Your SlideShare is downloading. ×
SMK MAK kelas10 smk seni budaya sri dkk
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

SMK MAK kelas10 smk seni budaya sri dkk

106,200

Published on

Published in: Education, Business
3 Comments
15 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
106,200
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
5,116
Comments
3
Likes
15
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Sri Hermawati D. A. dkk. Seni BUDAYA Sri Hermawati Dwi Arini dkk. SENI BUDAYA untuk Sekolah Menengah Kejuruan untuk SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
  • 2. Sri Hermawati Dwi Arini, Ataswarin Oetopo, Rahmida Setiawati, Dkk. SENI BUDAYA SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional
  • 3. Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang SENI BUDAYA Untuk SMK : Sri Hermawati Dwi Arini, Ataswarin Oetopo, Rahmida Setiawati, Penulis Dkk. Ukuran Buku : …… x …… cm …… SHD Sri Hermawati Dwi Arini, Ataswarin Oetopo, Rahmida Setiawati, Dkk. …. Pembangki Tenaga Listrik: SMK oleh Muslim, Sri Hermawati Dwi Arini, Ataswarin Oetopo, Rahmida Setiawati, Dkk. ---- Jakarta:Pusat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. vi. 376 hlm. ISBN ……-……-……-…… 1. Seni Budaya Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008 Diperbanyak oleh….
  • 4. KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK
  • 5. i Pengantar Penulis Mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya, yang dimaksud budaya meliputi budaya nusantara, asia dan periode klasik dan modern. Khusus bahasan aspek budaya nusantara tidak dibahas terpisah melainkan terintegrasi dengan seni. Yang dapat diartikan kesenian yang berdasarkan nilai-nilai budaya nusantara yang beragam. Dengan cara ini karakteristik kesenian Indonesia yang khas akan muncul sebagai sebuah jati diri bangsa yang mampu berkompetisi dalam percaturan kesenian dunia, pendidikan seni yang berakar dari tradisi merupakan simbol kebanggaan, keluhuran dan harga diri bangsa Indonesia. Transformasi nilai-nilai seni ke dalam masyarakat luas karena seni bisa menjadi penyejuk bagi kepesatan kemajuan sains dan teknologi yang tidak jarang mengabaikan kehalusan rasa seni dan pendidikan seni berperan sebagai filter bagi peradaban. Topik atau materi yang dapat dikupas tidak dapat meliputi 33 propinsi dan kesenian yang dapat dikupas hanya terdiri dari beberapa kesenian berdasarkan pertimbangan fenomena kesenian yang hidup dimasyarakat atau dengan kata lain kesenian bermutu yang mengandung banyak hal untuk mengungkap masalah seni budaya, kesenian yang banyak mendapat respon dari bangsa sendiri ataupun dari mancanegara. Topik ataupun materi terbagi bagian apresiasi, ekspresi dan wirausaha. Penjenjangan materi hanya dapat dilakukan pada bagian ekspresi / keterampilan. Buku teks ini bukan hanya memberikan wawasan namun juga keterampilan yang dapat dipilih sesuai minat, kelebihan buku ini memberikan pengetahuan keragaman seni budaya nusantara dan keterampilan yang sangat penting karena penyebarannya yang luas atau sudah dikenal diberbagai wilayah, serta mempunyai nilai sebagai bekal keterampilan dunia kerja dan pengetahuan wirausaha. Semoga buku ini akan memberikan sumbangan yang berarti bagi anak didik kita dan merupakan pengetahuan tentang kekayaan, kebudayaan dan kesenian milik bangsa kita Indonesia tercinta untuk juga meningkatkan kebudayaan dan pariwisata kita. Jakarta, Juni 2008
  • 6. iii KETUA TIM PENILAI BNSP Dosen Institut Seni Drs. Pracoyo, M.Hum Seni Rupa Murni Indonesia Yogyakarta DAFTAR KONTRIBUTOR Bidang Penulis Nama Institusi Keahlian Dosen Universitas Tim Martin Renatus Nadapdap, S.Sn Seni Musik Negeri Jakarta Dosen Universitas Tim Dra. Clemy Ikasari I, M.Pd Seni Musik Negeri Jakarta Dosen Universitas Tim Dra. Bambang Pratjikno, M.Pd Seni Tari Negeri Jakarta Dosen Universitas Tim Dwi Kusumawardani, S.Sn, M.Pd Seni Tari Negeri Jakarta Dosen Universitas Tim Drs. Moh Muttaqin, M. Hum Seni Musik Negeri Semarang Dosen STSI Tim Tardi Ruswandi, S.Kar, M.Hum Seni Musik Bandung Dosen Universitas Tim Didin Supriadi, S.Sen, M.Pd. Seni Musik Negeri Jakarta Dosen Universitas Tim Dini Devi Triana, S.Sen. M.Pd. Seni Tari Negeri Jakarta Dosen Universitas Tim Saryanto, S.Kar Seni Musik Negeri Jakarta Tim Dwi Kurniadi, S.Pd Perguruan Cikini Seni Musik EDITOR Dosen Universitas Gitar dan Teori Dra. Ayu Niza Machfauzia, M.Pd. Negeri Yogya Musik DISAIN GRAFIS Dosen Teknik Elektro Wafirul Aqli, ST Universitas Muhamadiyah Jakarta
  • 7. iv DAFTAR ISI Pengantar Penulis ............................................................................... i Pengantar Direktur Pembinaan SMK .................................................. ii Daftar Tim Penyusun dan Nara Sumber ............................................. iii Daftar Isi ............................................................................................. iv Lembar Pengesahan ........................................................................... viii Peta Kompetensi ................................................................................. ix Daftar Gambar Seni Musik ................................................................. x Seni Tari .................................................................... xii Seni Teater ................................................................ xv Seni Rupa .................................................................. xv Daftar Tabel Seni Musik ................................................................. xvii Seni Tari .................................................................... xvii Seni Rupa .................................................................. xvii Bab VI ....................................................................... xviii BAB I. DASAR-DASAR 1. Pengertian Kebudayan dan Seni ............................... 1 1.1. Pengertian Kebudayaan ..................................... 1 1.2. Pengertian Seni .................................................. 10 1.3. Sifat Dasar Seni .................................................. 11 1.4. Struktur Seni ....................................................... 12 1.5. Pengertian Nilai Seni ......................................... 13 1.6. Pengertian Ekspresi................................ ............ 14 1.7. Pengertian Genre/Fungsi Seni ........................... 14 1.8. Pengertian Apresiasi............................... ............ 17 BAB II. SENI MUSIK 2. Mengapresiasikan Karya Seni Musik ........................ 24 2.1. Pengertian Musik ............................................... 24 2.2. Sistem Nada ...................................................... 25 2.2.1. Awal Terbentuknya Sistem Nada Diatonis ................................................... 25 2.2.2. Titi Laras Pentatonik................................ 26 2.3. Musik Klasik.... .................................................... 29 2.3.1.Musik Klasik ............................................... 29 2.3.1.1. Zaman Pertengahan ................. 29 2.3.1.2. Zaman Renaisance .................. 30 2.3.1.3. Zaman Barok ............................ 30 2.3.1.4. Zaman Rokoko ......................... 31 2.3.1.5. Zaman Klasik ............................ 32 2.3.1.6. Zaman Romantik ...................... 37 2.3.1.7. A. Zaman Abad 20 .................... 39 B. Musik Jazz ............................ 40
  • 8. v 2.4. Musik Tradisi Indonesia ...................................... 41 2.4.1. Musik Betawi .......................................... 41 2.4.2. Musik Bali ................................................ 47 2.4.3. Gamelan ................................................. 49 2.4.4. Angklung ................................................. 58 2.4.5 Sampe .................................................. 68 2.5. Musik Non Barat ................................................ 71 2.5.1. Musik Afrika............................................. 71 2.5.2 Musik India ............................................. 72 2.5.3. Alat Musik Tiongkok dan Jepang ............ 73 2.5.4. Alat Musik Kultur Tinggi Timur Tengah dan Kultur Tinggi Yunani............ 73 2.6. Ekspresi Melalui Kegiatan Bermusik 2.6.1. Vokal ....................................................... 75 2.6.1.1. Asal Usul Vokal .......................... 75 2.6.1.2. Jenis Pernafasan ....................... 76 2.6.1.3. Wilayah Suara ............................ 77 2.6.2. Tangganada ............................................ 79 2.6.2.1 Tangganada Diatonis Mayor ....... 79 2.6.2.2 Tangganada Diatonis Minor ........ 82 2.6.2.3 Akor ............................................ 83 2.6.2.4 Cara Menentukan Akor Dalam Sebuah Lagu ............................... 85 2.6.3. Penerapan akor pada Instrumen Keyboard ................................................. 87 2.6.3.1 Mempelajari Tombol-tombol Keyboard ..................................... 88 2.6.3.2 Mempraktikan dengan Lagu........ 94 2.6.4. Teknik Memainkan Gambang Kromong.. 122 2.6.5. Teknik Memainkan Gamelan .................. 130 2.6.6. Teknik Memainkan Kacapi ...................... 137 2.6.6.1 Kacapi Fungsi Hiburan ................ 137 2.6.6.2 Teknik Petikan Kacapi ................ 143 2.6.6.3 Mempraktikan Memetik Kacapi Dengan Cacarakan ..................... 144 BAB III. SENI TARI 3. Mengapresiasikan Karya Seni Tari ........................... 158 3.1. Pengertian Seni Tari ........................................... 158 3.2. Unsur Pokok Tari ................................................ 161 3.2.1 Gerak ..................................................... 161 3.2.2. Motif Gerak Tari ..................................... 164 3.2.3. Motif Gerak Tari Berpasangan Atau Kelompok ....................................... 169 3.2.4. Ruang .................................................. 169 3.2.5. Tenaga .................................................. 175 3.2.6. Ekspresi ................................................. 176 3.2.7. Iringan Tari ............................................. 177 3.3 Unsur Komposisi Tari.... ..................................... 178
  • 9. vi 3.4. Penjiwaan Dalam Tari ........................................ 181 3.5 Pembelajaran Apresiasi Tari ............................... 182 3.5.1. Kegiatan Apresiasi Tari ........................... 183 3.5.2. Pembelajaran Kreativitas ........................ 184 3.6. Tari Berdasarkan Konsep Garapan .................... 187 3.6.1. Tari Tradisional ....................................... 187 3.6.1.1. Tari Primitif ................................ 189 3.6.1.2. Tari Rakyat ............................... 190 3.6.1.3. Tari Klasik .................................. 194 3.6.2. Tari Non Tradisional ................................ 195 3.7. Tari Berdasarkan Orientasi Peran Fungsi........... Di Masyarakat .................................................. 197 3.7.1. Tari Upacara ........................................... 197 3.7.1.1. Tari Adat ................................... 197 3.7.1.2. Tari Agama ............................... 212 3.8. Tari Berdasarkan Orientasi Artistik ..................... 214 3.8.1. Tari Balet ................................................. 214 3.8.2. Musical Dance ......................................... 216 3.9. Fungsi Tari ....... .................................................. 216 3.9.1. Tari Sebagai Sarana Upacara ................. 217 3.9.2. Tari Sebagai Sarana Hiburan .................. 219 3.10.Produksi Tari... .................................................. 221 3.11.Dasar Pijakan .................................................. 222 BAB IV. SENI TEATER 4. Sejarah Teater .............................................................. 228 4.1 Mengapresiasikan Karya Seni Teater ................. 228 4.2. Pengertian Teater ............................................... 229 4.2.1. Bentuk Teater Indonesia Berdasarkan Penduduknya ..................... 230 4.2.2. Fungsi-fungsi Teater Rakyat ................... 232 4.3. Seni Peran .......................................................... 234 4.4. Akting.. ................................................................ 236 4.5. Gaya Akting... ..................................................... 239 4.6. Beberapa Istilah Dalam Teater .............. ............ 240 4.7. Unsur-unsur lakon Teater....................... ............ 241 4.8. Unsur-unsur Pementasan....................... ............ 242 4.9. Naskah Drama ................................................... 255 4.9.1. Struktur Naskah Drama ........................... 256 4.9.2. Struktur Dramatik .................................... 257 4.9.3. Pembuatan Naskah ................................. 257 4.10. Penyutradaraan .............................................. 258 4.10.1. Pengertian Sutradara .............................. 259 4.10.2. Tugas Sutradara...................................... 259 4.10.3. Tipe Sutradara......................................... 260 4.10.4. Cara Penyutradaan..................... ............ 260
  • 10. vii 4.11. Teknik Tata Panggung ................................... 261 4.12. Tata Pentas.. .................................................. 263 4.13. Manajemen Produksi Pertunjukan Teater.... .................................... 264 4.13.1 Tahapan Manajemen.. ........................ 264 BAB V. SENI RUPA 5.1. Pengantar Seni Rupa ......................................... 288 5.1.1. Seni Murni................................... ............ 290 5.1.2. Desain......................................... ............ 291 5.2. Dasar-dasar Seni Rupa ...................................... 295 5.2.1. Unsur-unsur Seni Rupa........................... 295 5.2.2. Prinsip Penyusunan Karya Seni Rupa ....................................................... 305 5.3. Apresiasi Karya Seni Rupa ................................. 310 5.3.1. Pengertian dan Fungsi Apresiasi ............ 310 5.3.2. Aliran-Aliran Dalam Seni Rupa.... ........... 311 5.3.3. Aspek-Aspek Penilaian Dalam Apresiasi Karya Seni ............................... 317 5.4. Pameran Karya Seni Rupa ................................. 320 5.4.1 Kegunaan Pameran Seni Rupa di Sekolah................................... ............ 320 5.4.2. Jenis-jenis Pameran................................ 320 5.4.3. Manfaat Pameran Seni Rupa di Sekolah.................................... ........... 321 5.4.4. Syarat-syarat Penyelenggaraan Pemeran Seni Rupa di Sekolah... ........... 322 5.5. Ragam Hias Nusantara........................... ........... 323 5.6. Ekspresi Melalui Kreasi Seni Kriya......... ............ 326 5.7. Seni Kriya Batik....................................... ........... 327 5.7.1 Alat dan Bahan Batik............................... 331 5.7.2 Berkreasi Batik............................ ............ 341 5.8. Seni Kriya Ikat Celup(Tie Dye) ................ .......... 349 5.8.1 Kreasi Teknik Celup Ikat.............. ........... 350 BAB VI WIRAUSAHA 6.1. Usaha Kecil ........................................................ 358 6.2. Menjadi Wirausaha Penyelenggaraan Pertunjukan Musik..................................... ......... 360 6.3. Penata Musik Film/Sinetron/Kartun.......... .......... 364 6.4. Proses Manajemen Produksi Teater........ .......... 366 6.5. Kewirausahaan Dalam Seni Rupa...... ................ 369 6.6. Wirausaha Penyelengaraan Pameran Seni Rupa................................................. .......... 371 GLOSARI …………….……………………………………………. ........ 373 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………. ........ 376
  • 11. ix PETA KOMPETENSI Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dikembangkan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pengembangan program sekolah berbasis pada kebutuhan dan kompetensi wilayah. Materi pembelajaran berorientasi untuk mempersiapkan anak didik menuju dunia kerja. Pengembangan Program Materi Pada Bidang Seni Seni Seni Pertunjukan Seni Rupa Kompetensi Seni Pertunjukkan Pelaku Seni Pemandu Penyeleng- Tim Kreatif garaan Pemain Jasa Penyutra- Menyiapkan Informasi daraan Penari Jasa Penye- Broad- Penulis lenggaraan casting Naskah Pertunjukkan Kompetensi Seni Rupa Seniman/Pengrajin Kewirausahaan Menciptakan Produk Seni Lapangan Kerja Menghasilkan Barang dan Jasa
  • 12. x DAFTAR GAMBAR SENI MUSIK Bab I Gambar 1.1. Rumah-Rumah Adat ......................... 1 1.2. Perangkat alat Musik Gamelan Joged Bumbung (Grantang) ......................... 2 1.3. Alat Musik Sampe ............................. 2 1.4. Tifa Maluku ........................................ 2 1.5. Tari Tradisional Saman ..................... 3 1.6. Tari Merak ......................................... 3 1.7. Motif Banjar Kalimantan Selatan........ 3 1.8. Motif Nusatenggara Timur ................. 3 1.9. Motif Toraja ........................................ 4 1.10. Wayang Golek ................................... 4 1.11. Topeng Cirebon ................................. 4 1.12. Pakaian Adat Kalimantan Timur ........ 5 1.13. Pakaian Adat Banjar Kalimanta Selatan 5 1.14. Perak Kota Gede Yogyakarta ............ 5 1.15. Rumah Adat Toraja ........................... 6 1.16. Patane (Rumah Menyimpan Jenazah/ Adat Toraja) ....................................... 7 1.17. Lembu : Tempat Meletakan Mayat di Bali 8 1.18. Bade: Tempat Meletakan Mayat di Bali 8 1.19. Gadis Suku Dayak ............................. 9 1.20. Fungsi Seni ........................................ 15 Bab II Gambar 2.1. Instrumen Musik................................. 26 2.2. Notasi Rante (Gamelan) .................... 26 2.3. Komponis Antonio Vivaldi .................. 32 2.4. Komponis Johan Sebastian Buch ...... 32 2.5. Harpsichord........................................ 35 2.6. Grand Piano ....................................... 35 2.7. Papan Bilah Nada .............................. 36 2.8. Komponis J. Haydn ............................ 37 2.9. Komponis W.A. Mozart ...................... 37 2.10. Komponis L.V. Beethoven ................. 37 2.11. Komponis F. Chopin .......................... 38 2.11. Komponis J. Brahms Corbis .............. 38 2.13. Komponis F. Mendeshon ................... 38 2.14. Komponis C. Debussy ....................... 39 2.15. Komponis Bella Bartok....................... 39 2.16. Komponis G. Gershwin ...................... 39 2.17. Ondel-Ondel....................................... 41
  • 13. xi 2.18. Gambang Kromong ............................ 42 2.19. Kongahyan, Tehyan dan Sukong ....... 43 2.20. Tanjidor ............................................... 43 2.21. Samrah ............................................... 43 2.22. Keroncong Tugu ................................. 46 2.23. Gamelan Gong Gede.......................... 48 2.24. Gamelan Joged Bumbung (Grantang) 48 2.25. Perangkat Gamelan Jawa .................. 49 2.26. Bonang ............................................... 50 2.27. Saron .................................................. 51 2.28. Gender ................................................ 51 2.29. Slentem .............................................. 51 2.30. Gamelan Carabalen ........................... 54 2.31. Denah Penempatan Ricikan Perangkat Gamelan Carabalen ........................... 54 2.32. Denah Penempatan Ricikan Perangkat Gamelan Ageng .................................. 55 2.33. Perangkat Gamelan Ageng ................ 57 2.34. Angklung ............................................. 58 2.35. Notasi Gambar untuk Pembelajaran Angklung ............................................. 60 2.36. Metode Curwen Untuk Pembelajaran Angklung ............................................. 62 2.37. Alat Musik Sampe Kalimantan Timur.. 68 2.38. Penampang Resonator dan Dawai Sampe ................................................ 69 2.39. Cara Melaras Dawai Sampe ............... 70 2.40. Musik Afrika ........................................ 71 2.41. Alat Musik India .................................. 72 2.42. Alat Musik Koto ................................... 73 2.43. Alat Musik Yunani ............................... 74 2.44. Bagian Tubuh Manusia ....................... 76 2.45. Wilayah Suara Manusia ...................... 77 2.46. Artikulasi ............................................. 78 2.47. Kacapi Kauh/Siter ............................... 138 2.48. Musik Kacapi Suling............................ 138 2.49. Kacapi Rincik, Melodi, dan Rincik Birama 139 2.50. Kecapi Perahu...................................... 139 2.51. Musik Celempungan............................. 140
  • 14. xii DAFTAR GAMBAR SENI TARI Bab III Gambar 3.2. Penggunaan Properti ......................... 162 3.3. Mengeksplore Gerak Tubuh untuk Ruang Gerak...................................... 162 3.4. Gerak Lari Jingkit (Tridik) ................... 162 3.5. Pengolahan Ruang Tari dalam Pentas Tari .................................................... 163 3.6. Imitasi Gerak Tari Topeng ................. 163 3.7. Imitasi Gerak Tari Topeng ................. 163 3.8. Gerak Pencak Silat ............................ 163 3.9. Sikap Dasar Tari ................................ 163 3.10. Sikap Kuda-kuda................................ 164 3.11. Pelemasan Anggota Gerak Tubuh..... 170 3.12. Eksplorasi Gerak................................ 170 3.13. Gerak Desain Tertunda...................... 170 3.14. Penari Mengolah Ruang .................... 170 3.15. Penguasaan Ruang Pentas dan Ruang Gerak...................................... 170 3.16. Pengolahan Properti .......................... 172 3.17. Gerak Dalam Memiliki Kesan Dalam . 172 3.18. Gerak Sedang .................................... 172 3.19. Gerak di Udara................................... 173 3.20. Gerak Selit ......................................... 173 3.21. Gerak Teknik Sirkile ........................... 174 3.22. Gerak Teknik Split.............................. 174 3.23. Gerak Respons .................................. 175 3.24. Gerak Sedang .................................... 175 3.25. Kekuatan Lompatan ........................... 175 3.26. Penghayatan Tumpukan Kaki ............ 176 3.27. Pelebaran Ruang Gerak .................... 176 3.28. Penghayatan Mata ............................. 177 3.29. Penghayatan Gerak ........................... 177 3.30. Instrumen Iringan Tari (Bonang) ........ 177 3.31. Gerak Tari Terpulout .......................... 188 3.32. Gerak Tari Terpulout .......................... 188 3.33. Tari Panggung Jati ............................. 188 3.34. Konsep Tradisi Pengembangan......... 188 3.35. Konsep Tradisi Pengembangan......... 188 3.36. Konsep Teater Topeng ...................... 189 3.37. Tari Perang ........................................ 189 3.38. Tari Gejolak........................................ 190 3.39. Tari Tano Doang ................................ 190
  • 15. xiii 3.40. Tari Jepang Rebana ........................... 190 3.41. Tari Seudati ........................................ 191 3.42. Tari Saman ......................................... 191 3.43. Tari Turun Kavih Vhen ........................ 191 3.44. Tari Rampak dinan Jombang.............. 192 3.45. Tari Rampak dinan Jombang.............. 192 3.46. Tari Payung ........................................ 192 3.47. Tari Barabah ....................................... 193 3.48. Tari Kranag ......................................... 193 3.49. Tari Pendet (Bali) ................................ 194 3.50. Kresno Baladewa ............................... 194 3.51. Topeng Bali ........................................ 194 3.52. Merak .................................................. 195 3.53. Pakarena ............................................ 195 3.54. Gambyong .......................................... 195 3.55. Sequence ........................................... 196 3.56. Quilinte ............................................... 196 3.57. Flash Time .......................................... 196 3.58. Bratasena ........................................... 196 3.59. Cinta Bunda ........................................ 196 3.60. Squestrall ............................................ 197 3.61. Sekapur Sirih ...................................... 198 3.62. Rangguk ............................................. 198 3.63. Rabot .................................................. 198 3.64. Ngelajau ............................................. 199 3.65. Agon Yamuniku .................................. 199 3.66. Merak .................................................. 199 3.67. Badaran .............................................. 200 3.68. Merak .................................................. 200 3.69. Topeng ............................................... 200 3.70. Teater Topeng .................................... 200 3.71. Teater Topeng .................................... 200 3.72. Nyi Kembang ...................................... 200 3.73. Tebal Gempita .................................... 201 3.74. Bahairan ............................................. 201 3.75. Trunajaya ............................................ 201 3.76. Topeng ............................................... 201 3.77. Gimyak Banyumasa............................ 202 3.78. Polalak ................................................ 202 3.79. Gambyong .......................................... 202 3.80. Gagahan ............................................. 203 3.81. Klono Topeng ..................................... 203 3.82. Mbya ................................................... 203 3.83. Warok ................................................. 204 3.84. Ngremo ............................................... 204 3.85. Ngremo ............................................... 204 3.86. Topeng Rangde .................................. 205
  • 16. xiv 3.87. Manukrawa ........................................ 205 3.88. Oleg Tablingan................................... 205 3.89. Trunajaya ........................................... 205 3.90. Abike Aniku ........................................ 206 3.91. Abike Aniku ........................................ 206 3.92. Kalubu ................................................ 207 3.93. Pamilau .............................................. 207 3.94. Pamilau .............................................. 207 3.95. Assay ................................................. 208 3.96. Laninse .............................................. 208 3.97. Laninse .............................................. 208 3.98. Pakarena............................................ 209 3.99. Pakarena............................................ 209 3.100. Perang ............................................... 209 3.101. Jipeng Rebana ................................... 209 3.102. Perang ............................................... 210 3.103. Giring-giring ....................................... 210 3.104. Giring-giring ....................................... 211 3.105. Pamekik ............................................. 211 3.106. Bambu Gila ........................................ 211 3.107. Mbui Dong Po .................................... 212 3.108. Ndaitita ............................................... 212 3.109. Tuan Pamekik .................................... 213 3.110. Kecak ................................................. 213 3.111. Sekapur Sirih ..................................... 213 3.112. Sekapur Sirih ..................................... 214 3.113. Ranggak............................................. 214 3.114. Time Load .......................................... 214 3.115. Sequence ........................................... 214 3.116. Squarel............................................... 215 3.117. All Fine ............................................... 215 3.118. Time Load .......................................... 215 3.119. Ebegan............................................... 216 3.120. Hung Myung....................................... 219 3.121. Squarel............................................... 219 3.122. Baris ................................................... 219 3.123. Cinta Bunda ....................................... 220 3.124. Fatamorgana...................................... 220 3.125. Manuk Rawa ...................................... 220
  • 17. xv DAFTAR GAMBAR SENI TEATER Bab IV Gambar 4.1. Orang Baru .............................................. 230 4.2. Ludruk ..................................................... 230 4.3. Wayang Golek ......................................... 231 4.4. Cinta Robot ............................................. 231 4.5. Pramuwisma Stories ............................... 232 4.6. Pertunjukan Teater Arja Bali ................... 233 4.7. Kekawen – Kawin .................................... 234 4.8. Pelajaran ................................................. 235 4.9. Kekawen Kawin ....................................... 236 4.10. Lawan Catur ............................................ 238 4.11. Tabib Gadungan...................................... 256 4.12. Kurikulum 2000 ....................................... 257 4.13. Lautan Bernyanyi .................................... 258 4.14. Buruh Tenun............................................ 260 4.15. Raja Mati ................................................. 262 4.16. Petang Di Taiwan .................................... 263 4.17. Si Gila dari Chailote................................. 264 4.18. Pertunjukan “Attac Theatre” .................... 265 DAFTAR GAMBAR SENI RUPA Bab V 5.1 Seni Lukis............................................................... 290 5.2 Seni Patung............................................................ 290 5.3 Seni Lukis............................................................... 291 5.4 Seni Patung............................................................ 291 5.5 Kursi Hasil Design Produksi ................................... 292 5.6 Poster Hasil Design Grafis ..................................... 292 5.7 Perkantoran Hasil Desain Arsitektur Modern ......... 294 5.8 Design Interior.. ...................................................... 293 5.9 Batik Sebagai Seni Kriya ........................................ 294 5.10 Macam Jenis dan Karakter Garis ...................... 296
  • 18. xvi 5.11 Bentuk 3 Dimensi yang Dinamis ....................... 296 5.12 Figuratif.... ......................................................... 296 5.13 Bentuk yang Diabstraktif ................................... 299 5.14 Bentuk Non Figuratif(Abstrak).. ........................ 299 5.15 Ruang Positif dan Negatif ................................. 300 5.16 Hue dalam Lingkaran Warna ........................... 301 5.17 Contoh Intensitas Warna ................................. 302 5.18 Tekstur Halus ................................................... 304 5.19 Keserasian Proporsi sebuah Bentuk Trimatra . 305 5.20 Keseimbangan Warna pada Sebuah Kursi....... 305 5.21 Keseimbangan Simetris ................................... 306 5.22 Keseimbangan Simetris yang Dinamis.. ........... 307 5.23 Keseimbangan Bentuk dan Warna .................. 307 5.24 Irama pada Bangku Panjang ........................... 308 5.25 Kontras Warna ................................................. 308 5.26 Klimaks pada Karya ......................................... 309 5.27 Lukisan Naturalisme.. ....................................... 311 5.28 Lukisan Realisme ............................................. .. 311 5.29 Lukisan Romantisme.. ...................................... 312 5.30 Lukisan Impresionisme.. ................................... 312 5.31 Lukisan Ekspresionisme.. ................................. 313 5.32 Lukisan Kubisme.. ............................................ 314 5.33 Lukisan Konstruksifisme.. ................................. 314 5.34 Lukisan Abstrakisme......................................... 315 5.35 Lukisan Dadaisme.. .......................................... 315 5.36 Lukisan Surealisme.. ........................................ 316 5.37 Lukisan Elektisisme.. ........................................ 316 5.38 Lukisan Elektisisme.. ........................................ 317 5.39 Motif Meandur.. ................................................. 324 5.40 Pembentukan motif pada kain.. ........................ 325 5.41 Contoh Ragam Hias.. ....................................... 325 5.42 Karya dari Kriya Batik.. ..................................... 328 5.43 Kain Non Tenun Indonesia.. ............................. 329 5.44 Bagian-bagian Canting.. ................................... 331 5.45 Ngrengrengi.. .................................................... 341 5.46 Membolei.. ........................................................ 342 5.47 Memasukan Warna........................................... 342 5.48 Pencelupan.. ..................................................... 342 5.49 Kain Ditiriskan.. ................................................. 343 5.50 Napthol dan Soda.. ........................................... 343 5.51 Pencampuran Air Panas... ................................ 343 5.52 Larutan ASG + Soda.. ...................................... 344 5.53 Pencelupan ke larutan garam... ........................ 344 5.54 Pencelupan sampai warna.. ............................. 345 5.55 Bahan-bahan pewarna... .................................. 345 5.56 Pewarnaan kain dengan kuas.. ........................ 346
  • 19. xvii 5.57 Pelorodan.. ........................................................ 347 5.58 Kain diisi kelereng.. ........................................... 350 5.59 Pencelupan ke larutan garam.. ......................... 350 5.60 Meratakan.. ....................................................... 351 5.61 Pembukaan ikatan jelujur.. ................................ 351 5.62 Pencelupan ke dalam malam... ......................... 352 5.63 Hasil Akhir.. ....................................................... 352 DAFTAR TABEL DAN BAGAN SENI MUSIK Bab I Tabel 1.1. Klasifikasi Seni .......................................... 10 Bab II Tabel 2.1. Laras Slendro dan Pelog ........................... 28 2.3. Propinsi yang Menggunakan Gamelan ..... 52 2.2. Penggunaan Bonang dan Sebutannya di Berbagai Propinsi ...................................... 53 2.3. Belajar Musik Angklung Sistem Nomor ..... 60 DAFTAR TABEL SENI TARI Bab III Tabel 3.1. Tabel Gerak Tari Individu............................. 164 3.2. Motif Gerak Tari Berkelompok ..................... 169 3.3. Tabel Hubungan Tari dengan Aktivitas Manusia ....................................................... 217 DAFTAR TABEL DAN BAGAN SENI RUPA Bab V Tabel 5.1 Aspek-aspek Penilaian dalam Apresiasi Karya Seni Rupa .......................................... 320
  • 20. xviii Tabel 5.2 Jenis Malam / Lilin ....................................... 324 5.3 Jenis Warna ................................................ 335 5.4 Warna Napthol ............................................ 336 5.5 Warna Indigosol .......................................... 337 Bagan 5.1 Cabang-cabang Seni Rupa ......................... 289 DAFTAR TABEL BAB VI Bab VI Tabel 6.1. Kaitan Faktor-Faktor Karakter Seorang Wirausaha ................................................. 357 6.2. Perencanaan Pengembangan Seorang Wirausaha ................................................. 358 6.3. Struktur Organisasi Persiapan Penyeleng- garaan Pertunjukan .................................. 360 6.4. Struktur Uraian Kegiatan Persiapan Penyelenggaraan Pertunjukan ................. 360 6.5. Kisi-Kisi Penilaian Hasil Pertunjukan 362 6.6. Struktur Organisasi Grup Teater.................. 366
  • 21. Bab 1 Dasar-Dasar
  • 22. PENGERTIAN KEBUDAYAAN DAN SENI Pengertian Kebudayaan Pengertian Seni Sifat Dasar Seni Struktur Seni Pengertian Nilai Seni Pengertian Genre (Fungsi Seni) Pengertian Apresiasi Seni Pengertian Ekspresi
  • 23. 1 BAB I DASAR-DASAR 1. Pengertian Kebudayaan dan Seni 1.1. Pengertian Kebudayaan Menurut Koentjoroningrat (1986), kebudayaan dibagi ke dalam tiga sistem, pertama sistem budaya yang lazim disebut adat-istiadat, kedua sistem sosial di mana merupakan suatu rangkaian tindakan yang berpola dari manusia. Ketiga, sistem teknologi sebagai modal peralatan manusia untuk menyambung keterbatasan jasmaniahnya. Berdasarkan konteks budaya, ragam kesenian terjadi disebabkan adanya sejarah dari zaman ke zaman. Jenis-jenis kesenian tertentu mempunyai kelompok pendukung yang memiliki fungsi berbeda. Adanya perubahan fungsi dapat menimbulkan perubahan yang hasil-hasil seninya disebabkan oleh dinamika masyarakat, kreativitas, dan pola tingkah laku dalam konteks kemasyarakatan. Koentjoroningrat mengatakan, Kebudayaan Nasional Indonesia adalah hasil karya putera Indonesia dari suku bangsa manapun asalnya, yang penting khas dan bermutu sehingga sebagian besar orang Indonesia bisa mengidentifikasikan diri dan merasa bangga dengan karyanya. Kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi majemuk karena ia bermodalkan berbagai kebudayaan, yang berkembang menurut tuntutan sejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan daerah itu memberikan jawaban terhadap masing-masing tantangan yang memberi bentuk kesenian, yang merupakan bagian dari kebudayaan. Untuk lebih jelas dapat diterangkan apa-apa saja yang menggambarkan kebudayaan, misalnya ciri khas bentuk rumah adat daerah yang berbeda satu dengan daerah lainnya, sebagai contoh ciri khas rumah adat di Jawa mempergunakan joglo sedangkan rumah adat di Sumatera dan rumah adat Hooi berbentuk panggung. Sumber : Google@RumahAdat.com. Gambar 1.1. Macam-macam Rumah Adat
  • 24. 2 2. Alat Musik Seperti halnya rumah adat, alat musik di setiap daerah pun berbeda dengan alat musik di daerah lainnya. Jika dilihat dari perbedaan jenis bentuk serta motif ragam hiasnya beberapa alat musik sudah dikenal di berbagai wilayah, pengetahuan kita bertambah setelah mengetahui alat musik seperti yang terlihat di gambar berikut ini Grantang, Tifa dan Sampe. Sumber : Buku Lata Mahosadhi STSU Denpasar Gambar 1.2. Gamelan Grantang Bali Sumber : Koleksi Pribadi Sumber : Koleksi Pribadi Gambar 1.3. Sampe Kalimantan Gambar 1.4. Tifa Maluku Tengah
  • 25. 3 3. Seni Tari Di samping rumah adat, alat musik, Indonesia juga memiliki keanekaragaman Seni Tari, seperti tari Saman dari Aceh dan tari Merak dari Jawa Barat. Sumber : Koleksi Jurusan Tari UNJ Sumber : Majalah Kriya Dekranas Gambar 1.5. Tari Saman Aceh Gambar 1.6. Tari Merak 4. Kriya Ragam Hias Selain kaya akan keanekaragaman musik dan tarian tradisi, Indonesia juga kaya akan keanekaragaman hiasan serta motif-motif tradisional. Kriya ragam hias dengan motif-motif tradisional, dan batik yang sangat beragam dari daerah tertentu, dibuat di atas media kain, dan kayu. Gambar berikut adalah Kriya Ragam Hias. Sumber : Majalah Kriya Dekranas Sumber : Majalah Kriya Dekranas Gambar : 1.7. Motif Banjar Kalsel Gambar : 1.8. Motif NTT
  • 26. 4 Sumber : Google.wikipedia.sukutoraja.com Gambar : 1.9. Motif Toraja 5. Properti Kesenian Kesenian Indonesia memiliki beragam-ragam bentuk selain seni musik, seni tari, seni teater, kesenian wayang golek dan topeng merupakan ragam kesenian yang kita miliki. Wayang golek adalah salah satu bentuk seni pertunjukan teater yang menggunakan media wayang, sedangkan topeng adalah bentuk seni pertunjukan tari yang menggunakan topeng untuk pendukung. Sumber : Majalah Kriya Dekranas Sumber : Majalah Kriya Dekranas Gambar 1.10. Wayang Golek Gambar 1.11. Topeng Cirebon 6. Pakaian Daerah Setiap propinsi memiliki kesenian, pakaian dan benda seni yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Gambar berikut adalah pakaian daerah Kalimantan
  • 27. 5 Sumber : Koleksi Pribadi Gambar 1.12. Pakaian Adat Kutai Kaltim Sumber : Majalah Dekranas Gambar 1.13. Pakaian Banjar Kalsel 7. Benda Seni Kaya dan kreatif adalah sebutan yang sesuai untuk bangsa kita, karya seni yang tidak dapat dihitung ragamnya, merupakan identitas dan kebanggaan bangsa Indonesia. Benda seni atau souvenir yang terbuat dari perak yang beasal dari Kota Gede di Yogyakarta adalah salah satu karya seni bangsa yang menjadi ciri khas daerah Yogyakarta, karya seni dapat menjadi sumber mata pencaharian dan objek wisata. Sumber : Majalah Kriya Dekranas Gambar 1.14. Souvenir Perak Kota Gede Yogyakarta Kesenian khas yang mempunyai nilai-nilai filosofi misalnya kesenian Ondel-ondel dianggap sebagai boneka raksasa mempunyai nilai filosofi sebagai pelindung untuk menolak bala, nilai filosofi dari kesenian Reog Ponorogo mempunyai nilai kepahlawanan yakni rombongan tentara kerajaan Bantarangin (Ponorogo) yang akan melamar putri Kediri dapat
  • 28. 6 diartikan Ponorogo menjadi pahlawan dari serangan ancaman musuh, selain hal-hal tersebut, adat istiadat, agama, mata pencaharian, sistem kekerabatan dan sistem kemasyarakatan, makanan khas, juga merupakan bagian dari kebudayaan. Contoh beberapa kebudayaan yang memiliki daya tarik yang tinggi bagi turis mancanegara dan turis lokal antara lain, adat istiadat di Tana Toraja, kebiasaan perempuan suku Dayak di Kalimantan yang senang menggunakan anting yang panjang, berat dan banyak, upacara ngaben (pembakaran mayat) di Bali. Berikut diuraikan contoh adat istiadat atau sistem kemasyarakatan di Tana Toraja yang meliputi : 8. Adat Istiadat 1. Suku Toraja Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja, artinya “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedangkan orang Luwu menyebutnya To Riajang, artinya orang yang berdiam di sebelah barat. Ada juga versi lain kata Toraya. To = Tau (orang), Raya = Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja. Di wilayah Tana Toraja juga digelar “Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’ollo”, arti harfiahnya, “Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja). Tana Toraja, Sulawesi Selatan Sumber : Google.wikipedia@Toraja.com Gambar 1.15. Rumah Adat Toraja
  • 29. 7 Tana Toraja memiliki kekhasan dan keunikan dalam tradisi upacara pemakaman yang biasa disebut “Rambu Tuka”. Di Tana Toraja mayat tidak di kubur melainkan diletakan di “Tongkanan“ untuk beberapa waktu. Jangka waktu peletakan ini bisa lebih dari 10 tahun sampai keluarganya memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara yang pantas bagi si mayat. Setelah upacara, mayatnya dibawa ke peristirahatan terakhir di dalam Goa atau dinding gunung. Tengkorak-tengkorak itu menunjukan pada kita bahwa, mayat itu tidak dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan, atau dibawahnya, atau di dalam lubang. Biasanya, musim festival pemakaman dimulai ketika padi terakhir telah dipanen, sekitar akhir Juni atau Juli, paling lambat September. Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja antara lain, menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane). Rante adalah tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah “batu”, dalam Bahasa Toraja disebut Simbuang Batu. Sebanyak 102 bilah batu yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah sedang, dan 54 buah kecil. Ukuran batu ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu. Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat “Rapasan Sapurandanan” (kerbau yang dipotong sekurang- kurangnya 24 ekor). Sumber : Google@Rumah Adat.com Gambar 1.16. Pa’tane 2. Ngaben - pembakaran Jenasah di Bali Ngaben adalah upacara pembakaran mayat, khususnya oleh mereka yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu Pura ini. Di dalam “Panca Yadnya”, upacara ini termasuk dalam “Pitra Yadnya”, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur
  • 30. 8 Makna upacara Ngaben pada intinya adalah, untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa. Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Dalam sekali upacara ini biasanya menghabiskan dana antara 15 juta sampai 20 juta rupiah. Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa, kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya. Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda. Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat akan membuat quot;Bade dan Lembuquot; yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warna- warni dan bahan lainnya. quot;Bade dan Lembuquot; ini adalah, tempat meletakkan mayat Sumber : Google wiki pedia @ Ngaben.com Sumber : Google wiki pedia Q.Ngabe.com Gambar 1.17. Lembu Gambar 1.18. Bade Kemudian quot;Badequot; diusung beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan quot;gamelanquot;, dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Di depan quot;Badequot; terdapat kain putih panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan, dan quot;Badequot; akan diputar sebanyak 3 kali. Upacara Ngaben diawali dengan upacara-upacara dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian quot;Lembuquot; dibakar sampai menjadi abu yang kemudian dibuang ke laut atau sungai yang dianggap suci.
  • 31. 9 3. Suku Dayak Sejak abad ke 17, Suku Dayak di Kalimantan mengenal tradisi penandaan tubuh melalui tindik di daun telinga. Tak sembarangan orang bisa menindik diri hanya pemimpin suku atau panglima perang yang mengenakan tindik di kuping, sedangkan kaum wanita Dayak menggunakan anting-anting pemberat untuk memperbesar kuping daung daun telinga, menurut kepercayaan mereka, semakin besar pelebaran lubang daun telinga semakin cantik, dan semakin tinggi status sosialnya di masyarakat. Sumber : Google Wki Pedia @ suku Dayak.com Gambar 1.19. Gadis Suku Dayak Kegiatan-kegiatan adat budaya ini selalu dikaitkan dengan kejadian penting dalam kehidupan seseorang atau masyarakat. Berbagai kegiatan adat budaya ini juga mengambil bentuk kegiatan-kegiatan seni yang berkaitan dengan proses inisiasi perorangan seperti kelahiran, perkawinan dan kematian ataupun acara-acara ritus serupa selalu ada unsur musik, tari, sastra, seni rupa. Kegiatan-kegiatan adat budaya ini disebut Pesta Budaya. Manifestasi dari aktivitas kehidupan budaya masyarakat merupakan miniatur yang mencerminkan kehidupan sosial yang luhur, gambaran wajah apresiasi keseniannya, gambaran identitas budaya setempat. Kegiatan adat budaya ini dilakukan secara turun temurun dari zaman nenek moyang dan masih terus berlangsung sampai saat ini, sehingga seni menjadi perekam dan penyambung sejarah. Jadi, dapat disimpulkan yang disebut dengan kebudayaan adalah pikiran, karya, teknologi dan rangkaian tindakan suatu kelompok masyarakat. Berbicara tentang apresiasi seni, kita ketahui terlebih dahulu yang disebut seni dan klasifikasinya.
  • 32. 10 1.2. Pengertian Seni Konsep seni terus berkembang sejalan dengan berkembangnya kebudayaan dan kehidupan masyarakat yang dinamis. Aristoteles mengemukakan bahwa, seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu, demikian juga dikemukakan oleh sastrawan Rusia terkemuka Leo Tolstoy mengatakan bahwa, seni merupakan kegiatan sadar manusia dengan perantaraan (medium) tertentu untuk menyampaikan perasaan kepada orang lain. Menurut Ki Hajar Dewantara seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya, selanjutnya dikatakan oleh Akhdiat K. Mihardja; seni adalah kegiatan manusia yang merefleksikan kenyataan dalam sesuatu karya, yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya. Ungkapan seni menurut Erich Kahler; seni adalah suatu kegiatan manusia yang menjelajahi, menciptakan realitas itu dengan simbol atau kiasan tentang keutuhan “dunia kecil” yang mencerminkan “dunia besar”. Berdasarkan bentuk dan mediumnya seni dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok : seni rupa, seni pertunjukan, dan seni sastra. Tabel 1.1. Klasifikasi Seni Seni Seni Rupa Seni Pertunjukan Seni Sastra * Seni murni * Seni musik * Prosa * Seni terapan * Seni teater * Puisi * Design * Seni tari * Kriya * Film Sinematographi * Pantomim
  • 33. 11 1.3. Sifat Dasar Seni Berdasarkan hasil telaah terhadap teori-teori seni, disimpulkan bahwa seni memiliki sekurang-kurangnya 5 ciri yang merupakan sifat dasar seni (Gie, 1976:41-46). Uraian mengenai sifat dasar seni adalah sebagai berikut: a. Ciri pertama adalah sifat kreatif dari seni. Seni merupakan suatu rangkaian kegiatan manusia yang selalu mencipta karya baru. b. Ciri kedua adalah sifat individualitas dari seni. Karya seni yang diciptakan oleh seorang seniman merupakan karya yang berciri personal, Subyektif dan individual. Sebagai contoh, (1) Lagu ciptaan Iwan Fals terdengar berbeda dari lagu ciptaan Ebiet G. Ade; (2) Lukisan Lucia hartini yang bercorak Surrealisme menampilkan kekuatan daya fantasi atau imajinasi alam mimpi melalui penguasaan teknik melukis yang piawai. c. Ciri ketiga adalah seni memiliki nilai ekspresi atau perasaan. Dalam mengapresiasi dan menilai suatu karya seni harus memakai kriteria atau ukuran perasaan estetis. Seniman mengekspresikan perasaan estetisnya ke dalam karya seninya lalu penikmat seni (apresiator) menghayati, memahami dan mengapresiasi karya tersebut dengan perasaannya. Sebagai contoh, (1) lagu “Imagine” karya John Lennon merupakan ungkapan kepeduliannya terhadap nilai-nilai humanisme dan perdamaian sehingga menggugah perasaan siapapun yang mendengar. d. Ciri keempat adalah keabadian sebab seni dapat hidup sepanjang masa. Konsep karya seni yang dihasilkan oleh seorang seniman dan diapresiasi oleh masyarakat tidak dapat ditarik kembali atau terhapuskan oleh waktu. Sebagai contoh, (1) lagu Indonesia Raya karangan WR. Supratman sampai saat ini masih tetap abadi dan diapresiasi masyarakat walaupun beliau telah wafat; (2) Karya-karya lukis S. Sudjojono dan Affandi sampai saat ini masih diapresiasi oleh masyarakat dan sangat diminati oleh para kolektor lukisan walaupun beliau telah wafat e. Ciri kelima adalah semesta atau universal sebab seni berkembang di seluruh dunia dan di sepanjang waktu. Seni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Sejak jaman pra sejarah hingga jaman modern ini orang terus membuat karya seni dengan beragam fungsi dan wujudnya sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Sebagai contoh, (1) desain mode pakaian terus berkembang sesuai trend-mode yang selalu berubnah dari waktu ke waktu dan banyak mempengaruhi gaya hidup masyarakat metropolitan; (2) Di banyak negara di dunia seperti Belanda, Inggris, Jepang, Cina, Indonesia dan sebagainya dijumpai produk keramik dalam berbagai bentuk dan fungsinya.
  • 34. 12 1.4. Struktur Seni The Liang Gie (1976-70) menjelaskan bahwa dalam semua jenis kesenian terdapat unsur-unsur yang membangun karya seni sebagai berikut: a. Struktur seni merupakan tata hubungan sejumlah unsur-unsur seni yang membentuk suatu kesatuan karya seni yang utuh. Contoh struktur seni dalam bidang seni rupa adalah garis, warna, bentuk, bidang dan tekstur. Bidang seni musik adalah irama dan melodi. Bidang seni tari adalah wirama, wirasa dan wiraga. Bidang seni teater adalah gerak, suara dan lakon. b. Tema merupakan ide pokok yang dipersoalkan dalam karya seni. Ide pokok suatu karya seni dapat dipahami atau dikenal melalui pemilihan subject matter (pokok soal) dan judul karya. Pokok soal dapat berhubungan dengan niat estetis atau nilai kehidupan, yakni berupa: objek alam, alam kebendaan, suasana atau peristiwa yang metafora atau alegori. Namun tidak semua karya memiliki tema melainkan kritik. c. Medium adalah sarana yang digunakan dalam mewujudkan gagasan menjadi suatu karya seni melalui pemanfaatan material atau bahan dan alat serta penguasaan teknik berkarya. Tana medium tak ada karya seni. Pada seni rupa mediumnya adalah objek estetik dua dimensi (lukisan cat air, etsa, cukil, kayu, dan lain-lain), objek estetik tita dimensi (patu batu, relief logam, ukiran kayu). Semua jenis seni mempergunakan medium, seni musik mempergunakan medium bunyi (nada), kalau seni tari mempergunakan medium gerak, seni teater mempergunakan semua itu oleh sebab itu teater dikatakan seni yang mempergunakan multimedia, seni sastra mempergunakan keta-keta sebagai medium, seni lukis mempergunakan garis, bidang dan warna, kalau seni sastra menggunakan kataa sebagai medium. Kalau seni dapat dianggap sebagai bahasa maka setiap cabang seni memiliki bahasa tersendiri, sastra memiliki bahasa verbal, seni rupa memiliki bahasa plastis, seni tari memiliki bahasa kinetis, seni musik bahasa audio, seni lukis memiliki bahasa visual, begitu pula seni memiliki dimensi, seni musik mempunyai dimensi waktu, seni tari memiliki dimensi gerak, dan seni rupa memiliki dimensi ruang. d. Gaya atau style dalam karya seni merupakan ciri ekspresi personal yang khas dari si seniman dalam menyajikan karyanya. Menurut Soedarso SP (1987:79), gaya adalah ciri bentuk luar yang melekat pada wujud karya seni, sedangkan aliran berkaitan dengan isi karya seni yang merefleksikan pandangan atau prinsip si seniman dalam menanggapi sesuatu.
  • 35. 13 1.5. Pengertian Nilai Seni Secara umum kata “nilai” diartikan sebagai harga, kadar, mutu atau kualitas. Untuk mempunyai nilai maka sesuatu harus memiliki sifat-sifat yang penting yang bermutu atau berguna dalam kehidupan manusia (Purwadarminto, 1976:667). Dalam estetika, “nilai” diartikan sebagai keberhargaan (worth) dan kebaikan (goodness). Menurut Koentjaraningrat, “nilai” berarti suatu ide yang paling baik, yang menjunjung tinggi dan menjadi pedoman manusia/masyarakat dalam bertingkah laku, mengapresiasi cinta, keindahan, keadilan, dan sebagainya Nilai seni dipahami dalam pengertian kualitas yang terdapat dalam karya seni, baik kualitas yang bersifat kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Nilai-nilai yang dimiliki karya seni merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dihayati oleh seniman/seniwati dalam lingkungan sosial budaya masyarakat yang kemudian diekspresikan daam wujud karya seni dan dikomunikasikan kepada penikmatnya (publik seni). Ragam Nilai Seni Peran keindahan selalu terkait dengan kehidupan sosial budaya manusia sehari-hari, misalnya: dalam arsitektur rumah tinggal, menata interior/eksterior, berbusana, menikmati keindahan musik dan sebagainya. Manusia memerlukan keindahan karena memberikan kesenangan, kepuasan, sesuatu yang menyentuh perasaan. Perasaan keindahan diperoleh dari alam dan benda atau karya seni. Namun dalam perkembangannya, karya seni dicptakan tidak selalu untuk menyenangkan perasaan manusia. Karya seni dapat memberikan perasaan terkejut, namun tetap memberikan nilai-nilai yang diperlukan manusia, seperti perenungan, pemikiran, ajakan, penyadaran, pencerahan, dan lain sebagainya. Menurut The Liang Gie jenis nilai yang melekat pada seni mencakup: 1) nilai keindahan, 2) nilai pengetahuan, 3) nilai kehidupan, masing-masing mempunyai pengertian sebagai berikut : a. Nilai keindahan dapat pula disebut nilai estetis, merupakan salah satu persoalan estetis yang menurut cakupan pengertiannya dapat dibedakan menurut luasnya pengertian, yakni: a) keindahan dalam arti luas (keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual), b) keindahan dalam arti estetis murni, b) keindhaan dalam arti estetis murni, c) keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan pada prinsipnya mengkaji tentang hakikat keindahan dan kriteria keindahan yang terdapat di alam, dalam karya seni dan benda-benda lainnya. b. Dalam kecenderungan perkembangan seni dewasa ini, keindahan positif tidak lagi menjadi tujuan yang paling penting dalam berkesenian. Sebagai
  • 36. 14 seniman beranggapan lebih penting menggoncang publik dengna nilai estetis legatif (ugliness) daripada menyenangkan atau memuaskan mereka (T.L. Gie, 1976:40). Fenomena semacam ini akan kita jumpai pada karya-karya seni primitir atau karya seni lainnya yang tidak mementingkan keidahan tampilan visual namun lebih mementingkan makna simboliknya. “Ugliness” dalam karya seni termasuk nilai estetis yang negatif. Jadi sesungguhnya dalam karya seni terdapat nilai estetis yang positif dan negatif. Contoh, pameran fotografi Anjasmara dan Isabele Yahya yang bertemakan Adam dan Hawa yang dinilai sebagai kesenian yang bernilai estetis negatif. 1.6. Pengertian Ekspresi Ekspresi adalah proses ungkapan emosi atau perasaan di dalam proses penciptaan karya seni, proses ekspresi bisa diaktualisasikan melalui media. Media musik bunyi; media seni rupa adalah garis, bidang dan warna; media tari adalah gerak, media teaer adalah gerak, suara dan lakon. 1.7. Pengertian Genre (Jenis/Fungsi) Seni Menurut kritikus tari terkenal di Indonesia, Sal Murgiyanto aspek penting lain yang harus diperhatikan adalah, fungsi atau tujuan sebuah pertunjukan. Sebuah pertunjukan dapat dilakukan sebagai sebuah persembahan/doa/puji kepada arwah leluhur, ungkapan bakti kepada Dewa, Tuhan, atau penguasa semesta alam. Dapat juga dilakukan untuk menghibur diri pelakunya dan atau orang lain, untuk meneguhkan identitas atau menguatkan nilai-nilai yang diyakini seseorang atau sekelompok orang, dan bagi kenikmatan ragawi (pleasure) pelaku dan penontonnya. Fungsi kesenian dianggap tak berbeda dengan fungsi ritual. Kerumitan bentuk-bentuk kesenian mendorong kita untuk memilih istilah, kesenian ritual dan kesenian hiburan komersial. Kriteria klasifikasi ini dapat dikatakan sebagai ungkapan jenis kesenian. Sal Murgiyanto (2004) mengatakan, sesuatu karya harus indah. Pandangan ini juga didukung oleh Liang Gie Bapak Estetika seni (1964) yang menyatakan bahwa, ciri pokok seni adalah ekspresi, oleh karena itu, penilaian terhadap karya seni harus dilakukan berdasarkan ukuran perasaan estetis dan nilai-nilai.
  • 37. 15 Fungsi Seni Fungsi-fungsi seni terdiri atas fungsi ritual, pendidikan, komunikasi, hiburan, artistik dan fungsi guna. Pendidik Hiburan Idealisme FUNGSI Ritual Artistik Kesenimanan Forum Guna Dialog Terapi (Kesehatan) Sumber : Endo Suanda Gambar 1.20. Macam-macam Fungsi Seni Bagaimana kita dapat mengidentifikasikan sebuah karya seni khususnya kesenian tradisi berdasarkan fungsi-fungsinya. Berikut diuraikan tentang fungsi-fungsi seni. Fungsi Ritual Suatu pertunjukan yang digunakan untuk sebuah upacara yang berhubungan dengan upacara kelahiran, kematian, ataupun pernikahan. Contoh : Gamelan yang dimainkan pada upacara Ngaben di Bali yakni gamelan Luwang, Angklung, dan Gambang. Gamelan di Jawa Gamelan Kodhok Ngorek, Monggang, dan Ageng. Fungsi Pendidikan Seni sebagai media pendidikan misalnya musik. Contoh : Ansambel karena didalamnya terdapat kerjasama, Angklung dan Gamelan juga bernilai pendidikan dikarenakan kesenian tersebut mempunyai nilai sosial, kerjasama, dan disiplin. Fungsi Komunikasi Suatu pertunjukan seni dapat digunakan sebagai komunikasi atau kritik sosial melalui media seni tertentu seperti, wayang kulit, wayang orang dan seni teater, dapat pula syair sebuah lagu yang mempunyai pesan.
  • 38. 16 Fungsi Hiburan Seni yang berfungsi sebagai hiburan, sebuah pertunjukan khusus untuk berekspresi atau mengandung hiburan, kesenian yang tanpa dikaitkan dengan sebuah upacara ataupun dengan kesenian lain. Fungsi Artistik Seni yang berfungsi sebagai media ekspresi seniman dalam menyajikan karyanya tidak untuk hal yang komersial, misalnya terdapat pada musik kontemporer, tari kontemporer, dan seni rupa kontemporer, tidak bisa dinikmati pendengar/pengunjung, hanya bisa dinikmati para seniman dan komunitasnya. Fungsi Guna (seni terapan) Karya seni yang dibuat tanpa memperhitungkan kegunaannya kecuali sebagai media ekspresi disebut sebagai karya seni murni, sebaliknya jika dalam proses penciptaan seniman harus mempertimbangkan aspek kegunaan, hasil karya seni ini disebut seni guna atau seni terapan. Contoh : Kriya, karya seni yang dapat dipergunakan untuk perlengkapan/ peralatan rumah tangga adalah Gerabah dan Rotan. Fungsi Seni untuk Kesehatan (Terapi) Pengobatan untuk penderita gangguan physic ataupun medis dapat distimulasi melalui terapi musik, jenis musik disesuaikan dengan latar belakang kehidupan pasien. Terapi musik telah terbukti mampu digunakan untuk menyembuhkan penyandang autisme, gangguan psikologis trauma pada suatu kejadian, dan lain-lain. Seperti yang telah dikatakan Siegel (1999) menyatakan bahwa musik klasik menghasilkan gelombang alfa yang menenangkan yang dapat merangsang sistem limbic jarikan neuron otak. Selanjutnya dikatakan oleh Gregorian bahwa gamelan dapat mempertajam pikiran.
