SMK-MAK kelas10 smk perancangan sistem kerja dan ergonomi industri liswarti - Presentation Transcript
Bambang Suhardi
Bambang Suhardi
Perancangan
PERANCANGAN SISTEM KERJA DAN ERGONOMI INDUSTRI
Sistem Kerja
dan Ergonomi
Industri
untuk
Sekolah Menengah Kejuruan
untuk SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Bambang Suhardi
PERANCANGAN SISTEM
KERJA DAN ERGONOMI
INDUSTRI
Untuk SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
i
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
PERANCANGAN SISTEM
KERJA DAN ERGONOMI
INDUSTRI
Untuk SMK
Penulis : Nur Wahyu Rochmadi
Ilustrasi, Tata Letak :
Perancang Kulit :
Ukuran Buku :
410
SUH SUHARDI, Bambang.
p Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Industri: Untuk
SMK/oleh Bambang Suhardi. ---- Jakarta:Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
ii
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008,
telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks
pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat
melalui website bagi siswa SMK.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan
Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK
yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses
pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
12 tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara
luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga
penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh
Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih
memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta
didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia
yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini.
Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar
dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami
menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh
karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
iii
KATA PENGANTAR
Hanya karena petunjuk Allah SWT buku ini dapat diwujudkan.
Penerapan ilmu Ergonomi dalam dunia industri di Indonesia masih
jauh dari harapan. Banyak faktor yang menyebabkan kurang
membudayanya penerapan ergonomi, salah satunya karena masih
minimnya buku-buku ergonomi berbahasa Indonesia. Kondisi ini
menyebabkan terhambatnya sosialisasi pembudayaan penerapan
Ergonomi di masyarakat. Hal inilah yang mendorong penulis untuk
mencoba menulis buku perancangan sistem kerja dan ergonomi
industri.
Dalam penulisan buku ini penulis mencoba mengkaitkan ilmu
ergonomi dengan perancangan sistem kerja di industri. Sehingga
pembaca diharapkan bisa melihat peranan ilmu ergonomi dalam dunia
kerja.
Buku ini disusun untuk dipergunakan bagi siswa Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK). Dalam penyajiannya, penulis berusaha
untuk menulis secara sistematis dan banyak menggunakan gambar-
gambar sehingga pembaca menjadi lebih tertarik untuk mempelajari
buku ini. Buku ini disusun menjadi 2 jilid, dimana jilid 1 terdiri dari 5
bab dan jilid 2 terdiri dari 4 bab.
Penulis menyadari bahwa buku perancangan sistem kerja dan
ergonomi inustri ini masih perlu disempurnakan, untuk itu berbagai
kritik dan saran yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan
buku ini. Semoga buku ini bisa memberikan banyak manfaat bagi
semua pihak.
Solo, 2008
Bambang Suhardi
iv
DAFTAR ISI
Halaman
Kat Sambutan iii
Kata Pengantar iv
Daftar Isi v
Daftar Gambar x
Daftar Tabel xiv
BAGIAN I
Bab I SISTEM PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS I-1
1.1 Pendahuluan 1
1.2 Konsep Dasar Sistem Produksi 2
1.2.1 Input 3
1.2.2 Proses Transformasi 5
1.2.3 Output 5
1.3 Produktivitas Kerja 6
1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas 11
1.5 Cara Mengukur Produktivitas Kerja 12
1.6 Rangkuman 13
1.7 Soal 14
Bab II ANALISA PERANCANGAN KERJA II – 1
2.1 Pendahuluan 15
2.2 Peta Kerja 15
2.2.1 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan 16
2.2.2 Peta Aliran Proses 24
28
2.2.3 Peta Proses Regu Kerja
2.3 Pengukuran Kerja 29
2.4 Penentuan Ukuran Sampel 32
2.5 Rangkuman 35
2.6 Soal 35
Bab III ERGONOMI III – 1
3.1 Pendahuluan 36
3.2 Ergonomi 37
3.2.1 Ruang Lingkup Ergonomi 38
3.2.2 Resiko Karena Kesalahan Ergonomi 38
3.2.3 Identifikasi Resiko 40
v
3.2.4 Cumulative Trauma Disorder 41
3.2.5 Sikap Tubuh 44
3.2.6 Posisi Kerja 45
3.2.7 Mengenali Sumber Penyebab Keluhan Muskuloskeletal 50
3.3 Konsep Antropometri 51
3.3.1 Alat Ukur Antropometri 52
3.3.2 Cara Pengukuran 54
3.3.3 Data Antropometri 56
3.3.4 Antropometri pada Posisi Duduk 62
3.3.5 Persentile 70
3.3.6 Data Antropometri untuk Perancangan Produk 72
3.4 Rangkuman 73
3.5 Soal 73
Bab IV TELAAH METODE IV – 1
4.1 Pendahuluan 77
4.2 Prinsip-prinsip Ekonomi Gerakan 78
4.2.1 Tubuh Manusia dan Gerakan-gerakannya 79
4.2.2 Tata Letak Tempat Kerja dan Gerakan-gerakan 80
4.2.3 Perancangan Peralatan dan Gerakan-gerakan 81
4.3 Penerapan Ekonomi Gerakan 84
4.3.1 Eliminasi Kegiatan 84
4.3.2 Kombinasi Gerakan atau Aktivitas Kerja 85
4.3.3 Penyederhanaan Kegiatan 85
4.4 Studi Gerakan untuk Menganalisa Kerja 86
4.5 Perbaikan dengan Ekonomi Gerakan 105
4.5.1 Mengurangi Jumlah Gerakan 106
4.5.2 Lakukan Gerakan Bersamaan Waktunya 115
4.5.3 Mempermudah Gerakan 121
4.6 Contoh Aplikasi Perbaikan Kerja 124
4.6.1 Penyederhanaan 124
4.6.2 Penggabungan 125
4.6.3 Penghapusan 128
4.6.4 Penataan Tempat Kerja 129
4.6.5 Pemborosan Karena Proses 135
4.7 Rangkuman 136
4.8 Soal 137
Bab V WAKTU SET UP V-1
5.1 Pendahuluan 138
5.2 Pengurangan Waktu Set Up 139
5.3 Teknik Kecepatan Set Up 140
5.3.1 Pisahkan Kegiatan Set Up Eksternal dan Internal 140
5.3.2 Memperbaiki Kegiatan Set Up Internal 141
5.3.3 Memperbaiki Kegiatan Set Up Eksternal 146
5.4 Rangkuman 148
5.5 Soal 148
vi
BAGIAN II
Bab VI MATERIAL HANDLING VI – 1
6.1 Pendahuluan 149
6.2 Peralatan Material Handling 150
6.2.1 Conveyor 150
6.2.2 Cranes dan Hoists 152
6.2.3 Truck 154
6.3 Manual Material Handling 156
6.3.1 Manual Material Handling Menurut OSHA 157
6.3.2 Batasan Beban yang Boleh Diangkat 161
6.3.3 Pemindahan Material Secara Teknis 163
6.3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi MMH 164
6.3.5 Cara Mengangkat Beban 166
6.3.6 Faktor Resiko Kecelakaan Kerja MMH 171
6.3.7 Penanganan Resiko Kerja MMH 171
6.4 Metode Analisa Postur Kerja OWAS 172
6.5 Material Handling Bahan Kimia Berbahaya 181
6.6 Rangkuman 182
6.7 Soal 183
Bab VII LINGKUNGAN KERJA FISIK VII – 1
7.1 Pendahuluan 184
7.2 Temperatur 184
7.2.1 Lingkungan Kerja Panas 185
7.2.2 Pengaruh Temperatur Terhadap Kesehatan dan
Keselamatan Kerja 187
7.2.3 Penilaian Lingkungan Kerja Panas 188
7.2.4 Pengendalian Lingkungan Kerja Panas 190
7.3 Kebisingan 192
7.3.1 Seberapa Keras Suara yang Terlalu Keras? 193
7.3.2 Anatomi Telinga Manusia 193
7.3.3 Suara di Tempat Kerja 194
7.3.4 Jenis Kebisingan 197
7.3.5 Nilai Ambang Batas 199
7.3.6 Pengaruh Kebisingan 200
7.3.7 Sumber Kebisingan 201
7.3.8 Pengukuran Kebisingan 203
7.3.9 Mengendalikan Tingkat Kebisingan 205
7.4 Pencahayaan 209
7.4.1 Definisi dan Istilah yang Dipakai 210
7.4.2 Hukum Kuadrat Terbalik 212
7.4.3 Jenis-jenis Sistim Pencahayaan 213
7.4.4 Komponen Pencahayaan 217
7.4.5 Dampak Penerangan yang Tidak Baik 220
7.4.6 Merancang Sistem Pencahayaan 220
7.4.7 Pendekatan Aplikasi Penerangan di Tempat Kerja 222
7.4.8 Pemasangan Lampu Penerangan 224
vii
7.5 Getaran 225
7.5.1 Pengaruh Getaran 226
7.5.2 NAB Getaran 226
7.5.3 Pengendalian Getaran 227
7.6 Bau-bauan 228
7.7 Radiasi Non Ionisasi 229
7.7.1 Gelombang Mikro 229
7.7.2 Sinar Ultraviolet 230
7.7.3 Sinar Infra Merah 231
7.7.4 Sinar Laser 231
7.8 Ventilasi 232
7.8.1 Prinsip Sistem Ventilasi 232
7.8.2 Tempat Kerja Berbahaya 233
7.8.3 Permasalahan Ventilasi di Industri 233
7.9 Bahan Berbahaya Beracun 242
7.9.1 Penanganan Bahan Kimia Berbahaya 243
7.9.2 Penyimpanan Bahan Kimia Berbahaya 244
7.9.3 Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang 246
7.9.4 Label Bahan Kimia 249
7.9.5 Lembar Data Keselamatan Bahan 250
7.10 Rangkuman 252
7.11 Soal 252
Bab VIII ALAT PELINDUNG DIRI VIII – 1
8.1 Pendahuluan 254
8.2 Bahaya di Tempat Kerja 254
8.3 Evaluasi Bahaya di Tempat Kerja 256
8.4 Aktivitas Kerja di Industri 256
8.5 Pemilihan APD di Perusahaan 259
8.6 Jenis-jenis APD 260
8.6.1 Alat Pelindung Kepala 261
8.6.2 Hats/Cap 262
8.6.3 Kacamata 263
8.6.4 Goggles 264
8.6.5 Perisai Muka 265
8.6.6 Alat Pelindung Telinga 267
8.6.7 Alat Pelindung Pernapasan 271
8.6.8 Alat Pelindung Tangan 257
8.6.9 Alat Pelindung Kaki 278
8.6.10 Pakaian Pelindung 281
8.6.11 Sabuk Pengaman 282
8.6.12 Alat Pelindung untuk Pekerjaan Las 284
8.6.13 Alat Pelindung Lutut 288
8.6.14 Back and Lumbar Support Belts 289
8.7 Pemeliharaan APD 290
8.8 Rangkuman 290
8.9 Soal 291
viii
Bab IX STASIUN KERJA KOMPUTER IX – 1
9.1 Pendahuluan 192
9.2 Gangguan Kesehatan Pemakaian Komputer 193
9.2.1 Gangguan pada Bagian Mata dan Kepala 194
9.2.2 Gangguan pada Lengan dan Tangan 194
9.2.3 Gangguan pada Leher, Pundak dan Punggung 196
9.3 Cara Menanggulangi Gangguan Kesehatan/Kelelahan 196
9.3.1 Menghindari CTS 196
9.3.2 Menghindari Kelelahan 196
9.4 Peralatan pada Stasiun Kerja Komputer 206
9.4.1 Mouse 207
9.4.2 Layar Komputer 207
9.4.3 Keyboard 208
9.4.4 Meja Komputer 209
9.5 Sikap Kerja Tidak Benar 210
9.6 Pengaturan Stasiun Kerja Komputer 212
9.6.1 Tempat Kerja 213
9.6.2 Keyboard 214
9.6.3 Mouse 217
9.6.4 Monitor 220
9.6.5 Kursi 221
9.6.6 Penopang Kaki 223
9.6.7 Bantalan Punggung 224
9.6.8 Pemegang Dokumen 225
9.6.9 Tudung Pelindung 225
9.7 Pandangan Menyilaukan 226
9.8 Cara Berkomputer 228
9.9 Kebisingan dan Radiasi 228
9.10 Rangkuman 229
9.11 Soal 230
Daftar Pustaka 236
Daftar Istilah 239
ix
DAFTAR GAMBAR
1.1 Bagan Input Output
1.2 A. Kurva Kenaikan Produktivitas
B. Kurva Penurunan Biaya
2.1 Aktivitas Sistem Kerja
2.2 Stasiun Kerja 1
2.3 Stasiun Kerja 2
2.4 Stasiun Kerja 3
2.5 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Departemen 1
2.6 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Departemen 2
2.7 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Departemen 3
2.8 Peta Aliran Proses Merakit Steker
2.9 Peta Aliran Proses Membungkus Steker
2.10 Peta Aliran Proses Memasukkan Kotak Kecil dalam Dos Besar
2.11 Peta Proses Regu Kerja
3.1 Contoh CTD
3.2 Sikap Tubuh Paling Baik
3.3 Bad: Arm above Shoulder (Sikap Tubuh Tidak Baik)
3.4 Posisi Kerja Mendongak
3.5 Posisi Kerja Menjangkau
3.6 Posisi Kerja Menunduk
3.7 Pekerjaan Membungkuk
3.8 Pekerjaan Dengan Jongkok
3.9 Pekerjaan Dengan Berlutut
3.10 Mengambil Benda Dengan Jari
3.11 Gerakan Meremas
3.12 Goniometer Untuk Mengukur Sudut
3.13 Jenis-jenis Antropometer
3.14 Kursi Antropometeri
3.15 Mengukur Lebar Telapak Tangan
3.16 Penggunaan Antropometer Papan Kepala Bergeser
3.17 Penggunaan Antropometer Dengan Sistem Grid dan Board di Sudut
3.18 Ukuran Tubuh Manusia yang Sering Digunakan untuk Merancang Produk
3.19 Antropometri Struktural Posisi Berdiri dan Duduk
3.20 Antropometri Struktural Kepala, Wajah, Tangan dan Kaki
3.21 Antropometri Fungsional/Dinamis
3.22 Antropometri Fungsional Posisi Kerja
3.23 Tulang Duduk dalam Posisi Duduk
3.24 Potongan Tulang Duduk pada Bagian Posterior
3.25 Dimensi Antropometri untuk Perancangan Kursi
3.26 Tempat Duduk Terlalu Tinggi
3.27 Tempat Duduk Terlalu Rendah
3.28 Landasan Tempat Duduk Terlalu Lebar
3.29 Landasan Tempat Duduk Terlalu Sempit
3.30 Sandaran Punggung
3.31 Nordic Body Map
4.1 Tahapan dalam Telaah Metode Kerja
4.2 Distribusi Beban Kegiatan Kerja antara Tangan & Kaki Guna
Mengoperasikan Suatu Peralatan Kerja
x
4.3 Dimensi Standard dari Normal dan Maksimum Area Kerja dalam 3 Dimensi
4.4 Multiple Spindle Air Operated yang Mampu Mengencangkan 5 Buah Mur
Sekaligus dalam Satu Langkah Kerja
4.5 Pekerja Sedang Mencari Peralatan Obeng
4.6 Aktivitas Memilih Obeng
4.7 Aktivitas Memegang
4.8 Gerakan Menjangkau
4.9 Gerakan Membawa dengan Beban
4.10 Gerakan Memegang untuk Memakai
4.11 Gerakan Tangan Melepas Mur
4.12 Gerakan Mengarahkan Mur dan Clamp
4.13 Merakit
4.14 Melepas Rakit
4.15 Kode Warna Menghindari Kesalahan
4.16 Menangani Beberapa Mesin Sekaligus
4.17 Pergantian Cetakan dengan Cepat
4.18 Set Up Cepat pada Mesin Injeksi Plastik
4.19 Menghapuskan Transportasi yang Tidak Perlu
4.20 Lembar Periksa
4.21 Petunjuk Kerja Maupun Alat Kerja Tersedia
4.22 Alat Bantu Kerja Berada di Dekat Lokasi Kegiatan
4.23 Alat Kerja Digantung
4.24 Tempat Khusus untuk Setiap Benda
4.25 Kontrol Visual
4.26 Penerapan Kontrol Visual untuk Standard Produksi
4.27 Penerapan Kontrol Visual pada Penataan Alat Kerja
4.28 Kontrol Visual untuk Material Handling
5.1 Pengurangan Kegiatan Penyetelan
5.2 Penerapan Standarisasi Alat Bantu
5.3 Penerapan Operasi Set Up Paralel di tempat Kegiatan
5.4 Kegiatan Set Up Paralel pada Mesin Kempa
5.5 Perbaikan Cara Bongkar Pasang
5.6 Penataan Tempat Kerja
5.7 Kereta Khusus untuk Cetakan
6.1 Conveyor
6.2 Crane
6.3 Hoists
6.4 Hand Truck
6.5 Fork Lift Truck
6.6 AGV
6.7 Kegiatan Mengangkat/Menurunkan
6.8 Kegiatan Mendorong/Menarik
6.9 Kegiatan Memutar
6.10 Kegiatan Membawa
6.11 Kegiatan Menahan
6.12 Cara Mengangkat yang Salah
6.13 Cara Mengangkat yang Benar
6.14 Postur Tubuh Bagian Belakang
6.15 Postur Tubuh Bagian Lengan
6.16 Postur Tubuh Bagian Kaki
6.17 Ukuran Beban
6.18 Posisi Sikap Pekerja
7.1 Pekerja Mengawasi Tungku Peleburan Logam
7.2 Mengambil Cairan Logam dari Tungku
xi
7.3 Termometer Ruangan Digital
7.4 Struktur Telinga Manusia
7.5 Mesin Penyerut Kayu
7.6 Aktivitas Memotong Besi
7.7 Kegiatan Menggerinda
7.8 Jenis Kebisingan
7.9 Belokan Tajam akan Menambah Kebisingan Aliran
7.10 Penambahan Sudut Kemiringan Pembelokan Aliran
7.11 Sound Level Meter
7.12 Noise Dosimeter
7.13 Penggantian Riveting dengan Welding
7.14 Lampu Pijar dan Diagram Alir Energi Lampu Pijar
7.15 Lampu Halogen Tungsten
7.16 Lampu Neon
7.17 Diagram Alir Energi Lampu Neon
7.18 Pencahayaan Siang Hari dengan Polycarbon
7.19 Atrium dengan Kubah FRP
7.20 Kombinasi Lampu Utama dan Tambahan
7.21 Lampu Dipasang di Atas Pekerja
7.22 Pemasangan Canopyhood
7.23 Ventilasi Sistem Slot
7.24 Ductwork
7.25 Pipa Membelok
7.26 Bentuk Pipa Cabang
7.27 Ventilasi di Pabrik
7.28 Fan
8.1 Peleburan Logam
8.2 Pande Besi
8.3 Pekerjaan Las
8.4 Menggerinda
8.5 Pekerja Memakai Helm
8.6 APD Helm
8.7 APD Hats/Cap
8.8 Pekerja Memakai Kacamata
8.9 APD Kacamata
8.10 Pekerja Memakai Goggles
8.11 APD Goggles
8.12 Pekerja Memakai Perisai Muka
8.13 APD Perisai Muka
8.14 Pekerja Memakai Pelindung Telinga
8.15 Ear Plugs Sekali Pakai
8.16 Reusable Plug
8.17 Macam-macam Ear Muff
8.18 Pekerja Memakai Masker
8.19 Pekerja Memakai Respirator
8.20 APD Respirator
8.21 Bagian-bagian Respirator dan Cara Pemakaian
8.22 Sarung Tangan Mekanik
8.23 General Purpose Gloves
8.24 Sarung Tangan untuk Pekerjaan Kimia
8.25 Pekerja Memakai Sepatu
8.26 APD Sepatu
8.27 Pekerja Memakai Pakaian Pelindung
8.28 Model Pakaian Pelindung
xii
8.29 Safety Harneses
8.30 Roofers and Construction Fall Protection Kits
8.31 Anchorage Connectors
8.32 Carabiners
8.33 Sarung Tangan untuk Pekerjaan Las
8.34 Perisai Muka
8.35 Kacamata Las
8.36 Model Jaket Las
8.37 Model Pelindung Lutut
8.38 Back and Lumbar Support Belts
9.1 Perangkat Komputer
9.2 Carpal Tunnel Syndrome
9.3 Aktivitas yang Menyebabkan CTS
9.4 Gerakan Tangan untuk Menghindari CTS
9.5 Gerakan Bahu
9.6 Bernafas dan Mengontrol Sikap Tubuh
9.7 Penarikan Leher
9.8 Rangkulan Bertekanan pada Punggung Bagian Tengah
9.9 Perputaran dan Peregangan Pergelangan Tangan
9.10 Kepalan dan Regangan Jari
9.11 Regangan Punggung Bagian Bawah
9.12 Gerakan Melingkar, Melentur dan Menunjuk pada Mata Kaki
9.13 Penyembunyian
9.14 Mengejapkan Mata
9.15 Pemfokusan Kembali
9.16 Mouse
9.17 Monitor
9.18 Keyboard
9.19 Meja Komputer
9.20 Posisi Kerja Membungkuk
9.21 Posisi Kerja Duduk Tegak dengan Kepala Menunduk
9.22 Letak Keyboard Terlalu Jauh
9.23 Letak Keyboard Terlalu dekat
9.24 Keyboard QWERTY
9.25 Orang Gemuk dengan Keyboard QWERTY
9.26 Keyboard Split
9.27 Posisi Papan Keyboard
9.28 Perluasan Peregangan Tangan yang Tidak Diinginkan
9.29 Posisi Pergelangan Tangan yang Baik
9.30 Posisi Monitor Terhadap Mata
9.31 Posisi Duduk yang Baik
9.32 Penopang Kaki
9.33 Bantalan Punggung
9.34 Pemegang Dokumen
9.35 Tudung Monitor
9.36 Sumber Silau
xiii
DAFTAR TABEL
1.1 Beberapa Contoh Sistem Produksi Jasa dan Manufaktur
1.2 Ukuran Produktivitas
2.1 Nilai Z
3.1 Tabel Resiko
3.2 Persentil dan Perhitungan
3.3 Kuesioner Nordic Body Map
4.1 Elemen Gerakan Therbligs
4.2 Uraian Gerakan Menulis
4.3 Penilaian Gerakan
4.4 Derajat Kesukaran Gerakan Dua Tangan Secara Bersamaan
4.5 Perbaikan Proses Pengeboran
5.1 Pemilahan Kegiatan External dan Internal Set Up
6.1 Tindakan yang Harus Dilakukan Sesuai Dengan Batas Angkat
6.2 Tindakan yang Harus Dilakukan Sesuai Dengan Batas Angkat
6.3 Skor Bagian Belakang (Back)
6.4 Skor Bagian Lengan (Arms)
6.5 Skor Bagian Kaki (legs)
6.6 Skor Berat Beban OWAS
6.7 Empat Level Sikap Kerja
6.8 Kategori Tindakan Kerja OWAS
7.1 Batas Waktu Pemaparan Kebisingan Per hari Kerja
7.2 Reflektan sebagai Persentase Cahaya
7.3 Karakteristik Kinerja Pencahayaan dari Luminer yang Umum digunakan
7.4 Area Kegiatan dan Tingkat Penerangan
7.5 Nilai Ambang Batas Getaran untuk Pemajanan Lengan dan Tangan
7.6 NAB Frekuensi Radio/Gelobang Mikro
7.7 Waktu Pemajanan Radiasi Sinar Ultra Violet yang Diperkenankan
7.8 Gejala dan Penyebab
7.9 Dosis: Apa yang Mempengaruhi Resiko
7.10 Lembar Data Keselamatan Bahan
8.1 Bahaya di Tempat Kerja
xiv
BAB I
SISTEM PRODUKSI DAN
PRODUKTIVITAS
1.1 Pendahuluan
Banyak hal telah dilakukan manusia dalam usahanya
untuk meningkatkan produktivitas kerja. Dengan peningkatan
produktivitas tersebut mengakibatkan banyak industri yang
mengganti tenaga manusia dengan mesin dan peralatan
produksi yang lebih modern. Kondisi ini banyak terjadi pada
negara-negara maju. Untuk negara berkembang, pengertian
mengenai produktivitas selalu dikaitkan dan diarahkan pada
segala usaha yang dilakukan dengan memanfaatkan sumber
daya manusia yang ada. Semua usaha untuk meningkatkan
produktivitas dilakukan tanpa dikaitkan dengan penanaman
modal. Modal ini digunakan untuk membeli mesin dan peralatan
yang lebih modern, sehingga produktivitas kerja bisa meningkat
secara spektakuler.
Masalah produktivitas pada dasarnya tidak bisa terlepas
dengan sistem produksi, yaitu sistem dimana faktor-faktor:
Manusia sebagai tenaga kerja (tenaga kerja langsung
dan tidak langsung).
Modal / kapital yang terdiri dari: mesin, perkakas bantu,
bahan baku, bangunan pendukung, dan lain-lain.
Dikelola dengan suatu cara yang terorganisasi dengan baik,
lebih produktif karena dikelola secara efektif dan efisien.
1
Bab I
Untuk meningkatkan produktivitas , maka kita tidak bisa
terpaku pada salah satu faktor saja. Meskipun teknologi yang
dimiliki sudah modern tapi kalau tidak didukung dengan
sumberdaya manusia yang terampil, maka produktivitas juga
belum tentu meningkat bahkan sebaliknya. Untuk memahami
persoalan yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas di
sektor industri ini maka perlu dipahami dulu tentang apa yang
dimaksud dengan sistem produksi dan produktivitas.
Siswa setelah membaca bab ini diharapkan memahami
konsep dasar sistem produksi, arti produktivitas kerja dan bisa
mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja
dan memahami cara mengukur produktivitas kerja pada suatu
industri.
1.2 Konsep Dasar Sistem Produksi
Sistem produksi adalah serangkaian aktivitas yang
dilakukan untuk mengolah atau mengubah sejumlah masukan
(input) menjadi sejumlah keluaran (output) yang memiliki nilai
tambah. Pengolahan yang terjadi bisa secara fisik maupun
nonfisik. Sedangkan nilai tambah adalah nilai dari keluaran yang
bertambah dalam pengertian nilai guna atau nilai ekonomisnya.
Proses produksi ini bisa digambarkan dalam bentuk bagan input
output (gambar 1.1). Gambar 1.1 menunjukkan bahwa elemen-
elemen utama dalam sistem produksi adalah: input, proses
transformasi dan output. Proses transformasi akan mengubah
masukan/input menjadi keluaran/output. Proses ini biasanya
dilengkapi dengan kegiatan umpan balik untuk memastikan
bahwa keluaran yang diperoleh sesuai dengan yang diinginkan.
Tidak menutup kemungkinan bahwa proses transformasi ini juga
dipakai sebagai pengendali sistem produksi agar mampu
meningkatkan perbaikan terus-menerus.
Sistem produksi memiliki komponen atau elemen
struktural dan fungsional yang berperan penting menunjang
kontinuitas operasional sistem produksi ini. Komponen atau
elemen struktural yang membentuk sistem produksi terdiri dari:
2
Bab I
material, mesin dan peralatan, tenaga kerja, modal, energi,
informasi , tanah, dan lain-lain. Elemen fungsional terdiri dari:
supervisi, perencanaan, pengendalian, koordinasi, dan
kepemimpinan. Elemen fungsional berkaitan dengan manajemen
dan organisasi.
1.2.1 Input
Dalam sistem produksi terdapat beberapa input sebagai
berikut:
1. Tenaga kerja. Operasi sistem produksi membutuhkan
intervensi manusia dan orang-orang yang terlibat dalam
sistem produksi dianggap sebagai input tenaga kerja.
2. Mesin. Untuk mengubah bahan baku menjadi produk
jadi, maka sebuah sistem produksi membutuhkan
mesin.
3. Material. Agar sistem produksi dapat menghasilkan
produk manufaktur, diperlukan material atau bahan
baku.
4. Modal. Operasi sistem produksi membutuhkan modal.
Fasilitas peralatan, mesin produksi, bangunan pabrik,
gudang dan lain-lain dianggap sebagai barang modal.
5. Metoda. Aktivitas sistem produksi untuk mengubah
material menjadi barang jadi memerlukan teknologi.
Teknologi tersebut harus bisa dioperasikan. Cara untuk
mengoperasikan teknologi disebut dengan metoda.
6. Energi. Mesin-mesin produksi dan aktivitas pabrik
lainnya membutuhkan energi untuk menjalankan
aktivitas itu. Berbagai macam bahan bakar, minyak
pelumas, tenaga listrik, air untuk keperluan pabrik, dll,
dianggap sebagai input energi.
7. Informasi. Dalam industri modern, informasi telah
dipandang sebagai input. Berbagai macam informasi
tentang: kebutuhan pelanggan, kuantitas permintaan
pasar, perilaku pesaing, dll, dianggap sebagai input
informasi.
8. Manajerial. Sistem industri modern yang berada dalam
lingkungan pasar global yang sangat kompetitif
3
Bab I
membutuhkan: supervisi, perencanaan, pengendalian,
koordinasi, dan kepemimpinan yang efektif untuk
meningkatkan performansi sistem itu secara terus-
menerus.
9. Tanah. Sistem produksi manufaktur membutuhkan
lokasi untuk mendirikan pabrik, gudang, dan lain-lain.
INPUT:
Manusia
OUTPUT:
Mesin
Material
Barang /
Modal Jasa
PROSES
Metoda Limbah
TRANSFORMASI
Energi Informasi
Informasi
Manajerial
Tanah
Umpan Balik
Gambar 1.1 Bagan Input Output
4
Bab I
1.2.2 Proses Transformasi
Proses transformasi dalam sistem produksi dapat
didefinisikan sebagai integrasi sekuensial dari tenaga kerja,
material, informasi, metode kerja, dan mesin atau peralatan,
dalam suatu lingkungan guna menghasilkan nilai tambah bagi
produk agar dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar.
Contoh proses transformasi, bayangkan sebuah pabrik
perakitan mobil yang menggunakan bahan baku dalam bentuk
parts dan komponen. Material ini secara bersama-sama dengan
peralatan modal, tenaga kerja, energi, informasi, manajerial, dan
lain-lain, ditransformasikan menjadi mobil. Hasil transformasi ini
berupa sebuah mobil.
Suatu tugas atau aktivitas dikatakan memiliki nilai tambah
apabila penambahan beberapa input pada tugas itu akan
memberikan nilai tambah produk sesuai dengan keinginan
konsumen. Contoh dari tugas yang memiliki nilai tambah:
1. Pengoperasian peralatan bor untuk mengubah sepotong
logam tanpa cacat.
2. Pengujian material untuk meyakinkan bahwa material itu
sesuai standar yang ditetapkan.
3. Menerbangkan sebuah pesawat terbang dengan baik.
1.2.3 Output
Output dari proses dalam sistem produksi dapat berupa
barang atau jasa yang disebut sebagai produk. Selain produk
hasil output dari sebuah sistem produksi adalah limbah dan
informasi. Pengukuran karakteristik output sebaiknya
mengacu kepada kebutuhan pelanggan dalam pasar. Berikut ini
beberapa contoh sistem produksi jasa dan manufaktur.
5
Bab I
Tabel 1.1 Beberapa Contoh Sistem Produksi Jasa dan Manufaktur
No Sistem Input Output
1 Bank Karyawan, fasilitas Pelayanan
gedung dan peralatan, finansial bagi
kantor, modal, energi, nasabah
informasi, manajerial, dll
2 Rumah Sakit Dokter, perawat, Pelayanan
karyawan, fasilitas gedung medik bagi
dan peralatan medik, pasien, dll
laboratorium, modal,
energi, informasi,
manajerial, dll
3 Rumah Makan Koki, pelayan, bahan, Pelayanan
peralatan, ruangan, makanan,
bumbu, modal, energi, hiburan
informasi, manajerial dll kenyamanan,
dll
4 Transportasi Pilot, pramugari, tenaga Transportasi
Udara mekanik, karyawan, udara bagi
pesawat terbang, fasilitas orang dan
gedung dan peralatan barang dari
kantor, energi, informasi, satu lokasi ke
manajerial, dll lokasi lain
5 Manufaktur Karyawan, fasilitas Barang jadi,
gedung dan peralatan limbah, dll
pabrik, material, modal,
energi, informasi,
manajerial, dll
Catatan: istilah sistem produksi dalam industri manufaktur serupa dengan
sistem produksi pada industri jasa
1.3 Produktivitas Kerja
Pengertian produktivitas secara umum adalah rasio
antara output dibagi dengan input. Sementara pendekatan dalam
studi produktivitas sering kali hanya menekankan pada aspek
ekonomi tertentu saja. Kenyataannya studi produktivitas juga
mencakup aspek-aspek non ekonomi, yang kadang-kadang lebih
besar peranannya dalam peningkatan produktivitas. Aspek-
6
Bab I
aspek non ekonomi, seperti manajemen dan organisasi, kualitas
kerja, perlindungan dan keselamatan kerja, motivasi, dan lain
sebagainya yang berperan dalam menggerakkan, mendorong
dan mengkoordinasikan para individu atau kelompok individu
lainnya yang terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan pada
setiap unit ekonomi untuk bekerja lebih efektif dan efisien.
Kesadaran akan peningkatan produktivitas semakin
meningkat karena adanya suatu keyakinan bahwa perbaikan
produktivitas akan memberikan kontribusi positif dalam
perbaikan ekonomi. Pandangan bahwa kehidupan hari ini harus
lebih baik dari kehidupan hari kemarin dan kehidupan hari esok
harus lebih dari hari ini, merupakan suatu pandangan yang
memberi dorongan pemikiran ke arah produktivitas.
Manfaat positif apakah yang bisa dicapai dengan
terjadinya peningkatan produktivitas dari suatu aktivitas produksi.
Agar bisa memberikan suatu ilustrasi yang jelas, Gambar 1.2. a
dan 1.2.b menunjukkan hal-hal positif tersebut.
Gambar 1.2 a. Kurva Kenaikan Produktivitas
7
Bab I
Gambar 1.2. b Kurva Penurunan Biaya
Gambar 1.2 a dan 1.2.b memperlihatkan bahwa adanya
peningkatan produktivitas yang ditunjukkan dengan kurva P akan
menyebabkan terjadinya penurunan biaya produksi perunitnya
seperti yang ditunjukkan oleh kurva C. Produktivitas adalah rasio
output per input. Bilamana output dalam hal ini adalah berupa
unit keluaran yang dihasilkan oleh proses produksi dan semua
masukan yang diperlukan dikonversikan dalam unit satuan
moneter (rupiah), maka:
Pi = Total output selama periode t1 / Total input selama periode t1 ....1.1
Dengan formulasi ini, peningkatan produktivitas akan terjadi
bilamana output berhasil naik (bertambah besar) atau tetap dan
di sisi lain input dalam hal ini bisa lebih ditekan lagi seminimal
8
Bab I
mungkin. Dengan demikian arah kurva P akan cenderung naik
seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1.2 a.
Naiknya produktivitas (Unit/Rp) ternyata akan membawa
konsekuensi terhadap penurunan biaya produksi per unitnya
(Rp/Unit). Formula Ci = 1/Pi sehingga:
Total biaya input yang dikeluarkan selama periode ti
Ci = ---------------------------------------------------------------------- .....1.2
Total output yang dikeluarkan selama periode ti
Berdasarkan formulasi ini, maka arah kurva C akan cenderung
turun bilamana produktivitas bisa dinaikkan seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar 1.2 b. Dampak akibat kenaikan
produktivitas menyebabkan penurunan biaya per unitnya akan
mampu meningkatkan daya saing output yang dihasilkan oleh
industri.
Produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi
produksi, performansi kualitas, hasil-hasil, merupakan komponen
dari usaha produktivitas. Dengan demikian, produktivitas
merupakan suatu kombinasi dari efektivitas dan efisiensi. Secara
umum produktivitas dapat dinyatakan sebagai rasio antara
keluaran terhadap masukan, atau rasio hasil yang diperoleh
terhadap sumber daya yang dipakai.
...........................................1.3
Produktivitas = Output / Input
Jika dalam rasio itu masukan yang dipakai untuk menghasilkan
keluaran dihitung seluruhnya maka disebut produktivitas total.
Rumus yang digunakan untuk menghitung produktivitas total
sebagai berikut:
Output
........1.4
Produktivitas total = --------------------------------------------------
(tenaga kerja + mesin + material,dsb)
9
Bab I
Produktivitas total digunakan untuk mengukur perubahan
efisiensi dari kegiatan operasi. Untuk mengukur perubahan
produktivitas total dalam suatu periode waktu, semua faktor yang
berkaitan dengan kuantitas keluaran dan masukan yang dipakai
selama periode tadi diperhitungkan. Faktor-faktor itu meliputi
manusia, mesin, modal, material, dan energi.
Jika yang dihitung sebagai masukan hanya komponen
tertentu saja maka disebut produktivitas parsial. Rumus yang
digunakan sebagai berikut:
Produktivitas parsial (misalnya tenaga kerja)
Keluaran Keluaran
atau ---------------------- ......1.5
Produktivitas = --------------------------
Biaya tenaga kerja jam kerja orang
Produktivitas perusahaan akan meningkat jika:
1. Keluaran meningkat tapi masukan tetap atau menurun.
2. Keluaran tetap tetapi masukan menurun
3. Keluaran meningkat dan masukan meningkat tetapi
perbedaan keluaran lebih besar dari kenaikan masukan.
Produktivitas dapat diukur dalam berbagai bentuk. Tabel
1.2 menunjukkan contoh ukuran produktivitas dalam berbagai
bentuk:
Tabel 1.2 Ukuran Produktivitas
No Ukuran Produktivitas
1 Jumlah Produksi / Jumlah Penggunaan Tenaga Kerja
2 Jumlah Produksi / Jumlah Penggunaan Material
3 Jumlah Produksi / Jumlah Penggunaan Energi
4 Jam Kerja Aktual / Jam Kerja Standar
5 Jam Kerja Setup Produksi / Jam Kerja Aktual Produksi
6 Jumlah Produk Cacat / Jumlah Produksi
10
Bab I
1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Produktivitas
Pada hakikatnya produktivitas kerja akan banyak
ditentukan oleh dua faktor utama:
a. Faktor Teknis: merupakan faktor yang berhubungan
dengan pemakaian dan penerapan fasilitas produksi
secara lebih baik, penerapan metode kerja yang lebih
efektif dan efisien, dan atau penggunaan bahan baku
yang lebih ekonomis.
b. Faktor Manusia: merupakan faktor yang mempunyai
pengaruh terhadap usaha-usaha yang dilakukan
manusia di dalam menyelesaikan pekerjaan. Faktor ini
meliputi: sikap mental, motivasi, disiplin, dan etos kerja.
Pada industri yang bersifat mekanisasi atau otomatisasi
dalam proses produksinya, maka faktor teknis yang paling
berpengaruh dalam upaya peningkatan produktivitas. Industri
yang bersifat otomatisasi ini maka penelitian produktivitas akan
ditekankan pada aspek teknis. Sedangkan untuk industri yang
masih bersifat padat karya, maka upaya peningkatan
produktivitas harus ditekankan pada aspek manusianya.
Contoh:
Untuk industri pengecoran logam di daerah Ceper, Klaten
yang bersifat padat karya, maka upaya peningkatan produktivitas
kerjanya dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan
dari tenaga kerjanya. Sedangkan untuk industri yang bersifat
otomatisasi misalnya PT. Astra Honda Motor, peningkatan
produktivitas kerja lebih difokuskan pada aspek teknis, dengan
jalan memperbaharui teknologi yang dimilikinya.
11
Bab I
1.5 Cara Mengukur Produktivitas Kerja
Suatu kelompok kerja terdiri dari 8 tenaga kerja, pada
bulan pertama mampu menghasilkan produk sebesar 900 unit.
Dalam satu bulan mereka bekerja selama 25 hari, dan tiap hari
bekerja selama 8 jam. Bahan baku yang digunakan dalam
proses produksi sebesar 400 unit. Bulan berikutnya mereka
hanya bekerja selama 20 hari dalam satu bulan. Namun mereka
mampu menghasilkan produk sebesar 1000 unit. Bahan baku
yang digunakan meningkat menjadi 500 unit. Tingkat
produktivitas kelompok kerja di atas dapat dilakukan pengukuran
sebagai berikut:
a. Produktivitas pada bulan pertama
Produktivitas dilihat dari tenaga kerja saja adalah:
900
Pr oduktivitas 112,5
8
Produktivitas dilihat dari jumlah jam kerja yang dipakai
900
Pr oduktivitas 0.562
8 x 25 x8
Produktivitas total
900
Pr oduktivita s 2 , 205 atau
8 400
900
Pr oduktivitas 0,45
1600 400
b. Produktivitas pada bulan kedua
Produktivitas dilihat dari tenaga kerja saja adalah:
12
Bab I
1000
Pr oduktivitas 125
8
Produktivitas dilihat dari jumlah jam kerja yang dipakai
1000
Pr oduktivitas 0,781
8 x 20 x8
Produktivitas total
1000
Pr oduktivitas 1,96 atau
8 500
1000
Pr oduktivitas 0,562
1280 500
1.6 Rangkuman
Dalam sistem produksi dapat dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu bagian input, proses transformasi, dan output. Input terdiri
dari manusia, mesin, material, modal, metoda, energi, informasi,
manajerial, dan tanah. Proses transformasi merupakan sebuah
aktivitas yang terintegrasi dari komponen input dalam suatu
lingkungan guna menghasilkan nilai tambah bagi produk. Output
dari sistem produksi berupa barang atau jasa, informasi, dan
limbah.
Produktivitas adalah rasio antara output dibagi dengan
input. Produktivitas ada dua, yaitu produktivitas total dan
produktivitas parsial. Produktivitas total dipakai untuk mengukur
perubahan efisiensi dari kegiatan operasi. Produktivitas parsial
jika input yang dimasukkan hanya komponen tertentu saja.
Pada dasarnya ada dua factor yang bisa mempengaruhi
produktivitas kerja. Faktor tersebut adalah faktor teknis dan
faktor manusia. Faktor teknis sangat berpengaruh pada
13
Bab I
peningkatan produktivitas untuk industri yang bersifat
otomatisasi, sedangkan aspek manusia sangat berperan pada
industri yang bersifat padat karya.
1.7 Soal
1. Sebutkan komponen input pada industri pengecoran
logam.
2. Sebutkan komponen output pada industri perakitan
sepeda motor.
3. Faktor apa sajakah yang paling dominan mempengaruhi
produktivitas kerja pada industri padat karya, misalnya
industri konveksi.
4. PT. Paijem memiliki data output yang dihasilkan dan
input yang dipakai (dalam juta rupiah) selama tahun
2007, sebagai berikut:
Output total (nilai produksi) = 1500
Input:
- Input tenaga kerja = 200
- Input material = 200
- Input modal = 300
- Input energi = 100
- Input lain-lain = 100
Hitung produktivitas total dan produktivitas parsial untuk
masing-masing input.
14
Bab I
BAB II
ANALISA PERANCANGAN
KERJA
2.1 Pendahuluan
Pada proses produksi, perancangan stasiun kerja dan
metode kerja bukan hal mudah. Kesalahan dalam perancangan
maupun metode kerja akan berdampak buruk pada proses
secara keseluruhan. Evaluasi perancangan harus dilakukan
secara terus menerus untuk mendapatkan metode terbaik. Salah
satu cara untuk mengevaluasi metode kerja adalah dengan
menggunakan peta kerja dan pengukuran waktu standar.
Dengan mempelajari bab ini, para siswa diharapkan
mengetahui bentuk peta kerja, khususnya peta tangan kiri dan
tangan kanan, peta aliran proses, dan peta regu kerja. Selain itu
siswa memahami fungsi dari masing-masing peta kerja tersebut.
Kemampuan lain para siswa diharapkan mampu menghitung
waktu standar dengan menggunakan studi waktu.
2.2 Peta Kerja
Pendekatan tradisional yang sering digunakan untuk
menganalisis metode kerja adalah peta kerja. Peta kerja
merupakan suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja
secara sistematis dan jelas. Dengan peta kerja kita bisa melihat
semua langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu benda
kerja dari mulai masuk proses sampai menjadi produk. Beberapa
peta kerja yang sering digunakan untuk analisis metode kerja,
yaitu: peta tangan kiri dan tangan kanan, peta aliran proses, dan
peta regu kerja.
2.2.1 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan
15
Untuk memperjelas peta tangan kiri dan tangan kanan ini,
maka perlu diperhatikan proses perakitan steker di bawah ini.
Pada proses perakitan ini dibagi menjadi tiga stasiun kerja.
Masing-masing stasiun kerja mempunyai tugas yang berbeda.
Gambar 2.1 ini memperlihatkan aliran proses produksi, yang
dimulai dari stasiun kerja 1 menuju stasiun kerja 2 dan terakhir di
stasiun kerja 3.
Gambar 2.1 Aktivitas Sistem Kerja
Sumber: Madyana, 1996
Gambar 2.2 memperlihatkan aktivitas pada stasiun kerja 1.
Aktivitas pada stasiun kerja 1 ini adaah operator akan merakit
steker.
16
Gambar 2.2 Stasiun Kerja 1
Sumber: Madyana, 1996
Keterangan:
1. Kotak Baut
2. Kotak Badan Steker
3. Kotak Kaki Steker
4. Kotak Badan Steker
5. Kotak Mur
6. Kotak Komponen Produk Cacat
Operator pada stasiun kerja 2 akan melakukan pekerjaan
memasukkan steker ke dalam doos kecil. Proses kerja seperti
pada gambar di bawah ini.
