SMK-MAK kelas10 smk seni musik klasik muttaqin dkk - Presentation Transcript
Seni Musik
SENI MUSIK KLASIK
Klasik
Moh. Muttaqin
Kustap
untuk SMK
untuk
Sekolah Menengah Kejuruan
Moh. Muttaqin | Kustap
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
MUSIK KLASIK:
Pengantar Musikologi Untuk SMK
Penulis:
Drs. Moh. Muttaqin, M.Hum.
Kustap, S.Sn., M.Sn.
Editor
Drs. Hari Martopo, M.Sn.
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN SMK
2008
MUSIK KLASIK:
Pengantar Musikologi Untuk SMK
Penulis:
Drs. Moh. Muttaqin, M.Hum.
Kustap, S.Sn., M.Sn.
Editor
Drs. Hari Martopo, M.Sn.
410
HAR HARININGSIH, Dwi
m Musik Klasik: Pengantar Musikologi untuk SMK oleh Drs. Moh.
Muttaqin, M.Hum., Kustap, S.Sn., M.Sn. ---- Jakarta:Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
vi. 136 hlm.: ilus.: 30 cm.
Bibliografi : hlm.129
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN SMK
2008
PENGANTAR PENULIS
Perkembangan musik khususnya pada dunia pendidikan musik di
Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Hal
ini bisa dipahami karena musik nampaknya telah menjadi kebutuhan
umum sehari-hari. Keadaan demikian harus diimbangi dengan berbagai
usaha yang dapat mengarahkan pertumbuhan tersebut ke suatu tujuan
yang lebih baik.
Banyaknya peminat musik dan tersedianya fasilitas saja tidak akan
menjamin tumbuhnya musik dengan baik. Juga demikian halnya dengan
banyaknya sekolah dan murid yang beramai-ramai mempelajari musik
harus diikuti bukan saja dengan kesiapan guru dan adanya metodologi
pembelajaran yang baik, tetapi juga dengan kelengkapan buku pelajaran
yang memadai sebagai acuan pengetahuan musik. Harus diakui bahwa
buku demikian masih sangat langka dalam dunia pendidikan musik kita.
Seiring dengan kondisi tersebut serta dengan maksud turut
melengkapi bahan bacaan yang masih sangat terbatas di bidang musik,
buku Musik Klasik untuk SMK - ini ditulis. Namun begitu, sebagai buku
pertama dalam bidang ilmu musik yang baru diterbitkan di Indonesia,
tentu saja tidak terlepas dari berbagai kesulitan baik di dalam merumus-
kan bab maupun sub-sub bab di dalamnya yang sesuai untuk para siswa
SMK. Ini bisa dimaklumi oleh karena masih sangat jarangnya atau bahkan
mungkin bisa dikatakan belum adanya buku-buku yang secara khusus
membahas musik klasik secara komprehensif untuk para siswa SMK.
Di dalam buku ini disusun materi secara komprehensif dan saling
berkaitan antara bab yang satu dengan bab lainnya. Hal ini dimaksudkan
agar para siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang
komprehensif tentang musik Klasik sehingga bisa memberi manfaat
kepada para siswa baik ketika masih sebagai pelajar maupun setelah lulus.
Akhirnya, kami berharap semoga buku ini dapat memberi manfaat
dalam membantu para guru dan siswa SMK dalam belajar musik. Saran
dan masukan untuk kesempurnaan buku ini senantiasa kami harapkan.
Jakarta, 2008
ii
PENGANTAR
DIREKTUR PEMBINAAN SMK
iii
DAFTAR TIM PENYUSUN
No. Nama Institusi Bidang Keahlian
1. Drs. Moh. Muttaqin,M.Hum. Universitas Gitar dan Teori
Negeri Semarang Musik
2. Kustap, S,Sn.,M.Sn. ISI Yogyakarta Musikologi dan
Sejarah Musik
iv
DAFTAR ISI
PENGANTAR PENULIS ii
PENGANTAR DIREKTUR SMK iii
DAFTAR TIM PENYUSUN iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR ILUSTRASI x
DAFTAR TABEL xv
LEMBAR PENGESAHAN xvi
DAFTAR ISTILAH xvii
PETA KOMPETENSI xxii
BAB 1 PRELUDE 1
BAB 2 BIDANG KEAHLIAN MUSIK KLASIK 7
BAB 3 PENGERTIAN MUSIK 15
3.1. Pengertian Musik 15
3.2. Manfaat Musik 17
3.3. Fungsi Musik dalam Masyarakat 21
3.4. Musik Klasik dan Proses Sosial 25
3.5. Musik Klasik dan Ekspresi Artistik 26
BAB 4 ELEMEN-ELEMEN DASAR MUSIK 29
4.1. Bunyi dan Nada 29
4.2. Melodi 30
4.3. Ritme dan Tempo 31
4.4. Harmoni dan Kontrapung 33
4.5. Bentuk Musik 35
BAB 5 NILAI NADA DAN TANDA ISTIRAHAT 39
5.1. Bentuk Nada 39
5.2. Nilai Nada 41
5.3. Tanda Irama 43
BAB 6 GARIS PARANADA 47
BAB 7 TANGGANADA 53
7.1. Tangganada Mayor 53
7.2. Tangganada Minor 56
v
7.3. Tangganada Lain 58
7.4. Kunci 59
BAB 8 TEMPO DAN TANDA-TANDA EKSPRESI 65
8.1. Tempo 65
8.2. Dinamika 67
8.3. Tanda Ekspresi 70
71
8.4. Timbre/ Warna Suara
BAB 9 INTERVAL 75
9.1. Pengertian 75
9.2. Penamaan Interval 75
9.3. Kualitas Interval 76
9.4. Interval Konsonan 77
9.5. Interval Disonan 78
9.6. Perubahan Kualtias Interval Disonan 79
9.7. Interval Enharmonis 80
BAB 10 AKOR DAN ARPEGIO 83
10.1. Trisuara 83
10.2. Tingkatan Trisuara 84
10.3. Akor Augmented dan Diminished 85
10.4. Arpegio 89
BAB 11 TINJAUAN SEJARAH MUSIK 93
11.1. Era Kuno (Antiquity – 500) 93
11.2. Era Abad Pertengahan (Medieval Era) 96
(600-1450)
11.3. Era Renesan (1450-1600) 98
11.4. Era Barok (1600 – 1750) 99
11.5. Era Klasik (1750-1820) 100
11.6. Era Romantik (1820-1800) 102
11.7. Era Kontemporer (1900 s/d sekarang) 103
BAB 12 PARA KOMPOSER ABAD PERTENGAHAN 107
HINGGA BAROK
12.1. Era Abad Pertengahan (600-1450) 107
12.2. Era Renaisans (1450-1600) 109
vi
12.3. Era Barok (1600 – 1750) 112
BAB 13 PARA KOMPOSER ERA KLASIK 121
BAB 14 PARA KOMPOSER JAMAN ROMANTIK 127
(1820-1900)
BAB 15 KOMPOSER ERA KONTEMPORER (1900- 155
SEKARANG)
BAB 16 SOLFEGIO 175
16.1. Pengertian Solfegio 175
16.2. Fungsi Solfegio 175
16.3. Kedudukan Solfegio 176
16.4. Lingkup Bahasan Solfegio 177
16.5. Metode Pengetesan Solfegio 178
16.6. Bahan Latihan dan Ujian Solfegio 178
BAB 17 GRAMATIKA MELODI DAN BENTUK- 183
BENTUK DASAR
17.1. Frase 183
17.2. Frase Ireguler 186
17.3. Bentuk Kalimat (periode) 188
BAB 18 BENTUK-BENTUK LAGU DASAR 191
18.1. Elemen-elemen Dasar 191
18.2. Bentuk Lagu Dua-Bagian 195
18.3. Bentuk Lagu Tiga Bagian 197
BAB 19 SONATA: BENTUK KHAS MUSIK KLASIK 199
19.1. Latar Belakang Historis Sonata 199
19.2. Evolusi sonata 203
19.3. Asal Mula Sruktural Bentuk Sonata 204
Allegro
19.4. Garis Besar Bentuk Sonata 207
19.5. Bentuk Sonatine 214
BAB 20 ORKESTRA 217
20.1. Tinjauan Singkat Sejarah Orkestra 217
20.2. Formasi Instrumen dalam Orkestra 223
20.3. Kondaktor 228
20.4. Bentuk-bentuk Musik Orkestra 237
vii
BAB 21 SEKSI GESEK 247
21.1. Biola 247
21.2. Biola Alto 256
21.3. Cello dan Contra Bass 262
BAB 22 PENGANTAR PENGETAHUAN CELLO 265
22.1. Penyeteman dan Jangkauan Nada 267
22.2. Bagian Bridge dengan sebuah Mute 270
22.3. Fitur-fitur Bagian Dalam 270
22.4. Perekat 271
22.5. Busur Cello 271
22.6. Perkembangan Cello 272
22.7. Dimensi Instrumen Cello 273
22.8. Assesoris 274
BAB 23 BIDANG KETERAMPILAN CELLO 277
23.1. Teknik Bermain Cello 277
23.2. Penggunaan Cello 283
23.3. Tuntutan Kompetensi 287
23.4. Tuntutan Kompetensi 299
BAB 24 SEKSI PERKUSI 305
24.1. Peran dan Fungsi Perkusi dalam 305
Orkestrta
24.2. Klasifikasi Seksi Perkusi 306
BAB 25 SEKSI TIUP 315
25.1. Seksi Tiup Kayu 315
25.2. Seksi Tiup Logam 326
BAB 26 TROMBONE 331
26.1. Standar Kompetensi Keterampilan 332
Trombone
BAB 27 TROMPET 347
27.1. Sejarah Trompet Primitif dan Non 347
Barat
27.2. Karakteristik Umum 349
27.3. Ciri Khas Trompert 350
27.4. Jenis –jenis Trompet 351
27.5. Teknik Permainan Trompet 355
viii
DAFTAR ILUSTRASI
BAB 4
Ilustrasi 4.1. Susunan Tangga Nada Mayor 30
Ilustrasi 4.2. Susunan tangga nada Minor Asli dari “A”. 30
Ilustrasi 4.3. Contoh letak petunjuk tempo (Allegro Vivace) 31
dan tanda irama 2/4 pada Sonata Beethoven
(Serie 16; Np. 139)
Ilustrasi 4.4. Irama “common time” ditandai dengan tanda 32
“C” pada permulaan lagu untuk solo gitar.
Ilustrasi 4.5. ”Fugue” dari Prelude, Fugue, and Allegro, BWV 34
998 (J.S. Bach)
Ilustrasi 4.6. ”Fugue” dari Prelude, Fugue, and Allegro, BWV 35
998 (J.S. Bach)
BAB 5
5.1. Unsur-unsur Bentuk Nada
Ilustrasi 40
5.2. Bentuk tanda nada dan istirahat ”breve”
Ilustrasi 41
Ilustrasi 5.3. ”Pizza” perbandingan nilai nada 42
Ilustrasi 5.4. Perbandingan nilai nada berdasarkan 42
jumlahnya.
BAB 6
Ilustrasi 6.1. Paranada, birama, garis birama dan garis 48
bantu
Ilustrasi 6.2. Posisi nada-nada dalam paranada 49
Ilustrasi 6.3. Posisi nada C berdasarkan kunci (clef) 49
BAB 7
Ilustrasi 7.1. Tangga nada C mayor 54
Ilustrasi 7.2. Daftar tangga nada Mayor berkres 54
Ilustrasi 7.3 Daftar tangga nada bermol 55
Ilustrasi 7.4. Tangga nada A minor asli/ natural 56
Ilustrasi 7.5. Tangga nada A minor harmonis 57
Ilustrasi 7.6. Tangga nada A minor melodis 58
Ilustrasi 7.7. Tangga nada Kromatis 58
Ilustrasi 7.8. Tangga nada Whole-Tone 59
BAB 9
Ilustrasi 9.1. Nama-nama Interval di atas Tonika 76
Tangganada Mayor
Ilustrasi 9.2. Interval-interval Murni 77
Ilustrasi 9.3. Perubahan kualitas dari Murni ke Berlebih 77
x
Ilustrasi 9.4. Perubahan dari interval Murni ke Menyempit 78
Ilustrasi 9.5. Interval-interval mayor 78
Ilustrasi 9.6. Interval-interval mayor 79
Ilustrasi 9.7. Perubahan pada interval Terts Mayor 79
Ilustrasi 9.8. Perubahan pada interval Terts Minor 80
Ilustrasi 9.9. Fenomena enharmonis pada interval Oktaf 80
dan Septim
BAB 10
Ilustrasi 10.1. Susunan trinada di atas tangga nada C mayor 84
Ilustrasi 10.2. Trinada C augmented. 86
Ilustrasi 10.3. Susunan trinada di atas tangga nada A minor 86
harmonis
Ilustrasi 10.4. Trisuara C diminished. 87
Ilustrasi 10.5. Dominant 7th pada tangga nada C mayor 87
Ilustrasi 10.6. Dominat 7th pada tangga nada A minor 88
Ilustrasi 10.7. Trinada pembalikan 89
Ilustrasi 10.8. Latihan arpegio untuk piano 90
BAB 11
Ilustrasi 11.1. Lukisan pada kuburan Mesir di Thebes yang 95
menunjukkan alat-alat musik harpa, lute, oboe
ganda, dan lyra.
Ilustrasi 11.2. Syair Guido d’Arezzo sebagai dasar Solfegio 96
Ilustrasi 11.3. Keterangan gambar menurut arah jarum jam 97
dari kiri atas: (1) Trouveres terakhir dan
terbesar, Adam de la Halle, dari Arras(1288);
(2) Tannhaüser dalam pakaian Ksatrio Orde
Jerman, tampil dalam Kontes Menyanyi di
Wartburg; (3) Henrich Frauenlob, salah
seorang pendiri Meistersingers, tampak di
antara para musisi; (4) Pommers (sebuah
instrumen reed ganda) dan beberapa trompet,
dari iluminasi koleksi Richenthal Chronicle.
BAB 12
Ilustrasi 12.1. Dua Tokoh Musik Abad Pertengahan 108
Ilustrasi 12.2. Para Tokoh Musik Jaman Renaisans 111
Ilustrasi 12.3. Para Tokoh Musik Jaman Barok 118
BAB 13
Ilustrasi 13.1. Para Tokoh Musik Jaman Klasik 125
BAB 14
Ilustrasi 14.1. Para Tokoh Musik Jaman Romantik 131
Ilustrasi 14.2. Para Tokoh Musik Jaman Romantik 138
xi
Ilustrasi 14.3. Para Tokoh Musik Jaman Romantik 150
BAB 15
Ilustrasi 15.1. Para Tokoh Musik Era Kontemporer 158
Ilustrasi 15.2. Para Tokoh Musik Era Kontemporer 166
Ilustrasi 15.3. Para Tokoh Musik Era Kontemporer 170
BAB 16
Ilustrasi 16.1. Perbandingan Tingkat Ketrampilan Instrumen 176
BAB 17
Ilustrasi 17.1. Frase Tunggal Berbirama Empat 184
Ilustrasi 17.2. Contoh frase lengkap 184
Ilustrasi 17.3. Kadens setengah di akhir frase 185
Ilustrasi 17.4. Hubungan sebuah frase dalam kesatuan 185
periode
Ilustrasi 17.5. Frase yang terdiri dari satu birama 187
Ilustrasi 17.6. Frase berbirama tiga 187
Ilustrasi 17.7. Struktur dasar bentuk periode 189
Ilustrasi 17.8. Bentuk kalimat/ periode 189
Ilustrasi 17.9. Periode parallel 189
Ilustrasi 17.10. Contoh periode kontras 190
BAB 18
Ilustrasi 18.1. Formula pembentukan periode 195
Ilustrasi 18.2. Melodi yang tersusun dari bentuk lagu dua 196
bagian
Ilustrasi 18.3. Bahan baku Part III pada bentuk lagu tiga 197
bagian
Ilustrasi 18.4. Pengulangan pada bentuk lagu tiga bagian 197
BAB 19
Ilustrasi 19.1. Legrenzi, Sonata Quarta, Op. 10 201
Ilustrasi 19.2. Area-area tonal yang berbeda dan tema-tema 204
yang kontras
Ilustrasi 19.3. Caldara: Trio Sonate G-moll 206
Ilustrasi 19.4. Bagan bentuk Sonata-Allegro 208
Ilustrasi 19.5. Skema analisis Fountaiin (1967) pada Sonata 209
Beethoven, Op. 10, No. 3
Ilustrasi 19. 6 Diabelli, Sonatine IV 213
Ilustrasi 19. 7. Skema Umum Sonatatine 215
BAB 20
Ilustrasi 20. 1. Pertunjukan Musik Orkestra 224
Ilustrasi 20. 2. Pertunjukan Musik Orkestra 229
xii
Ilustrasi 20. 3. Kondakter Lorin Maazel 232
Ilustrasi 20. 4. Leonard Bernstein 234
Ilustrasi 20. 5. Zubin Mehta 236
BAB 21
Ilustrasi 21. 1. Biola dan tongkat penggeseknya 248
Ilustrasi 21. 2. Pemain biola dunia, Yehudi Menuhin 249
Ilustrasi 21. 3. Anatomi instrumen Biola 251
Ilustrasi 21. 4. Bagian-bagian biola 252
Ilustrasi 21. 5. Nada-nada Biola pada Posisi Dawai Lepas 253
Ilustrasi 21. 6. Wilayah Nada Instrumen Biola 254
Ilustrasi 21. 7. Biola Alto 256
Ilustrasi 21. 8. Wilayah Nada Instrumen Biola Alto 257
Ilustrasi 21. 9. Tuning Peg (pasak penala) Biola Alto 258
Ilustrasi 21.10. Posisi Bermain Bass 263
Ilustrasi 21.11. Wilayah Nada Instrumen Contra Bas 264
BAB 22
Ilustrasi 22.1. Gambar instrumen Cello dilihat dari depan 266
Ilustrasi 22.2. Wilayah Nada Cello 267
Ilustrasi 22.3 Dawai – dawai Cello dalam Posisi Lepas 268
BAB 23
Ilustrasi 23.1. Seorang Pemain Cello (Cellist) 278
Ilustrasi 23.2. Cellistt Julian Lloyd Webber (kiri) dan 285
Mstislav Rostrpovich.
Ilustrasi 23.4.
Cara memainkan tangganada 289
Ilustrasi 23.5.
Bentuk dasar permainan arpegio 289
Ilustrasi 23.6.
Ritmis yang gunakan tangganada 292
Ilustrasi 23.7.
Arpegio dengan tiga nada dalam sekali 294
gesekan
Ilustrasi 23.8. Sistem bowing untuk tangganada G 296
Ilustrasi 23.9. Konten muatan teknis Standar Kompetensi 300
dan Kompetensi dasar instrumen Cello
BAB 24
Ilustrasi 24.1. Timpani 306
Ilustrasi 24.2. Sticks and mallets 307
Ilustrasi 24.3. Perangkat lengkap Timpani 307
Ilustrasi 24.4. Timpani dari arah belakang kursi pemain 308
Ilustrasi 24.5. Bass Drum 308
Ilustrasi 24.6. Keluarga drum set 309
Ilustrasi 24.7. Tamburin dan Kastanet 310
Ilustrasi 24.8. Perkusi dengan efek hentakan berdesing 310
Ilustrasi 24.9. Marimba 311
xiii
Ilustrasi 24.10. Perkusi bernada paling sederhana 312
Ilustrasi 24.11. Xylophone 312
Ilustrasi 24.12. Vibraphone 313
BAB 25
Ilustrasi 25.1. Wilayah Nada Instrumen Flute 315
Ilustrasi 25.2. Flute 316
Ilustrasi 25. 3. Oboe 317
Ilustrasi 25.4. Wilayah nada instrumen oboe 318
Ilustrasi 25.5. Bagian-bagian Cor Anglais 319
Ilustrasi 25.6. Clarinet dan Bagian-bagiannya 320
Ilustrasi 25.7. Wilayah Nada Instrumen Klarinet in Bes 321
Ilustrasi 25.8. Macam-maca Clarinet 322
Ilustrasi 25.9. Wilayah Nada Instrumen Bassoon 324
Ilustrasi 25.10. Bagian-bagian basson 325
Ilustrasi 25.11. Horn 326
Ilustrasi 25.12. Wilayah Nada Instrumen Horn 327
Ilustrasi 25.13. Bagian-bagian Tuba 328
Ilustrasi 25.14. Wilayah Nada InstrumenTuba 329
BAB 26
Ilustrasi 26.1. Wilayah nada Trombone 331
Ilustrasi 26.2. Trombon dan Bagiannya 332
BAB 27
Ilustrasi 27.1. Moche Trompet. 300 A.D. Koleksi Museum 348
Larco, Lima, Peru.
Ilustrasi 27.2. Tiruan Trompet Jaman Barok oleh Michael 349
Laird
Ilustrasi 27.3. Tiruan Trompet Jaman Barok oleh Michael 350
Laird
Ilustrasi 27.4. Ambitus nada Trompet 351
Ilustrasi 27.5. Trompet-Piccolo in Bes, dengan pipa pengantar 352
untuk menala ke Bes (pendek) dan ke A
(panjang)
Ilustrasi 27.6. Trompet in C dengan katup-katup memutar 353
Ilustrasi 27.7. Penampilan Seorang Pemain Trompet dalam 356
Pentas Bersama Band AAU Amerika di Eropa
Ilustrasi 27.8. Beberapa Latihan Dasar 356
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel
5.1. Bentuk, Nama, Nilai not dan Tanda Diam 40
5.2. Jenis-jenis Tanda Irama Reguler 43
7.1. Kunci dasar dan Tanda Kunci 60
19.1. Evolusi Sonata 203
xv
DAFTAR ISTILAH
Aksidental Tanda-tanda untuk menaikkan (kres) atau menu-
runkan (mol) nada, dan natural untuk mengem-
balikan nada-nada aksidental.
Aransemen Susunan iringan baru yang diterapkan pada
sebuah melodi.
Atonal Sitem musik non tonal.
Basso continuo Permainan bas yang berkelanjutan yang mendasari
permainan musik Barok.
Bentuk Desain suatu karya musik.
Birama Petak-petak yang dibatasi oleh garis-garis vertikal
pada garis paranada.
Breve Durasi dua kali nada penuh.
Coda Bagian akhir atau penutup karya musik
Compound Gabungan; biasanya berhubungan dengan jenis
irama, sebagai lawan dari bersahaja (simple)
Crotchet Durasi seperempat.
Demi semi quaver Durasi seperenambelas.
Development Bagian tengah dari bentuk sonata.
Diatonik Sistem tujuh nada.
Dinamik Ekspresi yang berkaitan dengan
Dominan Nada atau akor ke lima dalam tangga nada minor
atau mayor.
Duple Irama dua ketukan
Eksposisi Bagian pertama pada bentuk sonata.
Ensambel Permainan musik secara bersama-sama dengan
jumlah pemain tidak ditentukan
Epilog Bagian akhir suatu komposisi. Istilah ini biasa
digunakan dalam musik Romantik atau Modern
Figur Unit frase terkecil
xvi
Frase Unit frase empat birama
Fundamental Dasar-dasar pengetahuan atau ketrampilan musik
Harmoni Aransemen pengiring suatu melodi dalam susun-
an horizontal berupa rangkaian akor-akor.
Homofonik Tekstur musikal yang menggunakan sistem
harmoni
Interval Jarak dari nada ke nada yang dihitung dari nada
terrendah sebagai hitungan pertama.
Irama Susunan aksen dengan hitungan yang teratur pada
suatu denyut yang stabil.
Komposisi Hasil karya musik.
Kondaktor Pemimpin suatu kelompok paduan suara atau
orkestra.
Konser Pertunjukan musik tanpa pengecualian jumlah
pemeran utama.
Konserto Komposisi orkestra yang melibatkan seorang solis
sebagai penyeimbang peran orkestra
Kontrapung Teknik penulisan aransemen dengan mengguna-
kan alur-alur melodi secara horizontal sebagai
pengiring.
Kunci/ clef Adalah simbol di awal paranada yang menentu-
kan identitas setiap garis dan spasi
Mayor Biasa digunakan untuk akor atau tangga nada
untuk membedakan dari jenis yang minor.
Melismatis Teknik menyanyikan sebuah kata dengan bebera-
pa nada berbeda.
Minor Jenis tangga nada atau akor yang merupakan
pasangan dari jenis-jenis mayor.
Modulasi Perpindahan nada dasar di tengah-tengah lagu.
Monofonik Tekstur musik yang hanya terdiri dari satu alur
melodi.
Musik Kamar Bentuk permainan ensambel yang tertentu jumlah
pemainnya, seperti duet, trio, kuartet, quintet, dan
sekstet.
xvii
Musik Klasik Musik seni yang biasa disebut sebagai musik
seriosa, sebagai lawan dari musik hiburan.
Musik Seni Musik yang biasa disebut Art music dalam bahasa
Inggris.
Not balok Sistem penulisan umum nada-nada dalam musik
klasik.
Oktaf Pengulangan nada yang sama pada tingkat
ketinggian yang berbeda.
Opera Seni pertunjukan musik yang melibatkan berbagai
cabang seni lain seperti teater dan seni rupa.
Orkestra Bentuk ensambel yang besar dan melibatkan
hampir seluruh instrumen musik.
Overture Adalah karya instrumental yang merupakan
musik pembuka dalam suatu karya opera.
Paranada Lima buah garis horizontal yang digunakan untuk
menuliskan butir-butir notasi nada-nada.
Pentatonik Sistem musik dengan lima nada
Polifoni Tekstur alur banyak suara
Prelude Pembukaan sebuah karya musik yang terdiri dari
kumpulan karya-karya dengan satu topik (suite)
Prinsipal Pimpinan pemain sekelompok instrumen dalam
orkestra.
Quadruple Irama dengan empat hitungan.
Quaver Jenis nada atau tanda istirahat seperdelapan.
Rekapitulasi Kembalinya materi eksposisi setelah melalui
bagian development dalam keadaan yang telah
berubah, pada bentuk sonata.
Resital Pertunjukan yang menampilkan peranan tunggal.
Semi Frase Unit frase dua birama.
Semi quaver Jenis nada atau tanda istirahat seperenambelas.
Semibreve Jenis nada atau tanda istirahat penuh.
Semi-tone Jarak atau laras setengah nada yang terdapat di
antara dua nada berurutan.
xviii
Seni Musik Jenis musik serius yang biasa disebut Musical arts
dalam bahasa Inggris.
Silabis Cara menyanyi nada-nada yang sejalan dengan
kata-kata.
Simfoni Karya standar orkestra.
Solmisasi Sistem pengucapan nada-nada diatonik dalam
menyanyi.
Sonata Suaru bentuk standar dalam musik klasik yang
tersusun dari eksposisi (pameran tema), develop-
ment (pengembangan) dan rekapitulasi.
Sonatine Sonata kecil.
Sub Dominan Di bawah dominan atau dominan bawah
Tanda Kunci Dalam bahasa Inggris disebut key signature (bukan
clef) yang berarti tanda yang menunjukkan nada
dasar suatu karya musik
Tangga nada Susunan nada-nada yang meningkat secara
bertahap mulai dari Tonik hingga oktafnya.
Tempo Tingkat kecepatan irama musiik.
Teori musik Pengetahuan kognitif yang menyertai tingkat ke-
trampilan instrumen musik.
Titinada Tingkat ketinggian nada yang biasa disebut pitch,
dalam bahasa Inggris.
Tonal Sistem musik diatonik yang mendasarkan pe-
ngembangan kreatifnya berdasarkan nada Atonik
(nada pertama)
Tonik Nada atau akor pertama dalam suatu sistem
diatonik.
Transkripsi Penyalinan ulang kepada instrumen yang
berlainan, biasanya disertai dengan transposisi
nada dasar.
Transposisi Pemindahan nada dasar suatu karya musik
sebagai konsekuensi transkripsi
Trinada Susunan tiga nada di atas landasan suatu nada
dalam tangga nada ,dengan dua interval terts
(ketiga) dari nada ke nada.
xix
Triple Jenis irama tiga ketukan
Whole tone Sistem tangga nada yang berjarak penuh dari satu
nada ke nada yang lain.
xx
PETA KOMPETENSI
Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan dikembangkan sebagai
upaya untuk memenuhi kebutuhan pengembangan program sekolah
berbasis pada kebutuhan dan kompetensi wilayah. Sehubungan dengan
maksud tersebut, maka orientasi dari materi pembelajaran adalah
mempersiapkan dunia kerja
Pengembangan Program Materi Pada Bidang Musik
1. Musik Klasik
2. Musik Non-Klasik
Kompetensi Musik Klasik:
1. Pelaku Seni:
1.1. Pemain musik (vocal/instrument)
1.2. Komposer;
1.3. Arranger;
2. Guide:
Jasa Informasi
3. Event Organizer :
menyiapkan jasa penyelenggaraan pertunjukan
xxi
BAB 1
PRELUDE
P
relude adalah bagian pembuka suatu karya musik klasik.
Terminologi ini populer dalam kehidupan musik abad ke-17,
sebagai pembuka kumpulan jenis-jenis tarian tradisional di Eropa.
Pada musik populer saat ini, musik umumnya didahului oleh
introduksi, diselingi interlude instrumental di tengah-tengah sebagai
jembatan pengulangan lagu, dan diakhiri dengan bagian akhir yang
disebut Coda yang secara literal berarti ekor. Walaupun termasuk genre
kuno, hingga saat ini beberapa komposer juga menggunakan istilah
tersebut yang walaupun dengan maksud yang berbeda, namun
pengertian dasarnya sama yaitu pembuka. Dalam buku ini istilah
tersebut dipinjam sebagai pendahuluan dari buku ini.
Jenis-jenis musik yang ada di seluruh dunia dapat dikelompokkan
dengan berbagai cara, di antaranya dapat dikelom-pokkan berdasarkan
kemiripan ciri-ciri umumnya (genre), fung-sinya, maupun geografi.
Secara geografi, musik dapat dibagi menjadi musik Barat yang mengacu
kepada negara-negara Eropa, dan musik Timur di wilayah Asia dan
Timur Tengah yang memiliki varian yang sangat banyak.
Dari berbagai kemungkinan pengelompokan yang ada, tampaknya
secara umum musik yang ada di dunia dapat dikelompokkan kepada tiga
jenis yaitu musik tradisi, musik hiburan, dan musik serius yang
umumnya disebut orang sebagai musik klasik. Kreativitas pertunjukan
dan penciptaan musik tradisi dibatasi oleh norma-norma yang berlaku
pada suatu kebudayaan sehingga memiliki ciri lokal yang amat kental. Di
Indonesia, musik-musik tradisi dapat dikenali berdasarkan batasan
geografis dan etnisitasnya, misalnya, musik Minang, musik Batak, musik
Dayak, dan musik Jawa. Di Jawa dan Bali ada istilah khusus untuk
menyebut musik tradisi, yaitu yang dikenal dengan istilah karawitan.
Sekarang ada istilah untuk menyebut seluruh musik yang terdapat di
seluruh wilayah kepuluan Indonesia, termasuk karawitan, yaitu musik
Nusantara.
Musik hiburan adalah musik yang paling populer di kalangan
masyarakat modern saat ini. Secara umum, kreativitas musik hiburan
dibatasi oleh selera masyarakat. Dari segi ekonomi, musik hiburan
merupakan salah satu bentuk industri. Keberhasilan pertunjukan musik
Prelude
2
Bab 1
hiburan ditentukan oleh promosi penjualannya. Guna mencapai sukses
para manajer musik hiburan perlu memahami selera pasar yang sedang
berlaku. Karakteristik musik hiburan mengacu kepada sistem diatonik
yang berasal dari Barat sementara ciri-ciri lokal umumnya didominasi
oleh aspek bahasa. Walaupun demikian, pada lingkungan masyarakat
tradisional juga terdapat musik hiburan yang mengacu kepada idiom-
idiom musik tradisi.
Pada umumnya musik hiburan didominasi oleh musik vokal dan
sedikit di antaranya dari jenis musik instrumental. Di antara beberapa
jenis musik hiburan ada juga yang memperhatikan aspek-aspek
kreativitas yang tinggi dan tidak tergantung dari musik vokal serta tidak
sepenuhnya mengikuti selera masyarakat. Di antara musik hiburan
tersebut dari jenis tersebut ialah musik jazz yang mengutamakan aspek
kreativitas dalam bentuk permainan improvisasi bagi seluruh pemain
instrumennya termasuk penyanyinya. Walaupun demikian kebebasan
mereka tetap berada dalam rambu-rambu tonalitas yang berlaku dalam
musik diatonik.
Berbeda dengan musik tradisi dan musik hiburan, kreativitas musik
klasik pada masyarakat modern sama sekali tidak dibatasi baik oleh
tradisi maupun oleh kecenderungan yang berkembang di masyarakat.
Dengan kata lain, musik serius memiliki kebebasan artistik yang jauh
lebih luas dibandingkan dengan musik hiburan. Namun sebaliknya, di
samping kreativitas yang berkembang secara bebas, dalam beberapa
kasus musik klasik justru memanfaatkan idiom-idiom berbagai musik
populer, musik rakyat, bahkan tradisi berbagai kebudayaan guna
memperkaya karya-karyanya.
Kebebasan artistik dalam serius bukan berarti tidak memilki aturan
melainkan didasarkan atas berbagai pertimbangan konsep-konsep
teoretik yang juga senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Hal
tersebut yang menyebabkan musik klasik senantiasa selalu berubah
selama berabad-abad. Sejak era Abad Pertengahan hingga saat ini varian
musik klasik sangat luas dan senantiasa berkembang. Perkembangan
musik klasik mulai dari penerapan sistem diatonik yang sederhana pada
abad pertengahan hingga mencapai kompleksitasnya di akhir era
Romantik. Bahkan sejak memasuki abad ke-20, sementara model sitem
tonalitas diatonik yang merupakan warisan era Klasik abad ke-18 dan
eksplorasi sistem tersebut sebagai warisan era Romantik era abad ke-19
hingga kini masih tetap diterapkan pada musik hiburan populer dan jazz,
Prelude 3
Bab I
musik klasik telah meninggalkan sistem tersebut dan terus
mengembangkan kreativitas dan inovasinya yang paling mutakhir.
Banyak orang mengira kalau musik klasik senantiasa menggunakan
media akustik. Aliran komposisi musik elektronik dalam musik klasik
telah dimulai lama sebelum ditemukannya synthesizer, dengan tape loops
dan alat musik elektronik analog di tahun 1950-an dan 1960-an. Para
komposer bahkan tidak mengandalkan perkembangan teknologi
melainkan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kreativitas mereka.
Para pelopor aliran musik elektronik tersebut antara lain John Cage,
Pierre Schaeffer, dan Karlheinz Stockhausen. Beberapa komposer musik
elektronik masa kini yang telah memberikan kontribusinya untuk
pengembangan musik klasik aliran kontemporer ialah Ton de Leuw dari
Belanda dan Jack Body dari New Zealand. Saat ini Indonesia sendiri
memiliki beberapa komposer yang menaruh perhatian terhadap musik
elektronik, di antaranya ialah Otto Shidarta dari Jakarta, dan Slamet
Raharjo dari Yogyakarta.
Istilah musik klasik umumnya lebih dikenal luas sebagai musik
serius. Walaupun demikian, secara khusus dalam diskusi
etnomusikologi, istilah musik klasik tidak hanya merujuk pada musik
klasik Eropa saja, melainkan juga pada musik-musik di Asia dan Timur
seperti misalnya musik klasik Persia, India, Tiongkok, dan lain-lain.
Dalam lingkup musikologi, penggunaan kata ‘klasik’ bisa mengandung
tiga makna. Yang pertama ialah berarti Musik Kuno, yaitu musik yang
berkembang pada era Yunani Kuno (masa Antiquity). Pengertian yang
kedua ialah musik pada era Klasik, yang didominasi oleh gaya Wina
pada abad ke-18 dengan tiga tokoh komposer yang terkenal yaitu Haydn,
Mozart, dan Beethoven. Ketiga, kata ‘klasik’ yang diterapkan pada musik
klasik pada saat ini ialah sebagai musik seni (art music); yang
pengertiannya berbeda dengan istilah seni musik atau musical arts. Yang
dimaksud klasik dalam konteks ini ialah lawan dari musik hiburan.
Secara khusus, di Indonesia ada istilah lagu seriosa untuk menamai
musik vokal yang intinya mirip dengan musik klasik pada umumnya.
Namun istilah tersebut umumnya lebih dipahami sebagai musik vokal
tunggal. Walaupun demikian musik klasik yang menjadi pokok
pembahasan dalam buku ini bukan hanya musik seriosa dalam
pengertian musik vokal namun meliputi segala bentuk pertunjukan yang
meliputi vokal dan instrumental.
Prelude
4
Bab 1
Pokok bahasan musik klasik sangat luas karena tidak melulu
membicarakan fenomena musikal yang terjadi di sekitar saat ini tapi juga
yang terjadi selama berabad-abad. Dengan demikian berbeda dengan
musik non klasik yang didasarkan atas fenomena musikal yang terjadi
saat ini atau masa kontemporer, dan tidak jauh dari sekitar abad ke-20.
Tidaklah mengherankan jika secara kuantitatif musik klasik tidak hanya
memiliki repertoar yang sangat luas namun juga literatur yang juga luas.
Keluasan cakupan pembahasan musik klasik yang menyangkut waktu
berabad-abad memungkinkannya untuk dilakukan pembahasan dengan
pendektan sejarah, baik secara diakronis melalui pendekatan kronologis,
yaitu dari tahun ke tahun secara bertahap, maupun secara sinkronis,
yaitu mengkaitkannya dengan aspek-aspek terkait di sekitar periode
yang dibahas.
Guna memudahkan pemahaman terhadap musik klasik maka
seseorang perlu memahami aspek-aspek sejarah musik klasik yang
meliputi pengertian-pengertian dasar mengenai musik secara umum. Di
antara berbagai aspek tersebut meliputi sejarah proses kelahiran sistem
tonal berikut pengembangannya selama berad-abad hingga akhirnya
digantikan oleh sistem musikal yang lain. Namun karena terbatasnya
tempat maka buku ini tidak secara khusus membahas sejarah musik
klasik. Sehubungan dengan itu aspek-aspek sejarah hanya disinggung
secara singkat meliputi kronologi sejarah dan riwayat hidup beberapa
komponis musik klasik. Termasuk ke dalam pembahasan material musik
ialah dasar-dasar teori musik yang meliputi pemahaman berbagai aspek
musikal. Landasan teori musik ini diarahkan untuk memahami bentuk-
bentuk musik.
• Bacaan untuk pendalaman:
Sumaryo LE. 1978. Komponis, Pemain Musik dan Publik. Jakarta:
Pustaka Jaya.
Sylado, Remy. 1983. Menuju Apresiasi Musik. Bandung: Penerbit
Angkasa.
Prelude 5
Bab I
• Latihan-latihan (Jawablah dan diskusikanlah!):
1. Jelaskan pengertian Prelude dalam musik Klasik!
2. Secara umum musik yang ada di seluruh dunia dapat
dikelompokkan menjadi berapa macam? Sebutkan masing-
masing beserta contohnya!
3. Dalam konteks musik istilah ”klasik” memiliki tiga
pengertian. Jelaskan masing-masing!
4. Bagaimana perbandingan keluasan jangkauan pembahasan
musik klasik dan musik non klasik (populer)?
5. Menurut Anda, apakah yang dimaksud musik klasik itu?
BAB 2
BIDANG KEAHLIAN MUSIK KLASIK
B
idang keahlian seni musik klasik meliputi banyak hal namun
secara umum dapat dikelompokkan ke dalam dua arus. Arus
pertama berkaitan dengan kesenimanan musik dan arus kedua
bidang keilmuan musik. Bidang kesenimanan dalam musik klasik
meliputi Komposisi atau penciptaan musik dan pertunjukan musik.
Bidang keahlian pertunjukan musik klasik di antaranya meliputi resitalis
(penampil solo instrumen atau vokal), instrumen pengiring (biasanya
piano), pemain orkestra, pemain ensambel, dan pemain musik kamar.
Kondakting atau keahlian memimpin orkestra termasuk ke dalam bidang
pertunjukan musik. Arus kedua yang membidangi keilmuan musik
meliputi bidang musikologi (termasuk etnomusiko-logi) dan transfer
keilmuan dan ketrampilan musik atau dikenal dengan pendidikan musik.
Hingga kini, Indonesia telah mengelola pendidikan formal musik
hingga ke tingkat perguruan tinggi. Di perguruan tinggi Indonesia, kini
telah dikembangkan berbagai bidang baik bidang-bidang kesenimanan
maupun keilmuan hingga tingkat Magister (S2). Sebagai contoh ialah
program-program yang kini sedang dikembangkan oleh Jurusan Musik,
Fakultas Seni Pertunjukan, dan Program Pasca Sarjana di Institut Seni
Indonesia ialah bidang Musik Pertunjukan, Komposisi Musik,
Musikologi, dan Musik Pendidikan. Walaupun tampaknya belum ada
keselarasan yang menghubungkan sistem pendidikan musik di semua
jenjang pendidikan baik umum maupun kejuruan, kini upaya-upaya
tersebut tengah dilakukan oleh semua pihak yang terkait.
Bidang kejuruan musik yang kini sedang menjadi perhatian
pemerintah kita ialah industri orkestra. Sehubungan dengan itu program-
program pendidikan sekolah kejuruan musik diarahkan agar dapat
mendukung perkembangan industri tersebut. Walaupun demikian
karena berbagai keterbatasan maka pendidikan ketrampilan instrumen
orkestra belum dapat terlayani secara menyeluruh.
Instrumen-instrumen dalam orkestra terbagi ke dalam kelompok-
kelompok yaitu Tiup Kayu yang terdiri dari Flute, Oboe, Clarinet, dan
Bassoon. Kecuali flute, produksi suara instrumen-instrumen tiup kayu
Bidang Keahlian Musik Klasik
8
Bab 2
dihasilkan oleh getaran potongan kayu tipis yang ditempelkan pada
ujung tempat meniup. Potongan kayu tersebut disebut reed. Ada yang
menggunakan reed ganda seperti Oboe, dan ada juga yang menggunakan
reed tunggal seperti saxophone. Tiup Logam yang terdiri dari Trompet,
Horn, Tuba, dan Trombone, menghasilkan suara yang keras melalui
suatu bulatan logam berlubang yang ditempelkan pada ujung tempat
meniup. Logam ini disebut sebagai mouth piece. Instrumen Gesek yang
terdiri dari Biola, Biola Alto, Cello, dan Contra Bass. Produksi suara
kelompok instrumen ini dihasilkkan dengan cara menggesekkan tongkat
berserabut yang disebut bow. Di samping itu instrumen-instrumen
penunjang orkestra lainnya ialah piano, harpa, dan perkusi.
Walaupun hingga kini orkestra diyakini sebagai suatu formasi
standar dalam bisnis musik klasik yang menjanjikan, namun sesuai
dengan Standar Komkompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
bidang studi Seni Musik Klasik untuk Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK), instrumen-instrumen orkestra yang akan dibahas hanya dibatasi
pada pembahasan solfegio, sebuah instrumen gesek yaitu Cello, dan tiga
buah instrumen tiup logam yaitu Trompet, Trombone dan Cornet.
Buku teks pelajaran produktif ini didasarkan atas SK/KD
kelompok bidang kejuruan dan program keahlian seni musik klasik pada
Sekolah Menengah Kejuruan musik. Secara keseluruhan SK/KD bidang
ini dapat dikelompokkan kepada pembahasan lima instrumen yaitu: (1)
solfegio, (2) Instrumen Cello, (3) Instrumen Trombone, (4) Instrumen
Soprano Cornet, (5) Instrumen Horn, dan (6) Trompet.
SK program keahlian yang pertama ialah mengidentifikasi solfegio
sementara KD-nya ialah menirukan, menuliskan, dan membaca: (1)
interval, (2) akord, (3) ritme, (4) melodi. Dari SK kedua hingga keenam
terpusat pada pelatihan instrumen Cello, dan dari SK ketujuh hingga
kesebelas pada instrumen trombone. Sementara itu dari SK keduabelas
hingga ketujubelas, masing-masing melibatkan tiga instrumen yaitu
Soprano Cornet, Horn, dan Trompet.
Selain SK/KD pertama, yaitu SK kedua hingga ketujuhbelas,
tersusun dalam struktur dan kata kunci yang sama yaitu: “Menguasai
repertoar dalam daftar A, B, dan C” dan KD yang sama pula dengan kata
kunci “memainkan” aspek-aspek teknik permainan instrumen seperti
tangga nada, tangga nada kromatis, arpegio, dominan tujuh, diminis
tujuh, dan primavista/lagu pendek.
Bidang Keahlian Musik Klasik 9
Bab 2
Beberapa bagian dalam SK/KD program keahlian seni musik klasik
untuk SMK menyulitkan penyusunan materi buku teks ini karena
kalimat repetitif yang tidak jelas baik pada SK maupun KD. Secara
sepintas isi SK seperti sama antara satu dengan yang lainnya, namun jika
diteliti ternyata terdapat perbedaan-perbedaan yang tidak terlalu mudah
dipahami. Kalimat “dalam daftar A, B, dan C” pada SK tidak spesifik dan
masih bersifat abstrak karena tidak ada pernyataan kategori repertoar
apakah yang terdapat pada daftar tersebut. Akan lebih spesifik dan
kongkrit jika kualitas kategori tersebut disebutkan, misalnya: Barok,
Klasik, dan Romantik; atau Etude, Polifonis, dan Modern.
PROGRAM KEAHLIAN SENI MUSIK KLASIK
1. SK: Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(Tangga nada G, D, mayor [Satu Oktaf: naik
turun] C mayor [dua oktaf naik turun])
instrumen cello
KD: 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan arpegio
3) Memainkan primavista
Kalimat di antara tanda kurung: “Kunci nada/ dalam kunci”
(kompetensi 3-11) dan “tangga nada” (kompetensi 2, 12-17) tampaknya
membatasi karakteristik kunci pada repertoar yang harus dimainkan
dalam daftar yang dimaksud. Namun penjelasan tersebut juga
membingungkan karena di dalamnya terdapat juga kalimat: “ tangga
nada … satu oktaf naik turun” (lihat SK ke-2). Menguasai repertoar tidak
bisa diartikan menguasai tangga nada.
Seluruh KD untuk bidang keahlian ini hanya menyangkut aspek
teknik, kecuali primavista. Primavista adalah kemampuan membaca
repertoar sederhana secara spontan atau tanpa persiapan. Dalam bahasa
Inggris dikenal dengan istilah sight reading. Dengan demikian berbeda
dengan latihan-latihan teknik yang meliputi tangga nada dan arpegio,
kalimat yang lebih tepat untuk bagian prima vista ialah “melakukan”
bukan “memainkan.”
Bidang Keahlian Musik Klasik
10
Bab 2
SK/KD yang berkaitan dengan penguasaan Cello ialah sebagai
berikut.
PROGRAM KEAHLIAN SENI MUSIK KLASIK
2. SK: Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(Kunci nada: F, A, Bb mayor; D minor, C, G mayor)
instrumen cello
KD: 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan arpegio
3) Memainkan primavista
3. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(dalam kunci nada: A, Bb mayor; C, G minor; C,
D, F, G mayor; D minor) instrumen cello
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan arpegio
3) Memainkan dominan tujuh
4) Memainkan primavista
4. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(dalam kunci nada: Es, F, G, A, Bb mayor; C, D, G
minor) instrumen cello
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan tangga nada kromatik
3) Memainkan arpegio
4) Memainkan akor dominan tujuh
5) Memainkan lagu pendek secara primavista
5. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(dalam kunci nada: Eb, F, A, Ab, Bb mayor; C, D.
G, D minor) instrumen cello
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan tangga nada kromatik
3) Memainkan arpegio
4) Memainkan akor dominan tujuh
5) Memainkan Diminis Tujuh
6) Memainkan primavista
Bidang Keahlian Musik Klasik 11
Bab 2
SK/KD yang berkaitan dengan penguasaan Trombone adalah
sebagai berikut:
PROGRAM KEAHLIAN SENI MUSIK KLASIK
6. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(dalam Kunci Bass: Bb mayor; C minor; Kunci G:
C mayor; D minor) instrumen Trombone
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan arpegio
3) Memainkan lagu pendek secara primavista
7. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(Kunci Bass: D, Eb mayor; D minor; Ab mayor; G
minor; Kunci G: E, F mayor; E minor; Bb mayor; A
minor) instrumen Trombone
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan tangga nada kromatik
3) Memainkan arpegio
4) Memainkan lagu pendek secara primavista
8. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(Kunci Bass: Db mayor; E minor, Ab, Bb mayor; G
minor; Kunci G: Eb mayor; F# minor, Bb, C
mayor; A minor) instrumen Trombone
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan tangga nada kromatik
3) Memainkan arpegio
4) Memainkan lagu pendek secara primavista
9. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(Kunci Bass: A mayor; C minor (interval
keduabelas) F, F#, G mayor; F, G minor [dua
oktaf]. Kunci G: B mayor; D minor [interval
keduabelas], G, Ab mayor; G, A minor [dua
oktaf]) instrumen Trombone
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan tangga nada kromatik
3) Memainkan arpegio
Bidang Keahlian Musik Klasik
12
Bab 2
4) Memainkan lagu pendek secara primavista
10. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
(Kunci Bass: Bb, C mayor; Bb, C# minor [interval
keduabelas], Ab mayor; F# minor [dua oktaf].
Kunci G: C, D mayor; C, Eb minor [interval
keduabelas] F#, Bb mayor; G minor [dua oktaf])
instrumen Trombone
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan tangga nada kromatik
3) Memainkan arpegio
4) Memainkan lagu pendek secara primavista
SK/KD yang berkaitan dengan penguasaan Soprano Cornet, Horn,
dan Trompet adalah sebagai berikut:
PROGRAM KEAHLIAN SENI MUSIK KLASIK
11. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C,
untuk Eb Soprano Cornet, dan menguasai pada
daftar A dan B untuk Eb Horn (dalam tangga
nada C mayor, A minor) instrumen trompet.
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan arpegio
3) Memainkan lagu pendek secara primavista
12. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
untuk Eb Soprano Cornet, dan menguasai pada
daftar A dan B untuk Eb Horn (dalam tangga
nada Bb, D mayor; A, D minor) instrumen
trompet.
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan tangga nada kromatik
3) Memainkan arpegio
4) Memainkan lagu pendek secara primavista
13. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
untuk Eb Soprano Cornet, dan menguasai pada
Bidang Keahlian Musik Klasik 13
Bab 2
daftar A dan B untuk Eb Horn (dalam tangga
nada Eb, E mayor; C, E minor; A mayor)
instrumen trompet.
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan tangga nada kromatik
3) Memainkan arpegio
4) Memainkan lagu pendek secara primavista
14. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
untuk Eb Soprano Cornet, dan menguasai pada
daftar A dan B untuk Eb Horn (dalam tangga
nada F mayor; F minor; Ab, Bb mayor; A, B
minor) instrumen trompet.
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan tangga nada kromatik
3) Memainkan arpegio
4) Memainkan lagu pendek secara primavista
15. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
untuk Eb Soprano Cornet, dan menguasai pada
daftar A dan B untuk Eb Horn (dalam tangga
nada Bb, Db mayor; Bb, C# minor; G, Ab mayor;
G minor) instrumen trompet.
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan arpegio
3) Memainkan tangga nada kromatik
4) Memainkan akor dominan tujuh
16. SK Menguasai repertoar dalam daftar A, B, dan C
untuk Eb Soprano Cornet, dan menguasai pada
daftar A dan B untuk Eb Horn (dalam tangga
nada Bb, Db mayor; Bb, C# minor, G, Ab mayor;
G minor) instrumen trompet.
KD 1) Memainkan tangga nada
2) Memainkan arpegio
3) Memainkan tangga nada kromatik
4) Memainkan akor dominan tujuh
Bidang Keahlian Musik Klasik
14
Bab 2
• Bacaan untuk Pendalaman:
Kodijat, Latifah. 1983. Istilah-istilah Musik. Jakarta: Penerbit Jambatan.
• Latihan (Jawab dan diskusikan):
1. Bidang keahlian musik klasik meliputi apa saja?
2. Membuat atau menulis lagu termasuk bidang keahlian apa?
3. Kondakter termasuk ke dalam kelompok keahlian apa?
4. Apa yang kamu ketahui tentang ”resital” dalam konteks musik
klasik?
5. Menurut apakah harpa termasuk instrumen orkestra?
6. Saxophone termasuk kelompok instrumen tiup kayu atau tiup
logam? Jelaskan jawabanmu!
7. Apakah perbedaan ciri dari segi proses produksi suara kelompok
tiup logam dan tiup kayu?
8. Trombone termasuk kategori instrumen bersuara rendah atau
tinggi?
9. Menurutmu peranan melodi pokok dalam kelompok tiup logam
dimainkan oleh instrumen apa?
10. Mengapa Flute digolongkan ke dalam kelompok tiup kayu
sementara tidak menggunakan reed seperti instrumen tiup kayu
yang lain?
BAB 3
PENGERTIAN MUSIK
M
usik pada hakikatnya adalah bagian dari seni yang menggu-
nakan bunyi sebagai media penciptaannya. Walaupun dari
waktu ke waktu beraneka ragam bunyi, seperti klakson
maupun mesin sepeda motor dan mobil, handphone, radio, televisi, tape
recorder, dan sebagainya senantiasa mengerumuni kita, tidak semuanya
dapat dianggap sebagai musik karena sebuah karya musik harus
memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut merupakan
suatu sistem yang ditopang oleh berbagai komponen seperti melodi,
harmoni, ritme, timbre (warna suara), tempo, dinamika, dan bentuk.
Sebelum lebih jauh membahas syarat-syarat tersebut berikut aspek-aspek
lain yang terkait dengannya seperti sejarah musik, pencipta musik, karya-
karya musik, dan berbagai formasi pertunjukan musik, bab ini akan
terlebih dahulu meninjau beberapa definisi tentang musik, fungsi musik,
dan jenis-jenis musik.
3.1. Pengertian Musik
Walaupun banyak dari para ahli musik telah mencoba memberikan
definisi tentang musik, namun hingga kini belum ada satupun yang
diyakini merupakan satu-satunya pengertian yang paling lengkap.
Tampaknya ada yang memahami musik sebagai kesan terhadap sesuatu
yang ditangkap oleh indera pendengarannya. Di samping itu ada juga
yang pemahamannya bertolak dari asumsi bahwa musik adalah suatu
karya seni dengan segenap unsur pokok dan pendukungnya. Walaupun
demikian ada juga yang berbeda pandangan dari kedua model tersebut.
Terlepas dari berbagai perbedaan, beberapa definisi berikut ini dapat
membantu kita untuk memahami pengertian tentang musik.
Dari penulis-penulis Indonesia di antaranya dapat dijumpai
sejumlah definisi tentang musik. Jamalus (1988, 1) berpendapat bahwa
musik adalah karya seni bunyi berbentuk lagu atau komposisi musik
yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-
Pengertian Musik
16
Bab 3
unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk dan struktur lagu dan
ekspresi sebagai satu kesatuan. Rina (2003, 9) setuju dengan pendapat
bahwa musik merupakan salah satu cabang kesenian yang
pengungkapannya dilakukan melalui suara atau bunyi-bunyian. Prier
(1991, 9) sependapat degan Aristoteles bahwa musik merupakan curahan
kekuatan tenaga penggambaran yang berasal dari gerakan rasa dalam
suatu rentetan suara (melodi) yang berirama.
Menurut ahli perkamusan (lexicographer) musik, sebagaimana
dikutip oleh Ewen (1963, vii) ialah:
“The science and art of the rhytmic combination of tones, vocal or instrumental,
embracing melody and harmony for the expression of anything possible by this means,
but chiefly emotional”
”Ilmu dan seni dari kombinasi ritmis nada-nada, vokal maupun instrumental,
yang melibatkan melodi dan harmoni untuk mengekspresikan apa saja yang
memungkinkan, namun khususnya bersifat emosional”
Walaupun demikian selama berabad-abad para ahli menganggap
definisi kamus tersebut kurang memuaskan. Sebagai alternatif, di
antaranya ada yang memahami musik sebagai ”bahasa para dewa”; yang
lain mengatakan bahwa: ”music begins where speech ends” (musik mulai
ketika ucapan berhenti). Romain Rolland berpendapat bahwa musik
adalah suatu janji keabadian; bagi Sydney Smith musik ialah satu-
satunya pesona termurah dan halal di muka bumi.
Goethe berpendapat bahwa musik mengangkat dan memuliakan
apa saja yang diekspresikannya. Mendelssohn meyakini bahwa musik
dapat mencapai suatu wilayah yang kata-kata tidak sanggup
mengikutinya, dan Tchaikovsky berkata bahwa musik adalah ilham yang
menurunkan kepada kita keindahan yang tiada taranya. Musik adalah
logika bunyi yang tidak seperti sebuah buku teks atau sebuah pendapat.
Ia merupakan suatu susunan vitalitas, suatu mimpi yang kaya akan
bunyi, yang terorganisasi dan terkristalisasi. Sehubungan dengan itu
Herbert Spencer, seorang filsuf dari Inggris mempertimbangkan musik
sebagai seni murni tertinggi yang terhormat. Dengan demikian musik
adalah pengalaman estetis yang tidak mudah dibandingkan pada setiap
orang, sebagaimana seseorang dapat mengatakan sesuatu dengan
berbagai cara (Ewen 1963, vii-viii).
Pengertian Musik 17
Bab 3
Dari perspektif interpretasi atau penikmatannya, musik juga dapat
dipahami sebagai bahasa karena ia memiliki beberapa karakteristik yang
mirip dengan bahasa. Berkaitan dengan hal tersebut Machlis (1963, 4)
memahami musik sebagai bahasa emosi-emosi yang tujuannya sama
seperti bahasa pada umumnya, yaitu untuk mengkomunikasikan
pemahaman. Sebagai bahasa musik juga memiliki tata bahasa, sintaksis,
dan retorika, namun tentunya musik merupakan bahasa yang berbeda.
Setiap kata-kata memiliki pengertian yang kongkrit, sementara nada-
nada memiliki pengertian karena hubungannya dengan nada-nada yang
lain. Kata-kata mengekspresikan ide-ide yang spesifik sedangkan musik
menyugestikan pernyataan-pernyataan misterius dari pikiran atau
perasaan.
Dari beberapa pendapat di atas setidaknya dapat dipahami bahwa
musik merupakan salah satu cabang seni pertunjukan seperti tari, drama,
puisi, dan sebagainya. Sebagai sebuah karya seni, musik adalah
ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan lewat komposisi jalinan
nada atau melodi, baik dalam bentuk karya vokal maupun instrumental.
Di samping itu musik adalah suatu karya seni yang tersusun atas
kesatuan unsur-unsur seperti irama, melodi, harmoni, bentuk atau
struktur, dan ekspresi.
3.2. Manfaat Musik
Dari perspektif filsafat, musik diartikan sebagai bahasa nurani yang
menghubungkan pemahaman dan pengertian antar manusia pada sudut-
sudut ruang dan waktu, di mana pun kita berada. Oleh karena itu
Nietzsche, seorang filsuf Jerman, meyakini bahwa musik tidak diragukan
dapat memberikan kontribusi yang positif bagi kehidupan manusia.
Sehubungan dengan itu ia mengatakan: \"Without music, life would be an
error.\" Dalam kenyataannya musik memang memiliki fungsi atau peran
yang sangat penting sehingga tidak satupun manusia yang bisa lepas
dari keberadaan musik.
3.2.1. Musik Sebagai Hiburan
Aristoteles, filsuf Yunani yang lahir di Stagira pada tahun 384 SM,
mengatakan bahwa musik mempunyai kemampuan untuk mendamaikan
hati yang gundah. Sehubungan dengan itu musik memiliki efek terapi
Pengertian Musik
18
Bab 3
yang rekreatif dan lebih jauh lagi dapat menumbuhkan jiwa patriotisme.
Pandangan Aristoteles ini setidaknya memberikan gambaran kepada kita
bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupannya, manusia tidak selalu
menjumpai hal-hal yang menyenangkan. Suatu ketika ia bisa mengalami
peristiwa yang menyedihkan, memilukan, atau bahkan menyakitkan,
sedangkan di lain waktu, bisa juga mengalami peristiwa yang sungguh
menyenangkan.
Musik dapat mempengaruhi hidup seseorang, hanya dengan
musik, suasana ruang batin seseorang dapat dipengaruhi. Entah apakah
itu suasana bahagia ataupun sedih, bergantung pada pendengar itu
sendiri. Jelasnya, musik dapat memberi semangat pada jiwa yang lelah,
resah dan lesu. Apalagi bagi seseorang yang sedang jatuh cinta, musik
seakan-akan dapat menjadi kekuatan untuk menyemangati perjalanan
cinta seseorang.
Sebagai hiburan, musik dapat memberikan rasa santai dan nyaman
atau penyegaran pada pendengarnya. Terkadang pada saat pikiran kita
lagi risau, serba buntu, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan; dengan
mendengarkan musik, segala pikiran bisa kembali segar. Hasilnya, kita
bersemangat kembali mengerjakan sesuatu yang tertunda.
Di samping itu sebagai hiburan, musik juga dapat menyembuhkan
depresi, musik terbukti dapat menurunkan denyut jantung. Ini
membantu menenangkan dan merang-sang bagian otak yang terkait ke
aktivitas emosi dan tidur. Peneliti dari Science University of Tokyo
menunjukkan bahwa musik dapat membantu menurunkan tingkat stres
dan gelisah. Penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan musik klasik
adalah cara terbaik untuk membantu mengatasi depresi.
3.2.2. Musik dan Terapi Kesehatan
Musik dapat berfungsi sebagai alat terapi kesehatan. Ketika
seseorang mendengarkan musik, gelombang listrik yang ada di otaknya
dapat diperlambat atau dipercepat dan pada saat yang sama kinerja
sistem tubuh pun mengalami perubahan. Bahkan, musik mampu
mengatur hormon-hormon yang mempengaruhi stres seseorang, serta
mampu meningkatkan daya ingat. Musik dan kesehatan memiliki kaitan
Pengertian Musik 19
Bab 3
erat, dan tidak diragukan bahwa dengan mendengarkan musik
kesukaannya seseorang akan mampu terbawa ke dalam suasana hati
yang baik dalam waktu singkat.
Musik juga memiliki kekuatan memengaruhi denyut jantung dan
tekanan darah sesuai dengan frekuensi, tempo, dan volumenya. Makin
lambat tempo musik, denyut jantung semakin lambat dan tekanan darah
menurun. Akhirnya, pendengar pun terbawa dalam suasana santai, baik
itu pada pikiran maupun tubuh. Oleh karena itu, sejumlah rumah sakit di
luar negeri mulai menerapkan terapi musik pada pasiennya yang
mengalami rawat inap.
Musik dapat menyembuhkan sakit punggung kronis, ia bekerja
pada sistem syaraf otonom yaitu bagian sistem syaraf yang bertanggung
jawab mengontrol tekanan darah, denyut jantung, dan fungsi otak—yang
mengontrol perasaan dan emosi. Menurut penelitian, kedua sistem
tersebut bereaksi sensitif terhadap musik. Ketika kita merasa sakit, kita
menjadi takut, frustasi dan marah yang membuat kita menegangkan
ratusan otot dalam punggung. Mendengarkan musik secara teratur
membantu tubuh santai secara fisik dan mental sehingga membantu
menyembuhkan dan mencegah sakit punggung. Para ahli yakin setiap
jenis musik klasik seperti Mozart atau Beethoven dapat membantu sakit
otot.
Fungsi kesehatan lain ialah untuk membantu kelahiran. Dengan
memperdengarkan musik, ibu hamil akan terbantu dalam menghadapi
rasa sakit saat melahirkan. Bentuk ekspresi melalui musik dapat
menyembuhkan sakit dalam tubuh dan membantu otot menjadi relaks.
Dokter menganjurkan jenis musik klasik atau musik masa kini tetapi
mendengarkan musik pilihan sendiri juga baik.
Telah terbukti bahwa musik juga sangat membantu anak sebelum
menjalani operasi. Mendengarkan musik bagi anak yang tengah
menunggu operasi dapat membantu menyembuhkan ketakutan dan
gelisah karena musik membantu menenangkan ketegangan otot.
Meskipun tidak ada musik khusus, musik-musik yang akrab bagi anak-
anak jelas yang terbaik.
Pengertian Musik
20
Bab 3
3.2.3. Musik dan Kecerdasan
Musik memiliki pengaruh terhadap peningkatan kecerdasan
manusia. Salah satu istilah untuk sebuah efek yang bisa dihasilkan
sebuah musik yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan
intelegensia seseorang, yaitu Efek Mendengarkan Musik Mozart. Hal ini
sudah terbukti, ketika seorang ibu yang sedang hamil duduk tenang,
seakan terbuai alunan musik tadi yang juga ia perdengarkan di perutnya.