  • 39. 17 1.8. Pengertian Apresiasi Seni Menikmati, menghayati dan merasakan suatu objek atau karya seni lebih tepat lagi dengan mencermati karya seni dengan mengerti dan peka terhadap segi-segi estetiknya, sehingga mampu menikmati dan memaknai karya-karya tersebut dengan semestinya. Kegiatan apresiasi meliputi : a. Persepsi Kegiatan ini mengenalkan pada anak didik akan bentuk-bentuk karya seni di Indonesia, misalnya, mengenalkan tari-tarian, musik, rupa, dan teater yang berkembang di Indonesia, baik tradisi, maupun moderen. Pada kegiatan persepsi kita dapat mengarahkan dan meningkatkan kemampuan dengan mengidentifikasi bentuk seni. b. Pengetahuan Pada tahap ini pengetahuan sebagai dasar dalam mengapresiasi baik tentang sejarah seni yang diperkenalkan, maupun istilah-istilah yang biasa digunakan di masing-masing bidang seni. c. Pengertian Pada tingkat ini, diharapkan dapat membantu menerjemahkan tema ke dalam berbagai wujud seni, berdasarkan pengalaman, dalam kemampuannya dalam merasakan musik. d. Analisis Pada tahap ini, kita mulai mendeskripsikan salah satu bentuk seni yang sedang dipelajari, menafsir objek yang diapresiasi. e. Penilaian Pada tahap ini, lebih ditekankan pada penilaian tehadap karya-karya seni yang diapresiasi, baik secara subyektif maupun obyektif. f. Apresiasi Apresiasi merupakan bagian dari tujuan pendidikan seni di sekolah yang terdiri dari tiga hal; value ( nilai ), empathy dan feeling. Value adalah kegiatan menilai suatu keindahan seni, pengalaman estetis dan makna / fungsi seni dalam masyarakat. Sedangkan empathy, kegiatan memahami, dan menghargai. Sementara feeling, lebih pada menghayati karya seni, sehingga dapat merasakan kesenangan pada karya seni . Sejalan dengan rumusan di atas S.E. Effendi mengungkapkan bahwa apresiasi adalah mengenali karya sehingga menumbuhkan pengertian,
  • 40. 18 penghargaan, kepekaan untuk mencermati kelebihan dan kekurangan terhadap karya. Menurut Soedarso (1987) ada tiga pendekatan dalam melakukan apresiasi yakni : 1). pendekatan aplikatif, 2). pendekatan kesejarahan, 3). pendekatan problematik. Pendekatan aplikatif, adalah pendekatan dengan cara melakukan sendiri macam-macam kegiatan seni. Pendekatan kesejarahan adalah, dengan cara menganalisis dari sisi periodisasi dan asal usulnya. Sedangkan pendekatan problematik, dengan cara memahami permasalahan di dalam seni. Seorang pengamat akan berbeda dengan pengamat lainnya dalam menilai sebuah pertunjukan seni. Hal ini didasarkan pada pengalaman estetik, dan latar belakang pendidikan yang berbeda. Bahasan kajian dalam mengapresiasi seni pada tingkatan awal dengan pendekatan aplikatif adalah sebagai berikut: Seni Musik Klasik Ciri khas musiknya Bentuk musik dari zamannya Struktur musiknya Gaya musiknya Seni Musik Tradisi Ciri-ciri khas musiknya : - Laras - Pola tabuhan - Instrumen yang dimainkan - Struktur musiknya - Gaya musiknya Fungsi seni Ekspresif (nilai-nilai keindahan) Makna / pesan yang terkandung Seni Tari Kreatif Mencermati identifikasi gerak Mencermati keharmonisan gerak dan musik Mencermati kreativitas gerak Mencermati kemampuan wiraga / kelenturan Mengidentifikasi jenis tari berdasarkan garapan Mengidentifikasi tari berdasarkan orientasi Mengidentifikasi berdasarkan fungsinya
  • 41. 19 Seni Teater Mengidentifikasi perbedaan teater dan film Mengidentifikasi keberhasilan suatu pementasan Mengidentifikasi nada ucapan dan makna dalam dialog Mengidentifikasi plot lakon Seni Rupa Makna Gaya Material Elemen Estetika
  • 42. 20 TES FORMATIF BAB I Pilihlah jawaban yang tepat 1. Manakah pernyataan yang benar a. Seni berbeda dengan kebudayaan b. Seni sebagian dari kebudayaan c. Seni adalah kebudayaan d. Seni adalah wujud kebudayaan 2. Fungsi seni dapat juga diistilahkan dengan : a. Genre b. Esetika c. Apresiasi d. Ekspresi 3. Salah satu sifat dasar seni adalah .... a. Indah b. Kreatif c. Style d. Makna 4. Mengkaji keindahan di dalam seni adalah seni dalam konteks .... a. Klasifikasi seni b. Karya seni c. Nilai seni d. Sifat seni 5. Nilai estetis yang negatif yang tidak mementingkan keindahan tampilan visual tetapi lebih mementingkan .... a. Keindahan b. Orisinalitas c. Makna simbolik d. Kreativitas 6. Medium pada seni rupa a. Kayu, kain, batu, kanvas, dan lain-lain b. Bunyi c. Gerak d. Gerak dan vokal
  • 43. 21 7. Medium pada seni musik .... a. Kayu, kain, batu, kanvas dan lain-lain b. Bunyi c. Gerak d. Gerak dan vokal 8. Medium pada seni tari .... a. Kayu, kain, batu, kanvas dan lain-lain b. Bunyi c. Gerak d. Gerak dan vokal 9. Relief patung adalah karya seni rupa berdimensi... a. Dua dimensi b. Tiga dimensi c. Multi dimensi d. Multi media 10. Seni musik, seni tari dan seni teater adalah bentuk seni yang diklasifikasikan sebagi seni a. Seni pertunjukan b. Bahasa seni c. Ragam seni d. Sifat seni Jawablah dengan penjelasan yang bermakna 1. Apa yang disebut kebudayaan ? 2. Apa yang dapat dikaji seni ? 3. Ada dua bahasan estetika dalam menilai seni, sebutkan dan jelaskan ! 4. Apa saja cabang-cabang seni ? 5. Sebutkan media dari seni musik, seni tarii, seni teater, dan seni rupa.
  • 44. Bab 2 Seni Musik Mengapresiasikan Karya Seni Musik APRESIASI Pengertian Musik KLasifikasi Instrumen Sistem Nada Musik Klasik Musik Tradisi Indonesia Musik Non Western
  • 45. EKSPRESI Vokal Tangga Nada Memainkan Keyboard Teknik Memainkan Gambang Kromong Teknik Memainkan Gamelan Teknik Memainkan Kacapi
  • 46. Bu 24 BAB II SENI MUSIK 2. Mengapresiasi Karya Seni Musik 2.1. Pengertian Musik Musik adalah hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya, melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagu dan ekspresi. Klasifikasi alat musik menurut Curt Suchs dan Hornbostel : Idiophone : Badan alat musik itu sendiri yang menghasilkan bunyi. Contoh triangle, cabaza, marakas Aerophone : Udara atau satuan udara yang berada dalam alat musik itu sebagai penyebab bunyi. Contoh: recorder, seruling, saxsophone Membranophone : Kulit atau selaput tipis yang ditegangkan sebagi penyebab bunyi. Contoh : gendang, conga, drum Chordophone : Senar (dawai) yang ditegangkan sebagai penyebab bunyi. Contoh : piano, gitar, mandolin. Electrophone : Alat musik yang ragam bunyi atau bunyinya dibantu atau disebabkan adanya daya listrik. Contoh keyboard. Untuk dapat mempelajari musik dengan baik kita membutuhkan notasi musik atau sistem nada. Contoh gambar di bawah ini : Gambar 2.1. Instrumen Musik
  • 47. 25 2.2. Sistem Nada 2.2.1.Awal Terbentuknya Sistem Nada Diatonis Berawal dari bangsa Yunani (sebelum 1100 SM) Terpander adalah orang yang mengembangkan susunan nada semula 4 nada dan Polynertus (700 SM) orang yang menggunakan system 7 nada. Tangga nada Diatonis adalah tangga nada yang mempunyai jarak nada 1 dan ½. Nada dalam tangga nada Diatonis, awalnya hanya mempunyai 4 nada, yang disebut dengan Tetrachord 1, awalnya nada-nada ini dimainkan pada instrumen Lyra, nada-nada tersebut ialah : Tetrachord 1 Tetrachord 2 Nada-nada kemudian dikembangkan, nada-nada ini disebut Tetrachord 2, nada-nada tersebut adalah : Dengan demikian jumlahnya menjadi 7 nada. Sehingga untuk menghasilkan satu tangganada utuh dirangkaikan dua Tetrachord, 7 nada ini yang disebut dengan tangganada Lydis, yang sampai saat ini dipergunakan. TANGGA NADA MAYOR (asal dari tangganada Lydis) Saat ini susunan nada musik Diatonis adalah sebagai berikut :
  • 48. Bu 26 2.2.2. Titilaras Pentatonik (Musik Indonesia Asli) Titilaras dalam seni musik biasanya sering disebut notasi, yakni lambang-lambang untuk menunjukkan tinggi rendah suatu nada berupa angka atau lambang lainnya. Dalam seni musik Karawitan, titilaras memegang peranan yang penting dan praktis, sebab dengan menggunakan titilaras kita dapat mencatat, mempelajari dan menyimpannya untuk dapat dipelajari dari generasi ke generasi. Notasi Pentatonik Sistem notasi yang dipakai dalam gamelan Jawa adalah notasi pentatonik yaitu hanya menggunakan 5 buah nada. Notasinya disebut notasi kepatihan yang diciptakan oleh Raden Ngabehi Jaya Sudirga atau Wreksa Diningrat sekitar tahun 1910. Karena notasi angka ditulis di kepatihan maka notasi tersebut diberi nama notasi angka kepatihan. Sebelum muncul notasi angka Demang Kartini telah menciptakan notasi rante, karena dia tidak bisa menabuh gamelan maka diserahkan pada Sudiradraka (Guna Sentika) lalu oleh Sudiradraka diserahkan ke Kepatihan yaitu kepada Sasradiningrat IV, kemudian diserahkan kepada adiknya Wreksodiningrat. Kemudian Wreksodiningrat punya ide yaitu memberi angka pada bilah saron karena untuk pembelajaran menabuh gamelan dan memindahkan notasi rante agar mudah dibaca pada tahun 1890. Macam-macam nada dalam Notasi Kepatihan adalah sebagai berikut. Penanggul yaitu nada 1 : siji dibaca ji Gulu yaitu nada 2 : loro dibaca ro Dhada yaitu nada 3 : telu dibaca lu Pelog yaitu nada 4 : papat dibaca pat Lima yaitu nada 5 : lima dibaca mo Nem yaitu nada 6 : enem dibaca nem Barang yaitu nada 7 : pitu dibaca pi Gambar 2.2. Notasi Rante Sumber : Demang Kartini, cuplikan melodi lagu Ladiang Wilujeng bagian umpak
  • 49. 27 Laras Tangga nada dalam bahasa Jawa secara umum disebut laras atau secara lengkap disebut titi laras, istilah titi dapat diartikan sebagai angka, tulis, tanda, notasi atau lambang sedangkan istilah laras dalam pengertian ini berarti susunan nada. atau tangga nada. Dan dalam bahasa Indonesia titilaras berarti tangganada. Dengan demikian istilah titilaras mempunyai pengertian suatu notasi tulis, huruf, angka atau lambang yang menunjuk pada ricikan tanda-tanda nada menurut suatu nada tertentu. Dalam penggunaan sehari-hari istilah titi laras sering disingkat menjadi laras. Laras ini mempunyai 2 macam, yaitu ada 2 jenis titilaras yaitu: a. Laras Slendro, secara umum suasana yang dihasilkan dari laras slendro adalah suasana yang bersifat riang, ringan, gembira dan terasa lebih ramai. Hal ini dibuktikan banyaknya adegan perang, perkelahian atau baris diiringi gending laras slendro. Penggunaan laras slendro dapat memberikan kesan sebaliknya, yaitu sendu, sedih atau romantis. Misalnya pada gending yang menggunakan laras slendro miring. Nada miring adalah nada laras slendro yang secara sengaja dimainkan tidak tepat pada nada-nadanya. Oleh karena itu banyak adegan rindu, percintaan kangen, sedih, sendu, kematian, merana diiringi gendhing yang berlaras slendro miring. b. Laras Pelog, secara umum menghasilkan suasana yang bersifat memberikan kesan gagah, agung, keramat dan sakral khususnya pada permainan gendhing yang menggunakan laras pelog nem. Oleh karena itu banyak adegan persidangan agung yang menegangkan, adegan masuknya seorang Raja ke sanggar pamelegan (tempat pemujaan). adegan marah, adegan yang menyatakan sakit hati atau adegan yang menyatakan dendam diiringi gendhing-gendhing laras pelog. Tetapi pada permainan nada-nada tertentu laras pelog dapat juga memberi kesan gembira, ringan dan semarak. misalnya pada gendhing yang dimainkan pada laras pelog barang. Laras pentatonik yaitu susunan nadanya tidak hanya mempunyai jarak 1 dan ½, tetapi juga Titilaras yang ada antara lain : 1. Titilaras kepatihan, dibuat tahun (1910) oleh Kanjeng R.M Haryo Wreksadiningrat di Keraton Surakarta. 2. Titilaras ding-dong, dibuat oleh pegawai di Singhamandawa 896 M tidak berupa angka tapi berupa lambang : /dong, deng, dung, dang, ding yang digunakan untuk mencatat dan mempelajari gamelan Bali.
  • 50. Bu 28 3. Titilaras daminatilada, yakni titilaras ciptaan R.M. Machjar Angga Koesoemadinata untuk karawitan sunda (1916). Titilaras berwujud angka 1 2 3 4 5 6 7 I sebagai pengganti nama bilahan gamelan agar lebih mudah dicatat dan dipelajari, namun dibacanya ji ro lu pat ma nem pi ji. Tinggi rendah nada titilaras bagi laras slendro dan pelog berbeda. Pada laras slendro tingkatan suara untuk tiap nada adalah sarna, setiap satu oktaf dibagi menjadi 5 laras, tetapi pada gamelan laras pelog, tingkatan nada masing-masing bilahan tidak sama. Perbedaan antara laras slendro dan pelog dapat dilihat pada tabel 2 Nada pada laras slendro dan pelog dapat kita lihat : Slendro Pelog Nem Pelog Barang Barang Panunggul (Bem) 1 Barang 1 1 Gulu/jangga Gulu/jangga 2 Gulu/jangga 2 2 Dada/tengah Dada/tengah 3 Dada/tengah 3 3 Lima Lima 5 Lima 5 5 Nem Nem 6 Nem 6 6 Tabel 2. Laras Slendro dan Pelog Notasi Barat (Diatonis) mempunyai jarak 1 dan ½. Nada yang dihasilkan antara musik Diatonis dan Pentatonik jika diukur dengan Stroboccon dan melograph tidak sama tinggi nadanya, sebagai contoh walaupun sama-sama terdengar do, nada-nada yang dihasilkan dari instrumen gamelan mempunyai perbedaan antara satu perangkat gamelan yang satu dengan perangkat -gamelan yang lainnya tergantung dari pembuatannya tetapi jika nada-nada pada instrumen gamelan dimainkan nada yang terdengar pada laras : Pelog seperti : do, mi, fa, sol, si, do. Degung seperti : mi, fa, sol, si, do, mi Slendro seperti : re, mi, sol, la, do, re
  • 51. 29 Hasil penelitian dari R. Machjar Angga Koesoemadinata dengan Musicoloog Jaap Kunst selama 50 tahun (1916-1966) tentang tinggi nada laras pentatonik. * Raras Pelog ialah : do 200 re 200 mi 100 fa 200 sol 200 la 200 si 100 do' Murdararasnya atau raras-pokoknya ialah : do 400 mi 100 fa 200 sol 400 si 100 do', sedang raras re dan raras la hanyalah bertugas sebagai raras-perhiasan saja. Jadi raras Pelog itu ialah modus mayor tanpa re dan la. * Raras Degung ialah : mi 100 fa 200 sol 400 si 100 do'400 mi', sedang ra ra s re d a n a p a la gi r aras la dijadikan raras-perhiasan (uparenggararas). Jadi raras degung itu ialah modus Doris dari musik Yunani tanpa raras re dan raras la. Musik tradisi banyak mengalami evolusi, sebagai contoh fungsi angklung, dahulu berfungsi sebagai ritual penanaman padi dalam acara mengarak padi dari sawah, namun saat ini disajikan sebagai bentuk seni pertunjukan. Musik gamelan pun dahulu hanya dimainkan dalam keraton sebagai sahnya upacara, namun kini telah bergeser fungsi sebagai kesenian hiburan dan kesenian pendidikan. 2.3. Musik Klasik Christine Ammer berpendapat, musik klasik adalah musik yang serius. Scholes mempertegas bahwa, musik klasik adalah musik pada akhir abad XVI-XVIII. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa, musik klasik digunakan sebagai label bagi musik yang permanen atau tidak berubah-ubah dan mempunyai nilai konstan. Ditekankan lagi oleh Rieman; musik klasik adalah hasil karya seni yang telah terbukti abadi. Karakter Musik Klasik Menurut Ammer, musik klasik adalah musik yang anggun, berkesan formal, mempunyai aturan, yang dimaksud adalah musik klasik tidak dapat dimainkan sekehendak hati pemainnya, setiap bagian harus dimainkan sesuai aslinya dan diikuti secara mendetail. 2.3.1 Periode musik klasik 1. Zaman Pertengahan 2. Zaman Renaisance 3. Zaman Barok 4. Zaman Rokoko (pra Klasik) 5. Zaman Klasik 6. Zaman Romantik 7. Abad 20 2.3.1.1 Pertengahan 1300 Gregorion Chant : Acapela Organum : Tradisional 1500 The Notre Dame Mass : Monofonik, paduan suara, sejenis suara (1 suara)
  • 52. Bu 30 2.3.1.2. Zaman Renaisance (1450 – 1600) Pada zaman ini vokal lebih dipentingkan daripada instrumen, sehingga komposer lebih memperhatikan syair untuk meningkatkan kualitas syair dan emosi lagu. Ciri khas musik “renaissance” adalah, Acappella bernyanyi tanpa diiringi instrumen dengan teknik dan harmonisasi yang bagus. Choral music yang bertipe 4,5,6 suara Polyphonic (banyak suara) contohnya menyanyi dalam kelompok dengan melodi beragam dalam satu kesatuan Texturenya Homophonic dengan rentetan akor Wilayah nada lebih dari 4 oktaf Musik Ibadah : Josquin des Prez (vokal) Kemudian dibakukan Molet Komonis : Palestina; Pope Marcellus Mass Thomas Morley Instrumen Andrea Gabrieli: Karyanya Ricercar in Twelth Mode 2.3.1.3. Zaman Barok (1600 – 1750) Karakteristik musik Bas Kontinuo adalah suatu ciri khas musik Barok pada awal sampai akhir masa itu, kontinuo lengkap dengan bas berangka. Tekstur musiknya yang polifonik harmonik, suara-suara yang terpenting dalam musik Barok adalah sopran dan bas. Bas merupakan dasar dari semua akor, suara bas dimainkan dengan alat musik melodik, seperti viol atau cello dengan akor-akor, bas atau iringan disuarakan oleh instrumen harpa, harpsichord atau orgel pipa. Munculnya ornamen (not hias) Mempelopori dinamik yang berangsur-angsur dari lembut sekali sampai lembutnya sedang yang disimbolkan (ppp – mp) Lahirnya opera dan orkestra. Komponis : - Antonio vivaldi - Johan Sebastian Bach - George Frideric Handel Musik Bach Musik Bach adalah paling unik, komposisi Bach bertekstur polyfonik. Yang dimaksud tesktur adalah rajutan musikal atau cara menjalin alur melodi yang terbagi monofonik, polifonik dan homofonik. Komposisi Bach yang bertekstur polifonik artinya adalah masing- masing suara gerakan melodinya mandiri, lebih dari satu suara maksimal 2 atau 3 suara untuk instrumen dan vokal untuk solo performance, bukan sebagai pengiring. Teknik untuk membuat polifonik disebut Kontrapung, contohnya canon dan fuga (bersahut-sahutan dan suara imitasi).
  • 53. 31 Canon : Komposisi vokal ataupun instrumen yang suara imitasinya dalam Tonika, contoh sebagai berikut : J.S. Bach: - Karyanya Brandenburg Concerto No. 1-6 - Opera Claudio Monteverdi Orteo - Sonata Barok Vivaldi : The Four Season Suara pokok Suara imitasi Fuga : Komposisi untuk instrumen, hanya pada Fuga, terdiri dari suara pokok dalam Tonika, suara imitasi dalam Dominan, suara 3 kembali dalam Tonika. 2.3.1.4. Zaman Rokoko (Pra Klasik) Perbedaan-perbedaan pokok antara Gaya Barok dan Gaya Rokoko : - Bas tidak lagi terdapat sebagai suara yang bebas, tekstur polifonik berangsur-angsur menjadi homofonik yakni (melodi dan iringan akor dalam satu komposisi) - Pemakaian Kontinuo masih berfungsi dalam musik Gerejawi. - Pada Zaman Barok motif yang pendek diperpanjang melalui kontrapung dan sekuens, dalam Zaman Rokoko melodi-melodi berbentuk dalam frase-frase sepanjang 6 birama dengan banyak kadens. - Gaya Rokoko melodinya kontras terjadi perubahan nuansa.
  • 54. Bu 32 KOMPONIS ZAMAN BAROK Sumber : An Appreciation Music Sumber : An Appreciation Music Gb. 2.3. Antonio Vivaldi Gb. 2.4. Johan Sebastian Bach 2.3.1.5. Zaman Klasik (1750 – 1820) Komposisi instrumen periode klasik terdiri dari beberapa bagian yang kontras dari tempo dan karakter. Karakteristik gaya musik klasik : Kontras di tema, perubahan nuansa dalam dinamik dengan gaya berangsur-angsur dari lembut berangsur-angsur keras kemudian melambat lagi ataupun dari keras tiba-tiba menjadi lembut, ungkapan ekspresi begitu pula pada pola ritme, penggunaan tanda istirahat, sinkop, perubahan not panjang ke not pendek. Teksturnya homofonik, komposisinya bukan untuk sebagai pengiring, tetapi untuk permainan solo, kontras pada ritme misal dari melodi dan iringan sederhana, kemudian berubah menjadi komposisi yang sulit pada bagian berikutnya. Dinamik : munculnya crescendo dan decresendo. Berakhirnya komposisi bas continue. Vienna Vienna adalah pusat tempat kegiatan musik Eropa sepanjang zaman periode klasik, Vienna adalah penyelenggara kegiatan musik yang berorientasi komersial. Pada zaman klasik muncul bentuk komposisi musik yang disebut sonata dan simfoni, Sonata adalah karya musik untuk permainan solo, sedangkan simfoni adalah sonata untuk orkestra, bentuknya sama dengan Sonata hanya simfoni biasanya dilengkapi dengan bagian sisipan yang disebut minuet, trio dan scherzo.
  • 55. 33 Bentuk Komposisi Musik Klasik Karya musik yang terdiri atas empat bagian satu kesatuan yang utuh, masing-masing dirancang dalam rangkaian tempo cepat, lambat kemudian nuansa tempo seperti musik dansa, kembali lagi ke bagian 1 dengan tempo cepat sebagai penutup. Bentuk Musik Klasik 1. Fast movement 2. Slow movement 3. Dance related movement 4. Fast movement Bentuk Komposisi Sonata akan dijelaskan sebagai berikut : Sonata Sonata adalah karya musik yang terdiri dari atas 3 bagian, satu kesatuan yang utuh, masing-masing dirancang dalam rangkaian tempo cepat, lambat dan kembali ke tempo cepat. Sonata terbagi atas 4 bagian yakni : - Eksposisi - Pengembangan - Rekapitulasi - Coda Bagian Eksposisi Yang dimaksud eksposisi adalah bagian yang menggambarkan nuansa penuh semangat, kuat eksposisi terbagi atas tema pokok, bridge, tema ke II, dan tema penutup, yang dimaksud tema pokok, adalah memuat pola ritmis dan melodis yang dikenal dengan motif, tema pokok dimainkan dalam tonik. Jembatan, berfungsi untuk mengatur perubahan tangganada (modulasi) jika gerakan berada dalam tangganada Mayor maka tangganada kontras ada pada dominan, jika gerakan berada dalam tangganada Minor maka tangganada kontras ada pada relatifnya. Tema II, bernuansa lebih liris (ekspresif) dan berisi nyanyian yang bersifat melodis. Tema penutup, memiliki 1 atau beberapa tema dapat pula mengacu pada tema ke II yang berfungsi untuk menutup bagian eksposisi.
  • 56. Bu 34 Pengembangan Bagian ini mengandung uraian tema dari eksposisi dibentuk kedalam motif-motif. Rekapitulasi Merupakan sebuah pernyataan kembali bagian eksposisi, tetapi dengan modifikasi-modifikasi tertentu, Pada Rekapitulasi Tema ke II dan Tema Penutup menggunakan tangganada Tonika bukan tangganada yang kontras. Coda Pada bagian akhir dari sebuah sonata, umumnya menggunakan coda sebagai penutup, coda merupakan penutup dari seluruh rangkaian, bagian ini biasanya diawali dengan dominan, apabila awal lagu dalam mayor apabila awal lagu dimulai dengan minor, dan berakhir pada tonik tetapi apabila akhir sebuah sonata tidak kembali ke tonika, rangkaian lagu tersebut disebut Atonal. Jika digambarkan gerakan komposisi bentuk karya musik sonata adalah : Eksposisi Pengembangan Rekapitulasi Penutup (tema pokok) (pengembangan tema pokok) (koda) Komponisnya yang terkenal antara lain : W.A. Mozart Beethoven J. Haydn Instrumen Piano muncul pada zaman Klasik. Piano Pada zaman sebelumnya(zaman pra klasik) sebelum menjadi Piano cikal bakal bentuk instrumennya adalah Harpsichord, kemudian pada tahun 1775, lahirlah Piano seperti yang kita kenal saat ini.
  • 57. 35 Zaman klasik sebagai zaman yang mewakili periode pembabakan musik klasik dikarenakan musiknya yang unik, menegaskan struktur musik yang jelas, mengalami kemajuan pesat dari karya-karyanya yang menjadi dasar perkembangan periode musik selanjutnya. Tahun 1707, Bartolomeo Christofori menciptakan (Harpsichord) cikal bakal sebelum menjadi piano, yang mempunyai bilah nada bertingkat, bilah nada masih terbuat dari kayu, dan jangkauan oktafnya belum luas. Sumber : Buku An Appreciation Music Gambar 2.5. Harpsichord Sumber : Buku Pono Banoe Gambar 2.6. Grand Piano Piano penting di pelajari karena merupakan induk dari semua Instrumen 1. Piano dalam ukuran yang standard memliki 88 bilah nada 52 putih dan 32 hitam yang tersusun rapih dalam suatu papan nada dengan wilayah nada yang menjangkaui 7 ¼ oktaf, suatu jangkauan yang tidak dapat dicapai oleh alat musik manapun juga, sehingga piano merupakan musik yang mutlak harus dikuasai oleh setiap guru yang bertugas sebagai pendidik musik. 2. Susunan papan bilah nada, merupakan susunan yang paling sederhana sebagai alat visual, dari musik diatonis. Hal ini tidak dapat ditampilkan pada alat musik lain, sehingga nada menjadi suatu yang nyata. 3. Dengan piano, kita dapat bermain musik secara utuh, dengan menampilkan melodi, irama dan harmoni sekaligus.
  • 58. Bu 36 4. Dapat dipergunakan untuk menjelaskan semua teori musik dengan mudah dan nyata. 5. Dalam memproduksi suara menurut dinamika yang dituntut, diatur lemah lembutnya melalui sentuhan jari serta pengaturan pedal kaki. Sumber : Buku Beyer Gambar 2.7. Papan Bilah Nada
  • 59. 37 KOMPONIS ZAMAN KLASIK Sumber : An Apreciation Music Gb. 2.8. J. Haydn Sumber : An Apreciation Music Gb. 2.9. W. A. Mozart Sumber : An Apreciation Music Gb. 2.10. L. V. Beethoven Opera Mozart Dun Giovanni W.A. Mozart : Simfoni No. 40 in G minor K 550 J. Haydn Simfoni No. 103 in Es Mayor (Drum Roll) LV. Beethoven : 9 simfoni, yang terkenal yang bernomor ganjil 2.3.1.6. Zaman Romantik (1820 – 1900) Musik pada zaman ini menggambarkan nasionalisme , lebih universal, pada komposisi orkestra terdapat tambahan pemakaian cymbal, triangle dan harpa. Piano merupakan pentatonik terfavorit pada zaman pentatonik dan mulai menjadi musik keluarga Ciri khas musiknya Chromatik Dinamik yang ekstrim ff x pp ff artinya nada dimainkan keras sekali, kemudian pp, nada dimainkan lembut sekali yang dilambangkan pp.
  • 60. Bu 38 Accelerando ritardando Kebebasan tempo dapat diatur oleh sipemain sendiri, guna penyajian ekspresi. Claude Debussy : karya-karyanya adalah Atonal yakni akhir lagu tidak kembali ke tonik, Debussy gaya musiknya memadu modus gereja dan pentatonik musik Jawa, Debussy pernah menyaksikan permainan gamelan Jawa, sehingga mengadopsi musik Jawa ke dalam karya musiknya. KOMPONIS ZAMAN ROMANTIK Gambar : An Apreciation Music Gb. 2.11. F. CHOPIN Gambar : An Apreciation Music Gb. 2.12. J. BRAHMS CORBIS Gambar : An Apreciation Music Gb. 2.13. F. MENDELSSOHN Romantik (Awal Romantik) Schubert : Simfoni No. 8 unvinished in b minor Franst List : Concerto No. 1 Piano dan orkestra in Es Mayor (Akhir Romantik) P.I. Tchaikovsky karyanya karyanya Piano Concerto No. 1 in Bes mayor J. Brahms, Simfoni No. 1-4 Impresionisme C Debussy : Prelude to The Afternoon of a Faun Maurice Rafel : Bolero
  • 61. 39 2.3.1.7. Awal Abad 20 Ekspresionisme Arnold Schoeberg : Five Pieces for Orchestra op. 16 Aturan-aturan kategori musik abad 20, dilihat dari gaya musik yang baru terlepas dari estetika zaman romantik, sistem tangganada baru, sistem harmoni baru, pola ritmik yang beraneka ragam, pada zaman ini instrumen perkusi dalam orchestra lebih mempunyai peran. 2.3.1.7.A. Abad 20 Perubahan besar-besaran terjadi pada musik zaman ini, nada, ritme, mendobrak tradisi kelaziman, mengherankan, menakjubkan sebuah karya master piece. Stravinsky dan Copland Komposisinya menggunakan ritme jazz. Bela Bartok Komposisinya menggunakan struktur ritme yang bebas. Mikrokosmos Dance in Bulgarian Rhythm No. 2 Brahms dan Schoenberg mempelopori penggunaan struktur frase yang tidak sama, karya Brahms Rhapsody No. 2 opus 79 in G minor George Gershwin, karya-karya komposisinya terkenal dengan style jazz. Contoh Prelude I in Bes Mayor dan Prelude III in Es Minor. Karakteristiik musik abad 20 adalah : Warna nada : - memakai komposisi dengan munculnya alterasi - Munculnya teknik pentatonik Harmoni :- Kreasi harmoni baru yang disebut polychord yang artinya kombinasi 2 akor, atau akor progresif. Modulasi Ritmik :- Komposisi pada zaman ini karyanya beraneka nuansa yakni terdiri dari nuansa jazz nuansa dari berbagai Negara. Poliritmik :- Ritme yang kontras, kaya akan variasi ritmik. KOMPONIS ZAMAN ABAD 20 Sumber : An Apreciation Music Sumber : An Apreciation Music Sumber : An Apreciation Music Gb. 2.14. C. DEBUSSY Gb. 2.15. BELLA BARTOK Gb. 2.16. G. GERSHWIN
  • 62. Bu 40 2.3.1.7.B. Musik Jazz (1910) Musik yang berasal dari Afrika Amerika, ini adalah musik improvisasi dan ritme yang sinkop, beat yang mantap, warna musik yang berbeda dan menunjukkan teknik yang khas, kekhasan musik jazz dapat dilihat dari uraian berikut : Ritmik Ritmik merupakan salah satu pondasi dasar yang membentuk suatu jenis aliran musik. Seperti dalam musik jazz, ritmik dijadikan kekuatan yang digunakan untuk membangun suasana. Hal ini dipengaruhi juga dari akulturasi musik tribal dari Afrika yang kaya akan pola ritmik dan memiliki ritmik yang sangat kompleks. Beberapa ritmik yang perlu diketahui dalam melakukan improvisasi adalah sebagai berikut : a. Time Feel : ketukan yang dilakukan tepat dengan birama atau biasa disebut dengan on-beat/down beat, seperti yang dilihat pada contoh gambar berikut : b. A-head: ketukan yang dilakukan tidak persis tepat pada hitungan melainkan terjadi percepatan hitungan. c. Swing Feel : mengetuk birama dengan merasakan triplet. Swing feel merupakan hal yang sangat mendasar dalam permainan musik jazz. Penulisan swing feel : Cara menyanyikan swing feel : d. Sinkop : ketukan yang dilakukan tepat pada hitungan gantung, istilah sinkop juga dapat disebut dengan up-beat. e. Laying back: ketukan yang dilakukan tidak persis tepat pada hitungan melainkan terjadi penundaan hitungan. Akar Jazz, Ragtime, dan Blues Awalnya style jazz adalah style Ragtime, the king of ragtime adalah Scott Joplin (1868-1917). Style Blues mempengaruhi perkembangan rhytm rock and roll dan soul.
  • 63. 41 2.4. Musik Tradisi Indonesia Kesenian yang berdasarkan nilai-nilai budaya nusantara yang beragam, seni yang berakar dari tradisi. Topik atau materi yang dibahas tidak dapat meliputi keseluruhan propinsi, musik tradisi yang dapat dikupas hanya terdiri dari beberapa kesenian berdasarkan pertimbangan belum semua propinsi mendata kesenian daerahnya, beberapa kesenian telah dikenal luas, tebanya (namanya) telah mendunia seperti Gamelan Jawa dan Kesenian Bali, kesenian ini juga mengandung banyak hal dari keragaman seni budayanya. Kesenian yang akan dibahas adalah : A. Musik Betawi B. Musik Bali C. Gamelan Jawa D. Angklung sebagai salah satu kesenian Jawa Barat E. Sampe sebagai salah satu kesenian Kalimantan Timur Berikut ini akan diuraikan satu persatu musik tradisi tersebut. 2.4.1. Musik Betawi Sumber : Ikhtisar Kesenian Betawi Gambar 2.17. Ondel-Ondel Kesenian yang “representative” mewakili Betawi adalah, Ondel-ondel. Sejarah kesenian ondel-ondel dimulai pada 1605, iring-iringan Pangeran Jayakarta untuk ikut merayakan pesta khitanan Pangeran Abdul Mafakhit (Pangeran Banten), Pangeran Jayakarta membawa boneka berbentuk
  • 64. Bu 42 raksasa yang sekarang kita kenal sebagai “ondel-ondel” yang dianggap sebagai pelindung untuk menolak bala. Keanekaragaman musik Betawi dapat kita lihat antara lain pada orkes gambang kromong, yang sangat kental dengan entat Cina , pengaruh Eropa jelas terlihat pada musik tanjidor, entat melayu tampak entaton pada orkes samrah, dan musik Betawi yang bernafaskan Islam terlihat pada musik yang umumnya menggunakan alat rebana. Seni musik Betawi antara lain gambang kromong, tanjidor, keroncong tugu, gamelan ajeng, gamelan topeng, gamelan rancag, samrah dan macam- macam rebana. 2.4.1.1. Gambang Kromong Sumber : Ikhtisar Kesenian Betawi Gambar 2.18. Gambang Kromong Gambang Kromong diambil dari nama dua buah alat musik yaitu gambang dan kromong, bilahan gambang berjumlah 18 buah terbuat dari kayu suangking, kromong terbuat dari perunggu berjumlah 10 buah berbentuk pencon, pengaruh Cina tampak pada alat musik Tehyan Kongahyan dan Sukong, alat musik lainnya adalah gendang, kecrek dan gong. Gambang Kromong selain dapat dimainkan sebagai kesenian mandiri, juga adalah musik pengiring Lenong. Gambang Kromong dapat berkembang dikarenakan mempunyai 2 bentuk yaitu “Gambang Kromong Asli dan Gambang Kromong Kombinasi”, gambang kromong asli ialah alat musik berlaras pakem entatonic namun agar dapat dinikmati masyarakat yang heterogen alat musiknya dapat dikombinasikan dengan alat musik elektronik seperti bass, organ, saxophone, drum, namun warna suara gambang kromong masih tetap terdengar. Keunikan gambang kromong memiliki pola iringan yang baku.
  • 65. 43 Kongahyan, Tehyan, Sukong Adalah alat musik gesek berdawai dua yang direntangkan pada tabung resonansi terbuat dari tempurung bertangkai panjang yang kecil disebut kongahyan yang tengah tehyan dan yang terbesar disebut Sukong. Lagu-lagu yang selalu dinyanyikan Gambang Kromong disebut lagu sayur yaitu lagu Jali-Jali, Sirih Kuning, Kicir-Kicir. Instumentalia musik yang dimainkan tanpa nyanyian disebut Phobin Sumber : Peta Seni Budaya Betawi Gambar 2.19. Kongahyan, Tehyan dan Sukong 2.4.1.2. Tanjidor Sumber : Ikhtisar Kesenian Betawi Gambar 2.20. Tanjidor Tanjidor adalah sejenis orkes rakyat Betawi yang menggunakan alat- alat musik barat terutama alat tiup. Tanjidor berkembang sejak abad ke sembilan belas.
  • 66. Bu 44 Pada umumnya alat-alat musik pada orkes tanjidor terdiri dari alat musik tiup seperti piston (cornet a piston) trombone, tenor, clarinet, bass, dilengkapi dengan alat musik tambur dan gendering, yang termasuk dalam golongan instrumen membranophone. Tanjidor adalah orkes untuk pengiring pawai atau arak-arak pengantin. Lagu-lagu yang biasa dibawakan oleh orkes tanjidor adalah batalion, kramton dan bananas. Pada perkembangan kemudian lagu yang dibawakan ialah lagu seperti surilang dan jali-jali. 2.4.1.3. Samrah Sumber : Ikhtisar Kesenian Betawi Gambar 2.21. Samrah Samrah Betawi adalah suatu ansambel musik yang hidup di Betawi yang dipengaruhi oleh musik Arab dan Melayu, dengan alat-alat bunyi- bunyian Harmonium, Biola sebagai Waditra utama. Samrah lahir pada tahun 1918, dan berasal dari Dulmuluk Riau, lagu- lagu Samrah Betawi dipengaruhi oleh Japin, India, Cina dan Arab Gaya Lagu Lagu-lagu Melayu terdapat Melayu Riau, Melayu Betawi. Disebutkan pula bahwa lagu-lagu Samrah Betawi dipengaruhi oleh Japin, India, Cina dan Arab. Di sini dapat dibuktikan bahwa susunan nada yang khas Melayu sebagai berikut : 6 5 4 4 3 2 1. Di dalam lagu-lagu Samrah sangat banyak melodi yang bersusunan nada seperti di atas. Dan akan lebih terdengar lagi pada gereneknya (cengkok) bila disajikan.
  • 67. 45 - Susunan nada Gaya India : 1 6 6 5 4 3 2 1, contoh lagu Irama India sebagai berikut 2/4, sedang. Jika sebuah lagu mengandung bagian-bagian lagu menurut susunan nada Gaya India di atas, maka lagu tersebut dinamakan lagu berirama India. Yang menonjol pada lagu mandiri lagi irama India. Sedangkan susunan nadanya menjadi skonder. - Susunan nada Gaya Cina : 1 6 5 3 2 1 Contoh lagu Gaya Cina 4/4, sedang. Lagu-lagu yang berirama Lagu Cina sangat terbatas di dalam Musik Samrah, yaitu lagu Senandung Cina. - Susunan nada Melayu dalam Tangganada Mayor seperti di bawah ini ; 4/4, Lambat. Apabila lagu-lagu Musik Samrah Betawi dipengaruhi Lagu Melayu, maka susunan nada yang dipergunakan seperti di atas. Dan ini sangat banyak dipergunakan di dalam lagu-lagu Samrah. Dengan demikian jelas lagu-lagu Samrah dipengaruhi Lagu-lagu Melayu terutama tentang susunan nadanya. Ini dapat kita lihat di dalam lampiran. - Susunan Nada Irama Arab : 1 7 5 4 3 2 Birama 4/4, Lambat Pada umumnya lagu-lagu yang bersusunan nada seperti di atas terdapat pada lagu-lagu Orkes Gambus. Kemudian masuk ke Irama Japin. Sedangkan Japin mempengaruhi juga terhadap lagu-lagu Samrah. Dengan demikian, tidak asing lagi Irama Samrah diilhami oleh irama Japin.
  • 68. Bu 46 2.4.1.4. Keroncong Tugu Sumber : Ikhtisar Kesenian Betawi Gambar 2.22. Keroncong Tugu Dahulu dimainkan pada upacara “Pesta Panen”, pesta pertemuan keluarga, alat musik keroncong terdiri dari biola, okulele, banyo, gitar, rebana, kempil dan cello, Moresco”, kostum yang dipergunakan untuk laki-laki adalah baju koko, sedangkan untuk wanita menggunakan kain kebaya. 2.4.1.5. Gambang Rancag Gambang Rancag adalah kesenian yang dipergunakan untuk mengiringi cerita-cerita Betawi seperti Pitung yang dibawakan dalam bentuk pantun berkait. Rancag artinya tutur dan pantun berkait. Alat musiknya adalah gambang, kromong, tehyah gendang, kecrek, gong dan suling. 2.4.1.6. Rebana Rebana Betawi terdiri dari bermacam-macam jenis dan nama; rebana ketimpring, rebana ngarak, rebana mauled, rebana birdah, rebana dor dan rebana biang. Rebana Ketimpring : terdiri dari 3 buah rebana fungsinya sebagai arak- arakan pada perayaan maulid.
  • 69. 47 Rebana Hadroh : terdiri dari 3 atau 4 buah rebana, digunakan untuk mengiringi syair-syair hadroh. Rebana Dor : pada rebana dor terdapat lubang-lubang kecil untuk tempat jari, biasa digunakan untuk mengiringi lagu- lagu dari timur tengah, karena digunakan untuk mengiringi nyanyi maka disebut pula rebana lagu. Rebana Kasidah : merupakan perkembangan lebih lanjut dari rebana dor, dewasa ini lazimnya dimainkan oleh kaum wanita, dapat dimainkan pada perayaan keagamaan. Rebana Maulid : fungsi rebana kasidah adalah sama dengan rebana maulid. Rebana Birdah : rebana yang berfungsi membawakan qarda (puisi arab) pada umumnya lagu-lagu yang dinyanyikan/ dimainkan berirama 4/4 dimainkan sambil duduk bersila, sedangkan lagu-lagu yang berirama lebih cepat yang disebut Fansub dimainkan sambil berdiri. Rebana Biang : mengiringi tarian Blenggo, seperti rebana-rebana lainnya, rebana biang biasanya untuk memeriahkan berbagai perayaan, khitanan, pernikahan. 2.4.2. Musik Bali Seni Indonesia dalam hal ini fungsi kesenian dianggap tak berbeda dengan fungsi ritual, kerumitan bentuk-bentuk kesenian mendorong kita untuk memilih istilah kesenian ritual. Di Bali setiap kegiatan mempunyai kesenian khusus yang ditampilkan ketika melakukan ritual. Di Bali istilah gamelan adalah Gambelan. 2.4.2.1. Gamelan untuk upacara Gambelan sakral untuk Ngaben adalah : Gambelan Luwang (pelog 7 nada) Gambelan Angklung (slendro 4 nada) Gambang 2.4.2.2. Gambelan untuk hiburan : Gong Gede Gong Gede adalah gamelan terbesar di Bali yang terdiri dari 46 instrumen yakni termasuk trompong, reyong, kempyung, gangsa jongkok (saron), penyacah jegogan, jublag, drums (kendang) kempur, gong besar dan cymbal / ceng – ceng.
  • 70. Bu 48 Gamelan ini dimainkan pada upacara tahun baru, pada gamelan ini yang berperan sebagai melodi adalah trompang, gamelan ini dapat pula sebagai pengiring tari topeng, tari baris dan rejang, gamelan gong gede mempunyai laras pelog. Sumber : Buku Lata Mahosadhi STSI Denpasar Gambar 2.23. Gamelan Gong Gede 2.4.2.3. Gambelan Joged Bumbung (Grantang) Gambelan ini berlaras slendro (5 nada), gambelan ini khusus untuk mengiringi tari jogged bumbung, penonton dapat berekspresi dan berimprovisasi gerak dan banyak mendapat pengaruh dari tari legong, fungsi seninya dahulu adalah untuk panen padi. Gambelan jogged bumbung disebut juga gambelan gegeran tangan, karena pokok-pokok instrumennya adalah gerantang, yaitu gender terbuat dari bambu berbentuk bumbung, instrumennya terdiri : Gerantang 4-8 buah, 4 gerantang gede, 4 gerantang kecil berfungsi sebagai pembawa melodi, kemodong berfungsi sebagai gong dan berfungsi sebagai penutup lagu kempul, berfungsi sebagai gong kecil, kelentang, rincik/ cengceng berfungsi sebagai pemanis lagu, kendang sebagai penentu irama, suling 4 buah untuk pemanis lagu. Sumber : Buku Lata Mahosadhi STSI Denpasar Gambar 2.24. Gamelan Joged Bumbung (Gantang)
  • 71. 49 2.4.2.4. Gambelan Gambuh Gambelan di Bali merupakan sumber dari beberapa gamelan lainnya, dari segi sistem nada. Gambelan ini bersifat gending yang ditarikan, kaya akan gending dan juga ada penyanyi (tandak) sebagai pengubah suasana sedih, gembira, lucu dan marah. 2.4.3. Gamelan Gamelan atau gangsa adalah campuran dari perkataan tembaga ditambah rejasa. Tembaga dan rejasa adalah nama logam yang dicampur dengan cara dipanasi. Selain dari tembaga juga dapat dibuat dari jenis logam lain seperti kuningan dan besi, namun agar dapat menghasilkan kualitas suara yang baik, gamelan dibuat dengan cara ditempa. Gamelan tebanya (gaungnya) telah mendunia, komponis abad 20 Debussy, pernah mengadopsi laras gamelan (Pentatonik) untuk komposisinya. Festival Gamelan Dunia I diadakan di Vancouver Canada pada tanggal 18-21 Agustus 1986, di Indonesia festival Gamelan I baru diadakan di Yogyakarta pada tanggal 2-4 Juli 1995. Gamelan ada yang berlaras pelog dan yang berlaras slendro, Gamelan yang berlaras pelog disebut Gamelan Pelog dan Gamelan yang berlaras Slendro disebut Gamelan Slendro, perangkat gamelan ini adalah merupakan bagian-bagian dari Gamelan Ageng yang mempunyai Fungsi Hiburan. Sumber : Central Javanese gamelan instruments (From JT Titon [ed.]. Worlds of Music 235) Gambar 2.25. Perangkat Gamelan Jawa
  • 72. Bu 50 Perangkat-perangkat Gamelan : Bilahan : gambang, gender, saron, slentem. Pencon : gong, kempul, ketuk, kenong, bonang. Kebukan : Kendhang Sebulan : Seruling Dawai : Rebab, siter 1. Bonang : Bonang Penerus/Babarangan : Berlaras satu oktaf lebih tinggi tetapi bentuknya lebih kecil dari bonang barung. Bonang Barung : Yang bersuara rendah, bentuknya lebih besar. Bonang Penembung : Larasnya lebih rendah dan bentuknya lebih besar dari Bonang Barung. Sumber : Central Javanese gamelan instruments (From JT Titon [ed.]. Worlds of Music 235) Gambar 2.26. Bonang Perbedaan Saron, Gender dan Slentem 2. Saron Saron Demung : Berlaras paling rendah dari saron Barung. Saron Barung : berlaras lebih tinggi dari saron Demung. Saron Penerus : berlaras paling tinggi dari saron Demung dan Barung. Sumber : Central Javanese gamelan instruments (From JT Titon [ed.]. Worlds of Music 235) Gambar 2.27. Saron
  • 73. 51 2. Gender Bilahan yang digantung, bilahan gender berjumlah lebih kecil ukurannya dan jumlahnya lebih banyak (13 bilahan), jenis gender hanya 3 macam. Gender Barung : Gender Penerus : lebih tinggi 1 oktaf Sumber : Central Javanese gamelan instruments (From JT Titon [ed.]. Worlds of Music 235) Gambar 2.28. Gender 3. Slentem Bilahan yang digantung, bilahan slentem lebih besar dari bilahan Gender, jumlahnya lebih sedikit dari jumlah bilahan Gender yakni hanya berjumlah (7 buah). Sumber : Central Javanese gamelan instruments (From JT Titon [ed.]. Worlds of Music 235) Gambar 2.29. Slentem
  • 74. Bu 52 Fungsi dalam permainan : sebagai pemangku lagu / pemanis 4 Gong terbagi : Terbesar : Gong Suwukan Sedang : Kempul Kecil : Bende Fungsi bagian-bagian gamelan Pemimpin irama : Kendhang Pemangku irama : Ketuk kenong, kempul, gong, kempyang Pemimpin lagu : Bonang Pemangku lagu : Slentem, gender, gambang Pembuka lagu : Rebab Penghias lagu : Suling, siter, kecer. Membudayanya Musik Gamelan di Tanah Air Propinsi di Indonesia ± 58% mempergunakan gamelan sebagai musik tradisinya, adapun propinsi yang mempergunakan gamelan sebagai musik utama dapat dilihat pada tabel 3. Propinsi yang menggunakan gamelan : Propinsi Nama Gamelan Lampung Talo Balak Sumatera Selatan Kelintang 12 Jambi Kelintang/Tauh Sumatera Barat Talempong Kalimantan Selatan Gamelan Banjar Kalimantan Tengah Gandang Garantung Jawa Tengah Gamelan Jawa Barat Degung Jawa Timur Gamelan Yogyakarta Gamelan Bali Gamelan NTB (Kabupaten Lombok) Gamelan Lombok Kabupaten Lombok Gamelan Gendrung Kabupaten Sumbawa Gamelan Sumbawa Kabupaten Bima Gamelan Bima
  • 75. 53 Tabel 4 Penggunaan Bonang dan sebutannya di berbagai Propinsi Propinsi Nama instrumen jenis Bonang DKI Kromong Sumbar Talempong Jambi Kelintang Lampung Kulintang Sumatera Selatan Kelintang Riau Tetawak NTB Trompong Kalbar Geremong Kaltim Klentangan Kalteng Kangkanong Sulteng Kandengo-dengo Maluku Totobuang Jawa Timur Bonang Jawa Barat Bonang Jawa Tengah Bonang Yogya Bonang Bali Trompong/Reyong Dari macam-macam gamelan seperti gamelan Kodhok Ngorek, Monggang, Carabalen, Sekaten dan gamelan Ageng. Kerumitan bentuk-bentuk kesenian mendorong kita untuk memilih istilah kesenian agama begitu pula gamelan ada yang dimainkan untuk upacara, ada juga gamelan untuk hiburan, ada pula gamelan untuk pengiring dan mandiri. 2.4.3.1. Gamelan untuk hiburan : 1. Gamelan Ageng 2.4.3.2. Gamelan untuk upacara : 1. Gamelan Kodhok ngorek (upacara pernikahan masyarakat) 2. Gamelan Monggang (upacara keraton) 3. Gamelan Sekaten (upacara maulidan dan keraton) 4. Gamelan Carabalen mempunyai dwifungsi yaitu untuk upacara dan hiburan.
  • 76. Bu 54 Gamelan Carabalen Sumber : Buku Bothekan Karawitan I Gambar 2.30 Gamelan Carabalen Gamelan ini memiliki fungsi yang pasti yaitu untuk menghormati kedatangan tamu. Gamelan ini pada umumnya dimiliki oleh perorangan maupun lembaga. Gamelan ini berlaras pelog dan terdiri dari sepasang kendhang, satu rancak, gambyong, satu rancak bonang, sebuah penonthong, sebuah kenong, sebuah kempul dan gong. Menurut Kunst bahwa nama Carabalen memiliki makna filosofis yang berhubungan dengan siklus hidup manusia. Berikut ini denah penempatan ricikan-ricikan perangkat gamelan Carabalen. Sumber : Buku Bothekan Karawitan I Gambar 2.31. Penempatan Ricikan Gamelan Carabalen
  • 77. 55 Gamelan Ageng Perangkat gamelan ini dapat dikatakan sebagai perangkat gamelan standar. Gamelan ini dipergunakan untuk berbagai keperluan yaitu hiburan, ritual, untuk berbagai ekspresi seperti pengiring wayang, tari, teater. Rincikan pada perangkat gamelan ageng adalah : a. Rebab : terdapat satu atau dua buah rebab. Biasanya rebab ponthang untuk slendro dan rebab byur untuk pelog, dimainkan oleh seorang pengrawit. b. Kendhang : terdiri dari satu kendhang ageng, satu kendhang ketipung, satu kendhang penunthung, satu kendhang ciblon dan satu kendhang wayangan, ditabuh satu atau dua pengrawit. c. Gender : satu gender slendro, satu gender pelog nem (atau bem) dan satu gender pelog barang. Semuanya berbilah 12 s/d 14 buah, ditabuh oleh seorang pengrawit. d. Gender penerus : satu rancak gender penerus slendro, satu gender penerus pelog nem (bem), dan satu gender penerus pelog barang, semua berbilah antara 12 s/d 14 buah, ditabuh oleh seorang pengrawit. e. Bonang barung : satu rancak bonang barung slendro dengan 10 dan 12 pencon dan satu rancak bonang barung pelog, terdiri dari 14 pencon, ditabuh oleh seorang pengrawit. f. Bonang penerus : satu rancak bonang penerus slendro dengan 10 atau 12 pencon dan satu rancak bonang penerus pelog, terdiri dari 14 pencon, ditabuh oleh seorang pengrawit. g. Gambang: satu rancak gambang slendro, satu rancak gambang pelog nem dan satu rancak gambang pelog barang, semua berbilah antara 18 s.d. 21 buah, ditabuh oleh seorang pengrawit. h. Slenthem: satu slenthem slendro dan satu slenthem pelog, masing- masing berbilah tujuh, ditabuh oleh seorang pengrawit. i. Demung: satu demung slendro dan satu demung pelog, masing-masing berbilah tujuh, ditabuh oleh seorang pengrawit. j. Saron barung: dua saron slendro dan dua saron pelog, masing-masing berbilah tujuh. Kadang-kadang salah satu saron slendronya dibuat dengan sembilan bilah. Saron sembilan bilah adalah saron yang biasa digunakan untuk keperluan wayangan, ditabuh masing masing oleh seorang pengrawit. k. Saron penerus: satu saron penerus slendro dan satu saron pene-rus pelog, masing-masing berbilah tujuh, ditabuh oleh seorang pangrawit. l. Kethuk-kempyang: satu set untuk slendro dengan kempyang berlaras barang dan kethuk berlaras gulu serta satu set untuk pelog. Kempyang berlaras nem tinggi dan kethuk berlaras nem rendah, ditabuh oleh seorang pengrawit.
  • 78. Bu 56 m. Kenong: tiga sampai enam pencon untuk slendro dan tiga sampai tujuh pencon untuk pelog, ditabuh oleh seorang pengrawit. n. Kempul: tiga sampai enam pencon untuk slendro dan tiga sampai tujuh pencon untuk pelog. o. Gong suwukan: satu sampai dua pencon untuk slendro dan satu sampai tiga pencon untuk pelog. Suwukan laras barang sering disebut dengan gong siyem. p. Gong ageng atau gong besar: satu sampai tiga gong besar yang berlaras nem sampai gulu rendah. Kebanyakan gong ageng dilaras lima. q. Siter atau celempung: ada satu siter atau celempung slendro dan satu siter atau celempung untuk pelog. Sekarang terdapat satu siter yang dapat digunakan untuk slendro dan pelog. Siter two in one tersebut disebut dengan siter wolak-walik, ditabuh oleh seorang pengrawit. r. Suling: satu suling berlubang empat untuk slendro dan satu suling berlubang lima untuk pelog, dimainkan oleh seorang pengrawit Ageng Sumber : Buku Bothekan Karawitan I Gambar 2.32. Penempatan Ricikan Gamelan Ageng
  • 79. 57 Bervariasinya pengaturan ricikan gamelan terutama atas pertimbangan fungsinya sebagai musik mandiri atau sebagai sebagai musik iringan. Sumber : Buku Bothekan Karawitan I Gambar 2.33 Gamelan Ageng Tabuhan gamelan mempunyai 2 gaya yakni gaya Solo dan gaya Yogyakarta, yang masing-masing mempunyai kekhasan. Perbedaan ciri musiknya adalah : 1) Pola tabuhan kendhang. Ada kebiasaan yang berbeda dalam menyebut pola tabuhan kendhang di kedua daerah inL Seperti kita ketahui bahwa tabuhan kendhang sangat terkait dengan bentuk gendhing; yang semuanya berbentuk kethuk kalih kerep minggah sekawan, seorang pengendhang quot;bolehquot; ngendhangi gendhing-gendhing tersebut dengan menggunakan pola yang sama. Kebiasaan seperti itulah seperti yang diberlakukan pada gaya Solo. Kebiasaan di Yogya lebih suka menyebut nama dari salah satu gendhing sebagai model garapan kendhang untuk gendhing-gendhing lainnya yang memiliki bentuk yang sama. Pola kendhangan kedua daerah memang berbeda. Saya cenderung mengatakan bahwa kendhangan gaya Yogya pada umumnya lebih sigrak (animatif) daripada Solo. Yogya banyak menggunakan garapan yang sinkopatif, sedangkan kendhangan gaya Solo relatif lebih sederhana dan tenang namun dalam. 2) Bonang. Bonangan Yogya juga lebih sigrak dibandhing dengan permainan rekannya yang di Solo. Yogya sering menggunakan bonangan tronjolan, sinkopasi yang berkesan nyrimpet. Bonangan Yogya di satu segi tidak begitu mempedulikan alur melodik, tidak masalah bila ia meloncat dari daerah suara tinggi ke rendah atau sebaliknya, sedangkan di Solo, kemulusan atau kehalusan alur melodik sangat diperhatikan sehingga ketika seorang pembonang mendapati alur lagu (balungan)
  • 80. Bu 58 yang meloncat, ia harus menemukan cara agar loncatan tersebut tidak nyeklek (patah), biasanya seorang pengrawit harus mele-watinya dengan menggunakan pola nggembyang dan/atau menggunakan rambatan atau peralihan dengan menggunakan pola-pola lagu dengan variasi khusus. 3) Balungan. Perbedaan auditif yang paling gampang diidentifi-kasikan adalah lewat tabuhan saron penerus. Tabuhan saron penerus Yogya mendahului tabuhan balungan pokok, sedangkan tabuhan saron penerus Solo mengikuti balungan pokok. Tabuhan balungan gaya Yogya cenderung lebih keras dengan menggunakan pola dan teknik yang lebih dikembangkan. Mereka memiliki berbagai teknik tabuhan balungan yang lebih kaya, di antaranya nggenjot, ngencot, kecekan, dan sebagainya. Kebalikannya, karawitan gaya Yogyakarta cenderung memilih tempo/irama/laya yang lambat, sedangkan karawitan gaya Surakarta cenderung menggunakan tempo yang lebih cepat. 2.4.4. Angklung Angklung di Jawa Barat Sumber : Buku Angklung di Jawa Barat sebuah perbandingan Buku I Gambar 2.34. Angklung Pada zaman kejayaan kerajaan Pajajaran, angklung disamping sebagai alat upacara pertanian, juga dipergunakan sebagai alat musik bagi bala tentara kerajaan dimana untuk menambah semangat tempur dalam menghadapi musuh sebagai alat musik perang pada zaman kerajaan Pajajaran. Kemudian fungsi angklung bergeser sebagai ritual penanaman padi dalam acara mengarak padi dari sawah, di desa lain angklung dipergunakan sebagai sarana penyebaran agama dan kegiatan yang
  • 81. 59 berhubungan dengan pemerintah, kini angklung disajikan sebagai bentuk seni pertunjukan. Daeng Sutigna (Pengembang Angklung) Angklung mulai terangkat diawal tahun 1938 ketika seorang putra ahli musik Tatar Sunda kelahiran Garut yaitu Daeng Soetigna (13 Mei 1908 - 8 April 1984) memperkenalkan alat musik tersebut. la berguru kepada Bapak Jaya dari Kuningan, seorang ahli pembuat angklung. Nada-nada yang dipergunakan yakni dari yang paling rendah G-C 3 dengan penadaan standar internasional yaitu A - 440. Daeng Sutigna merupakan orang pertama yang mengembangkan angklung sistem tangganada diatonis yang disebut Angklung Indonesia, yang bersifat melodis, murid Pak Daeng adalah Pak Udjo, pengembangan yang dilakukan pak Udjo adalah membuat Angklung tradisi berlaras slendro, pelog yang bersifat ritmis. Laras Angklung Untuk laras slendro, susunan nada C D E G A C, sedangkan laras pelog dipakai susunan nada C E F G B C untuk laras madenda dipakai susunan nada C E F A B C. Laras Diatonis, memiliki 7 yaitu nada C D E F G A B C. Macam-macam Angklung 1. Angklung Modern (pengembang Daeng Soetigna) menggunakan nada diatonis atau disebut juga Angklung Indonesia. 2. Angklung Tradisi Sunda (pengembang Udjo Ngalagena) murid pak Daeng, angklung ini berlaras slendro, pelog. Angklung modern cenderung lebih mengutamakan unsur melodi atau lagu. Angklung Sunda terdiri dari 24 buah angklung melodi 10 buah rincik, 5 buah, angklung 4 buah dan pengiring 5 buah. Angklung Indonesia terdiri dari 73 buah. 28 angklung melodi berukuran kecil, 11 angklung melodi berukuran besar, 17 angklung iringan, 17 penghias. Pembelajaran angklung pak Daeng dilakukan dengan cara membaca Notasi dengan gambar Notasi dengan sistem nomor Notasi dengan jari
  • 82. Bu 60 Elang = do Burung = ti Capung = la Tikus = so Kucing = fa Ayam jago = mi Bebek = re Ikan = do Sumber : Buku Angklung Pa Daeng Gambar 2.35. Notasi Gambar Jadi angklung-angklung yang akan dimainkan diberi atau ditempeli telebih dahulu gambar-gambar tersebut. Tabel 2.3. Belajar Musik Angklung Sistem Nomor Lagu Halo-halo Bandung 4/4 Do = F 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Fis G Gis A Ais B C Cis D Dis E F Fis G Gis A Not 2 3 4 5 6 7 1 2 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Ais B C Cis D Dis E F Fis G Gis A Ais B C Cis 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 No. Urut Notasi Angka Angklung 11 1 = [do] rendah 13 2 = [re] 16 3 = [mi] 17 4 = [fa] 19 5 = [sol] 21 6 = [la] 22 7 = [si] 23 1 = [do] tinggi
  • 83. 61 Angklung Udjo Pak Udjo mengembangkan angklung bertangganada pentatonik juga diatonis. Laras pentatonik adalah Slendro CDEGAC Pelog CEFGBC Madenda CEFABC Pola Permainan Angklung Udjo meliputi jenis permainan angklung, yaitu angklung ‘tradisi’ dan angklung Indonesia. Yang dimaksud dengan angklung tradisi adalah permainan angklung dengan pola-pola tabuhan tradisi yang bersifat ritmis, seperti halnya tabuhan jenis-jenis angklung tradisi pada umumnya. Pola tabuhannya masih tetap berbentuk terputus-putus dengan teknik dimainkan dengan digoyang. Bedanya dengan angklung-angklung tradisi lainnya, angklung tradisi Udjo sudah lebih dikembangkan dari segi pengolahan bunyinya. Bunyi yang dihasilkan dari permainan digoyangkan sudah cenderung merupakan pengulangan melodi pendek-pendek yang dihiasi dengan bunyi panjang unik yang terlahir dari bunyi sebuah angklung yang dimainkan (digoyangkan) secara terus menerus tanpa berhenti.
