kemmapuan ini sangat penting dikuasai dan merupakan salah satu hal yang membedakan antara siswa program musik Program Musik Non Klasik (SMK) dan siswa SMA yang sama-sama dapat bermain musik. Siswa musik diharapkan bisa mempertanggungjawabkan per- mainan musiknya secara teoritis. Perlu diingat bahwa kita jangan sampai terjebak pada teori yang tinggi tetapi tidak aplikatif dan kurang men- dukung terhadap permainan musiknya. Teori musik perlu disadari seba- gai sarana untuk mempermudah dalam bermain musik. Kemampuan penguasaan teori musik sebenarnya sangat melekat dalam permainan instrumen dan kebutuhan untuk masing-masing ins- trumen tidak sama. Misalnya teori musik untuk instrumen drum lebih banyak pada penguasaan ritme, sedangkan untuk instrumen saxophone in Es penguasaan tangga nada awalnya sudah lebih tinggi karena latihan awal teknik bermain sudah menggunakan tangga nada Es Mayor. Sedangkan untuk instrumen piano, gitar, dan bass yang dimulai dari pelatihan tekniknya dari tangga nada C Mayor. Bahkan untuk latihan awal teknik bermain instrumen drum tidak menggunakan tangga nada me- lainkan hanya ritme. Namun bukan berarti seorang pemain drum tidak perlu memiliki kemampuan dalam hal nada meskipun instrumen yang dimainkan tidak bernada. 1.1 Garis paranada Notasi 1, garis paranada Garis tersebut digunakan untuk penulisan nada dan ritme. Perbedaanya, untuk penulisan diperlukan tanda kunci (clef) untuk menen- tukan nama nada yang terdapat pada garis paranada, sedangkan untuk penulian ritme tidak diperlukan tanda kunci karena notasi yang dimainkan tidak bernada. Seni Musik Non Klasik 5
  • 14. 1.2 Tanda Kunci (Key Signature) 1.2.1 Kunci G Notasi 2, kunci G dan nada G Kunci G berfungsi untuk menentukan nada G yang terdapat pada garis ke dua dari bawah atau garis ke empat dari atas. 1.2.2 Kunci F Notasi 3, Kunci F dan nada F Tanda kunci tersebut berfungsi untuk menentukan nada F yang terdapat pada garis ke empat dari bawah dan garis ke dua dari atas. Nama-nama nada berdasarkan frekwensinya adalah sebagai berikut: Seni Musik Non Klasik 6
  • 15. E F G A B c d e f g a b c1 d1 e1 f1 g1 a1 b1 c2 d2 e2 f2 g2 a2 b2 Notasi 4, letak nada Notasi garis paranada diatas terdapat dua buah tanda kunci yaitu kunci G dan kunci F. Notasi diatas menunjukkan bahwa kunci G dan kunci F saling berhubungan dan menunjukkan bahwa nada-nada dalam kunci F lebih rendah daripada nada-nada yang terdapat dalam kunci G. Nama-nama nadanya disusun secara berurutan untuk memperjelas pengnotasian posisi nada dalam garis paranada. 1.2.3 Kunci C Notasi 5, Kunci C dan nada C Seni Musik Non Klasik 7
  • 16. Tanda kunci C terdapat 5 (lima) macam yang dibedakan dari letak tanda kuncinya pada garis paranada. Nada yang terletak di depan tengah notasi tersebut aalah c1, nada berikutnya menyesuaiakan sesuai dengan posisi/letak nada yang akan berpengaruh pada tinggi dan rendah nada. Karena letaknya yang dapat berpindah tempat, kunci ini juga sering di- sebut movable clef. Tanda kunci ini biasanya hanya digunakan untuk penulisan instrumen biola alto dan cello. 1.3 Bentuk dan nilai not Notasi 6, Bentuk not 1.4 Bentuk tanda diam Notasi 7, nilai not dan tanda istirahat Seni Musik Non Klasik 8
  • 17. 1.5 Tanda Sukat (Time Signature) 1.5.1 Tanda Sukat 4/4 Dalam lagu-lagu (populer), tanda sukat yang sering kita jumpai adalah satu tanda sukat yakni 4/4. Irama Rock’n Roll, Bossanova, Cha Cha, Rumba, Samba, Jive, dan sebagainya adalah contoh irama yang ber- tanda sukat 4/4. Marilah kita amati lagu dibawah ini dan kita pelajari makna dari suatu tanda sukat: Notasi 8, Petikan lagu Kebyar-Kebyar Lagu di atas merupakan contoh lagu yang bertanda sukat 4/4. Untuk memahaminya lagu tersebut dinyanyikan, kemudian dianalisis mengapa lagunya bertanda birama 4/4. Kita amati notasi pada birama pertama. Notasi 9, not seperempat Dalam materi bentuk dan nilai not dijelaskan bahwa not seperti notasi di atas merupakan not seperempat. Pada birama pertama lagu Kebyar Kebyar terdapat empat not seperempat, apabila dinotasikan adalah: + + + = 4/4 Lagu yang bertanda birama 4/4 apabila dijumlah dalam satu birama memiliki empat not seperempat. Hal itu bukan berarti dalam setiap birama dalam satu lagu hanya terdapt not sepempat saja tetapi bisa terdiri dari not seperdelapan, seperenambelas, setengah, atau not penuh. Mari kita cermati lagi lagu diatas pada birama ke dua yaitu: Seni Musik Non Klasik 9
  • 18. Notasi 10, not seperdelapan dan not setengah Not pada birama tersebut terdiri dari dua macam jenis not yaitu not seperdelapan dan not setengah. Secara matematis sama dengan: ?+ ?+ ? + ? = ¼ + ¼ . Notasi 11, not seperdelapan Pada birama kedua adalah nada setengah: ½ = ¼ + ¼ . Notasi 12, not setengah Seni Musik Non Klasik 10
  • 19. Dengan demikian pada birama ke dua apabila dianalisis juga terdapat empat not seperempat. Pada birama selan-jutnya meskipun bentuk dan nilai notnya berbeda dengan birama pertama dan ke dua tetapi apabila dianalisis pasti terdapat empat not perempatan. Birama terakhir terdapat not penuh/ utuh. Notasi 13, not utuh Dalam materi sebelumnya dijelaskan bahwa: w sama dengan : + + + = 4/4 Contoh lagu yang bertanda sukat 4/4 misalnya: 1. Januari (Glen F.) 2. Jujur (Raja) 3. Kenangan Terindah (Samson) 4. Andai Ku tahu (Ungu) 5. TTM (Ratu) 6. Take Me Home Country Road (John Denver) 7. Biru (Vina P.) 8. Kebyar-kebyar (Gombloh) 9. Kekasih Gelapku (Ungu) 10. Andaikan Kau Datang (Koes Plus) Dalam tanda sukat 4/4 terdapat istilah setengah birama (half bar), misalnya pada lagu dibawah ini: Seni Musik Non Klasik 11
  • 20. Notasi 14, Lagu Masih (Ada Band) Pada baris ke lima birama ke tiga terdapat tanda 2/4, berarti pada birama tersebut hanya terdapat 2 ketukan atau setengah birama. Cermati juga pada baris ke enam birama ke lima terdapat tanda 2/4 seprti baris sebe- lumnya. Untuk memahami alangkah baiknya kalau kita menyanyikan lagu tersebut dan merasakan aksen pada birama/syair yang bertanda 2/4. Lagu lain yang terdapat half bar misalnya: 1. How Can I Tell Her (Lobo) 2. The Greatest Love of All (Whiteney Hoston) 3. Song Song Blue 4. Kupu Kupu Malam (Titik Puspa) Seni Musik Non Klasik 12
  • 21. 1.5.2 Tanda Sukat 3/4 Tanda birama ini dalam musik populer dikenal dengan irama Waltz, tetapi lagu-lagu populer pada saat ini jarang kita jumpai tanda birama ini. Notasi 15, Petikan lagu Belaian sayang Lagu di atas termasuk contoh lagu era 60-an tetapi pernah di-realease penyayi pop Ruth Sahanaya. Untuk memahami tanda birama ini alangkah baiknya kalau kita dapat menyanyikan dan menganalisis mengapa dibe- rikan tanda sukat ¾. Pada birama pertama terdiri dari not seperempat dan titik, dan not seperdelapan. Notasi 16, Notasi dan tanda titik Apabila dianalisis sebagai berikut: qž + ? + ? + ? = (1/4 + 1/8) + 1/8 + 1/8 + 1/8 = ¼ + ¼ + ¼ Jadi birama pertama terdapat tiga buah not seperempat yaitu: q + q + q= ¼ + ¼ + ¼ = 3/4 Seni Musik Non Klasik 13
  • 22. Pada birama ke dua terdapat not seperempat dan not setengah q + h = q + q + q = ¼ + ¼ + ¼ = ¾. Notasi 17, ¾ Contoh lagu lain dalam tana sukat ini adalah: 1. Restumu Kunantikan (S. Tito dan Jul Ch.) 2. Melati dari Jayagiri (Iwan Abdurachman/Bimbo) 3. Bunga Mawar (Teti Kadi) 4. Delilah ( Tom Jones) 5. Sapu Tangan Dari Bandung Selatan (Lagu Perjuangan) 6. Mother How Are You Today Pada dasarnya dua tanda sukat di atas adalah tanda sukat yang paling sering kita jumpai dalam lagu. Dalam teori musik kita kenal penggolongan tana sukat menjadi dua yaitu tanda sukat sederhana dan tanda sukat susun. Tanda sukat sederhana misalnya 2/4, ¾, 4/4. Sedangkan tanda sukat susun adalah tanda sukat yang merupakan su- sunan dari dua atau lebih tanda sukat, misalnya 6/8 taerdiri dari dua tanda sukat 3/8, tanda sukat 9/8 merupakan susunan dari tiga tanda sukat 3/8, dan lain-lain. Tanda sukat sebenarnya lebih menitikberatkan pada teknik penulisan. Misalnya lagu yang bertanda sukat ¾ sebenarnya bisa saja ditulis dengan tanda sukat 3/8, 4/4 ditulis dengan tanda sukat 4/8. 1.6 Tanda Aksidental Adalah tanda yang dapat merubah ketinggian nada dalam satu birama. Tanda tersebut sudah tidak berlaku lagi pada birama berikutnya. Seni Musik Non Klasik 14
  • 23. 1.6.1 # (kres/sharp) Notasi 18, Petikan lagu Kebyar-Kebyar Untuk dapat memperjelas materi ini sebaiknya lagu tersebut dinyanyikan dan dianalisis terutama pada baris ke dua birama ke dua yang terdapat tanda kres (#). Nada tersebut semula bernala d setelah diberi tanda # menjadi dis atau d sharp. Akan sangat berbeda bunyinya apabila lagu tersebut tidak diberikan tanda #. Dalam istilah internasinal, nada yang di- beri tanda ini namanya ditambah sharp, misalnya d menjadi d sharp. b (mol/flat) 1.6.2 KIDUNG Notasi 19, Petikan lagu Kidung (Chrisye) Untuk lebih memahami tanda aksidental ini sebaiknya lagu bagian pertama lagu di atas dinyanyikan dengan intonasi yang tepat. Pada birama ke tiga, empat, dan enam terdapat tanda mol yang berfungsi untuk menurunkan setengah nada. Pada birama ke tiga dan ke em- pat, nada b setelah diberi tanda mol menjadi bes. Sedangkan pada birama ke enam nada a berubah menjadi as. Setiap nada yang mendapat tanda mol namanya ditambah es, kecuali nada a ditambah s. Sama halnya dengan tanda kres, tanda mol juga hanya berlaku untuk satu birama. Dalam istilah standar internasional, nada yang diberi tanda mol/flat namanya ditambah flat, misalnya b menjadi b flat. Seni Musik Non Klasik 15
  • 24. n (pugar/natural) 1.6.3 Adalah tanda untuk mengembalikan nada yang semula mendapatkan tanda kres atau mol dalam satu birama. Notasi 20, Petikan lagu Sepasang Mata Bola Birama pertama lagu di atas terdapat dua tanda aksidental yaitu tanda kres dan pugar. Nada g pada ketukan ke tiga diberi tanda kres menjadi gis/g sharp dan pada ketukan ke mpat diberikan tanda pugar kembali menjadi nada g. Untuk lebih memahami fungsi tanda aksidental dan penerapannya dalam suatu lagu sebaiknya dinyanyikan dan dirasakan perbedaan nadanya. Tanda pugar juga hanya berlaku dalam satu birama, sama dengan tanda aksidental yang lain. Lagu-lagu lain yang terdapat tanda pugar misalnya: 1. Kebyar-kebyar (Gombloh) 2. Chindai (Cici Paramida) Seni Musik Non Klasik 16
  • 25. 1.7 Tangga nada (scale) Notasi 21, Petikan lagu Auld Lang Syne Lagu di atas salah satu contoh penggunaan tangga nada yang terdiri dari 5 nada (pentatonik) yaitu Notasi 22, Tangga nada pentatonik Musik barat kebanyakan menggunakan tujuh nada yang dikelompokkan dalam dua jenis yaitu tangga nada mayor dan minor ( major scale dan minor scale). 1.7.1 Tangga Nada Mayor (Major Scale) 1.7.1.1 Tangga Nada C mayor (Natural) C D E F G A B C 1 1 ½ 1 1 1 ½ Notasi 23, Tangga nada C mayor Seni Musik Non Klasik 17
  • 26. Tangga nada diatas terdapat 2 tetrachord. Tetrachord pertama adalah C D E F, dan tetrachord kedua G A B C. 1.7.1.2 Tangga Nada G mayor (1#) Untuk membentuk tangga nada baru, tetrachord kedua menjadi tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada berikutnya dengan iterval jarak seperti yang telah ditentukan. G A B C D E Fis G 1 1 ½ 1 1 1 ½ Notasi 24, Tangga nada G Mayor G A B C menjadi tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada berikutnya yaitu D E F G. Nada E ke F berjarak ½ padahal jarak nada ke 6 ke 7 adalah 1 sehingga nada ke 7 harus dinaikkan ½ supaya jarak menjadi 1. Sedangkan jarak F ke G yang semula 1 setelah F menjadi Fis jaraknya menjadi ½., seperti notasi diatas. Karena dalam tangga nad G mayor terdapat 1 nada yang diberikan tanda kres yaitu nada F, maka tangga nada ini juga disebut tangga nada 1 kres. 1.7.1.3 Tangga Nada D mayor (2#) Untuk membentuk tangga nada berikutnya, prinsipnya sama dengan pembuatan tangga nada diatas. Tetrachord ke dua dari tangga nada G mayor yaitu: D E Fis G menjadi tetrachord pertama. D E Fis G A B Cis D 1 1 ½ 1 1 1 ½ Notasi 25, Tangga nada D mayor Seni Musik Non Klasik 18
  • 27. D E Fis G menjadi tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada beriutnya yaitu A B C D. Nada B ke C berjarak ½ padahal jarak nada ke 6 ke 7 adalah 1 sehingga nada ke 7 harus dinaikkan ½ supaya jarak menjadi 1. Sedangkan jarak C ke D yang semula 1 setelah C menjadi Cis jaraknya menjadi ½., seperti notasi diatas. Karena dalam tangga nada D mayor terdapat 2 nada yang diberikan tanda kres yaitu nada F dan C, maka tangga nada ini juga disebut tangga nada 2 kres. 1.7.1.4 Tangga Nada A mayor (3#) A B Cis D E Fis Gis A Notasi 26, Tangga nada A mayor 1.7.1.5 Tangga Nada E mayor (4#) E Fis Gis A B Cis Dis E Notasi 27, Tangga nada E mayor 1.7.1.6 Tangga Nada B mayor (5#) B Cis Dis E Fis Gis Ais B Notasi 28, Tangga nada B mayor Seni Musik Non Klasik 19
  • 28. 1.7.1.7 Tangga Nada Fis mayor (6#) Fis Gis Ais B Cis Dis Eis Fis Notasi 29, Tangga nada Fis mayor 1.7.1.8 Tangga Nada Cis mayor (7#) Cis Dis Eis Fis Gis Ais Bis Cis Notasi 30, Tangga nada Cis mayor 1.7.1.9 Tangga nada F mayor (1 b) F G A Bes C D E F Notasi 31, Tangga nada F mayor 1.7.1.10 Tangga nada Bes mayor (2 b) Bes C D Es F G A Bes Notasi 32, Tangga nada Bes mayor Seni Musik Non Klasik 20
  • 29. 1.7.1.11 Tangga nada Es mayor (3 b) Es F G As Bes C D Es Notasi 33, Tangga nada Es mayor 1.7.1.12 Tangga nada As mayor (4 b) As Bes C Des Es F G As Notasi 34, Tangga nada As mayor 1.7.1.13 Tangga nada Des mayor (5 b) Des Es F Ges As Bes C Des Notasi 35, Tangga nada Des mayor 1.7.1.14 Tangga nada Ges mayor (6 b) Ges As Bes Ces Des Es F Ges Notasi 36, Tangga nada Ges mayor Seni Musik Non Klasik 21
  • 30. 1.7.1.15 Tangga nada Ces mayor (7 b) Ces Des Es Fes Ges As Bes Ces Notasi 37, Tangga nada Ces mayor Tangga nada di atas secara teoretis masih lebih banyak lagi macamnya, tetapi apabila kita cermati sebenarnya implementasinya dalam prakek bermain musik terdapat kesamaan. Misalnya: Tangga nada Cis enharmonik dengan tangga nada Des Tangga nada Fis enharmonik dengan tangga nada Ges Tangga nada Ces enharmonik dengan tangga nada B 1.7.2 Tangga Nada Minor (Minor Scale) 1.7.2.1 Minor Diatonis C D Es F G As Bes C 1 ½ 1 1 ½ 1 1 Notasi 38, Tangga nada C minor diatonis Seni Musik Non Klasik 22
  • 31. 1.7.2.2 Minor Harmonis C D Es F G As B C Notasi 39, Tangga nada C minor harmonis 1.7.2.3 Minor Melodis § Gerakan Naik C D Es F G A B C Notasi 40, Tangga nada C minor melodis naik § Gerakan Turun C Bes As G F Es D C Notasi 41, Tangga nada C minor melodis turun Lagu yang menggunakan tangga nada minor, bisa mengunakan satu jenis tangga nada minor saja tetapi ada juga yang menggunakan dua atau tiga jenis sekaligus. Petikan lagu ”Chindai” dibawah ini me- rupakan penggabungan beberapa tangga nada minor. Birama ke 2, 4, Seni Musik Non Klasik 23
  • 32. dan 5 menggunakan tangga nada minor harmonis. Pada baris terakhir birama ke dua menggunakan tangga nada minor diatonis. CHINDAI Cici Paramida Notasi 42, Petikan lagu Chindai dalam A minor Notasi 43, Petikan lagu Chindai dalam C minor Seni Musik Non Klasik 24
  • 33. 1.8 Interval Interval adalah jarak antara dua nada 1P 2M 3M 4P 5P 6M 7M 8P Notasi 44, Interval Peristilahan dalam interval adalah: 1.8.1 Perfect (murni) terdapat dalam interval 1, 4, 5, dan 8 Perfect berarti interval tersebut apabila dibalik, intervalnya juga perfect. Misalnya: Notasi 45, Interval perfect Interval c ke f adalah interval 4 perfect, setelah dibalik menjadi f ke c adalah 5 perfect. Contoh lain: Notasi 46, Contoh interval perfect Interval c ke g adalah 5 perfect, sedangkan g ke c berinterval 4 perfect. Seni Musik Non Klasik 25
  • 34. 1.8.2 Mayor Interval ini terdapat pada interval 2, 3, 6, dan 7 Notasi 47, Interval mayor 1.8.3 Minor Notasi 48, Interval minor 1.8.4 Augmented Notasi 49, Interval augmented Notasi 50, Petikan lagu Doa dan Restumu Seni Musik Non Klasik 26
  • 35. 1.9 Akor Adalah nada-nada yang dibunyikan bersama dan menimbulkan suara yang harmonis, terdiri dari dua nada atau lebih. Akor terbentuk dari nada-nada dalam suatu tangga nada, misalnya dalam tangga nada C mayor berikut ini: Notasi 51, Nada-nada dalam C mayor I II III IV V VI VII VIII Bo C D- E- F G A- C Notasi 52, Akor trisuara Tingkat I, IV, dan V : akor mayor karena berjarak 3M dan 3m Tingkat II, III, dan VI : akor minor karena berjarak 3m dan 3M Tingkat VII : akor diminished karena berjarak 3m dan 3m Akor tingkat I, IV, dan V merupakan akor pokok, sedangkan akor II, III, VI, dan VII merupakan akor bantu. Disebut akor pokok karena apabila kita mengiringi lagu yang bertangga n ada mayor dan tidak ada nada yang mendapat tanda aksidental, diberikan ketiga akor pokok tersebut sudah cukup. Namun biasanya bibantu dengan akor lain (akor bantu) untuk memperindah harmonisasi sehingga lebih kelihatan fleksibel atau tidak kaku. Kedudukan akor bantu memang hanya membantu akor po- kok untuk memberikan alternatif lain dalam mengiringi lagu. Seni Musik Non Klasik 27
  • 36. Setiap tangga nada mayor memiliki tingkatan dan jenis akor yang sama, misalnya dalam tangga nada D mayor dibawah ini: Notasi 53, Tingkat I-VII Cis o D E- Fis- G A B Notasi 54, Tri suara dalam D mayor 1.10 Modulasi Modulasi adalah pergantian nada dasar dalam suatu lagu. Ada lagu yang berganti nada dasar sementara kemudian kembali lagi ke tnada dasar semula, namun ada juga lagu yang berganti nada dasar sampai lagu selesai, bahkan berganti lebih dari satu kali. Seni Musik Non Klasik 28
  • 37. Notasi 55, Contoh lagu modulasi Lagu di atas terjadi perubahan nada dasar pada baris ke enam birama ke tiga (bertanda lingkaran) sampai akhir lagu. Pada awal lagu menggunakan nada dasar C kemudian terjadi modulasi ke dalam nada dasar D. Contoh lagu yang mengalami modulasi misalnya: 1. Mencintaimu (Krisdayanti) 2. TTM (Ratu) 3. When You Tell Me That You Love Me (Diana Rose) 4. Good Bye (Air Suplay) 5. Januari (Glen F.) 6. I Will Always Love You (Whitney Houston) 7. Biru (Vina P.) 8. Hero (Mariah Carey) 9. Dengan Menyebut Nama Allah (Novia Kolopaking) 1.11 Abreviasi Adalah penyederhanaan penulisan notasi dan istilah musik. Seni Musik Non Klasik 29
  • 38. 1.11.1 Abreviasi atas rangkaian penulisan not Tertulis Dimainkan Notasi 56, abreviasi not perdelapanan Tertulis Dimainkan 3 3 Notasi 57, Abreviasi triol Notasi 58, Abreviasi not utuh 1.11.2 Abreviasi kalimat lagu Notasi 59, Petikan lagu Kenangan Terindah (Samson) Seni Musik Non Klasik 30
  • 39. Dua baris pertama lagu Kenangan Terindah (Samson) memiliki nada yang sama. Untuk mempersingkat penulisan dapat diberikan tanda ulang pada baris pertama, sehingga penulisannya sebagai berikut: Notasi 60, Abreviasi Notasi 61, Abreviasi birama sebelumnya Tanda ulang pada birama ke dua dan ke empat pada notasi diatas berarti mengulang satu birama sebelumnya. Contoh lain abreviasi adalah: Notasi 62, Abreviasi dengan Coda Urutannya adalah: A B C A B D E A B F DC singkatan Da Capo artinya diulang dari awal lagu. To Coda artinya berakhir pada coda ( ). Notasi 63, Abreviasi DC Seni Musik Non Klasik 31
  • 40. Urutan lagu di atas adalah: A B C D B E F DS singkatan dari Da Segno artinya diulang dari tanda. 1.11.3 Abreviasi tanda dinamik Tanda dinamik adalah tanda tentang keras atau lembutnya lagu dinyanyikan. Dalam suatu lagu sering dijumpai tanda dinamik dan perubahan-perubahan dinamik yang dikendaki pencipta atau arranger. pp = pianissimo p = piano mp = mezzo piano mf = mezzo forte f = forte ff = fortessimo 1.11.4 Abreviasi tanda tempo Tanda tempo adalah tanda tentang cepat atau lambatnya lagu dinyanyikan. Seperti halnya dengan tanda dinamik, tanda tempo dan perubahan-perubahannya juga sering dijumpai dalam suatu lagu se- suai dengan maksud pencipta maupun arranger. Alat pengukur kece- patan tempo disebut metronome. Apabila suatu lagu tertulis MM (Metronome Maelzel) q = 60, artinya lagu tersebut dinyanyikan dengan kecepatan 60 ketukan not seperempat dalam setiap menit, kecepatan lagu setiap ketukan adalah 1 detik. Tanda ini sering digunakan dalam repertoar musik non klasik. Macam-macam tanda tempo secara garis besar adalah: Lambat, Sedang, dan Cepat. Seni Musik Non Klasik 32
  • 41. 1.11.5 Tanda Tempo Tanda tempo adalah tanda tentang cepat atau lambatnya lagu dinya- nyikan. Pada dasarnya tanda tempo dibagi menjadi tiga jenis, yaitu lambat, sedang, dan cepat . 1.12 Tempo Lambat 1.12.1 Largo 1.12.2 Adagio 1.12.3 Lento 1.12.4 Grave 1.13 Tempo Sedang 1.13.1 Larghetto 1.13.2 Andante 1.13.3 Andantino 1.13.4 Moderato 1.14 Tempo Cepat 1.14.1 Allegretto 1.14.2 Allegro 1.14.3 Presto Tanda tempo diatas masih banyak variasinya tergantung keinginan komposer dalam mengekspresikan karyanya. Repertoar musik non klasik lebih banyak menggunakan istilah yang diukur dengan metronome. Misalnya MM q= 60 yang berarti lagu dinyanyikan dalam kecepatan 60 ketukan not seperempat dalam setiap menit, atau setiap ketukan sama dengan 1 detik. 1.14.4 Tanda Dinamik Tanda dinamik adalah tanda tentang keras atau lembutnya suatu lagu dinyanyikan. Sama halnya dengan tanda tempo, tanda ini secara ga- ris besar dibagi menjadi tiga jenis yaitu lembut, sedang, dan keras. Dalam istilah musik dituliskan dalam istilah sebagai berikut: 1.15 Lembut 1.15.1 piano = lembut 1.15.2 pianissimo = sangat lembut Seni Musik Non Klasik 33
  • 42. 1.16 Sedang 1.16.1 Mezzopiano = lembut sedang 1.16.2 mezzoforten = keras sedang 1.17 Keras 1.17.1 forte = keras 1.17.2 fortissimo = sangat keras Dalam repertoar musik non klasik jarang dijumpai tanda-tanda itu karena permainan musik non klasik tidak banyak terjadi perubahan dinamik maupun tempo. Pada akhir lagu biasanya tanda-tanda tempo dan di- namik tersebut dipraktekkan untuk mengakhiri suatu lagu. Dalam suatu lagu sering juga dijumpai perubahan-perubahan tanda tem- po dan dinamik. Perubahan tanda tempo dan dinamik tersebut misalnya: 1.18 ritardando (rit.) = menjadi lambat 1.19 accelerando (accel.) = menjadi cepat 1.20 a tempo = kembali ke tempo semula U (fermata) 1.21 = ditahan dalam waktu tidak terbatas 1.22 crescendo = menjadi keras 1.23 decrescendo = menjadi lembut 1.23.1 Bentuk Analisis Lagu Setiap lagu memiliki bentuk yang dapat dianalisis berdasarkan bagian-bagiannya. Dalam musik populer kebanyakan memilki bentuk 2 bagian atau AB. Artinya bagian pertama atau A berbeda dengan bagian kedua (B). Perbedaannya bukan semata-mata pada syair tetapi dapat dilihat dari melodi, yang berpengaruh pada harmonisasi. Orang awam sering memberi istilah Bait dan Refrain. Beberapa lagu yang kita jumpai bagian A dinyanyikan dua kali dengan melodi yang sama tetapi syairnya berbeda, kemudian masuk bagian kedua (B) yang biasanya disebut refrain, kemudian kembali lagi ke bagian A atau berhenti diisi dengan musik tengah atau interlude. Seni Musik Non Klasik 34
  • 43. JUJUR A RAJA B Notasi 64, Contoh lagu bentuk AB Lagu di atas merupakan salah satu contoh bentuk lagu dua bagian atau A B. Urutan lagunya adalah: Intro ---- A ---- A1 -----B -----A1 -------Interlude ------- B Lagu Jujur di atas merupakan salah satu bentuk lagu yang banyak dijumpai dalam musik populer. Tentunya masih ada bentuk lain karena Seni Musik Non Klasik 35
  • 44. komponis memiliki kebebasan dalam berekspresi. Bentuk lain tersebut misalnya bentuk lagu 3 bagian atau A, B, dan C. Urutan menyanyikan juga bervariasi tetapi biasanya A, B, C kemudian diulang sesuai dengan kehendak komposer. Bisa jadi diulang dari B atau hanya C atau mungkin dari A. Setiap lagu bisa memiliki bentuk yang berbeda dengan lagu lain tergantung dari bagaimana komposer mengekspresikan karya musiknya. Sedangkan urutan lagu tergantung pada pembuat aransemen karena be- lum tentu seorang komposer sekaligus sebagai pembuat aransemen musik (arranger). Motif o Adalah bagian terkecil dari suatu kalimat lagu. Lagu diatas memiliki pola ritme yang diulang ulang, misalnya: Notasi 65, motif Notasi 66, pengulangan Notasi 67, pengulangan lainnya Seni Musik Non Klasik 36
  • 45. Ketiganya memiliki pola ritme yang sama, dan masih dijumpai lagi pola ritme sejenis dalam lagu di atas. Frase o Adalah struktur kalimat lagu. Dalam lagu biasanya terdapat beberapa frase. Frase pertama adalah: Notasi 68, Frase pertama Frase ke dua: Notasi 69, Frase kedua Berikut contoh lagu yang memiliki bentuk tiga bagian yaitu A B C. KENANGAN TERINDAH Samson A Seni Musik Non Klasik 37
  • 46. B C Notasi 70, Lagu bentuk ABC Baris pertama dan ke dua lagu diatas adalah bagian A, baris ketiga dan ke empat merupakan bagian B, sedangkan bagian C terdapat pada baris ke lima dan ke enam. Notasi diatas merupakan inti dari lagu Kenangan Terindah, artinya musik serta syair berikutnya yang terdapat dalam kaset aslinya merupakan pengembangan aransemen untuk mem- perindah lagu secara keseluruhan. Pengulangan syairnya langsung pada bagian C atau mulai dari syair Bila yang tertulis dst. Jadi urutan lagu asli- nya adalah: Intro ---- A ---- B ---- C ---- Interlude ------ C Analisis beberapa lagu diatas merupakan suatu upaya mempermudah dalam mengenal dan memahami lagu tersebut, bukan sebaliknya mem- persulit dari lagu yang sebenarnya sudah mudah dinyanyikan. Misalnya apabila kita mempelajari sebuah lagu kita bisa mempelajarinya secara bagian per bagian. Seni Musik Non Klasik 38
  • 47. BAB 3 Ilmu Harmoni Pada dasarnya ilmu harmoni yang akan dibahas ada dua, yaitu harmoni konvensional dan harmoni modern. Harmoni konvensional mem- pelajari bagaimana membuat aransemen untuk paduan suara (vokal) berdasarkan pengelompokan jenis suara yaitu sopran, alto, tenor, dan bass atau lebih populer dengan isilah SATB. Sedangkan harmoni modern adalah ilmu harmoni yang mempelajari masalah tangganada dan akor, baik untuk musik vokal maupun instrumental. Harmoni modern banyak digunakan sebagai dasar improvisasi dalam musik jazz maupun pop. 2.1 Harmoni SATB Pada dasarnya suara manusia dibagi menjadi 4 jenis, yaitu : sopran adalah jenis suara wanita dengan wilayah nada tinggi, alto adalah jenis suara wanita dengan wilayah nada rendah, tenor adalah jenis suara pria dengan wilayah nada tinggi, bass adalah jenis suara pria dengan wilayah nada rendah. Pembagian jenis suara yang lebih detail lagi masih ada, misalnya mezzo sopran, adalah jenis suara wanita yang wilayah suaranya lebih rendah dari sopran tetapi lebih tinggi dari alto. Bariton adalah jenis suara pria yang wilayah suaranya lebih rendah dari tenor dan lebih tinggi dari bass. Paduan suara (koor) merupakan kesatuan dari sejumlah penyanyi dari beberapa jenis suara yang berbeda dan memadukannya dibawah pimpinan seorang dirigen. Dirigen atau conductor adalah seo- rang yang pekerjaannya memimpin sekelompok pemain musik baik musik vokal, instrumen atau gabungan antara vokal dan instrumen. Untuk dapat melaksanakan pekerjaan ini diperlukan beberapa persyaratan antara lain memiliki jiwa kepemimpinan, memiliki pengetahuan dan kemampuan serta ketrampilan dalam bidang musik. Salah satu kemampuan yang diperlukan seorang guru musik adalah membuat aransemen paduan suara SATB. Untuk dapat membuat aransemen paduan suara, pengetahuan yang wajib dimiliki adalah dapat menentukan wilayah suara manusia Seni Musik Non Klasik 39
  • 48. sesuai dengan jenisnya. Hal ini penting karena aransemen tersebut di- harapkan nantinya dapat dinyanyikan sesuai dengan wilayah suara masing-masing jenis suara. Berikut ini notasi wilayah suara manusia: Notasi 71, sopran: c1 sampai a 2 Notasi 72, alto: f sampai d2 Notasi 73, tenor: c sampai a1 Seni Musik Non Klasik 40
  • 49. Notasi 74, bass: F sampai d 1 Masing-masing jenis suara memiliki wilayah nada dan karakter yang berbeda antara jenis suara yang satu satu dengan lainnya. Setiap wilayah nada dari masing-masing jenis suara memiliki register suara dada, tengah, dan kepala. Suara dada terdapat pada na-nada bawah, suara te- ngah pada nada-nada tengah, an suara kepala pada nada-nada atas. Ke empat jenis suara yaitu sopran, alto, tenor, dan bass tersebut dapat dipadukan dalam bermacam-macam kombinasi, sebagai berikut: • Sopran dan alto (SA), biasanya aransemen ini dinyanyikan oleh paduan suara (koor) wanita atau anak-anak. Suara yang rendah tidak selalu dipandang sebagai suara bass oleh karenanya pa- duan suara ini sebaiknya diiringi dengan instrumen untuk memperkuat nada-nada yang rendah. • TTBB (Tenor, Tenor, Bass, dan Bass) adalah paduan suara yang dinyanyikan oleh suara pria, tetapi yang lebih banyak kita jumpai adalah paduan suara pria untuk 3 suara yaitu TTB. Jenis paduan suara diatas disebut paduan suara sejenis, artinya hanya dinyanyikan oleh suara wanita atau pria saja. Aransemen ini ku- rang sempurna karena wilayah suaranya cukup terbatas, maka lagu-lagu yang memiliki wilayah nada yang luas tidak tepat untuk diaransir untuk paduan suara jenis ini. Oleh karena keterbatasan wilayah nada maka dalam aransemen ini diperbolehkan suara rendah merpindah lebih tinggi dari suara pertama tetapi masing-masing suara menjadio kabur. Dalam paduan suara sejenis akor-akornya tidak perlu lengkap sehingga aran- semennya menjadi ‘miskin’ harmosisasinya. SATB (Sopran, Alto, Tenor, dan Bass) adalah aransemen yang dinyanyikan oleh suara pria dan wanita atau sering disebut dengan istilah Seni Musik Non Klasik 41
  • 50. paduan suara campuran. Aransemen ini dianggap paling sempurna kare- na wilayah nada yang dapat dijangkau lebih luas, setiap suara dapat memperlihatkan semua registernya. 2.1 Hal-hal penting dalam membuat aransemen paduan suara SATB In - do ne - si - a In - do - ne - si - a. Tanah ku su- bur ta- nah su - bur, ya su - bur Ka - mi cin - ta Ru –kun dan da kau, ka-mi cin-ta kau sepan-jang umur ya u - mur mai, Rukun dan damai aman dan makmur ya mak –mur Notasi 75, Lagu Indonesia Subur dalam SATB Membuat aransemen untuk paduan suara campuran (SATB) pada dasarnya adalah membuat lagu baru. Suara sopran biasanya sudah ada dan menjadi melodi pokoknya, meskipun kadang-kadang ada juga melodi Seni Musik Non Klasik 42
  • 51. pokok diletakkan pada jenis suara yang lain, hal tersebut merupakan perkecualian. Dalam contoh lagu “Indonesia Subur” (SATB), melodi pokok sudah dimainkan oleh sopran sehingga melodi untuk alto, tenor dan bass merupakan contoh aransemen yang masih dapat dikembang- kan sesuai dengan kebutuhan. Sebelum membuat aransemen, marilah kita perhatikan ketentuan-ketentuan dasar tentang aransemen paduan suara SATB berikut ini: 2.1.1 Penulisan dalam notasi balok. • Sopran dan tenor ditulis dengan arah tangkai ke atas • Alto dan bass ditulis dengan arah tangkai ke bawah C mayor Notasi 76, SATB 2.1.2 Menentukan nada Inti dari pembuatan aransemen adalah menentukan nada berdasarkan akor yang sudah ditentukan. Untuk mementukan nada yang baik cermatilah beberapa hal berikut ini: Seni Musik Non Klasik 43
  • 52. 2.1.2.1 Pendobelan nada Prioritas pertama pada nada dasar, Perhatikan lagu diatas, nada pertama pada birama pertama, yaitu: C mayor Notasi 77, C mayor prioritas pertama Nada yang dilakukan pendobelan adalah nada c yang merupakan nada dasar yang terdapat pada suara sopran dan bass. 2.1.2.2 Prioritas ke dua pada nada ke lima (kwint). Contoh: G mayor Notasi 78, C mayor prioritas kedua Pendobelan ini pada nada ‘g’ yang dinyanyikan alto dan tenor. Seni Musik Non Klasik 44
  • 53. 2.1.2.3 Tidak dianjurkan pada nada terts (jarak ke tiga), misalnya: C mayor Notasi 79, C mayor pendobelan terts Nada yang dilakukan pendobelan pada notasi diatas adalah nada e yang merupakan nada ke tiga. Ini sebaiknya dihindari untuk menjaga kualitas dari akor yang bersangkutan. 2.1.2.4 Jarak nada pada masing-masing jenis suara • Usahakan agar jarak/interval Sopran dengan Alto, dan Alto dengan Tenor tidak lebih dari 1 oktaf. Perhatikan contoh lagu pada birama pertama berikut ini: C mayor Notasi 80, Penulisan SATB Interval antara sopran dan alto yaitu nada e1 dan c1 tidak lebih dari 1 oktaf, bahkan kurang dari 1 oktaf, interval antara alto dan tenor yaitu nada g dan e1 juga kurang dari 1 oktaf. Seni Musik Non Klasik 45
  • 54. • Jarak tenor dengan bass boleh lebih dari 1 oktaf, misalnya contoh pada birama pertama ketukan ke 4, yaitu: C mayor Notasi 81, Jarak tenor dan bass 2.2 Posisi Terbuka dan Tertutup. 2.2.1 Posisi Terbuka artinya antara sopran, alto dan tenor dapat disisipi nada yang lain. Contoh: Notasi 82, Posisi terbuka Notasi diatas menunjukkan bahwa antara sopran dan alto masih dapat disisipkan nada yang merupakan keluarga akor C mayor yaitu nada g dan antara alto dan tenor juga terdapat nada yang merupakan isi dari akor C mayor yaitu nada c. Seni Musik Non Klasik 46
  • 55. 2.2.2 Posisi Tertutup artinya antara Sopran, Alto dan Tenor tidak dapat disisipi nada yang lain, seperti birama pertama baris ke dua pada lagu di atas. Notas i 83, Posisi tertutup Antara sopran dan alto tidak ada nada yang dapat disisipkan lagi. Kedua posisi ini tidak ada yang dilarang tetapi dianjurkan diguna- kan secara bergantian, artinya dalam satu aransemen keduanya bisa digunakan secara bersama-sama. Perlu diperhatian penggarapan secara vertikal dan horisontal. • Vertikal berarti apabila ditarik garis lurus ke atas, nada- nadanya merupakan isi dari akor yang ditentukan. • Horisontal artinya deretan nada dalm setiap jenis suara hendaknya bersifat melodis, artinya interval nadanya mudah dinyanyikan, maka dari itu biasanya dicari nada yang paling dekat. Contoh: Notasi 84, contoh aransemen SATB Seni Musik Non Klasik 47
  • 56. Nada-nada diatas secara vertikal merupakan keluarga dari akor yang ditentukan dan secara horisontal masing-masing merupakan melodi yang berdiri sendiri dan mudah untuk dinyanyikan, jadi bukan semata-mata hanya melengkapi akor yang ada. Hal ini penting karena perlu diingat lagi bahwa suara alto, tenor, dan bass juga merupakan lagu yang berjalan bersama secara harmonis. 2.3 Overlapping. Dalam penggarapan aransemen SATB tidak diperbolehkan terjadi overlapping antara suara sopran, alto, tenor, dan bass. Contoh: Notasi 85, overlapping Notasi di atas menunjukkan bahwa suara tenor lebih rendah daripada suara alto yang disebut overlapping. 2.4 Paralel kwint dan oktaf Dalam penggarapan aransemen paduan suara, parallel kwint dan oktaf tidak diperbolehkan karena seharusnya dua jenis suara dapat bergerak sendiri-sendiri menjadi terikat kebebasannya. Contoh : Seni Musik Non Klasik 48
  • 57. Notasi 86, paralel Aransemen yang benar adalah: Notasi 87, contoh aransemen yang benar Berikut adalah contoh paralel yang salah: Notasi 88, Paralel salah Perhatikan nada ke dua dan ke tiga pada sopran, serta nada ke dua dan ke tiga pada bass, terlihat sejajar. Aransemen tersebut sebaiknya disusun seperti dibawah ini: Seni Musik Non Klasik 49
  • 58. Notasi 89, Aransemen yang seharusnya Paralel yang tidak diperbolehkan lagi adalah paralel oktaf.untuk suara sopran dan bass. Ini berarti terjadi pendobelan suara melodi, maka hal ini harus dihindari. Contoh: Notasi 90, Paralel sopran dan bass Aransemen tersebut sebaiknya sebagai berikut: Notasi 91, Aransemen yang baik Seni Musik Non Klasik 50
  • 59. 2.5 Kadens (cadence) Kadens adalah cara mengakhiri suatu karya komposisi dengan berbagai kemungkinan akor sebagai akhir suatu frase lagu. Ka- dens ditentukan oleh melodi lagu yang akan diaransir karena pada dasarnya aransemen adalah juga membuat iringan. Ragam akor sebagai akhir suatu frase menentukan jenis kadena sebagai berikut: 2.5.1 Perfect Cadence Adalah kadens sempurna dengan urutan akor tingkat IV – V – I. Dalam lagulagu pop banyak sekali dijumpai progresi akor jenis ini. 2.5.2 Half Cadence Merupakan jenis kaden yang memiliki progresi akor tingkat V – I. Dalam contoh lagu dibawah ini terdapat pada akhir birama ke-3 dan awal birama ke-4. 2.5.3 Plagal Cadence Jenis kadens ini memiliki progresi akor dari tingkat IV – I. Dalam contoh lagu dibawah ini terdapat pada baris ke-3, akhir birama ke-3 dan awal birama ke-4. 2.6 Langkah-langkah menyusun aransemen paduan suara SATB 2.6.1 Langkah pertama yaitu dengan menentukan terlebih dahulu suara bass berdasarkan akor yang telah ditetapkan. Buatlah pergerakan melodi yang berlawanan dengan suara Sopran (melodi pokok). Misalnya pergerakan melodi sopran pada bira pertama naik, berarti Seni Musik Non Klasik 51
  • 60. Anda disarankan membuat pergerakan bass pada birama pertama turun. Hati-hati hindarilah parallel kwint maupun paralel oktaf seperti penjelasan terdahulu. Setelah selesai menentukan suara bass, coba nyanyikan agar bisa diketa- hui kemelodisannya sehingga orang yang menyanyikan nantinya terasa ‘enak’, bukan hanya sekedar menyusun nada-nada untuk melengkapi akor yang ditentukan. Inilah yang disebut pertimbangan horizontal. 2.6.2 Langkah ke dua adalah menentukan suara tengah, yaitu alto atau tenor. Usahakan interval/jarak nada antara so- pran dan alto disarankan untuk tidak lebih dari 1 oktaf, demikian juga antara suara alto dan tenor. Sedangakan interval untuk tenor dan bass boleh lebih dari 1 oktaf seperti dapat dilihat pada contoh terdahulu. 2.6.3 Usahakan agar secara vertikal, nada-nadanya dapat selengkap mungkin sesuai dengan jenis akornya. 2.6.4 Pendobelan nada diprioritaskan untuk nada dasar, prioritas ke dua untuk interval tertsnya. Misalnya akor C mayor, prioritas pertama pendobelan pada nada c, dan prioritas ke dua untuk nada e seperti penjelasan pada uraian materi diatas. Hal ini dimaksudkan agar kualitas akor tetap terjaga dan tidak mnimbulkan interpretasi akor yang lain. 2.6.5 Urutan nada dari atas ke bawah adalah sopran, alto, tenor, dan bass. Apabila ditemukan suara alto lebih rendah dari- pada suara tenor, atau suara tenor lebih rendah dari sura bass, maka ini disebut dengan istilah overlapping. Hal ini sedapat mungkin dihindari. Hal ini dimaksudkan selain pertimbangan estetika penulisan tetapi yang lebih penting agar masing-masing jenis suara tidak jelas atau kabur. Perlu diingat bahwa yang paling penting dari semuanya itu adalah ‘bagaimana bunyinya’. Semua melodi untuk masing-masing jenis suara dianjurkan merupakan suara yang ‘nyata’, artinya suara alto, tenor, dan bass harus dapat dinyanyikan dengan ‘enak’ dan seakan- akan menjadi lagu baru yang dinyanyikan secara bersama-sama. Maka dari itu nyanyikanlah berulang-ulang melodi jenis suara yang Anda buat agar kesan melodisnya selalu muncul, bukan hanya pertimbangan vertikal saja. Apabila suatu kalimat lagu perlu pene- kanan atau penonjolan bisa disusun secara unisono. Seni Musik Non Klasik 52