Hal ini dimaksudkan agar kelak si bayi akan memiliki tingkat
intelegensia yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang
dibesarkan tanpa diperkenalkan pada musik. Dengan cara tertentu, otak
pun akan distimulasi untuk “belajar” segala sesuatu lewat nada-nada
musik. Selain itu, musik-musik yang berirama klasik adalah jenis musik
yang dianjurkan banyak pakar buat ibu hamil dan si bayi, yaitu bisa
mencerdaskan bayi dan juga bisa memberi ketenangan buat ibu yang
sedang hamil.
Sehubungan dengan itu, musik mampu mencegah kehilangan
daya ingat. Bagi banyak orang yang mengalami kehilangan daya ingat
dimana berbicara dengan bahasa menjadi tidak berguna, musik dapat
membantu pasien mengingat nada atau lagu dan berkomunikasi dengan
sejarah mereka. Ini karena bagian otak yang memproses musik terletak di
sebelah memori. Para peneliti menunjukkan bahwa orang dengan
kehilangan daya ingat merespon lebih baik terhadap jenis musik
pilihannya.
3.2.4. Musik dan Kepribadian
Musik diyakini dapat meningkatkan motivasi seseorang. Bagi
orang yang berolahraga musik dapat meningkatkan motivasi untuk
melakukan olahraga yang lebih baik. Untuk selanjutnya pada saat
berolahraga musik membantu olahragawan untuk meningkatkan daya
tahan, meningkatkan mood dan mengalihkan olahragawan dari setiap
pengalaman yang tidak nyaman selama olahraga. Jenis musik terbaik
untuk olah raga adalah musik dengan tempo cepat seperti hip-hop atau
musik dansa.
Pengertian Musik 21
Bab 3
Motivasi adalah hal yang hanya bisa dilahirkan dengan perasaan
dan suasana hati tertentu. Apabila ada motivasi, semangat pun akan
muncul dan segala kegiatan bisa dilakukan. Begitu juga sebaliknya, jika
motivasi terbelenggu, maka semangat pun menjadi luruh, lemas, tak ada
tenaga untuk beraktivitas. Coba saja diingat saat upacara bendera setiap
Senin pagi yang di dalam upacara tersebut kita diwajibkan menyanyikan
lagu wajib nasional itu, semata-mata kan hanya untuk menimbulkan
motivasi mencintai negeri, mengenang jasa pahlawan, dan memberi
semangat baru pada pesertanya. Hal ini seharusnya berlaku juga pada
irama mars yang merupakan irama untuk mengobarkan semangat
perjuangan.
Perkembangan kepribadian seseorang juga dapat mempengaruhi
dan dipengaruhi oleh jenis musik yang didengar. Sewaktu kecil kita suka
mendengarkan lagu-lagu anak, setelah dewasa kita pun akan memilih
sendiri jenis musik yang kita sukai. Pemilihan jenis musik yang disukai
bisa dibilang membantu kita untuk memberikan nuansa hidup yang kita
butuhkan.
3.3. Fungsi Musik dalam Masyarakat
Sebagai bagian dari kesenian yang merupakan salah satu dari tujuh
unsur kebudayaan universal, musik memiliki fungsi sosial yang secara
universal umumnya dapat ditemukan di setiap kebudayaan suku bangsa
manapun di seluruh dunia.
3.3.1. Fungsi Ekspresi Emosional
Pada berbagai kebudayaan, musik memiliki fungsi sebagai
kendaraan dalam mengekspresikan ide-ide dan emosi. Di Barat musik
digunakan untuk menstimulasi perilaku sehingga dalam masyarakat
mereka ada lagu-lagu untuk menghadirkan ketenangan. Para pencipta
musik dari waktu ke waktu telah menunjukkan kebebasannya
mengungkapkan ekspresi emosinya yang dikaitkan dengan berbagai
objek cerapan seperti alam, cinta, suka-duka, amarah, pikiran, dan
bahkan mereka telah mulai dengan cara-cara mengotak-atik nada-nada
sesuai dengan suasana hatinya.
Pengertian Musik
22
Bab 3
3.3.2. Fungsi Penikmatan Estetis
Pada dasarnya setiap orang telah dikaruniai oleh Tuhan dengan
berbagai kemampuan belajar (ability to learn) dan bakat (talent) tentang
apa saja. Selain bisa belajar dari lingkungan alam dan sosialnya, orang
juga bisa belajar dari pengalamannya sendiri. Setiap orang memiliki
kemampuan dan kecepatan berbeda-beda dalam hal mencerap atau
memahami keindahan tentang apa saja termasuk pula keindahan musik.
Untuk menikmati rasa indah (estetis), maka orang perlu belajar
dengan cara membiasakan diri mendengarkan musik-musik kesukaan-
nya sendiri. Kemudian ia bisa mulai mencoba mendengarkan musik-
musik jenis lain yang baru didengarnya dan kemudian akan
menyukainya. Setiap jenis musik memiliki keunikan melodis, ritmis, dan
harmonis; maupun terkait dengan komposisi dan instrumentasinya.
3.3.3. Fungsi Hiburan
Hiburan (entertainment) adalah suatu kegiatan yang menyenangkan
hati bagi seseorang atau publik. Musik sebagai salah-satu cabang seni
juga memiliki fungsi menyenangkan hati, membuat rasa puas akan
irama, bahasa melodi, atau keteraturan dari harmoninya. Seseorang bisa
saja tidak memahami teks musik, tetapi ia cukup terpuaskan atau
terhibur hatinya dengan pola-pola melodi, atau pola-pola ritme dalam
irama musik tertentu.
Jika para penikmat musik klasik sangat senang dengan
kompleksitas bangun musik dan orkestrasinya, maka pencinta musik pop
lebih terhibur dengan teks syair, melodi yang menyentuh kalbu, atraksi
panggung, atau bahkan hanya popularitas penyanyinya saja. Kini musik
bahkan ditengarai lebih berfungsi hiburan karena industri musik
berkembang dengan sangat cepat.
3.3.4. Fungsi Komunikasi
Musik sudah sejak dahulu digunakan untuk alat komunikasi baik
dalam keadaan damai maupun perang. Komunikasi bunyi yang
menggunakan sangkakala (sejenis trumpet), trumpet kerang juga
digunakan dalam suku-suku bangsa pesisir pantai, kentongan juga
Pengertian Musik 23
Bab 3
digunakan sebagai alat komunikasi keamanan di Jawa, dan teriakan-
teriakan pun dikenal dalam suku-suku asli yang hidup baik di
pegunungan maupun di hutan-hutan.
Bunyi-bunyi yang teratur, berpola-pola ritmik, dan menggunakan
alur-alur melodi, menandakan adanya fungsi komunikasi dalam musik.
Komunikasi elektronik yang menggunakan telepon semakin hari
semakin banyak menggunakan bunyi-bunyi musikal.
3.3.5. Fungsi Representasi Simbolik
Dalam berbagai budaya bangsa, suku-suku, atau daerah-daerah
yang masih mempertahankan tradisi nenek-moyang mereka; musik
digunakan sebagai sarana mewujudkan simbol-simbol dari nilai-nilai
tradisi dan budaya setempat. Kesenangan, kesedihan, kesetiaan,
kepatuhan, penghormatan, rasa bangga, dan rasa memiliki, atau
perasaan-perasaan khas mereka disimbolkan melalui musik baik secara
sendiri maupun menjadi bagian dari tarian, syair-syair, dan upacara-
upacara.
3.3.6. Fungsi Respon Sosial
Para pencipta lagu nasional Indonesia sangat peka terhadap adanya
kondisi sosial, tingkat kesejahteraan rakyat, dan kegelisahan masyarakat.
Mereka menciptakan lagu-lagu populer yang menggunakan syair-syair
menyentuh perhatian publik seperti yang dilakukan oleh Bimbo, Ebiet G.
Ade, Iwan Fals, Harry Roesli, Gombloh, Ully Sigar Rusady, dan masih
banyak lagi. Pada umumnya para pencipta lagu itu melakukan kritik
sosial dan bahkan protes keras terutama ditujukan kepada pemerintah.
Para pengamen jalanan juga tak kalah seru mengumandangkan lagu-lagu
protes sosialnya, misalnya lagu yang bertema PNS, penderitaan anak
jalanan, generasi muda yang tanpa arah, dan lain sebagainya.
3.3.7. Fungsi Pendidikan Norma Sosial
Musik banyak pula digunakan sebagai media untuk mengajarkan
norma-norma, aturan-aturan yang sekalipun tidak tertulis namun
Pengertian Musik
24
Bab 3
berlaku di tengah masyarakat. Para pencipta lagu anak seperti Bu Kasur,
Pak Kasur, Pak Daljono, AT Mahmud, Ibu Sud — semua berupaya
mengajarkan anak-anak berperilaku sopan, halus, hormat kepada
orangtua, cinta keindahan, sayangi tanaman dan binatang, patuh pada
guru, dan lain sebagainya. Keindahan alam, kesejahteraan sosial,
kenyamanan hidup, dan semua norma-norma kehidupan bermasyarakat
telah mendapatkan perhatian yang sangat penting dari para pencipta
lagu tersebut.
3.3.8. Fungsi Pelestari Kebudayaan
Lagu-lagu daerah banyak sekali berfungsi sebagai pelestari
budayanya, karena tema-tema dan cerita di dalam syair
menggambarkan budaya secara jelas. Syair-syair lagu sering juga
berasal dari pantun-pantun yang biasa dilantunkan oleh
masyarakat adat dan daerah-daerah di Indonesia. Budaya
Minangkabau dapat dipertahankan keberadaannya dengan
berbagai cara, tetapi musik Minang sangat jelas karakteristiknya
yang mudah mewakili daya tarik terhadap tempat berkembangnya
budaya itu ialah Propinsi Sumatera Barat dan sekitarnya.
Lagu-lagu Jawa, mulai dari yang klasik hingga kini yang berwarna
populer seperti musik campursari, digemari masyarakat Jawa Tengah dan
Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melengkapi musik kroncong yang
lebih dahulu berkembang. Ada budaya Jawa yang dilestarikan melalui
syair-syair berbasa Jawa, melodi-melodi yang bernuansa Jawa dari
karawitan. Demikian pula dengan musik Sunda dan sekitarnya di
Propinsi Jawa Barat, memiliki rasa yang sangat khas adalah bagian dari
upacara-upacara sosial dan keagamaan masyarakatnya. Dengan
demikian jelas bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya dan
terutama musiknya seperti termasuk yang paling dikenal dunia seperti
Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan bahkan Papua.
3.3.9. Fungsi Pemersatu Bangsa
Setiap bangsa memiliki lagu kebangsaan (national anthem) yang
mewakili citarasa estetik, semangat kebangsa-an, dan watak dari budaya
Pengertian Musik 25
Bab 3
masing-masing. Lagu kebangsa-an Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf
Soepratman adalah lagu atau musik yang diciptakan untuk
mempersatukan bangsa Indonesia yang mendiami daerah-daerah di
wilayah Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil.
Keaneka-ragaman budaya yang sangat banyak jumlahnya harus
dirangkum dalam satu kesatuan budaya nasional tanpa meninggalkan
budaya-budaya lokal. Dalam kesatuan tanah-air, bangsa, dan bahasa;
Indonesia diperke-nalkan kepada dunia melalui Indonesia Raya. Tetapi,
lagu-lagu nasional Indonesia juga tidak sedikit yang bisa berfungsi
sebagai pemersatu bangsa sekalipun bukan sebagai lagu kebangsaan,
contohnya antara lain Berkibarlah Benderaku, Bangun Pemudi-Pemuda,
Bagimu Negeri, Satu Nusa Satu Bangsa, Indonesia Pusaka, Hari Merdeka,
Rayuan Pulau Kelapa, Mars Pancasila, Halo-Halo Bandung, dan Syukur.
3.3.10. Fungsi Promosi Dagang
Musik yang dikreasi untuk kepentingan promosi dagang kini
banyak berkembang seiring dengan laju pertumbuhan iklan yang
disiarkan melalui radio-radio siaran dan televisi-televisi swasta terutama
di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Musik-musik iklan bisa saja
dirancang oleh penciptanya secara baru, tetapi juga ada yang berbentuk
penggalan lagu yang sudah ada, sudah populer, dan digemari segmen
pasar yang dituju.
3.4. Musik Klasik dan Proses Sosial
Di atas telah disinggung berbagai pemahaman musik serta
fungainya sehingga dapat kita maklumi bahwa musik memiliki manfaat
yang nyata bagi kehidupan manusia pada umumnya dan pada
kebudayaan tertentu khususnya. Keberadaan musik pada suatu
kebudayaan adalah suatu yang wajar karena ia adalah bagian dari
kesenian yang merupakan salah satu dari ciri kebudayaan universal.
Manfaat dan fungsi musik sebagaimana yang telah diuraikan di
atas mengandung pengertian atau definisi bahwa musik ialah proses
Pengertian Musik
26
Bab 3
sosial. Walaupun musik klasik termasuk ke dalam kategori musik seni
yang mengutamakan segi estetik dan artistik namun dalam beberapa
kesempatan secara insidental juga digunakan sebagai proses sosial. Jenis
musik klasik yang digunakan dalam proses sosial seperti misalnya,
resepsi perkawinan, pengangkatan jabatan, perayaan-perayaan, dan
sebagainya, biasanya dipilih yang ringan atau bersifat menghibur.
3.5. Musik Klasik dan Ekspresi Artistik
Walaupun sama-sama memiliki fungsi menghibur, perbedaan
musik klasik dengan jenis-jenis musik hiburan lainnya adalah: Sementara
musik hiburan melayani kebutuhan pelepas lelah maka musik klasik
melayani rasa haus estetik dan artistik yang lebih tinggi. Pada musik
hiburan audiens cenderung dilayani sehingga tidak perlu repot-repot
mencurahkan perhatiannya. Dengan kata lain audiens cenderung
bersikap pasif. Pada musik klasik audiens tidak semata-mata dilayani
tapi juga disediakan spasi yang lebih luas untuk mencari sudut-sudut
kenikmatan dalam suatu karya musik.
Sehubungan dengan itu musik hiburan biasanya sederhana
sedangkan kekuatannya terletak pada lirik yang didukung oleh melodi
sederhana yang logis. Dari segi sitem musikal sebenarnya tidak ada
perbedaan yang signifikan di antara musik hiburan dengan musik klasik
diatonis; misalnya di antara lagi Ebied G. Ade dan sonata W.A. Mozart.
Namun pengolahannya yang mendalam pada musik klasik sehingga
mampu mewadahi tidak hanya semata-mata ekspresi estetis namun juga
artistik. Audiens musik klasik tidak melulu membutuhkan hiburan tapi
secara aktif membutuhkan kenikmatan estetis dan artistik.
• Bacaan untuk Pendalaman:
Ewen, David. 1963. “Introduction: Music – The Heavenly Maid”
dalam The Home Book of Musical Knowledge. New Jersey:
Prentice Hall, Inc., hal. vii-viii.
Sylado, Remy. 1983. Menuju Apresiasi Musik. Bandung: Penerbit
Angkasa.
Pengertian Musik 27
Bab 3
• Latihan (Jawab dan diskusikan):
1. Menurutmu apakah pengertian “Musik”?
2. Apakah “musik” memiliki pengertian yang universal?
3. Jelaskan apa manfaat umum musik bagi kehidupan manusia!
4. Sebutkan tiga contoh fungsi musik!
5. Jelaskan apa kemiripan musik dengan bahasa!
6. Jelaskan apa perbedaan di antara musik klasik dan musik
hiburan! Apa kontribusi musik dalam pendidikan anak?
BAB 4
ELEMEN-ELEMEN DASAR MUSIK
P
ada bab ini kita akan mempelajari elemen-elemen dasar
pembentuk musik. Sebagaimana halnya produk-produk manusia
yang lain seperti kendaraan bermotor, gedung, senjata, dan apapun
yang terdapat di dunia ini, bahkan termasuk manusia sendiri yang
merupakan ciptaan Tuhan, maka musik pun tersusun dari unsur-unsur
yang membentuk keberadaannya. Jika dibandingkan dengan manusia
hidup maka musik juga memiliki jiwa, jantung, pikiran, dan kerangka.
Jiwa musik terdapat pada melodi, jantung atau denyut jantungnya
adalah ritme, pikiriannya adakah harmoni dan kontrapung, dan
kerangkanya ialah bentuk. Beberapa komponen pembentuk musik
tersebut tersusun dari bahan-bahan pembentuk unsur-unsur tersebut
yang akan dibahas dalam bab ini.
4.1. Bunyi dan Nada
Bunyi dan nada dipelajari dalam mata pelajaran iImu akustika
musik. Biasanya ilmu akustika dipelajari sebagai landasan dalam
memahami produksi bunyi berbagai instrumen musik. Secara akustik,
bunyi dihasilkan oleh getaran. Sebagai contoh ialah fenomena produksi
suara yang dihasilkan dengan jalan menggesekkan alat penggesek (bow)
pada dawai-dawai biola. Contoh lain ialah petikan pada dawai-dawai
gitar. Perlu dicatat bahwa bunyi bukan vibrasi melainkan efek yang
dihasilkan vibrasi. Secara sederhana bunyi adalah sensasi otak. Bunyi
yang diproduksi alat musik maupun apa saja, menyebar ke segala arah.
Beberapa di antaranya ditangkap oleh telinga kemudian dikirim ke otak.
Otak kemudian menerjemahkan pesan-pesan tersebut sebagai bunyi.
Nada memiliki tingkat ketinggian yang berbeda-beda. Tingkat
ketinggian bunyi maupun nada yang dalam istilah internasional disebut
pitch (bahasa Inggris) ditentukan oleh kecepatan getar atau biasa disebut
frekuensi. Getaran yang teratur pada jumlah tertentu dalam setiap
detiknya menghasilkan nada-nada musikal yang membedakan dari
Elemen-elemen Dasar Musik
30
Bab 4
bunyi yang diproduksi untuk tujuan lain. Semakin tinggi kecepatan
getaran maka semakin tinggi pula tingkat ketinggian suatu bunyi atau
nada. Sebuah nada dengan jumlah getaran tertentu akan menjadi satu
oktaf lebih tinggi jika jumlah getarannya dilipat gandakan. Misalnya
nada C tengah yang memiliki 256 getaran per detik, maka nada oktafnya,
yaitu C berikutnya, akan memiliki 512 getaran per detik.
4.2. Melodi
Melodi yang setiap hari didengar oleh setiap pecinta musik klasik
tersusun dari tangga nada diatonis. Dia, dari bahasa Latin, berarti tujuh,
dan tonis dari kata tonic yang berarti nada. Jika ditambahkan satu nada
lagi sebagai pengulangan nada pertama maka seluruhnya terdiri dari
delapan nada. Penyebutan nada-nada musikal menggunakan tujuh abjad
pertama yaitu A, B, C, D, E, F, dan G. Walaupun demikian tangga nada
mayor yang paling mendasar mulai dari nada C sebagai nada yang
terrendah dan dilanjutkan dengan D, E, F, G, A, B, hingga yang tertinggi
sebagai kelipatan nada perama yaitu C, disebut sebagai oktaf.
Ilustrasi 4.1.:
Susunan Tangga Nada Mayor
Selama berabad-abad komposer menyusun serta menyusun ulang
susunan kedelapan nada tersebut ke dalam berbagai lagu baru. Susunan
kedelapan nada tersebut memiliki setidaknya dua pola yang disebut
Mayor dan Minor. Tangga nada mayor memiliki jarak setenga (semi tone)
di antara nada ketiga dan keempat, dan di antara nada ketujuh dan
kedelapan, sementara di antara nada-nada selain urutan tersebut berjarak
penuh (tone) tersebut.
Ilustrasi 4.2.:
Susunan tangga nada Minor Asli dari “A”.
Elemen-elemen Dasar Musik 31
Bab 4
Tangga nada minor memiliki jarak setengah nada di antara nada
kedua dan ketiga, dan di antara nada kelima dan keenam. Susunan pola
Minor tersebut dikenal sebagai tangga nada Minor Asli atau Natural.
Sebenarnya terdapat dua variasi tangga nada Minor namun akan dibahas
secara khusus pada bab yang lainnya. Dengan pola tersebut maka tangga
nada diatonis dapat dikembangkan hingga 48 tangga nada mayor dan
minor.
Di samping susunan Mayor dan Minor, terdapat juga susunan lain
yang pada saat ini jarang digunakan dan kurang dikenal. Di antaranya
ialah tangga nada modus-modus gereja, tangga nada berjarak penuh
(whole-tone) yang digunakan oleh Debussy, dan tangga nada pentatonik
(lima nada) yang banyak digunakan di wilayah Asia. Di samping itu
terdapat juga pola yang dikembangkan dari sistem diatonis yaitu tangga
nada kromatis yang berjarak setengah (semi tone) dari satu nada ke nada
yang lainnya.
4.3. Ritme dan Tempo
Ritme dan tempo dapat diibaratkan jantung dari musik. Damrosch
(dikutip oleh Ewen 1954:4) mengibaratkan Tempo sebagai polisi yang
mengatur kelancaran lalulintas sedangkan kelancaran lalulintasnya ialah
ritme. Tempo ialah ketentuan tingkat kecepatan atau cepat-lambatnya
suatu lagu harus dibawakan. Petunjuk tempo biasanya tertulis di kiri atas
halaman pertama sebuah komposisi musik. Petunjuk tersebut umumnya
menggunakan bahasa Italia seperti misalnya: Andante, Allegro, largo,
Presto, dan sebagainya.
Ilustrasi 4.3.:
Contoh letak petunjuk tempo (Allegro Vivace) dan tanda irama 2/4
pada Sonata Beethoven (Serie 16; Np. 139)
Elemen-elemen Dasar Musik
32
Bab 4
Ritme ialah pengaturan panjang pendeknya dan bertekanan atau
tidaknya nada-nada, menurut pola yang berulang-ulang. Dengan
demikian dapat juga dikatakan bahwa ritme ialah melodi dari sebuah
nada tunggal (monotone). Secara umum ritme ialah denyut jantung
sebuah karya musik yang tanpanya musik tidak dapat hidup atau
bernafas.
Pada setiap karya musik terdapat Tanda Birama. Istilah ini berasal
dari istilah bahasa Inggris, time signature. Walaupun demikian di negara
kita sering juga disebut dengan istilah lain seperti Tanda Sukat. Tanda
ini ditulis dalam bentuk pembagian angka yang menunjukan jumlah
tekanan dalam setiap birama, yaitu ruas-ruas yang membatasi
pengulangan-pengulangan pola ritme (akan dijelkaskan pada bab yang
lain).
Ilustrasi 4.4.:
Irama “common time” ditandai dengan tanda “C” pada
permulaan lagu untuk solo gitar.
Gambar di atas ialah contoh transkripsi permainan solo gitar ke
dalam dua sistem notasi yaitu Not Balok dan Tablatur sehingga gitaris
bisa memilih salah satu di antaranya. Sebagaimana tampak pada gambar
tersebut, Jenis irama yang paling sering dijumpai ialah “common time”,
yaitu istilah lain dari irama 4/4. Secara sederhana dapat dijelaskan
bahwa dengan irama ini akan terdapat empat nada seperempat dalam
setiap bar. Walaupun demikian sebenarnya kita dapat menggantikan
nada-nada seperempat tersebut dengan nada-nada lain seperti nada
setengah, seperdelapan, dsb. Secara khusus 4/4 berarti empat ketukan
tiap birama. Irama Waltz (3/4) memiliki tiga ketukan tiap birama,
sedangkan irama Mars (2/4) memiliki dua ketukan. Tanda irama juga
Elemen-elemen Dasar Musik 33
Bab 4
menggunakan satuan nada-nada seper-delapan seperti misalnya 3/8,
6/8, dan 12/8)
4.4. Harmoni dan Kontrapung
Dapat dikatakan bahwa harmoni dan kontrapung ialah otak atau
pikiran dari musik. Harmoni ialah ilmu mengkombinasikan nada-nada
ke dalam suatu akor yang biasanya terdiri dari susunan tiga atau empat
nada. Akor terdiri dari tiga nada yang dipisahkan oleh dua buah interval
tiga (Terts) disebut Trisuara atau triad. Jika sebuah Trisuara dibangun di
atas nada pertama maka disebut trisuara Tonika. Trisuara yang memiliki
empat nada disebut Akor Tujuh. Akor ini biasanya dibangun di atas nada
kelima (Dominan).
Sebuah trinada disusun dengan menggunakan interval Terts.
Misalnya jika dibangun di atas nada C maka susunannya ialah C, E, G.
Jika ditambahkan satu interval lagi di aasnya, yaitu C, E, G, B, maka
tersusun Akor Tujuh. Susunan dasar tersebut dapat divariasi dengan
memindahkan nada terrendah ke/ menjadi nada teratas (E, G, C);
susunan seperti ini disebut pembalikan pertama. Jika kita kemudian
memindahkan nada terrendah dari susunan pembalikan pertama yaitu E,
menjadi nada teratas (dalam hal ini G menjadi yang terrendah), maka
susunan ini disebut pembalikan kedua.
Pada susunan pembalikan pertama terbentuk interval sekt
(keenam) di antara nada pertama dan ketiga sehingga biasa disebut
sebagai akor 6/3. Sementara itu pada susunan pembalikan kedua
terdapat interval empat (kwart) di antara nada pertama dan kedua
sehingga susunan ini biasa juga disebut sebagai akor 6/4. Dalam karya
piano sering kita jumpai permainan melodi oleh tangan kanan dan
permainan harmoni pada tangan kiri. Jika hanya dimainkan melodinya
saja maka akan secara musikal terasa kosong, kurang dalam, kaya, dan
juga lemah dalam warna suara. Harmoni akan dibahas lebih lanjut dalam
pembahasan akord dan arpegio pada bab ke-9.
Di samping susunan harmoni terdapat juga susunan kontrapung.
Dalam suatu harmoni terdapat melodi tunggal dengan iringan harmoni
sedangkan dalam harmoni terdapat beberapa melodi yang berjalan secara
simultan dengan suatu efek harmonis yang tidak bertabrakan. Walaupun
Elemen-elemen Dasar Musik
34
Bab 4
demikian, dengan menggunakan teknik Imitasi, efek kontrapung dapat
juga dihadirkan hanya dengan menggunakan satu alur melodi saja.
Kontrapung dapat didefinisikan sebagai seni mengkombinasikan
melodi. Dalam konteks yang lebih luas kita dapat membedakan antara
gaya homofoni denga kontrapungtis. Gaya homofonik pada dasarnya
bersifat akor (chordal) yang umumnya tampak pada berbagai lagu himne
sebagai contoh bentuk yang paling sederhana. Pada model tersebut lagu
diringi oleh akor-akor dasar atau sederhana. Di samping itu juga biasa
terdapat pada grekan-gerakan satabande pada suite abad ke-18. Dalam
penulisan kontrapung juga terdapat basis logika akor, tapi bagian-bagian
suaranya memiliki alur melodi yang berdiri sendiri. Sebagai contoh yang
sederhana ialah kontrapung pada karya-karya Two-part Invention Bach.
Alur melodi suara basnya sama menariknya dengan melodi pada suara
atas. Demikian pula pada karya-karya Gigue dari French Suite No. 5 Bach,
yang menerapkan kontrapung tiga suara yang berjalan bersama.
Penulis kontrapung yang terkenal di antaranya ialah Bach dan
Handel. Walaupun Bach kadang-kadang mencoba menggunakan konsep
homofonis namun kesan kontrapungnya tetap tidak bisa hilang. Gaya
kontrapung juga seringkali menerapkan teknik-teknik imitasi, bahkan
ada yang secara berlebihan mengatakan bahwa imitasi adalah darah
kehidupan kontrapung. Dalam kenyataanya imitasi adalah teknik yang
jauh lebih ringan dari yang diperkirakan banyak orang. Teknik
kontrapung banyak diterapkan dalam karya-karya solo instrumental,
khususnya piano. Walaupun demikian terdapat juga untuk karya-karya
solo gitar, dan bahkan untuk solo instrumen gesek seperti biola dan cello.
Contoh kontrapung tiga suara di bawah ini dikutip dari Prelude, Fugue,
and Allegro BWV 998, untuk keyboard karya J.S. Bach.
Ilustrasi 4.5:
.”Fugue” dari Prelude, Fugue, and Allegro, BWV 998 (J.S. Bach)
Elemen-elemen Dasar Musik 35
Bab 4
Walaupun pada dasarnya kontrapung ialah paling tidak terjadi dari
perpaduan dua melodi, namun efek kontrapung juga bisa diterapkan
pada alur melodi tunggal, yaitu dengan teknik imitasi. Model kontrapunf
seperti ini dapat dijumpai pada karya-karya Bach, baik untuk permainan
biola maupun cello tanpa iringan. Berikut ini ialah Prelude dari Cello
Suite No. 1 dalam C mayor, yang telah ditranskrip untuk notasi gitar
dalam D mayor.
Ilustrasi 4.6.:
”Prelude” dari Cello Suite No. 1 (J.S. Bach)
Contoh di atas menunjukkan beberapa teknik untuk menimbulkan
kesan kontrapung pada melodi tunggal. Walaupun hanya satu alur
melodi tunggal dengan teknik-teknik imitatif dapat menimbulkan kesan
kontrapung. Pada baris pertama setidaknya tersirat adanya dua alur
melodi. Melodi pertama (suara atas) dalam nada-nada seperenambelas
(semi quaver) sedangkan alur melodi kedua tersusun dari skala D mayor
menurun, mulai dari dominan (lihat nada-nada yang dilingkari). Untuk
baris kedua (dari birama 31) walaupun dalam kenyataannya tertulis
dalam semi quaver tersirat adanya kesan melodi dalam nada-nada quaver
pada alur suara kedua yang diiringi nada-nada monoton pada alur suara
pertama.
4.5. Bentuk Musik
Jika tubuh manusia memiliki kerangka, maka demikian pula
dengan musik. Kerangka tubuh suatu karya musikal ialah bentuk. Para
Elemen-elemen Dasar Musik
36
Bab 4
komponis tidak menulis karyanya begitu saja atau menumpahkan aliran
ide-ide dan bunyi-bunyian secara sporadis tanpa batasan-batasan.
Mereka tentu saja menggunakan disiplin yang mapan mengenai pola-
pola struktural. Simfoni, Konserto, Oratorio, dan Sonata adalah bentuk-
bentuk musik yang lebih besar atau luas dibandingkan dengan bentuk-
bentuk lain yang lebih pendek dan kecil seperti: Bentuk Lagu, Minuet,
Rondo dan Scherzo. Pola struktural dalam bentuk-bentuk inilah yang
dijadikan wadah bagi komposer untuk menumpahkan ide-ide
komposisinya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengetahuan tentang
bentuk musik merupakan peta topografi para komponis yang tentu saja
bermanfaat juga bagi audiens dalam memahami isi musik klasik dalam
rangka mencapai penikmatan yang maksimal.
• Bacaan untuk Pendalaman:
Ewen, David. 1963. “The ABC of Music” dalam The Home Book of
Musical Knowledge. New Jersey: Prentice Hall, Inc., hal. 3-6.
Jones, Goerge Thaddeus.1974.Music Theory.London:Barnes &
Noble Books.
• Latihan-latihan :
1. Menurutmu apa perbedaan di antara “bunyi” dan “nada”?
2. Sebutkan empat elemen dasar musik!
3. Jelaskan perbedaan konstruksi di antara tangga nada Mayor
dan Minor!
4. Ada berapa variasi tangga nada Minor? Sebutkan masing-
masing!
5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “Tempo” dan “Ritme”!
6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tanda irama? Berikan
contohnya!
7. Apa yang dimaksud “common time”?
Elemen-elemen Dasar Musik 37
Bab 4
8. Apakah yang disebut dengan “Trisuara”?
9. Apakah yang dimaksud dengan harmoni?
10. Apakah yang dimaksud dengan kontrapung?
11. Apakah perbedaan yang mendasar di antara kontrapung dan
harmoni?
BAB 5
NILAI NADA DAN TANDA ISTIRAHAT
H
ingga kini kita mengenal beberapa sistem notasi yang digunakan
dalam permainan musik seperti notasi angka, tablatur dan notasi
balok. Notasi angka digunakan untuk menyanyikan laval solfegio,
yaitu nada-nada dalam tangga nada seperti: do, re, mi, fa, sol, la, si, dan
do. Notasi tablatur digunakan untuk penulisan lagu-lagu instrumen petik
seperti gitar dan bass. Notasi balok digunakan untuk penulisan musik
semua instrumen termasuk vokal. Notasi ini menunjukkan aspek-aspek
tinggi rendah maupun panjang pendeknya nada secara eksak.
5.1. Bentuk Nada
Nada butir-butir berbentuk lonjong. Butir-butir nada
mberbentuk emiliki berbagai model yang pararel dengan bentuk-
bentuk tanda istirahat. Butir nada adalah tanda agar nada
dibunyikan dalam durasi tertentu sementara tanda istirahat
menunjukkan bahwa pemain tidak boleh membunyikan apapun
selama waktu tertentu.
Sementara tanda istirahat memiliki bentuk yang bervariasi,
bentuk nada mengacu pada dan dikembangkan dari butir nada yang
kosong, kemudian bentuk solid dan diberi bendera. Dengan
demikian secara umum notasi balok terdiri dari tiga unsur yaitu: (1)
Kepala nada yang berbentuk lonjong menyamping ke kanan dan
agak naik, (2) Tanglai nada yang ditulis vertikal di sisi kanan jika
menunjuk ke atas dan di sebelah kiri ika menunjuk ke bawah, dan (3)
Bendera, yaitu lengkungan yang menempel pada ujung tangkai yang
bersebrangan dengan posisi kepala nada. Bendera senantiasa
menghadap ke kanan walaupun tangkai menghadap ke bawah
Nilai Nada dan Tanda Istirahat
40
Bab 5
Ilustrasi 5.1.: Unsur-unsur Bentuk Nada
Walaupun demikian tidak semua nada bertangkai dan
berbendera. Tangkai dan bendera mengindikasikan nilai-nilai yang
lebih kecil atau durasi yang lebiih pendek. Sementara nada-nada
mengacu pada butir kepala nada, maka tanda istirahat memiliki
bentuk yang agak lebih bervariasi. Pada tabel di bawah ini tampak
kesejajaran nilai di antara anda bunyi dan tanda istirahat.
Tabel 5.1. : Bentuk, nama, dan nilai not dan tanda diam
NAMA NADA/ TANDA
BENTUK TANDA
ISTIRAHAT
NADA ISTIRAHAT
ANGKA NILAI PERISTILAHAN
Penuh/ Whole Semi breve
1/2 Minim
1/4 Crotchet
1/8 Quaver
1/16 Semi Quaver
1/32 Demi Semi Quaver
Nilai Nada dan Tanda Istirahat 41
Bab 5
Secara internasional penamaan bentuk-bentuk nada dan
tanda istirahat ada dua macam sebagaimana tampak pada tabel di
atas. Cara penamaan denhan angka nilai yang menggambarkan
perbandingan banyak digunakan di Amerika sedangkan cara
dengan peristilahan banyak digunakan di Inggris.
Walaupun demikian cara penamaan dengan angka nilai
adalah yang paling sering digunakan terutama di Indonesia. Di
samping bentuk-bentuk nada dan tanda-tanda istirahat di atas
masih ada lagi yang sangat jarang digunakan yaitu ”breve” yang
durasinya adalah dua kali lipat nada penuh.
Ilustrasi 5.2.:
Bentuk tanda nada dan istirahat ”breve”
5.2. Nilai nada
Susunan tanda-tanda tersebut memiliki perbandingan
matematis yang sangat mendasar dan mudah dipahami. Guna
memahami maksud perbandingan tersebut dapat kita analogikan
dengan martabak atau pizza. Pizza yang utuh memiliki nilai yang
sebanding dengan nada penuh sehingga jika pizza tersebut dipotong
sama rata maka setiap bagiannya bernilai seperti nada setengah. Jika
pizza tersebut dipotong menjadi empat bagian yang sama besarnya
maka setiap bagian pizza sebanding dengan nilai nada seperempat.
Maksudnya adalah satu nada penuh memiliki nilai yang sama
dengan empat buah nada seperempat. Pembagian nilai nada-nada
tersebut dapat dilihat pada ilustrasi berikut.
Nilai Nada dan Tanda Istirahat
42
Bab 5
Ilustrasi 5.3.:
”Pizza” perbandingan nilai nada
Nilai pada nada-nada biasanya dipahami langsung dengan
melihat langsung perbandingan jumlah nadanya. Sebuah nada
penuh sebanding dengan dua buah nada setengah, sebanding
dengan empat nada seperempat, dan seterusnya.
Ilustrasi 5.4.:
Perbandingan nilai nada berdasarkan jumlahnya.
Nilai Nada dan Tanda Istirahat 43
Bab 5
Banyak orang memahami secara salah bahwa setiap crotchet
atau nada seperempat, bernilai satu ketukan. Pemahaman yang
benar ialah bahwa crotchet akan bernilai dua ketukan jika nada yang
durasinya lebih pendek, yaitu quaver atau nada seperdelapan,
dianggap satu ketukan.
Dalam lagu berirama 4/4, crotchet bernilai satu ketukan karena
pada tanda irama tersebut angka yang terdapat di atas menunjukan
jumlah pola tekanan untuk setiap birama sedangkan angka yang
berada di bawah menunjukkan nada mana yang harus bernilai satu
ketukan. Atau dengan kata lain menunjukkan jenis nada yang mana
yang dijadikan satuan ketukan; dalam hal ini tentu saja nada
seperempat karena angka yang terletak di bawah ialah empat.
Dalam irama 4/2 maka yang menjadi satuannya ialah nada 1/2.
Konsekuensinya, nada 1/4 kini berubah nilainya menjadi setengah
ketukan.
5.3. Tanda Irama
Irama-irama yang ada di dunia ini pada dasarnya dapat
dikategorikan kepada tiga macam yaitu irama menari dengan pola
hitungan ”tiga” atau disebut triple, irama berbaris dengan pola
hitungan ”dua” atau duple dan irama umum atau yang paling lazim
dengan pola hitungan ”empat” atau quadruple. Walaupun demikian
dalam perkembangannya ada juga irama yang merupkan kombinasi
di antara irama-irama tersebut. Misalnya irama 5/4 adalah
kombinasi di antra triple dan duple. Irama 7/4 ialah kombinasi di
antara irama triple dan quadruple. Irama-irama dasar, duple, triple dan
quadruple ialah irama reguler sedangkan kombinasi di antara irama-
irama tersebut adalah irama non reguler.
Tabel 5.2.: Jenis-jenis tanda irama reguler
KATEGORI JENIS CONTOH
Duple 2/2 2/4 2/8 2/16
Simple Triple 3/2 3/4 3/8 3/16
Quadruple 4/2 4/4 4/8 4/16
Duple 6/4 6/8 6/16 6/32
Compound Triple 9/4 9/8 9/16 9/32
Quadruple 12/4 12/8 12/16 12/32
Nilai Nada dan Tanda Istirahat
44
Bab 5
Irama-irama dasar disebut juga irama bersahaja atau simple
time. Di samping simple time ada irama lain, yaitu irama ganda atau
compound time yang mengacu pada pola tekanan irama bersahaja.
Ciri irama ganda ialah adanya pengelompolan satuan tiga ketukan
yang dilipat gandakan sesuai dengan pola-pola simple time.
Contohnya ialah 6/8 yang mengacu kepada pola irama duple
sehingga memiliki dua tekanan pokok yaitu pada hitungan pertama
dan keempat dari enam ketukan irama ini.
• Latihan
1. Sebutkan nama nada-nada berikut ini (kerjakan pada kertas ini):
= ............................ = ..................................
= ............................ = ..................................
= ............................ = ..................................
2. Isilah bagian yang kosong (kerjakan pada kertas ini):
= .......... X
= .......... X
= .......... X
= .......... X
= .......... X
3. Tanda 2/4, 3/4, atau 4/4 di setiap permulaan lagu disebut?
……………………………………………………………………
……….
4. Angka atas pada tanda 2/4, 3/3, dan 4/4, menunjukkan apa?
……………………………………………………………………
5. Angka bawah pada tanda 3/4 menunjukkan apa?
…………………………………………………………………….
Nilai Nada dan Tanda Istirahat 45
Bab 5
6. Apakah pengertian utuh dari 6/8?
………………………………………………………………….
7. Diskusikan apa perbedaan jenis irama simple dan duple!
8. Diskusikan apa yang dimaksud dengan irama ireguler!
9. Irama 3/4 biasanya digunakan untuk musik tarian apa?
10. Musik Mars ditunjukan oleh irama apa?
BAB 6
GARIS PARANADA
M
embaca notasi balok bukan semata-mata syarat ketrampilan
yang paling dasar untuk memainkan maupun menyanyikan
musik klasik melainkan juga untuk pemahaman dalam rangka
mencapai penikmatan musik yang lebih mendalam. Sebenarnya
membaca notasi balok tidaklah sulit. Walaupun demikian hal tersebut
akan terasa lebih sulit dan sukar dipahami jika tidak disertai tujuan
musikal misalnya sebagai landasan untuk mempelajari permainan alat
musik atau lagu-lagu. Membaca akan lebih cepat jika juga bisa menulis.
Sehubungan dengan itu pada bab ini kita akan mempelajari elelemen-
elemen dasar notasi balok dan latihan menuliskannya.
Butir-butir nada diletakan pada lima buah garis sejajar yang di
Indonesia lazim disebut paranada (Inggris: Staff). Tingkat ketinggian
nada dapat terlihat dengan jelas sebagaimana apa adanya pada paranada.
Butir nada yang terletak di bawah menunjukkan nada yang rendah dan
demikian pula halnya dengan nada yang tinggi tentunya terletak di
wilayah atas. Pada garis paranada terdapat garis-garis vertikal pembatas
iramam disebut garis birama. Di antara garis-garis pembatas terbentuk
kolom-kolom yang disebut birama (Inggris: bar).
Suatu karya musik dapat ditulis dalam satu paranada atau lebih.
Karya paduan suara dengan susunan sopran-alto-tenor-bass, misalnya,
menggunakan 4 paranada untuk masing-masing jenis vokal pada setiap
barisnya; Sebuah nyanyian hanya menggunakan satu paranada saja
kecuali jika disertai dengan iringan piano. Penggunaan sistem paranada
yang terbanyak ialah pada karya orkestra sehingga untuk satu baris saja
memakan tempat satu halaman penuh. Walaupun demikian beberapa
instrumen solo seperti piano, gitar, dan harpa, menggunakan satu hingga
dua paranada saja namun di dalamnya termuat empat atau lebih alur
suara. Piano dan harpa menggunakan dua paranada, masing-masing
untuk tangan kiri dan kanan, sementara itu gitar menggunakan satu
paranada saja.
Garis Paranada
48
Bab 6
Sitem penulisan butir-butir nada para paranada dikenal dalam
masyarakat kita dengan istilah not balok. Pada dasarnya prinsip
membaca notasi balok adalah sangat sederhana seperti halnya membaca
sebuah grafik yang logis. Butir-butir nada ditempatkan pada garis dan
spasi. Jika nada yang dibutuhkan berada di luar paranada karena lebih
tinggi atau rendah maka digunakan garis bantu sebagaiman ampak pada
ilustrasi di bawah ini:
Ilustrasi 6.1.:
Paranada, birama, garis birama dan garis bantu
Nama-nama nada diterapkan sejalan dengan keadaan tersebut,
sehingga semakin tinggi letak butir nada maka abjad yang digunakan
semakin ke kanan. Pada ilustrasi di atas dapat kita maklumi bahwa posisi
nada-nada pada paranada dapat diklasifikasikan pada dua tempat, yang
pertama yaitu pada spasi atau di antara garis, dan yang kedua pada garis.
Sebagaimana ditunjukkan pada birama pertama dan kedua dalam contoh
di atas, secara berurutan nada B pada garis ketiga, terletak di atas nada A
pada spasi kedua. Nada-nada yang berada di luar kelima garis sejajar
atau paranada tersebut, diakomodasi seperlunya oleh garis-garis bantu
yang diletakkan di atas maupun di bawah paranada.
Status atau identitas nada pada paranada ditentukan oleh kunci
atau clef. Kunci tersebut memiliki berbagai variasi bentuk. Kunci G yang
memiliki tiga lengkungan dalam posisi vertikal dari satu goresan
menentukan garis kedua dari bawah sebagai nada G. Posisi garis untuk
nada G pada garis tersebut ditandai oleh pusat lingkaran yang
merupakan titik awal penulisan kunci ini. Dengan demikian spasi yang
berada tepat di atasnya adalah untuk nada A sedangkan yang berada di
bawahnya untuk nada F.
Garis Paranada 49
Bab 6
Kunci F berbentuk seperti angka 9 yang tidak sempurna dengan
dua buah titik yang tersusun secara vertikal di kanan lingkaran yang
menjadi pusat awal penulisan kunci ini. Posisi kedua titik tersebut ialah
pada garis spasi ketiga dan keempat (dihitung dari bawah) sehingga
garis di antara kedua titik tersebut adalah tempat untuk nada F.
Ilustrasi 6.2: Posisi nada-nada dalam paranada
Paranada dapat mengakomodasi seluruh wilayah nada-nada
musikal dari yang terrendah hingga yang tertinggi. Untuk keperluan
tersebut nama-nama nada pada paranada ditentukan oleh kunci (Inggris:
Clef) yang berbeda-beda yang diletakkan pada setiap awal paranada.
Penulisan nada-nada pada wilayah suara tinggi (Diskan) menggunakan
kunci G (G clef) atau biasa juga disebut treble clef; nada-nada pada wilayah
suara rendah (baskan) menggunakan kunci F atau biasa disebut bass clef.
Di antara kedua kunci tersebut ada kunci-kunci lain yaitu kunci C yang
biasa disebut dengan alto clef, untuk mengakomodasi penulisan nada-
nada tengah.
Nada-nada pada kedua paranada tersebut adalah nada C yang sama
Ilustrasi 6.3.:
Posisi nada C berdasarkan kunci (clef)
Garis Paranada
50
Bab 6
Cara termudah untuk memahami paranada ialah dengan latihan
menulis nada-nada pada paranada. Nada yang termudah ditulis
ialah Not Penuh (whole note/ semi breve) yang berbentuk oval atau
bulatan lonjong. Dalam menulis nada ini pada paranada
dibutuhkan ketelitian dan kehati-hatian sehingga posisi nada
terlihat jelas apakah di garis atau di spasi. Nada yang ditempatkan
pada garis harus tepat betul sehingga tidak memenuhi spasi, baik
di atasnya maupun di bawahnya. Demikian juga dengan nada
yang ditulis pada spasi, harus betul-betul memenuhi ruang yang
ada sehingga tidak melewati garis, baik di atasnya maupun di
bawahnya.
• Bacaan untuk pendalaman:
Taylor, Eric.1989. The ABC Guide to Music Theory (Part I). London:
The Associated Board of the Royal Schools of Music.
• Latihan:
1. Tulislah sebuah nada semi breve pada setiap garis dan spasi di
antara nada-nada yang tersedia!
2. Tulislah sebuah nada crotchet / seperempat pada setiap garis:
3. Tulislah sebuah nada minim / minim pada setiap spasi:
Garis Paranada 51
Bab 6
4. Ubah butir-butir nada ini menjadi nada quaver/ seperdelapan:
5. Latihan menulis kunci G.
Buatlah beberapa kunci G seperti contoh yang diberikan!
6. Latihan menulis kunci F.
Buatlah beberapa kunci G seperti contoh yang diberikan!
7. Beri nama di bawah nada-nada ini:
Garis Paranada
52
Bab 6
8. Buatlah tanda kunci yang sesuai agar nama-nama nada berikut ini
benar!
BAB 7
TANGGA NADA
D
alam dunia pendidikan musik Indonesia istilah “tangga nada”
adalah pengganti istilah internasional yang disebut scale (Inggris).
Nada-nada yang berurutan secara alfabetis adalah susunan nada-
nada dalam tangga nada. Nada pertama pada sebuah tangga nada
memiliki kedudukan sebagai Tonika yang sekaligus menjadi nama dari
tangga nada tersebut. Dengan demikian rangkaian nada-nada yang
berawal dari B disebut tangganada B dan B adalah tonika dari tangga
nada tersebut.
7.1. Tangga Nada Mayor
Melodi yang kita dengar sehari-hari tersusun dari tangga nada
tujuh nada atau disebut juga tangga nada diatonis (dari bahasa Latin,
dia = tujuh; tonus = nada). Berbeda dari pengertian jarak sebagai
interval di antara dua nada, di antara nada-nada tangga nada yang
berurutan terdapat dua macam jarak yaitu jarak penuh (tone / whole)
dan jarak setengah (semi tone/ half step). Kedua jenis jarak nada-nada
tangga nada tersebut telah memberikan kontribusi yang besar
terhadap pengembangan berbagai susunan tangga nada dari ketujuh
susunan nada tersebut oleh para komponis dan ahli teori musik,
selama berabad-abad.
Secara umum ada dua tangga nada yang digunakan dalam musik
klasik yang menggunakan sistem tonal, yaitu tangga nada mayor
dan minor. Tangga nada mayor ialah yang memiliki jarak setengah
di antara nada ketiga dan keempat, dan di antara nada ketujuh dan
kedelapan (oktafnya). Sebagai penjelasan awal akan kita amati
tangga nada C mayor yang dikenal juga dengan istilah ”tangga nada
natural” karena nada-nadanya menggunakan huruf asli atau belum
mengalami perubahan, yaitu C, D, E, F, G, A, B, dan C, sebagaimana
tampak pada ilustrasi berikut ini:
Tangganada
54
Bab 7
Ilustrasi 7.1. :
Tangga nada C mayor.
Tangga nada mayor selain C terbentuk melalui lingkaran kwint
(5th) untuk nada-nada berkres dan lingkaran kwart (4th) untuk nada-
nada bermol. Dengan demikian tangga nada baru setelah C ialah G
mayor yang mulai dari nada kelima tangga nada C mayor. Sebagai
konsekuensinya jarak di antara nada-nada harus disesuaikan
sehingga nada ketujuh yaitu F, harus dinaikkan dengan
menggunakan kres menjadi F# (Fis).
Ilustrasi 7.2.:
Daftar tangga nada Mayor berkres
Tangga nada berikutnya dimulai dari D, yaitu nada kelima dari G.
Dengan demikian nada ketujuh, yaitu C, pada susunan baru ini
Tangga Nada 55
Bab 7
harus dinaikkan setengah dengan menggunakan kres menjadi C#
sehingga strukturnya sama dengan tangga nada sebelumnya. Dari
tangga nada D kita bisa membuat tangga nada yang baru mulai dari
nada kelima yaitu A dan menaikkan nada ketujuh saja dengan kres
ketiga karena dua kres sebelumnya sudah tersedia pada tanga nada
D (F# dan C#). Demikian seterusnya hingga maksimum kwint (5th)
ketujuh dengan semua nada berkres atau dinaikkan setengah laras.
Di samping dengan cara menggunakan lingkaran kwint, tangga
nada baru dapat juga disusun berdasarkan lingkaran kwart (4th).
Dengan cara seperti ini tangga nada baru mulai dari nada keempat
yaitu F. Kalau melalui lingkaran kwint tangga nada baru selanjutnya
menggunakan kres maka melalui lingkaran kwart semua tangga
nada baru yang dihasilkan hanya menggunakan mol (flat).
Ilustrasi 7.3.:
Daftar tangga nada bermol.
Tangganada
56
Bab 7
7.2. Tangga Nada Minor
Di samping tangga nada mayor terdapat juga tangga nada minor.
Tangga nada ini adalah relatif (dari bahasa Inggris relative yang
berada saudara) dari tangga nada Mayor. Tangga nada minor
dimulai dari nada keenam tangga nada mayor. Jadi relatif dari
tangga nada C mayor adalah tangga nada A minor dan demikian
juga sebaliknya. Lagu-lagu yang dimainkan dalam tangga nada C
disebut sebagai menggunakan nada dasar C mayor atau “kunci C
mayor” (the key of C major). Tangga nada minor memilki tiga macam
pola yaitu minor asli, minor harmonis dan minor melodis.
7.2.1. Minor Natural
Tangga nada minor asli (natural) dengan jarak setengah di
antara nada kedua dan ketiga, dan di antara nada kelima dan
keenam. Jika diperhatikan maka karakteristik pola ini sama dengan
tangga nada mayor yang dimulai dari nada keenam. Dengan
demikian sebutan minor asli pada pola ini menunjukkan bahwa ia
berasal dari tangga nada mayor dengan tanpa perubahan sedikit pun
kecuali mulai dari nada keenam tangga nada mayor.
Ilustrasi 7.4 :
Tangga nada A minor asli/ natural.
7.2.2. Minor Harmonis
Sementara tangga nada minor natural berasal dari tangga nada
mayor, dua pola tangga nada minor yang lain berasal dari tangga
nada minor asli. Tangga nada minor harmonis menaikkan nada
ketujuh setengah laras dengan menggunakan aksidental, yaitu tanda
untuk menaikkan dan menurunkan nada asli. Pada tangga nada
minor harmonis ini nada G dinaikkan dengan tanda aksidental kres
Tangga Nada 57
Bab 7
( ) sehingga menjadi Gis yang lebih tinggi setengah laras. Penaikkan
ini tampaknya bermaksud untuk mempertegas nada A di atasnya
sebagai representasi tonika yang merupakan identitas tangga nada
tersebut yaitu tangga nada A minor.
Susunan tangga nada Minor Harmonis adalah sebagai berikut:
Ilustrasi 7.5.:
Tangga nada A minor harmonis
Sebagaimana halnya nada B dalam tangga nada C mayor yang
merupakan pengantar ke C, posisi Gis dalam tangga nada A minor
adalah juga sebagai pengantar ke A. Resiko dari penaikan ini ialah
jarak yang melebar di antara nada keenam dan ketujuh sehingga
terasa kurang melodis. Ketegasan tonika yang disebabkan penaikan
tersebut menyebabkan pola tangga nada minor ini lebih harmonis di
bandingkan dengan minor asli. Ketegasan dan konsistensi tangga
nada ini menyerupai tangga nada mayor sehingga cocok digunakan
untuk menyusun harmoni. Harmoni ialah sejumlah nada yang
disusun secara vertikal sehingga menuntut untuk dibunyikan secara
simultan. Secara lebih lengkap hal ini akan dijelaskan kemudian.
7.2.3. Minor Melodis
Tangga nada minor melodis memiliki karakteristik yang sesuai
dengan namanya. Tangga nada ini memiliki kecenderungan tonalitas
yang lebih mirip dengan tangga nada mayor yaitu di samping
memiliki ketegasan tonika, juga lebih mengalir dibandingkan dengan
minor harmonis sebagai akibat dari penerapan dua macam jarak
nada saja yaitu tone dan semi tone.
Keunikan tangga nada minor melodis dibandingkan dengan
ketiga tangga nada lainnya ialah terdapatnya pola yang berbeda
pada saat mulai atau naik dan saat kembali atau turun. Pada saat
naik bukan hanya nada ketujuh yang dinaikkan namun juga nada
Tangganada
58
Bab 7
keenam yaitu dari F menjadi Fis. Pada saat turun, kedua nada yang
sebelumnya telah dinaikkan dengan tanda aksidental kres, kini
dikembalikan ke nada aslinya dengan aksidental natural ( ).
Dengan demikian pada saat turun polanya sama dengan
tangga nada mayor turun mulai nada keenam. Jika kedua nada
tersebut tidak dikembalikan pada saat turun maka akan sama
dengan pola tangga nada A mayor turun dari tonikanya. Dengan
kata lain tangga nada tersebut telah bermodulasi secara pararel
kepada kunci mayor. Pada tangga nada minor natural turun
statusnya tidak berubah menjadi C mayor karena mulai dari A
sebagai tonikanya.
Ilustrasi 7.6. :
Tangga nada A minor melodis
7.3. Tangga Nada Lain
Di samping tangga nada mayor dan minor ada juga tangga
nada lain yang didasarkan atas tangga nada diatonis yaitu tangga
nada kromatis; dari kata latin chrome yang berarti warna. Tampaknya
maksud pewarnaan dalam konteks ini ialah penambahan nada-nada
sisipan dari nada-nada pokok; misalnya di samping G ada Gis atau
Ges yang lebih rendah setengah laras karena diturunkan oleh tanda
aksidental mol ( ).
Ilustrasi 7.7.:
Tangga nada Kromatis
Tangga Nada 59
Bab 7
Di samping mayor dan minor tentu saja ada pola-pola tangga
nada yang lain yang jarang digunakan dalam musik klasik yang
berbasis sistem tonal. Tangga nada-tangga nada tersebut di
antaranya ialah modus-modus gereja Abad Pertengahan, tangga
nada whole-tone yang dipopulerkan Debussy dengan jarak penuh di
antara nada ke nadanya (masing-masing satu Tone), tangga nada
pentatonik (lima nada) yang digunakan untuk menciptakan efek-efek
oriental.
Ilustrasi 7.8. :
Tangga nada Whole-Tone
7.4. Kunci
Tanda kunci (Inggris: key signature) berbeda dengan kunci (clef),
digunakan untuk menunjukkan tangga nada nada yang berbeda-
beda. Tanda kunci selalu ditempatkan di setiap awal garis paranada
(bukan hanya di awal lagu) dalam bentuk susunan aksidental kres
dan mol. Khusus untuk tangga nada C mayor tidak diperlukan tanda
kunci sedangkan untuk yang lainnya menggunakan 1 hingga 7 tanda
aksidental baik kres maupun mol. Penggunaan aksidental sebagai
tanda kunci tidak bisa dicampur antara kres dan mol. Misalnya,
untuk tangga nada A mayor hanya menggunakan susunan 3 kres
sedangkan tangga nada Bes mayor hanya menggunakan susunan 3
mol. Dengan demikian tidak ada tanda mula yang menggunakan
kombinasi kres dan mol.
Satu tanda kunci mengakomodasi pasangan dua pola tangga
nada (mayor dan minor) karena tangga nada minor berasal dari
tangga nada mayor. Dengan demikian tangga nada C mayor dan A
minor sama-sama menggunakan tanda mula nol kres maupun nol
mol atau tidak menggunakan simbol tanda kunci. Sehubungan
dengan itu kedua tangga nada tersebut bersaudara arau dalam istilah
teori musik disebut memiliki hubungan “relatif” dan oleh karenanya
tinggal di dalam satu tanda kunci sebagai “rumah” mereka.
Tangganada
60
Bab 7
Pada tabel berikut ini tampak bahwa selain tangga nada C
mayor dan A minor, tangga nada baru yang menggunakan kres
selalu dimulai dari nada kelima tangga nada yang lama sedangkan
yang menggunakan tanda mol selalui dimulai dari nada keempat.
Dengan demikian tangga nada dengan tanda mula satu kres dimulai
dari nada G dan yang menggunakan tanda mula satu mol mulai dari
nada F. Untuk selanjutnya pola jarak untuk tangga nada mayor
diterapkan pada masing-masing tangga nada yang baru. Itulah
sebabnya nada F pada tangga nada G mayor harus dinaikkan
setengah laras menjadi Fis dan nada B pada tangga nada F mayor
diturunkan setengah laras menjadi Bes, sebagai konsekuensi
diterapkannya pola mayor. Kedua nada tersebut (Fis dan Bes) tidak
perlu ditulis di belakang tanda aksidental karena pada permulaan
garis paranada.
Tabel 7.1. : Kunci Dasar dan Tanda Kunci
Kunci Dasar/ Tangga Tanda Kunci Kunci Dasar/ Tangga
nada nada
Mayo Mino Kre Mo Mayo Mino
r r s l r r
C A 0 0 C A
G E 1 1 F D
D B 2 2 Bes G
A Fis 3 3 Es C
E Cis 4 4 As F
B Gis 5 5 Des Bes
Fis Dis 6 6 Ges Es
Cis Ais 7 7 Ces As
Petunjuk nada-nada yang harus dinaikkan atau diturunkan
diekspresikan oleh jumlah kres dan mol pada tanda mula. Masing-
masing tanda aksidental pada tanda mula hanya ditulis dalam satu
garis atau spasi saja guna mewakili nada yang harus dinaik-
turunkan. Misalnya pada kunci atau tangga nada G mayor tanda
mula satu kres hanya ditulis di depan nada F pada garis teratas
Tangga Nada 61
Bab 7
paranada saja. Walaupun demikian bukan hanya F tersebut yang
dinaikkan menjadi Fis namun seluruh F pada oktaf-oktaf di bawah
dan diatasnya juga otomatis menjadi Fis.
Sehubungan dengan itu cara penulisan tanda-tanda aksidental
pada garis paranada tidak dapat dibuat semaunya melainkan ada
urutan yang baku. Tanda kres untuk kunci atau nada dasar G mayor
maupun E minor harus berada di garis kelima, pada kunci alto di
spasi keempat, kunci tenor di garis kedua, dan kunci F di garis
keempat, dan seterusnya.
Tabel 7.2.: Susunan Aksidental Kres pada Tanda Kunci
Pada tabel 2 di atas tampak bahwa walaupun urut-urutan
aksidentalnya sama pada setiap kunci/ clef, posisi peletakannnya berbeda
dari satu kunci ke kunci yang lain. Susunan nada dasar baru yang
menggunakan tanda kunci beraksidental kres dengan sendirinya sama
dengan susunan tangga nada, yaitu senantiasa mulai dari nada yang
kelima. Urut-urutan nada dasar atau tangga nada semacam itu biasa juga
disebut dengfan istilah “lingkaran kwint” atau “fifth circle”. Sementara
itu urut-urutan nada dasar dan tanda kunci yang menggunakan
aksidental mol disebut “lingkaran kwart” atau “fourth circle”.
Tangganada
62
Bab 7
Tabel 7.3.: Susunan Aksidental Mol pada Tanda Kunci
• Bacaan untuk Pendalaman:
Ewen, David. 1963. “Introduction: Music – The Heavenly
Maid” dalam The Home Book of Musical Knowledge. New
Jersey: Prentice Hall, Inc.
• Latihan-latihan:
1. Buatlah tangga nada B Minor dengan Not Penuh tanpa tanda
mula dan berikan tanda-tanda aksidental yang diperlukan:
Tangga Nada 63
Bab 7
2. Berilah tanda-tanda aksidental agar sesuai dengan nama tangga
nada yang diberikan kemudian berilah tanda ( ) di antara
dua nada yang berjarak semi tone pada tangga nada di bawah
ini:
Tangganada
64
Bab 7
3. Beri nama nada dasar yang tepat pada tanda-tanda kunci ini:
BAB 8
TEMPO DAN TANDA-TANDA EKSPRESI
P
ada bab ini kita akan membahas pengertian tempo dan tanda-tanda
ekspresi dalam konteks musik klasik maupun musik non-klasik
yang menggunakan sitem diatonis. Pada bab terdahulu yang
berhubungan dengan elemen-elemen musik, materi ini telah disinggung.
Walaupun demikian pada bab ini kita akan membahasnya lebih jauh agar
memperoleh pengertian yang lebih mendalam.
8.1. Tempo
Jika melodi dapat dianalogikan sebagai jiwa bagi musik maka
jantungnya ialah ritme dan tempo. Tempo merupakan “polisi
lalulintas” yang mengatur kelancaran lalulintas sedangkan
kelancaran lalulintasnya ialah ritme. Petunjuk tem-po pada naskah
musikal tertulis di kiri atas halaman permu-laan sebuah karya musik.
Petunjuk tersebut memberitahukan kepada pemusik seberapa cepat
karya tersebut harus dimainkan; apakah Andante (biasa secepat
orang berjalan), Allegro (cepat), Largo (lebar/ lambat), Presto (sangat
cepat), dan sebagainya (Ewen 1963, 4).
8.1.1. Metronome
Dalam prakteknya, kecepatan tempo adalah relatif. Pada masa
lalu istilah cepat dan lambat hanya untuk membedakan kecepatan di
antara satu lagu dengan lagu yang lain sedangkan rincian seberapa
cepat harusnya sebuah lagu dimainkan, belum ada. Menjelang akhir
abad ke-18 ditemukan metronom, yaitu instrumen untuk mengukur
berbagai kategori kecepatan tempo musik. Walaupun kini yang
dianggap sebagai penemu instrumen tersebut ialah seorang ahli dari
Jerman bernama Johann Nepomuk Maelzel (1772–1838) namun
sebenarnya idenya telah terlebih dahulu ditemukan oleh Dietrich
Nikolaus Winkel (c. 1776–1826) dari Belanda.
Tempo dan Tanda-tanda Ekspresi
66
Bab 8
Metronom terdiri dari sebuah bandulan yang posisinya dapat
diubah-ubah dengan menggeser kepala bandulan tersebut pada
sebuah tongkat pengayun guna mengatur kecepatan gerak bandulan
sesuai dengan tangga nada angka yang dibutuhkan. Bandulan dan
tongkatnya digerakkan oleh per dalam suatu rangkaian mesin yang
setiap kali gerakan bandulan mencapai masing-masing sisi akan
terdengar bunyi ketokan yang menandai pulsa atau ketukan. Pada
metronom terdapat fasilitas yang dapat mengatur jenis irama
tertentu dengan bunyi ”ting” yang lebih menonjol dan nyaring dari
bunyi ketokan yang monoton. Misalnya pada irama 3/4 akan
terdengar pola bunyi ”ting, tok, tok, tok”, yang berulang-ulang.
