SMK-MAK kelas10 smk seni musik non klasik budi - Presentation Transcript
\"
untuk
Sekolah Menengah Kejuruan
UGPK\"OWUKM\"PQPMNCUKM\"
Seni Musik
Nonklasik
I Budi Linggono
wpvwm\"UOM\"\"
K\"Dwfk\"Nkpiiqpq
Fktgmvqtcv\"Rgodkpccp\"Ugmqncj\"Ogpgpicj\"Mglwtwcp
Fktgmvqtcv\"Lgpfgtcn\"Ocpclgogp\"Rgpfkfkmcp\"Fcuct\"fcp\"Ogpgpicj
Fgrctvgogp\"Rgpfkfkmcp\"Pcukqpcn
Linggono, I Budi
SENI MUSIK NON
KLASIKAL
Untuk SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
SENI MUSIK NON
KLASIKAL
Untuk SMK
Penulis : Linggono, I Budi
Ukuran Buku : …. x …. cm
……
LIN Linggono, I Budi
L Seni Musik Non Klasikal: untuk SMK/oleh Linggono, I Budi.
Jakarta:Pusat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,
Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen
Pendidikan Nasional, 2008.
vi. 521 hlm
ISBN - - -
Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
Diperbanyak oleh….
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah
melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari
penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi
siswa SMK.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas
oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya
harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan
ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat
untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat
memanfaatkan sumber belajar ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini.
Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar
dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami
menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh
karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
iii
KATA PENGANTAR
Dengan melalui proses perjalanan yang cukup panjang bidang
keahlian seni musik non klasik lahir, berdampingan dengan bidang
keahlian musik klasik dan musik tradisi daerah lain, yang keberadaannya
sudah lebih lama. Sudah sering kita saksikan bagaimana seni musik non
klasik menjadi faktor penggerak yang positif bagi upaya pengembangan
pendidikan apresiasi bagi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh sifatnya
yang universal dengan teori-teori yang sudah ada sejak masa lalu. Di sisi
lain peran musik non klasik secara ekonomi ikut menggerakkan roda
perekonomian melalui industri-industri musik, seperti : pertunjukan musik,
arranger, rekaman dan pemain-pemain musik.
Pertanyaan yang sering muncul di tengah-tengah kalangan
pendidik dan siswa di pelosok tanah air adalah bagaimana dan dimana
bisa memperoleh buku musik non klasik untuk membantu dalam proses
belajar mengajar seni musik non klasik? Kurangnya referensi tersebut,
berdampak pada pemberian materi-materi yang diajarkan di sekolah tidak
ada standard yang jelas.
Di tengah kesulitan seperti itu, buku ini mencoba memberi solusi
dalam upaya membantu para pendidik, siswa atau pencinta musik non
klasik belajar secara terstandard. Bermain musik bukan berteori, buku ini
tidak memberikan teori-teori yang banyak melainkan memberikan latihan-
latihan secara aplikatif sehingga dengan bermain musik “kepekaan
musikal” akan terlatih. Perlu kita renungkan bersama bahwa setiap
pemusik harus mengenal dan mempraktekkan motto : “Membaca suara
dan mendengar tulisan”.
Mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat dalam membantu
para pendidik dan siswa dalam belajar musik. Saran dan masukan untuk
perbaikan tetap kami harapkan. Selamat belajar, semoga berhasil !
Penulis,
iv
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN ………………………………………………. iii
KATA PENGANTAR ……………………………………………. iv
DAFT AR ISI ………………………………………………………. v
BAGIAN I PENGETAHUAN MUSIK
BAB 1 PENDAHULUAN ……………………………………………. 1-4
BAB 2 TEORI MUSIK ……………………………………….…….. 5
BAB 3 ILMU HARMONI …………………………………………… 39
BAGIAN II PRAKTEK INSTRUMEN POKOK (PIP)
BAB 4 VOKAL …………………………………………………... 90
1. Jenis-jenis suara manusia ………………………….. 91
2. Pernafasan …………………………………………… 91
3. Sikap tubuh ……………………………….………….. 95
4.Membentuk suara …………………………….………. 96
5. Menyambung suku kata dan artikulasi …………….. 106
6. Resonansi …………………………….………………. 108
7. Intonasi ……………………………….……………….. 110
8. Phrasering ……………………………….……………. 110
9. Expresi ………………………………………………… 113
10. Penampilan …………………………………………. 116
11. Sifat Vokal dan Gaya Vokal………. ………………….. 117
12. Teknik vokal ………………………………………… 125
BAB 5 KEYBOARD ………………………………………………… 155
1. Jenis keyboard ………………………………………. 155
2. Teknik bermain keyboard …………………………… 157
v
BAB 6 GITAR ……………………………………………………… 217
1. Gitar dan bagian-bagiannya ……………………….. 217
2. Cara menyetem gitar ……………………………….. 218
3. Latihan penjarian ……………………………………. 221
4. Latihan teknik memetik gitar ……………………….. 223
5. Latihan dengan tablature …………………………… 223
6. Latihan tangga nada ………………………………… 224
7. Latihan teknik memainkan gitar akustik …..……… 227
8. latihan teknik memainkan gitar elektrik …………… 261
BAB 7 BASS GITAR ………………………………………………. 278
1. Bass gitar dan bagian-bagiannya …………..……… 278
2. Cara menyetem bass gitar ………….….………….. 279
3. Teknik bermain bass gitar …………………………... 280
4. Perawatan bass gitar ………………………………… 286
5. Latihan tangga nada …………………………………. 288
6. Latihan nada-nada kromatis ………………………… 311
7. Latihan etude …………………………………………. 312
8. Latihan buah musik …………………………………… 323
BAB 8 SAXOPHONE ………………………………………………. 333
1. Pengenalan dan cara perawatannya ………………. 333
2. Teknik dasar bermain saxophone ………………….. 340
3. Teknik dan etude …………………………………….. 356
4. Buah musik ……………………………………………. 375
BAB 9 DRUM ………………………………………………………. 386
1. Mengenal drum ………………………………………. 386
2. Posisi tubuh dalam bermain drum …………………… 395
3. Notasi drum ……………………………………………. 398
4. teknik memukul ………………………………………… 401
5. Teknik memainkan drum ……………………………… 415
6. Bermain solo drum ……………………………………. 434
vi
7. Pengenalan gaya ……………………………………… 452
8. Etude …………………………………………………… 460
9. Buah musik ……………………………………………. 471
BAGIAN III PENGETAHUAN MIDI
BAB 10 DASAR-DASAR MIDI ……………………………………… 480
BAB 11 MENULIS NOTASI …………………………………………. 486
BAB 12 MEMBUAT FILE MIDI ……………………………………. 507
GLOSARIUM …………………………………………………….. 516
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………….. 519
vii
BAB 1
PENDAHULUAN
Pelaksanaan pembelajaran program keahlian seni musik non
klasik sampai saat ini masih banyak menghadapi kendala. Kendala
terbesar yang dihadapi adalah kurangnya referensi, baik untuk guru mau-
pun siswa. Program keahlian seni musik non klasik juga memiliki eksis-
tensi yang sama dengan bidang-bidang keahlian yang lain yang terdapat
pada kurikulum. Pembelajaran bidang keahlian seni musik non klasik,
seperti juga pembelajaran bidang keahlian seni yang lain, bersifat prak-
tik bukan bersifat teoritis. Artinya bahwa siswa diharapkan dapat
menguasai keterampilan dalam membaca notasi, menulis notasi, me-
nyanyi, membuat aransemen dan memainkan instrumen individu sesuai
dengan pilihan siswa.
Di dalam buku ini memberikan acuan berupa materi-materi
yang harus dikuasai oleh siswa dalam menghadapi tuntutan pekerjaan di
lingkungan dunia entertainment musik. Proses pembelajaran bidang ke-
ahlian seni musik non klasik memerlukan waktu panjang, karena men-
cakup suatu pekerjaan yang sangat luas. Dalam buku ini disajikan ber-
bagai ruang lingkup keahlian meliputi vokal, gitar, bass gitar, saxophone,
keyboard dan drums sebagai instrumen individu meliputi berbagai aliran
gaya/style musik yang sangat luas, seperti pop, jazz, rock, dangdut dan
jenis musik alternatif yang lain. Dengan keluasan materi tersebut, dalam
buku ini perlu dibatasi dengan suatu pertimbangan bahwa akses yang
paling besar adalah musik band dengan style musik populer. Jenis
musik ini mendapat perhatian yang cukup besar dari masyarakat.
Berkaitan dengan hal tersebut, peranan dunia industri, mas
media/TV diharapkan turut membantu mempercepat apresiasi masya-
rakat terhadap dunia musik populer. Dengan demikian masyarakat
diharapkan tidak hanya dapat berperan sebagai penikmat, namun dapat
ditingkatkan menjadi pemain yang terlibat langsung di dalamnya.
Meningkatnya apresiasi musik non klasik dan apresiasii ter-
hadap dunia entertainment akan membuka peluang baru tumbuhnya
profesi di dunia entertainment (musik populer). Kesempatan itu telah
banyak dimanfaatkan oleh dunia industri, baik yang berhubungan dengan
dunia pengelolaan pertunjukan maupun industri lainnya. Kesempatan-ke-
sempatan tersebut pasti akan membawa manfaat: pertama, mening-
katkan apresiasi masyarakat terhadap seni musik non klasik (populer);
Kedua, adanya kompetisi diantara kelompok-kelompok musik, yang pada
akhirnya mempengaruhi sikap profesionalisme yang berdaya saing dalam
Seni Musik Non Klasik 1
bidangnya; Ketiga, berkaitan dengan dunia bisnis pertunjukan, industri
rekaman yang berujung adanya pergerakan ekonomi.
Proses pembelajaran yang sistematis merupakan langkah yang
harus dilakukan dengan kajian-kajian dan latihan-latihan materi. Sehingga
produk pembelajaran dapat dijadikan tolok ukur untuk pencapaian
kompetensi dalam bermain musik sesuai dengan ke-butuhan industri seni
musik non klasik (populer).
Musik klasik dan non klasik merupakan istilah yang sering di-
pergunakan dalam kehidup-an musik sehari-hari, namun penger-tiannya
belum jelas. Pada awalnya tidak ada istilah musik klasik atau gaya klasik.
Menurut Ensiklopedi Indonesia dijelaskan bahwa klasik berarti suatu kar-
ya jaman lampau yang mempunyai nilai tinggi serta ilmiah dan mem-
punyai kadar keindahan yang tidak akan luntur sepanjang masa. Pada
dunia musik, terminologi klasik sering dika-itkan dengan tradisi musik di
dunia Barat dengan penggunaan instrumen yang mengacu pada tradisi
Barat. Dalam sejarah musik, kata klasik mengacu pada sebuah periode
tertentu yang ditandai oleh wafatnya Johan Sebastian Bach (1750) dan
berakhirnya jaman Barok.
Franz Schubert merupakan komponis zaman klasik dari Austria,
meskipun karya-karyanya digolongkan ke dalam komposisi jaman
Romantik periode 1820-1900. Istilah klasik dapat pula diartikan sebagai
“puncak” perkembang-an dari suatu kebudayaan/kesenian yang ber-
pengaruh pada jaman berikutnya, sehingga menimbulkan gaya baru.
Walaupun demikian, bukannya jaman/gaya sebelumnya hanya dipandang
sebagai karya-karya yang kurang sempurna. Dengan demikian sangat
penting untuk mengkaji lebih dalam bahwa perkembangan kebu-
dayaan/kesenian selalu terdiri dari banyak unsur yang saling berkaitan
dan saling melengkapi. Perkembangan musik klasik nampak pada figur
komponis Joseph Haydn dengan karya pertamanya berbentuk Simphoni
No. 1 yang di cipta pada tahun 1759. Komponis tersebut mempelopori
bentuk musik baru p ada waktu itu dengan susunan : Presto-Andante
Cantabile-Menuetto-Scherzando. Pada umumnya pada jaman klasik
instrumen musik yang digunakan dalam musik orkes klasik adalah :
- Biola 1 - Picolo
- Biola 2 - Oboe
- Alto - Klarinet
- Cello - Bassoon
- Bass - Contra bassoon
- Terompet - Trombone
- Horn - Timpani
Seni Musik Non Klasik 2
Musik non klasik merupakan istilah yang sering digunakan dalam
kehidupan dunia musik sehari-hari. Intinya dalam tinjauan bahasa me-
rupakan lawan kata dari musik klasik. Musik non klasik adalah bagian
yang sangat luas dari kehidupan musik secara umum . Perlu dipahami
bahwa definisi formal tidak akan berhasil untuk men-jelaskan secara te-
gas, karena definisi itu sendiri mengungkapkan makna, keterangan, ciri-
ciri utama, ruang lingkup dan sebagainya. Secara umum definisi itu
sendiri bersifat memberikan batasan, se-mentara musik non klasik akan
sulit sekali untuk didefinisikan secara tegas.
Pengertian umum yang paling simpel untuk masyarakat awam
ter-hadap musik non klasik adalah musik populer, dengan kelompok band
sebagai bentuk ekspresinya, sehingga dalam buku ini disajikan berbagai
macam latihan, lagu, style dan karakter setiap alat musik pada kelompok
band. Instrumen musik yang dipergunakan p ada ke-lompok band pada
umumnya terdiri dari : vokal, gitar, bass gitar, saxophone, keyboard, dan
drums. Walau-pun tidak menutup kemungkinan ada penambahan-
penambahan instrumen musik yang lain.
Pada intinya, musik non klasik adalah bagian yang sangat luas
dari makna musik secara umum sehingga sangat perlu dipahami bahwa
definisi formal tidak akan berhasil menjelaskan secara akurat. Definisi
tentang musik non klasik dapat didefinisikan sebatas memberikan
batasan-batasan saja. Hal ini juga akan mempengaruhi pula ruang ling-
kup pekerjaan yang tidak mungkin ditentukan secara formal.
Ruang lingkup materi seni musik non klasik adalah meliputi
pengetahuan alat-alat musik, yang meliputi tentang karakter setiap ins-
trumen musik seperti kompas/ambitus dan struktur dari instrumen musik.
Pengetahuan ini merupakan dasar untuk mempelajari alat musik sebagai
instrumen individu dan penyusunan aransemen.
Instrumen Pokok (PIP) adalah instrumen pilihan yang merupakan
instrumen mayor. Meliputi vokal, keyboard, gitar, bass gitas, saxophone
dan drum. Secara garis besar materi disajikan meliputi: penyeteman
(general/ tuning, harmonic tuning, quick tuning), fingering, picking, teknik
tabulatur, major scale, minor scale, skiping, dumping, sliding, slur,
bending, vibrator, staccato, arpegio, akor, barrechord, power chord,
sound control, sound effect dan dilengkapi dengan etude/latihan; Materi
bass gitar meliputi pengetahuan berbagai macam bass gitar, notasi musik
yang diper-gunakan dalam bass gitar, cara bermain, penguasaan teknik,
etude serta penguasaan repertoir musik. Harmonisasi di dalam bass gitar
memegang peranan yang sangat penting dalam keseluruhan alur sebuah
melodi. Nada bass adalah nada-nada yang mempunyai frekuensi rendah
sehingga statusnya dapat menegaskan harmoni dari sebuah accord yang
sedang dimainkan. Nada-nada yang dihasilkan dari bass secara tidak
Seni Musik Non Klasik 3
langsung akan menjadi patokan harmoni sehingga akan membantu
mempertegas aksen-aksen yang sedang dimainkan; Materi dalam ber-
main keyboard terdiri dari 2 macam, yaitu : bermain keyboard dalam
anrambel (band) dan bermain solo keyboard ditambah dengan
penguasaan teknologi berupa MIDI (Musical Instrument Digital Interface);
Materi drums dalam bab ini mengupas beberapa hal antara lain teknik-
teknik pukulan pada snare drums, cymbal, hi-hat dan bass drums,
paradidle, flame, draf, ruff dan sebagainya. Irama disajikan berbagai jenis
pola irama, seperti : slow rock, rock beat, latin rock, bossanova, funk
beat, samba dan lain-lain. Buku ini selain untuk memperkenalkan jenis
alat musik tersebut, juga sejarah dan perawatannya.
Seni Musik Non Klasik 4
BAB 2
TEORI MUSIK
Kemampuan musikal seseorang dapat dideteksi melalui kemam-
puannya dalam bermain musik. Meskipun teori musik bukan merupakan
salah satu kompetensi yang dituntut dalam Program Musik Non Klasik
namun kemmapuan ini sangat penting dikuasai dan merupakan salah
satu hal yang membedakan antara siswa program musik Program Musik
Non Klasik (SMK) dan siswa SMA yang sama-sama dapat bermain
musik. Siswa musik diharapkan bisa mempertanggungjawabkan per-
mainan musiknya secara teoritis. Perlu diingat bahwa kita jangan sampai
terjebak pada teori yang tinggi tetapi tidak aplikatif dan kurang men-
dukung terhadap permainan musiknya. Teori musik perlu disadari seba-
gai sarana untuk mempermudah dalam bermain musik.
Kemampuan penguasaan teori musik sebenarnya sangat melekat
dalam permainan instrumen dan kebutuhan untuk masing-masing ins-
trumen tidak sama. Misalnya teori musik untuk instrumen drum lebih
banyak pada penguasaan ritme, sedangkan untuk instrumen saxophone
in Es penguasaan tangga nada awalnya sudah lebih tinggi karena latihan
awal teknik bermain sudah menggunakan tangga nada Es Mayor.
Sedangkan untuk instrumen piano, gitar, dan bass yang dimulai dari
pelatihan tekniknya dari tangga nada C Mayor. Bahkan untuk latihan awal
teknik bermain instrumen drum tidak menggunakan tangga nada me-
lainkan hanya ritme. Namun bukan berarti seorang pemain drum tidak
perlu memiliki kemampuan dalam hal nada meskipun instrumen yang
dimainkan tidak bernada.
1.1 Garis paranada
Notasi 1, garis paranada
Garis tersebut digunakan untuk penulisan nada dan ritme.
Perbedaanya, untuk penulisan diperlukan tanda kunci (clef) untuk menen-
tukan nama nada yang terdapat pada garis paranada, sedangkan untuk
penulian ritme tidak diperlukan tanda kunci karena notasi yang dimainkan
tidak bernada.
Seni Musik Non Klasik 5
1.2 Tanda Kunci (Key Signature)
1.2.1 Kunci G
Notasi 2, kunci G dan nada G
Kunci G berfungsi untuk menentukan nada G yang terdapat pada garis ke
dua dari bawah atau garis ke empat dari atas.
1.2.2 Kunci F
Notasi 3, Kunci F dan nada F
Tanda kunci tersebut berfungsi untuk menentukan nada F yang terdapat
pada garis ke empat dari bawah dan garis ke dua dari atas. Nama-nama
nada berdasarkan frekwensinya adalah sebagai berikut:
Seni Musik Non Klasik 6
E F G A B c d e f g a b c1
d1 e1 f1 g1 a1 b1 c2 d2 e2 f2 g2 a2 b2
Notasi 4, letak nada
Notasi garis paranada diatas terdapat dua buah tanda kunci yaitu
kunci G dan kunci F. Notasi diatas menunjukkan bahwa kunci G dan
kunci F saling berhubungan dan menunjukkan bahwa nada-nada dalam
kunci F lebih rendah daripada nada-nada yang terdapat dalam kunci G.
Nama-nama nadanya disusun secara berurutan untuk memperjelas
pengnotasian posisi nada dalam garis paranada.
1.2.3 Kunci C
Notasi 5, Kunci C dan nada C
Seni Musik Non Klasik 7
Tanda kunci C terdapat 5 (lima) macam yang dibedakan dari letak tanda
kuncinya pada garis paranada. Nada yang terletak di depan tengah notasi
tersebut aalah c1, nada berikutnya menyesuaiakan sesuai dengan
posisi/letak nada yang akan berpengaruh pada tinggi dan rendah nada.
Karena letaknya yang dapat berpindah tempat, kunci ini juga sering di-
sebut movable clef. Tanda kunci ini biasanya hanya digunakan untuk
penulisan instrumen biola alto dan cello.
1.3 Bentuk dan nilai not
Notasi 6, Bentuk not
1.4 Bentuk tanda diam
Notasi 7, nilai not dan tanda istirahat
Seni Musik Non Klasik 8
1.5 Tanda Sukat (Time Signature)
1.5.1 Tanda Sukat 4/4
Dalam lagu-lagu (populer), tanda sukat yang sering kita jumpai adalah
satu tanda sukat yakni 4/4. Irama Rock’n Roll, Bossanova, Cha Cha,
Rumba, Samba, Jive, dan sebagainya adalah contoh irama yang ber-
tanda sukat 4/4. Marilah kita amati lagu dibawah ini dan kita pelajari
makna dari suatu tanda sukat:
Notasi 8, Petikan lagu Kebyar-Kebyar
Lagu di atas merupakan contoh lagu yang bertanda sukat 4/4.
Untuk memahaminya lagu tersebut dinyanyikan, kemudian dianalisis
mengapa lagunya bertanda birama 4/4. Kita amati notasi pada birama
pertama.
Notasi 9, not seperempat
Dalam materi bentuk dan nilai not dijelaskan bahwa not seperti notasi
di atas merupakan not seperempat. Pada birama pertama lagu
Kebyar Kebyar terdapat empat not seperempat, apabila dinotasikan
adalah: + + + = 4/4
Lagu yang bertanda birama 4/4 apabila dijumlah dalam satu birama
memiliki empat not seperempat. Hal itu bukan berarti dalam setiap
birama dalam satu lagu hanya terdapt not sepempat saja tetapi bisa
terdiri dari not seperdelapan, seperenambelas, setengah, atau not
penuh. Mari kita cermati lagi lagu diatas pada birama ke dua yaitu:
Seni Musik Non Klasik 9
Notasi 10, not seperdelapan dan not setengah
Not pada birama tersebut terdiri dari dua macam jenis not yaitu not
seperdelapan dan not setengah.
Secara matematis sama dengan: ?+ ?+ ? + ? = ¼ + ¼
.
Notasi 11, not seperdelapan
Pada birama kedua adalah nada setengah: ½ = ¼ + ¼ .
Notasi 12, not setengah
Seni Musik Non Klasik 10
Dengan demikian pada birama ke dua apabila dianalisis juga terdapat
empat not seperempat. Pada birama selan-jutnya meskipun bentuk
dan nilai notnya berbeda dengan birama pertama dan ke dua tetapi
apabila dianalisis pasti terdapat empat not perempatan. Birama
terakhir terdapat not penuh/ utuh.
Notasi 13, not utuh
Dalam materi sebelumnya dijelaskan bahwa:
w sama dengan : + + + = 4/4
Contoh lagu yang bertanda sukat 4/4 misalnya:
1. Januari (Glen F.)
2. Jujur (Raja)
3. Kenangan Terindah (Samson)
4. Andai Ku tahu (Ungu)
5. TTM (Ratu)
6. Take Me Home Country Road (John Denver)
7. Biru (Vina P.)
8. Kebyar-kebyar (Gombloh)
9. Kekasih Gelapku (Ungu)
10. Andaikan Kau Datang (Koes Plus)
Dalam tanda sukat 4/4 terdapat istilah setengah birama (half bar),
misalnya pada lagu dibawah ini:
Seni Musik Non Klasik 11
Notasi 14, Lagu Masih (Ada Band)
Pada baris ke lima birama ke tiga terdapat tanda 2/4, berarti pada birama
tersebut hanya terdapat 2 ketukan atau setengah birama. Cermati juga
pada baris ke enam birama ke lima terdapat tanda 2/4 seprti baris sebe-
lumnya. Untuk memahami alangkah baiknya kalau kita menyanyikan lagu
tersebut dan merasakan aksen pada birama/syair yang bertanda 2/4.
Lagu lain yang terdapat half bar misalnya:
1. How Can I Tell Her (Lobo)
2. The Greatest Love of All (Whiteney Hoston)
3. Song Song Blue
4. Kupu Kupu Malam (Titik Puspa)
Seni Musik Non Klasik 12
1.5.2 Tanda Sukat 3/4
Tanda birama ini dalam musik populer dikenal dengan irama
Waltz, tetapi lagu-lagu populer pada saat ini jarang kita jumpai tanda
birama ini.
Notasi 15, Petikan lagu Belaian sayang
Lagu di atas termasuk contoh lagu era 60-an tetapi pernah di-realease
penyayi pop Ruth Sahanaya. Untuk memahami tanda birama ini alangkah
baiknya kalau kita dapat menyanyikan dan menganalisis mengapa dibe-
rikan tanda sukat ¾. Pada birama pertama terdiri dari not seperempat
dan titik, dan not seperdelapan.
Notasi 16, Notasi dan tanda titik
Apabila dianalisis sebagai berikut:
qž + ? + ? + ? = (1/4 + 1/8) + 1/8 + 1/8 + 1/8 = ¼ + ¼ + ¼
Jadi birama pertama terdapat tiga buah not seperempat yaitu:
q + q + q= ¼ + ¼ + ¼ = 3/4
Seni Musik Non Klasik 13
Pada birama ke dua terdapat not seperempat dan not setengah
q + h = q + q + q = ¼ + ¼ + ¼ = ¾.
Notasi 17, ¾
Contoh lagu lain dalam tana sukat ini adalah:
1. Restumu Kunantikan (S. Tito dan Jul Ch.)
2. Melati dari Jayagiri (Iwan Abdurachman/Bimbo)
3. Bunga Mawar (Teti Kadi)
4. Delilah ( Tom Jones)
5. Sapu Tangan Dari Bandung Selatan (Lagu Perjuangan)
6. Mother How Are You Today
Pada dasarnya dua tanda sukat di atas adalah tanda sukat yang
paling sering kita jumpai dalam lagu. Dalam teori musik kita kenal
penggolongan tana sukat menjadi dua yaitu tanda sukat sederhana dan
tanda sukat susun. Tanda sukat sederhana misalnya 2/4, ¾, 4/4.
Sedangkan tanda sukat susun adalah tanda sukat yang merupakan su-
sunan dari dua atau lebih tanda sukat, misalnya 6/8 taerdiri dari dua
tanda sukat 3/8, tanda sukat 9/8 merupakan susunan dari tiga tanda
sukat 3/8, dan lain-lain. Tanda sukat sebenarnya lebih menitikberatkan
pada teknik penulisan. Misalnya lagu yang bertanda sukat ¾ sebenarnya
bisa saja ditulis dengan tanda sukat 3/8, 4/4 ditulis dengan tanda sukat
4/8.
1.6 Tanda Aksidental
Adalah tanda yang dapat merubah ketinggian nada dalam satu birama.
Tanda tersebut sudah tidak berlaku lagi pada birama berikutnya.
Seni Musik Non Klasik 14
1.6.1 # (kres/sharp)
Notasi 18, Petikan lagu Kebyar-Kebyar
Untuk dapat memperjelas materi ini sebaiknya lagu tersebut dinyanyikan
dan dianalisis terutama pada baris ke dua birama ke dua yang terdapat
tanda kres (#). Nada tersebut semula bernala d setelah diberi tanda #
menjadi dis atau d sharp. Akan sangat berbeda bunyinya apabila lagu
tersebut tidak diberikan tanda #. Dalam istilah internasinal, nada yang di-
beri tanda ini namanya ditambah sharp, misalnya d menjadi d sharp.
b (mol/flat)
1.6.2
KIDUNG
Notasi 19, Petikan lagu Kidung (Chrisye)
Untuk lebih memahami tanda aksidental ini sebaiknya lagu bagian
pertama lagu di atas dinyanyikan dengan intonasi yang tepat. Pada
birama ke tiga, empat, dan enam terdapat tanda mol yang berfungsi
untuk menurunkan setengah nada. Pada birama ke tiga dan ke em-
pat, nada b setelah diberi tanda mol menjadi bes. Sedangkan pada
birama ke enam nada a berubah menjadi as. Setiap nada yang
mendapat tanda mol namanya ditambah es, kecuali nada a ditambah
s. Sama halnya dengan tanda kres, tanda mol juga hanya berlaku
untuk satu birama. Dalam istilah standar internasional, nada yang
diberi tanda mol/flat namanya ditambah flat, misalnya b menjadi b
flat.
Seni Musik Non Klasik 15
n (pugar/natural)
1.6.3
Adalah tanda untuk mengembalikan nada yang semula mendapatkan
tanda kres atau mol dalam satu birama.
Notasi 20, Petikan lagu Sepasang Mata Bola
Birama pertama lagu di atas terdapat dua tanda aksidental yaitu tanda
kres dan pugar. Nada g pada ketukan ke tiga diberi tanda kres menjadi
gis/g sharp dan pada ketukan ke mpat diberikan tanda pugar kembali
menjadi nada g. Untuk lebih memahami fungsi tanda aksidental dan
penerapannya dalam suatu lagu sebaiknya dinyanyikan dan dirasakan
perbedaan nadanya. Tanda pugar juga hanya berlaku dalam satu birama,
sama dengan tanda aksidental yang lain.
Lagu-lagu lain yang terdapat tanda pugar misalnya:
1. Kebyar-kebyar (Gombloh)
2. Chindai (Cici Paramida)
Seni Musik Non Klasik 16
1.7 Tangga nada (scale)
Notasi 21, Petikan lagu Auld Lang Syne
Lagu di atas salah satu contoh penggunaan tangga nada yang terdiri dari
5 nada (pentatonik) yaitu
Notasi 22, Tangga nada pentatonik
Musik barat kebanyakan menggunakan tujuh nada yang dikelompokkan
dalam dua jenis yaitu tangga nada mayor dan minor ( major scale dan
minor scale).
1.7.1 Tangga Nada Mayor (Major Scale)
1.7.1.1 Tangga Nada C mayor (Natural)
C D E F G A B C
1 1 ½ 1 1 1 ½
Notasi 23, Tangga nada C mayor
Seni Musik Non Klasik 17
Tangga nada diatas terdapat 2 tetrachord. Tetrachord pertama adalah C
D E F, dan tetrachord kedua G A B C.
1.7.1.2 Tangga Nada G mayor (1#)
Untuk membentuk tangga nada baru, tetrachord kedua menjadi
tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada berikutnya dengan iterval
jarak seperti yang telah ditentukan.
G A B C D E Fis G
1 1 ½ 1 1 1 ½
Notasi 24, Tangga nada G Mayor
G A B C menjadi tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada
berikutnya yaitu D E F G. Nada E ke F berjarak ½ padahal jarak nada ke
6 ke 7 adalah 1 sehingga nada ke 7 harus dinaikkan ½ supaya jarak
menjadi 1. Sedangkan jarak F ke G yang semula 1 setelah F menjadi Fis
jaraknya menjadi ½., seperti notasi diatas. Karena dalam tangga nad G
mayor terdapat 1 nada yang diberikan tanda kres yaitu nada F, maka
tangga nada ini juga disebut tangga nada 1 kres.
1.7.1.3 Tangga Nada D mayor (2#)
Untuk membentuk tangga nada berikutnya, prinsipnya sama
dengan pembuatan tangga nada diatas. Tetrachord ke dua dari tangga
nada G mayor yaitu: D E Fis G menjadi tetrachord pertama.
D E Fis G A B Cis D
1 1 ½ 1 1 1 ½
Notasi 25, Tangga nada D mayor
Seni Musik Non Klasik 18
D E Fis G menjadi tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada
beriutnya yaitu A B C D. Nada B ke C berjarak ½ padahal jarak nada ke 6
ke 7 adalah 1 sehingga nada ke 7 harus dinaikkan ½ supaya jarak
menjadi 1. Sedangkan jarak C ke D yang semula 1 setelah C menjadi Cis
jaraknya menjadi ½., seperti notasi diatas. Karena dalam tangga nada D
mayor terdapat 2 nada yang diberikan tanda kres yaitu nada F dan C,
maka tangga nada ini juga disebut tangga nada 2 kres.
1.7.1.4 Tangga Nada A mayor (3#)
A B Cis D E Fis Gis A
Notasi 26, Tangga nada A mayor
1.7.1.5 Tangga Nada E mayor (4#)
E Fis Gis A B Cis Dis E
Notasi 27, Tangga nada E mayor
1.7.1.6 Tangga Nada B mayor (5#)
B Cis Dis E Fis Gis Ais B
Notasi 28, Tangga nada B mayor
Seni Musik Non Klasik 19
1.7.1.7 Tangga Nada Fis mayor (6#)
Fis Gis Ais B Cis Dis Eis Fis
Notasi 29, Tangga nada Fis mayor
1.7.1.8 Tangga Nada Cis mayor (7#)
Cis Dis Eis Fis Gis Ais Bis Cis
Notasi 30, Tangga nada Cis mayor
1.7.1.9 Tangga nada F mayor (1 b)
F G A Bes C D E F
Notasi 31, Tangga nada F mayor
1.7.1.10 Tangga nada Bes mayor (2 b)
Bes C D Es F G A Bes
Notasi 32, Tangga nada Bes mayor
Seni Musik Non Klasik 20
1.7.1.11 Tangga nada Es mayor (3 b)
Es F G As Bes C D Es
Notasi 33, Tangga nada Es mayor
1.7.1.12 Tangga nada As mayor (4 b)
As Bes C Des Es F G As
Notasi 34, Tangga nada As mayor
1.7.1.13 Tangga nada Des mayor (5 b)
Des Es F Ges As Bes C Des
Notasi 35, Tangga nada Des mayor
1.7.1.14 Tangga nada Ges mayor (6 b)
Ges As Bes Ces Des Es F Ges
Notasi 36, Tangga nada Ges mayor
Seni Musik Non Klasik 21
1.7.1.15 Tangga nada Ces mayor (7 b)
Ces Des Es Fes Ges As Bes Ces
Notasi 37, Tangga nada Ces mayor
Tangga nada di atas secara teoretis masih lebih banyak lagi macamnya,
tetapi apabila kita cermati sebenarnya implementasinya dalam prakek
bermain musik terdapat kesamaan. Misalnya:
Tangga nada Cis enharmonik dengan tangga nada Des
Tangga nada Fis enharmonik dengan tangga nada Ges
Tangga nada Ces enharmonik dengan tangga nada B
1.7.2 Tangga Nada Minor (Minor Scale)
1.7.2.1 Minor Diatonis
C D Es F G As Bes C
1 ½ 1 1 ½ 1 1
Notasi 38, Tangga nada C minor diatonis
Seni Musik Non Klasik 22
1.7.2.2 Minor Harmonis
C D Es F G As B C
Notasi 39, Tangga nada C minor harmonis
1.7.2.3 Minor Melodis
§ Gerakan Naik
C D Es F G A B C
Notasi 40, Tangga nada C minor melodis naik
§ Gerakan Turun
C Bes As G F Es D C
Notasi 41, Tangga nada C minor melodis turun
Lagu yang menggunakan tangga nada minor, bisa mengunakan
satu jenis tangga nada minor saja tetapi ada juga yang menggunakan
dua atau tiga jenis sekaligus. Petikan lagu ”Chindai” dibawah ini me-
rupakan penggabungan beberapa tangga nada minor. Birama ke 2, 4,
Seni Musik Non Klasik 23
dan 5 menggunakan tangga nada minor harmonis. Pada baris terakhir
birama ke dua menggunakan tangga nada minor diatonis.
CHINDAI
Cici Paramida
Notasi 42, Petikan lagu Chindai dalam A minor
Notasi 43, Petikan lagu Chindai dalam C minor
Seni Musik Non Klasik 24
1.8 Interval
Interval adalah jarak antara dua nada
1P 2M 3M 4P 5P 6M 7M 8P
Notasi 44, Interval
Peristilahan dalam interval adalah:
1.8.1 Perfect (murni) terdapat dalam interval 1, 4, 5, dan 8
Perfect berarti interval tersebut apabila dibalik, intervalnya juga
perfect. Misalnya:
Notasi 45, Interval perfect
Interval c ke f adalah interval 4 perfect, setelah dibalik menjadi f
ke c adalah 5 perfect. Contoh lain:
Notasi 46, Contoh interval perfect
Interval c ke g adalah 5 perfect, sedangkan g ke c berinterval 4
perfect.
Seni Musik Non Klasik 25
1.8.2 Mayor
Interval ini terdapat pada interval 2, 3, 6, dan 7
Notasi 47, Interval mayor
1.8.3 Minor
Notasi 48, Interval minor
1.8.4 Augmented
Notasi 49, Interval augmented
Notasi 50, Petikan lagu Doa dan Restumu
Seni Musik Non Klasik 26
1.9 Akor
Adalah nada-nada yang dibunyikan bersama dan menimbulkan suara
yang harmonis, terdiri dari dua nada atau lebih. Akor terbentuk dari
nada-nada dalam suatu tangga nada, misalnya dalam tangga nada C
mayor berikut ini:
Notasi 51, Nada-nada dalam C mayor
I II III IV V VI VII VIII
Bo
C D- E- F G A- C
Notasi 52, Akor trisuara
Tingkat I, IV, dan V : akor mayor karena berjarak 3M dan 3m
Tingkat II, III, dan VI : akor minor karena berjarak 3m dan 3M
Tingkat VII : akor diminished karena berjarak 3m dan 3m
Akor tingkat I, IV, dan V merupakan akor pokok, sedangkan akor II, III,
VI, dan VII merupakan akor bantu. Disebut akor pokok karena apabila
kita mengiringi lagu yang bertangga n ada mayor dan tidak ada nada
yang mendapat tanda aksidental, diberikan ketiga akor pokok tersebut
sudah cukup. Namun biasanya bibantu dengan akor lain (akor bantu)
untuk memperindah harmonisasi sehingga lebih kelihatan fleksibel atau
tidak kaku. Kedudukan akor bantu memang hanya membantu akor po-
kok untuk memberikan alternatif lain dalam mengiringi lagu.
Seni Musik Non Klasik 27
Setiap tangga nada mayor memiliki tingkatan dan jenis akor yang
sama, misalnya dalam tangga nada D mayor dibawah ini:
Notasi 53, Tingkat I-VII
Cis o
D E- Fis- G A B
Notasi 54, Tri suara dalam D mayor
1.10 Modulasi
Modulasi adalah pergantian nada dasar dalam suatu lagu. Ada
lagu yang berganti nada dasar sementara kemudian kembali lagi ke
tnada dasar semula, namun ada juga lagu yang berganti nada dasar
sampai lagu selesai, bahkan berganti lebih dari satu kali.
Seni Musik Non Klasik 28
Notasi 55, Contoh lagu modulasi
Lagu di atas terjadi perubahan nada dasar pada baris ke enam
birama ke tiga (bertanda lingkaran) sampai akhir lagu. Pada awal lagu
menggunakan nada dasar C kemudian terjadi modulasi ke dalam
nada dasar D.
Contoh lagu yang mengalami modulasi misalnya:
1. Mencintaimu (Krisdayanti)
2. TTM (Ratu)
3. When You Tell Me That You Love Me (Diana Rose)
4. Good Bye (Air Suplay)
5. Januari (Glen F.)
6. I Will Always Love You (Whitney Houston)
7. Biru (Vina P.)
8. Hero (Mariah Carey)
9. Dengan Menyebut Nama Allah (Novia Kolopaking)
1.11 Abreviasi
Adalah penyederhanaan penulisan notasi dan istilah musik.
Seni Musik Non Klasik 29
1.11.1 Abreviasi atas rangkaian penulisan not
Tertulis Dimainkan
Notasi 56, abreviasi not perdelapanan
Tertulis Dimainkan
3 3
Notasi 57, Abreviasi triol
Notasi 58, Abreviasi not utuh
1.11.2 Abreviasi kalimat lagu
Notasi 59, Petikan lagu Kenangan Terindah (Samson)
Seni Musik Non Klasik 30
Dua baris pertama lagu Kenangan Terindah (Samson) memiliki nada
yang sama. Untuk mempersingkat penulisan dapat diberikan tanda ulang
pada baris pertama, sehingga penulisannya sebagai berikut:
Notasi 60, Abreviasi
Notasi 61, Abreviasi birama sebelumnya
Tanda ulang pada birama ke dua dan ke empat pada notasi diatas
berarti mengulang satu birama sebelumnya.
Contoh lain abreviasi adalah:
Notasi 62, Abreviasi dengan Coda
Urutannya adalah: A B C A B D E A B F
DC singkatan Da Capo artinya diulang dari awal lagu.
To Coda artinya berakhir pada coda ( ).
Notasi 63, Abreviasi DC
Seni Musik Non Klasik 31
Urutan lagu di atas adalah: A B C D B E F
DS singkatan dari Da Segno artinya diulang dari tanda.
1.11.3 Abreviasi tanda dinamik
Tanda dinamik adalah tanda tentang keras atau lembutnya lagu
dinyanyikan. Dalam suatu lagu sering dijumpai tanda dinamik dan
perubahan-perubahan dinamik yang dikendaki pencipta atau
arranger.
pp = pianissimo
p = piano
mp = mezzo piano
mf = mezzo forte
f = forte
ff = fortessimo
1.11.4 Abreviasi tanda tempo
Tanda tempo adalah tanda tentang cepat atau lambatnya lagu
dinyanyikan. Seperti halnya dengan tanda dinamik, tanda tempo dan
perubahan-perubahannya juga sering dijumpai dalam suatu lagu se-
suai dengan maksud pencipta maupun arranger. Alat pengukur kece-
patan tempo disebut metronome.
Apabila suatu lagu tertulis MM (Metronome Maelzel) q = 60, artinya
lagu tersebut dinyanyikan dengan kecepatan 60 ketukan not
seperempat dalam setiap menit, kecepatan lagu setiap ketukan
adalah 1 detik. Tanda ini sering digunakan dalam repertoar musik non
klasik.
Macam-macam tanda tempo secara garis besar adalah: Lambat,
Sedang, dan Cepat.
Seni Musik Non Klasik 32
1.11.5 Tanda Tempo
Tanda tempo adalah tanda tentang cepat atau lambatnya lagu dinya-
nyikan. Pada dasarnya tanda tempo dibagi menjadi tiga jenis, yaitu
lambat, sedang, dan cepat .
1.12 Tempo Lambat
1.12.1 Largo
1.12.2 Adagio
1.12.3 Lento
1.12.4 Grave
1.13 Tempo Sedang
1.13.1 Larghetto
1.13.2 Andante
1.13.3 Andantino
1.13.4 Moderato
1.14 Tempo Cepat
1.14.1 Allegretto
1.14.2 Allegro
1.14.3 Presto
Tanda tempo diatas masih banyak variasinya tergantung keinginan
komposer dalam mengekspresikan karyanya. Repertoar musik non klasik
lebih banyak menggunakan istilah yang diukur dengan metronome.
Misalnya MM q= 60 yang berarti lagu dinyanyikan dalam kecepatan 60
ketukan not seperempat dalam setiap menit, atau setiap ketukan sama
dengan 1 detik.
1.14.4 Tanda Dinamik
Tanda dinamik adalah tanda tentang keras atau lembutnya suatu lagu
dinyanyikan. Sama halnya dengan tanda tempo, tanda ini secara ga-
ris besar dibagi menjadi tiga jenis yaitu lembut, sedang, dan keras.
Dalam istilah musik dituliskan dalam istilah sebagai berikut:
1.15 Lembut
1.15.1 piano = lembut
1.15.2 pianissimo = sangat lembut
Seni Musik Non Klasik 33
1.16 Sedang
1.16.1 Mezzopiano = lembut sedang
1.16.2 mezzoforten = keras sedang
1.17 Keras
1.17.1 forte = keras
1.17.2 fortissimo = sangat keras
Dalam repertoar musik non klasik jarang dijumpai tanda-tanda itu karena
permainan musik non klasik tidak banyak terjadi perubahan dinamik
maupun tempo. Pada akhir lagu biasanya tanda-tanda tempo dan di-
namik tersebut dipraktekkan untuk mengakhiri suatu lagu.
Dalam suatu lagu sering juga dijumpai perubahan-perubahan tanda tem-
po dan dinamik. Perubahan tanda tempo dan dinamik tersebut misalnya:
1.18 ritardando (rit.) = menjadi lambat
1.19 accelerando (accel.) = menjadi cepat
1.20 a tempo = kembali ke tempo semula
U (fermata)
1.21 = ditahan dalam waktu tidak terbatas
1.22 crescendo = menjadi keras
1.23 decrescendo = menjadi lembut
1.23.1 Bentuk Analisis Lagu
Setiap lagu memiliki bentuk yang dapat dianalisis berdasarkan
bagian-bagiannya. Dalam musik populer kebanyakan memilki bentuk 2
bagian atau AB. Artinya bagian pertama atau A berbeda dengan bagian
kedua (B). Perbedaannya bukan semata-mata pada syair tetapi dapat
dilihat dari melodi, yang berpengaruh pada harmonisasi. Orang awam
sering memberi istilah Bait dan Refrain. Beberapa lagu yang kita jumpai
bagian A dinyanyikan dua kali dengan melodi yang sama tetapi syairnya
berbeda, kemudian masuk bagian kedua (B) yang biasanya disebut
refrain, kemudian kembali lagi ke bagian A atau berhenti diisi dengan
musik tengah atau interlude.
Seni Musik Non Klasik 34
JUJUR
A RAJA
B
Notasi 64, Contoh lagu bentuk AB
Lagu di atas merupakan salah satu contoh bentuk lagu dua bagian
atau A B. Urutan lagunya adalah:
Intro ---- A ---- A1 -----B -----A1 -------Interlude ------- B
Lagu Jujur di atas merupakan salah satu bentuk lagu yang banyak
dijumpai dalam musik populer. Tentunya masih ada bentuk lain karena
Seni Musik Non Klasik 35
komponis memiliki kebebasan dalam berekspresi. Bentuk lain tersebut
misalnya bentuk lagu 3 bagian atau A, B, dan C. Urutan menyanyikan
juga bervariasi tetapi biasanya A, B, C kemudian diulang sesuai dengan
kehendak komposer. Bisa jadi diulang dari B atau hanya C atau mungkin
dari A. Setiap lagu bisa memiliki bentuk yang berbeda dengan lagu lain
tergantung dari bagaimana komposer mengekspresikan karya musiknya.
Sedangkan urutan lagu tergantung pada pembuat aransemen karena be-
lum tentu seorang komposer sekaligus sebagai pembuat aransemen
musik (arranger).
Motif
o
Adalah bagian terkecil dari suatu kalimat lagu. Lagu diatas memiliki
pola ritme yang diulang ulang, misalnya:
Notasi 65, motif
Notasi 66, pengulangan
Notasi 67, pengulangan lainnya
Seni Musik Non Klasik 36
Ketiganya memiliki pola ritme yang sama, dan masih dijumpai lagi
pola ritme sejenis dalam lagu di atas.
Frase
o
Adalah struktur kalimat lagu. Dalam lagu biasanya terdapat beberapa
frase. Frase pertama adalah:
Notasi 68, Frase pertama
Frase ke dua:
Notasi 69, Frase kedua
Berikut contoh lagu yang memiliki bentuk tiga bagian yaitu A B C.