  • 84. Bu 62 Berikut adalah contoh motif-motif tabuhan angklung tradisi Udjo. Pada tempat pelatihan angklung (Saung) Pak Udjo dalam pembelajarannya juga menggunakan notasi nomor ataupun kode tangan. (as adapted by Kodaly (1) (7) (7) (6) (5) (5) (4) (4) (3) (2) (1) Sumber : education deakin.edv.do/music.ed/history/curwen.html Gambar 2.36. Pembelajaran Musik Angklung dengan Kode Tangan
  • 85. 63
  • 86. Bu 64
  • 87. 65 Latihlah lagu-lagu ini
  • 88. Bu 66
  • 89. 67
  • 90. Bu 68 2.4.5. Sampe Alat Musik Tradisional Daerah Kalimantan Timur Bentuk Kebudayaan Kalimantan Timur sangat sederhana dan keseniannya terjadi karena kerja sama antar individu, yang pada saat tertentu memperoleh inspirasi karena persentuhannya dengan alam sekitarnya. Perasaan dan pikiran yang diungkapkan adalah manifestasi yang menjadi milik kolektif, karena mereka pula bersama-sama mengerjakan ciptaan tersebut. Dari sinilah terciptanya seni musik dan seni tari tradisional; dan terbentuk dalam pola-pola tertentu lalu berkembang dari masa ke masa, bergandengan erat dengan adat-istiadat, agama, dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan dengan demikian menjadi suatu ciri khas daripada seni/budaya daerah Kalimantan Timur. Musik Tradisional Suku Dayak Kenyah Suku Dayak Kenyah adalah salah satu suku di antara suku Dayak lainnya yang ada di Kalimantan Timur. Jenis Alat Musik Tradisional Suku Dayak Kenyah adalah Sampe Sampe adalah sejenis alat musik yang dipetik (semacam gitar) mempunyai dawai/tali, kadang-kadang tiga ataupun empat da-wai (tergantung dari kesenangan pemiliknya/pemainnya). Bentuk dan ukurannya Panjang sampe - kurang lebih 1.25 meter (termasuk ukuran untuk kepalanya). Lebar bagian bahu: + 25 cm/30 cm, bagian bawah ± 15 cm. Bentuknya dapat dilihat pada gambar 2.35. Sumber : Koleksi Pribadi Gambar 2.37. Sampe
  • 91. 69 Karakteristik Sampe a. Sampe adalah sejenis alat musik yang dipetik (sejenis gitar) yang mempunyai dawai/tali, ada yang menggunakan tiga dawai dan ada pula yang menggunakan empat dawai tergantung dari kesenangan si pernain. Sampe yang berdawai tiga, mempunyai nada masing-masing: - Dawai pertama = C(1) - Dawai kedua = sama dengan dawai pertama - Dawai ketiga = G(5) Sedangkan yang empat snaar : - Dawai pertama = C(l) - Dawai kedua = sama dengan dawai pertama - Dawai ketiga = E (3) - Dawai keempat = G (5) Pada mulanya dawai itu dibuat dari tali sejenis pohon enau (aren). Sudah tentu dapat kita maklumi bahwa suara yang dihasilkan tidak sebagus jika menggunakan dawai seperti gitar, akan tetapi yang dernikian itu merupakan ciri khas suara sampe. Kemudian setelah keadaan berkembang, pengaruh dari luar tentu akan mengubah pula keadaanya . Dawai dari pohon enau diganti dengan kawat baja (bekas kawat slang), hingga sampai saat ini masih dipergunakan kawat tersebut; kadang-kadang dawai gitar (E) yang dipakai untuk ke-3 (4) dawai sampe tersebut. b. Khusus pada dawai pertama (C), di bawah dawai itu dibuat tangga- tangga nada (not). Tangga-tangga ini terbuat dari rotan yang sudah di potong-potong (+ 1 cm panjangnya) dan bentuknya mulai tebal hingga menipis. Jika akan memainkan lagu lain dan kemungkinan not berbeda dengan not yang sudah disusun tadi, maka rotan tersebut terpaksa harus digeser untuk dilaras dengan lagu lain (berbeda dengan gitar, yang kolom-kolomnya tersebut permanen). Cara melaras sampe (dawai 1), dawai pertama ini dibagi dua yaitu : C (i) dan C (1). Gambar 2.38. Penampang Resonatur dan Dawai Sampe
  • 92. Bu 70 Dari C kemudian dibuat jarak untuk tangga-tangga berikutnya (2 3 4 5 6 … dst) sesuai dengan keperluan. Dan dari dasar ini (C) sebagai permulaan, dimulai memainkan irama dari lagu tersebut (yang akornya 5 – 3 – 1 – 1) atau (5 – 1 – 1). Salah satu contoh not dari sebuah lagu sebagai pengiring tarian-tarian leleng: Ket. : dawai I melodi – Dawai 2 – (3) – 4 – Pengiring (irama) Dengan melihat not tersebut kita dapat melaras sampe sebagai berikut : Gambar : 2.39. Cara Melaras Dawai Sampe
  • 93. 71 Cara memainkan sampe : Seperti halnya pada gitar, fungsi tangan kanan adalah untuk memetik nada, sedangkan tangan kiri menekan dawai (dawai I). Kadang-kadang tangan kiri (jari) ikut memetik pula, sambil menekan nada-nada yang dibunyikan sebagai varasi suara. Musik sampe ini dapat dimainkan dengan dua atau tiga sampe bersamaan dengan pembagian tugas sebagai berikut : 1. Sampe 1 khususnya untuk melodi 2. Sampe 2 khusus untuk irama/pengiring 3. Sampe 3 khusus variasi (bahasa daerah : Tingkah). Biasanya alat ini dimainkan : 1. Sebagai pengiring tari-tarian di dalam pesta keramaian (tari gong, burung enggang, tari perang, tari leleng). 2. Untuk mengisi waktu senggang. 2.5. Musik Non Barat 2.5.1. Musik Afrika Masing-masing kebudayaan mempunyai karakteristik instrumen, performance, sistem nada, pola ritmik, ada negara yang memiliki kedua jenis musik, yakni musik tradisi negara tersebut dan musik popular, ini merupakan kekayaan bermusik yang menakjubkan. Musik ini merupakan sumber inspirasi bagi perkembangan musik abad 20, komponis yang mengadopsi / terinspirasi dalam komposisinya yakni komponis Prancis, bintang rock Inggirs Band The Beatles (George Harrison), Artis Jazz Amerika John Coltrane. Sumber : An Appreciation Music Gambar 2.40. Singing dan Instrumentation into African
  • 94. Bu 72 Karakteristik Musik Afrika Kesenian Afrika selalu berbentuk musik perkusi, tarian juga nyanyiannya berbentuk polifonik (bersahut-sahutan) ataupun dengan menyanyi tanpa kata-kata dengan hum ataupun berteriak dan selalu dalam bentuk kelompok. Instrumen Afrika Karakteristik musik Afrika adalah permainan ansambel yang terdiri dari 20 orang pemain, instrumen perkusinya adalah bell, instrumen melodinya flute, trumpet, xylophone dan drum. Keunikannya adalah penyajian musiknya, dalam setiap tari dan alat musik perkusi ditampilkan dalam satu kesatuan 2.5.2. Musik India Komponis terbesarnya adalah Tyagaraja (1767-1847) Muthuswamy Dikshitar (1775-1835) dan Shyama Sastri (1762-1827) Alat musik khas India adalah : - Alat musik dawai chordophone disebut sitar - Alat musik tabuh membranophone disebut tambura - Alat musik sepasang drum disebut tabla Dibawah ini contoh alat musik sitar dan tabla : Ciri khas musik India : Pergerakan interval, langkah setengah nada Banyak menggunakan ornamen Penuh nuansa karena perubahan tempo Pola notnya disebut raga, not yang berinterval kadang naik kadang turun. Sumber : An Apreciation Music Gambar 2.41. Musik India Struktur ritmiknya disebut (Tala) Beat yang terdiri dari 2 – 3 – 2 – 3 disebut Haptal. | 1 2 | 3 4 5 | 6 7 | 8 9 10 | Beat yang terdiri dari 4 – 2 – 4 disebut Shultal | 1 2 3 4 | 5 6 | 7 8 9 10 | Tala adalah permainan Tempo dari lambat sampai sangat cepat.
  • 95. 73 2.5.3. Alat-alat Musik Tiongkok dan Jepang Kultur tinggi Tiongkok didalam sejarah tercatat dalam 5 dynasti yaitu Dynasti Huang – Ti, Dynasti H Sia, Dynasti Shang, Dynasti Chou dan Dynasti Han. Alat musik yang menonjol sampai saat ini adalah alat musik K’in sejenis Zither kecapi dengan 5 senar sudah ada sejak zaman Dynasti H Sia (1800 – 1500 SM). Alat musik serupa ini di Jepang disebut Koto. Di bawah ini contoh alat musik sejenis Zither, di Jepang disebut Koto. Sumber : An Apreciation Music Gambar 2.42. Fusako Yoshida, is a “master of koto” 2.5.4. Alat musik Kultur Tinggi Timur Tengah dan Kultur Tinggi Yunani Alat musik Kultur Tinggi Timur Tengah (Palestina) Kinnor, alat musik yang dipergunakan oleh raja Daud sejenis Harpa, lebih tepat disebut Leier senarnya sangat terbatas (5-9 senar) Kinnor adalah cikal bakal gitar hasil kebudayaan pengaruh dari bangsa Semit di Mesir. Alat Musik Kultur Tinggi Yunani - Phorminx termasuk instrumen jenis Leier - Kithara adalah pengembangan Phorminx yang bersenar 7 - Lyra merupakan pengembangan Kithara, jumlah senar Lyra adalah 7 buah
  • 96. Bu 74 - Harpa adalah pengembangan dari Harpa Siku dari Italia Sumber : Buku Pono Banoe Gambar 2.43. Instrumen Musik Yunani
  • 97. 75 2.6. Ekspresi Melalui Kegiatan Bermusik 2.6.1. Vokal 2.6.1.1. Asal Usul Vokal Musik vokal dianggap lahir dari adanya usaha manusia untuk berkomunikasi antar sesamanya, musik vokal muncul pada zaman periode Renaissance adalah, Acappella bernyanyi tanpa diiringi instrumen dengan teknik dan harmonisasi yang bagus. Pada zaman Renaissance vokal lebih dipentingkan daripada instrumen, sehingga composer lebih memperhatikan syair untuk meningkatkan kualitas syair dan emosi lagu. Musik adalah salah satu seni yang bersifat universal, artinya dapat digemari, dinikmati, didengar oleh semua lapisan masyarakat. Di dalam musik terdapat musik instrumental dan musik vokal yang dapat didengar, dirasakan dan dihayati keindahannya melalui beragam jenis lagu. Antara lain seperti seriosa, jazz, pop, keroncong dan dangdut. Suara manusia merupakan instrumen yang telah ada sejak lahir mempunyai materi suara manusia itu sendiri, dan ini merupakan alat yang kemanapun seseorang itu pergi akan dibawanya dan dipergunakan baik dalam berbicara atau dalam musik vokal. Baik buruknya suara manusia tersebut tergantung pada keadaan dan kualitas materi suara. 1. Produksi suara Alat musik seorang penyanyi ada pada tubuhnya sendiri yang terdiri dari selaput suara/ pita suara sebagai sumber bunyi, badan dengan rongga kepala, kerongkongan, mulut, rongga perut, rongga dada diafragma. Suara yang bagus adalah hasil daripada cara pembentukan bunyi yang benar, sekaligus juga karena resonator yang baik. Dalam tubuh manusia terdapat beberapa tempat resonator; dada,mulut, hidung, kerongkongan dan kepala. Udara yang keluar akan menggetarkan pita suara dan melibatkan resonator turut bergetar sehingga menghasilkan bunyi. 2. Teknik Pernafasan Pernafasan merupakan unsur penting dalam memproduksi suara. Tanpa pernafasan yang baik dan benar seseorang tidak dapat bernyanyi dengan baik.
  • 98. Bu 76 2.6.1.2. Jenis-jenis Pernafasan a. Pernafasan dada Dengan cara mengisi udara dalam paru-paru bagian atas. Pernafasan ini sangat pendek dan tidak cocok untuk digunakan dalam vokal. b. Pernafasan Perut Dengan cara membuat perut berongga besar sehingga udara luar dapat masuk. Pernafasan ini kurang efektif untuk vokal, karena udara dengan cepat dapat ke luar sehingga paru-paru menjadi lemah dan cepat letih. c. Penafasan Diafragma Saat diafragma menegang atau lurus maka rongga dada dan rongga perut menjadi longgar dan “volume” menjadi bertambah. Volume yang bertambah ini mengakibatkan tekanan berkurang sehingga udara dari luar dapat masuk ke paru-paru, dan nafas yang dikeluarkan dapat diatur secara sadar oleh diafragma dan otot-otot bagian samping kiri. Pernafasan ini paling cocok untuk bernyanyi karena dapat mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan mengeluarkan secara perlahan-lahan dan teratur. Keterangan Gambar : 1. Parietal Bone ( Tulang Ubun-ubun) 2. Frontal Bone (Tulang Dahi) 3. Frontal Sinus ( Rongga Kepala ) 4. Nasal Cavity ( Rongga Hidung ) 5. Hard Palate ( Langit-langit keras ) 6. Soft Palate ( Langit-langit lunak ) 7. Teeth-gigi 8. Tongue-lidah 9. Hyoid Bone ( Tulang Hyoid ) 10. Epiglottis (Katup celah suara ) 11. Larynx (Pangkal Tenggorok ) 12. Tachea ( Batang Tenggorok ) 13. Bronchi ( Saluran Pernafasan ) 14. Speroid Sinus ( Rongga Speroid ) 15. Decipital Bone ( Tulang Belakang ) 16. Nasal Pharynx Lobang tenggorokan yang berhubungan dengan rongga hidung 17. Oral Pharynx Lobang tenggorokan yang berhubungan dengan rongga mulut 18. Laryngeal Pharynx Lobang pangkal tenggorokan 19. Vocal Cords ( Pita suara ) 20. Esophagus ( Paru-paru ) 21. Lungs ( Paru-paru ) 22. Diaphragm (Diafragma ) 23. Abdominal muscles ( Otot-otot perut) Sumber : Teknik Vokal Gambar 2.44 Bagian Tubuh Manusia
  • 99. 77 2.6.1.3. Wilayah suara Pada umumnya jenis suara orang dewasa terbagi atas Sopran, Alto, Tenor, dan Bas. Jenis suara perempuan yaitu Sopran dan Alto, sedangkan untuk jenis suara laki-laki Tenor dan Bas. Suara manusia dewasa : Perempuan Alto : F kecil – D2 Mezzo sopran : A kecil – F2 Sopran : C1 – A2 Laki-laki : Tenor : C kecil – A1 Bariton : A kecil – F1 Bas : F bas – D1 Sumber : An Apreciation Music Gambar 2.45. Wilayah Suara Manusia
  • 100. Bu 78 Yang harus diperhatikan dalam belajar menyanyi : 1. Artikulasi/pengucapan : Pengucapan kata harus tepat dan jelas, sebab bila kurang jelas akan menimbulkan pengertian yang salah. Pengucapan yang jelas dan baik akan membantu tercapainya keindahan suara dan kejernihan suara, berikut ini teknik berlatih artikulasi. Menyanyi dengan benar akan menghasilkan suara dan lagu yang dibawakan dapat dinikmati, dalam berlatih bernyanyi disamping berlatih vokalisasi, kita sebaiknya juga melatih artikulasi. 2. Frasering Dalam lagu ada yang disebut “frasering” yaitu panjang / pendeknya kalimat dan kesatuan arti.Adanya frasering ini akan memudahkan pengucapan dan pengungkapan makna. 3. Ekspresi/penjiwaan Untuk menyanyikan sebuah lagu, seorang penyanyi harus menampilkan sesuatu yang menarik sesuai syair lagunya, penjiwaan penyanyi ini disebut ekspresi. 4. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam vokal : a. Memberikan pelemasan artinya sebelum mulai dengan vokal seluruh anggota badan harus lemas atau tidak boleh tegang, caranya dengan memberi olah raga kecil. b. Pemanasan: pernafasan, intonasi, interval, tangganada mayor dan minor, melodi pendek dan panjang, ucapan. c. Gabungan antara praktek dan teori dalam bernyanyi dimulai Sumber: Teknik Vokal vokalisi dan etude dari Concone, Gambar 2.46. Artikulasi Vaccai, Keel dan Sieber.
  • 101. 79 2.6.2. TANGGA NADA Diatonis Mayor: Susunan nada yang mempunyai 7 nada dan memiliki jarak 1-1-½ -1-1-1-½. Natural : adalah nada-nadanya belum terkena tanda naik, tanda turun ataupun tanda mengembalikan ke nada semula. Tanda untuk menaikan ½ nada : # disebut kruis(Palang/Sharp). Tanda untuk menurunkan ½ nada : disebut Mol(Flat/Dur). 2.6.2.1. Tangganada Diatonis Mayor Tangganada Mayor Kruis, Palang atau Sharp ( # ) Untuk membuat tangganada mayor yang baru, adalah dengan mengambil nada ke 5 dari tangganada mayor (sebelumnya) sebagai nada dasar dari tangganada mayor baru tersebut. Sebagai contoh, cara membuat tangganada G Mayor (1#) 1. Susunlah tangganada natural C Mayor C D E F G A BC 1 1 ½ 1 1 1 ½ 2. Ambil nada ke 5 dari tangganada tersebut (C Mayor) yaitu nada G G A BC D E F G 1 1 ½ 1 1 ½ 1 Pada susunan tangganada tersebut, jarak nada E – F dan F - G belum benar, karena jarak nada-nada tersebut seharusnya berjarak 1 dan ½. Untuk itu maka nada F harus dinaikkan ½ laras sehingga menjadi Fis (F#). 3. Susunlah tangganada Mayor yang baru F# G A B C D E G 1 1 ½ 1 1 1 ½ Contoh penulisan nada F menjadi Fis (F#) pada paranada kunci G dan F adalah sebagai berikut Tanda alterasi yang menyebabkan nada F menjadi Fis Dapat diambil kesimpulan bahwa langkah awal dalam menentukan nada dasar sebuah tangganada yang baru adalah dengan
  • 102. Bu 80 mengambil/melihat nada ke 5 dari tangganada sebelumnya. Kemudian susunlah menjadi sebuah tangganada baru. Menentukan tangganada 2# Nada dasar dari tangganada 2# ialah nada ke 5 dari tangganada sebelumnya (G Mayor) yaitu nada D. 1. Selanjutnya kita susun urutan nadanya D E F# G A B C D Nada F tetap menjadi Fis 2. Selanjutnya kita cocokan jaraknya D E F# G A B C D 1 1 ½ 1 1 1 B-C seharusnya berjarak 1 oleh karenanya C menjadi Cis 3. Susunan nada menjadi D E F# G A B C# D 1 1 ½ 1 1 1 ½ Contoh penulisan nada Fis, dan Cis, pada Paranada Kunci G dan F adalah sebagai berikut : Tangganada Mayor Mol, Flat atau Dur ( ) Langkah-langkah atau cara untuk membuat tangganada baru pada 1 tidak jauh berbeda dengan langkah atau cara membuat tangganada 1#. Pada pembuatan tangga nada 1 nada dasar diambil dari nada ke 4 tangganada sebelumnya . Berikut cara pembuatan tangganada tersebut : 1. Susunlah tangganada natural C Mayor C D E F G A BC 1 1 ½ 1 1 1 ½ 2. Ambil nada ke 4 dari tangganada tersebut, yaitu nada F.
  • 103. 81 3. Susun tangganada baru (F Mayor) dan seterusnya F G A B C D E F 1 1 Seharusnya jarak A-B adalah ½ agar sesuai dengan rumus jarak tangganada Mayor yaitu 1-1-½-1-1-1-½. Maka nada B harus diturunkan ½ nada, sehingga B B (Bes) 4. Cocokan jaraknya dengan pola 1 – 1 - ½ - 1 – 1 – 1 – ½ F G A Bes C D EF 1 1 ½ 1 1 1 ½ Tanda alterasi yang menyebabkan B menjadi Bes. Tangganada selanjutnya adalah 2 , nada dasar diambil dari nada ke 4 tangganada sebelumnya(F Mayor) yaitu Bes. Maka tangganada 2 adalah Bes Mayor. Berikut cara pembuatan tangganada tersebut : 1. Susunlah terlebih dahulu susunan nadanya Bes C D E F G A B C 2. Cocokan jaraknya agar berpola 1 – 1 – ½ - 1 – 1 – 1 – ½ Bes C D E 1 1 Seharusnya jarak D-E adalah ½, agar dapat berjarak ½ maka nada E diturunkan ½ maka menjadi E ( Es ) 3. Tangganada Bes yang benar adalah : Bes C D Es F G A Bes 1 1 ½ 1 1 1 ½ 2.6.2.2. Tangganada Diatonis Minor
  • 104. Bu 82 Tangga nada minor terdiri atas minor asli, harmonis dan melodis. Salah satu contoh yang sering dipergunakan yakni tangganada minor harmonis Susunan nadanya = A B C D E F G# A la si do re mi fa sel la 1 ½ 1 1 ½ 1½ ½ Cara membuat tangganada minor : 1. Nada ke 5 dari tangganada minor sebelumnya, dijadikan nada pertama dari tangganada minor baru. 2. Cara yang kedua adalah nada dasar dari tangganada G mayor diturunkan 1 ½ laras(relatif minor dari G Mayor). . G Mayor Turun 1 ½ nada E F G ½ 1 Jadi Tangganada selanjutnya nada dasarnya adalah E minor Cara ini disebut mencari relatif minor. 3. Cocokan dahulu jaraknya Jarak untuk tanggganada minor: 1–½-1–1–1–1–½-½ 4. Susunan nadanya menjadi E F# G A B C D# E 1 ½ 1 1 ½ 1½ ½ 2.6.2.3. AKOR
  • 105. 83 Akor merupakan sekumpulan nada yang terdiri atas tiga nada atau lebih yang disusun secara vertikal serta dibunyikan bersama-sama. 1. Trinada Sekumpulan nada yang disusun secara vertikal dan berdasarkan interval terts. a. Susunan Trinada Terdiri dari dasar, terts dan kuint Dasar merupakan not yang penting sebagai dasar dari akor. Sedangkan terts dan kuint adalah not-not berinterval terts dan kuint diatas dasar. b. Macam-macam Trinada : Ada 4 macam trinada yaitu trinada mayor, minor, diminished dan augmenthed. - Trinada mayor dibentuk oleh not-not yang berinterval Terts mayor dan terts minor. Interval c – e adalah terts mayor Interval e – g adalah terts minor - Trinada minor dibentuk oleh not-not yang berinterval Terts minor dan terts mayor. Interval d – f adalah Terts minor Interval f – a adalah Terts mayor - Trinada diminished dibentuk oleh not-not yang berinterval terts minor dan terts minor.
  • 106. Bu 84 Interval d – f adalah Terts minor Interval f – as adalah Terts mayor - Trinada augmenthed dibentuk oleh not-not yang berinterval terts mayor dan terts mayor. Interval f – a adalah Terts mayor Interval a – cis adalah Terts mayor c. Susunan Trinada dalam tangga nada Mayor. Nama tingkatan akor : I. Tonik V. Dominan II. Supertonik VI. Submediant III. Mediant VII. Leading not IV. Subdominant Susunan Trinada dalam tangga nada Minor Harmonik 2. Akor 7 (caturnada) / akor Septim Sebuah trinada yang mendapat tambahan sebuah not diatasnya yang interval antara dasar dan not ke tujuh adalah septim.
  • 107. 85 a. Akor septim dalam tangga nada Mayor b. Akor septim dalam tangga nada Minor Harmonik 2.6.2.4. Cara menentukan akor pada lagu Pertama yang harus kita lakukan adalah melihat dulu nada dasar dari lagu yang akan dicari akornya, dengan melihat akhir lagu dan sesuaikan dengan tanda mulanya. Misalnya ada sebuah lagu ditulis do = C maka berarti lagu tersebut akan menggunakan Akor-akor yang terdapat dalam tangganada C Mayor : C – D – E – F – G – A – B – C. C Dm Em F G Am ( Bo ) atau jika ditulis dalam bentuk tingkatan nada adalah : I II III IV V VI ( VIIo) ini adalah sudah seperti rumusan yang berarti berlaku untuk setiap nada dasar. o = adalah diminished Tingkat I, IV, dan V adalah akor mayor Tingkat ke II, III, dan VI adalah akor minor Tingkat VII membentuk akor diminished dan seterusnya sesuai dengan urutan nadanya. Contoh : Jika terdapat sebuah lagu dengan nada dasar do=G, maka akor- akor yang dapat digunakan pada lagu tersebut adalah : Tingkat I nya adalah G berarti akor G
  • 108. Bu 86 Tingkat II nya adalah A berarti akor Am Tingkat III nya adalah B berarti akor Bm Tingkat IV nya adalah C berarti akor C …. dan seterusnya. Jika kita lihat akor-akor utama / mayor yang terbentuk di dalam satu tangga nada tersebut adalah di tingkat I. IV dan V yang berarti kalau do = C maka akor-akor utamanya adalah akor C, F dan G. Jika do = G berarti akor-akor utamanya adalah (tingkat I, IV dan V) akor G, C dan D dan seterusnya berlaku sama untuk setiap tangganada. Sekarang akor-akor itulah yang akan digunakan untuk sebuah lagu. 1. Pertama-tama kita dapat dengan mudah menentukan akor awal / akor pertama dari sebuah lagu. Yakni dengan melihat akor pertama dan terakhir dari lagu tersebut. Akor awal adalah akor pertama dari lagu yaitu ketukan ke Satu dari lagu atau garis bar pertama dan akor terakhir adalah ketukan ke Satu dari bar / kotak terakhir pada lagu dan artinya akord itu merupakan nada dasar dari lagu tersebut. Hal ini dapat kita amati pada bar awal dan akhir dari contoh lagu berikut ini: Awal lagu Akhir lagu 2. Pada melodi yang belum ada akornya akan kita gunakan akor-akor yang ada di tangganada dasar dari lagu tersebut, prioritas adalah menggunakan akor-akor tingkat I, IV dan V. Apabila menurut kita akor- akor tersebut tidak sesuai dengan melodinya maka kita harus menggunakan akor minor yang terdapat di tangganada dasar lagu yang bersangkutan, yaitu tingkat II, III, dan VI. Cara meletakan akornya adalah bisa kemungkinannya : - satu akor di tiap bar - dua akor di dalam satu bar - bisa juga satu akor lebih dari satu bar (misalnya satu akor memakai dua bar / lebih). Salah satu cara menentukan akor apa yang dipakai adalah dengan melihat nada yang tepat jatuh pada ketukan yang disebut ketukan “strong beat” yaitu nada yang jatuh pada ketukan ke satu dan ke tiga dalam satu bar, juga dengan cara melihat/menganalisa nada-nada di tiap ketuk yang
  • 109. 87 terdapat didalam bar/kotak yang akan kita cari akornya lebih dominan membentuk ke akor apa saja. 2.6.3. Penerapan Akor pada Instrumen Keyboard Pertimbangan dimasukannya Keyboard dalam kurikulum dikarenakan pertimbangan fenomena kesenian yang hidup di masyarakat atau telah dikenal luas di masyarakat, serta karena sifat kepraktisan dalam pembelajaran yang tidak membutuhkan waktu yang bertahun-tahun. Program keahlian keyboard adalah kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja pada bidang musik. Tabel. 2.1. Kompetensi Keterampilan Keyboard Standar kompetensi Level kualifikasi Jenjang pendidikan A. Memainkan keyboard Pemain tingkat Madya SMK B. Mengoperasikan Operator program MIDI Alat Musik Elektronik Alat musik electrophone adalah alat musik yang ragam bunyi atau penguat bunyinya disebabkan adanya daya listrik. Keyboard dalam kaitannya dengan penampilan panggung pertunjukan musik pop tentulah membutuhkan kekhususan. Alat musik ini dirancang untuk sajian musik bagi jangkauan jumlah besar penonton di lapangan terbuka atau dalam ruangan luas. Alat-alat elektronik kini menjadi jawaban atas kepentingan- kepentingan tersebut, alat musik inipun diciptakan memiliki produksi suara, instrumen macam-macam, praktis, yakni memainkan alat ini pemain dapat menciptakan permainan bersifat band ataupun orchestra kecil. Sebelum kita memainkan keyboard kita terlebih dahulu mengenal tombol-tombol keyboard, keterangan di bawah ini adalah khusus untuk keyboard merk Yamaha, pengoperasian setiap keyboard berbeda tergantung dari jenis produk dan jenis serinya.
  • 110. Bu 88 2.6.3.1. Mempelajari Tombol-tombol Keyboard 1. TOMBOL VOICE terbagi menjadi 3 yaitu : A. main voice } B. layer voice } upper C. left voice } lower A. Main voice (right 1) : Tombol yang memfungsikan kerjanya Suara satu pada keyboard (pilihan suaranya sangat banyak, tergantung dari kategori instrumen yang kita pilih). B. Layer voice (right 2) : Tombol yang memfungsikan kerjanya Suara dua pada keyboard, jadi dengan itu kita bisa tekan tuts keyboard bersamaan disatu tempat dengan suara
  • 111. 89 instrumen beda (dobel) sehingga layer voice menjadi suara kedua dari main voice (sama halnya dengan main voice, pilihan suaranya sama banyaknya dan bisa diatur sesuai kemauan kita menurut instrumen yang kita pilih). C. Left voice : Tombol yang memfungsikan kerjanya suara keyboard pada bagian kiri dengan batas range tertentu dan pilihan kategori suara instrumen tertentu yang dibatasi split point (sama halnya dengan main voice dan layer voice pilihan suaranya sama banyaknya juga bisa diatur sesuai kemauan kita menurut instrumen yang kita pilih). 2. STYLE (Irama) : Permainan rhythm (iringan) sekaligus background (accompaniment/latar) musik yang terdiri dari beragam jenis musik, dan bisa juga dibilang musik pengiring yang digunakan saat kita memainkan melodi dengan tangan kanan, dan akor berikut rhythm dengan tangan kiri. Di dalam style ini sendiri terdapat channel-channel yang berisi permainan drum rhythm. Bagian-bagian Style : - Accompaniment : tombol untuk mengaktifkan background musik yang sesuai dengan style pilihan kita. - Break : variasi permainan drum rhythm untuk style yang pada tiap masanya sama. - Intro : musik pada awal lagu sebelum masuk melodi lagu. - Main : pilihan variasi musik untuk style agar permainan semakin lengkap dan penuh. - Ending : musik pada akhir lagu dan menjadi tanda berakhirnya lagu setelah melodi lagu.
  • 112. Bu 90 - Auto fill in : variasi rhythm yang fungsinya sama seperti break dan akan aktif pada saat menekan main. - OTS Link : tombol yang secara otomatis mengubah voice disaat memainkan main pada one touch setting. - Sync stop : tombol yang menghentikan musik sesaat setelah kita mengangkat akor yang dimainkan. - Sync start : tombol yang mengaktifkan style saat akor dimatikan. - Start + stop : tombol yang menyebabkan style akan aktif langsung untuk memulai. 3. MEMILIH STYLE DAN USER : Tempat yang dipakai untuk menyimpan data hasil modifikasi atau buatan kita sendiri. User terdiri dari : User style User song 4. ONE TOUCH SETTING Tombol yang jika kita tekan maka beberapa pilihan setting suara yang sesuai dengan style yang kita pilih akan tersedia secara otomatis. 5. MUSIC FINDER Music finder : tombol yang berfungsi untuk setting otomatis sebuah lagu yang ingin kita mainkan, jadi bukan hanya setting suara, tapi juga
  • 113. 91 setting style, tempo, efek dan sebagainya (kita bisa menyimpan 400 setting dan bisa kita pilih sendiri sesuai lagu yang akan dimainkan). 6. REGISTRATION MEMORY Tempat penyimpanan setting yang aman, terdiri dari 8 tempat memory yang ditulis dalam urutan angka. 7. TRANSPOSE Tombol yang berfungsi sebagai pengubah nada dasar, jika ingin memainkan ½ nada kita tekan + satu kali, jika ingin menurunkan ½ nada kita tekan – satu kali. 8. SONG Lagu jadi yang sudah dibuat, sehingga kita hanya menekan tombol Play, dan dengarkan menurut pilihan lagu yang kita pilih. Lagu yang dimaksud disini adalah midifile. Midifile tersebut bisa diperoleh dari Sample Song di dalam keyboard, download file dari internet, atau hasil
  • 114. Bu 92 rekaman permainan sendiri, teman atau guru anda, yang disimpan dalam smart card atau floppy disk. 9. MULTI PAD Multi Pad bisa digunakan untuk memainkan sebuah permainan pendek yang berupa rhythm atau rangkaian melodi, yang dapat menambah variasi permainan kita. Multi Pad dikelompokkan dalam grup-grup atau “BANK” dimana tiap-tiap BANK berisi 4 tipe permainan. 10. METRONOME Metronome yang terdapat di keyboard akan memberi panduan menghitung birama saat belajar musik. Panduan tersebut berupa suara klik yang berbunyi seiring ketukan birama dan tempo yang sudah anda tentukan. 11. SCORE Anda bisa melihat notasi dari lagu yang telah anda pilih dengan menggunakan fungsi SCORE, dengan melihat notasi lagu midifile yang
  • 115. 93 telah anda pilih, anda berlatih atau memainkan lagu tersebut tanpa memerlukan buku atau cetakan lagu tersebut. 23231 2.6.3.2 Mempraktikan dengan lagu
  • 116. Bu 94
  • 117. 95
  • 118. Bu 96
  • 119. 97
  • 120. Bu 98
  • 121. 99
  • 122. Bu 100
  • 123. 101
  • 124. Bu 102
  • 125. 103
  • 126. Bu 104
  • 127. 105
  • 128. Bu 106
  • 129. 107
  • 130. Bu 108
  • 131. 109
  • 132. Bu 110
  • 133. 111
  • 134. Bu 112
  • 135. 113
  • 136. Bu 114
  • 137. 115
  • 138. Bu 116
  • 139. 117
  • 140. Bu 118
  • 141. 119
  • 142. Bu 120
  • 143. 121 2.6.4. Teknik Memainkan Gambang Kromong Nada Gambang ............ 561235656123565612356 Nada yang digunakan sebgai standar dalam gambang adalah nada D. Terdiri dari 18 bilah kayu yang merupakan oktaf (gembyang) yang berulang, dari nada yang rendah sampai ke nada tinggi, lebih kurang 3 ½ oktaf (gemyang). Pola iringan gambang kromong adalah baku. Pola iringan nada 1 (Do) adalah : __ __ __ __ 15 35 05 35 __ __ __ __ 16 36 06 36 Pola iringan nada 2 (Re) adalah : __ __ __ __ 25 25 05 25 __ __ __ __ 25 35 05 35 Pola iringan nada 3 (Mi) adalah : __ __ __ __ 35 35 05 35 __ __ __ __ 36 36 06 36 Pola iringan nada 5 (Sol) adalah : __ __ __ __ 55 35 05 35 Pola iringan nada 6 (La) adalah : __ __ __ __ 66 36 06 36 Ragam Tabuhan Dilagu Dicaruk (dikotek) Di gemyang
  • 144. Bu 122 Pola Kotekan Kromong Nada pada Kromong Pencon bagian atas 65321 Pencon bagian bawah 23156 Pola nada 1 (Do) __ __ __ __ 15 35 05 35 __ __ __ __ 16 36 06 36 Pola nada 2 (Re) adalah : __ __ __ __ 25 25 05 25 __ __ __ __ 25 35 05 35 Pola nada 3 (Mi) adalah : __ __ __ __ 35 35 05 35 __ __ __ __ 36 36 06 36 Pola nada 5 (Sol) adalah : __ __ __ __ 55 35 05 35 Pola iringan nada 6 (La) adalah : __ __ __ __ 66 36 06 36 Lagu yang selalu dinyanyikan dalam setiap permainan gambang Kromong disebut lagu Sayur, instrumentalia musik yang dimainkan tanpa nyanyian disebut Phobin. PRAKTIK MEMAINKAN GAMBANG KROMONG 1. GAMBANG KROMONG Seperti telah dibahas pada Bab sebelumnya bahwa ansambel Gambang Kromong terdiri dari instrumen pokok Gambang, Kromong, Gong, Kempul, Kecrek serta alat musik gesek seperti Tehyan, Kongahyan dan Sukong. Tetapi dewasa ini sudah mulai ada perubahan alat seperti Ningnong (digantung), gitas Bas, Drum dan Keyboard. Pada bahasan akan dibahas alat pokoknya saja. Dengan contoh lagu Kicir- kicir diharapkan bisa mewakili untuk memainkan lagu-lagu Gambang Kromong yang lain. Syair lagu yang terdapat dalam lagu kicir-kicir berupa sajak. Bisa AB-AB atau AA-BB. Kerangka lagu kicir-kicir adalah sebagai berikut :
  • 145. 123 Intro : __ __ __ __ P P 03 35 | 3 . 2 22 3 ||: (2) . . . | 3 . . . | P P P P | (1) . . . |3 . . .| (6) . . . | 3 . . . | P P | (5) . . . |3 . . . :|| Jalannya sajian adalah sebagai berikut, intro dilakukan oleh instrumen Gambang dan Kromong secara berbarengan nada intro adalah : __ __ __ __ 03 35 3 . 2 22 3 (2) Instrumen lain masuk dan nada 2 (re). Pada bagian lagu akan dibahas satu persatu cara memainkannya. GAMBANG, setelah melakukan intro instrumen Gambang memainkan lagu dengan pola kotekan yang mengacu pada jatuhnya nada . pola kotekan adalah sebagai berikut 05 35 dan 06 36 untuk jatuh nada 1 (do), 2 (re), 3 (mi) dan 5 (sol) pola kotekannya menggunakan 05 35 sedangkan untuk jatuh nada 6 pola kotekannya menggunakan 06 36. Nada yang ada dalam instrumen Gambang adalah sebagai berikut dimulai dari sebelah kiri atau nada paling rendah. 561235612356123561 Wilayah jatuhnya nada Wilayah nada untuk kotekan untuk lebih jelasnya lihat pertitur lagu dan tabuhan Gambang di bawah ini : __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ | 03 35 | 3 .2 22 3 | (2)5 35 . 5 35 | 35 35 .5 35 | __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ | (1)5 35 .5 35 | 35 35 .5 35 | (6)6 36 .6 36 | 36 36 .6 36 | | (5)5 35 .5 35 | 35 35 .5 35 | Jatuhnya nada Pola kotekan
  • 146. Bu 124 KROMONG, nada yang terdapat dalam instrumen Kromong adalah : Wilayah nada untuk kotekan 6 5 3 2 1 2 3 1 5 6 Wilayah jatuhnya nada Cara memainkannya sama dengan instrumen Gambang yaitu dengan pola kotekan Nada untuk kotekan adalah nada yang terdapat dalam instrumen di atas, sedangkan nada jatuhnya adalah nada yang ada dibawah. Berikut tabuhan instrumen kromong : __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ | 03 35 | 3 .2 22 3 | (2)5 35 .5 35 | 35 35 .5 35 | __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ __ | (1)5 35 .5 35 | 35 35 .5 35 | (6)6 36 .6 36 | 36 36 .6 36 | | (5)5 35 .5 35 | 35 35 .5 35 | Jatuhnya nada Pola kotekan GONG dan kempul untuk pola tabuhan Kempul dan Gong lihat pada kerangka lagu kicir-kicir di atas. Tanda P diatas not menunjukkan tabuhan Kempul sedangkan tanda ( . ) adalah tabuhan Gong. Setiap satu gong terdiri dari 2 tabuhan kempul.
  • 147. 125 KECREK, pola tabuhan kecrek adalah sebagai berikut : .x xx .x xx .x xx dan seterusnya sama. Lihat penerapannya pada cuplikan lagu kicir- kicir. __ __ __ __ 03 35 3 .2 22 3 (2) . . . 3 . . . __ __ __ __ __ __ __ __ Kecrek : xx .x xx .x xx .x xx .x Mulai menabuhnya dan nada 2 (re) yang dipukul dua kali, penekanan pukulannya pada hitungan ke I dan ke III. NINGNONG, adalah sejenis kempul yang ukurannya lebih kecil. Instrumen ini letaknya dengan cara digantung. Urutan nada yang diatas dari kiri adalah nada 1, nada 6 dan nada 5 lalu yang dibawah nada 3, nada 2 dan nada 1 rendah. Tabuhan Ningnong kita simbulkan dengan tanda N diatas not. Ningnong berfungsi untuk menguatkan rasa seleh atau jatuhnya nada aksen. Lihat penerapannya pada lagu kicir-kicir di bawah ini : __ __ __ __ N N 03 35 | 3 .2 22 3 ||: (2) . . . 3 .. . N N N N |(1) . . .| 3 . . . | (6) . . . | 3. . . | N N |(5) . . .| 3 . . . :|| KENDHANG, fungsinya sebagai pengatur tempo/irama. Pola tabuhannya adalah seperti bahasan di atas. Penerapannya dalam lagu Kicir-kicir adalah : __ __ __ __ 03 35 3 .2 22 3 (2) . . . 3 . . . 1
  • 148. Bu 126 Jali-Jali Transkrip oleh Tuti Tarwiyah
  • 149. 127 Sirih Kuning Transkrip oleh Tuti Tarwiyah
  • 150. Bu 128 Kicir-Kicir Transkrip oleh Tuti Tarwiyah
  • 151. 129 2.6.5. Teknik Memainkan Gamelan Untuk tahap awal menabuh gamelan Jawa dapat dimulai dalam bentuk Gendhing yang sederhana yaitu bentuk Lancaran. Lancaran sifatnya riang dan bisa menceritakan suasana gembira. Kemudian dalam bentuk Lancaran ada yang tidak memakai vokal (instrumentalia) dan ada yang memakai vokal. Di bawah ini penjelasan cara memainkan gamelan : Lancaran Kebo Giro berfungsi untuk penyambutan tamu besan, pada upacara resepsi pernikahan adat jawa. Jalan sajiannya adalah sebagai berikut: Bagian Buka, buka ialah nada yang ditabuh untuk memulai suatu gendhing dan biasanya dilakukan oleh ricikan Rebab, Gender, Kendhang dan Barung Barung. Pada gendhing bentuk lancaran buka dilakukan oleh rincikan Bonang Barung, titik atas dan titik bawah pada not menunjukkan pukulan dimana saat melakukan buka. Jadi bila ada not titik bawah artinya nada yang dipukul juga nada yang ada diricikan bawah. Susunan nada dalam Bonang Barung Pelog adalah sebagai berikut : Atas 4 6 5 3 2 1 7 Bawah 7 1 2 3 5 6 4
  • 152. Bu 130 Setiap bentuk Lancaran gatra terakhir sudah mulai dengan gembyang cegatan, lihat contohnya : Nada awal ditabuh satu-satu sesuai not dan letaknya kemudian di gatra terakhir atau gatra keempat sudah gembyang cegatan. Instrumen kedua yang masuk adalah instrumen kendhang mulai dari gatra ke tiga, lihat contohnya : Setelah itu semua instrumen masuk dan nada 5 atau paling belakang. Jadi kesimpulannya adalah pada bagian buka dilakukan oleh Bonang Barung lalu diteruskan oleh Kendhang dan semua instrumen baru masuk pada nada terakhir. Bagian gendhing, Lancaran Kebo Giro terdiri dari 4 baris dimulai dari baris 1 sampai keempat lalu balik ke baris 1 dan begitu seterusnya sampai pada suwuk (berhenti). Dibagian gendhing kita mulai pembahasan dan instrumen : 1. Bonang Barung, setelah melakukan buka kemudian Bonang Barung memainkan lagu dengan pola gembyang cegatan, yaitu setiap gatra ditabuh dua kali dengan patokan gembyangnya nada yang dibelakang. Lihat contoh di bawah ini :
  • 153. 131 Pukulan Bonang Barung tidak berbarengan dengan ricikan Balungan (Demung, Saron, Slenthem) jika dalam memukulnya berbarengan maka tabuhan Bonang Barung salah. Begitu seterusnya sampai gendhingnya berhenti. 2. Bonang Penerus, pola tabuhan dalam bentuk lancaran irama lancaran sama dengan pola pada Bonang Barung yaitu Gembyang cegatan, tetapi praktek menabuhnya tentu saja tidak sama cuma namanya saja yang sama. Untuk lebih jelasnya, lihat di bawah ini :
  • 154. Bu 132 3. Kendhang, kendhang bertugas sebagai pamurba irama, artinya cepat- lambat, mulai-berhentinya sebuah sajian gendhing tergantung pada kendhang. Untuk bentuk lancaran pola kendhangan ada 4 macam yaitu cengkok A, B, C dan D (lihat pada bab di atas). Kemudian penerapannya pada lancaran Kebo Giro adalah sebagai berikut : setelah buka baris I dengan pola A, baris II dengan pola B III dengan pola B dan baris IV dengan pola C ini pada putaran pertama, kemudian pada putaran kedua dan seterusnya baris I dengan pola B, baris II dengan pola B, baris III dengan pola B dan baris IV dengan pola C, artinya pola A hanya dipakai sekali setelah buka. Untuk lebih jelasnya dapat dirumuskan sebagai berikut : Putaran 1 : A,B,B,C Putaran II dan seterusnya : B, B, B, C Kebetulan Lancaran Kebo Giro hanya terdiri dan dan 4 baris jadi gambaran pola kendhangannya seperti tersebut di atas. Kalau misalnya ada lancaran yang terdiri dari 3 baris berarti pola kendhangannya adalah : Putaran 1 : A,B,C Putaran II dan seterusnya : B, B, C Begitu juga apabila bentuk lancaran yang terdiri dan 5 baris berarti dapat dirumuskan sebagai berikut: Putaran 1 : A,B,B,B,C Putaran II dan seterusnya : B, B, B, B, C Pola C dinamakan juga cengkok salahan artinya untuk memantapkan rasa seleh dan hanya digunakan pada baris terakhir tapi bentuk lancaran. Kemudian pola D atau suwukat digunakan untuk
  • 155. 133 memberhentikan gendhing. Pola D penggunaanya pada baris terakhir, yaitu jika kendhang sudah menggunakan pola D maka tidak lagi menggunakan pola C dan artinya gendhing tersebut akan berhenti dengan ciri pada baris terakhir tempo semakin pelan yang tentu saja diatur oleh kendhang. 4. Gong, termasuk dalam golongan ricikan struktural artinya penempatannya dalam sebuah gendhing mempengaruhi jenis gendhing tersebut. Ricikan Gong terdiri dan 2 macam yaitu gong gedhe dan gong suwukan. Gong gedhe nadanya 3 dan 5 sedangkan gong suwukan nadanya 2, 6, 1 dan 7. Dalam jenis Lancaran kita bisa memakai Gong Gedhe salah satu dan Gong Suwukan dengan nada 2 saja. Gong Gedhe ditabuh hanya setelah buka dan pada baris terakhir nada terakhir, sedangkan Gong Suwukan ditabuh pada tiap akhir baris kecuali baris terakhir. Untuk lebih jelasnya lihat penerapannya pada bentuk Lancaran Kebo Giro di bawah ini : Ket : hal ini brlaku untuk setiap bentuk lancaran 5. Kempul, Kempul Laras Pelog terdiri dari nada 6, nada 5, nada 3, nada 1 dan nada 7. Dalam lancaran Kebo Giro kita bisa memakai kempul dengan nada 6 saja dan cara menabuhnya berbarengan dengan jatuhnya nada. Tabuhan kempul bisa disimbolkan dengan tanda atau P yang terletak di atas not. Contoh :
  • 156. Bu 134 6. Kenong, nada dalam Kenong Laras Pelog adalah nada 6, nada 5, nada 3, nada 2, nada 1 dan nada 7. Setiap satu baris terdiri dan 4 kali tabuhan dan menabuhnya mengikuti jatuhnya nada atau mengikuti nada di bawah tanda symbol Kenong. Tabuhan Kenong biasa disimbolkan dengan tanda atau N yang terletak di atas not Contoh: 5 berarti nada yang ditabuh kenong juga nada 5 atau 2 berarti nada yang ditabuh kenong adalah nada 2 dan seterusnya. Lihat penerapannya pada Lancaran Kebo Giro di bawah ini : 7. Demung, Saron dan Slenthem, termasuk dalam jenis ricikan balungan, nada-nada yang ada didalamnya adalah : 1 2 3 4 5 6 7 untuk laras pelog sedangkan untuk laras slendro nadanya adalah; 6123561. Cara menabuhnya adalah tangan kanan untuk menabuh sedangkan tangan kiri untuk quot;mathetquot; atau memegang setelah nada ditabuh. Tetapi tidak setelah ditabuh langsung dipegang melainkan berbarengan dengan tangan kanan menabuh nada berikutnya. Contoh : .6.5 .3.2 .3.2 .6.5 pertama tangan kanan menabuh nada 6 terus nabuh nada 5, pada saat tangan kanan nabuh nada 5 maka tangan kiri memegang nada 6, selanjutnya tangan kanan menabuh nada 3 baru tangan kiri memegang nada 5 dan seterusnya. Jadi tangan kiri mengikuti kemana tangan kanan menabuh nada. Di atas sudah dibahas Jenis Lancaran yang tidak memakai vokal, sekarang akan kita bahas jenis Lancaran yang memakai vokal. Jenis Lancaran mi pola tabuhan instrumen Balungan, Gong dan Kendhang tetap sama. Untuk Bonang Barung, Bonang Penerus, Kenong dan Kempul, tabuhan dan pola sama tetapi yang berbeda hanya nadanya saja. Untuk jenis gendhing yang memakai vokal kita pakai Lancaran Gugur Gunung di bawah ini :
  • 157. 135 Untuk ricikan Bonang Barung, Bonang Penerus, Kempul dan Kenong cara menafsirkan nada tabuhannya adalah tiap 2 gatra. Kalau yang tidak memakai vokal penafsiran nada tabuhannya tiap 1 gatra.
  • 158. Bu 136 2.6.6. Teknik Memainkan Kacapi Perkembangan dimasukannya Kacapi sebagai kurikulum dikarenakan pertimbangan fenomena kesenian yang hidup di masyarakat, atau dikenal luas di masyarakat. Tabel. 6.2. Peta Unit Kompetensi Keterampilan Kacapi Level Jenjang Pendidikan Purwana Yuwana SMK Madya Madya Utama Diploma Purna Kacapi merupakan alat musik petik (waditra) yang memiliki (dawai) sebanyak 7 sampai 20, bahkan bisa lebih, karena pengaruh keperluan teknik terutama kreasi Mang Koko kacapi dapat berjumlah 22 s/d 26 senar, resonator mengacu dari kayu dan alat petik tersebut ada yang disebut jentreng, kacapi perahu, kacapi rincik, dan kacapi siter. Kacapi adalah bentuk akulturasi dari alat musik K’in dari Cina dan Koto di Jepang. Berikut diuraikan jenis kacapi : 2.6.6.1 Kacapi Yang Mempunyai Fungsi Hiburan Kacapi Yang Mempunyai Fungsi Hiburan Kacapi suling Kacapi suling instrumennya terdiri dari kacapi dan suling, kacapinya adalah kacapi kawih/siter, sulingnya berlaras da-mi-na-ti-la- da dengan 6 lubang. Kacapi kawih/siter dapat pula dimainkan untuk permainan individu. Kesenian kacapi suling: adalah memainkan lagu-lagu instrumentalia dan pop Sunda. Kacapi berlaras pelog dan slendro atau berlaras da-mi-na-ti-la-da. Yang berlaras pelog bernuansa lembut dan yang berlaras slendro bernuansa China, gembira, berlaras lebih tinggi, oleh karenanya warna suaranya berbeda. Fungsi seninya : - Dahulu untuk pengiring upacara siraman dan dahulu untuk dinikmati bangsawan Cianjur - Saat ini untuk hiburan
  • 159. 137 Sumber : RRI Jakarta Gambar 2.47.Kacapi Kawih/Siter berlaras pelog dan slendro Sumber : RRI Jakarta Gambar 2.48. Gambar Kacapi Suling 1. Permainan Kacapi Suling Secara Mandiri Tinjauan dari permainan kacapi yang dapat dimainkan secara mandiri adalah: - Kacapi tembang Cianjuran Fungsi seni tembang Cianjuran adalah sebagai pengiring, berlaras pelog, slendro dan madenda. Perangkat instrumennya : Kacapi perahu (indung): berfungsi sebagai tangan kiri, iringan atau bas.