  • 61. 2.2 Harmoni Modern Salah satu kemampuan yang dituntut dalam permainan musik non klasik dan wajib dimiliki oleh setiap musisi adalah melakukan improvisasi. Hal ini merupakan salah satu hal yang membedakan antara permainan musik klasik pada umumnya dan pemain musik non klasik. Karena kemampuan ini wajib dimiliki, maka diperlukan bekal untuk menguasai teknik dasar berimprovisasi. Kemampuan ini selain berfungsi untuk me- ngembangkan kemampuan musikalitas juga sangat dituntut oleh dunia kerja musik non klasik. Improvisasi berarti mengembangkan melodi yang merupakan nada-nada dari tangganada dalam suatu akor. Improvisasi merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh pemain musik non klasik. Dalam beberapa repertoar, seringkali dituntut tidak harus sama dengan lagu aslinya, namun kadang-kadang dituntut sama dengan lagu asli. Lagu yang sudah ditentukan akornya dianalisis, karena pada dasarnya setiap tingkatan akor masing-masing memiliki tangganada. Nada-nada dalam tangganada tersebut kemudian dirangkai sehingga membentuk melodi baru yang merupakan pengembangan dari nada-nada dalam tangga nadanya. Menguasai tangganada setiap akor pada suatu lagu merupakan bekal dasar seseorang dalam melakukan improvisasi. Pemain musik tidak mungkin dapat melakukan improvisasi apabila tidak menguasai akor dan progresinya yang ada pada suatu lagu. Notasi 92, lagu All I am Seni Musik Non Klasik 53
  • 62. Nama-nama akor 7 (seventh chords) dalam tangganada C Mayor, adalah sebagai berikut: Cmaj7 D-7 E-7 Fmaj7 G7 A-7 B-7b5 Notasi 93, Seventh chords C mayor Akor tingkat I (Cmaj7 ) memiliki nada-nada yang sama dengan tangganada c ionian, seperti berikut ini: c d e f g a b c Notasi 94, Tangga nada C ionian Akor tingkat II (D-7) memiliki nada-nada yang sama dengan tangganada d dorian, seperti dibawah ini: d e f g a b c d Notasi 95, tangganada d dorian Seni Musik Non Klasik 54
  • 63. Akor tingkat III (E-7) memiliki nada-nada yang sama dengan tangganada e phrygian, seperti berikut ini: e f g a b c d e Notasi 96, tangganada e phrygian Akor tingkat IV (Fmaj7) memiliki nada-nada yang sama dengan tangganada f lydian, seperti berikut ini: f g a b c d e f Notasi 97, Tangganada f lydian Akor tingkat V (G7) memiliki nada-nada yang sama dengan tangganada g myxolydian, seperti dibawah ini: g a b c d e f g Notasi 98, Tangganada g myxolydian Seni Musik Non Klasik 55
  • 64. Akor tingkat VI (A-7) memiliki nada-nada yang sama dengan tangga nada a aeolian, seperti berikut ini: a b c d e f g a Notasi 99, tanganada a aeolian Akor tingkat VII (B-7b5) memiliki nada-nada yang sama dengan tangganada b locrian, seperti berikut ini: b c d e f g a b Notasi 100, Tangganada b locrian Sistem membaca notasi 3.1 3.1.1 Fixed do yaitu sistem do tetap, artinya nada c dalam tangganada apapun selalu dibaca ‘do’. Misalnya dalam tanggdi D mayor berikut ini: d e fis g a b Cis d re mi fa sol la si do re Notasi 101, fix do Seni Musik Non Klasik 56
  • 65. 3.1.2 Movable do adalah sistem do berpindah, artinya nada do tidak selalu pada nada c tetapi bisa berpindah sesuai dengan tangganadanya. Sistem ini lebih banyak dikenal dlam dunia pendidikan musik kita, sehingga timbul istilah nada dasar 1 = G, 1 = D, dan seterusnya. Bagi kita yang menganut sistem ini lebih banyak menguntungkan karena kita lebih cepat mendeteksi interval suatu tangganada. d e fis g a b Cis d do re mi fa sol la si do Notasi 102, movable do Menentukan nada yang akan dikembangkan menjadi melodi dapat didahului dengan pembuatan pola ritme. Pola ritme dapat disusun mulai dari tingkat yang sederhana sampai tingkat yang rumit, Tingkat seder- hana, artinya nilai nadanya menggunakan bentuk not yang besar, misalnya not utuh, setengah, seperempat dan seperdelapan. Sedangkan pola ritme yang rumit biasanya banyak menggunakan sinkop, disamping menggunakan bentuk not kecil seperti perenambelasan, triol kecil dan besar, atau mungkin kwartol atau kwintol, dan lain-lain. Perlu diingat bahwa pola ritme yang baik belum tentu rumit dan sulit dalam memainkannya. Sebaliknya pola ritme yang sederhana juga belum tentu tidak menarik. Keindahan melodi yang terbentuk dari pola ritme tidak ditentukan oleh sederhana dan rumitnya ritme yang disusun. Keindahan melodi ditentukan oleh beberapa hal, misalnya: • Kesesuaian melodi dengan karakter lagu, artinya apabila lagu yang diimprovisasi adalah lagu yang melankolis, maka pola ritmenya juga sederhana dan tidak memerlukan nilai nada yang kecil misalnya seperenambelasan atau bahkan sepertigapuluhduaan. • Pola ritme yang disusun dan tidak harus sama dengan pola ritme lagu yang akan diimprovisasi. Seni Musik Non Klasik 57
  • 66. Contoh pola ritme Notasi 103, contoh pola ritme Pola ritme diatas tidak sama dengan pola ritme yang ada pada lagu ‘All I am’. Nilai nada pada pola rirme diatas tidak terlalu sulit untuk dimainkan karena hanya menggunakan bentuk dan nilai not seperempat, dan seperdelapan. Nilai not ini masih mudah untuk dinyanyikan maupun dimainkan dengan instrumen musik. Perlu diingat bahwa pola ritme yang rumit kecuali sulit untuk dinyanyikan maupun dimainkan juga belum tentu menjamin nilai keindahannya lebih tinggi daripada pola ritme sederhana. Lagu ‘All I am’ di atas telah ditentukan akor yang hampir semua- nya menggunakan seventh chords. Setiap akor tersebut telah diketahui tangga nadanya. Untuk dapat melakukan improvisasi suatu lagu, satu hal penting yang harus dikuasai adalah menganalisis jenis akor dan tangga nada akornya, serta progresi akor. Lagu diatas berbirama 4/4 dan bernada dasar do=C. Ini berarti akor C merupakan akor tingkat I (pertama) dari lagu tersebut, memlilki nada yang sama dengan ionian, akor D merupakan akor tingkat II (ke dua) memiliki nada yang sama dengan dorian, akor E merupakan akor tingkat III (ke tiga), memiliki nada yang sama dengan phrygian, dan seterusnya sesuai dengan uraian materi diatas. 3.2 Langkah-langkah menyusun ritme Bedasarkan uraian teori membuat ritme pada bab Harmoni Modern diatas, maka langkah-langkahnya sebagai berikut: 3.2.1 Nyanyikan lagu tersebut sampai Di menemukan motif ritmenya. Lagu tersebut memiliki pola ritme yang sederhana karena hanya menggunakan bentuk dan nilai not penuh, setengah, seperempat, dan seperdelapan. Nilai not tersebut tidak terlalu sulit untuk dinyanyikan maupun dimainkan dengan menggunakan instrumen. Salah satu hal yang mungkin memerlukan kecermatan adalah terdapat di ligatura yang berarti dimainkan secara bersambung. Seni Musik Non Klasik 58
  • 67. 3.2.2 Buatlah ritme sesuai dengan ide musikal yang Di miliki. Perlu diingat bahwa didalam lagu terdapat frasering atau struktur kalimat. All I am’ memiliki bentuk yang tidak simetris, karena ‘ dalam satu kalimat lagu ada yang terdiri dari 4 (empat) birama dan ada yang terdiri dari 6 (enam) birama. Latihan pertama, buatlah juga ritme dalam empat birama dan enam birama tergantung dari jumlah birama pada setiap kalimat lagu, sambil mengingat melodi pada lagu aslinya. 3.2.3 Setelah menemukan pola ritme kemudian tuliskan ke dalam garis paranada. Buatlah beberapa motif ritme supaya Di bisa memilih motif yang sesuai dengan lagu aslinya. Apabila dalam lagu tidak terdapat sinkop sebaiknya tidak membuat pola ritme yang banyak menggunakan sinkop supaya tidak mngubah karakter lagu asli- nya. 3.2.4 Bacalah pola ritme yang telah Di tulis secara berulang-ulang sampai Di menguasai pola ritme itu tanpa teks lagi. 3.3 Langkah-langkah berlatih improvisasi: Progresi akor pada lagu All I am adalah sebagai berikut: Notasi 104, Progresi akor Seni Musik Non Klasik 59
  • 68. Ada 6 (enam) jenis akor yang digunakan dalam lagu diatas, berdasarkan tingkatannya adalah sebagai berikut: 1. C mayor7 2. D minor7 3. E minor7 4. F mayor7 5. G7 6. G sus4 7. A7 Ke tujuh akor diatas merupakan seventh chords dalam tangga nada C mayor. Setiap jenis akor dianalisis isi nadanya seperti uraian materi terdahulu. 3.4 Karakteristik akor 3.4.1 Akor yang ditentukan pada birama pertama dari lagu tersebut adalah C mayor7 atau C M7. Akor ini merupakan akor tingkat I dari tangganada C mayor, memiliki nada yang sama dengan tangganada ionian. Sesuai dengan uraian diatas berarti akor tersebut sebenarnya bukan hanya memiliki 4 nada dalam C mayor7 tetapi memiliki 7 nada dalam tangga nada C Ionian. Pada dasarnya semua nada dalam tangga nada tersebut bisa dimain- kan. • Nyanyikan dengan v okal atau bisa juga menggunakan alat musik yang telah Di kuasai. Mainkanlah sesuai dengan notasi tangganaga ionian berulang-ulang dengan arah naik dan turun. • Hindarilah nada yang ke-4 dalam setiap tangganada, karena karakter dari nada tersebut ‘kasar’ dan terdengar kurang lembut. • Buatlah melodi dari motif yang telah Di buat berdasarkan tangganada akornya. • Nada pertama dari melodi yang dibuat diusahakan bukan nada pertama dari tangganadanya. Dalam tangganada dorian, nada pertama adalah ‘d’, maka dari itu n ada pertama dari melodinya sebaiknya bukan ‘d’, tetapi bisa ‘e’, ‘b’, atau nada- nada yang lain. Apabila nada pertama dari melodi yang Di buat merupakan nada pertama dari tangganada, maka bunyinya akan terkesan “jenuh” dan kurang indah. Akor yang terdapat pada birama pertama bukan merupakan akor pem- balikan. Ini berarti nada ‘d’ sudah dibunyikan oleh nada Seni Musik Non Klasik 60
  • 69. terendah, kalau dalam format band nada ini dibunyikan oleh bass. Apabila akor pada posisi pembalikan, nada yang dija- dikan bass sebaiknya juga tidak menjadi nada pertama dari melodi yang ingin dikembangkan. Ketentuan ini nantinya berlaku untuk semua tangganada. • Untuk membuktikan keterangan diatas coba praktekkan de- ngan menggunakan vokal atau instrumen yang telah Di kua- sai. Mulailah mengembangkan melodi dengan nada ‘d’ maka Di akan dapat membedakan dan merasakan keindahan-nya apabila dimulai dengan menggunakan nada selain ‘d’. Birama ke-3 terdapat akor Em7 atau E-7, ini berarti 3.4.2 merupakan akor tingkat III dari tangganada C mayor. Isi nada-nadanya sama dengan yang terdapat pada notasi tangganada phrygian. • Nyanyikan atau mainkanlah tangganada tersebut dengan menggunakan vokal atau instrumen yang telah Di kuasai secara berulang-ulang. • Hindarilah nada ke-4 ( a) dari tanganada tersebut. • Buatlah melodi yang dikembangkan berdasarkan motif yang telah dibuat. Perlu diingat bahwa melodi yang akan dibuat pada birama ini harus ada kaitannya dengan melodi pada birama pertama karena masih dalam satu kalimat lagu atau frase. • Hindarilah nada pertama dalam tangganada ini menjadi awal melodi, seperti apa yang telah dilakukan pada birama per- tama. Ini berarti pada birama ke-2 sebaiknya tidak memulai melakukan improvisasi dengan nada ‘e’. Nada pertama dalam birama ini merupakan rangkaian melodi dari birama sebe- lumnya, maka perhatikan interval yang mudah dijangkau dari nada terakhir pada birama sebelumnya sehingga rangkaian nada-nadanya bersifat melodis. 3.4.3 Birama ke-4 sama dengan birama sbelumnya yaitu akor Em7. Secara umum sama dengan ketentuan dalam birama pertama. Meskipun akornya sama bukan berarti melodi dan pola ritmenya juga harus sama tetapi dianjurkan berbeda, baik motif ritme mau- pun nada-nadanya. Hal ini untuk menghindari kejenuhan bagi pendengar dan juga bagi pemain sendiri sebagai improvisator. 3.4.4 Birama ke-6 sama dengan birama ke-5. Ketentuannya sama dengan birama sebelumnya mengenai nada pertama yang dianjurkan, keterkaitannya dengan nada pada birama sebelum- nya, nada yang sebaiknya dihindari, dan lain-lain. Seni Musik Non Klasik 61
  • 70. 3.4.5 Birama ke-7 terdapat akor Gsus4 dan G7. Gsus4 merupakan akor yang biasanya digunakan untuk memberikan variasi sebelum G7. Namun akor ini akan dibahas lebih lanjut karena keberadaannya diluar 7 jenis akor di atas ( non diatonic chord). G7 merupakan akor dominan (tingkat V) dalam tangga nada C Mayor yang memiliki tangga nada myxolydian seperti uraian di atas. Sama seperti akor lain, akor ini juga memiliki 7 buah nada yang pada dasarnya semua nada bisa dimainkan. Nada yang dihindari adalah nada ke-4 yaitu c. 3.4.6 Birama ke -8 dan 9 menggunakan jenis akor yang sama pada birama sebelumnya. Dengan demikian ketentuannya sama de- ngan akor-akor yang telah digunakan pada birama sebelumnya. 3.4.7 Birama ke -10 terdapat akor C7/G maksudnya akor C7 tetapi nada pada posisi dasarnya adalah G. Nadanya terdiri dari g, bes, c, dan e. Notasi 105, C7/G Akor ini merupakan jenis akor diluar tangga nada C mayor (non diatonic chord), maka akan dibahas pada materi akor tersendiri. 3.4.8 Birama ke-11 terdapat akor Fmaj7. Akor ini merupakan akor tingkat IV dari tangganada C Mayor. Isi nadanya sama dengan tangganada Lydian. Secara umum ketentuan setiap akor sama dengan akor yang lain menyangkut nada ke-4 yang sebaiknya dihindari, nada pertama dalam melodi yang disarankan untuk tidak dipakai sebagai nada pertama dalam improvisasi, dan tingkat kemelodisannya supaya indah apabila dimainkan, serta keter- kaitannya dengan birama sebelumnya. 3.4.9 Pada birama ke -12 dan 13 tidak ada akor baru, semua telah dibahas sebelumnya. Perhatikan kemelodisaanya, keterkaitan dengan akor sebelumnya dan nada-nada yang dipakai pada pada awal dan nada yang dihindari supaya nada yang dimainkan ter- kesan indah. 3.4.10 Birama ke-14 pada ketukan ke -3 terdapat akor A7. Akor ini termasuk dalam non diatonic chord, berarti akan dibahas pada materi tersendiri. Seni Musik Non Klasik 62
  • 71. 3.4.11 Birama ke -15 dan 16 menggunakan akor yang sama dengan borama-birama sebelumnya. 3.4.12 Birama ke -17 terdapat dua jenis akor yaitu Dm7 dan G7. Dm7 telah dibahas di depan. Akor G7 merupakan akor dominan yang biasanya bergerak ke tonika (tingkat I), yaitu akor C Mayor yang merupakan akor tingkat I dari tanganada C Mayor. 3.4.13 Birama ke -18 terdapat akor Cmaj7. Isi nadanya sama dengan tangganada Ionian. Ketentuan improvisasinya sama dengan akor- akor lain yang sudah dipelajari sebelumnya. Perlu diingat bahwa pada birama ini merupakan akhir kalimat lagu. Dalam ilmu bentuk analisa musik, hal ini merupakan kalimat jawab tetapi melodi yang dimainkan tidak harus berakhir dengan nada pertama (c). Jadi bisa menggunakan nada yang lain asalkan masih merupakan nada dalam tangganada akornya. 3.5 Beberapa catatan penting dalam melakukan improvisasi • Melodi yang dikembangkan sedapat mungkin berbeda pola ritmenya dengan lagu yang diimprovisasi. • Melodi dapat juga dimulai sebelum jatuh pada birama yang bersangkutan atau tepat pada biramanya. • Dianjurkan agar tidak ada satu birama pun yang tidak diisi dengan improvisasi, meskipun hanya satu nada panjang. • Bunyi dari melodi yang dibuat adalah priorotas utama. Maka dari itu sebaiknya nada dinyanyikan/dimainkan secara berulang-ulang agar terdengar indah, tidak monoton dan mudah untuk dimainkan. Dalam teori musik atau ilmu harmoni ada berbagai macam cara penulisan simbol akor. Misalnya akor D minor, dapat ditulis dengan simbol Dm atau dalam ilmu harmoni modern lebih popular dengan sebutan D-, atau notasi frets pada gitar untuk instrumen gitar untuk mempermudah posisi jari. Berikut contoh melodi yang dikembangkan berdasarkan tangganada akor pada lagu di atas untuk empat birama pertama yang dikembangkan berdasarkan pola ritme yang telah ditulis di atas: Notasi 106, Pengembangan ritme Seni Musik Non Klasik 63
  • 72. Keterangan : • Birama pertama lagu di atas menggunakan tangganada ionian. Contoh melodi tersebut dimulai dengan nada ke dua yaitu ‘d’, berarti bukan nada pertama dari tangganada c ionian seperti yang dianjurkan dalam langkah-langkah diatas. Pola ritmenya tidak sama dengan pola ritme yang terdapat pada lagu aslinya. Bentuk dan nilai nadanya termasuk sederhana, hanya menggunakan bentuk not tengahan dan seperdelapanan. Tidak ada nada ke empat dari tangganada c ionian yaitu nada ‘f’ yang digunakan dalam contoh melodinya. Nada-nada yang dimainkan pada birama pertama tidak didominasi oleh nada dalam akor Cmaj7. Hal ini untuk menghindari kejenuhan karena nada- nada dalam akor ini kadang-kadang sudah dimainkan oleh block chord. • Birama ke dua merupakan rangkaian dari birama sebelumnya, karena kebetulan pada birama ke dua menggunakan akor yang sama dengan akor birama pertama. Nada pertama pada birama ini bukan merupakan nada pertama dari tangganada Cmaj7, melainkan nada ke tujuh yaitu ‘b’. Bentuk dan nilai notnya ada variasi untuk menghindari kejenuhan yaitu not seperenambelasan untuk menghubungakan dengan nada pada birama selanjutnya. Terdapat tanda legato yang berarti nada yang ke dua tidak dibunyikan lagi, hanya memperpanjang nada pertama. Tidak ada nada ke empat yaitu nada ‘f’ yang digunakan dalam birama ini. Pola ritmenya tidak sama dengan pola ritme lagu dan ada kemiripan tetapi lebih bersifat pengembangan motif. • Birama ke tiga menggunakan nada-nada dalam tangganada E phrygian. Meskipun pola ritmenya sama dengan birama pertama tetapi melodi yang digunakan sedikit berbeda untuk menambah warna improvisasi dan juga dimaksudkan untuk menghindari keje- nuhan. Tidak ada nada ke empat dari tangga nada E phrygian yaitu ‘a’ karena nada ini terdengar kasar, sama seperti setiap nada ke empat dari setiap tangga nada. Nada pertama yang digunakan adalah nada ‘d’ dan bukan nada pertama dari tangganadanya. • Birama ke empat menggunakan akor yang sama dengan birama sebelumnya. Namun karena menyambung melodi sebelumnya maka nada yang digunakan juga harus terkesan melodis. Nada pertama adalah ‘b’. Nada tersebut bukan merupakan nada pertama dalam tangganada E phrygian. Tidak ada nada ke empat (d) karena nada tersebut memang sebaiknya dihindari. Seni Musik Non Klasik 64
  • 73. Contoh diatas masih sangat sederhana apabila ditinjau dari pola ritme, melodi dan pengembangan motifnya. Kita bisa menyusun melodi berdasarkan tangganada akor yang digunakan dalam birama tersebut dan membuat variasi sesuai dengan ide musikal masing-masing. Pada prinsipnya improvisasi adalah pengembangan melodi yang disusun ber- dasar tangga nada akor. Pemain musik yang tidak menguasai akor dan progesi akornya tidak mungkin dapat melakukan improvisasi dengan benar. 1.5.1 Seventh chords dalam tangga nada G mayor Gmaj7 A-7 B-7 Cmaj7 D7 E-7 FIS7-5 Notasi 107, Seventh chords G mayor Tangga nada G ionian Notasi 108, G ionian Tangga nada A dorian Notasi 109, A dorian Seni Musik Non Klasik 65
  • 74. Tangga nada B phrygian Notasi 110, B phrygian Tangga nada C lydian Notasi 111, C lydian Tangga nada D myxolydian Notasi 112, D myxolydian Tangga nada E aeolian Notasi 113, E aeolian Seni Musik Non Klasik 66
  • 75. Tangga nada FIS locrian Notasi 114, FIS locrian 1.5.2 Seventh chords dalam tangga nada F mayor Fmaj7 G-7 A-7 Besmaj7 C7 D-7 E-7-5 Notasi 115, Seventh chords F mayor Tangga nada F Ionian Notasi 116, F Ionian TAngga nada G dorian Notasi 117, G dorian Seni Musik Non Klasik 67
  • 76. Tangga nada A Phrygian Notasi 118, A Phrygian Tangga nada Bes Lydian Notasi 119, Bes Lydian Tangga nada C myxolydian Notasi 120, C myxolydian Tangga nada D Aeolian Notasi 121, D Aeolian Seni Musik Non Klasik 68
  • 77. Tangga nada E locrian Notasi 122, E locrian 1.5.3 Seventh chords dalam tangga nada D mayor Dmaj7 E-7 FIS-7 Gmaj7 A7 B-7 CIS-7-5 Notasi 123, Seveth chords D mayor Tangga nada D Ionian Notasi 124, D Ionian Tangga nada E dorian Notasi 125, E dorian Seni Musik Non Klasik 69
  • 78. Tangga nada FIS Phrygian Notasi 126, FIS Phrygian Tangga nada G Lydian Notasi 127, G Lydian Tangga nada A myxolydian Notasi 128, A myxolydian Tangga nada B Aeolian Notasi 129, B Aeolian Seni Musik Non Klasik 70
  • 79. Tangga nada CIS locrian Notasi 130, CIS locrian 1.5.4 Seventh chords dalam tangga nada Bes mayor Besmaj7 C-7 D-7 Esmaj7 Bes7 C-7 D-7-5 Notasi 131, Seventh chords Bes mayor Tangga nada Bes Ionian Notasi 132, Bes Ionian Tangga nada C dorian Notasi 133, C dorian Seni Musik Non Klasik 71
  • 80. Tangga nada D phrygian Notasi 134, D phrygian Tangga nada Es lydian Notasi 135, Es lydian Tangga nada F myxolydian Notasi 136, F myxolydian Tangga nada G aeolian Notasi 137, G aeolian Seni Musik Non Klasik 72
  • 81. Tangga nada A locrian Notasi 138, A locrian 1.5.5 Seventh chords dalam tangga nada A mayor Amaj7 B-7 CIS-7 Dmaj7 E7 FIS-7 GIS-7-5 Notasi 139, Seventh chords A mayor Tangga nada A ionian Notasi 140, A ionian Tangga nada B dorian Notasi 141, B dorian Seni Musik Non Klasik 73
  • 82. Tangga nada CIS phrygian Notasi 142, CIS phrygian Tangga nada D lydian Notasi 143, D lydian Tangga nada E myxolydian Notasi 144, E myxolydian Tangga nada FIS aeolian Notasi 145, FIS aeolian Seni Musik Non Klasik 74
  • 83. Tangga nada GIS locrian Notasi 146, GIS locrian 1.5.6 Seventh chords dalam tangga nada Es mayor Esmaj7 F-7 G-7 Asmaj7 Bes7 C-7 D-7-5 Notasi 147, Seventh chords Es mayor Tangga nada Es Ionian Notasi 148, Es Ionian Tangga nada F dorian Notasi 149, F dorian Seni Musik Non Klasik 75
  • 84. Tangga nada G phrygian Notasi 150, G phrygian Tangga nada As lydian Notasi 151, As lydian Tangga nada Bes myxolydian Notasi 152, Bes myxolydian Tangga nada C aeolian Notasi 153, C aeolian Seni Musik Non Klasik 76
  • 85. Tangga nada D locrian Notasi 154, D locrian 1.5.7 Seventh chords dalam tangga nada E mayor Emaj7 FIS-7 GIS-7 Amaj7 B7 CIS-7 DIS-7-5 Notasi 155, Seventh chords E mayor Tangga nada E ionian Notasi 156, E ionian Tangga nada FIS dorian Notasi 157, FIS dorian Seni Musik Non Klasik 77
  • 86. Tangga nada GIS phrygian Notasi 158, GIS phrygian Tangga nada A lydian Notasi 159, A lydian Tangga nada B myxolydian Notasi 160, B myxolydian Tangga nada CIS aeolian Notasi 161, CIS aeolian Seni Musik Non Klasik 78
  • 87. Tangga nada DIS locrian Notasi 162, DIS locrian 1.5.8 Seventh chords dalam tangga nada As mayor Asmaj7 Bes-7 C-7 Desmaj7 Es7 F-7 G-7-5 Notasi 163, Seventh chords As mayor Tangga nada As ionian Notasi 164, As ionian Tangga nada Bes dorian Notasi 165, Bes dorian Seni Musik Non Klasik 79
  • 88. Tangga nada C phyrygian Notasi 166, C phyrygian Tangga nada Des lydian Notasi 167, Des lydian Tangga nada Es myxolydian Notasi 168, Es myxolydian Tangga nada F aeolian Notasi 169, F aeolian Seni Musik Non Klasik 80
  • 89. Tangga nada G locrian Notasi 170, G locrian 1.5.9 Seventh chords dalam tangga nada B mayor Bmaj7 CIS-7 DIS-7 Emaj7 FIS7 GIS-7 AIS-7-5 Notasi 171, Seventh chords B mayor Tangga nada B ionian Notasi 172, B ionian Tangga nada CIS dorian Notasi 173, CIS dorian Seni Musik Non Klasik 81
  • 90. Tangga nada DIS phrygian Notasi 174, DIS Phrygian Tangga nada E lydian Notasi 175, E lydian Tangga nada FIS myxolydian Notasi 176, FIS myxolydian Tangga nada GIS aeolian Notasi 177, GIS aeolian Tangga nada AIS locrian Notasi 178, AIS locrian Seni Musik Non Klasik 82
  • 91. 1.5.10 Seventh chords dalam tangga nada Des mayor Desmaj7 Es -7 F-7 Gesmaj7 As7 Bes-7 C-7-5 Notasi 179, Seventh chords Des mayor Tangga nada Des ionian Notasi 180, Des Ionian Tangga nada Es dorian Notasi 181, Es dorian Tangga nada F phrygian Notasi 182, F phrygian Seni Musik Non Klasik 83
  • 92. Tangga nada Ges lydian Notasi 183, Ges lydian Tangga nada As myxolydian Notasi 184, As myxolydian Tangga nada Bes aeolian Notasi 185, Bes aeolian Tangga nada C locrian Notasi 186, C locrian Seni Musik Non Klasik 84
  • 93. 4 Daftar notasi Notasi 1 Garis paranada Notasi 2 Kunci G dan nada g Notasi 3 Kunci F dan nada Notasi 4 Letak nada Notasi 5 Kunci C dan nada c Notasi 6 Bentuk not Notasi 7 Nilai not dan tanda istirahat Notasi 8 Petikan lagu Kebyar-Kebyar Notasi 9 Not perempatan Notasi 10 Not perdelapanan dan perempatan Notasi 11 Not perdelapanan Notasi 12 Not setengah Notasi 13 Not utuh Notasi 14 Lagu Masih (Ada Band) Notasi 15 Petikan lagu Belaian sayang Notasi 16 Notasi dan tanda titik Notasi 17 3/4 Notasi 18 Petikan lagu Kebyar-Kebyar Notasi 19 Petikan lagu Kidung (Chrisye) Notasi 20 Petikan lagu Sepasang Mata Bola Notasi 21 Petikan lagu Auld Lang Syne Notasi 22 Tangga nada Pentatonik Notasi 23 Tangga nada C mayor Notasi 24 Tangga nada G Mayor Notasi 25 Tangga nada D mayor Notasi 26 Tangga nada A mayor Notasi 27 Tangga nada E mayor Notasi 28 Tangga nada B mayor Notasi 29 Tangga nada Fis mayor Notasi 30 Tangga nada Cis mayor Notasi 31 Tangga nada F mayor Notasi 32 Tangga nada Bes mayor Notasi 33 Tangga nada Es mayor Notasi 34 Tangga nada As mayor Notasi 35 Tangga nada Des mayor Notasi 36 Tangga nada Ges mayor Notasi 37 Tangga nada Ces mayor Notasi 38 Tangga nada C minor diatonis Notasi 39 Tangga nada C minor harmonis Notasi 40 Tangga nada C minor melodis naik Notasi 41 Tangga nada C minor melodis turun Notasi 42 Petikan lagu Chindai in A minor Notasi 43 Petikan lagu Chindai in C minor Notasi 44 Interval Seni Musik Non Klasik 85
  • 94. Notasi 45 Interval perfect Notasi 46 Contoh interval perfect Notasi 47 Interval mayor Notasi 48 Interval minor Notasi 49 Interval augmented Notasi 50 Petikan lagu Doa dan Restumu Notasi 51 Nada-nada dalam C mayor Notasi 52 Akor trisuara Notasi 53 Tingkai I-VIII Notasi 54 Tri suara dalam D mayor Notasi 55 Contoh lagu modulasi Notasi 56 Abreviasi not perdelapanan Notasi 57 Abreviasi triol Notasi 58 Abreviasi not utuh Notasi 59 Petikan lagu Kenangan Terindah (Samson) Notasi 60 Abreviasi Notasi 61 Abreviasi birama sebelumnya Notasi 62 Abreviasi dengan Coda Notasi 63 Abreviasi DC Notasi 64 Contoh lagu bentuk AB Notasi 65 Motif Notasi 66 Pengulangan Notasi 67 Pengulangan lainnya Notasi 68 Frase pertama Notasi 69 Frase kedua Notasi 70 Lagu bentuk ABC Notasi 71 Ambitus sopran Notasi 72 Ambitus alto Notasi 73 Ambitus tenor Notasi 74 Ambitus bass Notasi 75 SATB Notasi 76 C mayor prioritas pertama Notasi 77 C mayor prioritas kedua Notasi 78 C mayor pendobelan terts Notasi 79 Penulisan SATB Notasi 80 Jarak tenor dan bass Notasi 81 Posisi terbuka Notasi 82 Posisi tertutup Notasi 83 Contoh aransemen SATB Notasi 84 Overlapping Notasi 85 Paralel Notasi 86 Contoh aransemen yang benar Notasi 87 Paralel salah Notasi 88 Aransemen yang seharusnya Notasi 89 Paralel sopran dan bass Notasi 90 Aransemen yang baik Seni Musik Non Klasik 86
  • 95. Notasi 91 Lagu Indonesia subur dalam SATB Notasi 92 Lagu All I am Notasi 93 Seventh chords C mayor Notasi 94 Tangga nada C ionian Notasi 95 Tangganada d dorian Notasi 96 Tangganada e phrygian Notasi 97 Tangganada f lydian Notasi 98 Tangganada g myxolydian Notasi 99 Tanganada a aeolian Notasi 100 Tangganada b locrian Notasi 101 Fix do Notasi 102 Movable do Notasi 103 Contoh pola ritme Notasi 104 Progresi akor Notasi 105 C7/G Notasi 106 Pengembangan ritme Notasi 107 Seventh chords G mayor Notasi 108 G ionian Notasi 109 A dorian Notasi 110 B phrygian Notasi 111 C lydian Notasi 112 D myxolydian Notasi 113 E aeolian Notasi 114 FIS locrian Notasi 115 Seventh chords F mayor Notasi 116 F Ionian Notasi 117 G dorian Notasi 118 A Phrygian Notasi 119 Bes Lydian Notasi 120 C myxolydian Notasi 121 D Aeolian Notasi 122 E locrian Notasi 123 Seveth chords D mayor Notasi 124 D Ionian Notasi 125 E dorian Notasi 126 FIS Phrygian Notasi 127 G Lydian Notasi 128 A myxolydian Notasi 129 B Aeolian Notasi 130 CIS locrian Notasi 131 Seventh chords Bes mayor Notasi 132 Bes Ionian Notasi 133 C dorian Notasi 134 D phrygian Notasi 135 Es lydian Notasi 136 F myxolydian Seni Musik Non Klasik 87
  • 96. Notasi 137 G aeolian Notasi 138 A locrian Notasi 139 Seventh chords A mayor Notasi 140 A ionian Notasi 141 B dorian Notasi 142 CIS phrygian Notasi 143 D lydian Notasi 144 E myxolydian Notasi 145 FIS aeolian Notasi 146 GIS locrian Notasi 147 Seventh chords Es mayor Notasi 148 Es Ionian Notasi 149 F dorian Notasi 150 G phrygian Notasi 151 As lydian Notasi 152 Bes myxolydian Notasi 153 C aeolian Notasi 154 D locrian Notasi 155 Seventh chords E mayor Notasi 156 E ionian Notasi 157 FIS dorian Notasi 158 GIS phrygian Notasi 159 A lydian Notasi 160 B mixolydian Notasi 161 CIS aeolian Notasi 162 DIS locrian Notasi 163 Seventh chords As mayor Notasi 164 As ionian Notasi 165 Bes dorian Notasi 166 C phyrygian Notasi 167 Des lydian Notasi 168 Es myxolydian Notasi 169 F aeolian Notasi 170 G locrian Notasi 171 Seventh chords B mayor Notasi 172 B ionian Notasi 173 CIS dorian Notasi 174 DIS phrygian Notasi 175 E lydian Notasi 176 FIS myxolydian Notasi 177 GIS aeolian Notasi 178 AIS locrian Notasi 179 Seventh chords Des mayor Notasi 180 Des Ionian Notasi 181 Es dorian Notasi 182 F phrygian Seni Musik Non Klasik 88
  • 97. Notasi 183 Ges lydian Notasi 184 As myxolydian Notasi 185 Bes aeolian Notasi 186 C locrian Seni Musik Non Klasik 89
  • 98. BAB 4 Vokal Vokal menurut ensiklopedi musik dapat diartikan sebagai suara manusia. Dalam ilmu bahasa, huruf hidup disebut huruf vokal, hal ter- sebut karena huruf hidup merupakan unsur utama dalam menghidupkan bunyi bahasa itu sendiri. Dapat dipastikan bahwa rangkaian huruf yang tanpa disertai huruf hidup, tidak akan melahirkan bunyi yang berarti bagi telinga. Oleh karena itu kemudian vokal digunakan dalam menyebut huruf hidup, sekaligus sebutan bagi suara manusia. Tetapi, untuk huruf mati dalam menyanyi tetap memiliki makna dan diperhatikan secara khusus dalam bahasan artikulasi huruf hidup ataupun artikulasi huruf mati. Musik vokal, artinya karya musik yang dilantunkan dengan vokal. Musik vokal lazim disebut seni menyanyi. Sebenarnya, seni vokal dapat berlaku bagi yang mendalami seluk beluk vokal seperti presenter, drama dan MC (master of ceremony ). Perbedaan seni vokal dalam menyanyi dengan seni vokal drama sangat jelas, yang satu musikal, yang satu lagi tidak musikal. Bagi yang memiliki k einginan menjadi penyanyi amatir, apalagi profesional, tidak cukup hanya bermodalkan warna suara yang bagus, tetapi perlu memiliki wawasan praktis tentang musik, dan penge- tahuan tentang teori musik. Menyanyi dengan baik dapat dipelajari oleh setiap manusia termasuk bagi mereka yang merasa “belum bisa” menyanyi. Meskipun ada seke- lompok orang yang dikatakan “tidak bisa” menyanyi yang disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah: kekurangan dalam pendengaran, takut, cacat indra pendengaran (bisu-tuli), pita suara mengalami keru- sakan dan sebagainya. Tetapi kelompok orang tersebut hanya sedikit, selebihnya adalah kelompok orang yang dapat meningkatkan mutu sua- ranya dengan berbagai macam latihan. Metode dalam buku ini dimaksudkan sebagai pelajaran yang dapat memberikan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya memulai me- nyanyi dengan baik, yang tentunya perlu disertai dengan banyak lati- han/praktik. Metode latihan/praktik ini akan mengulas secara sederhana teknik yang dibutuhkan dalam latihan/praktik. Siswa dianjurkan untuk mempelajari beberapa buku yang ditunjuk untuk memperbanyak latihan terutama untuk teknik-teknik, etude dan buah musik atau lagu. Disamping mempelajari teknik vokal atau menyanyi, harus diperhatikan pula cara mengucapkan kata-kata, latihan pernafasan, pemenggalan kalimat, eks- presi dan beberapa teori musik lainnya. 90 Seni Musik Non Klasik
  • 99. 1. Jenis-jenis Suara Manusia Wilayah atau ambitus suara manusia untuk menyanyikan suatu lagu terbatas pada tinggi atau rendah nada. Ada yang mampu menyanyikan dengan suara tinggi, ada yang sedang dan ada pula yang rendah. Oleh karena itu perlu sekali untuk mengetahui batas wilayah nada suara manu- sia, agar dalam memilih suatu lagu dapat disesuaikan dengan kemam- puan. Adapun jenis dan wilayah suara manusia tersebut dapat dibagi menjadi: - Suara wanita, terdiri dari 3 suara : sopran, mezzo sopran, alto - Suara pria, terdiri dari 3 suara : tenor, baritone, bass - Suara anak-anak, terdiri dari 2 suara : tinggi, rendah 2. Pernafasan Organ-organ penting yang menyalurkan udara ke suara adalah paru- paru. Akan tetapi tidak banyak orang yang menggunakan paru-parunya dengan efisien. Dipandang dari segi kepentingan penyaluran dan peme- liharaan udara bagi tubuh manusia, belajar menyanyi itu patut diper- hatikan dan dipraktikkan. Sebelum dapat menyanyi dengan baik, harus lebih dahulu belajar menggunakan udara di bawah tenggorokan. Untuk itu dalam beberapa waktu yang lama harus melakukan latihan-latihan bernafas secara khusus. Sebagai langkah awal, seseorang yang akan menyanyi dapat berdiri dengan tegak didepan sebuah cermin, dimana ia dapat melihat seluruh tubuhnya sendiri. Setelah itu me-ngeluarkan nafas sebanyak-banyaknya, kemudian menarik nafas dalam-dalam melalui hidung sehingga terasa betul-betul penuh. Setelah itu nafas ditahan sela- ma beberapa detik, secara pelan-pelan semua udara dikeluarkan melalui mulut dengan meniupkan keluar. Dibawah ini akan dijelaskan tentang beberapa cara pernafasan yang perlu diketahui dalam menyanyi. Jenis Pernafasan Dalam bernyanyi, pernafasan tidak hanya memegang peranan dalam menciptakan suara, tetapi juga suara yang dikehendaki dari suatu nya- nyian. Pernafasan yang teratur akan menciptakan irama yang teratur pula, karena bernafas merupakan irama yang sangat alamiah dalam kehidupan manusia. Jenis pernafasan yang digunakan dalam bernyanyi adalah: Pernafasan diafragma; yaitu pernafasan yang dilakukan dengan cara mengambil nafas kemudian dimasukkan kedalam paru-paru sehingga terisi penuh tanpa terjepit. Ruangan akan leluasa de- 91 Seni Musik Non Klasik
  • 100. ngan menegangnya sekat rongga badan atau diafragma yang bergerak kebawah. Pernafasan dada; yaitu pernafasan yang dilakukan dengan cara mengambil nafas sepenuhnya kemudian dimasukkan kedalam paru-paru sehingga rongga dada membusung ke depan. Kele- mahan pernafasan ini adalah paru-paru cepat lelah dalam mena- han udara, maka yang dihasilkan tidak stabil karena udara yang dikeluarkan kurang dapat diatur. Pernafasan bahu; yaitu pernafasan yang dilakukan dengan cara mengambil nafas dengan mengembangkan bagian atas paru- paru, sehingga mendesak bahu menjadi terangkat keatas. Kele- mahan pernafasan ini adalah tidak dapat tahan lama dan sikap tubuh kurang enak untuk dilihat. Dari ketiga jenis pernafasan diatas, pernafasan diafragmalah yang paling baik digunakan pada waktu bernyanyi. Tetapi tidak semua orang dapat melakukannya dengan mudah, harus melalui tahap-tahap latihan yang teratur. Biasanya, yang sering dilakukan dalam bernyanyi adalah diafragma tidak bergerak, paru-paru tidak diisi sepenuhnya dan nafasnya pendek-pendek. Oleh karena itu diafragma dan semua pergerakan otot- otot perut dan sisi badan harus dilatih untuk mengadakan ketegangan serta pengenduran yang sengaja dan disadari. Harus diperhatikan juga bahwa dasar untuk bernafas dengan baik adalah keseimbangan antara sikap bertegang dan sikap kendur. Untuk itu badan bersikap relaks, agar dapat menghirup udara dengan baik, seperti proses pernafasan diafrag- ma di bawah ini: Cara menghirup udara cara mengeluarkan udara Gambar 1: cara bernafas diafragma 92 Seni Musik Non Klasik
  • 101. Memfungsikan Diafragma Sebuah teknik sangat mendasar yang penting diperhatikan untuk bernyanyi secara rileks tetapi powerful, adalah dengan memfungsikan diafragma sebagai pusat produksi tenaga, yang sangat diperlukan dalam olah vokal. Cara menekan leher sebagai pusat suara akan tidak efektif, mengingat teknik itu dapat menghambat getaran pita suara serta pe- mantul suara. Cara tersebut dapat membuat seperti tercekik dan cepat lelah, juga dapat menimbulkan rasa pusing yang menyebabkan keru- sakan pada warna suara. Dengan memfungsikan diafragma, maka ins- trumen vokal akan lebih lentur pada waktu memproduksi suara. Adapun cara sederhana untuk memfungsikan diafragma adalah dengan menyalakan sebuah lilin, kemudian duduk dalam jarak paling dekat, ambil nafas dalam-dalam, setelah itu tiuplah lilin dengan tekanan tenaga rongga perut atau diafragma. Latihan ini sangat efektif apabila disertai dengan tarik nafas; tahan nafas; mengeluarkan nafas selama 10 – 15 detik. Latihan pernafasan Pengambilan dan pengeluaran nafas dilaksanakan dengan ringan tanpa beban ketegangan dan tanpa mengangkat bahu. Nafas ditarik jangan sampai penuh dan tidak dikeluarkan sampai habis, karena hanya akan mengganggu ketenangan dalam bernyanyi. Adapun langkah- langkah latihan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: Mengambil dan mengeluarkan nafas secara biasa tanpa kete- gangan. Tunggu sebentar sampai ada kehausan untuk bernafas. Perhatikan saat itu perut akan mengerut dan sisi badan kurus, kemudian dengan mulut tertutup ambil nafas melalui hidung dengan cara mendengkus seperti orang memeriksa bau yang ada diudara. Pada saat itu perut mengembang dan sisi badan menjadi lebar. Tahan sebentar, kemudian keluarkan dengan relaks. Kedua tangan menekan perut, ambil nafas dengan memperha- tikan desakan dari diafragma sehingga perut bergerak mengikuti nafas, tahan sebentar kemudian dikeluarkan pelan-pelan. Dalam latihan ini desakan nafas yang menggerakkan diafragma dan otot- otot perut. Jadi bukan gerakan otot perut yang mengembang dan mengerut. 93 Seni Musik Non Klasik