17
Gambar 2.3 Stasiun Kerja 2
Sumber: Madyana, 1996
Setelah proses selesai dilakukan pada stasiun kerja 2,
maka tahapan berikutnya adalah masuk ke stasiun kerja 3. Pada
stasiun kerja 3 ini, operator akan memasukkan doos kecil ke
dalam doos besar. Cara kerja pada stasiun ini seperti terlihat
pada gambar 2.4 berikut ini
18
Gambar 2.4 Stasiun Kerja 3
Sumber: Madyana, 1996
Keterangan:
1. Doos Besar Kosong
2. Label
3. Lem Perekat
4. Doos Isi 6 Steker
5. Doos Besar Sedang Diisi
6. Doos Besar Berisi Steker
Pada stasiun kerja 3 operator yang bertugas ada 2 orang.
Operator 1 memasang label pada doos kecil sekaligus
memasukkan doos kecil ke dalam doos besar. Operator 2
mengangkat doos besar untuk dibawa ke gudang.
Sistem perakitan steker di atas dapat dipecah menjadi
tiga peta tangan kiri dan tangan kanan. Peta ini menggambarkan
semua gerakan-gerakan saat bekerja dan waktu menganggur
yang dilakukan oleh tangan kiri dan tangan kanan, juga
menunjukkan perbandingan antara tugas yang dibebankan pada
tangan kiri dan tangan kanan ketika melakukan pekerjaan.
19
Dengan peta ini kita bisa melihat semua operasi secara cukup
lengkap, yang berarti mempermudah perbaikan operasi tersebut.
Pada dasarnya peta tangan kiri dan tangan kanan ini
mempunyai kegunaan yang lebih khusus, yaitu:
1. Menyeimbangkan gerakan kedua tangan dan
mengurangi kelelahan.
2. Menghilangkan atau mengurangi gerakan-gerakan yang
tidak efisien dan tidak produktif, sehingga mempersingkat
waktu kerja.
3. Alat untuk melatih pekerja baru, dengan cara kerja yang
ideal.
Peta tangan kiri dan tangan kanan pada perakitan steker
ini ada tiga buah, yaitu:
1. Peta tangan kiri dan tangan kanan pada departemen 1
dengan pekerjaan merakit steker ( gambar 2.5 ).
2. Peta tangan kiri dan tangan kanan pada departemen 2
dengan pekerjaan membungkus steker dalam kotak kecil
( gambar 2.6 ).
3. Peta tangan kiri dan tangan kanan pada departemen 3
dengan pekerjaan memasukkan kotak kecil dalam dos
besar ( gambar 2.7 ).
PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN
PEKERJAAN : Merakit steker
20
Departemen :I
Nomor Peta :
SEKARANG ( ) : USULAN ( )
DIPETAKAN OLEH :
TANGGAL DIPETAKAN :
Tangan Kiri Jarak Waktu LAMBANG Jarak Waktu Tangan
cm detik cm detik Kanan
Ambil tutup 50 2 50 2 Ambil kaki
steker, rakit steker, rakit
Pegang, 3,5 50 3,5 Ambil tutup
arahkan steker, rakit
Pegang, 6,9 6,9 Ambil baut,
arahkan pasang
Ambil mur 50 1,9 25 1,9 Ambil obeng
Pegang, 5,7 5,7 Kencangkan
arahkan baut
Letakkan 50 2 2 Tunggu
steker pada
conveyor
TOTAL 150 22 125 22
Ringkasan
Waktu tiap siklus : 22 detik
Jumlah produk tiap siklus :1
Waktu untuk membuat satu produk : 22 detik
Gambar 2.5 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Departemen 1
Sumber: Madyana, 1996
Peta tangan kiri dan tangan kanan pada departemen 1 ini
menunjukkan ternyata jarak perpindahan yang dilakukan tangan
kiri sebesar 150 cm dan waktu yang dipergunakan 22 detik.
Tangan kanan melakukan perpindahan sebesar 125 cm dan
waktu yang dipergunakan 22 detik. Waktu 22 detik pada tangan
kanan ini terdiri dari aktivitas bekerja dan aktivitas untuk
menunggu. Jadi pembagian kerja antara tangan kiri dan tangan
kanan pada departemen 1 bisa dikatakan hampir seimbang.
PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN
PEKERJAAN : Membungkus steker dalam kotak kecil
Departemen : II
21
Nomor Peta :
SEKARANG ( ) : USULAN ( )
DIPETAKAN OLEH :
TANGGAL DIPETAKAN :
Tangan Kiri Jarak Waktu LAMBANG Jarak Waktu Tangan
cm detik cm detik Kanan
Ambil kotak 46 3 61 3 Ambil sekat
Buka kotak 2,4 2,4 Buka kardus
Pegang 1,9 25 1,9 Ambil sekat
Pegang 5,8 5,8 Pasang
sekat
Pegang 11 58 11 Ambil steker
Tutup kotak 3,2 3,2 Tutup kotak
Tunggu 0,6 42 0,6 Letakkan di
ban
TOTAL 46 27,9 186 27,9
Ringkasan
Waktu tiap siklus : 27,9 detik
Jumlah produk tiap siklus :1
Waktu untuk membuat satu produk : 27,9 detik
Gambar 2.6 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Departemen 2
Sumber: Madyana, 1996
Ringkasan dari peta tangan kiri dan tangan kanan pada
departemen 2 adalah sebagai berikut. Total jarak jangkauan
yang dilakukan oleh tangan kiri sebesar 46 cm sedangkan
tangan kanan sebesar 186 cm. Sedangkan pembagian waktu
kerja untuk kedua tangan bisa dikatakan seimbang. Waktu kerja
untuk tangan kiri 27,9 detik dan tangan kanan 27,9 detik.
Meskipun ada waktu sebesar 0,6 detik di tangan kiri untuk
menunggu tangan kanan selesai meletakkan kardus ke ban
berjalan.
PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN
PEKERJAAN : Memasukkan kotak kecil ke dalam dos besar
Departemen : III
Nomor Peta :
22
SEKARANG ( ) : USULAN ( )
DIPETAKAN OLEH :
TANGGAL DIPETAKAN :
Tangan Kiri Jarak Waktu LAMBANG Jarak Waktu Tangan Kanan
cm detik cm detik
Ambil kotak 40 2 40 2 Ambil kotak
kecil besar
Buka kotak 4,5 4,5 Buka kotak
besar besar
Ambil kotak 30 2 30 2 Ambil label
kecil
Pegang 1,3 1,3 Ambil lem
label
Pegang 2,5 2,5 Label diolesi
label lem
Pegang 1,5 1,5 Mengembalikan
label lem
Tempel label 3 3 Label ditempel
Masukkan 20 3 20 3 Masukkan
ke kotak kotak kecil ke
besar kotak besar
Ulangi 3 kali 13,3 x 13,3 x Ulangi 5 kali
3 5
Tutup kotak 4 4 Tutup kotak
besar besar
Bawa kotak 50 2 50 2 Bawa kotak
besar besar
Letakkan 2 2 Letakkan kotak
kotak besar besar
TOTAL 140 67,7 140 76,7
Ringkasan
Waktu tiap siklus : 76,7 detik
Jumlah produk tiap siklus :1
Waktu untuk membuat satu produk : 76,7 detik
Gambar 2.7 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Departemen 3
Sumber: Madyana, 1996
Pekerjaan yang dilakukan oleh tangan kiri dan tangan kanan
pada departemen 3 adalah memasukkan doos kecil ke dalam
doos besar. Total jarak yang ditempuh oleh tangan kiri sebesar
140 cm sedangkan untuk tangan kanan 140 cm. Lamanya waktu
kerja untuk kedua tangan tidak sama. Tangan kiri selama 67,7
detik sedangkan tangan kanan 76,7 detik.
23
2.2.2 Peta Aliran Proses
Peta aliran proses adalah sebuah peta yang
menggambarkan urutan operasi, baik gerakan pekerja maupun
aliran material. Peta ini memperlihatkan bagian proses yang
tidak produktif, seperti delay, penyimpanan sementara, dan
untuk mengetahui panjang pendeknya jarak yang ditempuh.
Contoh peta aliran proses ada pada gambar 2.8, 2.9, dan 2.10.
Gambar 2.8 menggambarkan peta aliran proses untuk
jenis pekerjaan merakit steker. Pada peta aliran proses bagian
ini terdiri dari aktivitas operasi dan transportasi. Perinciannya
sebagai berikut: aktivitas operasi sebanyak 5 kegiatan
sedangkan aktivitas transportasi hanya sekali. Dengan
memperhatikan peta aliran proses pada bagian ini bisa
disimpulkan bahwa aktivitas merakit steker ini cara kerjanya
sudah benar.
Gambar 2.9 menggambarkan peta aliran proses
membungkus steker. Pada peta ini terdiri dari 7 aktivitas operasi.
Semua kegiatan pada bagian ini termasuk kategori kegiatan
produktif. Berarti cara kerja membungkus steker ini termasuk
cara kerja yang sudah benar.
Gambar 2.10 adalah peta aliran proses yang
menggambarkan aktivitas memasukkan doos kecil ke dalam
doos besar. Pada kegiatan ini terdiri dari aktivitas operasi
sebanyak 9. Cara kerja pada bagian ini sangat efektif, sebab
semua aktivitas yang terjadi merupakan aktivitas yang produktif.
24
Gambar 2.8 Peta Aliran Proses Merakit Steker
Sumber: Madyana, 1996
25
Gambar 2.9 Peta Aliran Proses Membungkus Steker
Sumber: Madyana, 1996
26
Gambar 2.10 Peta Aliran Proses Memasukkan Kotak Kecil dalam Dos
Besar
Sumber: Madyana, 1996
27
2.2.3 Peta Proses Regu Kerja
Peta ini digunakan dalam suatu tempat kerja dimana
untuk melakukan pekerjaan tersebut memerlukan kerjasama
yang baik dari sekelompok pekerja. Peta ini merupakan
kumpulan dari peta aliran proses dimana tiap peta aliran proses
tersebut menunjukkan satu seri kerja dari seorang operator.
Berikut gambar peta proses regu kerja.
Gambar 2.11 Peta Proses Regu Kerja
Sumber: Madyana, 1996
28
Fungsi utama dari peta proses regu kerja adalah untuk
meminimumkan waktu menunggu.
2.3 Pengukuran Kerja
Pengukuran kerja adalah suatu aktivitas untuk
menentukan lamanya sebuah pekerjaan bisa diselesaikan.
Pengukuran kerja berkaitan dengan penentuan waktu standar.
Waktu standar adalah waktu yang diperlukan oleh seorang
pekerja terlatih untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu,
bekerja pada tingkat kecepatan yang berlanjut, serta
menggunakan metode, mesin dan peralatan, material, dan
pengaturan tempat kerja tertentu.
Penentuan waktu standar merupakan masukan penting
bagi perencanaan proses produksi. Salah satu cara yang sering
digunakan untuk menentukan waktu standar adalah dengan cara
studi waktu.
Studi waktu dilaksanakan dengan menggunakan alat jam
henti ( stop watch ) untuk mengamati waktu tugas. Waktu
standar dihitung berdasarkan pengamatan terhadap seorang
pekerja yang melaksanakan siklus tugasnya berulang-ulang.
Setelah ditetapkan, waktu standar itu diberlakukan bagi seluruh
pekerja lain yang melaksanakan pekerjaan serupa. Pekerja yang
dipilih adalah pekerja yang mengerti benar ( terlatih ) tentang
tugas yang sedang diamati dan bekerja dengan menggunakan
metode yang sesuai.
Tahap dalam Studi Waktu
Tahap-tahap dalam menentukan waktu standar, sebagai berikut:
1. Tentukan pekerjaan yang akan diamati dan beri tahu
pekerja yang dipilih tentang tujuan studi. Langkah ini
diperlukan agar pekerja yang diamati ataupun
penyelianya tidak curiga, melainkan malah membantu
kelancaran pengamatan.
29
2. Tentukan jumlah siklus kerja ( ukuran sampel, n ) yang
akan diamati. Jumlah siklus kerja tergantung pada
standar deviasi dari waktu yang diamati, ketelitian, dan
tingkat kepercayaan yang diinginkan.
3. Catat seluruh hasil pengamatan dan hitung rata-rata
waktu yang diamati.
Xi
_
X .............................................. 2.1
n
4. Tetapkan peringkat kinerja ( PR, performance rating )
pekerja yang bersangkutan, lalu hitung waktu normal (
NT, normal time ) dengan menggunakan rumus, sebagai
berikut:
PR
_
NT X. .............................................. 2.2
100
dimana:
PR = peringkat kinerja ( dalam persen )
Peringkat kinerja diperlukan untuk penyesuaian
waktu yang diperoleh dari pengamatan terhadap satu
orang pekerja menjadi waktu normal yang berlaku bagi
seluruh pekerja. Peringkat kinerja untuk rata-rata pekerja
sebesar 100%. Pekerja yang memiliki keterampilan /
kecakapan lebih dari rata-rata pekerja lainnya memiliki
peringkat kinerja di atas 100%. Pekerja yang
keterampilannya di bawah rata-rata memiliki peringkat
kinerja di bawah 100%.
Peringkat kinerja ini hanya berlaku untuk satu
jenis kegiatan, tidak diberlakukan secara umum. Dengan
demikian, bisa saja untuk satu jenis kegiatan, seorang
pekerja mempunyai peringkat kinerja di bawah rata-rata
karyawan lain, tetapi untuk jenis kegiatan yang lain
peringkatnya di atas rata-rata.
30
Waktu normal diartikan sebagai waktu yang
diperlukan oleh seorang pekerja yang berpengalaman
untuk menyelesaikan elemen-elemen tugas yang penting,
dan bekerja pada kecepatan normal.
5. Tetapkan faktor kelonggaran ( AF, allowance factor ).
Faktor kelonggaran diperlukan untuk mencakup interupsi
/ penundaan yang terjadi karena keperluan pribadi
pekerja ( untuk minum, ke kamar kecil atau istirahat
karena letih ) atau penundaan yang tidak bisa dihindari (
seperti mesin / peralatan rusak, material terhambat, atau
gangguan listrik ).
Untuk faktor kelonggaran yang dinyatakan
sebagai persentase dari waktu tugas:
AF 1 A ..................................................... 2.3
dimana:
A = toleransi kelonggaran ( dalam persen )
Untuk faktor kelonggaran yang dinyatakan
sebagai persentase dari waktu kerja:
1
AF ............................................ 2.4
(1 A)
6. Selanjutnya hitung waktu standar ( ST, standard time )
dengan rumus:
ST = NT x AF ............................................... 2.5
Waktu standar ini yang selanjutnya dipakai
sebagai acuan dalam perencanaan produksi dan
penentuan sistem insentif baik bagi karyawan yang
berprestasi maupun untuk keperluan perencanaan lain.
2.4 Penentuan Ukuran Sampel ( n )
31
Ukuran sampel ( jumlah siklus kerja ) bergantung pada
standar deviasi dari waktu yang diamati, ketelitian ( maksimum
penyimpangan ) dari nilai sebenarnya, dan tingkat kepercayaan
yang diinginkan. Analisis studi waktu biasanya menggunakan
pengamatan pendahuluan dengan sejumlah sembarang sampel,
selanjutnya menggunakan pendekatan statistik sehingga n dapat
dicari dengan rumus, sebagai berikut:
2
Z .s
n ................................................ 2.6
_
a. X
di mana:
Z = tingkat kepercayaan yang diinginkan
s = standar deviasi dari data pengamatan
a = ketelitian yang diinginkan ( dalam % dari nilai rata-rata )
_
X = rata-rata hitung dari data pengamatan
Apabila ketelitian yang diinginkan dinyatakan dalam unit
waktu, persamaan tersebut menjadi:
2
Z .s
n ................................................ 2.7
e
di mana:
e = ketelitian ( dalam unit waktu )
Nilai Z diperoleh dari distribusi normal. Nilai Z yang biasa
dipakai, seperti berikut ini.
Tabel 2.1 Nilai Z
Tingkat Kepercayaan ( % ) Nilai Z
90 1,645
95 1,960
99 2,575
Sedangkan standar deviasi dapat dicari dengan menggunakan
rumus berikut ini:
32
_
( X i X )2
s ..................................................... 2.8
n1
di mana:
s = standar deviasi
Xi = nilai pengamatan
_
X = rata-rata nilai pengamatan
n = jumlah pengamatan
Contoh 1
Seorang analis studi waktu akan mengamati waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Dari
pengamatan pendahuluan diperoleh data bahwa rata-rata hitung
waktu tugas 6,6 menit dengan standar deviasi 1,1 menit. Tingkat
kepercayaan yang diinginkan 95%. Apabila maksimum
kesalahan ditentukan sebesar 10% dari rata-rata waktu
pengamatan, jumlah sampel yang diperlukan dapat dihitung,
sebagai berikut.
2
2
1,96 x1,1
Zs
n = = 10,67
_
0,1x6,6
aX
Angka 10,67 dibulatkan menjadi 11
Contoh 2
Hasil pengamatan terhadap lama suatu tugas selama
lima siklus berturut-turut menghasilkan data sebagai berikut: 10,
9, 10, 11, 10 menit. Apabila peringkat kinerja dari pekerja yang
bersangkutan 110% dan toleransi kelonggaran ditetapkan
sebesar 20% dari waktu tugas, waktu standar untuk tugas itu
dapat dihitung, sebagai berikut:
_
X = ( 10 + 9 + 10 + 11 + 10 ) / 5 = 10 menit
33
_
= X x PR/100 = 10 x ( 110/100) = 11 menit
NT
ST = NT x ( 1 + A ) = 11 x ( 1 + 0,2 ) = 13,2 menit
Pekerja yang bersangkutan dapat menyelesaikan setiap
siklus tugas rata-rata selama 10 menit. Waktu yang diperlukan
oleh pekerja itu lebih cepat dari rata-rata pekerja lain karena
pekerja itu mempunyai kinerja yang lebih baik dari rata-rata
pekerja lain. Waktu normal untuk tugas tersebut 11 menit, artinya
rata-rata pekerja dapat menyelesaikan pekerjaan dalam 11
menit. Untuk menjadikan sebagai waktu standar, perlu
dimasukkan faktor kelonggaran, sehingga waktu standar menjadi
13,2 menit untuk setiap siklus.
Contoh 3
Apabila toleransi kelonggaran dalam contoh 2 di atas
bukan berupa persentase dari waktu tugas melainkan dalam
bentuk keperluan personal 30 menit/hari, untuk perawatan mesin
10 menit/hari, dan untuk hal-hal lainnya 8 menit/hari, dan bila
waktu kerja per hari selama 8 jam, maka perhitungan waktu
standarnya, sebagai berikut:
(30 10 8)menit / hari
A 0,1
480menit / hari
NT 11
ST 12menit / unit
1A 1 0,1
2.5 Rangkuman
Bab II ini membahas mengenai peta kerja dan
pengukuran kerja. Peta kerja adalah suatu alat yang
menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas.
34
Peta kerja yang dipelajari meliputi: peta tangan kiri dan tangan
kanan, peta aliran proses, dan peta regu kerja.
Peta tangan kiri dan tangan kanan ini menggambarkan
semua gerakan-gerakan saat bekerja dan saat menganggur
yang dilakukan oleh tangan kiri dan tangan kanan. Peta aliran
proses menggambarkan urutan operasi, baik gerakan pekerja
maupun aliran material. Peta ini juga memperlihatkan bagian
proses yang tidak produktif, seperti delay, dan penyimpanan
sementara. Sedangkan peta regu kerja adalah menggambarkan
satu seri kerja dari seorang operator dibandingkan dengan
operator lainnya.
Pengukuran kerja adalah suatu aktivitas untuk
menentukan waktu standar. Waktu standar adalah waktu yang
diperlukan oleh seorang pekerja terlatih untuk menyelesaikan
suatu tugas tertentu, dengan tingkat kecepatan berlanjut dan
menggunakan cara kerja dan peralatan tertentu. Salah satu cara
dalam pengukuran kerja ini adalah dengan studi waktu.
2.6 Soal
1. Sebutkan fungsi dari peta kerja di bawah ini:
a. Peta tangan kiri dan tangan kanan
b. Peta aliran proses
c. Peta regu kerja
2. Buat peta tangan kiri dan tangan kanan ketika melakukan
aktivitas membongkar karburator sepeda motor?
3. Dari pengamatan pendahuluan diperoleh data bahwa
rata-rata hitung waktu tugas 10 menit dengan standar
deviasi 1,5 menit. Tingkat kepercayaan yang diinginkan
90 %. Jika maksimum kesalahan ditentukan sebesar 20%
dari rata-rata waktu pengamatan, tentukan jumlah sampel
yang diperlukan.
35
BAB III
ERGONOMI
3.1 Pendahuluan
Perkembangan teknologi saat ini begitu pesatnya,
sehingga peralatan sudah menjadi kebutuhan pokok pada
berbagai lapangan pekerjaan. Artinya peralatan dan teknologi
merupakan penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan
produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu disisi
lain akan terjadi dampak negatifnya, bila kita kurang waspada
menghadapi bahaya potensial yang mungkin timbul. Hal ini tidak
akan terjadi jika dapat diantisipasi pelbagai risiko yang
mempengaruhi kehidupan para pekerja. Pelbagai risiko tersebut
adalah kemungkinan terjadinya Penyakit Akibat Kerja. Penyakit
yang berhubungan dengan pekerjaan dan Kecelakaan Akibat
Kerja yang dapat menyebabkan kecacatan atau kematian.
Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara
penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja.
Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomi.
Bab ini akan membahas tiga sub bab, yaitu ergonomi,
antropometri dan metode pengolahan data. Sub bab ergonomi
meliputi pembahasan gambaran umum ergonomi, ruang lingkup
ergonomi dalam dunia kerja, resiko yang timbul akibat kesalahan
ergonomi, identifikasi resiko yang berkaitan dengan
Cummulative Trauma Dissorder, sikap tubuh, posisi kerja,
mengenali penyebab keluhan muskuloskeletal serta
pengendalian ergonomi untuk kesehatan dan keselamatan kerja.
Sub bab antropometri akan membahas definisi antropometri, alat
ukur yang dipergunakan, cara-cara pengukuran, data-data
antropometri yang digunakan dalam perancangan produk, dan
persentil.
36
Bab III
Dengan mempelajari bab ini diharapkan para siswa
memahami dan mampu menerapkan ergonomi dalam dunia
kerja. Selain itu siswa diharapkan mengetahui kegunaan data-
data antropometri dalam merancang produk.
3.2 Ergonomi
Ergonomi atau Ergonomics (bahasa Inggrisnya)
sebenarnya berasal dari kata Yunani yaitu Ergo yang berarti
kerja dan Nomos yang berarti aturan atau hukum. Ergonomi
mempunyai berbagai batasan arti, di Indonesia disepakati bahwa
ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk
menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau
sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi
yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal-
optimalnya (Nurmianto, 1996).
Pendekatan khusus dalam disiplin ergonomi ialah aplikasi
sistematis dari segala informasi yang releven yang berkaitan
dengan karakteristik dan perilaku manusia dalam perancangan
peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja yang dipakai. Analisis
dan penelitian ergonomi meliputi hal-hal yang berkaitan, yaitu:
a. Anatomi (struktur), fisiologi (bekerjanya), dan antropometri
(ukuran) tubuh manusia.
b. Psikologi yang fisiologis mengenai berfungsinya otak dan
sistem syaraf yang berperan dalam tingkah laku manusia.
c. Kondisi-kondisi kerja yang dapat mencederai baik dalam
waktu yang pendek maupun panjang ataupun membuat
celaka manusia dan sebaliknya kondisi-kondisi kerja yang
membuat nyaman kerja manusia.
Memperhatikan hal-hal tersebut maka penelitian dan
pengembangan ergonomi akan memerlukan dukungan dari
berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, antropometri, anatomi
anthropologi, faal, dan teknologi.
37
Bab III
3.2.1 Ruang Lingkup Ergonomi
Dalam lapangan kerja, ergonomi ini juga mempunyai
peranan yang cukup besar. Semua bidang pekerjaan selalu
menggunakan ergonomi. Ergonomi ini diterapkan pada dunia
kerja supaya pekerja merasa nyaman dalam melakukan
pekerjaannya. Dengan adanya rasa nyaman tersebut maka
produktivitas kerja diharapkan menjadi meningkat. Secara garis
besar ergonomi dalam dunia kerja akan memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Bagaimana orang mengerjakan pekerjaannya.
2. Bagaimana posisi dan gerakan tubuh yang digunakan
ketika bekerja.
3. Peralatan apa yang mereka gunakan.
4. Apa efek dari faktor-faktor diatas bagi kesehatan dan
kenyamanan pekerja.
3.2.2 Resiko Karena Kesalahan Ergonomi
Sering dijumpai pada sebuah industri terjadi kecelakaan
kerja. Kecelakaan kerja tersebut disebabkan oleh faktor dari
pekerja sendiri atau dari pihak menajemen perusahaan.
Kecelakaan yang disebabkan oleh pihak pekerja sendiri, karena
pekerja tidak hati-hati atau mereka tidak mengindahkan
peraturan kerja yang telah dibuat oleh pihak manajemen.
Sedangkan faktor penyebab yang ditimbulkan dari pihak
manajemen, biasanya tidak adanya alat-alat keselamatan kerja
atau bahkan cara kerja yang dibuat oleh pihak manajemen
masih belum mempertimbangkan segi ergonominya. Misalnya
pekerjaan mengangkat benda kerja di atas 50 Kg tanpa
menggunakan alat bantu. Kondisi ini bisa menimbulkan cidera
pada pekerja.
38
Bab III
Untuk menghindari cedera, pertama-tama yang dapat
dilakukan adalah mengidentifikasi resiko yang bisa terjadi akibat
cara kerja yang salah. Setelah jenis pekerjaan tersebut
diidentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah menghilangkan
cara kerja yang bisa mengakibatkan cidera.
Tabel 3.1. Tabel Resiko
FAKTOR RESIKO DEFINISI JALAN KELUAR
Pengulangan yang Menjalankan gerakan Desain kembali cara
banyak yang sama berulang- kerja untuk
ulang mengurangi jumlah
pengulangan gerakan
atau meningkatkan
waktu jeda antara
ulangan, atau
menggilirnya dengan
pekerjaan lain
Beban berat Beban fisik yang Mengurangi gaya
berlebihan selama yang diperlukan untuk
kerja (menarik, melakukan kerja,
memukul, mendesain kembali
mendorong). Semakin cara kerja, menambah
banyak day yang jumlah pekerja pada
harus dikeluarkan, pekerjaan tersebut,
semakin berat beban menggunakan
bagi tubuh peralatan mekanik.
Postur yang kaku Menekuk atau Mendesain cara kerja
memutar bagian tubuh dan peralatan yang
dipakai hingga postur
tubuh selama kerja
lebih nyaman
Beban statis Bertahan lama pada Mendesain cara kerja
satu postur sehingga untuk menghindari
menyebabkan terlalu lama bertahan
kontraksi otot pada satu postur,
memberi kesempatn
untuk mengubah
posisi
39
Bab III
Tabel 3.1 Lanjutan
FAKTOR RESIKO DEFINISI JALAN KELUAR
Tekanan Tubuh tertekan pada Memperbaiki
suatu permukaan atau peralatan yang ada
tepian untuk menghilangkan
tekanan, atau
memberikan bantalan
Getaran Menggunakan Mengisolasi tangan
peralatan yang dari getaran
bergetar
Dingin atau panas Dingin mengurangi Atur suhu ruangan,
yang ekstrim daya raba, arus beri insulasi pada
darah, kekuatan dan tubuh
keseimbangan. Panas
menyebabkan
kelelahan
Organisasi kerja Termasuk bekerja Beban kerja yang
yang buruk dengan irama mesin, layak, istirahat yang
istirahat yang tidak cukup, pekerjaan
cukup, kerja monoton, yang bervariasi,
beberapa pekerjaan otonomi individu
yang harus dikerjakan
dalam satu waktu
3.2.3 Identifikasi Resiko
Apakah pekerjaan anda membuat anda melakukan hal
dibawah ini berulang-ulang:
Membengkokkan dan/atau memutar pergelangan
tangan?
Menahan siku jauh dari badan?
Meraih di belakang tubuh anda?
Mengangkat atau melempar sesuatu diatas bahu?
40
Bab III
Mengangkat sesuatu dari bawah lutut?
Menggunakan jepitan jari?
Bekerja dengan leher tertekuk?
Memotong daging dengan keras?
Mengangkat barang berat?
Menggunakan satu jari atau jempol untuk
mengoperasikan alat?
Menggunakan alat dengan ujung tang keras dan
tajam?
Menggunakan alat yang bergetar?
Menggunakan peralatan tangan seperti palu?
Bekerja dalam ruangan yang dingin?
Jika anda menjawab ”ya” pada salah satu pertanyaan di atas,
anda mungkin berada dalam resiko untuk mengalami kelainan
karena mengalami trauma yang terus menerus (cumulative
trauma disorder – CTD).
3.2.4 Cumulative Trauma Disorder (CTD)
CTD dapat diterjemahkan sebagai kerusakan trauma
kumulative. Penyakit ini timbul karena terkumpulnya kerusakan-
kerusakan kecil akibat trauma berulang yang membentuk
kerusakan yang cukup besar dan menimbulkan rasa sakit. Hal ini
sebagai akibat penumpukan cedera kecil yang setiap kali tidak
sembuh total dalam jangka waktu tertentu yang bisa pendek dan
bisa lama, tergantung dari berat ringannya trauma setiap hari,
yang diekspresikan sebagai rasa nyeri, kesemutan, bengkak dan
gejala lainnya.
41
Bab III
Gejala CTD biasanya muncul pada jenis pekerjaan yang
monoton, sikap kerja yang tidak alamiah, penggunaan atau
pengerahan otot yang melebihi kemampuannya. Biasanya gejala
yang muncul dianggap sepele atau dianggap tidak ada. Trauma
pada jaringan tubuh antara lain disebabkan: over exertion, over
stretching, dan over compressor.
CTD dapat digolongkan sebagai penyakit akibat kerja,
apabila dapat dibuktikan terdapat pemaparan dari dua atau lebih
faktor resiko ergonomi di tempat kerja. Ada beberapa faktor
resiko untuk terjadinya CTD, yaitu:
1. Terdapat posture atau sikap tubuh yang janggal.
2. Gaya yang melebihi kemampuan jaringan.
3. Lamanya waktu pada saat melakukan posisi janggal.
4. Frekuensi siklus gerakan dengan posture janggal per
menit.
Beberapa contoh CTD:
a. Tendinitis, adalah tendon yang meradang. Gejala
yang muncul: sakit, bengkak, nyeri tekan, lemah
di tempat yang terpapar (siku, bahu). Gambar 3.1
merupakan contoh CTD.
b. Rotator cuff tendinitis, satu atau lebih dari empat
rotator cuff tendonitis pada bahu meradang.
Gejala yang muncul: sakit, gerakan terbatas pada
bahu.
c. Tenosynovitis, pembengkakan pada tendon dan
sarung yang menutupi tendon. Gejalanya:
pembengkakan, nyeri tekan, sakit pada tempat
yang terpapar (siku, tangan, lengan).
d. Carpal tunnel syndrome, tekanan yang terlalu
berat pada syaraf medianus yang melalui
42
Bab III
pergelangan tangan. Gejalanya: mati rasa,
kesemutan, pegal, dan sakit pada pergelangan
tangan.
e. Tennis elbow, peradangan pada tendon di siku.
Gejala yang muncul: sakit, sedikit bengkak, dan
lemah.
f. White finger, pembuluh darah di jari-jari rusak.
Gejalanya pucat di jari-jari, mati rasa, dan
perasaan seakan jari terbakar.
Gambar 3.1 Cumulative Trauma Disorder
43
Bab III
3.2.5 Sikap Tubuh
Hubungan tenaga kerja dalam sikap dan interaksinya
terhadap sarana kerja akan menentukan efisiensi, efektivitas dan
produktivitas kerja. Sikap tubuh yang tidak alamiah dalam
bekerja, misalnya sikap menjangkau barang yang melebihi
jangkauan tangannya harus dihindarkan. Apabila hal ini tidak
memungkinkan maka harus diupayakan agar beban statiknya
diperkecil. Penggunaan meja dan kursi kerja ukuran baku oleh
orang yang mempunyai ukuran tubuh yang lebih tinggi atau
sikap duduk yang terlalu tinggi sedikit banyak akan berpengaruh
terhadap hasil kerjanya. Pada waktu bekerja diusahakan agar
bersikap secara alamiah dan bergerak optimal. Berikut ini sikap
tubuh yang baik dan tidak baik.
Best: Arm by Side Elbow at 900 Better: Arm Below Shoulder
Gambar 3.2 Sikap Tubuh Paling Baik
44
Bab III
Sedangkan gambar 3.3 berikut ini menggambarkan sikap tubuh
yang tidak baik. Karena tangan dipaksa untuk menjangkau
benda yang berada di ketinggian.
Gambar 3.3 Bad: Arm above Shoulder
3.2.6 Posisi Kerja
Gambar 3.4 menggambarkan seorang pekerja yang
bekerja dengan posisi kepala mendongak. Cara kerja seperti
pada gambar diperbolehkan dengan syarat waktu kerja tidak
melebihi 2 jam per harinya. Kondisi kerja ini bisa mengakibatkan
rasa sakit pada leher, tangan dan bahu.
45
Bab III
Gambar 3.4 Posisi Kerja Mendongak
Gambar 3.5 menggambarkan pekerja sedang memotong ranting
pohon dengan posisi tangan yang dipaksakan untuk menjangkau
ke depan.
Gambar 3.5 Posisi Kerja Menjangkau
46
Bab III
Posisi kerja seperti gambar 3.5 akan mengakibatkan rasa sakit
pada siku dan bahu.
Sedangkan bekerja dengan menundukkan leher atau
membungkukkan punggung melebihi sudut 300 (gambar 3.6 dan
gambar 3.7) diperbolehkan asal jam kerja tidak melebihi 2 jam
per harinya. Cara kerja ini akan mengakibatkan rasa sakit pada
leher dan tulang belakang.
Gambar 3.6 Pekerjaan Menunduk
Gambar 3.7 Pekerjaan Membungkuk
47
Bab III
Gambar 3.8 menggambarkan seorang pekerja yang bekerja
dengan cara jongkok. Posisi kerja dengan jongkok ini juga akan
menimbulkan rasa tidak nyaman pada diri pekerja. Kondisi kerja
ini diperbolehkan asal tidak melebihi 2 jam per harinya. Gambar
3.9 memperlihatkan pekerja yang menyelesaikan pekerjaan
dengan cara berlutut. Cara kerja ini diperbolehkan dengan syarat
waktu kerja tidak melebihi 2 jam per harinya.
Gambar 3.8 Pekerjaan Dengan Jongkok
Gambar 3.9 Pekerjaan Dengan Berlutut
48
Bab III
Pekerjaan dengan menggunakan kekuatan tangan yang
cukup besar, seperti mengambil benda dengan menjepit dan
memencet benda kerja ini juga ada batasannya. Jenis pekerjaan
yang menggunakan kekuatan tangan secara terus menerus ini
dipersyaratkan tidak lebih dari 2 jam per harinya. Untuk
pekerjaan mengambil benda kerja dengan cara menjepit ini
batasannya adalah berat tidak melebihi 2 pounds. Sedangkan
untuk memencet/meremas batasannya tidak lebih dari 10
pounds beratnya.
Gambar 3.10 Mengambil Benda Dengan Jari
Gambar 3.11 Gerakan Meremas
49
Bab III
3.2.7 Mengenali Sumber Penyebab Keluhan
Muskuloskeletal
Ada beberapa cara yang telah diperkenalkan dalam
melakukan evaluasi ergonomi untuk mengetahui hubungan
antara tekanan fisik dengan resiko keluhan otot skeletal.
Pengukuran terhadap tekanan fisik ini cukup sulit karena
melibatkan berbagai faktor subjektif seperti kinerja, motivasi,
harapan dan toleransi kelelahan.
Salah satu alat ukur ergonomik sederhana yang dapat
digunakan untuk mengenali sumber penyebab keluhan
muskuloskeletal adalah nordic body map. Melalui nordic body
map dapat diketahui bagian-bagian otot yang mengalami
keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak nyaman
(agak sakit) sampai sangat sakit. Kuesioner nordic body map
ada pada lampiran bab 3.
3.2.8 Pengendalian Ergonomi
Pengendalian ergonomi dipakai untuk menyesuaikan
tempat kerja dengan pekerja. Pengendalian ergonomi berusaha
mengatur agar tubuh pekerja berada di posisi yang baik dan
mengurangi resiko kerja. Pengendalian ini harus dapat
mengakomodasi segala macam pekerja. Pengendalian ergonomi
dikelompokkan dalam tiga katagori utama, yang disusun sesuai
dengan metoda yang lebih baik dalam mencegah dan
mengendalikan resiko ergonomi.
1. Pengendalian teknik adalah metoda yang lebih diutamakan
karena lebih permanen dan efektif dalam menghilangkan
resiko ergonomi. Pengendalian teknik yang bisa dilakukan
adalah memodifikasi, mendesain kembali atau mengganti
tempat kerja, bahan, obyek, desain tempat penyimpanan dan
pengoperasian peralatan.
2. Pengendalian administratif. Pengendalian ini berhubungan
dengan bagaimana pekerjaan disusun, seperti:
50
Bab III
Jadwal kerja
Penggiliran kerja dan waktu istirahat
Program pelatihan
Program perawatan dan perbaikan
3. Cara kerja. Pengendalian cara kerja berfokus pada cara
pekerjaan dilakukan, yakni :
menggunakan mekanik tubuh yang baik
menjaga tubuh untuk berada pada posisi netral
3.3 Konsep Antropometri
Istilah antropometri berasal dari “anthro” yang berarti
manusia dan “metri” yang berarti ukuran. Antropometri adalah
pengetahuan yang menyangkut pengukuran tubuh manusia
khususnya dimensi tubuh. Antropometri secara luas akan
digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis
dalam proses perancangan (design) produk maupun sistem kerja
yang akan memerlukan interaksi manusia.
Manusia pada umumnya berbeda-beda dalam hal bentuk
dan dimensi ukuran tubuhnya. Beberapa faktor yang
mempengaruhi ukuran tubuh manusia, yaitu:
1. Umur,
Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir
sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk
wanita. Setelah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan
bahkan justru akan cenderung berubah menjadi pertumbuhan
menurun ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40
tahunan.
2. Jenis kelamin (sex),
Jenis kelamin pria umumnya memiliki dimensi tubuh yang
lebih besar kecuali dada dan pinggul.
3. Suku bangsa (etnik),
Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnik tertentu akan
memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang
lainnya.
51
Bab III
4. Sosio ekonomi,
Tingkat sosio ekonomi sangat mempengaruhi dimensi tubuh
manusia. Pada negara-negara maju dengan tingkat sosio
ekonomi tinggi, penduduknya mempunyai dimensi tubuh yang
besar dibandingkan dengan negara-negara berkembang.
5. Posisi tubuh (posture),
Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap
ukuran tubuh oleh karena itu harus posisi tubuh standar
harus diterapkan untuk survei pengukuran.
3.3.1 Alat Ukur Antropometri
Peralatan yang digunakan untuk mendapatkan data-data
antropometri adalah sebagai berikut:
Gambar 3.12 Goniometer Untuk Mengukur Sudut
Goniometer ini dipakai untuk mengukur lekukan-lekukan tubuh
manusia.
Sedangkan gambar 3.13 memperlihatkan berbagai
macam antropometer. Alat ini dipakai untuk mengukur bagian-
bagian tubuh manusia.
52
Bab III
Gambar 3.13 Jenis-jenis Antropometer
Kursi antropometri seperti pada gambar 3.14 ini dipakai untuk
mengukur data-data antropometri manusia dalam posisi duduk.
Data yang diperoleh biasanya dipakai untuk merancang kursi
dan ketinggian meja kerja serta untuk perancangan fasilitas kerja
yang berhubungan dengan manusia pemakainya. Orang yang
akan diukur data antropometrinya harus duduk di kursi ini.
53
Bab III
Gambar 3.14 Kursi Antropometri
3.3.2 Cara Pengukuran
Secara umum deskripsi dari pengukuran data
antropometrik terdiri dari setidaknya tiga buah tipe terminology
dasar yaitu :
1. Locator yang mengidentifikasikan suatu titik atau daerah dari
tubuh yang menjadi dasar pengukuran titik atau bidang.
2. Orientator yang mengidentifikasikan arah atau tujuan dari
suatu dimensi tubuh.
3. Potensioner yang menandakan asumsi dari posisi tubuh
subyek dalam pengukuran, seperti posisi duduk.
Berikut ini cara-cara pengukuran yang sering digunakan:
54
Bab III
Gambar 3.15 Mengukur Lebar Telapak Tangan
Gambar 3.16 Penggunaan Antropometer Papan Kepala Bergeser
(Sliding Head Board)
55
Bab III
Gambar 3.17 Penggunaan Antropometer Dengan Sistem Grid dan
Board di Sudut
3.3.3 Data Antropometri
Dimensi tubuh manusia untuk perancangan produk terdiri
dari dua jenis, yaitu struktural dan fungsional. Dimensi tubuh
struktural yaitu pengukuran tubuh manusia dalam keadaan tidak
bergerak. Sedangkan dimensi tubuh fungsional adalah
pengukuran tubuh manusia dalam keadaan bergerak. Secara
umum data antropometri yang sering digunakan untuk
merancang produk dan stasiun kerja ada pada gambar 3.18
A. Antropometri Struktural
Pengukuran manusia pada posisi diam dan linier pada
permukaan tubuh. Ada beberapa metode pengukuran tertentu
agar hasilnya representative. Disebut juga pengukuran dimensi
struktur tubuh dimana tubuh diukur dalam berbagai posisi
standar dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Dimensi
tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain meliputi berat
56
Bab III
badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran
kepala, tinggi atau panjang lutut pada saat berdiri atau duduk,
panjang lengan, dan sebagainya.
Gambar 3.18 Ukuran Tubuh Manusia yang Sering Digunakan Untuk
Merancang Produk
57
Bab III
Gambar 3.19 di bawah ini memperlihatkan antropometri
struktural. Antropometri struktural ini diantaranya: tinggi
selangkang, tinggi siku, tinggi mata, rentang bahu, tinggi
pertengahan pundak pada posisi duduk, jarak pantat-ibu jari
kaki, dan tinggi mata pada posisi duduk.
Gambar 3.19 Antropometri Struktural Posisi Berdiri dan Duduk
58
Bab III
Dimensi Kepala, Wajah, Tangan dan Kaki
Penerapan data ini untuk merancang terali untuk
keamanan, jeruji, panel visual dan pencapaian panel, peralatan
rekreasi, pengaturan dan peralatan tempat penyimpanan sepatu
di rumah, dan sebagainya.
Gambar 3.20 Antropometri Struktural Kepala, Wajah, Tangan dan Kaki
59
Bab III
B. Antropometri Fungsional
Antropometri fungsional adalah pengukuran keadaan dan
ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau
memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat
pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya. Hasil yang
diperoleh merupakan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan
erat dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Antropometri dalam
posisi tubuh melaksanakan fungsinya yang dinamis akan banyak
diaplikasikan dalam proses perancangan fasilitas ataupun ruang
kerja.
a
60
Bab III
b
Gambar.3.21 (a,b) Antropometri Fungsional/dinamis
Posisi Kerja
Data ini berfungsi untuk merancang ruang mekanik dan
utilitas, ruang latihan fisik, ruang terapi fisik, dan area sejenis
lainnya.
61
Bab III
Gambar 3.22 Antropometri Fungsional Posisi Kerja
3.3.4 ANTROPOMETRI PADA POSISI DUDUK
Dinamika posisi duduk dapat lebih mudah digambarkan
dengan mempelajari mekanika sistem penyangga dan
keseluruhan struktur tulang yang terlibat di dalam geraknya.
Sumbu penyangga dari batang tubuh yang diletakkan dalam
posisi duduk adalah sebuah garis pada bidang datar koronal,
melalui titik terendah dari tulang duduk (ischial tuberosities) di
atas permukaan tempat duduk. Gambar berikut memperlihatkan
tuberosities.
62
Bab III
Gambar 3.23 Tulang Duduk (Ischial Tuberosities) dalam Posisi Duduk
Gambar 3.24 Potongan Tulang Duduk Pada Bagian Posterior
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 75% dari
keseluruhan berat badan hanya disangga oleh daerah seluas 4
inci persegi atau 26 cm persegi dari tulang duduk ini. Kondisi ini
memperjelas bahwa berat badan yang diterima, disebarkan
hanya pada daerah yang kecil saja. Akibatnya, terjadi tegangan
yang sangat besar pada daerah pantat di bawahnya.
63
Bab III
Tekanan-tekanan ini menimbulkan perasaan lelah dan
tidak nyaman. Bertahan pada posisi duduk dalam jangka waktu
yang lama tanpa mengubah-ubah posisinya, di bawah kondisi
tekanan kompresi yang terjadi, dapat menyebabkan kurangnya
aliran darah pada suatu daerah, gangguan pada sirkulasi darah,
menyebabkan nyeri, sakit dan rasa kebal.
Suatu perancangan tempat duduk harus diupayakan
sedemikian rupa sehingga berat badan yang disangga oleh
tulang duduk tersebar pada daerah yang cukup luas. Alas yang
tepat pada landasan tempat duduk dapat memenuhi kebutuhan
tersebut. Harus diupayakan agar subyek yang sedang duduk di
atas tempat duduk tersebut dapat mengubah-ubah posisi atau
postur tubuhnya untuk mengurangi rasa ketidaknyamanannya.
Kondisi ini mendasari diperlukannya data antropometri yang
tepat. Berikut ini data-data antropometri untuk perancangan
kursi.