  • 160. Bu 138 Kacapi Rincik : 1) Sebagai melodi 2) Sebagai ketukan irama/tempo Kacapi Indung sebagai ritem dan bas Sedangkan kacapi Rincik yang lebih kecil berfungsi sebagai melodi dan sulingnya sebagai pembawa lagu. Sedangkan permaianan kacapi yang ada vokalnya atau mamaos disebut kacapi tembang sunda cianjuran. Salah satu contoh lagu tembang cianjuran seperti lagu “Papatet” yang dibawakan oleh juru tembang atau disebut siden [juru mamaos] dalam kacapi tembang Lagu-lagu dalam tembang sunda seperti lagu “Papatet “ ini bisa disajikan dengan vokal atau bahkan bisa disajikan dengan suling saja, yang disebut kacapi suling instrumental. Sumber : RRI Jakarta Gambar 2.49. Kacapi Rincik Melodi dan Birama Sumber STSI Bandung Gambar 2.50. Kacapi Perahu
  • 161. 139 Celempungan - Celempungan adalah permainan satu atau dua buah kacapi siter ditambah instrumen Rebab sebagai pembawa melodi lagu, instrument kendang yang terbuat dari kayu dan kulit sebagai pembawa irama, vocal atau juru sinden sebagai pembawa lagu, dan instrumen gong sebagai pemanteb. Dalam penyajiannya celempungan biasanya membawakan lagu-lagu yang terikat oleh birama atau tempo, seperti misalnya lagu “Eslilin” atau “Manuk Dadali” dan sebagainya. Sumber : RRI Jakarta Gambar 2.51. Musik Celempungan Wanda anyar Yang dimaksud wanda anyar disini adalah permainan kacapi kreasi baru, dan permainan kacapi wanda anyar ini lebih banyak dimainkan pada alat kacapi siter elektrik dua sampai tiga buah kacapi siter dan dan dalam penyajiannya lebih banyak membawakan lagu-lagu yang lagi populer ngetren pada jamannya. Misalnya lagu “Kalangkang” dan “Cinta Ketok Mejik”. Permainan kacapi instrumental wanda anyar menunjukkan teknik petikan kacapi dan macam-macam tekniknya. Ciri khas dari petikan wanda anyar ini adalah : Aransemen dan gelanyu sebagai jembatan antar melodi
  • 162. Bu 140 Aransemen yang disukai kaum muda, ekspresif nada-nadanya, penuh kreasi. Kaya akan hiasan lagu Memiliki etude petikan kacapi Kacapi yang dimainkan adalah kacapi kawih/siter. 2. Permainan Sebagai Pengiring Petikan-petikan kacapi indung dalam tembang Sunda atau kacapi suling sangat berperan terutama dalam mengiringi lagu-lagu, papantunan, jejemplangan, dedegungan dan penambih. Yang dimaksud dengan papantunan, jejemplangan dan dedegungan adalah bentuk syair lagu yang dibawakan atau dinyanyikan secara bebas atau merdeka yang tidak terikat oleh birama maupun temponya. Contonya : Jenis papantunan dalam lagu “Papatet” Daweung di ajar ludeung Gunung Galunggung kapungkur Gunung Sumedang katunjang Talaga sok kawahyahna Rangkecik ditengah leuweung Ulah pundung kudisungkun ulah melang teu diteang Tarima raga wayahna ngancik di nagara deungeun Sedangkan yang dimaksud dengan panambih adalah lagu tambahan dari jenis lagu di atas yang dinyanyikan secara teratur dan terikat oleh aturan birama maupun temponya. Contohnya lagu “Eslilin” A. Penjarian Yang dimaksud penjarian adalah penggunaan jari-jari tangan baik kanan maupun kiri pada waktu memetik senar kacapi. Untuk mempermudah dalam penulisannya, tangan kanan dilambangkan dengan hurup A (besar) dan tangan kiri dengan hurup B (besar). Sedangkan jari-jarinya baik kanan maupun kiri dilambangkan dengan huruf-huruf kecil yaitu : Ibu jari (jempol) = a, Telunjuk = b, Jari tengah = c, jari manis = d dan kelingking = e. Penulisan lambang-lambang jari ini biasanya diletakkan disebelah kiri susunan nada (melodi gending) yang akan dimainkan. B. Sistem dan Nilai Nada Sistem nada yang digunakan dalam alat petik (kacapi) pada umumnya meliputi laras salendro, degung (pelog), dan madenda (sorong). Menurut teori Machyar, yang membedakan tinggi rendah nada dalam setiap laras, terletak pada intervalnya. Untuk lebih jelasnya perbedaan
  • 163. 141 tersebut lihat figure di bawah dengan menggunakan notasi da-mi-na-ti- la (1-2-3-4-5). . Laras salendro :1..5..4..3..2..1..5 .. Laras degung :21....54..3....21.. Laras madenda :43....21....5..43.. . .. Sedangkan susunan nada yang digunakan dalam alat petik (kacapi) umumnya dimulai dari nada 1 (da) tinggi (titik satu di bawah). Apabila disusun sebanyak 20 nada (ke samping dan ke atas) seperti di bawah ini : . . . . . .. .. .. .. .. 12345123451234512345 .. . . . ___________ ___________ ___________ ___________ Oktaf tinggi oktaf sedang oktaf rendah oktaf lebih rendah Nilai nada yang digunakan dalam suatu permainan kacapi kalau ditulis dengan not angka (notasi da-mi-na-ti-la) adalah sebagai berikut : 1. Not yang berdiri sendiri, bernilai satu ketukan. Contohnya 1 2 3 4 2. Not yang diberi garis satu di atasnya, bernilai setengah ketukan. Contohnya 1 2 3 4. 3. Not yang diberi garis dua di atasnya, bernilai seperempat ketukan. Contohnya 1 2 3 4
  • 164. Bu 142 Tanda lain yang sering digunakan dalam penulisan notasi gending kacapi adalah titik ( . ) yaitu untuk memperpanjang nada dan tanda istirahat ( 0 ) yaitu tanda untuk berhenti mengeluarkan suara atau berhenti membunyikan nada. Sedangkan nilai dari kedua tanda tersebut dalam penulisannya sama seperti notasi pada nomor 1, 2 dan 3. Khusus mengenai titik, apabila diletakkan di belakang not atau di samping kanan not, maka nilai not tersebut akan bertambah. Contohnya 1 . berarti 1 nilainya menjadi dua ketukan. Apabila penulisan seperti 1 . 0 berarti nilai 1 menjadi satu setengah ketukan, sebab nilai titik dan tanda istirahat masing-masing setengah ketukan. Dengan demikian jelaslah bahwa panjang pendeknya nada yang dilambangkan oleh not angka akan bergantung pada nilainya, seperti telah dicontohkan di atas. 2.6.6.2. TEKNIK PETIKAN KACAPI Yang dimaksud teknik petikan kacapi ialah cara memainkan kacapi untuk nenghasilkan komposisi nada (gending) secara optimal. Cara tersebut meiliputi banyaknya jari-jari tangan yang digunakan serta posisi dan gerakan jari-jari tangan ketika memetik senar (kawat). Teknik petikan kacapi yang sering dipergunakan terutama dalam Celempungan, Jenaka Sunda, Kawih Kacapian, dan Cianjuran, secara global ada 3 macam yaitu sintreuk-toel dijambret, dan dijeungkalan. Yang membedakan antara tenik yang satu dengan lainnya, seperti telah disebutkan di atas, selain banyaknya jari yang digunakan juga posisi dan gerakan jari-jari tangan ketika memetik senar. Sehingga dengan demikian nada-nada (gending) yang dihasilkan jari-jari tangan tersebut akan berbeda pu!a. Untuk lebih jelasnya ketiga teknik tersebut di atas, akan penulis jelaskan satu persatu berikut contoh latihannya dalam bentuk cacarakan (cara-cara petikan kacapi), yang materinya mengacu pada tujuan umum yaitu mendidik mahasiswa agar dapat mendemontrasikan teknik-teknik petikan kacapi ke dalam bentuk aransemen (instrumental) dan pirigan lagu (iringan lagu). Adapun penjelasan dan latihannya adalah sebagai berikut: A. Teknik Sintreuk-toel 1. Pembahasan Sintreuk-toel adalah teknik petikan kacapi dengan menggunakan dua jari yaitu telunjuk kanan dan telunjuk kiri. Posisi dan gerakan jarinya adalah: (1) telunjuk kanan melipat ke daiam, ujung kukunya menyentuh senar dengan gerakan nyintreuk (menjentik); dan (2) telunjuk kiri agak lengkung ke bawah, ujung kukunya menyentuh senar dengan gerakan noel (sentuhan dengan ujung jari), sehingga gerakan dari kedua jari itu menghasilkan komposisi nada (gending) yang diinginkan. Gerakan tersebut ada yang searah dalam nada gembyang (oktaf) atau kempyung (akor), ada yang berlawanan dengan nada yang berlainan, dan ada pula yang seperti saling bersahutan antara telunjuk
  • 165. 143 kanan dan kiri. Fungsi dari masing-masing jari di atas adalah: ada yang sama-sama sebagai penyaji melodi, ada pula yang telunjuk kanan sebagai penyaji melodi serta telunjuk kiri sebagai penyaji bass dan lain-lain. Artinya tergantung pada kebutuhan musikainya. 2.6.6.3. Mempraktikan Memetik Kacapi dengan Melatih Cacarakan Dalam latihan ini materi-materinya disebut Cacarakan. Sedangkan tingkat kesulitan dari materinya disusun secara bertahap, yang pada akhirnya diharapkan mahasiswa itu mampu menyajikan aransemen. Adapun susunan cacarakannya seperti di bawah ini :
  • 166. Bu 144
  • 167. 145
  • 168. Bu 146
  • 169. 147
  • 170. Bu 148 Taknik sintreuk-toel yang diaplikasikan ke dalam bentuk Cacarakan 1 - 10, di dalarnnya sudah mencakup teknik penjarian (posisi dan gerakan jari) dan teknik petikan (ketepatan jari dalam menghasilkan bunyi yang bersih dari senar yang disentuhnya). Kedua teknik ini pada dasarnya bertujuan melatih keterampilan tangan untuk sampai pada garap aransemen (gending macakal) secara baik dan benar. B. Teknik Dijambret Teknik Dijambret adalah petikan kacapi yang posisi dan gerakan jarinya terutama jari-jari tangan kanan, seperti menjambret2 yaitu membunyikan tiga buah nada secara bersamaan, dengan menggunakan ibu jari, t elunjuK, dan jari tengah. Sedangkan posisi dan gerakan tangan kiri (ibu jari dan telunjuk) seperti ngajeungkalan. Fungsi dari kedua tangan tersebut masing-masing sebagai penyaji iringan (tangan kanan) dan penyaji bass
  • 171. 149 (tangan kiri). Teknik dijambret biasanya digunakan untuk mengiringi lagu-lagu Sunda yang berirama mars (tempo cepat). Secara praktis, teknik dijambret hanya memiliki satu motif. Oleh sebab itu dalam cacarakannya hanya akan berorientasi pada nada yang akan dimainkan saja, yang dalam istilah tradisinya disebut kenongan. Misalnya teknik dijambret dalam kenongan 5 (la). Yang perlu diketahui oleh mahasiswa sebelum mempraktikkan teknik dijambret adalah pasangan nada dari nada yang dijadikan kenongan. Pasangan nada tersebut seperti di bawah ini: Gembyang : 1 2 3 4 5 Pasangan : 3/4 5/4 1/5 2/1 2/3 Kenongan 1 2 3 4 5 Kelompok nada di atas dapat pula dijadikan dasar dalam menentukan pasangan nada pada petikan tangan kiri di setiap pirigan lagu.
  • 172. Bu 150 C. Permainan Kacapi Gaya Celempungan dalam lagu Banjaran (laras pelog), gerakan sedang
  • 173. 151 Keterangan : Pirigan disajikan berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan
  • 174. Bu 152 TES FORMATIF BAB II Pilihlah jawaban yang tepat ! 1. Tangganada diatonis berasal dari tangga nada .... a. Yunani b. Lydis c. Dons-Frigis d. Tetrachord 2. Apa yang disebut tangganada diatonis? a. Susunan nada yang mempunyai jarak 1 dan ½ b. Susunan nada yang bernada 5 c. Susunan nada yang berjarak 2, 1 dan ½ d. Susunan nada yang berjarak ½ 3. Notasi pentatonik adalah asli milik bangsa Indonesia yang dibuat oleh .... a. Machjar Angga Koesoemadinata b. Haryo Wreksadiningrat c. Demang Kartini d. W.R. Supratman 4. Cikal bakal instruen piano yang bernama Harpsichord diciptakan pada tahun 1707 oleh .... a. Bartolomeo Christofori b. Aristoteles c. Steinway d. Grand 5. Kesenian gambang kromong, kenong dan tanjidor adalah kesenian khas daerah .... a. Jawa Tengah b. Bali c. Betawi d. Kalimantan 6. Gambang kromong adalah kesenian yang mendapat pengaruh dari.... a. India b. Arab c. Cina d. Melayu
  • 175. 153 7. Talempong adalah alat musik tradisional seperti gamelan yang berasal dari propinsi .... a. Jawa Tengah b. Sumatera Barat c. Lampung d. Bali 8. Angklung berlaras diatonis disebut juga .... a. Angklung tradisi Sunda b. Angklung Pak Poeng c. Angklung Indonesia d. Angklung Pak Udjo 9. Alat musik tradisional Indonesia serumpun alat musik Koto adalah.... a. Kacapi b. Sample c. Sitar d. Granting 10. Perbedaan gender dan slentem adalah pada .... a. Jumlah bilahan b. Bentuk bilahan c. Fungsi dalam permainan d. Cara memainkan
  • 176. Bu 154 Apresiasi : 1. Apa yang kamu rasakan ketika mendengar suara yang beraturan seperti suara tetesan air dari ledeng ? 2. Apa yang kamu rasakan jika terdengar suara keras dan cepat, seperti suara drum yang ditabuh dengan bersemangat ? 3. Bagaimana cara kamu mengenali musik yang kamu dengar adalah musk Melayu (Riau) 4. Bagaimana cara kamu mengenali musik khas darah Sunda? 5. Bagaimana cara kamu mengenali gamelan yang kamu dengar adalah gamelan daerah : - Bali - Jawa Tengah - Sumatera Barat 6. Dapatkah kamu mengidentiikasi yang mana musik yang merupakan karya Bach, dari lagu-lagu yang guru perdengarkan?
  • 177. Bab 3 Seni Tari Mengapresiasikan Karya Seni Tari APRESIASI Pengertian Seni Tari Gerak Pembelajaran Apresiasi Seni Tari Berdasarkan Konsep Garapan Tari Berdasarkan Orientasi Peran Fungsi di Masyarakat Teri Berdasarkan Orientasi Artistik Fungsi Tari Upacara
  • 178. EKSPRESI Produksi Tari Dasar Pijakan
  • 179. 158 BAB III SENI TARI 3. Mengapresiasikan Karya Seni Tari Pemahaman suatu tarian sebagai konsep merupakan aspek terpenting dalam pendidikan tari. Pemahaman konsep dibentuk melalui proses kreasi. Di bawah ini tahapan apresiasi tari yang berguna bagi yang mendalami apa arti sutu pendidikan seni khususnya untuk seni tari. Belajar seni pada tataran apresiasi dapat dimulai dari usia dini, caranya dengan melihat, membuat, dan menampilkan tari. Cakupan ini adaptasinya dapat dipelajari melalui penjelasan di bawah ini. 3.1. Pengertian Tari Unsur utama yang paling pokok dalam tari adalah gerak tubuh manusia yang sama sekali lepas dari unsur ruang, dan waktu, dan tenaga. Tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan berbentuk gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika. Beberapa pakar tari melalui simulasi di bawah ini beberapa tokoh yang mendalami tari menyatakan sebagai berikut. Haukin menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta (Haukins: 1990, 2). Secara tidak langsung di sini Haukin memberikan penekanan bahwa tari ekspresi jiwa menjadi sesuatu yang dilahirkan melalui media ungkap yang disamarkan. Di sisi lain ditambahkan oleh La Mery bahwa ekspresi yang berbentuk simbolis dalam wujud yang lebih tinggi harus diinternalisasikan. Untuk menjadi bentuk yang nyata maka Suryo mengedepankan tentang tari dalam ekspresi subyektif yang diberi bentuk obyektif (Meri:1987, 12). Dalam upaya merefleksikan tari kedua tokoh sejalan. Kesejalanan yang dikembangkan berhubungan dengan konsep tari masih banyak diperdebatkan. Hal ini terbukti masih belum komplitnya pemahaman tari itu sendiri yang berkembang di masyarakat. Laju pertumbuhan tari memberi corak budaya yang lebih variatif, dinamis, dan sangat beragam intensitas pendalamannya. Oleh sebab itu dalam beberapa tahun ke depan tari menjadi semakin memiliki aura yang diharapkan digali terus menerus. Dalam perkembangan berikut, tari disampaikan oleh Soedarsono bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang diubah melalui gerak ritmis yang indah. Sejalan dengan pendapat kedua tokoh terdahulu dalam
  • 180. 159 buku ini, pada prinsipnya masalah ekspresi jiwa masih menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Pernyataaan yang mendasar tentang ekspresi jiwa manusia menjadi salah satu kunci tari menjadi bagian kehidupan yang mungkin hingga waktu mendatang selalu menjadi tumpuhan perkembangannya. Dalam konteks yang masih sama Soeryodiningrat memberi warna khasanah tari bahwa beliau lebih menekankan kepada gerak tubuh yang berirama. Hal ini seperti terpetik bahwa tari adalah gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik atau gamelan diatur oleh irama sesuai dengan maksud tujuan tari (Soeryodiningrat: 1986, 21). Lebih jauh lagi ditambahkan CurtSach bahwa tari merupakan gerak yang ritmis (CurtSach: 1978, 4). Tari sering kita lihat dalam berbagai acara baik melalui media televisi (TV), maupun berbagai kegiatan lain seperti pada acara khusus berupa pergelaran tari, paket acara tontonan yang diselenggarakan misalnya oleh Taman Mini Indonesia Indah (TMII), paket acara yang digelar oleh Pasar Seni Ancol, dan acara tontonan dalam kegaiatan kenegaraan maupun acara-acara yang berkaitan dengan keagamaan, perkawinan maupun pesta lain yang berhubungan dengan adat. Tari merupakan salah satu cabang seni, dimana media ungkap yang digunakan adalah tubuh. Tari mendapat perhatian besar di masyarakat. Tari ibarat bahasa gerak merupakan alat ekspresi manusia sebagai media komunikasi yang universal dan dapat dinikmati oleh siapa saja, pada waktu kapan saja. Sebagai sarana komunikasi, tari memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat. Pada berbagai acara tari dapat berfungsi menurut kepentingannya. Masyarakat membutuhkan tari bukan saja sebagai kepuasan estetis, melainkan dibutuhkan juga sebagai sarana upacara Agama dan Adat. Apabila disimak secara khusus, tari membuat seseorang tergerak untu mengikuti irama tari, gerak tari, maupun unjuk kemampuan, dan kemauan kepada umum secara jelas. Tari memberikan penghayatan rasa, empati, simpati, dan kepuasan tersendiri terutama bagi pendukungnya. Tari pada kenyataan sesungguhnya merupakan penampilan gerak tubuh, oleh karena itu tubuh sebagai media ungkap sangat penting perannya bagi tari. Gerakan tubuh dapat dinkmati sebagai bagian dari komunikasi bahasa tubuh. Dengan itu tubuh berfungsi menjadi bahasa tari untuk memperoleh makna gerak. Tari merupakan salah satu cabang seni yang mendapat perhatian besar di masyarakat. Ibarat bahasa gerak, hal tersebut menjadi alat ekspresi manusia dalam karya seni. Sebagai sarana atau media komunikasi yang universal, tari menempatkan diri pada posisi yang dapat dinikmati oleh siapa saja dan kapan saja. Peranan tari sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai acara yang ada dalam kehidupan manusia memnfaatkan tarian untuk mendukung prosesi acara sesuai kepentingannya. Masyarakat
  • 181. 160 membutuhkannya bukan saja sebagai kepuasan estetis saja, melainkan juga untuk keperluan upacara agama dan adat. Dalam konteksnya, beberapa unsur gerak tari yang tampak meliputi gerak, ritme, dan bunyi musik, serta unsur pendukung lainnya. John Martin dalam The Modern Dance, menyatakan bahwa, tari adalah gerak sebagai pengalaman yang paling awal kehidupan manusia. Tari menjadi bentuk pengalaman gerak yang paling awal bagi kehidupan manusia. Media ungkap tari berupa keinginan/hasrat berbentuk refleksi gerak baik secara spontan, ungkapan komunikasi kata-kata, dan gerak-gerak maknawi maupun bahasa tubuh/gestur. Makna yang diungkapkan dapat diterjemahkan penonton melalui denyut atau detak tubuh. Gerakan denyut tubuh memungkinkan penari mengekspresikan perasaan maksud atau tujuan tari. Elemen utamanya berupa gerakan tubuh yang didukung oleh banyak unsur, menyatu-padu secara performance yang secara langsung dapat ditonton atau dinikmati pementasan di atas pentas. Dengan demikian untuk meperoleh gambaran yang jelas tentang tari secara jelas. Seperti dikutip oleh M. Jazuli dalam (Soeryobrongto:1987, 12-34) dikemukakan bahwa gerak-gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik adalah tari. Irama musik sebagai pengiring dapat digunakan untuk mengungkapkan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pencipta tari melalui penari (Jazuli, 1994:44). Pada dasarnya gerak tubuh yang berirama atau beritmeritme memiliki potensi menjadi gerak tari. Salah satu cabang seni tari yang di dalamnya mempelajari gerakan sebagai sumber kajian adalah tari. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu bergerak. Gerak dapat dilakukan dengan berpindah tempat (Locomotive Movement). Sebaliknya, gerakan di tempat disebut gerak di tempat (Stationary Movement). Hal lain juga disampaikan oleh Hawkins bahwa, tari adalah ekspresi perasaan manusia yang diubah ke dalam imajinasi dalam bentuk media gerak sehingga gerak yang simbolis tersebut sebagai ungkapan si penciptanya (Hawkins, 1990:2). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dirangkum bahwa, pengertian tari adalah unsur dasar gerak yang diungkapan atau ekspresi dalam bentuk perasaan sesuai keselarasan irama. Di sisi lain Sussanne K Langer menyatakan, tari adalah gerak ekspresi manusia yang indah. Gerakan dapat dinikmati melalui rasa ke dalam penghayatan ritme tertentu. Apabila ke dua pendapat di atas digabungkan, maka tari sebagai pernyataan gerak ritmis yang indah mengandung ritme. Oleh sebab itu, tari lahir merupakan ungkapan hasrat yang secara periodik digerakan sebagai pernyataan komunikasi ide maupun gagasan dari koreografer yang menyusunnya. Sependapat kedua pakar di atas, Corry Hamstrong menyatakan bahwa, tari merupakan gerak yang diberi bentuk dalam ruang. Pada sisi lain Suryodiningrat seorang ahli tari Jawa dalam buku Babad Lan Mekaring Djoged Djawi menambahkan, tari merupakan gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan irama musik (gamelan) diatur oleh irama yang
  • 182. 161 sesuai dengan maksud tertentu. Soedarsono menyatakan bahwa, tari sebagai ekspresi jiwa manusia yang diaungkapkan dengan gerak-gerak ritmis yang indah. Dengan demikian pengertian tari secara menyeluruh merupakan gerak tubuh manusia yang indah diiringi musik ritmis yang memiliki maksud tertentu. Dengan demikian dapat diakumulasi bahwa tari adalah gerak- gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu dalam tari. Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa tari merupakan desakan perasaan manusia di dalam dirinya untuk mencari ungkapan beberapa gerak ritmis. Tari juga bisa dikatakan sebagai ungkapan ekspresi perasaan manusia yang diubah oleh imajinasi dibentuk media gerak sehingga menjadi wujud gerak simbolis sebagai ungkapan koreografer. Sebagai bentuk latihan- latihan, tari digunakan untuk mengembangkan kepekaan gerak, rasa, dan irama seseorang. Oleh sebab itu, tari dapat memperhalus pekerti manusia yang mempelajarinya. Untuk memperoleh pengertian tari lebih mendalam, maka diperlukan informasi tentang unsur tari, aspek tari, dan pendukung tari melalui sumber media dalam bentuk foto-foto, VCD/DVD serta media lain. 3.2. UNSUR POKOK TARI 3.2.1. GERAK Kebanyakan manusia dalam kehidupannya sangat mengharap terjadinya perubahan. Gerak dalam aktivitas manusia menjadi bagian penting dari manusia yang masih hidup, dinamis, dan sangat mennghayati dinamika terutama hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai peristiwa, manusia hidup berkembang dan bergerak. Perubahan atas perkembangan dan gerakan yang terjadi sebagai dinamika manusia menjadi inti adanya perubahan yang diharapkan. Dengan itu manusia merancang dan mendesain sedemikian rupa untuk perkembangan dan perubahan yang diinginkan. Faktor keberuntungan dan kehendak yang kuasa segala yang diinginkan perkembangan dan perubahan atas manusia menjadi pasrah. Gerak dalam kehidupan sehari-hari manusia yang kurang menghayati kehidupan banyak diabaikan. Akan tetapi untuk yang menghayati dinamisasi gerak menjadi obyek yang banyak dipelajari dan dimaknai agar menjadi segala sesuatu yang berguna bagi diri maupun masyarakat lain, termasuk dalam hal ini adalah tari. Elemen pokok tari adalah gerak. Rudolf Laban pakar tari kreatif menyatakan bahwa gerak merupakan fungsional dari Body ( gerak bagian kepala, kaki, tangan, badan), space (ruang gerak yang terdiri dari level, jarak, atau tingkatan gerak), time (berhubungan dengan durasi gerak, perubahan sikap, posisi, dan kedudukan), dinamyc (kualitas gerak menyangkut kuat, lemah, elastis dan penekanan gerakan ).
  • 183. 162 Berpijak kepada pendapat di atas, tari terdiri dari unsur gerak sebagai unsur utama, ruang, waktu, dan tenaga. Fungsi gerak yang dihasilkan oleh tubuh manusia pada dasarnya dapat dibedakan menjadi gerak keseharian, olah raga, gerak bermain, bekerja, dan gerak sehari-hari. Pada khususnya, tari lebih menekankan kepada gerak untuk berkesenian, di mana gerak dalam tari merupakan gerak yang sudah distilisasi atau distorsi. Gerakan bersifat lembut dan mengalir, serta terputus-putus dan tegas merupakan pola gerak yang menjadi ciri pembeda antara gerakan tari putra dan tari putri. Gerakan yang berada diantara gerakan berciri stakato atau patah-patah dan mbanyu mili, disebut gerak tari tengahan, biasanya dilakukan untuk jenis karakter herak tari tengahan atau alusan. Uraian ciri gerak ini sering dilihat pada jenis tari yang berasal dari daerah jawa(tari Surakarta dan tari Yogyakarta). Pose gerakan di bawah ini menggambarkan pengembangan gerak melalui penataan ruang, gerak dan waktu yang secara umum dapat dicontohkan sebagai berikut. Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi Gb. 3.2 Penggunaan properti Gb. 3.3 Mengeksplor gerak tubuh butuh ruang gerak sempit untuk ruang gerak Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi Pribadi Gb.3.4 Lari jingkit (trisik ) membuat Gb. 3.5 Pengolahan Ruang Tari & lingkaran Pentas Tari di Proscenium
  • 184. 163 Imitasi atau peniruang gerak dengan pengembangan ruang gerak, motif gerak, dan gerak dalam ruang secara harmonis dengan ketentuan gerakan yang diperagakan serta pengolahan ruang yang diharapkan. Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gambar 3.6-3.8 Mahasiswa Jurusan Tari Angkatan 2004/2005 yang sedang eksplorasi gerak Tari Topeng Jaja dan gerak Pencaksilat (versi Jaya Bandung). Perhatikan kedua gambar di bawah ini adalah bentuk/motif gerak Jengkeng pada tari Klasik Jawa dan sikap dasar Pencak silat dalam bentuk kedua kaki melebar bertumpu secara kuat dan mencengkeram ke tanah (kuda-kuda). Sumber Koleksi Pribadi Gb.3.9 Jengkeng sikap dasar tari/level bawah
  • 185. 164 Sumber Koleksi Pribadi Gb. 3.10 Sikap Kuda-kuda pada motif sikap Pencak silat (Sumber: Koleksi Kusnadi ) 3.2.2. Motif Gerak Tari Motif Gerakan Tari Tunggal atau Gerakan Individu pada tabel di bawah ini dapat disimak secara detail yang memberi bentuk motif gerak tari sebagai berikut. Anggota Kompetensi Uraian Teknik Keterangan Gerak Gerak Gerak Anggota Kepala (Caput) Gerakan ke Bentuk dan sikap ke Gerak relaksasi samping dua kaki rapat (level Bagian dengan leher kanan/kiri. tinggi, sedang, Atas Gerakan ke rendah), terbuka depan/belakang. dan sikap tertentu Gerakan berpaling seperti Tanjak- ke kanan/kiri, Tancep, Rapal, memutar ke Adeg-adeg, kuda- kanan/kiri. kuda, Gerakan supinasi, dan mengayun, mengangguk, berputar. Pronasi pada Badang kontraksi, Pangkal leher ekstensor rileks, penegangan sebagai tumpuhan bertumpu pada otot pada seluruh gerakan, sendi leher otot tengkorak anggota tubuh. berperan sentral.
  • 186. 165 Gerakan pacak gulu, gebesan, gileg, gelieur, anggukan dan gelengan kepala, tengok kanan/kiri. Anggota Sikap Badan Meliuk-liuk, Gerak Olah Tubuh Gerak (Thorax) mengkerut-kerut, pada pemanasan Bagian pronasi pada pinggul(pelvis) gerak. Tengah ruas tulang, berputar dan supinasi pada berporos pada pusat cranum. Pelvis tumpuhan bergerak sebatas gerakan yang kemampuan ada setiap sesuai motif ragam sendi yang tari yg dilakukan. sedang Kontraksi otot di difungsikan. sekitar Thorax secara sendiri atau bersama-sama Gerak spalula pada memberi daya tari Klono Topeng lentur pada dan atau pada penguatan Topeng Cirebon. gerakan tubuh. Vibrasi perut yang Gerakan badan ke dilakukan oleh samping Tokoh Jin Besar kanan/kiri, ke Tuyul dan Yul. depan/belakang. Vibrasi skapula, ogak lambung, Pronasi pada kontraksi tulang skapula dan perut membentuk gerakan khsusus. Bentuk dan Gerakan bahu- Bentuk dan sikap sikap anggota skapula ke tangan bergerak gerak tangan. atas/bawah, secara sendiri. Gerakan supinasi ke depan, Bentuk dan sikap bervariasi. belakang. tangan-kordinasi Grakan tangan dengan anggota lurus, tekukan gerak yang lain. pada siku, tekukan pada palmar tangan, serta Sikap palmar dari gerakan jari-jari tangan Ngiting,
  • 187. 166 melakukan gerak Nyempurit, Ngruji, pada bentuk dan dan sikap tangan sikap motif gerak pokok. Bentuk dan tertentu atau Sikap gerakan khusus. tangan Elieu pada Gerakan kordinatif gerak dasar tari pada sendi India, Nyeluntir bertumpu pada pada tari gendhing sentral gerak bahu, Sriwijaya, dan lengan atas, Nguya pada tari lengan bawah, dasar Thailand. palmar tangan, Gerak dasar dan jari-jari tersebut bila dipadu membentuk sikap dengan gerak dasar tertentu. Motif grak senam dan gerak tari tertentu yang pemanasan mampu digerakan secara melatih gerak ideal sesuai tangan sesuai porsi tuntutan frase dan penegangan ragam gerak tari. pada gerak tari tertentu atau merupakan penegangan tangan semata. Pelvis sebagai Goyang pinggul ke Harmonisasi goyang penopang, kanan/kiri dengan pinggul, memberi Cranum volume dan kesan gerak seksi sebagai reaktivitas gerak bagai orang lain. otorizet. tertentu. Goyang plastik, Gerakan dan Kecepatan, goyang pantat pada getaran macam goyangan, Jaipongan, goyang pinggul, dilakukan sesuai pinggul oleh sensualitas, keterampilan penyanyi dangdut. kelenturan individu, masing- pada paha, masing berbeda- beda. Kolumna vertebralis, berfungsi sebagai penyengga dan tumpuhan gerak bertugas menopang dan mengkontrol gerakan
  • 188. 167 Anggota Support Kaki Kepala Gerakan Jalan, Gerak (Ladix) mengangguk- Geser, Kengser, Bagian angguk-badan jalan kaki pada Bawah merunduk, kepala tarian kuda-kuda, menggeleng badan kaki berputar mengikuti sikap dengan tumpuan gerak kepala. satu atau kedua kaki Kepala –badan adalah dominasi berputar bersama gerak anggota dengan berguling bawah. atau variasi Teknik Tumpuhan gerakan kpala kaki pada tari balet, badan dan kedua Salto, loncat tangan bergoyang harimau, strugel dalam posisi track di udara, membungkuk, kiprah perang pada semua gerakan tari-tarian dilakukan dalam Yogyakarta. posisi kedua kaki rapat atau jika mungkin bertumpu satu kaki. Anggota Kontraksi Kepala Gerakan tersebut Gerak Atas gerakan mengangguk- dilakukan pada saat dan Bawah kepala-badan angguk-badan olah tubuh. Gerak dari supinasi merunduk, kepala pada tari kerangka axial. menggeleng badan Rebana/Rangguk Anggota gerak mengikuti sikap (Jambi) peragaan atas-pinggul gerak kepala. gerak sering kerangka Kepala –badan dilakukan. tulang berputar bersama Peragaan gerak (appendikuler) dengan berguling motif Rodat, atau variasi Zamrah, dan tari- gerakan kpala tarian berciri badan dan kedua kerakyatan tangan bergoyang mengutamakan Kepala-badan- dalam posisi gabungan gerak ke tangan dengan membungkuk, dua anggota tubuh melakukan semua gerakan ini. penegangan dilakukan dalam kaki-kepala posisi kedua kaki Gerak pada tari proksimal- rapat atau jika Belibis (Bali) Tari mungkin bertumpu Merak (Jawa- sentripetal satu kaki. Sunda) seperti Kepala mematuk- gerakan burung. matuk, kaki
  • 189. 168 langkah ke Gerak rol, loncat depan/belakang, harimau, Keept up samping kanan/kiri. Tekukan kepala dan kaki lurus pada gerak roll atau guling Anggota Sinartrosis, Sinkronisasi gerak Jalan lurus, Lampah Gerak sinkondrosis, tulang dan jaringan Ringdom, Putar Atas- sinfibrosis, dimana kedua tangan sikap kaki Tengah- diarthrosis tulang antara tidak jalan lurus ke Bawah terjadi efek smua penjuru, gerakan. Putaran Tubuh ke Kordinasi ke2 semua arah. tulang yang berhubungan oleh adanya jaringan tulang rawan yang beroperasional secara tepat. Tegak dan bongkok badan. Kedua tulang yang Pacak Gulu, Gileg, beroperasional Galier, dan Godeg. dihubungkan oleh tulang tengkorak. Gelang kepala Kedua tulang tidak angguk-anggukan saling menunjang kepala, tengok gerak. Gerakan kanan /kiri dilakukan pada Putar kaki sendi peluru, sendi dasargerak balet. poros pada tulang bahu, tulang panggul, serta Gerakan merendah pada karpal dan atau mendak, falang. Nindak, Tanjekan, Mapal, Ngeseh, dan Sinkronisasi variasi gerakan karpal dan falang dalam menunjang kepala, badan, gerakan secara tangan, dan kaki. terpadu. Tabel 3.1 Motif Gerak Individu
  • 190. 169 3.2.3. Motif Gerakan Tari Berpasangan atau Kelompok Anggota Kompetensi Uraian Teknik Keterangan Gerak Gerak Gerak Anggota Kepala (Caput) Gerakan supinasi Bentuk dan sikap Gerak ayunan, anggukan, duduk (tari Saman) Bagian berputar. atau kedua kaki Atas (level tinggi, sedang, rendah) pada tari Saudati, tari garapan lain. Anggota Badan(Thorak) Gerakan relaksasi Bentuk dan sikap Gerak dan supinasi ke dua kaki rapat Bagian anggota tubuh (level tinggi, Tengah secara periodik sedang, rendah), dan temporer. terbuka dan sikap tertentu seperti Tanjak-Tancep, Rapal, Adeg-adeg, kuda-kuda. Gerakan Tari Topeng Cirebon, dan topeng Klono. Anggota Kaki(Ladix) Gerakan supinasi Bentuk dan sikap Gerak slip, step, lenso, ke dua kaki rapat Bagian straidel. (level tinggi, Bawah sedang, rendah), terbuka dan sikap tertentu seperti Tanjak-Tancep, Rapal, Adeg-adeg, kuda-kuda, Tabel 3.1 Motif Gerak Tari Berkelompok 3.2.4. Ruang Ruang adalah sesuatu yang harus diisi, ruang dalam tari mencakup semua gerak yang diungkapkan oleh seorang penari terbentuk melalui perpindahan gerak tubuh, posisi yang tepat dan ruang gerak penari itu sendiri. Ruang bersentuhan langsung dengan penari. Ruang gerak penari merupakan batas paling jauh yang dapat dijangkau penari. Di sisi lain, ruang menjadi salah satu bentuk dari imajinasi penari dalam mengolah
  • 191. 170 ruang gerak menjadi bagian yang berpindah tempat, posisi dan kedudukan. Sumber Koleksi Kusnadi Sumber Koleksi Kusnadi Gb. 3.11 Pelemasan anggota Gb.3.12 Eksplorasi gerak gerak tubuh Penari di Ruang Latihan (Koleksi: Koleksi Kusnadi) Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.13 Gerak Disain Tertunda Gb. 3.14 Penari mengolah ruang pentas level rendah Gambar di bawah ini mengisyaratkan pengolahan ruang pentas dan ruang gerak secara maksimal dengan menjabarkan desain, level, motif gerak dan perpaduan kedua penari. Sumber Internet www.Dance_Yahoo.com. Perhatikan gambar Gb. 3.15 Penguasaan Ruang Pentas dan ruang Gerak sebagai potret pemberdayaan ruang gerak dan ruang pentas.
  • 192. 171 Ruang gerak penari tercipta melalui desain. Disain adalah gambaran yang jelas dan masuk akal tentang bentuk/wujud ruang secara utuh. Bentuk ruang gerak penari digambarkan secara bermakna ke dalam; desain atas dan disain lantai (La Meri: 1979: 12). Ruang gerak tari diberi makna melalui garis lintasan penari dalam ruang yang dilewati penari. Kebutuhan ruang gerak penari berbeda-beda. Jangkauan gerak yang dimiliki oleh setiap gerakan sesungguhnya juga dapat membedakan jangkauan gerak penari secara jelas. Bentuk dan ruang gerak yang dimiliki oleh penari membutuhkan jangkauan gerak, berhubungan dengan kebutuhan, dan kesanggupan penari dalam melakukan gerakan. Dengan demikian gerakan penari sesuai pengarahan koreografer. Dalam mendesain ruang gerak penari, koreografer menyesuaikan, bagaimana penari bergerak dan dapat mencapai desain yang sesuai dengan kebutuhan gerakan. Penari membutuhkan sensitivitas rangsang gerak sebagai bentuk ekspresi keindahan gerak yang dilakukan. Kebutuhan ekspresi gerak oleh penari berhubungan dengan kemampuan penari menginterpretasikan kemauan koreografer dalam melakukan gerakan yang diberikan. Dengan demikian terjadi sinkronisasi kemauan koreografer dalam mendisain gerak dengan kepekaan penari dalam menafsirkan gerakan melalui peta ruang. Penari tidak semata-mata memerlukan ruang gerak yang lebar saja. Kebutuhan ruang gerak yang sempit, juga menjadi bagian penerjemahan ruang gerak tari oleh penari. Ruang gerak penari menjadi alat yang ampuh dalam menciptakan disaian tentang ruang oleh penari maupun koreografer. Ruang gerak penari dengan jangkauan gerak luas membutuhkan teknik dan karakterisasi gerak yang dalam oleh penari. Kebutuhan teknik gerak yang harus dilakukan penari adalah bagaimana penari mengawali dan mengakhiri gerakan, dan dasar teknik gerak seperti apa penari harus menuntaskan harapan geraknya. Penari dalam mengekspresikan jangkauan gerak membutuhkan ekspresi gerak yang sepadan dengan jangkauan geraknya. Ekuivalen gerak dan jangkauan gerak menjadi tuntutan koreografer dalam menciptakan ruang gerak penari serta penghayatan yang diperlukan penari dalam mencapai tujuan gerakan tersebut. Di bawah ini masih terkait motif gerak dan ruang yang diciptakan oleh penari dalam bentuk ruang gerak penari adalah sebagai berikut.
  • 193. 172 Sumber www.dance.q.yahoo.com Gb. 3.16 Ruang Tari sekaligus pengolahan properti dengan memanfaatkan ruang tari) Kesan gerak di bawah ini menunjukan gerakan sembah, putaran dan liukan badan bertumpu pada kaki yang kuat. Disain ruang yang tercipta sempit di dalam, serta luas dan tertunda. Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Perhatikan gambar atas 3.17 – 3.18 menunjukan proses gerakan yang dilakukan berbeda penghayatan. Gb. 3.17 gerak lambat memiliki kesan dalam. Gb. 3.18 gerak sedang tidak mempengaruhi penghayatan. harus dengan teknik putaran yang cepat agar mencapai gerakan sempurna.
  • 194. 173 Sumber Internet Sumber Koleksi Kusnadi Internet www.Dance_Yahoo.com. Gb. 3.19 Gerak di udara Gb. 3.20 Gerak Selut pada tarian Sunda Dinamika tari terwujud melalui cepat-lambat gerakan dilakukan oleh penari. Unsur dinamika ini membutuhkan waktu gerak. Apabila penari bergerak bagian tubuh yang berpindah tempat, berubah posisi, serta pindah kedudukan. Hal tersebut membutuhkan waktu. Perubahan gerak ekuivalen dengan kebutuhan waktu, cepat-lambat, panjang-pendek, dan banyak-sedikit gerakan dilakukan butuh waktu. Tempo gerakan merupakan panjang-pendek, cepat-lama gerakan dilakukan. Waktu dalam tari dimensi dari tempo gerak. Tempo gerak dapat membangun imej tari secara keseluruhan dalam bentuk garapan tari atau koreografi tari. Pengolahan ruang gerak dan tenaga yang disalurkan melalui motif gerak penari di bawah ini adalah memanfaatkan tercapainya gerakan spilt atau slidding dan sircle atau putaran.
  • 195. 174 Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gerakan Slidding pada tari Kembang Betawi Perhatikan Gambar 3.21 – 3.22 Gerakan Teknik Sirkle & Gerakan Teknik Split (Trust) Dilakukan dalam tempo cepat. Apabila dengan tempo lambat banyak terjadi kemungkinan cidera kaki. Desain waktu berhubungan dengan kecepatan gerak, situasi, dan kondisi emosional penari. Pemahaman waktu dapat juga terkait dengan masalah teknik pengendalian gerak, intensitas gerak, kualitas gerak, dan proses mengaktualisasikan gerakan ke dalam konsep waktu. Konsep membangun waktu dipraktikan melalui imajinasi gerak hubungannya dengan panjang-pendek gerak, kuat-lemah gerak menjadi konsep tentang rangkaian gerak dalam bentuk kalimat gerak. Usaha untuk membangun waktu lebih dapat dijabarkan ke dalam bagaimana gerakan dilakukan sesuai kebutuhan waktu yang ada. Dalam tari, konsep waktu bisa dihadirkan dengan motif gerak duduk-duduk saja, atau dengan berdiri- jongkok, atau gerak lain yang tidak memerlukan perpindahan tempat secara mendasar. Kebutuhan waktu yang mendesak dalam tari adalah memanifestasi kebutuhan gerakan cepat dan gerakan lambat secara dilematis. Hal ini berhubungan dengan panjang pendek waktu, kebutuhan ruang dengan waktu, serta kebutuhan pentas tari dipentaskan. Oleh sebab itu, koreografer dalam menyikapi kebutuhan waktu biasanya mengoptimalkan pengembangan kreativitas dalam bentuk pengolahan gerak dan pengolahan waktu secara bersama ke dalam konsep garapan tarinya. Waktu dalam gerakan menjadi salah satu konsep tarian. Hal ini sangat dibutuhkan dalam pengembangan penggarapan koreografi. Dengan demikian elemen waktu menjadi ukuran frase gerak. denyut nadi gerak, dan pendalaman ruang gerak secara imajinatif. Keadaan diam manusia nadinya tetap bergerak di sini membutuhkan waktu. Berdasarkan uraian ini konsep gerak-ruang-waktu merupakan unsur yang saling terkait dengan lainnya.
  • 196. 175 Ketiga unsur di atas adalah trisula yang sangat memiliki peran sama dan saling mendukung untuk kebutuhan suatu koreografi. 3.2.5. Tenaga Gerak tari yang diperagakan menunjukan intensitas gerak yang dapat menjadi salah satu indikasi. Tenaga yang diwujudkan oleh gerakan berhubungan dengan kualitas gerak. Hal ini dapat tercermin pada tenaga yang disalurkan oleh penghasil gerak dalam mengisi gerak menjadi dinamis, berkekuatan, berisi, dan menjadi anti klimak dari tensi dan relaksasi gerak secara keseluruhan. Sumber kedua gambar di halaman ini Internet www.dance_@ Yahoo.com Perhatikan gambar atas 3.23 – 3.24 menunjukan proses gerakan yang dilakukan berbeda penghayatan. Gb. 3.23 Gerak respons memiliki kekuatan kesan gerak yang tinggi. Gambar. 3.24 Gerak sedang tidak mempengaruhi penghayatan. harus dengan teknik putaran yang cepat agar mencapai gerakan sempurna. Sumber: Koleksi G Kekuatan lompatan, kerjasama pembagian intensitas tenaga
  • 197. 176 Sumber: Koleksi GNP TMII Jkt Gambar 3.25 – 3.27 adalah gambar sinkronisasi bentuk penghayatan tumpuhan kaki, lompatan dan pelebaran ruang gerak anggota gerak tubuh secara terstruktur pada komposisi tari. Sumber: Koleksi Pribadi 3.2.6. Ekspresi Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mengekspresikan diri bergantung pada situasi psikologis yang bersangkutan dalam menghadapi berbagai masalah. Ekspresi diri manusia secara umum berbeda dengan ungkapan ekspresi di dalam tari. Perbedaan yang ada bahwa ekspresi tari semua yang berhubungan dengan perubahan psikologis, pembawaan suatu karakter, memiliki keterbatasan pada cara mengungkapkannya. Sebagai ilustrasi bahwa, marah dalam kehidupan sehari-hari dapat diekspresikan dengan berbagai cara dan kepekaan diri di dalam melakukan luapan. Dalam tari semua ungkapan yang diperagakan harus distilisasi/didistorsi, sehingga wujud ungkapannya menjadi berbeda. Di sinilah letak pembeda dari cara penghayatan sebuah ungkapan ekspresi diri dan penghayatan karakter dalam seni maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ekspresi dalam tari lebih merupakan daya ungkap melalui tubuh ke dalam aktivitas pengalaman seseorang, selanjutnya dikomunikasikan pada penonton/pengamat menjadi bentuk gerakan jiwa, kehendak, emosi atas penghayatan peran yang dilakukan. Dengan demikian daya penggerak diri penari ikut menentukan penghayatan jiwa ke dalam greget (dorongan perasaan, desakan jiwa, ekspresi jiwa dalam bentuk tari yang terkendali).
  • 198. 177 Sumber Koleksi Kusnadi Sumber Internet www.Dance_@ Yahoo.com. Gambar 3.28 dan 3.29 adalah menunjukan penghayatan mata pada tari-tarian Bali, penghaytan gerak pada gerak Ballet. Koleksi Kusnadi 3.2.7. Iringan Tari Iringan dan tari adalah pasangan yang serasi dalam membentuk kesan sebuah tarian. Keduanya seiring dan sejalan, sehingga hubungannya sangat erat dan dapat membantu gerak lebih teratur dan ritmis. Musik yang dinamis dapat menggugah suasana, sehingga mampu membuat penonton memperoleh sentuhan rasa atau pesan tari sehingga komunikatif. Musik dalam tari memberi keselarasan, keserasian, keseimbangan yang terpadu melalui alunan keras-lembut, cepat-lambat melodi lagu. Pada dasarnya tari membutuhkan iringan sebagai pengatur gerak. Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3.30 Bonang Bonang memiliki tempo musik yang berbeda cara dan teknik tabuhnya. Sebagai salah satu instrumen musik tradisional, sistem kembangan untuk tabuhan sekar atau lambat temponya dan gembyong untuk irama tempo cepat.
  • 199. 178 3.3. UNSUR KOMPOSISI TARI Apabila kita melihat sebuah tarian baik jenis tradisional atau non tradisional, banyak unsur-unsur yang dapat dikenali dan terlihat oleh mata (visual). Pada dasarnya sebuah tarian tidak hanya terdiri-dari susunan gerak yang telah mengalami proses stilisasi atau distorsi atau penggarapan dari aspek tenaga, ruang dan waktu, namun terdapat juga unsur-unsur lain yang disusun sedemikian rupa hingga menjadi sebuah komposisi yang disebut dengan tari. Unsur-unsur itu, adalah: desain lantai, desain atas, desain musik, desain dramatik, tema, tata rias/busana dan tata rambut, serta tata pentas, disebut dengan unsur komposisi tari . Dalam jenis tari tradisional yang berasal dari suatu komunitas- masyarakat etnik, unsur-unsur tersebut dibangun dan disusun sesuai dengan nilai-nilai dan corak tradisional yang mewarnai kehidupan masyarakatnya, serta sesuai dengan kepentingan-kepentingan ( fungsi tari) dalam kehidupan masyarakatnya, sehingga pola gerak, rias, busana, perlengkapan tari, musik, tempat pementasan mencerminkan ciri khas dari budaya setempat dan adat masyarakat yang memiliki tarian itu. Sebagai contoh dalam tari tradisional jenis tari rakyat. Desain gerak, desain lantai, desain atas, tata rias busana, musik, tempat menari dipersiapkan dan dalam tari itu disusun sedemikian rupa, walaupun hasilnya terkesan sederhana dan tidak rumit. Biasanya penyelenggaraan tari untuk tujuan upacara adat, upacara agama atau untuk tujuan ikatan kebersamaan warga, maka tempat pementasan tari biasanya sesuai dengan tujuan upacara tersebut. Hal tersebut sangat berbeda dengan tari klasik dan jenis tari untuk tujuan pertunjukan. Dalam tari klasik pola gerak, desain lantai, desain atas, tata rias, busana, musik, perlengkapan, pementasan bahkan tema tarinyapun, disusun berdasarkan pola-pola koreografi yang lebih artistik, sehingga hasilnya terkesan rumit, taat kepada aturan-aturan yang harus dipatuhi yang terkait dengan aturan-aturan yang berlaku dalam tatanan kehidupan orang istana. Sedangkan tari untuk untuk seni pertunjukan yang merupakan ungkapan individual yang biasanya dalam proses penciptaannya, lebih banyak memiliki kebebasan dalam mengekplorasi semua unsur tari, sehingga memungkinkan pada pencapaian kualitas artistik maupun estetis dari aspek unsur-unsur tari itu sangat maksimal. Menurut La Mery (1965: 17-108), unsur-unsur komposisi tari, sebagai berikut: 1. Desain lantai atau floor design adalah garis-garis di lantai yang dilalui oleh seorang penari atau garis-garis di lantai yang dibuat oleh formasi penari kelompok. Garis-garis lantai dibentuk dari garis lurus dan garis lengkung. Garis lurus dapat menghasilkan bentuk garis diagonal, segitiga, sig-sag, V atau V terbalik, T atau T terbalik, dan garis lengkung dapat menghasilkan bentuk lingkaran, lengkung setengah lingkaran, spiral, angka delapan dan sebagainya
  • 200. 179 2. Desain atas atau air desaign Adalah desain yang dibuat oleh anggota badan, berada di atas lantai. Desain ini dilihat dari arah penonton. Menurut La Mery (1965: 22-39) ada bermacam-macam yaitu desain: datar, dalam, vertikal, horisontal, kontras, murni, statis, lurus, lengkung, bersudut, spiral, tinggi, medium, rendah, terlukis, lanjutan, tertunda, simetris, dan asimetris. 3. Desain musik Desain musik adalah pola ritmik dalam sebuah tari. Pola ritmik di dalam tari timbul karena gerakan tari yang sesuai dengan melodi, gerakan tari yang sesuai dengan harmoni dan gerakan tari yang sesuai dengan frase musik. 1. Desain dramatik Desain dramatik adalah tahap-tahap emosional untuk mencapai klimaks dalam sebuah tari. Tahap –tahap emosional ini perlu ada dalam sebuah tari agar tarian itu menjadi manarik dan tidak terkesan monoton. Melalui tahapan ini penonton akan dapat merasakan perbedaan tari bagian awal, kemudian semakin naik mencapai suatu puncak yang paling menarik, yang disebut dengan klimaks, berikutnya penonton merasakan mulai ada penurusan menuju akhir dari sebuah tarian. Kilmaks merupakan puncak kekuatan emosional dalam sebuah tari dapat dicapai dengan cara mempercepat tempo, memperluas jangkauan gerak, menambah jumlah penari, menanbah dimankika gerak atau justru berhenti sama sekali atau dengan cara-cara lain yang intinya berbeda dan khas dari bagian tari sebelumnya dan sesudahnya. Dua jenis desain dalam tari adalah desain kerucut ganda dan desain kerucut tunggal. 2. Dinamika Dinamika adalah segala perubahan di dalam tari karena adanya variasi-variasi di dalam tari tersebut . Dinamika di dalam tari memberikan kesan bahwa tarian itu menarik, tidak membosankan dan tidak monoton. Dinamika di dalam tari dapat dicapai karena adanya variasi-variasi dalam penggunaan tenaga dalam gerak, tempo, tinggi rendah (level), pergantian posisi penari serta perubahan suasana. 3. Tema Tema adalah ide persoalan dalam tari. Sumber tema tari dapat dari imajinasi manusia, harapan dan kehendak manusia, benda-benda disekitar kita, peristiwa-peristiwa yang pernah atau sedang terjadi, kegiatan kerja, perilaku binatang, cerita rakyat, cerita kepahlawanan, legenda, dan sebagainya 4. Tata rias, tata rambut dan tata busana tari Adalah rias wajah, tata rambut (hairdo) dan busana yang dirancang dan dipakai khusus oleh penari untuk keperluan pementasan tari. Rias wajah untuk keperluan pementasan tari dikenal tiga jenis, yaitu: (a) rias wajah korektif, yaitu rias wajah untuk tujuan memperbaiki bagian-bagian wajah yang kurang sempurna, (b) rias wajah karakter, yaitu rias untuk tujuan menggambarkan dan memperjelas karakter tokoh atau karakter tari, dan (c) rias wajah fantasi, yaitu rias wajah untuk tujuan mewujudkan angan-angan
  • 201. 180 atau imajinasi, misalnya untuk mewujudkan sosok putri bunga, rias wakah dibuat menyerupai bentuk bunga. Tata rambut untuk keperluan pementasan tari juga bermacam- macam. Dalam tari tradisional, model tata rambut sesuai dengan adat dan gaya tata rambut daerah masing-masing, sedangkan tata rambut untuk tari non trasional biasanya disesuaian dengan konsep tari. Tata busana untuk keperluan pementasan tari biasanya dirancang khusus sesuai dengan tema tarinya. Alternatif bahan untuk pembuatan busana tari bermacam-macam, dapat terbuat dari kain, kertas, plastik, daun atau apa saja yang ada disekitar kita yang dapat dimanfatkan untuk bahan busana tari. Dalam tari tradisional pada umumnya desain busana tari tidak jauh berbeda dengan busana adat setempat. Fungsi busana dalam tari tradional (klasik bukan hanya untuk keindahan, untuk penutup tubuh, namun juga untuk memperjelas karakter tokoh dan karakter tari yang sedang diperankan oleh penari. 5. Tata Pentas Adalah penataan pentas untuk mendukung pergelaran tari, tata pentas bukan hanya untuk kepentingan pencapaian efek artistik namun juga berfungsi untuk membantu penciptaan suasana yang terkait dengan konsep tari. Di atas pentas biasanya dilengkapi dengan seperangkat benda- benda dan alat yang berhubungan dengan tari, yang disebut dengan setting. Pentas yang dipahami dalam pengertian tempat menari dikenal dengan istilah panggung yang meiliki 2 jenis, yaitu jenis panggung tertutup dan terbuka. Jenis panggung tertutup disebut dengan prosscenium, cirinya para penari atau pemain hanya dapat dilihat dari satu arah pandang. Panggung tertutup berada dalam suatu ruangan yang disebut dengan auditorium. Panggung terbuka adalah panggung yang berada di tempat terbuka dan tidak beratap. Bentuknya bermacam-macam, yaitu berbentuk arena, pendhopo, di halaman Pura, di halaman rumah atau dilapangan. Ciri panggung terbuka adalah pemain atau penati dapat dilihat dari berbagai arah pandang. 6. Tata Lampu Tata lampu adalah seperangkat penataan lampu untuk keperluan pementasan tari yang fungsinya untuk penerangan, penciptaan suasan atau untuk memperjelas peristiwa pada suatu adegan. Sumber cahaya untuk keperluan pementasan tari bermacam-macam, diantaranya berasal dari obor, lilin dan listrik. Dengan teknologi komputer tata lampu dapat diprogram dalam hal gelap terang, warna maupun komposisi cahaya sesuai dengan kebutuhan konsep tari. 7. Tata Suara Adalah seperangkat alat sumber bunyi untuk tujuan pengaturan musik untuk iringan tari. Tata suara ini menjadi bagian dari unsur komposisi tari bila tarian menggunakan musik iringan tari dengan media rekaman, sehingga tata suara memerlukan pengaturan khusus dari pemutar suara, misalnya dari alat tape recorder, CD player, MP 3, Synthesizer dan alat pemutar suara
  • 202. 181 lainnya. Namun bila musik iringan tari menggunakan alat musik yang langusng dimainkan, pengaturan tata suara menjadi tidak begitu penting. 3.4. PENJIWAAN DALAM MENARI Penjiwaan dalam menari merupakan kemampuan penari dalam menghayati dan mengekpresikan karakter peran dan karakter tari, pada waktu menari. Penjiwaan dalam menari dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah wirasa. Penjiwaan dalam menari dapat dicapai apabila seseorang dalam menari melibatkan passion, yaitu melakukan dengan perasaan senang, bersungguh-sungguh (bersemangat) mencurahkan segala perasaannya dalam kegiatan menari. Menari dengan hati seperti itu, akan menghasilkan penghayatan dan ekspresi karakter peran dan karakter tari yang dapat berkomunikasi dengan penonton. Kemampuan penjiwaan ini merupakan tanda yang tampak dari diri seseorang sebagai seorang penari yang baik. Koreografi yang indah tidak akan menjadi indah apabila penarinya tidak memiliki keterampilan teknis, tidak memiliki kepekaan musikal dan tidak dapat menjiwai tariannya. Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya peran penari dalam memperkuat penampilan sebuah tari dan dalam menciptakan keindahan sebuah tari atau dalam sebuah koreografi. Penari mempunyai tugas tidak hanya mengkomunikasikan gagasan dalam tari, namun tugas utamanya adalah memberikan nyawa kepada tari, melalui bahasa tubuhnya dan melalui ekspresinya, sehingga segala pesan yang terkandung dalam tari dapat juga dihayati, dipahami dan dapat diinterpretasikan oleh penontonnya. Untuk sampai kepada kemampuan penjiwaan dalam menari, ada beberapa kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang penari, yaitu : 1. Memiliki keterampilan teknis gerak , mencakup: kemampuan menghafal urutan gerak, kemampuan olah tubuh, kemampuan mentaati gaya tari dan kelenturan. 2. Memiliki kepekaan musikal, yaitu kepekaan dalam menyelaraskan ritme gerak tubuh dengan ritme musiknya atau menyelaraskan ritme gerak dengan penari lainnya. 3. Mampu menghayati dan mengekpresikan karakter peran dan karakter tari. Di beberapa wilayah budaya di Indonesia kemampuan seorang penari yang baik, dikenal dengan beberapa istilah. Kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang penari tari gaya Surakarta dan Yogyakarta (Jawa ) dikenal dengan istilah kemampuan wiraga, wirama dan wirasa. Wiraga adalah keterampilan menari, kaitannya dengan penguasaan teknis gerak, wirama adalah kepekaan musikal, dan wirasa adalah penjiwaan penari terhadap karakter peran dan karakter tari.
  • 203. 182 Dalam Bambang (1984) dikemukakan bahwa untuk dapat mencapai wirasa penari harus melakukan empat hal, yaitu sawiji (konsentrasi), greget (menyalurkan kekuatan dari dalam / inner dynamic) , sengguh (percaya diri) dan ora mingkuh (penuh disiplin disertai dedikasi dan loyalitas tinggi). Menurut I Wayan Dibia ( 2004: 17-18) bagi penari Bali. Seorang penari muda harus memiliki kemampuan olah fisik dan mempunyai hafalan terhadap agem, tandang dan tangkis, penari tua harus menguasai wirasa atau penjiwaan terhadap tarian, sedangkan penari matang (tasak) melalui kemampuan olah fisik dan olah spirutualnya, dapat mentranformasikan dirinya ke dalam peran yang dibawakan. Penjiwaan penari dalam menari merupakan kemampuan tingkat tinggi bagi seorang penari yang dapat dicapai bila penari telah memiliki keterampilan teknis menari dan memiliki kepakaan musikal. 3.5. Pembelajaran Keterampilan Apresiasi Tari Pada umunya orang akan mengatakan bahwa seni adalah untuk dinikmati melalui kegiatan seni dan kepakaan estetis yang dapat memuaskan kebutuhan perasaan penikmatnya. Hal ini benar, akan tetapi apabila dikaji lebih dalam, bahwa keindahan adalah merupakan kepuasan yang hakiki bagi setiap yang merasakan. Kadar dan bobot penghayatannya berbeda satu dengan lainnya. Apabila ditelaah, pengertian apresiasi secara harafiah berasal dari kata appreciatie (Belanda) atau Apreciation (Inggris) yang berarti kemampuan seseorang dalam menangkap getaran-getaran nilai seperti memahami, menghargai, menilai dan mencipta dan mengevaluasi. Dengan demikian kegiatan apresiasi seni bukan sekedar melihat sebuah karya seni saja, melainkan memiliki makna memerlukan wawasan sehingga dapat mengkaji sampai pada batas mengungkapkan keterampilan melalui kegiatan. Konsep kegiatan apresiasi meliputi beberapa hal antara lain: Persepsi, Kegiatan pengamatan untuk mengenal, memahami, tari-tarian yang berkembang di Indonesia baik menyangkut tari Tradisional, tari Nontradisonal/Kontenporer/kreasi modern. Kesadaran perseptual dibentuk untuk menjadikan pengalaman berkarya sehingga terbentuk kesadaran. Kemempuan lain untuk mengobservasi, mengidentifikasi, membandingkan, secara menyeluruh adalah kompetensi yang dicapai paling tinggi di bidang persepsi. Pengetahuan Kegiatan pengamatan yang digunakan untuk mengidentifikasi tentang sejarah, simbol-simbol seni tari, istilah-istilah dalam seni tari, dimana pengetahuan tentang tari merupakan dasar dalam mengapresiasi.
