SMK MAK kelas10 smk kria kulit wayan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

SMK MAK kelas10 smk kria kulit wayan

on

  • 6,024 views

 

Statistics

Views

Total Views
6,024
Views on SlideShare
6,024
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
436
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

SMK MAK kelas10 smk kria kulit wayan Document Transcript

  • 1. I Wayan Suardana untuk Sekolah Menengah Kejuruan Kriya KULIT KRIYA KULIT I Wayan Suardana untuk SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
  • 2. I Wayan Suwardana KRIYA KULIT SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional
  • 3. Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang KRIYA KULIT Untuk SMK Penulis : I Wayan Suwardana Ukuran Buku : …… x …… cm …… IWS I Wayan Suwardana …. Fisika Non Teknologi: SMK oleh I Wayan Suwardana. ---- Jakarta:Pusat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. vi. 271 hlm. ISBN ……-……-……-…… 1. Kriya Kulit Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008 Diperbanyak oleh….
  • 4. KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK
  • 5. PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga Buku Kriya Kulit ini dapat terselesaikan , walaupun masih banyak kekurangannya dan masih jauh dari sempurna. Penulis menyadari sepenuhnya, tanpa bantuan serta dorongan dari berbagai pihak, buku ini tidak akan terwujud. Untuk itu dengan kerendahan hati penulis sampaikan terima kasih kepada Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Depdiknas, serta pihak lain yang telah membantu kelancaran dalam penulisan ini yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu. Atas amal dan pengorbannya, penulis ucapkan banyak terimakasih, semoga mendapat pahala yang setimpal dari-Nya. Yogyakarta, Juli 2008 Penulis. i
  • 6. Daftar Istilah/ Glossary A Acuan, Cetakan kaki, Las: Cetakan tiga dimensi menyerupai bentuk kaki yang dijadikan acuan/ cetakan dalam pembuatan alas kaki. Atasan, bagian atas alas Kaki: Seluruh bagian atas alas kaki yang biasanya terdiri dari beberapa bentuk pola yang disatukan. B Balesi: yaitu garis hitam untuk menghias bentuk sunggingan pada tepi warna dan menhias bludiran. C Cacat Material Kulit : Kerusakan yang terjadi pada material kulit dalam segala jenis dan bentuknya. Corekan: berfungsi untuk nyorek yaitu menggambar diatas kulit perkamen dengan cara menguratkan coretan tersebut. D Daftar Bundel kerja: Daftar bahan-bahan yang akan diproduksi, bersama spesifikasi dan jumlahnya, yang diberikan kepada operator yang bersangkutan. Drenjem: Proses pembuatan titik-titik atau garis titik-titik pada ornamen patran atau mas-masan F Fatliquoring: Obat penyamakan chrome dengan sabun dan minyak agar kulit menjadi lemas atau lentur/elastis dan kuat. G Ganden: Palu kayu sebagai alat pemukul yang digunakan dalam proses pemahatan kulit. Gapit: Benda yang terbuat dari tanduk binatang sebagai pegangan pada wayang kulit yang di bentuk disesuaikan dengan bentuk wayang. K Kulit : Material kulit alami yang diambil dari berbagai jenis kulit binatang. Konstruksi alas kaki, sepatu/sandal: Pilihan jenis struktur/konstruksi yang memperkuat dan membentuk sebuah alas kaki. M Malam: Bahan yang degunakan untuk melicinkan mata pahat sebelum digunakan memahat agar mata pahat mudah dicabut dari kulit ii
  • 7. Manual dengan Tangan: Proses produksi sederhana dengan alat tangan (tidak menggunakan mesin-mesin berat). Masinal dengan Mesin: Proses produksi yang menggunakan alat Bantu mesin-mesin berat bertenaga listrik. Melubang: Melubang merupakan proses pemberian lubang pada bagian yang dijahit yaitu menggunakan proses pemberian lubang pada bagian yang dijahit yaitu menggunakan jahit tangan atau menggunakan mesin jahit (tanpa melubangi). Membentuk Sepatu(alas kaki): Membentuk bagian atas dan midsole alas kaki menggunakan cetakan khusus kaki (last) Mencawi: yaitu menghias warna-warna sunggingan. Mengerok: Proses pembersihan kulit dari daging yang masih tersisa sampai kulit kelihatan bersih dan transparan. Menjahit: Proses menyatukan dua bidang komponen lunak menggunakanbenang dan jarum. Menyeset, Menyisit: Proses menipiskan bidang pinggir material kulit yang dilakukan sebelum kulit dilipat dan atau disambungkan. Mencetak: Proses membentuk sebuah permukaan menjadi bentuk tertentu dengan alat bantu cetakan dan mesin cetak. N Nyaweni (cawen): yaitu proses garis sejajar rapi mengikuti bentuk pahatan P Panduk: Sering juga dinamakan pandukan yaitu alat yang fungsinya sebagai alas atau landasan pada waktu memahat. Penthengan: Alat ini terbuat dari kayu bulat berbentuk segi empat dapat juga dari bambu. Fungsinya untuk merentangkan kulit dalam proses pengeringan Penyelesaian: Proses akhir dalam produksi ditujukan untuk menyempurnakan bentuk yang dibuat. Perkamen: Kulit mentah yang sudah dalam keadaan kering dan digunakan untuk pembuatan wayang, kap lampu, penyekat, kipas, bedug, dsb. Pethel: Adalah kapak kecil yang digunakan untuk menipiskan (mengerok) kulit Pola Dasar: Pola dalam bentuk terentu yang dijadikan acuan dalam pemotongan bagian-bagian material kulit dan sejenisnya. Produk Alas Kaki Kulit: Produk yang digunakan sebagai alas kaki dan terbuat sebagian atau seluruhnya dari kulit, dan tidak terbatas pada sendal dan sepatu. Produk Kulit non Alas Kaki, non busana: Produk pakai yang terbuat dari kulit namum tidak termasuk produk alas kaki dan busana (baju dan celamna) termasuk dan tidak terbatas pada tas dan dompet. iii
  • 8. Prototip, sample: Produk contoh pertama dalam industri kulit biasanya dibuat oleh seorang sample maker dan desainer. S Split: Kulit jadi dari sapi, kuda, kerbau, domba, kambing yang dibelah dengan mesin belah yang menghasilkan 2 bagian atau lebih. Standar Nasional Indonesia (SNI): Standar kerja atau produksi yang secara resmi teklah disetujui dan mendapat sertifikasi SNI Surat Perintah Kerja: Surat perintah pengerjaan yang biasanya disertakan bersama bundle pekerjaan dan diserahkan kepada operator yang bersangkutan. Sungging: Proses memperindah bentuk-bentuk tatahan pada suatu karya kulit perkamen. Menyungging ini merupakan pemberian warna dari warna muda hingga warna tua atau warna gradasi. T Tindhih: Alat ini biasanya berupa besi fungsinya utuk menindih kulit agar permukaannya menenpel pada panduk. U Uncek: Sebagai pelubang kulit sekaligus sebagai alat gambar dalam proses pengerjaan kulit. iv
  • 9. DAFTAR GAMBAR DAFTAR GAMBAR Keterangan BAB Gambar 1. Penampang Kulit I Gambar 2. Sketsa bagian-bagian kulit Gambar 1 Model huruf Gambar 2. Perbandingan huruf Gambar 3. Monogram Gambar 4. Tas Gambar 5 . Sepatu Gambar 6. Plora Gambar 7. Kambing Gambar 8. Kerbau Gamhar 9. Manusia laki-laki Gambar 10. Manusia Gambar 11. Nirmana 3 demensi Gambar 12. Bidang geometris Gambar 13. Bidang nongiometris Gambar 14. Trimatra Gambar 15. Bentuk pola dan barang jadi kulit Gambar 16 . Memola bentuk yang dimaksud Gambar 17. Menggunting pola Gambar 18. Menatah pola Cambar 19. Menghaluskan bidang kulit. Gambar 20. Memberi isian pada tiap sunggingan dan bentuk bagian muka wayang Gambar 21 . Memasang bagian tangan yang dapat digerakan Gambar 22. Memasang tangkai bagian tangan Gamb ar24 . Barang yang telah selesai dibuat Gambar 25. Bidbentuk perspektif bidang-bidang proyeksi dalam dalam bentuk perspektif Gambar 26. Gambar titik pada ruang Gambar 27. Gambar titik dalam bidang proyeksi Gambar 28. Sudut pandang berbeda Gambar 1. Model sepatu Gambar 2. Kulit samak krom Gambar 3. Kulit buaya Gambar 4. Atasan sepatu Gambar 5. Kulit sapi v
  • 10. Gambar 6. Strutur kulit Gambar 7. Lem kentang Gambar 8. Tang zwicken Gambar 9. Paku pembentukan sepatu Gambar 10. Catut Gambar 11. Pukul besi Gambar 12. Bahan untuk sol dalam dan penguat sepatu Gambar 13. Pisau potong dan alat penajam pisau Gambar 14. Memola bahan sol bagian dalam Gambar 15. Memotong bahan sol bagian dalam Gambar 17. Meratakan bahan sol dalam dengan pecahan kaca Gambar 18. Menempel bahan sol dalam pada acuan sepatu Gambar 19. Memotong sol dalam sesuai acuan. Gambar 20. Sepatu model derby Gambar 21. Bagian vamp sepatu Gambar 18. Sesetan miring Gambar 21. Sesetan datar Gambar 22. Sesetan cekung Gambar 23. Sesetan miring tipis Gambar 24. Bagian quarter Gambar 25. Bagian seset miring/tipis dan rata untuk lipatan Gambar 26. Bagian seset miring /tebal Gambar 27. Bagian seset miring/tebal bagian belakang Gambar 28. Bagian seset miring/tebal pencetakan bagian atas sepatu Gambar 29. Seset miring/tipis melipat dibagian quarter Gambar 30. Penguat sepatu Gambar 31. Cetakan penguat sepatu Gambar 32. Menyeset bahan penguat belakang Gambar 33. Mengeringkan penguat sepatu Gambar 34. Cetakan penguat belakang sepatu Gambar 35. Penguat/pengeras yang telah tercetak Gambar 36. Atasan sepatu Gambar 37. Memasang sol dalam Gambar 38. Memasang atasan sepatu Gambar 39. Memasang penguat belakang Gambar 40. Menaburi bedak Gambar 42. Zwicken dasar awal Gambar 43. Zwicken dasar lanjutan Gambar 44. Zwicken lanjutan vi
  • 11. Gambar 45. Memasang sisa lipatan Gambar 46. Membengkokan paku dengan palu besi Gambar 47. Mengopen lapis depan Gambar 48. Memasang penguat depan Gambar 49. Memplastiskan bentuk Gambar 50. Pita dipotong dengan sudut 45 derajat bahan-bahan yang dijahityaitu atasan sol Gambar 54. Pita (rahmen) Gambar 55. Alat pelubang jahit pita (tengah) Gambar 56. Benang pechdraht Gambar 57. Melapisi benang dengan lilin/malam Gambar 58. Bahan pembuat lilin/malam Gambar 59. Tatah kulit perkamen Gambar 60. Benang jahit pita Gambar 61. Jahit pita (rahmen) mulai dari batas hak depan Gambar 62. Menarik jarum dengan catut Gambar 63. Menjahit pita sepatu Gambar 64. Meratakan material dari atasan dan pita Gambar 65. Memukul permukaan insol, pita dan benang jahitan Gambar 66. Meluruskan pita dengan tang zwichen Gambar 67. Memadatkan pita dengan pisau tulang Gambar 68. Corekan Gambar 69. Pahat bubukan putren Pahat bubukan bambangan Pahat bubukan gagahan Gambar 70. Paku pasak/nagel Gambar 71. Membuat lubang pasak Gambar 72. Memotong kelebhan pita Gambar 73. Memaku pasak lanjutan Gambar 74. Kulit untuk hiasan sepatu Gambar 75. Proses merapikan potongan kulit Gambar 76. Potongan kulit untuk hiasan Gambar 77. Memotong kulit dengan alat potong hias Gambar 78. Membuat lubang variasi Gambar 79. Potongan kulit yang sudah di seset Gambar 80. Perakitan, mengukur dan melubangi Gambar 81. Menjahit Gambar 82. Posisi tangan saat menjahit Gambar 83. Posisi jarum mesin jahit saat menjahit Gambar 84. Menjahit bagian pinggir Gambar 85. Mengontrol bagian dalam kulit vii
  • 12. Gambar 86. Pembuatan lu hiasan Gambar 87. Bagian atas sepatu Gambar 88. Pembuatan alas bawah Gambar 89. Melubangi bagian bawah untuk di paku Gambar 90. Melubangi, memberi pasak dan menyeset/meratakan Gambar 91. Merapikan bagian bawah sepatu Gambar 92. Pemberian warna bagian bawah sepatu Gambar 93. Proses menghaluskan bagian bawah sepatu Gambar 94. Penempatan acuan untuk mencari ukuran Gambar 95. Acuan Gambar 96. Meratakan bagian dalam sepatu Gambar 1 Jenis-jenis sesetan Gambar 2. Seset tradisional Gambar 3. Pisau seset biasa Gambar 4 Pisau seset modern Gambar 5 Pisau seset safety beveler atau skife Gambar 6 Pisau seset berbentuk ketam Gambar 7 Penyesetan dengan pisau seset biasa Gambar 8 Penyesetan dengan skife Gambar 9. Penyesetan dengan skife (pisau ditarik ke arah tubuh) Gambar 10 Seset lurus Gambar 11 Seset datar Gambar 12 Seset miring Gambar 13 Seset cekung Gambar Mesin seset Gambar 14 Sesetan datar Gambar 15 Sesetan miring Gambar 16 Sesetan alur Gambar 17 Penjepit atau kuda-kuda Gambar 18 Rader atau plong Gambar 19 Penggaris dan jangka Gambar 20 Memberi tanda tusukan Gambar 21 Melubangi kulit mengikuti tanda tusukan Gambar 22 Memasukan benang pada jarum Gambar 23 Posisi benang pada jarum Gambar 24 Uncek pipih Gambar 25 Posisi uncek Gambar 26 Posisi benang Gambar 27 Posisi lubang Gambar 28 Posisi jarum dengan benang Gambar 29 Posisi benang seimbang viii
  • 13. Gambar Posisi tegak lurus Gambar Posisi arah jahitan Gambar Posisi mengunci benang Gambar Contoh penjahitan manual Gambar Mencorek lurus dan melingkar. Gambar Langgat lurus calon srunen Gambar Memahat inten srunen Gambar Penegasan Garis pola Gambar Pemahatan Wayang Gambar Pemahatan dengan pahat diisi malam Gambar Aneka pahatan Gambar Aneka ukiran untuk asesoris Gambar Tokoh wayang tatahan belum belum diwarna Gambar Gunungan tatahan perkamen Gambar Sket tokoh wayang 1 Gambar Sket tokoh wayang 2 Gambar Proses 1,2,3,4,5 teknik sungging motif tlacapan Gambar Proses 1,2,3,4 teknik sungging motif Sawutan Gambar Mewarna dasar Gambar Mewarna Emas Gambar Mewarna putih Gambar Gradasi Merah Gambar Mewarna gradasi hijau Gambar Mewarna gradasi jingga Gambar Mewarna gradasi warna biru Gambar Mewarna gradasi warna violet Gambar Menempel kuwil mas Gambar Mengolesi perekat kuwil mas Gambar Menempel kuwil mas Gambar Mengedus bludiran Gambar Balesi dan mencawi Gambar Bayu mangsi Gambar . Motif Sunggingan Tlacapan Gambar motif Sunggingan Tlacapan pada wayang Gambar sketsa Penyekat Ruang (Sketsel Gambar sketsa Jam Dinding Gambar sketsa Lampu Gantung Gambar Pemindahan Pola dari Kertas Karton ke Kertas Kalkir Gambar Pola pada Kulit Perkamen ix
  • 14. Gambar Peralatan Sungging. Gambar Peralatan Finishing Akhi Gambar Proses Penghalusan kulit perkamen Gambar Proses Finishing Akhir Gambar Tanduk Kerbau Gambar Macam alat pembuat tangkai Gambar gergaji gawangan Gambar pisau penyisik dan penyerut Gambar Patar grigi Gambar Bu Erek Gambar Tanduk yang sudah dibelah Gambar patar cembung Gambar penyerut gapit Gambar Kompor pelurus gapit Gambar Amplas kain dan Daun amplas Gambar Air pendingin gapit Gambar Suasana penyertiran tanduk Gambar Tanduk Gambar Gapit Gambar Gambar 187. Potongan-potongan gapit diikat yang nantinya digunakan untuk asesoris yang kecil-kecil Gambar Gambar 188. Gapit, sudah siap untuk di gunakan, ada gapit berwarna hitam, putih, coklat, tergantung jenis sapi/kerbau yang digunakan. Gambar Gambar 189. Penghaluskan Gapit, dengan cara dilap berkali-kali, kemudian dipanaskan lagi dan seterusnya. Gambar Gambar 190. Gapit, dengan warna kecoklatan ditengah-tengahnya terdapat garis kehitam-hitaman. Gambar Gambar 191. Gapit yang sudah dibelah, biasanya disesuaikan dengan tokoh yang diharapkan, masing-masing tokoh wayang berbeda-beda. Gambar Gambar 192. Ujung pentolan gapit, gunanya untuk gapit wayang dan memudahkan untuk mengikatnya. Gambar Pemanasan apit dengan menggunakan lampu, untuk melemaskan gapit supaya dengan mudah untuk dibentuk menggunakan tanduk. Gambar Membentuk gapit dengan menyesuaikan x
  • 15. bentuk dan karakter wayang Gambar Melubangi bagian gapit, guna proses perakitan Gambar Memberi tali pada gapit yang kemudian disesuaikan dengan wayang/tokoh yang dikehendaki Gambar Pemasangan gapit pada wayang, dilakukan dengan sangat hati-hati, sebab kadang- kadang gapit sangat kaku dan sulit untuk diolah. Gambar Pemanasan gapit dilakukan untuk membentuk posisi wayang yang akan diisi gapit, supaya sesuai dengan tokoh yang dikehendaki. Gambar Perakitan, wayang dengan gapit secara ber ulang-ulang dipanasi untuk mendapatkan hasil sesuai dengan bentuk wayang, kater jarum dengan benangnya digunakan untuk merangkai supaya bisa kuat. Gambar pisau kater, benang lengkap dengan jarum, juga lem untuk merekatkan Gambar Posisi tangan pada saat merakit, gapit dimasukan pada wayang mulai dari bawah ke atas sampai di atas baru diikat, juga disisipkan benang untuk penguat. Gambar Menggapit tangan wayang, sesuai dengan tokoh yang dikehendaki. Gambar Kap Lampu Duduk Gambar Kap Lampu Gambar Tempat Lilin Gambar Tempat Lilin dan Kap Lampu Gambar Pembatas Buku Gambar Wayang Kulit Belum di Warnai Gambar Wayang Kulit Sudah di sungging Gambar Hiasan Dinding Gambar Mahkota Untuk Tarian Bali Tampak Depan Gambar Mahkota Untuk Tarian Bali Tampak Samping Gambar Sabuk Busana Tarian Bali Gambar Asisoris Tarian Bali xi
  • 16. DAFTAR ISI Halaman Judul Pengantar ......................................................................................... i Daftar Istilah/Glossary ...................................................................... ii Daftar Gambar .................................................................................. iv Daftar Isi .......................................................................................... xi BAB I Pendahuluan A Sejarah dan Ruang Lingkup ............................................ 1 B. Histologi ............................................................................ 5 1. Lapisan Epidermis ....................................................... 5 2. Lapisan Crorium (Derma) ............................................ 6 3. Lapisan Hypodermis .................................................... 6 C. Macam dan Jenis Kulit ...................................................... 7 D. Kerusakan Kulit Mentah ................................................... 12 E. Cacat Kulit dan Penyebabnya ........................................... 17 1. Pegaruh usaha terak terhadap kalitas kulit .................. 17 2. Pengaruh Kedaan Kulit trhadap Kualitas Kulit ............. 17 3. Pengaruh Iklim terhadap Kualitas Kulit ....................... 17 4. Pengaruh Adaptasi terhap Kualitas Kulit ...................... 17 5. Pengaruh Makanan terhadap kualitas kulit ................. 18 6. Pengaruh Perawatan terhadap Kualitas Kulit .............. 18 7. Proses Pngobtan Kulit Mentah .................................... 18 8. Langkah-Langkah Pengolahan Kulit Mentah ............... 19 9. Pembagian Kulit Berdasarkan Berat ............................ 21 10. Kualitas Kulit Kambing / Domba ................................... 21 xii
  • 17. BAB II. 1.SK.Membuat nirmana KD : .................................................................................... 22 1). Mengeksplorasi garis dan bidang................................. 22 2). Menggambar huruf ...................................................... 23 3). Menggambar alam benda ............................................. 24 4). Menggambar Flora fauna ............................................. 27 5). Menggambar manusia.................................................. 30 6). Membuat nirmana 3 dimensi bentuk geometris dan geometris dan organis ................................................. 32 2. SK, Menggambar ornamen 1). Mengidentifikasi bahan dan peralatan gambar ........ 34 2). Menggambar pola ornamen ..................................... 35 3). Membuat eksperimen warna primer, skunder, tersier dan gradasi warna untuk membentuk keindahan ornamen .. 37 4). Membuat finising gambar ornamen sesuai dengan pola motif .................................................. 38 3.SK : Membuat, membaca, dan memahami gambar teknik KD : ...................................................................................... 41 BAB III 4. SK : Membuat produk alas kaki KD : ............................................................................................ 46 BAB IV. 5.SK : Produk Kulit Non Alas Kaki dan Non Busana KD: ........................................................................................... 98 BAB V. 6.SK. Mencetak kulit dengan mesin press KD : ...................................................................................... 202 BAB VI. 7.SK.Menyeset kulit dengan pisau seset manual dan seset masinal KD : ......................................................................................... 208 BAB VII.8.SK: Menjahit kulit dengan tangan KD : ......................................................................................... 237 BAB VIII.9.SK.Menjahit kulit dengan mesin .................................... 267 BAB IX 10.SK: Memasang assesoris KD : ......................................................................................... 271 BAB X. 11.SK: Membentuk produk alas kaki dari kulit secara manual xiii
  • 18. KD : .......................................................................................... 273 BAB XI. 12.SK: Membentuk produk alas kaki dari bahan kulit secara masinal KD : ........................................................................................... 315 BAB XII.13: Membentuk produk non alas kaki dan non busana KD : ........................................................................................... 322 BAB XIII : Penyelesaian akhir (Finising) produk kulit KD : .......................................................................................... 328 Daftar Pustaka ................................................................................ 474 xiv
  • 19. BAB II 1.SK : Membuat nirmana KD: 1) Mengekplorasi garis dan bidang a. Pengertian Garis Menurut Sidik dan Prayitno (1981:4) pengertian garis dijelaskan sebagai berikut: 1) Garis adalah suatu goresan. 2) Garis adalah batas limit dari suatu benda, massa, ruang, warna, dan lain-lain. Garis hanya berdimensi memanjang serta mempunyai arah, mempunyai sifat-sifat seperti: pendek, panjang, vertikal, horisontal, lurus, melengkung, dan seterusnya. Garis terjadi andaikata suatu titik dapat bergerak dan membekaskan jejaknya. Terjadinya suatu garis disebabkan oleh hasil daya gerak. Kualitas khas dari suatu garis adalah akibat dari efek ekspresinya bergantung kepada tiga faktor pokok yaitu: sifat dari orang yang membuat garis tersebut, alat dan medium yang memproduksinya, dan permukaan yang menerimanya. Seperti yang dikemukakan oleh Read (terj. Soedarso SP. 2000:20) bahwa: Seni rupa yang ada di gua-gua, bermula juga dari garis contur. Seni rupa bertolak dari keinginan untuk menggaris ... garis adalah elemen terpenting dalam seni rupa, sehingga beberapa seniman dengan tidak ragu-ragu menganggapnya sebagai elemen pokok bagi semua seni rupa. ... Garis dapat mengekspresikan baik gerakan maupun massa ... bagaimanapun juga harus diingat bahwa garis itu sendiri tidak bergerak ataupun menari-nari, kita sendiri yang membayangkan diri kita menari-nari sepanjang jalur garis itu. Kualitas garis yang paling menarik adalah kapasitasnya untuk mensugestikan massa atau bentuk tiga dimensional. Bending upright line : garis tegak yang membengkok, memberisugesti sedih, lesu dan duka. Upward swirls ; qlakan - olakan keatas memberi sugesti aspirasi ke kuatan spirituil dan semangat yang menyala, hasrat yang keras berkobar - kobar. Rhytmic horizontals horizontal - horizontal berirama, memberi-sugesti malas, tidur. , ketenangan yang menyenangkan. Upward spray, pancaran keatas, memberi sugesti pertumbuhan, iidealisme, spontanitas. Kriya Kulit 22
  • 20. Diminishing perspective, perspectif yang melenyap, memberi sugesti adanya jarak,kejauhan dan kerinduan. b. Pengertian Bidang Bidang adalah keluasan, yang mempunyai bentuk dua dimensional atau tiga dimensional, keluasan positif atau negative yang dibatasi oleh limit. Selain mempunyai sifat-sifat yang sama seperti garis, ruang mempunyai 2 dimensi tambahan yaitu lebar dan dalam yang menyebabkan berbeda dengan garis. Hal ini berarti selain bahwa ruang dapat mempunyai gerakan arah (horizontal, diagonal, tegak, lurus, dan seterusnya) dapat mempunyai cirri-ciri umum seperti berglombang, lurus, melengkung dan lain-lain, dapat panjang atau pendek dan disamping dimensi-dimensi ini semua dapat memiliki lebar dan dalam yang membantu kemungkinan-kemungkinan sebagai variasi yang besar sekali dalam shapenya seperti bulat, persegi, runcing, sempit, lebar, datar, kubus 2) Menggambar huruf Menggambar huruf sangat penting dalam dunia periklanan , huruf berfungsi sebagai penyampaian pesan tertulis yang memudahkan berkominikasi, dalam kriya kulit berguna untuk menghias, karena huruf mempunyai banyak karakter dan bentuk huruf yang artistik. Menggambar huruf harus disesuaikan dengan desain, model huruf antara lain : Gambar 1. : Model Huruf, (dok.Sukimin : 2005 : 62) Kriya Kulit 23
  • 21. Gambar 2. : Perbandingan huruf M dan W, (Sukimin : 2005 : 63) Gambar 3.: Monogram, (Sukimin : 2005 : 63) 3) Menggambar alam benda Menggambar alam benda yang dimaksud adalah, menggambar dengan menirukan objek benda alam disekitar Pada umumnya timbul anggapan bahwa menggambar sesuatu benda merupakan sesuatu hal yang menjemukan. Anggapan ini boleh dianggap benar, barangkali orang ingin segera dapat melukis dengan bebas. Sedangkan dalam menggambar disyaratkan mengutamakan kecermatan dan ketepatan, sehingga pandangan mata mesti terpusat kepada benda yang digambar itu. Bagi yang baru mulai belajar menggambar mereka lebih banyak disibukkan dengan karet penghapus dan mistar, sebentar menggosok dengan karet penghapusnya itu kemudian mulai menarik garis lagi, sungguh menjemukan dan mereka juga kurang puas dengan hasilnya.Tetapi masa-masa seperti ini perlu segera dilewati mengingat menggambar merupakan dasar dari senirupa pada umumnya. Barangkali yang amat perlu disini adalah mengenalkan keunikan benda-benda disekitar kita. Dengan perkenalan itu akan tumbuh ketertarikan dan minat untuk menggambarkannya. Banyak benda di Kriya Kulit 24
  • 22. sekitar kita yang memiliki bentuk unik dalam pengalaman sehari-hari namun hal itu tidak pernah disadari sebelumnya oleh siapapun. Pengamatan dimulai dari yang terdekat dimana kita berada, di dalam rumah biasanya kita meletakkan sesuatu dengan sembarangan, sepatu, tas, dompet yang tergeletak begitu saja, beberapa botol minuman yang tergeletak di dapur, saus yang tumpah dari botolnya, pakaian yang dengan tergesa-gesa dilemparkan ke kursi. Semuanya tampak sangat indah dalam keadaan yang tidak tertata seperti itu. Dengan mengamati hal-hal yang tidak terduga semacam itu pengalaman kita akan bertambah, bukan saja mengenai fungsi praktis dari benda-benda itu melainkan juga bahwa benda-benda itu dalam situasi dan kondisi tertentu dapat memberikan pengalaman estetis dan memberikan kesenangan kepada kita. Dalam hubungan dengan keriya kulit kita Dari banyaknya benda-benda di sekitar kita telah memberikan rasa senang itu, kita coba mengambilnya dan meletakkannya di tempat yang cukup cahayanya. Misalnya botol yang tergeletak di dapur tadi kita tempatkan di depan jendela. Posisinya sebuah botol berdiri dan sebuah lagi tergeletak. Kalau cahaya dapat merambat menembus botol kaca yang bening itu akan menciptakan cahaya gemerlap yang indah. Sayur- sayuran di dapur juga dapat dijadikan obyek yang menarik untuk digambar. Seikat kacang panjang, sebuah siyem dan beberapa butir tomat merah yang dipadukan dengan keranjang. Bila ditata dengan baik di atas meja tentu akan dapat memberi pengayaan pada pengalaman kita serta memberi kesan tertentu. jenis-jenis sayuran itu amatlah banyak yang tersimpan di dapur serta bentuk dan warnanya bermacam-macam, warna hijau misalnya buncis, bayam, pare dan sawi. Warna putih misalnya kobis, labu dan bunga turi. Sedangkan warna kuning ditunjukkan oleh wortel. Tampaknya buah-buahan tetap menjadi objek yang banyak disukai oleh pelukis. Barangkali karena buah-buahan itu bentuk dan warnanya lebih menarik selain rasanya yang segar dan enak. Buah- buahan juga memiliki citra kemewahan setidaknya hal itu terdapat pada bua peer, apel merah dan anggur hijau. Buah-buahan yang harganya murah juga dapat menarik perhatian misalnya pepaya yang dibelah sebagian dan belahannya itu diletakkan didekat pepaya yang dibelah tadi. Hal ini dapat pula dilakukan terhadap buah melon, blewah dan semangka. Dari semua buah-buahan yang dibelah tadi rupanya semangka paling banyak disukai, barangkali karena warnanya yang merah segar dan paduan garis putih yang membingkai warna merah serta tebaran biji yang hitam banyak menarik minat pelukis. Penyusunan buah-buahan itu dapat dilakukan dengan beberapa macam buah-buahan tetapi perlu dipikirkan penggabungan itu hendaklah diusahakan variatif. Besar dan kecilnya buah, warna serta sifat-sifatnya. Melon dan semangka hampir sama besar dan bentuknya hendaknya penggabungan itu jangan melibatkan terlalu banyak kedua macam buah Kriya Kulit 25
  • 23. itu. Variasi besar dan kecil sangat dianjurkan, umpamanya sebuah semangka, beberapa blimbing dan rambutan serta jambu air. Paduan itu sangat memperhatikan varian jenis buah dan karakternya, dengan menjanjikan karakter itu dimaksudkan dapat lebih memperdalam metrampilan menggambar bermacam-macam sifat-sifat buah. Kadang-kadang paduan itu mengambil benda-benda yang lain sebagai llatar belakangnya atau hanya dimaksudkan untuk melengkapi saja. Guji atau keramik Cina merupakan pelengkap yang amat indah dapat dipadukan di bagian belakang buah-buahan itu manakala guci itu lebih tinggi dari susunan buah. Adakalanya kain juga dapat dipadukan disitu, sebaiknya kain yang disajikan adalah kain dengan sedikit saja motif atau tanpa motif. Apabila motif yang ada pada kain tersebut sangat banyak dan njlimet, maka fokus utama yakni buah-buahan itu akan menjadi benda-benda yang kurang diperhatikan. Penataan kain diupayakan sedemikian rupa dengan memperhatikan arah lekukan- llekuan dan lipatan. Pada bermacam-macam model lipatan kain itulah gambar akan dapat menjadi menarik. Gambar benda-benda yang sangat menarik untuk digambar berkaitan dengan kriya kulit seperti gambar sepatu, tas, sandal, jaket kulit, topi dan lain sebagainya, contoh Gb. 4.Tas Kriya Kulit 26
  • 24. Gb 5. Sepatu 4) Menggambar flora fauna Menggambar flora adalah menggambar tumbuh-tumbuhan sesuai dengan bentuknya yang nantinya diaplikasikan ke kriya kulit, contoh gambar flora : Gb.6.Plora Kriya Kulit 27
  • 25. Gb 7..Burung Gb.8 Kriya Kulit 28
  • 26. Gb.9. Gb. 10 Kriya Kulit 29
  • 27. 5) Menggambar manusia Gb 11. Manusia laki-laki Kriya Kulit 30
  • 28. Gb.12. Manusia Kriya Kulit 31
  • 29. Gb.13. Posisi manusia 6) Membuat nirmana 3 dimensi bentuk geometris dan organis Gb. 14 Kriya Kulit 32
  • 30. Gb. 15. Bidang Giometris Gb. 16. Bidang nongiometris Gb.17 Kriya Kulit 33
  • 31. c. Pengertian Bentuk Menurut Sahman (1993:29) diungkapkan bahwa yang disebut dengan bentuk adalah: “Wujud lahiriah/indrawi yang secara langsung mengungkapkan atau mengobjektivasikan pengalaman batiniah”. Menurut Read (lewat Soedarso SP,2000:11) dinyatakan bahwa bentuk mempunyai pengertian Shape berarti bentuk (gatra) sedangkan form dapat diartikan sebagai wujud. Pengertian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bentuk dari suatu hasil seni tidak lain adalah gatranya, susunan-bagian-bagiannya, demikian pula apabila terdapat dua atau lebih bagian-bagian yang bergabung menjadi satu akan membentuk suatu susunan.Tetapi dalam membicarakan bentuk suatu hasil seni tentu saja yang di maksud adalah bentuk yang khas bentuk yang dalam beberapa hal mempengaruhi kita. Bentuk dalam hal ini adalah shape, sedangkan dalam strukturnya kedudukan bentuk sama dengan unsur visual: warna, garis, dan tekstur. Sementara bagian bentuk mungkin berupa, pohon, binatang, dan manusia. Kemudian wujud adalah form yaitu: susunan bagian-bagian aspek visual, dan wujud hasil seni tidak lain adalah bentuk susunan bagian-bagiannya. Untuk memahami atau mengerti tentang wujud hasil karya seni diperlukan penjelasan atau pengemukaan rupa atau bentuk yang kelihatan tersebut, yang berarti bahwa wujud di sini adalah bagaimana kita dapat mengemukakan aspek visual yang menyangkut bagian-bagian yang tersusun dalam sebuah karya. 2. SK : Menggambar ornamen KD : Menggambar ornamen, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa “ Ornamen merupakan hiasan yang dibuat dengan cara menggambar atau memahat pada candi atau bangunan” (1995 : 700) Ornamen itu sendiri terdiri atas beberapa motif hias dimana beberapa dari motif hias tersebut dapat diidentifikasikan asal motif dari daerah mana yang menunjukan karakteristik motif itu sendiri, Soepratno (1997 : 11)” Ornamen itu sendiri terdiri dari beberapa jenis motif dan motif itulah yang digunakan sebagai penghias suatu ornamen. Semula ornamen- ornamen tersebut berupa garis seperti : garis lurus, garis lengkung, garis patah, garis miring, garis zigzag, lingkaran dan sebagainya yang kemudian berkembang menjadi bermacam- macam bentuk yang beraneka ragam coraknya. Jenis motif dibedakan antara lain : a. Motif geometris berupa garis lurus, garis patah, garis sejajar, garis lengkung, lingkaran dan sebagainya Kriya Kulit 34
  • 32. b. Motif naturalistik berupa tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dan lain sebagainya, Soepratno (1997 : 11) Mengidentifikasi bahan dan peralatan gambar Untuk menggambar dengan baik, membutuhkan bahan dan alat, guna mendukung pelaksanaannya sehingga kita menghasilkan apa yang kita harapkan. Ada beberapa macam bahan dan alat pokok yang perlu diketahuai yaitu : Pastel, tinta cina, cat dengan pelarut air, cat poster, acrylic. Alat menggambar pensil, kuas, pena, penghapus karet, penggaris, kertas gambar, palet cat air dan lain-lain. 2.1. Menggambar pola ornamen Hal-hal yang selalu berkaitan dengan ornamen ialah pola dan motif. Pola yang didalam bahasa Inggris disebut “pattren” , bahwa pola ialah penyebaran garis dan warna dalam suatu bentuk ulangan tertentu. Selanjutnya apabila pola yang telah diperoleh itu diterapkan atau dijadikan hiasan pada suatu benda misalnya dengan jalan dipahatkan (contohnya pada sebuah kursi), maka kedudukannya ialah sebagai ornamen dari kursi tersebut. Motip yang menjadi pangkal atau pokok dari suatu pola, dimana setelah motip itu mengalami proses penyusunan dan ditebarkan secara berulang-ulang akan memperoleh sebuah pola. Kemudian setelah pola tersebut diterapkan pada benda lain maka jadilah suatu ornamen, Gustami (1984 : 7) Pola ornamen wayang Gb. 18. Bentuk pola dan barang jadi wayang kulit Kriya Kulit 35
  • 33. Gb. 19. Memola bentuk yang dimaksud Gb. 20. Menggunting pola 2.2. Membuat eksperimen warna primer, skunder, tersier dan gradasi warna untuk membentuk keindahan ornamen Pengertian Warna Warna dalam seni rupa dapat mengekspresikan senang, susah gembira dan lain-lain, yang lebih di kenal dengan simbolisasi dari warna atau warna dijadikan simbol untuk mengungkapkan perasaannya misalnya: warna merah berarti berani dan putih berarti suci dalam simbol bendera kebangsaan Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Read (Terj. Soedarso SP,2000:25) bahwa: Dalam cara ini warna dimanfaatkan untuk kepentingan simbolis. Seorang anak misalnya: sekiranya ia berkesempatan untuk memilih warna selalu akan melukis pohon dengan warna hijau, gunung berapi merah, dan langit dengan biru, sekalipun kita tahu bahwa pohon bisa saja berwarna coklat, gunung berapi hitam dan langit-langit kadang-kadang berwarna abu-abu. Kriya Kulit 36
  • 34. Dalam hal ini Sidik dan Prayitno (1981:10) menjelaskan tentang batasan mengenai warna sebagai berikut: 1) Warna menurut ilmu fisika adalah kesan yang ditimbulkan oleh cahaya pada mata. 2) Warna menurut ilmu bahan adalah berupa pigmen. Pigmen utama adalah merah, kuning, biru, dan bila dua warna dicampur menghasilkan warna sekunder. Warna dapat digunakan untuk sampai pada kesesuaian dengan kenyataan objek yang akan dilukis seperti pelukis realis dan naturalis, dan ada beberapa pelukis menerapkan warna sebagai warna itu sendiri tidak demi bentuk untuk pengekspresiannya. Peranan utama dalam warna adalah sejauh mana warna tersebut dapat mempengaruhi mata sehingga getaran-getarannya dapat membangkitkan emosi penikmatnya. Peranan warna dalam seni rupa memang sangatlah esensial. Dalam hal ini warna dapat menyatakan berbagai maksud dan tujuan yang diinginkan oleh perupa, sehingga apa yang diinginkan atau dipikirkan dapat terwakili oleh warna tersebut.. Jenis warna, antara lain . 1) Warna primer (warna dasar), seperti kuning (yellow), biru (cyan blue), dan merah (magenta red). 2) Warna sekunder, seperti hijau, jingga, dan unggu (violet). 3) Warna tersier, yaitu warna campuran lebih dari dua warna (campuran warna primer dengan sekunder atau sekunder dengan sekunder). Misalnya, warna merah kejinggaan, hijau kekuningan, merah keunguan, jingga kekuningan, biru kehijauan, dan ungu kebiruan. 3) Warna netral ialah warna sumber putih dan warna tidak bersinar atau gelap (hitam). .Gradasi warna menurut tingkatan warna yaitu : 1) Hue adalah macam warna dalam satu jenis warna. Misalnya, jenis warna merah memiliki bermacam-macam, seperti merah darah, merah jambu, merah rose, merah hati, merah jernih, dan merah jingga. 2) Gelap terang (value) adalah tingkat gelap terangnya warna. Warna paling terang ialah putih. Warna paling gelap adalah hitam. 3) Intensitas warna (intensity) atau kua-litas warna adalah tingkat kecerahan dan kemuraman warna. Warna cerah adalah cerah bersinar (spot light) dan warna muram ialah warna kusam atau tidak bersinar. 4) Kontras (contras) adalah j aj aran dua warna atau lebih yang sangat ber-beda hue. 4) Komplementer (complement) adalah dua warna yang berhadapan 5) dalam peta warna. Kriya Kulit 37
  • 35. Contoh: merah >< hijau biru >< jingga kuning >< ungu 6) Monokrom (monocrome) adalah warna yang memiliki kesamaan hue atau warna sejenis (sekeluarga). Warna yang memiliki kesamaan hue, misalnya keluarga warna merah, terdiri atas warna merah hitam, merah cokelat, merah gelap, merah jernih (primer), merah muda, merah jambu, merah jambu muda, dan merah jambu keputihan. 7) Monoton (monotone) adalah warna yang memiliki nuansa sama (senada), misalnya warna-warna gelap, meliputi cokelat, hijau tua, biru naptul atau tua, dan kelabu gelap. Warna terang meliputi krem, kelabu, kuning gading (muda), jambu (pink), biru laut, dan hijau pupus. 8) Warna bertetangga atau berdekatan (analog) adalah warna yang tidak kontras, tidak komplementer, dan apabila dicampur menjadi warna yang bagus atau monokrom, Sukimin, (2005 : 34-36) 2.4. Membuat finising gambar sesuai dengan pola motif Gb. 21.Menatah pola yang telah dibuat , bisa juga dengan cara digores, ( Sumber, Gunarto, 1980 : 46) Kriya Kulit 38
  • 36. Gb.22. Menghaluskan bidang kulit yang telah selesai ditatah , ( Sumber, Gunarto, 1980 : 46) Gb.23. Memberi isian pada tiap-tiap sunggingan dan bentuk bagian muka wayang, ( Sumber, Gunarto, 1980 : 46) Gb. 24. Memasang bagian tangan yang dapat digerakan , ( Sumber, Gunarto, 1980 : 46) Kriya Kulit 39
  • 37. Gb.25.Memasang kerangka bagian badan , ( Sumber, Gunarto, 1980 : 46) Gb. 26.Memasang tangkai bagian tangan , ( Sumber, Gunarto, 1980 : 47) Kriya Kulit 40
  • 38. Gb. 27. Barang yang telah selesai dibuat , ( Sumber, Gunarto, 1980 : 47) 3. SK : Membuat, membaca, dan memahami gambar teknik KD : 3.1. Memahami konsep gambar teknik Gambar teknik merupakan suatu gambar yang pada intinya menyangkut masalah metode/cara menggambar dirancang sedemikian rupa, biasanya digunakan dalam dunia arstektur yaitu dalam pembuatan suatu bangunan, arstek harus paham dengan gambar teknik lengkap dengan penghitungan-penghitungan secara detail. Dihubungkan dengan seni kerajinan yaitu keriya kulit digunakan untuk merancang dan mencipta kerajinan dengan menggunakan perhitungan yang matang. 3.2. Menggambar proyeksi Proyeksi adalah ilmu yang mempelajari cara penggambaran titik, garis, bidang maupun benda-benda dalam sebuah ruang dan mengetahui letak benda maupun ukuran-ukurannya. Kriya Kulit 41
  • 39. Ilmu proyeksi sangat diperlukan dalam pekerjaan-pekerjaan perbengkelan yang membutuhkan gambar kerja yang rinci, teknis dan informatif, seperti gambar kerja furniture/mebel, perancangan ruang maupun perancangan desain produk. Di dalam ilmu proyeksi dipelajari cara menggambarkan penampang benda dilihat dari beberapa sisi beserta ukuran sebenarnya pada gambar. Dalam diktat ini akan dibahas secara sistematis mulai dari proyeksi titik, garis, bidang dan benda bervolume dari berbagai arah pandangan bidang datar atau Bidang Proyeksi. Ilmu proyeksi dapat kita pelajari dalam dua cara, yakni cara Eropa dan Cara Amerika. Yang kita pelajari nanti adalah Cara Eropa karena relatif lebih mudah dipahami. B. BIDANG PROYEKSI Untuk menggambarkan benda-benda secara Proyeksi, kita mempergunakan bidang - bidang datar yang disebut Bidang Proyeksi. Disini kita menggunakan tiga bidang proyeksi yakni: 1. Bidang Proyeksi I : Bidang mendatar 2. Bidang Proyeksi II: Bidang yang tegak lurus dengan Bidang Proyeksi I 3.Bidang Proyeksi III: Bidang yang tegak lurus dengan Bidang Proyeksi I dan tegak Lurus dengan Bidang Proyeksi II Bidang Proyeksi I : Bidang mendatar (letak paling bawah) Bidang Proyeksi II : Bidang Proyeksi I Bidang Proyeksi III : Bidang Proyeksi I dan 1 Bidang Proyeksi II Gb. 27. Bidang-bidang Proyeksi dalam bentuk Perspektif Kriya Kulit 42
  • 40. Bidang I, II, III masing-masing berpotongan pada suatu garis yang disebut SUMBU-SUMBU PROYEKSI yaitu: - sumbu O-X, adalah perpotongan antara Bidang I dan Bidang II - sumbu O-Y, adalah perpotongan antara Bidang II dan Bidang III - sumbu O_Z, adalah perpotongan antara Bidang I dan Bidang III Titik 0 adalah pertemuan antara ke tiga sumbu tersebut. Proyeksi titik Untuk memperjelas teori proyeksi, berikut akan dijelaskan bidang proyeksi titik terlebih dahulu. Ini berarti kita mencari dimana letak titik pada ruang itu dan bagaimana penggambaran proyeksinya pada bidang I, II dan III Gb.28.Titik pada ruang Dari gambar di atas tampak P adalah titik yang terletak pada ruang P 1 proyeksi titik P di bidang I P 2 proyeksi titik P di bidang II P 3 proyeksi titik P di bidang III Kemudian bidang diatas dibentangkan datar untuk dapat tergambar proyeksi titik tersebut dalam bidang datar. Sehingga terlihat seperti gambar berikut ini. Kriya Kulit 43
