Your SlideShare is downloading. ×
SMK-MAK kelas10 smk kria kayu enget
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

SMK-MAK kelas10 smk kria kayu enget

31,198

Published on

Published in: Spiritual, Business
0 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
31,198
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
817
Comments
0
Likes
6
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Enget untuk Sekolah Menengah Kejuruan KRIYA KAYU Enget untuk SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
  • 2. Enget. dkk KAYU KRIYA Untuk SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
  • 3. Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang KAYU KRIYA Untuk SMK Penulis : Enget dkk Ukuran Buku : x cm …… ENG Enget dkk K Kriya Kayu: untuk SMK/oleh Enget dkk. Jakarta:Pusat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. vi. 482 hlm ISBN - - - Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008 Diperbanyak oleh….
  • 4. KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK iii
  • 5. KATA PENGANTAR Pendidikan merupakan salah satu usaha untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, unggul, tangguh, berteknologi tinggi, mampu berkompetisi, mempunyai kompetensi yang memadai dan mampu bersaing secara global. Di dalam era global saat ini di satu sisi membawa persaingan yang semakin ketat namun disisi lain membuka peluang kerjasama. Untuk menghadapi persaingan dan memanfaatkan peluang tersebut maka diperlukan sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Pendidikan menengah kejuruan memainkan peranan yang sangat penting untuk menyiapkan sumber daya manusia di dalam era global tersebut, karena dengan lulusan yang memiliki kompetensi akan menjadi tenaga kerja yang mampu berperan sebagai faktor keunggulan yaitu tenaga kerja yang menguasai ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan tinggi, dan berperilaku profesional. Proses pembelajaran di sekolah merupakan suatu proses transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari guru kepada siswa. Demikian juga proses pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) khususnya program keahlian kriya keramik, bahwa penguasaan kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) juga dapat berlangsung sehingga lulusannya memiliki kompetensi yang benar-benar dikuasai untuk bekal dalam kehidupannya. Saat ini buku-buku penunjang mata pelajaran produktif kriya keramik masih sangat jarang, kalaupun ada buku-buku tersebut ditulis dalam bahasa asing. Mengingat pentingnya informasi tentang materi pembelajaran kriya keramik, maka kami mencoba menulis buku kriya keramik yang dapat menjadi pegangan untuk guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Buku kriya keramik ini disusun berdasarkan Standar Kompetensi Nasional (SKN) serta Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Program Keahlian Kriya Keramik SMK. Isi buku ini meliputi materi menggambar yang meliputi membuat nirmana, menggambar teknik, dan menggambar ornament serta seluruh proses pembentukan keramik yang meliputi pengetahuan umum tentang keramik; bahan baku tanah liat dan glasir; pengujian tanah liat; penyiapan bahan tanah liat dan glasir; teknik pembentukan; penerapan dekorasi dengan tanah liat, slip, dan glasir; teknik pengglasiran; serta proses penyusunan dan pembakaran benda keramik. Buku kriya keramik ini juga dilengkapi dengan informasi tentang sejarah keramik, daftar istilah (glosarium), informasi tentang bahan iv
  • 6. keramik beracun, serta kesalahan dalam pembuatan keramik dan perbaikannya. Dengan berpedoman pada Standar Kompetensi Nasional (SKN) maka diharapkan buku kriya keramik ini dapat memberikan informasi yang lebih lengkap tentang kompetensi yang ada pada pekerjaan bidang kriya keramik, untuk itu penguasaan kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) diharapkan dapat dicapai melalui informasi yang ada dalam buku kriya keramik ini. Kami mengharapkan buku kriya keramik ini bermanfaat bagi guru maupun siswa untuk memahami, mempelajari dan mempraktikkannya di sekolah Mengingat banyak cakupan informasi tentang keramik, maka buku ini mungkin belum dapat disajikan secara lengkap mengingat keterbatasan yang ada, untuk itu masukan, saran, dan kritik yang membangun untuk menambah lengkapya buku kriya keramik ini sangat kami harapkan sehingga buku kriya keramik ini menjadi lebih sempurna dan bermakna bagi siswa. Akhir kata kami berharap semoga buku kriya keramik ini dapat bermanfaat khususnya untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Kriya Keramik dalam rangka peningkatan penguasaan kompetensi. Tim Penyusun v
  • 7. DAFTAR ISI Hal KATA SAMBUTAN iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI vi DAFTAR TABEL xiv DAFTAR GAMBAR xvi SINOPSIS xxvii DESKRIPSI KONSEP PENULISAN xxx PETA KOMPETENSI xxxiii BAGIAN A 1. MEMBUAT NIRMANA 1 1.1. Mengeksplortasi garis dan Bidang 6 1.1.1. Garis 6 1.1.2. Bidang 8 1.2. Menggambar huruf 11 1.2.1. Pemahaman terhadap jenis, karakter dan anatomi 11 masing-masing huruf 1.2.2. Menggambar Huruf, Logo, Inisial, dan Slogan 15 1.3. Menggambar Alam Benda 25 1.3.1. Alat dan bahan 25 1.3.2. Menggambar dengan memperhatikan arah cahaya 25 1.3.3. Menggambar dengan arsir/gelap terang 26 1.3.4. Menggambar dengan memperhatikan proporsi dan 27 komposisi dengan tepat. 1.4. Menggambar Flora Fauna 28 1.4.1. Pemahaman obyek-obyek sesuai bentuk dan 28 karakternya 1.4.2. Menggambar flora dan fauna sesuai bentuk, 29 proporsi, anatomi, dan karakternya. 1.5. Menggambar Manusia 31 1.5.1. Menggambar manusia dengan proporsi 31 1.5.2. Menggambar bagian dari tubuh manusia 31 1.6. Membuat Nirmana Tiga Dimensi 33 1.6.1. Ruang lingkup bidang bersaf/berjajar dalam 33 nirmanan ruang. 1.6.2. Konstruksi dan Perakitan 38 vi
  • 8. 2. MENGGAMBAR TEKNIK 41 2.1. Menggambar Proyeksi 43 2.2. Menggambar Perspektif 47 2.2.1. Gambar perspektif satu titik hilang 48 2.2.2. Gambar perspektif dua titik hilang 49 2.2.3. Gambar perspektif tiga titik hilang 49 2.3. Menggambar Gambar kerja 50 2.3.1. Gambar Proyeksi 50 2.3.2. Gambar perspektif 50 2.3.3. Menentukan garis, ukuran dan skala 51 2.3.4. Format penampilan gambar 59 3. MENGGAMBAR ORNAMEN 61 3.1. Menggambar Ornamen Primitif 61 3.1.1. Pengetahuan tentang ornamen Primitif 61 3.1.1. Penempatan ornament primitive pada sebuah 62 bidang 3.1.2. Konsistensin pengulangan bentuk yang diterapkan 63 pada ornamen primitif 3.2. Menggambar Ornamen Tradisional dan Klasik 65 3.2.1. Latar belakang sejarah ornamen tradisional dan 65 klasik 3.2.2. Ornamen Tradisional dan Klasik yang ada di 66 Indonesia 3.3. Menggambar Ornamen Modern 70 BAGIAN B 4. PENDAHULUAN 74 4.1. Keramik 74 4.2. Materi Buku 78 5. SEJARAH KERAMIK 81 5.1. Sejarah Singkat Keramik Dunia 84 5.2. Keramik Seni Kuno 86 5.3. Penemuan Keramik 86 5.4. Keramik di Beberapa Belahan dunia 89 5.4.1. Timur dekat (near east) 89 5.4.2. Timur jauh (far east) 91 5.5. Sejarah Keramik di Indonesia 96 5.5.1. Jaman Penjajahan Belanda 100 5.5.2. Jaman Pendudukan Tentara Jepang 101 5.5.3. Jaman Pemerintah Republik Indonesia 101 vii
  • 9. 6. TANAH LIAT 104 6.1. Asal-usul Usul Tanah Liat 104 6.1.1. Proses Pembentukan Tanah Liat secara Alami 104 6.1.2. Pembentukan Meneral-Mineral Kulit Bumi 105 6.1.3. Peranan Tenaga Endogen dan Eksogen terhadap 106 Pembentukan Tanah Liat 6.1.4. Proses Terbentuknya Tanah Liat Primer dan 107 Sekunder 6.2. Jenis-Jenis Tanah Liat 112 6.2.1. Perubahan Fisika Tanah Liat Primer dan Sekunder 112 Setelah Dibakar 6.2.2. Sifat-Sifat Umum Tanah Liat 115 6.2.3. Jenis, Sifat, Fungsi Tanah Liat dan Bahan Lain 125 6.3. Pengembangan Formula Badan Tanah Liat 131 6.3.1. Campuran Sistem Garis (Line Blend) 132 6.3.2. Campuran Sistem Segitiga (Triaxial Blend) 132 6.4. Badan Tanah Liat 135 6.4.1. Badan Keramik Earthenware 135 6.4.2. Badan Keramik Stoneware 138 6.4.3. Badan Keramik Porselin 142 6.5. Problem Badan Tanah Liat dan Perbaikannya 144 7. PENGUJIAN DAN PENYIAPAN CLAY BODY 145 7.1. Peralatan dan Perlengkapan Keselamatan dan 146 Kesehatan Kerja Peralatan 146 7.1.1. Perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 152 7.1.2. 7.2. Bahan 152 7.3. Pengujian Clay Body 154 7.3.1. Pemilihan Formula (Campuran) Clay Body 155 7.3.2. Penyiapan Clay Body untuk Pengujian 157 7.3.3. Pengujian Plastisitas Clay Body 159 7.3.4. Pengujian Susut Kering Clay Body 162 7.3.5. Pengujian Suhu Kematangan Clay Body 166 7.3.6. Pengujian Susut Bakar Clay Body 173 7.3.7. Pengujian Porositas Clay Body 176 7.3.8. Analisis Hasil Pengujian Clay Body 178 179 Penyiapan Clay Body 7.4. 7.4.1. Penyiapan Clay Body dari Tanah Liat Alam secara 180 Manual Basah 7.4.2. Penyiapan Clay Body dari Tanah Liat Alam secara 183 Manual Kering viii
  • 10. 7.4.3. Penyiapan Clay Body dari Tanah Liat Alam secara 185 Masinal Basah 7.4.4. Penyiapan Clay Body dari Prepared Hard Mineral 189 secara Masinal Basah 7.4.5. Penyiapan Clay Body untuk Teknik Pembentukan 192 Cetak Tuang 8. PEMBENTUKAN BENDA KERAMIK 198 8.1. Peralatan Pembentukan 199 8.1.1. Alat Bantu 200 8.1.2. Alat Pokok 202 8.1.3. Perlengkapan 207 8.1.4. Perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 209 8.2. Bahan 210 8.2.1. Persyaratan Tanah Liat 211 8.2.2. Penyiapan Tanah Liat 211 8.3. Pembentukan dengan Teknik Pijit (Pinching) 214 8.3.1. Peralatan 216 8.3.2. Bahan 216 8.3.3. Proses Pembentukan 217 8.4. Pembentukan Teknik Pilin (Coiling) 219 8.4.1. Teknik Membuat Pilinan Tanah Liat 220 8.4.2. Peralatan 221 8.4.3. Bahan 221 8.4.4. Proses Pembentukan 221 8.5. Pembentukan Teknik Lempeng (Slab Building) 227 8.5.1. Peralatan 229 8.5.2. Bahan 230 8.5.3. Proses Pembetukan 230 8.6. Pembentukan dengan Teknik Putar Centering 240 8.6.1. Peralatan 242 8.6.2. Bahan 242 8.6.3. Fungsi Tangan dalam Pembentukan Teknik Putar 242 8.6.4. Pemasangan Alas Pembentukan 243 8.6.5. Tahap Pembentukan Teknik Putar 245 8.6.6. Pembentukan Silindris 247 8.6.7. Pembentukan Mangkok 252 8.6.8. Pembentukan Piring 258 8.6.9. Pembentukan Vas 263 8.6.10. Pembentukan Wadah Bertutup 267 8.6.11. Bentuk Bibir Benda Keramik (Lip) 273 8.6.12. Bentuk Kaki Benda Keramik (Foot) 274 8.6.13. Trimming dan Turning 275 8.6.14. Penggabungan Dua Bentuk Hasil Putaran 276 8.6.15. Penggabungan Hasil Bentuk Putaran dengan Bagian 282 Lain ix
  • 11. 8.6.16. Problem Pembentukan Teknik Putar dan 298 Perbaikannya 8.7. Pembentukan dengan Teknik Putar Pilin 301 8.7.1. Peralatan 301 8.7.2. Bahan 302 8.7.3. Proses Pembentukan 302 8.8. Pembentukan dengan Teknik Putar Tatap 307 8.8.1. Peralatan 308 8.8.2. Bahan 308 8.8.3. Proses Pembentukan 308 8.9. Pembentukan dengan Teknik Cetak 313 8.9.1. Peralatan 314 8.9.2. Bahan 314 8.9.3. Penyiapan Gips 316 8.10. Pembentukan dengan Teknik Cetak Tekan 317 8.10.1. Proses Pembuatan Model 318 8.10.2. Proses Pembuatan Cetakan 320 8.10.3. Proses Pencetakan 321 8.11. Pembentukan dengan Teknik Cetak Tuang 323 8.11.1. Peralatan 325 8.11.2. Bahan 326 8.11.3. Proses Pembentukan dengan Teknik Cetak Tuang 326 Model Bebas 8.11.4. Proses Pembuatan Model 328 8.11.5. Proses Pembuatan Cetakan Gips 329 8.11.6. Proses Pencetakan 332 8.11.7. Pembentukan dengan Teknik Cetak Tuang Model 333 Bubut 8.11.8. Proses Pembuatan Model Bubut 334 8.11.9. Proses Pembuatan Cetakan Gips 338 8.11.10. Proses Pencetakan Benda Keramik 341 8.12. Pembentukan dengan Teknik Jigger-Jolley 343 8.12.1. Bagian-bagian dari Alat jigger-jolley 345 8.12.2. Peralatan 347 8.12.3. Bahan 347 8.12.4. Proses Pembentukan 347 9. DEKORASI KERAMIK 352 9.1. Peralatan 353 9.1.1. Alat Bantu 353 9.1.2. Alat Pokok 358 9.1.3. Perlengkapan 359 9.1.4. Perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 361 9.2. Bahan 362 9.2.1. Tanah liat 362 9.2.2. Slip Tanah 363 x
  • 12. 9.2.3. Pewarna 364 9.2.4. Air 366 9.3. Dekorasi Pembentukan 367 9.3.1. Dekorasi Marbling body 368 9.3.2. Dekorasi Nerikomi 373 9.3.3. Dekorasi Agateware 376 9.4. Dekorasi Tanah Liat Plastis 379 9.4.1. Dekorasi Teknik Faceting 379 9.4.2. Dekorasi Teknik Combing 382 9.4.3. Dekorasi Teknik Feathering 384 9.4.4. Dekorasi Teknik Marbling 385 9.4.5. Dekorasi Teknik Impressing 386 9.4.6. Dekorasi Teknik Relief 389 9.5. Dekorasi Badan Tanah Liat Leather Hard 391 9.5.1. Dekorasi Teknik Sqraffito 391 9.5.2. Dekorasi Teknik Toreh Lapis (Inlay) 392 9.5.3. Dekorasi Teknik Engobe 395 9.5.4. Dekorasi Teknik Ukir (Carving) 398 9.5.5. Dekorasi Teknik Tembus (Piercing) 401 9.5.6. Dekorasi Teknik Gosok (Burnishing) 402 9.5.7. Dekorasi Teknik Embossing 404 9.6. Dekorasi Glasir 406 9.6.1. Dekorasi Underglaze 406 9.6.2. Dekorasi Over Glaze 408 9.6.3. Dekorasi In Glaze 410 10. GLASIR 413 10.1. Pengertian Glasir 413 10.2. Keseimbangan Glasir 414 10.3. Bahan Glasir 417 10.4. Bahan Pewarna Glasir 419 10.4.1. Oksida Pewarna 419 10.4.2. Pewarna Stain/Pigmen 423 10.5. Jenis-jenis glasir 424 10.5.1. Menurut Cara Pembuatan 424 10.5.2. Menurut Temperatur Pembakaran 424 10.5.3. Menurut Bahan yang Digunakan 425 10.5.4. Menurut Kondisi Pembakaran 425 10.5.5. Menurut Sifat Setelah Pembakaran: 425 10.6. RO Formula 426 10.6.1. Sumber RO 427 10.6.2. Sumber R2O3 428 10.6.3. Sumber RO 2 429 10.7. Resep dan Formula Glasir 429 10.7.1. Formula Glasir Suhu Rendah 430 xi
  • 13. 10.7.2. Formula Glasir Suhu Menengah 431 10.7.3. Formula Glasir Suhu Tinggi 434 10.8. Campuran Glasir 435 10.9. Hitung Glasir 436 10.9.1. Rumus Seger 436 10.9.2. Unity Formula 436 10.9.3. Perhitungan Glasir Sederhana. 437 10.9.4. Perhitungan Glasir dari Formula ke Resep. 438 10.9.5. Perhitungan Glasir dari Resep ke Formula 439 10.9.6. Limit Formula 440 10.10. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Glasir 441 10.10.1. Bahan-bahan yang digunakan 441 10.10.2. Badan Tanah Liat untuk Barang Keramik 441 10.10.3. Panas dalam Ruang Pembakaran 442 10.10.4. Tipe Tungku dan Bahan Bakarnya 442 10.10.5. Atmosfer Tungku 442 10.10.6. Penerapan Glasir 443 11. PENYIAPAN GLASIR DAN PENGGLASIRAN 444 11.1. Peralatan dan Perlengkapan Keselamatan dan 445 Kesehatan Kerja 11.1.1. Peralatan 445 11.1.2. Perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 448 11.2. Bahan 449 11.2.1. Bahan Mentah Glasir 450 11.2.2. Bahan Pewarna Glasir 452 11.3. Penyusunan Campuran Glasir 454 11.3.1. Menurut Perbandingan Bahan-Bahan yang Dipakai 454 11.3.2. Menurut Perbandingan Oksida Unsur 454 11.3.3. Menurut Rumus Segger 455 11.4. Penyiapan Glasir 457 11.4.1. Bahan 450 11.4.2. Proses Penyiapan Glasir 460 11.5. Teknik Pengglasiran 462 11.5.1. Teknik Tuang (Pouring) 465 11.5.2. Teknik Celup (Dipping) 467 11.5.3. Teknik Semprot (Spraying) 468 11.5.4. Teknik Kuas (Brush) 469 11.6. Kesalahan dalam Pengglasiran dan Cara 472 Mengatasinya 12. TUNGKU DAN PEMBAKARAN 476 12.1. Tungku Pembakaran 476 12.1.1. Klasifikasi Tungku 478 12.1.2. Kiln Furniture 481 12.1.3. Pengukur Temperatur (Suhu) 484 xii
  • 14. 12.2. Pembakaran 490 12.2.1. Pengertian Perubahan Keramik (Ceramic Change) 490 12.2.2. Perubahan yang Terjadi pada Pembakaran Keramik 491 12.2.3. Tahap Pembakaran Biskuit 492 12.2.4. Prinsip-Prinsip Reaksi Pembakaran 493 12.2.5. Pembakaran Tunggal Single Firing 495 12.2.6. Sirkulasi Api 496 12.2.7. Grafik Pembakaran 498 12.2.8. Problem Pembakaran Biskuit dan Pemecahannya. 499 12.3. Penyusunan dan Pembongkaran Benda dari 500 dalam Tungku Pembakaran 12.3.1. Peralatan dan Kiln Furniture 501 12.3.2. Perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 501 12.3.3. Bahan 502 12.3.4. Penyusunan Benda dalam Tungku Pembakaran 503 12.3.5. Pembongkaran Benda Keramik dari dalam Tungku 505 Pembakaran 12.3.6. Membereskan Pekerjaan 507 12.4. Pengoperasian Tungku Pembakaran 507 12.4.1. Pengoperasian Tungku Bahan Bakar Padat (Kayu) 507 12.4.2. Pengoperasian Tungku Bahan Bakar Cair (Minyak 510 Tanah) 12.4.3. Pengoperasian Tungku Bahan Bakar Gas 519 12.4.4. Mengoperasikan Tungku Bahan Bakar Listrik 524 12.5. Kesalahan dalam Pembakaran dan Cara 532 Mengatasi 12.6.1. Beberapa Kesalahan pada Tahap Pembakaran 532 12.6.2. Penanggulangan Kesalahan pada Tahap 532 Pembakaran 12.6.3. Lubang yang Muncul pada Permukaan (Spit out) 532 PENUTUP 533 DAFTAR PUSTAKA 535 LAMPIRAN 539 1. Produk Keramik 539 2. Bahan Keramik Beracun 551 3. Kesalahan-Kesalahan dalam Pembuatan Keramik dan 555 Perbaikannya 4. Unsur, simbol, dan Berat Atom (BA) 565 5. Formula dan Berat Ekuivalen Bahan-Bahan Keramik 566 6. Problem Badan Tanah Liat dan Perbaikannya 568 7. Kegunaan Bahan Tanah Liat dalam Badan Keramik 569 8. Sifat-Sifat Beberapa Jenis Tanah Liat Secara Umum 570 GLOSARIUM 571 xiii
  • 15. DAFTAR TABEL Hal Tabel 2.1. Jenis dan fungsi garis 51 Tabel 2.2. Macam skala 56 Tabel 2.3. Skala gambar yang dianjurkan 56 Tabel 6.1. Heatwork: Perubahan bentuk material keramik oleh 114 panas.(sumber: www.users.stlcc.edu) Tabel 6.2. Pencampuran sistem garis 132 Tabel 6.3. Pencampuran yang dikembangkan 134 Tabel 6.4. Kegunaan tanah liat dalam badan keramik 134 (sumber:John W. Conrad) Tabel 6.5. Pengembangan formula badan tanah liat 138 Tabel 6.6. Problem badan tanah liat dan perbaikannya 144 (sumber:John W. Conrad) Tabel 7.1. Pencampuran tanah liat sistem garis. 155 Tabel 7.2. Pencampuran tanah liat yang dikembangkan. 157 Tabel 7.3. Format hasil pengujian plastisitas tanah liat 162 Tabel 7.4. Format hasil pengujian susut tanah liat 165 Tabel 7.5. Daftar pembakaran benda uji suhu kematangan 169 tanah liat. Tabel 7.6. Perubahan Fisika dan Kimia dalam proses 170 pembakaran. Tabel 7.7. Sifat-sifat fisika tanah liat sebelum dan sesudah 171 dibakar. Tabel 7.8. Hasil pengujian suhu kematangan tanah liat. 172 Tabel 7.9. Hasil pengujian susut bakar tanah liat. 176 Tabel 7.10. Hasil pengujian porositas. 178 Tabel 7.11. Hasil pengujian tanah liat. 178 Tabel 8.1. Problem pembentukan teknik putar dan cara 298 perbaikan Tabel 9. 1. Daftar pewarna oksida dan hasil bakar oksidasi. 364 Tabel 9. 2. Daftar kombinasi pewarna oksida dan hasil bakar 365 oksidasi. Tabel 9. 3. Komposisi bahan engobe 395 Tabel 9. 4. Pewarna untuk engobe. 396 Tabel 10.1. Titik leleh mineral dan kombinasinya (sumber: Greg 416 Daly) Tabel 10.2. Daftar pewarna oksida dan hasil bakar oksidasi 420 Tabel 10.3. Daftar pewarna oksida dan hasil bakar reduksi. 421 Tabel 10.4. Daftar kombinasi pewarna oksida dan hasil bakar 422 oksidasi. Tabel 10.5. Daftar kombinasi pewarna oksida dan hasil bakar 422 reduksi. Tabel 10.6. RO formula (sumber: Glenn Nelson) 426 xiv
  • 16. Tabel 11.1. Kesalahan dalam pengglasiran dan cara mengatasi. 473 (sumber: Peter Cosentino) Tabel 12.1. Daftar pyrometric cone (sumber: Glenn Nelson) 489 Tabel 12.2. Heatwork: Perubahan bentuk material keramik oleh 497 panas (sumber: www.users.stlcc.edu) Tabel 12.3. Problem pembakaran biskuit dan pemecahannya. 499 (sumber: peter Cosentino) Tabel 12.4. Trayek pembakaran biskuit dengan tungkubahan 524 bakar gas (sumber: Port-O kiln) xv
  • 17. DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 1.1. Titik 2 Gambar 1.2. Bebagai macam garis 2 Gambar 1.3. Berbagai macam bidang 3 Gambar 1.4. Berbagai macam bentuk tiga dimensi 3 Gambar 1.5. Lingkaran warna 4 Gambar 1.6. Berbagai macam tekstur 5 Gambar 1.7. Beberapa bentuk bidang 8 Gambar 1.8. Komposisi garis horizontal dan vertikal 9 Gambar 1.9. Komposisi garis dinamis 9 Gambar 1.10. Komposisi garis repetisi 9 Gambar 1.11. Komposisi bidang yang berirama 10 Gambar 1.12. Komposisi bidang yang kontras 10 Gambar 1.13. Komposisi bidang yang acak 10 Gambar 1.14. Komposisi bidang yang simetris 10 Gambar 1.15. Contoh huruf berat dan ringan 13 Gambar 1.16. Bagian-bagian huruf 14 Gambar 1.17. Huruf besar 14 Gambar 1.18. Huruf kecil 15 Gambar 1.19. Huruf normal (perbandingan 3:5) 15 Gambar 1.20. Huruf meninggi (perbandingan 1:3) 15 Gambar 1.21. Huruf melebar (perbandingan 1:1) 16 Gambar 1.22. Contoh beberapa gambar logo 18 Gambar 1.23. Contoh Inisial 20 Gambar 1.24. Contoh Slogan 22 Gambar 1.25. Bola yang diterpa cahaya (Sumber: Atisah S.) 26 Gambar 1.26. Arsir searah (Sumber: Taufiq) 26 Gambar 1.27. Arsir searah (Sumber: Taufiq) 26 Gambar 1.28. Arsir searah (Sumber: Taufiq) 27 Gambar 1.29. Arsir searah (Sumber: Taufiq) 27 Gambar 1.30. Contoh gambar alam benda (Sumber: Taufiq) 28 Gambar 1.31. Contoh gambar alam benda (Sumber: Taufiq) 28 Gambar 1.32. Daun (Sumber: Taufiq) 29 Gambar 1.33. Buah-buahan (Sumber: Taufiq) 29 Gambar 1.34. Kuda (Sumber: Saraswati) 30 Gambar 1.35. Singa (Sumbrer: Agus Sachari) 30 Gambar 1.36. Proporsi tubuh manusia (Sumber: Mofit) 31 Gambar 1.37. Wajah (Sumber: Agus Sachari) 32 Gambar 1.38. Tangan (Sumber: Agus Sachari) 32 Gambar 1.39. Garis berawal dari titik 33 Gambar 1.40. Bidang berawal dari garis 33 Gambar 1.41. Ruang berawal dari bidang 34 Gambar 1.42. Sederatan bidang yang membentuk ruang 34 Gambar 1.43. Pengulangan bidang 34 xvi
  • 18. Gambar 1.44. Ukuran gradasi bentuk berulang 35 Gambar 1.45. Bentuk gradasi ukurannya berulang 35 Gambar 1.46. Bentuk ukuran gradasi 35 Gambar 1.47. Bidang bujur sangkar yang bersaf tegak 36 Gambar 1.48. Jarak antar bidang ynag sempit 36 Gambar 1.49. Jarak antar bidang naik turun 36 Gambar 1.50. Bidang diputar pada sumbu tegak 37 Gambar 1.51. Bidang diputar pada sumbu datar 37 Gambar 1.52. Bidang diputar pada bidang sendiri 37 Gambar 1.53. Bidang yang disusun membentuk lingkaran 38 Gambar 1.54. Bidang yang disusun berkelok-kelok 38 Gambar 1.55. Contoh karya nirmana ruang (sumber: Agus 38 Sachari) Gambar 1.56. Contoh karya nirmana ruang (sumber: Agus 39 Sachari) Gambar 1.57. Contoh karya nirmana ruang (sumber: Agus 39 Sachari) Gambar 1.58. Contoh karya nirmana ruang (sumber: Agus 39 Sachari) Gambar 1.59. Contoh karya nirmana ruang (sumber: Agus 39 Sachari) Gambar 2.1. Urutan proyeksi Eropa 44 Gambar 2.2. Proyeksi Eropa 45 Gambar 2.3. Asas proyeksi Amerika 45 Gambar 2.4. Urutan proyeksi Eropa 46 Gambar 2.5. Proyeksi Amerika 46 Gambar 2.6. Perspektif satu titik hilang 48 Gambar 2.7. Perspektif dua titik hilang 49 Gambar 2.8. Perspektif tiga titik hilang 49 Gambar 2.9. Penggunaan garis tebal 51 Gambar 2.10. Penggunaan garis tipis 52 Gambar 2.11. Penggunaan garis putus-putus 22 Gambar 2.12. Penggunaan garis strip titik strip 52 Gambar 2.13. Penggunaan garis titik-titik 52 Gambar 2.14. Penulisan angka ukuran, garis ukuran, dan garis 53 pemisah yang benar Gambar 2.15. Garis ukuran dengan anak panah kiri atau kanan 54 garis gambar. Gambar 2.16. Penulisan angka ukuran yang salah 54 Gambar 2.17. Penulisan angka ukuran yang benar 54 Gambar 2.18. Penulisan garis dan angka ukuran untuk ukuran 55 yang pendek Gambar 2.19. Penulisan garis ukuran jari-jari lingkaran 55 Gambar 2.20. Penulisan garis ukuran garis tengah lingkaran 55 Gambar 2.21. Panjang garis sebenarnya dan panjang garis dalam 57 berbagai skala xvii
  • 19. Gambar 2.22. Bentuk persegi panjang sebenarnya dan dalam 57 skala 1 : 2 Gambar 2.23. Bentuk kubus sebenarnya dan dalam skala 1 : 2 57 Gambar 2.24. Irisan penampang penuh 58 Gambar 2.25. Irisan penampang setengah 58 Gambar 2.26. Format penampilan gambar kerja 59 Gambar 3.1. Motif Meander (Sumber: Sigit P) 62 Gambar 3.2. Motif Pilin (Sumber: Sigit P) 63 Gambar 3.3. Motif Tumpal (Sumber: Sigit P) 63 Gambar 3.4. Ornamen daerah Bali (sumber: Ngurah Swastapa) 67 Gambar 3.5. Ornamen daerah Jawa Timur (sumber: Ngurah 67 Swastapa) Gambar 3.6. Ornamen daerah Surakarta (sumber: Ngurah 67 Swastapa) Gambar 3.7. Ornamen daerah Yogyakarta (sumber: Ngurah 67 Swastapa) Gambar 3.8. Ornamen daerah Yogyakarta (sumber: Ngurah 68 Swastapa) Gambar 3.9. Ornamen dari Pekalongan Jawa Tengah (sumber: 68 Ngurah Swastapa) Gambar 3.10. Ornamen dariPajajaran Jawa barat (sumber: Ngurah 68 Swastapa) Gambar 3.11. Ornamen dari Jepara Jawa Tengah (sumber: 68 Ngurah Swastapa) Gambar 3.12. Ornamen dari Dayak Kalimantan (sumber: Ngurah 69 Swastapa) Gambar 3.13. Ornamen daerah Sumatra (sumber: Ngurah 69 Swastapa) Gambar 3.14. Ornamen dari Sulawesi (sumber: Ngurah Swastapa) 69 Gambar 3.15. Ornamen daerah Timor (sumber: Ngurah Swastapa) 69 Gambar 3.16. Ornamen tradisional (sumber: Wagiono) 70 Gambar 3.17. Ornamen tradisional (sumber: Wagiono) 70 Gambar 3.18. Ornamen modern bentuk geometris (Sumber: Hery 71 Suhersono) Gambar 3.19. Ornamen modern bentuk organis (Sumber: Hery 71 Suhersono) Gambar 3.20. Ornamen modern bentuk geometris (Sumber: Hery 72 Suhersono) Gambar 3.21. Ornamen modern bentuk organis (Sumber: Hery 72 Suhersono Gambar 3.22. Ornamen modern 72 motif manusia dan binatang (Sumber: Hery Suhersono) Gambar 3.23. Seni hias modern, bentuk organis (Sumber: Hery 72 Suhersono) Gambar 3.24. Ornamen modern (sumber: Wagiono) 73 xviii
  • 20. Gambar 3.25. Ornamen modern (sumber: Wagiono) 73 Gambar 4.1. Peralatan-peralatan dan salah satu gambar gua 74 pada jaman Paleolitik.(sumber: http://archeologia.ah. edu) Gambar 4.2. Contoh dekorasi pada kepingan keramik dan contoh 75 kendi keramik China pada jaman neolitik. (sumber: http://archeologia.ah.edu) Gambar 4.3. Porselin dan superkonduktor: contoh produk 76 keramik tradisional dan keramik maju/modern. (sumber: chemstryland.com) Gambar 4.4. Ragam produk keramik: dari batu bata sampai 77 teaset porselin. (sumber: berbagai sumber) Gambar 4.5. Alat putar listrik ( sumber: www.baileypottery.com) 78 Gambar 4.6. Membakar keramik atau gerabah secara tradisional. 79 (sumber: Koleksi studio keramik) Gambar 4.7. Tungku pembakaran gas dan listrik yang lebih 80 modern. (sumber: www.baileypottery.com) Gambar 5.1. Wadah kecil dari jaman prasejarah, dengan 81 dekorasi jejak-jejak jari tangan yang ditekan (kiri) dan sebuah pot dengan bentuk unik ditemukan di Liguria, NW Italia (kanan) (sumber: www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.2. Sebuah mangkok berdekorasi ditemukan pada 82 jaman tembaga di Inggris. Dekorasi yang ditampilkan komplek dan jelas. (sumber: www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.3. Motif sederhana yang menggambarkan kepala 82 kerbau, ditemukan pada keramik Mesopotamia millennium ke-4 SM sumber: www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.4. Membuat keramik dengan teknik putar(sumber: 83 ceramictoday.com) Gambar 5.5. Pesawat Discovery yang menggunakan bahan 10 keramik pada beberapa suku cadangnya (kiri) dan piranti computer yang beberapa komponennya menggunakan keramik (atas) Gambar 5.6. Caves of Lascaux: Kuda jantan dengan panah- 84 panah disekelilingnya (sumber: www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.7. Relief Bison pada tanah liat liat, ditemukan pada 85 jaman batu di Tuc d' Audoubert, S.W. France. Diperkirakan 15,000 BC. (sumber: www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.8. Lukisan Bison pada jaman batu akhir, 85 diperkirakan 15000 tahun SM, ditemukan di Altimira, xix
  • 21. Spanyol. (sumber: www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.9. Caves of Lascaux: Ibex betina? (sumber: 85 www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.10. Goresan kepala Bison pada lumpur tanah liat, 86 15000 tahun SM, ditemukan di Perancis. (sumber: www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.11. Dolni Vestonice “Venus” dari situs prasejarah di 87 Morovia dekat Brno, diyakini sebagai figurin keramik tertua. (sumber: www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.12. Peta ditemukannya figurin tertua. (sumber: 87 www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.13. Karakteristik bentuk keramik pada beberapa 88 periode arkeologis sumber: www.centuryone.org/ pottery.html). Gambar 5.14. Kendi, pertengahan millennium ke-6 SM B.C.; 89 Hacilar I type Anatolia (Turki) tengah selatan Ceramic with paint; H. 6 1/8 in. (15.6 cm) Gift of Burton Y. Berry, 1964 (64.286.5). . (sumber: www.metmuseum.org). Gambar 5.15. Benda keramik berdekorasi ditemukandi situs Susa, 89 Iran Barat, 4000 tahun SM. (sumber: www.metmuseum.org). Gambar 5.16. Kendi dengan dekorasi kambing gunung , awal 90 millennium 4 SM; perioda Chalcolithic, Sialk III 7 type; Iran Tengah. (sumber: www.metmuseum.org) Gambar 5.17. Kendi faience, Mesir, tertanggal 100-200 M. Koleksi 90 Freer Gallery of Art, Smithsonian, Washington D.C. (www.answers.com) Gambar 5.18. Benda keramik berbentuk guci pada awal perioda 91 kedinastian, Dinasti 1, 2960–2770 SM. Tinggi x diameter: 8.6 x 3.9 cm (3 3/8 x 1 9/16 in.) Glasir: Faience. (sumber: www.mfa.org) Gambar 5.19. Keramik pada kebudayaan Yang-Shao. (sumber: 91 www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.20. Terracotta yang terkenal dari China: 8099 figure 92 terracotta tentara dengan ukuran sebenarnya. Di tempatkan di Mausoleum of the First Qin Emperor. Figure ini ditemukan tahun 1974 di dekat Xian Propinsi Shaanxi. (sumber: www.3info2u.com/info_ terracotta_figures_china.htm) Gambar 5.21. Contoh Motif keramik pada kebudayaan Yang-Shao. 93 (sumber: www.ceramicstudies.me.uk) Gambar 5.22. Produk keramik dari Dinasti Chou. 93 (sumber: www.artsmia.org/art-of asia/ceramics/) Gambar 5.23. Gambar 5.23. Onta dari earthenware dengan glasir 94 sancai.Tang Dynasty, abad ke 7 atau 8 M. xx
  • 22. (sumber: www.artsmia.org/art-of asia/ceramics/) Gambar 5.24. Produk Keramik dari Dinasti Sung. (sumber: 94 www.artsmia.org/art-of asia/ceramics/) Gambar 5.25. Botol celadon pada perioda Koryo dengan desain 95 inlay Chrysanthemum dan kupu-kupu Koryo Dynasty, abad ke 12-Korea The Ho-Rim Museum. (sumber: www.korean-arts.com) Gambar 5.26. Keramik earthenware Korea pada jaman 95 neolitik(sumber: www.korean-arts.com) Gambar 5.27. Keramik dibentuk dengan pilin, Jepang, Periode 95 Jomon kira-kira 2500 SM. (atas). Keramik pada jaman pertengahan Jomon (bergaya Daigi) (sumber: www.myspace.com) Gambar 5.28. Tembikar-tembikar yang ditemukan di situs 96 Batujaya. (sumber: www.budpar.go.id) Gambar 5.29. Fragmen terracotta yang ditemukan di situs 97 Batujaya. (sumber: www.budpar.go.id) Gambar 5.30. Bentuk kepala terbuat dari terracotta pada 97 penanggalan abad ke 10. (sumber: heritage indonesia) Gambar 5.31. Terracotta peninggalan zaman Mojopahit. (sumber: 98 heritage indonesia) Gambar 5.32. Adanya keramik di Indonesia sering dibuktikan 98 dengan relief candi. (sumber: heritage indonesia) Gambar 5.33. Membuat keramik dengan teknik putar tatap (paddle 99 and anvil technique)(sumber: Koleksi studio keramik) Gambar 5.34. Keramik Sung (China) yang mempengaruhi 100 perkembangan keramik Indonesia (sumber: www.britannica.com) Gambar 5.35. Keramik Plered koleksi Istana Negara Republik 101 Indonesia. Gambar 5.36. Produk pabrik keramik Sango 102 Gambar 5.37. Keramik Lombok (sumber: http://bidytour- 103 lombok.com) Gambar 5.38. Keramik Kasongan 103 (sumber: Album keramik Kasongan) Gambar 6.1. Proses pelapukan batuan granit(sumber: Frank and 107 Janet Hammer) Gambar 6.2. Proses pembentukan tanah liat primer dan sekunder 108 Gambar 6.3. Bentuk partikel tanah liat(sumber: F.H. Norton) 108 Gambar 6.4. Asal usul tanah liat secara sederhana (sumber: 109 Frank and Janet Hammer). Gambar 6.5. Dua partikel kwarsa dengan lapisan air (sumber: 110 F.H. Norton) Gambar 6.6. Dua partikel tanah liat plastis dipisahkan oleh 112 lapisan air (sumber: F.H. Norton) xxi
  • 23. Gambar 6.7. Partikel dan struktur tanah liat (sumber: Frank 115 Hammer and Janet Hammer) Gambar 6.8. Tanah liat yang memiliki daya kerja (sumber: 116 Koleksi studio keramik) Gambar 6.9. Tanah liat plastis, kering, dan biskuit (sumber: 118 Koleksi studio keramik) Gambar 6.10. Tahap penyusutan kering tanah liat (sumber: Frank 118 and Janet Hammer) Gambar 6.11. Tahap penyusutan bakar tanah liat (sumber: Frank r 118 and Janet Hammer) Gambar 6.12. Efek vitrifikasi (sumber: Frank and Janet Hammer). 119 Gambar 6.13. Pengaruh suhu bakar terhadap vitrifikasi dan 120 kekuatan (sumber: Frank and Janet Hammer). Gambar 6.14. Porositas tanah liat setelah proses pembakaran 121 (sumber: Frank and Janet Hammer). Gambar 6.15. Pengaruh suhu bakar terhadap porositas dan 122 kekuatan tanah liat (sumber: Frank and Janet Hammer). Gambar 6.16. Perbedaan warna tanah liat setelah dibakar biskuit 123 suhu 900oC (sumber: Koleksi studio keramik) Gambar 6.17. Perbandingan antara lempung, tanah endapan, dan 124 pasir (sumber: Wheatonparkdistric.com) Gambar 6.18. Bahan-bahan keramik plastis (sumber: Koleksi 128 studio keramik) Gambar 6.19. Bahan-bahan keramik tidak plastis (sumber: Koleksi 131 studio keramik) Gambar 6.20. Pencampuran sistem segitiga (sumber: Glenn C 133 Nelson) Gambar 7.1. Bahan tanah liat dan mineral terolah(sumber: 153 Koleksi sttudio keramik) Gambar 7.2. Pencampuran tanah liat sistem segitiga (sumber: 156 Glenn C. Nelson) Gambar 7.3. Bahan deflokulan waterglass dan soda abu 193 Gambar 8.1. Bagan proses pembentukan benda keramik 199 Gambar 8.2. Bagian-bagian alat putar listrik (sumber: Richard 205 Phethean). Gambar 8.3. Tanah liat plastis (sumber: Koleksi studio keramik) 210 Gambar 8.4. Mangkok teknik pijit (sumber: Koleksi studio 215 keramik) Gambar 8.5. Proses teknik pijit (sumber: Lorette Espi) 216 Gambar 8.6. Mangkok teknik pijit (sumber: (Koleksi studio 218 keramik) Gambar 8.7. Vas teknik pilin (sumber: (Koleksi studio keramik) 219 Gambar 8.8. Botol teknik pilin (sumber: (Koleksi studio keramik) 220 Gambar 8.9. Botol teknik lempeng(sumber: (Koleksi studio 228 keramik) xxii
  • 24. Gambar 8.10. Kotak teknik lempeng (sumber: (Koleksi studio 228 keramik) Gambar 8.11. Vas teknik lempeng (sumber: (Koleksi studio 229 keramik) Gambar 8.12. Wadah bertutup teknik lempeng datar. (sumber: 233 (Koleksi studio keramik) Gambar 8.13. Wadah bertutup teknik lempeng lengkung(sumber: 237 (Koleksi studio keramik) Gambar 8.14. Piring teknik lempeng dengan acuan. (sumber: 239 Susan Peterson) Gambar 8.15. Wadah bertutup teknik putar centering (sumber: 240 Koleksi studio keramik) Gambar 8.16. Wadah bertutup teknik putar centering (sumber: 241 Koleksi studio keramik) Gambar 8.17. Bagian-bagain dari telapak tangan (sumber: 243 Melanie Jones) Gambar 8.18. Produk silinder teknik putar centering. (sumber: 248 Mary Chappelhow) Gambar 8.19. Mangkok teknik putar centering. (sumber: Mary 252 Chappelhow) Gambar 8.20. Bentuk-bentuk mangkok. (sumber: Daniel Rhodes). 258 Gambar 8.21. Piring teknik putar centering. (sumber: Katalog) 259 Gambar 8.22. Bentuk-bentuk piring. (sumber: Daniel Rhodes). 263 Gambar 8.23. Vas teknik putar centering. (sumber: Mary 264 Chappelhow) Gambar 8.24. Wadah bertutup teknik putar centering (sumber: 268 Mary Chappelhow) Gambar 8.25. Variasi bentuk bibir benda keramik. (sumber: Daniel 273 Rhodes) Gambar 8.26. Variasi bentuk kaki benda keramik.(sumber: Robin 274 Hopper) Gambar 8.27. Cara mengukur ketebalan dasar benda keramik. 275 (sumber: Richard Phethean) Gambar 8.28. Vas, gabungan teknik putar centering. (sumber: 277 Josie Warshaw) Gambar 8.29. Cara mengukur bagian benda yang akan disambung. 278 (sumber: Peter Cosentino) Gambar 8.30. Bagian-bagian tutup benda keramik. (sumber: 282 Kenneth Clark) Gambar 8.31. Variasi bentuk tutup benda keramik. (Sumber: 283 Kenneth Clark) Gambar 8.32. Variasi bentuk handle. (sumber: Peter Cosentino) 286 Gambar 8.33. Variasi bentuk handle. (sumber: Peter Cosentino) 287 Gambar 8.34. Pola handle dengan extruder (sumber : Richard 290 Phethean) Gambar 8.35. Pola handle dengan kawat (sumber: Richard 291 Phethean) xxiii
  • 25. Gambar 8.36. Variasi bentuk knob. (sumber : Richard Phethean) 293 Gambar 8.37. Variasi bentuk spout benda keramik. (sumber: 294 Richard Phethean) Gambar 8.38. Variasi bentuk lug. (sumber: Richard Phethean) 296 Gambar 8.39. Variasi bentuk lug (sumber: Richard Phethean) 296 Gambar 8.40. Produk teknik putar pilin. (sumber: Koleksi studio 306 keramik) Gambar 8.41. Wadah bertutup teknik cetak tuang dengan model 324 bubut. (sumber: Koleksi studio keramik) Gambar 8.42. Wadah bertutup teknik cetak tuang dengan model 324 bebas.(sumber: Koleksi studio keramik) Gambar 8.43. Binatang cetak tuang. (sumber: Katalog) 227 Gambar 8.44. Model bentuk binatang dari gips. (sumber: Katalog) 227 Gambar 8.45. Wadah bertutup cetak tuang. (sumber: Koleksi 334 studio keramik) Gambar 8.46. Model tanah liat dan gipss(sumber: Koleksi studio 334 keramik) Gambar 8.47. Cetakan gips (sumber: Koleksi studio keramik) 340 Gambar 8.48. Cetakan (sumber: Koleksi studio keramik) 341 Gambar 8.49. Produk teknik jigger jolly (sumber: Axner.com) 344 Gambar 8.50. Produk teknik jigger jolly (sumber: Axner.com) 344 Gambar 8.51. Bagian-bagian jigger. (sumber: Frank Hammer) 345 Gambar 8.52. Bagian-bagian jolley (sumber: Frank Hammer) 346 Gambar 8.53. Alat jigger-jolley masinal. (sumber: www.gladstone. 346 htm) Gambar 8.54. Piring teknik jigger. (sumber: Koleksi studio keramik) 351 Gambar 9.1. Tanah liat plastis dengan beberapa warna.(sumber: 363 Melanie Jones) Gambar 9.2. Slip tanah liat (sumber: Koleksi studio keramik) 363 Gambar 9.3. Pewarna oksida.(sumber: Joaquim Chavarria) 366 Gambar 9.4. Pewarna stain (sumber: Joaquim Chavarria) 366 Gambar 9.5. Air (sumber:Morgen Hall) 367 Gambar 9.6. Beberapa contoh benda dengan hiasan marbling 372 body. (sumber: Tony Birk) Gambar 9.7. Bentuk mangkok dengan dekorasi 375 nerikomi.(Sumber: Morgen Hall) Gambar 9.8. Penerapan dekorasi nerikomi pada benda keramik. 376 (sumber: Tony Birk) Gambar 9.9. Bentuk mangskok dengan hiasan teknik agate. 378 (Sumber: Peter Cosentino) Gambar 9.10. Contoh dekorasi faceting. (sumber: Peter 381 Cosentino) Gambar 9.11. Contoh dekorasi combing.(sumber: Peter 382 Cosentino) Gambar 9.12. Piring dengan dekorasi marbling. (sumber: Peter 384 Cosentino) xxiv
  • 26. Gambar 9.13. Contoh motif impress pada produk. (sumber: Peter 387 Cosentino) Gambar 9.14. Contoh berbagai alat cap, bermotif organis yang 387 dibuat dari gips. (sumber: Robert Fournier) Gambar 9.15. Contoh dekorasi relief. 389 Gambar 9.16. Guci dengan dekorasi sgrafitto. (sumber: Koleksi 391 studio keramik) Gambar 9.17. Produk keramik dengan hiasan embossing. 405 (sumber: Koleksi studio keramik) Gambar 9.18. Gambar 9.18. Bootol keramik dengan dekorasi 412 inglaze (sumber: Koleksi studio keramik) Gambar 10.1. Bahan perwarna oksida.(sumber: Koleksi studio 420 keramik) Gambar 10.2. Bahan pewarna stain. (sumber: Koleksi studio 423 keramik) Gambar 11.1. Jenis-jenis glasir (sumber: Koleksi studio keramik) 450 Gambar 11.2. Bahan-bahan glasir (sumber: Koleksi studio 451 keramik) Gambar 11.3. Pewarna oksida (sumber: Koleksi studio keramik) 452 Gambar 11.4. Pewarna stain (sumber: Koleksi studio keramik) 453 Gambar 11.5. Wadah bertutup dengan glasir warna (sumber: Mary 458 Chappelhow) Gambar 11.6. Contoh hasil pengujian glasir rendah yang 458 diterapkan pada benda keramik stoneware. (sumber: Koleksi studi keramik) Gambar 11.7. Contoh hasil pengujian glasir menengah yang 458 diterapkan pada benda keramik stoneware. (sumber: Koleksi studi keramik) Gambar 11.8. Proses penghalusan bahan glasir dengan ballmill 459 Gambar 11.9. Produk keramik berglasir. (sumber: Koleksi studio 464 keramik) Gambar 11.10. Produk keramik berglasir. (sumber: Mary 464 Chappelhow) Gambar 11.11. Contoh beberapa kesalahan glasir (sumber: 475 Joaquim Chavarria) Gambar 12.1. Tungku dengan sirkulasi api naik.(sumber: Prasidha 479 Adhikriya) Gambar 12.2. Tungku dengan sirkulasi api berbalik Tungku 480 dengan sirkulasi api naik. (sumber: Prasidha Adhikriya) Gambar 12.3. Tungku dengan sirkulasi api mendatar Tungku 481 dengan sirkulasi api naik. (sumber: Prasidha Adhikriya) Gambar 12.4. Penampang thermocouple pada dinding tungku. 485 (sumber: Melanie Jones) Gambar 12.5. Grafik pembakaran. (sumber: Steve Mattison) 496 Gambar 12.6. Cara menyusun mangkok yang berbeda ukuran 503 xxv
  • 27. Cara menyusun piring (sumber: Daniel Rhodes) Gambar 12.7. Cara menyusun mangkok dengan ukuran sama 503 Cara menyusun piring (sumber: Daniel Rhodes) Gambar 12.8. Tungku bak terbuka.(sumber: Koleksi studio 508 keramik) Gambar 12.9. Tungku catenary dengan bahan bakar minyak tanah 511 (sumber: Koleksi studio keramik) Gambar 12.10. Bagian-bagian kompor kombrander dengan spuyer. 513 (sumber: Pras idha Adhikriya) Gambar 12.11. Bagian-bagian kompor spiral tanpa udara tekan. 514 (sumber: Prasidha Adhikriya) Gambar 12.12. Bagian-bagian kompor spiral dengan udara tekan. 514 (sumber: Prasidha Adhikriya) Gambar 12.13. Bagian-bagian kompor udara tekan. (sumber: Sardi) 515 Gambar 12.14. Bagian-bagian dan sirkulasi api tungku catenary 516 (sumber: Prasidha Adhikriya) Gambar 12.15. Bagian-bagian dan sirkulasi api tungku catenary 517 (sumber: Prasidha Adhikriya) Gambar 12.16. Tungku gas. (sumber: www.beileypottery.com) 520 Gambar 12.17. Tungku listrik. (sumber: www.beileypottery.com) 525 Gambar 12.18. Bagian-bagian tungku listrik. Bagian-bagian tungku 526 listrik. (sumber: peter Cosentino) Gambar 12.19. Cara memperbaiki kumparan kendur. (sumber: 531 Richard Zakin) Gambar 12.20. Cara menyambung kumparan kendur putus. 531 (sumber: Richard Zakin) xxvi
  • 28. SINOPSIS Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam yang merupakan potensi bahan baku untuk produk-produk kerajinan (kriya). Salah satu potensi alam tersebut adalah tanah liat yang terdapat hampir di seluruh Indonesia baik di Sumatera, Bangka, Belitung, Jawa, Kalimatan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, bahkan di Papua. Tanah liat sebagai bahan utama untuk pembuatan keramik sangat menguntungkan karena bahannya relatif mudah di dapat dan hasil produknya sangat luas pemakaiannya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Kriya Keramik sebagai salah satu jenjang pendidikan menengah bertujuan menyiapkan sumber daya manusia yang terampil di bidang seni dan kriya diharapkan dapat memanfaatkan potensi alam yang melimpah tersebut. Tujuan tersebut dapat dicapai apabila dalam proses pembelajarannya didukung oleh perangkat pembelajaran yang memadai, salah satunya adalah sarana berupa materi pembelajaran berdasarkan standar kompetensi yang berlaku dalam hal ini adalah Standar Kompetensi Nasional (SKN) Bidang Kriya Keramik. Buku Kriya keramik untuk SMK Program Keahlian Kriya Keramik ini disusun berdasarkan Standar Kompetensi Nasional (SKN) Bidang Kriya Keramik dan juga berpedoman pada Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMK Program Keahlian Kriya Keramik. Dengan demikian informasi yang terdapat dalam buku ini menjadi lebih lengkap dan terstruktur. Secara umum buku kriya keramik ini berisi tentang materi menggambar dan keramik yang berupa pengetahuan yang bersifat teori maupun praktik keterampilan dari alat dan bahan, proses penyiapan bahan, proses pembentukan, proses dekorasi, dan proses pembakaran yang tertuang dalam isi buku sebagai berikut: A. Materi menggambar 1. Membuat Nirmana Materi membuat nirmana ini berisi tentang mengeksplorasi garis dan bidang, menggambar huruf, alam benda, flora fauna, menusia, dan membuat nirmanan tiga dimensi. 2. Menggambar Teknik Materi menggambar teknik menguraikan tentang menggmbar proyeksi, perspektif, dan gambar kerja. 3. Menggambar Ornamen xxvii
  • 29. Bagian ini menguraikan tentang menggambar ornamen baik primitif, tradisional dan klasik, serta modern. B. Materi keramik 1. Pendahuluan Bagian awal ini menguraikan secara umum tentang keramik, pengertian, jenis, dan fungsi keramik 2. Sejarah Keramik Sejarah keramik berisi tentang perkembangan keramik secara singkat diberbagai belahan dunia dan Indonesia. 3. Tanah Liat Bagian ini menguraikan tentang bahan baku khususnya yang digunakan untuk membuat keramik, mulai dari asal usul, jenis, pengembangan formula badan keramik, serta problem badan tanah liat dan perbaikannya. 4. Pengujian dan Penyiapan Tanah Liat Materi ini mempelajari tentang peralatan dan perlengkapan kerja, bahan yang digunakan, proses pengujian tanah liat yang memenuhi persyaratan untuk dapat diguakan untuk membuat keramik, serta proses penyiapan (pengolahan) badan tanah liat. 5. Teknik Pembentukan Merupakan materi praktik utama yang berisi tentang peralatan dan perlengkapan kerja; bahan yang digunakan; dan teknik pembentukan benda keramik yang meliputi teknik pijit (pinching), teknik pilin (coiling), teknik lempeng (slab building), teknik putar (throwing) yang terdiri dari teknik putar centering, teknik putar pilin, dan teknik putar tatap, serta teknik cetak (mold) yang terdiri dari teknik cetak tekan, teknik cetak tuang, dan teknik cetak jigger/jolley. 6. Dekorasi Materi yang menguraikan tentang berbagai teknik dekorasi berupa dekorasi pembentukan (marbling body, nerikomi, dan agateware); dekorasi badan tanah liat plastis (faceting, combing, impressing, dan relief); dekorasi badan tanah liat leather hard (carving, sgrafitto, inlay, pierching, engobe, burnishing, dan embossing); dan dekorasi glasir (over glaze, under glaze, dan in gaze). 7. Glasir Menguraikan tentang glasir, keseimbangan glasir, bahan utama dan bahan pewarna glasir, jenis glasir, RO formula, formula glasir, campuran glasir, hitung glasir, dan faktor-faktor yang mempengaruhi glasir. 8. Penyiapan Glasir dan Pengglasiran xxviii
  • 30. Merupakan materi praktik yang meliputi peralatan dan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja; bahan yang digunakan; penyusunan campuran glasir; penyiapan (pengolahan) glasir; dan teknik pengglasiran yaitu teknik kuas (brush), teknik tuang (pouring), teknik celup (dipping), dan teknik semprot (spraying); serta kesalahan dalam pengglasiran dan cara mengatasinya. 9. Tungku dan Pembakaran Materi ini menguraikan tentang tungku pembakaran dan perlengkapannya; teori pembakaran biskuit dan glasir; penyusunan dan pembongkaran benda dalam tungku; pengoperasian tungku pembakaran dengan bahan bakar padat, cair, gas, dan listrik; kesalahan dalam pembakaran dan cara mengatasi. xxix
  • 31. DESKRIPSI KONSEP PENULISAN Latar Belakang Indonesia dengan keanekaragaman seni dan budaya merupakan salah satu keunggulan yang belum tentu dimiliki oleh negara lain, dengan keanekaragaman seni dan budaya tersebut melalui pendidikan seni budaya dan kriya diharapkan dapat dilestarikan dan sekaligus dikembangkan menjadi sumber penghidupan. Sumber daya alam yang melimpah yang merupakan potensi bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi bahan utama produk kerajinan, sumber daya manusia merupakan potensi tenaga kerja, serta sumber daya seni dan budaya (seni rupa, seni kriya, seni pertunjukan, arsitektur, dan lainnya) merupakan potensi untuk mengembangkan kreativitas yang tidak akan ada habisnya. Mutu tenaga kerja tingkat menengah di bidang seni dan kriya sangat tergantung pada mutu pendidikan kejuruan seni dan budaya yang juga sangat erat kaitannya dengan proses pelaksanaan pembelajaran yang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain kurikulum, tenaga kependidikan, proses pembelajaran, sarana-prasarana, alat-bahan, manajemen sekolah, lingkungan kerja, dan kerjasama industri. Melalui pendidikan diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan penguasaan di bidang ilmu pengetahun, teknologi, dan seni. Proses pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan suatu proses penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, yang diarahkan pada penguasaan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pencapaian hasil pembelajaran pada aspek kognitif diarahkan melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat teoretik (pengetahuan), aspek afektif pencapaiannya diamati melalui sikap selama proses pembelajaran berlangsung, sedang aspek psikomotorik pencapaiannya melalui kegiatan- kegiatan yang melibatkan gerak motorik keterampilan. Dengan demikian dalam proses pembelajaran praktik kejuruan, ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Landasan Penulisan Buku Penulisan buku kriya keramik untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan satu satu usaha untuk mengembangkan sarana pembelajaran produktif khususnya pengembangan materi pembelajaran baik teori maupun praktik yang didasarkan pada Standar Kompetensi Nasional (SKN) bidang kriya keramik. Dengan berdasarkan Standar Kompetensi Nasional (SKN) bidang kriya keramik, penulisan buku ini menjadi lebih lengkap dan dapat digunakan untuk mengembangkan materi pembelajaran yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Kriya Keramik yang tersebar di Indonesia dengan masing-masing memiliki potensi yang berbeda-beda sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Kriya Keramik untuk xxx
  • 32. berkembang mengikuti kemajuan di bidang ilmu pengetahun, teknolgi, dan seni. Mata pelajaran produktif kriya keramik merupakan salah satu mata pelajaran yang diharapkan mampu membekali siswa untuk menguasai kompetensi yang dibutuhkan untuk melakukan atau melaksanakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja, dengan demikian lulusannya akan menguasai aspek teknis, terampil, memiliki wawasan, disiplin kerja,dan sikap kerja. Tujuan dan Sasaran Buku kriya keramik ini berisi seluruh proses pembuatan benda keramik baik bersifat teori maupun praktik keterampilan yang meliputi kelompok kompetensi maupun unit kompetensi berdasarkan Standar Kompetensi Nasional (SKN) dan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMK Program Keahlian Kriya Keramik. Buku kriya keramik ini memuat tentang teori dan petunjuk praktik keterampilan sehingga tidak hanya pemahaman secara teori namun praktik keterampilan dan sikap kerja yang sesungguhnya dalam bekerja. Dengan demikian buku ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi yang lengkap baik bagi guru dalam penyusunan dan pengembangan program pembelajaran praktik keterampilan maupun bagi siswa dalam memahami materi dan melaksanakan praktik keterampilan dengan sikap kerja yang benar. Materi Materi buku ini berisi dua bagian, yaitu: A. Materi Menggambar 1. Membuat Nirmana 2. Menggambar Teknik 3. Menggambar Ornamen B. Materi Keramik 1. Pendahuluan 2. Sejarah Keramik 3. Pengetahuan Tanah Liat 4. Pengujian dan Penyiapan Tanah Liat 5. Teknik Pembentukan 6. Teknik Dekorasi 7. Pengetahuan Glasir 8. Penyiapan Glasir dan Pengglasiran 9. Tungku dan Pembakaran xxxi
  • 33. Dalam buku kriya keramik ini juga memuat kompetensi yang sesuai dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMK Bidang Keahlian Kriya Keramik, yang meliputi: 1. Membuat nirmana 2. Menggambar teknik 3. Menggambar ornamen 4. Mengolah clay-body dari lempung alam secara manual basah 5. Mengolah clay-body dari lempung alam secara masinal basah 6. Mengolah clay-body untuk teknik pembentukan cetak tuang 7. Membuat cetakan gips untuk teknik cetak tekan satu sisi 8. Membentuk keramik dengan teknik pijit (pinch) 9. Membentuk keramik dengan teknik pilin (coil) 10. Membentuk keramik dengan teknik lempeng (slab) 11. Membentuk keramik dengan teknik putar 12. Membuat dekorasi keramik 13. Membakar keramik xxxii
  • 34. PETA KOMPETENSI Diagram ini menunjukkan tahapan kelompok kompetensi dan unit kompetensi yang merupakan suatu urutan proses pekerjaan bidang keramik. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bidang Keahlian Kriya Keramik SMK menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan matei pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Mengacu hal tersebut diatas maka Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) sesuai nomor yang terdapat dalam Peta Kompetensi di bawah. xxxiii