  • 204. 183 Pengertian Kegiatan yang dapat membantu kemampuan merasakan, menerjemahkan, memilih, berdasarkan pengetahuan dan wawasan tari dari hasil pengamatan sebelumnya. Analisis, Keterampilan yang dapat mendeskripsikan, menginterpretasikan, menjelaskan kegiatan seni yang sedang dipelajari, diamati, sehingga dapat menceriterakan dan menjelaskan kembali hasil pengamatan yang dilakukan. Oleh sebab itu keterampilan ini sangat berhubungan dengan kepekaan rasa yang mendalam bagi seseorang yang sangat konten terhadap seni. Penilaian, Kemampuan melakukan penilaian karya-karya seni baik secara tertulis, diskusi, dan memilih dalam mencapai sasaran belajar dari hasil apresiasi. Peserta didik diharapkan dapat mengambil keputusan tentang keberhasilan individu, kelompok, maupun peserta didik secara mandiri dalam membantu memberikan komentar maupun kritik di masa datang. Apresiasi, Kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai penentu, penikmat, penari dalam tahap penilaian keindahan seni tari. Operasionalisasinya mencakup kemampuan memahami, menghargai, menghayati sehingga dapat merasakan keindahan yang mendukung karya tari tersebut. Hal ini berkaitan dengan kepekaan visual dan sensori yang merupakan kemampuan dalam berapresiasi. 3.5.1. Kegiatan Apresiasi Tari 1. Melihat Tarian Sebelum seseorang mampu menilai sebuah karya tari dikarenakan, terlebih dahulu telah banyak melihat pertunjukan tarian, bahkan sudah banyak mempunyai pengalaman menari, dengan demikian akan membentuk pengalaman estetis dan peningkatan penghayatan akan karya tari. 2. Mengidentifikasi Tarian Untuk dapat mengidentifikasi tarian terlebih dahulu seseorang harus mempunyai wawasan tentang berbagai jenis tarian dan mempunyai pengalaman estetis yang memadai, hal lain yang penting dimiliki adlah pengetahuan tentang pijakan tari. 3. Membuat Tarian Seorang pencipta tari atau yang disebut Koregrafi tentulah mempunyai perbendaharaan wawasan tarian yang banyak, mempunyai pengalaman
  • 205. 184 estetis yang cukup tinggi, dan yang paling penting mempunyai kemampuan menggarap tarian, kemampuan tersebut yakni : a. Mampu menerjemahkan konsep kedalam bentuk tari b. Memiliki kepekaan musik c. Mengkoreografi sesuai tema dan usia d. Mampu memperhatikan keseluruhan aspek tari, musik, kostum, panggung, pencahayaan, rias dan memanage latihan. 3.5.2. Pembelajaran Kreativitas Kreativitas dapat dipandang dari perspektif yang berbeda berdasarkan latar belakang disiplin ilmu. Seorang filosof, sejarawan, psikolog ataupun pendidik memandang kreatifitas dengan cara yang berbeda. Di antara para ahli timbul perbedaan pandangan tentang konsep kreativitas. Perbedaan ini terletak pada definisi, kriteria, perilaku, dan proses kreatif; juga pada hubungan kreativitas dengan kecerdasan, karakteristik orang kreatif, dan upaya-upaya yang dapat dilihat dari dimensi proses maupun produk dalam mengembangkan kreativitas. Namun pada dasarnya sebagian besar memandang kreativitas sebagai sesuatu yang baru, orisinil dan memiliki keunikan, baik pada setiap proses maupun produknya. Sebagian lain menghubungkan kreativitas dengan kompetensi spesifik (Husen and Postlewaite, 1985:1100). Mary Mayety (1990: 2), Hurlock (tt: 2) memandang bahwa istilah kreativitas, dalam psikologi, sering digunakan. Namun istilah ini taksa atau ambigiuos karena digunakan secara bebas di kalangan orang awam. Arti kreativitas secara umum adalah menekankan pada (1) pembuatan sesuatu yang baru dan berbeda; (2) kreasi sesuatu yang baru dan orisinal secara kebetulan; (3) apa saja yang diciptakan selalu baru dan berbeda dari yang telah ada dan karenanya unik; (4) merupakan proses mental yang unik, semata-mata dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda, dan orisinal; (5) sinonim dengan kecerdasan yang tinggi atau jenius; (6) sepercik kejeniusan yang diwariskan pada seseorang dan tidak ada hubungannya dengan belajar (7) sama arti dengan imajinasi dan fantasi. Oleh karenanya merupakan bentuk permainan mental. Kreativitas merupakan kegiatan otak yang teratur, komprehensif, dan imajinatif menuju suatu hasil yang orisinal; (8) merupakan kemampuan mencipta (kreasi), memiliki gagasan orisinal, titik pandang yang berbeda, atau cara baru menangani dan menghadapi masalah. Orang kreatif cenderung sebagai pencipta (creator) bukan penurut (conformer) kepada orang lain. Mayety (1990) mendefinisikan kreativitas sebagai proses memunculkan sesuatu hal yang baru, “the process of bringing something new into being”. Sebagian lainnya kata kreativitas didefinisikan sebagai suatu cara berpikir dan bertindak, atau membuat sesuatu yang asli oleh seseorang. Dengan demikian, suatu kreativitas itu memiliki fungsi untuk menyelelesaikan suatu persoalan, atau menghasilkan suatu produk baru, baik dalam bidang musik, sastra, mesin, bahkan permainan, dan sebagainya. Rhodes (1961) membedakan kreativitas ke dalam dimensi person, proses, produk dan press (Supriadi, 1994). Sedangkan kreativitas sendiri menurut Supriadi adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu
  • 206. 185 yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Begitu pula kreativitas menurut Munandar, adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada (Munandar, 1987). Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut, kreativitas yang dimaksud lebih menekankan kepada produk atau hasil yang baru dengan gagasan yang orisinil. Namun demikian apabila berbicara produk, maka tidak terlepas dari proses bagaimana produk itu dihasilkan, dan proses tidak terlepas dari individu itu sendiri. Seperti dijelaskan oleh Guilford (1965) bahwa creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people (Supriadi, 1994). Melalui pemikiran-pemikiran orang kreatif inilah, maka produk kreatif akan dihasilkan. Kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau ide-ide baru sebelumnya yang tidak dikenal oleh penyusunnya sendiri (Murgiyanto, 19:11). Demikian pula dengan Reynold Bean mengungkapkan kreativitas sebagai proses yang digunakan seseorang untuk mengekspresikan sifat dasarnya melalui suatu bentuk atau medium sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa puas bagi dirinya, menghasilkan suatu produk yang mengkomunikasikan sesuatu tentang diri orang tersebut pada orang lain (Reynold Bean, 1995:3). Suatu produk seni umumnya merupakan hasil kreativitas apabila produk tersebut menghasilkan sesuatu yang baru, dan berguna (useful). Utami Munandar juga menjelaskan bahwa kreativitas adalah kemampuan membuat kombinasi baru berdasarkan data atau informasi atau unsur-unsur yang sudah ada. Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran keluasan (fleksibility), orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengeksplorasi suatu gagasan (Munandar, 1992:45). Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, benang merah dari kreativitas sesungguhnya tidak lain dari kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru dari unsur-unsur, data atau materi yang diberikan atau sudah ada sebelumnya. Kreativitas dalam tari seperti yang diungkapkan Alma Hawkins merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang, sehingga ia melihat kreativitas dari sisi seniman pencipta atau seniman pelaku, oleh karenanya dapat dikatakan bahwa kreativitas sebagai jantungnya tari. Untuk menghasilkan suatu bentuk tari yang mempunyai nilai dan makna, sentuhan kreativitas adalah hal yang terpenting. Kemampuan berpikir divergen berdasarkan informasi, ide atau unsur yang tersedia dapat menemukan kemungkinan-kemungkinan jawaban. Hal ini dapat dilihat dari ide atau pola garap tari, di mana akan menghasilkan sesuatu yang original, berkualitas dan lebih kaya dalam mengungkapkan gagasan. Teori tentang kecerdasan majemuk mengisyaratkan bahwa titik pusat bidang kreativitas adalah mengembangkan, keceerdasan dan pola kreatif dengan melakukan eksperimen atau percobaan dan menemukan cara baru memanfaatkan pikirannya. Sesempit apapun bayangan semasa kecil kita
  • 207. 186 menggambarkan bahwa kecerdasan dan potensi kreatif dapat dikembangkan secara maksimal. Ia mengisyaratkan bahwa berpikir dapat dikembangkan dengan melalui 7 pola berpikir dengan mengguankan kecerdasan diri (Gardner: 2004, 23). Adapun 7 tahapan berpikir dengan menggunakan kecerdasan terdiri dari aspek sebagai berikut: Verbal adalah kemampuan memanipulasi kata secara lisan dan tertulis. Logis adalah kemampuan memanipulasi sistem berpikir secara konsep logis. Spasial adalah kemampuan melihat dan memanipulasi pola dan disain. Musical adalah kemampuan mengerti dan memanipulasi konsep musik, nada, irama dan keselarasan. Kinestetik-tubuh adalah kemampuan memenfaatkan gerakan tubuh dalam olah raga dan tari Inferansial adalah kemampuan memahami perasaan diri sendiri merenung serta berfilsafat. Interpersonal adalah kemampuan memahami dengan lain, pikiran, dan perasaan mereka Personalisasi Kecerdasan ini lebih menekankan kepana perkembangan dan perubahan kreativitasnya. Dengan itu faktor penentu laja kecerdasan Sangay dipengaruhi oleh kemampuan mengorganisasikan kreatifitas diri. Oleh karena itu dalam hal ini dibutuhkan pemahaman tentang kreatifitas lebih mendalam dalam pembahasan ini. Pada permasalah ini dipertanyakan apa yang disebut kreativitas? Kreativitas berarti ekspresi keunikan diri ke dalam tindakan nyata dan mampu menemukan solusi yang baru dan bermanfaat. Kreatifitas adalah kemampuan untuk berkreasi dan menciptakan sesuatu yang baru. Dengan mencipta atau berkreativitas maka manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Pernahkan kamu membuat sesuatu yang kreatif?. Cari tahu, dengan mencari tahu kamu akan selalu bertanya, ketika berpikir dalam memecahkan masalah dari idemu. Dengan banyak mencoba bertanya dan dan bertanya pada diri sendiri maupun dengan orang lain, kamu akan memperoleh banyak ide yang dapat dikembangkan. Secara simulasi peta konsep ini dapat digambarkan sebagai berikut; Gerak Bertanya Informasi yang ada lalu bertanya, maka akan dapat segera memperoleh ide. Untuk mengambil suatu keputusan gerak diolah dengan variasi dan suasana musik/irama.
  • 208. 187 1.1 Olah Keterbukaan (Kebebasan Berpikir) Peningkatan dan pengambangan kreativitas tidak terbatas. Proses menghargai kebebasan gerak dan memecahkan masalah melalui ide adalah wujud nyata seseorang mengembangkan pikiran kreatifnya. Faktor keterbukaan yang dimiliki seseorang dapat membentuk inspirasi dan motivasi memecahkan masalah yang dilihat merupakan unsur keterbukaan yang dibutuhkan. Tetapi hal ini dapat dilihat pada bentuk keputusan yang diambil bahwa kemungkinan gerak yang diperoleh dalam bentuk gerak murni atau maknawi. 1.2 Energi Kemampuan untuk melakukan penghayatan atas ungkapan gerak dengan bersemangat, sebab gerakan akan muncul variasi dan motivasi diri, serta gerakan dilakukan dengan naluri kemauan untuk bergerak. Untuk membuat gerakan menjadi kreatif harus ada motivasi diri dan kemampuan untuk mengembangkan ide yang dimiliki, dengan demikian untuk membuat gerakan menjadi sebagian gerak atau tari sangat mungkin. Buatlah ide ungkapan gerak menjadi bentuk tari. Tugas: Carilah beberapa ide, dari idemu selanjutnya buat kemungkinan gerak secara bebas dengan suasana yang kamu inginkan. Masukan penemuan-penemuan gerak yang telah kamu lakukan. 3.6. Tari Berdasarkan Konsep Garapan 3.6.1 Tari Tradisional Tari Tradisional adalah tari yang telah baku oleh aturan-aturan tertentu. Dalam kurun waktu yang telah disepakati, aturan baku diwariskan secara turun menurun melalui generasi ke generasi. Tarian jenis ini telah mengalami perjalanan cukup panjang, bertumpu pada pola garapan tradisi yang kuat. Tari jenis ini biasanya memiliki sifat kedaerahan yang kental dengan pola gaya tari atau style yang dibangun melalui sifat dan karakter gerak yang sudah ada sejak lama. Tari-tarian tradisional yang dilestarikan oleh generasi pendukung biasanya sangat diyakini atas kemasyalakatannya. Masyarakat yang mau terlibat di sini ikut andil dalam melestarikan tari tradisional melalui rasa tanggung jawab dan kecintaan yang tidak bisa dinilai harganya. Masyarakat yang bersangkutan memandang bahwa tarian jenis ini menjadi salah satu bentuk ekspresi yang dapat menentukan watak dan karakter masyarakat yang mencintai tarian tersebut. Dengan demikian tergambar perangai, kelakukan dan cermin pribadinya.
  • 209. 188 Tari Tradisional yang berkembang di manca daerah Indonesia sangat beragam dan bervariasi tumbuh berkembangnya dalam aktivitas kehidupan masyarakat pendukungnya. Banyak diantaranya untuk keperluan Agama, Adat, dan Keperluan lain berhubungan ritual yang diyakini masyarakat di lingkungannya. Beberapa contoh jenis tari yang digunakan untuk keperluan Agama, Adat, dan Keperluan lain berhubungan ritual yang diyakini masyarakat ini dapat disimak melalui gambar di bawah. Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.31 dan 3.32 Tari Terpulout Sumber Koleksi GNP TMII Gb. 3.33 Tari Panggung jati Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi DepBudPar Gb. 3.34 Tari Topeng Gb. 3.35 Tari Topeng
  • 210. 189 Sumber Koleksi DepBudPar Gb. 3.36 Topeng (Nirin Kumpul) Ketiga gambar di halaman ini menunjukkan tari topeng yang digarap dalam konteks konsep koreografi yang berbeda. Gb. 3.34 -3.35 konsep tradisi pengembangan, dan Gb. 3.36 konsep Teater Topeng. 3.6.1.1. Tari Primitif Tari primitif merupakan tari yang berkembang di daerah yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Tarian ini lebih menekankan tari yang memuja roh para leluhur. Pada jaman ini jenis tarian ini sudah mulai tidak kedengaran lagi gaungnya. Beberapa jenis tari ini antara lain adalah tari Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Gb. 3.37 Tari Perang
  • 211. 190 Perhatikan gambar 3.37 terdapat simbol atau ciri yang nampak pada tari primitif. Adapun ciri yang nampak adalah kesederhanaan kostum, gerak, dan iringan menjadi lebih dominan. Tampil menyesuaikan alam sekitar secara apa adanya menjadi bagian konsep garapannya 3.6.1.2. Tari Rakyat Tari-tarian yang disebut pada bab ini adalah tarian yang ingá kini berkembang di Daerah yang bersangkutan. Masalah pembagian apakah termasuk fungsi dan peran yang dimiliki tidak diperhitungkan. Aceh dan Sumatra Utara kental imbas pengaruh Melayu. Ciri dan bentuk tari lebih dekat ke rumpun tari Melayu. Sumatra Utara (Sumut) tari Tor-tor gerak merapatkan dan mengembangkan ke dua telapak tangan sambil bergerak di tempat dan geser kaki, Tari Cawan dengan membawa cewan di atas kepala. Tari Serampang Dua belas dengan gerak berpasangan muda mudi yang sedang berdendang. Tari Manduda, Tari Kain, Tari Andung- andung, Tari Angguk, Tari Tari Mainang Pulau Kampai, Tari Baluse, Tari Tononiha, Tari Terang Bulan, Tari Pisu Suri, Tari Baina, Tari Tari Barampek, Tari Basiram Tari Bulang Jagar, Tari Buyut Managan Sihala, Tari Cikecur, Tari Kapri, Tari Karambik dll. Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.38 Tari Gejolak Gb. 3.39 Tari Tano Doang Ketiga tari di atas (Gb. 3.38 – 3.40) adalah Tari yang dikoreografi dan diangkat dari konsep tari kerakyatan. Pengembangan kostum, dan variasi gerak menjadi ciri perubahan semakin majunya tari Rakyat Sumber Koleksi GNP TMII Jkt 3.40 Tari Jipeng Rebana
  • 212. 191 Pada uraian selanjutnya akan dibahas beberapa contoh jenis tari- tarian nusantara yang ada di Indonesia di mana keterbatasan data dapat dicontohkan sebagai berikut di bawah ini. Daerah Istimewa Aceh atau Nanru Aceh Darusalam (NAD). Tari Saman dengan gerakan rampak dan berselang-seling, Tari Saudati ciri tari dengan menepuk anggota tubuh penari masing-masing adalah penampakan ciri ke dua tari-tarian tersebut., Tari Anyung, Tari Ranu Labuhan. Tari Asuk,Tari Bak Saman, Tari Bantal Tepok tari ini langsung menggunakan bantal sebagai komando ritmik dan dinamika gerak melalui menepok bantal. Tari Bines, Bungong Sie Yung-yung, Tari Cincang Nangka, Tari Cuwek, Tari Landak Sampot, Tari Dampeng, Tari Kederen, Tari Labehati, Tari Lanieu, Tari Apeut, Tari dll. Sumber Majalah Myung Hui Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3.41 Tari Saudati Gb. 3.42 Tari Saman Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.43 Turun Kauih Aunen
  • 213. 192 Sumatera Barat, Tari Piring, Tari Payung, Tari Rambai dan Tari Lilin, Tari Ampun Mende, Tari Kain, Tari Karambik adalah tari klasik tradisional Sumbar. Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.44 dan Gb. 3.45 Rampak di nan Jombang Sumber Koleksi Anj.TMII Jkt Gb. 3.46 Payung Tarian di halaman ini (Gb. 3.44 – 3.46) adalah jenis tari tradisional dari Sumatra Barat yang dikoreografi sesuai perkembangan konsep koreografi pada masa kini. Sumatera Selatan: tari Tepak/tari Tanggai dan tari Gending Sriwijaya (tari penyambutan), tari Paget Pengantin dan tari Ngibing (tari pengantin), tari Tabur, tari Burung Putih, tari Melimbang,Tari Temu,Ttari Dana dan Tari Sinjang (tari rakyat/pergaulan).Tari Andun. Bebe, Ttari Badaek, Tari Badalung, Tari Bayang Sangik, Tari Bedug dll.
  • 214. 193 Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3.47 Barabah (UNJ) Sumber Koleksi Jurusan Seni Tari UNJ Gb. 3.48 Krana (UNJ)
  • 215. 194 3.6.1.3. Tari Klasik Tari Klasik adalah tari yang berkembang di kerajaan-kerajaan yang atelah ada di Indonesia. Puncak tari klasik terdapat pada kerajaan di Indonesia khususnya di yogyakarta, Surakarta, Kasepuhan Cirebon, kerajaan bone, Kerajaan Mataram Kuno, dan Kerajaan Klungkung di Bali. Sumber Koleksi Kusnadi Sumber Koleksi DepBud Par Gb. 3.49 Pendet (Bali) Gb. 3.50 Kresno-Baladewa Sumber Koleksi Kusnadi Gb. 3.51 Tari Topeng Bali
  • 216. 195 Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Sumber Koleksi Jurusan Tari Gb. 3.52 merak Subal(UNJ) Gb. 3.53 Pakarena(UNJ) Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb.3.54 Gambyong(UNJ) 3.6.2. Tari Nontradisional Tari Nontradisional adalah tari yang tidak berpijak pada aturan yang sudah ada seperti tari tradisional. Tari jenis ini tari pembaruan. Tari nontradisional lebih mengungkapkan gaya pribadi. Contoh tarinya adalah tari karya Didik nini towok misalnya tari wek-wek, persembahan. Tari karya Bagong Kussudihardjo misalnya tari yapong, wira pertiwi. Karya Wiwik
  • 217. 196 Widyastuti tari cantik, tari karya Abdul rochem tari Gitek balen, tari nandak ganjen karya Entong sukirman dll. www.dance_@ Yahoo.com 2.38-39 www.dance_@ Yahoo.com 2.38-39 Gb. 3.55 Sequence Gb. 3.56 Qulinte www.dance_@ Yahoo.com 2.38-39 Gb. 3.57 Tari Flash Time Gb. 3. 58 Bratasena www.dance_@ Yahoo.com www.dance_@ Yahoo.com Gb. 3. 59 Cinta Bunda
  • 218. 197 www.dance_@ Yahoo.com 2.38-39 Gb. 3. 60 Squestrall (Internet) 3.7. Tari Berdasarkan Orientasi Peran Fungsi di Masyarakat 3.7.1. Tari Upacara Tari jenis ini perbedaannya ditentukan berdasarkan pada kebutuhan spirit manusia pendukungnya. Peran yang ada lebih diarahkan untuk pernyataan maksud dari masyarakat yang bersangkutan. Tari jenis ini lebih dominan untuk mendekatkan pada bentuk upacara yang sakral. 3.7.1.1 Tari Adat Tari Adat adalah berhubungan pernyataan maksud masyarakat kaitannya dengan peri kehidupan sosial sehari-hari dari masyarakatnya. Tari upacara adat terkait dengan banyak macam motif adat yang disakraklan pada penyelenggaraan tertentu dan dalam momen tertentu pula. Konsekuensi logis yang diyakini meniadakan akibat yang bakal dilakukan. Beberapa contoh Tari Upacara Adat adalah Bedhoyo 5 dan Bedhoyo Ketawang 9 (penobatan Raja sesuhunan dalem), Gambyong, Karonsih, dan Gatutkoco Gandrung(Adat Perkawinan), Kuda Lumping, Jatilan (seni tontonan rakyat). Tari jenis ini juga digunakan untuk prosesi lamaran penang menantu. Raupe Soran merupakan tari yang digunakan dalam upacara jelang mengikat perkawinan. Ngalage, Tayub, Sablang sebagai sara untuk panen akbar atau petik padi. Tari Sekapur Sirih untuk penyambutan tamu agung dan tari Rangguk (Jambi) tari untuk persembahan kepada tamu biasa. Ke 2 tarian tersebut merupakan tari yang lazim dan banyak terdapat di daerah lain pada kapasitas penyambutan tamu saja.
  • 219. 198 Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3.61 Sekapur Sirih Gb.3.62 Rangguk Bengkulu: tari Massal Andun, tari Massal Kijjai, tari Gandai, tari Sekapur Sirih, tari Bidadari, tari Tabot (untuk penyambutan tgl 1 – 10 bulan Muharam)., tari Kain, tari Karan merupakan tari hiburan Bengkulu selatan ditarikan remaja putri. Tari Keris, Tari Kikuk. Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Gb. 3. 63 Tabot Lampung memiliki budaya batas. Posisi geografis sangat menguntungkan. Hal ini ditengarai adanya transformasi tari dari Jawa ke Lampung. Ini menjadi pijakan gaya tari tidak dapat dihindari. Tari-tarian yang berkembang di sini antara lain tari Cangget tari putri dengan repertoar mendemonstrasikan gerakan jari dengan property Cangget. Ayunan Tangan, Gerakan geser kaki digunakan sebagai pola komposisi tari Tari Badana tarian
  • 220. 199 pria sebagai ungkapan selamat datang. Tari Babarau (Cemeti) digunakan sebagai tari adat untuk melakukan pinangan kepada mempelai putri dengan property cemeti. Gerak dinamis antara gerak patah-patah pada kaki dan tangan serta gerak pencak. tari Batin, tari Melinting, tari Lepas. Tari Arus, Tari Bebe. Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3. 64 Ngelajau Gb. 3. 65 Agon Yamuniku Jawa Barat: Tari Kalana Topeng (Cirebon) adalah tari klasik dari kasunanan cirebon. Komposisi tari pada tahun 1912 oleh Cik Anggar Resmi. Tari Merak, Tari Topeng, Tari Capang, Tari Dewi, Tari Doger, , Tari Kandagan, Tari Kembang Puray, Tari Keris, Tari Ketuk Tilu, Tari Longser, Tari Candra dewi, Tari Keurseus. Sumber www.dance@yahoo.com 3.66 Tari Merak
  • 221. 200 Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ 3.67 Bodoran 3.68 Tari Merak Jakarta; Tari Cokek adalah tarian tradisi Betawi yang terdiri dari Topeng depan, topeng Cantik, serta Topeng Angga. Tarian ini merupakan bentuk penggambaran karakter topeng. Tari Blenggo, Tari Ronggeng, Tari Topeng Gong, Tari Ngarojeng, Tari Gong, Tari Tayub (Nayub). Di Bawah ini Tari Topeng Gong dalam 2 bentuk yakni Kreasi Baru dan Pertunjukan Topeng serta Garapan Kreasi Baru. Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3. 69 Topeng Gb. 3. 70 TeaterTopeng Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3. 71 TeaterTopeng Gb. 3. 72 Nyi Kembang
  • 222. 201 Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.73 Tari Tebal Gempita Gb. 3.74 Tari Bahauran Sumber Koleksi Kusnadi Sumber Koleksi Kusnadit Gb. 3.75 Tari Trunajaya Gb. 3.76 Tari Topeng Tari Topeng dan Trunajaya (Bali) tari klasik garapan tari berorientasi dari keraton. Koleksi Kusnadi (2.40-41) dan Internet Jawa Tengah: Tari Srimpi 5, Tari Srimpi 9, tari Bondan, tari Golek, Tari Karonsih, Tari Lawung, Tari Retnosari, Tari Panji, Tari Saptoretno, Tari Surenglaga, Tari Bondoyudo, Tari Anoman Kataksini, Tari Bondoboyo, Tari Kridohumangsah, tari Rantoyo, Tari Menak Koncar, Tari Menak Jinggo Dayun.
  • 223. 202 Sumber Koleksi Pribadi Gb. 3.77 Gumyak Banyumasan ( Pribadi ) Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Jurusan tari UNJ Gb. 3.78 Dolalak Gb. 3.79 Gambyong Yogyakarta: tari Bedhoyo, tari Srimpi, tari Golek Lima, adalah tari tradisional Kalsik yang digunakan untuk upacara tertentu. Pertunjukan tidak sembarang orang dapat melihat. Tarian ini biasanya terkait dengan upacara ngasung atau jengkar Sinuwun Dalem (Raja turun keprabon bertemu rakyat di peringgitan). Tari Menak(Klasik) gaya gerak dengan laku dodok/jongkok. Pergelaran di Pendopo. Konsep dan mode garapan Langendriyan dan berperan dengan melalui tembang. Tari dll.
  • 224. 203 Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi Gb. 3.80 Tari Gagahan Gb. 3.81 Klono Topeng Kedua karakter tari ini adalah gagahan. Gaya tari Yogya lebih menekankan pada angkatan kaki berciri lurus untuk perpindahan tempat dengan cara merendahkan kaki tumpuan. Jawa Timur memiliki beberapa khasanah tari seperti Tari Ngremo, Tari Topeng (Madura), tari Bapong, tari Jejer. Tari Atandak, Tari Embat- embat, Tari Emprak (tari putra/putri berpakaian wanita, pertunjukan secara berkeliling, berperan seperti Tledek atau Ledek. Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Gb. 3.82 Mbya (gaya tari Madura)
  • 225. 204 Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3.83 Tari Warok Gb. 3.84 Tari Ngremo Sumber www.dance@yahoo.com Gb. 3.85 Ngremo Kedua gambar tari Ngremo di atas menunjukkan perbedaan konsep koreografinya. Gb. 3. 84 di Mal dan 3.85 di Proscenium Stage Tari Bali merupakan jenis tari tradisional yang paling ekspresif pada sebagaian banyak jenis tariannya. Hanya pada jenis tarian upacara saja yang membutuhkan penghayatan tari berdasarkan situasi fungsi tari dipergelarkan. Pada tari-tarian Bali unsurekspresi mata (sledet dan panajam), penghayatan topeng denga penyesuasian karakternya, serta kebutuhan untuk upacara adat sangat bergantung situasi tari dipergelarkan. Tari Bali merupakan tari tradisional yang didominasi tarian ekspresif. Tari-tarian Bali merupakan cermin masyarakat Bali yang dinamis. Pernyataan
  • 226. 205 kehendak dan karakter musik dan tarinya mencerminkan dinamisasi jaman yang terus menerus berkembang. Hal ini di alami oleh masyarakat Bali. Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3. 86 Topeng Rangde (BudPar) Gb. 3. 87 Manukrawa (BudPar) Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Kusnadi Gb. 2.88 Oleg Tabulilingan(UNJ) Gb. 2.89 Trunajaya (Kusnadi)
  • 227. 206 Nusa Tenggara Timur memiliki khasanah tari yang antara lain seperti di bawah ini. Tari Lenda Nusa Malole, Tari Likurai, Tari Padoa, Tari Carana, Tari Soka Papak, Tari Ana Keka, Tari Bial Tojong, Tari Bidu, Tari Danding, Tari Deda Lolon, Tari Dio doe, Tari Elilola, Tari Kabana, Tari Kadhi Sago Alu, Tari Kataga tari tradisional putra yang terdiri dari gerakan hentakan kaki & tangan. Tari Kei dll Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.90 Abike Anuku ( GNP TMII ) Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.91 Abike Anuku ( GNP TMII ) Nusa Tenggara Barat memiliki banyak tarian yang antara lain terdiri dari Tari Udeg, Tari Gandrung, Tari Nuri, Tari Kanja, Tari Lenggo, Tari Angin Alus, Tari Ayam Karata, Tari Cilo, Tari Dadara Nesek, Tari Dalata, Tari Katubu.
  • 228. 207 Sumber Koleksi Pribadi Gb. 3.92 Katubu ( Anjungan TMII ) Sulawesi Utara: tari Lenso tari berpasangan muda-mudi, ditarikan pada saat pesta dan bulan purnama. Tari Kabela aalah tari penghormatan tamu agung daerah, dilakukan kelompok gadis. Tari Maengket, tari Turutenden, tari Kebesaran. Tari Kaka Lumpang tari hiburan rakyat di SulUt. Tari Kartili tarian hiburan rakyat Sulut. Sumber Koleksi Pribadi Sumber Koleksi Pribadi Gb.3.93 A dan 3.94. B Pamilau Sulawesi Tengah: Tari Dabang adalah tari upacara mengasah gigi, kitanan, serta penobatan putri masa akil balig. Tari Kandasara adalah tari ritual penghalau setan. tari Ana Tete, Tari Banggai, tari Ando-ando. Tari Pemontes, tari Maka Anding, Tari Peule Cindi, Tari Anitu, Tari Arum Piju,
  • 229. 208 Tari Ei-Ei, tari Assay, Tari Basalonde, Tari Dopalak, Tari Kandai Patangaya, Tari Langko, Tari Luminda dll. Gb. 3.95 Assay (Pemda Sulteng) Sulawesi Tenggara: tari Lense (menceritakan kehidupan laut), tari Linda, tari Lumunse, tari Mombesara, tari Dinggu, Tari Dero, Tari Kalegoa tari pingitan gadis Sul Teng, gadis akil balig harus menarikan tari ini. Tari Salonde, Tari Kancara, Tari Katumbu, Tari Lumanse, tari Mangaro, Tari Modero, Tari Moana, Tari Modelusi, Tari Moese,Tari Moleba, Tari Morasa, Tari Morengku, Tari Motaro dll. Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.96 Lanunse ( GNP TMII ) Gb. 3.97. Lanunse ( GNP TMII ) Tari dari Sulawesi Selatan terdiri dari Tari Losa-losa, Tari Mak Bandong, Tari Mak Jekne-jekne, Tari Mak Randing, Tari Maklatu Kopi, Tari Makrencong-rencong, Tari Maluyya, Tari Malemmo, Tari Manganeng, Tari Mangayo, Tari Mangandak, Tari Mappacci, Tari Marrelau Pammase Dewata, dll
  • 230. 209 Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3.98 Pakarena (Mujiati) Gb. 3.99 Pakarena UNJ Kalimantan Timur: tari Belian adalah tari untuk menyembuhkan orang sakit. Ditarikan pada masa paceklik, oleh 4 wanita, 1 orang lelaki(pawang). Gerak kaki tangan bebas kadang berputar seperti gangsing.Tari Anggo, Tari Gantar, tari Perang, tari Hudok, Tari Belahong, Tari Belaong, Tari Bekuku, Tari Bejo Ujo, Tari Burung Enggang, Tari Datun dll. Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.100 Perang (TMII) Gb. 3.101 Jipeng Rebana Kalimantan Selatan: tari Tirik Lalan, tari Japin Sigan, tari Topeng Panji, tari Gandut, Tari Mantang, Baksa (Ajaran, Tameng,Tumbak),TariBogam, Balian Bukit, Tari Bogam.
  • 231. 210 Sumber Koleksi Anj TMII Jkt Gb. 3.102 Perang (TMII) Kalimantan Tengah: tari Giring-giring, tari Mandau Talawang dan Kapuas, tari Manjuluk Sipa, tari Kinyah Bawi, tari Boleong Dadah, Tari Tambung, tari Kinyah Pampulu, Tari Banggai, Tari Badeder, Tari Bahala, Tari Balian Bawo, Tari Bukung, Tari Kangkurung, Tari Kanjan, Tari Karaenta, Tari Kinyah DanumK Kalimantan Barat: tari Capin Tari J Sumber Koleksi Anj. TMII Jakarta Gb. 3.103 Giring-giring(TMII)
  • 232. 211 Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3.104 Giring-giring (UNJ) Maluku: tari Caka Lele, tari Lenso, tari Mutiara, Tari Dendang Dilale, Tari Denge-denge, Tari Dodobol, Tari Maru Putih, Tari Mabileose, Tari Due. Sumber Koleksi DepBudPar Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Gb. 3.105 Tuan Pamekik Gb. 3.106 Tari Bambu Gila Kedua gambar ini menunjukan konsep garapan tari upacara berupa pengukuhan kepala adat. Irian Jaya/: tari Yospan, tari Wor, tari Dombe., Tari Aluyen, Tari Aniri, Tari Aya Nende, Tari Det Pok Mbui, Tari Dow Mamun, Tari Etol, Tari
  • 233. 212 Kampu, Tari Meitoro Meisawe,Tari Mbis Pok Mbui, Tari Meto, Tari Ndi, Tari Mooni dll. Sumber Koleksi Anj TMII Jakarta Gb. 3.107 Mbui Dong Po Sumber Koleksi GNP TMII Jakarta Gb.3.108 Ndaitita 3.7.1.2. Tari Agama Tari upacara Agama adalah tari yang diyakini memiliki karismatik khusus, apabila tidak dilaksanakan akan berdampak kepada peri kehidupan selanjutnya. Tari upacara agama memiliki tradisi khusus dilaksanakan dalam konteks yang berhubungan dengan pernyataan penghayatan keagamanan dimana mereka lebih asyik apabila melakukan dengan penghayatan dalam
  • 234. 213 dan bersifat memuja, mengkultuskan, dan penghayatan persembahan secara total. Di bali banyak tari jenis keagamaan digunakan sebagai pernyataan maksudnya. Tari yang ada antara lain meliputi tari Pendet, Rangde, Rejang, Keris, Pasraman, Gabor, Ngaben untuk acara kematian. Sumber Koleksi GNP TMII Jkt Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3. 109 Tuan Pamekik Gb.3. 110 Kecak Gb. 3. 111 Sekapur Sirih (UNJ) Daerah Jambi memiliki tari tradisional Sekapur Sirih (tari untuk penyambutan tamu Agung dan pejabat daerah yang hadir ke Jambi. Tari tersebut banyak digunakan untuk penyambutan tamu terhormat. Di sisi lain, Tari Joget Batanghari adalah tarian berpasangan, biasanya dilakukan sebagai ungkapan kebahagian bersama, maka tari ini berbentuk tari sosial.Tari Dana Sarah adalah tari menangkap ikan tari Angguk, tari Depan Tulang Belut, tari Kipas Perentah, tari Sauh, , tari Gunjing, tari Mandi Taman, Tari Kain, tari Kelit Lang, tari Kepak Balam dll.
  • 235. 214 Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3.112 Sekapur Sirih Gb. 3.113 Rangguk Dalam rangka pengembangan asset tari untuk kalangan tertentu tari ini dapat dikemas untuk konsumsi pariwisata. Hal ini dapat dilakukan apabila sepakat untuk tidak meninggalkan akar budaya tradisi budaya tari ini, mengingat tari ini sudah banyak dikenal kalangan. 3.8. Tari Berdasarkan orientasi Artistik Tari berdasarkan orientasi artistik lebih menekankan kepada bentuk tari yang menonjolkan penggarapan seni atau estetis secara fulgar. Tarian jenis ini menjadi milik rakyat, istana, dan primitif. Tari-tarian tersebut telah diuraikan pada penjelasaan terdahulu. Selanjuynya, tari-tarian lain terdiri dari jenis tari-tarian sebagai berikut: 3.8.1. Tari Balet www.dance_@ Yahoo.com Gb. 3. 114Time Load www.dance_@ Yahoo.com Gb. 3. 115 sequence
  • 236. 215 www.dance_@ Yahoo.com Gb. 3. 116 Squarel www.dance_@ Yahoo.com www.dance_@ Yahoo.com Gb. 3. 117 All Fine Gb. 3. 118 Time Load Perhatikan ketiga gambar di atas menunjukan tari Balet asal Amerika (Ketiga piñata tari dari Amerika). Sumber: Buku Modern Dance William Dowoo
  • 237. 216 3.8.2. Musical Dance Jenis tari ini terdiri dari tarian yang dipentaskan secara kolosal. Biasanya merupakan bentuk pertunjukan tari yang dipentaskan berbentuk kebersamaan antara penari dan masyarakat urban yang bergabung di dalamnya. Sumber Koleksi Anj TMII Jakarta Gb. 3.119 Ebegan 3.9. Fungsi Tari Pada dasarnya semua aktivitas yang dilakukan manusia adalah untuk memebuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan yang erat hubungannya dengan pemenuhan sentuhan estetis adalah melalui kegiatan berkesenian. Salah satu cabang kesenian dalam pembahasan di sini adalah seni tari. Peranan seni tari untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia adalah dengan melalui stimulan individu, sosial, dan komunikasi. Kedua fungsi individu dan sosial merupakan ekspresi jiwa manusia. Dengan demikian tari dalam rangka memenuhi kebutuhan idividu dan sosial merupakan alat yang digunakan untuk penyampaian ekspresi jiwa dalam kaitan dengan kepentingan lingkungannya. Oleh karena itu, tari dapat berperan sebagai pemujaan, sarana komunikasi, dan pernyataan batin manusia dalam kaitannya dengan ekspresi kehendak. Dengan demikian tari apat sekaligus menjadi kendaraan mengekspresikan keinginan, pernyataan maksud, dan tujuan tertentu yang mendatangkan kepentingan sosial secara total. Dalam kaitan dengan itu, secara umum dapat digarisbawahi bahwa fungsi tari dapat bertujuan sebagai
  • 238. 217 pemujaan, sarana komunikasi, persembahan, dan perwujudan kehendak yang diungkapkan sehubungan dengan ekspresi kebutuhan yang mendesak pada diri manusia. Secara garis besar Soedarsono mengelompokan fungsi seni tari ke dalam seni pertunjukan dapat dikelompokan menjadi tiga sebagai berikut: 3.9.1. Tari sebagai sarana Upacara Fungsi tari sebagai sarana upacara merupakan bagian dari tradisi yang ada di dalam suatu kehidupan masyarakat yang sifatnya turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya sampai masa kini, di mana berfungsi sebagai ritual. Tari sebagai sarana upacara ritual harus diselenggarakan pada saat tertentu disertai berbagai sesaji pada situasi atau tempat tertentu pula. Setiap upacara selalu dilengkapi dengan tari-tarian, bunyi-bunyian guna menambah kesakralan dan menghadirkan daya magis, dalam peristiwa penting kehidupan yang diikuti dengan sesaji. Seperti panen atau potong padi sebagai ungkapan terima kasih berkaitan dengan peristiwa kelahiran, kesuburan, perkawinan, keagamaan, dan adat. Tari-tarian ini memiliki ciri-ciri adalah sebagai berikut: 1. Hidup dan berkembang dalam tradisi yang kuat, sebagai sarana untuk persembahan, 2. Sebagai sarana memuja dewa (keagamaan) yang berarti bersifat sakral, 3. Bersifat kebersamaan dan diulang-ulang. Di bawah ini beberapa contoh tari-tarian yang difungsikan dalam berbagai upacara agama, adat di suatu daerah sebagai berikut: Asal No Tarian Keagamaan Adat Kehidupan daerah 1 Pendet Bali Rejang Keris Pasraman Gabor Ngaben Kematian 2 Ndi Irian jaya Mbis Ura Cuaca buruk Nelayan Cuaca buruk
  • 239. 218 Raupe Pinangan Saran Berburu 3 Tor-tor Sumut Gandal 4 Sapu Maluku Buluh Gita Wani Kelahiran Walone Kelahiran 5 Pagellu Sulsel Mapaliang Kematian 6 Ngalage Jabar Panen Tayub Panen 7 Sablang Jatim Panen 8 Hola Ana NTT Kelahiran Dodoka Perkawinan Doo Perkawinan Lego-lego Perkawinan Ledo/Tawu Perkawinan 10 Prisen NTB Akil Balik 11 Bedhoyo 5 Jateng Penobatan dan 9 Bedhoyo Penobatan Ketawang Gambyong Perkawinan Karonsih Perkawinan Gatutkoco Perkawinan Gandrung Kuda Bersih Lumping Desa Jatilan Bersih desa 12 Bedhoyo DIY Penobatan semang Tabel 3.2 Hubungan tari dengan aktivitas manusia
  • 240. 219 Tugas untuk kamu, coba masukan ke golongan mana tari-tarian ini dikelompokan. Tari-tarian tersebut adalah tari Penyambutan, tari Gembira, tari Perang, tari Bebodoran. Tari Rangde, tari Kecak. 3.9.2. Tari Sebagai Sarana Hiburan Salah satu bentuk penciptaan tari ditujukan hanya untuk ditonton. Hal ini berhubungan dengan tari untuk memenuhi konsumsi publik saja. Oleh sebab itu, dalam penyajian terkait dengan berbagai kepentingan terutama dalam kaitannya dengan hiburan, amal, atau bahkan untuk memenuhi kepentingan publik dalam rangka hiburan saja. Sumber Majalah Myung Hui www.dance_@ Yahoo.com Gb. 3.120 Hung Myung Gb. 3.121 Squarel Sumber Jurusan tari UNJ Gb. 3.122 Baris
  • 241. 220 www.dance_@ Yahoo.com 2.38-39 Gb. 3.123 Cinta Bunda (Koleksi Farida Faisol) www.dance_@ Yahoo.com 2.38-39 Gb.3.124 Fatamorgana (Interbet) Sumber Koleksi Jurusan Tari UNJ Gb. 3.125 Manuk Rawa (Jurusan Tari UNJ)
  • 242. 221 3.10. PRODUKSI TARI Pada tahap produksi peserta didik diarahkan untuk melahirkan kreativitas seni berdasarkan pengalaman dan kegiatan berkarya dalam hubungannya dengan kognitif (pengetahuan, estetika dan keterampilan mengungkapkan (psikomotor), sosial yang dilakukan melalui kesadaran berekspresi. Teknik memperagakan kreatifitas yang dilakukan diharapkan dapat menganalisis bentuk seni sesuai dengan tema atau ide yang diamati dan dikritik melalui media cetak, tulis, dan diskusi. Persentasikan hasil temuan kamu di depan teman-teman, lalu peragakan gerakan yang kamu dapatkan. Tentukan tema yang kamu pilih, coba jelaskan latar belakang, fungsi, tujuan, seni tari. Amati seluruh penyajian, bentuk seni tari yang berkembang di daerah asal kamu. Coba analisis, tingkat persepsi pengetahuan, pengertian, analisis, penilaian, apresiasi sampai keutuhan produksi. Kemungkinan masalah lain yang dapat muncul akan ditemukan. Marilah kita tulis melalui kritik yang membangun. Lebih lanjut dalam laporan kamu harus melatih, mencipta, menginterpretasikan, mencatat dan mendisain budaya dan seni yang terjadi di masyarakat. Sehingga pengetahuan dan keterangan kamu dapat digunakan untuk menentukan peserta didik lain mengajarkan kritik seni secara proporsional. Gagasan Gagasan akan berakitan dengan tema tari yang akan diungkapkan menjadi suatu pesan atau makna tari. Keunikan gagasan dapat dilihat dari unsur gerak yang terdiri dari : a. Gerak Murni Gerak murni dalam istilah Jawa disebut dengan terak tidak wantah, merupakan gerak yang disusun semata-mata untuk mendapatkan bentuk artistiknya saja. b. Gerak maknawai Gerak maknawi adalah suatu gerak tari yang dalam pengungkapannya mengandung suatu pengertian atau maksud di samping keindahan- nya
  • 243. 222 c. Gerak asimetris Gerak yang disusun terdiri atas gerak-gerak yang tidak memiliki keseimbangan atau sebangun, baik ruang maupun desainnnya. d. Gerak simetris Gerak yang disusun terdiri atas gerak-gerak yang sebangun, baik ruang maupun desainnya. Keunikan gagasan dapat pula dikembangkan dari ide-ide yang orisinal berdasarkan pengekspresian diri. Pengekspresian pada tari dapat melalui pijakan gerak yang tidak dimiliki tarian lainnya akan memunculkan kekhasan. Kekhasan tersebut dapat dilihat dari : 3.11. Dasar pijakan Suatu bentuk tari akan terkait dengan salah satu dasar pijakan, sebagai sumber pengayaan dalam proses penciptaan. 1. Pijakan Tradisi Tari tradisi adalah tari yang lahir, tumbuh, berkembang dalam suatu masyarakat yang kemuian diturunkan atau diwariskan secara terus menerus dari generasi ke generasi. Artinya tarian tersebut masih sesuai dan diakui oleh masyarakat pendukungnya. Segala bentuk tari tradisi dapat merupakan sumber, dapat pula merupakan bahan untuk dipikirkan, diolah dan digarap, sehingga melahirkan bentuk-bentuk baru. Suatu bentuk tari terkadang digarap berdasarkan pijakan tari tradisi, sehingga akan menghasilkan bentuk tari yang baru setelah melalui proses pengkomposisian. 2. Pijakan Gaya Keseluruhan yang dijadikan dasar bagi orang untuk menandai identias mereka terdiri dari sesuatu yang disebut dengan gaya (style). Gaya dalam tari tersusun dari simbol-simbol, bentuk-bentuk dan orientasi- orientasi nilai yang mendasarinya. Di bawah ini merupakan skema pengembangan keunikan gagasan yang awalnya hanya dimulai dari anggota tubuh, namun apabila dipraktikan hasilnya merupakan keunikan gerak yang terdapat dalam tari Zapin.
  • 244. 223 Sumber : Koreografi : Pengantar Apresiasi Seni Tari Gambar 3.12.6. Skema Keunikan Gerak dalam Tari Zapin Keterangan gambar: Diawali dengan Tubuh kemudian dari tubuh dikembangkan menjadi bagian badan (dikembangkan gerak membungkuk- berdiri tegap-doyong), bagian kepala (dikembangkan gerak mengangkat dagu-menggeleng-mengangguk-mendongak), bagian kaki (dikembangkan gerak jinjit-berjalan-berlari-bersimpuh), bagian tangan (dikembangkan gerak mengepal-menangkis). Selanjutnya dikombinasikan antara gerak badan (membungkuk) - kepala (mengangkat dagu) - tangan (mengepal) - kaki (berjinjit). Apabila dilakukan berulang-ulang dengan hitungan bervariasi, maka akan terbentuk ragam gerak seperti tari Zapin. Dari imajinasi ini kemudian ditarik suatu tema yaitu quot;langkah Zapinquot;. Keunikan gagasan yang dapat diambil sebagai tema dari karya- karya tari di nusantara dapat diangkat : a. Tema lingkungan dan alam sekitar, seperti gerak-gerak angin bertiup, pohon bergoyang, air yang mengalir di sungai, berkaitan dengan perburuan, mata pencaharian (nelayan, pertanian, dsb) b. Tema logika matematika, seperti gerak tangan yang membentuk bermacam-macam sudut, komposisi kelompok dengan permainan jumlah penari atau menggunakan pola soal cerita matematika. c. Tema kehidupan sehari-hari, seperti bermain peran, jenis permainan anak yang biasa dilakukan (dolanan), dsb. d. Tema dengan menggunakan properti, di mana properti dapat sebagai pendukung tari untuk mengekspresikan gerak, seperti bermain tali/pita, kentongan, tempurung, payung, topeng, dsb.
  • 245. 224 TES FORMATIF BAB III Pilihlah jawaban yang paling tepat 1. Gerak yang ritmis, selaras dengan bunyi musik .... a. Tari b. Pantomim c. Gerak d. Olah tubuh 2. Gerakan tari dapat diistilah sebagai bahasa .... a. Bahasa visual b. Bahasa kinestetik c. Bahasa plastis d. Bahasa verbal 3. Kegiatan mengeksplorasi kreativitas seni di dalam tari disebut sebagai .... a. Produksi b. Koreografi c. Komposisi d. Ekspresi 4. Tari Cokek (Betawi) adalah termasuk golongan tari .... a. Tari adat b. Tari klasik c. Tari tradisi d. Tari garapan 5. Sebuah tarian yang memiliki gerakan bermakna pesan, dalam istilah tari disebut.... a. Gerakan maknawi b. Gerakan ragawi c. Gagasan d. Garapan 6. Esensi keindahan dalam tari dapat dilihat pada.... a. Kostum b. Tata rias c. Musik d. Gerak
  • 246. 225 7. Gerakan tangan pada gerak dasar tari India disebut.... a. Nguyi b. Trisik c. Klieu d. Goyang plastik 8. Wirasa, wirama, wiraga adalah istilah .... a. Kemampuan tari b. Unsur-unsur tari c. Penjiwaan tari d. Komposisi tari 9. Ciri khas gerak mata tari Bali yang ekspresif diistilahkan dengan... a. Sledet b. Nandak c. Trisik d. Ngigel 10. Gerak tari berlari-lari kecil dalam tarian Jawa diistilahkan dengan.... a. Sledet b. Nandak c. Trisik d. Ngigel II. PERTANYAAN 1. Bagaimana pendapat kamu tentang seni, uraikan dan analisis latar belakang, pola penyajian, tema, ide, musik, tata rias, stage, pola lantai, jumlah penari? 2. Diskusikan dengan teman, buat laporan dan hasil pengamatan hubungannya dengan seni tari tradisional, seni tari non tradisional. Amati gerak dan pendukung lainnya.
  • 247. Bab 4 Seni Teater Mengapresiasikan Karya Seni Teater APRESIASI Pengertian Teater Latihan Akting Istilah Dalam Teater Unsur-unsur Lakon Teater Unsur-unsur Pementasan Pembuatan Naskah
  • 248. EKSPRESI Mempersiapkan Pementasan Drama
  • 249. 228 BAB IV SENI TEATER 4. Sejarah Teater Kata tater atau drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti gerak. Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan. Teater sebagai tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis pengungkapan bahwa teater sudah ada sejak abad kelima SM. Hal ini didasarkan temuan naskah teater kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa. Lahirnya adalah bermula dari upacara keagamaan yang dilakukan para pemuka agama, lambat laun upacara keagamaan ini berkembang, bukan hanya berupa nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan dengan lantang, selanjutnya upacara keagamaan lebih menonjolkan penceritaan. Sebenarnya istilah teater merujuk pada gedung pertunjukan, sedangkan istilah drama merujuk pada pertunjukannya, namun kini kecenderungan orang untuk menyebut pertunjukan drama dengan istilah teater. 4.1 Mengapresiasikan Karya Seni Teater Kegiatan berteater dalam kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia bukan merupakan sesuatu yang asing bahkan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan, kegiatan teater dapat kita lihat dalam peristiwa-peristiwa Ritual keagamaan, tingkat-tingkat hidup, siklus hidup (kelahiran, pertumbuhan dan kematian) juga hiburan. Setiap daerah mempunyai keunikan dan kekhasan dalam tata cara penyampaiannya. Untuk dapat mengapresiasi dengan baik mengenai seni teater terutama teater yang ada di Indonesia sebelumnya kita harus memahami apa seni teater itu ? bagaimana ciri khas teater yang berkembang di wilayah negara kita.
  • 250. 229 4.2 Pengertian Teater arti luas teater adalah segala tontonon yang dipertunjukan didepan orang banyak, misalnya wayang golek, lenong, akrobat, debus, sulap, reog, band dan sebagainya. arti sempit adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan diatas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media : percakapan,gerak dan laku dengan atau tanpa dekor, didasarkan pada naskah tertulis denga diiringi musik, nyanyian dan tarian. Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang ditunjang dengan unsur gerak, suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang kehidupan manusia. Unsur-unsur teater menurut urutannya : • Tubuh manusia sebagai unsur utama (Pemeran/ pelaku/ pemain/actor) • Gerak sebagai unsur penunjang (gerak tubuh,gerak suara,gerak bunyi dan gerak rupa) • Suara sebagai unsur penunjang (kata, dialog, ucapan pemeran) • Bunyi sebagai efek Penunjang (bunyi benda, efek dan musik) • Rupa sebagai unsur penunjang (cahaya, dekorasi, rias dan kostum) • Lakon sebagai unsur penjalin (cerita, non cerita, fiksi dan narasi) Teater sebagai hasil karya (seni) merupakan satu kesatuan yang utuh antara manusia sebagai unsur utamanya dengan unsur –unsur penunjang dan penjalinnya. Dan dapat dikatakan bahwa teater merupakan perpaduan segala macam pernyataan seni.
  • 251. 230 Sumber :Dok.Pribadi ( Foto istimewa) Gambar 4.1 Pertunjukan Teater sanggar KITA Bandung, Judul : Orang Baru, Karya : Saini KM, Sutradara : Yoyo C Durachman, Merupakan salah satu pertunjukan tater yang menggunakan semua unsur teater misalnya tubuh, grak, rupa, suara, bunyi/musik dan cerita atau lakon 4.2.1. Bentuk Teater Indonesia berdasarkan pendukungnya : a. Teater rakyat yaitu teater yang didukung oleh masyarakat kalangan pedesaan , bentuk teater ini punya karakter bebas tidak terikat oleh kaidah-kaidah pertunjukan yang kaku, sifat nya spontan,improvisasi. Contoh : lenong, ludruk, ketoprak dll. Sumber : Video Teater PSN (foto Istimewa) Gambar 4.2 Pertunjukan teater rakyat tradisional Ludruk yang hidup dan berkembang di daerah Jawa timur
  • 252. 231 b. Teater Keraton yaitu Teater yang lahir dan berkembang dilingkungan keraton dan kaum bangsawan. Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk lingkungan terbatas dengan tingkat artistik sangat tinggi,cerita berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekat dengan dewa- dewa . Contoh : teater Wayang Sumber : Video Teater PSN (foto Istimewa) Gambar 4.3 Pertunjukan Wayang Golek, yang merupakan salah satu kesenian masyarakat Jawa Barat, yang merupakan bentuk teater yang berasal dari keraton c. Teater Urban atau kota-kota. Teater ini Masih membawa idiom bentuk rakyat dan keraton . teater jenis ini lahir dari kebutuhan yang timbul dengan tumbuhnya kelompok-kelompok baru dalam masyarakat dan sebagai produk dari kebutuhan baru , sebagai fenomena modern dalam seni pertunjukan di Indonesia. Sumber : Dok. Pribadi (foto Istimewa) Gambar : 4.4 Pertunjukan komedi antar pulau dengan lakon ”cinta robot” ini merupakan salah satu pertunjukan teater masyarakat urban dimana pertunjukannya menampilkan permasalahan masyarakat urban dengan budaya yang heterogen(beragam) sesuai dengan asal masyarakat pendukungnya. d. Teater kontemporer,yaitu teater yang menampilkan peranan manusia bukan sebagai tipe melainkan sebagai individu . dalam dirinya terkandung potensi yang besar untuk tumbuh dengan kreatifitas yang
  • 253. 232 tanpa batas. Pendukung teater ini masih sedikit yaitu orang-orang yang menggeluti teater secara serius mengabdikan hidupnya pada teater dengan melakukan pencarian, eksperimen berbagai bentuk teater untuk mewujudkan teater Indonesia masa kini. Sumber : Dok. Pribadi ( Foto Istimewa) Gambar 4.5 Pertunjukan Teater Kontemporer yang menggunakan bahasa ungkap ekspresi gerak dengan judul ”Pramuwisma stories”. Sebagian besar daerah di Indonesia mempunyai kegiatan berteater yang tumbuh dan berkembang secara turun menurun. Kegiatan ini masih bertahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang erat hubungannya dengan budaya agraris (bertani) yang tidak lepas dari unsur-unsur ritual kesuburan, siklus kehidupan maupun hiburan. Misalnya : untuk memulai menanam padi harus diadakan upacara khusus untuk meminta bantuan leluhur agar padi yang ditanam subur, berkah dan terjaga dari berbagai gangguan. Juga ketika panen, sebagai ucapan terima kasih maka dilaksanakan upacara panen. Juga peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (kelahiran, khitanan, naik pangkat/ status dan kematian dll) selalu ditandai dengan peristiwa-peristiwa teater dengan penampilan berupa tarian,nyanyian maupun cerita, dengan acara, tata cara yang unik dan menarik. Teater rakyat adalah teater yang hidup dan berkembang dikalangan masyarat untuk memenuhi kebutuhan ritual dan hiburan rakyat. 4.2.2 Fungsi – Fungsi Teater Rakyat Fungsi – Fungsi Teater Rakyat : 1. Pemanggil kekuatan gaib 2. Menjemput roh-roh pelindung untuk hadir ditempat terselenggaranya pertunjukan 3. Memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat.