Gambar 3.25 Dimensi Antropometri untuk Perancangan Kursi
64
Bab III
Keterangan:
A = Tinggi lipatan dalam lutut
B = Jarak pantat-lipatan dalam lutut
C = Tinggi siku posisi istirahat
D = Tinggi bahu
E = Tinggi duduk normal
F = Rentang antar siku
G = Rentang panggul
H = Rentang bahu
I = Tinggi lumbar
Tinggi Tempat Duduk
Salah satu pertimbangan dasar dalam perancangan
suatu tempat duduk adalah tinggi permukaan bagian atas dari
landasan tempat duduk diukur dari permukaan lantai. Jika suatu
landasan tempat duduk terlalu tinggi letaknya, bagian bawah
paha akan tertekan seperti pada gambar di bawah ini.
Gambar 3.26 Tempat Duduk Terlalu Tinggi
65
Bab III
Landasan tempat duduk yang letaknya terlalu tinggi
dapat menyebabkan paha tertekan dan peredaran darah
terhambat. Sebagai, tambahan pula, telapak kaki tidak dapat
menapak dengan baik di atas permukaan lantai yang
mengakibatkan melemahnya stabilitas tubuh.
Jika, letak suatu landasan tempat duduk terlalu rendah
seperti gambar berikut ini.
Gambar 3.27 Tempat Duduk Terlalu Rendah
Landasan tempat duduk yang letaknya terlalu rendah dapat
menyebabkan kaki condong terjulur ke depan, menjauhkan
tubuh dari keadaan stabil. Sebagai tambahan pula, pergerakan
tubuh ke depan akan menjauhkan punggung dari sandaran
sehingga penopangan lumbar tidak terjaga dengan tepat. Bagi
orang yang bertubuh tinggi akan dapat lebih merasa nyaman
walau menggunakan kursi dengan landasan tempat duduk yang
rendah dibandingkan dengan seseorang yang bertubuh pendek
menggunakan kursi yang landasan duduknya terlalu tinggi.
66
Bab III
Secara antropometrik, tinggi lipatan dalam lutut haruslah
menjadi ukuran pada data yang digunakan untuk menentukan
tinggi landasan tempat duduk. Rentang data terkecil, misal data
persentil ke-5, akan menjadi pedoman yang tepat karena data ini
mencakup bagian populasi mereka yang berukuran tubuh paling
kecil. Alasannya jelas, seperti yang telah dikemukakan
terdahulu, bahwa tinggi duduk yang dapat mengakomodasi
mereka dengan ukuran tinggi lipatan lutut paling pendek, juga
dapat mengakomodasi mereka dengan ukuran tinggi lipatan lutut
yang lebih tinggi.
Kedalaman Tempat Duduk
Pertimbangan dasar lain dari perancangan sebuah kursi
adalah kedalaman landasan tempat duduk (jarak yang diukur
dari bagian depan sampai bagian belakang sebuah tempat
duduk). Bila kedalaman landasan tempat duduk terlalu besar,
bagian depan dari permukaan atau ujung dari tempat duduk
tersebut akan menekan daerah tepat di belakang lutut,
memotong peredaran darah di bagian kaki, seperti pada gambar
berikut ini.
Gambar 3.28 Landasan Tempat Duduk Terlalu Lebar
67
Bab III
Tekanan pada jaringan-jaringan akan menyebabkan
iritasi dan ketidaknyamanan. Bahaya lebih besar ialah terjadinya
penggumpalan darah jika subyek tidak mengubah posisi
tubuhnya. Untuk menghindarkan ketidaknyamanan pada bagian
kaki, subyek akan memajukan posisi pantatnya dan hal ini
menyebabkan bagian punggungnya tidak dapat bersandar
sehingga stabilitas tubuh melemah dan tenaga otot yang
diperlukan menjadi semakin besar sebagai upaya untuk menjaga
keseimbangan. Hasilnya adalah kelelahan, ketidaknyamanan
dan sakit di bagian punggung.
Bila kedalaman landasan tempat duduk terlalu sempit,
seperti pada gambar di bawah ini, akan menimbulkan situasi
yang buruk. Kondisi ini dapat menimbulkan perasaan terjatuh
atau terjungkal dari kursi. Sebagai akibatnya, kedalaman
landasan tempat duduk yang terlalu sempit akan menyebabkan
berkurangnya penopangan pada bagian bawah paha.
Gambar 3.29 Landasan Tempat Duduk Terlalu Sempit
Secara antropometri, jarak dari pantat ke lipatan dalam lutut
merupakan pedoman penentuan kedalaman tempat duduk yang
tepat.
68
Bab III
Sandaran Punggung
Fungsi utama dari sandaran punggung adalah untuk
mengadakan penopangan bagi daerah lumbar, atau bagian kecil
dari punggung, yaitu bagian bawah yang berbentuk cekung
dimulai dari bagian pinggang sampai pertengahan punggung.
Konfigurasi dari sandaran punggung harus dapat menyokong
sesuai profil dari tulang belakang, terutama pada daerah lumbar
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.30, namun harus
diperhatikan supaya tidak membuatnya terlalu pas untuk
menghindarkan pemakai mengubah-ubah posisinya.
Keseluruhan tinggi sandaran punggung dapat bervariasi
sesuai dengan jenis dan maksud pemakaian suatu kursi. Sebuah
kursi untuk sekertaris lebih cocok bila penopang lumbarnya
hanya pada suatu daerah kecil saja. Kursi santai akan lebih
cocok bila sandarannya mencapai bagian belakang kepala
ataupun tengkuk. Perlu diingat untuk menyediakan ruang
tambahan bagi penonjolan daerah pantat. Jarak bersih ini dapat
berupa daerah terbuka berbentuk ceruk antara permukaan
tempat duduk dan penopang lumbar. Bantalan yang empuk pada
bagian ini akan mengakomodasi penonjolan bagian pantat ini.
Gambar 3.30 Sandaran Punggung
69
Bab III
Sandaran Lengan
Sandaran lengan ini memiliki beberapa fungsi. Sandaran
ini menopang berat dari lengan dan membantu pemakai ketika
akan duduk atau bangkit dari tempat duduknya. Jika suatu kursi
digunakan untuk suatu kegiatan tertentu, misalnya bagi
seseorang yang bertugas dengan putaran-putaran tuts yang
sensitif atau panel kontrol, maka sandaran tangan tersebut dapat
berfungsi untuk menjaga agar lengan tetap stabil sepanjang
pelaksanaan pekerjaannya. Tinggi siku pada posisi istirahat
adalah pengukuran antropometri yang tepat sebagai pedoman
bagi penentuan tinggi sandaran lengan.
Bantalan
Tujuan dari pemberian bantalan pada dasarnya adalah
sebagai upaya penyebaran tekanan, sehubungan dengan berat
badan pada titik persinggungan antar permukaan dengan daerah
yang lebih luas. Bahayanya, seorang perancang seringkali
beranggapan bahwa makin empuk, dalam, dan lembut suatu
bantalan, akan semakin besar kenyamanan yang dihasilkannya.
Padahal bukan demikian kenyataannya. Seringkali justru sebuah
kursi yang tampaknya terlalu empuk justru dapat menyebabkan
kelelahan, ketidaknyamanan dan rasa sakit.
3.3.5 Persentil
Persentil adalah suatu nilai yang menunjukkan
persentase tertentu dari orang yang memiliki ukuran pada atau
dibawah nilai tersebut. Sebagai contoh, persentil ke-95 akan
menunjukkan 95% populasi akan berada pada atau dibawah
ukuran tersebut, sedangkan persentil ke-5 akan menunjukkan
5% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran itu. Dalam
antropometri, angka persentil ke-95 akan menggambarkan
ukuran manusia yang “terbesar” dan persentil ke-5 sebaliknya
akan menunjukkan ukuran “terkecil”. Bilamana diharapkan
ukuran yang mampu mengakomodasikan 95% dari populasi
70
Bab III
yang ada, maka diambil rentang 2.5-th dan 97.5-th persentil
sebagai batas-batasnya.
Pemakaian nilai-nilai persentil yang umum diaplikasikan
dalam perhitungan data antropometri ada pada tabel berikut.
Tabel 3.2 Persentil dan Perhitungan
Persentil Perhitungan
x 2.325
Ke-1 x
x 1.96
Ke-2,5 x
x 1.645
Ke-5 x
x 1.28
Ke-10 x
Ke-50 x
x 1.28
Ke-90 x
x 1.645
Ke-95 x
x 1.96
Ke-97,5 x
2.325
x
Ke-99 x
Contoh Perhitungan Persentil
Dari hasil pengukuran tubuh manusia Indonesia (dewasa,
laki-laki, usia antara 18 – 45 tahun) diperoleh data dengan
distribusi normal, tinggi rata-rata 165 cm dan standard deviasi
6,5 cm. Berapakah ukuran persentil 90.
Jawab
90-th ukuran = X 1 , 28 x
= 165 + 1,28 (6,5) = 173,32 cm
71
Bab III
3.3.6 Data Antropometri Untuk Perancangan
Produk
Penggunaan data antropometri dalam penentuan ukuran
produk harus mempertimbangkan prinsip-prinsip di bawah ini
agar produk yang dirancang bisa sesuai dengan ukuran tubuh
pengguna sebagai berikut :
1. Prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran
ekstrim. Rancangan produk dibuat agar bisa memenuhi 2
sasaran produk, yaitu :
a. Sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang mengikuti
klasifikasi ekstrim.
b. Tetap digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain
(mayoritas dari populasi yang ada).
Agar dapat memenuhi sasaran pokok tersebut maka ukuran
diaplikasikan yaitu:
a. Dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu
rancangan produk umumnya didasarkan pada nilai
percentile terbesar misalnya 90-th, 95-th, atau 99-th
percentile.
b. Dimensi maksimum yang harus ditetapkan diambil
berdasarkan percentile terkecil misalnya 1-th, 5-th, atau
10-th percentile
2. Prinsip perancangan produk yang bisa dioperasikan diantara
rentang ukuran tertentu (adjustable). Produk dirancang
dengan ukuran yang dapat diubah-ubah sehingga cukup
fleksible untuk dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki
berbagai macam ukuran tubuh. Mendapatkan rancangan
yang fleksibel semacam ini maka data antropometri yang
umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai 5-th sampai
dengan 95-th.
72
Bab III
3. Prinsip perancangan produk dengan ukuran rata-rata.
Produk dirancang berdasarkan pada ukuran rata-rata tubuh
manusia atau dalam rentang 50-th percentile.
3.4 Rangkuman
Ergonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu ergo yang
berarti kerja dan nomos yang berarti aturan atau hukum. Jadi
ergonomi adalah aturan-aturan mengenai keserasian dalam
mengerjakan sebuah pekerjaan. Ergonomi memerlukan
dukungan dari berbagai disiplin ilmu seperti psikologi,
antropometri, antropologi, faal, anatomi, dan teknologi.
Pengendalian ergonomi ada tiga kelompok utama untuk
mengendalikan resiko. Pengendalian itu adalah sebagai berikut:
Pengendalian teknik
Pengendalian administratif
Cara kerja
Antropometri adalah pengetahuan yang menyangkut
pengukuran tubuh manusia khususnya dimensi tubuh.
Antropometri ini digunakan sebagai dasar pertimbangan
ergonomis dalam perancangan produk maupun sistem kerja
yang memerlukan interaksi manusia.
3.5 Soal
a. Sebutkan 4 macam produk rancangan fasilitas kerja yang
saudara bisa identifikasikan melanggar prinsip-prinsip
ergonomi.
b. Untuk mendapatkan data antropometri tinggi tubuh
manusia Indonesia (laki-laki, umur 20 – 30 tahun), telah
dilakukan pengukuran terhadap 30 mahasiswa yang
73
Bab III
memberikan data pengukuran sebagai berikut (dalam
cm):
169 165 170 167 168 165
170 164 164 165 167 170
169 165 167 164 173 165
171 174 175 165 157 160
160 164 165 170 175 180
160 160 165 165 170 185
Berdasarkan data tersebut hitunglah berapa ukuran
persentil 5, persentil 50, persentil 95?
74
Bab III
Lampiran Bab 3
Nordic Body Map
Nordic Body Map ini dipakai untuk mengetahui keluhan-
keluhan yang dirasakan oleh para pekerja. Kuesioner ini
diberikan sebelum dan setelah melakukan pekerjaan.
Tabel 3.3 Kuesioner Nordic Body Map
No Bagian Tubuh Ya Tidak
0 Sakit pada leher bagian atas
1 Sakit pada leher bagian bawah
2 Sakit pada bahu kiri
3 Sakit pada bahu kanan
4 Sakit pada lengan atas bagian kiri
5 Sakit pada bagian punggung
6 Sakit pada lengan atas bagian kanan
7 Sakit pada daerah pinggang ke belakang
8 Sakit pada daerah pinggul ke belakang
9 Sakit pada daerah pantat
10 Sakit pada siku kiri
11 Sakit pada siku kanan
12 Sakit pada lengan bawah bagian kiri
13 Sakit pada lengan bawah bagian kanan
14 Sakit pada pergelangan tangan kiri
15 Sakit pada pergelangan tangan kanan
16 Sakit pada telapak tangan bagian kiri
17 Sakit pada telapak tangan bagian kanan
18 Sakit pada paha kiri
19 Sakit pada paha kanan
75
Bab III
20 Sakit pada lutut kiri
21 Sakit pada lutut kanan
22 Sakit pada betis kiri
23 Sakit pada betis kanan
24 Sakit pada pergelangan kaki kiri
25 Sakit pada pergelangan kaki kanan
26 Sakit pada telapak kaki kiri
27 Sakit pada telapak kaki kanan
Gambar 3.31 Nordic Body Map
76
Bab III
BAB IV
TELAAH METODE
4.1 Pendahuluan
Telaah metode adalah kegiatan pencatatan secara sistematis
dan pemeriksaan dengan seksama mengenai cara-cara yang berlaku
atau diusulkan untuk melaksanakan kerja. Sasaran pokok dan
efektifitas ini adalah mencari, mengembangkan dan menerapkan
metode kerja yang lebih efektif dan efisien; dengan tujuan akhir adalah
waktu penyelesaian pekerjaan akan bisa Iebih singkat/cepat. Dengan
telaah metode kerja - atau bahasa asingnya lazim disebut dengan
istilah “methods analysis” - maka hal ini dimaksudkan untuk
mempelajari prinsip-prinsip dan teknik-teknik pengaturan kerja yang
optimal dalam suatu sistem kerja. Sistem kerja adalah suatu sistem
dimana komponen-komponen kerja seperti manusia (operator), mesin
dan/atau fasilitas kerja lainnya, material Iingkungan kerja fisik akan
berinteraksi. Hubungan ini ditunjukkan seperti gambar 4.1.
Untuk mendapatkan hasil kerja yang baik, diperlukan sistem
kerja yang baik pula, oleh karena itu sistem kerja tersebut harus
dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan karya yang
diinginkan.
Dengan mempelajari bab ini para siswa diharapkan bisa
menerapkan cara kerja yang benar sesuai dengan prinsip ekonomi
gerakan. Selain itu para siswa diharapkan bisa memperbaiki
kesalahan-kesalahan cara kerja berdasarkan prinsip ekonomi gerakan.
77
Bab IV
Telaah Metode
Pekerja
Material BEBERAPA
Mesin & ALTERNATIF PILIH
Peralatan SISTEM KERJA
Lingkungan
Fisik Kerja
Efektif
SISTEM KERJA Efisien
Gambar 4.1 Tahapan Dalam Telaah Metode Kerja
4.2 Prinsip-Prinsip Ekonomi Gerakan
Prinsip ekonomi gerakan bisa dipergunakan untuk menganalisa
gerakan-gerakan kerja setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun
kerja dan bisa juga untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung
secara menyeluruh dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja yang
lainnya. Secara ringkas prinsip ekonomi gerakan, ini akan membahas:
Tubuh manusia dan gerakan-gerakannya.
Tata letak tempat kerja dan gerakan-gerakannya.
Perancangan peralatan dan gerakan-gerakannya.
78
Bab IV
4.2.1 Tubuh Manusia dan Gerakan-Gerakannya
Ekonomi gerakan yang dihubungkan dengan penggunaan
anggota tubuh manusia:
Manusia memiliki kondisi fisik dan struktur tubuh yang memberi
keterbatasan dalam melaksanakan kerja
Kedua tangan sebaiknya memulai dan mengakhiri gerakan
pada saat yang bersamaan
Gambar 4.2 Distribusi Beban Kegiatan Kerja antara Tangan dan Kaki
Guna Mengoperasikan Suatu Peralatan Kerja
Sumber: Sritomo Wignjosoebroto, 2000
Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur pada saat yang
sama kecuali pada waktu istirahat.
79
Bab IV
Gerakan tangan harus simetris dan berlawanan arah.
Gerakan tangan atau badan sebaiknya dihemat, yaitu hanya
menggerakkan tangan atau bagian badan yang diperlukan saja
untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
Sebaiknya memanfaatkan momentum untuk membantu
pekerjaan, yaitu dengan mengurangi kerja otot.
Hindari gerakan patah-patah karena akan mempercepat
menimbulkan kelelahan.
Pekerjaan harus diatur sedemikian rupa sehingga gerak mata
terbatas pada bidang yang menyenangkan tanpa perlu sering
mengubah fokus.
Gerakan balistik akan lebih cepat dan menyenangkan serta
lebih teliti dan pada gerakan yang dikendalikan.
Pekerjaan sebaiknya dirancang semudah-mudahnya dan jika
memungkinkan irama kerjanya alamiah.
4.2.2. Tata Letak Tempat Kerja dan Gerakan-
Gerakannya
Prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan tempat kerja
berlangsung:
Tempat-tempat tertentu yang tidak sering dipindah-pindah
harus disediakan untuk semua alat dan bahan sehingga dapat
menimbulkan kebiasaan tetap (gerak rutin).
Letakkan bahan dan peralatan pada jarak yang dapat dengan
mudah dan nyaman dicapai pekerja sehingga mengurangi
usaha mencari-cari. Berikut contoh meletakkan material benda
kerja yang memungkinkan gerakan kerja normal dan standard
jangkauan dan pekerja yang umum dipergunakan didalam
mengatur penempatan material atau peralatan kerja (Gambar
4.3).
80
Bab IV
Penyimpanan bahan/parts yang akan dikerjakan sebaiknya
memanfaatkan prinsip gaya berat (gravitasi).
Sebaiknya untuk menyalurkan obyek yang sudah selesai
dirancang dengan menggunakan mekanisme yang baik.
Tata letak bahan dan peralatan kerja diatur sedemikian rupa
sehingga memungkinkan urut-urutan gerakan yang terbaik.
Tinggi tempat kerja (mesin, meja kerja, dan lain-lain) harus
sesuai dengan ukuran tubuh manusia sehingga pekerja dapat
melaksanakan kegiatannya dengan mudah dan nyaman. Di sini
prinsip-prinsip anthropometri mutlak harus dipelajari pada saat
akan merancang fasilitas kerja tersebut.
Tinggi tempat kerja dan kursi sebaiknya sedemikian rupa,
sehingga berdiri atau duduk dalam menghadapi pekerjaan
merupakan suatu hal yang menyenangkan.
Tipe dan tinggi kursi harus sedemikian rupa, agar sikap atau
postur tubuh badan menjadi baik.
Kondisi ruangan pekerja seperti penerangan. temperatur,
kebersihan, ventilasi udara, dan lain-lain yang berkaitan
dengan persyaratan ergonomis harus pula diperhatikan benar-
benar sehingga dapat diperoleh area kerja yang lebih baik.
4.2.3 Perancangan Peralatan dan Gerakan-Gerakan
Kurangi sebanyak mungkin pekerjaan tubuh (manual), apabila
hal tersebut dapat dilaksanakan dengan peralatan kerja.
Usahakan menggunakan peralatan kerja yang dapat
melaksanakan berbagai macam pekerjaan sekaligus, baik yang
sejenis maupun yang berlainan, Gambar 4.4
81
Bab IV
Gambar 4.3 Dimensi Standard dari Normal dan Maksimum Area Kerja dalam
Tiga Dimensi
Sebaiknya penggunaan perkakas pembantu (jig & fixture) atau
alat-alat yang digerakan dengan kaki ditingkatkan.
Sebaiknya peralatan dirancang sedemikian rupa, agar
mempunyai lebih dari satu kegunaan.
Peralatan sebaiknya dipasang sedemikian rupa, sehingga
memudahkan dalam pemegangan dan penyimpanan.
82
Bab IV
Pendistribusian beban disesuaikan dengan kekuatan jari-
tangan ataupun kaki.
Roda tangan, palang dan peralatan yang sejenis dengan itu
sebaiknya diatur sedemikian rupa, sehingga badan dapat
melayaninya dengan posisi yang baik dan dengan tenaga yang
minimum.
Gambar 4.4 Multiple Spindle Air Operated yang Mampu Mengencangkan 5
Buah Mur Sekaligus dalam Satu Langkah Kerja
Sumber: Sritomo Wignjosoebroto, 2000
Untuk mencari hal-hal yang akan diperbaiki atau mencari ide-
ide perbaikan dalam ekonomi gerakan, dapat dilakukan pencarian
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, misalnya sebagai
berikut:
Pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan untuk mencari ide
perbaikan:
83
Bab IV
Bagaimana kalau proses produksi dibalikkan
Bagaimana kalau proses produksi dipermudah
Apakah pekerjaan dapat disatukan
Apakah Jig dapat disatukan
Apakah dapat dihentikan
Apakah bisa bekerja dengan menggunakan dua tangan
Apakah dapat dihilangkan.
4.3 Penerapan Ekonomi Gerakan
Penerapan ekonomi gerakan dalam suatu stasiun kerja atau
aktivitas bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti: eliminasi
kegiatan, kombinasi gerakan atau aktivitas kerja, dan penyederhanaan
kegiatan.
4.3.1 Eliminasi Kegiatan
Eliminasi semua kegiatan/aktivitas yang memungkinkan,
langkah-langkah atau gerakan-gerakan (dalam hal ini banyak
berkaitan dengan aplikasi anggota badan, kaki, lengan, tangan,
dll)
Eliminasi kondisi yang tak beraturan dalam setiap kegiatan.
Letakkan segala fasilitas kerja dan material/komponen pada
lokasi yang tetap (hal ini akan bisa rnenyebabkan gerakan-
gerakan kerja yang otomatis).
Eliminasi penggunaan tangan (baik satu atau keduanya)
sebagai “holding device”, karena hal ini merupakan aktivitas
84
Bab IV
tidak produktif yang menyebabkan kerja kedua tangan tidak
seimbang.
Eliminasi penggunaan tenaga otot untuk melaksanakan
kegiatan statis atau fixed position. Demikian pula sebisa
mungkin untuk menggunakan tenaga mesin (mekanisasi)
seperti rower tools, power feeds. Material handling equipment,
dll untuk menggantikan tenaga otot.
Eliminasi waktu kosong (idle time) atau waktu menunggu
(delay time) dengan membuat perencanaan/penjadwalan kerja
sebaik-baiknya. Idle/delay time bisa ditolerir bilamana hal
tersebut diperuntukkan secara terencana guna melepaskan
lelah.
4.3.2 Kombinasi Gerakan atau Aktivitas Kerja
Gantikan/kombinasikan gerakan-gerakan kerja yang
berlangsung pendek atau terputus-putus dan cenderung
berubah-ubah arahnya dengan sebuah gerakan yang kontinyu,
tidak patah-patah serta cenderung membentuk sebuah kurva.
Kombinasikan beberapa aktivitas/fungsi yang mampu ditangani
oleh sebuah peralatan kerja dengan membuat desain yang
“multi purpose”
Distribusikan kegiatan dengan membuat keseimbangan kerja
antara kedua tangan. Pola gerakan kerja yang simultan dan
simetris akan memberi gerakan yang paling efektif. Bilamana
kegiatan dilaksanakan secara kelompok maka diupayakan agar
supaya terjadi beban kerja yang merata di antara anggota
kelompok.
4.3.3 Penyederhanaan Kegiatan
Laksanakan setiap aktivitas/kegiatan kerja dengan prinsip
kebutuhan energi otot yang digunakan minimal.
85
Bab IV
Kurangi kegiatan mencari-cari obyek kerja (peralatan kerja,
material, dIl) dengan meletakkannya dalam tempat yang tidak
berubah-ubah.
Eliminasi gerakan-gerakan yang tidak semestinya, abnormal,
dll. Hindari pula gerakan-gerakan yang membahayakan dan
melanggar prinsip-prinsip keselamatan atau kesehatan kerja
berubah-ubah.
Letakkan fasilitas kerja berada dalam jangkauan tangan yang
normal. Hal ini akan menyebabkan gerakan tangan berada
pada jarak yang sependek-pendeknya.
Sesuaikan letak dan gandles, pedals, levers, buttons, dll
dengan memperhatikan dimensi- tubuh manusia
(anthropometri) dan kekuatan otot yang dibutuhkan.
4.4 Studi Gerakan untuk Menganalisa Kerja
Studi gerakan yang lebih dikenal dengan ´´motion study´´
adalah suatu studi tentang gerakan-gerakan yang dilakukan pekerja
untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tujuan dari studi ini ingin
diperoleh gerakan-gerakan standar untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan. Gerakan standar ini adalah gerakan-gerakan yang efektif
dan efisien. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan kegiatan untuk
mengamati kondisi pekerjaan yang ada. Studi mengenai ini dikenal
sebagai studi ekonomi gerakan yaitu studi yang menitik-beratkan pada
penerapan prinsip-prinsip ekonomi gerakan.
Orang-orang yang berjasa dalam mengembangkan studi
gerakan ini adalah Frank dan Lillian Gilberth. Gilberth telah mengawali
studi gerakan manual dan memgembangkan prinsip-prinsip dasar
ekonomi gerakan yang sampai sekarang masih dipertimbangkan
sebagai landasan pokok untuk melakukan studi gerakan. Disamping
itu Gilberth juga berhasil menciptakan teknik-teknik perekaman
gambar-gambar detail yang dikenal sebagai micromotion studies
(bermanfaat di dalam usaha mempelajari gerakan kerja manual yang
dilakukan secara cepat dan berulang-ulang). Frank dan Lillian Gilberth
86
Bab IV
menciptakan simbol-simbol yang dikenal dengan nama 'Therbligs'.
Elemen gerakan therbligs ini terdiri dari 17 gerakan dasar. Berikut ini
penjelasan mengenai gerakan-gerakan dasar tersebut. Elemen
gerakan dan simbol secara lengkap ada pada tabel 4.1.
Mencari (Search)
Elemen gerakan mencari merupakan gerakan dasar dari
pekerja untuk menemukan lokasi obyek. Pada gerakan ini yang
bekerja adalah mata. Gerakan ini dimulai pada saat mata bergerak
mencari obyek dan berakhir bila obyek sudah ditemukan. Tujuan dari
analisa therblig ini adalah untuk menghilangkan sedapat mungkin
gerak yang tidak perlu. Mencari merupakan gerak yang tidak efektif
dan masih dapat dihindarkan misalnya dengan menyimpan peralatan
atau bahan-bahan pada tempat yang tetap sehingga proses mencari
dapat dihilangkan.
Gambar 4.5 Pekerja Sedang Mencari Peralatan Obeng
Untuk mengurangi atau menghilangkan waktu untuk mencari-
cari maka seorang perancang kerja harus memperhatikan beberapa
pertanyaan berikut:
87
Bab IV
Sudah jelaskah ciri-ciri obyek yang akan diambil? Pemasangan
label dan warna-warna tertentu diharapkan akan
mempermudah proses mencari obyak.
Apakah tata letak (layout) area kerja sudah diatur sebaik-
baiknya sehingga mampu mengeleminir proses mencari?
Pengaturan letak material, peralatan atau fasilitas kerja lainnya
harus ditempatkan sedemikian rupa dan tidak berubah-ubah
sehingga tidak ada waktu terbuang untuk mencari (gerakan
tangan otomatis tanpa harus menggerakkan mata).
Dapatkah dipakai tempat obyek yang tembus pandang?
Dengan tempat tembus pandang, obyek akan terlihat dengan
jelas sekalipun dilihat dari luar. Dengan demikian akan
mempermudah pencarian.
Apakah pencahayaan untuk area kerja yang ada sudah
memenuhi persyaratan ergonoinis yang seharusnya ? Cahaya
merupakan faktor yang sangat penting dalam gerakan mencari
karena menentulcan terlihat tidaknya obyek secara jelas.
Sudah tetapkah tempatnya? Obyek yang sudah ditempatkan
secara tetap akan memudahkan pencariannya. Hal ini kadang-
kadang dapat menghilangkan gerakan mencari karena bila
obyek sudah tertentu tempatnya, tangan dengan sendirinya
akan langsung mengambil obyek tanpa harus mencari-cari
terlebih dahulu.
Memilih (Select)
Memilih adalah elemen Therbligs yang merupakan gerakan
kerja menemukan/memilih suatu obyek di antara dua atau lebih obyek
yang sama lainnya. Elemen Therbligs ini dimulai pada saat tangan dan
mata mulai bergerak memilih dan berakhir bila obyek yang
dikehendaki sudah ditemukan. Elemen memilih biasanya mengikuti
langsung elemen therbligs mencari (search). Batas antara memulai
memilih dan akhir dari mencari agak sulit untuk ditentukan karena ada
pembaharuan pakerjaan di antara dua gerakan tersebut yaitu gerakan
yang dilakukan oleh mata. Gambar 4.6 memperlihatkan aktivitas
memilih.
88
Bab IV
Tabel 4.1 Elemen Gerakan Therbligs
89
Bab IV
Gambar 4.6 Aktivitas Memilih Obeng
Untuk menghindarkan elemen gerakan memilih ini maka
beberapa pertanyaan berikut ini bisa dipakai pedoman motion analysis
yaitu:
Apakah obyek-obyek (part) yang berbeda ditempatkan dalam
tempat yang sama ? Gerakan memilih dapat dihilangkan bila
obyek yang berbeda diletakkan secara terpisah tidak tercampur
lagi.
Dapatkah permukaan wadah diperluas? Makin luas permukaan
wadah akan makin memudahkan pemilihan karena tangan
akan lebih leluasa bergerak dan memudahkan mata membantu
pelaksanaan elemen gerakan ini.
Apakah obyek yang sama telah memenuhi persyaratan
interchangeability ? Part atau obyek seharusnya standard
90
Bab IV
sehingga tidak ada perbedaan antara obyek yang satu dengan
lain. Di sini mereka memiliki kemampuan untuk dipertukarkan
(interchange ability) tanpa ada pengerjaan tambahan.
Dapatkah dipakai tempat yang tembus pandang? Selain
berguna untuk memudahkan mencari, tempat yang tembus
pandang juga akan memudahkan elemen gerakan memilih. Hal
ini terjadi karena obyek dapat terlihat dari luar meskipin obyek
yang dipilih berada di bawah dalam satu tumpukan.
Dapatkah dipergunakan suatu tempat material (rack atau tray)
yang mampu mengatur posisi obyek sedeinikian rupa sehingga
tidak menyulitkan pada saat mengambil tanpa harus memilih
lagi?.
Memegang (Grasp)
Memegang adalah gerakan untuk memegang obyek, biasanya
didahului oleh gerakan menjangkau dan dilanjutkan oleh gerakan
membawa. Memegang adalah termasuk elemen Therbligs yang
diklasifikasikan sebagai elemen gerakan efektif yang biasanya dapat
dihilangkan akan tetapi dalam beberapa hal bisa diperbaiki. Gambar
4.7 merupakan aktivitas memegang.
Gambar 4.7 Aktivitas Memegang
91
Bab IV
Untuk memperbaiki elemen gerak memegang ini beberapa pertanyaan
di bawah ini bisa dipakai sebagai berikut :
Dapatkah beberapa obyek dipegang sekaligus pada saat yang
bersamaan ? Jika hal ini memungkinkan maka waktu kerja
yang ada akan bisa dihemat dan pekerjaan bisa diselesaikan
lebih cepat.
Dapatkah obyek tersebut digelincirkan? Bila obyek dapat
digelincirkan, tangan tidak usah membawa secara penuh ke
tempat kerja selanjutnya, sehingga memegang lebih bersifat
kontak-kontak antara tangan dengan obyek dari pada
memegang sepenuhnya.
Dapatkah obyek yang akan dipegang diletakkan sedemikian
rupa sehingga memudahkan usaha gerakan memegang ?
Letak yang teratur memungkinkan pemegangan obyek lebih
mudah dibandingkan kalau letak dan obyek tersebut
berserakan.
Dapatkah dipergunakan peralatan-peralatan pembantu
(vacuum, magnet, rubber fingertip, dan lain-lain). Untuk
mempermudah gerakan-gerakan memegang obyek ? Bila ada
peralatan yang dapat dipakai untuk mengganti fungsi tangan,
untuk memegang, maka perbaikan akan dipenoleh untuk
elemen gerakan ini karena dengan demikian kerja anggota
badan bisa dikurangi, sehingga datangnya kelelahan dapat
ditunda lebih lama lagi.
Menjangkau/membawa tanpa beban (Transport Empty)
Menjangkau adalah elemen gerak Therbligs yang
menggambarkan gerakan tangan berpindah tempat tanpa beban atau
hambatan (resistence) baik gerakan menuju atau menjauhi obyek atau
lokasi tujuan lainnya dan berakhir segera disaat tangan berhenti
bergerak setelah mencapai obyek tujuannya. Elemen gerakan ini
biasanya didahului oleh gerakan melepas (release) dan diikuti oleh
gerakan memegang (grasp). Waktu yang diperIukan untuk
melaksanakan elemen gerak menjangkau akan sangat tergantung
dengan jarak gerakan tangan yang dilakukan kearah obyek yang dituju
dan tipe gerakan menjangkaunya. Seperti halnya dengan elemen
92
Bab IV
gerakan memegang (grasp), maka elemen menjangkau ini dapat
diklasifikasikan sebagai elemen Therbligs yang efektif dan sulit untuk
dihilangkan secara keseluruhan dari siklus kerja yang ada. Meskipun
demikian masih bisa dimungkinkan untuk diperbaiki dengan cara
memperpendek jarak jangkauan serta memberikan lokasi yang tetap
untuk obyek yang harus dicapai selama siklus berlangsung.
Gambar 4.8 Gerakan Menjangkau
Membawa Dengan Beban (Transport Loaded)
Elemen gerakan membawa adalah juga merupakan gerak
perpindahan tangan, hanya saja di sini tangan bergerak dalam kondisi
membawa beban (obyek). Elemen gerakan ini diawali dan diakhiri
pada saat yang sama dengan elemen gerakan menjangkau (reach)
hanya saja di sini tangan dalam kondisi membawa beban (obyek).
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu gerakannya pun hampir
sama yaitu jarak perpindahan tangan, tipe gerakan dan berat ringan
beban dibawa oleh tangan.
93
Bab IV
Gambar 4.9 Gerakan Membawa Dengan Beban
Elemen gerakan membawa biasanya didahului oleh elemen
gerakan memegang (grasp) dan dilanjutkan oleh elemen gerakan
melepas (release) atau mengarahkan (position). Elemen gerak
membawa termasuk Therbligs yang efektif yang sulit sekali dieliminir
dari siklus kerja yang berlangsung. Meskipun demikian waktu yang
diperlukan untuk melaksanakan elemen gerak ini bisa dihemat dengan
cara mengurangi jarak perpindahan, meringankan beban yang harus
dipindahkan, dan memperbaiki tipe pemindahan beban dengan
rnenggunakan prinsip gravitasi atau memakai peralatan material
handling lainnya Elemen gerakan menjangkau atau membawa dapat
diperbaiki dengan mengikuti pedoman-pedoman berikut ini:
Dapatkah jarak perpindahan obyek diperpendek ? Penyusunan
tata letak bahan sangat berpengaruh pada jarak tempuh ini.
94
Bab IV
Harus diusahakan agar obyek yang paling sering dipakai
diletakkan paling dekat.
Apakah cara yang terbaik sudah dipakai ? Membawa atau
memindahkan obyek dari satu lokasi ke lokasi yang lain bisa
dilaksanakan dengan berbagai cara baik - secara manual
maupun menggunakan peralatan material handling (conveyor,
crane, kereta dorong dan lain-lain).
Apakah anggota badan - seharusnya digerakkan sudah tepat ?
Dengan hanya menggerakkan anggota badan yang diperlukan,
jari-jari, pergelangan tangan, bahu, kaki dan lain-lain),
diharapkan tidak akan’terjadi pemborosan tenaga sehingga
waktu dapat pula dihemat.
Dapatkah waktu dikurangi dengan mengangkut sekaligus
banyak? Dengan mengangkat sekaligus beberapa obyek maka
waktu yang diperlukan untuk memindahkan per unit obyek
lebih kecil.
Dapatkah perubahan arah gerak yang mendadak dihindari ?
Perubahan arah gerak mengakibatkan pertambahan jarak yang
harus dilakukan oleh tangan, dengan demikian waktu gerakpun
akan bertambah. Selain itu ada pula faktor kelambatan yang
diakibatkan oleh perubahan arah gerak tadi.
Dapatkah obyek yang harus dipindahkan ini digelincirkan
(manfaat prinsip gravitasi) ?. Bila obyek dapat bergerak sendiri
atau berguling (tergelincir) karena pengaruh gravitasi, maka
tenaga yang seharusnya digunakan untuk memindahkan obyek
ini dapat dihemat. Tenaga yang diperlukan di sini mungkin
hanya dibutuhkan untuk mendorong obyek tersebut.
Memegang Untuk Memakai (Hold)
Pengertian memegang untuk memakai disini adalah
memegang tanpa menggerakkan obyek yang dipegang tersebut;
perbedaannya dengan memegang yang terdahulu adalah pada
perlakuan pada obyek yang dipegang. Pada memegang, pemegangan
dilanjutkan dengan gerak membawa, sedangkan memegang untuk
memakai tidak demikian.
95
Bab IV
Gambar 4.10 Gerakan Memegang untuk Memakai
Therblig ini merupakan gerakan yang tidak efektif, dengan
demikian sedapat mungkin harus dihilangkan atau paling tidak
dikurangi. Gerakan ini sering dijumpai pada pekerjaan perakitan, satu
tangan memegang untuk memakai dan satu tangan lagi melakukan
pekerjaan memasang. Satu contoh lain adalah pada waktu melakukan
pekerjaan memasang buah kancing, tangan kiri tidak bergerak
memegang kancing sedangkan tangan kanan bekerja menggerak-
gerakkan jarum. Dalam hal ini tangan kiri melakukan elemen gerak
memegang untuk memakai. Untuk melakukan perbaikan sehubungan
dengan therblig diatas, pertanyaan-pertanyaan berikut ini bisa dipakai
sebagai pedoman:
Dapatkah pemegangan dilakukan oleh peralatan? Dengan
mengganti tangan oleh peralatan dalam therblig ini berarti ada
kemungkinan untuk meningkatkan produktivitas kerja karena
96
Bab IV
tangan yang tadinya dipakai untuk memegang sekarang dapat
melakukan pekerjaan lain. Contoh pemakaian jig.
Dapatkah diusahakan suatu penyangga tangan? Bila tidak
memungkinkan memakai peralatan sebagai alat pemegang,
maka tangan harus diusahakan tidak cepat mengalami
kelelahan. Tangan dapat dibantu dengan alat penyangga.
Melepas (Release Load)
Elemen gerak melepas terjadi pada saat tangan operator
melepaskan obyek yang dipegang sebelumnya. Dengan demikian
elemen gerak ini diawali sesaat jari-jari tangan membuka lepas dan
obyek yang dibawa dan berakhir secara begitu semua jari jelas tidak
menyentuh atau memegang obyek lagi.
Gambar 4.11 Gerakan Tangan Melepas Mur
Bila dibandingkan dengan elemen-elemen gerak Therbligs
lainnya, gerakan melepas merupakan gerakan yang relatif singkat.
Elemen gerak melepas ini biasanya didahului oleh gerakan
97
Bab IV
menjangkau (reach). Elemen gerak melepas termasuk elemen
Therbligs yang efektif dan bisa diperbaiki dengan memperhatikan
peranyaan-pertanyaan berikut :
Dapatkah gerakan ini dilaksanakan bersamaan dengan
gerakan membawa (move) ? Di sini obyek dibawa dan
sekaligus dilepas sehingga dengan demikian akan dapat
mengefisiensikan waktu.
Apakah tempat obyek setelah dilepas telah dirancang dengan
baik? Bila faktor kehati-hatian untuk melepas dapat dihilangkan
pada waktu melepas, waktu yang diperlukan untuk therblig ini
akan menjadi lebih singkat. Hal ini tercapai misalnya dengan
memberi landasan yang lunak (busa) pada tempat obyek
setelah dilepas, sehingga dengan demikian pekerja tidak usah
terlalu hati-hati untuk melepaskan obyek yang dipegangnya.
Dapatkah peralatan dipakai untuk melepas? Fungsi tangan
untuk melepas dapat diganti oleh suatu alat misalnya dengan
pelontar mekanis.
Mengarahkan (Position)
Therblig ini merupakan gerakan mengarahkan suatu obyek
pada suatu lokasi tertentu. Gerakan mengarahkan ini biasanya
didahului oleh elemen gerakan (move) dan diikuti oleh
gerakan merakit (assembling) atau melepas (release). Gerakan
dimulai sejak tangan memegang/mengontrol obyek tersebut kearah
lokasi yang dituju dan berakhir pada saat gerakan berakhir atau
melepas/memakai dimulai.
Waktu yang diperlukan untuk gerak mengarahkan ini juga
dipengaruhi oleh kerja mata, karena selama tangan mengarahkan
obyek, mata tentu mengontrol (elemen mencari paling tidak ikut
berperan pula di sini) agar obyek dapat dengan mudah ditempatkan
pada lokasi yang telah ditetápkan. Elemen gerak mengarahkan ini
termasuk elemen therblig yang tidak efektif, sehingga untuk itu harus
diusahakan menghilangkannya.
98
Bab IV
Gambar 4.12 Gerakan Mengarahkan Mur & Clamp
Waktu untuk mengarahkan sering bisa diefisienkan dengan
memperhatikan pedoman-pedoman berikut ini :
Apakah pengarahan diperlukan? Untuk obyek-obyek yang
tidak memerlukan pengarahan, misalnya karena boleh
diletakkan secara tidak beraturan, proses pengarahan
sebaiknya dihilangkan karena dengan tidak adanya elemen
gerak mengarahkan, elemen gerak membawa akan menjadi
lebih singkat.
Apakah obyek yang akan dipegang telah diletakkan
sedemikian rupa sehingga memudahkan pengarahan? Bila
obyek telah diletakkan sedemikian rupa sehingga untuk
pengarahan tidak diperlukan gerak yang banyak, maka akan
diperoleh penghematan waktu kerja karena berkurangnya
waktu pengarahan.
Dapatkah dipakai peralatan sebagai penuntun obyek yang
akan ditempatkan? Dengan adanya penuntun, diharapkan
waktu untuk pengarahan dapat dikurangi. Penuntun disini
99
Bab IV
adalah salah satu peralatan yang termasuk perkakas
pembantu (jig).
Mengarahkan Sementara (Pre-Position)
Elemen gerak mengarahkan awal adalah elemen kerja
therbligs yang mengarahkan obyek pada suatu tempat sementara
sehingga pada saat kerja mengarahkan obyek benar-benar dilakukan
maka obyek tersebut dengan mudah akan bisa dipegang dan dibawa
kearah tujuan yang dikehendaki. Elemen therbligs ini sering terjadi
bersamaan dengan therblig yang diantaranya adalah membawa
(move) dan melepaskan (release). Untuk mengurangi waktu kerja
mengarahkan awal bisa dilakukan dengan merancang peralatan
pembantu untuk memegang (holding device) perkakas kerja atau
obyek pada arah gerakan kerja yang semestinya. Berikut ini uraian
perbedaan antara therblig mengarahkan dengan therblig mengarahkan
sementara.
Tabel 4.2 Uraian Gerakan Menulis
Langkah Dalam Penulisan Nama Gerakan
Mengambil pulpen Menjangkau
Memegang pulpen Memegang
Membawa pulpen ke kertas Membawa
Mengarahkan pulpen untuk menulis Mengarahkan
Menulis Menamai
Mengembalikan pulpen ke tempatnya Membawa
Memasukkan pulpen ke dalam Mengarahkan sementara
tempatnya
Melepaskan pulpen Melepas
Menggerakkan kembali tangan ke kertas Menjangkau (transport empty)
100
Bab IV
Memeriksa (Inspect)
Elemen therblig ini termasuk cara kerja untuk menjamin bahwa
obyek telah memenuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan. Gerakan
kerja dilaksanakan dengan pengecekan secara rutin oleh operator
selama proses kerja berlangsung. Elemen dapat berupa gerakan
melihat seperti memeriksa warna, meraba seperti memeriksa
kehalusan permukaan benda kerja dan lain-lain. Aktivitas yang
prinsipnya memeriksa obyek kerja untuk dibandingkan dengan
standard yang ada. Waktu yang diperlukan untuk kegiatan memeriksa
ini akan bergantung kepada kecepatan operator menemukan
perbedaan antara obyek dengan performansi standard yang
dibandingkan. Elemen kerja ini terrnasuk dalam elemen Therbligs
yang tidak efektif dan dapat dihindari dengan mengikuti petunjuk-
petunjuk berikut:
Dapatkah gerakan ini dilakukan sekaligus bersamaan dengan
therblig yang lain? Dengan adanya kombinasi operasi antara
pemeriksaan dengan gerak yang lain, berarti waktu
pemeriksaan secara tersendiri dapat dihindarkan.
Dapatkah dipakai suatu alat yang dapat memeriksa beberapa
obyek sekaligus?
Apakah penambahan cahaya dapat mempercepat
pemeriksaan?
Apakah jarak obyek yang diperiksa sudah tepat dari mata
operator? Jarak penglihatan manusia sangat terbatas
kemampuannya. Jarak yang lebih dekat atau lebih jauh dari
jarak optimal bagi seseorang akan mengakibatkan ketidak
jelasan penglihatan bagi orang tersebut, dan pada saatnya
akan mengakibatkan kerusakan pada mata.