  • 35. Keterangan: BAGIAN A 1. Membuat Nirmana 2. Menggambar Teknik 3. Menggambar Ornamen BAGIAN B Menyusun resep clay-body 1. Membuat lempengan dan menguji plastisitas, penyusutan, dan 2. porositas clay-body Menyiapkan clay-body dari lempung alam secara manual basah 3. Menyiapkan clay-body dari lempung alam secara manual kering 4. Menyiapkan clay-body dari lempung alam secara masinal basah 5. Menyiapkan clay-body dari prepared hard mineral secara masinal 6. basah Menyiapkan clay-body untuk teknik pembentukan cetak tuang 7. Menyusun formula dan resep glasir serta menganalisis hasil bakar 8. Menyiapkan/mencampur glasir (sesuai dengan resep) 9. 10. Membuat model cetakan 11. Menyiapkan massa gips untuk membuat cetakan 12. Membuat cetakan gips untuk teknik cetak tekan satu sisi 13. Membuat cetakan gips untuk teknik cetak tuang dua sisi atau lebih 14. Menghomogenkan (menguli) clay-body 15. Membentuk dengan teknik pijit 16. Membentuk dengan teknik pilin 17. Membentuk dengan teknik lempeng 18. Membentuk dengan teknik putar centering 19. Membentuk dengan teknik putar pilin 20. Membentuk dengan teknik putar tatap 21. Membentuk dengan teknik cetak tekan 22. Membentuk dengan teknik cetak tuang 23. Membentuk dengan teknik cetak jigger/jolley 24. Menerapkan dekorasi pembentukan (marbling, nerikomi, dan agate ware) 25. Menerapkan dekorasi clay-body plastis (faceting dan combing) 26. Menerapkan dekorasi clay-body plastis (impress dan relief) 27. Menerapkan dekorasi clay-body leather hard teknik carving (ukir) 28. Menerapkan dekorasi clay-body leather hard teknik sgraffito (toreh) 29. Menerapkan dekorasi clay-body leather hard teknik inlay (toreh isi) 30. Menerapkan dekorasi clay-body leather hard teknik piercing (terawang) 31. Menerapkan dekorasi clay-body leather hard teknik engobe 32. Menerapkan dekorasi clay-body leather hard teknik burnish (gosok) 33. Menerapkan dekorasi clay-body leather hard teknik embossing (etching) xxxiv
  • 36. Menerapkan dekorasi glasir over glaze pada permukaan benda 34. mentah, biskuit dan berglasir Menerapkan dekorasi glasir underglaze pada permukaan benda 35. mentah, biskuit dan berglasir Menerapkan glasir dengan teknik tuang (pouring) 36. Menerapkan glasir dengan teknik celup (dipping) 37. Menerapkan glasir dengan teknik semprot (sparying) 38. Menerapkan glasir dengan teknik kuas (brush) 39. Menyusun benda dan membongkar benda di tungku 40. Mengoperasikan tungku bahan bakar padat 41. Mengoperasikan tungku bahan bakar cair 42. Mengoperasikan tungku bahan bakar gas 43. Mengoperasikan tungku bahan bakar listrik 44. Berdasarkan keterangan di atas, maka berbagai jenis pekerjaan di bidang kriya keramik dapat dikelompokkan sebagai berikut: Tenaga pengujian badan tanah liat dan glasir I. Tenaga penyiapan badan tanah liat II. Tenaga pembuatan model dan cetakan III. Tenaga pembentukan IV. Tenaga dekorasi V. Tenaga penyiapan glasir VI. Tenaga pengglasiran VII. Tenaga pembakaran VIII. xxxv
  • 37. BAB I PENDAHULUAN SENI KRIYA KAYU Pembahasan seni rupa Indonesia dalam perspektifhistoris bisa menghadapi kendala terminologis, apakah ketika menorehkan tulisan dimulai sejak deklarasi sumpah pemuda tahun 1928, atau sejak dilontarkannya gagasan kawasan Nusantara pada zaman Majapahit, atau dimulai sejak zaman praejarah seperti yang dilakukan beberapa penulis Barat, di antaranya A.N.J. Th. A Th van der Hoop (1949). Fritz A. Wagner (1949;1959), A.J. Bernert Kempers (1959) dan Claire Holt (1967). Nuansa Indonesiasentrisme sangat jelas bukan pengingkaran pengakuan internasional atas eksistensi seni rupa Indonesia yang sudah berlangsung sejak zaman prasejarah, namun dalam hal pembabakannya disesuaikan dengan kenyataan periode zamannya. Hal ini dikemukakan agar masalah terminologi kaitannya dengan batasan temporal tidak menjadi bahan perbincangan yang tak berujung, sehingga pembahasan seni kriya Indonesia segera dapatdimulai. (SP. Gustami, 2002). Seni kriya, bagi banyak kalangan bukan lagi berkutat hanya pada masalah peristilahan, dalam suatu seminar internasional Seni Kriya September 2002, PPs ISI Yogyakarta audiens menghendaki formula praktis bagaimana memajukan kriya, meningkatkan kualitas produksi, bagaiman menembus pasar eksport. Secara umum dapat dikatakan bahwa disiplin kriya kriya adalah disiplin yang banyak membutuhkan konsentrasi pada pengembangan sarana dan pengetahuan praktis. Bahkan kriya kontemporer/ contemporary craft: masih cukup memiliki rambu-rambu penilaian kualitas antara lain kualitas dalam m enangani material craftmanship atau skill. Skill adalah semacam pengetahuan yang digolongkan sebagai tacid knowledge (pengetahuan diam-diam), dipelajari melalui pengalaman.(Asmudjo J. Irianto, 2002). Seni kriya hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan Indonesia bagaikan pernik-pernik manikam persada Nusantara. Kehadirannya beriringan sejalan dengan eksistensi manusia di tanah air. Penciptaannya berkaitan erat dengan kebutuhan hidup, baik kebutuhan jasmani (fisik) maupun kebutuhan rohani/jiwani (spiritual).Oleh karena itu, hasil karya sen kriya sering merepresentasikan pola fikir dan perilaku masyarakat pada zamannya. ( Franz Boas, 1955 ). Keberadaan seni kriya selalu berkaitan dengan pemenuhan fungsi-fungsi tertentu,meskipun pemenuhan fungsi-fungsi itu sering dipandang hanya dari sisi fisiknya saja,tidak menyeluruh, tidak sesuai dengan realitas kebutuhan hidup yang lengkap dan utuh.Ada tiga kategori fungsi seni, yaitu fungsi personal, fungsi sosial dan fungsi fisik. Fungsi personal adalah bekaitan dengan pemenuhan kepuasan jiwa pribadi dan individu; fungsi sosial berhubungan dengan tujuan-tujuan sosial,ekonomi, politik, budaya dan 1
  • 38. kepercayaan; sedangkan fungsi fisik berurusan dengan pemenuhan kebutuhan praktis. Dalam perwujudannya, ketiga fungsi tersebut saling bersinergi, sebagai satu kesatuan yang utuh dan padu. Dalam dunia modern pengetahuan mempelajari dan menguasai ketrampilan disokong oleh pengetahuan bahan dan material yang bisa saja diajarkan secara teoritis. Jika pengetahuan itu ditambahkan dengan pengetahuan sejarah, teori seni rupa dan sedikit ilmu manajemen dapat masuk ke kurikulum sekolah. Seni Kriya adalah semua hasil karya manusia yang memerlukan keahlian khusus yang berkaitan dengan tangan, sehingga seni kriya sering juga disebut kerajinan tangan. Seni kriya dihasilkan melalui keahlian manusia dalam mengolah bahan mentah. Seni kriya dapat dikelompokan berdasar tujuan penciptaan atau penggunaannya menjadi kriya mempunyai fungsi : praktis, estetis, dan simbolis (religius). Kata ‘kriya’ pada zaman dahulu kemungkinan diadop dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa yang berarti kerja. Kemudian muncul kata ‘seni’ yang disepadankan dengan kata ‘art’ bahasa Inggris yang berarti hasil karya manusia yang mengandung keindahan. Pada saat ini seni kriya golongkan sebagai bagian dari seni rupa, yaitu karya seni yang dinikmati dengan indera penglihatan. Namun seni kriya membutuhkan kemampuan kecakapan teknik dan ketelatenan yang tinggi, sperti seni kriya tenun, batik, anyam, gerabah, perhiasan hingga keris.( A.Agung Suryahadi, 2007 ). Seni kriya sudah sangat tua umurnya dan merupakan cikal bakal seni rupa Indonesia pada umumnya. Yang kemudian membedakan seni kriya dari seni murni atau seni rupa lainnya adalah fungsinya. Sementara seni murni adalah ekspresif dan komunikatif, seni kriya lebih berorientasi pada kegunaan dalam kehidupan manusia sehari-hari dibarengi dengan teknik pembuatan yang tinggi. Lahirnya cobek adalah karena manusia memerlukan ajang atau tempat untuk makan, begiupun contoh-contoh seni kriya yang lain seperti belanga, kursi, keranjang sampai dengan kain batik, bahkan juga keris. Semua terwujud dikarenakan desakan kebutuhan. Saat kini seni kriya adalah merupakan bagian seni rupa yang mengutamakan kegunaan,sarat dengan kekriyaan (craftsmanhip) y ang tinggi dan bentuknya indah. Hal terakhir tersebut terjadi karena setelah kebutuhan pokok manusia terpenuhi maka akan berpaling terhadap kebutuhan yang kurang pokok. Pengertian Kriya Istilah ‘seni kriya’ berasal dari akar kata ‘kr’ (bahasa Sanskrta) yang berarti ‘mengerjakan’; dari akar kata tersebut kemudian menjadi kata : karya, kriya, kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek. Dalam pengertian berikutnya semua hasil pekerjaan termasuk berbagai ragam keteknikannya disebut ‘seni kriya’.(Timbul Haryono,2002) 2
  • 39. Kata ‘kriya’ dalam bahasa Indonesia berarti pekerjaan (kerajinan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft yang mengandung arti: energi atau kekuatan, arti lain suatu ketrampilan mengerjakan atau membuat sesuatu (http://www.answers.com/topic/craft). Istilah itu diartikan sebagai ketrampilan yang dikaitkan dengan profesi seperti yang terlihat dalam craftsworker (pengrajin). Pada kenyataannya seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang; sebagaimana diketahui bahwa semua kerja dan ekspresi seni membutuhkan ketrampilan. Dalam persepsi kesenian yang berakar pada tradisi Jawa, dikenal sebutan kagunan. Di dalam Kamus Bausastra Jawa, kagunan adalah Kapinteran/ Yeyasan ingkang adipeni/Wudharing pambudi nganakake kaendahan-gegambaran, kidung ngukir-ukir. Penjelasan itu menunjukan posisi dan pentingnya ketrampilan dalam membuat (mengubah) benda sehari-hari, di samping pengetahuan dan kepekaan (akan keindahan). Oleh sebab itu, sebuah karya (seni) dalam proses penggarapannya tidak berdasarkan pada kepekaan dan ketrampilan yang baik (mumpuni), maka tidak akan ada kesempatan bagi kita untuk mnikmati karya tersebut sebagai karya seni ( I Made Bandem, 2002 ). Ada beberapa kelompok di masyarakat yang melihat bahwa ‘kriya’ berbeda dengan ‘seni’, seperti yang terdapat di dunia Barat; bahkan faham ini sudah berpengaruh samapi ke Indonesia. Dalam dunia Barat terbangun persepsi bahwa kesenian didasari oleh estetika artes liberales, yang menempatkan kepekaan seni di posisi tinggi. Sementara di dalam kagunan tidak hanya kepekaan, tetapi juga ketrampilan memperoleh tempat yang penting dalam proses kreasi seni. Seni Kriya merupakan hasil pekerjaan dengan berbagai ragam tekniknya merupakan cakupan dalam kebudayaan. Kebudayaan sebagai suatu sistem mencakup tiga wujud: wujud gagasan, wujud tingkah laku berpola dan hasil tingkah laku. Sejak zaman prasejarah manusia telah berkarya menghasilkan artefak (benda buatan manusia) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, adapun fungsinya : a. Untuk keperluan yang bersifat teknis, seperti pisau, alat pertanian dan sebagainya . b. Sebagai pedanda status sosial,contoh : perhiasan. c. Untuk keperluan religius atau ritual. Pada masa prasejarah ketika manusia belum menggunakan sistem tulisan untuk komunikasi mereka, istilah-istilah dalam karya pekerjaan mereka belum diketahui.Dari hal tersebut hanya diketahui produk akhirnya yang diklasifikasikan berdasarkan bahan yang digunakan yaitu: batu, tanah, logam dan kayu.Penggunaan bahan-bahan tersebut sesuai dengan masa tingkat pengetahuan teknologi masing-masing, jadi tidak sekaligus terjadi dalam masa yang bersamaan. Penggunaan bahan kayu dan batu adalah dalam tahapan masa penggunaan teknologi tingkat 3
  • 40. pertama, manusia hanya menggunakan bahan-bahan secara langsung dari alam tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Pada masa ini bahan utama berupa bahan batu digunakan langsung untuk alat, zaman ini disebut sebagai zaman batu dan berlangsung cukup lama dengan melalui perkembangan teknik. Pengembangan terjadi karena adanya tingkat perkembangan pengetahuan teknologi pengerjaan batu yang mereka kuasai, yakni pada masa paleolitik dan kemudian masa neolitik. Hasil- hasil karya mereka berupa artefak, contohnya kapak batu yang digunakan untuk mengumpulkan kebutuhan fisik. Mereka hidup dalam masa ‘food gathering stage’ dan ‘food producing stage’ tingkat sederhana. Pada masa neolitik tingkat pengetahuan mereka bertambah sehingga dapat membuat alat dari bahan tanah, karena pada masa food producing manusia memerlukan suatu wadah untuk makanan. Teknik pembuatan gerabah ditemukan, artefak ini tidak lepas dari adanya teknologi api (pyrotechnologi). Masa ini puncaknya adalah ditemukannya teknologi pembuatan logam, karena untuk melebur logam manusia memerlukan teknologi membuat api dengan tingkat panas yang tinggi. Di Asia Barat perkembangan teknologi pembuatan logam, tingkatannya alat yang dibuat dari bahan tembaga- perunggu sampai dengan yang berbahan besi. Pentahapan masa tersebut adalah dari zaman tembaga, zaman perungu dan zaman besi. Tembaga adalah logam pertama yang ditemukan,tahap itu disebut tahap monometalik. Tahun 4000 SM barulah manusia menemukan campuran lain untuk logam tembaga, yaitu timah dan arsenik atau timbal.Tahap ini disebut polimetalik, ketika itu manusia belum menemukan besi. Tahap berikutnya yaitu dalam kurun abad 2 SM, seiring dengan berkembangnya penemuan teknologi api dengan pembakaran panas tinggi, ditemukanlah logam besi. Di Indonesia tidak mengalami pembagian tiga zaman ( three age system ), pengaruh budaya Dongson- Vietnam yaitu membawa artefak logam perunggu langsung tersebar luas di Indonesia. Sejarah Kriya Sudah sejak zaman prasejarah kita mengenal berbagai peninggalan berupa artefak, ada yang berupa peralatan, perhiasan dan sebagainya. Hasil karya tersebut dihasilkan karena ketrampilan seseorang dalam membuat dan mengubah bahan atau benda keperluan sehari-hari menjadi karya kriya, memang diakui bahwa keberadaan kriya sudah sejak lama dibedakan dengan karya seni. Seperti yang diuraikan sebelumnya, peristilahan tentang seni dan kriya dipengaruhi oleh dunia Barat. Kata ‘seni’ (art) berasal dari kata kerja – bahasa Latin ar yang berarti merangkai menjadi satu, menggabungkan atau menyusun. Seseorang yang membuat suatu benda disebut pengrajin. Ada suatu kecenderungan pemikiran, bahwa seni diyakini sebagai ekspresi individual, sedangkan kriya dipercaya sebagai sumber dari sebuah karya yang berguna bagi kehidupan. Seni bila diberi ilham oleh pandangan personal (individual), 4
  • 41. dan kriya adalah teknik yang mewujudkan karya seni itu, maka sesungguhnya antara kriya dan seni menjadi tidak terpisahkan. Sekurang-kurangnya adalah saling melengkapi. Apabila kita mencermati bangunan-bangunan atau rumah modern, banyak kita temui berbagai elemen seni dan kriya saling melengkapi. Almari, meubel, penyekat ruang (divider) dan lain sebagainya saling mengisi, sulit bagi kita membedakan apakah itu karya seni atau kriya.Kesemuanya memberi kesan keindahan bagi yang menyaksikannya. Pergerakan seni dan kriya berkembang dan berkembang selama masa pertengahan abad ke 19, itu melibatkan gabungan secara meluas berbagai seniman, penulis, kriyawan, wanita. Begitu luasnya berbagai komponen masyarakat yang terlibat, sulit untuk menetapkan batasan ‘seni’ dan ‘kriya’ secara jelas dan akurat. Sebagian memandang bahwa beberapa Pendahulu adalah sangat kolot (consevative, tampak memprihatinkan kembali ke masa lalu di abad Pertengahan. Sementara yang lainnya adalah sosialis dan rajin mengadakan reformasi. John Ruskin (1819-1900) memperkenalkan estetika seni dan kriya dengan aliran Protestan, sedangkan yang lain, seperti arsitek Augustus Welby Pugin (1812-1852) melihat adanya pertalian antara kebangkitan abad pertengahan dengan pengaruh Katolik. Lebih jauh lagi, pengrajin dan kaun perempuan yang terlibat dalam pergerakan sangat aktif di bidang lintas keterampilan(skill): seperti arsitek, tenaga percetakan, penjilid buku, pembuat keramik, pembuat perhiasan, pelukis, pematung, pembuat mebel. Beberapa anggota pergerakan, seperti desainer William Morris (1834-1896) dan C.R Ashbee(1863-1942), menghargai karya kerajinan tangan (handycraft) dan cenderung menolak kesempatan baik untuk memproduksecara masal untuk keperluan pasar. Di lain pihak seorang arsitek Frank Lloyd Wright (1867-1959), secara positif sangat menyukai keuntungan-keuntungan sosial dan hal-hal kreatif mesin produksi. Pada tahun 1870 an, pergerakan perkembangan ‘seni’ dan ‘kriya’ semakin beraneka ragam, ketika kebangkitan minat terhadap seni dan kriya di Inggris dieksport dan tertanam hingga ke dalam karya-karya asli seni tradisionil di negara lain. Di Amerika Serikat, kebangkitan karya tradisional daya tarik gaungnya bagi warga negaranya adalah dengan adanya daya tarik politis yang kuat, sifat individualis, dan juga terhadap barang buatan tangan atau tenunan buatan sendiri. Thomas Carlyle (1795-1881) atu Ruskin, menulis tentang sisi menakutkan dengan adanya era industrialsasi dan menggambarkan juga tentang keadaan kehidupan penduduk abad pertengahan di Inggris. Komunitas Shaker membuat furnitur dan bangunan sederhana, yang gaungnya dapat mempengaruhi banyak lingkungan seniman idealis dan kreatif dalam masa pergerakan seni dan kriya. Friedrich Engels (1820-1895) memisahkan diri dari agama keyakinan kaum Shaker tetapi memuji kondisi masyarakat bawah di lingkungan terdekatnya, di mana karya mereka dibuat dan terjual. 5
  • 42. Sejarah Kriya di Indonesia Kebangkitan seni dan kriya di paruh pertengahan abad ke 19, mewujudkan suatu kekayaan tradisi dan keragaman politik, kepercayaan/ agama dan gagasan estetik yang didapati berbagai ragam bentuk medianya. Saat ini berkembang adanya dasar-dasar dan keyakinan ketentuan umum terhadap perkembangan pergerakan pengetahuan Seni dan Kriya secara umum. Kriya kayu Indonesia berasal dari berbagai daerah etnik, kriya masa lampau merupakan bagian kekayaan etnik tradisi Nusantara. Keragaman terlihat melalui hasil-hasil yang tersebar di berbagai daerah. Karakter dan ciri khas daerah masing-masing tercermin jelas. Berbagai media yang digunakan menghasilkan berbagai jenis hasil kriya, media yang digunakan antara lain kayu, logam, tanah liat, kulit dan lain-lainnya. Hasil karya kriya terwujud dalam berbagai bentuk dan gaya, guna memenuhi berbagai kepentingan dan fungsi-fungsi dalam kehidupan. Mulai dari Sabang hingga Merauke terhampar berbagai ragam karya kriya Indonesia yang terpadu dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika ( Unity in variety serta unity and diversity ). Konsep yang mencerminkan tekat bangsa untuk menegakkan kesatuan dan persatuan dalam keragaman etnik, suku, budaya dan religi. Adapun kriya di Indonesia diikat oleh nilai- nilai konsep masing-masing daerah tidak pernah pudar. Kehadirannya membangkitkan pesona, daya pikat dan keunggulan komparatif, bila dibandingkan dengan karya sejenis dari daerah lain atau Negara lain. Peta kriya Indonesia sendiri dari bidang seni batik terdapat gaya Yogyakarta, Solo, Banyumasan, Pekalongan, Lasem, Madura dll. Seni Tenun Troso, Pidan, Sumba, Makasar, Maumene, Ende Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Kriya kayu untuk seni ukir kayu terdapat gaya Asmat, Timor, Nias, Kalimantan, Toraja, Simalungun, Batak, Minangkabau, Lampung, Bali, Madura, Jepara, Klaten, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon dan lain-lainnya. Terdapat pada bangunan Percandian, bangunan rumah adat, istana raja, rumah tinggal bangsawan dan penduduk, perabot mebel dan berbagai unsur interior utilitas umum lainnya. Dibidang aksesoris, terdapat perangkat busana tari, perangkat upacara keagamaan, perangkat musik tradisi, mainan anak-anak, benda-benda cinderamata dan masih banyak lagi yang lain. Pada masa pra sejarah banyak produk kriya dihasilkan, akan tetapi hanya bisa diketahui hasil produk akhir dan dapat diklasifikasikan berdasarkan bahan yang digunakan, yaitu: batu, tanah, logam. Penggunaan masing-masing jenis bahan tersebut tidak terjadi dalam satu masa sekaligus, akan tetapi dalam masa sesuai tingkat pengetahuan teknologi mereka. Pada tingkat teknologi yang sederhana, manusia memanfaatkan bahan-bahan yang ditemukan di lingkungan setempat tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu seperti : batu dan kayu. Ini merupakan teknologi awal dalam kehidupan manusia, pada masa yang 6
  • 43. bahan utama untuk alat dibuat dari bahan batu ini kemudian disebut zaman batu. Ini berlangsung cukup lama, dan mengalami perkembangan teknik yang disebabkan adanya perkembangan pengetahuan teknologi pengerjaan batu. Masa ini disebut masa paleolitik, kemudian masa neolitik. Artefak mereka berupa kapak batu yang dipakai untuk mengumpulkan kebutuhan fisik. Pada masa ini pengetahuan kemudian pengetahuan berkembang, sehingga mereka dapat membuat benda- benda dari bahan tanah. Tahap ini manusia hidup sebagai penghasil makanan/ food producing stage, manusia memerlukan suatu wadah untuk makanan. Kemudian ditemukan teknik pembuatan gerabah, dan tidak lepas dari adanya tenologi api yang digunakan untuk pembakaran gerabah. Puncak dari zaman peradaban teknologi api adalah dengan ditemukannya logam, kemudian manusia memasuki zaman logam. Manusia harus mampu menghasilkan pemanasan tinggi untuk peleburan logam, dalam peradaban Asia Barat teknologi logam berkembang ditengarainya dengan adanya dominasi bahan logam dari mulai zaman tembaga, perunggu sampai dengan zaman besi. Pada sekitar tahun 4000 SM, barulah manusia menemukan tembaga dapat dicampur dengan logam lain (timah dan arsenik atau timbal) sehingga memperoleh paduan logam yang berkualitas lebih baik dari pada tembaga. Sekitar tahun 2000 SM, sejalan dengan perkembangan teknologi api baru manusia menemukan besi. Di Indonesia tidak mengenal sistem pembagian tiga zaman peradaban manusia (zaman tembaga, zaman perunggu, zaman besi), kebudayaan logam Indonesia langsung masuk ke zaman perunggu-besi. Pengaruh kebudayaan yang didapat adalah pengaruh kebudayaan Dongson Vietnam, hasil kriya antara lain nekara, kapak dan perhiasan. Cetak lost wax casting : cetak ulang dari bentuk asli dibuat dengan lilin /tahap positif,setelah dingin kemudian dibalut dengan tanah liat dan disediakan lubang kecil-tanah dibakar-lilin akan meleleh keluar sementara tanah pembungkus mengeras dan meninggalkan rongga sesuai bentuk lilin model. Setelah itu dituangkan cairan logam melalui lubang ke dalam rongga cetakan tanah liat, setelah dingin kemudian tanah liat dipecah untuk mengeluarkan benda cetakan yang sudah jadi. Setelah itu kebudayaan Indonesia mendapat pengaruh kebudayaan India, kebutuhan akan artefak guna memenuhi kebutuhan hidup meningkat. Karena pengetahuan teknologi berkembang maka hasil seni kriya mulai bervariasi baik dalam teknik, bentuk maupun fungsi. Periode tersebut dinamakan zaman klasik atau zaman Hindu Buda yang berlangsung dari abad ke VIII – X Masehi. Bukti-bukti peninggalan berupa prasasti yang banyak menyebut tentang pekerjaan yang digolongkan sebagai seni kriya, jenis-jenis kriya pada masa itu dapat digolongkan berdasarkan : a. bahan pokok yang digunakan seperti bambu, kayu, tanah, batu, kain dan logam 7
  • 44. b. barang-barang yang dihasilkan seperti : alat pertanian, alat- alat upacara, barang-barang perhiasan. Jenis pekerjaan seperti disebutkan dalam naskah lontar Agama dan kepercayaan di Bali antara lain: undagi (tukang kayu), amahat (pemahat), katambaran (pande tembaga), dhatudhagda (pande emas). Dalam prasasti Mantyasih,prasasti Poh dari abad ke 9 Masehi, disebutkan beberapa kelompok profesi seuai dengan barang yang dikerjakan yaitu : tukang permata, tukang perhiasan emas. Arca sebagai produk kriya dibuat sebagai perwujudan dewa, maka pembuatannya harus memenuhi ketentuan keagamaan baik dari segi teknis maupun ikonografis. Contoh : tinggi 10 tala (yaitu 10 kali ukuran dari ujung dagu sampai pada batas dahi). Bahan arca tidak hanya terbuat dari bahan logam, istilah-istilah yang digunakan untuk membedakan bahan antara lain: 1. lepaja arca dari tanah liat 2. sikata arca dari pasir 3. sailaja arca dari bahan batu 4. darughatita arca dari kayu 5. pakaja arca dari logam 6. ratnaja arca dari permata 7. citraja arca berupa lukisan pada lembar kain Dan lain sebagainya. Dalam masa lalu, kriya tidak hanya dibuat dari bahan logam. Beberapa istilah dalam prasasti menyebutkan pekerjaan kriya dari bahan bambu atau kayu adalah sebagai berikut : Magawai kisi pembuat keranjang atau bakul Magawai payung wlu pembuat payung sutra Magawai rungki pembuat tenggok atau bakul Manarub pembuat dekorasi dari bahan daun kelapa Manganamanam pembuat barang anyaman dan lain sebagainya. Benda-benda peralatan untuk kebutuhan sehari-hari atau untuk peralatan upacara, khususnya milik kaum bangsawan atau kerajaan banyak mendapat sentuhan khusus, dihias sesuai dengan ekspresi yang ingin diwujudkan. Kaum bangsawan dan para raja menghias senjata perlengkapan hias sebagai simbol kebesaran dengan batu permata dan logam emas atau perak serta batu mulia. Ornamen hias yang berupa ragam hias flora, unsur-unsur geometris (segi empat-segi tiga-lingkaran dan lainnya) juga banyak disertakan untuk menghias peralatan upacara, peralatan dapur dan berbagai jenisperalatan kebutuhan hidup. Batu permata, berlian, mutiara dan batu mulia digunakan sebagai bahan penghias senjata kebesaran, perhiasan perlengkapan wanita maupun mahkota yang dikenakan oleh para Raja. Semua itu menunjukkan bahwa kriya telah berkembang sejak masa lalu sampai masa kini. Potensi pengembangan kriya di Indonesia sangat memungkinkan untuk lebih berkembang, menurut Prof.Grant Hannan,dekan fakultas 8
  • 45. RMIT Australia, 2002 menulis bahwa ada kurang lebih 100.000 sampai dengan 200.000 industri kriya di Indonesia. Banyak jenis produk kriya dihasilkan oleh pengrajin dari berbagai daerah, pemasaran dilakukan tidak hanya melalui toko Craft di daerah wisata, tetapi juga merambah masuk ke departemen store atau Mall di kota-kota besar, Pasar Seni; bahkan kini juga ke Web internet. Berbagai ajang pameran kriya baik berskala besar atau kecil, contohnya pameran oleh Dekranas di dalam dan luar negeri. Kedutaan Besar Indonesia di berbagai negara juga aktif membantu, Pengusaha maupun Kriyawan berusaha keras mempromosikan hasil karya dengan desain-desain pilihan. Kekayaan akan keragaman seni dan budaya, ikut mengangkat nilai estetis tampilannya. Khusus untuk produk kriya kayu biasanya terkendala oleh masih agak tinggi kandungan kadar air. Indonesia beriklim tropis, sudah tentu memiliki kelembaban udara yang tinggi. Keadaan itu sangat berpengaruh terhadap bahan kayu yang digunakan, upaya yang dilakukan adalah mengkondisikan kayu sedemikian rupa sehingga kadar air yang terkandung di dalamnya maksimal hanya sebesar 9%. Grant Hannan menulis bahwa hasil kriya Indonesia sulit dipasarkan ke manca negara, produk yang berbahan kayu sulit bersaing dengan produk dari Cina, Muangtai dan negara lainnya. Produk kemudi mobil, gagang tongkat transmisi mobil, kemudi kapal layar dan lainnya banyak digunakan oleh berbagai negara. Namun produk furnitur secara umum di pasaran Eropa, Amerika kalah bersaing dengan beberapa negara penghasil lainnya. Permasalahan terbesar adalah biaya produksi yang tinggi, ketahanan terhadap perubahan cuaca yang cukup ekstrim ( di negara-negara 4 musim). Produk kriya yang banyak dipasarkan sebagian besar merupakan replika produk kriya masa lampau, bahkan pengusaha asing banyak yang bergerak di lingkup bisnis ‘barang antik’. Sayangnya produk kriya kayu yang sudah langka dan termasuk yang dilindungi sebagai ‘aset kekayaan craft’ Indonesia, banyak yang mengalir ke luar negeri sebagai komoditi perdagangan. Jenis barang tersebut antara lain furnitur, elemen hias rumah, alat-alat upacara reliji/kepercayaan dan lain-lain. Kehidupan perekonomian di beberapa daerah menjadi meningkat berkat memberdayakan sumber daya yang ada, contoh : Jepara dengan produk mebel dan ukirannya, Kotagede dengan produk perak, pulau Bali menghasilkan berbagai jenis produk dengan bahan baku yang berbeda- beda, suku Asmat Papua-Batak dengan patung primitif, Sulawei Selatan- Sumbawa dengan tenunannya,Pleret-Klampok-Singkawang dengan kriya keramiknya dan beberapa daerah lain dengan berbagai jenis produk khas kriyanya. Kriya sebagai komoditi ekspor cukup bisa diandalkan selain produk migas, hasil yang diperoleh sangat besar sehingga dapat meningkatkan taraf perekonomian di beberapa daerah. Kekayaan seni dan budaya dari berbagai etnis yang berbeda,tersebar di ribuan pulau, bila dituangkan dan diwujudkan melalui benda-benda seni dan craft, akan 9
  • 46. tidak pernah habis gagasan yang dapat dimunculkan. Bahkan bila disertai dengan inovasi salah satunya menggabungkan dua atau tiga etnis yang berbeda akan menghasilkan puluhan atau ratusan, bahkan mungkin ribuan bentuk benda kriya yang berbeda-beda. Kriya sebagai sarana pemerataan kesejahteraan, dapat dicapai melalui proses kerja kolektif. Cara yang biasa ditempuh adalah melaksanakan proses produksi melaui pengerjaan penyelesaian dan pembuatan komponen, atau pembagian bidang pekerjaan. Contoh: produk jadi dibuatkan kemasannya oleh pihak lain. Bila skala pekerjaan sudah mencapai taraf ekspor, umumnya dalam suatu lingkungan industri kecil rumah tangga dilakukan dengan pembagian kerja pembuatan komponen yang berbeda dengan menerapkan satu standar ukuran yang tetap sesuai pola yang harus dikerjakan. Jenis karya lain adalah karya kriya yang berupa karya ekspresi pribadi, dihasilkan melalui proses pembuatan yang dikerjakan oleh seniman berpengalaman. Di Papua , suku Asmat membuat patung bertema primitif adalah sebagai wujud persembahan atau pemujaan terhadap roh nenek moyang.Suku Toraja membuat patung kayu untuk upacara penguburan jasad yang dihormati. Perwujutan wajah dibuat diupayakan semirip mungkin dengan wajah jasad jenazahnya. Bahkan pemeluk agama Katolik, menggunakan patung figur Yesus dan Bunda Maria sebagai sarana ibadah. Wujud yang ditampilkan bahkan ada yang menganut figur etnis yang diyakini, umpama beberapa etnis berkulit hitam cenderung mewujutkan figur sesuai etnis yang mereka yakini. Suku Dayak penganut Hindu dinamisme, memuja arwah nenek moyang atau dewa melalui sarana patung wujud yang menyerupai figur sosok yang diangankan atau yang mengilhami pembuatnya. Di masa kini wujud ekspresi pribadi dituangkan oleh pembuatnya, apabila berupa furnitur akan mempertimbang eksklusivitas (karya tunggal), ergonomi, tampilan dan konstruksi. Karya elemen hias (untuk dekorasi) ruangan, yang diutamakan keunikan, estetika dan kesesuaian dengan proporsi ruangan. Pelestarian dan Pengembangan Kriya di Indonesia Sanggar-sangar belajar ketrampilan, Karang Taruna, sekolah seni dan budaya tingkat menengah dan tinggi, serta institusi lain sejenis aktif diselenggarakan untuk dimanfaatkan sebagai tempat untuk menempa berbagai keterampilan dan keahlian. Minat masyarakat yang lebih meyakini berbagai bidang keahlian kejuruan dapat memecahkan masalah ekonomi, meleburkan diri mengikuti atau belajar suatu bidang keahlian yang diminati. Akibat adanya permintaan suplai barang yang meningkat, semakin antusias mereka untuk tekun mengikuti pelatihan yang diselenggarakan. 10
  • 47. CONTOH – CONTOH PRODUK KRIYA 11
  • 48. 12
  • 49. 13
  • 50. 14
  • 51. 15
  • 52. 16
  • 53. 17
  • 54. 18
  • 55. 19
  • 56. 20
  • 57. BAB II BAHAN – BAHAN UNTUK KRIYA KAYU A. BAHAN POKOK 1. Kayu Kayu merupakan bahan pokok yang digunakan dalam pembuatan produk kriya kayu. Mengenal suatu bahan kayu dengan tujuan digunakan, merupakan hal yang penting, baik bagi para usahawan yang bergerak dalam industri kayu maupun bagi para pemakai kayu lainnya. Di Indonesia terdapat sekitar 4.000 jenis kayu, dan dari jumlah tersebut hanya sebagian kecil saja yang telah diketahui sifat dan kegunaannya. 1.1. Pengertian kayu Kayu dapat didefinisikan sebagai sesuatu bahan, yang diperoleh dari hasil pemungutan dan penebangan pohon-pohon di hutan, sebagai bagian dari suatu pohon. Ditinjau dari tujuan penggunaannya, kayu dapat dibedakan atas: Kayu pertukangan dan kerajinan Kayu industri dan Kayu baker Bagian-bagian Pohon Pohon sebagai satu kesatuan memiliki bagian-bagianpenting, antara lain: 21
  • 58. 1. Akar 2. Batang 3. Cabang 4. Ranting dan 5. Daun a. Bagian pangkal, umumnya tak bermata kayu dan dapat dijadikan kayu pertukangan yang baik b. Bagian tengah dan ujung, memiliki mata kayu. Bagian ini umumnya digunakan untuk industri kayu (pabrik kertas, papan buatan, dll. c. Bagian percabangan yang dikhususkan untuk industri kayu. d. Bagian cabang dan ranting, untuk kayu bakar. Gambar. 1 Bagian-bagian Kayubatang Bagian-bagian Bagian-bagian kayu seperti yang terlihat pada gambar berikut: 22
  • 59. 1. Kulit Kulit terdapat pada bagian terluar, dan mempunyai dua bagian, yaitu kulit bagian luar yang mati dan mempunyai ketebalan bervariasi, kulit bagian dalam yang bersifat hidup dan tipis. 2. Kambium Kambium merupakan jaringan lapisan tipis dan bening, melingkari pohon. Fungsi kambium kearah luar, membentuk kulit baru menggantikan kulit lama yang telah rusak, kearah dalam membentuk kayu yang baru. 3. Kayu gubal Kayu gubal adalah bagian kayu yang masih muda, terdiri-dari sel-sel yang masih hidup dan terletak disebelah dalam kambium. Kayu gubal berfungsi sebagai penyalur cairan dan tempat penimbunan zat-zat makanan 4. Kayu teras Terdiri dari sel-sel yang dibentuk melalui perubahan-perubahan sel hidup pada lingkaran kayu gubal bagian dalam. Terbentuknya kayu teras disebabkan oleh terhentinya fungsi sebagai penyalur cairan dan proses-proses lain dalam kehidupan kayu. 5. Hati Bagian kayu yang terletak pada pusat lingkaran tahun (tidak mutlak pada pusat bontos). Hati berasal dari kayu awal, yaitu bagian kayu yang pertama kali dibentuk oleh kambium. Oleh sebab itu, umumnya hati mempunyai sifat rapuh dan lunak. 6. Lingkaran tahun Adalah batas antara kayu yang terbentuk pada permulaan dan akhir suatu musim. Melalui lingkaran tahun ini dapat diketahui umur suatu pohon. 7. Jari-jari Jari-jari diukur dari luar ke dalam, berpusat pada sumbu batang. Jari- jari berfungsi sebagai tempat bahan makan yang mudah diproses di daun, guna pertumbuhan pohon. 23
  • 60. Tipe Variasi Pohon Dilihat dari susunan kayunya, ada 4 macam tipe variasi pohon. 1. Pohon yang mempunyai kayu G dan T, disebut juga pohon kayu teras. Perbedaan antara kayu T dan kayu G tampak jelas. Kayu T mempunyai warna gelap, terdapat disebelah dalam batang dan bagian luarnya adalah kayu G yang berwarna terang 2. Pohon yang mempunyai kayu G dan M, tidak memiliki kayu teras. Perbedaan antara kayu T dan kayu G tidak begitu jelas. Jika dari luar ke dalam kelihatan warnanya makin gelap, maka dikatakan masak dari luar. 3. Pohon yang mempunyai kayu G seluruhnya, tidak memiliki kayu teras. Dengan kata lain, pohon kayu gubal yaitu pohon yang mempunyai kayu tidak begitu keras. Seluruh penampang batang adalah tempat penyalur makanan dan mempunyai warna terang. 4. Pohon yang mempunyai kayu G, M, dan T. Pohon masak dari dalam ini mempunyai kayu teras yang kecil, lambat laun membesar. Kelihatan tiga perbedaan ke arah luar, yaitu kayu T, M dan G. Keterangan: G : kayu gubalM : kayu masakT: kayu teras 24
  • 61. Penggolongan Pohon Pohon dapat dibedakan atas dua golongan besar, yaitu jenis pohon dari golongan pohon daun lebar dan jenis pohon dari golongan pohon daun jarum. a. Pohon daun lebar b. Pohon daun jarum (konifer) Perbedaan dari kedua golongan pohon tersebut dapat dilihat pada tabel. 25
  • 62. Contoh pohon daun lebar diantaranya adalah kayu jati, meranti, mahoni, dan sebagainya. Sedangkan contoh pohon daun jarum adalah kayu pinus atau tusam, agathis (damar) dan jamuju. Di Indonesia jenis pohon daun jarum (konifer) jumlah jenis pohonnya lebih sedikit dibandingkan jenis kayu daun lebar. 1.2. Sifat-sifat Umum Kayu Kayu dari berbagai jenis pohon memiliki sifat yang berbeda-beda. Sifat yang berbeda tersebut menyangkut: sifat anatomi kayu, sifat fisik kayu, sifat mekanik dan sifat-sifat kimia kayu. Dari sekian perbedaan sifat kayu tersebut, ada beberapa sifat umum yang terdapat pada semua jenis kayu. Sifat-sifat umum kayu tersebut adalah: 1. Semua batang pohon mempunyai pengaturan vertikal dan sifat simetri radial. 2. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki bermacam -macam tipe, dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa-senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (unsur karbohidrat) serta berupa lignin (non karbohidrat). 3. Semua kayu bersifat anisotrofik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, tangensial, dan radial). Hal ini disebabkan oleh struktur dan orientasi selulosa dalam dinding sel, bentuk memanjang sel-sel kayu, dan pengaturan sel terhadap sumbu vertikal dan horizontal pada batang pohon. 4. Kayu merupakan suatu bahan yang bersifat higroskopik, yaitu dapat kehilangan atau bertambah kelembabannya akibat perubahan kelembaban dan suhu udara di sekitarnya. 5. Kayu dapat diserang mahluk hidup perusak kayu, dapat terbakar, terutama jika kayu dalam keadaan kering. 26
  • 63. Gambar. Arah dan orientasi kayu Sifat Fisik Kayu 1. Beberapa hal yang tergolong dalam sifat-sifat fisik kayu adalah: berat jenis, keawetan alami, warna, higroskopik, tekstur, serat, berat, kekerasan, kesan raba, bau dan rasa, nilai dekoratif, dan beberapa sifat lain. 1. Berat jenis (BJ) Kayu memiliki BJ berbeda-beda, berkisar antara minimum 0,20 hingga 1, 28. Makin berat BJ-nya, umumnya makin kuat pula kayunya, demikian sebaliknya. BJ ditentukan oleh oleh tebal dinding sel dan dan kecilnya rongga sel yang membentuk pori-pori. BJ diperoleh dari: perbandingan antara berat suatu volume kayu tertentu dengan volume air yang sama pada suhu standar. BJ kayu ditentukan berdasarkan berat kayu kering tanur atau kering udara dan volume kayu pada posisi kadar air tertentu (12-15 %). 2. Keawetan alami kayu Maksud keawetan alami kayu adalah ketahanan kayu terhadap serangan unsur-unsur perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk, 27
  • 64. cacing laut dan mahluk lainnya, yang diukur dengan jangka waktu tahunan. Keawetan kayu tsb disebabkan karena adanya suatu zat di dalam kayu (zat ekstraktif). 3. Warna kayu Terdapat berbagai macam warna kayu, antara lain warna kuning, keputih-putihan, coklat muda, cokelat tua, kehitam-hitaman, kemerah- merahan dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan oleh zat-zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda. Warna suatu jenis kayu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: tempat di dalam batang, umur pohon, dan kelembaban udara. Sebagai pedoman pada pengenalan kayu yang di pakai adalah warna kayu terasnya. 4. Higroskopik Kayu mempunyai sifat higroskopik, yaitu dpat menyerap atau melepaskan air atau kelembaban. Kelembaban kayu sangat sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu udara pada suatu saat. Makin lembap udara di sekitarnya akan makin tinggi pula kelembapan kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya. Kandungan air pada kayu semacam ini dinamakan kandungan air kesetimbangan (EMC = Equilibrium Moiture Content). 5. Tekstur Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Maksud sel kayu adalah serat-serat kayu. Jadi dapat dikatakan bahwa tekstur ialah ukuran relatif serat-serat kayu. Berdasarkan teksturnya, jenis kayu dapat dibedakan ke dalam tiga golongan, yaitu: a. kayu bertekstur halus, misalnya kayu giam, lara, kulim dan lain- lain. b. Kayu bertekstur sedang, misalnya jati, sonokling, dan lain-lain. c. Kayu bertekstur kasar, misalnya kempas, meranti, dan lain-lain. 6. Serat Serat berkaitan dengan sifat kayu, yang menunjukkan arah umum sel-sel kayu di dalam kayu terhadap sumbu batang pohon. Arah serat dapat ditentukan oleh arah alur-alur yang terdapat pada permukaan kayu. Kayu dikatakan berserat halus, jika arah sel-sel kayunya sejajar dengan sumbu batang. Jika arah sel-sel itu menyimpang atau membentuk sudut terhadap sumbu panjang batang, maka kayu itu dikatakan berserta mencong. Serat mencong dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu serat berpadu, serat berombak, serat terpilin, dan diagonal. 28
  • 65. a. Serat berpadu Jika batng kayu terdiri dari lapisan-lapisan yang berselang-seling, menyimpang ke kiri dan ke kanan terhadap sumbu batang, dikatakan berserat berpadu. Contohnya adalah kayu kulim, renghas dan kapur. b. serat berombak Serat berombak adalah serat-serat kayu yang membentuk gambaran berombak. Contohnya adalah kayu renghas dan merbau. c. Serat terpilin Serat terpilin adalah serat-serat kayu yang membentuk gambaran terpilin (puntiran), seolah- olah batang kayu tersebut dipilin mengelilingi sumbu. Contohnya adalah kayu bintangur, kapur dan damar. d. Serat diagonal Serat diagonal adalah serat yang terdapat pada potongan kayu atau papan , yang digergaji sedemikian rupa sehingga tepinya tidak sejajar arah sumbu, tetapi membentuk sudut dengan Gambar. sumbu. Berbagai arah serat mencong 7. Berat Berat suatu jenis kayu tergantung pada jumlah zat kayu yang tersusun, rongga-rongga sel atau jumlah pori-pori, kadar air yang dikandung, dan zat-zat ekstraktif di dalamnya. Berat suatu jenis kayu ditunjukkan dengan besarnya berat jenis kayu yang bersangkutan, dan dipakai sebagai patokan berat kayu. Berdasarkan berat jenisnya, jenis-jenis kayu digolongkan ke dalam kelas-kelas sebagai berikut Kelas Berat Kayu Berat Jenis Contoh Jenis Kayu a. Sangat berat Lebih besar dari 0,90 Giam, balau, eboni dll b. Berat 0,75 – 0,90 Kulim, Cendana, pilang c. Agak berat 0,60 – 0,75 Bintangur, bongin, bakau d. Ringan Lebih kecil dari 0,60 Pinus, balsa, dll 29
  • 66. 8. Kekerasan Pada umumnya terdapat hubungan langsung antara kekerasan kayu dan berat kayu. Kayu-kayu yang keras juga termasuk kayu yang berat. Sebaliknya kayu ringan adalah kayu lunak. Berdasarkan kekerasannya, jenis-jenis kayu dapat digolongkan sebagai berikut. a. Kayu sangat keras, contohnya balau dan giam b. Kayu keras, contohnya kulim dan pilang c. Kayu sedang kekerasannya, contohnya mahoni dan meranti d. Kayu lunak, contohnya pinus dan balsa Cara menetapkan kekerasan kayu adalah dengan memotong kayu tersebut dengan arah melintang dan mencatat atau menilai kesan perlawanan kayu tsb pada saat pemotongan, serta kilapnya bidang pemotongan yang dihasilkan. 9. Kesan raba Kesan raba suatu jenis kayu adalah kesan yang diperoleh pada saat kita meraba permukaan kayu tersebut. Kesan raba tersebut meliputi: kesan kasar, halus, licin, dingin dan sebagainya. 10. Bau dan rasa Bau dan rasa kayu mudah hilang jika kayu itu lama tersimpan di uadara luar. Untuk mengetahui bau dan rasa suatu kayu, perlu dilakukan pemotongan atau sayatan baru pada kayu atau dengan membasahi kayu tersebut. 11. Nilai dekoratif Nilai dekoratif umumnya menyangkut jenis-jenis kayu yang akan dibuat untuk tujuan tertentu yang hanya mementingkan keindahan pada kayu tersebut. Nilai dekoratif suatu jenis kayu tergantung pada penyebaran warna, arah serat kayu, tekstur, dan pemunculan riap-riap tumbuh yang bersama-sama muncul dalam pola atau bentuk tertentu. 12. Sifat-sifat lain Sifat-sifat lain kayu adalah termasuk dua hal yaitu sifat pembakaran dan sifat kayu terhadap suara. 30
  • 67. Sifat Mekanik Kayu 2. Sifat-sifat mekanik atau kekuatan kayu ialah kemampuan kayu untuk menahan muatan atau beban dari luar. Maksud muatan dari luar ialah gaya-gaya di luar benda yang mempunyai kecenderungan untuk mengubah bentuk dan besarnya benda. Sifat mekanik atau kekuatan kayu meliputi: keteguhan tarik, keteguhan tekan/kompresi, keteguhan geser, keteguhan lengkung (lentur), kekakuan, keuletan, kekerasan dan keteguhan belah. 1. Keteguhan tarik Kekuatan atau keteguhan tarik suatu jenis kayu ialah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu itu 2. Keteguhan tekan/kompresi Keteguhan tekan suatu jenis kayu ialah kekuatan kayu untuk menahan muatan kayu jika kayu itu dipergunakan untuk tujuan tertentu. Dibedakan dua macam kompresi, yaitu kompresi tegak lurus arah serat dan kompresi sejajar arah serat. 3. Keteguhan geser Keteguhan geser ialah ukuran kekuatan kayu dalam hal kemampuannya menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian kayu tersebut bergeser atau bergelingsir kebagian lain di dekatnya. Dalam hal ini dibedakan tiga macam keteguhan geser yaitu keteguhan geser sejajar arah serat, keteguhan geser tegak lurus arah serat dan keteguhan geser miring. 4. Keteguhan lengkung (lentur) Keteguhan lengkung atau lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban-beban mati maupun hidup selain beban pukulan yang harus dipikul oleh kayu tersebut. Keteguhan lengkung dibedakan atas keteguhan lengkung statik dan keteguhan lengkung pukul. Keteguhan lengkung statik menunjukkan kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan dan keteguhan lengkung pukul adalah kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara mendadak, misalnya pukulan. 31
  • 68. 5. Kekakuan Kekakuan kayu, baik yang dipergunakan sebagai belandar ataupun tiang adalah suatu ukuran kekuatan dalam kemampuannya menahan perubahan bentuk atau lengkung. Kekakuan tersebut dinyatakan dengan istilah modulus elastisitas yang berasal dari pengujian-pengujian keteguhan lengkung statik. 6. Keuletan Keuletan adalah suatu istilah yang biasa digunakan untuk menyebut banyaknya sifat kayu. Seperti kayu yang sukar dibelah, kayu yang tidak patah sebelum bentuknya berubah, adalah dikatakan sebagai kayu-kayu yang ulet. Keuletan dapat diartikan sebagai kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang, melampauibatas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk permanen dan kerusakan sebagian. 7. Kekerasan Kekerasan adalah suatu ukuran kekuatan kayu dalam menahan gaya yang membuat takik atau lekukan yang terjadi padanya. Kekerasan kayu juga dapat diartikan sebagai kemampuan kayu untuk menahan kikisan (abrasi), sebagai ukuran tentang ketahanannya terhadap pengausan kayu. 8. Keteguhan belah Sifat ini digunakan untuk menyatakan kekuatan kayu dalam menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu. Tegangan belah adalah suatu tegangan yang terjadi karena adanya gaya yang berperan sebagai baji. Sifat Kimia Kayu 3. Mengetahui sifat kimia dalam kayu mempunyai arti penting, karena menentukan kegunaan sesuatu jenis kayu, dan dapat membedakan jenis- jenis kayu. Susunan kimia kayu digunakan sebagai pengenal ketahanan kayu terhadap serangan mahluk perusak kayu dan dapat pula menentukan pengerjaan dan pengolahan kayu. Pada umumnya komponen kimia kayu daun lebar dan daun jarum terdiri dari tiga macam unsur, yaitu (1) unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemi selulosa, (2) unsur nonkarbohidrat terdiri dari lignin, (3) unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan yang 32
  • 69. disebut dengan zat ekstraktif, seperti minyak, resin, lilin, lemak, tanin, gula, pati dan zat warna. 1.3. Kadar Air dan Penyusutan Kayu a. Kadar Air Kayu Kadar air kayu adalah banyaknya air yang dikandung pada sepotong kayu, yang di singkat (Ka). Banyaknya kandungan kadar air pada kayu bervariasi, tergantung jenis kayunya. Kandungan tersebut berkisar antara 40% - 300% dan dinyatakan dengan persentase dari berat kayu kering tanur (kering udara). Berat kayu kering tanur dipakai sebagai dasar, karena berat ini merupakan dasar dan petunjuk banyaknya zat padat kayu. Standar untuk menentukan banyaknya air ada lah dengan mengeringkan kayu dalam tanur pada suhu 100° C - 105°, hingga mencapai berat tetap. Dalam keadaan ini kadar air kayu dianggap nol, walaupun sebenarnya kayu masih memiliki kadar air sekitar 1 persen. Keadaan air yang terdapat di dalam kayu terdiri atas dua macam yaitu air bebas dan air terikat. 1. Air bebas, air yang terdapat dalam rongga-rongga sel. Air bebas ini paling mudah dan lebih dulu keluar dan air bebas ini tidak mempengaruhi bentuk kayu kecuali berat kayu. 2. Air terikat, air yang berada dalam dinding sel kayu, sehingga sangat sulit dilepaskan. Zat cair pada dinding-dinding sel inilah yang berpengaruh kepada sifat-sifat kayu (penyusutan). b. Penyusutan Kayu Penambahan air atau zat cair pada zat dinding sel akan menyebabkan jaringan mikrofibril mengembang. Keadaan ini berlangsung sampai titik jenuh serat tercapai. Proses ini dikatakan bahwa kayu mengembang atau memuai. Penambahan air pada kayu akan mempengaruhi perubahan volume dinding sel. Penyusutan kayu adalah proses pengurangan kadar air maksimal dalam kayu. Pengurangan pertama-tama akan terjadi pada air bebas dalam rongga sel sampai mencapai titik jenuh serat. Pengurangan air selanjutnya di bawah titik jenuh serat akan menyebabkan dinding sel kayu menyusut atau mengerut. Salah satu usaha untuk mencegah dan membatasi penyusutan kayu adalah dengan membuat kadar air dalam kayu sekecil mungkin, atau pada keadaan kadar air keseimbangan, dengan cara: c. Kayu dikeringkan sampai mencapai kadar air yang stabil (tetap), sehingga penyusutan yang terjadi relatif kecil atau dapat diabaikan d. Kayu disimpan dalam ruang yang tidak lembab dan memiliki sirkulasi udara yang baik (sistem penimbunan yang sempurna. 33
  • 70. 1.4. Jenis-jenis Kayu untuk Produk Kriya Kayu a. Kayu Jati Kayu jati atau latinnya disebut tectona grandis, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet I-II, dan kelas kuat II. Kayu jati memiliki corak warna khususnya pada kayu terasnya coklat agak muda sampai tua kehijau-hijauan. Corak warna kayu jati ini mempunyai nilai dekoratif yang sangat indah dan menarik, menyebabkannya banyak diminati oleh para pengusaha mebel maupun industri pengolahan kayu. Selain keindahan corak, kayu jati mempunyai sifat pengerjaan yang mudah sampai dengan sedang, daya retak rendah, serat lurus atau berpadu walaupun memiliki tekstur yang agak kasar. Kayu jati dalam kegunaannya adalah termasuk kayu yang istimewa karena dapat digunakan untuk semua tujuan (serbaguna). b. Kayu Mahoni Kayu mahoni adalah klasifikasi yang termasuk dalam famili meliaceae. Ada dua jenis spesies yang cukup dikenal yaitu swietenia macrophylla (mahoni daun lebar) dan swietenia mahagoni (mahoni daun kecil). Mahoni daun kecil tidak dianjurkan untuk dikembangkan karena sangat peka terhadap serangan hama penggerek pucuk. Tanaman ini tumbuh pada tipe iklim A sampai D, yaitu daerah bermusim kering atau basah. Ketinggian tempat yang sesuai untuk tanaman ini berkisar antara 0-1000 m dari permukaan laut. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 40 m dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 100 cm. Tajuknya berbentuk seperti kubah, kayu lunak atau gubal berwarna merah muda, sedangkan kayu teras berwarna merah hingga coklat tua. Kayu mahoni dapat dipergunakan untuk mebel, vinir, alat olah raga, alat musik dan keperluan bangunan. Agar diperoleh kayu yang berkualitas baik untuk pertukangan, kayu ini dipanen setelah berumur 30 tahun atau lebih. Mahoni berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tanaman ini masuk ke Indonesia pada tahun 1872 melalui India, kemudian dikembangkan secara luas di pulau Jawa sekitar tahun 1892-1902. Pohon akan berbuah setelah tanaman berumur 12 tahun atau lebih yaitu pada bulan Juli sampai dengan Agustus. Buah yang masak berwarna cokelat hingga cokelat tua (PIKA, 1981). c. Kayu Sonokeling Kayu sonokling (dalbergia latifolia) merupakan jenis kayu yang memiliki keunggulan dilihat dari segi warnanya, khususnya warna pada kayu terasnya yang berwarna merah tua/ungu dengan garis-garis hitam yang gelap. Walaupun kayu ini memiliki sifat kembang susut besar dan tingkat keretakan tinggi, namun kayu sonokling memiliki tekstur yang sangat halus, serat serat lurus atau berpadu dan termasuk dalam 34