KENANGAN TERINDAH
Samson
A
Seni Musik Non Klasik 37
B
C
Notasi 70, Lagu bentuk ABC
Baris pertama dan ke dua lagu diatas adalah bagian A, baris ketiga
dan ke empat merupakan bagian B, sedangkan bagian C terdapat pada
baris ke lima dan ke enam. Notasi diatas merupakan inti dari lagu
Kenangan Terindah, artinya musik serta syair berikutnya yang terdapat
dalam kaset aslinya merupakan pengembangan aransemen untuk mem-
perindah lagu secara keseluruhan. Pengulangan syairnya langsung pada
bagian C atau mulai dari syair Bila yang tertulis dst. Jadi urutan lagu asli-
nya adalah:
Intro ---- A ---- B ---- C ---- Interlude ------ C
Analisis beberapa lagu diatas merupakan suatu upaya mempermudah
dalam mengenal dan memahami lagu tersebut, bukan sebaliknya mem-
persulit dari lagu yang sebenarnya sudah mudah dinyanyikan. Misalnya
apabila kita mempelajari sebuah lagu kita bisa mempelajarinya secara
bagian per bagian.
Seni Musik Non Klasik 38
BAB 3
Ilmu Harmoni
Pada dasarnya ilmu harmoni yang akan dibahas ada dua, yaitu
harmoni konvensional dan harmoni modern. Harmoni konvensional mem-
pelajari bagaimana membuat aransemen untuk paduan suara (vokal)
berdasarkan pengelompokan jenis suara yaitu sopran, alto, tenor, dan
bass atau lebih populer dengan isilah SATB. Sedangkan harmoni modern
adalah ilmu harmoni yang mempelajari masalah tangganada dan akor,
baik untuk musik vokal maupun instrumental. Harmoni modern banyak
digunakan sebagai dasar improvisasi dalam musik jazz maupun pop.
2.1 Harmoni SATB
Pada dasarnya suara manusia dibagi menjadi 4 jenis, yaitu :
sopran adalah jenis suara wanita dengan wilayah nada tinggi, alto
adalah jenis suara wanita dengan wilayah nada rendah, tenor adalah
jenis suara pria dengan wilayah nada tinggi, bass adalah jenis suara pria
dengan wilayah nada rendah.
Pembagian jenis suara yang lebih detail lagi masih ada, misalnya
mezzo sopran, adalah jenis suara wanita yang wilayah suaranya lebih
rendah dari sopran tetapi lebih tinggi dari alto. Bariton adalah jenis suara
pria yang wilayah suaranya lebih rendah dari tenor dan lebih tinggi dari
bass.
Paduan suara (koor) merupakan kesatuan dari sejumlah
penyanyi dari beberapa jenis suara yang berbeda dan memadukannya
dibawah pimpinan seorang dirigen. Dirigen atau conductor adalah seo-
rang yang pekerjaannya memimpin sekelompok pemain musik baik musik
vokal, instrumen atau gabungan antara vokal dan instrumen. Untuk dapat
melaksanakan pekerjaan ini diperlukan beberapa persyaratan antara lain
memiliki jiwa kepemimpinan, memiliki pengetahuan dan kemampuan
serta ketrampilan dalam bidang musik. Salah satu kemampuan yang
diperlukan seorang guru musik adalah membuat aransemen paduan
suara SATB.
Untuk dapat membuat aransemen paduan suara, pengetahuan
yang wajib dimiliki adalah dapat menentukan wilayah suara manusia
Seni Musik Non Klasik 39
sesuai dengan jenisnya. Hal ini penting karena aransemen tersebut di-
harapkan nantinya dapat dinyanyikan sesuai dengan wilayah suara
masing-masing jenis suara.
Berikut ini notasi wilayah suara manusia:
Notasi 71, sopran: c1 sampai a 2
Notasi 72, alto: f sampai d2
Notasi 73, tenor: c sampai a1
Seni Musik Non Klasik 40
Notasi 74, bass: F sampai d 1
Masing-masing jenis suara memiliki wilayah nada dan karakter yang
berbeda antara jenis suara yang satu satu dengan lainnya. Setiap wilayah
nada dari masing-masing jenis suara memiliki register suara dada,
tengah, dan kepala. Suara dada terdapat pada na-nada bawah, suara te-
ngah pada nada-nada tengah, an suara kepala pada nada-nada atas.
Ke empat jenis suara yaitu sopran, alto, tenor, dan bass tersebut
dapat dipadukan dalam bermacam-macam kombinasi, sebagai berikut:
• Sopran dan alto (SA), biasanya aransemen ini dinyanyikan oleh
paduan suara (koor) wanita atau anak-anak. Suara yang rendah
tidak selalu dipandang sebagai suara bass oleh karenanya pa-
duan suara ini sebaiknya diiringi dengan instrumen untuk
memperkuat nada-nada yang rendah.
• TTBB (Tenor, Tenor, Bass, dan Bass) adalah paduan suara yang
dinyanyikan oleh suara pria, tetapi yang lebih banyak kita jumpai
adalah paduan suara pria untuk 3 suara yaitu TTB.
Jenis paduan suara diatas disebut paduan suara sejenis, artinya
hanya dinyanyikan oleh suara wanita atau pria saja. Aransemen ini ku-
rang sempurna karena wilayah suaranya cukup terbatas, maka lagu-lagu
yang memiliki wilayah nada yang luas tidak tepat untuk diaransir untuk
paduan suara jenis ini. Oleh karena keterbatasan wilayah nada maka
dalam aransemen ini diperbolehkan suara rendah merpindah lebih tinggi
dari suara pertama tetapi masing-masing suara menjadio kabur. Dalam
paduan suara sejenis akor-akornya tidak perlu lengkap sehingga aran-
semennya menjadi ‘miskin’ harmosisasinya.
SATB (Sopran, Alto, Tenor, dan Bass) adalah aransemen yang
dinyanyikan oleh suara pria dan wanita atau sering disebut dengan istilah
Seni Musik Non Klasik 41
paduan suara campuran. Aransemen ini dianggap paling sempurna kare-
na wilayah nada yang dapat dijangkau lebih luas, setiap suara dapat
memperlihatkan semua registernya.
2.1 Hal-hal penting dalam membuat aransemen paduan suara SATB
In - do ne - si - a In - do - ne - si - a. Tanah ku su-
bur ta- nah su - bur, ya su - bur Ka - mi cin - ta
Ru –kun dan da
kau, ka-mi cin-ta kau sepan-jang umur ya u - mur
mai, Rukun dan damai aman dan makmur ya mak –mur
Notasi 75, Lagu Indonesia Subur dalam SATB
Membuat aransemen untuk paduan suara campuran (SATB) pada
dasarnya adalah membuat lagu baru. Suara sopran biasanya sudah ada
dan menjadi melodi pokoknya, meskipun kadang-kadang ada juga melodi
Seni Musik Non Klasik 42
pokok diletakkan pada jenis suara yang lain, hal tersebut merupakan
perkecualian. Dalam contoh lagu “Indonesia Subur” (SATB), melodi
pokok sudah dimainkan oleh sopran sehingga melodi untuk alto, tenor
dan bass merupakan contoh aransemen yang masih dapat dikembang-
kan sesuai dengan kebutuhan. Sebelum membuat aransemen, marilah
kita perhatikan ketentuan-ketentuan dasar tentang aransemen paduan
suara SATB berikut ini:
2.1.1 Penulisan dalam notasi balok.
• Sopran dan tenor ditulis dengan arah tangkai ke atas
• Alto dan bass ditulis dengan arah tangkai ke bawah
C mayor
Notasi 76, SATB
2.1.2 Menentukan nada
Inti dari pembuatan aransemen adalah menentukan nada
berdasarkan akor yang sudah ditentukan. Untuk mementukan
nada yang baik cermatilah beberapa hal berikut ini:
Seni Musik Non Klasik 43
2.1.2.1 Pendobelan nada
Prioritas pertama pada nada dasar, Perhatikan lagu diatas,
nada pertama pada birama pertama, yaitu:
C mayor
Notasi 77, C mayor prioritas pertama
Nada yang dilakukan pendobelan adalah nada c yang
merupakan nada dasar yang terdapat pada suara sopran dan
bass.
2.1.2.2 Prioritas ke dua pada nada ke lima (kwint).
Contoh:
G mayor
Notasi 78, C mayor prioritas kedua
Pendobelan ini pada nada ‘g’ yang dinyanyikan alto dan tenor.
Seni Musik Non Klasik 44
2.1.2.3 Tidak dianjurkan pada nada terts (jarak ke tiga), misalnya:
C mayor
Notasi 79, C mayor pendobelan terts
Nada yang dilakukan pendobelan pada notasi diatas adalah nada
e yang merupakan nada ke tiga. Ini sebaiknya dihindari untuk
menjaga kualitas dari akor yang bersangkutan.
2.1.2.4 Jarak nada pada masing-masing jenis suara
• Usahakan agar jarak/interval Sopran dengan Alto, dan Alto
dengan Tenor tidak lebih dari 1 oktaf. Perhatikan contoh
lagu pada birama pertama berikut ini:
C mayor
Notasi 80, Penulisan SATB
Interval antara sopran dan alto yaitu nada e1 dan c1 tidak
lebih dari 1 oktaf, bahkan kurang dari 1 oktaf, interval antara
alto dan tenor yaitu nada g dan e1 juga kurang dari 1 oktaf.
Seni Musik Non Klasik 45
• Jarak tenor dengan bass boleh lebih dari 1 oktaf, misalnya
contoh pada birama pertama ketukan ke 4, yaitu:
C mayor
Notasi 81, Jarak tenor dan bass
2.2 Posisi Terbuka dan Tertutup.
2.2.1 Posisi Terbuka artinya antara sopran, alto dan tenor
dapat disisipi nada yang lain. Contoh:
Notasi 82, Posisi terbuka
Notasi diatas menunjukkan bahwa antara sopran dan alto masih
dapat disisipkan nada yang merupakan keluarga akor C mayor
yaitu nada g dan antara alto dan tenor juga terdapat nada yang
merupakan isi dari akor C mayor yaitu nada c.
Seni Musik Non Klasik 46
2.2.2 Posisi Tertutup artinya antara Sopran, Alto dan Tenor tidak
dapat disisipi nada yang lain, seperti birama pertama baris
ke dua pada lagu di atas.
Notas i 83, Posisi tertutup
Antara sopran dan alto tidak ada nada yang dapat disisipkan lagi.
Kedua posisi ini tidak ada yang dilarang tetapi dianjurkan diguna-
kan secara bergantian, artinya dalam satu aransemen keduanya
bisa digunakan secara bersama-sama.
Perlu diperhatian penggarapan secara vertikal dan horisontal.
• Vertikal berarti apabila ditarik garis lurus ke atas, nada-
nadanya merupakan isi dari akor yang ditentukan.
• Horisontal artinya deretan nada dalm setiap jenis suara
hendaknya bersifat melodis, artinya interval nadanya
mudah dinyanyikan, maka dari itu biasanya dicari nada
yang paling dekat.
Contoh:
Notasi 84, contoh aransemen SATB
Seni Musik Non Klasik 47
Nada-nada diatas secara vertikal merupakan keluarga dari akor
yang ditentukan dan secara horisontal masing-masing merupakan
melodi yang berdiri sendiri dan mudah untuk dinyanyikan, jadi bukan
semata-mata hanya melengkapi akor yang ada. Hal ini penting karena
perlu diingat lagi bahwa suara alto, tenor, dan bass juga merupakan
lagu yang berjalan bersama secara harmonis.
2.3 Overlapping.
Dalam penggarapan aransemen SATB tidak diperbolehkan terjadi
overlapping antara suara sopran, alto, tenor, dan bass. Contoh:
Notasi 85, overlapping
Notasi di atas menunjukkan bahwa suara tenor lebih rendah
daripada suara alto yang disebut overlapping.
2.4 Paralel kwint dan oktaf
Dalam penggarapan aransemen paduan suara, parallel kwint dan
oktaf tidak diperbolehkan karena seharusnya dua jenis suara
dapat bergerak sendiri-sendiri menjadi terikat kebebasannya.
Contoh :
Seni Musik Non Klasik 48
Notasi 86, paralel
Aransemen yang benar adalah:
Notasi 87, contoh aransemen yang benar
Berikut adalah contoh paralel yang salah:
Notasi 88, Paralel salah
Perhatikan nada ke dua dan ke tiga pada sopran, serta nada ke
dua dan ke tiga pada bass, terlihat sejajar. Aransemen tersebut
sebaiknya disusun seperti dibawah ini:
Seni Musik Non Klasik 49
Notasi 89, Aransemen yang seharusnya
Paralel yang tidak diperbolehkan lagi adalah paralel oktaf.untuk
suara sopran dan bass. Ini berarti terjadi pendobelan suara
melodi, maka hal ini harus dihindari. Contoh:
Notasi 90, Paralel sopran dan bass
Aransemen tersebut sebaiknya sebagai berikut:
Notasi 91, Aransemen yang baik
Seni Musik Non Klasik 50
2.5 Kadens (cadence)
Kadens adalah cara mengakhiri suatu karya komposisi dengan
berbagai kemungkinan akor sebagai akhir suatu frase lagu. Ka-
dens ditentukan oleh melodi lagu yang akan diaransir karena pada
dasarnya aransemen adalah juga membuat iringan. Ragam akor
sebagai akhir suatu frase menentukan jenis kadena sebagai
berikut:
2.5.1 Perfect Cadence
Adalah kadens sempurna dengan urutan akor tingkat IV –
V – I. Dalam lagulagu pop banyak sekali dijumpai progresi
akor jenis ini.
2.5.2 Half Cadence
Merupakan jenis kaden yang memiliki progresi akor tingkat
V – I. Dalam contoh lagu dibawah ini terdapat pada akhir
birama ke-3 dan awal birama ke-4.
2.5.3 Plagal Cadence
Jenis kadens ini memiliki progresi akor dari tingkat IV – I.
Dalam contoh lagu dibawah ini terdapat pada baris ke-3,
akhir birama ke-3 dan awal birama ke-4.
2.6 Langkah-langkah menyusun aransemen paduan suara
SATB
2.6.1 Langkah pertama yaitu dengan menentukan terlebih
dahulu suara bass berdasarkan akor yang telah
ditetapkan. Buatlah pergerakan melodi yang berlawanan
dengan suara Sopran (melodi pokok). Misalnya
pergerakan melodi sopran pada bira pertama naik, berarti
Seni Musik Non Klasik 51
Anda disarankan membuat pergerakan bass pada birama
pertama turun. Hati-hati hindarilah parallel kwint maupun
paralel oktaf seperti penjelasan terdahulu. Setelah selesai
menentukan suara bass, coba nyanyikan agar bisa diketa-
hui kemelodisannya sehingga orang yang menyanyikan
nantinya terasa ‘enak’, bukan hanya sekedar menyusun
nada-nada untuk melengkapi akor yang ditentukan. Inilah
yang disebut pertimbangan horizontal.
2.6.2 Langkah ke dua adalah menentukan suara tengah, yaitu
alto atau tenor. Usahakan interval/jarak nada antara so-
pran dan alto disarankan untuk tidak lebih dari 1 oktaf,
demikian juga antara suara alto dan tenor. Sedangakan
interval untuk tenor dan bass boleh lebih dari 1 oktaf
seperti dapat dilihat pada contoh terdahulu.
2.6.3 Usahakan agar secara vertikal, nada-nadanya dapat
selengkap mungkin sesuai dengan jenis akornya.
2.6.4 Pendobelan nada diprioritaskan untuk nada dasar, prioritas
ke dua untuk interval tertsnya. Misalnya akor C mayor,
prioritas pertama pendobelan pada nada c, dan prioritas ke
dua untuk nada e seperti penjelasan pada uraian materi
diatas. Hal ini dimaksudkan agar kualitas akor tetap terjaga
dan tidak mnimbulkan interpretasi akor yang lain.
2.6.5 Urutan nada dari atas ke bawah adalah sopran, alto, tenor,
dan bass. Apabila ditemukan suara alto lebih rendah dari-
pada suara tenor, atau suara tenor lebih rendah dari sura
bass, maka ini disebut dengan istilah overlapping. Hal ini
sedapat mungkin dihindari. Hal ini dimaksudkan selain
pertimbangan estetika penulisan tetapi yang lebih penting
agar masing-masing jenis suara tidak jelas atau kabur.
Perlu diingat bahwa yang paling penting dari semuanya itu adalah
‘bagaimana bunyinya’. Semua melodi untuk masing-masing jenis
suara dianjurkan merupakan suara yang ‘nyata’, artinya suara alto,
tenor, dan bass harus dapat dinyanyikan dengan ‘enak’ dan seakan-
akan menjadi lagu baru yang dinyanyikan secara bersama-sama.
Maka dari itu nyanyikanlah berulang-ulang melodi jenis suara yang
Anda buat agar kesan melodisnya selalu muncul, bukan hanya
pertimbangan vertikal saja. Apabila suatu kalimat lagu perlu pene-
kanan atau penonjolan bisa disusun secara unisono.
Seni Musik Non Klasik 52
2.2 Harmoni Modern
Salah satu kemampuan yang dituntut dalam permainan musik non
klasik dan wajib dimiliki oleh setiap musisi adalah melakukan improvisasi.
Hal ini merupakan salah satu hal yang membedakan antara permainan
musik klasik pada umumnya dan pemain musik non klasik. Karena
kemampuan ini wajib dimiliki, maka diperlukan bekal untuk menguasai
teknik dasar berimprovisasi. Kemampuan ini selain berfungsi untuk me-
ngembangkan kemampuan musikalitas juga sangat dituntut oleh dunia
kerja musik non klasik.
Improvisasi berarti mengembangkan melodi yang merupakan
nada-nada dari tangganada dalam suatu akor. Improvisasi merupakan
kemampuan yang harus dimiliki oleh pemain musik non klasik. Dalam
beberapa repertoar, seringkali dituntut tidak harus sama dengan lagu
aslinya, namun kadang-kadang dituntut sama dengan lagu asli. Lagu
yang sudah ditentukan akornya dianalisis, karena pada dasarnya setiap
tingkatan akor masing-masing memiliki tangganada. Nada-nada dalam
tangganada tersebut kemudian dirangkai sehingga membentuk melodi
baru yang merupakan pengembangan dari nada-nada dalam tangga
nadanya.
Menguasai tangganada setiap akor pada suatu lagu merupakan
bekal dasar seseorang dalam melakukan improvisasi. Pemain musik tidak
mungkin dapat melakukan improvisasi apabila tidak menguasai akor dan
progresinya yang ada pada suatu lagu.
Notasi 92, lagu All I am
Seni Musik Non Klasik 53
Nama-nama akor 7 (seventh chords) dalam tangganada C Mayor, adalah
sebagai berikut:
Cmaj7 D-7 E-7 Fmaj7 G7 A-7 B-7b5
Notasi 93, Seventh chords C mayor
Akor tingkat I (Cmaj7 ) memiliki nada-nada yang sama dengan
tangganada c ionian, seperti berikut ini:
c d e f g a b c
Notasi 94, Tangga nada C ionian
Akor tingkat II (D-7) memiliki nada-nada yang sama dengan tangganada
d dorian, seperti dibawah ini:
d e f g a b c d
Notasi 95, tangganada d dorian
Seni Musik Non Klasik 54
Akor tingkat III (E-7) memiliki nada-nada yang sama dengan tangganada
e phrygian, seperti berikut ini:
e f g a b c d e
Notasi 96, tangganada e phrygian
Akor tingkat IV (Fmaj7) memiliki nada-nada yang sama dengan
tangganada f lydian, seperti berikut ini:
f g a b c d e f
Notasi 97, Tangganada f lydian
Akor tingkat V (G7) memiliki nada-nada yang sama dengan tangganada
g myxolydian, seperti dibawah ini:
g a b c d e f g
Notasi 98, Tangganada g myxolydian
Seni Musik Non Klasik 55
Akor tingkat VI (A-7) memiliki nada-nada yang sama dengan tangga nada
a aeolian, seperti berikut ini:
a b c d e f g a
Notasi 99, tanganada a aeolian
Akor tingkat VII (B-7b5) memiliki nada-nada yang sama dengan
tangganada b locrian, seperti berikut ini:
b c d e f g a b
Notasi 100, Tangganada b locrian
Sistem membaca notasi
3.1
3.1.1 Fixed do yaitu sistem do tetap, artinya nada c dalam
tangganada apapun selalu dibaca ‘do’. Misalnya dalam tanggdi D
mayor berikut ini:
d e fis g a b Cis d
re mi fa sol la si do re
Notasi 101, fix do
Seni Musik Non Klasik 56
3.1.2 Movable do adalah sistem do berpindah, artinya nada do tidak
selalu pada nada c tetapi bisa berpindah sesuai dengan
tangganadanya. Sistem ini lebih banyak dikenal dlam dunia
pendidikan musik kita, sehingga timbul istilah nada dasar 1 = G, 1
= D, dan seterusnya. Bagi kita yang menganut sistem ini lebih
banyak menguntungkan karena kita lebih cepat mendeteksi
interval suatu tangganada.
d e fis g a b Cis d
do re mi fa sol la si do
Notasi 102, movable do
Menentukan nada yang akan dikembangkan menjadi melodi dapat
didahului dengan pembuatan pola ritme. Pola ritme dapat disusun mulai
dari tingkat yang sederhana sampai tingkat yang rumit, Tingkat seder-
hana, artinya nilai nadanya menggunakan bentuk not yang besar,
misalnya not utuh, setengah, seperempat dan seperdelapan. Sedangkan
pola ritme yang rumit biasanya banyak menggunakan sinkop, disamping
menggunakan bentuk not kecil seperti perenambelasan, triol kecil dan
besar, atau mungkin kwartol atau kwintol, dan lain-lain.
Perlu diingat bahwa pola ritme yang baik belum tentu rumit dan
sulit dalam memainkannya. Sebaliknya pola ritme yang sederhana juga
belum tentu tidak menarik. Keindahan melodi yang terbentuk dari pola
ritme tidak ditentukan oleh sederhana dan rumitnya ritme yang disusun.
Keindahan melodi ditentukan oleh beberapa hal, misalnya:
• Kesesuaian melodi dengan karakter lagu, artinya apabila lagu yang
diimprovisasi adalah lagu yang melankolis, maka pola ritmenya juga
sederhana dan tidak memerlukan nilai nada yang kecil misalnya
seperenambelasan atau bahkan sepertigapuluhduaan.
• Pola ritme yang disusun dan tidak harus sama dengan pola ritme lagu
yang akan diimprovisasi.
Seni Musik Non Klasik 57
Contoh pola ritme
Notasi 103, contoh pola ritme
Pola ritme diatas tidak sama dengan pola ritme yang ada pada
lagu ‘All I am’. Nilai nada pada pola rirme diatas tidak terlalu sulit untuk
dimainkan karena hanya menggunakan bentuk dan nilai not seperempat,
dan seperdelapan. Nilai not ini masih mudah untuk dinyanyikan maupun
dimainkan dengan instrumen musik. Perlu diingat bahwa pola ritme yang
rumit kecuali sulit untuk dinyanyikan maupun dimainkan juga belum tentu
menjamin nilai keindahannya lebih tinggi daripada pola ritme sederhana.
Lagu ‘All I am’ di atas telah ditentukan akor yang hampir semua-
nya menggunakan seventh chords. Setiap akor tersebut telah diketahui
tangga nadanya. Untuk dapat melakukan improvisasi suatu lagu, satu hal
penting yang harus dikuasai adalah menganalisis jenis akor dan tangga
nada akornya, serta progresi akor. Lagu diatas berbirama 4/4 dan
bernada dasar do=C. Ini berarti akor C merupakan akor tingkat I
(pertama) dari lagu tersebut, memlilki nada yang sama dengan ionian,
akor D merupakan akor tingkat II (ke dua) memiliki nada yang sama
dengan dorian, akor E merupakan akor tingkat III (ke tiga), memiliki nada
yang sama dengan phrygian, dan seterusnya sesuai dengan uraian
materi diatas.
3.2 Langkah-langkah menyusun ritme
Bedasarkan uraian teori membuat ritme pada bab Harmoni Modern
diatas, maka langkah-langkahnya sebagai berikut:
3.2.1 Nyanyikan lagu tersebut sampai Di menemukan motif ritmenya.
Lagu tersebut memiliki pola ritme yang sederhana karena hanya
menggunakan bentuk dan nilai not penuh, setengah, seperempat,
dan seperdelapan. Nilai not tersebut tidak terlalu sulit untuk
dinyanyikan maupun dimainkan dengan menggunakan instrumen.
Salah satu hal yang mungkin memerlukan kecermatan adalah
terdapat di ligatura yang berarti dimainkan secara bersambung.
Seni Musik Non Klasik 58
3.2.2 Buatlah ritme sesuai dengan ide musikal yang Di miliki. Perlu
diingat bahwa didalam lagu terdapat frasering atau struktur
kalimat. All I am’ memiliki bentuk yang tidak simetris, karena
‘
dalam satu kalimat lagu ada yang terdiri dari 4 (empat) birama dan
ada yang terdiri dari 6 (enam) birama. Latihan pertama, buatlah
juga ritme dalam empat birama dan enam birama tergantung dari
jumlah birama pada setiap kalimat lagu, sambil mengingat melodi
pada lagu aslinya.
3.2.3 Setelah menemukan pola ritme kemudian tuliskan ke dalam garis
paranada. Buatlah beberapa motif ritme supaya Di bisa memilih
motif yang sesuai dengan lagu aslinya. Apabila dalam lagu tidak
terdapat sinkop sebaiknya tidak membuat pola ritme yang banyak
menggunakan sinkop supaya tidak mngubah karakter lagu asli-
nya.
3.2.4 Bacalah pola ritme yang telah Di tulis secara berulang-ulang
sampai Di menguasai pola ritme itu tanpa teks lagi.
3.3 Langkah-langkah berlatih improvisasi:
Progresi akor pada lagu All I am adalah sebagai berikut:
Notasi 104, Progresi akor
Seni Musik Non Klasik 59
Ada 6 (enam) jenis akor yang digunakan dalam lagu diatas, berdasarkan
tingkatannya adalah sebagai berikut:
1. C mayor7
2. D minor7
3. E minor7
4. F mayor7
5. G7
6. G sus4
7. A7
Ke tujuh akor diatas merupakan seventh chords dalam tangga nada C
mayor. Setiap jenis akor dianalisis isi nadanya seperti uraian materi
terdahulu.
3.4 Karakteristik akor
3.4.1 Akor yang ditentukan pada birama pertama dari lagu tersebut
adalah C mayor7 atau C M7. Akor ini merupakan akor tingkat I
dari tangganada C mayor, memiliki nada yang sama dengan
tangganada ionian. Sesuai dengan uraian diatas berarti akor
tersebut sebenarnya bukan hanya memiliki 4 nada dalam C
mayor7 tetapi memiliki 7 nada dalam tangga nada C Ionian. Pada
dasarnya semua nada dalam tangga nada tersebut bisa dimain-
kan.
• Nyanyikan dengan v okal atau bisa juga menggunakan alat
musik yang telah Di kuasai. Mainkanlah sesuai dengan notasi
tangganaga ionian berulang-ulang dengan arah naik dan
turun.
• Hindarilah nada yang ke-4 dalam setiap tangganada, karena
karakter dari nada tersebut ‘kasar’ dan terdengar kurang
lembut.
• Buatlah melodi dari motif yang telah Di buat berdasarkan
tangganada akornya.
• Nada pertama dari melodi yang dibuat diusahakan bukan
nada pertama dari tangganadanya. Dalam tangganada dorian,
nada pertama adalah ‘d’, maka dari itu n ada pertama dari
melodinya sebaiknya bukan ‘d’, tetapi bisa ‘e’, ‘b’, atau nada-
nada yang lain. Apabila nada pertama dari melodi yang Di
buat merupakan nada pertama dari tangganada, maka
bunyinya akan terkesan “jenuh” dan kurang indah. Akor yang
terdapat pada birama pertama bukan merupakan akor pem-
balikan. Ini berarti nada ‘d’ sudah dibunyikan oleh nada
Seni Musik Non Klasik 60
terendah, kalau dalam format band nada ini dibunyikan oleh
bass. Apabila akor pada posisi pembalikan, nada yang dija-
dikan bass sebaiknya juga tidak menjadi nada pertama dari
melodi yang ingin dikembangkan. Ketentuan ini nantinya
berlaku untuk semua tangganada.
• Untuk membuktikan keterangan diatas coba praktekkan de-
ngan menggunakan vokal atau instrumen yang telah Di kua-
sai. Mulailah mengembangkan melodi dengan nada ‘d’ maka
Di akan dapat membedakan dan merasakan keindahan-nya
apabila dimulai dengan menggunakan nada selain ‘d’.
Birama ke-3 terdapat akor Em7 atau E-7, ini berarti
3.4.2
merupakan akor tingkat III dari tangganada C mayor. Isi
nada-nadanya sama dengan yang terdapat pada notasi
tangganada phrygian.
• Nyanyikan atau mainkanlah tangganada tersebut dengan
menggunakan vokal atau instrumen yang telah Di kuasai
secara berulang-ulang.
• Hindarilah nada ke-4 ( a) dari tanganada tersebut.
• Buatlah melodi yang dikembangkan berdasarkan motif yang
telah dibuat. Perlu diingat bahwa melodi yang akan dibuat
pada birama ini harus ada kaitannya dengan melodi pada
birama pertama karena masih dalam satu kalimat lagu atau
frase.
• Hindarilah nada pertama dalam tangganada ini menjadi awal
melodi, seperti apa yang telah dilakukan pada birama per-
tama. Ini berarti pada birama ke-2 sebaiknya tidak memulai
melakukan improvisasi dengan nada ‘e’. Nada pertama dalam
birama ini merupakan rangkaian melodi dari birama sebe-
lumnya, maka perhatikan interval yang mudah dijangkau dari
nada terakhir pada birama sebelumnya sehingga rangkaian
nada-nadanya bersifat melodis.
3.4.3 Birama ke-4 sama dengan birama sbelumnya yaitu akor Em7.
Secara umum sama dengan ketentuan dalam birama pertama.
Meskipun akornya sama bukan berarti melodi dan pola ritmenya
juga harus sama tetapi dianjurkan berbeda, baik motif ritme mau-
pun nada-nadanya. Hal ini untuk menghindari kejenuhan bagi
pendengar dan juga bagi pemain sendiri sebagai improvisator.
3.4.4 Birama ke-6 sama dengan birama ke-5. Ketentuannya sama
dengan birama sebelumnya mengenai nada pertama yang
dianjurkan, keterkaitannya dengan nada pada birama sebelum-
nya, nada yang sebaiknya dihindari, dan lain-lain.
Seni Musik Non Klasik 61
3.4.5 Birama ke-7 terdapat akor Gsus4 dan G7. Gsus4 merupakan akor
yang biasanya digunakan untuk memberikan variasi sebelum G7.
Namun akor ini akan dibahas lebih lanjut karena keberadaannya
diluar 7 jenis akor di atas ( non diatonic chord). G7 merupakan
akor dominan (tingkat V) dalam tangga nada C Mayor yang
memiliki tangga nada myxolydian seperti uraian di atas. Sama
seperti akor lain, akor ini juga memiliki 7 buah nada yang pada
dasarnya semua nada bisa dimainkan. Nada yang dihindari
adalah nada ke-4 yaitu c.
3.4.6 Birama ke -8 dan 9 menggunakan jenis akor yang sama pada
birama sebelumnya. Dengan demikian ketentuannya sama de-
ngan akor-akor yang telah digunakan pada birama sebelumnya.
3.4.7 Birama ke -10 terdapat akor C7/G maksudnya akor C7 tetapi nada
pada posisi dasarnya adalah G. Nadanya terdiri dari g, bes, c,
dan e.
Notasi 105, C7/G
Akor ini merupakan jenis akor diluar tangga nada C mayor (non
diatonic chord), maka akan dibahas pada materi akor tersendiri.
3.4.8 Birama ke-11 terdapat akor Fmaj7. Akor ini merupakan akor
tingkat IV dari tangganada C Mayor. Isi nadanya sama dengan
tangganada Lydian. Secara umum ketentuan setiap akor sama
dengan akor yang lain menyangkut nada ke-4 yang sebaiknya
dihindari, nada pertama dalam melodi yang disarankan untuk tidak
dipakai sebagai nada pertama dalam improvisasi, dan tingkat
kemelodisannya supaya indah apabila dimainkan, serta keter-
kaitannya dengan birama sebelumnya.
3.4.9 Pada birama ke -12 dan 13 tidak ada akor baru, semua telah
dibahas sebelumnya. Perhatikan kemelodisaanya, keterkaitan
dengan akor sebelumnya dan nada-nada yang dipakai pada pada
awal dan nada yang dihindari supaya nada yang dimainkan ter-
kesan indah.
3.4.10 Birama ke-14 pada ketukan ke -3 terdapat akor A7. Akor ini
termasuk dalam non diatonic chord, berarti akan dibahas pada
materi tersendiri.
Seni Musik Non Klasik 62
3.4.11 Birama ke -15 dan 16 menggunakan akor yang sama dengan
borama-birama sebelumnya.
3.4.12 Birama ke -17 terdapat dua jenis akor yaitu Dm7 dan G7. Dm7
telah dibahas di depan. Akor G7 merupakan akor dominan yang
biasanya bergerak ke tonika (tingkat I), yaitu akor C Mayor yang
merupakan akor tingkat I dari tanganada C Mayor.
3.4.13 Birama ke -18 terdapat akor Cmaj7. Isi nadanya sama dengan
tangganada Ionian. Ketentuan improvisasinya sama dengan akor-
akor lain yang sudah dipelajari sebelumnya. Perlu diingat bahwa
pada birama ini merupakan akhir kalimat lagu. Dalam ilmu bentuk
analisa musik, hal ini merupakan kalimat jawab tetapi melodi yang
dimainkan tidak harus berakhir dengan nada pertama (c). Jadi
bisa menggunakan nada yang lain asalkan masih merupakan
nada dalam tangganada akornya.
3.5 Beberapa catatan penting dalam melakukan improvisasi
• Melodi yang dikembangkan sedapat mungkin berbeda pola
ritmenya dengan lagu yang diimprovisasi.
• Melodi dapat juga dimulai sebelum jatuh pada birama yang
bersangkutan atau tepat pada biramanya.
• Dianjurkan agar tidak ada satu birama pun yang tidak diisi dengan
improvisasi, meskipun hanya satu nada panjang.
• Bunyi dari melodi yang dibuat adalah priorotas utama. Maka dari
itu sebaiknya nada dinyanyikan/dimainkan secara berulang-ulang
agar terdengar indah, tidak monoton dan mudah untuk dimainkan.
Dalam teori musik atau ilmu harmoni ada berbagai macam cara penulisan
simbol akor. Misalnya akor D minor, dapat ditulis dengan simbol Dm atau
dalam ilmu harmoni modern lebih popular dengan sebutan D-, atau notasi
frets pada gitar untuk instrumen gitar untuk mempermudah posisi jari.
Berikut contoh melodi yang dikembangkan berdasarkan tangganada akor
pada lagu di atas untuk empat birama pertama yang dikembangkan
berdasarkan pola ritme yang telah ditulis di atas:
Notasi 106, Pengembangan ritme
Seni Musik Non Klasik 63
Keterangan :
• Birama pertama lagu di atas menggunakan tangganada ionian.
Contoh melodi tersebut dimulai dengan nada ke dua yaitu ‘d’, berarti
bukan nada pertama dari tangganada c ionian seperti yang dianjurkan
dalam langkah-langkah diatas. Pola ritmenya tidak sama dengan pola
ritme yang terdapat pada lagu aslinya. Bentuk dan nilai nadanya
termasuk sederhana, hanya menggunakan bentuk not tengahan dan
seperdelapanan. Tidak ada nada ke empat dari tangganada c ionian
yaitu nada ‘f’ yang digunakan dalam contoh melodinya. Nada-nada
yang dimainkan pada birama pertama tidak didominasi oleh nada
dalam akor Cmaj7. Hal ini untuk menghindari kejenuhan karena nada-
nada dalam akor ini kadang-kadang sudah dimainkan oleh block
chord.
• Birama ke dua merupakan rangkaian dari birama sebelumnya, karena
kebetulan pada birama ke dua menggunakan akor yang sama dengan
akor birama pertama. Nada pertama pada birama ini bukan
merupakan nada pertama dari tangganada Cmaj7, melainkan nada
ke tujuh yaitu ‘b’. Bentuk dan nilai notnya ada variasi untuk
menghindari kejenuhan yaitu not seperenambelasan untuk
menghubungakan dengan nada pada birama selanjutnya. Terdapat
tanda legato yang berarti nada yang ke dua tidak dibunyikan lagi,
hanya memperpanjang nada pertama. Tidak ada nada ke empat yaitu
nada ‘f’ yang digunakan dalam birama ini. Pola ritmenya tidak sama
dengan pola ritme lagu dan ada kemiripan tetapi lebih bersifat
pengembangan motif.
• Birama ke tiga menggunakan nada-nada dalam tangganada E
phrygian. Meskipun pola ritmenya sama dengan birama pertama
tetapi melodi yang digunakan sedikit berbeda untuk menambah
warna improvisasi dan juga dimaksudkan untuk menghindari keje-
nuhan. Tidak ada nada ke empat dari tangga nada E phrygian yaitu
‘a’ karena nada ini terdengar kasar, sama seperti setiap nada ke
empat dari setiap tangga nada. Nada pertama yang digunakan adalah
nada ‘d’ dan bukan nada pertama dari tangganadanya.
• Birama ke empat menggunakan akor yang sama dengan birama
sebelumnya. Namun karena menyambung melodi sebelumnya maka
nada yang digunakan juga harus terkesan melodis. Nada pertama
adalah ‘b’. Nada tersebut bukan merupakan nada pertama dalam
tangganada E phrygian. Tidak ada nada ke empat (d) karena nada
tersebut memang sebaiknya dihindari.
Seni Musik Non Klasik 64
Contoh diatas masih sangat sederhana apabila ditinjau dari pola
ritme, melodi dan pengembangan motifnya. Kita bisa menyusun melodi
berdasarkan tangganada akor yang digunakan dalam birama tersebut
dan membuat variasi sesuai dengan ide musikal masing-masing. Pada
prinsipnya improvisasi adalah pengembangan melodi yang disusun ber-
dasar tangga nada akor. Pemain musik yang tidak menguasai akor dan
progesi akornya tidak mungkin dapat melakukan improvisasi dengan
benar.
1.5.1 Seventh chords dalam tangga nada G mayor
Gmaj7 A-7 B-7 Cmaj7 D7 E-7 FIS7-5
Notasi 107, Seventh chords G mayor
Tangga nada G ionian
Notasi 108, G ionian
Tangga nada A dorian
Notasi 109, A dorian
Seni Musik Non Klasik 65
Tangga nada B phrygian
Notasi 110, B phrygian
Tangga nada C lydian
Notasi 111, C lydian
Tangga nada D myxolydian
Notasi 112, D myxolydian
Tangga nada E aeolian
Notasi 113, E aeolian
Seni Musik Non Klasik 66
Tangga nada FIS locrian
Notasi 114, FIS locrian
1.5.2 Seventh chords dalam tangga nada F mayor
Fmaj7 G-7 A-7 Besmaj7 C7 D-7 E-7-5
Notasi 115, Seventh chords F mayor
Tangga nada F Ionian
Notasi 116, F Ionian
TAngga nada G dorian
Notasi 117, G dorian
Seni Musik Non Klasik 67
Tangga nada A Phrygian
Notasi 118, A Phrygian
Tangga nada Bes Lydian
Notasi 119, Bes Lydian
Tangga nada C myxolydian
Notasi 120, C myxolydian
Tangga nada D Aeolian
Notasi 121, D Aeolian
Seni Musik Non Klasik 68
Tangga nada E locrian
Notasi 122, E locrian
1.5.3 Seventh chords dalam tangga nada D mayor
Dmaj7 E-7 FIS-7 Gmaj7 A7 B-7 CIS-7-5
Notasi 123, Seveth chords D mayor
Tangga nada D Ionian
Notasi 124, D Ionian
Tangga nada E dorian
Notasi 125, E dorian
Seni Musik Non Klasik 69
Tangga nada FIS Phrygian
Notasi 126, FIS Phrygian
Tangga nada G Lydian
Notasi 127, G Lydian
Tangga nada A myxolydian
Notasi 128, A myxolydian
Tangga nada B Aeolian
Notasi 129, B Aeolian
Seni Musik Non Klasik 70
Tangga nada CIS locrian
Notasi 130, CIS locrian
1.5.4 Seventh chords dalam tangga nada Bes mayor
Besmaj7 C-7 D-7 Esmaj7 Bes7 C-7 D-7-5
Notasi 131, Seventh chords Bes mayor
Tangga nada Bes Ionian
Notasi 132, Bes Ionian
Tangga nada C dorian
Notasi 133, C dorian
Seni Musik Non Klasik 71
Tangga nada D phrygian
Notasi 134, D phrygian
Tangga nada Es lydian
Notasi 135, Es lydian
Tangga nada F myxolydian
Notasi 136, F myxolydian
Tangga nada G aeolian
Notasi 137, G aeolian
Seni Musik Non Klasik 72
Tangga nada A locrian
Notasi 138, A locrian
1.5.5 Seventh chords dalam tangga nada A mayor
Amaj7 B-7 CIS-7 Dmaj7 E7 FIS-7 GIS-7-5
Notasi 139, Seventh chords A mayor
Tangga nada A ionian
Notasi 140, A ionian
Tangga nada B dorian
Notasi 141, B dorian
Seni Musik Non Klasik 73
Tangga nada CIS phrygian
Notasi 142, CIS phrygian
Tangga nada D lydian
Notasi 143, D lydian
Tangga nada E myxolydian
Notasi 144, E myxolydian
Tangga nada FIS aeolian
Notasi 145, FIS aeolian
Seni Musik Non Klasik 74
Tangga nada GIS locrian
Notasi 146, GIS locrian
1.5.6 Seventh chords dalam tangga nada Es mayor
Esmaj7 F-7 G-7 Asmaj7 Bes7 C-7 D-7-5
Notasi 147, Seventh chords Es mayor
Tangga nada Es Ionian
Notasi 148, Es Ionian
Tangga nada F dorian
Notasi 149, F dorian
Seni Musik Non Klasik 75
Tangga nada G phrygian
Notasi 150, G phrygian
Tangga nada As lydian
Notasi 151, As lydian
Tangga nada Bes myxolydian
Notasi 152, Bes myxolydian
Tangga nada C aeolian
Notasi 153, C aeolian
Seni Musik Non Klasik 76
Tangga nada D locrian
Notasi 154, D locrian
1.5.7 Seventh chords dalam tangga nada E mayor
Emaj7 FIS-7 GIS-7 Amaj7 B7 CIS-7 DIS-7-5
Notasi 155, Seventh chords E mayor
Tangga nada E ionian
Notasi 156, E ionian
Tangga nada FIS dorian
Notasi 157, FIS dorian
Seni Musik Non Klasik 77
Tangga nada GIS phrygian
Notasi 158, GIS phrygian
Tangga nada A lydian
Notasi 159, A lydian
Tangga nada B myxolydian
Notasi 160, B myxolydian
Tangga nada CIS aeolian
Notasi 161, CIS aeolian
Seni Musik Non Klasik 78
Tangga nada DIS locrian
Notasi 162, DIS locrian
1.5.8 Seventh chords dalam tangga nada As mayor
Asmaj7 Bes-7 C-7 Desmaj7 Es7 F-7 G-7-5
Notasi 163, Seventh chords As mayor
Tangga nada As ionian
Notasi 164, As ionian
Tangga nada Bes dorian
Notasi 165, Bes dorian
Seni Musik Non Klasik 79
Tangga nada C phyrygian
Notasi 166, C phyrygian
Tangga nada Des lydian
Notasi 167, Des lydian
Tangga nada Es myxolydian
Notasi 168, Es myxolydian
Tangga nada F aeolian
Notasi 169, F aeolian
Seni Musik Non Klasik 80
Tangga nada G locrian
Notasi 170, G locrian
1.5.9 Seventh chords dalam tangga nada B mayor
Bmaj7 CIS-7 DIS-7 Emaj7 FIS7 GIS-7 AIS-7-5
Notasi 171, Seventh chords B mayor
Tangga nada B ionian
Notasi 172, B ionian
Tangga nada CIS dorian
Notasi 173, CIS dorian
Seni Musik Non Klasik 81
Tangga nada DIS phrygian
Notasi 174, DIS Phrygian
Tangga nada E lydian
Notasi 175, E lydian
Tangga nada FIS myxolydian
Notasi 176, FIS myxolydian
Tangga nada GIS aeolian
Notasi 177, GIS aeolian
Tangga nada AIS locrian
Notasi 178, AIS locrian
Seni Musik Non Klasik 82
1.5.10 Seventh chords dalam tangga nada Des mayor
Desmaj7 Es -7 F-7 Gesmaj7 As7 Bes-7 C-7-5
Notasi 179, Seventh chords Des mayor
Tangga nada Des ionian
Notasi 180, Des Ionian
Tangga nada Es dorian
Notasi 181, Es dorian
Tangga nada F phrygian
Notasi 182, F phrygian
Seni Musik Non Klasik 83
Tangga nada Ges lydian
Notasi 183, Ges lydian
Tangga nada As myxolydian
Notasi 184, As myxolydian
Tangga nada Bes aeolian
Notasi 185, Bes aeolian
Tangga nada C locrian
Notasi 186, C locrian
Seni Musik Non Klasik 84
4 Daftar notasi
Notasi 1 Garis paranada
Notasi 2 Kunci G dan nada g
Notasi 3 Kunci F dan nada
Notasi 4 Letak nada
Notasi 5 Kunci C dan nada c
Notasi 6 Bentuk not
Notasi 7 Nilai not dan tanda istirahat
Notasi 8 Petikan lagu Kebyar-Kebyar
Notasi 9 Not perempatan
Notasi 10 Not perdelapanan dan perempatan
Notasi 11 Not perdelapanan
Notasi 12 Not setengah
Notasi 13 Not utuh
Notasi 14 Lagu Masih (Ada Band)
Notasi 15 Petikan lagu Belaian sayang
Notasi 16 Notasi dan tanda titik
Notasi 17 3/4
Notasi 18 Petikan lagu Kebyar-Kebyar
Notasi 19 Petikan lagu Kidung (Chrisye)
Notasi 20 Petikan lagu Sepasang Mata Bola
Notasi 21 Petikan lagu Auld Lang Syne
Notasi 22 Tangga nada Pentatonik
Notasi 23 Tangga nada C mayor
Notasi 24 Tangga nada G Mayor
Notasi 25 Tangga nada D mayor
Notasi 26 Tangga nada A mayor
Notasi 27 Tangga nada E mayor
Notasi 28 Tangga nada B mayor
Notasi 29 Tangga nada Fis mayor
Notasi 30 Tangga nada Cis mayor
Notasi 31 Tangga nada F mayor
Notasi 32 Tangga nada Bes mayor
Notasi 33 Tangga nada Es mayor
Notasi 34 Tangga nada As mayor
Notasi 35 Tangga nada Des mayor
Notasi 36 Tangga nada Ges mayor
Notasi 37 Tangga nada Ces mayor
Notasi 38 Tangga nada C minor diatonis
Notasi 39 Tangga nada C minor harmonis
Notasi 40 Tangga nada C minor melodis naik
Notasi 41 Tangga nada C minor melodis turun
Notasi 42 Petikan lagu Chindai in A minor
Notasi 43 Petikan lagu Chindai in C minor
Notasi 44 Interval
Seni Musik Non Klasik 85
Notasi 45 Interval perfect
Notasi 46 Contoh interval perfect
Notasi 47 Interval mayor
Notasi 48 Interval minor
Notasi 49 Interval augmented
Notasi 50 Petikan lagu Doa dan Restumu
Notasi 51 Nada-nada dalam C mayor
Notasi 52 Akor trisuara
Notasi 53 Tingkai I-VIII
Notasi 54 Tri suara dalam D mayor
Notasi 55 Contoh lagu modulasi
Notasi 56 Abreviasi not perdelapanan
Notasi 57 Abreviasi triol
Notasi 58 Abreviasi not utuh
Notasi 59 Petikan lagu Kenangan Terindah (Samson)
Notasi 60 Abreviasi
Notasi 61 Abreviasi birama sebelumnya
Notasi 62 Abreviasi dengan Coda
Notasi 63 Abreviasi DC
Notasi 64 Contoh lagu bentuk AB
Notasi 65 Motif
Notasi 66 Pengulangan
Notasi 67 Pengulangan lainnya
Notasi 68 Frase pertama
Notasi 69 Frase kedua
Notasi 70 Lagu bentuk ABC
Notasi 71 Ambitus sopran
Notasi 72 Ambitus alto
Notasi 73 Ambitus tenor
Notasi 74 Ambitus bass
Notasi 75 SATB
Notasi 76 C mayor prioritas pertama
Notasi 77 C mayor prioritas kedua
Notasi 78 C mayor pendobelan terts
Notasi 79 Penulisan SATB
Notasi 80 Jarak tenor dan bass
Notasi 81 Posisi terbuka
Notasi 82 Posisi tertutup
Notasi 83 Contoh aransemen SATB
Notasi 84 Overlapping
Notasi 85 Paralel
Notasi 86 Contoh aransemen yang benar
Notasi 87 Paralel salah
Notasi 88 Aransemen yang seharusnya
Notasi 89 Paralel sopran dan bass
Notasi 90 Aransemen yang baik
Seni Musik Non Klasik 86
Notasi 91 Lagu Indonesia subur dalam SATB
Notasi 92 Lagu All I am
Notasi 93 Seventh chords C mayor
Notasi 94 Tangga nada C ionian
Notasi 95 Tangganada d dorian
Notasi 96 Tangganada e phrygian
Notasi 97 Tangganada f lydian
Notasi 98 Tangganada g myxolydian
Notasi 99 Tanganada a aeolian
Notasi 100 Tangganada b locrian
Notasi 101 Fix do
Notasi 102 Movable do
Notasi 103 Contoh pola ritme
Notasi 104 Progresi akor
Notasi 105 C7/G
Notasi 106 Pengembangan ritme
Notasi 107 Seventh chords G mayor
Notasi 108 G ionian
Notasi 109 A dorian
Notasi 110 B phrygian
Notasi 111 C lydian
Notasi 112 D myxolydian
Notasi 113 E aeolian
Notasi 114 FIS locrian
Notasi 115 Seventh chords F mayor
Notasi 116 F Ionian
Notasi 117 G dorian
Notasi 118 A Phrygian
Notasi 119 Bes Lydian
Notasi 120 C myxolydian
Notasi 121 D Aeolian
Notasi 122 E locrian
Notasi 123 Seveth chords D mayor
Notasi 124 D Ionian
Notasi 125 E dorian
Notasi 126 FIS Phrygian
Notasi 127 G Lydian
Notasi 128 A myxolydian
Notasi 129 B Aeolian
Notasi 130 CIS locrian
Notasi 131 Seventh chords Bes mayor
Notasi 132 Bes Ionian
Notasi 133 C dorian
Notasi 134 D phrygian
Notasi 135 Es lydian
Notasi 136 F myxolydian
Seni Musik Non Klasik 87
Notasi 137 G aeolian
Notasi 138 A locrian
Notasi 139 Seventh chords A mayor
Notasi 140 A ionian
Notasi 141 B dorian
Notasi 142 CIS phrygian
Notasi 143 D lydian
Notasi 144 E myxolydian
Notasi 145 FIS aeolian
Notasi 146 GIS locrian
Notasi 147 Seventh chords Es mayor
Notasi 148 Es Ionian
Notasi 149 F dorian
Notasi 150 G phrygian
Notasi 151 As lydian
Notasi 152 Bes myxolydian
Notasi 153 C aeolian
Notasi 154 D locrian
Notasi 155 Seventh chords E mayor
Notasi 156 E ionian
Notasi 157 FIS dorian
Notasi 158 GIS phrygian
Notasi 159 A lydian
Notasi 160 B mixolydian
Notasi 161 CIS aeolian
Notasi 162 DIS locrian
Notasi 163 Seventh chords As mayor
Notasi 164 As ionian
Notasi 165 Bes dorian
Notasi 166 C phyrygian
Notasi 167 Des lydian
Notasi 168 Es myxolydian
Notasi 169 F aeolian
Notasi 170 G locrian
Notasi 171 Seventh chords B mayor
Notasi 172 B ionian
Notasi 173 CIS dorian
Notasi 174 DIS phrygian
Notasi 175 E lydian
Notasi 176 FIS myxolydian
Notasi 177 GIS aeolian
Notasi 178 AIS locrian
Notasi 179 Seventh chords Des mayor
Notasi 180 Des Ionian
Notasi 181 Es dorian
Notasi 182 F phrygian
Seni Musik Non Klasik 88
Notasi 183 Ges lydian
Notasi 184 As myxolydian
Notasi 185 Bes aeolian
Notasi 186 C locrian
Seni Musik Non Klasik 89
BAB 4
Vokal
Vokal menurut ensiklopedi musik dapat diartikan sebagai suara
manusia. Dalam ilmu bahasa, huruf hidup disebut huruf vokal, hal ter-
sebut karena huruf hidup merupakan unsur utama dalam menghidupkan
bunyi bahasa itu sendiri. Dapat dipastikan bahwa rangkaian huruf yang
tanpa disertai huruf hidup, tidak akan melahirkan bunyi yang berarti bagi
telinga. Oleh karena itu kemudian vokal digunakan dalam menyebut huruf
hidup, sekaligus sebutan bagi suara manusia. Tetapi, untuk huruf mati
dalam menyanyi tetap memiliki makna dan diperhatikan secara khusus
dalam bahasan artikulasi huruf hidup ataupun artikulasi huruf mati.