Apakah dapat dimanfaatkan peralatan khusus untuk inspeksi
yang dapat membantu atau menggantikan fungsi bagian tubuh
(tangan, mata, dan lain-lain ?) Adanya lensa pembesar,
peralatan elektronik ataupun mekanik untuk pemeriksaan, dan
lain-lain akan bisa diaplikasikan guna melakukan pemeriksaan
secara lebih mudah dan teliti.
101
Bab IV
Merakit (Assemble)
Perakitan adalah gerakan untuk menggabungkan satu obyek
dengan obyek yang lain sehingga menjadi satu kesatuan. Gerakan ini
biasanya didahului oleh salah satu therblig membawa atau
mengarahkan dan dilanjutkan oleh therblig melepas. Pekerjaan
perakitan dimulai bila obyek sudah siap dipasang dan berakhir bila
obyek tersebut sudah tergabung secara sempurna.
Gambar 4.13 Merakit
Mengurai Rakit (Diassembly)
Elemen gerak ini merupakan kebalikan dari elemen therblig
merakit (assemble). Di sini dilakukan gerakan memisahkan atau
menguraikan dua obyek yang tergabung satu menjadi obyek-obyek
terpisah. Gerakan mengurai rakit biasanya diawali oleh elemen
memegang (grasp) dan dilanjutkan dengan membawa (move) atau
melepas (release). Gerakan ini dimulai pada saat pemegangan atas
obyek telah selesai yang dilanjutkan dengan usaha memisahkan dan
berakhir di saat obyek telah terurai sempurna (biasanya terus diikuti
dengan gerakan Therblig Iainnya yaitu membawa atau melepas).
102
Bab IV
Gambar 4.14 Melepas Rakit
Memakai (Use)
Memakai adalah elemen gerakan therblig dimana salah satu
atau kedua tangan digunakan untuk memakai/mengontrol suatu
alat/obyek untuk tujuan-tujuan tertentu selama kerja berlangsung.
Lama waktu yang dipergunakan untuk gerakan ini tergantung pada
jenis pekerjaan atau kecakapan operator untuk menyelesaikan
pekerjaan tersebut.
Merakit, mengurai rakit dan memakai dapat diperbaiki dengan
mempertanyakan hal-hal berikut ini:
Dapatkah dipakai perkakas bantu (Jig & Fixture)? Pemakaian
alat-alat ini akan meringankan dan memudahkan kerja tangan.
Dengan demikian diharapkan produktivitas kerja akan
meningkat.
103
Bab IV
Dapatkah aktivitas pekerjaan dilakukan oleh peralatan secara
otomatis?
Dapatkah melakukan perakitan dengan beberapa unit
sekaligus? Bila keadaan ini memungkinkan, maka akan
mempersingkat waktu kerja.
Apakah mesin atau peralatan kerja telah dijalankan secara
efisien sesuai dengan kapasitas dan spesifikasi yang dimiliki?.
Untuk mencapai tingkat efisiensi yang tinggi, maka pekerjaan
harus dilakukan dalam kondisi yang optimal. Mesin perkakas
misalnya harus dijalankan pada pemilihan kecepatan potong
(cutting speed), pemakanan (feed) dan kondisi-kondisi
pemotongan lainnya yang seoptimal mungkin.
Kelambatan Yang Tak Terhindarkan (Unavoidable Delay)
Kelambatan yang dimaksudkan disini adalah kelambatan yang
diakibatkan oleh hal-hal yang terjadi diluar kemampuan pengendalian
pekerja. Hal ini timbul karena ketentuan cara kerja yang
mengakibatkan satu tangan menganggur sedangkan tangan yang
lainnya bekerja.
Misalnya operator mesin drill, menurut ketentuan cara kerja
yang ditetapkan, sebagai akibat dari sifat pekerjaannya hanya
memungkinkan satu tangan bekerja. Gangguan-gangguan yang terjadi
seperti padamnya listrik, rusaknya alat dan lain-lain menyebabkan
kelambatan juga. Kelambatan ini dapat dikurangi dengan mengadakan
perubahan atau perbaikan pada proses operasi.
Kelambatan Yang Dapat Dihindarkan (Avoidable Delay)
Setiap waktu menganggur (idle time) yang terjadi pada siklus
kerja yang berlangsung merupakan tanggung jawab operator baik
secara sengaja maupun tidak sengaja akan diklasifikasikan sebagai
kelambatan yang bisa dihindarkan. Kegiatan ini menunjukkan situasi
yang tidak produktif yang dilakukan oleh operator (merokok,
mengobrol, mondar-mandir tanpa tujuan jelas, dan lain-lain) sehingga
perbaikan/penanggulangan yang perlu dilakukan lebih ditujukan
kepada operatornya sendiri tanpa harus mengubah proses operasi
kerjanya.
104
Bab IV
Merencanakan (Plan)
Merencana merupakan proses mental, dimana operator
berpikir untuk menentukan tindakan yang akan diambil selanjutnya.
Waktu untuk therblig ini lebih sering terjadi pada seorang pekerja baru.
Cara untuk memperbaiki adalah dengan jalan melatih atau training
terhadap karyawan baru.
Istirahat Untuk Menghilangkan Lelah (Rest To Overcome
Fatigue)
Elemen ini tidak terjadi pada setiap siklus kerja akan tetapi
berlangsung secara periodik. Waktu untuk memulihkan kondisi badan
dan kelelahan fisik akibat kerja berbeda-beda, tidak saja tergantung
pada karakteristik pekerjaan yang ada tetapi juga tergantung individu
pekerjanya. Untuk memperbaiki elemen-elemen therblig yang
diklasifikasikan sebagai nilai bisa dilaksanakan dengan
memperhatikan faktor-faktor ergonomi yang secara signifikan
berpengaruh besar terhadap performans kerja manusia.
4.5 Perbaikan Dengan Ekonomi Gerakan
Melakukan pekerjaan dengan gerakan gerakan yang lebih
efisien adalah merupakan dasar utama perbaikan yang harus
dipraktekkan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Untuk
memperdalam pengertian dan mempermudah penerapannya, maka
berikut ini akan dijelaskan secara sederhana disertai contoh-contoh
berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi gerakan.
105
Bab IV
4.5.1 Mengurangi Jumlah Gerakan
Aktivitas yang bisa dikerjakan dalam perbaikan ekonomi
gerakan yang berkaitan dengan mengurangi jumlah gerakan adalah:
A. Mengenai Cara Gerakan
Menghapus Gerakan yang Tidak Perlu
Tabel 4.3 Penilaian Gerakan
Macam Gerakan Penilaian Gerakan
Gerakan yang diperlukan dalam Memang diperlukan, tapi
pekerjaan: terus dipikirkan, bisakah
dihilangkan dengan cara
proses tertentu, urutan atau
Angkut, Tangan kosong, Pegang,
penggabungan gerakan.
Pakai, Gabungkan, Uraikan,
Letakkan, Lepas
Terus dipikirkan, bisakah
dilakukan lebih mudah dan
cepat
Gerakan bantu yang cenderung Merupakan kerja psikologis.
memperlambat kerja: Jadi perlu dipikirkan, agar tata
letak, pemakaian jig atau
mesin sedemikian rupa,
Cari, Temukan, Siapkan, Pilih, Pikir,
sehingga pekerja tidak perlu
Periksa
mempertimbangkan perlunya
melakukan gerakan-gerakan
tersebut
Gerakan tidak perlu atau tidak kerja Merupakan gerakan yang
hanya memperlambat.
Segera pikirkan perubahan
cara kerja, pemakaian jig dan
sebagainya.
106
Bab IV
Satukan perhitungan dengan menggunakan kotak penghitung
Menghilangkan pelengkungan terminal dengan menggunakan
tangan kiri
Mengurangi / Memperkecil Gerakan Mata
Mata berfungsi untuk memastikan benda-benda yang
memberikan reaksi terhadap tubuh kita, ia bergerak melalui gerakan
tangan atau kaki. Jadi jika wilayah gerakan mata terlalu besar
107
Bab IV
akibatnya akan memperlambat gerakan yang lain. Gerakan mata
terbagi dua; “pandangan langsung “memastikan benda tanpa
mengatur fokus pandang” dan “pandangan tidak langsung”
memastikan “benda tanpa mengatur fokus pandang”. Jika banyak
gerakan pandang langsung akan menimbulkan keterlambatan
gerakan. Maka posisi benda perlu diatur dalam wilayah dimana benda
bisa dilihat dengan pandangan tak langsung. Jika benda-benda bisa
dilihat dengan pandangan tak langsung, maka kepala, tubuh dan lain-
lainnya akan bergerak mengikuti, akibatnya waktu bekerja menjadi
lebih cepat.
Kurangi wilayah penglihatan dengan penggunaan cermin
Menggabungkan Dua atau Lebih Gerakan Menjadi Satu Gerakan
Suatu gerakan yang memiliki lebih dari satu tujuan secara
bersamaan merupakan gerakan rasional dan memperpendek waktu
kerja. Berikut ini aktivitas untuk penggabungan gerakan:
108
Bab IV
Kurangi pengecapan dengan menggabungkan dua stempel
Sinkronkan pemotongan dua kawat timah dengan memakai
mata pisau yang lebih panjang.
109
Bab IV
B. Mengenai Tempat Kerja
Beberapa perbaikan yang bisa dilakukan berkaitan dengan
tempat kerja adalah sebagai berikut:
Meletakkan Material atau Peralatan di Tempat Tertentu di Depan
Pekerja
Jika benda yang diperlukan ada di depan pekerja, di tempat
yang sudah ditentukan, dan dalam wilayah jangkauan tangannya,
maka pekerja tidak perlu mencari-cari lagi.
Contoh:
Lokalisir kembali seal stock untuk mengurangi gerakan tubuh
110
Bab IV
Meletakkan Material dan Peralatan pada Tempatnya
Material dan peralatan harus diusahakan untuk ditempatkan
pada tempat yang mudah diambil, diarahkan dan mudah dibawa atau
pada kepentingan yang mudah dijangkau.
Contoh:
Pemakaian holder akan mempermudah pemegangan tang/
gunting
111
Bab IV
Peletakan Material atau Peralatan pada Tempat yang Urutannnya
Sama dengan Urutan Langkah Kerja
Gerakan mencari atau mengangkut bisa dieliminir apabila
material dan peralatan telah ditempatkan menurut urutan cara kerja.
Sehingga pekerja tidak kebingungan lagi dalam mencari material atau
peralatan.
C. Jig dan Mesin
Menggunakan Tempat Material untuk Mempermudah Pengambilan
Material
Tempat material akan berbeda tergantung kepada bentuk atau
berat material. Gerakan “mengambil pada umumnya merupakan
gerakan tambahan, jadi harus dipikirkan cara termudah untuk
melakukannya. Untuk itu, waktu menjulurkan tangan atau
rnenggenggam, hendaknya benda itu bisa terambil secara gampang
tanpa memerlukan perhatian dan penyesuaian lagi, karena benda itu
selalu berada didepan pekerja.
112
Bab IV
Lebih mudah mengambil part yang keluar dari saluran
Lebih mudah mengambil part tipis dengan papan
bergelombang
Menggabungkan Dua atau Lebih Suatu Alat Menjadi Satu
Dengan menggabungkan alat-alat yang tingkat pemakaiannya
tinggi dapat mengurangi frekuensi penanganan alat atau gerakan
mencari alat tersebut.
113
Bab IV
Contoh:
Gabungkan alat-alat yang sering dipakai; gunting kaleng
dengan pembuka tutup botol
Gabungkan alat berbentuk sama; bolpoint warna-warni
Gabungkan alat yang diperlukan dalam kerja; pensil dengan
penghapus, palu dengan pengungkit paku
Menggunakan Mekanisme yang Sedikit Gerakannya untuk
Pemasangan pada Jig
Gerakan pemasangan pada jig merupakan gerakan ikutan.
Karena itu hendaknya dipilih alat pemasangan yang sederhana
pemakaiannya dan memuaskan hasilnya.
Contoh
Daftar perbandingan waktu (jig pada mesin).
Cara Pasang Jig Waktu ( 1/10.000 menit )
Pasang dengan mur 787
Pasang dengan skrup kupu 569
Pasang dengan clamp 191
Sederhanakan pengencangan dengan mengubah sebuah
skrup menjadi sebuah clamp
114
Bab IV
Buat Mekanisme Agar Menjalankan Mesin Dapat Dilakukan Dengan
Satu Gerakan
Pengoperasian mesin biasa dilakukan memakai tombol atau
tuas (level). Tapi ada yang memerlukan banyak gerakan ada juga
yang sedikit saja tergantung dan mekanisme yang dipakai. Perlu
dipikirkan mekanisme yang sederhana yang tidak banyak memrlukan
waktu. Misalnya, jenis tombol model rotasi (tuas, lever) merupakan
jenis yang bisa diubah jadi tombol model tekan.
Contoh jenis tombol
4.5.2 Lakukan Gerakan Bersamaan Waktunya
Sering terihat salah satu tangan menggantikan alat pemegang
yang sebenarnya sia-sia. Perlu dipikirkan perbaikan keadaan, tempat
ker ja dan jig agar kedua belah tangan bisa dipakai bersamaan
waktunya. Begitu juga akan efektif bila ada alat yang dipergunakan
dengan memakai kaki.
115
Bab IV
A. Mengenai Cara Gerakan
Kedua Tangan Mulai dan Berakhir Secara Bersamaan
Sebelah tangan yang menganggur bukan saja suatu kesia-
siaan tetapi juga menyebabkan beban yang tak seimbang bagi
sebelah tangan lainnya, ini penyebab ketidakseimbangan gerakan.
Jadi sedapat mungkin usaha penggunaan kedua tangan bersamaan
waktunya. Dilihat dan segi ekonomi gerakan, diluar waktu istirahat
sebetulnya kedua belah tangan tidak dalam keadaan istirahat. Pada
saat “diam” hendaknya dicari alasan nya yang tepat dan jelas, perbaiki
sebab-sebab dan usahakan penyamaan waktu gerakan kedua belah
tangan. Perlu diusahakan agar gerakan tangan tidak terganggu akibat
tangan lain yang diam. Berikut ini diperlihatkan daftar kesukaran
gerakan bersamaan kedua belah tangan. Kita perlu memikirkan cara
termudah dengan melihat daftar ini.
Tabel 4.4 Derajat Kesukaran Gerakan Dua Tangan Secara Bersamaan
Kosong Angkut Pegang Siapkan Gabung Uraikan Lepas
Kanan
Kiri
Kosong
Angkut
Pegang
Siapkan
Gabung
Uraikan
Lepas
116
Bab IV
Keterangan warna:
Sukar Perlu latihan Kedua tangan mampu bersamaan
Sisipkan Parts Dengan Kedua Tangan
Periksa Parts Dengan Kedua Tangan
117
Bab IV
Gerakan Kedua Tangan Ke arah Berlawanan, Simetris
Dilihat dan kemudahannya, gerakan badan berulang mengikuti
jejak gerakan yang sama adalah gerakan yang alamiah, jika arah
gerakannya berlawanan atau simetris maka akan diperoleh
keseimbangan dan timbul irama gerakan. Kemudian, akan hilang
selisih waktu gerakan dan bisa dicegah timbulnya kekeliruan kerja.
Rekatkan part dengan kedua tangan.
Gabungkan baut dan washer dengan kedua tangan dengan
memakai sponge board
118
Bab IV
B. Mengenai Tempat Kerja
Letakkan Tempat Part Sedemikian, Agar Dua Tangan Bisa Bergerak
Bersamaan.
Penempatan parts secara simetris memungkinkan kedua tangan
bekerja
C. Mengenai Jig dan Mesin
Menggunakan Alat Pemegang Benda, bila ada Gerakan Memegang
Benda untuk Waktu yang Lama
Gunakan kaki untuk pekerjaan sederhana atau pekerjaan yang
memerlukan tenaga
119
Bab IV
Memikirkan Jig yang Memungkinkan Penggunaan Kedua Tangan
Bersamaan
Perlu ada pengaturan letak di wilayah kerja, agar kedua tangan
dapat bergerak bersamaan, dan jig yang tidak menimbulkan adanya
tangan yang menganggur. Bersamaan dengan itu perlu dipikirkan jig
yang pemasukan materialnya mudah serta kedudukan jig yang sesuai
dengan keadaan fisik pekerja.
120
Bab IV
Lengkungkan terminal washer dengan kedua tangan dan
memakai jig khusus
4.5.3 Mempermudah Gerakan
Mempermudah gerakan adalah mengusahakan agar dalam
gerakan itu sedapat mungkin dihilangkan gerakan ‘mengontrol’,
berhati-hati atau ‘menghentikan gerakan’ atau juga ‘ menyesuaikan
posisi’ dan sebagainya. Paling umum adalah mengusahakan agar
tidak perlu memegang benda-benda berat. Kita perlu secara aktif
menggunakan perlengkapan pemegang alat atau pemegang parts,
atau menggunakan stopper serta memanfaatkan gaya berat, spring
dan juga tekanan udara.
A. Mengenai Cara Gerakan
Perbaikan aturan prosedur kerja menjadikannya lebih mudah
untuk menggulung pita gelas.
121
Bab IV
Perbaikan prosedur kerja menjadikannya lebih mudah untuk
mencantumkan pita insulasi.
122
Bab IV
Menggunakan Gaya Berat Atau Tenaga/Gaya Lain.
Membuat ujung palu memiliki sifat magnetis dapat
menghilangkan gerakan ‘memegang paku’ oleh tangan, adalah
merupakan contoh pemanfaatan gaya/tenaga lain yang sering
digunakan. Contoh yang lainnya : pemanfaatan spring (pegas),
tekanan hidraulis, tekanan udara (atmosfir).
Contoh penggunaan gaya magnit
Memegang, menggantungkan, mengangkut benda-benda logam besi
dengan magnit.
Contoh pemakaian tekanan udara dan hidraulis
Menghimpit, mengangkat benda, menggerakkan mesin. Atau juga
menghembus sampah dengan tekanan udara atau menghisapnya
dengan tabung vakum.
B. Mengenai Tempat Kerja
Membuat Ketinggian Tempat Kerja yang Tepat
Tinggi meja kerja berbeda-beda tergantung dari jenis pekerjaan
yang dilakukan. Artinya, penting kita mempertimbangkan jenis
pekerjaan yang memerlukan tenaga besar, pekerjaan yang
memerlukan lengan atau jari dan sebagainya. Berdasarkan jenis
pekerjaan itulah kita menentukan tinggi meja kerja. Jika melakukan
kerja sambil duduk, perlu kita perlukan sandaran dan tempat menaruh
kaki.
123
Bab IV
4.6 Contoh Aplikasi Perbaikan Kerja
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk perbaikan
kerja. Cara yang dipakai antara lain: penyederhanaan, penggabungan
, penghapusan, penataan tempat kerja, metode penyimpanan, kontrol
visual. Penjelasan masing-masing metode ada di bawah ini.
4.6.1 Penyederhanaan
Kasus: di sebuah operasi pemasangan, seorang operator
memasang dua komponen yang berbeda. Karena komponen itu mirip
satu sama lain, seringkali terjadi kekeliruan pemasangan. Pemecahan
sederhana dapat dikembangkan untuk mengurangi kerancuan
pemasangan komponen itu. Setiap kotak tempat komponen dicat
dengan warna yang berbeda. Warna yang dipakai pada wadah
komponen sesuai dengan warna yang tertera di lembar perintah kerja.
124
Bab IV
Gambar 4.15 Kode Warna Menghindari Kesalahan
4.6.2 Penggabungan
Kasus: suatu proses pengolahan logam dijalankan dengan
menggunakan dua mesin, masing-masing dilayani oleh seorang
operator. Tugas operator hanyalah memasang dan mengambil benda
kerja ke/dari mesin, tugas mengerjakan produk pada dasarnya
dilakukan oleh mesin otomatis ini. Karena satu mesin dilayani oleh
satu operator, maka pemanfaatan waktu operator menjadi kurang
efektif. Mereka menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengawasi
bagaimana mesin itu bekerja mengolah benda kerja tanpa memberi
nilai tambah apapun. Supaya kondisi ini menjadi lebih baik, maka
mesin perlu ditata ulang. Letak kedua mesin didekatkan, sehingga
operator dapat melayani kedua mesin sekaligus dan tetap
menghasilkan volume kerja yang sama pada saat dilayani dua
operator.
125
Bab IV
Gambar 4.16 Menangani Beberapa Mesin Sekaligus
Kasus: pada suatu kegiatan penyetelan mesin karena
pergantian produksi (set up); cetakan (die) yang lama harus
dipindahkan sebelum cetakan baru digunakan. Pelaksanaannya
memerlukan 4 langkah untuk pemasangan yang sempurna. Sebuah
rencana baru disusun, yaitu dengan menggabungkan kegiatan
pemindahan cetakan lama dan kegiatan pemasangan cetakan baru
dengan menggunakan kereta rel yang dirancang khusus. Metode baru
ini menghapuskan 3 langkah operasi dan mengurangi waktu yang
dibutuhkan untuk set up secara drastis.
126
Bab IV
Gambar 4.17 Pergantian Cetakan dengan Cepat
Kasus: gagasan yang dikembangkan untuk set up operasi
mesin cetakan injeksi plastik. Cetakan yang akan menggantikan
cetakan terpasang dipanaskan lebih dulu dengan panas yang berasal
dari mesin. Metode ini menghemat waktu karena dengan pemanasan
awal tidak diperlukan lagi proses penyesuaian panas cetakan baru.
Namun untuk itu perlu dicari teknik yang memadai agar penanganan
mudah. Salah satu pemecahan adalah dengan menempatkan cetakan
pengganti persis di bawah cetakan terpasang menggunakan ikatan
rantai. Selanjutnya, pada saat penggantian dilakukan, satu gerakan ke
atas mesin derek cukup untuk menarik dan melepas cetakan
terpasang sekaligus menempatkan cetakan pengganti pada posisi
yang tepat.
127
Bab IV
Gambar 4.18 Set-up Cepat pada Mesin Injeksi Plastik
4.6.3 Penghapusan
Kasus: pada aktivitas pemindahan barang antar proses yang
berurutan, usaha yang tidak perlu sering terbuang percuma, seperti
untuk penanganan barang, mengambil, mengangkut, dan meletakkan
pada kereta dorong. Pemborosan ini dapat dihilangkan dengan
merangkai proses yang berurutan agar terjadi aliran produksi satu
demi satu, melewati satu pos kerja ke pos kerja berikutnya.
Gambar di bawah ini memperlihatkan penghapusan kegiatan
penanganan barang dan transportasi yang tidak perlu. Penghapusan
ini bukan hanya sekedar menghemat waktu produksi tetapi juga
mengurangi persediaan antar proses, mengurangi kebutuhan tempat
persediaan maupun waktu ancang-ancang produksi secara drastis.
128
Bab IV
Gambar 4.19 Menghapuskan Transportasi yang Tidak Perlu
4.6.4 Penataan Tempat Kerja
Pemeliharaan tempat kerja erat kaitannya dengan penataan
tempat kerja yang lebih baik. Apa yang kita ingin capai bukan hanya
lantai yang bersih dan rak-rak yang rapi. Sasaran utama kegiatan ini
justru untuk mengurangi biaya produksi. Sebagai contoh, dalam
mengatur cetakan, menumpuk begitu saja cetakan yang ada, adalah
tidak masuk akal. Lebih baik jika cetakan yang paling sering dipakaii
disimpan dekat mesin untuk memudahkan pengambilannya. Penataan
tempat kerja ternyata mempunyai basis ekonomi.
129
Bab IV
Lantai, peralatan dan mesin dibersihkan bukan sekedar untuk
memperbaiki penampilan. Lebih dari itu, dengan permukaan yang
bersih, masalah potensial seperti kebocoran oli atau keretakan mesin
akan lebih mudah terlihat dan tindakan perbaikan dapat dilakukan
sedini mungkin.
Lembar Periksa untuk Pemeliharaan dan Penataan Tempat
Kerja
Untuk lantai, mesin, alat bantu kerja, instrumen, cetakan, komponen
dan dokumen, daftar periksa ini dapat digunakan.
Penataan: Menata barang-barang pada tempat yang telah
ditetapkan.
Kerapihan: Menetapkan penempatan barang dengan sistem
alamat menggunakan garis batas, kode warna dan
sebagainya
Kebersihan: Menyapu, mengepel dan memelihara pada
kondisi yang terbaik
Keselamatan Kerja: Perhatian terhadap keselamatan kerja
dan kemudahan kerja terkait dengan pribadi pekerja.
Disiplin: Usahakan agar tindak disiplin dapat teramati semua
orang, sehingga kebiasaan baik dapat ditingkatkan.
Penyederhanaan: Singkirkan barang yang tidak perlu
sehingga terjadi penyederhanaan lingkungan kerja.
Gambar 4. 20 Lembar Periksa
Metode Penyimpanan
Gunakan rak atau wadah untuk menyimpan berbagai alat
maupun lembar instruksi operator yang berkaitan pada mesin
130
Bab IV
Gambar 4.21 Petunjuk Kerja maupun Alat Kerja Tersedia
Simpan alat kerja dekat tempat penggunaan
Gambar 4.22 Alat Bantu Kerja Berada di dekat Lokasi Kegiatan
131
Bab IV
Gantunglah alat-alat yang sering digunakan di tempat yang
mudah dijangkau agar tidak menghabiskan waktu untuk
mengambil dan mengembalikan.
Gambar 4.23 Alat Kerja Digantung
Tentukan tempat untuk menyimpan barang persediaan, kereta
dorong, dan lain-lain
Gambar 4.24 Tempat Khusus Untuk Setiap Benda
132
Bab IV
Kontrol Visual
Kontrol visual ini diperlukan untuk mengetahui kesalahan-
kesalahan yang terjadai pada aktivitas proses produksi.
Bila ada penyimpangan terhadap standar, maka hal ini harus tampak bagi semua
orang agar tindakan perbaikan dapat dilakukan.
Gambar 4.25 Kontrol Visual
Contoh Penerapan
Identifikasi dari kondisi-kondisi operasi. Indikator jarum,
meteran, alat ukur, katup pengontrol dan berbagai alat lain, diberi
tanda tertentu untuk menunjukkan kondisi operasi yang normal
sehingga setiap orang dapat memahaminya. Meteran dengan indikator
jarum untuk mengukur tekanan diberi kode warna untuk menunjukkan
mana daerah kondisi operasi normal. Katup pengontrol diberi label
kartu untuk mengungkapkan bagaimana katup harus dipasang pada
kondisi normal. Lebih jauh lagi, nama orang yang bertanggung jawab
dan nomor telepon ditempel agar semua orang yang melihat timbulnya
masalah dapat melapor secepatnya.
133
Bab IV
Gambar 4.26 Penerapan Kontrol Visual untuk Standard Produksi
Bila alat kerja disimpan pada lokasi menurut selera masing-
masing operator, maka yang biasa terjadi adalah kebingungan dan
hilangnya waktu bagi yang ingin menggunakannya, karena mereka
harus mencarinya lebih dahulu.
Gambar 4.27 Penerapan Kontrol Visual pada Penataan Alat Kerja
134
Bab IV
Gambar 4.28 Kontrol Visual Untuk Material Handling
4.6.5 Pemborosan karena Proses
Metode pengolahan produksi dapat menjadi sumber dari
pemborosan yang seharusnya tidak perlu ada. Sebagai contoh, pada
suatu operasi pembuatan benda kerja dengan proses cetak tuang.
Tenaga kerja tambahan mungkin dibutuhkan untuk mengikir dan
menghaluskan permukaan hasil produksi. Pada dasarnya, tenaga
tambahan untuk penyelesaian akhir ini dapat saja dihilangkan, yaitu
bila fasilitas produksi berupa cetakan selalu terpelihara dengan baik,
lagi pula kehalusan permukaan cetakan sudah dipertimbangkan pada
saat merancang produk maupun prosesnya.
Suatu contoh dari perbaikan operasi pengeboran untuk
menghilangkan pemborosan karena proses digambarkan pada peraga
berikut.
135
Bab IV
Tabel 4. 5 Perbaikan Proses Pengeboran
No Waktu Operasi Uraian
Bor tangan
1
Bor tangan dengan penjepit benda
2
Bor mesin stasioner dengan tuas
3
Penggunaan tangan hanya untuk
4
memasang
dan membongkar benda kerja
Penerapan perkakas pelempar benda
5
(ejection/unloading)
Penerapan otomatisasi loading-
6
unloading
Perubahan desain, misalnya tidak lagi
7 ?
diperlukan lubang
Catatan
Kerja operator
Kerja mesin
4.7 Rangkuman
Telaah metode adalah kegiatan pencatatan secara sistematis
dan pemeriksaan dengan seksama mengenai cara-cara yang berlaku
atau diusulkan untuk melaksanakan kerja. Sasaran adalah mencari,
mengembangkan dan menerapkan metode kerja yang lebih efektif dan
efisien dengan tujuan untuk mencari waktu penyelesaian pekerjaan
menjadi lebih cepat.
Salah satu metode adalah dengan menggunakan prinsip
ekonomi gerakan. Prinsip ini dipakai untuk menganalisa gerakan-
gerakan kerja setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun kerja dan
136
Bab IV
bisa juga untuk kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh
dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja yang lainnya. Prinsip ekonomi
gerakan ini akan membahas: tubuh manusia dan gerakan-gerakannya,
tata letak tempat kerja dan gerakan-gerakannya serta perancangan
peralatan dan gerakan-gerakannya.
Penerapan ekonomi gerakan dalam suatu stasiun kerja atau
aktivitas bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti: eliminasi
kegiatan, kombinasi gerakan atau aktivitas kerja, dan penyederhanaan
kegiatan. Motion study adalah suatu studi tentang gerakan-gerakan
yang dilakukan pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ada 17
elemen gerakan dasar yang disebut dengan therbligs. Perbaikan
dengan ekonomi gerakan bisa dilakukan dengan berbagai cara,
misalnya: mengurangi jumlah gerakan, lakukan gerakan bersamaan
waktunya, mempermudah gerakan
4.8 Soal
Apakah yang dimaksud dengan penyederhanaan kerja?
Apakah yang dimaksud dengan elemen-elemen Therbligs itu?
Uraikan elemen-elemen gerakan pada saat membuka mur
pada baut?
137
Bab IV
BAB V
WAKTU SET-UP
5.1 Pendahuluan
Setiap perusahaan/industri dituntut untuk memberikan
pelayanan yang sesuai dengan permintaan konsumen dengan
tujuan untuk memenuhi kepuasan konsumen. Konsumen
menghendaki waktu penyelesaian order yang cepat dan waktu
pengiriman yang singkat. Untuk memenuhi hal tersebut,
perusahaan harus meningkatkan kecepatan pelayanannya. Jika
suatu perusahaan tidak meningkatkan kecepatan pelayanannya,
maka perusahaan tersebut tidak dapat bersaing dengan
perusahaan yang lain. Karena konsumen akan lebih memilih
perusahaan yang memberikan pelayanan dengan cepat.
Untuk meningkatkan kecepatan pelayanan terhadap
konsumen, perusahaan harus mengkaji beberapa faktor yang
mempengaruhi produktivitas perusahaan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi antara lain adalah waktu setup, waktu proses,
kondisi mesin dan lain-lain. Waktu setup dan waktu proses
sangat mempengaruhi waktu siklus pembuatan suatu produk.
Untuk meningkatkan kecepatan pelayanan, perusahaan harus
bisa meminimalisasi waktu set-up dan waktu proses, sehingga
permintaan konsumen dapat terpenuhi dan kepuasan konsumen
akan tercapai.
Bab ini akan membahas pengurangan waktu set-up,
teknik kecepatan set-up. Setelah mempelajari bab ini para siswa
diharapkan mampu untuk mempercepat waktu set-up.
138
Bab V
5.2 Pengurangan Waktu Set-Up
Kebanyakan operator, spesialis set-up, dan supervisor,
tidak menyukai kegiatan set-up yang biasanya dilakukan pada
saat penggantian jenis produk atau produk change over.
Perancang mesin, pembuat perkakas, perekayasa peralatan dan
cetakan serta para insinyur rekayasa produk tidak banyak
memberikan perhatian pada kegiatan set-up secara umum.
Celakanya, hal ini berlangsung terus menerus walaupun variasi
permintaan pasar telah menjadi semakin rumit.
Karena banyaknya variasi produk untuk memenuhi
berbagai selera, industri seringkali bersaing dengan
menawarkan pilihan produk yang cukup beragam. Walaupun
jumlah variasi produk meningkat, total volume untuk satu jenis
produksi tidak harus meningkat secara proporsional pula. Oleh
karena itu jelas, ukuran lot produksi untuk setiap jenis produk
sebaiknya dikurangi.
Di masa kompetisi seperti ini, mempercepat waktu set-up
adalah suatu keharusan. Dengan mempersingkat waktu set-up,
ada peluang untuk mengurangi ukuran lot dan tingkat
persediaan, di samping juga mengurangi lead time produksi.
Dampaknya, operasi pabrik menjadi fleksibel dan mampu
menanggapi setiap perubahan pasar. Menurunkan ukuran lot
juga akan memudahkan pengendalian prioritas kerja. Inilah
alasan utama yang mendasari mengapa kita harus melakukan
pengurangan waktu set-up. Peningkatan kapasitas bukanlah
alasan utama untuk menurunkan waktu set-up. Tetapi justru
pengaruhnya pada bisnis secara menyeluruh.
Tabel 5.1 Pemilahan Kegiatan External dan Internal Set-Up
Kegiatan External Set-Up Kegiatan Internal Set-Up
Persiapan cetakan, alat bantu dan Bongkar dan pasang pada mesin
sebagainya
Pemindahan cetakan Penyetelan lokasi, ketinggian,
tekanan dan sebagainya
139
Bab V
Bagaimana, kemudian kita dapat mengurangi waktu set-up?
Langkah pertama, adalah memisahkan pekerjaan
set-up yang harus diselesaikan selagi mesin
berhenti (internal set-up) terhadap pekerjaan yang
dapat dikerjakan selagi mesin beroperasi (external
set-up).
Langkah kedua, adalah mengurangi internal set-up
dengan mengerjakan lebih banyak external set-up
(contohnya persiapan cetakan, pemindahan
cetakan, peralatan dll)
Langkah ketiga, adalah mengurangi internal set-up
dengan mengurangi kegiatan penyesuaian,
menyederhanakan alat bantu dan kegiatan bongkar
pasang, menambah personil pembantu, dan
sebagainya.
Langkah keempat, adalah mengurangi total waktu
untuk seluruh pekerjaan set-up, baik internal
maupun eksternal.
Proyek pengurangan waktu set-up yang baik dilaksanakan
dengan melibatkan operator, teknisi, tim perawatan, dan petugas
pengendalian kualitas akan meningkatkan semangat mereka.
Waktu set-up kurang dari 10 menit, dalam banyak kasus
biasanya dapat dicapai, bila secara serius diusahakan.
5.3 Teknik Kecepatan Set-Up
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk
mengurangi waktu set-up ini. Cara-cara tersebut antara lain:
5.3.1 Pisahkan Kegiatan Set-Up Eksternal dan
Internal
Dalam mengkaji kegiatan set-up, kita seringkali
menemukan kesalahan umum yang biasa dilakukan orang, yaitu
ketidak mampuan membedakan kegiatan set-up internal dan
140
Bab V
eksternal. Dalam banyak hal, keduanya dicampur aduk dan
diperlakukan sebagai kegiatan set-up internal. Oleh karenanya,
langkah pertama yang penting adalah melihat kembali kegiatan
set-up secara menyeluruh dan merinci setiap komponen
kegiatannya sehingga kegiatan set-up internal maupun eksternal
dapat dipisahkan.
5.3.2 Memperbaiki Kegiatan Set-Up Internal
Walaupun kegiatan set up eksternal dan internal telah
dipisahkan, masih ada saja beberapa kegiatan set-up internal
yang ternyata terbukti dapat dikerjakan secara eksternal.
Sebagai contoh, kegiatan pemanasan cetakan untuk mesin
cetak tuang atau mesin injeksi plastik ternyata dapat dialihkan
dari set-up internal menjadi set-up eksternal sehingga produksi
menjadi makin efektif.
Mengurangi kegiatan penyesuaian atau penyetelan
adalah cara lain untuk mengurangi kegiatan internal set-up.
Dalam beberapa kasus kegiatan penyetelan dapat mencapai
40% sampai 50% dari waktu set-up secara menyeluruh.
Kuncinya bukan sekedar mengurangi penyetelan tetapi bila
mungkin justru melenyapkannya sama sekali, yaitu dengan
menerapkan berbagai gagasan baru yang kreatif. Gambar
berikut menunjukkan dua contoh.
Gambar 5.1 Pengurangan Kegiatan Penyetelan
141
Bab V
Gambar 5.2 menunjukkan dua contoh praktis, yaitu
tentang cara melenyapkan kegiatan penyetelan yang dilakukan
dengan membakukan (standarisasi) alat bantu. Contoh pertama,
waktu set-up mesin numerical control (NC) dan mesin computer
numerical control (CNC) telah dikurangi dari beberapa jam
menjadi beberapa menit. Hal ini dicapai setelah dipersiapkan
landasan benda kerja yang koordinat X-Y nya telah ditentukan.
Pada contoh kedua , alat bantu mesin produksi injeksi plastik di
salah satu pabrik menerapkan cassete set-up, yaitu dengan
menyiapkan landasan cetakan yang berbentuk cassete yang
praktis dan mudah dibongkar pasang.
Gambar 5.2 Penerapan Standarisasi Alat Bantu
Operasi paralel adalah cara lain untuk mengurangi
internal set-up, seperti yang diperlihatkan dalam Gambar di
bawah ini. Petugas set-up seringkali harus mondar-mandir
selama kegiatan set-up untuk berbagai keperluan. Dengan
tambahan petugas, khususnya selama periode internal set-up,
waktu set-up dapat dikurangi. Di samping itu, operasi secara
142
Bab V
paralel juga meningkatkan semangat kerja kelompok dan kerja
sama.
Gambar 5.3 Penerapan Operasi Set-Up Paralel di Tempat Kegiatan
Jaringan kerja dapat membantu dalam mengembangkan
kegiatan set-up paralel. Dengan jaringan kerja ini bisa diketahui
urutan aktivitas sebuah kegiatan. Selain itu dengan jaringan
kerja bisa diketahui waktu penyelesaian aktivitas atau kegiatan
tersebut. Gambar berikut ini mengungkapkan bagaimana
menerapkan teknik ini. Pada kasus ini, waktu yang dibutuhkan
untuk kegiatan set-up internal (waktu mesin tidak beroperasi)
dikurangi dari 57 menit menjadi 10 menit, padahal jam orang
yang digunakan tidak bertambah. Metode jaringan kerja juga
membantu menemukan lintasan kritis selama kegiatan set-up
internal sehingga membantu usaha analisis guna mengurangi
waktu lintasan kritis.
143
Bab V
Sebelum dilakukan perbaikan (Total waktu internal set-up 57
menit)
1 2 3 4 5 6 7
Mesin Mesin
Dihentikan Dijalankan
Langkah Kegiatan Internal/ Waktu Pelaksana
Ke Operasi External (menit)
1 Mencari cetakan I 3 Operator
baru
2 Memindahkan I 10 Operator
cetakan baru
3 Memindahkan I 2 Operator
cetakan bekas
4 Memasang cetakan I 2 Operator
baru
5 Menyiapkan I 10 Operator
material baru
6 Menyetel I 20 Operator
7 Mengembalikan I 10 Operator
cetakan bekas
Setelah dilakukan perbaikan (Total waktu internal set-up: 10
menit)
1 2 5 4 6a 7 asisten
3 6b operator
Instruksi mesin mesin dijalankan
set-up dihentikan kembali
144
Bab V
Langkah Kegiatan Internal/ Waktu Pelaksana
Ke Operasi External (menit)
1 Mencari cetakan baru E 3 Asisten
Memindahkan
2 cetakan baru E 10 Asisten
Menyiapkan material
5 baru E 10 Asisten
Memasang cetakan
4 baru* I 2 Asisten
Penyetelan cetakan**
6a Memindahkan I 7 Operator
3 cetakan bekas* I 2 Operator
Menyetel kembali**
6b Mengembalikan I 8 Operator
7 cetakan bekas E 10 Asisten
Catatan: *, ** kegiatan dilakukan serempak oleh operator dan asisten
Gambar 5.4 Kegiatan Set-Up Paralel pada Mesin Kempa
Metode jepit dan cengkam benda kerja (clamping) dapat
diperbaiki untuk mengurangi waktu bongkar/pasang. Contohnya,
mengurangi jumlah baut, penyamaan bentuk kepala baut, baut
dengan ulir pendek dan sebagainya.
145
Bab V
Gambar 5.5 Perbaikan Cara Bongkar Pasang
5.3.3 Memperbaiki Kegiatan Set-Up Eksternal
Penataan tempat kerja adalah kunci untuk mengurangi
kegiatan set-up eksternal. Dalam penilaian kembali kegiatan set-
up, seringkali terungkap banyaknya waktu yang terbuang untuk
mencari alat kerja, cetakan maupun berbagai alat bantu lainnya.
Penetapan sistem alamat penempatan dan penerapan kode
warna untuk setiap lokasi penyimpanan, adalah langkah pertama
yng sangat mendasar. Di samping mengurangi kegiatan
mencari, perbaikan ini juga mengurngi terbuangnya waktu dan
usaha untuk kegiatan pindah memindahkan cetakan serta
peralatan. Seringkali pula cetakan yang tidak dipakai disimpan
didekat mesin sehingga mengurangi keleluasaan gerak. Dengan
penataan tempat kerja yang baik, keadaan seperti ini dapat
dihilangkan (Gambar 5.6).
146
Bab V
Penggunaan kereta dorong khusus yang dirancang
dengan menerapkan roller conveyor di atasnya ternyata sangat
membantu. Kereta dorong cetakan ini di samping mengurangi
waktu kegiatan set-up eksternal, juga mengurangi penggunaan
mesin pengangkat barang atau derek (Gambar 5.7).
Gambar 5.6 Penataan Tempat Kerja
Gambar 5.7 Kereta Khusus untuk Cetakan
147
Bab V
5.4 Rangkuman
Dalam era yang serba cepat ini, industri harus bisa
berpacu dengan waktu. Konsumen menghendaki pelayanan
yang serba cepat dan produk yang berkualitas tinggi. Pihak
industri harus selalu mengantisipasi perubahan ini kalau mau
bersaing. Salah satu cara untuk meningkatkan pelayanan
kepada konsumen adalah dengan cara mengurangi waktu siklus
pembuatan produk.
Pengurangan waktu siklus pembuatan produk ini bisa
dilakukan dengan cara mempercepat waktu set-up. Waktu set-up
adalah waktu yang diperlukan untuk mengganti mesin apabila
terjadi pergantian produk yang akan dibuat. Teknik mempercepat
waktu set-up ada 3 cara, yaitu: memisahkan kegiatan set-up
eksternal dan internal, memperbaiki kegiatan set-up internal,
memperbaiki kegiatan set-up eksternal.
5.5 Soal
Apa yang dimaksud dengan kegiatan set-up internal.
Apa yang dimaksud dengan kegiatan set-up eksternal.
Sebutkan ada berapa cara teknik untuk mempercepat
kegiatan set-up dan masing-masing beri contoh.
148
Bab V
BAB VI
MATERIAL HANDLING
6.1 Pendahuluan
Masalah utama dalam produksi ditinjau dari segi
kegiatan/proses produksi adalah bergeraknya material dari satu
tingkat ke tingkat proses produksi berikutnya. Hal ini terlihat
sejak material diterima di tempat penerimaan, kemudian
dipindahkan ke tempat pemeriksaan dan selanjutnya disimpan di
gudang. Pada bagian proses produksi juga terjadi perpindahan
material yang diawali dengan mengambil material dari gudang,
kemudian diproses pada proses pertama dan berpindah pada
proses berikutnya sampai akhirnya dipindah ke gudang barang
jadi. Untuk memungkinkan proses produksi dapat berjalan
dibutuhkan adanya kegiatan pemindahan material yang disebut
dengan Material Handling.
Aktivitas material handling di industri biasanya dilakukan
dengan menggunakan alat/mesin atau menggunakan tenaga
manusia. Pada bab ini akan dibahas mengenai material handling
dengan menggunakan alat dan manual material handling. Pada
bab ini pembahasan mengenai penanganan material handling
B3 tidak dibahas secara mendalam, karena buku ini dipakai oleh
siswa sekolah menengah kejuruan jurusan teknik mesin. Dengan
mempelajari bab ini para siswa diharapkan paham akan macam-
macam peralatan material handling dan mengetahui
penggunaan dari peralatan tersebut sesuai dengan jenis
industrinya. Selain itu para siswa diharapkan mampu untuk
melakukan manual material handling secara benar.
149
Bab VI
6.2 Peralatan Material Handling
Tulang punggung sistem material handling adalah
peralatan material handling. Sebagian besar peralatan yang ada
mempunyai karakteristik dan harga yang berbeda. Semua
peralatan material handling diklasifikasikan ke dalam tiga tipe
utama yaitu: Conveyor (ban berjalan), Crane (derek), dan trucks
(alat angkut/kereta).
6.2.1 Conveyor
Conveyor digunakan untuk memindahkan material secara
kontinyu dengan jalur yang tetap.
Keuntungan Conveyor :
a. Kapasitas tinggi sehingga memungkinkan untuk
memindahkan material dalam jumlah besar.
b. Kecepatan dapat disesuaikan.
c. Penanganan dapat digabungkan dengan aktivitas lainnya
seperti proses dan inspeksi.
d. Serba guna dan dapat ditaruh di atas lantai maupun di
atas operator.
e. Bahan dapat disimpan sementara antar stasiun kerja.
f. Pengiriman/pengangkutan bahan secara otomatis dan
tidak memerlukan bantuan beberapa operator.
g. Tidak memerlukan gang.