Sehubungan dengan itu di samping tanda tempo berupa
istilah-istilah biasanya pada permulaan naskah musikal juga tertulis
tanda metronom yang ditulis, misalnya “M.M. (Maelzel's
metronome) = 60”, yang menunjukan bahwa kecepatan lagu yang
dituntut ialah setiap satu ketukan nada setengah setara dengan 60
ketokan per menit. Kemasan metronom konvensional cenderung
pada bentuk piramid.
Walaupun metronom konvensional masih tetap diproduksi,
saat ini kita juga bisa memperoleh berbagai macam model metronom
elektronik ataupun digital. Dalam sejarah musik klasik, metronom
pernah satu kali dipergunakan sebagai alat musik, yaitu pada karya
komponis Honggaria, György Ligeti, berjudul Poème symphonique
(1962), yang menggunakan 100 metronom (Encyclopedia Britanica
2005)
8.1.2. Kategori Tempo
Secara umum tempo musik dapat diklasifikasikan menjadi 6
gradasi, mulai dari kategori sangat lambat, lambat, sedang, agak
cepat, cepat, dan sangat cepat. Pada masing-masing kategori tersebut
paling tidak terdapat antara dua hingga empat sub kategori.
Terminologi tersebut dapat dimodifikasi dengan menambahkan
kata-kata molto (sangat) meno (kurang) poco (sedikit) dan non troppo
(tidak terlalu banyak). Poco allegro dapat berarti agak Allegro. Allegro
non troppo berarti tidak terlalu allegro.
Tempo dan Tanda-tanda Ekspresi 67
Bab 8
Di samping tanda tempo yang tetap di atas ada juga istilah yang
mengindikasikan perubahan tempo. Yang paling sering digunakan
di antaranya ialah accelerando (berangsur-angsur menjadi cepat) dan
ritardando (berangsur melambat); tanda a tempo (kembali ke tempo
asal) biasanya terdapat pada bagian yang telah dilalui tanda
perubahan tempo namun bukan di bagian akhir lagu.
Tabel 8.1.: Kataegori Tempo
SUB
KATEGORI KETERANGAN
KATEGORI
Largo
Sangat Lambat Luas
Grave Serius
Lento
Lambat -
Gemulai, ringan (tidak tergesa-gesa), santai
Adagio
(slowly).
Andante
Sedang Berjalan – dalam tempo orang berjalan)
Sedikit/ seperti andante (lebih cepat dari
Andantino
andante)
Moderato -
Allegretto
Agak Cepat Agak hidup (tidak secepat allegro)
Allegro
Cepat Gembira, ceria, hidup.
Allegro
Sangat Cepat Sangat hidup
molto
Vivace Enerjik, bersemangat, hidup.
Presto Sangat cepat
Prestissimo Secepat mungkin
8.2. Dinamika
Volume yang menunjukkan tingkat kekuatan atau kelemahan
bunyi pada saat musik dimainkan, disebut dinamik. Sebagaimana
halnya tempo yang bermacam-macam dari yang tetap dan berubah,
maka demikian juga dengan dinamik, ada yang tetap dan ada juga
yang berubah. Baik dinamik maupun tempo, keduanya berakar dari
sifat-sifat emosi. Untuk mengungkapkan misteri dan ketakutan
Tempo dan Tanda-tanda Ekspresi
68
Bab 8
dibutuhkan bisikan, sedangkan kemenangan dan aktivitas yang
berani resonansi yang penuh. Lagu untuk menidurkan anak atau
Nina Bobo, maupun lagu-lagu cinta lebih banyak diekspresikan
dengan jenjang dinamik daripada mars kemenangan. Instrumen-
instrumen musik modern menyediakan jangkauan efek-efek
dinamika yang luas yang diharapkan oleh koposer.
Dinamik-dinamik yang pokok berkisar dari yang paling lemah
hingga yang paling kyat, yaitu:
Tabel 8.2.:
TANDA-TANDA DINAMIK
SIMBOL
TINGKAT ISTILAH DINAMIK
VOLUME
Pianissimo pp
Sangat Lemah
Piano p
Lemah
Mezzo Piano mp
Agak lemah
Mezzo Forte mf
Agak kuat
Forte f
Kuat
Fortísimo ff
Sangat Kuat
Sebagai konsekwensi meningkatnya usuran dan tingkat
kepersisan dalam orkestra, komposer memperluas jangkauan
dinamik ke dua arah. Sehubungan dengan itu di samping tanda
dinamik yang tertulis di atas terdapat juga dinamik ppp (pianissimo
posible) atau selemah-lemahnya dan fff (fortíssimo possible) atau
sekuat-kuatnya. Jika perlu kondaktor atau komponis dapat
menambahkan menjadi tiga bahkan empat f atau p.
Terdapat berbagai macam tanda yang berkaitan dengan
dinamik dan tempo yang mengekspresikan emosi dalam karya
musik. Tanda-tanda tersebut disebut “tanda ekspresi” yang
Tempo dan Tanda-tanda Ekspresi 69
Bab 8
jumlahnya semakin meningkat pada abad ke-18 dan selama abad ke-
19, sebagai konsekuensi meningkatnya keinginan komposer untuk
menunjukkan niat/ keinginannya. Sebagai contoh dapat kita
bandingkan di antara naskah-naskah musikal Bach dan Tchaikovsky.
Dalam keadaan tertentu terdapat tanda-tanda perubahan
dinamik. Yang paling umum di antaranya ialah sebagai berikut:
Tabel 8.3.:
PERUBAHAN DINAMIK
TINGKAT VOLUME ISTILAH DINAMIK SIMBOL
Berangsur menguat Crescendo
Descrescendo atau
Berangsur melemah
Diminuendo
Tekanan mendadak/
sf / forced
Sforzando
Aksen pada satu nada
atau satu akor
Sejumlah peristilahan mengacu pada tempo dan dinamik.
Memang, khususnya yang digunakan pada abad ke-19 adalah
untuk memantapkan perasaan (mood) dan karakter suatu
karya. Andante maestoso (lambat biasa dan mulia)
mengindikasikan suatu langkah yang stabil dan penuh dengan
sonoritas. Morendo atau menghilang, menunjukkan bahwa
tempo harus melambat dan pada saat yang sama harus
melembut atau melemah. Scherzando atau bercanda,
mempersyaratkan bunyi yang ringan dan gerakan yang lincah.
Con brio (dengan berani) mensugestikan suatu langkah yang
enerjetik, dan sonoritas yang hidup.
Tempo dan Tanda-tanda Ekspresi
70
Bab 8
8.3. Tanda Ekspresi
Elemen-elemen dinamik dan ekspresi musikal juga banyak
terdapat dalam bentuk tanda-tanda ekspresi. Crescendo dan
diminuendo adalah di antara efek-efek ekspresif yang penting
bagi komposer. Melalui volume suara yang tenggelam dan
menghilang secara bertahap, ilusi yang jauh memasuki musik,
seperti sumber bunyi yang mendekati kita dan kemudian
keluar.
Dengan berkembangnya gaya orkestral, komposer dengan
cepat belajar untuk mengambil keuntungan dari prosedur
tersebut. Misalnya Rossini sangat ketagihan untuk
memanfaatkan suatu pengembangan bunyi long-drawn-out
guna menampilkan efek dramatik yang ia karikaturkan dalam
karyanya “Monsier Crescendo” di Paris. Impak dari Crescendo
dapat sedikit memberikan efek sengatan, seperti terdapat
dalam bagian penutup overturnya, The Barber of Seville.
Dalam kasus tersebut, crescendo menjadi kekuatan yang
mempertajam musik, yaitu elemen yang menentukan konsepsi
secara menyeluruh. Hal tersebut dapat kita jumpai dalam
Prelude to Lohengrin karya Wagner yang bermaksud untuk
mengambarkan turunnya Holy Grail dari langit. Gambaran
sekelompok malaikat yang mendekat dari suatu jarak
kemudian menghilang, diterjemahkan ke dalam pengertian apa
yang telah menjadi pola dasar dalam musik, yaitu crescendo
dan descrescendo. Contoh yang lebih jelas dari skema dinamik
semacam ini juga terdapat dari karya Debussy, Nocturne untuk
orkestra yang diberi tjudul Fêtes (Festival).
Crescendo yang dikaitkan dengan accelerando, yaitu menjadi
lebih kuat sekaligus juga menjadi cepat, menciptakan suatu
kenyamanan semapan decrescendo yang dibarengkan dengan
ritardando, yaitu berangsur melemah dan melambat.
Efek intensifikasi volume dan kecepatan diterapkan dalam
Pacific 231 karya Honeger. Dalam karya ini komposer mencoba
Tempo dan Tanda-tanda Ekspresi 71
Bab 8
mensugestikan suatu rasa kekuatan yang dikaitkan dengan
sebuah lokomotif dengan cara membangun momentum dan
kecepatan menembus malam. Dalam karya ini crescendo dan
accelerando diterjemahkan ke dalam gerakan imajiner. Hal
tersebut juga dilakukan oleh Tchaikovsky dalam bagian finale
Waltz of theFlowers yang dirancang untuk mempersiapkan
penarikan gorden untuk penampilan balet Nutcracker. Untuk
keperluan tersebut ia memanjat secara ajeg dari register tengah
kepada register tinggi yang cemerlang dan gugup, sehingga
ketiga elemen -yaitu percepatan tempo, peningkatan volume,
dan peningkatan tingkat ketinggian- saling mendesak untuk
menciptakan klimaks.
8.4. Timbre/ Warna Suara
Schoenberg mengatakan bahwa kejelasan (lucidity) adalah
tujuan dari warna musik. Sebuah nada yang diproduksi oleh
trompet akan memiliki suatu kualitas tertentu. Nada yang
sama pada biola akan terdengar sangat berbeda. Perbedaan-
perbedaan tersebut menunjukkan adanya karakteristik warna
atau tinbre pada setiap instrument. Timbre memfokuskan
impresi musikal kita karena ia menyampaikan karakter khusus
dan mutlaknya kepada gambaran tonal. Pada saat komposer
memilih warna ia menciptakan dunia bunyi tertentu yang
menghidupkan musik.
Untuk mengelola warna suara komposer menggunakan dua
media yaitu suara manusia dan instrument-instrumen musik.
Ia dapat saja menulis kombinasi di antara keduanya untuk
mencapai tujuannya. Secara konstan ia mengingat sifat alami
medium yang ia pilih. Ia mempertimbangkan kapabilitas dan
limitasi setiap instrument; ia mencoba membuatnya melakukan
hal-hal tersebut untuk mentransmutasikannya ke dalam
sumber-sumber keindahan yang segar.
Adapun yang menjadi pertimbangan para komposer di
antarannya ialah keterbatasan jangkauan setiap instrument,
Tempo dan Tanda-tanda Ekspresi
72
Bab 8
jarak di antara yang terendah dan tertinggi, yang tidak boleh
dilanggar, tingkat kelembutan di antara yang terlembut dan
yang terkuat yang mampu dimainkan. Belum lagi kebiasaan-
kebiasaan teknis setiap instrument yang berbeda dalam
memainkan nada-nada, apakah dalam register rendah, tengah
dan atas, menentukan formasi nada tertentu yang mudah bagi
suatu instrument, belum tentu mudah untuk instrument yang
lain.
Tuba dapat menahan nada panjang tetapi sulit untuk
memainkan bagian-bagian yang cepat. Instrumen seperti piano,
mudah untuk memainkan bagian-bagian cepat tapi tidak
memiliki kemampuan untuk menahan nada panjang.
Pertimbangan-pertimbangan semacam ini menentukan pilihan
komposer, seakan-akan ia membungkus ide-idenya dengan
pakaian dalam pelukan instrumentalnya.
Beberapa komposer memiliki suatu rasa warna yang lebih
cemerlang dari yang lainnya. Para ahli orkestrasi memproses
warna suara dalam tingkatan yang tinggi. Yang jelas warna
dalam musik adalah bagian dan paket dari ide yang ttdak
terpisahkan darinya, sebagaimana halnya harmoni dan ritme.
Timbre lebih daripada sekedar elemen asesori yang kaya yang
ditambahkan ke dalam suatu karya. Timbre adalah salah satu
yang memperhalus kekuatan-kekuatan dalam musik.
• Bahan Bacaan untuk Pendalaman
Davis, Marlilyn Kornreich (tanpa tahun) , Music Dictionary. New
York: Music Book Company.
Kodijat, Latifah. 1983. Istilah-istilah Musik. Jakarta: Penerbit
Jambatan
Tempo dan Tanda-tanda Ekspresi 73
Bab 8
• Latihan-latihan:
1. Apakah yang dimaksud dengan Tempo dan Dinamik dalam
konteks musik?
2. Apakah definisi Metronome?
3. Apa maksud dari tanda M.M. pada permulaan sebuah
lagu?
4. Tempo musik dapat dikategorikan kepada berapa kelompok?
Sebutkan beberapa contohnya!
5. Apakah maksud dari diminuendo?
6. Apakah arti con brio?
7. Apa maksud dari morendo?
8. Menurutmu, apa beda ritardando dan rallentando?
9. Tanda ekspresi Scherzando mengisyaratkan cara bermain dan
interpretasi karakteristik bunyi yang seperti apa?
10. Waltz of the Flower diciptakan oleh siapa (nama komponis) dan
kira-kira untuk instrumen apa?
11. Apakah yang dimaksud dengan accelerando?
12. Apa yang dimaksud dengan warna dalam konteks musik?
13. Apa tujuan warna dalam musik menurut Schoenberg?
14. Apa kelebihan dan kelemahan instrumen Tuba?
15. Rambu-rambu apakah yang perlu diperhatikan seorang
komposer dalam menyusun warna komposisi orkestra?
BAB 9
INTERVAL
I
stilah “interval” dalam teori musik mengandung pengertian yang
khusus. Pada dasarnya interval ialah jarak di antara satu nada ke
nada yang lainnya. Walaupun demikian pengertian jarak di sini
berbeda maksudnya dengan laras di antara satu nada ke nada yang lain
dalam tangga nada seperti semi tone dan tone.
9.1. Pengertian
Kodijat (1983:35) menterjemahkan interval dari istilah Italia
intervallo yang berarti “antar nada”, ”jarak antara dua nada”, dan
“dwinada”. Sementara itu Kristianto (2005: 48) mengistilahkan
interval sebagai jarak yang terbentang di antara dua nada. Interval
dapat terjadi di antara dua nada yang berbunyi serempak (jika ini
terjadi maka disebut interval harmonis) atau berdampingan
(disebut interval melodis). Interval sangat bermanfaat sebagai alat
dalam menganalisis struktur harmoni dan melodi pada suatu karya
musik. Di samping itu juga sangat bermanfaat dalam aransemen,
terutama sebagai fasilitas dalam melakukan transposisi maupun
transkripsi dari satu karya untuksuatu instrumen ke instrumen
yang berlainan. Yang terlebih penting lagi, pemahaman tentang
interval ini akan berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
solfegio (akan dijelaskan kemudian).
9.2. Penamaan Interval
Interval diberi nama berdasarkan jumlah hitungan nada yang
bersangkutan. Dengan demikian hitungan interval dimulai dari
nada pertama dan kedua. Jika nada kedua berada pada posisi
ketinggian (pitch) yang sama dengan nada pertama maka disebut
interval Prime atau unison (biasa juga disebut first). Jika nada kedua
berada satu tingkat di atas nada pertama, misalnya dari C ke D,
maka disebut interval sekonde atau second (2nd).
Interval
76
Bab 9
Dari sebuah tangga nada mayor kita bisa menyusun delapan
interval dasar dengan nama yang berbeda, sebagaimana tampak
pada ilustrasi berikut ini:
Ilustrasi 9.1.:
Nama-nama Interval di atas Tonika Tangganada Mayor
9.3. Kualitas Interval
Interval memiliki kualitas yang bervariasi. Kualitas tersebut
disebabkan oleh benturan bunyi-bunyi harmonik yang dihasilkan
oleh dua buah nada yang berbeda. Khusus pada interval Prime
tidak terjadi benturan karena nada memiliki frekuensi getaran yang
sama. Interval Oktaf adalah yang memiliki konflik getaran yang
sangat kecil atau renggang sehingga tidak terkesan adanya
ketegangan. Tingkat ketegangan yang lebih kuat dari oktaf ialah
Kwint dan Kwart (kebalikannya). Walaupun demikian ketegangan
pada Oktaf, Kwint, dan Kwart sangat kecil karena benturan nada-
nada harmoniknya sangat jarang. Jika dibandingkan dengan
insterval-interval lain yang lebih sempit jaraknya, fenomena
harmonik ketiganya menyebabkan kualitas ketiga interval tersebut
terkesan kosong dan biasa disebut dengan istilah konsonan.
Interval-interval lain selain ketiga interval konsonan tersebut
disebut interval-interval disonan karena konflik bunyi
harmoniknya lebih banyak disebabkan jarak di antara dua nada
yang sangat berdekatan. Walaupun demikian di antara interval-
interval disonan juga memiliki variasi yaitu kualitas Mayor dan
Minor.
9.4. Interval Konsonan
Sebagaimana telah dijelaskan pada sub bab di atas, interval
konsonan dalam satu tangga nada mayor ada tiga yaitu Prime atau
Oktaf, Kwint, dan Kwart. Kualitas nterval-interval konsonan
disebut Perfect (Murni). Kualitas interval, baik konsonan maupun
Interval 77
Bab 9
disonan, dibedakan menurut jumlah tone dan semi tone di antara
kedua nadanya. Interval Prime memiliki nol tone (T) dan semi tone
(ST) dan Oktaf memiliki 5 T (C-D, D-E, F-G, G-A, A-B) dan 2 ST (E-
F dan B-C). Interval Kwint memiliki 3 T dan 1 ST sedangkan Kwart
memiliki 2T dan 1ST. Ketiga interval tersebut tampak sebagai
berikut:
Ilustrasi 9.2. :
Interval-interval Murni
Secara teoritis kualitas interval konsonan dapat berubah jika
larasnya ditambah atau dikurangi satu ST. Dengan syarat perluasan
kerenggangan tersebbut tidak mengubah nama interval atau
mengubah nama dasar dari nada-nada interval maka sebuah
interval murni berubah kualitasnya menjadi augmented atau
berlebih:
Ilustrasi 9.3.:
Perubahan kualitas dari Murni ke Berlebih
Sebaliknya, interval Murni Juga dapat dipersempit dengan mengurangi
kualitas larasnya sebanyak satu ST. Fenomena interval seperti ini dikenal
dengan istilah diminished atau menyempit.
Interval
78
Bab 9
Ilustrasi 9.4. :
Perubahan dari interval Murni ke Menyempit.
9.5. Interval Disonan
Interval disonan adalah selain ketiga interval Murni, yaitu
Sekonde, Terts, Sekt, dan Septim. Sekonde memiliki jarak 1 T (C-D),
Terts terdiri dari 2 T (C-D, D-E), Sekt terdiri dari 4T (C-D, D-E, F-G,
G-A) dan 1 ST (E-F), dan Septime terdiri dari 5T (C-D, D-E, F-G, G-
A, A-B) dan 1 ST (E-F). Sehubungan dengan jumlah laras yang
berada di antara kedua nada interval tersebut, keempat interval
disonan yang dibangun di atas tangga nada mayor akan
menghasilkan kualitas Mayor.
Ilustrasi 9.5.:
Interval-interval mayor
Jika interval-interval tersebut memiliki kualitas yang lebih
kecil atau larasnya dikurangi sebanyak setengah laras maka
kualitasnya akan berubah menjadi Minor. Pengubahan interval
Mayor menjadi Minor dapat dilakukan dengan menurunkan nada
atas atau menaikkan nada bawah. Walaupun demikian fenomena
interval disonan Minor sebenarnya juga terdapat pada urutan
nada-nada dalam tangga nada mayor. Misalnya interval Terts
Minor dari nada kedua ke nada keempat (D-F) yang memiliki
kualitas lebih kecil daripada Terts Mayor. Sementara Terts Mayor
terdiri dari 2 T, Terts Minor terdiri dari 1 T dan 1 ST.
Ilustrasi 9.6.:
Interval-interval mayor
Interval 79
Bab 9
9.6. Perubahan Kualtias Interval Disonan
Sebagaimana halnya interval konsonan, interval disonanpun
dapat mengalami perubahan menjadi augmented maupun
diminished. Pada interval disonan pengubahan memiliki tingkat efek
yang lebih bervariasi daripada interval konsonan. Pertama-tama
marilah kita amati interval Mayor. Jika interval ini diperluas
setengah laras atau satu semi tone maka akan menghasilkan kualitas
augmented. Namun jika dikurangi satu semi tone maka akan
berubah menjadi minor.
Ilustrasi 9.7.:
Perubahan pada interval Terts Mayor
Pada interval Minor terjadi fenomena yang sebaliknya atau
berlawanan arah. Sebagai contoh ialah Terts minor yang jika
diperluas maka akan mengakibatkan berubahnya kualitas interval
tersebut dan jika dipersempit atau dikurangi tingkat keluasannya
maka akan menjadi diminished atau menyempit.
Ilustrasi 9.8.:
Perubahan pada interval Terts Minor
9.7. Interval Enharmonis
Interval
80
Bab 9
Perubahan-perubahan insidental pada interval-interval, baik
konsonan mauoun disonan hanya ada dalam pembahasan teoritis,
dalam kenyataannya beberapa interval memiliki bunyi yang sama
walaupun nama dan kualitasnya berbeda. Keterkaitannya dengan
dunia praktek musik ialah dalam sistem penulisan yang melibatkan
berbagai variasi tonalitas atau nada dasar; dengan kata lain berbeda
dalam konsep pembacaannya.
Kerumitan hal interval ini tentunya tidak mungkin dibahas
dalam buku ini. Walaupun demikian kita bisa mengambil contoh
fenomena interval tersebut pada apa yang telah kita bahas pada sub
bab sebelumnya. Sebagai contoh ialah interval Oktaf (8th) yang nada
atasnya diturunkan 1/2 laras atau satu ST dengan tanda aksidental
mol maka secara teori memiliki kualitas Oktaf menyempit atau
diminidhed eight/ octave. Namun dalam kenyataannya berbunyi
persis seperti Major 7th atau Septim Mayor:
Ilustrasi 9.9.:
Fenomena enharmonis pada interval Oktaf dan Septim
Pengetahuan dan ketrampilan mengerjakan interval ini
merupakan syarat mutlak bagi para musisi, baik komposer,
instrumentalis, maupun kondakter, terutama berkaitan dengan
analisis dan pengolahan melodi serta akor.
• Bacaan untuk mempendalaman:
Taylor, Eric.1989. The ABC Guide to Music Theory (Part I). London:
The Associated Board of the Royal Schools of Music.
• Latihan:
1. Sebutkan nama dan kualitas interval berikut ini. Gunakan inisial
kualitas yang relevan (P= Murni, D = Diminished, A =
Interval 81
Bab 9
Augmented, M = Mayor, m = minor). Contoh: 3M (Terts Mayor);
2 D (Sekonde diminished).
2. Sebutkan nama interval berikut kualitasnya pada dua nada yang
diberi tanda ( ) di atasnya:
a. a. ……………
b. b. ……………
c. c. ……………
d. d. ……………
Interval
82
Bab 9
e. e. ……………
f. f. ……………
3. Tulis nama lengkap interval di bawah ini dengan penamaan
seperti pada no. 1 (nada bawah pada interval ialah nada dasar).
Ab mayor D minor E mayor
............................... …………………… …………………
F minor A mayor G minor
……………………… …………………… ……………………
C minor G mayor F# minor
…………………….. …………………. ………………….
BAB 10
AKOR DAN ARPEGIO
D
i samping melodi, musik tersusun dari akor-akor yang
merupakan elemen harmoni. Dalam prakteknya harmoni juga
disebut akor karena nada-nadanya yang trsusun secara vertikal
sehingga harus dibunyikan secara serempak. Jika sebuah akor dimainkan
secara terputus-putus atau nadanya dibunyakan tidak bersamaan namun
satu persatu, misalnya dari yang terrendah hingga yang tertinggi, maka
disebut arpegio. Istilah arpeggio, dari bahasa Italia, berarti akor yang
terputus-putus, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai broken
chord. Dengan demikian, di sisi lain istilah akor dan arpegio digunakan
dalam konteks kegiatan praktek instrumental, yaitu cara memainkannya.
Cara membunyikan dengan serempak disebut akor sedangkan secara
terputus-putus disebut arpegio.
10.1. Trisuara
Harmoni dan kontrapung dapat diibaratkan sebagai otak atau
pemikiran dari suatu karya musik. Harmoni adalah ilmu
mengkombinasikan nada-nada ke dalam akor-akor (chords). Sebagai
salah satu cabang ilmu musik, harmoni hanya dapat dipelajari secara
khusus dan secra terpisah. Dalam bab ini pembahasan hanya
meliputi perkenalan terhadap pemahaman awal yang sangat
mendasar dalam mempelajari ilmu tersebut.
Landasan harmoni ialah susunanvertikal yang biasanya terdiri
dari tiga atau empat nada. Sebuah akor yang terdiri dari tiga nada,
yang setiap nadanya terpisah satu sama lain oleh interval tiga (third),
disebut trinada (triad). Jika dibangun di atas nada pertama maka ia
disebut trinada Tonika. Pada tangga nada C mayor akor tonikanya
tersusun dari tiga nada yang tepisah oleh interval tiga, yaitu C-E-G
Pada ilustrasi berikut ini, simbol-simbol angka Romawi besar
menunjukkan jenis akor mayor sedangkan angka Romawi kecil
menunjukkan jenis akor minor. Jenis mayor dan minor ditentukan
oleh kualitas interval tiga (third) di antara nada pertama dan kedua.
Akor dan Arpegio
84
Bab 10
Pada akor tonika kualitas tersebut berada di antara C dan E yang
memiliki susunan 2 jarak penuh (tone) yaitu 1 tone dari C ke D dan 1
tone dari D ke E. jarakAkor yang tersusun dari empat nada disebut
akor tujuh. Sedangkan pada akor minor, seperti pada akor kedua,
kualitas interval tiga tersebut lebih kecil karena memiliki susunan 1
tone dan 1 semi tone yaitu 1 tone dari D ke E dan 1 tone dari E ke F.
Ilustrasi 10.1. :
Susunan trinada di atas tangga nada C mayor
10.2. Tingkatan Trisuara
Karena Trisuara dibangun di atas tangga nada maka dalam
penyusunan harmoni biasa digunakan penamaan yang khas
berdasarkan tingkatan-tingkatan nada dalam tangga nada. Tingkat
pertama, yaitu nada pertama dari tangga nada, disebut Tonika
(tonic). Secara literar tonic ialah kuat. Dalam sistem Tonal, tonika
memiliki kedudukan yang sangat penting sehingga tanpanya suatu
lagu akan terkesan ngambang dan tidak menentu.
Nada kedua yang terpenting setelah Tonika ialah Dominan,
yaitu nada kelima dari Tonika. Kenyataan tersebut didukung oleh
renggangnya konflik bunyi harmonik yang dihasilkan oleh interval
Kwint sebagai salah satu konsonan sebagaimana telah dijelaskan
pada bab terdahulu (bab 9). Setelah itu barulah Sub Dominan yang
menduduki posisi terkuat ketiga. Sehubungan dengan itu trisuara
yang di bangung di atas Tonika-Dominan-Sub Dominan, disebut
trisuara utama atau dalam bahasa Inggris disebut the main triads.
Penamaan tingkatan trisuara tidak semata-mata disebabkan
oleh konflik efek harmonis dari nada-nada saja melainkan juga dapat
dipahami dari posisi nada-nada tersebut dalam susunan tangga
nada. Pertengahan di antara Tonika dan Dominan, yaitu nada ketiga
Akor dan Arpegio 85
Bab 10
dari tangga nada mayor, disebut Median yang memang berarti
pertengahan. Tingkat nada keenam disebut Sub Median. Sub berarti
“bawah”. Alasan tersbut tampaknya karena merupakan lawan dari
Median. Median adalah nada ketiga jika dihitung dari Tonika
sementara Sub Median, yaitu nada keenam, adalah juga nada ketiga
dari Tonika jika dihitung tiga nada menurun. Nada kedua disebut
Super Tonika karena berada di atas Tonika (Super berarti “atas”).
Di antara nada-nada lainnya dalam tangga nada, hanya nada
ketujuhlah yang jarang disebut dengan istilah Latin. Dalam
pembicaraan teori musik, nada ini lebih sering disebut dengan istilah
Inggris yaitu leading note atau nada pengantar. Yang dimaksud ialah
mengantarkan pada Tonika. Kedudukan leading note ini tidak kalah
pentingnya dengan Tonika karena sama-sama mempertegas
kedudukan Tonika.
Penamaan tingkatan trisuara juga berlaku jika kita membangun
trisuara di atas tangga nada Minor Harmonis. Nada pertama tetap
disebut tonika dan demikian juga dengan dominan serta nada-nada
yang lain. Perbedaan terjadi ketika trisuara dibangun di atasnya. Hal
tersebut terjadi karena adanya perbedaan susunan atau konstruksi
laras di antara nada-nadanya (lihat pada bab ketujuh tentang tangga
nada minor harmonis).
10.3. Akor Augmented dan Diminished
Kecuali trinada ketujuh, interval pasangan kedua interval tiga
pada setiap trinada memiliki kualitas berbeda, jika yang pertama
interval 3 mayor maka interval tiga yang kedua ialah minor. Khusus
untuk trinada ketujuh pasangan kedua interval tersebut sama yaitu
minor. Sehubungan dengan itu trinada tersebut memiliki kualitas
yang lebih kecil dari trinada minor atau kualitasnya menyempit
sehingga biasa disebut diminished (dari bahasa Inggris) yang arti
harfiahnya memang menyempit. Sebaliknya, jika pasangan kedua
interval tiga pada suatu trinada ialah mayor maka kualitas trinada
menjadi lebih besar dari trinada mayor dan biasa disebut meluas
atau augmented.
Akor dan Arpegio
86
Bab 10
Trisuara augmented yang menimbulkan kesan “miring”, dapat
diibaratkan seakan-akan seperti disebabkan keberatan “muatan”.
Dalam pertanyaan solfegio trisuara ini lebih mudah diidentifikasi
yaitu lebih dekat dengan Mayor tapi berlebihan.
Ilustrasi 10.2.:
Trinada C augmented.
Trinada augmented di atas akan kita jumpai jika kita menyusun
trinada di atas tangga nada minor. Dengan demikiam trinada tidak
hanya dapat dibangun di atas nada-nada tangga nada mayor namun
dapat juga di atas nada-nada tangga nada minor. Di antara tiga
macam tangga nada minor yang ada yaitu natural, melodis dan
harmonis, yang terakhirlah yang biasa digunakan. Berikut ini ialah
susunan trinada dari tangga nada minor.
Ilustrasi 10.3.:
Susunan trinada di atas tangga nada A minor harmonis
Jika kita bandingkan antara trinada yang berbasis tangga nada
mayor dan minor maka beberapa hal yang akan kita temukan ialah
bahwa Tonika dan sub dominannya berbeda. Pada trinada mayor
keduanya berkualitas mayor sedangkan pada trinada minor
keduanya adalah minor. Persamaannya ialah keduanya memiliki
dominan dengan kualitas mayor. Suatu hal yang unik pada
Akor dan Arpegio 87
Bab 10
rangkaian trisuara minor ialah terdapatnya dua trinada diminished
dan sebuah trinada augmented sebagai konsekuensi penggunaan
tangga nada minor harmonis.
Ilustrasi 10.4. :
Trisuara C diminished.
Jika trinada tonika berfungsi sebagai penentu identitas dan
kekuatan tonalitas suatu tangga nada maka trinada dominan
berfungsi sebagai penguat keberadaan tonika. Agar trisuara dominan
dapat menjalankan fungsinya dan tidak mengganggu keberadaan
tonika maka terjadilah fenomena akor yang tidak mengandung tiga
nada tetapi empat nada yaitu akor dominan seventh atau secara awam
biasa disebut akor tujuh.
Akor dominan seventh terjadi dengan menambahkan satu
interval tiga minor di atas trinada dominan yang menyebabkan
adanya penggabungan dua trinada, yaitu dominan dan trinada
ketujuh secara berlapis. Efek tersebut menimbulkan kesan tidak
selesai atau menuntut penyelesaian. Dengan demikian trisuara ini
memiliki tiga manfaat. Yaitu mengindikasikan nada dasar dengan
mempertegas keberadaan tonika dari suatu lagu, yang kedua sebagai
akor pengantar dari Akor Tonika (I) ke Akor Sub Dominan (IV), dan
yang ketiga sebagai tanda terjadinya modulasi.
Ilustrasi 10.5.:
Dominant 7th pada tangga nada C mayor
Akor dan Arpegio
88
Bab 10
Ilustrasi 10.6.:
Dominat 7th pada tangga nada A minor
Baik pada tangga nada mayor maupun minor trinada yang
dibangun di atas nada pengantar atau nada ketujuh, menghasilkan
trinada diminished atau menyempit. Jika trinada mayor menimbulkan
kesan cerah atau gembira, minor diasosiasikan dengan sedih atau
suram, augmented memberikan kesan miring seperti akan jatuh, maka
trisuara diminished memberikan kesan sempit, gelisah dan menuntut
penyelesaian. Penggabungan antara trisuara mayor dan minor secara
berlapis mengakibatkan kesan yang cerah dan besar tetapi menuntut
penyelesaian dan penyelesaian tersebut jelas yaitu tonika.
Jadi berbeda dengan diminished yang walaupun juga menuntut
penyelesaian namun terdengar sempit. Dari kedua rangkaian
tersebut persamaan umum yang dapat dipahami ialah bahwa dalam
sistem tonal terdapat tiga trinada utama yaitu trinada I (tonika), V
(dominan) dan IV (sub dominan). Fenomena ini dapat kita lihat pada
musik-musik non klasik hingga saat ini atau dengan kata lain secara
tanpa disadari sitem tonal mengikat musik-musik populer dan
beberapa musik tradisi.
Kita bisa membuat variasi dari akor-akor tersbut dengan suatu
proses yang diebut ”pembalikan” (inversion). Dengan memindahkan
nada terrendah (C) satu oktaf ke atas sehingga dari susunan C-E-G
menjadi E-G-C, terjadi interval tiga di antara nada yang pertama dan
kedua dan interval enam di antara nada pertama dan keenam.
Sehubungan dengan itu pembalikan yang pertama ini disebut juga
akor 6/3. Sementara itu akor 6/4 adalah akor pembalikan kedua
yang diperoleh dengan menaikan nada pertama dari akor
pembalikan pertama sebanyak satu oktaf ke atas.
Akor dan Arpegio 89
Bab 10
Ilustrasi 10.7. :
Trinada pembalikan
Dalam suatu komposisi musik, peranan trinada sangatlah
penting. Selain sebagai dasar harmoni yang digunakan untuk
menyusun iringan sajian sebuah lagu, trinada juga sebagai dasar
penenyusunan komposisi maupun aransemen secara umum.
Kepentingan trinada dalam iringan sebuah lagu disebabkan karena
umumnya struktur melodi diatonis senantiasa berada dalam
kerangka tonalitas dan tangga nada nada. Sehubungan dengan itu
guna memperoleh pemahaman lebih jauh mengenai struktur.
10.4. Arpegio
Telah dijelaskan di muka bahwa Arpegio adalah akor
yangterpecah atau terputus. Susunan arpegio jarang dibahas dalam
pelajaran teori musik kecuali dalam analisis musik, khususnya yang
menggunakan tekstur polifonis. Istilah ini lebih sering dijumpai
dalam praktek musik yaitu sevagai bagian dari latihasn teknik.
Dalam pelajaran praktek piano yang harus diikuti oleh semua
siswa sebagai instrumen wajib, kompetensi memainkan arpeggio
pasti dijumpai. Latihan arpegio memiliki pola yang bervariasi. Pola
yang umum biasanya mulai dengan akor pada posisi dasar yang
dibunyikan dari nada kunci, nada tengah dan nada teringgi,
kemudian mulai dengan pembalikan pertama dari nada ketiga
tangga nada mayor sebagai bass, nada kedua, dan nada ketiga dari
pembalikan tersebut. Yang terakhir, pola yang sama dilakukan
terhadap akor pembalikan ketiga. Untuk oktaf selanjutnya pada
tingkat nada yang lebih tinggi, diterapkan cara yang sama.
Akor dan Arpegio
90
Bab 10
Ilustrasi 10.8.
Latihan arpegio untuk piano
• Bacaan untuk pendalaman
Anon. Tanpa tahun. Rudiment of Music. Tokyo: Yamaha Music
Foundation.
• Latihan-latihan:
1. Apa yang disebut akor (chord, akord)?
2. Apakah trisuara sama dengan akor?
3. Apakah yang disebut dengan arpegio?
4. Sebutkan tingkat-tingkat Trisuara Utama!
5. Sebutkan ketujuh tingkat nada maupun trisuara, mulai dari
yang terendah!
6. Mengapa nada keenam dari tangga nada disebut Sub Median?
7. Bagaimanakah konstruksi interval Trisuara Dominan Tujuh?
8. Sebutkan tiga peran penting Dominan Tujuh!
9. Semua nada dalam sebuah tangga nada terpusat pada Tonika.
Jelaskan hubungan, fungsi dan peranan setiap nada dengan
Tonika!
Akor dan Arpegio 91
Bab 10
10. Bagaimanakah konstruksi interval Trisuara Augmented?
11. Bagaimanakah konstruksi interval Trisuara Diminished?
12. Mengapa susunan akor augmented dan diminished terdapat
dalam tangga nada minor?
13. Jelaskan mengapa simbol susunan Trisuara pembalikan
pertama adalah 6/3 dan pembalikan kedua ialah 6/4!
14. Dalam pembahasan teori musik, arpegio banyak digunakan
dalam kegiatan apa?
15. Arpegio dalam permainan alat musik, sebagaimana halnya
tangga nada, termasuk kedalam latihan apa?
BAB 11
TINJAUAN SEJARAH MUSIK
P
erkembangan musik klasik dapat dikelompokkan dengan
berbagai sistem. Sebagai contoh ialah yang mengacu pada
perkembangan tekstur musikal, seperti periodesasi yang di buat
oleh Ewen (1963:7-13): Era Polifonik (1200-1650), Masa Kelahiran
Homofonik (abad ke-17), Periode Klasik (abad ke-18 hingga permulaan
abad ke-19) Periode Roantik (abad ke-19) dan Periode Modern (abad ke-
20).
Sementara itu Stein (1963) merdasarkan periodesasi historis musik
klasik atas prosedur komposisi dan bentuk musik. Menurut sitem
tersebut taksonomi historis musik klasik adalah sebagai berikut: Era
Abad Pertengahan (300-1000), Romanesque (1000-1150), Ars Antiqua
(1150-1300), Ars Nova (1300-1400), Renaisans Awal (1400-1500),
Renaisans Tinggi (1500-1600), Barok (1600-1750), Rococo (1725-1778),
Klasikisme (1750-1827), Romantikisme (1800-1900), Impresionisme (1880-
1918), dan Abad ke-20 (1900 hingga sekarang).
Walaupun terdapat berbagai variasi dalam pengelompokkan
sejarah musik, dalam bab ini periodisasi yang disampaikan
menggunakan sistimatika: Era Kuno (Sebelum 600), Era Abad
Pertengahan (600-1450), Era Renaisans (1450-1600), Era Barok (1600-1750),
Era Klasik (1750-1820), Era Romantik (1820-1900), dan Era Kontemporer
(1900-Sekarang).
11.1. Era Kuno (Antiquity) (- 500)
Musik Barat Awal terbentuk oleh tiga komponen budaya
meliputi tradisi-tradisi yang tidak sepenuhnya Eropa: Pertama,
Timur Tengah dan Mesir Kuno (daerah Mesopotamia di sekitar
sungai Tigris dan Euphrate yang didiami suku-suku bangsa Sumeria,
Babylonia, dan Assyria) meninggalkan artefak gambar-gambar
instrumen musik yang sudah lengkap (idiofon, aerofon, kordofon,
dan membranofon) untuk memainkan himne yang diukir pada batu
tahun 800 SM.
Tinjauan Sejarah Musik
94
Bab 11
Lima ratus tahun kemudian Bangsa Mesir melakukan hal yang
sama, sedangkan bangsa Yahudi tercatat sejak tahun 2000 SM dan
didokumentasikan dalam Kitab Perjanjian Lama yang lebih
berkembang karena kemudian diadobsi dan diadaptasikan dalam
liturgi agama Kristen kemudian. Tradisi peribadatan Yahudi di
synagoge (kuil) berupa gaya menyanyi silabis dan melismatis hingga
kini tetap digunakan di seluruh dunia.
Kedua, Yunani Kuno, merupakan budaya yang paling
berpengaruh pada perkembangan musik di Barat melalui bangsa
Romawi yang menaklukkan mereka tetapi sekaligus banyak
mengadobsi budayanya. Sejarah Yunani baru mulai sekitar tahun
1000 SM tetapi segera mempengaruhi bangsa-bangsa sekitarnya. Dua
dewa yang paling dipuja bangsa Yunani Kuno adalah Apollo dan
Dionysus—kelak menjadi prototipe dua kutub aliran estetika yang
saling berlawanan yakni klasik dan romantik.
Pemuja Apollo, memainkan instrumen musik berdawai kithara
sejenis lyre adalah kaum yang berwatak objektif terhadap ekspresi,
sederhana, dan jernih. Sebaliknya pengikut Dionysus suka
memainkan instrumen tiup aulos, bersifat subjektif, emosional, dan
berhawa nafsu besar. Doktrin etos seperti yang dijelaskan filsuf Plato
dan Aristoteles meyakini bahwa musik memberikan efek langsung
pada perilaku seseorang yang mendengarkannya.
Akibatnya, sistem sosial dan politik menjadi belit-membelit
dengan musik, pendidikan berfokus pada musik dan olahraga senam
(musica dan gymnastica), bahkan untuk membentuk tatanan
fundamental masyarakat dilakukan rasionalisasi musik seperti:
penalaan nada, memilih instrumen musik, mencipta modus dan
ritme-ritme. Ahli matematik Pythagoras menjadi orang pertama
yang meneliti perbandingan-perbandingan getaran dawai dan
menetapkan urutan nada-nada yang hingga kini menjadi dasar
sistem musik diatonik.
Sejarah Musik 95
Bab 11
Ilustrasi 11.1 :
Lukisan pada kuburan Mesir di Thebes yang menunjukkan alat-
alat musik harpa, lute, oboe ganda, dan lyra.
Ketiga, Romawi Kuno, bilamana budaya musikal wilayah
Mediterania timur dicangkok-kan ke dalam wilayah Mediterania
barat oleh kembalinya serdadu-serdau Romawi, maka modifikasi
dengan berbagai selera dan tradisi-tradisi lokal yang ada tak bisa
dihindarkan. Modifikasi nyatanya bahkan hanya lebih
menyederhanakan saja dari model-model yang diadobsi.
Tangga nada diatonik (tujuh nada) dijadikan standar
menggantikan struktur-struktur kromatik dan enharmonik dari
sistem musik Yunani. Romawi tidak memiliki kekayaan warisan
musikal berupa: teori akustik, konsep modus, pengelompokan ritme,
organologi instrumen musik, sistem notasi yang meliputi pitch dan
durasi, dan banyak repertoar berupa melodi-melodi yang digunakan
untuk contoh-contoh pada komposisi selanjutnya.
Tinjauan Sejarah Musik
96
Bab 11
11.2. Era Abad Pertengahan (Medieval Era) 600-1450
Abad Pertengahan meliputi suatu periode masa yang paling
panjang terkait dengan semua kehidupan dan seni untuk pelayanan
gereja. Musik digubakan untuk keperluan ibadat, dan sebagai alat
utama untuk memahami karya-karya Tuhan. Abad ini mewarisi
modus-modus Yunani, bangsa Romawi yang kristen
mengembangkan modus-modus gereja sebagai sistem tangga nada
yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai peribadatan
kristen.
Standarisasi yang terjadi dalam berbagai lapangan
pengetahuan saat itu, juga terjadi dalam musik. Biarawan dan
teoretikus musik Guido Aretinius d’Arezzo (ca. 997 – ca. 1050)
merancang sistem menyanyi yang dinamakan ’solmisasi’. Pemimpin
gereja Paus Gregorius I kemudian mengatur penggunaan lagu-lagu
pujian untuk peribadatan gereja yang dikenal dengan Gregorian chant
dengan sistem tersebut.
Ilustrasi 11.2.:
Syair Guido d’Arezzo sebagai dasar Solfegio
Dibandingkan gaya monofon sebelumnya dan cikal-bakal
harmoni, gaya polifoni sebagai teknologi komposisi yang
menggabungkan dua alur melodi atau lebih, memperkaya rasa
keindahan musikal era ini. Pusat musik abad ke-14 adalah Italy
dengan komposer-komposer penting seperti Francisco Landini,
Giovanni da Cascia, dan Jacopo da Bologna.
Sejarah Musik 97
Bab 11
Ilustrasi 11.3. :
Keterangan gambar menurut arah jarum jam dari kiri atas: (1)
Trouveres terakhir dan terbesar, Adam de la Halle, dari Arras(1288);
(2) Tannhaüser dalam pakaian Ksatrio Orde Jerman, tampil dalam
Kontes Menyanyi di Wartburg; (3) Henrich Frauenlob, salah seorang
pendiri Meistersingers, tampak di antara para musisi; (4) Pommers
(sebuah instrumen reed ganda) dan beberapa trompet, dari iluminasi
koleksi Richenthal Chronicle.
Tinjauan Sejarah Musik
98
Bab 11
Untuk pertama kali di Paris para pencipta musik Léonin dan
Perotin yang notabene adalah biarawan Katedral Notre-Dame,
disebut sebagai komposer-komposer ”Aliran Notre-Dame” (The
Notre-Dame School). Sebuah risalah penting berjudul Ars Nova (Seni
Baru) oleh Philippe de Vitry muncul lebih awal pada abad ke-14 dan
sekaligus menunjukkan bahwa seni yang berkembang sebelumnya
menjadi kuno.
11.3. Era Renaisans (1450-1600)
Berwatak klasik, pengekangan, menahan diri, dan kalem. Selain
tertarik pada kebudayaan Yunani Kuno, juga berkembang
humanisme khususnya di Italia dan fundamentalisme di Eropa
Utara, tetapi sarat dengan penemuan ilmiah. Kebudayaan termasuk
musik berkembang baik di dalam maupun di luar gereja. Manusia
seperti telah menemukan kembali jati dirinya terutama tampak pada
idealisme kaum Protestan yang meyakini bahwa manusia bisa
berhubungan langsung dengan Tuhan-nya.
Melodi dan tekstur musik masih menggunakan modus-modus
sebelumnya, tetapi akord-akord mulai disusun dengan cara
menghubungkan melodi-melodi yang menghasilkan konsonan atau
disonan. Selain musik vokal, era ini ditandai mulainya komposisi
solo dengan iringan ansambel instrumental. Selama abad ke-16
musik instrumental merangkak naik cepat terkait dengan
perkembangan teknik-teknik permainan instrumen yang idiomatis
seperti ritme-ritme beraksen kuat, nada-nada yang diulang-ulang,
wilayah nada semakin luas dan panjang, nada-nada yang ditahan
dan frase-frase, dan banyak ornamentasi melodi.
Renaisans dapat diartikan sebagai periode dalam Sejarah Eropa
Barat dimana manusia mulai melakukan eksplorasi terhadap dunia,
baik melalui perjalanan atau penjelajahan ke Timur maupun ke
Selatan belahan bumi, tetapi mereka juga gemar mengembangkan
ilmu pengetahuan dan kesenian. Oleh karena pikiran manusia
menjadi semakin bebas, maka musik sekuler mulai muncul dan
berkembang pula musik-musik instrumental yang semula kurang
mendapatkan tempat di lingkungan tradisi gereja. Tetapi musik
gereja tetap sangat penting dan gaya polifonik vokal sangat
berkembang pada periode ini. Komposer-komposer terpenting ialah
Sejarah Musik 99
Bab 11
Josquin des Prés, Orlandus Lassus, William Byrd, dan Giovanni
Pierluigi da Palestrina.
11.4. Era Barok (1600-1750)
Periode waktu musik Barok yang juga dikenal sebagai awal
suatu masa paling dramatik dalam sejarah musik, dikatakan sebagai
mulainya era tonal, tetapi totalitas musik yang menggunakan tangga
nada diatonik sebenarnya berlangsung hingga pada awal abad ke-20,
selebihnya musik modern mulai banyak yang meninggalkan sistem
diatonik itu. Sekalipun kata Perancis Baroque; Inggris/Jerman: Barock;
Italy: Barocco—semua menunjuk pada kata sifat ’bizaree’ (aneh, ajaib,
dan ganjil)—pada mulanya berkonotasi buruk, digunakan untuk
tujuan menghina, merendahkan, dan abnormal; tetapi definisinya
semakin menjadi positif, agung, dramatik, dan bahkan mengandung
spirit kuat dalam seni.
Spirit Barok diperlukan untuk mengembangkan kekayaan
musikal dan menumbuhkan dengan cepat teknik-teknik yang
diperlukan. Dua gaya musik yang terpenting adalah gaya antik
(prima prattica, stile antico) dan (sconda prattica, stile moderno) yang
lebih teatrikal daripada yang pertama. Periode pertama era Barok
sebagai awal ditandai dengan penerapan unsur dramatik pada
musik terutama pada operan dan oratorio, tetapi juga pada musik
instrumental dengan menambahkan unsur-unsur dinamik seperti
forte-piano (keras-lembut).
Di Italy ada komposer-komposer antara lain Giulio Caccini,
Jacopo Peri, Claudio Monteverdi, dan Pietro Francesco
Cavalli; di Perancis ialah Jean Baptiste Lully; dan di Jerman Heinrich
Schütz. Periode kedua ditandai oleh adanya unsur keseimbangan
harmonik dan polifonik pada komposisi-komposisi Barok yang
dilakukan oleh para komposer Italy Arcangelo Corelli, Antonio
Vivaldi, Allesandro Scarlatti, dan Domenico Scarlatti; Inggris Henry
Purcell, komposer Perancis Francois Couperin, Jerman Johann
Sebastian Bach, dan George Frideric Handel.
Musik Barok menyumbang bagi kesempurnaan sistem musik
Barat dengan sistem tonalitas yang berbasis perkuncian,
memformulasikan nada-nada menjadi akord-akord, interrelasi
Tinjauan Sejarah Musik
100
Bab 11
melodi dan akord dalam tangga nada mayor atau minor—
menjadikan musik diatonik bisa diterima mendunia. Dua gaya
musikal yang sangat berbeda dari Renaisans adalah gaya musik
concertato dan basso continuo.
Gaya pertama menerapkan teknik kontras, kombinasi, dan
alternasi antara solo dan iringan; sedangkan yang kedua teknik
menggarap iringan musik berbasis nada-nada bas (nada paling
bawah). Dua gaya itu banyak digunakan dalam komposisi
instrumental yang menjadikan era ini merupakan masa gemilang
musik instrumental seperti jenis musik ”sonata” dan ”concerto”.
Pusat-pusat musik Barok dan para komposernya adalah Italia,
Perancis, Inggris, dan Jerman; semua menghasilkan beraneka ragam
repertoar musik vokal dan instrumental seperti sinfonia, overture,
opera, sonata da chiesa, dan sonata da camera. Musik hiburan
(entertainment music) secara bertahap mulai berkembang baik secara
kualitas maupun kuantitasnya dan memperkaya musik gereja yang
sudah ada. Mulai tahun 1700 beberapa bentuk musik berbeda
muncul seperti solo sonata, trio sonata, suita tarian, dan concerto
grosso.
11.5. Era Klasik (1750-1820)
Seperti yang terjadi pada era Renaisans, sebenarnya cukup sulit
mendefinisikan era ini sekalipun menggunakan tinjauan periode
waktu, perbedaan gaya-gaya musikal, perilaku estetik, idealisme,
atau bahkan norma-norma yang ditetapkan. Cara paling mudah
memahami era Klasik ialah dengan memahami klasikisme sebagai
idealisme para pemuja dewa Apollo era Yunani Kuno.
Era ini mewarisi dan mengembangkan klasikisme secara total
melalui pikiran positif, sikap tenang, seimbang antara rasio dan rasa,
dan struktur yang jernih. Jika Apollo adalah dewa keadilan,
keindahan, seni, musik, dan sebagai personifikasi dari watak tenang
dan seimbang (hamonious tranquility); maka teori penting tentang
Apollo dikembangkan Nietzsche yang mengatakan bahwa Apollo
adalah dewa kebijaksanaan, pikiran analitis, pembentuk kepribadian,
refleksi diri, dan pemahaman—yang dilawan oleh Dionysus sebagai
dewa yang melahirkan prototipe romantikisme.
Sejarah Musik 101
Bab 11
Kata “klasik” bermakna sesuatu yang ber-‘kelas’ tinggi, bukan
sesuatu yang berkualitas sembarangan. Musik klasik (semua musik
serius) termasuk dalam kategori itu, tetapi era Klasik tidak
mendadak menemukan jati-dirinya melainkan dimulai oleh gaya
Rokoko yang riang (galant style) khususnya di Perancis dan gaya
sentimental (empfindsamer stil) yang dikembangkan pada tahun 1750
hingga 1760-an di Jerman.
Perancis menyumbang obsesi kejernihan (lightness),
keanggunan (gracefulness), dan hiasan (decoration); sedangkan Jerman
lebih senang pada masalah rasa (sensibilities). Di Jerman suatu
gerakan kesenian yang penting adalah Sturm und Drang (”Storm and
Stress”, ”Badai dan Stres”) muncul selama tahun 1770 hingga 1780-an
dipelopori oleh pujangga besar Goethe dan kawan-kawan yang
mengajak agar lebih meningkatkan ekspresi personal dan
menggunakan repertoar bangsa sendiri dalam karya-karya seni—
Jerman.
Perubahan fundamental gaya musikal Klasik dari Barok
diinspirasikan oleh Rokoko yang memurnikan kembali idealisme
klasik Yunani Kuno oleh para komposer hebat seperti Joseph Haydn,
Wolgang Amadeus Mozart, Christoph Willibald Gluck, dan Ludwig
van Beethoven. Untuk pertama kali dalam sejarah musik bahwa
musik instrumental lebih penting daripada musik vokal. Orkestra
dan musik kamar seperti kuartet, kuintet, dan trio piano—dijadikan
standar dan menggantikan dominasi ansambel-ansambel Barok.
Polifoni digantikan gaya homofoni yang membedakan fungsi melodi
dan progresi akord-akord sebagai iringan. Bentuk musik (musical
form) terpenting adalah bentuk sonata (sonata form) yang digunakan
pada simfoni, sonata, dan konserto.
Suatu gerakan kesenian yang penting ialah Sturm und Drang
(”Storm and Stress”, ”Badai dan Stres”) muncul di Jerman dipelopori
oleh pujangga besar Goethe dan kawan-kawan, mengajak seniman
agar lebih meningkatkan ekspresi personal dan menggunakan
repertoar sendiri dalam karya-karya seni. Melalui gerakan
kebudayaan itu para pujangga menggugah kesadaran cinta tanah air
atau nasionalisme bagi bangsa Jerman melalui perhatian mereka
pada karya-karya seni bangsa sendiri.
Tinjauan Sejarah Musik
102
Bab 11
11.6. Era Romantik (1820-1900)
Komposer-komposer Jerman seperti Beethoven merespon
gerakan Sturm und Drang dan menjadikan pergantian gaya musikal
dan sikap estetik yang lebih personal, nasionalistik, bebas, dan
menjadikan ciri khas Romantik. Batasan romantik berasal dari sastra
Jerman pada akhir abad ke-18, seorang penulis Franco-Swiss
bernama Mme de Staël mengaitkan gagasan-gagasan baru dengan
gerakan yang terjadi pada tahun 1813 sebagai sesuatu yang asli,
modern, populer, natural, religius, dan pemberlakuan institusi-
institusi sosial. Maka musik Romantik berbeda dari gaya sebelumnya
dan acapkali dikatakan berlawanan dengan Klasik karena wataknya
yang emosional, subjektif, nasionalis, individual, eksotis, melarikan
diri, nafsu bebas, dan bahkan tidak rasional.
Sifat-sifat gaya romantik sangat ditentukan oleh upaya para
komposer yang memperkaya sumber-sumber inspirasi dan sumber-
sumber material bagi komposisi mereka. Orkestra, musik piano, solo
vokal dengan iringan piano, dan opera dijadikan sebagai jenis-jenis
musik utama, tetapi musik kamar dan musik vokal pujian agak
dipinggirkan. Metrik genap dan metrik gasal dijadikan sebagai basis
metrik musik, tetapi terkadang dilakukan juga eksperimen-
eksperimen menggabungkan keduanya secara tidak biasa. Ritme
diakui sebagai suatu inti yang penting dari masalah ekspresi dalam
musik. Gaya melodi ditekankan berasal dari gaya menyanyi dengan
ciri panjang dan alur-alur lirik.
Di sisi lain kemungkinan-kemungkinan baru secara idiomatis
pada perwatakan instrumen digali dan dikembangkan. Elemen-
elemen harmoni dan tonal terus-menerus dikembangkan selama
abad itu, dengan kromatikisme, sonoritas diperkaya misalnya
dengan akord tujuh dan akord sembilan, dan bunyi-bunyi yang
nonharmonis banyak digunakan secara lebih bebas. Modulasi-
modulasi semakin menjauh dari tonalnya, tetapi musik masih
berpusat pada melodi dan harmoni.
Beethoven adalah seorang figur transisional yang
menghantarkan gaya Klasik abad ke-18 menuju gaya Romantik abad
ke-19. Ia adalah komposer yang paling fenomenal dalam sejarah
musik diatonik karena kegigihannya dalam menunjukkan
Sejarah Musik 103
Bab 11
personalitas dan watak pribadi melalui komposisi-komposisinya.
Terinspirasi oleh adanya kekuatan-kekuatan revolusioner pada
masanya, terutama Revolusi Perancis, ia mendeklarasikan sendiri
sebagai pembaharu artistik yang merdeka, bebas dari pengaruh
kekuasaan atau patron tertentu.
Pada awalnya ia mencipta musik demi memenuhi pesanan dan
imbalan finansial, tetapi kemudian pada tahun 1820 ia mulai
mendeklarasikan kebebasan dirinya dalam mencipta musik dan
hanya menulis musik jika digerakkan oleh imajinasi dan kata
hatinyas saja. Ia telah menetapkan aspek-aspek seperti
individualitas, subjektivitas, dan ekspresi emosional sebagai standar
pada komposer-komposer Romantik.
Kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah kata yang
melekat pada komposer paling fenomenal ini, ia berani melawan
Kaisar Napoleon Bonaparte melalui Simfoni No. 3 Eroica yang
kemudian menjadi tonggak sejarah musik Romantik. Beethoven
tampil sebagai pujangga musik dunia yang mampu menembus
batas-batas kultur Barat.
11.7. Era Kontemporer 1900-Sekarang
Periode ini dalam sejarah musik sering disebut sebagai periode
Modern sejak tahun 1900 sebagai titik awalnya. Era kontemporer
musik dipicu oleh peran komposer-komposer Romantik yang
mengembangkan gaya nasionalistik terutama yang berkembang di
negara-negara Eropa Timur. Nasionalisme menjadi salah-satu ciri
utama Romantik selain kecintaan mereka kepada alam,
kepahlawanan, cinta, tragedi, mistik, kelucuan, dan sesuatu yang
eksotis. Nasionalisme memberikan ciri khusus pada musik-musik
yang berkembang di Eropa Timur dan berbeda daripada Eropa Barat
pada umumnya.
Para komposer Romantik di Eropa Timur banyak
menghadirkan musik yang bernuansa budaya nasional, idiom-idiom
lokal, dan tertarik dengan keindahan pemandangan alam setempat.
Claude Debussy dan Maurice Ravel mereka adalah komposer-
komposer Perancis yang mengawali periode komtemporer dengan
gaya impresionisme. Musik era ini menggunakan pola-pola ritme
yang tak berbentuk, tangga nada whole-tone, konsep tentang
Tinjauan Sejarah Musik
104
Bab 11
hubungan bebas pada harmoni-harmoni berdekatan, dan tekstur-
tektur kalaedokopik dari impresionisme musikal. Gerakan-gerakan
estetik adalah manifestasi-manifestasi musikal yang bersumber dari
seni lukis dan sastra.
Karya-karya eksperimental dari Arnold Schoenberg dan Igor
Stravinsky sekitar tahun 1910 dikabarkan sebagai zaman baru dalam
musik. Schoenberg adalah seorang pioner yang mengadopsi ide-ide
dari gerakan para Ekspresionis—seperti Impresionisme yang diambil
dari perkembangan seni-seni lain. Ekspresionisme mengeplorasi
konsep-konsep konsonan dan disonan dari harmoni tradisional
untuk mengembangkan ”atonalitas” dan ”teknik 12-nada”.
Gaya revolusioner dari Stravinsky terkadang disebtu
“dinamisme”, “barbarisme”, atau “primitivisme”, berkonsentrasi
pada ketidakseimbangan metrik dan disonan-disonan perkusif, serta
didahului suatu dekade dari percobaan ekstrim yang bertepatan
dengan Perang Dunia I, suatu periode besar terkait dengan
pergolakan sosial dan politik. Musik periode kontemporer telah
terkait dengan nilai-nilai sosial, politik, dan banyak hal lain selain
nilai keindahannya.
Kontras dengan eksperimen-eksperimen Schoenberg dan
Stravinsky tersebut selama dekade kedua abad ke-20 muncul aliran
yang ingin kembali kepada idaman-idaman estetika akhir abad ke-18
dan kemudian dinaman Neoklasik. Tokoh-tokohnya ialah Paul
Hindemith, Béla Bartok, dan Sergey Prokoviev dan Alban Berg.
Aliran ini berwatak terbebas dari muatan emosional,
penyederhanaan material-material, struktur dan tekstur; dan lebih
mementingkan garis-garis melodi kontrapungtis daripada warna
harmonik atau instrumental. Neoklasik diteruskan sebagai tren
utama hingga sekitar tahun 1920 dan Perang Dunia II berlangsung,
teknik-teknik ekspetimental dikenalkan selama dekade kedua abad
ini secara bertahap dimurnikan kembali, dimodifikasi, dan
digabungkan ke dalam perbendaharaan istilah musikal yang
diterima umum.
Pasca Perang Dunia II ditandai oleh dua sikap artistik utama
yang cenderung menggabungkan unsur-unsur yang ada, Anton von
Webern membawa komposisi serial secara lebih ekstrim secara
ketrampilan dan intelektual yang berorientasi kepada Klasikisme
Sejarah Musik 105
Bab 11
daripada Ekspresionisme. Stravinsky, anggota tertua dari kelompok
Neoklasik, mulai melakukan ekperimen dengan Serialisme. Musik
Avant-garde mulai dikembangkan dengan teknik-teknik yang
memungkinkan menggunakan unsur elektronika.
• Bacaan untuk pendalaman:
McNeil, Rhoderik. 1998. Sejarah Musik 1. Jakarta: BPK Gunung
Mulia.
Amer, Christine. 1972. Harper’s Dictionary of Music. London:
Barnes & Noble.
• Latihan-latihan:
1. Umumnya sejarahwan musik mengelompokkan sejarah musik ke
dalam batasan jaman-jaman. Bagaimana David Ewen
mengelompokkan periodisasi sejarah musik dan apa
pendapatmu?
2. Sebutkan tiga komponen kebudayaan yang membentuk
perkembangan awal Musik Barat!
3. Siapakah Guido Aretinius d’Arezzo (ca. 997 – ca. 1050), dan apa
kontribusinya terhadap perkembangan musik diatonis?
4. Sebutkan nama kelompok-kelompok alat musik kuno yang
tergambar pada Pada artefak ukiran batu kuno dari tahun 800 SM
Di wilayah Timur Tengah dan Mesir!
BAB 12
PARA KOMPOSER ABAD PERTENGAHAN HINGGA
BAROK
P
ada bab sebelumnya telah dibahas karakteristik periodisasi sejarah
musik dari mulai abad pertengahan hingga kontemporer. Berkaitan
dengan penjelasan tersebut maka sebagai kelengkapan historis
pada bab ini diuraikan riwayat hidup singkat para komposer yang juga
disusun secara kronologis berdasarkan periodisasi tersebut. Untuk yang
pertama ialah daftar komposer Era Abad Pertengahan hingga Barok.
12.1. Era Abad Pertengahan (Medieval Era) (600-1450)
12.1.1. Dufay, Guillaume (ca. 1400-74):
Komposisi Belanda yang pemimpin paduan suara pada
Katedral Cambrai, kemudian ia belajar ke Italia dan memasuki
paduan suara kepausan di Roma pada tahun 1428. Dufay berkarir
dobel, sebagai pastur maupun sebagai musisi.
12.1.2. Gregory I, ”The Great” (540-604):
Gregory menjabat sebagai Paus pada selama tahun 590-604. Ia
bukan seorang komposer tetapi dikenal karena memiliki perhatian
besar mengembangkan dan menyatukan musik-musik untuk
keperluan misa dan liturgi gereja-gereja Kristen. Banyak dari
nyanyian berasal dari misa gereja Katholik Roma yang kemudian
dikenal sebagai Gregorian chant (Lagu-lagu Gregorian).