  • 71. kategori kayu kelas awet I dan kelas kuat II dengan berat jenis kering udara rata-rata 0,90. Secara umum kayu sonokling ini biasanya digunakan untuk kayu perkakas, lantai, papan, alat olah raga dan musik, seni ukir dan pahat, finir mewah, kerjaan liat dan kerjaan putar (PIKA, 1981). d. Kayu Suren/surian Kayu suren (toona sureni merr) merupakan jenis kayu yang memiliki warna merah daging. Kayu suren ini memiliki sifat kembang susut besar dan tingkat keretakan tinggi. Kayu suren juga memiliki tekstur yang agak keras dan agak halus, serat lurus bergelombang dan termasuk dalam kategori kayu kelas awet IV dan kelas kuat III-IV dengan berat jenis kering udara rata-rata 0,39. Berdasarkan sifat-sifat yang ada, kayu suren ini biasanya digunakan untuk kayu perkakas, papan, peti, kotak serutu, kayu bangunan, plywood, rangka pintu dan jendela, kayu perkapalan, seni ukir dan pahat, potlot, moulding. (PIKA, 1981). e. Kayu Sungkai Kayu sungkai atau jati sabrang latinnya disebut pronema canescens Jac , adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet III, dan kelas kuat II-III. Kayu sungkai memiliki corak warna kayu teras kering udara putih kekuning-kuningan. Kayu sungkai mempunyai sifat pengerjaan mudah, namun daya retaknya cukup tinggi, serat lurus bergelombang dan memiliki tekstur agak kasar. Kayu sungkai dalam kegunaannya diperuntukkan sebagai kayu bangunan, kayu perkakas, lantai, papan, seni ukir dan pahat, finir mewah serta sebagai kayu ornamentil. f. Kayu Bangkirai Kayu bangkirai atau benuas; anggelam, nama latinnya shorea laevifolia Ender, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet I, dan kelas kuat I-II. Kayu bangkirai memiliki corak warna kayu teras kering udara coklat kuning (kemerahan). Kayu bangkirai mempunyai sifat pengerjaan sedang sampai dengan sukar, daya retak sedang-tinggi, serat lurus atau berpadu dan memiliki tekstur kasar agak halus. Kayu bangkirai dalam kegunaannya diperuntukkan sebagai kayu bangunan, jembatan, tiang listrik/telepon, bantalan, kayu perkakas, plywood, lantai, kayu perkapalan, sumbu kincir dan tong. g. Kayu Keruing Kayu keruing atau lagan; bayan; mengkeluang, nama latinnya dipterocarpus, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet III, dan kelas kuat II-(I). Kayu keruing memiliki corak warna kayu teras kering udara merah coklat, orange/merah cerah. Kayu keruing mempunyai sifat pengerjaan agak sukar, kembang susut kecil, daya retak rendah, serat 35
  • 72. lurus atau berpadu dan memiliki tekstur agak kasar. Kayu keruing dalam kegunaannya diperuntukkan sebagai kayu bangunan, kayu perkakas, plywood, lantai, papan, bantalan, kayu perkapalan, dan jembatan. h. Kayu Bayur Kayu bayur atau cayur, wadang, balang, nama latinnya pterospermum, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet IV, dan kelas kuat II-III. Kayu bayur memiliki corak warna kayu teras kering udara coklat merah. Kayu bayur mempunyai sifat pengerjaan mudah, kembang susut kecil, daya retak rendah, serat lurus atau berpadu dan memiliki tekstur agak kasar. Kayu bayur dalam kegunaannya diperuntukkan sebagai kayu bangunan, kayu perkakas, plywood, lantai, papan, kayu perkapalan, seni ukir dan pahat, peti, gagang peralatan, sisir, rangka pintu dan jendela. i. Kayu Bintangur Kayu bintangur atau kapur naga, penaga, nyamplung, bunut nama latinnya callophyllum, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet III, dan kelas kuat II-III. Kayu bintangur memiliki corak warna kayu teras kering udara merah tua, merah coklat, merah muda kecoklatan/merah kuning. Kayu bintangur mempunyai sifat pengerjaan mudah sampai dengan berat, kembang susut besar, daya retak sedang, serat berpadu dan memiliki tekstur agak kasar-kasar dan tidak merata. Kayu bintangur dalam kegunaannya diperuntukkan sebagai kayu bangunan, kayu perkakas, plywood, lantai, papan, bantalan, kayu perkapalan, tiang, peti, chipboard dan papan loncat. j. Kayu Durian Kayu durian atau bengang; duren; dahuian, tuleno nama latinnya durio dan coelostegia, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet IV-V, dan kelas kuat II-III. Kayu durian memiliki corak warna kayu teras kering udara merah, merah jambu/coklat merah. Kayu durian mempunyai sifat pengerjaan mudah, kembang susut besar, daya retak rendah, serat lurus kadang-kadang berpadu dan memiliki tekstur kasar dan tidak merata. Kayu durian dalam kegunaannya diperuntukkan sebagai kayu bangunan, plywood, peti, bingkai, kotak serutu dan papan. k. Kayu Pulai Kayu pulai atau lame, legarang, stoolwood nama latinnya alstonia, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet III-V, dan kelas kuat I- V. Kayu pulai memiliki corak warna kayu teras kering udara putih kekuning-kuningan. Kayu pulai mempunyai sifat pengerjaan mudah, kembang susut sedang, serat berpadu dan memiliki tekstur agak kasar- halus. Kayu pulai dalam kegunaannya plywood, peti, seni ukir dan pahat, korek api, pulp, alat gambar, moulding, papan dan hack sepatu. 36
  • 73. l. Kayu Ramin Kayu ramin atau gaharu buaya; R. melawisnama; menameng latinnya gonystylus bancanus kurz, adalah jenis kayu yang termasuk dalam kelas awet IV-V, dan kelas kuat II-III. Kayu ramin memiliki corak warna kayu teras kering udara kuning muda keputih-putihan. Kayu ramin mempunyai sifat pengerjaan mudah tetapi mudah pecah karena pakuan, kembang susut besar, daya retaktinggi, serat sedikit berpadu dan memiliki tekstur agak halus dan merata. Kayu ramin dalam kegunaannya diperuntukkan sebagai kayu bangunan, plywood, kayu perkakas, lantai, papan, moulding, bingkai, tirai, gagang peralatan, mainan anak-anak, rangka pintu dan jendela. Berikut adalah tabel aneka jenis kayu dan kelas awet di Indonesia 37
  • 74. 2. Kayu Buatan Kayu buatan berkembang seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi industri kayu dan membuat bahan-bahan kayu lebih terarah dan bermanfaat sesuai dengan kegunaan kayu pada umumnya dan kehidupan manusia khususnya. Kayu buatan dalam hal ini berupa papan kayu terdiri dari kayu lapis (plywood) dan papan partikel serta campuran bahan lain seperti kertas, gift, mika dan sebagainya. Adapun beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan kayu buatan ini yaitu: 1. Menghemat penggunaan kayu 2. Harganya yang efesien 3. Kembang susut pada arah yang memanjang dan melebar jauh lebih kecil sehingga merupakan bahan yang memiliki stabilitas dimensi yang lebih baik. 4. Mempunyai ketahanan lebih besar terhadap belahan dan retak. 5. Memungkinkan penggunaan lembaran-lembaran papan yang lebih besar. 6. Ringannya kayu lapis sehingga memudahkan perlakuan kayu lapis pada pembuatan barang tertentu. 7. Memungkinkan mendapat efek nilai dekoratif yang lebih luas. 8. Mampu menahan paku dan sekrup lebih baik. 38
  • 75. Diantara kayu-kayu buatan tersebut seperti yang diuraikan di bawah ini a. Plywood Kayu lapis (plywood) adalah papan buatan dengan ukuran tertentu yang terbuat dari beberapa lapisan finir yang jumlahnya ganjil, dipasang dengan arah serat yang bersilangan saling tegak lurus, kemudian direkat menjadi satu pada tekanan yang tinggi dengan menggunakan perekat khusus. Yang paling umum dan sering digunakan adalah lapis tiga disebut tripleks atau three-ply. Plywood yang lebih dari tiga lapisan finir dikenal dengan nama multipleks atau multiply, seperti: lapis 5 (5 ply), lapis 7 (7 ply), lapis 9 (9 ply). Kayu yang dibuat finir adalah dari jenis-jenis kayu lunak, ringan, kelas kuat dan kelas awetnya II-IV. Jenis kayu yang digunakan antara lain: meranti, keruing, merawan, kapur, kempas, mangir, damar. Sedangkan untuk finirnya menggunakan jenis kayu jati, sonokling, rengas, mahoni, maple dan sebagainya. Penggunaan kayu lapis ini antara lain: 1. Perabot rumah tangga 2. Alat-alat musik (gitar, drum, dan lain-lain) 3. Barang-barang kerajinan 4. Bahan produk furniture b. Tegofilm (MDF Film) Papan buatan untuk tegofilm, umumnya terbuat dari campuran kertas. Ukurannya-pun sangat bervariasi. Tegofilm biasa digunakan untuk meja, almari, buffet (olympic). Adapun ukurannya adalah 4.0 MM 4 x 8, 9.0 MM 4 x 8, 12.0 MM 4 x 8, 15.0 MM 4 x 8, dan 18.0 MM 4 x 8. c. Blockboard (papan blok) Blockboard dibuat dengan merekat kayu-kayu lat, sisi lawan sisi dan melapisi kedua permukaannya dengan selembar finir. Lebar kayu-kayu lat tersebut tidak lebih dari 25 mm. Blockbord mempunyai dua jenis yaitu lapisan melamin dan biasa. Papan buatan ini biasa digunakan dalam konstruksi pintu, panel-panel dinding, skat kamar dan pelapisan lantai. Adapun jenis dan ukuran dari block board tersebut adalah: 1). blockborad biasa, 15.0 MM 4 x 8 AK, 15.0 MM 4 x 8 UTL, 18.0 MM 4 x 8 AK, 18.0 MM 4 x 8 UTL, (keterangan AK: kayu sengon; UTL: kayu keras., 2). blockboard melamin, 15.0 MM 4 x 8 , 15.0 MM 4 x 8, 18.0 MM 4 x 8 AK, 18.0 MM 4 x 8. d. Partikel (particle board) Papan partikel adalah papan buatan yang terbuat dari serpihan kayu dengan bantuan perekat sintetis kemudian di pres sehingga memiliki sifat seperti kayu massif, tahan api dan merupakan bahan isolasi serta bahan akustik yang baik. Papan partikel memiliki beberapa sifat-sifat antara lain: 39
  • 76. 1. Penyusutan dianggap tidak ada 2. Keawetan terhadap jamur tinggi, karena adanya bahan pengawet 3. Merupakan isolasi panas yang baik 4. Sebagai bahan akustik yang baik Papan partikel dapat digunakan untuk beberbagai keperluan, antara lain: untuk perabot, dinding dalam ruang, dinding antara, plafon dan lantai, dan sebagainya. Penggunaan papan partikel dapat mendatangkan keuntungan antara lain: 1. Merupakan bahan konstruksi yang cukup kuat 2. Bahan isolasi dan akustik yang baik 3. Dapat menghasilkan bidang yang luas 4. Pengerjaan mudah dan cepat 5. Tahan api 6. Mudah di-finishing, dilapisi kertas dekor, dilapisi finir dan sebagainya 7. Memiliki kestabilan dimensi e. MDF Papan buatan MDF seperti halnya tegofilm juga terbuat dari bahan kertas. Papan ini juga biasanya digunakan untuk bahan furniture, salon box dan sebagainya. Ukurannyapun bervariasi. Terdapat 2 jenis kualitas MDF yaitu AA dan Sumalindo. Ukurannya adalah 3.0 MM 4 x 8 AA, 3.0 MM 4 x 8 sumalindo, 4.0 MM 4 x 8 sumalindo, 6.0 MM 4 x 8 sumalindo, 9.0 MM 4 x 8 sumalindo, 12.0 MM 4 x 8 sumalindo, 15.0 MM 4 x 8 sumalindo, 18.0 MM 4 x 8 sumalindo, dan 25.0 MM 4 x 8 sumalindo. f. Softboard Softboard adalah jenis papan buatan yang biasanya dijadikan lapisan untuk peredam suara dalam ruang. Papan buatan ini mempunyai kelemahan yaitu mudah patah. Adapun ukuran papan softboard ini adalah 12.0 MM x 4 x 8. g. Milamin (Papan Milamin) Papan milamin seperti halnya dengan plywood, hanya saja pada papan ini salah satu permukaannya memiliki lapisan terluar dari suatu produk. Berikut adalah merk dan ukuran dari papan milamin: h. Polywood Papan lapis ini, sama halnya dengan milamin. Biasanya digunakan untuk pintu-pintu kamar, plafon dan meja. Polywood memiliki ukuran 2.2 MM x 3 x 7. Jenisnya adalah: 181 warna merah maron, 182 warna coklat muda, 184 warna coklat tua. 40
  • 77. i. Poly ukir Papan ini seperti halnya dengan plywood. Hanya saja pada bagian permukaannya dihiasi dengan motif garis atau motif tradisional. Ukuran dari papan buatan ini adalah 3.0 MM 3 x 7. j. Pipe ovely Pive ovely hampir sama dengan plywood, hanya saja terdapat sedikit campuran kertasnya. Papan buatan ini biasa digunakan untuk pintu, dinding, dan plafon. Ukurannya adalah 3.0 MM 4 x 8. k. Aluminium wood Papan buatan ini seperti halnya kayu lapis lainnya, hanya saja pada salah satu bagian permukaannya dilapisi dengan aluminium. Dilapisi aluminium maksudnya agar tahan terhadap air, sehingga papan ini digunakan untuk pintu kamar mandi dan dapur. Adapun ukurannya adalah 3.0 MM 3 x 7. l. Gypsum Papan ini terbuat dari kertas yang dilapisi dengan semen/kapur. Papan gypsum bisa digunakan untuk plafon suatu bangunan. Gypsum umumnya berwarna putih, dan memiliki ukuran 9.0 MM 120 x 140. m. Teak wood Teakwood adalah papan buatan yang termasuk plywood di mana salah satu permukaannya dilapisi menggunakan finir jati yang halus (bertekstur). Adapun macam-macam teakwood dan ukuranya adalah: teakwood AA 3.0 MM 3 x 7, amphromosia AF , silver/AA 3.0 MM 4 x 8, Megateak 3.0 MM 4 x 8, teakwood melintang (3x4x8) 3.0 MM 4 x 8, AA 3.0 MM 4 x 8, AA 4.0 MM 4 x 8, AA 9.0 MM 4 x 8 (1x), AA 9.0 MM 4 x 8 (2x). n. Teak block Papan buatan ini hampir sama dengan blockboard yang isinya terdiri dari susunan kayu lat atau kayu blok, hanya lapisan pada salah satu permukaannya menggunakan finir jati seperti halnya pada teak wood. Papan ini digunakan untuk bahan-bahan furniture, dinding, salon box dan sebagainya. Berikut macam dan ukuran dari teak block adalah: teak block AA 15.0 MM 4 x 8, teak block AA 18.0 MM 4 x 8 (1x TRM), teak block AA 18.0 MM 4 x 8, (1x silver), teak block AA 18.0 MM 4 x 8 1x WR, teak block AA 18.0 MM 4 x 8 (2x), teak block fuji 18.00 MM 4 x 8 (1x). o. Pattern board Papan buatan jenis pattern board ini terbuat dari serpihan-serpihan kayu, dengan menggunakan bahan perekat khusus. Bahan ini biasanya 41
  • 78. digunakan pada salon box, dinding penyekat dan sebagainya. Ukurannya adalah 3.0 MM 4 x 8. p. Fancy plywood Fancy plywood merupakan kayu lapis yang permukaannya mempunyai corak keindahan (kayu lapis indah). Biasa digunakan pada plafon dan lapisan-lapisan pintu dan meja. Fancy plywood terdapat banyak jenisnya tergantung jenis kayu dan bahan pelapis yang digunakannya. Seperti: fancy rose wood, fancy agathis, fancy nyatoh, fanci ramin, fancy sungkai, mega sungkai, fancy sungkai block, white oak, sonokling, maple, cherry C/Q, cherry crown, brown cuts eye, ebony, enigree, tiger burl, silver cuts eye, ash burl, cherry burl, white ice tree C/Q, black chestnut dan red chestnut. Untuk ukurannya sama seperti kayu buatan yang lain yaitu rata-rata 3.0 MM 4 x 8. q. Bahan pelapis/finir Bahan pelapis atau finir merupakan lembaran kayu yang tipis dari 0,24 mm sampai 6,00 mm, yang diperoleh dari penyayatan (pengupasan) dolok kayu jenis tertentu. Finir biasanya digunakan untuk melapisi kayu- kayu masif. Terdapat beberapa jenis finir yang biasa digunakan diantaranya adalah: finir jati, finir putih, finir sungkai dan finir mahoni. Selain jenis finir kayu yang digunakan untuk melapisi permukaan kayu, ada juga bahan sintetis yang sering digunakan untuk melapisi bagian permukaan dari suatu produk furniture seperti bagian daun meja (top table) atau bagian dalamnya. Adapun jenis dan macam bahan pelapis sintetis tersebut antara lain: tachon shit marmer putih, tachon shit marmer hitam, tachon shit cokelat, tachon shit cream, tachon shit abu- abu, formika putih gloss, vichon shit putih, vichon shit cokelat, vichon shit cream, dan gluropal. B. BAHAN PEMBANTU 1. Paku a. Pengertian Paku Paku (nail) adalah sebuah material yang terbuat dari besi, baja, alumunium, dan kawat yang bentuknya slinder dan berujung lancip serta berkepala agak lebar. Selain paku besi dan baja terdapat juga paku-paku yang dibuat dari kuningan, logam galvanisasi dan paku-paku berlapis. Paku merupakan salah satu bahan pendukung produksi dalam dunia industri kayu yang fungsinya untuk menyambung kayu yang sifatnya permanen dan sementara. Paku umumnya terdapat banyak jenis dan ukurannya, serta fungsinya juga berbeda-beda. Selain digunakan pada kayu ada juga yang difungsikan untuk tembok. Paku juga dapat dijual per packed, bijian atau kiloan. 42
  • 79. b. Spesifikasi 1. Paku kawat baja Paku kawat baja merupakan jenis paku yang umumnya digunakan oleh masyarakat. Kepala paku ini diberi goresan (grid) untuk menahan tekanan saat proses pemakuan, leher paku dibuat kasar agar cengkeraman pada kayu lebih kuat. Paku jenis ini biasa diterapkan pada balok ukuran 8 x 10 dan 8 x 8 cm. Jenis-jenis dan ukuran paku kawat baja adalah: • Paku usuk : 5 inchi, 4 inchi,3 inchi, 3 ¾ inchi , 2 1/5 inchi • Paku reng : 1 1/5 inchi,1 inchi • Paku ternit : ¾ inchi • Paku triplek : ¾ inchi, ½ inchi 2. Paku Payung Paku ini dinamakan paku payung karena kepala paku ini menyerupai payung. Paku ini terbuat dari besi yang dilapisi galvanis. Biasanya digunakan pada pemakuan seng, asbes, fiber, dan kayu. Tetapi khusus penggunaannya pada kayu tidak umum digunakan. Berdasarkan jenisnya, paku payung terdiri dari tiga jenis yaitu: • Paku payung seng/asbes : 2 ½ inchi • Paku pinus : ¾ inchi • Paku payung ulir : 2 ½ inchi 3. Paku Beton Paku beton memiliki 7 ukuran yang berbeda. Paku ini sering digunakan pada beton atau dinding bangunan. Paku ini terbuat dari baja. Umumnya dijual per packed dan per-biji. Paku ini memiliki kelebihan yaitu: keras, dan tahan terhadap karat. Paku beton berjumlah 144 biji dalam 1 packed/dos. Adapun ukuran yang terdapat adalah: paku 4 inchi, 3 inchi, 2 ¾ inchi , 2 ¼ inchi, 1 ½ inchi, dan 1 inchi. 4. Paku Bengkirai Paku bengkirai biasa digunakan untuk memaku jenis kayu keras seperti giam, bakau, gelugu, dan bengkirai. Paku ini terdiri dari campuran besi dan baja yang dilapisi galvanis. Paku bengkirai sering diterapkan pada kusen pintu dan jendela. Adapun ukurannya yaitu : 4 ¼ inchi, 4 inchi, 2 inchi, dan 1 inchi. 5. Paku Etalase/Pivet Paku jenis etalase ini memiliki 2 komponen, digunakan pada sambungan papan olimpic yang jenis kayunya berfinir. Bahannya terbuat dari besi yang dilapisi cadmium/galvanis. Adapun ukurannya adalah: 2 inchi, 1 ¾ inchi, 1 ¾ inchi. 43
  • 80. 6. Paku Venner Pin Paku venner merupakan jenis paku yang batangnya kecil dan besinya tidak terlalu keras. Paku venner khusus diterapkan pada papan yang terbuat dari venner (serbuk kayu). 7. Paku Duplex Paku duplex sering diterapkan pada bangunan yang akan dicor dan pada ujung kepala paku dapat diikat dengan kawat, sehingga memudahkan untuk menahan kawat tersebut. Paku duplex terbuat dari baja dan pada batangnya dibuat grid agar cengkraman pada kayu atau beton lebih kuat. Adapun ukurannya yaitu: 2 inchi, 2 ½ inchi, 3 inchi, 3 ½ inchi, 4 inchi. 8. Paku Tembok (panel pin) Paku tembok hanya memiliki satu jenis yang diterakan pada kayu buatan seperti blackboard dan teakwood. Kepala paku panel menyerupai kerucut terbalik. Adapun ukurannya yaitu: ½ inchi, ¼ inchi, dan 1 inchi. 9. Paku Cut Tack Paku jenis ini diterapkan pada jok kursi. Pada bagian kepalanya agak lebar serta bagian yang runcing lebih panjang. Umumnya dijual per- packked/dos. Adapun ukurannya adalah ½ inchi. 10. Paku Wailboard Paku wailboard hampir menyerupai paku kawat baja, tetapi pada bagian kepalanya agak melebar. Diameternya adalah 1,4 mm. Adapun klasifikasi ukurannya yaitu: ½ inchi, ¾ inchi dan 1 inchi. 11. Paku Upholstery Paku upholstery memiliki kepala bulat dan batangnya pendek. Paku ini juga diterapkan pada jok. Untuk ukurannya adalah ½ inchi. 12. Paku Ecucheon Pin Paku jenis ini memiliki kepala bulat tetapi kecil tidak memiliki grid pada bagian leher. Paku ini biasa diterapkan pada list ternit atau plafon rumah. Ukurannya seperti halnya paku upholstery yaitu ½ inchi. 13. Paku Cacing Dinamakan paku cacing karena bentuknya menyerupai cacing. Paku ini hanya terdapat tiga ukuran dan terbuat dari plat seng. Biasanya diterapkan pada papan yang akan di sambung dengan sistem laminating. Tiga ukuran tersebut yaitu: 9 mm, 12 ½ mm, dan 15 mm. 14. Paku Clout Head Paku ini memiliki kepala lebih besar daripada paku-paku yang lain, tetapi batangnya tidak terlalu panjang. Paku jenis ini biasa diterapkan 44
  • 81. pada sambungan kayu dan dimanfaatkan sebagai dowel sambungan tersebut. Diameternya adalah 3, 7 mm. Ukurannya adalah ½ inchi dan 1 inchi. 15. Paku Fibio Cemment Paku jenis ini pada bagian ujung tidak lancip dan terbuat dari besi yang dicampur galvanis. Umumnya diterapkan pada plastik dan kayu yang bervinir lunak. Untuk ukuran pakunya adalah 1 inchi, 1½ inchi dan 2 inchi. Berikut adalah gambar dari jenis-jenis paku di atas: 45
  • 82. 2. Engsel a. Pengertian Engsel Dalam pembuatan kerajinan kayu atau permebelan, kedudukan engsel memiliki peranan sebagai bahan pembantu. Engsel merupakan bahan asal mineral, hasil persenyawaan antara dua macam logam murni atau lebih dengan bentuk dan ukuran yang beragam. Akan tetapi ada juga engsel yang terbuat dari plastik atau gabungan keduanya. Adapun pengertian engsel sebagai berikut: 1. Engsel adalah alat pembantu kerajinan kayu yang terbuat dari logam atau plastik dan fungsinya sebagai pengokoh. 2. Engsel adalah suatu alat yang berguna untuk menyambung papan sehingga dapat berputar pada porosnya. b. Fungsi Engsel 1. Sebagai bahan pembantu dalam pembuatan kerajinan kayu 2. Sebagai alat pengokoh pada kerajinan kayu atau permebelan yang membutuhkan peran dari engsel tersebut. c. Macam-macam Engsel 1. Engsel Poros Tetap Engsel ini digunakan pada pembuatan box atau peti. Terbuat dari kuningan, baja dan plastik yang berbentuk tipis, dengan ukuran 20 mm s/d 150 mm. 2. Engsel Kupu-Kupu Dalam segi bentuk engsel ini hampir sama seperti engsel poros tetap. Biasanya engsel ini digunakan pada daun meja yang dapat dilipat, akan tetpi tidak menutup kemungkinan diterapkan pada benda lain, dengan menyesuaikan engsel sesuai dengan bendanya. Pemasangan engsel ini dibenamkan rata dengan permukaan benda diperkuat dengan sekrup. Engsel ini terbuat dari baja dan kuningan dengan ukuran beragam berkisar antara 20mm s/d 75 mm. 3. Engsel Rentang (Engsel berbentuk ‘T’) Engsel ini disebut T karena dalam tampilan bentuknya menyerupai huruf T. Penerapannya biasa digunakan untuk menyambungkan pintu garasi, pintu gerbang dan pintu gudang. Engsel ini terbuat dari plat baja, dengan ukuran beragam berkisar 50 mm s/d 300 mm. 4. Engsel Pasak Lepas (Loose pin) Bentuk globalengsel ini hampir sama dengan engsel poros tetap. Akan tetapi pasak atau poros dari engsel ini dapat dilepas. Penerapan engsel ini biasanya digunakan pada daun pintu atau 46
  • 83. jendela. Namun tidak menutup kemungkinan engsel digunakan pada benda lain dengan tetap memperhatikan bentuk dan ukuran keduanya. 5. Engsel piano (Piano or Continuous Hinger) Engsel ini dinamai demikian karena tadinya hanya digunakan untuk pemasangan daun tutup piano saja, akan tetapi sekarang banyak digunakan pada bufet, kabinet, tempat tidur dan jendela. 6. Engsel Kait dan Engsel Rentang Bentuk global engsel ini hampir sama dengan engsel rentang. Akan tetapi pada batang engsel ini terdapat kait. Engsel ini digunakan untuk menggantungkan pintu-pintu yang berat, misalnya pada pintu gerbang, pintu gudang dan pintu gerbong kereta api. 7. Engsel poros mencuat Engsel ini digunakan apabila sebuah pintu harus bisa berputar ke kiri dan ke kanan serta dapat menutup sendiri. 8. Engsel Rata Engsel ini merupakan penerapan dari engsel pintu. Engsel ini biasanya digunakan pada pintu yang berukuran besar dan berat, sehingga ukuran engsel ini besar dan tebal. Engsel ini memiliki ukuran 4x3 inc. 9. Engsel Rentang Hias Engsel ini memiliki desain yang berbeda-beda, serta dapat digunakan sebagai dekorasi pada pembuatan peti, lemari pakaian, dan sebagainya. 10. Engsel “H” Disebut Engse H karena bentuknya menyerupai huruf H, biasanya digunakan pada daun pintu dan jendela yang bisa dilepas. 11. Engsel “HL” Dalam segi bentuk engsel ini merupakan pengembanagan dari engsel “H”dan fungsinya masih sama dengan engsel “H”. 12. Pewter Hinges Engsel ini terbuat dari kuningan dan biasanya digunakan pada kabinet/lemari kaca a tau dalam bahasa inggris disebut Pewter cabinet. 13. Engsel Kabinet Dekoratif Engsel ini merupakan pengembangan dari pewter hinges tapi fungsinya lebih ditonjolkan pada nilai dekoratif. 47
  • 84. 14. Engsel Sendok Dalam segi bentuk engsel ini hampir menyerupai sendok, sehingga dinamakan engsel sendok. Engsel ini biasanya diterapkan pada daun pintu, lemari, peti, dan kabinet. Di pasaran ada tiga macam bentuk, ada yang bersayap segi empat, bersayap bulat dan ada yang tidak memiliki sayap. Engsel ini dijual dalam bentuk satuan dan dipengaruhi oleh besar kecilnya ukuran engsel tersebut. Bentuk dan macam-macam engsel Engsel poros Engsel kupu- Engsel rentang tetap kupu Engsel piano Engsel pasak llepas Engsel kait dan rentang Engsel rata Engsel pasak mencuat 48
  • 85. Engsel rentang Engsel “H”/Pin hias Hinge Engsel “HL” Engsel Engsel kabinet dekoratif/closing cabinet pewterhinges hi 49
  • 86. Engsel Engsel kabinet dekoratif/closing cabinet hi 3. Handle a. Pengertian handle Handle merupakan pegangan, tangkai ataupun gagang yang dipasang pada pintu rumah, pintu jendela, pintu almari ataupun laci. Handle tidak hanya berfungsi sebagai tarikan pintu rumah, jendela, pintu almari ataupun laci tetapi juga lebih mempunyai fungsi dan nilai tambah yang menonjolkan keserasian, keseimbangan, dan nilai estetik (keindahan) dari suatu produk furnitur. b. Spesifikasi handle 1. Handle Pintu Fungsi handle pintu ini umumnya berfungsi sebagai tarikan pintu pada pintu utama, tetapi kadang handle pintu ini juga sering dipakai sebagai pegangan pada pintu teralis rumah dan pintu kamar yang berfungsi untuk memperindah tampilan luar dari produk itu sendiri. Ukuran handle pintu umumnya berukuran lebih besar dan lebih panjang antara 25 -30 cm. 50
  • 87. Bahan handle, untuk bahan handle jenis ini ada beberapa jenis alternatif bahan yang dikombinasikan produsen penghasil handle yaitu: Logam jenis besi yang dipadukan kuningan, untuk kombinasi bahan ini biasanya bahan yang dominan dipakai sebagai bahan pokok adalah besi, sedangkan kuningan hanya sebagai pelapis luar dari handle sehingga handle tersebut bisa lebih tahan karat. 2. Handle Jendela • Handle jendela umumnya berfungsi sebagai tarikan jendela rumah, tetapi kadang juga sering dipakai pada produk lain seperti pintu almari, laci yang besar. • Ukuran handle jendela lebih kecil daripada handle pintu yaitu antara 8-12 cm. • Bahan handle, untuk bahan handle jenis ini ada beberapa jenis alternatif bahan yang dikombinasikan produsen penghasil handle yaitu: a). logam jenis besi yang dipadukan kuningan, untuk kombinasi bahan ini biasanya bahan yang dominan dipakai sebagai bahan pokok adalah besi, sedangkan kuningan hanya sebagai pelapis luar dari handle sehingga handle tersebut bisa lebih tahan karat. b). campuran logam jenis besi dengan kuningan yang dipadukan fiber glass, Untuk perpaduan jenis ini bahan dasar dari handle didominasi oleh logam campur agar lebih kuat saat dilakukan pemasangan. Sedangkan fiber glass hanya untuk melapisi dan mempercantik tampilan luar sehingga handle memiliki daya tarik yang lebih tinggi dan berkesan elegant. 3. Handle Laci • Handle laci berfungsi sebagai tarikan pada laci. • Bentuk handle laci umumnya berbentuk bulat tetapi ada juga yang tarikannya berbentuk ring atau cicin dan tarikan tunggal yang mengesankan bentuk yang klasik 51
  • 88. Bentuk dan macam-macam handle Handle pintu Handle pintu Handle jendela Handle laci dan jendela 52
  • 89. 4. Amplas A. Pengertian Amplas Amplas adalah salah satu alat yang digunakan untuk meratakan dan menghaluskan suatu benda kerja seperti kayu, besi, tembok dan lain-lain. B. Spesifikasi Amplas Spesifikasi amplas sangat bervariasi dilihat mulai dari bentuk, fungsi, ukuran, dan bahan. Adapun macam-macam amplas adalah sebagai berikut: 1. Amplas Kertas a. Amplas kertas biasanya untuk meratakan dan menghaluskan suatu produk yang terbuat dari kayu dan besi. b. Amplas kertas bersifat water proof yaitu dalam proses pengerjaanya bisa menggunakan air. c. Amplas kertas mempunyai merek yang bermacam-macam yaitu: - Sikent - Kinka - Yamastar - Reiner - Knight dan sebagainya. d. Amplas kertas mempunyai nomor 80-1000 CC-CW dan biasanya menggunakan kelipatan 20. 2. Amplas Kain. f. Amplas kain biasanya digunakan untuk meratakan dan menghaluskan suatu benda kerja, umumnya digunakan pada tembok. g. Amplas kain juga mempunyai merk yang bermacam-macam diantaranya RRB dan Playing whed h. Amplas kain mempunyai nomor 0-3 semakin kasar amplasnya semakin mahal harganya. i. Amplas kain yang berupa meteran yaitu notion, yamastar, sikent, sia dan sebagainya. C. Jenis dan Tingkatan Amplas 1. Amplas kasar 80 s/d 150 Amplas kasar biasanya digunakan untuk meratakan permukaan benda kerja pada tahap awal penghalusan suatu benda kerja. 2. Amplas sedang 150 s/d 180 Amplas sedang biasanya dipergunakan untuk meratakan benda kerja setelah diamplas kasar. 3. Amplas halus 180 s/d 240 53
  • 90. Amplas halus biasanya dipergunakan untuk menghaluskan benda kerja yang akan difinising. 4. Sekrup 1. Pengertian Sekrup Selain paku biasa pada pertukangan kayu dikenal juga jenis paku ulir yang sering digunakan pada konstruksi kayu yang disebut dengan sekrup. Sekrup adalah alat pengokoh pada sambungan kayu atau logam yang mempunyai ulir spiral dan bentuk ujungnya runcing. Sekrup kayu biasanya terbuat dari logam yang mempunyai ulir spiral dan ujungnya runcing. Bentuk kepala sekrup secara umum bulat, rata, dan timbul tergantung pada penggunaannya. 2. Spesifikasi Perbedaan antara paku dengan sekrup adalah bentuk kepalanya yang terdapat alur untuk memutar sekrup dengan obeng dan batangnya terdiri dari ulir-ulir spiral yang semakin mengecil dari pangkal hingga ujung sekrup. 3. Bentuk dan Ukuran Pada kepala sekrup terdapat alur yang mempunyai bentuk antara lain: a. Kepala sekrup kembang Disebut kepala sekrup kembang dikarenakan bentuk alurnya yang mempunyai bentuk kembang yang terdiri dari dua alur yang saling bersilangan yang sering disebut taping. b. Kepala sekrup celah Yaitu alur kepala sekrup berbentuk celah atau hanya satu alur saja. c. Dekskrup Dekskrup adalah sekrup yang mempunyai bentuk kepala mur dan untuk memutar sekrupnya menggunakan kunci. Sedangkan jenis kepala sekrup antara lain: • Kepala sekrup bulat • Kepala sekrup rata • Kepala sekrup yang berbentuk lonjong dan kepala timbul. Selain itu, ada pula sekrup yang digunakan untuk konstruksi sambungan pada kayu sengaja ditampilkan sebagai hiasan. Sedangkan untuk ukuran sekrup yang ada dipasaran terdiri dari ½ inc, 5/8 inc, ¾ inc, 1 inc, 1 ¼ inc, 1 ½ inc, 2 inc, 2 ½ inc dan 3 inc. 4. Fungsi Seperti pada paku biasa maka sekrup pun berguna untuk melekatkan dan mengokohkan 2 papan pada suatu sambungan 54
  • 91. atau konstruksi, Dengan m enggunakan sekrup hasil lekatannya akan lebih kuat daripada paku, akan tetapi tidak semua kayu dapat dilekatkan dengan sekrup, sekrup hanya digunakan pada hal-hal tertentu misalnya digunakan pada engsel, pada sambungan yang tidak terlihat misalnya pada sambungan papan meja, almari, dan lain-lain. Kepala skrup Kepala skrup Kepala Bentuk dan bagian skrup kembang celah dekskrup Bentuk dan macam-macam skrup 5. Lem/Perekat a. Pengertian • Perekat adalah bahan untuk menggabungkan dua buah benda pada permukaan masing-masing. • Perekat/lem adalah suatu bahan yang dapat merekatkan dua buah bahan sehingga sukar untuk dilepas kembali. b. Jenis perekat 1. Perekat mengering di udara. 2. Perekat dilelehkan jika di gunakan 3. Perekat yang peka dengan tekanan. 4. Perekat aktif secara kimiawi 55
  • 92. Bahan atau benda yang memerlukan perekat yaitu: batu, kertas, plastik, karet, logam, kaca, dan perekatan dalam kedokteran (medis). Berdasarkan pada penggunaan kayu dikenal perekat kayu perabot, perekat tahan cuaca, dan setengah tahan cuaca. Perekat tahan cuaca untuk kayu antara lain dari bahan polimer fenolik, ressinol, melamin, furan, dan epoxy. Perekat perabot kayu yang tidak mengalami perubahan suhu drastis digunakan perekat vinil dan perekat dari tulang. Perekat kayu setengah tahan cuaca misalnya perekat urea dan casein. Ada dua kelompok perekat utama untuk industri kayu: 1. Perekat panas atau hewan, yaitu perekat yang terbuat dari tulang serta kulit yang telah direbus. Perekat ini dapat diperoleh dan tersedia dalam bentuk kue, kepingan, dan butir-butir kecil. 2. Perekat dingin atau tumbuhan, dibagi menjadi : a. Perekat keju (bahan terbuat dari susu) b. Perekat damar, dibagi menjadi: - Perekat PVA (polivinil acetate) atau perekat puti, adalah hasil pencampuran bahan emulsi polivinil dihasilkan dari petrokimia karbit antara karbon dan batu yang membentuk kalsium karbit pada pemanasan di tanur listrik bereaksi dengan air dan membentuk gas k arbit, bersenyawa asam- asaman dan molekul-molekulnya membentuk asetat vinil yang tidak berwarna. Selanjutnya membentuk emulsi polimer dan menghasilkan lateks sintetis. Lem ini banyak dipakai pada perindustrian kayu, cat maupun dempul tembok. - Perekat kontak, (contact adhesive) dipakai dalam industri plywood/hard board. Selain itu dapat merekatkan bahan yang berlainan, seperti kayu dengan plastik, logam dengan keramik, dan lain sebagainya. Perekat kontak sangat cepat kering karena pencampuran bahan kimia. - Perekat kasein, perekat ini berbentuk tepung berwarna putih. Cara penggunaannya dicampur dengan air, sangat baik digunakan pada kayu yang banyak mengandung minyak, misalnya kayu jati. Perekat ini tahan terhadap kelembaban. - Perekat epoxy, lebih dikenal dengan dempul, sangat tidak baik pada polyteline, perunggu, nikel. Tetapi sangat baik untuk bahan dari batu, tembok, gelas marmer, pipa air PVC, genting, juga sebagai pendempul kayu dan sejenisnya. - Perekat karet, perekat ini sangat baik untuk merekatkan antara kayu dengan kertas. Perekat akan menjadi netral bila dicampur dengan bensin. Jika dicampur dengan bahan silikon dan sejenisnya akan menghasilkan daya rekat yang tinggi misalnya untuk merekatkan tembok dengan tembok, kayu dengan tembok. Berdasarkan sifatnya perekat dapat dibagi menjadi tiga yaitu: 1. Perekat tahan kelembaban (moisture resistance) 2. Perekat tahan panas dan cuaca (dry resistence) 56
  • 93. 3. Perekat tahan air (water resistance) Macam-macam Lem dan Penggunaannya Dibersihkan Tipe Kegunaan Keterangan Dengan PVA Kayu, kertas, Peka dengan Air Evostik w expante, air, murah, Crold polisterin, kulit, mudah Polytik bangunan diperoleh Contact Kulit, Bangunan, Disambung Bensin Evostik kayu Dempul dengan cara Bostik permukaan kayu tekanan, tidak kuat dengan cuaca dingin Urea formal Kayu, sambungan Kuat, Air Dehie untuk kayu berlawanan Aerolite 300 dengan plastic dengan air Cascamite clip board Latek Kertas, kulit, Elastis, flexsibel Amplas halus Copydex bangunan, karet Epoxy Kayu, logam, Hampir untuk Sulit Araldite Acriliks, polisterin, semua material dipindahakan Plastik Polester, pedding melamine, glass, keramik Acrylic Acryliges Tahan air dan Tensol minyak Polyester Fiber glass, Tahan air Acetone Resin logam, kayu politur permukaan Polystyrene Polisterin Kits Dicairkan, dilelehkan PVC PVC (poly vinil Cement chloride) Vinyl or beach ball glue Blu tack Poster gantung, Digunakan Tidak bostek pembuatan langsung dari membutuhkan sambungan pack sementara Silicone Logam, glass Insallator Air keras rubber keramik, kulit , fleksibel segel kayu, logam, 57
  • 94. karet, dll Aica Aibon Kayu, karet, kulit Lem kuning Lem super Karet, tambal, serba guna ban, kulit, kayu, Lem hitam logam dll Lem fox Kertas, kayu dll Expres Alteco glue Kayu, keramik, plastik dll Alteco Dallas Kayu, plastik, dll 110 Glukol Lem Khusus kertas kanji Sterofom Khusus Sterofom/Gabus Castol lem Karet, mika, kulit, kuning spon dll Lem Epotex Kayu Lem putih Lem HI-Q Kayu 5. Kaca 1. Pengertian Kaca Kaca adalah zat tembus cahaya dan jernih yang terjadi jika tanah kersik dalam bentuk pasir kwarsa dan batu api yang ditumbuk atau batu pasir yang dilebur bersama dengan zat-zat kimia. Kaca mengandung silika (pasir), potasium, kapur, dan beberapa bagian bahan kimia yang lain. Semua bagian bahan ini dicairkan dan disejukkan pada suhu udara tertentu untuk menjadikannya keras tapi licin. Kaca merupakan bahan yang banyak dibutuhkan manusia, karena sifatnya yang tembus pandang dan bisa juga memantulkan pandangan sebuah benda atau seorang sehingga kaca ini sangat bermanfaat bagi orang banyak terutama untuk menghias rumah, gedung, perkantoran, perabotan rumah tangga, meja, almari, dan sebagainya. 58
  • 95. 2. Fungsi Kaca a. Untuk memperindah dan mempercantik sebuah rumah b. Untuk memantulkan cahaya matahari yang masuk dalam ruangan sehingga panas matahari dapat diredam. c. Untuk memantulkan bayangan sebuah benda d. Untuk menyekat sebuah ruangan terutama di perkantoran 3. Jenis-jenis kaca a. Kaca bening, dengan ukuran ketebalan 2 mm, 3 mm, 5 mm, 6 mm, 8 mm, 10 mm, 12 mm. b. Kaca riben, dengan ukuran ketebalan kaca 3 mm, 5 mm, 10 mm. c. Kaca flora, dengan ukuran ketebalan kaca 3 mm. d. Kaca cermin, dengan ukuran ketebalan kaca 3 mm, 5 mm. e. Kaca brown, dengan ukuran ketebalan kaca 3 mm. f. Kaca biru, dengan ukuran ketebalan kaca 3 mm. g. Kaca hijau, dengan ukuran ketebalan kaca 3 mm. h. Kaca gun stop stol, dengan ukuran ketebalan kaca 12 mm. 4. Kaca mempunyai sifat-sifat a. Kerapatan besar b. Pada temperatur biasa kekerasan besar c. Sangat rapuh d. Pada bidang patahnya terlihat kilapan yang kuat e. Tidak larut dalam air dan sangat tahan terhadap pengaruh asam, gas dan uap f. Penghantar kalor yang jelek g. Gelas dapat mempertahankan kejernihan, warna, kilapan, dan sifat kerasnya dalam jangka waktu yang sangat panjang. C. BAHAN PENUNJANG / APLIKASI 1. Busa a. Pengertian Busa Busa adalah gelembung-gelembung plastik kecil yang apabila dioven atau dikeringkan akan berbentuk menjadi busa sesuai jenis dan ukuran yang telah ditentukan. Busa ini sangat bagus untuk bahan isolasi kayu, plastik dan kain. Busa memiliki sifat: 1. Empuk 2. Ringan 3. Dapat menyerap air dengan cepat 4. Tahan panas 5. Tidak bisa dilewati oleh arus listrik 59
  • 96. b. Spesifikasi 1. Fungsi busa adalah: - Busa yang berukuran 0,3 cm – 0,5 cm umumnya dipakai untuk bahan pelapis baju. - Busa yang berukuran 0,5 cm -1 cm Digunakan sebagai bahan untuk mengepak (keperluan kemasan) barang-barang yang terbuat dari keramik atau barang peceh-pecah - Busa yang berukuran 1 cm – 5 cm, dipakai untuk jog kursi - Busa yang berukuran 6 cm – 10 cm Dipakai untuk pembuatan sofa bisa juga untuk alas tidur 2. Kulit Sebelum menjadi kulit yang siap digunakan untuk pembuatan suatu produk, pada saat kulit masih dalam keadaan mentah yaitu yang berasal dari bagian terluar hewan, kulit disamak terlebih d ahulu. Penyamakan adalah teknik atau cara dalam mengubah kulit mentah menjadi kulit samak agar sifatnya lebih permanen. Dengan penyamakan, kulit hewan yang mudah busuk dapat menjadi tahan terhadap serangan mikro organisme. Penyamakan dapat dilakukan dengan banyak cara , bahan penyamaknya ada yang berasal dari nabati/tumbuhan ataupun bahan kimia. Jenis kulit yang dipakai biasanya kulit sapi, kulit kuda. 3. Tekstil Jenis tekstil yang sering digunakan untuk sarung jok dan sandaran kursi. Tujuan pemasangan sarung bantal agar nampak indah dan tidak mudah rusak serta nyaman diduduki. Jenis-jenis tekstil: a. Tenun Teknik tenun ini juga bisa disebut dengan tapestri. Dalam pengerjaannya tenun dipadukan dengan kain wool. Dengan menambah kain wol akan menambah kualitas dari tenun tersebut. b.Makrame Makrame adalah teknik simpul menyimpul dengan menggunakan bahan yang disebut agel. Teknik makrame dapat dipadukan dengan enceng gondok maupun stik bambu. Hasil dari makrame ini biasanya digunakan untuk taplak meja, hiasan pintu, penyekat ruang , tirai, sabuk, dll. c. Batik, teknik batik dalam pengerjaannya ada dua: 1. Manual, teknik manual yaitu batik tulis dengan menggunakan alat yang disebut “canting”. 2. Teknik cap, yaitu teknik membatik dengan menggunakan cap yang terbuat dari kuningan. Motif yang ada pada cap ini pun beragam, dengan menggunakan cap sangat mudah untuk membuat batik dan hasilnya tidak kalah dengan menggunakan canting. 60
  • 97. Kain yang digunakan untuk membatik antara lain: berkolin, primisima, sutra, katun. Teknik pewarnaannya biasa menggunakan bahan sintesis dan juga bahan alami yang diambil dari daun dan buah. d. Cetak saring, teknik ini biasa juga disebut teknik sablon. Yang biasa disablon adalah kain kanvas, kayu, dan kain tenun. Hasil produknya antara lain, tas, kaos, dan sebagainya. e. Renda atau rajut. Bahan yang biasa digunakanadalah kain wol. Hasil produknya antara lain hiasan dinding , taplak meja dan sebagainya. f. Jahit. Pada teknik ada dua jenis yaitu tindas dan perca. Teknik ini digunakan untuk menjahit suatu kain yang digunakan sebuah produk, antara lain baju, tas, dan sebagainya. Alat yang digunakan biasanya adalah mesin jahit. h. Sulam atau bordir. Bahan yang sering digunakan adalah kain kristik. Jenis yang dihasilkan adalah hiasan baju, jaket, badge, dan sebagainya. 4. Logam a. Pengertian Logam mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan kita. Industri mebel menggunakan logam untuk dipadukan dengan kayu agar terkesan mewah. Logam juga dapat digabungkan dengan satu atau lebih yang masih memiliki sifat-sifat logam atau disebut Alloy (campuran). Selain itu ada juga logam murni (pure metal) antara lain tembaga, emas, perak, platinum. Meskipun jenis logam berbeda-beda namun mempunyai kesamaan yaitu mengkilat. Selain berbentuk padat logam ada juga berbentuk cair misalya air raksa.Untuk lebih jelasnya berikut penjelasan tentang logam: 1. Besi Besi adalah jenis logam yang paling banyak digunakan dalam kehidupan kita. Untuk menghasilkan suatu besi dapat menggunakan sistem cetak tapi ada juga besi yang berbentuk silinder dan panjang yang disebut besi beton. Besi beton mempunyai diameter 8 mm, 10 mm, 12 mm, dan mempunyai panjang yang berbeda-beda pula yaitu 10 m. 11 m, 12 m, Besi sering digunakan untuk bahan-bahan bangunan ataupun aplikasi karya. 2. Kuningan Kuningan merupakan campuran dari tembaga dan seng. Dalam kehidupan kita kuningan sering digunakan adalah bentuk lempengan atau plat.Ukuran yang biasa dijual di toko adalah 120 x 36 cm. 61
  • 98. 3. Tembaga Tembaga merupakan logam tertua dan merupakan logam murni. Tembaga adalah penghantar listrik yang baik sehingga dapat dibuat menjadi kabel listrik. Salah satu sifat tembaga yang terpenting adalah kemampuannya menyatu dengan – logam lain dan membentuk campuran logam yang lebih kuat dari tembaga murni.Tembaga dicampur dengan seng menghasilkan kuningan, Tembaga dengan timah menghasilkan perunggu, tembaga dengan nikel menghasilkan kupronikel, tembaga dengan timah dan seng menghasilkan loyang. 4. Alumunium Alumunium sangat berguna karena sifatnya yang ringan. Alumunium juga logam penghantar listrik yang baik sehingga dapat digunakan untuk membuat kabel transmisi listrik. 5. Stainless Steel , logam ini disebut baja anti karat dan biasa digunakan pada pisau, garpu, sendok, alat masak dan lain sebagainya. b. Penggunaan logam Dalam perkembangannya sekarang banyak jenis logam diaplikasikan dengan produk jenis kayu seperti furniture, craft/kerajinan, asesoris dan lain sebagainya.Diantara produk furniture yang diaplikasikan dengan logam khusunya besi adalah: 1. Meja dan kursi 2. Meja rias 3. Bed/tempat tidur 4. Kap lampu 5. Rak TV 62
  • 99. BAB III ALAT - ALAT UNTUK KRIYA KAYU A. Peralatan Manual Pendahuluan Alat tangan yang digunakan dalam pekerjaan kriya dan mebel banyak dijumpai di pasar. Alat tersebut tidak hanya ditawarkan kepada pengrajin kayu atau mebel, tetapi juga digunakan oleh masyarakat umum sebagai perlengkapan rumah tangga. Pembelian alat tangan kayu dilakukan secara teliti dengan mempertimbangkan data-data teknis yang ada. Harga alat tangan kayu di pasar sangat bervariasi. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kualitas bahan dan fungsi alat tersebut. Peralatan tangan yang digunakan dalam pembuatan kriya dan mebel dibedakan menjadi: 1. Alat-alat Pokok Alat-alat pokok adalah perkakas yang harus disediakan dalam sebuah bengkel kayu, karena alat ini sangat penting dan berfungsi vital dalam pekerjaan kriya dan mebel. Alat-alat pokok biasanya berupa alat potong. Alat potong adalah suatu perangkat yang berfungsi memotong, membelah dan meratakan suatu benda. Jenis alat potong tergantung pada bahan yang akan dikerjakan. Contoh: bahan kertas dipotong dengan gunting kertas atau dengan cutter, bahan logam dipotong dengan gunting logam atau gergaji logam, dan bahan kayu dipotong menggunakan gergaji kayu, pahat, atau pisau. Berikut diuraikan alat potong yang digunakan dalam kerja kayu. a. Pisau Pisau adalah alat potong sederhana yang sering dijumpai dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk dan ukuran pisau sangat dipengaruhi oleh faktor kedaerahan dan fungsi pisau tersebut. Fungsi utama pisau adalah untuk memotong, namun dengan pertimbangan kebutuhan, pisau juga berfungsi untuk membentuk, meraut, mengukir, dan menghaluskan permukaan kayu. Bahan baku pisau adalah baja campuran kualitas tinggi, sehingga tahan karat dan korosi. 63
  • 100. Pisau Raut Pisau raut dibuat dari besi baja dengan tangkai dibuat dari kayu. Cara pemakaian dengan didorong, tidak dipukul seperti pahat ukir Pisau raut yang digunakan pengrajin topeng dan patung-patung cinderamata di berbagai daerah di Indonesia bermacam – macam bentuknya. Pengrajin topeng di Jawa menggunakan pisau raut yang bertangkai pendek, sedangkan pengrajin di Kalimantan menggunakan tangkai panjang, Karena teknik menggunakan pisau dengan cara, tangkai dijepit pada ketiak lengan. Bentuk mata pisau yang ada di Indonesia tidak terlalu banyak terutama untuk mata pisau utama, kecuali pisau tambahan untuk membuat kerokan topeng. Pisau raut ini matanya dibuat lengkung sesuai dengan keperluan . Pisau ini sangat berguna untuk membuat kerokan bagian cekung topeng yang tidak terjangkau bila digunakan pisau raut bentuk standar/ lurus. Selain digunakan untuk maraut benda tiga dimensi/ patung cinderamata pisau raut dapat juga dipergunakan untuk membuat ukiran cukilan kayu lunak bermotif geometris yang hasilnya hanya torehan/ cukilan dangkal, seperti jenis ukiran geometris yang khas yang dibuat oleh pengrajin dari Toraja, Sulawesi dan ukiran hiasan pada tangkai mandau senjata khas Kalimantan. Pisau raut pada intinya digunakan untuk membuat karya yang kecil- kecil atau banda kerja yang berupa tiga dimensi/ patung – patung maupun ukiran datar misalnya pada hiasan kotak perhiasan yang relatif kecil. Gambar di bawah ini merupakan jenus-jenis pisau raut dan bagian- bagiannya 64
  • 101. Perawatan alat raut (pisau raut) Pada dasarnya hampir sama perawatan dengan alat ukir/ pahat ukir, hanya alangkah baiknya untik pisau raut ini, apabila setiap satu poisau dibuatkan sarung dari kulit/ kain yang tebal untuk menjaga mata pisau dari benturan benda keras dan keamanan dalam membawa. b. Gunting Gunting tidak digunakan dalam pemotongan kayu. Namun, gunting digunakan sebagai sarana pembantu untuk memotong mal kertas atau karton. Mal berfungsi untuk memeriksa bentuk dan ukuran benda kria. Mal dibuat dengan skala 1 : 1. Gunting terbuat dari baja berkualitas tinggi yang dicampur dengan khrom dan nikel agar terjaga dari bahaya karat/korosi dan menjamin ketajaman mata potong. 65
  • 102. c. Gergaji Gergaji terbuat dari sebilah baja tipis, yang salah satu tepinya dibuat bergerigi tajam yang berfungsi sebagai mata potong. Di samping itu, gergaji dilengkapi dengan tangkai pemegang dari kayu, logam, atau plastik. Gergaji adalah alat potong kayu yang selalu digunakan. Proses pemotongan terjadi melalui aktivitas gigi-gigi gergaji yang terdapat pada daun gergaji. Gigi-gigi tersebut secara beruntun dan bergerak cepat memotong kayu sedikit demi sedikit. Setiap gigi mengeluarkan sebagian serat kayu melalui celah gigi yang selanjutnya dibuang disisi yang berlawanan. Ruang gerak gigi gergaji tergantung jarak pengaturan takikan. Takikan adalah pembengkokan gigi gergaji ke kanan dan ke kiri. Takikan lebih lebar daripada tebal daun gergaji. Ditinjau dari tenaga penggeraknya, gergaji dibagi menjadi dua yaitu: gergaji manual dan mesin gergaji (mesin gergaji dibahas pada F6). Gergaji Manual Pendahuluan Lihat gambar sambungan ekor burung di bawah ini. Untuk membuat sambungan-sambungan seperti gambar di atas, diperlukan peralatan yang dinamakan gergaji. Gergaji banyak macam dan tipenya, namun prinsip kerja sebuah gergaji adalah sama, yaitu dengan memegang tangkai gergaji dan menggesekkan ke arah muka dan belakang ataupun ke bawah dan ke atas. Gergaji dalam pekerjaan kriya dan mebel, termasuk salah satu peralatan yang sangat penting. Gergaji sebagai alat potong dan belah berfungsi untuk membagi-bagi kayu dalam beberapa bentuk potongan yang dikehendaki. 66
  • 103. Gergaji Tangan Daun gergaji dibuat dari baja bermutu tinggi yang sangat keras, sehingga ketajaman gerigi tidak selalu diruncingkan kembali. Untuk mengetahui spesifikasi gergaji, dapat dilihat pada daun gergaji di dekat tangkai pegangan, yang menyebutkan jumlah gigi perkepanjangan 25 mm. Gergaji manual Gergaji manual digerakkan oleh tangan manusia. Panjang gergaji manual antara 500 s.d. 650 mm. Jenis gergaji manual disesuaikan dengan fungsi, bahan, dan bentuk kayu yang akan dikerjakan. Fungsi gergaji adalah memotong dan membelah. Untuk memotong disebut gergaji potong dan untuk membelah disebut gergaji belah. Bentuk gigi gergaji potong berbeda dengan gigi gergaji pembelah. Perhatikan gambar di bawah. Gigi Gergaji Pembelah Gigi Gergaji Pemotong Jenis-jenis gergaji: 1). Gergaji belah (rip saw) Gergaji belah adalah gergaji manual paling besar. Panjang gergaji 650 mm dengan 5 PPI. Gergaji ini khusus untuk memotong balok-balok kayu besar yang berserat. Gergaji pembelah adalah gergaji dengan gerigi dirancang untuk membelah kayu. Gergaji pembelah digunakan untuk menggergaji kayu searah jaringan serat kayu dan mempunyai 31/2 hingga 4 pucuk gigi pada setiap panjang 25 mm. Panjang daun antara 500 mm hingga 70 mm. 67
  • 104. 2). Gergaji potong (crosscut saw) Panjang gergaji potong antara 600 s.d. 650 mm dengan 6 s.d. 8 PPI. Gergaji ini sangat bagus untuk memotong balok-balok kayu dan papan yang panjang, tetapi tidak baik untuk memotong kayu-kayu olahan seperti partikel board, triplek dan blockboard. Gergaji pemotong adalah gergaji dengan gerigi yang dirancang untuk memotong kayu. Jenis gergaji ini digunakan menyayat/memotong melintang jaringan serat kayu dan tepi potongnya mempunyai 5 hingga 7 pucuk gigi pada setiap kepanjangan 25 mm. Panjang daun antara 550 mm hingga 700 mm. 3). Gergaji bilah/papan (panel saw) Gergaji bilah mempunyai gigi potong antara 10 s.d. 12 PPI. Gergaji ini sangat bagus untuk memotong kayu olahan tetapi sering juga digunakan dalam berbagai pemotongan. Panjang daun gergaji bilah antara 500 s.d. 550 mm. 4). Gergaji bentang (frame saw) Gergaji bentang adalah gergaji tradisional yang digunakan pada abad pertengahan. Daun gergaji yang tipis dibentangkan pada salah satu sisi badan (frame) dan di sisi lain ditempatkan kawat baja yang berfungsi untuk mengendorkan dan mengencangkan daun gergaji. Daun gergaji dapat berputar ke segala arah sesuai dengan keinginan dan dapat disesuaikan dengan kedudukan benda yang akan dipotong. Daun gergaji mempunyai 4, 5, 6, dan 11 PPI. 68