Musik vokal, artinya karya musik yang dilantunkan dengan vokal.
Musik vokal lazim disebut seni menyanyi. Sebenarnya, seni vokal dapat
berlaku bagi yang mendalami seluk beluk vokal seperti presenter, drama
dan MC (master of ceremony ). Perbedaan seni vokal dalam menyanyi
dengan seni vokal drama sangat jelas, yang satu musikal, yang satu lagi
tidak musikal. Bagi yang memiliki k einginan menjadi penyanyi amatir,
apalagi profesional, tidak cukup hanya bermodalkan warna suara yang
bagus, tetapi perlu memiliki wawasan praktis tentang musik, dan penge-
tahuan tentang teori musik.
Menyanyi dengan baik dapat dipelajari oleh setiap manusia termasuk
bagi mereka yang merasa “belum bisa” menyanyi. Meskipun ada seke-
lompok orang yang dikatakan “tidak bisa” menyanyi yang disebabkan
oleh beberapa hal diantaranya adalah: kekurangan dalam pendengaran,
takut, cacat indra pendengaran (bisu-tuli), pita suara mengalami keru-
sakan dan sebagainya. Tetapi kelompok orang tersebut hanya sedikit,
selebihnya adalah kelompok orang yang dapat meningkatkan mutu sua-
ranya dengan berbagai macam latihan.
Metode dalam buku ini dimaksudkan sebagai pelajaran yang dapat
memberikan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya memulai me-
nyanyi dengan baik, yang tentunya perlu disertai dengan banyak lati-
han/praktik. Metode latihan/praktik ini akan mengulas secara sederhana
teknik yang dibutuhkan dalam latihan/praktik. Siswa dianjurkan untuk
mempelajari beberapa buku yang ditunjuk untuk memperbanyak latihan
terutama untuk teknik-teknik, etude dan buah musik atau lagu. Disamping
mempelajari teknik vokal atau menyanyi, harus diperhatikan pula cara
mengucapkan kata-kata, latihan pernafasan, pemenggalan kalimat, eks-
presi dan beberapa teori musik lainnya.
90
Seni Musik Non Klasik
1. Jenis-jenis Suara Manusia
Wilayah atau ambitus suara manusia untuk menyanyikan suatu lagu
terbatas pada tinggi atau rendah nada. Ada yang mampu menyanyikan
dengan suara tinggi, ada yang sedang dan ada pula yang rendah. Oleh
karena itu perlu sekali untuk mengetahui batas wilayah nada suara manu-
sia, agar dalam memilih suatu lagu dapat disesuaikan dengan kemam-
puan. Adapun jenis dan wilayah suara manusia tersebut dapat dibagi
menjadi:
- Suara wanita, terdiri dari 3 suara : sopran, mezzo sopran, alto
- Suara pria, terdiri dari 3 suara : tenor, baritone, bass
- Suara anak-anak, terdiri dari 2 suara : tinggi, rendah
2. Pernafasan
Organ-organ penting yang menyalurkan udara ke suara adalah paru-
paru. Akan tetapi tidak banyak orang yang menggunakan paru-parunya
dengan efisien. Dipandang dari segi kepentingan penyaluran dan peme-
liharaan udara bagi tubuh manusia, belajar menyanyi itu patut diper-
hatikan dan dipraktikkan. Sebelum dapat menyanyi dengan baik, harus
lebih dahulu belajar menggunakan udara di bawah tenggorokan. Untuk itu
dalam beberapa waktu yang lama harus melakukan latihan-latihan
bernafas secara khusus. Sebagai langkah awal, seseorang yang akan
menyanyi dapat berdiri dengan tegak didepan sebuah cermin, dimana ia
dapat melihat seluruh tubuhnya sendiri. Setelah itu me-ngeluarkan nafas
sebanyak-banyaknya, kemudian menarik nafas dalam-dalam melalui
hidung sehingga terasa betul-betul penuh. Setelah itu nafas ditahan sela-
ma beberapa detik, secara pelan-pelan semua udara dikeluarkan melalui
mulut dengan meniupkan keluar. Dibawah ini akan dijelaskan tentang
beberapa cara pernafasan yang perlu diketahui dalam menyanyi.
Jenis Pernafasan
Dalam bernyanyi, pernafasan tidak hanya memegang peranan dalam
menciptakan suara, tetapi juga suara yang dikehendaki dari suatu nya-
nyian. Pernafasan yang teratur akan menciptakan irama yang teratur
pula, karena bernafas merupakan irama yang sangat alamiah dalam
kehidupan manusia. Jenis pernafasan yang digunakan dalam bernyanyi
adalah:
Pernafasan diafragma; yaitu pernafasan yang dilakukan dengan
cara mengambil nafas kemudian dimasukkan kedalam paru-paru
sehingga terisi penuh tanpa terjepit. Ruangan akan leluasa de-
91
Seni Musik Non Klasik
ngan menegangnya sekat rongga badan atau diafragma yang
bergerak kebawah.
Pernafasan dada; yaitu pernafasan yang dilakukan dengan cara
mengambil nafas sepenuhnya kemudian dimasukkan kedalam
paru-paru sehingga rongga dada membusung ke depan. Kele-
mahan pernafasan ini adalah paru-paru cepat lelah dalam mena-
han udara, maka yang dihasilkan tidak stabil karena udara yang
dikeluarkan kurang dapat diatur.
Pernafasan bahu; yaitu pernafasan yang dilakukan dengan cara
mengambil nafas dengan mengembangkan bagian atas paru-
paru, sehingga mendesak bahu menjadi terangkat keatas. Kele-
mahan pernafasan ini adalah tidak dapat tahan lama dan sikap
tubuh kurang enak untuk dilihat.
Dari ketiga jenis pernafasan diatas, pernafasan diafragmalah yang
paling baik digunakan pada waktu bernyanyi. Tetapi tidak semua orang
dapat melakukannya dengan mudah, harus melalui tahap-tahap latihan
yang teratur. Biasanya, yang sering dilakukan dalam bernyanyi adalah
diafragma tidak bergerak, paru-paru tidak diisi sepenuhnya dan nafasnya
pendek-pendek. Oleh karena itu diafragma dan semua pergerakan otot-
otot perut dan sisi badan harus dilatih untuk mengadakan ketegangan
serta pengenduran yang sengaja dan disadari. Harus diperhatikan juga
bahwa dasar untuk bernafas dengan baik adalah keseimbangan antara
sikap bertegang dan sikap kendur. Untuk itu badan bersikap relaks, agar
dapat menghirup udara dengan baik, seperti proses pernafasan diafrag-
ma di bawah ini:
Cara menghirup udara cara mengeluarkan udara
Gambar 1: cara bernafas diafragma
92
Seni Musik Non Klasik
Memfungsikan Diafragma
Sebuah teknik sangat mendasar yang penting diperhatikan untuk
bernyanyi secara rileks tetapi powerful, adalah dengan memfungsikan
diafragma sebagai pusat produksi tenaga, yang sangat diperlukan dalam
olah vokal. Cara menekan leher sebagai pusat suara akan tidak efektif,
mengingat teknik itu dapat menghambat getaran pita suara serta pe-
mantul suara. Cara tersebut dapat membuat seperti tercekik dan cepat
lelah, juga dapat menimbulkan rasa pusing yang menyebabkan keru-
sakan pada warna suara. Dengan memfungsikan diafragma, maka ins-
trumen vokal akan lebih lentur pada waktu memproduksi suara.
Adapun cara sederhana untuk memfungsikan diafragma adalah
dengan menyalakan sebuah lilin, kemudian duduk dalam jarak paling
dekat, ambil nafas dalam-dalam, setelah itu tiuplah lilin dengan tekanan
tenaga rongga perut atau diafragma. Latihan ini sangat efektif apabila
disertai dengan tarik nafas; tahan nafas; mengeluarkan nafas selama 10
– 15 detik.
Latihan pernafasan
Pengambilan dan pengeluaran nafas dilaksanakan dengan ringan
tanpa beban ketegangan dan tanpa mengangkat bahu. Nafas ditarik
jangan sampai penuh dan tidak dikeluarkan sampai habis, karena hanya
akan mengganggu ketenangan dalam bernyanyi. Adapun langkah-
langkah latihan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
Mengambil dan mengeluarkan nafas secara biasa tanpa kete-
gangan. Tunggu sebentar sampai ada kehausan untuk bernafas.
Perhatikan saat itu perut akan mengerut dan sisi badan kurus,
kemudian dengan mulut tertutup ambil nafas melalui hidung
dengan cara mendengkus seperti orang memeriksa bau yang ada
diudara. Pada saat itu perut mengembang dan sisi badan menjadi
lebar. Tahan sebentar, kemudian keluarkan dengan relaks.
Kedua tangan menekan perut, ambil nafas dengan memperha-
tikan desakan dari diafragma sehingga perut bergerak mengikuti
nafas, tahan sebentar kemudian dikeluarkan pelan-pelan. Dalam
latihan ini desakan nafas yang menggerakkan diafragma dan otot-
otot perut. Jadi bukan gerakan otot perut yang mengembang dan
mengerut.
93
Seni Musik Non Klasik
Untuk menguasai diafragma agar bergerak cepat dan kuat yaitu
dengan tertawa terbahak-bahak sehingga perut merasa tergun-
cang-guncang.
Ambil nafas jangan terlalu penuh, tahan sebentar; pikirkan nada
yang akan dinyanyikan, kemudian nafas dikeluarkan dengan
menyanyikan “ma” selama 4 -5 detik, setelah itu ambil nafas baru,
tahan sebentar dan keluarkan dengan bernyanyi “ma” selama 8 –
10 detik. Lakukan sekali lagi dengan mengeluarkan nafas selama
20 detik.
Pengaturan nafas tidak boleh dengan mempersempit ruang dada,
tetapi dengan menggerakkan diafragma. Pengambilan nafas
melalui hidung agar tenggorokan menjadi luas, langit-langit lunak
sehingga menguntungkan untuk membentuk suara yang baik.
Pada waktu menyanyi persediaan nafas harus dapat mencukupi
sampai akhir baris, sehingga tidak terjadi “mencuri nafas” ditengah
nyanyian yang kalimatnya belum berakhir. Untuk itu harus dapat
mengatur nafas dengan diafragma. Dorongan diafragma dari
bawah pada paru-paru akan menjaga agar nafas tidak lebih dan
tidak kurang.
Untuk menghemat nafas dapat dilakukan latihan seperti berikut:
Ambil sebuah lilin dan nyalakan, nyanyikan nada yang termudah
misalnya g atau a didepan lilin. Jika berhasil mengubah udara
yang dikeluarkan menjadi getaran suara sehemat mungkin, maka
nyala lilin tidak akan bergerak.
Ulangi latihan-latihan ini sampai 5 kali. Sebagai latihan selanjut-
nya perhatikan cara mengambil nafas di bawah ini.
94
Seni Musik Non Klasik
Notasi 1: latihan pernafasan diafragma
3. Sikap Tubuh
Untuk dapat tampil menyanyi dengan baik, diperlukan sikap tubuh
yang rileks namun penuh tenaga. Tubuh yang rileks adalah sikap yang
baik dan benar. Secara fisik, sikap bernyanyi adalah seluruh bagian tubuh
harus selalu dalam keadaan tidak kaku. Menggerakkan kani, tangan,
kepala dan badan seperlunya. Secara psikispun, dalam menyanyi perlu
jiwa yang lentur atau tidak tegang. Pikiran harus positif dan jiwa perlu
dilarutkan pada gerak musik. Apabila fisik dan jiwa sudah lentur, harus
disiapkan mental yang akan mendukung vokal yang enak. Cara menum-
buhkan sikap mental yang relax dan powerpul, selain memper-hatikan
faktor di atas juga meningkatkan jam terbang seefektif mungkin.
Sikap tubuh waktu menyanyi merupakan hal yang penting. Untuk
menjaga agar tidak menimbulkan ketegangan, maka berlatih untuk tidak
selalu mengangkat bahu dan tidak menggerakkan dada keatas harus
dikuasai oleh seorang penyanyi. Biasanya, ketegangan-ketegangan yang
terjadi diakibatkan oleh keadaan jasmaniah maupun rohaniah (psikis).
Keadaan jasmaniah yang sakit atau lelah mempengaruhi pernafasan.
Nafas menjadi pendek dan gelisah. Keadaan rohaniah yang dapat me-
nimbulkan ketegangan yaitu ketakutan, cemas, demam panggung dan
sebagainya.
Dalam ketegangan yang tidak wajar, semua nyanyian yang sudah
dilatih dengan baik dapat hilang seketika atau gagal. Untuk itu sikap
menyanyi yang baik adalah dengan sikap bebas dari semua ketegangan,
konsentrasi untuk menyanyi dan harus pandai menguasai diri. Sikap
tubuh yang lain adalah tidak kaku, tidak membungkuk tetapi jangan
terlalu menengadah keatas. Posisi kaki kanan agak maju, supaya berat
badan dapat berpindah-pindah dengan relaks.
95
Seni Musik Non Klasik
Gambar 2: sikap tubuh
4. Membentuk Suara
Cara membentuk suara adalah dengan mendengarkan secara seksa-
ma nada-nada yang dikeluarkan, kemudian menelungkupkan tangan
pada daun telinga ke depan. Mula-mula calon penyanyi akan banyak
terganggu oleh apa yang dinamakan Hauch, yakni udara palsu dan liar
yang terhempas bersama-sama dengan nada nyanyian, yang meng-
akibatkan suara sampingan berdesis-desis. Selama menyanyi sekali-kali
hidung ditutup, sambil memperhatikan apa ada muncul suara-suara
hidung. Dalam hal ini, tentu ada bagian-bagian tenggorokan yang di-
sempitkan. Untuk dapat membentuk suara yang baik, perlu mengetahui
hal-hal seperti berikut:
4.1 Mengenal Organ Suara
Suara yang dimiliki oleh seorang penyanyi, bersumber dari
selaput suara yang terdapat pada pangkal tenggorok serta didukung
oleh organ-organ lain yang ada disekitarnya. Untuk itu, suara sebagai
modal utama dalam menyanyi harus benar-benar diperhatikan dan
dijaga kesehatannya agar tidak mengalami kecelakaan sewaktu
benar-benar menyanyi atau pentas.
96
Seni Musik Non Klasik
Sumber: Methode of Singing
Gambar 3: Organ suara
Keterangan:
A. Larynx
1. Vocal cord
2. Epiglotottis
B. Pharynx
C. Cesophagus:
1. dental arches
2. tongue
3. lips
D. Oralcavity:
1. palatine arch
2. soft palate
3. uvula
4. tonsils
E. Nasal cavities
F. Trachea
G. Bronchial tubes
H. Lungs
I. Diaphragm
97
Seni Musik Non Klasik
4.2 Artikulasi/diksi
Bentuk atau sikap mulut sewaktu menyanyi sangat mempengaruhi
pembentukan nada yang dihasilkan. Kesalahan umum yang terjadi pada
awal pelajaran menyanyi adalah bahwa mereka tidak bisa membuka
mulutnya, sehingga suara yang dihasilkan kurang jelas. Banyak yang
dihinggapi rasa rendah diri, malu jika ditertawakan apabila membuka
mulutnya terlalu lebar. Padahal dalam menyanyi tidak usah terlalu memi-
kirkan bagaimana bentuk wajah atau mulut, asalkan bernyanyi dengan
sewajarnya dan tidak dibuat-buat. Diksi dan artikulasi yang baik tergan-
tung dari cara membuka mulut masing-masing penyanyi. Kadang-kadang
sebelum belajar menyanyi terlebih dahulu harus belajar berbi-cara. Untuk
pembentukan huruf hidup, huruf mati, huruf rangkap akan diuraikan
berikut ini:
4.2.1 Artikulasi huruf hidup
Pembentukan huruf hidup tergantung dari sikap rongga mulut
terutama lidah. Huruf ‘a’: tidak semua orang dapat mengucapkan huruf
‘a’ dengan jelas, sering diucapkan ‘ou’ atau ‘eu’. Hal ini disebabkan posisi
mulut yang kurang terbuka, rahang bawah tidak bergerak kebawah, lidah
tertarik melengkung ke belakang. Oleh sebab itu waktu menyanyikan ‘a’
sebaiknya bibir membentuk seperti corong yang bundar dan rahang
bawah dirturunkan cukup jauh. Gigi atas dan bawah tidak tertutup oleh
bibir, lidah terletak pada permukaan yang rata ujungnya menyentuh gigi
bawah. Hal ini akan menghasilkan bunyi ‘a’ yang lebih baik.
98
Seni Musik Non Klasik
Latihan huruf ‘a’:
Gambar 4: bunyi vokal ‘a’
Notasi 2: latihan bunyi ‘a’
Mulailah dengan nafas yang tidak terlalu banyak, kemudian
nyanyikan ‘a’ dengan permulaan lembut ..... lambat laun keras dan
berakhir dengan lembut. Perhatikan pada akhir kata, biasanya sering
diikuti dengan ‘m’ yang tidak disengaja sewaktu mulut ditutup. Untuk
mengatasinya dengan memperlembut ‘a’ pada saat penutup dan menutup
mulut sesudah suara ‘a’ menghilang.
Setelah melakukan latihan diatas, betapa sulitnya menyanyi dengan
baik jika setiap saat harus mengingat semua hal tersebut satu demi satu.
Karena itu diperlukan sekali latihan-latihan untuk mendukung artikulasi
dengan cermat, bukan merupakan suatu beban yang harus dipikirkan,
tetapi menjadi kebiasaan yang dimiliki untuk mempermudah pengung-
kapan isi sebuah lagu.
99
Seni Musik Non Klasik
Latihan huruf ‘i’:
Gambar 5: bunyi vokal ‘i’
Notasi 3: latihan vokal ‘i’
Pembentukan dan pengucapan huruf ‘i’, bagian tengah dari lidah
naik keatas tetapi ujungnya tetap menyentuh gigi bawah. Waktu
mengucapkan ‘i’ sudut bibir ditarik ke belakang, namun dalam menya-
nyikan ‘i’ bibir tetap membentuk corong, jadi bibir tetap membentuk
lingkaran. Untuk melihat apakah posisi bibir sudah betul, sebaiknya latih-
an didepan cermin dengan menyanyi ‘pagi’, ‘lagi’ dansebagainya.
100
Seni Musik Non Klasik
Latihan huruf ‘u’:
Gambar 6: bunyi vokal ‘u’
Notasi 4: latihan vokal ‘u’
Huruf ‘u’: pengucapan ‘u’ dengan corong bibir yang diper-
sempit dan dimajukan kedepan. Tetapi sebaiknya celah bibir
tetap membentuk sebuah corong yang bundar. Ujung lidah
menyentuh gigi bawah dan sedikit membusung di bagian
belakang. Posisi rahang bawah turun secukupnya, hal ini
dapat diperiksa dengan memasukkan jari diantara gigi atas
dan gigi bawah. Agar mendapat sikap bibir yang baik seba-
iknya dilatih dengan mengucapkan ‘guru’, ‘satu’, ‘merdu’
dansebagainya.
101
Seni Musik Non Klasik
Latihan huruf ‘e’:
Gambar 7: bunyi vokal ‘e’
Notasi 5: latihan vokal ‘e’
Untuk mendapatkan ‘e’ yang bulat, rahang bawah sedikit
diturunkan sehingga tidak terlalu sempit, bibir juga tidak terlalu
sempit tetapi seperti corong. Huruf ‘e’ dalam kata ‘tape’ hampir
sama dengan huruf ‘i’, untuk mengatasinya dengan mewarnai
‘e’ sedikit kearah ‘i’. Huruf ‘e’ dapat dilatih dengan kata seperti
‘lele’, ‘rante’ dan sebagainya.
102
Seni Musik Non Klasik
Latihan huruf ‘o’:
Gambar 8: bunyi vokal ‘o’
Notasi 6: latihan vokal ‘o’
Huruf ‘o’ seperti pada kata ‘toko’ memerlukan bentuk corong bibir
yang bundar, untuk posisi lidah hampir sama dengan pengucapan huruf
‘a’. Membentuk kata ‘pohon’ pengucapannya agak berbeda yaitu bentuk
corong bibir diperlonjong dan sedikit dipersempit. Untuk mendapatkan
sikap bibir yang baik dalam pengucapan huruf ‘o’ adalah dengan kata-
kata seperti ‘bakso’, ‘sawo’, ‘mlinjo’ dan sebagainya.
Semua huruf hidup diatas harus dilatih dengan sejelas-jelasnya,
sehingga menghasilkan bunyi yang jernih. Huruf-huruf tersebut akan
banyak dipengaruhi oleh bahasa daerah setempat. Misalnya pengucapan
di Jawa Timur, Sumatra dan daerah lainnya, tentu akan berbeda pengu-
capannya dengan daerah Jawa Tengah. Untuk mendapatkan artikulasi
bahasa Indonesia yang sempurna, hendaknya semua huruf dilatih dalam
bermacam -macam penggunaannya.
103
Seni Musik Non Klasik
4.2.2 Artikulasi huruf mati
Dalam menyanyikan huruf-huruf mati harus diucapkan sejelas-
jelasnya khususnya pada akhir perkataan, misalnya hand tidak boleh
menjadi hant, dan kand tidak menjadi kant. M, n dan ng tetap terdengar
jelas. Huruf-huruf mati yang meletus seperti b, d, k, p, q, t harus betul-
betul meletus. Pada l, d, t lidah difungsikan dengan baik. Pengucapan-
pengucapan huruf mati ini memerlukan latihan khusus dan seksama, agar
dapat menguasai artikulasi dengan baik.
Berbagai bunyi dalam bahasa asing sering menimbulkan kesulitan
dalam pengucapannya, untuk itu sebelum menyanyi dengan bahasa
asing misalnya lagu-lagu bahasa Inggris, Perancis, Jerman dan sebagai-
nya perlu dikonsultasikan dengan guru atau ahli bahasanya.
Huruf-huruf mati membawa ungkapan ekspresi yang khusus:
huruf ‘h’ membawa kesan megah
-
misalnya: ‘hiduplah tanahku hiduplah negeriku’. ‘tanah tumpah
darahku’
huruf ‘r’ membuat kesan gembira
-
misalnya: ‘sorak-sorak bergembira’, ‘bendera merah putih’
huruf ‘ng’ memberi kesan suatu harapan dan keyakinan yang
-
dinyatakan dengan lantang:
misalnya: ‘kulihat terang, meski tak benderang’
Huruf-huruf mati dibeda-bedakan menjadi: huruf mati yang bisu dan
huruf mati yang bersuara huruf mati merupakan ‘bunyi bantu’ untuk huruf
hidup. Untuk huruf-huruf bisu perlu diperhatikan dengan baik, karena
dalam nyanyian, huruf-huruf bisu mematikan bunyi huruf hidup. Agar
ucapan huruf bisu pada akhir kata menjadi serentak., diperlukan latihan
yang teliti. Adapun huruf-huruf mati yang bisu terdiri dari: b, c, d, f, g, h, j,
k, p, s, t, kh, sy. Sedangkan huruf-huruf mati yang bersuara yaitu: l, m, n,
r, v, y, z, ng.
Sebagai contoh huruf mati yang bisu, yaitu pembentukan ‘b’ dan ‘p’ pada
awal kata dalam nyanyian ‘Merah Putih’ ciptaan Ibu Sud. Dan ‘Bagimu
Negri’ ciptaan Kusbini
104
Seni Musik Non Klasik
Huruf mati yang bersuara, bila diucapkan mempunyai gejala reso-
nansi dan merupakan jembatan antara dua hiruf hidup. Maka suasana
lagu menjadi ringan dan melayang. Untuk membentuk huruf-huruf mati
yang bersuara, harus memperhatikan bahasan tentang resonansi. Semua
huruf hendaknya dibunyikan dengan cukup kuat tapi ringan, terutama jika
dipakai setelah huruf tertutup yang singkat.
Sebagai contoh huruf mati yang bersuara, pembentukan huruf ‘m’, ‘n’,
dan ‘ng’:
Untuk membentuk’m’, bibir dikatupkan dengan ringan dan tidak ditekan.
Gigi tidak dirapatkan, rongga mulut seluas mungkin. Untuk membentuk
‘n’, ujung lidah menyentuh ringan pada belakang gigi atas. Waktu mem-
bentuk ‘ng’ ujung lidah diletakkan seperti ucapan ‘a’. Contoh:
Emm .......... maa................ amm
Enn............. naa.................ann
Eng..............nga..................ang
Pada ucapan ‘ng’ ada bahaya suara terjepit dalam leher. Kerap kali
malah ada orang yang suaranya mengandung ‘ng’ tanpa disadari. Hal ini
disebut dengan suara hidung (sengau). Cara untuk menyadarkannya
adalah dengan menyadari bunyi ‘ng’ itu sendiri yang kemudian dialihkan
ke bunyi huruf hidup.
4.2.3 Artikulasi huruf hidup rangkap (diphtong)
Penggunaan kata-kata dengan huruf rangkap banyak ditemukan
dalam bahasa Indonesia, seperti:
‘au’ : anggauta, saudara, limau dan sebagainya
‘ai’ : selai, gulai, pantai dan sebagainya
‘oi’ : sepoi, amboina, lisoi dan sebagainya
Huruf-huruf yang mendahului adalah huruf terbuka dan diikuti huruf
tertutup. Untuk itu cara pengucapannya adalah huruf yang mendahului
diucapkan lebih lama dan sedikit ditekan, kemudian beralih dengan luwes
ke dalam bunyi yang mengikutinya. Dalam peralihan itu mudah terjadi
bunyi yang lain misalnya pada ‘au’ menjadi ‘ow’ atau ‘ai’ menjadi ‘ey’.
Agar nyanyian tetap indah maka pengucapannya jangan berubah pada
satu bunyi saja, tetapi juga jangan kedua huruf tersebut ditekan satu-satu.
105
Seni Musik Non Klasik
5. Menyambung suku kata dan aturan artikulasi dalam bernyanyi
Menyanyikan semua suku kata secara bersambung, jika ada dua
-
huruf mati berjajar, disambung dengan baik tanpa pemenggalan.
Contoh: ‘potong padi’
‘riuh rendah’2
‘di tengah sawah’
‘di pinggir kali’
‘tanahtumpahdarahkuyangsucimulia’
Jika dahulu orang berpendapat bahwa artikulasi akan berkurang dengan
bernyanyi secara bersambung. Sebagai cita-cita semua suku kata dipi-
sahkan. Misalnya: ta-nah tum-pah da-rah-ku yang su-ci mu-li-a. Tetapi
sekarang disadari bahwa rahasia dari ucapan yang jelas terletak dalam
pengelompokkan kata yang mengungkapkan satu pengertian, dengan
berpangkal pada kesatuan kelompok kata, masing-masing kata akan
mendapat kedudukan yang wajar. Dengan demikian orang tidak hanya
mendengar kata-kata saja, tetapi juga dapat menangkap artinya.
• Apabila suatu suku kata ditutup dengan huruf bisu, maka huruf bisu
itu baru boleh diucapkan pada saat menjelang nada yang berikutnya
atau pada awal istirahat yang mengikuti nada terakhir kalimat.
• Apabila dalam satu kalimat musik dua huruf mati diucapkan berturut-
turut, maka ucapan huruf bisu yang pertama harus ditunda sampai
sesaat sebelum huruf mati yang berikutnya. Huruf bisu selalu
diucapka dengan jelas.
• Huruf-huruf: m, n, l, r, w, ny dan ng yang mengikuti huruf hidup yang
pendek hendaknya dibunyikan langsung. Kalau huruf yang pendek itu
jatuh pada nada yang panjang maka pada pukulan terakhir dari nada
itu, huruf hidup ditinggalkan dan digantikan dengan huruf mati.
• Huruf rangkap yang dinyanyikan dengan nada panjang, hendaknya
ditahan pada huruf hidup yang pertama, kemudian sedikit demi sedikit
mengalir ke huruf hidup yang kedua.
106
Seni Musik Non Klasik
Perhatikan bahwa:
• Dua huruf tidak boleh dipisahkan
• Dua huruf yang pertama mendapat tekanan yang pokok.
• Contoh huruf rangkap lagu ‘Nyiur Hijau’ ciptaan Maladi.
Notasi 7: lagu Nyiur Hijau
- Semua kata yang diawali dengan huruf hidup tidak dimulai dengan
letusan dan tanpa terdengarnya huruf pembuka jalan (h, m atau n),
hendaknya dimulai dengan lembut dan pasti.
- Huruf hidup yang dinyanyikan selama beberapa nada yang berlainan,
dinyanyikan secara bersambung tanpa dipisahkan dengan ‘h’ tanpa
diayunkan, tetapi dengan membunyikan masing-masing nada secara
legato.
107
Seni Musik Non Klasik
6. Resonansi
Arti Resonansi
Apa yang disebut dengan resonansi adalah fenomena yang ada
sangkut pautnya dengan banyaknya rongga dalam tubuh manusia. Seti-
ap orang yang menyanyi, resonansi akan timbul dari suara yang dihasil-
kan. Oleh sebab itu resonansi membantu memperbesar luas suara dan
memperkuat daya tahan suara. Ruang resonansi utama terdapat di dalam
kepala, dengan banyak bilik udara yang besar atau kecil, dan berpe-
ngaruh terhadap pembentukan suara. Getaran-getaran pita suara menja-
lar ke dalam bilik-bilik yang meresonansi suara.
Ruang Resonansi
Ruang resonansi terdiri dari semua rongga dalam tubuh manusia
terutama rongga di atas pita suara. Ruang resonansi dapat dibagi
menjadi 2 macam yaitu: (1) rongga resonansi yang bentuknya tak dapat
diubah; dan (2) rongga resonansi yang bentuknya dapat diubah. Fungsi
dari semua rongga terutama rongga yang dapat berubah adalah menim-
bulkan perbedaan warna suara dan huruf hidup. Semakin banyak udara
terdapat dalam rongga resonansi, maka semakin bulat suara yang
ditimbulkan, karena udara turut bergetar.
Latihan pemanfaatan rongga-rongga resonansi
Dalam masalah gema suara, hal yang perlu diperhatikan oleh vokalis
adalah: mengenal adanya rongga resonansi, memperkeras dinding-
dinding resonansi, memperbesar rongga resonansi. Hal itu untuk mewu-
judkan agar suara menjadi berbobot dan cemerlang. Mengenal adanya
rongga resonansi, cara untuk menyadari dan merasakan bahwa dalam
tubuh vokalis adalah gema suara, dapat ditempuh dengan jalan ber-
senandung. Dengan posisi rahang membuka, kemudian dalam posisi
menganga, bibir dikatubkan secara ringan dan menyenandungkan melodi
sebagai berikut:
Notasi 8 : latihan memperkeras dinding resonansi
108
Seni Musik Non Klasik
Kedua melodi diatas disenandungkan secara kromatis dari c-cis-d-dis-e-f-
fis-g-gis-a-ais-b…… danseterusnya naik turun masing-masing setengah
laras, seluas batas wilayah nada vokalis yang bersangkutan.
Memperkeras dinding-dinding resonansi, usaha ini bertujuan untuk me-
nuju kea rah suara yang cemerlang. Hal ini dapat menyebabkan gema
suara dapat diproses dengan sempurna. Caranya ditempuh dengan jalan
menyanyikan melodi di bawah ini dengan menggunakan suku kata ko, ka,
ke, ki dan ku.
Notasi 9 : latihan memperkeras dinding resonansi
Melodi diatas dinyanyikan dengan satu suku kata setiap nada.
Setelah dikuasai kemudian ditingkatkan berturut-turut dua, tiga, empat,
lima dan enam suku kata setiap nada serta dinyanyikan seluas wilayah
nada penyanyi yang bersangkutan. Secara kromatis naik turun masing-
masing setengah laras, sebatas wilayah suara penyanyi yang ber-
sangkutan.
Memperbesar rongga resonansi, bertujuan untuk memperoleh
suara yang berbobot (volumenya tebal). Hal ini dapat ditempuh dengan
jalan menyanyikan melodi di bawah ini dengan menggunakan suku kata
ma, mi, mu, me, mo.
Notasi 10 : latihan m emperbesar dinding resonansi
109
Seni Musik Non Klasik
Melodi diatas dinyanyikan secara kromatis naik turun masing-
masing setengah laras, sebatas wilayah suara penyanyi yang
bersangkutan.
7. Intonasi
Intonasi atau menyanyikan nada dengan tepat merupakan dam-
baan setiap orang yang berprofesi sebagai penyanyi. Untuk itu ada
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam intonasi yaitu: relaks, tidak
tegang dalam menyanyi, tidak takut dalam menca-pai nada tinggi,
percaya diri; Konsentrasi, tidak ragu-ragu dalam mengambil nada
sehingga tinggi nada tidak turun; Latihan nafas dengan diafragma agar
mendapatkan nafas yang panjang; Pita suara dilaraskan kembali,
terutama pada setiap ulangan nada dan nada yang ditahan, hal ini untuk
menjaga agar suara tidak cepat lelah; Peka terhadap suara lain terutama
iringan; Latihan interval untuk membidik lompatan-lompatan nada dengan
tepat; Latihan nada-nada peralihan register suara, untuk menyanyikan
lagu yang berpindah kunci; Latihan nada-nada pada batas wilayah suara,
baik itu untuk suara tinggi maupun rendah; Pengucapan huruf-huruf hidup
dengan jelas agar tinggi nada tidak berubah; Tidak terpengaruh dengan
tangganada lain, apalagi dari daerah yang sudah terbiasa dinyanyikan
sehari-hari.
Penyebab intonasi yang kurang tepat adalah diakibatkan karena:
kurang latihan, sehingga kurang menguasai lagu yang dinyanyikan;
merasa takut jika tidak dapat mencapai nada tinggi; cara pernafasan
kurang sempurna; tempat pengambilan nafas tidak jelas; kurang peka
pada iringan; kesulitan membidik lompatan nada dengan tepat
8. Phrasering
Phrasering adalah pemenggalan kalimat musik menjadi bagian-
bagian yang lebih pendek, tetapi tetap mempunyai kesatuan arti. Tujuan
phrasering adalah agar dapat memenggal kalimat musik lebih tepat
sesuai dengan isi kalimat. Dengan demikian usaha untuk mengung-
kapkan suatu lagu dapat lebih mendekati kebenaran yang terkandung
didalamnya sesuai dengan pesan lagu tersebut. Phrasering ada dua
macam, yaitu:
110
Seni Musik Non Klasik
Phrasering Kalimat Bahasa
Setelah mengucapkan masing-masing huruf dan bagaimana suku
katanya yang harus disambung, pusat perhatian berikutnya adalah pada
kesatuan kata-kata. Bernyanyi berarti membawakan suatu lagu, yaitu:
dengan menghayati isi dari kata-kata, sebagai ide atau pesan. Kemudian
setiap nyanyian terdiri dari: satu atau beberapa kalimat bahasa, dan satu
atau beberapa kalimat musik. Kedua-duanya meru-pakan suatu ke-
satuan. Untuk mengupas suatu nyanyian, harus membaca kalimat-
kalimat bahasa tanpa disertai lagu,. dan menyanyikan kalimat-kalimat
lagu tanpa teks.
Kalimat bahasa, untuk menghayati isi dari kata-kata, ada tiga bagian yang
harus diketahui, yaitu:
8.1.1 Menyanyikan Kalimat Bahasa
Kalimat bahasa, untuk menghayati isi dari kata-kata, ada tiga bagian yang
harus diketahui yaitu : bagian-bagian dari kalimat, atau kelompok kata
yang merupakan suatu kesatuan.
Contoh :
Maju tak gentar/ membela yang benar
Maju tak gentar/ hak kita diserang
Maju serentak /pengusir penyerang
Maju serentak/tentu kita menang
Bergerak bergerak/ serentak serentak
Menerkam /menerjang terjang
Tak gentar tak gentar/menyerang menyerang
Majulah/majulah/menang
Dalam pemenggalan kalimat atau phrasering, bukan irama melodi
yang menentukan, melainkan arti kata. Jadi, tatabahasa yang menjadi
titik pangkal. Kemudian baru phrasering melodi dan aksen-aksen irama
disesuaikan. Dalam tatabahasa, pemenggalan kalimat ditandai dengan
111
Seni Musik Non Klasik
koma, jadi koma mempunyai peranan penting untuk menunjukkan dimana
pemenggalan kalimat yang benar.
8.1.2 Kata pokok yang ditonjolkan
Untuk menonjolkan suatu kata terdapat dua kemungkinan, yaitu :kata
tersebut diucapkan dengan lebih keras; kata yang penting ditunda
ucapannya.
8.1.3 Suku kata yang mendapat tekanan dan tidak mendapat tekanan.
Dalam bahasa Indonesia aksen kata tidak begitu kuat, namun pada
umumnya suku kata kedua dari belakang mendapat tekanan sedikit.
Kalau d terdapat huruf ‘e’ pepet maka aksen bergeser ke suku kata yang
terakhir. Misalnya ‘se-karang’, belum’ dan sebagainya.
Phrasering Kalimat Musik
Kalimat musik terdiri dari rangkaian nada dalam bentuk motif atau tema
lagu. Tema lagu mengungkapkan suatu ide musik.
8.2.1 Kelompok nada (motif)
Motif adalah penggalan dari kalimat musik dalam dua birama, empat
birama atau paling banyak delapan birama. Sering dijumpai penggalan
kalimat musik yang muncul berulang-ulang dengan gerakan yang sama.
8.2.2 Puncak dari lagu/kalimat
Seringkali puncak dari lagu terdapat pada nada yang tertinggi dalam
sebuah kalimat atau lagu. puncak ini disiapkan misalnya dengan lagu
yang naik (arsis), dan dikembalikan misalnya dengan lagu yang turun
(tesis).
8.2.3 Tekanan nada
Dalam musik tekanan nada ditentukan oleh irama. Nada yang terdapat
pada hitungan pertama dari masing-masing birama mendapat tekanan.
112
Seni Musik Non Klasik
8.2.4 Kalimat yang dinyanyikan
Kalimat yang dinyanyikan dalam lagu ada dua bentuk, yaitu: nyanyian
resitatif; nyanyian melismatis.
Nyanyian resitatif adalah: kata-kata lebih penting daripada lagu.
lagu mengabdi total kepada teksnya. Untuk perlu menerapkan aturan-
aturan dari kalimat bahasa.
Nyanyian melismatis adalah: satu huruf hidup dipakai untuk serangkaian
nada. Teks memberi ruangan penuh kepada lagu, untuk itu dipakai
aturan-aturan dari kalimat musik.