  • 254. 233 4. Peringatan pada nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan maupun kepahlawanannya. 5. Pelengkap Upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang. 6. Pelengkap upacara untuk saat-saat tertentu dalam siklus waktu. 7. sebagai media hiburan. Ciri-ciri umum teater rakyat diantaranya : 1. Cerita tanpa naskah dan digarap berdasarkan peristiwa sejarah, dongeng, mitologi atau kehidupan sehari-hari. 2. Penyajian dengan dialog, tarian dan nyanyian 3. Unsur lawakan selalu muncul 4. Nilai dan laku dramatik dilakukan secara spontan dan dalam satu adegan terdapat dua unsur emosi sekaligus yaitu tertawa dan menangis. 5. Pertunjukan mempergunakan tetabuhan atau musik tradisional . 6. Penonton mengikuti pertunjukan secara santai dan akrab bahkan terlibat dalam pertunjukan dengan berdialog langsung dengan pemain. 7. Mempergunakan bahasa daerah. 8. Tempat Pertunjukan terbuka dalam bentuk arena (dikelilingi penonton) Sumber : Video Teater PSN (foto : Istimewa) Gambar 4.6 Pertunjukan teater arja di Bali, merupakan salah satu contoh teater rakyat yang masih hidup dikalangan masyarakat Bali. Teater berfungsi sebagai salah satu upacara keagamaan
  • 255. 234 4.3 Seni Peran Sumber : Dok. Pribadi (foto :Hermana HMT) Gambar 4.7 Pertunjukan “Kekawen Kawin” karya Nikolai Gogol, STB, Sutradara Yusep Muldiyana. Dalam pertunjukan ini kekuatan pemeranan dari masing masing aktor sangat ditonjolkan untuk menampilkan daya tarik pertunjukan secara keseluruhan. Kekuatan utama yang menjadi daya tarik sebuah pertunjukan teater adalah akting atau tingkah laku para pemain dalam memerankan tokoh yang sesuai dengan tuntutan karakter dalam naskah. Kekuatan inilah yang akan menjadi magnit , bagus , menarik ,indah, punya kekuatan atau tidak berkarakter, tidak menarik bahkan membosankan akan menentukan penonton bertahan tidaknya ditempat duduknya. Virtuositas adalah kekuatan atau daya tarik seniman yang dilahirkan dari keterampilan,kecerdasan serta pendalaman sepenuh hati dan jiwa pada karya yang ditampilkan, sehingga menimbulkan rasa empati dan simpati bagi yang melihatnya. Untuk tampil bagus dan menarik dipanggung teater,seorang aktor harus menguasai berbagai tehnik dan keterampilan seni peran. Seperti dikatakan oleh stanislavsky, seorang aktor harus menguasai olah tubuh, vokal, dan harus mempunyai daya konsentrasi, imajinasi, fantasi, observasi serta mempunyai kecerdasan, wawasan, pengetahuan yang luas tentang berbagai hal dalam kehidupannya. Sehingga ketika sorang aktor membawakan peran tokoh dalam sebuah pementasan akan tampil dengan kedalaman karakter yang indah, menarik dan penuh penghayatan yang sesuai dengan tuntutan naskah pertunjukan. Pemahaman mengenai karakter ini adalah penggambaran sosok tokoh peran dalam tiga dimensi yaitu keadaan fisik, psikis dan sosial.
  • 256. 235 Keadaan fisik meliputi ; umur, jenis kelamin,cirri-ciri tubuh, cacat jasmaniah,cirri khas yang menonjol,suku bangsa, raut muka, kesukaan, tinggi/pendek, kurus gemuk, suka senyum/ cemberut dan sebagainya. Keadaan psikis meliputi ; watak, kegemaran, mentalitas,standar moral, temperamen,ambisi, kompleks psikologis yang dialami, keadaan emosi dan sebagainya.Keadaan sosiologis meliputi ; jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, agama, ideologi dan sebagainya, keadaan sosiologis seseorang akan berpengaruh terhadap prilaku seseorang, profesi tertentu akan menuntut tingkah laku tertentu pula. Pencapaian seorang aktor dalam mewujudkan sosok peran sesuai karakter ini juga ditentukan oleh pengalaman dan kepekaannya dalam menghayati kehidupan serta pengalaman tampil dalam berbagai pementasan. WS. Rendra menyebutkan bahwa dalam pementasan ada empat sumber gaya yaitu aktor atau bintang, sutradara, lingkungan dan penulis. Aktor atau bintang menjadi sumber gaya artinya kesuksesan pementasan ditentukan oleh pemain-pemain kuat yang mengandalkan kepopuleran, kemasyuran , ketampanan atau kecantikan atau daya tarik sensualnya. Pemain bintang akan menjadi pujaan penonton dan akan menyebabkan pementasan berhasil . jika yang dijadikan sumber gaya adalah actor dan bukan bintang maka kecakapan berperan diandalkan untuk memikat penonton . aktor harus menghayati setiap situasi yang diperankan dan mampu secara sempurna menyelami jiwa tokoh yang dibawakan serta menghidupkan jiwa tokoh sebagai jiwa sendiri. Sumber : Dok.Pribadi (Foto Bedeng Siregar) Gambar 4.8 Pertunjukan Teater “Pelajaran” Karya Ionesco Sutradara : Deden Rengga Dalam pertunjukan ini semua pemain harus menguasai tehnik akting yang memadai untuk mewujudkan peran yang sesuai dengan tuntutan naskah.
  • 257. 236 4.4 Akting Ajaran akting menurut Boleslavsky dalam buku Enam Pelajaran Pertama Bagi Calon Aktor : 1. Pelajaran pertama : Konsentrasi Pemusatan pikiran merupakan latihan yang penting dalam akting, konsentrasi bertujuan aagar actor dapat mengubah diri menjadi orang lain , yaitu peran yang dibawakan . juga berarti aktor mengalami dunia yang lain dengan memusatkan segenap cita, rasa dan karsanya pada dunia lain itu. Jadi tidak boleh perhatiannya goyah pada dirinya sendiri dan pada penonton. Meskipun lakon berjalan, konsentrasi aktor tidak boleh mengendor, juga jika saat itu tidak kebagian dialog atau gerakan .kesiapan batin untuk mengikuti jalannya cerita sampai berakhir, memerlukan konsentrasi. Latihan konsentrasi dapat dilakukan melalui fisik (seperti yoga), latihan intelek atau kebudayaan(misalnya menghayati musik, puisi,seni lukis) dan latihan sukma (melatihan kepekaan sukma menanggapi segala macam situasi). Sumber : Dok Pribadi (foto : Hermana HMT) Gambar 4.9 Adegan Pertunjukan “ Kekawen Kawin” Karya Nikolai Gogol, STB, Sutradara Yusef Muldiyana. Konsentrasi merupakan salah satu latihan penting dalam mewujudkan sebuah peran contoh pad adegan diatas seorang pemain sedang berkonsentrasi pada peran, dialog dirinya dan dialog lawan mainnya.
  • 258. 237 2. Pelajaran kedua : Ingatan Emosi. The transfer of emotion merupakan cara efektif untuk menghayati suasana emosi peran secara hidup wajar dan nyata. Jika pelaku harus bersedih , dengan suatu kadar kesedihan tertentu dan menghadirkan emosi yang serupa, maka kadar kesedihan itu takatannya tidak akan berlebihan, sehingga tidak terjadi over acting. Banyak peristiwa yang menggoncangkan emosi secara keras dan hanya aktor yang pernah mengalami goncangan serupa dapat menampilkan emosi serupa kepada penonton dengan takaran yang tidak berlebihan. 3. Pelajaran ketiga : Laku Dramatik Tugas utama aktor menghidupkan atau memperagakan karakter tokoh yang diperankannya, dan menghidupkan aspek dramatisasi melalui ekspresi atau mimik wajah melalui dialog, dan pemanfaatan seting pendukung (misal membanting). Aktor harus selalu mengingat apa tema pokok dari lakon itu dan dari perannya, untuk menuju garis dan titik sasaran yang tepat dengan begitu ia dapat melatih berlaku dramatik Artinya bertingkah laku dan berbicara bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai pemeran, untuk itu memang diperlukan penghayatan terhadap tokoh itu secara mendalam sehingga dapat diadakan adaptasi 4. Pelajaran keempat : Pembangunan watak Setelah menyadari perannya dan titik sasaran untuk peranannya itu aktor harus membangun wataknya sehingga sesuai dengan tuntutan lakon. Pembangunan watak itu didahului dengan menelaah struktur fisik, kemudian mengidentifikasiannya dan menghidupkan watak itu seperti halnya wataknya sendiri. Dalam proses terakhir itu diri aktor telah luluh dalam watak peran yang dibawakannya, atau sebaliknya watak peran itu telah merasuk kedalam diri sang aktor.
  • 259. 238 Sumber : Dok Pribadi (foto : Bedeng Siregar) Gambar 4.10 Adegan Pertunjukan “Lawan Catur “ Karya Kenneth Arthur, Sutradara : Deden Rengga. Pemain yang baik adalah pemain yang kalu sudah diatas panggung tidak tampak lagi pribadinya, dia sudah berubah menjadi sosok yang lain. Dengan pembangunan watak hal ini dapat terwujud 5. Pelajaran Kelima : Observasi Jika ingatan emosi, laku dramatik dan pembangunan watak sulit dilakukan secara personal, maka perlu diadakan observasi untuk tokoh yang sama dengan peran yang dibawakan. Untuk memerankan tokoh pengemis dengan baik , perlu mengadakan observasi terhadap pengemis dengan ciri fisik, psikis dan sosial yang sesuai . 6. Pelajaran Keenam : Irama Semua kesenian membutuhkan irama, akting seorang aktor juga harus diatur iramanya, agar titik sasaran dapat dicapai , agar alur dramatik dapat mencapai puncak dan penyelesaian. Irama juga memberikan variasi adegan, sehingga tidak membosankan. Irama permainan ditentukan oleh konflik yang terjadi dalam setiap adegan. 7. Suara dan Cakapan Suara dan cakapan adalah dua hal pokok yang harus digarap dengan nada yang sesuai, karena keduanya sangat menentukan suksesnya pementasan. Siswa perlu dilatih mengucapkan vocal a, I, u, e, o dengan mulut terbuka penuh. Mungkin dalam percakapan sehari-hari ini tidak perlu; akan tetapi di pentas, hal-hal yang sehari-hari perlu diproyeksikan karena suara diharapkan dapat sampai pada penonton di deretan tempat duduk paling belakang. Ada kalanya seorang pemain mampu mengucapkan kata dengan jelas atau “las-lasan”, tetapi toh dialog yang diucapkannya tidak merangsang
  • 260. 239 pengertian. Jika ini terjadi, maka persoalannya pada apa yang lazim disebut phrasering technique atau teknik mengucapkan dialog. Kalimat atau dialog yang panjangharus dipenggal-penggal lebih dahulu, sesuai denga satuan- satuan pikiran yang dikandungnya. Satu hal lagi yang masih berhubungan dengan latihan vokal ialah perlunya dipahami adanya nada ucapan. Kata “gila” dapat berarti umpatan keras, pujian, kekaguman, jika diucapkan dengan nada yang berbeda-beda. Ini artinya nada ucapan tidak hanya berfungsi untuk menciptakan dinamika, tetapi juga menciptakan makna. Pada saat pemain mengucapkan dialog, kata-kata ternyata tidak diucapkan datar, tetapi terkandung di dalamnya lagu kalimat. Lagu kalimat itu menyarankan pertanyaan, perintah, kekaguman, kemarahan, kebencian, kegembiraan, dan sebagainya. Di samping itu, lagu kalimat juga menyarankan dialek tertentu, misalnya dialek Jawa seperti terdengar dari lagu kalimat yang diucapkan pemeran dalam drama seri Losmen; dalam film Naga Bonar terdengar lagu kalimat yang menyarankan dialek Batak. 4.5 Gaya Akting Pemahaman dan penafsiran tentang prinsip berteater, dalam proses aktualisasinya oleh para seniman penggarap atau sutradara, terbagi dalam dua pemahaman yang berbeda yaitu : Teatrikalisme adalah praktek berteater yang bertolak dari anggapan bahwa teater adalah Teater. Suatu dunia dengan kaidah-kaidah tersendiri yang berbeda dgn kaidah-kaidah kehidupan, teater tidak perlu sama dengan kehidupan kehidupan distilasi (digayakan) dan di Distorsi (dirusak), prinsip seperti ini dapat kita lihat dalam teater-teater tradisional. Atau teater- teater kontemporer. Melahirkan gaya akting grand style ( akting di besar-besarkan ) dan Komikal yaitu gaya akting dengan mengekplorasi kelenturan tubuh sehingga menampilkan tubuh-tubuh dengan gestikulasi yang unik dan lucu Realisme adalah eater harus merupakan ilusi atau cermin kehidupan nyata (Realitas). Teater Ilusionis, kehidupan ditiru setepat mungkin agar ilusi tercapai. pemahaman ini berkembang dalam teater barat (konvensional). Gaya aktingnya adalah gaya realis yaitu wajar mirip dengan gaya kehidupan sehari-hari. Untuk melatih tehnik keaktoran maka diperlukan naskah sebagai pijakan dalam mewujudkan suatu peranan. Dibawah ini terdapat beberapa cuplikan naskah dari beberapa penulis drama yang sudah terkenal, dengan berbagai gaya penulisan naskah yang dapat kalian mainkan sebagai latihan pemeranan.
  • 261. 240 4.6. Beberapa istilah dalam teater Dalam membicarakan drama banyak kita jumpai istilah yang erat hubungannya dengan pementasan drama, antara lain sebagai berikut : 1. Babak Babak merupakan bagian dari lakon drama. Satu lakon drama mungkin saja terjadi dari satu, dua, atau tiga babak mungkin juga lebih. Dalam pementasan, batas antara babak satu dan babak lain ditandai dengan turunnya layar, atau lampu penerang panggung dimatikan sejenak. Bila lampu itu dinyalakan kembali atau layar ditutup kembali, biasanya ada perubahan penataan panggung yang menggambarkan setting yang berbeda. Baik setting tempat, waktu, maupun suasana terjadinya suatu peristiwa. 2. Adegan Adegan adaalh bagian dari babak. Sebuah adegan hanya menggambarkan satu suasana yang merupakan bagian dari rangkaian suasana-suasana dalam babak. Setiap kali terjadi penggantian adegan tidak selalu diikuti dengan penggantian setting. 3. Prolog Prolog adalah kata pendahuluan dalam lakon drama. Prolog memainkan peran yang besar dalam menyiapkan pikiran penonton agar dapat mengikuti lakon(cerita) yang akan disajikan. Itulah sebabnya, prolog sering berisi lakon, perkenalan tokoh-tokoh dan pemerannya, serta konflik-konflik yang akan terjadi di panggung. 4. Epilog Epilog adalah kata penutup yang mengakhiri pementasan. Isinya, biasanya berupa kesinpulan atau ajaran yang bisa diambil dari tontonan drama yang baru disajikan. 5. Dialog Dialog adalah percakapan para pemain. Dialog memainkan peran yang amat penting karena menjadi pengarah lakon drama. Artinya, jalannya cerita drama itu diketahui oleh penonton lewat dialog para pemainnya. Agar dialog itu tidak hambar, pengucapannya harus disertai penjiwaan emosional. Selain itu, pelafalannya harus jelas dan cukup keras sehingga dapat didengar semua penonton. Seorang pemain yang berbisik, misalnya harus diupayakan agar bisikannya tetap dapat didengarkan para penonton. 6. Monolog Monolog adlah percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri. Apa yang diucapkan itu tidak ditujukan kepada orang lain. Isinya, mungkin ungkapan rasa senang, rancana yang akan dilaksanakan, sikap terhadap suatu kejadian, dan lain-lain. 7. Mimik Mimik adalah ekspresi gerak-gerik wajah (air muka) untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain. Ekspresi wajah pemain ayng sedang sedih tentu saja berbeda dengan ketika sedang marah.
  • 262. 241 8. Gestur Gestur adalah gerak-gerak besar, yaitu gerakan tangan kaki, kepala, dan tubuh pada umumnya yang dilakukan pemain. 9. Bloking adalah aturan berpindah tampat dari tempat yang satu ke tempat yang lain agar penampilan pemain tidak menjemukan. 10. Gait Gait berbeda dengan bloking karena gait diartikan tanda-tanda khusus pada cara berjalan dan cara bergerak pemain. Layar adalah kain penutup panggung bagiandepan yang dapar dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan. Tidak semua panggung dilengkapi layar 4.7. Unsur-unsur Lakon Teater 1. Tema cerita Agar cerita menarik perlu dipilih topik, contoh tema masalah Keluarga topiknya misal Pilih Kasih 2. Amanat Sebuah sajian drama yang menarik dan bermutu adalah memiliki pesan moral yang ingin disampaikan kepada penonton. 3. Plot Lakon drama yang baik selalu mengandung konflik, plot adalah jalan cerita drama. Plot drama berkembang secara bertahap, mulai dari konflik yang sederhana hingga menjadi konflik yang kompleks sampai pada penyelesaian konflik. Penyelesaian konflik ada yang happy ending, atau berakhir sedih atau penonton disuguhkan cerita dengan menafsirkan sendiri akhir cerita. Ada enam tahapan plot : a. Eksposisi Tahap ini disebut tahap pergerakan tokoh b. Konflik Dalam tahap ini mulai ada kejadian c. Komplikasi Kejadian mulai menimbulkan konflik persoalan yang kait-mengkait tetapi masih menimbulkan tanya tanya. d. Krisis Dalam tahap ini berbagai konflik sampai pada puncaknya e. Resolusi Dalam tahap ini dilakukan penyelesaian konflik f. Keputusan Adalah akhir cerita 4. Karakter Karakter atau perwatakan adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam drama. Ada tokoh berwatak sabar, ramah dan suka menolong,
  • 263. 242 sebaliknya bisa saja tokoh berwatak jahat ataupun bisa juga tokoh berdialek suku tertentu. 5. Dialog Jalan cerita lakon diwujudkan melalui dialog dan gerak yang dilakukan para pemain. Dialog-dialog yang dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan dan dapat menghidupkan plot lakon. 6. Setting Setting adalah tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu adegan. Karena semua adegan dilaksanakan di panggung maka panggung harus bisa menggambarkan setting apa yang dikehendaki. Panggung harus bisa menggambarkan tempat adegan itu terjadi: di ruang tamu, di rumah sakit, di tepi sungai, di kantin, atau di mana? Penataan panggung harus mengesankan waktu: zaman dahulu, zaman sekarang, tengah hari, senja, dini hari, atau kapan? Demikian pula unsur panggung harus diupayakan bisa menggambarkan suasana: gembira, berkabung, hiruk pikuk, sepi mencekam, atau suasana-suasana lain. Semua itu diwujudkan dengan penataan panggung dan peralatan yang ada. Panggung dan peralatan biasanya amat terbatas. Sementara itu, penggambaran setting sering berubah-ubah hampir setiap adegan. Bagaimana caranya? Penata panggung yang mengatur semua itu. Karena itu, penata panggung harus jeli dan pandai-pandai memanfaatkan dan mengatur peralatan yang terbatas itu untuk sedapat-dapatnya menggambarkan tempat, waktu, dan suasana seperti yang dikehendaki lakon drama. 7. Interpretasi Apa yang dipertontonkan ceritanya harus logis, dengan kata lain lakin yang dipentaskan harus terasa wajar. Bahkan harus diupayakan menyerupai kehidupan yang sebenarnya. 4.8. Unsur-unsur Pementasan a. Naskah b. Pemain c. Sutradara d. Tata rias e. Tata biarama f. Tata panggung g. Tata lampu h. Tata Suara i. Pentonton
  • 264. 243 a. Naskah Naskah adalah karangan yang berisi cerita atau lakon. Dalam naskah tersebut termuat nama-nama dan lakon tokoh dalam cerita, dialog yang diucapkan para tokoh dan keadaan panggung yang diperlukan. Bahkan kadang-kadang juga dilengkapi penjelasan tentang tata busana, tata lampu dan tata suara (musik pengiring) b. Pemain Pemain adalah orang yang memeragakan cerita, berapa jumlah pemain yang disesuaikan dengan tokh yang dibutuhkan dalam cerita, setiap tokoh akan diperankan seorang pemain c. Sutradara Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan, tugas sutradara sangat banyak dan beban tanggung jawabnya cukup berat, sutradara memilih naskah, menentukan pokok-pokok penafsiran naskah, pemilihan pemain, melatih pemain dan mengkoordinasikan setiap bagian d. Tata Rias Fungsi tata rias adalah menggambarkan tokoh yang dituntut misalnya seorang pemain memerankan tokoh kakek maka wajah dan rambutnya dibuat tamak tua. e. Tata Busana Penata rias dan penata b usana harus bekerjasama saling memahami, saling menyesuaikan, penata ris dan penata busana harus mampu menafsirkan dan memantaskan ris dan pakaian yang terdapat dalam naskah cerita misal tokoh nenek melarat, maka pakaian yang dikenakan tidak menggunakan pakaian yang bagus dan mahal, karena kesalahan dalam busana dapat juga mengganggu jalannya cerita. f. Tata Lampu Pengaturan cahaya di panggung dibutuhkan untuk mendukung jalan cerita yang menerangkan tempat dan waktu kejadian pada sebuah cerita, untuk menggambarkan kejadian pada malam hari atau siang hari, menggambar kejadian misal di tempat romantis. g. Tata Suara Musik dalam pertunjukan drama adalah untuk mendukung suasana, misal penggambaran kesedihan, ketakutan, kemarahan dan lain-lain misal penggambaran cerita kesedihan seorang anak, kalau diiringi musik yang
  • 265. 244 sesuai, tentu kesedihan ini akan lebih terasa diiringi musik berirama lembut, alat musik yang digunakan hanya seruling yang mendayu-dayu, ketika adegan kemarahan diiringi musik berirama cepat dan keras, penata musik berirama cepat lagu yang sudah ada ataupun menciptakan lagu sendiri, penata suara harus memiliki kreativitas yang tinggi. h. Penonton Penonton termasuk unsur penting dalam pementasan. Bagaimanapun sempurnanya persiapan, kalau tak ada penonton rasanya tak akan dimainkan. Jadi, segala unsur yang telah disebutkan sebelumnya pada akhirnya untuk penonton.
  • 266. 245 Contoh Naskah untuk latihan pemeranan SANGKURIANG Karya UTUY TATANG SONTANI BABAK IV- ADEGAN 1 Malam hari LAKONPERTAMA Di halaman rumah. Sayup-sayup sampai di kejauhan terdengar suara gemuruh Dayang Sumbi keluar dan rumah dengan suluh ditangan 1. DAYANG : Rasa-rasa dalam mimpi SUMBI bahwa di malam ini sedang diciptakan telaga beserta perahunya, dimana aku akan berlayaran sebagai istri dan anakku sendiri Rasa-rasa dalam mimpi bahwa tadi aku dipinang anakku dan nanti akan menjadi ibu dari cucuku sendiri Ah, satu diantara dua : aku atau anakku, itulah yang sebenarnya bermimpi di malam ini Dan karena kini asal tadi dan bakal nanti, maka siapa yang bermimpi malam ini, itulah yang besok pagi kesiangan, itulah pemimpi sepanjang jaman BUJANG MUNCUL 2. DAYANG : Bagaimana ? SUMBI Apa yang nampak di mata ? 3. BUJANG : Bagai tenaga raksasa yang dicurahkan. 4. DAYANG : Bagaimana ? SUMBI 5. BUJANG : Bumi gemuruh pohon-pohon pada tumbang batu-batu bergulingan membendung air, Dilanda air Dan siapa yang mengerjakan haiam tidak kelihatan Tapi yang tidak bisa dipungkin lagi telaga luas akan segera terbukti 6. DAYANG : Dan perahu ? SUMBI 7. BUJANG : Itupun hampir selesai 8. DAYANG : Kalau begitu, SUMBI kita tidak boteh lalai Mang Aida Lepa dan kawan-kawannya, mesti segera diminta datang
  • 267. 246 9. BUJANG : Baik, Nyai, biar sekarang juga bibi bangunkan semua BUJANG TURUN 10. DAYANG : Riuh gemuruh dikejauhan, SUMBI alamat telaga sedang dibangun. Riuh gemuruh di dalam dadaku, karena hati naik turun Ah, hatiku ! hati manusia yang tahu tiada upaya, tapi juga hati seoiang ibu yang diancam bahaya Sebagai manusia, Ya. Dewata Hatiku turun ke bawah telapak kaki-Mu, hidmat menyembah kebesaran-Mu, menyerah mengalah kepada kehendak-Mu yang benar selalu Tapi sebagai ibu, ya, anakku ! Hatiku naik ke atas puncak citamu, keras menolak keingmanmu, bertindak berontak menentang kebenaranmu yang tiada benar bagiku BUJANG MUNCUL DIIRINGI ARDA LEPA DAN KAWAN-KAWAN 11. ARDA LEPA : Ada apa, Nyai ? kami dipanggil di malam sepi ? 12. DAYANG : Mamang, malam ini SUMBI bukan malam sepi. Malam ini malam yang seram malam yang berat mengancam Anakku Sang Kuriang mulai tadi siang menyatakan pendapatnya yang tidak disangka-sangka Dia tidak mau percaya bahwa mi bukan ibunya 13. ARDA LEPA : Tapi jika semua orang sependapat dengan Sang Kunang, apa yang hendak kite katakan, kawan? Kita semua tidak menyaksikan kapan Sang Kunang dilahirkan, bukan? 14. BERSAMA : Biar buta I Biar mati! Tak pernah kita mengetahui.
  • 268. 247 15. DAYANG : Memang, kalau semua orang SUMBI sependapat dengan Sang Kuriang, itu terserah kepada mereka Tapi bagiku aku adalah ibunya. Kalau aku bukan ibu Sang Kuriang aku tidak akan menolak dia meminang. Dan mamang sekarang tidak akan diminta datang Apakah mamang setuju anak mengawini ibu ? 16. ARDA LEPA : Anak mengawini ibu ? Yey, itu tidak lucu ! 17. BERSAMA : Itu mesti disapu ! Lebih haram dan jinah ! Lebih hewan dari hewan ! 18. ARDA LEPA : Kalau betul Nyai ibu Sang Kunang kalau betul Sang Kuriang meminang Sang Kunang mesti kami buang ! Kalau tidak, kami semua ikut berjinah Kami menjadi hewan. 19. DAYANG : Nantidulu SUMBI Dengar dulu! Sebagai ibu yang kasih sayang teRhadap anak, pinangan anakku tidak terang- terangan ditolak, Aku berjanji mau kawin dengan dia, asal besok ban sedia perahu dan telaga, Ternyata sekarang Perahu dan telaga sudah hamper siap Berarti Sang Kuriang akan dapat memenuhi permintaan ku. 20. ARDA LEPA : Jadi sekarang Nyai ingin supaya tidak jadi kawin ? supaya peiahu dan telaga besok tidak bukti ? 21 DAYANG : Betul. SUMBI Karena itu ku menginginkan supaya kalian membakar hutan, biar apinya bersinar-sinar; menyerupai sinar fajar, biar anakku Sang Kuriang Melihat siang akan mendatang ! biar maksudnya diurungkan, lantaran merasa kesiangan 22. ARDA LEPA : Ai, ai, Nyai ingin Sang Kunang diajak bermam ? Itu lucu ! 23. BERSAMA : Tapi apa mungkin ? Sang Kuriang lain dan yang lain
  • 269. 248 24. DAYANG : Sang Kuriang memang lain dari yang lain SUMBI tapi Sang Kuriang manusia Dan kepada manusia aku tetap yakin: ada Dewata dalam dirinya Dan selama ada Dewata di dalam din manusia kewajiban kita bukan menundukan membmasakan tapi menyalakan api keDewataan yang bersemayam di tubuh lawan Semoga api pembakar hutan menjadi api kedewataan yang bersinar terang-benderang dalam tubuh Sang Kunang ! 25 ARDALEPA : Bagaimana kawan. kita sekarang membakar hutan ? 26. BERSAMA : Asal terang ada anak memang ibu 27. ARDA LEPA : Yang sudah teiang semua manusia adalah satu Orang lain masih kita juga. Karena itu, marilah kita ajak Sang Kuriang bermain bersama kita dengan api di tangan kita Inilah panggilan kita di dalam hidup bersama 28. BERSAMA : (SAMBILTERUS TURUN) Semua orang adalah satu orang lain masih kita juga kewajiban kita, biar gigi tinggal dua, mengisi ini dunia dengan bermain bersama, tanpa yang diharapkan, tanpa yang diidamkan, selam damang bagi semua SEMUA TURUN
  • 270. 249 Contoh Cuplikan naskah JAKA TUMBAL Saduran dari HAMLET Karya Shakespeare BABAK IV Akhir Adegan 1, di pekuburan, saat Yuta Intern dikuburkan. (Masuk ulama-ulama dan lain-lam yang merupakan pawai azmat. Dibelakangnya jenazah Yuta Inten, Jalu Wulung, beserta pengabung-pengabung. Selanjutnya Prabu, Ratu, Pengawal dan lam-lain) TUMB : Sri Ratu, orang-orang pura I Siapa dihantar Dengan upacara kecil ini? Ini berarti Bahwa jenazah itu dengan semena-mena Mengakhiri hidupnya sendin, dan dia berpangkat Mari sembunyi sambil melihat (Ke samping bersama Arya Lontar) WUJU : Tambah Upacara ! TUMB : Itu Jalu Wulung, anak muda budiman, perhatikan. WUJU : Tambah Upacara ! ULAMA : Upacara sudah seluas-luasnya dalam batas tanggung jawab kami. Meninggalnya tidak patut, dan jika tak ada kekuasaan yang mengatasi peraturan, sampai kiamat dia takkan bermakam di tempat kudus : tak ada do'a suci, tapi batu. beling dan krikillah yang dilemparkan padanya; Namun dia dapat karangan bunga dan penaburan kembang untuk perawan, dan penghormatan tahli) serta makam keramat, WUJU : Tak ada penghormatan lagi ? ULAMA : Tak ada Adat akan kami najiskan, pabila Kami nyanyikan adzan untuknya, seperti Untuk orang yang mati suci WUJU : Letakkan dalam tanah Supaya dari tubuh yang elok tak ternoda itu Tumbuh bunga-bunga ! Hai. Ulama yang keras hati Bagai bidadari adikku beidarma, jika kau sedih meringkuk TUMB : Apa ? Yuta Inten Jelita ? RATU : (Menabur bunga di atas jenasah) Inten dan segala permata, S'lamat tinggal Pernah kuharap kau menjadi istn Jaka Tumbal, Juwita dan kutaburkan bunga atas pelaminanmu, Dan tiada di kuburan WUJU : O, tiga kali celaka Timpalah sepuluh ganda tiga lipat Kepala pendurjana yang dengan jahat memadamkan cahaya budimu ! - Hai,
  • 271. 250 jangan ditutup dulu, Sebelum kupeluk dia sekali lagi. (Melompat dalam Liang Kubur) Tumpukkan zat-Mu atas yang hidup dan yang mati, dan bikin gunung dari daratan ini, lebih tinggi Dan Suralaya di atas yang biru dan berawan TUMB : (Melangkah maju) Siapa dia, yang ratapannya Selantang itu ? Yang keluh-kesahnya menghambat jalannya bintang serta menghentikan mereka, Terperanjat oleh suaranja ? Ini aku, Jaka Tumbal, Orang Pangruatan ! (Melompat ke dalam kubur) WUJU : Setan mencabut jiwamu ! TUMB : Do'amu tak enak ! Hai lepaskan kerongkonganku! Benar aku tak garang dan geram, tapi ada sesuatu padaku yang berbahaya, dan sadarlah, kalau tak mau celaka ! Lepas! PRAB : Pisahkan mereka ! RATU : Tumbal ! Tumbal ! SEMUA : Tuan - tuan ! LONT : Pangeran sabarlah ! (Para pengiring Prabu melerai mereka, dan meieka keluar dan bang kubur) TUMB : Nah, 'ku mau berkelahi dengan dia tentang mi, sampai kelopak mataku tak bergetar lagi RATU : Tentang apa anakku ? TUMB : Aku cinta Yuta Inten Empat puluh ribu kakak dengan jumlah cintanja tak dapat memadai Cintaku - Apa hendakmu dengan dia ? PRAB : Dia gila, tenanglah, Jalu Wulung. RATU : Demi Allah, jangan dilayani dia! TUMB : Demi Tuhan, katakan, apa maksudmu ? Menangis, berkelahi. puasa, potong siri? Minum cukak ? Makan buaya ? Nah, Aku juga! Kau datang untuk meratapi dia ? Menantang aku dengan tampat di bang kuburnya? Ikutlah terkubur hidup-hidup, dan aku menyusul! dan kalau kusebut gunung- gunung, boleh kita Disungkup tanah benuta-juta bahu, Hingga puncaknya dibakai Cakrawala. Dan Gunung Mahameru sebesar kutil ! Ya, kalau kau bermulut besar, akupun bisa RATU : Ini sungguh gila Sementara saja badainja mengganas ;
  • 272. 251 Tapi segera ia menjadi sabar dan diam, Laksana merpati betina yang telurnya menetes jadi anak burung kencana. TUMB : Hai, tuan Mengapa kau peilakukan daku demikian ? Kau selalu kuanggap kawanku, tapi mengapa; Kucing mengeong dan anjingpun menyalak dan mendengking (Keluar) PRAB : Arya Lontar, jaga dia betul (Arya Lontar keluar) (Kepada Jalu Wulung) Sabarlah, berdasai rembukan kita semalam, perkaia ini segera kita selesaikan Dinda, suruh orang menjaga puteramu, - Kubur ini akan dapat peringatan hidup Se'gra kita alami masa damai dan njaman ; Sebelumnya kita hendaknya sabar berjalan. (Semua keluar)
  • 273. 252 Contoh Cuplikan Naskah IMPIAN DITENGAH MUSIM Karya Shakespeare BABAKIII Sequence 14 Adegan1 HUTAN. TEMPAT ATENA. TITANIA SEDANG TDUR. MASUK PARA PEKERJA KUMPAR : Kita lengkap ? PATH : Tak kurang. Inilah tempat yang cocok sekali untuk latihan kita. Sudut merah ini panggungnya. Semak duri itu kamai hias dan kita kerjakan semuanya, tepat yang akan kita kerjakan di hadapan tuan Hertog. KUMPAR : Peter Patil PATIL : Ada apa, Kumpar Kisaran ? KUMPAR : Dalam komedi Piramus dan Tisbi ini ada apa-apanya yang tak akan menyenangkan orang. Pertama Piramus harus mengghunuspedangnya untuk bunuh diri. Kaum perempuan tak tahan melihat itu. Bagaimana tanggung jawabmu ? PATIL : Astaga, itu susah. GERING : Kurasa akhiinya lebih baik dihilangkan saja pembunuhan itu. KUMPAR : Jangan dihilangkan apa-apa; gua punya akal buat bereskan ini. Tulislah kata pendahuluan, dan katakan bahwa kita tidak bermaksud jahat dengan pedang-pedang itu, dan bahwa Piramus tidak benar-benar bunuh diri terbunuh. Dan supaya orang tebih tentram lagi, bahwa gua si Piramus bukannya Piramus sungguhan, tapi si Kumpar tukang tenun PATIL : Jadilah, kita bikin pendahuluan begitu ; hendaknya ditulis dengan tiga atau empat kaki sajak, KUMPAR : Tidak, tambahlah kakinya, biar empat-empat, jadi bagus jalannya. CEREK : Apakah para wanita itu tidak takut pada singanya ? GERING : Memang, gua juga kuatir. KUMPAR : Sobat-sobat, coba pikir : memasukan seekor singa ke tengah perempuan-petempuan. Astagfirullah! itu yang paling kejam! Jadi awaslah ! CEREK : Dari itu harus ada pendahuluan lain buat menerangkan bahwa itu bukan singa.
  • 274. 253 KUMPAR : Harus disebutkan namanya dan separoh mukanya hams kelihatan di celah-celah kuduk singa. Dia sendili hams bicara memperhidangkan dirinya begini : Nyanyanyanya, atau nyonya-nyonya manis. Saya ingin minta dengan hormat sekali, janganlah takut, jangan gentar, saya tanggungkan nyawa saya. Kalau nyonya sangka saya ini singa betulan, saya akan kecewa. Saya orang biasa seperi yang lain . lalu sebutlah namamu dan katakan saja bahwa dia ini Si Ketam tukang prabot. PATIL : Nan, baiklah begitu. Tapi ada lagiduasoal yang susah. Yaitu memasukkan cahaya bulan ke dalam kamar. Si Piramus danTisbi kan bertemu dalam cahaya bulan KETAM : Apa bulan persinar waktu kita main ? KUMPAR : Cari almanak Cari apa cahaya bulan terang tidak PATIL : Bagus, kalau kita mesti ada orang yang membawa seberkas dahan-dahan dan tentera, lantas dia omong bahwa dia datang untuk bikin quot;Perhidanganquot; cahaya bulan. Tapi ada lagi satu seal: kita hams punya tembok di kamar besar itu ; sebab Piramus dan Tisbi, begitu kata hikayat, omong-omong di depan rekahan tembok. KETAM : Tembok tak mungkin digendong. Apa akalnya Kumpar ? KUMPAR : Salah seorang mesti quot;Mempeihidangkanquot; tembok itu, biar dia ambil sedikit tampal atau kapur atau lengrengan untuk merupakan tembok; dan suruh dia mengembangkan jari- jarinya begini, maka di depan rekan itu Piramus dan Tisbi mesti berbisik-bisik. PATIL : Jadilah, beres semua. Ayo duduklah semua. Piramus lu mulai, kalau pidatonya habis, pergi ke belakang sernak itu; begitu juga masing -masing orang menuiut alamat. PEK : Wah, orang dusun ongok ini pada rame-rame deket tempat tidur ratu peri. Hai, ada permainan? Aku menonton; mungkin juga ikut main, kalau suka. PATIL : Ayo Pilamus dan Tisbi, tampilah. KUMPAR : Seperti bunga mawar meraksasa-raksasa PATIL : Meraksi-raksi ! KUMPAR : O ya, meraksi-raksi. Begitulah nafasmu, Tisbiku! Suara apa itu? Tinggallah disini, sebentar tunggu kembaliku (KUMPAR KELUAR) PEK : Pelik benar Piramus seperti ini. (PEK KELUAR) GEMBUNG : Piramus, suryaku seroja Nirmala, Mawar tenndah di pagar duri Kesuma bangsa yang paling berpahala Taat bagai kuda yang berlari-lari Ku jumpa kau Piramus di makam Nini
  • 275. 254 PATIL : Ninus, bukan Nini! Tapi itu jangan lu sebut dulu, itu jawaban buat Piramus, Jangan diucapkan seluruh peranan sekaligus begitu, beserta alamatnya dan sebagainya. Hai, Piramus masuklah , alamatnya sudah disebut, yaitu berlari-lari. GEMBUNG Taat bagai kuda yang berlari-lari... (PEK DATANG KEMBALI BERSAMA KUMPAR YANG BERKEPALA KELEDAI).
  • 276. Bab 5 Seni Rupa Ekspresi Melalui Kreasi Seni Kriya APRESIASI Pengertian Seni Rupa Dasar-Dasar Seni Rupa Apresiasi Karya Seni Rupa Pameran Karya Seni Rupa
  • 277. EKSPRESI Ragam Hias Nusantara Seni Kriya Batik Seni Kriya Ikat Celup (Tie Dye)
  • 278. 288 BAB V SENI RUPA 5.1. Pengantar Seni Rupa Kemampuan bidang estetika dan budaya seakan dikesampingkan pada kondisi sistem pendidikan nasional saat ini, karena lebih mengutamakan pengembangan kemampuan dibidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan matematika. Hal ini kurang mendukung upaya pembentukan kwalitas kepribadian manusia Indonesia yang diharapkan. Peran pendidikan seni merupakan salah satu kemampuan dibidang estetika yang dapat mewujudkan manusia seutuhnya. Seni merupakan salah satu pemanfaatan budi dan akal untuk menghasilkan karya yang dapat menyentuh jiwa spiritual manusia. Karya seni merupakan suatu wujud ekspresi yang bernilai dan dapat dirasakan secara visual maupun audio. Seni terdiri dari musik, tari, rupa, dan drama/sastra. Seni rupa merupakan ekspresi yang diungkapkan secara visual dan terwujud nyata (rupa). Seni rupa modern terbagi atas dua kelompok besar yaitu seni murni dan seni terapan. Seni terapan terdiri dari desain dan kriya. Desain dan Kriya bertujuan untuk mengisi kebutuhan masyarakat akan bidang estetis terapan. Perkembangan keilmuan seni rupa dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami perluasan ke arah wahana besar yang kita kenal sebagai budaya rupa (visual culture). Lingkup sesungguhnya tidak hanya cabang-cabang seni rupa yang kita kenal saja, seperti lukis, patung, keramik, grafis dan kriya, tapi juga meliputi kegiatan luas dunia desain dan kriya (kerajinan), multimedia, fotografi. Bahkan muncul pula teori dan ilmu sejarah seni rupa, semantika produk, semiotika visual, kritik seni, metodelogi desain, manajemen desain, sosiologi desain, dan seterusnya.
  • 279. 289 Seni Lukis Seni Murni Seni Patung Seni Grafis Seni Rupa Keramik Seni (Visual Art) Kriya Seni Desain Produk (desain industri) Desain Interior Desain Desain Komunikasi Visual (desain grafis, multimedia) Seni Terapan Arsitektur Tekstil, batik, ikat celup, tenunan Kriya Kayu, kulit, logam, keramik Anyaman rotan, bamboo, pandan, serat alam,dll Sumber : Pribadi Bagan 5.1. Cabang-cabang Seni Rupa berdasarkan perkembangan saat ini Dalam kehidupan seni rupa modern, dari dua kelompok besar seni murni dan seni terapan, terdapat pembagian tiga jenis seni rupa yang telah lazim, yaitu seni murni, desain, dan kriya.
  • 280. 290 5.1.1. Seni Murni Seni rupa murni lebih mengkhususkan diri pada proses penciptaan karya seninya dilandasi oleh tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan kepuasan batin senimannya.Seni murni diciptakan berdasarkan kreativitas dan ekspresi yang sangat pribadi (lukis, patung, grafis, keramik ). Namun dalam hal tertentu, karya seni rupa murni itu dapat pula diperjualbelikan atau memiliki fungsi sebagai benda pajangan dalam sebuah ruang. a. Seni lukis salah satu jenis seni murni berwujud dua dimensi pada umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak, cat akrilik, atau bahan lainnya. b. Seni patung salah satu jenis seni murni berwujud tiga dimensi. Patung dapat dibuat dari bahan batu alam, atau bahan-bahan industri seperti logam,serat gelas, dan lain-lain. c. Seni Grafis merupakan seni murni dua dimensi dikerjakan dengan teknik cetak baik yang bersifat konvensional maupun melalui penggunaan teknologi canggih. Teknik cetak konvensional antara lain : 1) Cetak Tinggi ( Relief Print ) : wood cut print, wood engraving print, lino cut print, kolase print ; 2) Cetak Dalam ( Intaglio ) : dry point, etsa, mizotint,sugartint ; (3) sablon ( silk screen ). Teknik Cetak dengan teknologi modern, misalnya offset dan digital print. d. Seni keramik termasuk seni murni tiga dimensi sebagai karya bebas yang tidak terikat pada bentuk fungsional. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.1. Seni Lukis Gambar 5.2. Seni Patung
  • 281. 291 Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.3. Seni Lukis Gambar 5.4. Seni Patung 5.1.2. Desain Di zaman modern segala benda dan bangunan yang dibutuhkan manusia, umumnya merupakan karya desain, baik dengan pendekatan estetis, maupun pendekatan fungsional. Istilah desain mengalami perluasan makna, yaitu sebagai kegiatan manusia yang berupaya untuk memecahkan masalah kebutuhan fisik. Berbeda dengan karya seni murni, desain merupakan suatu aktivitas yang bertitik tolak dari unsur-unsur obyektif dalam mengekspresikan gagasan visualnya. Unsur-unsur obyektif suatu karya desain adalah adanya unsure rekayasa (teknologi), estetika (gaya visual), prinsip sains (fisika), pasar (kebutuhan masyarakat), produksi (industri), bahan (sumber daya alam), budaya (Sikap, mentalitas, aturan, gaya hidup), dan lingkungan (social). Unsur objektif yang menjadi pilar sebuah karya desain dapat berubah tergantung jenis desain dan pendekatan. Cabang-cabang desain yang kita kenal antara lain ada di bawah ini : a. Desain Produk (Industrial Design) Desain produk adalah cabang seni rupa yang berupaya untuk memecahkan persoalan kebutuhan masyarakat akan peralatan dan benda sehari-hari untuk menunjang kegiatannya, seperti : mebel, alat rumah tangga, alat transportasi, alat tulis, alat makan, alat kedokteran, perhiasan, pakaian, sepatu, pengatur waktu, alat kebersihan, cindera mata, kerajinan, mainan anak, bahkan perkakas pertukangan.
  • 282. 292 Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.5. Kursi hasil Desain Produk b. Desain Grafis/ Desain Komunikasi Visual Desain grafis adalah bagian dari seni rupa yang berupaya untuk memecahkankebutuhan masyarakat akan komunikasi rupa yang dicetak, seperti poster, brosur, undangan, majalah, surat kabar, logo perusahan, kemasan, buku, dan bhkan juga cerita bergambar (komik), ilustrasi, dan krikatur,. Desain grafis kemudian mengalami perkembangan sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Kini cabang seni rupa ini dikenal dengan nama desain komunikasi visual dengan penambahan cakupannya meliputi multimedia dan fotografi. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.6. Desain Grafis berupa Poster
  • 283. 293 c. Desain arsitektur Terdapat dua pandangan yang berbeda terhadap dunia arsitektur. Yakni, pandangan yang menempatkan arsitektur sebagai bidang keahlian teknik (keinsinyuran) dan pandangan yang menempatkan arsitektur sebagai bagian dari seni. Secara umum, desain asitektur adalah suatu kegiatan yang berupaya untuk memecahkan akan kebutuhuhan hunian masyarakat yang indah dan nyaman. Seperti rumah tinggal, perkantoran, sarana relaksasi, stadion olah raga, rumah sakit, tempat ibadah, bangunan umum, hingga bangunan industri. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.7. Perkantoran Hasil Desain Arsitektur Modern d. Desain interior Desain Interior adalah suatu cabang seni rupa yang berupaya untuk memecahkan kebutuhan akan ruang yang nyaman dan indah dalam sebuah hunian, seperti ruang hotel, rumah tinggal, bank, museum, restoran, kantor, pusat hiburan, rumah sakit, sekolah, bahkan ruang dapur dan kafe. Banyak yang berpandangan bahwa desain interior merupakan bagian dari arsitektur dan menjadi kesatuan yang utuh dengan desain tata ruang secara keseluruhan. Namun, pandangan ini berubah ketika profesi desain interior berkembang menjadi ilmu untuk merancang ruang dalam dengan pendekatan-pendekatan keprofesionalan. Dunia desain berkembang sejalan dengan kemajuan kebudayaan manusia. Masyarakat juga mengenal desain multimedia. Cabang desain ini berkembang sejalan dengan tumbuhnya teknologi komputer dan dunia pertelevisian.
  • 284. 294 Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.8. Desain Interior Ruang Keluarga 5.1.3. Kriya Perkembangan dalam dunia seni rupa, adalah munculnya kriya sebagai bagian tersendiri yang terpisah dari seni rupa murni. Jika sebelumnya kita mengenal istilah seni kriya sebagai bagian dari seni murn, kita mengenal istilah kriya atau ada pula yang menyebutnya kriya seni. Kriya merupakan pengindonesiaan dari istilah Inggris Craft, yaitu kemahiran membuat produk yang bernilai artistik dengan keterampilan tangan, produk yang dihasilkan umumnya eksklusif dan dibuat tunggal, baik atas pesanan ataupun kegiatan kreatif individual. Ciri karya kriya adalah produk yang memiliki nilai keadiluhungan baik dalam segi estetik maupun guna. Sedangkan karya kriya yang kemudian dibuat misal umumnya dikenal sebagai barang kerajinan Sumber : Indonesia Indah, Kain-kain Non Tenun Indonesia Gambar 5.9. Batik Sebagai Seni Kriya
  • 285. 295 5.2. Dasar-dasar Seni Rupa Dalam proses berkarya, diperlukan penyusunan unsur-unsur atau elemen suatu karya yang sesuai dengan prinsip-prinsip komposisi yang harmonis 5.2.1. Unsur-unsur Seni Rupa Unsur-unsur dasar karya seni rupa adalah unsur-unsur yang digunakan untuk mewujudkan sebuah karya seni rupa. Unsur-unsur itu terdiri dari : a. Titik /Bintik Titik/bintik merupakan unsur dasar seni rupa yang terkecil. Semua wujud dihasilkan mulai dari titik. Titik dapat pula menjadi pusat perhatian, bila berkumpul atau berwarna beda.Titik yang membesar biasa disebut bintik. b.Garis Garis adalah goresan atau batas limit dari suatu benda, ruang, bidang, warna, texture, dan lainnya. Garis mempunyai dimensi memanjang dan mempunyai arah tertentu, garis mempunyai berbagai sifat, seperti pendek, panjang, lurus, tipis, vertikal, horizontal, melengkung, berombak, halus, tebal, miring, patah-patah, dan masih banyak lagi sifat-sifat yang lain. Kesan lain dari garis ialah dapat memberikan kesan gerak, ide, simbol, dan kode-kode tertentu, dan lain sebagainya. Pemanfaatan garis dalam desain diterapkan guna mencapai kesan tertentu, seperti untuk menciptakan kesan kekar, kuat simpel, megah ataupun juga agung. Beberapa contoh symbol ekspresi garis serta kesan yang ditimbulkannya, dan tentu saja dalam penerapannya nanti disesuaikan dengan warna-warnanya (gambar 5.5 )
  • 286. 296 Sumber : Dasar-dasar Tata Rupa dan Desain (Nirmana) Gambar 5.10. Jenis, dan Karakter Garis
  • 287. 297 c. Bidang Bidang dalam seni rupa merupakan salah satu unsur seni rupa yang terbentuk dari hubungan beberapa garis. Bidang dibatasi kontur dan merupakan 2 dimensi, menyatakan permukaan, dan memiliki ukuran Bidang dasar dalam seni rupa antara lain, bidang segitiga, segiempat, trapesium, lingkaran, oval, dan segi banyak lainnya d. Bentuk Bentuk dalam pengertian bahasa, dapat berarti bangun (shape) atau bentuk plastis (form). Bangun (shape) ialah bentuk benda yang polos, seperti yang terlihat oleh mata, sekedar untuk menyebut sifatnya yang bulat, persegi, ornamental, tak teratur dan sebagainya. Sedang bentuk plastis ialah bentuk benda yang terlihat dan terasa karena adanya unsur nilai (value) dari benda tersebut, contohnya lemari. Lemari hadir di dalam suatu ruangan bukan hanya sekedar kotak persegi empat, akan tetapi mempunyai nilai dan peran yang lainnya. Bentuk atau bangun terdiri dari bentuk dua dimensi (pola) dan bentuk tiga dimensi. Bentuk dua dimensi dibuat dalam bidang datar dengan batas garis yang disebut kontur. Bentuk-bentuk itu antara lain segitiga, segi empat, trapezium dan lingkaran. Sedang bentuk tiga dimensi dibatasi oleh ruang yang mengelilinginya dan bentuk-bentuk itu antara lain limas, prisma, kerucut, dan silinder. Sifat atau karakteristik dari tiap bentuk dapat memberikan kesan- kesan tersendiri seperti : 1) Bentuk teratur kubus dan persegi, baik dalam dua atau tiga dimensi memberi kesan statis, stabil, dan formal. Bila menjulang tinggi sifatnya agung dan stabil. 2) Bentuk lengkung bulat atau bola memberi kesan dinamis, labil dan bergerak. 3) Bentuk segitiga runcing memberi kesan aktif, energik, tajam, dan mengarah.
  • 288. 298 Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.11. Bentuk 3 dimensi yang dinamis Dalam seni rupa, bentuk pada dasarnya dibagi menjadi tiga, yaitu : 1) Bentuk figuratif Bentuk figuratif adalah bentuk-bentuk yang berasal dari alam (nature). Bentuk-bentuk itu seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia ataupun alam lainnya. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.12. Bentuk Figuratif 2) Bentuk yang diabstraktif Bentuk diabstraktif adalah bentuk figuratif yang telah mengalami perubahan atau penggayaan bentuk yang kemudian cenderung kita sebut dengan istilah stilasi atau deformasi. Di sini bentuk figuratif diubah hingga tinggal sarinya (esensinya) saja dan menjadi bentuk baru yang kadang- kadang hampir kehilangan ciri-ciri alaminya sama sekali. Contoh bentuk ini, misalnya abstraksi manusia menjadi topeng atau wayang, abstraksi binatang
  • 289. 299 seperti burung garuda dan abstraksi tumbuhan seperti pada gambar-gambar hiasan. Penggunaan bentuk-bentuk ini umumnya diterapkan pada karya-karya seni dekoratif seperti pada batik, hiasan keramik, karya ukiran, dan lain-lain. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.13. Pengayaan Bentuk (Diabstraktif) 3) Bentuk abstrak Bentuk abstrak sering disebut dengan bentuk non figuratif, artinya bentuk-bentuk yang lahir bukan dari alam melainkan penyimpangan dari bentuk-bentuk alam. Ada tiga macam bentuk abstrak, yaitu bentuk abstrak murni, abstrak simbolis, dan abstrak filosofis. Bentuk abstrak murni ialah bentuk-bentuk yang sering disebut dengan bentuk-bentuk geometris atau bentuk alam benda, misalnya segitiga, prisma, kursi, lemari, sepatu, buku, rumah, dan lain-lain. Bentuk simbolis, misalnya huruf, tanda baca, rambu-rambu, lambang, dan lain-lain. Sedang abstrak filosofis ialah bentuk-bentuk yang mempunyai nilai-nilai tertentu, misalnya agama, kepercayaan, dan lainnya. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.14. Non Figuratif (Abstrak)
  • 290. 300 e. Ruang Ruang dalam arti yang luas adalah seluruh keluasan, termasuk di dalamnya hawa udara. Dalam pengertian yang sempit ruang dibedakan menjadi dua, yaitu ruang negatif dan ruang positif. Ruang negatif adalah ruang yang mengelilingi wujud bentuk, sedang ruang positif adalah ruang yang diisi atau ditempati wujud bentuk. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.15. Ruang positif dan negatif f. Warna Warna merupakan unsur penting dan paling dominant dalam sebuah penciptaan karya desain. Melalui warna orang dapat menggambarkan suatu benda mencapai kesesuaian dengan kenyataan yang sebenarnya. Warna dapat dikelompokkan berdasarkan jenis warna, sifat warna, dan makna warna. 1) Jenis warna Dalam sistem Prang (The Prang System), warna dalam hal ini adalah pigmen yang dapat dikelompokkan sebagai jenis-jenis warna sebagai berikut :
  • 291. 301 Kuning Warna primer, yaitu tiga warna pokok yakni merah, biru, dan kuning. Warna sekunder / biner, yaitu perpaduan antara 2 warna primer Merah Biru dan menghasilkan warna hijau, jingga dan ungu. Warna intermediate, yaitu percampuran antara warna primer dengan warna sekunder, menghasilkan warna kuning hijau, hijau-biru, biru-ungu, merah-ungu, merah-jingga, dan kuning-jingga. Warna tertier, yaitu percampuran antara warna sekunder dan warna intermediate dan menghasilkan sebanyak 12 warna. Warna quarterner, yaitu Sumber : Dasar-dasar Tata Rupa dan Desain (Nirmana) pencampuran warna intermediate Gambar 5.16 Hue dalam lingkaran warna dengan warna tertier dan menghasilkan sebanyak 24 warna. 2) Sifat warna Sifat warna dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : hue, value, dan intensity. a) Hue Hue adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna, seperti merah, biru, kuning, hijau, coklat, ungu, jingga, dan warna lainnya. Perbedaan antara merah dengan biru, atau merah dengan kuning adalah perbedaan dalam hue. b) Value Value adalah istilah untuk menyatakan gelap terangnya warna atau harga dari hue. Untuk mengubah value, misalnya dari merah normal ke merah muda dapat dicapai dengan cara menambah
  • 292. 302 putih atau mempercair warna tersebut hingga memberi kesan terang. Dan untuk memberi kesan gelap misalnya merah tua dapat dicapai dengan menambah hitam. Value yang berada dipertengahan disebut middle value dan yang berada di atas middle value disebut high value, sedang yang berada dibawahnya disebut low value. Value yang lebih terang dari warna normal disebut tint dan yang lebih gelap disebut shade. Close value adalah value yang berdekatan atau bersamaan dan kelihatan lembut dan terang. c) Intensity Intensity atau chroma adalah istilah untuk menyatakan cerah atau suramnya warna, kualitas atau kekuatan warna. Warna-warna yang intensitasnya penuh nampak sangat mencolok dan menimbulkan efek tegas, sedang warna-warna yang intensitasnya rendah nampak lebih lembut. Berdasarkan paduan warna (colour scheme), warna dapat dibagi dalam tiga tipe yakni : Warna monokromatrik adalah tingkatan warna dari gelap ke terang dalam urutan satu warna, misalnya urutan dari merah tua sampai ke merah yang paling muda. Warna Complementer, yaitu dua warna yang berlawanan dalam kedudukan berhadap- hadapan, memiliki kekuatan berimbang, misalnya kuning kontras ungu, biru kontras jingga, dan merah kontras hijau. Warna analogus adalah tingkatan warna dari gelap ke terang dalam urutan beberapa warna, misalnya urutan dari biru, biru kehijauan, hijau, Sumber : Seni Rupa dan Desain hijau kekuningan, dan kuning. Gambar 5.17. Contoh intensitas warna
  • 293. 303 3) Makna Warna Sebagaimana unsur desain yang lain, warna juga mempunyai makna yang berbeda, antara lain sebagai berikut : Merah mempunyai makna api, panas, marah, bahaya, aksi, gagah, berani, hidup, riang dan dinamis. Putih mempunyai makna suci, mati, bersih, tak berdosa, dan jujur. Kuning mempunyai makna matahari, cerah, sukacita, terang, iri, dan benci. Kuning emas mempunyai makna masyhur, agung, luhur, dan jaya. Coklat mempunyai makna stabil dan kukuh. Jingga mempunyai makna masak, bahagia, senja, riang, mashur, dan agung. Biru mempunyai makna tenang, kenyataan, damai, kebenaran, kesedihan dan setia. Hijau mempunyai makna dingin, sejuk, tenang, segar, mentah, pertumbuhan, dan harapan. Merah muda mempunyai makna romantis, dan ringan. Ungu mempunyai makna kekayaan, berkabung, bangsawan, mewah, berduka cita, dan mengandung rahasia. Hitam mempunyai makna tragedi, kematian, duka, kegelapan, gaib, tegas, dan dalam. Pemaknaan warna dipengaruhi oleh aspek budaya setempat. Pemaknaan warna yang terkait dengan warna sebagai simbol, di masing-masing daerah atau wilayah, akan berbeda, sesuai dengan pemaknaannya dalam budaya setempat. Contoh : bendera tanda adanya kematian, di Indonesia berbeda sesuai daerah setempat. Di Yogjakarta, bendera merah, di Jakarta – kuning, di Sulawesi – putih, di Sumatera – merah, dan sebagainya.Di negeri China, warna merah berarti Cinta, sedangkan di Indonesia berarti marah atau berani.