  • 105. 5). Gergaji punggung (backsaw) Gergaji punggung biasanya berukuran kecil dengan daun tipis. Gergaji ini digunakan untuk pekerjaan halus. Gigi gergaji lebih halus dan pada punggung daun dikuatkan dengan kerangka baja atau tembaga yang berbentuk U. Gergaji punggung digunakan secara umum di kerja bangku. Gergaji punggung harus mampu memotong melintang dan searah serat kayu, maka dari itu bentuk giginya serupa dengan gigi gergaji potong dengan kemiringan sekitar 16°. Panjang gergaji punggung antara 205 s.d. 350 mm dengan 13 s.d. 15 PPI. Dinamakan gergaji punggung karena adanya punggung dari bahan baja yang dipasang pada daun gergaji. Jumlah pucuk gigi pada setiap kepanjangan 25 mm adalah 12 hingga 14. Gergaji punggung digunakan untuk pekerjaan kecil dan halus. 6). Gergaji lingkar (curve cutting saw) Gergaji lingkar digunakan untuk memotong bentuk-bentuk khusus dan sulit seperti pembuatan lubang, radius dan bentuk-bentuk yang tidak beraturan lain. Gergaji kurva digunakan untuk menyayat lengkungan-lengkungan yang kecil dan tajam sehingga tidak mungkin dikerjakan dengan gergaji lain. Ukuran panjang daun berkisar 156 mm. 69
  • 106. 7). Gergaji gerek Gergaji gerek digunakan untuk menyayat bentuk lengkungan yang sukar dilakukan dengan gergaji biasa. Gergaji gerek dilengkapi dengan tiga lembar daun yang dapat dipasang bergantian. Ukuran panjang daun antara 300 mm hingga 450 mm. Keteknikan Sebelum menggunakan gergaji tangan kita harus mengetahui hal- hal yang bersifat teknis, hal tersebut antara lain: a. Bentuk Gigi Gergaji Dilihat dari kegunaan, maka bentuk gigi gergaji tangan sangat berlainan antara pemotong dan pembelah. Untuk gergaji pemotong gigi gergaji dikikir miring kira-kira 60° - 80° terhadap daun gergaji. Dan untuk gergaji pembelah giginya dikikir tegak 90° terhadap daun gergaji. 70
  • 107. b. Teknik Penggunaan 1). Memotong kayu basah dan kering Untuk mencegah daun gergaji terjepit sewaktu digunakan, maka gigi gergaji perlu dikuak (dibengkokkan). Pembengkokkan ujung gigi kira- kira 1/3 dari gigi gergaji. Lebar pembengkokkan harus sama besar ke kiri dan ke kanan. Untuk kayu basah, pembengkokkan 2 x tebal daun gergaji. Sedangkan untuk kayu kering 11/2 x tebal daun gergaji. Kita lihat gambar 5, 6, dan 7 yang merupakan potongan lintang dari sebuah gigi gergaji. Apa yang akan terjadi bila gigi gergaji dikuak seperti gambar 6? Dan apa yang akan terjadi bila satu deret gigi gergaji lebih pendek dari pada deret yang lain gambar 7? 71
  • 108. 2). Menentukan kehalusan dan kekasaran pemotongan Untuk menentukan hasil pemotongan dari penggergajian, kita dapat melihat jumlah gigi per 1quot; (inchi), bila dalam 1 quot; jumlah gigi antara 4 - 6 maka gergaji ini termasuk jenis gergaji kasar, sedangkan bila dalam 1quot; terdapat 12 - 14 gigi maka termasuk gergaji halus. Untuk mengetahui hal tersebut dapat dilakukan pengukuran gigi gergaji dengan mistar. Gergaji yang berkualitas pada daunnya sudah tertera jumlah gigi setiap 1quot;. LATIAHN Soal Pilihan Ganda Pilihlah jawaban di bawah ini yang Anda anggap tepat dengan membubuhkan tanda (x). 1. Jenis gergaji yang berfungsi untuk menggergaji searah jaringan serat kayu adalah ........ a. Gergaji potong b. Gergaji belah c. Gergaji kurva d. Gergaji vinir e. Gergaji punggung. 2. Jumlah gigi gergaji punggung pada setiap kepanjangan 25 mm adalah .......... a. 5 - 7 buah b. 18 - 22 buah c. 12 - 14 buah d. 31/2 - 4 buah e. 10 - 14 buah. 3. Untuk mencegah daun gergaji terjepit pada waktu digunakan, maka perlu dikuak (dibengkokkan) ebar pembengkokkan untuk kayu basah adalah ........ 72
  • 109. a. 2 x tebal daun gergaji b. 3 x tebal daun gergaji c. 4 x tebal daun gergaji 11/2 x tebal daun gergaji d. e. 21/2 x tebal daun gergaji. Soal Esai Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas! 1. Bagaimana cara menentukan tingkat kekasaran dari hasil pemotongan daun gergaji. Jelaskan! 2. Mengapa gigi gergaji harus dikuak (dibengkokkan) sebelum digunakan, dan berapa tinggi maupun lebar penguakan pada gigi gergaji? Kunci Jawaban Pilihan Ganda 1. B 2. C 3. A. Esai 1. Melihat jumlah gigi gergaji setiap 1 inchi. Jika dalam 1quot; jumlah gigi 4 6 buah, maka termasuk gergaji kasar. Sedangkan bila dalam 1quot; 12 - 14 buah, maka termasuk gergaji halus. 2. • Untuk mencegah daun gergaji terhepit bila digunakan • Tinggi penguakan adalah 1/3 dari tinggi gigi gergaji • Untuk kayu basah lebar penguakan 2 x tebal daun gergaji • Untuk kayu kering 11/2 x tebal daun gergaji. 73
  • 110. d. Pahat Pahat, alat pencukil, gergaji dan ketam adalah peralatan yang sangat penting dalam kerja bangku. Peralatan tersebut merupakan peralatan pokok untuk membuat celah sambungan, melubangi dan membentuk benda kerja. Pahat dan alat pencukil untuk memotong kayu, membuat celah dan melubangi harus dipukul dengan palu atau malet. Bentuk ujung pahat disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan cara penggunaannya. 1). Jenis -jenis pahat a). Pahat kuku kekar (fimer chisel) Pahat ini cocok untuk berbagai macam pekerjaan. Mata/ujung pahat sangat kokoh untuk menusuk dan mencukil kayu. Panjang daun pahat antara 3 s.d. 38 mm, tetapi ada juga yang panjangnya mencapai 50 mm. Penajaman mata pahat menggunakan batu asah. b). Pahat kuku miring (bevel-edge chisel) Pahat ini sama dengan pahat kuku kekar, hanya kedua sisi daun pahat dibuat miring. Pahat ini tidak perlu dipukul dengan palu, tetapi cukup didorong dengan tangan secara langsung. Fungsi pahat ini adalah untuk membersihkan atau merapikan bagian-bagian yang akan disambung. Ukuran antara 3 s.d. 38 mm. 74
  • 111. c). Pahat pengupas (paring chisel) Pahat pengupas mempunyai daun pahat yang panjang. Tujuan daun pahat dibuat panjang adalah untuk membersihkan/merapikan bekas pemahatan pada bagian dalam atau bagian-bagian yang lebar, sehingga posisi pahat tetap rata dengan permukaan kayu. Bentuk pahat pengupas ada dua, yaitu: pahat pengupas lurus dan pahat pengupas bertangkai bengkok. d). Pahat miring (skew chisel) Pahat miring bersudut 60°. Pahat ini digunakan untuk pemotongan halus pada serat kayu yang sulit. Ujung pahat digunakan untuk membersihkan sudut-sudut aneh dan janggal. Panjang daun pahat antara 12 s.d. 25 mm. 2). Bentuk-bentuk gagang pahat Banyak bentuk gagang pahat yang dapat dijumpai di pasaran. Bentuk-bentuk tersebut disesuaikan dengan fungsi pahat, misalnya gagang pahat kuku berbentuk bulat, gagang pahat miring berbentuk cembung. Bahan gagang pahat terbuat dari kayu atau plastik. Berikut contoh-contoh gagang pahat. 75
  • 112. 3). Cara menyimpan pahat Pahat perlu disimpan pada tempat khusus. Jika pahat disimpan sembarangan akan cepat rusak dan tumpul, karena ujung pahat akan saling bersentuhan atau terbentur benda lain. Untuk menyimpan pahat dapat digunakan rak magnetik atau dapat dibuatkan tempat dari dua potong kayu yang ditempelkan pada dinding almari atau papan (contoh gambar bawah). Beberapa pekerja melindungi ujung pahat dengan penutup plastik sehingga walaupun pahat diletakkan di dalam kotak, ujung pahat tetap terjaga dari sentuhan benda lain. 4). Keselamatan memahat a). Jaga ujung pahat selalu tajam. Bila ujung pahat tumpul Anda perlu tenaga lebih banyak untuk menggunakannya. b). Jangan sekali-kali mengarahkan ujung pahat ke badan kita dan jaga ke dua tangan kita selalu berada di belakang ujung pahat. c). Sisi daun pahat yang masih baru cukup tajam melukai tangan kita, gosoklah dengan batu asah dan minyak untuk menumpulkannya. Pahat Kerja Bubut Dalam pekerjaan membubut diperlukan alat pemotong yang berfungsi untuk mengiris, menyayat/menggaruk dan membentuk benda pelatihan Alat potong tersebut disebut pahat bubut 76
  • 113. 1. Jenis- jenis pahat bubut : a. Pahat kuku besar b. Pahat kuku kecil c. Pahat lurus d. Pahat serong/miring e. Pahat pemotong f. Pahat penggaruk 2. Fungsi Pahat Bubut a. Pahat kuku besar Berfungsi untuk mengawali pembubutan dari bentuk balok menjadi bentuk silinder dan membentuk cekungan lebar serta dalam b. Pahat kuku kecil Berfungsi untuk membuat cekungan kecil, dan mengikis bagian dalam dan luar bubutan piring, mangkok dan benda kerja lainnya c. Pahat lurus Berfungsi untuk meratakan permukaan bentuk silinder, kerucut dan banyak lainnya d. Pahat serong/miring Berfungsi untuk membentuk cembung, alur dan celah miring 77
  • 114. e. Pahat pemotong Berfungsi untuk memotong, membuet celah lurus/alur f. Pahat penggaruk Berfungsi untuk mengikis/menggaruk bagian dalam dan luar bubutan mangkok, piring dan benda kerja lainnya 78
  • 115. Pahat Ukir Jenis dan Fungsi Pahat Ukir Peralatan untuk mengukir kayu dapat dibedakan dalam dua bagian yaitu Alat pokok dan alat pembantu. a. Alat Pokok terdiri dari satu set pahat ukir ( sepuluh buah pahat penyilat / mata pahat lurus,20 buah pahat penguku / mata pahat melengkung seperti kuku ditambah 3 buah pahat pengot dan 3 buah pahat kol ), palu kayu ganden, meja, dingklik. b. Alat Pembantu terdiri dari pensil / spidol, sikat ijuk, klem F, batu asahan ( ungkal ), roll meter,siku,bor dan gergaji ( gergaji tangan dan gergaji skrol ). Pahat Ukir dalam 1 set standar 30 bh Pahat Ukir Penguku (mata lengkung jumlah 20 bh) 79
  • 116. Pahat UkirPenyilat (mata lurus jumlah 10 bh) Fungsi Pahat Ukir : a. Pahat lengkung/kuku (penguku): 20 bilah Ukuran pahat dimulai dari paling kecil 1,5 mm sampai dengan 40mm, panjang 220-250 mm, tebal kurang lebih 1,5 mm. Fungsi pahat lengkung/kuku digunakan untuk membuat ukiran bentuk yang lengkung, melingkar, membuat bentuk cembung, cekung, ikal, dan pecahan/cawenan Bentuk Pahat Penguku (mata lengkung) Pahat lurus (penyilat) sebanyak: 10 bilah Ukuran dimulai dari paling kecil 1 mm sampai dengan 40 mm panjang 220-250 mm, tebal kurang lebih 1,5 mm, Fungsi pahat lurus untuk membuat pahatan/ukiran bentuk garis lurus dan membentuk silat cembung lurus dan cekung/dasaran/lemahan. 80
  • 117. Bentuk Pahat Penyilat (mata lurus) Cara Menggunakan pahat ukir Sebelum mempelajari cara mengukir terlebih dahulu kita melihat bagaimana cara memegang pahat. Pahat dipegang seperti tampak dalam photo dibawah ini. Empat jari diletakkan pada bagian punggung pahat, sedangkan ibu jari diletakkan pada bagian depan. Jari kelingking berfungsi sebagai driver/mengarahkan pahat sesuai garis gambar/motif. Sedangkan ibu jari berfungsi sebagai penahan agar pahat tidak bergerak kesana-kemari. Lebih jelasnya ihat gambar dibawah ini Cara memegang pahat penguku Cara memebang pahat penyilat 81
  • 118. Pahat lengkung (kol) sebanya: 5 -10 bilah Ukurannya dimulai dari paling kecil 5 mm sampai dengan 45 mm, panjang 220-250 mm, tebal kurang lebih 0,75 mm. Fungsi pahat kol untuk membuat pahatan/ukiran bentuk cekung yang dalam macam alur lengkung, juga biasa untuk membuat hiasan texture untuk karya seni. Pahat ini digunakan untuk mengerjakan bagian- bagian cekung, yang tidak dapat dikerjakan dengan pahat kuku. Pahat kol dalam 1 set (10 bh) Detail bentuk mata pahat kol Pahat Coret : 3 – 5 bh Ukuran dimulai dari yang paling kecil 0,5 cm sampai dengan 1,5 cm, panjang 150-200mm, tebal kurang lebih 0,5 mm. Fungsi pahat coret untuk membuat pahatan/ukiran isian/hiasan daun atau bunga, dan texture untuk karya seni. 82
  • 119. Bentuk Pahat Coretbagian dalam Pahat coret bagian punggung Pahat Pengot: 1- 3 bh Bentuk mata pahat miring menyudut,ukurannya yang biasa dipakan antara 4 mm sampai dengan 10 mm, panjang 220-250 mm, tebal kurang lebih 1,5 mm. Pahat pengot digunakan untuk membersihkan sudut/ sela-sela dasaran ukiran yang sulit dijangkau dengan pahat perata/penyilat Pahat pengot CARA MERAWAT DAN MENGASAH PAHAT UKIR 1. Alat Untuk Menajamkan/Mengasah Pahat Ukir Dalam kerja ukir pahat harus selalu dirawat/dijaga selalu dalam keadaan tajam. Batu asahan dipasaran ada dua jenis, yaitu batu asahan diproduksi oleh pabrik/diproduksi secara modern dan perusahaan tradisional. Batu asahan yang diproduksi oleh pabrik ini biasa disebut batu asah minyak, batu asah ini pada waktu dipakai menggunakan minyakpelumas/olie. Sedangkan batu asahan yang diproduksi secara 83
  • 120. tradisional biasanya menggunakan air/di Jepara biasanya disebut batu asah gunung. Batu asahan minya biasanya ada dua permukaan yang berbeda; satu permukaan kasar dan satu permukaan lagi halus. Fungsi permukaan yang kasar biasanya digunakan untuk memperbaiki apabila pahat patah, rusak permukaan mata pahatnya akibat misalna jatuh atau memahat kayu yang keras. Sedangkan permukaan yang halus biasanya digunakan untuk menajamkan pahat ukir terutama pahat penyilat penyilat/pahat mata lurus. Batu asah gunung memiliki dua permukaan yang sama dan halus saja. Batu asah ini khusus untuk menajamkan, baik pahat lurus dan lengkung. Cara Menajamkan/mengasah pahat ukir a. Pahat Penguku/pahat mata lengkung Diasah pada sisi sudut batu asah, dimulai dari pahat terkecil,sampai pada mata pahat yang terbesar. Asahlah mata pahat ini pada sudut batu asah yang sesuai dengan sisi sudut batu asah. Sebab bila tidak sesuai dengan sisi sudut batu asah maka mata pahat kuku ini dapat berubah bentuknya seperti cekung tengah mata pahat (lihat gambar dibawh ini) Cara mengasah pahat penguku bagian dalam Cara mengasah pahat penguku bagian luar 84
  • 121. Cara Mengasah/Menajamkan Pahat Penyilat/Mata lurus Diasah pada permukaan batu asah yang datar, dimulai dari pahat yang terbesar bergantian sampai pada mata pahat yang terkecil. Jadi urutannya kebalikan dari mengasah pahat kuku. Teknik mengasah/menajamkan pahat penyiliat dapat dilihat pada gambar dibawah ini Cara menajamkan pahat penyilat Cara menajamkan pahat penyilat bagian dalam Cara menajamkan pahat penyilat bagian luar Catatan: Untuk mengetahui tajam tidaknya mata pahat setelah diasah ialah dengan cara: Tusukkan pada kayu yang tidak terpakai. Atau tusuk-tusukkan pada kuku ibu jari kita, apabila tusukan tersebut berhenti, tandanya mata pahat sudah tajam. (Pahat yang sudah selesai diasah, segera dibersihkan dengan kain perca bersih, agar tidak berkarat) 85
  • 122. 2. Alat Pembantu Peralatan pembantu adalah perkakas yang digunakan untuk membantu menyelesaikan suatu pekerjaan kria dan mebel. Peralatan tersebut dapat berupa alat pengukur, alat penanda, atau alat pembantu lain. a. Alat ukur panjang Alat ukur panjang adalah suatu perangkat yang digunakan untuk mengukur atau membandingkan suatu benda sehingga dapat diketahui nilai panjang, volume, massa, kecepatan, sudut, dan lain-lain. 1). Mistar 2). Meteran b. Alat ukur sudut Alat ukur sudut adalah suatu perangkat yang digunakan untuk mengukur kemiringan sudut, membuat garis sudut dan juga dapat digunakan untuk mencari titik pusat suatu lingkaran. 1). Busur derajat 86
  • 123. 2). Siku-siku 3). Jangka c. Alat penanda Alat penanda adalah suatu perangkat yang digunakan untuk menandai atau menggambari tempat-tempat pembentukan, seperti; pembuatan alur, radius, dan bentuk sambungan. Alat penanda dapat digunakan bersamaan dengan alat ukur atau setelah alat ukur. Jenis dan karakteristik alat penanda berlainan, namun fungsinya sama. 1). Pensil Dalam pertukangan kayu biasanya menggunakan pensil lunak, yaitu antara 3B s.d. 6B dengan bentuk bulat telur. 87
  • 124. 2). Penggores Penggores adalah alat yang terbuat dari logam berbentuk silindris lurus dan diruncingkan dibagian ujung depan. Fungsi penggores adalah untuk membuat tanda/garis batas pengerjaan. 3). Perusut Perusut adalah alat gores kayu untuk membuat garis-garis sejajar dengan salah satu tepi benda kerja. Alat ini terdiri dari badan perusut, batang dan taji. d. Palu Palu adalah alat pemukul yang harus disediakan pada setiap bengkel kayu. Palu dilengkapi dengan pemegang/gagang kayu sebagai tangkai pemukul. Jenis dan ukuran palu bervariasi sesuai dengan fungsinya. Berdasarkan bahan yang digunakan, palu dibedakan menjadi: 88
  • 125. 1). Palu besi Palu besi biasa digunakan untuk membenamkan paku 2). Palu kayu Palu kayu digunakan untuk memukul pahat ukir 3). Palu karet Dalam pekerjaan kayu, palu karet jarang digunakan. Palu kayu digunakan untukmemukul gagang pahat, menyetel sambungan kayu 89
  • 126. e. Kakatua Kakatua adalah alat yang digunakan untuk mencabut paku dan untuk memotong kawat berukuran kecil. Kakatua terbuat dari logam, terdiri dari dua bagian yang dihubungkan dengan sebuah engsel. Gigi kakatua disepuh dan ditajamkan. Ukurannya antara 6 s.d. 10 inchi. f. Obeng Obeng adalah alat yang digunakan untuk memutar sekrup. Badan obeng terbuat dari logam campuran/baja. Untuk obeng setrip ujungnya dipipihkan dan obeng kembang ujungnya dibuat silang/tanda plus. 90
  • 127. h. Penjepit atau klem Penjepit berfungsi untuk mempermudah dalam penyambungan. Jenis-jenis penjepit antara lain: 1). Klem batang, digunakan untuk sambungan kayu yang lebarnya lebih dari 1 meter. 2). Klem C, digunakan untuk menjepit benda kerja yang berukuran kecil. 3). Klem F, digunakan untuk menjepit benda kerja yang tidak cukup dijepit dengan klem C. 91
  • 128. 4). Klem bingkai, digunakan untuk pekerjaan pigura atau sambungan menyudut 5) Tanggem, digunakan untuk pekerjaan pengetaman pada kayu papan yang akan diketam bagian sisi tepi dan alat bantu penjepit kayu yang ringan g. Alat pembenam/penitik Alat pembenam adalah sepotong berpenampang bulat dengan dibuat tirus pada bagian ujungnya. Fungsi alat pembenam untuk memasukkan kepala paku pada kayu, sehingga tidak kelihatan 92
  • 129. e. Alat untuk menajamkan 1). Kikir 2). Batu asah Batu asah untuk kerja bangku Batu asah untuk kerja ukr dan kerja bubut 93
  • 130. 3). Gerinda KETAM MANUAL Ketam adalah sebuah alat perkakas yang digunakan untuk menghaluskan, meratakan dan membentuk potongan-potongan kayu. Ditinjau dari bahan badan ketam, dibedakan menjadi dua, yaitu: ketam badan kayu dan ketam badan logam. Ketam badan kayu adalah ketam tradisional yang sudah sejak dahulu dipakai oleh tukang kayu di pedesaan. Badan ketam berbentuk segiempat dan terbuat dari kayu pilihan. Alas ketam dibuat rata dan halus karena berfungsi sebagai penuntun mata ketam agar penyayatan merata dan konstan. Di tengah badan kayu dibuat berlubang segiempat untuk menempatkan mata ketam. Ukuran tidak terstandar secara pasti namun antara 10 s.d. 50 cm. Dalam jangka waktu tertentu badan ketam harus diganti karena mengalami keausan. Sedangkan ketam badan logam adalah ketam modern dengan ukuran terstandar, karena badan ketam dibuat dengan cara dicetak tuang. Badan ketam di desain sesuai dengan fungsinya, misalnya: panjang ketam perata kasar adalah 14 inchi dengan lebar 2 inchi, 94
  • 131. 3 panjang ketam sambungan 22 inchi dengan lebar 2 /8 inchi, panjang ketam pelicin 8 s.d. 10 inchi dengan lebar 2 inchi. Penyetelan ketam badan logam lebih mudah dari dari ketam badan kayu, yaitu cukup dengan menggunakan obeng. Jadi jangan sekali-kali menyetel ketam logam dengan menggunakan palu. Gambar bagian-bagian ketam 95
  • 132. Ketam adalah sebuah perkakas tangan yang di-gunakan untuk a.) membersihkan permukaan kayu dengan jalan menghilangkan bekas- bekas penggergajian, b.) mempersiapkan permukaan kayu hingga mendekati ukuran yang diinginkan, dan c.) membentuk dan menepatkan ukuran pada kayu. Mata ketam yang dipergunakan untuk membersih-kan permukaan kayu dari bekas-bekas penggergajian diasah sedikit melengkung di kedua tepinya, sedang-kan mata ketam yang digunakan untuk menghaluskan kayu dibuat rata. 1. Bagian-bagian ketam Untuk mengetahui bagian ketam dan fungsinya dapat dilihat pada gambar dibawah a). Mata ketam Mata ketam terbuat dari baja campuran yang ditekan dengan tekanan tinggi. Fungsi mata ketam adalah menyayat atau memotong serat kayu sehingga didapat permukaan yang halus. Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, ketajaman mata ketam harus selalu diperhatikan. Mata ketam disetel dengan ganjal ketam dengan penguat sebuah sekrup. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, penyetelan mata ketam dan ganjal harus tepat. Ketepatan posisi tergantung pada bahan yang akan diketam, namun tepi potong mata ketam tidak boleh menonjol lebih dari 2 mm Gambar Mata ketam melengkung Gambar Mata ketam rata 96
  • 133. b). Rumah ketam Rumah ketam adalah sebuah blok yang terbuat dari kayu atau logam cor yang berfungsi untk menempelkan mata ketam dan bagian- bagian lain. Dengan ber-kembangnya teknologi, saat ini banyak diciptakan ber-bagai bentuk dan ukuran rumah ketam sesuai dengan fungsinya. Gambar contoh rumah ketam besi Gambar contoh rumah ketam kayu c). Ganjal Ketam/Lidah Ketam Ganjal ketam diperlukan untuk menjaga agar mata ketam tidak bergetar atau menjadi longgar, ganjal ketam dirancang sedemikian rupa sehingga menggiring serutan kayu keluar dari rumah ketam. Hal ini untuk mencegah tersumbatnya mulut ketam. Fungsi lain dari ganjal ketam adalah mencegah pecahnya serat kayu sehingga menjamin licinnya hasil pengetaman. 97
  • 134. Gambar contoh ganjal dari kayu d). Topi Umpil Topi umpil berfungsi untuk menjamin posisi mata ketam dan ganjal ketam di dalam badan ketam. Untuk meng-kondisikan atau membuka mata ketam dan ganjal ketam, penjepit yang ada pada tepi umpil dikendurkan dengan mengungkitkan alat pengumpil ke muka. Gambar Topi Umpil e).Mur Penyetel Mur Penyetel berfungsi untuk meneliti/mengontrol panjang mata ketam yang menonjol keluar. Hal ini akan berpengaruh pada tebal tipisnya serutan kayu yang terpotong. f). Sekrup Kodok Lebar mulut ketam dari depan sampai belakang dapat dikontrol dengan menyetel sekrup kodok yang terpasang pada badan ketam. Sekrup-sekrup kodok hanya terdapat pada ketam logam/baja. 98
  • 135. Gambar Mur Penyetel 2. Jenis-jenis Ketam Pada saat pertamakali diciptakan, bentuk ketam sederhana sekali. Badan ketam terbuat dari kayu dan mata ketam terbuat dari baja biasa. Nemun dengan perkembangan teknologi, bentuk dan konstruksi dari bahan-bahan yang dipergunakan semakin disesuaikan kebutuhan sehingga menjamin hasil yang maksimal. a). Ditinjau dari segi bahan yang digunakan dalam pembuatan badan ketam, maka ketam dibagi menjadi dua jenis, yaitu : 1). Ketam kayu 2). Ketam besi/logam b). Ditinjau dari fungsinya ketam digunakan untuk meratakan permukaan kayu, namun dalam per-kembangannya, ketam dibuat sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan, seperti mem- buat: alur atau celah. Jenis-jenis ketam menurut fungsinya 1). Ketam Jack (Jack Plane) Ketam logam ini dinamakan quot;jack planequot; karena digunakan untuk berbagai jenis pekerjaan. Ketam digunakan untuk menghilangkan goresan-goresan yang ditinggalkan pada permukaan kayu, untuk meratakan permukaan kayu dan segala macam pengerutan. Panjang rumah ketam sekitar 400 mm dan lebar ketam adalah 50 mm atau lebih. 99
  • 136. 2). Ketam Trying (Trying Plane) Trying plane digunakan bila kayu yang akan d iketam berukuran besar dan kecermatan merupakan hal yang sangat diutamakan, khususnya jika sisi-sisi yang panjang harus disambungkan. Mata ketam diasah lurus kecuali sudut-sudutnya sedikit dibulatkan agar tidak menancap ke dalam kayu. 3). Ketam Pelicin Ketam pelicin digunakan untuk menghilangkan setiap ketidak rataan dengan jalan mengeluarkan tatal-tatal tipis dari permukaan. Ketam ini untuk merapikan permukaan-permukaan kayu yang akan menjalani pengamplasan, pencatan, dan sebagainya. Panjang rumah ketam adalah 230 mm dan lebar mata ketam 50 mm atau lebih. 4). Ketam Sponing Ketam ini digunakan untuk membuat sponing-sponing pada tepi kayu. Ketam ini dilengkapi alat pengatur kedalaman dan alat pengatur ukuran lebar sponing. Ketam sponing dilengkapi sepucuk tali di bagian depan, sehingga taji dapat menyayat serat-serat kayu sebelum diketam oleh mata ketam. Hal ini untuk menyiapkan sebuah tepi yang rapi bagi sponing, khususnya di ujung jaringan serat. Mata ketam dapat digeser kedepan sehingga sponing-sponing buntu dapat dibuat pula. 100
  • 137. 5). Ketam Alur Ketam alur digunakan untuk membuat alur-alur. Lebar mata ketam berkisar antara 3 mm hingga 15 mm. Posisi dan kedalaman alur diatur dengan jalan menyetel pagar yang dapat distel dan alat pengatur kedalaman secara bergantian. 6). Ketam Pundak Ketam pundak digunakan untuk merapikan pundak-pundak lurus yang harus disambung secara pas dan benar. Mata ketamnya dipasang dengan sudut kecil dan lereng tepi potongnya menghadap keatas. 101
  • 138. 7). Block Plane Ketam plane digunakan untuk benda kerja berukuran kecil dan halus yang memerlukan pengerjaan sangat teliti. Seperti halnya ketam pundak, mata ketamnya dipasang dengan sudut kecil sekali dan lereng tepi potongnya menghadap ke atas. Dengan demikian jenis ketam ini sangat sesuai untuk menangani ujung-ujung jaringan serat. 8). Ketam Dasar (Router Plane) Ketam dasar digunakan untuk membersihkan dan meratakan dasar alur. Mata ketamnya berkisar antara 5 mm hingga 12 mm. Selain ketam dasar yang dibuat dari logam, terdapat pula ketam dasar yang dibuat dari kayu. 9). Ketam Berhidung Cembung Ketam ini merupakan sebuah ketam kecil dengan panjang 75 mm hingga 100 mm. Mata ketamnya di-pasang dekat dengan ujung depan rumah ketam. Hal ini memungkinkan ia mencapai setiap pelosok alur memanjang dan alur buntu. 102
  • 139. 10). Ketam Kompas (Compas Plane) Alas ketam ini berupa pelat logam tipis yang lentur dan lengkungannya dapat diatur dengan bantuan sekrup-sekrup. Hal ini memungkinkan ketam dapat diatur untuk menangani sponing-sponing lengkung. 11. Ketam Kombinasi Ketam kombinasi menggabungkan sejumlah fungsi ketam-ketam khusus lain dalam satu perkakas. Ketam kombinasi mampu membuat alur, sponing, profil-profil dan lidah-lidah. Ketam ini dilengkapi tujuh buah mata ketam berukuran 3 mm hingga 12 mm untuk pembuatan profil-profil, sembilan buah mata ketam berukuran 3 mm hingga 20 mm untuk pembuatan alur-alur, dan tiga buah mata ketam untuk pembuatan lidah-lidah. 103
  • 140. 12.). Ketam Konkaf Semula ketam konkaf dirancang untuk membentuk ruji-ruji roda kereta kuda. Ketam konkaf yang semula dibuat dari kayu, akhir-akhir ini semakin tersisihkan oleh ketam logam yang dapat distel dengan cermat dan tidak cepat rusak dalam pemakaiannya. Dewasa ini ketam konkaf terutama sekali digunakan untuk merapikan permukaan- permukaan lengkung pada benda-benda kerja. 3. Prosedur Pengetaman Untuk mendapatkan hasil pengetaman yang lurus dan rata, kekuatan-kekuatan yang dikenakan pada ketam haruslah sedemikian rupa sehingga mata ketam tidak akan menyayat ke atas pada permulaan dorongan atau kebawah pada akhir dorongan. Pada permulaan dorongan, hidung ketam ditekan ke bawah dengan tangan kanan mendorong ketam sepanjang permukaan kayu. Pada akhir dorongan, tangan kiri mengendurkan tekanan ke bawah dan apabila mata ketam melewati ujung kayu, tangan kiri mengangkat bagian depan ketam Gambar Prosedur Pengetaman Yang Benar 104
  • 141. Kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi a. Kayu mulai meruncing pada permulaan dorongan karena hidung ketam tidak ditekan ke bawah. b. Kayu meruncing pada akhir dorongan karena hidung ketam tidak diangkat Gambar Prosedur Pengetaman Yang Salah 4. Mengetam ujung jaringan serat Sesuai dengan struktur kayu, tidaklah mungkin untuk mengetam ujunga jaringan serat dalam satu dorongan akan terputus dari satu tepi ke tepi lain. Apabila ujung jaringan serat kayu diketam melintang sepenuh ukuran lebar kayu, tepi belakang akan retak. Hal ini dapat dicegah melalui beberapa cara, yaitu : Gambar Mengetam Pada Ujung Jaringan Serat a. Mengetam tiap tepi Ujung kayu diketam lintang sampai setengah ukuran lebar dan kemudian proses ini diulangi dari tepi lain. Bagian yang tinggi di tengah kayu kini dapat diketam dan tidak meretakkan tepi manapun Gambar Mengetam Pada Tiap Tepi Kayu 105
  • 142. b. Membuat Tepi Miring Sebuah tepi miring dibuat di sisi belakang kayu. Hal ini memungkinkan ketam menyerut melintasi ujung jaringan serat kayu tanpa meretakkan sisi belakang. Sewaktu melakukan ketaman terakhir harus berhati-hati karena mungkin bagian akhir tepi miring akan terkupas. Gambar Mengetam Jaringan Serat Dengan Tepi Miring c. Ditahan oleh sepotong kayu bekas Sepotong kayu bekas dijepitkan kuat-kuat pada tepi belakang kayu yang akan diketam. Hal ini akan menahan serat-serat kayu dan kayu tersebut dapat diketam seluruh ukuran lebarnya tanpa meretakkan sisi belakang. Gambar Mengetam Jaringan Serat Dengan Pertolongan Kayu Bekas d. Meratakan ujung jaringan serat Untuk mengetam melintas ujung jaringan serat kayu-kayu tipis, digunakanlah sepotong kayu penahan dan di pasang pada sisi pengarah. Alas ketam diposisikan vertikal. Gerakan ketam secara mundur maju akan melicinkan ujung kayu. Serat-serat kayu ditahan oleh papan penahan sehingga retakan-retakan atau pecahan-pecahan di tepi belakang dapat dihindarkan. Sepotong kayu lainnya disekrupkan pada alas papan perata agar dapat dijepit dalam ragum. 106
  • 143. Gambar Mengetam Jaringan Serat Dengan Cara Meratakan Jaringan Serat Latihan 1. Jelaskan tiga fungsi ketam secara singkat! 2. Sebutkan empat bagian ketam dan jelaskan secara singkat fungsi setiap bagian tersebut! 3. Jelaskan dua jenis ketam, bila ditinjau dari bahan yang digunakan untuk membuat badan ketam! 4. Sebutkan lima macam ketam menurut fungsinya dan beri penjelasan secara singkat dan jelas! 5. Gambarkan dua buah ketam dan beri penjelasan nama bagian- bagiannya! 107
  • 144. KETAM TANGAN KOMBINASI Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Kenakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja. 2. Bersihkan peralatan dan ruangan setelah di-gunakan. 3. Periksalah kondisi peralatan sebelum dan sesudah digunakan. 4. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya dan bahan sesuai dengan kebutuhan. 5. Simpan kembali peralatan dan sisa bahan pada tempatnya. 6. Perhatikan pengelolaan limbah. Peralatan, bahan, dan Keteknikan 1. Peralatan a. ketam kombinasi b. obeng (-) c. klem d. perusut e. mistar baja 2. Bahan kayu mahoni atau kayu sejenis 3. Cara menggunakan ketam kombinasi a. Membuat Alur 1.) Lukislah benda kerja dengan menggunakan perusut kembar pada bagian yang akan dibuat alur 2.) Jepitlah dengan menggunakan klem atau ragum benda kerja pada meja agar tidak bergerak pada waktu pengetaman. 3.) Aturlah ketam kombinasi sesuai dengan lebar dan kedalaman alur yang akan dibuat. 108
  • 145. 4). Lakukan pengetaman alur dengan hati-hati dan teliti agar benda kerja tidak rusak atau cacat. b. Membuat Profil 1.) Jepitlah benda kerja yang akan di profil pada sebuah meja dengan menggunakan klem atau ragum. 2). Pilih mata ketam sesuai dengan profil yang dibuat, kemudian pasanglah pada ketam kombinasi. 3). Aturlah kedalaman dan lebar profil 4). Lakukan pengetaman dengan hati-hati dan teliti agar benda kerja tidak rusak atau cacat. 109
  • 146. Lembar Tugas Buatlah alur dan profil dengan urutan kerja yang benar (gambar terlampir) 110
  • 147. B. PERALATAN SEMI MASINAL MESIN GERGAJI Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Kenakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja. 2. Bersihkan peralatan dan ruangan setelah di-gunakan. 3. Periksalah kondisi peralatan sebelum dan sesudah digunakan. 4. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya dan bahan sesuai dengan kebutuhan. 5. Simpan kembali peralatan dan sisa bahan pada tempatnya. 6. Perhatikan pengelolaan limbah. Peralatan, Bahan, dan Keteknikan 1. Peralatan a. Mesin gergaji lingkar tangan b. Berbagai jenis daun gergaji c. Siku-siku d. Mistar baja e. Pensil 2. Bahan Kayu mahoni atau kayu sejenisnya 3. Keteknikan/Cara Penggunaan Alat a. Pengenalan umum Hampir semua proses persiapan pekerjaan kayu menggunakan mesin gergaji. Gergaji lingkaran tangan sangat efektif untuk mengerjakan balok-balok kayu yang kecil. 111
  • 148. Bagian-bagian mesin gergaji lingkaran tangan Keterangan gambar : 1) pegangan (pendorong belakang) 2) sakelar utama 3) sungkup pelindung atas 4) rumah-rumah motor 5) pegangan depan 6) penghantar paralel 7) baut penjepit pengantar 8) daun gergaji lingkaran 9) sungkup pelindung bawah 10) pelat dasar mesin b. Perlengkapan Mesin Gergaji Piring Tangan 1) Pengantar Paralel Alat ini berfungsi untuk meluruskan jalannya mesin pada waktu digunakan. 2) Kantong Serbuk Kantong Serbuk berfungsi untuk menampung tatal sisa pemotongan yang berhamburan karena putaran daun gergaji. 112
  • 149. Lihat Gambar kantong serbuk 3) Perlengkapan kunci L dan kunci pas ini digunakan untuk membuka dan memasang daun gergaji 4) Dudukan Mesin Dudukan mesin biasanya terdiri dari a). Meja mesin b). Pengantar paralel meja c). Pengantar lintang bersudut d). Pisau belah 113
  • 150. c. Jenis-jenis Daun Gergaji 1) Daun Gergaji Potong Ciri-cirinya : a). jumlah gigi banyak, b). gigi berbentuk segitiga kecil, tajam, c). gigi di giwar dan di tajamkan selang-seling, d). digunakan untuk memotong serat 2) Daun gergaji belah, Ciri-cirinya a). jumlah gigi sedikit, b). bentuk gigi besar dengan sudut serbuk lebar, dan c). giwaran gigi lebar. 3) Daun gergaji kombinasi Ciri-cirinya a). umlah gigi sedang, b). bentuk gigi sedang sampai besar, dengan sudut serbuk cukup besar, dan c). giwaran gigi cukup lebar. 114
  • 151. 4) Daun gergaji batu Ciri-cirinya a). terbuat dari bahan batuan keras semacam gerinda dan b). berbentuk piringan. d. Pemasangan Daun Gergaji 1) Lepaskan hubungan aliran listrik (kabel penghubungnya dicabut). 2) Letakkan mesin gergaji diatas meja dan ambilah kunci pas (L). 3) Ambil tuas besi sebagai penahan putaran daun gergaji. 4) Ganjal tuas pada daun gergaji kemudian kendorkan bautnya 5). Lepas daun gergaji yang tumpul dan ganti dengan daun gergaji yang tajam (baru). Catatan: Pemilihan daun gergaji harus sesuai dengan pemakaian. Gambar Penggantian Daun Gergaji d. Jenis-Jenis Mesin Gergaji Lingkaran 1) Gergaji Lingkaran Plafon Gergaji ini dipakai untuk meratakan pelapisan dinding atau plafon. Mesin ini di lengkapi dengan pengantar paralel dan pelindung sungkup teleskopis. Ukuran potong maksimal 27 mm 115
  • 152. 2) Gergaji Lingkaran portabel kecil Gergaji ini digunakan untuk keperluan rumah tangga atau sebagai perlengkapan pertukangan. Ukuran potong maksimal 25-35 mm. 3) Gergaji Lingkaran portabel sedang Gergaji ini digunakan untuk keperluan rumah tangga, atau industri kecil dengan ukuran potong maksimal. 40-60 mm. 4). Gergaji Lingkaran portabel besar Gergaji ini digunakan untuk keperluan industri kecil atau untuk pemasangan perabot rumah tangga. Ukuran potong maksimal 60- 80 mm. 116
  • 153. 5). Gergaji Lingkaran berat Gergaji ini digunakan untuk industri kecil atau untuk penggergajian kayu dengan ukuran potong maks 150 mm. 6). Gergaji potong dengan meja penjepit Gergaji ini digunakan untuk memotong kayu, aliminium, atau logam lunak. Posisi gergaji dapat diatur dengan sudut 0, 15, 30, dan 45°. ke kiri atau ke kanan. 7).Gergaji potong untuk pipa atau pelat siku. 117
  • 154. 8) Gergaji Lingkaran portabel yang dipasang pada meja permanen dapat diatur untuk a. memotong b. membelah c. membelah miring e. Proses Kerja Dengan Mesin Gergaji Tangan 1) Membelah a). Siapkan bahan dan alatnya. b). Pasang pengantar paralel pada disisi benda kerja. c). Pada pembelahan kayu yang berserat miring memerlukan pisau pembelah pada bagian akhir daun gergaji, karena biasanya serat menjepit daun gergaji meskipun sudah terbelah. 118
  • 155. Pisau belah dilengkapi sungkup pelindung Gambar :Pisau belah Gambar : Membelah kayu dengan pengantar pararel 2) Memotong a). Siapkan bahan dan alatnya b). Ketebalan kayu harus disesuaikan dengan ke- mampuan daun gergaji (cutting depth) c). Hidupkan mesin gergaji dan mulailah memotong benda kerja Gambar : Memotong sortimen kayu gergajian 119
  • 156. 3) Memotong miring a). Siapkan bahan dan alatnya. b). Aturlah sudut potong pada mesin gergaji tangan sehingga daun gergaji dan plat dasar membentuk sudut tertentu. c). Ukurlah dengan siku putar (siku-siku) dan cocokkan dengan sudut iris benda kerja yang diinginkan. d). Setelah semua cocok, dapat dimulai. Gambar : Pemotongan papan bersudut 45° 4) Membuat alur dengan mesin gergaji tangan a). Siapkan alat dan bahan. b) Pasanglah pengantar (sablon paralel). c). Aturlah kedalaman iris daun gergaji yang . d). Bila tebal irisan daun gergaji kurang dari 4 mm, alur dapat di perlebar dengan 2 kali kerja. e). Setelah semua persiapan selesai hidupkan mesin gergaji dan mulailah membuat alur pada benda kerja. 5) Membuat lubang dengan mesin gergaji tangan a). Siapkan alat dan bahan 120
  • 157. b). Aturlah kemunculan daun gergaji sesuai dengan ukuran lubang yang akan dibuat c). Gunakan pengatur penghantar paralel d). Letakkan mesin gergaji seperti gambar (A), dengan tumpuan ujung pelat dasar e). Hidupkan mesin dan turunkan perlahan-lahan sehingga mengenai/memotong benda kerja (lihat gambar (B) di bawah ini). Latihan 1. Jelaskan cara memasang dan melepas daun gergaji lingkaran? 2. Belahlah sepotong kayu (balok) dengan mesin gergaji lingkaran! 3. Praktikan cara memotong sebuah balok kayu dengan gergaji lingkaran? 4. Praktikan cara pengoperasian mesin gergaji lingkaran 5. Sebutlah jenis -jenis daun gergaji lingkaran! MESIN KETAM Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Gunakan alat pengaman kerja 2. Jauhkan tangan dari bagian mesin yang berputar 3. Jangan gunakan mesin tangan dalam keadaan basah 4. Bekerjalah dengan teliti, hati-hati dan penuh konsentrasi 5. Simpanlah peralatan di tempat yang kering 6. Pakailah sepatu bersol karet Peralatan, Bahan, dan Keteknikan 1. Peralatan a. Ketam tangan listrik b. Siku-siku c. Pensil d. Mistar baja e. Obeng 121
  • 158. 2. Bahan Kayu mahoni atau kayu sejenis 3. Keteknikan/Cara Penggunaan Alat a. Pengenalan umum Mesin ketam merupakan peralatan dasar yang sangat diperlukan dalam pengolahan kayu. Penggunaan ketam tangan listrik masih jarang digunakan di Indonesia, baik di rumah tangga maupun di industri kecil, padahal alat ini sangat efektif dan efisien dalam pertukangan. Bagian-bagian umum mesin ketam tangan Keterangan gambar : 1. Kabel 2. Pegangan belakang 3. Sakelar utama 4. Pegangan muka (pengatur tebal tatal/serutan) 5. Baut pejepit pengantar paralel 122
  • 159. 6. Lubang batang pengantar paralel 7. Penutup puli motor penggerak 8. Pelat dasar ketam depan 9. Pelat dasar belakang 10.Poros pisau b. Perlengkapan ketam tangan listrik 1). Kuda-kuda atau gawang yang digunakan untuk mengoperasikan ketam tangan listrik secara permanen 2). Pengantar paralel, untuk membuat sponing atau sebagai penyiku. 3). Pelat penyudut, biasa di tambahkan pada penghantar paralel untuk mengetam miring (bersudut). 123
  • 160. 4). Kunci pembuka pisau ketam 5). Pengaman penutup poros 6). Pengaman blok poros, yang dipasang pada pengantar paralel. c. Pemasangan pisau pada poros 1.) Putuskanlah dulu hubungan dengan arus listrik. Ambil kunci pembuka pisau poros. Baliklah mesin ketam dan lepaslah baut- baut penjepit-penjepit pisau ketam. 2). Biasanya konstruksi pisau dibagi 2, yaitu a). Kostruksi pisau balik (reversible knife) b). Pisau dengan konstruksi masif, atau baja keras Konstruksi pisau yang baik mempunyai pen penahan sebagai pengaman, sehingga bila terlepas, pisau tidak terlontar keluar. 4).Tarik dan keluarkan baut-baut penjepit pisau poros, dan bersihkan dengan teliti. Kemudian ganti pisau yang tumpul dengan pisau yang tajam. 124
  • 161. 5). Yang perlu diperhatikan dalam pemasangan pisau a) Kemunculan pisau maksimum 1 mm b). Baut-baut penjepit harus benar-benar sudah di kencangkan sebelum dipakai c). Ketebalan serutan tatal dapat diatur melalui tombol pegangan Gambar : cara pembukaan pisau ketam Gambar : (a) dengan alur pengaman, (b) dengan lubang baut penjepit, (c) dengan alur pengaman pad konstruksi pisau balik. Gambar : Cara mengatur kemunculan pisau ketam 4. Jenis ketam tangan listrik Jenis ketam tangan listrik dibedakan menurut kapasitas ketamnya, kapasitas ketam mulai dari lebar 40 mm sampai 80 mm. Kedalaman sponing yang dapat di buat bervariasi. a). Ketam tangan listrik perata sisi Ketam ini digunakan untuk meratakan sisi kayu. 125
  • 162. a. Bagian-bagian ketam perata sisi tebal: 1. Kabel 2. Sakelar utama 3. Pegangan mesin 4. Rumah-rumah motor 5. Tempat lamel arang 6. Pegangan samping 7. Poros pisau dengan penutup pelat 8. Roda pengatur ketebalan serutan b). Perlengkapan ketam tangan listrik. 1). Pemberat dan pengantar untuk meratakan sisi tebal. 2). Kantong tatal Berfungsi untuk menampung tatal dari proses pengetaman agar tidak berserakan. 126
  • 163. c. Bekerja menggunakan mesin ketam tangan 1). Mengetam a). Langkah pertama perhatikan arah serat kayu yang hendak diketam b). Pada kayu berserat miring harus selalu mengambil arah memotong serat c). Perhatikan lebar dan tebal papan. Pada benda yang tebal sebaiknya tidak mempertebal serutan agar pisau dan kerja motor tidak bertambah berat. 2). Mengetam sponing a). Aturlah pengantar paralel untuk lebar sponing b). Pengantar paralel disematkan pada lubang muka mesin (g) dan di jepit dengan baut penjepit c). Lebar sponing maksimal = lebar poros mesin d). Kedalaman sponing yang dibuat sesuai dengan ukuran sisi samping e). Atur kedudukan pisau dan ketebalan serutan seperti pengetaman biasa f). Atur lebar sponing dengan pengantar paralel h). Hidupkan mesin, dan mulailah bekerja dengan hati-hati. 127
  • 164. 3). Mengetam miring Pada proses pengetaman miring diperlukan pengantar miring, maka pada pengantar paralel di pasang pelat bersudut. Gambar :Pengetaman miring d). Meratakan lis sisi tebal Proses pengetaman lis sisi tebal memerlukan pemberat dan penghantar untuk keseimbangan mesin agar tidak tergelincir jatuh. Gambar meratakan lis pada pelapisan sisi tebal Lembar Tugas 1. Pertanyaan a) Sebutkan bagian-bagian mesin ketam b) Sebutkan perlengkapan mesin ketam c) Sebutkan jenis mesin ketam 2. Tugas Buatlah balok kayu dengan menggunakan mesin ketam tangan seperti gambar di bawah ini : 128
  • 165. MESN ROUTER KESELAMATAN KERJA PADA MESIN ROUTER 1. Gunakan penampung ukuran yang tepat bagi alat pemotong yang digunakan. 2. Hanya boleh menggunakan alat-alat tambahan (asesoris) yang dirancang untuk menjalankan mesin router pada kecepatan tinggi. 3. Putuskan penyambung (conector) dari sumber aliran listrik sebelum melakukan penggantian atau perubahan. 4. Periksala bahwa mata router telah tertempel dengan kuat dan aman pada pemegang sebelum mulai menjalankan motor. 5. Ketika mulai menjalankan router, periksa dulu bahwa mata router tidak berhubungan dengan pekerjaan yang akan dikerjakan. 6. Peganglah router dengan kuat ketika menghidupkan sumber tenaga agar dapat menguasai tenaga putaran awal. Jauhkan router dari badan anda, pakaian dan bangku kerja pada saat mulai dan sedang beroperasi. 7. Jauhkan tangan anda dan pakaian yang longgar dari mata router atau alat potong berputar. 8. Gunakan perlatan pengamanan telinga dan amati ketika mengoperasikan router yang dijalankan dengan tangan. Peralatan, Bahan, dan Kesehatan 1. Peralatan a. berbagi mesin profil, b. siku-siku, c. parasut, d. pensil, e. mistar baja, f. obeng, dan g. kunci pas. 2. Bahan Kayu mahoni atau sejenisnya 3. Keteknikan/Cara Penggunaan Alat Mesin frais tangan (router) digunakan untuk membuat profil, memingul benda kerja, meratakan pelapis sintetik (formika), membuat alur, dan sebagainya. Jenis pengerjaan menentukan jenis pisau yang digunakan, misalnya untuk pembuatan alur harus digunakan pisau alur. Bagian-bagian mesin frais (router) yang penting tampak pada gambar berikut ini. 129
  • 166. a. Alat-Alat Perlengkapan Mesin Frais Atas Tangan (Router) 1) Cincin Kopi (Copying Ring) Digunakan untuk pembuatan benda kerja dengan sablon-sablon khusus. Hasil yang sama bentuknya. 130
  • 167. 2). Pengantar Paralel Digunakan untuk membuat alur sponing atau profil pada sisi samping benda kerja yang lurus 3). Pengatur Halus (Microfine Adjustment) Alat ini dipasang pada pengantar paralel yang digunakan untuk pengaturan yang lebih teliti. 4). Alat ini digunakan untuk mengatur ketebalan dan sekaligus sebagai penuntun pembuatan benda kerja yang melengkung. 131
  • 168. 5). Alat Dasar Penyudut Alat ini berfungsi untuk mengatur sudut pengeboran dan mengefraisan dengan sudut maksimal 450. Alat dasar ini dilengkapi dengan penghenti, sehingga dapat diatur dengan tepat pada sudut tertentu 6). Pembatas Miring Pembatas miring berfungsi untuk membatas pengefraisan pada papan lebar sehingga penghantar paralel dapat digunakan. 132
  • 169. 7). Penghenti (Tarret Stop) Alat ini dipasang pada bagian baut penhenti untuk mendapatkan tahap pengatur kedalaman iris pisau. 8). Jangka (Circle Cutting Device) Jangka digunakan untuk membuat bentuk lengkung atau lingkaran. b. Jenis-jenis Mesin Frais, Tangan (Router) 1. Router yang digunakan untuk pekerjaan ringan 133
  • 170. 2. Router untuk industri kecil 3. Router Untuk Industri Kelas Menengah 134
  • 171. 4. Mesin frais tangan (Router) untuk pekerjaan pada industri yang digunakan secara terus menerus. c. Cara menggunakan mesin frais tangan (Router) 1). Memasang pisau a). Tekan pelat dasar sehingga mendekati rumah motor. b). Keraskan pegangan pengunci (8) sehingga pelat dasar tidak bergerak. c). Buka baut dan poros dengan 2 buah kunci bersama. d). Masukkan pisau ke dalam lubang poros dan kencangkan. e).Kendorkan pegangan pengunci (8) pelat dasar sampai menutupi poros kerja sehinga me-lindungi tangan kita dari putaran pisau. f). Peralatan siap digunakan. 2). Melepas pisau a) Langkah-langkah pelepasan pisau sama dengan pemasangan pisau. b) Setelah pelat dasar ditekan dan dikencang-kan. Bukalah baut penjepit pisau dengan kombinasi 2 buah kunci poros lalu lepaskan pisau-nya. c) Kencangkan baut sedikit agar tidak terlepas. d) Simpan pisau dengan baik. 3). Mengatur kedalaman pisau a) Tekan pelat dasar menuju rumah motor sehingga pisau menonjol keluar. b) Aturlah kemunculan pisau dengan cara mengendurkan pegangan pengunci sedikit demi sedikit sampai ukuran yang dikehendaki, kemudian keraskan pegangan pengunci. 135
  • 172. c) Atur baut pengatur batas kedalaman iris pisau sebelum pegangan pengunci kita lepas-kan. d. Cara Kerja Dengan Mesin Frais Tangan (Router) 1). Pembuatan Alur dan Sponing Lurus a) Siapkan alat dan bahan b) Tentukan batas lebar alur dengan pengatur paralel c) Tentukan kedalaman alur/ sponing d) Hidupkan mesin dan gerakkan di atas benda kerja. Pembuatan Alur Sponing Pada Papan 2). Pembuatan Alur dan Sponing Lengkung a) Siapkan alat dan bahan b) Siapkan sablon (mal) dan cincin kopi (copying ring) sebagai pengantar. c) Perhatikan (a) ukuran diameter cincin kopi, (b), diameter pisau (c), jarak sisi pisau dengan sisi luar cincin kopi (d) jarak kemunculan pisau. 136
  • 173. Gambar Skema Ukuran Cincin Kopi dan Sablon. (a) Jarak sisi iris pisau dan cincin, (b) kemunculan pisau, (c) diameter pisau, (d) diameter cincin kopi. d). Setelah persiapan sablon selesai letakkan benda kerja diatas meja kerja, susunlah sablon diatasnya dan jepitlah dengan klem. e). Pasang pisau pada mesin serta cincin kopinya kemudian atur kemunculan pisau yang diinginkan. f). Hidupkan mesin dan singgungkan sisi luar cincin pengantar dengan sisi sablon. g). Tekan mesin sehingga pisau memakan kayu. h). Keraskan pegangan pengunci dan geserkan mesin sepanjang alur yang di inginkan. Gambar : Pembuatan alur lengkung dengan mesin frais tangan. 3). Membuat alur tanpa alat pembantu a). Siapkan alat dan bahan b). Gambar arah alur-alur yang akan dibuat c). Pemotongan kedalaman pemotongan alur dikerjakan sedikit demi sedikit d). Kedalaman maximum alur 5 mm 137
  • 174. e). Kedalaman alur yang di kerjakan sekaligus akan menimbulkan bahaya, karena daya yang dikeluarkan terlalu besar f). Pilih pisau yang digunakan sesuai dengan bentuk yang dikerjakan 4). Membuat alur ekor burung untuk sambungan kosen lengkung. a). Siapkan alat dan bahan. b). Siapkan perlengkapan pengan tar paralel c). Permukaan kepala kayu diperluas dengan penambahan papan yang dijepit pada sisi kiri dan kanan benda kerja (c). d). Pasangkan pisau ekor burung pada mesin Router. e). Atur pengantar paralel sesuai dengan jarak yang diinginkan. f). Hidupkan mesin dan jalankan mesin sejajar dengan papan tambahan. Gambar Konstruksi pada kosen lengkung dan pem-buatannya. (A) Pisau alur ekor burung (B) Skema Konstruksi dan (C) Skema pengerjaan konstruksi. 5). Membuat profil Profil tepi benda kerja dikerjakan untuk memperindah bagian-bagian pera bot. 138
  • 175. Pada dasarnya, pembuatan profil sama dengan meratakan pelapis. Perbedaannya pada jenis pisau yang digunakan. Alat tambahan yang digunakan sebagai alat tambahan adalah : a) Pengantar sisi tebal, untuk membuat profil pada benda kerja lengkung maupun lurus. b) Pengantar paralel, untuk membuat profil lurus. c) Pisau berbantalan, untuk pembuatan profil pada benda kerja lurus maupun lengkung. d) Sablon dan jangka digunakan untuk membuat alur profil sebagai dekor pada bidang kerja. Ingat! penggunaan pisau dengan pasak penuntun (guide pin) tidak dibenarkan. Gambar: Macam-macam pisau untuk membuat profil (a) pisau peminggul (b) pisau dengan pasak penuntun (guide pin), (c) radius profile dan (d) pisau alur lengkung (convex cutter). Lembar Tugas 1. Pertanyaan a. Jelaskan cara pengoperasian mesin router? b. Jelaskan cara mengatur kedalaman pisau? c. Jelaskan cara pemasangan dan pelepasan pisau router? 2. Tugas 139
  • 176. Buatlah balok kayu menjadi konstruksi sambungan ekor burung sesuai dengan gambar berikut : MESIN JIGSAW Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Kenakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja. 2. Bersihkan peralatan dan ruangan setelah di-gunakan. 3. Periksalah kondisi peralatan sebelum dan sesudah digunakan. 4. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya dan bahan sesuai dengan kebutuhan. 5. Simpan kembali peralatan dan sisa bahan pada tempatnya. 6. Perhatikan pengelolaan limbah. Peralatan, Bahan, dan Kesehatan Kerja 1. Peralatan a. berbagai jenis jig saw b. siku-siku c. pensil d. mistar baja e. obeng (-) 2. Bahan Kayu mahoni atau kayu sejenisnya 3. Keteknikan/Cara Penggunaan Alat Mesin gergaji pita kecil yang sering disebut jig saw atau saber saw digunakan untuk memotong bentuk-bentuk leng kung, memperbesar lubang, memotong lurus, memotong sudut, dan memotong bentuk lingkaran. Mesin gergaji pita kecil tidak h anya digunakan untuk kayu. Fungsi gergaji pita kecil ini disesuaikan dengan jenis bilah yang digunakan. Mesin ini dapat digunakan untuk memotong lembaran metal lunak, sintetis, mika, dan lembaran plastik. 140
  • 177. Bagian-bagian mesin gergaji pita kecil Keterangan Gambar 1. kabel, penghubung dengan arus PLN 2. pengunci saklar utama 3. saklar utama 4. rumah-rumah motor, yang berventilasi 5. pelat dasar mesin 6. penjepit bilah gergaji 7. bilah gergaji Perlengkapan Mesin Gergaji Pita Kecil a. Pelat Dasar Mesin Bersudut Alat ini digunakan untuk pemotongan bersudut pada bidang kerja. Sudut dapat diatur sesuai dengan kebutuhan (0°-45°) 141