9. Ekspresi
Seorang penyanyi harus dapat membawakan lagu dengan baik
dari suatu ciptaan sesuai dengan jiwa lagu tersebut, misalnya sedih,
gembira, semangat dan sebagainya. Sebuah lagu yang gembira harus
pula disertai dengan mimik atau gerakan yang gembira pula. Bernyanyi
dengan ‘perasaan’ berarti bernyanyi dengan ‘hati’. Sebelum
menyanyikan lagu, alangkah baiknya jika sudah menghayati apa yang
akan dinyanyikan. Karena selama bernyanyi harus menghayati isi
nyanyian dengan pera-saan/hati. Banyak penyanyi memusatkan
perhatian pada dirinya sendiri, bukan pada nyanyian yang sedang
dibawakan. Tidak ada nyanyian ekspresif yang dilakukan sambil
mengingat-ingat lagu yang dibawakan, apalagi bila sambil membaca
syairnya. Oleh sebab itu sebe-lum tampil, hafalkan lirik lagu yang akan
dibawakan. Setelah hafal lirik lagunya, pahami betul apa makna pesan
yang ada pada lagu tersebut, kemudian pahami makna dan pesannya,
pastikan apakah jiwa dasar lagu itu sedih, marah, semangat, gembira
dansebagainya. Setelah berhasil menjiwai syair lagu, nyanyikan melodi
tersebut tanpa syair dengan tetap berin-tegrasi pada jiwa dasar
penafsiran tentang syair. Setelah syair lagu dikuasai, masih ada satu lagi
yang harus dilalui yaitu factor musik pengi-ring yang berguna fungsinya
untuk membawa pada perasaan yang lebih mendalam. Saat menyanyi
dengan iringan musik, satukan perasaan lagu dengan suasana musik
pengiring. Kiat sederhana dalam menjiwai irama musik pengiring, yaitu
berinteraksilah, terutama dengan salah satu instrument (apabila diiringi
lebih dari satu instrument), karena instrument memiliki perasaan yang
lebih menonjol terhadap irama. Ekspresi adalah penguasaan syair, lagu,
113
Seni Musik Non Klasik
sambil menjiwai atau menghayati secara keseluruhan. Untuk itu diper-
lukan beberapa teknik bernyanyi sebagai berikut:
Teknik Penjiwaan
Teknik penjiwaan adalah cara untuk menguasai teknik-teknik bernyanyi,
yaitu:
Merubah dinamika atau volume suara
Teknik penjiwaan yang biasa dilakukan adalah dinamika atau perubahan
keras lembutnya suara sesuai dengan tanda-tanda atau perasaan. Tanda
dinamik terletak dalam struktur kalimat musik yang pada umumnya terdiri
dari dua bagian, yaitu bagian sebelum puncak yang disertai dengan
crescendo dan bagian sesudah puncak yang disertai dengan decres-
cendo.
Menghidupkan tempo
Memilih tempo yang tepat untuk sebuah nyanyian, penting sekali
dalam penjiwaan. Karena semua istilah seperti allegro (cepat), moderato
(sedang), lambat (andante danserusnya sangat relatif, maka penyanyi
harus mencoba tempo mana yang sesuai dengan nyanyian
Pengungkapan Nyanyian
Dalam mengungkapkan nyanyian terlebih dahulu mempelajari
penjiwaan. Mula –mula dengan memilih nyanyian yang memancing
gerak-gerik; Kemudian menyanyikan lagu-lagu yang lebih serius. Tidak
bernyanyi terlalu keras, dan jangan bernyanyi hanya dengan suara tetapi
dengan wajah. Suara selalu dijiwai oleh penghayatan aka nisi dan
maksud nyanyian, dan oleh hati yang tidak pernah meninggalkan suara.
Perlu juga membaca teks tidak hanya dengan mata tetapi dengan suara
seolah-olah seperti baca puisi.
Menjiwai Ornamen vokal
Ornamen artinya hiasan atau variasi. Khusus dalam vocal yang lazim
dikatagorikan sebagai ornamen, yaitu improvisasi atau hiasan yang
114
Seni Musik Non Klasik
dilakukan secara mendadak dan impromptu atau hiasan yang diren-
canakan. Ornamentasi pada dasarnya bertujuan membuat lagu menjadi
lebih hangat dan lebih kaya nuansa. Ornamentasi tidak akan bermakna
apapun apabila dilakukan tidak dengan sepenuh jiwa.
Mengingat menyanyi merupakan pekerjaan hati, maka prinsip dasar
saat melakukan ornamen vokalpun tetap perlu dilakukan dengan penuh
perasaan. Yang termasuk dalam katagori ornamentasi vokal, selain
memproduksi soft distorsi dan distorsi, termasuk vibrato, echo, tremolo,
falsetto/kopstem. Distorsi adalah vokal suara yang dibuat dengan kesan
kasar seperti penyanyi rock, sedangkan soft distorsi merupakan vokal
yang lembut dan serak. Seperti suara Krisdayanti, Stevie Wonder, Celine
Dion dansebagainya. Teknik vibrato adalah gelombang vokal lembut yang
mendalam, sebagaimana yang banyak dilakukan hampir semua penyanyi
pop. Teknik tremolo adalah getaran vocal yang lebih rapat seperti yang
banyak dilakukan para penyanyi seriosa. Teknik echo adalah cara ber-
nyanyi mendesah, hal ini sering digunakan oleh para penyanyi yang
kurang memiliki potensi mengalunkangelombang vibrato atau tremolo.
Kopstem/falsetto adalah suara palsu yang ditujukan bagi pria dan dapat
dimanfaatkan sebagai ornamen. Pemanfaatan kopstem untuk bagian
nada yang masih bisa dijangkau dengan suara asli adalah suara Mariah
Carey dalam lagu ‘ My All’, Rossa melalui lagu ‘Perawan Cinta’ dan
sebagainya.
Menjiwai Ornamen lagu
Bagi yang belum memahami banyak tentang harmoni, sebaiknya
tidak menyajikan ornamentasi secara revolusional. Karena dapat terjebak
pada ornamen yang tidak proporsional. Ornamentasi bukan kewajiban
utama bagi seorang penyanyi, kewajiban utama adalah menyanyi dengan
penuh perasaan. Dalam dunia nyanyi populer, penjiwaan diperlukan
untuk menyajikan ornamentasi. Tidak ada ukuran yang jelas tentang
ornamentasi selama dibawakan dengan hati.
Menjiwai tentang Dinamik
Dinamik adalah bahasa musik yang mengandung makna keras
lembutnya suara. Penyanyi seperti Dorce,Titik Puspa, Celine Dion,
115
Seni Musik Non Klasik
Barbra Streisand pandai menghanyutkan perasaan pendengarnya. Musik
populer tergolong corak musik yang menuntut permainan dinamik yang
variatif. Oleh sebab itu para penyanyi musik populer profesional pandai
mengombang-ambingkan perasaan pendengarnya.
Menjiwai tentang Pengucapan
Komunikasi vokal yang tidak musikal adalah berbicara atau berkata-
kata, sedangkan menyanyi adalah komunikasi vokal secara melodis.
Seorang penyanyi dituntut selalu bisa menjiwai berbagai aspek peri-
lakunya di panggung. Gerak tangannya, langkah kakinya, termasuk saat
mengucapkan kata-katapun perlu dijiwai. Dengan menjiwai gerakan alat-
alat pengucapan, berarti telah menyajikan teknik diksi atau gaya
pengucapan yang lebih menarik serta dapat bermanfaat untuk memper-
tegas karakter suara.
10. Penampilan
Penampilan dalam menyanyi sangat menentukan berhasil tidaknya
seorang penyanyi dalam suatu pertunjukan. Oleh karena itu sebagai
vokalis harus benar-benar berusaha menampilkan dirinya sebaik
mungkin, agar memberi kesan mempesona sehingga dapat menarik
penonton. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penampilan,
diantaranya yaitu make up dan kostum. Make up atau merias diri sangat
diperlukan dalam suatu penampilan. Tujuannya adalah untuk mem-
perindah atau mempercantik diri, tetapi tidak berlebihan, yang wajar saja.
Penataan rambut juga perlu diperhatikan, disesuaikan dengan wajah.
Untuk kostum atau busana harus memilih warna dan potongan yang
serasi.
Menyanyi dengan mikropon
Sebuah mikropon selain memperkuat suara juga akan memperkeras
suara. Untuk itu seorang penyanyi harus berhati-hati jika akan memin-
dahkan tempatnya, baik itu tingginya, rendahnya apalagi jika akan
memegang dengan tangan. Hasil suara yang diperoleh tergantung dari
posisi mikropon terhadap mulut penyanyi. Jarak yang baik adalah 20 cm,
membuat sudut 45 derajat keatas, sedikit dibawah mulut. Jarak antara
mikropon dan mulut penyanyi sedapat-dapatnya selalu sama. Memang
hal ini dapat diatur oleh amplifier, namun tidak hanya suara yang diper-
116
Seni Musik Non Klasik
keras tetapi juga gemanya dan bunyi-bunyi disekitarnya. Alat teknis
seperti mikropon dapat mengubah sampai terjadi suara yang tidak
diinginkan. Sebagai penyanyi yang baik, tidak boleh puas dengan bunyi
yang keras, tetapi harus selalu memperhatikan keindahan pula. Denga
mikropon di tangan belum menjamin bahwa suara yang dihasilkan
menjadi indah. Tidak hanya operator yang harus menjaga agar hasil
suara menjadi sebaik mungkin, tetapi orang yang bernyanyi dimuka
mikroponlah yang berperan utama. Oleh karena itu penyanyi harus
bersikap kritis terhadap bunyi yang dihasilkan oleh mikropon.
Gambar 9: cara memegang mikropon
11. Sifat Vokal dan Gaya Vokal
Sifat vokal
Berdasarkan sifatnya, suara manusia dapat digolongkan menjadi empat
sifat dengan kelebihan masing-masing. (1) dramatic; (2) lirih; (3)
coloratura (4) perpaduan dramatic dan lirih. Sifat pertama ‘dramatik’ yaitu
suara bawaan yang lebih mantap, bahkan banyak pula yang ngebas.
Kelebihan yang dapat diperoleh dari sifat suara ini adalah lebih mudah
merangsang imajinasi pendengarnya. Penyanyi yang mempunyai suara
ini seperti Elvis Presley, Emilia Contessa, Tom Jones, Kris Biantoro dan
lainnya yang bersuara dramatik, kebanyakan akan lebih mampu me-
nyampaikan berbagai gambaran pesan atau cerita yang termuat pada
lagu.
Sifat kedua adalah ‘lirih’ yaitu sifat suara yang lebih menonjolkan
perasaan daripada menonjolkan akan kesan kemantapan suaranya.
Kelebihan penyanyi lirih yaitu lebih mudah menyentuh perasaan
117
Seni Musik Non Klasik
penikmatnya contoh penyanyi yang mempunyai sifat lirih adalah Chrisye,
Siti Nur Haliza, Krisdayanti, Celine Dion, Rossa, Ebiet G. Ade dan semua
penyanyi bersuara lirih lainnya. Dalam dunia industri sifat ‘lirih’ ini sangat
mendominasi deretan penyanyi yang berskala nasional maupun inter-
nasional.
Sifat ketiga adalah ‘coloratura’ yaitu sifat vokal yang memili kelenturan
atau kelincahan yang menonjol dalam memproduksi suara. Saat
menyanyi terasa ringan, seolah-olah tanpa beban dalam memproduksi
suaranya. Penyanyi-penyanyi coloratura seperti Louis Armstrong, Sal
Jearreau, Norma Sanger, Syaharani, Inul Daratista. Benyamin. Kele-
bihannya adalah dapat menjadi penyanyi multisifat, memiliki bawaan se-
bagai penyanyi serba bisa, yang tidak dapat dimiliki oleh semua pe-
nyanyi.
Sifat yang keempat adalah perpaduan antara ‘dramatik’ dan ‘lirih’ ,
misalnya suara Stevie Wonder, George Benson, Hetty Koes Endang, Rita
Efendi. Kelebihan dari suara ini adalah selain lebih mudah dalam mem-
bawa penikmatnya ke dalam suasana lagu, juga lebih menyentuh pera-
saan.
Gaya vokal menurut irama pop
Untuk dapat menyanyi dengan baik, diperlukan penguasaan gaya
atau style lagu yang akan dibawakan. Sebuah gaya dalam musik
keroncong, tentunya akan berbeda sekali dengan gaya pop atau dang-
dut. Untuk itu, latihan menguasai irama lagu harus diperhatikan oleh
seorang penyanyi. Biasanya dalam menyanyi akan diiringi oleh keyboard
tunggal, grup band, orkestra atau pengiring lainnya. Pengiring yang baik
dapat menantang penyanyi untuk menguasai irama.
Pengucapan dengan cara alami dan ekspresif menjadi ciri atau gaya
penyanyi pop, selain lebih aman bagi timbre penyanyi, juga sangat
berpengaruh terhadap kenyamanan dan kewajaran artikulasi. Penyanyi
pop lebih mengutamakan hasil akhir ucapan yang jelas dan benar
daripada terlalu mematok teknik pembentukan mulut. Musik pop berarti
musik popular, musik ringan yang menyenangkan dan disukai banyak
peminat dengan menekannya pada sifat hiburan. Lagu pop Indonesia
merupakan pengembangan dari lagu-lagu yang dikenal sebagai lagu
hiburan. Lagu-lagu pop atau hiburan dikenal sebagai kata ganti entertain-
ment.
Entertainment dalam ruang terbatas dikenal pula sebagai musik
dansa, penggunaan yang luas hingga ke panggung terbuka dikenal
118
Seni Musik Non Klasik
sebagai musik pop. Jenis musik lagu pop masih dibedakan seperti lagu
pop Barat. Baik pop Indonesia maupun Barat, dalam perkembangannya
setiap periode akan muncul hit-hit baru. Musik pop amat didukung oleh
media-media sejak awal, dibandingkan dengan musik seni, baik yang
tradisional maupun yang kontemporer. Pada tahun ‘60an, musisi pop
terkena dampak politis dan larangan pengaruh musik Barat. Pada
umumnya sulit untuk menentukan gaya musik pop, karena genre ini
setiap saat berubah mengikuti arus perkembangan jaman. Namun yang
terpenting dalam gaya vokal pop adalah sangat bebas dalam meng-
ungkapkan suatu nyanyian. Contoh lagu pop seperti Kisah Seorang
Pramuria (The Mercys), Crazy (Julio Iglesias), Careless Whisper (George
M), When I Need You (Julio Iglesias), Something Stupid (Frank Sinatra)
dan sebagainya.
Berikut ini contoh cara menyanyikan lagu pop, tidak banyak cengkok,
hanya pada ketukan-ketukan nada pertama diberi aksen untuk memper-
manis nada-nada berikutnya. Ciri alami penyanyi akan menjadi hal
penting untuk menyanyikan lagu pop, untuk itu ciri lain dari irama pop
adalah lebih banyak mengutamakan hasil ornamentasi nada-nada
terakhir satu nada keatas ataupun kebawah, sesuai kemampuan dalam
memainkan ornamentasi.
Notasi 11: cara menyanyikan lagu pop
Gaya vokal menurut irama keroncong
119
Seni Musik Non Klasik
Gaya vokal dalam sajian kroncong, banyak cengkok dan cenderung
melambat dari ketukan yang asli. Keterlambatan dalam ketukan memang
sengaja dilakukan karena untuk memperindah cengkok itu sendiri.
Improvisasi dan ornamentasi dapat dilakukan dengan sangat bebas, asal
masih dalam harmonisasi kroncong. Gaya vokal kroncong dapat mem-
pengaruhi durasi berbagai frase, tergantung cara ‘ekspresi ber-lebihan’
atau vibrato.
Lagu kroncong khas Indonesia (kroncong, langgam, stambul,
langgam Jawa). Istilah kroncong dibawa orang Portugis ke Asia Tenggara
sekitar abad 16, kemudian terdapat berbagai teori bahwa istilah tersebut
dari unsur onomatopoetic, yaitu musik berbunyi seperti ‘crong-crong’ dan
sampai sekarang dikenal sebagai musik kroncong. Struktur harmoni dan
melodi keroncong kelihatan berasal dari musik Barat, bahkan musik
rakyat Portugis paling berperan. Musik dengan kesan melankolis
biasanya dipentaskan dengan dua jenis gitar (viola) dari Spanyol dan
guitara dari Portugis. Jika viola memainkan melodinya, maka guitar
memainkan akor-akor tonika-dominan-tonika-dominan ….. secara terus
menerus, subdominant dibunyikan hanya pada saat tertentu. Prinsip
demikian menonjol pada kroncong, selain itu, gaya vokal diwarnai dengan
vibrato yang keras (dianggap sebagai kuatnya ekspresi emosi). Standar
alat musik kroncong antara lain: ukulele, banjo, gitar melodi, cello
(dimainkan seperti gendang), kontra bas, biola serta flute. Secara formal
kroncong asli berdasarkan suatu kerangka dengan 28 birama, dibagi
masing-masing frase empat birama. Langgam kroncong kebanyakan
dibagi empat frase, masing-masing dengan 8 birama (biasanya tanda
birama 4/4) sesuai dengan prinsip langgam. Tokoh musik kroncong
antara lain: Gesang, Kusbini, Anjarany dan lain-lain. Cara permainan
ukulele dan banjo disebut onomatopoetic ‘cuk’ dan ‘cak’. Teknik
permainan kurang lebih mirip ‘beat’ – ‘off-beat’. Lagu keroncong yang
terkenal antara lain: Kr. Tanah Airku (Kelly Puspita), Lg. Bengawan Solo
(Gesang), Stb. Baju Biru (Hardiman). Berikut contoh cara menyanyikan
cengkok keroncong:
120
Seni Musik Non Klasik
Notasi 12: cara m enyanyikan lagu keroncong
Gaya vokal menurut irama dangdut
Gaya vokal dalam sajian dangdut sangat bebas, menuruti irama
kendang, dapat vibrasi sesuai dengan ciri khas dangdut, yaitu melayu
atau India. Orkes melayu dengan gaya Hindustan yang mengikut
sertakan suara tabla (gendang India) dengan cara membunyikan tertentu
hingga terdengar suara ‘dangduut’. Orkes melayu gaya baru guna
membedakan dengan orkes melayu asli dari pantai timur Sumatra (Deli,
Riau) dan Malaysia. Pengganti tabla dipergunakan bongo atau kendang
tradisional. Genre dangdut nampaknya berhubungan erat dengan irama
melayu. Namun secara spesifik istilah dangdut diciptakan oleh seorang
penyanyi, gitaris dan kritikus, yaitu Billy Chung (Billy Silabumi dari
Bandung yang melihat corak alat perkusi tabla India terutama dalam lagu
Ellya Khadam. Secara melodis ciri khas dangdut adalah suatu campuran
antara laras diatonis dan pentatonic yang dikaitkan dengan kerangka
harmoni tonal sederhana. Musik ini semakin popular di Indonesia dan
juga selalu terdapat nuansa lokal (dangdut Bali). Dangdut pernah
diangkat menjadi suatu komoditi musik hiburan yang lebih mandiri dan
individual, terutama melalui upaya Rhoma Irama yang dapat me-
masukkan aspek agama Islam ke dalam musiknya. Lagu-lagu dangdut
misalnya Terlena (Ikke Nurjanah), Wakuncar (Reynold Panggabean) dan
lagu dangdut lain yang tidak terhitung jumlahnya. Di bawah ini contoh
menyanyikan lagu dangdut.
121
Seni Musik Non Klasik
Notasi 13: cara menyanyikan lagu dangdut
Irama jazz
Penyanyi yang mendalami musik jazz, sudah akrab dengan berbagai
improvisasi, karena improvisasi menjadi ciri khas musik jazz. Perubahan-
perubahan aksen juga harus dikuasai karena keindahan irama jazz ada
pada aksen ini. Ragam irama musik yang mulai dikenal sekitar tahun
1914 bagi jenis musik popular di Amerika yang berasal dari kalangan
kaum Negro di New Orleans. Karakter musik jazz penuh perubahan
aksen (sinkop) dan kelebihannya untuk berimprovisasi. Jazz gaya lama
termasuk old jazz adalah swing, foxtrot, sedangkan jazz modern seperti
boogie-woogie. Jazz rock merupakan ragam irama musik pop yang
berakar pada rock’nroll dengan kemudahan-kemudahan sentuhan atas
simbal dengan menghilangkan kombinasi pecahan nilai nada. Ciri rock
terdapat pada hentakan bas drum. Jenis jazz waltz, berirama 3 dengan
kombinasi sentuhan gaya rock. Sebagai contoh lagu jazz adalah Putri
(Baskara Band), dan Pastel Sea (Casiopea).
Irama rock
Ciri gaya dalam musik rock adalah sesuai dengan artinya, yaitu keras
seperti padu padas. Suara yang melengking tinggi dan menghentak-
hentak menjadi khas musik yang mempunyai rocker seperti Nicky Astrea,
Ahmad Albar dansebagainya. Suatu corak musik hiburan yang kemudian
menjadi serius tahun 1950, berangkat dari pola Boogie-woogie.
Penemunya adalah Fats Domino. Vibrasi nampak jika penyanyi sedang
menyanyikan nada-nada bawah, pada nada-nada tinggi akan kelihatan
kepiawaian seorang penyanyi rock. Jenis musiknya juga berkarakter.
Band Rock di Indonesia seperti God Bless, Bumerang dan hampir seluruh
122
Seni Musik Non Klasik
band Rock menggunakan nama berbau keras. Jenis lagu popular sebagai
pengembangan rock’nroll, berasal dari Amerika Serikat dan berkembang
di dunia Barat sekitar tahun 1950. basis rock adalah pada solo vocal
dengan iringan gitar. Musik rock berkembang dengan ragam peralatan
alat musik yang bervariasi sebagai combo-band. Musik rock sebenarnya
masuk dalam kategori pop, sehingga dikenal dengan pop-rock. Lagu
yang mempunyai irama rock seperti Cinta di Kota Tua (Nicky Astrea),
Final count Down (Europe), Tom Sawyer (Rush) dan sebagainya.
Irama rock’roll
Gaya vokal rock’roll hampir sama dengan gaya dalam musik rock,
karena musik rock merupakan pengembangan dari rock’roll yang berasal
dari Amerika Serikat. Sebagai musik yang diharapkan memberikan gerak
yang berkaitan dengan dansa. Ciri dan gaya musik rock’roll pembawaan
lagunya disertai dengan gerakan-gerakan badan mulai dari meliuk-liuk
hingga ke lompatan-lompatan atraktif. Gerak pentas rock’n roll biasanya
merangsang penonton turut bergerak dengan berjingkrak-jingkrak.
Rock’roll dapat diartikan rock and roll, namun ada yang menerjemahkan
rock’roll. Genre musik ini biasa untuk mengiringi tarian bebas maupun tari
modern. Penyanyi rock’roll seperti Elvis Presley dengan lagunya Hound
Dog, Rock and Roll Music (D’Loyd), Rock Around The Clock.
Irama latin
Ragam irama latin seperti samba, chacha, beguin, mambo, rumba,
calypso dan irama latin lainnya berasal dari Amerika Latin, tepatnya
adalah Amerika Selatan yang banyak dipengaruhi kebudayaan Latin.
Sampai sekarang, musik baru dari Amerika Selatan yang lain hampir
tidak diketahui, kecuali musik dari Argentina dan Urugay dengan
komposer Aharonian, yang berjuang keras untuk suatu musik Latin yang
mandiri. Lagu-lagu Latin dalam beberapa contoh: Malaguena (Ernesto),
Jarabe Tapatio (deter Mourice), Jambalaya (H. Wiiliam), Sway (Julie
London), Quondo-quondo (Pat Boone), Kasih (Ermy Kulit).
Irama blues
Musik dengan vokal khas Amerika, berangkat dari orang-orang kulit
hitam. Blues dipandang sebagai bagian musik hiburan dengan
mengusung penuh sifat-sifat emosional Negro sebagai bagian bisnis.
123
Seni Musik Non Klasik
Gaya v okal dalam irama blues, bebas melakukan improvisasi dengan
nada-nada yang tersusun secara harmonis. Lompatan-lompatan pada
register bawah maupun atas memperlihatkan kepiawaian penyanyi. Jenis
lagu sedih dari kalangan kaum Negro Amerika, dirancang dalam tempo
yang tidak terlalu cepat, mulai dikenal pada tahun 1911. lagu blues yang
asli biasanya terdiri atas 12 birama yang tersusun menjadi 3 baris,
masing-masing atas 4 birama dalam sukat 4. irama blues seperti dalam
lagu I’ve Got a Blues (Rolling Stones), Dealova (Dewa).
Irama waltz
Gaya vokal untuk irama waltz terkesan gembira, riang dan penuh
warna. Irama waltz diilhami oleh suatu bentuk tarian tradisional Jerman.
Gaya khusus yang agak berbeda dari irama-irama lagu lain adalah pada
ketukannya yang ¾, menjadikan irama waltz digemari di seluruh dunia
sebagai iringan tarian. Ragam irama tari bersukat 3, tari tradisional Eropa
(Jerman) yang mulai digemari sejak abad ke 19. dikenal adanya English
waltz dan Viennese waltz, wals gaya Inggris dan waltz gaya Wina. Irama
waltz dapat ditemukan pada lagu The Last Waltz (Engelbert H), Tennese
Waltz (Patty Page), True Love (Elton John), Delilah (Tom Jones)
Irama country
Suatu corak musik dengan vocal dari Amerika, mula-mula ber-
kembang di kampong, dinyanyikan oleh para musafir, pengembala dan
pekerja-pekerja. Musik country popular sejak tahun 1940. Pengaruhnya di
Indonesia pada tahun 1953, Mien Soundakh mengeluarkan “Penjaga
Sapi’. Tahun 1950-an country Amerika pada Elvis Presley dengan tema
lagu sekitar cinta dan patih hati. Bangkitnya country tahun 1970-an, yang
berpengaruh pada Rahmat Kartolo dengan ‘Patah Hati”. Ragam irama
pedesaan tradisi perkembangannya dimulai dari Amerika wilayah Barat
saat ini mulai banyak dimunculkan kembali. Gaya vokalnya yang lincah
dan gembira menjadi ciri khas musik country. Dengan busana yang
bergaris-garis, penyanyi country dengan diiringi alat musik seperti gitar,
banyo, biola akan saling bersahut-sahutan. Sebagai contoh lagu-lagu
country adalah Take Me Home Country Road (John Denver), Gembala
Sapi dan sebagainya.
124
Seni Musik Non Klasik
Irama reggae
Irama popular dari Jamaika dengan menggunakan elemen folk dan
rock dan disajikan melalui hentakan drum disertai dengan gaya vokal
yang banyak memainkan ornamen atau improvisasi bebas sesuai
karakter reggae. Rekaman reggae telah muncul sejak 1960-an melalui
Millie Small dan Desmond Dekker. Tahun 1970 melalui rekaman Led
Zeepelin terdengar nomor reggae pada album Houses of The Holy , dan
juga lagu Paul Simon yang terkenal There Goes Rhymin Simon atau lagu
Jimmy Cliff tahun 1973. di Indonesia irama ini dimanfaatkan oleh Melky
Goeslaw yang dinyanyikan oleh Nola Tilaar, ‘Dansa Reggae’, yang me-
rupakan lagu terlaris tahun 1983. Irama reggae misalnya pada lagu
Tragedi Buah Apel (Anita Sarawak), Don’t Worry Bought The Thing (Bob
Marley) dan lagu-lagu reggae lainnya.
12. Teknik Vokal
Langkah-langkah Latihan Vokal
Untuk menghindari pita suara menjadi tegang dan kaku, maka setiap
latihan menyanyi harus diawali dengan pemanasan yaitu latihan yang
membantu pita suara menjadi luwes dan ringan. Karena menyanyi
dengan keras akan menciptakan ketegangan pada pita suara, latihan-
latihan di bawah ini sebaiknya dimulai dengan suara lembut.
Latihan 1:
Latihan 2:
125
Seni Musik Non Klasik
Latihan 3:
Latihan 4:
Notasi 14: latihan 1 – 4 (latihan pemanasan)
Latihan 1 – 4 diatas dinyanyikan dengan suku kata yang berlainan dan
dalam tangganada yang secara kromatis naik dari c-cis-d-dis-e-f-fis-g-gis-
a-ais-b ……… danseterusnya, kemudian turun masing-masing setengah
laras, seluas batas wilayah nada masing-masing vokalis.
Latihan staccato
Staccato adalah menyanyi dengan cara diputus-putus, paling mudah
dibentuk pada suara kepala, untuk itu latihan-latihannya sebaiknya
dengan nada-nada tinggi:
Notasi 15 : latihan staccato
Untuk mendapatkan suara yang ringan, dapat dilatih dengan staccato dan
cepat:
Notasi 16 : latihan staccato
126
Seni Musik Non Klasik
Latihan diatas dinyanyikan dengan suku kata lain misalnya ka, na, pa,
dansebagainya secara kromatis dari c -cis-d-dis-e-f-fis-g-gis-a-ais-b……
danseterusnya naik turun masing-masing setengah laras, seluas batas
wilayah nada vokalis.
Notasi 17 : latihan staccato
Tri suara diatas dinyanyikan dengan suku kata ma-pa-na dansebagainya
secara kromatis dari c-cis-d-dis-e-f danseterusnya naik turun masing-
masing setengah laras, seluas batas wilayah nada masing-masing
vokalis.
Suara Kopstem/kopstein dan Falsetto
Ada cara efektif yang bisa dilakukan dalam menyiasati ketinggian
suara wanita. Selain dengan latihan pernafasan, resonansi, powering,
pembentukan suara dan sebagainya. Dapat juga dilatih suara kopstem.
Suara kopstem adalah teknik memproduksi suara asli dengan cara
hampir seperti membunyikan suara palsu. Suara kopstem banyak
digunakan para penyanyi seriosa pada nada-nada tinggi. Suara tersebut
seperti suara palsu, tetapi tidak sumbang karena dibunyikan dengan
penuh perasaan. Suara kopstem yang baik adalah yang tidak kasar.
Suara kopstem umumnya ditujukan bagi penyanyi wanita. Tetapi ada satu
dua penyanyi pria yang bisa melakukannya. Untuk latihan kopstem
dengan cara: mulai nada rendah hingga nada paling tinggi sesuai dengan
batas ketinggian suara masing-masing, apabila telah mampu pada nada
paling tinggi, bunyikanlah dengan suara yang normal.
Notasi 18 : latihan suara falset
127
Seni Musik Non Klasik
Suara falset atau falsetto pada suara kopstem sebenarnya
berasal dari istilah falset/falsetto yang berarti murni suara palsu yang
lazim digunakan pria, tetapi entah mengapa di Indonesia menca-
mpuradukkan istilah tersebut. Semua wanita memungkinkan untuk bisa
melakukan kopstem, namun hanya satu-dua orang penyanyi pria yang
bisa melakukan. Sebaliknya, semua suara pria sangat memungkinkan
untuk memproduksi falsetto secara baik, namun untuk suara wanita
hanya satu-dua orang yang bisa melakukan sebaik pria.
Aaaaa …………………………………………………..
Notasi 19 : latihan suara falset
Suara yang mengambang dan polos kedengaran mati dan kaku.
Secara spontan suara manusia dipengaruhi oleh hidup manusia.
Ketegangan dan pengendoran otot-otot indra suara, yaitu difragma, leher,
rahang bawah, pipi, lidah dan bibir, apalagi ketegangan dan pengendoran
yang berasal dari jiwa seperti rasa takut dan gembira. Untuk itu dianggap
baik, jika suara manusia mencerminkan kehidupan manusia secara wajar
dengan adanya vibrato, artinya bergelombang. Vibrato yang baik yaitu:
bergelombang dengan merata dan bergelombang sedikit (tidak sampai
setengah nada). Untuk memeriksa adanya vibrato, latihan-latihan teknik
di atas sangat membantu dalam menghasilkan vibrato. Vibrato meru-
pakan gejala alamiah namun dapat dilatih dengan sungguh-sungguh
serta latihan secara intensif.
128
Seni Musik Non Klasik
Latihan tangga nada
129
Seni Musik Non Klasik
130
Seni Musik Non Klasik
131
Seni Musik Non Klasik
132
Seni Musik Non Klasik
133
Seni Musik Non Klasik
134
Seni Musik Non Klasik
135
Seni Musik Non Klasik
136
Seni Musik Non Klasik
137
Seni Musik Non Klasik
138
Seni Musik Non Klasik
139
Seni Musik Non Klasik
140
Seni Musik Non Klasik
141
Seni Musik Non Klasik
142
Seni Musik Non Klasik
Notasi 20 : latihan tangganada
143
Seni Musik Non Klasik
Latihan Buah Musik / Lagu
144
Seni Musik Non Klasik
145
Seni Musik Non Klasik
146
Seni Musik Non Klasik
147
Seni Musik Non Klasik
148
Seni Musik Non Klasik
149
Seni Musik Non Klasik
150
Seni Musik Non Klasik
Gambar 10: menyanyi lagu pop
Gambar 11: menyanyi lagu kroncong
151
Seni Musik Non Klasik
Gambar 12: trio tanpa mikropon
Gambar 13: trio dengan memegang mikropon
152
Seni Musik Non Klasik
Gambar 14: menyanyi dengan iringan bigband
153
Seni Musik Non Klasik
Daftar Notasi
Notasi 1 : latihan pernafasan diafragma
Notasi 2 : latihan vokal ‘a’
Notasi 3 : latihan vokal ‘i’
Notasi 4 : latihan vokal ‘u’
Notasi 5 : latihan vokal ‘e’
Notasi 6 : latihan vokal ‘o’
Notasi 7 : lagu Nyiur Hijau
Notasi 8 : latihan memperkeras dinding resonansi
Notasi 9 : latihan memperkeras dinding resonansi
Notasi 10 : latihan memperbesar dinding resonansi
Notasi 11 : cara menyanyikan lagu pop
Notasi 12 : cara menyanyikan lagu keroncong
Notasi 13 : cara menyanyikan lagu dangdut
Notasi 14 : latihan 1 – 4 (latihan pemanasan)
Notasi 15 : latihan staccato
Notasi 16 : latihan staccato
Notasi 17 : latihan staccato
Notasi 18 : latihan suara falset
Notasi 19 : latihan suara falset
Notasi 20 : latihan tangganada
Notasi 22 : buah musik/lagu-lagu
Daftar Gambar
Gb. 1 : pernafasan diafragma
Gb. 2 : sikap tubuh
Gb. 3 : organ suara
Gb. 4 : bunyi vokal ‘a’
Gb. 5 : bunyi vokal ‘i’
Gb. 6 : bunyi vokal ‘u’
Gb. 7 : bunyi vokal ‘e’
Gb. 8 : bunyi vokal ‘o’
Gb. 9 : cara memegang mikropon
Gb.10 : menyanyi lagu pop
Gb.11 : menyanyi lagu kroncong
Gb.12 : trio tanpa mikropon
Gb.13 : trio dengan memegang mikropon
Gb.14 : menyanyi dengan iringan bigband
154
Seni Musik Non Klasik
BAB 5
KEYBOARD
1. Jenis Keyboard
Pada dasarnya keyboard terbagi menjadi 3 jenis menurut fungsinya,
yakni :
1.1. Keyboard mono timbral ( mono = satu, timbral atau timbre =
suara), yaitu keyboard yang dalam satu kesempatan dapat mengha-
silkan satu macam suara instrumen saja walaupun keyboard tersebut
memiliki banyak macam suara. Misalnya suara piano, flute, gitar,
drum, dsb. Keyboard ini banyak digunakan pada kalangan pro-
fesional, misalnya pada band ataupun bisnis rekaman mengingat
keyboard ini memiliki kwalitas serta warna suara yang bagus. Contoh
produk keyboard synthesizer mono timbral seperti misalnya roland D
5, roland D 50, yamaha DX 7, dsb.
Gambar 1. Ketboard mono timbral Yamaha DX-7
Gambar 2. Ketboard mono timbral Roland D-50
155
Seni Musik Non Klasik
1.2. Keyboard Multi timbral (multi = banyak, timbral = suara), yaitu
keyboard yang dalam satu kesempatan dapat menghasilkan lebih
dari satu macam suara instrumen musik. Misalnya suara piano, gitar,
flute, drum mampu berbunyi secara bersama-sama. Keyboard ini
cocok untuk penggarapan aransemen. Keyboard ini banyak diguna-
kan dalam kegiatan rekaman. Contoh produk keyboard multi timbral
seperti misalnya yamaha SY 77, roland JV series, roland XP series.
Gambar 3. Ketboard multitimbral Roland JV-80
1.3. Keyboard Accompaniment (iringan), yakni keyboard untuk
mengiri/ dimainkan secara langsung/ live. Keyboard ini termasuk
keyboard multi timbral yang memungkinkan kita untuk memainkannya
beberapa macam suara instrument musik secara langsung. Jenis key-
board ini yang paling banyak diminati karena selain efektif peng-
gunaannya, harganyapun bervariasi. Keyboard jenis inilah yang akan
banyak dipelajari dalam kesempatan ini. Contoh produk ini seperti
misalnya roland E series, roland G series, yamaha PSR series, korg
Pa series, korg I series, technic KN series, dsb.
Accompaniment Roland VA-7
Gambar 4. Keyboard
Dalam setiap pertunjukan keyboard membutuhkan alat bantu amplifier
sebagai penghasil suara, yakni dengan menghubungkan line out key-
board menuju amplifier. Amplifier berfungsi sebagai pengeras signal
suara yang dihasilkan dari keyboard.
156
Seni Musik Non Klasik
Gambar 5. Koneksi keyboard dan amplifier
Melalui kabel output keyboard dihubungkan dengan input amplifier.
Lobang output pada keyboard biasanya ada 2 yakni lobang R dan lobang
L/ L – R. Lobang L/L – R digunakan bila keyboard adalah mono. Jika
keyboard stereo digunakan kedua-duanya. Lihat gambar berikut.
Gambar 6. Out put Keyboard
2. Teknik Bermain Keyboard
2.1. Posisi Bermain
Posisi duduk pada saat bermain keyboard perlu diperhatikan.
Posisi duduk yang benar adalah selalu tegak. Sedangkan posisi
yang salah dalam bermain piano dapat mengakibatkan lekas
capek dan berakhir dengan permainan yang kurang bagus .........
perkecualian............
157
Seni Musik Non Klasik
Keyboard untuk Pemula
Tubagus Heckman
Gambar 7. Posisi duduk
2.2. Posisi Tangan
Posisi tangan dalam bermain piano dengan menekuk sedikit jari-jari
seolah sedang memegang bola. Perhatikan gambar berikut:
Keyboard untuk Pemula
Tugagus Heckman
Gambar 8. posisi tangan
158
Seni Musik Non Klasik
2.3. Penjarian
Kode penjarian pada pembelajaran piano dapat dilihat pada gam-
bar berikut:
Gambar 9. Kode jari
Keterangan: (kode jari berlaku untuk jari tangan kanan maupun
kiri)
• Kode angka 1 untuk ibu jari
• Kode angka 2 untuk telunjuk
• Kode angka 3 untuk jari tengah
• Kode angka 4 untuk jari manis
• Kode angka 5 untuk kelingking
2.4. Tangga Nada, Trinada, Arpeggio dan Progresi Akor
Latihan tangga nada dalam interval oktaf, dan trinada C mayor.
159
Seni Musik Non Klasik
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 1. Tangga nada dalam dan trinada C mayor.
Latihan progresi akor C mayor
a. / C . . . / F . . . / G . . . / C . . . //
b. / C . . . / Am . . . / F . . . / Dm . . . / Con G . . . /
G . . . / C . . . //
c. / C . . . / F . . . / Dm . . . / Bdim . . . / E . . . /
Am . . . //
160
Seni Musik Non Klasik
2. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada a minor
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 2. Tangga nada dan trinada A minor
Latihan progresi akor A minor
a. / Am . . . / Dm . . . / Em . . . / Am . . . //
b. / Am . . . / F . . . / Dm . . . / Bdim . . . /
Am on E . . . / E . . . / Am . . . //
161
Seni Musik Non Klasik
3. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada G mayor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 3. Tangga nada dan trinada G Mayor
Latihan progresi akor G mayor
a. / G . . . / C . . . / D . . . / G . . . //
b. / G . . . / Em . . . / C . . . / Am . . . / Gon D . . . /
D . . . / G . . . //
c. / G . . . / C . . . / Am . . . / Fisdim . . . / B . . . /
Em . . . //
162
Seni Musik Non Klasik
4. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada e minor
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 4. Tangga nada dan trinada e minor
Latihan progresi akor e minor
a. / Em . . . / Am . . . / Bm . . . / Em . . . //
b. / Em . . . / C . . . / Am . . . / Fisdim . . . /
Em on B . . . / B . . . / Em . . . //
163
Seni Musik Non Klasik
5. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada D mayor
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 5. Tangga nada dan trinada D Mayor
a. / D . . . / G . . . / A . . . / D . . . //
b. / D . . . / Bm . . . / G . . . / Em . . . / Don A . . . /
A . . . / D . . . //
c. / D . . . / G . . . / Em . . . / Cisdim . . . /
Fis . . . / Bm . . . //
164
Seni Musik Non Klasik
6. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada b minor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 6. Tangga nada dan trinada b minor
Latihan progresi akor b minor
a. / Bm . . . / Em . . . / Fism . . . / Bm . . . //
b. / Bm . . . / G . . . / Em . . . / Cisdim . . . /
Bm on Fis . . . / Fis . . . / Bm . . . //
165
Seni Musik Non Klasik
7. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada A mayor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 7. Tangga nada dan trinada A Mayor
Latihan progresi akor A mayor
a. / A . . . / D . . . / E . . . / A . . . //
b. / A . . . / Fism . . . / D . . . / Bm . . . / Aon E . . . /
E . . . / A . . . //
c. / C . . . / F . . . / Dm . . . / Bdim . . . / E . . . /
Am . . . //
166
Seni Musik Non Klasik
8. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada fis minor
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 8. Tangga nada fis minor
Keterangan: Fis enharmonis dengan Ges, sehingga penjariannya sama.
Latihan progresi akor fis minor
a. / Fism . . . / Bm . . . / Cism . . . / Fism . . . //
b. / Fism . . . / D . . . / Bm . . . / Cisdim . . . /
Fism on Cis . . . /Cis . . . / Fism . . . //
167
Seni Musik Non Klasik
9. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada E mayor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 9. Tangga nada E mayor
Latihan progresi akor E mayor
a. / E . . . / A . . . / B . . . / E . . . //
b. / E . . . / Cism . . . / A . . . / Fism . . . / Eon B . . . / B . . .
/ E . . . //
c. / E . . . / A . . . / Fism . . . / Disdim . . . / Gis . . . /
Cism . . . //
168
Seni Musik Non Klasik
10. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada cis minor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 10. Tangga nada cis minor.
Keterangan: Cis enharmonis dengan Des, sehingga penjariannya sama.
Latihan progresi akor cis minor
a. / Cism . . . / Fism . . . / Gism . . . / Cism . . . //
b. / Cism . . . / A . . . / Fism . . . / Disdim . . . /
Cism on Gis . . . / Gis . . . / Cism . . . //
169
Seni Musik Non Klasik
11. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada B mayor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 11. Tangga nada B mayor
Latihan progresi akor C mayor
a. / B . . . / E . . . / Fis . . . / B . . . //
b. / B . . . / Gism . . . / E . . . / Cism . . . /
B on Fis . . . /Fis . . . / B . . . //
c. / B. . . / E . . . / Cism . . . / Besdim . . . /
Es . . . / Gism . . . //
170
Seni Musik Non Klasik
12. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Gis minor
12Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 12. Tangga nada Gis minor
Keterangan: Gis enharmonis dengan As, sehingga penjariannya sama.
Latihan progresi akor gis minor
a. / Gism . . . / Cism . . . / Dism . . . / Gism . . . //
b. / Gism . . . / E . . . / Cism . . . / Gdim . . . /
Gism on Dis . . . / Dis . . . / Gism . . . //
171
Seni Musik Non Klasik
13. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Fis mayor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 13. Tangga nada Fis mayor
Keterangan: Fis enharmonis dengan Ges, sehingga penjariannya sama.
Latihan progresi akor Fis mayor
a. / Fis . . . / B . . . / Cis . . . / Fis . . . //
b. / Fis . . . / Dism . . . / B . . . / Gism . . . /
Fis on Cis . . . / Cis . . . / Fis . . . //
c. / Fis . . . / B . . . / Gism . . . / Fdim . . . /
Ais . . . /Dism . . . //
172
Seni Musik Non Klasik
14. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada dis minor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 14. Tangga nada dan trinada dis minor.
Keterangan: Dis enharmonis dengan Es, sehingga penjariannya sama.
Latihan progresi akor dis minor
a. / Dism . . . / Gism . . . / Aism . . . / Dism . . . //
b. / Dism . . . / B . . . / Gism . . . / Ddim . . . /
Dism on Ais . . . / Ais . . . / Dism . . . //
173
Seni Musik Non Klasik
15. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Cis mayor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 15. Tangga nada dan trinada Cis mayor.
Keterangan: Cis enharmonis dengan Des, sehingga penjariannya sama.
Latihan progresi akor Cis mayor
a. / Cis . . . / Fis . . . / Gis . . . / Cis . . . //
b. / Cis . . . / Aim . . . / Fis . . . / Dism . . . /
Cis on Gis . . . / Gis . . . / Cis . . . //
c. / Cis . . . / Fis . . . / Dism . . . / Cdim . . . /
F . . . / Aism . . . //
174
Seni Musik Non Klasik
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 16. Tangga nada dan trinada ais minor.
Keterangan: Ais enharmonis dengan Bes, sehingga penjariannya sama.
Latihan progresi akor ais minor
a. / Aism . . . / Dism . . . / Fm . . . / Aism . . . //
b. / Aism . . . / Fis . . . / Dism . . . / Cdim . . . /
Aism on F . . . / F . . . / Aism . . . //
175
Seni Musik Non Klasik
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 17. Tangga nada dan trinada F mayor.
Latihan progresi akor F mayor
a. / F . . . / Bes . . . / C . . . / F . . . //
b. / F . . . / Dm . . . / Bes . . . / Gm . . . /
F on C . . . /C . . . / F . . . //
c. / F . . . / Bes . . . / Gm . . . / Edim . . . /
B . . . / Em . . . //
176
Seni Musik Non Klasik
18. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada d minor
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 18. Tangga nada trinada d minor.
Latihan progresi akor d minor
a. / Dm . . . / Gm . . . / Am . . . / Dm . . . //
b. / Dm . . . / Bes . . . / Gm . . . / Edim . . . /
Dm on A . . . / A . . . / Dm . . . //
177
Seni Musik Non Klasik
19. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Bes
mayor
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 19. Tangga nada dan trinada, dan Bes mayor.
Latihan progresi akor C mayor
a. / Bes . . . / Es . . . / F . . . / Bes . . . //
b. / Bes . . . / Gm . . . / Es . . . / Cm . . . / Bes on F . . . /
F . . . / Bes . . . //
c. / Bes . . . / Es . . . / Cm . . . / Adim . . . / D . . . /
Gm . . . //
178
Seni Musik Non Klasik
20. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada g minor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 20. Tangga nada dan trinada g minor.
Latihan progresi akor g minor
a. / Gm . . . / Cm . . . / Dm . . . / Gm . . . //
b. / Gm . . . / Es . . . / Cm . . . / Adim . . . /
Gm on D . . . / D . . . / Gm . . . //
179
Seni Musik Non Klasik
21. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada Es mayor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 21. Tangga nada dan trinada Es mayor.