12.1.3. Guido d’Arezzo (ca. 997-ca. 1050):
Seorang Italia yang dikenal dalam sejarah musik sebagai
penemu sistem menyanyi solmisasi (ut, re, mi, fa, sol, la) dan juga
penyusunan tata-aturan penulisan kunci nada.
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok
108
Bab 12
12.1.4. Landini, Francisco (1325-1297):
Komposer Italia pada periode Ars Nova (Seni Baru). Landini
seorang buta yang berprofesi sebagai organis, komposisi dan
permainannya sangat dikenal pada zamannya. Ia tercatat sebagai
pencipta balada, bentuk musik-puisi penting. Kebanyakan dari
masa hidupnya tinggal di Florence, di kota itu ia dikenal sebagai
virtuoso organis dan juga pemain ulung instrumen musik lainnya
seperti lute dan rebec. Musiknya termasuk madrigal-madrigal dan
musik-musik tarian yang sangat indah.
12.1.5. Leonius (atau Léonin) (abad ke-12):
Seorang organis dan komposer Perancis, mungkin sebagai
orang pertama pendiri Notre Dame School di Paris. Ia
menggabungkan Magnus Liber, sekumpulan lagu liturgis yang
siklis, kebanyakan dari itu terdiri dari dua bagian yang digunakan
selama setahun penuh kebaktian gereja. Lenoninus tercatat sebagai
komposer penting untuk jenis musik organum, dan tercatat sebagai
salah-satu komposer terpenting untuk fase awal dalam sejarah
musik.
Gregory I Guillaume Dufay (kiri)
Ilustrasi 12.1.
Dua Tokoh Musik Abad Pertengahan
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok 109
Bab 12
12.1.6. Machaut, Guillaume de (c. 1304-77):
Organis dan komposer Perancis pada masa Ars Nova (Seni
Baru) dan mungkin sebagai komposer pertama yang mencipta
musik sekular yang hingga kini masih sering dimainkan.
12.2. Era Renaisans (1450-1600)
12.2.1. Byrd, William (1543-1623):
Komposer Inggris pada akhir Era Renaisans yang dikenal
karena karya-karyanya madrigal Inggris, lagu-lagu gereja, dan
musik untuk instrumen seperti virgin dan viol. Koleksi karyanya
yang khusus telah dipublikasikan di bawah judul Psalmes, Sonets,
and Song of Sadness and Pietie.
12.2.2. Caccini, Giulio (1545-1618):
Komposer Italia, anggota dari grup Camerata di Florence yang
melahirkan opera.
12.2.3. Carissimi, Giacomo (1605):
Komposer Italia yang utamanya dikenal sebagai pencipta
kantata kamar dan oratorio dalam mengembangkan seni resitatif.
Metodenya menyatukan kata-kata dengan musik pada umumnya
sangat ekspresif dan dramatik. Meskipun ia tidak menemukan ide
tentang oratorio, tetapi ia tetap seorang jenius. Sekali waktu Handel
pernah meminjam ide-ide itu dari karya-karyanya. Karya utama
Carissimi adalah The History of Jonah dan Jepthah.
12.2.4. Gabrieli, Giovanni (1557-1612):
Komposer Italia, kemenakan laki-laki dari Andrea Gabrieli.
Setelah beberapa tahun tinggal di Jerman ia kembali ke Venice
bekerja sebagai organis di St. Mark (1586). Ia meneruskan
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok
110
Bab 12
eksperimen pamannya yakni mengkombinasikan nyanyian-
nyanyian gereja dengan orkestra. Sedangkan musik orkestra murni
seperti Sonata pian’ e forte (1597) tercatat penting dalam sejarah
musik sebagai pembawa gaya menuju gaya konserto yang kelak
mendominasi abad ke-17 dan ke-18.
12.2.5. Josquin Des Prés (ca. 1450-1521):
Komposer Franco-Flemish pada awal Renaisans. Karya-
karyanya merefleksikan keseimbangan antara imitasi kontrapung
seni Franco-Flemish dengan gaya yang lebih homofonis Italia.
Menulis misa, motet, dan sejumlah kecil karya sekular yang di
antaranya mencapai sukses sebagai repertoar penting era
Renaisans.
12.2.6. Lassus, Orlandus (1532-1594):
Sering disebut Roland de Lassus, atau Orlando di Lasso.
Komposer Italia era Renaisans yang tercatat sebagai pencipta musik
motet dan madrigal yang indah. Ia juga mencipta misa, chanson,
dan lieder. Ia dikenal sebagai komposer besar abad ke-16 untuk
musik polifoni vokal. Lassus memulai karirnya sebagai penyanyi
paduan suara pada Mons, oleh karena suaranya yang bagus dan
mendapatkan banyak perhatian publik ia bahkan pernah diculik
tiga kali oleh para rivalnya sesama penyanyi. Pada penculikan
dirinya yang ketiga ia dibawa ke Sicilia, tetapi kemudian ia menjadi
pemimpin paduan suara di Roma dan bahkan melakukan
perjalanan ke Perancis dan Belanda. Lassus menulis kurang-lebih
1000 komposisi termasuk banyak madrigal Italia yang sangat
bagus. pencipta musik motet dan madrigal yang indah. Ia juga
mencipta misa, chanson, dan lieder.
12.2.7. Palestrina, Giovanni Pierluigi da (1525-1594):
Komposer Italia pada akhir era Renaisans. Salah-seorang dari
jajaran komposer besar musik gereja, ia banyak tinggal di
lingkungan gereja untuk mencipta musik.
Motet-motet dan misa-misa menunjukkan kecakapannya yang
tinggi dalam berolah polifoni. Palestrina adalah seorang Uskup
yang karena kepandaian musiknya
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok 111
Bab 12
Byrd, William Palestrina
Josquin Des Pres Orlandus Lassus
Ilustrasi 12.2.
Para Tokoh Musik Jaman Renaisans
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok
112
Bab 12
kemudian diundang oleh Paus untuk memimpin paduan suara di
kapel Julian di Vatikan untuk beberapa kali periode.
12.2.8. Peri, Jacopo (1561-1633):
Komposer Italia pada akhir era Renaisans dan awal era
Barok. Ia adalah anggota dari Camerata, sebuah grup yang
mencoba tetap melestarikan drama dan gaya deklamasi dari
kebudayaan Yunani Kuno. Karyanya Dafne (1597) adalah opera
pertama yang menggunakan gaya monodik baru.
12.3. Era Barok (1600-1750)
12.3.1. Schütz, Heinrich (1585-1672):
Komposer Jerman masa awal Barok, ia mencipta opera
Jerman pertamakali (Dafne, 1627) berbasis pada model Italia dan
mengembangkannya pada karya-karya utamanya seperti
Christmas Oratorio. Dalam aktivitasnya mengajar dan mencipta
komposisi ia sangat mengemukakan efek musik J.S. Bach yang
bersifat tradisi musik Jerman. Yang paling penting adalah
musiknya memiliki kekuatan dan indah sehingga menempatkan
dirinya sebagai salah-seorang tokoh besar pada awal periode
Barok. Karya-karyanya berupa kombinasi antara musik vokal dan
instrumental seperti Sacred Symphonies dan Sacred Concerto.
12.3.2. Telemann, Georg (Philipp) (1681-1767):
Komposer Jerman pada akhir era Barok, dari segi daftar
komposisinya ia termasuk fantastik. Lebih dari 3.000 karyanya
untuk gereja, antara lain musik solo organ atau dengan orkestra,
lebih dari 600 overture, dan banyak trio sonata, maupun musik
kamar. Teleman dikenal sebagai komposer yang musiknya
merepresentasikan elemen-elemen terbaik dari gaya Empfindsamer
Stil.
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok 113
Bab 12
12.3.3. Vivaldi, Antonio (1678-1741):
Komposer Italia pada masa akhir Barok. Lahir di Venice dan
lama tinggal di sana untuk bekerja. Dari tahun 1704 sampai
dengan tahun 1740 ia mengajar pada Conservatorio dell’Ospedale
della Pieta, sebuah sekolah musik bagi perempuan. Sekalipun ia
menulis sejumlah opera dan musik-musik religius, kejeniusannya
terletak pada karya-karya musik instrumental, ketelitiannya pada
banyak konserto orkestral, karya-karya biola, dan trio sonata.
Vivaldi seorang pemain biola mahir dan dikenal sebagai pencipta
banyak konserto groso tak kurang dari 400 jumlahnya. Beberapa
karyanya itu berjudul, contohnya, Six Concertos in Book I Opus 8:
The Trial of Harmony and Invention: (1) Spring; (2) Summer; (3)
Autum; dan (4) Winter—semua biasanya dimainkan sesuai
dengan empat musim (The Seasons); dan (5) The Storm at Sea; (6)
Peace. Selain menulis opera, Vivaldi juga mencipta musik kamar
kurang-lebih 100 sonata dan musik gereja (contoh, yang
terpopuler berjudul Gloria in D major).
12.3.4. Bach, Johann Sebastian (1685-1750):
Komposer-organis Jerman pada akhir era Barok. Sebagai
seorang kontrapungtis ia tidak punya tandingan atau kawan,
karya-karya fuga-nya tetap menjadi model dari kesempurnaan
polifonik. Komposisi-komposisi termashurnya meliputi musik
keyboard, cantata, passion, oratorio, concerto, dan musik-musik
kamar; ia juga mempersembahkan seluruh hidupnya bagi gereja
Lutheran, masih juga mencipta musik sekular.
Gaya komposisi Bach meliputi semua gaya Barok—elegan
dan polifoni yang kaya dan dikemas secara disiplin, hamonisasi
yang intesif, dan mengutamakan ekspresi. Dua buku yang
mengembangkan kontrapung adalah Preludes dan Fugues dalam
semua kunci mayor yang memuat 48 nomor untuk ketrampilan.
Bach adalah seorang yang taat beragama dan banyak
mencipta dan memainkan musik gereja. Karya terakhirnya dicipta
di tempat tidur sebelum ia meninggal berupa prelude untuk
organ dan paduan suara. Hanya sedikit karyanya yang
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok
114
Bab 12
diterbitkan sewaktu ia hidup, tetapi beberapa musisi belajar dari
metode-metodenya. Haydn dan Mozart belajar langsung dari
Bach, dan juga Beethoven. Karya-karya penting Bach adalah:
Musik-musik vokal Magnificat in D major, St John Passion, St
Mattew Passion, Christmas Oratorio, dan Mass in B minor. Beberapa
musik orkestra: empat suita dan Brandenburg Concertos (enam
nomor). Solo concerto untuk biola sangat terkenal hingga kini
adalah Violin Concerto in A minor dan Violin Concerto in E mayor,
sedangkan untuk dua biola dalah Concerto for two Violins in D
minor. Karya musik keyboard meliputi The ‘48’ Prelude and
Fugue (Book I and Book II), Chromatic Fantasy and Fugue, Italian
Concerto, dan Goldberg Variations.
12.3.5. Corelli, Arcangelo (1653-1713):
Komposer Italia dan seorang pemain biola, termashur di
seluruh Eropa sebagai seorang virtuoso biola dan tinggal
beberapa waktu di Perancis dan Jerman sebelum tinggal menetap
di Roma (c. 1685), di mana ia mulai menambahkan pada
reputasinya dengan mempublikasikan komposisi-komposisinya.
Meskipun tidak banyak mencipta musik secara kuantitas, tetapi
secara kualitatif musiknya sangat bagus sehingga ia menjadi
komposer paling penting pada masanya. Ia telah membantu
menciptakan gaya baru ’sonata’ dan gaya ’konserto groso’. Ia
menerbitkan empat kumpulan dari 12 Trio Sonata, dan satu
kumpulan dari 12 Solo Sonata.
12.3.6. Gibbons, Orlando (1683-1625):
Komposer Inggris dari lingkungan keluarga yang sangat
musikal, ia lahir oxford dan menerima pendidikan di King’
Colledge-Cambridge. Gibbons kemudian pergi ke London sekitar
tahun 1604 dan menjadi organis pada kapel istana dan menjadi
musisi pribadi raja. Ia menulis banyak musik rakyat, sekumpulan
dri 20 Madrigals and Motets of five Parts: apt for Viols and Voyces
(1614), sejumlah fantasia untuk gesek, dan banyak musik tarian,
kumpulan variasi, fansi, dan lain musik untuk harpsikord.
Madrigalnya yang paling tekenal berjudul The Silver Swan.
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok 115
Bab 12
12.3.7. Handel, George Frederick
Lahir di Halle, Saxony pada tanggal 23 Februari 1685 dan
meninggal di London tanggal 14 April 1759. Handel adalah salah-
satu dari komposer yang memiliki riwayat hidup yang unik, ia
tidak mendapatkan restu dari ayahnya untuk belajar musik.
Mulai belajar musik secara sembunyi-sembunyi pada malam hari,
tetapi kemudian bisa belajar dari guru-guru lokal di tempat
tinggalnya pada waktu kecil. Selama tiga tahun belajar organ,
clavier, biola, dan komposisi di bawah bimbingan Zachau. Ia
mulai membuat sensasi sehingga seorang pejabat di kota
Brandenburg memberinya beasiswa untuk belajar musik di Italy.
Pada waktu yang sama ia juga menempuh studi hukum di
Universitas Halle untuk menuruti harapan sang ayah. Tetapi
kemudian studinya kacau dan ia memutuskan belajar musik,
menetap di Hamburg dan bermain biola di opera-opera Jerman.
Opera pertamanya Almira diperkenalkan di Gedung Opera
Hamburg dan mendapatkan sukses besar, tetapi opera kedua
Nero gagal.
Handel menulis sekitar 40 opera, tetapi kemudian lebih
berkonsentrasi pada komposisi orarotio yang beberapa karyanya
kelak menjadi terkenal seperti Saul (1738), Israel Egypt (1738) dan
Messiah (1741) sebagai karyanya yang paling termashur.
12.3.8. Lully, Jean Baptiste (1632-1687):
Komposer Barok kelahiran Italia yang bekerja pada Raja
Louis XIV di Versailles-Perancis. Lully dicatat karena inovasi-
inovasinya antara lain overtur ”Lully” atau ”Perancis”.
Kemahirannya terutama dalam musik balet istana dan komposisi
resitatif yang khususnya menyesuaikan dengan kualitas-kualitas
dalam bahasa Perancis. Pada tahun 1669, Opera Paris didirikan,
dan tiga tahun kemudian Lully menjabat sebagai direkturnya.
Lully mulai mengarang opera-opera, semuanya tidak bisa
bertahan lama tetapi tetap dimainkan dan menjadi bagian penting
dari sejarah perkembangan tradisi opera Perancis yang
berlawanan dari opera Italy. Di antara opera-operanya yang
terkenal adalah Amadis, Roland, Acis et Galatée, dan Persée. Lully
meninggal dunia dua bulan setelah memimpin pertunjukannya Te
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok
116
Bab 12
Deum yang ia tulis untuk merayakan kesembuhan Raja dari sakit
gawat.
12.3.9.Monteverdi, Claudio (1567-1643):
Komposer Italia yang kini dikenal bukan saja sebagai
penemu opera tetapi juga sebagai seorang dari para tokoh musik
tersohor. Monteverdi adalah putra tertua Baldassare Monteverdi,
seorang ahli fisika. Ia banyak menunjukkan bakat musiknya
setelah belajar pada Marc’ Antonio Ingegneri (seorang musisi
Katedral Cremona). Karir musiknya yang paling awal dan
penting yakni setelah ia bergabung menjadi staf Duke of Mantua,
ialah Vincenzo Gonzaga I. Mantua adalah salah satu wilayah
kerajaan yang indah dan terkenal di mana para musisi muda
berbakat diberikan kesempatan mengabdi secara profesional. Ia
tertarik mengembangkan overtur dan banyak pembaruan pada
opera yang tetap dikenal hingga kini. Madrigal-madrigalnya
menunjukkan kecakapan yang tinggi pada masanya, sejak awal
karya-karyanya terkait dengan Renaisans, tetapi kebanyakan dari
komposisinya merefleksikan tradisi paling awal era Barok. Orfeo
yang diambil dari karya sejarah Orpheus and Euridice mencapai
sukses. Monteverdi mempublikasikan sembilan buku tentang
madrigal, beberapa komposisi religius yang penting termasuk
Mass and Vespers dan sebuah koleksi Selva morale e spirituale (1640).
12.3.10. Purcell, Henry (ca. 1659-1695):
Lahir di London tahun 1658 dan meninggal di sana pada
tahun 1695. Purcell lahir dari keluarga yang secara musikal sangat
menonjol, ayah dan pamannya adalah anggota penting pada
Kapel dan Band Kerajaan. Sebagai komposer pada masa tengah-
Barok, ia adalah tokoh terakhir yang tercatat sampai dengan akhir
abad ke-19. Komposer yang memiliki kemampuan tinggi dalam
penemuan, ia memasukkan ke dalam musiknya rasa drama yang
kuat dengan sentuhan humor. Ia dikenal karena kemahiran dan
orisinalitasnya dalam mencipta musik. Satu opera, Dido and
Aeneas (1689), banyak didengar sebagai musik instrumentalnya.
Karya-karya penting Purcell antara lain opera Dido and Aeneas dan
The Tempest.
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok 117
Bab 12
12.3.11. Rameau, Jean Philippe (1683-1764):
Lahir di Dijon pada tanggal 25 September 1683, dan
meninggal di Paris pada tanggal 12 September 1764. Komposer
Perancis, organis, dan teoretikus pada periode akhir Barok
(Rokoko). Ia dikenang karena karaya-karya opera, balet, dan
musik keyboard; tetapi juga bukunya tentang pelajaran teori
musik. Rameau telah mahir bermain harpsikord pada waktu
umur tujuh tahun. Ayahnya bermaksud agar ia belajar
pendidikan di Jesuit Colledge. studinya berlalu, tetapi ia pergi ke
Italy pada tahun 1701, di sana ia menjadi organis beberapa gereja
dan bermain di band-band kota. Kembali ke Perancis ia menjadi
organis utama di Avignon, kemudian di Clermont-Ferrand.
12.3.12. Scarlatti, Allesandro (1660-1725):
Komposer Italia pada masa tengah Barok, disebut sebagai
penemu aliran Neapolitan. Ia menulis tak kurang dari 115 opera,
beberapa dari karya itu kini masih dimainkan, dan beberapa
kantata solo yang indah. Beberapa musik kamar ciptaan Scarlatti
menjadi repertoar yang dimainkan hingga saat ini. Ia menjadi
terkenal sebagai komposer opera, terutama di kotanya sendiri,
Naple. Opera-operanya menjadi patokan gaya Italia abad ke-18,
dan pola yang ditentukan pada Da Capo aria. Ia juga menulis
banyak musik kamar cantata, banyak yang kemudian menjadi
awal mula simfoni
12.3.13. Scarlatti, Domenico (1685-1757):
Komposer dan pemain harpsikord pada masa akhir Barok,
anak dari Allesandro Scarlatti. Sonata-sonata harpsikord
ciptaannya tetap menjadi repertoar standar hingga kini bagi para
pianis, tetapi ia dikenang lebih banyak sebagai pengembang
teknik modern untuk permainan keyboard. Ia juga menulis
banyak opera, oratorio, dan musik kamar cantata, tetapi yang
banyak dikenal adalah musik sonata untuk harpsikord sekitar 555
buah. Karya-karya dan teknik permainan harpsikordnya menjadi
dasar bagi teknik permainan keyboard di kemudian hari. Ia juga
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok
118
Bab 12
Bach, Johann Sebastian Handel, George
Frederick
Purcell, Henry Vivaldi, Antonio
Ilustrasi 12.3.:
Para Tokoh Musik Jaman Barok
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok 119
Bab 12
memberikan sumbangan penting bagi terbentuknya Bentuk
Sonata (Sonata Form). Banyak dari masa hidupnya ia tinggal di
Lisabon dan Madrid.
12.3.14. Schütz, Heinrich (1585-1672):
Komposer Jerman masa awal Barok, ia mencipta opera
Jerman pertamakali (Dafne, 1627) berbasis pada model Italia dan
mengembangkannya pada karya-karya utamanya seperti
Christmas Oratorio. Dalam aktivitasnya mengajar dan mencipta
komposisi ia sangat mengemuka-kan efek musik J.S. Bach yang
bersifat tradisi musik Jerman. Selian itu, yang penting diketahui
juga adalah bahwa musiknya memiliki kekuatan dan indah
sehingga menempatkan dirinya sebagai salah-seorang tokoh besar
pada awal periode Barok. Karya-karyanya berupa kombinasi
antara musik vokal dan instrumental seperti Sacred Symphonies
dan Sacred Concerto.
12.3.15. Telemann, Georg Philipp (1681-1767):
Komposer Jerman pada akhir era Barok, dari segi daftar
komposisinya ia termasuk fantastik. Lebih dari 3.000 karyanya
untuk gereja, antara lain musik solo organ atau dengan orkestra,
lebih dari 600 overture, dan banyak trio sonata, maupun musik
kamar. Teleman dinenal sebagai komposer yang musiknya
merepresentasikan elemen-element terbaik dari gaya Empfinsamer
Stil.
12.3.16. Vivaldi, Antonio (1678-1741):
Komposer Italia pada masa akhir Barok. Sekalipun ia
menulis sejumlah opera dan musik-musik religius, kejeniusannya
terletak pada karya-karya musik instrumental, ketelitiannya pada
banyak konserto orkestral, karya-karya biola, dan trio sonata.
• Bacaan untuk pendalaman:
Neill, Rhoderick J. Mc.,1998.Sejarah Musik 1 dan 2. Jakarta: PT
BPK Gunung Mulia.
Para Komposer Abad Pertengahan Hingga Barok
120
Bab 12
• Latihan-latihan
1. Sebutkan dua tokoh musik penting dari jaman Pertengahan!
2. Siapakah komposer Italia yang menemukan sistem menyanyi
Somisasi?
3. Sebutkan dua tokoh penting komposer jaman Renaisans!
4. Siapakah komposer besar jaman Renaisans untuk musik
polifoni vokal?
5. Ceritakan secara singkat yang Anda ketahui tentang
komposer J.S. Bach dan J.F. Handel!
BAB 13
PARA KOMPOSER ERA KLASIK
E
ra Klasik dalam sejarah musik klasik yang hadir setelah era Barok
dan Rokoko. Era ini diawali oleh ciptaan Johann Wenzel Anton
Stamitz dari Cekoslowakia yang mulai meminimalisir gaya-gaya
ornamen dan kontrapung. Kebiasaan-kebiasaan baru menyolok yang
timbul dalam karya-karyanya ialah kontras-kontras dan fleksibilitas
dinamika. Komposer ini juga dikenal sebagai pelopor Simfoni Klasik. Era
ini kemudian dipertegas dengan kehadiran tiga tokoh Klasik yaitu
Mozart, Haydn, dan Beethoven.
Adanya berbagai aturan tonalitas, lama-kelamaan para komposer
mulai jera dengan aturan-aturan tonalitas Klasik yang akhirnya dirasa
kaku dan mengikat. Mereka kemudian memutuskan untuk
mengeksplorasi tonalitas untuk keutamaan ekspresi yang maksimal.
Sebagai akibatnya berkembang aspek-aspek yang berlebihan dari ciri
Klasik. Sebagai contoh ialah tempo bagian Minuet dalam sebuah karya
besar yang biasanya mengikuti irama tarian kemudian diganti oleh
bagian yang sangat lincah yaitu Scherzo. Untuk meningkatkan
pengetahuan kita tentang komposer Klasik, pada bab ini dipaparkan
riwayat singkat para komposer jaman Klasik.
13.1. Bach, Wilhelm Friedemann (1710-84)
Friedemann pada umumnya dikenal sebagai anak kedua dari
Johann Sebastian Bach. Hidupnya dimanjakan dan meninggal pada
waktu usia muda secara menyedihkan.
13.2. Bach, Carl Philipp Emanuel (1714-1788):
Sebagai tokoh transisi dari gaya Barok kepada gaya Klasik, ia
berupaya memurnikan kembali gaya pertunjukan yang penuh rasa yang
disebut sebagai the Empfindsamer Stil.
Para Komposer Era Klasik
122
Bab 13
13.3. Bach, Johann Christian (1735-82):
Komposer Jerman pada awal era Klasik. Anak dari Johann
Sebastian Bach, ia banyak disebut sebagai ”London Bach” karena ia tinggal
di kota London selama dua puluh tahun.
13.4. Couperin, Francois (1668-1733):
Organis Perancis dan komposer Barok Tengah yang diberi nama
”Le Grand” selama pengabdiannya sebagai organis istana hingga masa
Louis XIV. Meskipun seluruh masa kreatifnya untuk mencipta karya-
karya musik religi, ia juga terkenal karena kecakapannya menyusun
komposisi dengan hiasan-hiasan yang sangat tinggi khususnya pada
musik keyboard. Couperin terkenal sebagai ’Couperin the Great’ dan
mendapat banyak pujian dari Raja Louis XIV baik sebagai komposer,
organis, dan pemain harpsikord. Ia menulis musik gereja, trio sonata,
dan musik harpsikord.
13.5. Czerny, Carl (1791-1857):
Guru piano dan komposer Austria, murid dan teman Beethoven. Ia
menjadi terkenal sebagai guru piano dan komposer dari banyak buku
untuk belajar piano yang hingga kini tetap digunakan umum.
13.6. Geminiani, Francesco (1680-1762):
Komposer dan pemain biola kelahiran Italia yang banyak
menetap di Inggris, ia murid biola dari Corelli, kemudian menulis
metode biola, dan tinggal di London, Dublin, dan Paris. Komposisinya
yang terkenal antara lain 12 Concerti Grossi untuk instrumen gesek. Ia
tidak hanya sebagai virtuos biola yang memainkan karya-karya concerto
Corelli saja, tetapi mengembangkan teknik-teknik permainan biola untuk
kemudian hari. Karya-karyanya juga meliputi concerto, sonata, dan
beberapa trio.
Para Komposer Klasik-Romantik 123
Bab 13
13.7. Hanslick, Eduard (1825-1904):
Kritikus musik Austria, mengajar pada Universitas Wina sejak
tahun 1856, menjadi profesor pada tahun 1870. Pada masanya ia sangat
dikenal sebagai seorang kritikus musik berpengaruh melalui karyanya
Wiener Zeitung (1848-49) dan Die Presse (1855-64). Ia menulis banyak
buku dan menjadi terkenal dalam berbagai lingkaran karena menolak
pandangan tentang ’musik baru’ dari Liszt dan Wagner. Hanslick, di sisi
yang lain, membela mati-matian gaya musik absolut dari Brahms sebagai
pewaris utama Beethoven.
13.8. Haydn, Franz Joseph (1732-1809):
Komposer Austria, bersama dengan Mozart dan Beethoven,
mewujudkan dasar-dasar penting Klasikisme Wina. Walaupun Haydn
dianggap tidak menemukan bentuk musik tertentu, tetapi ia berperan
mematangkan beberapa bentuk musik seperti sonata form dan
menempatkannya dalam simfoni sebagai bagian pertama simfoni yang
menjadi ciri khas musik Klasik. Di tangan Haydn pula gaya simfoni
mendapatkan bentuk dan isinya, juga musik kuartet gesek dibuatnya
menjadi medium yang mengekspresikan keintiman. Ia adalah komposer
produktif yang setia dengan bentuk dan jenis musik pilihannya;
mencipta 104 simfoni, 83 kuartet gesek, 3 oratorio, tidak kurang 30
konserto untuk instrumen solo, 60 sonata piano, 19 opera, dan ratusan
karya musik kamar dan lagu-lagu. Kehidupan profesionalnya banyak
berada di bawah patronase gereja dan kerajaan, sering melakukan
perjalanan ke seluruh Eropa untuk mencipta dan konser.
13.9. Mozart, Wolfgang Amadeus (1756-1791):
Komposer Austria terkemuka, jenius terakhir, dan satu dari para
pencipta hebat dalam peradaban Barat; bersama dengan Haydn ia
mengemukakan Klasikisme Wina. Mozart adalah anak ajaib, bermain
dalam istana-istana di Eropa sejak usia enam tahun. Komposisi
pertamanya dipublikasikan pada tahun 1763, pada saat ia menginjak usia
tujuh tahun. Masa kanak-kanak di Salzburg, kemudian pindah dan
menetap di Wina. Selama tahun 1780-an ia dan Haydn saling bersahabat,
masing-masing berkarya untuk mengembangkan gaya musik Klasik.
Para Komposer Era Klasik
124
Bab 13
Mozart sangat suka pada semua gaya musik dan menciptakan musik-
musiknya dengan sangat baik. Opera-operanya menjadi repertoar
penting pada gedung-gedung opera, beberapa simfoni terutama nomor-
nomor 36, 39, 40, dan 41, secara tetap dimainkan; selain itu juga konserto-
konserto untuk piano maupun biola sangat dikenal publik. Selama masa
hidupnya yang singkat, ia mencipta banyak kumpulan karya seperti 49
sinfoni, 40 konserto dalam berbagai variasi solo, 16 opera, musik-musik
kamar, sebuah musik kematian requiem, 15 misa, dan Magnificat. Ia
mampu mencipta komposisi secara lengkap hanya di benaknya saja dan
kemudian menuliskannya pada kertas. Simfoni No. 36 dicipta,
diorkestrasi, dilatih, dan dikonserkan—hanya dalam waktu empat hari
saja.
13.10. Pergolesi, Giovanni (1710-36):
Lahir di Jesi pada tanggal 1 Januari 1710, meninggal di Pozzuoli
tanggal 16 Maret 1736. Komposer Italia yang menulis sedikit karya tetapi
cukup dikenal karena opera komiknya La Serva Padrona (1733). Pergolesi
menerima pelajaran biola dari Santini dan Mondini. Tatkala usia 16
tahun ia diterima di Naples Conservatory di tempat para gurunya
mengajar termasuk Durante, Greco, dan Feo. Pergolesi mulai berkarya
menulis musik drama sakral yang dipergelarkan di S. Angello Maggiore
Monastery, mendapatkan sukses dan kemudian ia diterima sebagai
anggota komisi penulis opera untuk teater kerajaan kota Naple.
Operanya berjudul La Satustia dipergelarkan pada tahun 1731; dan
diikuti dengan Ricimero. Karya adiluhungnya berjudul La Serva padrona
dipergelarkan secara sukses di kota Naple
13.11. Stamitz, Johann (1717-1757):
Komposer Jerman pada awal era Klasik, seorang komposer utama
dan kondaktor di kota Mannheim. Ia membantu menjadikan orkestra
kota itu menjadi terbaik di Eropa. Stamitz membuat standarisasi dan
mengembangkan teknik-teknik untuk pertunjukan orkestra, serta
mengembangkan elemen-elemen kontras dan tema-tema pada bentuk
musik sonata Klasik.
Para Komposer Klasik-Romantik 125
Bab 13
Franz Joseph Haydn Wolfgang Amadeus
Mozart
Giovanni Pergolesi Christoph Willibald Gluck
Ilustrasi 13.:
Para Tokoh Musik Jaman Klasik
Para Komposer Era Klasik
126
Bab 13
13.12. Tartini, Giuseppe (1692-1770):
Komposer Italia, anak seorang bangsawan yang kemudian
menjadi pemain biola. Ia banyak membuat percobaan terkait dengan
instrumen itu dan juga menjadi guru biola terkenal. Musik ciptaannya
termasuk solo dan trio sonata-sonata yang sangat sulit dimainkan hingga
mendapatkan julukan sebagai The Devil’s Trill.
13.13. Weber, Carl Maria von (1786-1826):
Komposer Jerman, memulai karir pada tahun 1804 ketika menjadi
kondaktor di Breuslau hingga tahun 1806. Opera Silvana dibuat di
Frankfurt (1810) dan Abu Hasan (1811) di kota Darmstadt. Ia juga
seorang pianis dan banyak menulis musik instrumental terutama untuk
instrumen klarinet; musiknya menjadi kontribusi penting antara Mozart
dan Brahms. Opera Der Freischütz mulai dicipta tahun 1817 dan selesai
pada tahun 1820, mencapai sukses sebagai permulaan opera besar
Romantik Jerman.
• Bacaan untuk pendalaman:
Neill, Rhoderick J. Mc.,1998.Sejarah Musik 1 dan 2. Jakarta: PT BPK
Gunung Mulia.
• Latihan-latihan:
1. Dari tahun berapa sampai berapakah era Klasik dalam sejarah
musik berlangsung?
2. Siapa sajakah komposer yang termasuk tokoh yang terkenal di era
Klasik?
3. Sipakah komposer Austria yang turut mewujudkan beberapa
landasan penting terhadap perkembangan musik Klasik Wina?
4. Dalam masa hidupnya yang singkat komposer ini mampu
menciptakan 49 sinfoni, 40 konserto, 16 opera, musik-musik
kamar, 15 misa, dan sebuah musik kematian, réquiem. Tahukan
Anda siapakah komposer tersebut?
BAB 14
PARA KOMPOSER JAMAN ROMANTIK
(1820-1900)
E
ra Romantik merupakan suatu era di dalam sejarah musik. Dalam
era ini, para komposer mulai jera dengan aturan-aturan tonalitas
Klasik yang akhirnya dirasa kaku dan mengikat. Mereka
kemudian memutuskan untuk mengeksplorasi tonalitas untuk
keutamaan ekspresi yang maksimal. Sebagai akibatnya berkembang
aspek-aspek yang berlebihan dari ciri Klasik. Sebagai contoh ialah tempo
bagian Minuet dalam sebuah karya besar yang biasanya mengikuti irama
tarian kemudian diganti oleh bagian yang sangat lincah yaitu Scherzo.
Untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang komposer Klasik, pada
bab ini dipaparkan riwayat singkat para komposer Klasik.
14.1. Albêniz, Isaac (1860-1909):
Komposer nasionalis Spanyol era Romantik yang musiknya
merefleksikan apa yang berkembang di Spanyol dan Impresionisme yang
masih ada di Perancis. Albêniz muncul sebagai pianis ajaib ketika usia
empat tahun. Pada usia 13 tahun ia kabur ke Amerika, tetapi lambat-
laun, setelah banyak petualangannya, ia kembali ke Eropa untuk studi di
Leipzig, Brussels, dan Budapest (di bawah bimbingan Listz). Ia
kemudian menjadi seorang pianis, menulis beberapa opera dan karya-
karya besar untuk piano seperti suita-suita Iberia dan Espana. Musiknya
banyak menggunakan lagu-lagu rakyat dan sangat bergaya Spanyol.
Beberapa operanya masih dipentaskan di Spanyol, tetapi beberapa
negara lain hanya mengenal karya-karya piano dan orkestra ciptaannya.
14.2. Balakirev, Mily Alexeyevitch (1837-1910):
Salah-seorang anggota dari ”the Russian Five” yang banyak
mencurahkan kehidupan musiknya untuk mengedit, mengoleksi, dan
menggunakan material kerakyatan Rusia, beberapa dari itu dinyatakan
dalam karya piano yang tingkat kesulitannya sangat ekstrim seperti pada
Isalmey. Balakirev juga tercatat sebagai guru musik Mussorgsky dan
Borodin. Balakirev memulai karir sebagai pianis dan kondaktor pada Free
School of Music di St Petersburg (1862) yang banyak mengadakan konser
Para Komposer Jaman Romantik
128
Bab 14
kepada publik. Ia menulis dua simfoni, dua piano concerto (yang kedua
diselesaikan orang lain setelah ia meninggal dunia), dan banyak lagu-
lagu dan karya-karya piano, antara lain Oriental Fantasy berjudul Islamey
sebagai salah-satu yang paling menarik.
14.3. Beethoven, Ludwig van (1770-1827):
Komposer Jerman, tokoh penting pada era Akhir Klasik dan Awal
Romantik. Secara struktural komposisinya menjadi puncak dari
keanggunan dan kejernihan Klasikisme Wina. Secara isi emosional
komposisinya menggunakan kekuatan warna instrumen dan
menunjukkan ciri-khas musik Jerman selama abad ke-19. Barangkali tak
ada komposer yang mampu menyamai prestasinya dalam mencipta
berbagai jenis komposisis seperti dirinya. Wagner dan para pengikutnya
menemukan inspirasi dalam daya dan orkestrasi Beethoven, ungkapan-
ungkapan perasaan; Brahms telah dituntun oleh konsep-konsep bentuk
musik dan proses-proses pengembangan musik Beethoven. Kehidupan
Beethoven selalu dibagi dalan tiga periode komposisionalnya; pertama
sampai dengan tahun 1800 ia mencipta dua simfoni, tiga konserto piano,
dan beberapa karya musik untuk piano.
Periode kedua (1800-1815) adalah masa yang paling membahagiakan
dirinya dan sangat produktif; Simfoni No. 3 hingga 8, opera Fidelio,
overtur Egmont, balet Prometheus, dan dua konserto piano terkahirnya
termasuk Emperor. Simfoni No. 3 berjudul Eroica menjadi sangat terkenal
karena sikapnya yang berani menentang Kaisar Napoleon yang
menobatkan diri sebagai Kaisar Perancis.
Ia adalah pendobrak tradisi Klasik Wina dan menjadikan gaya Romantik
penuh emosi dalam musik sebagai idealismenya yang universal. Sejak
tahun 1815 Beethoven menderita tuli total dan menjadi sangat
introspektif, hal itu terefleksikan pada periode ketiganya (1815-1827).
Simfoni No. 9 yang sangat spektakuler, Missa Solemnis, lima sonata piano,
dan lima kuartet gesek—adalah karya-ciptaan Beethoven yang terakhir.
14.4. Bellini, Vincenzo (1801-35):
Komposer opera Italia pada periode Romantik yang
memperdengarkan keanggunan, melodi-melodi vokal yang antik dan
merepresentasikan lirikisme dari awal Romantik melalui opera Italia
Para Komposer Romantik 129
Bab 14
dengan sangat baik. Belliniah adalah komposer terkenal dalam bidang
opera. Karya-karya agungnya meliputi La Sonnambula (1831), Norma
(1831), dan I Puritani (1835) yang pernah diperkenalkan oleh Maria
Callas, dan hingga kini sangat sering ditampilkan. Karya-karya itu
melodinya sangat indah dan mengundang para kekaguman bagi para
penyanyi untuk menyanyikannya. Melodi-melodi yang ia ciptakan
seindah yang diciptakan oleh Chopin yang bergaya menyanyi sekali.
14.5. Bennett, (Sir) William Sterndale (1816-75):
Komposer Inggris dari keluarga musikal dan maju. Setelah belajar
pada the Royal Academy of Music ia tinggal beberapa waktu di Jerman, di
mana musiknya banyak dikagumi oleh Mendelssohn dan Schumann.
Setelah kembali ke London ia menetap untuk mengajar, kondakting, dan
konser sebagai pianis, mencipta musik. Bennet menulis simfoni, konserto
piano, overture, oratorio The Woman of Samaria (1867), kantata The May
Queen (1858), dan banyak musik piano.
14.6. Berlioz, Hector (1803-69):
Komposer Perancis pada era Romantik, ia semula dirancang belajar
kedokteran karena ayahnya seorang dokter, tercara sebagai komposer
yang mengembangkan konsep idée fixe—ekstramusikal yang diterapkan
menjadi tema atau motif-motif musik seperti dalam karya Symponie
Fantastique. Ahli sebagai orkestrator yang membawa pembaruan-
pembaruan instrumen musik kedalam karyanya. Ia tidak cukup berhasil
secara finansial sebagai komposer dan menutup kekurangan itu dengan
menjadi kritikus musik dan penulis. Evenings in the Orchestra adalah
karya koleksi artikel terbaiknya.
14.7. Bishop, (Sir) Henry (1786-1855):
Komposer Inggris, ia terkenal sebagai kondaktor dan komposer di
London. Ia menulis banyak opera, dan sebuah lagu dari operanya Clari,
or The Maid of Milan (1823) kini tetap dinyanyikan: ’Home, sweet Home’.
Bishop adalah komposer Inggris yang pertama menerima penghargaan
ksatriaan.
Para Komposer Jaman Romantik
130
Bab 14
14.8. Bizet, Georges (1838-75):
Komposer Perancis, sang ayah seorang guru menyanyi dan
ibunya adalah pianis; sejak usia empat tahun sudah mendapatkan
pendidikan musik. Pada usia sepuluh tahun Bizet telah menjadi murid
pada Paris Conservatoire dan alhasil menjuarai Prix de Rome (1857). Ritme
yang menghentak, melodi-melodi piktorial, dan keaslian warna harmoni
menandari musik terbaiknya. Simfoni dalam C dan suita L’ Arlésiene
adalah karya-karya orkestra yang terkenal. Bizet menulis banyak jenis
komposisi musik seperti opera, yang pertama berjudul Dr. Miracle pada
tahun 1857 ketika ia masih menjadi murid. Tetapi opera pertamanya
yang terpenting The Pearl Fishers yang dirampungkan pada tahun 1863,
justru tidak sukses. The fair Maid of Perth (1867) agak lebih berhasil,
sedangkan Djamileh tidak diselesaikannya.
14.9. Bloch, Ernest (1880-1959):
Komposer Swiss-Amerika kelahiran keturunan Yahudi, ia lahir di
Swiss, belajar di Brussels dan Frankfurt, kemudian hidup di Paris dan
Geneva. Ia kemudian datang dan menjadi warga negara Amerika pada
tahun 1916, pensiun di Swiss mulai tahun 1930, tetapi kembali ke
Amerika lagi pada tahun 1938. Bloch menulis musik dengan gaya Yahudi
seperti dalam karya Schelomo, sebuah Rhapsody untuk cello dan orkestra,
1916; dan the Sacred Service (1933). Ia menulis musik dalam banyak jenis
termasuk sebuah opera impresif Macbeth (1910).
14.10. Boccherini, Luigi (1743-1805):
Komposer Italia, belajar musik pertamakali dari sang ayah
sebagai seorang pemain bass. Boccherini melakukan perjalan ke seluruh
Italia dan Perancis (1768) dan mencapai sukses besar serta menetap di
Spanyol. Kemudian menetap di Berlin selama sepuluh tahun, kembali ke
Spanyol dan menetap hingga meninggal. Ia menulis beberapa opera dan
20 simfoni, jasanya dikenal karena kontribusinya dalam
mengembangkan musik kamar. Ia menulis lebih dari 150 kuintet untuk
berbagai jenis instrumen musik, lebih dari 100 kuartet gesek, dan 60 trio.
Para Komposer Romantik 131
Bab 14
Berlioz, Hector
Brahms, Johannes Beethoven, Ludwig van
Ilustrasi 14.1.:
Para Tokoh Musik Jaman Romantik
Para Komposer Jaman Romantik
132
Bab 14
14.11. Borodin, Alexander (1833-87):
Komposer Romantik Rusia, bersama dengan Rimsky-Korsakov,
Mussorgsky, Cui, dan Balakirev—ia merupakan anggota dari ”the Russian
Five”. Filosofi kelompok itu sangat nasionalistik, seperti tampak khas dalam
opera Borodin Prince Igor (1890). Borodin sesungguhnya seorang ahli obat
yang mendirikan sebuah sekolah pengobatan untuk wanita, sekaligus ia juga
menjabat sebagai profesor bidan ilmu kimia, maka sebagai seorang
komposer ia dikenal amatir saja. Tetapi ia menulis beberapa musik yang
indah dan mendapatkan penghargaan sebagai bagian dari ”the Russian Five”
seperti tersebut di atas, grup itu pula yang telah berjasa meletakkan dasar
bagi terbentuknya gaya musik Rusia secara sangat berbeda daripada
lainnya. Musik Borodin meliputi opera Prince Igor, yang diselesaikan oleh
Rimsky-Korsakov dan Glazunov (1890); dua simfoni (yang kedua dalam B
minor mencapai sukses). Sebuah komposisi orkestral In the Steppes of Central
Asia (1880) menjadi perhatian publik, dan dua kuartet gesek.
14.12. Brahms, Johannes (1833-97):
Brahms lahir dari keluarga musikal, ayahnya seorang pemain kontra
bas. Ibunya lebih tua 17 tahun dari ayahnya, akibatnya selalu tampak kurang
serasi dalam rumah tangga. Brahms kurang perhatian dari kedua
orangtuanya, sehingga ketika bakatnya mulai tampak orangtuanya pun
tidak tahu harus berbuat apa. Brahms mendapatkan pelajaran musik sebagai
pianis di bawah bimbingan Eduard Marxen, tetapi segera ia mulai menulis
komposisi. Pada tahun 1853 Brahms bertemu dengan Eduard Remenyi,
seorang gipsy Hungaria, dan menjadi pianis pengiringnya dalam tur
keliling bersama ke berbagai tempat ke Hannover dan bertemu pula dengan
pemain biola ternama Joseph Joachim. Brahms adalah komposer Jerman
yang berdiri sebagai jawara musik absolut selama era Romantik abad ke-19.
Karya-karyanya berkarakter ekspresi yang dalam menggunakan
bentuk-bentuk yang jernih, menunjukkan kemahirannya yang tinggi dalam
menulis komposisi dalam berbagai macam media. Brahms menulis empat
simfoni, dua konserto piano, dan dua overtur yang mencapai sebagai
repertoar standar. A German Requiem adalah salah-satu dari karya vokal
maha besar abad ke-19. Beberapa lieder mencapai taraf sangat tinggi, juga
pada solo piano, trio-trio sonata, kuintet, dan kuartet gesek. Brahms tetap
setia pada gaya musik absolutisme yang kemudian menyebabkan dirinya
harus menahan serangan kaum referensialis seperti Richard Wagner.
Para Komposer Romantik 133
Bab 14
14.13. Bruch, Max (1838-1920):
Komposer Jerman pada akhir Romantik. Konserto-konserto biola,
konserto cello dan orkestra Kol Nidrei, dan Scottish Fantasy untuk biola
dan orkestra—merupakan repertoar-repertoar penting dalam konser-
konser musik. Bruch menulis karya-karya musik vokal, tiga simfoni,
banyak concerto (tiga di antaranya untuk biola), dan tiga opera. Concerto
biola dalam G minor adalah yang paling terkenal. Ia menetap selama tiga
tahun di Liverpool sebagai kondaktor pada the Philharmonic Society.
14.14.. Bruckner, Anton (1824-96):
Lahir di Ansfelden pada tanggal 4 September 1824 dan meninggal
di Vienna pada tanggal 11 Oktober 1896. Komposer Austria yang berdiri
teguh di sisi Wagner (programatis atau referensialis), membela konsep
filsafat-estetikanya dalam perang melawan Johannes Brahms (absolutis).
Sembilan simfoni ciptaannya semuanya dipentaskan dalam skala
orkestra besar. Bruckner lahir dari keluarga yang menghasilkan guru-
guru sekolah dari generasi ke generasi. Tetapi ia memutuskan lain untuk
belajar musik di Vienna bersama Sechter. Hanya sebentar di Austria, ia
menjabat sebagai direktur sebuah perkumpulan penyanyi yang
kemudian memperkenalkan karya pertamanya berjudul Ave Maria.
Pada tahun 1868 Bruckner menjadi Profesor pada Vienna
Conservatory, untuk beberapa tahun ia mengajar dan mencipta
komposisi-komposisinya. Hidup Bruckner sangat kesepian karena tidak
menjadi bagian dari tur-tur yang sukses sebagai seorang virtuos organis,
termasuk tur ke Paris dan London. Ia kebanyakan menghabiskan masa
kreatifinya di Vienna untuk mengajar dan mencipta komposisi. Simfoni-
simfoninya tidak selalu diterima baik oleh publik, tetapi secara perlahan
ketenarannya berkembang, dan akhirnya mendapatkan pengakuan
sebagai komposer simfoni Jerman yang hebat. Ia juga menulis berbagai
motet penting, lima karya Misa, sebuah Misa Requiem, sebuah
Magnificat, dan sebuah Te Deum.
Para Komposer Jaman Romantik
134
Bab 14
14.15. Bülow, Hans von (1830-94):
Kondaktor, pianis, dan komposer Jerman. Ia belajar pertama kali
sebagai seorang ahli hukum, tetapi kemudian sangat kagum pada musik
Wagner yang menyebabkan ia keliling Eropa sebagai pianis dan
kondaktor yang terkemuka. Ia menikah dengan anak perempuan Liszt
bernama Cosima; tetapi pada tahun 1869 sang isteri meninggalkannya
untuk hidup bersama Wagner dan kemudian menikah. Meskipun begitu
von Bülow tetap setia sekali dengan musik Wagner. Komposisi-
komposisi ciptaannya hingga kini tetap banyak dimainkan.
14.16. Cherubini, Luigi (1760-1842):
Komposer Italia yang bakat musiknya berkembang sejak usia dini
dan menjadikan dirinya sebagai komposer pada usia 16 tahun. Ia belajar
di Venice dan menulis opera pertamanya Quinto Fabio pada tahun 1780.
Cherubini berada di London untuk menulis opera Italia dan kemudian di
Paris maupun Vienna. Ia banyak mendapat pujian dari Napoleon. Dari
tahun 1784 sampai 1786 ia berada di London untuk menulis opera-opera
Italy, kemudian di Paris dan Vienna (1805-6) selaku komposer Perancis.
Cherubini sangat dikagumi sebagai komposer, terutama oleh
Napoleon, dan menjadi sangat berpengaruh walaupun kenyataannya
banyak orang menilai gayanya terlalu kering dan monumental.
Meskipun demikian kebanyakan operanya mencapai sukses besar
terutama Les eux Journées (1800) yang terkenal di Inggris sebagai The
Water Carrier yang terpengaruh bahkan Beethoven, dan Mêdée (1797).
Pada masa berikutnya ia menulis musik gereja, menjadi guru besar
dalam bidang polifoni.
14.17. Chopin, Frederic (1810-49):
Komposer dan pianis Romantik kelahiran Polandia. Lahir di
Zelazowa Wola, dekat Warsawa; meninggal di Paris. Chopin lahir
dengan kewarganegaraan Perancis dan Polandia, ayahnya seorang
Perancis yang menetap di Warsawa dan ibuny seorang Polandia, tetapi
Chopin selalu merasa dirinya sebagai seorang Polandia yang sangat
patriotik. Pada usia 20 tahun menjadi sangat berpengalaman sebagai
pianis dan memutuskan untuk mulai meniti karir musiknya lebih
mendunia.
Para Komposer Romantik 135
Bab 14
Ia banyak melakukan konser perpisahan di Warsawa dan kemudian
melakukan tur ke banyak kota di Jerman maupun Austria. Kebanyakan
dari karyanya merupakan miniatur untuk piano, etude, nocturne,
prelude, balada, dan lain-lain. Ia juga mencipta sejumlah mazurka dan
polonaise, musik tarian yang bergaya nasional Polandia. Karya-karya
pianonya menjadi repertoar standar bagi konser dan resital para musisi
dunia. Ia menggunakan gradasi tempo dan dinamik-dinamik sebaik ia
menggunakan kromatik sebagai ciri-khasnya seorang inovator dalam
musik piano era Romantik. Musik Chopin meliputi: 54 Mazurkas, 25
Preludes; 27 Studies (Etudes); 14 Waltzes; 19 Nocturnes; 10 Polonaises; 4
Ballades; 4 Impromptus; 4 Scherzos; dan 3 Sonatas.
14.18. Cornelius, Peter (1824-74):
Komposer Jerman yang bersahabat dekat dengan para jawara
seperti Liszt dan Wagner. Sekalipun ia menulis sejumlah nyanyian yang
sangat indah, kini ia hanya dikenang karena satu komposisinya opera
The Barber of Bagdad (1858).
14.19. Cui, César (1835-1918):
Komposer Rusia, sebagian hidupnya menjadi orang Perancis,
mendapatkan latihan militer dan akhirnya menjadi seorang jenderal. Cui
menulis 11 opera, sejumlah musik gereja, empat suita, sedikit musik
kamar dan musik piano, dan banyak nyanyian. Ia adalah anggota dari
grup ’The Five Russians’ yang sangat nasionalistik.
14.20. Debussy, Claude (1862-1918):
Lahir di St Germainen-Laye, sekalipun begitu ia lebih sebagai
warga Paris. Pada usia 11 tahun mulai belajar piano dan teori musik,
serta belajar komposisi di bawah bimbingan Ernest Guiraud dan
Massenet. Debussy berhasil memenangkan kompetisi musik Prix de
Rome pada tahun 1884. Komposer Perancis dan pencetus aliran
Impresionisme Perancis, gerakan nasionalistik yang mencoba bertujuan
untuk melawan berkembangnya Romantikisme Jerman.
Para Komposer Jaman Romantik
136
Bab 14
Ciri musik Debussy terselubung, harmoni yang eksotis dan bimbang,
tangganada pentatonik dan dua-belas nada, sangat ringan dan perasaan
sugestif, dan keindahan yang halus. Pada mulanya ia dikenal sebagai
komposer yang penuh teka-teki tetapi kini menjadi tokoh yang paling
penting selama awal abad ke-20. Ia mencipta nyanyian-nyanyian, musi-
musik piano yang populer, musik orkestra, dan satu opera besar Pelléas et
Mélisande (1902). Kehidupan pribadinya bagaimanapun tidak sukses, ia
jatuh cinta kepada Emma Bardac, seorang isteri yang lebih kaya, dan
kemudian ditinggalkannya serta bercerai. Kemudian ia menikahi Mme
Bardac pada tahun 1905, bukannya bisa keluar dari masalah finansial
tetapi bahkan menjadi lebih parah. Tahun 1908 ia diminta sebagai pianis
dan kondaktor serta melakukan tur ke London, Vienna, Budapest,
Moskow, Roma, Amsterdam, dan di mana saja untuk konser.
Ia seorang yang sakit-sakitan dan kemudian menjalani operasi kanker
yang gagal. Meskipun demikian Debussy tetap melanjutkan pekerjaan-
nya. Debussy meninggal pada akhir tahun, saat perang tahun 1914-18 di
mana Jerman menghancurkan kota Paris kesayangannya.
14.21. Diabelli, Anton (1781-1858):
Komposer Austria dan seorang penerbit buku, berteman dengan
dengan Haydn dan Beethoven, ia murid Haydn. Diabelli terkenal sebagai
guru piano dan gitar serta menulis banyak musik piano (pieces music).
Oleh karena ia kaya maka menjadi penerbit dan pertama-tama dengan
bekerjasama (1818), kemudian baru tahun 1824 menjadi penerbit dengan
namanya sendiri. Ia dikenal dikenal hingga sekarang sebagai penulis
musik waltz yang digunakan oleh Beethoven untuk Diabelli Variations.
14.22. Donizetti, Gaetano (1797-1848):
Komposer Italia, bersama dengan Bellini ia merepresentasikan
suatu gaya opera Italia yang mengangkat cerita-cerita romantis dalam
musik dengan melodi-melodi yang indah. Karya-karya utamanya
termasuk dua tragedi romantis: Lucrezia Borgia (1833) dan Lucia di
Lamermood (1835); serta dua musik komedi: The Daughter of the Regiment
(La Fille du Régimen) (1840) dan Don Pasquale (1843).
Para Komposer Romantik 137
Bab 14
14.23. Dukas, Paul (1865-1935):
Seorang Romantikus yang terkenal karena karya-karya opera dan
puisi simfoni. The Sorcerer’s Apprentice adalah puisi simfoni sebagai
repertoar setiap orkestra; opera Ariane et Barbe-bleu merupakan satu dari
sedikit yang mencapai sukses pada masa opera-opera Impresionis pasca-
Debussy. Setelah lulus dari studi pada Paris Conservatoire ia kemudian
dikenal sebagai komposer dari sejumlah karya dan yang paling terkenal
adalah ’scherzo’ L’Apprenti Sorcier (The Sorcere’s Apprentie) pada tahun
1887. Sejak tahun 1910 ia bekerja pada konservatori tersebut, pertama
sebagai profesor ilmu orkestrasi, dan kemudian dalam mata pelajaran
komposisi.
14.24. Dvořák, Antonin (1841-1904):
Komposer Bohemia periode Romantik yang menunjukkan
nasionalisme kuat dalam banyak simfoni dan komposisi-komposisi
vokalnya. Dvořák adalah seorang melodikus besar, lirikisme praktis
meliputi seluruh karya-karyanya. Sebagai seorang penerus Brahms ia
cepat mencapai kemashuran melalui kemampuannya menulis komposisi.
Sejak tahun 1892 hingga 1895 ia menetap di Amerika Serikat dan
menjabat sebagai direktur pada Konservatori Nasional New York.
Simfoni terkenal No. 9 (From the New World) dan kuartet gesek the
American dipersembahkan pada periode itu, tetapi sekalipun keduanya
dipengaruhi oleh melodi-melodi dan semangat orang Amerika, karya-
karya itu tidak bermuatan lagu atau langgam spesifik, sebagai kekeliruan
yang sering dilakukan.
Dvořák menulis segala macam gaya musik. Kesepuluh operanya
pada umumnya tidak dipergelarkan di negaranya sendiri, tetapi dari itu
ada yang menjadi karya adilihung seperti The Devil and Kate (1899), dan
Rusalka (1901). Karya choralnya antara lain Stabat Mater (1875), sebuah
Misa dalam D mayor (1887) dan Te Deum (1892).
Para Komposer Jaman Romantik
138
Bab 14
Debussy, Claude Dvořák, Antonin
Franz Liszt
Ilustrasi 14.2. :
Para Tokoh Musik Jaman Romantik
Para Komposer Romantik 139
Bab 14
14.25. Elgar, (Sir) Edward (1857-1934):
Salah-seorang komposer Inggris yang pertama-kali setelah Henry
Purcell. Lahir di Broadheath, sebuah kota kecil di luar Worcester, di
mana ayah dan pamanya menjalankan sebuah toko musik. Guru
pertamanya adalah sang ayah sendiri, tetapi kemudian ia harus belajar
otodidak. Ketika cukup dewasa, Elgar bermain biola berdampingan
dengan ayahnya dalam berbagai orkestra, membantu menjadi organis,
membantu mengelola tokonya, mengajar, dan umumnya ia bisa
memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
Popularitas Elgar pertama kali datang sejak tahun 1884 di
Worchestershire ketika bagian dari orkestranya Sevillana dimainkan di
istana Crystal Palace—London. Segera setelah itu seorang penerbit
menerima karyanya Romance untuk biola dan piano—diterbitkan. Hal itu
yang menentukan bagi masa depan Elgar. Meskipun ia berpikir untuk
membiayai hidupnya dari bekerja sebagai guru musik, namun ia tetap
menekuni profesi sebagai komposer.
Dalam ambisinya itu ia terbantu dengan menikahi Caroline Alice
Roberts pada tahun 1889. Empat ciptaannya Pomp and Circumstance
musik mars merepresentasikan gaya mars, tetapi kecil, dan
menjadikannya terkenal. Melodinya kuat, orkestrasinya kaya, dan
karakternya sangat baik seperti pada The Enigma Variations untuk
orkestra dan oratorio The Dream of Gerontius. Karya-karya musik gereja
antara lain The Black K’night (1893), King Olaf (1896), The Banner of St
George (1897), dan Caractacus (1898).
14.26. Franck, César (1822-64):
Komposer era Romantik Belgia kelahiran Perancis yang
menghidupkan musik instrumental dalam kegemarn terhadap opera
Paris. Bukan menjadi tokoh komposer, karena ia hanya menulis satu
simfoni saja dalam D minor pada usia 66 tahun. Tetapi ia juga mencipta
empat puisi simfoni, variasi-variasi simfonis untuk piano dan orkestra,
beberapa musik kamar, dan beberapa kumpulan komposisi penting
untuk organ yang hingga kini digunakan sebagai standar para organis
profesional.
Para Komposer Jaman Romantik
140
Bab 14
14.27. Glinka, Mikhail (1804-57):
Komposer Rusia pertama yang kemudian diikuti oleh para
komposer Romantik nasionalis. Pada tahun 1833 ia belajar sangat serius
dan tinggal di setahun di Berlin di bawah teoretikus terkenal Siegfried
Dehn. Kembali ke Rusia ia mengumpulkan bahan-bahan untuk mencipta
opera. Ia mulai mencoba mencipta A Life for the Tsar (1836), dan karyanya
yang terkenal hingga kini adalah Ruslan and Ludmilla (1842). Glinka
banyak disebut sebagai ”Bapak Musik Rusia”.
14.28. Gluck, Christoph Willibald (1714-87):
Komposer Austro-Bohemia pada era Klasik yang penting bukan
saja karena musiknya yang indah tetapi ia telah mereformasi gaya
komposisional operatiknya dan pertunjukan. Tiga karya pentingnya
merefleksikan reformasi itu meliputi penyederhanaan, tanpa alur, dan
meyakinkan: Orfeo ed Euridice (1762), Iphigénie en Tauride (1779), dan
Alceste (1767).
14.29. Gounod, Charles (1818-93):
Komposer Perancis Romantik dalam karya-karya opera yang
mencipta Faust dan Romeo and Juliet yang menjadi repertoar utama
hingga kini. Mulai belajar musik pada Paris Consevatoire dan menjadi
juara pada Grand Prix de Rome pada tahun 1839. Selama periodenya di
Roma ia mengkomposisi tiga misa. Opera pertamanya Sapho
diperkenalkan pada tahun 1859, membawanua dikenal dunia. Selama
tahun-tahun terakhir hidupnya, Gounot menjadi lebih religius dan
mencipta musik-musik sakral seperti oratorio The Redemption (1881) dan
Morst et Vita (1885) yang pertama kalinya diperkenalkan di Festival
Birmingham. Misa St. Cecilia Mas (1855) hingga kini masih tetap
dipergelarkan.
14.30. Granados, Enrique (1867-1916):
Komposer Spanyol, belajar di Barcelona dan kemudian di Paris,
kembali ke Spanyol pada tahun 1889 untuk bekerja sebagai pianis dan
komposer yang sukses. Ia menulis beberapa opera, dua musik piano
Para Komposer Romantik 141
Bab 14
terkenal seperti Goyescas yang terkait dengan pemandangan dalam
lukisan pelukis besar Goya. Granados dan isterinya meninggal secara
tragis dalam sebuah kecelakaan kapal karena tertembak torpedo kapal
selam Jerman dalam perjalanan laut dari Amerika.
14.31. Grieg, Edvard (1843-1907):
Lahir di Bergen, komposer Norwegia pada era Romantik yang
dikenang dari karya musik konserto piano, suita the Peer Gynt, dan
nyanyian-nyanyian yang indah. Ia mulai mencipta komposisi pada usia
sembilan tahun, dan pada tahun 1858 (usia 15) telah menarik perhatian
Ole Bull, seorang pemain biola tenar Norwegia. Karya-karyanya antara
lain Piano Concerto in A minor (1869), the Holberg Suite (1885), musik-
musik piano sekitar sepuluh volume, dan lagu-lagu. Sebagai seorang
komposer nasionalis, Grieg menggunakan nyanyian-nyanyian rakyat
dalam musiknya.
14.32. Grove, (Sir) George (1820-1900):
Musisi Inggris, seperti kebanyakan bangsawan Victorian, ia
seorang yang bersemangat, tertarik pada apa saja termasuk lapangan
teknik sipil dan eksplorasi. Sebagai musisi ia terutama dikenal karena
menulis atau sebagai editor tekenal dalam Grove’s Dictionary of Music and
Musicians yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1879.
14.33. Janácêk, Leos (1854-1928):
Komposer Ceko yang merangkum berbagai gaya dari Smetana,
Dvořák, Bartók, dan Kodály dalam gaya nasionalis Eropa Timur. Ia mulai
karir musik pada studi secara intensif pada Brno, Prague, Leipzig, dan
Vienna. Pada usia 40 tahun mulai karya penting pertamanya berupa
opera Jenüfa, dan setelah usia 60 tahun ia diakui secara internasional.
Beberapa karya opera meliputi Jenüfa, Katya Kabanova, The Cunning Little
Vixen, The Makropoulos Affair, dan From the House of the Death. Karya
orkestra meliputi The six Lachian Dances, simfoni rapsodi Taras Bulba, dan
Sinfonietta. Dia juga menulis kuartet gesek penting dan song cycle The
Diary of One who Vanished.
Para Komposer Jaman Romantik
142
Bab 14
14.34. Khachaturian, Aram (b. 1903-78):
Lahir di Tiflis (sekarang Tbilisi) Georgia dan belajar komposisi di
Moscow di bawah bimbingan Alexander Gnesin dan Myaskovsky.
Beberapa karya musiknya, kuat, ritmik, dan berwarna—menjadi sangat
populer. Karyanya antara lain balet Gayaneh dan Spartacus. Beberapa
simfoni, sebuah Piano Concerto in D flat, dan sebuah Violin Concerto in D
minor.
Banyak dari karyanya ditulis untuk kepentingan nyanyian rakyat,
sebagian untuk bangsanya sendiri, Georgia. Di Inggris Khachaturian
sangat dikenal karena karya baletnya The Sabre Dance dan musik dari
balet Spartacus. Ia adalah seorang nasionalis utama Rusia yang menulis
suita Masquerade, Gayane (diambil dari Sabre Dance yang sangat terkenal),
dan beberapa konserto serta musik kamar yang harmoninya sangat
orisinal.