  • 178. b. Pengantar Paralel Digunakan untuk pemotongan lurus. c. Jari-Jari Pengantar Digunakan untuk pemotongan yang berbentuk lingkaran. Jarak radius lingkaran ialah as putar sampai sisi iris mata gergaji. d. Penjepit Bilah Gergaji Digunakan untuk menjepit gergaji pada poros kerja mesin. 142
  • 179. e. Obeng atau drei Digunakan untuk menyetel perlengkapan mesin. Jenis-Jenis Gergaji Pita Kecil dan Bilah Gergaji a. Gergaji Tangan Mesin Jenis gergaji ini hampir serupa dengan mesin gergaji pita kecil, hanya gerakan bilah gergaji tidak vertikal, tetapi horinzontal, searah dengan badan mesin b. Macam-Macam Bilah Gergajinya Bilah gergaji untuk mesin gergaji kecil banyak macamnya, mulai dari bilah gergaji besi, sampai gergaji kayu atau bahan lunak sejenis plastik, mika, atau akrilik. Gambar Mesin Gergaji Pita Kecil Yang Ringan Beberapa contoh yang ada di pasaran (a) untuk kayu keras dan lunak, (b) berisi ganda, (c) untuk plastik dan papan lapis, (d) untuk kulit, karet dan karton. c. Mesin Gergaji Pita Kecil Yang Ringan Mesin ini ringan dan mudah dioperasikan, motornya ringan, dan diperuntukkan bagi pemakaian sarana penunjang di rumah. Bagian pelat dasar dapat dimiringkan untuk memotong sudut. 143
  • 180. Gambar Mesin Gergaji Pita Kecil Yang Ringan Gambar : (a) bilah gergaji untuk memotong metal, (b) bilah gergaji untuk memotong kayu dengan 2 sisi, dan (c) untuk memotong karet dan kulit. Cara penggunaan mesin gergaji pita kecil/ langkah kerja yang ditempuh ialah sebagai berikut : a. Membelah Dan Memotong Lurus Perlengkapan yang digunakan ialah sebagai berikut Pengantar paralel, terdapat pada pelat dasar mesin, lalu ukur dahulu jarak antara sisi pengantar samapai sisi iris gergaji, setelah itu kencangkan baut penjepit, kemudian hidupkan mesin dan jalankan dengan antaran pengantar paralel. Gambar Membelah b. Menggergaji Lubang Langkah pertama ialah pada benda kerja di buat gambar yang diperlukan dan kemudian di lubangi dengan bor. Diameter lubang di 144
  • 181. sesuaikan dengan b ilah gergaji yang digergaji.Kemudian hidupkan mesin dan perbesar lubang sesuai dengan yang di rencanakan. c. Menggergaji Miring Kita menggunakan soket atau obeng untuk mengendurkan baut pada pelat dasar. Kemudian, atur kemiringan plat sesuai dengan sudut kemiringan yang kita inginkan, kencangkan baut, lalu jepit benda kerja dengan klem, dan mulailah bekerja. d. Menggergaji Lingkaran 1.) Pertama-tama sematkan pengantar jari-jari kedalam 2.) Alur penjepitan diukur sesuai dengan jarak radius yang diinginkan 3.) Tancapkan pen as kemudian putar as lingkaran benda kerja 4.) Dan mulailah menggergaji sesuai dengan arah pengantar Pada saat menggergaji tekan as putar dan tahan pada posisinya, dan yang perlu di perhatikan ialah perbandingan antara lebar gergaji dan lengkungan. Bila dipaksakan terus-menerus, gergaji akan putus, 145
  • 182. tetapi dapat diatasi dengan cara membuat potongan-potongan awal guna membebaskan bilah gergaji. Pada gambar (1) tampak guratan- guratan awal, benda kerja (2), potongan-potongan yang di lepas sesudah digergaji (3). Gambar Menggergaji Lingkaran e Menggergaji Bebas Gergaji pita kecil memang untuk menggergaji bebas. Segala bentuk lengkung dapat dikerjakan asal radius lengkungan tetap disesuaikan dengan ukuran lebar bilah gergaji yang digunakan. Penggunaan mesin dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dari atas dan dari bawah. Pada pengerjaan dari bawah mesin dijepit pada bangku kerja dan gergaji/dasar gergaji menghadap ke atas. 146
  • 183. Gambar Menggergaji Bebas Gambar Menggergaji bebas dari bawah, mesin di jepit pada bangku kerja. Lembar Tugas 1. Pertanyaan a. Buatlah bentuk bulat dari kayu dengan penggergajian lingkaran. b. Bagaimana cara pengoperasian gergaji tangan listrik. c. Praktekkan cara dan teknik penggergajian miring. 2. Tugas Buatlah tempat kaca dari kayu dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 3 cm. 147
  • 184. MESIN BOR Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Kenakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja. 2. Bersihkan peralatan dan ruangan setelah di-gunakan. 3. Periksalah kondisi peralatan sebelum dan sesudah digunakan. 4. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya dan bahan sesuai dengan kebutuhan. 5. Simpan kembali peralatan dan sisa bahan pada tempatnya. 6. Perhatikan pengelolaan limbah. Peralatan, Bahan, dan Keteknikan 1. Peralatan a. mesin bor tangan b. berbagai mata bor c. siku-siku d. pensil e. mistar baja f. alat penjepit g. peniti h. alat pemutar skrup 2. Bahan kayu mahoni atau yang sejenis 3. Keteknikan/Cara Penggunaan Alat Mesin bor tangan digunakan untuk membuat lubang pada kayu, besi, plastik, dan bahan lainnya. Jenis benda kerja tersebut menentukan jenis mata bor yang digunakan. Mesin bor hanya merupakan sarana untuk memutar mata bor, alat upam, alat gosok, dan alat lainnya. 148
  • 185. a. Bagian-Bagian Mesin Bor Tangan Keterangan gambar : 1. chuk (penjepit mata bor) 2. kunci penjepit 3. pelat pengait 4. lubang Sirkulasi 5. sakelar utama 6. kunci sakelar 7. pegangan 8. kabel listrik b. Alat-Alat Perlengkapan Mesin Bor Tangan 1) Mata bor Mata bor digunakan untuk membuat lubang pada kayu, plastik, dan lain lain. Prinsip : Jenis mata bor harus sesuai dengan kekerasan bahan yang akan dibor. Contoh pada gambar di bawah ini 149
  • 186. 2) Alat Pemutar Sekrup (Obeng) Alat perlengkapan ini digunakan untuk mengencangkan dan memutar sekrup. 3) Piringan Amplas Mesin bor tangan dapat dipakai untuk mengamplas dengan cara menambahkan alat piringan amplas. 4) Alat Pemutar Sekrup (Heksagon) 150
  • 187. c. Beberapa Jenis Mata Bor yang Biasa Digunakan untuk Mengebor Kayu 1) Bor Spiral Tanpa Senter Bor ini digunakan untuk membuat lubang tanpa tembus 2) Bor Spiral Dengan Senter Bor ini digunakan untuk membuat lubang tembus dan tak tembus 3) Bor Spiral Bertingkat Bor ini digunakan untuk membut lubang pembenahan kepala sekrup secara langsung d. Jenis-jenis mata bor tangan 151
  • 188. 1) Mesin Bor Pistol Biasa Bor ini digunakan untuk rumah tangga atau hobi, ringan dan berdaya rendah 2) Mesin Bor Berpegangan Bor ini termasuk mesin bor yang berdaya rendah serta ringan 3) Mesin Bor Dengan 2 Kecepatan Mesin bor jenis ini menguntungkan untuk pekerjaan rumah tangga e. Teknik Bekerja Dengan Mesin Bor Tangan 1) Pengeboran Lubang Tembus Pengeboran lubang tembus berhasil baik bila bangian bawah benda tidak terkoyak/rusak. Untuk menghindari keterkoyakan itu, bagian bawah harus di beri landasan. Ketepatan as lubang dapat 152
  • 189. kita peroleh dengan memberi tanda lebih dulu dengan drip. Kedudukan mesin harus tegak lurus. Yang belum pengalaman dapat menggunakan penyiku sebagai pedoman, selanjutnya jepit benda kerja agar tidak begeser. 2) Mengebor Lubang Tidak Tembus Membuat lubang tidak tembus dengan ukuran kedalaman tertentu ada dua cara, yaitu a) dengan kelos pembatas, kemunculan mata bor sesuai dengan kedalaman lubang yang di inginkan. b) Dengan Tuas Pembatas, Ujung Mata Bor dan Ujung Tuas Hanya berselisih t (kedalaman lubang yang diinginkan). 153
  • 190. 3) Mengamplas Mesin bor dapat di gunakan untuk memutar piringan amplas. Pengendalian diatur oleh tangan. Pengendalian amplas secara vertikal tidak menguntungkan karena tekanan. Oleh sebab itu pengendaliannya tangan berubah-ubah secara horisontal. Mesin kita jepit dengan bebas pada meja penopang Gambar :Pengampelasan vertikal Gambar :Pengampelasan horisontal 4) Mengupam Mesin bor juga dapat digunakan sebagai alat untuk menggosok (membuat gilap) benda kerja sesudah di-finishing. 154
  • 191. Gambar :Mengupam dengan mesin bor e. Langkah Kerja 1) Siapkanlah peralatan mesin bor tangan. 2) Pasanglah mata bor pada mesin bor dan kencangkan 3) Letakkanlah kayu yang akan dibor di atas 4) Lakukanlah penelitian untuk mengepaskan mata bor. 155
  • 192. 5) Lakukanlah pengeboran 6) Periksalah permukaan bagian bawah, adalah lapisan yang terkoyak atau tidak Lembar Tugas 1. Pertanyaan a. Sebutkan tiga bagian mata bor yang biasa digunakan b. Sebutkan tiga jenis mesin bor tangan c. Sebutkan tiga teknik yang dapat di lakukan dengan mesin bor tangan 2. Tugas a. Lubangilah balok kayu di bawah ini dengan mengebor lubang tembus dan lubang tidak tembus. 156
  • 193. MESIN AMPELAS SABUK/ BELT SANDER Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Kenakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja. 2. Bersihkan peralatan dan ruangan setelah di-gunakan. 3. Periksalah kondisi peralatan sebelum dan sesudah digunakan. 4. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya dan bahan sesuai dengan kebutuhan. 5. Simpan kembali peralatan dan sisa bahan pada tempatnya. 6. Perhatikan pengelolaan limbah. Peralatan, Bahan, dan Keteknikan 1. Peralatan a. macam -macam mesin ampelas b. siku-siku c. mistar baja d. obeng e. pensil 2. Bahan Kayu mahoni atau sejenisnya 3. Keteknikan/Cara Penggunaan Alat a. Penggunaan Mesin Ampelas Sabuk (Portable Belt Sander) Penggunaan alat ini sangat mudah, yaitu dengan menekan tombol on dan off . b. Cara memasang dan melepas sabuk ampelas. 1) Pilihlah sabuk ampelas yang sesuai dengan ukuran dan kekerasan yang diinginkan. 2) Letakkan mesin ampelas di atas meja kerja dan buka penutup motor yang meng-halangi sabuk. 157
  • 194. 3). Bukalah tekanan ketegangan amplas dengan memutar roda (9) dan ambil sabuk ampelas lama diganti dengan yang baru. 4). Perhatikan arah anak panah pada sabuk, sesuai dengan arah putaran mesin. 5). Tekanan sabuk dengan memutar roda (9). 6). Meluruskan jalan sabuk dengan mengatur arah silinder muka (9) melalui roda (8). 7). Putarlah sabuk ampelas untuk memastikan kekerasan amplas. 8). Pasang penutup motor. Berikut ini adalah gambar dan keterangan mesin ampelas ban/sabuk (portable belt sander) c. Bagian-bagian mesin ampelas sabuk Keterangan Gambar 1. kabel listrik 2. pegangan belakang 3. sakelar utama 4. kerang dasar 5. serabut ijuk 6. silider muka 7. rumah-rumah motor 8. roda pengatur silinder muka 9. roda pengatur ketegangan amplas 10 sabuk amplas 11.kantong serbuk d. Perlengkapan Pembantu 1) Kerangka dasar berserabut ijuk Alat ini digunakan untuk mengamplas bidang-bidang yang lebar dengan tekanan halus dan rata. 158
  • 195. 2) Kerangka Dasar Kerangka dasar digunakan untuk mengampelas benda kerja berbentuk kerangka misalnya kerangka pintu. 3) Standar Standar digunakan untuk memegang mesin ampelas ini bila digunakan terbalik untuk mengampelas bebas. 4) Ban atau sabuk ampelas Terdapat 3 jenis ampelas untuk peng-ampelasan kayu sesuai dengan jenis perekat yang diguanakan ukuran kekasaran mulai dari 40 sampai 50. c. Cara Memasang dan Melepas Sabuk Amplas 1) Pilih sabuk yang sesuai dengan kekerasan yang diinginkan. 2) Letakkan mesin ampelas diatas meja kerja dan buka penutup motor yang mengahalangi sabuk. 3) Lepaskan kerangka dasar dan buka tekanan ketegangan ampelas dengan memutar roda 9 159
  • 196. 4) Ambil sabuk ampelas lama dan ganti dengan yang baru. 5) Perhatikan arah panah pada sabuk ampelas, se-suaikan dengan arah putaran mesin. 6) Kencangkan kembali tekanan pada sabuk dengan memutar roda (9). 7) Luruskan sabuk dengan memutar arah silinder, melalui pengatur roda (8), 8). Putarlah sabuk ampelas untuk memastikan kelurusan jalan sabuk sampai mesin ampelas siap untuk digunakan. Pengantian sabuk amplas pada mesin. (a) Pelepasan sabuk amplas dan (b) Pelurusan sabuk amplas melalui pengaturan roda f. Jenis-Jenis Mesin Ampelas 160
  • 197. Mesin amplas sabuk besar, digunakan untuk bidang-bidang yang lebar Mesin amplas sabuk kecil, digunakan untuk pekerja-an yang ringan dan praktis g. Cara Kerja Mesin Amplas Sabuk 1) Pengamplasan Bidang a) Siapkan alat dan bahan. b) Letakkan benda kerja diatas meja dan jepitlah dengan klem atau ragum. c) Pasang sabuk yang sesuai dengan kekerasan yang diinginkan. d) Hubungkan mesin dengan sumber tegangan listrik dan hidupkan mesin. e) Amplas lah dengan hati-hati. 161
  • 198. Gambar Mengampelas Bidang 2) Mengamplas Kerangka a) Siapkan alat dan bahan b) Siapkan landasan kerangka dasar agar mesin tidak tergelincir. c) Langkah selanjutnya sama dengan peng-amplasan bidang. Gambar Mengampelas benda kerja berbentuk kerangka 3) Pengamplasan Sisi Tebal a) Siapkan bahan dan alat / benda kerja. b) Siapkan beberapa lembar papan berbagai sarana bantu. 162
  • 199. c) Mesin amplas yang sudah diatur diletakkan horisontal dengan arah kita. d) Jepitlah mesin pada meja kerja agar sabuk tidak terganggu. e) Beri landasan di muka pita amplas dan jepitlah dengan klem. f) Mulailah pengampelasan Gambar Pengamplasan sisi tebal benda kerja 4). Pengampelasan dan pembentukan bebas a) Siapkan alat dan bahan. b) Siapkan perlengkapan standar untuk me-megangi mesin. c) Hidupkan mesin dan mulailah pengamplasan bebas. d) Jangan lupa menggunakan kaca mata pengaman. Gambar Mengamplas dan Membentuk secara bebas Lembar Tugas 1. Jelaskan cara pengoperasian mesin ampelas (Belt Sander) dan peragakan ! 2. Jelaskan cara pemasangan kertas ampelas Belt Sander ! 163
  • 200. 3. Praktikan bidang pengampelasan pada kayu yang berukuran 50x50 cm, dengan tebal 3 cm. MESIN AMPELAS PENGHALUS/ORBITAL SANDER Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Kenakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja. 2. Bersihkan peralatan dan ruangan setelah di-gunakan. 3. Periksalah kondisi peralatan sebelum dan sesudah digunakan. 4. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya dan bahan sesuai dengan kebutuhan. 5. Simpan kembali peralatan dan sisa bahan pada tempatnya. 6. Perhatikan pengelolaan limbah. Peralatan, Bahan, dan Keteknikan 1. Peralatan a. mesin penghalus permukaan, b. siku-siku c. pensil d. mistar baja e. obeng 2. Bahan Kayu mahoni atau sejenisnya 3. Cara Penggunaan Alat Mesin ampelas penghalus digunakan untuk meng-haluskan permukaan benda kerja yang akan diproses akhir (finishing). 164
  • 201. Perlengkapan lain ialah kertas ampelas dengan tingkat kekasaran sesuai dengan keperluan. Gambar Mesin Ampelas Finishing (Finishing Sander) Keterangan Gambar : 1. kabel 2. pegangan 3. sakelar utama 4. rumah-rumah motor 5. pegangan muka 6. penutup (karet getar) 7. pelat dasar 8. karet lembaran 9. kertas ampelas 10. penjepit ampelas a. Petunjuk Umum Pengoperasian 1) Pilih jenis ampelas yang berkualitas dan sesuaikan dengan kekerasan dan ukuran 2) Potonglah kertas ampelas dengan menggunkan pola agar tidak banyak yang terbuang 3) Pasang kertas ampelas yang sudah terpola pada mesin 4) Tekanlah penjepit muka untuk memasukkan kertas ampelas (lihat gambar), kemudian lepaskan penjepitnya. 5) Balik mesin tekan penjepit belakang. 6) Jepitlah ujung kertas ampelas yang lain, jepitlah kertas ampelas dengan rata pada karet lembaran. 165
  • 202. Gambar memasang kertas ampelas pada mesin (a) penjepitan ujung belakang kertas ampelas, (b) penjepitan ujung belakang kertas b. Jenis Jenis Ampelas Finishing Mesin ampelas finishing fingan digunakan untuk industri rumah. Karena ukurannya kecil dan beratnya ringan. Wanita pun dapat dengan mudah memakainya. Mesin ampelas finishing yang dipakai oleh tukang cat dapat diganti dengan macam-macam pelat dasar sesuai dengan keperluan. Mesin ampelas finishing dengan gerak lurus (straight line sanding motion), tidak dilengkapi dengan lamel arang di dalamnya. Mesin ampelas finishing dengan penghisap debu 166
  • 203. Mesin ampelas penghalus dengan tenaga penggerak angin (pneumatika) c. Cara Kerja Mesin Ampelas Penghalus (Orbital Sander) 1) Pengampelasan Bidang a) Letakkan benda kerja di atas meja kerja. b) Periksalah benda kerja apakah sudah bebas dari paku atau benda tajam yang dapat merobek kertas ampelas. c) Pasang kertas ampelas pada mesin. d) Tekan tombol pengunci sakelar (bila ingin bekerja dalam waktu lama). e) Jalankan mesin di atas permukaan benda kerja dengan tekanan tidak terlalu kuat. f) Pada pengampelasan dengan air harap diperhatikan bahwa jenis kertas ampelas yang dipakai harus tahan air. 167
  • 204. Gambar Pengampelasan Bidang 2. Pengampelasan Bidang Kecil Pada Benda Kerja Langkah dan caranya sama dengan pengampelasan bidang Gambar Pengampelasan Bidang Kecil Pada Benda Kerja 3. Pengamplasan bidang di atas kepala (langkah sama dengan no.1). Gambar pengamplasan bidang di atas kepala (langit-langit). 168
  • 205. Lembar Tugas 1. Bagaimana cara pengoperasi mesin ampelas penghalus ? 2. Bagaimana cara memasang kertas ampelas pada mesin orbital sander ? 3. Sebutkan langkah-langkah pengampelasan! C. PERALATAN MASINAL MENGGUNAKAN MESIN GERGAJI LINGKAR Setelah mempelajari uraian materi ini, Anda memiliki kemampuan 1. membongkar daun gergaji meja 2. menyetel perlengkapan mesin gergaji sesuai dengan penggunaan 3. mengoperasikan mesin gergaji untuk membelah, memotong, membuat seponing, dan memotong miring KESELAMATAN KERJA MENGGUNAKAN MESIN GERGAJI LINGKAR (Circular Saw Banches) 1. Usahakan agar pisau gergaji selalu terawat. 169
  • 206. 2. Ketika membelah kayu (ripping), aturlah pisau gergaji bundar setinggi mungkin di atas meja gergaji dan gunakan pisau pembelah. 3. Aturlah seekat mungkin dengan kayu yang akan dipotong untuk mencegah kontrak yang tidak disengaja dengan pisau gergaji. 4. Bila membelah kayu yang bengkok, tempatkanlah muka kayu yang bundar di atas meja dan tepi yang bundar melawan pembatas. 5. Potongan kayu yang berat selalu disangga dengan alat mekanik. 6. Dilarang berdiri di lintasan yang dilalui kayu. Berdirilah di sisi dimana tidak mungkin terjadi reaksi balik. 7. Jangan gunakan tangan Anda untuk membersihkan pisau gegaji. Gunakan tongkat atau kayu yang kecil dan pendek. 8. Dilarang meraih sesuatu yang terletak di seberang pisau 9. Matikan mesin bila akan melakukan penyetelan, pindahkan sisa-sisa potongan kayu dari dekat atau samping pisau. PERALATAN, BAHAN, DAN KETEKNIKAN 1. Alat a. Mesin gergaji b. Siku-siku c. Kunci pas no. 22 d. Mistar e. Pensil f. Tongkat pendorong. 170
  • 207. 2. Bahan Kayu kekerasan sedang, ukuran 3 x 20 x 100 cm: 2 batang. 3. Cara Menggunakan Alat a. Memasang dan menyetel daun gergaji 1). Pilih daun gergaji sesuai dengan penggunaan (belah atau potong). 2). Lepas daun gergaji dari sumbu/as mesin gergaji 3). Pasang daun gergaji yang telah dipilih pada sumbu/as gergaji 4). Atur pisau anti penjepit maksimum 5 mm dari ujung mata gergaji. b. Membelah kayu 1). Pastikan daun gergaji yang terpasang adalah gergaji belah 2). Periksa apakah daun gergaji telah tegak lurus terhadap meja. 3). Periksa apakah pengantar belah telah sejajar dengan daun gergaji. 4). Ukur jarak pengantar belah dengan ujung gigi gergaji sebelah luar sesuai dengan ukuran kayu yang akan dibelah. 5). Atur kemunculan daun gergaji dari meja setinggi kayu ditambah 1 cm. 6). Hidupkan mesin hingga mencapai kecepatan tetap. 7). Letakkan kayu di atas meja dan jangan langsung disentuhkan ke daun gergaji. 8). Cari posisi sebaik mungkin dan salah satu permukaan kayu ditempelkan ke pengantar bilah. 9). Doronglah kayu dengan kecepatan merata. Pada ujung akhir pembelahan gunakan tongkat pendorong. c.Membuat sponing 1). Siapkan kayu dan tandai bagian yang akan dibuat sponing. 2). Setel kemunculan gergaji sesuai sponing yang akan dibuat dan atur jarak pengantar terhadap daun gergaji. 171
  • 208. 3). Jalankan mesin. 4). Cobalah terlebih dahulu dengan bahan kayu lain sebelum dengan bahan yang sebenarnya. 5). Ukur sponing hasil percobaan. Ubahlah posisi gergaji bila ukuran belum sesuai dengan perencanaan. 6). Kerjakan dengan bahan yang sebenarnya, bila penyetelan sudah sesuai. Hati-hati sewaktu mengerjakan. d. Menggergaji miring champer/bevel 1). Siapkan kayu dan tandai bagian yang akan dikerjakan. 2). Pindahkan pengantar pembelah di sebelah kiri daun gergaji. 3). Atur kemiringan daun gergaji sesuai bentuk yang diinginkan, dan atur pengantar sesuai dengan lukisan/tanda-tanda. 4). Letakkan kayu di atas meja rapat dengan pengantar. 5). Tentukan tinggi daun gergaji sekitar ½ cm timbul dari permukaan kayu pekerjaan. 6). Siapkan kayu pendorong. 7). Jalankan mesin dan doronglah hingga pekerjaan selesai sesuai yang direncanakan. e. Menggergaji tirus 172
  • 209. 1). Siapkan kayu pekerjaan dalam ukuran tebal kayu dan panjang bersih. 2). Membuat acuan tirus. 3). Atur pengantar pembelah ke kiri atau ke kanan sehingga jarak antara pengantar pembelah dengan gigi yang dikuak menghadap pengantar sama dengan lebar acuan ditambah lebar kayu tirus yang terbesar. 4). Naikkan daun gergaji ½ cm di atas kayu pekerjaan. 5). Jalankan mesin dan simpan kayu pada tangga pertama pada acuan dan dorong kayu kemuka sampai pembuatan tirus selesai. f. Memotong kayu 1). Gantilah daun gergaji dengan daun gergaji potong. 2). Atur daun gergaji telah tegak lurus dengan meja kerja. 3). Atur pengantar dorong tegak lurus dengan daun gergaji. 4). Atur kemunculan daun gergaji di atas meja sama dengan tebal kayu ditambah ½ cm. 5). Pasang blok henti pada pengantar belah. 6). Atur panjang pemotongan dengan mengukur jarak antara gigi gergaji sampai blok henti pada pengantar belah. 7). Pasang kayu pada pengantar dorong, ujung menempel pada blok henti. 173
  • 210. 8). Jalankan mesin hingga mencapai kecepatan penuh. 9). Dorong dan tekan kayu dengan tekanan merata. g. Memotong miring 1). Atur kemiringan daun gergaji sesuai dengan kemiringan yang dikehendaki dengan cara memutar pengatur kemiringan daun gergaji. 2). Ulangi langkah-langkah pada memotong kayu di atas (mulai f.4). h. Memotong miring dengan pengantar dorong 1). Langkah pengoperasian sama dengan langkah memotong kayu. 2). Pengantar dorong diatur sesuai dengan kemiringan yang dikehendaki. a). Kendorkan sekrup pengikat pada pengantar dorong. b). Atur kemiringan yang diperlukan dengan jalan memutar pengatur dorong sehingga membentuk sudut kemiringan terhadap daun gergaji. i. Perawatan mesin 1). Bersihkan mesin sehabis dipakai. 2). Laplah dengan minyak campuran oli dan minyak tanah permukaan mesin yang terbuka. 3). Minyakilah dan bersihkan bagian-bagian yang bergerak dari karat dan kotoran. Latihan Buatlah potongan-potongan seperti gambar berikut ini dengan menggunakan gergaji meja. 174
  • 211. MESIN GERGAJI MEJA Mesin gergaji meja merupakan mesin yang digunakan untuk memotong, membelah dan membubut alur kayu. Posisi daun gergaji menonjol keluar dari permukaan meja dan daun gergaji diputar oleh motor penggerak. 175
  • 212. Dengan bantuan pembatas yang ada disamping daun gergaji, mesin dapat digunakan untuk membelah kayu sesuai dengan ukuran tebal yang diinginkan. 1. Bagian-bagian Mesin Mesin gergaji meja terdiri dari: a. Meja mesin Meja berfungsi sebagai landasan menggergaji kayu. Meja harus kuat, keras, dan rata permukaannya. b. Pengantar belah Pengantar belah ditempatkan di samping daun gergaji. Pengantar belah berfungsi sebagai batas lebar kayu yang akan dibelah. Agar dapat digunakan dengan baik, pengantar belah harus lurus dan sejajar dengan daun gergaji. c.Pengantar dorong Pengantar dorong berfungsi untuk mengantarkan kayu yang akan dipotong. Pengantar ini ditempatkan di atas alur yang memanjang pada meja kerja. Pengantar dorong dapat distel berdasarkan tingkat kemiringan potongan yang diinginkan. d. Kerangka mesin Kerangka mesin gergaji harus kokoh dan kuat. Kerangka berfungsi untuk mendukung meja, mesin, dan perlengkapan lain. Kerangka mesin lebih baik jika terbuat dari besi baja. e. Tudung pengaman Tudung pengaman diletakkan di atas daun gergaji dan berfungsi untuk melindungi tangan operator dari putaran daun gergaji. f. Daun gergaji Daun gergaji berfungsi sebagai mata pembelah kayu. Daun gergaji terbuat dari baja yang keras, tajam tetapi mudah patah. Penggunaan daun gergaji disesuaikan dengan jenisnya. Jenis-jenis daun gergaji 1). Daun gergaji pembelah Daun gergaji ini dirancang untuk membelah kayu. Oleh karena itu giginya dibentuk mirip pahat seperti gergaji belah manual (tangan). 2). Daun gergaji potong Gigi daun gergaji ini lebih kecil dari gigi gergaji pembelah. Bentuk gigi mirip pisau karena berfungsi untuk memotong serat. 3). Daun gergaji kombinasi Daun gergaji kombinasi digunakan untuk memotong dan membelah kayu. Oleh karena itu giginya terdiri dari gigi untuk memotong dan gigi untuk membelah. 4). Daun gergaji dengan gigi tempel baja karbid (Carbide Tipped Blade) 176
  • 213. Baja karbid ditempelkan pada ujung gigi daun gergaji. Kelebihan baja karbid adalah lebih tajam, tahan lama, dan tidak berkarat. Gergaji ini dapat digunakan untuk membelah dan memotong. g. Bagian-bagian mesin gergaji lain: 1). Saklar Untuk mematikan dan menghidupkan mesin atau memutus dan mengalirkan arus listrik. 2). Pengatur naik turun daun gergaji Untuk menaikkan dan menurunkan daun gergaji ke permukaan meja kerja. 3). Pengatur miring daun gergaji Untuk mengatur sudut kemiringan daun gergaji. 2. Ukuran Gergaji Ukuran mesin gergaji ditentukan oleh garis tengah daun gergaji. Semakin besar garis tengah daun gergaji semakin besar ukuran mesin gergaji, ukuran meja, kerangka dan motor penggerak. Semakin besar ukuran mesin semakin lambat kecepatan putarnya. 3. Kecepatan Putar Kecepatan putar daun gergaji diatur dengan memindahkan pully yang terdapat pada motor. Semakin besar pully, semakin lambat kecepatan yang dihasilkan. Sebagai aturan putaran yang lazim dipakai: Ø 250 mm kecepatan yang disarankan 3.800 rpm Ø 300 mm kecepatan yang disarankan 3.300 rpm Ø 350 mm kecepatan yang disarankan 2.400 rpm. Latihan 1. Sebutkan fungsi mesin gergaji meja! 2. Sebutkan bagian-bagian mesin gergaji meja! 3. Apa kelebihan daun gergaji dengan gigi tempel? 177
  • 214. 4. Sebutkan perbedaan antara gigi daun gergaji belah dan gigi daun gergaji potong! 5. Apa perbedaan antara daun gergaji kombinasi dengan daun gergaji dengan gigi tempel. Jelaskan! MESIN GERGAJI LENGAN RADIAL Mesin gergaji bundar berlengan ialah mesin gergaji yang daun gergajinya dapat digerakkan di atas meja sepanjang lengan. Lengan dipasang pada kolom/kerangka besi yang dapat digerakkan naik turun dan diputar 180°. KESELAMATAN KERJA MENGGUNAKAN MESIN GERGAJI LENGAN RADIAL (Radial Arm Saw) 1. Selalu menyangga kayu yang besar atau panjang dengan bantuan alat yang digerakkan oleh mesin. 2. Kayu pada daerah pemotongan selalu diberi penyangga. Bila kayu tersebut bengkok, tempatkan muka yang bundar (the round end) di atas meja dan tepi yang bundar (the round edge) berlawanan dengan penghalang. 178
  • 215. 3. Dilarang memegang kayu d engan posisi tangan saling bersilangan. Ubahlah cara berdiri Anda dan peganglah kayu tersebut dengan tangan yang benar. 4. Dilarang menarik gergaji terlalu cepat. Biarkan pisau gergaji memotong kayu tersebut. 5. Kembalikkan gergaji ke belakang penghalang setiap kali satu potongan selesai dikerjakan, sebelum memindahkan kayu tersebut melewati gergaji. Fungsi mesin gergaji bundar berlengan: 1. Memotong dan membelah kayu pada posisi tegak atau miring 2. Membuat alur 3. Membentuk takikan/cowakan. 179
  • 216. 1. Bagian-bagian Mesin Gergaji Bundar Berlengan a. Bagian-bagian utama mesin gergaji bundar berlengan: 1). Motor sebagai penggerak daun gergaji 2). Lengan sebagai tempat dudukan rel kerangka daun gergaji 3). Tiang penyangga lengan sebagai penyangga lengan 4). Meja untuk meletakkan benda kerja yang akan dipotong 5). Rongga penyangga sebagai pendukung mesin gergaji bundar berlengan. b. Bagian pelengkap mesin gergaji bundar berlengan. Bagian pelengkap berfungsi untuk memudahkan pengoperasian. Bagian ini terdiri dari: 1). Pengatur naik turun daun gergaji untuk mengatur posisi tinggi rendahnya daun gergaji 2). Pengunci lengan untuk mengikat lengan mesin agar tak bergerak 3). Pengantar belah/potong sebagai pembatas dan penahan kayu yang dikerjakan 4). Pegangan penarik gergaji untuk menggerakkan daun gergaji pada waktu pemotongan benda kerja. 2. Ukuran Mesin Gergaji 180
  • 217. Ukuran mesin ditentukan oleh jarak terjauh pengantar terhadap daun gergaji. Semakin jauh jarak tersebut, semakin besar dan lebar kayu yang dapat dikerjakan oleh mesin. Hal ini akan berpengaruh terhadap besar mesin, besar daun gergaji maupun perlengkapan yang lain. 3. Skala Mesin Gergaji Gergaji bundar mempunyai tiga skala yang masing-masing skala mempunyai fungsi berbeda. a. Skala pada kerangka Skala ini berfungsi untuk menentukan kedudukan daun gergaji terhadap meja, dan untuk menentukan kemiringan daun gergaji pada waktu memotong miring. b. Skala pada lengan Skala pada lengan berfungsi untuk menentukan lebar bahan yang akan dipotong atau dibelah. c.Skala pada tiang Skala pada tiang berfungsi untuk menentukan kedudukan lengan terhadap pengantar, dan untuk mengatur pemotongan miring ke arah lebar daun gergaji. 4. Daun Gergaji Daun gergaji yang digunakan pada mesin ini sama dengan daun gergaji pada mesin bundar meja, yaitu: a. daun gergaji belah b. daun gergaji potong c. daun gergaji konfornasi d. daun gergaji dengan gigi tempel. 5. Prosedur Pengoperasian Secara garis besar pengoperasian mesin gergaji bundar berlengan sebagai berikut: a. Untuk pekerjaan memotong, kayu diletakkan pada meja mesin. Kayu besar dijepit dengan klem/tanggem dan kayu kecil dapat dipegang dengan tangan. Pemotongan dilakukan dengan cara menarik daun gergaji secara teratur. b. Untuk pekerjaan membelah, daun gergaji diputar sejajar dengan pengantar. Kayu dimasukkan dengan cara didorong. Ingat! 181
  • 218. Putaran daun gergaji berlawanan dengan masuknya kayu. Jangan lupa tendangan balik harus selalu terpasang. Latihan 1. Apa yang dimaksud dengan gergaji bundar berlengan? 2. Sebutkan fungsi mesin gergaji bundar berlengan! 3. Jelaskan bagian-bagian utama mesin gergaji bundar berlengan! 4. Apa yang menentukan ukuran besar kecilnya mesin gergaji bundar berlengan? 5. Jelaskan skala-skala yang terdapat pada mesin gergaji bundar berlengan! 6. Bagaimana posisi daun gergaji pada waktu digunakan untuk membelah kayu. Jelaskan prosesnya dalam membelah kayu dengan mesin gergaji bundar berlengan! MESIN KETAM PERATA Uraian Materi Mesin ketam perata ada dua jenis, yaitu mesin ketam perata kombinasi dan mesin ketam perata tunggal. Prinsip kerja kedua mesin ketam tersebut sama, baik dalam penyetelan dan pengoperasiannya. 182
  • 219. KESELAMATAN KERJA MENGGUNAKAN MESIN KETAM PERATA 1. Periksa bahwa pengaman alat pemotong sedang bekerja dan tutuplah semua ujung alat pemotong (cutterhead) dimuka pembatas. 2. Periksalah bahwa kedalaman bidang potongan antara 1 mm dan 2 mm. Gunakan beberapa potonan kecil sebagai percobaan. 3. Periksa bahwa ujung alat pemotong telah aman di belakang pembatas. 4. Periksa bahwa kayu yang akan dipotong telah bersih dari simpul, retakan, partikel logam material-material lain sebelum kayu tersebut dikerjakan mesin. 5. Papan yang membengkok atau melengkung seharusnya diketam dengan posisi permukaan yang cekung berada di bagian bawah. Potonglah pada arah seratnya. 6. Dilarang menggunakan alat pengetam permukaan untuk mengetam potongan kayu yang panjangnya kurang dari 300 mm. 7. Usahakanlah memegang kayu dengan kuat dengan menempatkan kedua tangan di atas kayu. 8. Gunakanlah alas dorong ketika mengrjakan kayu yang pendek atau tipis dengan mesin. 9. Letakkan tangan pada bagian akhir papan dan dilarang mengikuti jalannya papan dengan jari. 10. Dilarang meninggalkan mesin dalam kondisi siap untuk mengerjakan potongan yang tebal atau berat. Aturlah kembali untuk kedalaman potongan 1 samapi 2 mm. 1. Fungsi Mesin Ketam Perata a. Mengetam permukaan kayu agar menjadi rata, lurus, dan licin. b. Meluruskan sisi tebal kayu sehingga siku terhadap sisi lebar kayu. c. Disamping fungsi seperti tersebut di atas, beberapa mesin ketam dapat juga digunakan untuk: 1). Mengetam miring 2). Mengetam tirus 3). Mengetam sponing 4). Mengetam cowakan/takik. 183
  • 220. 2. Bagian-bagian Utama Mesin Ketam dan Fungsi a. Kerangka mesin Kerangka harus kuat dan kokoh, biasanya terbuat dari besi tuang. Kerangka berfungsi sebagai pendukung mesin ketam secara keseluruhan. b. Meja mesin Meja mesin terbuat dari besi tuang. Permukaan meja mesin harus rata dan licin. Meja mesin dapat disetel naik turun terutama pada meja muka (meja di sebelah kiri operator). Meja mesin berfungsi untuk meletakkan benda kerja yang akan diketam. c. Sumbu pahat ketam Sumbu pahat ketam berisi silinder yang terbuat dari besi baja dengan alur memanjang. Fungsi alur untuk menempatkan pisau ketam. d. Motor 184
  • 221. Motor berfungsi sebagai penggerak mesin. Besar kecilnya mesin tergantung dari besar kecilnya motor. 3. Bagian-bagian Pelengkap Mesin Ketam a. Pengantar Pengantar diletakkan membujur di atas meja mesin. Pengantar dapat disetel tegak lurus, miring (sampai dengan 45° terhadap sumbu pisau), dan dapat disetel di tepi atau di tengah meja mesin. Fungsi pengantar sebagai penuntun dalam pengetaman. b. Tudung pengaman Tudung pengaman diletakkan di atas pisau ketam. Tudung pengaman dapat digeser sesuai dengan keinginan operator. Tudung pengaman berfungsi untuk melindungi tangan operator dari bahaya putaran pisau ketam. c. Pengatur naik turun meja Bagian ini umumnya ditempatkan di bagian bawah meja. Pengatur ada yang berbentuk batang pengungkit atau berbentuk roda. d. Saklar Saklar berfungsi untuk mematikan dan menghidupkan mesin. 4. Pisau ketam Pisau ketam mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Panjang pendeknya pisau ketam tergantung dari besar kecilnya ukuran mesin ketam. Semakin besar ukuran mesin, semakin panjang mata ketam yang dipakai. Panjang pisau ketam sama panjang dengan kepala silinder. Pisau ketam dilengkapi dengan pematah tatal. a. Jenis-jenis pisau ketam 1). Pisau ketam HSS (High Speed Steel) Pisau ini terbuat dari besi baja HSS. 2). Pisau ketam HM Pisau ketam yang pada ujungnya ditempel baja keras. 185
  • 222. a:panjang pisau (tergantung panjang kepala silindernya, antara 4quot; - 36quot;) b:sisi tajam pisau c:lebar pisau (minimal 15 mm) d:tebal pisau (minimal 2 mm). b. Pemasangan pisau pada kepala silinder 1). Jarak ujung pisau sampai sisi luar kepala silinder maksimal 3 mm. 2). Jarak ujung pisau dengan ujung pematah tatal antara 1 - 1,5 mm. Latihan 1. Jenis pekerjaan apa yang dapat dilakukan mesin ketam perata? 2. Sebutkan bagian-bagian utama mesin ketam perata! 3. Apa fungsi meja mesin ketam perata? 4. Apa perbedaan antara pisau ketam HSS dan pisau ketam HM (TCT). Jelaskan dengan gambar! 186
  • 223. MESIN KETAM PENEBAL Uraian Materi Mesin ketam penebal ada dua jenis, yakni mesin ketam penebal tunggal dan mesin ketam penebal kombinasi. Kelebihan mesin ketam penebal kombinasi, selain sebagai mesin ketam penebal, dapat digunakan sebagai mesin ketam perata, pelubang, penggergaji, dan pembuat profil. Pengoperasian mesin ketam penebal kombinasi tidak jauh berbeda dengan mesin tunggal. KESELAMATAN KERJA MENGGUNAKAN MESIN KETAM PANEL ( The Panel Planer) 1. Periksa bahwa kayu tersebut bebas dari simpul, retakan, partikel logam, dan material lain sebelum dikerjakan dengan mesin. 2. Kayu selalu dikerjakan pada arah seratnya, jangan pernah memotong arah serat. 3. Jangan sekali-kali memriksa bukaan umpan mesin ketika ujung alat pemotong sedang berputar. 4. Dilarang memindahkan pengiris atau pengetam dengan tangan atau tongkat ketika mesin sedang bekerja. 5. Dilarang memberi umpan lebih dari satu potong kayu pada saat yang bersamaan untuk mesin yang memiliki satu pemotong. 6. Dilarang membuat potongan yang terlalu dalam. 7. Dilarang mengumpankan potongan kayu yang sama atau lebih pendek ukurannya daripada jarak antar pusat rol umpan jika pekerjaan tidak ditahan oleh penahan yang sesuai. Periksa manual untuk jarak antar alat penggulung. 8. Dilarang berdiri pada lintasan yang akan dilalui kayu. Berdirilah pada sisi dimana tidak mungkin terjadi reaksi balik. 9. Bila menebalkan kayu yang tipis, usahakanlah dengan menopangnya pada meja kayu yang tidak terpakai dan ditempatkan mesin. 10. Bila potongan kayu tidak akan diumpankan, jangan merendahakan meja kecuali mesin telah dimatikan atau ujung alat pemotong telah berhenti. Kemudian lakukanlah penyetelan yang diperlukan. 187
  • 224. 1. Bagian-bagian Utama Mesin Ketam a. Rangka mesin Rangka mesin terbuat dari besi baja dan berfungsi sebagai pendukung seluruh komponen mesin. b. Meja ketam Meja ketam terbuat dari besi tuang dan berbentuk pelat tebal. Pemasangan meja ketam harus rata dan tidak miring. Meja ini dapat diatur naik turun dengan sebuah roda pengatur. Fungsi meja ketam untuk menempatkan kayu yang akan diketam. 188
  • 225. c. Sumbu pahat Sumbu pahat berbentuk silinder dengan 2-4 alur. Fungsi alur untuk menempatkan pisau ketam. d. Rol penggerak Rol terdiri dari empat macam: 1). Rol bergerigi berfungsi untuk menggerakkan kayu dipasang dibagian muka atas disamping sumbu. Jumlah rol bergerigi 1 buah. 2). Rol tidak bergerigi berfungsi untuk menarik kayu dipasang dibagian belakang atau disamping sumbu. Jumlah 1 buah. 3). Rol tidak bergerigi dipasang pada meja berfungsi untuk mengantarkan dan memperlancar gerakan kayu. Jumlah rol 2 buah. e. Batang penekan Batang penekan terbuat dari besi dan berfungsi untuk menekan kayu setelah diketam, sehingga kayu tidak bergetar. f. Anti tendangan balik Fungsi anti tendangan balik adalah untuk mencegah kayu yang diketam tidak mengikuti perputaran pisau (menahan hentakan pisau). g. Motor Motor berfungsi untuk menggerakkan pisau dan rol-rol mesin ketam. 2. Bagian Pelengkap Mesin Ketam a. Pengarah serbuk Pengarah serbuk berfungsi untuk memperlancar jalannya serbuk hasil pengetaman. b. Pengatur naik turun Pengatur naik turun ada dua jenis yaitu elektrik dan manual. Fungsi pengatur ini adalah untuk menaikkan dan menurunkan meja mesin sesuai dengan tebal tipisnya kayu yang akan diketam. c. Skala Skala diletakkan di bagian kerangka disamping meja mesin. Skala berfungsi untuk menyetel posisi meja, sehingga ketebalan kayu dapat diketahui. 3. Ukuran Mesin Ketam Ukuran mesin ketam ditentukan oleh lebar meja dan panjang pisau ketam. Lebar maksimal kayu yang dapat diketam sama dengan lebar meja atau panjang pisau. Sedangkan panjang minimal kayu yang dapat diketam sama dengan jarak as rol ke as rol meja mesin. Tebal maksimal kayu yang dapat diketam sama dengan tinggi profil pada tepi meja ditambah 5 mm (bila tidak menggunakan alas). Sedang bila menggunakan alas, tebal minimal papan yang dapat diketam adalah 3 mm. 189
  • 226. 4. Garis Besar Pengoperasian Mesin Pengoperasian mesin secara detail Prinsip kerja pengoperasian mesin adalah sebagai berikut: a. Kayu dimasukkan pada lubang diantara meja dan pisau mesin. b.Kayu yang dimasukkan tersebut harus tertekan oleh rol penggerak, ditekan oleh batang penekan dan ditarik oleh rol penarik. c. Rol pada meja harus diaktifkan untuk dapat menggerakkan dan mempermudah jalannya kayu. d. Kayu yang terketam tidak perlu banyak dorongan. Apabila rol penarik, rol penggerak, rol meja dan batang penekan disetel dengan baik, maka kayu akan bergerak dengan sendirinya . Latihan 1. Apakah fungsi mesin ketam penebal? 2. Sebutkan baagian-bagian pokok mesin ketam penebal. Jelaskan pula fungsinya! 3. Berapakah panjang dan tebal minimum dari kayu yang boleh diketam? 4. Jelaskan prinsip kerja pengetaman dengan mesin ketam penebal! Peralatan, Bahan, dan Keteknikan 1. Alat a. Mesin ketam penebal b. Alat ukur (mistar, jangka sorong) c. Alat penanda (pensil, penggores). 2. Bahan a. Kayu mahoni atau sejenisnya b. Minyak pelumas. 190
  • 227. 3. Mengetam Kayu Tebal a. Siapkan mesin dan perlengkapannya, seperti; sambungan listrik, rol penggerak, rol penghantar, dan pengantar. b. Periksalah kayu apakah ada paku, kotoran keras yang menancap pada kayu seperti batu, beton, atau pasir. c. Periksalah pisau ketam apakah dalam kondisi tajam. d. Ukurlah tebal kayu yang akan diketam. e. Aturlah meja sesuai dengan tebal kayu ditambah 1 mm (untuk pemakanan pisau) pada skala pengetaman. f. Kayu yang akan diketam terlebih dahulu di ketam dengan ketam perata, sehingga dua permukaannya rata dan siku. g. Hidupkan mesin sampai mencapai putaran penuh dan stabil. h. Perhatikan serat kayu, letakkan sesuai arah putaran mesin bagian yang telah diketam (bagian yang rata). i. Doronglah kayu dengan arah lurus sampai ditarik oleh rol penggerak. j. Ulangi sampai mencapai ketebalan yang dikehendaki. Catatan: Menaikkan meja hanya diperbolehkan 1/16 atau 11/2 mm tiap-tiap kali pengetaman. Mengetam Kayu yang Tipis dan Tirus a. Siapkan kayu tipis (tebal ± 0,5 mm) atau tirus. b. Siapkan kayu alas/kayu pembantu yang tebalnya minimum 2 cm, dan lebar sama dengan kayu yang akan diketam. Panjangnya sama dengan kayu ditambah 10 cm untuk tumit. Untuk kayu yang akan dibuat tirus buatlah mal tirus juga. c. Letakkan kayu yang akan diketam pada kayu pembantu yang telah disiapkan. d. Ukur tebal kayu yang akan diketam ditambah tebal kayu pembantu dikurangi 1 mm untuk pemakaian pisau (untuk pengetaman tirus diambil ukuran yang paling tebal). e. Jalankan mesin, kerjakan seperti pengetaman kayu tebal seperti di atas. 191
  • 228. MESIN GERGAJI PITA Uraian Materi Mesin Gergaji Pita Mesin gergaji pita di desain untuk membelah kayu. Penggunaannya tergantung pada ukuran mesin gergaji. Untuk membelah kayu besar, terutama kayu glondongan digunakan gergaji pita ukuran besar. Mesin semacam ini terdapat di pabrik-pabrik atau di penggergajian kayu. Pekerjaan yang dilakukan di sekolah cukup menggunakan mesin gergaji pita ukuran sedang dan kecil. Gergaji ini digunakan untuk memotong, membelah lurus, memotong lengkung atau pekerjaan yang tidak teratur KESELAMATAN MENGGUNAKAN GERGAJI PITA (Bandsaw) 1. Sebelum mulai memotong kayu, periksalah bahwa radius potongan tidak terlalu kecil dibandingkan dengan lebar pisau. 2. Periksalah bahwa pisau pemotong mempunyai ketegangan tertentu dan mengikuti lintasan sebagaimana mestinya sebelum mulai dijalankan mesin. Jika memungkinkan, putarlah roda dengan tangan. 3. Aturalah bagian bawah dari alat pemandu atas sedekat minugkin dengan puncak kayu yang dikerjakan. 4. Jika konstan, terdengar suara “klik”, matikan mesin dan periksa ada tidaknya retakan pada pisau. 5. Jika pisau patah, matikan mesin dan tunggu sampai kedua roda berhenti, sebelum membuka atau memindahkan pengaman roda atau menyentuh pisau. 6. Rencanakan bentuk potongan yang akan. Anda kerjakan, buatlah relief potongan sebelumnya. 7. Setiap kali, buatlah potongan pendek terlebih dahulu untuk memperkecil potongan mundur. 8. dilarang berdiri pada sisi kanan bandsaw. Itu adalah posisi yang paling berbahaya bila pisau patah. 9. Dilarang meletakan tangan anda pada lintasan potongan, paling sedikit tangan harus berada pada posisi 50 mm dari sisi lain pisau. 10. Selalu gunakan alat bantu berbentuk huruf “ V ” (“ Vee” block) untuk menjepit atau memegangi kayu bundar yang tengah anda kerjakan. 1. Ukuran Mesin Gergaji Pita Ukuran mesin gergaji pita ditentukan oleh besar kecilnya diameter roda. Semakin besar roda penggerak, semakin besar ukuran mesin gergaji pita. Roda mesin gergaji pita berukuran 14quot;-36quot;. Tebal maksimum kayu yang dapat dipotong oleh gergaji pita ditentukan oleh jarak antara meja dengan posisi pengantar gergaji paling tinggi. 192
  • 229. 2. Bagian-bagian mesin gergaji pita a. Bagian-bagian pokok 1). Rangka mesin Rangka mesin terbuat dari besi tuang dan berfungsi untuk mendukung kedua roda dan perlengkapan mekanis lain. 2). Roda Roda terbuat dari besi dan pada bagian luar ditutup dengan karet. Jumlah roda ada dua buah. Daun gergaji berjalan diantara karet gigi gergaji sehingga terlindung dan mencegah selipnya daun gergaji. Roda dipasang pada dua tempat. Roda bagian bawah dipasang tetap (tidak dapat disetel) dan dihubungkan dengan motor. Sedang kan roda bagian atas dapat disetel. Fungsi roda bagian atas adalah untuk mengencangkan dan mengendorkan daun gergaji serta untuk mengatur posisi daun gergaji di tengah atau di tepi. 3). Meja mesin Meja mesin gergaji pita terbuat dari besi tuang. Meja mesin berfungsi untuk mendukung kayu yang akan digergaji. Meja dapat disetel miring hingga 45°. 4). Pengantar daun gergaji Pengantar daun gergaji terdiri dari tiga roda: a). Dua buah roda terdapat di kanan kiri daun gergaji. Roda-roda ini disetel dengan jarak ± 0,4 mm dari daun gergaji. b). Satu buah roda terdapat di punggung gergaji. Roda ini disetel berjarak ± 0,4 mm dari punggung gergaji. Roda-roda tersebut berguna untuk melindungi daun gergaji dari tekanan ke kanan, ke kiri, dan ke belakang pada waktu penggergajian 5). Motor 193
  • 230. Motor dipasang di samping roda bawah dengan perantara sabuk (belt). Fungsi motor adalah menggerakkan roda. 6). Pengatur daun gergaji Pengatur daun gergaji terdiri dari dua macam: a). Pengatur naik turun daun gergaji, berfungsi untuk mengeraskan dan mengendorkan daun gergaji. Pengatur ini diletakkan di bawah roda atas. b). Pengatur posisi daun gergaji, berfungsi untuk mengatur posisi daun gergaji pada roda-roda mesin. Dengan mengeraskan atau mengendorkan pengaturi, maka roda akan tegak atau miring. b. Perlengkapan lain 1). Pengantar dorong/pengantar belah. 2). Rem untuk mengurangi atau menghentikan putaran pada waktu mesin sudah mati. 3. Daun gergaji pita a. Jenis-jenis daun gergaji pita 1). Daun gergaji dengan bentuk gigi N. Daun gergaji ini digunakan untuk membelah kayu keras. 2). Daun gergaji dengan bentuk gigi O Daun gergaji ini mempunyai dasar gigi gergaji lebih luas, sehingga dapat menampung serbuk. Daun gergaji ini memotong lebih cepat dan digunakan untuk memotong kayu lunak. 3). Daun gergaji dengan bentuk gigi S Daun gergaji ini mempunyai dasar lengkung yang tahan terhadap retak. Cepat untuk membelah atau memotong kayu kekerasan sedang. 194
  • 231. b. Ukuran daun gergaji Ketebalan daun gergaji ditentukan oleh ukuran diameter roda. Tebal daun gergaji dihitung dengan cara: atau 0,001 diamater roda Roda mesin gergaji Gigi-gigi gergaji disusun seperti gergaji tangan, dimana gigi tersebut sebelum digunakan harus dikuak sebesar 2 x tebal daun gergaji. c. Gergaji pita dalam perdagangan Gergaji pita dijual dalam bentuk gulungan, kemudian dipotong- potong sesuai dengan kebutuhan. Ukuran gulungan ada dua macam: a). Panjang 50 m untuk lebar gergaji lebih dari 3 inchi (76 mm) b). Panjang 100 m untuk lebar gergaji kurang dari 3 inchi (76 mm). Daun gergaji tersedia dalam ukuran lebar daun 1/8quot; - 161/4quot;. Namun untuk sekolah digunakan ukuran 1/8quot; - 3/4quot;. Daun ini dapat digunakan untuk memotong dan membelah kayu yang berbentuk lengkung. 195
  • 232. Tabel penggunaan daun gergaji 1/ quot; 1/ quot; 8 4 3/ quot; 3/ quot; 4 4 3/ quot; 1quot; 8 1/ quot; 11/4quot; 2 3/ quot; 11/3quot; 8 21/4quot; 1quot; Prinsip kerja mesin gergaji pita sama dengan gergaji bentang (coping saw). Perbedaannya, gergaji pita digerakkan oleh tenaga listrik, sehingga diperlukan alat-alat pembantu. Pengoperasian mesin ini memerlukan latihan terus menerus sampai operator mahir menyetel alat-alat sesuai keperluan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian mesin gergaji pita antara lain: 1. Penyetelan perlengkapan yang tepat. 2. Pemakanan gergaji yang teratur sesuai irama gerakan gergaji. 3. Ukuran benda yang akan digergaji, disesuaikan dengan kapasitas mesin. Latihan 1. Apa fungsi mesin gergaji pita dalam pekerjaan kayu? 2. Apa yang menentukan besar kecilnya mesin gergaji pita? 3. Jelaskan dengan singkat tentang roda-roda gergaji pita! 4. Jelaskan fungsi pengatur daun gergaji! 5. Jelaskan dengan gambar macam-macam daun gergaji yang digunakan pada mesin gergaji pita! 6. Bolehkah memotong lengkung dari jari-jari tertentu menggunakan lebar yang sama dengan lebar daun gergaji! Jelaskan! 7. Bagaimana prinsip dasar penggunaan mesin gergaji pita? Jelaskan! Peralatan, Bahan dan Keteknikan 1. Alat a. Mesin gergaji pita b. Siku-siku c. Mistar baja 2. Bahan Kayu kekerasan sedang (contoh: Mahoni) ukuran a. 2 x 20 x 50 cm = 1 batang 196
  • 233. b. 4 x 20 x 50 cm = 1 batang c. 2 x 30 x 50 cm = 1 batang 3. Cara Menggunakan Alat a. Menyetel mesin gergaji pita 1). Melepas daun gergaji a). Kendorkan roda pita gergaji bagian atas sehingga as roda atas turun. Hal ini mengakibatkan daun gergaji kendor. b). Buka tutup roda dan keluarkan daun gergaji dari tempatnya. c). Gulung daun gergaji dengan cara: 1). Pegang bagian tengah kanan dan kiri daun gergaji dengan kedua tangan. Gigi menghadap ke muka. 2). Injak bagian bawah daun gergaji yang ada di lantai 3). Tekuk daun gergaji ke muka sehingga ujung atas berimpit dengan yang diinjak 4). Silangkan bagian yang dipegang, kemudian bagian yang berimpit diinjak, maka tergulunglah menjadi tiga bagian. 197
  • 234. 2). Memasang daun gergaji a). Ambil daun gergaji yang baru b). Pasang daun gergaji pada kedua roda (atas dan bawah). Perhatikan! Gigi gergaji harus searah dengan putaran roda c). Naikkan roda atas dengan memutar alat pengatur naik turun roda, sehingga daun menegang. d). Gerakkan roda atas untuk mengetahui posisi daun gergaji apakah sudah tepat letaknya, bila belum tepat 198
  • 235. putarlah pengatur ketegakan daun gergaji sehingga daun gergaji lurus antara roda bawah dan atas. e). Atur piringan pengantar sisi daun gergaji atas dan bawah. Kedudukan pengantar ini antara 0,4 - 0,8 mm di belakang tenggorokan gigi gergaji. f). Atur pengantar sisi dengan kelonggaran 0,4 - 0,8 mm dari pipi daun gergaji. g). Atur rol pengantar punggung gergaji berjarak 0,4 - 0,8 mm dari punggung gergaji. h). Pasang kembali tutup roda atas dan bawah. b. Menggunakan mesin gergaji pita 1). Membelah kayu a). Siapkan kayu yang akan dibelah dengan melihat apakah telah bebas dari paku. b). Tempatkan pengantar pembelah di sebelah kiri daun gergaji c). Atur pengantar daun gergaji dengan jarak 0,5 cm di atas permukaan kayu. d). Atur rol-rol pengantar seperti di atas. e). Jalankan mesin, tunggu sampai kecepatan penuh dan stabil. f). Letakkan kayu pada meja mesin, tempatkan bagian yang rata menempel pada meja. g). Dorong kayu pekerjaan secara teratur dan tidak miring. Jangan terlalu dipaksakan, ikutilah gerakan putaran daun gergaji. 199
  • 236. 2). Memotong kayu a). Siapkan kayu yang akan dipotong siku atau miring dengan melukis tempat yang akan dipotong. b). Pasang gergaji pita yang cukup lebar dengan gigi-gigi halus. c). Atur pengantar daun g ergaji 5 mm di atas permukaan kayu. d). Pasang pengantar pemotong pada alur sebelah kanan, setel pula pemotongan yang akan dikerjakan. e). Letakkan kayu pekerjaan di muka pengantar potong hingga garis pemandu tepat pada garis gigi daun gergaji. f). Jalankan mesin, doronglah kayu dengan pengantar. Tekanan secara merata mengikuti irama putaran daun gergaji. 200