Latihan progresi akor Es mayor
a. / Es . . . / As . . . / Bes . . . / Es . . . //
b. / Es . . . / Cm . . . / As . . . / Fm . . . / Es on Bes . . . /
Bes . . . / Es . . . //
c. / Es . . . / As . . . / Fm . . . / Ddim . . . / G . . . /
Cm . . . //
180
Seni Musik Non Klasik
22. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada c minor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 22. Tangga nada dan trinada c minor.
Latihan progresi akor c minor
a. / Cm . . . / Fm . . . / Gm . . . / Cm . . . //
b. / Cm . . . / As . . . / Fm . . . / Ddim . . . /
Cm on G. . . / G . . . / Cm . . . //
181
Seni Musik Non Klasik
23. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada As
mayor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 23. Tangga nada dan trinada As mayor.
Latihan progresi akor As mayor
a. / As . . . / Des . . . / Es . . . / As . . . //
b. / As . . . / Fm . . . / Des . . . / Besm . . . /
As on Es . . . / Es . . . / As . . . //
c. / As . . . / Des . . . / Besm . . . / Gdim . . . /
C . . . / Fm . . . //
182
Seni Musik Non Klasik
24. Latihan tangga nada dalam interval oktaf dan trinada f minor.
Tangganada dan Trinada
Latifah Kodijat
Notasi 24. Tangga nada dan trinada f minor.
Latihan progresi akor f minor
a. / Fm . . . / Besm . . . / Cm . . . / Fm . . . //
b. / Fm . . . / Des . . . / Besm . . . / Gdim . . . /
Fm on C. . . / C . . . / Fm . . . //
183
Seni Musik Non Klasik
4.3. Latihan Etude
Latihan Etude Trinada Mayor
1
Notasi 31 Etude Trinada Mayor
2.
Notasi 32 Etude Trinada Minor
3
Notasi 33. Etude Trinada Minor dan Mayor
184
Seni Musik Non Klasik
4. Dominant Seven
Etude
Notasi 34. Etude Dominan Tujuh
5. Minor Seven Etude
Notasi 35. Etude Minor Tujuh
6. Major Seven
Etude
Notasi 36. Etude Mayor Tujuh
185
Seni Musik Non Klasik
7. Minor Seven Flat Five Etude
8.
9.
Notasi 37. Etude minor 7-5
10. Augmented Seven
Etude
Notasi 38. Etude Augmented Tujuh
9
Jazz Etudes and Pieces
186
Seni Musik Non Klasik
Oscar Peterson
Notasi 39. Etude nomor 9
10.
Jazz Etudes and Pieces
Oscar Peterson
Notassi 40. Etude nomor 10
187
Seni Musik Non Klasik
11
Jazz Etudes and Pieces
Oscar Peterson
Notassi 41.. Etude nomor 11
12
Jazz Etudes and Pieces
Oscar Peterson
Notasi 42.. Etude nomor 12
188
Seni Musik Non Klasik
13
Jazz Etudes and Pieces
Oscar Peterson
Notasi 43. Etude nomor 13
189
Seni Musik Non Klasik
14
Jazz Etudes and Pieces
Oscar Peterson
Notasi 44. Etude nomor 14
190
Seni Musik Non Klasik
15
Jazz Etudes and Pieces
Oscar Peterson
Notasi 45. Etude nomor 15
16
Jazz Etudes and Pieces
Oscar Peterson
Notasi 46. Etude nomor 16
191
Seni Musik Non Klasik
17
Jazz Etudes and Pieces
Oscar Peterson
Notasi 47. Etude nomor 17
18
Jazz Etudes and Pieces
Oscar Peterson
Notasi 48. Etude nomor 18
192
Seni Musik Non Klasik
4, 6. Solo Keyboard
Kurang lebih selama satu dasawarsa terakhir dalam dunia musik
dikenal istilah organ tunggal, keyboard tunggal, solo organ, ataupun solo
keyboard. Istilah-istilah tersebut untuk menandai sebuah pertunjukan
musik berupa permainan instrumen musik organ atau keyboard yang di-
mainkan oleh seorang musisi saja namun mampu menghasilkan musik
lengkap seperti misalnya band, kroncong, dangdut, campursari, dan bah-
kan mirip orkestra.
4. 6..1. Spesifikasi Keyboard Solo
Seiring perkembangan teknologi, berbagai jenis, macam, merk,
bentuk, ukuran keyboard bermunculan dengan karakteristik dan kecang-
gihan yang bervariasi, namun secara garis besar pada keyboard jenis
accompaniment ini terdapat bagian-bagian yang sama dan sangat pen-
ting untuk diketahui sebelum dimainkannya. Bagian-bagian itu antara lain
adalah:
4.6.1.1. Tombol On/ Off
Tombol ini merupakan t mbol pertama yang kita gunakan,
o
yakni untuk menyalakan keyboard setelah dihubungkan
dengan listrik. Pertama kali keyboard dinyalakan biasanya
suara yang muncul apabila tuts ditekan adalah suara piano
Gambar 10. Tombol On/ Off
4.6.1.2. Volume
Tombol ini digunakan untuk memperbesar dan memperkecil
suara keyboard secara keseluruhan setelah tombol power
dinyalakan.
193
Seni Musik Non Klasik
Gambar 11. Potensio Volume
4.6.1.3. Tombol Timbre/ Voice
Tombol ini digunakan untuk memilih berbagai jenis suara alat
music , misalnya flute, gitar, piano, organ, dan lain sebagainya.
Gambar 12. Tombol Timbre/ Voice
4.6.1.4. Tombol Rhythm
Tombol ini digunakan untuk memilih jenis irama music yang
akan dimainkan, misalnya waltz, bossanova, rhumba, dan lain
sebagainya.
Gambar 13. Tombol Rhythm
4.6.1.5. Tombol Start/ stop
Tombol ini digunakan untuk memulai salah satu irama music/
rhythm. Begitu tombol star dipencet, keyboard akan
menghasilkan irama pertama dalam bentuk bunyi drum. Jika
tombol ini dipencet untuk yang kedua kalinya, bunyi drum
akan berhenti, yakni sebagai tombol stop.
194
Seni Musik Non Klasik
Gambar 14. Tombol Start/ stop
4.6.1.6. Tombol Tempo
Tombol ini digunakan untuk mengatur cepat lambatnya tempo
dari irama yang telah dibunyikan setelah tombol strat dipencet.
Gambar 15. Tombol Tempo
4.6.1.7. Tombol Transpose
Tombol ini digunakan untuk menghasilkan chord d music
an
pada irama drum yang telah berbunyi setelah tombol start
dipencet. Setelah tombol rhythm dan chord dipencet, tuts
bagian kiri keyboard akan berfungsi sebagai pengiring.
Gambar 16. Tombol Transpose
4.6.1.8. Tombol Intro/ Ending
Tombol ini digunakan dengan cara mempencet tombol
tersebut untuk mengawali permainan keyboard dengan
aransemen intro yang sudah ada dari masing-masing irama
pada keyboard. Sedangkan untuk menutup lagu bias
dilakukan dengan mempencet tombol ini juga, yang berarti
sebagai tombol ending. Pada jenis keyboard tertentu intro dan
ending diwadahi pada tombol yang berbeda/ terpisah, namun
tetap pada fungsi yang sama.
Gambar 17. Tombol Intro/ Ending
195
Seni Musik Non Klasik
4.6.1.9. Tombol Fill in
Tombol ini digunakan untuk membuat variasi ketukan dan
irama music dalam bentuk variasi bunyi drum. Biasanya
tombol ini digunakan untuk menghasilkan variasi ketukan
sebelum kebagian reffren lagu, biasanya tombol bertuliskan fill
in to variation. Sedangkan variasi ketukan sesudah reffren
lagu, biasanya tombol bertuliskan fill in to original.
Gambar 18. Tombol Fill in
4.6.1.10. Tombol Sync (sync/ start)
Tombol ini digunakan agar drum beserta iringan musiknya
(dengan tangan kiri) dapat diatur mulainya selaras dengan
melofi lagu yang telah direncanakan. Ketika tombol sync
diaktifkan, maka jika tuts keyboard bagian kiri tersentuh
sesuatu, seketika itu juga drum beserta iringan musiknya akan
berjalan.
Gambar 19. Tombol Sync (sync/ start)
4.6.2.Wilayah Penjarian
4.6.2.1. Wilayah Penjarian Tangan Kanan
Keyboard accompaniment (yang pada umumnya terdiri dari 5 oktaf)
terbagi menjadi 2 bagian, yakni 2 oktaf bawah dimainkan dengan jari
tangan kiri, yakni untuk memainkan akor yang, dan 3 oktaf atas,
dimainkan dengan jari tangan kanan, yakni untuk memainkan melodi
ataupun filler.
Perlu diketahui bahwa batas kedua wilayah tersebut dapat dipindah/
diprogram sesuai dengan keinginan. Untuk lebih jelasnya lihat gambar
berikut :
196
Seni Musik Non Klasik
Gambar 20. Wilayah Permainan Keyboard
Wilayah penjarian tangan kanan instrumen keyboard dapat kita jelaskan
melalui contoh gambar berikut:
Gambar 21. Wilayah penjarian tangan kanan instrumen keyboard pada Tangga Nada C
Mayor (3 oktaf).
Gambar 139. Kode penjarian tangan kanan instrumen keyboard pada Tangga Nada C
Mayor (3 oktaf).
Keterangan:
• Angka menunjukkan kode jari tangan kanan
197
Seni Musik Non Klasik
• = Notasi dimainkan 1 oktaf
diatasnya.
• Wilayah nada bisa dirubah dengan
transpose oktaf, baik oktaf ke bawah
maupun ke atas.
4.6..2.2. Wilayah Penjarian Tangan Kiri
Beberapa contoh penempatan Penjarian Tangan Kiri
Gambar 22. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor C Mayor
Gambar 23. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor G Mayor
Gambar 24. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor F Mayor
198
Seni Musik Non Klasik
Gambar 25. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor A Minor
Gambar 26. Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor D Minor
4.7. Latihan Tangga nada
Notasi 49. Tangganada C Mayor dengan irama 8 beat
199
Seni Musik Non Klasik
Notasi 50. Tangganada C Mayor dengan irama Bossanova
Notasi 51. Tangganada C Mayor dengan irama Waltz
200
Seni Musik Non Klasik
4.7. Latihan lagu
Notasi 52. Lightly Row
Notasi 53. Jambalaya
201
Seni Musik Non Klasik
Notasi 54. Nona Manis
Notasi 55. Nyiur Hijau
202
Seni Musik Non Klasik
Notasi 56. Warung Pojok
Notasi 57. Bubuy Bulan
203
Seni Musik Non Klasik
Notasi 58. Kota Ambon
Notasi 59. Syukur
204
Seni Musik Non Klasik
4.6. Buah Musik
The Jazz Pianist
Fred Hughes
Notasi 60. Have You Met Miss Jones
205
Seni Musik Non Klasik
The Jazz Pianist
Fred Hughes
Notasi 61. The Days of Wine and Roses
206
Seni Musik Non Klasik
Notasi 62. Biru
207
Seni Musik Non Klasik
Notasi 63 Marilah kemari
208
Seni Musik Non Klasik
Notasi 64. Something Stupid
209
Seni Musik Non Klasik
Notasi 65. Pastel Sea
210
Seni Musik Non Klasik
Notas i 66. Kopi Dangdut
211
Seni Musik Non Klasik
Notasi 67. Bengawan Solo.
212
Seni Musik Non Klasik
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Ketboard mono timbral Yamaha DX-7
Gambar 2 : Ketboard mono timbral Roland D-50
Gambar 3 : Ketboard multitimbral Roland JV-80
Gambar 4 : Keyboard Accompaniment Roland VA-7
Gambar 5 : Koneksi keyboard dan amplifier
Gambar 6 : Out put Keyboard
Gambar 7 : Posisi duduK
Gambar 8 : posisi tangan
Gambar 9 : Kode jari
Gambar 10 : Tombol On/ Off
Gambar 11 : Potensio Volume
Gambar 12 :. Tombol Timbre/ Voice
Gambar 13 : Tombol Rhythm
Gambar 14 : Tombol Start/ stop
Gambar 15 : Tombol Tempo
Gambar 16 : Tombol Transpose
Gambar 17 : Tombol Intro/ Ending
Gambar 18 : Tombol Fill in
Gambar 19 : Tombol Sync (sync/ start)
Gambar 20 : Wilayah Permainan Keyboard
Gambar 21 : Wilayah penjarian tangan kanan instrumen keyboard
pada Tangga Nada C Mayor (3 oktaf).
Gambar 22 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor C Mayor
Gambar 23 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor G Mayor
Gambar 24 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor F Mayor
Gambar 25 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor A Minor
Gambar 26 : Teknik Penjarian Tangan Kiri pada akor D Minor
213
Seni Musik Non Klasik
DAFTAR NOTASI
Notasi 1 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio C mayor.
Notasi 2 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio a minor
Notasi 3 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio G mayor.
Notasi 4 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio e minor.
Notasi 5 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio D mayor.
Notasi 6 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio b minor.
Notasi 7 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio A mayor.
Notasi 8 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio fis minor.
Notasi 9 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio E mayor.
Notasi 10 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio cis minor.
Notasi 11 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio B mayor.
Notasi 12 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio gis minor
Notasi 13 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Fis mayor.
Notasi 14 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio dis minor.
Notasi 15 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Cis mayor.
Notasi 16 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio ais minor.
Notasi 17 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio F mayor.
Notasi 18 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio d minor.
Notasi 19 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Bes mayor.
Notasi 20 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio g minor.
Notasi 21 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Es mayor.
214
Seni Musik Non Klasik
Notasi 22 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio c minor
Notasi 23 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio As mayor.
Notasi 24 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio f minor.
Notasi 25 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Des mayor.
Notasi 26 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio bes minor.
Notasi 27 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Ges mayor.
Notasi 28 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio es minor.
Notasi 29 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio Ces mayor.
Notasi 30 : Tangga nada dalam interval oktaf, dalam interval oerts,
dalam interval oext, trinada, dan arpeggio as minor.
Notasi 31 : Etude Trinada Mayor
Notasi 32 : Etude Trinada Minor
Notasi 33 : Etude Trinada Minor dan Mayor
Notasi 34 : Etude Dominan Tujuh
Notasi 35 : Etude Minor Tujuh
Notasi 36 : Etude Mayor Tujuh
Notasi 37 : Etude minor 7-5
Notasi 38 : Etude Augmented Tujuh
Notasi 39 : Etude nomor 9
Notass 40 : Etude nomor 10
Notasi 41 : Etude nomor 11
Notasi 42 : Etude nomor 12
Notasi 43 : Etude nomor 13
Notasi 44 : Etude nomor 14
Notasi 45 : Etude nomor 15
Notasi 46 : Etude nomor 16
Notasi 47 : Etude nomor 17
Notasi 48 : Etude nomor 18
Notasi 49 : Tangganada C Mayor dengan irama 8 beat
Notasi 50 : Tangganada C Mayor dengan irama Bossanova
Notasi 51 : Tangganada C Mayor dengan irama Waltz
Notasi 52 : Lightly Row
Notasi 53 : Jambalaya
Notasi 54 : Nona Manis
Notasi 55 : Nyiur Hijau
Notasi 56 : Warung Pojok
Notasi 57 : Bubuy Bulan
Notasi 58 : Kota Ambon
215
Seni Musik Non Klasik
Notasi 59 : Syukur
Notasi 60 : Have You Met Miss Jones
Notasi 60 : Have You Met Miss Jones
Notasi 61 : The Days of Wine and Roses
Notasi 62 : Biru
Notasi 63 :Marilah kemari
Notasi 64 : Something Stupid
Notasi 65 : Pastel Sea
Notasi 66 : Kopi Dangdut
Notasi 67 : Bengawan Solo.
Notasi 67 : Bengawan Solo.
Notasi 66 : Kopi Dangdut
216
Seni Musik Non Klasik
BAB 6
GITAR
1. Gitar dan Bagian-bagiannya
Instrumen gitar elektrik sangat populer di kalangan
kelompok musik rock dan pop. Instrumen ini dikembangkan dari
instrumen gitar klasik. Di dalam gitar elektrik vibrasi senarnya
dibantu dengan peralatan elektronik dan peralatan soundsystem
sehingga efek suaranya dapat lebih keras.
Gambar 1 : bagian gitar elektrik
Seni Musik Non Klasik 217
2. Cara Menyetem Gitar
Nama dan posisi senar gitar dalam fretboard, untuk senar open string
Gambar 2 : posisi nada-nada gitar pada senar open string
posisi nada-nada gitar pada senar open string
Notasi 1. tuning gitar posisi open string
2.1 General Tuning
Gambar 3
General tuning langkah ke 1 dapat dilakukan dengan: (1)
melaraskan senar ke 1 menurut nada E; (2) tekan fret ke V senar ke 2;
(3) petik senar ke 1 tanpa ditekan; (4) ; selaraskan nada kedua senar
tersebut (5) periksa harmonic tuning dengan cara menyentuh senar B
pada fret ke XII; (6) bandingkan dengan fret ke VII senar ke 1.
Gambar 4
General tuning langkah ke 2 dapat dilakukan dengan: (1) tekan fret ke IX
senar ke 3; (2) petik senar ke 1 tanpa ditekan; (3) selaraskan nada kedua
Seni Musik Non Klasik 218
senar tersebut; (4) periksa harmonic tuning dengan cara menyentuh
senar G fret XII dan menekan senar E fret ke III.
Gambar 5
General tuning langkah ke 3 dapat dilakukan dengan: (1) tekan fret ke IX
senar ke 4; (2) petik senar ke 2 tanpa di tekan; (3) selaraskan nada kedua
senar tersebut; (4) periksa harmonic tuning dengan cara menyentuh
senar D fret ke XII dan menekan senar B fret ke III.
Gambar 6
General tuning langkah ke 4 dapat dilakukan dengan cara: (1) tekan fret
ke V senar ke 5; (2) petik senar ke 4 tanpa di tekan; (3) selaraskan nada
kedua senar tersebut; (4) periksa harmonic tuning dengan cara
menyentuh senar A fret ke XII dan menekan G fret ke II.
Gambar 7
General tuning langkah ke 5 dapat dilakukan dengan; (1) tekan fret ke X
senar ke 6; (2) petik senar ke 5 tanpa di tekan; (3) selaraskan kedua nada
tersebut; (4) periksa harmonic tuning dengan cara menyentuh senar A
fret ke XII dan menekan senar D fret ke II.
Gambar 8
Seni Musik Non Klasik 219
General tuning langkah ke 6 dapat dilakukan dengan; (1) petik senar ke 6
tanpa ditekan; (2) petik senar ke 1 tanpa ditekan; (3) selaraskan ke dua
nada tersebut.
2.2 Quick tuning
Quick tuning merupakan teknik penyeteman gitar secara cepat apabila
terjadi penurunan nada pada senar gitar.
Quick tuning langkah ke 1 dapat dilakukan dengan cara tekan fret V
senar ke 2, dan bandingkan dengan senar ke 1 tanpa ditekan.
Gambar 9
Quick tuning langkah ke 2 dapat dilakukan dengan cara tekan fret IX
senar ke 3 dan bandingkan dengan senar ke 1 tanpa ditekan.
Gambar 10
Quick tuning langkah ke 3 dapat dilakukan dengan cara t kan fret IX
e
senar ke 4 bandingkan dengan senar ke 2 tanpa ditekan.
Gambar 11
Quick tuning langkah ke 3 dapat dilakukan dengan cara tekan fret X
senar ke 5 bandingkan dengan senar ke 3 tanpa ditekan.
Seni Musik Non Klasik 220
Gambar 12
Quick tuning langkah ke 3 dapat dilakukan dengan cara tekan fret X
senar ke 6 bandingkan dengan senar ke 4 tanpa ditekan.
Gambar 13
2.3 Harmonic Tuning
Harmonic tuning dapat dilakukan dengan cara: (1) sentuh senar ke 2
tepat di atas fret ke 5 menggunakan jari telunjuk; (2) sentuh senar ke 1
tepat diatas fret ke 7 dengan jari manis; (3) petik senar ke 2 lalu senar ke
1; (4) selaraskan nada ke dua senar tersebut.
Harmonic tuning juga dapat dilakukan dengan c ara yang sama pada
senar ke 4 dan ke 3 pada posisi fret yang sama, demikian juga pada
senar ke 5 dan ke 4, senar ke 6 dan ke 5. Terakhir selaraskan senar ke 6
fret ke VII dengan senar ke 2 fret ke XII.
3. Latihan Penjarian
Empat jari tangan kiri digunakan untuk menekan senar pada papan nada
(fretboard), kemudian ibu jari digunakan untuk menahan leher gitar
bagian belakang.
Simbol jari tangan kiri adalah sebagai berikut :
Seni Musik Non Klasik 221
Gambar 14 : kode angka untuk jari tangan kiri
Jari tangan kanan digunakan untuk memetik senar, ibu jari digunakan
untuk memetik bass dalam teknik memainkan gitar akustik sedangkan
dalam teknik memainkan gitar elektrik jari jari tangan kanan digunakan
untuk memegang plektrum dengan simbol sebagai berikut :
Gambar 15 : kode angka untuk jari tangan kanan
Seni Musik Non Klasik 222
4. Latihan Teknik Memetik Gitar
4.1 Latihan memetik gitar dengan jari
Gambar 16 : memetik gitar dengan jari
4.2 Latihan memetik gitar dengan menggunakan plektrum
4.3
Gambar 17 : memetik gitar dengan plektrum
5. Latihan dengan Tablatur
Tablatur (TAB) adalah diagram yang menggambarkan keberadaan senar
gitar dengan simbol angka yang menunjukkan fret yang ditekan. Tablatur
dipakai untuk penulisan gitar elektrik dan diletakkan di bawah notasi
balok.
Seni Musik Non Klasik 223
Gambar 18 : tablatur
Contoh
Notasi 2
dibaca : senar yang dimainkan adalah senar ke 2 fret ke 1 posisi jari 1
6. Latihan Tangga Nada
Senar ke 1 atau senar paling kecil pada diagram terletak pada posisi
paling atas.
Gambar 19 : tangga nada pada gitar
Secara umum ke enam senar yang ada pada gitar dapat dimainkan
sebagai tangga nada diatonis.
5.1 Senar E sebagai tangga nada E Mayor
Seni Musik Non Klasik 224
Gambar 20
Posisi not dalam notasi balok
Notasi 3
5.2 Senar B sebagai tangga nada B Mayor
Gambar 210
Posisi not dalam notasi balok
Notasi 4
5.3 Senar G sebagai Tangga nada G Mayor
Gambar 22
Seni Musik Non Klasik 225
Posisi not dalam notasi balok
Notasi 5
5.4 Senar D sebagai Tangga nada D Mayor
Gambar 23
Posisi not dalam notasi balok
Notasi 6
5.5 Senar A sebagai Tangga nada A Mayor
Gambar 24
Posisi not dalam notasi balok
Notasi 7
Seni Musik Non Klasik 226
5.6 Senar G sebagai Tangga nada G Mayorenar E sebagai Tangga nada
E Mayor
Gambar 25
Posisi not dalam notasi balok
Notasi 8
7. Latihan Teknik Memainkan Gitar Akustik
Dalam bermain gitar akustik kita harus mempertimbangkan sikap atau
tata cara bermain agar lagu-lagu yang kita bawakan dapat berhasil
dengan baik. Oleh karena itu dalam bermain gitar usahakan dengan
sebaik-baiknya posisi tangan kiri dan tangan kanan agar dapat bergerak
sebebas mungkin, serta menggunakan foot stool yang harus berada
didepan tempat kursi untuk menaruh telapak kaki kiri.
Seni Musik Non Klasik 227
Gambar 26 : Foot stool
Gambar 27 : Posisi jari tangan kiri saat menekan senar gitar.
Seni Musik Non Klasik 228
Gambar 28 : Posisi ibu jari
4.1.1 Latihan jari tangan kiri
Latihan ini bertujuan untuk memperkuat otot-otot jari tangan kiri, dengan
cara letakkan jari 1 tangan kiri dibelakang fret V pada senar 6, jari 2
belakang fret VI, jari 3 dibelakang fret VII serta jari 4 dibelakang fret 8,
seperti dalam gambar berikut.
Gambar 29
Kemudian pindahkan jari 1 ke senar 5 pada posisi fret yang sama, tanpa
merubah posisi jari 2, 3 dan 4. pindahkan pula jari 2, 3 dan 4 ke senar 5
pada posisi fret yang sama.
Seni Musik Non Klasik 229
Gambar 30
Ulangi latihan tersebut sampai ke senar 1. Setelah sampai senar 1
latihlah dengan gerak keatas, tetapi latihan dimulai dari jari ke 4
kemudian disusul jari 3, 2 dan 1.
Dalam melakukan latihan ini, ibu jari jangan menekan terlalu kuat,
usahakan untuk ikut bergerak keatas dan kebawah sesuai dengan
gerakan jari-jari. Letak ibu jari dibelakang leher gitar posisikan untuk
berhadapan dengan jari 2.
4.1.2 Latihan jari tangan kanan
Memetik senar gitar dengan jari tangan kanan
a. Petikan apoyando (rest stroke)
yaitu memetik senar dengan menyandarkan jari pada senar sebelahnya
setelah jari tersebut memetik senar yang dimaksud. Cara ini juga sering
dikenal dengan petikan bersandar. Petikan ini adalah petikan yang paling
dasar dan paling berguna dalam permainan gitar terutama untuk nada-
nada solo.
Gambar 31 : petikan apoyando
Seni Musik Non Klasik 230
sesudah petikan, jari bersandar pada senar terdekat searah petikan.
- Latihan petikan apoyando dengan senar 1 terbuka
Petiklah senar 1 dengan jari i setelah selesai jari i harus bersandar pada
senar 2 terbuka. kemudian hal serupa l kukan untuk jari m , sambil
a
memainkan nada dengan jari m, dengan waktu yang sama naikkan jari i
sehingga terlepas darin senar. Apabila dilihat dari samping pergantian
kedua jari tersebut memberikan kesan seperti sepasang kaki yang
sedang berjalan. Ulangi latihan tersebut dengan petikan yang sama,
tetapi dengan senar yang berbeda yaitu senar 2, 3, 4 dan 5 dengan
variasi jari i m, i a dan m a secara berganti-ganti.
b. Petikan tirando (free stroke)
yaitu memetik senar dengan tidak menyandar senar lainnya setelah jari
memetik senar yang dimakksud. Cara ini sering disebut juga sebagai
petik hindar, karena jari-jari disini tidak boleh bersandar. Jari memetik
senar tanpa mengenai senar lain. Jenis petikan ini adalah petikan yang
digunakan untuk memainkan akor-akor atau arpeggio.
Lihat gambar berikut :
Gambar 32 : petikan tirando
Mainkan latihan- latihan berikut dengan teknik petikan apoyando
Latihan 1
Notasi 9
Seni Musik Non Klasik 231
Latihan 2
Notasi 10
Latihan 3
Notasi 11
Latihan 4
Notasi 12
Latihan 5
Notasi 13
Latihan 6
Notasi 14
Seni Musik Non Klasik 232
Latihan 7
Notasi 15
Latihan 8
Notasi 16
Latihan 9
Notasi 17
4.1.3 Latihan jari tangan kiri dan tangan kanan
Mainkan latihan-latihan dibawah ini dengan sesering mungkin. Mulailah
latihan dengan tempo lambat terlebih dahulu, kemudian tempo sedang
dan tempo cepat.
Notasi 18
Seni Musik Non Klasik 233
tempatkan jari 1 pada fret I, kemudian petiklah dengan jari i
tempatkan jari 2 pada fret II, kemudian petiklah dengan jari m
tempatkan jari 3 pada fret III, kemudian petiklah dengan jari i
tempatkan jari 4 pada fret IV, kemudian petiklah dengan jari m
Gambar 33
perhatikan pada diagram berikut :
Gambar 33
kemudian bergantilah posisi dengan maju satu fret
Notasi 19
Seni Musik Non Klasik 234
Gambar 34
perhatikan diagram berikut :
Gambar 35
lakukan hal serupa sampai jari 4 berada pada fret XII, kemudian mainkan
kebalikannya dengan cara :
tempatkan jari 4 pada fret XII, kemudian petiklah dengan jari i
tempatkan jari 3 pada fret XI, kemudian petiklah dengan jari m
tempatkan jari 2 pada fret X, kemudian petiklah dengan jari i
tempatkan jari 1 pada fret IX, kemudian petiklah dengan jari m
perhatikan diagram berikut :
Gambar 36
kemudian bergantilah posisi dengan maju satu fret
tempatkan jari 4 pada fret XI, kemudian petiklah dengan jari i
tempatkan jari 3 pada fret X, kemudian petiklah dengan jari m
tempatkan jari 2 pada fret IX, kemudian petiklah dengan jari i
tempatkan jari 1 pada fret VIII, kemudian petiklah dengan jari m
Seni Musik Non Klasik 235
perhatikan diagram berikut :
Gambar 37
Dengan memahami latihan tersebut, dapat dilatih pada seluruh senar dari
senar 1 sampai dengan senar 6. Mainkan latihan ini dengan kedua
macam teknik petikan yaitu apoyando dan tirando.
4.2 Teknik arpegio
Arpeggio adalah cara memainkan akor dengan tidak sekaligus melainkan
satu persatu.
Mainkan latihan berikut dengan memperhatikan tangkai not, tangkai not
kebawah selalu dimainkan dengan ibu jari (p), dengan formasi p-i-m,
kemudian dicoba pula formasi p-m-a.
Mainkan latihan-latihan berikut dengan petikan tirando
Latihan 1
Notasi 21
Notasi 22
4.3 Latihan Teknik Memainkan Gitar Elektrik
Sebelum memainkan gitar elektrik perlu mengetahui proses kerja gitar.
Gitar elektrik adalah gitar yang sumber suaranya didapat melului pick up
yang mengubah getaran senar menjadi sinyal listrik, kemudian diperkuat
dan diubah menjadi bunyi melalui amplifier atau penguat suara. Dalam
memainkan gitar elektrik selalu dilengkapi sound effect untuk
mendapatkan karakter suara lain yang tidak tersedia pada amplifier gitar ,
seperti chorus, distorsi, overdrive, flanger, delay, tremolo dan reverb.
Seni Musik Non Klasik 236
Dengan cara knob input effect guitar dihubungkan gitar dan output dari
effect guitar dihubungkan amplifier.
Gambar 38 : pola kerja gitar elektrik
Gambar 39 : pola kerja gitar elektrik dengan effect gitar
Fungsi dari knob yang ada pada amplifier gitar
Gambar 40 : knob pada panel depan amplifier gitar
- Volume untuk mengatur keras lirihnya suara
- Bass berfungsi untuk menambah atau mengurangi respon frekuensi
rendah.
Seni Musik Non Klasik 237
- Treble berfungsi untuk menambah suara menjadi lebih tinggi atau
membuat effect tajam.
- Midle berfungsi merubah effect treble dan bass
- Drive/distortion untuk mendapatkan suara diperoleh dengan memutar
gain levelnya.
- Reverb untuk mendapatkan efek gema seperti suara ruangan, hall
dan lain-lain.
Gambar 41: tombol send return pada amplifier gitar
- Effect send dan return, apabila kita ingin menggunakan extertnal effet.
untuk mendapatkannya, knob send kita sambungkan ke input dari
effect yang digunakan. Dan pada tombol return kita sambungkan ke
ouput effect yang digunakan. Kelebihan menggunakan fasilitas ini
adalah mengoptimalkan kemampuan dari effect gitar dan kemampuan
dari amplifier gitar.
4.4 Latihan Memetik Gitar Elektrik dengan Plektrum
Plektrum merupakan alat bantu tangan untuk memetik senar gitar
elektrik, pada umumnya plektrum dimainkan tangan kanan. Cara ini lebih
akrab digunakan dalam permainan gitar elektrik. Ada tiga jenis plektrum
gitar elektrik yaitu :
Heavy Medium Thin
Seni Musik Non Klasik 238
Gambar 42 : jenis -jenis pick
Heavy : jenis ini sangat baik untuk teknik pick harmoni, memiliki
ketebalan berkisar 2.00 – 3.00 mm.
Medium : jenis ini sangat cocok untuk permainan nada-nada tunggal
atau melodi, pick ini mempunyai ketebalan kurang lebih 1.0
mm.
Thin : jenis pick ini sangat cocok untuk melakukan resquendo atau
kocokan, memiliki ketebalan kurang dari 0,9 mm
Gambar 43 : cara memegang pick
4.4.1 Latiham Memetik Gitar Elektrik dengan Alternate Picking
Aternate picking merupakan teknik menggerakkan plektrum secara naik
turun. Adapun simbol gerak arah gerakan plektrum sebagai berikut :
turun Naik
gambar 44 : arah gerakan plektrum
4.4.2 Latihan Memetik Gitar Elektrik dengan Sweep Picking
Sweep picking merupakan teknik petikan gitar dengan gerakan plektrum
searah yaitu turun saat descending dan naik saat ascending. Dalam
praktiknya sweep picking sering digunakan untuk memainkan teknik
arpeggio, jadi dalam hal ini not tidak dipetik satu per satu melainkan
dengan menggerakkan plektrum secara up down.
Semua latihan ada di bawah ini, mengarah pada teknik menggunakan
plektrum agar jari tangan kanan terbiasa dengan gerakan plektrum,
karena sweep picking penting bagi pengembangan kecepatan bermain
gitar elektrik.
Seni Musik Non Klasik 239
Mainkan latihan berikut dimulai dari tempo lambat kemudian cepat
Latihan 1
Notasi 23
Latihan 2
Notasi 24
latihan 3
Seni Musik Non Klasik 240
Notasi 25
Latihan 4
Notasi 26
4.5 Latihan Tangga Nada Mayor (Major Scale)
4.5.1 Tangga nada mayor root 6
Dalam latihan ini kita hanya akan menggunakan sistem empat fret, jadi
poisi masing-masing jari mendapat satu fret. Hal ini dapat berlaku bagi
semua tangga nada mayor, hanya dengan meletakkan root (nada
terendah) ke nada dasar yang dikehendaki. Root biasa disimbolkan
dengan pada diagram gitar.
Gambar 45
Seni Musik Non Klasik 241
Disebut sebagai root 6 karena berada di senar ke 6, sehingga diagram
tersebut menunjukkan posisi nada do terendah berada pada senar ke 6
fret ke 3 yaitu nada G.
Letak nada pada para nada dan tablatur
Notasi 27
Untuk lebih jelasnya kita perahatikan diagram fingerboard.
Gambar 46
Gambar menunjukkan tangga nada G mayor 2 oktaf. Dari diagram
tersebut dapat dilatih pula tangga nada yang lain dengan posisi fret dan
jari yang sama. Apabila menghendaki tangga nada A mayor, maka tinggal
menggeser root ke nada A. Dengan demikian dapat dilatih pula tangga
nada yang lain seperti B, C, D, dan E.
Letak nada pada paranada dan tablatur.
4.5.1.1 Latihan Tangga nada G Mayor (1 kres)
Seni Musik Non Klasik 242
Notasi 28
4.5.1.2 Latihan Tangga nada D Mayor (2 kres)
Notasi 29
4.5.1.3 Latihan Tangga nada A Mayor ( 3 kres )
Seni Musik Non Klasik 243
Notasi 30
4.5.1.4 Tangga Nada E Mayor ( 4 Kres )
Notasi 38
Seni Musik Non Klasik 244
4.5.1.5 Tangga Nada F Mayor ( 1 mol )
Notasi 39
4.5.2 Latihan Tangga nada Mayor root 5
Gambar 47
Disebut sebagai root 5 karena karena berada di senar no 5, sehingga
diagram tersebut menunjukkan posisi nada do terendah berada pada
senar 5 fret ke 3 yaitu nada C.
Letak nada pada notasi balok dan tablatur
Notasi 40
Untuk lebih jelasnya kita perahatikan diagram fingerboard.
Seni Musik Non Klasik 245
Gambar 48
Gambar menunjukkan tangga nada C mayor 2 oktaf. Seperti halnya pada
root 6 dengan diagram ini dapat dilatih pula tangga nada yang lain
dengan posisi fret dan jari yang sama. Apabila menghendaki tangga nada
D mayor, maka tinggal menggeser root ke nada D. Dengan demikian
dapat dilatih pula tangga nada yang lain seperti B, Bes, G, dan Es.
Letak nada pada notasi balok dan tablatur
Notasi 41
Seni Musik Non Klasik 246
4.2.1 Tangga Nada B Mayor ( 5 kres )
Notasi 42
4.2.2 Tangga Nada Bes Mayor ( 2 mol )
Notasi 43
4.2.3 Tangga Nada Es Mayor ( 3 mol )
Seni Musik Non Klasik 247
Notasi 44
4.3 Latihan teknik Skipping
Teknik memetik senar dengan cara melompati senar yang satu ke senar
yang lain. senar tidak dipetik secara berurutan, senar tertentu dilompati.
Misalnya dari senar pertama langsung menuju senar ke 3 atau ke 4.
Notasi 45
4.4 Latihan Teknik Dumping
Dumping yaitu menghentikan durasi suara gitar sebelum waktunya,
dengan cara melemahkan tekanan jari pada senar. Damping dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Tekan salah satu akor pada gitar serta bunyikan, kemudian lemahkan
tekanan jari pada fretboard hingga bunyi akor berhenti. Untuk lebih
jelasnya perhatikan gambar berikut :
Seni Musik Non Klasik 248
Gambar 49 : Tekanan jari saat akor pertama dibunyikan
Gambar 50 :Posisi jari saat tekanan dilemahkan
Teknik damping ini sangat cocok dipergunakan dalam permainan
staccato.
4.5 Latihan Teknik Slur
Slur merupakan satu dari sekian banyak teknik populer yang digunakan
dalam gitar khsusnya pada permainan melodi gitar. Dalam penulisannya
ditandai oleh suatu garis lengkung. Adam dua jenis teknik slur yaitu :
4.5.1 Hammer-on (ascending slur) yaitu slur naik
Hammer-on dilaksanakan dengan memainkan nada pertama dan
kemudian ketika senar masih bunyi jari tangan bergeser naik ke not yang
kedua. dengan tidak dipetik.
Seni Musik Non Klasik 249
Notasi 46 : Hammer-on
4.5.2 Pull off (descending slur) yaitu slur turun
Pull off dilaksanakan dengan menurunkannada pertama dan kemudian
ketika senar masih bunyi jari tangan bergeser turun ke not yang kedua.
dengan tidak dipetik.
Notasi 47 : pull off
Notasi 48 : latihan teknik slur
4.6 Latihan Teknik Sliding
Tehnik sliding adalah teknik meluncur dengan menggerakkan jari
berjalan disepanjang senar menuju ke not baru atau not yang yang dituju.
Dengan cara memetik satu nada pada senar kemudian menggeserkan
Seni Musik Non Klasik 250
jari ke fret lain yang lebih tinggi (ascending slide) atau ke fret lain yang
lebih rendah (discending slide).
Notasi 49
Notasi 50
4.7 Latihan Teknik Bending
Bending adalah teknik memproduksi suara dengan cara menekan dan
mendorong senar yang dipetik keatas atau kebawah. Efek dari bending
adalah picth berubah naik atau turun dari not yang sedang dimainkan
meskipun berada dalam satu fret.
Notasi 51
Seni Musik Non Klasik 251
Notasi 52
Notasi 53
Mainkan latihan berikut dengan teknik sliding
Notasi 54 : latihan bending
4.8 Latihan Teknik Vibrato
Vibrato adalah salah satu dari teknik-teknik paling sulit yang digunakan
oleh pemain-pemain gitar. Vibrato dimainkan dengan cara mendorong
senar naik turun secara teratur. Yang menambahkan variasi-variasi efek
sedikit bergelombang dari nada dasar yang dimainkan. Vibrato dapat
memberikan nuansa sustain dari suatu nada. Dalam penulisan musik
vibrato dilambangkan dengan garis berombak
Seni Musik Non Klasik 252
Notasi 55
Notasi 56
4.9 Latihan Teknik Tapping
Teknik tapping disebut juga sebagai two handed technique karena kedua
tangan berada diatas fretboard dan sama-sama membunyikan not.
Tapping dilakukan dengan jari telunjuk atau jari tengah. Dalam gambar
berikut tapping dilakukan jari tengan, satu kelebijannya karena dengan
jari tengan pick tidak akan lepas, masih tertahan jari telunjuk, dan siap
melakukan petikan lagi.
Seni Musik Non Klasik 253
Gambar 51 : tapping
Posisi jari tangan kanan saat melakukan tapping, jari telunjuk dan ibu jari
memegang plektrum jari tengah membunyikan not.
Notasi 57
4.10 Latihan Teknik Staccato
Staccato pada dasarnya adalah bunyi nada dengan durasi pendek. Jika
digunakan dalam permainan nada gitar maka bunyi yang dimunculkan
harus sangat pendek. Dalam gitar elektrik staccato ini dapat dilakukan
dengan cara memainkan damping dengan gerakan yang cepat setelah
melakukan resquendo.
Simbol staccato adalah sebagai berikut
Notasi 58
4.11 Latihan Teknik Palm mute
Palm mute adalah teknik dumpin tetapi menggunakan tangan kanan,
lebih sering digunakan pada permainan ritme dengan menggunakan
effect distorsi. Untuk melakukan palm mute dapat digunakan sisi telapak
tangan sejajar jari kelingking dan diletakkan diatas senar gitar. Effect dari
teknik ini adalah membuat suara gitar sedikit teredam.
Seni Musik Non Klasik 254
Gambar 52 : posisi tangan saat melakukan palm mute
4.12 Arpeggio
Arpeggio adalah akord yang dimainkan secara satu persatu, nada-nada
yang ada didalamnya dibunyikan secara berurutan.
Notasi 59
Notasi 60
4.13 Latihan Teknik Harmonic
Harmonic merupakan teknik memproduksi bunyi senar gitar, dengan cara
menyentuh senar pada titik tertentu sepanjang fretboard. Dengan teknik
Seni Musik Non Klasik 255
ini maka nada yang diproduksi akan jauh lebih tinggi dari nada asli
dengan menggunakan plektrum.
Natural harmonic
Natural harmonic diperoleh dengan cara menyentuh senar langsung
diatas fret terbuka pada fret XII, VII, V, atau fret XIX. dan bukan ditekan.
Harmonic dalam penulisan musik disimbulkan seperti :
Notasi 61
Gambar 53 : teknik harmonic
Seni Musik Non Klasik 256
4.14 Latihan Akor
Seni Musik Non Klasik 257
Seni Musik Non Klasik 258
Seni Musik Non Klasik 259
Gambar 54
4.15 Latihan Power chord
Dalam memainkan gitar elektrik selalu dijumpai sound effect berkarakter
distorsi seperti heavy metal, overdrive, metal zone atau semacamnya,
yang dapat membuat suara gitar menjadi tebal, pecah dan mempunyai
sustain yang relatif panjang. Dalam mengatasi karakter suara semacam
ini, dapat digunakan power chord. Power chord adalah akor yang
tersusun hanya melibatkan 2 nada yaitu 1 dan 5. power chord disebut
juga akor yang sangat simple namun memiliki karakter suara yang lebih
padat dibanding dengan akor biasa.
Power chord root 6
Notasi 62
Seni Musik Non Klasik 260
Posisi pada fretboard
Gambar 55
Power chord dapat bersifat mayor atau minor, akor mayor apabila yang
dimainkan adalah akor I, IV atau V dan terdengar minor apabila yng
dimainkan adalah akor ii, iii atau vi.
Mainkan power chord berikut dengan effect gitar distorsi
Notasi 63
8. Teknik Memasang Senar
Memasang senar gitar sangat bermacam-macam dan bervariasi, hal yang
paling penting dan perlu diperhatikan dalam memasang senar adalah
mudah dalam memasang dan menggantinya.
Seni Musik Non Klasik 261
8.1 Gitar Akustik
Gitar akustik senar dipasang pada lubang senar dibagian bridge, pada
bagian belakang di buat tali simpul seperti nampak pada gambar.
Gambar 56
8.2 Gitar elektrik
Gitar elektrik senar dipasang melalui lubang senar yang ada dibagian
belakang bodi gitar, kemudian ditarik melalui bagian muka gitar.
Gambar 57
Pemasangan senar pada screw di head gitar dibuat gulungan rapi.
9. Perawatan Instrumen Gitar
9.1 Body
(1) Kendorkan semua senar apabila selesai digunakan; (2) letakkan pada
sandaran khusus gitar; (3) masukkan pada hard case apabila tidak
Seni Musik Non Klasik 262
digunakan untuk waktu yang lama; (4) bersihkan dengan menggunakan
kain katun yang lembut. (5) gunakan cairan pembersih yang sesuai untuk
perawatan body.
9.2 Senar
Untuk menghasilkan permainan gitar yang bagus dibutuhkan: (1)
perangkat yang memadai; (2) kualitas pick up yang baik. Kualitas suara
gitar yang baik tergantung pada: (1) jenis dan ukuran senar; (2)
perawatan senar yang baik; (3) senar tetap terjaga kebersihannya; (4)
senar dirawat dengan cara digosok menggunakan kain katun halus yang
diberi minyak pembersih khusus; (5) bersihkan senar secara rutin mulai
dari bagian bawah sampai atas sambil diupayakan tidak mengenai cat
body.
9.3 Amplifier
Cara perawatan amplifier adalah: (1) gunakan dengan wajar tidak
melebihi kapasitas kemampuannya; (2) hidupkan pada volume yang tidak
terlalu keras atau juga digunakan pada instrumen yang lain; (3) selalu
memeriksa keutuhan kabel konektor listrik, jeck audio dan lain-lain; (4)
pastikan amplifier dalam keadaan off setelah selesai digunakan.
10. Latihan Etude
Latihan yang bertujuan melatih kekuatan dan kelenturan jari-jari tangan
kiri serta kesesuaiannya dengan tangan kanan. Semakin lama frekuensi
latihan maka jari-jari akan semakin kuat dan lentur. Latihan dituliskan
pula dalam tablatur.
Seni Musik Non Klasik 263
1
Notasi 64
Mainkan melodi berikut dengan gerak pick up down
2
Notasi 65
3
Seni Musik Non Klasik 264
Notasi 66
4
Notasi 67
5
Notasi 68
Seni Musik Non Klasik 265
6
Notasi 69
7
Notasi 70
8
Notasi 71
Seni Musik Non Klasik 266
9
Notasi 72
Seni Musik Non Klasik 267
10
Etude
Riff 12 bar blues
Notasi 73
Seni Musik Non Klasik 268
Mainkan etude berikut ini dengan mengunakan effect gitar distorsi.