14.35. Lalo, Édouard (1823-92):
Komposer Perancis pada periode Romantik yang sukses dan terkenal
terutama karena konserto biola dan Symphonie Espagnole (1875) untuk
biola dan orkestra, keduanya terpengaruh oleh Pablo Sarasate. Setelah
belajar di Lille dan Paris Conservatoire, ia kemudian dikenal sebagai
pencipta lagu.
Sukses terbesarnya dimulai pada tahun 1874 ketika maestro biola
Sarasate memainkan karyanya Violin Concerto in F minor. Orkestrasinya
penuh warna, mantab, dan lengkap seperti dalam salah-satu karya
adiluhungnya opera Le Roi d’Ys (1888).
14.36. Liszt, Franz (1811-86):
Komposer dan pianis Romantik Hungaria yang paling terkenal
selama kurun waktu hidupnya. Komposisinya menunjukkan gaya
modern, ia tercatat turut mengembangkan simfoni puisi sebagai sarana
untuk mengekspresikan ekstra-musikalnya. Dalam perang ideologis
pada abad ke-19, ia bersekutu dengan Wagner. Melalui Don Juan, Liszt
hadir dalam pesta-pesta istana dan di gedung-gedung konser seluruh
Eropa dan dikenal sebagai seorang virtuoso piano abad ke-19. Karyanya
Para Komposer Romantik 143
Bab 14
meliputi 12 simfoni puisi, dua konserto piano, beberapa musik untuk
piano, dan satu variasi berupa transkripsi untuk piano dari karya-karya
para komposer.
14.37. Mahler, Gustav (1860-1911):
Komposer Austria, bersama dengan Richard Strauss dan Anton
Bruckner, bagian dari para komposer Romantik Wina. Ia pengikut
Wagner, meskipun begitu ia tidak terlalu suka pada
ekstrareferensialisme untuk berbagai tingkatan komposisi besar.
Kebanyakan dari sembilan simfoninya, masing-masing berbeda gaya,
berupa karya-karya sangat besar. Simfoni No. 8 (1907) yang paling besar,
didukung beberapa paduan suara, solis-solis, dan sebuah orkestra yang
diperbesar; simfoni itu tepat dinamakan Symphony of a Thousand. Dari
tahun 1909-1911 ia bertindak sebagai kondaktor the New York
Philharmonic.
14.38. Mendelssohn, Felix (1809-47):
Komposer Jerman era Romantik yang sangat kreatif dan jenius,
serta kondaktor yang hebat. Di akhir karirnya ia membangkitkan
kembali St. Mattew Passion karya J.S. Bach. Mendelssohn memiliki
imajinasi sangat tinggi, karya-karyanya kebanyakan ditandai oleh kesan-
kesan perjalanan. Musiknya berkarakter tenang tetapi lirikisme romantis
dan dengan orkestrasi kebanyakan ringan memikat dan selalu penuh
warna. Karya-karyanya meliputi oratorio-oratorio, lima simfoni, musik
insidental seperti A Midsummer Night’s Dream, sebuah overtur untuk
band, banyak musik piano, dan sebuah konserto biola yang sangat
terkenal.
14.39. Meyerbeer, Giacomo (1791-1864):
Komposer Jerman yang bertempat tinggal di Paris, khususnya
mencipta opera-opera besar. Le prophète dan Les Huguenots adalah karya-
karyanya yang termashur. Meyerbeer adalah anak dari seorang bankir
sukses yang memulai karirnya sebagai pianis ajaib. Kemudian menulis
komposisi, dan pada tahun 1812 mencipta opera pertamanya. Nama
Giacomo sebenarnya dia gunakan untuk mengganti nama Jakob setelah
sukses di Italy.
Para Komposer Jaman Romantik
144
Bab 14
14.40. Mussorgsky, Modest (1839-81):
Komposer Romantik Rusia, salah-seorang anggota dari ”the
Russian Five”. Ia mendapat pendidikan dan pekerjaan sebagai tentara
kerajaan tetapi kemudian menjadi komposer. Ia menunjukkan bakat
besar, tetapi karena tetap mentah dan kurang terdidik selama kehidupan
musikalnya, frustasinya berlebihan dan menyebabkan diri jatuh sebagai
alkoholik. Harmoni-harmoninya berani dan warna-warna yang tidak
biasa telah dikembangkan oleh Debussy dan Stravinsky.
Boris Godunov (1868-69) merupakan karya utamanya dan kini menjadi
opera terbesar Rusia pada abad ke-19. Versi-versi opera itu telah diedit
oleh Rimsky-Korsakov dan Shostakovitch. Sebuah musik kecil
programatis untuk piano Pictures at an Exhibition (skor untuk orkestranya
dikerjakan oleh Maurice Ravel) dan karya orkestral A Night on Bald
Mountain (skor ditulis ulang oleh Rimsky-Korsakov)—keduanya
merupakan karya-karya terkenal.
14.41. Offenbach, Jacques (1819-80):
Komposer Romantik Perancis kelahiran Jerman yang mencipta
opera-opera komik. Saat mudanya ia menetap di Paris sebagai tujuan
hidupnya menjadi seorang Perancis. Ia mendapatkan pelatihan sebagai
pemain cello, dan setelah menjalani pemain orkestra, kondaktor, dan
manajer teater; dia mengambil alih sebuah teater kecil dan memberi
nama baru the Bouffles Parisiens. Karya-karyanya sangat merdu dan
umumnya memikat antara lain: Orpheus in the Underworld, La Belle Helene,
La vie Parisienne, The Grand Duchess of Gerolstein, dan La Perichole. Di akhir
kehidupannya ia menulis sebuah opera serius The Tales of Hoffman.
14.42. Puccini, Giacomo (1858-1924):
Komposer Romantik Italia yang menghantarkan kepada Verdi
sebagai master dalam bidang opera Italia. Operanya sangat liris, indah
sekali, melodinya membumbung tinggi. Ia sangat memahami
kelengkapan dari unsur musikal maupun unsur dramanya, dan banyak
hal yang terdapat dalam opera masa kini berasal dari karya-karya
Puccini. Seluruh opera-opera penting di dunia Barat termasuk karya-
karya Puccini.
Para Komposer Romantik 145
Bab 14
14.43. Rakhmaninov, Sergey (1873-1943:
Komposer Rusia dan pianis yang beraliran Pasca-Romantik pada
abad ke-20. Ia menerima pelajaran musik di St. Petersburg dan
Konservatori Moskow. Pada tahun 1892 mulai tur konser pertama
sebagai seorang virtuoso piano, karirnya sangat maju dan cepat dikenal
dunia baik sebagai pianis maupun komposer musik Romantik Tinggi.
Revolusi Rusia (1917) telah memaksa ia meninggalkan Rusia.
Rakhmaninov seorang yang sangat berperasaan, pribadi yang
hangat, dan karakternya tampak pada musiknya yang merefleksikan
keramahan, melodi melankolis, dan banyak karya darinya menjadi
terkenal di seluruh dunia. Tiga konserto piano terakhir darinya menjadi
repertoar standar bagi para pianis dunia. Rakhmaninov menghabiskan
sisa hidupnya dengan berkeliling, tinggal di Switzerland dan Amerika.
Karya-karya orkestra meliputi tiga simfoni, sebuah simfoni puisi The Isle
of the Dead (1907), empat piano konserto, dan sebuah Rhapsody on a
Theme by Paganini untuk piano dan orkestra (1934).
14.44. Ravel, Maurice (1875-1937):
Komposer Perancis, pengikut aliran Impresionisme dalam
beberapa karnyanya, juga sebagai Klasikus dan Romantikus untuk
karya-karya lain. Selama hidupnya, Ravel tertarik pada aliran
”ultramodern’; kini ia muncul di antara sebagai penerus logika dari gaya
Debussy hingga sekarang. Karya-karya awalnya berkarakter
impresionistik, tetapi akhirnya menjadi lebih disonan, bijaksana, dan
ritmenya sangat kuat. Ciptaannya meliputi musik-musik untuk piano,
termasuk pula nyanyian-nyanyian dan musik orkestra.
14.45. Respighi, Ottorino (1879-1936):
Komposer Romantik Italia yang mendemonstrasikan virtuositas
orkestral dan keahliannya secara Impresionistik. Respighi belajar di
Bologna, St. Petersburg, dan Berlin. Pada tahun 1913 dia menetap di
Roma dan menjadi terkenal karena sebuah seri simfoni puisi yang sangat
penuh warna, yang diorkestrasi dengan sangat brilian. Karya-karya
terbaiknya antara lain The Fountains of Rome (1917) dan The Pines of Rome
(1924).
Para Komposer Jaman Romantik
146
Bab 14
14.46. Rossini, Gioacchino (1792-1868):
Komposer Italia era Romantik dan seorang peminat terakhir pada
opera bel canto. Lahir di Pesaro, di mana ayahnya sebagai musisi trumpet
kota itu dan juga pengawas pemotongan hewan. Ketika Napoleon
menduduki Italy, sang ayah dipenjara sehingga ia dibawa ibunya
kembali ke Bologna sambil bekerja sebagai penyanyi opera. Pada umur
sepuluh tahun Rossini sudah mampu bekerja sebagai penyanyi dan
pemain dalam opera.
Tahun 1806 ia mulai belajar di Konservatori Bologna, empat
tahun kemudian sudah mencipta karya opera pertama berjudul The
Marriage Market (1810). Sukses secara internasional pada tahun 1813
ketika memproduksi opera buffa yang berjudul The Italian Girl in Algiers
(L’Italiana in Algieri) dan sebuah opera tragis Tancredi. Komposisinya
sangat melodius dan liris, sangat mencuat dan terkadang tak diduga-
duga. The Barber of Seville (1816) bersifat komedi adalah karyanya yang
paling terkenal, meskipun pada masanya ia lebih dikenal karena opera
besar khususnya William Tell. Overtur-overtur dari opera-operanya
banyak dimainkan.
14.47. Rubinstein, Anton (1829-94):
Komposer dan pianis Rusia yang pertama kali muncul di
hadapan publik pada usia sepuluh tahun, dan setelah itu ia mencapai
sukses dalam melakukan perjalanan ke seluruh Eropa. Ia menulis
sejumlah besar musik, termasuk 20 opera, enam simfoni, lima konserto,
sepuluh kuartet gesek, dan banyak nyanyian maupun musik kecil untuk
piano. Simfoni No. The Ocean hingga kini masih sering dimainkan, juga
opera The Demon (1875). Ia mendirikan St. Petersburg Conservatory pada
tahun 1862 dan mengajar di sana pada tahun 1862-67 dan tahun 1887-90.
14.48. Saint-Saëns, Camille (1835-1921):
Komposer Perancis era Romantik yang serba bisa, se generasi
dengan Debussy dan Wagnar, ia sesungguhnya seorang konservatif yang
menggabungkan secara hati-hati bentuk dan pengembangan dengan
kekayaan sonoritas maupun aliran melodi. Organ Symphony (No. 3) dan
opera Samson and Delilah—adalah ciptaannya yang menjadi terkenal.
Para Komposer Romantik 147
Bab 14
14.49. Sarasate, Pablo de (1844-1908):
Virtuoso biola dan komposer untuk musik biola Spanyol. Dia
mendapat pelajar musik di Konservatori Paris dan menjuarai kontes
musik sebagai pemain musik berbakat dan virtuos. Ia menulis musik
untuk biola dan komposer lainnya seperti Saint-Saëns, Eduard Lalo, dan
Max Bruch.
14.50. Schubert, Franz Peter (1797-1828):
Komposer Austria masa akhir Klasik dan awal Romantik,
bersamaan dengan periode Beethoven, ia salah-seorang pertama yang
membuat nyanyian menjadi penting dalam lingkup komposisi musik.
Schubert hanya sedikit belajar sebagai musisi dan menunjukkan sebagai
jenius melalui seluruh komposisinya.
Ia mencipta sekitar 600 nyanyian (lieder) yang mungkin menjadikan
dirinya sebagai seorang master, ia pandai menerapkan efek
keseimbangan sempurna antara melodi, iringan, dan puisi. Schubert
mencipta delapan simfoni, tetapi karena kesalahan penomoran menjadi
berjumlah sembilan. Simfoni No. 8 terkenal dengan nama Unfinished
Symphony dalam B minor karena hanya terdiri dari dua bagian saja.
Opera-operanya kurang dikenal luas, tetapi overtur dan musik insidental
seperti Rosamunde dan Unfinished Symphony menempati urutan atas
sebagai repertoar musik orkestra. Schubert tidak sukses secara finansial
sebagai komposer, hanya sedikit pada saat dekat dengan akhir hidupnya
melalui beberapa karyanya ia dihargai.
14.51. Schumann, Robert (1810-1856):
Komposer Jerman dan jurnalis pada era Romantik. Ia
menunjukkan diri sebagai seorang pianis berbakat, tetapi pada tahun
1832 tangan kanannya terluka karena kecelakaan yang menyebabkan
karirnya berakhir. Ia kembali mencipta komposisi dan menulis karangan.
Pada tahun 1840 menikah dengan Clara Wieck, seorang virtuoso piano
abad ke-19.
Para Komposer Jaman Romantik
148
Bab 14
Kejeniusan Schumann direfleksikan dengan baik sekali melalui
kekauatan lagu, instabilitas ritmik, dan keaslian harmoni pada lieder dan
karya-karya piano. Dua simfoni pertama dari empat ciptaannya, konserto
piuano, dan konserto cello—semua menjadi karya-karya utama.
Schumann mengalami kelainan mental yang sebenarnya telah muncul
pada saat muda dan kemudian menjadikan ia gila dan meninggal
karenanya.
14.52. Sibelius, Jean (1865-1957):
Lahir di Hämeenlinna, Finlandia pada 8 Desember 1865,
meninggal 20 September 1957 di Järvenpää. Nama aslinya sebenarnya
Johan Julius Christian Sibelius. Komposer Finlandia pada akhir
Romantik. Sibelus pertama kali belajar pada sekolah biasa di Finlandia.
Pada usia 20 tahun ia meninggalkan Finlandia untuk studi di Berlin dan
Vienna, di bawah bimbingan para komposer seperti Robert Fuchs dan
Karl Goldmark.
Sekembalinya ke Finlandia, ia mengadakan konser karya orkestra
Kullervo Symphony (1892) yang mendapatkan pujian. Melalui karya-
karyanya seperti En Saga (1892), the Karelia, dan the Four Legends—ia
ditetapkan sebagai komposer utama Finlandia. Pada karya-karya awal ia
sangat bersemangat sebagai nasionalis. Dua simfoni pertama
menggelorakan ekspresi-ekspresi tentang cinta tanah-air tetapi tidak
sedekat seperti pada tone poem yang patriotik Finlandia.
14.53. Smetana, Bedřich (1824-1884):
Komposer Bohemia yang benar-benar Romantik dan
nasionalistik. Komposis-komposisi utamanya sangat nasionalistik yang
sangat bergairah dan unggul seperti opera
The Bartered Bride (1866) dan sekumpulan puisi simfoni berjudul My
Country, yang kedua sangat terkenal berjudul The Moldau. Ia juga menulis
kuartet gesek yang programatis dalam E minor From My Life dan lainnya
dalam D minor.
Para Komposer Romantik 149
Bab 14
14.54. Strauss, Johann (1804-1849):
Sering disebut Strauss senior, seorang direktur band militer
Austria dan kondaktor pada gedung-gedung dansa di Wina. Ia dikenal
sebagai”Bapak Waltz” meskipun sebenarnya karena anaknya lebih
unggul dalam musik waltz.
14.55. Strauss, Johann II (1825-1899):
Sering disebut Strauss junior, komposer Austria untuk operet dan
musik ringan khususnya waltz (The Blue Danube; Wine, Women, and Song;
dan banyak lagi). Dua operet, De Fledermaus (The Bat) dan The Gypsy
Baron, menjadi favorit di Jerman dan diterima di banyak pertunjukan
musik di Amerika. Johann sebenarnya agak dibatasi belajar musik oleh
ayahnya dengan alasan yang kurang masuk akal, tetapi ia belajar biola
secara sembunyi-sembunyi.
Ia mulai debutnya sebagai kondaktor rumah kafe di Dommayer’s
Casiono pada tanggal 15 Oktober 1844. Demutnya itu penuh sensasi dan
menjadikan ia sebagai musisi muda berprestasi. Setelah kematian
ayahnya pada tahun 1849, sebagai kondaktor ia tidak lagi memiliki
saingan dan sebagai komposer bisa menghasilkan karya-karya yang
cemerlang. Beberapa karya waltz terbaiknya ditulis selama
perkawinannya dengan Henrietta Treffz pada tahun 1864. Istrinya
menjadi inspirasi dari The Blue Danube, Artist’s Life, Tales from the Vienna
Woods, dan Wine, Woman and Song.
14.56. Tchaikovsky, Peter Ilyitch (1840-1893):
Komposer Rusia era Romantik yang bukan sebagai anggota dari
”the Russian Five”, bahkan dalam beberapa hal ia berlawanan dengan
mereka khususnya obsesi tentang nasionalisme. Tchaikovsky merasa
bahwa musik harus bisa dirasakan secara mendunia dan menggantikan
perasaan murni nasionalistik. Meskipun begitu, sedikit dari karya-
karyanya contohnya Overture 1812 menunjukkan bukti hati nurani
nasionalismenya. Ia sangat berperasaan dan penuh iba terhadap dirinya,
hal itu terwujud dalam musik-musiknya. Tchaikovsky menjadi salah-
satu tokoh komposer Romantik yang karya-karyanya unggul dan
mendapatkan tempat di hati penggemarnya.
Para Komposer Jaman Romantik
150
Bab 14
Schubert, Franz Peter Schumann, Robert
Sibelius, Jean Smetana, Bedřich
Ilustrasi 14.3.:
Para Tokoh Musik Jaman Romantik
Para Komposer Romantik 151
Bab 14
14.57. Wagner, Richard (1813-1883):
Komposer Jerman era Romantik dan sebagai salah-seorang dari
tokoh musik paling kontroversial abad ke-19 dalam sejarah musik. Dari
perspektif konsep estetika ia berlawanan dengan Johannes Brahms, ia
mempercayai bahwa musik harus mengungkapkan kedalaman filosofis
dan makna ekstramusikal tertentu. Ia tertarik mengembangkan musik
drama (Gesamtkunstwerk, ”compsite art work”), mendemonstrasi-kan
tekadnya bahwa operan tidak sesederhana berupa serangkaian dari
bagian-bagian kecil tetapi harus lebih mengalir sebagai drama, emosi,
dan tentu musik.
Ia menerapkan gagasan-gagasan estetiknya melalui leitmotiv yang
diterapkan pada berbagai macam karakter, tempat, kejadian, dan
konsep-konsep yang abstrak. Wagner adalah seorang nasionalis tulen,
keahliannya sangat tinggi tampak dalam musik drama Der Ring des
Nibelungen (The Ring of the Nibelung) yang pertama kali dipentaskan
tahun 1876 berdasarkan atas mitologi Teutonic. Die Meistersinger von
Nurenberg (The Mastersingers of Nurenberg) 1868 dan Parsifal, 1882—
keduanya merupakan opera-opera yang mencapai sukses besar.
14.58. Verdi, Giuseppe (1813-1901):
Komposer opera Italia pada era Romantik, seorang yang tokoh
musik besar abad ke-19. Karya-karya awalnya kembali pada gaya bel
canto, ia matangkan, dan ia geser menjadi lebih bergaya liris subjektif
yang disatukan pada drama, emosi, kata, dan musik dalam suatu karya
yang penuh makna, selain tetap mempertahankan esensi-esensi pada
sejumlah opera. Ia seorang melodikus yang unggul dalam musik
maupun teater.
14.59. Wieniawski, Henryk (1835-1880):
Komposer dan pemain biola Polandia yang sangat terkenal. Lahir
pada 10 Juli 1835 di Lublin, Polandia dan meninggal pada 31 Maret di
Moscow, Rusia. Henryk biasa diucapkan Henry. Pada waktu kecil secara
ajaib telah diterima di Konservatori Paris pada usia 8 tahun, lulus dengan
predikat juara pertama dalam instrumen biola pada usia 11 tahun.
Kemudian menjadi pemain biola konser pada usia 13 tahun dan mulai
Para Komposer Jaman Romantik
152
Bab 14
melakukan tur ke Eropa bersama kakaknya bernama Joseph sebagai
pianis. Tur konsernya yang banyak dilakukan menempatkan ia menjadi
dikenal secara mendunia.
Pada tahun 1860 ia ditetapkan sebagai pemain solo biola untuk Kaisar
Rusia dan pada tahun 1862-1869 mengajar pada Konservatori Petersburg.
Tahun 1872-74 Wieniawski mengadakan tur ke Amerika Serikat untuk
bermain bersama pianis Anton Rubinstein, dan disela-sela itu ia
mengajar pada Konservatori Brussels. Sebagai seorang pemain biola,
Wieniawski memiliki kecakapan teknis tinggi. Komposisi untuk biola
ciptaannya dalam gaya Romantik dan sangat menunjukkan
virtousitasnya. Ia mencipta dua buah konserto biola, pertama dalam Fis
Minor Opus 14, yang kedua dalam D Minor Opus 22. Komposisi lainnya
termasuk Le Carnaval Russe Opus 11, Legende Opus 17, Scherzo-Tarantelle
Opus 16, Etude, Mazurka, dan Polonaise.
14.60. Wolf, Hugo (1860-1903):
Komposer Austria yang terkenal dengan karya-karya lieder yang
indah lebih dari 300 komposisi. Kemampuan Wolf sebagai komposer
ditunjukkan juga melalui media lain, Spanisches Liederbuch dan Italiensches
Liederbuch adalah dua dari karya song cycle besarnya yang sangat
melodius dan pianistik seperti puisi.
• Bacaan untuk Pendalaman:
Neill, Rhoderick J. Mc.,1998.Sejarah Musik 1 dan 2. Jakarta: PT BPK
Gunung Mulia.
• Latihan-latihan
1. Tahukah Anda faktor apakah yang melatar belakangi munculnya
gerakan romantisisme dalam musik?
2. Sebutkan empat tokoh musik jaman Romantik yang cukup
terkenal!
Para Komposer Romantik 153
Bab 14
3. Di samping mampu membuat sebuah karya musik vokal yang
sangat besar pada abad ke-19, beberapa karya lieder nya juga
mencapai taraf yang sangat tinggi. Siapakah komposer tersebut?
4. Dalam riwayat hidupnya, komponis ini pernah berhasil
memenangkan kompetisi musik Prix de Roma pada tahun 1884. Ia
juga menciptakan sistem tangganada whole tone yang belakangan
menjadi cukup terkenal Siapak komposer tersebut?
5. Pilihlah satu tokoh musik Jaman Romantik yang Anda ketahui
lalu ceritakanlah yang Anda ketahui tentang tokoh tersebut!
BAB 15
KOMPOSER ERA KONTEMPORER
(1900-SEKARANG)
D
ari awal abad pertengahan hingga akhir abad ke-19 musik klasik
didominasi oleh sistem Tonal. Hingga saat itu perkembangan
musik adalah suatu gerakan yang merupakan reaksi dari jaman
sebelumnya. Kebangkitan Renaisans adalah reaksi dari Abad
Pertengahan; Barok adalah reaksi dari Renaisans, Klasik dari Barok,
Romantik dari Klasik. Berbeda dengan yang lainnya, Modernisme abad
ke-20 adalah reaksi terhadap keseluruhan periode sebelumnya. Hal
tersebut karena musik Modern menolak tonalitas yang mendominasi
musik klasik selama ini.
Bab ini berisi daftar riwayat hidup komponis-komponis
kontemporer. Kontemporer adalah bersifat kekinian; yaitu belum
memiliki batas akhir dan masih terus berkembang. Musik klasik dalam
pengertian jaman atau era, telah berakhir sejak akhir abad ke-18,
sedangkan pengaruhnya masih kuat pada abad ke-19. Namun musik
klasik dalam pengertian umum masih terus dikembangkan dengan
berbagai kemungkinan baru.
15.1. Arnold, Malcolm (b. 1921):
Komposer Inggris, belajar di the Royal College of Music dan
bekerja untuk beberapa tahun sebagai pemain trompet utama orkestra. Ia
menulis segala macam musik, termasuk beberapa simfoni dan konserto.
Skor-skor film seperti The Bridge on the River Kwai dan The Inn of the Sixth
Happiness sangat dikagumi publik. Meskipun gaya musiknya tradisional
dan dibuat menggunakan bunyi-bunyi yang kental, harmoni-harmoni
sederhana, dan ritme-ritme yang hidup, namun sangat halus dan selalu
efektif.
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang)
156
Bab 15
15.2. Babbit, Milton (b. 1916):
Komposer Amerika yang mulai menulis musik dalam gaya Webern,
tetapi sejak tahun 1947 mengeksplorasi suatu kemungkinan dari ’tonal
serialisation’ dan kemudian setelah tahun 1960 ia beralih untuk memproduksi
musik secara elektronik. Babbit adalah murid Roger Sessions.
15.3. Barber, Samuel (b. 1910):
Lahir di West Chester tanggal 9 Maret 1910, meninggal tanggal 23
Januari 1981 di New York. Barber belajar piano sejak kanak-kanak dan cepat
bisa mencipta komposisi. Pada tahun 1924 ia masuk ke Institut Musik
Philadelpia untuk belajar piano dan komposisi dan juga menyanyi maupun
kondakting. Setelah lulus pada tahun 1934, Barber mulai membuat
komposisi.
Ia mengembangkan sebuah gaya yang berbeda, menyerap beberapa teknik
musik modern. Komposer Amerika beraliran Neo-Romantik. Ia telah
mencapai sukses melalui beberapa karyanya, terutama untuk vokal dan
musik orkestra. Vanessa (1956-57), Dover Beach, Adagio Strings, dan konserto
piano sebagai kontribusinya dalam sejarah musik.
15.4. Bartok, Béla (1881-1945):
Komposer Hongaria yang sekarang dihormati sebagai salah-seorang
dari komposer-komposer penting dan berpengaruh selama abad ke-20.
Musiknya merefleksikan keasyikan terhadap ritme-melodi primitif dan
kerakyatan. Meskipun ia menggunakan disonan-disonan dan kromatikisme
bebas, ia jarang mengesampingkan sistem tonalitas secara penuh, memilih
cukup menggunakan tangganada-tangganada eksotis dan politonalitas.
Dalam tahun 1940, demi menghindari Nazisme, Bartok terbang ke New York
untuk menetap dan menghabiskan masa tuanya.
15.5. Basie, William ’Count’ (b. 1904):
Pianis dan komposer jazz Amerika, karirnya dimulai sebagai seorang
pianis musik hiburan di New York, tetapi segera beralih kepada jazz dan
membentuk band sendiri tahun 1935. Rekaman perdananya muncul dua
tahun kemudian dan band miliknya menjadi terkenal.
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang) 157
Bab 15
15.6. Benjamin, Arthur (1893-1960):
Komposer Australia yang datang ke London sebagai seorang
murid di the Royal Colledge of Music, dan setelah di Australia beberapa
tahun ia kembali ke London untuk menetap hingga akhir hayatnya. Ia
seorang pianis handal dan menulis banyak musik, termasuk beberapa
musik film yang bagus. Karya-karyanya yang terkenal antara lain
Jamaican Rumba (1938), namun dua opera The Devil take Her (1931) dan
Prima Donna (1933) adalah ciptaan-ciptaan terbaiknya.
15.7. Berg, Alban (1885-1935):
Lahir di Vienna pada tanggal 9 Februari 1885, meninggal pada
tanggal 24 Desember 1935. Komposer Austria, murid dari Arnold
Schoenberg dan sangat bersemangat menekuni metode-metode atonal
pada komposisinya. Berg suskses menerapkan sistem serial dua-belas
nada pada beberapa media musik seperti opera, musik kamar, dan
orkestra. Karakteristik karya-karya Berg cenderung lambat dan
kebanyakan ragu-ragu.
Tahun 1912 ia menyelesaikan pekerjaan pertamanya sejak belajar dengan
Schoenberg dalam Five Orchestral Songs Opus 4. Inspirasi untuk
komposisi ini berasal dari pesan melalui kartu pos yang dialamatkan
untuk kedua temannya dan musuh-musuhnya oleh seorang sastrawan
puisi Peter Altenberg.
15.8. Berlin, Irving (b. 1888):
Komposer Amerika, sebenarnya kelahiran Rusia dengan nama Isidore
Balin; datang di Amerika sejak kecil. Setelah bekerja sebagai ’singing
waiter’ ia mulai menulis yang lagu-lagu menjadi hit seperti `Alexander
Ragtime Band dan Everybody’s doin’ it. Karya musik untuk panggung
terbaiknya adalah Annie get your Gun (1946), dan nyanyian patriotiknya
God bless America banyak dikagumi publik Amerika.
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang)
158
Bab 15
Bartok, Béla Berg, Alban
Ilustrasi 15.1.:
Tokoh Musik Era Kontemporer
15.9. Bernstein, Leonard (b. 1918):
Komposer Amerika dan kondaktor, ia berlatih pada Harvard and
the Curtis Institute, dan kemudian menjadi sangat terkenal sebagai
kondaktor, komposer, pianis, dan tokoh televisi. Musiknya sangat
merdu, penuh warna, dan hidup—pada umumnya menggunakan gaya
jazz. Ia juga mencipta musik balet, seperti Fancy Free (1944), Candide
(1957), dan West Side Story (1958), serta dua simfoni yakni Jeremiah (1944)
dan The Age of Anxiety (1949). Bernstein dikenal sebagai kondaktor the
New York Philharmonic Orchestra.
15.10. Boulez, Pierre (b. 1925):
Komposer Perancis dan kondaktor, ia murid Messiaen yang
kemudian berhasil menjadi komposer avant-garde setelah perang pada
tahun 1939-45. Eksperimennya dengan Serialisme Total sangat
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang) 159
Bab 15
berpengaruh seperti melalui karya Polyphonie X untuk 18 instrumen
(1951) dan Structures 1 untuk dua piano (1952), tetapi kemudian karya-
karya seperti Le Marteau sans Matter (1954) dan Pli selon Pli (Portrait de
Mallarme) (1960)—agak kaku dan improvisatoris. Akhirnya ia banyak
menjadi kondaktor dan penerjemah musik kontemporer daripada
mencipta komposisi.
15.11. Britten, Benjamin (b. 1913):
Komposer Inggris yang banyak merestorasi Inggris ke posisi
tinggi secara musikal. Gaya musik Britten meliputi Neo-Klasikisme,
Impresionisme, dan Neo-Romantikisme. Karya-karya utamanya terdiri
dari beberapa opera (Peter Grimes, A Midsummer Night’s Dream) semua
sering dipentaskan dan musik vokal dan musik gereja. Death in Venice
(1973) menggabungkan opera dan balet dalam suatu cara yang baik.
15.12. Cage, John (b. 1912):
Komposer modern Amerika yang gaya musiknya sering disebut
sebagai ”Dadaisme dalam musik”. Komposisi ciptaan Cage umumnya
dipersiapkan untuk instrumen-instrumen (contohnya, piano dengan
obeng-obeng, koin-koin tembaga, kertas, dan lain sebagainya yang
diletakkan pada senar-senar piano).
Imaginary Landscape adalah komposisi untuk 12 radio yang
dibunyikan bersamaan untuk mencampuradukkan berbagai panjang
gelombang dengan intensitas bunyi. Komposisi 4 Minutes 33 seconds
adalah karya untuk piano meskipun sang pianis hanya duduk di depan
piano tanpa sedikitpun menghasilkan bunyi. 0’00’ dimainkan dengan
berbagai cara oleh siapa saja. Cage membawa aliran ”sinisme” dan
”sarkasme” selama tahun 1960-an sebagai latar-belakang filosofis sebagai
musik baru untuk mencapai popularitasnya.
15.13. Chávez, Carlos (1899-1978):
Komposer Meksiko yang karya-karyanya sangat modern dan
orisinal merefleksikan nasionalisme yang kuat melalui material-material
Indian Amerika Tengah dan Meksiko-Spanyol secara bersamaan.
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang)
160
Bab 15
15.14. Copland, Aaron (b. 1900):
Komposer Amerika yang memiliki kecenderungan kuat sangat
nasionalistik yang merefleksikan ke dalam banyak karya aransemen
musik rakyat dan karya-karya seperti Rodeo (1942), Lincoln Portrait (1942),
dan Appalachian Spring (1944). Karya-karya terakhirnya menunjukkan
minatnya pada sistem dua belas nada. Connotations for Orchestra
dipertunjukkan pertama kali digelar selama konser-konser di
Philharmonic Hall di New York’s Lincoln Center pada tahun 1962. Ia
juga menulis buku antar lain What to Listen for in Music, Music and
Imagination, dan Our New Music.
15.15. Davis, Miles (b. 1926):
Trumpetis dan komposer jazz Amerika, mulai sebagai murid
pada Julliard School of Music yang segera menemukan jazz sebagai
pilihannya serta mendirikan band di New York. Ia membantu
mengkreasi apa yang kini disebut ’cool jazz’.
15.16. Delius, Frederick (1862-1934):
Terkenal sebagai komposer Inggris, salah-satu yang dikenal dunia
setelah Henry Purcell. Beberapa karya orkestranya seperti Brigg Fair
bergaya Impresionistik, mengkolaborasi instrumen-instrumen, dan
elemen-elemen musik rakyat.
15.17. Ellington, Edward Kennedy (1899-1974):
Populer disebut Duke Ellington, pianis jazz dan komposer
Amerika yang sangat penting dan ahli dalam mengembangkan jazz
untuk band besar pada era swing antara tahun 1930-an hingga 1940-an.
Di tengah karya-karya nyanyian jazz yang sangat indah seperti In a
Sentimental Mood, Mood Indigo, In My Solitude; Ellington mencipta musik
serius, yang diperluas, karya-karya dengan banyak bagian untuk jazz-
band, dan di antara itu ada karya tiga bagian berjudul Black, Brown, and
Beige (1947).
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang) 161
Bab 15
15.18. Falla, Manuel de (1876-1946):
Komposer Spanyol yang bersama dengan beberapa komposer
lainnya menggabungkan Nasionalisme dan Impresionisme dan mencapai
hasil sukses. Karya piano Nights in the Gardens of Spain, dan balet El
Amor Brujo—semuanya sangat tipikal menunjukkan ritme-ritme
bersemangat dan instrumentasi dengan penuh warna.
15.19. Fauré, Gabriel I1845-1924):
Komposer Perancis yang memiliki bakat istimewa sejak usia dini,
tetapi karena orangtuanya sangat miskin ia tidak mampu membayar
untuk menjadi murid pada École Niedermeyer di Paris (1855-65) di mana
ia akhirnya bisa belajar pada Saint-Saëns. Karir profesionalnya dilalui
sebagai organis, guru, dan komposer di Paris. Musiknya sama dengan
karakter bijaksana, gagah, dan indah.
15.20. Gershwin, George (1898-1937):
Komposer Amerika yang paling berbakat sebagai seorang penulis
lagu (The Man I Love, They Can’t Take That Away From Me, I Got Rhythm).
Gershwin menjelajah dalam berbagai jenis musik seperti balet An
American in Paris, Concerto in F, dan Rhapsody in Blue yang menggunakan
unsur-unsur campuran Jazz dan idiom-idiom tradisional. Opera rakyat
Porgy and Bess segera mencapai sukses dan kini menjadi repertoar pada
beberapa gedung opera di Eropa.
15.21. Gillespie, ’Dizzy’ (b. 1917):
Musisi jazz Amerika yang lahir di Carolina Selatan dan terkenal
sejak tahun 1940-an. Ia seorang trompetis hebat yang membentuk band
pada tahun 1945 dengan gayanya yang menunjukkan pada gaya ’bebop’.
15.22. Glazunov, Alexander (1865-1936):
Komposer Rusia, belajar pada Rimsky-Korsakov, dan mencipta
simfoni pertama pada usia 16 tahun dari kedelapan karyanya. Ia
sekarang dikenang terutama karena musik balet seperti Raimonda (1898)
dan The Season (1900), the Symphony No. 6 in C minor, dan Violin Concerto
in A minor.
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang)
162
Bab 15
15.23. Goodman, ’Benny’ (b. 1909):
Musisi jazz Amerika, seorang klarinetis hebat dan pemimpin
band legendaris. Rekaman musik ’swing’ dilakukan pada tahun 1934 dan
membantu melahirkan gaya musik baru jazz. Ia banyak melakukan
perjalanan dengan band-band baik besar maupun kecil ke banyak
tempat, dan menjadi terkenal dengan sebutan ”Raja Swing”. Ia juga
bermain musik klasik, beberapa komposer menulis musik klasik
untuknya, salah satunya ialah Aaron Coplan melalui karya Clarient
Concerto (1948).
15.24. Harris, Roy (b. 1898):
Komposer Amerika, lahir di Oklahoma dan tidak bisa menjadi
komposer hingga usia 24 tahun. Ia kemudian belajar di Los Angeles, dan
akhirnya di Paris pada Nadia Boulanger. Ia mulai mengalami tekanan
pada tahun 1934 ketika Simfoni pertamanya dipentaskan. Sukses
internasional diraih pada tahun 1933 melalui Simfoni ketiga, yang
disebut sebagai karya ’klasik’ musik Amerika. Harris menulis sembilan
simfoni dan salah-satunya adalah Symphony for Voices (1936); banyak
musik kecil, konserto, musik kamar, dan nyanyian gereja. Gaya
musiknya polifonik, sangat ritmik, dan pada umumnya tonal. Ia adalah
seorang komposer sangat penting pada masa generasinya.
15.25. Hindemith, Paul (1895-1963):
Komposer kelahiran Jerman yang menetap beberapa tahun di
Amerika Serikat. Terutama sebagai penganut aliran Neo-Klasik, ia
merupakan komposer yang terkemuka dan berpengaruh pada abad ke-
20. Hindemith meminjam konsep-konsep konstruktivisme dari para
pelukis masanya dan menerapkannya ke dalam komposisi musiknya
dengan hasil gemilang. Ia percaya bahwa komposisi, agar mencapai
sukses, harus berbasis pada pengetahuan yang mantab secara teknik dan
ketrampilan dan musik harus ditulis agar bisa dimainkan oleh pemain
amatir sekalipun seperti untuk penampilan konser. Karakteristik umum
musiknya adalah kontrapung disonan yang ditekankan pada
penggunaan kadens-kadens terdiri dari akord mayor sederhana.
Hindemith seorang pengarang dan guru, tulisan-tulisannya antara lain
Traditional Harmony dan The Craft of Musical Composition digunakan
secara luas oleh masyarakat musik internasional.
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang) 163
Bab 15
15.26. Indy, Vincent D’ (1851-1931):
Komposer Perancis, pernah menjadi murid, teman, dan penulis
biografi César Franck. Hal itu membantunya menemukan the Scola
Cantorum di Paris (1894) yang memiliki tradisi kuat dalam pembelajaran
musik religius. Musiknya banyak berupa opera, simfoni, dan puisi lagu.
Variasi simfoni Istar (1896), dan tiga karya orkestra kecil Jour d’ été à la
montagne merupakan musik yang penuh gaya pribadinya.
15.27. Ives, Charles (1874-1954):
Komposer Amerika yang musiknya terabaikan selama hidupnya
tetapi kemudian menjadi terkenal dan mendapatkan perhatian hebat
publik. Tatkala muda Ives sebagai organis gereje di New York City. Ia
tercebur dalam bisnis asuransi dan menikmati sukses karena pekerjaan
itu meskipun begitu ia kembali menekuni dunia komposisi. Sebagai
seorang nasionalis, karya-karyanya menitik-beratkan pada pemanfaatan
unsur kerakyatan dan nyanyian-nyanyian patriotik Amerika, khususnya
dari daerah New England. Simfoni No. 2 berbasis terutama material
seperti itu. Ia mengembangkan konsep-konsep dari politonalitas,
atonalitas, teknik aleatori, dan poliritme jauh sebelum semua menjadi
elemen-elemen untuk pabrik musiknya. Percobaannya diwujudkan
melalui sonata Concord, Three Places in New England, dan Sinfoni No. 4.
15.28. Joplin, Scott (1869-1917):
Komposer dan pianis Amerika yang menulis selama tahun 1885-
93 di St. Louis dalam gaya musik hony-tonks dan mengembangkan gaya
permainan piano yang kini dikenal dengan sebutan Ragtime. Karyanya
yang paling terkenal adalah Maple Leaf Rag (1899) dari 39 musik rags
untuk piano. Ia juga menulis opera ragtime A Guest of Honour pada tahun
1903, tetapi manuskripnya hilang. Ia menyelesaikan opera kedua
Treemonisha pada tahun 1911, tetapi tidak secara ekslusif bergaya
ragtime.
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang)
164
Bab 15
15.29. Kodály, Zoltán (1882-1967):
Komposer Hungaria, bersama dengan Bartók, ia mencurahkan
beberapa tahun untuk mengoleksi dan mengedit musik rakyat Hungaria.
Bukan menjadi komposer radikal, karya-karyanya ditandai oleh disonan-
disonan ringan dan berangkat dari tonalitas yang lembut, seperti
ekspresi kuat romantik pada umumnya. Kodály memiliki metode
mengajar musik untuk anak muda yang kini diakui secara luas di Eropa
dan Amerika Serikat.
15.30. Křenek, Ernest (b. 1900):
Komposer kelahiran Austria yang menetap di Amerika sejak
tahun 1937. Sebagai komposer pasca Wagner ia tertarik dengan pelajaran
dari Schoenberg. Ia merefleksikan popularitas ritme-ritme Amerika dan
musik tonal pasca Perang Dunia I.
15.31. Menotti, Gian Carlo (b. 1911):
Komposer kelahiran Italia tetapi lama berdomisili di Amerika. Ia
penganut aliran Neo-Romantik yang mencurahkan segenap karir
komposernya untuk opera. Selain mencipta beberapa opera yang
mencapai sukses seperti The Consul (1950), The Medium (1946), dan Amahl
and the Night Visitor (1951); ia juga menulis beberapa libreto untuk opera-
opera sendiri maupun untuk opera para komposer lain.
15.32. Milhaud, Darius (1892-1974):
Milaud lahir di Aix-en Privence pada tanggal 4 September 1892.
Komposer Perancis, anggota dari Les Six. Pada waktu muda ia telah
menunjukkan kemahiran jazz dalam balet The Creation of the World
(1923) yang menggunakan basis ritme jazz, melodi, dan orkestrasi.
Milhaud belajr di Paris Conservatory di bawah bimbingan guru-guru
terkenal seperti Vincent d’Indy dan Paul Dukas. Pada tahun 1917 atas
undangan Paul Claudel, seorang diplomat, ia menjabat sebagai atase
Perancis di Brazil. Oleh karena itu ia sangat terpengaruh pada melodi-
melodi dan ritme-ritme Brazil terutama tango yang mewarnai beberapa
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang) 165
Bab 15
karyanya yang bergaya populer seperti Saudades do Brazil. Ia juga tertarik
pada musik jazz Amerika, yang kemudian populer di Brazil, dan
mengadaptasikan ke dalam musik-musiknya seperti balet Le Boeuf sur le
toit dan La Création du monde. Milhaud menulis banyak karya musik
dalam berbagai macam gaya. Ia mengembangkan bukan saja musik jazz
Amerika Selatan, tetapi juga idiom-idiom jazz; bahkan karya-karya
lainnya menggunakan teknik-teknik terbaru dari musik modern.
15.33. Orff, Carl (b. 1895):
Komposer Jerman yang banyak menulis kantata seperti Carmina
Burana (1937), merupakan salah-satu komposer terbaik yang menulis
karya-karya musik gereja pada abad ke-20. Orff juga adalah seorang
pendidik musik.
15.34. Persichetti, Vincent (b. 1915):
Komposer Amerika yang komposisi-komposisinya ringkas dan
berkualitas Neo-Klasik. Ia telah menulis beberapa karya hebat untuk
band. The Hollow Men (1946) untuk trompet dan gesek, juga tertarik pada
musik populer. Komposer yang mencipta tujuh simfoni, banyak dari
komposisinya untuk instrumen-instrumen dalam skala kecil atau
kombinasi besar.
15.35. Poulenc, Francis (1899-1963):
Komposer Perancis, salah-seorang dari “Les Six” yang banyak
berkarya musik untuk piano dan vokal, terkadang dicampuri dengan
humor. A Stabat Mater dan Gloria sering dipentaskan, seperti dalam
musik tragedi besar The Dialogues of the Carmelites (1957). Lirikisme
Poulenc selalu didukung dengan harmoni dan iringan yang atmosferik,
meskipun tonal tetapi disisipi dengan bunyi-bunyi disonan.
15.36. Prokoviev, Sergey (1891-1953):
Komposer Rusia, salah seorang dari dua pemimpin (bersama
Shostakovitch) dalam dunia musik di negaranya pada abad ke-20.
Prokoviev mengawali karya-karyanya dengan penuh sarkasme yang
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang)
166
Bab 15
Hindemith, Paul
Ives, Charles Kodály, Zoltán
Ilustrasi 15.2.:
Para Tokoh Musik Jaman Kontemporer
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang) 167
Bab 15
tajam, tetapi sarkasmenya kemudian diperlunak menjadi lebih humor
ironis yang menjadi bagian dari banyak komposisinya yang matang. Ia
melakukan perjalanan intesif, datang ke Amerika Serikat untuk konser,
mengajar, dan menjadi kondaktor.
Kritik-kritik dijatuhkan padanya oleh kaum Komunis selama masa
pembersihan artistik, tetapi ia mampu mengatur agar tetap bertahan
dengan konsep estetiknya. Karyanya yang paling terkenal Classical
Symphony (1917) menunjukkan hakikatnya sebagai seorang Neo-Klasik
sejati, juga musiknya bisa beremosi sangat kaku (Konserto Piano No. 3)
dan penuh warna (musik film pada Alexander Nevsky, 1939, atau pada
balet Romeo and Juliet, 1935-36).
15.37. Schöenberg, Arnold (1874-1951):
Komposer kelahiran Austria yang setelah tahun 1933 bermukim
di Amerika Serikat. Ia adalah salah-satu dari para komposer yang paling
cakap dan kontroversial selama abad ke-20. Karya-karya yang paling
awal tampak ditandai oleh gaya Wagner (contohnya Verklärte Nacht,
1899; dan Gurrelieder, 1900-11), tetapi hal itu tidak sampai tahun 1924
(dalam Suite for Piano Op. 25) yang ia gunakan sebagai dasar dari
komposisinya secara komplit. Sekalipun ia berupaya melakukan banyak
eksperimen agar menjadi modern, tetapi ia tetap seorang romantikus.
Komposisisnya selalu menunjukkan emosi yang terpendam.
Konserto biola dikenal memiliki ketrampilan teknik tinggi yang hanya
bisa dimainkan oleh para virtuoso. Moses and Aaron adalah drama
alkitabiah yang sangat penting, juga A Survivor from Warsaw, untuk
narator, paduan suara pria, dan orkestra. Ia bekerjasama dengan seorang
non-objektivis Wassily Kandisky yang menjadikan pada seni apa yang
oleh Schöenberg telah dilakukan untuk musik.
15.38. Scriabin, Alexander (1872-1915):
Komposer Rusia pada era akhir Romantik. Scriabin adalah
seorang eksperimenter dan mencoba untuk menghubungkan spektrum
warna dan bunyi dalan instrumen musik tunggal. Beberapa
komposisinya berbasis pada sebuah tangga nada yang berasal dari
sebuah akord ’mistik’ terdiri enam nada (C, Fis, Bes, E, A, D). Ia
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang)
168
Bab 15
mempengaruhi komposer-komposer lain untuk memperhatikan berbagai
kemungkinan dari bunyi-bunyi yang berbasis pada aturan-aturan selain
tangga nada mayor dan minor. The Poem of Ecstasy dan konserto piano
merupakan karya-karyanya yang banyak dimainkan kemudian.
15.39. Session, Roger (b. 1896):
Komposer Amerika yang pada awalnya memulai dengan gaya
Romantik, kemudian ia memilih gaya Neo-Klasik yang mengutamakan
kejernihan dan kesederhanaan. Simfoni kelima dan operanya Montezuma,
sangat dikenal sejak tahun 1964.
15.40. Shostakovitch, Dmitri (1906-1975):
Komposer Rusia yang telah mengambil tempatnya sebagai salah-
seorang dari para jenius abad ke-20. Musiknya sangat romantik,
memperdengarkan kembali kepada tradisi-tradisi pada masa abad ke-19,
tetapi selalu jujur dan orisinal. Beberapa karyanya dicipta selama masa-
masa Rusia dikontrol oleh kekuasaan dengan tekanan-tekanan
propaganda politik terhadap muatan estetik pada seni, namun ia
berkreasi dengan bebas. Simfoni No. 5 adalah ciptaannya yang
terpopuler dari 16 simfoninya. Balet Golden Age juga menyenangkan dan
penuh dengan alur-alur humor, sebagian dalam gaya ’Polka’.
15.41. Sousa, John Philip (1854-1932):
Pemimpin band dan komposer Amerika terutama untuk musik-
musik mars. Ia menjadi kondaktor the United States Marine Band dari
tahun 1880-1892, melakukan perjalanan konser dengan band itu dan
menjadi kondaktor selama hidupnya. Di antara komposisi-komposisi
mars adalah The Stars and Stripes Forever, Semper Fidelis, Manhattan Beach,
Thunderer, dan King Cotton.
15.42. Stockhausen, Karlheinz (b. 1928):
Komposer Jerman beraliran ”avant-garde” yang menerapkan
teknik-teknik disonan-disonan yang tidak biasa dalam tatanan ritmik
bebas dan improvisasi sebagai bagian yang diperlukan dari banyak
komposisinya. Ia menjadi seorang pionir dalam mengkombinasikan
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang) 169
Bab 15
kontrol dan prosedur-prosedur aleatori dalam gaya yang disebut sebagai
time-space composition. Ia di antara beberapa komposer yang
memanfaatkan unsur-unsur elektronik dalam musiknya, dalam Gesang
der Jünglinge (Song of the Youths in the Fiery Furnace, 1956) ia
menggunakan bunyi-bunyi manusia dan elektronik serta teknik-teknik
serial.
15.43. Strauss, Richard (1864-1949):
Komposer Jerman yang mengawali karirnya pada era Romantik
dan semakin berkurang pada karya-karya akhirnya. Strauss banyak
mengikuti isi, dasar-dasar bentuk, dan orkestrasi Wagner. Komposisi-
komposisi awanya berbentuk tone poem (Don Juan, Don Quixote, Thus
Spake Zarathustra, Death and Transfiguration, dan Till Eulenspiegel’s Merry
Pranks). Ia sangat kuat mempercayai ekstrareferensialisme tetapi
terkadang merasa bahwa ekspresi menjadikan tidak lengkap, dan
kemudian ia perlahan-lahan bergeser pada opera sebagai media
komposisional utamanya. Sejumlah opera (Elektra, 1909; dan Der
Rosenkavalier, 1911) mencapai sukses besar. Four Last Songs ditulisnya
pada tahun terakhir merepresentasikan lied Romantik Jerman. Pada saat
ia meninggal tradisi lied Jerman pun berakhir. Ia menulis pula dua
konserto untuk horn dan orkestra yang sangat terkenal di kemudian hari.
15.44. Stravinsky, Igor (1882-1971):
Komposer kelahiran Rusia yang hidup di Perancis, Swiss, dan
setelah 1939 di Amerika Serikat. Stravinsky menempati urutan paling
atas sebagai komposer penting abad ke-20 dalam kategori paling
progresif dan menjadi artis yang mampu melakukan pembaruan-
pembaruan untuk mengekspresikan diri. Ia adalah murid Rimsky-
Korsakov, karya-karya paling awalnya menunjukkan pengaruh gurunya
paling tidak hingga tahun 1912. dalam tahun 1910 ia pergi ke Paris dan
ditugasi oleh Diaghilev untuk menulis sebuah balet.
The Firebird adalah hasilnya, kemudian disusul oleh Petrouchka
(1911), Le Sacre du printemps (The Rite of Spring, 1913), di mana ia
memutuskan berhenti dari gaya lama dan menggunakan harmoni dan
ritme baru, yang menyebabkan keonaran penonton pada saat pertama-
kali pertunjukan digelar.
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang)
170
Bab 15
Schoenberg, Arnold
Stravinsky, Igor
Ravel, Maurice Shosztakovitch, Dmitri
Ilustrasi 15.3.:
Para Tokoh Musik Jaman Kontemporer
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang) 171
Bab 15
Selama Perang Dunia I ia tinggal di Swiss, di sana ia menulis
beberapa yang merefleksikan ketertarikannya yang besar pada musik-
musik berskala ansambel (L’Histoire du Soldat, disebut untuk tujuh
musisi, tiga penari, dan seorang narator). Ia dimasukkan pada periode
Neo-Klasik, tetapi juga sebagai pengikut Neo-Barok, dan khususnya
pada gaya serialisme. Stravinsky berpengaruh pada banyak komposer
baik di Amerika Serikat maupun Eropa.
15.45. Varèse, Edgard (1883-1965):
Komposer Amerika, lahir di Paris dan belajar pada Schola Cantorum
(1904-6). Setelah bekerja di Berlin dan Praha, dan bertugas selama Perang
Dunia I, ia meninggalkan Eropa dan menetap di Amerika 1916, menjadi
warga negara Amerika pada tahun 1927. Musiknya mengembangkan
banyak rintisan baru, termasuk ritme-ritme dan disonan-disonan yang
sangat komplek. Ia kemudian percaya bahwa metode elektronik adalah
yang terbaik. Karyanya termasuk banyak musik kecil yang tidak biasa
dalam menggabungkan instrumen-instrumen seperti pada Offrandes
untuk soprano, orkes kamar, dan perkusi (1922); Octandre untuk
instrumen tiup kayu, tiup logam, dan perkusi (1933); Ionisation untuk
perkusi dan dua siren (1931); dan Density 21.5 untuk flute platinum. Skor
elektronik termasuk Déserts (1954) dan Poème electronique (1958).
15.46. Vaughan Williams, Ralph (1872-1958):
Komposer Inggris beraliran Neo-Romantik, seorang tokoh yang
merevitalisasi pemandangan musikal di Inggris selama abad ke-20. Ia
seorang nasionalis yang mencipta musik untuk menggambarkan
kehidupan Inggris seperti dalam Fantasia on a Theme of Thomas Tallis.
Komposer hebat yang mewujudkan musiknya dalam berbagai media dan
jenis musik modern seperti simfoni, musik gereja, opera, dan nyanyian-
nyanyian.
15.47. Webern, Anton von (1883-1945):
Komposer Austria, murid dan pengikut Schöenberg, dan menjadi
salah-seorang tokoh dari sistem serial musik. Webern belajar musikologi
sambil belajar komposisi pada Arnold Schoenberg dan menyelesaikan
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang)
172
Bab 15
studinya pada tahun 1908, mulai bekerja sebagai kondaktor pada teater-
teater dan orkestra-orkestra di Vienna. Ia juga mengabdi sebagai militer
selama Perang Dunia I. Kemudian Webern memilih sebagai guru
sebelum akhirnya mengalami kecelakaan hingga meninggal tertembak
oleh seorang polisi militer Amerika dalam masa Austria diduduki setelah
berakhirnya Perang Dunia II. Ciptaannya tergolong relatif kecil dan
kebanyakan pendek. Terlihat sangat retroprektif, karya-karyanya
menggunakan model-model terkekang, intensitas, ketrampilan serial,
dan ekonomis.
15.48. Villa-Lobos, Heitor (1887-1959):
Lahir di Rio de Janeiro pada tanggal 5 Maret 1887. Komposer
Brasil yang banyak mengembangkan musik di negaranya, baik dalam
bidang pendidikan maupun seni. Ia seorang nasionalis, kemahiran dan
kepekaannya dia tunjukkan dalam satu kumpulan komposisi terdiri dari
sembilan komposisi berbeda dengan judul Bachianas Brasile. Ia
mengawali karirnya dengan bermain di restoran dan orkestra-orkestra
teater, kemudian mulai melakukan keliling Brazil untuk mempelajari
musik-musik folk. Sejak itu ia mulai meniru melodi, ritme, dan bunyi-
bunyian dari lagu-lagu folk Brazil.
• Bacaan untuk pendalaman:
McNeil, Rhoderik. 1998. Sejarah Musik 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Machlis, Joseph. 1978. The Enjoyment of Music. USA: Macmillan
• Latihan-latihan
1. Meskipun gaya musiknya tradisional dan dibuat menggunakan
bunyi-bunyi yang kental, harmoni-harmoni sederhana, dan ritme-
ritme yang hidup, namun sangat halus dan selalu efektif. Itulah
salah satu ciri karya komposer...........................................
Komposer Era Kontemporer (1900-Sekarang) 173
Bab 15
2. Ia adalah murid Arnold Schoenberg yang Lahir di Vienna pada 9
Februari 1885 dan meninggal pada 24 Desember 1935. Ia menekuni
metode-metode atonal pada komposisi-nya dan suskses
menerapkan sistem serial dua-belas nada pada beberapa media
musik. Karakteristik karya-karyanya cenderung lambat dan
kebanyakan ragu-ragu. Nama komponis yang dimaksud
adalah................................
3. Selain sebagai komposer yang memiliki rasa nasionalisme tinggi, ia
juga menulis buku antar lain What to Listen for in Music, Music and
Imagination, dan Our New Music. Nama komposer yang dimaksud
adalah…………………………
4. Sebagai Musisi jazz Amerika, ia turut membantu mela-hirkan gaya
musik baru jazz. Ia melakukan perjalanan ke banyak tempat dan
menjadi terkenal dengan sebutan ”Raja Swing”.. Nama composer
ini adalah………………………..
5. Karakteristik umum musiknya adalah kontrapung disonan yang
ditekankan pada penggunaan kadens-kadens terdiri dari akord
mayor sederhana. Ia juga seorang pengarang dan guru, tulisan-
tulisannya antara lain Traditional Harmony dan The Craft of Musical
Composition digunakan secara luas oleh masyarakat musik
internasional. Nama komposer ini adalah..............................
BAB 16
SOLFEGIO
S
tandar kompetensi (SK) program keahlian musik klasik untuk
Sekolah Menengah Kejuruan musik yang pertama ialah dapat
mengidentifikasi solfegio. Secara rinci kompetensi dasar yang
harus dikuasainya ialah dapat menirukan, menuliskan, dan membaca
beberapa aspek musikal yaitu: (1) interval, (2) akord, (3) ritme, (4) melodi.
16.1. Pengertian Solfegio
Solfegio ialah kegiatan pelatihan pendengaran musikal.
Dalam program-program pendidikan praktek instrumenral, bidang
ini biasa juga disebut dengan istilah ear training atau aural training.
Istilah aural test juga lazim dalam ujian-ujian internasional untuk
praktek instrumental. Kristianto mengutip solfegio dengan ejaan
yang mendekati bahasa aslinya yaitu solfege yang pengertiannya
ialah (2005: 99):
Latihan untuk vokal. Bisa dengan menggunakan satu bunyi
vokal (semisal ”a” atau ”o”), bisa dengan solmisasi, bisa pula
dengan kata-kata. Belakangan istilah ini meluas untuk pelatihan
dengan menggunakan vokal namun bertujuan untuk melatih
pengenalan not, interval, birama, hingga pola ritme
Dalam kamusnya, Kodijat (1983) memasukan entri Solfeggio
dari bahasa Inggris dan Solfége (P) yang mengandung dua
pengertian, yaitu: ”Latihan vokal tanpa perkataan, hanya denga
suku kata terbuka” dan ”Latihan pendengaran yang sistematis”.
Istilah solfegio juga ada hubungannya dengan kata Solmisatie
dalam bahasa Belanda yang berarti: ”Melatih dengan memakai
nama-nama dari sistem Guido di Arezzo: do - re - mi - fa- sol – la –
dan kemudian ditambahkan dengan: si” (hal. 68).
16.2. Fungsi Solfegio
Solfegio sangat penting bagi setiap musisi, di antaranya
untuk membangun ketajaman pendengaran. Tujuan utama solfegio
ialah menguasai kemampuan mengidentifikasi nada musikal yang
kita dengar secara spontan. Dunia musisi dikendalikan oleh
Solfegio
176
Bab 16
pendengaran. Sehubungan dengan itu pelatihan pendengaran
adalah latihan yang paling penting bagi musisi. Lebih besar tingkat
ketajaman kita, semakin mudah untuk mencapai kelengkapan
kemusisian kita. Tujuan lain solfegio di antaranya ialah agar siswa
memiliki peningkatan kemampuan dalam Prima Vista atau sight
reading, baik untuk vokal maupun instrumental.
16.3. Kedudukan Solfegio
Solfegio adalah bagian dari kompetensi praktek
ketrampilan instrumen musik. Ujian solfegio biasanya
dilaksanakan bersamaan dalam ujian praktek dan penguji praktek
biasanya merangkap sebagai penguji solfegio. Tingkatan solfegio
pararel dengan tingkat ketrampilan instrumen sehingga
keduanya memiliki gradasi tingkatan yang sejajar, mulai dari
tingkat terrendah hingga tertinggi.
Ilustrasi 16.1.:
Perbandingan tingkat ketrampilan instrumen
Solfegio 177
Bab 16
Ilustrasi tersebut memberikan gambaran tentang level-level
ketrampilan instrumen musik pada beberapa badan penguji
internasional seperti The Associated Board of The Royal Schools of
Music (ABRSM), Australian Music Examination Board (AMEB),
Trinity College, Yamaha Music Foundation, dan ISI Yogyakarta,
pada masa awal integrasi Akademi Musik Indonesia Yogyakarta ke
institusi tersebut.
Dengan demikian sebagaimana halnya praktek musik,
solfegio juga memiliki susunan level yang menggambarkan tingkat
dari yang termudah hingga tersulit, dan tingkatan-tingkatannya
menggunakan istilah yang sama dengan bidang praktek musik.
Tingkat Bawah mulai dari Grade 0 hingga 4, Tingkat Menengah
mulai dari Grade 5 hingga 8, dan Tingkat Atas yaitu Associate dan
Licentiate.
16.4. Lingkup Bahasan Solfegio
Umumnya pembahasan Solfegio meliputi tangga nada,
hubungan-hubungan interval, ritme, susunan suara (voicing) dalam
akor, pergerakan akor, persepsi kalimat, dan konsep-konsep
musikal lain. Tuntutan ketrampilan solfegio ialah siswa dapat
mengidentifikasi dan mendefinisikan simbol-simbol notasi standar
untuk tingkat ketinggian nada (pitch), ritme, dinamik, tempo,
artikulasi, dan ekspresi.
Di samping itu pembahasan solfegio bisa diperluas dengan
berbagai cara. Misalnya mengidentifikasi interval, baik secara
visual maupun aural (pendengaran), menuliskan ide-ide
musikalnya sendiri atau milik orang lain ke dalam notasi standar
(balok) baik dalam kunci G maupun kunci F.
Studi praktek instrumental di SMK musik dimulai dari
Tingkat Pemula (preliminary grade). Diharapkan siswa dapat dan
menguasai dasar-dasar permainan instrumen hingga Grade 4 pada
semester ke-5, dan mempersiapkan uji kompetensi pada semester
ke-6. Pararel dengan tingkat instrumen tersebut maka solfegio
perlu diberikan sebanyak enam tingkat.
Solfegio
178
Bab 16
16.5. Metode Pengetesan Solfegio
Ujian solfegio dilakukan dengan metode ”tiru-tulis-baca”.
Pendekatan meniru dalam solfegio merupakan aspek musikalitas
spontan guna mengetahui tingkat bakat musikal yang dimiliki
siswa. Pendekatan menulis dikenal dengan istilah “dikte”. Hal ini
hanya dapat dilakukan jika peserta telah memahami dasar-dasar
teori musik. Pendekatan membaca tanpa persiapan (Prima Vista),
bahkan langsung ditampilkan pada konser, adalah suatu
ketrampilan yang hanya bisa dilakukan oleh musisi yang
berpengalaman. Walaupun demikian membaca notasi kemudian
secara spontan menyanyikan-nya, juga dapat dilakukan oleh
siapapun, namun pada tingkat yang sesuai dengan
kemampuannya. Sebagaimana halnya menulis, kompetensi inipun
mempersyaratkan pengetahuan dasar teori musik.
16.6. Bahan Latihan dan Ujian Solfegio
Bahan solfegio yang diberikan di SMK semestinya memiliki
kesetaraan dengan standar internasional, misalnya dengan melihat
pada kurikulum ABRSM maupun AMEB. Karena terbatasnya
tempat maka contoh yang diberikan dalam buku ini hanya untuk
Kelas VII/ Semester I dengan mengambil model ujian AMEB.
Latihan berikutnya adalah contoh-contoh yang mewakili butir-
butir Kompetensi Dasar.