Kerugian Conveyor :
a. Mengikuti jalur yang tetap sehingga pengangkutan
terbatas pada area tersebut.
b. Kerusakan pada salah satu bagian conveyor akan
menghentikan aliran proses.
c. Conveyor ada pada tempat yang tetap, sehingga akan
mengganggu gerakan peralatan bermesin lainnya.
150
Bab VI
Pada lingkungan industri, terdapat beberapa tipe
conveyor yang biasa dipergunakan, antara lain belt conveyor,
roller conveyor, screw conveyor, chain conveyor, dan
sebagainya. Gambar berikut ini merupakan contoh conveyor.
Gambar 6.1 Conveyor
151
Bab VI
6.2.2 Cranes dan Hoists
Cranes (derek) dan Hoists (kerekan) adalah peralatan di
atas yang digunakan untuk memindahkan beban secara
terputus-putus dengan area terbatas.
Keuntungan:
a. Dimungkinkan untuk mengangkat dan memindahkan
benda.
b. Keterkaitan dengan lantai kerja/produksi sangat kecil.
c. Lantai kerja yang berguna untuk kerja dapat dihemat
dengan memasang peralatan handling berupa cranes.
Kerugian Cranes dan Hoists
a. Membutuhkan investasi yang besar.
b. Pelayanan terbatas pada area yang ada.
c. Crane hanya bergerak pada arah garis lurus dan tidak
dapat dibuat berputar/belok.
d. Pemakaian tidak dapat maksimal sesuai yang diinginkan
karena crane hanya digunakan untuk periode waktu yang
pendek setiap hari kerja.
Tipe cranes dan hoists juga banyak macamnya. Tipe cranes
terdiri dari: jib crane, bridge crane, gantry crane, tower crane,
stacker crane, dan sebagainya. Berikut ini gambar dari crane.
152
Bab VI
Gambar 6.2 Crane
Beberapa contoh hoists ditunjukkan pada gambar 6.4 di bawah
ini:
Gambar 6.3 Hoists
153
Bab VI
6.2.3 Trucks
Trucks yang digerakkan tangan atau mesin dapat
memindahkan material dengan berbagai macam jalur yang ada.
Termasuk dalam kelompok truck antara lain, forklift trucks, fork
trucks, trailer trains, automated guided vehicles (AGV), dan
sebagainya.
Keuntungan:
a. Perpindahan tidak menggunakan jalur yang tetap, oleh
sebab itu dapat digunakan di mana-mana selama
ruangan dapat untuk dimasuki trucks.
b. Mampu untuk loading, unloading dan mengangkat kecuali
memindahkan material.
c. Karena gerakannya tidak terbatas, memungkinkan untuk
melayani tempat yang berbeda.
Kerugian:
a. Tidak mampu menangani beban yang berat.
b. Mempunyai kapasitas yang terbatas setiap
pengangkutan.
c. Memerlukan gang
d. Sebagian besar trucks harus dijalankan oleh operator
e. Trucks tidak bisa melakukan tugas ganda.
Beberapa macam jenis truck industri ada pada gambar 6.4,
gambar 6.5 dan gambar 6.6
154
Bab VI
Gambar 6.4 Hand Truck
Gambar 6.5 Fork Lift Truck
155
Bab VI
Gambar 6.6 Automated Guided Vehicles (AGV)
6.3 Manual Material Handling
Meskipun telah banyak mesin yang digunakan pada
berbagai industri untuk mengerjakan tugas pemindahan, namun
jjarang terjadi otomasi sempurna di dalam industri. Disamping
pula adanya pertimbangan ekonomis seperti tingginya harga
mesin otomasi atau juga situasi praktis yang hanya memerlukan
peralatan sederhana. Sebagai konsekuensinya adalah
melakukan kegiatan manual di berbagai tempat kerja. Bentuk
kegiatan manual yang dominan dalam industri adalah Manual
Material Handling (MMH).
Definisi Manual Material Handling (MMH) adalah suatu
kegiatan transportasi yang dilakukan oleh satu pekerja atau lebih
dengan melakukan kegiatan pengangkatan, penurunan,
mendorong, menarik, mengangkut, dan memindahkan barang.
156
Bab VI
Selama ini pengertian MMH hanya sebatas pada
kegiatan lifting dan lowering yang melihat aspek kekuatan
vertikal. Padahal kegiatan MMH tidak terbatas pada kegiatan
tersebut diatas, masih ada kegiatan pushing dan pulling di dalam
kegiatan MMH. Kegiatan MMH yang sering dilakukan oleh
pekerja di dalam industri antara lain :
1. Kegiatan pengangkatan benda (LiftingTask)
2. Kegiatan pengantaran benda (Caryying Task)
3. Kegiatan mendorong benda (Pushing Task)
4. Kegiatan menarik benda (Pulling Task)
Pemilihan manusia sebagai tenaga kerja dalam
melakukan kegiatan penanganan material bukanlah tanpa
sebab. Penanganan material secara manual memiliki beberapa
keuntungan sebagai berikut :
Fleksibel dalam gerakan sehingga memberikan
kemudahan pemindahan beban pada ruang terbatas
dan pekerjaan yang tidak beraturan.
Untuk beban ringan akan lebih murah bila
dibandingkan menggunakan mesin.
Tidak semua material dapat dipindahkan dengan alat.
6.3.1 Manual Material Handling Menurut OSHA
Akivitas manual material handling merupakan sebuah
aktivitas memindahkan beban oleh tubuh secara manual dalam
rentang waktu tertentu. Berbeda dengan pendapat di atas
menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA)
mengklasifikasikan kegiatan manual material handling menjadi
lima yaitu :
157
Bab VI
1. Mengangkat/Menurunkan (Lifting/Lowering)
Mengangkat adalah kegiatan memindahkan barang ke
tempat yang lebih tinggi yang masih dapat dijangkau oleh
tangan. Kegiatan lainnya adalah menurunkan barang.
Gambar 6.7 Kegiatan Mengangkat/Menurunkan
2. Mendorong/Menarik (Push/Pull)
Kegiatan mendorong adalah kegiatan menekan
berlawanan arah tubuh dengan usaha yang bertujuan
untuk memindahkan obyek. Kegiatan menarik kebalikan
dengan itu.
158
Bab VI
Gambar 6.8 Kegiatan Mendorong/Menarik
3. Memutar (Twisting)
Kegiatan memutar merupakan kegiatan MMH yang
merupakan gerakan memutar tubuh bagian atas ke satu
atau dua sisi, sementara tubuh bagian bawah berada
dalam posisi tetap. Kegiatan memutar ini dapat dilakukan
dalam keadaan tubuh yang diam.
Gambar 6.9 Kegiatan Memutar
159
Bab VI
4. Membawa (Carrying)
Kegiatan membawa merupakan kegiatan memegang
atau mengambil barang dan memindahkannya. Berat
benda menjadi berat total pekerja.
Gambar 6.10 Kegiatan Membawa
5. Menahan (Holding)
Memegang obyek saat tubuh berada dalam posisi diam
(statis)
Gambar 6.11 Kegiatan Menahan
160
Bab VI
6.3.2 Batasan Beban yang Boleh Diangkat
Dalam rangka untuk menciptakan suasana kerja yang
aman dan sehat maka perlu adanya suatu batasan angkat untuk
operator. Berikut ini dijelaskan beberapa batasan angkat secara
legal dari berbagai negara bagian benua Australia yang dipakai
untuk industri. Batasan angkat ini dipakai sebagai batasan
angkat secara internasional. Batasan angkat tersebut, yaitu:
a. Pria dibawah usia 16 tahun, maksimum angkat
adalah 14 kg.
b. Pria usia 16 – 18 tahun, maksimum angkat 18 kg
c. Pria usia lebih dari 18 tahun, tidak ada batasan
angkat.
d. Wanita usia 16 – 18 tahun, maksimum angkat 11
kg
e. Wanita usia lebih dari 18 tahun, maksimum angkat
16 kg
Batasan angkat ini dapat membantu untuk mengurangi rasa
nyeri, ngilu pada tulang belakang bagi para wanita (back injuries
incidence to women). Disamping itu akan mengurangi
ketidaknyamanan kerja pada tulang belakang, terutama bagi
operator untuk pekerjaan berat.
Komisi keselamatan dan kesehatan kerja di Inggris, pada
tahun 1982 juga telah mengeluarkan peraturan yang berkaitan
dengan cara pengangkatan material/benda kerja.
161
Bab VI
Tabel 6.1 Tindakan yang Harus Dilakukan Sesuai Dengan Batas
Angkat
Batasan Angkat (Kg) Tindakan
Dibawah 16 Tidak ada tindakan khusus yang perlu
diadakan
16 - 34 Prosedur administrasi dibutuhkan untuk
mengidentifikasi ketidakmampuan seseorang
dalam mengangkat beban tanpa
menanggung resiko yang berbahaya kecuali
dengan perantaraan alat bantu tertentu
34 - 55 Sebaiknya Operator yang terpilih dan terlatih.
Menggunakan sistem pemindahan material
secara terlatih. Harus dibawah pengawasan
supervisor
Diatas 55 Harus memakai peralatan mekanis. Operator
yang terlatih dan terpilih. Pernah mengikuti
pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja
dalam industri. Harus dibawah pengawasan
ketat
Berikutnya lembaga the National Occupational Health
and Safety Commission (Worksafe Australia) pada bulan
Desember 1986 membuat peraturan untuk pemindahan material
secara aman.
Tabel 6.2 Tindakan yang Harus Dilakukan Sesuai Dengan Batas
Angkatnya
Level Batas Angkat (Kg) Tindakan
1 = 16 Tidak diperlukan tindakan khusus
2 16 – 25 Tidak diperlukan alat dalam
mengangkat
Ditekankan pada metode angkat
3 25 – 34 Tidak diperlukan alat dalam
mengangkat
Dipilih job redesign
4 > 34 Harus dibantu dengan peralatan
mekanis
162
Bab VI
6.3.3 Pemindahan Material Secara Teknis
Beberapa penyelesaian secara teknis untuk pemindahan
material secara manual adalah sebagai berikut:
1. Pindahkan beban yang berat dari mesin ke mesin yang
telah dirancang dengan menggunakan roller (ban
berjalan)
2. Gunakan meja yang dapat digerakkan naik turun untuk
menjaga agar bagian permukaan dari meja kerja dapat
langsung dipakai untuk memasukkan lembaran logam
ataupun benda kerja lainnya kedalam mesin.
3. Tempatkan benda kerja yang besar pada permukaan
yang lebih tinggi dan turunkan dengan bantuan gaya
gravitasi
4. Berikan peralatan yang dapat mengangkat, misalnya;
pada ujung belakang truk untuk memudahkan
pengangkatan material, dengan demikian tidak
diperlukan lagi alat angkat (crane).
5. Desainlah kotak (tempat benda kerja) dengan disertai
handel yang ergonomis sehingga mudah pada waktu
mengangkat.
6. Aturlah peletakan fasilitas sehingga semakin
memudahkan metodologi angkat benda pada ketinggian
permukaan pinggang.
7. Berilah tanda atau angka pada beban sesuai dengan
beratnya.
163
Bab VI
6.3.4 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi MMH
Semua aktivitas manual handling melibatkan faktor-faktor
sebagai berikut:
1. Karakteristik Pekerja
Karakteristik pekerja masing-masing berbeda dan
mempengaruhi jenis dan jumlah pekerjaan yang dapat
dilakukan. Karakteristik pekerja terdiri dari:
a. Fisik, yang meliputi ukuran pekerja secara umum
seperti usia, jenis kelamin, antropometri, dan
postur tubuh.
b. Kemampuan sensorik, ukuran kemampuan
sensorik pekerja yang meliputi penglihatan,
pendengaran, kinestetik, sistem keseimbangan
dan proprioceptive.
c. Motorik, ukuran kemampuan motorik/gerak
pekerja yang meliputi kekuatan, ketahanan,
jangkauan, dan karakter kinematis.
d. Psikomotorik, mengukur kemampuan pekerja
menghadapi proses mental dan gerak seperti
memproses informasi, waktu respon, dan
koordinasi
e. Personal, ukuran nilai dan kepuasan pekerja
dengan melihat tingkah laku, penerimaan resiko,
persepsi kebutuhan ekonomi, dll
f. Training/pelatihan, ukuran kemampuan
pendidikan pekerja dalam training formal atau
keterampilan dalam menangani instruksi MMH.
g. Status kesehatan
h. Aktivitas dalam waktu luang
164
Bab VI
2. Karakteritik Material
Karakteristikmaterial atau bahan, meliputi:
a. Beban, ukuran berat benda, usaha yang
dibutuhkan untuk mengangkat, maupun momen
inersia benda.
b. Dimensi, atau ukuran benda seperti lebar,
panjang, tebal, dan bentuk benda baik itu kotak,
silinder, dll.
c. Distribusi beban, ukuran letak unit CG dengan
reaksi pekerja untuk membawa dengan satu atau
dua tangan.
d. Kopling, cara membawa benda oleh pekerja
berkaitan dengan tekstur, permukaan, atau letak.
e. Stabilitas beban, ukuran konsistensi lokasi CM
3. Karakteristik Tugas/Pekerjaan
Karakeristik tugas ini meliputi kondisi pekerjaan manual
material handling yang akan dilakukan. Terdiri dari :
a. Geometri tempat kerja, termasuk didalamnya
jarak pergerakan, langkah yang harus ditempuh,
dll.
b. Frekuensi, waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan pekerjaan termasuk frekuensi
pekerjaan yang dilakukan.
c. Kompleksitas pekerjaan, termasuk didalamnya
ketepatan penempatan, tujuan aktivitas maupun
komponen pendukungnya.
d. Lingkungan kerja, seperti suhu, pencahayaan,
kebisingan, getaran, bau bauan, juga daya tarik
kaki.
165
Bab VI
4. Sikap Kerja
Penanganan manual material handling juga melibatkan
metode kerja atau sikap dalam menyelesaikan
pekerjaan/tugas. Pengamatan meliputi pada :
a. Individu, merupakan ukuran metode operasional,
seperti kecepatan, ketepatan, cara/postur saat
memindahkan.
b. Organisasi, berkaitan dengan organisasi kerja
seperti luas bangunan pabrik, keberadaan tenaga
medis, maupun utilitas kerjasama tim.
c. Administrasi, seperti sistem insentif untuk
keselamatan kerja, kompensasi, rotasi kerja
maupun pengendalian dan pelatihan
keselamatan.
Aktivitas manual material handling banyak digunakan
karena memiliki fleksibilitas yang tinggi, murah dan mudah
diaplikasikan. Akan tetapi berdasar data diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa aktivitas manual material handling juga diikuti
dengan resiko apabila diterapkan pada kondisi lingkungan kerja
yang kurang memadai, alat yang kurang mendukung, dan sikap
kerja yang salah. Penelitian yang dilakukan NIOSH (NIOSH,
1981) memperlihatkan sebuah statistik yang menyatakan bahwa
dua -pertiga dari kecelakaan akibat tekanan berlebihan,
berkaitan dengan aktivitas menaikkan barang (lifting loads
activity).
6.3.5 Cara Mengangkat Beban
Dalam sistem kerja angkat dan angkut, sering dijumpai
nyeri pinggang sebagai akibat kesalahan dalam mengangkat
maupun mengangkut, baik itu mengenai teknik maupun
berat/ukuran beban. Nyeri pinggang dapat pula terjadi sebagai
sikap paksa yang disebabkan karena penggunaan sarana kerja
yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Kondisi demikian
menggambarkan tidak adanya keserasian antara ukuran tubuh
pekerja dengan bentuk dan ukuran sarana kerja, sehingga terjadi
166
Bab VI
pembebanan setempat yang berlebihan di daerah pinggang dan
inilah yang menyebabkan nyeri pinggang akibat kerja. Berikut ini
cara mengangkat beban yang salah.
a b
167
Bab VI
c d
Gambar 6.12 Cara Mengangkat yang Salah (a - d)
Gambar 6.13 tersebut menggambarkan cara kerja mengangkat
galon air yang salah. Dengan posisi mengangkat tersebut bisa
menimbulkan cedera pada punggung. Sebab ada hentakan
ketika mengangkat galon (posisi c). Sedangkan urutan cara
mengangkat galon yang benar ada pada Gambar 6.14 berikut
ini.
168
Bab VI
a b
c d
169
Bab VI
e
Gambar 6.13 Cara Mengangkat yang Benar (a - e)
Cara untuk mengurangi resiko cedera yang mungkin timbul saat
Mengangkat beban yaitu:
Usahakan untuk tidak mengangkat beban melebihi batas
Kemampuan dan jangan mengangkat beban dengan
Gerakan cepat dan tiba-tiba.
Tempatkan beban sedekat mungkin dengan pusat tubuh.
Karena makin dekat beban, makin kecil pengaruhnya
dalam memberi tekanan pada punggung, bahu dan
lengan. Makin dekat beban maka makin mudah untuk
menstabilkan tubuh.
Tempatkan kaki sedekat mungkin dengan beban saat
mulai mengangkat dan usahakan dalam posisi seimbang
Tekuk lutut dalam posisi setengah jongkok sampai sudut
paling nyaman.
Jaga sikap punggung dan bahu tetap lurus, artinya tidak
membungkuk, menyamping atau miring.
170
Bab VI
Turunkan beban dengan menekuk lutut dalam posisi
setengah jongkok dengan sudut paling nyaman.
6.3.6 Faktor Resiko Kecelakaan Kerja MMH
Faktor resiko diasosiasikan dengan jumlah tugas yang
dapat menyebabkan cedera musculoskeletal. Faktor resiko
digunakan untuk menganalisa tugas manual (manual task ).
Manual task atau manual material handling memiliki interaksi
yang kompleks antara pekerja dan lingkungan kerja. Faktor
resiko kemudian dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu :
1. Tekanan langsung kepada tubuh.
Hal ini meliputi faktor seperti tingkat tekanan pada muscular,
postur/sikap kerja, pengulangan pekerjaan, getaran
peralatan dan lama waktu kerja.
2. Kontribusi faktor resiko yang secara langsung mempengaruhi
tuntutan kerja
Hal ini meliputi layout area kerja, penggunaan alat, penangan
beban. Jika komponen ini di desain ulang pengaruh dari
tekanan dapat dikurangi.
3. Memodifikasi faktor resiko dapat memberi masukan pada
perubahan sikap kerja sehingga akibat dari faktor resiko
dapat dikurangi.
6.3.7 Penanganan Resiko Kerja Manual Material
Handling
Kondisi berbahaya yang diakibatkan oleh sikap kerja
manual material handling yang tidak tepat tentunya harus
dicegah dan ditangani dengan baik. Penanganan dan
pencegahan akan lebih mudah dilakukan setelah mengetahui
faktor resiko dari manual material handling diatas. Menurut
laporan NIOSH (1981) ada enam prosedur umum dalam
menangani resiko kecelakaan/cedera akibat tindakan manual
material handling yang tidak tepat, yaitu :
171
Bab VI
1. Identifikasi pekerjaan dengan kejadian yang menyebabkan
cedera musculoskeletal tinggi dan rata-rata kepelikan
tinggi dengan analisa statistik dari data medis.
2. Observasi pekerjaan yang dicurigai da n untuk tiap beban
yang akan diangkat harus diketahui berat serta metode
pengangkatan.
3. Evaluasi tingkat resiko pengangkatan dengan menghitung
nilai AL dan MPL dan membandingkannya dengan berat
beban yang diangkat.
4. Mengembangkan pengendalian keteknikan dengan
peralatan manual handling, mengemas ulang beban dalam
berat yang lebih ringan, mengatur ulang area kerja.
5. Mengajukan pengendalian administratif. Hal yang dapat
dilakukan adalah dengan menambah pekerja untuk
mengurangi frekuensi pengangkatan, melakukan
penjadwalan kerja, mengembangkan pelatihan untuk
mensosialisasikan teknik pengangkatan yang tepat, serta
meningkatkan prosedur seleksi dan penempatan pekerja
dengan lebih baik.
6. Mengimplementasikan solusi paling mungkin dan
mengevaluasi efektifitas dengan pengecekan kesehatan.
6.4. Metode Analisa Postur Kerja OWAS
OWAS merupakan sebuah metode analisa postur kerja
dengan melakukan evaluasi postur kerja yang mengakibatkan
cedera musculoskeletal (Karhu dkk, 1981). Metode ini mulai
berkembang pada awal tahun tujuh puluhan di perusahaan
Ovako Oy Finlandia (sekarang Fundia Wire). Metode ini mulai
dikembangkan pertama kali oleh Karhu Dkk, yang didasarkan
pada klasifikasi yang sederhana dan sistematis dari sikap kerja
yang dikombinasikan dengan pengamatan dari tugas selama
bekerja.
Metode OWAS mengkodekan sikap kerja pada bagian
punggung, tangan, kaki, dan berat beban. Masing-masing bagian
memiliki klasifikasi sendiri-sendiri. Metode ini cepat dalam
mengidentifikasi sikap/postur kerja yang berpotensi
172
Bab VI
menimbulkan kecelakaan. Kecelakaan kerja yang menjadi
perhatian adalah cedera musculoskeletal.
Prosedur OWAS dilakukan dengan melakukan observasi
untuk mengambil data postur, beban/tenaga, dan fase kerja.
Langkah selanjutnya adalah melakukan pengkodean berdasar
data tersebut. Evaluasi penilaian didasarkan pada skor dari
tingkat bahaya postur kerja yang ada. Kemudian dihubungkan
dengan kategori tindakan yang harus diambil. Klasifikasi postur
kerja dari metode OWAS adalah pada pergerakan tubuh bagian
belakang (back ), lengan (arms), dan kaki (legs). Setiap postur
tubuh tersebut terdiri dari 4 postur bagian belakang, 3 postur
lengan, dan 7 postur kaki. Berat beban yang dikerjakan juga
dilakukan penilaian mengandung skala 3 point.
Bagian Belakang (Back )
Gambar 6.14 Postur Tubuh Bagian Belakang (Back )
173
Bab VI
Tabel 6.3 Skor Bagian Belakang (Back)
Pergerakan Skor
Lurus/tegak 1
Bungkuk ke depan 2
Miring ke samping 3
Bungkuk ke depan dan miring ke samping 4
Bagian Lengan (Arms)
Gambar 6.15 Postur Tubuh Bagian Lengan (Arms)
Tabel 6.4 Skor Bagian Lengan (Arms)
Pergerakan Skor
Kedua tangan di bawah bahu 1
Satu tangan pada atau di atas bahu 2
Kedua tangan pada atau diatas bahu 3
174
Bab VI
Bagian Kaki (Legs)
Gambar 6.16 Postur Tubuh Bagian Kaki (Legs)
Tabel 6.5 Skor Bagian Kaki (Legs)
Pergerakan Skor
Duduk 1
Berdiri dengan kedua kaki lurus 2
Berdiri dengan bertumpu pada satu kaki lurus 3
Berdiri atau jongkok dengan kedua lutut 4
Berdiri atau jongkok dengan satu lutut 5
Berlutut pada satu atau dua lutut 6
Berjalan atau bergerak 7
175
Bab VI
Beban (Load)
Gambar 6.17 Ukuran Beban (Load)
Tabel 6.6 Skor Berat Beban OWAS
Beban/Load Skor
< 10 kg 1
< 20 kg 2
> 20 kg 3
Dibawah ini adalah perihal penjelasan tentang klasifikasi
sikap agar membedakan sikap masing-masing klasifikasi.
1. Sikap Punggung
Membungkuk
Penilaian sikap kerja diklasifikasikan membungkuk jika
terjadi sudut yang terbentuk pada punggung minimal
sebesar 200 atau lebih. Begitu pula sebaliknya jika
perubahan sudut kurang dari 200 , maka dinilai tidak
176
Bab VI
membungkuk. Adapun posisi leher dan kaki tidak
termasuk dalam penilaian batang tubuh (punggung).
2. Sikap Lengan
Yang dimaksud sebagai lengan adalah dari lengan atas
sampai tangan.
Penilaian terhadap posisi lengan yang prlu diperhatikan
adalah posisi tangan.
3. Sikap Kaki
Duduk
Pada sikap ini adalah duduk dikursi dan semacamnya.
Berdiri bertumpu pada kedua kaki lurus
Pada sikap ini adalah kedua kaki dalam posisi
lurus/tidak bengkok dimana beban tubuh menumpu
kedua kaki.
Berdiri bertumpu pada satu kaki lurus
Pada sikap ini adalah beban tubuh bertumpu pada satu
kaki yang lurus (menggunakan saru pusat gravitasi
lurus), dan satu kaki yang lain dalam keadaan
menggantung (tidak menyentuh lantai). Dalam hal ini
kaki yang menggantung untuk menyeimbangkan tubuh
dan bila jari kaki yang menyentuh lantai termasuk sikap
ini.
Berdiri bertumpu pada kedua kaki dengan lutut ditekuk
Pada sikap ini adalah keadaan poatur setengah duduk
yang yelah umum diketahui yaitu keadaan lutut ditekuk
dan beban tubuh bertumpu pada kedua kaki. Lutut
dikategorikan ditekuk jika sudut yang terbentuk adalah
1500.
Berdiri bertumpu pada satu kaki dengan lutut ditekuk
Pada sikap ini dalam keadaan ini berat tubuh bertumpu
pada satu kaki dengan lutut ditekuk (menggunakan
pusat gravitasi pada satu kaki dengan lutut ditekuk).
Berlutut pada satu atau kedua lutut
Pada sikap ini dalam keadaan satu atau kedua lutut
menempel pada lantai.
177
Bab VI
Berjalan
Pada sikap ini adalah gerakan kaki yang dilakukan
termasuk gerakan ke depan, belakang, menyamping,
dan naik turun tangga.
4. Berat beban
Dalam hal ini yang membedakan adalah berat beban
yang diterima dalam satuan kilogram (Kg). Berat beban
yang diangkat lebih kecil atau sama dengan 10 Kg (W
10 Kg ), lebih besar dari 10 Kg dan lebih kecil atau
sama dengan 20 Kg (10 Kg W 20 Kg ), lebih besar
dari 20 Kg (W 20 Kg ).
Hasil dari analisa sikap kerja OWAS terdiri dari empat
level skala sikap kerja yang berbahaya bagi para pekerja.
Tabel 6.7 Empat Level Sikap Kerja
KATEGORI 1 Pada sikap ini tidak masalah pada sistem
: musculoskeletal. Tidak perlu perbaikan.
KATEGORI 2 Pada sikap ini berbahaya pada sistem
: musculoskeletal (sikap kerja mengakibatkan
pengaruh ketegangan yang signifikan). Perlu
perbaikan dimasa yang akan datang.
KATEGORI 3 Pada sikap ini berbahaya bagi sistem
: musculoskeletal (sikap kerja mengakibatkan
pengaruh ketegangan yang sangat signifikan).
Perlu perbaikan segera mungkin.
KATEGORI 4: Pada sikap ini berbahaya bagi sistem
musculoskeletal (sikap kerja ini mengakibatkan
resiko yang jelas). Perlu perbaikan secara
langsung/saat ini.
Berikut ini merupakan tabel kategori tindakan kerja
OWAS secara keseluruhan, berdasarkan kombinasi klasifikasi
sikap dari punggung, lengan, kaki, dan beban berat.
178
Bab VI
Tabel di atas menjelaskan mengenai klasifikasi postur-
postur kerja ke dalam kategori tindakan. Sebagai contoh postur
kerja dengan kode 2352, maka postur kerja ini merupakan postur
kerja dengan kategori tindakan dengan derajat perbaikan level 4,
yaitu pada sikap ini berbahaya bagi sistem musculoskeletal
(sikap kerja ini mengakibatkan resiko yang jelas). Perlu
perbaikan secara langsung/saat ini.
Contoh Gerakan
Gambar 6. 18 Posisi Sikap Pekerja
180
Bab VI
Kode Sikap Punggung : 4
Bungkuk ke depan dan Menyamping.
Kode Sikap Lengan : 1
Kedua lengan berada di bawah bahu
Kode Sikap Kaki : 3
Berdiri bertumpu pada satu kaki
Kode Berat Beban : 1
Berat beban 3,5 Kg
Kode Sikap OWAS : 4 1 3 1
6.5 Material Handling Bahan Kimia
Berbahaya
Keamanan pengangkutan bahan kimia berbahaya sangat
penting, agar terhindar dari malapetaka bagi tenaga kerja,
kerusakan harta maupun kerugian jiwa termasuk alat angkutan.
Dalam kegiatan transportasi bahan kimia berbahaya, bahaya
utama adalah bahaya kebakaran dan ledakan. Dalam
pengangkutannya perlu dipertimbangkan faktor-faktor antara
lain:
a. Pengaturan muatan secara keseluruhan.
b. Pengaruh gerakan alat pengangkutan dalam cuaca yang
tidak baik.
c. Pengaruh perubahan suhu.
d. Kelembaban terhadap keselamatan bahan kimia yang
diangkut dan lain-lain.
Dalam pengangkutan bahan kimia berbahaya,
pengemudi ataupun setiap orang yang terlibat dalam proses
pengangkutan harus dibekali pengetahuan tentang bahaya
bahan kimia yang diangkut dan upaya pencegahannya, tindakan
bila terjadi kebocoran, kebakaran atau kecelakaan dan alamat
untuk meminta pertolongan.
181
Bab VI
Penyimpanan dan pembuangan sisa bahan kimia
berbahaya tidak sama dengan pembuangan bahan buangan
lainnya. Bahan kimia berbahaya yang akan dibuang hendaknya
diolah terlebih dahulu, dikemas dalam drum, botol, kaleng, truk,
tangki atau lainnya dengan tanda dan label yang jelas.
6.6 Rangkuman
Masalah utama yang sering terjadi di industri adalah
aktivitas perpindahan material dari satu proses menuju ke proses
berikutnya. Perpindahan tersebut dikenal dengan nama material
handling. Jenis peralatan material handling diantaranya:
conveyor, crane, hoist, dan truk. Masing-masing alat material
handling tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan.
Manual material handling adalah suatu kegiatan
transportasi yang dilakukan oleh satu pekerja atau lebih dengan
melakukan kegiatan pengangkatan, penurunan, mendorong,
menarik, mengangkut, dan memindahkan barang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi manual material
handling yaitu:
Karakteristik pekerja
Karakteristik material
Karakteristik tugas
Sikap kerja
182
Bab VI
6.7 Soal
Apa yang dimaksud dengan material handling, manual
material handling.
Sebutkan kerugian dan keuntungan pemakaian conveyor
dalam aktivitas material handling.
Sebutkan kerugian dan keuntungan pemakaian crane
dan hoist dalam aktivitas material handling.
Sebutkan kerugian dan keuntungan pemakaian truk
dalam aktivitas material handling.
183
Bab VI
BAB VII
LINGKUNGAN KERJA FISIK
7.1 Pendahuluan
Industrialisasi akan selalu diikuti oleh penerapan
teknologi tinggi, penggunaan bahan dan peralatan yang semakin
kompleks dan rumit. Penerapan teknologi tinggi dan penggunaan
bahan dan peralatan yang beraneka ragam dan kompleks
tersebut sering tidak diikuti oleh kesiapan SDM. Keterbatasan
manusia sering menjadi faktor penentu terjadinya musibah
seperti: kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran
lingkungan dan timbulnya penyakit akibat kerja.
Pada tempat kerja, terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi lingkungan kerja seperti: kebisingan, temperatur,
pencahayaan, getaran, bau-bauan, radiasi, bahan berbahaya
beracun, ventilasi. Semua faktor tersebut dapat menimbulkan
gangguan terhadap suasana kerja dan berpengaruh terhadap
kesehatan dan keselamatan kerja. Lingkungan kerja yang
nyaman sangat dibutuhkan oleh pekerja untuk dapat bekerja
secara optimal dan produktif. Dengan mempelajari bab ini, para
siswa diharapkan mengetahui faktor-faktor lingkungan kerja yang
bisa mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja.
7.2 Temperatur
Untuk negara dengan empat musim, rekomendasi untuk
comfort zone pada musim dingin adalah suhu ideal berkisar
antara 19-23°C dengan kecepatan udara antara 0,1-0,2 m/det
dan pada musim panas suhu ideal antara 22-24°C dengan
kecepatan udara antara 0,15-0,4 m/det serta kelembaban antara
40-60% sepanjang tahun. Sedangkan untuk negara dengan dua
musim seperti Indonesia. rekomendasi tersebut perlu mendapat
184
koreksi. Sedangkan kaitannya dengan suhu panas lingkungan
kerja, Grandjean (1993) memberikan batas toleransi suhu tinggi
sebesar 35-40°C; kecepatan udara 0,2 m/det; kelembaban
antara 40-50%; perbedaan suhu permukaan < 4°C.
7.2.1 Lingkungan Kerja Panas
Pekerja di dalam lingkungan panas, seperti di sekitar
furnaces, peleburan, boiler, oven, tungku pemanas atau bekerja
di luar ruangan di bawah terik matahari dapat mengalami
tekanan panas. Selama aktivitas pada lingkungan panas
tersebut, tubuh secara otomatis akan memberikan reaksi untuk
memelihara suatu kisaran panas lingkungan yang konstan
dengan menyeimbangkan antara panas yang diterima dan luar
tubuh dengan kehilangan panas dan dalam tubuh. Selanjutnya
faktor-faktor yang menyebabkan pertukaran panas di antara
tubuh dengan lingkungan sekitarnya adalah panas konduksi,
panas konveksi, panas radiasi dan panas penguapan. Berikut ini
aktivitas-aktivitas kerja pada lingkungan kerja yang panas, yaitu
aktivitas kerja pada industri pengecoran logam.
Gambar 7.1 Pekerja Mengawasi Tungku Peleburan Logam
185
Pada gambar 7.1 tersebut seorang pekerja sedang mengawasi
tungku peleburan logam. Kondisi ini menyebabkan pekerja
terpapar panas. Kondisi kerja pada gambar 7.2 juga tidak
berbeda jauh dengan kondisi kerja pada gambar 7.1. Pekerja
pada kondisi ini juga selama jam kerja terpapar panas.
Gambar 7.2 Mengambil Cairan Logam dari Tungku
Pekerja di lingkungan panas dapat beraklimatisasi untuk
mengurangi reaksi tubuh terhadap panas (heat strain). Pada
proses aklimatisasi menyebabkan denyut jantung lebih rendah
dan laju pengeluaran keringat meningkat. Khusus untuk pekerja
yang baru di lingkungan panas diperlukan waktu aklimatisasi
selama 1-2 minggu. Jadi, aklimatisasi terhadap lingkungan
panas sangat diperlukan pada seseorang yang belum terbiasa
dengan kondisi tersebut. Aklimatisasi tubuh terhadap panas
memerlukan sedikit liquid tetapi lebih sering minum. Tablet
garam juga diperlukan dalam proses aklimatisasi. Seorang
tenaga kerja dalam proses aklimatisasi hanya boleh terpapar
50% waktu kerja pada tahap awal, kemudian dapat ditingkatkan
10% setiap hari.
186
7.2.2 Pengaruh Temperatur Terhadap
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Secara lebih rinci gangguan kesehatan akibat pemaparan
suhu lingkungan panas yang berlebihan dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Gangguan perilaku dan performansi keja seperti,
terjadinya kelelahan, sering melakukan istirahat curian
dan lain-lain.
2. Dehidrasi.
Dehidrasi adalah suatu kehilangan cairan tubuh yang
berlebihan yang disebabkan baik oleh penggantian
cairan yang tidak cukup maupun karena gangguan
kesehatan. Pada kehilangan cairan tubuh <1,5%
gejalanya tidak nampak, kelelahan muncul lebih awal
dan mulut mulai kering.
3. Heat Rash
Keadaan seperti biang keringat atau keringat buntat,
gatal kulit akibat kondisi kulit terus basah. Pada kondisi
ini pekerja perlu beristirahat pada tempat yang lebih
sejuk dan menggunakan bedak penghilang keringat.
4. Heat Syncope atau Fainting
Keadaan ini disebabkan karena aliran darah ke otak
tidak cukup karena sebagian besar aliran darah dibawa
ke permukaan kulit atau perifer yang disebabkan
karena pemaparan suhu tinggi.
5. Heat Cramps
Keadaan ini terjadi karena pekerja berkeringat terlalu
banyak dan minum air terlalu banyak. Gejala otot yang
kejang dan sakit. Cara menanggulangi adalah dengan
minum cairan elektrolit (garam) seperti: gatorade,
pocari sweet.
6. Kelelahan karena panas
Penyebab adalah turunnya volume air darah karena
dehidrasi (terlalu banyak berkeringat dan tidak cukup
187
minum). Gejala : lemah lesu, lelah, kantuk; berkeringat
dingin dan pucat; banyak berkeringat; pusing; mual;
dan pingsan. Cara mengatasi, jika pekerja sadar,
istirahatkan di tempat yang sejuk; beri minum yang
mengandung elektrolit. Jika pekerja pingsan, segera
cari bantuan medis. Jangan diberi minum jika pekerja
pingsan.
7. Stroke karena panas
Penyebab karena tubuh kepanasan sebab pekerja
tidak dapat berkeringat. Kondisi ini dapat mematikan.
Gejala kulit kering dengan bercak merah panas atau
tampak kebiru-biruan, kehilangan orientasi (bingung),
kejang-kejang, pingsan, suhu tubuh yang cepat naik.
Penanggulangan: cari bantuan medis segera,
pindahkan yang bersangkutan ke tempat yang sejuk,
copot alat-alat pelindung yang dipakainya, gunakan
handuk basah atau air dan kipas untuk
mendinginkannya sambil menunggu paramedis.
7.2.3 Penilaian Lingkungan Kerja Panas
Metode terbaik untuk menentukan apakah tekanan panas
di tempat kerja menyebabkan gangguan kesehatan adalah
dengan mengukur suhu inti tubuh pekerja yang bersangkutan.
Normal suhu inti tubuh adalah 37° C, mungkin mudah dilampaui
dengan akumulasi panas dan konveksi, konduksi, radiasi dan
panas metabolisme. Apabila rerata suhu inti tubuh pekerja > 38°
C, diduga terdapat pemaparan suhu lingkungan panas yang
dapat meningkatkan suhu tubuh tersebut. Selanjutnya harus
dilakukan pengukuran suhu lingkungan kerja
.
Pengukuran suhu lingkungan kerja bisa menggunakan
termometer ruangan digital. Termometer ruangan ini mempunyai
ketelitian sampai 0.1°C .
188
Gambar 7.3 Termometer Ruangan Digital
Menurut penyelidikan untuk berbagai tingkat temperatur
akan memberikan pengaruh yang berbeda-beda seperti berikut:
49 °C: Temperatur yang dapat ditahan sekitar 1 jam, tetapi
jauh diatas tingkat kemampuan fisik dan mental. Lebih
kurang 30 derajat Celcius: aktivitas mental dan daya tanggap
mulai menurun dan cenderung untuk membuat kesalahan
dalam pekerjaan. Timbul kelelahan fisik.
30 °C: Aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun
dan cenderung untuk membuat kesalahan dalam pekerjaan,
timbul kelelahan fisik.
24 °C: Kondisi optimum
10 °C: Kelakuan fisik yang extrem mulai muncul.
Harga-harga diatas tidak mutlak berlaku untuk setiap orang
karena sebenarnya kemampuan beradaptasi tiap orang berbeda-
beda, tergantung di daerah bagaimana dia biasa hidup. Orang
yang biasa hidup di daerah panas berbeda kemampuan
beradaptasinya dibandingkan dengan mereka yang hidup di
daerah dingin atau sedang. Tichauer telah menyelidiki pengaruh
terhadap produktifitas para pekerja penenunan kapas, yang
189
menyimpulkan bahwa tingkat produksi paling tinggi dicapai pada
kondisi temperatur 750F – 800F (240C - 270C)
7.2.4 Pengendalian Lingkungan Kerja Panas
Untuk mengendalikan pengaruh pemaparan tekanan
panas terhadap tenaga kerja perlu dilakukan koreksi tempat
kerja, sumber-sumber panas lingkungan dan aktivitas kerja yang
dilakukan. Secara ringkas teknik pengendalian terhadap
pemaparan tekanan panas di perusahaan dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Mengurangi faktor beban kerja dengan mekanisasi
2. Mengurangi beban panas radiasi dengan cara:
Menurunkan temperatur udara dan proses kerja yang
menghasilkan panas.
Relokasi proses kerja yang menghasilkan panas.
Penggunaan tameng panas dan alat pelindung yang
dapat memantulkan panas
3. Mengurangi temperatur dan kelembaban.
Cara ini dapat dilakukan melalui ventilasi pengenceran
(dilution ventilation) atau pendinginan secara mekanis
(mechanical cooling). Cara ini telah terbukti secara dramatis
dapat menghemat biaya dan meningkatkan kenyamanan.
4. Meningkatkan pergerakan udara.
Peningkatan pergerakan udara melalui ventilasi buatan
dimaksudkan untuk memperluas pendinginan evaporasi,
tetapi tidak boleh melebihi 0,2 m/det. Sehingga perlu
dipertimbangkan bahwa menambah pergerakan udara pada
temperatur yang tinggi (> 40°C) dapat berakibat kepada
peningkatan tekanan panas.
5. Pembatasan terhadap waktu pemaparan panas dengan cara:
190
Melakukan shift pekerjaan pada tempat panas pada pagi
dan sore hari.
Penyediaan tempat sejuk yang terpisah dengan proses
kerja untuk pemulihan.
Mengatur waktu kerja-istirahat secara tepat berdasarkan
beban kerja
6. Pakaian pelindung
Pakaian khusus berbahan reflektif atau pakaian pendingin
dapat melindungi pekerja dari panas yang berlebihan.
7. Air
Karena mekanisme ’haus’ atau keinginan minum tubuh
terkadang tidak cukup dirangsang oleh hilangnya cairan
tubuh melalui keringat, penting untuk menjadwalkan minum
sekitar setengah gelas tiap setengah jam.
8. Pendidikan
Pekerja harus diajari bagaimana mengenali gejala penyakit
yang berhubungan dengan panas dan bagaimana
melakukan pertolongan pertama pada kasus tersebut.
Mereka harus tahu mengapa penyakit dapat timbul dan
bagaimana mencegahnya.
9. Penyesuaian
Proses ini berarti membiarkan tubuh secara bertahap
menyesuaikan diri dengan panas. Proses ini menyebabkan
suhu tubuh yang lebih rendah saat bekerja dan istirahat,
keringat yang lebih banyak, detak jantung yang lebih lambat
dan konsumsi oksigen yang lebih rendah. Karena hasil dari
proses ini dapat hilang dengan cepat, pekerja harus
mengalaminya lagi jika kembali dari libur yang lebih panjang
dari seminggu.
191
7.3 Kebisingan
Apakah kebisingan? Apakah pembicaraan dengan teman
dan keluarga termasuk kebisingan? Apakah musik termasuk
kebisingan? Apakah mesin pabrik yang bekerja dengan
kecepatan tinggi termasuk kebisingan?
Yang membedakan antara musik dengan suara pabrik
adalah apakah suara tersebut diinginkan. Pada kebanyakan
kasus musik adalah suara yang diinginkan, sedangkan suara
pabrik adalah suara yang tidak diinginkan. Kendati musik adalah
suara yang diinginkan dalam intensitas tinggi dapat merusak
pendengaran seperti suara pabrik. Efek kebisingan terhadap
kesehatan tergantung dari kerasnya suara dan apakah suara
tersebut diinginkan atau tidak.
Kualitas suara ditentukan oleh frekuensi dan
intensitasnya. Frekuensi suara dinyatakan dengan jumlah
getaran tiap detik, atau Hertz (Hz). Sedang intensitas suara
merupakan besarnya tekanan suara, yang dalam pengukuran
sehari-hari dinyatakan dalam perbandingan logaritmis dan
menggunakan satuan desibel (dB).
Frekuensi suara di bawah 20 Hz disebut sebagai
infrasonik, sedang di atas 20.000 Hz merupakan gelombang
ultrasonik. Frekuensi antara 20 – 20.000 Hz, dapat didengar oleh
telinga manusia. Untuk komunikasi percakapan secara normal,
diperlukan frekuensi antara 250 – 3000 Hz.
Rangsang suara yang berlebihan atau tidak dikehendaki
(bising), yang dijumpai di pabrik atau tempat-tempat yang ramai
akan mempengaruhi fungsi pendengaran. Berbagai faktor seperti
intensitas, frekuensi, jenis atau irama bising, lama pemajanan
serta lama waktu istirahat antar dua periode pemajanan, sangat
menentukan dalam proses terjadinya ketulian atau kurang
pendengaran akibat bising. Demikian juga faktor kepekaan tiap
pekerja, seperti umur, pemajanan bising sebelumnya, kondisi
kesehatan, penyakit telinga yang pernah diderita, perlu pula
dipertimbangkan dalam menentukan gangguan pendengaran
akibat bising.
192
7.3.1 Seberapa Keras Suara yang Terlalu
Keras?
Cara sederhana untuk menentukan apakah tingkat suara
yang ada di tempat kerja terlalu keras adalah:
Jika anda harus berteriak atau berbicara keras dari jarak
rentangan tangan untuk dapat dimengerti oleh lawan
bicara anda.
Jika telinga anda berdengung jika anda meninggalkan
lokasi kerja.
Jika anda kesulitan menangkap pembicaraan biasa
setelah kerja
Jika anda merasa pusing atau mengantuk karena
kebisingan
Jika rekan kerja anda juga memiliki masalah yang sama
atau telah diperiksa dokter didiagnosa mengalami
gangguan pendengaran.
7.3.2 Anatomi Telinga Manusia
Telinga manusia dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu
bagian luar (outer ear), bagian tengah (middle ear) dan bagian
dalam (inner ear). Ketiga bagian telinga tersebut memiliki
komponen-komponen berbeda dengan fungsi masing-masing
dan saling berkelanjutan dalam menanggapi gelombang suara
yang berada di sekitar manusia.