  • 41. Gb.29. Titik dalam bidang proyeksi PERSPEKTIF Perspektif berasal dari kata bahasa italic quot;Prospettiva yang berarti gambar pandangan. Konstruksi perspektif memungkinkan kita untuk menggambarkan sebuah benda , obyek, atau ruang secara nyata diatas sebuah bidang datar (bidang gambar). Dan dalam mempelajari ilmu perspektif tentu tidak lepas dari penggambaran dalam bidang datar. Ilmu Perspektif dikenal juga dengan ilmu melihat (doorizh kunde), sehingga penggambaran perspektif pada dasarnya merupakan sebuah cara untuk menginterpretasikan dunia visual diatas bidang linier/datar. KEGUNAAN ILMU PERSPEKTIF Gambar perspektif menjadi sesuatu yang penting dalam semua bidang ilmu yang menggunakan gambar sebagai media. Dalam bidang arsitektur dan interior ilmu Perspektif menjadi hal yang harus -dikuasai untuk dapat memberikan gambar dan ide dalam visualisasi perencanaan kerja yang jelas. Pada Pendidikan di tingkat Menengah, ilmu ini juga dipelajari dalam bidang ilmu Matematika dalam pembahasan bangun dan ruang, tentu ini sangat bermanfaat untuk mempelajari interpretasi terhadap sebuah bentuk ruang dan dari sudut mana bentuk itu dipandang. Pada awalnya buku pelajaran pertama mengenai perspektif dutulis oleh Piero defli Franceschi (1420-1492) oleh seorang pelukis dan ahli matematika yang kemudian dilanjutkan oleh Leonardo Da Vinci (1499) dengan bukunya De Devina Proportione. Hal tersebut juga membuktikan bahwa ilmu perspektif bukanlah ilmu teknis semata, akan tetapi menjadi acuan awal bagi pelukis-pelukis kenamaan di dunia semenjak Renaisance, Rokoko sampai sekarang. Bahkan Leonardo Da Vinci pada sebuah tulisannya I menyebutkan quot; Perspective is of such a nature thai it makes what is flat appear in relief, and-what is ini relief appear flatquot;. Kenapa perspektif juga penting bagi bidang seni rupa khususnya kriya kulit, karena ilmu ini akan bermanfaat dalam kemampuan dasar menangkap obyek untuk seorang calon perupa/pengrajin. Perspektif juga penting dalam kriya kulit, dalam kriya kulit perspektif berguna untuk menentukan besar kecil, kemudian menentukan pemilihan bentuk kerajinan yang Kriya Kulit 44
  • 42. sesusai dengan rencana, juga mengenai warna (kekaburannya), ini banyak berguna bagi lukisan realis dan naturalis. Untuk dekoratif terkadang perspektif diterapkan dengan penggambaran keatas, posisi yang jauh ada di atasnya tanpa membuat perbedaan besar bentuk lukisannya. (dalam lukisan Bali tradisional, wayang beber dsb). Hal tersebut menunjukkan bahwa perspektif menjadi hal yang ingin diungkapkan dalam karya lukisan meskipun tidak terukur dengan detail. MENGGAMBAR PERSPEKTIF Perspektif dalam hal ini dibagi menjadi 2 hal yang mendasar, (1) gambar perspektif terukur (2) perspektif tidak terukur/ gambar tangan (1) Perspektif terukur digunakan dalam gambar kerja yang membutuhkan ketepatan ukuran untuk dipakaidalam mengartikan suatu bentuk benda atau obyek yang akurat. Untuk itu diperlukan alat-alat gambar, skala-skala ukuran yang diambil langsung dari gambar rencana.(biasanya dari gambar proyeksi). (2) Perspektif tidak terukur/gambar tangan biasanya dipakai untuk menjelaskan gambar. Kedudukan obyek biasanya didapat dari system kira-kira atau tebak dengan perkiraan yang hampir tepat sehingga tetap terbaca dengan jelas meski tidak dengan ukuran yang tepat dan akurat. Menggambar Perspektif pada dasarnya mengambar apa yang kita lihat dengan benar, dan hasil gambar itu bisa mengkomunikasikan bentuk yang sama dengan seperti apa yang dilihat oleh mata kita. Ketika kita melihat pada suatu obyek, rnaka kita akan menangkap banyak hal dari obyek tersebut, dari bentuknya, warna, ukuran dan banyak hal. Akan tetapi kita tidak dapat menginformasikannya secara keseluruhan obyek dalam satu gambar saja. Sebuah obyek yang sama. akan terlihat berbeda tergantung dari sudut mana obyek itu dilihat. Perhatikan ilustrasi dibawah ini. Gb.30. Sudut Pandang berbeda Kriya Kulit 45
  • 43. Dari apa yang tergambar diatas dapat dilihat bahwa bentuk obyek dalam penggambaran akan berbeda tergantung dari sudut mana obyek tersebut dilihat. Dilihat dari sudutnya sudut dimana sebuah obyek dipandang melalui bidang gambar merupakan factor yang sangat penting dalam menentukan metode penggambaran pandangan perspektif Kriya Kulit 46
  • 44. BAB III Membuat produk alas kaki 4 SK : Membuat produk alas kaki KD : 1) Mempersiapkan bahan dan peralatan Bahan pokok yang digunakan dalam pembuatan alas kaki berupa sepatu adalah potongan kulit tersamak dan bahan-bahan lainnya, pembentukan sepatu dengan menempelkan insol pada atasan, pencetakan manual sepatu dengan cetakan sepatu, pengencangan cetakan dan pengiriman hasil pekerjaan yang telah selesai. Untuk menyiapkan potongan kulit dan bahan-bahan lainnya perlu pemahaman pekerjaan yang perlu dilakukan antara lain paket diterima, diperiksa, dihitung, sesuai prosedur kerja seperti pemeriksaan kualitas paket potongan bahan. Paket diterima sesuai prosedur kerja. Paket dibuka dan disiapkan sesuai kebutuhan. Menyiapkan potongan kulit dan bahan lainnya Paket potongan kulit atasan (upper) dikelompokkan menurut model sepatu secara garis besar Plain Oxpfod, Plain Derby, Plain Monk, Plain Slipper dan pengembangan dari keempat model Gambar Model Sepatu Kriya Kulit 46
  • 45. a) Gambar 1. Model Sepatu Bahan untuk atasan sepatu Bahan untuk atasan (upper) mengenai pemanfaatan bahan lapis (futter) yaitu menggunakan bahan kulit sapi samak krom, bahan ini sifatnya lunak, tipis dan fleksibel. Selembar kulit samak mempunyai beberapa bagian yaitu; bagian leher, bagian punggung dan bagian perut. Bagian punggung merupakan bagian yang terbaik karena mempunyai serat padat dan kuat sedangkan bagian leher seratnya melebar dan kendor pada bagian perut seratnya paling kendor. Ciri kulit krom bidang irisannya berwarna hijau keabu-abuan. Macam kulit krom diantaranya kulit sapi box (rinbox), kulit kale box (boxcalf) dan kulit krom buaya (krokodilleder). Gambar. Kulit Samak Krom Kriya Kulit 47
  • 46. Gambar. Kulit Buaya (Krokodilleder) Gambar. Atasan sepatu (upper) dengan bahan kulit krom b) Bahan kulit bawahan sepatu Bahan kulit bawahan sepatu dari kulit samak nabati atau semi krom dengan ketebalan 2,5 – 3,5 mm. Gambar. 132 Kulit sapi Kriya Kulit 48
  • 47. Kulit sapi samak nabati warnanya alami, coklat muda kulit ini cocok sebagai bahan untuk stempel (handruk). Untuk bahan pembuatan sepatu sebagai bahan pembuat pita (rahmen), penguat depan (vorrder kappe). Penguat belakang (hinter kappe) dan untuk bantalan sol dalam (deekdronsole) juga sebagai bahan untuk kriya kulit hias. Selembar kulit sol samak nabati dapat dibagi menurut fungsinya. Bagian leher untuk sol dalam, bagian perut untuk pita, bagian punggung untuk penguat depan dan penguat belakang dan untuk bahan hak sepatu dan hak luar. Gambar. Struktur Kulit Brand-und Zwisechensuble Croupon Hinterkappe Laufabsatzfle ek Rahmen Kriya Kulit 49
  • 48. c) Bahan-bahan lainnya Bahan lainnya yang digunakan pembentukan sepatu yaitu, bedak fungsinya untuk menaburi atasan (vutter) atau acuan agar atasan dan acuan ada batas/rongga, fungsinya untuk mempermudah melepas acuan setelah proses pembentukan sepatu. Gambar. Lem Kentang 1) Kentang Lem yang terbuat dari bahan kentang digunakan untuk merekatkan penguat belakang dan lem yang digunakan untuk merekatkan sol menggunakan lem sintesis. 2) Benang Pechdraht Jenis benang ini sangat ulet dan kuat digunakan untuk menjahit pita dan sol sepatu (bawah sepatu). 2. Alat pembentukan produk sepatu Alat yang perlu disiapkan dalam pembuatan sepatu antara lain, tang zwicken; jenis tang ini ada 2 macam tang zwicken berukuran 5 mm pada ujungnya gunanya untuk menarik kulit pada sudut-sudut yang sempit pada proses mencetak sepatu. Bentuk ujung tang ini bergerigi sifatnya menggigit kulit erat dan kencang, sehingga menariknya dapat maksimal pada bawah kepala tang dibuat rata fungsinya sebagai alat pemukul paku. Tang yang berukuran 1 cm fungsinya untuk membentuk/mencetak sepatu pada proses awal. Kriya Kulit 50
  • 49. Gambar. Paku Pembentukan Sepatu Gambar. Tang Zwicken a) Paku besi Ukurannya diameter 1, 2 – 1,4 mm panjangnya 25 mm. Pada proses pembentukan sepatu kedalaman ujung sepatu masuk ke dalam acuan kurang lebih 5 mm paku ini sebagai alat bantu menekan atasan sebelum di jahit atau direkatkan dengan lem. b). Catut Alat ini digunakan untuk mencabut paku pada proses penjahitan pita yang tertancap pada proses pencetakan sepatu. Kriya Kulit 51
  • 50. Gambar Catut d) Pukul besi Digunakan untuk menancapkan dan membengkokkan paku, memukul-mukul untuk pembentukan sepatu agar sesuai dengan cetakan/acuan untuk meratakan sol setelah pemasangan pita. Sebagai alat pukul pemakaian nagel dan memukul melubang nagel dan lain-lain. Selain alat-alat tersebut di atas adalah jarum jahit tangan, pisau potong/pisau seset. Kriya Kulit 52
  • 51. Gambar. Pukul Besi Bahan Sol Sepatu Dalam pembuatan Sepatu dibutuhkan untuk pengeras sepatu yang disebut sol dalam dan pengeras sepatu (alat pembentukan sepatu) dengan tujuan sebagai berikut : 1. Mengetahui bahan untuk sol dalam dan pengeras sepatu (bahan pembentukan sepatu). 2. Mengetahui alat untuk sol dalam dan pengeras sepatu (alat pembentukan sepatu. 3. Membuat sol dalam. 4. Membuat pengeras sepatu. a. Uraian Materi Langkah awal membentuk sepatu, harus mengetahui bahan, alat untuk membuat sol dalam (brandshole) dan untuk membuat penguat/ pembentuk sepatu. Sol dalam adalah sol yang letaknya paling dalam setelah kaki yang hanya dibatasi oleh lapis sol dalam dengan kaos kaki apabila sepatu dipakai. Sol dalam merupakan pondasi sepatu yang berkonstruksi dengan atasan, pita (rahmen) dan sol bawah/sol yang dipakai untuk jalan (Lauftsohle). 1. Pengeras sepatu ada dua macam yaitu pengeras belakang (hinterkappe) dan pengeras sepatu depan (vorderkappe). Pengeras belakang yang berfungsi menegakkkan sepatu bagian belakang dan melindungi tumit kaki. Letaknya diantara atasan dan lapis belakang sepatu. Pengeras depan fungsinya menegakkan ujung sepatu depan dan melindungi Kriya Kulit 53
  • 52. jari-jari kaki. Letaknya didalamnya antara atasan dan lapis pada ujung sepatu. 2. Bahan untuk membuat sol dalam dan pengeras sepatu Bahan yang digunakan untuk membuat sol dan pengeras sepatu adalah kulit sapi samak nabati. Untuk sol dalam, kulit harus kuat, lunak dan fleksibel. Kulit yang cocok pada bagian kulit leher dengan ketebalan 2,5 – 3,5 mm sedangkan untuk pengeras depan dan belakang kulit pada bagian perut. Gambar Bahan untuk sol dalam dan penguat sepatu 3. Alat untuk memotong sol dalam dan pengeras sepatu Alat potong bahan untuk sol dalam dan pengeras sepatu adalah pisau yang terbuat dari besi baja. Bagian tajamnya sedikit melengkung agar mudah digunakan. Pegangan pisau potong dilapisi kulit supaya telapak tangan pekerja pemotongan bahan tidak lecet/terluka akibat meng- gunakannya. Setelah selesai pemotongan bahan pisau ditajamkan lagi untuk memperlancar pekerjaan selanjutnya, menjamin hasil potongan tetap rata dan licin. Alat pengasah/penajam pisau yaitu kikir bulat. Kriya Kulit 54
  • 53. Gambar Pisau potong dan alat penajam pisau 2) Mengukur kaki dan membuat last (cetakan), pola pada kertas dan kulit 3) Memotong pola pada kulit, menyambung dan membentuk pola menjadi alas kaki kulit 4) Melakukan penyelesaian akhir produk alas kaki Teknik Pembuatan Sepatu Produk Sepatu sudah tidak asing lagi bagi kita, setiap hari produk sepatu digunakan banyak orang sebagai alas kaki, baik untuk sekolah, ke kantor, rekreasi dll. Begitu banyaknya kebutuhan tentang persepatuan, maka dalam tulisan ini akan dibahas mengenai pembuatan sepatu secara manual. Baik dalam penggunaan bahan dan alat yang bisa dikerjakan dengan sederhana. Dalam dunia persepatuan ada 2 bagian permukaan yaitu atasan dan bawahan. Mukaan atasan merupakan bagian sepatu yang letaknya diatas bawahan yang fungsinya menutupi telapak kaki. Bahan yang digunakan untuk mukaan biasanya lunak, tipis dan fleksibel, sedangkan bawahan merupakan bagian yang mengalasi sepatu juga disebut pengesolan. Begian bawahan ini merupakan bagian yang benar-benar mendapat tekanan dari berat tubuh sehingga bahan yang digunakan berbeda dengan bahan untuk mukaan. Untuk mengetahui lebih lanjut tulisan ini akan dipaparkan secara detail mengenai bagaimana cara membentuk Kriya Kulit 55
  • 54. produk sepatu secara manual mulai dari pengenalan bahan, alat dan teknik pengerjaan produk sepatu secara manual. 4. Membuat sol dalam a) Memola Cara memola sol dalam (brandshole) adalah letakkan bahan diatas meja, letakkan diatasnya telapak acuan dan polalah sesuai dengan telapak acuan kanan dan kiri. Tangan kiri menekan acuan tangan kanan memola. Gambar . Memola bahan sol bagian dalam b) Memotong Memotong bahan untuk sol dalam, gunakan pisau potong dari arah depan menuju ke belakang (ke arah mendekati badan). Hasil potongan ditarik ke atas dan sisa potongan ditekan ke bawah. Pada potongan diberi sisa kira-kira 3 mm dari garis pola. Kriya Kulit 56
  • 55. Gambar Memotong bahan sol bagian dalam c) Meratakan Permukaan bahan sol dalam diratakan dengan menggunakan potongan pecahan kaca. Alat tradisional ini sederhana, murah, tanpa reparasi dan setiap waktu mudah gantinya. Misalnya dari pecahan kaca jendela, kaca cermin yang tepinya tidak teratur. Dapat juga meratakan bahan ini dengan amplas manual atau amplas mesin. Gambar Meratakan bahan sol dalam dengan pecahan kaca d) Menempel bahan sol dalam pada acuan sepatu Kriya Kulit 57
  • 56. Letakkan acuan di atas bahan sambil melihat garis pola pada acuan, balikkan keduanya (telapak acuan atas) letakkan pada paha (posisi duduk) kalungkan sabuk dan ujung sabuk ditekan dengan kaki kiri. Kemudian pakulah 3 bagian yaitu depan, tengah dan belakang, paku dibengkokkan sehingga bahan tertempal pada acuan dengan stabil. Gambar. Menempel bahan sol dalam pada acuan sepatu e) Memasang sol dalam sesuai pola acuan Apabila bahan sol dalam sudah tertempel dengan stabil silahkan anda potong sesuai dengan telapak acuan. Jari tangan kiri memegang acuan dan menekan bahan agar rapat pada acuan, tangan kanan memotong dengan pisau potong. Kriya Kulit 58
  • 57. Gambar. Memotong sol dalam sesuai acuan Gambar Sepatu Model Derby Kriya Kulit 59
  • 58. Bagian Vamp Gambar Bagian Vamp Sepatu 7. Penyesetan Pembuatan Sepatu Pembuatan sepatu diperlukan juga penyesetan untuk mengurangi ketebalan kulit, pada bagian-bagian tertentu yang disesuaikan dengan rencana dalam desain, penyesetan dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan di dalam pelipatan, sambungan, perakitan, dan penjahitan. Baik dan tidaknya hasil pelipatan akan berpengaruh pada hasil penjahitan. Agar di dapat suatu lipatan yang baik dan tidak menimbulkan kesan tidak rata pada permukaan dan hasil penjahitan, maka penyesetan yang dilakukan pada pembuatan sepatu harus disesuaikan dengan kebutuhan tiap komponen. Komponen sepatu yang sering digunakan untuk menahan beban biasanya tidak diseset tipis, ada beberapa sistem pembuatan sepatu yaitu sistem potong pas atau lipatan. Pemilihan sistem ini berkaitan dengan jenis sepatu yang digunakan untuk santai, bekerja atau sepatu berat. Ada beberapa jenis sesetan antara lain a. Penyesetan Miring Penyesetan miring dilakukan untuk memberi keseimbangan atau kesepadanan terhadap ketebalan kulit agar tidak terlalu tebal. Penyesetan ini dapat dilakukan dengan pisau seset atau mesin seset dengan posisi penyesetan sudut. Penyesetan ini biasa digunakan untuk jahitan tumpang atau lipatan pada kulit tanpa mengurangi ketebalan seluruh permukaan kulit. Kriya Kulit 60
  • 59. Gambar Sesetan Miring b. Penyesetan Datar Penyesetan datar dilakukan untuk pelipatan sebagian atau seluruhnya pada bagian tepi. Penyesetan dilakukan pada lipatan agar bentuknya halus, rata dan rapi. Jangan sampai pada waktu pelipatan permukaan atau kerataan penyesetan tidak sama. Prinsip yang harus diingat adalah jarak lipatan harus dua kali lebar penyesetan sehingga pada waktu dilipat dapat sesuai dengan lebar lipatan. 361 V Gambar Sesetan Datar c. Penyesetan Cekung Penyesetan ini digunakan untuk membuat alur yang dapat memudahkan dalam pembuatan tepong. Penyesetan yang sering digunakan dalam pembuatan sepatu adalah penyesetan miring dan datar. 361 R Gambar Sesetan Cekung Kriya Kulit 61
  • 60. Agar sepatu tidak berkerut, dilakukan penyesetan untuk lipatan sehingga diperoleh kesamaan bentuk dan ketebalan. Setelah dilipat kemudian ditempel pada komponen yang lain. Ada beberapa macam-macam bentuk penyesetan kulit a. Raw Edge (Sisi Pinggir) Penyesetan pada bagian raw edge berguna untuk: 1). Membentuk bagian pinggir agar ramping dan rata, misalnya pada tas, koper, maf 2). Mengurangi lebar bagian bawah. 3). Menyamakan tebal kulit pada bagian pinggir. 4). Mengurangi ketebalan pada penjahitan tutup. Penyesetan bagian pinggir tergantung dari Jenis kulit yang dipakai. b. Lapped Seam (Jahitan Sambung) adalah penyesetan di bagian pinggir sebelah dalam pada komponen yang akan dijahit sambung. Penyesetan ini berguna untuk mengurangi ukuran ketebalan dan Iebar tertentu sehingga memudahkan perakitan c. Folded Edge (Pelipatan) adalah penyesetan pada bagian tepi/pinggir dengan ukuran ± dua kali lebar lipatan.Tujuan penyesetan ini adalah agar hasil lipatan dapat datar, rapi, dan rata pada waktu pelipatan. d. Lasting Edge (Bagian Tarik) Untuk bagian yang akan dicetak dan dikurangi ketebalannya, bagian ujung (toe) dikurangi pada bagian bawah sesuai dengan karakter kulit yang digunakan agar mempermudah pada saat menarik dan menempelkannya pada sol dalam. Dengan demikian kulit akan mudah dibentuk sesuai dengan desain. Tetapi apabila mempergunakan mesin pencetak atau lasting sisi dalam tidak perlu diseset. Pengopenan atau pencetakan bila pada bagian sisi yang diseset dengan mesin akan sobek atau putus karena kekuatannya tidak sebanding. e. Corner Edge (Bagian Sudut) Agar tidak menimbulkan penebalan atau ganjalan maka bagian sudut dari komponen pola bagian tepi ditipiskan atau diseset. Penyesetan dapat dilakukan dengan pisau seset atau mesin seset sesuai dengan kebutuhan. Kriya Kulit 62
  • 61. Seset bagian ini untuk menyamakan dengan komponen kulit lain. Bagian yang menumpang dan yang ditumpangi harus diseset agar tidak terlalu tebal dan tebal kulit dapat sama. Gambar Sesetan Miring Tipis Bagian Quarter Gambar Bagian Quarter Spesifikasi Penyesetan Sepatu Model Derby Gambar Sepatu Model Derby Kriya Kulit 63
  • 62. Bagian Vamp Gambar Bagian Vamp Sepatu Seset bagian ini untuk menyamakan dengan komponen kulit lain. Bagian yang menumpang dan yang ditumpangi harus diseset agar tidak terlalu tebal dan tebal kulit dapat sama. Gambar. Sesetan Miring Tipis Bagian Quarter Gambar. Bagian Quarter Kriya Kulit 64
  • 63. Sesetan Miring tipis Gambar.. Bagian seset miring/tipis, dan rata untuk lipatan. Hasil lipatan Seset terlebih dahulu bagian yang akan dilipat untuk memudahkan pada saat dilipat. Gambar. Bagian seset miring/tebal Sesetan Miring Tebal Seset tebal dan miring pada bagian belakang untuk mengurangi ketebalan dan memudahkan di dalam penjahitan setik balik. Penyesetan ini juga dilakukan apabila kita menghendaki sistem potong pas atau komponen tidak dilipat sekelilingnya. Gambar Bagian seset miring/tebal bagian belakang Kriya Kulit 65
  • 64. Sesetan miring tebal seperti gambar di bawah ini dilakukan untuk memudahkan di dalam pencetakan bagian atas sepatu pada pengerjaan sol dalam dan untuk mengurangi ketebalan kulit agar tidak terlalu tebal. Gambar 31 Bagian seset miring/tebal pencetakan bagian atas sepatu Sesetan Miring Tipis, penyesetan ini dilakukan untuk memudahkan proses melipat di bagian quarter Gambar. seset miring/tipis melipat di bagian quarter Langkah Kerja Menyeset Komponen Sepatu a. Siapkan mesin seset sesuai dengan spesifikasi dan peralatan lain yang digunakan. b. Tekan tombol ON untuk menghidupkan mesin. c. Ambil komponen sepatu yang akan diseset, psrhatikan spesifikasi penyesetan tiap bagian. d. Mulailah dengan menjalankan mesin, jalankan bahan kulit yang berada di bawah sepatu penekan secara hati-hati dengan kaki tetap menginjak pedal. e. Demikian seterusnya sampai komponen sepatu dapat terseset semuanya dengan mesin seset. Kriya Kulit 66
  • 65. f) Menyeset sol dalam Alat yang digunakan untuk mengeset sol dalam adalah pisau seset sol yang mata pisaunya lebar 6 mm, batas luar ada penahan (pada ujung pisau) fungsinya untuk menekan lebar sesetan. Lebar sesetan sekitar 6 mm dan kedalaman 2 mm. Ketebalan antara sesetan luar dan dalam kira-kira 6 mm mulai dari hak (abzat) sepatu. Sesetan dalam bersudut 45 derajat. Fungsi sesetan luar untuk lipatan atasan sepatu (obaleder). Sesetan dalam untuk jahitan antara sol dalam dan pita (rahmen). Garis pada sol dalam batas depan hak (abzat) sepatu. Gambar. Alat penyeset sol dalam Gambar. Sesetan sol dalam untuk jahitan pita Kriya Kulit 67
  • 66. Membuat penguat sepatu Pengeras sepatu (kappe) merupakan bagian sepatu yang tidak kelihatan langsung letaknya ditengah atasan sepatu (oberleder) dan (futter). Pengeras depan Penguat depan bentuk lurus (vorderkappe) ada tiga bentuk yaitu bentuk lurus, sayap burung dan bentuk cekung untuk sepatu pantofel. Untuk penguat depan kulit tidak tebal, fleksibel kuat. Setelah kulit Penguat depan bentuk sayap dipasang pada cetakan/ burung acuan ditipiskan dengan pisau, selanjutnya dihaluskan/ diratakan dengan pecahan kaca dengan ketebalan 0,5 mm. Penguat depan bentuk cekung Gambar 148 Penguat sepatu Gambar Cetakan penguat sepatu Kriya Kulit 68
  • 67. 5. Membuat penguat sepatu belakang (hinterkappe) a) Memola Ambillah pola, tempatkan di atas kulit samak nabati pada bagian perut, polalah dengan alat pensil. b) Memotong Potongan penguat belakang sepatu caranya sama dengan memotong sol dalam. c) Mengeset Untuk mendapatkan sesetan yang bagus pisau harus tajam. Hasil sesetan miring lebar 12 mm sampai dengan 15 mm, fungsi penipisan ini untuk mempermudah pembentukan/pencetakan penguat belakang. Gambar. Menyeset bahan penguat belakang d) Mencetak penguat sepatu Sebelum penguat sepatu dicetak, bahan/kulit dibasahi dulu air hangat, diremas-remas agar bahan/kulit menjadi lemas. Alat untuk mencetak penguat ini yaitu acuan sepatu, tang zwicken, staples, paku, catut dan palu besi. Untuk mencetak penguat ini kulit setelah dibatasi ditempelkan pada acuan dan distaples pada bagian atas, bagian bawah dilipat ke telapak acuan dengan penguat paku. Penarikan/pelipatan kulit dimulai pada ujung tumit dan dilanjutkan hingga seluruh kulit penguat terlipat, paku dibengkokkan ke dalam. Hasil cetakan yang masih basah dipukul-pukul lalu dikeringkan dengan lampu dengan bahan bakar spiritus. Mengeringkan penguat sepatu, setelah kering pengeras dipotong menurut ketinggian mukaan sepatu, ditipiskan/dirapikan ketebalannya dan diratakan dengan Kriya Kulit 69
  • 68. amplas/pecahan kaca. Setelah penguat sepatu selesai dicetak maka dilepas untuk diproses selanjutnya. Gambar. Mengeringkan penguat sepatu Gambar. Cetakan penguat belakang sepatu Setelah penguat sepatu selesai dicetak maka dilepas untuk proses selanjutnya. Kriya Kulit 70
  • 69. Gambar . Penguat/pengeras yang telah tercetak Mencetak Manual Sepatu ( atasan Sepatu ) dengan cetakan sepatu a. Uraian Materi Teknik memasang manual sepatu/atasan (oberleder) pada cetakan sepatu/acuan yaitu memasang/merakit atasan jadi sol dalam dengan cara melipat bagian bawah atasan dengan menariknya dengan alat tang zwicken ditahan/dikencangkan paku pada cetakan sepatu. Apabila diperlukan penyesuaian ulang (zwicken dasar) mengepaskan cetakan kanan dengan atasan sangat diperlukan, kesamaan pemasangan kedua pasang atasan dan bentuk zwicken atasan pada sol dalam atau konstruksi pemasangannya. 1. Mencetak manual sepatu dengan cetakan sepatu a) Menyiapkan atasan (oberleder) dan memeriksa acuan Atasan (oberleder) sebelum di cetak dirapikan jahitannya (mengikat benang akhir jahitan). Memeriksa cetakan /acuan, sebelum unsur mencetak periksa kesesuaian Kriya Kulit 71
  • 70. dengan manual sepatu agar kualitas konstruksi dapat maksimal. Gambar. Atasan sepatu b) Memasang sol dalam Setelah penguat dilepas dari cetakan maka sol dalam diratakan ulang dengan amplas dari bekas-bekas tusukan paku pada waktu mencetak penguat (kappe). Kemudian dipasang sesuai keadaan semula, dipaku depan, tengah dan belakang pada acuan bagian bawah. Gambar. Memasang sol dalam c) Memasang penguat sepatu (kappe) Sebelum atasan dilipat kedalam/mengopen (zwicken), memasang pengeras/penguat. Gambar. Memasang penguat belakang Kriya Kulit 72
  • 71. d) Menaburi bedak Pekerjaan ini agar atasan dan acuan tidak lengket, sehingga mempermudah melepas acuan dari atasan. Gambar. Menaburi bedak e) Mengopen (zwicken) dasar Memasang atasan pada acuan, peganglah acuan dengan tangan kiri, atasan dipasang sesuai pola garis bawah mata kaki, ujung atasan ditarik dengan tang zwicken dan kencangkan dengan paku. Kemudian dilanjutkan kedua samping ujung acuan dan kedua samping tangan acuan. Gambar. Zwicken dasar awal Zwicken dasar ini untuk menyamakan openan sepatu kanan dan sepatu kiri. Pada ujung telapak bagian belakang sepatu. Apabila kurang sama/simetris sepatu kanan dan kiri maka dengan mudah diulangi dan disamakan dari keduanya. Kriya Kulit 73
  • 72. Gambar. Zwicken dasar lanjutan Zwicken ini melanjutkan zwicken dasar dengan memastikan bentuk openan atasan sama/simetris dari sepasang sepatu. Gambar. Zwicken lanjutan f) Memotong sisa lipatan Lipatan kulit atasan hasil zwicken kira-kira 1,2 cm kelebihannya dipotong dengan pisau potong. Kriya Kulit 74
  • 73. Gambar. Memotong sisa lipatan Gambar. Membengkokkan paku dengan palu besi g) Mengopen lapisan depan Sebelum mengopen lapis depan kulit atas (oberleder) disingkapkan ke atas. Tarik kulit lapis dengan tang pada ujungnya, kuatkan dengan paku lanjutkan ke samping ujung dan seterusnya. Renggangkan sela-sela dipaku dengan drei, rekatkan keduanya dengan lem sintesis. Rapatkan dengan paku dan dibengkokkan ke dalam. Kriya Kulit 75
  • 74. Gambar. Mengopen lapis depan h) Memasang penguat depan Paku open/zwicken lapis dengan dilepas. Kemudian memasang penguat depan. Penguat/pengeras depan ada 2 jenis bahan. Satu penguat dari kulit dan penguat dan materi nol kulit. Gambar. Memasang penguat depan Kriya Kulit 76
  • 75. i) Memplastiskan bentuk Setelah pengopenan selesai, sepatu dipukul dengan menggunakan palu besi agar bentuknya plastis sesuai dengan cetakan/acuan. Gambar. Memplastiskan bentuk Membuat pita sepatu (rahmen) a. Tujuan Kegiatan Pembuatan pita sepatu yaitu dapat mengencangkan cetakan, dengan urutan sebagai berikut : 1. Membuat pita sepatu (rahmen). 2. Menjahit pita. 3. Memaku pasak/nagel. b. Langkah Kerja Pembuatan pita sepatu adalah usaha untuk mengencangkan cetakan, agar tidak terjadi pemuaian /kelonggaran dalam cetakan sehingga bisa tercapai ukuran yang dikehendaki, mengencangkan cetakan adalah menguatkan hasil cetakan atasan (upper) dengan sol dalam/insol (bransole) dan pita (rahmen). Bahan yang digunakan benang (pechdraht) dengan menggunakan alat pelubang jahitan (uncek panjang). Dipasang menggunakan jarum dan benang untuk mengikatnya, pemasangan ditempatkan pada bagian hak sepatu (abzat) guna pengencang/penguat digunakan paku pasak/nagel, terbuat dari kayu panjang 14 mm. Sedangkan alat yang digunakan pada pangencangan cetakan yaitu alat pelubang jahit (uncek panjang) gunanya untuk melubangi kulit yang akan di jahit, alat pelubang pasar /paku kayu gunanya juga untuk membuat lubang jahitan, jarum jahit tangan gunanya untuk menjahit sehingga Kriya Kulit 77
  • 76. memudahkan memasukan benang ke bagian kulit yang dikehendaki , catut gunanya untuk menarik benang yang agak sulit dikeluarkan sehingga benang mudah dikeluarkan, paku besi gunanya untuk mengencangkan/merapatkan pinggiran supaya tidak mudah tergeser, pisau potong gunanya untuk memotong kulit supaya sesuai dengan ukuran juga untuk merapikan hasil produk dan pisau tulang digunakan untuk memotong juga untuk finising. 1. Membuat pita (rahmen) Bahan yang digunakan dalam pembuatan Pita (rahmen) yaitu dari kulit sol sapi dibagian perut/lebar 18 mm tebal 3 mm. Mengapa bahan kulit sol ini digunakan karena mempunyai ketebalan yang cukup tebal dengan potongan memanjang, sebelum kulit dipasang atau dijahit terlebih dahulu harus dibasahi dengan air agar menjadi lentur (lemas) sehingga memudahkan untuk mengolah/menekuk sesuai dengan desain walaupun dalam proses kemiringan 45 derajat. Gambar. Pita dipotong dengan sudut 45 derajat Bahan- bahan yang dijahit yaitu atasan, sol. Kriya Kulit 78
  • 77. Gambar. Pita (rahmen) Gambar. Alat pelubang jahit pita (tengah), alat pelubang paku pasak (atas), pisau tulang untuk menghaluskan/mengkilapkan pita sepatu. Kriya Kulit 79
  • 78. a) Benang jahit pita (benang pechdraht) Satu rol benang pita terdapat 12 helai. Setiap helai yang dapat digunakan untuk bahan jahit menjahit sepasang sepatu dibutuhkan satu helai dengan panjang 2 meter. Sebelum digunakan benang dilapisi dengan malam/lilin agar menyatu serabut-serabutnya dengan cara pangkal benang ditekan, di atas malam ditarik melalui malam lakukan hingga beberapa kali hingga benang terlapisi malam. Gambar 169 Benang pechdraht Gambar. Melapisi benang Gambar. Bahan dengan lilin/malam pembuat lilin/malam Kriya Kulit 80
  • 79. b) Benang jahit pita Benang jahit pita benang ini sudah dilapisi malam digunakan untuk menjahit pita dan untuk menjahit sol tengah. Dua jarum jahit tangan panjang 8 cm yang melalui pisau uncek panjang dengan lebar 0.5 – 8 mm. Gambar. Benang jahit pita 2. Menjahit pita sepatu (rahmen) Gambar Jahit pita Gambar Menarik (rahmen) dimulai dari jarum dengan catut batas hak depan Kriya Kulit 81
  • 80. Gambar. Menjahit pita sepatu Gambar.Meratakan Gambar.Dengan hati- Gambar material dari atasan hati memukul Meluruskan pita dan pita permukaan insol, pita dengan tang dan benang jahitan zwichen Kriya Kulit 82
  • 81. Gb.. Memadatkan pita dengan pisau tulang Pisau tulang digosokkan diatas pita hingga padat dan mengkilat. 3. Memaku pasak/nagel Untuk menguatkan dan mengencangkan pita yang akan dipasang dibutuhkan Pasak/nagel ini digunakan untuk menguatkan dan mengencangkan pita. Pada bagian keder caranya buatlah lubang pasak dengan uncek kethok, melalui pita, lipat zwichen, insol hingga menembus acuan. Kemudian pakulah pasak melalui lubang tersebut hingga pita terpasang. Gb.. Paku pasak/nagel Kriya Kulit 83
  • 82. Membuat lubang Memotong Memaku pasak pasak kelebihan pita lanjutan Gb. Cara pasak Membuat Asesoris Sepatu b. Uraian Materi Teknik pembuatan asesoris sepatu mulai dari pemilihan bahan kulit, pembuatan pola, pemotongan kulit, melubangan kulit dengan alat plong dan pahat, penyesetan kulit, perakitan, penjahitan, merapikan, finising 1. Pemilihan Bahan Kulit Menyiapkan kulit untuk hiasan, dipilih kulit yang permukaan datar hindari yang berlubang-lubang atau kulit cacat, sebab penempatan hiasan pada bagian-bagian sepatu yang tampak didepan memerlukan kulit yang bagus Kriya Kulit 84
  • 83. Gb. Kulit untuk Hiasan Sepatu Gb. Proses Merapikan Potongan Kulit Merapikan Potongan Kulit yang telah dipotong sesuai dengan pola, maka perlu dirapikan bagian tepinya Kriya Kulit 85
  • 84. agar dalam perakitan bisa sesuai dengan desain dan rapi, potongan kulit dikontrol bagian tepinya secara saksama dengan memperhatikan kelurusan/kemiringan potongan, seandainya potongan ada yang kurang pas diperlukan pemotongan dengan menggunakan pisau kecil dengan cara menyeset, kemudian bagian tepi dibakar dengan menggunakan korek api/lilin setelah itu digosok dengan malam dan diberi cat, untuk bagian ini diperlukan ketekunan mengingat potongan-potongan yang dihasilkan merupakan cikal bakal keberhasilan proses perakitan Gambar 200 Potongan Kulit Untuk Hiasan 4. Membuat Variasi Potongan Kulit Potongan kulit yang sudah disesusaikan dengan pola, kemudian di sket dengan menggunakan kapur, setelah di sket lalu dipotong dengan menggunakan alat potong khusus untuk memberi hiasan pariasi, alat potong khusus ini menghasilkan potongan bergerigi yang digunakan untuk hiasan. Kriya Kulit 86
  • 85. Gb., Memotong kulit dengan alat potong hias 5. Membuat Lubang Hiasan Lubang hiasan memerlukan alat bernama Plong, bentuknya bulat bagian atasnya tajam dibuat dari besi baja dengan ukuran bervariasi dari kecil sampai besar. Bagian-bagian yang perlu diberi hiasan dilubangi satu persatu, memegang alat plong ini hampir sama dengan memahat, alat pukulnya menggunakan alat pukul kayu/besi (pengotok/palu) Gb. Membuat Lubang Variasi 6. Menyeset Bagian Pinggir Kulit Bagian pinggir kulit yang masih tebal diperlukan penyesetan dengan pisau seset, supaya di dalam perakitan bisa lebih mudah dan lem menempel lebih kuat. Kriya Kulit 87
  • 86. Gambar 203 Potongan Kulit yang Sudah Di Seset 7. Perakitan Bagian Asesoris Kulit yang sudah diseset, kemudian diukur disatukan di beri lem ditekan dengan menggunakan uncek, agar supaya menempel lebih kuat, seandainya ada lubang hiasan yang tertutup kena lem bisa langsung dilubangi dengan uncek Kriya Kulit 88
  • 87. Gb, Perakitan, mengukur dan melubangi 8. Menjahit Potongan-potongan kulit yang sudah dirakit, kemudian dijahit menggunakan mesin jahit. Menjahit harus hati-hati karena hasil jahitan disamping untuk kekuatan juga berfungsi untuk hiasan. Gambar 205, Posisi tangan saat menjahit Gb.,Posisi jarum mesin jahit saat menjahit Kriya Kulit 89
  • 88. Gb.,Menjahit bagian pinggir Gb, mengontrol bagian dalam kulit Bagian dalam perlu diteliti, perhatikan kerataan jahitan dari bagian dalam usahakan jangan sampai ada lipatan/kerutan dari lapisan tambahan bagian dalam yang bisa mempengaruhi kekuatan dan kerapian produk. 9. Membuat Lapisan Dalam Untuk kenyamanan para pemakai nantinya, dibutuhkan pelapis bagian dalam yang empuk menggunakan kain lembut agak tebal, di jahit diluar terlebih dahulu kemudian baru dimasukan kedalam sepatu Kriya Kulit 90
  • 89. Gb. Menjahit Lapisan Bagian Dalam Sepatu 10. Menggunting Lapisan Dalam Lapisan dalam setelah dimasukan ke dalam sepatu dilem, dijahit biasanya ada bagian lapisan yang menonjol keluar, kemudian dipotong dengan hati-hati supaya rapi Gb, Menggunting kelebihan lapisan dalam Kriya Kulit 91
  • 90. Gb, Pembuatan lubang hiasan Gb, Bagian Atas Sepatu Bagian atas sepatu yang sudah dihiasi dengan berbagai asesoris lubang-lubang membentuk ornamen dikombinasikan dengan jahitan yang rapi, bagian dalam kelihatan lapisan yang harmonis menambah artistik tampilan sepatu sudah siap di gabung dengan bagian bawah sepatu. Kriya Kulit 92
  • 91. 11. Pembuatan alas bawah Alas bawah terbuat dari karet sudah ada ukuran sesuai yang kita kehendaki, kemudian dibuatkan potong- an kulit sol yang agak tebal dipotong mengikuti desain lalu lem dan dilubangi atau di uncek bagian yang akan di paku, dalam proses ini menggunakan paku kecil Gb, Melubangi bagian bawah untuk di paku 12. Pembuatan hak sepatu Bagian belakang sepatu agar lebih tinggi dari bagian depan dibutuhkan hak, sebelum dibuatkan hak terlebih dahulu bagian atas sepatu yang sudah disiapkan dilipat kebawah dan dilem kemudian dibuatkan lubang dengan uncek, bagian yang sudah dilubangi dimasukan pasak yang terbuat dari potongan bambu/kayu diraut kecil-kecil menyamai paku setelah semua lubang terisi kemudian diseset/diratakan dengan pisau kecil. Gb, Melubangi, memberi pasak dan menyeset/meratakan. Kriya Kulit 93
  • 92. 13. Merapikan bagian bawah sepatu Setelah bagian bawah sepatu berupa hak terpasang, maka perlu dirapikan bagian yang belum rata dengan menggunakan pisau kecil. Gb, Merapikan bagian bawah sepatu 14. Pewarnaan bagian bawah sepatu Untuk menyamakan warna bagian atas dengan bawah, maka perlu diimbangi pewarnaan yang sesuai, usahakan pewarnaannya transparan, agar warna dasar bisa tampak Gb, Pemberian warna pada bagian bawah sepatu Kriya Kulit 94
  • 93. 15. Menghaluskan Pinggiran Sepatu Bagian bawah sepatu, pinggir-pinggirnya perlu dibuat halus, yaitu dengan cara memotong kelebihan kulit yang menonjol supaya menjadi rata, lalu digosok sehingga benar- benar halus Gb,, Proses Menghaluskan Bagian Bawah Sepatu Kriya Kulit 95
  • 94. Gb, Penempatan acuan untuk mencari Ukuran Gb,Acuan Pelan-pelan dikeluarkan Kriya Kulit 96
  • 95. 15. Meratakan Bagian Dalam Sepatu Agar bagian dalam sepatu tampak rapi, diperlukan alat untuk merapikan dengan cara menggosokan sambil di tekan-tekan sampai benar-benar rata Gb. Meratakan Bagian Dalam Sepatu Kriya Kulit 97
  • 96. BAB IV Produk Kulit Non Alas Kaki dan Non Busana 5. SK : Membuat Produk Kulit Non Alas Kaki dan Non Busana KD : A. PERSIAPAN BAHAN, ALAT DAN KETEKNIKAN Pembuatan hasil kerajinan kriya kulit tersamak, diperlukan suatu proses yang harus dilalui yaitu mulai 1) Perencanaan,2) Pemolaan,3) Pemilihan bahan, 4) Pemilihan alat, 5) Menyeset, 6) Melubang, 7) Menjahit, 8) Membuat hiasan, 9) Memasang bahan perlengkapan, 10) Penyelesaian (Finising) Dalam setiap pembuatan barang tersebut akan terdapat banyak perbedaan, Hal tersebut mengingat bahwa membuat benda dari kulit tersamak ada yang dibuat secara sederhana dan singkat, tetapi ada pula yang harus dibuat secara menyelesaikan tiap-tiap bagian dan memerlukan proses yang cukup lama dan mendetail. Berikut akan diuraiakan mulai dari menyeset, menjahit, pembuatan ikat pinggang 1. Menyeset Kulit Manual ( Non Sepatu) Sebelum melangkah kegiatan produk kerajinan kulit, hal yang patut dikerjakan dalam produksi adalah penyesetan Penyesetan Kulit dengan Pisau Seset Manual dan menyeset menggunakan mesin seset, dalam menyeset manual diartikan bahwa menyeset merupakan jenis pekerjaan pada kriya kulit yaitu mengurangi atau mengikis atau membuang sebagian dari ketebalan kulit agar didapatkan ketebalan yang sesuai dengan tuntutan konstruksi atau perapihan produk dan dilakukan dengan menggunakan peralatan manual (tidak dengan alat bermesin) Penyesetan (skiving) adalah bagian dari urutan proses produksi kriya kulit terutama dalam proses produksi barang-barang fungsional. Penyesetan dilakukan untuk mengurangi ketebalan dan dalam pekerjaan pembentukan komponen sebagai perapihan. Oleh sebab itu penyesetan dilakukan sangat hati-hati agar mendapatkan ketebalan atau bentuk sesuai dengan yang diinginkan.Pada dasarnya pekerjaan menyeset secara fungsional dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan kontstruksi yang direncanakan dalam desain. Akan tetapi dalam kaitannya dengan seluruh proses produksi dalam kriya kulit, pekerjaan menyeset dilakukan untuk mengurangi ketebalan kulit. Membuang sebagian ketebalan kulit untuk memenuhi memperoleh ketebalan kulit sesuai yang diinginkan serta untuk merapikan bagian kulit. Menyeset untuk tujuan mengurangi ketebalan kulit sebenarnya dapat diatasi dengan pemilihan ketebalan kulit yang sesuai dengan kebutuhan atau dilakukan pembelahan (splitting). Penyesetan pada umumnya dilakukan pada permukaan kulit sebelah dalam (bagian daging). Jarang sekali terjadi penyesetan Kriya Kulit 97
  • 97. dilakukan pada bagian rajah, kalupun terjadi (biasanya sangat terpaksa) dilakukan untuk tujuan penyambungan kearah panjang/lebar. Jenis-jenis sesetan: a. Sesetan miring b. Sesetan datar c. Sesetan alur/cekung d. Sesetan rata Gambar 1 Jenis-jenis Sesetan 2. Alat Penyesetan Secara Manual Penyesetan secara manual dilakukan untuk mengurangi ketebalan kulit pada bagian-bagian yang sempit atau sedikit. Alat pokok yang digunakan adalah pisau seset yang sangat tajam. Berikut ini adalah alat-alat yang digunakan dalam penyesetan manual. a. Pisau seset Pada umumnya ada dua jenis pisau seset manual yang bisa digunakan pada penyesetan kulit secara manual. Pisau seset biasa (reguler skiving knife/tradisional) buatan pandai besi melalui proses Kriya Kulit 98
  • 98. tempa dan pisau seset modern (Modern skiving knife) buatan pabrik melalui cor. Persaratan utama kedua pisau ini harus memiliki ketajaman yang sempurna oleh sebab itu harus terbuat dari besi baja yang berstandar. Pisau seset manual baik yang tradisional maupun yang modern jika ditinjau dari fungsinya, bentuk pisau terdiri dari beberapa macam. Hal tersebut merupakan tuntutan terhadap hasil sesetan dan kenyamanan pada waktu digunakan. 1) Pisau seset biasa (reguler skiving knife) Pisau seset biasa adalah pisau seset tradisional yang biasa digunakan oleh perajin kulit. Ciri khas pisau ini adalah sisi bagian tajam miring antara 30 sampai 45 derajat dari kepala pisau. Sisi miring yang tajam ini harus lurus karena fungsi utama untuk sesetan datar dan rata, apabila mata tidak lurus akan relatif sulit digunakan pada saat penyesetan rata apalagi pada proses megasah tidak menggunakan batu asah yang benar-benar datar dan rata. Cara penggunaan pisau ini didorong sambil ditekan dalam gerakan menggaris. Untuk mendapatkan hasil sesetan yang rata lebih baik digunakan landasan yang rata, landasan tersebut bisa berupa kaca yang tebal atau batu pualam yang sudah dipoles (marmer). Gambar, 2 Pisau Seset Tradisional Kriya Kulit 99