  • 102. Untuk menguasai diafragma agar bergerak cepat dan kuat yaitu dengan tertawa terbahak-bahak sehingga perut merasa tergun- cang-guncang. Ambil nafas jangan terlalu penuh, tahan sebentar; pikirkan nada yang akan dinyanyikan, kemudian nafas dikeluarkan dengan menyanyikan “ma” selama 4 -5 detik, setelah itu ambil nafas baru, tahan sebentar dan keluarkan dengan bernyanyi “ma” selama 8 – 10 detik. Lakukan sekali lagi dengan mengeluarkan nafas selama 20 detik. Pengaturan nafas tidak boleh dengan mempersempit ruang dada, tetapi dengan menggerakkan diafragma. Pengambilan nafas melalui hidung agar tenggorokan menjadi luas, langit-langit lunak sehingga menguntungkan untuk membentuk suara yang baik. Pada waktu menyanyi persediaan nafas harus dapat mencukupi sampai akhir baris, sehingga tidak terjadi “mencuri nafas” ditengah nyanyian yang kalimatnya belum berakhir. Untuk itu harus dapat mengatur nafas dengan diafragma. Dorongan diafragma dari bawah pada paru-paru akan menjaga agar nafas tidak lebih dan tidak kurang. Untuk menghemat nafas dapat dilakukan latihan seperti berikut: Ambil sebuah lilin dan nyalakan, nyanyikan nada yang termudah misalnya g atau a didepan lilin. Jika berhasil mengubah udara yang dikeluarkan menjadi getaran suara sehemat mungkin, maka nyala lilin tidak akan bergerak. Ulangi latihan-latihan ini sampai 5 kali. Sebagai latihan selanjut- nya perhatikan cara mengambil nafas di bawah ini. 94 Seni Musik Non Klasik
  • 103. Notasi 1: latihan pernafasan diafragma 3. Sikap Tubuh Untuk dapat tampil menyanyi dengan baik, diperlukan sikap tubuh yang rileks namun penuh tenaga. Tubuh yang rileks adalah sikap yang baik dan benar. Secara fisik, sikap bernyanyi adalah seluruh bagian tubuh harus selalu dalam keadaan tidak kaku. Menggerakkan kani, tangan, kepala dan badan seperlunya. Secara psikispun, dalam menyanyi perlu jiwa yang lentur atau tidak tegang. Pikiran harus positif dan jiwa perlu dilarutkan pada gerak musik. Apabila fisik dan jiwa sudah lentur, harus disiapkan mental yang akan mendukung vokal yang enak. Cara menum- buhkan sikap mental yang relax dan powerpul, selain memper-hatikan faktor di atas juga meningkatkan jam terbang seefektif mungkin. Sikap tubuh waktu menyanyi merupakan hal yang penting. Untuk menjaga agar tidak menimbulkan ketegangan, maka berlatih untuk tidak selalu mengangkat bahu dan tidak menggerakkan dada keatas harus dikuasai oleh seorang penyanyi. Biasanya, ketegangan-ketegangan yang terjadi diakibatkan oleh keadaan jasmaniah maupun rohaniah (psikis). Keadaan jasmaniah yang sakit atau lelah mempengaruhi pernafasan. Nafas menjadi pendek dan gelisah. Keadaan rohaniah yang dapat me- nimbulkan ketegangan yaitu ketakutan, cemas, demam panggung dan sebagainya. Dalam ketegangan yang tidak wajar, semua nyanyian yang sudah dilatih dengan baik dapat hilang seketika atau gagal. Untuk itu sikap menyanyi yang baik adalah dengan sikap bebas dari semua ketegangan, konsentrasi untuk menyanyi dan harus pandai menguasai diri. Sikap tubuh yang lain adalah tidak kaku, tidak membungkuk tetapi jangan terlalu menengadah keatas. Posisi kaki kanan agak maju, supaya berat badan dapat berpindah-pindah dengan relaks. 95 Seni Musik Non Klasik
  • 104. Gambar 2: sikap tubuh 4. Membentuk Suara Cara membentuk suara adalah dengan mendengarkan secara seksa- ma nada-nada yang dikeluarkan, kemudian menelungkupkan tangan pada daun telinga ke depan. Mula-mula calon penyanyi akan banyak terganggu oleh apa yang dinamakan Hauch, yakni udara palsu dan liar yang terhempas bersama-sama dengan nada nyanyian, yang meng- akibatkan suara sampingan berdesis-desis. Selama menyanyi sekali-kali hidung ditutup, sambil memperhatikan apa ada muncul suara-suara hidung. Dalam hal ini, tentu ada bagian-bagian tenggorokan yang di- sempitkan. Untuk dapat membentuk suara yang baik, perlu mengetahui hal-hal seperti berikut: 4.1 Mengenal Organ Suara Suara yang dimiliki oleh seorang penyanyi, bersumber dari selaput suara yang terdapat pada pangkal tenggorok serta didukung oleh organ-organ lain yang ada disekitarnya. Untuk itu, suara sebagai modal utama dalam menyanyi harus benar-benar diperhatikan dan dijaga kesehatannya agar tidak mengalami kecelakaan sewaktu benar-benar menyanyi atau pentas. 96 Seni Musik Non Klasik
  • 105. Sumber: Methode of Singing Gambar 3: Organ suara Keterangan: A. Larynx 1. Vocal cord 2. Epiglotottis B. Pharynx C. Cesophagus: 1. dental arches 2. tongue 3. lips D. Oralcavity: 1. palatine arch 2. soft palate 3. uvula 4. tonsils E. Nasal cavities F. Trachea G. Bronchial tubes H. Lungs I. Diaphragm 97 Seni Musik Non Klasik
  • 106. 4.2 Artikulasi/diksi Bentuk atau sikap mulut sewaktu menyanyi sangat mempengaruhi pembentukan nada yang dihasilkan. Kesalahan umum yang terjadi pada awal pelajaran menyanyi adalah bahwa mereka tidak bisa membuka mulutnya, sehingga suara yang dihasilkan kurang jelas. Banyak yang dihinggapi rasa rendah diri, malu jika ditertawakan apabila membuka mulutnya terlalu lebar. Padahal dalam menyanyi tidak usah terlalu memi- kirkan bagaimana bentuk wajah atau mulut, asalkan bernyanyi dengan sewajarnya dan tidak dibuat-buat. Diksi dan artikulasi yang baik tergan- tung dari cara membuka mulut masing-masing penyanyi. Kadang-kadang sebelum belajar menyanyi terlebih dahulu harus belajar berbi-cara. Untuk pembentukan huruf hidup, huruf mati, huruf rangkap akan diuraikan berikut ini: 4.2.1 Artikulasi huruf hidup Pembentukan huruf hidup tergantung dari sikap rongga mulut terutama lidah. Huruf ‘a’: tidak semua orang dapat mengucapkan huruf ‘a’ dengan jelas, sering diucapkan ‘ou’ atau ‘eu’. Hal ini disebabkan posisi mulut yang kurang terbuka, rahang bawah tidak bergerak kebawah, lidah tertarik melengkung ke belakang. Oleh sebab itu waktu menyanyikan ‘a’ sebaiknya bibir membentuk seperti corong yang bundar dan rahang bawah dirturunkan cukup jauh. Gigi atas dan bawah tidak tertutup oleh bibir, lidah terletak pada permukaan yang rata ujungnya menyentuh gigi bawah. Hal ini akan menghasilkan bunyi ‘a’ yang lebih baik. 98 Seni Musik Non Klasik
  • 107. Latihan huruf ‘a’: Gambar 4: bunyi vokal ‘a’ Notasi 2: latihan bunyi ‘a’ Mulailah dengan nafas yang tidak terlalu banyak, kemudian nyanyikan ‘a’ dengan permulaan lembut ..... lambat laun keras dan berakhir dengan lembut. Perhatikan pada akhir kata, biasanya sering diikuti dengan ‘m’ yang tidak disengaja sewaktu mulut ditutup. Untuk mengatasinya dengan memperlembut ‘a’ pada saat penutup dan menutup mulut sesudah suara ‘a’ menghilang. Setelah melakukan latihan diatas, betapa sulitnya menyanyi dengan baik jika setiap saat harus mengingat semua hal tersebut satu demi satu. Karena itu diperlukan sekali latihan-latihan untuk mendukung artikulasi dengan cermat, bukan merupakan suatu beban yang harus dipikirkan, tetapi menjadi kebiasaan yang dimiliki untuk mempermudah pengung- kapan isi sebuah lagu. 99 Seni Musik Non Klasik
  • 108. Latihan huruf ‘i’: Gambar 5: bunyi vokal ‘i’ Notasi 3: latihan vokal ‘i’ Pembentukan dan pengucapan huruf ‘i’, bagian tengah dari lidah naik keatas tetapi ujungnya tetap menyentuh gigi bawah. Waktu mengucapkan ‘i’ sudut bibir ditarik ke belakang, namun dalam menya- nyikan ‘i’ bibir tetap membentuk corong, jadi bibir tetap membentuk lingkaran. Untuk melihat apakah posisi bibir sudah betul, sebaiknya latih- an didepan cermin dengan menyanyi ‘pagi’, ‘lagi’ dansebagainya. 100 Seni Musik Non Klasik
  • 109. Latihan huruf ‘u’: Gambar 6: bunyi vokal ‘u’ Notasi 4: latihan vokal ‘u’ Huruf ‘u’: pengucapan ‘u’ dengan corong bibir yang diper- sempit dan dimajukan kedepan. Tetapi sebaiknya celah bibir tetap membentuk sebuah corong yang bundar. Ujung lidah menyentuh gigi bawah dan sedikit membusung di bagian belakang. Posisi rahang bawah turun secukupnya, hal ini dapat diperiksa dengan memasukkan jari diantara gigi atas dan gigi bawah. Agar mendapat sikap bibir yang baik seba- iknya dilatih dengan mengucapkan ‘guru’, ‘satu’, ‘merdu’ dansebagainya. 101 Seni Musik Non Klasik
  • 110. Latihan huruf ‘e’: Gambar 7: bunyi vokal ‘e’ Notasi 5: latihan vokal ‘e’ Untuk mendapatkan ‘e’ yang bulat, rahang bawah sedikit diturunkan sehingga tidak terlalu sempit, bibir juga tidak terlalu sempit tetapi seperti corong. Huruf ‘e’ dalam kata ‘tape’ hampir sama dengan huruf ‘i’, untuk mengatasinya dengan mewarnai ‘e’ sedikit kearah ‘i’. Huruf ‘e’ dapat dilatih dengan kata seperti ‘lele’, ‘rante’ dan sebagainya. 102 Seni Musik Non Klasik
  • 111. Latihan huruf ‘o’: Gambar 8: bunyi vokal ‘o’ Notasi 6: latihan vokal ‘o’ Huruf ‘o’ seperti pada kata ‘toko’ memerlukan bentuk corong bibir yang bundar, untuk posisi lidah hampir sama dengan pengucapan huruf ‘a’. Membentuk kata ‘pohon’ pengucapannya agak berbeda yaitu bentuk corong bibir diperlonjong dan sedikit dipersempit. Untuk mendapatkan sikap bibir yang baik dalam pengucapan huruf ‘o’ adalah dengan kata- kata seperti ‘bakso’, ‘sawo’, ‘mlinjo’ dan sebagainya. Semua huruf hidup diatas harus dilatih dengan sejelas-jelasnya, sehingga menghasilkan bunyi yang jernih. Huruf-huruf tersebut akan banyak dipengaruhi oleh bahasa daerah setempat. Misalnya pengucapan di Jawa Timur, Sumatra dan daerah lainnya, tentu akan berbeda pengu- capannya dengan daerah Jawa Tengah. Untuk mendapatkan artikulasi bahasa Indonesia yang sempurna, hendaknya semua huruf dilatih dalam bermacam -macam penggunaannya. 103 Seni Musik Non Klasik
  • 112. 4.2.2 Artikulasi huruf mati Dalam menyanyikan huruf-huruf mati harus diucapkan sejelas- jelasnya khususnya pada akhir perkataan, misalnya hand tidak boleh menjadi hant, dan kand tidak menjadi kant. M, n dan ng tetap terdengar jelas. Huruf-huruf mati yang meletus seperti b, d, k, p, q, t harus betul- betul meletus. Pada l, d, t lidah difungsikan dengan baik. Pengucapan- pengucapan huruf mati ini memerlukan latihan khusus dan seksama, agar dapat menguasai artikulasi dengan baik. Berbagai bunyi dalam bahasa asing sering menimbulkan kesulitan dalam pengucapannya, untuk itu sebelum menyanyi dengan bahasa asing misalnya lagu-lagu bahasa Inggris, Perancis, Jerman dan sebagai- nya perlu dikonsultasikan dengan guru atau ahli bahasanya. Huruf-huruf mati membawa ungkapan ekspresi yang khusus: huruf ‘h’ membawa kesan megah - misalnya: ‘hiduplah tanahku hiduplah negeriku’. ‘tanah tumpah darahku’ huruf ‘r’ membuat kesan gembira - misalnya: ‘sorak-sorak bergembira’, ‘bendera merah putih’ huruf ‘ng’ memberi kesan suatu harapan dan keyakinan yang - dinyatakan dengan lantang: misalnya: ‘kulihat terang, meski tak benderang’ Huruf-huruf mati dibeda-bedakan menjadi: huruf mati yang bisu dan huruf mati yang bersuara huruf mati merupakan ‘bunyi bantu’ untuk huruf hidup. Untuk huruf-huruf bisu perlu diperhatikan dengan baik, karena dalam nyanyian, huruf-huruf bisu mematikan bunyi huruf hidup. Agar ucapan huruf bisu pada akhir kata menjadi serentak., diperlukan latihan yang teliti. Adapun huruf-huruf mati yang bisu terdiri dari: b, c, d, f, g, h, j, k, p, s, t, kh, sy. Sedangkan huruf-huruf mati yang bersuara yaitu: l, m, n, r, v, y, z, ng. Sebagai contoh huruf mati yang bisu, yaitu pembentukan ‘b’ dan ‘p’ pada awal kata dalam nyanyian ‘Merah Putih’ ciptaan Ibu Sud. Dan ‘Bagimu Negri’ ciptaan Kusbini 104 Seni Musik Non Klasik
  • 113. Huruf mati yang bersuara, bila diucapkan mempunyai gejala reso- nansi dan merupakan jembatan antara dua hiruf hidup. Maka suasana lagu menjadi ringan dan melayang. Untuk membentuk huruf-huruf mati yang bersuara, harus memperhatikan bahasan tentang resonansi. Semua huruf hendaknya dibunyikan dengan cukup kuat tapi ringan, terutama jika dipakai setelah huruf tertutup yang singkat. Sebagai contoh huruf mati yang bersuara, pembentukan huruf ‘m’, ‘n’, dan ‘ng’: Untuk membentuk’m’, bibir dikatupkan dengan ringan dan tidak ditekan. Gigi tidak dirapatkan, rongga mulut seluas mungkin. Untuk membentuk ‘n’, ujung lidah menyentuh ringan pada belakang gigi atas. Waktu mem- bentuk ‘ng’ ujung lidah diletakkan seperti ucapan ‘a’. Contoh: Emm .......... maa................ amm Enn............. naa.................ann Eng..............nga..................ang Pada ucapan ‘ng’ ada bahaya suara terjepit dalam leher. Kerap kali malah ada orang yang suaranya mengandung ‘ng’ tanpa disadari. Hal ini disebut dengan suara hidung (sengau). Cara untuk menyadarkannya adalah dengan menyadari bunyi ‘ng’ itu sendiri yang kemudian dialihkan ke bunyi huruf hidup. 4.2.3 Artikulasi huruf hidup rangkap (diphtong) Penggunaan kata-kata dengan huruf rangkap banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia, seperti: ‘au’ : anggauta, saudara, limau dan sebagainya ‘ai’ : selai, gulai, pantai dan sebagainya ‘oi’ : sepoi, amboina, lisoi dan sebagainya Huruf-huruf yang mendahului adalah huruf terbuka dan diikuti huruf tertutup. Untuk itu cara pengucapannya adalah huruf yang mendahului diucapkan lebih lama dan sedikit ditekan, kemudian beralih dengan luwes ke dalam bunyi yang mengikutinya. Dalam peralihan itu mudah terjadi bunyi yang lain misalnya pada ‘au’ menjadi ‘ow’ atau ‘ai’ menjadi ‘ey’. Agar nyanyian tetap indah maka pengucapannya jangan berubah pada satu bunyi saja, tetapi juga jangan kedua huruf tersebut ditekan satu-satu. 105 Seni Musik Non Klasik
  • 114. 5. Menyambung suku kata dan aturan artikulasi dalam bernyanyi Menyanyikan semua suku kata secara bersambung, jika ada dua - huruf mati berjajar, disambung dengan baik tanpa pemenggalan. Contoh: ‘potong padi’ ‘riuh rendah’2 ‘di tengah sawah’ ‘di pinggir kali’ ‘tanahtumpahdarahkuyangsucimulia’ Jika dahulu orang berpendapat bahwa artikulasi akan berkurang dengan bernyanyi secara bersambung. Sebagai cita-cita semua suku kata dipi- sahkan. Misalnya: ta-nah tum-pah da-rah-ku yang su-ci mu-li-a. Tetapi sekarang disadari bahwa rahasia dari ucapan yang jelas terletak dalam pengelompokkan kata yang mengungkapkan satu pengertian, dengan berpangkal pada kesatuan kelompok kata, masing-masing kata akan mendapat kedudukan yang wajar. Dengan demikian orang tidak hanya mendengar kata-kata saja, tetapi juga dapat menangkap artinya. • Apabila suatu suku kata ditutup dengan huruf bisu, maka huruf bisu itu baru boleh diucapkan pada saat menjelang nada yang berikutnya atau pada awal istirahat yang mengikuti nada terakhir kalimat. • Apabila dalam satu kalimat musik dua huruf mati diucapkan berturut- turut, maka ucapan huruf bisu yang pertama harus ditunda sampai sesaat sebelum huruf mati yang berikutnya. Huruf bisu selalu diucapka dengan jelas. • Huruf-huruf: m, n, l, r, w, ny dan ng yang mengikuti huruf hidup yang pendek hendaknya dibunyikan langsung. Kalau huruf yang pendek itu jatuh pada nada yang panjang maka pada pukulan terakhir dari nada itu, huruf hidup ditinggalkan dan digantikan dengan huruf mati. • Huruf rangkap yang dinyanyikan dengan nada panjang, hendaknya ditahan pada huruf hidup yang pertama, kemudian sedikit demi sedikit mengalir ke huruf hidup yang kedua. 106 Seni Musik Non Klasik
  • 115. Perhatikan bahwa: • Dua huruf tidak boleh dipisahkan • Dua huruf yang pertama mendapat tekanan yang pokok. • Contoh huruf rangkap lagu ‘Nyiur Hijau’ ciptaan Maladi. Notasi 7: lagu Nyiur Hijau - Semua kata yang diawali dengan huruf hidup tidak dimulai dengan letusan dan tanpa terdengarnya huruf pembuka jalan (h, m atau n), hendaknya dimulai dengan lembut dan pasti. - Huruf hidup yang dinyanyikan selama beberapa nada yang berlainan, dinyanyikan secara bersambung tanpa dipisahkan dengan ‘h’ tanpa diayunkan, tetapi dengan membunyikan masing-masing nada secara legato. 107 Seni Musik Non Klasik
  • 116. 6. Resonansi Arti Resonansi Apa yang disebut dengan resonansi adalah fenomena yang ada sangkut pautnya dengan banyaknya rongga dalam tubuh manusia. Seti- ap orang yang menyanyi, resonansi akan timbul dari suara yang dihasil- kan. Oleh sebab itu resonansi membantu memperbesar luas suara dan memperkuat daya tahan suara. Ruang resonansi utama terdapat di dalam kepala, dengan banyak bilik udara yang besar atau kecil, dan berpe- ngaruh terhadap pembentukan suara. Getaran-getaran pita suara menja- lar ke dalam bilik-bilik yang meresonansi suara. Ruang Resonansi Ruang resonansi terdiri dari semua rongga dalam tubuh manusia terutama rongga di atas pita suara. Ruang resonansi dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu: (1) rongga resonansi yang bentuknya tak dapat diubah; dan (2) rongga resonansi yang bentuknya dapat diubah. Fungsi dari semua rongga terutama rongga yang dapat berubah adalah menim- bulkan perbedaan warna suara dan huruf hidup. Semakin banyak udara terdapat dalam rongga resonansi, maka semakin bulat suara yang ditimbulkan, karena udara turut bergetar. Latihan pemanfaatan rongga-rongga resonansi Dalam masalah gema suara, hal yang perlu diperhatikan oleh vokalis adalah: mengenal adanya rongga resonansi, memperkeras dinding- dinding resonansi, memperbesar rongga resonansi. Hal itu untuk mewu- judkan agar suara menjadi berbobot dan cemerlang. Mengenal adanya rongga resonansi, cara untuk menyadari dan merasakan bahwa dalam tubuh vokalis adalah gema suara, dapat ditempuh dengan jalan ber- senandung. Dengan posisi rahang membuka, kemudian dalam posisi menganga, bibir dikatubkan secara ringan dan menyenandungkan melodi sebagai berikut: Notasi 8 : latihan memperkeras dinding resonansi 108 Seni Musik Non Klasik
  • 117. Kedua melodi diatas disenandungkan secara kromatis dari c-cis-d-dis-e-f- fis-g-gis-a-ais-b…… danseterusnya naik turun masing-masing setengah laras, seluas batas wilayah nada vokalis yang bersangkutan. Memperkeras dinding-dinding resonansi, usaha ini bertujuan untuk me- nuju kea rah suara yang cemerlang. Hal ini dapat menyebabkan gema suara dapat diproses dengan sempurna. Caranya ditempuh dengan jalan menyanyikan melodi di bawah ini dengan menggunakan suku kata ko, ka, ke, ki dan ku. Notasi 9 : latihan memperkeras dinding resonansi Melodi diatas dinyanyikan dengan satu suku kata setiap nada. Setelah dikuasai kemudian ditingkatkan berturut-turut dua, tiga, empat, lima dan enam suku kata setiap nada serta dinyanyikan seluas wilayah nada penyanyi yang bersangkutan. Secara kromatis naik turun masing- masing setengah laras, sebatas wilayah suara penyanyi yang ber- sangkutan. Memperbesar rongga resonansi, bertujuan untuk memperoleh suara yang berbobot (volumenya tebal). Hal ini dapat ditempuh dengan jalan menyanyikan melodi di bawah ini dengan menggunakan suku kata ma, mi, mu, me, mo. Notasi 10 : latihan m emperbesar dinding resonansi 109 Seni Musik Non Klasik
  • 118. Melodi diatas dinyanyikan secara kromatis naik turun masing- masing setengah laras, sebatas wilayah suara penyanyi yang bersangkutan. 7. Intonasi Intonasi atau menyanyikan nada dengan tepat merupakan dam- baan setiap orang yang berprofesi sebagai penyanyi. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam intonasi yaitu: relaks, tidak tegang dalam menyanyi, tidak takut dalam menca-pai nada tinggi, percaya diri; Konsentrasi, tidak ragu-ragu dalam mengambil nada sehingga tinggi nada tidak turun; Latihan nafas dengan diafragma agar mendapatkan nafas yang panjang; Pita suara dilaraskan kembali, terutama pada setiap ulangan nada dan nada yang ditahan, hal ini untuk menjaga agar suara tidak cepat lelah; Peka terhadap suara lain terutama iringan; Latihan interval untuk membidik lompatan-lompatan nada dengan tepat; Latihan nada-nada peralihan register suara, untuk menyanyikan lagu yang berpindah kunci; Latihan nada-nada pada batas wilayah suara, baik itu untuk suara tinggi maupun rendah; Pengucapan huruf-huruf hidup dengan jelas agar tinggi nada tidak berubah; Tidak terpengaruh dengan tangganada lain, apalagi dari daerah yang sudah terbiasa dinyanyikan sehari-hari. Penyebab intonasi yang kurang tepat adalah diakibatkan karena: kurang latihan, sehingga kurang menguasai lagu yang dinyanyikan; merasa takut jika tidak dapat mencapai nada tinggi; cara pernafasan kurang sempurna; tempat pengambilan nafas tidak jelas; kurang peka pada iringan; kesulitan membidik lompatan nada dengan tepat 8. Phrasering Phrasering adalah pemenggalan kalimat musik menjadi bagian- bagian yang lebih pendek, tetapi tetap mempunyai kesatuan arti. Tujuan phrasering adalah agar dapat memenggal kalimat musik lebih tepat sesuai dengan isi kalimat. Dengan demikian usaha untuk mengung- kapkan suatu lagu dapat lebih mendekati kebenaran yang terkandung didalamnya sesuai dengan pesan lagu tersebut. Phrasering ada dua macam, yaitu: 110 Seni Musik Non Klasik
  • 119. Phrasering Kalimat Bahasa Setelah mengucapkan masing-masing huruf dan bagaimana suku katanya yang harus disambung, pusat perhatian berikutnya adalah pada kesatuan kata-kata. Bernyanyi berarti membawakan suatu lagu, yaitu: dengan menghayati isi dari kata-kata, sebagai ide atau pesan. Kemudian setiap nyanyian terdiri dari: satu atau beberapa kalimat bahasa, dan satu atau beberapa kalimat musik. Kedua-duanya meru-pakan suatu ke- satuan. Untuk mengupas suatu nyanyian, harus membaca kalimat- kalimat bahasa tanpa disertai lagu,. dan menyanyikan kalimat-kalimat lagu tanpa teks. Kalimat bahasa, untuk menghayati isi dari kata-kata, ada tiga bagian yang harus diketahui, yaitu: 8.1.1 Menyanyikan Kalimat Bahasa Kalimat bahasa, untuk menghayati isi dari kata-kata, ada tiga bagian yang harus diketahui yaitu : bagian-bagian dari kalimat, atau kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan. Contoh : Maju tak gentar/ membela yang benar Maju tak gentar/ hak kita diserang Maju serentak /pengusir penyerang Maju serentak/tentu kita menang Bergerak bergerak/ serentak serentak Menerkam /menerjang terjang Tak gentar tak gentar/menyerang menyerang Majulah/majulah/menang Dalam pemenggalan kalimat atau phrasering, bukan irama melodi yang menentukan, melainkan arti kata. Jadi, tatabahasa yang menjadi titik pangkal. Kemudian baru phrasering melodi dan aksen-aksen irama disesuaikan. Dalam tatabahasa, pemenggalan kalimat ditandai dengan 111 Seni Musik Non Klasik
  • 120. koma, jadi koma mempunyai peranan penting untuk menunjukkan dimana pemenggalan kalimat yang benar. 8.1.2 Kata pokok yang ditonjolkan Untuk menonjolkan suatu kata terdapat dua kemungkinan, yaitu :kata tersebut diucapkan dengan lebih keras; kata yang penting ditunda ucapannya. 8.1.3 Suku kata yang mendapat tekanan dan tidak mendapat tekanan. Dalam bahasa Indonesia aksen kata tidak begitu kuat, namun pada umumnya suku kata kedua dari belakang mendapat tekanan sedikit. Kalau d terdapat huruf ‘e’ pepet maka aksen bergeser ke suku kata yang terakhir. Misalnya ‘se-karang’, belum’ dan sebagainya. Phrasering Kalimat Musik Kalimat musik terdiri dari rangkaian nada dalam bentuk motif atau tema lagu. Tema lagu mengungkapkan suatu ide musik. 8.2.1 Kelompok nada (motif) Motif adalah penggalan dari kalimat musik dalam dua birama, empat birama atau paling banyak delapan birama. Sering dijumpai penggalan kalimat musik yang muncul berulang-ulang dengan gerakan yang sama. 8.2.2 Puncak dari lagu/kalimat Seringkali puncak dari lagu terdapat pada nada yang tertinggi dalam sebuah kalimat atau lagu. puncak ini disiapkan misalnya dengan lagu yang naik (arsis), dan dikembalikan misalnya dengan lagu yang turun (tesis). 8.2.3 Tekanan nada Dalam musik tekanan nada ditentukan oleh irama. Nada yang terdapat pada hitungan pertama dari masing-masing birama mendapat tekanan. 112 Seni Musik Non Klasik
  • 121. 8.2.4 Kalimat yang dinyanyikan Kalimat yang dinyanyikan dalam lagu ada dua bentuk, yaitu: nyanyian resitatif; nyanyian melismatis. Nyanyian resitatif adalah: kata-kata lebih penting daripada lagu. lagu mengabdi total kepada teksnya. Untuk perlu menerapkan aturan- aturan dari kalimat bahasa. Nyanyian melismatis adalah: satu huruf hidup dipakai untuk serangkaian nada. Teks memberi ruangan penuh kepada lagu, untuk itu dipakai aturan-aturan dari kalimat musik. 9. Ekspresi Seorang penyanyi harus dapat membawakan lagu dengan baik dari suatu ciptaan sesuai dengan jiwa lagu tersebut, misalnya sedih, gembira, semangat dan sebagainya. Sebuah lagu yang gembira harus pula disertai dengan mimik atau gerakan yang gembira pula. Bernyanyi dengan ‘perasaan’ berarti bernyanyi dengan ‘hati’. Sebelum menyanyikan lagu, alangkah baiknya jika sudah menghayati apa yang akan dinyanyikan. Karena selama bernyanyi harus menghayati isi nyanyian dengan pera-saan/hati. Banyak penyanyi memusatkan perhatian pada dirinya sendiri, bukan pada nyanyian yang sedang dibawakan. Tidak ada nyanyian ekspresif yang dilakukan sambil mengingat-ingat lagu yang dibawakan, apalagi bila sambil membaca syairnya. Oleh sebab itu sebe-lum tampil, hafalkan lirik lagu yang akan dibawakan. Setelah hafal lirik lagunya, pahami betul apa makna pesan yang ada pada lagu tersebut, kemudian pahami makna dan pesannya, pastikan apakah jiwa dasar lagu itu sedih, marah, semangat, gembira dansebagainya. Setelah berhasil menjiwai syair lagu, nyanyikan melodi tersebut tanpa syair dengan tetap berin-tegrasi pada jiwa dasar penafsiran tentang syair. Setelah syair lagu dikuasai, masih ada satu lagi yang harus dilalui yaitu factor musik pengi-ring yang berguna fungsinya untuk membawa pada perasaan yang lebih mendalam. Saat menyanyi dengan iringan musik, satukan perasaan lagu dengan suasana musik pengiring. Kiat sederhana dalam menjiwai irama musik pengiring, yaitu berinteraksilah, terutama dengan salah satu instrument (apabila diiringi lebih dari satu instrument), karena instrument memiliki perasaan yang lebih menonjol terhadap irama. Ekspresi adalah penguasaan syair, lagu, 113 Seni Musik Non Klasik
  • 122. sambil menjiwai atau menghayati secara keseluruhan. Untuk itu diper- lukan beberapa teknik bernyanyi sebagai berikut: Teknik Penjiwaan Teknik penjiwaan adalah cara untuk menguasai teknik-teknik bernyanyi, yaitu: Merubah dinamika atau volume suara Teknik penjiwaan yang biasa dilakukan adalah dinamika atau perubahan keras lembutnya suara sesuai dengan tanda-tanda atau perasaan. Tanda dinamik terletak dalam struktur kalimat musik yang pada umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian sebelum puncak yang disertai dengan crescendo dan bagian sesudah puncak yang disertai dengan decres- cendo. Menghidupkan tempo Memilih tempo yang tepat untuk sebuah nyanyian, penting sekali dalam penjiwaan. Karena semua istilah seperti allegro (cepat), moderato (sedang), lambat (andante danserusnya sangat relatif, maka penyanyi harus mencoba tempo mana yang sesuai dengan nyanyian Pengungkapan Nyanyian Dalam mengungkapkan nyanyian terlebih dahulu mempelajari penjiwaan. Mula –mula dengan memilih nyanyian yang memancing gerak-gerik; Kemudian menyanyikan lagu-lagu yang lebih serius. Tidak bernyanyi terlalu keras, dan jangan bernyanyi hanya dengan suara tetapi dengan wajah. Suara selalu dijiwai oleh penghayatan aka nisi dan maksud nyanyian, dan oleh hati yang tidak pernah meninggalkan suara. Perlu juga membaca teks tidak hanya dengan mata tetapi dengan suara seolah-olah seperti baca puisi. Menjiwai Ornamen vokal Ornamen artinya hiasan atau variasi. Khusus dalam vocal yang lazim dikatagorikan sebagai ornamen, yaitu improvisasi atau hiasan yang 114 Seni Musik Non Klasik
  • 123. dilakukan secara mendadak dan impromptu atau hiasan yang diren- canakan. Ornamentasi pada dasarnya bertujuan membuat lagu menjadi lebih hangat dan lebih kaya nuansa. Ornamentasi tidak akan bermakna apapun apabila dilakukan tidak dengan sepenuh jiwa. Mengingat menyanyi merupakan pekerjaan hati, maka prinsip dasar saat melakukan ornamen vokalpun tetap perlu dilakukan dengan penuh perasaan. Yang termasuk dalam katagori ornamentasi vokal, selain memproduksi soft distorsi dan distorsi, termasuk vibrato, echo, tremolo, falsetto/kopstem. Distorsi adalah vokal suara yang dibuat dengan kesan kasar seperti penyanyi rock, sedangkan soft distorsi merupakan vokal yang lembut dan serak. Seperti suara Krisdayanti, Stevie Wonder, Celine Dion dansebagainya. Teknik vibrato adalah gelombang vokal lembut yang mendalam, sebagaimana yang banyak dilakukan hampir semua penyanyi pop. Teknik tremolo adalah getaran vocal yang lebih rapat seperti yang banyak dilakukan para penyanyi seriosa. Teknik echo adalah cara ber- nyanyi mendesah, hal ini sering digunakan oleh para penyanyi yang kurang memiliki potensi mengalunkangelombang vibrato atau tremolo. Kopstem/falsetto adalah suara palsu yang ditujukan bagi pria dan dapat dimanfaatkan sebagai ornamen. Pemanfaatan kopstem untuk bagian nada yang masih bisa dijangkau dengan suara asli adalah suara Mariah Carey dalam lagu ‘ My All’, Rossa melalui lagu ‘Perawan Cinta’ dan sebagainya. Menjiwai Ornamen lagu Bagi yang belum memahami banyak tentang harmoni, sebaiknya tidak menyajikan ornamentasi secara revolusional. Karena dapat terjebak pada ornamen yang tidak proporsional. Ornamentasi bukan kewajiban utama bagi seorang penyanyi, kewajiban utama adalah menyanyi dengan penuh perasaan. Dalam dunia nyanyi populer, penjiwaan diperlukan untuk menyajikan ornamentasi. Tidak ada ukuran yang jelas tentang ornamentasi selama dibawakan dengan hati. Menjiwai tentang Dinamik Dinamik adalah bahasa musik yang mengandung makna keras lembutnya suara. Penyanyi seperti Dorce,Titik Puspa, Celine Dion, 115 Seni Musik Non Klasik
  • 124. Barbra Streisand pandai menghanyutkan perasaan pendengarnya. Musik populer tergolong corak musik yang menuntut permainan dinamik yang variatif. Oleh sebab itu para penyanyi musik populer profesional pandai mengombang-ambingkan perasaan pendengarnya. Menjiwai tentang Pengucapan Komunikasi vokal yang tidak musikal adalah berbicara atau berkata- kata, sedangkan menyanyi adalah komunikasi vokal secara melodis. Seorang penyanyi dituntut selalu bisa menjiwai berbagai aspek peri- lakunya di panggung. Gerak tangannya, langkah kakinya, termasuk saat mengucapkan kata-katapun perlu dijiwai. Dengan menjiwai gerakan alat- alat pengucapan, berarti telah menyajikan teknik diksi atau gaya pengucapan yang lebih menarik serta dapat bermanfaat untuk memper- tegas karakter suara. 10. Penampilan Penampilan dalam menyanyi sangat menentukan berhasil tidaknya seorang penyanyi dalam suatu pertunjukan. Oleh karena itu sebagai vokalis harus benar-benar berusaha menampilkan dirinya sebaik mungkin, agar memberi kesan mempesona sehingga dapat menarik penonton. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penampilan, diantaranya yaitu make up dan kostum. Make up atau merias diri sangat diperlukan dalam suatu penampilan. Tujuannya adalah untuk mem- perindah atau mempercantik diri, tetapi tidak berlebihan, yang wajar saja. Penataan rambut juga perlu diperhatikan, disesuaikan dengan wajah. Untuk kostum atau busana harus memilih warna dan potongan yang serasi. Menyanyi dengan mikropon Sebuah mikropon selain memperkuat suara juga akan memperkeras suara. Untuk itu seorang penyanyi harus berhati-hati jika akan memin- dahkan tempatnya, baik itu tingginya, rendahnya apalagi jika akan memegang dengan tangan. Hasil suara yang diperoleh tergantung dari posisi mikropon terhadap mulut penyanyi. Jarak yang baik adalah 20 cm, membuat sudut 45 derajat keatas, sedikit dibawah mulut. Jarak antara mikropon dan mulut penyanyi sedapat-dapatnya selalu sama. Memang hal ini dapat diatur oleh amplifier, namun tidak hanya suara yang diper- 116 Seni Musik Non Klasik
  • 125. keras tetapi juga gemanya dan bunyi-bunyi disekitarnya. Alat teknis seperti mikropon dapat mengubah sampai terjadi suara yang tidak diinginkan. Sebagai penyanyi yang baik, tidak boleh puas dengan bunyi yang keras, tetapi harus selalu memperhatikan keindahan pula. Denga mikropon di tangan belum menjamin bahwa suara yang dihasilkan menjadi indah. Tidak hanya operator yang harus menjaga agar hasil suara menjadi sebaik mungkin, tetapi orang yang bernyanyi dimuka mikroponlah yang berperan utama. Oleh karena itu penyanyi harus bersikap kritis terhadap bunyi yang dihasilkan oleh mikropon. Gambar 9: cara memegang mikropon 11. Sifat Vokal dan Gaya Vokal Sifat vokal Berdasarkan sifatnya, suara manusia dapat digolongkan menjadi empat sifat dengan kelebihan masing-masing. (1) dramatic; (2) lirih; (3) coloratura (4) perpaduan dramatic dan lirih. Sifat pertama ‘dramatik’ yaitu suara bawaan yang lebih mantap, bahkan banyak pula yang ngebas. Kelebihan yang dapat diperoleh dari sifat suara ini adalah lebih mudah merangsang imajinasi pendengarnya. Penyanyi yang mempunyai suara ini seperti Elvis Presley, Emilia Contessa, Tom Jones, Kris Biantoro dan lainnya yang bersuara dramatik, kebanyakan akan lebih mampu me- nyampaikan berbagai gambaran pesan atau cerita yang termuat pada lagu. Sifat kedua adalah ‘lirih’ yaitu sifat suara yang lebih menonjolkan perasaan daripada menonjolkan akan kesan kemantapan suaranya. Kelebihan penyanyi lirih yaitu lebih mudah menyentuh perasaan 117 Seni Musik Non Klasik
  • 126. penikmatnya contoh penyanyi yang mempunyai sifat lirih adalah Chrisye, Siti Nur Haliza, Krisdayanti, Celine Dion, Rossa, Ebiet G. Ade dan semua penyanyi bersuara lirih lainnya. Dalam dunia industri sifat ‘lirih’ ini sangat mendominasi deretan penyanyi yang berskala nasional maupun inter- nasional. Sifat ketiga adalah ‘coloratura’ yaitu sifat vokal yang memili kelenturan atau kelincahan yang menonjol dalam memproduksi suara. Saat menyanyi terasa ringan, seolah-olah tanpa beban dalam memproduksi suaranya. Penyanyi-penyanyi coloratura seperti Louis Armstrong, Sal Jearreau, Norma Sanger, Syaharani, Inul Daratista. Benyamin. Kele- bihannya adalah dapat menjadi penyanyi multisifat, memiliki bawaan se- bagai penyanyi serba bisa, yang tidak dapat dimiliki oleh semua pe- nyanyi. Sifat yang keempat adalah perpaduan antara ‘dramatik’ dan ‘lirih’ , misalnya suara Stevie Wonder, George Benson, Hetty Koes Endang, Rita Efendi. Kelebihan dari suara ini adalah selain lebih mudah dalam mem- bawa penikmatnya ke dalam suasana lagu, juga lebih menyentuh pera- saan. Gaya vokal menurut irama pop Untuk dapat menyanyi dengan baik, diperlukan penguasaan gaya atau style lagu yang akan dibawakan. Sebuah gaya dalam musik keroncong, tentunya akan berbeda sekali dengan gaya pop atau dang- dut. Untuk itu, latihan menguasai irama lagu harus diperhatikan oleh seorang penyanyi. Biasanya dalam menyanyi akan diiringi oleh keyboard tunggal, grup band, orkestra atau pengiring lainnya. Pengiring yang baik dapat menantang penyanyi untuk menguasai irama. Pengucapan dengan cara alami dan ekspresif menjadi ciri atau gaya penyanyi pop, selain lebih aman bagi timbre penyanyi, juga sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan kewajaran artikulasi. Penyanyi pop lebih mengutamakan hasil akhir ucapan yang jelas dan benar daripada terlalu mematok teknik pembentukan mulut. Musik pop berarti musik popular, musik ringan yang menyenangkan dan disukai banyak peminat dengan menekannya pada sifat hiburan. Lagu pop Indonesia merupakan pengembangan dari lagu-lagu yang dikenal sebagai lagu hiburan. Lagu-lagu pop atau hiburan dikenal sebagai kata ganti entertain- ment. Entertainment dalam ruang terbatas dikenal pula sebagai musik dansa, penggunaan yang luas hingga ke panggung terbuka dikenal 118 Seni Musik Non Klasik
  • 127. sebagai musik pop. Jenis musik lagu pop masih dibedakan seperti lagu pop Barat. Baik pop Indonesia maupun Barat, dalam perkembangannya setiap periode akan muncul hit-hit baru. Musik pop amat didukung oleh media-media sejak awal, dibandingkan dengan musik seni, baik yang tradisional maupun yang kontemporer. Pada tahun ‘60an, musisi pop terkena dampak politis dan larangan pengaruh musik Barat. Pada umumnya sulit untuk menentukan gaya musik pop, karena genre ini setiap saat berubah mengikuti arus perkembangan jaman. Namun yang terpenting dalam gaya vokal pop adalah sangat bebas dalam meng- ungkapkan suatu nyanyian. Contoh lagu pop seperti Kisah Seorang Pramuria (The Mercys), Crazy (Julio Iglesias), Careless Whisper (George M), When I Need You (Julio Iglesias), Something Stupid (Frank Sinatra) dan sebagainya. Berikut ini contoh cara menyanyikan lagu pop, tidak banyak cengkok, hanya pada ketukan-ketukan nada pertama diberi aksen untuk memper- manis nada-nada berikutnya. Ciri alami penyanyi akan menjadi hal penting untuk menyanyikan lagu pop, untuk itu ciri lain dari irama pop adalah lebih banyak mengutamakan hasil ornamentasi nada-nada terakhir satu nada keatas ataupun kebawah, sesuai kemampuan dalam memainkan ornamentasi. Notasi 11: cara menyanyikan lagu pop Gaya vokal menurut irama keroncong 119 Seni Musik Non Klasik