  • 237. 3). Menggergaji lengkungan-lengkungan a). Siapkan kayu dan gambarlah bentuk lengkung yang akan dibuat. b). Pilih daun gergaji sesuai dengan lengkungan yang akan dibuat. c). Atur pengantar daun gergaji dengan posisi 0,5 cm dari permukaan kayu. d). Hidupkan mesin dengan kecepatan penuh, mulailah menggergaji lengkungan dengan tekanan tidak dipaksakan. 4). Membuat lingkaran a). Siapkan kayu dalam bentuk bujur sangkar, buatlah lingkaran yang akan dibuat. b). Tentukan titik tengahnya dengan menarik garis diagonal, kemudian tandai dengan paku. c). Pasang daun gergaji yang lebarnya cukup untuk dapat memotong lingkaran yang dibuat. d). Pasang meja pembantu dari papan (poly wood) di atas meja. e). Buatlah garis tegak lurus terhadap daun gergaji (ke samping) melalui bagian muka gigi gergaji. f). Ukur jarak ke samping mengikuti garis pada meja pembantu tersebut dari as gigi sebesar jari-jari lingkaran yang akan dibuat dan dipasang paku pada titik tersebut menonjol 3 -5 mm dari muka meja pembantu. g). Setel pengantar dengan jarak ± 5 mm dari permukaan kayu. h). Pasanglah kayu yang akan dipotong dengan titik center masuk pada paku yang menonjol pada meja pembantu. i). Jalankan mesin, putar kayu dengan titik senter paku tersebut sebagai sumbu. Dengan demikian daun gergaji akan memotong kayu dan membentuk lingkaran. 201
  • 238. Latihan 1. Lepaslah daun gergaji dari roda-roda daun gergaji dan gulunglah! 2. Pasang daun gergaji sesuai jenis pekerjaan dan aturlah perlengkapannya! 3. Buatlah seperti gambar kerja di bawah ini! (Guru diharapkan membuat berbagai bentuk/potongan). 202
  • 239. MESIN SHAPER ATAU SPINDLE MOULDER Uraian Materi Mesin profil disebut juga mesin Shaper atau spindle moulder. Mesin ini banyak digunakan di sekolah maupun di industri. Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan mesin profil antara lain: 1. Membentuk profil, seperti; tepi-tepi meja, sponing. 2. Membentuk alur dan lidah untuk penyambungan kayu. 3. Meratakan sisi tebal kayu yang akan disambung. 4. Membentuk profil-profil pada sisi kayu melengkung, atau membulat. Mesin profil relatif sederhana, tetapi dapat mengerjakan pekerjaan yang bervariasi, sesuai dengan pisau yang ada. Mesin profil sangat berbahaya karena mempunyai kecepatan tinggi, sementara pengaman pisau terbatas. Mesin profil ada dua macam, yaitu mesin profil tunggal dan mesin profil ganda. Pada umumnya, sekolah menggunakan mesin profil jenis tunggal. KESELAMATAN KERJA MENGGUNAKAN MESIN SHAPER (Spindle Moulder) 1. Pasangalah alat-alat pemotong sedemikian rupa sehingga posisinya dibawah permukaan meja. 2. Pastikan semua alat potong benar-benar telah diklem pada penahanya. 203
  • 240. 3. Gunakan pelindung yang benar untuk pekerjaan (operation) yang akan dilakukan. 4. Gunakan alat bantu dan alat pembentukan profil, bilamana memungkinkan. 5. Jangan mencoba membuat potongan yang teralalu dalam. 6. Periksa dengan tangan untuk mengetahui bahwa as/ poros dapat bergerak dengan bebas sebelum mulai menjalankan mesin. 7. Umpan selalu diberikan berlawanan dengan arah rotasi/ putaran potongan dan jangan menarik mundur diatas benda kerja yang sedang dibentuk. 8. Selalu menggunakan alat pembantu yang berfungsi sebagai pengaman (a Llead-in piece) untuk pekerjaan-pekrjaan yang menggunakan alat yang memiliki bantalan penghantar (ball-race). 9. Selalu gunakan alat penghenti mesin untuk menghentikan pembuatan alur, potongan, profil, dll. 1. Bagian-bagian Mesin Pembentuk Profil Konstruksi mesin profil hampir sama dengan konstruksi mesin ketam perata. Bagian-bagian mesin antara lain: a. Rangka mesin Terbuat dari besi tuang atau plat besi tebal yang berfungsi sebagai rumah motor dan tempat meja. b. Meja mesin Bagian tengah meja mesin berlubang yang berfungsi untuk mengeluarkan sumbu dan pisau. Meja mesin dilengkapi dengan tutup lubang yang disesuaikan dengan besar kecilnya pisau. Pada sebelah luar lubang pisau dilengkapi dengan lubang sekrup yang berfungsi untuk memasang pengantar. Pada meja mesin juga terdapat alur sejajar dengan pengantar yang berguna untuk memasang pengantar dorong. c. Sumbu spindel Pada sumbu spindel terdapat kepala spindel yang terbuat dari baja beralur yang berfungsi untuk memasang pisau pemotong. Sumbu bagian bawah dipasang puly yang dihubungkan dengan motor penggerak. d. Motor Motor dilengkapi dengan puly-puly (besar -kecil ) untuk mengatur kecepatan putaran pisau. Kecepatan putaran dapat diatur dari 5.000 rpm - 10.000 rpm. e. Pengantar Pengantar digunakan untuk menuntun kayu yang akan diprofil dalam bentuk lurus. Pengantar terdiri dari dua, yaitu; bagian muka dan bagian belakang. Pengantar dapat disetel seperti meja mesin ketam perata. 204
  • 241. f. Pisau profil 1). Pisau lepas Pisau lepas terdiri dua lembar yang dapat dilepas dari kepala sumbu. Dua pisau tersebut mempunyai bentuk, berat, dan ukuran yang sama. 2). Pisau pejal (solid cutter) Pisau pejal terdiri dari dua atau tiga mata pisau yang menyatu pada kepala sumbu. Mata pisau terbuat dari baja keras (cirbide) yang ditempelkan pada sayap kepada sumbu. 3). Pisau gergaji Pisau gergaji berbentuk bulat dengan jumlah gigi minimun 2 gigi. Tebal pisau bervariasi dari tebal 3 mm - 10 mm. Fungís gergaji pisau untuk membuat alur, dada (cowakan) atau purus. g. Cincin pengantar Cincin pengantar berbentuk bulat dengan lubang di tengah. Diameter cincin sama dengan diameter sumbu dan dapat berputar bebas. Diameter luar cincin bervariasi. Fungsi cincin pengantar sebagai pembatas dan penuntun dalam membentuk profil benda yang tidak teratur. 205
  • 242. 2. Bagian Pelengkap Mesin a. Saklar b. Tutup lubang sumbu c. Cincin pengaman d. Pengantar potong e. Alat bantu lain (papan pegas,pembawa kayu yang kecil. 3. Prinsip Pengoperasian Pengoperasian mesin profil sebenarnya tidak sulit. Namun membutuhkan penyetelan mesin yang tepat. Dorong kayu secara merata dan teratur. Pakai pisau sedikit demi sedikit dan gunakan alat pelindung yang cukup. Cara pembentukan a. Pembentukan dengan pengantar. Cara ini digunakan untuk membentuk profil kayu lurus. b. Pembentukan dengan pengatur cincin. Cara ini untuk membuat profil bentuk kayu yang tidak teratur. 206
  • 243. c. Pembentukan dengan mal. Cara ini untuk membuat profil bentuk-bentuk yang tidak teratur sesuai yang diinginkan. Kayu diklem pada mal dan pemotongan mengikuti bentuk mal yang dipakai. Latihan 1. Sebutkan jenis pekerjaan apa yang dapat dilakukan oleh mesin profil! 2. Jelaskan apa yang dimaksud kepala sumbu! 3. Apa persamaaan mesin spindle moulder dengan mesin ketam perata? 4. Jelaskan macam-macam pisau profil dan gambarkan! 5. Jelaskan pembentukan dalam membuat profil yang dapat dilakukan mesin profil! 207
  • 244. MESN PELUBANG Setelah mempelajari bahan ajar ini, Anda memiliki kemampuan 1. Menentukan alat untuk pengoperasian mesin pelubang dalam pengerjaan kria kayu 2. Menerapkan aturan keselamatan dan kesehatan kerja untuk pengoperasian kria kayu 3. Mengoperasikan mesin pelubang kayu sesuai dengan prosedur 4. Menjelaskan pengoperasian mesin pelubang kayu dengan urut dan benar Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Kenakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja. 2. Bersihkan peralatan dan ruangan setelah digunakan. 3. Periksalah kondisi peralatan sebelum dan sesudah digunakan. 4. Gunakan peralatan sesuai fungsinya, dan bahan sesuai kebutuhan. 5. Simpan kembali peralatan pada tempatnya. 6. Perhatikan pengelolaan limbah. Peralatan, Bahan, dan Keteknikan 1. Peralatan a. Mesin pelubang horisontal b. Tang c. Kunci pas/kunci cengkaman d. Pensil e. Siku-siku f. Mistar 208
  • 245. 2. Bahan Kayu kekerasan sedang (mahoni, kamper, jati) ukuran 3 cm x 10 cm x 50 cm = 3 batang. 3. Cara Penggunaan a. Membuat lubang 1). Kendorkan cengkraman mesin pelubang. 2). Masukkan mata pisau sesuai lebar lubang yang diperlukan. 3). Test dengan menggerakkan sumbu, putaran pisau apakah sudah benar-benar tepat di tengah (center). 4). Atur kedalaman pemakanan sesuai dengan kedalaman yang dibutuhkan dengan penyetel pembatas (skala) pengatur kedalaman. 5). Tandai kayu yang akan dilubangi dengan pensil. 6). Tempatkan mata pisau pada garis pelubangan awal pada kayu, klemlah kayu pada meja mesin, keraskan pula sekrup pembatas awal pelubangan, permukaan kayu harus betul-betul menempel rata pada profil meja. 7). Setel pengatur (skala) panjang lubang sesuai panjang yang akan dibuat dan keraskan sehingga panjang lubang yang akan dibuat sudah sesuai yang diinginkan. 8). Jalankan mesin, tunggu hingga kecepatan penuh. 9). Dorongkan kayu dengan menggerakkan batang pemakanan ke dalam kayu. Tidak lebih dari 2 mm pemakanannya, tariklah batang pemakanannya panjang lubang sampai batas akhir. 10). Ulangi langkah 8, tahap demi tahap dan pemakanan tidak lebih dari 2 mm. b. Membuat pen 1). Tandai kayu yang akan dibuat pen/takikan yang akan dibuat. 2). Tempatkan kayu pada meja mesin, tentukan awal pemakanan dengan menyetel skala pembatas pemakanan awal. 209
  • 246. Jepit kayu pada mesin, tentukan akhir pemakanan dan keraskan tiga sekrup pembatas akhir pemakanan (untuk membuat pen tidak perlu menyetel pembatas panjang pemakanan). 3). Tentukan dalam pemakanan dengan menyetel skala pembatas kedalaman pemakanan. 4). Kontrol apakah kayu sudah betul-betul tegak lurus dengan pisau dan kayu sudah terjepit pada meja dengan kuat. 5). Jalankan mesin, lakukanlah pengoperasian seperti pembuatan lubang seperti di atas. c. Membuat lubang dowel 1). Tandai kayu yang akan dibuat lubang dowel. 210
  • 247. 2). Pilih bor yang sesuai kebutuhan dan pasang pada cengkaman pisau. 3). Tempatkan kayu pada meja mesin sesuai posisi lubang yang akan dibuat dan tepatkan mata pisau tepat pada tanda pada kayu yang akan dilubang. 4). Kunci sekrup skala panjang pemakanan sehingga meja tidak dapat bergerak ke kanan dan ke kiri. 5). Tentukan dalamnya lubang, keraskan sekrup pembatas kedalaman pemakanan. 211
  • 248. 6). Jalankan mesin, dorongkan meja mesin sedikit demi sedikit sehingga kayu terlubangi sesuai dengan yang dibutuhkan. d. Perawatan mesin 1). Bersihkan mesin sehabis dipakai sehingga meja dan mesin bebas dari kotoran dan debu. 2). Laplah bagian besi yang terbuka dengan lap kain. 3). Tetesi oli pada sumbu-sumbu meja dan sumbu tangkai sehingga meja dan tangkai dapat bebas bergerak. 4). Periksa dan bersihkan sekrup-sekrup pada cengkaman, skala, tangkai pendorong meja dan klem serta tetesi dengan oli. 5). Periksalah sabuk (belt) ada puli apakah benar-benar masih dalam kondisi layak pakai tidak molor, tidak rusak dan tidak retak-retak. 212
  • 249. Latihan 1. Buatlah lubang pen tembus dan buntu sesuai gambar di bawah ini! 2. Buatlah lubang dowel seperti berikut! 213
  • 250. Uraian Materi Mesin Pelubang Di industri kayu, mesin pelubang dan mesin pembuat pen merupakan bagian yang tidak dapat dipisah. Artinya, apabila ada mesin pembuat pen, maka harus dilengkapi dengan mesin pelubang. Jenis mesin pelubang kayu bermacam-macam. Ada yang tunggal (berdiri sendiri) dan ada yang dikombinasi (digabung) dengan mesin pemotong lain, seperti: mesin ketam, mesin gergaji atau kombinasi mesin pemotong, pengetam, pembuat profil dan pelubang. Namun prinsip dasar pengoperasian mesin pelubang tunggal dan mesin kombinasi tidak ada perbedaan. 1. Jenis-jenis Mesin Pelubang a. Mesin Pelubang Horisontal Mesin pelubang horisontal tunggal kombinasi Mesin pelubang horisontal tunggal 214
  • 251. b. Mesin Pelubang Vertikal dengan Pahat Segiempat Mesin pelubang vertikal c. Mesin Pelubang Vertikal dengan Rantai Dari bermacam -macam jenis mesin pelubang tersebut, salah satu yang terdapat pada SMK-SK adalah mesin pelubang horisontal kombinasi. Oleh karena itu pada bahan ajar ini akan dibahas mesin pelubang horisontal kombinasi. Mesin pelubang horisontal kombinasi adalah mesin pelubang yang dikombinasikan dengan mesin ketam perata, dan mesin ketam penebal. Pengoperasian mesin ini tidak dapat bersamaan tetapi harus bergantian. Namun pengoperasiannya tidak jauh berbeda dengan mesin tunggal. 2. Fungsi Mesin Pelubang Fungsi mesin pelubang antara lain: a. Untuk membuat lubang buntu atau tembus b Untuk membuat profil. 3. Bagian-bagian Mesin Pelubang a. Meja mesin Meja mesin terbuat dari besi tuang dan dipasang sejajar dengan pisau pelubang. Fungsi meja mesin untuk meletakkan kayu yang akan dilubangi. b. Batang pendorong pemakaian. Batang pendorong terdiri dari 2 bagian: 1). Batang pendorong kedalaman pemakaian, berfungsi untuk mendorong kayu ke arah dalam pelubangan. 2). Batang pendorong lebar pemakaian, berfungsi untuk mendorong kayu ke arah lebar pelubangan. 215
  • 252. c. Skala Terdapat dua skala pemakaian: 1). Skala kedalaman pemakaian. Skala ini terdapat pada as meja. Skala ini berfungsi untuk membatasi kedalaman lubang yang akan dibuat. 2). Skala lebar pemakaian Skala ini terdapat pada sisi depan meja mesin. Skala ini berfungsi untuk membatasi lebar yang akan dilubangi. d. Cengkraman pahat (pisau mesin) Cengkraman pahat dipasang pada as (sumbu) kepala silinder ketam. Gunanya untuk mencengkeram pahat (pisau) yang akan digunakan untuk membuat lubang. e. Pengatur naik turun meja. Pengatur naik turun meja dipasang mengikuti meja ketam, namun ada yang terpasang tersendiri di muka mesin. Fungsi pengatur meja adalah untuk menarik-turunkan meja sesuai dengan garis tanda pada kayu yang akan dilubangi. f. Penjepit (Klem) Penjepit dipasang pada samping meja. Fungsi penjepit untuk mengikat benda kerja agar tidak bergerak. g. Motor Motor berfungsi untuk menggerakkan pisau mesin. Pemindahan putaran dilakukan dengan perantara puly atau langsung dengan as pisau. 4. Pisau Mesin Pisau mesin pelubang horisontal berbentuk bulat seperti pisau router tetapi lebih panjang. Pisau router juga dapat digunakan pada mesin ini. Jenis mata pisau yang dapat digunakan antara lain: a. Pisau lurus Pisau digunakan untuk membuat lubang tembus atau lubang bantu. Berdiameter 6-13 mm. b. Pisau pembuat alur Pisau lurus dapat digunakan untuk membuat alur, namun tersedia jenis pisau khusus yang digunakan untuk membuat alur sesuai bentuk yang dikehendaki. c. Pisau profil Pisau digunakan untuk membuat profil pada tepi kayu. d. Bor Bor digunakan untuk membuat lubang poros (pen), dan lubang untuk dowel. Untuk membuat lubang dowel, putaran mesin harus disesuaikan dengan diameter mata bor. 216
  • 253. Latihan 1. Apa fungsi mesin pelubang horisontal? 2. Sebutkan jenis-jenis mesin pelubang! 3. Jelaskan fungsi batang-batang pendorong pemakaian? 4. Jelaskan skala yang terdapat pada mesin pelubang horisontal! 5. Sebutkan macam-macam pisau yang dapat digunakan mesin pelubang horisontal dan jelaskan prinsip penggunaannya!! 217
  • 254. MESIN PENYEDOT DEBU Setelah mempelajari materi ini, Anda memiliki kemampuan 1. menentukan alat untuk pengoperasian mesin penyedot debu dalam pekerjaan kria kayu 2. menerapkan aturan keselamatan dan kesehatan kerja untuk pengoperasian mesin penyedot debu dalam pekerjaan kria kayu 3. mengoperasikan mesin penyedot debu dalam pekerjaan kria kayu sesuai dengan prosedur 4. menjelaskan proses pengoperasian mesin penyedot debu dalam pekerjaan kria kayu secara urut dan benar Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Kenakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja. 2. Bersihkan peralatan dan ruangan setelah digunakan. 3. Periksalah kondisi peralatan sebelum dan sesudah digunakan. 4. Gunakan peralatan sesuai fungsinya, dan bahan sesuai kebutuhan. 5. Simpan kembali peralatan pada tempatnya. 6. Perhatikan pengelolaan limbah. Peralatan, Bahan, dan Keteknikan 1. Peralatan a. Mesin penyedot debu b. Kantong debu dan pipa penyedot. 2. Pengoperasian a. Menyiapkan mesin 1). Perhatikan kelengkapan dari mesin penyedot debu. 2). Pasanglah kantong debu pada bodi penyimpan debu. a). Memasang kantong debu bagian atas. • Gantungkan pangkal kantong pada penggantungnya. • Pasanglah mulut kantong debu pada bodi, ikat dengan sabuknya hingga betul-betul kuat. • Pasang pula kantong debu dengan pangkal pada landasan mesin, dan masukkan pula mulut kantong debu seperti no 2). 218
  • 255. b). Pasang pipa penyedot pada mulut penyedot debu, ikatah dengan sabuk penguatnya. c). Pasang pipa penyedot pada mulut pengeluar debu pada mesin. 219
  • 256. d). Mesin penyedot telah siap dipergunakan. b. Cara pengoperasian mesin 1). Bila mesin digunakan untuk menyedot debu pada waktu pengoperasian mesin, maka setelah disiapkan seperti langkah di atas. Jalankan (hidupkan) mesin memijit tombol on. 2). Bila mesin digunakan untuk menyedot debu disekitar mesin atau pada bodi mesin. a).Seleksi debu-debu yang ada, pisahkan benda-benda yang keras (kayu yang panjang dan lebarnya diatas 2 cm tidak boleh disedot). b).Jalankan mesin, lakukan penyedotan secara bertahap. Mulut tidak boleh penuh menghadap ke tumpukan debu. c. Perawatan mesin penyedot debu 1). Bersihkan debu-debu yang mengotori mesin. 2). Buanglah debu (kotoran) pada kantong debu jangan sampai memenuhi seluruh kantong debu. Kotoran (debu) kantong harus dibuang setelah mencapai 3/4 kantong debu. 3). Periksalah mulut mesin penyedot apakah ada sisa kayu, tatal yang menyumbat, bila ada, bersihkanlah. 4). Tempatkan mesin jauh dari benda-benda tajam, terutama kantong-kantong debunya. 5). Periksa pipa penyedot apakah bocor atau tidak. 220
  • 257. Latihan 1. Bongkarlah kantong debu yang ada pada mesin, buanglah debunya dan pasanglah kembali! 2. Rakitlah perlengkapan mesin sehingga siap digu akan untuk menyedot debu! 3. Praktikkan menyedot debu pada mesin-mesin atau sekitar mesin yang ada tumpukan debunya! 221
  • 258. MESIN BOR Setelah mempelajari materi ini, Anda memiliki kemampuan 1. memasang mata bor pada cekam mesin bor meja 2. mengkondisikan mesin bor agar siap digunakan 3. mengoperasikan mesin bor meja dengan benar 4. merawat mesin bor meja dengan cara yang benar KESELAMATAN MENGGUNAKAN MESIN BOR (Drilling Machine) 1. Pada penjepit, gunakan mata bor yang lurus saja. 2. Jangan gunakan mata bor tanpa bentuk sekrup pada permukaan. 3. Yakinkan bahwa mata bor telah diklem pada alat penjepitnya. 4. Selalu pindahkan kunci penjepit setelah memasang bor dan sebelum mengoperasikan mesin. 5. Jangan memegang potongan kecil batang kayu/ benda kerja dengan tangan. Yakinkan bahwa potongan kecil tersebut telah terklem pada meja. 6. Jauhkan jari anda dari alat yang berputar. 7. Jika alat slip, jangan mencuba menhentikannya dengan tangan. Matikan messinnya. 8. Mundurkan secara berangsur-angsur pada potongan yang dalam untuk membersihkan dan menurunkan panas bor. 9. Jika telah beres, periksa bahwa fungsi udara dari mesin telah bekerja pada tekanan udara yang telah ditetapkan. 10. Periaksa bahwa klem kayu telah beroperasi dengan benar dan akan benar-benar mengeklem kayu pad posisinya. 11. Periksalah selalu bahwa b tidak memotong meja mesin gunlkan or potongan meja kayu yang tidak terpakai. Atur ukuran kedalaman untuk memotong kayu yang akan dibor. Peralatan, Bahan, dan Keteknikan 1. Peralatan a. Mesin bor meja b. Mata bor c. Kunci cengkaman/cekam d. Siku-siku 2. Bahan a. Kayu keras 5/17 x 40 cm b. Kayu lunak 5/17 x 40 cm c. Kayu sedang 5/17 x 40 cm d. Triplek tebal 3 mm 15 x 30 cm 222
  • 259. 3. Pengoperasian a. Memasang mata bor 1). Memilih mata bor Pilih mata bor yang tajam. Sesuaikan diameter mata bor dengan lubang yang akan dibuat. 2). Membuka cekam dengan kunci payung. a). Masukkan kunci payung pada lubang kunci cekam b). Gigi kunci harus masuk dengan tepat pada gigi cekam. c). Untuk membuka cekam, kunci diputar searah dengan jarum jam, sedangkan untuk mengeraskan kunci diputar berlawanan arah jarum jam. 3). Memasang mata bor a). Setelah cekam terbuka, masukkan mata bor diantara tiga rahang pada cekam b). Kencangkan cekam sehingga mata bor terjepit kuat. Tiga rahang harus menjepit sama kuatnya pada batang mata bor. b. Mengatur mesin bor 1). Siapkan kayu pekerjaan dan tandai tempat-tempat yang akan dibor. a). Putaran cepat digunakan untuk mengebor kayu yang lunak dan diameter kecil b). Putaran lambat digunakan untuk mengebor kayu yang keras dan diameter besar. Untuk merubah kecepatan dapat ditempuh dengan cara merubah kedudukan sabuk pada mesin bor. a). Kendorkan sekrup pengunci. b). Dorong motor ke arah tiang sehingga sabuk kendor. 223
  • 260. c). Pindahkan sabuk ke pully yang dikehendak. Diamater pully besar pada motor untuk kecepatan tinggi, dan diameter pully kecil untuk kecepatan rendah. 2). Menyetel meja mesin bor a). Menaikkan dan menurunkan meja mesin (1). Kendorkan sekrup pengunci meja (2). Putar handle ke kanan untuk menaikkan dan ke kiri untuk menurunkan meja (3). Kencangkan kembali sekrup pengunci, bila pengaturan sudah selesai. b). Menyetel meja (1). Kendorkan sekrup di bawah meja (2). Putarlah meja sesuai kedudukan yang diinginkan (3). Ukur kesikuan meja terhadap mata bor, gunakan siku seperti gambar. c). Menyetel kedalaman pemakanan (1). Kendorkan sekrup pengunci penyetel kedalaman pemakanan (2). Putar pengatur kedalaman pemakanan sesuai yang diperlukan (3). Untuk melubangi kayu yang tembus, pengatur ini tidak perlu disetel. c. Mengoperasikan mesin 1). Siapkan kayu yang akan dikerjakan dan tandai tempat-tempat yang akan dilubangi. 2). Memilih mata bor yang dikehendaki 3). Atur kecepatan putaran sesuai kayu yang akan dibor 4). Setel meja 5). Atur kedalaman pengeboran 6). Tempatkan kayu di atas meja mesin bor. 7). Tepatkan pusat mata bor pada tanda pekerjaan. 8). Mulailah mengebor dengan menekan tangkai pengebor dengan pelan-pelan. Jaga semua bekas pengeboran keluar semua. 9). Jaga jangan sampai asap keluar dari kayu yang dibor. Hal ini terjadi karena penekanan yang dipaksakan atau karena tidak memberi kesempatan tatal keluar dari lubang bor. 10. Dengan cara yang sama Anda dapat menggunakan mata- mata bor yang lain sesuai kegunaan. d. Perawatan mesin 1). Perawatan harian a).Bersihkan mesin setelah digunakan. b).Lepaskan mata bor setelah dipakai. 224
  • 261. c).Bersihkan dan lumasi bagian-bagian yang bergerak. d).Pengoperasian yang benar adalah salah satu bentuk perawatan. Oleh karena itu Anda harus memperhatikan langkah-langkah pengoperasian yang benar. e).Periksa ketajaman pisau. 2). Perawatan mingguan a).Ceklah kondisi sabuk pada kepala mesin bor setiap minggu. b).Lumasi bagian mekanik mesin yang bergerak. c). Bersihkan kotoran yang melekat pada mesin, seperti pada cekam, gigi dan pengatur naik turun meja. 3). Perawatan bulanan a). Periksa sekrup-sekrup pengunci apakah dapat berfungsi dengan baik, bila ada kejanggalan segera diperbaiki. b). Lumasi permukaan mesin agar tidak berkarat termasuk badan mesin. Latihan 1. Buatlah lubang-lubang seperti di bawah ini: a. pada kayu keras b. pada kayu lunak c. pada triplek 2. Buatlah sumbat dari kayu seperti gambar! (Guru diharap membuat desain). 3. Buatlah roda dengan diameter hole saw! 225
  • 262. MESIN BOR MEJA Uraian Materi 1. Fungsi Mesin Bor Meja Fungsi mesin bor meja dalam pekerjaan kayu antara lain untuk: a. membuat lubang bulat b. memperbesar lubang (mereamer) c. mengamplas. KESELAMATAN MENGGUNAKAN MESIN BOR (Drilling Machine) 12. Pada penjepit, gunakan mata bor yang lurus saja. 13. Jangan gunakan mata bor tanpa bentuk sekrup pada permukaan. 14. Yakinkan bahwa mata bor telah diklem pada alat penjepitnya. 15. Selalu pindahkan kunci penjepit setelah memasang bor dan sebelum mengoperasikan mesin. 16. Jangan memegang potongan kecil batang kayu/ benda kerja dengan tangan. Yakinkan bahwa potongan kecil tersebut telah terklem pada meja. 17. Jauhkan jari anda dari alat yang berputar. 18. Jika alat slip, jangan mencuba menhentikannya dengan tangan. Matikan messinnya. 19. Mundurkan secara berangsur-angsur pada potongan yang dalam untuk membersihkan dan menurunkan panas bor. 20. Jika telah beres, periksa bahwa fungsi udara dari mesin telah bekerja pada tekanan udara yang telah ditetapkan. 21. Periaksa bahwa klem kayu telah beroperasi dengan benar dan akan benar-benar mengeklem kayu pad posisinya. 22. Periksalah selalu bahwa bor tidak memotong meja mesin gunlkan potongan meja kayu yang tidak terpakai. Atur ukuran kedalaman untuk memotong kayu yang akan dibor. 2. Bagian-bagian Mesin Bor Meja a. Kepala Kepala terdiri dari spindel, pully, sabuk, dan motor. 1). Spindel merupakan sumbu utama yang digerakkan oleh motor dan dihubungkan dengan cengkeraman bor. 2). Pully Pully berfungsi untuk menempatkan sabuk. 3). Sabuk Sabuk berfungsi untuk memindahkan putaran motor ke sumbu utama. 4). Motor Motor sebagai sumber tenaga yang akan dipindahkan ke sumbu utama 226
  • 263. b. Tiang baja bulat Tiang baja berfungsi untuk menyangga meja dan kepala mesin bor meja. c. Meja Meja digunakan untuk menempatkan kayu pekerjaan yang akan dibor. d. Kaki Kaki berbentuk seperti meja agar mesin dapat duduk dengan kokoh dan stabil. e. Cengkraman (chuck) Cengkraman berbentuk bulat bergerigi dan dilengkapi dengan kunci cengkraman. Cengkaram berfungsi untuk mengikat mata bor. f. Handle (tuas penekan) Handle berfungsi untuk mengangkat dan menurunkan mata bor selama pengeboran. g. Pembatas kedalaman pemakanan Bagian ini berfungsi untuk membatasi kedalaman lubang yang akan dibuat. 227
  • 264. 3. Macam-macam Mata Bor a. Mata bor pilin Mata bor pilin digunakan untuk pengeboran umum. Mata bor berukuran Ø 2 mm sampai dengan 13 mm. b. Mata bor pilin dengan dua taji, digunakan untuk membuat lubang dowel. c. Bor singkup, untuk mengebor papan yang tipis. d. Bor pusat, untuk membuat lubang yang dangkal dengan hasil pengeboran halus. e. Bor forstener, untuk membuat lubang tidak tembus dengan permukaan rata pada bagian dasar. f. Bor counter bore, untuk mengebor lubang paku sekrup sekaligus untuk lubang kepala sekrup. g. Bor pembuat sumbat, untuk membuat sumbat lubang yang berbentuk bulat. h. Bor counter sink, untuk membuat lubang kepala paku sekrup. i. Gergaji lubang, untuk membuat lubang dengan hasil potongan tidak rusak. Latihan 1. Apa fungsi mesin bor meja pada pekerjaan kayu? 2. Sebutkan bagian-bagian mesin bor meja! 3. Jelaskan apa fungsi a. Pully b. Cengkraman c. Meja 4. Bor apa yang dipergunakan untuk membuat lubang paku sekrup! Jelaskan! 5. Sebutkan macam-macam bor pilin pada mesin bor meja dan jelaskan fungsinya! 228
  • 265. BAB IV A. TEKNIK KERJA BANGKU DAN KERJA MESIN A. Pendahuluan Teknik Kerja Bangku adalah teknik dasar yang harus dikuasai oleh seseorang dalam mengerjakan produk kriya kayu. Pekerjaan kerja bangku penekanan pada pembuatan benda kontruksi dengan alat tangan,dan dilakukan di bangku kerja. pekerjaan kerja bangku meliputi pelbagai jenis kontruksi geometris, membuat geometris secara terukur, membuat sambungan, dan merakit beberapa komponen dengan bahan papan maupun balok kayu. Persyaratan kualitas terletak kepada pemahaman seseorang dalam praktek kerja bangku dan pelaksanaannya di tempat kerja yang meliputi : tingkat ketrampilan dasar penguasaaan alat tangan , tingkat kesulitan produk yang dibuat, tingkat kepresisian hasil karya. Untuk memperolih hasil yang presisi pekerjaan kerja bangku biasanya dibantu dengan menggunakan alat-alat semi masinal, disamping untuk mempercepat proses kerja. Tingkat kejelasan gambar yang dipergunakan, kualitas peralatan baik alat potong, serut, pahat alat penghalus sangat menentukan hasil produk Peralatan tangan untuk kerja bangku dan kerja mesin semi masinal banyak dijumpai di pasaran . Alat tersebut tidak hanya ditawarkan kepada pengrajin kayu atau mebel, tetapi juga digunakan oleh masyarakat umum sebagai perlegkapan rumah tangga, atau mungkin sebagai alat untuk mengerjakan pekerjaan yang bersifat hobi pada waktu luang Pembelian alat tangan kayu harus dilakukan secara teliti dengan mempertimbangkan data – data teknis yang ada . Harga alat tangan dan mesin sangat berfariasi. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kwalitas dan fungsi alat tersebut. B.Alat kerja bangku 1). Alat Pokok Alat-alat pokok adalah perkakas yang harus disediakan dalam sebuah bengkel kayu, karena alat ini sangat penting dan berfungsi vital dalam pekerjaan kria dan mebel. Alat-alat pokok biasanya berupa alat potong. Alat potong adalah suatu perangkat yang berfungsi memotong, membelah dan meratakan suatu benda. Jenis alat potong tergantung pada bahan yang akan dikerjakan. Contoh: bahan kertas dipotong dengan gunting kertas atau dengan cutter, bahan logam dipotong dengangunting logam atau gergaji logam, dan bahan kayu dipotong menggunakan gergaji kayu, pahat, atau ketam. Berikut diuraikan alat potong yang digunakan dalam kerja kayu. 229
  • 266. a. Gergaji Tangan Daun gergaji dibuat dari baja bermutu tinggi yang sangat keras, sehingga ketajaman gerigi tidak selalu diruncingkan kembali. Untuk mengetahui spesifikasi gergaji, dapat dilihat pada daun gergaji di dekat tangkai pegangan, yang menyebutkan jumlah gigi perkepanjangan 25 mm. 1). Gergaji Pembelah Gergaji pembelah adalah gergaji dengan gerigi dirancang untuk membelah kayu. Gergaji pembelah digunakan untuk menggergaji kayu searah jaringan 1 serat kayu dan mempunyai 3 /2 hingga 4 pucuk gigi pada setiap panjang 25 mm. Panjang daun antara 500 mm hingga 70 mm. 2). Gergaji Pemotong Gergaji pemotong adalah gergaji dengan gerigi yang dirancang untuk memotong kayu. Jenis gergaji ini digunakan untuk menyayat/memotong melintang jaringan serat kayu dan tepi potongnya mempunyai 5 hingga 7 pucuk gigi pada setiap kepanjangan 25 mm. Panjang daun antara 550 mm hingga 700 mm. 230
  • 267. 3).Gergaji Khusus Gergaji khusus adalah gergaji dengan gerigi yang dirancang khusus (tipe, bentuk dan fungsi). a). Gergaji punggung Dinamakan gergaji punggung karena adanya punggung dari bahan baja yang dipasang pada daun gergaji. Jumlah pucuk gigi pada setiap kepanjangan 25 mm adalah 12 hingga 14. Gergaji punggung digunakan untuk pekerjaan kecil dan halus. Perawatan Gergaji tangan. 1). Jepitlah daun gergaji pada ragum khusus penjepit daun gergaji. 2). Ratakan mata gergaji menggunakan kikir, dengan bantuan blok dari kayu. 3). Jika semua pucuk gigi sudah berada dalam satu garis lurus maka setiap gigi akan menunjukkan permukaan rata pada puncaknya. 231
  • 268. b. Pengikiran Rapi 1). Gunakan kikir gergaji tirus untuk merapikan gigi gergaji. 2). Lakukan pengikiran rapi , tangan kiri memegang ujung kikir dan tangan kanan memegang tangkai kikir. 232
  • 269. c. Penguakan 1. Gunakan alat penguak gergaji (tang). 2). Jepitlah daun gergaji pada klam gergaji. 3). Lakukan penguakan secara selang-seling (artinya satu dikuak ke kiri satu dikuak ke kanan) deret gerigi telah dikuak, gergaji dibalik, kemudian deret lainnya dibengkokkan. 233
  • 270. 4). Penguakan harus dilakukan sedemikian hingga lebar total kira-kira satu setengah kali lebar daunnya. d. Pengasahan/Penajaman Gigi Gergaji 1). Jepitlah daun gergaji pada klam khusus. 2). Kikirlah gigi gergaji secara berselang-seling hingga mempunyai sudut yang tepat, diukur dari sisi daun gergaji. Untuk gergaji pemotong sudut asah 45° dan untuk gergaji pembelah 90°. 3). Lakukan pengasahan dari tangkai pegangan menuju ujung daun gergaji. 4). Apabila setiap gigi yang berselangan sudah ditajamkan, baliklah daun gergaji dalam ragum, dan tajamkan gigi gergaji yang belum ditajamkan dengan cara yang sama seperti pada awal pengasahan. 234
  • 271. b.Pahat Pahat, adalah peralatan yang sangat penting dalam kerja bangku. Peralatan tersebut merupakan peralatan pokok untuk membuat celah sambungan, melubangi dan membentuk benda kerja. Pahat dan alat pencukil untuk memotong kayu, membuat celah dan melubangi harus dipukul dengan palu atau malet. Bentuk ujung pahat disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan cara penggunaannya. 1). Jenis -jenis pahat a). Pahat kuku kekar (fimer chisel) Pahat ini cocok untuk berbagai macam pekerjaan. Mata/ujung pahat sangat kokoh untuk menusuk dan mencukil kayu. Panjang daun pahat antara 3 s.d. 38 mm, tetapi ada juga yang panjangnya mencapai 50 mm. Penajaman mata pahat menggunakan batu asah. b). Pahat kuku miring (bevel-edge chisel) Pahat ini sama dengan pahat kuku kekar, hanya kedua sisi daun pahat dibuat miring. Pahat ini tidak perlu dipukul dengan palu, tetapi cukup didorong dengan tangan secara langsung. Fungsi pahat ini adalah untuk membersihkan atau merapikan bagian-bagian yang akan disambung. Ukuran antara 3 s.d. 38 mm. c). Pahat pengupas (paring chisel) Pahat pengupas mempunyai daun pahat yang panjang. Tujuan daun pahat dibuat panjang adalah untuk membersihkan/merapikan bekas pemahatan pada bagian dalam atau bagian-bagian yang lebar, sehingga posisi 235
  • 272. pahat tetap rata dengan permukaan kayu. Bentuk pahat pengupas ada dua, yaitu: pahat pengupas lurus dan pahat pengupas bertangkai bengkok. d). Pahat miring (skew chisel) Pahat miring bersudut 60°. Pahat ini digunakan untuk pemotongan halus pada serat kayu yang sulit. Ujung pahat digunakan untuk membersihkan sudut-sudut aneh dan janggal. Panjang daun pahat antara 12 s.d. 25 mm. 2). Bentuk gagang pahat Banyak bentuk gagang pahat yang dapat dijumpai di pasaran. Bentuk-bentuk tersebut disesuaikan dengan fungsi pahat, misalnya gagang pahat kuku berbentuk bulat, gagang pahat miring berbentuk cembung. Bahan gagang pahat terbuat dari kayu atau plastik. Berikut contoh-contoh gagang pahat. 236
  • 273. 3). Cara menyimpan pahat Pahat perlu disimpan pada tempat khusus. Jika pahat disimpan sembarangan akan cepat rusak dan tumpul, karena ujung pahat akan saling bersentuhan atau terbentur benda lain. Untuk menyimpan pahat dapat digunakan rak magnetik atau dapat dibuatkan tempat dari dua potong kayu yang ditempelkan pada dinding almari atau papan (contoh gambar bawah). Beberapa pekerja melindungi ujung pahat dengan penutup plastik sehingga walaupun pahat diletakkan di dalamkotak, ujung pahat tetap terjaga dari sentuhan benda lain. e. Ketam Ketam adalah sebuah alat perkakas yang digunakan untuk menghaluskan, meratakan dan membentuk potongan-potongan kayu. Ditinjau dari bahan badan ketam, ketam dibedakan menjadi dua, yaitu: ketam badan kayu dan ketam badan logam. Ketam badan kayu adalah ketam tradisional yang sudah sejak dahulu dipakai oleh tukang kayu di pedesaan. Badan ketam berbentuk segiempat dan terbuat dari kayu pilihan. Alas ketam dibuat rata dan halus karena berfungsi sebagai penuntun mata ketam agar penyayatan merata dan konstan. Di tengah badan kayu dibuat berlubang segiempat untuk menempatkan mata ketam. Ukuran tidak terstandar secara pasti namun antara 10 s.d. 50 cm. Dalam jangka waktu tertentu badan ketam harus diganti karena mengalami keausan. 237
  • 274. Sedangkan ketam badan logam adalah ketam modern dengan ukuran terstandar, karena badan ketam dibuat dengan cara dicetak tuang. Badan ketam di desain sesuai dengan fungsinya, misalnya: panjang ketam perata kasar adalah 14 inchi dengan lebar 2 inchi, panjang ketam sambungan 22 inchi denganmenggunakan obeng. Jadi jangan sekali-kali menyetel ketam logam dengan menggunakan palu. . 1). Ketam Jack (Jack Plane) Ketam logam ini dinamakan quot;jack planequot; karena digunakan untuk berbagai jenis pekerjaan. Ketam ini digunakan untuk menghilangkan goresan-goresan yang ditinggalkan pada permuka-an kayu oleh gergaji, untuk memberikan ukuran yang diinginkan bagi kayu, untuk meratakan per-mukaan kayu dan untuk segala macam pengerutan lainnya. Panjang rumah ketam sekitar 400 mm dan lebar ketam adalah 50 mm atau lebih. 2). Ketam Trying (Trying Plane) Trying plane digunakan bila kayu-kayu yang akan diketam berukuran besar dan kecermatan merupakan hal yang sangat 238
  • 275. diutamakan, khususnya jika sisi-sisi yang panjang harus disambungkan. Mata ketam diasah lurus kecuali sudut-sudutnya sedikit dibulatkan agar tidak menancap ke dalam kayu. Untuk menjamin kecermatan, mata ketam harus selalu distel halus agar mengeluarkan tatal-tatal tipis. 3). Ketam Pelicin Ketam pelicin digunakan untuk menghilangkan setiap ketidak rataan dengan jalan mengeluarkan tatal-tatal tipis dari permukaan. Ketam ini untuk merapikan permukaan-permukaan kayu yang akan menjalani pengamplasan, pencatan, dan sebagainya. Panjang rumah ketam adalah 230 mm dan lebar mata ketam 50 mm atau lebih. 4). Ketam Sponing Ketam ini digunakan untuk membuat sponing-sponing pada tepi kayu. Ketam ini dilengkapi alat pengatur kedalaman dan alat pengatur ukuran lebar sponing. Ketam sponing dilengkapi sepucuk tali di bagian depan, sehingga taji dapat menyayat serat- serat kayu sebelum diketam oleh mata ketam. Hal ini untuk menyiapkan sebuah tepi yang rapi bagi sponing, khususnya di ujung jaringan serat. Mata ketam dapat digeser kedepan sehingga sponing-sponing buntu dapat dibuat pula. 239
  • 276. 5). Block Plane Ketam plane digunakan untuk benda kerja berukuran kecil dan halus yang memerlukan pengerjaan sangat teliti. Seperti halnya ketam pundak, mata ketamnya dipasang dengan sudut kecil sekali dan lereng tepi potongnya menghadap ke atas. Dengan demikian jenis ketam ini sangat sesuai untuk menangani ujung- ujung jaringan serat. 6). Ketam Berhidung Cembung Ketam ini merupakan sebuah ketam kecil dengan panjang 75 mm hingga 100 mm. Mata ketamnya di-pasang dekat dengan ujung depan rumah ketam. Hal ini memungkinkan ia mencapai setiap pelosok alur memanjang dan alur buntu. 240
  • 277. Mengasah Pisau Ketam a. Tahap pengasahan pisau ketam. Apabila alat pengasah tidak dilengkapi dengan alat pemegang daun pisau, maka Anda harus memegang dengan kedua tangan dengan sudut asah ± 30°. 1). Gerakkan daun pisau dari arah kiri ke kanan melintang batu asah. 2). Untuk mengecek kelurusan lereng asah gunakan alat siku. 3). Pada akhir pengasahan akan dapat bentuk asahan cekung, dan terdapat bram pada tepi pi 4). Lakukan pengasahan halus dengan batu asah minyak. 241
  • 278. b. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan batu gerinda 1). Untuk bahan/alat keras digunakan batu gerinda jenis yang lunak. Sedangkan untuk bahan/alat yang lunak, digunakan batu gerinda jenis keras. 2). Perhatikan spesifikasi gerinda sebelum digunakan. 3). Gerinda yang baru harus diuji coba sebelum digunakan, hal ini untuk meyakinkan rusak atau baik. Mengesah Pisau Ketam Dengan Batu Asah Minyak Jika pengasahan dengan gerinda telah selesai, maka untuk langkah selanjutnya adalah pengasahan halus dengan batu asah minyak. Langkah kerjanya sebagai berikut: a. Tempatkan batu asah minyak pada blok kayu agar tidak mudah geser. b. Tempatkan blok kayu dan batu asah minyak d meja kerja, i tekan posisi blokkayu hingga tidak bergeser. C Tuangkan beberapa tetes minyak di atas batu asah minyak. d. Paganglah daun pisau dengan kedua tangan pada sudut yang betul dan gerakkan dengan gerakan memutar di atas batu asah minyak. Jangan menekan terlalu keras. 242
  • 279. e. Setelah selesai pengasahan halus pada lereng daun pisau, lakukan pengasahan halus pada punggung daun pisau dengan gerakan memutar. Sampai bram bekas pengasahan hilang. 2. Alat bantu Alat Bantu adalah perkakas yang digunakan untuk membantu menyelesaikan suatu pekerjaan kriya dan mebel. P eralatan tersebut dapat berupa alat ukuar, alat penanda,atau alat pembantu lainnya. a. Mistar 243
  • 280. b. Meteran c..Siku-siku d. Alat penanda Alat penanda adalah suatu perangkat yang digunakan untuk menandai atau menggambari tempat-tempat pembentukan, seperti; pembuatan alur, radius, dan bentuk sambungan. Alat penanda dapat digunakan bersamaan dengan alat ukur atau setelah alat ukur. Jenis dan karakteristik alat penanda berlainan, namun fungsinya sama. 1). Pensil Dalam pertukangan kayu biasanya menggunakan pensil lunak, yaitu antara 3B s.d. 6B dengan bentuk bulat telur. 244
  • 281. 2). Penggores Penggores adalah alat yang terbuat dari logam berbentuk silindris lurus dan diruncingkan dibagian ujung depan. Fungsi penggores adalah untuk membuat tanda/garis batas pengerjaan. 3). Perusut Perusut adalah alat gores kayu untuk membuat garis-garis sejajar dengan salah satu tepi benda kerja. Alat ini terdiri dari badan perusut, batang dan taji. 245
  • 282. e.Palu Palu adalah alat pemukul yang harus disediakan pada setiap bengkel kayu. Palu dilengkapi dengan pemegang/gagang kayu sebagai tangkai pemukul. Jenis dan ukuran palu bervariasi sesuai dengan fungsinya. Berdasarkan bahan yang digunakan, palu dibedakan menjadi: 1). Palu besi 2). Palu kayu 3). Palu karet/plastik. Dalam pekerjaan kayu, palu karet jarang digunakan. Palu kayu digunakan untukmemukul gagang pahat, menyetel sambungan kayu. 246
  • 283. f. Kakatua Kakatua adalah alat yang digunakan untuk mencabut paku dan untuk memotong kawat berukuran kecil. Kakatua terbuat dari logam, terdiri dari dua bagian yang dihubungkan dengan sebuah engsel. Gigi kakatua disepuh dan ditajamkan. Ukurannya antara 6 s.d. 10 inchi. g.Obeng Obeng adalah alat yang digunakan untuk memutar sekrup. Badan obeng terbuat dari logam campuran/baja. Untuk obeng setrip ujungnya dipipihkan dan obeng kembang ujungnya dibuat silang/tanda plus. 247
  • 284. h.Penjepit atau klem Penjepit adalah alat yang berfungsi untuk menjepit kayu sehingga mempermudah dalam penyambungan. Jenis-jenis penjepit antara lain: 1). Klem batang, klem ini digunakan untuk merapatkan sambungan kayu yang lebarnya lebih dari 1 meter. 2). Klem C, digunakan untuk menjepit benda kerja yang berukuran kecil. 3). Klem F, digunakan untuk menjepit benda kerja yang tidak cukup dijepit dengan klem C. 248
  • 285. ii.Alat pembenam/penitik Alat pembenam adalah sepotong berpenampang bulat dengan dibuat tirus pada bagian ujungnya. Fungsi alat pembenam adalah untuk memasukkan kepala paku pada kayu, sehingga tidak kelihatan sewaktu difinishing. Prosedur Menggunakan Alat Meskipun buku ini dipersiapkan bagi pelajar yang sudah berpengalaman di bangku kerja, satu bagian yang membahas cara – cara untuk bekerja dengan baik. Pengertian yang jelas dan penguasaan pengunaan berbagai perkakas utama akan merupakan perintis jalan kearah keberhasilan dalam pengerjaan kayu. Dalam kaitan ini, tugas yang paling sulit bagi seseorang pemula barang kali adalah menentukan ukuran kayu secara tepat. Pengetahuan yang memadai perihal prinsip – prinsip yang terpenting ditambah dengan ketekunan bekerja, dapat membantu menghilangkan kesulitan kesulitan. Memotong kayu Dalam memberi tanda dengan pensil untuk tujuan penggergajian sepotong kayu, tambahan untuk pengetaman dan untuk penyikuan bagian – bagian ujung hendaknya tidak dilupakan. Besarnya tambahan ini tergantung pada keahlian seseorang dalam melakukan penggergjian. Seseorang pemula hendaknya ingat pada kekurangan pengalaman yang di miliki. Tambahan sekitar 4 mm untuk ukuran lebar dan 112 mm untuk ukuran panjang ini sebagai cadangan untuk penyikuan dan pengetaman. 249
  • 286. Mengetam kayu 1. Pilihlah sisi muka dan tepi muka kayu. Ini merupakan dua permukaan yang saling berbatasan 2. Ketamlah sisi muka dan setelah semua bekas penggergajian hilang periksalah dengan mistar untuk melihat kedataran dari hasil pengetaman dengan cara pandangan mata diarahkan melintasi mistar tersebut. Berikan tanda paring pada muka pertama . 3. Lakukan pengetaman kesemua bidang permukaan sampai dengan muka ke empat dan jangan lupa memberi tanga paring. Memberi tanda dengan pensil atau olat gores Pada umumnya pensil atau alat gopres digunakan untuk menandai ukuran kontruksi sambungan dan untuk mrnyikukan ujung – ujung kayu. Alat tersebut akan memberikan garis yang jelas dan juga tanda tanda yang rapi pada sudut – sudut karena lapisan ujung jaringan serat akan terpotong. 250
  • 287. Menggergaji di bangku kerja Gergaji punggung diperlihatkan memotong sisi – sisi sebuah alur. Penggergajian dimulai disamping garis kayu yangb akan terbuang dan gergaji direndahkan hingga mencapai kedudukan horisontal sewaktu penggergajian berlanjut. Mengetam jaringan serat. Hal ini dapat dilakukan di atas sebuah papan pengarah atau dalam sebuah ragum. Jika pengetaman melintasi ujung jaringan serat, haruslah dicari upaya – upaya untuk mencegah robeknya serat.Papan pengarah dapat berguna pula untuk membantu pembuatan sambungan tepi dengan tepi. 251
  • 288. Memahat Dalam menggunakan pahat untuk penusukan atau untuk pemapasan seandainya menggunakan palu kayu harus selalu dijaga agar tangan kiri tidak berada pada tepi potong. Hal ini akan membahayakan si pekerja. Untuk penusukan mendatar hendaknya benda kerja dijepit dalam sebuah ragum . Ada dua cara dalam teknik memahat. a). dengan cara memakai palu. b). dengan cara menusukan pahat dengan kedua belah tangan Memahat dengan Tekanan Tangan Arah Horizontal 252
  • 289. 2). Doronglah pahat tusuk dengan kedua belah tangan. Tangan kanan memegang pegangan pahat dan tangan kiri menuntun arah ujung pahat. Dorong pahat menjauhi tubuh kita. Bekerjalah dalam arah miring ke atas. Keselamatan Kerja Alat Tangan a. Pengertian keselamatan kerja Keselamatan kerja adalah upaya agar pekerja (guru, siswa, teknisi) selamat di tempat kerjanya, sehingga terhindar dari kecelakaan, termasuk juga untuk menyelamatkan peralatan, hasil produksi dan orang lain. b. Tujuan keselamatan kerja 1). Melindungi tenaga kerja (guru, siswa, teknisi) dari kecelakaan dan memberi hak keselamatan dalam melakukan pekerjaan. 2). Menjamin terpeliharanya sumber produksi dan pendayagunaan secara aman, efisien dan efektif. 3). Menjaga keamanan hasil produksi. c. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam keselamatan kerja 1). Pakaian kerja a). Lengan baju pakaian kerja atau kemeja kerja harus pendek atau tertutup pada pergelangan tangan. 253
  • 290. b). Jangan memasukkan alat dalam saku karena dapat melukai dan alat tersebut bisa hilang. 2). Penggunaan alat a). Jangan menggunakan kikir tanpa tangkai karena sangat berbahaya dan tidak efisien. b).Letakkan alat praktik secara benar, jangan menonjol keluar dari bangku kerja, karena dapat mengganggu lalu lintas dan kemungkinan jatuh sangat tinggi. 254
  • 291. 3). Kebersihan bengkel kerja a). Jagalah minyak dan oli tidak tumpah di lantai karena membuat lantai licin dan berbahaya. b). Bersihkan lantai bengkel kerja dari debu bram, potongan kayu dan kotoran lain. 4). Kenyamanan di bengkel kerja a). Bangku kerja yang standar lebih nyaman digunakan dalam bekerja jika dibandingkan dengan bangku kerja sembarangan. Tinggi standar meja kerja untuk melakukan pekerjaan dengan berdiri adalah 850 - 900 mm. b). Penerangan/cahaya harus cukup. c).Suasana bengkel kerja yang tenang dan tidak bising oleh suara mesin sangat berpengaruh dalam melakukan aktifitas di bengkel kerja, terutama bengkel kerja bangku. 255
  • 292. C.KERJA MESIN SEMI MASINAL . 1.Mesin ketam Mesin ketam merupakan peralatan dasar yang sangat diperlukan dalam pengolahan kayu Penggunaan ketam tangan listriksangat menunjang dalam pekerjaan kerja bangku karena dapat mempercepat proses pekerjaan, disamping itu juga memperolih hasil yang halus. kapasitas ketam mulai dari lebar 40 mm sampai 80 mm. Kedalaman sponing yang dapat di buat bervariasi. a). Ketam tangan listrik perata sisi Ketam ini digunakan untuk meratakan sisi kayu. Bagian-bagian ketam perata sisi tebal: 1. Kabel 2. Sakelar utama 3. Pegangan mesin 4. Rumah-rumah motor 5. Tempat lamel arang 6. Pegangan samping 7. Poros pisau dengan penutup pelat 8. Roda pengatur ketebalan serutan b). Perlengkapan ketam tangan listrik. 1). Pemberat dan pengantar untuk meratakan sisi tebal. 256
  • 293. 2). Kantong tatal Berfungsi untuk menampung tatal dari proses pengetaman agar tidak berserakan. c. Bekerja menggunakan mesin ketam tangan 1). Mengetam a). Langkah pertama perhatikan arah serat kayu yang hendak diketam b). Pada kayu berserat miring harus selalu mengambil arah memotong serat c). Perhatikan lebar dan tebal papan. Pada benda yang tebal sebaiknya tidak mempertebal serutan agar pisau dan kerja motor tidak bertambah berat. 2). Mengetam sponing a). Aturlah pengantar paralel untuk lebar sponing b). Pengantar paralel disematkan pada lubang muka mesin (g) dan di jepit dengan baut penjepit c). Lebar sponing maksimal = lebar poros mesin d). Kedalaman sponing yang dibuat sesuai dengan ukuran sisi samping e). Atur kedudukan pisau dan ketebalan serutan seperti pengetaman biasa f). Atur lebar sponing dengan pengantar paralel h). Hidupkan mesin, dan mulailah bekerja dengan hati-hati. 257
  • 294. 3). Mengetam miring Pada proses pengetaman miring diperlukan pengantar miring, maka pada pengantar paralel di Perlukan pengantar sudut. Gambar :Pengetaman miring 4). Meratakan lis sisi tebal Proses pengetaman lis sisi tebal memerlukan pemberat dan penghantar untuk keseimbangan mesin agar tidak tergelincir jatuh Gambar meratakan lis pada pelapisan sisi tebal MesinGergaji d. Jenis-Jenis Mesin Gergaji Piring 1) Gergaji Piring Plafon Gergaji ini dipakai untuk meratakan pelapisan dinding atau plafon. Mesin ini di lengkapi dengan pengantar paralel dan pelindung sungkup teleskopis. Ukuran potong maksimal 27 m 258
  • 295. 2). Gergaji piring portabel kecil Gergaji ini digunakan untuk keperluan rumah tangga atau sebagai perlengkapan pertukangan. Ukuran potong maksimal 25-35 mm. 3). Gergaji piring portabel sedang Gergaji ini digunakan untuk keperluan rumah tangga, atau industri kecil dengan ukuran potong maksimal. 40-60 mm. 259
  • 296. 4). Gergaji piring berat Gergaji ini digunakan untuk industri kecil atau untuk penggergajian kayu dengan ukuran potong maks 150 mm. 6). Gergaji potong dengan meja penjepit Gergaji ini digunakan untuk memotong kayu, aliminium, atau logam lunak. Posisi gergaji dapat diatur dengan sudut 0, 15, 30, dan 45°. ke kiri atau ke kanan Cara Menggunakan Alat a). Siapkan bahan dan alatnya. b). Aturlah sudut potong pada mesin gergaji tangan sehingga daun gergaji dan plat dasar membentuk sudut tertentu. c). Ukurlah dengan siku putar (siku-siku) dan cocokkan dengan sudut iris benda kerja yang diinginkan. d). Setelah semua cocok, dapat dimulai. 260
  • 297. Gambar : Pemotongan papan bersudut 45° 4) Membuat alur dengan mesin gergaji tangan a). Siapkan alat dan bahan. b). Pasanglah pengantar (sablon paralel). c). Aturlah kedalaman iris daun gergaji yang dinginkan. d). Bila tebal irisan daun gergaji kurang dari 4 mm, alur dapat diperlebar dengan 2 kali kerja. e). Setelah semua persiapan selesai hidupkan mesin gergaji dan mulailah membuat alur pada benda kerja. 5) Membuat lubang dengan mesin gergaji tangan a). Siapkan alat dan bahan b). Aturlah kemunculan daun gergaji sesuai dengan ukuran lubang yang akan dibuat c). Gunakan pengatur penghantar paralel d). Letakkan mesin gergaji seperti gambar (A), dengan tumpuan ujung pelat dasar 261
  • 298. e). Hidupkan mesin dan turunkan perlahan-lahan sehingga mengenai/memotong benda kerja (lihat gambar (B) di bawah ini). Mesin Bor Mesin bor tangan digunakan untuk membuat lubang pada kayu, besi, plastik, dan bahan lainnya. Jenis benda kerja tersebut menentukan jenis mata bor yang digunakan. Mesin bor hanya merupakan sarana untuk memutar mata bor, alat upam, alat gosok, dan alat lainnya. a. Bagian-Bagian Mesin Bor Tangan Keterangan gambar : 1. chuk (penjepit mata bor) 2. kunci penjepit 3. pelat pengait 4. lubang Sirkulasi 5. sakelar utama 6. kunci sakelar 262