  • 99. Gambar, 3 Pisau Seset Biasa 2) Pisau seset modern Pisau X-Acto (pisau dengan mata yang dapat diganti). Bentuk pisau ini hampir menyerupai cutter yang umum kita kenal, yaitu terdiri dari gagang dan mata pisau yang dapat dibongkar pasang, hanya bentuk mata pisaunya yang beragam. Jka sudah tumpul atau untuk pengerjaan yang berbeda dapat diganti dengan yang baru sesuai dengan keperluan. Ketajaman mata pisau ini sama dengan pisau operasi dalam dunia kedokteran. Mata pisau yang digunakan terdiri dari berbagai jenis yang dibedakan berdasarkan macam pengesahannya, yang tersedia dalam beragam ukuran. Ada yang cocok dengan kulit tipis, ada juga yang bagus digunakan terhadap kulit tebal. Kelemahan dari pisau ini adalah terbuat dari logam yang tipis sehingga mata pisau sering diganti akan tetapi relatif menghemat waktu karena tidak perlu mengasah. Kriya Kulit 100
  • 100. Gambar 4. Pisau Seset Modern (Pisau X-Acto) dengan beberapa mata pisaunya 3) Pisau seset berbentuk pahat Alat ini secara keseluruhan berbentuk seperti pahat. Akan tetapi apabila diteliti pada bagian kepala pahat terdapat mata pisau yang dapat diatur dan dapat diganti sesuai keperluan (bentuk, V, U, atau bentuk yang lainya), hal ini disebabkan karena pada bagian mata/ujung terdapat konstruksi sekrup yang bisa dibongkar pasang. Fungsi pisau seset ini untuk membuat alur atau celah untuk menyembunyikan benang jahit atau untuk mempermudah pada saat melipat kulit. Konstruksi mata pahat dibuat sedemikian rupa sehingga pisau seset yang terdapat pada mata pahat dapat diatur kedalamannya atau diganti mata pisaunya. Kepala pisau memiliki dua kaki pemandu di kedua sisinya, sedangkan mata pisau terletak antara kedua kaki tersebut. Selama pemakaian, mata pisau ini yang akan melakukan pengeratan, sementara kedua kaki pemandu bergerak ringan, meluncur di atas kulit. Pengguaan alat ini dengan cara didorong, beri tanda garis pada alur yang akan diseset pada permukaan kulit. Atur kedalaman pisau yang diinginkan kemudian pegang gagang alat ini membentuk sudut sekitar 80 derajat terhadap permukaan, sehingga posisi kaki pemandu bergerak datar diatas permukaaan. Selama penyesetan jaga sudut miring alat terhadap permukaan kulit tetap 45 derajat dan lakukan penyesetan hanya satu kali jalan tanpa berhenti. Hal mana agar kedalaman sesetan rata, hasilnya bersih dan rapi. Jika alat tidak digunakan, putar sekrup pengatur kemudian mata pisau dilepas. Kriya Kulit 101
  • 101. Safety Beveler atau Skife Gambar, 5 Pisau Seset Safety beveler atau skife 4) Safety beveler atau skife Alat ini penyeset yang menggunakan silet yang bisa dibongkar pasang. Permukaan mata pisau melengkung karena rangka mata pisau dibentuk melengkung. Lengkungan ini berfungsi untuk mengatur kedalaman sesetan. Skife dirancang agar dapat digunakan dengan tangan atau dengan tangan kiri, cara penggunaanya hampir sama dengan mengupas buah-buahan yang ditarik kearah tubuh. Bentuk irisannya melengkung sehingga area hasil penyesetannya menyerupai rangkaian telur bukan permukaan. Cara penggunaan skife adalah menggenggam gagang dengan tangan kanan, tangan kiri memeggang/menekan kulit pada landasan serta ibu jari tangan kiri berperan untuk mengontrol penarikan alat. Miringan sedikit mata pisau kemdian tarik kearah tubuh.apabila siletnya tumpul dapat diganti dengan yang baru. Kriya Kulit 102
  • 102. Gambar 6. Pisau Seset berbentuk ketam 5) Pisau seset berbentuk ketam Jenis pisau ini fungsinya tidak berbeda dengan pisau berbentuk pahat, yang berbeda adalah rumah mata pisau yaitu berbentuk ketam tangan yang bisa digunakan tukang kayu. Disamping itu alur hasil sesetan lebih lebar. Bentuk alat ini dirancang sedemikian rupa agar pengoprasian dapat dilakukan dengan cara didorong oleh pangkal telapak tangan. b. Alat Bantu Dalam penyesetan kulit dengan pisau seset manual diperlukan beberapa peralatan pembantu yaitu: 1) Meja Kerja Dalam pekerjaan penyesetan kulit dengan pisau seset manual peranan meja kerja sebagai alat bantu cukup dominan. Meja kerja berfungsi untuk meletakan “Landas Seset” (landasan), memajang peralatan dan memajang bahan pra/pasca penyesetan. Konstruksi meja kerja harus benar-benar kokoh dengan ukuran standar. Khusus untuk keperluan kriya kulit persepatuan meja kerja biasanya hanya setinggi lebih kurang 45 cm, lebar daun meja lebih kurang 50 x 75cm. Perajin duduk di atas dingklik yang tingginya lebih kurang Kriya Kulit 103
  • 103. 25 cm, dalam mengerjakan pekerjaan penyesetan/perapihan biasanya paha dan lutut ikut berperan. 2) Landasan Landasan digunakan saat penyesetan, oleh sebab itu kondisinya harus sangat rata dan tahan gores tapi tidak terlalu berpengaruh terhadap ketajaman pisau jika pisau bersentuhan. Untuk maksud ini yang paling baik adalah batu pualam yang sudah dipoles (marmer) dengan ketebalan minimal 5cm dan permukaan landas seset 40 x 40 cm atau 40 x 60 cm. Sebagai pengganti batu marmer dapat digunakan lembaran kaca tebal atau lembaran keramik lantai. 3) Micro Meter Micro meter yang dimaksud adalah sejenis alat khusus untuk mengukur ketebalan suatu lembaran. Satuan ukurannya mm (mili meter) sehingga alat ini dapat digunakan untuk mengukur ketebalan dari mulai 0,1 mm s.d. 10,00 mm. 4) Penggaris Adalah penggaris biasa, hanya sebaiknya terbuat dari logam. 5) Uncek Uncek tidak kalah pentingnya dari jenis peralatan lainnya, tampaknya seperti sepele tapi cukup memegang peranan dalam proses penyesetan manual, yaitu untuk memberi tanda. 6) Asahan Yang dimaksud disini adalah alat untuk mengasah/menajamkan pisau seset manual. Ada 2 jenis asahan yang bisa digunakan, yaitu “Batu Asah dan Besi Asah”. Mengasah pada batu asah disamping memelihara ketajaman juga memelihara bentuk pisau agar tetap sesuai dengan bentuk sesungguhnya dan dilakukan sebelum melakukan pekerjaan. Sedangkan mengasah dengan besi asah dilakukan saat bekerja jika terasa saat digerakan pisau relatif kaku/kurang licin. 3. Perawatan Alat Terkadang seseorang kurang memperhatikan masalah perawatan alat, biasanya yang bersangkutan baru sadar pentingnya perawatan alat setelah diketahui bahwa alat yang akan digunakan tidak siap pakai. Oleh sebab itu, sebagai bagian dari efesiensi dan produktivitas perawatan alat menjadi tuntutan profesi. Perawatan alat dapat dilakukan sebelum bekerja, saat bekerja dan terutama setelah selesai bekerja. Kegiatan perawatan antara lain: memelihara keutuhan (jenis, jumlah dan bentuk), ketajaman (mengasah) dan menyimpan. Kriya Kulit 104
  • 104. Dalam hal mengasah pisau sering terjadi salah kaprah proses mengasah yang mengakibatkan pisau jadi cepat tumpul atau tidak nyaman digunakan. Hal ini dimungkinkan oleh bahan (kandungan/jenis baja), proses sepuhan dan terutama dalam teknik mengasah. Dalam kaitan ini teknik mengasah pisau untuk orang yang terbiasa bekerja dengan tangan kiri berbeda dengan orang yang terbiasa bekerja dengan tangan kanan. Langkah berikut menunjukkan bagaimana sebaiknya mengasah pisau sesuai dengan kebiasaan penggunaannya. Langkah Kerja: a. Persiapan - Mengatur posisi batu asah - Menyediakan air atau minyak kelapa b. Pelaksanaan - Jika Anda terbiasa dengan tangan kanan maka pengganglah gagang pisau dengan tangan kiri (demikian sebaliknya) kemudian gosokkan sisi pisau pada batu asah dalam posisi miring lebih kurang 5 – 15 derajat dalam keadaan pisau basah. - Sesekali periksa mata pisau dengan cara meraba dengan ibu jari tangan atau melihat garis pada mata pisau. - Raba sisi pisau bagian yang tidak digosokkan, jika terasa seakan ada yang melipat, gosokkan bagian sisi itu dalam posisi rata atau sejajar batu asah - Lakukan ketiga langkah di atas berulang-ulang sehingga Anda yakin pisau sudah tajam setajam silet c. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K 3) - Gunakan air bersih bahkan akan lebih baik jika menggunakan minyak kelapa saat menggosokkan pisau pada batu asah - Rabalah mata pisau dengan ibu jari tangan ke arah melintang (tidak searah garis mata pisau) - Rapikan kembali bekas Anda bekerja. 4. Proses Penyesetan Manual a. Langkah Kerja Kelompokkan lembaran kulit yang akan diseset sesuai dengan spesifikasi sesetan. Siapkan peralatan yang diperlukan sesuai dengan jenis-jenis sesetan yang akan dibuat/dikerjakan. Melakukan penyesetan sesuai dengan prosedur kerja (lihat petunjuk penyesetan). Kelompokkan hasil sesetan sesuai dengan spesifikasi sesetan dan jenis produk, tiap-tiap jenis dicatat. Menyerahkan hasil sesetan kepada bagian lain dari sistem produksi dengan dilengkapi berita acara. Kriya Kulit 105
  • 105. Gambar, 7 Gambar, 8 Penyesetan dengan Pisau Seset Biasa Penyesetandengan Skife (Pisau didorong) Gambar, 9 Penyesetan dengan Skife (Pisau dtarik ke arah tubuh) b. Petunjuk Penyesetan 1) Siapkan pisau seset setajam silet, meja kerja dengan landasan, dan alat bantu lainnya yang diperlukan. Kriya Kulit 106
  • 106. 2) Hamparkan kulit yang akan diseset secara merata pada meja kerja/landasan dengan bagian dalam (bagian daging) di sebelah atas. 3) Letakan pisau seset dalam posisi rata pada permukaan kulit kemudian gagangnya diangkat membentuk sudut sekecil mungkin. Tekan pisau memotong dangkal. Gagang pisau hendaknya mantap pada lekukan telapak tangan. Telunjuk dan jari tengah diatas pisau sedangkan ibu jari, jari manis dan kelingking di bawahnya. Mata pisau menghadap ke depan untuk sesetan rata dan menghadap ke sisi luar untuk sesetan miring. Pisau digenggam; tangan, pergelangan tangan, dan lengan berada dalam satu garis lurus. 4) Gerakan pisau ke muka atau memutar searah jarum jam. 5) Ingat! Pisau harus tetap dijaga nyaris rata pada permukaan kulit. 6) Sepanjang menyeset, pisau dioperasikan dalam gerakan mengiris 7) Kontrol penyesetan datang dari otot-otot lengan bawah diantara pergelangan dan sikut. Kerja tangan hanyalah sebagai petunjuk dan instrumen pemegang alat. Pisau dan lengan bawahlah yang menyempurnakan pemotongan. 8) Untuk penyesetan miring dapat digunakan Skife , cara pengoperasiannya: gagang skife digenggam dan diletakkan pada sudut lembaran kulit yang akan dimiringkan kemudian ditarik ke arah tubuh sementara ibu jari berperan untuk mengontrol penarikan . 9) Untuk penyesetan alur gunakan pisau bermata V atau pisau seset berbentuk ketam bermata V. 10) Jika pisau seset terasa berat dioperasikan, gunakan besi asah untuk melicinkan atau asah kembali pisau seset karena mungkin juga pisau seset yang digunakan sudah tumpul. c. Teknik Sesetan dan Jenisnya Sesetan manual adalah, suatu sesetan dengan pengerjaan secara manual menggunakan pisau khusus seset, guna mengurangi ketebalan kulit pada bagian tertentu sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan sebelumnya Kriya Kulit 107
  • 107. Gambar 10. Seset lurus Posisi tangan waktu menyeset yaitu tangan kiri dibawah, sejajar dengan meja, untuk hasil yang bagus penyesetan dilakukan diatas kaca, mengapa kaca karena kaca permukaannya rata dan halus. Tangan kanan memegang pisau seset, perhatikan arah pisau waktu mennyeset Gambar 11. Seset datar Penyesetan datar untuk menghilangkan bagian dalam kulit, agar kulit menjadi tipis serta ketebalannya merata, posisi pisau harus dalam posisi tertidur supaya capaian kedataran sesuai dengan rancangan Kriya Kulit 108
  • 108. Gambar 12. seset miring Posisi pisau waktu menyeset harus benar-benar miring, untuk mencapai kemiringan yang tepat bagi pemula lebih baik bagian yang akan diseset digaris terlebih dahulu sesuaikan dengan konstruksi yang direncanakan, tapi bagi yang sudah terbiasa tidak perlu digaris, bisa langsung diseset Gambar 13. seset cekung Penyesetan ada yang berbentuk huruf V dan ada yang berbentuk huruf U, penyesetan ini diperlukan ketrampilan posisi pisau menyesuaikan dengan bentuk sesetan dalam konstruksi. Kriya Kulit 109
  • 109. 2. Penyesetan Langkah penyesetan komponen produk kulit: a. Siapkan peralatan penyesetan komponen produk kulit, seperti; mesin seset, gunting, mikrometer, penggaris, rol meter dan spesifikasi penyesetan. b. Siapkan bahan yang berupa: 1) Potongan-potongan komponen produk kulit. 2) Potongan-potongan sisa kulit atau bahan lain untuk uji coba. Catatan: mengingat adanya perbedaan sifat jenis kulit, maka uji coba penyesetan dilakukan dengan kulit yang sejenis. Misalnya, kita akan menyeset jenis kulit A dan B, maka ujicoba penyesetan harus dilakukan dengan potongan atau perca jenis kulit A atau B. c. Periksalah mesin seset sebelum digunakan, kemudian lakukan penyetelan terutama komponen-komponen pokok seperti: 1). Batu telur harus sejajar dengan pisau 2). Jarak batu telur dengan pisau. Cara penyetelan; menaikkan batu telur hingga menyinggung pisau dan berbunyi quot;ring-ringquot;. Turunkan batu telur sehingga tidak terdengar suaranya kemudian kuncilah. 3). Setellah jarak pisau dengan kulit sejauh 1 mm. 4). Asahlah pisau, dengan cara menjalankan mesin, injaklah pedal secepatnya, kemudian batu asah didekatkan sampai menyinggung pisau. Tunggulah beberapa saat sampai ketajaman pisau sesuai dikehendaki. Untuk menghentikan pengasahan, tekanlah pedal dalam keadaan mesin hidup, kemudian batu asah dijauhkan. Setelah batu asah jauh baru mesin dimatikan. Batu asah jangan dijalankan kalau tidak digunakan untuk mengasah. d. Lakukan ujicoba penyesetan dengan posisi tangan yang benar. Posisi kaki dan gerakan injakan harus seimbang dengan jalannya pisau. e. Penyesetan komponen produk dilakukan sesuai dengan spesifikasinya. Kriya Kulit 110
  • 110. Gambar 14, Penyesetan Miring Keterangan: sesetan miring sesetan datar atau paralel ukuran ketebalannya yang 6-7/10 diseset adalah 0,6- 0,7 mm Tanda arsir hitam: bagian yang diseset f. Latihan Menggunakan Mesin Seset 1). Siapkan mesin seset, dan periksa keadaan mesin seset. 2). Duduk dengan letakkan kedua kaki pada pedal. 3). Mulailah menjalankan mesin dengan cara menginjak pedal dengan sistem injak lepas untuk merasakan kesesuaian cara menjalankan mesin. Kriya Kulit 111
  • 111. Gambar 15,Mesin seset Keterangan: 1. Mesin seset 2. Motor penggerak 3. Streng 4. Pedal 5. Saklar 6. Meja 5. Penyetan masinal Penyesetan dilakukan untuk mengurangi ketebalan lembaran kulit dengan bagian permukaan yang luas. Ada dua mesin yang bisa digunakan dalam melakukan penyesetan. Yang pertama adalah mesin belah kulit(splitting machine) yang digunakan untuk menyeset permukaan, untuk mendapatkan kulit dengan ketebalan yang merata. Sedangkan yang satunya lagi adalah mesin seset (skiving machine) digunakan untuk penyesetan kulit pada bagian yang dilipat. Macam-macam penyesetan yang bisa dilakukan oleh mesin seset antara lain: a. Turnover skive, yang sering digunakan untuk lipatan pada dompet dan pinggiran pegangan tas. b. Sesetan pararel, sesetan jenis ini sering digunakan dalam penyesetan kulit yang akan dipasangi pipa dan jahit balik. Sesetan pararel juga biasa digunakan untuk penyesetan permukaan (yang sebenarnya lebih baik digunakan pada mesin belah). c. Sesetan sudut digunakan untuk penyesetan bagi penggabungan dan melipat kulit. Kriya Kulit 112
  • 112. d. Sesetan berlubang/beralur, digunakan untuk membuat alur sehingga kulit bisa dilipat dengan mudah (misal pada tepong atau gussets atau tepi) 6. Spesifikasi sesetan Yang dimaksud dengan sepesifikasi sesetan adalah kekhususan sesetan terutama tentang ukuran sesetan yang meliputi: a. Tebal kulit sebelum diseset. b. Tebal kulit setelah diseset. c. Lebar sesetan. d. Bentuk sesetan. Berikut ini adalah sepesifikasi sesetan untuk tiap jenis sesetan dan cara penulisan code. 1) Sesetan datar Gambar 16, Sesetan datar Keterangan Kode sepesifikasi ditulis dalam satuan mm sebagai berikut: 2,5/20/1/1,5 = a/b/c/d ini berarti a) Tebal kulit sebelum diseset : 2,5 mm b) Lebar sesetan : 20mm c) Tebal kulit setelah diseset : 1mm d) Tebal kulit yang dibuang : 1,5mm 2) Sesetan miring Gambar 17, Sesetan Miring Keterangan: Kode sepesifikasi ditulis dalam satuan mm sebagai berikut: 2,5/20/0,5-0 = a/b/c/d ini berarti: a) Tebal kulit sebelum diseset : 2,5mm b) Lebar sesetan : 20mm c) Tebal kulit setelah diseset : 0,5-0mm (miring) 3) Sesetan Alur Kriya Kulit 113
  • 113. Gambar 18, Sesetan Alur Keterangan: Kode sepesifikasi ditulis dalam satuan mm sebagai berikut: 2,5/2,5/1,5 = a/b/c ini berarti: a) Tebal kulit sebelum diseset : 2,5mm b) Lebar alur sesetan : 2,5mm c) Kedalaman alur sesetan : 1,5 mm B. PROSES PEMBUATAN PRODUK KULIT TERSAMAK 1. Alat dan Bahan a. Alat: 1). Penggaris Penggaris berfungsi untuk mengukur jarak sesetan yang dikehendaki. 2). Mikrometer (alat mengukur ketebalan kulit) Alat ini berguna untuk mengetahui ketebalan kulit. Ketebalan kulit sangat penting karena kualitas produk kulit tergantung pada kesamaan ketebalan. 3). Gunting Gunting berfungsi untuk memotong bahan sesuai dengan ukuran dan spesifikasi yang direncanakan. 4). Mesin seset Alat ini berguna untuk menipiskan komponen produk sesuai dengan spesifikasi yang direncanakan. 5). Gambar spesifikasi penyesetan Gambar spesifikasi diperlukan untuk mengetahui komponen mana yang harus diseset sesuai ukuran. Gambar spesifikasi berfungsi sebagai dokumen sehingga setiap orang yang akan melakukan penyesetan tinggal melihat kode yang dikehendaki, karena dalam setiap kode sudah terdapat spesifikasinya. b. Bahan: 1). Kulit 2). Vinil (kulit imitasi) Kriya Kulit 114
  • 114. 3). Spon ati 4). Kain keras. 3. Pemotongan (Cutting/Clicking) Dalam industri kerajinan kulit terdapat pembagian pemotongan (clicking room) yang mengerjakan pemotongan dan tukang potong (cilicker) yaitu orang yang mengerjakan pemotongan. Pemotongan dengan tangan dilakukan dihampir semua negara, terutama dinegara- negara yang berkembang. Dinegara maju pemotongan kulit menggunakan tangan hanya dilakukan pada produk yang memiliki kualitas tinggi dan mempunyai harga yang sangat mahal. Pada tahap pemotongan, diperlukan ketrampilan, kesabaran, ketelitian, kerapihan serta peralatan kerja yang baik dan memenuhi syarat. Seperti telah diketahui berbagai jenis kulit memiliki karakter berbeda disebabkan proses pengolahan atau teknik penyamakan yang berbeda. Dilihat dari peralatan yang digunakan pemotongan kulit dibagi menjadi dua kelompok: a. Pemotongan secara masinal. b. Pemotongan secara manual atau dengan menggunakan pisau dan gunting potong untuk kulit. a. Pemotongan masinal Pemotongan masinal bisa dilakukan baik untuk kulit tipis maupun kulit tebal, termasuk kulit yang paling keras yaitu kulit hasil samak nabati. Pisau yang digunakan dibuat menyerupai bentuk komponen tertentu. Kulit diletakan di atas meja kerja dengan bagian rajah disebelah atas. Kemudian pisau berbentuk komponen tertentu diletakan diatasnya. Gerakan handle kearah pisau, turunkan lempengan penekan hidraulik sehingga pisau ikut tertekan dan akan memotong sesuai dengan bentuk pisau. b. Pemotongan manual Kulit yang tipis mempunyai sifat yang hampir sama dengan bahan tekstil. Hanya yang membedakan adalah serat kulit tipis mempunyai kelenturan dan keuletan yang cukup kuat, sehingga kulit bisa direnggangkan. Sementara kulit yang tebal mempunyai sifat serat yang kuat dan padat, sehingga kulit menjadi tebal, ulet, keras, dan kaku. Kulit tersamak dan kulit perkamen yang tipis bisa dipotong dengan gunting kulit, sedangkan yang tebal (umumnya jenis kulit diatas 6 ons perkaki persegi) dipotong dengan pisau kulit yang sangat tajam. Pemotongan kulit bisa dilakukan dengan menggunkan cutter karena alat ini sangat tajam, akan tetapi mata pisaunya mudah rusak (kecuali cutter yang dirancang khusus untuk memotong kulit) Pisau kulit ini ada yang berukuran besar dan ada juga yang berukuran kecil. Pisau besar digunakan untuk memotong bagian-bagian yang lurus. Sedang yang kecil digunakan untuk memotong bagian yang Kriya Kulit 115
  • 115. lengkung, cembung dan cekung. Meskipun banyak ragam pisau yang dirancang untuk pekerjaan kulit, namun banyak fungsi yang tumpang tindih, satu pisau dapat dipergunakan untuk berbagai macam jenis potongan, misalnya pemotongan pola tepi (penyesetan). Ada beberapa jenis pisau yang dapat digunakan untuk pemotongan kulit. 1) Pisau bermata persegi atau (square point knife) Hampir tidak ada pengrajin kulit yang tidak memiliki pisau jenis ini. Pisau jenis ini biasa digunkan untuk memotong kulit yang diletakan diatas meja kerja, atau untuk merapikan kulit dengan menggenggamnya di tangan. Bisa dipakai untuk memotong alur, memotong pola alas kaki pada kulit tebal, atau untuk mengerat pinggiran kulit (menyeset), dan berbagai masalah potogan lainnya. Pisau ini digenggam pada telapak tangan, seperti menggenggam es krim dengan mata pisau menghadap ke atas atau ke bawah. Pisau dapat bergerak ke arah tarik maupun dorong. Saat menggunakan pisau ini (juga jenis pisau yang lainnya), permukaan meja kerja harus bersih dari kotoran maupun serpihan sebelum kulit diletakan di atas meja kerja. 2) Pisau kepala (head Knife) Jenis pisau ini juga populer dikalangan pengrajin kulit, bentuknya hampir menyerupai sabit. Kaitan pada mata pisau ini berfungsi sebagai safety-guide (pengaman) saat menggores-gores pada kulit. Ujung kaitan bergerak menelusuri potongan yang sebenarnya dan menjaga pisau agar tidak melenceng keluar dari jalur potongan. Pisau ini dapat digerakkan dengan mendorong maupun menarik, digenggam erat seperti menggenggam pisau mata persegi. Lebih disukai untuk merapikan, atau memotong kulit yang tidak diletakkan pada meja kerja. Pisau kepala dirancang untuk digunakan dengan tangan bergerak di bawah kulit. Mata lengkung pisau ini bisa digunakan untuk menyeset. 3) Pisau kepala bundar Merupakan jenis pisau kepala bersisi ganda, dengan kaitan mata pisau di kedua sisi gagang. Bisa dipakai sebagai pisau kepala, bisa digunakan dengan cara diayunkan (chopping). Untuk memotong sudut bundar, tangan menggenggam gagang pisau dengan mata pisau berada dibawah kepalan, sedang kulit diletakan diatas meja kerja. Kemudian mata pisau diglindingkan kemuka sesuai garis pemotongan. Tekan kuat-kuat dan ayun- ayunkan kemuka mengikuti jalur pemotongan, selain untuk memotong, ujung mata pisau yang bundar juga bisa digunakan untuk menyeset. 4) Alat potong pita kulit Untuk memotong lembaran-lembaran kulit menjadi pita. Ujung kulit dimasukan kedalam alat kemudian handlenya diputar, kulit akan keluar dan berbentuk pita-pita. Kriya Kulit 116
  • 116. c. Jenis-jenis dan kegunaan alat bantu Adapun jenis-jenis alat yang digunakan diantaranya: 1) Meja potong besar Merupakan sarana yang sangat penting dalam melakukan pekerjaan memotong yang harus ada dalam pekerjaan ini yaitu meja potong. Meja potong ini dirancang khusus untuk pekerjaan pemotongan bahan kulit yang dibuat dengan ketinggian ukuran normal manusia dewasa 2) Pisau potong Sarana penting yang juga harus disiapkan adalah pisau potong. Ada dua jenis pisau potong kulit yang bisa digunakan yaitu yang dibuat dari bahan kuningan dengan mata pisau plat besi, konstruksinya dibuat dengan menggunakan baut sebagai pengunci untuk meyetel pisau agar bisa di panjang dan bisa dipendekkan sesuai kebutuhan. 3) Penggaris potong Tidak kalah pentingnya alat ini juga harus disiapkan dalam pekerjaan pemotongan kulit ini karena fungsinya sangat penting. Penggaris potong dibuat dari bahan besi lembaran yang dirancang cembung memanjang dengan ukuran panjang antara 50 cm dan 80 cm. 4) Penggaris ukur Yaitu penggaris lokal yang menggabungkan sistim inci dan cm. Untuk pengukuran dianjurkan untuk menggunakan penggaris dengan ukuran milimeter dan akan lebih baik bila mempunyai sis ganda. Penggaris seperti ini sangat diperlukan dalam pekerja rutin pemotongan bahan dan dalam pembuatan pola. 5) Seng Landasan Bentuk alat ini berupa lembaran seng dengan ukuran disesuaikan dengan lebar meja yang dikehendaki. Adapun kegunaan seng landasan adalah sebagai penahan untuk landasan pemotongan, yang fungsinya agar tidak merusak meja dan hasil potongan akan lebih efektif. Seng landasan ini agar dipilih yang paling tebal sehingga tetap datar 6) Batu asah Bahan yang digunakan untuk pembuatan batu asah ada dua jenis yaitu dari jenis batu dan gerenda. Adapun kegunaannya adalah untuk menajamkan mata pisau. Kriya Kulit 117
  • 117. 7) Uncek Alat ini dibuat dari besi yang berbentuk ruji, pada ujungnya dibuat runcing dan bertangkai kayu. Fungsi alat ini untuk menandai batas komponen yang akan dipotong sesuai yang dikehendaki. 4. Penjahitan Pada dasarnya proses menjahit dimaksudkan untuk menggabungkan dua bagian atau bidang yang terpisah. Namun dalam dunia kerajinan hasil jahitan menentukan nilai jual produk. Artinya, disamping kualitas kulit, pertimbangan dan penilaian konsumen dalam memilih produk adalah kerapihan dan keserasihan teknik jahit produk yang ditawarkan. Dengan kata lain teknik jahitan merupakan salah satu unsur dekoratif dan yang memberikan nilai tambah dan tak bisa diabaikan, karena memerlukan pengerjaan yang cermat dan teliti. Penjahitan bisa dilakukan secara masinal maupun manual. Seringkali penjahitan dengan menggunakan tangan dianggap lebih bernilai daripada penjahitan menggunakan mesin. Dalam pengerjaan kerajinan yang memang mengutamakan pengerjaan tangan. Akan tetapi ada jenis pekerjaan tertentu dalam penjahitan yang sebenarnya lebih baik dikerjakan oleh mesin dari pada menggunakan tangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses penjahitan a. Jenis-jenis benang jahit Benang jahit ada dua golongan, yaitu benang buatan pabrik dan benang yang terbuat dari kulit. Machine made thred Merupakan benang buatan pabrik yang terbuat dari serat alam seperti linen, katun, sutera, atau bahan buatan (man made fibers). Linen lebih kuat dari katun, akan tetapi benang dari bahan katun mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada benang dari linen. Kebanyakan bahan buatan lebih kuat dari pada linen maupun katun. b. Macam-macam jarum kulit Ada dua golongan jarum jahit kulit, yaitu jarum mesin tangan dan jarum tangan. 1) Jarum mesin (machine needles) Ukuran jarum, benang, dan panjang jahitan memiliki hubungan yang erat meliputi faktor-faktor jenis pekerjaan, material, dan kemampuannya. Misalnya, untuk koper jarum yang digunakan harus besar, benangnya juga besar, dan jarak jahitan mesti lebar-lebar supaya tidak menyobek kulit, dan kelihatanya kekar serta kuat. Sebaliknya untuk kebanyakan barang kulit (antara lain tas dan dompet), sering digunakan jarum dan benang kecil, dengan jarak jahitan pendek-pendek agar Kriya Kulit 118
  • 118. kelihatan manis. Ukuran benang harus sesuai dengan ukuran jarum. Biasanya diameter benang kurang lebih 40% dari ukuran jarum. Ukuran Katun Sutera Benang Linen jarum/needle sintetis size 80 100-80 140 200-150 70 70-60 120 180-120 80 60-50 100 120-100 90 50-40 80 100-80 70 100 40-30 70 80-60 60 110 30-24 60 60-50 50 120 20 59 50-40 40 130 12 40 40-30 35 140 10 30 30-20 30 Tabel 19 kuran Jarum Benang 2) Jarum tangan (harness needles) Terdiri dari jarum biasa berbagai ukuran seperti jarum di atas bila digunakan untuk menjahit dengan benang (thread needles), dan jarum anyam benang (lacing needles) yang sering dipergunakan adalah jarum pusut atau uncek atau jarum anyam khusus yang tidak bermata atau berlubang. c. Macam-macam mesin jahit Terdapat macam-macam mesin jahit kulit. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, kita harus mengetahui jenis mesin jahit yang cocok untuk digunakan, akan tetapi ada juga mesin jahit yang bisa digunakan untuk menjahit lebih dari satu produk. Berikut ini adalah jenis-jenis mesin jahit: 1) Mesin jahit datar/papan/biasa Digunakan untuk menjahit barang yang permukaanya rata/datar. 2) Mesin jahit bumbung Digunakan untuk memudahkan memasang dan menjahit bagian atas yang tertutup. 3) Mesin jahit cangklong Kriya Kulit 119
  • 119. Digunakan untuk memudahkan penjahitan potongan atasan yang tertutup atau tas. Pengerjaanya mudah karena dapat diputar-putar. 4) Mesin jahit zigzag Digunakan untuk menjahit barang yang permukaanya datar/rata dengan jahitan zigzag. 5) Mesin jahit doorani dan mesin jahit aflap Digunakan khusus untuk menjahit sepatu karena mesin jahit kulit lainnya tidak bisa melakukan jahitan untuk sepatu yang terlalu berat. Tahap-tahap dalam penjahitan Penjahitan pada dasarnya terdiri dari proses-proses sebagai berikut: 1. Persiapan a. Mengecek jumlah potongan komponen sekaligus mengecek kulaitas kultinya. b. Mewarnai bagian tepi yang dibiarkan terbuka, tidak dilipat, atau tidak dibungkus. Pewarnaan pinggir ini ada yang dilakukan setelah potongan bahan (sebelum penyesetan), ada juga yang dilakukan setelah penjahitan (finishing). c. Memberi tanda (Marking), yaitu dengan membuat tanda ukuran barang dan membuat pelobangan atau tanda petunjuk jahitan yang dilakukan agar jahitan lurus dan rapi. Beberapa alat yang digunakan sebagai alat untuk penanda jahitan antara lain: Dengan pricks mark (tanda tusukan/titik), pricking awal (alat pencocok) atau stich marker. Penandaan menggunkan rader (pricking wheel) yang memiliki berbagai jenis mata untuk memberi tanda jarak penjahitan. Penandaan menggunakan uncek yang memiliki berbagai jenis bentuk ujungnya. Menandai mengunakan Ballpoint atau kapur yang digariskan di atas kulit apabila jenis kulit yang digunakan tidak bisa ditandai dengan pricks awal (misalkan kulit Suede). Membuat lubang jahitan dengan alat pelubang (punch) biasanya untuk jahit hias. d. Menyeset dan melipat kulit yang akan dijahit/disambung jahitan e. Memilih benang, jarum, atau mesin jahit yang sesuai 2. Tahap penjahitan 3. Pengerjaan jahitan Dalam pengerjaan menjahit, terdapat dua metode yang diklasifikasikan berdasarkan penggunaan alatnya, yaitu: a. Teknik jahit masinal. b. Teknik jahit manual. Kriya Kulit 120
  • 120. a.Teknik jahit masinal Menjahit secara masinal bisa diterapkan pada semua jenis produk, baik produk sepatu maupun produk non sepatu (tergantung yang dirancang). Sedangkan proses pengerjaanya tidak jauh berbeda dengan cara menjahit pakain dari bahan tekstil. Yang perlu diperhatikan adalah penggunaan benang yang dipakai. Benang yang dipergunakan harus memenuhi persaratan kuat, ulet, dan lemas. Terdapat dua mesin jahit yang bisa digunakan, yaitu mesin jahit biasa, dan mesin jahit standar industri. Akan tetapi jarang sekali pengrajin yang menggunakan mesin jahit biasa karena mesin jahit ini didesain untuk bahan tenun atau kain. Walau mesin jahit biasa bisa digunakan, akan tetapi terbatas hanya untuk menjahit kulit tipis seperti kulit garmen atau pakaian. Dan yang paling sering digunakan adalah mesin jahit standar industri. b.Teknik jahit manual Pada proses penjahitan manual ini terdapat banyak sekali variasi yang bisa dikembangkan sendiri. Dilihat dari bahan yang dipakai untuk menjahitnya saja, bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu jahitan biasa (benang katun atau lainya) dan jahit hias (tali anyam kulit). Jahit biasa bisa dilakukan dengan jarum benang (thread needles) bisa juga menggunakan jarum anyam (lacing needles) apabila yang dilakukan adalah jahitan berupa anyaman. 1).Jahit biasa Benang rami atau katun pada umumnya sering dipakai sebagai bahan untuk menjahit barang-barang kerajinan kulit dengan tangan (manual). Sifat benang ini mudah putus dan berbulu, maka untuk menghindari keadaan tersebut sebelumnya digosok dahulu dengan lilin/malam. Dengan demikian benang tersebut menjadi licin, tidak berbulu, dan tidak mudah putus Ada dua cara menjahit dengan menggunakan tangan, yaitu: - Penjahitan menggunakan satu tangan (single hand sewing) - Penjahitan denga dua tangan (double hand sewing) Langkah pengerjaan: single hand sewing Setelah benang digosok lilin/malam yang dipasangkan dan dipasangkan pada jarum, serta kulit yang akan dijahit sudah ditandai, mulailah penjahitan dengan memegang uncek? penusuk (awal) di tangan kanan sedangkan jarum di tangan kiri. Tekankan uncek ke titik (sitch) pertama untuk membuat lubang. Ikuti uncek oleh jarum lubang yang dibuat. Jangan mengakhiri jahitan dengan diikat membentuk kalan/bonggol benang. Kriya Kulit 121
  • 121. Double hand sewing Untuk menjahit menggunakan dua tangan, digunakan dua buah jarum. Pegang masing-masing tangan kiri dan tangan kanan satu jarum. Siapkan bidang-bidang yang akan dikerjakan (sudah dilobangi). Pilih pada bagian yang paling tepat (bagian sudut) untuk memulai menjahit, kemudian masukan jarum ditangan kiri untuk pertama kali kelobang yang telah dibuat. Kemudian jarum yang kedua ditangan kanan. Tariklah benang tepat pada kedudukannya. Demikian seterusnya hingga semuanya selesai dijahit. Ulangi apabila ingin mendapatkan jahitan yang lebih kuat. 2).Jahit Hias (tali anyaman kulit) Jahitan menggunakan kulit ini sebenarnya lebih mengesankan sebagai anyaman hias yang dimaksud untuk menambah daya tarik suatu produk kerajinan kulit. Tipe atau pola teknik menjahit atau mengayam pada dasarnya tidak baku, artinya bisa mengembangkan sendiri. Adapun teknik menjahit dengan tali kulit ada bermacam- macam cara, yaitu antara lain: a. Jahit jelujuran. b. Jahit belitan. c. Jahit belitan rangkap. d. Jahit anyaman tunggal. e. Jahit anyaman kembar. f. Jahit simpul tunggal. Semua pekerjaaan menjahit yang akan dilakukan memerlukan tali untuk menjahit atau menganyam. Tali tersebut yang paling baik terbuat dari kulit anak sapi dengan lebar 2,5mm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kebutuhan, karena tipe-tipe jahitan/anyaman mempunyai kebutuhan panjang yang berlainan. Untuk mempermudah proses pengerjaan jahitan/anyaman maka digunakan jarum anyam. Jarum ini tidak bermata dan berlubang, dan pada bagian ujungnya terbelah (bisa dibuka). Belahan ini dimaksudkan untuk mengaitkan ujung tali kulit agar memudahkan keluar masuk lubang-lubang yang akan dijahit. Lubang sebaiknya dari tepi berjarak kurang lebih 3 mm, sedangkan besar lubang antara 2-3 mm dan setiap 5 cm dibuat lobang sebanyak 8-10 buah. a) Jahit jelujuran Alat-alat Tali anyam kulit. jarum anyam. Tusuk pengait/uncek. Kriya Kulit 122
  • 122. Lem. Palu. Gunting. Langkah pengerjaan Siapkan tali kulit dengan perkiraan panjang 1,5 kali panjang seluruh jahitan. Pada bagian ujung tali dibuat sebuah lubang alur yang diiris sepanjang kurang lebih 3 mm sedangkan ujung yang lain dikaitkan jarum anyam. Siapkan lembaran kulit yag akan dijahit . Bukalah kedua bagian lembaran tersebut , dan mulai bagian salah satu bagian dalam tusukan jarum anyam menuju keluar. Kemudian pada tusukan selanjutnya , masukan jarum anyam pada lubang berikutnya melalui lubang alur yang telah dibuat. Tarik kuat-kuat agar jahitan awal tidak kendor. Langkah selanjutnya adalah memasukan jarum anyam pada lubang-lubang yang telah dibuat hingga kembali ketitik awal penjahitan. Setelah tusukan terakhir, masukan jarum anyam melalui lubang sebelumnya. Kemudian diantara lembar kulit, jarum anyam ditarik kertas tangan kuat melalui celah yang agak longgar. Sebelum tusukan terakhir sebaiknya tidak ditarik agar bisa dimasuki jarum anyam. Rekatkan dengan lem dan potonglah sisa tali kulit yang menyembul, kemudian diratakan dengan menggunakan pukulan palu perlahan-lahan. b) Jahit belitan Langkah pengerjaan Siapkan tali dengn perkiraan panjang 3,5 kali panjang seluruh jahitan. Buatlah pada kulit lobang alur seperti pada pengerjaan jahit jelujuran. Bukalah lembaran kulit yang telah disiapkan, melalui salah satu lobang bagian dalam, tusukan jarum anyam menuju arah keluar. Kemudian masukan jarum anyam pada lobang selanjutnya melalui lobang alur. Tarik dengan erat agar jahitan awal tidak kendor. Langkah selanjutnya sama dengan proses pengerjaan jahit jelujuran. Sebelum lobang terakhir, biarkan belitan agak mengendur. Kemudian tusukan jarum anyam diantara kedua bagian lembar kulit yang mengendur tersebut menuju keatas kemudian tarik kuat-kuat. Potong dan rekatkan sisa tali kulit yang menyembul, kemudian ratakan ratakan dengan menggunakan palu secara perlahan-lahan. c) Jahit Belitan rangkap Kriya Kulit 123
  • 123. Langkah pengerjaan Pada dasarnya pengerjaanya sama dengan pengerjaan teknik belitan, hanya yang perlu diperhatikan adalah penyiapan panjang tali kulit yang dipergunakan. Siapkan tali kulit dengan perkiraan 7 kali panjang seluruh jahitan. Selanjutnya langkah pengerjaan sama, bedanya adalah pada setiap lobang ditusukan jarum anyam sebanyak 2 kali sehingga tercipta tipe jahitan yang rangkap. d) Jahit Anyam tunggal Langkah pengerjaan Siapkan tali kulit sekitar 6,5 kali panjang seluruh jahitan. Tempelkan lembaran kulit, pilih bagian tengah sisi panjang yang akan dijahit. Tusukan jarum anyam dari sisi depan ke belakang dan tariklah keatas, sisakan tali kulit sepanjang 1,5 cm. Tekuk ujung tali kulit yang disisakan keatas dan belitkan tali kulit padanya. Pegang ujung tali tersebut dengan menggunakan tangan yang lain, kemudian masukkan jarum anyam melalui lobang kedua dari arah depan ke belakang dan tarik. Selanjutnya tusukan jarum anyam melalui celah anyaman dari bawah keatas kemudian tarik. Ulangi hingga seluruh jahitan selesai dikerjakan. Apabila pengerjaan jahitan telah sampai pada jahitan pertama. Dengan alat bantu tusuk pengait, renggangkan anyaman yang dibuat pada awal jahitan. Tusukan jarum anyam melalui celah tersebut, kebawah. Kemudian tusukan jarum anyam dari arah depan melalui lobang pertama diantara kedua bagian lembaran kulit, dan tarik dengan kuat keatas. Selanjutnya kedua ujung tali kulit sisa potong dan rekatkan lem serta diratakan dengan pukulan palu secara perlahan- lahan. e) Jahitan Anyam Kembar Langakah pengerjaan Siapkan tali kulit dengan perkiraan panjang 8,5 kali seluruh panjang jahitan. Gabungkan lembaran kulit yang telah disiapkan, masukan jarum anyam pada lobang pertama dari sisi depan ke belakang, sisakan ujung tali kulit sepanjang 2 cm. Dari atas tepi kulit tusukan jarum anyam dari sisi depan ke belakang melalui kedua dari atas bagian ujung tali tersebut. Agar anyaman tidak lepas , peganglah ujung tali yang disisakan di bagian atas belakang. Kemudian dari Kriya Kulit 124
  • 124. atas tepi depan, tusukan jarum anyam melalui persilangan tali yang terbuka dan tariklah dengan erat. Selanjutnya masukan jarum anyam pada lobang ketiga dari atas bagian ujung tali. Masukkan pada persilangan yang terjadi berikutnya. Demikianlan langkah ini diulangi hingga anyaman sampai pada awal jahitan. Apabila telah sampai pada titik awal jahitan, gunakan tusuk pengait untuk menarik ujung tali keluar dari lobang. Tarik melalui kedua bagian kulit. Potonglah sisa ujung tali kulit tersebut. Kemudian sisipkan atau rekatkan dengan mengunakan lem. Tusukkan jarum anyam melalui lobang sebelum lobang yang terakhir dari arah depan kebelakang. Kemudian masukan jarum anyam melalui celah pertama dari bawah persilangan yang terakhir ditarik keatas. Rapikan bagian-bagian tepi yang berdekatan dengan anyaman pertama dengan menarik lurus dengan jari-jari tangan. Tariklah kembali jarum anyam dari celah pertama dan pada tusukan-tusukan terakhir tariklah dengan kuat. Selanjutnya tusukan jarum anyam pada lobang terakhir dan tariklah keatas melalui dua bagian lembaran kulit yang kuat. Potong dan rekatkanlah ujung tali mengunakan lem, kemudian ratakanlah menggunakan palu secara perlahan- lahan. f) Jahitan simpul tunggal langkah pengerjaan Siapkan tali kulit dengan perkiraan panjang 6,5 kali panjang keseluruhan. Gabungkan lembaran kulit yang akan dijahit, masukan jarum anyam dari arah depan ke belakang pada lobang pertama. Sisakan ujung tali sepanjang 1,5cm. Tusukan pada lobang kedua dari arah depan, tarik dan masukan dari sela-sela bawah antara tusukan lobang pertama dan lobang kedua. Langkah selanjutnya adalah sama dengan proses pengerjaan jahitan-jahitan yang telah diuraikan. a. Pengertian jahit tangan Menjahit manual adalah menyambung dua bagian atau lebih, supaya menjadi satu dengan cara dijahit tangan. Proses penjahitan dilakukan dengan cara benda yang akan di jahit diukur dan diberi tanda kemudian diplong dengan ukuran sesuai kebutuhan, selanjutnya dijahit tangan. Menjahit dengan jahit tangan dilihat dari bahan yang digunakan terdiri dari jahitan, biasa dengan menggunakan benang katun dan jahitan biasa dengan menggunakan tali anyaman kulit dan sebagainya. Apabila dilihat jenis jarum yang digunakan terdiri dari Kriya Kulit 125
  • 125. jarum benang dan jarum anyam. Pada penjahitan manual diperlukan ketelitian dalam memasukkan benang pada lubang dan kehati-hatian dalam memasukkan jarum ke benda, kerja jangan sampai menusuk jari tangan. b. Macam jahitan Macam-macam penjahitan manual yaitu : 1). Penjahitan dengan sistem satu jarum yaitu pada penjahitan dengan cara kulit ditandai terlebih dahulu dan diplong kemudian dijahit dengan cara tangan kanan memegang uncek atau penusuk sedangkan tangan kiri megang jarum yang sudah diberi benang. 2). Penjahitan dengan sistem dua jarum yaitu sebelumnya kulit diberi tanda dengan jarak sesuai produk yang akan dibuat. Proses menjahit, tangan kiri memegang jarum dan tangan kanan pun memegang jarum yang sudah diberi benang. Peralatan serta bahan yang digunakan untuk menjahit manual. a. Peralatan 1). Jarum (neddle) Gunanya untuk menusuk bahan dan membawa benang, sehingga fungsi dari penjahitan yaitu menutup dan mengunci dapat terjadi. Jenis jarum yang digunakan untuk menjahit banyak sekali macamnya. Ada yang panjang, pendek, ada yang besar dan kecil. 2). Uncek (awal) Gunanya untuk memberi tanda dan melubangi, sehingga jarum dapat masuk dalam lubang selain itu juga dapat digunakan untuk pembuatan pola pada kertas tanpa menggunakan pensil tetapi cukup menggunakan uncek untuk menggaris atau manandai. Uncek terdiri dari uncek ujung rancing dan persegi, alat ini cukup praktis dalam penggunaannya. Gambar 21 uncek 3). Penjepit atau kuda-kuda Gunanya untuk memudahkan menjahit pada bagian yang akan dijahit. Kulit yang akan dijahit dijepit agar lurus, untuk memudahkan dalam melubangi dan menjahit. Lebar penjepit terbatas bila dari awal jahitan Kriya Kulit 126