  • 128. Gaya vokal dalam sajian kroncong, banyak cengkok dan cenderung melambat dari ketukan yang asli. Keterlambatan dalam ketukan memang sengaja dilakukan karena untuk memperindah cengkok itu sendiri. Improvisasi dan ornamentasi dapat dilakukan dengan sangat bebas, asal masih dalam harmonisasi kroncong. Gaya vokal kroncong dapat mem- pengaruhi durasi berbagai frase, tergantung cara ‘ekspresi ber-lebihan’ atau vibrato. Lagu kroncong khas Indonesia (kroncong, langgam, stambul, langgam Jawa). Istilah kroncong dibawa orang Portugis ke Asia Tenggara sekitar abad 16, kemudian terdapat berbagai teori bahwa istilah tersebut dari unsur onomatopoetic, yaitu musik berbunyi seperti ‘crong-crong’ dan sampai sekarang dikenal sebagai musik kroncong. Struktur harmoni dan melodi keroncong kelihatan berasal dari musik Barat, bahkan musik rakyat Portugis paling berperan. Musik dengan kesan melankolis biasanya dipentaskan dengan dua jenis gitar (viola) dari Spanyol dan guitara dari Portugis. Jika viola memainkan melodinya, maka guitar memainkan akor-akor tonika-dominan-tonika-dominan ….. secara terus menerus, subdominant dibunyikan hanya pada saat tertentu. Prinsip demikian menonjol pada kroncong, selain itu, gaya vokal diwarnai dengan vibrato yang keras (dianggap sebagai kuatnya ekspresi emosi). Standar alat musik kroncong antara lain: ukulele, banjo, gitar melodi, cello (dimainkan seperti gendang), kontra bas, biola serta flute. Secara formal kroncong asli berdasarkan suatu kerangka dengan 28 birama, dibagi masing-masing frase empat birama. Langgam kroncong kebanyakan dibagi empat frase, masing-masing dengan 8 birama (biasanya tanda birama 4/4) sesuai dengan prinsip langgam. Tokoh musik kroncong antara lain: Gesang, Kusbini, Anjarany dan lain-lain. Cara permainan ukulele dan banjo disebut onomatopoetic ‘cuk’ dan ‘cak’. Teknik permainan kurang lebih mirip ‘beat’ – ‘off-beat’. Lagu keroncong yang terkenal antara lain: Kr. Tanah Airku (Kelly Puspita), Lg. Bengawan Solo (Gesang), Stb. Baju Biru (Hardiman). Berikut contoh cara menyanyikan cengkok keroncong: 120 Seni Musik Non Klasik
  • 129. Notasi 12: cara m enyanyikan lagu keroncong Gaya vokal menurut irama dangdut Gaya vokal dalam sajian dangdut sangat bebas, menuruti irama kendang, dapat vibrasi sesuai dengan ciri khas dangdut, yaitu melayu atau India. Orkes melayu dengan gaya Hindustan yang mengikut sertakan suara tabla (gendang India) dengan cara membunyikan tertentu hingga terdengar suara ‘dangduut’. Orkes melayu gaya baru guna membedakan dengan orkes melayu asli dari pantai timur Sumatra (Deli, Riau) dan Malaysia. Pengganti tabla dipergunakan bongo atau kendang tradisional. Genre dangdut nampaknya berhubungan erat dengan irama melayu. Namun secara spesifik istilah dangdut diciptakan oleh seorang penyanyi, gitaris dan kritikus, yaitu Billy Chung (Billy Silabumi dari Bandung yang melihat corak alat perkusi tabla India terutama dalam lagu Ellya Khadam. Secara melodis ciri khas dangdut adalah suatu campuran antara laras diatonis dan pentatonic yang dikaitkan dengan kerangka harmoni tonal sederhana. Musik ini semakin popular di Indonesia dan juga selalu terdapat nuansa lokal (dangdut Bali). Dangdut pernah diangkat menjadi suatu komoditi musik hiburan yang lebih mandiri dan individual, terutama melalui upaya Rhoma Irama yang dapat me- masukkan aspek agama Islam ke dalam musiknya. Lagu-lagu dangdut misalnya Terlena (Ikke Nurjanah), Wakuncar (Reynold Panggabean) dan lagu dangdut lain yang tidak terhitung jumlahnya. Di bawah ini contoh menyanyikan lagu dangdut. 121 Seni Musik Non Klasik
  • 130. Notasi 13: cara menyanyikan lagu dangdut Irama jazz Penyanyi yang mendalami musik jazz, sudah akrab dengan berbagai improvisasi, karena improvisasi menjadi ciri khas musik jazz. Perubahan- perubahan aksen juga harus dikuasai karena keindahan irama jazz ada pada aksen ini. Ragam irama musik yang mulai dikenal sekitar tahun 1914 bagi jenis musik popular di Amerika yang berasal dari kalangan kaum Negro di New Orleans. Karakter musik jazz penuh perubahan aksen (sinkop) dan kelebihannya untuk berimprovisasi. Jazz gaya lama termasuk old jazz adalah swing, foxtrot, sedangkan jazz modern seperti boogie-woogie. Jazz rock merupakan ragam irama musik pop yang berakar pada rock’nroll dengan kemudahan-kemudahan sentuhan atas simbal dengan menghilangkan kombinasi pecahan nilai nada. Ciri rock terdapat pada hentakan bas drum. Jenis jazz waltz, berirama 3 dengan kombinasi sentuhan gaya rock. Sebagai contoh lagu jazz adalah Putri (Baskara Band), dan Pastel Sea (Casiopea). Irama rock Ciri gaya dalam musik rock adalah sesuai dengan artinya, yaitu keras seperti padu padas. Suara yang melengking tinggi dan menghentak- hentak menjadi khas musik yang mempunyai rocker seperti Nicky Astrea, Ahmad Albar dansebagainya. Suatu corak musik hiburan yang kemudian menjadi serius tahun 1950, berangkat dari pola Boogie-woogie. Penemunya adalah Fats Domino. Vibrasi nampak jika penyanyi sedang menyanyikan nada-nada bawah, pada nada-nada tinggi akan kelihatan kepiawaian seorang penyanyi rock. Jenis musiknya juga berkarakter. Band Rock di Indonesia seperti God Bless, Bumerang dan hampir seluruh 122 Seni Musik Non Klasik
  • 131. band Rock menggunakan nama berbau keras. Jenis lagu popular sebagai pengembangan rock’nroll, berasal dari Amerika Serikat dan berkembang di dunia Barat sekitar tahun 1950. basis rock adalah pada solo vocal dengan iringan gitar. Musik rock berkembang dengan ragam peralatan alat musik yang bervariasi sebagai combo-band. Musik rock sebenarnya masuk dalam kategori pop, sehingga dikenal dengan pop-rock. Lagu yang mempunyai irama rock seperti Cinta di Kota Tua (Nicky Astrea), Final count Down (Europe), Tom Sawyer (Rush) dan sebagainya. Irama rock’roll Gaya vokal rock’roll hampir sama dengan gaya dalam musik rock, karena musik rock merupakan pengembangan dari rock’roll yang berasal dari Amerika Serikat. Sebagai musik yang diharapkan memberikan gerak yang berkaitan dengan dansa. Ciri dan gaya musik rock’roll pembawaan lagunya disertai dengan gerakan-gerakan badan mulai dari meliuk-liuk hingga ke lompatan-lompatan atraktif. Gerak pentas rock’n roll biasanya merangsang penonton turut bergerak dengan berjingkrak-jingkrak. Rock’roll dapat diartikan rock and roll, namun ada yang menerjemahkan rock’roll. Genre musik ini biasa untuk mengiringi tarian bebas maupun tari modern. Penyanyi rock’roll seperti Elvis Presley dengan lagunya Hound Dog, Rock and Roll Music (D’Loyd), Rock Around The Clock. Irama latin Ragam irama latin seperti samba, chacha, beguin, mambo, rumba, calypso dan irama latin lainnya berasal dari Amerika Latin, tepatnya adalah Amerika Selatan yang banyak dipengaruhi kebudayaan Latin. Sampai sekarang, musik baru dari Amerika Selatan yang lain hampir tidak diketahui, kecuali musik dari Argentina dan Urugay dengan komposer Aharonian, yang berjuang keras untuk suatu musik Latin yang mandiri. Lagu-lagu Latin dalam beberapa contoh: Malaguena (Ernesto), Jarabe Tapatio (deter Mourice), Jambalaya (H. Wiiliam), Sway (Julie London), Quondo-quondo (Pat Boone), Kasih (Ermy Kulit). Irama blues Musik dengan vokal khas Amerika, berangkat dari orang-orang kulit hitam. Blues dipandang sebagai bagian musik hiburan dengan mengusung penuh sifat-sifat emosional Negro sebagai bagian bisnis. 123 Seni Musik Non Klasik
  • 132. Gaya v okal dalam irama blues, bebas melakukan improvisasi dengan nada-nada yang tersusun secara harmonis. Lompatan-lompatan pada register bawah maupun atas memperlihatkan kepiawaian penyanyi. Jenis lagu sedih dari kalangan kaum Negro Amerika, dirancang dalam tempo yang tidak terlalu cepat, mulai dikenal pada tahun 1911. lagu blues yang asli biasanya terdiri atas 12 birama yang tersusun menjadi 3 baris, masing-masing atas 4 birama dalam sukat 4. irama blues seperti dalam lagu I’ve Got a Blues (Rolling Stones), Dealova (Dewa). Irama waltz Gaya vokal untuk irama waltz terkesan gembira, riang dan penuh warna. Irama waltz diilhami oleh suatu bentuk tarian tradisional Jerman. Gaya khusus yang agak berbeda dari irama-irama lagu lain adalah pada ketukannya yang ¾, menjadikan irama waltz digemari di seluruh dunia sebagai iringan tarian. Ragam irama tari bersukat 3, tari tradisional Eropa (Jerman) yang mulai digemari sejak abad ke 19. dikenal adanya English waltz dan Viennese waltz, wals gaya Inggris dan waltz gaya Wina. Irama waltz dapat ditemukan pada lagu The Last Waltz (Engelbert H), Tennese Waltz (Patty Page), True Love (Elton John), Delilah (Tom Jones) Irama country Suatu corak musik dengan vocal dari Amerika, mula-mula ber- kembang di kampong, dinyanyikan oleh para musafir, pengembala dan pekerja-pekerja. Musik country popular sejak tahun 1940. Pengaruhnya di Indonesia pada tahun 1953, Mien Soundakh mengeluarkan “Penjaga Sapi’. Tahun 1950-an country Amerika pada Elvis Presley dengan tema lagu sekitar cinta dan patih hati. Bangkitnya country tahun 1970-an, yang berpengaruh pada Rahmat Kartolo dengan ‘Patah Hati”. Ragam irama pedesaan tradisi perkembangannya dimulai dari Amerika wilayah Barat saat ini mulai banyak dimunculkan kembali. Gaya vokalnya yang lincah dan gembira menjadi ciri khas musik country. Dengan busana yang bergaris-garis, penyanyi country dengan diiringi alat musik seperti gitar, banyo, biola akan saling bersahut-sahutan. Sebagai contoh lagu-lagu country adalah Take Me Home Country Road (John Denver), Gembala Sapi dan sebagainya. 124 Seni Musik Non Klasik
  • 133. Irama reggae Irama popular dari Jamaika dengan menggunakan elemen folk dan rock dan disajikan melalui hentakan drum disertai dengan gaya vokal yang banyak memainkan ornamen atau improvisasi bebas sesuai karakter reggae. Rekaman reggae telah muncul sejak 1960-an melalui Millie Small dan Desmond Dekker. Tahun 1970 melalui rekaman Led Zeepelin terdengar nomor reggae pada album Houses of The Holy , dan juga lagu Paul Simon yang terkenal There Goes Rhymin Simon atau lagu Jimmy Cliff tahun 1973. di Indonesia irama ini dimanfaatkan oleh Melky Goeslaw yang dinyanyikan oleh Nola Tilaar, ‘Dansa Reggae’, yang me- rupakan lagu terlaris tahun 1983. Irama reggae misalnya pada lagu Tragedi Buah Apel (Anita Sarawak), Don’t Worry Bought The Thing (Bob Marley) dan lagu-lagu reggae lainnya. 12. Teknik Vokal Langkah-langkah Latihan Vokal Untuk menghindari pita suara menjadi tegang dan kaku, maka setiap latihan menyanyi harus diawali dengan pemanasan yaitu latihan yang membantu pita suara menjadi luwes dan ringan. Karena menyanyi dengan keras akan menciptakan ketegangan pada pita suara, latihan- latihan di bawah ini sebaiknya dimulai dengan suara lembut. Latihan 1: Latihan 2: 125 Seni Musik Non Klasik
  • 134. Latihan 3: Latihan 4: Notasi 14: latihan 1 – 4 (latihan pemanasan) Latihan 1 – 4 diatas dinyanyikan dengan suku kata yang berlainan dan dalam tangganada yang secara kromatis naik dari c-cis-d-dis-e-f-fis-g-gis- a-ais-b ……… danseterusnya, kemudian turun masing-masing setengah laras, seluas batas wilayah nada masing-masing vokalis. Latihan staccato Staccato adalah menyanyi dengan cara diputus-putus, paling mudah dibentuk pada suara kepala, untuk itu latihan-latihannya sebaiknya dengan nada-nada tinggi: Notasi 15 : latihan staccato Untuk mendapatkan suara yang ringan, dapat dilatih dengan staccato dan cepat: Notasi 16 : latihan staccato 126 Seni Musik Non Klasik
  • 135. Latihan diatas dinyanyikan dengan suku kata lain misalnya ka, na, pa, dansebagainya secara kromatis dari c -cis-d-dis-e-f-fis-g-gis-a-ais-b…… danseterusnya naik turun masing-masing setengah laras, seluas batas wilayah nada vokalis. Notasi 17 : latihan staccato Tri suara diatas dinyanyikan dengan suku kata ma-pa-na dansebagainya secara kromatis dari c-cis-d-dis-e-f danseterusnya naik turun masing- masing setengah laras, seluas batas wilayah nada masing-masing vokalis. Suara Kopstem/kopstein dan Falsetto Ada cara efektif yang bisa dilakukan dalam menyiasati ketinggian suara wanita. Selain dengan latihan pernafasan, resonansi, powering, pembentukan suara dan sebagainya. Dapat juga dilatih suara kopstem. Suara kopstem adalah teknik memproduksi suara asli dengan cara hampir seperti membunyikan suara palsu. Suara kopstem banyak digunakan para penyanyi seriosa pada nada-nada tinggi. Suara tersebut seperti suara palsu, tetapi tidak sumbang karena dibunyikan dengan penuh perasaan. Suara kopstem yang baik adalah yang tidak kasar. Suara kopstem umumnya ditujukan bagi penyanyi wanita. Tetapi ada satu dua penyanyi pria yang bisa melakukannya. Untuk latihan kopstem dengan cara: mulai nada rendah hingga nada paling tinggi sesuai dengan batas ketinggian suara masing-masing, apabila telah mampu pada nada paling tinggi, bunyikanlah dengan suara yang normal. Notasi 18 : latihan suara falset 127 Seni Musik Non Klasik
  • 136. Suara falset atau falsetto pada suara kopstem sebenarnya berasal dari istilah falset/falsetto yang berarti murni suara palsu yang lazim digunakan pria, tetapi entah mengapa di Indonesia menca- mpuradukkan istilah tersebut. Semua wanita memungkinkan untuk bisa melakukan kopstem, namun hanya satu-dua orang penyanyi pria yang bisa melakukan. Sebaliknya, semua suara pria sangat memungkinkan untuk memproduksi falsetto secara baik, namun untuk suara wanita hanya satu-dua orang yang bisa melakukan sebaik pria. Aaaaa ………………………………………………….. Notasi 19 : latihan suara falset Suara yang mengambang dan polos kedengaran mati dan kaku. Secara spontan suara manusia dipengaruhi oleh hidup manusia. Ketegangan dan pengendoran otot-otot indra suara, yaitu difragma, leher, rahang bawah, pipi, lidah dan bibir, apalagi ketegangan dan pengendoran yang berasal dari jiwa seperti rasa takut dan gembira. Untuk itu dianggap baik, jika suara manusia mencerminkan kehidupan manusia secara wajar dengan adanya vibrato, artinya bergelombang. Vibrato yang baik yaitu: bergelombang dengan merata dan bergelombang sedikit (tidak sampai setengah nada). Untuk memeriksa adanya vibrato, latihan-latihan teknik di atas sangat membantu dalam menghasilkan vibrato. Vibrato meru- pakan gejala alamiah namun dapat dilatih dengan sungguh-sungguh serta latihan secara intensif. 128 Seni Musik Non Klasik
  • 137. Latihan tangga nada 129 Seni Musik Non Klasik
  • 138. 130 Seni Musik Non Klasik
  • 139. 131 Seni Musik Non Klasik
  • 140. 132 Seni Musik Non Klasik
  • 141. 133 Seni Musik Non Klasik
  • 142. 134 Seni Musik Non Klasik
  • 143. 135 Seni Musik Non Klasik
  • 144. 136 Seni Musik Non Klasik
  • 145. 137 Seni Musik Non Klasik
  • 146. 138 Seni Musik Non Klasik
  • 147. 139 Seni Musik Non Klasik
  • 148. 140 Seni Musik Non Klasik
  • 149. 141 Seni Musik Non Klasik
  • 150. 142 Seni Musik Non Klasik
  • 151. Notasi 20 : latihan tangganada 143 Seni Musik Non Klasik
  • 152. Latihan Buah Musik / Lagu 144 Seni Musik Non Klasik
  • 153. 145 Seni Musik Non Klasik
  • 154. 146 Seni Musik Non Klasik
  • 155. 147 Seni Musik Non Klasik
  • 156. 148 Seni Musik Non Klasik
  • 157. 149 Seni Musik Non Klasik
  • 158. 150 Seni Musik Non Klasik
  • 159. Gambar 10: menyanyi lagu pop Gambar 11: menyanyi lagu kroncong 151 Seni Musik Non Klasik
  • 160. Gambar 12: trio tanpa mikropon Gambar 13: trio dengan memegang mikropon 152 Seni Musik Non Klasik
  • 161. Gambar 14: menyanyi dengan iringan bigband 153 Seni Musik Non Klasik
  • 162. Daftar Notasi Notasi 1 : latihan pernafasan diafragma Notasi 2 : latihan vokal ‘a’ Notasi 3 : latihan vokal ‘i’ Notasi 4 : latihan vokal ‘u’ Notasi 5 : latihan vokal ‘e’ Notasi 6 : latihan vokal ‘o’ Notasi 7 : lagu Nyiur Hijau Notasi 8 : latihan memperkeras dinding resonansi Notasi 9 : latihan memperkeras dinding resonansi Notasi 10 : latihan memperbesar dinding resonansi Notasi 11 : cara menyanyikan lagu pop Notasi 12 : cara menyanyikan lagu keroncong Notasi 13 : cara menyanyikan lagu dangdut Notasi 14 : latihan 1 – 4 (latihan pemanasan) Notasi 15 : latihan staccato Notasi 16 : latihan staccato Notasi 17 : latihan staccato Notasi 18 : latihan suara falset Notasi 19 : latihan suara falset Notasi 20 : latihan tangganada Notasi 22 : buah musik/lagu-lagu Daftar Gambar Gb. 1 : pernafasan diafragma Gb. 2 : sikap tubuh Gb. 3 : organ suara Gb. 4 : bunyi vokal ‘a’ Gb. 5 : bunyi vokal ‘i’ Gb. 6 : bunyi vokal ‘u’ Gb. 7 : bunyi vokal ‘e’ Gb. 8 : bunyi vokal ‘o’ Gb. 9 : cara memegang mikropon Gb.10 : menyanyi lagu pop Gb.11 : menyanyi lagu kroncong Gb.12 : trio tanpa mikropon Gb.13 : trio dengan memegang mikropon Gb.14 : menyanyi dengan iringan bigband 154 Seni Musik Non Klasik
  • 163. BAB 5 KEYBOARD 1. Jenis Keyboard Pada dasarnya keyboard terbagi menjadi 3 jenis menurut fungsinya, yakni : 1.1. Keyboard mono timbral ( mono = satu, timbral atau timbre = suara), yaitu keyboard yang dalam satu kesempatan dapat mengha- silkan satu macam suara instrumen saja walaupun keyboard tersebut memiliki banyak macam suara. Misalnya suara piano, flute, gitar, drum, dsb. Keyboard ini banyak digunakan pada kalangan pro- fesional, misalnya pada band ataupun bisnis rekaman mengingat keyboard ini memiliki kwalitas serta warna suara yang bagus. Contoh produk keyboard synthesizer mono timbral seperti misalnya roland D 5, roland D 50, yamaha DX 7, dsb. Gambar 1. Ketboard mono timbral Yamaha DX-7 Gambar 2. Ketboard mono timbral Roland D-50 155 Seni Musik Non Klasik
  • 164. 1.2. Keyboard Multi timbral (multi = banyak, timbral = suara), yaitu keyboard yang dalam satu kesempatan dapat menghasilkan lebih dari satu macam suara instrumen musik. Misalnya suara piano, gitar, flute, drum mampu berbunyi secara bersama-sama. Keyboard ini cocok untuk penggarapan aransemen. Keyboard ini banyak diguna- kan dalam kegiatan rekaman. Contoh produk keyboard multi timbral seperti misalnya yamaha SY 77, roland JV series, roland XP series. Gambar 3. Ketboard multitimbral Roland JV-80 1.3. Keyboard Accompaniment (iringan), yakni keyboard untuk mengiri/ dimainkan secara langsung/ live. Keyboard ini termasuk keyboard multi timbral yang memungkinkan kita untuk memainkannya beberapa macam suara instrument musik secara langsung. Jenis key- board ini yang paling banyak diminati karena selain efektif peng- gunaannya, harganyapun bervariasi. Keyboard jenis inilah yang akan banyak dipelajari dalam kesempatan ini. Contoh produk ini seperti misalnya roland E series, roland G series, yamaha PSR series, korg Pa series, korg I series, technic KN series, dsb. Accompaniment Roland VA-7 Gambar 4. Keyboard Dalam setiap pertunjukan keyboard membutuhkan alat bantu amplifier sebagai penghasil suara, yakni dengan menghubungkan line out key- board menuju amplifier. Amplifier berfungsi sebagai pengeras signal suara yang dihasilkan dari keyboard. 156 Seni Musik Non Klasik
  • 165. Gambar 5. Koneksi keyboard dan amplifier Melalui kabel output keyboard dihubungkan dengan input amplifier. Lobang output pada keyboard biasanya ada 2 yakni lobang R dan lobang L/ L – R. Lobang L/L – R digunakan bila keyboard adalah mono. Jika keyboard stereo digunakan kedua-duanya. Lihat gambar berikut. Gambar 6. Out put Keyboard 2. Teknik Bermain Keyboard 2.1. Posisi Bermain Posisi duduk pada saat bermain keyboard perlu diperhatikan. Posisi duduk yang benar adalah selalu tegak. Sedangkan posisi yang salah dalam bermain piano dapat mengakibatkan lekas capek dan berakhir dengan permainan yang kurang bagus ......... perkecualian............ 157 Seni Musik Non Klasik
  • 166. Keyboard untuk Pemula Tubagus Heckman Gambar 7. Posisi duduk 2.2. Posisi Tangan Posisi tangan dalam bermain piano dengan menekuk sedikit jari-jari seolah sedang memegang bola. Perhatikan gambar berikut: Keyboard untuk Pemula Tugagus Heckman Gambar 8. posisi tangan 158 Seni Musik Non Klasik
  • 167. 2.3. Penjarian Kode penjarian pada pembelajaran piano dapat dilihat pada gam- bar berikut: Gambar 9. Kode jari Keterangan: (kode jari berlaku untuk jari tangan kanan maupun kiri) • Kode angka 1 untuk ibu jari • Kode angka 2 untuk telunjuk • Kode angka 3 untuk jari tengah • Kode angka 4 untuk jari manis • Kode angka 5 untuk kelingking 2.4. Tangga Nada, Trinada, Arpeggio dan Progresi Akor Latihan tangga nada dalam interval oktaf, dan trinada C mayor. 159 Seni Musik Non Klasik
  • 168. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 1. Tangga nada dalam dan trinada C mayor. Latihan progresi akor C mayor a. / C . . . / F . . . / G . . . / C . . . // b. / C . . . / Am . . . / F . . . / Dm . . . / Con G . . . / G . . . / C . . . // c. / C . . . / F . . . / Dm . . . / Bdim . . . / E . . . / Am . . . // 160 Seni Musik Non Klasik
  • 169. 2. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada a minor Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 2. Tangga nada dan trinada A minor Latihan progresi akor A minor a. / Am . . . / Dm . . . / Em . . . / Am . . . // b. / Am . . . / F . . . / Dm . . . / Bdim . . . / Am on E . . . / E . . . / Am . . . // 161 Seni Musik Non Klasik
  • 170. 3. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada G mayor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 3. Tangga nada dan trinada G Mayor Latihan progresi akor G mayor a. / G . . . / C . . . / D . . . / G . . . // b. / G . . . / Em . . . / C . . . / Am . . . / Gon D . . . / D . . . / G . . . // c. / G . . . / C . . . / Am . . . / Fisdim . . . / B . . . / Em . . . // 162 Seni Musik Non Klasik
  • 171. 4. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada e minor Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 4. Tangga nada dan trinada e minor Latihan progresi akor e minor a. / Em . . . / Am . . . / Bm . . . / Em . . . // b. / Em . . . / C . . . / Am . . . / Fisdim . . . / Em on B . . . / B . . . / Em . . . // 163 Seni Musik Non Klasik
  • 172. 5. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada D mayor Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 5. Tangga nada dan trinada D Mayor a. / D . . . / G . . . / A . . . / D . . . // b. / D . . . / Bm . . . / G . . . / Em . . . / Don A . . . / A . . . / D . . . // c. / D . . . / G . . . / Em . . . / Cisdim . . . / Fis . . . / Bm . . . // 164 Seni Musik Non Klasik
  • 173. 6. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada b minor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 6. Tangga nada dan trinada b minor Latihan progresi akor b minor a. / Bm . . . / Em . . . / Fism . . . / Bm . . . // b. / Bm . . . / G . . . / Em . . . / Cisdim . . . / Bm on Fis . . . / Fis . . . / Bm . . . // 165 Seni Musik Non Klasik
  • 174. 7. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada A mayor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 7. Tangga nada dan trinada A Mayor Latihan progresi akor A mayor a. / A . . . / D . . . / E . . . / A . . . // b. / A . . . / Fism . . . / D . . . / Bm . . . / Aon E . . . / E . . . / A . . . // c. / C . . . / F . . . / Dm . . . / Bdim . . . / E . . . / Am . . . // 166 Seni Musik Non Klasik
  • 175. 8. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada fis minor Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 8. Tangga nada fis minor Keterangan: Fis enharmonis dengan Ges, sehingga penjariannya sama. Latihan progresi akor fis minor a. / Fism . . . / Bm . . . / Cism . . . / Fism . . . // b. / Fism . . . / D . . . / Bm . . . / Cisdim . . . / Fism on Cis . . . /Cis . . . / Fism . . . // 167 Seni Musik Non Klasik
  • 176. 9. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada E mayor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 9. Tangga nada E mayor Latihan progresi akor E mayor a. / E . . . / A . . . / B . . . / E . . . // b. / E . . . / Cism . . . / A . . . / Fism . . . / Eon B . . . / B . . . / E . . . // c. / E . . . / A . . . / Fism . . . / Disdim . . . / Gis . . . / Cism . . . // 168 Seni Musik Non Klasik
  • 177. 10. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada cis minor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 10. Tangga nada cis minor. Keterangan: Cis enharmonis dengan Des, sehingga penjariannya sama. Latihan progresi akor cis minor a. / Cism . . . / Fism . . . / Gism . . . / Cism . . . // b. / Cism . . . / A . . . / Fism . . . / Disdim . . . / Cism on Gis . . . / Gis . . . / Cism . . . // 169 Seni Musik Non Klasik
  • 178. 11. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada B mayor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 11. Tangga nada B mayor Latihan progresi akor C mayor a. / B . . . / E . . . / Fis . . . / B . . . // b. / B . . . / Gism . . . / E . . . / Cism . . . / B on Fis . . . /Fis . . . / B . . . // c. / B. . . / E . . . / Cism . . . / Besdim . . . / Es . . . / Gism . . . // 170 Seni Musik Non Klasik
  • 179. 12. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Gis minor 12Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 12. Tangga nada Gis minor Keterangan: Gis enharmonis dengan As, sehingga penjariannya sama. Latihan progresi akor gis minor a. / Gism . . . / Cism . . . / Dism . . . / Gism . . . // b. / Gism . . . / E . . . / Cism . . . / Gdim . . . / Gism on Dis . . . / Dis . . . / Gism . . . // 171 Seni Musik Non Klasik
  • 180. 13. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Fis mayor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 13. Tangga nada Fis mayor Keterangan: Fis enharmonis dengan Ges, sehingga penjariannya sama. Latihan progresi akor Fis mayor a. / Fis . . . / B . . . / Cis . . . / Fis . . . // b. / Fis . . . / Dism . . . / B . . . / Gism . . . / Fis on Cis . . . / Cis . . . / Fis . . . // c. / Fis . . . / B . . . / Gism . . . / Fdim . . . / Ais . . . /Dism . . . // 172 Seni Musik Non Klasik
  • 181. 14. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada dis minor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 14. Tangga nada dan trinada dis minor. Keterangan: Dis enharmonis dengan Es, sehingga penjariannya sama. Latihan progresi akor dis minor a. / Dism . . . / Gism . . . / Aism . . . / Dism . . . // b. / Dism . . . / B . . . / Gism . . . / Ddim . . . / Dism on Ais . . . / Ais . . . / Dism . . . // 173 Seni Musik Non Klasik
  • 182. 15. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Cis mayor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 15. Tangga nada dan trinada Cis mayor. Keterangan: Cis enharmonis dengan Des, sehingga penjariannya sama. Latihan progresi akor Cis mayor a. / Cis . . . / Fis . . . / Gis . . . / Cis . . . // b. / Cis . . . / Aim . . . / Fis . . . / Dism . . . / Cis on Gis . . . / Gis . . . / Cis . . . // c. / Cis . . . / Fis . . . / Dism . . . / Cdim . . . / F . . . / Aism . . . // 174 Seni Musik Non Klasik
  • 183. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 16. Tangga nada dan trinada ais minor. Keterangan: Ais enharmonis dengan Bes, sehingga penjariannya sama. Latihan progresi akor ais minor a. / Aism . . . / Dism . . . / Fm . . . / Aism . . . // b. / Aism . . . / Fis . . . / Dism . . . / Cdim . . . / Aism on F . . . / F . . . / Aism . . . // 175 Seni Musik Non Klasik
  • 184. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 17. Tangga nada dan trinada F mayor. Latihan progresi akor F mayor a. / F . . . / Bes . . . / C . . . / F . . . // b. / F . . . / Dm . . . / Bes . . . / Gm . . . / F on C . . . /C . . . / F . . . // c. / F . . . / Bes . . . / Gm . . . / Edim . . . / B . . . / Em . . . // 176 Seni Musik Non Klasik
  • 185. 18. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada d minor Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 18. Tangga nada trinada d minor. Latihan progresi akor d minor a. / Dm . . . / Gm . . . / Am . . . / Dm . . . // b. / Dm . . . / Bes . . . / Gm . . . / Edim . . . / Dm on A . . . / A . . . / Dm . . . // 177 Seni Musik Non Klasik
  • 186. 19. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Bes mayor Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 19. Tangga nada dan trinada, dan Bes mayor. Latihan progresi akor C mayor a. / Bes . . . / Es . . . / F . . . / Bes . . . // b. / Bes . . . / Gm . . . / Es . . . / Cm . . . / Bes on F . . . / F . . . / Bes . . . // c. / Bes . . . / Es . . . / Cm . . . / Adim . . . / D . . . / Gm . . . // 178 Seni Musik Non Klasik
  • 187. 20. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada g minor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 20. Tangga nada dan trinada g minor. Latihan progresi akor g minor a. / Gm . . . / Cm . . . / Dm . . . / Gm . . . // b. / Gm . . . / Es . . . / Cm . . . / Adim . . . / Gm on D . . . / D . . . / Gm . . . // 179 Seni Musik Non Klasik
  • 188. 21. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Es mayor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 21. Tangga nada dan trinada Es mayor. Latihan progresi akor Es mayor a. / Es . . . / As . . . / Bes . . . / Es . . . // b. / Es . . . / Cm . . . / As . . . / Fm . . . / Es on Bes . . . / Bes . . . / Es . . . // c. / Es . . . / As . . . / Fm . . . / Ddim . . . / G . . . / Cm . . . // 180 Seni Musik Non Klasik
  • 189. 22. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada c minor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 22. Tangga nada dan trinada c minor. Latihan progresi akor c minor a. / Cm . . . / Fm . . . / Gm . . . / Cm . . . // b. / Cm . . . / As . . . / Fm . . . / Ddim . . . / Cm on G. . . / G . . . / Cm . . . // 181 Seni Musik Non Klasik
  • 190. 23. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada As mayor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 23. Tangga nada dan trinada As mayor. Latihan progresi akor As mayor a. / As . . . / Des . . . / Es . . . / As . . . // b. / As . . . / Fm . . . / Des . . . / Besm . . . / As on Es . . . / Es . . . / As . . . // c. / As . . . / Des . . . / Besm . . . / Gdim . . . / C . . . / Fm . . . // 182 Seni Musik Non Klasik
  • 191. 24. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada f minor. Tangganada dan Trinada Latifah Kodijat Notasi 24. Tangga nada dan trinada f minor. Latihan progresi akor f minor a. / Fm . . . / Besm . . . / Cm . . . / Fm . . . // b. / Fm . . . / Des . . . / Besm . . . / Gdim . . . / Fm on C. . . / C . . . / Fm . . . // 183 Seni Musik Non Klasik
  • 192. 4.3. Latihan Etude Latihan Etude Trinada Mayor 1 Notasi 31 Etude Trinada Mayor 2. Notasi 32 Etude Trinada Minor 3 Notasi 33. Etude Trinada Minor dan Mayor 184 Seni Musik Non Klasik
  • 193. 4. Dominant Seven Etude Notasi 34. Etude Dominan Tujuh 5. Minor Seven Etude Notasi 35. Etude Minor Tujuh 6. Major Seven Etude Notasi 36. Etude Mayor Tujuh 185 Seni Musik Non Klasik
  • 194. 7. Minor Seven Flat Five Etude 8. 9. Notasi 37. Etude minor 7-5 10. Augmented Seven Etude Notasi 38. Etude Augmented Tujuh 9 Jazz Etudes and Pieces 186 Seni Musik Non Klasik
  • 195. Oscar Peterson Notasi 39. Etude nomor 9 10. Jazz Etudes and Pieces Oscar Peterson Notassi 40. Etude nomor 10 187 Seni Musik Non Klasik
  • 196. 11 Jazz Etudes and Pieces Oscar Peterson Notassi 41.. Etude nomor 11 12 Jazz Etudes and Pieces Oscar Peterson Notasi 42.. Etude nomor 12 188 Seni Musik Non Klasik
  • 197. 13 Jazz Etudes and Pieces Oscar Peterson Notasi 43. Etude nomor 13 189 Seni Musik Non Klasik
  • 198. 14 Jazz Etudes and Pieces Oscar Peterson Notasi 44. Etude nomor 14 190 Seni Musik Non Klasik
  • 199. 15 Jazz Etudes and Pieces Oscar Peterson Notasi 45. Etude nomor 15 16 Jazz Etudes and Pieces Oscar Peterson Notasi 46. Etude nomor 16 191 Seni Musik Non Klasik
  • 200. 17 Jazz Etudes and Pieces Oscar Peterson Notasi 47. Etude nomor 17 18 Jazz Etudes and Pieces Oscar Peterson Notasi 48. Etude nomor 18 192 Seni Musik Non Klasik
  • 201. 4, 6. Solo Keyboard Kurang lebih selama satu dasawarsa terakhir dalam dunia musik dikenal istilah organ tunggal, keyboard tunggal, solo organ, ataupun solo keyboard. Istilah-istilah tersebut untuk menandai sebuah pertunjukan musik berupa permainan instrumen musik organ atau keyboard yang di- mainkan oleh seorang musisi saja namun mampu menghasilkan musik lengkap seperti misalnya band, kroncong, dangdut, campursari, dan bah- kan mirip orkestra. 4. 6..1. Spesifikasi Keyboard Solo Seiring perkembangan teknologi, berbagai jenis, macam, merk, bentuk, ukuran keyboard bermunculan dengan karakteristik dan kecang- gihan yang bervariasi, namun secara garis besar pada keyboard jenis accompaniment ini terdapat bagian-bagian yang sama dan sangat pen- ting untuk diketahui sebelum dimainkannya. Bagian-bagian itu antara lain adalah: 4.6.1.1. Tombol On/ Off Tombol ini merupakan t mbol pertama yang kita gunakan, o yakni untuk menyalakan keyboard setelah dihubungkan dengan listrik. Pertama kali keyboard dinyalakan biasanya suara yang muncul apabila tuts ditekan adalah suara piano Gambar 10. Tombol On/ Off 4.6.1.2. Volume Tombol ini digunakan untuk memperbesar dan memperkecil suara keyboard secara keseluruhan setelah tombol power dinyalakan. 193 Seni Musik Non Klasik
  • 202. Gambar 11. Potensio Volume 4.6.1.3. Tombol Timbre/ Voice Tombol ini digunakan untuk memilih berbagai jenis suara alat music , misalnya flute, gitar, piano, organ, dan lain sebagainya. Gambar 12. Tombol Timbre/ Voice 4.6.1.4. Tombol Rhythm Tombol ini digunakan untuk memilih jenis irama music yang akan dimainkan, misalnya waltz, bossanova, rhumba, dan lain sebagainya. Gambar 13. Tombol Rhythm 4.6.1.5. Tombol Start/ stop Tombol ini digunakan untuk memulai salah satu irama music/ rhythm. Begitu tombol star dipencet, keyboard akan menghasilkan irama pertama dalam bentuk bunyi drum. Jika tombol ini dipencet untuk yang kedua kalinya, bunyi drum akan berhenti, yakni sebagai tombol stop. 194 Seni Musik Non Klasik
  • 203. Gambar 14. Tombol Start/ stop 4.6.1.6. Tombol Tempo Tombol ini digunakan untuk mengatur cepat lambatnya tempo dari irama yang telah dibunyikan setelah tombol strat dipencet. Gambar 15. Tombol Tempo 4.6.1.7. Tombol Transpose Tombol ini digunakan untuk menghasilkan chord d music an pada irama drum yang telah berbunyi setelah tombol start dipencet. Setelah tombol rhythm dan chord dipencet, tuts bagian kiri keyboard akan berfungsi sebagai pengiring. Gambar 16. Tombol Transpose 4.6.1.8. Tombol Intro/ Ending Tombol ini digunakan dengan cara mempencet tombol tersebut untuk mengawali permainan keyboard dengan aransemen intro yang sudah ada dari masing-masing irama pada keyboard. Sedangkan untuk menutup lagu bias dilakukan dengan mempencet tombol ini juga, yang berarti sebagai tombol ending. Pada jenis keyboard tertentu intro dan ending diwadahi pada tombol yang berbeda/ terpisah, namun tetap pada fungsi yang sama. Gambar 17. Tombol Intro/ Ending 195 Seni Musik Non Klasik
  • 204. 4.6.1.9. Tombol Fill in Tombol ini digunakan untuk membuat variasi ketukan dan irama music dalam bentuk variasi bunyi drum. Biasanya tombol ini digunakan untuk menghasilkan variasi ketukan sebelum kebagian reffren lagu, biasanya tombol bertuliskan fill in to variation. Sedangkan variasi ketukan sesudah reffren lagu, biasanya tombol bertuliskan fill in to original. Gambar 18. Tombol Fill in 4.6.1.10. Tombol Sync (sync/ start) Tombol ini digunakan agar drum beserta iringan musiknya (dengan tangan kiri) dapat diatur mulainya selaras dengan melofi lagu yang telah direncanakan. Ketika tombol sync diaktifkan, maka jika tuts keyboard bagian kiri tersentuh sesuatu, seketika itu juga drum beserta iringan musiknya akan berjalan. Gambar 19. Tombol Sync (sync/ start) 4.6.2.Wilayah Penjarian 4.6.2.1. Wilayah Penjarian Tangan Kanan Keyboard accompaniment (yang pada umumnya terdiri dari 5 oktaf) terbagi menjadi 2 bagian, yakni 2 oktaf bawah dimainkan dengan jari tangan kiri, yakni untuk memainkan akor yang, dan 3 oktaf atas, dimainkan dengan jari tangan kanan, yakni untuk memainkan melodi ataupun filler. Perlu diketahui bahwa batas kedua wilayah tersebut dapat dipindah/ diprogram sesuai dengan keinginan. Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut : 196 Seni Musik Non Klasik
  • 205. Gambar 20. Wilayah Permainan Keyboard Wilayah penjarian tangan kanan instrumen keyboard dapat kita jelaskan melalui contoh gambar berikut: Gambar 21. Wilayah penjarian tangan kanan instrumen keyboard pada Tangga Nada C Mayor (3 oktaf). Gambar 139. Kode penjarian tangan kanan instrumen keyboard pada Tangga Nada C Mayor (3 oktaf). Keterangan: • Angka menunjukkan kode jari tangan kanan 197 Seni Musik Non Klasik
  • 206. • = Notasi dimainkan 1 oktaf diatasnya. • Wilayah nada bisa dirubah dengan transpose oktaf, baik oktaf ke bawah maupun ke atas. 4.6..2.2. Wilayah Penjarian Tangan Kiri Beberapa contoh penempatan Penjarian Tangan Kiri Gambar 22. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor C Mayor Gambar 23. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor G Mayor Gambar 24. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor F Mayor 198 Seni Musik Non Klasik
  • 207. Gambar 25. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor A Minor Gambar 26. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor D Minor 4.7. Latihan Tangga nada Notasi 49. Tangganada C Mayor dengan irama 8 beat 199 Seni Musik Non Klasik
  • 208. Notasi 50. Tangganada C Mayor dengan irama Bossanova Notasi 51. Tangganada C Mayor dengan irama Waltz 200 Seni Musik Non Klasik
  • 209. 4.7. Latihan lagu Notasi 52. Lightly Row Notasi 53. Jambalaya 201 Seni Musik Non Klasik
  • 210. Notasi 54. Nona Manis Notasi 55. Nyiur Hijau 202 Seni Musik Non Klasik
  • 211. Notasi 56. Warung Pojok Notasi 57. Bubuy Bulan 203 Seni Musik Non Klasik
  • 212. Notasi 58. Kota Ambon Notasi 59. Syukur 204 Seni Musik Non Klasik
  • 213. 4.6. Buah Musik The Jazz Pianist Fred Hughes Notasi 60. Have You Met Miss Jones 205 Seni Musik Non Klasik
  • 214. The Jazz Pianist Fred Hughes Notasi 61. The Days of Wine and Roses 206 Seni Musik Non Klasik
  • 215. Notasi 62. Biru 207 Seni Musik Non Klasik
  • 216. Notasi 63 Marilah kemari 208 Seni Musik Non Klasik
  • 217. Notasi 64. Something Stupid 209 Seni Musik Non Klasik
  • 218. Notasi 65. Pastel Sea 210 Seni Musik Non Klasik
  • 219. Notas i 66. Kopi Dangdut 211 Seni Musik Non Klasik
  • 220. Notasi 67. Bengawan Solo. 212 Seni Musik Non Klasik