16.6.1. Tingkat Pemula (Semester I): Tuntutan solfegio pada
tingkat ini meliputi tiga aspek yaitu Irama, ritme, dan pitch
(tingkat ketinggian nada)
Latihan 1: Irama
Guru memainkan ekstrak skor piano di bawah ini berupa
kalimat sederhana dalam susunan akor-akor berirama
Duple atau Triple. Siswa bertepuk tangan mengikuti irama
yang dimainkan guru dengan bervariasi seperti lambat,
sedang dan cepat. Tepuk tangan terus dilakukan setelah
penguji berhenti.
Solfegio 179
Bab 16
Latihan 2: Ritme
Siswa menyanyikan, bertepuk tangan, atau mengetuk nilai-
nilai nada dari semi frase sederhana sebanyak dua birama
yang dimainkan oleh penguji
Latihan 3: Ketinggian Nada/ Pitch
Siswa menirukan/ menyanyikan nada-nada dari kalimat
melodi yang pendek yang terdiri dari lima hingga enam
nada. Sebelumnya guru memberitahukan akor tonika,
tangga nada dan tanda birama dari soal yang akan
diberikan. Sebelum memberi kesempatan kepada siswa
untuk menirukan, guru memainkan soal tersebut pada
piano sebanyak dua kali dengan jeda yang cukup di antara
keduanya.
Solfegio
180
Bab 16
16.6.2. Materi Tuntutan Kompetensi Dasar SMK:
Latihan 1: Aspek Interval
Latihan-latihan interval didasarkan atas soal berikut ini:
Menirukan: Guru membunyikan salah satu interval
melodis tersebut di atas pada piano kemudian siswa
menirukan dengan vokal. Materi latihan interval tersebut di
atas ini dapat dikembangkan lagi oleh guru sendiri.
Menulis (dikte): Guru membunyikan interval melodis
tersebut di atas pada piano kemudian siswa menulis
interval tersebut. Materi latihan untuk dikte interval dapat
dikembangkan lagi oleh guru misalnya dengan interval
harmonis.
Membaca: Guru memberikan notasi sebuah kalimat melodi
sederhana kemudian meminta siswa untuk menyanyikan
Solfegio 181
Bab 16
secara spontan. Dengan cara seperti ini kemampuan siswa
membaca dan memahami interval akan teridentifikasi.
Latihan 2: Aspek Akor
Dalam tes solfegio akor tidak ditirukan, ditulis, maupun
dibaca, tetapi yang lebih sering dilakukan adalah siswa
menebak kualitas akor, misalnya: Minor, Mayor, Augmented,
dan Diminished; dan tingkatan akor – apakah akor tingkat I,
ii, iii,IV, V, vi, maupun vii° baik dalam tangganada mayor
mupun minor. Walaupun demikian, jawaban bisa secara
lisan ataupun tertulis, tergantung dari kapasitas kelas,
apakah kecil atau besar; individual atau klasikal, dan
sebagainya. Di samping itu juga tergantung tujuan tes,
apakah untuk pengambilan nilai atau untuk pelajaran
harian. Sebagai latihan, guru bisa memainkan trisuara baik
dalam posisi biasa, balikan satu, ataupun balikan dua dalam
berbagai tangganada kemudian siswa menebak jenis atau
kualitas akor yang ditanyakan.
Latihan 3: Aspek Ritme
• Menirukan ritme
Solfegio
182
Bab 16
Menulis Ritme/Dikte: Guru membunyikan pola ritme
tersebut di atas pada piano kemudian siswa menulis ritme
tersebut pada kertas paranada.
Membaca Ritme
Guru menggunakan soal tersebut di atas atau membuat soal
yang baru untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk
membaca. Poin baik patut diberikan kepada siswa jika ia
bisa membaca ritme yang secara spontan belum pernah ia
dengar sebelumnya.
BAB 17
GRAMATIKA MELODI DAN BENTUK-BENTUK
DASAR
M
elodi ialah jiwa dari musik. Oleh karena itu dari perspektif
musik pertunjukan jika pemain salah dalam mengiterpretasikan
melodi maka permainannya seakan-akan tak berjiwa. Dalam
bidang komposisi musik tonal yang bertekstur homofonik, peranan
melodi sangat penting. Dalam musik populer misalnya, superioritas lirik
bisa menjadi tak berarti tanpa dukungan melodi yang bagus. Secara
teknis, melodi adalah sederetan nada yang tersusun sedemikian rupa
sehingga menjadi rangkaian bunyi yang enak didengar. Walaupun musik
tanpa melodi bisa saja terjadi namun secara umum akan terasa adanya
kekurangan. Dengan melodi, musik akan terasa memiliki kehidupan.
Setelah memahami unit-unit sub frase yang terdiri dari figure dan
motif yang membentuk frase, dan unit pelengkap frase, kadens,
sebagaimana yang terdapat pada bab ketiga, dalam bab ini dibahas jenis-
jenis frase yang merupakan unit-unit sub struktur yang lebih luas yaitu
kalimat. Berdasarkan pengetahuan tentang frase untuk selanjutnya dalam
bab ini juga akan dibahas bentuk-bentuk kalimat dan pengembangannya.
17.1. Frase
Frase ialah suatu seksi dalam suatu alur musikal yang
sepadan dengan “klausa” atau “kalimat” pada prosa. (Randel )
Kata “frase” dalam diktat ini diadobsi dari kata bahasa Inggris
phrase, sedangkan “kalimat” dari kata sentence. Frase memiliki
fungsi dan tingkat kepanjangan yang berbeda dari kalimat, yaitu
lebih pendek karena merupakan komponen pelengkap struktur
kalimat.
Guna memperoleh pemahaman tentang frase, Stein
(1962:22) menawarkan empat asumsi. Yang pertama bahwa frase
konvensional umumnya adalah sebuah unit yang terdiri dari empat
birama; yang kedua bahwa frase adalah unit terpendek yang
diakhiri oleh kadens; yang ketiga bahwa sebuah frase biasanya
memiliki hubugan dengan frase-frase lain; dan yang keempat
bahwa pada dasarnya frase adalah basis struktural bentuk-bentuk
Gramatika Melodi dan Bentuk-bentuk Dasar
184
Bab 17
homofonis yang juga diterapkan pada struktur-struktur polifonis
tertentu.
17.1.1. Unit empat birama
Sebagai sebuah unit tunggal yang terdiri dari empat birama,
frase dapat dijumpai pada musik-musik tradisional Barat seperti
himne Ambrosian, lagu-lagu Trubadour/ Minnesinger, berbagai tipe
tarian Eropa, dan sebagian karya-karya yang ditulis sejak tahun
1600. Umumnya frase merupakan unit tunggal yang tak terbagi
lagi, seperti yang terdapat pada Simfoni No. 5 karya Beethoven:
Ilustrasi 17.1:
Frase tunggal berbirama empat.
Walaupun demikian tidak jarang pula terdapat frase yang
terdiri dari dua semi-frase dan masing-masing tersusun dari figur-
figur:
Ilustrasi 17.2:
Contoh frase lengkap
17.1.2. Unit terpendek yang berakhir dengan kadens
Sebuah frase secara simetris tersusun dari dua semi frase
yang dibatasi oleh kadens secara samar atau bukan merupakan
kadens yang sebenarnya sebagaimana yang hadir pada akhir frase.
Gramatika Melodi dan Bentuk-bentuk Dasar 185
Bab 17
Ilustrasi 17.3.:
Kadens setengah di akhir frase
17.1.3. Hubungan antar Frase
Hubungan suatu frase dengan frase lain dapat terjadi
dalam dua hal. Yang pertama ialah sebagai bagian dari pola
struktural yang lebih besar dan yang kedua iala sebagai unit
pendukung yang berdiri sendiri. Sebagai komponen dari pola yang
lebih besar hubungan antara sebuah frase dengan frase lain dapat
berupa sebuah kalimat standar dengan dua frase, sebuah kelompok
berfrase tiga atau empat, dan sebuah periode ganda berfrase empat.
Ekstrak yang dikutip dari bagian pertama Sonata in A major
karya Mozart berikut ini merupakan contoh dua buah frase yang
membentuk sebuah kalimat standar atau period:
Ilustrasi 17.4.:
Hubungan sebuah frase dalam kesatuan periode
Sebagai unit yang berdiri sendiri sebuah frase berfungsi
sebagai unit pendukung yang berdiri sendiri dan memiliki
kelengkapan yang tidak berhubungan dengan frase-frase sebelum
maupun sesudahnya, sebagai bagian dari kalimat atau kelompk
frase. Fenomena seperti ini bisa terjadi dalam beberapa penggunaan
seperti introduksi yang berdiri sendiri, postlude, koda atau kodeta,
Gramatika Melodi dan Bentuk-bentuk Dasar
186
Bab 17
bagian dari bentuk lagu atau tema yang berdiri sendiri, interlude,
transisi atau retransisi.
Perlu dicatat bahwa pengulangan frase pada dasarnya
masih merupakan unit tunggal dan bukannya menjadi kalimat
berfrase dua. Pengulangan dapat terjadi dalam beberapa hal yaitu:
• Secara identik
• Dengan hiasan
• Dengan perubahan harmoni
• Dengan perubahan pola iringan
• Dengan perubahan register
• Dengan perubahan warna
17.1.4. Frase sebagai basis struktural bentuk-bentuk homofoni
Komposisi-komposisi homofoni yang memiliki melodi yang
menonjol pada suara teratas umumnya terbagi ke dalam beberapa
frase. Pada beberapa bentuk polifonik, khususnya pada suite-suite
tarian barok tersusun dari frase-frase. Gerakan-gerakan seperti
gavotte, bourree, dan minuet yang cenderung memiliki melodi
yang menonjol pada alour suara teratas, jelas tersusun dari frase-
frase. Sebagai contoh ialah Allemande dari French Suite in e minor
karya Bach yang terdiri dari 28 birama tersusun dari 7 buah frase
berbirama empat.
17.2. Frase ireguler
Sebuah frase disebut ireguler jika ia memiliki lebih atau
kurang dari empat birama. Keadaan ireguler sebuah frase dapat
dimungkinkan oleh dua hal yaitu: (1) memang aslinya ireguler, (2)
ireguler sebagai akibat dari proses komposisi yang umumnya
melalui jalan perluasan dan kadang-kadang juga kontraksi.
17.2.1. Keadaan ireguler asli
Frase ireguler bisa terjadi di antara dua dan delapan birama.
Biasanya fenomena ini terdapat pada karya-karya baru atau musik
abad ke-20 (Modern). Pada sebuah birama bermetrik 11/4 Sonata
Gramatika Melodi dan Bentuk-bentuk Dasar 187
Bab 17
Op. 1 dari Harris tersirat tiga buah figure dengan perubahan tiga
metric yaitu 4/4, 3/4, dan 4/4.
Ilustrasi 17.5.:
Frase yang terdiri dari satu birama
Contoh lain dari jenis frase ireguler ialah ekstrak Minueto
dari Simfoni No. 40 karya Mozart yang terdiri dari tiga birama:
Ilustrasi 17.6.:
Frase berbirama tiga
17.2.2. Ireguler karena sebab perluasan
Perluasan frase dapat terjadi di tiga tempat yaitu di awal, di
tengah dan di akhir suatu frase.
• Perluasan di awal
Perluasan di awal terjadi sebelum sebuah frase yang
sebenarnya dimulai tetapi tidak berdiri sendiri melainkan
merupakan bagian dari frase itu sendiri. Bagian perluasan ini
terjadi dalam dua kemungkinan. Yang pertama merupakan
antisipasi melodi dengan mengambil figur pertama dari frase atau
perpanjangan nada pertama saja awal dan permainan pola iringan
dengan tujuan untuk mengantisipasi melodi. Yang kedua
Gramatika Melodi dan Bentuk-bentuk Dasar
188
Bab 17
permainan pola iringan sebanyak satu atau dua birama sebelum
frase melodi mulai. Hal ini identik dengan introduksi sederhana.
• Perluasan di dalam frase
Perluasan dalam frase terjadi sebelum kehadiran kadens
dengan berbagai kemungkinan pengolahan seperti repetisi atau
sekuen sebuah birama atau sebuah figure, baik secara eksak atau
dimodifikasi. Kemungkinan lain ialah perpanjangan sebuah nada
atau akor, dan pengembangan ritmis sebuah figure.
• Preluasan di akhir frase
Perluasan di akhir frase umumnya merupakan salah satu
dari fenomena berikut ini yaitu: pengulangan setengah birama
terakhir, sekuen setengah birama terakhir, pengulangan motif
terakhir, dan pengulangan kelompok kadens. Jenis pengulangan
kelompok kadens yang terjadi pada jenis perluasan ini ialah
pengulangan harmoni kadens pada dua birama terakhir tanpa
mengulang melodi dan pengulangan kelompok kadens yang
melibatkan dua harmoni. Di samping kemungkinan-kemingkinan
tersebut di atas perluasan di akhir frase bisa juga berupa
penambahan kadens baru.
17.3. Bentuk Kalimat (periode)
Kalimat melodi yang terbentuk dari kombinasi beberapa
frase terdiri dari tiga bentuk yaitu bentuk period standar, period
pararel, dan period kontras.
17.3.1. Periode standar
Sebuah period atau kalimat standar terdiri dari dua frase,
yang pertama disebut anteseden dan yang kedua disebut
konsekuen. Sifat anteseden ialah interogatif dan biasanya diakhiri
oleh kadens non-final (setengah). Sedangkan konsekuen bersifat
responsif dan diakhiri oleh kadens autentik:
Gramatika Melodi dan Bentuk-bentuk Dasar 189
Bab 17
Antiseden Konsekuen
Kadens Setengah Kadens Autentik
Ilustrasi 17.7.:
Struktur dasar bentuk periode
Sebagai contoh dari bentuk in ialah pada ekstrak bagian
terakhir Simfoni No. 1 karya Brahms berikut ini:
Ilustrasi 17.8.:
Bentuk kalimat/periode
17.3.2. Periode pararel
Sebuah period dapat diidentifikasikan sebagai paralel atau
kontras, tergantung dari hubungan melodis di antra frase
anteseden dan konsekuen. Disebut paralel jika melodi pada frase
kedua mirip dengan yang pertama yang kemiripannya biasanya
terdapat pada permulaan frase. Pada periode paralel setidaknya
birama pertama dari konsekuen mirip dengan birama pertama
anteseden. Umumnya keseluruhan dari kedua frase mirip hingga
kadens namun tidak termasuk kadens, sebagaimana tampak pada
ekstrak bagian terakhir Simfoni No. 9 karya Beethoven berikut ini:
Ilustrasi 17.9.:
Periode parallel
Gramatika Melodi dan Bentuk-bentuk Dasar
190
Bab 17
Penyerupaan kalimat konsekuen terhadap anteseden pada
periode pararel dapat terjadi melalui beberapa cara yaitu dengan
identitas (kemiripan pada birama pertama), dengan transposisi,
dengan hiasan, dan dengan kemiripan kontur. Melalui cara yang
terakhir, melodi konsekuen merupakan sekuen yang dimodifikasi
atau repetisi anteseden yang dimodifikasi.
17.3.3. Periode kontras
Periode kontras terjadi jika arah melodi pada konsekuen
berbeda dengan arah frase anteseden. Jadi walaupun ritme
keduanya bisa mirip atau sama, namun jika arah melodi pada
kedua frase berbeda maka disebut periode kontras.
Ilustrasi 17.10.:
Contoh periode kontras
• Bacaan untuk Pendalaman:
Prier Sj,1983.Ilmu Bentuk dan Analisa Musik. Yogyakarta: Pusat
Musik Liturgi.
Leon Stein.1979.Structure & Style, Expanded Edition.New Jersey:
Summy-Birchard Music.
• Latihan-latihan:
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan melodi?
2. Jelaskan bagaimana hubungan antara frase yang satu dengan
lainnya?
3. Apakah yang dimaksud frase anteseden?
4. Bagaimana kedudukan frase dalam kalimat?
5. Ada berapa macam bentuk music yang Anda ketahui?
BAB 18
BENTUK-BENTUK LAGU DASAR
P
ada bab sebelumnya kita telah membahas unit-unit sub frase dan
sub struktur yang berakhir dengan pembahasan sitem
perkalimatan dalam musik tonal yang menjadi dasar bagi
pengetahuan tentang bentuk lagu. Dalam bab ini dibahas bentuk-bentuk
dasar lagu yang meliputi bentuk-bentuk lagu dua dan tiga bagian.
Istilah bentuk lagu (song form) digunakan untuk mengidentifikasi
baik pola-pola musik instrumental maupun vokal. Asal mula kata bentuk
lagu diambil dari struktur yang dijumpai pada lagu-lagu pendek atau
sedang seperti folksong dan himne. Bagian-bagian struktural pokok dari
bentuk-bentuk ini disebut ‘bagian’ (parts). Oleh karena itu istilah dua
bagian (two-part) atau tiga bagian (three-part) bukan mengacu pada
keterlibatan bagian suara (voices) atau instrumen tapi pada bagian-bagian
pokok pada sistem perkalimatan melodi.
Bentuk lagu berkisar dari yang paling sederhana yaitu dari bentuk
satu hingga lima bagian. Di antara bagian-bagian (parts) terdapat
beberapa kemungkinan elemen-elemen sisipan yang berfungsi sebagai
pendukung yang memperhalus hubungan di antara bagian-bagian
tersebut. Semakin besar suatu komposisi musik maka semakin besar pula
keterlibatan elemen-elemen pendukungnya demikian pula sebaliknya.
18.1. Elemen-elemen dasar
Komposisi yang sederhana yang hanya terbentuk dari
bentuk lagu satu bagian umumnya dan tidak memerlukan elemen-
elemen pendukung. Di antara elemen-elemen tersebut ialah:
18.1. 1. Introduksi
Introduksi ialah suatu seksi instrumental di bagian
permulaan suatu komposisi yang biasanya diikuti langsung oleh
pernyataan tema atau bagian utama (principal part). Terdapat dua
macam Introduksi yaitu “introduksi sederhana yang biasanya berisi
suatu pola iringan atau akor-akor pengantar dan yang kedua ialah
Bentuk-bentuk Lagu Dasar
192
Bab 18
introduksi yang berdiri sendiri (independent introduction). Tiga hal
yang membedakannya dari jenis yang pertama ialah tentang
panjang, karakter dan kadensnya. Pada karya pendek, introduksi
terdiri dari empat birama sedangkan pada karya yang panjang bisa
terdiri dari berberapa divisi. Di banding dengan introduksi
sederhana yang hanya berisi pola ritmik iringan yang statis,
introduksi ini memiliki melodi yang berdiri sendiri dengan pola
ritme yang khas yang berbeda dari tubuh utama sebuah komposisi.
Introduksi jenis ini biasanya diakhiri oleh sebuah kadens.
18.1.2. Transisi
Transisi adalah bagian penghubung yang bersifat sebagai
pengantar di antara satu bagian ke bagian yang lain. Dua fungsi
utama transisi ialah sebagai pemroses modulasi dan sebagai
penghubung. Dalam proses modulasi berarti bagian ini membawa
kunci dasar kepada kunci yang lain sedangkan pada fungsi yang
kedua memberikan efek hubungan logis di antara perbedaan-
perbedaan yang trerdapat pada dua bagian/ seksi/ tema. Dalam
hal ini transisi diperlukan karena suatu bagian tidak bisa diikuti
secara langsung oleh bagian yang lain. Kebutuhan ini tampak
dengan jelas pada bagian rekapitulasi dari bentuk sonata, yaitu
pada saat bagian transisi menghubungkan dua tema dalam kunci
yang sama.
Transisi yang singkat bisa terjadi dalam satu birama dan
kadang-kdang bisasa disebut sebagai potongan “jembatan” (bridge
passage) sedangkan pada karya yang lebih panjang bahkan bisa
terdiri dari dua seksi atau lebih. Jika material yang digunakan
berdiri sendiri biasanya disebut episode bertransisi (transitional
episode).
18.1.3. Retransisi
Retransisi adalah bagian penghubung yang mengantarkan
suatu bagian kepada tema atau bagian yang sebelumnya pernah
hadir. Jika menggunakan figur-figur dan motif-motif dari bagian
yang akan datang kembali maka elemen ini disebut sebagai
retransisi antisipatif (anticipatory transition).
Bentuk-bentuk Lagu Dasar 193
Bab 18
18.1.4. Kodeta
Secara literal kodeta berarti “koda kecil” yang mengikuti
sebuah bagian, seksi atau tema. Salah satu dari fungsinya ialah
untuk menkonfirmasi kadens. Sehubungan dengan itu ada dua
macam kodeta. Yang pertama ialah “kodeta harmonis” yang
menggunakan harmoni-harmoni yang digunakan pada bagian
akhir suatu frase yang mengikutinya. Jenis ini seringkali tersusun
dari satu unit dua birama. Dalam hal ini melodi yang diambil dari
frase sebelumnya memiliki peranan yang kurang penting. Yang
kedua ialah “kodeta melodis” yaitu terdiri dari empat birama atau
lebih dan dapat berisi figur-figur yang digunakan pada frase
sebelumnya atau sama sekali materi baru. Kodeta bisa muncul di
tengah-tengah atau di akhir suatu komposisi, yaitu pada
penutupan Koda atau postlude. Pada musik polifonis kodeta
biasanya merupakan pernyataan tambahan dari subjek setelah
kadens autentik atau kadang-kadang deseptif.
18.1.5. Interlude
Interlude adalah potongan (passage) yang berdiri sendiri di
antara sebua tema dengan dan pengulangannya atau di antara dua
bagian yang secara umum panjangnya berkisar di antara satu
hingga delapan birama. Materi yang terdapat dalam introduksi bisa
juga digunakan kembali pada bagian interlude. Terdapat juga
kemungkinan kombinasi fungsi dari retransisi dan interlude.
18.1.6. Seksi
Seksi adalah suatu porsi komposisi yang memiliki ciri
melodi yang jelas dan diakhiri oleh kadens yang jelas (definiti).
Istilah ini diterapkan baik pada bentuk-bentuk homofoni dan
polifoni. Pada bentuk polifoni misalnya, bagian pengembangan
(development) dari suatu bentuk sonata terdiri dari berbagai seksi.
Sementara itu pada bentuk-bentuk polifoni seksi-seksi juga
terdapat pada invention dan fugue.
Bentuk-bentuk Lagu Dasar
194
Bab 18
18.1.7. Episode
Pada musik homofoni dan polifoni istilah episode
digunakan secara berbeda. Suatu bagian yang agak panjang,
seringkali diturunkan dari materi tematik sebelumnya dan bersifat
meninggalkan subjek atau tema. Pada fuga dan invention, episode
adalah suatu potongan yang hanya merupakan sebuah fragmen
tematik atau yang menggunaan materi counter-thematic. Pada
musik homofoni episode yang agak panjang tersusun dari seksi-
seksi sedangkan dalam polifoni episode adalah bagian atau seksi
yang berdiri sendiri. Istilah episode juga kadang-kadang digunakan
untuk mengidentifikasi tema kedua pada bentuk rondo.
18.1.8. Disolusi
Disolusi ialah suatu tipe perluasan khusus yang di
dalamnya terdapat satu atau lebih figur-figur dari materi tematik
yang langsung datang sebelumnya dan diolah secara repetisi,
sekuen, dan modulasi. Disolusi mengikuti suatu tema atau bagian
dan mengantar kepada sebuah transisi atau bagian baru.
18.1.9. Koda
Berasal dari bahasa Italia yang berarti ekor. Adalah suatu
potongan yang datang setelah bagian terakhir dari tema atau
bagian yang terakhir. Komposisi yang pendek tidak berisi koda tapi
kodeta atau langsung bagian terakhir dengan kodeta yang pendek.
Koda bisa terdiri dasri beberapa seksi, dengan materi yang diambil
dari beberapa porsi komposisi yang muncul sebelumnya. Materi
baru kadang juga digunakan.
18.1.10. Postlude
Postlude ialah suatu seksi yang berdiri sendiri di akhir
suatu karya yang dapat juga tampil sebagai bagian akhir dari suatu
koda. Postlude berbeda dari koda karena materinya yang berbeda.
Materi yang berdiri sendiri pada polude juga terdapat pada
introduksi. Dengan demikian tujuan postlude adalah menyatukan
(framing) keutuhan komposisi. Kira-kira sepadan dengan
kesimpulan sebagai lawan dari introduksi.
Bentuk-bentuk Lagu Dasar 195
Bab 18
18.2. Bentuk lagu dua-bagian
Bentuk lagu dua bagian adalah contoh struktur biner paling
sederhana yang kedua divisi keseimbangannya secara struktural
memiliki kemiripan dengan unit-unit yang dikombinasikan untuk
membentuk pola-pola yang lebih luas, dan dapat diilustrasikan
sebagai berikut:
• Figure + motif = motif
• Motif + motif = semi frase
• Semifrase + semi frase = frase
• Frase + frase = periode
• Period + period = periode ganda
Ilustrasi 18.1.:
Formula pembentukan periode
Pada bentuk lagu dua bagian masing-masing bagian
memiliki ciri sendiri-sendiri yang berbeda. Ada dua kategori
bentuk lagu dua bagian: (1) sederhana, (2) yg diperluas.
18.2.1. Bentuk lagu dua bagian yang sederhana:
Panjang bagian pertama bisa terjadi dari satu frase hinga
periode ganda. Kadens penutup bagian pertama dapat terjadi
dalam empat kemungkinan:
• Autentik, dalam tonik dari dominanya.
• Autentik, dalam tonik kunci relatifnya
• Kaden setengah dalam dominannya
• Kadens autentik dalam tonik kunci aslinya
Panjang bagian kedua juga berkisar dari sebuah frase
hingga periode ganda. Ciri-cirinya bisa berada dalam kunci yang
sama dengan bagian pertama atau dalam kunci relatif. Kadens
akhirnya adalah autentik dalam kunci asli. Sering terjadi Bagian I
Bentuk-bentuk Lagu Dasar
196
Bab 18
dan II memiliki panjang yang sama. Jika tidak, bagian kedua
umumnya lebih panjang.
Contoh bentuk ini dapat disimak pada lagu rakyat Irish,
Londonderry Air berikut ini:
Ilustrasii 18.2.:
Melodi yang tersusun dari bentuk lagu dua bagian
18.2.2. Bentuk lagu dua bagian yang diperluas
Bentuk lagu dua bagian yang diperluas dapat dibedakan
dari tipe bentuk sedergana melalui empat hal. Yang pertama ialah
terdapatnya potongan-potongan penghubung dan pendukung
(auxiliary member) seperti introduksi, kodeta, koda atau postlude.
Ciri yang kedua ialah bahwa panjang Part I tidak pernah kurang
dari satu periode sedangkan ciri ketiga ialah Part II biasanya lebih
panjang dari Part I. Ciri terakhir ialah bahwa kedua part dapat
diulang.
Bentuk-bentuk Lagu Dasar 197
Bab 18
18.3. Bentuk lagu tiga bagian
Kalau bentuk lagu dua bagian memiliki pola A-B, maka pola
tiga bagian ialah A-B-A. Part ketiga tidak semata-mata
pengulangan tapi merupakan pernyataan kembali dengan beberapa
perubahan. Bentuk ini memiliki pola dalam berbagai ukuran yang
meliputi: periode tiga bagian, bentuk lagu tiga bagian awal, bentuk
lagu tiga bagian, bentuk lagu tiga bagian yang diperluas, bentuk
lima bagian, bentuk lagu dengan trio, bentuk-bentuk rondo,
sonatine dan sonata.
18.3.1. Bentuk lagu tiga bagian awal
Bentuk lagu tiga bagian awal terdiri dari 16 birama dan
merupakan bentuk lagu tiga bagian yang terkecil. Part I terdiri dari
dua frase, yang membentuk apakah pararel atau kontras, yang
terdiri dari empat birama. Part dua berisi sebuah frase empat
birama. Part III adalah pernyataan kembali salah satu atau lebih
dari frase-frase dalam Part I, apakah secara eksak atau dengan
modifikasi.
Jika Part I adalah periode pararel maka Part III mengguna-
kan salah satu dari frase antiseden atau konsekuen. Kadens pada
akhir Part I dan III umumnya ialah kadens autentik sedangkan
pada Part II bisa berupa kadens setengah maupun autentik. Pola
dasarnya adalah sebagai berikut.
Part I Part II Part III
Frase Frase Frase Dari Frase 1
Antiseden Konsekuen atau fraase 2
Ilustrasi 18.3.:
Bahan baku Part III pada bentuk lagu tiga bagian
Ada dua kemungkinan pengulangan pada pola ini ini yaitu:
A :B A:
dan
: A: :B A:
Ilustrasi 18.4.:
Pengulangan pada bentuk lagu tiga bagian
Bentuk-bentuk Lagu Dasar
198
Bab 18
18.3.2. Bentuk lagu tiga bagian reguler
Bentuk lagu tiga bagian ini banyak dijumpai pada karya-
karya instrumental dan solo vokal yang tergolong kecil. Introduksi
dalam kedua jenis yang ada (sederhana maupun independen) pada
karya-karya tersebut umumnya digunakan. Introduksi independen
lebih banyak dijumpai pada karya-karya solo piano daripada
ensambel atau solo dengan iringan demikian pula sebaliknya.
Walaupun demikian pada karya-karya yang besar bentuk lagu ini
jarang didahului oleh introduksi.
Panjang Part I secara umum terdiri/berkisar dari satu
period hingga hingga satu periode dobel atau kelompok frase dan
diakhiri oleh kadens autentik. Part II dapat terdiri/berkisar dari
satu frase hingga periode ganda atau kelompok frase. Biasanya
pada bagian ini terdapat berbagai kemungkinan perluasan.
Melodi Part II bisa merupakan transposisi dari melodi Part
I, yang seringkali dalam bentuk-bentuk tarian. Jika tidak, maka
diambil dari Part I, apakah dari hanya sebuah figurnya atau motif
yang terdapat pada permulaan frase. Atau jika tidak keduanya
maka Part II bisa berisi materi baru yang bersifat independen.
Sementara Part I biasanya diakhiri oleh kadens autentik,
Part II biasanya dlam kadens setengah. Dibandingkan dengan di
antara Part I dan Part II, auxiliary mebers sering terdapat di antara
Part II dan Part III yang diantaranya bisa terdiri dari beberapa atau
salah satu dari kodeta, interlude, disolusi, dan retransisi.
Perubahan pengulangan A pada Part III bisa terjadi melalui
salah satu cara pengolahan yaitu secara eksak atau dengan sedikit
modifikasi, perluasan dan penambahan materi-materi baru
sehingga menjadi lebih panjang dari Part I, benar-benar dimodifi-
kasi tapi masih ciri-ciri Part I masih dapat dikenali, atau suatu
transposisi dari part I.
BAB 19
SONATA: BENTUK KHAS MUSIK KLASIK
K
ata sonata berasal dari kata Italia, sonare atau sounare), yang berarti
membunyikan atau bermain, sebagaimana halnya kantata dari
cantare, menyanyi. Sonata adalah salah satu bentuk bagian
tunggal. Namun karena pembahasannya tidak sedikit maka dibahas
dalam sub bab tersendiri. Ada beberapa istilah berkaitan dengan sonata
yang saling tumpang tindih, seperti bentuk ”sonata allegro”, ”bentuk
sonata”, dan ”sonatina”. Istilah-istilah tersebut menginduk pada istilah
”sonata” yang memiliki dua maksud. Pertama, sonata adalah bentuk
multi bagian pada musik instrumental yang biasanya terdiri dari tiga
atau empat sub bagian; bahkan kadang-kadang bisa hingga lima bagian.
Bagian pertama biasanya dalam tempo cepat, bagian kedua lambat,
bagian ketiga minuet dan trio, dan keempat bagian penutup yang cepat.
Pengertian kedua adalah sebagai nama bentuk bagian tunggal yang
merupakan bentuk standar komposisi instrumental khas Era Klasik.
Sebagai bentuk bagian tunggal, bentuk sonata diterapkan pada berbagai
komposisi solo, musik kamar, ensambel, maupun orkestra. Bentuk sonata
ini umumnya digunakan pada bagian pertama komposisi multi bagian
Pemahaman inilah yang akan dibahas dalam sub bab ini. Bentuk standar
musik instrumental komposisi multi bagian disebut sonata.
19.1. Latar Belakang Historis Sonata
Pola bentuk sonata sebagaimana yang dimaksud dalam sub
bab ini terformulasikan pada period Klasik (1750-1827) sebagai-
mana tampak pada karya-karya instrumental Haydn, Beethoven
dan Beethoven. Walaupun demikian istilah sonata telah lama
digunakan sebagai judul karya musik sejak pertengahan abad ke-
16. Banyak karya-karya yang berjudul sonata yang menggunakan
maupun tidak menggunakan bentuk sonata. Sonata-sonata karya
Gabrieli, Turini, Pasquini, Tartini, Domenico Scarlatti, bach, Haydn,
Lizt, Hindemith, dan Prokofiev adalah berbeda satu sama lain.
Walaupun berbeda-beda namun yang jelas sonata adalah karya
instrumental yang absolut, yaitu tidak programatik) dan tidak
memiliki fungsi tertentu, dan terdiri dari beberapa bagian yang
kontras.
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik
200
Bab 19
Sonata yang melibatkan lebih dari dua orang maka biasanya
digunakan istilah-istilah yang lebih mengarah seperti trio, kuartet,
kwintet, dsb., sebagai pengganti sonata. Khusus pada karya-karya
Renaisans dan Barok istilah sonata kadang-kadang digunakan
secara berganti dengan beberapa istilah lain secara silih berganti.
Dalam hal ini sonata, partita, lesson, suite, dan ordre, sebenarnya
adalah bentuk karya yang sama. Pada keenam karya solo biolanya,
Bach menggunakan menggunakan istilah ”sonata” untuk nomor
satu, tiga, dan lima, sedengkan untuk nomor dua, empat, dan
enam, ia menggunakan istilah ”partita.” Beberapa edisi terbitan
klarya ini hanya menggunakan satu istilah saja yaitu enam sonata
solo.
Sonata adalah bentuk musik instrumental terpenting pada
awal abad ke-17. Saat itu sonata merupakan satu dari tiga trend
produk barok yaitu: (a) ekspresi sekularisasi, (b) pendirian idiom
tonal, menggantikan modalitas, (c) penyempurnaan alat musik,
khususnya keluarga instrumen gesek.
Sebelum abad ke-17, musik seni didominasi oleh musik vokal
sehingga madrigal dan bentuk-bentuk sekular lainnya pada
dasarnya mengekspresikan suatu fungsi liturgis. Di satu sisi
sekularsasi ekspresi menggiring pada perkembangan opera.
Sementara itu pada sisi yang lain sekularisasi juga mendorong
keberadaan musik seni yang tidak menggunakan teks, sebagai
suatu ekspresi abstrak musik yang tidak semata-mata emosi
kelahiran kata.
Pada masa-masa sebelumnya, musik instrumental selalu
mengacu pada musik vokal. Sebagai contoh ialah misalnya motet
abad ke-13, atau yang pernah digunakan dalam pertunjukan tarian
rakyat atau bentuk-bentuk dari tarian seperti estampie. Walaupun
stile rappresentativo dipertimbangkan dengan setting ekspresif untuk
suatu teks vokal solo, kadang-kadang menunjukkan cara
mengekspresikan kemungkinan-kemungkinan musik tampa teks
untuk instrumen solo.
Pendirian tolnalitas dengan penetapan akor-akor relatif dan
kunci-kunci yang jelas, seperti dominan, sub dominan, dan relatif
mayor dan minor, adalah persyaratan khusus untuk suatu bentuk
yang mengkontraskan pusat-pusat tonal sebanyak mengkontraskan
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik 201
Bab 19
melodi-melodi berpola. Dengan pergantian dari modalitas ke
tonalitas maka homofoni menggantikan kontrapung.
Perubahan bentuk sonata-allegro hingga Vinnese School,
melalui tiga perjalanan, dari Barok, Rokok, dan Klasik. Pada
pertengahan abad ke-18, dominasi melodi atas didasarkan atas
tema-tema yang saling kontras, membedakan bentuk instrumental
ini dari tipe-tipe kontrapung terdahulu seperti fuga dan toccata,
yang didasarkan atas motif atau subjek.
Ilustrasi 19.1. :
Legrenzi, Sonata Quarta, Op. 10
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik
202
Bab 19
Sejak sonata menjadi khusus sebagai suatu pola instrumental,
perkembangan instrumen berkaitan dengan evolusi bentuk ini.
Dalam hal ini biola di Itali selama abad ke-17 dan ke-18 menjadi
sangat penting. Aliran pertama permainan biola berkembang di
Itali pada awal abad ke17, dan awal sejarah bentuk sonata
ditemukan pada karya-karya komponis biola pada masa atau aliran
ini, seperti Rossi, Fontana, Legrenzi, yang diikuti oleh Valentini,
Vitali, Basani, Tartini, Vivaldi, dan lain-lain. Setelah Barok
berpindah ke Rokoko dan klasik, karakter sonata berubah, pusatv
kreativitas berpindah dari Itali ke Jerman, dn harpsichord yang
kemudian menjadi piano, menggantikan kedudukan biola sebagai
instrumen terpenting yang menggunkan bentuk sonata
Pada abad ke-16 bentuk-bentuk instrumental pada mulanya
meminjam dari bentuk-bentuik dasar musik vokal. Karya
instrumental canzona aslinya adalah karya yang didasarkan atas,
atau transkripsi dari karya vokal. Contoh tertua mungkin ialah
Tsaat Een Meskin (Inggris: A Maiden sat), 1501, oleh Obrecht (1452-
1505). Dari tahun 1540, bentuk dan seringkal;i tema-tema, dari
chancon Perancis, ditransfer dari media vokal ke organ (canzona
d’organo).
Canzona untuk organ karya Cavazzoni berjudul Faulte
d’Argens (1542-43), didasarkan atas tema chanson, Faulte d’Argent
karya des Pres. Dari tahun 1580, bentuk canzona banyak digunakan
untuk enssambel instrumental (canzona de sonare). Sebuah karya
untuk empat viol (1589) oleh Andrea Gabrieli, walaupun berjudul
Ricercar, sebenarnya adalah canzona. Canzona organ dikembangkan
ke dalam fugue; canzona instrumental, dengan kontras di antara
seksi-seksi yang meningkat, dikembangkan ke dalam sonata.
Sonadas sebagai suatu judul untuk tarian-tarian instrumental
terdapat pada koleksi karya-kadya lute Villancicos y Sonadas (1534)
dari Luis Milan. Penggunaan pertama sonata sebagai judul terdapat
pada Sonata per Liuto (1561) dari pemain lute Italia yang buta,
Giacomo Gorzanis, yang sering dihubungkan dengan set tairan-
tarian berpasangan.
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik 203
Bab 19
19.2. Evolusi Sonata
Dari latar belakang historis di atas, dapat dimaklumi bahwa
sonata pada masa Klasik merupakan kulminasi suatu evolusi yang
panjang. Evolusi dari canzona, sonata telah berkembang melalui
empat belas tahap yaitu:
Tabel 19.1. Evolusi Sonata
1 Transisi dari suatu tekstur kontrapuntal, tekstur imitatif
polifonik canzona hingga suatu melodi pokok dengan bass,
atau disebut gaya continuo.
2 Bentuk-bentuk tiga hingga lima bagian, yang pertama dan
terakhir tersusun dalam bentuk fugal allegro; dari sekitar
tyahun 1650.
3 Sonata de camera – judul awal yang digunakan oleh Johann
Rosenmuller (1667).
4 Sonata da chiesa – bentuk empat bagian; pada saat ini tanda
tempo menggantikan nama-nama tarian dan tipe karakter
”da camera” (1687)
5 Sonata keyboard pertama (tipe da chiesa) oleh Johann
Kuhnau (1692).
6 Sonata untuk satu, dua, tiga, atau empat pemain oleh H.
Hiber dan J.S. Bach.
7 Skema tiga bagian, cepat-lambat-cepat dari Neapolitan
Sinfonie (Overture Italia) dari Alessandro Scarlatti.
8 Sonata gerakan tunggal (umumnya dalam bentuk biner,
beberapa lainnya dalam terner) karya Domenico Scarlatti
(1685-1757).
9 Bentuk empat bagian (allegro-adagio-minuet-allegro) yang
digunakan dalam simfoni-simfoni dari komponis Manheim,
Johann Stamitz (1717-1757) dan Georg Monn (1717-1750).
10 Bentuk sonata yang digunakan dalam empat kategori
prinsip oleh komponis-komponis klasik – solo, musik
kamar, simfopni, dan konserto; sonata solo dan konserto
dalam tiga bagian; sonata ensambel dan simfoni dalam
empat bagian.
11 Sonata solo empat bagian dari Beethoven; begian scherzo
menggantikan minuet; penambahan suara pada simfoni.
12 Sonata satu gerakan –Lizt, Sonata in B minor.
13 Pelakuan siklis –Beethoven, Op. 81a; Schumann, Symphony
No. 4; Frank, Symphony in D minor, dan lain-lain.
14 Sonata bentuk bebas abad keduapuluh –Hindemith, Sonata
No. 1; Prokofiev, Sonata No. 7.
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik
204
Bab 19
19.3. Asal Mula Sruktural Bentuk Sonata Allegro
Asal mula bentuk sonata allegro dapat kita maklumi dari
bagian-bagian terakhir karya-karya sonata untuk biola dan untuk
harpsichord oleh komposer-komposer akhir abad ke-17, dan awal
abad ke-18. Pada sonata Barok empat bagian, bagian pertama dalam
tempo lambat; bagian kedua dalam allegro, seringkali berkarakter
imitatif, bagian ketiga dalam bentuk aria atau model gerakan lambat
yang lain, dan yang terakhir dalam gerakan allegro.
Pengaruh suite terhadap sonata dapat dilihat pada prosedur
karya-karya sonata-sonata Barok dan Rokoko sebagai berikut: (a)
pengulangan pada setiap seksi dalam satu bagian; (b) penerapan
permulaan paruh kedua dari bagian dengan dominan atau
transposisi mayor relatif dari kalimat atau subjek pembuka; dan (c)
penggunaan motif-motif atau subjek-subjek, dan bukannya tema-
tema, seringkali dilakukan secara imitatif.
Suatu perubahan yang signifikan terjadi ketika tema-tema
menggantikan subjek-subjek. Prinsip-prinsip kontras dalam suite
dan sonata Barok diterapkan pada area-area kunci yang berbeda tapi
bukan pada subjek. Pada seperempat kedua abad ke-18 cara tersebut
diterapkan pada tema-tema yang berbeda. Area-area tonal yang
berbeda dan tema-tema yang kontras terdapat pada bagian terakhir
sonata biola, di antaranya dari karya-karya Geminiani, Locatelli,
Veracini, dan Tartini. Pola khas dalam bagian terakhir tersebut
adalah sebagai berikut:
║: Seksi I (M.T.) Seksi II (S.T.) :║
(Tonik) (Kunci relatif)
║: Transposisi dari Development :║
Seksi II (S.T.)
permulaan Seksi I (ke
Dominan, atau ke kunci (dalam Tonik)
relatif
Ilustrasi 19.2.:
Area-area tonal yang berbeda dan tema-tema yang kontras
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik 205
Bab 19
Bentuk ini digunakan oleh Scarlatti pada kebanyakan sonata-
sonata bagian tunggal, seperti Sonata dalam G minor sebagai contoh
representatif, dan sonata dalam F minor, sebagai contoh yang
menggunakan bentuk tiga bagian.
Bagian terakhir kebanuyakan karya-karya klavier dari W.F.
Bach dan C.P.E. Bach menggunakan pola seperti di atas. Dalam
bagian Finale, Symphony in D major (1740) karya Georg Monn, adalah
sebuah modifikasi yang cukup signifikan: Tema pokok kembali
secara kabur setelah development, diikuti oleh terme sub ordinat
yang ditranspose ke tonik.
Titik tolak perkembangan sonata adalah pada Clavier Sonata
in G, Op. 17, No. 4 karya J. C. Bach. Dalam karya ini, pola yang
sedang kita diskusikan muncul di bagian pertama. Development
mulai dengan transposisi dominan tema pokok. Seperti pada contoh
Monn di atas, tema pokok kembali setelah development tapi secara
empatik. Materi transisi dan tema sub ordinat ditranspose ke tonik.
Penampilan kembali tema pokok dan tema subordinat setelah
developmen memperjelas perubahan dari pola biner, sebagaimana
tergambar pada ilustrasi di atas, kepada bentuk ternari dari sonata-
allegro.
Pada karya Haydn kristalisasi bentuk sonata allegro terjadi.
Pengulangan hanya terjadi pada paruh yang pertama saja. Beberapa
developmen pada Haydn dan Mozart masih mulai dengan
transposisi dominan tema pokok. Developmen mentransposisi,
mengkombinasikan, dan mengekstraksi fragmentari materi-materi
eksposisi. Teksturnya didominasi oleh homofonik; Subjek-subjek
tidak diperlakukan secara imitatif namun tema-tema didasarkan atas
pola frase-period. Kontras dinamik di antara tema-tema pokok dan
sub ordinat menjadi lebih jelas: Tema pokok asertif dan empatik;
tema kedua—dipengatuhi oleh alur vokal opera-liris dan responsif.
Hubungan kunci menjadi mantap: MT dalam tonik mayor-ST dalam
dominan, atau MT dalam minor-ST dalam mayor relatif.
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik
206
Bab 19
Ilustrasi 19.3.:
Caldara: Trio Sonate G-moll
Transposisi dan fragmentasi materi eksposisi dalam bagian
development sonata-allegro diambil dari sejenis atau perlakuan
motifik yang terjadi dalam bagian suite Barok, segera setelah birama
ganda. Dalam hal ini sikwen, imitasi, dan transposisi materi yang
telah ada sebelumnya banyak digunakan. Transposisi unit-unit yang
lebih luas, dari frase hingga satu seksi penuh, dipelihara untuk porsi
bagian berikutnya. Walaupun demikian teknik fragmentasi tidak
diterapkan pada seluruh tarian barok. Bagian-bagian suite diambil
alih oleh balet Perancis-minuet, bouree, dan gavotte- memperta-
hankan karakter tarian asli dan tidak banyak digarap. Bagian-bagian
suita yang lebih tua-allemande, copurante, saraband, dan gigue-
telah menjadi tidak seperti tarian dan lebih bergaya dan lebih
beresiko terhadap development. Bagian development sonata allegro
berasal dari prosedur deelopment pada tarian-tarian kuno tersebut.
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik 207
Bab 19
Dari canzona melalui sonata da camera dan sonata da chiesa,
sejarah awal sonata menjumpai halaman-halaman musik biola Italia
abad ke-17 dan awal abad ke-18. Ketika sonata klasik menyusul
setelah Barok, dominasi dalam musik instrumental bergeser dari Itali
ke Jerman dan Austria, dan harpsichord dan piano mengalahkan
biola sebagai medium solo untuk bentuk ini.
19.4. Garis Besar Bentuk Sonata
Sonata memiliki tiga seksi utama yaitu Eksposisi,
Development, dan Rekapitulasi. Bentuk sonata sebenarnya
merupakan pengembangan bentuk Ternari yang paling rumit.
Eksposisi adalah representasi dari bagian pertama (A), Development
adalah dari bagian kedua (B) dan Rtekapitulasi adalah kembali ke
bagian Eksposisi namun dengan beberapa perubahan (A1). Pada
dasarnya Eksposisi memberikan kesan berangkat sedangkan
Rekapitulasi adalah kembali. Hal tersebut ditunjukan dari perjalanan
kuncinya. Eksposisi mulai dari kunci Tonika yang berangkat menuju
Dominan, sedangkan Rekapitulasi mulai dari Dominan menuju
Tonika.
Secara literal Eksposisi berari pameran. Maksudnya yang
dipamerkan ialah tema. Namun kadang-kadang bentuk ini didahului
oleh introduksi. Walaupun demikian dalam kenyataannya introduksi
jarang terdapat pada karya-karya solo instrumental. Dalam eksposisi
terdapat dua tema. Tema pertama disebut Main Theme atau Tema
Pokok. Tema pokok biasanya tegas dan bercorak ritmis dan dengan
dinamik keras atau forte. Kunci yang digunakan pada tema pokok
ialah Tonika. Sebelum memasuki tema kedua terdapat transisi atau
jembatan yang mengantar secara bertahap menuju kunci Dominan.
Tema Kedua kadang disebut Secondary Theme atau Sub
Ordinate Theme. Tema kedua sebaliknya, bersifat liris dan lebih
melodis. Setelah diantar oleh transisi, akhirnya Tema Kedua berada
dalam dominan atau bermodulasi pada kunci relatifnya. Tema
pertama biasa disebut dengan berbagai istilah. Di antaranya ada
yang menyebutnya Primary Theme, Main Theme, atau hanya Theme
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik
208
Bab 19
saja. Bagian ini ditutup oleh Codetta, yaitu Coda kecil, atau dapat
berarti penutup sementara.
Introduksi Opsional
EKSPOSISI (diulang) Tema Pokok Tonik
Transisi
Tema Sub Ordinat Dominan atau kunci
relatif
Codetta atau bagian
penutup
DEVELOPMENT Bentuk seksional
Retransisi
REKAPITULASI Tema Pokok Tonik
Transisi
Tema Sub Ordinat Transposisi ke Tonik
Codetta atau bagian
penutup
Coda
Ilustrasi 19.4.:
Bagan bentuk Sonata-Allegro
Berbeda dengan Tema yang tersusun dalam kalimat-kalimat
standar, misalnya delapan birama, bagian development terdiri dari
berbagai macam kemungkinan pengolahan motif. Pada bagian ini
komposer memiliki kebebasan dalam mencurahkan kreativitasnya.
Dengan kata lain bagian ini merupakan wadah kreativitas dalam
mengeksplorasi bahan-bahan yang sebelumnya ada di bagian
Eksposisi. Walaupun demikian baghian ini bisa terdiri dari episode-
episode baru. Kadang-kadang hanya terdiri dari permainan
arpeggio. Satu hal yang signifikan dalam seksi ini ialah pengolahan-
pengolahan yang disertai dengan modulasi dalam jarak waktu yang
pendek; bisa terjadi setengah birama atau satu birama.
Seksi Development membawa kunci dari dominan ke Tonik
secara modulasi beruntun. Dengan demikian seksi ini juga berfungsi
sebagai pengantar menuju kembalinya tema-tema pada bagian
Rekapitulasi. Sebagaimana halnya eksposisi Tema Pokok berada
pada kunci Tonika. Menyusul kemudian ialah transisi yang
mengantarkan pada Tema kedua. Namun kali ini Tema Kedua tidak
lagi dalam Dominant seperti pada Eksposisi, melainkan dalam
Tonika, menandakan bahwa karya akan berakhir.
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik 209
Bab 19
Ilustrasi 19.5 :
Skema analisis Fountaiin (1967) pada Sonata Beethoven,
Op. 10, No. 3
Jika pada Eksposisi terdapat Codetta yaitu penutup sementara
maka pada bagian Rekapitulasi ini ada bagian Coda dengan kadens
sempurna. Kadang kadens ini juga diulang-ulang guna mencapai
ketegasan. Berikut ini ialah contoh analisis bentuk sonata pada
sebuah karya Anton Diabelli oleh Prier (1996, 93-98).
Walaupun seluruh Sonata ini terdiri dari tiga bagian, yaitu
Allegro Moderato, Largo maestoso – Rondo (Allegro ma non troppo).
Ekstrak di atas adalah hanya analisis bagian pertama karena
menggunakan bentuk sonata allegro (walaupun judulnya Sonatine),
sesuai dengan topik pembahasan pada bab ini.
Eksposisi pada Sonatine ini sangat singkat yaitu terdiri dari 30
birama. Tema pertama tersusun dari delapan birama, yang terbagi ke
dalam 2 frase empat birama. Ciri khas tema karya ini adalah pada
ritme dan cenderung ke bawah dan iringan yang yang kuat pula
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik
210
Bab 19
(lihat birama 1 hingga 4) namun pada ulangannya (empat birama
kemuidian) iringannya mengalami perubahan.
Bagian Peralihan terdiri dari 12 birama dan secara keseluruhan
terbagi menjadi dua bagian. Delapan birama pertama membentuk
satu kalimat dalam Tonika dengan motif yang berbeda dari tema
pokok. Bagian ini iramanya menjadi tenang. Ketika memasuki
delapan birama yang kedua terjadi percobaan modulasi namun
dibatalkan (empat birama pertama).
Pada empat birama kedua dari kalimat kedua ini barulah
terjadi modulasi secara beruntun yaitu: F-G-C-G-C-D7-G. Dua akor
terakhir merupakan kadens sempurna dalam kunci G sehingga
bagian yang datang kemudian yaitu Tema Kedua, berada dalam
kunci G.
Tema Kedua juga terdiri dari delapan birama yang terbagi
menjadi dua bagian frase. Pada bagian ini tema bermain pada nada
bas (lebih rendah atau di bawah iringan) selama dua birama. Pada
dua birama berikutnya disahut oleh suara atas (sopran). Kempat
birama tersebut kemudian diulang namun dengan variasi hiasan.
Epilog Eksposisi yang terdiri dari tiga birama sangat sederhana dan
pendek. Bagian ini diolah dengan dua kali permainan skala dalam
dominan dengan kadens sempurna dalam kunci G.
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik 211
Bab 19
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik
212
Bab 19
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik 213
Bab 19
Ilustrasi 19.6.:
Diabelli, Sonatine IV
Developnment karya ini sangat singkat yaitu 20 birama. Bahan
yang diolah diambil dari Tema I. Empat birama pertama diolah
dalam berbagai modulasi yaitu E7-Am; B7-Em sehingga
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik
214
Bab 19
menimbulkan ketegangan. Pada delapan birama berikutnya
ketegangan ditingkatkan dengan menggunakan akor-akor diminished
(menyempit) yang diulang-ulang hingga lima kali. Ketegangan
tersebut didukung dengan posisi yang semakin meninggi hingga
birama ke-48.
Sejak birama ke-48 ketegangan mengendor. Melodi menurun
dan iringan berhenti. Gerakan tangga nada menurun diulang dan
sekaligus tempo dan dinamik menurun sebagai persiapan menuju
bagian yang baru yaitu rekapitulasi. Pada bagian rekapitulasi jumlah
biramanya lebih panjang sebanyak tiga birama dari eksposisi. Tema
Pokok hadir persis seperti pada eksposisi dan masih dalam Tonika.
Bagian peralihan, walaupun masih menggunakan bahan yang sama
namun diolah secara berbeda dan dibuat sedemikian rupa sehingga
tidak mengantarkan ke dominan melainkan ke Tonika. Akhirnya
Tema kedua hadir (birama 72-79) tanpa perubahan, namuin kali ini
tidak dalam Dominan melainkan dalam Tonika.
Sebagai penutup bagian ini Codetta, yang oleh Prier disebut
Epilog, diolah dalam permainan skala naik sebanyak dua kali, dua
kadens biasa, dan empat kali tangga nada menurun sementara
iringannya berhenti. Akhirnya karya ini ditutup dengan permainan
dua kali akor tonika. Walaupun Sonatine ini cukup sederhana
ternyata memiliki struktur yang jelas. Dalam Developmen tidak
terdapat motif-motif Tema kedua, melainkan Tema Pokok yang
diolah sedemikian rupa agar tifak menjemukan.
19.5. Bentuk Sonatine
Sonatine atau Sonatina, adalah diminutif sonata, artinya sonata
dalam proporsi yang lebih kecil. Kata Sonata digunakan untuk dua
pengertian: (a) sebagai referensi bagi bentuk bagian tunggal; (b) sebagai
komposisi tiga bagian. Oleh karena itu karya tiga bagian seperti Sonatine,
bagian pertamanya tersusundari bentuk sonatine.
Judul sonatine memiliki kaitan dengan beberapa karya Barok yang
bukan merupakan sonatine dalam pengertian saat ini. Sebagai contoh
ialah koleksi Klavier ketiga dari Handel No. 10, memiliki 19 birama dan
dalam bentuk biner yang sederhana. Bach menggunakan sonatine satu
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik 215
Bab 19
kali dalam karya pendek instrumental yang merupakan introduksi
Cantata No. 106, Gottes Zeit ost die allerbeste Zeit.
Di masa Klasik (1750-1827) bentuk sonatine yang definitif berdiri.
Bentuk gerakan tunggal sonatine adalah sebagai berikut.
EKSPOSISI Introduksi Jarang
Tema Pokok Tonik
Transisi Kadang dihilangkan
Tema Sub Ordinat Dominan atau kunci
relatif
Codetta Bagian penutup
Bagian Tengah Pengembangan singkat
Episode yang berdiri
sendiri
Retransisi Dengan akor tunggal,
lseperti pada birama 45
Sonata Beethoven, Op. 1
No. 1, pada bagian
lambat
REKAPITULASI Tema Pokok Tonik
Transisi
Tema Sub Ordinat Tonik
Codetta Bagian Penutup
Coda Jarang digunakan
Ilustrasi 19.7:
Skema Umum Sonatatine
Perbedaan Sonatine dan Sonata Allegro
1. Materi sonatin lebih ringan dibanding sonata allegro
2. Penggunaan introdksi dalam sonatine lebih jarang
3. Transisi di antara tema pokok dan tea subordinat terkadang
dihilangkan.Jika ada, biasanya sangat pendek.
4. Tema penutup biasanya sebuah codetta atau suatu pengulangan
kelompok kadens, bukannya sebuah seksi yang berdiri sendiri.
5. Developmet , jika ada tidak panjang.
6. Koda singkat .
Sonata: Bentuk Khas Musik Klasik
216
Bab 19
• Bacaan untuk Pendalaman:
Prier Sj,1983.Ilmu Bentuk dan Analisa Musik. Yogyakarta: Pusat
Musik Liturgi.
Leon Stein.1979.Structure & Style, Expanded Edition.New Jersey:
Summy-Birchard Music.
• Latihan-latihan:
1. Apa yang Anda ketahui tentang sonata dan sonatine?
2. Jelaskan secara singkat evolusi sonata?
3. Transposisi dan fragmentasi materi eksposisi dalam bagian
development sonata-allegro diambil dari sejenis atau
perlakuan motifik yang terjadi dalam bagian suite Barok,
segera setelah birama Apa?
4. Apa yang dimakasud denga Coda, codetta?
5. Sebutkan bagian-bagian sonata!
BAB 20
ORKESTRA
O
rkestra adalah formasi kelompok musik besar yang memiliki
susunan instrumen musik terlengkap di antara kelompok-
kelompok musik yang lain. Di samping memiliki formasi
standar, kadang-kadang orkestra juga secara fleksibel melibatkan
instrumen-instrumen lain. Untuk memahami orkestra dan alat-alat
musiknya maka dalam bab ini akan dipaparkan sejarah singkat orkestra,
formasi orkestra, dan instrumen-intrumen pendukung orkestra yang
meliputi seksi gesek, tiup kayu, tiup logam, dan perkusi.
Pada masa Yunani kuno, orkestra berarti ruang di antara
penonton dan panggung yang biasanya ditempati oleh paduan suara
dan pemain alat musik. Dalam bahasa Yunani, orkestra berarti “tempat
menari”. Di beberapa gedung teater maupun pertunjukan, orkestra
adalah tempat duduk yang terletak tepat di depan panggung
pertunjukan. Ruang ini biasanya digunakan oleh para pemain ensambel
musik pengiring teater atau tari. Pada saat ini tentu saja yang dimaksud
dengan istilah orkestra ialah sebuah ensambel instrumental yang besar
dengan dukungan sejumlah kira-kira 100 pemain (Randel, 1978: 356).
20.1. Tinjauan Singkat Sejarah Orkestra
Dokumen-dokumen sejarah menunjukkan bahwa orkestra
telah ada sejak masa kekuasaan Edward IV, di abad ke-14, dan
juga satu abad kemudian pada masa kerajaan Francis. Orkestra-
orkestra awal ini melibatkan alat-alat musik seperti lute, viola,
flute, drum, dan virginal. Sejak abad ke-15 dan 16. Para bangsa-
wan di Itali meminta para musisi bermain musik untuk kepen-
tingan berdansa di dalam rumah mereka.
Pada abad keenambelas, opera Euridice karya Peri pada
tahun 1600—menggunakan orkestra lute yaitu salah satu
pendahulu gitar, dan sebuah hapshicord, salah satu pendahulu
piano. Ensambel-ensambel ini tentu saja masih primitif. Namun
Orkestra
218
Bab 20
dua dekade setelah pertunjukan perdana operanya Peri, orkestra
mengalami transformasi.
Claudio Monteverdi, yang menjadi tokoh musisi abad ke-17,
menggunakan orkestra yang terdiri dari 39 pemain untuk
mengiringi operanya Orfeo (1607). Saat itu apa yang dilakukannya
merupakan hal baru yang belum pernah ada sebelumnya dalam
formasi orkestra. Ensambel Monteverdi melibatkan seluruh
anggota keluarga viol, flute, cornet, suckbuts (pendahulu
trombone), lute, organ, hapsichord, dan harpa. Untuk
meningkatkan kemampuan ekspresif ensambel dalam rangka
menghasilkan orkestra yang lebih ramai dan diperluas ini
Monteverdi menggunakan efek-efek baru seperti pizzicato dan
tremolo.
Monteverdi adalah komposer yang telah memberikan
kontribusi yang belum pernah dilakukan sebelumnya terhadap
perkembangan okestra. Di antara kontribusinya ialah
menggunakan orkestra dalam pertunjukan drama panggung.
Dengan introduksi dan ritornelli ia menyusun iringan yang tepat
untuk mengikuti aksi-aksi teatrikal. Untuk keperluan tersebut ia
menulis semacam insting bunyi bagi gaya orkestra dengan
memanfaatkan daya tarik harmoni, tekstur, dan warna suara, yang
benar-benar merupakan bagian imitatif yang independen. Dengan
demikian Monteverdi telah benar-benar memperluas vokabulari
harmoni yang memungkinkannya untuk dipertimbangkan sebagai
Bapak Ilmu Harmoni Modern. Berkat Monteverdi, suara tidak lagi
semata-mata didukung oleh akor-akor dasar. Dalam karyanya
Orfeo kita dapat menjumpai berbagai eksplorasi bunyi orkestra
yang kaya. Lebih jauh lagi, ia bahkan menggunakan nada-nada
disonan untuk mencapai kontras warna.
Pada awal abad ke-17 musik orkestra berkembang seiring
dengan kemajuan di bidang teater terutama opera. Pada masa ini
kreatifitas komponis terpacu untuk mengeksplorasi bunyi untuk
keperluan pertunjukan opera. Opera itu sendiri berasal dari Italia
dan diikuti Jerman. Dresden, Munich, dan Hamburg adalah kota-
kota yang banyak membangun gedung-gedung opera.
Orkestra 219
Bab 20
Para komposer abad ke-17 kemudian meneruskan berbagai
eksperimen untuk mengembangkan orkestra. Lully adalah
komposer pertama yang melakukan eksplorasi bunyi instrumen
berdawai, baru kemudian disusul oleh Alessandro Scarlatti, salah
satu di antara orang-orang yang mempelopori kuartet gesek
(string quartet) sebagai inti dari seksi gesek (strings). Peningkatan
kekayaan dalam penulisan seksi gesek, kontras-kontras yang
saling beradu, dan perhatian terhadap peranan penting kuartet
gesek, dapat kita lihat pada komposisi-komposisi concerto grosso
karya Handel dan Bach.
Pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 grup-grup
pemain instrumen musik dibentuk dari orang-orang yang
berbakat. Seorang komposer seperti Johann Sebastian Bach
memegang kendali terhadap semua pemain-pemain berbakat di
kotanya, sedangkan Handel menyewa para musisi terbaik yang
ada. Dan bagi para penyanyi atau musisi yang menulis ataupun
menampilkan karya terbaiknya akan menerima bayaran yang
tinggi. Handel memproduksi berbagai macam versi the Messiah
hampir setiap tahun.
Tampaknya formasi-formasi orkestra standar berkembang
pada abad ke-18. Orkestra-orkestra yang digunakan oleh Haydn
dan Mozart untuk simfoni-simfoninya pada mulanya berkembang
di kota Jerman dan Mannheim. Pada tahun 1745 Johann Wenzel
Anton Stamitz menjadi kondaktor Mannheim Orkestra. Ia adalah
kondaktor pertama yang kenaruh perhatian pada detil-detil
pertunjukan yang sangat keras dalam menuntut disiplin para
pemain orkestra. Pertunjukan-pertunjukannya telah menciptakan
orkes simfoni pertama sebagai suatu organisasi yang unik pada
masanya. Ia adalah orang pertama yang mengeksplorasi dinamik
dalam pertunjukan orkestra seperti crescendo dan diminuendo. Ia
sempat mengejutkan tokoh-tokoh pada masanya, termasuk
Mozart, dengan kekompakan orkestra yang dipimpinnya.
Ketika para bangsawan mulai banyak membangun tempat
tinggal mereka jauh di luar kota, mereka mulai menyewa
beberapa musisi untuk bermain tetap secara ensambel. Beberapa
komposer seperti Joseph Haydn kemudian mempekerjakan secara
Orkestra
220
Bab 20
tetap beberapa pemain musik. Di saat yang sama, pemain musik
keliling mulai menulis komposisi untuk menunjukkan kemahiran
mereka dan selama di perjalanan dari kota ke kota mereka
menyusun komposisi-komposisi lagu. Kelompok orkestra
aristrokrat saling bekerjasama sepanjang waktu untuk berlatih
bersama untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam
bermain ensambel musik.