  • 126. sampai batas penjepit sudah terjahit maka, penjepit perlu dibuka sesuai dengan panjang jahitan. Penjepit ini terbuat dari kayu yang saling menekan, cara kerjanya yaitu: ditekan dengan kedua paha atau digunakan mur baut sebagai penjepit. Gambar 22, Penjepit atau kuda-kuda 4). Rader atau Plong Gunanya untuk menentukan jarak lubang agar jarak lubang satu dan lainnya sama. Gambar 23, Rader atau Plong Jarak yang dihasilkan bisa diubah dengan cara mengganti kedudukan rader yang pendek atau lebar. Plong dapat digunakan untuk ukuran pendek sampai lebar sesuai kebutuhan. 5). Penggaris dan Jangka Digunakan untuk mengatur lebar jahitan sehingga jahitan dapat lurus dan presisi. Kriya Kulit 127
  • 127. Gambar 24, Penggaris dan Jangka b. Bahan Bahan yang digunakan untuk menjahit manual terdiri dari: 1). Benang Benang rami atau katun, digunakan untuk menjahit barang-barang kerajinan kulit. Sifat benang ini mudah putus dan berserabut. Benang untuk menjahit kulit dapat menggunakan usus binatang yang sudah diproses, dipilin sampai halus dan tidak berbau. Benang untuk jahit hias dapat mempergunakan ikatan kulit yang memanjang. 2). Lilin atau malam Bahan ini gunanya untuk melicinkan benang supaya mudah di dalam menjahit dan untuk melicinkan jarum pada waktu menusuk bahan. 3). Kulit Bahan yang digunakan untuk menjahit, hampir semua jenis kulit bisa digunakan untuk penjahitan manual, tetapi yang ideal dari kulit samak nabati. Alat, Bahan Dan Keteknikan 1. Alat a. Jarum jahit manual b. Uncek penanda c. Uncek persegi d. Penjepit e. Rader atau ploog ganda Kriya Kulit 128
  • 128. 2 Bahan a. Benang nilon b. Lilin atau malam c. Kulit sapi lunak nabati atau semi krome 3. Keteknikan Langkah persiapan sebelum melakukan teknik menjahit manual adalah sebagai berikut: a. Memberi tanda tusukan Beri tanda tusukan dengan menggunakan rader pada tepi yang akan dijahit dengan cara ditekan pada permukaan yang sudah diberi tanda sebelumnya. Gambar 25, Memberi tanda tusukan Gambar 26, Melubangi Kulit mengikuti tanda tusukan Kriya Kulit 129
  • 129. b. Memadatkan benang Padatkan benang mempergunakan lilin agar benang licin, tidak pecah dan padat sehingga memudahkan dalam menjahit dengan cara: benang ditekan sehingga mengenai lilin sampai benang halus dan semua permukaan terbungkus lilin. c. Mengunci benang Langkah-langkah dalam memasukkan benang dalam jarum adalah sebagai berikut: 1). Masukkan benang pada bilah jarum sampai batas akhir panjang benang, sisakan 10 cm - 12 cm untuk tempat penahan atau pengunci agar benang tidak lepas pada waktu digunakan menjahit. 2). Ulir atau kendorkan sisa benang pada ujung agar ujung jarum dapat masuk. Setelah masuk tarik ke bawah sampai pangkal jarum Gambar 27, Memasukan benang pada jarum 3). Setelah benang sampai di pangkal jarum, tarik jarum ke atas dan masukkan benang diantara belahan benang, lakukan dua kali proses mengunci benang agar jarum tidak mudah lepas pada waktu menjahit. Mengunci benang dilakukan pada jahit manual dengan menggunakan sistem satu jarum dan dua jarum. Kriya Kulit 130
  • 130. Gambar 28, Posisi benang pada jarum d. Posisi jarum Cara memegang jarum untuk penjahitan manual dengan mempergunakan dua jarum maka posisi jarum terbagi menjadi dua bagian yaitu: tangan kiri memegang jarum diantara jari telunjuk dan ibu jari, kemudian tangan kanan memegang jarum diantara jari telunjuk dan ibu jari serta membawa uncek yang diletakkan pada sela-sela ibu jari. Cara menjahit dengan menggunakan tusuk saddler: 1). Buat lubang pertama pada tanda jahitan dengan menggunakan uncek pipih dengan tangan kanan. Usahakan uncek pipih menembus kulit yang akan dijahit semaksimal mungkin (lubang tersebut harus pas dengan tanda jahitan dan arahnyapun harus sama persis). Gambar 29, Uncek Pipih 2). Hadapkan jarum di tangan kiri pada uncek tersebut, kemudian ikuti arah uncek pipih yang ditarik dengan jarum, sehingga jarum tersebut ganti masuk pada kulit yang akan dijahit. Kriya Kulit 131
  • 131. Gambar 30, Posisi Uncek Pipih 3). Pada tahap ini berarti jarum yang satu berada disebelah kanan dan yang satu lagi berada disebelah kiri kulit yang akan dijahit. Usahakan benang yang ada disebelah kiri dan kanan panjangnya sama/seimbang. Gambar 31, Posisi benang 4). Buat lubang ke dua dengan menggunakan uncek. Gambar 32, Posisi lubang 5). Masukkan jarum yang berada ditangan kiri pada lubang dengan mengikuti uncek yang sedang ditarik. Tarik jarum yang dimasukkan dengan tangan kanan bersama-sama dengan ujung uncek pipih tersebut. Gambar 33, Posisi uncek membuat lubang 6). Masukkan jarum yang berada di benang atas (dari lubang atas) pada lubang kedua yang telah dimasuki jarum kiri, kemudian tarik dengan tangan kiri. Gambar 34, Posisi jarum dengan benang Kriya Kulit 132
  • 132. 7). Tarik kedua benang dengan kuat bersama-sama. Maka terbentuklah jahitan pertama. Gambar 35, Posisi benang seimbang 8). Buat lubang ke 3. Gambar 36, Posisi uncek tegak lurus 9). Caranya sama dengan di atas 10). Caranya sama dengan diatas 11). Sama di atas Gambar 37, Posisi arah jahitan 12). Mengunci benang Setelah selesai dalam penjahitan maka tindakan yang terakhir adalah mengunci benang dengan cara kedua benang dimasukkan pada permukaan sambungan. Benang kiri dan kanan dikunci dengan cara dibundel cuma sampai tiga kali sehingga benang tidak lepas. Kemudian bundelan tersebut dimasukkan ke dalam permukaan sambungan dan ditekan serta diberi lem selanjutnya lakukan pengerjaan akhir. Kriya Kulit 133
  • 133. Gambar 38, Posisi Mengunci benang Contoh penjahitan manual dengan sistem satu jarum Gambar 39, Contoh penjahitan manual dengan sis tem dua jarum Menjahit adalah menggabungkan dan menyatukan dua komponen atau lebih dengan kaitan benang dan jarum untuk membuat suatu ikatan pada bahan yang dijahit. Penjahitan dapat dilakukan dengan tangan atau dengan mempergunakan mesin jahit. Dalam membuat produk dari kulit, penjahitan memiliki peranan yang sangat besar untuk menentukan tinggi atau rendahnya mutu. Mesin jahit ini dapat digunakan untuk menjahit komponen tiga dimensi, baik tas maupun sepatu serta untuk memasang dan menjahit bagian atas yang tertutup, bagian dalam dan menjahit piping. 2. Jenis dan fungsi mesin jahit a. Mesin jahit datar (flat bad) rumah tangga dan industri. Mesin jahit datar dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan industri. Untuk keperluan rumah tangga mesin jahit ini digunakan untuk menjahit pakaian, kain dan sebagainya. Pada umumnya mesin jahit Kriya Kulit 134
  • 134. datar rumah tangga menggunakan tenaga penggerak pedal untuk menjalankan roda putar, sedangkan mesin jahit datar industri menggunakan tenaga penggerak motor. Karena mempunyai bidang datar mesin jahit ini biasa digunakan untuk menjahit produk dua dimensi, produk tiga dimensi dan untuk produk dengan bahan yang tipis dan ringan. Produk yang biasa dikerjakan dengan mesin jahit datar diantaranya ikat pinggang, dompet, jaket, topi dan atasan sepatu. b. Mesin jahit bumbung Sepul dan tempat penjahitan pada mesin ini berhadapan langsung dengan jarum dan sepatu. Mesin jahit ini dilengkapi dengan motor berkecepatan tinggi sehingga membantu percepatan di dalam produksi. c. Mesin jahit cangklong Mesin jahit ini digunakan untuk menjahit berbagai jenis produk karena dilengkapi dengan lengan membujur untuk tempat meletakkan bahan sehingga memudahkan dalam penjahitan. d. Jenis mesin Berbagai mesin yang digunakan di dalam penjahitan mempunyai spesifikasi produk yang berbeda. Mesin jahit diproduksi dengan berbagai tipe, ukuran, jenis yang berbeda serta kemampuan yang berbeda. Ada beberapa jenis mesin jahit yang mempunyai ciri dan karakter yang sama dengan bentuk yang berbeda misalnya : 1). Sistem komputer atau tidak 2). Sistem satu jarum atau dua jarum 3). Sistem sekoci vertikal atau horisontal 4). Sistem sepatu datar atau roda 5). Komponen pendukung lainnya 3. Jahitan kunci Jahitan kunci adalah menyilangkan benang atas dan bawah dalam satu kaitan yang sama-sama. Seimbang pada bahan sehingga menjadi ikatan yang kuat dan tidak mudah lepas. Ketiga jenis mesin di atas dapat digunakan untuk membuat beberapa macam jahitan kunci, antara lain: a. Jahitan Zig-zag Jahitan terdiri dari dua benang yaitu benang atas dan benang bawah yang saling mengikat di antara bahan. Jahitan ini digunakan untuk Jahitan sambungan atau tumpangan yang berjajar. Benang atas dan bawah harus seimbang agar Jahitan dapat mengikat dengan kuat. Kriya Kulit 135
  • 135. Gambar 40, Jahitan Zig-zag b. Jahitan rantai atau doornai Jahitan terdiri dari satu benang dengan jarum menembus bahan dan benang atas secara otomatis akan membentuk suatu ikatan rantai. Gambar 41, Jahitan rantai atau doornai Jahitan ini biasanya digunakan untuk menjahit antara bagian atas sepatu/sandal dengan sol atau bagian bawah dan dapat untuk membuat jahitan pembungkus seperti tempat semen. Apabila benang atas ditarik atau lepas maka dengan mudah ikatan akan lepas dengan sendirinya. 4. Cara penyetelan a. Tekanan benang 1). Ketegangan benang atas atau bawah. Sama-sama dan cukup kuat untuk mengunci kedua benang pada tempatnya. Gambar 42, Penyetelan Tekanan Benang Kriya Kulit 136
  • 136. 2). Jika benang bawah terlalu keras dan hasil jahitannya ditarik ke bawah akan membuat tarikan tidak seimbang. Gambar 43, penyetelan benang diputar se arah jarum jam Sekrup penyetelan benang diputar se arah jarum jam atau dikeraskan sesuai dengan kebutuhan. Tetapi bila benang atas terlalu kuat maka sekrup penyetelan diputar secukupnya berlawanan dengan arah jarum jam. 3). Jika benang bawah terlalu kendor hasil jahitan benang bawah akan ditertarik ke atas. Gambar 44, penyetelan benang Apabila penjahitan ini terjadi maka sekrup pada sekoci harus diputar searah jarum jam secukupnya. Jika benang bawah terlalu kuat maka sekrup pada sekoci juga harus diputar secukupnya berlawanan dengan arah jarum jam sesuai dengan jahitan yang dikehendaki. Setelah jenis benang kulit Nylon (bukan Cotton) harus diikat atau disulut dengan api. b. Tusukan Pada pengaturan jarak tusukan di mesin jahit terdapat angka yang menunjukkan jarak langkah setik jahitan. Angka 12 berarti tiap 1 inchi terdapat 12 setik jahitan, jadi bila jarak setiknya berada pada angka 0 berarti tidak ada setiknya atau berhenti. c. Tekanan Sepatu Bila tekanan sepatu berubah akan menyebabkan jalannya material yang dijahit tersendat dan tidak lurus. Untuk mengatasinya ketinggian tiang sepatu disetel secukupnya. Pada dasarnya jahitan kunci terdiri dari jahitan kunci dan jahitan rantai atau doornai. Fungsi dari kedua jahitan ini untuk mengikat benang. Jahitan kunci terdiri dari dua benang yang saling bertaut, apabila yang satu putus maka benang yang lain akan mudah putus. Jahitan rantai atau doornai adalah merangkai benang menjadi bentuk rantai yang teratur dan panjang rantai disesuaikan panjang jahitan. Jahitan zigzag termasuk salah satu alternatif untuk menyambung dua komponen menjadi satu rangkaian. Kriya Kulit 137
  • 137. a. Formasi jahitan kunci Jahitan kunci bertujuan untuk mengikat bahan agar tidak lepas, tekanan benang pada waktu penjahitan harus diperhatikan. Jahitan kunci dapat dilakukan dengan sistem manual dan masinal. Cara membentuk formasi jahitan kunci adalah: a. Celah panjang yang dibuat sewaktu jarum turun melubang atau menusuk bahan, dipakai untuk menuntun benang. Gambar 45, posisi jarum turun melubang b. Pada saat jarum naik, celah pendek akan menekan benang sehingga benang terikat Gambar 46, arah jahitan Ujung kait pada sarangan mengambil benang dan mengunci pada benang sekoci . Gambar 47, mengunci sekoci Kriya Kulit 138
  • 138. d. Pada saat jarum ditarik ke atas, benang bawah mengendor dan kaitan bergerak memutar membawa benang. Gambar 48, posisi sekoci e. Benang bagian atas terbebas dari kait pengungkit. Gambar 49,kaitan benang Ketika benang atas ditarik, benang sekoci terkunci secara otomatis dan ikut tertarik naik sehingga membentuk suatu Jahitan. Gambar 50, kaitan benang dengan jarum Kriya Kulit 139
  • 139. Jahitan kunci merupakan Jahitan yang baik karena ketegangan benang atas dan bawah sama, sehingga saling mengikat erat. Untuk tujuan menyambung dan menyatukan produk, Jahitan kunci banyak digunakan, karena lebih praktis dan efisien, misalnya untuk menjahit kain, sepatu dan sandal. Jahitan doornai atau rantai dapat juga digunakan untuk menjahit sandal dan sepatu. Sifat jahitan doornai sangat kuat tetapi bila salah satu belitan ada yang putus maka mudah sekali lepas. Jahitan kunci juga digunakan untuk jahitan zigzag. Jahitan ini menggunakan dua benang tetapi jalannya jarum silang, Jahitan ini digunakan untuk menyambung komponen produk sepatu, sandal dan tas. b. Unsur utama pada jahitan kunci a. Feed dog atau gigi kerja (gigi penggerak) Free dog berfungsi untuk menarik bahan yang akan dijahit dengan cara sepatu menekan bahan pada gigi kerja, sehingga bahan terbawa ke arah depan. Hal-hal yang mempengaruhi bahan tidak bisa bergerak atau maju pada saat menjahit yaitu; 1). Pemasangan gigi tidak lurus atau terlalu kencang. Perubahan kedudukan gigi mesin jahit mengakibatkan bahan berjalan miring. Tindakan yang harus dilakukan adalah memeriksa kedudukan gigi penggerak apakah sejajar atau tidak. Apabila gigi penggerak terlihat miring, buka plat dek dan sejajarkan giginya dengan alat. Jangan terlalu keras pada waktu mengencangkan sekrupnya. 2) Tekanan sepatu tidak berfungsi Apabila tekanan sepatu berubah akan mengakibatkan jalannya kain saat dijahit tersendat-sendat dan tidak lurus. Periksalah tekanan pada saat posisi sepatu diturunkan gerakkanlah sepatu bila bahan ikut bergeser berarti tekanan sepatu tidak berfungsi. Untuk mengatasi hal ini, maka ketinggian tiang sepatu harus diatur sesuai ketebalan minimal bahan yang akan dijahit. b. Roda atau sepatu Sepatu atau roda berfungsi untuk menekan bahan sehingga dapat ditarik oleh gigi kerja bahan atau berjalan dengan sendirinya. Fungsi utama sepatu atau roda untuk memberi garis atau batas penjahitan, sehingga bila kita menjahit tepi minimal 2 sampai 3 mm dapat dikerjakan dengan mudah tanpa menggunakan alat bantu. Apabila sepatu atau roda tidak bergerak maka periksalah bagian sekrupnya, apakah kendor atau terlalu kencang. Perhatikan setelan ketinggian tiangnya. Kriya Kulit 140
  • 140. c. Alat penuntun atau guide Guide adalah salah satu komponen yang dapat membantu ketepatan posisi jahitan dan kesejajaran jarak jahitan. Guide dapat menjamin lurus tidaknya penjahitan, namun semua ini juga tergantung pada kemampuan si penjahit. Penuntun tidak dapat bekerja sesuai dengan fungsinya apabila melampui batas kerjanya, misal dilakukan pada sudut yang terlalu tajam. Kemungkinan kesalahan dapat dikurangi dengan meletakkan penuntun sesuai dengan posisi jarum. Pemakaian penuntun akan berfungsi baik apabila dipergunakan pada kulit yang tebal atau keras. Dengan memakai penuntun dimungkinkan tanpa latihan dan pengalaman dapat menghasilkan jahitan yang baik. Penuntun jahitan dapat berupa sepatu atau roda yang berfungsi untuk menekan dan mengatur jarak jahitan. d. Pengunci jahitan Berfungsi untuk membalik tusuk jahitan dan mengubah gigi transmisi pada jahitan. Apabila pengungkit di tekan ke bawah maka jahitan akan ke arah depan dan bila ditekan ke atas maka jahitan akan berjalan mundur. Contoh: Pada penjahitan kunci awal kita menentukan tiga titik dari batas jahitan. Jarum diletakkan pada titik ketiga kemudian dijalankan ke belakang sampai 3 tusukan. Pada akhir tusukan pengungkit di tekan ke bawah sehingga jahitan berjalan kedepan, dengan demikian tiga jahitan ke belakang akan tertindas hasil jahitan ke arah depan. Hal ini juga dilakukan pada waktu mengunci akhir jahitan. Pada tusukan akhir jahitan pengungkit ditekan ke atas sehingga bergerak ke belakang, lakukan untuk menindas 3 jahitan terakhir. Pengunci jahitan dilakukan agar jahitan-jahitan tidak Iepas atau kendor. Sisa benang atas ditarik, disimpul kemudian dibakar dengan api. e. Piringan penekan benang dan pengungkit benang Piringan penekan benang atas mempunyai fungsi untuk memberi tegangan pada benang agar jahitan rapi, kuat dan stabil sehingga benang atas dan benang bawah (sekoci) seimbang, gulungan benang yang berada di atas depan, ditarik ke atas dilewatkan pada alur-alur benang, jangan sampai lajunya terhambat oleh alur, karena akan mengganggu ketegangan antara benang atas dan bawah. Cara mengatasi permasalahan benang: 1). Benang bawah kusut Benang bawah kusut terjadi bila setelan penekan bagian atas terlalu kendor, pada sela piringan penjepit terdapat kotoran sehingga penekan benang tidak berfungsi dan blok sarangan kotor/tersumbat serbuk benang atau serbuk lain. Pemecahannya : setel penekan sesuai kebutuhan dan bersihkan piringan dan blok sarangan. Kriya Kulit 141
  • 141. 2). Benang atas putus-putus Hal ini terjadi bila kualitas benang usang, tekanan benang atas terlalu keras, sepatu dan lubang jarum pada plat dek gigi rusak. Pemecahannya: Pakailah benang yang berkualitas dan aturlah tekanan benang. Penahannya pakailah benang yang berkualitas dan aturlah tekanan benang. 3). Benang bawah putus-putus. Kualitas benang yang digunakan kurang baik, lubang jarum plat dek rusak dan per sekoci terlalu keras. Pemecahannya: Pakailah benang yang baik dan gantilah bagian-bagian yang rusak. 4). Benang atas dan bawah tidak seimbang (tidak stabil) Per penekan benang atas terlalu kendor, per stabilizator benang tidak berfungsi dan per sekoci tidak berfungsi. Pemecahannya: Bersihkan kotoran dan aturlah semua komponen. 5). Benang jahitan loncat-loncat Pemasangan jarum terbalik, jarum bengkok, ujung sarangan patah dan sekrup pembatas jarum pada tiang tidak ada. Pemecahannya: Pasanglah jarum sesuai aturan dan ganti bagian-bagian yang rusak. f. Pengisian benang pada sekoci. Sekoci ini berada di bagian bawah untuk menempatkan spul dan rumah spul. Ujung sekoci menangkap benang atas pada waktu jarum berada di depannya, sehingga ikatan antara benang atas dan benang bawah seimbang. Pengisian benang pada sekoci sebaiknya jangan terlalu penuh, tetapi isilah 3/4 dari kapasitas benang. Perhatikan kepadatan gulungan karena hal ini akan berpengaruh pada penjahitan. Pengoperasian mesin jahit memerlukan , pengetahuan dan keterampilan. Keterampilan menjalankan mesin jahit perlu dilengkapi dengan pengetahuan cara mengatasi kemacetan dan kerusakan pada mesin jahit. Penyebab kemacetan dalam proses menjahit adalah: 1. Kesalahan penyetelan tekanan sepatu/roda. Tekanan sepatu berfungsi untuk menekan bahan yang dijahit. Penekan ini dapat berupa sepatu atau roda yang bersentuhan dengan gigi kerja. Penekan sepatu harus disetel secara teliti, hati-hati, dan sesuai dengan bahan yang akan dijahit. Apabila pengaturan sepatu atau roda tidak tepat maka hasil jahitan tidak baik. Jika tekanan terlalu kuat, maka penekan atau roda akan membekas pada bahan yang dijahit (terutama pada kulit yang sensitif). Penyetelan dilakukan dengan cara memutar ke arah kanan (searah jarum jam) untuk bahan tebal, memutar ke arah kiri untuk bahan Kriya Kulit 142
  • 142. tipis. Penyetelan sepatu atau roda perlu pengalaman dan kecermatan sehingga menghasilkan tekanan yang seimbang. 2. Kesalahan penyetelan tekanan dan alur benang. Penyetelan tekanan benang perlu pengalaman, terutama dalam menyesuaikan posisi benang atas maupun benang bawah. Bila penekan benang atas terlalu kendor mengakibatkan tekanan benang pada sekoci tidak seimbang. Hal ini menyebabkan proses pengaitan benang terlambat, sehingga benang atas terlalu masuk kedalam blok sarangan. Untuk mengatasi kesalahan ini, tekan dan putarlah sekrup penekan kearah kanan sampai mencapai tekanan yang seimbang. Penyetelan dilakukan pada benang atas maupun pada benang bawah, misal penyetelan benang pada sekoci. Penekanan benang pada alur juga harus sesuai, dan masukkan benang melalui alur-alur benang yang sudah ditentukan. Alur benang pada mesin jahit adalah sebagai berikut: 1). Tempat benang 2). Ketegangan benang 3). Penekan 4). Piringan penekan benang 5). Penuntun benang 6). Pengungkit benang (ke atas-ke bawah) 7). Pengatur benang masuk padajarum 8). Jarum. 3. Kesalahan penyetelan sekoci Yang perlu diperhatikan dalam penyetelan sekoci adalah setelan kedua bagian per harus seimbang, sehingga kedua belitan dapat saling mengikat. Penyetelan sekoci perlu hati-hati karena sekoci terdiri beberapa komponen pendukung. Per sekoci merupakan komponen penting sebagai penekan benang bawah. Bila per sekoci terlalu keras maka benang tidak dapat menahan, sehingga menyebabkan benang bawah putus. Tindakan yang harus dilakukan adalah mengendorkan sekrup penekannya. Permasalahan yang sering terjadi pada sekoci antara lain ; per sekoci tidak berfungsi, per stabilisator tidak berfungsi, salah isi atau salah putaran pada benang sekoci, cara mengetahui tekanan sekoci yang tepat adalah dengan menarik benang dan dirasakan ada tegangan atau tidak. Tegangan tidak boleh terlalu keras atau terlalu lunak. Memasukkan sekoci pada sarangan harus hati-hati, jangan sampai sekoci jatuh karena sering mengakibatkan patah tangkainya, kendor per atau lepas benang pada spulnya. Kriya Kulit 143
  • 143. 4. Jarum rusak Apabila pada saat menjahit, jarum yang digunakan rusak, patah atau tumpul maka proses penjahitan harus dihentikan. -Ujung jarum yang masih baik -Ujung bengkok -Ujung tumpul Penggunaan jarum bengkok atau tumpul akan merusak produk yang dijahit. Jarum tumpul pada saat menembus bahan akan menarik bahan sehingga membuat tusukan tidak beraturan. Tindakan yang dilakukan apabila terjadi permasalahan seperti ini adalah menghentikan penjahitan dan mengganti jarum yang tajam sesuai ukuran. Jarum merupakan komponen vital pada mesin jahit, maka perlu ketepatan dalam menentukan ukuran jarum yang akan digunakan. Permasalahan yang timbul akibat kesalahan dalam menentukan ukuran jarum antara lain: Jarum tidak bisa menembus bahan, jahitan loncat-loncat, jarum tidak bisa mengikat benang dan jarum mudah patah. Yang perlu diperhatikan dalam menentukan ukuran jarum, jenis bahan yang akan dijahit. Hal ini penting agar pada saat penjahitan dapat berjalan lancar dan sempurna. Terkadang satu jarum digunakan untuk bermacam-macam bahan, seperti: kain, kulit atau imitasi sehingga ketepatan tusukan tidak sebanding dan hasilnya tidak rapi. Ukuran-ukuran jarum berdasarkan penggunaan : 1). Ukuran jarum a). Jarum no. 9 digunakan untuk menjahit kain sutra, saten, paris dan kain sejenis. b). Jarum no. 11 digunakan untuk menjahit lanin, teteron, polyter. c). Jarum no. 13/14 digunakanuntuk menjahit sprei, blacu, katun. d). Jarum no. 16 digunakan untuk menjahit kain kasar, drill, woll dan kain sejenis. e). Jarum no. 18 digunakan untuk menjahit kain kasur, jean dan kain sejenis. f). Jarum no. 21 digunakan untuk menjahit kain karung, terpal dan bahan sejenis. 2). Ukuran jarum pada contoh: Jarum yang digunakan untuk menjahit kulit dimulai dari no.60 sampai dengan 140. Ukuran jarum no.60 digunakan untuk menjahit barang yang tipis atau bahan baku dengan ketipisan kulit tertentu. Apabila bahan tebal maka kita harus menggunakan ukuran jarum yang lebih besar. Dengan menggunakan jarum dan benang yang sesuai maka akan menghasilkan jahitan yang kokoh dan menarik. Jangan sekali-kali Kriya Kulit 144
  • 144. menggunakan jarum yang tidak sesuai dengan spesifikasi bahan yang akan dijahit. 5. Kesalahan dalam memasang jarum Pemasangan jarum yang salah akan mempengaruhi baik dan buruknya hasil jahitan. oleh karena itu saat pemasangan jarum harus benar. Kesalahan pemasangan jarum mengakibatkan jahitan meloncat- loncat, tidak terikatnya jalinan benang atas dan benang sekoci, tusukan jarum tidak tepat, jarum patah atau bengkok. Cara memasang jarum yang benar: 1). Pastikan jarum yang akan dipakai tidak bengkok atau tumpul. 2). Pastikan pada tiang jarum terdapat sekrup pembatas atau pin. 3). Kendorkan sekrup klem penjepit jarum. 4). Masukkan jarum dengan posisi bagian pangkal jarum yang datar menghadap ke kanan atau sesuai tempat jarum. 5). Masukkan pangkal jarum sampai menempel pada belahan batang jarum pada pin pembatas. 6). Bila kedudukan jarum sudah pas dan benar maka kencangkan sekrup klem penjepit jarum. Gambar 51, Mengencangkan sekrup klem penjapit jarum 6. Penggunaan lem yang berlebihan Pemberian lem pada kulit yang berlebihan akan mengakibatkan: 1). Jahitan meloncat-loncat 2). Jahitan kedua benang, yaitu benang atas dan sekoci tidak bisa mengikat 3). Memecahkan lilitan benang 4). Jahitan tidak rapi. Cara memberi lem agar tidak berlebihan: 1). Tentukan bidang yang akan dilem. 2). Beri lem pada bidang yang akan di lem dengan menggunakan kuas supaya tipis dan merata. Kriya Kulit 145
  • 145. 3). Angin-anginkan sampai kering. 4). Lipat dan rakit kemudian ratakan bidangnya supaya mudah dalam penjahitan. Bila menggunakan lem karet alam atau latex, bidang yang sudah dioles lem ditunggu setengah kering kemudian dilipat atau dirakit. Dianjurkan menggunakan lem yang bersifat sementara, seperti lem latex atau lem krep. Hal ini memudahkan pembukaan bila terjadi kesalahan perakitan. Pengertian Jarum Jarum adalah alat dari bahan logam yang berfungsi untuk membuat tusukan dan mengaitkan benang atas dan bawah menjadi ikatan jahitan. Jarum jahit terdiri dari: 1). Jarum Kain Jarum yang digunakan untuk menjahit kain atau cloth point needles. Jenis jarum ini mempunyai ujung yang bulat, tidak mempunyai pinggiran yang tajam dan dirancang untuk mendapatkan lubang tusukan yang bulat pada bahan. Hal ini penting untuk menjahit kain karena jarum ini tidak menyobek kain yang dapat melemahkan kekuatan kain. Jenis jarum ini hanya dapat untuk menjahit kulit yang tipis karena ujung jarum tidak dapat memotong material kulit bahan. Apabila bahan sedikit tebal dapat menimbulkan beban yang berat pada ujung jarum. 2). Jarum Kulit Jarum yang digunakan untuk menjahit kulit atau leather point needles. Jenis jarum ini didesain untuk dapat memotong bahan yang padat seperti kulit atasan dengan gesekan atau beban yang minimal pada jarum. Jarum seperti ini biasanya mempunyai pinggiran yang tajam dan dibuat dengan bermacam-macam bentuk sesuai dengan kebutuhan. Macam-Macam Bentuk Jarum Kulit Gambar 52, Diamond Untuk kulit Kriya Kulit 146
  • 146. Gambar 52, Triangular Point Unluk kulit Gambar 53, Buff Keterangan gambar: 1. Buff adalah pangkal jarum. 2. Shank Bagian terbesar dari jarum yang akan diselipkan ke dalam tempat jarum pada mesin, kemudian dikuatkan dengan sekrup. Shank mempunyai bentuk, diameter dan panjang yang bermacam-macam.Tetapi yang penting bentuk shank harus sesuai dengan mesin, missal: Gambar 54, Jarum berbentuk silinder PEMBUATAN IKAT PINGGANG a. Desain Sebelum memulai proses pembuatan ikat pinggang tahapan pertama adalah membuat desain. Desain yang dibuat ini akan menjadi acuan dalam proses pengerjaan ikat pinggang tersebut. Dalam membuat desain harus meliputi dua proses yaitu seket dan gambar kerja. b. Persiapan Bahan Setelah desain dan gambar kerja siap, tahap selanjutnya adalah persiapan bahan. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat ikan pinggang adalah sebagai berikut: Kriya Kulit 147
  • 147. 1. Kulit boks. Gambar 55. Kulit Boks Kulit boks merupakan jenis kulit yang disamak dengan samak nabati, kulit ini agak tebal mempunyai pori-pori merata, walaupun agak tebal, kelenturan-kelenturan kulit ini sangat kuat, sehingga kulit ini cocok untuk ikat pinggang, tas, koper, atasan sepatu. Gambar 56, Pengeringan Kulit Kriya Kulit 148
  • 148. Kulit setelah disamak, kulit digantung diangin-anginkan ditempat agak teduh untuk dikeringkan, pengeringan tidak diperkenankan kena sinar matahari langsung, karena kulit bisa kaku dan mengkerut, sehingga sulit untuk diolah sebagai bahan kerajinan. 2. Lem sintetis. Gambar 57,, Lem Sintetis Lem gunanya untuk merekatkan kulit supaya bisa lebih kuat, sehingga tahan lama, lem yang digunakan adalah lem sintetis yang mempunyai daya rekat kuat. 3. Gesper ikat pinggang. Gambar 58, Macam-macam Gesper Kriya Kulit 149
  • 149. Pada ikat pinggang gesper sangat memegang peranan, gunanya untuk cantelan/ pegangan, disamping itu sebagai hiasan supaya ikat pinggang lebih artistik, banyak jenis dan macam gesper yang dijual di toko, gesper terbuat dari besi, aluminium, kuningan dan bahkan ada yang terbuat dari emas 4. Benang Nilon Gambar 59, Benang Nilon Benang yang digunakan adalah benang nilon yang kuat, dan kalau ditarik supaya tidak mudah putus perlu di isi malam, gunanya disamping untuk kekuatan juga untuk kelicinan, sehingga memudahkan cara kerja kita. b. Alat Yang Diperlukan Setelah Bahan-bahan yang diperlukan siap, tahap selanjutnya adalah persiapan alat. Alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat ikan pinggang adalah sebagai berikut: 1. Mesin jahit kulit. Gambar 60, Mesin Jahit Kriya Kulit 150
  • 150. Ada beberapa mesin jahit dan jenisnya, namun dalam kerajinan kulit mesin yang digunakan adalah mesin standar, namun jarumnya dipilih lebih besar, mesin jahit memudahkan cara kerja kita dan penjahitan bisa lebih rapi. 2. Mesin seset. Gambar 61, Mesin Jahit untuk Seset Mesin jahit seset, ini adalah mesin sudah dibuat untuk kepentingan seset, dengan mata pisau dibuat sedemikian rupa sehingga tebal-tipis bisa diatur sesuai kebutuhan, mesin seset ini hampir mirip mesin jahit. 3. Penggaris Ukur. Gambar 62, Penggaris Ukur Penggaris gunanya untuk mengukur panjang lebar, juga untuk menggaris kulit yang akan dipotong, disini harus ketepatan ukuran supaya potongan yang akan diseset sesuai dengan ukuran begitu juga setelah jadi sesuai dengan desain. Kriya Kulit 151
  • 151. 4. Meja potong landasan/papan landasan Gambar 63, Meja potong landasan Meja gunanya untuk landasan dalam pemotongan kulit, kalau tidak ada meja sebenarnya papanpun sudah cukup disini fungsinya hanya untuk landasan untuk pemotongan, dimana sebelumnya kulit digaris terlebih dahulu kemudian dengan pisau dipotong di atas meja supaya bisa lurus. 5. Penggaris Potong. Gambar 64, Penggaris Potong Kriya Kulit 152
  • 152. Garis potong ini khusus untuk meluruskan kulit yang akan dipotong dengan menggunakan pisau potong. 6. Tang dan macam peralatan pendukung Gambar 65. Tang untuk menarik Benang Kegunaan tang disini sangat banyak adalah untuk menarik benang waktu mengepaskan jahitan juga untuk menekan kulit waktu pemasangan gesper. Ada beberapa tang dalam pembuatan ikat pinggang : Gambar 66, Tang Kakatua Tang ini digunakan mencabut paku yang bengkok, karena kesalahan memukul dan digunakan untuk menarik jarum kalau ada kesulitan dalam penjahitan. Kriya Kulit 153
  • 153. Gambar 67, Tang Mata Ayam Tang ini berguna untuk melubangi kulit untuk pemasangan mata ayam dan juga dapat untuk melubangi gesper Gambar 68. Tang Penarik kulit Tang ini gunanya untuk menarik kulit dalam proses perakitan, supaya tali-tali bisa lebih kuat dan rapet. Kriya Kulit 154
  • 154. Gambar 69, Uncek runcing, uncek ganda, pelubang ganda Gambar 70, Plong, pukul besi,plong cabang, Gambar 71, Penjapit datar, penjapit bengkok, penjapit ada lubang jarum, tang runcing Kriya Kulit 155
  • 155. Gambar 72, Plong ganda, penggaris, plong tunggal, pisau lipat 7. Uncek Gambar 73, Uncek Kriya Kulit 156
  • 156. 8. Palu besi/kayu. Gambar 74, Palu (Pukul) 9. Pisau potong kulit. Gambar 75. Pisau untuk potong kulit Gambar 76, Macam-macam Jarum Kriya Kulit 157
  • 157. 2. Pemolaan Dan Pemotongan Bahan Sebelum pemolaan pada kulit, terlebih dahulu pola dibuat dari kertas karton dibuat sesuai dengan desain, tujuan pembuatan pola dari kertas karton adalah untuk memudahkan pemotongan dan memberi kepastian ukuran sesuai dengan desain, sehingga mengurangi kesalahan dalam pemotongan. Pembuatan tas memerlukan beberapa tahapan yang perlu dilakukan mulai dari sistem perencanaan sampai jadi tas/koper Sejak kulit menjadi bahan yang mahal, maka sangatlah penting metode untuk mendapatkan jumlah potongan pada bagian-bagian kulit secara tepat untuk efesiensi penggunaan bahan. Cara yang paling mudah adalah mengadakan perkiraan (estimasi), guna menentukan jumlah potongan untuk suatu produk . Penggunaan sistem ini oleh mandor (foreman) bagian pemotongan, pada umumnya menggunakan satu party kulit yang akan dipotong, setiap kulit ditandai dengan pola-pola bagian mukaan, sehingga dapat diperkirakan jumlah pasang bagian sepatu yang dapat dipotong, metode ini dikenal dengan marking up, kemudian berkembanglah sistem pemotongan secara eksak, pertama kali dikenal sistem Russ dan SMALL, kemudian diikuti oleh Scientific Leather Measurement ( SLM). Kenyataan dilapangan dalam bagian pemotongan yang sering timbul masalah adalah godaan dari para tukang potong untuk berusaha memperoleh hasil potongan yang sebanyak-banyaknya, walaupun kulit yang akan dipotong tidak semuanya memenuhi syarat, dan kadang- kadang juga tidak mengindahkan aturan lines of tightness agar dapat diperoleh. posisi saling mengisi (inter locking ) sebanyak mungkin. Kenyataan-kenyataan dilapangan tersebut membawa citra kurang baik bagi kwalitas hasil jadi.Bukan seorang tukang potong yang baik apabila tergoda untuk menyalahi peraturan tersebut, dan bukan seorang mandor (foreman) yang baik apabila mengijinkan pekerjaan yang salah tersebut. Sebelum kulit dipotong, diadakan pemeriksaan mutu secara langsung dan hal-hal lain yang berhubungan dalam masalah penghematan penggunaan bahan pokok kulit harus dicermati secara professional. Sortasi kulit dan pengetrapan kerja oleh foreman akan dapat banyak memberi hasil mutu pemotongan yang baik dan banyak, sehingga produktifitas akan meningkat, banyak kulit yang siap dipotong dan kemampuan. tukang potong menjadi lebih baik. Pekerjaan memotong adalah gabungan antara semangat dan ketelitian. Setiap kulit merupakan tantangan baru, tidak ada 2 (dua) kulit yang sama bentuk, ukuran maupun teksturnya. Tidak ada 2 (dua) bentuk model produk mempunyai pola yang sama; dan setiap pola yang diubah menjadi bentuk baru akan memerlukan perencanaan yang baru pula. Pemotongan adalah hal yang khusus, Kriya Kulit 158
  • 158. karena apabila terjadi kesalahan akan terlihat pada bentuk produknya mungkin sampai pada pemakaian akan terasa akibatnya. Pekerjaan tersebut memerlukan pengerahan seluruh kemampuan dan ketelitian agar diperoleh hasil yang memuaskan. Untuk membayar tukang potong dan perhitungan bonus,yang ditekankan disini adalah hasil pemotongan dan penghematan kulit. Sehingga bagi pekerja, pekerjaan pemotongan adalah. pekerjaan yang cukup memuaskan karena akan terlihat perkembangan ketrampilan, kepandaian serta bertambahnya pengalaman, dan tentu saja dari hasil pemotongannya akan menambah penghasilannya. Berikut ini adalah sistem pemotongan bahan menggunakan bahan kulit : a Sistem pemotongan Fabric/tekstil. Sistem ini pada umumnya digunakan di fabric/tekstil dengan menggunakan teknik/cara untuk menggambar dan memotong pola bahan atasan atau lapis dari fabric/tekstil dapat memakai salah satu dari cara- cara ini, tergantung dari mutu bahan yang digunakan yaitu: 1. Sesuai dengan arah benang-benang warp, pemotongan pola diatur sehingga letak pola sesuai dengan arah garis benang-benang warp. 2. Sesuai dengan arah benang-benang weft, pemotongan pola diatur sehingga letak pola sesuai dengan arah-arah garis benang-benang weft. 3. Sesuai dengan sistim Bias, pemotongan pola diatur sehingga pola terletak pada suatu sudut tertentu dari arah garis benang. Penggunaan sistim warp adalah sistim pemotongan yang terbaik, karena dengan kekuatan benang warp, memungkinkan tegangan yang baik dari seluruh bagian pola atasan (dari bagian tumit sampai ujung) sewaktu proses open berlangsung. Sistim ini sederhana, pola diletakkan antara satu dengan yang lain diputar 180, dan akan mempunyai sisa potongan (waste) sedikit, tetapi terdapat juga beberapa jenis kain yang mudah pecah, disebabkan karena kurang kemuluran. Untuk menghindari hal tersebut sistim pemotongannya dapat menggunakan sistim weft, yang akan memberikan keliatan (plasticity) yang lebih besar. Cara pemotongan ini adalah untuk mencegah pecahnya kain, tetapi kejelekkannya struktur kain akan menjadi longgar sewaktu proses pengopenan, karena tidak mampunyai kekuatan menegang. Cara lain adalah dengan sistim Bias, yaitu dengan meletakkan pola pada sudut tertentu. Sistim ini banyak dipakai karena akan diperoleh kemuluran dan kekuatan yang cukup. Keuntungannya, sedikit waste, sisa yang diperoleh karena pemotongan pertama, tidak akan terulang pada. pemotongan berikutnya Kriya Kulit 159
  • 159. 2. Pemotongan dengan Mesin. Selain memotong bahan dengan tangan, maka dapat pula digunakan mesin ( clicking press ).Berbeda dengan cara quot;memotong dengan tanganquot;, maka memotong kulit dengan mesin (clicking machine) adalah dengan teknik tekanan (pressed). Terdapat suatu landasan (cutting block) yang dapat dibuat dari kayu keras, karet keras atau fibre- borad. Di atas block tersebut kemudian diletakkan kulit yang akan dipotong. Pisau yang dipakai bentuknya sesuai dengan bentuk-bentuk bagian sepatu; artinya apabila akan memotong bagian Vamp, maka pisaunya juga berbentuk Vamp, demikian pula untuk bagian-bagian yang lain. Dengan cara mekanis, maka suatu alat penekan (beam) akan menekan pisau dengan kekuatan yang tertentu, sehingga kulit terpotong. Perbedaan yang nyata dengan quot;hand clickingquot; adalah mengenai kecepatannya, efisiensi dengan keseragaman dalam bentuk potongan. Tetapi dengan menggunakan pressed clicking machine banyak diperlukan biaya-biaya; selain biaya pemotongan, masih perlu biaya- biaya yaitu untuk harga pisau, penyusutan mesin, pemeliharaan, perbaikan-perbaikan, tenaga listrik dan lain-lain, dibanding dengan hand cliclcing yang hanya dibebani ongkos potong saja. Keuntungan-keuntungan Clicking-press. a. Kecepatan pemotongan lebih tinggi dari pada tangan. b. Kesulitan-kesulitan pemotongan karena bentuk pola dapat dihindari sekecil nungkin. c. Untuk setiap bagian dari sepatu selalu dipotong tepat dan cepat tanpa memperhitungkan akan terjadinya kesalahan. Keuntungan Hand Gutting. a. Tidak memerlukan biaya besar dalam pembuatan pola. b. Tidak mamerlukan ruangan yang lebar. c. Penanganan pemotongan pola mudah. ( misal : untuk kulit-kulit kecil dapat dipotong dengan bermacam-macam ukuran pola . Tata laksana pemotongan. Pelaksanaan pekerjaan utama yang dilakukan dalam mengelola bagian pemotongan adalah usaha-usaha penghematan atau meniadakan barang sisa kulit (affal). Sudah diketahui bahwa komponen pokok terbesar dan penting dari sepatu adalah kulit atasan (+ 40 % dari biaya keseluruhan) oleh karena itu penanganan pemotongan kulit atasan perlu cermat dan seteliti mungkin. Setiap pengusaha sepatu sebelum memproduksi secara besar-besaran dari suatu jenis disain sepatu, perlu mengetahui perkiraan luas (feetage) kulit yang dibutuhkan, sesuai dengan disain sepatu tersebut, sebelum kulit-kulit tersebut dipotong dalam jumlah besar. Perkiraan feetage tersebut gunanya adalah sebagai perkiraan harga jual. Kriya Kulit 160
  • 160. Tetapi sangat sukar untuk menghitung secara tepat, berapa pasang sepatu yang dapat dihasilkan dari suatu lembar kulit dengan luas yang tertentu; dapat lebih sedikit atau lebih banyak dari perkiraan semula. Hal tersebut disebabkan karena sifat-sifat yang khusus dari kulit, perbedaan kwalitas, struktur antara kulit satu dengan kulit yang lain; perbedaan ketrampilan memotong pola juga akan banyak mempengaruhi hasil potongan. Oleh karena itu diperlukan suatu sistim penentuan. Feet tage dengan secermat mungkin dan dapat pula dikerjakan tanpa menpergunakan bahan kulit (kadang-kadang kalkulasi dilakukan sebagai suatu perencanaan produksi). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pemotongan adalah : a. Luas pola yaitu: luas yang sesungguhnya (bersih) dari masing-masing bagian pola, sehingga apabila dihubungkan akan berbentuk suatu kudungan. b. Letak yang saling mengisi/menutup dan affal pertama (first waste) . c. Affal pertama: yaitu bagian yang tersisa antara dua bagian pola yang saling mengisi/menutup (inter locking). d. Affal kedua (Second waste); Affal tambahan yang di peroleh dari letak pola yang saling mengisi/menutup dan affal pertama pada satu lembar kulit. Terjadinya affal kedua tersebut disebabkan karena: - Pola-pola yang disusun dalam selembar kulit, tidak selalu sama atau sejalan dengan bentuk pinggiran kulit. - Ternyata bahwa ukuran dan luas kulit akan mempengaruhi jumlah affal; semakin. luas ukuran kulitnya, affalnya menjadi kecil dan sebaliknya. - Bagian tertentu dari sepatu (misal: Vamp) harus dipotong pada bagian kulit yang tertentu pula dan sesuai dengan arah yang tertentu pula (sesuai dengan arah kemuluran kulit), sehingga susunan pola yang saling nenutup (inter locking) menjadi tidak teratur lubangnya. - Sifat-sifat khusus dan kualitas kulit, termasuk juga cacat-cacat kulit. Metode kalkulasi luas potongan. 1) Metode menggambar/menandai (marking up ). Tersedia satu. lembar kulit atasan (box, corrected dan lain-lain) yang sudah diketahui kwalitas ukurannya. Kemudian dicari cacat- cacat kulit (misalnya: lubang, sobek, warna tidak rata dan lain-lain ) yang terdapat pada kulit tersebut, dengan diberi tanda ( lingkaran ) dengan kapur atau crayon, sehingga akan jelas terlihat cacat-cacat yang ada pada lembar kulit tersebut, lalu, diteruskan dengan menggambar pola (menandai) pada kulit tersebut, sampai tidak ada lagi kulit (yang tidak cacat) tersisa. Seluruh bagian-bagian. pola yang digambar tersebut merupakan jumlah pasangan keseluruhan, dan Kriya Kulit 161