  • 221. DAFTAR GAMBAR Gambar 1 : Ketboard mono timbral Yamaha DX-7 Gambar 2 : Ketboard mono timbral Roland D-50 Gambar 3 : Ketboard multitimbral Roland JV-80 Gambar 4 : Keyboard Accompaniment Roland VA-7 Gambar 5 : Koneksi keyboard dan amplifier Gambar 6 : Out put Keyboard Gambar 7 : Posisi duduK Gambar 8 : posisi tangan Gambar 9 : Kode jari Gambar 10 : Tombol On/ Off Gambar 11 : Potensio Volume Gambar 12 :. Tombol Timbre/ Voice Gambar 13 : Tombol Rhythm Gambar 14 : Tombol Start/ stop Gambar 15 : Tombol Tempo Gambar 16 : Tombol Transpose Gambar 17 : Tombol Intro/ Ending Gambar 18 : Tombol Fill in Gambar 19 : Tombol Sync (sync/ start) Gambar 20 : Wilayah Permainan Keyboard Gambar 21 : Wilayah penjarian tangan kanan instrumen keyboard pada Tangga Nada C Mayor (3 oktaf). Gambar 22 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor C Mayor Gambar 23 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor G Mayor Gambar 24 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor F Mayor Gambar 25 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor A Minor Gambar 26 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor D Minor 213 Seni Musik Non Klasik
  • 222. DAFTAR NOTASI Notasi 1 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio C mayor. Notasi 2 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio a minor Notasi 3 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio G mayor. Notasi 4 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio e minor. Notasi 5 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio D mayor. Notasi 6 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio b minor. Notasi 7 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio A mayor. Notasi 8 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio fis minor. Notasi 9 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio E mayor. Notasi 10 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio cis minor. Notasi 11 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio B mayor. Notasi 12 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio gis minor Notasi 13 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Fis mayor. Notasi 14 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio dis minor. Notasi 15 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Cis mayor. Notasi 16 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio ais minor. Notasi 17 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio F mayor. Notasi 18 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio d minor. Notasi 19 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Bes mayor. Notasi 20 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio g minor. Notasi 21 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Es mayor. 214 Seni Musik Non Klasik
  • 223. Notasi 22 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio c minor Notasi 23 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio As mayor. Notasi 24 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio f minor. Notasi 25 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Des mayor. Notasi 26 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio bes minor. Notasi 27 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Ges mayor. Notasi 28 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio es minor. Notasi 29 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Ces mayor. Notasi 30 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts, dalam interval oext, trinada, dan arpeggio as minor. Notasi 31 : Etude Trinada Mayor Notasi 32 : Etude Trinada Minor Notasi 33 : Etude Trinada Minor dan Mayor Notasi 34 : Etude Dominan Tujuh Notasi 35 : Etude Minor Tujuh Notasi 36 : Etude Mayor Tujuh Notasi 37 : Etude minor 7-5 Notasi 38 : Etude Augmented Tujuh Notasi 39 : Etude nomor 9 Notass 40 : Etude nomor 10 Notasi 41 : Etude nomor 11 Notasi 42 : Etude nomor 12 Notasi 43 : Etude nomor 13 Notasi 44 : Etude nomor 14 Notasi 45 : Etude nomor 15 Notasi 46 : Etude nomor 16 Notasi 47 : Etude nomor 17 Notasi 48 : Etude nomor 18 Notasi 49 : Tangganada C Mayor dengan irama 8 beat Notasi 50 : Tangganada C Mayor dengan irama Bossanova Notasi 51 : Tangganada C Mayor dengan irama Waltz Notasi 52 : Lightly Row Notasi 53 : Jambalaya Notasi 54 : Nona Manis Notasi 55 : Nyiur Hijau Notasi 56 : Warung Pojok Notasi 57 : Bubuy Bulan Notasi 58 : Kota Ambon 215 Seni Musik Non Klasik
  • 224. Notasi 59 : Syukur Notasi 60 : Have You Met Miss Jones Notasi 60 : Have You Met Miss Jones Notasi 61 : The Days of Wine and Roses Notasi 62 : Biru Notasi 63 :Marilah kemari Notasi 64 : Something Stupid Notasi 65 : Pastel Sea Notasi 66 : Kopi Dangdut Notasi 67 : Bengawan Solo. Notasi 67 : Bengawan Solo. Notasi 66 : Kopi Dangdut 216 Seni Musik Non Klasik
  • 225. BAB 6 GITAR 1. Gitar dan Bagian-bagiannya Instrumen gitar elektrik sangat populer di kalangan kelompok musik rock dan pop. Instrumen ini dikembangkan dari instrumen gitar klasik. Di dalam gitar elektrik vibrasi senarnya dibantu dengan peralatan elektronik dan peralatan soundsystem sehingga efek suaranya dapat lebih keras. Gambar 1 : bagian gitar elektrik Seni Musik Non Klasik 217
  • 226. 2. Cara Menyetem Gitar Nama dan posisi senar gitar dalam fretboard, untuk senar open string Gambar 2 : posisi nada-nada gitar pada senar open string posisi nada-nada gitar pada senar open string Notasi 1. tuning gitar posisi open string 2.1 General Tuning Gambar 3 General tuning langkah ke 1 dapat dilakukan dengan: (1) melaraskan senar ke 1 menurut nada E; (2) tekan fret ke V senar ke 2; (3) petik senar ke 1 tanpa ditekan; (4) ; selaraskan nada kedua senar tersebut (5) periksa harmonic tuning dengan cara menyentuh senar B pada fret ke XII; (6) bandingkan dengan fret ke VII senar ke 1. Gambar 4 General tuning langkah ke 2 dapat dilakukan dengan: (1) tekan fret ke IX senar ke 3; (2) petik senar ke 1 tanpa ditekan; (3) selaraskan nada kedua Seni Musik Non Klasik 218
  • 227. senar tersebut; (4) periksa harmonic tuning dengan cara menyentuh senar G fret XII dan menekan senar E fret ke III. Gambar 5 General tuning langkah ke 3 dapat dilakukan dengan: (1) tekan fret ke IX senar ke 4; (2) petik senar ke 2 tanpa di tekan; (3) selaraskan nada kedua senar tersebut; (4) periksa harmonic tuning dengan cara menyentuh senar D fret ke XII dan menekan senar B fret ke III. Gambar 6 General tuning langkah ke 4 dapat dilakukan dengan cara: (1) tekan fret ke V senar ke 5; (2) petik senar ke 4 tanpa di tekan; (3) selaraskan nada kedua senar tersebut; (4) periksa harmonic tuning dengan cara menyentuh senar A fret ke XII dan menekan G fret ke II. Gambar 7 General tuning langkah ke 5 dapat dilakukan dengan; (1) tekan fret ke X senar ke 6; (2) petik senar ke 5 tanpa di tekan; (3) selaraskan kedua nada tersebut; (4) periksa harmonic tuning dengan cara menyentuh senar A fret ke XII dan menekan senar D fret ke II. Gambar 8 Seni Musik Non Klasik 219
  • 228. General tuning langkah ke 6 dapat dilakukan dengan; (1) petik senar ke 6 tanpa ditekan; (2) petik senar ke 1 tanpa ditekan; (3) selaraskan ke dua nada tersebut. 2.2 Quick tuning Quick tuning merupakan teknik penyeteman gitar secara cepat apabila terjadi penurunan nada pada senar gitar. Quick tuning langkah ke 1 dapat dilakukan dengan cara tekan fret V senar ke 2, dan bandingkan dengan senar ke 1 tanpa ditekan. Gambar 9 Quick tuning langkah ke 2 dapat dilakukan dengan cara tekan fret IX senar ke 3 dan bandingkan dengan senar ke 1 tanpa ditekan. Gambar 10 Quick tuning langkah ke 3 dapat dilakukan dengan cara t kan fret IX e senar ke 4 bandingkan dengan senar ke 2 tanpa ditekan. Gambar 11 Quick tuning langkah ke 3 dapat dilakukan dengan cara tekan fret X senar ke 5 bandingkan dengan senar ke 3 tanpa ditekan. Seni Musik Non Klasik 220
  • 229. Gambar 12 Quick tuning langkah ke 3 dapat dilakukan dengan cara tekan fret X senar ke 6 bandingkan dengan senar ke 4 tanpa ditekan. Gambar 13 2.3 Harmonic Tuning Harmonic tuning dapat dilakukan dengan cara: (1) sentuh senar ke 2 tepat di atas fret ke 5 menggunakan jari telunjuk; (2) sentuh senar ke 1 tepat diatas fret ke 7 dengan jari manis; (3) petik senar ke 2 lalu senar ke 1; (4) selaraskan nada ke dua senar tersebut. Harmonic tuning juga dapat dilakukan dengan c ara yang sama pada senar ke 4 dan ke 3 pada posisi fret yang sama, demikian juga pada senar ke 5 dan ke 4, senar ke 6 dan ke 5. Terakhir selaraskan senar ke 6 fret ke VII dengan senar ke 2 fret ke XII. 3. Latihan Penjarian Empat jari tangan kiri digunakan untuk menekan senar pada papan nada (fretboard), kemudian ibu jari digunakan untuk menahan leher gitar bagian belakang. Simbol jari tangan kiri adalah sebagai berikut : Seni Musik Non Klasik 221
  • 230. Gambar 14 : kode angka untuk jari tangan kiri Jari tangan kanan digunakan untuk memetik senar, ibu jari digunakan untuk memetik bass dalam teknik memainkan gitar akustik sedangkan dalam teknik memainkan gitar elektrik jari jari tangan kanan digunakan untuk memegang plektrum dengan simbol sebagai berikut : Gambar 15 : kode angka untuk jari tangan kanan Seni Musik Non Klasik 222
  • 231. 4. Latihan Teknik Memetik Gitar 4.1 Latihan memetik gitar dengan jari Gambar 16 : memetik gitar dengan jari 4.2 Latihan memetik gitar dengan menggunakan plektrum 4.3 Gambar 17 : memetik gitar dengan plektrum 5. Latihan dengan Tablatur Tablatur (TAB) adalah diagram yang menggambarkan keberadaan senar gitar dengan simbol angka yang menunjukkan fret yang ditekan. Tablatur dipakai untuk penulisan gitar elektrik dan diletakkan di bawah notasi balok. Seni Musik Non Klasik 223
  • 232. Gambar 18 : tablatur Contoh Notasi 2 dibaca : senar yang dimainkan adalah senar ke 2 fret ke 1 posisi jari 1 6. Latihan Tangga Nada Senar ke 1 atau senar paling kecil pada diagram terletak pada posisi paling atas. Gambar 19 : tangga nada pada gitar Secara umum ke enam senar yang ada pada gitar dapat dimainkan sebagai tangga nada diatonis. 5.1 Senar E sebagai tangga nada E Mayor Seni Musik Non Klasik 224
  • 233. Gambar 20 Posisi not dalam notasi balok Notasi 3 5.2 Senar B sebagai tangga nada B Mayor Gambar 210 Posisi not dalam notasi balok Notasi 4 5.3 Senar G sebagai Tangga nada G Mayor Gambar 22 Seni Musik Non Klasik 225
  • 234. Posisi not dalam notasi balok Notasi 5 5.4 Senar D sebagai Tangga nada D Mayor Gambar 23 Posisi not dalam notasi balok Notasi 6 5.5 Senar A sebagai Tangga nada A Mayor Gambar 24 Posisi not dalam notasi balok Notasi 7 Seni Musik Non Klasik 226
  • 235. 5.6 Senar G sebagai Tangga nada G Mayorenar E sebagai Tangga nada E Mayor Gambar 25 Posisi not dalam notasi balok Notasi 8 7. Latihan Teknik Memainkan Gitar Akustik Dalam bermain gitar akustik kita harus mempertimbangkan sikap atau tata cara bermain agar lagu-lagu yang kita bawakan dapat berhasil dengan baik. Oleh karena itu dalam bermain gitar usahakan dengan sebaik-baiknya posisi tangan kiri dan tangan kanan agar dapat bergerak sebebas mungkin, serta menggunakan foot stool yang harus berada didepan tempat kursi untuk menaruh telapak kaki kiri. Seni Musik Non Klasik 227
  • 236. Gambar 26 : Foot stool Gambar 27 : Posisi jari tangan kiri saat menekan senar gitar. Seni Musik Non Klasik 228
  • 237. Gambar 28 : Posisi ibu jari 4.1.1 Latihan jari tangan kiri Latihan ini bertujuan untuk memperkuat otot-otot jari tangan kiri, dengan cara letakkan jari 1 tangan kiri dibelakang fret V pada senar 6, jari 2 belakang fret VI, jari 3 dibelakang fret VII serta jari 4 dibelakang fret 8, seperti dalam gambar berikut. Gambar 29 Kemudian pindahkan jari 1 ke senar 5 pada posisi fret yang sama, tanpa merubah posisi jari 2, 3 dan 4. pindahkan pula jari 2, 3 dan 4 ke senar 5 pada posisi fret yang sama. Seni Musik Non Klasik 229
  • 238. Gambar 30 Ulangi latihan tersebut sampai ke senar 1. Setelah sampai senar 1 latihlah dengan gerak keatas, tetapi latihan dimulai dari jari ke 4 kemudian disusul jari 3, 2 dan 1. Dalam melakukan latihan ini, ibu jari jangan menekan terlalu kuat, usahakan untuk ikut bergerak keatas dan kebawah sesuai dengan gerakan jari-jari. Letak ibu jari dibelakang leher gitar posisikan untuk berhadapan dengan jari 2. 4.1.2 Latihan jari tangan kanan Memetik senar gitar dengan jari tangan kanan a. Petikan apoyando (rest stroke) yaitu memetik senar dengan menyandarkan jari pada senar sebelahnya setelah jari tersebut memetik senar yang dimaksud. Cara ini juga sering dikenal dengan petikan bersandar. Petikan ini adalah petikan yang paling dasar dan paling berguna dalam permainan gitar terutama untuk nada- nada solo. Gambar 31 : petikan apoyando Seni Musik Non Klasik 230
  • 239. sesudah petikan, jari bersandar pada senar terdekat searah petikan. - Latihan petikan apoyando dengan senar 1 terbuka Petiklah senar 1 dengan jari i setelah selesai jari i harus bersandar pada senar 2 terbuka. kemudian hal serupa l kukan untuk jari m , sambil a memainkan nada dengan jari m, dengan waktu yang sama naikkan jari i sehingga terlepas darin senar. Apabila dilihat dari samping pergantian kedua jari tersebut memberikan kesan seperti sepasang kaki yang sedang berjalan. Ulangi latihan tersebut dengan petikan yang sama, tetapi dengan senar yang berbeda yaitu senar 2, 3, 4 dan 5 dengan variasi jari i m, i a dan m a secara berganti-ganti. b. Petikan tirando (free stroke) yaitu memetik senar dengan tidak menyandar senar lainnya setelah jari memetik senar yang dimakksud. Cara ini sering disebut juga sebagai petik hindar, karena jari-jari disini tidak boleh bersandar. Jari memetik senar tanpa mengenai senar lain. Jenis petikan ini adalah petikan yang digunakan untuk memainkan akor-akor atau arpeggio. Lihat gambar berikut : Gambar 32 : petikan tirando Mainkan latihan- latihan berikut dengan teknik petikan apoyando Latihan 1 Notasi 9 Seni Musik Non Klasik 231
  • 240. Latihan 2 Notasi 10 Latihan 3 Notasi 11 Latihan 4 Notasi 12 Latihan 5 Notasi 13 Latihan 6 Notasi 14 Seni Musik Non Klasik 232
  • 241. Latihan 7 Notasi 15 Latihan 8 Notasi 16 Latihan 9 Notasi 17 4.1.3 Latihan jari tangan kiri dan tangan kanan Mainkan latihan-latihan dibawah ini dengan sesering mungkin. Mulailah latihan dengan tempo lambat terlebih dahulu, kemudian tempo sedang dan tempo cepat. Notasi 18 Seni Musik Non Klasik 233
  • 242. tempatkan jari 1 pada fret I, kemudian petiklah dengan jari i tempatkan jari 2 pada fret II, kemudian petiklah dengan jari m tempatkan jari 3 pada fret III, kemudian petiklah dengan jari i tempatkan jari 4 pada fret IV, kemudian petiklah dengan jari m Gambar 33 perhatikan pada diagram berikut : Gambar 33 kemudian bergantilah posisi dengan maju satu fret Notasi 19 Seni Musik Non Klasik 234
  • 243. Gambar 34 perhatikan diagram berikut : Gambar 35 lakukan hal serupa sampai jari 4 berada pada fret XII, kemudian mainkan kebalikannya dengan cara : tempatkan jari 4 pada fret XII, kemudian petiklah dengan jari i tempatkan jari 3 pada fret XI, kemudian petiklah dengan jari m tempatkan jari 2 pada fret X, kemudian petiklah dengan jari i tempatkan jari 1 pada fret IX, kemudian petiklah dengan jari m perhatikan diagram berikut : Gambar 36 kemudian bergantilah posisi dengan maju satu fret tempatkan jari 4 pada fret XI, kemudian petiklah dengan jari i tempatkan jari 3 pada fret X, kemudian petiklah dengan jari m tempatkan jari 2 pada fret IX, kemudian petiklah dengan jari i tempatkan jari 1 pada fret VIII, kemudian petiklah dengan jari m Seni Musik Non Klasik 235
  • 244. perhatikan diagram berikut : Gambar 37 Dengan memahami latihan tersebut, dapat dilatih pada seluruh senar dari senar 1 sampai dengan senar 6. Mainkan latihan ini dengan kedua macam teknik petikan yaitu apoyando dan tirando. 4.2 Teknik arpegio Arpeggio adalah cara memainkan akor dengan tidak sekaligus melainkan satu persatu. Mainkan latihan berikut dengan memperhatikan tangkai not, tangkai not kebawah selalu dimainkan dengan ibu jari (p), dengan formasi p-i-m, kemudian dicoba pula formasi p-m-a. Mainkan latihan-latihan berikut dengan petikan tirando Latihan 1 Notasi 21 Notasi 22 4.3 Latihan Teknik Memainkan Gitar Elektrik Sebelum memainkan gitar elektrik perlu mengetahui proses kerja gitar. Gitar elektrik adalah gitar yang sumber suaranya didapat melului pick up yang mengubah getaran senar menjadi sinyal listrik, kemudian diperkuat dan diubah menjadi bunyi melalui amplifier atau penguat suara. Dalam memainkan gitar elektrik selalu dilengkapi sound effect untuk mendapatkan karakter suara lain yang tidak tersedia pada amplifier gitar , seperti chorus, distorsi, overdrive, flanger, delay, tremolo dan reverb. Seni Musik Non Klasik 236
  • 245. Dengan cara knob input effect guitar dihubungkan gitar dan output dari effect guitar dihubungkan amplifier. Gambar 38 : pola kerja gitar elektrik Gambar 39 : pola kerja gitar elektrik dengan effect gitar Fungsi dari knob yang ada pada amplifier gitar Gambar 40 : knob pada panel depan amplifier gitar - Volume untuk mengatur keras lirihnya suara - Bass berfungsi untuk menambah atau mengurangi respon frekuensi rendah. Seni Musik Non Klasik 237
  • 246. - Treble berfungsi untuk menambah suara menjadi lebih tinggi atau membuat effect tajam. - Midle berfungsi merubah effect treble dan bass - Drive/distortion untuk mendapatkan suara diperoleh dengan memutar gain levelnya. - Reverb untuk mendapatkan efek gema seperti suara ruangan, hall dan lain-lain. Gambar 41: tombol send return pada amplifier gitar - Effect send dan return, apabila kita ingin menggunakan extertnal effet. untuk mendapatkannya, knob send kita sambungkan ke input dari effect yang digunakan. Dan pada tombol return kita sambungkan ke ouput effect yang digunakan. Kelebihan menggunakan fasilitas ini adalah mengoptimalkan kemampuan dari effect gitar dan kemampuan dari amplifier gitar. 4.4 Latihan Memetik Gitar Elektrik dengan Plektrum Plektrum merupakan alat bantu tangan untuk memetik senar gitar elektrik, pada umumnya plektrum dimainkan tangan kanan. Cara ini lebih akrab digunakan dalam permainan gitar elektrik. Ada tiga jenis plektrum gitar elektrik yaitu : Heavy Medium Thin Seni Musik Non Klasik 238
  • 247. Gambar 42 : jenis -jenis pick Heavy : jenis ini sangat baik untuk teknik pick harmoni, memiliki ketebalan berkisar 2.00 – 3.00 mm. Medium : jenis ini sangat cocok untuk permainan nada-nada tunggal atau melodi, pick ini mempunyai ketebalan kurang lebih 1.0 mm. Thin : jenis pick ini sangat cocok untuk melakukan resquendo atau kocokan, memiliki ketebalan kurang dari 0,9 mm Gambar 43 : cara memegang pick 4.4.1 Latiham Memetik Gitar Elektrik dengan Alternate Picking Aternate picking merupakan teknik menggerakkan plektrum secara naik turun. Adapun simbol gerak arah gerakan plektrum sebagai berikut : turun Naik gambar 44 : arah gerakan plektrum 4.4.2 Latihan Memetik Gitar Elektrik dengan Sweep Picking Sweep picking merupakan teknik petikan gitar dengan gerakan plektrum searah yaitu turun saat descending dan naik saat ascending. Dalam praktiknya sweep picking sering digunakan untuk memainkan teknik arpeggio, jadi dalam hal ini not tidak dipetik satu per satu melainkan dengan menggerakkan plektrum secara up down. Semua latihan ada di bawah ini, mengarah pada teknik menggunakan plektrum agar jari tangan kanan terbiasa dengan gerakan plektrum, karena sweep picking penting bagi pengembangan kecepatan bermain gitar elektrik. Seni Musik Non Klasik 239
  • 248. Mainkan latihan berikut dimulai dari tempo lambat kemudian cepat Latihan 1 Notasi 23 Latihan 2 Notasi 24 latihan 3 Seni Musik Non Klasik 240
  • 249. Notasi 25 Latihan 4 Notasi 26 4.5 Latihan Tangga Nada Mayor (Major Scale) 4.5.1 Tangga nada mayor root 6 Dalam latihan ini kita hanya akan menggunakan sistem empat fret, jadi poisi masing-masing jari mendapat satu fret. Hal ini dapat berlaku bagi semua tangga nada mayor, hanya dengan meletakkan root (nada terendah) ke nada dasar yang dikehendaki. Root biasa disimbolkan dengan pada diagram gitar. Gambar 45 Seni Musik Non Klasik 241
  • 250. Disebut sebagai root 6 karena berada di senar ke 6, sehingga diagram tersebut menunjukkan posisi nada do terendah berada pada senar ke 6 fret ke 3 yaitu nada G. Letak nada pada para nada dan tablatur Notasi 27 Untuk lebih jelasnya kita perahatikan diagram fingerboard. Gambar 46 Gambar menunjukkan tangga nada G mayor 2 oktaf. Dari diagram tersebut dapat dilatih pula tangga nada yang lain dengan posisi fret dan jari yang sama. Apabila menghendaki tangga nada A mayor, maka tinggal menggeser root ke nada A. Dengan demikian dapat dilatih pula tangga nada yang lain seperti B, C, D, dan E. Letak nada pada paranada dan tablatur. 4.5.1.1 Latihan Tangga nada G Mayor (1 kres) Seni Musik Non Klasik 242
  • 251. Notasi 28 4.5.1.2 Latihan Tangga nada D Mayor (2 kres) Notasi 29 4.5.1.3 Latihan Tangga nada A Mayor ( 3 kres ) Seni Musik Non Klasik 243
  • 252. Notasi 30 4.5.1.4 Tangga Nada E Mayor ( 4 Kres ) Notasi 38 Seni Musik Non Klasik 244
  • 253. 4.5.1.5 Tangga Nada F Mayor ( 1 mol ) Notasi 39 4.5.2 Latihan Tangga nada Mayor root 5 Gambar 47 Disebut sebagai root 5 karena karena berada di senar no 5, sehingga diagram tersebut menunjukkan posisi nada do terendah berada pada senar 5 fret ke 3 yaitu nada C. Letak nada pada notasi balok dan tablatur Notasi 40 Untuk lebih jelasnya kita perahatikan diagram fingerboard. Seni Musik Non Klasik 245
  • 254. Gambar 48 Gambar menunjukkan tangga nada C mayor 2 oktaf. Seperti halnya pada root 6 dengan diagram ini dapat dilatih pula tangga nada yang lain dengan posisi fret dan jari yang sama. Apabila menghendaki tangga nada D mayor, maka tinggal menggeser root ke nada D. Dengan demikian dapat dilatih pula tangga nada yang lain seperti B, Bes, G, dan Es. Letak nada pada notasi balok dan tablatur Notasi 41 Seni Musik Non Klasik 246
  • 255. 4.2.1 Tangga Nada B Mayor ( 5 kres ) Notasi 42 4.2.2 Tangga Nada Bes Mayor ( 2 mol ) Notasi 43 4.2.3 Tangga Nada Es Mayor ( 3 mol ) Seni Musik Non Klasik 247
  • 256. Notasi 44 4.3 Latihan teknik Skipping Teknik memetik senar dengan cara melompati senar yang satu ke senar yang lain. senar tidak dipetik secara berurutan, senar tertentu dilompati. Misalnya dari senar pertama langsung menuju senar ke 3 atau ke 4. Notasi 45 4.4 Latihan Teknik Dumping Dumping yaitu menghentikan durasi suara gitar sebelum waktunya, dengan cara melemahkan tekanan jari pada senar. Damping dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : Tekan salah satu akor pada gitar serta bunyikan, kemudian lemahkan tekanan jari pada fretboard hingga bunyi akor berhenti. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut : Seni Musik Non Klasik 248
  • 257. Gambar 49 : Tekanan jari saat akor pertama dibunyikan Gambar 50 :Posisi jari saat tekanan dilemahkan Teknik damping ini sangat cocok dipergunakan dalam permainan staccato. 4.5 Latihan Teknik Slur Slur merupakan satu dari sekian banyak teknik populer yang digunakan dalam gitar khsusnya pada permainan melodi gitar. Dalam penulisannya ditandai oleh suatu garis lengkung. Adam dua jenis teknik slur yaitu : 4.5.1 Hammer-on (ascending slur) yaitu slur naik Hammer-on dilaksanakan dengan memainkan nada pertama dan kemudian ketika senar masih bunyi jari tangan bergeser naik ke not yang kedua. dengan tidak dipetik. Seni Musik Non Klasik 249
  • 258. Notasi 46 : Hammer-on 4.5.2 Pull off (descending slur) yaitu slur turun Pull off dilaksanakan dengan menurunkannada pertama dan kemudian ketika senar masih bunyi jari tangan bergeser turun ke not yang kedua. dengan tidak dipetik. Notasi 47 : pull off Notasi 48 : latihan teknik slur 4.6 Latihan Teknik Sliding Tehnik sliding adalah teknik meluncur dengan menggerakkan jari berjalan disepanjang senar menuju ke not baru atau not yang yang dituju. Dengan cara memetik satu nada pada senar kemudian menggeserkan Seni Musik Non Klasik 250
  • 259. jari ke fret lain yang lebih tinggi (ascending slide) atau ke fret lain yang lebih rendah (discending slide). Notasi 49 Notasi 50 4.7 Latihan Teknik Bending Bending adalah teknik memproduksi suara dengan cara menekan dan mendorong senar yang dipetik keatas atau kebawah. Efek dari bending adalah picth berubah naik atau turun dari not yang sedang dimainkan meskipun berada dalam satu fret. Notasi 51 Seni Musik Non Klasik 251
  • 260. Notasi 52 Notasi 53 Mainkan latihan berikut dengan teknik sliding Notasi 54 : latihan bending 4.8 Latihan Teknik Vibrato Vibrato adalah salah satu dari teknik-teknik paling sulit yang digunakan oleh pemain-pemain gitar. Vibrato dimainkan dengan cara mendorong senar naik turun secara teratur. Yang menambahkan variasi-variasi efek sedikit bergelombang dari nada dasar yang dimainkan. Vibrato dapat memberikan nuansa sustain dari suatu nada. Dalam penulisan musik vibrato dilambangkan dengan garis berombak Seni Musik Non Klasik 252
  • 261. Notasi 55 Notasi 56 4.9 Latihan Teknik Tapping Teknik tapping disebut juga sebagai two handed technique karena kedua tangan berada diatas fretboard dan sama-sama membunyikan not. Tapping dilakukan dengan jari telunjuk atau jari tengah. Dalam gambar berikut tapping dilakukan jari tengan, satu kelebijannya karena dengan jari tengan pick tidak akan lepas, masih tertahan jari telunjuk, dan siap melakukan petikan lagi. Seni Musik Non Klasik 253
  • 262. Gambar 51 : tapping Posisi jari tangan kanan saat melakukan tapping, jari telunjuk dan ibu jari memegang plektrum jari tengah membunyikan not. Notasi 57 4.10 Latihan Teknik Staccato Staccato pada dasarnya adalah bunyi nada dengan durasi pendek. Jika digunakan dalam permainan nada gitar maka bunyi yang dimunculkan harus sangat pendek. Dalam gitar elektrik staccato ini dapat dilakukan dengan cara memainkan damping dengan gerakan yang cepat setelah melakukan resquendo. Simbol staccato adalah sebagai berikut Notasi 58 4.11 Latihan Teknik Palm mute Palm mute adalah teknik dumpin tetapi menggunakan tangan kanan, lebih sering digunakan pada permainan ritme dengan menggunakan effect distorsi. Untuk melakukan palm mute dapat digunakan sisi telapak tangan sejajar jari kelingking dan diletakkan diatas senar gitar. Effect dari teknik ini adalah membuat suara gitar sedikit teredam. Seni Musik Non Klasik 254
  • 263. Gambar 52 : posisi tangan saat melakukan palm mute 4.12 Arpeggio Arpeggio adalah akord yang dimainkan secara satu persatu, nada-nada yang ada didalamnya dibunyikan secara berurutan. Notasi 59 Notasi 60 4.13 Latihan Teknik Harmonic Harmonic merupakan teknik memproduksi bunyi senar gitar, dengan cara menyentuh senar pada titik tertentu sepanjang fretboard. Dengan teknik Seni Musik Non Klasik 255
  • 264. ini maka nada yang diproduksi akan jauh lebih tinggi dari nada asli dengan menggunakan plektrum. Natural harmonic Natural harmonic diperoleh dengan cara menyentuh senar langsung diatas fret terbuka pada fret XII, VII, V, atau fret XIX. dan bukan ditekan. Harmonic dalam penulisan musik disimbulkan seperti : Notasi 61 Gambar 53 : teknik harmonic Seni Musik Non Klasik 256
  • 265. 4.14 Latihan Akor Seni Musik Non Klasik 257
  • 266. Seni Musik Non Klasik 258
  • 267. Seni Musik Non Klasik 259
  • 268. Gambar 54 4.15 Latihan Power chord Dalam memainkan gitar elektrik selalu dijumpai sound effect berkarakter distorsi seperti heavy metal, overdrive, metal zone atau semacamnya, yang dapat membuat suara gitar menjadi tebal, pecah dan mempunyai sustain yang relatif panjang. Dalam mengatasi karakter suara semacam ini, dapat digunakan power chord. Power chord adalah akor yang tersusun hanya melibatkan 2 nada yaitu 1 dan 5. power chord disebut juga akor yang sangat simple namun memiliki karakter suara yang lebih padat dibanding dengan akor biasa. Power chord root 6 Notasi 62 Seni Musik Non Klasik 260
  • 269. Posisi pada fretboard Gambar 55 Power chord dapat bersifat mayor atau minor, akor mayor apabila yang dimainkan adalah akor I, IV atau V dan terdengar minor apabila yng dimainkan adalah akor ii, iii atau vi. Mainkan power chord berikut dengan effect gitar distorsi Notasi 63 8. Teknik Memasang Senar Memasang senar gitar sangat bermacam-macam dan bervariasi, hal yang paling penting dan perlu diperhatikan dalam memasang senar adalah mudah dalam memasang dan menggantinya. Seni Musik Non Klasik 261
  • 270. 8.1 Gitar Akustik Gitar akustik senar dipasang pada lubang senar dibagian bridge, pada bagian belakang di buat tali simpul seperti nampak pada gambar. Gambar 56 8.2 Gitar elektrik Gitar elektrik senar dipasang melalui lubang senar yang ada dibagian belakang bodi gitar, kemudian ditarik melalui bagian muka gitar. Gambar 57 Pemasangan senar pada screw di head gitar dibuat gulungan rapi. 9. Perawatan Instrumen Gitar 9.1 Body (1) Kendorkan semua senar apabila selesai digunakan; (2) letakkan pada sandaran khusus gitar; (3) masukkan pada hard case apabila tidak Seni Musik Non Klasik 262
  • 271. digunakan untuk waktu yang lama; (4) bersihkan dengan menggunakan kain katun yang lembut. (5) gunakan cairan pembersih yang sesuai untuk perawatan body. 9.2 Senar Untuk menghasilkan permainan gitar yang bagus dibutuhkan: (1) perangkat yang memadai; (2) kualitas pick up yang baik. Kualitas suara gitar yang baik tergantung pada: (1) jenis dan ukuran senar; (2) perawatan senar yang baik; (3) senar tetap terjaga kebersihannya; (4) senar dirawat dengan cara digosok menggunakan kain katun halus yang diberi minyak pembersih khusus; (5) bersihkan senar secara rutin mulai dari bagian bawah sampai atas sambil diupayakan tidak mengenai cat body. 9.3 Amplifier Cara perawatan amplifier adalah: (1) gunakan dengan wajar tidak melebihi kapasitas kemampuannya; (2) hidupkan pada volume yang tidak terlalu keras atau juga digunakan pada instrumen yang lain; (3) selalu memeriksa keutuhan kabel konektor listrik, jeck audio dan lain-lain; (4) pastikan amplifier dalam keadaan off setelah selesai digunakan. 10. Latihan Etude Latihan yang bertujuan melatih kekuatan dan kelenturan jari-jari tangan kiri serta kesesuaiannya dengan tangan kanan. Semakin lama frekuensi latihan maka jari-jari akan semakin kuat dan lentur. Latihan dituliskan pula dalam tablatur. Seni Musik Non Klasik 263
  • 272. 1 Notasi 64 Mainkan melodi berikut dengan gerak pick up down 2 Notasi 65 3 Seni Musik Non Klasik 264
  • 273. Notasi 66 4 Notasi 67 5 Notasi 68 Seni Musik Non Klasik 265
  • 274. 6 Notasi 69 7 Notasi 70 8 Notasi 71 Seni Musik Non Klasik 266
  • 275. 9 Notasi 72 Seni Musik Non Klasik 267
  • 276. 10 Etude Riff 12 bar blues Notasi 73 Seni Musik Non Klasik 268
  • 277. Mainkan etude berikut ini dengan mengunakan effect gitar distorsi. 11 Slow Rock Andante Sumber : Doni Riwayanto Notasi 74 Seni Musik Non Klasik 269
  • 278. 12 Rock Moderato Sumber : Doni Riwayanto Notasi 75 Seni Musik Non Klasik 270
  • 279. 13 Rock’ n Roll Alegro Sumber : Doni Riwayanto Notasi 76 Seni Musik Non Klasik 271
  • 280. 11. Latihan Buah Musik HERE THERE AND EVERYWHERE John Lennon & Paul McCartney Sumber : Yamaha Music Foundation Notasi 77 Seni Musik Non Klasik 272
  • 281. Bart Howard Notasi 78 Seni Musik Non Klasik 273
  • 282. Notasi 79 Seni Musik Non Klasik 274
  • 283. Daftar Gambar Gambar 1 : bagian gitar elektrik Gambar 2 : nada-nada gitar pada senar open string Gambar 3-8 : general tuning Gambar 9-13 : quick tuning Gambar 14 : kode angka untuk jari tangan kiri Gambar 15 : kode angka untuk jari tangan kanan Gambar 16 : memetik gitar dengan jari Gambar 17 : memetik gitar dengan plektrum Gambar 18 : tablatur Gambar 19 : tangga nada pada senar gitar Gambar 20-25 : tangga nada pada Gambar 26 : Foot stool Gambar 27 : Posisi jari tangan kiri saat menekan senar gitar. Gambar 28 : Posisi ibu jari Gambar 29 : posisi jari Gambar 30 : posisi jari Gambar 31 : petikan apoyando Gambar 32 : petikan tirando Gambar 33-35 : posisi jari Gambar 36-38 : posisi not dalam fret Gambar 39 : pola kerja gitar elektrik Gambar 40 : pola kerja gitar elektrik dengan effect gitar Gambar 41 : knob pada panel depan amplifier gitar Gambar 42 : tombol send return pada amplifier gitar Gambar 43 : jenis-jenis pick Gambar 44 : cara memegang pick gambar 45 : arah gerakan plektrum Gambar 46 : root 6 Gambar 47 : tangga nado Gambar 48 : root 5 Gambar 49 : tangga nada Gambar 50 : tekanan jari saat akor pertama dibunyikan Gambar 51 : Posisi jari saat tekanan dilemahkan Gambar 52 : tapping Gambar 53 : posisi tangan saat melakukan palm mute Gambar 54 : akord Gambar 55 : posisi power Gambar 56-57 : memasang senar Seni Musik Non Klasik 275
  • 284. Daftar Notasi Notasi 1 : tuning gitar posisi open string Notasi 2-8 : senar gitar pada notasi musik Notasi 9-20 : latihan penjarian Notasi 21-22 : latihan arpegio Notasi 23-26 : latihan picking Notasi 27 : root 6 pada notasi Notasi 28-44 : latihan tangga nada Notasi 45 : teknik skiping Notasi 46 : teknik hammer-on Notasi 47 : teknik pull off Notasi 48 : teknik slur Notasi 49-50 : teknik sliding Notasi 51-54 : teknik sliding Notasi 55-56 : teknik vibrato Notasi 57 : teknik tapping Notasi 58 : teknik staccatta Notasi 59-60 : latihan arpegfio Notasi 61 : teknik harmonic Notasi 62-63 : teknik power Notasi 64-76 : etude Notasi 77-79 : buah musik musik Seni Musik Non Klasik 276
  • 285. BAB 7 BASS GITAR 1. Bass Gitar dan Bagian-bagiannya 1.1 Gambar bass gitar dengan bahan “solid” 1.2 Gambar 1 : bass elektrik Instrumen bass gitar hampir seluruhnya terbuat dengan bahan solid. Instrumen ini mempunyai 4 senar tetapi ada juga yang menggunakan 6 senar dengan susunan G, D, A, E dan C, G, D, A, E, B. 1.3 Nama-nama bagian bass gitar Seni Musik Non Klasik 278
  • 286. Gambar 2 : bass elektrik dan bagiannya 2. Cara Menyetem Bass Gitar. 2.1 Menyetem dengan garpu tala A Nada senar/senar A (senar ke 3) dalam kondisi open string / tidak ada fret yang ditekan, disamakan dengan nada garpu tala A. Selanjutnya nada A pada senar E (senar ke 4, fret ke 5 ditekan) disamakan dengan senar ke 3 open string, demikian juga senar D (ke 2) disamakan dengan nada D pada senar A dan seterusnya. 2.2 Menyetem dengan tuner Hubungkan out put jack bass pada input tuner kemudian hidupkan tuner, petik masing-masing senar sesuaikan nada dengan melihat indikator tuner. Pada umumnya indikator pada tuner, berupa lampu LED, atau jarum penunjuk view meter. 2.3 Menyetem dengan fine tuning nada harmonik Seni Musik Non Klasik 279
  • 287. Cara menyetem dengan teknik fine tuning adalah teknik menyamakan nada senar ke 1 dengan senar lain melalui petikan senar lepas yang disentuh ringan oleh jari kiri tepat diatas fret ke 5, 7 dan 12. Misalnya senar G diatas fret ke 5 bersamaan dengan senar D fret ke 7. Dua nada harmonik bunyi bersamaan. Bila pitch nadanya kurang tepat terdengar suara yang bergelombang (vibrasi). Sebelum senar satu disamakan dengan senar yang lain, senar ke 3 (A) harus sudah disamakan dengan penala yang standar (garpu tala, atau yang lain). 3. Teknik Bermain Bass Gitar 3.1 Kode jari Kode jari yang dipakai pada teknik bermain bass gitar sama dengan kode jari pada gitar. Kode jari tersebut adalah: Jari Kanan Gambar 3. Kode jari tangan kanan 1 = index finger/ telunjuk 2 = middle finger/jari tengah 3 = ring finger/ jari manis 4 = little finger/ kelingking Seni Musik Non Klasik 280
  • 288. Jari Kiri Gambar 4. Kode jari tangan kiri T = thumb finger/ Ibu jari I = index finger/ telunjuk M = middle finger/jari tengah R = ring finger/jari manis L = little 3.2 Posisi tangan Ø Tangan kiri: Penempatan pada neck harus disesuaikan dengan struktur tulang. Ibu jari kiri untuk poros gerak tangan kiri di belakang neck, sama sekali tidak menjadi tumpuan kekuatan. Ujung jari kiri kecuali ibu jari menjadi penentu nada pada permukaan fret board. Tekanan terpusat pada ujung jari kiri sehingga tercapai bunyi maksimal. Seni Musik Non Klasik 281
  • 289. Foto: Dok. Pribadi Gambar 5. posisi tangan kiri tampak dari depan Foto: Dok. pribadi Gambar 6. posisi tangan kiri tampak dari belakang Ø Jari kanan: Pemetik utama adalah jari telunjuk dan jari tengah. Ibujari, jari manis, dan kelingking digunakan untuk mute dari sustain nada yang tidak dikehendaki. Ibu jari ditempatkan pada sisi lebar neck pick up atau senar paling atas sebagai penopang tangan kanan berfungsi membantu kekuatan jari telunjuk dan jari tengah dalam memetik senar. Jika memetik menggunakan plektrum, ibu jari dan telunjuk memegang plektrum. Untuk menghentikan bunyi yang tidak dikehendaki telapak tangan bisa difungsikan sebagai mute. Seni Musik Non Klasik 282
  • 290. Foto: Dok. Pribadi Gambar 7. posisi tangan kanan 3.3 Notasi Nada bass adalah suara yang mempunyai frekuensi rendah. Dalam notasi musik nada-nada rendah menggunakan tanda kunci F. Penulisan notasi bass gitar sering juga dilengkapi dengan tablature yang menunjukkan posisi nada pada fret. Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut: G D A E Notasi 1. tuning bass gitar posisi open string 3.4 Tablature: Tablature (TAB) adalah gambar posisi not pada fretboard yang membantu menunjukkan letak nada tertentu pada fret. Bass gitar standart pada umumnya bersenar 4 buah, tablature dilambangkan dengan gambar 4 buah garis horisontal. Tablature digunakan untuk menentukan posisi nada pada fret, jika pemain belum terbiasa membaca notasi. Seni Musik Non Klasik 283
  • 291. Setiap garis tablature menunjukan keempat senar pada bass gitar. Untuk jelasnya perhatikan gambar berikut: G D A E Notasi 2. tuning bass gitar dilengkapi dengan tablature Gambar di atas menunjukkan nada yang dimainkan bass gitar, letak nadanya ditunjukkan oleh tablature di bawah garis paranada. Nomor pada sisi kanan menunjukkan nomer senar mulai dari senar paling kecil. Angka 0 pada garis TAB menunjukkan posisi open string atau tanpa menekan senar. 3.5 Teknik Memetik Cara memetik bass gitar ada 2 macam yakni dengan telunjuk dan jari tengah, atau memetik menggunakan plektrum. 3.5.1 Memetik dengan jari telunjuk dan jari tengah Teknik bermain untuk jari kanan menggunakan teknik rest stroke yaitu memainkan jari pada suatu senar kemudian bersandar/istirahat pada senar yang lain. Untuk mendapatkan suara yang mantap dan stabil ibu jari disandarkan pada sisi atas pick up. Jari telunjuk dan jari tengah memetik senar secara bergantian. Cara ini banyak digunakan para musisi yang beraliran jazz atau soul. Seni Musik Non Klasik 284