Tulang berbentuk spiral di bagian dalam telinga disebut
cochlea yang dilapisi sel rambut yang halus. Gelombang bunyi
dihantarkan dari telinga bagian luar ke telinga bagian tengah dan
telinga bagian dalam. Pada telinga bagian dalam, gelombang
tekan menggerakkan sel rambut, yang lalu mengirim signal ke
otak, melalui jaringan syaraf, tentang suara yang didengar
telinga.
193
Kebisingan dengan intensitas tinggi akan merusak sel
rambut di bagian dalam telinga dan mengurangi kemampuan
telinga untuk mendengar dan menghantarkan informasi ke otak.
Jika sel rambut ini rusak, tidak dapat diperbaiki, sehingga
kehilangan pendengaran yang terjadi akan permanen.
Gambar 7.4 Struktur Telinga Manusia
7.3.3 Suara di Tempat Kerja
Suara dalam pembahasan Kesehatan dan Keselatan
Kerja akan difokuskan pada potensi gelombang suara sebagai
salah satu bahaya lingkungan potensial bagi pekerja di tempat
kerja beserta teknik-teknik pengendaliannya.
Sumber Suara
Beberapa jenis sumber suara di dalam lingkungan kerja:
a. Suara mesin
194
Jenis mesin penghasil suara di tempat kerja sangat
bervariasi, demikian pula karakteristik suara yang
dihasilkan. Contoh sumber kebisingan di perusahaan
baik dari dalam maupun dari luar perusahaan seperti:
Mesin pembangkit tenaga listrik seperti genset,
mesin diesel, generator
Mesin-mesin produksi
Mesin potong, gergaji, serut di perusahaan kayu
Gambar 7.5 Mesin Penyerut Kayu
b. Benturan antara alat kerja dan benda kerja
Proses menggerinda permukaan metal dan umumnya
pekerjaan penghalusan permukaan benda kerja,
penyemprotan, pengupasan cat, pengelingan, memalu
dan pemotongan seperti proses penggergajian kayu dan
metal cutting. Kondisi ini akan menimbulkan kebisingan.
Penggunaan gergaji bundar (circular blades) dapat
menimbulkan tingkat kebisingan antara 80 dB – 120 dB.
Gambar di bawah ini memperlihatkan proses benturan
195
antara alat kerja dan benda kerja. Gambar 7.6 adalah
proses memotong besi. Proses ini sangat bising sekali,
apalagi kalau pekerja tidak memakai alat pelindung diri.
Gambar 7.6 Aktivitas Memotong Besi
Sedangkan gambar 7.7 merupakan aktivitas menggerinda
logam. Menggerinda ini merupakan cara untuk menghaluskan
permukaan logam. Kondisi kerja menggerinda ini juga
menimbulkan suara yang bising.
Gambar 7.7 Kegiatan Menggerinda
196
c. Aliran material
Aliran gas, air atau material-material cair dalam pipa
distribusi material di tempat kerja, apalagi yang berkaitan
dengan proses penambahan tekanan dan pencampuran
sedikit banyak akan menimbulkan kebisingan di tempat
kerja.
7.3.4 Jenis Kebisingan
Suara bisa berubah menjadi salah satu bahaya apabila
menimbulkan gangguan secara:
a. Fisik (menyakitkan telinga pekerja)
b. Psikis (mengganggu konsentrasi dan kelancaran
komunikasi)
Pada kondisi ini suara sudah berubah menjadi polutan. Polutan
tersebut dikenal dengan nama kebisingan.
National Institute of Occupational Safety & Health
(NIOSH) mendefinisikan status suara di mana suara berubah
menjadi polutan apabila:
1. Suara-suara dengan tingkat kebisingan lebih besar dari
104 dB.
2. Kondisi kerja yang mengakibatkan seorang karyawan
harus menghadapi tingkat kebisingan lebih besar dari 85
dBA selama lebih dari 8 jam
Kebisingan di lingkungan kerja dibagi menjadi dua jenis, yaitu
kebisingan tetap dan kebisingan tidak tetap.
197
Kebisingan Tetap
Kebisingan
Kebisingan Tidak
Tetap
Gambar 7.8 Jenis Kebisingan
Kebisingan Tetap dalam prakteknya akan dibagi menjadi
dua macam kebisingan, yaitu:
Kebisingan dengan frekuensi terputus
Kebisingan ini berupa nada-nada murni pada frekuensi
yang beragam. Misal, suara mesin, suara kipas, dan
sebagainya.
Broad band noise
Kebisingan dengan frekuensi terputus dan broad band
noise sama-sama digolongkan dengan kebisingan tetap.
Perbedaannya adalah broad band noise terjadi pada
frekuensi yang lebih bervariasi.
Kebisingan Tidak Tetap dalam prakteknya dibagi menjadi
tiga macam kebisingan, yaitu:
Kebisingan fluktuatif
Kebisingan yang selalu berubah-ubah selama rentang
waktu tertentu
198
Intermittent noise
Merupakan kebisingan yang terputus-putus dan besarnya
dapat berubah-ubah, contohnya kebisingan lalu lintas.
Impulsive noise
Kebisingan ini ditimbulkan oleh suara-suara berintensitas
tinggi (memekakkan telinga) dalam waktu relatif singkat,
misalnya suara ledakan senjata api dan alat-alat
sejenisnya.
7.3.5 Nilai Ambang Batas
Kebisingan dapat menyebabkan dampak jangka pendek
maupun jangka panjang pada pendengaran. Untuk
menanggulangi kebisingan di pabrik, beberapa negara
menetapkan Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan.
Nilai Ambang Batas kebisingan di tempat kerja adalah
intensitas suara tertinggi yang merupakan nilai rata-rata, yang
masih dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan
hilangnya daya dengar yang menetap untuk waktu kerja terus
menerus tidak lebih dari 8 jam sehari dan 40 jam seminggu.
Berikut ini batas waktu pemaparan kebisingan per hari
yang direkomendasikan oleh Departemen Tenaga Kerja
Republik Indonesia pada tahun 1999.
Tabel 7.1 Batas Waktu Pemaparan Kebisingan Per Hari Kerja
Batas Waktu Pemaparan Per Hari Kerja Intensitas Kebisingan
Dalam dBA
8 Jam 85
4 88
2 91
1 94
30 Menit 97
15 100
7,5 103
3,75 106
1,88 109
199
Batas Waktu Pemaparan Per Hari Kerja Intensitas Kebisingan
Dalam dBA
0,94 112
28,12 Detik 115
14,06 118
7,03 121
3,52 124
1,76 127
0,88 130
0,44 133
0,22 136
0,11 139
7.3.6 Pengaruh Kebisingan
Secara umum pengaruh kebisingan ini dapat dibagi
menjadi dua yang didasarkan pada tinggi rendahnya intensitas
kebisingan dan lamanya waktu pemaparan. Pertama, pengaruh
pemaparan kebisingan intensitas tinggi (di atas NAB) dan kedua,
adalah pengaruh pemaparan kebisingan intensitas rendah (di
bawah NAB):
a. Pengaruh Kebisingan Intensitas Tinggi
Pada kondisi ini terjadi kerusakan pada indera
pendengaran yang dapat menyebabkan penurunan daya dengar
baik yang bersifat sementara maupun bersifat permanen atau
ketulian.
Pengaruh kebisingan akan sangat terasa apabila jenis
kebisingannya terputus-putus dan sumbernya tidak diketahui.
Secara fisiologis, kebisingan dengan intensitas tinggi
dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti, meningkatnya
tekanan darah dan denyut jantung, resiko serangan jantung
meningkat, gangguan pencernaan.
200
b. Pengaruh Kebisingan Intensitas Rendah
Tingkat kebisingan intensitas rendah atau di bawah NAB
banyak ditemukan di lingkungan kerja seperti perkantoran, ruang
administrasi perusahaan dll. Dampak dari kebisingan ini secara
fisiologis tidak merusak pendengaran. Namun, kondisi ini sering
menyebabkan penurunan performansi kerja, sebagai salah satu
penyebab stress dan gangguan kesehatan lainnya. Stress ini
dapat mengakibatkan terjadinya kelelahan dini, kegelisahan dan
depresi. Secara spesifik stress karena kebisingan ini akan
mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:
Stress menuju keadaan cepat marah, sakit
kepala, dan gangguan tidur
Gangguan reaksi psikomotor
Kehilangan konsentrasi
Gangguan komunikasi antara lawan bicara
Penurunan performansi kerja yang kesemuanya
itu akan bermuara pada kehilangan efisiensi dan
produktivitas kerja.
7.3.7 Sumber Kebisingan
Suara atau bunyi ini diukur dengan satuan yang disebut
desibel. Satuan desibel diukur dari 0 hingga 140, atau bunyi
terlemah yang manusia masih bisa mendengar hingga tingkat
bunyi yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada
telinga manusia. Kata desibel biasa disingkat ´dB´ dan
mempunyai 3 skala : A, B, dan C. Skala yang terdekat dengan
pendengaran manusia adalah skala A atau `dBA´.
Berikut ini adalah beberapa tingkat kebisingan beberapa
sumber suara yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai
tingkat keamanan kerja:
201
Percakapan biasa ( 45 – 60 dB )
Bor listrik ( 88 – 98 dB )
Suara anak ayam di peternakan ( 105 dB )
Gergaji mesin ( 110 – 115 dB )
Musik rock metal ( 115 dB )
Sirene ambulans ( 120 dB )
Teriakan awal seseorang yang menjerit kesakitan
( 140 dB )
Pesawat terbang jet ( 140 dB )
Sumber kebisingan yang berasal dari industri antara lain:
Industri perkayuan
Pekerjaan pemipaan
Pertambangan batu bara dan logam.
Gambar 7.9 Belokan Tajam (90o) akan Menambah Kebisingan Aliran
202
Pipa yang dibuat dengan belokan tajam seperti pada gambar 7.9
ini akan menimbulkan suara yang bising. Kebisingan ini terjadi
karena ada benturan aliran. Kondisi tidak berbeda juga terjadi
pada gambar 7.10, dimana ada penambahan sudut kemiringan.
Dengan semakin banyak sudut kemiringan, maka suara bising
akan menjadi lebih kuat.
Gambar 7.10 Penambahan Sudut Kemiringan Pembelokan Aliran
7.3.8 Pengukuran Kebisingan
Untuk mengukur tingkat kebisingan ini, ada dua cara
yang bisa dilakukan, yaitu:
Pengukuran Langsung
Pada pengukuran ini digunakan alat Sound Level Meter.
Alat ini dapat mengukur intensitas kebisingan antara 40 – 130
dBA pada frekuensi antara 20 – 20.000 Hz. Sebelum dilakukan
pengukuran harus dilakukan countour map lokasi sumber suara
dan sekitarnya. Selanjutnya pada waktu pengukuran Sound
203
Level Meter di pasang pada ketinggian ± (140 – 150 m) atau
setinggi telinga.
Gambar 7.11 Sound Level Meter
Pengukuran pada Penerima Suara
Jenis pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui
berapa rerata intensitas suara yang diterima oleh pekerja selama
jam kerja. Hal ini didasarkan pengalaman bahwa tidak seluruh
waktu kerja, pekerja bekerja pada tempat yang sama melainkan
sering berpindah-pindah tempat. Sehingga pekerja juga tidak
menerima suara dari satu sumber suara yang tinggi. Dengan
demikian jenis pengukuran ini lebih dimaksudkan untuk
mengurangi pengaruh pemaparan kebisingan orang per orang.
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah
dosimeter. Dosimeter adalah alat yang dipakai untuk mengukur
tingkat kebisingan yang dialami pekerja selama shiftnya. Alat ini
dapat mengukur selama shift 8, 10, 12 jam, atau berapapun
lamanya. Dosimeter dipasang pada sabuk pinggang dan sebuh
mikrophone kecil dipasang dekat telinga. Dosimeter mengukur
jumlah bunyi yang didengar pekerja selama shiftnya. Meter
tingkat suara dan dosimeter akan memberikan hasil berupa
angka yang dapat dibandingkan dengan aturan batas maksimum
204
( 85 dBA untuk shift selama 8 jam, 40 jam per minggu –
batasnya akan lebih rendah untuk waktu kerja yang lebih lama).
Desibel diukur pada skala khusus, yang disebut skala
logaritma, dimana setiap penambahan 3 desibel berarti
intensitas suara berlipat dua. Berarti, peningkatan dari 90 dBA ke
93 dBA berarti suaranya dua kali lebih keras daripada 90 dBA,
peningkatan dari 90 dBA ke 96 dBA berarti suaranya empat kali
lebih keras daripada 90 dBA. Hal penting untuk diingat adalah
peningkatan kecil pada desibel berarti peningkatan besar pada
kerasnya suara dan makin parahnya kerusakan yang dapat
diakibatkannya pada telinga.
Gambar 7.12 Noise Dosimeter
7.3.9 Mengendalikan Tingkat Kebisingan
Jika tingkat kebisingan diatas 85 dBA untuk shift selama
8 jam, 40 jam per minggu, hukum mengharuskan perusahaan
untuk mengurangi tingkat kebisingan yang ada.
205
a. Pengendalian Teknik di sumber suara adalah cara yang
paling efektif untuk mengurangi tingkat kebisingan. Tindakan
yang harus dilakukan pertama-tama adalah sumber suara
terkeras. Pengendalian teknik yang dapat dikerjakan adalah
sebagai berikut:
1. Mendesain kembali peralatan untuk mengurangi
kecepatan atau benturan dari bagian yang
bergerak, memasang peredam pada lubang
pemasukan dan pembuangan, mengganti
peralatan yang lama dengan peralatan baru yang
mempunyai desain lebih baik.
2. Merawat peralatan dengan baik, mengganti
bagian yang aus dan memberikan pelumas pada
semua bagian bergerak.
3. Mengisolasi peralatan dengan menjauhkannya
dari pekerja, atau menutupinya.
4. Memasang peredam getaran dengan
menggunakan bantalan karet agar bunyi yang
ditimbulkan oleh getaran dan bagian logam dapat
dikurangi; dengan mengurangi ketinggian dari
tempat barang yang jatuh ke bak atau ban
berjalan.
5. Bahan penyerap bunyi dapat digantung di tempat
kerja untuk menyerap bunyi di tempat tersebut
Implementasi prinsip-prinsip pengendalian bahaya untuk
resiko yang disebabkan oleh kebisingan.
Penggantian (substitution)
1. Mengganti mesin-mesin lama dengan mesin baru dengan
tingkat kebisingan yang lebih rendah.
206
2. Mengganti ”jenis proses” mesin (dengan tingkat
kebisingan yang lebih rendah) dengan fungsi proses
yang sama, contohnya pengelasan digunakan sebagai
penggantian proses riveting (gambar 7.13). Proses
riveting ini akan mengakibatkan pelat kerja ketika
mendapat getaran akan mengeluarkan bunyi yang
berisik. Pelat yang digabung menjadi bergetar.
Gambar 7.13 Penggantian Riveting dengan Welding
Pemisahan (separation)
1. Pemisahan fisik
Memindahkan mesin (sumber kebisingan)ke tempat yang
lebih lebih jauh dari pekerja.
2. Pemisahan waktu (time separation)
Mengurangi lamanya waktu yang harus dialami oleh seorang
pekerja untuk berhadapan dengan kebisingan. Rotasi
pekerjaan dan pengaturan jam kerja termasuk dua cara yang
biasa digunakan.
b. Pengendalian administratif untuk mengurangi efek
kebisingan adalah dengan cara:
1. Larangan memasuki kawasan dengan tingkat
kebisingan tinggi tanpa alat pengaman.
207
2. Larangan/peringatan untuk terus mengenakan
personnel protective equipment selama berada di
dalam tempat dengan tingkat kebisingan tinggi.
3. Dengan menggilir pekerja supaya waktu
pemajanan dan tingkat kebisingan yang diterima
oleh pekerja masih sesuai dengan nilai ambang
batas. Misalnya seorang pekerja terkena
pemaparan yang terdiri dari berbagai intensitas
dan waktu yang berbeda, maka rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:
...
C1 C2 Cn
T1 T2 Tn ...........7.1
yang hasilnya tidak melebihi 1
di mana:
C = total waktu pemaparan pada tingkat suara
tertentu
T = total waktu yang diperkenankan
Contoh:
Seorang pekerja bekerja pada 91 dBA selama 3
jam, pada 88 dBA selama 2 jam, 94 dBA selama
1 jam, dan 100 dBA selama 0,5 jam.
Jika dihitung, maka angka pemaparan kumulatif
adalah:
0 ,5
3 2 1
2 4 1 0 , 25
= 5 lebih dari 1
Karena angka pemaparan kumulatif lebih dari 1,
atau melebihi batas yang diperkenankan, maka
208
perlu dilakukan pengaturan waktu pemaparan.
Secara administratif dapat diatur agar pekerja
tersebut hanya bekerja di tempat dengan
kebisingan 91 dBA selama 0,25 jam, 88 dBA
selama 0,5 jam, 94 dBA selama 0,15 jam, dan
100 dBA selama 0,10 jam, sehingga pemaparan
kumulatif menjadi:
0,25 0,50 0,15 0,10
2 4 1 0,25
= 0,8 kurang dari 1
Pengendalian secara administratif ini dapat
dipertimbangkan penggunaannya, akan tetapi
sangat terbatas dalam praktek pelaksanaannya.
c. Pemakaian alat pelindung diri. Langkah yang paling baik
untuk melindungi pendengaran adalah melalui pengendalian
secara teknis. Akan tetapi, cara ini tidak selalu dapat
dilakukan, sehingga alternatif terakhir diperlukan pemakaian
alat pelindung telinga. Tergantung dari jenis, bahan dan cara
pemakaiannya, alat pelindung telinga tersebut dapat
mengurangi kebisingan sampai 30 dBA.
7.4 Pencahayaan
Cahaya merupakan satu bagian berbagai jenis
gelombang elektromagnetis yang terbang ke angkasa.
Gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu,
yang nilainya dapat dibedakan dari energi cahaya lainnya dalam
spektrum elektromagnetisnya.
Cahaya dipancarkan dari suatu benda dengan fenomena
sebagai berikut:
209
Pijar padat dan cair memancarkan radiasi yang
dapat dilihat bila dipanaskan sampai suhu 1000K.
Intensitas meningkat dan penampakan menjadi
semakin putih jika suhu naik.
Muatan Listrik: Jika arus listrik dilewatkan melalui
gas maka atom dan molekul memancarkan radiasi
dimana spektrumnya merupakan karakteristik dari
elemen yang ada.
Electro luminescence: Cahaya dihasilkan jika arus
listrik dilewatkan melalui padatan tertentu seperti
semikonduktor atau bahan yang mengandung
fosfor.
Photoluminescence: Radiasi pada salah satu
panjang gelombang diserap, biasanya oleh suatu
padatan, dan dipancarkan kembali pada berbagai
panjang gelombang. Bila radiasi yang dipancarkan
kembali tersebut merupakan fenomena yang dapat
terlihat maka radiasi tersebut disebut fluorescence
atau phosphorescence.
7.4.1 Definisi dan Istilah yang Dipakai
Dalam pencahayaan ada beberapa istilah yang harus
dipahami. Istilah-istilah yang sering dipakai, yaitu:
Lumen: Satuan flux cahaya; flux dipancarkan didalam
satuan unit sudut padatan oleh suatu sumber dengan
intensitas cahaya yang seragam satu candela. Satu lux
adalah satu lumen per meter persegi. Lumen (lm) adalah
kesetaraan fotometrik dari watt, yang memadukan respon
mata “pengamat standar”. 1 watt = 683 lumens pada
panjang gelombang 555 nm.
Efficacy Beban Terpasang: Merupakan iluminasi/terang
rata-rata yang dicapai pada suatu bidang kerja yang
210
datar per watt pada pencahayaan umum didalam
ruangan yang dinyatakan dalam lux/W/m².
Perbandingan Efficacy Beban Terpasang: Merupakan
perbandingan efficacy beban target dan beban
terpasang.
Luminaire: Luminaire adalah satuan cahaya yang
lengkap, terdiri dari sebuah lampu atau beberapa lampu,
termasuk rancangan pendistribusian cahaya,
penempatan dan perlindungan lampu-lampu, dan
dihubungkannya lampu ke pasokan daya.
Lux: Merupakan satuan metrik ukuran cahaya pada suatu
permukaan. Cahaya rata-rata yang dicapai adalah rata-
rata tingkat lux pada berbagai titik pada area yang sudah
ditentukan. Satu lux setara dengan satu lumen per meter
persegi.
Tinggi mounting: Merupakan tinggi peralatan atau lampu
diatas bidang kerja.
Efficacy cahaya terhitung: Perbandingan keluaran lumen
terhitung dengan pemakaian daya terhitung dinyatakan
dalam lumens per watt.
Indeks Ruang: Merupakan perbandingan, yang
berhubungan dengan ukuran bidang keseluruhan
terhadap tingginya diantara tinggi bidang kerja dengan
bidang titik lampu.
Efficacy Beban Target: Nilai efficacy beban terpasang
yang dicapai dengan efisiensi terbaik, dinyatakan dalam
lux/W/m².
Faktor pemanfaatan (UF): Merupakan bagian flux cahaya
yang dipancarkan oleh lampulampu, menjangkau bidang
kerja. Ini merupakan suatu ukuran efektivitas pola
pencahayaan.
211
Intensitas Cahaya dan Flux: Satuan intensitas cahaya I
adalah candela (cd) juga dikenal dengan international
candle. Satu lumen setara dengan flux cahaya, yang
jatuh pada setiap meter persegi (m2) pada lingkaran
dengan radius satu meter (1m) jika sumber cahayanya
isotropik 1-candela (yang bersinar sama ke seluruh arah)
merupakan pusat isotropik lingkaran. Dikarenakan luas
lingkaran dengan jari-jari r adalah 4 r2, maka lingkaran
dengan jari-jari 1m memiliki luas 4 m2, dan oleh karena
itu flux cahaya total yang dipancarkan oleh sumber 1- cd
adalah 4 1m. Jadi flux cahaya yang dipancarkan oleh
sumber cahaya isotropik dengan intensitas I adalah:
Flux cahaya (lm) = 4 × intensitas cahaya (cd) ... 7.1
Perbedaan antara lux dan lumen adalah bahwa lux
berkenaan dengan luas areal pada mana flux menyebar
1000 lumens, terpusat pada satu areal dengan luas satu
meter persegi, menerangi meter persegi tersebut dengan
cahaya 1000 lux. Hal yang sama untuk 1000 lumens,
yang menyebar ke sepuluh meter persegi, hanya
menghasilkan cahaya suram 100 lux.
7.4.2 Hukum Kuadrat Terbalik
Hukum kuadrat terbalik mendefinisikan hubungan antara
pencahayaan dari sumber titik dan jarak. Rumus ini menyatakan
bahwa intensitas cahaya per satuan luas berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak dari sumbernya (pada dasarnya jari-jari).
E =I/d2 ................................................. 7.2
Dimana
E = Emisi cahaya
I = Intensitas cahaya
D = jarak
212
Bentuk lain dari persamaan ini yang lebih mudah adalah:
E1 d1² = E2 d2² ................................................... 7.3
Jarak diukur dari titik uji ke permukaan yang pertama-tama kena
cahaya – kawat lampu pijar jernih, atau kaca pembungkus dari
lampu pijar yang permukaannya seperti es.
Contoh
Jika seseorang mengukur 10 lm/m² dari sebuah cahaya
bola lampu pada jarak 1 meter, berapa kerapatan flux pada jarak
setengahnya?
Penyelesaian:
E1m = (d2 / d1)² * E2
= (1,0 / 0,5)² * 10
= 40 lm/m²
7.4.3 Jenis-Jenis Sistim Pencahayaan
Bagian ini menjelaskan berbagai jenis dan komponen
sistim pencahayaan.
Lampu Pijar (GLS)
Lampu pijar bertindak sebagai ‘badan abu-abu’ yang
secara selektif memancarkan radiasi, dan hampir seluruhnya
terjadi pada daerah nampak. Bola lampu terdiri dari hampa
udara atau berisi gas, yang dapat menghentikan oksidasi dari
kawat pijar tungsten, namun tidak akan menghentikan
penguapan. Warna gelap bola lampu dikarenakan tungsten yang
teruapkan mengembun pada permukaan lampu yang relatif
213
dingin. Dengan adanya gas inert, akan menekan terjadinya
penguapan, dan semakin besar berat molekulnya akan makin
mudah menekan terjadinya penguapan. Untuk lampu biasa
dengan harga yang murah, digunakan campuran argon nitrogen
dengan perbandingan 9/1. Kripton atau Xenon hanya digunakan
dalam penerapan khusus seperti lampu sepeda dimana bola
lampunya berukuran kecil, untuk mengimbangi kenaikan harga,
dan jika penampilan merupakan hal yang penting. Gas yang
terdapat dalam bola pijar dapat menyalurkan panas dari kawat
pijar, sehingga daya hantar yang rendah menjadi penting. Lampu
yang berisi gas biasanya memadukan sekering dalam kawat
timah. Gangguan kecil dapat menyebabkan pemutusan arus
listrik, yang dapat menarik arus yang sangat tinggi. Jika
patahnya kawat pijar merupakan akhir dari umur lampu, tetapi
untuk kerusakan sekering tidak begitu halnya.
Gambar 7. 14 Lampu Pijar dan Diagram Alir Energi Lampu Pijar
Ciri-ciri:
Efficacy – 12 lumens/Watt
Indeks Perubahan Warna – 1A
Suhu Warna - Hangat (2.500K – 2.700K)
Umur Lampu – 1-2.000 jam
214
Lampu Tungsten – Halogen
Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar. Lampu ini
memiliki kawat pijar tungsten seperti lampu pijar biasa yang
digunakan di rumah, tetapi bola lampunya diisi dengan gas
halogen. Atom tungsten menguap dari kawat pijar panas dan
bergerak naik ke dinding pendingin bola lampu. Atom tungsten,
oksigen dan halogen bergabung pada dinding bola lampu
membentuk molekul oksihalida tungsten. Suhu dinding bola
lampu menjaga molekul oksihalida tungsten dalam keadaan uap.
Molekul bergerak kearah kawat pijar panas dimana suhu tinggi
memecahnya menjadi terpisah-pisah. Atom tungsten disimpan
kembali pada daerah pendinginan dari kawat pijar – bukan
ditempat yang sama dimana atom diuapkan. Pemecahan
biasanya terjadi dekat sambungan antara kawat pijar tungsten
dan kawat timah molibdenum dimana suhu turun secara tajam.
Gambar 7.15 Lampu Halogen Tungsten
Ciri-ciri:
Efficacy – 18 lumens/Watt
Indeks Perubahan Warna – 1A
Suhu Warna – Hangat (3.000K-3.200K)
Umur Lampu – 2-4.000 jam
215
Kekurangan:
Lebih mahal
IR meningkat
UV meningkat
Masalah handling
Kelebihan:
Lebih kompak
Umur lebih panjang
Lebih banyak cahaya
Cahaya lebih putih (suhu warna lebih tinggi)
Lampu Neon
Lampu neon, 3 hingga 5 kali lebih efisien daripada lampu
pijar standar dan dapat bertahan 10 hingga 20 kali lebih awet.
Dengan melewatkan listrik melalui uap gas atau logam akan
menyebabkan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang
tertentu sesuai dengan komposisi kimia dan tekanan gasnya.
Tabung neon memiliki uap merkuri bertekanan rendah, dan akan
memancarkan sejumlah kecil radiasi biru/ hijau, namun
kebanyakan akan berupa UV pada 253,7nm dan 185nm.
Bagian dalam dinding kaca memiliki pelapis tipis fospor,
hal ini dipilih untuk menyerap radiasi UV dan meneruskannya ke
daerah nampak. Proses ini memiliki efisiensi sekitar 50%.
Tabung neon merupakan lampu ‘katode panas’, sebab katode
dipanaskan sebagai bagian dari proses awal. Katodenya berupa
kawat pijar tungsten dengan sebuah lapisan barium karbonat.
Jika dipanaskan, lapisan ini akan mengeluarkan elektron
tambahan untuk membantu pelepasan. Lapisan ini tidak boleh
diberi pemanasan berlebih sebab umur lampu akan berkurang.
Lampu menggunakan kaca soda kapur yang merupakan
pemancar UV yang buruk. Jumlah merkurinya sangat kecil,
biasanya 12 mg. Lampu yang terbaru menggunakan amalgam
merkuri, yang kandungannya sekitar 5 mg. Hal ini menyebabkan
tekanan merkuri optimum berada pada kisaran suhu yang lebih
luas. Lampu ini sangat berguna bagi pencahayaan luar ruangan
karena memiliki fitting yang kompak.
216
Gambar 7.16 Lampu Neon
Gambar 7.17 Diagram Alir Energi Lampu Neon
7.4.4 Komponen Pencahayaan
Luminer/ Reflektor
Elemen yang paling penting dalam perlengkapan cahaya,
selain dari lampu, adalah reflector. Reflektor berdampak pada
banyaknya cahaya lampu mencapai area yang diterangi dan
juga pola distribusi cahayanya. Reflektor biasanya menyebar
(dilapisi cat atau bubuk putih sebagai penutup) atau specular
217
(dilapis atau seperti kaca). Tingkat pemantulan bahan reflektor
dan bentuk reflektor berpengaruh langsung terhadap efektifitas
dan efisiensi fitting. Tabel berikut menggambarkan reflektan
sebagai persentase cahaya.
Tabel 7.2 Reflektan sebagai Persentase Cahaya
Bahan Warna Reflektan (%)
Putih 100
Alumunium, kertas putih 80 – 85
Warna gading, kuning lemon, kuning dalam, hijau 60 – 65
muda, biru pastel, pink, pale, krim
Hijau lime, abu-abu plae, pink, orange dalam, 30 – 35
bluegrey
Biru langit, kayu pale 40 – 45
Pale oakwood, semen kering 30 - 35
Merah dalam, hijau rumput, kayu, hijau daun, coklat 20 – 25
Biru gelap, merah purple, coklat tua 10 - 15
Hitam 0
Tabel berikut menyajikan karakteristik kinerja luminer
yang umum digunakan:
218
Tabel 7.3 Karakteristik Kinerja Pencahayaan dari Luminer yang Umum
digunakan
Jenis Lum / Watt Indeks Penerapan Umur
Lampu Perubahan (Jam)
Kisaran Rata-
Warna
Rata
Lampu 8 - 18 14 Baik sekali Rumah, 1000
pijar restoran,
penerangan
umum
Lampu 46 - 60 50 Lapisan w.r.t Kantor, 5000
neon yang baik pertokoan,
rumah sakit,
rumah
Lampu neon 40 - 70 60 Sangat baik Hotel, 8000 –
kompak pertokoan, 10.000
rumah,
kantor
Merkuri 44 - 57 50 Cukup Penerangan 5000
tekanan tinggi umum di
(HPMV) pabrik,
garasi,
tempat
parkir mobil,
penerangan
berlebihan
Lampu halogen 18 - 24 20 Baik sekali Peraga, 2000 –
penerangan 4000
berlebihan,
arena
pameran,
area
konstruksi
Sodium 67 - 90 Cukup Penerangan 6000 –
tekanan tinggi 121 umum di 12.000
(HPSV) SCN pabrik,
gudang,
penerangan
jalan
219
7.4.5 Dampak Penerangan yang Tidak Baik
Penerangan yang tidak didesain dengan baik akan
menimbulkan gangguan atau kelelahan penglihatan selama
kerja. Pengaruh dan penerangan yang kurang memenuhi syarat
akan mengakibatkan:
1. Kelelahan mata sehingga berkurangnya daya dan effisiensi
kerja.
2. Kelelahan mental.
3. Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala di sekitar
mata.
4. Kerusakan indra mata dan lain-lain.
Selanjutnya pengaruh kelelahan pada mata tersebut akan
bermuara kepada penurunan performansi kerja, termasuk:
1. Kehilangan produktivitas
2. Kualitas kerja rendah
3. Banyak terjadi kesalahan
4. Kecelakan kerja meningkat
7.4.6 Merancang Sistem Pencahayaan
Setiap pekerjaan memerlukan tingkat pencahayaan pada
permukaannya. Pencahayaan yang baik menjadi penting untuk
menampilkan tugas yang bersifat visual. Pencahayaan yang
lebih baik akan membuat orang bekerja lebih produktif.
Membaca buku dapat dilakukan dengan 100 to 200 lux. Hal ini
merupakan pertanyaan awal perancang sebelum memilih tingkat
pencahayaan yang benar. CIE (Commission International de
220
l’Eclairage) dan IES (Illuminating Engineers Society) telah
menerbitkan tingkat pencahayaan yang direkomendasikan untuk
berbagai pekerjaan. Nilai nilai yang direkomendasikan tersebut
telah dipakai sebagai standar nasional dan internasional bagi
perancangan pencahayaan (Tabel diberikan dibawah).
Pertanyaan kedua adalah mengenai kualitas cahaya. Dalam
kebanyakan konteks, kualitas dibaca sebagai perubahan warna.
Tergantung pada jenis tugasnya, berbagai sumber cahaya dapat
dipilih berdasarkan indeks perubahan warna.
Tabel 7.4 Area Kegiatan dan Tingkat Penerangan
Tingkat Area Kegiatan
Penerangan
(Lux)
Pencahayaan umum 20 Layanan penerangan yang
untuk ruangan dan minimum dalam area
area yang jarang sirkulasi luar ruangan,
digunakan dan/atau pertokoan di daerah terbuka,
tugas-tugas atau halaman tempat
visual sederhana penyimpanan
50 Tempat pejalan kaki dan
panggung
70 Ruang boiler
100 Halaman trafo, ruangan
tungku
150 Area sirkulasi di industri,
pertokoan dan ruang
penyimpan
200 Layanan penerangan yang
minimum dalam tugas
300 Meja dan mesin kerja ukuran
sedang, proses umum dalam
industri kimia dan makanan,
kegiatan membaca dan
Pencahayaan umum membuat arsip
untuk interior 450 Gantungan baju,
pemeriksaan, kantor untuk
menggambar, perakitan
mesin dan bagian yang
halus, pekerjaan warna,
tugas menggambar kritis
1500 Pekerjaan mesin dan di atas
meja yang sangat halus,
perakitan mesin presisi kecil
221
dan instrumen; komponen
elektronik, pengukuran dan
pemeriksaan. Bagian kecil
yang rumit (sebagian
mungkin diberikan oleh tugas
pencahayaan setempat)
Pencahayaan 3000 Pekerjaan berpresisi dan rinci
tambahan setempat sekali, misal instrumen yang
untuk tugas visual sangat kecil, pembuatan jam
yang tepat tangan, pengukiran
7.4.7 Pendekatan Aplikasi Penerangan di
Tempat Kerja
Aplikasi penerangan di tempat kerja, secara umum dapat
dilakukan melalui empat pendekatan yaitu:
1. Desain tempat kerja untuk menghindari masalah penerangan
Kebutuhan intensitas penerangan bagi pekerja harus selalu
dipertimbangkan pada waktu mendesain bangunan,
pemasangan mesin-mesin, alat dan sarana kerja. Desain
instalasi penerangan harus mampu mengontrol cahaya
kesilauan, pantulan dan bayang-bayang serta untuk tujuan
kesehatan dan keselamatan kerja
2. Identifikasi dan penilaian problem dan kesulitan penerangan.
Agar masalah penerangan yang muncul dapat ditangani
dengan baik, faktor-faktor yang harus diperhitungkan adalah:
sumber penerangan, pekerja dalam melakukan
pekerjaannya, jenis pekerjaan yang dilakukan dan
lingkungan kerja secara keseluruhan.
3. Penggunaan pencahayaan alami siang hari
Manfaat dari pemakaian cahaya alami pada siang hari sudah
dikenal dari pada cahaya listrik, namun cenderung terjadi
peningkatan pengabaian terutama pada ruang kantor
modern yang berpenyejuk dan perusahaan komersial seperti
hotel, plaza perbelanjaan dll.
222
Sebuah rancangan yang bagus yang
memadukan kaca atap dengan bahan FRP
bersamaan dengan langit-langit transparan dan
tembus cahaya dapat memberikan
pencahayaan bagus bebas silau; langit-langit
juga akan memotong panas yang datang dari
cahaya alami.
Pemakaian atrium dengan kubah FRP pada
arsitektur dasar dapat menghilangkan
penggunaan cahaya listrik pada lintasan
gedung-gedung tinggi.
Cahaya alam dari jendela harus juga
digunakan. Walau begitu, hal ini harus
dirancang dengan baik untuk menghindari
silau. Rak cahaya dapat digunakan untuk
memberikan cahaya alami tanpa silau.
Gambar 7.18 Pencahayaan Siang Hari dengan Polycarbon
223
Gambar 7.19 Atrium dengan Kubah FRP
7.4.8 Pemasangan Lampu Penerangan
Berikut ini ada beberapa pemasangan lampu penerangan
yang tepat dan tidak menimbulkan silau serta bayang/bayang
pada bidang kerja.
Gambar 7. 20 Kombinasi Lampu Utama dan Tambahan
224
Gambar 7.21 Lampu Dipasang di Atas Pekerja
7.5 Getaran
Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau
media dengan arah bolak-balik dari kedudukan keseimbangan.
Getaran terjadi saat mesin atau alat dijalankan dengan motor,
sehingga pengaruhnya bersifat mekanis. Alat untuk mengukur
getaran dinamakan vibrasi meter.
Getaran mekanis dibedakan berdasar jenis pajanannya.
Terdapat 2 bentuk, yaitu:
1. Getaran seluruh badan
Akibat goncangan dari mesin, kendaraan atau traktor
2. Getaran alat lengan atau gerakan pada tangan dan
lengan
225
7.5.1 Pengaruh Getaran
Secara umum getaran yang diterima pekerja akan
mengakibatkan gangguan pada saat bekerja. Pengaruh getaran
itu adalah sebagai berikut:
Gangguan kenikmatan dalam bekerja
Mempercepat terjadinya kelelahan
Gangguan kesehatan
Sedangkan bagian tubuh dari pekerja yang terpapar getaran
meliputi seluruh badan dan pada bagian lengan dan tangan.
Pengaruh getaran pada seluruh badan akan mengakibatkan:
Penglihatan kabur, sakit kepala, gemetaran
Kerusakan organ pada bagian dalam.
Pengaruh getaran pada lengan dan tangan dapat menimbulkan:
Sakit kepala, dan sakit pada persendian dan otot lengan
Indera perasa pada jari-jari menurun fungsinya
Terbentuk noda putih pada punggung jari/telapak tangan
7.5.2 Nilai Ambang Batas (NAB) Getaran
Untuk mengetahui pengaruh getaran terhadap kesehatan
kerja, maka perlu diketahui nilai ambang batas dari getaran ini.
Cara untuk mengetahui nilai ambang batas dilakukan dengan
mengukur getaran yang ada kemudian dibandingkan dengan
NAB yang diijinkan. Berikut ini NAB getaran berdasarkan
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP-51/MEN/1999.
226
Tabel 7.5 Nilai Ambang Batas Getaran untuk Pemajanan Lengan dan
Tangan
Jumlah Waktu Nilai Percepatan Pada Frekuensi Dominan
m/det2
Pemajanan per Hari Gram
Kerja
4 jam - < 8 jam 4 0,4
2 jam - < 4 jam 6 0,61
1 jam - < 2 jam 8 0,81
< 1 jam 12 1,22
7.5.3 Pengendalian Getaran
Pengendalian getaran pada industri ada beberapa cara,
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian Teknis
Memakai peralatan kerja yang rendah intensitas
getarannya (dilengkapi dengan peredam)
Menambah peredam diantara tangan dan alat,
misalnya membalut pegangan alat dengan karet.
Merawat peralatan dengan teratur dengan mengganti
bagian-bagian yang aus atau memberi pelumasan.
Meletakkan peralatan dengan teratur alat yang
diletakkan di atas meja yang tidak stabil dan kuat
dapat menimbulkan getaran di sekelilingnya.
Menggunakan remote control, tenaga kerja tidak
terkena paparan getaran, karena dikendalikan dari
jauh.
2. Pengendalian Administrasi
Dengan cara mengatur waktu kerja, misalnya:
Merotasi pekerjaan. Apabila terdapat suatu
pekerjaan yang dilakukan oleh 3 orang, maka
dengan mengacu pada NAB yang ada, paparan
getaran tidak sepenuhnya mengenai salah
seorang, tetapi bergantian, dari A, B, dan C.
227
ABC ABC ABC
Mengurangi jam kerja, sehingga sesuai dengan
NAB yang berlaku
3. Pengendalian Medis
Pada saat awal, dan kemudian pemeriksaan berkala
setiap 5 tahun sekali. Sedangkan untuk kasus yang
berlanjut, maka interval yang diambil adalah 2 – 3 tahun
sekali.
4. Pemakaian Alat Pelindung Diri
Pengurangan paparan dapat dilakukan dengan
menggunakan sarung tangan yang telah dilengkapi
peredam getar (busa).
7.6 Bau-bauan
Adanya bau-bauan disekitar tempat kerja dapat dianggap
sebagai pencemaran, apalagi kalau bau tersebut sedemikian
rupa sehingga dapat mengganggu konsentrasi bekerja. Bau-
bauan yang terjadi terus menerus bisa mempengaruhi kepekaan
penciuman. Contoh bau di industri, misalnya bau asap
pembakaran batubara, bau limbah industri yang menyengat, dan
sebagainya.
Temperatur dan kelembaban merupakan dua faktor
lingkungan yang mempengaruhi kepekaan penciuman. Untuk
mengatasi masalah bau ini perlu dipasang AC dan ventilasi
supaya terjadi pertukaran udara. Dengan adanya pertukaran
udara / sirkulasi dalam ruangan tersebut baik, maka bau-bauan
tersebut bisa dihilangkan minimal bisa dikurangi.
228
7.7 Radiasi Non-Ionisasi
Radiasi non-ionisasi adalah radiasi dengan energi yang
cukup untuk mengeluarkan elektron atau molekul tetapi energi
tersebut tidak cukup untuk membentuk ion baru. Radiasi ini
berupa gelombang-gelombang elektromagnetik seperti
gelombang-gelombang mikro, ultraviolet, sinar infra merah, dan
sinar laser.
7.7.1 Gelombang Mikro
Istilah gelombang mikro dipergunakan untuk spektrum
gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang antara
3 x 10- 3 sampai 3 x 108 meter atau frekuensi antara 1 x 10- 3
sampai 3 x 1013 Hertz. Kegunaan gelombang ini untuk televisi
,gelombang radio, radar atau kegunaan peralatan industri.
Gelombang mikro dapat berpengaruh terhadap tenaga
kerja yang bekerja di daerah sumber radiasi. Radiasi gelombang
mikro yang pendek (< 1 cm) akan diabsorbsi oleh permukaan
kulit sehingga kulit seperti terbakar. Gelombang mikro yang lebih
panjang (> 1 cm) dapat menembus ke jaringan kulit yang lebih
dalam. Pada frekuensi tertentu dapat berpengaruh terhadap
sistem saraf sentral. Penanganan dengan cara menggunakan
NAB. Sehingga dengan mengetahui NAB maka pihak industri
bisa mengatur jam kerja karyawan. Berikut ini tabel NAB.
229
Tabel 7.6 Nilai Ambang Batas Frekuensi Radio/Gelombang Mikro
Frekuensi Power Kekuatan Kekuatan Rata-rata
Density Medan Medan Waktu
(nW/cm2) Listrik Magnet Pemajanan
(V/m) (A/m) (menit)
30 kHz – 100 kHz - 614 163 6
100 kHz – 3 MHz - 614 16,3/f 6
3 MHz – 30 MHz - 1842/f 16,3/f 6
30 MHz – 100 MHz - 61,4 16,3/f 6
100 MHz – 300 1 61,4 0,163 6
MHz
300 MHz – 3 GHz f/300 - - 6
3 GHz – 15 GHz 10 - - 6
616.000/f1,2
15 GHz – 300 GHz 10 - -
7.7.2 Sinar Ultraviolet
Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang antara
240 nm – 320 nm. Sumber sinar ultraviolet selain sinar matahari,
juga dihasilkan pada kegiatan pengelasan, lampu-lampu pijar,
pengerjaan laser, dan lain-lain.
Pengaruh sinar ultraviolet di lingkungan kerja terutama
terhadap kulit dan mata. Pada kulit dapat mengakibatkan
erythema, yaitu bercak merah yang abnormal pada kulit.
Sedangkan pada mata dapat mengakibatkan fotoelektrika.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menghindari
kemungkinan mata terpapar sinar ultraviolet atau menggunakan
kaca mata yang tidak tembus sinar tersebut.
230
Tabel 7.7 Waktu Pemajanan Radiasi Sinar Ultra Violet yang
Diperkenankan
Iradiasi Efektif ( E eff) – W/cm2
Masa Pemajanan per hari
8 jam 0,1
4 jam 0,2
2 jam 0,4
1 jam 0,8
30 menit 1,7
15 menit 3,3
8 menit 5
5 menit 10
1 menit 50
30 detik 100
10 detik 300
1 detik 3000
0,5 detik 6000
0,1 detik 30000
7.7.3 Sinar Infra Merah
Sinar infra merah dihasilkan dari benda-benda pijar
seperti dapur atau tanur atau bahan-bahan pijar lainnya. Sinar ini
menyebabkan katarak pada lensa mata. Untuk mencegah
gangguan pada mata, antara lain memakai kaca mata kobalt biru
pada waktu menuangkan cairan logam pijar.
7.7.4 Sinar Laser
Sinar laser adalah emisi energi tinggi yang dihasilkan dari
kegiatan pengelasan, pemotongan, pelapisan, alat-alat optis,
pembuatan mesin-mesin mikro dan operasi kedokteran. Bahan
yang digunakan, untuk menghasilkan sinar laser antara lain,
berupa bahan laser gas (helium – Neon, Argon, CO2, N2+) laser
kristal padat (ND3, C23+) dan laser semikonduktor.