11
Slow Rock
Andante
Sumber : Doni Riwayanto
Notasi 74
Seni Musik Non Klasik 269
12
Rock
Moderato
Sumber : Doni Riwayanto
Notasi 75
Seni Musik Non Klasik 270
13
Rock’ n Roll
Alegro
Sumber : Doni Riwayanto
Notasi 76
Seni Musik Non Klasik 271
11. Latihan Buah Musik
HERE THERE AND EVERYWHERE
John Lennon & Paul McCartney
Sumber : Yamaha Music Foundation
Notasi 77
Seni Musik Non Klasik 272
Bart Howard
Notasi 78
Seni Musik Non Klasik 273
Notasi 79
Seni Musik Non Klasik 274
Daftar Gambar
Gambar 1 : bagian gitar elektrik
Gambar 2 : nada-nada gitar pada senar open string
Gambar 3-8 : general tuning
Gambar 9-13 : quick tuning
Gambar 14 : kode angka untuk jari tangan kiri
Gambar 15 : kode angka untuk jari tangan kanan
Gambar 16 : memetik gitar dengan jari
Gambar 17 : memetik gitar dengan plektrum
Gambar 18 : tablatur
Gambar 19 : tangga nada pada senar gitar
Gambar 20-25 : tangga nada pada
Gambar 26 : Foot stool
Gambar 27 : Posisi jari tangan kiri saat menekan senar gitar.
Gambar 28 : Posisi ibu jari
Gambar 29 : posisi jari
Gambar 30 : posisi jari
Gambar 31 : petikan apoyando
Gambar 32 : petikan tirando
Gambar 33-35 : posisi jari
Gambar 36-38 : posisi not dalam fret
Gambar 39 : pola kerja gitar elektrik
Gambar 40 : pola kerja gitar elektrik dengan effect gitar
Gambar 41 : knob pada panel depan amplifier gitar
Gambar 42 : tombol send return pada amplifier gitar
Gambar 43 : jenis-jenis pick
Gambar 44 : cara memegang pick
gambar 45 : arah gerakan plektrum
Gambar 46 : root 6
Gambar 47 : tangga nado
Gambar 48 : root 5
Gambar 49 : tangga nada
Gambar 50 : tekanan jari saat akor pertama dibunyikan
Gambar 51 : Posisi jari saat tekanan dilemahkan
Gambar 52 : tapping
Gambar 53 : posisi tangan saat melakukan palm mute
Gambar 54 : akord
Gambar 55 : posisi power
Gambar 56-57 : memasang senar
Seni Musik Non Klasik 275
Daftar Notasi
Notasi 1 : tuning gitar posisi open string
Notasi 2-8 : senar gitar pada notasi musik
Notasi 9-20 : latihan penjarian
Notasi 21-22 : latihan arpegio
Notasi 23-26 : latihan picking
Notasi 27 : root 6 pada notasi
Notasi 28-44 : latihan tangga nada
Notasi 45 : teknik skiping
Notasi 46 : teknik hammer-on
Notasi 47 : teknik pull off
Notasi 48 : teknik slur
Notasi 49-50 : teknik sliding
Notasi 51-54 : teknik sliding
Notasi 55-56 : teknik vibrato
Notasi 57 : teknik tapping
Notasi 58 : teknik staccatta
Notasi 59-60 : latihan arpegfio
Notasi 61 : teknik harmonic
Notasi 62-63 : teknik power
Notasi 64-76 : etude
Notasi 77-79 : buah musik musik
Seni Musik Non Klasik 276
BAB 7
BASS GITAR
1. Bass Gitar dan Bagian-bagiannya
1.1 Gambar bass gitar dengan bahan “solid”
1.2
Gambar 1 : bass elektrik
Instrumen bass gitar hampir seluruhnya terbuat dengan bahan
solid. Instrumen ini mempunyai 4 senar tetapi ada juga yang
menggunakan 6 senar dengan susunan G, D, A, E dan C, G, D,
A, E, B.
1.3 Nama-nama bagian bass gitar
Seni Musik Non Klasik 278
Gambar 2 : bass elektrik dan bagiannya
2. Cara Menyetem Bass Gitar.
2.1 Menyetem dengan garpu tala A
Nada senar/senar A (senar ke 3) dalam kondisi open string / tidak ada
fret yang ditekan, disamakan dengan nada garpu tala A. Selanjutnya
nada A pada senar E (senar ke 4, fret ke 5 ditekan) disamakan
dengan senar ke 3 open string, demikian juga senar D (ke 2)
disamakan dengan nada D pada senar A dan seterusnya.
2.2 Menyetem dengan tuner
Hubungkan out put jack bass pada input tuner kemudian hidupkan
tuner, petik masing-masing senar sesuaikan nada dengan melihat
indikator tuner. Pada umumnya indikator pada tuner, berupa lampu
LED, atau jarum penunjuk view meter.
2.3 Menyetem dengan fine tuning nada harmonik
Seni Musik Non Klasik 279
Cara menyetem dengan teknik fine tuning adalah teknik menyamakan
nada senar ke 1 dengan senar lain melalui petikan senar lepas yang
disentuh ringan oleh jari kiri tepat diatas fret ke 5, 7 dan 12. Misalnya
senar G diatas fret ke 5 bersamaan dengan senar D fret ke 7. Dua
nada harmonik bunyi bersamaan. Bila pitch nadanya kurang tepat
terdengar suara yang bergelombang (vibrasi). Sebelum senar satu
disamakan dengan senar yang lain, senar ke 3 (A) harus sudah
disamakan dengan penala yang standar (garpu tala, atau yang lain).
3. Teknik Bermain Bass Gitar
3.1 Kode jari
Kode jari yang dipakai pada teknik bermain bass gitar sama
dengan kode jari pada gitar. Kode jari tersebut adalah:
Jari Kanan
Gambar 3. Kode jari tangan kanan
1 = index finger/ telunjuk
2 = middle finger/jari tengah
3 = ring finger/ jari manis
4 = little finger/ kelingking
Seni Musik Non Klasik 280
Jari Kiri
Gambar 4. Kode jari tangan kiri
T = thumb finger/ Ibu jari
I = index finger/ telunjuk
M = middle finger/jari tengah
R = ring finger/jari manis
L = little
3.2 Posisi tangan
Ø Tangan kiri:
Penempatan pada neck harus disesuaikan dengan struktur
tulang. Ibu jari kiri untuk poros gerak tangan kiri di belakang
neck, sama sekali tidak menjadi tumpuan kekuatan. Ujung jari
kiri kecuali ibu jari menjadi penentu nada pada permukaan fret
board. Tekanan terpusat pada ujung jari kiri sehingga tercapai
bunyi maksimal.
Seni Musik Non Klasik 281
Foto: Dok. Pribadi
Gambar 5. posisi tangan kiri tampak dari depan
Foto: Dok. pribadi
Gambar 6. posisi tangan kiri tampak dari belakang
Ø Jari kanan:
Pemetik utama adalah jari telunjuk dan jari tengah. Ibujari, jari
manis, dan kelingking digunakan untuk mute dari sustain nada
yang tidak dikehendaki. Ibu jari ditempatkan pada sisi lebar
neck pick up atau senar paling atas sebagai penopang tangan
kanan berfungsi membantu kekuatan jari telunjuk dan jari
tengah dalam memetik senar. Jika memetik menggunakan
plektrum, ibu jari dan telunjuk memegang plektrum. Untuk
menghentikan bunyi yang tidak dikehendaki telapak tangan
bisa difungsikan sebagai mute.
Seni Musik Non Klasik 282
Foto: Dok. Pribadi
Gambar 7. posisi tangan kanan
3.3 Notasi
Nada bass adalah suara yang mempunyai frekuensi rendah. Dalam
notasi musik nada-nada rendah menggunakan tanda kunci F. Penulisan
notasi bass gitar sering juga dilengkapi dengan tablature yang
menunjukkan posisi nada pada fret. Untuk lebih jelasnya lihat gambar
berikut:
G D A E
Notasi 1. tuning bass gitar posisi open string
3.4 Tablature:
Tablature (TAB) adalah gambar posisi not pada fretboard yang
membantu menunjukkan letak nada tertentu pada fret. Bass gitar standart
pada umumnya bersenar 4 buah, tablature dilambangkan dengan
gambar 4 buah garis horisontal. Tablature digunakan untuk menentukan
posisi nada pada fret, jika pemain belum terbiasa membaca notasi.
Seni Musik Non Klasik 283
Setiap garis tablature menunjukan keempat senar pada bass gitar. Untuk
jelasnya perhatikan gambar berikut:
G D A E
Notasi 2. tuning bass gitar dilengkapi dengan tablature
Gambar di atas menunjukkan nada yang dimainkan bass gitar, letak
nadanya ditunjukkan oleh tablature di bawah garis paranada. Nomor
pada sisi kanan menunjukkan nomer senar mulai dari senar paling kecil.
Angka 0 pada garis TAB menunjukkan posisi open string atau tanpa
menekan senar.
3.5 Teknik Memetik
Cara memetik bass gitar ada 2 macam yakni dengan telunjuk dan jari
tengah, atau memetik menggunakan plektrum.
3.5.1 Memetik dengan jari telunjuk dan jari tengah
Teknik bermain untuk jari kanan menggunakan teknik rest stroke yaitu
memainkan jari pada suatu senar kemudian bersandar/istirahat pada
senar yang lain. Untuk mendapatkan suara yang mantap dan stabil ibu
jari disandarkan pada sisi atas pick up. Jari telunjuk dan jari tengah
memetik senar secara bergantian. Cara ini banyak digunakan para musisi
yang beraliran jazz atau soul.
Seni Musik Non Klasik 284
Foto: Dok. Pribadi
Gambar 8 : cara memetik dengan jari telunjuk dan jari tengah
3.5.2 Memetik dengan plektrum
Cara memetik dengan plektrum adalah sebagai berikut: (1) pegang
plektrum erat-erat dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk; (2)
usahakan tangan dan lengan tetap relaks; (3) ayunkan plektrum pada
senar dengan gerakan ke bawah dan ke atas; (4) upayakan memetik
dengan kekuatan yang sama, sehingga mendapatkan suara yang stabil
dan mantap.
Plektrum memiliki bermacam ketebalan: (1) tipis; (2) sedang; dan (3)
tebal. Dalam bermain bass gitar gunakan plektrum tebal, seperti yang
biasa dilakukan oleh pemain bass beraliran rock atau metal.
Foto: Dok. Pribadi
Gambar 9: cara memetik dengan plektrum
Seni Musik Non Klasik 285
4. Perawatan Instrumen Bass Gitar
3.1 Body
(1) Kendorkan semua senar apabila selesai digunakan; (2) letakkan pada
sandaran khusus bass gitar; (3) masukkan pada hard case apabila tidak
digunakan untuk waktu yang lama; (4) bersihkan dengan menggunakan
kain katun yang lembut. (5) gunakan cairan pembersih yang sesuai untuk
perawatan body.
3.1 Senar
Untuk menghasilkan permainan gitar yang bagus dibutuhkan: (1)
perangkat yang memadai; (2) kualitas pick up yang baik. Kualitas suara
bass gitar yang baik tergantung pada: (1) jenis dan ukuran senar; (2)
perawatan senar yang baik; (3) senar tetap terjaga kebersihannya; (4)
senar dirawat dengan cara digosok menggunakan kain katun halus yang
diberi minyak pembersih khusus; (5) bersihkan senar secara rutin mulai
dari bagian bawah sampai atas sambil diupayakan tidak mengenai cat
body.
3.1 Amplifier
3.2 Cara perawatan amplifier adalah: (1) gunakan dengan wajar tidak
melebihi kapasitas kemampuannya; (2) hidupkan pada volume yang
tidak terlalu keras atau juga digunakan pada instrumen yang lain; (3)
selalu memeriksa keutuhan kabel konektor listrik, jeck audio dan
lain-lain; (4) pastikan amplifier dalam keadaan off setelah selesai
digunakan.
4.1.1 Latihan memetik dengan open string
ambar 7. posisi open string
Seni Musik Non Klasik 286
Latihan nada A (senar ke 3)
Notasi 3. nada A pada posisi open string
Latihan nada D (senar ke 2)
Notasi 4. nada D pada posisi open string
Latihan nada G (senar ke 1)
Notasi 5. nada G pada posisi open string
Latihan nada E (senar ke 4)
Notasi 6. nada E pada posisi open string
Seni Musik Non Klasik 287
5. Latihan Tangga Nada
5.1 Latihan Tangga Nada Natural
Ø Latihan tangga nada C mayor
Gambar 8. tangga nada C Mayor 1 oktaf dalam finger board
.
Latihan tangga nada C Mayor 1 oktaf
C D E F G A B C
Kode
jari 2 0 1 2 0 1 3 4
Notasi 7. tangga nada C Mayor 1 oktaf
Latihan tangga nada C mayor seluruh senar
Notasi 8. tangga nada C mayor seluruh senar mulai nada E – C2
Seni Musik Non Klasik 288
Ø Latihan tangga nada A minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada A minor dalam finger
board (1 oktaf)
Gambar 9. tangga nada A minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada A minor 1 oktaf
Notasi 9. latihan tangga nada A minor 1 oktaf
Latihan tangga nada A minor harmonis 1 oktaf
Notasi 10. latihan tangga nada A minor harmonis 1 oktaf
Latihan tangga nada A minor melodis 1 oktaf
Seni Musik Non Klasik 289
Notasi 11. latihan tangga nada A minor melodis 1 oktaf
5.2 Latihan Tangga nada 1 kres
Ø Tangga nada G Mayor
Tangga nada G Mayor 1 oktaf dalam finger board adalah sebagai
berikut.
Gambar 10. tangga nada G mayor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada G Mayor 1 oktaf
Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan
kode angka tablaturnya.
Kode jari 2 0 1 2 0 1 3 0
Notasi 12. latihan tangga nada G Mayor 1 oktaf dalam finger board
Seni Musik Non Klasik 290
Latihan tangga nada G Mayor seluruh senar
Notasi 13. latihan tangga nada C mayor seluruh senar mulai nada E – C2
Ø Latihan Tangga nada E minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada E minor dalam finger board
(1 oktaf)
Gambar 11. tangga nada E minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada E minor
Notasi 14. latihan tangga nada E minor 1 oktaf
Latihan tangga nada E minor harmonis
Seni Musik Non Klasik 291
Notasi 15. latihan tangga nada E minor harmonis 1 oktaf
Tangga nada E minor melodis
Notasi 16. latihan tangga nada E minor melodis 1 oktaf
5.3 Latihan Tangga nada 2 kres
Ø Latihan Tangga nada D Mayor
Tangga nada D Mayor 1 oktaf dalam finger board adalah sebagai
berikut.
gambar 12. tangga nada D mayor 1 oktaf dalam finger board
Tangga nada D Mayor 1 oktaf
.Kode jari 0 2 4 0 2 1 3 4
Notasi 17. tangga nada D Mayor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada D Mayor seluruh senar
Seni Musik Non Klasik 292
Notasi 18. tangga nada D mayor seluruh senar mulai nada E – D3
Ø Tangga nada B minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada B minor dalam finger
board (1 oktaf)
Gambar 13. tangga nada B minor 1 oktaf dalam finger board
Tangga nada B minor diatonis
Notasi 19. latihan tangga nada B minor diatonis 1 oktaf
Tangga nada B minor harmonis
Seni Musik Non Klasik 293
Notasi 20. latihan tangga nada B minor harmonis 1 oktaf
Tangga nada B minor melodis
Notasi 21. latihan tangga nada B minor melodis 1 oktaf
5.4 Latihan Tangga Nada 3 Kres
Ø Latihan Tangga nada A Mayor
Tangga nada A Mayor 1 oktaf dalam finger board adalah sebagai
berikut.
Gambar 13. tangga nada A mayor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada A Mayor 1 oktaf
Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan
kode angka tablaturnya.
Seni Musik Non Klasik 294
Kode jari 0 3 4 0 2 4 1 2
Notasi 22. latihan tangga nada A mayor 1 oktaf
Latihan tangga nada A Mayor seluruh senar
Notasi 23. tangga nada A mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2
Ø Latihan Tangga nada Fis minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada Fis minor dalam finger
board (1 oktaf)
Gambar 14. tangga nada Fis minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada Fis minor diatonis
Notasi 24. latihan tangga nada Fis minor diatonis 1 oktaf
Tangga nada Fis minor harmonis
Seni Musik Non Klasik 295
Notasi 25. latihan tangga nada Fis minor harmonis 1 oktaf
Tangga nada Fis minor melodis
Notasi 26. latihan tangga nada Fis minor melodis 1 oktaf
5.5 Latihan Tangga Nada 4 Kres
Ø Latihan tangga nada E mayor
Nada-nada dari tangga nada E mayor 1 oktaf dalam finger board
adalah sebagai berikut.
Gambar 15. tangga nada E mayor 1 oktaf dalam finger board
Seni Musik Non Klasik 296
Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan
kode angka tablaturnya.
Kode jari 0 2 4 0 2 4 1 2
Notasi 27. latihan tangga nada E mayor 1 oktaf
Latihan tangga nada E Mayor seluruh senar
Notasi 28. latihan tangga nada E mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2
Ø Tangga nada Cis minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada Cis minor dalam finger
board (1 oktaf)
Gambar 16. tangga nada Cis minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada Cis minor diatonis
Seni Musik Non Klasik 297
Notasi 29. latihan tangga nada Cis minor diatonis 1 oktaf
Latihan tangga nada Cis minor harmonis
Notasi 30. latihan tangga nada Cis minor harmonis 1 oktaf
Latihan tangga nada Cis minor melodis
Notasi 31. latihan tangga nada Cis minor melodis 1 oktaf
5.6 Latihan Tangga Nada 5 Kres
Ø Latihan tangga nada B mayor
Nada-nada dari tangga nada B Mayor 1 oktaf dalam finger board
adalah sebagai berikut.
Gambar 17. tangga nada B mayor 1 oktaf dalam finger board
Seni Musik Non Klasik 298
Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan
kode angka tablaturnya.
Notasi 32. latihan tangga nada B Mayor 1 oktaf
Latihan tangga nada B Mayor seluruh senar
Notasi 33. latihan tangga nada B mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2
Ø Latihan tangga nada Gis minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada Gis minor dalam finger
board (1 oktaf)
Gambar 18. tangga nada Gis minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada Gis minor diatonis
Seni Musik Non Klasik 299
Notasi 34. latihan tangga nada Gis minor diatonis 1 oktaf
Latihan tangga nada Gis minor harmonis
Notasi 35. latihan tangga nada Gis minor harmonis1 oktaf
Latihan tangga nada Gis minor melodis
Notasi 36. latihan tangga nada Gis minor melodis 1 oktaf
5.7 Latihan tangga nada F Mayor
Tangga nada F Mayor 1 oktaf dalam finger board .
Gambar 19. tangga nada F mayor 1 oktaf dalam finger board
.
Seni Musik Non Klasik 300
Latihan tangga nada F Mayor 1 oktaf
Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan
kode angka tablaturnya.
Kode jari 2 0 1 2 0 1 3 4
Notasi 37. latihan tangga nada F mayor 1 oktaf
Latihan tangga nada F mayor seluruh senar
Notasi 38. latihan tangga nada F mayor seluruh senar mulai nada E – C 2
Ø Latihan Tangga Nada D minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada D minor dalam finger board
(1 oktaf)
Gambar 20. tangga nada D minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada D minor diatonis 1 oktaf
Seni Musik Non Klasik 301
Notasi 39. latihan tangga nada D minor diatonis 1 oktaf
Latihan tangga nada D minor harmonis 1 oktaf
Notasi 40. latihan tangga nada D minor harmonis 1 oktaf
Latihan tangga nada D minor melodis 1 oktaf
Notasi 41. latihan tangga nada D minor melodis 1 oktaf
5.8 Latihan Tangga Nada 2 Mol
Ø Latihan tangga nada Bes
Tangga nada Bes Mayor 1 oktaf dalam finger board .
Seni Musik Non Klasik 302
Gambar 21. tangga nada Bes 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada Bes Mayor 1 oktaf
Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan
kode angka tablaturnya.
Kode jari 1 3 0 1 3 0 2 3
Notasi 42. latihan tangga nada Bes mayor 1 oktaf
Tangga nada Bes mayor seluruh senar
Notasi 43. latihan tangga nada Bes mayor seluruh senar mulai nada F – Bes 1
Ø Latihan tangga nada G minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada G minor dalam finger
board (1 oktaf)
Seni Musik Non Klasik 303
Gambar 22. tangga nada G minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada G minor diatonis 1 oktaf
Notasi 44. latihan tangga nada G minor diatonis 1 oktaf
Latihan tangga nada G minor harmonis 1 oktaf
Notasi 45. latihan tangga nada G minor harmonis 1 oktaf
Latihan tangga nada G minor melodis 1 oktaf
Notasi 46. latihan tangga nada G minor melodis 1 oktaf
5.9 Latihan Tangga Nada 3 Mol
Ø Latihan Tangga nada Es
Tangga nada Es Mayor 1 oktaf dalam finger board .
Seni Musik Non Klasik 304
Gambar 23. tangga nada G minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada Es Mayor 1 oktaf
Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode
angka tablaturnya.
Kode jari 1 3 0 1 3 1 3 4
Notasi 47. latihan tangga nada Es mayor 1 oktaf
Tangga nada Es mayor seluruh senar
Notasi 48. latihan tangga nada Es mayor seluruh senar mulai nada F – Bes 1
Ø Latihan tangga nada C minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada C minor dalam finger
board (1oktaf)
Seni Musik Non Klasik 305
Gambar 24. tangga nada C minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada C minor diatonis 1 oktaf
Notasi 49. latihan tangga nada C minor diatonis 1 oktaf
Tangga nada C minor harmonis 1 oktaf
Notasi 50. latihan tangga nada C minor harmonis 1 oktaf
Tangga nada C minor melodis
Notasi 51. latihan tangga nada C minor melodis 1 oktaf
5.10 Latihan tangga nada 4 mol
Ø Latihan tangga nada As
Tangga nada As Mayor 1 oktaf dalam finger board .
Seni Musik Non Klasik 306
Gambar 24. tangga nada As mayor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada As Mayor 1 oktaf
Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode
angka tablaturnya.
Kode jari 4 1 3 4 1 3 0 1
Notasi 49. latihan tangga nada As mayor 1 oktaf
Tangga nada As mayor seluruh senar
Notasi 50. latihan tangga nada As mayor seluruh senar mulai nada F – Bes 1
Ø Latihan tangga nada F minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada F minor dalam finger
board (1 oktaf)
Seni Musik Non Klasik 307
Gambar 25. tangga nada F minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan Tangga nada F minor diatonis
Notasi 49. latihan tangga nada F minor diatonis 1 oktaf
Latihan tangga nada F minor harmonis
Notasi 50. latihan tangga nada F minor harmonis 1 oktaf
Tangga nada F minor melodis
Notasi 51. latihan tangga nada F minor melodis 1 oktaf
Seni Musik Non Klasik 308
5.11 Latihan Tangga Nada 5 Mol
Ø Latihan tangga nada Des
Tangga nada Des Mayor 1 oktaf dalam finger board .
Gambar 26. tangga nada Des mayor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada Des Mayor 1 oktaf
Latihlah nada-nada berikut ini sesuai dengan petunjuk kode jari dan kode
angka tablaturnya.
Kode jari 4 1 3 4 1 1 3 4
Notasi 52. latihan tangga nada Des mayor 1 oktaf
Tangga nada Des mayor seluruh senar
Notasi 53. latihan tangga nada Des mayor seluruh senar mulai nada F – Es 2
Seni Musik Non Klasik 309
Ø Latihan tangga nada Bes minor
Nada-nada yang terdapat dalam tangga nada Bes minor dalam finger
board (1 oktaf)
Gambar 27. tangga nada Bes minor 1 oktaf dalam finger board
Latihan tangga nada Bes minor diatonis
Notasi 54. latihan tangga nada Bes minor diatonis 1 oktaf
Latihan tangga nada Bes minor harmonis
Notasi 55. latihan tangga nada Bes minor harmonis 1 oktaf
Tangga nada Bes minor melodis
Seni Musik Non Klasik 310
Notasi 56. latihan tangga nada Bes minor melodis 1 oktaf
6. Latihan nada-nada kromatis
Nada kromatis adalah nada yang terdapat diantara 2 nada yang berjarak
1 (tone). Misalnya diantara C dan D terdapat nada Cis / Des. Jarak antar
nadanya adalah setengah laras / semi tone
Cis Dis Fis Gis Ais
C D E F G A BC
Des Es Ges As Bes
Nada-nada di antara tangga nada C mayor disebut nada kromatis,
deretan nada tersebut dalam bass gitar masing-masing berjarak 1 fret.
Nada tersebut apabila naik ditambah tanda # (kres) nama nadanya
ditambah is misalnya C naik setengah disebut Cis. Apabila turun
setengah dtambah tanda (mol) nama nadanya ditambah akhiran es
misalnya B menjadi Bes untuk huruf vokal hanya ditambah akhiran s
misalnya A menjadi As.
Jika memainkan pada fret dengan open string secara berurutan, maka
nada-nada yang dihasilkan adalah nada-nada kromatis sebagai berikut:
Fis Gis Ais Cis Dis Fis Gis Ais
E F G A BC D E F G A B C
Ges As Bes Des Es Ges As Bes
Cara melatih nada-nada kromatis dimulai dari open string E, jari 1 pada
F, jari 2 Fis, jari 3 G jari 4 Gis dan seterusnya.
Seni Musik Non Klasik 311
Latihan Etude
7.
Latihan 1
Notasi 56. Latihan 1
Latihan 2.
Notasi 57. Latihan 2
Latihan 3.
Notasi 58. Latihan 3
Latihan 4.
Notasi 59. Latihan 4
Seni Musik Non Klasik 312
Latihan 5.
Notasi 60. Latihan 5
Latihan 6.
Notasi 61. Latihan 6
Latihan 7.
Notasi 62. Latihan 7
Latihan 8.
Notasi 63. Latihan 8
Seni Musik Non Klasik 313
Latihan 9.
Notasi 64. Latihan 9
Latihan 10.
Notasi 65. Latihan 10
Latihan 11.
Notasi 66. Latihan 11
Latihan 12.
Notasi 67. Latihan 12
Seni Musik Non Klasik 314
Latihan 13.
Notasi 68. Latihan 13
Latihan 14.
Notasi 69. Latihan 14
Latihan 15.
Notasi 70. Latihan 15
Seni Musik Non Klasik 315
Latihan 16
Notasi 71. Latihan 16
Riffs
Riff adalah pola dari nada-nada yang diulang-ulang dalam suatu
progresi akor atau lagu. Pemain bass gitar sering menggunakan
teknik permainan riffs pada suatu progresi akor. Contoh riff adalah
seperti berikut ini
Notasi 72. contoh riff
Agar mudah memainkannya, pada waktu memainkan nada Fis, jari 1
tetap menempel pada nada E untuk persiapan nada E berikutnya.
Seni Musik Non Klasik 316
Latihan 17
Notasi 72. Latihan 17
Tanda adalah simbul yang menunjukkan bahwa birama tersebut
mengulang sama persis dengan birama sebelumnya.
Latihan di atas sebenarnya merupakan latihan progresi akor yang
sangat populer pada lagu-lagu rock and roll tahun 60-an. Progresi
tersebut dikenal dengan nama Progresi 12 bar blues.
Bila ditulis hanya progresi akornya saja adalah:
// A / / / /
/D / /A / /
/E /D /A /E : //
Pola atau patern (riffs) ada beberapa macam. Berikut ini contoh
patern lain yang dapat dipergunakan untuk latihan:
Seni Musik Non Klasik 317
Patern 1 Akor A
Notasi 71. Patern akor A
perhatikan kode fretnya, nada A pada senar no 4 (E) terletak
pada fret ke 5. Coba perhatikan nada-nada yang lain.
Patern 1 Akor D
Notasi 72. Patern akor D
Patern 1 Akor E
Notasi 72. patern 1 akor E
Apabila kita menerapkan pola / patern ini dalam progresi 12 bar
blues seperti di atas maka notasinya akan menjadi seperti
berikut:
Seni Musik Non Klasik 318
Latihan 18
Notasi 73. Latihan 18
Macam-macam riffs yang dapat diterapkan untuk latihan:
Patern 2
A
Notasi 73
Seni Musik Non Klasik 319
Latihan 19
Notasi 74. Latihan 19
Patern 3.
A
Notasi 75. contoh patern 3
Seni Musik Non Klasik 320
Latihan 20
Notasi 76. Latihan 20
Patern 4.
A
Notasi 77. contoh patern 4
Seni Musik Non Klasik 321
Latihan 21
Notasi 77. Latihan 21
Seni Musik Non Klasik 322
8. Latihan Buah Musik
Notasi 77. Latihan lagu Annie Laurie
Seni Musik Non Klasik 323
Notasi 78. Latihan lagu One Day
Seni Musik Non Klasik 324
Notasi 78. Latihan lagu Autumn Leaves
Seni Musik Non Klasik 325
Seni Musik Non Klasik 326
Seni Musik Non Klasik 327
Notasi 79. Latihan lagu I Started a joke
Seni Musik Non Klasik 328
Notasi 80. Latihan lagu More Than I Can Say
Seni Musik Non Klasik 329
Daftar Gambar
Gambar 1 : Bass gitar
Gambar 2 : Bass gitar dan bagian-bagiannya
Gambar 3 : Kode jari tangan kanan
Gambar 4 : Kode jari tangan kiri
Gambar 5 : posisi tangan kiri tampak dari depan
Gambar 6. : posisi tangan kiri tampak dari belakang
Gambar 7. : posisi tangan kanan
Gambar.8 : cara memetik dengan jari telunjuk dan jari tengah
Gambar 9. : cara memetik dengan plektrum
Daftar Notasi
Notasi 1 : tuning bass gitar posisi open string
Notasi 2 : tuning bass gitar dilengkapi dengan tablature
Notasi 3 : nada A pada posisi open string
Notasi 4 : nada D pada posisi open string
Notasi 5 : nada G pada posisi open string
Notasi 6 : nada E pada posisi open string
Notasi 7 : tangga nada C Mayor 1 oktaf
Notasi 8 : tangga nada C mayor seluruh senar mulai nada E – C2
Notasi 9 : latihan tangga nada A minor 1 oktaf
Notasi 10 : latihan tangga nada A minor harmonis 1 oktaf
Notasi 11 : latihan tangga nada A minor melodis 1 oktaf
Notasi 12 : latihan tangga nada G Mayor 1 oktaf dalam finger board
Notasi 13 : latihan tangga nada C mayor seluruh senar mulai nada E
– C2
Notasi 14 : latihan tangga nada E minor 1 oktaf
Notasi 15 : latihan tangga nada E minor harmonis 1 oktaf
Notasi 16 : latihan tangga nada E minor melodis 1 oktaf
Notasi 17 : tangga nada D Mayor 1 oktaf dalam finger board
Notasi 18 : tangga nada D mayor seluruh senar mulai nada E – D3
Notasi 19 : latihan tangga nada B minor diatonis 1 oktaf
Notasi 20 : latihan tangga nada B minor harmonis 1 oktaf
Notasi 21 : latihan tangga nada B minor melodis 1 oktaf
Notasi 22 : latihan tangga nada A mayor 1 oktaf
Notasi 23 : tangga nada A mayor seluruh senar mulai nada E – Cis 2
Notasi 24 : latihan tangga nada Fis minor diatonis 1 oktaf
Notasi 25 : latihan tangga nada Fis minor harmonis 1 oktaf
Notasi 26 : latihan tangga nada Fis minor melodis 1 oktaf
Notasi 27 : latihan tangga nada E mayor 1 oktaf
Notasi 28 : latihan tangga nada E mayor seluruh senar mulai nada E
– Cis 2
Seni Musik Non Klasik 330
Notasi 29 : latihan tangga nada Cis minor diatonis 1 oktaf
Notasi 30 : latihan tangga nada Cis minor harmonis 1 oktaf
Notasi 31 : latihan tangga nada Cis minor melodis 1 oktaf
Notasi 32 : latihan tangga nada B Mayor 1 oktaf
Notasi 33 : latihan tangga nada B mayor seluruh senar mulai nada E
– Cis 2
Notasi 34 : latihan tangga nada Gis minor diatonis 1 oktaf
Notasi 35 : latihan tangga nada Gis minor harmonis1 oktaf
Notasi 36 : latihan tangga nada Gis minor melodis 1 oktaf
Notasi 37 : latihan tangga nada F mayor 1 oktaf
Notasi 38 : latihan tangga nada F mayor seluruh senar mulai nada E
–C2
Notasi 39 : latihan tangga nada D minor diatonis 1 oktaf
Notasi 40 : latihan tangga nada D minor harmonis 1 oktaf
Notasi 41 : latihan tangga nada D minor melodis 1 oktaf
Notasi 42 : latihan tangga nada Bes mayor 1 oktaf
Notasi 43 : latihan tangga nada Bes mayor seluruh senar mulai nada
F – Bes 1
Notasi 44 : latihan tangga nada G minor diatonis 1 oktaf
Notasi 45 : latihan tangga nada G minor harmonis 1 oktaf
Notasi 46 : latihan tangga nada G minor melodis 1 oktaf
Notasi 47 : latihan tangga nada Es mayor 1 oktaf
Notasi 48 : latihan tangga nada Es mayor seluruh senar mulai nada
F – Bes 1
Notasi 49 : latihan tangga nada C minor diatonis 1 oktaf
Notasi 50 : latihan tangga nada C minor harmonis 1 oktaf
Notasi 51 : latihan tangga nada C minor melodis 1 oktaf
Notasi 52 : latihan tangga nada As mayor 1 oktaf
Notasi 53 : latihan tangga nada As mayor seluruh senar mulai nada
F – Bes 1
Notasi 54 :latihan tangga nada F minor diatonis 1 oktaf
Notasi 55 : latihan tangga nada F minor harmonis 1 oktaf
Notasi 56 : latihan tangga nada F minor melodis 1 oktaf
Notasi 57 : latihan tangga nada Des mayor 1 oktaf
Notasi 58 : latihan tangga nada Des mayor seluruh senar mulai
nada F – Es 2
Notasi 59 : latihan tangga nada Bes minor diatonis 1 oktaf
Notasi 60 : latihan tangga nada Bes minor harmonis 1 oktaf
Notasi 61 : latihan tangga nada Bes minor melodis 1 oktaf
Notasi 62-77 : latihan - latihan
Notasi 78 : contoh riff
Notasi 79 : latihan 17
Notasi 80 : patern akor A
Notasi 81 : patern akor D
Notasi 82 : patern akor E
Notasi 83 : latihan 18
Seni Musik Non Klasik 331
Notasi 84 :patern akor A
Notasi 85 : latihan 19
Notasi 86 : contoh patern
Notasi 87 : Latihan 20
Notasi 88 : contoh patern
Notasi 89 ; latihan 21
Notasi 90 : latihan lagu Annie Laurie
Notasi 91 : latihan lagu One Day
Notasi 92 : latihan lagu Autumn Leaves
Notasi 93 : latihan lagu I Started a joke
Seni Musik Non Klasik 332
BAB 8
SAXOPHONE
1. Pengenalan Dan Cara Perawatannya
1.1. Pengenalan
Saxophone merupakan instrumen musik jenis aerophone. Artinya
instrumen yang memiliki sumber bunyi berdasarkan udara yang bergetar.
Instrumen ini tergolong dalam instrumen tiup kayu walaupun bahan dasar
instrumen tersebut terbuat dari logam.
Gambaran umum saxophone:
Badan dari saxophone dapat terlihat jelas berbentuk kerucut,
bahannya terbuat dari metal yang tipis. Untuk mendapatkan nada-
nadanya, sepanjang tabung dibuat 18 – 20 lubang katup atau lubang
nada dengan garis tengah yang semakin besar menyesuaikan bentuk
tabungnya.
Pada bagian yang lebih dekat dengan mouthpiece terdapat dua
lubang katup kecil yang gunanya untuk memainkan nada-nada oktaf
tinggi.
Dua lubang
katup
Gambar 1: Dua Lubang Katup Oktaf.
Sistem penjarian yang asli menurut Boehm, bahwa semua katup
dikendalikan dengan semacam kunci, beberapa terbuka dan sementara
lainnya tertutup pada waktu tidak dimainkan. Lebih lanjut dijelaskan
bahwa untuk jenis saxophone seperti huruf “U” supaya lebih mudah untuk
dimainkan. Untuk ukuran bariton dan yang lebih besar lagi, badannya
diperpendek dengan dua lipatan pada bagian atas.
Seni Musik Non Klasik
333
Gambar 2: bentuk saxophone
Ada beberapa hal yang perlu dipelajari oleh siswa sebelum belajar
memainkan instrumen saxophone. siswa harus benar-benar kenal nama-
nama bagian dari saxophone dan tahu cara menggabungkannya.
Saxophone terdiri dari empat bagian yaitu: mouthpiece, neck,
body dan Bell. Gambar 3 dibawah ini menunjukkan nama-nama bagian
dari saxophone.
Gambar 3: Bagian-bagian dari Saxophone.
Mouthpiece mendapat perhatian pertama, yang mana bagian ini
harus digabungkan lebih dahulu.
Mouthpiece dan reed digabungkan dengan sebuah cincin logam yang
disebut ligature sebagai pengikatnya.
Seni Musik Non Klasik
334
Gambar 4: Penggabungan Mouthpiece dan Reed.
Mouthpiece saxophone, aslinya terbuat dari kayu, tetapi sekarang
umumnya terbuat dari ebonit dan metal, bahkan ada juga dari kaca atau
plastik. Demikian juga dengan mouthpiece klarinet dapat dibuat dari
bahan tersebut dengan ukuran yang berbeda. Jika dibanding dengan
mouthpiece klarinet, dudukan reed yang disebut table, pada saxophone
soprano bentuknya lebih lebar dan pendek.
Gambar 5: Perbedaan Mouthpiece Klarinet dan Saxophon.
Ruangan bagian dalam dari mouthpiece disebut tone chamber,
sedangkan ujung dari ruangan ini disebut jendela “window”. (gambar 6)
Gambar 6: Tone Chamber dan Window.
Cara memasang reed pada mouthpice seperti pada gambar 7
tidak dibenarkan, karena posisi ujung reed tidak tepat pada ujung
Seni Musik Non Klasik
335
mouthpiece. Hal demikian hanya menyebabkan bunyi yang dihasilkan
kurang baik. Sedangkan pemasangan yang baik adalah posisi ujung reed
simetris dengan ujung mouthpiece, seperti gambar 8.
Gambar 7: Posisi reed tidak baik.
Gambar 8: Posisi reed baik.
Berikut dikenalkan perlengkapan sebuah mouthpiece dan cara
pemasangannya.
Gambar 9: Perlengkapan sebuah Mouthpiece.
Seni Musik Non Klasik
336
Cara pemasangan reed yang lebih aman adalah mengikuti langkah-
langkah berikut: (1). Letakkan reed pada mouthpiece dengan posisi yang
benar; (2). Masukkan mouthpiece yang sudah terpasang reed tersebut ke
dalam ligature, dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah jangan
sampai ujung reed terbentur ligature, karena bagian ujung reed sangat
tipis dan mudah sobek: (3). Setelah , mouthpiece dan ligature terpasang,
aturlah posisi reed seperti dalam gambar 8 (posisi ujung reed simetris
dengan ujung mouthpiece); (4). Apabila posisi reed sudah benar, ligature
dapat dikencangkan dengan cara memutar baut-baut pengeras supaya
posisi reed tidak berubah atau bergeser.
1.2. Perawatan
Mengenai cara perawatan instrumen saxophone yang dianjuran adalah
sebagai berikut:
Perawatan instrumen secara intensif, selain untuk alasan higienis, hal itu
penting untuk menjaga agar instrumen tersebut dalam keadaan siap
untuk dimainkan. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam perawatan
instrumen tersebut adalah sebagai berikut:
1.2.1. Memegang instrumen saxophone hendaknya secara berhati-hati
dan menghindari kemungkinan terjadi benturan dengan benda
keras lainnya, sebab logamnya sangat tipis dan peka benturan.
1.2.2. Setelah selesai menggunakan segera membersihkannya, baik
bagian luar maupun bagian dalamnya, bantalan-bantalan (pad)
yang basah (akibat pernapasan), harus segera dikeringkan
dengan menggunakan kain yang mudah menyerap air, atau
dengan kertas yang halus dan lunak (kertas rokok).
Gambar 10: Cara membersihkan Pad.
1.2.3. Mouthpiece dan reed segera dicuci setelah selesai digunakan
Seni Musik Non Klasik
337
1.2.4. Untuk meletakkan saxophone pada saat tidak dimainkan adalah
sebagai berikut:
Dengan cara menggunakan tempat duduk khusus (saxophone
stand), dengan cara ini instrumen berdiri bertumpu pada bagian
bell dari saxophone.
Gambar 11: Tempat Saxophone (Saxophone Stand).
1.2.4.2. Apabila tidak ada tempat duduk khusus kita dapat meletakkan
saxophone dengan cara lain, yaitu dengan menidurkan
instrumen pada permukaan yang datar dan rata, seperti meja,
lantai atau diatas kopor saxophone (chase). Cara meletakkan
seperti ini yang h arus diperhatikan ialah jangan sampai ada
bagian-bagian kunci yang menahan beban cukup berat dari
saxophone, sebab bahan dasar instrumen ini terbuat dari logam
yang lunak (mudah bengkok). Cara meletakkan saxophone
seperti gambar 12 tidak dapat dibenarkan, sebab ada dua kunci
terpaksa menahan beban cukup berat dari saxophone (kunci”d”
dan “d#”), apabila hal ini berlangsung terus-menerus dapat
mengakibatkan pergeseran antara katup dan lubang suara
sehingga katup tidak berfungsi dengan baik.
Seni Musik Non Klasik
338
Gambar 12: Cara meletakkan Saxophone yang tidak baik.
Sedangkan cara meletakkan saxophone supaya aman pada
waktu tidak sedang dimainkan adalah seperti contih dalam
gambar 13 dibawah ini, yang mana pada bagian bell sebelah
kanan dari saxophone terdapat lempengan plat logam yang
berfungsi untuk pengaman katup nada (Bb, B, C, dan C#). Pada
bagian inilah kita meletakkan saxophone dengan cara
menidurkannya.
Gambar 13: Cara meletakkan Saxophone yang baik
1.2.4.3. Penyimpanan instrumen dalam Kopor/kotak
instrumen, sebaiknya diletakkan di tempat yang
aman dan kering, serta perubahan suhunya tidak
terlalu mencolok. Hal ini bermaksud untuk menjaga
pemuaian ataupun penyusutan dari instrumen
tersebut.
Seni Musik Non Klasik
339
1.2.4.4. Perlu diperhatikan cara meletakkan kopor yang berisi
saxophone jangan sampai terbalik seperti contoh
dalam gambar 14. Dalam gambar tersebut dapat
terlihat dengan jelas, sehingga bagian tersebut
sangat rawan. Sedangkan cara-cara yang benar
seperti contoh dalam gambar 15, disini saxophone
bertumpu pada bagian yang bengkok seprti huruf “U”,
bagian ini dilapisi plat logam sebagai pengaman.
Gambar 14: Cara meletakkan Gambar 15: Cara meletakkan
peti saxophone tidak benar peti saxophone benar
2. Teknik Dasar Bermain Saxophone
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bila akan belajar
memainkan saxophone, yaitu cara memegang saxophone, teknik per-
napasan, posisi bermain, teknik embosur (embouchure), teknik penjarian
dan teknik peniupan.
2.1. Cara Memegang Saxophone
Sebelum mengangkat instrumen dari kopornya, sebaiknya terlebih
dahulu menggabungkan mouthpiece dengan reed. Setelah posisi reed
terpasang dengan benar, gabungkan dengan leher saxophone (neck dan
mouthpiece).
Seni Musik Non Klasik
340
Gambar 16: Penggabungan Leher dengan Mouthpiece.
Apabila mouthpiece, reed dan leher saxophone sudah tergabung, tali
penggantung saxophone yang disebut sling dapat dipakai (dikalungkan
pada leher pemain). Fungsi dari pada sling tersebut adalah untuk
membantu ibu jari tangan kanan dalam menopang saxophone dengan
cara mengaitkan ujung sling pada badan saxophone. Kemudian badan
saxophone diangkat dari petinya dengan cara memegang pada bagian
bellnya dan gabungkan badan saxophone tersebut dengan lehernya yang
sudah terpasang mouthpiece. Sedang cara untuk menggabungkan badan
dengan leher saxophone adalah:
Memegang badan saxophone pada tangan kanan dengan bertumpu pada
pangkuan, sementara tangan kiri memegang leher yang siap
digabungkan dengan badan saxophone.
Gambar 17: Penggabungan Leher dengan Badan Saxophone.
Seni Musik Non Klasik
341
2.1.1. Posisi jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kiri maupun
kanan disesuaikan tepat pada permukaan katup nada dalam
membentuk setengah melingkar.
Gambar 18: Posisi Jari-jari pada Katup Nada.
Kelebihan dari posisi ini adalah memindahkan dalam memainkan
gerakan-gerakan melodi yang cepat dan relaksasi selama
bermain. Sedangkan cara yang tidak dianjurkan adalah posisi jari
yang menempel lurus pada katup nada. Posisi ini memiliki
kelemahan, kurangnya fleksibilitas serta ketegangan-ketegangan
pada saraf motorik, sehingga pemain lekas merasa capai.
Gambar 19: Posisi Jari yang tidak dianjurkan (jari-jari menempel
lurus pada katup-katup nada).
2.1.2. Posisi jari kelingking tangan kiri maupun tangan kanan harus
dapat bergerak bebas untuk menjangkau kunci-kunci nada, yakni:
Jari kelingking tangan kiri harus bebas menjangkau kunci-kunci
nada g#, c#, B dan Bb. Sedangkan untuk jari kelingking tangan
kanan harus bebas menjangkau kunci nada Eb dan C.
Seni Musik Non Klasik
342
Perlu ditekankan bahwa kedua jari kelingking tidak boleh mene-
gang.
Gambar 20: Jari Kelingking Tangan Kiri. Gambar 21: Jari Kelingking Tangan Kanan.
2.1.3. Latihan meniup saxophone.
Nada yang paling mudah untuk dibunyikan pada saxophone
adalah nada “B”,
Gambar 22: Penjarian nada “B1” Notasi 1: simbul penjariannya nada B
Di bawah ini ditunjukkan contoh latihan meniup saxophone
dengan menggunakan nada “b” yang dimainkan dengan tempo
lambat.
Seni Musik Non Klasik
343
Notasi 2: contoh latihan meniup dangan nada dengan nada “B1”.
Kemudian dilanjutkan dengan nada-nada lainnya yang masih
menggunakan jari-jari tangan kiri, yakni: Nada A. G dan C.
Notasi 3: gambar notasi dan fingering B, A, G dan C.
Notasi 4: latihan pembentukan nada dengan nada “B1, A1,G1 .