Mannheim memiliki sebuah orkestra tersohor yang terkenal
karena notasi dari komposisi yang dinamik dan susunan
instruksinya sangat jarang ditemukan sebelumnya dan kemudian
menjadi standar orkestra pada masa itu. Orkestra Manheim juga
menekankan pentingnya kerapihan dalam permainan melodi yang
bersih, susunan harmoni yang homofonik, lirik lagu yang singkat,
dan irama yang berulang-ulang, pada setiap pertunjukan.
Orkestra Mannheim yang didukung oleh 40-50 pemain,
untuk pertama kalinya menunjukkan koordinasi dan
keseimbangan berbagai seksi instrumen. Terdapat 20 biola yaitu
10 biola pertama dan 10 biola kedua; 4 viola dan 4 cello; 2 bas; dan
masing-masing dua pemain untuk flute, oboe, horn, dan bassoon;
satu trumpet dan satu timpani. Kecuali untuk amplifikasi kecil
dalam seksi tiup kayu, khususnya 2 klarinet, formasi tersebut
pada dasarnya adalah formasi orkestra yang digunalan Haydn
dan Mozart untuk karya-karya terbaik mereka. Dibandingkan
dengan Haydn, Mozart lebih meningkatkan signifikansi tiup kayu
dalam tekstur orkestra.
Melalui Beethoven, banyak instrumen-instrumen yang
mencapai posisi-posisi baru dalam orkestra, khususnya tiup
logam, bas, dan timpani. Beethoven telah memperkenalkan
instrumen-instrumen orkestra yang baru pada masa itu seperti
piccolo, double bassoon, trombone, dan berbagai instrumen perkusi
seperti triangle, simbal, dan bass drum. Di samping itu Beethoven
juga mengembangkan sumberdaya artistik musik orkestra dengan
membuka kemungkinan-kemungkinan baru pada sonoritas,
dinamil dan warna suara.
Setelah Beethoven, banyak komposer lain yang
menginterpolasi instrumen-inetrumen baru ke dalam orkestra
Orkestra 221
Bab 20
untuk mencapai berbagai timbre, warna, dan efek baru.
Mendelssohn adalah komposer pertama yang menyertakan tuba
dalam musik simfoni; Di bawah tangan Wagner tuba mencapai
signifikansi yang belum pernah didapat sebelumnya. Meyerbeer
memperkenalkan bass-clarinet; Rosini memperkenalkan English
Horn, dan Berlioz memperkenalkan bebagai jenis klarinet.
Virtuositas berbagai instrumen orkestra benar-benar
dikembangkan setelah masa Beethoven. Upaya Berlioz dalam
memperkenalkan beberapa instrumen tiup kayu berkunci telah
merevolusi ilmu pertunjukan tiup kayu. Sejak itu banyak dijumpai
tuntutan bagian-bagian permainan skala yang sulit dan bagian-
bagian kromatis cepat yang tidak jelas. Di samping itu juga ada
posisi-posisi menutup lubang instrumen tiup yang tidak wajar
dan menuntup cara meniup khusus guna menghasilkan efek-efek
akustik tertentu. Hal baru lain di antaranya ialah penerapan valve
dan piston (aksesori semacam klep regulator) pada instrumen-
instrumen horn dan trumpet, yang memudahkan permainan
skala.
Setelah Beethoven orkestra mengembangkan warna-warna
suara secara brilian. Dengan menggunakan seksi instrumen gesek
yang dikelompok-kelompokkan, sebagaimana yang ditemukan
pertama kali pada karya-karya Weber, Schubert, dan
Mendelssohn), yaitu formasi kuartet gesek tradisional yang
dipecah ke dalam kelompok-kelompok yang lebih banyak, tekstur
musik gesek menjadi lebih kaya dan dalam. Berlioz, wagner, dan
Mahler memberikan jangkauan warna suara tiup logam dan tiup
kayu yang lebih besar dibandingkan dengan komposer-komposer
sebelumnya. Di samping itu mereka juga menggunakan perkusi
dengan efek-efek dramatik yang ditingkatkan.
Pencarian warna-warna, kualitas-kualitas intonasi, dan
nuansa-nuansa baru, terus dikembangkan, serta instrumen-
instrumen baru ditambahkan ke dalam orkestra. Banyak
komposer masa kini telah menulis karya-karya orkestra yang
mensyaratkan piano dan organ. Gustav Mahler dan Richard
Strauss bahkan melibatkan mandolin, gitar dan saxophone.
Strauss menyertakan beberapa instrumen penemuannya sendiri
Orkestra
222
Bab 20
guna mengangkat realisme pada penulisan-penulisan programa-
tiknya. Misalnya “instrumen tiup” dalam Don Quixote dan “instru-
men geledek” (thunder instrument) dalam An Alphine Symphony.
Respighi menggunakan phonograph nyata dalam The Pines of Rome
untuk menginjeksi bunyi nightingale ke dalam musiknya melalui
sebuah rekaman.
Selama akhir abad ke-18 para komposer terus
mengumpulkan pemusik untuk satu pertunjukan yang biasa
disebut “Academy” dan biasanya mereka menampilkan kompo-
sisi ciptaan sendiri. Pada tahun 1781 Orkestra Leipzig
Gewandhaus yang dibentuk dari orkestra-orkestra milik para
saudagar mulai berubah menjadi orkestra rakyat yang bisa
dinikmati siapa saja dan tren ini berkembang cepat hingga abad
ke-20. Pada tahun 1815, perkumpulan Handel dan Haydn
didirikan di Boston, pada tahun 1842 New York Philharmonic dan
the Vienna Philharmonic dibentuk, dan di tahun 1858 the Halle
Orchestra dibentuk di Manchester Inggris. Pada saat itu di sekitar
panggung opera ada beberapa pemain musik yang hanya berdiri
berjajar memanjang tapi tidak ikut memainkan alat musik. Namun
keadaan ini berubah pada awal abad ke-19, seiring berkembang-
nya penekannan pada komposisi simfoni dan bentuk asli dari
instrumen musik.
Para ekstremis abad ke-20 lebih nekad lagi seperti misalnya
George Antheil yang menulis Ballet Méchanique untuk orkestra
yang melibatkan bunyi-bunyi pesawat, lonceng-lonceng elektrik,
dan klakson mobil. Gershwin menggunakan klakson taksi
Perancis dalam karyanya An American in Paris; bunyi ketukan
mesin tik manual dimasukkan sebagai instrumen orkestra oleh
Ferde Grofe dalam karyanya Tabloid. Dalam karyanya, Seventh
Symphony, Vaughan Williams menggunakan mesin angin yang
berdesing (whistling wind machine) dan sebuah vibraphone yang
berdering (clanging vibraphone).
Ansambel Simfoni pertama pasca revolusi dibentuk di Uni
Sovyet pada tahun 1922. Idealisme Marxist yang mengakui
kesetaraan semua manusia membuat para pemain musik dalam
orkestra merasa tidak perlu lagi dipimpin oleh seorang kondaktor,
sehingga mereka membuat sebuah panitia sebagai gantinya.
Orkestra 223
Bab 20
Meskipun hal ini sedikit berhasil, tetapi ada kesulitan dasar dalam
konsep komposisinya yaitu saat pergantian tempo musik.
Orkestra bertahan selama 10 tahun di Uni Sovyet sebelum
akhirnya dilarang karena beberapa pemainnya mulai menentang
terhadap beberapa aturan dan kontrol yang mereka anggap terlalu
berlebihan.
Beberapa ensambel seperti the Orpheus Chamber Orchestra
di New York lebih sukses meskipun banyak membuat keputusan
yang terlambat dan tertunda karena ada keinginan memimpin di
antara kelompok mereka sendiri seperti pemimpin instrumen
musik tiup dengan pemain-pemainnya. Sementara itu orkestra
yang lain kembali ke tradisi dasar menggunakan satu pemain
utama, biasanya pemain biola yang merangkap sebagi direktur
artistik dan juga memimpin latihan-latihan seperti the Australian
Chamber Orchestra.
20.2. Formasi Instrumen dalam Orkestra
Orkestra adalah sebuah ensambel dalam ukuran besar
yang melibatkan sebagian instrumen musik yang ada. Instrumen-
instrumen pendukung orkestra terbagi-bagi ke dalam beberapa
seksi, yaitu seksi gesek, seksi tiup kayu, seksi tiup logam, dan
seksi perkusi. Kata orkestra merujuk pada suatu tempat di depan
panggung Yunani Kuno yang disediakan untuk tim paduan suara
pada masa itu. Formasi orkestra berkembang dari waktu ke waktu
dan perkembangan yang sangat pesat terjadi pada abad ke-18 dan
ke-20. Sejak awal abad ke-20 hingga kini susunannya senantiasa
disesuaikan dengan kebutuhan komposisi sehingga perubahan-
perubahan kecil yang terjadi tidak terlalu mengubah kemapanan
formasi yang standar.
20.2.1. Ukuran Orkestra
Dari segi ukurannya orkestra dapat dibagi menjadi dua
macam. Yang pertama ialah orkes kamar (chamber orchestra) yang
didukung oleh 40 pemain atau kurang, dan yang kedua ialah
Orkestra
224
Bab 20
orkestra penuh yang didukung oleh 100 pemain. Formasi besar ini
biasa disebut sebagai orkes simfoni atau orkes filharmonik.
Perbedaan ukuran tersebut tidak memberikan pengaruh yang
signifikan, baik terhadap susunan seksi-seksi instrumen maupun
aturan-aturan dalam orkestra itu sendiri.
Sebagai contoh, di London, Inggris ada dua orkestra besar
yang memiliki jumlah pemain yang berbeda-beda seperti misalnya
The London Symphony Orchestra dan The London Philharmonic
Orchestra. Orkes simfoni biasanya memiliki lebih dari 80 pemain
dan kadang-kadang lebih dari 100 pemain. Walaupun demikian
Ilustrasi 20.1.:
Pertunjukan Musik Orkestra
(Sumber: Encarta Music Corporation)
kapasitas panggung yang akan digunakan. Dalam keadaan
tertentu dapat saja seorang kondakter hanya menggunakan 50
orang atau bahkan lebih kecil dari jumlah tersebut. jumlah yang
pasti untuk pemusik yang digunakan dalam satu pertunjukan
tertentu, di sa mping tergantung dari karya yang akan dimainkan,
juga
Orkestra 225
Bab 20
Pada Ilustrasi di atas tampak kondakter berdiri di depan
orkestra menghadap ke pemain dan membelakangi penonton
sementara para pemain mengarah pada kondaktor dan umumnya
menghadap ke penonton. Pada kelompok biola pertama (first
violins) pemain terdepan dan terdekat dengan kondaktor disebut
Master Konser (concert master selanjutnya disebut CM). Master
Konser tidak hanya merupakan ketua (principal) kelompoknya,
yaitu biola pertama, namun juga wakil operasional kondaktor. Di
samping kanan CM dan di sebelah kiri kondaktor, agak sedikit di
belakang, tampak pemain organ menghadap kea rah kondaktor
dan orkestra. Dengan demikian fungsi CM ialah memimpin
orkestra untuk mengikuti instruksi kondaktor pada saat
pertunjukan berlangsung. Dalam penampian bersama solis seperti
ini kondaktor menjadi mediator penyelaras di antara solis organ
dan orkestra. Formasi tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga
memudahkan koordinasi seluruh komponen orkestra.
20.2.2. Instrumentasi Standar Orkestra dan Variasinya
Orkestra yang lengkap umumnya tersusun dari 4 kelompok
jenis alat musik dengan jumlah tertentu, seperti yang ada pada
susunan berikut ini (disertai dengan jumlah):
1. Seksi Tiup Kayu (wood wind) terdiri dari 1 piccolo, 2 flute, 2
oboe, 2 klarinet bass, dan 2 bassoon. Instrumen tambahan
pada seksi ini ialah horn Inggris (cor anglaise) dan
contrabassoon.
2. Seksi Tiup Logam (brass) terdiri dari 2 – 8 French Horn, 2 – 5
trumpet, 2 –3 trombon, 1 – 2 bass trombon, dan sebuah tuba
3. Seksi Perkusi masing-masing terdiri dari sebuah timpani,
snare drum, bass drum, cymbal, triangle, wood block,
tamborine, marimba, silofon, dan sebuah glokenspiel
4. Seksi Gesek terdiri dari 16 – 30 biola, 8 – 12 biola alto, 8 – 12
violoncello dan 5 – 8 contra bass.
Orkestra
226
Bab 20
Pada akhir abad ke-19 karya-karya simfoni memerlukan
instrumen tambahan di samping instrumen tetap. Penggandaan
alat tiup kayu dan tiup logam yang biasa disebut “pelengkap
standar” mulai digunakan pada pertengahan awal abad ke-19
sebagai tambahan untuk memainkan karya-karya Beethoven.
Pengecualian terdapat pada Simfoni Keempat yang hanya
menggunakan satu flute. Di samping alat-alat pelengkap orkestra
tadi, terdapat berbagai instrumen yang digunakan untuk
keperluan tertentu seperti saxophone, heckelphone, flugehorn,
cornet, harpsichord dan organ.
Saxophone mulai digunakan dalam orkestra pada abad ke-
19 dan ke-20, itupun sebagai instrumen solo pada beberapa karya.
Misalnya pada Pictures at an Exhibition karya Mussorgsky yang
diorkestrasi oleh Ravel, dan Symphony Dances karya Rachmaninoff.
Contoh lain yang menggunakan saxophone sebagai bagian dari
orkes ensambel di antaranya ialah Balero karya Ravel dan
Belshazzar’s Feast karya Walton.
Pada beberapa karya Romantik abad ke-20, euphonium
banyak digunakan. Biasanya instrument ini memainkan bagian
bertanda “Tuba Tenor” seperti pada The Planet karya Holts dan
Ein Heldenleben karya Strauss. Cornet digunakan dalam Swan Lake
karya Tchaikovsky, La Mer karya Debussy dan beberapa karya lain
oleh Hector Berlioz. Meskipun alat-alat ini dimainkan oleh pemain
insrumen lain; Mislanya, pada bagian tertentu seorang pemain
trombone memainkan euphonium.
20.2.3. Koordinasi dalam Orkestra
Dalam sebuah orkestra terdapat suatu sistem hirarki
kepemimpinan yang saling mendukung dan bertanggun jawab.
Setiap seksi instrumen mempunyai seorang pemimpin (prinsipal)
yang bertanggung jawab memimpin kelompoknya dan juga
memainkan bagian-bagian solo saat diperlukan. Seksi gesek
memiliki 4 sub seksi yaitu biola, biola alto, cello, dan bass yang
masing-masing memiliki principal. Walaupun demikian prinsipal
dari seluruh seksi gesek ialah dirangkap oleh prinsipal biola, yang
Orkestra 227
Bab 20
sekaligus juga sebagai CM yang merupakan mediator di antara
orkestra dan kondaktor.
Dalam seksi gesek, masing-masing prinsipal sub seksi,
dikoordinasikan oleh prinsipal seksi gesek (biola). Demikian pula
dengan seksi instrument lain, masing-masing menginduk pada
prinsipalnya, setiap prinsipal bekerja sama dengan prinsipal seksi
yang lain. Seluruh seksi instrument dan sub-sub seksinya
dikoordinasikan oleh CM. Pada saat yang sama setiap pemain
membagi perhatiannya secra seimbang di antara tugasnya masing-
masing, sesame anggota sub seksi, prinsipal instrumennya, dan
terutama kordinasi aba-aba dari kondaktor.
Hirarki koordinasi yang terjadi pada instrumen tiup logam
dan tiup kayu memiliki pola yang kurang lebih sama dengan seksi
gesek. Seksi tiup logam terdiri dari sub seksi trumpet, trombone,
French horn, dan tuba, yang masing-masing memiliki prinsipal
dan menginduk pada prinsipal tiup logam, dari sub seksi trumpet.
Pada instrument tiup kayu pimpinan dijabat oleh prinsipal. Setiap
seksi dan sub seksi memiliki wakil prinsipal, demikian juga CM,
sementara CM sendiri adalah wakil dari kondaktor yang jika
kondaktor berhalangan, CM-lah yang menggantikan.
Dalam beberapa komposisi, beberapa instrumen dituntut
untuk memainkan bagian solo. Misalnya, jika bagian tersebut
terdapat dalam sub seksi tiup kayu, Klarinet, maka prinsipal
klarinetlah yang memainkannya. Dalam seksi gesek misalnya,
bagian solo tersebut hanya dimainkan oleh satu biola, yaitu
prinsipal biola. Khusus untuk seksi perkusi, bagian-bagian solo
diserahkan pada anggotanya atas instruksi atau tugas dari
peinsipal.
Pada mulanya kondaktor tidak digunakan dalam ensambel.
Pada saat itu adalah CM yang dijabat oleh harpsichordist yang
memainkan bagian continuo memimpin para pemusik. Beberapa
orkestra modern juga tidak memiliki kondaktor terutama orkestra
kecil dan orkestra yang khusus menampilkan musik Barok. Musik
klasik Barat merupakan nomer-nomer lagu yang sering dimainkan
untuk konser simfoni. Akan tetapi, orkestra kadang-kadang
Orkestra
228
Bab 20
dimanfaatkan dalam musik yang populer saat ini dan juga
dimainkan di dalam beberapa film.
20.3. Kondaktor
Walaupun profesi kondaktor merupakan hal baru, istilah ini
mulai digunakan pada tahun 1600-an, ketika komposer Perancis,
Jean Baptise Lully, memimpin orkestra dengan sebuah tongkat
rotan dalam memberikan ketukan aba-aba. Pada tahun 1700-an,
pemimpin kelompok biola mempertahankan ketukan dengan
menggunakan busurnya. Pada masa itu kondakting (pemberian
aba-aba) juga dilakukan oleh pemain harpsichord dengan cara
menganggukkan kepalanya untuk mempertahankan ketukan dan
kadang-kadang melambaikan salah-satu tangannya. Ketika
orkestra berkembang pada tahun 1800-an tumbuh suatu
kebutuhan untuk mencari pemimpin yang berdiri di depan dan
mengatur jalannya bermusik.
Tidak seperti sebuah ensambel dengan sekelompok kecil
musisi yang dapat bermain bersama tanpa kehadiran seorang
pemimpin, sebuah orkestra dengan jumlah pemain yang lebih
besar membutuhkan seorang kondaktor. Untuk memimpin
orkestra, seorang kondaktor menggunakan tongkat aba-aba yang
disebut baton.
Orkestra 229
Bab 20
Ilustrasi 20.2.:
Pertunjukan Musik Orkestra
Orkestra
230
Bab 20
Sementara tangan kanan memegang baton sebagai pengingat
tempo dan irama serta variasi perubahannya, tangan kiri
berfungsi untuk mengingatkan aspek-aspek ekspresi, artikulasi,
dinamika, dan lain-lain. Aba-aba yang diberikan kondaktor
didasarkan atas partitur, yaitu notasi dari keseluruhan komposisi
yang dibawakan. Pada partitur terdapat semua detil dari bagian-
bagian (part) yang harus dimainkan atau tidak dimainkan oleh
setiap pemain orkestra. Jika setiap part instrumen, satu baris
paranada hanya terdiri dari jalur tunggal maka pada partitur, satu
baris paranada terdiri dari banyak jalur sehingga satu barisnya
memerlukan satu halaman penuh.
Dari ilustrasi di atas dapat kita bayangkan bahwa
kondakting (memimpin) orkestra bukanlah semata-mata mengu-
asai bagian-bagian aba-aba irama, melainkan juga pengu-asan
seluruh pengetahuan musik dan juga ketrampilan memain-kan
instrumen. Di samping penguasaan pengetahan musik, untuk
menguasai ketrampilan membaca partitur diperlu-kan ketrampil-
an bermain piano hingga tingkat tertentu. Seorang kondaktor juga
perlu menguasai salah-satu instrumen musik sebagai instrumen
mayor, terutama instrumen-instrumen orkestra, dan instrumen
musik lain selain piano sebagai instrumen minor. Hal tersebut
diperlukan sebagai bekal pengalaman dalam merasakan keutuhan
sebuah karya musik.
20.3.1. Tugas Kondaktor
Di antara berbagai tugas kondaktor ialah memilih karya-
karya yang akan dimainkan, termasuk juga menyusun program,
melatih orkestra dan menginterpre-tasikan musik seperti yang
diinginkan oleh komposer. Komposer harus mempelajari
komposisi musik dari suatu program, dan kemudian
mengarahkan orkestra sehingga mereka dapat memainkan musik
sesuai dengan yang ditulis oleh komposer. Ia bertanggungjawab
atas tuntutan tempo dan juga dinamika yang harus dimainkan
oleh orkestra. Jika tempo orkestra berubah, maka mood, warna dan
rasa musiknya juga menjadi berubah. Sehubungan dengan itu
Orkestra 231
Bab 20
kondaktor dapat menentukan dinamika dan tempo sesuai dengan
interpretasinya terhadap tuntutan sebuah komposisi.
20.3.2. Poli Kondaktor
Dalam perkembangan selanjutnya tumbuh ide-ide
revolusioner untuk menghadirkan dua kondaktor dalam sebuah
orkestra. Teknik musik polistylism dan politempo telah menuntun
beberapa komposer untuk menulis komposisi musik yang
dimainkan beberapa orkestra secara berurutan. Tren ini telah
membawa sebuah fenomena, musik polikondaktor, yakni pada
setiap grup musisi dipimpin oleh wakil kondaktor secara terpisah.
Biasanya satu kondaktor utama memimpin beberapa
kondaktor bawahan, dengan cara itu akan membentuk
pertunjukan secara utuh. Beberapa karya yang sangat rumit dalam
hal penggunaan lebih dari satu kondaktor adalah Third Symphony
karya Evgent Kostitsyn yang memerlukan sembilan kondaktor
sekaligus. Charles Ives menggunakan dua kondaktor, satu untuk
menirukan sebuah marching band untuk karyanya yang berjudul
Realization for Symphonic Band.
20.3.3. Kondaktor-kondaktor Dunia
Walaupun hingga kini terdapat sangat banyak kondaktor
kelas dunia namun dalam sub bab ini hanya akan disampaikan
beberapa saja yang sangat terkenal. Mereka itu ialah Lorin Maazel,
Herbert von Karajan, Leonard Bernstein, dan Zubin Mehta.
Lorin Maazel
Komposer yang nama lengkapnya ialah Lorin Varencove
Maazel, lahir pada tanggal 6 Maret 1930 di Neuilly, Perancis. Ia
adalah seorang kondaktor dan pemain biola, yang juga menjabat
sebagai Direktur Cleveland Orchestra dari tahun 1972 hingga
1982. Hingga kini ia dipertimbangkan sebagai orang Amerika
Orkestra
232
Bab 20
kedua yang menjadi kondaktor utama sebuah orkestra terbesar di
Amerika.
Ilustrasi 20.3.:
Kondakter Lorin Maazel
Maazel tumbuh di Los Angeles dan mengawali studi
musiknya pada usia lima tahun. Walaupun ia mulai mengkondak
sejak usia sembilan tahun, debutnya dimulai pada saat dewasa
dilakukan di Itali, pada tahun 1953. Pada saat itu ia mendapatkan
beasiswa penelitian mengenai musik Barok dari beasiswa
Fullbright. Beberapa waktu kemudian ia menerima beberapa
kontrak kondakting dengan Deutsche Oper, Berlin Barat (1965–
71), West Berlin Radio Symphony Orchestra (1965–75), New
Philharmonia Orchestra di London (1970–72; 1976–80), Cleveland
Orchestra (1972–82), French National Orchestra (1977–90),
Pittsburgh Symphony (1986–96), dan Bavarian Radio Symphony
Orchestra (1993–2002). Pada tahun 1982–1984 ia mendapat jabatan
sebagai Direktur Vienna State Opera. Peluang tersebut merupakan
kejutan karena sebelumnya perusahaan opera tersebut belum
pernah dijabat oleh orang Amerika. Pada tahun 2002 ia menjadi
Direktur New York Philharmonic Symphony pada tahun 2002.
Maazel umumnya sangat sesuai untuk musik-musik opera
dan orkestra yang repertoarnya berkisar dari karya-karya abad ke-
18 hingga kontemporer. Di samping tidak berlebihan di atas
Orkestra 233
Bab 20
podium, ia mengkombinasikan kejernihan atau klaritas dengan
kedalaman emosional yang besar.
Hebert von Karajan
Herbert von Karajan lahir di Salzburg, Austria, pada tanggal
5 April 1908 dan meninggal di Anif, dekat Salzburg, pada tanggal
16 Juli 1989. Di samping sebagai kondaktor opera dan orkestra, ia
adalah juga seorang figur musisi internasional yang sangat
terkenal di pertengahan abad ke-20.
Pada masa kanak-kanaknya sangat trampil bermain piano.
Ia menjalani studi musik di Mozarteum, di Salzburg. Debutnya
sebagai kondaktor profesional ialah di Salzburg pada tahun 1929.
Setahun kemudian ia terpilih untuk menduduki jabatan kondaktor
di Ulm, Jerman. Sementara tetap tinggal di kota tersebut hingga
tahun 1934, ia ditunjuk sebagai Kapellmeister di Aachen hingga
1941. Pada saat yang sama ia juga bekerja sambilan sebagai
kondaktor di Berlin State Opera. Ia kemudian berangkat ke Itali
pada tahun 1944. Di Inggris ia telah memberikan kontribusi
terhadap pendirian London Philharmonia pada tahun 1948, dan
pada tahun 1955 menjadi direktur musik pada Berlin
Philharmonic.
Dari tahun 1956 hingga 1964 ia menjadi kondakor utama
Vienna State Orchestra dan juga pada acara Salzburg Festival,
sebuah festival tahunan setiap bulan Agustus. Di samping itu ia
juga sempat menjadi seorang kondaktor pemimpin pada La Scala,
di Milan, dan sebagai seorang kondaktor tamu pada New York
Philharmonic. Pada tahun 1967 Karajan mendirikan tradisi
Salzburg Easter Festival. Dari tahun 1969 hingga 1970, ia menjadi
kondaktor Orchestre de Paris dan akhirnya kembali pada Vienna
State Opera pada tahun 1977.
Gaya Interpretasi musikal Karajan memiliki kelebihan dalam
hal ketepatan dan keobjektifan. Walaupun demikian di antara
tahun 1970an dan 1980-an, however, karakteristik kondaktingnya
lebih tampak pada gaya individual.
Orkestra
234
Bab 20
Leonard Bernstein
Leonard Bernstein yang lahir di Born 25 Agustus 1918,
Lawrence, Massachusetts, Amerika Serikat, dan meninggal di kota
New York pada tanggal 14 Oktober 1990. Sebagai kondaktor,
kelebihannya ialah dalam memimpin baik musik populer maupun
klasik.
Bernstein bermain piano sejak usia 10 tahun. Ia mengikuti
pendidikan di Latin School dan Harvard University (lulus 1939),
dan studi di Curtis Institute of Music, Philadelphia dari tahun
1939 hingga 1941. Ia belajar kondakting dari Serge Koussevitzky.
Pada tahun 1943 ia diangkat sebagai asisten kondaktor pada New
York Philharmonic. Tanda kesuksesannya tampak sejak tanggal 14
November 1943 ketika ia menggantikan tugas kondaktor Bruno
Walter. Tidak lama kemudian ia menjadi kondaktor New York
City Center Orchestra dari tahun 1945 higga 1947 dan tampil
sebagai kondaktor tamu di Amerika Serikat, Europe, and Israel.
Ilustrasi 20.4.:
Leonard Bernstein
Orkestra 235
Bab 20
Pada tahun 1953 ia menjadi orang Amerika pertama yang
mengkondak di La Scala, Milan. Dari 1958 hingga 1969 Bernstein
adalah kondaktor dan direktur musik the New York
Philharmonic. Bersama orkestra ini ia merancang tur internasional
di Amerika Latin, Eropa, the Soviet Union, dan Jepang.
Populasritasnya meningkat tidak hanya sebagai kondaktor dan
pianis tapi juga sebagai komentator dan entertainer. Bernstein
menjelaskan musik klasik pada audiens remaja dalam acara
televisi sebagai “Omnibus” dan “Young People's Concerts. Setelah
1969 ia terus menulis musik dan tampil sebagai kondaktor tamu
dalam beberapa simponi di seluruh dunia.
Sebagai seorang komposer, Bernstein menulis beragam
karya mulai dari tema Al Kitab seperti dalam Symphony No. 1 (juga
disebut Jeremiah; 1942) dan Chichester Psalms (1965); tema-tema
untuk liturgi Yahudi seperti dalam Symphony No. 3 (Kaddish;
1963); hingga ritme-ritme Jazz seperti dalam Symphony No. 2 (The
Age of Anxiety; 1949), yang didasarkan atas puisi W.H. Auden.
Karya-karyanya yang terkenal ialah On the Town (1944), Wonderful
Town (1953), Candide (1956), dan West Side Story (1957; film version
1961). Ia juga menulis karya-karya musik untuk balet seperti Fancy
Free (1944), Facsimile (1946), dan Dybbuk (1974), ia juga menulis
musik untuk film On the Waterfront (1954). Misa-misa karangannya
secara khusus digunakan dalam kesempatan-kesempatan
pembukaan John F. Kennedy Center for the Performing Arts di
Washington, D.C., pada bulan September 1971.
Bernstein juga mempublikasikan The Joy of Music (1959);
Young People's Concerts, for Reading and Listening (1962, rev. ed.
1970); The Infinite Variety of Music (1966); and The Unanswered
Question (1976), taken from his Charles Eliot Norton lectures at
Harvard (1973).
Zubin Mehta
Zubin Mehta, yang lahir di Bombay, India, tanggal 29 April
1936, adalah kondaktor orkestra, direktur musik Los Angeles
Orkestra
236
Bab 20
Philharmonic Orchestra (1962–78), New York Philharmonic
Orchestra (1978–91), dan Israel Philharmonic (from1968).
Ayahnya, Mehli Mehta, seorang pemain biola, adalah salah-
satu pendiri Bombay String Quartet dan Bombay Symphony
Orchestra. Sehubungan dengan itu masa kanak-kanak Zubin
berada di lingkunagn musik Barat. Ia menjalani studi musiknya di
Vienna Academy of Music. Pada tahun 1958 ia menjadi juara
pertama Liverpool International Conductor's Competition dan
menjadi kondaktor asisten pada Royal Liverpool Philharmonic
selama satu tahun. Ia adalah direktur musik untuk Montreal
Symphony dari tahun 1961 hingga 1967. Ia bekerja dalam posisi
yang sama pada Los Angeles Philharmonic dari tahun 1962.
Kesempatan tersebut telah membuatnya menjadi kondaktor
pertama yang mengkondak secara langsung dua orkestra besar
Amerika Utara sekaligus.
Ilustrasi 20.5.:
Zubin Mehta
Orkestra 237
Bab 20
Pada tahun 1965 ia melakukan debutnya di Metropolitan
Opera, New York City, dengan menampilkan opera Aida; debut
opera London-nya terjadi pada tahun 1977 (Otello). Pada tahun
1968 ia menjadi pimpinan penasihat musik untuk Israel
Philharmonic Orchestra. Pada tahun 1978 Mehta menggantikan
Pierre Boulez, sebagai direktur musik pada New York
Philharmonic Orchestra. Ia mengekspresikan minat spesialnya
pada musik Romantik akhir dan para komposer modern awal.
20.4. Bentuk-bentuk Musik Orkestra
Karya-karya orkestra terdiri dari banyak jenis yang sangat
bervariasi. Walaupun jumlah jenisnya senantiasa berkembang
namun bentuk-bentuk yang dimuat dalam tulisan ini adalah
termasuk yang paling perlu diketahui.
20.4.1. Bolero
Bolero ialah tarian Spanyol dalam irama triple, biasanya
diiringi oleh kastanyet. Namun pertama kali dikreasi oleh
Sebastian Cerezo pada tahun 1780. Walaupun secara esensial
bentuk ini bersifat orkestral, Chopin membuat sebuah bolero
untuk solo piano (Op. 19). Bolero yang paling terkenal ialah karya
Maurice Ravel, ditulis untuk penari Ida Rubinstein pada tahun
1928. Karya ini menjadi sangat terkenal sebagai karya orkestra
kemudian hari.
20.4.2. Concertante
Pengertian yang paling umum dari bentuk ini ialah suatu
konserto untuk dua atau lebih instrumen, dan orkestra. Sebagai
contoh ialah karya Mozart berjudul Simfonia Concertante in E Flat
Major, untuk biola, biola alto, dan orkestra (K. 364).
Orkestra
238
Bab 20
20.4..3. Concertino
Konsertino berarti konserto kecil. Pengertian ini sejajar
dengan sonata dan sonatina. Sehubungan dengan itu struktur
konsertino lebih sederhana daripada konserto; bagian-bagiannya
singkat dan seksi development-nya bervariasi. Beberapa komposer
kontemporer Perancis juga menulis konsertino untuk piano dan
orkestra. Komponser-komposer yang menulis konsertino ialah:
Jean Francaix, Arthur Honegger, dan Francis Poulenc.
20.4.4. Concerto
Konserto ialah karya besar untuk 1 hingga 4 pemain solo
instrumen dengan orkestra. Walaupun demikian umumnya untuk
satu pemain solo. Konserto dibuat untuk menampilkan
indivifualitas instrumen solo dan virtuositas pemainnya. Konserto
umumnya terdidri dari tiga bagian. Yang pertama menggunakan
bentuk sonata yang secara tradisional berakhir dengan kadens.
Pada bagian kadens solis memamerkan virtuositasnya tanpa
iringan orkestra. Pada mulanya bagian kadens benar-benar
dilakukan secara improvisasi, sebagaimana yang dilakukan
Mozart, namun dalam perkembangannya kemudian komposer,
pemain, atau kadang-kadang musisi, menulis bagian kadensa
tersebut. Bagian kedua biasanya bersifat liris, kadang-kadang
dalam bentuk dasar (bentuk lagu), dan kadang-kadang dalam
bentuk tema-variasi. Bagian ketiga umumnya ditulis dalam
bentuk rondo yang juga disertai bagian kadensa di bagian
akhirnya.
20.4.5. Divertimento
Istilah ini telah digunakan sejak abad ke-18, biasanya
digunakan secara bertukar dengan serenade, cassation dan
nocturne. Dengan kata lain istilah-istilah tersebut seringkali
diterapkan pada bentuk komposisi yang sama sehingga agak
sukar untuk membedakan karakteristik di antara satu sama lain.
Divertimento biasanya digunakan untuk konser di luar ruangan
Orkestra 239
Bab 20
atau ruang terbuka atau untuk hiburan istana, dan biasanya
memiliki karakter yang ringan. Bentuk ini memiliki beberapa
bagian pendek dan gaya yang bervariasi.
20.4.6. Fantasia
Bentuk ini sangat populer dalam musik instrumental solo.
Beethoven menulis Fantasia untuk Piano, Chorus and Orchestra in C
Minor (Opus 80) yang sangat jarang sekali dimainkan. Karya
orkestra yang sangat terkenal ialah dari komposer kontemporer,
Ralp Vaughan Williams, berjudul Fantasia on a Theme by Thomas
Tallis, yang temanya diambil dari komponis gereja Inggris abad
ke-16, Thomas Tallis. Williams juga menulis Fantasia on Christmas
Carols; fantasia-fantasia untuk opera terkenal juga sering
menampilkan konser-konser salon dan musik band.
20.4.7. Intermezzo
Karya interlude orkestral dalam sebuah opera yang biasanya
dimainkan pada saat layar panggung ditarik. Contoh intermezzo
yang terkenal ialah Cavalleria Rusticana dari komposer Mascagni,
dan Goyecas dari Granados.
Intermezzo sering digunakan secara bertukar dengan “entr’
acte”, yaitu musik orkestra yand dimainkan di antara scene atau
adegan. Walaupun demikian intermezzo juga terdapat dalam
Simfoni No. 4 dalam D Minor karya Schumann. Dalam karya ini
intermezzo adalah sebuah bagian pendek yang berisi muatan
puitis yang ditujukan sebagai suatu transisi di antara dua bagian
yang besar. Di samping itu intermezzo juga adalah sebuah bentuk
musik piano.
20.4.8. March
Mars adalah bentuk musik yang ditujukan untuk mengiringi
orang berbaris, biasanya tersusun dari tiga bagian yang bagian
tengahnya adalah sebuah trio yang liris. Bagian ketiga biasanya
Orkestra
240
Bab 20
mengulang bagian pertama. Umumnya dalam irama 6/8, tapi
kadang-kadang dalam 2/4 dan 4/4. Karya mars terkuno ialah dari
kumpulan musik tarian karya Arbeau, ditulis tahun 1489. Bentuk-
bentuk mars juga terdapat dalam opera Lully dan Mozart; dan
juga dalam oratorio-oratorio Handel. Mozart menulis Turkish
March yang sangat terkenal, dalam musik insidentalnya untuk
Ruins of Athens. Karya-karya mars banyak dijumpai untuk karya
musik keyboard.
20.4.9. Minuet
Sebagai bentuk musik orkestra minuet pertama kali terdapat
dalam suite-suite klasik tua. Biasanya terdapat dalam beberapa
bagian overture Perancis dari Lully, Purcell, dan Handel, dan
sering juga terdapat dalam oratorio Handel. Mozart banyak
membuat minuet-minuet, yang di antaranya juga terdapat dalam
master piece-nya Don Giovani. Di samping itu juga ada minuet yang
bagus dalam opera karya Verdi yang berjudul Rigoletto. Dalam
karya orkestra, minuet biasanya terdapat pada bagian ketiga
sonata klasik, kuartet, dan simfoni.
20.4.10. Nocturne
Aslinya bentuk ini ialah untuk musik piano, namun dalam
perkembangannya banyak digunakan dalam karya-karya orkestra.
Pada masa awal era Klasik, seperti Haydn, dan juga beberapa
yang mengikutinya, menulis nocturne untuk berbagai variasi
ensambel. Dalam hal ini nocturne menjadi sama seperti
divertimento dan serenade.
Konotasi nocturne ialah sebuah karya “musik malam”
terdapat dalam Nocturne karya Mendelssohn yang merupakan
bagian dari karyanya Midsummer Night’s Dream Suite.
Orkestra 241
Bab 20
20.4.11. Overture
Overture adalah sebuah prelude atau pembukaan orkestral
untuk memulai sebuah karya opera; pada era Klasik maupun
Barok overture ialah adalah bagian pembukaan untuk sebuah
suite.
20.4.12. Rhapsody
Bentuk ini biasanya adalah untuk musik piano. Para
komponis orkestra mengembangkan bentuk ini dan kemudian
mengadopsinya untuk musik simfoni. Dalam pengertian Yunani,
raphsody ialah ekspresi puitis karakter kepahlawanan. Contoh
karya orkestra yang terkenal ialah Hungarian Rapshody karya Lizt;
slavonic Rapshody karya Antonin Dvorak; Two Rumanian Raphsody
karya Georges Enesco; dan Rapshody in Blue karya George
Gerswhin.
20.4.13. Rondo
Rondo adalah bentuk berputar untuk musik simfoni yang
diadobsi dari bentuk musik piano. Bentuk ini sering terdapat pada
bagian terakhir konserto. Misalnya, Piano Concerto in D Major (K.
466) karya Mozart ; Piano Concerto No. 4 dan 5 dari Beethoven.
20.4.14. Simfonietta
Simfonietta adalah simfoni kecil. Bentuk ini memiliki
struktur yang lebih pendek dari simfoni dan orkestrasi yang lebih
sederhana. Beberapa komponis abad ke-20 yang telah berhasil
menggunakan bentuk ini ialah Janacek, Prokofiev, dan
Miaskovsky.
Orkestra
242
Bab 20
20.4.15. Suite
Suite lebih dikenal sebagai bentuk instrumental. Bentuknya
merupakan kumpulan tarian Barok. Biasanya dibuka dengan
prelude dan ditutup oleh bagian cepat yang biasa disebut gigue.
Para komposer kemudian mengadobsi bentuk ini ke dalam bentuk
orkestra. Di samping menulis berbagai suite untuk solo instrumen,
Bach dan Handel juga menulis karya-karya suite orkestra. Di
antaranya yang paling terkenal ialah Water Music, suite dalam
gaya orkestra kuno, untuk suatu pesta-air kerajaan di atas sungai
Thames di London, pada tahun 1717, yang dihadiri oleh Raja
George I. Konser pada perayaan tersebut didukung oleh 50 musisi.
Bach menulis empat suite orkestral yang dua di antaranya
sangat terkenal. Yang kedua dalam B minor terdiri dari bagian-
bagian overture, rondo, sarabande, boure, polonaise, minuet, dan
badinerie. Yang ketiga, Suite dalam D mayor, memiliki satu bagian
yang sangat terkenal yaitu Air. Karya ini menjadi sangat terkenal
setelah diaransir oleh Wilhelmj ke dalam transkripsi biola dan
piano.
Pada era Modern, suite karya Modest Mussorgsky yang
terkenal adalah Pictures at an exhibition yang aslinya adalah untuk
solo piano, kemudian menjadi terkenal sebagai karya orkestra,
setelah itu diorkestrasi kembali oleh Maurice Ravel. Suite ini
menggambarkan secara musikal sepuluh lukisan karya Victor
Hartmann. Setelah menyaksikan pameran karya Hartmann
tersebut, Mussorgsky terinspirasi menulis karya ini. Suite ini
dibuka dengan Promenade yang menggambarkan komponis
ketika berjalan di dalam galeri. Tema ini kemudian selalu muncul
di antara bagian yang satu dengan yang lainnya. Dari Maurive
Ravel sendiri, terdapat suite yang terkenal yaitu Rapshody
Espagnole, yaitu sebuah suite orkestra yang memberikan empat
wajah Spanyol, terdiri dari Prelude a la nuit; Malaguena; Habanera;
dan Feria.
Orkestra 243
Bab 20
20.4.16. Symphonic Poem
Puisi Simfoni ialah salah satu bentuk musik orkestra yang
terkenal di era Romantik. Bentuk ini biasa juga disebut sebagai
Puisi Bunyi (Tone Poem). Puisi Simfoni hanya memiliki bagian
tunggal dengan bentuk yang fleksibel, namun dengan suatu
program yang spesifik, atau sebuah puisi, atau sebuah cerita.
Bentuk musik orkestra ini dikreasi pertama kali oleh Lizt
yang terpengaruh oleh drama musik aliran Wagner. Lizt
kemudian berhasrat untuk memperkenalkan prinsip-prinsip
Wagner ke dalam musik simfoni. Untuk mengekspresikannya ia
menulis jenis komposisi dramatik untuk orkestra tanpa teks yang
mengirinya, yang menceritakan suatu kisah; dan guna
memberikan kesatuan yang lebih besar ke dalam musik simfoni, ia
menerapkan teknik leading motive Wagner.
Lizt menulis 12 puisi simfoni yang program-programnya
diambil dari karya-karya Goethe, Victor Hugo, Shakespeare,
Lamartine, dan Schiller. Yang paling banyak terdengar hingga kini
ialah Les Preludes, yang terinspirasi oleh Meditations Poetiques karya
Lamartine. Ide Lizt ini kemudian diikuti oleh komposer-komposer
lain, di antaranya ialah oleh Richard Strauss dengan puisi
simfoninya yang pertama, Macbeth, dan dari Aaron Copland
berjudul El Salon Mexico.
20.4.17. Symphony
Di antara bentuk-bentuk musik orkestra yang lain, simfoni
ialah bentuk orkestra yang paling signifikan. Simfoni ialah sonata
untuk orkestra, yang umumnya terdiri dari empat bagian. Bagian
pertama dalam bentuk sonata, bagian kedua biasanya lambat
dalam bentuk lagu (bentuk dasar) yang liris, kemudian disusul
dengan tema dan variasi, atau bentuk yang lain; bagian ketiga
umumya ialah minuet pada karya simfoni Haydn dan Mozart atau
scherzo pada karya Beethoven. Bagian terakhir atau finale, bisa
dalam bentuk-bentuk sonata, rondo, atau tema dan variasi.
Orkestra
244
Bab 20
Beethoven hanya menulis 9 simfoni. Walaupun demikian
semuanya signifikan sebagai master piece; masing-masing memiliki
karaktersitik berbeda yang menunjukkan kelebihan Beethoven
secara komprehensif. Yang sangat terkenal di antaranya ialah
nomor 5 dan nomor 9. Tema Simfoni No. 5 Beethoven yang
sederhana, yang konon mengekspresikan ketukan pintu pada saat
Beethoven mulai terjangkit tuli, justru sangat menarik. Sesuatu hal
yang belum pernah dilakukan sebelumnya, ialah penambahan
paduan suara dalam simfoninya yang ke-9. Di antara karya-karya
simfoni Mozart yang paling populer hingga saat ini, bukan hanya
di kalangan audiens yang terlatih namun juga para pendengar
awam, ialah Simfoni No. 40.
20.4.18. Waltz
Waltz ialah musik tarian dalam irama ¾ yang biasanya
digunakan untuk musik piano. Dalam formasi orkestra, waltz
dipopulerkan oleh Johann Strauss dan anaknya, Johann Strauss II,
yang banyak menyusun waltz untuk tujuan komersial. Walaupun
demikian tidak sedikit dari karya-karyanya yang lebih
berkonsentrasi pada segi artistik musikal dan hingga kini masih
sering dimainkan di bawah pimpinan kondaktor-kondakor
terkenal. Di antara karya-karyanya ialah The Beatiful Blue Danube;
Tales from the Vienna Woods; Emperor Waltz, Artist’s life; Wine;
Women and Song; dan Voices of Spring.
• Bacaan untuk Pendalaman:
Adler, Samuel. The Study of Orchestration. W. W. Norton &
Company, 3rd edition, 2002. ISBN 0-393-97572-X
Apel, Willi. 1978. Harvard Dictionary of Music. Cambridge:
Harvard University Press.
Del Mar, Norman. Anatomy of the Orchestra. University of
California Press, 1984. ISBN 0-520-05062-2
Orkestra 245
Bab 20
Randel, Don Michael. 1978. Harvard Concise Dictionary of Music.
London: The Belknap Press of Harvard University Press.
• Latihan-latihan:
1. Gambarkan bagaimana pengertian dan keadaan orkestra
pada masa Yunani kuno!
2. Apa pengertian orkestra pada saat ini?
3. Apa kontribusi Monteverdi pada awal perkembangan
orkestra?
4. Apa kontribusi Johann Wenzel Anton Stamitz terhadap
pengembangan orkestra pada tahun 1745?
5. Jelaskan bagaimana susunan orkestra Manheim?
6. An American in Paris ia. lah komposisi orkestra karya siapa?
7. Apakah tugas kondakter?
8. Jelaskan apa yang disebut dengan poli kondakter!
9. Herbert von Karajan ialah kondakter ternama dari negara
mana?
10. Apa maksud bentuk karya orkestra ”Bolero”?
BAB 21
SEKSI GESEK
S
ebagaimana telah dijelaskan, bahwa seksi gesek terdiri dari biola,
biola alto, cello, dan kontra bass. Berikut ini ialah penjelasan dari
masing-masing intrumen tersebut. Penjelasan seksi ini dan juga
seksi instrumen orkestra yang lain meliputi aspek-aspek historis,
konstruksi, sistem penalaan, kekhasan, musik, dan beberapa tokoh
penting. Walaupun demikian penjelasannya disampaikan secara
fleksibel, baik urutan maupun penempatan ilustrasi gambar-gambarnya.
21.1 Biola
Superioritas biola di atas instrumen-instrumen lain dalam
koordinasi permainan musik orkestra tak dapat dipungkiri lagi.
Semua bayang-bayang ekspresif dapat diproduksi oleh nada-nada
biola yang bervariasi. Jangkauan dinamik biola luas mulai dari
pianissimo (sangat lembut) hing fortissimo (sangat kuat). Dalam
orkestra terdapat 30 pemain biola, 16 di antaranya ialah biola
pertama dan 14 lainnya memainkan bagian biola kedua.
21.1.1. Tinjauan Sejarah Biola
Pada mulanya biola digunakan bersama instrumen musik
lain untuk mengiringi tarian. Saat itu biola dianggap sebagai alat
musik dari kalangan bawah namun kemudian menjadi instrumen
solo selama abad ke-17. Biola berasal dari Italy pada sekitar tahun
1500-an. Instrumen gesek mungkin berasal dari instrumen-
instrumen seperti Viele, fiedel, rebec, dan dari Lira da braccio pada
masa Renaissans. Walaupun demikian tampaknya ada instrumen
lain bernama Viol dengan enam dawai di Eropa, yang telah ada
sebelum biola dan keberadaanya berdampingan dengan rebec dan
keluarganya selama sekitar 200 tahun.
Seksi Gesek
248
Bab 21
Pada tahun 1600 an biola memperoleh penghargaan yang
lebih baik setelah digunakan sebagai instrumen pengiring opera-
opera Italia seperti Orfeo (1607) karya Claudio Monteverdi, dan
melalui Raja Louis Perancis ke XIII yang membentuk kelompok
pemusik, 24 violos du rei (‘’raja 24 biola’’) pada tahun 1626. Biola
bekembang baik sepanjang jaman Barok (1600-1750?) dalam karya-
karya dari para pencipta seperti Arcangelo Corelli, Antonio
Vivaldi, dan Giuseppe Tartini di Itali, Heinrich Biber, serta Georg
Philipp Telemann dan Johann Sebastian bach di Jerman. Biola
menjadi dasar dari alat musik solo concerto, concerto grosso,
sonata, trio sonata, dan cocok sebagus yang digunakan dalam
opera.
Ilustrasi 21.1:
Biola dan tongkat penggeseknya
Para pembuat biola pertama yang berasal dari Italia Utara
di antaranya ialah Gasparo da Salo (1540-1609) dan Giovanni
Maggini (1579-1630?) dari Brescia, dan Andrea Amati dari
Cremona. Pada abad ke-17 dan ke-18 telah ada bengkel pembuat
biola di Italia, yaitu dari Antonio Stradivari dan Giuseppe
Guarneri dari Cremona dan seorang orang Austria Jacob Stainer.
Seksi Gesek 249
Bab 21
Biola terdahulu berukuran lebih pendek; lehernya lebih
tebal dan kurang membelok kebelakang dari permukaan biola;
papan jari yang lebih pendek; kamnya lebih datar; dan dawainya
terbuat murni dari dari usus binatang. Busur biola yang pertama
juga memiliki desain berbeda dengan biola sekarang. Perubahan
konstruktif yang mendasar, yang menghasilkan bunyi lebih keras,
nyaring, dan nada yang lebih bagus, terjadi pada abad ke 18 dan
19.
Pada pertengahan abad ke-18 biola adalah instrumen solo
terpopuler di Eropa. Biola juga dijadikan alat musik pada orkestra,
alat yang paling penting dimainkan era Barok dan Klasik(1750?-
1820); dan pada orkestra modern juga masih menjadi alat yang
paling penting untuk dimainkan. Kelompok biola berkembang
dengan jumlah lebih dari pemainnya yang dimainkan di ruang
kecil terdiri dari dua biola, viola dan cello.
Ilustrasi 21.2:
Pemain biola dunia, Yehudi Menuhin
Selama abad ke-19 pemain biola yang melegenda di seluruh
Eropa, di antaranya ialah Giovanni Viotti dan Nicolo Paganini,
Louis Sphor dan Joseph Joachim dari Jerman, Pablo de Sarasate
dari Spanyol, dan Henri Vieuxtemps dan Eugene Ysaye dari
Belgia. Pada abad ke-20 biola mencapai nilai artistik yang baru
Seksi Gesek
250
Bab 21
dan teknik yang tinggi di tangan para pemain biola Amerika, Isaac
Stern dan Yehudi Menuhin, keturunan Austria Fritz Kreisler,
keturunan Rusia Jascha Heifetz, Mischa Elman dan Nathan
Milstein yang menjadi penduduk Amerika, biolis Hongaria Joseph
Szigeti, dan David Oitsrakh dari Rusia.
Di antara para pencipta tunggal dan para pencipta karya-
karya untuk biola adalah Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, dan
Ludwig van Beethoven; di Austria ada Franz Schubert, Jerman
diwakili oleh Johannes Brahms, Felix Mendelssohn, dan Robert
Schumann, dan dari Rusia ialah Peter llyich Tchaikovsky di era
yang penuh dengan keromantisan; Claude Debussy meakili
Perancis, sedangkan untuk Austria ialah Arnold Schoenberg, dari
Hungaria ialah Bela Bartok, dan Rusia diwakili oleh Igor
Stravinsky pada abad ke 20.
21.1.2. Konstruksi Biola
Panjang biola normal (berukuran 4/4) mencapai 60 cm.
Walaupun demikian ada juga yang lebih kecil, yaitu berukuran
3/4 dan 1/2 yang dapat dimainkan oleh pelajar yang masih muda.
Biola adalah salah satu dari keluarga instrumen gesek yang lain
yaitu, biola alto, cello dan kontrra bas.
Di antara instrumen musik gesek, biola termasuk
instrument yang memiliki titinada tertinggi. Busur penggesek
(bow) biola terdiri dari tongkat, kurang lebih sepanjang 75 cm,
dengan bulu-bulu kuda yang direntangkan di antara kedua ujung
tongkat penggesek.
Konstruksi yang terdapat pada seluruh keluarga instrument
gesek pada dasarnya tidak berbeda dengan konstruksi biola.
Walaupun demikian cello dan kontra bas memiliki tongkat
penyanggah di bagian bawahnya (akan dijelaskan kemudian).
Secara detail bagian-bagian biola meliputi:
Seksi Gesek 251
Bab 21
Ilustrasi 21.3.:
Anatomi instrumen Biola
a. Table/ Belly (perut).
b. Ribs, atau papan samping yang memisahkan di antara papan
depan (table) dengan papan belakang.
c. Neck, yaitu leher di antara bagian kepala (peg box) dan badan
(table) biola.
d. Peg box, kotak penala yang berada di bagian kepala.
e. Scroll, hiasan ukir di ujung bagian kepala yang menyerupai
gulungan kain.
f. Tail, yaitu penambat ujung dawai-dawai di bagian bawah
perut (table).
Seksi Gesek
252
Bab 21
Ilustrasi 21.4.:
Bagian-bagian biola
g. Bridge, yaitu keping pembatas tegangan dawai-dawai yang
berada di antara tail dan nut atau batas pada pangkal peg
box.
Seksi Gesek 253
Bab 21
h. Fingerboard, yaitu bidang yang terdapat di bagian depan
leher yang terbentang hingga kira-kira pertengahan belly.
i. Lobang suara.
Pada bagian belly terdapat dua buah lubang suara berbentuk
tanda dinamik Forte ( ). Biola mempunyai 4 dawai dengan
diameter yang berbeda. Pada mulanya, dawai biola terbuat dari
usus binatang, namun pada masa kini telah diganti oleh helaian
kawat tipis dari baja. Untuk dawai-dawai berdiameter besar
dilapisi oleh gulungan semacam perak. Dawai dengan diameter
terbesar ditala untuk nada G (jarak interval 4 di bawah C).
Ilustrasi 21.5.:
Nada-nada Biola pada Posisi Dawai Lepas
Penomoran dawai biola mulai dari yang terbawah sehingga
dawai ini biasa dawai ke-4 atau G. Dawai ke-3 di bawahnya, ditala
satu kwint lebih tinggi sehingga berbunyi D. Demikian
selanjutnya, dua dawai lain di bawahnya ditala satu kwint ke atas
yaitu nada A untuk dawai kedua dan nada E untuk dawai
pertama.
Dawai biola pada mulanya dibuat dari usus binatang. Guna
menghasilkan bunyi yang nyaring dan kuat maka di jaman
modern ini dawai dibuat dari baja dengan proses pembuatannya
menggunakan teknologi canggih.
21.1.3. Karakter Suara dan Register Biola
Di antara karakteristik terbaik biola adalah bunyi yang
mendesing dan bisa dimainkan dengan cepat, bisa dimainkan
Seksi Gesek
254
Bab 21
dengan baik seperti melodi-melodi yang ada pada lirik lagu. Para
pemain biola juga bisa menciptakan efek yang bagus dengan
tekhnik berikut ini: dengan menggunakan jari tanpa stik, dengan
memetik senar-senarnya; dengan mengulang satu nada yang sama
atau dua nada yang sama dengan cepat, menggesek stik pada
senar-senarnya dengan cepat;
Ilustrasi 21.6.:
Wilayah Nada Instrumen Biola
Salah satu teknik biola dikenal dengan istilah sul panticello,
bermain dengan stik yang didekatkan dengan kamnya untuk
menghasilkan bunyi yang ringan, suara seperti kaca; col legno,
bermain dengan stik yang dari kayu; harmoni, dengan meletakkan
jari-jari dari tangan kanan pada bagian-bagian tertentu dari
senarnya untuk menghasilkan bunyi yang ringan, seperti bunyi
seruling; dan glissando, gerakan luwes yang teratur dari jari
tangan kiri ke atas dan kebawah senar untuk menghasilkan nada
naik turun. Register biola adalah yang tertinggi di antara
instrumen gesek, yaitu dari nada G (baca: g kecil) sampai C3 (baca:
c tiga).
21.1.4. Teknik Dasar Permainan Biola
Biola dipegang secara horizontal, di bagian kiri bagian ujung
belakang biola, di antara tulang selangkaan rahang bawah. Lengan
kiri agak ditekan kearah leher, di antara ibu jari dan ruas jari yang
panjang. Biola depegang dengan cara tersebut sehingga bagian
badan biola menghadap ke arah penonton, dan secara khusus
untuk mempermudah penggesekan. Jari-jari tangan kiri harus
menekan senar dengan bentuk sedikit ke depan. Kecepatan jari-
jari menekan dan melepaskan senar akan membedakan
Seksi Gesek 255
Bab 21
keselarasan suara (berhubungan dengan kejelasan vibrasi).
Gerakan jari-jari tersebut tidak hanya secara vertikal tetapi juga
secara menyeluruh sehingga saat memainkannya,baik dengan
semua jari atau jari-jari yang berbeda, nada penuh atau separuh
nada dapat dihasilkan. Untuk mengahsilkan akor didapat dengan
menekan dua senar bersama-sama dan menggeseknya.
Jari-jari tangan kiri diberi lambang nomor 1 sampai
4.Nomor. Nomor satu untuk jari telunjuk, 2 untuk jari tengah, 3
untuk jari manis, dan 4 untuk jari kelingking. Mengubah posisi
penjarian dengan cepat dan halus merupakan kesulitan utama
dalam bermain biola. Penguasaan teknik ini bergantung pada
kekuatan dagu dan pundak, karena keduanya menekan bebas alat
ini dan tangan dapat memindahkannya dengan mudah di
sepanjang leher biola. Otot juga harus dapat digerakkan dengan
mudah untuk menghindari permasalahan dalam gerakan-gerakan
tubuh. Untuk nada-nada yang lebih tinggi kita juga harus
mengubah letak tangan dan jari. Sela jari-jari untuk menghasilkan
suara yang tergolong rendah-dalam hubungannya dengan bagian-
bagian tubuh – berkaitan dengan posisi pertama (posisi
permulaan, dekat nut)
Perubahan posisi bermain pada suatu sisi untuk
memperluas rentang suara dan karenanya membutuhkan teknik
permainan yang murni; di sisi lain perubahan posisi berain juga
berperan penting dala pengungkapan ekspresi dan pada akhinya
dapat diapresiasikan dari sudut pandang estetika. Nada-nada
dalam satu frekuensi yang sama menghasilkan suara yang
berbeda pada beracam-macam senar. Perubahan posisi
berpengaruh pada warna suara. Pilihan penjarian dibutuhkan
sebagai dasar dalam ekspresi teknik bermain bilola untuk
menyajikan berbagai macam gambaran musikal. Sedikit gerakan
yang berkesinambugan dengan perasaan, vibrato, memperkaya
musik dengan sedikit modifikasi pada tinggi rendahnya nada; hal
ini merupakan jenis ekspresi permainan biola.
Seksi Gesek
256
Bab 21
21.2 Biola Alto
Hingga pada akhir tahun 1700an,
biola alto atau viola, mempunyai sejarah
yang sama dengan biola. Secara material
viola sama dengan biola, tapi ukurannya
lebih besar dan proposi-proporsinya lebih
bervariasi. Rata-rata ukuran utuh panjang
viola adalah di antara satu hingga empat
inci lebih panjang dari biola, yaitu 16 inci
atau 14 cm. Viola kecil untuk anak-anak,
panjangnya hingga 12 inci atau 30 cm
Titi nadanya berada satu kwint lebih
rendah dari biola dan biasanya digunakan
sebagai instrument harmoni, baik dalam
ensemble gesek maupun orkes simponi.
Biasanya ada 10 biola alto dalam orkestra.
Ilustrasi 21.7.:
Biola Alto
Biola alto umumnya memberikan kesan suram dan nada
yang dalam sebagai efek yang membingkai kesedihan pada
karakter lagu melankolis.
21.2.1. Karakter dan Wilayah Nada Biola Alto
Seperti biola, viola dipegang dengan cara meletakan bagian
belakang table di bawah dagu, dan bersandar di bahu. Biola alto
berukuran sedikit lebih besar dan ditala juga ditala satu kwint dari
satu dawai ke dawai secara menurun. Viola mempunyai kualitas
nada yang lebih hangat dan gelap dibanding biola. Jangkauan
wilayah nada Viola adalah dari nada C (baca: c kecil) sampai D2
(baca: d dua).
Seksi Gesek 257
Bab 21
Ilustrasi 21.8.:
Wilayah Nada Instrumen Biola Alto
Dalam perjalanan sejarah pembuatannya penetapan ukuran
viola melalui perjalanan yang tidak mudah. Berbagai eksperimen
telah dilakukan untuk meningkat-kan kualitas suaranya. Di antara
pembuat viola ialah Hermann Rutter’s dengan “viola alta”-nya.
Pada saat itu ukuran viola buatannya adalah 18,9 inci atau 48 cm.
Instrumen tersebut dirancang untuk opera-opera Richard Wagner.
Viola model Tetis yang lebih lebar dengan ribs yang lebih dalam,
yang dirancang untuk mencapai bunyi yang lebih baik,
merupakan ukuran non standar. Eksperimen akustik viola
memberikan kontribusi terha-dap kualitas suara yang mendekati
cello. Cara bermain viola ialah sama seperti bermain biola, namun
ukuran fisik viola yang lebih besar dan berat dari biola
memberikan konsekuensi teknis yang lebih sulit atau menantang.
Terdapat bukti bahwa pemain biola yang bermain viola beberapa
bulan, mengalami peningkatan teknis ketika kembali pada biola.
Keempat dawai viola ditala dalam kwint. Penalaan ini
benar-benar berada satu kwin di bawah biola, dan satu oktaf di
atas cello. Dawai keempat ditala menjadi nada C, satu oktaf di
bawah C tengah, sedangkan ketiga dawai berikutnya yang lebih
rendah ditala lebih tinggi menjadi G, D, dan A. Ketiga nada selain
C tersebut juga terdapat dalam biola. Walaupun ada tiga nada
yang ditala sama dengan biola namun kualitas nada dan warna
bunyinya berbeda
Sebagaimana halnya biola, viola juga ditala dengan 4 pasak
(pegs) penala dalam pegs box dekat scroll, tempat melilitkan dawai-
dawai. Dengan mengencangkannya maka akan menaikkan nada
dan dengan mengendorkan-nya maka akan menurunkan nada.
Seksi Gesek
258
Bab 21
Dawai A ditala pada 440 Hz sementara dawai-dawai lain ditala
dalam interval fith murni. Penalaan dilakukan dengan
menggesekkan bow atau biasa juga disebut bowing, pada dua
dawai yang berurutan dalam interval kwint. Penalaan dapat juga
Ilustrasi 21.9.:
Tuning Peg (pasak penala) Biola Alto
dilakukan dengan mencocokkannya pada piano. Sebelum
pertunjukan orkestra dimulai para pemain menala dengan metode
bowing. Penalaan dipimpin oleh CM, dilakukan sebelum
kondaktor masuk ke panggung.
Kebanyakan viola maupun instrument gesek lainnya
memiliki adjuster atau biasa juga disebut fine tuner, yang
digunakan untuk memantapkan talaan. Alat ini dapat mengatur
ketegangan dawai dengan memutar kenop kecil pada alat tersebut
yasng terletak pada penambat ujung dawai-dawai yang lain di
bagian bawah table, tepatnya pada tail piece. Penalaan dengan
adjuster jauh lebih mudah daripada dengan tuning peg. Walaupun
dapat digunakan pada keempat dawai viola, namun umumnya
hanya digunakan untuk menala dawai A
Walaupun talaan standar viola adalah C-G-D-A, kadang-
kadang viola ditala secara berbeda baik dalam musik klasik
maupun dalam musik rakyat. Cara seperti ini disebut scordatura.