  • 161. apabila masih terdapat sisa kulit (yang tidak cacat) yang cukup luas dapat digunakan pula untuk bagian-bagian sepatu yang lain Luas kulit yang tersedia apabila dibagi dengan jumlah pasang pola-pola yang digambar/ditandai akan menunjukkan luas pola dan affal pertama (affal yang saling menutup). Metode ini adalah sederhana. dan mudah diterapkan, keberhasil- an untuk mendapat jumlah yang maksimum.tergantung dari pada pengalaman dan kemampuan orang yang mengerjakannya Dengan metode ini sekaligus akan diketahui pula kwalitas dari masing-masing kulit yang akan ditandai. Kalau dipraktekan cara kerjanya metode ini sangat tergantung pada faktor manusia, sehingga sering diperoleh hasil yang berbeda untuk pola yang sama pada waktu yang berbeda, meskipun orang yang mengerjakannya sama. Apalagi dikerjakan oleh orang yang berbeda, maka akan memperoleh hasil yang berbeda pula. Sangat sukar untuk membandingkan efisiensi antara tukang potong satu dengan yang lain, karena metoda ini tidak menberi data perbedaan dalam ukuran, kwalitas, fitting, waktu yang terjadi antara pekerjaan satu dengan yang lain. 2) Metode Russ dan Small Dalam bukunya 'scientific Allowance and Cost System; maka dalam metode ini kalkulasi luas potongan dihitung berdasarkan urutan- urutan sebagai berikut : a) Mengukur lay-out pola. - Meletakkan posisi pola tidak boleh dibalik. - Posisi/kedudukan pola harus sedekat mungkin, Saling menutup dan mengisi (inter-locking). - Posisi pola antara satu dengan yang lain paralel/searah atau berlawanan. b) Menentukan skala pola . Skala pola ialah: luas sepasang pola yang saling menutup ditambahi luas affal pertama (first waste) yang dihasilkan karena ketidak aturan bentuk pola. Angka yang diperoleh dari penjumlahan sepasang pola ditambah affal pertama merupakan luas skala pola untuk masing- masing bagian sepatu tersebut. Pertama-tama dihitung luas skala pola untuk masing-masing bagian dari atasan; dari skala pola masing-masing tersebut kemudian dijumlahkan, yang lengkap. Jumlah skala pola lengkap tersebut disebut sebagai skala pola total c) Cara pensekalaan. Kriya Kulit 162
  • 162. - Pilih salah satu bentuk pola (misal: Vamp, quarter), sediakan kertas gambar, sebuah penyiku T (T square) dan pensil yang tajam. - Letakkan penyiku T sejajar dengan kertas gambar, sehingga dapat bergerak bebas, tentukan dua titik penunjuk (sembarang) pada tepi pola, tempatkan pola pada kertas gambar, sehingga titik-titik penunjuk sederet/sejajar dengan tepi penyiku T. Geser penyiku T dan jiplaklah pola tersebut pada sekelilingnya. Garis jiplakan harus tergambar persis dibawah tepi pola. - Gambar pola berikutnya diluar gambar pola pertama, sehingga pola-pola dapat saling mengisi dan menutup sesedikit mungkin. Menggambar pola diatur paralel atau berlawanan kedudukkan- nya. Ulangi lagi sehingga gambar pola pertama penuh dikelilingi oleh gambar pola lainnya (5 — 6 pola ). - Tentukan. sembarang titik A pada gambar pola a (biasanya pada bagian yang menonjol). Tentukan pula titik 3 pada pola berikutnya (pola b) dengan jarak lompat satu pola, yang letaknya. persis sama dengan letak titik A pada pola (a). . Hubungkan titik A dengan titik J, dengan garis lurus. tarik garis G - D sejajar dengan garis A - B pada pola berikutnya. Garis C - D dapat di.gambar pada pola di atas, di bawah atau. di samping garis A-B. hubungkan titik A dengan titik D dan titik B dengan titik C, sehingga akan membentuk yaitu jajaran genjang ABCD, jajaran genjang ini harus berisi luas dua pola ditambah affal pertama - Hitung luas jajaran genjang ABCD, yaitu dengan mengalikan alas AB dengan garis tegak lurus CE Untuk satu pasang sepatu. yang terdiri dari beberapa bagian (misal: wing tip, vamp, quarter, back), maka untuk setiap bagian dari sepatu tersebut juga mendapat perlakuan yang sama.hasil skala pola yang diperoleh. untuk masing-masing pola dicatat, dihitung luasnya dan dijumlahkan, maka akan diperoleh luas skala total (dibuat tabel pencatatan). d) Basic Allowance (Tambahan dasar). Untuk menghitung jumlah skala pola yang sesungguhnya dari suatu lembaran kulit, maka selain affal pertama; affal kedua yang terbentuk juga ikut diperhitungkan. Cara menghitungnya adalah Kriya Kulit 163
  • 163. dengan metode basic Allowance (kalkulasi tambahan dasar) untuk menghitung Allowance, maka dipergunakan tabel tambahan dasar. Pada tabel tersebut terdapat lajur-lajur untuk skala pola yang dihubungkan dengan ukuran luas kulit. Pada tabel tersebut dapat ditunjukkan persentase yang harus ditambahkan pada skala pola total. Persentase tersebut merupakan jumlah luas tambahan yang diperhitungkan karena terjadinya affal pertama dan affal ke dua. Basic allowance = £ tambahan karena affal X Skala pola total. Contoh perhitungan Sepatu pria model oxford dengan 10 bagian: 2 toe cap, 2 half vamp, 4 quarter, 2 lidah, diambil dari kulit box kwalitas sedang, dengan luas 20 sq. feet mempunyai skala pola sebagai berikut : No. Bagian Skala Pola 1. Toe cap (2 buah) 0,280 sq.feet 2. Half Vamp (2 buah) 0,420 sq.feet 3. Quarter (2 buah) 0,365 sq,feet 4. Quarter (2 buah) 0,365 sq.feet 5. Lidah (2 buah) 0,120 sq.feet Skala pola total = 1,550 sq.feet Perhitungan : Skala pola total = 1,550 sq. feet. 1 550 Rata-rata skala pola bagian = 1,550 : 5 =0,310 sq. feet. Dari daftar label tambahan Dasar (basic allowance) untuk menghitung second waste, terlihat bahwa dengan rata-rata skala pola bagian 0,310 sq. feet dan luas kulit 20.sq.feet, maka prosentase allowance = 22,2 % sehingga basic allowance = 22,2 % x 1,550 = 0,340.sq.feet. Sehingga skala pola total (ditambah dengan affal ke dua) = 1,550.sq.feet + 0,340 sg.feet = 1,890 sq.feet. Jadi, untuk luas kulit 20 sq.feet, apabila dipotong untuk sepatu model Oxfrod, menjadi 20 : 1,890 = 10,58 pasang sepatu. e). Beberapa cara membuat Lay - out pola. Untuk memperoleh luas skala pola yang seirit mungkin, maka terdapat beberapa cara untuk membuat lay-out pola, dimana bentuk lay-out yang dihasilkan adalah tergantung dari bentuk/kontour pola. Kriya Kulit 164
  • 164. Dibawah ini adalah cara-cara membuat lay-out sebagai berikut: Bentuk pola wing tip, maka dengan berbagai variasi akan diperoleh kemungkinan-kemungkinan layout sebagai berikut: (1 ) Pola-pola wing tip diletakan searah menghadap lurus ke atas atau ke bawah. Wing dari pola yang satu diletakkan masuk kedalam kerongkongan pola wing berikutnya, sehingga akan saling mengisi dan menutup. (2) Pola-pola wing-tip diletakkan searah menghadap ke atas atau ke bawah, sehingga hidung dari pola wing yang satu akan terletak pada kerongkongan pola wing di atas/dibawahnya, sehingga akan saling mengisi dan menutup. (3). Ujung dari satu sayap pola wing diletakkan pada kerongkongan pola wing yang lainnya, sehinga pola tersebut dapat saling menutup dan mengisi. Metoda Pola Lengkap. Pada motode ruas dan small, kalkulasi luas potongan berdasarkan pada pola masing-masing bagian.. Pola bagian, missal: skala pola vamp, quarter dan lain-lainnya. Sedangkan, biasanya selama proses pemotongan kulit atasan, semua bagian-bagian sepatu (vamp, quarter, .lidah, bies ) dipotong bersama- sama. maka untuk dapat menghitung kalkulasi luas potongan secara lengkap, metode ini dapat dipergunakan. Caranya : 1). Sediakan pola-pola vamp, quarter, lidah dan lain lain; gambarkan pola-pola tersebut pada selembar kertas (tebal). Aturlah sehingga letak pola-pola tersebut, agar diperoleh affal yang sekecil mungkin. Potonglah gambar kumpulan pola tersebut. 2). Gambarkan lagi pola lengkap tersebut pada selembar kertas, seperti pada metode Russ dan Small, sehingga pola-pola lengkap tersebut dapat saling menutup dan mengisi, untuk mengurangi affal pertama yang terbentuk. 3). Tentukan titik A pada gambar pola pertama; buat pula titik B pada posisi yang sama dari gambar pola disampingnya, yang letaknya saling berlawanan. tentukan pula titik C pada gambar pola di atas pola pertama, demikian pula tentukan titik D pada posisi yang sama pula dengan posisi C pada gambar disampingnya. 4). Hubungkan keempat titik tersebut, sehingga akan membentuk suatu jajaran genjang ABCD, tentukan tinggi jajaran genjang ABCD, yaitu garis DE. Kriya Kulit 165
  • 165. Luas jajaran genjang ABCD, merupakan luas skala pola lengkap untuk suatu prodak ditambah first waste. e) Untuk mendapatkan cutting allowance dan jumlah total luas feetagenya, maka harus dihitung pula affal keduanya, dengan membaca melalui tabel tambahan bahan dasar, dan cara menghitungnya sama dengan metode II Metode Memotong Kulit Atasan Terdapat dua metode memotong kulit atasan, yaitu: a. Metode menyeluruh. b. Metode Selektif. a. Metode menyeluruh . Metode ini, tujuan utama adalah memanfaatkan seluruh luas kulit, tanpa memperhatikan tingkat kwalitas kulit, sehingga dalam sistem ini, bagian-bagian kulit yang cacat juga dipergunakan, sehingga akan merendahkan kwalitas hasil jadi, atau bahkan berakibat barang yang diproduksi menjadi turun kwalitasnya atau malahan dapat diafkir (reject out). Apabila akan mempergunakan metode ini, sebaiknya dipilih kulit yang kwalitasnya baik, tidak cacat. Metode ini masih banyak dipakai dikalangan industri sepatu, terutama pada perusahaan sepatu sekala sedang atau kecil yang berakibat menjadi rendahnya kwalitas sepatu hasil produksinya. b. Metode Selektif Dalam metode ini, kwalitas tlap-tiap bagian kulit dipotong merupakan tujuan utamanya. Pada bagian kulit dari satu lembar kulit yang berkwalitas bagus dipotong-potong menjadi bagian-bagian sesuai dengan persyaratan kwalitas barang. Sedang sisa kulit yang berkwalitas lebih rendah. dapat dipotong untuk bagian-bagian produk kwalitas rendah. Dengan adanya seleksi tersebut, maka akan diperoleh suatu penghematan dan peningkatan kwalitas barang jadinya. Dengan memotong bagian-bagian kulit untuk sepatu kwalitas rendah (kedua) bersama-sama dengan bagian-bagian kulit untuk sepatu kwalitas utama, akan mengurangi jumlah sisa kulit yang tidak terpakai, sehingga dalam satu lembar kulit akan diperoleh. dua kwalitas sepatu atau lebih. Menyusun dan mengarsipkan pola per artikel sesuai dengan desain. Pola-pola yang sudah digunakan perlu disimpan dan dibuatkan arsip, agar sewaktu-waktu dibutuhkan bisa dengan mudah diambil. Sebaiknya di tempatkan di lemari penyimpanan arsip, dalam Kriya Kulit 166
  • 166. penyimpanan pola sebaiknya sesuai dengan desain/diklompokan jangan dipisah-pisah antara komponen satu denganyang lainnya, Proses pembuatan produk Menentukan Ukuran Kulit yang bagus untuk ikat pinggang adalah bagian punggung, karena struktur seratnya paling kukuh dan panjangnya cukup serta ketebalannya memadai. Tebal kulit yang ideal untuk ikat pinggang adalah 3mm, diambil dari kulit bagian punggung dipotong memanjang searah dengan tulang punggung. Untuk menentukan lebar ikat pinggang, disesuaikan dengan desain yang telah dibuat, lebar kulit untuk laki-laki biasanya 2,5-3 cm, kalau perempuan 2,5 cm ini tidak terikat sesuai dengan keinginan. Panjang ikat pinggang diukur dengan cara melingkarkan di pinggang, kemudian dilebihkan 25 cm.Pada bagian ujung kulit kira-kira 8 cm, di mana kita akan menempatkan sebuah gesper, kita beri garis lipat letak gesper ini kita tempatkan sedemikian rupa sehingga pengait tepat pada garis lipat. Dari garis lipat ini, kita ukur panjang keliling ukuran pinggang dan kita beri lobang titik pusat. Dari lobang titik pusat kita ukurkan lagi kira kira 14 cm. Sudut-sudut ujung sabuk kita potong. Bagian ujung sabuk ini kita buat bentuk bulat, lonjong atau bentuk sisi, menurut keinginan kita. Agar supaya sabuk tidak terlalu tebal pada bagian ujung tempat gesper, panjang kira-kira 2,5 crn kita seset dengan pisau, sehingga tebal kulit berkurang sampai l,5 - 2 mm. Pinggiran kulit sabuk kita potong miring kemudian kita gosok dengan malam atau lilin, agar licin juga untuk merapikan pori-pori bagian pinggir. Langkah-langkah Pengerjaan pembuatan Ikat Pinggang: 1. Membuat pola dengan menggunkan kertas sebanyak dua buah, dengan ukuran masing-masing sebagai berikut: - Pola A, 1 buah : panjang 95 cm, lebar 5 cm. - Pola B, 1 buah 90 cm, lebar 3 cm. 2. kemudian membuat potongan kulit sesuai dengan pola A, pola A adalah pola yang digunakan untuk mal untuk melipat atau menjahit kulit. 3. Kemudian memberi tanda garis dibagian tepi kulit dengan jarak 1 cm dari bagaian paling tepi. 4. Setelah selesai memberi tanda, langkah selanjutnya adalah menyeset bagian yang sudah diberi tanda dengan ketebalan yang diinginkan. Kriya Kulit 167
  • 167. Gambar 77, Menyeset kulit 5. Tahap selanjutnya adalah meletakkan pola B dibagian tengah dibagaian daging kulit A dengan cara dijepit. Langkah selanjutnya adalah melipat kulit sedikit demi sedikit dengan cara ditekan atau dipukul dengan menggunakan palu kayu. 6. Apabila sudah selesai, lepaskan pola B dari kulit A, kemudian potong dengan menggunakn gunting 2 atau 3 kali kulit yang telah diseset pada bagian yang melengkung. 7. kemudian jahit bagian lipatan dengan ukuran 0,5 cm dari pinggir dan jarak stik jahitan 1,5cm. 8. Pemasangan gesper pada salah satu ujung kulit dengan cara sebagai berikut: Gambar 78, Melubang Kulit untuk pemasangan Gesper Buat lubang pada bagian ujung yang rata, 1,5 cm dari ujung - kulit. Kriya Kulit 168
  • 168. Buatlah lubang sebanyak 4 buah, besarnya sama dengan - besar paku keling. (Gambar 24) Gesper dipasang dengan penguncinya masuk ke lubang. - Gambar 79,Pemasangan gesper. Lipat kulit itu tepat pada bagian lubang. - Paku keling dipasang pada lubang yang sudah dibuat. - Tandai titik-titik 6,5 cm, 68 cm, 71 cm, dan 74 cm dari ujung - kulit tempat gesper. Selanjutnya buatlah lubang pada titik-titik itu dengan menggunkan tang pelubang yang besar yang lubangnya sama dengan besar kawat pengunci gesper. d. Finishing Setelah semua proses tadi dilakukan dan benda kerja sudah jadi, tahap terakhir adalah finishing. Finishing ini perlu dilakukan agar benda kerja yang dikerjakan hasilnya lebih sempurna. Dalam finishing ikat pinggang bisa dilakukan dengan meneliti bagian perbagian ikat pinggang apakah jahitan sudah sempurna atau belum. Untuk merapikan kulit yang berkerut agar lebih rapi bisa dilakukan dengan cara menyetrika ikat pinggang tersebut. Gambar 80, Ikat Pinggang Kriya Kulit 169
  • 169. Gambar 81, Pajangan Ikat Pinggang PEMBUATAN DOMPET Dalam pembuatan barang kerajinan kulit samak memerlukan suatu proses tersendiri, pembuatan barang tersebut masing-masing dijelaskan satu-persatu, maka antara barang satu dengan barang yang lain akan terdapat perbedaan. Hal tersebut mengingat bahwa membuat benda dari kulit tersamak ada yang dibuat sederhana dan singkat, tetapi ada pula yang dibuat secara menyelesaikan tiap-tiap bagian memerlukan proses yang cukup lama dan mendetail. Pada uraian berikut ini akan diutarakan proses pembuatan barang kerajinan kulit tersamak secara umum, yang diurutkan sebagai berikut:1) membuat pola, 2) menentukan bahan,3) menentukan alat-alat, 4) memotong bahan, 5) menyeset bagian tepi dan mengelus, 6) Merakit ,7)menjahit, 8) finising, Untuk memperoleh hasil pekerjaan yang baik, dalam setiap proses pengerjaan harus dilaksanakan dengan hati-hati dan sebaik-baiknya. Dalam pembuatan barang kerajinan dompet adalah dimulai dari pembuatan pola 1. Membuat pola. Untuk membuat pola, dasar yang dipergunakan adalah bahan yang diperlukan adalah kertas tebal/karton, pola ialah gambar rencana. Dengan bentuk barang darf ukuran-ukurannya Kriya Kulit 170
  • 170. yang telah ditunjukkan dalam gambar rencana, pembuatan pola dapat dimulai dari pelaksanaan. Yang perlu diperhatikan ialah bentuk dengan barang yang di maksud, untuk memulai dalam pemotongan bahan yang diperlukan. Untuk pola penggunaannya tetap/permanent; sebaiknya dibuat dari seng sari yang tipis dan halus bidangnya. Setiap potong pola. perlu diberi keterangan berapa kali banyak potongan, untuk satu bentuk barang dan maksud pemotongannya tepat dengan pola. Hal tersebut sangat diperlukan terutama apabila dalam taraf belajar membuat barang Gambar. 82, Pola 2. Pemilihan Bahan Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan dompet adalah kulit bagian punggung,dalam menentukan bahan untuk dibuat suatu bentuk barang kerajinan kulit tersamak, haruslah ditentukan bahan yang sesuai dengan bentuk barang yang direncanakan Karena barang kerajinan yang dibuat adalah Kerajinan kulit tersamak, maka bahan baku (pokok) yang dipergunakan harus kulit tersamak. sedangkan sebagai bahan kulit pelengkap dapatlah dipergunakan bahan-bahan lain yang cocok dan sesuai. Dalam dipilihkan bahan kulit yang harus mempunyai sifat- sifat plastis, dan mudah dibentuk sebagai bahan pengganti, dapat dipergunakan jenis plastik yang mempunyai sifat-sifat yang mendekati sifat kulit tersamak yang dimaksud. Kriya Kulit 171
  • 171. Gambar 83, Aneka kulit 3. Menentukan Alat Alat-alat sangat dibutuhkan dalam pembuatan kerajinan kulit samak, alat tersebut antara lain : Gambar 84, Alat-alat kerajianan kulit Kriya Kulit 172
  • 172. 3. Pemotongan Bahan Dalam pemotongan yang harus diperhatikan adalah penentuan penempatan pola, pola yang sudah disiapkan sebelumnya kita taruh di atas kulit, kemudian di jiplak mengikuti pola dengan menggunakan alat tulis berupa pensil. Setelah kulit tergambar sesuai pola baru kemudian di potong mengikuti garis gambar di kulit menggunakan pisau potong. Gambar 85, Pemotongan Bahan 4. Menyeset Bagian-bagian pinggir dari kulit yang sudah terpotong, kemudian bagian yang masih tebal diperlukan penyesetan dengan menggunakan pisau seset agar supaya memudahkan dalam proses penjahitan. Penyesetan dilakukan di atas landasan papan atau meja dimana bagian atasnya diisi kaca, maksudnya adalah supaya permukaan landasan untuk menyeset rata. Kriya Kulit 173
  • 173. Gambar 86,. Menyeset kulit 5. Merakit Potongan-potongan kulit yang sudah diseset bagian pinggirnya, kemudian di susun dijadikan satu sesuai dengan desain dan pola yang sudah dibuat, disela-sela bagian kulit yang sudah terseset diisi lem sintetis, agar kuat serta kerapatannya terjamin. 2. Menguncek dan Menjahitan Sebelum dijahit kulit bagian yang akan dijahit perlu dibuatkan lubang dengan menggunakan uncek , lihat gambar dibawah Kriya Kulit 174
  • 174. a. b. c d. Gambar 87, Menguncek Bagian pinggir kulit yang akan dijahit di uncek, posisi uncek harus tegak lurus dibuat berjejer, jenis uncek ada yang tunggal ada bercabang dua, tiga, empat, lihat posisi uncek pada gambar 1 tegak lurus dengan sangat hati-hati supaya sesuai dengan rencana. Kriya Kulit 175
  • 175. Gambar 88, Menguncek dan hasil Pada gambar 2, uncek dengan mata empat dengan hati- hati dibuat berjejer seolah-olah menyerupai jahitan, lihat hasilnya yang ada disebelahnya terlihat sangat rapi, selanjutnya tinggal menjahit. Gambar 89, Jarum dan benang Benang dan jarum pentul perlu disiapkan, karena kita mempraktekkan jahitan manual (tangan), lihat macam-macam jarum dan benang pada gambar di atas. Kriya Kulit 176
  • 176. Gambar 90, Posisi menjahit Pada gambar diatas posisi benang yang telah masuk pada lubang uncek , tampak ditarik agak kencang agar kuat, berlahan- lahan jarum yang sudah ada benangnya dimasukan pada lubang- lubang uncekan, sehingga rapet benang sebelum digunakan digosok-gosokan terlebih dahulu pada lilin (malam batik) Kriya Kulit 177
  • 177. 1 2 1 3 4 5 6 7 8 Gambar 91, Menjahit manual Kriya Kulit 178
  • 178. a. b. Gambar 92,. Hasil Jahitan manual Jahitan terlihat begitu rapi pada gambar diatas menggunakan jarum diisi benang dengan jahitan manual, walaupun dengan manual hasilnya tidak kalah dengan dikerjakan dengan mesin,sehingga kwalitasnya sangat bagus. Gambar 93,. Dompet selesai dijahit Kriya Kulit 179
  • 179. Lihat gambar di atas dompet yang sudah selesai dijahit tampak sangat rapi dan anggun, karena dijahit dengan cara manual, sehingga produksinya tidak begitu banyak, sangat berbeda kalau dikerjakan dengan mesin. 7. Finising Pada tahap ini, tinggal menghaluskan, memasang asesoris atau hiasan-hiasan yang dibutuhkan dan menghilangkan kotoran lem yang masih melekat pada bagian-bagian kulit, sehingga terjaga kebersihan produk. a. b. c. Gambar 94. Pemasangan Kancing Menghilangkan noda lem yang masih melekat pada kulit dengan menggunakan pecahan kaca dan bahkan bisa menggunakan pisau, bagian yang perlu diisi hiasan/pariasi sebelum dijahit perlu di lubangi dengan menggunakan uncek. Kriya Kulit 180
  • 180. a. b. c. Gambar 95. Pemasangan Kancing dan Merapikan Penjahitan dengan jarum dan benang dengan posisi kulit berdiri supaya dengan mudah bisa menjahit dan mengontrol, pukul digunakan untuk memasang hiasan serta untuk memukul kulit agar rata, setelah dijahit kemudian di haluskan dengan cara diamplas. Gambar96. Perapian Kriya Kulit 181
  • 181. Pada gambar di atas kulit yang sudah dihaluskan, kemudian di isi semacam lilin digosokan pada pinggir-pinggir kulit, di sini disamping untuk meraketkan hasil produksi juga untuk merapikan, ada juga untuk finising bagian pinggirannya di cat, sesuai dengan kesenangan. Gambar97. Dompet Kriya Kulit 182
  • 182. Gambar98 Dompet Kriya Kulit 183
  • 183. PEMBUATAN GANTUNGAN KUNCI 1. Perencanaan Langkah pertama dalam rangka pembuatan kerajinan kulit tersamak adalah perencanaan, agar pekerjaan bisa terprogram dengan teliti jelas dan mantap,mengenai bentuk barang yang akan di buat dan segala persiapan yang diperlukan secara terperinci. Perencanaan yang diperlukan ialah: a) gambar rencana, b) catatan kebutuhan bahan dan alat-alat, c) catatan urutan kerja. Dalam perencanaan dibutuhkan kejelian dan kehati-hatian, agar hasil yang didapat bisa maksimal, sebaiknya perencanaan dituangkan di atas kertas dengan cara digambar sesuai dengan bentuk barang/produk yang sudah direncanakan, usahakan pembuatan gambar kostruksi sesuai kebutuhan, mudah dibaca dan dilaksanakan seandainya orang lain yang mengerjakan dijadikan suatu produk (barang) GAMBAR RENCANA TEMPAT KUNCI Gambar99. Contoh gambar rencana gantungan kunci Perhatikan ukuran seperti contoh di atas yaitu buat ukuran yang sama antara bagian belakang dan bagian depan ukuran lebar 6 cm, panjang 8 cm, kemudian dibuatkan terpisah ukuran kaitan kunci dengan panjang 12 cm. Dengan pembuatan rencana yang matang sehingga memudahkan untuk proses selanjutnya yaitu pembuatan pola. Dengan cara-cara tersebut pembuatan barang yang dimaksud akan lebih mudah dan lancar. Di bawah ini diberikan contoh perencanaan suatu quot;bentuk barang kerajinan kulit tersamak. Kriya Kulit 184
  • 184. Contoh: Pembuatan gantungan kunci Kebutuhan bahan-bahan 1. Kulit jawa box 10 X TO x 1 cm 2. Lem kulit 3. Benang kulit ± 1 m 4. Mata ayam 2 biji Kebutuhan alat-alat: 1. Gunting kulit 2. Pisau kulit 3. Kayu landasan 4. Uncek 5. Jarum tangan 6. Lilin 7. Tulang penggosok 8. Tang pelubang 9. Pemecah mata ayam 10. Pukul besi. Urutan kerja: 1. Membuat pola 2. Memotong kulit 3. Menyeset bagian tepi mengelim bagian tepi 5. Membuat lubang dengan menggunakan uncek bagian tepi 6. Menjahit menggunakan jarum tangan bagian tepi 7. Melubang 8. Memasang mata ayam pada lubang 9. Merakit potongan 10. Merapikan bentuk keseluruhan 2. Membuat pola. Pola di buat, berdasarkan gambar rencana yang dibuat sebelumnya, pola gunanya adalah untuk memudahkan dalam proses pengukuran, pemotongan kulit agar potongan bisa tepat sehingga kulit tidak banyak kebuang, pola bisa terbuat dari kertas karton yang agak tebal dan juga bisa dengan seng sari tipis, almunium, gambar kertas sesuai perencanaan kemudian dipotong sesuai dengan gambar/atau bagian tepi yang dipergunakan ialah gambar rencana. Dengan bentuk barang dan ukuran-ukurannya yang telah ditunjukkan dalam gambar rencana. Kriya Kulit 185
  • 185. Gambar 100 Bentuk pola Dalam gambar pola tersebut di bawah dicantumkan beberapa keterangan yang dimaksudkan sebagai berikut: a). Potongan pas: maksudnya bahan dipotong tepat, pada goresan berdasarkan tepi pola. b). Potongan dengan tambahan 0,5 cm keliling: maksudnya potongan di luar garis tepi pola ditambat 0,5 keliling dari bentuk pola tersebut. c). Dipotong 2x maksudnya pemotongan bahan yang berdasarkan pola tersebut sejumlah dua potong untuk satu bentuk barang. Gambar 101. pola Kriya Kulit 186
  • 186. 3. Memotong kulit Setelah pola jadi, kemudian lembaran kulit yang sudah dipilih ditempeli pola, kemudian digambari pola pada kulit menggunakan pensil/balpoint. Kemudian dipotong menggunakan gunting potong. Gambar 102 pemotongan kulit 4. Menyeset bagian tepi Kulit yang telah dipotong kemudian bagian tepi diseset, menggunakan pisau seset. Tujuan penyesetan adalah untuk menipiskan bagian tepi agar memudahkan untuk melipat dan menjahit Gambar 103. menyeset kulit bagian tepi Kriya Kulit 187
  • 187. 5.Mengelem bagian tepi Pengeleman bagian tepi yang sudah diseset perlu dilakukan agar hasil jadinya bisa kuat dan menambah kerapian Gambar. 104. Mengelem bagian tepi 6. Melubangi dan membentuk lipatan melengkung Kulit yang sudah dilem bagian tepinya kemudian dilubangi menggunakan uncek, setelah itu baru dijahit mengikuti lubang yang sudah dibuat. Gambar.105. membentuk lipatan melengkung Kriya Kulit 188
  • 188. 7. Menjahit Bagian-bagian yang sudah dilubangi, kemudian dijahit dengan memasukan benang pada bagian-bagian yang sudah dilubangi. Gambar 106. Menjahit kulit dengan teknik manual 8.Gantungan Kunci Gambar. 107 Gantungan Kunci Kriya Kulit 189
  • 189. 5. PEMBUATAN TAS a. Desain Sebelum memulai proses pembuatan tas dari kulit tahapan pertama adalah membuat desain. Desain yang dibuat ini akan menjadi acuan dalam proses pengerjaan tas tersebut. Dalam membuat desain harus meliputi dua proses yaitu seket dan gambar kerja. Gambar 108, Sket tas wanita a. Persiapan Bahan Setelah desain dan gambar kerja siap, tahap selanjutnya adalah persiapan bahan. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat tas kulit adalah sebagai berikut: c. Menentukan Bahan Setelah desain dan gambar kerja siap, tahap selanjutnya adalah persiapan bahan. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat ikat pinggang adalah sebagai berikut: a. Kulit sapi tersamak ( Fullgrain) b. Kain pelapis. c. Lem. d. Benang e. Kertas malaga. f. Ruislithing. g. Spon ati Kriya Kulit 190
  • 190. A. Menentukan Alat Setelah Bahan-bahan yang diperlukan siap, tahap selanjutnya adalah persiapan alat. Alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat tas kulit adalah sebagai berikut: a. Mesin jahit datar Gambar mesin jahit datar Gambar 109, mesin jahit datar b. Mesin seset Gambar 110, mesin jahit seset Kriya Kulit 191
  • 191. c. Mesin biasa Gambar 111, mesin jahit biasa d. Gunting e. Pisau potong f. Penggaris potong g. Penggaris ukur h. Landasan kaki tiga. i. Papan landasan. j. Uncek. k. Tang pelobang. c. Membuat Pola Membuat pola harus dilakukan karena pola tersebut berfungsi sebagai pedoman alur yang akan dipotong. Dalam pembuatan pola sebaiknya ukuranya dilebihkan 0,7 mm agar tidak kesulitan dalam proses perakitannya. d. Proses Pengerjaan 1. Memola dan memotong bahan Dalam memola sebelumnya haruslah kita adakan ceking pola yang perlu diperhatikan dalam ceking pola, apakah dalam satu set pola tersebut sudah ada: a. Tanda jahitan. b. Tanda kelebihan kulit (potongan pas) sesetan dan lipatan. c. Tanda perakitan. d. Tanda pemasangan kancing, ring dan aksesoris yang lain. e. Tanda, berapa kali potong tiap komponen. 2. Menyeset Setelah kulit dilipat, untuk menjaga pola lipatan kulit tersebut agar tidak menonjol, bagian yang hendak dilipat dan dijahit haruslah Kriya Kulit 192
  • 192. diseset terlebih dahulu. Penyesetan ini dapat dilakukan dengan mesin seset atau pisau seset. Gambar 112, menyeset 3. Merakit Pekerjaan merakit dikerjakan apabila bagian-bagian dari suatu bentuk barang kerajinan kulit tersamak direncanakan telah selesai dikerjakan. Maka bagian-bagian dari bagian tersebut (barang yang diproses) digabungkan, dirakit sesuai dengan susunan bentuk dalam gambar kerja. Gambar 113, merakit Kriya Kulit 193
  • 193. 4. Menjahit Pekerjaan menjahit dimaksudkan untuk memperkuat perakitan ini merupakan pekerjaan lanjutan dari pekerjaan menyeset, mengelem dan melipat. Pada proses jahit ini dilakukan dengan teknik jahit mesin dan jahit tangan. Gambar 114. menjahit mesin Gambar 115,. merapikan Kriya Kulit 194
  • 194. D. Finishing Setelah semua proses tadi dilakukan dan benda kerja sudah jadi, tahap terakhir adalah finishing. Finishing ini perlu dilakukan agar benda kerja yang dikerjakan hasilnya lebih sempurna. Dalam finishing tas bisa dilakukan dengan meneliti bagian perbagian tas apakah jahitan sudah sempurna atau belum. Untuk merapikan kulit yang berkerut agar lebih rapi bisa dilakukan dengan cara menyetrika tas tersebut. Gambar 116, tas wanita Gambar 117, Map Aplikasi Kulit dengan bahan lain Kriya Kulit 195
  • 195. Gambar 118, Tempat buku Kulit dengan bahan lain Gambar 119, Dompet Aplikasi Kulit dengan bahan lain Kriya Kulit 196
  • 196. Gambar 120, Dompet Bagian dalam Gambar 121, Dompet variasi,jahit tangan Gambar 122, Tempat Foto Kriya Kulit 197
  • 197. Gambar 123, Tas variasi Gambar 124, Produk Nampan Kriya Kulit 198
  • 198. Gambar 125, Produk Tas Gambar 126, Tempat Buku dan Dompet Memelihara tempat kerja dan peralatan Tempat kerja harus dipelihara, kebersihan lingkungan, bagaimanapun kalau lingkungan bersih dan tertata dengan rapi, adalah modal untuk beraktifitas lebih baik dan bersemangat. Peralatan yang telah digunakan sebaiknya langsung dibersihkan dirawat sebaik mungkin agar tidak cepat rusak, dengan perawatan yang kontinyu tatkala kita mau menggunakan tidak kesulitan dan kondisinya masih optimal. Kriya Kulit 199
  • 199. BAB v 6. SK : Mencetak Kulit Dengan Mesin Press KD : Menyiapkan tempat kerja, bahan, dan peralatan menjelaskan fungsi mesin potong press menjelaskan komponen dan fungsi komponen mesin potong press. Pemotongan komponen sepatu atau tas harus presisi, tidak memakan waktu dan baik. Untuk memperoleh hasil yang demikian diperlukan mesin potong press. Mesin potong press dapat digunakan untuk memotong sepatu bagian atas, sepatu bagian bawah atau bagian tas. Mesin potong press dapat digunakan untuk memotong scgnln biilum dnliun bcntuk Icmbaran dun chipiit memotong beberapa lapis dalam sekali polong. Sumber tenage yang digunakan antara lain; liiclrolik, mekanik, elcktronik atau hidrolik elektronik (sumber tenaga gabungan antara hidrolik dan elektronik). Keunggulan dari hidrolik elektronik ialah setelah pemotongan pisau pemotong dapat kembali pada posisi semula secara otomatis. Mesin potong hidrolik •terdiri dari dua bagian yaitu: beampress (alat penekan) dan cutting block yaitu landasan yang dilengkapi dengan pisau potong. Gambar 1, Mesin Potong Press Mondeskripsikan Fungsi dan Ccra Penggunnan Masin Potong (Hidrolic Cutting Press) 2. Fungsi Mesin Potong Press Kriya Kulit 200
  • 200. Fungsi mesin potong press adalah untuk memotong bahan seperti; kulit, vinil, dan lain-lain. Keuntungan pemotongan dengan menggunakan mesi;n adalah: a. bahan terpotong dengan cepat dan hasilnya sama b.dapat memotong bahan lembaran atau gulungan c. dapat memotong segala bahan, seperti: kulit,imitasi, karton, dan plastik d.dapat memotong beberapa lapis bahan sekaligus. 3. Komponen Mesin Potong Press a. Beam /7/v.w/penekan Beam press berfungsi untuk menekan bahan ke arah pisau yang ada di landasan sehingga terjadi pemotongan. Beam press berbentuk seperti lengan dan mempunyai permukaan rata pada bagian bawah. b. Cutting block/landasan Landasan terbuat dari kayu, fiber, atau logam lunak. Landasan berfungsi sebagai tempat meletakkan bahan yang akan dipotong. Untuk mesin hidrolik-elektronik, landasan terbuat dari kayu. Sedang mesin dengan tenaga mekanik-hidrolik, landasan terbuat dari logam lunak. c. Meja kerja Meja kerja digunakan untuk meletakan cutting block atau landasan. Hand whell//pemufar tangan Pemutar tangan berada di samping kanan menekan dan berfungsi untuk mengatur besar kecilnya tekanan. Penekan dapal diatur tinggi rcndahnya dengan cara memutar hand wheel. e, Pemutar potensio Alat ini berfungsi untuk mengatur tekanan pada saat penekanan berlangsung. Potensi ada dua, yaitu untuk bahan tipis dan bahan yang tebal. Potensio digunakan sesuai dengan bahan yang dipotcng. f. Tombol pengatur ketebalan Tombol ini digunakan untuk mengatur ketebalan bahan yang akan dipotong. Tombol pengatur dibedakan menjadi tiga Jenis: 1). Tombol 1 untuk bahan tipis 2). Tombol 2 untuk bahan setengah tebal (medium) dan 3). Tombol 3 untuk bahan tebal. g. Tombol penekan Tombol penekan berfungsi untuk memberi tanda otomatis. Apabila tombol ditekan inaka beam akan urun dan menekan pisau kemudian kembali pada posisi semula. h.Saklar Alat penghubung dan pemutus. i. Pisau Pisau terbuat dari besi baja. Bentuk pisau disesuaikan dengan komponen yang akan dipotong, misal: sepatu, tas, dan dompet. Pisau harus selalu diperiksa ketajaman, bentuk, dan kebersihannya, baik sewaktu disimpan atau sedang digunakan. Kriya Kulit 201
  • 201. Gambar 2, Pisau Mesin potong press Keterangan; 1. Beam press/penekan 2. Cutting block/landasan S.Mejakerja 4. Hand wheel/pemutar tangan 5.Pemutarpotensio 6. Tombol pengatur kete'ialan 7. Tombol penekan 8. Saklar 9. Pisau Alat, Bahan dan Keteknikan : 1. Alat a. Mesin potong pres b. Pisau pres c. Pisau potong 2. Bahan a. Kulit samak b. Bahan imitasi fomotong Kcmponen Produk Kriya dengan Mesin Potong Pres Keteknikan Kriya Kulit 202
  • 202. Mesin potong pres digunakan untuk memotong komponen kulit atau bahan lain dalam jumlah yang besar dan cepat. Mesin potong pres ini dapat digunakan untuk memotong bahan pada bagian atas atau bagian bawah sapatu, baik berupa lembaran atau gulungan seperti kulit, imitasi, kertas, karet, plastik dan sebagainya. a Cara memotong komponen produk dengan mesin potong 1). Setel penekan pisau Sesuaikan. dengan bentuk yang diinginkan dan perhatikan ketebalan bahan, jarak penekan dan berat tekanan. 2). Tata pisau pada lembaran kulit yang akan dipotong diatas landasan. 3). Lakukan penekanan dengan menekan tombol tanda tekan, usnhakan semua pisau potong berada dibawah penekan. Setelah memotong papan penekan akan secara otoinatis kembali pada posisi seinula. 4). geser papan ptnekan ke samping kiri/ ke kanan. 5). Ambil hacil potongan dan pisau potong yang digunakan. 6). Mulai lagi dari langkah awal. b, Yang liarus diperliatikan pada sant penyetelan penekan/bearn prcsadalnh: 1). Pastikan tidak ada pisau potong atau sisa bahan yang berada diantnra mejn poloiig/hindasan dan pcnckiin. Gambar 3, Mesin potong 2). Untuk menggerakkan ke kiri dan ke kanan pada penekan terdapat dua pengendali penekan. Kriya Kulit 203
  • 203. Gambar 4, Komponen mesin 3). Pada pegangan di sebelah kiri ada tiga kotak tombol penekan yang berfungsi untuk menentukan kekuatan/daya tekan. Tombol 1 digunakan untuk memotong bahan tipis/lembut Tombol tekan 2 digunakan untuk memotong bahan yang agak tebal. Tombol tekan 3 digunakan untuk memotong bahan yang sulit dipotong dengan peralatanpotong biasa. Dengan cara memutarpotensio meter maka akan menambah daya sampai mencapai daya tekan maksimum dari nicsin polong prcs ini. Kriya Kulit 204
  • 204. Gambar 5, Komponen dan tombol mesin peringatan 1. Untuk menghindari kesalahan pemotongan dan penempatan pisau pastikan pisau berada di atas kulit pada posisi di tengah penekan/beam pres. 2. Jika aliran dimantikan maka pompa hidroiikakan berhenti kira-kira40 detik dan penekan/beam pres akan menurun perlahan-Iahan. Jangan meninggalkan tempat sewaktu benda .nasih berada di atas meja landasan dan penekan/beam pres. Gambar 6, Larangan penggunaan Kriya Kulit 205
  • 205. BAB VI 7. SK : Menyeset kulit dengan pisau seset manual dan seset masinal KD : A. PERSIAPAN BAHAN, ALAT DAN KETEKNIKAN Pembuatan hasil kerajinan kriya kulit tersamak, diperlukan suatu proses yang harus dilalui yaitu mulai 1) Perencanaan,2) Pemolaan,3) Pemilihan bahan, 4) Pemilihan alat, 5) Menyeset, 6) Melubang, 7) Menjahit, 8) Membuat hiasan, 9) Memasang bahan perlengkapan, 10) Penyelesaian (Finising) Dalam setiap pembuatan barang tersebut akan terdapat banyak perbedaan, Hal tersebut mengingat bahwa membuat benda dari kulit tersamak ada yang dibuat secara sederhana dan singkat, tetapi ada pula yang harus dibuat secara menyelesaikan tiap-tiap bagian dan memerlukan proses yang cukup lama dan mendetail. Berikut akan diuraiakan mulai dari menyeset, menjahit, pembuatan ikat pinggang 1. Menyeset Kulit Manual ( Non Sepatu) Sebelum melangkah kegiatan produk kerajinan kulit, hal yang patut dikerjakan dalam produksi adalah penyesetan Penyesetan Kulit dengan Pisau Seset Manual dan menyeset menggunakan mesin seset, dalam menyeset manual diartikan bahwa menyeset merupakan jenis pekerjaan pada kriya kulit yaitu mengurangi atau mengikis atau membuang sebagian dari ketebalan kulit agar didapatkan ketebalan yang sesuai dengan tuntutan konstruksi atau perapihan produk dan dilakukan dengan menggunakan peralatan manual (tidak dengan alat bermesin) Penyesetan (skiving) adalah bagian dari urutan proses produksi kriya kulit terutama dalam proses produksi barang-barang fungsional. Penyesetan dilakukan untuk mengurangi ketebalan dan dalam pekerjaan pembentukan komponen sebagai perapihan. Oleh sebab itu penyesetan dilakukan sangat hati-hati agar mendapatkan ketebalan atau bentuk sesuai dengan yang diinginkan.Pada dasarnya pekerjaan menyeset secara fungsional dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan kontstruksi yang direncanakan dalam desain. Akan tetapi dalam kaitannya dengan seluruh proses produksi dalam kriya kulit, pekerjaan menyeset dilakukan untuk mengurangi ketebalan kulit. Membuang sebagian ketebalan kulit untuk memenuhi memperoleh ketebalan kulit sesuai yang diinginkan serta untuk merapikan bagian kulit. Menyeset untuk tujuan mengurangi ketebalan kulit sebenarnya dapat diatasi dengan pemilihan ketebalan kulit yang sesuai dengan kebutuhan atau dilakukan pembelahan (splitting). Penyesetan pada umumnya dilakukan pada permukaan kulit sebelah dalam (bagian daging). Jarang sekali terjadi penyesetan Kriya Kulit 206
  • 206. dilakukan pada bagian rajah, kalupun terjadi (biasanya sangat terpaksa) dilakukan untuk tujuan penyambungan kearah panjang/lebar. Jenis-jenis sesetan: a. Sesetan miring b. Sesetan datar c. Sesetan alur/cekung d. Sesetan rata Gambar 1 Jenis-jenis Sesetan 2. Alat Penyesetan Secara Manual Penyesetan secara manual dilakukan untuk mengurangi ketebalan kulit pada bagian-bagian yang sempit atau sedikit. Alat pokok yang digunakan adalah pisau seset yang sangat tajam. Berikut ini adalah alat-alat yang digunakan dalam penyesetan manual. a. Pisau seset Pada umumnya ada dua jenis pisau seset manual yang bisa digunakan pada penyesetan kulit secara manual. Pisau seset biasa (reguler skiving knife/tradisional) buatan pandai besi melalui proses Kriya Kulit 207
  • 207. tempa dan pisau seset modern (Modern skiving knife) buatan pabrik melalui cor. Persaratan utama kedua pisau ini harus memiliki ketajaman yang sempurna oleh sebab itu harus terbuat dari besi baja yang berstandar. Pisau seset manual baik yang tradisional maupun yang modern jika ditinjau dari fungsinya, bentuk pisau terdiri dari beberapa macam. Hal tersebut merupakan tuntutan terhadap hasil sesetan dan kenyamanan pada waktu digunakan. 1) Pisau seset biasa (reguler skiving knife) Pisau seset biasa adalah pisau seset tradisional yang biasa digunakan oleh perajin kulit. Ciri khas pisau ini adalah sisi bagian tajam miring antara 30 sampai 45 derajat dari kepala pisau. Sisi miring yang tajam ini harus lurus karena fungsi utama untuk sesetan datar dan rata, apabila mata tidak lurus akan relatif sulit digunakan pada saat penyesetan rata apalagi pada proses megasah tidak menggunakan batu asah yang benar-benar datar dan rata. Cara penggunaan pisau ini didorong sambil ditekan dalam gerakan menggaris. Untuk mendapatkan hasil sesetan yang rata lebih baik digunakan landasan yang rata, landasan tersebut bisa berupa kaca yang tebal atau batu pualam yang sudah dipoles (marmer). Gambar, 2 Pisau Seset Tradisional Kriya Kulit 208
  • 208. Gambar, 3 Pisau Seset Biasa 2) Pisau seset modern Pisau X-Acto (pisau dengan mata yang dapat diganti). Bentuk pisau ini hampir menyerupai cutter yang umum kita kenal, yaitu terdiri dari gagang dan mata pisau yang dapat dibongkar pasang, hanya bentuk mata pisaunya yang beragam. Jka sudah tumpul atau untuk pengerjaan yang berbeda dapat diganti dengan yang baru sesuai dengan keperluan. Ketajaman mata pisau ini sama dengan pisau operasi dalam dunia kedokteran. Mata pisau yang digunakan terdiri dari berbagai jenis yang dibedakan berdasarkan macam pengesahannya, yang tersedia dalam beragam ukuran. Ada yang cocok dengan kulit tipis, ada juga yang bagus digunakan terhadap kulit tebal. Kelemahan dari pisau ini adalah terbuat dari logam yang tipis sehingga mata pisau sering diganti akan tetapi relatif menghemat waktu karena tidak perlu mengasah. Kriya Kulit 209