Notasi 5: latihan pembentukan nada dengan nada “C1 ”.
2.2. Pernapasan
Pernapasan yang dianjurkan, sebagaimana dalam pernapasan
menyanyi dan memainkan alat musik tiup lainnya, adalah sistem per-
nafasan diafragmatis.
Alasan dari pernapasan diafragmatis yang dianjurkan seperti
diatas adalah, selain terdapat volume udara yang lebih besar dan kuat
dibanding dengan pernapasan paru-paru, juga hal itu sangat menentukan
produksi suara serta kemampuan yang lebih sempurna dalam men-
jangkau teknik maupun etude-etude yang ada.
Seni Musik Non Klasik
344
Di bawah ini adalah cara untuk melatih sistem pernapasan
diafragmatis:
2.2.1. Hirup udara melalui hidung, bersamaan dengan itu rasakan aliran
aliran udara melalui paru-paru menuju sekat rongga perut
(diafragma), sekaligus rasakan pengembangan otot-otot disekitar
perut (rusuk bawah, terutama pada sekat rongga badan)
2.2.2. Hembuskan melalui mulut secara rata, sekaligus merasakan aliran
udara dan pengempisan otot-otot pada bagian perut secara per-
lahan-lahan.
Setelah proses pernapasan sudah dipahami, selanjutnya latihan
pernapasan dapat dikontrol dengan cara sebagai berikut:
a. Tekan kuat-kuat kedua telapak tangan pada sisi pinggang
dengan ibu jari melingkar di sisi depan perut dan keempat jari
lain diletakkan di sisi bagian belakang.
Gambar 23: Penekanan pada sisi Perut
b. Sementara kedua telapak tangan menekan pada sisi
pinggang, bongkokkan badan kira-kira membentuk sudut 90°,
kemudian tarik napas seperti petunjuk di atas, dan rasakan
pengembangan otot-otot di sekitar perut bagian atas. Dengan
cara tersebut akan lebih memudahkan dalam mengontrol
pengembangan otot-otot perut dalam hu-bungannya dengan
pernapasan diafragmatis.
Seni Musik Non Klasik
345
Gambar 24: Cara Mengontrol Pernafasan Diafragma.
c. Setelah melakukan hal tersebut berulangkali dan sudah
dipahami, latihan pernapasan dapat dilanjutkan dengan posisi
berdiri tegak.
Untuk mengontrol pernapasan diperlukan kecermatan sebsb
pernapasan yang salah akan berakibat fatal bagi seorang pemain
alat musik tiup.
Apabila latihan-latihan di atas sudah dapat dilalui dengan baik dan
benar, berikut akan diuraikan tenteng posisi bermain saxophone.
2.3 Posisi Pemain
Posisi instrumen dan tubuh pada waktu bermain merupakan
langkah awal yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi siswa
pemula. Hal ini sangat penting teknik pernapasan dan keleluasaan gerak
tangan maupun jari.
Sikap bermain saxophone sebaiknya jangan terlalu tegang
(tegap), dan sebaliknya jangan terlalu santai. Ambillah sikap yang wajar,
baik dalam sikap berdiri maupun dalam sikap duduk.
2.3.1. Posisi Berdiri
Posisi berdiri seperti dalam gambar 25 dibawah ini selain terlalu
kaku juga menghambat pernapasan serta menghambat kele-
luasaan gerak jari-jari kita.
Seni Musik Non Klasik
346
Gambar 25: Sikap yang tidak dianjurkan.
Sedangkan posisi berdiri yang dianjurkan adalah:
Berdiri wajar, kepala agak menunduk dengan pandangan mata
lurus kedepan. Adapun posisi saxophone agak sedikit dimiringkan ke kiri
dengan menempelkan bagian bawah dari saxophone pada pinggul
sebelah kanan. Hal ini sangat membantu keleluasaan gerak jari-jari dan
menjaga supaya saxophone tidak banyak bergerak pada waktu di-
mainkan.
Gambar 26: Sikap Berdiri
Seni Musik Non Klasik
347
Dalam halaman berikut ini ditunjukkan gambar posisi leher yang
tidak baik. Posisi seperti ini selain kurang sedap untuk dipandang juga
dapat mengganggu pernapasan serta berpengaruh pada intonasi dari
nada-nada yang dihasilkan. H ini disebabkan karena cara pemasangan
al
antara mouthpiece dan leher saxophone yang kurang tepat.
Gambar 27: Posisi Leher yang tidak baik.
Untuk menjaga supaya posisi leher pemain tidak seperti dalam
gambar diatas, posisi mouthpiece pada leher saxophone harus digeser
(diputar) sedikit ke kanan disesuaikan dengan kemiringan saxophone.
Untuk menggeser posisi mouthpiece supaya leher pemain bisa
tegak adalah sebagai berikut:
Ambillah sikap berdiri seperti dalam gambar nomor 26, sementara tangan
kiri memegang mouthpiece yang kurang tepat posisinya dan putarlah ke
kanan hingga posisi leher pemain tidak miring. Gambar berikut ini akan
ditunjukkan bagaiman cara memutar mouthpiece.
Seni Musik Non Klasik
348
Gambar 28: Cara menggeser Posisi Mouthpiece,
2.3.2. Posisi Duduk
Pada posisi duduk tidak banyak berbeda dengan posisi berdiri.
Perbedaan hanya pada posisi tubuh saja, sedangkan untuk posisi ins-
trumen sama seperti pada posisi berdiri.
Dalam posisi duduk sebaiknya kita menggunakan kursi yang tidak
memakai sandaran tangan, sebab sandaran tersebut akan mengganggu
tangan dan saxophone pemain itu sendiri. Apabila terpaksa meng-
gunakan kursi yang memakai sandaran tangan, dapat kita atasi dengan
cara duduk miring ke kiri dari arah kursi kira-kira 45° dengan bertumpu
pada pantat dan paha sebelah kiri. Gambar 29 ditunjukkan posisi duduk
pada kursi yang memakai sandaran tangan.
Seni Musik Non Klasik
349
Gambar 29: Posisi Duduk dengan sandaran tangan
Gambar 30: Posisi Duduk tanpa sandaran tangan.
2.4. Teknik Ambosur ( Embouchure )
Kata ambosur berasal dari bahasa Perancis “embouchure”.
Sedangkan dalam istilah Inggris memiliki arti ganda, yaitu mouthpice dan
bibir. Adapun pengertian umum dapat diartikan sebagai bibir. Untuk istilah
musik (dalam permainan alat musik tiup), ambosur adalah posisi bibir dan
gigi pada mouthpiece. Bentuk ambosur yang baik adalah sebagai berikut:
Letakkan gigi atas pada bagian atas dari mouthpiece; Lekatkan bagian
dalam dari bibir di sekililing mouthpiece, sekaligus memajukan rahang
Seni Musik Non Klasik
350
bawah seperti sikap dalam menggigit (gigi bawah sejajar dengan gigi
atas).
Gambar 31: Perwujudan Ambosur yang baik.
Ada dua macam jenis tiupan dalam alat musik tiup yaitu:
a. Meniup dengan udara dingin
b. Meniup dengan udara panas
Udara dingin dipergunakan untuk meniup alat musik tiup seperti:
piccolo, fluit sopran, hobo dan klarinet dari nada “A” keatas.
Notasi 6: Nada-nada pada Klarinet yang menggunakan udara dingin.
Udara panas dipergunakan untuk meniup alat musik tiup seperti: klarinet
dari nada “Ab” kebawah ( Ab, G, Gb, F dan E ), saxophone, fagot, fluit
alto, tenor dan fluit bass.
Untuk mewujudkan tiupan-tiupan diatas adalah, apabila kita
meniupkan udara pada satu titik, akan terwujud udara dingin. Apabila kita
menghendaki tiupan dengan udara panas, tiupkan udara dengan fokus
satu titik yang lebar.
Dalam meniup saxophone tidak hanya membutuhkan udara panas
saja, tetapi harus didukung oleh ambosur yang benar serta tenaga yang
relatif kuat.
Seni Musik Non Klasik
351
Lebih lanjut Maezawa menjelaskan bahwa ambosur untuk saxophone
yang benar adalah: (1). Kerutkan kedua bibir (bibir atas dan bawah)
hingga membentuk garis-garis pada permukaan bibir dan tariklah kedua
sudut bibir ke tengah-tengah hingga bentuk bibir menyerupai huruf “O”;
(2). Masukkan mouthpiece kedalam mulut yang sudah membentuk huruf
“O” sesuai kebutuhan kemudian tutuplah bibir disekeliling mouthpiece,
sehingga apabila ditiup udara tidak akan bocor; (3). Tiuplah mouthpiece
tersebut dengan mengucapkan kata “dho” ( seperti pada kata “dholan”).
Dengan meniup sambil mengucap kata “dho”, udara yang keluar adalah
udara panas. (gambar 32)
Gambar 32: Bentuk bibir
Ambosur untuk saxophone berbeda dengan ambosur untuk
klarinet. Untuk membentuk ambosur klarinet, tariklah bibir kesatu titik
yang terletak di bawah ujung dagu.
Gambar 33: Ambosur Klarinet
Tetapi untuk membentuk ambosur saxophone kita harus menarik
bibir kesatu titik yang letaknya di tengah-tengah antara bibir atas dan bibir
bawah. ( gambar 34 )
Seni Musik Non Klasik
352
Gambar 34: Ambosur Saxophone
Dari ketiga pendapat tersebut di atas, penulis menarik kesimpulan
bahwa ketiga pendapat tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu
membuat bibir supaya mengeras dan mewujudkan tiupan dengan udara
panas.
2.5. Teknik Penjarian ( Fingering )
Sistem penjarian pada alat musik saxophone untuk petunjuk
penggunaan kunci-kunci nada dan jari akan diberi tanda-tanda, huruf, titik
( ) dan lingkaran kecil ( ). Tanda huruf dan angka menunjukkan kunci-
kunci nada yang digunakan atau digerakkan.
Tanda titik ( ), menunjukkan katup nada yang ditekan atau
ditutup. Tanda lingkaran kecil ( ) menunjukkan katup nada yang tidak
ditekankan atau dibuka.
Di bawah ini akan ditunjukkan huruf-huruf dan angka-angka yang
akan dipergunakan sebagai petunjuk kunci-kunci dan jari-jari.
Gambar 35: gambar perwujudan tanda penjarian).
Seni Musik Non Klasik
353
2.6.3.1. Vibrasi
Vibrasi adalah kualitas getaran dalam nada yang dihasilkan oleh
gerakan yang sangat rapat dari rahang bawah. Para saksoponis
menggunakan vibrasi (khususnya dalam musik tarian) pada nada
panjang. Pada tempo yang sangat lambat sampai sedang harus
dicoba menggunakan vibrasi pada nada-nada seperempatan ( ),
dan teristimewa pada nada setengahan ( ) atau nada utuh ( ).
Apabila tanpa vibrasi nada saxophone memiliki warna yang
kurang cemerlang bila dibanding dengan penggunaan vibrasi ter-
sebut.
Ada 3 jenis gelombang vibrasi yaitu:
a. Gelombang lebar :
b. Gelombang sempit :
c. Gelombang dari lebar menyempit :
Gambar 46: 3 jenis gelombang vibrasi
Seni Musik Non Klasik
354
Berikut latihan Vibrasi :
a.
b.
c.
Notasi 7 : cara latihan vibrasi
Seni Musik Non Klasik
355
3. Teknik dan Etude
Seni Musik Non Klasik
356
Seni Musik Non Klasik
357
Seni Musik Non Klasik
358
Seni Musik Non Klasik
359
Seni Musik Non Klasik
360
Seni Musik Non Klasik
361
Seni Musik Non Klasik
362
Seni Musik Non Klasik
363
Seni Musik Non Klasik
364
Seni Musik Non Klasik
365
Seni Musik Non Klasik
366
Seni Musik Non Klasik
367
Seni Musik Non Klasik
368
Seni Musik Non Klasik
369
Seni Musik Non Klasik
370
Seni Musik Non Klasik
371
Seni Musik Non Klasik
372
Seni Musik Non Klasik
373
Seni Musik Non Klasik
374
BUAH MUSIK
Seni Musik Non Klasik
375
Seni Musik Non Klasik
376
Seni Musik Non Klasik
377
Seni Musik Non Klasik
378
Seni Musik Non Klasik
379
Fingering Chart
Seni Musik Non Klasik
380
i
Tanda : Pilihan posisi penjarian.
Tanda : katup nada yang ditekan atau ditutup.
Tanda : katup nada yang tidak ditekankan atau dibuka.
Kompas Masing-masing Jenis Saxophone
Seni Musik Non Klasik
381
Sopran (Bb ) Alto (Eb ) Tenor (B b )
Bariton (Eb )
Penulisan Soprano (Bb ) Kompas
Penulisan Alto (Eb) Kompas
Penulisan Tenor (Bb ) Kompas
Seni Musik Non Klasik
382
Penulisan Bariton (Eb ) Kompas
Seni Musik Non Klasik
383
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1: Dua Lubang Katup Oktaf.
Gambar 2: Brntuk Saxophone.
Gambar 3: Bagian-bagian dari Saxofon.
Gambar 4: Penggabungan Mouthpiece dan Reed.
Gambar 5: Perbedaan antara Mouthpiece Klarinet Saxofon.
Gambar 6: Tone Chamber dan Window.
Gambar 7: Posisi Reed Tidak baik.
Gambar 8: Posisi Reed Baik
Gambar 9: Perlengkapan sebuah Mouthpiece.
Gambar 10: Cara membersihkan Pad
Gambar 11: Tempat Saxophone (Saxophone Stand)
Gambar 12: Cara meletakkan Saxophone yang tidak baik.
Gambar 13: Cara meletakkan Saxophone yang baik.
Gambar 14: Cara meletakkan peti saxophone tidak benar
Gambar 15: Cara meletakkan peti saxophone benar
Gambar 16: Penggabungan Leher dengan Mouthpiece
Gambar 17: Penggabungan Leher dengan Badan Saxophone.
Gambar 18: Posisi Jari-jari pada Katup Nada.
Gambar 19: Posisi Jari yang tidak dianjurkan
Gambar 20: Jari kelingking tangan kiri.
Gambar 21: Jari kelingking tangan kanan.
1
Gambar 22: Penjarian nada “B ”
Gambar 23: Penekanan pada sisi perut untuk pengembangan otot perut
Gambar 24: Cara mengontrol pernafasan diafragma.
Gambar 25: Sikap yang tidak dianjurkan.
Gambar 26: Sikap berdiri dalan bermain Saxophone
Gambar 27: Posisi leher yang tidak baik.
Gambar 28: Cara menggeser Posisi Mouthpiece, hal ini berlaku juga untuk
sikap duduk..
Gambar 29: Posisi Duduk pada kursi yang memakai sandaran tangan.
Gambar 30: Posisi Duduk pada kursi yang tidak memakai sandaran tangan.
Gambar 31: Perwujudan Ambosur yang baik
Gambar 32: Bentuk Bibir dan Garis-garis Kerutan
Gambar 33: Titik tempat menarik bibir (Ambosur Klarinet)..
Gambar 34: Titik tempat menarik bibir (Ambosur Saxophone).
Gambar 35: Gambar perwujudan tanda penjarian).
Gambar 36: Jari Telunjuk, Jari Tengah dan Jari Manis Tangan Kiri.
Gambar 37: Jari Telunjuk, Jari Tengah dan Jari Manis Tangan Kanan.
Gambar 38: Posisi Ibu Jari Tangan Kiri (T).
1
Gambar 39: Posisi jari-jari pada nada “Bes ”.
Gambar 40: Menunjukkan Perwujudan Penjarian Bes.
Gambar 41: Attack .
Gambar 42: Latihan meniup mouthpiece tanpa leher dan badan saxophone
Gambar 43: Posisi ujung lidah pada bagian ujung reed.
Gambar 44: Posisi lidah pada waktu udara dialirkan ke dalam mouthpiece.
1
Gambar 45: Penjarian nada “B ”.
Gambar 46: 3 jenis gelombang vibrasi
Gambar 47: Fingering chart
Seni Musik Non Klasik
384
DAFTAR NOTASI
1
Notasi 1: Notasi nada “B ” dan simbol penjariannya
1
Notasi 2: Contoh latihan pembentukan nada dengan nada “B ”.
Notasi 3: gambar notasi dan fingering B, A, G dan C.
1 1 1
Notasi 4: latihan pembentukan nada dengan nada “B , A ,G .
1
Notasi 5: latihan pembentukan nada dengan nada “C ”.
Notasi 6: Nada-nada pada Klarinet Yang menggunakan udara dingin.
Notasi 7: Hasil nada yang ditiupkan dari mouthpiece alto
Notasi 8-26: Kumpulan teknik dan etude
Notasi 27-36: Buah musik
Seni Musik Non Klasik
385
BAB 9
DRUMS
1. MENGENAL DRUM
Drum merupakan serangkaian alat musik perkusi dengan berbagai
bentuk dan ukuran serta spesifikasi yang berbeda-beda dan tergabung
menjadi satu rangkaian yang disebut Drum Set. Alat musik ini mempunyai
andil yang sangat besar dalam kancah permusikan. Semua jenis irama
musik yang berkembang saat ini, terbentuk dari variasi pukulan drum.
Sebelum mempelajari cara dan teknik bermain drum, maka sebaiknya
terlebih dahulu kita mengenal drum beserta bagian bagiannya.
1.1. Drum Akustik
Disebut akustik karena sumber bunyi alat musik ini berasal dari bahan-
bahan / materi dari alat itu sendiri tanpa menggunakan energi listrik.
Gambar 1, Drum set akustik
( gambar: koleksi pribadi )
Seni Musik Non Klasik 386
1.2. Drum Elektrik
Seiring dengan perkembangan teknologi, pada masa ini telah banyak
diciptakan alat-alat musik elektrik antara lain piano elektrik, gitar elektrik,
bass elektrik dan lain-lain. Dan ternyata drumpun tak ketinggalan pula
telah diciptakan drum elektrik. Namun pada dasarnya cara memainkan
serta teknik-teknik memainkannya adalah sama dengan cara dan teknik
yang ada pada drum akustik, atau dengan kata lain berbasik pada teknik-
teknik memainkan drum akustik. Drum elektrik ini meskipun dimainkan
dengan cara dipukul, namun sumber bunyinya dihasilkan dari energi
listrik. Fungsi dari bagian-bagian drum elektrik inipun sama dengan
bagian-bagian pada drum akustik, hanya bentuk dan ukurannya saja
yang berbeda. Perhatikanlah gambar dibawah ini.
Gambar 2, Drum set elektrik
( koleksi pribadi )
1.3. Bagian-bagian Drum
Drum merupakan alat musik yang secara fisik mempunyai bagian yang
terpisah, akan tetapi merupakan satu rangkaian yang disebut dengan
istilah Drumset. Berikut ini akan dijelaskan bagian-bagian dari drum.
Seni Musik Non Klasik 387
1.3.1. Snare Drum.
Snare Drum merupakan salah satu bagian utama dari drum dan yang pa-
ling sering dimainkan. Posisinya paling dekat dengan pemain. Diameter-
nya biasanya berukuran 10-15 inci, tetapi yang sering digunakan adalah
ukuran 14\". Yang membedakan antara snare drum dengan tom-tom
adalah selain bentuknya lebih pendek, pada bagian bawahnya
menggunakan kawat-kawat yang berbentuk spiral(snare wire). Jika anda
pukul head atas snare drum maka snare wire dibawah segera merespon,
dengan cara memukul kembali head bawah sehingga menghasilkan
suara yang tajam. Maka dari itu, sebenarnya 'nyawa' dari snare drum
terletak pada snare wirenya. Jika snare wirenya dilepas maka suara yang
dihasilkan hampir sama dengan tom-tom
Gambar 3, Snare Drum
1.3.2. Cymbal
Cymbal merupakan salah satu bagian yang terpenting pada drum.
Cymbal terbuat dari logam kuningan yang kualitas kekuatannya sudah
terjamin dan warna suara yang dihasilkan sangat cocok untuk digunakan
dalam bermain drum. Sebenarnya banyak sekali macam ragam jenis
cymbal, tetapi secara garis besar terdapat tiga jenis cymbal yaitu:
1.3.2.1. Ride Cymbal
Seni Musik Non Klasik 388
Cymbal ini bentuknya besar, digunakan untuk pengganti/ variasi setelah
hi-hat. Disebut juga medium cymbal,berukuran diameter kira-kira 20 “.
Jenis cymbal ini memungkinkan untuk digunakan teknik pukulan top
cymbal, ride cymbal dan cress cymbal.
Gambar 4, Cress Cymbal
( Gambar: Cuplikan dari www.musicianfriend.com )
Gambar 5, Ride cymbal
( Gambar: Cuplikan dari www.musicianfriend.com )
1.3.2.2. China Cymbal
Cymbal ini bentuknya juga besar namun pada bagian pinggirnya
menonjol. Berukuran sekitar 16”-18” dan terdiri dari dua pukulan yaitu:
Ride cymbal dan Cress cymbal.
Seni Musik Non Klasik 389
Gambar 6, China Cymbal
( Gambar : ciplikan dari www.klinikdrum.com )
Gambar 7, China Cymbal dpasang gabung dg Cress Cymbal
Gambar8, China Cymbal dpasang gabung dg Ride Cymbal
( Gambar : ciplikan dari www.klinikdrum.com )
1.3.2.3. Flash Cymbal
Bentuknya kecil, biasa digunakan untuk pukulan Cress. Berukuran
diameter kira-kira 10”.
Seni Musik Non Klasik 390
Gambar 9, Flash Cymbal
( Gambar : cuplikan dari www.amazon.com-image:zildjian zxt flash cymbal )
1.3.3. Hi-Hat
Hi-hat merupakan bagian dari drum yang terdiri dari dua buah piringan
yang saling berhadapan. Bahan sama dengan cymbal terbuat dari logam
kuningan. Bunyi hi-hat diperoleh dari benturan kedua buah piringan
dengan cara menginjak pedal hi-hat dibagian bawah. Lihat gambar
dibawah ini.
Gambar 10, Hi-Hat
( Gambar : cuplikan dari www.amazon.com-image:zildjian zxt flash cymbal )
Seni Musik Non Klasik 391
Gambar 11, Hi-Hat lengkap dengan stand
1.3.4. Tom-Tom
Tom-tom merupakan salah satu bagian utama dari drum. Tom-tom
berbentuk seperti gendang. Tom-tom terdiri dari berbagai macam
ukuran, diameternya mulai dari 6 -12 inci. Ukuran suatu drum biasnya
ditulis 12x10 yang maksudnya adalah kedalamannya 12 inchi dan
diameternya 10 inchi. Diameter tom-tom bervariasi, biasanya tom-tom
paling kecil berdiameter 6\", dan berlanjut ke 8\", 10\", 12\", 13\", 14\", 15\",
16\", 18\" dan 20\". Ukuran tom-tom 14\" keatas dapat digolongkan sebagai
floor tom-tom, tetapi tergantung dari peletakannya juga. Biasanya yang
kecil disebut small tom-tom, dan yang paling besar disebut large tom-tom/
floor tom-tom. Tom-tom memiliki dua drumhead ( selaput gendang ), atas
dan bawah. Badan tom-tom terbuat daru kayu yang biasa disebut Shell
Seni Musik Non Klasik 392
Gambar 12, Tom-tom 1 & Tom -tom 2
( Gambar : Koleksi pribadi )
Large (Floor) Tom-tom
Gambar 13, Large Tom-tom
( Gambar : Koleksi pribadi )
1.3.5. Bass Drums.
Bass drum merupakan alat seperti tom-tom, tetapi ukurannya lebih besar,
bunyi suaranya lebih berat dan bernada paling rendah dibanding dengan
alat drum yang lainnya. Kayu bass drum lebih kuat dan lebih tebal
dibanding dengan tom-tom, karena untuk menghasilkan suara yang lebih
keras dan lebih berat,serta untuk kekuatan bass drum itu sendiri. Bass
drum mempunyai diameter yang lebih besar dari pada tom-tom, yaitu 16\",
18\", 20\", 22\", 24\" dan bahkan 26\" atau lebih
Seni Musik Non Klasik 393
Gambar 14, Bass Drum
( Gambar : koleksi pribadi )
Gambar 15, Posisi Bass Drum dengan Snare Drum
( Gambar : koleksi pribadi )
1.3.6. Stick Drum
Stick merupakan alat pemukul pada drum yang terbuat dari kayu. Stick
terdiri dari dua buah dengan bentuk yang sama, satu dipegang tangan
kanan dan satunya untuk tangan kiri.
Seni Musik Non Klasik 394
Gambar 16, Stick Drum
( Gambar : Koleksi Pribadi )
2. POSISI TUBUH DALAM MEMAINKAN DRUM.
Posisi tubuh yang tepat dan benar dalam memainkan drum sangat
penting untuk diperhatikan agar setiap pemain tidak cepat lelah dan dapat
menghasilkan suara yang baik.
2.1. Posisi Duduk
Posisi yang baik dalam memainkan drum, yaitu dengan posisi badan
duduk tegak lurus, kedua tangan memegang stick, kaki kiri menginjak
pedal hi-hat dan kaki kanan menginjak pedal bass drum. Sikap badan
relaks, jangkauan stick ke bagian-bagian drum tidak jauh sehingga
tangan bisa dengan mudah dan leluasa untuk memukul bagian-bagian
drum tersebut. Lihat gambar.
Seni Musik Non Klasik 395
Gambar 17, Posisi Duduk bermain drum
( Gambar : koleksi pribadi )
2.2. Posisi Tangan dalam Memegang Stick
Dalam memainkan alat musik drum,cara memegang stick dianggap suatu
hal yang sederhana, namun sebenarnya memegang peranan yang
sangat penting dalam penggunaannya,karena dalam memainkan alat
musik ini sensor motorik pada tangan dan kaki sangat dominan. Cara
memegang stick antara tangan kanan dan kiri berbeda. Hal ini
dimaksudkan untuk memberikan kekuatan pukulan yang berbeda antara
tangan kanan dan kiri, sehingga menghasilkan suara dengan variasi dan
harmonisasi yang bagus. Posisi tangan dalam memegang stick secara
terperinci dapat dipelajari seperti dibawah ini.
2.2.1. Memegang stick pada tangan kanan.
Batang stick diletakkan / dijepit diantara jari telunjuk dan ibu jari (lihat
gambar 18 ), kemudian tiga jari yang lain memegang batang stick bagian
pangkal (lihat gambar 19 ).
Seni Musik Non Klasik 396
Gambar 18, stick dijepit diantara jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan
( gambar : kolesi pribadi )
Gambar 19, memegang stick pd tangan kanan
( gambar : kolesi pribadi )
2.2.2. Memegang stick pada tangan kiri.
Pangkal stick dijepit diantara ibu jari d jari telunjuk (lihat gambar 20
an
),kemudian jari tengah dan jari manis menjepit batang stick bagian dalam
(lihat gambar 21 ).
Seni Musik Non Klasik 397
Gambar 20, stick dijepit diantara jari telunjk dan ibu jari tangan kiri
( gambar : koleksi pribadi )
Gambar 21, jari tengah dan jari manis tangan kiri menjepit batang stick bagian dalam.
( gambar : koleksi pribadi )
3. NOTASI PADA DRUM
Penulisan notasi drums berbeda dengan penulisan notasi pada alat musik
yang lain. Hal ini disebabkab karena drums merupakan alat musik percusi
yang tidak bernada, sehingga penulisan not pada garis paranada bukan
berdasar pada tinggi rendahnya nada melainkan berdasa pada jenis alat
musiknya. Perhatikan gambar dibawah ini.
Seni Musik Non Klasik 398
Notasi 1, letak penulisan notasi drum pada garis paranada
• : tanda ini juga digunakan dalam penulisan notasi hi-hat (sock
cymbal).,namun pada hi-hat terdapat kode “o” untuk pukulan
terbuka dan kode “c”untuk pukulan tertutup. Lihat gambar dibawah
o = open (terbuka)
c = close (tertutup)
( Notasi 2, bentuk dan letak not untuk cymbal
Selain penulisan not, masih banyak atribut-atribut lain yang dituliskan
sebagai tanda dengan berbagai macam fungsi dalam penulisan notasi
drums,antara lain : tanda istirahat/ diam, tempo, tanda aksen, dan tanda
aturan dalam bermain drums.
Seni Musik Non Klasik 399
3.1. Tanda Aksen
Aksen adalah ketukan/ tekanan kuat pada suatu not. Penulisan aksen
dalam notasi drums adalah ditandai dengan tanda ( ), yang terletakkan
diatas not. Jadi pukulan not yang beraksen adalah pukulan pada not yang
ditandai dengan tanda ( ) diatasnya.
Contoh :
a.
b.
c.
d.
Notasi 3, tanda aksen pada not
3.2. Tanda aturan dalam bermain Drums
Selain tanda aksen, tempo, dan penulisan not seperti diatas,masih
banyak tanda-tanda aturan lain yang perlu dituliskan dalam notasi
penulisan drums. Tanda-tanda/ atribut tersebut antara lain adalah:
• R : Right Hand, memukul dengan tangan kanan
• L : Left Hand, memukul dengan tangan kiri
Seni Musik Non Klasik 400
• : dimainkan Rim-Shot pada snare
drums
• : Bar yang ke-5 (dimainkan) nomor
urut baru.
• : mainkan 5 bar seperti dimuka.
• : Variasi pada sebuah not lagu.
Notasi 4, Bentuk-bentuk tanda aturan bermain drum
4. TEKNIK MEMUKUL
Jenis pukulan pada alat musik drum sangatlah bermacam-macam model
dan tekniknya. Misalnya teknik dalam memukul snare drums berbeda
dengan teknik memukul pada hi-hat, dan berbeda pula pada bass.
Marilah kita urai satu persatu bagaimana cara atau teknik memukul
drums.
4.1. Teknik memukul pada Snare Drums
Dalam bermain drums,bunyi yang didominasi oleh snare drums harus
terdengar lebih keras dan tegas dari suara yang lain. Bila diambil angka
perbandingan, maka perbandingan 1: 6 dari suara yang lainnya. Dalam
memainkan snare drum dikenal beberapa teknik dalam
memukulnya,yaitu :
Seni Musik Non Klasik 401
4.1.1. Pukulan Biasa
Teknik ini dilakukan dengan cara memukul snare drum dengan tangan
kanan dan tangan kiri secara bergantian. Lihat gambar.
Gambar 22, pukulan tangan kanan dan kiri secara bergantian
( Gambar : koleksi pribadi )
Gambar 23, pukulan tangan kanan dan kiri secara bergantian
( Gambar : koleksi pribadi )
4.1.2. Open Rim-Shot
Teknik ini dilakukan dengan cara tangan kiri memukul snare drum pada
bibir snare drum (bagian pinggiran / ring snare drum), bukan pada
Seni Musik Non Klasik 402
membrannya. Untuk memukulnya, seperempat bagian stik harus
melewati bibir/ pinggiran snare drum. Lihat gambar dibawah ini.
Gambar 24, pukulan open rim shot, sasaran pukulan pada bibir snare drum
( Gambar : koleksi pribadi )
Gambar 25, pukulan open rim shot
( Gambar : koleksi pribadi )
Seni Musik Non Klasik 403
Gambar 26, Pukulan Open Rim -Shot
( Gambar : koleksi pribadi )
4.1.3. Close Rim-Shot
Teknik ini dilakukan dengan cara memukul snare drum dalam posisi
memegang stik rata dengan snare drum. Cara memegang stiknya adalah
biasa (pada umumnya). Lihat gambar dibawah ini.
Gambar 27, pukulan close rim -shot, stick sejajar dengan snare drum
Seni Musik Non Klasik 404
( Gambar : koleksi pribadi )
Gambar 28, pukulan close rim -shot
( Gambar : koleksi pribadi )
4.1.4. Stick on stick
Stick on stick artinya suara yang dihasilkan melalui stick dengan
menggunakan media snare drum. Teknik ini dilakukan dengan cara;
ujung stick pada tangan kiri diletakkan diatas membrane snare drum,
kemudian stick pada tangan kanan dipukulkan secara bersilang ke stick
di tangan kiri, lalu digeser kearah ujung stick di tangan kiri. Lihat gambar
dibawah ini.
Gambar 29, pukulan stick on stick
Seni Musik Non Klasik 405
( Gambar : koleksi pribadi )
Gambar 30, pukulan stick on stick
( Gambar : koleksi pribadi )
Gambar 31, pukulan stick on stick
( Gambar : koleksi pribadi )
Seni Musik Non Klasik 406
4.1.5. Open stick
Open stick adalah pukulan dengan stick bersilangan yang menghasilkan
suara dari stick itu sendiri. Teknik ini dilakukan dengan cara; stick di
tangan kanan saling dipukulkan dengan stick pada tangan kiri secara
bersilang, lihat gambar dibawah.
Gambar 32, pukulan open stick
( Gambar : koleksi pribadi )
Seni Musik Non Klasik 407
Gambar 33, pukulan open stick
( Gambar : koleksi pribadi
4.2. Teknik memukul pada Cymbal
Teknik memukul cymbal sangat penting karena untuk menghasilkan
suara yang benar-benar bagus dan beragam pada cymbal.
Teknik memukul cymbal pada dasarnya terbagi atas tiga bagian pukulan
yaitu:
4.2.1. Top Cymbal
Teknik memukul yang dititik beratkan pada bagian pusat cymbal
(center),lihat gambar
Seni Musik Non Klasik 408
Gambar 34, pukulan top cymbal
( Gambar : koleksi pribadi )
4.2.2. Ride Cymbal
Teknik memukul yang dititik beratkan pada bagian dalam cymbal,lihat
gambar
Gambar 35, pukulan ride cymbal
( Gambar : koleksi pribadi )
4.2.3. Cress Cymbal
Teknik memukul yang dititik beratkan pada bagian bibir cymbal,lihat
gambar
Seni Musik Non Klasik 409
Gambar 36, pukulan cress cymbal
( Gambar : koleksi pribadi )
4.3. Teknik memukul pada Hi-Hat
Didalam memainkan hi-hat perlu kiranya diperhatikan tentang dua hal,
yang pertama adalah tentang teknik pukulan pada hi-hat dan yang kedua
adalah tentang teknik memainkan hi-hat. Kedua teknik ini berbeda dalam
perlakuannya namun dalam penggunaannya sangatlah erat karena
menjadi satu rangkaian perpaduan dalam memainkan hi-hat.
4.3.1. Teknik pukulan pada Hi-Hat
4.3.1.1. Top Hi-Hat,
yaitu teknik memukul Hi-Hat dengan cara memukulkan ujung stik pada
bagian central Hi-hat. Hal ini dimaksudkan agar suara yang dihasilkan
terdengar lebih berat. Perhatikan gambar dibawah ini.
Gambar 37, pukulan top hi-hat
( Gambar : koleksi pribadi )
Seni Musik Non Klasik 410
4.3.1.2. Ride Hi-hat
yaitu teknik memukul Hi-Hat dengan cara memukulkan ujung stik pada
bagian dalam Hi-hat. Hal ini dimaksudkan agar suara yang dihasilkan
terdengar lebih lembut. Perhatikan gambar dibawah ini.
Gambar 38, pukulan ride hi-hat
( Gambar : koleksi pribadi )
4.3.1.3. Cress Hi-Hat
yaitu teknik memukul Hi-Hat dengan cara memukulkan ujung stik pada
bagian bibir Hi-hat. Hal juga ini dimaksudkan agar suara yang dihasilkan
terdengar lebih ringan. Perhatikan gambar dibawah ini.
Gambar 39, pukulan cress hi-hat
( Gambar : koleksi pribadi )
Selain teknik memukul seperti diatas, masih terdapat pula teknik dalam
memainkan Hi-hat, yaitu :
Seni Musik Non Klasik 411
4.3.2. Teknik Memainkan Hi-Hat
4.3.2.I. Open Hi-Hat,
yaitu hi-hat dipukul dalam kondisi membuka. Teknik memainkannya
dengan cara meletakkan kaki kiri pada pedal hi-hat kemudian
menekannya dan bersamaan dengan memukul hi-hat. Perhatikan gambar
dibawah ini.
Gambar 40, pukulan open hi-hat, kedua piringan hi-hat saling membuka.
( Gambar : koleksi pribadi )
Gambar 41,
pukulan open hi-hat, kaki bertumpu pada pedal dan tidak menekan kebawah.
( Gambar : koleksi pribadi )
Seni Musik Non Klasik 412
4.3.2.2. Close Hi-Hat
yaitu hi-hat dipukul dalam kondisi menutup. Teknik memainkannya
dengan cara meletakkan kaki kiri pada pedal sebagai tumpuan dan tanpa
menekannya pukul hi-hat yang dalam posisi menutup.
Perhatikan gambar dibawah ini.
Gambar 42, pukulan close hi-hat, kedua piringan Hi-hat saling mengatup rapat
( Gambar : koleksi pribadi )
Gambar 43, Kaki menekan kebawah
( Gambar : koleksi pribadi )
Seni Musik Non Klasik 413
4.4. Teknik memukul pada Bass Drums
Teknik memukul pada bass drum berbeda dengan teknik memukul pada
alat yang lain. Perbedaan yang sangat mencolok adalah bahwa bass
drum dipukul tidak dengan menggunakan tangan seperti halnya alat-alat
yang lain akan tetapi menggunakan kaki. Teknik memukulnya dilakukan
dengan cara telapak kaki menekan / memijak handel (alat pemukul bass
drum) kebawah. Lihat gambar dibawah ini.
Gambar 44, teknik memukul pada bass
(gambar : koleksi pribadi )
Gambar 45, teknik memukul pada bass
(gambar : koleksi pribadi )
Seni Musik Non Klasik 414
5. Teknik Memainkan Drum
Telah diuraikan diatas tentang bagian-bagian drums, teknik memegang
stick maupun teknik memukulnya dan lain-lain.Untuk memainkan drums
secara kompleks, maka terlebih dahulu kita harus berlatih melalui
tahapan-tahapan berikut ini.
5.1. Latihan Dasar
Latihan dasar berguna untuk membiasakan pemain dalam membaca
tanda dan notasi drum, serta untuk melatih gerakan tangan dan kaki.
Latihan ini terdiri dari beberapa macam antara lain: Latihan dasar
dengan snare drum, latihan dasar snare drum dengan bass drum, latihan
tanda berhenti, latihan variasi, latihan irama dan variasinya, serta latihan
aksen.
Latihan dasar dengan snare drum berguna untuk melatih kecepatan
gerakan tangan kanan dan kiri serta mendeteksi pukulan tangan yng
dimainkan.
Latihan tanda berhenti berguna agar pemain mengetahui saat-saat suatu
alat dimainkan atau tidak dimainkan dan untuk mengetahui kecepatan
pukulan.
Latihan variasi berguna untuk membuat variasi kecepatan pukulan/ bunyi.
Latihan irama dan variasinya berguna untuk melatih bermain ketukan/
hitungan, dan latihan aksen berguna untuk melatih variasi bunyi.
5.1.1. Latihan Dasar dengan Snare Drums
Latihan 1
Seni Musik Non Klasik 415
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Latihan 5
Latihan 6
Latihan 7
Latihan 8
Latihan 9
Seni Musik Non Klasik 416
Latihan 10
Latihan 11
Latihan 12
Latihan 13
Latihan 14
Latihan 15
Latihan 16
Latihan 17
Seni Musik Non Klasik 417
Latihan 18
Latihan 19
Latihan 20
Latihan 21
Latihan 22
Latihan 23
Latihan 24
Latihan 25
Seni Musik Non Klasik 418
Latihan 26
Latihan 27
Notasi 4, Latihan Dasar dengan Snare Drum
5.1.2 Latihan Dasar Snare Drums dengan Bass Drum
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Seni Musik Non Klasik 419
Latihan 5
Latihan 6
Latihan 7
Latihan 8
Latihan 9
Latihan 10
Latihan 11
Seni Musik Non Klasik 420
Latihan 12
Latihan 13
Latihan 14
Latihan 15
Latihan 16
Latihan 17
Latihan 18
Seni Musik Non Klasik 421
Latihan 19
Latihan 20
Latihan 21
Latihan 22
Latihan 23
Latihan 24
Latihan 25
Seni Musik Non Klasik 422
Latihan 26
Notasi 5, Latihan Dasar Snare Drum dengan Bass Drum
5.1.3. Latihan Dasar Hi-hat dan Bass Drum
Latihan pola dasar
Notasi 6, pola dasar untuk Latihan Dasar Hi-hat dan Bass Drum
Latihan 1.
Latihan 2
Latihan 3.
Seni Musik Non Klasik 423
Latihan 4
Latihan 5
Notasi 7, Latihan Dasar Hi-hat dan Bass Drum
5.1.4. Latihan Dasar Hi-hat, Snare Drum dan Bass Drum
Latihan Pola Dasar
Notasi 8, pola dasar untuk Latihan Dasar Hi-hat, Snare Drum dan Bass Drum
Latihan 1
La
tihan 2
Seni Musik Non Klasik 424
Latihan 3
Latihan 4
Latihan 5
Latihan 6
Notasi 9, Latihan Dasar Hi-hat, Snare Drum dan Bass Drum
5.1.5. Latihan Tanda Berhenti
Latihan tanda berhenti ini bisa dikategorikan sesuai dengan kelompok
harga notnya, antara lain adalah :
5.1.5.1. latihan tanda berhenti pada not seperempat (1/4)
Latihan 1
Seni Musik Non Klasik 425
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 10. latihan tanda berhenti pada not seperempat (1/4)
5.1.5.2. latihan tanda berhenti pada not seperdelapan (1/8)
Latihan 5
Latihan 6
Seni Musik Non Klasik 426
Latihan 7
Latihan 8
Notasi 11, latihan tanda berhenti pada not seperdelapan (1/8)
5.1.5.3. latihan tanda diam pada not seperenambelas (1/16)
Latihan 9
Latihan 10
Latihan 11
Latihan 12
Notasi 12, latihan tanda berhenti pada not seperenambelas (16).
Seni Musik Non Klasik 427
5.2. Latihan Variasi
Bermacam macam variasi bisa dilatih untuk masing-masing unit drum,
misalnya :
5.2.1. latihan variasi pada bass drum
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 13, latihan variasi pada bass drum
5.2.2. latihan variasi pada hi-hat
Latihan 1
Latihan 2
Seni Musik Non Klasik 428
Latihan 3
Latihan 4
Latihan 5
Notasi 14, latihan variasi pada hi-hat
5.2.3. latihan variasi pada cymbal
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Seni Musik Non Klasik 429
Latihan 5
Notasi 15, latihan variasi pada cymbal
5.3. Latihan Irama dan Variasinya.
Latihan 1
Latihan 2
Seni Musik Non Klasik 430
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 16, Latihan Irama dan Variasinya.
5.4. Latihan Aksen
Latihan aksen ini bisa dikategorikan sesuai dengan kelompok harga
notnya, antara lain adalah
5.4.1. latihan aksen pada not ¼ (seperempat)
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Seni Musik Non Klasik 431
Latihan 4
Notasi 17, latihan aksen pada not ¼ (seperempat)
5.4.2. Latihan aksen pada not 1/8
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 18, Latihan aksen pada not 1/8
Seni Musik Non Klasik 432
5.4.3. Latihan Aksen pada Not 1/16
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 19, Latihan Aksen pada Not 1/16
5.4.4. Latihan Aksen pada Not Gabungan
Latihan 1
Seni Musik Non Klasik 433
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 20, Latihan Aksen pada Not Gabungan
6. BERMAIN SOLO DRUM
Setelah mempelajari latihan-latihan dasar, selanjutnya akan
diperkenalkan pada tingkat ”Bermain Solo Drum”. Disini ditekankan agar
pemain dapat memainkan semua bagian drum dengan baik. Karena,
permainan solo drum ini merupakan perpaduan bunyi dari semua bagian-
bagian drum, sehingga akan menghasilkan suara yang bervariasi. Pada
bagian ini akan anda pelajari teknik-teknik dan latihan dalam bermain solo
drum.
6.1. Improvisasi
Improvisasi adalah sebuah permainan pada sebuah not (bar) dengan
variasi yang anda buat sensiri tanpa mengubah bentuk dasar ritme/
temponya.
Contoh:
Seni Musik Non Klasik 434
Notasi 21, contoh improvisasi
Pola ritmenya seperti berikut.
Notasi 22, pola ritme improvisasi
6.2. Latihan Variasi Solo Drum.
6.2.1. Variasi solo drum pada birama 1/4
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Seni Musik Non Klasik 435
Latihan 4
Notasi 23, latihan variasi solo drum pada birama 1/4
6.2.2. Variasi solo drum pada birama 1/8
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 24, latihan variasi solo drum pada birama 1/8
Seni Musik Non Klasik 436
6.2.3. Variasi solo drum pada birama 1/16
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 25, latihan variasi solo drum pada birama 1/16
6.3. Latihan Notasi.
6.3.1. Latihan notasi.pada birama ¼
Latihan 1
Seni Musik Non Klasik 437
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 26, Latihan notasi.pada birama ¼
6.3.2. Latihan notasi.pada birama 1/8
Latihan 1
Latihan 2
Seni Musik Non Klasik 438
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 27. latihan notasi.pada birama 1/8
6.3.3. Latihan notasi.pada birama 1/16.
Latihan 1.
Latihan 2
Latihan 3
Seni Musik Non Klasik 439
Notasi 28, Latihan notasi.pada birama 1/16
6.4. Latihan Pukulan.
Untuk menghasilkan suara yang benar-benar mantap, maka diperlukan
latihan pukulan yang cukup matang. Karena penguasaan teknik memukul
dalam bermain drum merupakan kunci keberhasilan dalam belajar
bermain drum. Dibawah ini adalah latihan pukulan, jenis pukulan serta
teknik pukulan yang perlu dilatih untuk memantapkan pukulan.
6.4.1. Pukulan pada tangan kanan
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 29, latihan pukulan pada tangan kanan
Seni Musik Non Klasik 440
6.4.2. Pukulan pada tangan kiri.
Pukulan ini ditandai dengan huruf “L” diatas not
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 30, pukulan pada tangan kiri
6.4.3. Jenis-jenis pukulan Dasar ( Pukulan Rudymen )
6.4.3.1. Single Stroke
Notasi 31, pukulan single stroke
Seni Musik Non Klasik 441
6.4.3.2. Double Stroke
Notasi 32, pukulan double stroke
6.4.3.3. Single Paradiddle
Notasi 33, pukulan single paradiddle
6.4.3.4. Double Paradiddle
Notasi 34, Double Paradiddle
6.4.4. Teknik Pukulan.
6.4.4.1. Flame
Adalah teknik dua pukulan yang hampir bersamaan suaranya, yaitu not
kecil yang dimainkan pukulannya lebih lemah (lebih pelan) dan pada not
aslinya lebih keras dan tegas. Perhatikan notasi dibawah ini.