Pengaruh utama dari sinar laser terhadap kesehatan
pekerja yaitu terhadap mata dan kulit. Dapat menyebabkan
231
kerusakan mata yang berupa efek termis pada retina, sehingga
terjadi kerusakan retina dan mengakibatkan kebutaan. Untuk
mencegah kelainan kulit, maka batas aman radiasi yaitu 1,0
W/cm2, sedangkan untuk keselamatan mata, batas radiasi
dianggap aman sebesar 0,001 W/cm2 pada diameter pupil 3 mm
dan 0,002 W/cm2 pada diameter pupil 7 mm.
7.8 Ventilasi
Ventilasi industri atau pertukaran udara di dalam industri
merupakan suatu metode yang digunakan untuk memelihara dan
menciptakan udara sesuai dengan kebutuhan proses produksi
atau kenyamanan pekerja. Ventilasi ini juga digunakan untuk
menurunkan kadar suatu kontaminan di udara tempat kerja
sampai batas yang tidak membahayakan bagi keselamatan dan
kesehatan kerja.
7.8.1 Prinsip Sistem Ventilasi
Prinsip sistem ventilasi yang digunakan dalam suatu
industri adalah membuat suatu proses pertukaran udara di
dalam ruang kerja. Pertukaran udara dicapai dengan cara
memindahkan udara dari tempat kerja dan mengganti dengan
udara segar yang dilakukan secara bersama-sama.
Pertukaran udara secara mekanik dilakukan dengan cara
memasang sistem pengeluaran udara (exhaust system) dan
pemasukan udara (supply system) dengan menggunakan fan.
Exhaust system dipasang untuk mengeluarkan udara beserta
kontaminan yang ada di sekitar ruang kerja, biasanya
ditempatkan di sekitar ruang kerja atau dekat dengan sumber
dimana kontaminan dikeluarkan. Supply system dipasang untuk
memasukkan udara ke dalam ruangan, umumnya digunakan
untuk menurunkan tingkat konsentrasi kontaminan di dalam
lingkungan kerja.
232
7.8.2 Tempat Kerja Berbahaya
Terdapat beberapa tempat kerja yang dalam proses
kegiatan di lokasi tersebut merupakan sumber bahaya. Bahaya
tersebut timbul akibat debu yang dihasilkan dari aktivitas proses
produksi dan temperatur panas. Lokasi kerja tersebut yaitu:
Tempat peleburan, penuangan dan pengecoran
logam.
Tempat penimbangan bahan cat, penuangan
larutan, pengadukan bahan cat, dan tempat
pencucian tangki-tangki kotor pada industri cat.
Tempat-tempat solder dan pengelasan pada
industri elektronik.
Tempat pengisian, pengangkutan bahan dengan
menggunakan conveyor pada industri semen.
Tempat pengecatan pada industri otomotif.
Tempat-tempat pengerjaan logam seperti gerinda
logam, pemotongan logam dan penghalusan
permukaan logam.
Tempat dimana bahan-bahan yang sangat
beracun dikerjakan.
Tempat-tempat pengerjaan kayu, penggergajian.
7.8.3 Permasalahan Ventilasi di Industri
Banyak industri kurang memperhatikan sistem ventilasi
dalam menciptakan kondisi lingkungan kerja yang sesuai dengan
kebutuhan proses produksi maupun kenyamanan pekerja. Jika
pemasangan sistem ventilasi tidak tepat dapat menyebabkan
ketidaknyamanan atau bahkan dapat menurunkan kondisi
kesehatan pekerja.
233
Permasalahan yang berkaitan dengan sistem ventilasi di
dalam industri, dimana kondisi lingkungan kerja tidak sesuai
dengan kebutuhan proses produksi dan kenyamanan pekerja,
disebabkan karena:
A. Tidak ada perlengkapan sistem ventilasi
Dengan tidak adanya perlengkapan sistem ventilasi pada
suatu mesin/peralatan waktu proses sedang berlangsung, maka
pengenceran terhadap kontaminan atau panas yang ditimbulkan
oleh sumber akan berlangsung secara alami. Pertukaran udara
secara alami disebabkan kekuatan angin yang masuk melalui
lubang jendela/pintu, pengaruh pertukaran udara lewat ventilasi
atap, atau karena kecepatan dan arah angin. Pancaran debu,
uap logam, ataupun gas sukar untuk dikendalikan hanya dengan
pertukaran udara secara alami.
B. Sistem ventilasi yang ada kurang memadai
a. Pemilihan tipe ventilasi tidak tepat dan tidak sesuai
dengan kebutuhan. Contoh, pada suatu proses dipasang
canopyhood dengan tujuan agar kontaminan yang
dipancarkan dari sumber dapat dikeluarkan dan tidak
mencemari tenaga kerja. Karena cara kerja dari pekerja
yang salah, yaitu di bawah canopyhood dan dekat
dengan sumber kontaminan seperti pada gambar A,
maka selama pekerja melakukan pekerjaan akan selalu
terpapar oleh kontaminan yang dipancarkan oleh sumber.
Tipe ventilasi yang cocok seperti pada gambar B.
234
Gambar 7.22 Pemasangan Canopyhood
b. Pemasangan sistem ventilasi yang tidak tepat. Contoh
gambar C menunjukkan pemasangan sistem ventilasi
tipe slot yang dipasang di bawah tangki proses
pencelupan yang berisi solven yang mudah menguap
(amyl acetate). Tujuan dari pemasangan sistem ventilasi
tipe ini untuk mengamankan lingkungan tempat kerja dari
bahaya kebakaran/ledakan. Namun ditinjau dari
kesehatan dan keselamatan kerja, tipe ini tidak memadai,
karena tenaga kerja akan terpapar oleh amyl acetate.
Untuk itu maka sistem pemasangan ventilasi slot tersebut
harus dipasang di atas dan sejajar dengan permukaan
tangki seperti gambar D.
235
Gambar 7.23 Ventilasi Sistem Slot
c. Pemasangan sistem ventilasi yang tidak sempurna
Apabila udara yang dikeluarkan ke tempat terbuka dari
suatu sistem ventilasi mengandung sejumlah
kontaminan, sedang sistem ventilasi tanpa dilengkapi
dengan alat pembersih seperti scrubber, cyclone, bag
house filter dan lain-lain, kemungkinan udara tersebut
sebagian akan masuk kembali dan mencemari
lingkungan kerja. Demikian pula yang jatuh di luar
industri, meskipun dalam jumlah kecil namun lama
kelamaan akan mengendap dan menumpuk yang
akhirnya menyebabkan gangguan kesehatan
C. Perencanaan Pipa-Pipa (ductwork) yang Tidak Baik
a. Beberapa industri telah memasang sistem ventilasi pada
proses-proses tertentu yang diperkirakan sebagai sumber
dipancarkannya kontaminan, dengan pipa yang
berbentuk segi empat seperti pada gambar E, sedang
bentuk pipa yang baik adalah pipa bulat seperti pada
gambar F.
236
Gambar 7.24 Ductwork
b. Ada pipa-pipa yang harus dibuat membelok (elbow) yang
belum banyak diperhatikan dalam pemasangannya
seperti terlihat pada gambar G. Bentuk elbow yang baik
bila jari-jari elbow lebih besar dari diameter duct, seperti
pada gambar H.
Gambar 7.25 Pipa Membelok
c. Pada pembuatan pipa-pipa cabang, banyak yang berbuat
kekeliruan, seperti pada gambar I. Bentuk pipa-pipa
cabang yang baik bila sudut antara pipa induk dengan
pipa cabang sebesar 300 atau kurang seperti pada
gambar J.
237
Gambar 7.26 Bentuk Pipa Cabang
D. Pemilihan Fan
Banyak perusahaan memasang fan yang tidak tepat, baik
bentuk maupun tenaga yang diperlukan. Akibatnya kekuatan
hisap di dalam duct sangat kecil, demikian pula capture velocity,
sehingga sistem ventilasi ini tidak dapat menghisap seluruh
kontaminan yang dipancarkan dari sumber, bahkan kontaminan
yang ada dihamburkan ke luar dan mencemari udara lingkungan
kerja.
Pemilihan Sistem Ventilasi di Industri
Beberapa contoh tipe sistem ventilasi yang dapat
digunakan untuk keperluan operasi di dalam suatu industri.
A. Comfort Ventilation
Pertukaran udara adalah merupakan suatu cara dimana
bagian dalam suatu ruangan dipanaskan atau didinginkan, atau
mengubah kelembaban udara, untuk mengendalikan suatu
proses atau membuat keadaan menjadi nyaman.
238
Pertukaran udara untuk membuat keadaan menjadi
nyaman dikenal sebagai comfort ventilation. Contoh penggunaan
air condition untuk meningkatkan perasaan nyaman dan enak
selama bekerja. Rasa nyaman dalam hal ini, dipandang suatu
keharusan dari pada suatu kebutuhan.
B. Dilution Ventilation
Beban panas yang tinggi, pancaran gas atau uap atau
kontaminan lain di dalam suatu ruangan dapat dikendalikan
dengan cara memasukkan udara segar ke dalam ruangan
tersebut (terjadi pengenceran), dan menghisap ke luar udara
kontaminan dari lingkungan kerja. Cara ini disebut dilution
ventilation. Cara ini sangat baik untuk mengendalikan beban
panas, sering kali dapat digunakan dan berhasil dengan baik
untuk mengendalikan uap bahan kimia organik di udara tempat
kerja, atau dari larutan-larutan yang menguap pada suhu kamar.
C. Local Exhaust Ventilation
Tujuannya untuk mengeluarkan udara kontaminan dari
sumber tanpa memberi kesempatan kepada kontaminan untuk
mengadakan difusi dengan udara di dalam lingkungan kerja.
Umumnya local exhaust ventilation ditempatkan sangat dekat
dengan sumber emisi. Penggunaannya lebih menguntungkan
dibandingkan dengan dilution ventilation. Dengan menghisap ke
luar kontaminan dari lingkungan kerja dan mengendapkan
kontaminan dalam suatu kolektor, berarti membuat local exhaust
ventilation ditempatkan sangat dekat dengan sumber emisi.
Penggunaannya lebih menguntungkan dibandingkan dengan
dilution ventilation. Dengan menghisap ke luar kontaminan dari
lingkungan kerja dan mengendapkan kontaminan dalam suatu
kolektor, berarti membuat pabrik lebih bersih.
D. Exhausted Enclosure
Kecepatan yang sangat tinggi dari kontaminan yang
dipancarkan dari suatu sumber dan merupakan bahan yang
239
sangat beracun harus dikendalikan dengan proses isolasi, dan
selanjutnya untuk ventilasi pada ruang tersebut dilakukan
menggunakan pengendalian jarak jauh. Tenaga kerja yang
sewaktu-waktu masuk ke ruangan tersebut perlu menggunakan
alat pelindung diri dilengkapi breathing apparatus.
E. Clean Room Ventilation
Beberapa proses industri harus mengusahakan agar
debu di dalam ruangan kerja tetap dalam keadaan biasa seperti
keadaan di luar ruangan adalah merupakan suatu masalah.
Pada pembuatan gyroscopes misalnya, dan juga penggunaan
instrumen lain yang memerlukan akurasi tinggi dikerjakan di
dalam ruangan yang bersih
Sistem pertukaran udara dari beberapa kamar yang
saling berhubungan dipasang filter yang mempunyai efiksiensi
tinggi untuk memberi udara segar yang ditempatkan sedekat
mungkin dengan tempat kerja.
Filter mungkin akan menutup salah satu dinding (sisi
ruangan) atau atap ruangan, dan dibuat lubang di salah satu sisi
atau di lantai ruangan untuk mengeluarkan kontaminan.
Gambar 7.27 Ventilasi di Pabrik
240
Sedangkan gambar di bawah ini adalah contoh dari fan yang ada
di pabrik.
a b
c
Gambar 7.28 Fan (a, b, c)
241
7.9 Bahan Berbahaya Beracun (B3)
Bahan berbahaya khususnya bahan kimia adalah bahan-
bahan yang pada suatu kondisi tertentu dapat menyebabkan
terjadinya kecelakaan, pada setiap tingkat pekerjaan yang
dilakukan (penyimpanan, pengangkutan, penggunaan,
pembuatan dan pembuangan).
Bahan kimia berbahaya dapat dikelompokkan menjadi:
1. Mudah meledak
Bahan kimia ini terdiri padatan atau cairan, atau
campurannya sebagai akibat suatu perubahan (reaksi
kimia, gesekan, tekanan, panas, atau perubahan lainnya)
menjadi bentuk gas yang berlangsung dalam proses
yang relatif singkat disertai dengan tenaga perusakan
yang besar, pelepasan tekanan yang besar serta suara
yang keras.
2. Mudah terbakar
Jika bahan kimia mengalami suatu reaksi oksidasi pada
suatu kondisi tertentu, akan menghasilkan nyala api.
Tingkat bahaya ditentukan dari titik bakarnya. Makin
rendah titik bakar bahan tersebut semakin berbahaya.
3. Beracun
Merupakan bahan kimia dalam jumlah relatif sedikit,
dapat mempengaruhi kesehatan manusia atau bahkan
menyebabkan kematian, apabila terabsorbsi tubuh
manusia melalui injeksi. Sifat racun dari bahan dapat
berupa kronik atau akut dan sering tergantung pada
jumlah bahan tersebut yang masuk ke dalam tubuh.
4. Korosif
Terdiri dari senyawa asam-asam alkali dan bahan-bahan
kuat lainnya. Mengakibatkan kerusakan pada logam-
logam bejana atau penyimpan. Senyawa asam alkali
mengakibatkan luka bakar pada tubuh, merusak mata,
merangsang kulit dan sistem pernafasan.
242
5. Oksidator
Bahan yang sangat reaktif memberikan oksigen. Sering
menyebabkan terjadinya kebakaran dengan bahan-
bahan lainnya.
6. Reaktif
Bahan kimia yang mudah bereaksi dengan bahan lain.
Proses ini diikuti pelepasan panas dan menghasilkan
gas-gas yang mudah terbakar atau keracunan, atau
korosi.
Sifat reaktif dari bahan kimia ini dibedakan menjadi dua
jenis:
Reaktif terhadap air. Mengeluarkan panas dan
gas yang mudah terbakar.
Reaktif terhadap asam. Menghasilkan panas dan
gas yang mudah terbakar atau gas-gas beracun
serta bersifat korosif.
7. Radioaktif
Bahan kimia yang memiliki kemampuan untuk
memancarkan sinar radioaktif seperti: sinar alfa, beta,
gamma, netron. Berbahaya bagi tubuh.
Suatu bahan kimia dikatakan berbahaya apabila memiliki satu
atau lebih sifat-sifat bahaya yang terdapat dalam bahan kimia
tersebut.
7.9.1 Penanganan Bahan Kimia Berbahaya
Cara penanganan zang sering dilakukan adalah melalui
pemahaman sifat-sifat fisik, kimia dan racun dari suatu bahan.
Untuk memudahkan pengenalan dan penanggulangan resiko
bahaya yang mungkin terjadi, maka kita perlu mengetahui:
243
A. Data Bahan Kimia
Data ini meliputi: nama bahan, penggunaan, uraian
bahaya, uraian penanganan, sifat bahan, rumus kimia, sifat fisik,
korosifitas, reaksi-reaksi bahaya, informasi bahan mudah
terbakar, reaktifitas, sifat racun, sifat biologis, pengaruh pajanan
dan informasi radiasi.
Kriteria utama dalam pengenalan sifat bahan kimia
adalah NAB, daerah konsentrasi mudah terbakar (LEL dan UEL),
titik nyala, titik bakar, titik didih dan tingkat bahaya dengan
mengacu pada standar NFPA (National Fire Protection Agency).
B. Tanda dan Label Bahan Kimia Berbahaya
Tanda dan label ini diperlukan apabila bahan-bahan
kimia berbahaya dikemas dalam kemasan, atau diangkut
menggunakan alat transportasi. Pemasangan tanda dan label
pada kemasan bahan kimia berbahaya merupakan salah satu
tindakan pencegahan.
7.9.2 Penyimpanan Bahan Kimia Berbahaya
Usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk menyimpan
bahan kimia berbahaya adalah sebagai berikut:
1. Bahan mudah meledak
Tempat penyimpanan bahan kimia mudah meledak,
udara dalam ruangan harus baik dan bebas dari
kelembaban.
Tempat penyimpanan harus terletak jauh dari bangunan
lainnya, dan jauh dari keramaian untuk menghindarkan
pengaruh korban apabila terjadi ledakan. Ruangan harus
terbuat dari bahan yang kokoh dan tetap dikunci
sekalipun tidak digunakan. Lantai harus terbuat dari
bahan yang tidak menimbulkan loncatan api.
244
Penerangan tempat ini harus terbuat dari penerangan
alami atau listrik anti ledakan.
2. Bahan yang mengoksidasi
Bahan ini kaya oksigen, membantu dan memperkuat
proses pembakaran. Beberapa dari bahan ini membebaskan
oksigen pada suhu penyimpanan, sedangkan yang lain masih
perlu pemanasan. Jika wadah dari bahan ini rusak, isinya
mungkin bercampur dengan bahan yang mudah terbakar dan
merupakan sumber terjadinya nyala api. Risiko ini dapat dicegah
dengan membuat tempat penyimpanan secara terpisah dan
diisolasi.
Penyimpanan bahan kimia yang mengoksidasi kuat dekat
cairan yang mudah terbakar, sangat berbahaya. Untuk
keamanannya, harus menjauhkan semua bahan yang dapat
menyala dari bahan-bahan yang mengoksidasi. Tempat
penyimpanan harus sejuk dan dilengkapi dengan pertukaran
udara yang baik serta bangunan tahan api.
3. Bahan kimia mudah terbakar
Hidrogen, propane, butana, etilene, asetilene, hidrogen
sulfida, gas arang batu dan etana merupakan gas yang mudah
terbakar. Asam sianida dan sianogen dapat terbakar dan
beracun. Bahan kimia cair yang mudah menyala dikelompokkan
atas titik nyalanya.
Tempat penyimpanan harus cukup sejuk, dengan tujuan
mencegah nyala jika uapnya tercampur udara. Daerah
penyimpanan harus terletak jauh dari sumber panas dan
terhindar dari bahaya kebakaran. Dalam penyimpanannya, harus
dipisahkan dari bahan oksidator kuat atau dari bahan yang dapat
terbakar sendiri. Instalasi listrik tempat penyimpanan harus
dihubungkan ke tanah dan diperiksa secara berkala.
245
4. Bahan kimia beracun
Kemasan bahan kimia beracun tidak mungkin dibuat
sempurna, sehingga terjadi kebocoran-kebocoran, dan uap
bahan kimia beracun yang masuk ke udara perlu pertukaran
udara yang baik. Tempat penyimpanan bahan kimia ini harus
sejuk dengan pertukaran udara yang baik, tidak kena sinar
matahari langsung, jauh dari sumber panas dan harus
dipisahkan dengan bahan kimia lainnya.
5. Bahan kimia korosif
Bahan kimia yang bersifat korosif antara lain asam
florida, asam klorida, asam nitrat, asam semut dan asam
perklorat. Bahan ini dapat merusak kemasannya dan bocor
keluar atau menguap ke udara. Bahan yang menguap ke udara
dapat bereaksi dengan bahan organik atau bahan kimia lainnya,
yang bereaksi keras dengan uap air dan menimbulkan kabut
asam yang mengganggu kesehatan tenaga kerja. Bahan ini
harus didinginkan diatas titik bekunya.
Tempat penyimpanan bahan kimia ini harus terpisah dari
bangunan lainnya, terbuat dari dinding dan lantai yang tahan
korosi dan tidak tembus serta dilengkapi fasilitas penyalur
tumpahan.
n faBAGAIMANA BAHAN KIMIA DAPAT MASUK KE
7.9.3 Dampak Jangka Pendek dan Jangka
Panjang
Efek dari bahan kimia beracun terhadap tubuh dapat
terjadi dalam jangka pendek (akut) ataupun jangka panjang
(kronis). Efek yang akut tampak seketika setelah anda
keracunan bahan kimia. Efeknya ada yang ringan, seperti gatal-
gatal di hidung atau tenggorokan atau berat seperti kerusakan
mata atau pingsan karena menghirup asap beracun. Gangguan
kesehatan dari efek yang kronis timbul bertahun-tahun
kemudian. Efek ini biasanya ditimbulkan oleh kontak dengan
bahan berbahaya dalam waktu yang lama. Efeknya biasanya
permanen.
246
Beberapa jenis bahan kimia menyebabkan efek yang
akut dan kronis sekaligus. Contohnya, menghirup uap pelarut
akan menyebabkan kantuk seketika. Jika seseorang menghirup
uap pelarut tersebut dalam waktu yang lama (beberapa tahun)
dapat mengakibatkan rusaknya hati.
Tabel 7.8 Gejala dan Penyebab
Gejala Penyebab
KEPALA: pusing, kantuk Pelarut, cat, ozon, asap (termasuk
rokok)
Mata: merah, berair, gatal, rasa Asap, gas dan uap, debu, radiasi
lelah ultraviolet, cat, cairan pembersih
HIDUNG & TENGGOROKAN: Asap, ozon, pelarut, debu, cat,
bersin-bersin, batuk, radang cairan pembersih
tenggorokan
DADA & PARU-PARU: asma, Debu logam, debu asap, pelarut,
batuk, sesak napas, kanker paru- cat, cairan pembersih
paru
PERUT: mual, muntah, sakit perut Debu logam, pelarut, cat,
menghirup timbal dalam waktu
lama
KULIT: merah, kering, gatal, Pelarut, radiasi, chromium, nikel,
kanker kulit detergen dan cairan pembersih,
cat
SYARAF: tegang, emosi, lesu, Berhubungan dengan pelarut atau
tremor timbal dalam waktu lama,
ALAT REPRODUKSI: Timbal, tluena dan pelarut lainnya,
PRIA: mengurangi jumlah sperma, radiasi, etil oxida
merusak sperma
WANITA: merusak siklus
menstruasi, keguguran, merusak
sel telur atau bayi dalam
kandungan
247
Tabel 7.9 Dosis: Apa yang Mempengaruhi Resiko
Faktor yang menentukan apakah Contoh
pekerja yang berhubungan
dengan bahan kimia akan sakit
Kadar racun dari bahan kimia Semakin beracun suatu bahan,
semakin besar kemungkinan
gangguan kesehatan, bahkan
untuk dosis kecil. Metil alkohol
yang dapat menyebabkan
kebutaan, lebih beracun
dibandingkan dengan etil alkohol,
yang digunakan untuk minuman
beralkohol
Jumlah bahan kimia yang Aseton adalah pelarut yang juga
terkontak dengan pekerja (di dipakai sebagai penghilang cat
udara atau tersentuh kulit atau kuku. Dalam jumlah besar, zat ini
mulut) dapat membahayakan pekerja
Berapa lama pekerja Seseorang mungkin
berhubungan dengan bahan kimia menggunakan bahan kimia yang
tersebut sama selama setengah jam
sehari, yang lain selama 8 jam
sehari. Seseorang mungkin
menggunakan selama sebulan.
Bagaimana proses masuknya Beberapa jenis bahan kimia
bahan kimia ke dalam tubuh seperti pestisida paration sangat
beracun dan dapat masuk ke
tubuh melalui kulit, pernapasan,
atau saluran pencernaan. Asbes
paling berbahaya jika terhirup.
Misalnya, sebuah rumah
menggunakan asbes sebagai
insulasi, namun asbes tersebut
tidak diganggu dan menjadi debu
di udara, dia tidak akan
menyebabkan sakit
Faktor individu (keturunan, ukuran Timbal lebih berbahaya pada
tubuh, umur, perokok atau bukan, anak kecil dibandingkan pada
peminum atau bukan, alergi, orang dewasa karena efeknya
pengaruh bahan kimia lain) pada pertumbuhan otak dan
248
syaraf. Apabila dua orang bekerja
dengan asbes dan salah satunya
perokok, maka si perokok lebih
mudah terserang kanker paru-
paru dibanding yang lain
7.9.4 Label Bahan Kimia
Apa yang diinformasikan label bahan kimia? Label bahan
kimia hanya perlu mencantumkan informasi:
1. Identitas produk, seperti nama dagang bahan tersebut.
2. Peringatan bahaya termasuk jenis bahaya apa yang
ditimbulkannya (contoh: dapat merusak paru-paru atau
ginjal).
3. Nama dan alamat dari pembuat.
Beberapa label mungkin menyertakan informasi tambahan,
menggunakan kata-kata ”awas” atau ”berbahaya bila terhirup”
Contoh:
NATRIUM HIDROKSIDA
SODA API
RACUN ! BERBAHAYA !
DAPAT MENYEBABKAN LUKA BAKAR
MEMATIKAN JIKA TERHIRUP
Jangan terkena mata, kulit, atau pakaian. Hindari menghirup
debunya. Simpan di tempat rapat. Gunakan ventilasi yang
cukup. Cuci tangan setelah bekerja
EFEK JIKA TERLALU BANYAK KONTAK : Jika termakan akan
249
menyebabkan gatal atau luka di mulut. Jika tersentuh kulit atau
mata akan menyebabkan gatal atau luka parah.
PERTOLONGAN PERTAMA : Jika tertelan, jangan dipaksakan
muntah; jika penderita sadar, beri banyak minum. Diikuti dengan
minum cuka encer, sari buah, atau putih telur yang dicampur air.
Jika tersentuh, segera basuh mata atau kulit dengan air selama
15 menit, sambil melepaskan baju dan sepatu yang terkena.
Cuci pakaian tersebut sebelum digunakan kembali.
CAS NO.[1310.73.2]
NATRIUM HIDROKSIDA
Banyak informasi yang seringkali tidak terdapat pada
label bahan kimia, yakni :
1. Apa yang harus dilakukan jika bahan kimia tersebut
tumpah
2. Bagaimana menyimpannya dengan aman
3. Bagaimana melindungi diri sendiri dari efek yang
membahayakan kesehatan
Ingat : Semua produk kimia di tempat kerja seharusnya
mempunyai label. Jika bahan tersebut dituangkan ke tempat
yang lebih kecil dan dibawa ke bagian lain, bahan tersebut harus
diberi label.
7.9.5 Lembar Data Keselamatan Bahan
Lembaran ini berisi informasi tentang karakteristik dan
tingkat keselamatan dari bahan kimia yang dipakai di tempat
kerja. Informasi tersebut biasanya ditulis oleh pemasok atau
pembuat bahan kimia.
Apa yang bisa saya dapatkan dari lembaran data
keselamatan bahan? Lembaran ini dibagi dalam beberapa
bagian. Tiap bagian berisi berbagai informasi tentang suatu
bahan kimia. Tabel di bawah ini menunjukkan informasi-
informasi yang bisa didapat dari lembaran tersebut.
250
Tabel 7.10 Lembar Data Keselamatan Bahan
Pertanyaan Apa yang dicari Bagian dari
lembaran data
Siapa yang Nama perusahaan Bagian I
membuat? pembuat
Bahan apa ini? Identitas isi
Daftar isi
Siapa yang
membuat
Apakah bahan ini Data bahaya
Efek terhadap
dapat mengganggu terhadap kesehatan
tubuh
kesehatan? Gejala bahaya
kanker
Pertolongan
pertama
Apakah bahan ini Bahaya kebakaran
Bahaya
berbahaya? dan ledakan
kebakaran dan
ledakan
Data reaktivitas
Bahan-bahan
lain yang tidak
boleh tercampur
dengannya
Stabilitas bahan
Peringatan khusus
Bagaimana cara Cara mengukur
Peralatan
melindungi diri dari Peringatan khusus
pelindung yang
efek bahan tersebut? Prosedur jika
harus digunakan
tumpah
Cara mengukur
efek
Cara
menggunakan
Bagaimana Peringatan untuk
Penggunaan
menggunakannya? penggunaan dan
dan
penyimpanan.
penyimpanan
Prosedur jika
yang aman
tumpah
Prosedur jika
tumpah dan
kebakaran
Cara
pembuangan
Dimana bisa Bagian I
Nama dan
didapatkan nomor telepon
keterangan lebih
lanjut?
251
7.10 Rangkuman
Pada tempat kerja terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi lingkungan kerja. Faktor tersebut antara lain:
temperatur, kebisingan, pencahayaan, getaran, bau-bauan,
radiasi, B3, dan ventilasi. Faktor-faktor tersebut bisa secara
sendiri-sendiri atau bersama-sama menurunkan tingkat
produktivitas kerja. Karena faktor-faktor tersebut bisa
menimbulkan gangguan terhadap suasana kerja dan
berpengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. Untuk
itu lingkungan kerja perlu dirancang secara nyaman, supaya
pekerja bisa bekerja secara optimal dan produktif.
7.11 Soal
Mengapa temperatur bisa mengakibatkan penurunan
produktivitas kerja.
Sebutkan gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh
temperatur yang sangat panas.
Ada berapa cara untuk mengendalikan lingkungan kerja
yang panas.
Sebutkan gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh
lingkungan kerja yang bising.
Apa yang dimaksud dengan pengendalian teknik untuk
mengurangi tingkat kebisingan.
Bagaimana caranya memanfaatkan pencahayaan alami.
Apa yang dimaksud dengan getaran.
252
Sebutkan gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh
getaran dari mesin.
Sebutkan gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh
tingkat penerangan yang tidak memadai di tempat kerja.
Apa yang dimaksud dengan ventilasi.
253
BAB VIII
ALAT PELINDUNG DIRI
8.1 Pendahuluan
Dalam suatu aktivitas industri, paparan dan risiko bahaya
yang ada di tempat kerja tidak selalu dapat dihindari. Usaha
pencegahan terhadap kemungkinan penyakit akibat kerja dan
kecelakaan kerja harus senantiasa diupayakan.
Apabila beberapa alternatif pengendalian (secara teknik
dan administratif) mempunyai beberapa kendala, pilihan untuk
melengkapi tenaga kerja dengan alat pelindung diri adalah suatu
keharusan. Alat pelindung diri (APD) adalah ” seperangkat alat
yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau
seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya/kecelakaan”. APD
tidaklah secara sempurna dapat melindungi tubuh, akan tetapi
dapat mengurangi tingkat keparahan yang mungkin terjadi.
Pengendalian ini sebaiknya tetap dipadukan dan sebagai
pelengkap pengendalian teknis maupun pengendalian
administratif.
Bab ini akan membahas mengenai bahaya di tempat
kerja, evaluasi bahaya di tempat kerja, aktivitas kerja di industri,
pemilihan APD di tempat kerja, jenis-jenis APD serta perawatan
APD secara umum.
8.2 Bahaya di Tempat Kerja
Bahaya di tempat kerja adalah segala sesuatu di tempat
kerja yang dapat melukai pekerja, baik secara fisik maupun
mental.
254
Bab VIII
Bahaya terhadap keselamatan adalah yang dapat
mengakibatkan kecelakaan dan luka secara
langsung.
Contoh: benda-benda panas dan lantai yang licin.
Bahan kimia berbahaya adalah gas, uap, cairan,
atau debu yang dapat membahayakan tubuh.
Contoh: bahan-bahan pembersih dan pestisida.
Ancaman bahaya lainnya adalah hal-hal
berbahaya, yang belum termasuk dalam kategori
diatas, yang dapat melukai atau mengakibtkan
sakit. Bahaya ini terkadang tidak tampak jelas
karena tidak mengakibatkan masalah kesehatan
dalam waktu dekat.
Contoh: kebisingan, penyakit menular, gerakan
yang berulang-ulang.
Tabel 8.1 Bahaya di Tempat Kerja
BAHAN KIMIA ANCAMAN BAHAYA TERHADAP
BERBAHAYA BAHAYA KESELAMATAN
LAINNYA
Pelarut/pembersih Kebisingan Listrik
Asam/bahan yang Radiasi Kebakaran/ledakan
menyebabkan iritasi
Debu (asbes, silika, Gerakan yang Mesin-mesin tanpa
kayu) berulang-ulang pelindung
Logam berat (timah Posisi tubuh yang Mengangkat benda-
hitam, arsenik, air tidak nyaman benda yang berat
raksa)
Polusi udara Panas / dingin Pengaturan tempat
kerja (berantakan,
penyimpanan barang
yang tidak baik)
Pestisida Penyakit menular Kendaraan bermotor
Resin Stres / pelecehan
Beban kerja /
irama kerja
255
Bab VIII
8.3 Evaluasi Bahaya di Tempat Kerja
Aktivitas utama dalam mengevaluasi bahaya di tempat
kerja adalah :
a. Pengamatan di lokasi terhadap proses produksi
dan cara kerja.
b. Wawancara dengan pekerja dan supervisor.
c. Survai terhadap lingkungan kerja, peralatan, dan
pekerja.
d. Penelaahan terhadap dokumen yang diperlukan
dari perusahaan.
e. Pengukuran dan monitor terhadap efek bahaya
bagi pekerja.
f. Pembandingan dari hasil monitor terhadap
peraturan yang ada dan/atau merekomendasikan
petunjuk mengenai batas-batas yang harus diikuti
untuk meningkatkan keselamatan kerja
8.4 Aktivitas Kerja di Industri
Berikut ini aktivitas-aktivitas kerja di industri yang rawan
terhadap kecelakaan kerja. Kondisi rawan kecelakaan kerja ini
bisa terjadi karena lingkungan kerja yang berisiko misalnya
lingkungan kerja yang sangat panas, menggunakan alat-alat
yang berbahaya serta tidak adanya alat pelindung diri pada
industri yang bersangkutan. Lingkungan kerja seperti pada
gambar di bawah ini sangat rawan terhadap kecelakaan kerja.
Pada gambar tersebut diperlihatkan para pekerja pada industri
pengecoran logam. Pekerja pada industri ini bekerja tanpa
memakai alat pelindung diri, padahal kondisi kerjanya berkaitan
dengan benda-benda yang sangat panas.
256
Bab VIII
Gambar 8.1 Peleburan Logam
Pekerja sedang bekerja di tungku peleburan logam. Kondisi kerja
yang cukup panas dan logam yang meleleh ini juga sangat
menyilaukan mata. Sementara pekerja tidak memakai APD
seperti: sarung tangan, sepatu, dan kacamata.
Gambar 8.2 Pande Besi
257
Bab VIII
Pekerja pande besi ini juga rawan terkena kecelakaan kerja.
Misalnya tangan terkena api atau percikan bara. Kondisi kerja
seperti ini mengharuskan pekerja untuk memakai APD supaya
bisa menghindarkan dari bahaya yang diakibatkan oleh
pekerjaan.
Gambar 8.3 Pekerjaan Las
Sedangkan gambar 8.3 menunjukkan seorang pekerja
sedang mengelas. Pekerjaan las ini rawan terhadap bahaya
panas dan api dari las juga sangat menyilaukan mata. Oleh
karena itu pekerja harus memakai sarung tangan dan perisai
muka.
Gambar 8.4 menggambarkan seorang pekerja sedang
menggerinda besi. Resiko bahaya yang ditimbulkan dari
pekerjaan ini adalah suara yang bising. Suara bising yang terus
menerus bisa mengakibatkan gangguan pendengaran pada
pekerja tersebut. Supaya pekerja bisa menghindari resiko, maka
pekerja ketika melakukan pekerjaannya harus memakai tutup
telinga.
258
Bab VIII
Gambar 8.4 Menggerinda
8.5 Pemilihan APD di Perusahaan
Langkah-langkah yang penting diperhatikan sebelum
menentukan APD yang akan digunakan adalah:
1. Inventarisasi potensi bahaya yang dapat terjadi
Langkah ini sebagai langkah awal agar APD yang
digunakan sesuai kebutuhan.
2. Menentukan jumlah APD yang akan disediakan
Jumlah tenaga kerja yang terpapar langsung menjadi
prioritas utama. Dalam menentukan jumlah bergantung
pula pada jenis APD yang digunakan sendiri-sendiri atau
APD yang dapat dipakai bergiliran.
3. Memilih kualitas/mutu dari APD yang akan digunakan
Penentuan mutu akan menentukan tingkat keparahan
kecelakaan/penyakit akibat kerja yang dapat terjadi.
Penentuan mutu suatu APD dapat dilakukan melalui
proses pengujian di laboratorium.
259
Bab VIII
APD yang telah dipilih hendaknya memenuhi ketentuan-
ketentuan sebagai berikut:
Dapat memberikan perlindungan terhadap bahaya.
Berbobot ringan.
Dapat dipakai secara fleksibel (tidak membedakan jenis
kelamin).
Tidak menimbulkan bahaya tambahan.
Tidak mudah rusak.
Memenuhi ketentuan dari standar yang ada.
Pemeliharaan mudah.
Penggantian suku cadang mudah.
Tidak membatasi gerak.
Rasa tidak nyaman tidak berlebihan.
Bentuknya cukup menarik.
8.6 Jenis-Jenis APD
Jenis-jenis APD yang paling banyak dan sering dipakai di
perusahaan. Peralatan APD ini, misalnya: helm, topi, kacamata,
perisai muka, dan lain sebagainya. Berikut ini penjelasan APD
dan gambarnya.
260
Bab VIII
8.6.1 Alat Pelindung Kepala
Topi pelindung (helm). Berguna untuk melindungi kepala
dari benda-benda keras yang terjatuh, pukulan, benturan kepala,
dan terkena arus listrik.
Gambar 8.5 Pekerja Memakai Helm
Sedangkan model helm atau topi pengaman ini, banyak sekali
jenisnya. Gambar di bawah ini memperlihatkan jenis-jenis helm
261
Bab VIII
Gambar 8.6 APD Helm
8.6.2 Hats/Cap
Berguna untuk melindungi kepala (rambut) dari kotoran
debu mesin-mesin berputar. Biasanya terbuat dari katun.
Gambar 8.7 APD Hats/Cap
262
Bab VIII
8.6.3 Kacamata
Berguna untuk melindungi mata dari partikel-partikel
kecil, debu dan radiasi gelombang elektromagnetik, kilatan
cahaya atau sinar yang menyilaukan. Digunakan pada tingkat
bahaya yang rendah.
Gambar 8.8 Pekerja Memakai Kacamata
Macam-macam bentuk kacamata ada pada gambar di bawah
Gambar 8.9 APD Kacamata
263
Bab VIII
8.6.4 Goggles
Digunakan untuk melindungi mata dari gas, uap, debu
dan percikan larutan kimia. Bahan dapat terbuat dari plastik yang
transparan dengan lensa yang dilapisi kobalt untuk melindungi
bahaya radiasi gelombang elektromagnetik non ionisasi dan
kesilauan atau lensa yang terbuat dari kaca yang dilapisi timah
hitam untuk melindungi dari radiasi gelombang elektromagnetik
dan mengion.
Gambar 8.10 Pekerja Memakai Goggles
Gambar di bawah ini memperlihatkan berbagai bentuk goggles
yang ada di pasaran.
264
Bab VIII
Gambar 8.11 APD Goggles
8.6.5 Perisai Muka
Digunakan untuk melindungi mata atau muka. Dapat
dipasang pada helm atau pada kepala langsung. Dapat pula
dipegang dengan tangan.
265
Bab VIII
Gambar 8.12 Pekerja Memakai Perisai Muka
Berikut ini macam/macam APD perisai muka. Biasanya APD
perisai muka banyak dipakai untuk pekerjaan las.
266
Bab VIII
Gambar 8.13 APD Perisai Muka
8.6.6 Alat Pelindung Telinga
Berguna untuk mengurangi intensitas suara yang masuk
ke dalam telinga. Alat pelindung ini ada dua yaitu: ear plug dan
ear muff.
Gambar 8.14 Pekerja Memakai Pelindung Telinga
267
Bab VIII
APD telinga ini dibagi menjadi dua macam, yaitu: ear plug dan
ear muff.
Sumbat telinga (Ear Plug)
Dapat mengurangi intensitas suara 10 s/d 15 dB.
Dibedakan oleh dua jenis, yaitu:
Ear plug sekali pakai (disposable plug)
Terbuat dari kaca halus (glass down), plastik yang
dilapisis glass down, lilin yang berisi katun wool, busa
plyurethane. Ear plug jenis ini biasanya disediakan beberapa
buah untuk satu periode bagi seorang pekerja.
Gambar 8.15 Ear Plugs Sekali Pakai
268
Bab VIII
Reusable Plug
Terbuat dari plastik yang dibentuk permanen atau karet.
Untuk jenis ini ear plug dicuci setiap selesai digunakan dan
disimpan dalam tempat yang steril. Kelebihan ear plug
dibandingkan ear muff adalah mudah untuk dibawa dan
disimpan karena kepraktisannya. Ear plug tidak mengganggu
apabila digunakan bersama-sama dengan kacamata dan helm.
Gambar 8.16 Reusable Plug
269
Bab VIII
Tutup Telinga (Ear Muff)
Alat ini dapat melindungi bagian luar telinga (daun
telinga) dan alat ini lebih efektif dari sumbat teling, karena dapat
mengurangi intensitas suara hingga 20 s/d 30 dB. Terbuat dari
cup yang menutupi daun telinga. Agar tertutup rapat, pada tepi
cup dilapisi dengan bantalan dari busa.
Gambar 8.17 Macam-macam Ear Muff
270
Bab VIII
8.6.7 Alat Pelindung Pernapasan
Berguna untuk melindungi pernapasan terhadap gas,
uap, debu atau udara yang terkontaminasi di tempat kerja yang
dapat bersifat racun, korosi ataupun rangsangan. Alat pelindung
pernapasan ini ada dua, yaitu: masker dan respirator.
Masker
Masker untuk melindungi debu/partikel-partikel yang lebih
besar yang masuk ke dalam pernapasan, dapat terbuat dari kain
dengan ukuran pori-pori tertentu.
Gambar 8.18 Pekerja Memakai Masker
271
Bab VIII
Respirator
Respirator, berguna untuk melindungi pernapasan dari
debu, kabut, uap logam, asap dan gas.
Gambar 8.19 Pekerja Memakai Respirator
Gambar di bawah ini memperlihatkan jenis-jenis respirator yang ada di
pasaran.
272
Bab VIII
Gambar 8.20 APD Respirator
Sedangkan bagian-bagian respirator ada pada gambar 8. 21 di
bawah ini.
273
Bab VIII
Gambar 8. 21 Bagian-Bagian Respirator dan Cara Pemakaian
274
Bab VIII
8.6.8 Alat Pelindung Tangan
Berguna untuk melindungi tangan dan bagian-bagiannya
dari benda-benda tajam/goresan, bahankimia (padat/larutan),
benda-benda panas/dingin atau kontak arus listrik. Sarung
tangan dapat terbuat dari karet (melindungi tangan dari paparan
bahan kimia dan arus listrik), kulit (melindungi tangan dari benda
tajam, goresan), kain/katun (melindungi tangan dari benda
panas/dingin atau goresan). Sarung tangan untuk mengurangi
dari paparan getar yang tinggi adalah sarung tangan kulit yang
dilengkapi dengan bahan peredam getar (busa).
Sarung Tangan untuk Mekanik
Sarung tangan ini dipakai untuk pekerjaan permesinan.
Berikut ini beberapa model sarung tangan untuk mekanik:
Gambar 8.22 Sarung Tangan Mekanik
275
Bab VIII
General Purpose Gloves
Jenis dari general purpose gloves ini banyak sekali,
diantaranya sebagai berikut:
Gambar 8.23 General Purpose Gloves
Sarung Tangan untuk Pekerjaan Kimia
Pemakaian sarung tangan untuk pekerjaan yang
berkaitan dengan zat-zat kimia memerlukan bahan yang khusus.
276
Bab VIII
Sarung tangan ini harus mampu melindungi tangan dari zat-zat
kimia tersebut. Bahan harus tidak tembus, berikut ini model dari
sarung tangan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan zat-zat
kimia.
Gambar 8.24 Sarung Tangan untuk Pekerjaan Kimia
277
Bab VIII
8.6.9 Alat Pelindung Kaki
Berguna untuk melindungi kaki dan bagian-bagiannya
dari benda-benda terjatuh. Benda-benda tajam/potongan kaca,
larutan kimia, benda panas dan kontak listrik. Dapat terbuat dari
kulit yang dilapisi asbes atau Cr (bagi pekerja pengecoran
logam/baja) Sepatu keselamatan kerja yang dilengkapi dengan
baja di ujungnya dan sepatu karet anti hantaran listrik.
Gambar 8.25 Pekerja Memakai Sepatu
Berikut ini model sepatu keselamatan kerja yang bisa dipakai
oleh para pekerja.
278
Bab VIII
279
Bab VIII
Gambar 8. 26 APD Sepatu
280
Bab VIII
8.6.10 Pakaian Pelindung
Berguna untuk menutupi seluruh atau sebagian dari
percikan api, panas, suhu, dingin, cairan kimia, dan minyak.
Bahan dapat terbuat dari kain dril, kulit, plastik, asbes atau kain
yang dilapisi alumunium. Bentuknya dapat berupa apron
(menutupi sebagian tubuh yaitu mulai dada sampai lutut),
celemek atau pakaian terusan dengan celana panjang dan
lengan panjang.
Gambar 8.27 Pekerja Memakai Pakaian Pelindung
Berikut ini model pakaian pelindung
281
Bab VIII
Gambar 8.28 Model Pakaian Pelindung
8.6.11 Sabuk Pengaman
Berguna untuk melindungi tubuh dari kemungkinan
terjatuh, biasanya digunakan pada pekerjaan konstruksi dan
memanjat tempat tinggi. Alat ini terdiri dari tali pengaman dan
harus dapat menahan beban seberat 80 kg. Berikut ini beberapa
gambar sabuk pengaman dan carabin.
Gambar 8.29 Safety Harneses
282
Bab VIII
Sedangkan gambar di bawah ini merupakan perlengkapan yang
lainnya.