  • 209. Gambar 4. Pisau Seset Modern (Pisau X-Acto) dengan beberapa mata pisaunya 3) Pisau seset berbentuk pahat Alat ini secara keseluruhan berbentuk seperti pahat. Akan tetapi apabila diteliti pada bagian kepala pahat terdapat mata pisau yang dapat diatur dan dapat diganti sesuai keperluan (bentuk, V, U, atau bentuk yang lainya), hal ini disebabkan karena pada bagian mata/ujung terdapat konstruksi sekrup yang bisa dibongkar pasang. Fungsi pisau seset ini untuk membuat alur atau celah untuk menyembunyikan benang jahit atau untuk mempermudah pada saat melipat kulit. Konstruksi mata pahat dibuat sedemikian rupa sehingga pisau seset yang terdapat pada mata pahat dapat diatur kedalamannya atau diganti mata pisaunya. Kepala pisau memiliki dua kaki pemandu di kedua sisinya, sedangkan mata pisau terletak antara kedua kaki tersebut. Selama pemakaian, mata pisau ini yang akan melakukan pengeratan, sementara kedua kaki pemandu bergerak ringan, meluncur di atas kulit. Pengguaan alat ini dengan cara didorong, beri tanda garis pada alur yang akan diseset pada permukaan kulit. Atur kedalaman pisau yang diinginkan kemudian pegang gagang alat ini membentuk sudut sekitar 80 derajat terhadap permukaan, sehingga posisi kaki pemandu bergerak datar diatas permukaaan. Selama penyesetan jaga sudut miring alat terhadap permukaan kulit tetap 45 derajat dan lakukan penyesetan hanya satu kali jalan tanpa berhenti. Hal mana agar kedalaman sesetan rata, hasilnya bersih dan rapi. Jika alat tidak digunakan, putar sekrup pengatur kemudian mata pisau dilepas. Kriya Kulit 210
  • 210. Safety Beveler atau Skife Gambar, 5 Pisau Seset Safety beveler atau skife 4) Safety beveler atau skife Alat ini penyeset yang menggunakan silet yang bisa dibongkar pasang. Permukaan mata pisau melengkung karena rangka mata pisau dibentuk melengkung. Lengkungan ini berfungsi untuk mengatur kedalaman sesetan. Skife dirancang agar dapat digunakan dengan tangan atau dengan tangan kiri, cara penggunaanya hampir sama dengan mengupas buah-buahan yang ditarik kearah tubuh. Bentuk irisannya melengkung sehingga area hasil penyesetannya menyerupai rangkaian telur bukan permukaan. Cara penggunaan skife adalah menggenggam gagang dengan tangan kanan, tangan kiri memeggang/menekan kulit pada landasan serta ibu jari tangan kiri berperan untuk mengontrol penarikan alat. Miringan sedikit mata pisau kemdian tarik kearah tubuh.apabila siletnya tumpul dapat diganti dengan yang baru. Kriya Kulit 211
  • 211. Gambar 6. Pisau Seset berbentuk ketam 5) Pisau seset berbentuk ketam Jenis pisau ini fungsinya tidak berbeda dengan pisau berbentuk pahat, yang berbeda adalah rumah mata pisau yaitu berbentuk ketam tangan yang bisa digunakan tukang kayu. Disamping itu alur hasil sesetan lebih lebar. Bentuk alat ini dirancang sedemikian rupa agar pengoprasian dapat dilakukan dengan cara didorong oleh pangkal telapak tangan. b. Alat Bantu Dalam penyesetan kulit dengan pisau seset manual diperlukan beberapa peralatan pembantu yaitu: 1) Meja Kerja Dalam pekerjaan penyesetan kulit dengan pisau seset manual peranan meja kerja sebagai alat bantu cukup dominan. Meja kerja berfungsi untuk meletakan “Landas Seset” (landasan), memajang peralatan dan memajang bahan pra/pasca penyesetan. Konstruksi meja kerja harus benar-benar kokoh dengan ukuran standar. Khusus untuk keperluan kriya kulit persepatuan meja kerja biasanya hanya setinggi lebih kurang 45 cm, lebar daun meja lebih kurang 50 x 75cm. Perajin duduk di atas dingklik yang tingginya lebih kurang Kriya Kulit 212
  • 212. 25 cm, dalam mengerjakan pekerjaan penyesetan/perapihan biasanya paha dan lutut ikut berperan. 2) Landasan Landasan digunakan saat penyesetan, oleh sebab itu kondisinya harus sangat rata dan tahan gores tapi tidak terlalu berpengaruh terhadap ketajaman pisau jika pisau bersentuhan. Untuk maksud ini yang paling baik adalah batu pualam yang sudah dipoles (marmer) dengan ketebalan minimal 5cm dan permukaan landas seset 40 x 40 cm atau 40 x 60 cm. Sebagai pengganti batu marmer dapat digunakan lembaran kaca tebal atau lembaran keramik lantai. 3) Micro Meter Micro meter yang dimaksud adalah sejenis alat khusus untuk mengukur ketebalan suatu lembaran. Satuan ukurannya mm (mili meter) sehingga alat ini dapat digunakan untuk mengukur ketebalan dari mulai 0,1 mm s.d. 10,00 mm. 4) Penggaris Adalah penggaris biasa, hanya sebaiknya terbuat dari logam. 5) Uncek Uncek tidak kalah pentingnya dari jenis peralatan lainnya, tampaknya seperti sepele tapi cukup memegang peranan dalam proses penyesetan manual, yaitu untuk memberi tanda. 6) Asahan Yang dimaksud disini adalah alat untuk mengasah/menajamkan pisau seset manual. Ada 2 jenis asahan yang bisa digunakan, yaitu “Batu Asah dan Besi Asah”. Mengasah pada batu asah disamping memelihara ketajaman juga memelihara bentuk pisau agar tetap sesuai dengan bentuk sesungguhnya dan dilakukan sebelum melakukan pekerjaan. Sedangkan mengasah dengan besi asah dilakukan saat bekerja jika terasa saat digerakan pisau relatif kaku/kurang licin. 3. Perawatan Alat Terkadang seseorang kurang memperhatikan masalah perawatan alat, biasanya yang bersangkutan baru sadar pentingnya perawatan alat setelah diketahui bahwa alat yang akan digunakan tidak siap pakai. Oleh sebab itu, sebagai bagian dari efesiensi dan produktivitas perawatan alat menjadi tuntutan profesi. Perawatan alat dapat dilakukan sebelum bekerja, saat bekerja dan terutama setelah selesai bekerja. Kegiatan perawatan antara lain: memelihara keutuhan (jenis, jumlah dan bentuk), ketajaman (mengasah) dan menyimpan. Kriya Kulit 213
  • 213. Dalam hal mengasah pisau sering terjadi salah kaprah proses mengasah yang mengakibatkan pisau jadi cepat tumpul atau tidak nyaman digunakan. Hal ini dimungkinkan oleh bahan (kandungan/jenis baja), proses sepuhan dan terutama dalam teknik mengasah. Dalam kaitan ini teknik mengasah pisau untuk orang yang terbiasa bekerja dengan tangan kiri berbeda dengan orang yang terbiasa bekerja dengan tangan kanan. Langkah berikut menunjukkan bagaimana sebaiknya mengasah pisau sesuai dengan kebiasaan penggunaannya. Langkah Kerja: a. Persiapan - Mengatur posisi batu asah - Menyediakan air atau minyak kelapa b. Pelaksanaan - Jika Anda terbiasa dengan tangan kanan maka pengganglah gagang pisau dengan tangan kiri (demikian sebaliknya) kemudian gosokkan sisi pisau pada batu asah dalam posisi miring lebih kurang 5 – 15 derajat dalam keadaan pisau basah. - Sesekali periksa mata pisau dengan cara meraba dengan ibu jari tangan atau melihat garis pada mata pisau. - Raba sisi pisau bagian yang tidak digosokkan, jika terasa seakan ada yang melipat, gosokkan bagian sisi itu dalam posisi rata atau sejajar batu asah - Lakukan ketiga langkah di atas berulang-ulang sehingga Anda yakin pisau sudah tajam setajam silet c. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K 3) - Gunakan air bersih bahkan akan lebih baik jika menggunakan minyak kelapa saat menggosokkan pisau pada batu asah - Rabalah mata pisau dengan ibu jari tangan ke arah melintang (tidak searah garis mata pisau) - Rapikan kembali bekas Anda bekerja. 4. Proses Penyesetan Manual a. Langkah Kerja Kelompokkan lembaran kulit yang akan diseset sesuai dengan spesifikasi sesetan. Siapkan peralatan yang diperlukan sesuai dengan jenis-jenis sesetan yang akan dibuat/dikerjakan. Melakukan penyesetan sesuai dengan prosedur kerja (lihat petunjuk penyesetan). Kelompokkan hasil sesetan sesuai dengan spesifikasi sesetan dan jenis produk, tiap-tiap jenis dicatat. Menyerahkan hasil sesetan kepada bagian lain dari sistem produksi dengan dilengkapi berita acara. Kriya Kulit 214
  • 214. Gambar, 7 Gambar, 8 Penyesetan dengan Pisau Seset Biasa Penyesetandengan Skife (Pisau didorong) Gambar, 9 Penyesetan dengan Skife (Pisau dtarik ke arah tubuh) b. Petunjuk Penyesetan 1) Siapkan pisau seset setajam silet, meja kerja dengan landasan, dan alat bantu lainnya yang diperlukan. Kriya Kulit 215
  • 215. 2) Hamparkan kulit yang akan diseset secara merata pada meja kerja/landasan dengan bagian dalam (bagian daging) di sebelah atas. 3) Letakan pisau seset dalam posisi rata pada permukaan kulit kemudian gagangnya diangkat membentuk sudut sekecil mungkin. Tekan pisau memotong dangkal. Gagang pisau hendaknya mantap pada lekukan telapak tangan. Telunjuk dan jari tengah diatas pisau sedangkan ibu jari, jari manis dan kelingking di bawahnya. Mata pisau menghadap ke depan untuk sesetan rata dan menghadap ke sisi luar untuk sesetan miring. Pisau digenggam; tangan, pergelangan tangan, dan lengan berada dalam satu garis lurus. 4) Gerakan pisau ke muka atau memutar searah jarum jam. 5) Ingat! Pisau harus tetap dijaga nyaris rata pada permukaan kulit. 6) Sepanjang menyeset, pisau dioperasikan dalam gerakan mengiris 7) Kontrol penyesetan datang dari otot-otot lengan bawah diantara pergelangan dan sikut. Kerja tangan hanyalah sebagai petunjuk dan instrumen pemegang alat. Pisau dan lengan bawahlah yang menyempurnakan pemotongan. 8) Untuk penyesetan miring dapat digunakan Skife , cara pengoperasiannya: gagang skife digenggam dan diletakkan pada sudut lembaran kulit yang akan dimiringkan kemudian ditarik ke arah tubuh sementara ibu jari berperan untuk mengontrol penarikan . 9) Untuk penyesetan alur gunakan pisau bermata V atau pisau seset berbentuk ketam bermata V. 10) Jika pisau seset terasa berat dioperasikan, gunakan besi asah untuk melicinkan atau asah kembali pisau seset karena mungkin juga pisau seset yang digunakan sudah tumpul. c. Teknik Sesetan dan Jenisnya Sesetan manual adalah, suatu sesetan dengan pengerjaan secara manual menggunakan pisau khusus seset, guna mengurangi ketebalan kulit pada bagian tertentu sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan sebelumnya Kriya Kulit 216
  • 216. Gambar 10. Seset lurus Posisi tangan waktu menyeset yaitu tangan kiri dibawah, sejajar dengan meja, untuk hasil yang bagus penyesetan dilakukan diatas kaca, mengapa kaca karena kaca permukaannya rata dan halus. Tangan kanan memegang pisau seset, perhatikan arah pisau waktu mennyeset Gambar 11. Seset datar Penyesetan datar untuk menghilangkan bagian dalam kulit, agar kulit menjadi tipis serta ketebalannya merata, posisi pisau harus dalam posisi tertidur supaya capaian kedataran sesuai dengan rancangan Kriya Kulit 217
  • 217. Gambar 12. seset miring Posisi pisau waktu menyeset harus benar-benar miring, untuk mencapai kemiringan yang tepat bagi pemula lebih baik bagian yang akan diseset digaris terlebih dahulu sesuaikan dengan konstruksi yang direncanakan, tapi bagi yang sudah terbiasa tidak perlu digaris, bisa langsung diseset Gambar 13. seset cekung Penyesetan ada yang berbentuk huruf V dan ada yang berbentuk huruf U, penyesetan ini diperlukan ketrampilan posisi pisau menyesuaikan dengan bentuk sesetan dalam konstruksi. Kriya Kulit 218
  • 218. 5. Penyetan masinal Penyesetan dilakukan untuk mengurangi ketebalan lembaran kulit dengan bagian permukaan yang luas. Ada dua mesin yang bisa digunakan dalam melakukan penyesetan. Yang pertama adalah mesin belah kulit(splitting machine) yang digunakan untuk menyeset permukaan, untuk mendapatkan kulit dengan ketebalan yang merata. Sedangkan yang satunya lagi adalah mesin seset (skiving machine) digunakan untuk penyesetan kulit pada bagian yang dilipat. Macam-macam penyesetan yang bisa dilakukan oleh mesin seset antara lain: a. Turnover skive, yang sering digunakan untuk lipatan pada dompet dan pinggiran pegangan tas. b. Sesetan pararel, sesetan jenis ini sering digunakan dalam penyesetan kulit yang akan dipasangi pipa dan jahit balik. Sesetan pararel juga biasa digunakan untuk penyesetan permukaan (yang sebenarnya lebih baik digunakan pada mesin belah). c. Sesetan sudut digunakan untuk penyesetan bagi penggabungan dan melipat kulit. d. Sesetan berlubang/beralur, digunakan untuk membuat alur sehingga kulit bisa dilipat dengan mudah (misal pada tepong atau gussets atau tepi) 6. Spesifikasi sesetan Yang dimaksud dengan sepesifikasi sesetan adalah kekhususan sesetan terutama tentang ukuran sesetan yang meliputi: a. Tebal kulit sebelum diseset. b. Tebal kulit setelah diseset. c. Lebar sesetan. d. Bentuk sesetan. Berikut ini adalah sepesifikasi sesetan untuk tiap jenis sesetan dan cara penulisan code. 1) Sesetan datar Gambar 14 Sesetan datar Keterangan Kode sepesifikasi ditulis dalam satuan mm sebagai berikut: 2,5/20/1/1,5 = a/b/c/d ini berarti a) Tebal kulit sebelum diseset : 2,5 mm b) Lebar sesetan : 20mm c) Tebal kulit setelah diseset : 1mm Kriya Kulit 219
  • 219. d) Tebal kulit yang dibuang : 1,5mm 2) Sesetan miring Gambar 15 Sesetan Miring Keterangan: Kode sepesifikasi ditulis dalam satuan mm sebagai berikut: 2,5/20/0,5-0 = a/b/c/d ini berarti: a) Tebal kulit sebelum diseset : 2,5mm b) Lebar sesetan : 20mm c) Tebal kulit setelah diseset : 0,5-0mm (miring) 3) Sesetan Alur Gambar 16 Sesetan Alur Keterangan: Kode sepesifikasi ditulis dalam satuan mm sebagai berikut: 2,5/2,5/1,5 = a/b/c ini berarti: a) Tebal kulit sebelum diseset : 2,5mm b) Lebar alur sesetan : 2,5mm c) Kedalaman alur sesetan : 1,5 mm 7. Penyesetan Pembuatan Sepatu Pembuatan sepatu diperlukan juga penyesetan untuk mengurangi ketebalan kulit, pada bagian-bagian tertentu yang disesuaikan dengan rencana dalam desain, penyesetan dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan di dalam pelipatan, sambungan, perakitan, dan penjahitan. Baik dan tidaknya hasil pelipatan akan berpengaruh pada hasil penjahitan. Agar di dapat suatu lipatan yang baik dan tidak menimbulkan kesan tidak rata pada permukaan dan hasil penjahitan, maka penyesetan yang dilakukan pada pembuatan sepatu harus disesuaikan dengan kebutuhan tiap komponen. Kriya Kulit 220
  • 220. Komponen sepatu yang sering digunakan untuk menahan beban biasanya tidak diseset tipis, ada beberapa sistem pembuatan sepatu yaitu sistem potong pas atau lipatan. Pemilihan sistem ini berkaitan dengan jenis sepatu yang digunakan untuk santai, bekerja atau sepatu berat. Ada beberapa jenis sesetan antara lain a. Penyesetan Miring Penyesetan miring dilakukan untuk memberi keseimbangan atau kesepadanan terhadap ketebalan kulit agar tidak terlalu tebal. Penyesetan ini dapat dilakukan dengan pisau seset atau mesin seset dengan posisi penyesetan sudut. Penyesetan ini biasa digunakan untuk jahitan tumpang atau lipatan pada kulit tanpa mengurangi ketebalan seluruh permukaan kulit. Gambar 17 Sesetan Miring b. Penyesetan Datar Penyesetan datar dilakukan untuk pelipatan sebagian atau seluruhnya pada bagian tepi. Penyesetan dilakukan pada lipatan agar bentuknya halus, rata dan rapi. Jangan sampai pada waktu pelipatan permukaan atau kerataan penyesetan tidak sama. Prinsip yang harus diingat adalah jarak lipatan harus dua kali lebar penyesetan sehingga pada waktu dilipat dapat sesuai dengan lebar lipatan. 361 V Gambar 18 Sesetan Datar Kriya Kulit 221
  • 221. c. Penyesetan Cekung Penyesetan ini digunakan untuk membuat alur yang dapat memudahkan dalam pembuatan tepong. Penyesetan yang sering digunakan dalam pembuatan sepatu adalah penyesetan miring dan datar. 361 R Gambar 19 Sesetan Cekung Agar sepatu tidak berkerut, dilakukan penyesetan untuk lipatan sehingga diperoleh kesamaan bentuk dan ketebalan. Setelah dilipat kemudian ditempel pada komponen yang lain. Ada beberapa macam-macam bentuk penyesetan pada sepatu. a. Raw Edge (Sisi Pinggir) Penyesetan pada bagian raw edge berguna untuk: 1). Membentuk bagian pinggir agar ramping dan rata, misalnya pada sandal dan sepatu boot. 2). Mengurangi lebar bagian bawah. 3). Menyamakan tebal kulit pada bagian pinggir. 4). Mengurangi ketebalan pada penjahitan tutup. Penyesetan bagian pinggir tergantung dari Jenis kulit yang dipakai. b. Lapped Seam (Jahitan Sambung) adalah penyesetan di bagian pinggir sebelah dalam pada komponen yang akan dijahit sambung. Penyesetan ini berguna untuk mengurangi ukuran ketebalan dan Iebar tertentu sehingga tidak menimbulkan rasa sakit pada kaki. c. Folded Edge (Pelipatan) adalah penyesetan pada bagian topi/pinggir dengan ukuran ± dua kali lebar lipatan.Tujuan penyesetan ini adalah agar hasil lipatan dapat datar, rapi, dan rata pada waktu pelipatan. d. Lasting Edge (Bagian Tarik) Untuk bagian yang akan dicetak dan dikurangi ketebalannya, bagian ujung (toe) dikurangi pada bagian bawah sesuai dengan karakter kulit yang digunakan agar mempermudah pada saat menarik dan Kriya Kulit 222
  • 222. menempelkannya pada sol dalam. Dengan demikian kulit akan mudah dibentuk sesuai dengan acuan sepatu. Tetapi apabila mempergunakan mesin pencetak atau lasting sisi dalam tidak perlu diseset. Pengopenan atau pencetakan bila pada bagian sisi yang diseset dengan mesin akan sobek atau putus karena kekuatannya tidak sebanding. e. Corner Edge (Bagian Sudut) Agar tidak menimbulkan penebalan atau ganjalan maka bagian sudut dari komponen pola bagian sepatu ditipiskan atau diseset. Penyesetan dapat dilakukan dengan pisau seset atau mesin seset sesuai dengan kebutuhan. Gambar 20 Sesetan quarter sepatu Gambar 20. Macam-macam bentuk penyesetan quarter sepatu Keterangan: 1. Raw edge 2. Folded edge 3. Lasting edge 4. Corner skive 5. Lapped skive Kriya Kulit 223
  • 223. 8. Proses Pelipatan Gambar 21 Pelipatan Keterangan: 1. Penyesetan 2. Pelipatan 3.a. Untuk bagian cembung dibantu dengan plat 3.b. Bagian cekung dibantu dengan dipotong pada bagian pinggirnya. B. PROSES PEMBUATAN PRODUK KULIT TERSAMAK 1. Alat dan Bahan a. Alat: 1). Penggaris Penggaris berfungsi untuk mengukur jarak sesetan yang dikehendaki. 2). Mikrometer (alat mengukur ketebalan kulit) Alat ini berguna untuk mengetahui ketebalan kulit. Ketebalan kulit sangat penting karena kualitas produk kulit tergantung pada kesamaan ketebalan. 3). Gunting Gunting berfungsi untuk memotong bahan sesuai dengan ukuran dan spesifikasi yang direncanakan. 4). Mesin seset Alat ini berguna untuk menipiskan komponen produk sesuai dengan spesifikasi yang direncanakan. 5). Gambar spesifikasi penyesetan Gambar spesifikasi diperlukan untuk mengetahui komponen mana yang harus diseset sesuai ukuran. Gambar spesifikasi berfungsi Kriya Kulit 224
  • 224. sebagai dokumen sehingga setiap orang yang akan melakukan penyesetan tinggal melihat kode yang dikehendaki, karena dalam setiap kode sudah terdapat spesifikasinya. b. Bahan: 1). Kulit 2). Vinil (kulit imitasi) 3). Spon ati 4). Kain keras. 2. Penyesetan Langkah penyesetan komponen produk kulit: a. Siapkan peralatan penyesetan komponen produk kulit, seperti; mesin seset, gunting, mikrometer, penggaris, rol meter dan spesifikasi penyesetan. b. Siapkan bahan yang berupa: 1) Potongan-potongan komponen produk kulit. 2) Potongan-potongan sisa kulit atau bahan lain untuk uji coba. Catatan: mengingat adanya perbedaan sifat jenis kulit, maka uji coba penyesetan dilakukan dengan kulit yang sejenis. Misalnya, kita akan menyeset jenis kulit A dan B, maka ujicoba penyesetan harus dilakukan dengan potongan atau perca jenis kulit A atau B. c. Periksalah mesin seset sebelum digunakan, kemudian lakukan penyetelan terutama komponen-komponen pokok seperti: 1). Batu telur harus sejajar dengan pisau 2). Jarak batu telur dengan pisau. Cara penyetelan; menaikkan batu telur hingga menyinggung pisau dan berbunyi quot;ring-ringquot;. Turunkan batu telur sehingga tidak terdengar suaranya kemudian kuncilah. 3). Setellah jarak pisau dengan sepatu sejauh 1 mm. 4). Asahlah pisau, dengan cara menjalankan mesin, injaklah pedal secepatnya, kemudian batu asah didekatkan sampai menyinggung pisau. Tunggulah beberapa saat sampai ketajaman pisau sesuai dikehendaki. Untuk menghentikan pengasahan, tekanlah pedal dalam keadaan mesin hidup, kemudian batu asah dijauhkan. Setelah batu asah jauh baru mesin dimatikan. Batu asah jangan dijalankan kalau tidak digunakan untuk mengasah. d. Lakukan ujicoba penyesetan dengan posisi tangan yang benar. Posisi kaki dan gerakan injakan harus seimbang dengan jalannya pisau. e. Penyesetan komponen produk dilakukan sesuai dengan spesifikasinya. Kriya Kulit 225
  • 225. Gambar 22 Penyesetan Miring Keterangan: sesetan miring sesetan datar atau paralel ukuran ketebalannya yang 6-7/10 diseset adalah 0,6- 0,7 mm Tanda arsir hitam: bagian yang diseset f. Latihan Menggunakan Mesin Seset 1). Siapkan mesin seset, dan periksa keadaan mesin seset. 2). Duduk dengan letakkan kedua kaki pada pedal. 3). Mulailah menjalankan mesin dengan cara menginjak pedal dengan sistem injak lepas untuk merasakan kesesuaian cara menjalankan mesin. Kriya Kulit 226
  • 226. Gambar 23 Mesin seset Keterangan: 1. Mesin seset 2. Motor penggerak 3. Streng 4. Pedal 5. Saklar 6. Meja Spesifikasi Penyesetan Sepatu Model Derby Gambar 24 Sepatu Model Derby Kriya Kulit 227
  • 227. Bagian Vamp Gambar 25 Bagian Vamp Sepatu Seset bagian ini untuk menyamakan dengan komponen kulit lain. Bagian yang menumpang dan yang ditumpangi harus diseset agar tidak terlalu tebal dan tebal kulit dapat sama. Gambar 26 Sesetan Miring Tipis Bagian Quarter Gambar 27 Bagian Quarter Kriya Kulit 228
  • 228. Sesetan Miring tipis Gambar 28. Bagian seset miring/tipis, dan rata untuk lipatan. Hasil lipatan Seset terlebih dahulu bagian yang akan dilipat untuk memudahkan pada saat dilipat. Gambar 29 Bagian seset miring/tebal Sesetan Miring Tebal Seset tebal dan miring pada bagian belakang untuk mengurangi ketebalan dan memudahkan di dalam penjahitan setik balik. Penyesetan ini juga dilakukan apabila kita menghendaki sistem potong pas atau komponen tidak dilipat sekelilingnya. Gambar 30 Bagian seset miring/tebal bagian belakang Kriya Kulit 229
  • 229. Sesetan miring tebal seperti gambar di bawah ini dilakukan untuk memudahkan di dalam pencetakan bagian atas sepatu pada pengerjaan sol dalam dan untuk mengurangi ketebalan kulit agar tidak terlalu tebal. Gambar 31 Bagian seset miring/tebal pencetakan bagian atas sepatu Sesetan Miring Tipis, penyesetan ini dilakukan untuk memudahkan proses melipat di bagian quarter Gambar 32 seset miring/tipis melipat di bagian quarter Langkah Kerja Menyeset Komponen Sepatu a. Siapkan mesin seset sesuai dengan spesifikasi dan peralatan lain yang digunakan. b. Tekan tombol ON untuk menghidupkan mesin. c. Ambil komponen sepatu yang akan diseset, psrhatikan spesifikasi penyesetan tiap bagian. d. Mulailah dengan menjalankan mesin, jalankan bahan kulit yang berada di bawah sepatu penekan secara hati-hati dengan kaki tetap menginjak pedal. e. Demikian seterusnya sampai komponen sepatu dapat terseset semuanya dengan mesin seset. Kriya Kulit 230
  • 230. 3. Pemotongan (Cutting/Clicking) Dalam industri kerajinan kulit terdapat pembagian pemotongan (clicking room) yang mengerjakan pemotongan dan tukang potong (cilicker) yaitu orang yang mengerjakan pemotongan. Pemotongan dengan tangan dilakukan dihampir semua negara, terutama dinegara- negara yang berkembang. Dinegara maju pemotongan kulit menggunakan tangan hanya dilakukan pada produk yang memiliki kualitas tinggi dan mempunyai harga yang sangat mahal. Pada tahap pemotongan, diperlukan ketrampilan, kesabaran, ketelitian, kerapihan serta peralatan kerja yang baik dan memenuhi syarat. Seperti telah diketahui berbagai jenis kulit memiliki karakter berbeda disebabkan proses pengolahan atau teknik penyamakan yang berbeda. Dilihat dari peralatan yang digunakan pemotongan kulit dibagi menjadi dua kelompok: a. Pemotongan secara masinal. b. Pemotongan secara manual atau dengan menggunakan pisau dan gunting potong untuk kulit. a. Pemotongan masinal Pemotongan masinal bisa dilakukan baik untuk kulit tipis maupun kulit tebal, termasuk kulit yang paling keras yaitu kulit hasil samak nabati. Pisau yang digunakan dibuat menyerupai bentuk komponen tertentu. Kulit diletakan di atas meja kerja dengan bagian rajah disebelah atas. Kemudian pisau berbentuk komponen tertentu diletakan diatasnya. Gerakan handle kearah pisau, turunkan lempengan penekan hidraulik sehingga pisau ikut tertekan dan akan memotong sesuai dengan bentuk pisau. b. Pemotongan manual Kulit yang tipis mempunyai sifat yang hampir sama dengan bahan tekstil. Hanya yang membedakan adalah serat kulit tipis mempunyai kelenturan dan keuletan yang cukup kuat, sehingga kulit bisa direnggangkan. Sementara kulit yang tebal mempunyai sifat serat yang kuat dan padat, sehingga kulit menjadi tebal, ulet, keras, dan kaku. Kulit tersamak dan kulit perkamen yang tipis bisa dipotong dengan gunting kulit, sedangkan yang tebal (umumnya jenis kulit diatas 6 ons perkaki persegi) dipotong dengan pisau kulit yang sangat tajam. Pemotongan kulit bisa dilakukan dengan menggunkan cutter karena alat ini sangat tajam, akan tetapi mata pisaunya mudah rusak (kecuali cutter yang dirancang khusus untuk memotong kulit) Pisau kulit ini ada yang berukuran besar dan ada juga yang berukuran kecil. Pisau besar digunakan untuk memotong bagian-bagian yang lurus. Sedang yang kecil digunakan untuk memotong bagian yang lengkung, cembung dan cekung. Meskipun banyak ragam pisau yang dirancang untuk pekerjaan kulit, namun banyak fungsi yang tumpang tindih, satu pisau dapat dipergunakan untuk berbagai macam jenis Kriya Kulit 231
  • 231. potongan, misalnya pemotongan pola tepi (penyesetan). Ada beberapa jenis pisau yang dapat digunakan untuk pemotongan kulit. 1) Pisau bermata persegi atau (square point knife) Hampir tidak ada pengrajin kulit yang tidak memiliki pisau jenis ini. Pisau jenis ini biasa digunkan untuk memotong kulit yang diletakan diatas meja kerja, atau untuk merapikan kulit dengan menggenggamnya di tangan. Bisa dipakai untuk memotong alur, memotong pola alas kaki pada kulit tebal, atau untuk mengerat pinggiran kulit (menyeset), dan berbagai masalah potogan lainnya. Pisau ini digenggam pada telapak tangan, seperti menggenggam es krim dengan mata pisau menghadap ke atas atau ke bawah. Pisau dapat bergerak ke arah tarik maupun dorong. Saat menggunakan pisau ini (juga jenis pisau yang lainnya), permukaan meja kerja harus bersih dari kotoran maupun serpihan sebelum kulit diletakan di atas meja kerja. 2) Pisau kepala (head Knife) Jenis pisau ini juga populer dikalangan pengrajin kulit, bentuknya hampir menyerupai sabit. Kaitan pada mata pisau ini berfungsi sebagai safety-guide (pengaman) saat menggores-gores pada kulit. Ujung kaitan bergerak menelusuri potongan yang sebenarnya dan menjaga pisau agar tidak melenceng keluar dari jalur potongan. Pisau ini dapat digerakkan dengan mendorong maupun menarik, digenggam erat seperti menggenggam pisau mata persegi. Lebih disukai untuk merapikan, atau memotong kulit yang tidak diletakkan pada meja kerja. Pisau kepala dirancang untuk digunakan dengan tangan bergerak di bawah kulit. Mata lengkung pisau ini bisa digunakan untuk menyeset. 3) Pisau kepala bundar Merupakan jenis pisau kepala bersisi ganda, dengan kaitan mata pisau di kedua sisi gagang. Bisa dipakai sebagai pisau kepala, bisa digunakan dengan cara diayunkan (chopping). Untuk memotong sudut bundar, tangan menggenggam gagang pisau dengan mata pisau berada dibawah kepalan, sedang kulit diletakan diatas meja kerja. Kemudian mata pisau diglindingkan kemuka sesuai garis pemotongan. Tekan kuat-kuat dan ayun- ayunkan kemuka mengikuti jalur pemotongan, selain untuk memotong, ujung mata pisau yang bundar juga bisa digunakan untuk menyeset. 4) Alat potong pita kulit Untuk memotong lembaran-lembaran kulit menjadi pita. Ujung kulit dimasukan kedalam alat kemudian handlenya diputar, kulit akan keluar dan berbentuk pita-pita. Kriya Kulit 232
  • 232. c. Jenis-jenis dan kegunaan alat bantu Adapun jenis-jenis alat yang digunakan diantaranya: 1) Meja potong besar Merupakan sarana yang sangat penting dalam melakukan pekerjaan memotong yang harus ada dalam pekerjaan ini yaitu meja potong. Meja potong ini dirancang khusus untuk pekerjaan pemotongan bahan kulit yang dibuat dengan ketinggian ukuran normal manusia dewasa 2) Pisau potong Sarana penting yang juga harus disiapkan adalah pisau potong. Ada dua jenis pisau potong kulit yang bisa digunakan yaitu yang dibuat dari bahan kuningan dengan mata pisau plat besi, konstruksinya dibuat dengan menggunakan baut sebagai pengunci untuk meyetel pisau agar bisa di panjang dan bisa dipendekkan sesuai kebutuhan. 3) Penggaris potong Tidak kalah pentingnya alat ini juga harus disiapkan dalam pekerjaan pemotongan kulit ini karena fungsinya sangat penting. Penggaris potong dibuat dari bahan besi lembaran yang dirancang cembung memanjang dengan ukuran panjang antara 50 cm dan 80 cm. 4) Penggaris ukur Yaitu penggaris lokal yang menggabungkan sistim inci dan cm. Untuk pengukuran dianjurkan untuk menggunakan penggaris dengan ukuran milimeter dan akan lebih baik bila mempunyai sis ganda. Penggaris seperti ini sangat diperlukan dalam pekerja rutin pemotongan bahan dan dalam pembuatan pola. 5) Seng Landasan Bentuk alat ini berupa lembaran seng dengan ukuran disesuaikan dengan lebar meja yang dikehendaki. Adapun kegunaan seng landasan adalah sebagai penahan untuk landasan pemotongan, yang fungsinya agar tidak merusak meja dan hasil potongan akan lebih efektif. Seng landasan ini agar dipilih yang paling tebal sehingga tetap datar 6) Batu asah Bahan yang digunakan untuk pembuatan batu asah ada dua jenis yaitu dari jenis batu dan gerenda. Adapun kegunaannya adalah untuk menajamkan mata pisau. Kriya Kulit 233
  • 233. 7) Uncek Alat ini dibuat dari besi yang berbentuk ruji, pada ujungnya dibuat runcing dan bertangkai kayu. Fungsi alat ini untuk menandai batas komponen yang akan dipotong sesuai yang dikehendaki. Mengirimkan pekerjaan yang sudah selesai Untuk pengiriman karya yang sudah selesai Hasil kerja dipaketkan, dikumpulkan, ditaruh dan dikirimkan sesuai prosedur pekerjaan Kesalahan dan kekurangan produksi dicatat sesuai prosedur kerja Catatan dilakukan sesuai dengan prosedur kerja Pemahaman hasil kerja, dipaketkan,dikumpulkan ditaruh dan dikirim sesuai prosedur pekerjaan Pemahaman kesalahan dan kekurangan produksi dicatat sesuai prosedur kerja Melakukan pencatatan sesuai dengan prosedur kerja Mengumpulkan hasil kerja untuk dipaketkan secara teliti Aktif mengadakan pencatatan kesalahan dan kekurangan produksi Mengumpulkan hasil kerja untuk dipaketkan secara teliti Aktif mengadakan pencatatan kesalahan dan kekurangan produksi Pengenalan prosedur pengiriman Teknik dan prosedur pencatatan kesalahan dan kekurangan produksi Mendemonstrasikan proses pengiriman pekerjaan Kriya Kulit 234
  • 234. BAB vii 8. SK : Menjahit kulit dengan tangan KD : Penjahitan Pada dasarnya proses menjahit dimaksudkan untuk menggabungkan dua bagian atau bidang yang terpisah. Namun dalam dunia kerajinan hasil jahitan menentukan nilai jual produk. Artinya, disamping kualitas kulit, pertimbangan dan penilaian konsumen dalam memilih produk adalah kerapihan dan keserasihan teknik jahit produk yang ditawarkan. Dengan kata lain teknik jahitan merupakan salah satu unsur dekoratif dan yang memberikan nilai tambah dan tak bisa diabaikan, karena memerlukan pengerjaan yang cermat dan teliti. Penjahitan bisa dilakukan secara masinal maupun manual. Seringkali penjahitan dengan menggunakan tangan dianggap lebih bernilai daripada penjahitan menggunakan mesin. Dalam pengerjaan kerajinan yang memang mengutamakan pengerjaan tangan. Akan tetapi ada jenis pekerjaan tertentu dalam penjahitan yang sebenarnya lebih baik dikerjakan oleh mesin dari pada menggunakan tangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses penjahitan a. Jenis-jenis benang jahit Benang jahit ada dua golongan, yaitu benang buatan pabrik dan benang yang terbuat dari kulit. Machine made thred Merupakan benang buatan pabrik yang terbuat dari serat alam seperti linen, katun, sutera, atau bahan buatan (man made fibers). Linen lebih kuat dari katun, akan tetapi benang dari bahan katun mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada benang dari linen. Kebanyakan bahan buatan lebih kuat dari pada linen maupun katun. b. Macam-macam jarum kulit Ada dua golongan jarum jahit kulit, yaitu jarum mesin tangan dan jarum tangan. 1) Jarum mesin (machine needles) Ukuran jarum, benang, dan panjang jahitan memiliki hubungan yang erat meliputi faktor-faktor jenis pekerjaan, material, dan kemampuannya. Misalnya, untuk koper jarum yang digunakan harus besar, benangnya juga besar, dan jarak jahitan mesti lebar-lebar supaya tidak menyobek kulit, dan kelihatanya kekar serta kuat. Sebaliknya untuk kebanyakan barang kulit (antara lain tas dan dompet), sering digunakan jarum dan Kriya Kulit 235
  • 235. benang kecil, dengan jarak jahitan pendek-pendek agar kelihatan manis. Ukuran benang harus sesuai dengan ukuran jarum. Biasanya diameter benang kurang lebih 40% dari ukuran jarum. Ukuran Katun Sutera Benang Linen jarum/needle sintetis size 80 100-80 140 200-150 70 70-60 120 180-120 80 60-50 100 120-100 90 50-40 80 100-80 70 100 40-30 70 80-60 60 110 30-24 60 60-50 50 120 20 59 50-40 40 130 12 40 40-30 35 140 10 30 30-20 30 Tabel 1 kuran Jarum Benang 2) Jarum tangan (harness needles) Terdiri dari jarum biasa berbagai ukuran seperti jarum di atas bila digunakan untuk menjahit dengan benang (thread needles), dan jarum anyam benang (lacing needles) yang sering dipergunakan adalah jarum pusut atau uncek atau jarum anyam khusus yang tidak bermata atau berlubang. Tahap-tahap dalam penjahitan Penjahitan pada dasarnya terdiri dari proses-proses sebagai berikut: 1. Persiapan a. Mengecek jumlah potongan komponen sekaligus mengecek kulaitas kultinya. b. Mewarnai bagian tepi yang dibiarkan terbuka, tidak dilipat, atau tidak dibungkus. Pewarnaan pinggir ini ada yang dilakukan setelah potongan bahan (sebelum penyesetan), ada juga yang dilakukan setelah penjahitan (finishing). c. Memberi tanda (Marking), yaitu dengan membuat tanda ukuran barang dan membuat pelobangan atau tanda petunjuk jahitan yang dilakukan agar jahitan lurus dan rapi. Beberapa alat yang digunakan sebagai alat untuk penanda jahitan antara lain: Dengan pricks mark (tanda tusukan/titik), pricking awal (alat pencocok) atau stich marker. Kriya Kulit 236
  • 236. Penandaan menggunkan rader (pricking wheel) yang memiliki berbagai jenis mata untuk memberi tanda jarak penjahitan. Penandaan menggunakan uncek yang memiliki berbagai jenis bentuk ujungnya. Menandai mengunakan Ballpoint atau kapur yang digariskan di atas kulit apabila jenis kulit yang digunakan tidak bisa ditandai dengan pricks awal (misalkan kulit Suede). Membuat lubang jahitan dengan alat pelubang (punch) biasanya untuk jahit hias. d. Menyeset dan melipat kulit yang akan dijahit/disambung jahitan e. Memilih benang, jarum, atau mesin jahit yang sesuai 2. Tahap penjahitan 3. Pengerjaan jahitan Dalam pengerjaan menjahit, terdapat dua metode yang diklasifikasikan berdasarkan penggunaan alatnya, yaitu: a. Teknik jahit masinal. b. Teknik jahit manual. a.Teknik jahit masinal Menjahit secara masinal bisa diterapkan pada semua jenis produk, baik produk sepatu maupun produk non sepatu (tergantung yang dirancang). Sedangkan proses pengerjaanya tidak jauh berbeda dengan cara menjahit pakain dari bahan tekstil. Yang perlu diperhatikan adalah penggunaan benang yang dipakai. Benang yang dipergunakan harus memenuhi persaratan kuat, ulet, dan lemas. Terdapat dua mesin jahit yang bisa digunakan, yaitu mesin jahit biasa, dan mesin jahit standar industri. Akan tetapi jarang sekali pengrajin yang menggunakan mesin jahit biasa karena mesin jahit ini didesain untuk bahan tenun atau kain. Walau mesin jahit biasa bisa digunakan, akan tetapi terbatas hanya untuk menjahit kulit tipis seperti kulit garmen atau pakaian. Dan yang paling sering digunakan adalah mesin jahit standar industri. b.Teknik jahit manual Pada proses penjahitan manual ini terdapat banyak sekali variasi yang bisa dikembangkan sendiri. Dilihat dari bahan yang dipakai untuk menjahitnya saja, bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu jahitan biasa (benang katun atau lainya) dan jahit hias (tali anyam kulit). Jahit biasa bisa dilakukan dengan jarum benang (thread needles) bisa juga menggunakan jarum anyam (lacing needles) apabila yang dilakukan adalah jahitan berupa anyaman. 1).Jahit biasa Benang rami atau katun pada umumnya sering dipakai sebagai bahan untuk menjahit barang-barang kerajinan kulit dengan tangan (manual). Sifat benang ini mudah putus dan berbulu, maka Kriya Kulit 237
  • 237. untuk menghindari keadaan tersebut sebelumnya digosok dahulu dengan lilin/malam. Dengan demikian benang tersebut menjadi licin, tidak berbulu, dan tidak mudah putus Ada dua cara menjahit dengan menggunakan tangan, yaitu: - Penjahitan menggunakan satu tangan (single hand sewing) - Penjahitan denga dua tangan (double hand sewing) Langkah pengerjaan: single hand sewing Setelah benang digosok lilin/malam yang dipasangkan dan dipasangkan pada jarum, serta kulit yang akan dijahit sudah ditandai, mulailah penjahitan dengan memegang uncek? penusuk (awal) di tangan kanan sedangkan jarum di tangan kiri. Tekankan uncek ke titik (sitch) pertama untuk membuat lubang. Ikuti uncek oleh jarum lubang yang dibuat. Jangan mengakhiri jahitan dengan diikat membentuk kalan/bonggol benang. Double hand sewing Untuk menjahit menggunakan dua tangan, digunakan dua buah jarum. Pegang masing-masing tangan kiri dan tangan kanan satu jarum. Siapkan bidang-bidang yang akan dikerjakan (sudah dilobangi). Pilih pada bagian yang paling tepat (bagian sudut) untuk memulai menjahit, kemudian masukan jarum ditangan kiri untuk pertama kali kelobang yang telah dibuat. Kemudian jarum yang kedua ditangan kanan. Tariklah benang tepat pada kedudukannya. Demikian seterusnya hingga semuanya selesai dijahit. Ulangi apabila ingin mendapatkan jahitan yang lebih kuat. 2).Jahit Hias (tali anyaman kulit) Jahitan menggunakan kulit ini sebenarnya lebih mengesankan sebagai anyaman hias yang dimaksud untuk menambah daya tarik suatu produk kerajinan kulit. Tipe atau pola teknik menjahit atau mengayam pada dasarnya tidak baku, artinya bisa mengembangkan sendiri. Adapun teknik menjahit dengan tali kulit ada bermacam- macam cara, yaitu antara lain: a. Jahit jelujuran. b. Jahit belitan. c. Jahit belitan rangkap. d. Jahit anyaman tunggal. e. Jahit anyaman kembar. Kriya Kulit 238
  • 238. f. Jahit simpul tunggal. Semua pekerjaaan menjahit yang akan dilakukan memerlukan tali untuk menjahit atau menganyam. Tali tersebut yang paling baik terbuat dari kulit anak sapi dengan lebar 2,5mm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kebutuhan, karena tipe-tipe jahitan/anyaman mempunyai kebutuhan panjang yang berlainan. Untuk mempermudah proses pengerjaan jahitan/anyaman maka digunakan jarum anyam. Jarum ini tidak bermata dan berlubang, dan pada bagian ujungnya terbelah (bisa dibuka). Belahan ini dimaksudkan untuk mengaitkan ujung tali kulit agar memudahkan keluar masuk lubang-lubang yang akan dijahit. Lubang sebaiknya dari tepi berjarak kurang lebih 3 mm, sedangkan besar lubang antara 2-3 mm dan setiap 5 cm dibuat lobang sebanyak 8-10 buah. a) Jahit jelujuran Alat-alat Tali anyam kulit. jarum anyam. Tusuk pengait/uncek. Lem. Palu. Gunting. Langkah pengerjaan Siapkan tali kulit dengan perkiraan panjang 1,5 kali panjang seluruh jahitan. Pada bagian ujung tali dibuat sebuah lubang alur yang diiris sepanjang kurang lebih 3 mm sedangkan ujung yang lain dikaitkan jarum anyam. Siapkan lembaran kulit yag akan dijahit . Bukalah kedua bagian lembaran tersebut , dan mulai bagian salah satu bagian dalam tusukan jarum anyam menuju keluar. Kemudian pada tusukan selanjutnya , masukan jarum anyam pada lubang berikutnya melalui lubang alur yang telah dibuat. Tarik kuat-kuat agar jahitan awal tidak kendor. Langkah selanjutnya adalah memasukan jarum anyam pada lubang-lubang yang telah dibuat hingga kembali ketitik awal penjahitan. Setelah tusukan terakhir, masukan jarum anyam melalui lubang sebelumnya. Kemudian diantara lembar kulit, jarum anyam ditarik kertas tangan kuat melalui celah yang agak longgar. Sebelum tusukan terakhir sebaiknya tidak ditarik agar bisa dimasuki jarum anyam. Rekatkan dengan lem dan potonglah sisa tali kulit yang menyembul, kemudian diratakan dengan menggunakan pukulan palu perlahan-lahan. b) Jahit belitan Langkah pengerjaan Kriya Kulit 239
  • 239. Siapkan tali dengn perkiraan panjang 3,5 kali panjang seluruh jahitan. Buatlah pada kulit lobang alur seperti pada pengerjaan jahit jelujuran. Bukalah lembaran kulit yang telah disiapkan, melalui salah satu lobang bagian dalam, tusukan jarum anyam menuju arah keluar. Kemudian masukan jarum anyam pada lobang selanjutnya melalui lobang alur. Tarik dengan erat agar jahitan awal tidak kendor. Langkah selanjutnya sama dengan proses pengerjaan jahit jelujuran. Sebelum lobang terakhir, biarkan belitan agak mengendur. Kemudian tusukan jarum anyam diantara kedua bagian lembar kulit yang mengendur tersebut menuju keatas kemudian tarik kuat-kuat. Potong dan rekatkan sisa tali kulit yang menyembul, kemudian ratakan ratakan dengan menggunakan palu secara perlahan-lahan. c) Jahit Belitan rangkap Langkah pengerjaan Pada dasarnya pengerjaanya sama dengan pengerjaan teknik belitan, hanya yang perlu diperhatikan adalah penyiapan panjang tali kulit yang dipergunakan. Siapkan tali kulit dengan perkiraan 7 kali panjang seluruh jahitan. Selanjutnya langkah pengerjaan sama, bedanya adalah pada setiap lobang ditusukan jarum anyam sebanyak 2 kali sehingga tercipta tipe jahitan yang rangkap. d) Jahit Anyam tunggal Langkah pengerjaan Siapkan tali kulit sekitar 6,5 kali panjang seluruh jahitan. Tempelkan lembaran kulit, pilih bagian tengah sisi panjang yang akan dijahit. Tusukan jarum anyam dari sisi depan ke belakang dan tariklah keatas, sisakan tali kulit sepanjang 1,5 cm. Tekuk ujung tali kulit yang disisakan keatas dan belitkan tali kulit padanya. Pegang ujung tali tersebut dengan menggunakan tangan yang lain, kemudian masukkan jarum anyam melalui lobang kedua dari arah depan ke belakang dan tarik. Selanjutnya tusukan jarum anyam melalui celah anyaman dari bawah keatas kemudian tarik. Ulangi hingga seluruh jahitan selesai dikerjakan. Apabila pengerjaan jahitan telah sampai pada jahitan pertama. Dengan alat bantu tusuk pengait, renggangkan anyaman yang dibuat pada awal jahitan. Tusukan jarum anyam melalui celah tersebut, kebawah. Kriya Kulit 240