Seni Musik Non Klasik 442
: Tangan kanan memukul lemah, tangan kiri memukul keras (Left
Flam)
: Tangan kiri memukul lemah, tangan kanan memukul keras
(Right Flam)
Notasi 35, pukulan flame
Flame bisa dimainkan / divariasikan pada snare drum, tom-tom, large
tom-tom, hi-hat dan cymbal.
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 36, latihan pukulan Flame
Seni Musik Non Klasik 443
Masih banyak sekali bentuk-bentuk latihan flame ini,anda bisa
mengembangkan sendiri.
6.4.4.2. Drag
Adalah teknik pukulan dimana dua not yang mengikuti aslinya dipukul
lemah (pelan),sedangkan not aslinya dipukul / dimainkan keras dan
tegas. Perhatikan notasi dibawah ini.
: Pukulan lemah dua kali pada tangan kanan diikuti pukulan keras
pada tangan kiri
: Pukulan lemah dua kali pada tangan kiri diikuti pukulan keras
pada tangan kanan.
Notasi 37, pukulan Drag
Latihan pukulam drag ini bisa anda latih serupa pada pukulan flame.
Silakan anda latih dan dikembangkan sendiri.
6.4.4..3. Ruff
Adalah teknik pukulan dimana terdapat tiga not kecil yang berada
didepan not aslinya dipukul / dimainkan pelan, sedangkan not aslinya
dimainkan keras dan tegas. Perhatikan notasi berikut.
Seni Musik Non Klasik 444
Tiga not yang dipukul lemah biasanya dimainkan dengan dua tangan.
Contoh
Notasi 38, pukulan Ruff
6.4.5. Variasi Pukulan pada Snare dan Bass Drum.
Bass drum pun bisa dimainkan dengan variasi seperti halnya snare drum.
Perhatikan contoh dibawah ini.
Notasi 39, contoh variasi pukulan pada Snare dan Bass Drum
Apabila anda latihan dengan menggunakan double pedal (kiri dan kanan),
maka anda bisa melakukan latihan seperti dibawah ini.
Notasi 40, contoh variasi pukulan pada Snare dan Bass Drum dengan double pedal
6.4.6. Variasi Pukulan pada Hi-hat atau Cymbal
Latihan 1
(Pukulan pada Cymbal)
Seni Musik Non Klasik 445
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Latihan 5
(Pukulan pada Hi-hat)
Latihan 6
(Pukulan pada Hi-hat)
Notasi 41, latihan variasi pukulan pada Hi-hat atau Cymbal
Seni Musik Non Klasik 446
6.5. Triol/ Triplet.
Triol/Triple adalah sebuah pukulan ganda tiga dalam birama 4/4, setiap
ketukannya terdapat tiga buah not yang masing-masing bernilai 1/4.
perhatikan cotoh berikut ini.
Notasi 42, contoh pukulan Triol/ Triplet
6.5.1. Latihan Aksen pada Triol/Trplet
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Seni Musik Non Klasik 447
Latihan 4
Notasi 43, latihan aksen pada Triol/Trplet
6.5.2. Latihan Triol pada Cymbal
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 3
Notasi 44, latihan Triol pada Cymbal
Seni Musik Non Klasik 448
6.6. Fill-In
Fill-in merupakan pukulan variasi untuk mengisi kekosongan sebagai
suatu sisipan dalam lagu keberadaan fill-in ini akan menambah suasana
lagu menjadi lebih hidup. Bentuk-bentuk fill-in bermacam macam, hal ini
juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan keterampilan dari si pemain
juga. Namun sebagai acuan dalam berlatih maka bentuk-bentuk fill-in
dibawah ini bisa anda pelajari dan selanjutnya silahkan anda
kembangkan sesuai dengan kemampuan anda.
6.6.1. Pola Dasar A
Notasi 45, pola dasar A pada Fill-il-n
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Seni Musik Non Klasik 449
Latihan 4
Latihan 5
Latihan 6
Latihan 7
Latihan 8
Notasi 46, latihan fill-in pada pola dasar A
6.6.2. Pola Dasar B
Notasi 47, contoh fill-in pada pola dasar B
Seni Musik Non Klasik 450
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Latihan 5
Latihan 6
Seni Musik Non Klasik 451
Latihan 7
Latihan 8
Notasi 48, latihan fill-in pada pola dasar B
7. Pengenalan Gaya
Perkembangan musik dewasa ini amatlah pesat, sehingga banyak
tercipta irama-irama musik yang beraneka ragam bentuk serta pola
ritmenya. Sebagai seorang pemain drum amatlah penting mengenal dan
bahkan mempelajari irama-irama musik yang ada. Dalam buku ini
disajikan beberapa jenis irama yang sudah sangat dikenal.
7.I. Irama 8 Beat
pola dasar
Notasi 49, pola dasar 8 beat
Seni Musik Non Klasik 452
7.2. Irama 12 Beat
Pola Dasar
Notasi 50, pola dasar 12 beat
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Seni Musik Non Klasik 453
Latihan 4
Notasi 51, latihan style 12 beat
7.3. Irama 16 Beat
Pola Dasar
Notas i 52, pola dasar 16 beat.
Latihan 1
Seni Musik Non Klasik 454
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 53, latihan style 16 beat
7.4. Irama 6/8
Pola Dasar
Notasi 54, pola dasar irama 6/8
Seni Musik Non Klasik 455
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 55, latihan irama 6/8
7.5. Irama Bossanova
Pola Dasar
Notasi 56, pola dasar irama Bossanova
Seni Musik Non Klasik 456
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Latihan 4
Notasi 57, latihan irama Bossanova
7.6. Irama Cha-cha
Pola Dasar
Seni Musik Non Klasik 457
Notasi 58, pola dasar irama Cha-Cha
7.7. Irama Samba 1
Pola Dasar
Notasi 59, pola dasar irama Samba 1
Latihan 1
Latihan 2
Latihan 3
Notasi 60, latihan irama Samba 1
Seni Musik Non Klasik 458
7.8. Irama Waltz
Pola Dasar
Notasi 61, pola dasar irama Waltz
7.9. Irama Keroncong
Pola Dasar
Notasi 62, pola dasar iram a Keroncong
7.10. Irama Dangdut.
Pola Dasar
Seni Musik Non Klasik 459
Notasi 63, pola dasar irama Dangdut
8. ETUDE
Etude adalah komposisi musik yang dipersiapkan dengan tujuan untuk
melatih keterampilan permainan alat musik.. Dalam permainan etude ini
sudah merupakan rangkaian dari beberapa teknik. Dibawah ini disajikan
beberapa etude untuk anda pelajari.
Etude 1.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 64, Etude 1
Seni Musik Non Klasik 460
Etude 2.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 65, Etude 2
Etude 3.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 66, Etude 3
Etude 4.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 67, Etude 4
Seni Musik Non Klasik 461
Etude 5.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 68, Etude 5
Etude 6.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 69, Etude 6
Etude 7.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 70, Etude 7
Seni Musik Non Klasik 462
Etude 8.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 71, Etude 8
Etude 9.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 72 , Etude 9
Seni Musik Non Klasik 463
Etude 10.
(Etude dengan Snare Drum)
Notasi 73, Etude 10
Etude 11.
(Etude dengan Snare Drum)
Seni Musik Non Klasik 464
Notasi 74, Etude 11
Etude 12.
(Etude dalam irama bossanova)
Seni Musik Non Klasik 465
Notasi 75, Etude 12
Etude 13.
(Etude dalam irama 8 Beat)
Notasi 76, Etude 13
Seni Musik Non Klasik 466
Etude 14.
(Etude dalam irama 16 Beat )
Notasi 77, Etude 14
Etude 15.
(Etude dalam irama Samba)
Seni Musik Non Klasik 467
Notasi 78, Etude 15
Etude 16.
( Etude dalam irama 12/8 )
Seni Musik Non Klasik 468
Notasi 79,Etude 16
Seni Musik Non Klasik 469
Etude 17.
( Etude dalam irama Waltz )
Notasi 80, Etude 17
Seni Musik Non Klasik 470
9. BUAH MUSIK
9.1. Irama 8 Beat.
Seni Musik Non Klasik 471
Notasi 81, Buah Musik 1, Irama 8 Beat. “Mimpi Sedih”
Seni Musik Non Klasik 472
9.2. Keroncong
Seni Musik Non Klasik 473
Notasi 82, Buah Musik 2, Irama Keroncong. “Bengawan Solo “
9.3.Bossanova
Seni Musik Non Klasik 474
Seni Musik Non Klasik 475
Notasi 83, Buah Musik 3, Irama Bossanova. “Pasrah “
9.4. Dangdut
Seni Musik Non Klasik 476
Seni Musik Non Klasik 477
Seni Musik Non Klasik 478
Notasi 84, Buah Musik 4, Irama Dangdut. “Miasantika “
Seni Musik Non Klasik 479
BAB 10
Dasar-dasar M I D I
MIDI (Musical Instrument Digital Interface) merupakan teknologi
yang memungkinkan adanya komunikasi antar instrumen musik elektronik
(pada umumnya adalah instrumen musik keyboard), yakni sebuah
instrumen musik mampu mengendalikan instrumen musik yang lain.
Konsep kerja MIDI pada instrumen keyboard tidak ubahnya seperti
sebuah komputer. Personal Computer (PC) yang kita kenal terdiri dari
CPU, monitor, dan keyboard controller yang masing-masing terpisah dan
mempunyai fungsi tersendiri.
Keyboard controller berfungsi untuk mengendalikan apa saja yang
diinginkan pengguna komputer, CPU sebagai “otak” komputer yang
menerima perintah dari keyboard controller, sedangkan layar monitor
untuk memonitor segala hasil kerjaan yang telah dilakukan pengguna
komputer.
Gambar 156. Personal Komputer (PC)
Ibarat sebuah komputer, instrumen keyboard digital terdiri dari
controller (berupa tuts), sumber bunyi (sound modul/ generatorl), dan
amplifier, sebagai penguat sumber suara, dan speaker sebagai monitor
bunyi. Bentuk fisik ketiganya bisa terpisah seperti pada komputer ataupun
menjadi satu dalam satu unit instrumen keyboard. Melalui jack MIDI
ketiga instrumen yang terpisah tersebut dapat berkomunikasi.
Seni Musik Non Klasik 480
Controller/ keyboard
Sound Modul/
Tone Generator
Amplifier
Loud Speaker
Loud Speaker
Gambar 157. Susunan Peralatan pada Keyboard
Gambar di atas menerangkan bahwa ketika tuts yang terdapat pada
controller di tekan akan menghasilkan sebuah perintah kepada sound
modul/ generator untuk memproduksi siknyal suara. Kemudian s iknyal
suara tersebut diperkuat agar terdengar lebih keras oleh amplifier yang
bermuara pada Loud Speaker yang biasanya disajikan secara stereo.
Seni Musik Non Klasik 481
Pada perkembangannya sebuah instrumen musik keyboard
(khususnya jenis keyboard accompaniment) sudah terdiri dari sound
modul, amplifier, loud speaker, dan tentu saja controller.
Controller/ keyboard+Sound modul+Amplifier+Speaker
Gambar 158. Keyboard Accompaniment
Gambar 159. keyboard accompaniment
Contoh gambar Controller:
Gamba 160. Controller 1
Gamba 161. Controller 2
Seni Musik Non Klasik 482
Gambar 162. Controller Tiup
Contoh Sound module:
Gambar 163. Sound module
Seni Musik Non Klasik 483
Gambar 164. Sound module Gitar dan perlengkapannya
Dengan menggunakan kabel MIDI, antar keyboard dengan penghasil
suara akan berkomunikasi/ berhubungan. Ujud komunikasi berupa
perintah/ pesan MIDI yang dikirim dari suatu alat ke alat yang lain. Jadi
MIDI itu sendiri tidak ada suaranya
MIDI CONNECTION
KEYBOARD A
(Controller)
Midi Out
Midi Out In
KEYBOARD B
(Sound module)
Seni Musik Non Klasik 484
Keterangan:
Keyboard A berperan sebagai Controller terhadap keyboard B.
Dan key-board B berperan sebagai sound module. Sehingga ketika tuts
pada keyboard A ditekan, maka suara yang keluar ada pada keyboard B
sesuai nada yang dimainkan pada keyboard A.
Sedangkan hal yang sebaliknya bisa dilihat pada gambar dibawah ini.
KEYBOARD A
(Sound module)
Midi In Out
Midi Out In
KEYBOARD B
(Controller)
Gambar 166.Bagan koneksi MIDI
Seni Musik Non Klasik 485
BAB XI
Menulis Notasi Dengan Encore
Encore adalah program aplikasi komputer untuk menulis atau
membuat tulisan atau notasi musik yang lebih dikenal sebagai notasi
balok. Prinsip penggunaan program ini pada dasarnya sama dengan
aplikasi yang lain, misalnya pengolah kata MS Word, pengolah angka
Excel, dan lain-lain. Pada program-program tersebut data yang diolah
berupa data digital. Demikian juga Encore mengolah data digital.
Data pada program aplikasi encore dapat dilihat sekaligus dapat
didengarkan. Jadi dapat dikatakan data pada encore adalah audio visual,
sehingga dapat digunakan untuk membantu pembelajaran musik.
Disamping dapat melihat notasinya, suara dari notasi yang tertulis dapat
pula didengarkan, melalui fasilitas loud speaker dari PC yang terhubung
ke sound card. Warna suara atau instrumen musik yang menyuarakan
notasi dapat dipilih melalui staff sheet. Namun demikian bukan berarti
bahwa encore adalah program pengolah suara, karena suara yang
dihasilkan adalah data perintah yang dikirimkan dalam format MIDI
(Musical Instrumen Digital Interface). Program pengolah suara ada
tersendiri misalnya Sound Force, Cool Edit, Cubase dan lain-lain.
Poin dasar yang perlu dipahami
1. Membuka – menutup program/soft ware encore.
2. Membuka file baru, menyimpan, membuka file lama.
3. Praktek menulis, ditentukan lagunya diberi teks, kemudian
diterangkan alurnya. Diantaranya:
• Membuat single staff.
• Menulis judul lagu, komposer, arransemen dll.
• Menentukan tanda mula.
• Menentukan tanda birama.
• Cara menulis notasi dalam encore.
• Menambah mengurangi birama.
Seni Musik Non Klasik 486
• Kasus-kasus lain sesuai kebutuhan waktu menuliskan
lagu.
4. Mencetak dokumen.
Membuka Program Encore
§ Arahkan cursor anda pada gambar (short cut) program software
Encore seperti yang tertera pada gambar di bawah ini:
§ Klik dua kali (cepat) apabila short cut tersebut terletak pada
layar lebar (screen) monitor.
§ Klik satu kali apabila short cut tersebut terletak pada baris yang
terletak pada bagian bawah layar (screen) monitor.
Seni Musik Non Klasik 487
Perbesar Gambar (Maximize)
§ Tutup (close) gambar keyboard dengan cara klik pada sudut
kiri atas gambar keyboard.
§ Perbesar (maximize) format software encore dengan cara klik
pada setiap gambar yang terletak pada sudut kanan atas.
Format Garis Paranada
§ Klik menu “File” yang terletak di sudut kiri atas.
§ Pilih ”New”, sehingga akan keluar gambar seperti yang
tertera di bawah ini:
Seni Musik Non Klasik 488
Keterangan :
§ Piano : untuk membuat paranada format piano.
§ Single staves untuk membuat paranada format tunggal.
§ Piano-vocal untukmembuat paranada format piano dan vocal
§ Staves per system untuk menentukan jumlah paranada dalam
satu kesatuan baris
§ System per page untuk menentukan jumlah baris paranada
dalam satu halaman.
§ Measure per system untuk menentukan jumlah birama dalam
satu baris paranada.
Menulis Judul Lagu
§ Klik “Score”, lalu pilih/ klik “Text Elements”, maka akan
terlihat gambar sebagai berikut:
Seni Musik Non Klasik 489
§ Score Title untuk menulis judul lagu.
§ Instruction (left title) untuk informasi yang diperlukan.
§ Composer (right title) untuk menulis nama komponis.
Menentukan Tanda Kunci
Garis paranada secara otomatis akan tertera tanda kunci G. Untuk
menentukan tanda kunci, klik kata “Notes” sehingga berganti
dengan kata “Clef”. Perhatikan gambar di bawah ini:
Tanda kunci dapat diganti sesuai yang dikehendaki dengan cara
klik gambar tanda kunci yang dimaksud, sehingga cursor akan
bergambar tanda kunci yang telah dipilih. Geser cursor dan klik
pada tempat di mana tanda kunci tersebut diletakkan.
Menentukan Tanda Sukat
Pilih Measures, kemudian pilih dengan cara klik “Time Signature”
sehingga akan muncul “Set Time Signature” yang berisi berbagai
pilihan birama. Perhatikan gambar berikut:
Seni Musik Non Klasik 490
Pilih tanda sukat yang dikehendaki, apabila dikehendaki tanda
sukat yang lain klik “Other”, kemudian isi tanda sukat yang
dimaksud.
Tempo
Pastikan cursor terletak pada birama yang akan diberi garis
birama yang dimaksud.
Klik “Measure”, kemudian klik “Tempo”. Maka akan keluar menu
seperti berikut :
From Measure adalah awal birama yang akan diatur temponya.
“to” adalah birama terakhir yang dikenai tempo tersebut. Tempo
dapat diganti sesuai yang dikehendaki.
Menentukan Tanda Mula
Klik Measures, kemudian klik Key Signature sehingga akan tertera
gambar seperti di bawah ini:
Seni Musik Non Klasik 491
Menuliskan Notasi
Pilih windows kemudian klik pellete dan pilih notes, maka akan
muncul seperti dalam gambar berikut :
Klik notasi yang dikehendaki, geser cursor yang telah berganti
gambar dari notasi terpilih, letakkan pada garis paranada sesuai
dengan tinggi rendah nada yang dikehendaki.
Seni Musik Non Klasik 492
Mengatur Arah Tangkai Notasi
Arah tangkai notasi akan teratur secara otomatis sesuai
dengan aturan yang ada. Namun apabila ada kehendak lain
untuk mengatur arah tangkai adalah sebagai berikut :
§ Blok notasi yang akan diatur arah tangkainya, lalu klik
“Notes”, kemudian pilih/ klik “Stems”. Di sini akan ada tiga
pilihan arah tangkai, yakni naik (Up), turun (Down), dan
normal (sesuai aturan).
Legato
§ Blok notasi-notasi yang akan dilegato.
§ Klik “Notes”, kemudian pilih/ klik “Tie Notes” sehingga
tertera tanda legato pada notasi-notasi yang dipilih.
Membuat Kamar Birama
§ Pastikan cursor terletak pada birama sebagai kamar.
§ Klik “Measures”, pilih/ klik kata “Ending” maka akan muncul
gambar dialog seperti berikut:
Keterangan :
First abila birama yang dipilih sebagai kamar satu. Second
apabila birama yang dipilih sebagai kamar dua..
Seni Musik Non Klasik 493
Tanda Kalimat Lagu
§ Pastikan cursor terletak pada birama yang akan diberi
tanda kalimat lagu.
§ Klik “Measures”, pilih/ klik kata “Coda Phrases” maka akan
muncul gambar dialog seperti berikut:
§ Pilih/ klik salah satu menu sesuai dengan yang
diharapkan, lalu klik “OK”.
Nomor Birama
Klik “Measures”, pilih/ klik kata “Measure Numbers” maka akan
muncul gambar seperti berikut:
Keterangan :
Penambahan nomor birama dapat dilakukan setiap birama, yakni
dengan mengisi angka pada samping kata “Every”. Pada contoh
di atas adalah pemberian nomor birama pada setiap satu birama.
Seni Musik Non Klasik 494
Menuliskan Syair
Klik “Windows” pada menu atas, kemudian geser cursor pada
pallete. Geser cursor ke kanan pilih/ klik kata “Graphics”. Maka
akan muncul gambar seperti di bawah ini:
pilih L kemudian klik pada notasi pertama, untuk suku kata
berikutnya tekan “space” pada keyboard computer.
Membuat Partitur Untuk Aransemen
Klik File, new, maka terdapat gambar seperti berikut ini:
Gambar tersebut harus diisi sesuai dengan kebutuhan kita dalam
aransemen. Dot (.) yang terdapat pada piano dipindahkan ke Single
Staves sehingga akan muncul gambar:
Seni Musik Non Klasik 495
Baris ke-4 diganti dengan tanda kunci F, sedangkan baris ke-6 dan 7
diganti dengan tanda kunci untuk perkusi. Untuk mengubah tanda kunci
tersebut Klik tanda yang terdapat pada gambar kunci kemudian dipilih
dari gambar kunci berikut ini:
Tanda tersebut di klik kemudian curcor di klik ke baris 6 dan 7 sehingga
susunan akan menjadi seperti dibawah ini:
Seni Musik Non Klasik 496
Untuk memperjelas posisi setiap instrumen perlu diberikan tulisan. Klik
windos, staff sheet atau tekan control dan garis miring (/).
Setiap nomor ditulis sesuai dengan urutan d alam partitur, chanel diisi
sesuai dengan instrumen, khusus perkusi/drum adalah 10 misalnya:
Seni Musik Non Klasik 497
Setelah dilulis setiap instrumen akan muncul partitur seperti ini:
Untuk melihat partisi dari masing-masing instrumen, misalnya hanya ingin
menampilkan bagian vokal, blok staff vocal, klik File, Extract Part, akan
muncul
Tekan ok maka akan muncul partisi yang diinginkan:
Untuk melihat partisi yang lain, langkahnya sama dengan langkah di atas.
Seni Musik Non Klasik 498
2. Membuat Midi File Dengan Cakewalk Pro Audio 9
Membuat komposisi musik atau sekedar iringan lagu dapat
dilakukan dengan software musik sequenser. Software musik sequenser
ada beberapa diantaranya Master track, Sonar, ataupun Cakewalk. Di
antara software tersebut Cakewalk yang paling populer dan banyak
digunakan. Saat ini seri Cakewalk yang beredar adalah Cakewalk Pro
Audio 9. Mengingat software ini yang paling banyak dikenal, maka
Cakewalk diangkat dalam materi MIDI.
Sebelum mengoperasikan cakewalk, computer harus terhubung
dengan keyboard controller, atau dengan keyboard multi timbral. Cara
menghubungkan keyboard dengan computer menggunakan kabel MIDI.
Port yang menggunakan kabel Printer ke USB.
Port yang menggunakan kabel MIDI ke komputer
Gambar di atas menunjukkan port untuk menghubungkan keyboard
ke komputer.
2.1 Mengenal Icon Cake walk pro Audio 9.
Untuk dapat bekerja dengan program ini computer harus dipastikan
sudah terinstal Software Cake Walk.
Seni Musik Non Klasik 499
Simbol dari Cake walk adalah seperti gambar di atas. Icon tersebut
biasanya diletakkan pada desktop.
2.2 Memulai bekerja dengan Cakewalk
Untuk memulai bekerja dengan cake walk, kita dapat mencari
pada Start, kemudian pada menu All Program kita pilih Cake Walk.
Apabila sudah dibuat shortcut pada desktop kita tinggal mengarahkan
kursor dengan mouse pada icon tersebut kemudian dobel klik. Atau jika
tidak dibuat shortcut icon pada desktop, Maka muncullah tampilan
software Cakewalk pro audio 9 seperti berikut:
2.3 Membuat file baru
Untuk membuat file baru, klik File pada menu paling kiri, kemudian
klik new maka akan muncul tampilan sebagai berikut:
Seni Musik Non Klasik 500
Pada pilihan New Project file, pilih salah satu yang dikehendaki,
atau pilih saja pilihan normal. Maka berikutnya akan muncul track atau
jalur yang akan dipergunakan untuk merekam data-data MIDI file kita.
Dalam merekam data MIDI ini dilakukan seperti system perekaman
analog, yakni merekam suara track per track. Yakni setelah track pertama
kita isi, baru kita melanjutkan merekam pada track kedua dan seterusnya.
Pada gambar berikut tampak apabila pilihan normal di atas kita pilih atau
kita OK.
2.4 Menentukan Source.
Untuk dapat merekam data terlebih dahulu kita harus menentukan
sumber atau source berupa MIDI atau Wave. Pilihan MIDI untuk
merekam data-data MIDI, Pilihan Wave untuk merekam Audio. Caranya
dobel klik pada source maka akan muncul pilihan seperti gambar berikut:
Seni Musik Non Klasik 501
Pada pilihan source pilih MIDI.
2.5 Menentukan Chanel
Memilih chanel pada track sebagai berikut:
Misalnya track 1 ditentukan untuk chanel 1 maka pilih pada pilihan chanel
1. Dengan demikian pada track 1 data yang akan direkam untuk chanel 1
saja. Hal ini perlu dipahami karena dimungkinkan track 1 di set untuk
chanel yang lain. Namun untuk memudahkan bekerja sebaiknya diset
saja track 1 untuk chanel 1, track 2 chanel 2 track 3 chanel 3 dan
seterusnya.
Chanel selanjutnya akan berhubungan dengan pilihan register
suara yang dikehendaki. Misalnya chanel 1 untuk suara Piano, chanel 2
untuk Bass gitar, chanel 3 organ, chanel 4 gitar, dan sebagainya. Kecuali
Seni Musik Non Klasik 502
untuk chanel 10 dan 16, sudah ditetapkan untuk perkusi, sehingga bila
akan menentukan drum pada track 5, maka chanel harus 10 atau 16.
2.6 Menentukan Instrumen musik.
Setelah menentukan chanel selanjutnya kita tentukan instrumen yang
akan dipilih pada chanel tersebut. Misalnya track 1, chanel 1, instrumen
grand piano. Pada track properties gambar di atas, klik instrument. Dari
situ akan muncul pilihan seperti gambar berikut:
Pada pilihan di atas pilih port/chanel, pilih 1, untuk pilihan uses instrument
pilih General Midi. Setelah itu kita klik OK. Tampilan kembali pada Track
properties:
Untuk menentukan istrumen yang akan digunakan kita klik browser
gambar panah di atas. Selanjutnya akan muncul tampilan berikut:
Seni Musik Non Klasik 503
Pilih instrumen yang dikehendaki dengan meng-klik pilihan nama
instrumen. Apabila ingin menampilkan pilihan instrumen sesuai dengan
namanya dapat mengetik nama instrumen pada Show Patches
Containing the Text di atas. Misalnya ketik piano, maka akan muncul
semua jenis instrumen piano yang tersedia. Setelah menentukan pilihan
register suara, dapat memulai merekam data MIDI dari track tersebut.
2.7 Merekam data MIDI
Sebelum mulai merekam aktifkan terlebih dahulu huruf R seperti yang
ditunjukkan tanda panah. Setelah menyala merah berarti track tersebut
sudah siap merekam data. Klik tombol rekam pada gambar record seperti
merekam tape recorder biasa. Seperti gambar berikut:
Seni Musik Non Klasik 504
Kemudian mainkan musik yang akan direkam. Jika telah selesai
memainkan musik hentikan merekam dengan tombol stop seperti pada
tape recorder. Kemudian putar kembali (play back) seperti biasa untuk
mengecek.
Setelah track 1 terisi kemudian dilanjutkan dengan merekam track yang
lain dengan cara seperti pada waktu merekam track 1 tadi. Harap diingat
huruf R pada Track yang diaktifkan adalah yang akan merekam, jangan
sampai uang diaktifkan lebih dari satu track karena pada track yang aktif
tersebut semua data akan terekam. Demikian proses ini dieteruskan
sampai berapa banyak instrumen atau track yang akan direkam sesuai
kebutuhan.
2.8 Menyimpan data MIDI
Setelah data direkam sesuai dengan instrumen, chanel dan track yang
dikehendaki, data sebaiknya disimpan dalam format MIDI file, seperti
gambar berikut:
Buka menu File maka akan muncul tampilan seperti di atas. Pada pilihan
File name, tuliskan judul lagu yang akan disimpan. Pada pilihan Save as
type pilih MIDI Format 1 . Dengan demikian data yang tersimpan akan
berupa data MIDI. Seperti contoh di atas, filenya akan menjadi More
Seni Musik Non Klasik 505
Than I Can Say.mid. File ini selanjutnya dapat dibuka pada setiap soft
ware yang mempunyai type file mid. Dapat juga dibuka pada keyboard
yang mempunyai fasilitas disc drive, flash drive dan sebagainya, dengan
type file midi, dan standart MIDI file.
Seni Musik Non Klasik 506
BAB XII
Membuat File Midi
1. Membuat Midi File Dengan Cakewalk Pro Audio 9
Membuat komposisi musik atau sekedar iringan lagu dapat
dilakukan dengan software musik sequenser. Software musik sequenser
ada beberapa diantaranya Master track, Sonar, ataupun Cakewalk. Di
antara software tersebut Cakewalk yang paling populer dan banyak
digunakan. Saat ini seri Cakewalk yang beredar adalah Cakewalk Pro
Audio 9. Mengingat software ini yang paling banyak dikenal, maka
Cakewalk diangkat dalam materi MIDI.
Sebelum mengoperasikan cakewalk, computer harus terhubung
dengan keyboard controller, atau dengan keyboard multi timbral. Cara
menghubungkan keyboard dengan computer menggunakan kabel MIDI.
Port yang menggunakan kabel Printer ke USB.
Port yang menggunakan kabel MIDI ke komputer
Gambar di atas menunjukkan port untuk menghubungkan keyboard ke
komputer.
2.1 Mengenal Icon Cake walk pro Audio 9.
Untuk dapat bekerja dengan program ini computer harus dipastikan
sudah terinstal Software Cake Walk.
Seni Musik Non Klasik 508
Simbol dari Cake walk adalah seperti gambar di atas. Icon tersebut
biasanya diletakkan pada desktop.
2.2 Memulai bekerja dengan Cakewalk
Untuk memulai bekerja dengan cake walk, kita dapat mencari
pada Start, kemudian pada menu All Program kita pilih Cake Walk.
Apabila sudah dibuat shortcut pada desktop kita tinggal mengarahkan
kursor dengan mouse pada icon tersebut kemudian dobel klik. Atau jika
tidak dibuat shortcut icon pada desktop, Maka muncullah tampilan
software Cakewalk pro audio 9 seperti berikut:
2.3 Membuat file baru
Untuk membuat file baru, klik File pada menu paling kiri, kemudian
klik new maka akan muncul tampilan sebagai berikut:
Seni Musik Non Klasik 509
Pada pilihan New Project file, pilih salah satu yang dikehendaki,
atau pilih saja pilihan normal. Maka berikutnya akan muncul track atau
jalur yang akan dipergunakan untuk merekam data-data MIDI file kita.
Dalam merekam data MIDI ini dilakukan seperti system perekaman
analog, yakni merekam suara track per track. Yakni setelah track pertama
kita isi, baru kita melanjutkan merekam pada track kedua dan seterusnya.
Pada gambar berikut tampak apabila pilihan normal di atas kita pilih atau
kita OK.
2.4 Menentukan Source.
Untuk dapat merekam data terlebih dahulu kita harus menentukan
sumber atau source berupa MIDI atau Wave. Pilihan MIDI untuk
merekam data-data MIDI, Pilihan Wave untuk merekam Audio. Caranya
dobel klik pada source maka akan muncul pilihan seperti gambar berikut:
Seni Musik Non Klasik 510
Pada pilihan source pilih MIDI.
2.5 Menentukan Chanel
Memilih chanel pada track sebagai berikut:
Misalnya track 1 ditentukan untuk chanel 1 maka pilih pada pilihan chanel
1. Dengan demikian pada track 1 data yang akan direkam untuk chanel 1
saja. Hal ini perlu dipahami karena dimungkinkan track 1 di set untuk
chanel yang lain. Namun untuk memudahkan bekerja sebaiknya diset
saja track 1 untuk chanel 1, track 2 chanel 2 track 3 chanel 3 dan
seterusnya.
Chanel selanjutnya akan berhubungan dengan pilihan register
suara yang dikehendaki. Misalnya chanel 1 untuk suara Piano, chanel 2
untuk Bass gitar, chanel 3 organ, chanel 4 gitar, dan sebagainya. Kecuali
Seni Musik Non Klasik 511
untuk chanel 10 dan 16, sudah ditetapkan untuk perkusi, sehingga bila
akan menentukan drum pada track 5, maka chanel harus 10 atau 16.
2.6 Menentukan Instrumen musik.
Setelah menentukan chanel selanjutnya kita tentukan instrumen yang
akan dipilih pada chanel tersebut. Misalnya track 1, chanel 1, instrumen
grand piano. Pada track properties gambar di atas, klik instrument. Dari
situ akan muncul pilihan seperti gambar berikut:
Pada pilihan di atas pilih port/chanel, pilih 1, untuk pilihan uses instrument
pilih General Midi. Setelah itu kita klik OK. Tampilan kembali pada Track
properties:
Untuk menentukan istrumen yang akan digunakan kita klik browser
gambar panah di atas. Selanjutnya akan muncul tampilan berikut:
Seni Musik Non Klasik 512
Pilih instrumen yang dikehendaki dengan meng-klik pilihan nama
instrumen. Apabila ingin menampilkan pilihan instrumen sesuai dengan
namanya dapat mengetik nama instrumen pada Show Patches
Containing the Text di atas. Misalnya ketik piano, maka akan muncul
semua jenis instrumen piano yang tersedia. Setelah menentukan pilihan
register suara, dapat memulai merekam data MIDI dari track tersebut.
2.7 Merekam data MIDI
Sebelum mulai merekam aktifkan terlebih dahulu huruf R seperti yang
ditunjukkan tanda panah. Setelah menyala merah berarti track tersebut
sudah siap merekam data. Klik tombol rekam pada gambar record seperti
merekam tape recorder biasa. Seperti gambar berikut:
Seni Musik Non Klasik 513
Kemudian mainkan musik yang akan direkam. Jika telah selesai
memainkan musik h entikan merekam dengan tombol stop seperti pada
tape recorder. Kemudian putar kembali (
play back) seperti biasa untuk
mengecek.
Setelah track 1 terisi kemudian dilanjutkan dengan merekam track yang
lain dengan cara seperti pada waktu merekam track 1 tadi. Harap diingat
huruf R pada Track yang diaktifkan adalah yang akan merekam, jangan
sampai uang diaktifkan lebih dari satu track karena pada track yang aktif
tersebut semua data akan terekam. Demikian proses ini dieteruskan
sampai berapa banyak instrumen atau track yang akan direkam sesuai
kebutuhan.
2.8 Menyimpan data MIDI
Setelah data direkam sesuai dengan instrumen, chanel dan track yang
dikehendaki, data sebaiknya disimpan dalam format MIDI file, seperti
gambar berikut:
Buka menu File maka akan muncul tampilan seperti di atas. Pada pilihan
File name, tuliskan judul lagu yang akan disimpan. Pada pilihan Save as
type pilih MIDI Format 1 . Dengan demikian data yang tersimpan akan
berupa data MIDI. Seperti contoh di atas, filenya akan menjadi More
Seni Musik Non Klasik 514
Than I Can Say.mid. File ini selanjutnya dapat dibuka pada setiap soft
ware yang mempunyai type file mid. Dapat juga dibuka pada keyboard
yang mempunyai fasilitas disc drive, flash drive dan sebagainya, dengan
type file midi, dan standart MIDI file.
Seni Musik Non Klasik 515
DAFTAR PUSTAKA
Allen, W.H. The Music Makers, London: Harrow House, 1979
Asriadi, Derry. Kiat Termudah Belajar Bermain Gitar. Jakarta: Kawan
Pustaka, 2004.
Baines, Anthony. Woodwind Intrument and Their History. London: Faber
and Faber Limited., 1977.
Banoe, Pono. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Barnet, Joe. Guitar Effects. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Beekum, Jan van. Saxologie: Speelstudieboek Voor de Beginnende
Saxofonist. Deel 1 & 2. Hilversum: Harmonia-Uitgave, 1974.
Bundy, George M. The Selmer Elementary Saxophone Instructor.
Amersham, Budks: Halstan & Co., 1966.
Crook, Hal. How to Improvise. Boston: Advance Music,1991.
Coker, Jerry. Improvising Jazz. A Fireside Book. New York: Simon and
Schuster, Inc.,1987.
Concone, G. 50 Lesson de Chant. Opus 9, New York: C.F. Peters.
Cracknell, Debbie. Enjoy Playing Guitar Solos, London: Oxford University
Press, 1998.
Dean, Folk. Melodische–Etudes. Muziekuitgeverij.
DeBellis, Mark. “Music” in Berys Gaut and Dominic Mclver Lopers (ed.),
The Routledge Companion to Aesthetics, London: Routledge,
2001.
Diagram Group. Musical Instruments of The World, An Encyclopedia by
Bantam Book. New York: Paddington Press, 1978.
Djelantik, A.A.M. Estetika: Sebuah Pengantar, Bandung: MSPI dan Arti,
2004.
Dorsey, Jimmy. Saxophone Method. New York: Robin Music Corp., 1968.
Eisenhauer, William, & Charles F. Gouse. Learn to Play The Saxophone
Book 1 & 2. New York: Alfred Music,1977.
Geusau, Alting van. Menyanyi Dengan Baik. Jakarta: PT Aksara, 1986.
Harpster, Richard W. Technique in Singing. London: Collier Macmillan
Publisher, 1970.
Heckman, Tubagus. Keyboard untuk Pemula. Jakarta: Gramedia. 2006.
Hendro SD, Teori Termudah Memainkan Melodi Gitar Lagu-lagu Blues
Rock, Jakarta: Titik Terang, 2002.
_________, Teori Termudah Memainkan Melodi Gitar Lagu-lagu Rock ‘n
Roll. Jakarta: Titik Terang, 2002.
Hughes, Fred. The Jazz Pianist: Left-Hand Voicings and Chord Theory.
Warner Brod Publications, 2002.
Hurd, Michael., The Oxford Junior Companion to Music, Second Edition.
London: Oxford University Press, 1979.
Buku Seni Musik Non Klasik 516
Thahir, Iqbal. Metode Dasar Gitar Klasik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka,
1985.
Jones, George Thaddeus. Music Theory. New York: Harper & Row
Publisher, 1974.
Kindersley, Dorling. Microsoft Musical Instrument. London: Multimedia
Ltd., 1992.
Kodijat, Latifah. Tangganada dan Trinada. Jakarta: Djambatan,1982.
Machlis, Joseph. The Enjoyment of Music. New York: W.W. Norton &
Company., Inc 1963.
Mack, Dieter. Apresiasi Musik Populer, Yogyakarta: Yayasan Pustaka
Nusatama,1995.
Mansour, Sally, “Music in Open Education”, dalam Music Education
Journal, vol 60 no 8, 1974.
Miller, Hugh M. Introduction to Music. New York: Barnes and Noble. Inc.,
1969.
Nurdin, Anwar, Pendidikan Seni Musik SMA Jildi I, Jakarta: Melati, 1994.
Ottman, Robert W. Advanced Harmony. New Jersey Englewood Cliffs:
Prentice-Hall, Inc.1964.
Panofka, E. Vocalises, Paris: Editions Jobert.
Randegger, Alberto. Methode of Singing, New York: G. Schirmer Inc.
Paap, Wouter. Bagaimana Mengerti dan Menikmati Musik , terj. J.A.
Dungga. Jakarta: PT Aksara, 1986.
Peterson, Oscar. Jazz for the Young Pianist. New York: Hansen House.
Poetra, Adjie Esa. 1001 Jurus Menyanyi, Bandung: Mizan, 2006.
Prier, Sj., Karl Edmund. Sejarah Musik jilid 1,2,3,4, Yogyakarta: Pusat
Musik Liturgi, 1992.
Sadie, Stanley (ed.) Grove Dictionary of Music and Musicians, Volume 1-
20. London: Macmillan Publishers, 1980.
--------------------------. Grove Dictionary of Musical Instruments, Volume 1-
3. London: Macmillan Publishers, 1980.
Soewito, M. Teknik Termudah Belajar Olah Vokal. Jakarta: CV Titik
Terang,1996.
Sumardjo, Jakob. Filsafat Seni, Bandung: Penerbit ITB, 2000.
Sieber, Ferdinand. Vokalisen. Leipzig: C.F. Peters.
Syafig, Muhammad. Ensiklopedia Musik Klasik, Yogyakarta: Adicita Karya
Nusa, 2003
Tambayong, Japi. Ensiklopedi Musik. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka.
1992.
Trubitt, Rudy David. Managing MIDI, Alfred Publishing Co.,1992.
Thompson, John. Modern Course for the Piano. The Willis Music.
Taylor, Eric. Music Theory Grade 1-5, The Associated Board of The Royal
Schools of Music,1999.
Turner, Gary and Brenton White. Progressive Lead Guitar, Koala
Publication,1993.
Buku Seni Musik Non Klasik 517
Yamaha Music Foundation. Saxophone Mate Course. Tokyo: Yamaha
Foundation for Music Education, 1973.
Yamaha Music Foundation, Populer Guitar Course, Tokyo: Yamaha
Foundation for Music Education, 1984.
Buku Seni Musik Non Klasik 518
GLOSARIUM
Abreviasi : penyederhanaan penulisan notasi
Accelerando : dipercepat
Adagio : tempo lambat (MM 52-54)
Aksen : tekanan
Aksidental : tanda-tanda dalam musik
Akustik : pengetahuan tentang suara secara fisika
Allegreto : tempo cepat antara 104 – 112.
Allegro : tempo cepat (126 – 138)
Alto : jenis suara wanita rendah
Ambitus : jangkauan nada
Amplifier : perangkat elektronik penguat suara
Andante : tempo lambat (MM 72-76)
Animato : ringan gembira, (MM 120-126)
Ansambel : permainan musik secara bersama
Apresiasi : menghargai karya orang lain
Arpeggio : akor dibunyikan satu per satu
Arransemen : gubahan
Artikulasi : pengucapan kata-kata dengan jelas
Ascending : gerakan naik
Bariton : jenis instrumen pria sedang
Barrecord : teknik menekan senar dengan cara
melakukan blok dalam satu fret
Bass : jenis suara pria rendah
Bell : ujung pada alat musik tiup
Bridge : jembatan, tempat senar
Bronchial tubes : pengatur nafas
Con Expressione : dengan penuh ekspresi
Con Moto : dengan kecepatan penuh
Crescendo : bertambah kuat
Damping : memotong bunyi gitar
Decresendo : makin berkurang kekuatannya
Dental arches : rongga mulut
Diminuendo : berkurang makin lemah
Diphtong : pengucapan kata-kata dengan huruf rangkap
Distortion : effect gitar dengan karakter soundnya pecah
Drag : dua pukulan lemah yang mendahului
pukulan aslinya
Estinto : hampir tidak berbunyi
Etude : komposisi musik untuk melatih ketrampilan.
Falsetto/falset : suara palsu
Fermata : ditahan, diperpanjang
Fingerboard : papan tempat jari-jari pemain diletakkan
Fingering : sistim penjarian
Fixed doh : system do tetap
Seni Musik Non Klasik 519
Flame : pukulan lemah yang mendahului pukulan
aslinya
Forte : Keras, lebih keras dari mezzo forte
Fortessimo : sangat keras, lebih keras dari forte
Fret : garis papan nada pada alat musik petik
Grave : sangat lambat (MM 40-44)
Half bar : setengah birama
Improvisasi : pengembangan melodi
Instrumen : alat musik
Interval : jarak antara dua nada
Intonasi : pengucapan kata
Kadens : akhir frase atau kalimat musik
Kopstein/kopstem : teknik memproduksi sejenis suara asli
Largo : lebar luas, khikmat, agung, (MM 46-50)
Larynx : pita suara
Lento : lambat, (MM 56-58)
Ligatura : lengkung pengikat
Locrian : tangga nada yang dimulai dari nada ke tujuh
Lungs : paru-paru
Medium : sedang
Melankolis : suara musik sendu, sedih, sayu
Melismatis : satu huruf dipakai untuk serangkaian nada.
Mesosopran : suara sedang wanita
Mezzo Forte : lebih keras
Mezzo Piano : agak lembut, sedikit lebih keras dari Piano
Minuet : lagu tarian
Moderato : tempo sedang. MM 88 -96
Morendo : kian habis menghilang
Motif : bagian terkecil lagu
Movable doh : sistem do berpindah
Nasal cavities : rongga hidung
Neck : leher yaitu bagian gitar tempat senar-senar
dibentangkan.
Nut : penahan dawai pemisah senar
Oralcavity : rongga tenggorokan
Palatine : langit-langit
Palm mute : teknik damping dengan tangan kanan
Partian : sebagian, tidakmlengkap
Phrasering : kalimat dalam musik
Pianissimo : sedikit lebih keras
Piano : lembut
Picking : teknik memainkan plektum.
Pickup : alat yang mengubah getaran senar menjadi
sinyal listrik
Pickup selector : tombol untuk memilih satu atau dua pickup
Plectrum : alat pemetik dawai
Seni Musik Non Klasik 520
Pop/populer : terkenal di masyarakat
Portable : mudah dibawa
Position marker : penada posisi yang terpasang di bagian
tertentu pada leher.
Power cord : akor dengan nada ke 1 dan 5
Powering : tenaga untuk mengeluarkan suara
Prassing : latihan tekanan
Precipitando : tergesa-gesa, dipercepat
Presto : tempo cepat (MM 184-200)
Rallentando : menjadi makin lambat
Register : wilayah nada
Resonansi : sumber suara
Resquendo : cara mengocok gitar
Ritardando : makin lambat
Ritenuto : tertahan-tahan
Ritme : langkah teratur, ketukan teratur
Rudyment : pukulan dasar
Ruff : tiga pukulan lemah
Seventhchord : akor tujuh
Shell : body tom-tom
Slash cord : akor pembalikan
Sliding : membunyikan nada dengan menngeser jari
Solid : badan gitar yang terbuat dari kayu padat
Sopran : jenis suara wanita tinggi.
Sound hole : lubang suara, bagian yang memperkuat
getaran suara.
Soundboard : permukaan atas instrument
Srtap sistem : penambat tali
Striciando : diseret-seret
String : dawai, senar
Stringendo : kian menjadi cepat
Stroke : pukulan
Strokes : pukulan ganda
Strumming : teknik memetik gitar
Style : bentuk ntuk irama musik
Synthesizer : perangkat elektronik peniru bunyi
Tablature : penulisan musik dan menggambarkan posisi jari
Tenor : jenis suara pria tinggi.
Tipping : teknik memainkan melodi gitar
Tone control : tombol pengatur frekuensi nada gitar
Tonsils : kelenjar leher
Trachea : pipa suara
Tranquillo : tenang
Vibrato : gelombang vokal lembut yang mendalam
Vivace : hidup, gembira (MM 160-176)
Volume control : tombol pengatur kekerasan suara
Seni Musik Non Klasik 521
0 comments
Post a comment