  • 294. 304 g.Tekstur Tekstur adalah nilai raba pada suatu permukaan, baik itu nyata maupun semu. Suatu permukaan mungkin kasar, mungkin juga halus, mungkin juga lunak mungkin juga kasap atau licin dan lain-lain. Ada dua macam tekstur yakni tekstur nyata dan tekstur semu, sebagai berikut : 1) Tekstur nyata Tekstur nyata adalah tekstur fisik suatu benda secara nyata yang dikarenakan adanya perbedaan permukaan suatu benda. Misalnya tekstur wool berbeda dengan kapas, kain sutera berbeda dengan plastik, dan lain sebagainya. Tekstur ini dapat dikelompokkan dalam tekstur alam, tekstur buatan dan tekstur reproduksi. Tekstur alam adalah tekstur yang berasal langsung dari alam, misalnya daun, kulit kayu, permukaan batu, dan lainnya. Tekstur buatan adalah tekstur yang tercipta dari susunan benda-benda alam, seperti tikar (dari daun yang disusun), goni (dari pasir dan kertas). Sedangkan tekstur reproduksi adalah tekstur yang dibuat melalui reproduksi benda yang sebenarnya, misalnya wallpaper. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.18. Tekstur halus
  • 295. 305 2) Tekstur semu Tekstur semu adalah tekstur yang terlihat saja berbeda tetapi bila diraba ternyata sama saja. Tekstur ini hadir karena adanya unsur gelap terang atau karena unsur perspektif. Selain nilai raba pada suatu permukaan, tekstur juga dapat menimbulkan kesan berat dan ringan. Sebuah kubus dari besai yang berat bila dibagian luarnya dilapisi dengan karton maka akan memberi kesan ringan dan kosong. 5.2.2. Prinsip Penyusunan Karya Seni Rupa Prinsip adalah asas, prinsip dalam penyusunan karya seni rupa adalah asas dalam menyusun sebuah karya seni rupa, sehingga karya seni yang diciptakan mencapai sasaran yang diinginkan. Ada enam prinsip penyusunan yang perlu diperhatikan oleh para pencipta karya seni, yaitu : a. Proporsi Proporsi artinya perbandingan ukuran keserasian antara satu bagian dengan bagian yang lainnya dalam suatu benda atau susunan karya seni (komposisi). Untuk mendapatkan proporsi yang baik, kita harus selalu membandingkan ukuran keserasian dari benda atau susunan karya seni tersebut. Misalnya, membandingkan ukuran tubuh dengan kepala, ukuran kursi dengan meja, ukuran objek dengan ukuran latar, dan kesesuaian ukuran objek dengan objek lainnya. Karya seni yang tidak proporsional tampak tidak menarik dan kelihatan janggal. Untuk itu dalam penciptaannya harus dibuat sesuai dengan proporsi yang sebenarnya. Gambar berikut memperhatikan contoh karya seni yang proporsional dan yang tidak proporsional. Sumber : Dasar-dasar Tata Rupa dan Desain (Nirmana) Gambar 5.19. Keserasian proporsi sebuah bentuk trimatra
  • 296. 306 b. Keseimbangan (balans) Keseimbangan (balans) adalah kesan yang didapat karena adanya daya tarik yang sama antara satu bagian dengan bagian lainnya pada susunan karya seni. Balans didapat dari dua kesan, yakni karena adanya ukuran / bentuk dan karena adanya warna. Karena adanya ukuran / bentuk disebut balans ukuran / bentuk dan karena adanya warna disebut balans warna. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.20. Keseimbangan warna pada sebuah kursi Bila dilihat dari bentuk susunannya, balans dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1) Balans Simetris Balans simetris atau balans formal adalah balans yang susunan unsur-unsurnya pada tiap-tiap sisi dari pusatnya adalah benar-benar sama. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.21. Keseimbangan simetris
  • 297. 307 2) Balans asimetris Balans asimetris atau balans informal adalah balans yang susunan unsur-unsurnya pada tiap-tiap sisi ditempatkan berbeda, namun susunan tersebut bisa memberikan kesan seimbang. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.22. Keseimbangan asimetris yang dinamis 3) Balans radial Balans radial atau memusat / melingkar adalah balans yang susunan unsur-unsurnya melingkari satu pusat yang berbentuk roda. Sumber : Dasar-dasar Tata Rupa dan Desain (Nirmana) Gambar 5.23. Keseimbangan bentuk dan warna
  • 298. 308 c. Irama (Ritme) Irama (ritme) adalah pengulangan yang terus menerus dan teratur dari suatu unsur atau beberapa unsur. Untuk mendapatkan gerak irama (ritmis)dapat diperoleh dengan cara : g. Melalui pengulangan bentuk (repetisi) h. Melalui penyelangan dan pergantian (variasi) i. Melalui progresi atau gradasi, yakni suatu urutan atau tingkatan seperti dari besar makin lama makin makin mengecil atau dari gelap sekali, kemudian menurun menjadi gelap dan akhirnya menjadi terang. j. Melalui gerak garis berkesinambungan (kontinu) SuSumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.24. Irama pada bangku panjang terlihat pada bentuk yang berkelok-kelok d. Kontras Kontras adalah kesan yang didapat karena adanya dua hal yang berlawanan, misalnya adanya bentuk, ukuran, warna, atau tekstur yang berbeda. Kontras yang ditimbulkan karena adanya bentuk yang berbeda disebut kontras bentuk. Jika ukurannya yang berbeda maka disebut kontras ukuran. Bila warnanya yang berbeda maka disebut kontras warna. Dan apabila tekstur yang berbeda, maka disebut Kontras tekstur. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.25. Kontras Warna
  • 299. 309 e. Klimaks Klimaks disebut juga dominan, adalah fokus dari susunan karya seni yang mendatangkan perhatian. Oleh sebab itu, istilah klimaks sering disebut dengan istilah centre of interest (pusat perhatian). Untuk menciptakan pusat perhatian pada karya desain, tempatkan salah satu unsur secara tersendiri atau berbeda dari unsur lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk kata klimaks adalah emphasize (penekanan), centre point dan fokus. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.26. Klimaks pada karya f. Kesatuan (Unity) Kesatuan (unity) adalah prinsip utama dalam hal penciptaan bentuk. Dengan kesatuan, elemen seni rupa dapat disusun sedemikian rupa hingga menjadi satu kesatuan bentuk yang terorganisir dari setiap unsur desain hingga tercapailah suatu karya seni atau sebuah karya desain yang menarik dan harmonis.
  • 300. 310 g. Komposisi Komposisi merupakan suatu susunan unsur-unsur seni rupa berdasarkan prinsip seni rupa. Susunan tersebut dikatakan harmonis, apabila tersusun sesuai prinsip-prinsip seni rupa. Susunan yang harmonis tersebut menghasilkan komposisi seni rupa yang baik. 5.3. Apresiasi Karya Seni Rupa 5.3.1 Pengertian dan Fungsi Apresiasi Apresiasi berasal dari bahasa latin appretiatus yang lebih kurang mempunyai arti mengerti serta menyadari sepenuhnya hingga mampu menilai semestinya. Dalam hubungannya dengan seni kata apresiasi mempunyai arti mengerti dan menyadari tentang hasil karya seni serta menjadi peka terhadap nilai estetisnya, sehingga mampu menikmati dan menilai karya seni tersebut. Dalam pengertian yang lebih luas, apresiasi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang menikmati, mengamati, menghayati serta menilai sekaligus memberi masukan berupa kritikan yang objektif tanpa kehilangan rasa simpati terhadap sebuah karya seni. Apresiasi mempunyai tiga tingkatan, yaitu apresiasi empatik, apresiasi estetis, dan apresiasi kritis. Apresiasi empatik adalah apresiasi yang hanya menilai baik dan kurang baik hanya berdasarkan pengamatan belaka. Apresiasi atau penilaian ini bias any dilakukan oleh orang awam yang tidak punya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang seni. Apresiasi estetis adalah apresiasi untuk menilai keindahan suatu karya seni. Apresiasi pada tingkat ini dilakukan seseorang setelah mengamati dan menghayati karya seni secara mendalam. Apresiasi kritis adalah apresiasi yang dilakukan secara ilmiah dan sepenuhnya bersifat keilmuan dengan menampilkan data secara tepat, dengan analisis, interpretasi, dan peneilaian yang bertanggung jawab. Apresiasi ini biasanya dilakukan oleh para kritikus yang memang secara khusus mendalami bidang tersebut. Dalam suatu apresiasi akan terjalin komunikasi antara si pembuat karya seni (seniman) dengan penikmat karya seni (apresiator). Dengan adanya komunikasi timbal-balik ini, seniman diharap mampu mengembangkan kemampuannya untuk dapat membuat karya seni yang lebih bermutu.
  • 301. 311 5.3.2. Aliran-aliran dalam Seni Rupa Berbagai aliran dalam seni rupa berkembang terus dari jaman ke jaman, antara lain : a. Naturalisme Aliran ini merupakan suatu aliran seni rupa yang mengutamakan kesesuaian dengan keadaan mahluk hidup, alam, dan benda mati sebenarnya. Contoh yang paling terlihat adalah pada lukisan potret diri, pemandangan alam, atau landscape. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.27. Lukisan Naturalisme b. Realisme Aliran ini menunjukkan suatu keadaan sosial yang sesungguhnya dan biasanya memprihatinkan dan sedang bergejolak di dunia atau suatu tempat tertentu. Contoh aliran seni rupa ini antara lain melukiskan kemiskinan, kesedihan, atau peristiwa yang memilukan. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.28. Lukisan Realisme
  • 302. 312 c. Romantisme Aliran ini umumnya ditandai oleh tema-tema yang fantastis, penuh khayal, atau petualangan para pahlawan purba. Juga banyak menampilkan berbagai perilaku dan karakter manusia yang dilebih- lebihkan. Para pelukis ini antara lain Eugene delacroik (1798-1963), Jean Baptiste Camille Corot(1796-1875) dan Rousseau (1812-1876). Gaya ini juga berkembang di Jerman, Belanda, dan Perancis. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.29. Lukisan Romantisme d. Impresionisme Aliran ini dalam dunia seni rupa berawal dari ungkapan yang mengejek pada karya Claude Monet (1840-1926) pada saat pameran di Paris tahun 1874. Karya ini menggambarkan bunga teratai dipagi hari yang ditampilkan dalam bentuk yang samar dan warna kabur dan oleh sebagian kritikus seni disebut sebagai “impresionistik “, suatu lukisan yang menampilakan bentuk yang sederhana dan terlampau biasa. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.30. Lukisan Impresionisme
  • 303. 313 e. Ekspresionisme Adalah suatu aliran dalam seni rupa yang melukiskan suasana kesedihan, kekerasan, kebahagiaan, atau keceriaan dalam ungkapan rupa yang emosional dan ekspresif. Salah seorang pelukis yang beraliran Ekspresionisme adalah Vincent van Gogh (1853-1890). Lukisan lukisannya penuh dengan ekpresi gejolak jiwa yang diakibatkan oleh penderitaan dan kegagalan dalam hidup.salah satu lukisannya yang terkenal adalah “Malam Penuh Bintang “(1889), yang mengekpresikan gairah yuang tinggi sekaligus perasaan kesepian. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.31. Lukisan Ekspresionisme f. Kubisme Kubisme adalah suatu aliran dalam seni rupa yang bertitik tolak dari penyederhanaan bentuk-bentuk alam secara geometris (berkotak-kotak). Pada tahun 1909 berkembang aliran kubisme Analistis yang mengembangkan konsep dimensi empat dalam seni lukis. Dan dimengerti sebagai konsep dimensi ruang dan waktu dalam lukisan. Pada setiap sudut lukisan terlihat objek yang dipecah-pecah dengan posisi waktu yang berbeda. Sedangkan Kubisme Sintetis, pelukisannya disusun dengan bidang yang berlainan yang saling tumpang dan tembus.
  • 304. 314 Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.32. Lukisan Kubisme g. Konstruksifisme Aliran seni ini awalnya berkembang di Rusia penggagasnya antara lain Vladimir Tattin, Antoine Pevsner, dan Naum Gabo. Gaya ini mengetengahkan berbagai karya seni berbentuk tiga dimensional namun wujudnya abstrak. Bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan modern seperti besi beton, kawat, bahkan plastik. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.33. Lukisan Konstruksifisme
  • 305. 315 h. Abstrakisme Seni ini menampilkan unsur-unsur seni rupa yang disusun tidak terbatas pada bentuk-bentuk yang ada di alam. Garis, bentuk, dan warna ditampilkan tanpa mengindahkan bentuk asli di alam. Kadinsky dan Piet Mondrian marupakan sebagian perupa beraliran abstrak ini. Seni Abstrak ini pada dasarnya berusaha memurnikan karya seni, tanpa terikat dengan wujud di alam. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.34. Lukisan Abstrakisme i. Dadaisme Adalah gerakan seni rupa modern yang memiliki kecendrungan menihilkan hukum–hukum keindahan yang ada.Ciri utama gaya ini adalah paduan dari berbagai karya lukisan, patung atau barang tertentu dengan menambahkan unsur rupa yang tak lazim sebagai protes pada keadaan sekitarnya, seperti lukisan reproduksi lukisan “Monalisa “ karya Leonardo da Vinci tetapi diberi kumis, atau petusan laki-laki diberi dudukan dan tandatangan, kemudian dipamerkan di suatu galeri. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.35. Lukisan Dadaisme
  • 306. 316 j. Surealisme Adalah penggambaran dunia fantasi psikologis yang diekspresikan secara verbal, tertulis maupun visual. Bentuk-bentuk alam dideformasi, sehingga penuh fantasi dan di luar kewajaran. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.36. Lukisan Surealisme k. Elektisisme Yaitu gerakan seni awal abad ke- 20 yang mengkombinasikan berbagai sumbergaya yang ada di dunia menjadi wujud seni modern. Banyak yang menjadi sumber inspirasi dari gaya seni ini. Antara lain, gaya seni primitive sejumlah suku bangsa di Afrika, karya seni pra-sejarah, seni amerika Latin, gaya esetik Mesir Purba, dan Yunani Kuno. Tokoh-tokoh seni yang menerapkan gaya ini antasra lain Picasso (disamping sebagai tokoh Kubisme), Paul Gaugguin, Georges Braque, Jean Arp, Henry Moore, dan Gabo. Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.37. Lukisan Elektisisme
  • 307. 317 l. Posmodernisme Istilah seni ini umumnya disebut seni kontemporer yaitu mengelompokan gaya-gaya seni rupa yang sezaman dengan pengamat atau yang menjadi kecenderungan popular dan dipilih oleh para seniman dalam rentang lima puluh tahun terakhir hingga sekarang. Gaya ini sering diartikan sebagai aliran yang berkembang setelah seni modern. Jika dalam seni modern lebih memusatkan kepada ekspresi pribadi dan penggalian gaya baru, dalam seni Posmodern ungkapan seni lebih ditekankan kepada semantika (makna rupa) dan semiotika (permainan tanda rupa). Sumber : Seni Rupa dan Desain Gambar 5.38. Lukisan Elektisisme 5.3.3. Aspek-aspek Penilaian dalam Apresiasi Karya Seni Rupa Untuk mengadakan penilaian terhadap karya seni rupa terapan, berikut adalah beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran atau kriteria sebuah penilaian. Dari aspek atau ukuran penilaian yang akan dibahas nanti, tidak mutlak semua harus digunakan, karena tidak semua karya seni rupa cocok dengan ukuran penilaian tersebut. Aspek-aspek atau ukuran penilaian itu adalah : a) Aspek Ide atau Gagasan Proses kreatif dalam dunia kesenirupaan merupakan suatu proses yang timbul dari imajinasi menjadi kenyataan. Proses mencipta suatu benda melalui pikiran, dan melaksanakannya melalui proses sehingga masyarakat dapat menikmati dan memanfaatkannya. Ekspresi yang muncul akibat adanya rangsangan dari luar dan ilham dari dalam menciptakan suatu keunikan sendiri. Keunikan ekspresi pribadi itulah yang disebut kreativitas.
  • 308. 318 b) Aspek penguasaan teknis Teknik adalah cara untuk mewujudkan suatu ide menjadi hal-hal yang kongkrit dan punya nilai. Ketidaktrampilan dalam penggunaan teknik akan berdampak pada karya yang dihasilkan. Demikian dalam hal pemilihan teknik juga harus menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan karya seni. Kesalahan dalam pemilihan teknik, juga akan berdampak pada karya seni yang dihasilkan. Itulah sebabnya aspek penguasaan teknik perlu dipertimbangkan dalam penilaian sebuah karya seni. c) Aspek penguasaan bahan 0 Setiap bahan mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda, misalnya sifat rotan adalah lentur, logam adalah keras, tanah liat adalah plastis dan masih banyak lagi. Untuk itu seorang pencipta karya seni harus tahu betul sifat dan karakter bahan yang digunakan. Kesalahan dalam memilih bahan juga akan berakibat pada hasil karya yang dibuatnya. Untuk itulah aspek penguasaan bahan dalam penilaian karya seni rupa terapan patut dipertimbangkan. d) Aspek kegunaan Sebagaimana dalam aspek pertimbangan penciptaan karya seni terapan, perlu mempertimbangkan aspek kegunaan (applied), maka dalam penilaian juga perlu mempertimbangkan aspek tersebut. Hal ini sangat penting mengingat fungsi utama dalam seni rupa terapan adalah kegunaan. Segi-segi penilaian yang perlu dipertimbangkan dalam kegunaan adalah segi kenyamanan dalam penggunaan, segi keluwesan/fleksibelitas dan segi keamanan dalam penggunaannya. e) Aspek wujud (form) Aspek wujud (form) adalah aspek yang berhubungan erat dengan prinsip-prinsip komposisi. Prinsip-prinsip komposisi itu meliputi proporsi, keseimbangan (balance), irama (ritme), kontras, klimaks, kesatuan (unity). Prinsip itulah yang menjadi ukuran untuk menilai karya seni dari segi wujud atau form. f) Aspek gaya atau corak Karya seni adalah karya perseorangan, ia lahir dari cita, visi, dan interpretasi individual seorang seniman. Seorang yang mempunyai watak yang keras akan tercermin karya-karya yang keras baik dalam segi bentuk, pewarnaan ataupun dalam pemilihan dan pengelolahan tema. Gaya atau corak seseorang dalam menciptakan karya seni, perlu juga dipertimbangkan dalam penilaian pada sebuah apresiasi.
  • 309. 319 g) Aspek kreativitas Kreativitas yang dimaksud di sini adalah kreativitas yang bersangkutan dengan karya seni. Banyak cara untuk menemukan kreativitas, misalnya dalam penggunaan media, bahan, alat, dan teknik yang berbeda dari yang sebelumnya. Kreativitas juga bisa didapat dengan menampilkan bentuk-bentuk baru atau memadukan unsur baru dengan yang lama. Bila-hal- hal di atas dapat dicapai pada penciptaan karya seni rupa, khususnya karya seni rupa terapan, maka penilaian dari aspek ini menjadi penting untuk dipertimbangkan. h) Aspek tempat Pertimbangan tempat di mana karya itu akan diletakkan harus mendapat perhatian dari seorang perancang karya seni rupa terapan. Seperangkat meja kursi makan dari rotan yang dibuat untuk keperluan rumah tangga, tentunya harus berbeda dengan seperangkat meja kursi makan dari rotan yang dibuat untuk keperluan suatu rumah makan besar. i) Aspek selera dan agama Seorang seniman yang ingin membuat karya seni terapan yang dapat digunakan oleh orang banyak, harus dapat menyesuaikan karyanya dengan selera dan agama yang dianut oleh pasar. Dalam hal ini selera harus dipertimbangkan hal-hal yang sedang menjadi tren di masyarakat, misalnya dari segi model/bentuk, warna, ukuran, bahan yang digunakan. Dalam hal agama, hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan, misalnya penerapan motif pada karya seni yang diciptakan, motif Bali akan lebih cocok bagi mereka yang beragama Hindu. Hal-hal seperti itu penting karena jika tidak demikian karya seni yang diciptakan tidak akan mendapat tempat dihati masyarakat.
  • 310. 320 Tabel 5.1. Aspek-aspek Penilaian dalam Apresiasi Karya Seni Rupa Standar Aspek-aspek yang Dinilai 1 2 3 4 5 Aspek Ide/Gagasan Aspek Penguasaan teknis Aspek Penguasaan Bahan Aspek Kegunaan Aspek Bentuk / Wujud - proporsi - keseimbangan - irama - kontras - klimaks - kesatuan Aspek Gaya atau Corak Aspek Kreativitas Aspek Tempat Aspek Selera dan Agama Sumber : Seni Rupa dan Desain 5.4. Pameran Karya Seni Rupa Aktivitas seni tidak hanya terbatas pada proses penciptaan karya seni, tetapi bisa merembet ke aktivitas seni lainnya, dan salah satu dari aktivitas lain itu adalah melakukan kegiatan pameran karya seni rupa. 5.4.1. Kegunaan Pameran Seni Rupa di Kelas atau di Sekolah Pameran merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam bidang kesenirupaan, karena kegiatan pameran baik sekali kegunaannya baik bagi siswa, seniman, pengamat seni rupa, maupun bagi perkembangan seni rupa pada umumnya. Melalui pameran, seorang siswa bisa memperkenalkan karya-karyanya kepada masyarakat baik dilingkungan sekolah ataupun masyarakat umum untuk dilihat, dinilai, dikagumi, atau dikritik. 5.4.2. Jenis-Jenis Pameran Pameran karya seni rupa berdasarkan pada ragam jenis karya yang ditampilkan, dibedakan menjadi dua, yaitu pameran homogen dan pameran heterogen. Pameran homogen, artinya pameran yang hanya menampilkan satu karya seni rupa saja, misalnya pameran lukisan, pameran patung, pameran keramik dan lain sebagainya.
  • 311. 321 Pameran heterogen, artinya pameran yang sekaligus menampilkan berbagai jenis karya seni rupa, misalnya pameran seni kriya, pameran lukisan, pameran patung, pameran keramik dan karya seni rupa lainnya dilakukan dalam satu ruang pameran dan dilakukan dalam waktu bersamaan. Pameran seni rupa yang diselenggarakan dalam kaitannya dengan pendidikan seni rupa di sekolah, biasanya merupakan pameran heterogen, karena menampilkan jenis karya seni rupa yang beragam mulai dari lukisan, patung, ukiran, keramik, karya kerajinan, dan karya seni rupa lainnya. Pameran berdasarkan pada jumlah seniman yang tampil, pameran dapat dibedakan ke dalam : a.Pameran perorangan atau pameran tunggal b.Pameran kelompok, baik kelompok seniman dalam satu sanggar atau satu almamater, kelompok seniman dalam satu aliran dan kelompok lainnya. 5.4.3. Manfaat pameran seni rupa di lingkungan sekolah a) Meningkatkan kemampuan berkarya Dengan adanya pameran, karya-karya para siswa akan dilihat oleh masyarakat sehingga para siswa dituntut untuk menghasilkan karyanya yang terbaik. Di sini akan terjadi persaingan yang sehat dan terarah, dan hal ini menjadi pendorong bagi siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam berkarya. b) Dapat melakukan penilaian / evaluasi Pameran merupakan kesempatan bagi guru untuk melihat sejauh mana kemajuan yang dicapai oleh siswanya. Pameran dapat dikatakan menjadi sarana untuk melakukan penilaian atau evaluasi terhadap kemajuan dan perkembangan yang terjadi pada diri siswa. Sehingga penilaian atau evaluasi ini dapat dimasukan dalam perhitungan nilai rapor. Penilaian juga dilakukan oleh pihak luar sekolah seperti orang tua siswa atau masyarakat umum yang mengunjungi pameran tersebut. Dari kesan- pesan yang mereka sampaikan tentunya dapat memberi gambaran sampai sejauh mana keberhasilan pendidikan seni rupa di sekolah tersebut.
  • 312. 322 c) Sebagai sarana apresiasi dan hiburan Di samping sebagai sarana untuk melakukan penilaian atau evaluasi, kegiatan pameran dapat dijadikan sebagai sarana apresiasi. Apresiasi di sini dapat diartikan sebagai penikmatan, pengamatan, penghargaan, atau bisa juga penilaian terhadap karya-karya yang ditampilkan. Penilaian yang dimaksud bukan menilai dengan angka, melainkan suatu proses pencarian nilai-nilai seni, pemahaman isi dan pesan dari karya seni, dan melakukan juga perbandingan-perbandingan terhadap karya seni sehingga nantinya akan didapat sebuah penilaian yang utuh dan komprehensif. Dalam arti yang luas, kegiatan pameran dapat juga diartikan sebagai sarana untuk mendapatkan hiburan. Di sini masyarakat dapat merasakan kesenangan atau empati, merasakan suka duka seperti layaknya menonton film atau menyaksikan pertunjukkan musik dan seni lainnya. d) Melatih siswa untuk bermasyarakat Melaksanakan kegiatan pameran bukanlah kerja perorangan, melainkan kerja kelompok yang melibatkan banyak orang. Jadi, dengan mengadakan pameran seni rupa di sekolah, mendidik para siswa untuk bermasyarakat. Di sini para siswa dapat bekerja sama satu sama lain, melatih untuk menghargai pendapat orang lain, dan dapat pula memberi pendpat terhadap tim kerjanya. 5.4.4. Syarat-syarat Penyelenggaraan Pameran Seni Rupa di Kelas atau di Sekolah Untuk dapat menyelenggarakan pameran karya seni rupa di lingkungan sekolah, ada beberapa hal yang harus dikerjakan, yaitu : a. Mengumpulkan karya yang akan dipamerkan b. Menyiapkan penjaga pameran c. Menyiapkan ruang atau tempat dan perlengkapan pameran d. Menata karya-karya yang akan dipamerkan e. Menyiapkan publikasi dan dokumentasi pameran
  • 313. 323 5.5. Ragam Hias Nusantara Ragam hias nusantara merupakan salah satu dasar untuk dapat mengeksplorasi dan mengembangkan ragam hias Nusantara untuk kebutuhan tekstil pada saat ini. Hasil kreasi ini akan sangat bermanfaat apabila diperuntukkan bagi suatu benda pakai. Kegiatan mengeksplorasi dan mengembangkan pola ragam hias tekstil merupakan hal yang sangat menarik dan menyenangkan. Hal ini akan bertambah nilainya apabila dapat menerapkannya langsung menjadi suatu benda tekstil sesuai dengan keinginan. Langkah awal dari kegiatan ini dimulai dari memilih corak dari ragam hias nusantara yang ada. Kemudian corak ini diolah bentuk, warna dan teksturnya menjadi suatu pola ragam hias. Setelah menjadi suatu pola ragam hias, perlu memikirkan bagaimana pola ini ditata dengan memperhatikan kaidah-kaidah estetis dan arstitik. Dalam upaya menata ragam hias ini, teknik penerapannya perlu menjadi pemikiran karena keunikan setiap teknik akan mempengaruhi penataan pola yang akan lakukan. Keunikan ragam hias nusantara adalah pada penggunaan isen atau tekstur di setiap corak atau sebagai pengisi latar kain. Rinci dan rumit serta padat dengan corak merupakan karakter tekstil nusantara. Hal ini perlu perhatikan agar hasil kreasi nanti tidak kehilangan karakter kenusantaraannya. Makna simbolik dari corak, warna dan penataan keseluruhan pada tekstil perlu menjadi perhatian Anda pula dalam melakukan eksplorasi ini. Mengingat hal itu merupakan kekayaan nusantara yang perlu dilestarikan. Corak meander atau spiral dapat dikembangkan menjadi berbagai motif lain hanya dengan penataan yang berbeda.
  • 314. 324 Sumber : Tekstil, Buku Piloting PSN Gambar 5.39. Motif Meander sebagai motif dasar Hasil pengolahan bentuk, warna dan tekstur corak tertentu disusun ke dalam pola ragam hias yang ukuran dan bentuk keseluruhannya dipengaruhi oleh pola pengulangan yang akan diterapkan. Pola ragam hias dari pengembangan corak dasar dapat diulang dengan beragam teknik, yaitu satu langkah, setengah langkah, diagonal, dan pola pinggir Penataan Pola ragam hias tekstil dapat dikembangkan dan dimodifikasi seperti penataan arah horizontal, vertikal, diagonal, lingkar, radial, dan pinggir. Penataan pola ini perlu di lakukan dengan teliti agar sambungan pada kain tidak terputus.
  • 315. 325 Sumber : Tekstil, Buku Piloting PSN Gambar 5.40. Pembentukan motif pada kain dengan teknik ikat celup Sumber : Indonesia Indah, Kain-kain Non Tenun Indonesia Gambar 5.41. Beberapa contoh ragam hias pada kain ikat celup
  • 316. 326 5.6. Ekspresi Melalui Kreasi Seni Kriya Pembelajaran seni rupa secara umum bertujuan untuk mengembangkan kemampuan apresiasi, ekspresi, dan ketrampilan berkarya. Pada tingkat perkembangan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ini, perlu diarahkan pada kemampuan produksi sebagai persiapan keahlian yang lebih spesifik. Kemampuan yang perlu dikembangkan antara lain mengola kepekaan rasa, mengembangkan kreatifitas, dan ketrampilan berkarya sesuai bakat dan minat masing-masing dalam bab ini diberikan contoh pembelajaran untuk siswa SMK dalam berapresiasi dan mengekspresikan diri melalui ketrampilan berkreasi teknik ikat celup dan teknik batik Tiga kompetensi yang diharapkan di miliki oleh siswa SMK adalah : 1. Apresiasi : a. Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik serta kepekaan rasa dalam berkarya seni rupa b. Menampilkan apresiasi terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam berkarya seni rupa. 2. Ekspresi : a. Memiliki kemampuan dasar berekspresi secara visual b. Mampu mengkomunikasikan berbagai ide dan kreativitas 3. Ketrampilan : a. Merancang karya seni rupa dengan memanfaatkan beberapa teknik ungkap b. Membuat karya seni rupa secara tematik dan pemecahan masalah c. Menyiapkan karya seni rupa buatan sendiri (porto folio) untuk pameran dikelas atau disekolah. Tujuan Mata pelajaran seni rupa untuk SMK bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : 1. Mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan membuat berbagai produk kerajinan dan produk teknologi yang berguna bagi kehidupan manusia 2. Memiliki rasa estetika, apresiasi terhadap produk kerajinan, dari berbagai wilayah nusantara. 3. Mampu mengidentifikasi potensi daerah setempat yang dapat dikembangkan melalui kegiatan kerajinan. 4. Memiliki sikap professional dan kewirausahaan
  • 317. 327 Ruang Lingkup Mata pelajaran seni rupa untuk SMK meliputi aspek-aspek sebagai berikut : 1. Ketrampilan kerajinan 2. Kewirausahaan Struktur pengetahuan dalam mata pelajaran seni rupa terdiri dari jenis, bentuk,prosedur kerja, berproduksi, fungsi kerajinan dan porto folio. Pembelajaran seni rupa ini berintegrasi dengan mata pelajaran lainnya secara terpadu. 5.7. Seni Kriya Batik Seni kriya batik yang berkembang pada masa sekarang merupakan kelanjutan seni kerajinan batik sebelumnya. Daerah-daerah perkembangan batik di Jawa Barat masa sekarang terdapat di daerah Cirebon. Dalam pembuatan batik, kita mengenal ada empat cara pembuatannya, yaitu dengan cara ditulis dengan canting yang biasa di sebut dengan batik tulis, dengan cara di cetak dengan cap disebut batik cap, dengan cara diikat dengan tali/benang dinamakan batik ikat atau jumputan dan dengan cara dicetak dengan screen yang kemudian kita namakan batik cetak atau batik printing. Pembuatan motif pada batik tulis, dibuat dengan cara memberikan malam dengan alat canting/kuas ke atas permukaan kain yang telah digambar sebelumnya. Sedang pemberian motif pada batik cap dibuat dengan menggunakan cap atau stempel logam yang permukaannya telah diberi malam lalu dicetakkan pada permukaan kain. Pemberian motif pada batik printing dibuat dengan cara mencetakkan larutan napthol yang telah dikentalkan ke atas permukaan kain dengan menggunakan alat rakel. Sedangkan pemberian motif pada batik ikat, motifnya diikat-ikat dengan tali plastic atau benang hingga menjadi motif yang diinginkan. Proses berikut adalah pencelupan kain ke larutan naptol, garam warna dan air pembilas. Khusus untuk batik printing langsung dicelupkan ke larutan garam warna. Untuk menghasilkan warna batik yang baik proses pencelupannya harus diakukan berulang-ulang.
  • 318. 328 Sumber : Indonesia Indah, Kain-kain Non Tenun Indonesia Gambar 5.42. Contoh karya seni kriya batik Proses selanjutnya disebut proses pelorotan malam. Caranya kain yang telah selesai pada proses pencelupan, dicelupkan kembali ke dalam air panas yang telah diberi bubuk soda abu atau soda ASH. Benda-benda pakai yang dihasilkan dari kerajinan ini adalah kain, selendang, taplak meja, sprei, sarung bantal, hiasan dinding, gorden dan lain- lain. Bahasan berikut adalah penjelasan tentang bahan, peralatan dan tahap-tahap dalam pembuatan karya batik tulis. Untuk lebih jelasnya silahkan Anda perhatikan dengan saksama. 1) Tahap pembuatan gambar motif Bahan dan peralatan yang digunakan pada tahap ini adalah kain katun, pola gambar atau mall, pensil 4B-5B, dan meja kaca. Pembuatan gambar motif pada kain, dapat dicapai dengan menjiplak pola / mall yang telah disiapkan atau bias juga dengan cara menuliskan langsung di atas kain. Untuk menghasilkan gambar motif yang baik penulisannya dilakukan di atas meja kaca. Bila kain yang hendak digambari banyak lilin / kotor maka kain harus dicuci terlebih dahulu dengan sabun. Hal ini dimaksud agar dalam proses pencelupan nanti warna mudah menyerap. 2) Tahap pemberian malam Dalam tahap ini bahan dan peralatan yang digunakan, yaitu : Kain, jenis kain yang digunakan untuk membatik adalah jenis kain yang bahan bakunya terbuat dari kapas (katun) atau sutera, misalnya kain blacu, poplin, birkolin, santung, prima, premisima, vealisima, linen, dan sutera.
  • 319. 329 Malam, malam untuk membatik terdiri atas malam lowong (warnanya kuning dan lebih liat), malam cetak (warnanya coklat, sifatnya kurang kuning dan lebih liat), malam cetak (warnanya coklat, sifatnya kurang liat), dan malam putih / paraffin (sifatnya rapuh, dan mudah retak). Canting, canting yang digunakan untuk membatik terdiri dari canting cecek (lubangnya kecil), canting klowong (lubangnya sedang) dan canting nembok (lubangnya besar). Peralatan penunjang, alat penunjang yang digunakan dalam tahap ini adalah kompor kecil, kenceng, panci, dan lainnya. Sebelum proses pemberian malam dimulai, malam harus dipanaskan terlebih dahulu pada kenceng di atas kompor hingga mencair. Proses pemberian malam dilakukan dengan cara menuliskan cairan malam ke atas permukaan kain dengan menggunakan alat canting. Cara menuliskannya mengikuti gambar motif yang telah dibuat, dilakukan dari kiri ke kanan dan dari bawah ke atas. Untuk pemberian malam pada gambar motif berupa bidang yang luas digunakan kuas. Sumber : Indonesia Indah, Kain-kain Non Tenun Indonesia Gambar 5.43. Proses pembubuhan prada diatas kain batik tulis 3) Tahap pemberian warna Bahan dan peralatan yang digunakan pada tahap ini adalah pewarna batik yang terdiri dari : Naptol berfungsi sebagai warna dasar yang nantinya dibangkitkan oleh garam warna (garam diazo). Naptol terdiri atas naptol AS, naptol ASLB, naptol ASGR, naptol ASG, naptol ASD, naptol ASBO, dan naptol ASOL. Warna lain yang bersifat alami adalah daun soga. Naptol AS berfungsi untuk membuat warna merah, biru, violet, orange, dan hitam, naptol ASLB
  • 320. 330 untuk membuat warna cokelat, naptol ASGR untuk membuat warna hijau dan naptol ASG untuk membuat warna kuning. Garam warna (garam diazo), berfungsi untuk membangkitkan warna. Garam terdiri atas garam biru B, garam biru BB, garam violet B, hitam B, merah bordo GP, garam orange GC, dan garam biru hijau B. Rapidogin, berfungsi untuk memberi variasi warna. Rapid terdiri atas rapid merah RH, rapid orange RH, rapid biru BN, rapid cokelat BN, rapid kuning GCH, dan rapid hitam G. Bahan Pelengkap, untuk membuat larutan pewarna batik tulis bahan pelengkap yang diperlukan terdiri atas TRO (Turkish Red Oil) dan soda api (Loog 380 BE). TRO cairan berbentuk minyak sedang soda api (Loog 380 BE), disebut juga costik soda berbentuk seperti kristal. Adapun tahapan dalam pemberian warna pada batik tulis adalah : a. Pemberian warna rapid Pemberian warna rapid dilakukan dengan cara menyapukan warna rapid ke bagian-bagian gambar yang diinginkan. Fungsi warna ini hanya sebagai variasi agar batik lebih menarik. Larutan rapid dibuat dengan cara mengaduk rapid dengan minyak TRO hingga kental, kemudian diberi air dingin dan diaduk kembali hingga merata. Perbandingannya adalah 1 sendok makan rapid : 2 sendok minyak TRO : 1 gelas besar air dingin. b. Proses pencelupan Proses pencelupan dalam membuat batik dilakukan dalam tiga langkah. Pertama pencelupan pada larutan naptol (bak I), kedua pencelupan pada larutan garam warna (bak II), dan ketiga pencelupan pada air pembilas (bak III). Untuk menghasilkan warna yang memuaskan, proses pencelupan dilakukan berulang-ulang. c. Tahap melunturkan malam Untuk melunturkan atau melorotkan malam pada kain batik yang telah selesai pada proses pencelupan, dilakukan dengan cara memasukkan kain ke dalam bak yang berisi air panas yang telah dicampur soda abu (Soda ASH) dan soda api (costik soda). Proses melunturkannya kain dimasukkan ke dalam bak, diangkat-angkat dengan menggunakan jepitan hingga malamnya lepas dan selanjutnya dibilas dengan air bersih, diperas, dan diangin- anginkan.
  • 321. 331 5.7.1. Alat Dan Bahan Batik 1. Peralatan Membatik a. Canting Canting merupakan alat utama yang dipergunakan untuk membatik. Penggunaan canting adalah untuk menorehkan (melukiskan) cairan malam agar terbentuk motif batik. Canting memiliki beberapa bagian yaitu: Gagang Gagang merupakan bagian canting yang berfungsi sebagai pegangan pembatik pada saat menggunakan canting untuk mengambil cairan malam dari wajan, dan menorehkan (melukiskan) cairan malam pada kain. Gagang biasanya terbuat dari kayu ringan. Nyamplung (tangki kecil) Nyamplung merupakan bgian canting yang berfungsi sebagai wadah cairan malam pada saat proses membatik. Nyamplung terbuat dari tembaga. Cucuk atau carat Cucuk merupakan bagian ujung canting dan memiliki lubang sebagai saluran cairan malam dari nyamplung. Ukuran dan jumlah cucuk can beragam tergantung jenisnya. Cucuk tersebut terbuat dari tembaga. Kondisi cucuk harus senantiasa berlubang, kalau tersumbat oleh cairan malam yang sudah mengeras, cucuk dapat dilubangi lagi dengan cara mencelupkan di cairan panas malam, sumbatan keras tersebut akan turut mencair kembali. Sedangkan bila sumbatan belum mengeras maka pelubangannya dapat dipakai dengan bulu sapu lantai. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.44. Bagian-bagian canting b. Kuas Pada umumnya kuas dipergunakan untuk melukis, dalam proses membatik kuas juga dapat dipergunakan untuk Nonyoki yaitu mengisi bidang motif luas dengan malam secara penuh. Kuas dapat juga untuk menggores
  • 322. 332 secara ekspresif dalam mewarnai kain. Anda dapat mempergunakan kuas cat minyak, kuas cat air, atau bahkan kuas cat tembok untuk bidang sangat luas. c. Kompor Minyak Tanah Kompor minyak tanah dipergunakan untuk memanasi malam agar cair. Pilihlah kompor yang ukurannya kecil saja, tidak perlu yang besar. Pembatik tradisional biasanya menggunakan anglo atau keren. Anglo merupakan arang katu sebagai bahan bakar. Kelemahan anglo/keren adalah asap yang ditimbulkannya berbeda dengan kompor yang tidak seberapa menimbulkan asap. Pilihlah kompor yang ukuran kecil saja, dengan diameter sekitar 13 cm, sesuai dengan besaran wajan yang digunakan. Pemanasan malam tidak membutuhkan api yang cukup besar seperti kalau kita memasak di dapur. d. Wajan Wadah untuk mencairkan malam menggunakan wajan, terbuat dari bahan logam. Pilihlah wajan yang memiliki tangkai lengkap kanan dan kiri agar memudahkan kita mengangkatnya dari dan ke atas kompor. Wajan yang dipakai tidak perlu berukuran besar, wajan dengan diameter kurang lebih 15 cm sudah cukup memadai untuk tempat pencairan malam. e. Gawangan Pada waktu membatik kain panjang, tidak mungkin tangan kiri pembatik memegangi kain tersebut. Untuk itu membutuhkan media untuk membentangkan kain tersebut, yang disebut gawangan. Disebut demikian karena bentuknya seperti gawang sepakbola, terbuat dari kayu, agar ringan dan mudah diangkat dan dipindahkan. Peralatan tersebut di atas sudah cukup memadai untuk kegiatan membatik Anda. Memang di masa lalu ada beberapa peralatan pendukung lainnya seperti saringan, kursi kecil (dingklik) dan lipas/tepas. Tepas diperlukan untuk membantuk menyalakan api arang kayu di anglo/keren. Sekarang ini dengan adanya kompor, maka tepas tidak diperlukan dalam kegiatan membatik. f. Nampan Nampan plastik diperlukan untuk tempat cairan campuran pewarna dan mencelup kain dalam proses pewarnaan. Pilihlah ukuran nampan yang sesuai dengan ukuran kain yang dibatik agar kain benar-benar tercelup semuanya. g. Panci Panci aluminium diperlukan untuk memanaskan air di atas kompor atau tungku dan untuk melorot kain setelah diwarnai agar malam bisa bersih. Pilihlah ukuran panci sesuai dengan ukuran kain yang dibatik.
  • 323. 333 h. Sarung tangan Sarung tangan diperlukan sebagai pelindung tangan pada saat mencampur bahan pewarna dan mencelupkan kain ke dalam cairan pewarna. Selama penyiapan warna dan pewarnaan kain, pergunakanlah selalu sarung tangan karena bahan pewarna batik terbuat dari bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan kulit dan pernafasan, kecuali pewarna alami (natural). i. Sendok & Mangkuk Sendok makan dibutuhkan untuk menakar zat pewarna dan mangkuk plastik untuk mencampur zat pewarna tersebut sebelum dimasukkan ke dalam air. Selain itu juga diperlukan gelas untuk menakar air. 2. Bahan Batik a. Kain Salah satu bahan yang paling pokok dalam membatik adalah kain, sebg media tempat motif akan dilukiskan. Untuk membatik biasanya kain yang biasa digunakan adalah jenis kain katun seperti kain Voilissma, Primis, Primissima, mori biru, Philip, berkolyn, santung, blacu, dan ada juga yang mempergunakan kain sutera alam. Media kain yang harus diperhatikan adalah usahakan agar kain tersebut tidak mengandung kanji atau kotoran lainnya, karena hal ini akan mengganggu proses penyerapan malam ataupun warna. Pengolahan kain ini lebih banyak dikenal dengan istilah “ngloyor”. Bahan untuk pengolahan kain biasanya minyak jarak atau larutan asam. Pengolahan kain menggunakan minyak jarak, langkah yang harus dikerjakan yaitu merendam kain dalam panci dan direbus dengan memasukkan minyak jarak ke dalam rebusan kain tersebut. Apabila sudah mendidih, diambil dan direndam dalam air dingin sambil diremas-remas. Air dingin untuk merendam kain ini bisa ditambahkan sabun atau deterjen. Pengolahan kain dengan larutan asam biasanya dilakukan satu hari, tetapi perlu diperhatikan bahwa larutan asam yang terlalu banyak akan merusak kain. Pengolahan kain dengan minyak jarak dan larutan asam tidak cocok digunakan untuk kain sutera, karena kain sutera yang berbahan sangat lembut memerlukan perlakuan khusus. Biasanya pengolahan kain sutera dengan sabun yang khusus untuk serat halus dan tidak diperas berlebihan atau apabila sulit untuk mencari sabun khusus untuk kain sutera bisa menggunakan shampo untuk rambut, tetapi gunakan sedikit saja dan cucilah dengan perlahan. Sebagai tambahan saja, bahwa kain sutera sangat cocok apabila diwarna dengan menggunakan pewarna alam. Selanjutnya setelah kain diangkat dari perendaman, kemudian kain dilipat dan dikemplong (“ngemplong”) yaitu dengan cara memukul-mukul kain tersebut dengan menggunakan pemukul kayu. Tujuannya agar serat kain menjadi kendor dan lemas. Setelah dikemplong kain dijemur. Setelah kering kain bisa diseterika dan siap untuk dipola. Saat ini banyak tersedia kain yang berkualitas bagus, tetapi tentu saja kain tersebut masih mengandung kanji. Tetapi terkadang saat ini banyak
  • 324. 334 orang yang hanya merendam kain dalam air sampai beberapa kali tanpa menggunakan minyak jarak atau larutan asam. Cara ini bisa juga dilakukan pada kain yang sedikit mengandung kanji. Setelah kain diproses “ngloyor” dan “ngemplong”, kain tersebut diukur sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan. b. Malam / Lilin Malam merupakan bahan bahan utama yang menjadi ciri khas dalam proses membatik. Dalam proses membatik, malam mempunyai fungsi untuk merintangi warna masuk ke dalam serat kain dimana motif telah dipolakan dan agar motif tetap tampak. Sebelum menggunakan malam, pilihlah malam yang sesuai dengan kebutuhan, karena malam memiliki jenis, sifat, dan fungsi beragam. Tabel 5.2. Jenis Malam/Lilin Jenis Malam Warna Sifat Fungsi Malam Agak Lentur, tidak Untuk Carikan kuning mudah retak, daya mglowongi rekat pada kain atau sangat kuat ngrengreng dan membuat batik isen Malam Agak Kental, mudah Untuk menutup Tembokan kecoklatan mencair atau bidang yang membeku/keras, luas daya rekat pada khususnya kain sangat kuat pada background Malam Putih susu Mudah retak/patah Untuk Remukan membuat efek (Parafin) retak-retak (remukan) Malam Biron Coklat Mirip dengan Untuk menutup gelap malam tembokan. pola yang telah Biasanya bila tidak diberi warna ada malam birono biru (bironi) dapat digantikan oleh malam tembokan Sumber : Tekstil, Buku Piloting PSN
  • 325. 335 C. Pewarnaan 1. Zat Pewarna Pewarna kain batik ikat celup dapat dikategorikan menjadi dua yaitu zat pewarna alam dan zat pewarna kimia. Zat pewarna alam dihasilkan dari warna warna yang dapat kita peroleh dari berbagai macam tumbuhan misalnya pada bagian buah, akar, daun, atau kulit pohon. Zat pewarna kimia diproses/hasilkan secara kimiawi oleh industri. Tabel 5.2. Jenis warna Kategori Jenis Pewarna Zat pewarna alam Kunyit menghasilkan warna kuning Zat pewarna Kimia Napthol, indigosol, remasol, ergan soga, rapidosol, procion. Sumber : Tekstil, Buku Piloting PSN Zat pewarna kimia tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tujuh bahan warna yaitu, Napthol, Indigosol, Rapide, Ergan Soga, Kopel Soga, Chroom Soga, dan Prosion. a. Bahan warna Napthol Napthol memiliki jenis yaitu AG, AS-D, AS-G, AS-OL, AS-BO, AS-GR, AS-LB, AS-LB (Extra), AS-BS, AS-KN, dan AS-BR. Napthol AS memiliki sifat netral artinya warna yang dihasilkan menurut warna garamnya. Untuk membangkitkan warna dipergunakan jenis Garam Diazo diantaranya adalah Biru B, Biru BB, Violet B, Hitam B, Merah B, Merah GG, Merah GC, Merah R, Merah 3GL Spesial, Bordo GP, Orange GC, Orange GR, Biru Hijau B, dan Kuning GC. Agar pelarutannya bagus, sebaiknya dibuatkan lebih dulu pesta dengan bahan pendukung meliputi Turkish Red Oil (TRO) dan Loog 38 BE (larutan Kaustik Soda / NaoH).
  • 326. 336 Tabel 5.3. Warna Napthol Warna Napthol Garam Diazo Kuning Kuning Napthol AS-G Garam kuning GC Kuning muda Napthol AS-G Garam merah GG Kuning tua Napthol AS-G Garam bondo GP Merah Merah Napthol AS Garam merah B Merah Napthol AS-D Garam merah B Merah Napthol AS-BO Garam merah GG Biru Biru muda Napthol AS Garam biru BB Biru tua Napthol AS-BO Garam biru B Biru tua Napthol AS-BO Garam biru B Biru muda Napthol AS-D Garam biru BB Hijau Hijau muda Napthol AS- Garam biru B GR Hijau Napthol AS- Garam biru hijau GR Violet Violet Napthol AS Garam violet B Violet Napthol AS- Garam violet B GR Coklat Coklat Napthol AS-LB Garam kuning GC Coklat Napthol AS-LB Garam biru BB Coklat Napthol AS-LB Garam merah GG Hitam Hitam Napthol AS Garam hitam B Hitam Napthol AS-OL Garam hitam B Hitam Napthol AS-BO Garam hitam B Hitam Napthol AS-G Garam hitam B mulus Napthol AS-BO Garam hitam B Sumber : Tekstil, Buku Piloting PSN b. Bahan warna Indigosol Warna Indigosol ini memiliki jenis yaitu Blue 06B, Blue 04B, Yellow FGK, Yellow 1GK, Green 1B, Green 13G, Orange HR, Violet BF, Violet ABBF, Brown IRRD, Abu-abu 1BL, Rosa 1R, dan RED AB. Bahan pelengkapnya adalah Natrium Nitrit (NaNo2) dengan komposisi 2x indigosol, dan TRO. Untuk membangkitkan warna dilakukan dengan mengoksidasikan secara langsung ke panas matahari. Selain itu dengan larutan Asam Chlorida atau Asam Sulfat.
  • 327. 337 Tabel 5.4 Warna Indigosol Campuran Warna Keterangan Indigosol Bahan Pelengkap Biru 04B Blue 04B NaNO2 Biru 06B Blue 06B NaNO2 Orange HR Orange HR NaNO2 Merah Rosair Orange HR NaNO2 Extra Komposisi Coklat IRRD Brown NaNO2 Indigosol dan IRRD NaNO2 adalah 2 : 1 Kuning FGK Yellow FGK NaNO2 Kuning 1GK Yellow 1GK NaNO2 Merah AB Red AB NaNO2 Violet ABBF Violet NaNO2 ABBF Sumber : Tekstil, Buku Piloting PSN c. Bahan warna Rapide Bahan ini biasanya untuk pewarnaan teknik colet. Jenis rapide ada tiga macam yaitu Rapide biasa, Rapidosen, dan Rapidosol. Rapide biasa meliputi Kuning GCH, Orange RH, Biru BN, Hitam G, dan Hijau N-16G. untuk membangkitkan warna dipergunakan larutan asam cuka, dengan komposisi 50 cc asam cuka dipakai untuk 1 liter air panas. Sedangkan bahan pendukungnya adalah Turkish Red Oil (TRO) (2x Rapide) dan Loog 380Be. d. Bahan warna Ergan Soga Bahan warna ini memiliki tiga jenis yaitu COklat (soga) tua, Coklat (soga) sedang, dan Coklat (soga) muda. Bahan pelarut menggunakan obat hijau (chromfarbesalz), dan pembangkit warnanya memakai beningan larutan air kapur (50 gr untuk 1 liter air dingin). 2. Pewarnaan Bahan pewarna batik ikat celup sangat beragam, tetapi yang lebih banyak digunakan yaitu bahan pewarna napthol dan remasol, walau tidak ada salahnya juga mencoba jenis pewarna yang lain. Berikut akan dijelaskan cara pewarnaan dengan napthol dan remasol. a. Pewarnaan Napthol dengan Satu Warna (Celup) Napthol yang dimaksud untuk pewarna batik ikat celup bukan jenis napthol yang biasa untuk mewarnai kain jeans tetapi jenis pewarna napthol dingin, disebut napthol dingin karena proses pewarnaannya tidak direbus
  • 328. 338 seperti halnya pewarna napthol untuk jeans pewarna napthol untuk batik yaitu pewarna napthol yang harus dibangkitkan dengan pembangkit warna (Garam Diazo). Secara umum proses pewarnaan dengan napthol dingin adalah sebagai berikut : a) Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu membuat larutan TRO (Turkish Red Oil). TRO berbentuk serbuk putih dan merupakan salah satu bahan pelengkap napthol. Tetapi sebelumnya harus diketahui berapa kuantitas dari napthol, karena perbandingan Napthol dengan TRO yaitu 1 : ½ atau (1/3). b) Kain lalu dicelup dalam larutan TRO tersebut. Kemudian tiriskan hingga air yang menetes pada kain habis, tetapi jangan sampai diperas dan jangan sampai kering benar. c) Sementara menunggu kain atus/sampai air tidak ada yang menetes, larutkan napthol dan kaustik soda (NaoH) dalam sedikit air panas. Fungsi air panas hanya untuk melarutkan kedua bahan tersebut. Setelah larut masukkan dalam larutan TRO yang pertama tadi lalu tambahkan air dingin dengan perbandingan 3 gr napthol : 1 Liter air. d) Kain yang sudah atus/sampai air tidak ada yang meneters tadi kemudian dicelup dalam larutan napthol tersebut. Usahakan agar seluruh kain terendam, kemudian atus/sampai air tidak ada yang meneteskan lagi pada gawangan dan tunggu sampai air yang menetes pada kain habis. e) Sementara menunggu kain atus/sampai air tidak ada yang menetes, larutkan garam diazo dalam sedikit air hingga larut, setelah larut tambahkan air dan aduk. Perbandingan napthol dan garam yaitu 1 : 3. f) Ketika kain dicelup pada larutan garam maka warna akan segera muncul. Usahakan kain terendam kurang lebih 2 – 3 menit sambil bolak-balik hingga larutan garam benar-benar meresap ke kain. g) Setelah warna muncul kemudian tiriskan dan keringkan tapi jangan dijemur di bawah matahari. h) Setelah kain kering maka proses pelorotan bisa dilakukan. Ditiris Ditiris Ditiris Ditiris & Dijemur Dicuci air Air + Kaustik Air + Air + TRO Air panas + Air Soda + Garam Soda abu Napthol + Diazo (Pelorodan) TRO Sumber : Pribadi Gambar 5.45. Tahapan pewarnaan (1 warna)
  • 329. 339 Ditiris 4 Ditiris Ditiris Ditiris 1 2 3 Air + Kaustik Air + Soda + Garam Air panas + Air + TRO Air Napthol + Diazo Soda abu TRO (Pelorodan) Dicuci air 5 6 7 Ditiris Ditiris Ditiris&Dijemur Sumber : Pribadi Gambar 5.46. Tahapan pewarnaan (1 warna) secara berulang agar lebih pekat b. Pewarnaan Napthol dengan 2 warna atau lebih (Celup) Apabila menginginkan lebih dari satu warna maka setelah setengah kering dilakukan pemalaman/penutupan dengan plastik/tali rafia kembali. Sebelumnya harus sudah dipikirkan bagian mana yang akan tetap berwarna sebelumnya dan bagian mana yang akan diwarna berikutnya. Jika menginginkan warna sebelumnya (warna pertama) tetap ada, maka bagian tersebut ditutup malam/plastik/tali rafia. 4 Ditiris Ditiris Ditiris 1 2 3 Air + Air + Air + Air panas Air Membatik TRO Kaustik Garam + Soda + Diazo Soda abu N hl (P l d 5 6 7 8 9 Ditiris Ditiris Ditiris Ditiris & Dijemur Dicuci air Sumber : Pribadi Gambar 5.47. Tahapan pewarnaan ganda (2 warna atau lebih)
  • 330. 340 c. Pewarnaan Remasol dengan 2 warna atau lebih (Colet) Remasol adalah pewarna batik yang biasa digunakan untuk teknik colet. Dengan pewarna remasol maka dalam beberapa colet bisa menggunakan lebih dari beberapa warna. Remasol juga biasa dipakai pada lukis batik modern. Teknik pewarnaan colet dengan remasol adalah sebagai berikut : a) Larutkan remasol dalam air panas kemudian tambahkan poliron dan ludigol. Aduk hingga merata, perbandingan Remasol : Poliron : Ludigol = 1 : 1/2 : 1/2 . Perbandingan remazol dan air panas yaitu 3 gr : 50/100 cc air b) Tunggu sampai larutan tersebut dingin, apabila sudah dingin maka pewarna tersebut siap digunakan. c) Siapkan kain yang sudah di malam, lalu dengan menggunakan kuas ambil pewarna tersebut dan oleskan pada bagian yang dikehendaki. d) Lalu keringkan, pengeringan jangan di bawah matahari. Apabila sudah kering, rendam ke dalam larutan waterglass + air + caustik soda dengan perbandingan1:1. Air dapat dikurangi apabila menginginkan warna lebih pekat. e) Kemudian tiriskan dan dijemur sampai kering sekali. f) Setelah kain kering maka proses pelorotan bisa dilakukan. Dikuaskan Ditiriskan & dijemur Ditiriskan & dijemur Dicuci air Membatik Air + Waterglass + Air panas + Remasol + Caustik Soda + Soda abu Ludigol air (Pelorodan) Sumber : Pribadi Gambar 5.48. Tahapan Pewarnaan Teknik Colet Bahan pelorodan malam Bahan untuk melorod (membersihkan malam) kain, diperlukan air panas mendidih di atas tungku dan Soda Abu atau TRO. Fungsi soda abu tersebut untuk menghindari terjadinya penempelan ulang malam di permukaan kain sehingga kain benar-benar bersih dari malam. Bila proses pemalaman telah selesai maka tahap selanjutnya yaitu tahap pewarnaan. Tetapi sebelumnya telitilah kain yang sudah dimalam tersebut, mungkin ada tumpahan atau tetesan kain yang tidak dikehendaki, apabila ada untuk menghapusnya gunakan alat logam yang tahan panas untuk menghilangkannya. Caranya ujung logam tersebut dipanaskan pada bara api sementara kain yang terdapat malam yang tidak dikehendakitsb dibasahi dengan air ssabun atau deterjen. Setelah ujung logam panas
  • 331. 341 tempelkan pada malam yang telah dibasahi tadi. Hal ini dapat dilakukan berulang kali sampai malam yang akan dihapus hilang. Penggunaan malam di wajan juga harus diperhatikan, malam yang terlalu lama dipanaskan akan berubah warna menjadi hitam dan timbul serbuk hitam (pasir) di dasar wajan. Kondisi seperti ini disebut Gentho, dan sebaliknya jangan dipakai membatik lagi karena cenderung lebih kental dan susah menempel/meresap pada kain, serta akan membuat canting sering tersumbat. Untuk itu, segera buanglah gentho tersebut dan bersihkan wajan serta gantilah dengan malam yang baru. 5.7.2. Contoh Berkreasi Batik bagi Siswa SMK, antara lain 1. Sapu Tangan Pengembangan media dan motif batik sesuai minat masing-masing siswa. Berikut ini diberikan contoh kreasi batik untuk sapu tangan agar dapat memotivasi cara mandiri para siswa melalui pembuatan batik dalam bentuk kecil, sederhana, dan mudah. Dibawah ini akan dipaparkan langkah-langkah membatik dua warna dengan teknik kombinasi antara celup dan colet pada benda pakai yaitu sebuah sapu tangan dengan motif bunga. A. Pemalaman dan Pewarnaan Teknik Celup Setelah kain dipola dengan motif, silahkan merengrengi motif. Merengrengi adalah memberi kontur motif dengan Malam/Lilin. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.49. Ngrengrengi
  • 332. 342 a. Selanjutnya nemboki bidang-bidang motif, yaitu mengisi bagian motif yang telah diberi kontur. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.50 Nemboki b. Siapkan kain yang sudah selesai dicanting dengan malam c. Siapkan 1 gelas air ke dalam nampan d. Masukkan 1/3 sendok makan TRO ke dalam 1 gelas air tadi, dan aduk hingga seluruh TRO benar-benar larut dalam air. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.51. Memasukkan Turkish Red Oil (TRO) e. Kain yang sudah dicanting dimasukkan ke dalam larutan TRO secara merata selama kurang lebih 2 menit Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.52. Pencelupan di larutan TRO
  • 333. 343 f. Kemudian tiriskan Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.53. Kain ditiriskan g. Sementara kain ditiriskan, masukkan Napthol ASG sebanyak 3 gr dalam Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.54. Napthol ASG dan Kaustik Soda h. Masukkan pula Kaustik Soda sebanyak 1/2 gr i. Kedua bahan tersebut dilarutkan dalam 1/2 gelas air panas, aduk hingga merata Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.55. Air panas
  • 334. 344 j. Lalu masukkan larutan tersebut ke dalam larutan TRO sisa pencelupan kain tadi. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.56. Pencampuran larutan ASG + Kaustik Soda ke dalam larutan TRO k. Kemudian tambahkan air sehingga menjadi 1 liter l. Kemudian celupkan kain yang sudah ditiriskan tersebut ke dalam larutan napthol tadi. m. Tiriskan kain di garawangan sampai benar-benar atus. n. Sementara kain ditiriskan, buatlah larutan 9 gr Garam Diazo OGC dalam larutan 1 liter. o. Aduklah hingga benar-benar larut di dalam air p. Setelah larutan Garam Diazo siap, celupkan kain yang sudah ditiriskan tersebut ke dalam larutan Garam Diazo. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.57. Pencelupan ke larutan garam
  • 335. 345 q. Pada proses ini warna yang dikehendaki akan muncul. Celup kain tersebut hingga keseluruhan kain terendam aar warna merata. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.58. Pencelupan merata sampai warna muncul r. Kemudian tiriskan dan tunggu sampai kering, dan selanjutnya dilakukan proses pewarnaan dengan teknik colet. B. Pewarnaan dengan Teknik Colet a. Sementara menunggu kain kering, siapkan bahan pewarna batik untuk teknik colet. Bahan yang perlu disiapkan yaitu : pewarna remasol, ludigol dan poliron b. Setelah bahan siap, sediakan air panas sebanyak 1/2 gelas lalu larutkan pewarna remasol (misal : violet) sebanyak 3 gr dan ludigol 1 ½ gr. Water glass Ludigol Remasol Poliron Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.59. Bahan-bahan pewarna c. Poliron 1½ gr, aduklah hingga merata dan tunggu sampai dingin. d. Setelah dingin, pewarna tersebut siap untuk digunakan. Ambil pewarna tersebut dengan menggunakan kuas dan oleskan pada bagian yang dikehendaki pada kain yang sudah mengalami pewarnaan pertama dengan napthol tadi.