  • 240. Kemudian tusukan jarum anyam dari arah depan melalui lobang pertama diantara kedua bagian lembaran kulit, dan tarik dengan kuat keatas. Selanjutnya kedua ujung tali kulit sisa potong dan rekatkan lem serta diratakan dengan pukulan palu secara perlahan- lahan. e) Jahitan Anyam Kembar Langakah pengerjaan Siapkan tali kulit dengan perkiraan panjang 8,5 kali seluruh panjang jahitan. Gabungkan lembaran kulit yang telah disiapkan, masukan jarum anyam pada lobang pertama dari sisi depan ke belakang, sisakan ujung tali kulit sepanjang 2 cm. Dari atas tepi kulit tusukan jarum anyam dari sisi depan ke belakang melalui kedua dari atas bagian ujung tali tersebut. Agar anyaman tidak lepas , peganglah ujung tali yang disisakan di bagian atas belakang. Kemudian dari atas tepi depan, tusukan jarum anyam melalui persilangan tali yang terbuka dan tariklah dengan erat. Selanjutnya masukan jarum anyam pada lobang ketiga dari atas bagian ujung tali. Masukkan pada persilangan yang terjadi berikutnya. Demikianlan langkah ini diulangi hingga anyaman sampai pada awal jahitan. Apabila telah sampai pada titik awal jahitan, gunakan tusuk pengait untuk menarik ujung tali keluar dari lobang. Tarik melalui kedua bagian kulit. Potonglah sisa ujung tali kulit tersebut. Kemudian sisipkan atau rekatkan dengan mengunakan lem. Tusukkan jarum anyam melalui lobang sebelum lobang yang terakhir dari arah depan kebelakang. Kemudian masukan jarum anyam melalui celah pertama dari bawah persilangan yang terakhir ditarik keatas. Rapikan bagian-bagian tepi yang berdekatan dengan anyaman pertama dengan menarik lurus dengan jari-jari tangan. Tariklah kembali jarum anyam dari celah pertama dan pada tusukan-tusukan terakhir tariklah dengan kuat. Selanjutnya tusukan jarum anyam pada lobang terakhir dan tariklah keatas melalui dua bagian lembaran kulit yang kuat. Potong dan rekatkanlah ujung tali mengunakan lem, kemudian ratakanlah menggunakan palu secara perlahan- lahan. f) Jahitan simpul tunggal langkah pengerjaan Siapkan tali kulit dengan perkiraan panjang 6,5 kali panjang keseluruhan. Kriya Kulit 241
  • 241. Gabungkan lembaran kulit yang akan dijahit, masukan jarum anyam dari arah depan ke belakang pada lobang pertama. Sisakan ujung tali sepanjang 1,5cm. Tusukan pada lobang kedua dari arah depan, tarik dan masukan dari sela-sela bawah antara tusukan lobang pertama dan lobang kedua. Langkah selanjutnya adalah sama dengan proses pengerjaan jahitan-jahitan yang telah diuraikan. a. Pengertian jahit tangan Menjahit manual adalah menyambung dua bagian atau lebih, supaya menjadi satu dengan cara dijahit tangan. Proses penjahitan dilakukan dengan cara benda yang akan di jahit diukur dan diberi tanda kemudian diplong dengan ukuran sesuai kebutuhan, selanjutnya dijahit tangan. Menjahit dengan jahit tangan dilihat dari bahan yang digunakan terdiri dari jahitan, biasa dengan menggunakan benang katun dan jahitan biasa dengan menggunakan tali anyaman kulit dan sebagainya. Apabila dilihat jenis jarum yang digunakan terdiri dari jarum benang dan jarum anyam. Pada penjahitan manual diperlukan ketelitian dalam memasukkan benang pada lubang dan kehati-hatian dalam memasukkan jarum ke benda, kerja jangan sampai menusuk jari tangan. b. Macam jahitan Macam-macam penjahitan manual yaitu : 1). Penjahitan dengan sistem satu jarum yaitu pada penjahitan dengan cara kulit ditandai terlebih dahulu dan diplong kemudian dijahit dengan cara tangan kanan memegang uncek atau penusuk sedangkan tangan kiri megang jarum yang sudah diberi benang. 2). Penjahitan dengan sistem dua jarum yaitu sebelumnya kulit diberi tanda dengan jarak sesuai produk yang akan dibuat. Proses menjahit, tangan kiri memegang jarum dan tangan kanan pun memegang jarum yang sudah diberi benang. Peralatan serta bahan yang digunakan untuk menjahit manual. a. Peralatan 1). Jarum (neddle) Gunanya untuk menusuk bahan dan membawa benang, sehingga fungsi dari penjahitan yaitu menutup dan mengunci dapat terjadi. Jenis jarum yang digunakan untuk menjahit banyak sekali macamnya. Ada yang panjang, pendek, ada yang besar dan kecil. 2). Uncek (awal) Gunanya untuk memberi tanda dan melubangi, sehingga jarum dapat masuk dalam lubang selain itu juga dapat digunakan untuk pembuatan pola pada kertas tanpa menggunakan pensil tetapi cukup menggunakan uncek untuk menggaris atau manandai. Uncek terdiri Kriya Kulit 242
  • 242. dari uncek ujung rancing dan persegi, alat ini cukup praktis dalam penggunaannya. Gambar 2, uncek 3). Penjepit atau kuda-kuda Gunanya untuk memudahkan menjahit pada bagian yang akan dijahit. Kulit yang akan dijahit dijepit agar lurus, untuk memudahkan dalam melubangi dan menjahit. Lebar penjepit terbatas bila dari awal jahitan sampai batas penjepit sudah terjahit maka, penjepit perlu dibuka sesuai dengan panjang jahitan. Penjepit ini terbuat dari kayu yang saling menekan, cara kerjanya yaitu: ditekan dengan kedua paha atau digunakan mur baut sebagai penjepit. Gambar 3, Penjepit atau kuda-kuda 4). Rader atau Plong Gunanya untuk menentukan jarak lubang agar jarak lubang satu dan lainnya sama. Kriya Kulit 243
  • 243. Gambar 4, Rader atau Plong Jarak yang dihasilkan bisa diubah dengan cara mengganti kedudukan rader yang pendek atau lebar. Plong dapat digunakan untuk ukuran pendek sampai lebar sesuai kebutuhan. 5). Penggaris dan Jangka Digunakan untuk mengatur lebar jahitan sehingga jahitan dapat lurus dan presisi. Gambar 5, Penggaris dan Jangka b. Bahan Bahan yang digunakan untuk menjahit manual terdiri dari: 1). Benang Benang rami atau katun, digunakan untuk menjahit barang-barang kerajinan kulit. Sifat benang ini mudah putus dan berserabut. Benang untuk menjahit kulit dapat menggunakan usus binatang yang sudah diproses, dipilin sampai halus dan tidak berbau. Benang untuk jahit hias dapat mempergunakan ikatan kulit yang memanjang. 2). Lilin atau malam Bahan ini gunanya untuk melicinkan benang supaya mudah di dalam menjahit dan untuk melicinkan jarum pada waktu menusuk bahan. Kriya Kulit 244
  • 244. 3). Kulit Bahan yang digunakan untuk menjahit, hampir semua jenis kulit bisa digunakan untuk penjahitan manual, tetapi yang ideal dari kulit samak nabati. Alat, Bahan Dan Keteknikan 1. Alat a. Jarum jahit manual b. Uncek penanda c. Uncek persegi d. Penjepit e. Rader atau ploog ganda 2 Bahan a. Benang nilon b. Lilin atau malam c. Kulit sapi lunak nabati atau semi krome 3. Keteknikan Langkah persiapan sebelum melakukan teknik menjahit manual adalah sebagai berikut: a. Memberi tanda tusukan Beri tanda tusukan dengan menggunakan rader pada tepi yang akan dijahit dengan cara ditekan pada permukaan yang sudah diberi tanda sebelumnya. Gambar 6, Memberi tanda tusukan Kriya Kulit 245
  • 245. Gambar 7, Melubangi Kulit mengikuti tanda tusukan b. Memadatkan benang Padatkan benang mempergunakan lilin agar benang licin, tidak pecah dan padat sehingga memudahkan dalam menjahit dengan cara: benang ditekan sehingga mengenai lilin sampai benang halus dan semua permukaan terbungkus lilin. c. Mengunci benang Langkah-langkah dalam memasukkan benang dalam jarum adalah sebagai berikut: 1). Masukkan benang pada bilah jarum sampai batas akhir panjang benang, sisakan 10 cm - 12 cm untuk tempat penahan atau pengunci agar benang tidak lepas pada waktu digunakan menjahit. 2). Ulir atau kendorkan sisa benang pada ujung agar ujung jarum dapat masuk. Setelah masuk tarik ke bawah sampai pangkal jarum Kriya Kulit 246
  • 246. Gambar 8, Memasukan benang pada jarum 3). Setelah benang sampai di pangkal jarum, tarik jarum ke atas dan masukkan benang diantara belahan benang, lakukan dua kali proses mengunci benang agar jarum tidak mudah lepas pada waktu menjahit. Mengunci benang dilakukan pada jahit manual dengan menggunakan sistem satu jarum dan dua jarum. Gambar 9, Posisi benang pada jarum d. Posisi jarum Cara memegang jarum untuk penjahitan manual dengan mempergunakan dua jarum maka posisi jarum terbagi menjadi dua Kriya Kulit 247
  • 247. bagian yaitu: tangan kiri memegang jarum diantara jari telunjuk dan ibu jari, kemudian tangan kanan memegang jarum diantara jari telunjuk dan ibu jari serta membawa uncek yang diletakkan pada sela-sela ibu jari. Cara menjahit dengan menggunakan tusuk saddler: 1). Buat lubang pertama pada tanda jahitan dengan menggunakan uncek pipih dengan tangan kanan. Usahakan uncek pipih menembus kulit yang akan dijahit semaksimal mungkin (lubang tersebut harus pas dengan tanda jahitan dan arahnyapun harus sama persis). Gambar 10, Uncek Pipih 2). Hadapkan jarum di tangan kiri pada uncek tersebut, kemudian ikuti arah uncek pipih yang ditarik dengan jarum, sehingga jarum tersebut ganti masuk pada kulit yang akan dijahit. Gambar 11, Posisi Uncek Pipih 3). Pada tahap ini berarti jarum yang satu berada disebelah kanan dan yang satu lagi berada disebelah kiri kulit yang akan dijahit. Usahakan benang yang ada disebelah kiri dan kanan panjangnya sama/seimbang. Gambar 12, Posisi benang 4). Buat lubang ke dua dengan menggunakan uncek. Gambar 13, Posisi lubang Kriya Kulit 248
  • 248. 5). Masukkan jarum yang berada ditangan kiri pada lubang dengan mengikuti uncek yang sedang ditarik. Tarik jarum yang dimasukkan dengan tangan kanan bersama-sama dengan ujung uncek pipih tersebut. Gambar 14, Posisi uncek membuat lubang 6). Masukkan jarum yang berada di benang atas (dari lubang atas) pada lubang kedua yang telah dimasuki jarum kiri, kemudian tarik dengan tangan kiri. Gambar 15, Posisi jarum dengan benang 7). Tarik kedua benang dengan kuat bersama-sama. Maka terbentuklah jahitan pertama. Gambar 16, Posisi benang seimbang 8). Buat lubang ke 3. Gambar 17, Posisi uncek tegak lurus 9). Caranya sama dengan di atas 10). Caranya sama dengan diatas 11). Sama di atas Kriya Kulit 249
  • 249. Gambar 18, Posisi arah jahitan 12). Mengunci benang Setelah selesai dalam penjahitan maka tindakan yang terakhir adalah mengunci benang dengan cara kedua benang dimasukkan pada permukaan sambungan. Benang kiri dan kanan dikunci dengan cara dibundel cuma sampai tiga kali sehingga benang tidak lepas. Kemudian bundelan tersebut dimasukkan ke dalam permukaan sambungan dan ditekan serta diberi lem selanjutnya lakukan pengerjaan akhir. Gambar 19, Posisi Mengunci benang Contoh penjahitan manual dengan sistem satu jarum Kriya Kulit 250
  • 250. Gambar 20, Contoh penjahitan manual dengan sis tem dua jarum Menjahit adalah menggabungkan dan menyatukan dua komponen atau lebih dengan kaitan benang dan jarum untuk membuat suatu ikatan pada bahan yang dijahit. Penjahitan dapat dilakukan dengan tangan atau dengan mempergunakan mesin jahit. Dalam membuat produk dari kulit, penjahitan memiliki peranan yang sangat besar untuk menentukan tinggi atau rendahnya mutu. Mesin jahit ini dapat digunakan untuk menjahit komponen tiga dimensi, baik tas maupun sepatu serta untuk memasang dan menjahit bagian atas yang tertutup, bagian dalam dan menjahit piping. 2. Jenis dan fungsi mesin jahit a. Mesin jahit datar (flat bad) rumah tangga dan industri. Mesin jahit datar dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan industri. Untuk keperluan rumah tangga mesin jahit ini digunakan untuk menjahit pakaian, kain dan sebagainya. Pada umumnya mesin jahit datar rumah tangga menggunakan tenaga penggerak pedal untuk menjalankan roda putar, sedangkan mesin jahit datar industri menggunakan tenaga penggerak motor. Karena mempunyai bidang datar mesin jahit ini biasa digunakan untuk menjahit produk dua dimensi, produk tiga dimensi dan untuk produk dengan bahan yang tipis dan ringan. Produk yang biasa dikerjakan dengan mesin jahit datar diantaranya ikat pinggang, dompet, jaket, topi dan atasan sepatu. b. Mesin jahit bumbung Sepul dan tempat penjahitan pada mesin ini berhadapan langsung dengan jarum dan sepatu. Mesin jahit ini dilengkapi dengan motor berkecepatan tinggi sehingga membantu percepatan di dalam produksi. c. Mesin jahit cangklong Mesin jahit ini digunakan untuk menjahit berbagai jenis produk karena dilengkapi dengan lengan membujur untuk tempat meletakkan bahan sehingga memudahkan dalam penjahitan. d. Jenis mesin Berbagai mesin yang digunakan di dalam penjahitan mempunyai spesifikasi produk yang berbeda. Mesin jahit diproduksi dengan berbagai tipe, ukuran, jenis yang berbeda serta kemampuan yang berbeda. Ada beberapa jenis mesin jahit yang mempunyai ciri dan karakter yang sama dengan bentuk yang berbeda misalnya : 1). Sistem komputer atau tidak 2). Sistem satu jarum atau dua jarum Kriya Kulit 251
  • 251. 3). Sistem sekoci vertikal atau horisontal 4). Sistem sepatu datar atau roda 5). Komponen pendukung lainnya 3. Jahitan kunci Jahitan kunci adalah menyilangkan benang atas dan bawah dalam satu kaitan yang sama-sama. Seimbang pada bahan sehingga menjadi ikatan yang kuat dan tidak mudah lepas. Ketiga jenis mesin di atas dapat digunakan untuk membuat beberapa macam jahitan kunci, antara lain: a. Jahitan Zig-zag Jahitan terdiri dari dua benang yaitu benang atas dan benang bawah yang saling mengikat di antara bahan. Jahitan ini digunakan untuk Jahitan sambungan atau tumpangan yang berjajar. Benang atas dan bawah harus seimbang agar Jahitan dapat mengikat dengan kuat. Gambar 21, Jahitan Zig-zag b. Jahitan rantai atau doornai Jahitan terdiri dari satu benang dengan jarum menembus bahan dan benang atas secara otomatis akan membentuk suatu ikatan rantai. Gambar 22,Jahitan rantai atau doornai Jahitan ini biasanya digunakan untuk menjahit antara bagian atas sepatu/sandal dengan sol atau bagian bawah dan dapat untuk membuat Kriya Kulit 252
  • 252. jahitan pembungkus seperti tempat semen. Apabila benang atas ditarik atau lepas maka dengan mudah ikatan akan lepas dengan sendirinya. 4. Cara penyetelan a. Tekanan benang 1). Ketegangan benang atas atau bawah. Sama-sama dan cukup kuat untuk mengunci kedua benang pada tempatnya. Gambar 23, Penyetelan Tekanan Benang 2). Jika benang bawah terlalu keras dan hasil jahitannya ditarik ke bawah akan membuat tarikan tidak seimbang. Gambar 24, penyetelan benang diputar se arah jarum jam Sekrup penyetelan benang diputar se arah jarum jam atau dikeraskan sesuai dengan kebutuhan. Tetapi bila benang atas terlalu kuat maka sekrup penyetelan diputar secukupnya berlawanan dengan arah jarum jam. 3). Jika benang bawah terlalu kendor hasil jahitan benang bawah akan ditertarik ke atas. Gambar 25, penyetelan benang Apabila penjahitan ini terjadi maka sekrup pada sekoci harus diputar searah jarum jam secukupnya. Jika benang bawah terlalu kuat maka sekrup pada sekoci juga harus diputar secukupnya berlawanan dengan arah jarum jam sesuai dengan jahitan yang dikehendaki. Setelah jenis benang kulit Nylon (bukan Cotton) harus diikat atau disulut dengan api. b. Tusukan Kriya Kulit 253
  • 253. Pada pengaturan jarak tusukan di mesin jahit terdapat angka yang menunjukkan jarak langkah setik jahitan. Angka 12 berarti tiap 1 inchi terdapat 12 setik jahitan, jadi bila jarak setiknya berada pada angka 0 berarti tidak ada setiknya atau berhenti. c. Tekanan Sepatu Bila tekanan sepatu berubah akan menyebabkan jalannya material yang dijahit tersendat dan tidak lurus. Untuk mengatasinya ketinggian tiang sepatu disetel secukupnya. Pada dasarnya jahitan kunci terdiri dari jahitan kunci dan jahitan rantai atau doornai. Fungsi dari kedua jahitan ini untuk mengikat benang. Jahitan kunci terdiri dari dua benang yang saling bertaut, apabila yang satu putus maka benang yang lain akan mudah putus. Jahitan rantai atau doornai adalah merangkai benang menjadi bentuk rantai yang teratur dan panjang rantai disesuaikan panjang jahitan. Jahitan zigzag termasuk salah satu alternatif untuk menyambung dua komponen menjadi satu rangkaian. a. Formasi jahitan kunci Jahitan kunci bertujuan untuk mengikat bahan agar tidak lepas, tekanan benang pada waktu penjahitan harus diperhatikan. Jahitan kunci dapat dilakukan dengan sistem manual dan masinal. Cara membentuk formasi jahitan kunci adalah: a. Celah panjang yang dibuat sewaktu jarum turun melubang atau menusuk bahan, dipakai untuk menuntun benang. Gambar 26, posisi jarum turun melubang b. Pada saat jarum naik, celah pendek akan menekan benang sehingga benang terikat Kriya Kulit 254
  • 254. Gambar 27, arah jahitan Ujung kait pada sarangan mengambil benang dan mengunci pada benang sekoci . Gambar 28, mengunci sekoci d. Pada saat jarum ditarik ke atas, benang bawah mengendor dan kaitan bergerak memutar membawa benang. Gambar 29, posisi sekoci e. Benang bagian atas terbebas dari kait pengungkit. Kriya Kulit 255
  • 255. Gambar 30, kaitan benang Ketika benang atas ditarik, benang sekoci terkunci secara otomatis dan ikut tertarik naik sehingga membentuk suatu Jahitan. Gambar 31, kaitan benang dengan jarum Jahitan kunci merupakan Jahitan yang baik karena ketegangan benang atas dan bawah sama, sehingga saling mengikat erat. Untuk tujuan menyambung dan menyatukan produk, Jahitan kunci banyak digunakan, karena lebih praktis dan efisien, misalnya untuk menjahit kain, sepatu dan sandal. Jahitan doornai atau rantai dapat juga digunakan untuk menjahit sandal dan sepatu. Sifat jahitan doornai sangat kuat tetapi bila salah satu belitan ada yang putus maka mudah sekali lepas. Jahitan kunci juga digunakan untuk jahitan zigzag. Jahitan ini menggunakan dua benang tetapi jalannya jarum silang, Jahitan ini digunakan untuk menyambung komponen produk sepatu, sandal dan tas. b. Unsur utama pada jahitan kunci a. Feed dog atau gigi kerja (gigi penggerak) Free dog berfungsi untuk menarik bahan yang akan dijahit dengan cara sepatu menekan bahan pada gigi kerja, sehingga bahan terbawa ke arah depan. Kriya Kulit 256
  • 256. Hal-hal yang mempengaruhi bahan tidak bisa bergerak atau maju pada saat menjahit yaitu; 1). Pemasangan gigi tidak lurus atau terlalu kencang. Perubahan kedudukan gigi mesin jahit mengakibatkan bahan berjalan miring. Tindakan yang harus dilakukan adalah memeriksa kedudukan gigi penggerak apakah sejajar atau tidak. Apabila gigi penggerak terlihat miring, buka plat dek dan sejajarkan giginya dengan alat. Jangan terlalu keras pada waktu mengencangkan sekrupnya. 2) Tekanan sepatu tidak berfungsi Apabila tekanan sepatu berubah akan mengakibatkan jalannya kain saat dijahit tersendat-sendat dan tidak lurus. Periksalah tekanan pada saat posisi sepatu diturunkan gerakkanlah sepatu bila bahan ikut bergeser berarti tekanan sepatu tidak berfungsi. Untuk mengatasi hal ini, maka ketinggian tiang sepatu harus diatur sesuai ketebalan minimal bahan yang akan dijahit. b. Roda atau sepatu Sepatu atau roda berfungsi untuk menekan bahan sehingga dapat ditarik oleh gigi kerja bahan atau berjalan dengan sendirinya. Fungsi utama sepatu atau roda untuk memberi garis atau batas penjahitan, sehingga bila kita menjahit tepi minimal 2 sampai 3 mm dapat dikerjakan dengan mudah tanpa menggunakan alat bantu. Apabila sepatu atau roda tidak bergerak maka periksalah bagian sekrupnya, apakah kendor atau terlalu kencang. Perhatikan setelan ketinggian tiangnya. c. Alat penuntun atau guide Guide adalah salah satu komponen yang dapat membantu ketepatan posisi jahitan dan kesejajaran jarak jahitan. Guide dapat menjamin lurus tidaknya penjahitan, namun semua ini juga tergantung pada kemampuan si penjahit. Penuntun tidak dapat bekerja sesuai dengan fungsinya apabila melampui batas kerjanya, misal dilakukan pada sudut yang terlalu tajam. Kemungkinan kesalahan dapat dikurangi dengan meletakkan penuntun sesuai dengan posisi jarum. Pemakaian penuntun akan berfungsi baik apabila dipergunakan pada kulit yang tebal atau keras. Dengan memakai penuntun dimungkinkan tanpa latihan dan pengalaman dapat menghasilkan jahitan yang baik. Penuntun jahitan dapat berupa sepatu atau roda yang berfungsi untuk menekan dan mengatur jarak jahitan. d. Pengunci jahitan Berfungsi untuk membalik tusuk jahitan dan mengubah gigi transmisi pada jahitan. Apabila pengungkit di tekan ke bawah maka Kriya Kulit 257
  • 257. jahitan akan ke arah depan dan bila ditekan ke atas maka jahitan akan berjalan mundur. Contoh: Pada penjahitan kunci awal kita menentukan tiga titik dari batas jahitan. Jarum diletakkan pada titik ketiga kemudian dijalankan ke belakang sampai 3 tusukan. Pada akhir tusukan pengungkit di tekan ke bawah sehingga jahitan berjalan kedepan, dengan demikian tiga jahitan ke belakang akan tertindas hasil jahitan ke arah depan. Hal ini juga dilakukan pada waktu mengunci akhir jahitan. Pada tusukan akhir jahitan pengungkit ditekan ke atas sehingga bergerak ke belakang, lakukan untuk menindas 3 jahitan terakhir. Pengunci jahitan dilakukan agar jahitan-jahitan tidak Iepas atau kendor. Sisa benang atas ditarik, disimpul kemudian dibakar dengan api. e. Piringan penekan benang dan pengungkit benang Piringan penekan benang atas mempunyai fungsi untuk memberi tegangan pada benang agar jahitan rapi, kuat dan stabil sehingga benang atas dan benang bawah (sekoci) seimbang, gulungan benang yang berada di atas depan, ditarik ke atas dilewatkan pada alur-alur benang, jangan sampai lajunya terhambat oleh alur, karena akan mengganggu ketegangan antara benang atas dan bawah. Cara mengatasi permasalahan benang: 1). Benang bawah kusut Benang bawah kusut terjadi bila setelan penekan bagian atas terlalu kendor, pada sela piringan penjepit terdapat kotoran sehingga penekan benang tidak berfungsi dan blok sarangan kotor/tersumbat serbuk benang atau serbuk lain. Pemecahannya : setel penekan sesuai kebutuhan dan bersihkan piringan dan blok sarangan. 2). Benang atas putus-putus Hal ini terjadi bila kualitas benang usang, tekanan benang atas terlalu keras, sepatu dan lubang jarum pada plat dek gigi rusak. Pemecahannya: Pakailah benang yang berkualitas dan aturlah tekanan benang. Penahannya pakailah benang yang berkualitas dan aturlah tekanan benang. 3). Benang bawah putus-putus. Kualitas benang yang digunakan kurang baik, lubang jarum plat dek rusak dan per sekoci terlalu keras. Pemecahannya: Pakailah benang yang baik dan gantilah bagian-bagian yang rusak. 4). Benang atas dan bawah tidak seimbang (tidak stabil) Per penekan benang atas terlalu kendor, per stabilizator benang tidak berfungsi dan per sekoci tidak berfungsi. Pemecahannya: Bersihkan kotoran dan aturlah semua komponen. 5). Benang jahitan loncat-loncat Kriya Kulit 258
  • 258. Pemasangan jarum terbalik, jarum bengkok, ujung sarangan patah dan sekrup pembatas jarum pada tiang tidak ada. Pemecahannya: Pasanglah jarum sesuai aturan dan ganti bagian-bagian yang rusak. f. Pengisian benang pada sekoci. Sekoci ini berada di bagian bawah untuk menempatkan spul dan rumah spul. Ujung sekoci menangkap benang atas pada waktu jarum berada di depannya, sehingga ikatan antara benang atas dan benang bawah seimbang. Pengisian benang pada sekoci sebaiknya jangan terlalu penuh, tetapi isilah 3/4 dari kapasitas benang. Perhatikan kepadatan gulungan karena hal ini akan berpengaruh pada penjahitan. Pengoperasian mesin jahit memerlukan , pengetahuan dan keterampilan. Keterampilan menjalankan mesin jahit perlu dilengkapi dengan pengetahuan cara mengatasi kemacetan dan kerusakan pada mesin jahit. Penyebab kemacetan dalam proses menjahit adalah: 1. Kesalahan penyetelan tekanan sepatu/roda. Tekanan sepatu berfungsi untuk menekan bahan yang dijahit. Penekan ini dapat berupa sepatu atau roda yang bersentuhan dengan gigi kerja. Penekan sepatu harus disetel secara teliti, hati-hati, dan sesuai dengan bahan yang akan dijahit. Apabila pengaturan sepatu atau roda tidak tepat maka hasil jahitan tidak baik. Jika tekanan terlalu kuat, maka penekan atau roda akan membekas pada bahan yang dijahit (terutama pada kulit yang sensitif). Penyetelan dilakukan dengan cara memutar ke arah kanan (searah jarum jam) untuk bahan tebal, memutar ke arah kiri untuk bahan tipis. Penyetelan sepatu atau roda perlu pengalaman dan kecermatan sehingga menghasilkan tekanan yang seimbang. 2. Kesalahan penyetelan tekanan dan alur benang. Penyetelan tekanan benang perlu pengalaman, terutama dalam menyesuaikan posisi benang atas maupun benang bawah. Bila penekan benang atas terlalu kendor mengakibatkan tekanan benang pada sekoci tidak seimbang. Hal ini menyebabkan proses pengaitan benang terlambat, sehingga benang atas terlalu masuk kedalam blok sarangan. Untuk mengatasi kesalahan ini, tekan dan putarlah sekrup penekan kearah kanan sampai mencapai tekanan yang seimbang. Penyetelan dilakukan pada benang atas maupun pada benang bawah, misal penyetelan benang pada sekoci. Penekanan benang pada alur juga harus sesuai, dan masukkan benang melalui alur-alur benang yang sudah ditentukan. Alur benang pada mesin jahit adalah sebagai berikut: 1). Tempat benang Kriya Kulit 259
  • 259. 2). Ketegangan benang 3). Penekan 4). Piringan penekan benang 5). Penuntun benang 6). Pengungkit benang (ke atas-ke bawah) 7). Pengatur benang masuk padajarum 8). Jarum. 3. Kesalahan penyetelan sekoci Yang perlu diperhatikan dalam penyetelan sekoci adalah setelan kedua bagian per harus seimbang, sehingga kedua belitan dapat saling mengikat. Penyetelan sekoci perlu hati-hati karena sekoci terdiri beberapa komponen pendukung. Per sekoci merupakan komponen penting sebagai penekan benang bawah. Bila per sekoci terlalu keras maka benang tidak dapat menahan, sehingga menyebabkan benang bawah putus. Tindakan yang harus dilakukan adalah mengendorkan sekrup penekannya. Permasalahan yang sering terjadi pada sekoci antara lain ; per sekoci tidak berfungsi, per stabilisator tidak berfungsi, salah isi atau salah putaran pada benang sekoci, cara mengetahui tekanan sekoci yang tepat adalah dengan menarik benang dan dirasakan ada tegangan atau tidak. Tegangan tidak boleh terlalu keras atau terlalu lunak. Memasukkan sekoci pada sarangan harus hati-hati, jangan sampai sekoci jatuh karena sering mengakibatkan patah tangkainya, kendor per atau lepas benang pada spulnya. 4. Jarum rusak Apabila pada saat menjahit, jarum yang digunakan rusak, patah atau tumpul maka proses penjahitan harus dihentikan. -Ujung jarum yang masih baik -Ujung bengkok -Ujung tumpul Penggunaan jarum bengkok atau tumpul akan merusak produk yang dijahit. Jarum tumpul pada saat menembus bahan akan menarik bahan sehingga membuat tusukan tidak beraturan. Tindakan yang dilakukan apabila terjadi permasalahan seperti ini adalah menghentikan penjahitan dan mengganti jarum yang tajam sesuai ukuran. Jarum merupakan komponen vital pada mesin jahit, maka perlu ketepatan dalam menentukan ukuran jarum yang akan digunakan. Permasalahan yang timbul akibat kesalahan dalam menentukan ukuran jarum antara lain: Jarum tidak bisa menembus bahan, jahitan loncat-loncat, jarum tidak bisa mengikat benang dan jarum mudah patah. Yang perlu diperhatikan dalam menentukan ukuran jarum, jenis bahan yang akan dijahit. Hal ini penting agar pada saat penjahitan dapat Kriya Kulit 260
  • 260. berjalan lancar dan sempurna. Terkadang satu jarum digunakan untuk bermacam-macam bahan, seperti: kain, kulit atau imitasi sehingga ketepatan tusukan tidak sebanding dan hasilnya tidak rapi. Ukuran-ukuran jarum berdasarkan penggunaan : 1). Ukuran jarum a). Jarum no. 9 digunakan untuk menjahit kain sutra, saten, paris dan kain sejenis. b). Jarum no. 11 digunakan untuk menjahit lanin, teteron, polyter. c). Jarum no. 13/14 digunakanuntuk menjahit sprei, blacu, katun. d). Jarum no. 16 digunakan untuk menjahit kain kasar, drill, woll dan kain sejenis. e). Jarum no. 18 digunakan untuk menjahit kain kasur, jean dan kain sejenis. f). Jarum no. 21 digunakan untuk menjahit kain karung, terpal dan bahan sejenis. 2). Ukuran jarum pada contoh: Jarum yang digunakan untuk menjahit kulit dimulai dari no.60 sampai dengan 140. Ukuran jarum no.60 digunakan untuk menjahit barang yang tipis atau bahan baku dengan ketipisan kulit tertentu. Apabila bahan tebal maka kita harus menggunakan ukuran jarum yang lebih besar. Dengan menggunakan jarum dan benang yang sesuai maka akan menghasilkan jahitan yang kokoh dan menarik. Jangan sekali-kali menggunakan jarum yang tidak sesuai dengan spesifikasi bahan yang akan dijahit. 5. Kesalahan dalam memasang jarum Pemasangan jarum yang salah akan mempengaruhi baik dan buruknya hasil jahitan. oleh karena itu saat pemasangan jarum harus benar. Kesalahan pemasangan jarum mengakibatkan jahitan meloncat- loncat, tidak terikatnya jalinan benang atas dan benang sekoci, tusukan jarum tidak tepat, jarum patah atau bengkok. Cara memasang jarum yang benar: 1). Pastikan jarum yang akan dipakai tidak bengkok atau tumpul. 2). Pastikan pada tiang jarum terdapat sekrup pembatas atau pin. 3). Kendorkan sekrup klem penjepit jarum. 4). Masukkan jarum dengan posisi bagian pangkal jarum yang datar menghadap ke kanan atau sesuai tempat jarum. 5). Masukkan pangkal jarum sampai menempel pada belahan batang jarum pada pin pembatas. 6). Bila kedudukan jarum sudah pas dan benar maka kencangkan sekrup klem penjepit jarum. Kriya Kulit 261
  • 261. Gambar 32, Mengencangkan sekrup klem penjapit jarum 6. Penggunaan lem yang berlebihan Pemberian lem pada kulit yang berlebihan akan mengakibatkan: 1). Jahitan meloncat-loncat 2). Jahitan kedua benang, yaitu benang atas dan sekoci tidak bisa mengikat 3). Memecahkan lilitan benang 4). Jahitan tidak rapi. Cara memberi lem agar tidak berlebihan: 1). Tentukan bidang yang akan dilem. 2). Beri lem pada bidang yang akan di lem dengan menggunakan kuas supaya tipis dan merata. 3). Angin-anginkan sampai kering. 4). Lipat dan rakit kemudian ratakan bidangnya supaya mudah dalam penjahitan. Bila menggunakan lem karet alam atau latex, bidang yang sudah dioles lem ditunggu setengah kering kemudian dilipat atau dirakit. Dianjurkan menggunakan lem yang bersifat sementara, seperti lem latex atau lem krep. Hal ini memudahkan pembukaan bila terjadi kesalahan perakitan. Pengertian Jarum Jarum adalah alat dari bahan logam yang berfungsi untuk membuat tusukan dan mengaitkan benang atas dan bawah menjadi ikatan jahitan. Jarum jahit terdiri dari: 1). Jarum Kain Jarum yang digunakan untuk menjahit kain atau cloth point needles. Jenis jarum ini mempunyai ujung yang bulat, tidak mempunyai pinggiran yang tajam dan dirancang untuk mendapatkan lubang tusukan yang bulat pada bahan. Hal ini penting untuk menjahit kain karena jarum Kriya Kulit 262
  • 262. ini tidak menyobek kain yang dapat melemahkan kekuatan kain. Jenis jarum ini hanya dapat untuk menjahit kulit yang tipis karena ujung jarum tidak dapat memotong material kulit bahan. Apabila bahan sedikit tebal dapat menimbulkan beban yang berat pada ujung jarum. 2). Jarum Kulit Jarum yang digunakan untuk menjahit kulit atau leather point needles. Jenis jarum ini didesain untuk dapat memotong bahan yang padat seperti kulit atasan dengan gesekan atau beban yang minimal pada jarum. Jarum seperti ini biasanya mempunyai pinggiran yang tajam dan dibuat dengan bermacam-macam bentuk sesuai dengan kebutuhan. Macam-Macam Bentuk Jarum Kulit Gambar 33, Diamond Untuk kulit Gambar 34, Triangular Point Unluk kulit Gambar 35, Buff Keterangan gambar: 1. Buff adalah pangkal jarum. 2. Shank Bagian terbesar dari jarum yang akan diselipkan ke dalam tempat jarum pada mesin, kemudian dikuatkan dengan sekrup. Shank mempunyai bentuk, diameter dan panjang yang bermacam-macam.Tetapi yang penting bentuk shank harus sesuai dengan mesin, missal: Kriya Kulit 263
  • 263. Gambar 36, Jarum berbentuk silinder Kriya Kulit 264
  • 264. BAB VIII 9. SK : Menjahit kulit dengan mesin KD : 4. Penjahitan Pada dasarnya proses menjahit dimaksudkan untuk menggabungkan dua bagian atau bidang yang terpisah. Namun dalam dunia kerajinan hasil jahitan menentukan nilai jual produk. Artinya, disamping kualitas kulit, pertimbangan dan penilaian konsumen dalam memilih produk adalah kerapihan dan keserasihan teknik jahit produk yang ditawarkan. Dengan kata lain teknik jahitan merupakan salah satu unsur dekoratif dan yang memberikan nilai tambah dan tak bisa diabaikan, karena memerlukan pengerjaan yang cermat dan teliti. Penjahitan bisa dilakukan secara masinal maupun manual. Seringkali penjahitan dengan menggunakan tangan dianggap lebih bernilai daripada penjahitan menggunakan mesin. Dalam pengerjaan kerajinan yang memang mengutamakan pengerjaan tangan. Akan tetapi ada jenis pekerjaan tertentu dalam penjahitan yang sebenarnya lebih baik dikerjakan oleh mesin dari pada menggunakan tangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses penjahitan a. Jenis-jenis benang jahit Benang jahit ada dua golongan, yaitu benang buatan pabrik dan benang yang terbuat dari kulit. Machine made thred Merupakan benang buatan pabrik yang terbuat dari serat alam seperti linen, katun, sutera, atau bahan buatan (man made fibers). Linen lebih kuat dari katun, akan tetapi benang dari bahan katun mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada benang dari linen. Kebanyakan bahan buatan lebih kuat dari pada linen maupun katun. b. Macam-macam jarum kulit Ada dua golongan jarum jahit kulit, yaitu jarum mesin tangan dan jarum tangan. 1) Jarum mesin (machine needles) Ukuran jarum, benang, dan panjang jahitan memiliki hubungan yang erat meliputi faktor-faktor jenis pekerjaan, material, dan kemampuannya. Misalnya, untuk koper jarum yang digunakan harus besar, benangnya juga besar, dan jarak jahitan mesti lebar-lebar supaya tidak menyobek kulit, dan kelihatanya kekar serta kuat. Sebaliknya untuk kebanyakan barang kulit (antara lain tas dan dompet), sering digunakan jarum dan Kriya Kulit 265
  • 265. benang kecil, dengan jarak jahitan pendek-pendek agar kelihatan manis. Ukuran benang harus sesuai dengan ukuran jarum. Biasanya diameter benang kurang lebih 40% dari ukuran jarum. Ukuran Katun Sutera Benang Linen jarum/needle sintetis size 80 100-80 140 200-150 70 70-60 120 180-120 80 60-50 100 120-100 90 50-40 80 100-80 70 100 40-30 70 80-60 60 110 30-24 60 60-50 50 120 20 59 50-40 40 130 12 40 40-30 35 140 10 30 30-20 30 Tabel 1 kuran Jarum Benang 2) Jarum tangan (harness needles) Terdiri dari jarum biasa berbagai ukuran seperti jarum di atas bila digunakan untuk menjahit dengan benang (thread needles), dan jarum anyam benang (lacing needles) yang sering dipergunakan adalah jarum pusut atau uncek atau jarum anyam khusus yang tidak bermata atau berlubang. c. Macam-macam mesin jahit Terdapat macam-macam mesin jahit kulit. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, kita harus mengetahui jenis mesin jahit yang cocok untuk digunakan, akan tetapi ada juga mesin jahit yang bisa digunakan untuk menjahit lebih dari satu produk. Berikut ini adalah jenis-jenis mesin jahit: 1) Mesin jahit datar/papan/biasa Digunakan untuk menjahit barang yang permukaanya rata/datar. 2) Mesin jahit bumbung Digunakan untuk memudahkan memasang dan menjahit bagian atas yang tertutup. 3) Mesin jahit cangklong Kriya Kulit 266
  • 266. Digunakan untuk memudahkan penjahitan potongan atasan yang tertutup atau tas. Pengerjaanya mudah karena dapat diputar-putar. 4) Mesin jahit zigzag Digunakan untuk menjahit barang yang permukaanya datar/rata dengan jahitan zigzag. 5) Mesin jahit doorani dan mesin jahit aflap Digunakan khusus untuk menjahit sepatu karena mesin jahit kulit lainnya tidak bisa melakukan jahitan untuk sepatu yang terlalu berat. Tahap-tahap dalam penjahitan Penjahitan pada dasarnya terdiri dari proses-proses sebagai berikut: 1. Persiapan a. Mengecek jumlah potongan komponen sekaligus mengecek kulaitas kultinya. b. Mewarnai bagian tepi yang dibiarkan terbuka, tidak dilipat, atau tidak dibungkus. Pewarnaan pinggir ini ada yang dilakukan setelah potongan bahan (sebelum penyesetan), ada juga yang dilakukan setelah penjahitan (finishing). c. Memberi tanda (Marking), yaitu dengan membuat tanda ukuran barang dan membuat pelobangan atau tanda petunjuk jahitan yang dilakukan agar jahitan lurus dan rapi. Beberapa alat yang digunakan sebagai alat untuk penanda jahitan antara lain: Dengan pricks mark (tanda tusukan/titik), pricking awal (alat pencocok) atau stich marker. Penandaan menggunkan rader (pricking wheel) yang memiliki berbagai jenis mata untuk memberi tanda jarak penjahitan. Penandaan menggunakan uncek yang memiliki berbagai jenis bentuk ujungnya. Menandai mengunakan Ballpoint atau kapur yang digariskan di atas kulit apabila jenis kulit yang digunakan tidak bisa ditandai dengan pricks awal (misalkan kulit Suede). Membuat lubang jahitan dengan alat pelubang (punch) biasanya untuk jahit hias. d. Menyeset dan melipat kulit yang akan dijahit/disambung jahitan e. Memilih benang, jarum, atau mesin jahit yang sesuai 2. Tahap penjahitan 3. Pengerjaan jahitan Dalam pengerjaan menjahit, terdapat dua metode yang diklasifikasikan berdasarkan penggunaan alatnya, yaitu: a. Teknik jahit masinal. b. Teknik jahit manual. Kriya Kulit 267
  • 267. a.Teknik jahit masinal Menjahit secara masinal bisa diterapkan pada semua jenis produk, baik produk sepatu maupun produk non sepatu (tergantung yang dirancang). Sedangkan proses pengerjaanya tidak jauh berbeda dengan cara menjahit pakain dari bahan tekstil. Yang perlu diperhatikan adalah penggunaan benang yang dipakai. Benang yang dipergunakan harus memenuhi persaratan kuat, ulet, dan lemas. Terdapat dua mesin jahit yang bisa digunakan, yaitu mesin jahit biasa, dan mesin jahit standar industri. Akan tetapi jarang sekali pengrajin yang menggunakan mesin jahit biasa karena mesin jahit ini didesain untuk bahan tenun atau kain. Walau mesin jahit biasa bisa digunakan, akan tetapi terbatas hanya untuk menjahit kulit tipis seperti kulit garmen atau pakaian. Dan yang paling sering digunakan adalah mesin jahit standar industri. Kriya Kulit 268
  • 268. BAB IX 10.SK : Memasang assesoris KD : Menyiapkan tempat kerja, bahan, dan alat Tempat kerja disesuaikan dengan kebutuhan dalam pemasangan assesoris URAIN MATERI Aksesori produk kulit adalah komponen pelengkap yang sangat diperlukan sebagai hiasan (daya tank) maupun penguat pada suatu produk kulit. Aksesori kebanyakan terbuat dan bahan logam yang dapat dibeli di toko-toko kulit, Pemasangan aksesori harus hati-hati, tepat dan cermat. Pemilihan aksesori harus serasi dengan produk yang sedang dibuat. Siml ynng .pn/ing Icpnt untuk mcmilih aksesori ndalali pada saat mulai proses perencanaan atnu pembuatan desain. Jenis dan Fungsi Aksesoris Dililiat dari bahan yang digunakan, jenis-jenis dan fungsi aksesori pada produk kulit dapat dibedakan menjadi dua: a Aksesoris dari bahan logam, terdiri dari: 1). Kancing tekan (drukknop) Digunakan sebagai pengaman pada produk agar bagian yang diberi kancing dapat dibuka dan ditutup dan juga sebagai penghias misalnya pada produk: tempat kacamata, dompet dan lain.-lain. 2). Keling Digunakan untuk merangkai komponen satu dengan yang lain dan juga berfungsi sebagai penghias misalny? pada produk ikat pinggang, tali bahu dan Jain-Jain. 3). Mata ayam Digunakan untuk melindungi bngian lubang pada tempat taJi dan juga berfungsi sebagai penghias yang dipasang tus wanita atau tas sekoJali. 4) Gesper Digunakan sebagai pengliubung antara ujung satu dengan ujung yang lain dengan saling mengkait. Benda ini berfungsi sebagai pengancing dan penghias. Biasanya aksesori ini diterapkan pada produk ikat pinggang, tali bahu, lidah pada tutupi tas dan tutup bahu. 5). Kunci Gunanya sebagai pengunci pada produk tas. Biasanya diterapkan pada tas (cantor, tas wanita, tas koper dan lain sebagainya. 6). Ring Ring ini terdiri dari beberapa bentuk yaitu ring D, ring bulat, ring persegi, ring pcngait dan sebagainya. Masing ring tersebut mempunyai kegunaan tersendiri seperti: Kriya Kulit 289
  • 269. a). Ring D Gunanya untuk mengkaitkan tali bahu pada tas. b). Ring persegi Untuk mengkaitkan tali bahu dan pegangan pada tas. Biasanya penerapannya pada tas kantor. c). Ringbulat, Gunanya untuk mengkaitkan produk-produk kecil seperti gantunga kunci dan lain sebagainya. .Mendeskripslkan Aksosori Barang Kulit 7). Besi pengnat Digunakan untuk membantu konstruksi pada pembuatan produk agar llebih kuat. Biasanya aksesori besi penguat ini diterapkan pada tas- tas yang berisi beban berat, contoh: Tas kantor penguatnya terletak pada pegangan. b. Aksesori dari bahan non logam, terdiri dari: 1). Ritsliting Rata-rata produk kulit menggunakan ritsliting sebagai pengancing. Disamping itu ritsliting juga berfungsi sebagai aksesori. 2). Gasper plastik Gunanya sebagai aksesori dan penghubung antara ujung satu dengan yang lain dengan saling mengkait. Aksesori jenis ini biasadigunakan untuk produk kulit yang harganya relatif murah, Contoh: Tas pinggang, tas sekolah dan lain sebagainya. 3). Siku sudut Digunakan untuk menghias bagian sudut yang siku, dan berfungsi sebagai penutup sambungan. Biasanya siku sudut diterapkan pada produk: map, dompet dan tein-lainnya. Ambar Memeriksa kwalitas produk, produk yang sudah jadi, perlu diperiksa dicermati seperti jahitannya, pemasangan asesoris apakah sudah sesuai dengan desain Kriya Kulit 290