Gambar 8.30 Roofers and Construction Fall Protection Kits
Gambar 8.31 Anchorage Connectors
283
Bab VIII
Gambar 8.32 Carabiners
8.6.12 Alat Pelindung Untuk Pekerjaan Las
Peralatan pelindung yang dipakai pada pekerjaan las
yaitu: sarung tangan, perisai muka, kacamata las, dan jaket.
Berikut ini gambar dari peralatan tersebut.
Sarung Tangan
Sarung tangan dipakai untuk melindungi tangan dari
panas. Berikut ini sarung tangan untuk pekerjaan las.
284
Bab VIII
Gambar 8.33 Sarung Tangan Untuk Pekerjaan Las
Perisai Muka
Alat ini dipakai untuk melindungi muka dari percikan api
dan melindungi mata dari silau. Berikut ini beberapa model
perisai muka.
285
Bab VIII
Gambar 8.34 Perisai Muka
286
Bab VIII
Kacamata Las
Kacamata las dipakai untuk melindungi mata dari
percikan api dan silau dari sinar api las. Model kacamata las
seperti gambar di bawah ini.
Gambar 8.35 Kacamata Las
Jaket
Jaket dipakai untuk menahan panas pada tangan dan
tubuh akibat panas pengelasan. Berikut ini model jaket untuk
pekerjaan las.
287
Bab VIII
Gambar 8.36 Model Jaket Las
8.6.13 Alat Pelindung Lutut / Knee Pads
Berguna untuk melindungi tempurung lutut dari benturan
ketika bekerja. Berikut ini gambar pelindung lutut
Gambar 8.37 Model Pelindung Lutut
288
Bab VIII
8.6.14 Back and Lumbar Support Belts
Alat ini dipakai untuk melindungi pinggang dan tulang
belakang. Alat ini dipakai ketika pekerja mengangkat atau
mendorong beban. Berikut ini beberapa alat back and lumbar
support belts.
Gambar 8.38 Back and Lumbar Support Belts
289
Bab VIII
8. 7 Pemeliharaan APD
Secara umum pemeliharaan APD dapat dilakukan antara
lain dengan:
1. Mencuci dengan air sabun, kemudian dibilas dengan air
secukupnya. Terutama untuk helm, kaca mata, ear plug,
sarung tangan kain/kulit/karet
2. Menjemur di panas matahari untuk menghilangkan bau,
terutama pada helm.
3. Mengganti filter/cartridge nya untuk respirator.
8.8 Rangkuman
Dalam suatu aktivitas industri, paparan atau risiko
bahaya yang ada di tempat kerja tidak selalu dapat dihindari.
Oleh karena itu langkah yang paling aman adalah memakai
APD. APD adalah seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja
untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya
potensi bahaya atau kecelakaan kerja. Bahaya di tempat kerja
adalah segala sesuatu di tempat kerja yang dapat melukai
pekerja, baik secara fisik maupun mental.
Jenis-jenis APD banyak macamnya, antara lain alat
pelindung kepala, alat pelindung mata dan muka, alat pelindung
telinga, alat pelindung pernapasan, alat pelindung tangan, alat
pelindung kaki, pakaian pelindung, sabuk pengaman, alat
pelindung untuk pekerjaan las, alat pelindung lutut, dan back and
lumbar support belts. Alat pelindung kepala terdiri dari helm dan
topi. Alat pelindung mata dan muka terdiri dari: kacamata,
goggles, perisai muka. Alat pelindung telinga ada dua macam,
yaitu ear plug dan ear muff. Alat pelindung pernapasan ada dua,
masker dan respirator. Alat pelindung tangan adalah sarung
290
Bab VIII
tangan. Alat pelindung untuk pekerjaan las meliputi: sarung
tangan, perisai muka, jaket, dan kacamata las.
8.9 Soal
Apakah alat pelindung diri itu.
Sebutkan potensi bahaya pada industri pengecoran
logam.
Sebutkan potensi bahaya pada pekerjaan pengelasan.
Alat pelindung diri apa saja yang dibutuhkan pada
pekerjaan las.
Alat pelindung diri apa saja yang dibutuhkan mekanik
pada lomba balap mobil formula 1.
291
Bab VIII
BAB IX
STASIUN KERJA KOMPUTER
9.1 Pendahuluan
Pemakaian komputer saat ini sudah jauh berbeda
dibandingkan dengan 7 hingga 10 tahun yang lalu. Hampir
semua aspek pekerjaan baik di sektor bisnis dan perkantoran
maupun industri telah memanfaatkaan dukungan teknologi dan
perangkat komputer dengan karakteristik masing-masing. Faktor
kecepatan, kemudahan dan efisiensi menjadi daya tarik untuk
memanfaatkan teknologi komputer.
Gambar 9.1 Perangkat Komputer
Frekuensi dan durasi/waktu interaksi kita dengan
komputer akan semakin bertambah. Frekuensi dan durasi
192
Bab IX
interaksi ditentukan juga dengan jenis pemakaian, pekerjaan
atau profesi dari pemakai komputer tersebut.
Meningkatnya interaksi antara pekerja dengan perangkat
komputer di satu sisi menggembirakan. Karena penyelesaian
pekerjaan dengan komputer akan menjadi efektif dan efisien.
Pemakaian komputer di samping menguntungkan, juga harus
diwaspadai dampaknya terhadap kesehatan. Meskipun
kesehatan kerja dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi bagi
orang yang memiliki intensitas pemakaian komputer tinggi,
komputer menjadi faktor penyebab gangguan kesehatan paling
tinggi.
Bab ini akan membahas gangguan kesehatan akibat
pemakaian komputer yang salah, cara-cara mengatasi gangguan
kesehatan tersebut dan panduan penataan workstation komputer
sesuai kaidah ergonomi. Dengan mempelajari bab ini para siswa
mengetahui ancaman kesehatan akibat penggunaan komputer
yang salah, mengetahui cara mengatasi gangguan kesehatan,
dan mengetahui peralatan-peralatan pada komputer yang sesuai
dengan kaidah ergonomi.
9.2 Gangguan Kesehatan Pemakaian
Komputer
Gangguan kesehatan yang disebabkan oleh intensitas
pemakaian komputer cenderung pada gangguan atau cidera
tingkat rendah. Cidera ini muncul dalam jangka waktu yang lama
akibat proses yang salah dan berulang dalam waktu lama ketika
menggunakan komputer. Gangguan kesehatan yang umum
terjadi meliputi gangguan saraf, gangguan penglihatan, cidera
otot dan pergelangan, dan lain-lain. Gangguan tersebut rata-rata
diakibatkan kurangnya aliran darah serta ketegangan di bagian
tubuh tertentu secara terus menerus dan berulang. Gangguan
kesehatan akibat pemakaian komputer yang salah dapat
dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
193
Bab IX
9.2.1 Gangguan Pada Bagian Mata dan Kepala
Gangguan pada bagian mata dan kepala sering disebut
dengan computer vision syndrome, mulai dari nyeri atau sakit
kepala, mata kering dan iritasi, mata lelah, hingga gangguan
yang lebih serius dan lebih permanen. Gangguan pada mata
yang lebih serius seperti kemampuan fokus mata menjadi lemah,
penglihatan kabur (astigmatisma, myopi, presbyopi), pandangan
ganda, hingga disorientasi warna.
9.2.2 Gangguan Pada Lengan dan Tangan
Gangguan pada bagian lengan dan telapak tangan mulai
nyeri pada pergelangan tangan karena gangguan pada otot
tendon di bagian pergelangan, nyeri siku, hingga cidera yang
lebih serius seperti Carpal Tunnel Syndrome (CTS). CTS yaitu
terjepitnya syaraf di bagian pergelangan yang menyebabkan
nyeri di sekujur tangan. CTS harus segera diatasi sebelum
terlambat, karena pada stadium lanjut tindakan operasi harus
dilakukan. Berikut ini gambar CTS.
Gambar 9.2 Carpal Tunnel Syndrome
194
Bab IX
Penyebab CTS adalah sebagai berikut:
Pekerjaan berulang-ulang.
Pemakaian tenaga berlebihan
Tekanan terus-menerus
Getaran
Berikut ini beberapa aktivitas mengetik dengan keyboard yang
bisa menyebabkan CTS.
Gambar 9.3 Aktivitas yang Menyebabkan CTS
195
Bab IX
9.2.3 Gangguan Pada Leher, Pundak dan
Punggung
Kelompok gangguan lainnya berupa nyeri pada bagian
leher, pundak, punggung dan pinggang. Nyeri di bagian ini
sering pula mengakibatkan gangguan nyeri di bagian paha dan
betis.
9.3 Cara Menanggulangi Gangguan
Kesehatan/Kelelahan
Ada beberapa cara/latihan yang bisa dikerjakan untuk
menghindari gangguan kesehatan seperti menghindari CTS dan
untuk menghindari kelelahan.
9.3.1 Menghindari CTS
CTS ini terjadi pada daerah tangan, maka aktivitas untuk
menghindari CTS juga berkaitan dengan daerah tangan. Gambar
9.4 berikut ini menunjukkan gerakan-gerakan yang dilakukan
tangan untuk menghindari CTS.
9.3.2 Menghindari Kelelahan
Tenaga kerja yang bekerja dengan menggunakan
komputer sering merasa lelah dan cepat bosan. Kondisi ini kalau
tidak segera diatasi bisa menurunkan produktivitas kerja. Rasa
lelah muncul karena tenaga kerja bekerja secara monoton.
Pekerja bekerja menghadap ke layar monitor komputer secara
terus menerus. Berikut ini beberapa cara untuk mengatasi dan
mengurangi rasa lelah yang dialami oleh operator komputer.
196
Bab IX
Gambar 9.4 Gerakan Tangan Untuk Menghindari CTS
197
Bab IX
Rasa Lelah pada Bahu
Rasa lelah pada bahu ini terjadi karena operator bekerja
dengan kondisi bahu yang statis. Kondisi statis mengakibatkan
bahu menjadi tegang dan akhirnya muncul rasa lelah dan sakit
pada kedua bahu.
Cara Mengatasi
Angkat kedua bahu sampai mendekati telinga, tahan dan
ulangi. Lakukan gerakan ini beberapa kali, kemudian pelan-pelan
gerakan bahu secara melingkar pada satu arah, kemudian
lakukan sebaliknya (gambar 9.5)
Gambar 9.5 Gerakan Bahu
Supaya bahu terasa lebih rileks maka operator komputer
perlu melakukan gerakan sebagai berikut:
1. Duduk dengan punggung lurus pada kursi.
198
Bab IX
2. Bernafas secara teratur akan mengangkat bahu pada
setiap tarikan nafas.
3. Kemudian hembuskan nafas akan membuat bahu
menjadi rileks.
Gambar 9.6 Bernafas dan Mengontrol Sikap Tubuh
Rasa Lelah pada Leher
Operator komputer sering mengalami rasa sakit di leher
dan kepala. Kondisi ini terjadi karena operator terus menerus
melihat layar monitor.
Cara Mengatasi
Gerakan kepala ke arah belakang sampai posisi dagu
tegak sejajar dengan lantai. Cara ini baik untuk otot sekitar leher,
199
Bab IX
untuk membantu leher dan bahu berada dalam keadaan lurus
(gambar 9.7)
Gambar 9.7 Penarikan Leher
Rasa Lelah pada Punggung Bagian Tengah
Operator komputer sering mengalami rasa lelah dan sakit
pada posisi punggung bagian tengah. Rasa lelah ini semakin
cepat terjadi apabila operator menggunakan kursi dan meja
komputer yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ergonomi.
Misalnya meja yang terlalu tinggi atau kursi yang terlalu rendah.
Cara Mengatasi
Tarik punggung dengan siku. Sama artinya dengan
menekan tulang belikat bersama-sama. Tahan sebentar,
kemudian bentangkan kedua lengan di sekitar badan seperti
hendak merangkul (gambar 9.8)
200
Bab IX
Gambar 9.8 Rangkulan Bertekanan Pada Punggung Bagian Tengah
Rasa Lelah pada Pergelangan Tangan
Aktivitas pekerjaan dengan menggunakan komputer
sering menimbulkan rasa sakit pada pergelangan tangan.
Kondisi ini terjadi karena posisi keyboard tidak sejajar dengan
tangan.
Cara Mengatasi
Pertama-tama, gerakan tangan secara melingkar dengan
pelan, pertama di satu arah, kemudian sebaliknya. Berikutnya,
regangkan lengan bawah dengan menggerakkan telapak tangan
menurun kemudian naik (Gambar 9.9)
Gambar 9.9 Perputaran dan Peregangan Pergelangan Tangan
201
Bab IX
Rasa Lelah pada Jari Tangan
Operator komputer sering mengalami rasa sakit pada jari-
jari tangan. Hal ini disebabkan penggunaan jari tangan untuk
menekan tut keyboard.
Cara Mengatasi
Kepalkan jari dan tahan untuk beberapa detik, kemudian
regangkan jari tersebut. Ulangi beberapa kali, dan selesaikan
mengguncangkan tangan dan jari dengan lemah lembut (
gambar 9.10)
Gambar 9.10 Kepalan dan Regangan Jari
Rasa Lelah pada Pinggang
Operator komputer yang duduk dalam jangka waktu
cukup lama akan mengalami rasa sakit pada pinggang.
Cara Mengatasi
Berdiri dengan kaki meregang secara terpisah pada
suatu jarak yang nyaman, dan letakkan tangan pada punggung
202
Bab IX
bagian bawah. Regangkan secara lemah lembut dengan arah
melengkung, tahan dan kembali memposisikan badan tegak
lurus (gambar 9.11)
Gambar 9.11 Regangan Punggung Bagian Bawah
Rasa Lelah pada Pergelangan Kaki
Posisi duduk statis yang dilakukan operator komputer
mengakibatkan rasa lelah pada pergelangan kaki. Kondisi ini
kalau dibiarkan dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan
kesemutan pada kaki.
Cara Mengatasi
Gerakkan kaki melingkar dengan perlahan-lahan.
Lakukan pada satu arah dan kemudian sebaliknya. Gerakkan
kaki dengan gerakan menunjuk dan lenturkan. Ulangi pada satu
kaki lainnya (gambar 9.12)
203
Bab IX
Gambar 9.12 Gerakan Melingkar, Melentur dan Menunjuk pada Mata
Kaki
Gangguan pada Mata
Masalah yang sering dialami oleh operator komputer
adalah gangguan pada mata. Operator komputer dalam
melakukan pekerjaan banyak menggunakan mata untuk melihat
obyek pada layar monitor komputer. Rasa tidak nyaman pada
mata meliputi rasa pedih, gatal dan pandangan jadi kabur.
Cara Mengatasi
Penyembunyian
Tutupkan tangan pada mata serta tahan selama satu
menit. Istirahat ini melindungi mata dari cahaya.
204
Bab IX
Gambar 9.13 Penyembunyian
Mengejapkan
Sering mengejapkan mata akan membantu mata menjadi
lembab. Gerakan mengejapkan mata juga dapat membantu
mencegah rasa gatal dan membantu membersihkan mata.
Gambar 9.14 Mengejapkan Mata
205
Bab IX
Pemfokusan Kembali
Mengubah pemandangan di layar pada suatu obyek
sejauh 20 kaki
Gambar 9.15 Pemfokusan Kembali
9.4 Peralatan Pada Stasiun Kerja
Komputer
Peralatan yang dipergunakan pada stasiun kerja
komputer ini meliputi: mouse, keyboard, layar / monitor, meja
komputer. Masing-masing dari peralatan tersebut jenisnya
bermacam-macam.
206
Bab IX
9.4.1 Mouse
Mouse ini merupakan alat untuk menggerakkan kursor.
Bentuk mouse ini juga mengalami perubahan bentuk. Perubahan
bentuk itu untuk mengakomodasikan kenyamanan bagi
pengguna. Berikut ini gambar mouse yang banyak beredar di
pasar Indonesia serta gambar mouse yang beredar di pasar luar
negeri.
Gambar 9.16 Mouse
9.4.2 Layar Komputer
Layar komputer atau monitor adalah peralatan untuk
menampilkan obyek yang akan ditampilkan. Obyek tersebut bisa
tulisan, angka, ataupun gambar. Bentuk layar komputer juga
terus mengalami perubahan. Gambar berikut memperlihatkan
bentuk layar monitor.
207
Bab IX
Gambar 9.17 Monitor
9.4.3 Keyboard
Keyboard adalah peralatan untuk input. Perkembangan
bentuk keyboard saat ini juga mengikuti kaidah-kaidah ergonomi.
Gambar 9.18 Keyboard
208
Bab IX
9.4.4 Meja Komputer
Meja komputer ini merupakan peralatan untuk
meletakkan layar monitor, CPU, keyboard dan printer.
a
b
Gambar 9.19 Meja Komputer (a, b)
209
Bab IX
9.5 Sikap Kerja Tidak Benar
Operator komputer sering bekerja dengan posisi tubuh
tidak sesuai dengan prinsip ergonomi. Akibatnya operator
komputer ini akan merasa cepat lelah. Kondisi ini kalau dibiarkan
dalam jangka waktu yang cukup lama akan berdampak pada
kesehatan. Berikut ini beberapa postur kerja tidak sesuai dengan
kaidah ergonomi.
Gambar 9.20 Posisi Kerja Membungkuk
Posisi kerja seperti gambar di atas, menurut prinsip
ergonomi adalah cara kerja yang salah. Posisi kerja ini
mengakibatkan rasa sakit pada tengkuk, bahu dan punggung.
Gambar 9.21 di bawah ini memperlihatkan posisi kerja yang
dipaksakan untuk duduk tegak. Dengan posisi duduk tegak tapi
letak monitor ada di bawah, menyebabkan operator harus
memaksa kepala untuk menunduk. Dalam waktu yang lama,
akan menimbulkan rasa sakit pada leher.
210
Bab IX
Gambar 9.21 Posisi Kerja Duduk Tegak dengan Kepala Menunduk
Letak keyboard yang terlalu jauh ini mengakibatkan posisi
tangan ketika mengetik harus menjangkau ke depan (gambar
9.22). Kondisi ini mengakibatkan rasa lelah pada lengan bagian
atas.
Gambar 9.22 Letak Keyboard Terlalu Jauh
211
Bab IX
Keyboard terlalu dekat menyebabkan rasa lelah pada
lengan atas karena waktu mengetik lengan atas harus
menggantung selain itu posisi lengan bawah menjadi tidak
alamiah.
Gambar 9.23 Letak Keyboard Terlalu Dekat
9.6 Pengaturan Stasiun Kerja Komputer
Mengoperasikan komputer dengan menerapkan prinsip-
prinsip ergonomi merupakan cara yang tepat dalam menghindari
ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan ini pada akhirnya akan
menimbulkan gangguan kesehatan. Berikut ini panduan cara
kerja dan pengaturan tempat maupun perangkat kerja yang akan
menghindarkan dari ketidaknyamanan mengoperasikan
komputer.
212
Bab IX
9.6.1 Tempat Kerja
Bagaimana mengatur elemen atau komponen tempat
kerja sehingga sesuai dengan kebutuhan merupakan faktor
paling penting untuk mendapatkan kondisi kerja yang nyaman.
Pikirkan dan tentukan bagaimana layout dan posisi terbaik
perangkat kerja yang diperlukan. Bagaimana memanfaatkan
tempat kerja secara efektif. Langkah ini akan dapat menghemat
waktu dan tenaga dalam menyelesaikan pekerjaan.
Pastikan bahwa:
Cukup tempat di meja untuk menata posisi yang paling
nyaman untuk CPU, monitor, keyboard, mouse, printer,
penyangga buku, dan piranti lainnya.
Atur meja dengan mempertimbangkan bagaiamana
perangkat itu akan digunakan. Perangkat paling sering
digunakan seperti mouse, tempatkan di posisi paling
mudah dijangkau.
Atur pencahayaan ruang kerja secara optimal. Cahaya
terlalu kuat mengakibatkan tampilan monitor tidak tajam.
Cahaya rendah potensi menyebabkan gangguan pada
mata. Hindari lampu yang menyorot langsung ke monitor
karena akan memunculkan pantulan di layar. Usahakan
posisi sejajar terhadap jendela, jangan berhadapan atau
membelakangi.
Buku, laporan, atau bahan cetakan yang diperlukan
dalam bekerja sebaiknya diletakkan di dekat monitor.
Bisa di bawah atau disampingnya.
213
Bab IX
9.6.2 Keyboard
Sebagai perangkat input, perangkat ini mutlak diperlukan
dan selalu kita pegang ketika kita bekerja dengan komputer.
Untuk pemakaian yang nyaman usahakan dalam posisi sebagai
berikut:
Posisikan keyboard sehingga lengan anda dalam posisi
relaks dan nyaman, lengan bagian depan dalam posisi
horizontal.
Pundak dalam posisi relaks tidak tegang dan terangkat
ke atas.
Pergelangan tangan harus lurus, tidak menekuk ke atas
atau ke bawah.
Ketika mengetik tangan harus ikut bergeser ke kiri kanan
sehingga jari tidak dipaksa meraih tombol-tombol yang
dimaksud.
Jangan memukul tombol, tekan tombol secara halus
sehingga tangan dan jari tetap relaks.
Perimbangkan untuk memanfaatkan keyboard ergonomik
yang dirancang untuk dapat diatur sesuai ukuran jari dan
posisi lengan.
Manfaatkan fitur shortcut dan macro untuk melakukan
suatu aktivitas di komputer. Misal; Ctrl + C untuk
menyimpan. Shortcut / macro akan mampu mengurangi
aktivitas penekanan tombol. Seperti penjelasan di atas,
postur dan posisi yang salah dalam pemakaian keyboard
maupun mouse potensi menyebabkan gangguan CTS.
214
Bab IX
Gambar 9.24 Keyboard QWERTY
Keyboard paling baik bagi kebanyakan orang adalah
keyboard standar QWERTY yang ada di semua komputer. Lay
out keyboardnya membuat kebanyakan pengguna memencet
tombol tanpa menyimpangkan pergelangan tangan antara satu
dengan yang lain.
Operator komputer dengan bahu yang besar atau gemuk
sekali mungkin kesulitan dalam menggunakan keyboard
QWERTY. Karena jenis tubuh ini cenderung memaksa siku
untuk keluar, hal ini akan mengubah posisi netral pergelangan
tangan (gambar 9.25).
215
Bab IX
Gambar 9.25 Orang Gemuk dengan Keyboard QWERTY
Untuk pekerja dengan jenis tubuh ini, keyboard alternatif
seperti keyboard split mungkin sangat tepat. Sebelum mengganti
keyboard, yakinkan bahwa alternatif tersebut akan mengurangi
penyimpangan pergelangan tangan (gambar 9.26)
Gambar 9.26 Keyboard Split
216
Bab IX
Pergelangan tangan harus lurus seperti menggambar
garis-garis khayal melalui pusat siku, meluas melalui ujung jari
dan pergelangan tangan. Garis-garis khayal harus paralel
dengan lantai. Papan keyboard harus menghilangkan legs dan
harus pada ketinggian tertentu agar dapat menjaga lengan
bawah paralel dengan lantai (gambar 9.27)
Gambar 9.27 Posisi Papan Keyboard
9.6.3 Mouse
Tempatkan mouse dekat dan di permukaan yang sama
dengan keyboard, sehingga dapat diraih dan digunakan
tanpa harus meregangkan tangan ke posisi yang
berbeda.
217
Bab IX
Pegang mouse secara ringan dan klik dengan tegas.
Gerakkan mouse dengan lengan, jangan hanya dengan
pergelangan. Jangan tumpukan pergelangan atau lengan
bagian depan di meja ketika menggerakkan mouse .
Untuk jenis rolling-ball mouse, bersihkan secara periodik
karena mouse yang kotor akan mengganggu pergerakan
kursor dan menyebabkan pergelangan tangan menjadi
tegang.
Pertimbangkan untuk menggunakan scroll-point mouse,
sehingga gerakan scrolling di layar dapat lebih mudah
dilakukan.
Gunakan optical mouse untuk memperoleh gerakan
kursor yang lebih presisi. Pekerjaan di bidang CAD/grafis
sebaiknya menggunakan mouse jenis ini. Usaha untuk
mengarahkan kursor secara presisi akan cenderung
meningkatkan ketegangan di otot lengan dan bahu.
Gambar 9.28 Perluasan Peregangan Tangan yang Tidak Diinginkan
Peralatan input non keyboard harus dipilih berdasarkan
pada pekerjaan dan yang memberikan kenyamanan, sikap
netral. Bayangkan, sebuah garis digambar melalui pusat
pergelangan tangan. Garis ini harus paralel dengan lantai.
Gambar 9.28 memeragakan perluasan pergelangan tangan yang
tidak diinginkan.
218
Bab IX
Gambar 9.29 ini memeragakan sikap pergelangan yang
baik dalam menggunakan mouse, trackball dan touchpad.
Peralatan input harus dilokasikan segera di sebelah kanan atau
kiri keyboard, pada ketinggian yang sama dengan keyboard dan
masih dalam jangkauan yang dekat seperti keyboard.
Gambar 9.29 Posisi Pergelangan Tangan yang Baik
219
Bab IX
9.6.4 Monitor
Posisi layar monitor sedemikian rupa sehingga dapat
meminimalkan pantulan cahaya dari lampu, jendela atau
sumber cahaya lain. Apabila tidak memungkinkan untuk
mengatur posisi layar monitor, pertimbangkan untuk
memasang filter di depan layar monitor.
Untuk kenyamanan, atur monitor sehingga mata sama
tingginya dengan tepi atas layar, sekitar 5-6 cm di bawah
bagian atas casing monitor. Monitor yang terlalu rendah
akan menyebabkan leher dan pundak nyeri.
Atur posisi sehingga jarak anda dan monitor berkisar 50 –
60 cm. Monitor yang terlalu dekat mengakibatkan mata
tegang, cepat lelah, dan potensi gangguan penglihatan.
Posisi monitor tepat lurus di depan anda, jangan sampai
memaksa kepala anda menoleh untuk melihat layar.
Sedikit tengadahkan monitor sehingga bagian atas
monitor sedikit ke belakang.
Atur level brightness dan contrast monitor senyaman
mungkin. Jangan terlalu redup, jangan terlalu terang.
Ketika kondisi cahaya di ruang berubah, sesuaikan lagi
brightness dan contrast monitor.
Bersihkan layar monitor secara periodik. Layar yang kotor
akan menimbulkan efek pantulan dan tampilan buram.
Apabila anda mengalami kesulitan untuk melihat tampilan
layar dengan jarak 50 – 60 cm, coba besarkan tampilan
atau resolusi layar. Apabila resolusi 1024 x 768 terlalu
kecil, ubah ke 800 x 600. Atur warna dan ukuran font
apabila perlu.
220
Bab IX
Gambar 9.30 Posisi Monitor Terhadap Mata
9.6.5 Kursi
Kursi salah satu komponen penting di tempat kerja anda.
Kursi yang baik akan mampu memberikan postur dan sirkulasi
yang baik dan akan membantu menghindari ketidaknyamanan.
Pilih kursi yang nyaman, dapat diatur, dan memiliki penyangga
punggung.
Pengaturan Kursi
Paha anda dalam posisi horizontal dan punggung bagian
bawah atau pinggang anda terdukung. Tanpa ini,
punggung dan pinggang anda berpotensi mendapatkan
gangguan.
221
Bab IX
Bila kursi kurang dapat diatur, bagian bawah punggung
dapat dibantu dengan diberi bantal.
Telapak kaki harus dapat menumpu secara rata di lantai
ketika duduk dan ketika menggunakan keyboard. Apabila
tidak dapat maka kursi mungkin terlalu tinggi dan perlu
memanfaatkan penyangga kaki.
Kadang-kadang ubah posisi duduk selama bekerja
karena duduk dalam posisi tetap dalam jangka lama akan
mempercepat ketidaknyamanan.
Gambar 9.31. Posisi Duduk yang Baik
222
Bab IX
9.6.6 Penopang Kaki
Kaki harus ditopang dan paha setidaknya paralel dengan
lantai. Kondisi ini akan membantu menjaga paha dan lutut pada
sudut 90 derajat. Jika kursi ditinggikan dan kaki tidak lagi
menyentuh lantai, maka penopang atau ganjalan kaki
direkomendasikan untuk membawa lantai tersebut menyentuh
kaki. Sebaiknya ganjalan kaki dibuat dengan permukaan anti
selip, yang mempunyai berat cukup agar posisinya tidak
berubah-ubah. Cukup luas untuk mengakomodasi kedua kaki.
Gambar 9.32 Penopang Kaki
223
Bab IX
Tujuan penopang kaki ini adalah:
a. Memberikan suatu sandaran untuk kaki bagi orang
bertubuh pendek.
b. Menyediakan variasi posisi untuk kaki pada saat berdiri
c. Memberikan dukungan pada salah satu kaki dengan
waktu tertentu sebagai variasi.
9.6.7 Bantalan Punggung
Tujuan dari bantalan punggung ini untuk melindungi
bagian bawah tulang belakang. Idealnya, perlindungan terhadap
tulang belakang bagian bawah harus sudah menjadi bagian dari
kursi itu sendiri. Pada desain kursi yang ergonomis, terdapat
bagian kursi yang dapat digerakan secara memutar pada
berbagai macam sudut.
Gambar 9.33 Bantalan Punggung
224
Bab IX
9.6.8 Pemegang Dokumen
Pemegang dokumen dapat membantu dalam
penempatan material yang tepat. Juga, menjaga obyek yang
sering digunakan dalam jarak jangkauan yang nyaman.
Gambar 9.34 Pemegang Dokumen
9.6.9 Tudung Pelindung
Pelindung ini untuk mengurangi cahaya yang
menyilaukan atau pantulan cahaya pada layar komputer. Tudung
pelindung merupakan suatu metode untuk menangani sumber
pantulan cahaya yang terjadi, karena alat ini mampu mengurangi
kecerahan dan ketajaman gambar dari layar.
225
Bab IX
Gambar 9.35 Tudung Monitor
9.7 Pandangan Menyilaukan
Pandangan menyilaukan yang terjadi pada layar monitor
dapat juga menjadi suatu masalah jika hal ini menyebabkan
mata membuat penyesuaian yang tidak disadari dari pemantulan
itu. Memperkecil atau menghapuskan pandangan menyilaukan
adalah penting, dan bisa dilakukan dengan beberapa cara.
1. Sedikit meningkatkan atau menurunkan atau memutar
suatu monitor dapat menyebabkan pandangan
menyilaukan berkurang banyak.
2. Lihat barang-barang yang menyebabkan pandangan
menyilaukan dan memantulkan cahaya dalam bidang visi
( seperti bingkai gambar yang terbuat dari gelas/kaca,
potongan yang besar barang-barang perhiasan, dan
sebagainya) dan hilangkan barang-barang seperti itu.
3. Penutup jendela (kerai, korden) diperkenankan tetapi
perlu disesuaikan ketika terjadi perubahan cahaya.
226
Bab IX
Gambar 9.36 Sumber Silau
Sumber gangguan cahaya meliputi:
1. Jendela
2. Cahaya dari belakang
3. Lampu lantai
4. Cahaya dari komputer lain
5. Kaca
6. Cahaya langit
227
Bab IX
9.8 Cara Berkomputer
Berikut ini pedoman untuk bekerja dengan menggunakan
fasilitas komputer.
Variasi dalam bekerja dan istirahat atau break secara
periodik. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan kelelahan
dan ketidaknyamanan. Ikuti aturan 20/20/20, yaitu setiap 20
menit bekerja, break selama 20 detik, dengan alihkan
pandangan ke jarak 6 meter.
Mengambil napas merupakan fungsi yang otomatis, tetapi
ketika berkonsentrasi di depan layar monitor cenderung
sering menahan napas, terlebih apabila pekerjaan diburu
waktu. Ambil beberapa detik untuk menarik napas panjang.
Jangan lupa kedipkan mata saat memandang layar
komputer. Ketika memandang layar monitor, kita cenderung
lebih jarang berkedip daripada ketika kita bekerja dalam
jarak dekat lainnya, misal: menulis surat di kertas, dan lain-
lain. Berkediplah dengan penuh dan sering. Bisa
dipertimbangkan juga untuk memasang reminder atau
pengingat di layar.
9.9 Kebisingan dan Radiasi
Perangkat komputer merupakan perangkat elektronis
yang telah didesain untuk digunakan di lingkungan perkantoran
yang tenang. Standar kebisingan yang aman untuk pemakaian
perangkat elektronik adalah 40-45 dB di jarak 1 m dari sumber.
Untuk perangkat komputer saat ini, sumber kebisingan utama
lebih pada CPU. Dahulu monitor CRT memegang peran penting
sebagai sumber kebisingan, tetapi saat ini monitor hadir dengan
sweep rate frekuensi tinggi (30 Khz atau lebih) hingga monitor
LCD yang lebih tenang dan ramah. Kebisingan dari CPU
228
Bab IX
sebagian besar disebabkan suara colling fan baik cooling fan
power unit, processor, display adapter dan piringan harddisk.
Langkah antisipasi tentunya adalah pemilihan perangkat
yang memenuhi standar kebisingan yang ditetapkan. Khususnya
untuk perangkat CPU rakitan, perlu dicermati aspek ini. Untuk
perangkat yang telah kita miliki, dapat dipertimbangkan untuk
menata letak CPU sehingga dapat mengurangi tingkat
kebisingannya.
Radiasi dari perangkat komputer lebih pada komponen
VDT atau Visual Display Terminal dalam hal ini monitor. Seperti
halnya televisi, radiasi berupa gelombang elektromagnetik
dihasilkan dari monitor, dari bagian CRT (Cathode ray tubes)
dan komponen elektronis lainnya. Tetapi berdasarkan riset,
kontribusi radiasi baik jenis ionizing maupun no-ionizing dari
pemakaian perangkat VDT (monitor) selama rata-rata 8 jam/hari
sangatlah kecil dibandingkan dengan kontribusi radiasi dari
consumer product lainnya.
9.10 Rangkuman
Sekarang ini pemakaian komputer sudah merambah ke
segala bidang. Tidak ketinggalan bidang manufaktur juga
menggunakan fasilitas komputer, misalnya mesin CNC. Perlu
diperhatikan juga bahwa penggunaan komputer yang tidak tepat
bisa menyebabkan gangguan kesehatan.
Gangguan kesehatan pada pemakaian komputer ini
meliputi: gangguan pada bagian mata dan kepala, gangguan
pada lengan dan tangan, gangguan pada leher, pundak dan
punggung. Cara yang paling efektif untuk mengurangi gangguan
ini adalah dengan menerapkan prinsip ergonomi dalam
mengatur stasiun kerja komputer ini.
229
Bab IX
9.11 Soal
Sebutkan kesalahan-kesalahan yang selama ini saudara
lakukan ketika mengoperasikan komputer.
Apa yang saudara rasakan/keluhkan ketika
mengoperasikan komputer.
Apakah saudara sudah merasa nyaman menggunakan
meja komputer saat ini.
Apakah saudara merasa nyaman dengan bentuk
keyboard komputer saat ini
Coba sekarang terapkan prinsip-prinsip ergonomi untuk
mengatur peralatan komputer yang anda miliki.
230
Bab IX
LAMPIRAN BAB 9
KURSI
Tipe (pabrikan/jenis): ____________________
Tinggi Kursi
Apakah tinggi kursi sudah sesuai? Ya Tidak
Bagaimana? ____________________________________
Alas Kursi
1. Apakah alas kursi condong ke belakang? Ya Tidak
Ke depan ? Ya Tidak
Bagaimana ?____________________________________
2. Apakah tepi kursi bagian depan condong ke bawah ?
Ya Tidak
Sandaran Kursi
1. Apakah sandaran kursi condong ke belakang? Ya Tidak
ke depan? Ya Tidak
(catatan: beberapa kursi, bagian alas dan sandaran terhubung)
2. Apakah tinggi sandaran kursi sudah sesuai ? Ya tidak
Bagaimana ?______________________
3. Adakah penyesuaian tekanan pada sandaran kursi? Ya tidak
Bagaimana ? ________________________
4. Adakah peralatan yang dapat memberikan kenyamanan
terpasang pada kursi ? Ya tidak
231
Bab IX
Sandaran Lengan
Catatan : sandaran lengan dapat menjadi pilihan untuk
orang-orang tertentu. Hati-hati, sebaiknya, sandaran lengan tidak
menghalangi kursi jika didekatkan dengan meja atau keyboard.
Apakah sandaran lengan tersedia pada kursi ? Ya tidak
Dapatkah sandaran lengan tersebut digerakkan? Ya tidak
Apakah sandaran lengan tersebut fleksibel ? Ya tidak
Stabilitas/Mobilitas
Apakah dasar kursi anda mempunyai 5 cabang ? Ya tidak
Apakah cabang tersebut stabil? Ya tidak
Apakah cabang tersebut dapat diputar? Ya tidak
Apakah cabang tersebut dapat digerakkan dengan mudah ?
Ya tidak
Komentar tambahan :_____________________
232
Bab IX
Keyboard dan Papan Keybord
Model/tipe : ________________________________________
Seberapa tebal keyboard bila diukur dari
Tepi bawah __________________
Tepi atas ____________________
Dapatkah sudut perputaran papan keyboard disesuaikan?
Ya Tidak
Jika Ya, bagaimana caranya?_____________
Dimanakah keyboard Anda ditempatkan?
1. Permukaan meja? Ya Tidak
Apakah tepi keyboard mengelilingi atau melapisi?_____
2. Nampan keyboard yang dapat disesuaikan
Bagaimana cara penyesuainnya? Pos Neg
Komentar :_________________________________________
Monitor
Model/tipe : ____________________________
Apakah tinggi monitor dapat disesuaikan ? Ya Tidak
Jika Ya, bagaimana caranya?___________
Apakah sudut putaran monitor bisa disesuaikan ? Ya Tidak
Jika Ya, bagaimana caranya?___________
Kendali pada monitor ? Tingkat kecerahan _____________
Kontras _____________________
Warna ______________________
Dapatkah monitor dipindahkan pada area kerja jika diperlukan ?
Ya Tidak
Komentar:......................................................................
233
Bab IX
234
Bab IX
235
Bab IX
DAFTAR PUSTAKA
Alexander, David C., 1986, The Practice and Management of Industrial
Ergonomics New Jersey : Prentice Hall Inc.
A.M., Madyana., 1996, Analisis Perancangan Kerja., Jilid 1,
Yogyakarta, Penerbit Universitas Atma Jaya
Bridger, R. S., 1995, Introduction to Ergonomics. New York: McGraw-
Hill
Chaffin, Don B., Anderson, Gunnar B.J., 1991, Occupational
Biomechanics, Second Edition, New York, John Wiley & Sons.Inc
DHHS (NIOSH) Publication.1997, Musculoskeletal Disorders and
Workplace Factors : A Critical Review of Epidemiologic Evidence
for Work-Related Musculoskeletal Disorders of the Neck, Upper
Extremity, and Low Back, U.S. Department of Health And
Human Services
Fagarasanu, M and Kumar, S., 2002, Measurement instrument and
Data Collection of Construct and Bias in Ergonomics Research,
INDUSTRIAL ERGONOMICS. 30 (2002). Page 355-369.
Herjanto, Eddy., 1999, Manajemen Produksi & Operasi, Edisi Kedua,
Jakarta, Grasindo
Kansal, A., Pennathur, A., Mital, A. 1999, Nonfatal Occupational
injuries in The United States Part II - Back Injurtes. INDUSTRIAL
ERGONOMICS. 25 (1999). Page 131-150.
Karhu, O., Harkonen, R., Sorvali, P. and Vepsailanen, P., 1981,
Observing Working Posture in Industry: Example of OWAS
Application, APPLIED ERGONOMICS. 12 (1981). Page 13-17.
Kroemer, Karl H.E., Kroemer, Anne D., 2001, Office Ergonomics, New
York, Taylor & Francis
236
Leclerc, A., Niedhammer, I., Sandret, N., Roy, O.H., 1999, Manual
Material Handling and Related Occupational Hazards: A National
Survey in France.,INDUSTRIAL ERGONOMICS. 24 (1999).
Page 365-377
McCormick, E.J. and M.S, Sanders. Human Factors in Engineering
and Design 7th ed. New York : McGraw-Hill Inc, 1993.
Nurmianto, Eko.,1996, Ergonomi, Konsep Dasar Dan Aplikasinya,
Edisi Pertama, Jakarta, Guna Widya
Panero, Julius., Zelnik, Martin., 2003, Dimensi Manusia & Ruang
Interior, Jakarta, Erlangga
Pulat, B.M., Alexander, David C., 1992, Industrial Ergonomics Case
Studies, Singapore, McGraw-Hill, Inc
Pulat, B Mustafa., 1992, Fundamentals of Industrial Ergonomics,
Oklahoma, School of Industrial Engineering University of
Oklahoma
Purnomo, Hari., 2004, Perencanaan & Perancangan Fasilitas,
Yogyakarta, Graha Ilmu
Suma’mur, P.K., 1984, Higine Perusahaan dan Kesehatan Kerja.
Jakarta: CV Masagung
Suhardi, Bambang., Astuti, R.D., Jatmiko, Brury., 2005, Analisis
Pengaruh Kebisingan, Temperatur dan Pencahayaan Terhadap
Produktivitas Kerja Pengeleman Amplop Secara Manual,
Penelitian Jurusan Teknik Industri UNS, Unpublished
Suhardi, Bambang., Astuti, R.D., Triyono, 2006, Analisis Sikap Kerja
Pekerja Manual Material Handling UD. Tetap Semangat Dengan
Metode OWAS, Surakarta, Penelitian Jurusan Teknik Industri
UNS, Unpublished
Suhardi, Bambang., Astuti, R.D., Purwaningtyas, Yunita., 2007,
Perancangan Sikap Kerja Manual Material Handling di Bagian
Gudang PT. Sukoharjo Makmur Abadi Dengan Metode OWAS
237
dan Rula, Surakarta, Penelitian Jurusan Teknik Industri UNS,
Unpublished
Suhardi, Bambang., Astuti, R.D., Handayani, Indri., 2007,
Perancangan Kursi Operator Mesin Inspeksi Dengan
Pendekatan Antropometri, Surakarta, Penelitian Jurusan Teknik
Industri UNS, Unpublished
Suhardi, Bambang., Astuti, R.D., Kuswidianto, Aries., 2007, Usulan
Rancangan Meja dan Kursi Operator Bor Stasiun Handwork
Dengan Pendekatan Antropometri, Surakarta, Penelitian Jurusan
Teknik Industri UNS, Unpublished
Sutalaksana dkk., 2006, Teknik Tata Cara Kerja, Bandung, Jurusan
Teknik Industri ITB
Suzaki, Kiyoshi., 1992, Tantangan Industri Manufaktur, Penerapan
Perbaikan Berkesinambungan, Jakarta, PQM Consultants
Tambunan, Sihar Tigor Benjamin., 2005, Kebisingan di Tempat Kerja
(Occupational Noise), Yogyakarta, Penerbit Andi
Tarwaka, Solichul Bakri, Lilik Sudiajeng. Ergonomi Untuk
Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktifitas. Surakarta:
Uniba Press, 2004
Tim Penulis, 2003, Bunga Rampai, Hiperkes & KK, Semarang, BP
Undip
Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu.
Surabaya: Guna Widya 1995
238
DAFTAR ISTILAH
Antropometri = Pengetahuan yang menyangkut pengukuran
tubuh manusia khususnya dimensi tubuh
= Sikap kerja yang salah, canggung, di luar
Awkward posture
Kebiasaan, dan beresiko menimbulkan
kecelakaan kerja
= Menunjukkan jangkauan dari luminansi
Brightness distribution
dalam daerah penglihatan
= Tulang pada pergelangan tangan
Carpals
= Sambungan tulang rawan
Cartilage
= Bagian tulang belakang paling atas berjumlah
Cervical
7 ruas
= Bagian tulang belakang paling bawah
Coccygeal
berjumlah 4 ruas
= Proses transformasi dari data video atau
Coding postures
gambar menjadi kode sikap kerja sesuai
dengan metode OWAS
= Penyakit yang timbul akibat akumulasi dari
Cumulative Trauma
kerusakan kecil pada jaringan tubuh yang
Disorder
terjadi berulang-ulang
= Suatu aturan atau norma dalam sistem kerja
Ergonomi
= Tulang betis
Fibula
= Tulang paha
Femur
= Cahaya yang menyilaukan
Glare
= Rasa nyeri pada bagian punggung bawah
Low back pain (LBP)
239
= Satuan metric ukuran cahaya pada suatu
Lux
permukaan
Manual material handling = Bentuk transportasi barang yang dikerjakan
dengan tenaga manusia untuk melakukan
pengangkatan, mendorong, menarik, dan
membawa barang
= Kegiatan untuk melakukan pemindahan
Material handling
Barang
= Cedera pada otot, urat syaraf, urat daging,
Musculoskeletal
tulang, persendian tulang, tulang rawan yang
disorder
disebabkan oleh aktivitas kerja
= Sistem gerak anggota tubuh yang tersusun
Musculoskeletal system
oleh sistem otot dan sistem tulang
= Tulang pada telapak tangan
Metacarpals
Nilai Ambang Batas = Intensitas suara tertinggi yang merupakan
Kebisingan nilai rata-rata yang masih dapat diterima
pekerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya
dengar yang menetap untuk waktu kerja
terus menerus tidak lebih dari 8 jam
sehari dan 40 jam seminggu
= Tempurung lutut
Patella
= Tulang pinggul
Pelvis
= Nilai yang menunjukkan persentase tertentu
Persentil
dari orang yang memiliki ukuran pada atau
dibawah nilai tersebut
= Sikap kerja dengan posisi tulang belakang
Twisting
berputar ke samping kanan dan kiri
240
241
ISBN XXX-XXX-XXX-X
Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang
Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digu-
nakan dalam Proses Pembelajaran.
HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00
0 comments
Post a comment