  • 336. 346 Sumber : Indonesia Indah, Kain-kain Non Tenun Indonesia Gambar 5.60. Pewarnaan kain dengan kuas e. Setelah pewarnaan dengan mencolet selesai, kemudian kain dikeringkan tetapi jangan dijemur di bawah matahari, tetapi celup di dalam ruangan. Karena warna hasil coletan akan turun intensitasnya (drop) 50% di hasil akhirnya, sebaiknya pencoletan dilakukan sekali lagi, agar mendapatkan warna yang bagus. f. Apabila cukup dengan satu warna colet, maka proses pewarnaan selesai, kain tersebut didiamkan selama 6 jam atau lebih, kemudian dilorod. Apabila menginginkan pewarnaan lebih dari satu warna, maka buatlah kembali larutan pewarna colet. Sebagai contoh, untuk pewarnaan colet kedua yaitu dengan pewarna Remasol warna Orange, larutkan kembali pewarna remasol dalam 1/2 gelas air panas. g. Kemudian tambahkan Ludigol sebanyak 1 ½ gr dan Poliron 1 ½ gr, kemudian aduk hingga merata. h. Setelah semua bahan pewarna tercampur, tunggu sampai dingin. Setelah dingin bahan pewarna siap untuk digunakan. Oleskan dengan menggunakan kuas pada bagian yang diinginkan. i. Ulangilah pencoletan dua atau tiga kali agar setelah dilorod dan dicuci tidak banyak turun kualitasnya. j. Setelah pewarnaan selesai, tunggu sampai kering. Apabila sudah kering, siapkan Waterglass sebagai bahan untuk pengunci warna. Gunakan kuas untuk mengoleskan waterglass. Kemudian diamkan selama 6 jam atau lebih.
  • 337. 347 C. Pelorodan Setelah kering lalu kain yang sudah di beri warna tersebut siap dilorod. Didihkan air panas dan masukkan Soda Abu. Kemudian masukkan kain dan rebus hingga malam yang menempel larut dalam air. Apabila kain sudah kelihatan bersih dari malam lalu cuci dengan air dan keringkan dan proses membatik dengan teknik celup dan colet sudah selesai. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.61. Pelorodan 2. MEMBUAT TAPLAK MEJA DENGAN TEKNIK BATIK TULIS Kain yang digunakan untuk membuat taplak meja biasanya berukuran 120 cm, sedang panjangnya disesuaikan dengan yang dibutuhkan. Dalam rancangan gambar taplak meja berikut ini menggunakn ukuran 120 x 120 cm. Tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan pembuatan rancangan gambar adalah sebagai berikut : 1) Pembuatan sketsa dan gambar pola Sketsa dibuat dalam beberapa alternatif, kemudian dipilih sketsa yang terbaik untuk dijadikan gambar pola. Media dan peralatan yang digunakan untuk membuat sketsa ini adalah kertas gambar, kertas kalkir, pensil, karet penghapus, dan mistar. Pada gambar pola, garis-garisnya dipertegas dengan rapido atau spidol. 2) Membuat gambar jadi Setelah sketsa terbentuk, tahap berikutnya adalah membuat gambar jadi. Dalam tahap ini gambar dibuat dalam bentuk seperti sebenarnya. Media dan peralatan yang digunakan adalah kertas gambar, pensil, karet penghapus, mistar, kuas, dan cat poster. 3) Membuat alternatif warna
  • 338. 348 Agar motif batik yang dihasilkan lebih bervariasi, dibuat juga alternatif- alternatif pemberian warnanya, artinya dalam satu motif rancangan gambar dapat dibuat dalam beberapa pilihan warna. Membuat benda seni atau karya seni rupa terapan, sebenarnya merupakan kelanjutan dari proses sebelumnya yaitu proses desain. Namun mengingat keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah tidak semua karya-karya desain dapat dipraktikan di sekolah. f. Tahap pembuatan gambar motif Bahan dan peralatan yang digunakan pada tahap ini adalah kain katun, pola gambar atau mall, pensil 4B / 5B, dan meja kaca. Bila kain yang hendak digambari banyak lilin / kotor maka kain harus dicuci terlebih dahulu dengan sabun. Hal ini dimaksud agar dalam proses pencelupan nanti warna mudah menyerap. g. Tahap pemberian malam Proses pemberian malam dilakukan dengan cara menuliskan cairan malam ke atas permukaan kain dengan menggunakan alat canting. Cara menuliskannya mengikuti gambar motif yang telah dibuat, dilakukan dari kiri ke kanan dan dari bawah ke atas. Untuk pemberian malam pada bidang yang luas digunakan kuas. h. Tahap pemberian warna Tahap-tahap pemberian warna pada batik tulis adalah : Pemberian warna rapid, dilakukan dengan cara memberikan warna rapid ke bagian-bagian gambar yang diinginkan. Fungsi warna ini hanya sebagai variasi agar batik lebih menarik. Warna hitam yang ada pada gambar adalah bagian-bagian gambar yang telah diberi larutan rapid. Proses pencelupan, dilakukan tiga langkah, yaitu pertama pencelupan pada larutan naptol, kedua pencelupan pada larutan garam warna, dan ketiga pencelupan pada air pembilas. Untuk menghasilkan warna yang memuaskan, proses pencelupan dilakukan berulang-ulang. i. Tahap melunturkan malam atau lilin Untuk melunturkan atau melorotkan malam pada kain batik yang telah selesai pada proses pencelupan, dilakukan dengan cara memasukkan kain ke dalam bak yang berisi air panas yang telah dicampur soda abu (Soda ASH) dan soda api (costik soda). Proses melunturkannya kain, dimasukan ke dalam bak, diangkat dengan menggunakan jepitan hingga malamnya lepas dan selanjutnya dibilas dengan air bersih, diperas, dan dijemur di tempat yang teduh.
  • 339. 349 5.8. Seni Kriya Ikat Celup (Tie Dye) Tie Dye atau ikat celup pada dasarnya mempunyai pengertian yang sama yaitu menghias kain dengan cara diikat atau dalam bahasa Jawa dijumput sedikit, dengan tali atau karet, dijelujur, dilipat, sampai kedap air, lalu dicelup dengan pewarna batik. Setiap daerah mempunyai nama teknik dan corak yang berbeda. Di Palembang dikenal sebagai pelangi dan cinde, di Jawa sebagai tritik atau jumputan, di Banjarmasin sebagai sasarengan. Di Jawa dan Bali teknik celup ikat ini sering dipadukan dengan teknik batik Dalam celup ikat, penggunaan kain-kain dari serat yang berbeda dapat memberikan hasil yang berbeda pula. Kain yang tipis dapat diikat dengan simpul-simpul kecil, sehingga ragam hias yang terbentuk juga lebih padat dan banyak. Makin tebal kain yang digunakan, makan sedikit pula jumlah ikatan yang bisa dibuat, karena simpul akan menjadi terlalu besar dan sulit untuk dikencangkan rapat-rapat. Akibatnya zat pewarna dapat dengan mudah merembes masuk dan menghilangkan corak yang ingin ditampilkan. Oleh karenanya kain-kain yang tebal biasanya menampilkan corak yang besar pula. Ada berbagai jenis kain yang baik dan banyak digunakan dalam teknik celup ikat, yaitu kain katun dan sutera. Kedua jenis kain ini dengan kemampuan daya serapnya, memudahkan proses pengikatan dan pencelupan. Sementara beberapa jenis kain lainnya, seperti dari bahan rayon atau kain sintetis lainnya, proses celup ikat agak sulit dilakukan karena sifat kain yang terlalu licin, atau keras atau kurang memiliki daya serap. Banyaknya celupan dan lamanya setiap perendaman tergantung pada hasil warna yang diinginkan. Setelah pencelupan selesai, kain digantung atau ditiskan sebentar agar tetesan cairan pewarna habis. Kemudian ikatan dibuka dan kain dibentang, maka akan terlihat corak-corak yang terbentuk akibat ikatan yang merintanginya dari pewarnaan. Warna dari corak-corak ini memiliki gradasi warna sesuai dengan rembesan cairan pewarna saat pencelupan. Celup ikat mengenal beberapa variasi ikatan dan akan terus berkembang sesuai dengan kreativitas para pembuatnya. Wujud keindahan dari kain celup ikat pada dasarnya tidak berasal dari jumlah ikatan yang dibuat, tetapi lebih pada paduan jenis-jenis corak hasil ikatan dengan warna yang digunakan serta keselarasannya secara keseluruhan dalam sehelai kain. Banyak macam corak yang dapat dihasilkan dari teknik dari cara melipat, jerat atau simpul, dan ikatan yang berbeda-beda. Secara umum corak celup ikat dapat dibagi dalam 5 jenis, yaitu ragam hias penuh, jelujur, lubang, lompatan, dan bungkusan. Masing-masing menggunakan teknik ikat yang berbeda.
  • 340. 350 5.8.1. CONTOH KREASI TEKNIK CELUP IKAT 1. Teknik Ikat Celup Satu Warna Langkah-langkah pembuatan Teknik Celup Ikat satu warna, teknik ikat/jumputan dengan media kelerang dan karet gelang, sebagai berikut : a. Siapkan kain dan kelerang serta karet gelang. Kemudian kelerang diikatkan pada kain dengan menggunakan karet gelang. Sumber : Indonesia Indah, Kain-kain Non Tenun Indonesia Gambar 5.62 Kain diikat karet berisi kelerang b. Setelah keseluruhan kain diikat maka kain telah siap untuk diwarnai, proses pewarnaan sama dengan teknik batik dengan menggunakan malam. Untuk mewarnai langkah pertama yang dilakukan yaitu celupkan kain tersebut pada larutan TRO, bolak-balik selama 3 menit lalu tiriskan. c. Kemudian larutkan dalam larutan Napthol dan bolak-balik selama beberapa menit, lalu tiriskan. d. Setelah kain tersebut atus lalu celupkan dalam larutan Garam Diazo dan warna akan segera muncul ketika dicelupkan di larutan Garam Diazo. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.63. Pencelupan ke larutan garam
  • 341. 351 e. Lakukan pencelupan bolak-balik agar warna merata di bagian kain. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.64.Pencelupan secara merata f. Setelah warna merata tiriskan sampai kering g. Setelah kering lepaskan ikatan karet gelang tersebut dan ambillah kelerangnya. Pembukaan ikatan dan jelujur ini dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak kain. Hasilnya akan segera terlihat, bagian yang terikat akan tetap berwarna putih atau warna kain sebelumnya. Selanjutnya cuci dengan air sampai bersih, dan keringkan dengan dijemur di tempat teduh. Sumber : Indonesia Indah, Kain-kain Non Tenun Indonesia Gambar 5.65. Kain yang telah kering, dilakukan pembukaan ikatan dan jelujur. 2. Teknik Ikat Celup Dua Warna Langkah-langkah pembuatan teknik ikat celup dua warna, teknik ikat/jumputan dengan media tali raffia dan malam/plastik, sebagai berikut : a. Ikatlah kain dengan cara dijumput/ambil sedikit bagian kain tersebut lalu diikat dengan menggunakan tali rafia.
  • 342. 352 b. Kemudian celup ujung kain yang diikat ke dalam pewarna napthol, missal warna kuning. Tunggu sampai kering, setelah kering lalu celup ujung kain yang telah diwarna tersebut ke dalam malam, atau ditutup dengan plastik. Sumber : Pribadi, Ilustrasi by Indra Gambar 5.66. Pencelupan sebagian kain ke malam / lilin c. Kemudian tunggu sampai malam kering d. Untuk warna kedua, missal warna ungu. Celupkan terlebih dahulu kain tersebut pada larutan TRO. e. Bolak-baliklah selama 3 menit lalu tiriska f. Setelah kain atus, celupkan kain tersebut ke dalam larutan Napthol bolak- balik selama beberapa menit, lalu tiriskan di gawangan. g. Setelah itu masukkan ke dalam larutan Garam Diazo, missal : Violet B, lalu rendam dan bolak-balik kain tersebut selama beberapa menit. h. Setelah dicelupkan ke dalam pewarna dan mendapatkan warna yang sesuai, atuskanlah kain dan tunggu sampai kering. i. Setelah kering, tali dilepas, selanjutnya dilorod sampai malam benar- benar bersih. Tahap ini diakhiri dengan pencucian dan penirisan sampai kering. Sumber : Indonesia Indah, Kain-kain Non Tenun Indonesia Gambar 5.67. Hasil akhir
  • 343. 353 TES FORMATIF A. Jawablah soal di bawah ini secara singkat dan jelas ! 1. Sebutkanlah cabang-cabang seni rupa yang kalian ketahui dan berilah contoh-contohnya. 2. Apa beda antara seni rupa murni dan desain? Uraikanlah 3. Kita kerap menggunakan karya desain dalam aktivitas sehari-hari. Coba uraikan apa saja karya desain yang kalian miliki? 4. Sebutkan apa yang dimaksud dengan warna primer dan warna sekunder! 5. Jelaskan apa itu titik dan garis serta ada berapa garis yang kita kenal? 6. Dalam berkarya rupa, seorang siswa harus memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar rupa. Coba jelaskan! 7. Kita mengenal wujud simetri dalam rupa dasar. Berilah contoh dengan gambar! 8. Betapa indahnya jika mendengar irama sebuah lagu yang dinamis. Bagaimana penerapan unsur irama dalam dunia seni rupa? 9. Apa yang kalian ketahui tentang apresiasi seni rupa? 10. Jelaskan aspek-aspek penilaian dalam apresiasi karya seni rupa? B. Tugas 1. Coba kalian kemukakan pendapat kalian sendiri tentang manfaat seni rupa dan desain modern bagi kehidupan manusia di tanah air. Tulislah dalam setengah halaman folio. 2. Jelaskan ruanglingkup kriya sebagai prospek kewirausahaan! Buatlah berupa makalah! 3. Buatlah kliping (kumpulan artikel ataupun gambar) yang berhubungan dengan budaya rupa. Pilihlah salah satu tema berikut ini. - Kumpulan foto bangunan di kotamu. - Kegiatan pameran seorang pelukis atau pematung. - Pameran buku, barang, furniture, pakaian, atau komputer. - Tulisan tentang seni rupa di koran atau majalah. C. LATIHAN 1. Buatlah komposisi beberapa bidang sesuai prinsip-prinsip seni rupa. Berilah warna berbeda pada setiap bidang. Warna harus berdasarkan hasil campuran warna antar masing-masing jenis warna yang berbeda! ( misal : warna primer dengan warna sekunder ) 2. Buatlah cetak tinggi sederhana dengan ketentuan sebagai berikut : a) siapkanlah kertas gambar A2, cutter, pewarna kue, serbet, alas kerja; b) potonglah ubi jalar/kentang/wortel, cukillah sesuai klise menonjol yang diinginkan ; c) Cetaklah sesuai komposisi yang harmonis
  • 344. 354 3. Buatlah patung dari bubur kertas dengan rangka kawat ! 4. Buatlah saputangan dengan teknik batik. Ketentuan sebagai berikut : a) gambarlah desain pada kain ukuran 30 x 30 cm, sisakan tepi keliling untuk lipatan akhir ; b) Tutuplah bidang kontur dengan lilin seperti proses membatik tanpa canting ; c) celuplah dalam pewarna batik atau wantex; d) finishing dengan melorot pada air panas.
  • 345. Bab 6 Wirausaha
  • 346. Usaha Kecil Penyelenggaraan Seni Pertunjukkan Wirausaha EO Pertunjukan Musik Penata Musik Film Proses Manajemen Produksi Teater Kewirausahaan Dalam Seni Rupa
  • 347. 358 BAB VI WIRAUSAHA Wirausaha 6.1. Usaha Kecil Wirausaha diartikan sama dengan pejuang / berani menjadi teladan dalam bidang usaha. Wirausaha yang baik adalah pelopor usaha yang menciptakan lapangan pekerjaan, menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat, peka terhadap peluang bisnis. Ciri-ciri : Motivasi berprestasi tinggi Dapat dipercaya Disiplin Berpikir kreatif, inovatif dan inisiatif Mampu memanfaatkan peluang Kemampuan mengambil keputusan Berani mengambil resiko Percaya diri Kemampuan berkomunikasi Faktor-faktor yang dibutuhkan oleh seorang wirausaha baru, adalah : 1. Komitmen, yaitu dapat diartikan serius untuk menjalani usaha ini. 2. Kegembiraan, adalah melakukan usaha ini penuh semangat. 3. Sumberdaya, adalah memilih orang yang ahli dalam bidangnya. Integrasi aktif mencari kerjasama dengan badan usaha sebagai Pembina ataupun mitra usaha. 4. Belajar dari pengalaman, kesalahan atau faktor kegagalan jangan dilakukan kembali, penyebabnya dipelajari. Kaitan faktor-faktor tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Sukses Awal Belajar dari pengalaman Komitmen Menjadikan perubahan berkelanjutan Integrasi Kegembiraan Sumberdaya Bagan 6.1. Kaitan Faktor-faktor Karakter Seorang Wirausaha
  • 348. 359 Apa yang harus diubah ? Pengembangan Staf Pengelolaan Komunikasi Staf Struktur & Sistem Perencanaan Penilaian ulang Kinerja i i Penghargaan Bagan 6.2. Perencanaan Seorang Wirausaha Pengelolaan Staf : proses rekruitmen penempatan pembinaan pengembangan (on the job training, teamwork, dan lain-lain) pemutasian promosi pemensiunan
  • 349. 360 Cara Memanfaatkan Peluang Pasar 1. Memodifikasi / mengubah produk 2. Menyempurnakan produk pesaing 3. Menciptakan produk baru Pengetahuan ini dapat diaplikasikan dari hasil karyamu dari Ikat Celup dan Batik. Pada Bab V sudah dijelaskan tentang keterampilan membuat Ikat Tenun dan Batik. Langkah awal memulai usaha adalah berpikir kreatif, dan inovatif. 1. Ketika proses pewarnaan, perlu diperhatikan kualitas pewarna (jangan yang cepat luntur). 2. Memilih warna, perhatikan target pasar konsumsi untuk anak-anak atau untuk orang dewasa. 3. Cobalah bahan yang telah jadi, dijadikan pakaian dengan model casual. 4. Pelajari selera pasar. 5. Perbanyak referensi model. Pada ciri berani mengambil resiko. - Berani menawarkan untuk menitipkan pada Koperasi. - Buatlah promosi pada Koran atau majalah. - Jaga mutu dan buatlah model-model yang menarik. - Ambil keuntungan kecil saja, setelah dikenal luas baru memikirkan keuntungan. 6.2. Menjadi Wirausaha Penyelenggaraan Pertunjukan Musik Untuk itu dibutuhkan kemampuan : 1. Menyusun struktur organisasi 2. Target keberhasilan 3. Struktur uraian kegiatan berdasar bidang kegiatan 4. Perencanaan pementasan - umum - produksi 5. Saluran komunikasi 6. Keamanan Penyelenggaraan Seni Pertunjukan Membentuk dan menyusun Panitia serta pembuatan jadwal dengan langkah sebagai berikut : 1. Menentukan tema 2. menentukan bintang dan pendukung vokal dan tari
  • 350. 361 1. Struktur Organisasi Pemimpin Direktur Direktur Artistik Organisasi Bagian Bagian Bagian Bagian Dokumentasi Bagian Bagian Tata Suara Undangan Latihan Keanggotaan Konsumsi Tata Rias Keuangan dan dan dan Panggung Komunikasi Kostum Bagan 6.3. Struktur Organisasi Persiapan Penyelenggaran Pertunjukan 2. Struktur Uraian Kegiatan Berdasarkan Bidang Kegiatan Produksi Latihan Tata Rias Tata Panggung Penunjukkan Latihan Musik Inti Gladi Resik Anggota Gabungan Bagan 6.4. Struktur Uraian Kegiatan Persiapan Penyelenggaraan Pertunjukan
  • 351. 362 3. Perencanaan Pementasan 1. Umum Penggalangan dana / sponsor menggunakan proposal dan perjanjian, penyediaan tempat Administrasi Pembukuan Konsumsi Perijinan 2. a. Produksi Penulisan tema MC/Narator Penerima undangan Latihan Tata rias b. Artistik Latihan inti/kelompok Latihan Gabungan Gladi resik Tata panggung Pembuatan desain panggung Pembuatan property panggung Pengadaan sound system Penataan panggung Tata rias Perias Kostum 3. Saluran Komunikasi (undangan) Spanduk Leaflet Radio / TV Koran Majalah Koordinasi pengisi acara memberikan TOR kepada pengisi acara tentang tema Peralatan Pembiayaan Antar jemput 4. Tempat dan Keamanan Penentuan tempat dengan memperhatikan keamanan, jumlah penonton dan tempat duduk Distribusi undangan Keamanan dari berbagai pintu
  • 352. 363 5. Evaluasi Laporan Karcis yang terjual Keuntungan Sponsor yang mendukung Evaluasi artistik yang diperoleh dari : - Kuesioner yang diberikan kepada penonton - Wawancara dengan pengamat 6. Evaluasi Artistik Indikator Sukses Tercapai Cukup Kurang Keterangan Tema konsep Performance : - Pemilihan lagu - Gaya panggung - Pakaian - Tata rias Pendukung : - Penari - Desain panggung - Lighting Sound System - Akustik - Kepraktisan Tempat dan Keamanan - Penentuan tempat, dari sisi keamanan dan jumlah pendonton dan tempat duduk - Distribusi undangan
  • 353. 364 6.3. Penata Musik Film/Sinetron/Kartun Berikut ini langkah-langkah yang harus dilakukan dalam memulai wirausaha sebagai penata musik film/sinetron/kartun : 1. Tahap Promosi Pada tahap ini meliputi : a. Pembuatan demo dari musik yang dapat kita buat, dalam hal ini dapat berupa kaset, cd, atau contoh scene yang telah kita berikan musik latar atau contoh soundtrack. b. Mencari rekanan bisnis, proses pencarian ini dapat melalui peran aktif kita bergaul dengan orang-orang perfilaman, seperti : menghadiri seminar-seminar film, mencari di website/iklan media massa rumah produksi mana yang sedang membutuhkan musik/jingle untuk film/iklan, berteman/masuk ke dalam komunitas orang-orang/mahasiswa perfilman/drama/teater yang berhubungan dengan seni pertunjukan, dsb. 2. Tahap Negosiasi Jika kita telah mendapatkan sebuah rekanan bisnis dan sepakat untuk melakukan kegiatan bisnis maka langkah selanjutnya ialah negosiasi. Negosiasi ini meliputi : a. Sistem/cara pembayaran yang disepakati untuk pembiayaan produksi musik. b. Jangka waktu lama pembuatan musik (deadline) c. Hal-hal mengenai hak cipta/royalti penata musik. d. Hal-hal mengenai pembayaran hak cipta/royalti musik yang merupakan penggunaan hasil cipta orang lain/musik populer yang sudah ada. 3. Tahap awal produksi a. Penata Musik menerima video dari pihak rumah produksi untuk diberi musik latar. b. Mengadakan pertemuan antara penata musik, sutradara, dan produser film mengenai bentuk/jenis musik apa yang akan dimasukkan dalam film tersebut. c. Menyusun jadwal kerja untuk pembuatan musik. 4. Mengelompokkan bagian-bagian film(scene) a. Menentukan letak penunjuk waktu(cue) dan durasi dimana musik dapat dimasukkan dalam tiap bagian-bagian film. b. Menginterpretasi setiap kejadian/peristiwa yang ada dalam tiap bagian untuk ditentukan tema musik/komposisi apa yang cocok untuk bagian tersebut. c.
  • 354. 365 Contoh dalam menginterpretasi tiap bagian : Menginterpretasi setiap tingkah laku aktor/kejadian yang ada ke dalam bentuk musik. Apakah pada bagian ini memang membutuhkan musik? Apakah lebih baik jika tidak ada musik sama sekali? Jika pada bagian ini ada musik, musik apa yang cocok untuk menggambarkan suasana/kejadian yang terjadi pada bagian ini. 5. Pembuatan Musik Dalam hal ini proses pembuatan musik dapat dengan menggunakan lagu yang sudah ada atau membuat lagu/komposisi baru. Contoh dalam membuat komposisi baru : - Dengan menggunakan teknik looping yang dipadu dengan sound effect dan beberapa isian melodi lagu dengan menggunakan keyboard. Dalam hal ini alat yang dapat digunakan yaitu : Perangkat DJ, Keyboard, Software, dan Komputer. - Membuat komposisi dengan mengajak orang-orang yang mengerti banyak akan musik untuk membantu dalam penulisan lagu, aransemen, dan orkestrasi. - Membuat komposisi dengan menulis pada partitur yang kemudian dapat dimainkan baik menggunakan software musik, keyboard, atau mempekerjakan pemain musik untuk memainkannya. 6. Proses Rekaman Pada tahap ini dimulai proses perekaman musik dari tiap scene dan lagu untuk soundtrack. Proses rekaman dapat menggunakan 2 cara : a. Dengan menggunakan MIDI Dengan menggunakan metode ini proses rekaman tidak memerlukan biaya yang terlalu banyak karena tidak membutuhkan keterlibatan banyak orang, cukup menggunakan peralatan audio, keyboard, DJ set, komputer, dan software. b. Proses rekaman manual Dalam metode ini rekaman dilakukan dengan melibatkan beberapa pemain musik yang handal di bidangnya masing- masing. Rekaman dilakukan di studio musik dan membutuhkan waktu yang relatif lama. 7. Proses Hearing Produser dan sutradara mengadakan pertemuan dengan penata musik untuk mendengarkan bersama-sama musik yang sudah jadi. Dalam proses ini apabila belum terdapat kesepakatan dalam musik yang telah dihasilkan, penata musik dapat melakukan koreksi/membuat kembali musik latar tersebut.
  • 355. 366 8. Hal-hal lain yang berhubungan dengan negosiasi bisnis apabila musik telah selesai dibuat, seperti: - Hak Cipta - Proses pelunasan pembayaran biaya produksi musik - Proses Mastering Video dan Audio - Dsb. 6.4. Proses Manajemen Produksi Teater Manajemen yang di jalankan dengan baik akan membantu organisasi teater untuk dapat mencapaai tujuan dengan efektif dan efesien. Efektif artinya dapat menghasilkan karya seni yang berkualitas sesuai dengan keinginan seniman atau penontonnya. Efisien berarti menggunakan sumberdaya secara rasional dan hemat, tidak ada pemborosan atau penyimpangan. Manajemen adalah cara memanfaat semua sumber daya, baik itu sumber daya manusia, maupun sumber daya lainya seperti peralatan, barang dan biaya untuk menghasilkan pementasan atau karya seni pertunjukan teater melalui suatu proses perencanaan ,pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dengan memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan Perencanaan Perencanaan adalah merupakan tahapan pertama yang harus dilakukan oleh suatu organisasi . dalam tahap inilah ditentukan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai dalam waktu tertentu dan cara yang akan ditempuh untuk mencapainya. Misalnya sasaran dalam satu semester melakukan satu kali pementasan . kegiatannya meliputi : - Menulis atau memilih naskah yang cocok untuk di pentaskan - Rencana latihan - Mencari dan menentukan rencana tempat pertunjukan - Mencari biaya pementasan - Rencana promosi dan publikasi - Dan lain-lain
  • 356. 367 Dengan adanya perencanaan yang matang maka akan didapat manfaat : 1. Mengurangi resiko ketidakpastian terutama berkaitan dengan penjadwalan waktu Proses dan pelaksanaan. 2. Memusatkan perhatian semua pendukung acara pertunjukan pada sasaran, perencanaan dapat digunakan sebagai pedoman dalam hal pengelolaan SDM dan Biaya. 3. Menjadi pijakan bagi langkah – langkah manajemen selanjutnya. Proses Perencanaan dilakukan melalui : - Menentukan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan - Mengurutkan langkah – langkah kegiatan - Penjadwalan / menyusun time scedulle - Integrasi atau terpadu dalam satu proses bersama Pengorganisasian Kegiatan Pengorganisasian berfungsi supaya sumber daya yang dimiliki dapat diberdayakan dengan optimal sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Hal dapat tergambar dengan adanya struktur organisasi. Hadirnya struktur organisasi bukan hanya diatas kertas atau tertera dalam bagan akan tetapi dilengkapi dengan uraian tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan kedudukannya dalam oraganisasi dan mekanisme kerja antar bagian organisasi. Proses pengorganisasian dilakukan dengan urutan: Merinci pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran organisasi Mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan Pembagian tugas sesuai dengan minat,bakat dan kemampuan Menyusun mekanisme untuk mengkoordinasi pekerjaan agar semua anggota konsisten dengan sasaran organisasi serta mengurangi masalah-masalah yang timbul
  • 357. 368 CONTOH STRUKTUR ORGANISASI GRUP TEATER PIMPINAN DIREKTUR DIREKTUR ARTISTIK/ ADMINISTRASI SUTRADARA DAN UMUM BAGIAN BAGIAN BAGIAN BAGIA BAGIAN BAGIAN BAGIAN UMUM DAN NASKAH N TATA TATA MARKETIN KEUANGA LATIHAN KEANGGOT DAN RIAS SUARA DAN G DAN N PERPUSTA DAN AAN PANGGUNG TIKETING KOSTU KAAN M Bagan 5. Struktur Organisasi Grup Teater Pengarahan Anggota Proses pengarahan ini dilakukan oleh pimpinan organisasi yang bertujuan supaya seluruh anggota organisasi melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan harapan Organisasi. Proses ini meliputi : - Bagaimana memberikan instruksi atau mengkomunikasikan harapan organisasi - Memimpin dan memotivasi seluruh anggota agar melaksanakan tugasnya dengan baik. - Mengembangkan kemampuan : Melatih dan membimbing Pengendalian Kegiatan Proses Pengendalian ini dilakukan untuk menjamin dan mematikan tercapainya sasaran yang telah ditetapkan dalam perencaan. Aspek-aspek pengendalian : - Upaya pencegahan - Peninjauan terhadap hasil - Tindakan korektif agar sasaran dapat tercapai
  • 358. 369 Langlah-langkah dasar pengendalian : - Menetapkan standar atau ukuran pencapaian keberhasilan dan cara mengukurnya, misalnya standar publikasi adalah adanya poster atau baliho, jumlahnya cukup untuk menjangkau penonton yang berada di sekitar sekolah yang baik, menarik, unik dan tepat sasaran. - Mengukur hasil / prestasi dengan yang pernah dilakukan, misalnya pementasan sebelumnya - Membandingkan hasil yang di capai dengan dengan standar , apakah tercapai, tidak tercapai atau melampaui. - Mengambil tindakan misalnya tingkat pencapai dibawah standar maka harus secepatnya dilakukan tindakan-tindakan agar persoalan tidak menjadi lebih besar dan hasil yang dicapai sangat minim. 6.5 KEWIRAUSAHAAN DALAM SENI RUPA Kewirausahaan selalu melibatkan dua unsur pokok, yaitu peluang dan kemampuan menanggapi peluang. Menurut Asmudjo ( 1999 ), Kriya dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu : Kriya Tradisi, Kriya Industri, dan Kriya Seni. a. Kriya Tradisi adalah penciptaan produk kriya yang berotientasi pada nilai fungsional, dekoratif, dan kualitas artistic/nilai hias yang dominant dan lebih menonjolkan segi kepandaian kriya ( craftsmanship ) daripada segi ekspresi. Kriya tradisi ini tumbuh subur di lingkungan pendesaan yang diproduksi sebagai usaha rumah tangga ( home industry ). Usaha ini biasanya dikerjakan secara manual dengan teknik sederhana. b. Kriya Industri pada dasarnya sama dengan kriya tradisi, penciptaan produknya berorientasi pada nilai guna/fungsional, namun telah diproduksi secara massal, berkualitas artistic, melibatkan penguasaan teknologi yang lebih maju, dan didukung oleh proses perancangan/desain yang matang, serta sangat memperhatikan pasar komersial. c. Kriya Seni adalah penciptaan karya kriya yang mengandung kompleksitas nilai dan berorientasi pada kualitas penghayatan terhadap cita rasa estetik dan symbol-simbol ekspresi yang bersifat personal.
  • 359. 370 Berdasarkan ketiga kategori tersebut, dapat terlihat bahwa kriya memiliki potensi yang luar biasa di bidang kewirausahaan. Dalam hal ini perkembangan pendapatan negara pada sector non-migas memiliki prospek yang cerah. Upaya mengangkat kembali produk kriya Indonesia melalui pendekatan ini merupakan strategi yang tepat untuk dapat bersaing secara kompetitif di dunia internasional. Kewirausahaan pada bidang seni kriya dapat berkembang melalui keterlibatan kriyawan atau pengrajin dalam berbagai kegiatan berwirausaha. Dalam hal ini terlihatlah beberapa peluang kewirausahaan dalam bidang seni rupa, antara lain : a. Bekerja dalam suatu industri besar produk kriya sebagai desainer atau pengrajin kriya. b. Sebagai konsultan dalam pengembangan rancangan seni kriya dan desain, promosi produk seni rupa, dan pengelolaan pameran. c. Mengelola studio kriya seni maupun kriya industri serta seni murni d. Mengelola art shop atau galeri yang memasarkan produk-produk kriya berkualitas dari para pengrajin dan karya seni murni e. Mengelola pameran karya seni rupa, baik yang apresiatif maupun komersial, perlu memperhatikan hal-hal antara lain: Kuratorial : mempersiapkan materi pameran seni rupa sesuai tujuan pameran yaitu apresiatif da komersial. Seleksi karya oleh curator dan juri Mengundang seniman yang mempunyai karya bernilai jual tinggi, merancang anggaran, tempat penyelenggaran, publikasi, siapa tokoh yang membuka acara pameran, dan system transaksi penjualan karya. Evaluasi keberhasilan penyelenggaraan pameran, antara lain seberapa banyak karya yang terjual, pesewaan karya, dan citra penyelenggaraan secara keseluruhan melalui kesan dan pesan pengunjung. Evaluasi bukan untuk menghakimi, tetapi lebih untuk memberi wacana tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut. f. Sebagai tenaga pendidik seni rupa baik di jenjang formal maupun Informal ( sanggar, karang taruna, dan sebagainya ) g. Sebagai perupa atau seniman professional h. Sebagai kritikus seni rupa yang memiliki tanggung jawab besar dalam membuka wacana dan apresiasi kepada masyarakat. i. Sebagai desainer grafis di percetakan, majalah, stasiun TV, dan sebagainya.
  • 360. 371 6.6 Wirausaha Penyelenggaraan Pameran Seni Rupa Tugas kuratorial : mempersiapkan materi pameran sesuai tujuan pameran Tujuan pameran : Apresiatif Penggalangan dana Komersial Contoh pameran lukisan untuk komersial Langkah-langkahnya sebagai berikut : 1. Mengundang seniman yang mempunyai karya nilai jual tinggi 2. Menyeleksi karya dengan melibatkan juri 3. Persiapan anggaran 4. Publikasi 5. Siapa yang mebuka pameran 6. Menentukan tempat penyelenggaraan Evaluasi : - Seberapa banyak karya yang terjual - Berapa karya lukis yang disewa oleh bank atau hotel-hotel dikarenakan penyewaan lukisan karya ternama adalah pencitraan bagi bank/hotel tersebut untuk mendapatkan kredibilitas.
  • 361. Glosari & Daftar Pustaka 3
  • 362. 373 Glosari Aesteties : bersifat indah, karya seni yang indah, nilai-nilai keindahan. Aliran : ciri ekspresi personal yang khas dari seniman dalam menyajikan karyanya – isi karya (makna). Alur : rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama dan menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan cerita kearah klimaks dan penyelesaian. Antagonis : tokoh pertentangan, lawan tokoh protagonist. Anti Tips Casting : pemilihan pemain berlawanan dengan sifat asli pemain. Art Seni : kepandaian, sesuatu yang indah, kagunan, anggitan. Atmos : suasana perasaan yang bersifat imajinatif dalam naskah drama yang diciptakan pengarangnya. Atau suasana berkarakter yang tercipta dalam pergelaran drama. Babak : bagian besar dari suatu drama atau lakon (terdiri atas beberapa adegan). Balance : keseimbangan unsur rupa. Basics design : dasar-dasar desain, nirmana. Basics visual : dasar-dasar rupa, rupa dasar. Blocking : teknik pengaturan langkah-langkah para pemain di panggung dalam membawakan sebuah cerita drama. Caarakan : cara-cara petikan kacapi. Casting : cara pemilihan pemain untuk memerankan suatu tokoh. Casting by ability : pemilihan pemain berdasarkan kecerdasan, kepandaian dan keterampilan calon pemain. Casting by type : pemilihan pemain atas kesesuaian tokoh dengan calon pemain baik fisik maupun tingkah lakunya. Casting motional Temperament : pemilihan pemain berdasarkan kondisi emosi dan perasaan calon pemain. Close value : value yang berdekatan/bersamaan dan kelihatan lembut dan terang. Colour : warna, color Colour image : skema warna Complementer : 2 warna yang berlawanan dalam lingkaran warna Composition : komposisi unsur rupa Contrast : tingkat kecerlangan, cerlang. Craft : kerajinan, keterampilan, seni kriya. Creativity : bersifat kreatif, dunia kreatif Cultural identity : jatidiri budaya, identitas budaya Design : rancangan, karya rancangan, penggambaran, gagas rancangan, pemecahan rupa, susunan rupa, tata rupa, konsep rupa, bahas rupa. Design principles : asas-asas desain.
  • 363. 374 Diatonis : susunan nada yang mempunyai jarak 1 dan ½ Ekplorasi : latihan-latihan pencarian untuk kebutuhan karya seni. Eksposisi : bagian awal sebuah lakon atau karya sastra yang berisi keterangan tentang tokoh dan latar pemaparan- pengenalan. Ekspresionisme : aliran seni yang menampilkan kondisi kedalaman hati/ perasaan. Empati : keterlibatan kedalam bentuk atau larut dalam perasaan tokoh. Expression : mimik, emosi wajah. Gaya : ciri bentuk luar yang melekat pada wujud karya seni. Genre kesenian : jenis / bentuk / fungsi seni sebuah pertunjukan dilakukan. Gestikuised : bagian aktor memanfaatkan gerak/isyarat tangan untuk menegaskan apa yang dibicarakan. Improvisasi gerak : imajinasi spontanitas gerak. Industrial design : disain produk industri, disain produk, disain industri. Intensity chroma : kualitas cerah atau suramnya warna. Karakter : sifat-sifat kejiwaan ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, tabiat, watak. Komedi : lakon gembira, atau suka cita. Konflik : berselisih, pertentangan, ketegangan dalam cerita atau lakon (dua kekuatan atau dua tokoh). Konsentrasi : pemusatan pikiran. Konvensional : aliran atau gaya penampilan yang biasa-biasa saja sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. Lancaran : bentuk lagu yang menentukan letak dan pola tabuhan semua instrumen dalam gamelan Jawa. Laku Dramatik : penggayaan kegiatan atau prilaku sehari-hari sehingga menampilkan sesuatu yang lebih bermakna. Line : garis Low value : nilai yang berada dibawahnya. Musik Internal : musik yang berasal dari tubuh penari itu sendiri (seperti tepuk tangan, teriakan, hentakan kaki, petikan jari, dsb). Musik Eksternal : musik pengiring tari yang berasal dari luar penari (seperti seperangkat gamelan, orkestra/bunyi-bunyian yang dimainkan orang lain). Ostinato : pengulangan pola musik yang sama pada suara bas (iringan). Panggung Proscenium : panggung di gedung pertunjukan yang hanya dapat dinikmati dari satu arah pandang yaitu dari depan.
  • 364. 375 Pentatonis : susunan nada yang mempunyai 5 nada, susunan nada yang berlaras : Pelog terdengar seperti nada do-mi-fa-sol-si-do. Slendro terdengan seperti nada re-mi-so-la-do-re. Pesta Rakyat : kegiatan-kegiatan adat budaya selalu dikaitkan dengan kejadian penting misalnya : kelahiran, perkawinan dan kematian dalam suatu masyarakat tertentu dengan bentuk-bentuk kegiatan seni. Point of view : titik fokus. Proportion : proporsi, kepatutan bentuk, idealisasi rupa. Ricikan : penggolongan instrumen berdasarkan bentuk dan fungsi dalam komposisinya. Rubato : perubahan variasi ritme irama dan dinamik sebagai ungkapan ekspresi pemain (dimainkan sekehendak pemain) Seni : kegiatan sadar manusia dengan perantaraan/medium tertentu untuk menyampaikan perasaan kepada orang lain. Skenario : Adalah susunan garis-garis besar lakon drama yagn akan diperagakan para pemain. Shade : value warna yang lebih gelap dari warna normal. Shape : bangun atau bentuk plastis (form) Stilasi : menyederhanakan gerak dengan meniru gerak alami (seperti gerak bermain, gerak bekerja, dan lain-lain). Tarawangsa : istilah satu set perangkat gamelan sunda. Tari teatrikal : tari yang dikemas untuk pertunjukan yang memiliki nilai artisitik yang tinggi. Texture : barik, kondisi permukaan suatu benda atau bahan. Three dimensional design : bentuk tiga dimensi, nirmana tiga dimensi. Tint : value warna yang lebih terang dari warna normal. Traditional art : Seni tradisi. Two dimensional design : bentuk dua dimensi, nirmana dua dimensi, datar. Unity : kesatuan rupa. Velue : nilai, bobot. Visual art : seni rupa Visual culture : budaya rupa, dunia kesenirupaan. Visual principles : prinsip-prinsip rupa. Vituosned : kemahiran luar biasa dalam menguasai teknik memainkan, membawakan peran.
  • 365. 376 Daftar Pustaka Abdurahman, Maman. 2000. Peranan Kacapi dalam tari Sunda. Bandung: Sekolah Tinggi Seni Indonesia. Anas, Biranul. 1995. “Indonesia Indah, Kain-kain Non Tenun Indonesia”, Jakarta : Yayasan Harapan Kita – BP3 Taman Mini Indonesia Indah. Anderson, Ronald. 1976. Selecting and Development Media for instruction. Wiscosin : American Society for Training and Development. Anim, Suyatna. 1996. Menjadi aktor, Bandung : STB. Autard-Jaqualine Smith. 1996. Dance composition (ed 3). London : A&B Black. ___________. 1994. The art of dance in education. London : A&B Black. ___________. 1993 . Teater untuk dilakoni. Bandung : STB. ___________. 2002. Menjadi sutradara. Bandung : STSI. Balitbang Kerajinan dan Batik. 1991. Pengetahuan teknologi batik. Yogyakarta. Balitbang Kerajinan dan Batik. 1991. Teknologi warna batik. Yogyakarta. Balitbang Kerajinan dan Batik. 2000. Katalog batik Indonesia. Yogyakarta. Bambang, Yudhoyono. 1984. Gamelan Jawa asal mula makna dan masa depannya. Jakarta : PT. Karya Unipress. Bandem, I Made. 1983. Ensiklopedi gambelan Bali Denpasar : Proyek Penggalian Seni Tradisional dan Kesenian Baru Pemerintah Daerah Tingkat I Bali. Bangun, Sem.C. 1997. Aplikasi Estetika Dalam Seni Rupa. Jakarta: Fakulas Pendidikan Bahasa dan Seni Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Banoe. Pono. 1984. Pengantar Pengetahuan Alat Musik. Jakarta : CV. Baru. Bram, Palgunadi. 2002. Serat Kanda Karawitan Jawa, Mengenal seni Karawitan Jawa. Bandung : ITB.
  • 366. 377 Chandra, Purdi. 2001. Menjadi entrepreneur sukses. Jakarta : PT. Grasindo. Dewantara, Ki Hadjar. 1967. Kebudayaan II A, Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Dewantara, Ki Hadjar. 1977. Pendidikan Edisi I Cetakan ke 2. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Devi Triana, Dinny, dkk. 2001. Pendidikan seni tari di Sekolah Menengah Umum. Jakarta : Seminar dan Lokakarya Pendidikan Seni. Dieter Mack. 1995. Sejarah Musik 2. Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusantara. Dwi Kusumawardani. 2005. Metode Pengembangan Seni. Jakarta: Universitas Terbuka. Edi Sedyawati, dkk. 1986. Pengetahuan Elemener Tari dan Beberapa Masalah Tari. Jakarta: Direktorat Kesenian, Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Fraser, Lynch Diane. 1991. Discovering and Developing Creativity. Americans : A Dance Horizons Book Princeton Book Company, Publisher. Hadi Sumandiyo. 1996. Aspek-aspek dasar komposisi kelompok Yogyakarta : Manthili. Yogyakarta. Harimawan. 1993. Dramaturgi, Bandung : CV. Remaja Rosda Karya. Harmoko. 1993. Tari tradisional Indonesia. Jakarta : Yayasan Harapan Kita, Jakarta. Hawkins. Alma M. 1990. Mencipta Lewat Tari. Terjemahan Y.Sumandiyohadi. Yogyakarta; ISI Yogyakarta. Herdiati, Dian. 2001. Diktat Kuliah Teori Musik Jurusan Musik UNJ. Humprey, Doris. 1964. The Art of Making Dances. New York: Charles F. Woodford and Barbara Pollack. Humphrey, Doris. 1983. Seni Menata Tari. Terjemahan Sal Murgiyanto. Jakarta : Dewan Kesenian Jakarta. I Jzerdraat, Bernard dan Suhendro Sosrowarno. 1954. Bentara Seni Suara Indonesia. Jakarta : JB Wolters.
  • 367. 378 I Wayan. 2004. Dibia Pragina. Malang: Sasa Media. Jacob Sumarjo. 2000. Filsafat Seni. Bandung : IBT Bandung. Jamalus, 1988. Pengajaran musik melalui pengalaman musik. Jakarta : Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti, Depdikbud. Jamal Mld, 1982. Tari pasambahan dan galombang di pesisir selatan. Padang Panjang : ASKI Padang Panjang. Jazuli, M. 1994. Telaah teoretis seni tari. Semarang : IKIP Semarang Press. Kamin, Roger. 2002. An appreciation music. Fourth edition. New York : Mc Graw Hill. Kerlogue, Fiona. 2004. The book of batik. Singapore : Archipelago Press. Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. Koesoemadinata R. Machjar Angga. 1969. Ilmu Seni Raras. Jakarta : Pradya Paramita. Kraus, Richard. 1969. History of the dance in art an education. Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice Hall. Inc. Kriya Indonesia Craft. 2007. DEKRANAS. Kusmayati, 2001. Perubahan seni pertunjukan untuk apa, untuk siapa. Yogyakarta : Jurnal Penelitian ISI Yogyakarta Vol. 3. Laban, Rudolf. 1975. Modern education dance. London : MacDonald and Evans. La Meri. 1965. Dance composition : The basic elements. Massachusetta : Jacob’s Pillow Dance Festival, Inc. Langer, Zussane. 1988. Problematika seni. Terjemahan FX Widaryanto. Bandung; ISI Bandung. Lata Mahosadhi. 1997. Art documentation center. Sekolah Tinggi Seni Indonesia. Denpasar.
  • 368. 379 Masunah, Juju dan Kawan-kawan. 1998. Perbandingan jenis-jenis angklung di Jawa Barat. Buku I. Bandung : IKIP Bandung. Muchlis dan Azmi, 1995. Lagu-lagu untuk sekolah dasar dan lanjutan, Jakarta; Mustika. Muhadjir. 1986. Peta Seni Budaya Betawi. Jakarta : Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Munandar, Utami. 1996. Mengembangkan bakat dan kreativitas anak sekolah. Petunjuk bagi para guru dan orang tua. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia Jakarta. Murgiyanto. Sal. 1983. Koreografi : Pengetahuan Dasar Komposisi Tari. Jakarta; Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Jakarta. __________, 1979/80. Topeng Malang Pertunjukan Drama Tari di Daerah Kabupaten Malang. Jakarta : Proyek Sarana Budaya Departemen Pendidikan Nasional. MC Neill, Rhoderick, 1998. Sejarah Musik 1. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Noor Fitrihana. 2007. Proses Batik. http:/batikyogya.wordpress.com/ tag/teknologi. Parani, Yulianti. 1975. Pengantar Pengetahuan Tari. Jakarta : LPKJ. Permas, Achsan. 2003. Manajemen Seni Pertunjukan. Jakarta; PPM Jakarta. Rambat Lupiyoadi. 2002. Enterpreneurship from minset to strategy. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Riswandi, Tardi. 2002. Diklat Kuliah alat petik kacapi. Departemen Pendidikan Nasional, Sekolah tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Ruchiat, Rachmat, Singgih Wibisono, Rachmat Syamsudin. 2003. Ikhtisar Kesenian Betawi. Cetakan Kedua. Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta Rumadi, A. (Editor). 1991. Kumpulan Drama Remaja. Jakarta: Grasindo, Gramedia Widiasarana Indonesia. Rofik, Arif, 2002. Pestetika Tari Warok dalam Perkembangan Budaya Warok di Ponorogo. Denpasar : Tesis Pasca Sarjana Universitas Udayana. Sabana, Setiawan. 2007. Makalah Sasaran Pendidikan Tinggi Seni di Indonesia, Seminar Pendidikan Apresiasi Seni Universitas Negeri Jakarta, Akademi Jakarta.
  • 369. 380 Sachari, Agus. 2004. Seni rupa dan desain : membangun kreativitas dan kompetensi. Jakarta : Erlangga Penerbit. Samah, Ardi. 1983. Tari rakyat Minangkabau. Padang : Pengembangan Kesenian Sumatra Barat. Santoso Hadi. 1993. Gamelan, Edisi Revisi. Semarang : Drahara Prize. Sanyoto, Sadjiman, Ebdi. 2005. Dasar-dasar tata rupa dan desain (Nirmana) Yogyakarta : CV. Arti Bumi Intan. Sejarah batik Indonesia. http:/batikindonesia.info/2005/04/18/ sejarah batik- indonesia. Slater, Wendy. 1990. Teaching modern educational dance. Plyamonth : Norttoc house. Smith, Jacquline. 1985. Komposisi tari ; sebuah petunjuk praktis bagi guru. Terj. Ben Suharto. Yogyakarta : Ikalasti. Smith. M. Jaquline. 1985. Dance Compisition Practical Guide for Teacher. London: A&C Block. Soedarsono. 1977. Tari-tarian Indonesia I. Jakarta: Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ----------. 1986. Elemen-elemen Dasar Komposisi Tari (terj). Yogyakarta: Lagaligo. ----------. 1998. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi Departemen Pendidikan Nasional. ----------. 1997. Tari Tradisional Indonesia. Jakarta: Harapan Kita ----------.1992. Penganar Apresiasi Seni Tari. Jakarta: Balai Pustaka. ----------. 1976. Pengantar Komposisi Tari. Yogyakarta: ASTI Yogyakiarta. Soedarsono. 1998. Seni pertunjukan Indonesia di era globalisasi. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Soedarso SP. 1987. Tinjauan seni : sebuah pengantar untuk apresiasi seni. Yogyakarta; Suku Dayak Sana. Suanda, Endo. 2007. Makalah Pendidikan Seni Berbasis Budaya. Seminar Pendidikan Apresiasi Seni Universitas Negeri Jakarta, Akademi Jakarta. Sukatmo, Tuti dan Udin Saripudin. 1994. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta.
  • 370. 381 Sumarsam. 2003. Gamelan. Intreaksi budaya dan perkembangan musical Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Yogyakarta. Supanggah, Rahayu. 2002. Bothekan Karawitan I. Jakarta, Masyarakat seni pertunjukan Indonesia. Surya Dewi, Ina. 2003. Pengantar tari pendidikan. Makalah Kuliah Perdana Jurusan Seni Tari FBS Universitas Negeri Jakarta. Syafi Jatmiko. 2003. Materi dan pembelajaran kertakesi. Jakarta : Universitas Terbuka Jakarta. Syarif, Mustika. 1991. Tari rakyat Minangkabau (Makalah) Padang : Makalah Uniersitas Padang Panjang. Tambayong. 1999. Dasar-dasar dramaturgi. Bandung : Pustaka Kimia. Tridjata S. Caecilia. 2005. Dasar-dasar estetika. Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta Tumbidjo, Datuk. 1984. Seni gerak minangkabau. Padang : Pengembangan Kesenian Sumatra Barat. Waluyo, Herman. 2001. Drama, tari dan pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita Graha. Wardhani, Cut Kamaril dan Ratna Panggabean, 2003, “Tekstil”. Buku Piloting PSN, Jakarta : Penerbit Semi Nusantara (PSN). Wiramihardja. Obby AR. 2005. Diktat Angklung. Pa Daeng. Bandung : Masyarakat musik Angklung. Wiyanto, Asul. 2008. Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo, Gramedia Widiasarana Indonesia. Wong, Wucius. 1994. Principal of two dimensional design. New York: Van Nostrand Reinhold. Yampolsky, Philips. 2001. Konsep pendidikan apresiasi seni nusantara. Makalah Seminar dan Lokakarya Pendidikan Seni 18-20 April.
  • 371. CURRICULUM VITAE (Ketua) 1. Nama : Dra. Sri Hermawati Dwi Arini, M.Pd. 2. Jenis Kelamin : Perempuan 3. Tempat/Tgl. Lahir : Jakarta, 1966 4. Agama : Islam 5. Status Kepegawaian : Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Seni Musik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta, sejak 1992. 6. Golongan : IV A 7. NIP : 131933266 8. Alamat Kantor : Kampus Universitas Negeri Jakarta Jalan Rawamangun Muka, Jakarta Timur Telp. 47865811 9. Pendidikan : S1 Pendidikan Musik FPBS IKIP Jakarta, 1989. Lulusan Terbaik Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni 1990 (Semester I). S2 Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Pascasarjana UNJ, 2005 10. Tim Assesor BAN (Badan Akreditasi Nasional) Perguruan Tinggi, Depdiknas 2007 11. Pendidikan Musik : Spesialisasi Piano Klasik 1985 Grade 12 Sekolah Musik Yamaha Yayasan Musik Indonesia 1986 Grade 11 Sekolah Musik Yamaha Yayasan Musik Indonesia 1987 Grade 10 Sekolah Musik Yamaha Yayasan Musik Indonesia 1988 Grade 9 Sekolah Musik Yamaha Yayasan Musik Indonesia 1989 Step 6 Sekolah Musik Yamaha Yayasan Musik Indonesia 1990 Step 7 Sekolah Musik Yamaha Yayasan Musik Indonesia 1992 Step 8 Sekolah Musik Yamaha Yayasan Musik Indonesia 1994 Guru Sekolah Musik Yamaha Yayasan Musik Indonesia 1999-2000 Grade 5 Sekolah Musik Yamaha Yayasan Musik Indonesia 2006-sekarang melanjutkan belajar Piano di Sekolah Musik Vienna Pusat, (Royal Musik) Jakarta.
  • 372. 12. Jurnal : 1. Musik Tradisi Merupakan Kerangka Musik Nasional, Tahun XXI, No. 10 Juli 2000, Jurnal Ilmu dan Budaya, Universitas Nasional. 2. Musik Merupakan Stimulasi Terhadap Keseimbangan Aspek Kumulatif dan kecerdasan Emosi, tahun ke 7 no. 30 Juli 2001 Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Depdiknas Jakarta (Terakreditasi) 3. Buku Prosiding : Pengasahan Rasa Irama dan Kreativitas Siswa Melalui Eksplorasi Bunyi, 6 Oktober 2003, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (UNESA). 4. Tipe Penilaian dan Proses Pembakuan Pedoman Penilaian Kompetensi Keterampilan Musik, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Depdiknas No. 066, Tahun ke 13 Mei 2007 (Terakreditasi). 13. Pengalaman Ilmiah : Penelitian : 1. Suatu Studi Evaluasi Prestasi Belajar Mahasiswa IKIP Jakarta yang aktif dalam organisansi Kemahasiswaan Periode 1991/1992, Dana OPF Lemlit IKIP Jakarta, 1993 2. Berbagai Aspek Pengajaran Musik SLTP unggulan dan SLTP umu di Jakarta, Dana DIK Lemlit UNJ, 2000 3. Pengembangan Pembelajaran Teknik Tari untuk Anak Pra Sekolah melalui Respons Terbimbing Action Research, Dana DIK Suplemen Lemlit UNJ, 2000 4. Identifikasi Masa Studi Mahasiswa Jurusan Musik FBS UNJ, Dana DIK Rutin FBS UNJ, 2005. 5. Kacapi Suling Instrumental Sebagai Salah Satu Khas Kesenian Sunda Dana PNBP FBS UNJ 2007. Pembawa Makalah : 1. quot;Musik Gamelan Sebagai Salah Satu Musik Tradisional Indonesiaquot;, Pada Pelatihan Peningkatan Manajemen Seni Pertunjukan Tingkat Nasional, 10- 24 Juli 2001, Penyelenggara Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta, 2001. 2. quot;Memadukan Bidang Kependidikan dan Non Kependidikan dalam Program Double Degree Jurusan Seni Musikquot;, Forum eks FPBS se Indonesia 24 Juli 2005, FBS Universitas Negeri Semarang. Pengabdian Pada Masyarakat: 1. Pelatihan Bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Dengan Mengasah Rasa Irama dan Kreatifitas Siswa Melalui Eksplorasi Bunyi, 2000, Dana Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta. 2. Modul Teori Musik dan Wirausaha, Dana Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta, 1999. 3. Menanamkan Cinta Budaya Melalui Dolanan Anak, Pelatihan pada Panti Asuhan Yatim Piatu, Dana PNBP FBS UNJ 2007.
  • 373. Penulisan Buku Teks : 1. Buku Seni Budaya untuk SMA/SMK Kelas X, XI, Penerbit Inti Prima, 2007, Kurikulum KTSP. 14. Organisasi: Anggota, Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia
  • 374. ISBN XXX-XXX-XXX-X Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digu- nakan dalam Proses Pembelajaran. HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00