  • 270. BAB X 11. SK : Membentuk produk alas kaki dari bahan kulit secara manual KD : 1) Menyiapkan tempat, bahan, dan peralatan a). Penyiapan Tempat : Untuk menyiapkan tempat dalam produk alas kaki secara manual, diperlukan tempat kerja yang ergonomic, mengingat pekerjaan ini lebih banyak menggunakan pisik seperti misalnya bagaimana posisi tubuh pada waktu momotong harus benar, mengingat pekerjaan ini rutinitas b). Penyiapan Bahan : Bahan yang harus disiapkan dalam produk alas kaki secara manual Sebagai berikut : Bahan pokok yang digunakan dalam pembuatan Sepatu adalah potongan kulit tersamak dan bahan-bahan lainnya, pembentukan sepatu dengan menempelkan insol pada atasan, pencetakan manual sepatu dengan cetakan sepatu, pengencangan cetakan dan pengiriman hasil pekerjaan yang telah selesai. Untuk menyiapkan potongan kulit dan bahan-bahan lainnya perlu pemahaman pekerjaan yang perlu dilakukan antara lain paket diterima, diperiksa, dihitung, sesuai prosedur kerja seperti pemeriksaan kualitas paket potongan bahan. Paket diterima sesuai prosedur kerja. Paket dibuka dan disiapkan sesuai kebutuhan. Menyiapkan potongan kulit dan bahan lainnya Paket potongan kulit atasan (upper) dikelompokkan menurut model sepatu secara garis besar Plain Oxpfod, Plain Derby, Plain Monk, Plain Slipper dan pengembangan dari keempat model Bahan untuk atasan sepatu Bahan untuk atasan (upper) mengenai pemanfaatan bahan lapis (futter) yaitu menggunakan bahan kulit sapi samak krom, bahan ini sifatnya lunak, tipis dan fleksibel. Selembar kulit samak mempunyai beberapa bagian yaitu; bagian leher, bagian punggung dan bagian perut. Bagian punggung merupakan bagian yang terbaik karena mempunyai serat padat dan kuat sedangkan bagian leher seratnya melebar dan kendor pada bagian perut seratnya paling kendor. Ciri kulit krom bidang irisannya berwarna hijau keabu-abuan. Macam kulit krom diantaranya kulit sapi box (rinbox), Kriya Kulit 291
  • 271. kulit kale box (boxcalf) dan kulit krom buaya (krokodilleder). Gambar. 1, Kulit Buaya (Krokodilleder) Gambar. 2, Atasan sepatu (upper) dengan bahan kulit krom a) Bahan kulit bawahan sepatu Bahan kulit bawahan sepatu dari kulit samak nabati atau semi krom dengan ketebalan 2,5 – 3,5 mm. Kriya Kulit 292
  • 272. Gambar. 132 Kulit sapi Kulit sapi samak nabati warnanya alami, coklat muda kulit ini cocok sebagai bahan untuk stempel (handruk). Untuk bahan pembuatan sepatu sebagai bahan pembuat pita (rahmen), penguat depan (vorrder kappe). Penguat belakang (hinter kappe) dan untuk bantalan sol dalam (deekdronsole) juga sebagai bahan untuk kriya kulit hias. Selembar kulit sol samak nabati dapat dibagi menurut fungsinya. Bagian leher untuk sol dalam, bagian perut untuk pita, bagian punggung untuk penguat depan dan penguat belakang dan untuk bahanhaksepatu dan hak luar. Brand-und Zwisechensuble Croupon Hinterkappe Laufabsat Rahmen Gambar. 3, Struktur Kulit b) Bahan-bahan lainnya Bahan lainnya yang digunakan pembentukan sepatu yaitu, bedak fungsinya untuk menaburi atasan (vutter) atau acuan agar atasan dan Kriya Kulit 293
  • 273. acuan ada batas/rongga, fungsinya untuk mempermudah melepas acuan setelah proses pembentukan sepatu. 1) Kentang Lem yang terbuat dari bahan kentang digunakan untuk merekatkan penguat belakang dan lem yang digunakan untuk merekatkan sol menggunakan lem sintesis. Gambar 4, Lem Kentang 2) Benang Pechdraht Jenis benang ini sangat ulet dan kuat digunakan untuk menjahit pita dan sol sepatu (bawah sepatu). c). Alat pembentukan produk sepatu Alat yang perlu disiapkan dalam pembuatan sepatu antara lain, tang zwicken; jenis tang ini ada 2 macam tang zwicken berukuran 5 mm pada ujungnya gunanya untuk menarik kulit pada sudut-sudut yang sempit pada proses mencetak sepatu. Bentuk ujung tang ini bergerigi sifatnya Kriya Kulit 294
  • 274. menggigit kulit erat dan kencang, sehingga menariknya dapat maksimal pada bawah kepala tang dibuat rata fungsinya sebagai alat pemukul paku. Tang yang berukuran 1 cm fungsinya untuk membentuk/mencetak sepatu pada proses awal. Gambar. 6, Paku Pembentukan Sepatu Gambar. 5 Tang Zwicken a) Paku besi Ukurannya diameter 1, 2 – 1,4 mm panjangnya 25 mm. Pada proses pembentukan sepatu kedalaman ujung sepatu masuk ke dalam acuan kurang lebih 5 mm paku ini sebagai alat bantu menekan atasan sebelum di jahit atau direkatkan dengan lem. b). Catut Alat ini digunakan untuk mencabut paku pada proses penjahitan pita yang tertancap pada proses pencetakan sepatu. Kriya Kulit 295
  • 275. Gambar 7, Catut Gambar 7, Catut c) Pukul besi Digunakan untuk menancapkan dan membengkokkan paku, memukul-mukul untuk pembentukan sepatu agar sesuai dengan cetakan/acuan untuk meratakan sol setelah pemasangan pita. Sebagai alat pukul pemakaian nagel dan memukul melubang nagel dan lain-lain. Selain alat-alat tersebut di atas adalah jarum jahit tangan, pisau potong/pisau seset. Gambar. 8 Pukul Besi Kriya Kulit 296
  • 276. Bahan Sol Sepatu Dalam pembuatan Sepatu dibutuhkan untuk pengeras sepatu yang disebut sol dalam dan pengeras sepatu (alat pembentukan sepatu) dengan tujuan sebagai berikut : 1. Mengetahui bahan untuk sol dalam dan pengeras sepatu (bahan pembentukan sepatu). 2. Mengetahui alat untuk sol dalam dan pengeras sepatu (alat pembentukan sepatu. 3. Membuat sol dalam. 4. Membuat pengeras sepatu. 2). Membentuk Sepatu Langkah awal membentuk sepatu, harus mengetahui bahan, alat untuk membuat sol dalam (brandshole) dan untuk membuat penguat/ pembentuk sepatu. Sol dalam adalah sol yang letaknya paling dalam setelah kaki yang hanya dibatasi oleh lapis sol dalam dengan kaos kaki apabila sepatu dipakai. Sol dalam merupakan pondasi sepatu yang berkonstruksi dengan atasan, pita (rahmen) dan sol bawah/sol yang dipakai untuk jalan (Lauftsohle). 1. Pengeras sepatu ada dua macam yaitu pengeras belakang (hinterkappe) dan pengeras sepatu depan (vorderkappe). Pengeras belakang yang berfungsi menegakkkan sepatu bagian belakang dan melindungi tumit kaki. Letaknya diantara atasan dan lapis belakang sepatu. Pengeras depan fungsinya menegakkan ujung sepatu depan dan melindungi jari-jari kaki. Letaknya didalamnya antara atasan dan lapis pada ujung sepatu. 2. Bahan untuk membuat sol dalam dan pengeras sepatu Bahan yang digunakan untuk membuat sol dan pengeras sepatu adalah kulit sapi samak nabati. Untuk sol dalam, kulit harus kuat, lunak dan fleksibel. Kulit yang cocok pada bagian kulit leher dengan ketebalan 2,5 – 3,5 mm sedangkan untuk pengeras depan dan belakang kulit pada bagian perut. Kriya Kulit 297
  • 277. Gambar 9 Bahan untuk sol dalam dan penguat sepatu 3. Alat untuk memotong sol dalam dan pengeras sepatu Alat potong bahan untuk sol dalam dan pengeras sepatu adalah pisau yang terbuat dari besi baja. Bagian tajamnya sedikit melengkung agar mudah digunakan. Pegangan pisau potong dilapisi kulit supaya telapak tangan pekerja pemotongan bahan tidak lecet/terluka akibat meng- gunakannya. Setelah selesai pemotongan bahan pisau ditajamkan lagi untuk memperlancar pekerjaan selanjutnya, menjamin hasil potongan tetap rata dan licin. Alat pengasah/penajam pisau yaitu kikir bulat. Gambar 10, Pisau potong dan alat penajam pisau Kriya Kulit 298
  • 278. 4. Membuat sol dalam a) Memola Cara memola sol dalam (brandshole) adalah letakkan bahan diatas meja, letakkan diatasnya telapak acuan dan polalah sesuai dengan telapak acuan kanan dan kiri. Tangan kiri menekan acuan tangan kanan memola. Gambar 11, Memola bahan sol bagian dalam b) Memotong Memotong bahan untuk sol dalam, gunakan pisau potong dari arah depan menuju ke belakang (ke arah mendekati badan). Hasil potongan ditarik ke atas dan sisa potongan ditekan ke bawah. Pada potongan diberi sisa kira-kira 3 mm dari garis pola. Gambar 12 Memotong bahan sol bagian dalam Kriya Kulit 299
  • 279. c) Meratakan Permukaan bahan sol dalam diratakan dengan menggunakan potongan pecahan kaca. Alat tradisional ini sederhana, murah, tanpa reparasi dan setiap waktu mudah gantinya. Misalnya dari pecahan kaca jendela, kaca cermin yang tepinya tidak teratur. Dapat juga meratakan bahan ini dengan amplas manual atau amplas mesin. Gambar 13, Meratakan bahan sol dalam dengan pecahan kaca d) Menempel bahan sol dalam pada acuan sepatu Letakkan acuan di atas bahan sambil melihat garis pola pada acuan, balikkan keduanya (telapak acuan atas) letakkan pada paha (posisi duduk) kalungkan sabuk dan ujung sabuk ditekan dengan kaki kiri. Kemudian pakulah 3 bagian yaitu depan, tengah dan belakang, paku dibengkokkan sehingga bahan tertempal pada acuan dengan stabil. Kriya Kulit 300
  • 280. Gambar 14. Menempel bahan sol dalam pada acuan sepatu e) Memasang sol dalam sesuai pola acuan Apabila bahan sol dalam sudah tertempel dengan stabil silahkan anda potong sesuai dengan telapak acuan. Jari tangan kiri memegang acuan dan menekan bahan agar rapat pada acuan, tangan kanan memotong dengan pisau potong. Gambar 15. Memotong sol dalam sesuai acuan f) Menyeset sol dalam Alat yang digunakan untuk mengeset sol dalam adalah pisau seset sol yang mata pisaunya lebar 6 mm, batas luar ada penahan (pada ujung pisau) fungsinya untuk menekan lebar sesetan. Lebar sesetan sekitar 6 mm dan kedalaman 2 mm. Ketebalan antara sesetan luar dan dalam kira-kira 6 mm mulai dari hak (abzat) sepatu. Sesetan dalam bersudut 45 derajat. Fungsi sesetan luar untuk lipatan atasan sepatu (obaleder). Sesetan dalam untuk jahitan antara sol dalam dan pita (rahmen). Garis pada sol dalam batas depan hak (abzat) sepatu. Gambar 16. Alat penyeset sol dalam Kriya Kulit 301
  • 281. Gambar 17. Sesetan sol dalam untuk jahitan pita Membuat penguat sepatu Pengeras sepatu (kappe) merupakan bagian sepatu yang tidak kelihatan langsung letaknya ditengah atasan sepatu (oberleder) dan (futter). Pengeras depan Penguat depan bentuk lurus (vorderkappe) ada tiga bentuk yaitu bentuk lurus, sayap burung dan bentuk cekung untuk sepatu pantofel. Untuk penguat depan kulit tidak tebal, fleksibel kuat. Setelah kulit Penguat depan bentuk sayap dipasang pada cetakan/ burung acuan ditipiskan dengan pisau, selanjutnya dihaluskan/ diratakan dengan pecahan kaca dengan ketebalan 0,5 mm. Penguat depan bentuk cekung Kriya Kulit 302
  • 282. Gambar 18 Penguat sepatu Gambar 19 Cetakan penguat sepatu 5. Membuat penguat sepatu belakang (hinterkappe) a) Memola Ambillah pola, tempatkan di atas kulit samak nabati pada bagian perut, polalah dengan alat pensil. b) Memotong Potongan penguat belakang sepatu caranya sama dengan memotong sol dalam. c) Mengeset Untuk mendapatkan sesetan yang bagus pisau harus tajam. Hasil sesetan miring lebar 12 mm sampai dengan 15 mm, fungsi penipisan ini untuk mempermudah pembentukan/pencetakan penguat belakang. Kriya Kulit 303
  • 283. Gambar 20. Menyeset bahan penguat belakang d) Mencetak penguat sepatu Sebelum penguat sepatu dicetak, bahan/kulit dibasahi dulu air hangat, diremas-remas agar bahan/kulit menjadi lemas. Alat untuk mencetak penguat ini yaitu acuan sepatu, tang zwicken, staples, paku, catut dan palu besi. Untuk mencetak penguat ini kulit setelah dibatasi ditempelkan pada acuan dan distaples pada bagian atas, bagian bawah dilipat ke telapak acuan dengan penguat paku. Penarikan/pelipatan kulit dimulai pada ujung tumit dan dilanjutkan hingga seluruh kulit penguat terlipat, paku dibengkokkan ke dalam. Hasil cetakan yang masih basah dipukul-pukul lalu dikeringkan dengan lampu dengan bahan bakar spiritus. Mengeringkan penguat sepatu, setelah kering pengeras dipotong menurut ketinggian mukaan sepatu, ditipiskan/dirapikan ketebalannya dan diratakan dengan amplas/pecahan kaca. Setelah penguat sepatu selesai dicetak maka dilepas untuk diproses selanjutnya. Kriya Kulit 304
  • 284. Gambar 21 Mengeringkan penguat sepatu Gambar 22,. Cetakan penguat belakang sepatu Kriya Kulit 305
  • 285. Setelah penguat sepatu selesai dicetak maka dilepas untuk proses selanjutnya. Gambar 23, Penguat/pengeras yang telah tercetak 3). Mencetak Manual Sepatu ( atasan Sepatu ) dengan cetakan sepatu a. Uraian Materi Teknik memasang manual sepatu/atasan (oberleder) pada cetakan sepatu/acuan yaitu memasang/merakit atasan jadi sol dalam dengan cara melipat bagian bawah atasan dengan menariknya dengan alat tang zwicken ditahan/dikencangkan paku pada cetakan sepatu. Apabila diperlukan penyesuaian ulang (zwicken dasar) mengepaskan cetakan kanan dengan atasan sangat diperlukan, kesamaan pemasangan kedua pasang atasan dan Mencetak manual sepatu dengan cetakan sepatu a) Menyiapkan atasan (oberleder) dan memeriksa acuan Kriya Kulit 306
  • 286. Atasan (oberleder) sebelum di cetak dirapikan jahitannya (mengikat benang akhir jahitan). Memeriksa cetakan /acuan, sebelum unsur mencetak periksa kesesuaian dengan manual sepatu agar kualitas konstruksi dapat maksimal. Gambar 24, Atasan sepatu b) Memasang sol dalam Setelah penguat dilepas dari cetakan maka sol dalam diratakan ulang dengan amplas dari bekas-bekas tusukan paku pada waktu mencetak penguat (kappe). Kemudian dipasang sesuai keadaan semula, dipaku depan, tengah dan belakang pada acuan bagian bawah. Gambar 25. Memasang sol dalam c) Memasang penguat sepatu (kappe) Sebelum atasan dilipat kedalam/mengopen (zwicken), memasang pengeras/penguat. Kriya Kulit 307
  • 287. Gambar 26, Memasang penguat belakang d) Menaburi bedak Pekerjaan ini agar atasan dan acuan tidak lengket, sehingga mempermudah melepas acuan dari atasan. Gambar 27, Menaburi bedak e) Mengopen (zwicken) dasar Memasang atasan pada acuan, peganglah acuan dengan tangan kiri, atasan dipasang sesuai pola garis bawah mata kaki, ujung atasan ditarik dengan tang zwicken dan kencangkan dengan paku. Kemudian dilanjutkan kedua samping ujung acuan dan kedua samping tangan acuan. Kriya Kulit 308
  • 288. Gambar 28, Zwicken dasar awal Zwicken dasar ini untuk menyamakan openan sepatu kanan dan sepatu kiri. Pada ujung telapak bagian belakang sepatu. Apabila kurang sama/simetris sepatu kanan dan kiri maka dengan mudah diulangi dan disamakan dari keduanya. Gambar 29, Zwicken dasar lanjutan Zwicken ini melanjutkan zwicken dasar dengan memastikan bentuk openan atasan sama/simetris dari sepasang sepatu. Kriya Kulit 309
  • 289. Gambar 30, Zwicken lanjutan f) Memotong sisa lipatan Lipatan kulit atasan hasil zwicken kira-kira 1,2 cm kelebihannya dipotong dengan pisau potong. Gambar 31. Memotong sisa lipatan Gambar 32. Membengkokkan paku dengan palu besi Kriya Kulit 310
  • 290. g) Mengopen lapisan depan Sebelum mengopen lapis depan kulit atas (oberleder) disingkapkan ke atas. Tarik kulit lapis dengan tang pada ujungnya, kuatkan dengan paku lanjutkan ke samping ujung dan seterusnya. Renggangkan sela-sela dipaku dengan drei, rekatkan keduanya dengan lem sintesis. Rapatkan dengan paku dan dibengkokkan ke dalam. Gambar 33. Mengopen lapis depan h) Memasang penguat depan Paku open/zwicken lapis dengan dilepas. Kemudian memasang penguat depan. Penguat/pengeras depan ada 2 jenis bahan. Satu penguat dari kulit dan penguat dan materi nol kulit. Kriya Kulit 311
  • 291. Gambar 34. Memasang penguat depan i) Memplastiskan bentuk Setelah pengopenan selesai, sepatu dipukul dengan menggunakan palu besi agar bentuknya plastis sesuai dengan cetakan/acuan. Gambar 35. Memplastiskan bentuk 4). Mengencangkan cetakan Membuat pita sepatu (rahmen) a. Tujuan Kegiatan Pembuatan pita sepatu yaitu dapat mengencangkan cetakan, dengan urutan sebagai berikut : 1. Membuat pita sepatu (rahmen). Kriya Kulit 312
  • 292. 2. Menjahit pita. 3. Memaku pasak/nagel. b. Langkah Kerja Pembuatan pita sepatu adalah usaha untuk mengencangkan cetakan, agar tidak terjadi pemuaian /kelonggaran dalam cetakan sehingga bisa tercapai ukuran yang dikehendaki, mengencangkan cetakan adalah menguatkan hasil cetakan atasan (upper) dengan sol dalam/insol (bransole) dan pita (rahmen). Bahan yang digunakan benang (pechdraht) dengan menggunakan alat pelubang jahitan (uncek panjang). Dipasang menggunakan jarum dan benang untuk mengikatnya, pemasangan ditempatkan pada bagian hak sepatu (abzat) guna pengencang/penguat digunakan paku pasak/nagel, terbuat dari kayu panjang 14 mm. Sedangkan alat yang digunakan pada pangencangan cetakan yaitu alat pelubang jahit (uncek panjang) gunanya untuk melubangi kulit yang akan di jahit, alat pelubang pasar /paku kayu gunanya juga untuk membuat lubang jahitan, jarum jahit tangan gunanya untuk menjahit sehingga memudahkan memasukan benang ke bagian kulit yang dikehendaki , catut gunanya untuk menarik benang yang agak sulit dikeluarkan sehingga benang mudah dikeluarkan, paku besi gunanya untuk mengencangkan/merapatkan pinggiran supaya tidak mudah tergeser, pisau potong gunanya untuk memotong kulit supaya sesuai dengan ukuran juga untuk merapikan hasil produk dan pisau tulang digunakan untuk memotong juga untuk finising. Kriya Kulit 313
  • 293. Gambar 36, Model Sepatu 5) Memeriksa hasil karya Hasil produk alas kaki yang sudah jadi dipriksa kembali, diperhatikan bentuknya apa sudah sesuai dengan desain pola, sepatu kiri dan kanan sudah sama. Benang-benang yang kurang rapi perlu dirapikan dengan menggunting/ memotong dengan pisau, noda lem yang masih menempel dihilangkan dengan bensin atau dengan karet mentah, priksa bagian dalam sepatu rapikan dengan menekan-nekan dengan tangan dan dilap pakai kain, bagian luar perlu disemir, periksa juga hak atau bagian alas sepatu bila perlu digosok dengan malam supaya lebih licin dan mengkilap. Kriya Kulit 314
  • 294. BAB XI 12.SK : Membentuk produk alas kaki dari bahan kulit secara masinal KD : 1) Menyiapkan tempat, bahan, dan peralatan Dalam proses pembuatan sepatu terdiri dari; pembuatan sepatu bagian atas (upper) dan pcmbuatan sepatu bagian bawah. Proses pembuatan sepatu bagian bawah adalah proses pembuatan sol karet. dengan mcnggunakan mesin sol. Pembuatan sol karet dapat dilakukan dengan menggunakan dua rnesin yaitu: Injection Moulding dan vulkanisasi. Injection moulding adalah proses pembuatan dengan mempergunakan bahan granul atau butiran-butiran karet, Bahan-bahan tersebut dimasak sampai cair, kemudian dialirkan ke dalam cetakan dengan cara disuntikkan. Vulkanisasi adalah proses pemasakan bahan karet menjadi berbagai bentuk sol sepatu. Bahan karet atau karet kompon dicetak menjadi sol sepatu dengan cara ditekan secara konstan, panasi dengan suhu tertentu dan dalam waktu tertentu. Sol sepatu yang dihasilkan dengan proses, injection moulding dan vulkanisasi mempunyai daya rekat yang kuat, karena sol tengah terbuat dari karet atau kulit dan sol luar atau bawah terbuat dari karet cetak. Bahan pengikat antara sol luar dengan sol tengah mempergunakan perekat atau lem. a). Penyiapan Tempat : Tempat kerja disiapkan sesuai dengan kebutuhan, karena memproduksi alas kaki dengan menggunakan mesin perlu ruang khusus untuk menempatkan mesin lengkap dengan peralatan dan listrik, tempatnya harus setiap saat harus dibersihkan karena kalau kotor bisa mengganggu keadaan mesin,mungkin bisa macet Karena kotoran. b). Penyiapan Bahan : Bahan yang harus disiapkan dalam produk alas kaki secara masinal, 315
  • 295. Gb 1,. Mesin cetak injection moulding Mesin, Alat dan Dalian untuk Pembuatan Sol Karet a. Mesin cetak vulkanisasi Bagian-bagian mcsin terdiri dari: 1). Rangka Rangka terbuat dari besi baja dan berfungsi sebagai penguat dasar untuk meletakkan atau melekatknn komponen-komponen mesin cetak vulkanisasi dan sekaligus melindunginya. 2). Acuan Acuan berfungsi untuk meietakkan atau rnemasukkan sepatu bagian alas yang sudah di lasting. Acuan sepatu dapat disesuaikan dengan ukuran sepatu yang akan dicutak. 3). Dudukan cetakan Bagian ini berfungsi untuk meletakkan acuan yang suduh diberi sepatu bagian atas sebagai tempat pencetakan. 4). Mekanik cetakan bawah Bagian mesin yang mendukung terjadinya pencetakan sepatu bagian atas dan sepatu bagian bawah. 5). Penggerak cetakan bawah Bagian ini digunakan untuk mendekatkan cetakan pada telapak acuan pada waktu proses pencetakan sol karet. 316
  • 296. 6). Dudukan acuan Dudukan acuan berfungsi untuk meletakkan acuan agar dapat digerakkan sewaktu pencetakan maupun setelah pencetakan sol sepatu. 7). Cetakan Cetakan berfungsi untuk membentuk bahan (karet) menjadi bentuk sol sesuai dengan ukuran yang telah ditcntukan. 8). Mekanik cetakan samping Mekanik cetakan samping berfungsi untuk mendekatkan dan menjauhkan cetakan pada saat pencetakan dan akhir pencetakan. 9). Mekanik penekan cetakan Mekanik penekan cetakan berfungsi untuk menekan sol karet pada cetakan sehingga kepadatan sol karet dapat betul-betul kuat dan terikat kuat antara atasan dan sol karet. 10).Rangkaian listrik Rangkaian lislrik berfungsi untuk mengalirkan arus (PLN) kc motor listrik sehingga dapat mengoperasionalkan mesin secara sistematik. Arus listrik dapat diubah menjadi tenaga mekanik atau tenaga panas. Gambar 2, Rangka mesin Ketcrangan: 1. Rangka 2. Acuan/ambleng 3. Dudukan cetakan 4. Mekanik cetakan bavvah 5. Penggerak cetaknn bawah 6. Dudukan actian 7. Cetakan 317
  • 297. 8. Mekanik cetakan samping 9. Mckanik pcnckan acunn 10. Kangkaian listrik. .Peralatan untuk pencetakan sol karet pada sistem vulkanisasi 1). Gunting Berfungsi untuk memotong bahan karet atau serpihan sol karet yang menempel pada hasil cetakan. 2), Pisau potong Berfungsi untuk memotong bahan karet yang menempel pada cetakan. 3). Kap Berfungsi untuk membersihkan kotoran yang menempel pada cetakan, 4). Pelarut Berfungsi uniuk membersihkan sisa-sisa karet yang menempel pada cetakan, misal aceton, pelarut lem. c. Bahan vulkanisasi Bahan yang digunakan yaitu karet alam yang sudah mengalami proses pengolahan ditambah bahan-bahan pembentuk lain. Bahan pembentuk berfungsi untuk meningkatkan mutu produk. Adapun bahan yang digunakan adalah kompon atau bahan karet yang homogen samppai plastis. Bahan-bahan pembentuk antara lain: 1). Vulcanizing agent atau bahan pembantu vulkanisasi. Bahan yang digunakan adalah sulfur atau belerang dengan maksud untuk meningkatkan ketahanan terhadap suliu tertentu. 2). Accelerator ritnu balinn iinliik iiicinpcrcc|)!il viilkiiiiisiisi. '3). Activator atau bahan pengaktif. Adalah bahan kimia yang apabila dicarnpur dengan sol karet akan mempercepat vulkanisasi. 4). Softener dan plasticizer atau bahan pelunak dan liat. Dengan ditambah bahan ini, maka homogenitas sol karet akan lebih tinggi. 5), Anti oksidant atau kerusakan bahan karena pengaruh cuaca. Fungsi bahan ini adalah membuat karet menjadi liat, kuat dan tahan terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh fisik atau kimia. v 6). Filler atau bahan pengisi. Bahan ini terdiri dari bedak, kapur, karbon dan sebagainya. 7). Pewarna. Bahan pewarna berfungsi memberi warna pada sol karet selama proses vulkanisasi. 318
  • 298. C. ALAT.BAHANDANKETEKNIKAN 1. Alat a. Mesin cetak sol vulkanisasi b. Gunting c. Pisau potong d. Kap, dan e. Pembersih cetakan 2. Bahan a. Bagian atas sepatu yang sudah di open atau lasting 3. Keteknikan Pembuatan sol karet bisa menggunakan mesin • cetak sol vulkanisasi dan Injection Moulding. Bahan ajar ini hanya akan membicarakan mesin cetak sol vulkanisasi saja. Mesin cetak vulkanisasi merupakan mesin cetak yang mencetak karet kompon menjadi sol sepatu yang langsung merekat pada bagian atas sepatu. Mesin cetak vulkanisasi biasa digunakan untuk sepatu-sepatu berat seperti sepatu tentara, sepatu tambang, sepatu mendaki dan lainnya. Mesin ini mempunyai dua acuan dan' logam yang dapat mencetak secara bergantian. Adapun langkah kerja memasang sol dengan mcsin cctak vulkanisasi adalah: a. Persiapan 1). Lepas atasan/kudungan sepatu dari acuan setelah prose.quot;; pengkasaran 2). Oleskan lem pada seluruh permukaan telapak sol dalam yang akan divulkanisasi dan pada bagian yang dikasarkan. Lakukan dua kali pengolesan dan biarkan sampai lem kering. b. Pencetakan 1). Pasanglah bagian atas sepatu (bagian depan dan belakang) pada acuan sampai tepat. Kuncilah agar acuan tidak bergerak sehingga bagian atas sepatu dapat tercetak pada acuan. 2). Pengaktifan karet kompon Masukkan karet kompon yang terdiri dari beberapa potongan ke dalam cetakan, lalu panaskan dengan suhu yang sudah di tentukan 3). Penempatan acuan pada cetakan Setelah semua potongan karet di alas tcrsui'iin pucln sol cetakan, maka proses berikutnya : a). Letakkan oagian atas sepatu yang telah dipacang pada acuan mcndckati cetakan b). Atur atau iurunkan bagian atas sepatu sesuai dengan posisi sampai menempel pada susunan karet pada cetakan. 4). Pencetakan 319
  • 299. a). Gerakkan cetakan samping menutupi susunan karet kompon pada samping dalam dan samping luar. Gambar 3, Pencetakan sepatu b). Tekanlah tombol sehingga cetakan sol akan bergerak ke atas menekan karet kompon. Proses vulkanisasi terjadi dengan menggunakan tekanan panas yang tinggi sehingga akan merubah susunan karet kompon menjadi pJastis dan mengisi ke seluruh bagian cetakan. Pemasakan karet kompon pada cetakan sol dapat berlangsung dengan waktu 5 sampai 10 menit dengan tekanan 450 kg/cm2sesuai spesiflkasi mesin cetak. Suhu 180° c adalah untuk cetakan col dan suhu 160° c adalah untuk cetakan samping. Sesuai dengan waktu yang ditetapkan, maka secara otomatis cetakan samping akan membuka dan melepas karet. Dudukan acuan akan kembali pada posisi semula, demikian pula sol cetak akan bergerak turun dan tekanan kembali pada posisi semula. c). Lepas sepatu yang sudah di cetak vulkanisasi handlenya dari acuan dengan cara melepas handlenya. Lepas terlebih dahulu acuan bag;an belakang baru kemudian acuan depan. 320
  • 300. Gambar 4, cetak vulkanisasi handlenya Keterangan : 1. Ambleng 2. Atasan/kudungan 3. Tamsin/kudungan 4. Isian hak 5. Potongan karet kompon isian sol (2 buah) 6. Potongan karet kompon so! (1 buah) 7. Potongan karet kompon hak (2 buah) 8. Cetakan samping kanan dan kiri 9. Sole moulding Memeriksa Kualitas produk Langkah penyeJesaian akhir yaitu memeriksa kualitas produk untuk penyempurnaan sepatu antara lain : 1). Bersihkan atau potong sisa kelebihan karet kompon akibat proses vulkanisasi 2). Beri warna pada bagian tepi/penampang dan bagian bawah telapak sepatu. 3). Bersihkan kotoran sisa lem dan warna . 321
  • 301. BAB XII 13.SK : Membentuk produk non alas kaki dan non busana KD : 1) Menyiapkan tempat, bahan, dan peralatan a). Penyiapan Tempat : Tempat diusahakan bersih, rapi sesuai dengan kebutuhan, kalau perakitan komponen dengan mesin penataan peralatan dilengkapi dengan alur listrik yang memadai di seting sesuai dengan kebutuhan, perlu ruang khusus untuk menempatkan mesin, tempatnya harus setiap saat dibersihkan karena kalau kotor bisa mengganggu keadaan mesin mungkin bisa macet karena kotoran. Perakitan komponen manual bisa dimana saja kalau tidak punya ruang khususpun kegiatan bisa dilakukan, b). Penyiapan Bahan : Bahan yang harus disiapkan dalam membentuk produk non alas kaki dan non busana adalah : 1. bahan pokok 2. bahan pembantu 3. bahan pelengkap Masing-masing produk yang akan dihasilkan, penentuan bahan sangat memegang peranan, disini diperlukan kecermatan dan ketepatan memilihnya, hal ini menyangkut kualitas barang. Membuat barang kerajinan kulit selain memerlukan perencanaan dan tempat kerja yang sesuai, membutuh-kan sarana pokok berupa bahan. Bahan tersebut disiap-kan sebelumnya sesuai dengan rencana bentuk serta kegunaan barang kerajinan kulit yang akan diwujudkan. Beberapa macam bahan yang perlu dipersiapkan un-tuk dibuat barang kerajinan kulit meliputi: 1. bahan pokok; 2. bahan pembantu; 3. bahan pelengkap. Masing-masing bahan terdiri dari beberapa macam sesuai dengan jenis kerajinan kulit yang akan dibuat Dalam mempersiapkan bahan betul-betul memerlukan kecermatan dan ketepatan memilihnya. 1. Bahan pokok. Yang dimaksud dengan bahan pokok ialah bahan yang paling diutamakan penggunaannya dalam pembuatan barang kerajinan kulit. Ditinjau dari jenis kerajinan kulit, penggunaan bahan pokok adalah sebagai berikut: a. Bahan pokok kerajinan kulit mentah. Kriya Kulit 322
  • 302. Kerajinan kulit ini memerlukan bahan pokok dengan bermacam-macam ukuran tebal dan tipisnya. Ukuran tebal tipisnya kulit diperinci seperti berikut: 1. kulit mentah paling tipis (a) yang mempunyai ukuran tebal antara 0,5 mm sampai dengan 1 mm; 2. kulit mentah tipis (b) yang mempunyai ukuran tebal antara 1 mm sampai dengan 1,5 mm; 3. kulit mentah setengah tebal (c) berukuran antara 1,5 mm sampai dengan 2 mm. 4. kulit mentah tebal (d) berukuran antara 2 mm sampai dengan 3 mm. Dengan pembagian ukuran tersebut di atas akan mem-permudah cara menentukan bahan yang disesuaikan dengan bentuk serta kegunaan barang kerajinan yang akan dibuat. b. Bahan pokok kerajinan kulit tersamak nonsepatu. Bahan pokok kerajinan kulit tersamak nonsepatu berupa kulit yang telah disamak atau diolah dengan meng-gunakan bahan-bahan penyamak. Mengolah atau menya-mak kulit tersebut mempunyai tujuan supaya keadaan kulit menjadi awet dan tidak mudah busuk. Yang lazim dipergunakan sebagai bahan kerajinan ter-sebut di atas adalah kulit binatang. 1. reptil: buaya, ular, biawak, katak. 2. binatang menyusui: lembu, kerbau, kambing, domba dan kuda. Kulit binatang ini diolah atau disamak dengan a) samak chroom; b) samak nabati; c) samak sintetis; d) samak minyak. Pengolahan bahan harus betul-betul masak dan selesai proses penyamakannya. Diusahakan tidak banyak terda-pat kerusakan maupun cacat-cacat pada permukaan kulit. c. Bahan pokok kerajinan sepatu. Sesuai dengan penggunaannya, maka kulit sebagai bahan pokok kerajinan sepatu dibedakan sebagai berikut: 1. bagian atasan sepatu, ialah kulit yang disamak sintetis; 2. kulit lapis sepatu, ialah kulit yang disamak nabati (bahan penyamak dari tumbuh-tumbuhan); 3. kulit sol, ialah kulit yang disamak nabati. Pengolahan kulit tersebut harus diusahakan sebaik mungkin dan betul- betul selesai proses pengolahan atau menyamaknya. d. Bahan pokok kerajinan kulit sistem pahat hias. Yang biasa digunakan sebagai bahan kerajinan kulit sistem pahat hias ialah kulit yang berasal dari lembu, kerbau, kambing dan kuda. Kulit binatang tersebut diolah atau disamak dengan menggunakan bahan penyamak dari tumbuh-tumbuhan (samak nabati). Kriya Kulit 323
  • 303. 2. Bahan pembantu. Peranan bahan pembantu ialah untuk membantu bahan pokok dalam pembuatan barang kerajinan kulit. Se-tiap jenis kerajinan kulit memerlukan bahan pembantu yang bermacam-macam, sesuai dengan bentuk serta ke-gunaan barang kerajinan yang akan diwujudkan. Dilihat dari jenis kerajinannya, kebutuhan bahan pembantu adalah sebagai berikut: a. Bahan pembantu kerajinan kulit mentah. Membuat-tearaTrg-^erajinan kulit mentah memeriukan PENUNTUN PRAKTEK KERAJINAN KULIT bahan bahan pembantu berupa: 1. kayu; 2. bambu; 3. logam; 4. penyu; 5. tanduk; 6. benang; 7. kain. Mempersiapkan bahan pembantu untuk keperluan tersebut di atas harus tepat dan sesuai, sehingga hasil karya yang diperoleh dapat sesuai dengan rencana. b. Bahan pembantu kerajinan kulit tersamak nonsepatu Bahan-bahan pembantu yang diperlukan dalam pem-buatan barang kerajinan kulit tersamak nonsepatu berupa: 1. bahan lapis kulit lapis, kain lapis; quot;r 2. benang jahit untuk kulit; 3. lem; 4. keling; 5. paku kecil; 6. karton; 7. alat pengancing; 8. drukknop; 9. gesper. Bahan tersebut di atas dipilih dan ditentukan sesuai dengan bentuk dan kegunaan barang kerajinan kulit yang direncanakan. c. Bahan pembantu kerajinan sepatu. Macam-macam bahan pembantu untuk kerajinan sepatu meliputi: 1. bahan lapis: kulit lapis, kain lapis; 2. benang jahit; 3. lem; 4. paku open; 5. paku hak; 6. rit sluiting. Bahan-bahan tersebut di atas harus dipersiapkan se- cara tepat dan sesuai dengan penggunaan. Kriya Kulit 324
  • 304. I d. Bahan pembantu kerajinan kulit sistem pahat hias. Kecuali bahan pokok, membuat barang kerajinan kulit sistem pahat hias memerlukan bahan pembantu be rupa 1. karton 2. bahan lapis dalam 3. keling 4. benang 5. lem 6. paku kecil 7. penguat dasar 8. rit sluting 9. pengancing; 10. drukknop Supaya hasil karya yang diperoleh dapat sesuai dengan rencana, dalam memilih dan menentukan bahan pembantu harus tepat dan cermat. 3. Bahan pelengkap. Kegunaan bahan pelengkap dalam pembuatan baran kerajinan kulit ialah untuk melengkapi agar bentuk barang menjadi lebih sempurna. Ditilik dari jenis kerajinan kulit yang akan diwujud-j kan kebutuhan bahan pelengkap adalah sebagai berikut a. Bahan pelengkap kerajinan kulit mentah Pembuatan barang kerajinan kulit mentah memerlukan bahan pelengkap berupa: 1. imitasi; 2. ketep 3. mote 4. sulaman; 5. batu-batuan 6. merjan. Setiap bahan pelengkap penerapannya disesuaikan dengan kegunaan masing-masing. Bahan pelengkap kerajinan kulit tersamak nonsepatu Pembuatan barang kerajinan kulit tersamak nonsepatu membutuhkan bahan pelengkap berupa: 1. mata ayam; 2. hiasan fantasi 3. penguat dasar Dengan menggunakan bahan pelengkap tersebut di atas, maka bentuk serta kegunaan barang kerajinan kulit yang dihasilkan akan lebih lengkap dan sempurna. Penerapan bahan pelengkap tersebut disesuaikan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Kriya Kulit 325
  • 305. Bahan pelengkap barang kerajinan kulit sistem pahat hias. Barang kerajinan kulit sistem pahat hias akan lebih sempurna bila dilengkapi dengan: 1. mata ayam; 2. hiasan fantasi; 3. penguat dasar 4. benang sutera. Masing-masing bahan pelengkap tersebut di atas digunakan sesuai dengan bentuk serta kegunaan barang kerajinan kulit sistem pahat hias yang direncanakan ebelumnya. 2). Perakitan komponen dengan mesin Produk yang biasa dibuat adalah tas, dompet, ikat pinggang, koper dan lain-lain Pembuatan tas, dompet, ikat pinggang, koper dengan bahan kulit setelah dipotong sesuai dengan pola, kemudian diseset menggunakan mesin seset, kemudian diberi lem setelah itu disatukan/ dirakit menggunakan mesin setelah itu baru dijahit menggunakan mesin 3). Perakitan komponen dengan manual Pekerjaan perakitan dilaksanakan apabila bagian-bagian dari suatu bentuk,barang kerajinan kulit tersamak yang direncanakan telah selesai dikerjakan maka bagian dari barang yang dimaksudkan digabungkan dirakit/dirangkai sesuai dengan susunan bentuk dalam gambar rencana. Pada pekerjaan merakit bagian-bagian barang digabungkan dengan cara-cara dijahit, dikeling, dilem, atau dipaku. Cara penggabungkan yang dilaksanakan, disesuaikan dengan bentuk dan kegunaan barang yang akan diwujudkan Untuk barang-barang kerajinan yang ditekankan segi kekuatannya maka dalam pekerjaan merakit barang tersebut harus cukup kuat yakni dengan dijahit, dipaku ataupun dikeling. Sedangkan barang-barang kerajinan yang penggunaannya tidak memerlukan kekuatan maka cukup dilem: Cara penggabungan/rangkaian dengan sistem jahit, misalnya barang yang berupa: a) tas, b) koper, c) dompet, d) tempat alat tulis, e)- tempaf kacamata, f) tempat tembakau. Cara merakit penggabungan/rangkaian dengan sistem dikeling misalnya barang yang berupa:a) tas, b) koper, c) dompet Cara penggabungan/rangkaian dengan sistem di lem, misalnya barang yang berupa: a) dompet lipat, b) hiasan kunci, c) tempat kartu. Dalam pembuatan barang kerajinan kulit sering diterapkan cara merakit yang dikombinasikan. yang serlu diperhatikan ialah dari penerapannya cara merangkai harus rapi, kuat tetapi tidak mengurangi keindahan bentuk dan kesulitan dalam penggunaannya.. Kriya Kulit 326
  • 306. Demikian pekerjaan merakiti/rnenggabungkan bagian barang sehingga bentak barang yang dimaksudkan dapat dipergunakan sebagamana direncanakan semula 4). Pengecekan akhir produk Langkah pengecekan akhir produk non sepatu yaitu memeriksa kualitas produk antara lain : 1). Bersihkan atau potong sisa kelebihan benang, merapikan tonjolan-tonjolan kulit yang tidak berguna 2). Beri warna pada bagian tepi/penampang dan bagian bawah produk. 3). Bersihkan kotoran sisa lem dan warna 4). Beri semir kalau menginginkan produk mengkilap dan tahan lama Kriya Kulit 327
  • 307. DAFTAR PUSTAKA Aller Doris, Sunset Leather Craft Book. Lone Publishing Co, Menlo Park, California. Anonimous, 1962, Penggunaan dari Kulit Tersamak. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit, Karet, dan Plastik, Yogyakarta.. Balai Penelitian Kulit Yogyakarta, 1980, Teknik-Teknik Menyamak Nabati Kulit Sol, Balai Penelitian Kulit Yogyakarta, Indonesia California: Lane Books1993/1994. Desain Kerajinan Kulit . Dahar Prize, Kerajinan Kulit, Penerbit Effhar O’ffset, Semarang Departemen Pendidikan Nasional, 2005, Membuat Potongan Komponen Kulit Dengan Tangan, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jendral manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Dome David. Easy-To-Do Leathercraft Projects, with Full-size Templates. Dover Publication, Inc. New York. 1976 Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 1979, Pengetahuan Teknologi Dwi Asdono Basuki. 1991. Tekitologi Sepatu II. Yogyakarta AkademiTeknologi Kulit. Yogyakarta. Eddy Purnomo,2002, Penyamakan Kulit Ikan Pari, Kanisius, Yogyakarta Fred W. Zimmerman. 1975 Gunarto G. Sugiyono, 1979, Pengetahuan Teknologi Kerajinan Kulit. Direktorat Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Haryanto,S, 1991, Seni Kriya Wayang Kulit “Seni Rupa Tatahan dan Sunggingan, Penerbit PT.Pustaka Utama Grafiti Lattief Abdul, Iswari Diah,2005 Membuat Sandal dan Sepatu Santai Untuk Wirausaha, puspa Swara Jakarta Laszlo Vass & Magda Molnar, Herrenschuhe Handgearbeitet, Konemann Kriya Kulit 474
  • 308. Maria M. di Valentin, Leathercraft, Collier Books, Division Of Macmillan Publishing Co, Inc, New York Mulyono Jodoamodjojo, 1984,Teknik Penyamakan Kulit Untuk Pedesaan, Penerbit Angkasa Bandung. Meilach Dona Z, 1979, Contenporary Leather, Art and Accessories Tools and Tekniques, Henry Regnery Company, Chicago. Osborne Richard, 1985 ,Kerajinnn Kulit, Ketrampilan Membuat Barang Kulit. Dahara Prize, Semarang. Prasidha Adhikriya PT, 1995,Desain Kerajinan Kulit, Petunjuk Ketrampilan Industri Kerajinan Kulit. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Proyek peningkatan Pendidikan Kejuruan Non Teknis II, Jakarta. Pusat Pelayanan Promosi, 1980.Pengawetan Kulit Mentah untuk Industri Rumah Tangga. BIPIK, Bagian Proyek Sandang dan Kulit, Direktorat industri kecil, Departemen Perindustrian Richard Osborne,Things To Make With Leather Techniques & Projects, Lane Books. Menlo Park, California Saraswati, 1986, Seni Mengempa Kulit, Penerbit Bhatara Karya Aksara, Jakarta Sagio, Samsugi, 1991,Wayang kulit gagrag Yogyakarta, Morfologi, Tatahan, Sung- gingan dan Teknik Pembuatannya. CV Haji Masagung, Jakarta Soedjono,2000, Berkreasi Dengan Kulit, Penerbit PT.Remaja Rosdakarya Bandung Soejoto R, . 1959, Buku Penuntun tentang Penyainakan Kulit. Balai Penyidikan Kulit, Yogyakarta. Soehatmanto RM. Memperhatikan Wayang Kulit Purwa, sebagai bagian Sent Rupa Indonesia. Pidato Dies Sekolah Tinggi Seni Rupa In- donesia quot;ASRIquot; XX, Yogyakarta. 1970. Kriya Kulit 475
  • 309. Soemitro Djojowidagdo. Aspek Teknologis Penggunaan Kulit Hewan dan Proses Pembuatan Wayang Kulit. Lembaga Javanologi quot;Panung- galanquot;, Yogyakarta. 1986. Suardana I Wayan, 2004, Kerajinan Kulit,1 dan 2, Diktat Pend,Seni Rupa FBS UNY Surya Alam, 2001, Ketrampilan Kulit Tersamak, Aneka Ilmu,Semarang Sunarto. Wayang Kulit PurwaGaya Yogyakarta. Balai Pustaka, Jakarta. 1989. ————-. Mengenal Tatah Sungging Kulit. Departemen Pendidikan dan Ke-budayaan, Proyek Peningkatan Pengembangan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. 1986. —————. Pengantar Pengetahuan Bahan dan Teknik Kriya Minat Utama Kriya Kulit. Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. 1996. Sukimin. Edy Sutandur, 2005, Kesenian Seni Rupa dan Desain, PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo Sylvia Grainger, Leatherwork, J.B. Lippincott Company/ Philadelphia And New York Tim Bengkel Kulit,1999/2000, Program Keahlian Kria Kulit, Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Kesenian W.A. Attwater, 1981, The Technique Of Leathercraft, B.T. Batsford Ltd, London Wiyono Ign, Soedjono, 1983, Kerajinan Kulit, Penerbit Nur Cahaya Yogyakarta Willcox Donald. Modem Leather Design. Wistson-Guptill Publication, New York, Pitman Publishing, London. 1975. Riikn Katalog Mesin Persepatuan. 990/1 991. Yogyakarta. BBKKP Kriya Kulit 476
  • 310. Biodata Penulis I Wayan Suardana, Lahir di Bali, 31 Desember 1961, Lulus Sarjana FSRD ISI Yogyakarta Tahun 1988. Lulus Magister Seni Murni ITB Bandung Tahun 2001. Sampai sekarang sebagai Staf Pengajar Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa Dan Seni UNY Kriya Kulit 477
  • 311. ISBN XXX-XXX-XXX-X Buku ini telah dinilai oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah dinyatakan layak sebagai buku teks pelajaran berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 5 Desember 2007 tentang Penetapan Buku Teks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digu- nakan dalam Proses Pembelajaran. HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp. 7.888,00