  • 299. 7. pegangan 8. kabel listrik b. Alat-Alat Perlengkapan Mesin Bor Tangan 1) Mata bor Mata bor digunakan untuk membuat lubang pada kayu, plastik, dan lain lain. Prinsip : Jenis mata bor harus sesuai dengan kekerasan bahan yang akan dibor. Contoh pada gambar di bawah ini 2) Bor Spiral Bertingkat Bor ini digunakan untuk membut lubang pembenahan kepala sekrup secara langsung c. Jenis-jenis mata bor tangan 1) Mesin Bor Pistol Biasa Bor ini digunakan untuk rumah tangga atau hobi, ringan dan berdaya rendah 263
  • 300. 2) Mesin Bor Berpegangan Bor ini termasuk mesin bor yang berdaya rendah serta ringan Teknik Bekerja Dengan Mesin Bor Tangan 1). Pengeboran Lubang Tembus Pengeboran lubang tembus berhasil baik bila bangian bawah benda tidak terkoyak/rusak. Untuk menghindari keterkoyakan itu, bagian bawah harus di beri landasan. Ketepatan as lubang dapat kita peroleh dengan memberi tanda lebih dulu dengan drip. Kedudukan mesin harus tegak lurus. Yang belum pengalaman dapat menggunakan penyiku sebagai pedoman, selanjutnya jepit benda kerja agar tidak bergeser. 264
  • 301. 2). Mengebor Lubang Tidak Tembus Membuat lubang tidak tembus dengan ukuran kedalaman tertentu ada dua cara, yaitu a). Dengan kelos pembatas, kemunculan mata bor sesuai dengan kedalaman lubang yang di inginkan. b). Dengan Tuas Pembatas, Ujung Mata Bor dan Ujung Tuas Hanya berselisih t (kedalaman lubang yang diinginkan). 265
  • 302. 3). Mesin Bor Dengan 2 Kecepatan Mesin bor jenis ini menguntungkan untuk pekerjaan rumah tangga Keselamatan Kerja Menggunakan Alat Mesin Semi Masinal 1. Polusi Udara, Suara, dan Akibatnya Polusi udara sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena dapat menyebabkan penyakit paru-paru dan gangguan pernapasan. Polusi udara di bengkel berasal dari serbuk-serbuk kayu yang berterbangan, karena proses peng-gergajian, pengetaman, pengampelasan, dan proses kerja lainnya. Untuk menanggulangi hal tersebut siswa harus mempersiapkan dari dengan memakai pelindung, yaitu masker penutup hidung. Gambar : Masker Hidung dan Mulut Polusi suara di bengkel kerja berasal dari sumber bunyi yang kompleks karena pada waktu praktek di bengkel hampir semua mesin dioperasikan, misalnya mesin gergaji, mesin ketam, dan mesin bubut. Semua mesin tadi mengeluarkan bunyi yang hampir bersamaan dan menimbulkan suara yang sangat bising. Jika hal itu terjadi terus-menerus dan tidak ditanggulangi, maka dapat mengakibatkan gangguan pada pendengaran. Cara menang- gulanginya ialah dengan memakai penutup telinga. 266
  • 303. Gambar : Penutup Telinga 2. Kecelakaan Akibat Listrik dan Mekanik Listrik mengalir melalui benda yang bersifat konduktif, seperti logam dan zat cair. Kecelakaan listrik biasanya berupa hubungan singkat, kebakaran, kena setrum. a. Hubungan singkat b. Kebakaran 267
  • 304. c. Kena setrum Kecelakaan mekanik adalah kecelakaan yang disebabkan oleh bagian- bagian mesin yang bergerak , misalnya putaran-putaran mata bor/pisau bor, putaran mesin bubut, gerakan gergaji skroll dan lain-lain 3. Peraturan Keselamatan Kerja Khusus untuk Alat-Alat yang Bertegangan Listrik a. Putuskan aliran listrik sebelum kita memperbaiki peralatan mesin tangan atau membukanya. b. Tutup kembali kemungkinan adanya aliran listrik, yakni dengan memutus saklar utama. c. Pastikan bebas aliran listrik dengan mencoba mencolok pada stop kontak yang ada dengan tespen. d. Rangkaikan hubungan pentanahan untuk menetralkan sengatan listrik jika terja- di hubungan singkat (ground). e. Gunakan sepatu bersol karet supaya tidak kena setrum (gunakan isolasi jika terjadi konsleting) f. Hindarkan kabel terbuka misalnya kabel pada alat bor tangan. 4. Peralatan Keselamatan Kerja Peralatan keselamatan kerja yang harus digunakan siswa bekerja pada waktu di bengkel adalah : a. Pelindung mata (kacamata) Kacamata berguna untuk melindungi mata dari tatal-tatal halus dan debu. 268
  • 305. b.Pelindung Kepala (Topi) Topi berguna untuk melindungi rambut agar tidak terlilit pada waktu bekerja dengan menggunakan mesin. c. Pelindung Telinga Pelindung telingan berfungsi untuk melindungi telinga dari kebisingan. d. Pelindung Tangan (Sarung Tangan) Sarung tangan berfungsi untuk melindungi tangan dari benda tajam. e. Pelindung Kaki (Sepatu) Sepatu berguna untuk melindungi kaki dari benda-benda tajam, keras, menghindari dari terpeleset dan menghindari aliran listrik (terkena setrum). f. Pelindung Tubuh (Baju Kerja) g. Pelindung Hidung dan Mulut Alat ini berguna untuk melindungi saluran pernapasan dari udara kotor dan bau yang tidak enak. 269
  • 306. D. LATIHAN MEMBUAT PRODUK Gambar kerja 240 146 140 TAMPAK DEPAN TAMPAK SAMPING 140 240 TAMPAK ATAS 270
  • 307. 3 AMBANG ATAS TEBAL 12 MM TUTUP LACI BAG BELAKANG TEBAL 12 MM A HANDEL KUNINGAN DIAMETER 15 MM ALAQS LACI PLAY WOOD 3 MM TUTUP KOTAK BAG BELAKANG TEBAL 25 MM TUTUP LACI PENGUAT PAKU SEKRUP AMBANG BAWAH TEBAL 12 MM KHAKI KOTAK 25 X 25 MM POTONGAN MELINTANG 25 190 25 AMBANG ATAS 50 B TUTUP KOTAK BAG SAMPING TEBAL 25 MM AMBANG TENGAH TEBAL 10 MM TUTUP BELAKANG TEBAL 25 MM 50 AMBANG BAWAH KHAKI KOTAK POTONGAN MEMANJANG 10 10 10 15 46 16 26 46 TAMPAK DEPAN TAMPAK SAMPING 10 10 TAMPAK PERSPEKTIF TAMPAK ATAS DETAIL SAMB LACI 271
  • 308. GAMBAR PERSPEKTIF 272
  • 309. E, CONTOH HASIL KERJA KOTAK ASSESORIES 273
  • 310. 274
  • 311. B. TEKNIK KERJA BUBUT A. Teknik Membubut Dua Senter Profil Cembung, Cekung dan Alur Pendahuluan Diskripsi Membubut merupakan salah satu kmpetensi yang banyak digunakan dalam pembuatan prodk-produk dari kayu. Membubut yang dilakukan dengan cara benar akan berdampak pada kesempurnaan hasil. Pada modul ini amda akan mempelajari membubut dua senter, yaitumembubut pejal profl cembung, cekung dan alursesuai sandar operasional. Adapun ruang lingkup pembahasan meliputi : 1. Bagian-bagian dari mesin bubut dan fungsinya 2. Keselamatan kerja dalam penggunaan mesin bubut 3. Penyiapan bahan kayu untuk dibubut 4. Jenis dan fungsi pahat, alat bubut 5. Cara penggunaan mesin bubut (bubut dua senter/bubut luar) 6. Perawatan mesin bubut Prasyarat Sebelum mempeajari ini diharapkan anda dapat menguasai pengetahuan bahan kayu 1, mengenal mesin bubut dan peralatannya. Membuat benda kerja dengan teknik membubut dua senter Unit 1: Bagian-Bagian Mesin Bubut Kayu Dan Fungsinya Tujuan Khusus Setelah mempelajari unit 1, Anda memiliki kemampuan 1. Menjelaskan bagaian-bagian mesin bubut kayu dan fungsnyasecara singkat dan benar 2. Menjelaskan keselamatan kerja dalam menggunakan mesin bubut Uraian Materi Mesin bubut kayu digunaan untuk membubut bentuk silinder, piringan atau mangkok. Padaindusteri furniture, mesin bbubt dugunakan untuk membuat kaki kursi, kaki meja, jeruji jendela, jeruji pilar dan lain-lainnya. Sebelum menggunakan mesin bubut kayu. Anda harus mengetahui beagian-bagian dari mesin bubut serta fugsinya. Selain itu anda juga harus mengetahui cara karja mesin bubut dan keselamatan kerja dalam menggunakan agar tidak mengalami kesulitan saat bekerja. Bagian-bagian mesin bubut kayu 275
  • 312. Fungsi Masing-Masing Bagian Mesin Bubut 276
  • 313. Bagian-bagian Mesin Fungsi Bubut Kepala tetap Berfungsi sebagai rumah/dudukan senter hidup, yang menghubungkan antara senter hidup ,puly dan motor/dynamo Kepala lepas Berfungsi sebagai rumah / dudukan senter mati, dapat disambung maju atau mundur disesuaikan dengan panjang pendeknya benda kerja Senter hidup Berfungsi sebagai pemutar benda pelatihan sekaligus sebagai pembawa benda pelatihan Senter mati Berfungsi sebagai pendukung senter hidup dalam membawa benda pelatihan Pengatur senter Berfungsi sebagai alat pengatur maju mundurnya senter mati Pengunci Kepala Lepas Berfungsi sebagai alat pengunci kepala lepas agar tidak bergeser mundur Penahan pahat Berfungsi sebagai penahan pahat dalam proses pembubutan Pengunci penahan pahat Berfungsi sebagai pengunci penahan pahat agar tidak goyang atau kendor Saklar on/off Berfungsi sebagai tombol untuk menghidupkan atau nmematian mesin Rumah puly Berfungsi sebagai rumah/pelindung puly sedangkan puly sendiri berfungsi sebagai pengatur kecepatan putaran benda pelatihan Rangka bodi Berfungsi sebagai penopang komponen- komponenmesin bubut Keselamatan Kerja Dalam Menggunakan Mesin Bubut 1. Pakailah pakaian kerja bengkel serta gunakan pelindung wajah, masker. 2. Lepas perhiasan seperti : arloji, cincin, dan kalung selama proses membubut. 3. Periksa kondisi semua komponen dan peralatan mesin bubut 4. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya 5. Bersihkan semua peralatan serta tempat kerja sebelum dan sesudah digunakan 6. Setelah digunakan kembalikan peralatan pada tempatnya Unit II : Menyiapkan Bahan Kayu Untuk Dibubut 277
  • 314. Tujuan Khusus Setelah mempelajari unit ini, anda memiliki kemampuan 1. Menjelaskan prasyarat kayu yang akan dibubut 2. Menyiapkan bahan kayu untuk dibubut sesuai dengan urutan kerja Uraian Materi Dalam menyiapkan bahan kayu untuk dibubut, sebaiknya dipilih bahan kayu yang tidak cacat, (misalnya : retak, ada matanya, dimakan hama, kayu bekasyang masih ada pakunya). Jika memakai kayu cacat pasti hasilnya tidak bagus dan berbahayabagi yang membubut karena dapat terpelanting Peralatan Dalam melakukan pekerjaan membubut ada beberapa peralatan yang diperlukan yaitu : 1. Gergaji potong atau mesin gergaji lengan Sebagai alat untuk memotong benda pelatihan 2. Ketam baja Sebagai alat untuk mengetam sudut-sudut benda pelatihan 3. Penggarislogam (30 cm) Sebagai alat unuk mengukur panjang dab lebar benda pelatihan serta untuk membuat garis diagonal dalam menentukan titik senter 4. Pensil HB Digunakan untuk menandai dan membuat mal Penyiapan Bahan Kayu Untuk Dibubut Dalam menyiapkan kayu yang akan dibubut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Pemotongan kayu dilakukan dengan menggunakan grgaji potong atau gergaji mesin sesuai ukuran gambar kerja. Untuk panjang ditambahkan 20mm, sedang untuk lebar ditambah 10mm 278
  • 315. 2. Kayu yang sudah dipotong menggunakan gergaji tangan atau gergaji mesin siap untuk dibubut 3. Unit III : Jenis, Fungsi Pahat dan Alat Bubut Tujuan Khusus Setelah mempelajari unit III , anda memiliki kemampuan 1. Menjelaskan jenis dan fungsi pahat, alat bubut secara tepat dan benar 2. Menjelaskan cara menajamkan pahat bubut serta merawatnya sesuai prosedur yang benar 3. Menajamkan pahat bubut sesuai prosedur yang benar Uraian Materi 1. Jenis Pahat Dalam pekerjaan membubut diperlukan alat pemotong yang berfungsi untuk mengiris, menyayat/menggaruk dan membentuk benda pelatihan Alat potong tersebut disebut Pahat bubut Jenis- jenis pahat bubut : a. Pahat kuku besar b. Pahat kuku kecil c. Pahat lurus d. Pahat serong/miring e. Pahat pemotong f. Pahat penggaruk 2. Fungsi Pahat Bubut a. Pahat kuku besar Berfungsi untuk mengawali pembubutan dari bentuk balok menjadi bentuk silinder dan membentuk cekungan lebar serta dalam 279
  • 316. b. Pahat kuku kecil Berfungsi untuk membuat cekungan kecil, dan mengikis bagian dalam dan luar bubutan piring, mangkok dan benda kerja lainnya c. Pahat lurus Berfungsi untuk meratakan permukaan bentuk silinder, kerucut dan banyak lainnya d. Pahat serong/miring Berfungsi untuk membentuk cembung, alur dan celah miring e. Pahat pemotong Berfungsi untuk memotong, membuet celah lurus/alur f. Pahat penggaruk Berfungsi untuk mengikis/menggaruk bagian dalam dan luar bubutan mangkok, piring dan benda kerja lainnya 280
  • 317. 3 Jenis dan Fungsi Alat Untuk Mengukur dan Menanda a. Penggaris logam Berfungsi untuk mengukur panjang, lebar dan untuk membuat garisdiagonal pada bendapelatihan b. Pensil ( HB ) Steadler Berfungsi untuk menandai/membuat garis pada benda latihan c. Jangka luar (outside caliper) Berfungsi untuk mengukur diameter bendapelatihan d. Jangka dalam (inside caliper) Berfungsi untuk mengukur bagian dalam /ronggapada benda pelatihan , misanya : mangkok, gelas dan benda pelatihan. 281
  • 318. 4. Menajamkan/mengasah Pahat Bubut a. Peralatan dan bahan 1) Mesin gerinda Mesin gerinda berfungsi untuk menajamkan pahat bubut kayu. Mesin gerinda dilengkapi dengan dua buah batu gerinda. Jenis batu gerinda berwarna putih, bersifat lurus, tajam dan keras, sedangkan yang berwarna abu-abu bersifat keras , tajam dan lebih keras 2) Batu Asah Batu asah berfungsi sebagai alat/bahan untuk menajamkan pahat bubut kayu. Ada dua jenis batu asah Yaitu: a) Batu asah datar dengan dua permukaan , dan b) Batu asah lengkung 3) Kain pel/lap Kain pel/lap berfungsiuntuk membersihkan pahat setelah diasah 4) Oli Oli berfungsi untuk pelicin / pelumas pada waktu mengasah menggunakan batu asah 5) Air Air berfungsi sebagai alat pendingin pada waktu mengasah menggunakan mesin gerinda b. Proses pengasahan / penajaman Pahat bubut kayu ang tajam sangat diperlukan dalam pekerjaan membubut. Ketajaman pahat bubut akan memudahkan pembubutan dan pembentukan, serta hasilnya akan maksimal. Berikut beberapa ilustrasi cara penajaman pahat bubut kuku menggunakan gerinda, batu asah datar, dan batuasah lengkung. 1) Mengasah dengan menggunakan mesin gerinda a) Gambar dibawah ini menunjukkan cara memegang pahat pada waktu menggerinda pahat lurus dan pahat kuku besar. 282
  • 319. Sudut kemiringan pahat adalah 30º - 45º b) Gambar berikut adalah pahat lurus standar yang diasah secara benar, yakni membentuk kerucut dengan satu titik sudut puncak c) Gambar berikut adalah cara mengasah pahat lurus standar yang salah karena membentuk kerucut dengan dua titik sudut puncak 2) Mengasah menggunakan batu asah datar Gambar berikut menunjukkan cara mengasah menyilang yaitu mengasah pahat lurus , dengan sudut kemiringan pahat terhadap batu asah 25º - 35º. Pahat digerakkan /didorong kedepan dan ke belakang , kemudian menyilang. Pada waktu mengasah digunakan oli atau air sebagai pelicin 283
  • 320. Berikut adalah gambar mengasah pahat lurus dengan cara melingkar silang. Perhatikan arah pengasahan. 3). Mengasah menggunakan Batu asah lengkung Gambar di bawah ini menunjukkan cara mengasah pahat kuku kecil bagian dalam dengan menggunakan batu asah lengkung. Cara mengasah didorong bkedepan dan kebelakang 284
  • 321. Gambar dibawah ini menunjukkan cara mengasah pahat kuku bagian luar Teknik Membubut Dua Senter ( Profil Cembung, Cekung Dan Alur ) Tujuan Khusus Setelah mempelajari unit IV ,Anda memilki kemampuan 1 Menjelaskan teknik membubut dua senter (profil cembung, cekung dan alur ) secara tepat, 2 Memasang benda kerja padamesin bubut sesuai prosedur 3 Membubut dua senter profil cembung,cekung dan alur 4 Menjelaskan secara singkat proses membubut dua senter Materi Praktek Sebelum anda prektek membubut lakukan persiapan – persiapan berikut 1 Kenakan pakaian kerja dan perlengkapan keselanatan kerja seperti penutup kepala, masker/kaca mata 2 Periksa semua alat dan mesin yang akan digunakan dan yakin bvahwa alat/mesin tersebutdapat berfungsi dengan baik 3 Bacalah gambar jkerja dengan cermat, agar tidak terjadi kesalahan teknis di dalam pengerjaan Proses Kerja 1 Potonglah kayu sesuai dengan ukuran pada gambar kerja ditambah 2 cm pada setiap ujungnya 2 Buetlah garis diagonal pada setiap ujung kayu dengan menggunakan penggaris dan pensil untuk menentukan titik senter 285
  • 322. 3 Tandailah titik senter dengan menggunakan drip atau palu besi 4 Ketamlah sudut-sudut kayu menjadi segi delapan dengan menggunakan ketam baja 5 Pasanglah benda kerja pada senter mesin bubut . Kemudian aturlah ketinggian penyangga pahat sesuai dengan senter mesin bubut 6 Mulailah pembubutan dari bentuk segi delapan menjadi silinder dengan menggunakan pahat kuku besar 286
  • 323. 7 Ratakan bentuk silinder dengan menggunakan pahat lurus atau pahat miring/serong 8 Ukurlah benda kerja dengan menggunakan jangka luar (outside caliper) 9 Haluskan benda kerja dengan menggunakan kertas ampelas 10 Bentuklah bubutan cembung , cekung dan alur dengan menggunakan pahat kuku, pahat miring, pahat lurus 287
  • 324. Penyelesaian Akhir 1 Haluskan benda karja sekali lagi dengan menggunakan kertas ampelas 2 Lapisi permukaan benda kerja dengan menggunakan kain yang dibasahi cairan teak oil atau politur. Lakukan secara berulang – ilangpada saat benda kerja sedang berputar sehingga permukaan rata dan serat-serat kayu kelihatan alami TUGAS AKHIR PRODUK KERJA BUBUT Buatlah benda kerja dengan teknik membubutcembung, cekung dan alur sesuai tahapan –tahapan membubut dan gambar kerja berikutnya 288
  • 325. 289
  • 326. Contoh Produk Bubut 290
  • 327. LEGS 291
  • 328. B. Teknik Membubut Mangkok Dan Piring PRASYARAT Sebelum mempelajari buku ini, alangkah baiknya bila anda telah membaca atau memahami modul sebelumnya, yaitu Membubut Pejal Dengan Profil : Cembung, Cekung, Alur RUANG LINGKUP MATERI Modul ini tardiri dari 2 unit pembelajaran, yaitu : 1 Teknik Membubut satu senter menggunakan piring pembawa & chuck 2 Melapisi permukaan benda kerja di mesin bubut TUJUAN UMUM Membubut mangkok & piring serta melapisi permukaan benda kerja di mesin bubut “Demi kenyamanan dan keamanan anda dalam berlatih, jangan lupa rambu – rambu keselamatan kerja” TES AWAL 1 Jelaskan apa yang anda ketahui tentang bubut satu senter ! 2 Apa fungsi dari piring pembawa ? 3 Apa fungsi dari chuck? 4 Jelaskan cara memasang benda kerja pada mesin bubut! 5 Jelasskan proses bpembubutan mangkok dan piring ! 6 Jelaskan cara melapisi permukaan benda kerja di mesin bubut ! MATERI PEMBELAJARAN UNIT 1 : TEKNIK MEMBUBUT MANGKOK DAN PIRING Tujuan Khusus Setelah mempelajari unit 1 ini, Anda memiliki kemampuan 1 Menjelaskan secara tepatteknik bebet satu senter menggunakan piring pembawa mangkok 2 Memasang benda kerja pada mesin bubut sesuai prosedur 3 Membubut mangkok dan pring sesuai proses kerja yang benar 4 Menjelaskan secara singkat proses membubut mangkok dan piring Uraian Materi 1. Teknik Membubut Satu Senter Teknik membubut satu senter adalah membubut menggunakan satu senter hidup , sedang untuk memegang benda kerja dipergunakan piring pembawa atau chuck. a. Piring Pembawa ( Face Plate ) 292
  • 329. Piring pembawa berfungsi untuk memegang benda kerja yang berdiameter besar ( yang tidak muat bila dicekam dengan chuck ) b. Chuck ( Cekam ) Cekam berfungsi untuk memegang benda kerja. Cekam ada yang berggig 4 atau 3. Cekam dipasang pada senter hidup ( sumbu utama ) dengan pengikat berulir. 2 Cara Menyiapkan dan Memasang Benda Kerja Pada Piring Pembawa a. Buat Ganbar Lingkaran pada benda akerja dengan menggunakan jangka b. Potong benda kerja menggunakan mesin gergaji pita ( bandsaw ) 293
  • 330. c. Pasang benda kerja pada piring pembawa dengan cara disekrup dan dikencangkan menggunakan obeng. A. Proses Kerja Pembubutan a. Pasanglah benda kerja yang sudah menempel di piring pembawa pada sumbu utama mesin bubut b. Aturlah ketinggian penahan pahat sejajar dengan titik tengah benda kerja c. Yakinkan bahwa bendas kerja sudah terpasang dengan benar pada sumbu utama dan tidak bersinggungan dengan penyangga pahat d. Hidupkan mesin bubut edan mulailah membubut bagian luar mangkok mengunakan pahat penggaruk atau pahat kuku sesuai bentuk & ukuran pada gambar kerja e. Aturlah penyangga pahat di depan benda kerja dengan ketinggian sejajar dengan titik tengah benda kerja, kemudian bubutlah 294
  • 331. mangkok bagian dalam menggunakan pahat kuku atau pahat penggaruk. Mulailah pembubutan dari tepi mangkk menuju ke tengah mangkk hingga mencapai kedalaman tertentu sesuai ukuran dan bentuk pada gambar kerja f. Lakukan pengukuran bubutan cembung dengan menggunakan mal g. Lakukan pengukuran dalam mangkok menggunakan penggaris logam h. Lakukan pengukuran ketebalan mangkok menggunakan jangka luar ( outside caliper ) 295
  • 332. i. Lakukan penghalusan bagian luar dan dalam mangkok dengan menggunakam kertas ampelas Tugas 1. Jelaskan teknik bubut satu senter menggunakan piring pembawa dan chuck ! 2. Bagaimana cara memasang benda kerja pada mesin bubut ? 3. Jelaskan proses membubut mangkok dan piring ¡ 4. Bubutlah mangkok dan piring sesuai proses kerja yang benar ! Baca dan cermati gambar kerja untuk mangkok dan piring di bawah ini. ” Masukkan gambar kerja Membubut Mangkok dan Piring dari teks asli !” UNIT 2 : MELAPISI PERMUKAAN BENDA KERJA DI MESIN BUBUT Tujuan Khusus Setelah mempelajari unit 2, Anda memiliki kemampuan 1. Melapisi permukaan benda kerja di mesin bubut sesuai prosedur 2. Melapisi benda kerja dari piring penbawa sesuai prosedur Uraian Materi 1 Melapisi Permukaan Luar dan Dalam Mangkok dengan teak oil atau politur menggunakan kaos spon. Lakukan pekerjaan berulang-ulang pada saat benda kerja ( mangkok ) sedang berputar hingga permukaan kelihatan rata dan serat kayu tampak alami. Usahakan agar putaran mesin pelan 296
  • 333. 2 Melepas Benda Kerja a. Untuk melepas benda kerja dari piring pembawa, dengan cara melepas sekrup menggunakan obeng hingga lepas dari piring pembawa b. Bersihkan bekas lubang sekrup dengan menggunakan ampelas kertas/pahat Gambar Kerja 297
  • 334. C. TEKNIK KERJA UKIR 1. Perlengkapan Kerja Ukir kayu dan Peralatan Kerja Ukir a. Perlengkapan Kerja Ukir Teknologi kerja ukr kayu memerlukan perlengkapan yaitu meja kerja sebagai tempat landasan untuk mengukir dan kursi sebagai tempat duduk untuk kerja supaya mendapatkan kenyamanan dalam kerja ukir, penerangan ruangan, sistem sirkulasi udara (ventilasi ruangan), ruangan harus memadahi sehinga dengan kelengkapan tersebut diatas akan didapatkan situasi kerja yang nyaman. Gb 1. Meja dan kursi kerja Ukir b. Peralatan Kerja Ukir Kayu Alat pokok kerja ukir kayu adalah seperangkat pahat ukir yang terdiri: 20 bilah pahat bentuk penguku 10 bilah pahat bentuk penyilat 1-3 bilah pahat bentuk pengot 5-10 bilah pahat bentuk kol 3-5 bilah pahat bentuk V (ve/pahat coret) Proses Pembuatan Pahat Ukir secara Tradisional: Pembuatan alat ukir berupa seperangkat pahat melalui penyediaan bahan pokok besi baja yang bagus.Ada dua jenis bahan besi baja yang biasa dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan pahat ukir yaitu : besi baja batangan dan besi baja bekas gergaji ( band saw dan gergaji sirkel/circular saw) dari dua jenis bahan itu tentu saja akan didapatkan produk alat ukir yang berbeda pula, baik dari ketajaman mata pahat maupun bentuk permukaan / tekstur bilah pahat. Hal ini sangat dominan sekali karena berbeda bahan.Kalau pahat ukir yang terbuat dari bahan baku dari bahan baku besi bekas kereta,kualitas permukaan bilah pahat akan terasa halus,padat dan rata. Ini dikarenakan teknik gerenda dan 298
  • 335. pemadatan cukup matang. Tetapi kelemahan dari pahat ukir ini tidak sempurnanya tingkat penyepuhan besi ketika dalam proses tempa.Sedangkan pahat ukir yang terbuat dari lempengan bilah gergaji bekas band saw,tingkat ketajaman mata ukir sangat tajam. Kelemahan dari pahat ukir ini ketebalan pahat yang sangat minimum,karena dari bahan yang sudah tersedia tipis dan cenderung tidak bisa ditebalkan. Adapun tahapan pembuatannya adalah sebagai berikut : a) Proses perapian bahan pahat untuk melunakkan bahan besi baja b) Proses pembentukan awal untuk mencapai ketebalan bahan yang dikehendaki c) Proses pembentukkan akhir dan menghaluskan pahat ukir. Gb 2. Proses melunakkan besi baja Gb 3. Proses pembentukan awal Gb 4. Proses pembentukan akhir/menghaluskan permukaan pahat 299
  • 336. Gb 5. Peralatan dan mal untuk pembuatan pahat Gb 6. Hasil akhir produksi pahat ukir dalam 1 set Gb 7. Pahat Penguku Gb 7. Pahat Penyilat Alat Bantu dalam Kerja Ukir terdiri: Pensil/spidol, alat pengukur/meteran,sikat ijuk, siku, ketam, alat potong/gergaji mesin/manual,kertas pola, mesin bor, mesin skrol/jigsaw, klem,dll. Mesin Skrol saw Mesin ini sangat penting dalam kerja ukir terutama saat kita mengerjakan ukiran yang berlobang. Mesin ini sangat banyak digunakan di SMK-SMK Seni dan Budaya terutam pada Program Keahlian Kriya Kayu, pada industri mebel dan ukiran. Mesin jenis tersebut jenis mesin buatan pabrik yang memiliki keterbatasan ukuran papan kerja maksimal 50 cm persegi. 300
  • 337. Sedangkan diperusahaan-perusahaan mebel di Jepara umumnya menggunakan mesin skrol (dikenal dengan nama mesin bobok/pelobang) rakitan sendiri yang mampu melobang pada papan kerja dengan ukuran lebih dari 1 meter persegi. Mesin Jigsaw Jig saw juga bisa digunakan untuk membantu kerja ukir terutama untuk membuat lobang yang besar-besar dan juga apa bila ukuran benda yang diukir cukup besar dan tidak dapat dijangkau dengan mesin skrol saw. Gb. 8 Mesin Skrol dan jigsaw Mesin Bor Mesin bor juga sangat penting untuk membantu kerja ukir manakala kita mengukir dengan teknik kerawangan atau juga membantu membuat lobang sebelum benda kerja di skrol. Ada dua jenis mesin bor yakni mesin bor duduk dan portabel Gb 9. Bench drill Gb 10. Portable drill Klem Meja Klem meja biasa dikenal berbentuk huruf F dan G, dalam proses ukiran kayu klem merupakan alat bantu yang sangat penting. Disamping berfungsi untuk memegang benda kerja tidak bergerak kesana-kemari juga agar posisi kayu flet dengan meja kerja sehingga dapat terhindar kerusakan benda kerja 301
  • 338. Palu kayu Palu kayu merupakan alat yang penting dalam kerja ukiran kayu. Ada 2 macam palu: terbuat dari bahan kayu dan dari bahan karet. Dua jenis tersebut dapa digunaka digunakan tetapi lebih senang bila menggunakan palu kayu, karana lebih lembut dan kenyal. Gb 11. Klem F dan G Gb 12. Pukul kayu Sikat Ijuk Dalam kerja ukiran diperlukan pula sikat ijuk yang berfungsi untuk membersihkan kotoran kayu pada ukiran yang telah selesai di ukir. Peralatan kerja bangku Peralatan kerja bangku juga diperlukan dalam kerja ukir, antara lain: gergaji potong, ketam, rol meter, try square, pensil, dll Gb 13. Sikat ijuk Gb.13. Alat kerja bangku/manual 302
  • 339. 2. Penggunan alat dengan benar Pengertian penggunaan alat dengan benar di dalam teknik kerja ukir kayu yang terpenting adalah pertama cara penggunaan (cara memegang pahat dan penerapannya), kedua memastikan bahwa setiap pahat yang akan digunakan selalu dalam kondisi tajam. Kedua hal tersebut sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap efektivitas, kualitas hasil pahatan, dan kecepatan dalam memperoleh hasil ukiran. Berikut ini dijelaskan jenis, bentuk dan cara penggunaan dari masing-masing jenis pahat, antara lain sebagai berikut: a. Pahat Penguku Pahat penguku dalam satu 1 set pahat ukir berjumlah 20 bilah Ukuran lebar pahat dimulai dari paling kecil 1,5 mm sampai dengan 40mm. Panjang pahat 220-250 mm, tebal kurang lebih 1,5 mm. Fungsi pahat penguku digunakan untuk membuat ukiran bentuk lengkung, melingkar, membuat bentuk cembung, cekung, ikal, dan pecahan/cawenan b. Gb 14. Pahat penguku 20 bilah Gb. 15. Detail bentuk pahat penguku Gb 16. Cara menggunakan pahat penguku 303
  • 340. b. Pahat Penyilat Pahat penyilat dalam satu set pahat ukir berjumlah 10 bilah Ukuran lebar dimulai dari paling kecil 1 mm sampai dengan 40mm panjang 220-250 mm, tebal kurang lebih 1,5 mm Fungsi pahat penyilat untuk membuat pahatan/ukiran bentuk garis lurus dan bentuk cembung lurus dan cekung/dasaran/lemahan. Gb. 17 Pahat penyilat Gb 18. Detail bentuk pahat penyilat Gb 19. Cara menggunakan pahat penyilat c. Pahat Pengot Pahat pengot dalam 1 set pahat ukir berjumlah 1- 3 bilah Bentuk mata pahat miring menyudut,ukuranyang biasa dipakai antara 4 mm sampai dengan 10 mm, panjang 220-250 mm, tebal kurang lebih 1,5 mm. Fungs pahat pengot digunakan untuk membersihkan sudut/ sela-sela dasaran ukiran yang sulit dijangkau dengan pahat perata/penyilat 304
  • 341. Gb 20. Pahat bentuk pengot d. Pahat Kol Pahat kol dalam 1 set pahat sebanyak 5 -10 bilah Ukurannya dimulai dari paling kecil 5 mm sampai dengan 45 mm, panjang 220-250 mm, tebal kurang lebih 0,75 mm. Fungsi pahat kol untuk membuat pahatan/ukiran bentuk cekung yang dalam seperti alur lengkung, juga biasa untuk membuat hiasan texture untuk karya seni. Pahat ini juga digunakan untuk mengerjakan bagian-bagian cekung yang tidak dapat dikerjakan dengan pahat penguku. Gb 21. Pahat kol Gb 22. detail bentuk pahat kol e. Pahat Coret Pahat coret dalam 1 set pahat ukir berjumlah 1 – 3 bilah Ukuran lebar dimulai dari yang paling kecil 3 mm sampaii dengan 1,5 cm. Fungsi pahat coret untuk membuat pahatan/ukiran isian/hiasan daun atau bunga, dan texture untuk karya seni. 305
  • 342. Gb 23. Pahat pengot f. Cara merawat dan Menajamkan/mengasah pahat Batu asah Dalam kerja ukir pahat harus selalu dirawat/dijaga selalu dalam keadaan siap pakai/tajam. Cara menajamkan pahat biasanya menggunakan batu asahan. Batu asahan dipasaran ada dua jenis, yaitu batu asahan yang diproduksi oleh pabrik dan perusahaan tradisional. Batu asahan yang diproduksi oleh pabrik ini biasanya disebut batu asah minyak, batu asah ini pada waktu dipakai menggunakan minyak pelumas/olie. Sedangkan batu asahan tradisional menggunakan air. Batu asahan minyak biasanya ada dua permukaan yang berbeda; satu permukaan kasar dan satu permukaan halus. Fungsi permukaan yang kasar biasanya digunakan untuk memperbaiki apabila permukaan mata pahatnya rusak akibat misalnya jatuh dari meja kerja atau rusak karena kesalahan teknis. Sedangkan permukaan yang halus biasanya digunakan untuk menajamkan pahat ukir terutama pahat penyilat/pahat mata lurus. Batu asah gunung memiliki dua permukaan yang sama yaitu halus saja atau kasar saja. Batu asah ini khusus untuk menajamkan, baik pahat lurus dan lengkung. Gb 24. Batu asah minyak Gb 25.Batu asah air 306
  • 343. Cara menajamkan pahat ukir Pahat Penguku Diasah pada sisi sudut batu asah, dimulai dari pahat yang ukuran terkecil, sampai pada mata pahat yang terbesar. Apabila pengasahan tidak sesuai dengan sisi sudut batu asah maka mata pahat kuku ini dapat berubah bentuknya seperti cekung bagian tengah mata pahat. Gb 26. Cara mengasah pahat penguku Gb 27. Cara mengasah pahat bagian dalam mata pahat penguku bagian luar Pahat Penyilat/Mata lurus Diasah pada permukaan batu asah yang datar, dimulai dari pahat yang terbesar n sampai pada mata pahat yang terkecil. Jadi urutannya kebalikan dengan cara mengasah pakat penguku. Gb 28. Cara mengasah pahat penyilat Gb 29. Cara mengasah pahat bagian dalam mata pahat penyilat bagian luar Perawatan Pahat Ukir Selain menjaga pahat ukir selalu dalam kondisi tajam, pahat ukir perlu dirawat antara lain dengan membersihkan setiap bilah pahat dengan kain setiap selesai digunakan, dan untuk menjada bilah pahat terhindar dari karatan setiap bilah pahat dilap dengan kain yang dibasahi degan olie. 307
  • 344. 3. Keselamatan Kerja Perlengkapan dan manfaat kesehatan dan keselamatan kerja dalam kerja ukir antara lain terdiri: Pakaian kerja, melindungi dan mengindari kotoran kayu pada masa kerja ukir. Sepatu kerja, pada masa kerja ukir kayu harus memakai sepatu agar terhindar kecelakaan/terkena pahat yang jatuh dari meja kerja. Kaos tangan, diperlukan pada waktu kita sedang mengasah pahat dan merawat pahat agar tangan kita tidak terluka dan kotor. Masker, diguna pada waktu kita sedang membersihkan ukiran, pengamplasan dan finishing. 4. Latihan/Praktek Kerja Ukir Kayu a. Mengenal Ragam hias diterapkan dalam ukiran kayu di Indonesia Sebelum melaksanakan latihan teknik kerja ukir kayu perlu kiranya kita mengenal ragam hias yang berkembang dan diterapkan pada ukiran kayu di Indonesia antara lain sebagai berikut: Motif Pejajaran berasal dari ukiran kayu yang terdapat pada makam Sunan Gunung Jati, motif Majapahit berasal dari tiang pendopo Mesjid Demak, motif Bali banyak ditemui di pintu- pintu Pura Bali, motif Mataram diambil dari ornamen wayang purwa kerajaan Demak. Motif Jepara hasil dari ornamen di makam Mantingan Jepara, motif Madura yang terkenal dengan sifatnya yang khas berasal dari keraton keraton Sumenep, motif Pekalongan dikenal memiliki bentuk yang hampir mirip dengan dengan motif Pejajaran dan Mataram. Motif Surakarta bermula dari keraton Surakarta dan motif Yogyakarta juga berasal dari keraton Yogyakarta. Berikut ini disajikan gambar motif dan uraian dari bagianbagian motif klasik tradisional yang berkembang pada zaman islam di Jawa yang telah yang mencapai puncak kejayaan pada zaman kerajaan-kerajaan besar di Jawa dan sekitarna, antara lain sebagai berikut: 308
  • 345. Ragam Hias Pejajaran Ragam Hias Pejajaran berbentuk ukel dari daun pakis dan bentuknya serba bulat. Bentuk ukel seperti tanda koma, Angkupnya berbentuk bulat juga. Ujung ukel berbentuk patran miring. Ragam Hias Pejajaran ini dapat kita lihat di Makam Sunan Gungung Jati, pada suatu bangsal dari kayu berukir. Menurut sejarah, semula adalah bangsal Taruma Negara dari Kerajaan Prabu Siliwangi. Makam tersebut terletak di dekat sungai Citarum di daerah Cirebon. Ragam Pejajaran diketemukan oleh Dinas Purbakala. Pokok dan Dasar Motif Pejajaran:Bagian Pokok: Cembung,semua daun atau bunga besar maupun kecil, dibuat cembung (bulat). Gb 30. Motif Pejajaran Angkup: Mempunyai beberapa angkup antara lain angkup besar, angkup tanggung, angkup kecil. Culo: Ialah unsure yang penting untuk mengetahui bahwa itulah motif Pejajaran. Lain dari pada itu tanda culo, berbentuk cembung. Motif Pejajaran besar maupun tanggung dan kecil ada culonya. Endong: Ialah sehelai daun yang selalu digendong oleh daun- daun pokok (daun yang besar) atau suatu trubusan yang selalu tumbuh di belakang daun pokok. Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuhnya pada daun besar atau daun pokok yang berdampingan dengan tangkai angkup. Benangan: Yaitu gagang yang terletak di bagian muka ulir atau daun melingkar menuju ulir atau hiasan yang berwujud seperti benang di bagian sehelai daun. Bentuk ini menambah manis dan cantiknya motif tersebut. Pecahan: Ialah garis penghias daun; bentuk pecahan ini diselaraskan dengan motif tersebut. 309
  • 346. Ragam Hias Majapahit Ragam Hias Majapahit berbentuk bulatan dan krawingan (cekung) dan terdiri dari ujung ukel dan daun- daun waru maupun pakis. Dalam raga mini patran (daun) diwujudkan krawing (cekung). Bentuk Ragam Hias Majapahit untuk ragam pokok berbentuk seperti tanda Tanya. Ragam-ragam ini terdapat pada bekas-bekas potongan batu yang hanya sedikit, dan pada potongan kayu yang sudah rusak. Ragam Majapahit diketemukan oleh Ir. H. Maclaine Pont, seorang pejabat pada Museum Trowulan dan juga dapat dilihat pada tiang Pendopo Masjid Demak. Gb 31. Motif Majapahit Menurut sejarah tiang tersebut merupakan benda peninggalan kerajaan Majapahit yang dibawa oleh R. patah. Pokok dan dasar Motif Majapahit BagianPokok: Campuran cekung dan cembung, memang daun ini merupakan campuran yang sesuai untuk menambah baiknya motif tersebut. Angkup: Ragam ini mempunyai dua angkup, yang berbentuk cembung dan cekung memakai ulir menelungkup pada sehelai daun pokok. Jambul: Ragam ini mempunyai jambul susun dan jambul satu. Ini suatu t anda untuk daun-daun pokok atau daun lainnya. Jambul yang satu untuk daun yang tanggung. Adapun daun kecil tidak memerlukan jambul. Jambul ini diletakkan di muka bagian atas ulir pada penghabisan ulir angkup. 310
  • 347. Trubusan: (daun semi) ialah sehelai daun yang terletak di atas angkup atau daun besar berebentuk bulat atau cekung (krawing), baik daun tanggung maupun daun kecil. Benangan: Sama dengan motif Pejajaran, hanya bedanya jika motif Majapahit mempunyai benangan rangkap. Benangan rangkap ini dipakai pada daun yang besar dan benangan satu pada daun yang tanggung. Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuh pada daun besar atau pokok daun pada bagian bawah, berdampingan dengan tangkai angkup. Pecahan: Sama dengan pada motif Pejajaran Ragam Hias Bali Ragam Hias Bali hampir sama dengan Ragam Hias Pejajaran. Bedanya terletak pada ujung ukel dihiasi dengan sehelai patran. Jadi ukel besar kecil, bulat cekung, pecahan, ada pula daun yang runcing. Ragam Hias bali oleh orang Bali dinamakan Patre Punggel. Ragam ini dapat dilihat di pura sebagai hiasan pintu masuk. Juga di kota- kota besar yang sudah banyak didapatkan patung-patung Bali Klasik. Pokok dan Dasar Motif Bali Bagian Pokok: Campuran cekung dan cembung serta campuran daun ini. Daun yang besar atau tanggung, sehingga bentuk daun dapat dimengerti jika daun inilah motif Bali. Gb 32. Motif Bali Pokok Daun: Sehelai daun yang tumbuh di tengah-tengah daun yang lain dan tertutup oleh angkup. Batas dan garis pokok berimpitan dengan ulir muka (benangan) dan masuk pada angkupnya. Angkup: Sehelai daun yang menutup daun pokok dari pangkal hingga sampai pada ujungnya dan pada ujung daun berulir. 311
  • 348. Benangan: Berbentuk cekung melingkar di bagian muka ulir dan tidak berimpitan dengan garis-garis yang lain dan ujungnya berulir. Sunggar: Sehelai daun yang tumbuh membalik di muka berbentuk krawingan, yang pokoknya tumbuh dari ulir bagian benang. Endong: Sehelai daun yang selalu tumbuh di belakang (punggung) daun pokok, yang berbentuk cempalukan berulir atau daun punggel. Trubusan: (daun semi) sehelai daun tambahan yang tumbuh di bagian ujung atau atas daun pokok, menambah indahnya daun itu. Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuh pada daun besar atau daun pokok di bagian bawah berdampingan tangkai angkup. Pecahan: Suatu cawenan yang memisahkan daun pokok, terletk ditengah-tengah daun itu, menambah baiknya dari suatu motif Bali. Ragam Hias Mataram Motif Mataram ini jika ditinjau dari gambar ukir, berasal dari pakaian wayang purwa. Bentuknya mirip bentuk cawenan-cawenan pakaian wayang. Dapat disimpulkan, ukiran motif Mataram mengambil motif ukiran wayang purwa Kerajaan Demak. Sebab, menurut sejarah, pada waktu kerajaan Demak mengalami masa surut, wayang dibawa pula ke Kerajaan Mataram. Dalam pelaksanaannya, motif Mataram berbentuk krawingan. Pokok dan Dasar Motif Mataram: Pokok: Berbentuk krawingan atau cekung, bagian muka Gb 33. Motif Mataran 312
  • 349. dan atas memakai ulir atau polos dan ada pula daun yang menelungkup. Daun-daun motif Mataram ini sifatnya menyerupai daun alam (bentuk digubah) dan cara hidupnya bergerombolan, sehingga menggambarkan kesatuan atau menuju kesatu titik (memusat). Benangan: Yang mempunyai bentuk benangan timbul dan cawen melingkar menuju ulir muka. Trubusan: Yang mempunyai bentuk sehelai daun kagok, bengkok tumbuh di bagian muka benangan dan berhenti di bawah ulir. Pecahan: Ialah suatu pecahan yang bentuknya menyobek sehelai daun memakai irama berbelok-belok, sehingga menambah baiknya masing-masing daun. Ragam Hias Jepara Ragam Hias Jepara dikembangkan oleh penduduk Jepara, untuk perhiasan rumah tangga di daerah itu sendiri. Juga diperdagangkan ke Luar Negeri. Ragam Hias tersebut dari ukiran kayu; misalnya alat- alat rumah tangga, berupa: peti untuk penyimpan barang- barang perhiasan, kursi tamu, almari, buffet, toilet, dan lain- lainnya. Untuk keperluan rumah tangga misalnya; gebyok yakni dinding antara serambi rumah dengan ruang peringgitan (ruang muka) yang sering terdapat di sekitar daerah Jepara dan kudus. Gb 34. Motif Jepara Peninggalan pertama yang masih dapat kita lihat yaitu hiasan ornamen yang ada di Makam Mantingan Jepara. Pokok dan Dasar Motif Jepara Pokok: Dari motif ini garis besarnya berbentuk prisma segi tiga yang melingkar-lingkar dan dari penghabisan l ingkaran berpecah- pecah menjadi beberapa helai daun, menuju ke lingkaran gagang atau pokok dan bercawenan seirama dengan ragam tersebut. 313
  • 350. Buah: Ialah di bagian sudut pertemuan lingkaran, berbentuk bulatan kecil- kecil bersusun seperti buah wuni. Pecahan: Ialah cawenan yang berbentuk sinar dari sehelai daun Lemahan: Ialah dasar, dalam prakteknya tidak begitu dalam ada juga yang di krawang atau tembus. Ragam Hias Madura Motif Madura mempunyai corak tersendiri, bentuk daunnya agak kaku, biasanya untuk perhiasan kamar. Ragam ini diujudkan berlapis (bersusun), daun yang ada di sebelah muka terpisah dengan daun di belakang, tetapi merupakan satu rangkaian. Motif Madura diciptakan oleh para ahli seni di daerah itu sendiri tidak mencontoh motif dari daerah lain. Motif tersebut tidak diperdagangkan seperti ukiran dari daerah Jepara yang merupakan sumber penghidupan rakyat setempat. Akan tetapi juga kita dapat melihat motif ukiran Madura itu Gb 35. Motif Madura di gedung Museum Pusat (museum Gajah) Jakarta. Sebagai contoh diberikan perhiasan melengkung di atas sebuah pintu yang pada waktu itu dipersembahkan penduduk kepada Gubernur Jenderal De Greaff dan sesudah beliau kembali ke Negeri Belanda, barang tersebut dipasang pada salah sebuah pintu di museum Pokok dan Dasar Motif Madura Pokok: Raga mini mengubah patran yang diselingi dengan isian(isen-I seni) bunga, buah, daunnya melengkung membentuk tanda Tanya dan bentuk daunnya cekung (krawing). Pecahan: Tiga baris panjang pendek dari benangan menuju ujung daun motif. Benangan: Timbul dari pangkal daun menuju ke ulir daun tersebut. 314
  • 351. Ragam Hias Cirebon Di kota Cirebon dan sekitarnya terdapat seni ukir kayu yang mempunyai gaya tersendiri. Pada dasarnya ragam hias tersebut dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu ragam hias awan, bukit batu karang dan motif tumbuh- tumbuhan. Masing-masing mempunyai cirri khas yang menunjukkan perbedaan antara yang satu dengan lainnya. Ragam Hias awan dapat diketahui, dengan adanya garis sudut-menyudut yang terpajang dari pilin berupa belah ketupat yang letaknya mendatar. Pada rangkaian belah ketupat tidak terdapat rangkaian tanaman, dan dapat juga Gb 36. Motif Cirebon diketahui dari cara meletakkannya. Ragam Hias batu karang dapat diketahui dengan adanya batu karang yang menjalar pada pilin- pilin seperti belah ketupat yang berantai, bagian pinggir bergelombang dan sudutnya dibulatkan. Garis sudut menyudut yang terpajang dari belah ketupat berdiri tegak. Adapun Ragam Hias Cirebon yang bentuknya merupakan gubahan bentuk tumbuh-tumbuhan mempunyai bentuk hamper sama dengan ragam hias Pejajaran. Begitu pula bentuk timbul cekungnya menunjukkan perbedaan yang jelas sekali. Gambar orang dan binatang menurut ragam gias Cirebon sering dilukiskan dalam bentuk ragam hias tanaman. Hal ini dilakukan berhubung dengan adanya larangan dalam agama Islam untuk melukiskan manusia dan binatang. Selain ragam Cirebon yang diwujudkan dalam bentuk sulur- suluran kembang bakung, banyak juga ragam hias lain dalam bentuk Pohon Hayat yang mempunyai arti simbolik, bahwa: Pembagian dunia itu serba dua yang menyatakan dunia atas (burung enggang), dunia bawah (ulur), serta keesaan Tuhan digambarkan dengan pohon Hayat. 315
  • 352. Pokok dan Dasar Motif Cirebon Pokok: Raga mini mirip dengan ragam Pejajaran yang berbentuk cembung bercampur cekung(bulat dan krawing), merupakan komposisi besar kecil yang berbuah dan berbunga. Angkup: Menelungkup pada bagian daun pokok melingkari ragam pokok. Ragam Hias Pekalongan Motif Pekalongan termasuk seni ukir yang tidak kalah dengan motif yang lain dan mempunai corak tersendiri, juga mempunyai bunga dan buah seperti bakung. Ukiran ini kurang dikenal, sebab tidak dikembangkan atau tidak diperdagangkan penduduk setempat,hanya dipergunakan untuk perhiasan rumah tangga. Karena Pekalongan terkenal dengan batiknya, maka batik inilah yang dikembangkan oleh penduduk di kota tersebut. Gb 37. Motif Pekalongan Pokok dan dasar MotPekalongan Pokok : Dasar motif pekalonganmirip Pajajaran yang berbentuk cembung dan dan cekung. Angkup : tumbuh melingkari ragam pokok dengan angkup yang bersusun. Benangan : berbentuk timbul menghubungkan ulir yang satu dengan yang lain, sama dengan ragam mataram. Pecahan, hanya terdapat pada lingkaran besar dan daun-daun. 316
  • 353. Ragam Hias Surakarta Ragam hias Surakarta mengambil gubahan patrari dan ukel pakis yang sedang menjalar dengan bebas, berbentuk cembung dan cekung, yang dilengkapi dengan buah dan bunga. Hasil seni merupakan gaya pembawaan danwatak penciptaan pengaruh alam sekitarnya. Pada umumnya penduduk Surakarta gemar akan gerak irama yang bebas namun tetap memenuhi syarat komposisi. Gb 17. Motif Surakarta Seolah-olah ada keseragaman hidup masyarakat Surakarta dengan aliran Benagawan Solo. Ragam hias ini masih banyak terdapat di sekitar keraton Solo, di Museum Radya Pustaka, dan di tebeng Langse Makam Pujangga Ronggo Warsito di desa Palar Klaten, diambil juga gubahan daun bakung dan kangkung. Pokok dan dasar motif Surakarta: Pokok : dasar motif Surakarta mirip motif campuran antara ragam hias Jepara dan Pekalongan yang berbentuk cembung dan cekung serta runcing dan bulat. Angkup : digubah dari daun pakis yang berbentuk sesuai dengan angkup ragam hias Bali. Benangan dan pecahan : membentuk garis yang pada ujung melingkar . 317
  • 354. Ragam Hias Yogyakarta Ragam hias Yogyakarta mengambil gubahan sulur-sulur yang berbentuk pilin tegar.Sulur bunga sebetulnya akar gantung, melilit menyerupai tali yang bergelombang. Pada jarak- jarak yang tertentu ada buku- buku dari sinilah selalu tumbuh keluar tangkai daun, yang berbentuk seperti pilin. Pilin-pilin ini mengikalke kanan dan kekiri berganti-ganti. Pada ujung tiap-tiap tangkai daun, ada buah dan bunganya. Daun- daun yang menempel pada tangkainya, mengikal berlawanan arah. Penjelasan ini diberikan oleh Dr. Brandes. Ragam hias tersebut banyak digunakan pada hiasan-hiasan alumunium, perak, emas dari barang-barang Gb 38. Motif Yogyakarta kerajinan yang dihasilkan oleh penduduk Yogyakarta misalnya : alat-alat sendok, asbak, cerana, gong, bejana kerangka atau sarung keris dan lain-lain. Pokok dan Dasar Motif Yogyakarta Pokok : diambil dari gubahan sulur yang berbentuk pilin yang tegar, bertangkai bulat Daun : berbentuk mengikal berlawanan, krawing, bulat yang mempunyai tepi membalik ke atas sebagian sehingga tampak timbul. Pecahan : terdapat pada tangkai dan daun Angkup : seringkali terdapat pada tangkai sulur yang searah dengan tegarnya tangkai, yang merupakan daun pula. 318
  • 355. Diantara motif-motif yang berasal dari luar Jawa banyak yang berasal dari ukiran bambu misalnya suku Dayak di Kalimantan dan Toraja di Sulaweasi selatan. Begitu juga ukiran yang bercorak magis dari Irian, Batak dan seluruh wilayah dataran Sumatera seperti Minangkabau dan merupakan pemunculan dalam rumpun Melayu G b . Gb 39. Dua orang sedang mengukir dengan teknik raut dalam pembuatan handle mandao Gb 40. Motif Kalimantan. 319
  • 356. Gb 41. Ukiran Kayu Batak (bentuk topeng) Gb 42. Motif Irian Gb 43. Motif Toraja Disamping ragam hias tradisonal Indonesia yang telah diuraiakan tersebut diatas. Di Indonesia juga berkembang motif-motif dari manca negara terutama pada sentra-sentra industri mebel di Indonesia seperti di Jepara, Klaten, Serenan, Yogyakarta, Bali dll, Motif-motif tersebut terutama motif-motif eropa diaplikasikan sebagai unsur hias pada produk-produk mebel, hiasan maupun, seperti contoh dibawah ini 320
  • 357. Gb 44. Motif Eropa yang banyak diterapkan di Indonesia G b . 4 5 B e b a r a p a 321
  • 358. Gb 45. Contoh motif Eropa yang banyak dipakai di industri mebel di Indonesia Gb 46. Contoh Penerapan Motif Eropa pada Zaman Baroque Gb. 47. Produk mebel ukiran dengan motif eropa yang diproduksi dan diperdagangkan di Jepara 322
  • 359. b. Jenis Ukiran Jenis Ukiran dapat dikategorikan menjadi 3 tingkatan. Hal ini berdasarkan tinjauan dari segi teknik penggarapan ukiran itu sendiri yaitu : 1. Ukiran Datar 2. Ukiran Dalam/Tinggi 3. Ukiran Krawang/Tembus Ukiran Datar adalah ukiran yang teknik pengerjaannya tidak mementingkan tingkat penonjolan dimensi gambar tetapi lebih mengarah pada goresan garis garis gambar atau pola diatas permukaan bidang ukiran, sehingga terkesan bentuknya masih datar /rata dengan permukaan . Ukiran Tinggi/dalam adalah teknik ukir bentuk ukirannya sangat menonjol sehingga hasil ukiran terlihat berdiri sendiri karena perbedaan kedalaman dasaran/lemahan, Apabila dasaran/ lemahan bidang ukiran dihilangkan dan menjadi tembus/ kerawang maka biasanya disebut ukiran kerawang/tembus. Ukiran Tembus/krawangan adalah teknik ukir yang bagian dasaran/lemahan dilobang dengan gergaji skrol. Gb. 48 Ukiran datar Gb. 49 Ukiran Tinggi/Dalam Gb. 50 Ukiran tempel 323
  • 360. Gb. 51 Ukiran Tembus/ Krawangan c. Proses Teknik Ukir Kayu Pada umumnya proses mengukir kayu terbagi dalam 5 tahapan yaitu: Tahap Getaki,Grabahi, Matut, Nbenangi/mecahi,Nglemahi, tetapi sebelum proses mengukir dimulai akan didahului proses persiapan yaitu menyiapkan pola, menempel pola, kemudian dilanjutkan dengan proses mengukir, sebagai berikut: Gb 52. Proses menempelkan pola ukiran pada papan 1. Nggetaki: ialah membuat pahatan pada permukaan papan ukiran sehingga gambar atau pola dalam kertas berpindal menjadi goresan/pahatan garis pada papan. Gb 53. Proses Nggetaki 324
  • 361. 2. Nggabahi/Globali ialah membentuk secara kasar dari masing-masing bagian motif, sekaligus membuang bidang bidang yang nantinya menjadi dasaran ukiran biasa disebut lemahan. Gb. 54 Proses nggrabahi 3. Matut : ialah membuat bentuk ukiran yang telah terbentuk secara kasar tadi menjadi lebih halus dan sempurna sehingga bentuk lebih tajam dan permukaan bentuk ukiran menjadi halus. Gb 55. Proses menghaluskan bentuk ukiran/matut 4. Mbenangi dan Mecahi : ialah membuat garis hiasan pada bagian motif sesuai desain. Sehingga bentuk ukiran/motif akan tampak lebih dinamis.Proses mecahi dapat menggunakan 2 jenis pahat bia menggunanakan pahat penguku atau penyilat atau pahat coret. . Gb. 56 Proses mengukir tahap nbenangi/mecahi 325
  • 362. 5. Nglemahi : ialah menyempurnakan dasaran ukiran menjadi lebih halus, bersih dan rapi. Gb 57. Proses membuat dasaran/lemahi Gb 58. Produk ukiran telah selesai dan siap difinishing d. Evaluasi a. Persiapan. Secara garis besar persiapan kerja ukir kayu dapat dimulai dari adanya rancangan pola atau ornamen yang akan diukir diatas permukaan kayu . Kemudian dilanjutkan dengan persiapan bahan kayu itu sendiri, misalnya menggunakan kayu jati, mahoni, mindi, sono keling, pelem, durian, nangka, akasia, dan jenis-jenis kayu dari Kalimantan seperti kruwing, bengkirai, kanfer, meranti, dan lain-lain yang cenderung agak keras dalam pengukiran. Namun demikian dalam kebutuhan perabotan tertentu, kayu-kayu tersebut masih dipergunakan untuk kelengkapan bangunan rumah tinggal yang berukir. Meja, alat ukir(pahat ukir), palu kayu(ganden) dan tanggem serta kelengkapan-kelengkapan alat mengukir kayuuntuk perbaikan pahat seperti batu asah, gerinda, sangatlah membantu yang harus tersedia di sekitar tempat kerja kita dalam mengukir kayu. Karena tanpa alat pelengkap seperti ini sistem keja ukir khususnya dalam pemeliharaan alat dan hasil ukiran tidak mencapai ketinggian. 326