Mozart dalam Sinfonia Concertante for Violin, Viola and Orchestra
dalam Es mayor, menulis part viola dalam D mayor dan meminta
agar dawai-dawai viola dinaikkan satu semi tone. Tujuannya untuk
Seksi Gesek 259
Bab 21
untuk menghasilkan bunyi viola yang lebih cemerlang sehingga
tidak tenggelam oleh instrument lain dalam ensambel. Lionel
Tertis dalam transkripsi karya Elgar, Cello Concerto, menulis
bagian lambatnya dengan menurunkan talaan Lionel Tertis, in his
transcription of the Elgar cello dawai C menjadi Bes, agar viola
dapat memainkan nada-nada dalam jarak satu oktaf lebih rendah.
Dalam keadaan tertentu, dawai C dapat ditala hingga nada D.
Pada orkestra-orkestra masa awal, bagian viola seringkali
terbatas pada permainan harmoni dengan sedikit materi melodis.
Ketika viola diberi bagian melodis dalam musik masa itu,
seringkali disusun dalam unisono atau oktaf, pada dawai yang
mana saja. Sebagai perkecualian adalah pada Brandenburg
Concerto No. 6 dari J.S. Bach, yang menempatkan dua viola dalam
peran melodic. Dalam naskahnya disebutkan bahwa karya
tersebut adalah untuk 2 violas, 1 cello, 2 violas de gamba, dan
continuo. Sebuah contoh karya sebelum abad ke-20 yang
menampilkan part solo viola ialah Harold in Italy karya Hector
Berlioz. Walaupun demikian peranan viola juga terdapat pada
beberapa karya Barok dan Concerti Klasik, seperti dari Telemann
yang menulis salah satu concerto viola paling awal, Franz Anton
Hoffmeister dan Carl Stamitz.
Viola memainkan peranan penting dalam musik kamar.
Mozart berhasil membebaskan instrument ini dari perananan
pada umumnya, dalam keenam karya kuintet geseknya yang
merupakan beberapa di antara karya-karya adiluhungnya.
Kuintet-kuintet tersebut mengguna-kan dua viola, yang
membebaskan viola, khususnya yang pertama, untuk bagian-
bagian solo dan meningkatkan berbagai variasi dan kekayaan
suatu ensambel. Mozart jujga menulis viola untuk karya Simfonia
Concertante yang melibatkan dua solois, viola mendapatkan
peranan yang seimbang dengan biola. Dari karya-karya awal
Johannes Brahms tviola banyak ditampilkan. Publikasi karya
musik kamarnya yang pertama yaitu sextet untuk instrument
gesek, opus 18 berisi sejumlah bagian solo untuk biola pertama.
Seksi Gesek
260
Bab 21
Brahms juga menulis Two Song for Alto with Viola and
Piano (Zwei Gesänge für eine Altstimme mit Bratsche und
Pianoforte), Op. 91, \"Gestillte Sehnsucht\" atau \"Satisfied Longing\"
atau \"Geistliches Wiegenlied\" atau \"Spiritual Lullaby,\" sebagai
hadiah untuk pemain biola terkenal Joseph Joachim dan istrinya,
Amalie. Antonin Dvořák bermain viola, dan ia mengatakan bahwa
instrument tersebut adalah favoritnya. Karya musik kamarnya
kaya dengan bagian-bagian penting untuk viola. Komposer Czech
yang lain, Bedřich Smetana, melibatkan part viola yang signifikan
dalam kuartetnya, \"From My Life\"; kuartet tersebut mulai dengan
suatu pernyataan impassioned yang dibawakan oleh viola.
Felix Mendelssohn muda menulis sebuah sonata untuk viola
dalam C minor yang sangat terkenal (tanpa nomor opus, tahun
1824). Karya ini memiliki keindahan melodi di antara karya-karya
awalnya, namun cukup mengherankan bahwa karya ini sangat
jarang dimainkan di gedung-gedung konser. Kadang-kadang viola
memiliki peranan yang besar dalam musik orkestra, sebagaimana
terdapat dalam Enigma Variations karya Edward Elgar, yang sering
juga disebut “Ysobel”. Sementara repertoar viola cukup luas,
jumlah karya yang ditulis oleh komposer abad ke-20 secara relatif
masih sangat kecil.
Dalam pengembangan instrumen ini tampaknya para
pemain viola perlu membuat transktipsi dari instrumen lain.
Terdorong oleh tuntutan spesialis sebagai pemain solo, misalnya
Lionel Tertis, pada masa awal abad ke-20, lebih banyak komposer
yang menulis untuk viola. Para komponis Inggris seperti
Englishmen Arthur Bliss, York Bowen, Benjamin Dale, dan Ralph
Vaughan Williams, menulis karya-karya musik kamar dan karya-
karya konser untuk Tertis. William Walton, Bohuslav Martinů dan
Béla Bartók menulis karya-karya konserto untuk viola yang
kemudian menjadi terkenal.
Satu di antara beberapa komponis menulis cukup banyak
musik untuk viola ialah Paul Hindemith. Ia sendiri adalah pemain
viola yang sering tampil membawakan komposisi-komposisi
premier karyanya sendiri. Sonata Debussy untuk Flute, Viola dan
Harp, terinspirasi oleh banyaknya komposer yang menulis untuk
Seksi Gesek 261
Bab 21
kombinasi tersebut. Elliot Carter juga menulis cukup banyak karya
untuk viola. Elegy, adalah salah satu karya terbaiknya untuk viola,
kemudian ditranskrip untuk klarinet. Ernst Toch menulis sebuah
Impromptu (opus 90b) untuk viola solo. Ernest Bloch, komposer
America, kelahiran Swiss sangat terkenal dengan karyanya yang
terinspirasi oleh musik Yahudi, menulis dua karya terkenal untuk
viola yaitu Suite 1919 dan Suite Hebraique untuk viola solo dan
orkestra.
Rebecca Clarke adalah komposer abad ke-20 menulis cukup
banyak karya untuk viola. Lionel Tertis mencatat bahwa Edward
Elgar (yang salah satu konsertonya ditranskrip Tertis) dengan
bagian lambat dalam scordatura), Alexander Glazunov (yang
menulis Elegy, op. 44, untuk viola dan piano), dan Maurice Ravel,
semuanya menjanjikan konserto untuk viola. Pada bagian akhir
abad ke-20 sejumlah repertoar telah diproduksi untuk viola;
Banyak komposer, termasuk Alfred Schnittke dan Krzysztof
Penderecki, telah menulis konserto untuk viola.
Viola kadang-kadang digunakan dalam musik populer
kontemporer, sering kali dalam aliran avant-garde. Kelompok
musik yang sangat berpengaruh, Velvet Underground, terkenal
dengan penggunaan viola, demikian juga pernah dilakukan oleh
beberapa kelompok modern seperti 10,000 Maniacs, Defiance,
Ohio, The Funetics, dan sebagainya. Musik jazz tampaknya juga
tertarik bekerjasama dengan violis, muslai dari penggunaan seksi
gesek pada awal 1900an hingga sebuah kuartet penuh dan solois,
terjadi dari tahun 1960an hingga kini Walaupun penggunaan biola
dalam musik rakyat cukup sering, viola jarang digunakan oleh
kebanyakan musisi folk di seluruh dunia. Penelitian mendalam
tentang penggunaan viola dalam musik rakyat pernah dilakukan
oleh Dr. Lindsay Aitkenhead. Para pemain dalam jenis musik ini
ialah Cath James, David Lasserson, Eliza Carthy, Mary Ramsey,
Ben Ivitsky, Gina Le Faux, Helen Bell, Jayne Coyle, Jim O'Neill,
Jim Wainwright, Lindsay Aitkenhead, Mark Emerson, Miranda
Rutter, Nancy Kerr, Pete Cooper dan Susan Heeley. Clarence
\"Gatemouth\" Brown adalah eksponen viola yang paling prominen
dalam genre blues.
Seksi Gesek
262
Bab 21
Viola adalah instrumen pengiring yang populer dalam
musik band folk berdawai Hinggaria Romania. Dalam musik
tersebut tiga dawai viola ditala G-D’-A (nada A ditala satu oktaf
lebih rendah dari talaan standar). Bagian bridge diturunkan untuk
menimbulkan efek khusus ketika memainkan akor dengan motif
ritmik yang khas. Penggunaan semacam ini biasa disebut kontra
atau brácsa
21.3. Cello dan Contra Bass
Cello dan Double Bass adalah bagian dari keluarga
instrumen gesek yang bersuara rendah. Double Bass atau biasa juga
dikenal dengan istilah Contra Bass, memiliki jangkauan nada yang
lebih rendah satu oktaf dari Cello. Kedua instrumen tersebut
memiliki peranan yang sangat penting, khususnya dalam seksi
gesek, dan umumnya dalam orkestra. Suara bass merupakan
landasan dari harmoni sehingga tanpanya konstruksi harmonis
akan terasa goncang atau tidak kokoh.
Walaupun Cello termasuk kategori instrumen bersuara
rendah, namun jangkauan nadanya cukup luas sehingga me-
mungkinkan bagi cello untuk menjalankan fungsi selain sebagai
pengiring atau penopang konstruksi harmoni. Cello juga sangat
menarik digunakan sebagai instrumen solo tanpa pengiring yang
bahkan dapat memproduksi efek-efek polifonis yang sederhana.
Untuk selanjutnya instrumen ini akan dibahas dalam bab terpisah.
Anggota instrument berdawai yang bersuara terendah
dalam keluarga gesek adalah double bass (disebut juga Bass). Bass
juga merupakan instrument yang berukuran paling besar dengan
tinggi lebih dari 6 kaki. Oleh karena Bass berukuran sangat tinggi,
seorang pemain Bass harus berdiri atau duduk di atas bangku
ketika memainkannya.
Seksi Gesek 263
Bab 21
(sumber: Encarta Encyclopedia)
Ilustrasi 21.10.:
Posisi Bermain Bass
Double bass berevolusi dari biola sejak tahun 1500an. Sejak saat
itu, banyak bentuk dan ukuran telah dibuat untuk mempermudah
dalam memainkan bass. Anda dapat melihat pemain bass di belakang
cello, bagian kanan konduktor.
Bentuk badan instrumen ini adalah cekungan, dengan demikian
akan menjadi satu resonansi yang penting untuk bunyi serasi. Empat
dawainya (kadang-kadang lima pada kontrabass) terbuat dari usus
binatang yang oleh karena perkembangannya akhirnya dibuat dari
sutera, nilon, baja. Dawai-dawai ini diregangkan dengan ketat ke
seberang satu jembatan untuk menghasilkan titi nada.
Seksi Gesek
264
Bab 21
Sebagai anggota dari instrumen berdawai yang memiliki suara
yang paling rendah , secara sederhana range atau jangkauan wilayah
nada pada instrumen Double Bass adalah dari nada E1 (baca: E kontra)
sampai C (baca: C besar). Secara sederhana, wilayah jangkauan nada
biola dapat digambarkan sebagai berikut.
Ilustrasi 21.11.:
Wilayah Nada Instrumen Contra Bas
BAB 22
PENGANTAR PENGETAHUAN CELLO
E
mpat instrumen pokok di dalam keluarga instrumen berdawai,
biola, biola alto, Cello dan kontrabass, dibuat dengan cara yang
sama. Instrumen-instrumen tersebut dibuat dari potongan-
potongan kayu yang direkatkan - tidak pernah dipaku - bersama-sama.
Badan instrumen adalah cekungan, sehingga menjadi sebuah kotak
resonansi untuk bunyi. Dawai-dawai tersebut (kadang-kadang lima
pada kontrabass) dibuat dari usus binatang, nilon, atau baja dibungkus
poin di bawah atau atas par bekerja giat satu sangat: tiada batas
instrumen dan dihubungkan dengan satu tailpiece pada yang lain.
Mereka diregangkan dengan ketat ke seberang satu jembatan untuk
menghasilkan titi nada yang ditentukan.
Di dalam keluarga instrumen berdawai, Cello atau selo adalah
instrumen bersuara tenor. Walaupun berbentuk seperti biola, Cello
lebih besar dan dipegang di antara lutut pemain. Bentuk Cello yang
demikian ini dapat menghasilkan bunyi indah dari nada-nadanya yang
paling rendah sampai nada-nada yang paling tinggi. Cello merupakan
suatu instrumen yang populer.
Cello, yang termasuk instrument yang diletakkan di tanah ini
mempunyai tinggi hampir 5 kaki, merupakan suara bass dalam
kelompok alat musik string. Cello juga merupakan instrument solo yang
bagus jika berada di tangan pemain yang baik pula. Cello mempunyai
suara satu oktaf di bawah biola alto dan mempunyai nada suara yang
penuh dan kuat. Cello merupakan salah satu instrument yang paling
ekspresif dan multifungsi. Kata “Cello” berasal dari cara orang Italia
dalam menyebutkan double bass:”ViolonCello”. Dalam suatu simfoni
orkestra jumlah Cello biasanya antara dua hingga sepuluh buah.
Nama Cello adalah sebuah singkatan dari bahasa Italia violon
Cello, yang bermakna “violone kecil” yang bukan merujuk pada
instrument double bass namun pada instrument yang sedikit lebih besar
(yang sekarang ini jarang ditemukan) yaitu bass violin dimana
terkadang nadanya lebih rendah dari Cello.
Pengantar Pengetahuan Cello
266
Bab 22
Ilustrasi 22.1. :
Gambar instrumen Cello dilihat dari depan
Cello terkait erat dengan musik klasik Eropa. Instrument ini
merupakan bagian dari sebuah orkestra dan mengisi suara bass dalam
string quartet, selain itu juga banyak digunakan dalam musik kamar.
Banyak karya concerto dan sonata untuk Cello telah dihasilkan.
Instrument ini tidak terlalu banyak digunakan dalam musik pop,
namun terkadang digunakan juga dalam proses rekaman musik pop
dan rock. Cello akhir-akhir ini juga digunakan dalam musik hip-hop
dan R & B, seperti digunakan oleh penyanyi seperti Rihanna dan Ne-Yo
dalam pertunjukannya di Penganugerahan Musik Amerika. Instrument
ini juga dimodifikasi dalam musik klasik India oleh Saskia Rao-de Haas.
Di antara karya musik Barok yang paling terkenal untuk Cello
adalah enam Suite tunggal karya J.S Bach. Pada era musik Klasik, dua
concerto karya Joseph Haydn pada C mayor dan D mayor, diciptakan.
Pengantar Pengetahuan Cello 267
Bab 22
Daftar lagu-lagu pada era Romantik meliputi concerto karya Antonin
Dvorak, Cello concerto pada E minor karya Elgar, dan dua sonata karya
Brahms. Sedang pada awal abad 20 terdapat Cello sonata karya Zoltan
Kodaly (Op.8), Paul Hindemith (Op.25) dan W.H Squire. Cello
kemudian menjadi begitu popular pada paruh akhir abad 20, diawali
oleh para solis yang mempunyai spesialisasi dalam musik kontemporer
(seperti Siegfried Palm dan Mstislav Rostropovich) yang berkolaborasi
dengan para composer. Sebagai anggota dari instrumen berdawai yang
memiliki suara yang rendah , secara sederhana range atau jangkauan
wilayah nada pada instrumen Cello adalah dari nada C (baca: c besar )
sampai g1(baca: g satu). Secara sederhana, wilayah jangkauan nada
Cello dapat digambarkan sebagai berikut.
Notasi 22.2.::
Wilayah Nada Cello
22.1. Penyeteman dan Jangkauan Nada
Cello mempunyai empat dawai yang merujuk pada angka
atau nada dasar mereka, yang mempunyai lima interval: dawai A
(I, nada tertinggi), dawai D (II), dawai G (III), dan dawai C (IV,
nada terendah). Dawai A disetel dengan nada A3 (sedikit di
bawah C tengah), dawai G lima kali lebih rendah pada D3, dawai
G lima kali lebih rendah pada G2, dan dawai C pada C2 (dua oktaf
dibawah C tengah). Dawai-dawainya lebih rendah satu oktaf dari
viola, dan satu oktaf dan seperlima lebih rendah dari violin.
Beberapa Cello terkadang harus menggunakan penyetelan
berbeda dengan menggunakan scordatura, dua contoh yang
paling popular adalah karya kelima dari 6 Suite untuk Cello
tunggal (C2-G2-D3-G3) dan Sonata opus 8 karya Zoltan Kodaly
Pengantar Pengetahuan Cello
268
Bab 22
(B1-F2-D3-A3). Karya keenam Bach pada 6 Suite Cello tunggalnya
ditulis untuk instrument dengan 5 dawai yang disetel C2-G2-D3-
A3-E4.ini mungkin merupakan instrument violon Cello piccolo,
sebuah Cello yang lebih kecil 5 dawai yang tidak lagi digunakan
sejak pertengahan abad 18.
Ilustrasi 22.3.:
Dawai – dawai Cello dalam Posisi Lepas
Jangkauan nada Cello terbatas pada akhir yang lebih
rendah dari penyetelan dawai terendah ; pada akhir yang lebih
tinggi pada variasinya. Batas atas yang nyaman untuk Cello
adalah C6 (dua oktaf diatas C tengah), walaupun dimungkinkan
untuk menaikannya satu oktaf lagi. Nada henti teringgi pada
fingerboard adalah pada sekitar F6, namun beberapa composer
menulisnya lebih tinggi: sebagai contoh Sonata opus 8 karya
Zoltan Kodaly menggunakan B6. Musik untuk Cello ditulis dalam
kunci bass dengan variasi kunci tenor atau treble ketika
diperlukan demi menghindari terlalu banyaknya garis ledger.
Para composer sebelum abad 19 menganut sebuah kesepakatan
yang jelas-jelas melarang penggunaan kunci tenor, juga dalam
penulisan kunci treble yang ditulis satu oktaf lebih rendah; kecuali
ketika kunci treble tersebut diikuti sebuah naskah dalam kunci
tenor, ketika dimainkan dalam nada tertulis. Contoh dari
penggunaan semacam ini adalah aransemen trio oleh Hans Eisler
dari Serenade Septet karya Schoenberg op.24.
Cello pada umumnya terbuat dari kayu. Sebuah Cello
tradisional mempunyai aqtap dari kayu spruce, dengan kayu
maple untuk bagian belakang, samping, dan lehernya. Kayu lain,
seperti poplar atau willow terkadang digunakan untuk bagian
Pengantar Pengetahuan Cello 269
Bab 22
belakang dan samping. Celli yang agak lebih murah kebanyakan
menggunakan kayu lapis pada bagian atas dan belakangnya.
Bagaian atas dan belakangnya diukir tangan secara
tradisional, sedangkan celli yang agak lebih murah dibuat dengan
mesin. Bagian sisi, atau bagian rusuk, dibuat dengan cara
memanaskan kayu dan kemudian membentuknya sesuai bentuk
yang diinginkan. Bagian tubuh Cello mempunyai bagian atas yang
luas bout, sedang bagian tengahnya dibuat dengan dua C-bout,
dan bagaian bawah dengan bout yang lebar, dengan bridge dan
lubang suara sedikit dibawah bagaian tengah.
Bagain belakang dan atas sebuah Cello mempunyai bagian
tepi dekoratif yang disebut purfling. Penghasil Cello Luis & Clark
memproduksi celli dari serat karbon. Cello dari serat karbon
sangat cocok untuk permainan outdoor karena kekuatan bahan
dan daya tahannya terhadap tingkat kelembaban dan perubahan
suhu.
Di bagian atas tubuh utama adalah leher yang diukir, yang
pada bagian tersebut terdapat sebuah pegbox dan scroll. Bagian
leher, pegbox dan scroll biasanya diukir dari sebuah potongan
kayu. Di bawah bagian leher dan memanjang pada bagian tubuh
Cello adalah bagian yang disebut fingerboard. Murnya dibuat dari
kayu, dimana fingerboard bertemu dengan pegbox, tempat
terpasangnya dawai. Bagian pegbox mempunyai empat tuning
peg untuk keempat dawai. Tuning peg ini digunakan untuk
mengencangkan atau mengendurkan dawai. Scroll merupakan
bagian tradisional dari sebuah Cello dan jenis violin lainnya. Kayu
ebony biasanya digunakan pada tuning peg, fingerboard, dan mur
walaupun dapat juga menggunakan kayu keras lainnya seperti
boxwood atau rosewood.
Dawai Cello mempunyai inti yang terbuat dari usus
binatang, logam, atau bahan sintetis seperti perlon. Para cellist
menggabungkan berbagai jenis dawai pada Cello mereka.
Pengantar Pengetahuan Cello
270
Bab 22
Tailpiece dan endpin terdapat pada bagian bawah Cello.
Tailpiece secara tradisional terbuat dari kayu ebony atau kayu
keras lainnya, namun dapat juga dibuat dari plastik atau baja.
Bagian ini menghubungkan dawai dengan bagian bawah Cello,
dan dapat mempunyai satu fine tuner atau lebih. Endpin atau spike
terbuat dari kayu, logam tau serat karbon dan menopang Cello
ketika dimainkan. Endpin modern dapat disesuaikan dan dapat
dilepas bila tidak digunakan. Bagian ujung yang tajam pada
endpin sebuah Cello terkadang dilapisi dengan bahan karet agar
tidak terpelest dari posisinya.
22.2. Bagian Bridge, dengan Sebuah Mute
Bagian bridge mengangkat dawai dan mengalirkan
getarannya menuju ujung bagian atas dan bagian soundpost. Bridge
dipasang bukan dengan cara dilem, melainkan hanya ditahan oleh
tingkat ketegangan dawai. F-hole (nama untuk bentuk mereka)
terletak pada kedua sisi bridge, dan memungkinkan proses keluar
masuknya angin untuk mengeluarkan suara. Selain itu f-hole juga
berfungsi sebagai kunci untuk membuka bagian dalam Cello
untuk tujuan perbaikan dan perawatan. Terkadang sebuah selang
yang disebut Dampit, yang mengandung air didalam spons,
dimasukan kedalam f-hole dan berfungsi sebagai pengatur
kelembaban.
22.3. Fitur-fitur bagian dalam
Secara internal, Cello mempunyai dua ciri, sebuah bass bar,
yang dilem pada bagian dalam Cello bagian atas, dan sebuah
sound post bulat dari kayu, yang diletakan diantara plat bagian
atas dan bawah. Bass bar ini terletak dibawah kaki bass bridge,
dibawah sisi treble bridge, dan menghubungkan bagian depan
dan belakang Cello. Seperti bridge, sound post ini juga tidak dilem
dan hanya ditahan oleh kekencangan dawai dan bridge. Bass bar
dan sound post mengalirkan getaran dawai keujung bagian atas
Cello (depan dan sedikit berimbas ke bagian belakang), dan
berfungsi sebagai diafragma untuk menghasilkan suara.
Pengantar Pengetahuan Cello 271
Bab 22
22.4. Perekat
Cello dibangun dan direparasi menggunakan lem yang
tersembunyi yang kuat namun dapat dilepas, yang berguna dalam
proses pembongkaran. Bagian atas dilem menggunakan lem yang
dicairkan, karena proses reparasi biasanya perlu membongkar
bagian ini. Secara teori, lem ini lebih lemah dari rangka kayu itu
sendiri, jadi ketika bagian-bagian Cello mulai menyusut, daya
cengkaram lem akan terlepas dan menghindari kerusakan pada
Cello. Bagaimanapun, teori ini tidak selalu berhasil dalam
kenyataannya.
22.5. Busur Cello
Secara tradisional, busur dibuat dari pernambuco atau kayu
Brazil. Keduanya dibuat dari jenis pohon yang sama (Caelsapiuna
echinata), namun pernambuco digunakan pada busur dengan
kualitas yang lebih baik, yang merupakan kayu inti sebuah pohon
dengan warna yang lebih gelap dari kayu Brazil (yang terkadang
bernoda). Pernambuco adalah kayu yang berat dan berdamar
dengan tingkat elastisitas yang luar biasa yang membuatnya
sangat iedal untuk digunakan sebagai sebuah busur.
Ada pula busur yang terbuat dari serat karbon yang lebih
kuat dari kayu. Busur yang banyak digunakan para siswa
biasanya terbuat dari serat fiber. Panjang busur biasanya sekitar 73
cm, dengan tinngi 3 cm, dan lebar 1,5 cm.
Busur biasanya menggunakan rambut kuda, walaupun
dapat juga menggunakan rambut sintetis dengan warna yang
beragam. Rambut tersebut kemudian dilapisi dengan gala
sehingga membuatnya kencang dan dapat bergetar. Rambut
tersebut perlu diganti secara berkala terlebih lagi bila rambut
tersebut telah putus atau dirasa kuarang kencang. Rambut
tersebut dapat pula dijaga kekencangannya dengan sebuah panel
mur.
Pengantar Pengetahuan Cello
272
Bab 22
22.6. Perkembangan Cello.
Cello dikembangkan dari bass violin, dimana pada
awalnya merujuk pada Jambe de Fer pada tahun 1556, yang
sebenarnya merupakan instrument dengan tiga dawai. Seorang
composer yang untuk pertama kalinya menspesifikasikan bass
violin adalah Gabrieli dalam sacrae symphoniae, 1597.
Monteverdy kemudian mengikuti jejaknya dengan merujuk pada
instrument “basso de viola da braccio” dalam Orfeonya (1607).
Walaupun bass violin pertama kali diciptakan oleh Amati pada
awal 1548, yang terinspirasi dari sebuah viol, yang diciptakan
sebagai pasangan violin. Bass violin biasanya dikenal sebagai
“violone” atau “viola besar”. Instrument tersebut kemudian
dimainkan secara bersama dalam sebuah pertunjukan seni di Italia
pada awal abad ke-15.
Dawai berupa kawat ditemukan di Bologna pada sekitar
tahun 1660 yang memungkinkan terciptanya suara bass yang lebih
baik dengan menggunakan dawai dari usus binatang pada bagian
tubuh instrument tersebut yang pendek. Para seniman Bologna
kemudian menggunakan teknologi ini untuk menciptakan sebuah
Cello, sebuah instrument yang lebih kecil yang cocok dimainkan
secara solo yang dikarenakan warna nadanya dan fakta bahwa
ukurannya yang lebih kecil sehingga memudahkan dalam
bermain virtuosic. Namun instrument ini masih mempunyai
beberapa kelemahan. Suara Cello yang lemah dirasa kurang cocok
untuk dimainkan dalam pertunjukan panggung maupun di gereja
sehingga harus dilapisi dengan permainan bass atau violon.
Sekitar tahun 1700, para seniman Italia mempopulerkan
Cello di Eropa utara, walaupun bass violin masih terus digunakan
di Perancis dalam dua dasa warsa berikutnya. Banyak bass violin
yang ada pada waktu itu kemudian diperpendek dengan tujuan
merubahnya menjadi Cello. Bass violin mampu bertahan sebagai
instrumen yang paling banyak digunakan di Inggris sampai akhir
tahun 1740, dimana violon Cello masih belum begitu popular.
Ukuran, nama, dan cara penyetelan Cello masih sangat bervariasi
pada waktu itu dikarenakan faktor geografis dan waktu. Ukuran
Cello belum distandarkan sampai sekitar tahun 1750.
Pengantar Pengetahuan Cello 273
Bab 22
Walaupun Cello mempunyai banyak persamaan dengan
viola da gamba, Cello sebenarnya merupakan bagian dari jenis
viola da braccio, yang berarti “viol tangan” yang di antaranya
meliputi violin dan viola. Walaupun pola seperti “The Rustic
Wedding” karya Bruegel dan de Fer dalam musik Epitome
menunjukan bahwa violin dapat dimainkan dalam berbagai
posisi, yang juga dirasakan lebih praktis dan ekonomis dari
gamba.
Cello dalam era musik Barok berbeda dengan instrumen
modern dalam berbagai hal. Bagian lehernya mempunyai bentuk
dan sudut yang berbeda. Cello modern mempunyai sebuah endpin
pada bagian bawahnya yang berguna untuk menopang (dan
menyalurkan suara melalui media lantai), sementara Cello era
musik Barok hanya ditopang oleh betis sang cellist. Busur modern
melengkung kedalam dan dipegang pada bagian sambungannya;
sementara busur era musik Barok melengkung keluar dan
dipegang pada bagian mendekati titik keseimbangannya. Dawai
modern biasanya mempunyai inti logam, walaupun beberapa
diantaranya menggunakan inti sintetis; dawai era musik Barok
menggunakan bahan dari usus binatang, dengan dawai G dan C
menggunakan dawai wire-wound. Cello modern biasanya
mempunyai lima tuner yang menghubungkan dawai dengan
bagian ujungnya, yang mempermudah penyetelannya. Secara
umum, instrument modern mempunyai tingkat ketegangan dawai
yang lebih baik dari Cello era musik Barok, yang membuatnya
menghasilkan suara yang lebih nyaring, nada yang lebih kuat, dan
overtone yang lebih minim.
Sebelum abad 18 belum ada karya edukasional mengenai
Cello, dan ketika hal itu telah ada, para seniman menjadi
terinspirasi dalam menggali potensi tekhnik bermain mereka.
22.7. Dimensi Instrumen Cello
Pembuat Cello yang terkenal di antaranya ialah Nicolo
Amati, William Forster, Nicolo Gigliano, Matteo Goffriller,
Pengantar Pengetahuan Cello
274
Bab 22
Giovanniu Battista Ukuran standar dari Cello merujuk pada
seluruh bagiannya. Bagaimanapun, celli diciptakan dalam ukuran
yang lebih kecil, dari “tujuh per delapan” dan “tiga per empat”
sampai “seper enambelas”. Ukuran celli yang semakin kecil
mempunyai standar yang sama dengan Cello dalam hal
konstruksi, jarak, dan penggunaannya. Ukuran celli yang kecil ini
berguna bagi anak-anak danpemaindengan postur yangtidak
terlalu tinggi. Cello dengan ukuran setengah, tidak menggunakan
ukuran sebenarnya, namun hanya sedikit lebih kecil. Pemain Cello
dengan postur tubuh kecil biasanya menggunakan ukuran “tujuh
per delapan” dimana rentang tangan yang pendek tidak terlalu
menjadi masalah. Walaupun jarang, Cello dengan ukuran empat
perempat juga ada. Cellist yang mempunyai tangan yang besar
mungkin dapat menggunakn Cello dengan ukuran yang lebih
besar. Cello yang dibuat pada abad 17 cenderung mempunyai
ukuran yang lrbih besar dari Cello-Cello yang dibuat setelahnya,
dan yang ada sekarang ini. Pada tahun 1680, teknologi pembuatan
dawai telah mampu menghasilkan nada yang lebih rendah
dengan menggunakn dawai yang lebih pendek. Misalnya Cello
stradivary yang dapat dibagi dalam dua jenis, dengan gaya
sebelum tahun 1702 dengan karakter instrument besar, dan gaya
setelah tahun 1702, ketika Stradivary mulai merespon teknologi
pembuatan dawai tersebut, ia kemudian mulai membuat Cello
dengan ukuran yang lebih kecil. Model inilah yang kemudian
banyak dipakai.
22.8. Accessories
Ada banyak aksesoris dalam instrumen Cello, dimana
beberapa di antara asesoris tersebut ada yang lebih utama dari
asesoris lainnya. Secara umum, beberapa asesoris yang terdapat
pada instrument Cello yaitu: 1) Kotak/peti, digunakan untuk
melindungi Cello dan busurnya ketika kita berpergian, dan untuk
keamanan penyimpanan; 2) Gala yang terbuat dari kayu dammar,
digunakan pada rambut busur untuk meningkatkan keefektifan
gesekan, genggaman atau cengkraman, dan menghasilkan suara
yang lebih baik; 3) Endpin stop menopang Cello menjaganya agar
tidak meluncur ketika endpin tersebut tidak mempunyai karet di
Pengantar Pengetahuan Cello 275
Bab 22
bagian bawahnya (digunakan pada lantai kayu); 4) Wolf tone
eliminator terkadang diletakan pada dawai di antara bagian ujung
Cello dan bagian bridge dengan tujuan menghilangkan suara
akustik yang ganjil yang dikenal sebagai wolf tone atau “wolf”; 5)
Mute digunakan untuk merubah suara Cello dengan mengurangi
overtone. Mute (yang terbuat dari logam) secara signifikan
mengurangi volume Cello ; 6) Metronome menghadirkan tempo
yang tetap dengan suara sejumlah ketukan per menit. Banyak jenis
metronome ini yang dapat digunakan untuk menyetel nada a’
(440Hz); 7) Humidifier digunakan untuk mengontrol dan
menyetabilkan kelembaban di dalam dan dibagian luar Cello,
banyak digunakan para cellist yang banyak berpergian; 7)Tuner
digunakan untuk menyetel instrument.
• Bacaan untuk Pendalaman:
Werner, Joseph.t.t.Practical Method for Violoncello Part 1.Doremi
Music Publishing Co.,Ltd.
• Latihan-latihan:
1. Sebutkan instrumen pokok dalam keluarga instrumen
berdawai!
2. Dalam sebuah simfoni, ada berpakah kira-kira jumlah
Cello yang dipakai?
3. Sebutkan jangkauan nada instrumen Cello!
4. Sebutkan bagian-bagian Cello yang Anda ketahui!
5. Apa sebutan untuk pemain Cello?
BAB 23
BIDANG KETERAMPILAN CELLO
B
ab ini membahas teknik-teknik dasar dalam permainan Cello.
Teknik yang dibahas meliputi posisi tubuh atau cara memegang
Cello, dan teknik-teknik lain yang khas. Di samping teknik-
teknik juga dibahas penggunaan Cello baik sebagai instrumen solo
maupun ensambel dan penggunaannya dalam musik populer,
khususnya pop dan jazz. Untuk menutup bab ini juga akan dibahas
penerapan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam bidang
keahlian Cello.
23.1. Teknik Bermain Cello
Teknik bermain Cello meliputi posisi tubuh, permainan
vibrato, harmoni, glissando, double stop, pizzicato, col legno,
spicattoscatto, dan legato.
23.1.1. Posisi Tubuh
Cello dimainkan dalam posisi duduk. Beratnya ditopang
oleh sebuah endpin, yang disandarkan dilantai ; dan bagian
bawahnya diposisikan diantara lutut, sedang bagian atasnya
diposisikan di dada bagian atas. Bagian leher Cello diletakan
diatas pundak kiri. Busurnya ditarik secara horizontal melintasi
dawai. Pada awalnya, cellist wanita biasa memainkannya
dengan posisi duduk menyamping, karena pada waktu itu
dirasa tidak sopan bagi kaum wanita untuk duduk dengan posisi
kedua lutut terbuka di hadapan publik. Posisi tangan pemain
tidak mempengaruhi caranya memegang Cello. Sangat jarang
ditemukan seorang pemain yang memainkan Cello dengan
posisi terbalik : hal ini biasanya dikarenakan ketidakmampuan
fisik seseorang dimana tangan atau lengannya tidak akan
mampu memainkan teknik bermain dalam posisi semacam itu,
selain itu sang cellistt juga masih harus mengatur ulang Cellonya
(posisi dawai, garis bass, sound post, bentuk fingerboard, dan
bentuk Cello yang tidak simetris)
Bidang Keterampilan Cello
278
Bab 23
Ilustrasi 23.1 :
Seorang Pemain Cello (Cellist)
Posisi jari tangan kiri dalam memegang dawai sangat
berpengaruh terhadapa nada yang dihasilkan. Semakin dekat
dengan bridge dimana dawai ditekan, maka suara yang
dihasilkan juga akan semakin keras, karena panjang dawai yang
bergetar menjadi lebih pendek. Pada bagian leher Cello, ibu jari
diletakan dibagian belakang ; dalam posisi ibu jari sejajar dengan
jari-jari lainnya.
Dawai dan ibu jari digunakan untuk menghasilakn nada.
Jari-jarinya biasanya memegang Cello dengan posisi
melengkung, dengan ujung jari menempel pada dawai. Apabila
satu jari diharuskan memainkan dua dawai tau lebih, maka
dapat dilakukan dengan menggunakan flat. Dalam permainan
yang lebihlambat maupun lebih ekspresif, titik kontak antara
Bidang Keterampilan Cello 279
Bab 23
ujung jari dan dawai dapat diubah dari bagian kuku menjadi
bagian dalam ujung jari, sehingga mampu menghasilkan vibrato
yang lebih baik.
23.1.2. Vibrato
Vibrato adalah goyangan kecil dalam sebuah nada, yang
dianggap lebih ekspresif. Hal ini dihasilkan dari perputaran
lengan bagian atas pada tulang sendi bahu cellistt, yang akan
menyalurkan getarannya ke lengan bagian bawah. Titik kontak
jari dengan dawai menyerap gerakan ini yangkemudian
membuatnya bergetar. Hal ini juga dipengaruh oleh posisi jari
yang dapat menghasilkan berbagai nada. Vibrato merupakan
sebuah kunci permainan ekspresif, teknik bermain vibrato yang
baik merupakan elemen penting dari keterampilan bermain
seorang cellistt modern. Dalam beberapa jenis musik, seperti
pada era musik romantic, vibrato dapat dimainkan hamper
dalam tiap nada. Bagaimanapun, dalam jenis musik lain seperti
Barok, vibrato jarang digunakan sebagai ornament. Dalam hal
ini, keputusan dalam penggunaan vibrato mengenai seberapa
seringnya ia digunakan, sangat tergantung pada cellistt itu
sendiri. Semakin rendah suatu titi nada, vibrato yang dihasilkan
juga akan semakin panjang dan lambat.
23.1.3. Harmoni
Harmony yang diterapkan untuk Cello terbagi dalam dua
bagian; alami dan buatan. Harmoni alami dihasilkan dengan
hanya sedikit menyentuh (tidak menekan) dawai dengan jari
ditempat tertentu, dan kemudian memainkan busur (atau,
jarang, menarik dawai). Misalnya, titik tengah dawai akan
menghasilkan sebuah harmoni satu oktaf diatas dawai yang
tidak ditekan (open string). Harmoni alami hanya menghasilkan
nada yang merupakan bagian dari rangkaian harmoni. Harmoni
buatan dihasilkan dengan cara meneklan dawai dengan kuat dan
menekan dawai yang sama dengan jari yang lain dengan lemah.
Bidang Keterampilan Cello
280
Bab 23
Hal ini akan mampu menghasilkan nada diatas C tengah. Hal ini
biasa ditampilkan dalam nada sentuh sebuah perfect fourth
diatas nada henti, yang akan menghasilkan nada dua oktaf diatas
nada henti, walaupun dapat juga dimainkan dengan interval
lain. Semua harmoni menghasilkan suara yang menyerupai flute,
dan biasanya dimainkan tanpa vibrato.
23.1.4. Glissando
Glissando (“meluncur” dalam bahasa Italia) adalah
sebuah teknik bermain dengan cara meluncurkan jari keatas atau
kebawah tanpa melepaskan dawai. Hal ini akan menghasilkan
nada yang naik turun dengan lembut, tanpa nada yang terpisah.
Dalam permainan Cello, busur seperti halnya angin
dalam alat musik tiup. Hal ini adalah penentu tingkat
keekspresifan permainan cellistt. Tangan kanan memegang
busur dan mengatur durasi dan karakter nada. Busur ditarik
melintasi dawai dengan kasar dengan arah perpendicular dari
dawai tersebut. Busur dipegang dengan kelima jari, bagian ibu
jari berlawanan dengan jari-jari lainnya dan lebih dekat ke tubuh
sang cellistt. Posisi tangan harus santai, dengan posisi jari
melengkung termasuk ibu jari. Perpindahan beban dari tangan
menuju busur terjadi melalui pronasi (rotasi kedalam) lengan,
yang mendorong jari dengan sedikit pergseran jari tengah. Daya
balik dihasilkan oleh ibu jari. Jari kelingking membantu dalam
mengontrol arah busur terhadap dawai dan sangat penting
dalam mengontrol busur dalam posisi lepas dari dawai.
Dalam bahasa Inggris, istilah untuk arah busur (atas dan
bawah) agak membingungkan. Busur bawah ditarik kearah
kanan sang pemain, sedangkan busur atas ditarik kearah kiri.
Busur bawah dilakukan dengan menggunakan lengan bagian
atas, kemudian dilanjutkan lengan bawah, kemudian
pergelangan (berputar sedikit kedalam) dengan tujuan menjaga
gesekan agar tetap lurus. Busur atas dilakukan dengan
menggerakan lengan bagian bawah, kemudian lengan bagian
atas, dan kemudian pergelangan (didorong sedikit keatas). Busur
Bidang Keterampilan Cello 281
Bab 23
biasanya dimankan tegak lurus terhadap dawai. Dalam
melakukan perpindahan dawai, bagian lengan harus sedikit
diturunkan atau dinaikan, dengan sedikit pergerakan pada
pergelangan untuk menjaga arahnya. Bagaimanapun, diperlukan
fleksibilitas bagian pergelangan dalam perpindahan dari busur
atas ke busur bawah dan sebaliknya. Dalam permainan dengan
pergerakan busur yang cepat, bagian pergelangan digunakan
dalam melakukan pergerakan horizontal. Dalam gesekan yang
agak panjang, bagaian lengan dan pergelangan digunakan.
Nada dan volume suara sangat tergantung pada
beberapa faktor gabungan. Tiga faktor yang paling utama yaitu:
kecepatan busur, berat yang diterapkan pada dawai, dan titik
kontak antara rambut busur dengan dawai. Seorang pemain
yang baik akan mampu memainkan nada-nada yang sulit, dan
akan mampu melawan kecenderungan dalam memainkan
dengan tenaga penuh pada bagian busur yang paling dekat
dengan sambungan, dan tenaga yang lemah pada bagian ujung.
Semakin dekat busur dengan bridge, maka suaranyapun akan
semakin keras dan jernih, secara ekstrim (sul ponti Cello) akan
menghasilkan suara yang metalik dan berkilau. Jika busur lebih
dekat dengan fingerboard (sul tasto), suara yang dihasilkan akan
terasa lebih halus, lebih mellow, dan kurang tegas.
23.1.5. Double Stop
Double stop meliputi permainan dua nada dalam satu
waktu. Dua senar ditekan secara simultan, dan kemudian busur
digesekkan untuk membuat kedua dawai tersebut menghasilkan
suara. Triple stop dan quartle stop juga dapat dimainkan, namun
agak sulit mengingat perubahan lekuk pada bridge-nya. Untuk
memperdalam teknik ini, Frances-Marie Uitti menemukan sistem
busur ganda: satu busur dimainkan di bagian atas dan satu lagi
di bagian bawah. Sistem ini membuat triple dan quadruple stop
dapat dimainkan.
Bidang Keterampilan Cello
282
Bab 23
23.1.6. Pizzicato
Dalam permainan pizzicato, dawai langsung ditarik
dengan jari atau dengan ibu jari. Biasanya hal ini dilakukan
dengan tangan kanan, sementara busur ditarik menjauh dari
dawai atau diletakan. Sebuah dawai dapat memainkan pizzicato,
dengan double, triple, atau quadruple stop. Terkadang, pemain
dapat menggesek sebuah dawai dengan tangan kanan dan secara
simultan menarik dawai lainnya dengan tangan kiri. Lambang
untuk teknik ini adalah dengan menandai “+” yang ditulis di
atas nada.
23.1.7. Col Legno
Col legno adalah teknik menggesek dawai Cello dimana
pemain tidak dengan rambut busurtetapi menggunakan
kayunya. Biasanya ini merupakan sebuah teknik perkusif (yang
disebut col legno battuto) dengan nada yang tidak bertahan terlalu
lama. Teknik bermain yang lebih aneh adalah col legno trato,
dimainkan dengan menarik kayu melintasi dawai seperti halnya
rambut busur menggesek dawai.
23.1.8. Spiccato
Dalam permainan spiccato, dawai tidak digesek tetapi
dipukul, dengan tetap menggunakan pergerakan horizontal,
untuk menghasilkan suara yang renyah dan perkusif. Hal ini
dapat dilakukan dengan menukikkan pergelangan tangan.
Spiccato biasanya diasosiasikan dengan permainan yang lebih
hidup. Pada sebuah violin, busurnya dilepaskan dari dawai,
sementara dalam Cello busurnya naik dengan cepat tanpa
terlepas dari dawai.
Bidang Keterampilan Cello 283
Bab 23
23.1.9. Staccato
Dalam staccato, pemain sedikit menggesekkan busurnya
dan kemudian berhenti, menghasilkan suara yang pendek,
dimana kemudian hanya diam.
23.1.10. Legato
Legato adalah sebuah teknik dimana nada dengan lembut
dihubungkan tanpa penekanan ataupun jeda.
23.2. Penggunaan Cello
Cello digunakan dalam berbagai formasi bermusik, mulai
dari orkestra, solo, quartet, ensambel, dan musik pop
23.2.1. Orchestra
Cello merupakan bagain dari orchestra simfoni standar.
Biasanya dalam orchestra dilibatkan delapan sampai dua belas
cellist. Posisi duduk para cellist adalah di sebelah kiri (sebelah
kanan penonton) bagian depan. Bagaimanapun, beberapa
orchestra dan konduktor menukar posisi Cello dengan viola.
Kelompok utama, atau cellist di bangku terdepan, menentukan
teknik permainan busur dan bermain solo. Para pemain utama
selalu duduk lebih dekat dengan penonton. Cello merupakan
bagian penting dalam orchestra; semua karya simfoni
menggunakan Cello, dan beberapa karya menggunakan Cello
soli atau solo. Pada umumnya, cellist menghadirkan bagian
harmoni dalam sebuah orchestra. Pada beberapa pertunjukan,
Cello juga dapat mengisi melodi untuk beberapa saat sebelum
kembali berperan sebagai harmoni. Terdapat juga Cello concerto,
dimana dimainkan dalam karya orchestra, dengan solo cellistt
diiringi seluruh orchestra.
Bidang Keterampilan Cello
284
Bab 23
23.2.2. Solo
Terdapat banyak sekali concerto untuk Cello, 25 karya
Vivaldi, 3 karya C.P.E. Bach, 2 karya oleh Haydn, 2 karya oleh
Saint-Sanes dan sebuah karya oleh Boccherini, Schumann,
Dvorak dan Elgar, dimana Cello diiringi seluruh orchestra. Triple
concerto karya Beethoven untuk Cello, violin, dan piano ;dan
Double concerto karya Brahms untuk Cello dan violin juga
merupakan bagian concerto walaupun pada kedua karya
tersebut Cello berbagi peran dengan paling tidak satu
instrument. Terlebih lagi, para composer telah menghasilkan
karya untuk Cello dan orchestra dengan skala besar. Karya-karya
tersebut antara lain Strauss’ tone poem Don Quizote, Variasi
Tchaikovsky dalam tema Rococo, Schelomo karya Bloch, dan Kol
Nidrei karya Bruch.
Pada abad 20, jumlah karya untuk Cello terus bertambah.
Hal ini dikarenakan adanya pengaruh seorang cellistt virtuoso
bernama Mstislav Rostrpovich yang menginspirasikan, dan
menunjukan sejumlah besar karya yang baru. Diantaranya
adalah Symphonia Concertante karya Prokofiev, Cello
Symphony karya Britten dan concerto karya Shostakovich,
Lutoslawski dan Dutilleux telah menjadi lagu wajib dalam
pertunjukan orchestra. Sebagai tambahan, Hindemith, Barber,
Honegger, Villa-Lobos, Myaskovsky, Walton, Glass, Rodrigo,
Arnold, Penderecki dan Ligeti juga menulis concerto untuk
cellistt lain (seperti Gregor Piatigorsky, Siegfried Palm dan Julian
Lloyd Webber).
Banyak pula karya sonata untuk Cello dan piano. Di
antaranya yang paling terkenal ditulis oleh Beethoven,
Mendelssohn, Chopin, Brahms, Grieg, Rachmaninoff, Debussy,
Shostakovich, dan Britten. Akhirnya, ada pula karya tunggal
untuk Cello, dengan karya yang paling penting adalah enam
suite tunggal untuk Cello karya J.S. Bach (yang dianggap sebagai
karya Cello paling penting), Sonata untuk Cello karya Zoltan
Bidang Keterampilan Cello 285
Bab 23
Ilustrasi 23.2:
Cellistt Julian Lloyd Webber (kiri) dan Mstislav Rostrpovich.
Kodaly, dan tiga suite tunggal untuk Cello karya Britten. Karya
penting lainnya adalah Trois strophes sur le Nom de sacher karya
Dutilleux, Les Mots Sont Alles karya Berio, sonata karya Ligeti dan
Carter, Nomos Alpha, dan Kottos karya Xenakis.
23.2.3. Quartet Dan Ensemble Lainnya
Cello merupakan bagian string quartet tradisional sebagai
mana juga string quintet, sextet atau trios dan campuran
ensemble lainnya. Ada juga karya yang ditulis untuk dua, tiga,
empat Cello atau lebih ; jenis ensemble ini disebut dengan Cello
choir dengan suara yang familiar dari awal sampai overtune
Rossini William Tell dan sebagaimana pula dalam Verdi’s
Nabucco karya Zaccharias. Sebagai sebuah ensemble, karya yang
paling populer adalah Bachianas Brasileiras untuk Cello
ensemble karya Villa-Lobos. Contoh lainnya adalah
Messagesquisse untuk 7 Cello karya Boulez. Dua belas cellistt
dari Berlin Philharmonic Orchestra (The Twelve) mempunyai
spesialisai dalam memainkan karya ini dan telah bermain dalam
Bidang Keterampilan Cello
286
Bab 23
banyak karya, termasuk dalam proses aransemen lagu-lagu
populer.
23.2.4. Musik Pop Dan Jazz
Walaupun Cello agak jarang digunakan dalam musik pop
dibandingkan dalam musik klasik, Cello juga terkadang
ditampilkan dalam proses rekaman musik pop dan rock. Pada
tahun 1960, seniman seperti the Beatles dan Cher menggunakan
Cello dalam musik pop mereka, dalam lagu seperti “Bang-bang
(My Baby Shot Me Down),” “Eleanor Rigby” dan “Strawberry
Fields Forever”. Pada tahun 1970, Electric Light Orchestra
menikmati kesuksesan yang terinspirasi dari aransemen yang
disebut “Beatlesque”, menambahkan Cello (dan violin) dalam
unsur rock mereka dan pada tahun 1978 band rock asal Inggris,
Coloseum II, berkolaborasi dengan seorang cellistt bernama
Julian Lloyd Webber dalam proses rekaman Variations.
Kelompok Cello non-tradisional yang telah ada adalah
Apocalyptica, sekelompok cellistt dari Finlandia yang dikenal
karena versi lagu Metalica mereka, Rasputina, kelompok dengan
dua cellistt wanita ini berniat menggabungkan gaya Cello
dengan musik Gothic, Von Cello, sebuah trio cellistt beraliran
rock, The 440 Alliance, sebuah ensemble dengan melibatkan
perkusi dan DJ, Break of reality and Primitivity. Kelompok-
kelompok ini adalah contoh sebuah gaya yang disebut Cello
rocksilenzium dan VivaCello adalah kelompok cellistt Rusia
yang memainkan musik rock dan metal yang semakin terkenal di
Siberia. Band yang kemudian juga menggunakan Cello antara
lain Aerosmith, Nirvana, Oasis, Murder by Death, dan Cursive.
Seniman yang disebut dengan “chamber pop” seperti Kronos
quartet dan Margot and the Nuclear So and So’s juga
menggunakan Cello dalam musik rock alternative modern akhir-
akhir ini. Band heavy metal seperti system of a Down juga
banyak menggunakan Cello dalam musiknya. Band rock indie
The Stiletto Formal dikenal karena menggunakan Cello sebagai
inti permainan musik mereka.
Bidang Keterampilan Cello 287
Bab 23
Dalam musik jazz, pemain bass Oscar Pettiford dan harry
Babasin adalah seniman yang menggunakan Cello sebagai
instrument tunggal; pettiford menyetel instrumennya pada
fourth, satu oktaf diatas double bass. Cellistt jazz kontemporer
antara lain adalah Abdul Wadud, Diedre Murray, Ron Carter,
Dave Holland, David Darling, Akua Dixon, Ernst reijseger, Fred
Lonberg-Holm, dan Erik Friedlander.
23.3. Tuntutan Kompetensi
23.3.1. Semester 1
Telah dijelaskan dalam bab kedua bahwa bidang keahlian
ketrampilan Cello untuk SMK termuat dalam lima butir Standar
Kompetensi beserta rincian Kompetensi dasarnya. Ketrampilan
instrumen ini terdapat pada butir kedua yang merupakan
penguasaan repertoar Cello Tingkat Dasar 1. Untuk keperluan uji
kompetensi siswa disarankan memilih satu lagu yang ditetapkan
dalam daftar setiap kelompok repertoar yang telah ditentukan
dalam silabus oleh masing-masing sekolah. Repertoar yang
dikembangkan untuk materi ajar disarankan mengacu kepada
standar kompetensi nasional untuk musik klasik sebagai berikut:
Daftar A
1. Anon. French Bourée in C. No.9 From ViolonCello Music for
Beginner I, ed. Lengyel Pejtsik (editio Musica/Boosey & Hawkes)
2. Neidhart Van Reuethal May Song. No. 1 From ViolonCello
Music for Beginner I, ed. Lengyel Pejtsik (editio Musica/Boosey &
Hawkes)
3. J. S. Bach Minuet in C. Bach for the Cello, trans. Krane
(Schirmer/Music Sales)
4. F. Couferin A Trifle (Le Petit-Rien). No. 7 from Easy Classic for
Cello, arr. Forbes (O.U.P)
Bidang Keterampilan Cello
288
Bab 23
5. Haydn Trio (from Minuet no. 5). Time Pieces for Cello, vol. 1,
arr. Black and Harris (Associated Board)
6. L. Mozart Bourlesg. No. 1 from the Notebooks for A.M. Bach and
W.A. Mozart, arr. Bartlest (Universal 18650/M.D.S.)
Daftar B
1. Carse A Martial Tune: no. 3 from ‘3 short Pieces’ (Stainer &
Bell)
2. Katherine and Hugh College Full Moon: from ‘Waggon
Wheels’ for Cello and Piano (Boosey & Hawkes)
3. Colin Evans Lazy Days: no. 2 from ‘Cello Tome’
(Novello/Music Sales)
4. Schubert Landler. No.26 from Piece by Piece 1 for Cello and
Piano, arr. Nelson (Boosey & Hawkes)
5. Rezó Sugár Old Hungarian Folk Song. No. 27 No. 1 from
ViolonCello Music for Beginner I, ed. Lengyel Pejtsik (editio
Musica/Boosey & Howkes)
6. Tchaikovsky Chanson Russe (Op. 39 no. 12). Time Pieces for
Cello, vol. 1, arr. Black and Harris (Associated Board)
Daftar C
1. Lajos Áes Bear’s Dance. No. 25 from ViolonCello Music for
Beginner I, ed. Lengyel Pejtsik (editio Musica/Boosey & Howkes)
2. Sándor Szokolay Sorrowful Song: no. 1 from ‘Small Suite’.
No.28/1 from From ViolonCello Music for Beginner I, ed. Lengyel
Pejtsik (editio Musica/Boosey & Howkes)
3. Alan Bullard Hungarian Dance or Jazz Waltz: from ‘Party
Time!’ for Cello and Piano (Associated Board)
4. Paul Harris March of the Stegosaurus. Time Pieces for Cello,
vol. 1, arr. Black and Harris (Associated Board)
Bidang Keterampilan Cello 289
Bab 23
5. Sheila Nelson Flag Dance or Whirlpool Waltz. No. 17 or no.
23 from Pieces by Piece 1 for Cello and Piano, arr. Nelson (Boosey
& Hawkes)
6. Christopher Norton Snooker Table: no. 18 from ‘Microjazz
Cello Collection 1’ (Boosey & Hawkes)
Tangganada dan Arpeggio: Harus dihapalkan dan dalam kunci
nada berikut: G, D mayor (Satu Oktaf: Naik Turun) C mayor
(Dua Oktaf Naik Turun)
Tangganada: Pada kunci nada di atas dimainkan dari posisi
senar yang terbuka (Open String): Dilakukan dengan (i)
gesekan terpisah, dan: (ii) dimainkan secara legato, dengan dua
nada sekali gesek seperti contoh di bawah ini:
Ilustrasi 23.4
Cara memainkan tangganada.
Arpeggio: Trisuara (chord) yang umum dari kunci nada tersebut
di atas dengan jarak nada (range) yang di tunjukan,dimulai pada
posisi senar terbuka dan gesekan yang terpisah dan bahkan juga
dengan nada yang terpisah :
Ilustrasi 23.5
Bentuk dasar permainan arpegio
Bidang Keterampilan Cello
290
Bab 23
Bermain Primavista: memainkan sebuah lagu pendek dalam
sukat yang sederhana,dalam kunci nada dan seluruh jarak nada
yang diisyaratkan pada level kompetensi ini. Beberapa nada
hiasan,staccato dan legato dapat dimasukan.
Test Solfeggio: Ditentukan oleh penguji level kompetensi
23.3.2. Semester 2
Sebagaimana halnya pelatihan semester pertama, pada
semester kedua inipun siswa perlu mempersiapkan tiga buah
karya yang mewakili masing-masing kelompok repertoire yang
telah ditetapkan dalam silabus. Sebagai gambaran tingkat
kesulitan yang dituntut, berikut ini merupakan daftar repertoire
yang dimaksud.
Daftar A
1. Anon. Italian Rant Time Pieces for Cello, vol. 1, arr. Black and
Harris (Associated Board)
2. Beethoven Marmotte, Op. 52 no. 7 Time Pieces for Cello, vol. 1,
arr. Black and Harris (Associated Board)
3. J. S. Bach March in G. Bach for the Cello, trans. Krane
(Schirmer/Music Sales)
4. Handel March from ‘Flavius’. No. 6 from Easy Classic for Cello,
arr. Forbes (O.U.P)
5. L. Mozart Schwaben Tanz. No.4 from the Notebooks for A.M.
Bach and W.A. Mozart, arr. Bartlest (Universal 18650/M.D.S.)
6. Purcel Come, ye sons of Art. Time Pieces for Cello, vol. 2, arr.
Black and Harris (Associated Board)
Daftar B
1. Haydn Minuet and Trio. No. 25. from Piece by Piece 1 for Cello
and Piano, arr. Nelson (Boosey & Hawkes)
Bidang Keterampilan Cello 291
Bab 23
2. Joan Lovell and Peggy Page Carillon no. 27 from ‘Four
Strings and a Bow’. Book 1 (Bosworth/Music Sales)
3. Mozart Andante (with repeats) No. 1 from Classical Pieces for
the Beginner, vol. 1, arr. Such (Schott 4818/M.D.S.)
4. Mozart Papageno’s Song from ‘The Magic Flute’ Time
Pieces for Cello, vol. 2, arr. Black and Harris (Associated Board)
5. Smetana Czech Dance. Time Pieces for Cello, vol. 1, arr. Black
and Harris (Associated Board)
6. Weber Walzer. Melodies by Old Masters for Young Cellistt,
Vol. 1 arr. Rapp (Schott 2384/M.D.S.)
Daftar C
1. Howard Blake Archangel’s Lullaby. First Repertoire for Cello
Book 1, arr. Legg and Gout (Faber)
2. Katherine and Hugh College The Ceilidh: no. 21 from ‘Fast
Forward’ for Viola (Boosey & Hawkes)
3. Marie Dare Serenade (Schott 10738/M.D.S.)
4. Colin Evans Frog Dance: No. 7 from ‘Cello Time’
(Novello/Music Sales)
5. Sheila Nelson Mango Walk or Roaring Jelly. No. 7 or no. 14
from Pieces by Piece 2 for Cello and Piano, arr. Nelson (Boosey &
Hawkes)
6. Elizabeth St. Liz Nocturne for November from ‘A Calendar
for Learning’ (Associated Board)
Di samping repertoar, siswa semester kedua dituntut
untuk menguasai bahan-bahan teknik yang meliputi tangganada,
arpegio
Tangganada dan arpegio harus dibawakan dengan hapal.
Aspek tersebut dimainkan dalam kunci nada minor melodik atau
Bidang Keterampilan Cello
292
Bab 23
harmonik, tergantung pilihan peserta uji kompetensi, yaitu dari
nada dasar: F, A, Bes mayor dan D minor (Satu Oktaf Naik
Turun), kemudian tangganada C dan G mayor (Dua Oktaf Naik
Turun). Tangganada dibawakan dengan gesekan terpisah,
dimainkan secara legato dengan dua nada sekali gesek.
Ilustrasi 23.6.:
Ritmis yang gunakan tangganada.
Primavista: Memainkan sebuah lagu pendek dalam sukat yang
sederhana, dalam kunci nada dan seluruh jarak nada yang
diisyaratkan pada level kompetensi ini.Beberapa nada
hiasan,staccato dan legato dapat dimasukan.
23.3.3. Semester 3
Siswa memilih sendiri atau dengan bantuan guru bahan
ujiannya, masing-masing dari kelompok daftar repertoar yang
disediakan. Berikut ini adalah daftar repertoar yang bisa
digunakan untuk keperluan tersebut pada level ini.
Daftar A
1. Carissimi Vittoria! No.9 Classical and Romantic Pieces for Cello,
arr. Forbes (O.U.P.)
2. Purcell Rondeau from ‘The Fairy Queen’. No. 3 Classical and
Romantic Pieces for Cello, arr. Forbes (O.U.P.)
3. Galliard Hornpipe a l’Inglese First Repertoire for Cello Book 2,
arr. Legg and Gout (Faber)
4. Lully Gavotte and Mousette First Repertoire for Cello Book 1,
arr. Legg and Gout (Faber)
5. Muffat Bourrée (I and II) No. 16 From ViolonCello Music for
Beginner 2, ed. Lengyel Pejtsik (editio Musica/Boosey & Howkes)
Bidang Keterampilan Cello 293
Bab 23
6. Telemann Gavotta. Melodies by Old Masters for Young
Cellistt, vol. 1, arr. Rapp (Schott 2384/M.D.S.)
Daftar B
1. Borodin Polovstian Dance First Repertoire for Cello Book 2,
arr. Legg and Gout (Faber)
2. Alan Gout Barcarolle. First Repertoire for Cello Book 1, arr.
Legg and Gout (Faber)
3. Grieg Solveig’s Song from ‘Peer Gynt’ Time Pieces for Cello,
vol. 2, arr. Black and Harris (Associated Board)
4. Schubert 2 German Dances Time Pieces for Cello, vol. 2, arr.
Black and Harris (Associated Board)
5. Steibelt Un Ballo. Melodies by Old Masters for Young Cellistt,
Vol. 1 arr. Rapp (Schott 2384/M.D.S.)
6. Arnold Trowel Menuet (end Trio) no. 4 from ’12 Morceaux
Faciles’, Op. 4, Book 2 (Schott 11211/M.D.S.)
Daftar C
1. Howard Blake Walking in the Air: no. 2 from ‘Snowman
Suite’ for Cello (Faber)
2. Katherine and Hugh College Cossacks or Stiffkey Blues:
no.13 or no. 15 from ‘Shooting Stars’ for Cello and Piano
(Boosey & Hawkes)
3. Grechaninov The Joker: no. 3 from ‘Early Morning’, Op.
126b (Schott 2143/M.D.S.)
4. Kabalevsky Gallop Time Pieces for Cello, vol. 2, arr. Black and
Harris (Associated Board)
5. Satie Chez le docteur Time Pieces for Cello, vol. 2, arr. Black and
Harris (Associated Board)
6. Pamela Wedgwood Build that Wall or Pandora’s Box: no. 1
or no. 4 from ‘Up-Grade! Cello Grades 3-4’ (Faber)
Bidang Keterampilan Cello
294
Bab 23
Tangganada dan Arpeggio: Harus dihapalkan
Tangganada: dalam kunci-kunci nada berikut (dalam bentuk
minor melodik atau harmonik tergantung pilihan peserta uji
kompetensi): A, Bes mayor; C, G minor (Satu Oktaf Naik Turun);
C, D, F, G majors; D minor (Dua Oktaf Naik Turun). Mainkan
dengan melakukan gesekan terpisah, dan legato dengan dua
nada dalam sekali gesek.
Arpeggio: akor-akor yang umum dengan mengikuti kunci
berikut: F, A, Bes mayor; C, G, D minor (Dua Oktaf Naik Turun);
C, D, G mayor (Dua Oktaf Naik Turun). Lakukan dengan: (i)
gesekan terpisah, setiap nadanya dan (ii) mainkan secara legato,
dengan tiga nada sekali gesek.
Ilustrasi 23.7
Arpegio dengan tiga nada dalam sekali gesekan
Dominan Tujuh: Pada kunci nada F, C dan G (dimulai pada
senar terbuka C, G, dan D dan kembali ke tonika(Satu Oktaf):
dimainkan secara terpisah setiap not nya.
Bermain Primavista: memainkan sebuah lagu pendek dalam
sukat yang sederhana,dalam kunci nada dan seluruh jarak nada
yang diisyaratkan pada level kompetensi ini.
23.3.4. Semester 4
Peserta ujian kompetensi harus memilih satu repertoar dari
setiap kelompok dalam daftar A, B dan C di bawah ini.
Daftar A
1. Boyce Minuet (from Concerto Grosso in B minor). Time
Pieces for Cello, vol. 3, arr. Black and Harris (Associated Board)
Bidang Keterampilan Cello 295
Bab 23
2. Cirri Sonata no. 3 in F 1st movt, Allegro (Heinrichshofen
N1283a/Peters)
0 comments
Post a comment