  • 292. Foto: Dok. Pribadi Gambar 8 : cara memetik dengan jari telunjuk dan jari tengah 3.5.2 Memetik dengan plektrum Cara memetik dengan plektrum adalah sebagai berikut: (1) pegang plektrum erat-erat dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk; (2) usahakan tangan dan lengan tetap relaks; (3) ayunkan plektrum pada senar dengan gerakan ke bawah dan ke atas; (4) upayakan memetik dengan kekuatan yang sama, sehingga mendapatkan suara yang stabil dan mantap. Plektrum memiliki bermacam ketebalan: (1) tipis; (2) sedang; dan (3) tebal. Dalam bermain bass gitar gunakan plektrum tebal, seperti yang biasa dilakukan oleh pemain bass beraliran rock atau metal. Foto: Dok. Pribadi Gambar 9: cara memetik dengan plektrum Seni Musik Non Klasik 285
  • 293. 4. Perawatan Instrumen Bass Gitar 3.1 Body (1) Kendorkan semua senar apabila selesai digunakan; (2) letakkan pada sandaran khusus bass gitar; (3) masukkan pada hard case apabila tidak digunakan untuk waktu yang lama; (4) bersihkan dengan menggunakan kain katun yang lembut. (5) gunakan cairan pembersih yang sesuai untuk perawatan body. 3.1 Senar Untuk menghasilkan permainan gitar yang bagus dibutuhkan: (1) perangkat yang memadai; (2) kualitas pick up yang baik. Kualitas suara bass gitar yang baik tergantung pada: (1) jenis dan ukuran senar; (2) perawatan senar yang baik; (3) senar tetap terjaga kebersihannya; (4) senar dirawat dengan cara digosok menggunakan kain katun halus yang diberi minyak pembersih khusus; (5) bersihkan senar secara rutin mulai dari bagian bawah sampai atas sambil diupayakan tidak mengenai cat body. 3.1 Amplifier 3.2 Cara perawatan amplifier adalah: (1) gunakan dengan wajar tidak melebihi kapasitas kemampuannya; (2) hidupkan pada volume yang tidak terlalu keras atau juga digunakan pada instrumen yang lain; (3) selalu memeriksa keutuhan kabel konektor listrik, jeck audio dan lain-lain; (4) pastikan amplifier dalam keadaan off setelah selesai digunakan. 4.1.1 Latihan memetik dengan open string ambar 7. posisi open string Seni Musik Non Klasik 286
  • 294. Latihan nada A (senar ke 3) Notasi 3. nada A pada posisi open string Latihan nada D (senar ke 2) Notasi 4. nada D pada posisi open string Latihan nada G (senar ke 1) Notasi 5. nada G pada posisi open string Latihan nada E (senar ke 4) Notasi 6. nada E pada posisi open string Seni Musik Non Klasik 287
  • 295. 5. Latihan Tangga Nada 5.1 Latihan Tangga Nada Natural Ø Latihan tangga nada C mayor Gambar 8. tangga nada C Mayor 1 oktaf dalam finger board . Latihan tangga nada C Mayor 1 oktaf C D E F G A B C Kode jari 2 0 1 2 0 1 3 4 Notasi 7. tangga nada C Mayor 1 oktaf Latihan tangga nada C mayor seluruh senar Notasi 8. tangga nada C mayor seluruh senar mulai nada E – C2 Seni Musik Non Klasik 288
  • 296. Ø Latihan tangga nada A minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada A minor dalam finger board (1 oktaf) Gambar 9. tangga nada A minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada A minor 1 oktaf Notasi 9. latihan tangga nada A minor 1 oktaf Latihan tangga nada A minor harmonis 1 oktaf Notasi 10. latihan tangga nada A minor harmonis 1 oktaf Latihan tangga nada A minor melodis 1 oktaf Seni Musik Non Klasik 289
  • 297. Notasi 11. latihan tangga nada A minor melodis 1 oktaf 5.2 Latihan Tangga nada 1 kres Ø Tangga nada G Mayor Tangga nada G Mayor 1 oktaf dalam finger board adalah sebagai berikut. Gambar 10. tangga nada G mayor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada G Mayor 1 oktaf Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode angka tablaturnya. Kode jari 2 0 1 2 0 1 3 0 Notasi 12. latihan tangga nada G Mayor 1 oktaf dalam finger board Seni Musik Non Klasik 290
  • 298. Latihan tangga nada G Mayor seluruh senar Notasi 13. latihan tangga nada C mayor seluruh senar mulai nada E – C2 Ø Latihan Tangga nada E minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada E minor dalam finger board (1 oktaf) Gambar 11. tangga nada E minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada E minor Notasi 14. latihan tangga nada E minor 1 oktaf Latihan tangga nada E minor harmonis Seni Musik Non Klasik 291
  • 299. Notasi 15. latihan tangga nada E minor harmonis 1 oktaf Tangga nada E minor melodis Notasi 16. latihan tangga nada E minor melodis 1 oktaf 5.3 Latihan Tangga nada 2 kres Ø Latihan Tangga nada D Mayor Tangga nada D Mayor 1 oktaf dalam finger board adalah sebagai berikut. gambar 12. tangga nada D mayor 1 oktaf dalam finger board Tangga nada D Mayor 1 oktaf .Kode jari 0 2 4 0 2 1 3 4 Notasi 17. tangga nada D Mayor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada D Mayor seluruh senar Seni Musik Non Klasik 292
  • 300. Notasi 18. tangga nada D mayor seluruh senar mulai nada E – D3 Ø Tangga nada B minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada B minor dalam finger board (1 oktaf) Gambar 13. tangga nada B minor 1 oktaf dalam finger board Tangga nada B minor diatonis Notasi 19. latihan tangga nada B minor diatonis 1 oktaf Tangga nada B minor harmonis Seni Musik Non Klasik 293
  • 301. Notasi 20. latihan tangga nada B minor harmonis 1 oktaf Tangga nada B minor melodis Notasi 21. latihan tangga nada B minor melodis 1 oktaf 5.4 Latihan Tangga Nada 3 Kres Ø Latihan Tangga nada A Mayor Tangga nada A Mayor 1 oktaf dalam finger board adalah sebagai berikut. Gambar 13. tangga nada A mayor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada A Mayor 1 oktaf Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode angka tablaturnya. Seni Musik Non Klasik 294
  • 302. Kode jari 0 3 4 0 2 4 1 2 Notasi 22. latihan tangga nada A mayor 1 oktaf Latihan tangga nada A Mayor seluruh senar Notasi 23. tangga nada A mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2 Ø Latihan Tangga nada Fis minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada Fis minor dalam finger board (1 oktaf) Gambar 14. tangga nada Fis minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada Fis minor diatonis Notasi 24. latihan tangga nada Fis minor diatonis 1 oktaf Tangga nada Fis minor harmonis Seni Musik Non Klasik 295
  • 303. Notasi 25. latihan tangga nada Fis minor harmonis 1 oktaf Tangga nada Fis minor melodis Notasi 26. latihan tangga nada Fis minor melodis 1 oktaf 5.5 Latihan Tangga Nada 4 Kres Ø Latihan tangga nada E mayor Nada-nada dari tangga nada E mayor 1 oktaf dalam finger board adalah sebagai berikut. Gambar 15. tangga nada E mayor 1 oktaf dalam finger board Seni Musik Non Klasik 296
  • 304. Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode angka tablaturnya. Kode jari 0 2 4 0 2 4 1 2 Notasi 27. latihan tangga nada E mayor 1 oktaf Latihan tangga nada E Mayor seluruh senar Notasi 28. latihan tangga nada E mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2 Ø Tangga nada Cis minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada Cis minor dalam finger board (1 oktaf) Gambar 16. tangga nada Cis minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada Cis minor diatonis Seni Musik Non Klasik 297
  • 305. Notasi 29. latihan tangga nada Cis minor diatonis 1 oktaf Latihan tangga nada Cis minor harmonis Notasi 30. latihan tangga nada Cis minor harmonis 1 oktaf Latihan tangga nada Cis minor melodis Notasi 31. latihan tangga nada Cis minor melodis 1 oktaf 5.6 Latihan Tangga Nada 5 Kres Ø Latihan tangga nada B mayor Nada-nada dari tangga nada B Mayor 1 oktaf dalam finger board adalah sebagai berikut. Gambar 17. tangga nada B mayor 1 oktaf dalam finger board Seni Musik Non Klasik 298
  • 306. Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode angka tablaturnya. Notasi 32. latihan tangga nada B Mayor 1 oktaf Latihan tangga nada B Mayor seluruh senar Notasi 33. latihan tangga nada B mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2 Ø Latihan tangga nada Gis minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada Gis minor dalam finger board (1 oktaf) Gambar 18. tangga nada Gis minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada Gis minor diatonis Seni Musik Non Klasik 299
  • 307. Notasi 34. latihan tangga nada Gis minor diatonis 1 oktaf Latihan tangga nada Gis minor harmonis Notasi 35. latihan tangga nada Gis minor harmonis1 oktaf Latihan tangga nada Gis minor melodis Notasi 36. latihan tangga nada Gis minor melodis 1 oktaf 5.7 Latihan tangga nada F Mayor Tangga nada F Mayor 1 oktaf dalam finger board . Gambar 19. tangga nada F mayor 1 oktaf dalam finger board . Seni Musik Non Klasik 300
  • 308. Latihan tangga nada F Mayor 1 oktaf Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode angka tablaturnya. Kode jari 2 0 1 2 0 1 3 4 Notasi 37. latihan tangga nada F mayor 1 oktaf Latihan tangga nada F mayor seluruh senar Notasi 38. latihan tangga nada F mayor seluruh senar mulai nada E – C 2 Ø Latihan Tangga Nada D minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada D minor dalam finger board (1 oktaf) Gambar 20. tangga nada D minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada D minor diatonis 1 oktaf Seni Musik Non Klasik 301
  • 309. Notasi 39. latihan tangga nada D minor diatonis 1 oktaf Latihan tangga nada D minor harmonis 1 oktaf Notasi 40. latihan tangga nada D minor harmonis 1 oktaf Latihan tangga nada D minor melodis 1 oktaf Notasi 41. latihan tangga nada D minor melodis 1 oktaf 5.8 Latihan Tangga Nada 2 Mol Ø Latihan tangga nada Bes Tangga nada Bes Mayor 1 oktaf dalam finger board . Seni Musik Non Klasik 302
  • 310. Gambar 21. tangga nada Bes 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada Bes Mayor 1 oktaf Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode angka tablaturnya. Kode jari 1 3 0 1 3 0 2 3 Notasi 42. latihan tangga nada Bes mayor 1 oktaf Tangga nada Bes mayor seluruh senar Notasi 43. latihan tangga nada Bes mayor seluruh senar mulai nada F – Bes 1 Ø Latihan tangga nada G minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada G minor dalam finger board (1 oktaf) Seni Musik Non Klasik 303
  • 311. Gambar 22. tangga nada G minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada G minor diatonis 1 oktaf Notasi 44. latihan tangga nada G minor diatonis 1 oktaf Latihan tangga nada G minor harmonis 1 oktaf Notasi 45. latihan tangga nada G minor harmonis 1 oktaf Latihan tangga nada G minor melodis 1 oktaf Notasi 46. latihan tangga nada G minor melodis 1 oktaf 5.9 Latihan Tangga Nada 3 Mol Ø Latihan Tangga nada Es Tangga nada Es Mayor 1 oktaf dalam finger board . Seni Musik Non Klasik 304
  • 312. Gambar 23. tangga nada G minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada Es Mayor 1 oktaf Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode angka tablaturnya. Kode jari 1 3 0 1 3 1 3 4 Notasi 47. latihan tangga nada Es mayor 1 oktaf Tangga nada Es mayor seluruh senar Notasi 48. latihan tangga nada Es mayor seluruh senar mulai nada F – Bes 1 Ø Latihan tangga nada C minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada C minor dalam finger board (1oktaf) Seni Musik Non Klasik 305
  • 313. Gambar 24. tangga nada C minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada C minor diatonis 1 oktaf Notasi 49. latihan tangga nada C minor diatonis 1 oktaf Tangga nada C minor harmonis 1 oktaf Notasi 50. latihan tangga nada C minor harmonis 1 oktaf Tangga nada C minor melodis Notasi 51. latihan tangga nada C minor melodis 1 oktaf 5.10 Latihan tangga nada 4 mol Ø Latihan tangga nada As Tangga nada As Mayor 1 oktaf dalam finger board . Seni Musik Non Klasik 306
  • 314. Gambar 24. tangga nada As mayor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada As Mayor 1 oktaf Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode angka tablaturnya. Kode jari 4 1 3 4 1 3 0 1 Notasi 49. latihan tangga nada As mayor 1 oktaf Tangga nada As mayor seluruh senar Notasi 50. latihan tangga nada As mayor seluruh senar mulai nada F – Bes 1 Ø Latihan tangga nada F minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada F minor dalam finger board (1 oktaf) Seni Musik Non Klasik 307
  • 315. Gambar 25. tangga nada F minor 1 oktaf dalam finger board Latihan Tangga nada F minor diatonis Notasi 49. latihan tangga nada F minor diatonis 1 oktaf Latihan tangga nada F minor harmonis Notasi 50. latihan tangga nada F minor harmonis 1 oktaf Tangga nada F minor melodis Notasi 51. latihan tangga nada F minor melodis 1 oktaf Seni Musik Non Klasik 308
  • 316. 5.11 Latihan Tangga Nada 5 Mol Ø Latihan tangga nada Des Tangga nada Des Mayor 1 oktaf dalam finger board . Gambar 26. tangga nada Des mayor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada Des Mayor 1 oktaf Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode angka tablaturnya. Kode jari 4 1 3 4 1 1 3 4 Notasi 52. latihan tangga nada Des mayor 1 oktaf Tangga nada Des mayor seluruh senar Notasi 53. latihan tangga nada Des mayor seluruh senar mulai nada F – Es 2 Seni Musik Non Klasik 309
  • 317. Ø Latihan tangga nada Bes minor Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada Bes minor dalam finger board (1 oktaf) Gambar 27. tangga nada Bes minor 1 oktaf dalam finger board Latihan tangga nada Bes minor diatonis Notasi 54. latihan tangga nada Bes minor diatonis 1 oktaf Latihan tangga nada Bes minor harmonis Notasi 55. latihan tangga nada Bes minor harmonis 1 oktaf Tangga nada Bes minor melodis Seni Musik Non Klasik 310
  • 318. Notasi 56. latihan tangga nada Bes minor melodis 1 oktaf 6. Latihan nada-nada kromatis Nada kromatis adalah nada yang terdapat diantara 2 nada yang berjarak 1 (tone). Misalnya diantara C dan D terdapat nada Cis / Des. Jarak antar nadanya adalah setengah laras / semi tone Cis Dis Fis Gis Ais C D E F G A BC Des Es Ges As Bes Nada-nada di antara tangga nada C mayor disebut nada kromatis, deretan nada tersebut dalam bass gitar masing-masing berjarak 1 fret. Nada tersebut apabila naik ditambah tanda # (kres) nama nadanya ditambah is misalnya C naik setengah disebut Cis. Apabila turun setengah dtambah tanda (mol) nama nadanya ditambah akhiran es misalnya B menjadi Bes untuk huruf vokal hanya ditambah akhiran s misalnya A menjadi As. Jika memainkan pada fret dengan open string secara berurutan, maka nada-nada yang dihasilkan adalah nada-nada kromatis sebagai berikut: Fis Gis Ais Cis Dis Fis Gis Ais E F G A BC D E F G A B C Ges As Bes Des Es Ges As Bes Cara melatih nada-nada kromatis dimulai dari open string E, jari 1 pada F, jari 2 Fis, jari 3 G jari 4 Gis dan seterusnya. Seni Musik Non Klasik 311
  • 319. Latihan Etude 7. Latihan 1 Notasi 56. Latihan 1 Latihan 2. Notasi 57. Latihan 2 Latihan 3. Notasi 58. Latihan 3 Latihan 4. Notasi 59. Latihan 4 Seni Musik Non Klasik 312
  • 320. Latihan 5. Notasi 60. Latihan 5 Latihan 6. Notasi 61. Latihan 6 Latihan 7. Notasi 62. Latihan 7 Latihan 8. Notasi 63. Latihan 8 Seni Musik Non Klasik 313
  • 321. Latihan 9. Notasi 64. Latihan 9 Latihan 10. Notasi 65. Latihan 10 Latihan 11. Notasi 66. Latihan 11 Latihan 12. Notasi 67. Latihan 12 Seni Musik Non Klasik 314
  • 322. Latihan 13. Notasi 68. Latihan 13 Latihan 14. Notasi 69. Latihan 14 Latihan 15. Notasi 70. Latihan 15 Seni Musik Non Klasik 315
  • 323. Latihan 16 Notasi 71. Latihan 16 Riffs Riff adalah pola dari nada-nada yang diulang-ulang dalam suatu progresi akor atau lagu. Pemain bass gitar sering menggunakan teknik permainan riffs pada suatu progresi akor. Contoh riff adalah seperti berikut ini Notasi 72. contoh riff Agar mudah memainkannya, pada waktu memainkan nada Fis, jari 1 tetap menempel pada nada E untuk persiapan nada E berikutnya. Seni Musik Non Klasik 316
  • 324. Latihan 17 Notasi 72. Latihan 17 Tanda adalah simbul yang menunjukkan bahwa birama tersebut mengulang sama persis dengan birama sebelumnya. Latihan di atas sebenarnya merupakan latihan progresi akor yang sangat populer pada lagu-lagu rock and roll tahun 60-an. Progresi tersebut dikenal dengan nama Progresi 12 bar blues. Bila ditulis hanya progresi akornya saja adalah: // A / / / / /D / /A / / /E /D /A /E : // Pola atau patern (riffs) ada beberapa macam. Berikut ini contoh patern lain yang dapat dipergunakan untuk latihan: Seni Musik Non Klasik 317
  • 325. Patern 1 Akor A Notasi 71. Patern akor A perhatikan kode fretnya, nada A pada senar no 4 (E) terletak pada fret ke 5. Coba perhatikan nada-nada yang lain. Patern 1 Akor D Notasi 72. Patern akor D Patern 1 Akor E Notasi 72. patern 1 akor E Apabila kita menerapkan pola / patern ini dalam progresi 12 bar blues seperti di atas maka notasinya akan menjadi seperti berikut: Seni Musik Non Klasik 318
  • 326. Latihan 18 Notasi 73. Latihan 18 Macam-macam riffs yang dapat diterapkan untuk latihan: Patern 2 A Notasi 73 Seni Musik Non Klasik 319
  • 327. Latihan 19 Notasi 74. Latihan 19 Patern 3. A Notasi 75. contoh patern 3 Seni Musik Non Klasik 320
  • 328. Latihan 20 Notasi 76. Latihan 20 Patern 4. A Notasi 77. contoh patern 4 Seni Musik Non Klasik 321
  • 329. Latihan 21 Notasi 77. Latihan 21 Seni Musik Non Klasik 322
  • 330. 8. Latihan Buah Musik Notasi 77. Latihan lagu Annie Laurie Seni Musik Non Klasik 323
  • 331. Notasi 78. Latihan lagu One Day Seni Musik Non Klasik 324
  • 332. Notasi 78. Latihan lagu Autumn Leaves Seni Musik Non Klasik 325
  • 333. Seni Musik Non Klasik 326
  • 334. Seni Musik Non Klasik 327
  • 335. Notasi 79. Latihan lagu I Started a joke Seni Musik Non Klasik 328
  • 336. Notasi 80. Latihan lagu More Than I Can Say Seni Musik Non Klasik 329
  • 337. Daftar Gambar Gambar 1 : Bass gitar Gambar 2 : Bass gitar dan bagian-bagiannya Gambar 3 : Kode jari tangan kanan Gambar 4 : Kode jari tangan kiri Gambar 5 : posisi tangan kiri tampak dari depan Gambar 6. : posisi tangan kiri tampak dari belakang Gambar 7. : posisi tangan kanan Gambar.8 : cara memetik dengan jari telunjuk dan jari tengah Gambar 9. : cara memetik dengan plektrum Daftar Notasi Notasi 1 : tuning bass gitar posisi open string Notasi 2 : tuning bass gitar dilengkapi dengan tablature Notasi 3 : nada A pada posisi open string Notasi 4 : nada D pada posisi open string Notasi 5 : nada G pada posisi open string Notasi 6 : nada E pada posisi open string Notasi 7 : tangga nada C Mayor 1 oktaf Notasi 8 : tangga nada C mayor seluruh senar mulai nada E – C2 Notasi 9 : latihan tangga nada A minor 1 oktaf Notasi 10 : latihan tangga nada A minor harmonis 1 oktaf Notasi 11 : latihan tangga nada A minor melodis 1 oktaf Notasi 12 : latihan tangga nada G Mayor 1 oktaf dalam finger board Notasi 13 : latihan tangga nada C mayor seluruh senar mulai nada E – C2 Notasi 14 : latihan tangga nada E minor 1 oktaf Notasi 15 : latihan tangga nada E minor harmonis 1 oktaf Notasi 16 : latihan tangga nada E minor melodis 1 oktaf Notasi 17 : tangga nada D Mayor 1 oktaf dalam finger board Notasi 18 : tangga nada D mayor seluruh senar mulai nada E – D3 Notasi 19 : latihan tangga nada B minor diatonis 1 oktaf Notasi 20 : latihan tangga nada B minor harmonis 1 oktaf Notasi 21 : latihan tangga nada B minor melodis 1 oktaf Notasi 22 : latihan tangga nada A mayor 1 oktaf Notasi 23 : tangga nada A mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2 Notasi 24 : latihan tangga nada Fis minor diatonis 1 oktaf Notasi 25 : latihan tangga nada Fis minor harmonis 1 oktaf Notasi 26 : latihan tangga nada Fis minor melodis 1 oktaf Notasi 27 : latihan tangga nada E mayor 1 oktaf Notasi 28 : latihan tangga nada E mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2 Seni Musik Non Klasik 330
  • 338. Notasi 29 : latihan tangga nada Cis minor diatonis 1 oktaf Notasi 30 : latihan tangga nada Cis minor harmonis 1 oktaf Notasi 31 : latihan tangga nada Cis minor melodis 1 oktaf Notasi 32 : latihan tangga nada B Mayor 1 oktaf Notasi 33 : latihan tangga nada B mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2 Notasi 34 : latihan tangga nada Gis minor diatonis 1 oktaf Notasi 35 : latihan tangga nada Gis minor harmonis1 oktaf Notasi 36 : latihan tangga nada Gis minor melodis 1 oktaf Notasi 37 : latihan tangga nada F mayor 1 oktaf Notasi 38 : latihan tangga nada F mayor seluruh senar mulai nada E –C2 Notasi 39 : latihan tangga nada D minor diatonis 1 oktaf Notasi 40 : latihan tangga nada D minor harmonis 1 oktaf Notasi 41 : latihan tangga nada D minor melodis 1 oktaf Notasi 42 : latihan tangga nada Bes mayor 1 oktaf Notasi 43 : latihan tangga nada Bes mayor seluruh senar mulai nada F – Bes 1 Notasi 44 : latihan tangga nada G minor diatonis 1 oktaf Notasi 45 : latihan tangga nada G minor harmonis 1 oktaf Notasi 46 : latihan tangga nada G minor melodis 1 oktaf Notasi 47 : latihan tangga nada Es mayor 1 oktaf Notasi 48 : latihan tangga nada Es mayor seluruh senar mulai nada F – Bes 1 Notasi 49 : latihan tangga nada C minor diatonis 1 oktaf Notasi 50 : latihan tangga nada C minor harmonis 1 oktaf Notasi 51 : latihan tangga nada C minor melodis 1 oktaf Notasi 52 : latihan tangga nada As mayor 1 oktaf Notasi 53 : latihan tangga nada As mayor seluruh senar mulai nada F – Bes 1 Notasi 54 :latihan tangga nada F minor diatonis 1 oktaf Notasi 55 : latihan tangga nada F minor harmonis 1 oktaf Notasi 56 : latihan tangga nada F minor melodis 1 oktaf Notasi 57 : latihan tangga nada Des mayor 1 oktaf Notasi 58 : latihan tangga nada Des mayor seluruh senar mulai nada F – Es 2 Notasi 59 : latihan tangga nada Bes minor diatonis 1 oktaf Notasi 60 : latihan tangga nada Bes minor harmonis 1 oktaf Notasi 61 : latihan tangga nada Bes minor melodis 1 oktaf Notasi 62-77 : latihan - latihan Notasi 78 : contoh riff Notasi 79 : latihan 17 Notasi 80 : patern akor A Notasi 81 : patern akor D Notasi 82 : patern akor E Notasi 83 : latihan 18 Seni Musik Non Klasik 331
  • 339. Notasi 84 :patern akor A Notasi 85 : latihan 19 Notasi 86 : contoh patern Notasi 87 : Latihan 20 Notasi 88 : contoh patern Notasi 89 ; latihan 21 Notasi 90 : latihan lagu Annie Laurie Notasi 91 : latihan lagu One Day Notasi 92 : latihan lagu Autumn Leaves Notasi 93 : latihan lagu I Started a joke Seni Musik Non Klasik 332
  • 340. BAB 8 SAXOPHONE 1. Pengenalan Dan Cara Perawatannya 1.1. Pengenalan Saxophone merupakan instrumen musik jenis aerophone. Artinya instrumen yang memiliki sumber bunyi berdasarkan udara yang bergetar. Instrumen ini tergolong dalam instrumen tiup kayu walaupun bahan dasar instrumen tersebut terbuat dari logam. Gambaran umum saxophone: Badan dari saxophone dapat terlihat jelas berbentuk kerucut, bahannya terbuat dari metal yang tipis. Untuk mendapatkan nada- nadanya, sepanjang tabung dibuat 18 – 20 lubang katup atau lubang nada dengan garis tengah yang semakin besar menyesuaikan bentuk tabungnya. Pada bagian yang lebih dekat dengan mouthpiece terdapat dua lubang katup kecil yang gunanya untuk memainkan nada-nada oktaf tinggi. Dua lubang katup Gambar 1: Dua Lubang Katup Oktaf. Sistem penjarian yang asli menurut Boehm, bahwa semua katup dikendalikan dengan semacam kunci, beberapa terbuka dan sementara lainnya tertutup pada waktu tidak dimainkan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa untuk jenis saxophone seperti huruf “U” supaya lebih mudah untuk dimainkan. Untuk ukuran bariton dan yang lebih besar lagi, badannya diperpendek dengan dua lipatan pada bagian atas. Seni Musik Non Klasik 333
  • 341. Gambar 2: bentuk saxophone Ada beberapa hal yang perlu dipelajari oleh siswa sebelum belajar memainkan instrumen saxophone. siswa harus benar-benar kenal nama- nama bagian dari saxophone dan tahu cara menggabungkannya. Saxophone terdiri dari empat bagian yaitu: mouthpiece, neck, body dan Bell. Gambar 3 dibawah ini menunjukkan nama-nama bagian dari saxophone. Gambar 3: Bagian-bagian dari Saxophone. Mouthpiece mendapat perhatian pertama, yang mana bagian ini harus digabungkan lebih dahulu. Mouthpiece dan reed digabungkan dengan sebuah cincin logam yang disebut ligature sebagai pengikatnya. Seni Musik Non Klasik 334
  • 342. Gambar 4: Penggabungan Mouthpiece dan Reed. Mouthpiece saxophone, aslinya terbuat dari kayu, tetapi sekarang umumnya terbuat dari ebonit dan metal, bahkan ada juga dari kaca atau plastik. Demikian juga dengan mouthpiece klarinet dapat dibuat dari bahan tersebut dengan ukuran yang berbeda. Jika dibanding dengan mouthpiece klarinet, dudukan reed yang disebut table, pada saxophone soprano bentuknya lebih lebar dan pendek. Gambar 5: Perbedaan Mouthpiece Klarinet dan Saxophon. Ruangan bagian dalam dari mouthpiece disebut tone chamber, sedangkan ujung dari ruangan ini disebut jendela “window”. (gambar 6) Gambar 6: Tone Chamber dan Window. Cara memasang reed pada mouthpice seperti pada gambar 7 tidak dibenarkan, karena posisi ujung reed tidak tepat pada ujung Seni Musik Non Klasik 335
  • 343. mouthpiece. Hal demikian hanya menyebabkan bunyi yang dihasilkan kurang baik. Sedangkan pemasangan yang baik adalah posisi ujung reed simetris dengan ujung mouthpiece, seperti gambar 8. Gambar 7: Posisi reed tidak baik. Gambar 8: Posisi reed baik. Berikut dikenalkan perlengkapan sebuah mouthpiece dan cara pemasangannya. Gambar 9: Perlengkapan sebuah Mouthpiece. Seni Musik Non Klasik 336
  • 344. Cara pemasangan reed yang lebih aman adalah mengikuti langkah- langkah berikut: (1). Letakkan reed pada mouthpiece dengan posisi yang benar; (2). Masukkan mouthpiece yang sudah terpasang reed tersebut ke dalam ligature, dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai ujung reed terbentur ligature, karena bagian ujung reed sangat tipis dan mudah sobek: (3). Setelah , mouthpiece dan ligature terpasang, aturlah posisi reed seperti dalam gambar 8 (posisi ujung reed simetris dengan ujung mouthpiece); (4). Apabila posisi reed sudah benar, ligature dapat dikencangkan dengan cara memutar baut-baut pengeras supaya posisi reed tidak berubah atau bergeser. 1.2. Perawatan Mengenai cara perawatan instrumen saxophone yang dianjuran adalah sebagai berikut: Perawatan instrumen secara intensif, selain untuk alasan higienis, hal itu penting untuk menjaga agar instrumen tersebut dalam keadaan siap untuk dimainkan. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam perawatan instrumen tersebut adalah sebagai berikut: 1.2.1. Memegang instrumen saxophone hendaknya secara berhati-hati dan menghindari kemungkinan terjadi benturan dengan benda keras lainnya, sebab logamnya sangat tipis dan peka benturan. 1.2.2. Setelah selesai menggunakan segera membersihkannya, baik bagian luar maupun bagian dalamnya, bantalan-bantalan (pad) yang basah (akibat pernapasan), harus segera dikeringkan dengan menggunakan kain yang mudah menyerap air, atau dengan kertas yang halus dan lunak (kertas rokok). Gambar 10: Cara membersihkan Pad. 1.2.3. Mouthpiece dan reed segera dicuci setelah selesai digunakan Seni Musik Non Klasik 337
  • 345. 1.2.4. Untuk meletakkan saxophone pada saat tidak dimainkan adalah sebagai berikut: Dengan cara menggunakan tempat duduk khusus (saxophone stand), dengan cara ini instrumen berdiri bertumpu pada bagian bell dari saxophone. Gambar 11: Tempat Saxophone (Saxophone Stand). 1.2.4.2. Apabila tidak ada tempat duduk khusus kita dapat meletakkan saxophone dengan cara lain, yaitu dengan menidurkan instrumen pada permukaan yang datar dan rata, seperti meja, lantai atau diatas kopor saxophone (chase). Cara meletakkan seperti ini yang h arus diperhatikan ialah jangan sampai ada bagian-bagian kunci yang menahan beban cukup berat dari saxophone, sebab bahan dasar instrumen ini terbuat dari logam yang lunak (mudah bengkok). Cara meletakkan saxophone seperti gambar 12 tidak dapat dibenarkan, sebab ada dua kunci terpaksa menahan beban cukup berat dari saxophone (kunci”d” dan “d#”), apabila hal ini berlangsung terus-menerus dapat mengakibatkan pergeseran antara katup dan lubang suara sehingga katup tidak berfungsi dengan baik. Seni Musik Non Klasik 338
  • 346. Gambar 12: Cara meletakkan Saxophone yang tidak baik. Sedangkan cara meletakkan saxophone supaya aman pada waktu tidak sedang dimainkan adalah seperti contih dalam gambar 13 dibawah ini, yang mana pada bagian bell sebelah kanan dari saxophone terdapat lempengan plat logam yang berfungsi untuk pengaman katup nada (Bb, B, C, dan C#). Pada bagian inilah kita meletakkan saxophone dengan cara menidurkannya. Gambar 13: Cara meletakkan Saxophone yang baik 1.2.4.3. Penyimpanan instrumen dalam Kopor/kotak instrumen, sebaiknya diletakkan di tempat yang aman dan kering, serta perubahan suhunya tidak terlalu mencolok. Hal ini bermaksud untuk menjaga pemuaian ataupun penyusutan dari instrumen tersebut. Seni Musik Non Klasik 339
  • 347. 1.2.4.4. Perlu diperhatikan cara meletakkan kopor yang berisi saxophone jangan sampai terbalik seperti contoh dalam gambar 14. Dalam gambar tersebut dapat terlihat dengan jelas, sehingga bagian tersebut sangat rawan. Sedangkan cara-cara yang benar seperti contoh dalam gambar 15, disini saxophone bertumpu pada bagian yang bengkok seprti huruf “U”, bagian ini dilapisi plat logam sebagai pengaman. Gambar 14: Cara meletakkan Gambar 15: Cara meletakkan peti saxophone tidak benar peti saxophone benar 2. Teknik Dasar Bermain Saxophone Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bila akan belajar memainkan saxophone, yaitu cara memegang saxophone, teknik per- napasan, posisi bermain, teknik embosur (embouchure), teknik penjarian dan teknik peniupan. 2.1. Cara Memegang Saxophone Sebelum mengangkat instrumen dari kopornya, sebaiknya terlebih dahulu menggabungkan mouthpiece dengan reed. Setelah posisi reed terpasang dengan benar, gabungkan dengan leher saxophone (neck dan mouthpiece). Seni Musik Non Klasik 340
  • 348. Gambar 16: Penggabungan Leher dengan Mouthpiece. Apabila mouthpiece, reed dan leher saxophone sudah tergabung, tali penggantung saxophone yang disebut sling dapat dipakai (dikalungkan pada leher pemain). Fungsi dari pada sling tersebut adalah untuk membantu ibu jari tangan kanan dalam menopang saxophone dengan cara mengaitkan ujung sling pada badan saxophone. Kemudian badan saxophone diangkat dari petinya dengan cara memegang pada bagian bellnya dan gabungkan badan saxophone tersebut dengan lehernya yang sudah terpasang mouthpiece. Sedang cara untuk menggabungkan badan dengan leher saxophone adalah: Memegang badan saxophone pada tangan kanan dengan bertumpu pada pangkuan, sementara tangan kiri memegang leher yang siap digabungkan dengan badan saxophone. Gambar 17: Penggabungan Leher dengan Badan Saxophone. Seni Musik Non Klasik 341
  • 349. 2.1.1. Posisi jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kiri maupun kanan disesuaikan tepat pada permukaan katup nada dalam membentuk setengah melingkar. Gambar 18: Posisi Jari-jari pada Katup Nada. Kelebihan dari posisi ini adalah memindahkan dalam memainkan gerakan-gerakan melodi yang cepat dan relaksasi selama bermain. Sedangkan cara yang tidak dianjurkan adalah posisi jari yang menempel lurus pada katup nada. Posisi ini memiliki kelemahan, kurangnya fleksibilitas serta ketegangan-ketegangan pada saraf motorik, sehingga pemain lekas merasa capai. Gambar 19: Posisi Jari yang tidak dianjurkan (jari-jari menempel lurus pada katup-katup nada). 2.1.2. Posisi jari kelingking tangan kiri maupun tangan kanan harus dapat bergerak bebas untuk menjangkau kunci-kunci nada, yakni: Jari kelingking tangan kiri harus bebas menjangkau kunci-kunci nada g#, c#, B dan Bb. Sedangkan untuk jari kelingking tangan kanan harus bebas menjangkau kunci nada Eb dan C. Seni Musik Non Klasik 342
  • 350. Perlu ditekankan bahwa kedua jari kelingking tidak boleh mene- gang. Gambar 20: Jari Kelingking Tangan Kiri. Gambar 21: Jari Kelingking Tangan Kanan. 2.1.3. Latihan meniup saxophone. Nada yang paling mudah untuk dibunyikan pada saxophone adalah nada “B”, Gambar 22: Penjarian nada “B1” Notasi 1: simbul penjariannya nada B Di bawah ini ditunjukkan contoh latihan meniup saxophone dengan menggunakan nada “b” yang dimainkan dengan tempo lambat. Seni Musik Non Klasik 343
  • 351. Notasi 2: contoh latihan meniup dangan nada dengan nada “B1”. Kemudian dilanjutkan dengan nada-nada lainnya yang masih menggunakan jari-jari tangan kiri, yakni: Nada A. G dan C. Notasi 3: gambar notasi dan fingering B, A, G dan C. Notasi 4: latihan pembentukan nada dengan nada “B1, A1,G1 . Notasi 5: latihan pembentukan nada dengan nada “C1 ”. 2.2. Pernapasan Pernapasan yang dianjurkan, sebagaimana dalam pernapasan menyanyi dan memainkan alat musik tiup lainnya, adalah sistem per- nafasan diafragmatis. Alasan dari pernapasan diafragmatis yang dianjurkan seperti diatas adalah, selain terdapat volume udara yang lebih besar dan kuat dibanding dengan pernapasan paru-paru, juga hal itu sangat menentukan produksi suara serta kemampuan yang lebih sempurna dalam men- jangkau teknik maupun etude-etude yang ada. Seni Musik Non Klasik 344
  • 352. Di bawah ini adalah cara untuk melatih sistem pernapasan diafragmatis: 2.2.1. Hirup udara melalui hidung, bersamaan dengan itu rasakan aliran aliran udara melalui paru-paru menuju sekat rongga perut (diafragma), sekaligus rasakan pengembangan otot-otot disekitar perut (rusuk bawah, terutama pada sekat rongga badan) 2.2.2. Hembuskan melalui mulut secara rata, sekaligus merasakan aliran udara dan pengempisan otot-otot pada bagian perut secara per- lahan-lahan. Setelah proses pernapasan sudah dipahami, selanjutnya latihan pernapasan dapat dikontrol dengan cara sebagai berikut: a. Tekan kuat-kuat kedua telapak tangan pada sisi pinggang dengan ibu jari melingkar di sisi depan perut dan keempat jari lain diletakkan di sisi bagian belakang. Gambar 23: Penekanan pada sisi Perut b. Sementara kedua telapak tangan menekan pada sisi pinggang, bongkokkan badan kira-kira membentuk sudut 90°, kemudian tarik napas seperti petunjuk di atas, dan rasakan pengembangan otot-otot di sekitar perut bagian atas. Dengan cara tersebut akan lebih memudahkan dalam mengontrol pengembangan otot-otot perut dalam hu-bungannya dengan pernapasan diafragmatis. Seni Musik Non Klasik 345
  • 353. Gambar 24: Cara Mengontrol Pernafasan Diafragma. c. Setelah melakukan hal tersebut berulangkali dan sudah dipahami, latihan pernapasan dapat dilanjutkan dengan posisi berdiri tegak. Untuk mengontrol pernapasan diperlukan kecermatan sebsb pernapasan yang salah akan berakibat fatal bagi seorang pemain alat musik tiup. Apabila latihan-latihan di atas sudah dapat dilalui dengan baik dan benar, berikut akan diuraikan tenteng posisi bermain saxophone. 2.3 Posisi Pemain Posisi instrumen dan tubuh pada waktu bermain merupakan langkah awal yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi siswa pemula. Hal ini sangat penting teknik pernapasan dan keleluasaan gerak tangan maupun jari. Sikap bermain saxophone sebaiknya jangan terlalu tegang (tegap), dan sebaliknya jangan terlalu santai. Ambillah sikap yang wajar, baik dalam sikap berdiri maupun dalam sikap duduk. 2.3.1. Posisi Berdiri Posisi berdiri seperti dalam gambar 25 dibawah ini selain terlalu kaku juga menghambat pernapasan serta menghambat kele- luasaan gerak jari-jari kita. Seni Musik Non Klasik 346
  • 354. Gambar 25: Sikap yang tidak dianjurkan. Sedangkan posisi berdiri yang dianjurkan adalah: Berdiri wajar, kepala agak menunduk dengan pandangan mata lurus kedepan. Adapun posisi saxophone agak sedikit dimiringkan ke kiri dengan menempelkan bagian bawah dari saxophone pada pinggul sebelah kanan. Hal ini sangat membantu keleluasaan gerak jari-jari dan menjaga supaya saxophone tidak banyak bergerak pada waktu di- mainkan. Gambar 26: Sikap Berdiri Seni Musik Non Klasik 347
  • 355. Dalam halaman berikut ini ditunjukkan gambar posisi leher yang tidak baik. Posisi seperti ini selain kurang sedap untuk dipandang juga dapat mengganggu pernapasan serta berpengaruh pada intonasi dari nada-nada yang dihasilkan. H ini disebabkan karena cara pemasangan al antara mouthpiece dan leher saxophone yang kurang tepat. Gambar 27: Posisi Leher yang tidak baik. Untuk menjaga supaya posisi leher pemain tidak seperti dalam gambar diatas, posisi mouthpiece pada leher saxophone harus digeser (diputar) sedikit ke kanan disesuaikan dengan kemiringan saxophone. Untuk menggeser posisi mouthpiece supaya leher pemain bisa tegak adalah sebagai berikut: Ambillah sikap berdiri seperti dalam gambar nomor 26, sementara tangan kiri memegang mouthpiece yang kurang tepat posisinya dan putarlah ke kanan hingga posisi leher pemain tidak miring. Gambar berikut ini akan ditunjukkan bagaiman cara memutar mouthpiece. Seni Musik Non Klasik 348
  • 356. Gambar 28: Cara menggeser Posisi Mouthpiece, 2.3.2. Posisi Duduk Pada posisi duduk tidak banyak berbeda dengan posisi berdiri. Perbedaan hanya pada posisi tubuh saja, sedangkan untuk posisi ins- trumen sama seperti pada posisi berdiri. Dalam posisi duduk sebaiknya kita menggunakan kursi yang tidak memakai sandaran tangan, sebab sandaran tersebut akan mengganggu tangan dan saxophone pemain itu sendiri. Apabila terpaksa meng- gunakan kursi yang memakai sandaran tangan, dapat kita atasi dengan cara duduk miring ke kiri dari arah kursi kira-kira 45° dengan bertumpu pada pantat dan paha sebelah kiri. Gambar 29 ditunjukkan posisi duduk pada kursi yang memakai sandaran tangan. Seni Musik Non Klasik 349