  • 363. b. Proses Memasuki proses dari ukir kayu adalah tahapan basic yang sangat penting untuk dikonsentrasikan karena tanpa teknik dan daya akal seorang pengukir hasil dan kecepatan tidak terpenuhi. Dimulai dengan menempel pola/ragam hias pada permukaan kayu, lau tahapan demi tahapan seperti : ngerancap atau nggetaki, nggerabahi, matut, mbenangi, dan mecahi serta nglemahi merupakan proses yang wajib dilalui seorang pengukir. Bagi pengukir yang sudah ahli langkah- langkah tersebut bisa dimodifikasi sehingga selangkah lebih cepat dan hasil yang bagus misalnya ketika seorang pengukir masih dalam proses nggerabahi(membentuk hiasan secara kasar)mereka sudah langsung membentuk secara halus sehingga seorang pengukir telah melalui tahapan matut(yaitu membentuk secara halus). Itu semua tinggal kreasi seseorang untuk memakai daya dan kekuatan kreasinya menuju hasil yang diinginkan sesuai target. Langkah tersebut di atas tidaklah salah dan juga tidak dianggap benar, bila langkah tersebut didemonstrasikan untuk mengajar tentang teknjk mengukir kayu. Bagi pemula sebaiknya mengikuti langkah-langkah atau tahapan-tahapan yang telah dipedomankan oleh para ahli pendahulu. Biasanya proses pengukiran suatu hiasan kayu baik itu diterapkan di dalam mebel ataupun hiasan pasif diakhiri dengan seorang pengukir mengamplasnya sehingga nampak lebih halus. Ada juga hal lain yang muncul ketika seorang pengukir hiasan kaligrafi huruf arab, sentuhan akhir pahat ukir dibiarkan begitu saja tanpa ada olesan krtas anplas. Ini bertujuan agar originalitas pahatan atau pengukiran ditonjolkan karena kekuatan teknik dan ketajaman alat ukir yang dipakai, sehingga memperoleh respek tersendiri oleh konsumen atau pemakai. Tetapi ketika memasuki tahap finishing dengan lapisan politur, semua permukaan ukiran kayu harus melewati proses penghalusan permukaan dengan kertas amplas atau lebih dikenal dengan nama proses sanding. Selanjutnya ukiran yang sudah diamplas memasuki proses palapisan tahap akhir/finishing yaitu bisa dengan: politur serlak, politur melamin, cat sungging, warna antik dan pelapisan-pelapisan yang lain sesuai kebutuhan pemakai. Ada pula yang natural begitu saja tanpa pelapisan sehingga dengan berjalannya waktu permukaan ukiran akan berubah dengan sendirinya dan memberikan nuansa yang alami yang disebabkan oleh kondisi cuaca yang menerpanya. 327
  • 364. c. Hasil Seperti telah disinggung di atas bahwa hasil ukiran kayu sangat dipengaruhi oleh seorang pengukirnya. Apabila seorang pengukir yang masih pemula biasanya terlihat dari ketidakrapian di bagian-bagian yang gukup rumit misalnya di sudut lemahan di dasar ukiiran, di bagian benangan dan cawenan serta ketepatan bentuk cekung dan cembungnya. Jadi hasil ukiran kayu yang dapat kita lihat sekaligus kita bisa memprediksi keahlian seorang pengukirnya. Ketajaman garis, dan kelurusan kedalaman suatu permukaan akan terasa bila kita telah melihat tanpa adanya goresan-goresan kasar. Seorang pengukir yang sudah dalam kategori ahli(expert) segala bentuk, keluwesan dan kebersihan permukaan lemahan menjadi ukuran keberhasilan dalam pengukiran kayu karena kadang-kadang terjadi pengukiran bentuk ornamen atau ragam hiasnya bagus tetapi dalam pelaksanaan lemahan atau dasaran ukiran tidak bersih. Ini termasuk hasil ukiran yang kurang berhasil. Untuk menghasilkan ukiran kayu yang baik dan bermutu tinggi memang diperlukan kekuatan penguasaan teknik ukir dan ketajaman alat setiap saat. Penguasaan teknik tersebut meliputi: teknik pengerjaan yang berhubungan dengan ketepatan/ketajaman bentuk dan kecepatan penyelesaian. Sedangkan ketajaman alat meliputi: penguasaan perbaikan/pemeliharaan alat(maintenance). Apabila seorang pengukir kayu tidak memperhatikan hal yang terakhir ini, besar kemungkinan yang muncul adalah kejenuhan dalam pengerjaan, karena pahat tidak tajam dan banyak yang rusak. Hal ini bisa menimbulkan sistem pengerjaan yang berulang-ulang dan hasil kurang maksimal yang lebih parah lagi secara psikis seorang pengukir menjadi ceoat lelah(losses power) E. Prototyping Ketika sebuah produk dirancang kemudian akan diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, produk tersebut tidak serta merta langsung dibuat secara massal atau ditawarkan kepada konsumen, tetapi produk tersebut harus melalui serangkaian uji agar dapat diketahui kelebihan atau kekurangannya. Dalam suatu proses pengujian, suatu produk akan diuji apakah semua kebutuhan yang diharapkan dari produk tersebut dapat dipenuhi atau tidak. Proses ini diharapkan akan mengurangi kesalahan-kesalahan yang fatal dalam proses perancangan dengan perbaikan yang dilakukan jika dirasa perlu. Semakin hulu perbaikan dilakukan semakin murah biaya yang dikeluarkan, karena proses yang dilakukan masih relatif kecil (terutama di tahap perencanaan konseptual). Jika perbaikan dilakukan pada 328
  • 365. tahap setelah produk diproduksi, maka biaya perbaikan akan besar karena perbaikan dilakukan terhadap produk yang telah dibuat. Sehingga dalam kasus produk telah dipasarkan, maka perusahaan mengalami kerugian yang besar karena harus menaruik produk yang ada untuk diperbaiki di samping social cost yang mesti diterima berupa menurunnya kepercayaan pada perusahaan. Definisi dan Spektrum Pengembangan Prototype Prototype didefinisikan sebagai suatu tiruan dari produk berhubungan dengan satu atau lebih dimensi kepentingan (Ulrich & Eppinger, 1995). Dimensi kepentingan tersebut meliputi fungsi, penampilan, manfaat dan keamanan produk jika telah digunakan oleh konsumen. Menurut National Research Council (Shunk 1992), ada 4 definisi prototyping yaitu: 1. Pembuktian konsep: model eksperimen awal yang dikembangkan untuk memperlihatkan dan menguji produk atau konsep feature baru. 2. Pembuktian produk: bentuk eksak desain dibuat untuk menguji fungsionalitas produk. 3. Pembuktian kemampu-produksian: prototype dibuat untuk menguji integrasi baik rancangan maupun spesifikasi dengan kemampuan proses manufaktur untuk kelayakan produksi masal. 4. Pembuktian produksi: produk jadi digunakan untuk memperkenalkan dan memperbaiki teknik produksi baru untuk menjamin material terpilih dan untuk mengidentifikasi bottleneck produksi. Prototype yang baik adalah prototype yang memenuhi tujuan pembuatan prototype tersebut. Ada beberapa tipe prototype yang dapat dibuat dengan segala keunggulan dan kelemahannya, sehingga untuk memenuhi tujuan pembuatan prototype tersebut harus terlebih dahulu diketahui klasifikasi dari prototype. Prototype dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu berdasarkan alam/sifatnya dan berdasarkan cakupannya. a. Berdasarkan alam/sifatnya Berdasarkan alam/sifatnya prototype dapat dibedakan dalam dua kategori utama, yaitu: - Prototype fisik: merupakan obyek yang tangible yang dapat dilihat dan dipegang. Prototype seperti ini sering ditampilkan langsung kegunaannya di depan konsumen 329
  • 366. agar konsumen menjadi lebih tertarik setelah melihat prototype asli tersebut. - Prototype analitik: merupakan prototype yang bersifat nontangible seperti model matematika, simulasi, 3D video image dan lain-lain. Amat jarang prototype produk ditampilkan seperti prototype analitik ini. Bagi konsumen penjelasan mengenai uraian matematik tidak lebih baik jika produk langsung ditampilkan dalam bentuk fisik yang sebenarnya. b. Berdasarkan pandangannya (cakupan) Berdasarkan pandangannya prototype terbagi atas dua yaitu: - Prototype terfokus: menggambarkan hanya sebagian dari produk, untuk memenuhi kepentingan tertentu. - Prototype komprehensif: menggambarkan seluruh bagian produk, meliputi seluruh fungsi dan feature. Dalam perkembangan perancangan produk kontemporer, Otto & Wood (2001) ada enam kelompok prototype yang sering dilakukan yaitu: 1. Prototype pembuktian konsep, digunakan untuk menjawab kelayakan produk. Fokus pembahasan dalam prototype ini adalah komponen atau subsistem. Kegiatan ini dilakukan setelah pengembangan konsep atau dalam tahapan pemilihan konsep. 2. Prototype rancangan industri, digunakan untuk memperlihatkan tampilan dan kesan dari produk. Biasanya prototype ini menggunakan bahan sederhana seperti foam sehingga dapat digunakan untuk memperlihatkan beberapa variasi dengan proses pembuatan prototype yang cepat. 3. Prototype rancangan percobaan, fokus prototype ini adalah untuk memodelkan suatu subsistem dari suatu produk dalam rangka mencapai target performansi yang ditetapkan. 4. Alpha prototype: prototype yang dibuat untuk melihat komponen dari produk yang diharapkan. Komponen memiliki bentuk geometri dan material yang identik dengan produk yang akan diproduksi, tetapi prototype ini dibuat tidak dengan proses yang sesungguhnya. Prototype ini merupakan sistem konstruksi pertama dari subsistem yang secara individual telah dibuktikan performansinya dalam prototype sebelumnya. Tujuan dari alpha prototype ini adalah untuk melihat apakah produk dapat bekerja seperti yang diharapkan 330
  • 367. 5. Betha prototype: prototype yang dibuat sesuai dengan proses sesungguhnya, tetapi mungkin tidak dirakit dengan proses perakitan sesungguhnya. Tujuannya adalah untuk melihat performance dan reliability dalam rangka untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan yang perlu dilakukan untuk produk akhir. 6. Prototype preproduksi adalah percobaan produksi untuk kapasitas terbatas. Proses Pembuatan Prototipe a. Memola gambar ukiran pada papan Letakkan gambar dan rekatkan dengan lem kertas pada permukaan papan sesuai dengan desain. Gb 59. Pola ukiran Gb 60. Mengoles lem Gb 61. Proses menempelkan pola ukiran b. Proses Pembuatan Prototipe ukiran Gb 61. Proses nggetaki 331
  • 368. Gb 62. Proses membuat dasaran Gb 63. Proses membuat Cekungan pada bagian daun Gb 64 Proses menghaluskan Gb 65. Prototipe ukiran talah selesai c. Kemasan Produk Ukiran Pada dasarnya kemasan produk ukiran tidaklah berbeda dengan kemasan kemasan produk mebel yang lain, seperti misalnya mebel mebel yang terbuat dari plastik, besi dan yang lain. Untuk produk ukiran kemasan mengarah pada pengamanan/proteksi pada bagian itu sendiri.Sehingga bentuk bentuk yang cenderung mudah patah atau Grimpil (bhs Jawa) itu tidak rusak . Bahan dan Alat Biasanya bahan pembungkus mebel adalah kardus/kertas karton (single face dan double face) yang sudah banyak dijual dipasaran. Bahan pembungkus lain yang sering digunakan adalah Foamsheet. Adapun perlengkapan lain yang dibutuhkan adalah isolasi besar, tali rafia besar dan cutter sebagai alat potong. Kertas karton pembungkus di pasaran tersedia dalam bentuk gulungan dan dijualsecara kiloan, begitu juga foamsheet. Foamsheet dipakai untuk pembungkus bagian dalam yang langsung menempel pada permukaan ukiran. 332
  • 369. Pelapisan Akhir Sebelum Dikemas. Sebelum produk ukiran dikemas, ada tahapan penanganan produk khususnya untuk memperhalus adalah pemolesan akhir yaitu melapiskan wax/malam pasta atau biasa disebut waxing.Tujuannya adalah produk ukiran dapat secara maksimal terlindungi dari klengketan kertas pembungkus. Selain itu produk ukiran akan terisolir dari debu dan kotoran yang kemungkinan bisa menempel. Caranya adalah malam pasta/wax yang tersedia kita oleskan dengan kuas atau dengan kain perca ke permukaan produk ukiran, kemudian kita lap bersih sehingga ketebalan yang merata, agar tidak terjadi penjamuran ketika ada kelembaban. Setelah itu produk ukiran dibungkus dengan foamsheet (lembaran busa tipis dan lentur ) dengan bantuan isolasi (masking tape). Pengemasan. Pengemasan bisa dimulai ketika produk ukiran sudah melalui tahapan sbb : Sudah difinishing- pelapisan wax- pembungkusan dengan foamsheet pembungkusan dengan kertas karton (single face/double face) dan terakhir dimasukkan dalam box kayu atau triplek dengan kerangka. 333
  • 370. D. TEKNIK KERJA RAUT Teknik kerja raut merupakan salah satu kompetensi yang unik meskupun apabila dilihat hasil karyanya akan mirip dengan hasil karya dengan teknik ukir. Perbedaan yang khas pada proses kerja raut adalah penggunaan alat yang dipakai yaitu dengan menggunakan alat pisau raut , sedangkan Teknik Kerja Ukir dengan pahat ukir. Obyek yang dapat dibuat dengan teknik kerja raut adalah bentuk-bentuk yang ukurannyan relative kecil, Karena pada proses pembuatan bahan dapat digenggam/ dipegang dengan tangan. Sehingga hal tersebut akan berpengaruh pada kemampuan maksuimal pada tingkat kesulitan proses karja raut. Contoh-contoh produk yang dibuat dengan teknik kerja raut misalnya : komponen perkakas tangkai pisau , kalau di Aceh tangkai rencong, di Jawa tangkai dan sarung keris, di Kalimantan tangkai Mandau, di Sulawesi tangkai dan sarung Badik dan banyak lagi contoh – contoh lainnya atau souvenir/ cindera mata berupa patung-patung kecil yang imajinasinyabisa dari flora/ fauna dapat juga bentuk-bentuk lain misalnyaberupa cepuk perhiasan dengan berbagai macam bentuk dan kreasi yang sangat beragamdisetiap etnis dari seluruh penjuru nusantaradengan filosofisyang disesuaikan dengan keperluan adapt/ tradisi setempat, meskipun ada jugakarya raut yang dibuatdengan bentuk-bentuk lain yang kreatif dan trend pasar Untuk menguasai teknik raut kayu sepintas seperti mudah dilakukan akan tetapi apabila dipraktekkan akan menemui beberapa problem yang berkaitan dengan penguasaan memainkan posisi pisau pada saat meraut, membaca serat kayu agar dapat diraut dengan hasil yang baik, memahami anatomi produk yang akan dibuat dan ketrampilan menajamkan pisau raut agar penggunaan pisau raut pada saat dipakai meraut produk yang dibuat nyaman dimainkan karena tajam. Beberapa hal tadi diatas merupakan masalah yang harus dicoba, dipraktekkan dan dikuasai pada latihan dasar meraut, agar dapat beberapa keteknikan dasar pada proses kerja raut. Untuk obyek latihan dapat dibuat produk yang masih sederhana dengan fantasi flora/fauna, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan atau binatang yang dibentuk sederhana/tidak rumit anatominya sebagai tuntunan melatih ketrampilan dasar melaksanakan kerja raut, misalnya unsur: 1. Bentuk cembung 2. Bentuk cekung 3. Bentuk bulat 334
  • 371. 4. Bentuk lonjong dan lain-lain. Tujuan Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan dapat: Menjelaskan teknik dasar kerja raut Menjelaskan jenis pisau raut dan fungsi pisau raut Melaksanakan perawatan/menajamkan pisau raut Menggunakan pisau raut sesuai fungsinya Membuat bentuk sederhana berupa binatang (Burung, Kucing, Ikan, dsb.) Alat dan Bahan A. Alat Pisau raut Batu asah dan air Sekroll B. Bahan Kayu lunak (pulai, damar, sengon) Ukuran panjang : cm Ukuran lebar : cm Ukuran tebal : cm Ampelas kayu No. 150/180 (sedang) No. 240/280 (halus) Pisau Raut Pisau raut dibuat dari besi baja dengan tangkai dibuat dari kayu. Cara dengan cara didorong, tidak dipukul seperti pahat ukir Pisau raut yang digunakan pengrajin topeng dan patung-patung cinderamata di berbagai daerah di Indonesia bermacam – macam bentuknya.Pengrajin topeng di Jawa menggunakan pisau raut yang bertangkai pendek, sedangkan pengrajin di Kalimantan menggunakan tangkai panjang, Karena teknik menggunakan pisau dengan cara, tangkai dijepit pada ketiak lengan. Bentuk mata pisau yang ada di Indonesia tidak terlalu banyak terutama untuk mata pisau utama, kecuali pisau tambahan untuk membuat kerokan topeng. Pisauraut ini matanya dibuat lengkung sesuai dengan keperluan . Pisau ini sangat berguna untuk membuat kerokan bagian cekung topeng yang tidak terjangkau bila digunakan pisau raut bentukm standar/ lurus. Selain digunakan untuk maraut benda tiga dimensi/ patung cinderamata pisau raut dapat juga dipergunakan untuk membuat ukiran cukilan kayu lunak bermotif geometris yang hasilnya hanya torehan/ cukilan dangkal, seperti jenis ukiran geometris yang khas yang dibuatoleh pengrajin dari 335
  • 372. Toraja, Sulawesi dan ukiran hiasan pada tangkai mandau senjata khas Kalimantan. Pisau raut pada intinya digunakan untuk membuat karya yang kecil- kecil atau banda kerja yang berupa tiga dimensi/ patung – patung maupun ukiran datar misalnya pada hiasan kotak perhiasan yang relatif kecil. Gambar di bawah ini merupakan jenus-jenis pisau raut dan bagian- bagiannya 336
  • 373. Pisau Raut Perawatan Alat Raut Perawatan alat raut (pisau raut) Pada dasarnya hampir sama perawatan dengan alat ukir/ pahat ukir, hanya alangkah baiknya untik pisau raut ini, apabila setiap satu poisau dibuatkan sarung dari kulit/ kain yang tebal untuk menjaga mata pisau dari benturan benda keras dan keamanan dalam membawa. 337
  • 374. C. Langkah Kerja Persiapan Siapkan bahan, alat dan tempat kerja Anda Tempelkan pola gambar kerja pada bahan yang telah disiapkan, kemudian disekroll sesuai pola. Cermati bentuk yang akan diraut sesuai pola dan prototype yang disediakan instruktur/pengajar. Proses pengerjaan Rautlah bentuk sederhana dengan hati-hati agar bentuk yang diinginkan tercapai sesuai dengan prototype. Apabila bentuk global sudah tercapai dilanjutkan dengan menghaluskan bentuk dibantu kertas ampelas yang sedang no. 150.180 Selanjunnya apabila akan difinishing atau penyelesaiannya akhir dihaluskan lagi dengan kertas ampelas yang halus no. 240/28 D. Gambar Kerja Meraut Dengan Pisau Raut 338
  • 375. E. Contoh Produk Yang di buat dengan teknik raut misalnya : Cipuk Dengan Imajinasi Kepik 1 Cepuk Dengan Imajinasi Kepik 2 Tempat Cincin Imajinasi Kuda Tempat Pulpen Imajinasi Cheeta 339
  • 376. Tempat Tysu Gengan Imajinasi Angs Hiasan Imajinasi Cicak Tempat HP Imajinasi Tanduk Kerbau Patung Kucing Ekor Pulpen Pulpen Imajinasi Flora Dan Fauna Penindih Kertas Dengan Imajinasi Burung 340
  • 377. Tempat Pulpen Imajinasi Kaktus Patung Gajah Untuk Penindih Kertas Hiasan Ikan Hiasan Kura - kura 341
  • 378. Hiasan Arwana 1 Hiasan Arwana 2 Tempat Perhiasan Dengan Imajinasi Topeng 342
  • 379. Tempat Permen Dengan Hiasan Fantasi Katak Di Atas Teratai F. Keselamatan kerja Setelah Anda bekerja, perhatikanlah hal-hal berikut: Pakailah pakaian kerja Yakinkan bahwa tempat kerja anda telah bersih dan aman untuk bekerja Yakinkan bahwa pisau raut yang akan Anda gunakan dalam keadaan tajam. Pakailah masker pada saat melaksanakan kerja sekroll/membuat bentuk global. Hindari jurus memainkan pisau raut yang membahayakan anggota badan. 343
  • 380. E. TEKNIK KERJA SEKROL Pengantar Teknik sekrol adalah merupakan proses pembuatan suatu karya dengan menggunakan mesin sekrol, dengan prosedur pengoperasian yang benar sesuai dengan fungsinya. Pada umumnya mesin sekrol digunakan lebih pada pekerjaan potong memotong bentuk baik lurus, lengkung, bulat, sudut dan sebagainya , dengan potongan yang tepat pada garis atau gambar yang telah dibuat. Alat yang digunakan ada dua jenis yaitu masinal dan manual. Alat yang masinal adalah gergaji kecil yang dilengkapi dengan mesin sebagai penggerak dan komponen- komponen lain yang diperlukan yang dirakit sehingga dapat bergerak secara stabil. Sedangkan sekrol yang manual hanya berupa gergaji kecil yang dijepit / kencangkan pada ujung besi yang berbentuk huruf U dan diberi tangkai, biasanya alat ini sering kita sebut dengan istilah Coping Saw. Penggunaanya dilakukan secara manual (digerakkan dengan tangan). Biasanya teknik sekrol lebih ditekankan pada pembuatan produk kerajinan, membuat Puzle, membuat tulisan dari kayu (lettering), membuat hiasan yang akan diterapkan pada mebel atau perabot dan lain-lain. Proses pemotonganya kita harus mengikuti semua tanda garis yang telah dibuat oleh disainer / tukang gambar. Dalam satu proses pelaksanaan teknik sekrol dapat muncul menjadi dua wujud, sebab proses pemotongan jika dilakukan secara teliti, dan tepat maka yang terjadi adalah bentuk positif dan negatif (bentuk timbul dan bentuk lubang / tembus). Proses pekerjaan ini jika dilakukan dengan benar akan dapat melatih keterampilan, kesabaran, ketelitian seseorang dalam melaksanakan pekerjaan. A. Mengenal perlengkapan dan peralatan kerja Dalam setiap pelaksanaan setiap kegiatan diperlukan perlengkapan kerja yang standar supaya pada pelaksanaanya berjalan dengan lancar dan tidak menemui banyak permasalahan. Perlengkapan yang diperlukan dalam teknik kerja sekrol antara lain terkait dengan lingkungan tempat bekerja yang harus bersih, rapi, penerangan yang cukup, sirkulasi udara yang lancar, dan tersedianya alat pemadam (Hydrant). Selain itu juga didukung dengan pakaian kerja yang standar dalam hal ini disesuaikan dengan pekerjaan yang sedang dilakukan. 344
  • 381. 1. Alat Pokok Alat pokok yang digunakan untuk pekerjaan produk teknik sekrol adalah seperangkat yang dibuat oleh pabrik maupun dirakit sendiri. Alat ini dibedakan menjadi 2 jenis yaitu dengan menggunakan gergaji manual dan gergaji mesin. Alat dengan gergaji manual atau sering disebut dengan istilah gergaji tripek. Sedangkan alat dengan gergaji mesin sering disebut dengan istilah mesin sekrol. Mesin sekrol memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda- beda, tetapi fungsinya sama. Hanya dibedakan dalam kekuatan mesin, besar kecilnya rangka mesin dan kemampuan memotong bentuk panjang/lebar/ tebal benda kerja. Contoh gergaji manual / gergaji sekrol: Mesin sekrol dibedakan menjadi 3 kelompok jenis ukuran yaitu mesin sekrol kecil, sedang dan besar. a. Mesin Sekrol Kecil Mesin sekrol yang berdiameter kecil biasa digunakan bagi penggergajian kecil. Untuk membuat/memotong bentuk-bentuk ukuran panjang maksimal ± 25 cm dan tebal maksimal 2 cm, dengan jenis produk seperti letering, passel dan gantungan kunci. Mesin ini biasanya dibuat pabrik. 345
  • 382. Contoh gergaji mesin / mesin sekrol ukuran kecil. b. Mesin Sekrol Sedang Mesin sekrol sedang ini mempunyai kemampuan lebih besar dibandingkan mesin sekrol kecil. Kelebihannya mengenai tenaga motor yang besar, daya jangkau/ukuran yang mencapai panjang/lebar ± 60 cm, dan kekuatan memotong ketebalan ± 5 cm. Contoh Mesin sekrol sedang 346
  • 383. Contoh Mesin sekrol sedang c. Mesin Sekrol Besar Mesin sekrol besar mempunyai tangan penggerak cukup panjang ± 100 cm dan dapat memotong ketebalan kayu 5 cm ke atas yang biasa dikerjakan oleh perajin untuk memotong benda-benda tebal, lebar dan panjang, seperti pemotongan bentuk kaki kursi, pemotongan bentuk sandaran kursi, ornamen lisplang, dll Mesin ini kebanyakan digunakan oleh industri / pengusaha di Jepara. Contoh Mesin sekrol besar 2. Bagian-bagian mesin sekrol a. Kerangka mesin Kerangka dipakai untuk tiang penyangga mesin sekrol (body) secara keseluruhan. 347
  • 384. b. Motor penggerak Spesifikasi mesin ini kira-kira 1 pas 0,85 Ampere 220 Volt, ½ Hp/09 KW, RTM 1375,50 Hz Motor ini berfungsi sebagai alat penggerak mesin sekrol. c. Meja kerja Untuk bentuk dan ukuran meja kerja berbeda- beda tergantung mesin sekrolnya. Untuk meja sekrol besar tidak dilengkapi busur derajat sebagai pengatur kemiringan benda kerja. Tapi untuk Meja kerja mesin sekrol yang ukuran kecil dan sedang biasanya dilengkapi dengan busur derajat yang berfungsi mengatur kemiringan meja. 348
  • 385. d. Tangan penggerak atas dan bawah Tangan penggerak berfungsi untuk memegang mata gergaji yang dilengkapi dengan dua penjepit mata gergaji, baik bagian atas, maupun bagian bawah, dengan kunci L (atau kunci khusus) sebagai alat pengunci dan membuka (mata gergaji). e. Stabilisator Stabilisator ada pada bagian belakang mesin bagian atas yang mempunyai fungsi untuk mengendorkan dan mengencangkan (mengatur) mata gergaji. 349
  • 386. Stabilisator f. Stoper/penahan kayu Stoper ini mempunyai fungsi untuk menahan benda kerja agar tidak mudah terangkat. Stoper ini dilengkapi dengan pembersih debu. 350
  • 387. g. Mata gergaji Mata gergaji untuk pemotongan kayu bermacam macam bentuk dan ukuran . Bentuk pada bagian bawah / ujung gergaji ada yang menggunakan sindik (bentuk T) dan ada juga yang polos tanpa bentuk pengunci, tetapi cara pemasanganya di kencangkan dengan penjepit yang ber sekrup. Jenis mata sekrol yang polos 351
  • 388. Jenis mata sekrol dengan sindik Penjepit / pengunci mata gergaji sekrol Alat ini digunakan untuk memasang mata gergaji pada mesin sekrol Yang dilengkapi dengan kunci kusus untuk proses memasang dan membuka. 3. Alat Pendukung Alat pendukung merupakan bagian dari alat pokok. Untuk melengkapi kelancaran dalam praktik membuat produk. Adapun peralatan pendukung yang digunakan untuk kerja sekrol adalah : Gunting 352
  • 389. Gunting adalah alat untuk memotong kertas, selain itu bisa juga untuk memotong pola gambar kerja agar lebih mudah dalam penempatan desain pada benda kerja Pensil Pensil digunakan untuk membuat gambar kerja (mendesain) selain itu juga digunakan untuk menandai ukuran dan memindahkan gambar pola pada benda kerja Pensil ada beberapa jenis, ukuran dari keras dan lunaknya. Contoh 2B, 4B, 6B dan sebagainya. Ketam tangan (rumah ketam terbuat dari kayu) 353
  • 390. Ketam tangan (rumah ketam terbuat dari besi/logam Ketam ini biasanya terbuat dari bahan kayu sawo dengan serat yang halus dan padat, selain dari bahan kayu, ketam manual juga ada yang terbuat dari bahan logam Logam. Ketam ini digunakan untuk menghaluskan bahan yang belum halus dan mengurangi ketebalan bahan yang belum sesuai kebutuhan. Mistar Mistar adalah alat yang digunakan untuk mengukur panjang dan lebar Bahan yang akan digunakan. Alat ini terbuat dari bahan logam dengan ukuran panjang ada yang 30 cm , 50 cm , dan ada juga yang 60 cm. 354
  • 391. Bor Bor adalah alat yang digunakan untuk membuat lubang yang akan di Sekrol. Mesin bor ini terbuat dari Logam dan baja yang dilengkapi dengan asessoris kelengkapanya Gergaji Potong Gergaji potong digunakan untuk memotong bahan yang akan digunakan. Gergaji ini terbuat dari campuran besi dan baja. Bentuk mata gergajinya segitiga sama kaki dengan tegak lurus ke atas. 355
  • 392. Gergaji Belah Gergaji belah digunakan untuk membelah bahan bahan menjadi ukuran yang diperlukan. Grgaji ini terbuat dari campuran besi dan baja. Bentuk mata gergajinya condong ke depan. Siku - siku Siku-siku pada pekerjaan sekrol digunakan untuk mengukur / mengecek tegak lurus atau kemiringan mata gergaji terhadap meja kerja. Selain itu juga untuk mengecek hasil pemotongan bahan yang Yang diperlukan apakah harus bersudut 90 atau yang lain. 356
  • 393. Tang Tang terbuat dari Logam /Besi yang pada bagian pegangan dilapisi dengan karet plastik. Alat ini biasa digunakan untuk mengencangkan Sekrup dan juga untuk memotong mata gergaji yang terlalu panjang, atau memotong kawat dll. 4. Bahan yang diperlukan Bahan yang digunakan untuk membuat produk teknik sekrol antara lain : - Kayu ( berbagai jenis kayu dapat digunakan, tetapi yang bagus jenis kayu yang seratnya padat, karena akan mendapatkan hasil sekrolan yang lebih halus. - Multiplek (berbagai jenis kayu buatan dapat digunakan, tetapi hasil potongannya kurang sempurna. Karena biasanya kayu buatan kurang padat dan banyak berlubang. B. Penggunaan alat 1. Cara mengoperasikan mesin sekrol a) Hidupkan mesin sekrol dengan menekan tombol ON. b) Letakkan kayu/triplek diatas meja mesin sekrol. c) Turunkan penahan kayu/debu di atas benda kerja dengan lobang pipa pembersih debu ke muka mata gergaji. d) Benda kerja di tekan maju pelan-pelan ke arah mata gergaji sesuai 357
  • 394. gambar kerja. 2. Cara Merawat Mesin Sekrol Perawatan dan pemeliharaan mesin sekrol perlu di- lakukan setiap saat, karena mesin yang baik adalah mesin yang setiap saat dapat di operasikan dengan lancar. Perawatan dan pemeliharaan mesin sekrol harus dijelaskan secara detail dan benar. Yang perlu diperhatikan dalam merawat mesin sekrol ialah: a) Melepas mata gergaji dari mesin sekrol, b) Membersihkan kedua penjepit mata gergaji dari serbuk kayu/debu, c) Memberi pelumas (oli, plaselin) pada pemutar stabilisator, d) Memberi pelumas pada pemutar stoper (penahan kayu), dan e) Memberi pelumas pada mata gergaji agar tidak berkarat. 3. Penajaman dan Pembuatan Gigi Gergaji Mata gergaji yang berdiameter kecil buatan pabrik tidak dapat ditajamkan, karena terlalu kecil dan tidak ada alat kikir yang kecil. Yang dapat ditajamkan ialah mata gergaji besar buatan perajin Jepara. Itupun kalau penggunaannya dapat bertahan lama. Dan cara menajamkannya ialah dengan dikikir pada ujung mata gergaji tersebut sesuai dengan kemiringan mata gergaji. 4. Pemasangan dan Pelepasan Mata Gergaji a. Memasang mata gergaji sekrol • memutar stabilisator kearah kiri agar tangan pemegang gergaji dapat ditekan kebawah • masukkan salah satu ujung mata gergaji bagian bawah dan mur diputar kekanan hingga kencang. Gigi mata gergaji hendaknya selalu menghadap kebawah 358
  • 395. • Untuk memotong dalam, mata gergaji bagian bawah dan ujung mata gergaji bagian atas di masukkan kedalam benda kerja yang sudah di lobangi (dengan bor) dan ujung mata gergaji bagian atas di jepit dengan menggunakan kunci b. Melepas Mata Gergaji Sekrol Melepas mata gergaji harus dilakukan satu persatu dapat dimulai dari ujung mata gergaji bagian bawah atau bagian atas terlebih dahulu kemudian mur dikendorkan dengan kunci 5. Menyimpan Gergaji Cadangan Gergaji cadangan harus disimpan di almari/kotak khusus yang ada kuncinya. Dengan dibungkus plastik yang diberi keterangan tentang jenis dan ukurannya supaya mudah mengambilnya dan menghindari udara lembab agar tidak mudah berkarat. Jika kita beli lusinan/satu plastik, gergaji itu sudah ada bungkusnya dari plastik, malah ada keterangannya menempel pada bungkus tersebut. C. Keselamatan kerja . Keselamatan Kerja dalam Kerja Sekrol Tujuan keselamatan kerja Keselamatan kerja merupakan poin yang utama yang harus dijaga dalam setiap melaksanakan kegiatan. 1. Adapun tujuanya antara lain: a. Agar pekerja dapat melakukan atau melaksanakan pekerjaannya dengan baik b. Agar kesehatan fisik dan non fisik pekerja dapat terjaga (tidak sakit) c. Agar lingkungan kerja dapat nyaman dan aman. d. Agar suasana menjadi kondusif dan menyenangkan 359
  • 396. 2. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam keselamatan kerja a. Ruang kerja yang cukup luas b. Penerangan yang cukup c. Ventilasi udara yang lancar d. Tersedianya alat pemadam api (hydrant) e. Tersedianya alat kebersihan dan tempat sampah f. Penempatan alat-alat pada tempatnya. g. Tidak bergurau sewaktu bekerja h. Tersedianya PPPK 3. Jenis kelengkapan pakaian kerja Adapun kelengkapan pakaian kerja yang diperlukan antara lain: a. Pakaian Kerja (baju Kerja) b. Sepatu (alas kaki yang aman) c. Masker d. Penutup kepala (Topi Kerja) e. Kaca mata f. Penutup Telinga g. Hal-hal lain yang dibutuhkan. D. Latihan-latihan (praktek) Proses Kerja : 1. Persiapan. • Siapkan ruang tempat kerja yang bersih, nyaman, terang dan sirkulasi udara yang baik agar kesehatan terjamin. • Siapkan semua peralatan yang akan dipakai dan kondisikan bahwa alat tersebut benar-benar siap dipakai. • Siapkan semua bahan yang akan dipakai diarea tempat anda bekerja agar mudah dalam bekerja. • Gunakanlah pakaian kerja dan perlengkapan keselamatan kerja dengan baik. 2. Proses Kerja. • Pelajarilah buku petunjuk tentang teknik sekrol, dan cermatilah gambar kerjanya secara teliti. • Jika yang anda gunakan bahan d multiplek maka ari siapkan dengan ukuran yang telah ditentukan. 360
  • 397. • Jika yang anda gunakan Kayu, maka ketamlah terlebih dahulu hingga ketebalan yang sesuai dengan yang telah ditentukan. • Gambar yang terpilih dipindahkan kebenda kerja dengan teknik dipola. • Setelah papan siap digunakan dengan ukuran yang cukup, kemudian papan dilem secara rata dengan lem kertas. Gambar ditempel perlahan dari satu sisi kesisi yang lain dan sambil ditekan secara perlahan sampai rata. • Pasanglah mata gergaji sekrol pada mesin sekrol dan pastikan alat tersebut siap dipakai. a. Pasang mata gergaji sekrol terlebih dahulu pada penjepit dengan menggunakan alat pengunci yang telah disediaka b. Pasangkan bagian ujung bawah terlebih dahulu selanjutnya pasang bagian atasnya. c. Gigi gergaji harus condong/ menghadap kebawah. 361
  • 398. d. Kencangkan semua pengunci / stabiliser agar gerakan menjadi stabil dan suara halus. e. Sebelum memulai penyekrolan sebaiknya: Lakukan pengecekan pada mata gergaji apakah sudah cukup kencang atau belum. f. Periksa kemiringan meja sekrol terhadap posisi mata gergaji dengan alat siku-siku agar tegak lurus, sehingga hasil potongan bisa rapi dan tegak lurus. 362
  • 399. g. Letakan benda kerja diatas meja sekrol dengan posisi . kedua tangan memegang benda kerja. Hidupkan saklar dan bekerjalah dengan teliti Lakukan penyekrolan secara perlahan sesuai gambar kerja. Posisi menyekrol 363
  • 400. Posisi menyekrol E. Pengontrolan 1.Observasi produk dilakukan untuk pengecekan proses pengerjaan. - Pada tahap persiapan bahan dilakukan pengecekan apakah layak dipakai atau tidak, sebab jika bahanya tidak baik akan mempengaruhi hasil produk. - Bahan dicek tingkat kekeringanya agar tidak terjadi melengkung atau menggeliat, bahkan bisa berakibat retak. - Bahan diperlakukan dengan baik - Proses penyekrolan secara hati hati, sabar dan teliti. - Apakah penyekrolan sudah sesuai dengan desain atau belum - Pengecekan dengan alat ukur yang diperlukan. 364
  • 401. 2. Penilaian Produk - Ketepatan dalam memotong (sesuai garis / gambar kerja) - Kehalusan bekas potongan - Kesikuan hasil potongan (tegak lurus) / Kemiringan hasil potongan - Kerapian - Kecepatan 3. Soal pendalaman materi - Mengapa posisi mata gergaji sekrol harus tegak lurus dengan posisi meja sekrol ? - Mengapa tidak semua jenis mesin sekrol dapat memotong bahan dengan ketebalan minimal 5 cm ? - Keposisi arah mana cara memasang mata gergaji sekrol yang benar - Sikap yang diperlukan bagi seorang yang ingin mengerjakan produk dengan teknik sekrol adalah..... - Apa yang anda lakukan terhadap alat jika anda telah selesai menggunakanya ? - Bagaimana cara mengatur kekencangan mata gergaji yang baik E. Contoh-contoh hasil karya teknik sekrol Contoh Produk Hias dengan teknik sekrol Hiasan Dinding 365
  • 402. Hiasan Dinding Hiasan diatas meja 366
  • 403. Lampu Hias Tempat Perhiasan 367
  • 404. Penerapan ornamen dengan teknik sekrol Hiasan dinding kaligrafi Arab Contoh hiasan dinding 368
  • 405. Contoh hiasan dinding Contoh patung binatang Contoh huruf 369
  • 406. F. TEKNIK KERJA PARQUETRY DAN INLAY Pendahuluan Tidak dapat dipungkiri bila nuansa kayu untuk interior ruangan dimasa kini tengah menjadi tren yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di dunia. Hal ini terbukti dari data statistic bahwa permintaan laminated flooring dan wooden flooring meningkat sangat tajam. Sedangkan penurunan yang signifikan terjadi pada permintaan material tekstil dan karpet. Lantai sebagai salah satu komponen yang penting pada sebuah bangunan. Pemilihan material penutup lantai yang tepat akan sangat mendukung fungsi da keindahan bangunan tersebut. Lantai kayu atau parket itu dalam bahasa Inggris disebut parquet berasal dari kata parquetry yang berarti seni memasang atau menata bilah-bilah kayu tipis dengan pola geometris pada sebidang lantai. Disadari atau tidak, keberadaannya terntaya tidak sekedar sebagai tempat berpijak, meainkan secara langsung dapat mempercantik dan menghidupkan sebuah desain ruang, termasuk elemen-elemen yang berada didalamnya. Sehingga paduan serasi antara kedua karya seni ini memperkuat misi pengembangan budaya dan seni Indonesia lebih dikenal di mancanegara. Material kayu selain menawarkan kenyamanan dan keindahan teksture kayu, mampu membuat ruangan menjadi hangat dan natural. Bahkan ada pula jenis penutup lantai kayu yang mampu menyerap panas dan meredam suara. Laminated flooring adalah material penutup lantai yang material dasarnya adalah high density fiber board (HDF). Permukaan laminated flooring sangat tajam terhadap gesekan sehingga dapat digunakan pada rumah tinggal maupun commercial area. Wooden parguet adalah material penutup lantai yang terbuat dari kayu asli ( real wood ). Dalam dunia industri, wooden parquet dibagi menjadi dua, yaitu solid wood parquet dan engineered parguet . Permintaan terhadap solid wood mengalami penurunan yang sangat tajam walaupun tren penggunaan lantai kayu sedang berlangsung. Factor harga dan keterbatasan raw material menjadi penyebab turunnya permintaan pasar terhadap solid wood. Engineered parquet adalah material penutup lantai yang terbuat dari kayu asli dengan kontruksi berlapis. Tujuan dari kontruksi ini adalah efisiensi dan stabilitas material. Keunggulan engineered parquet adalah tampilan kayunya yang asli dan menempati segmen atas. 370
  • 407. Parquetry pada dasarnya sama dengan inlay. Bedanya adalah jika inlay penempatan motifnya pada dasaran kayu yang diturunkan beberapa millimeter. Sedangkan parquetry cara penempatan motifnya hanya ditata pada permukaan kayu dan dilem, kemudian dipress agar rata permukaannya. Pembuatan parquetry menggunakan bahan kayu yang tipis / vinir 0,5 – 3 mm. PEMBUATAN PARQUETRY A. Alat . Alat yang digunakan untuk membuat Parquetry adalah : a. pisau raut b. cutter besar c. penggaris logam d. pensil 2 b e. klem C f. gergaji pemotong vinis g. skrap h. ampelas halus B. Bahan. Bahan u tuk membuat Parquetry adalah : a. kayu sonokeling atau sejenisnya b. kayu mahoni c. kayu kelapa C. Langkah Kerja. 1. Persiapan a. Siapkan ruang kerja yang bersih, nyaman dengan penerangan yang cukup. Periksa semua peralatan yang akan digunakan . Apabila ada peralatan yang tidak berfungsi dengan baik, harus diperbaiki terlebih dahulu. Kemudian pakaialah pakaian kerja dan perlengkapan keselamatan kerja dengan baik dan benar. b. Siapkan bahan dan peralatan sesuai dengan kebutuhan pada gambar kerja. Kemudian hitung kebutuhan bahan pokok dan bahan pembantu secara teliti. 2. Peralatan parquetry a).Dasaran/landasan untuk memotong vinir beserta penggaris logam. Landasan tersebut terbuat dari kayu lunak/chip board. 371
  • 408. b).Pisau potong/cutter untuk memotong vinir. c).Pensil gambar (2B) untuk menandai dan membuat pola. d).Klam C untuk mengepres/menekan permukaan setelah penempelan pola. e).Amril/amplas halus dengan blok kayu untuk menghaluskan permukaan pola. 372
  • 409. D. Keselamatan Kerja 1. Pergunakan pakaian dan perlengkapannya saat bekerja. 2. Periksa ketajaman peralatan 3. Pergunakan alat sesuai dengan fungsinya 4. Kondisikan lingkungan kerja sesuai prosedur, simpan pelatan yang tidak digunakan. 5. Bersihkan kotoran selesai bekerja E. GAMBAR KERJA Tampak Atas 373
  • 410. F. LANGKAH KERJA 1. Persiapan a. Siapkanlah ruang kerja yang bersih dan nyaman serta penerangan yang cukup. Periksalah semua peralatan yang akan digunakan apakah berfungsi dengan baik. Kemudian pakailah pakaian kerja dan perlengkapan keselamatan kerja dengan baik dan benar. b. Siapkanlah peralatan dan bahan sesuai dengan kebutuhan pada gambar kerja, dan hitung kebutuhan bahan pokok dan bahan pembantu secara teliti. c. Bacalah bahan ajar dengan baik dan pelajari gambar kerjanya secara cermat, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemotongan bahan dan langkah kerja. 2. Proses Kerja (Pembuatan Parquetry) a. Potonglah vinir/kayu tipis yang telah disediakan sesuai ukuran gambar kerja. b. Pola yang sudah ditempel pada kayu/vinir. c. Pemotongan pola menggunakan gergaji triplek atau mesin sekrol. 374
  • 411. d. Penempelan pola menggunakan lem PVC di atas papan permukaan inlay bagian tengah. e. Pengepresan menggunakan klem C agar proses perekatan menjadi rata (± 5 jam) f. Penghalusan permukaan menggunakan kertas ampelas halus dengan blok pembantu. 375
  • 412. 4. Penyelesaian Akhir (Finishing) Penyelesaian akhir adalah tahapan terakhir dalam praktik pembuatan produk hiasan dinding ini. Siapkanlah semir netral, teak oil atau politur netral dan kain spon. Pilih salah satu diantara tiga bahan finishing itu. Kemudian lakukanlah menyapu permukaan benda pelatihan itu menggunakan salah satu bahan tersebut dengan kain spon. Ulangi hingga permukaan kelihatan mengkilat dan rata. Contoh gambar Parquetry 1). Kombinasi laci dan rak jinjing 376
  • 413. 377
  • 414. PEMBUATAN INLAY 1. Proses Kerja (Pembuatan Inlay) a. Potonglah kayu sesuai ukuran gambar kerja. b. Pembuatan pola menggunakan penggaris dan pensil di atas kertas HVS. c. Pemotongan pola yang sudah ditempel pada kayu menggunakan gergaji punggung. d.Pembuatan alur menggunakan pahat siku. Kedalaman alur sesuai ketebalan pola. 378
  • 415. e. Penempelan pola menggunakan lem PVC (lem putih) pada dasaran alur. f. Penghalusan permukaan menggunakan kertas ampelas halus dengan blok pembantu. F. KALKULASI BAHAN Jenis Kebutuhan Bahan pokok: • Kayu mahoni • Kayu sonokeling • Kayu kelapa Bahan Pendukung: • Lem PVC • Kertas ampelas • Teak oil/semir netral 379
  • 416. • Kain spon • Kertas HVS • Lem kertasDaftar pustaka TUJUAN Setelah mengikuti uraian materi ini, Anda memiliki kemampuan 1. menyebutkan bahan, alat untuk inlay dan parquetry 2. menjelaskan perencanaan motif secara urut 3. menjelaskan cara menempelkan motif secara urut 4. menjelaskan proses finishing URAIAN MATERI 1. Pendahuluan Inlay di Itali disebut Intarsia, sedangkan di Perancis disebut Marquetry. Inlay adalah teknik dekorasi (Dekorative Woodworking Techniques) yang diterapkan pada benda-benda fungsional/hias. Bahan yang digunakan adalah vinir/kayu dengan ketebalan yang sama dan warna yang berbeda pula. Dari vinir/kayu tersebut dipotong-potong menjadi sebuah pola kemudian disusun dan dilem hingga menjadi sebuahi ornamen yang indah. Parquetly pada dasarnya sama dengan inlay/marquetry. Bedanya adalah jika inlay bahannya dari kayu yang agak tebal dan caranya menyusun dasaran kayu diturunkan beberapa milimeter untuk meletakkan polanya. Sedangkan parquetry bahannya dari kayu/vinir yang tipis, dan cara penyusunannya hanya dilekatkan pada permukaan kayu/papan dengan lem. a. Contoh gambar Inlay 1). Sebuah papan mainan game. 380
  • 417. 2). Panel pada sebuah gereja di Itali 3). Panel intarsia di Gereja Santa Maria Novella di Florence 2. Bahan dan Peralatan a. Bahan Bahan yang digunakan untuk membuat motif/pola pada inlay adalah kayu yang betul-betul kering dan berwarna kontras natural, seratnya harus bagus dengan ketebalan ± 2 mm-7 mm (disesuaikan dengan fungsinya). Parquetry biasanya menggunakan lapisan kayu yang tipis/vinir. Vinir ini di negara asalnya inlay/parquetry banyak dijual di pasaran dengan berbagai macam motif dan warnanya (dijual lembaran/per sheet). Sedangkan di Indonesia bahan ini masih agak sulit diperoleh di pasara b. Peralatan 1). Peralatan untuk inlay a). Scroll saw 381
  • 418. b). Gergaji triplek c). Bor tangan d). Klem C e). Daun gergaji f). Pahat, penggaris g). Tang, pensil h). Gunting kertas i). Gergaji punggung j). Amplas/amril halus k). Bahan perekat menggunakan lem PVC atau epoxy. 3. Proses Pembuatan Inlay a. Pembuatan motif/pola untuk inlay menggunakan pensil gambar dan penggaris di atas kertas HVS. b. Kemudian pola dipotong menggunakan gunting kertas dan ditempel pada kayu yang telah disiapkan menggunakan lem kertas. 382
  • 419. c. Setelah pola yang ditempel mengering, kemudian dipotong menggunakan gergaji triplek atau mesin scroll saw. d. Membuat alur menggunakan pahat tusuk pada papan yang telah disiapkan untuk me-layout pola. 383
  • 420. e. Memotong pola menggunakan gergaji punggung. f. Menempelkan pola pada alur menggunakan lem PVC. g. Setelah kering kemudian pola yang sudah ditempelkan/ditata pada alur tersebut diamplas menggunakan amplas kayu yang halus dan dilandasi dengan blok kayu, dan kemudian boleh difinishing dengan semir netral, teak oil, atau politur netral. 384
  • 421. 4. Proses Pembuatan Parquetry a. Penempelan pola/gambar pada vinir dan dilekat dengan selotip pada tepinya. b. Pemotongan pola menggunakan cutter/pisau di atas landasan. c. Penyusunan pola/gambar (merangkai kembali) pola yang telah dipotong agar tidak keliru/salah. d. Penyusunan/penempelan kembali pada papan yang telah disiapkan menggunakan lem PVC. 385
  • 422. e. Penekanan/pengepresan menggunakan klam C dengan dilandasi papan bawah dan atas hingga kering (±3 jam). f. Setelah papan dilepas dari klam kemudian diamplas menggunakan amplas halus yang dilandasi blok kayu hingga halus kemudian difinishing menggunakan semir netral/teak oil/melamin. 386
  • 423. CONTOH-CONTOH GAMBAR INLAY 387
  • 424. LATIHAN 1. Sebutkan perbedaan inlay dan parquetry! 2. Sebutkan peralatan dan bahan dari masing yang digunakan! 388
  • 425. BAB V FINISHING / REKA OLES A. TEKNIK POLITUR Teknik politur sering digunakan untuk melapisi produk kayu agar lebih indah dan awet. Selain mudah dalam pengerjan harga politurpun relatif sangat murah. Pemakaian politur dimulai pada tahun 1630 di India dan sejak ditemukannya bahan selak (shellac) dari sejenis insek, yaitu kutu lak yang bernama Laccifer Kerr. Sampai saat ini banyak pembuat produk kayu memakai bahan oles politur. Mereka berpendapat teknik politur dapat dilakukan oleh setiap orang, bahan baku mudah diperoleh dan mudah di finishing ulang. 1. Manfaat Politur 1. Menjaga kestabilan kayu dari pengaruh cuaca 2. Melapisi permukaan kayu 3. Mempertajam serat kayu 4. Mengkilapkan permukaan kayu 5. Menambah keawetan kayu 2. Bahan Politur dan Fungsinya Bahan politur terdiri dari selak(shellac), spiritus dan pewarna (bila diperlukan) 1. Selak (Shellac) Fungsi selak(shellac), adalah bahan untuk membuat politur yang terbuat dari lak. Lak yaitu sejenis damar atau getah yang dihasilkan oleh hewan / sejenis serangga yang disebut kutu lak (laccifer kerr). Hewan ini hidup secara parasit pohon kesambi (schleisbera oleosa merr), akasia (acacia villosa willd), ploso (butea momo sperma) dan pohon widora (zizyphusjujuba lam). Pohon kesambi adalah yang terbaik diantaranya, karena ia mampu bertahan pada musim kering, mempunyai daya tunas yang baik dan dapat tumbuh bagus di tanah yang rendah kesuburannya. Jumlah larva lak sekitar 150-200 ekor tiap 2,5 cm, pada usia 5 bulan larva lak sudah dapat diambil / dikerok untuk dijadikan seedlak atau butiran lak. Selak ada 2 macam : a. Selak Kuning Terbuat dari koloni lak yang hidup di sisi bawah cabang, kemudian dikerok menjadi seedlak butiran. Dari seedlak butiran dapat dilelehkan atau dilarutkan dalam alkohol. Selain itu dapat pula dilarutkan kedalam alkali atau bahan basa. Dari larutan inilah kemudian dipisahkan antara lak dan zat pelarutnya dengan metode presipitasi. Dengan seedlak tersebut dihasilkan selak (shellac) yang berwarna kuning berbentuk serpihan. Hasil politurnya bernuansa kuning hingga kayu berkesan tua. 389
  • 426. b. Selak Putih Dibuat dengan cara memproses bahan selak kuning menjadi selak putih dengan bentuk batangan. Hasil politurnya natural atau tetap alami sehingga cocok untuk kayu yang berwarna muda seperti mahoni, mindi, pinus dan ramin. Untuk penyimpanan selak putih batangan harus dalam keadaan tertutup rapat agar tidak mudah teroksidasi udara. 2. Spiritus Umumnya berwarna biru, berfungsi sebagai bahan untuk mencairkan selak. Spiritus tersebut termasuk golongan ethyl alkohol (ethanol), sejenis alkohol yang tidak bisa dimakan dan diminum. Untuk membuat politur yang baik harus menggunakan spiritus yang baik. Spiritus dikatakan baik apabila kandungan airnya hanya 5%. Apabila kandungan air terlalu banyak maka selak akan lama untuk mencair dan menyatu dengan spiritus. Pemilihan spiritus yang baik bisa dicoba dengan cara mencelupkan jari tangan pada larutan spiritus. Apabila diusapkan pada lengan, spiritus cepat menguap maka spiritus itu berkualitas baik. 3. Pewarna Politur Terdapat dua kelompok warna politur yaitu a. Warna yang dapat larut dalam air Contoh : naphtol, teres (pewarna makanan), dan tepung pigmen Untuk tepung pigmen sendiri ada bermacam-macam misalnya jelaga (carbon lamp) untuk warna hitam, oker untuk warna kuning kecoklatan, daocu untuk warna merah maroon. b. Warna yang dapat larut dengan bahan non air misalnya pelarut alkohol, thiner, afdunner dan minyak. Contoh : migrosin (untuk warna merah) Malachite (untuk warna hijau0 Bahan pewarna pigmen bersifat menutup serat kayu sedang pewarna aniline atau tanpaendapan bersifat transparan atau menampilkan serat kayu. Pemakaian politur sering memilih warna transparan karena dapat menonjolkan serat kayu. Pewarna ini biasanya dicampur pada waktu akan mendasari politur karena zat pewarna diharapkan bisa masuk kedalam serat kayu. Jenis bahan pewarna bermacam-macam dan banyak di jual di toko besi dengan harga yang terjangkau. Pada saat pengolesan pewarna harus rata dan dikuaskan secara tipis-tipis. Pengolesan yang tidak merata hasilnya tidak akan sempurna. 390
  • 427. 4. Oker Adalah bahan tepung sejenis talk halus yang bermanfaat untuk bahan pengisi pori-pori kayu sehingga menambah kepadatan dan keindahan penampilan permukaan kayu. Terdapat beberapa warna oker di pasaran yaitu kuning, coklat, putih dan merah. Teknik pemakaian sangat mudah, oker dituang kedalam mangkok plastik dan tambahkan air secukupnya. Oleskan bubur oker kedalam pori-pori kayu dengan alat sekerap atau kuas, gunakan amplas halus water proof untuk menggosok permukaan kayu yang masih basah hingga pori-pori kenyang . Untuk pengisian pori-pori pada bidang ukiran diperlukan kuas yang baik, bubur oker juga harus lebih encer hingga dapat masuk kecelah-celah ukiran . Setelah agak kering bersihkan dengan sikat ijuk kuat-kuat hingga kering. Langkah berikutnya adalah pembersihan oker dari permukaan kayu dengan amplas no 150-180. Amplaslah dengan posisi arah serat kayu sampai yang tersisa adalah oker yang di dalam pori-pori kayu saja. 5. Dempul Bakar Bermanfaat untuk menutup lobang atau cacat kayu pada permukaan kayu. Dempul bakar dapat diperoleh di toko besi dengan harga murah, biasanya dalam bentuk batangan berwarna kuning muda. Teknik pemakaian cukup mudah, ambil bahan dempul bakar dan masukkan kedalam kaleng kemudian rebuslah hingga dempul mencair. Tambahkan sedikit warna sesuai keinginan dan aduk hingga menyatu, oleskan pada cacat lobang kayu dengan sekrap hingga padat menitup lubang kayu yang rusak. Biarkan kering lalu amplas dengan no 180-240 hingga permukaan rata. Apabila pengolesan politur dilakukan berulang- ulang, maka kerataan permukaan kayu yang didempul dan kekilapannya akan sama dengan bidang politur yang lain. Untuk menyamakan warna tersebut, pengolesan politur dilakukan berulang-ulang searah serat kayu dengan sedikit lebih di tekan. 391
  • 428. Bahan-bahan politur yang digunakan 3. Jenis Alat dan Fungsinya Jenis alat y ang digunakan untuk kerja politur adalah botol kaca tertutup, mangkok plastik, kuas, kain perca dan amplas. a. Botol kaca tertutup Berfungsi untuk mencampur bahan politur, keadaan botol harus tertutup rapat agar spiritus tidak cepat menguap. b. Mangkok plastik Berfungsi untuk menampung bahan politur yang siap pakai. Campuran politur yang digunakan sebagai politur dasar biasanya menggunakan pewarna, berbeda dengan politur lanjutan yang dicampur lebih encer. Sehingga dibutuhkan mangkok yang lebih banyak. c. Kuas Berfungsi untuk mengoleskan politur pada benda kerja. Untuk memilih kuas, sebaiknya dipilih kuas yang halus, ujungnya bercabang dan tidak menimbulkan bekas bila digunakan. d. Kain perca Berfungsi untuk mengoleskan campuran politur pada produk yang akan di politur. Kain perca (kain spon, kain lap) yang digunakan harus bersih, halus, putih dan tidak boleh berwarna karena warna pada kain akan luntur atau akan meninggalkan bekas. Kain perca yang baik adalah bahan katun karena mampu menyerap air dengan sempurna. 392
  • 429.