  • 357. Gambar 29: Posisi Duduk dengan sandaran tangan Gambar 30: Posisi Duduk tanpa sandaran tangan. 2.4. Teknik Ambosur ( Embouchure ) Kata ambosur berasal dari bahasa Perancis “embouchure”. Sedangkan dalam istilah Inggris memiliki arti ganda, yaitu mouthpice dan bibir. Adapun pengertian umum dapat diartikan sebagai bibir. Untuk istilah musik (dalam permainan alat musik tiup), ambosur adalah posisi bibir dan gigi pada mouthpiece. Bentuk ambosur yang baik adalah sebagai berikut: Letakkan gigi atas pada bagian atas dari mouthpiece; Lekatkan bagian dalam dari bibir di sekililing mouthpiece, sekaligus memajukan rahang Seni Musik Non Klasik 350
  • 358. bawah seperti sikap dalam menggigit (gigi bawah sejajar dengan gigi atas). Gambar 31: Perwujudan Ambosur yang baik. Ada dua macam jenis tiupan dalam alat musik tiup yaitu: a. Meniup dengan udara dingin b. Meniup dengan udara panas Udara dingin dipergunakan untuk meniup alat musik tiup seperti: piccolo, fluit sopran, hobo dan klarinet dari nada “A” keatas. Notasi 6: Nada-nada pada Klarinet yang menggunakan udara dingin. Udara panas dipergunakan untuk meniup alat musik tiup seperti: klarinet dari nada “Ab” kebawah ( Ab, G, Gb, F dan E ), saxophone, fagot, fluit alto, tenor dan fluit bass. Untuk mewujudkan tiupan-tiupan diatas adalah, apabila kita meniupkan udara pada satu titik, akan terwujud udara dingin. Apabila kita menghendaki tiupan dengan udara panas, tiupkan udara dengan fokus satu titik yang lebar. Dalam meniup saxophone tidak hanya membutuhkan udara panas saja, tetapi harus didukung oleh ambosur yang benar serta tenaga yang relatif kuat. Seni Musik Non Klasik 351
  • 359. Lebih lanjut Maezawa menjelaskan bahwa ambosur untuk saxophone yang benar adalah: (1). Kerutkan kedua bibir (bibir atas dan bawah) hingga membentuk garis-garis pada permukaan bibir dan tariklah kedua sudut bibir ke tengah-tengah hingga bentuk bibir menyerupai huruf “O”; (2). Masukkan mouthpiece kedalam mulut yang sudah membentuk huruf “O” sesuai kebutuhan kemudian tutuplah bibir disekeliling mouthpiece, sehingga apabila ditiup udara tidak akan bocor; (3). Tiuplah mouthpiece tersebut dengan mengucapkan kata “dho” ( seperti pada kata “dholan”). Dengan meniup sambil mengucap kata “dho”, udara yang keluar adalah udara panas. (gambar 32) Gambar 32: Bentuk bibir Ambosur untuk saxophone berbeda dengan ambosur untuk klarinet. Untuk membentuk ambosur klarinet, tariklah bibir kesatu titik yang terletak di bawah ujung dagu. Gambar 33: Ambosur Klarinet Tetapi untuk membentuk ambosur saxophone kita harus menarik bibir kesatu titik yang letaknya di tengah-tengah antara bibir atas dan bibir bawah. ( gambar 34 ) Seni Musik Non Klasik 352
  • 360. Gambar 34: Ambosur Saxophone Dari ketiga pendapat tersebut di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa ketiga pendapat tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu membuat bibir supaya mengeras dan mewujudkan tiupan dengan udara panas. 2.5. Teknik Penjarian ( Fingering ) Sistem penjarian pada alat musik saxophone untuk petunjuk penggunaan kunci-kunci nada dan jari akan diberi tanda-tanda, huruf, titik ( ) dan lingkaran kecil ( ). Tanda huruf dan angka menunjukkan kunci- kunci nada yang digunakan atau digerakkan. Tanda titik ( ), menunjukkan katup nada yang ditekan atau ditutup. Tanda lingkaran kecil ( ) menunjukkan katup nada yang tidak ditekankan atau dibuka. Di bawah ini akan ditunjukkan huruf-huruf dan angka-angka yang akan dipergunakan sebagai petunjuk kunci-kunci dan jari-jari. Gambar 35: gambar perwujudan tanda penjarian). Seni Musik Non Klasik 353
  • 361. 2.6.3.1. Vibrasi Vibrasi adalah kualitas getaran dalam nada yang dihasilkan oleh gerakan yang sangat rapat dari rahang bawah. Para saksoponis menggunakan vibrasi (khususnya dalam musik tarian) pada nada panjang. Pada tempo yang sangat lambat sampai sedang harus dicoba menggunakan vibrasi pada nada-nada seperempatan ( ), dan teristimewa pada nada setengahan ( ) atau nada utuh ( ). Apabila tanpa vibrasi nada saxophone memiliki warna yang kurang cemerlang bila dibanding dengan penggunaan vibrasi ter- sebut. Ada 3 jenis gelombang vibrasi yaitu: a. Gelombang lebar : b. Gelombang sempit : c. Gelombang dari lebar menyempit : Gambar 46: 3 jenis gelombang vibrasi Seni Musik Non Klasik 354
  • 362. Berikut latihan Vibrasi : a. b. c. Notasi 7 : cara latihan vibrasi Seni Musik Non Klasik 355
  • 363. 3. Teknik dan Etude Seni Musik Non Klasik 356
  • 364. Seni Musik Non Klasik 357
  • 365. Seni Musik Non Klasik 358
  • 366. Seni Musik Non Klasik 359
  • 367. Seni Musik Non Klasik 360
  • 368. Seni Musik Non Klasik 361
  • 369. Seni Musik Non Klasik 362
  • 370. Seni Musik Non Klasik 363
  • 371. Seni Musik Non Klasik 364
  • 372. Seni Musik Non Klasik 365
  • 373. Seni Musik Non Klasik 366
  • 374. Seni Musik Non Klasik 367
  • 375. Seni Musik Non Klasik 368
  • 376. Seni Musik Non Klasik 369
  • 377. Seni Musik Non Klasik 370
  • 378. Seni Musik Non Klasik 371
  • 379. Seni Musik Non Klasik 372
  • 380. Seni Musik Non Klasik 373
  • 381. Seni Musik Non Klasik 374
  • 382. BUAH MUSIK Seni Musik Non Klasik 375
  • 383. Seni Musik Non Klasik 376
  • 384. Seni Musik Non Klasik 377
  • 385. Seni Musik Non Klasik 378
  • 386. Seni Musik Non Klasik 379
  • 387. Fingering Chart Seni Musik Non Klasik 380
  • 388. i Tanda : Pilihan posisi penjarian. Tanda : katup nada yang ditekan atau ditutup. Tanda : katup nada yang tidak ditekankan atau dibuka. Kompas Masing-masing Jenis Saxophone Seni Musik Non Klasik 381
  • 389. Sopran (Bb ) Alto (Eb ) Tenor (B b ) Bariton (Eb ) Penulisan Soprano (Bb ) Kompas Penulisan Alto (Eb) Kompas Penulisan Tenor (Bb ) Kompas Seni Musik Non Klasik 382
  • 390. Penulisan Bariton (Eb ) Kompas Seni Musik Non Klasik 383
  • 391. DAFTAR GAMBAR Gambar 1: Dua Lubang Katup Oktaf. Gambar 2: Brntuk Saxophone. Gambar 3: Bagian-bagian dari Saxofon. Gambar 4: Penggabungan Mouthpiece dan Reed. Gambar 5: Perbedaan antara Mouthpiece Klarinet Saxofon. Gambar 6: Tone Chamber dan Window. Gambar 7: Posisi Reed Tidak baik. Gambar 8: Posisi Reed Baik Gambar 9: Perlengkapan sebuah Mouthpiece. Gambar 10: Cara membersihkan Pad Gambar 11: Tempat Saxophone (Saxophone Stand) Gambar 12: Cara meletakkan Saxophone yang tidak baik. Gambar 13: Cara meletakkan Saxophone yang baik. Gambar 14: Cara meletakkan peti saxophone tidak benar Gambar 15: Cara meletakkan peti saxophone benar Gambar 16: Penggabungan Leher dengan Mouthpiece Gambar 17: Penggabungan Leher dengan Badan Saxophone. Gambar 18: Posisi Jari-jari pada Katup Nada. Gambar 19: Posisi Jari yang tidak dianjurkan Gambar 20: Jari kelingking tangan kiri. Gambar 21: Jari kelingking tangan kanan. 1 Gambar 22: Penjarian nada “B ” Gambar 23: Penekanan pada sisi perut untuk pengembangan otot perut Gambar 24: Cara mengontrol pernafasan diafragma. Gambar 25: Sikap yang tidak dianjurkan. Gambar 26: Sikap berdiri dalan bermain Saxophone Gambar 27: Posisi leher yang tidak baik. Gambar 28: Cara menggeser Posisi Mouthpiece, hal ini berlaku juga untuk sikap duduk.. Gambar 29: Posisi Duduk pada kursi yang memakai sandaran tangan. Gambar 30: Posisi Duduk pada kursi yang tidak memakai sandaran tangan. Gambar 31: Perwujudan Ambosur yang baik Gambar 32: Bentuk Bibir dan Garis-garis Kerutan Gambar 33: Titik tempat menarik bibir (Ambosur Klarinet).. Gambar 34: Titik tempat menarik bibir (Ambosur Saxophone). Gambar 35: Gambar perwujudan tanda penjarian). Gambar 36: Jari Telunjuk, Jari Tengah dan Jari Manis Tangan Kiri. Gambar 37: Jari Telunjuk, Jari Tengah dan Jari Manis Tangan Kanan. Gambar 38: Posisi Ibu Jari Tangan Kiri (T). 1 Gambar 39: Posisi jari-jari pada nada “Bes ”. Gambar 40: Menunjukkan Perwujudan Penjarian Bes. Gambar 41: Attack . Gambar 42: Latihan meniup mouthpiece tanpa leher dan badan saxophone Gambar 43: Posisi ujung lidah pada bagian ujung reed. Gambar 44: Posisi lidah pada waktu udara dialirkan ke dalam mouthpiece. 1 Gambar 45: Penjarian nada “B ”. Gambar 46: 3 jenis gelombang vibrasi Gambar 47: Fingering chart Seni Musik Non Klasik 384
  • 392. DAFTAR NOTASI 1 Notasi 1: Notasi nada “B ” dan simbol penjariannya 1 Notasi 2: Contoh latihan pembentukan nada dengan nada “B ”. Notasi 3: gambar notasi dan fingering B, A, G dan C. 1 1 1 Notasi 4: latihan pembentukan nada dengan nada “B , A ,G . 1 Notasi 5: latihan pembentukan nada dengan nada “C ”. Notasi 6: Nada-nada pada Klarinet Yang menggunakan udara dingin. Notasi 7: Hasil nada yang ditiupkan dari mouthpiece alto Notasi 8-26: Kumpulan teknik dan etude Notasi 27-36: Buah musik Seni Musik Non Klasik 385
  • 393. BAB 9 DRUMS 1. MENGENAL DRUM Drum merupakan serangkaian alat musik perkusi dengan berbagai bentuk dan ukuran serta spesifikasi yang berbeda-beda dan tergabung menjadi satu rangkaian yang disebut Drum Set. Alat musik ini mempunyai andil yang sangat besar dalam kancah permusikan. Semua jenis irama musik yang berkembang saat ini, terbentuk dari variasi pukulan drum. Sebelum mempelajari cara dan teknik bermain drum, maka sebaiknya terlebih dahulu kita mengenal drum beserta bagian bagiannya. 1.1. Drum Akustik Disebut akustik karena sumber bunyi alat musik ini berasal dari bahan- bahan / materi dari alat itu sendiri tanpa menggunakan energi listrik. Gambar 1, Drum set akustik ( gambar: koleksi pribadi ) Seni Musik Non Klasik 386
  • 394. 1.2. Drum Elektrik Seiring dengan perkembangan teknologi, pada masa ini telah banyak diciptakan alat-alat musik elektrik antara lain piano elektrik, gitar elektrik, bass elektrik dan lain-lain. Dan ternyata drumpun tak ketinggalan pula telah diciptakan drum elektrik. Namun pada dasarnya cara memainkan serta teknik-teknik memainkannya adalah sama dengan cara dan teknik yang ada pada drum akustik, atau dengan kata lain berbasik pada teknik- teknik memainkan drum akustik. Drum elektrik ini meskipun dimainkan dengan cara dipukul, namun sumber bunyinya dihasilkan dari energi listrik. Fungsi dari bagian-bagian drum elektrik inipun sama dengan bagian-bagian pada drum akustik, hanya bentuk dan ukurannya saja yang berbeda. Perhatikanlah gambar dibawah ini. Gambar 2, Drum set elektrik ( koleksi pribadi ) 1.3. Bagian-bagian Drum Drum merupakan alat musik yang secara fisik mempunyai bagian yang terpisah, akan tetapi merupakan satu rangkaian yang disebut dengan istilah Drumset. Berikut ini akan dijelaskan bagian-bagian dari drum. Seni Musik Non Klasik 387
  • 395. 1.3.1. Snare Drum. Snare Drum merupakan salah satu bagian utama dari drum dan yang pa- ling sering dimainkan. Posisinya paling dekat dengan pemain. Diameter- nya biasanya berukuran 10-15 inci, tetapi yang sering digunakan adalah ukuran 14quot;. Yang membedakan antara snare drum dengan tom-tom adalah selain bentuknya lebih pendek, pada bagian bawahnya menggunakan kawat-kawat yang berbentuk spiral(snare wire). Jika anda pukul head atas snare drum maka snare wire dibawah segera merespon, dengan cara memukul kembali head bawah sehingga menghasilkan suara yang tajam. Maka dari itu, sebenarnya 'nyawa' dari snare drum terletak pada snare wirenya. Jika snare wirenya dilepas maka suara yang dihasilkan hampir sama dengan tom-tom Gambar 3, Snare Drum 1.3.2. Cymbal Cymbal merupakan salah satu bagian yang terpenting pada drum. Cymbal terbuat dari logam kuningan yang kualitas kekuatannya sudah terjamin dan warna suara yang dihasilkan sangat cocok untuk digunakan dalam bermain drum. Sebenarnya banyak sekali macam ragam jenis cymbal, tetapi secara garis besar terdapat tiga jenis cymbal yaitu: 1.3.2.1. Ride Cymbal Seni Musik Non Klasik 388
  • 396. Cymbal ini bentuknya besar, digunakan untuk pengganti/ variasi setelah hi-hat. Disebut juga medium cymbal,berukuran diameter kira-kira 20 “. Jenis cymbal ini memungkinkan untuk digunakan teknik pukulan top cymbal, ride cymbal dan cress cymbal. Gambar 4, Cress Cymbal ( Gambar: Cuplikan dari www.musicianfriend.com ) Gambar 5, Ride cymbal ( Gambar: Cuplikan dari www.musicianfriend.com ) 1.3.2.2. China Cymbal Cymbal ini bentuknya juga besar namun pada bagian pinggirnya menonjol. Berukuran sekitar 16”-18” dan terdiri dari dua pukulan yaitu: Ride cymbal dan Cress cymbal. Seni Musik Non Klasik 389
  • 397. Gambar 6, China Cymbal ( Gambar : ciplikan dari www.klinikdrum.com ) Gambar 7, China Cymbal dpasang gabung dg Cress Cymbal Gambar8, China Cymbal dpasang gabung dg Ride Cymbal ( Gambar : ciplikan dari www.klinikdrum.com ) 1.3.2.3. Flash Cymbal Bentuknya kecil, biasa digunakan untuk pukulan Cress. Berukuran diameter kira-kira 10”. Seni Musik Non Klasik 390
  • 398. Gambar 9, Flash Cymbal ( Gambar : cuplikan dari www.amazon.com-image:zildjian zxt flash cymbal ) 1.3.3. Hi-Hat Hi-hat merupakan bagian dari drum yang terdiri dari dua buah piringan yang saling berhadapan. Bahan sama dengan cymbal terbuat dari logam kuningan. Bunyi hi-hat diperoleh dari benturan kedua buah piringan dengan cara menginjak pedal hi-hat dibagian bawah. Lihat gambar dibawah ini. Gambar 10, Hi-Hat ( Gambar : cuplikan dari www.amazon.com-image:zildjian zxt flash cymbal ) Seni Musik Non Klasik 391
  • 399. Gambar 11, Hi-Hat lengkap dengan stand 1.3.4. Tom-Tom Tom-tom merupakan salah satu bagian utama dari drum. Tom-tom berbentuk seperti gendang. Tom-tom terdiri dari berbagai macam ukuran, diameternya mulai dari 6 -12 inci. Ukuran suatu drum biasnya ditulis 12x10 yang maksudnya adalah kedalamannya 12 inchi dan diameternya 10 inchi. Diameter tom-tom bervariasi, biasanya tom-tom paling kecil berdiameter 6quot;, dan berlanjut ke 8quot;, 10quot;, 12quot;, 13quot;, 14quot;, 15quot;, 16quot;, 18quot; dan 20quot;. Ukuran tom-tom 14quot; keatas dapat digolongkan sebagai floor tom-tom, tetapi tergantung dari peletakannya juga. Biasanya yang kecil disebut small tom-tom, dan yang paling besar disebut large tom-tom/ floor tom-tom. Tom-tom memiliki dua drumhead ( selaput gendang ), atas dan bawah. Badan tom-tom terbuat daru kayu yang biasa disebut Shell Seni Musik Non Klasik 392
  • 400. Gambar 12, Tom-tom 1 & Tom -tom 2 ( Gambar : Koleksi pribadi ) Large (Floor) Tom-tom Gambar 13, Large Tom-tom ( Gambar : Koleksi pribadi ) 1.3.5. Bass Drums. Bass drum merupakan alat seperti tom-tom, tetapi ukurannya lebih besar, bunyi suaranya lebih berat dan bernada paling rendah dibanding dengan alat drum yang lainnya. Kayu bass drum lebih kuat dan lebih tebal dibanding dengan tom-tom, karena untuk menghasilkan suara yang lebih keras dan lebih berat,serta untuk kekuatan bass drum itu sendiri. Bass drum mempunyai diameter yang lebih besar dari pada tom-tom, yaitu 16quot;, 18quot;, 20quot;, 22quot;, 24quot; dan bahkan 26quot; atau lebih Seni Musik Non Klasik 393
  • 401. Gambar 14, Bass Drum ( Gambar : koleksi pribadi ) Gambar 15, Posisi Bass Drum dengan Snare Drum ( Gambar : koleksi pribadi ) 1.3.6. Stick Drum Stick merupakan alat pemukul pada drum yang terbuat dari kayu. Stick terdiri dari dua buah dengan bentuk yang sama, satu dipegang tangan kanan dan satunya untuk tangan kiri. Seni Musik Non Klasik 394
  • 402. Gambar 16, Stick Drum ( Gambar : Koleksi Pribadi ) 2. POSISI TUBUH DALAM MEMAINKAN DRUM. Posisi tubuh yang tepat dan benar dalam memainkan drum sangat penting untuk diperhatikan agar setiap pemain tidak cepat lelah dan dapat menghasilkan suara yang baik. 2.1. Posisi Duduk Posisi yang baik dalam memainkan drum, yaitu dengan posisi badan duduk tegak lurus, kedua tangan memegang stick, kaki kiri menginjak pedal hi-hat dan kaki kanan menginjak pedal bass drum. Sikap badan relaks, jangkauan stick ke bagian-bagian drum tidak jauh sehingga tangan bisa dengan mudah dan leluasa untuk memukul bagian-bagian drum tersebut. Lihat gambar. Seni Musik Non Klasik 395
  • 403. Gambar 17, Posisi Duduk bermain drum ( Gambar : koleksi pribadi ) 2.2. Posisi Tangan dalam Memegang Stick Dalam memainkan alat musik drum,cara memegang stick dianggap suatu hal yang sederhana, namun sebenarnya memegang peranan yang sangat penting dalam penggunaannya,karena dalam memainkan alat musik ini sensor motorik pada tangan dan kaki sangat dominan. Cara memegang stick antara tangan kanan dan kiri berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kekuatan pukulan yang berbeda antara tangan kanan dan kiri, sehingga menghasilkan suara dengan variasi dan harmonisasi yang bagus. Posisi tangan dalam memegang stick secara terperinci dapat dipelajari seperti dibawah ini. 2.2.1. Memegang stick pada tangan kanan. Batang stick diletakkan / dijepit diantara jari telunjuk dan ibu jari (lihat gambar 18 ), kemudian tiga jari yang lain memegang batang stick bagian pangkal (lihat gambar 19 ). Seni Musik Non Klasik 396
  • 404. Gambar 18, stick dijepit diantara jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan ( gambar : kolesi pribadi ) Gambar 19, memegang stick pd tangan kanan ( gambar : kolesi pribadi ) 2.2.2. Memegang stick pada tangan kiri. Pangkal stick dijepit diantara ibu jari d jari telunjuk (lihat gambar 20 an ),kemudian jari tengah dan jari manis menjepit batang stick bagian dalam (lihat gambar 21 ). Seni Musik Non Klasik 397
  • 405. Gambar 20, stick dijepit diantara jari telunjk dan ibu jari tangan kiri ( gambar : koleksi pribadi ) Gambar 21, jari tengah dan jari manis tangan kiri menjepit batang stick bagian dalam. ( gambar : koleksi pribadi ) 3. NOTASI PADA DRUM Penulisan notasi drums berbeda dengan penulisan notasi pada alat musik yang lain. Hal ini disebabkab karena drums merupakan alat musik percusi yang tidak bernada, sehingga penulisan not pada garis paranada bukan berdasar pada tinggi rendahnya nada melainkan berdasa pada jenis alat musiknya. Perhatikan gambar dibawah ini. Seni Musik Non Klasik 398
  • 406. Notasi 1, letak penulisan notasi drum pada garis paranada • : tanda ini juga digunakan dalam penulisan notasi hi-hat (sock cymbal).,namun pada hi-hat terdapat kode “o” untuk pukulan terbuka dan kode “c”untuk pukulan tertutup. Lihat gambar dibawah o = open (terbuka) c = close (tertutup) ( Notasi 2, bentuk dan letak not untuk cymbal Selain penulisan not, masih banyak atribut-atribut lain yang dituliskan sebagai tanda dengan berbagai macam fungsi dalam penulisan notasi drums,antara lain : tanda istirahat/ diam, tempo, tanda aksen, dan tanda aturan dalam bermain drums. Seni Musik Non Klasik 399
  • 407. 3.1. Tanda Aksen Aksen adalah ketukan/ tekanan kuat pada suatu not. Penulisan aksen dalam notasi drums adalah ditandai dengan tanda ( ), yang terletakkan diatas not. Jadi pukulan not yang beraksen adalah pukulan pada not yang ditandai dengan tanda ( ) diatasnya. Contoh : a. b. c. d. Notasi 3, tanda aksen pada not 3.2. Tanda aturan dalam bermain Drums Selain tanda aksen, tempo, dan penulisan not seperti diatas,masih banyak tanda-tanda aturan lain yang perlu dituliskan dalam notasi penulisan drums. Tanda-tanda/ atribut tersebut antara lain adalah: • R : Right Hand, memukul dengan tangan kanan • L : Left Hand, memukul dengan tangan kiri Seni Musik Non Klasik 400
  • 408. • : dimainkan Rim-Shot pada snare drums • : Bar yang ke-5 (dimainkan) nomor urut baru. • : mainkan 5 bar seperti dimuka. • : Variasi pada sebuah not lagu. Notasi 4, Bentuk-bentuk tanda aturan bermain drum 4. TEKNIK MEMUKUL Jenis pukulan pada alat musik drum sangatlah bermacam-macam model dan tekniknya. Misalnya teknik dalam memukul snare drums berbeda dengan teknik memukul pada hi-hat, dan berbeda pula pada bass. Marilah kita urai satu persatu bagaimana cara atau teknik memukul drums. 4.1. Teknik memukul pada Snare Drums Dalam bermain drums,bunyi yang didominasi oleh snare drums harus terdengar lebih keras dan tegas dari suara yang lain. Bila diambil angka perbandingan, maka perbandingan 1: 6 dari suara yang lainnya. Dalam memainkan snare drum dikenal beberapa teknik dalam memukulnya,yaitu : Seni Musik Non Klasik 401
  • 409. 4.1.1. Pukulan Biasa Teknik ini dilakukan dengan cara memukul snare drum dengan tangan kanan dan tangan kiri secara bergantian. Lihat gambar. Gambar 22, pukulan tangan kanan dan kiri secara bergantian ( Gambar : koleksi pribadi ) Gambar 23, pukulan tangan kanan dan kiri secara bergantian ( Gambar : koleksi pribadi ) 4.1.2. Open Rim-Shot Teknik ini dilakukan dengan cara tangan kiri memukul snare drum pada bibir snare drum (bagian pinggiran / ring snare drum), bukan pada Seni Musik Non Klasik 402
  • 410. membrannya. Untuk memukulnya, seperempat bagian stik harus melewati bibir/ pinggiran snare drum. Lihat gambar dibawah ini. Gambar 24, pukulan open rim shot, sasaran pukulan pada bibir snare drum ( Gambar : koleksi pribadi ) Gambar 25, pukulan open rim shot ( Gambar : koleksi pribadi ) Seni Musik Non Klasik 403
  • 411. Gambar 26, Pukulan Open Rim -Shot ( Gambar : koleksi pribadi ) 4.1.3. Close Rim-Shot Teknik ini dilakukan dengan cara memukul snare drum dalam posisi memegang stik rata dengan snare drum. Cara memegang stiknya adalah biasa (pada umumnya). Lihat gambar dibawah ini. Gambar 27, pukulan close rim -shot, stick sejajar dengan snare drum Seni Musik Non Klasik 404
  • 412. ( Gambar : koleksi pribadi ) Gambar 28, pukulan close rim -shot ( Gambar : koleksi pribadi ) 4.1.4. Stick on stick Stick on stick artinya suara yang dihasilkan melalui stick dengan menggunakan media snare drum. Teknik ini dilakukan dengan cara; ujung stick pada tangan kiri diletakkan diatas membrane snare drum, kemudian stick pada tangan kanan dipukulkan secara bersilang ke stick di tangan kiri, lalu digeser kearah ujung stick di tangan kiri. Lihat gambar dibawah ini. Gambar 29, pukulan stick on stick Seni Musik Non Klasik 405
  • 413. ( Gambar : koleksi pribadi ) Gambar 30, pukulan stick on stick ( Gambar : koleksi pribadi ) Gambar 31, pukulan stick on stick ( Gambar : koleksi pribadi ) Seni Musik Non Klasik 406
  • 414. 4.1.5. Open stick Open stick adalah pukulan dengan stick bersilangan yang menghasilkan suara dari stick itu sendiri. Teknik ini dilakukan dengan cara; stick di tangan kanan saling dipukulkan dengan stick pada tangan kiri secara bersilang, lihat gambar dibawah. Gambar 32, pukulan open stick ( Gambar : koleksi pribadi ) Seni Musik Non Klasik 407
  • 415. Gambar 33, pukulan open stick ( Gambar : koleksi pribadi 4.2. Teknik memukul pada Cymbal Teknik memukul cymbal sangat penting karena untuk menghasilkan suara yang benar-benar bagus dan beragam pada cymbal. Teknik memukul cymbal pada dasarnya terbagi atas tiga bagian pukulan yaitu: 4.2.1. Top Cymbal Teknik memukul yang dititik beratkan pada bagian pusat cymbal (center),lihat gambar Seni Musik Non Klasik 408
  • 416. Gambar 34, pukulan top cymbal ( Gambar : koleksi pribadi ) 4.2.2. Ride Cymbal Teknik memukul yang dititik beratkan pada bagian dalam cymbal,lihat gambar Gambar 35, pukulan ride cymbal ( Gambar : koleksi pribadi ) 4.2.3. Cress Cymbal Teknik memukul yang dititik beratkan pada bagian bibir cymbal,lihat gambar Seni Musik Non Klasik 409
  • 417. Gambar 36, pukulan cress cymbal ( Gambar : koleksi pribadi ) 4.3. Teknik memukul pada Hi-Hat Didalam memainkan hi-hat perlu kiranya diperhatikan tentang dua hal, yang pertama adalah tentang teknik pukulan pada hi-hat dan yang kedua adalah tentang teknik memainkan hi-hat. Kedua teknik ini berbeda dalam perlakuannya namun dalam penggunaannya sangatlah erat karena menjadi satu rangkaian perpaduan dalam memainkan hi-hat. 4.3.1. Teknik pukulan pada Hi-Hat 4.3.1.1. Top Hi-Hat, yaitu teknik memukul Hi-Hat dengan cara memukulkan ujung stik pada bagian central Hi-hat. Hal ini dimaksudkan agar suara yang dihasilkan terdengar lebih berat. Perhatikan gambar dibawah ini. Gambar 37, pukulan top hi-hat ( Gambar : koleksi pribadi ) Seni Musik Non Klasik 410
  • 418. 4.3.1.2. Ride Hi-hat yaitu teknik memukul Hi-Hat dengan cara memukulkan ujung stik pada bagian dalam Hi-hat. Hal ini dimaksudkan agar suara yang dihasilkan terdengar lebih lembut. Perhatikan gambar dibawah ini. Gambar 38, pukulan ride hi-hat ( Gambar : koleksi pribadi ) 4.3.1.3. Cress Hi-Hat yaitu teknik memukul Hi-Hat dengan cara memukulkan ujung stik pada bagian bibir Hi-hat. Hal juga ini dimaksudkan agar suara yang dihasilkan terdengar lebih ringan. Perhatikan gambar dibawah ini. Gambar 39, pukulan cress hi-hat ( Gambar : koleksi pribadi ) Selain teknik memukul seperti diatas, masih terdapat pula teknik dalam memainkan Hi-hat, yaitu : Seni Musik Non Klasik 411
  • 419. 4.3.2. Teknik Memainkan Hi-Hat 4.3.2.I. Open Hi-Hat, yaitu hi-hat dipukul dalam kondisi membuka. Teknik memainkannya dengan cara meletakkan kaki kiri pada pedal hi-hat kemudian menekannya dan bersamaan dengan memukul hi-hat. Perhatikan gambar dibawah ini. Gambar 40, pukulan open hi-hat, kedua piringan hi-hat saling membuka. ( Gambar : koleksi pribadi ) Gambar 41, pukulan open hi-hat, kaki bertumpu pada pedal dan tidak menekan kebawah. ( Gambar : koleksi pribadi ) Seni Musik Non Klasik 412
  • 420. 4.3.2.2. Close Hi-Hat yaitu hi-hat dipukul dalam kondisi menutup. Teknik memainkannya dengan cara meletakkan kaki kiri pada pedal sebagai tumpuan dan tanpa menekannya pukul hi-hat yang dalam posisi menutup. Perhatikan gambar dibawah ini. Gambar 42, pukulan close hi-hat, kedua piringan Hi-hat saling mengatup rapat ( Gambar : koleksi pribadi ) Gambar 43, Kaki menekan kebawah ( Gambar : koleksi pribadi ) Seni Musik Non Klasik 413
  • 421. 4.4. Teknik memukul pada Bass Drums Teknik memukul pada bass drum berbeda dengan teknik memukul pada alat yang lain. Perbedaan yang sangat mencolok adalah bahwa bass drum dipukul tidak dengan menggunakan tangan seperti halnya alat-alat yang lain akan tetapi menggunakan kaki. Teknik memukulnya dilakukan dengan cara telapak kaki menekan / memijak handel (alat pemukul bass drum) kebawah. Lihat gambar dibawah ini. Gambar 44, teknik memukul pada bass (gambar : koleksi pribadi ) Gambar 45, teknik memukul pada bass (gambar : koleksi pribadi ) Seni Musik Non Klasik 414
  • 422. 5. Teknik Memainkan Drum Telah diuraikan diatas tentang bagian-bagian drums, teknik memegang stick maupun teknik memukulnya dan lain-lain.Untuk memainkan drums secara kompleks, maka terlebih dahulu kita harus berlatih melalui tahapan-tahapan berikut ini. 5.1. Latihan Dasar Latihan dasar berguna untuk membiasakan pemain dalam membaca tanda dan notasi drum, serta untuk melatih gerakan tangan dan kaki. Latihan ini terdiri dari beberapa macam antara lain: Latihan dasar dengan snare drum, latihan dasar snare drum dengan bass drum, latihan tanda berhenti, latihan variasi, latihan irama dan variasinya, serta latihan aksen. Latihan dasar dengan snare drum berguna untuk melatih kecepatan gerakan tangan kanan dan kiri serta mendeteksi pukulan tangan yng dimainkan. Latihan tanda berhenti berguna agar pemain mengetahui saat-saat suatu alat dimainkan atau tidak dimainkan dan untuk mengetahui kecepatan pukulan. Latihan variasi berguna untuk membuat variasi kecepatan pukulan/ bunyi. Latihan irama dan variasinya berguna untuk melatih bermain ketukan/ hitungan, dan latihan aksen berguna untuk melatih variasi bunyi. 5.1.1. Latihan Dasar dengan Snare Drums Latihan 1 Seni Musik Non Klasik 415
  • 423. Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Latihan 5 Latihan 6 Latihan 7 Latihan 8 Latihan 9 Seni Musik Non Klasik 416
  • 424. Latihan 10 Latihan 11 Latihan 12 Latihan 13 Latihan 14 Latihan 15 Latihan 16 Latihan 17 Seni Musik Non Klasik 417
  • 425. Latihan 18 Latihan 19 Latihan 20 Latihan 21 Latihan 22 Latihan 23 Latihan 24 Latihan 25 Seni Musik Non Klasik 418
  • 426. Latihan 26 Latihan 27 Notasi 4, Latihan Dasar dengan Snare Drum 5.1.2 Latihan Dasar Snare Drums dengan Bass Drum Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Seni Musik Non Klasik 419
  • 427. Latihan 5 Latihan 6 Latihan 7 Latihan 8 Latihan 9 Latihan 10 Latihan 11 Seni Musik Non Klasik 420
  • 428. Latihan 12 Latihan 13 Latihan 14 Latihan 15 Latihan 16 Latihan 17 Latihan 18 Seni Musik Non Klasik 421
  • 429. Latihan 19 Latihan 20 Latihan 21 Latihan 22 Latihan 23 Latihan 24 Latihan 25 Seni Musik Non Klasik 422
  • 430. Latihan 26 Notasi 5, Latihan Dasar Snare Drum dengan Bass Drum 5.1.3. Latihan Dasar Hi-hat dan Bass Drum Latihan pola dasar Notasi 6, pola dasar untuk Latihan Dasar Hi-hat dan Bass Drum Latihan 1. Latihan 2 Latihan 3. Seni Musik Non Klasik 423
  • 431. Latihan 4 Latihan 5 Notasi 7, Latihan Dasar Hi-hat dan Bass Drum 5.1.4. Latihan Dasar Hi-hat, Snare Drum dan Bass Drum Latihan Pola Dasar Notasi 8, pola dasar untuk Latihan Dasar Hi-hat, Snare Drum dan Bass Drum Latihan 1 La tihan 2 Seni Musik Non Klasik 424
  • 432. Latihan 3 Latihan 4 Latihan 5 Latihan 6 Notasi 9, Latihan Dasar Hi-hat, Snare Drum dan Bass Drum 5.1.5. Latihan Tanda Berhenti Latihan tanda berhenti ini bisa dikategorikan sesuai dengan kelompok harga notnya, antara lain adalah : 5.1.5.1. latihan tanda berhenti pada not seperempat (1/4) Latihan 1 Seni Musik Non Klasik 425
  • 433. Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 10. latihan tanda berhenti pada not seperempat (1/4) 5.1.5.2. latihan tanda berhenti pada not seperdelapan (1/8) Latihan 5 Latihan 6 Seni Musik Non Klasik 426
  • 434. Latihan 7 Latihan 8 Notasi 11, latihan tanda berhenti pada not seperdelapan (1/8) 5.1.5.3. latihan tanda diam pada not seperenambelas (1/16) Latihan 9 Latihan 10 Latihan 11 Latihan 12 Notasi 12, latihan tanda berhenti pada not seperenambelas (16). Seni Musik Non Klasik 427
  • 435. 5.2. Latihan Variasi Bermacam macam variasi bisa dilatih untuk masing-masing unit drum, misalnya : 5.2.1. latihan variasi pada bass drum Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 13, latihan variasi pada bass drum 5.2.2. latihan variasi pada hi-hat Latihan 1 Latihan 2 Seni Musik Non Klasik 428
  • 436. Latihan 3 Latihan 4 Latihan 5 Notasi 14, latihan variasi pada hi-hat 5.2.3. latihan variasi pada cymbal Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Seni Musik Non Klasik 429
  • 437. Latihan 5 Notasi 15, latihan variasi pada cymbal 5.3. Latihan Irama dan Variasinya. Latihan 1 Latihan 2 Seni Musik Non Klasik 430
  • 438. Latihan 3 Latihan 4 Notasi 16, Latihan Irama dan Variasinya. 5.4. Latihan Aksen Latihan aksen ini bisa dikategorikan sesuai dengan kelompok harga notnya, antara lain adalah 5.4.1. latihan aksen pada not ¼ (seperempat) Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Seni Musik Non Klasik 431
  • 439. Latihan 4 Notasi 17, latihan aksen pada not ¼ (seperempat) 5.4.2. Latihan aksen pada not 1/8 Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 18, Latihan aksen pada not 1/8 Seni Musik Non Klasik 432
  • 440. 5.4.3. Latihan Aksen pada Not 1/16 Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 19, Latihan Aksen pada Not 1/16 5.4.4. Latihan Aksen pada Not Gabungan Latihan 1 Seni Musik Non Klasik 433
  • 441. Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 20, Latihan Aksen pada Not Gabungan 6. BERMAIN SOLO DRUM Setelah mempelajari latihan-latihan dasar, selanjutnya akan diperkenalkan pada tingkat ”Bermain Solo Drum”. Disini ditekankan agar pemain dapat memainkan semua bagian drum dengan baik. Karena, permainan solo drum ini merupakan perpaduan bunyi dari semua bagian- bagian drum, sehingga akan menghasilkan suara yang bervariasi. Pada bagian ini akan anda pelajari teknik-teknik dan latihan dalam bermain solo drum. 6.1. Improvisasi Improvisasi adalah sebuah permainan pada sebuah not (bar) dengan variasi yang anda buat sensiri tanpa mengubah bentuk dasar ritme/ temponya. Contoh: Seni Musik Non Klasik 434
  • 442. Notasi 21, contoh improvisasi Pola ritmenya seperti berikut. Notasi 22, pola ritme improvisasi 6.2. Latihan Variasi Solo Drum. 6.2.1. Variasi solo drum pada birama 1/4 Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Seni Musik Non Klasik 435
  • 443. Latihan 4 Notasi 23, latihan variasi solo drum pada birama 1/4 6.2.2. Variasi solo drum pada birama 1/8 Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 24, latihan variasi solo drum pada birama 1/8 Seni Musik Non Klasik 436
  • 444. 6.2.3. Variasi solo drum pada birama 1/16 Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 25, latihan variasi solo drum pada birama 1/16 6.3. Latihan Notasi. 6.3.1. Latihan notasi.pada birama ¼ Latihan 1 Seni Musik Non Klasik 437
  • 445. Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 26, Latihan notasi.pada birama ¼ 6.3.2. Latihan notasi.pada birama 1/8 Latihan 1 Latihan 2 Seni Musik Non Klasik 438
  • 446. Latihan 3 Latihan 4 Notasi 27. latihan notasi.pada birama 1/8 6.3.3. Latihan notasi.pada birama 1/16. Latihan 1. Latihan 2 Latihan 3 Seni Musik Non Klasik 439
  • 447. Notasi 28, Latihan notasi.pada birama 1/16 6.4. Latihan Pukulan. Untuk menghasilkan suara yang benar-benar mantap, maka diperlukan latihan pukulan yang cukup matang. Karena penguasaan teknik memukul dalam bermain drum merupakan kunci keberhasilan dalam belajar bermain drum. Dibawah ini adalah latihan pukulan, jenis pukulan serta teknik pukulan yang perlu dilatih untuk memantapkan pukulan. 6.4.1. Pukulan pada tangan kanan Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 29, latihan pukulan pada tangan kanan Seni Musik Non Klasik 440
  • 448. 6.4.2. Pukulan pada tangan kiri. Pukulan ini ditandai dengan huruf “L” diatas not Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 30, pukulan pada tangan kiri 6.4.3. Jenis-jenis pukulan Dasar ( Pukulan Rudymen ) 6.4.3.1. Single Stroke Notasi 31, pukulan single stroke Seni Musik Non Klasik 441
  • 449. 6.4.3.2. Double Stroke Notasi 32, pukulan double stroke 6.4.3.3. Single Paradiddle Notasi 33, pukulan single paradiddle 6.4.3.4. Double Paradiddle Notasi 34, Double Paradiddle 6.4.4. Teknik Pukulan. 6.4.4.1. Flame Adalah teknik dua pukulan yang hampir bersamaan suaranya, yaitu not kecil yang dimainkan pukulannya lebih lemah (lebih pelan) dan pada not aslinya lebih keras dan tegas. Perhatikan notasi dibawah ini. Seni Musik Non Klasik 442
  • 450. : Tangan kanan memukul lemah, tangan kiri memukul keras (Left Flam) : Tangan kiri memukul lemah, tangan kanan memukul keras (Right Flam) Notasi 35, pukulan flame Flame bisa dimainkan / divariasikan pada snare drum, tom-tom, large tom-tom, hi-hat dan cymbal. Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 36, latihan pukulan Flame Seni Musik Non Klasik 443
  • 451. Masih banyak sekali bentuk-bentuk latihan flame ini,anda bisa mengembangkan sendiri. 6.4.4.2. Drag Adalah teknik pukulan dimana dua not yang mengikuti aslinya dipukul lemah (pelan),sedangkan not aslinya dipukul / dimainkan keras dan tegas. Perhatikan notasi dibawah ini. : Pukulan lemah dua kali pada tangan kanan diikuti pukulan keras pada tangan kiri : Pukulan lemah dua kali pada tangan kiri diikuti pukulan keras pada tangan kanan. Notasi 37, pukulan Drag Latihan pukulam drag ini bisa anda latih serupa pada pukulan flame. Silakan anda latih dan dikembangkan sendiri. 6.4.4..3. Ruff Adalah teknik pukulan dimana terdapat tiga not kecil yang berada didepan not aslinya dipukul / dimainkan pelan, sedangkan not aslinya dimainkan keras dan tegas. Perhatikan notasi berikut. Seni Musik Non Klasik 444
  • 452. Tiga not yang dipukul lemah biasanya dimainkan dengan dua tangan. Contoh Notasi 38, pukulan Ruff 6.4.5. Variasi Pukulan pada Snare dan Bass Drum. Bass drum pun bisa dimainkan dengan variasi seperti halnya snare drum. Perhatikan contoh dibawah ini. Notasi 39, contoh variasi pukulan pada Snare dan Bass Drum Apabila anda latihan dengan menggunakan double pedal (kiri dan kanan), maka anda bisa melakukan latihan seperti dibawah ini. Notasi 40, contoh variasi pukulan pada Snare dan Bass Drum dengan double pedal 6.4.6. Variasi Pukulan pada Hi-hat atau Cymbal Latihan 1 (Pukulan pada Cymbal) Seni Musik Non Klasik 445
  • 453. Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Latihan 5 (Pukulan pada Hi-hat) Latihan 6 (Pukulan pada Hi-hat) Notasi 41, latihan variasi pukulan pada Hi-hat atau Cymbal Seni Musik Non Klasik 446
  • 454. 6.5. Triol/ Triplet. Triol/Triple adalah sebuah pukulan ganda tiga dalam birama 4/4, setiap ketukannya terdapat tiga buah not yang masing-masing bernilai 1/4. perhatikan cotoh berikut ini. Notasi 42, contoh pukulan Triol/ Triplet 6.5.1. Latihan Aksen pada Triol/Trplet Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Seni Musik Non Klasik 447
  • 455. Latihan 4 Notasi 43, latihan aksen pada Triol/Trplet 6.5.2. Latihan Triol pada Cymbal Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 3 Notasi 44, latihan Triol pada Cymbal Seni Musik Non Klasik 448
  • 456. 6.6. Fill-In Fill-in merupakan pukulan variasi untuk mengisi kekosongan sebagai suatu sisipan dalam lagu keberadaan fill-in ini akan menambah suasana lagu menjadi lebih hidup. Bentuk-bentuk fill-in bermacam macam, hal ini juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan keterampilan dari si pemain juga. Namun sebagai acuan dalam berlatih maka bentuk-bentuk fill-in dibawah ini bisa anda pelajari dan selanjutnya silahkan anda kembangkan sesuai dengan kemampuan anda. 6.6.1. Pola Dasar A Notasi 45, pola dasar A pada Fill-il-n Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Seni Musik Non Klasik 449
  • 457. Latihan 4 Latihan 5 Latihan 6 Latihan 7 Latihan 8 Notasi 46, latihan fill-in pada pola dasar A 6.6.2. Pola Dasar B Notasi 47, contoh fill-in pada pola dasar B Seni Musik Non Klasik 450
  • 458. Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Latihan 5 Latihan 6 Seni Musik Non Klasik 451
  • 459. Latihan 7 Latihan 8 Notasi 48, latihan fill-in pada pola dasar B 7. Pengenalan Gaya Perkembangan musik dewasa ini amatlah pesat, sehingga banyak tercipta irama-irama musik yang beraneka ragam bentuk serta pola ritmenya. Sebagai seorang pemain drum amatlah penting mengenal dan bahkan mempelajari irama-irama musik yang ada. Dalam buku ini disajikan beberapa jenis irama yang sudah sangat dikenal. 7.I. Irama 8 Beat pola dasar Notasi 49, pola dasar 8 beat Seni Musik Non Klasik 452
  • 460. 7.2. Irama 12 Beat Pola Dasar Notasi 50, pola dasar 12 beat Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Seni Musik Non Klasik 453
  • 461. Latihan 4 Notasi 51, latihan style 12 beat 7.3. Irama 16 Beat Pola Dasar Notas i 52, pola dasar 16 beat. Latihan 1 Seni Musik Non Klasik 454
  • 462. Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 53, latihan style 16 beat 7.4. Irama 6/8 Pola Dasar Notasi 54, pola dasar irama 6/8 Seni Musik Non Klasik 455
  • 463. Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 55, latihan irama 6/8 7.5. Irama Bossanova Pola Dasar Notasi 56, pola dasar irama Bossanova Seni Musik Non Klasik 456
  • 464. Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Latihan 4 Notasi 57, latihan irama Bossanova 7.6. Irama Cha-cha Pola Dasar Seni Musik Non Klasik 457
  • 465. Notasi 58, pola dasar irama Cha-Cha 7.7. Irama Samba 1 Pola Dasar Notasi 59, pola dasar irama Samba 1 Latihan 1 Latihan 2 Latihan 3 Notasi 60, latihan irama Samba 1 Seni Musik Non Klasik 458
  • 466. 7.8. Irama Waltz Pola Dasar Notasi 61, pola dasar irama Waltz 7.9. Irama Keroncong Pola Dasar Notasi 62, pola dasar iram a Keroncong 7.10. Irama Dangdut. Pola Dasar Seni Musik Non Klasik 459
  • 467. Notasi 63, pola dasar irama Dangdut 8. ETUDE Etude adalah komposisi musik yang dipersiapkan dengan tujuan untuk melatih keterampilan permainan alat musik.. Dalam permainan etude ini sudah merupakan rangkaian dari beberapa teknik. Dibawah ini disajikan beberapa etude untuk anda pelajari. Etude 1. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 64, Etude 1 Seni Musik Non Klasik 460
  • 468. Etude 2. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 65, Etude 2 Etude 3. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 66, Etude 3 Etude 4. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 67, Etude 4 Seni Musik Non Klasik 461
  • 469. Etude 5. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 68, Etude 5 Etude 6. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 69, Etude 6 Etude 7. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 70, Etude 7 Seni Musik Non Klasik 462
  • 470. Etude 8. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 71, Etude 8 Etude 9. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 72 , Etude 9 Seni Musik Non Klasik 463
  • 471. Etude 10. (Etude dengan Snare Drum) Notasi 73, Etude 10 Etude 11. (Etude dengan Snare Drum) Seni Musik Non Klasik 464
  • 472. Notasi 74, Etude 11 Etude 12. (Etude dalam irama bossanova) Seni Musik Non Klasik 465
  • 473. Notasi 75, Etude 12 Etude 13. (Etude dalam irama 8 Beat) Notasi 76, Etude 13 Seni Musik Non Klasik 466
  • 474. Etude 14. (Etude dalam irama 16 Beat ) Notasi 77, Etude 14 Etude 15. (Etude dalam irama Samba) Seni Musik Non Klasik 467
  • 475. Notasi 78, Etude 15 Etude 16. ( Etude dalam irama 12/8 ) Seni Musik Non Klasik 468
  • 476. Notasi 79,Etude 16 Seni Musik Non Klasik 469
  • 477. Etude 17. ( Etude dalam irama Waltz ) Notasi 80, Etude 17 Seni Musik Non Klasik 470
  • 478. 9. BUAH MUSIK 9.1. Irama 8 Beat. Seni Musik Non Klasik 471
  • 479. Notasi 81, Buah Musik 1, Irama 8 Beat. “Mimpi Sedih” Seni Musik Non Klasik 472
  • 480. 9.2. Keroncong Seni Musik Non Klasik 473
  • 481. Notasi 82, Buah Musik 2, Irama Keroncong. “Bengawan Solo “ 9.3.Bossanova Seni Musik Non Klasik 474
  • 482. Seni Musik Non Klasik 475
  • 483. Notasi 83, Buah Musik 3, Irama Bossanova. “Pasrah “ 9.4. Dangdut Seni Musik Non Klasik 476
  • 484. Seni Musik Non Klasik 477
  • 485. Seni Musik Non Klasik 478
  • 486. Notasi 84, Buah Musik 4, Irama Dangdut. “Miasantika “ Seni Musik Non Klasik 479
  • 487. BAB 10 Dasar-dasar M I D I MIDI (Musical Instrument Digital Interface) merupakan teknologi yang memungkinkan adanya komunikasi antar instrumen musik elektronik (pada umumnya adalah instrumen musik keyboard), yakni sebuah instrumen musik mampu mengendalikan instrumen musik yang lain. Konsep kerja MIDI pada instrumen keyboard tidak ubahnya seperti sebuah komputer. Personal Computer (PC) yang kita kenal terdiri dari CPU, monitor, dan keyboard controller yang masing-masing terpisah dan mempunyai fungsi tersendiri. Keyboard controller berfungsi untuk mengendalikan apa saja yang diinginkan pengguna komputer, CPU sebagai “otak” komputer yang menerima perintah dari keyboard controller, sedangkan layar monitor untuk memonitor segala hasil kerjaan yang telah dilakukan pengguna komputer. Gambar 156. Personal Komputer (PC) Ibarat sebuah komputer, instrumen keyboard digital terdiri dari controller (berupa tuts), sumber bunyi (sound modul/ generatorl), dan amplifier, sebagai penguat sumber suara, dan speaker sebagai monitor bunyi. Bentuk fisik ketiganya bisa terpisah seperti pada komputer ataupun menjadi satu dalam satu unit instrumen keyboard. Melalui jack MIDI ketiga instrumen yang terpisah tersebut dapat berkomunikasi. Seni Musik Non Klasik 480
  • 488. Controller/ keyboard Sound Modul/ Tone Generator Amplifier Loud Speaker Loud Speaker Gambar 157. Susunan Peralatan pada Keyboard Gambar di atas menerangkan bahwa ketika tuts yang terdapat pada controller di tekan akan menghasilkan sebuah perintah kepada sound modul/ generator untuk memproduksi siknyal suara. Kemudian s iknyal suara tersebut diperkuat agar terdengar lebih keras oleh amplifier yang bermuara pada Loud Speaker yang biasanya disajikan secara stereo. Seni Musik Non Klasik 481
  • 489. Pada perkembangannya sebuah instrumen musik keyboard (khususnya jenis keyboard accompaniment) sudah terdiri dari sound modul, amplifier, loud speaker, dan tentu saja controller. Controller/ keyboard+Sound modul+Amplifier+Speaker Gambar 158. Keyboard Accompaniment Gambar 159. keyboard accompaniment Contoh gambar Controller: Gamba 160. Controller 1 Gamba 161. Controller 2 Seni Musik Non Klasik 482
  • 490. Gambar 162. Controller Tiup Contoh Sound module: Gambar 163. Sound module Seni Musik Non Klasik 483
  • 491. Gambar 164. Sound module Gitar dan perlengkapannya Dengan menggunakan kabel MIDI, antar keyboard dengan penghasil suara akan berkomunikasi/ berhubungan. Ujud komunikasi berupa perintah/ pesan MIDI yang dikirim dari suatu alat ke alat yang lain. Jadi MIDI itu sendiri tidak ada suaranya MIDI CONNECTION KEYBOARD A (Controller) Midi Out Midi Out In KEYBOARD B (Sound module) Seni Musik Non Klasik 484
  • 492. Keterangan: Keyboard A berperan sebagai Controller terhadap keyboard B. Dan key-board B berperan sebagai sound module. Sehingga ketika tuts pada keyboard A ditekan, maka suara yang keluar ada pada keyboard B sesuai nada yang dimainkan pada keyboard A. Sedangkan hal yang sebaliknya bisa dilihat pada gambar dibawah ini. KEYBOARD A (Sound module) Midi In Out Midi Out In KEYBOARD B (Controller) Gambar 166.Bagan koneksi MIDI Seni Musik Non Klasik 485
  • 493. BAB XI Menulis Notasi Dengan Encore Encore adalah program aplikasi komputer untuk menulis atau membuat tulisan atau notasi musik yang lebih dikenal sebagai notasi balok. Prinsip penggunaan program ini pada dasarnya sama dengan aplikasi yang lain, misalnya pengolah kata MS Word, pengolah angka Excel, dan lain-lain. Pada program-program tersebut data yang diolah berupa data digital. Demikian juga Encore mengolah data digital. Data pada program aplikasi encore dapat dilihat sekaligus dapat didengarkan. Jadi dapat dikatakan data pada encore adalah audio visual, sehingga dapat digunakan untuk membantu pembelajaran musik. Disamping dapat melihat notasinya, suara dari notasi yang tertulis dapat pula didengarkan, melalui fasilitas loud speaker dari PC yang terhubung ke sound card. Warna suara atau instrumen musik yang menyuarakan notasi dapat dipilih melalui staff sheet. Namun demikian bukan berarti bahwa encore adalah program pengolah suara, karena suara yang dihasilkan adalah data perintah yang dikirimkan dalam format MIDI (Musical Instrumen Digital Interface). Program pengolah suara ada tersendiri misalnya Sound Force, Cool Edit, Cubase dan lain-lain. Poin dasar yang perlu dipahami 1. Membuka – menutup program/soft ware encore. 2. Membuka file baru, menyimpan, membuka file lama. 3. Praktek menulis, ditentukan lagunya diberi teks, kemudian diterangkan alurnya. Diantaranya: • Membuat single staff. • Menulis judul lagu, komposer, arransemen dll. • Menentukan tanda mula. • Menentukan tanda birama. • Cara menulis notasi dalam encore. • Menambah mengurangi birama. Seni Musik Non Klasik 486
  • 494. • Kasus-kasus lain sesuai kebutuhan waktu menuliskan lagu. 4. Mencetak dokumen. Membuka Program Encore § Arahkan cursor anda pada gambar (short cut) program software Encore seperti yang tertera pada gambar di bawah ini: § Klik dua kali (cepat) apabila short cut tersebut terletak pada layar lebar (screen) monitor. § Klik satu kali apabila short cut tersebut terletak pada baris yang terletak pada bagian bawah layar (screen) monitor. Seni Musik Non Klasik 487
  • 495. Perbesar Gambar (Maximize) § Tutup (close) gambar keyboard dengan cara klik pada sudut kiri atas gambar keyboard. § Perbesar (maximize) format software encore dengan cara klik pada setiap gambar yang terletak pada sudut kanan atas. Format Garis Paranada § Klik menu “File” yang terletak di sudut kiri atas. § Pilih ”New”, sehingga akan keluar gambar seperti yang tertera di bawah ini: Seni Musik Non Klasik 488
  • 496. Keterangan : § Piano : untuk membuat paranada format piano. § Single staves untuk membuat paranada format tunggal. § Piano-vocal untukmembuat paranada format piano dan vocal § Staves per system untuk menentukan jumlah paranada dalam satu kesatuan baris § System per page untuk menentukan jumlah baris paranada dalam satu halaman. § Measure per system untuk menentukan jumlah birama dalam satu baris paranada. Menulis Judul Lagu § Klik “Score”, lalu pilih/ klik “Text Elements”, maka akan terlihat gambar sebagai berikut: Seni Musik Non Klasik 489
  • 497. § Score Title untuk menulis judul lagu. § Instruction (left title) untuk informasi yang diperlukan. § Composer (right title) untuk menulis nama komponis. Menentukan Tanda Kunci Garis paranada secara otomatis akan tertera tanda kunci G. Untuk menentukan tanda kunci, klik kata “Notes” sehingga berganti dengan kata “Clef”. Perhatikan gambar di bawah ini: Tanda kunci dapat diganti sesuai yang dikehendaki dengan cara klik gambar tanda kunci yang dimaksud, sehingga cursor akan bergambar tanda kunci yang telah dipilih. Geser cursor dan klik pada tempat di mana tanda kunci tersebut diletakkan. Menentukan Tanda Sukat Pilih Measures, kemudian pilih dengan cara klik “Time Signature” sehingga akan muncul “Set Time Signature” yang berisi berbagai pilihan birama. Perhatikan gambar berikut: Seni Musik Non Klasik 490
  • 498. Pilih tanda sukat yang dikehendaki, apabila dikehendaki tanda sukat yang lain klik “Other”, kemudian isi tanda sukat yang dimaksud. Tempo Pastikan cursor terletak pada birama yang akan diberi garis birama yang dimaksud. Klik “Measure”, kemudian klik “Tempo”. Maka akan keluar menu seperti berikut : From Measure adalah awal birama yang akan diatur temponya. “to” adalah birama terakhir yang dikenai tempo tersebut. Tempo dapat diganti sesuai yang dikehendaki. Menentukan Tanda Mula Klik Measures, kemudian klik Key Signature sehingga akan tertera gambar seperti di bawah ini: Seni Musik Non Klasik 491
  • 499. Menuliskan Notasi Pilih windows kemudian klik pellete dan pilih notes, maka akan muncul seperti dalam gambar berikut : Klik notasi yang dikehendaki, geser cursor yang telah berganti gambar dari notasi terpilih, letakkan pada garis paranada sesuai dengan tinggi rendah nada yang dikehendaki. Seni Musik Non Klasik 492
  • 500. Mengatur Arah Tangkai Notasi Arah tangkai notasi akan teratur secara otomatis sesuai dengan aturan yang ada. Namun apabila ada kehendak lain untuk mengatur arah tangkai adalah sebagai berikut : § Blok notasi yang akan diatur arah tangkainya, lalu klik “Notes”, kemudian pilih/ klik “Stems”. Di sini akan ada tiga pilihan arah tangkai, yakni naik (Up), turun (Down), dan normal (sesuai aturan). Legato § Blok notasi-notasi yang akan dilegato. § Klik “Notes”, kemudian pilih/ klik “Tie Notes” sehingga tertera tanda legato pada notasi-notasi yang dipilih. Membuat Kamar Birama § Pastikan cursor terletak pada birama sebagai kamar. § Klik “Measures”, pilih/ klik kata “Ending” maka akan muncul gambar dialog seperti berikut: Keterangan : First abila birama yang dipilih sebagai kamar satu. Second apabila birama yang dipilih sebagai kamar dua.. Seni Musik Non Klasik 493
  • 501. Tanda Kalimat Lagu § Pastikan cursor terletak pada birama yang akan diberi tanda kalimat lagu. § Klik “Measures”, pilih/ klik kata “Coda Phrases” maka akan muncul gambar dialog seperti berikut: § Pilih/ klik salah satu menu sesuai dengan yang diharapkan, lalu klik “OK”. Nomor Birama Klik “Measures”, pilih/ klik kata “Measure Numbers” maka akan muncul gambar seperti berikut: Keterangan : Penambahan nomor birama dapat dilakukan setiap birama, yakni dengan mengisi angka pada samping kata “Every”. Pada contoh di atas adalah pemberian nomor birama pada setiap satu birama. Seni Musik Non Klasik 494
  • 502. Menuliskan Syair Klik “Windows” pada menu atas, kemudian geser cursor pada pallete. Geser cursor ke kanan pilih/ klik kata “Graphics”. Maka akan muncul gambar seperti di bawah ini: pilih L kemudian klik pada notasi pertama, untuk suku kata berikutnya tekan “space” pada keyboard computer. Membuat Partitur Untuk Aransemen Klik File, new, maka terdapat gambar seperti berikut ini: Gambar tersebut harus diisi sesuai dengan kebutuhan kita dalam aransemen. Dot (.) yang terdapat pada piano dipindahkan ke Single Staves sehingga akan muncul gambar: Seni Musik Non Klasik 495
  • 503. Baris ke-4 diganti dengan tanda kunci F, sedangkan baris ke-6 dan 7 diganti dengan tanda kunci untuk perkusi. Untuk mengubah tanda kunci tersebut Klik tanda yang terdapat pada gambar kunci kemudian dipilih dari gambar kunci berikut ini: Tanda tersebut di klik kemudian curcor di klik ke baris 6 dan 7 sehingga susunan akan menjadi seperti dibawah ini: Seni Musik Non Klasik 496
  • 504. Untuk memperjelas posisi setiap instrumen perlu diberikan tulisan. Klik windos, staff sheet atau tekan control dan garis miring (/). Setiap nomor ditulis sesuai dengan urutan d alam partitur, chanel diisi sesuai dengan instrumen, khusus perkusi/drum adalah 10 misalnya: Seni Musik Non Klasik 497
  • 505. Setelah dilulis setiap instrumen akan muncul partitur seperti ini: Untuk melihat partisi dari masing-masing instrumen, misalnya hanya ingin menampilkan bagian vokal, blok staff vocal, klik File, Extract Part, akan muncul Tekan ok maka akan muncul partisi yang diinginkan: Untuk melihat partisi yang lain, langkahnya sama dengan langkah di atas. Seni Musik Non Klasik 498
  • 506. 2. Membuat Midi File Dengan Cakewalk Pro Audio 9 Membuat komposisi musik atau sekedar iringan lagu dapat dilakukan dengan software musik sequenser. Software musik sequenser ada beberapa diantaranya Master track, Sonar, ataupun Cakewalk. Di antara software tersebut Cakewalk yang paling populer dan banyak digunakan. Saat ini seri Cakewalk yang beredar adalah Cakewalk Pro Audio 9. Mengingat software ini yang paling banyak dikenal, maka Cakewalk diangkat dalam materi MIDI. Sebelum mengoperasikan cakewalk, computer harus terhubung dengan keyboard controller, atau dengan keyboard multi timbral. Cara menghubungkan keyboard dengan computer menggunakan kabel MIDI. Port yang menggunakan kabel Printer ke USB. Port yang menggunakan kabel MIDI ke komputer Gambar di atas menunjukkan port untuk menghubungkan keyboard ke komputer. 2.1 Mengenal Icon Cake walk pro Audio 9. Untuk dapat bekerja dengan program ini computer harus dipastikan sudah terinstal Software Cake Walk. Seni Musik Non Klasik 499
  • 507. Simbol dari Cake walk adalah seperti gambar di atas. Icon tersebut biasanya diletakkan pada desktop. 2.2 Memulai bekerja dengan Cakewalk Untuk memulai bekerja dengan cake walk, kita dapat mencari pada Start, kemudian pada menu All Program kita pilih Cake Walk. Apabila sudah dibuat shortcut pada desktop kita tinggal mengarahkan kursor dengan mouse pada icon tersebut kemudian dobel klik. Atau jika tidak dibuat shortcut icon pada desktop, Maka muncullah tampilan software Cakewalk pro audio 9 seperti berikut: 2.3 Membuat file baru Untuk membuat file baru, klik File pada menu paling kiri, kemudian klik new maka akan muncul tampilan sebagai berikut: Seni Musik Non Klasik 500
  • 508. Pada pilihan New Project file, pilih salah satu yang dikehendaki, atau pilih saja pilihan normal. Maka berikutnya akan muncul track atau jalur yang akan dipergunakan untuk merekam data-data MIDI file kita. Dalam merekam data MIDI ini dilakukan seperti system perekaman analog, yakni merekam suara track per track. Yakni setelah track pertama kita isi, baru kita melanjutkan merekam pada track kedua dan seterusnya. Pada gambar berikut tampak apabila pilihan normal di atas kita pilih atau kita OK. 2.4 Menentukan Source. Untuk dapat merekam data terlebih dahulu kita harus menentukan sumber atau source berupa MIDI atau Wave. Pilihan MIDI untuk merekam data-data MIDI, Pilihan Wave untuk merekam Audio. Caranya dobel klik pada source maka akan muncul pilihan seperti gambar berikut: Seni Musik Non Klasik 501
  • 509. Pada pilihan source pilih MIDI. 2.5 Menentukan Chanel Memilih chanel pada track sebagai berikut: Misalnya track 1 ditentukan untuk chanel 1 maka pilih pada pilihan chanel 1. Dengan demikian pada track 1 data yang akan direkam untuk chanel 1 saja. Hal ini perlu dipahami karena dimungkinkan track 1 di set untuk chanel yang lain. Namun untuk memudahkan bekerja sebaiknya diset saja track 1 untuk chanel 1, track 2 chanel 2 track 3 chanel 3 dan seterusnya. Chanel selanjutnya akan berhubungan dengan pilihan register suara yang dikehendaki. Misalnya chanel 1 untuk suara Piano, chanel 2 untuk Bass gitar, chanel 3 organ, chanel 4 gitar, dan sebagainya. Kecuali Seni Musik Non Klasik 502
  • 510. untuk chanel 10 dan 16, sudah ditetapkan untuk perkusi, sehingga bila akan menentukan drum pada track 5, maka chanel harus 10 atau 16. 2.6 Menentukan Instrumen musik. Setelah menentukan chanel selanjutnya kita tentukan instrumen yang akan dipilih pada chanel tersebut. Misalnya track 1, chanel 1, instrumen grand piano. Pada track properties gambar di atas, klik instrument. Dari situ akan muncul pilihan seperti gambar berikut: Pada pilihan di atas pilih port/chanel, pilih 1, untuk pilihan uses instrument pilih General Midi. Setelah itu kita klik OK. Tampilan kembali pada Track properties: Untuk menentukan istrumen yang akan digunakan kita klik browser gambar panah di atas. Selanjutnya akan muncul tampilan berikut: Seni Musik Non Klasik 503
  • 511. Pilih instrumen yang dikehendaki dengan meng-klik pilihan nama instrumen. Apabila ingin menampilkan pilihan instrumen sesuai dengan namanya dapat mengetik nama instrumen pada Show Patches Containing the Text di atas. Misalnya ketik piano, maka akan muncul semua jenis instrumen piano yang tersedia. Setelah menentukan pilihan register suara, dapat memulai merekam data MIDI dari track tersebut. 2.7 Merekam data MIDI Sebelum mulai merekam aktifkan terlebih dahulu huruf R seperti yang ditunjukkan tanda panah. Setelah menyala merah berarti track tersebut sudah siap merekam data. Klik tombol rekam pada gambar record seperti merekam tape recorder biasa. Seperti gambar berikut: Seni Musik Non Klasik 504
  • 512. Kemudian mainkan musik yang akan direkam. Jika telah selesai memainkan musik hentikan merekam dengan tombol stop seperti pada tape recorder. Kemudian putar kembali (play back) seperti biasa untuk mengecek. Setelah track 1 terisi kemudian dilanjutkan dengan merekam track yang lain dengan cara seperti pada waktu merekam track 1 tadi. Harap diingat huruf R pada Track yang diaktifkan adalah yang akan merekam, jangan sampai uang diaktifkan lebih dari satu track karena pada track yang aktif tersebut semua data akan terekam. Demikian proses ini dieteruskan sampai berapa banyak instrumen atau track yang akan direkam sesuai kebutuhan. 2.8 Menyimpan data MIDI Setelah data direkam sesuai dengan instrumen, chanel dan track yang dikehendaki, data sebaiknya disimpan dalam format MIDI file, seperti gambar berikut: Buka menu File maka akan muncul tampilan seperti di atas. Pada pilihan File name, tuliskan judul lagu yang akan disimpan. Pada pilihan Save as type pilih MIDI Format 1 . Dengan demikian data yang tersimpan akan berupa data MIDI. Seperti contoh di atas, filenya akan menjadi More Seni Musik Non Klasik 505
  • 513. Than I Can Say.mid. File ini selanjutnya dapat dibuka pada setiap soft ware yang mempunyai type file mid. Dapat juga dibuka pada keyboard yang mempunyai fasilitas disc drive, flash drive dan sebagainya, dengan type file midi, dan standart MIDI file. Seni Musik Non Klasik 506
  • 514. BAB XII Membuat File Midi 1. Membuat Midi File Dengan Cakewalk Pro Audio 9 Membuat komposisi musik atau sekedar iringan lagu dapat dilakukan dengan software musik sequenser. Software musik sequenser ada beberapa diantaranya Master track, Sonar, ataupun Cakewalk. Di antara software tersebut Cakewalk yang paling populer dan banyak digunakan. Saat ini seri Cakewalk yang beredar adalah Cakewalk Pro Audio 9. Mengingat software ini yang paling banyak dikenal, maka Cakewalk diangkat dalam materi MIDI. Sebelum mengoperasikan cakewalk, computer harus terhubung dengan keyboard controller, atau dengan keyboard multi timbral. Cara menghubungkan keyboard dengan computer menggunakan kabel MIDI. Port yang menggunakan kabel Printer ke USB. Port yang menggunakan kabel MIDI ke komputer Gambar di atas menunjukkan port untuk menghubungkan keyboard ke komputer. 2.1 Mengenal Icon Cake walk pro Audio 9. Untuk dapat bekerja dengan program ini computer harus dipastikan sudah terinstal Software Cake Walk. Seni Musik Non Klasik 508
  • 515. Simbol dari Cake walk adalah seperti gambar di atas. Icon tersebut biasanya diletakkan pada desktop. 2.2 Memulai bekerja dengan Cakewalk Untuk memulai bekerja dengan cake walk, kita dapat mencari pada Start, kemudian pada menu All Program kita pilih Cake Walk. Apabila sudah dibuat shortcut pada desktop kita tinggal mengarahkan kursor dengan mouse pada icon tersebut kemudian dobel klik. Atau jika tidak dibuat shortcut icon pada desktop, Maka muncullah tampilan software Cakewalk pro audio 9 seperti berikut: 2.3 Membuat file baru Untuk membuat file baru, klik File pada menu paling kiri, kemudian klik new maka akan muncul tampilan sebagai berikut: Seni Musik Non Klasik 509
  • 516. Pada pilihan New Project file, pilih salah satu yang dikehendaki, atau pilih saja pilihan normal. Maka berikutnya akan muncul track atau jalur yang akan dipergunakan untuk merekam data-data MIDI file kita. Dalam merekam data MIDI ini dilakukan seperti system perekaman analog, yakni merekam suara track per track. Yakni setelah track pertama kita isi, baru kita melanjutkan merekam pada track kedua dan seterusnya. Pada gambar berikut tampak apabila pilihan normal di atas kita pilih atau kita OK. 2.4 Menentukan Source. Untuk dapat merekam data terlebih dahulu kita harus menentukan sumber atau source berupa MIDI atau Wave. Pilihan MIDI untuk merekam data-data MIDI, Pilihan Wave untuk merekam Audio. Caranya dobel klik pada source maka akan muncul pilihan seperti gambar berikut: Seni Musik Non Klasik 510
  • 517. Pada pilihan source pilih MIDI. 2.5 Menentukan Chanel Memilih chanel pada track sebagai berikut: Misalnya track 1 ditentukan untuk chanel 1 maka pilih pada pilihan chanel 1. Dengan demikian pada track 1 data yang akan direkam untuk chanel 1 saja. Hal ini perlu dipahami karena dimungkinkan track 1 di set untuk chanel yang lain. Namun untuk memudahkan bekerja sebaiknya diset saja track 1 untuk chanel 1, track 2 chanel 2 track 3 chanel 3 dan seterusnya. Chanel selanjutnya akan berhubungan dengan pilihan register suara yang dikehendaki. Misalnya chanel 1 untuk suara Piano, chanel 2 untuk Bass gitar, chanel 3 organ, chanel 4 gitar, dan sebagainya. Kecuali Seni Musik Non Klasik 511
  • 518. untuk chanel 10 dan 16, sudah ditetapkan untuk perkusi, sehingga bila akan menentukan drum pada track 5, maka chanel harus 10 atau 16. 2.6 Menentukan Instrumen musik. Setelah menentukan chanel selanjutnya kita tentukan instrumen yang akan dipilih pada chanel tersebut. Misalnya track 1, chanel 1, instrumen grand piano. Pada track properties gambar di atas, klik instrument. Dari situ akan muncul pilihan seperti gambar berikut: Pada pilihan di atas pilih port/chanel, pilih 1, untuk pilihan uses instrument pilih General Midi. Setelah itu kita klik OK. Tampilan kembali pada Track properties: Untuk menentukan istrumen yang akan digunakan kita klik browser gambar panah di atas. Selanjutnya akan muncul tampilan berikut: Seni Musik Non Klasik 512
  • 519. Pilih instrumen yang dikehendaki dengan meng-klik pilihan nama instrumen. Apabila ingin menampilkan pilihan instrumen sesuai dengan namanya dapat mengetik nama instrumen pada Show Patches Containing the Text di atas. Misalnya ketik piano, maka akan muncul semua jenis instrumen piano yang tersedia. Setelah menentukan pilihan register suara, dapat memulai merekam data MIDI dari track tersebut. 2.7 Merekam data MIDI Sebelum mulai merekam aktifkan terlebih dahulu huruf R seperti yang ditunjukkan tanda panah. Setelah menyala merah berarti track tersebut sudah siap merekam data. Klik tombol rekam pada gambar record seperti merekam tape recorder biasa. Seperti gambar berikut: Seni Musik Non Klasik 513
  • 520. Kemudian mainkan musik yang akan direkam. Jika telah selesai memainkan musik h entikan merekam dengan tombol stop seperti pada tape recorder. Kemudian putar kembali ( play back) seperti biasa untuk mengecek. Setelah track 1 terisi kemudian dilanjutkan dengan merekam track yang lain dengan cara seperti pada waktu merekam track 1 tadi. Harap diingat huruf R pada Track yang diaktifkan adalah yang akan merekam, jangan sampai uang diaktifkan lebih dari satu track karena pada track yang aktif tersebut semua data akan terekam. Demikian proses ini dieteruskan sampai berapa banyak instrumen atau track yang akan direkam sesuai kebutuhan. 2.8 Menyimpan data MIDI Setelah data direkam sesuai dengan instrumen, chanel dan track yang dikehendaki, data sebaiknya disimpan dalam format MIDI file, seperti gambar berikut: Buka menu File maka akan muncul tampilan seperti di atas. Pada pilihan File name, tuliskan judul lagu yang akan disimpan. Pada pilihan Save as type pilih MIDI Format 1 . Dengan demikian data yang tersimpan akan berupa data MIDI. Seperti contoh di atas, filenya akan menjadi More Seni Musik Non Klasik 514
  • 521. Than I Can Say.mid. File ini selanjutnya dapat dibuka pada setiap soft ware yang mempunyai type file mid. Dapat juga dibuka pada keyboard yang mempunyai fasilitas disc drive, flash drive dan sebagainya, dengan type file midi, dan standart MIDI file. Seni Musik Non Klasik 515
  • 522. DAFTAR PUSTAKA Allen, W.H. The Music Makers, London: Harrow House, 1979 Asriadi, Derry. Kiat Termudah Belajar Bermain Gitar. Jakarta: Kawan Pustaka, 2004. Baines, Anthony. Woodwind Intrument and Their History. London: Faber and Faber Limited., 1977. Banoe, Pono. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius, 2003. Barnet, Joe. Guitar Effects. Jakarta: PT Gramedia Pustaka. Beekum, Jan van. Saxologie: Speelstudieboek Voor de Beginnende Saxofonist. Deel 1 & 2. Hilversum: Harmonia-Uitgave, 1974. Bundy, George M. The Selmer Elementary Saxophone Instructor. Amersham, Budks: Halstan & Co., 1966. Crook, Hal. How to Improvise. Boston: Advance Music,1991. Coker, Jerry. Improvising Jazz. A Fireside Book. New York: Simon and Schuster, Inc.,1987. Concone, G. 50 Lesson de Chant. Opus 9, New York: C.F. Peters. Cracknell, Debbie. Enjoy Playing Guitar Solos, London: Oxford University Press, 1998. Dean, Folk. Melodische–Etudes. Muziekuitgeverij. DeBellis, Mark. “Music” in Berys Gaut and Dominic Mclver Lopers (ed.), The Routledge Companion to Aesthetics, London: Routledge, 2001. Diagram Group. Musical Instruments of The World, An Encyclopedia by Bantam Book. New York: Paddington Press, 1978. Djelantik, A.A.M. Estetika: Sebuah Pengantar, Bandung: MSPI dan Arti, 2004. Dorsey, Jimmy. Saxophone Method. New York: Robin Music Corp., 1968. Eisenhauer, William, & Charles F. Gouse. Learn to Play The Saxophone Book 1 & 2. New York: Alfred Music,1977. Geusau, Alting van. Menyanyi Dengan Baik. Jakarta: PT Aksara, 1986. Harpster, Richard W. Technique in Singing. London: Collier Macmillan Publisher, 1970. Heckman, Tubagus. Keyboard untuk Pemula. Jakarta: Gramedia. 2006. Hendro SD, Teori Termudah Memainkan Melodi Gitar Lagu-lagu Blues Rock, Jakarta: Titik Terang, 2002. _________, Teori Termudah Memainkan Melodi Gitar Lagu-lagu Rock ‘n Roll. Jakarta: Titik Terang, 2002. Hughes, Fred. The Jazz Pianist: Left-Hand Voicings and Chord Theory. Warner Brod Publications, 2002. Hurd, Michael., The Oxford Junior Companion to Music, Second Edition. London: Oxford University Press, 1979. Buku Seni Musik Non Klasik 516
  • 523. Thahir, Iqbal. Metode Dasar Gitar Klasik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka, 1985. Jones, George Thaddeus. Music Theory. New York: Harper & Row Publisher, 1974. Kindersley, Dorling. Microsoft Musical Instrument. London: Multimedia Ltd., 1992. Kodijat, Latifah. Tangganada dan Trinada. Jakarta: Djambatan,1982. Machlis, Joseph. The Enjoyment of Music. New York: W.W. Norton & Company., Inc 1963. Mack, Dieter. Apresiasi Musik Populer, Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama,1995. Mansour, Sally, “Music in Open Education”, dalam Music Education Journal, vol 60 no 8, 1974. Miller, Hugh M. Introduction to Music. New York: Barnes and Noble. Inc., 1969. Nurdin, Anwar, Pendidikan Seni Musik SMA Jildi I, Jakarta: Melati, 1994. Ottman, Robert W. Advanced Harmony. New Jersey Englewood Cliffs: Prentice-Hall, Inc.1964. Panofka, E. Vocalises, Paris: Editions Jobert. Randegger, Alberto. Methode of Singing, New York: G. Schirmer Inc. Paap, Wouter. Bagaimana Mengerti dan Menikmati Musik , terj. J.A. Dungga. Jakarta: PT Aksara, 1986. Peterson, Oscar. Jazz for the Young Pianist. New York: Hansen House. Poetra, Adjie Esa. 1001 Jurus Menyanyi, Bandung: Mizan, 2006. Prier, Sj., Karl Edmund. Sejarah Musik jilid 1,2,3,4, Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 1992. Sadie, Stanley (ed.) Grove Dictionary of Music and Musicians, Volume 1- 20. London: Macmillan Publishers, 1980. --------------------------. Grove Dictionary of Musical Instruments, Volume 1- 3. London: Macmillan Publishers, 1980. Soewito, M. Teknik Termudah Belajar Olah Vokal. Jakarta: CV Titik Terang,1996. Sumardjo, Jakob. Filsafat Seni, Bandung: Penerbit ITB, 2000. Sieber, Ferdinand. Vokalisen. Leipzig: C.F. Peters. Syafig, Muhammad. Ensiklopedia Musik Klasik, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2003 Tambayong, Japi. Ensiklopedi Musik. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka. 1992. Trubitt, Rudy David. Managing MIDI, Alfred Publishing Co.,1992. Thompson, John. Modern Course for the Piano. The Willis Music. Taylor, Eric. Music Theory Grade 1-5, The Associated Board of The Royal Schools of Music,1999. Turner, Gary and Brenton White. Progressive Lead Guitar, Koala Publication,1993. Buku Seni Musik Non Klasik 517
  • 524. Yamaha Music Foundation. Saxophone Mate Course. Tokyo: Yamaha Foundation for Music Education, 1973. Yamaha Music Foundation, Populer Guitar Course, Tokyo: Yamaha Foundation for Music Education, 1984. Buku Seni Musik Non Klasik 518
  • 525. GLOSARIUM Abreviasi : penyederhanaan penulisan notasi Accelerando : dipercepat Adagio : tempo lambat (MM 52-54) Aksen : tekanan Aksidental : tanda-tanda dalam musik Akustik : pengetahuan tentang suara secara fisika Allegreto : tempo cepat antara 104 – 112. Allegro : tempo cepat (126 – 138) Alto : jenis suara wanita rendah Ambitus : jangkauan nada Amplifier : perangkat elektronik penguat suara Andante : tempo lambat (MM 72-76) Animato : ringan gembira, (MM 120-126) Ansambel : permainan musik secara bersama Apresiasi : menghargai karya orang lain Arpeggio : akor dibunyikan satu per satu Arransemen : gubahan Artikulasi : pengucapan kata-kata dengan jelas Ascending : gerakan naik Bariton : jenis instrumen pria sedang Barrecord : teknik menekan senar dengan cara melakukan blok dalam satu fret Bass : jenis suara pria rendah Bell : ujung pada alat musik tiup Bridge : jembatan, tempat senar Bronchial tubes : pengatur nafas Con Expressione : dengan penuh ekspresi Con Moto : dengan kecepatan penuh Crescendo : bertambah kuat Damping : memotong bunyi gitar Decresendo : makin berkurang kekuatannya Dental arches : rongga mulut Diminuendo : berkurang makin lemah Diphtong : pengucapan kata-kata dengan huruf rangkap Distortion : effect gitar dengan karakter soundnya pecah Drag : dua pukulan lemah yang mendahului pukulan aslinya Estinto : hampir tidak berbunyi Etude : komposisi musik untuk melatih ketrampilan. Falsetto/falset : suara palsu Fermata : ditahan, diperpanjang Fingerboard : papan tempat jari-jari pemain diletakkan Fingering : sistim penjarian Fixed doh : system do tetap Seni Musik Non Klasik 519
  • 526. Flame : pukulan lemah yang mendahului pukulan aslinya Forte : Keras, lebih keras dari mezzo forte Fortessimo : sangat keras, lebih keras dari forte Fret : garis papan nada pada alat musik petik Grave : sangat lambat (MM 40-44) Half bar : setengah birama Improvisasi : pengembangan melodi Instrumen : alat musik Interval : jarak antara dua nada Intonasi : pengucapan kata Kadens : akhir frase atau kalimat musik Kopstein/kopstem : teknik memproduksi sejenis suara asli Largo : lebar luas, khikmat, agung, (MM 46-50) Larynx : pita suara Lento : lambat, (MM 56-58) Ligatura : lengkung pengikat Locrian : tangga nada yang dimulai dari nada ke tujuh Lungs : paru-paru Medium : sedang Melankolis : suara musik sendu, sedih, sayu Melismatis : satu huruf dipakai untuk serangkaian nada. Mesosopran : suara sedang wanita Mezzo Forte : lebih keras Mezzo Piano : agak lembut, sedikit lebih keras dari Piano Minuet : lagu tarian Moderato : tempo sedang. MM 88 -96 Morendo : kian habis menghilang Motif : bagian terkecil lagu Movable doh : sistem do berpindah Nasal cavities : rongga hidung Neck : leher yaitu bagian gitar tempat senar-senar dibentangkan. Nut : penahan dawai pemisah senar Oralcavity : rongga tenggorokan Palatine : langit-langit Palm mute : teknik damping dengan tangan kanan Partian : sebagian, tidakmlengkap Phrasering : kalimat dalam musik Pianissimo : sedikit lebih keras Piano : lembut Picking : teknik memainkan plektum. Pickup : alat yang mengubah getaran senar menjadi sinyal listrik Pickup selector : tombol untuk memilih satu atau dua pickup Plectrum : alat pemetik dawai Seni Musik Non Klasik 520
  • 527. Pop/populer : terkenal di masyarakat Portable : mudah dibawa Position marker : penada posisi yang terpasang di bagian tertentu pada leher. Power cord : akor dengan nada ke 1 dan 5 Powering : tenaga untuk mengeluarkan suara Prassing : latihan tekanan Precipitando : tergesa-gesa, dipercepat Presto : tempo cepat (MM 184-200) Rallentando : menjadi makin lambat Register : wilayah nada Resonansi : sumber suara Resquendo : cara mengocok gitar Ritardando : makin lambat Ritenuto : tertahan-tahan Ritme : langkah teratur, ketukan teratur Rudyment : pukulan dasar Ruff : tiga pukulan lemah Seventhchord : akor tujuh Shell : body tom-tom Slash cord : akor pembalikan Sliding : membunyikan nada dengan menngeser jari Solid : badan gitar yang terbuat dari kayu padat Sopran : jenis suara wanita tinggi. Sound hole : lubang suara, bagian yang memperkuat getaran suara. Soundboard : permukaan atas instrument Srtap sistem : penambat tali Striciando : diseret-seret String : dawai, senar Stringendo : kian menjadi cepat Stroke : pukulan Strokes : pukulan ganda Strumming : teknik memetik gitar Style : bentuk ntuk irama musik Synthesizer : perangkat elektronik peniru bunyi Tablature : penulisan musik dan menggambarkan posisi jari Tenor : jenis suara pria tinggi. Tipping : teknik memainkan melodi gitar Tone control : tombol pengatur frekuensi nada gitar Tonsils : kelenjar leher Trachea : pipa suara Tranquillo : tenang Vibrato : gelombang vokal lembut yang mendalam Vivace : hidup, gembira (MM 160-176) Volume control : tombol pengatur kekerasan suara Seni Musik Non Klasik 521
  • 528. KUDPquot;ZZZ/ZZZ/ZZZ/Z Dwmwquot;kpkquot;vgncjquot;fkpknckquot;qngjquot;Dcfcpquot;Uvcpfctquot;Pcukqpcnquot;Rgpfkfkmcpquot;*DUPR+quot;fcpquot;vgncjquot; fkp{cvcmcpquot; nc{cmquot; ugdcickquot; dwmwquot; vgmuquot; rgnclctcpquot; dgtfcuctmcpquot; Rgtcvwtcpquot; Ogpvgtkquot; Rgpfkfkmcpquot;Pcukqpcnquot;Pqoqtquot;68quot;Vcjwpquot;4229quot;vcpiicnquot;7quot;Fgugodgtquot;4229quot;vgpvcpiquot; Rgpgvcrcpquot;Dwmwquot;Vgmuquot;Rgnclctcpquot;{cpiquot;Ogogpwjkquot;U{ctcvquot;Mgnc{cmcpquot;wpvwmquot;Fkiw/ pcmcpquot;fcncoquot;Rtquguquot;Rgodgnclctcp0 JGVquot;*Jcticquot;Gegtcpquot;Vgtvkpiik+quot;Tr0quot;5;0:64.22