• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Final report kebijakan telematika dan pertarungan wacana di era konvergensi media sd_tifa
 

Final report kebijakan telematika dan pertarungan wacana di era konvergensi media sd_tifa

on

  • 1,880 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,880
Views on SlideShare
1,880
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
94
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Final report kebijakan telematika dan pertarungan wacana di era konvergensi media sd_tifa Final report kebijakan telematika dan pertarungan wacana di era konvergensi media sd_tifa Document Transcript

    • Kebijakan Telematika dan Pertarungan Wacana di Era Konvergensi Media Abstrak Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika (Telematika) begitu pesat di dunia.Ada kecenderungan konvergnsi (menyatu). Artinya, jika sebelumnya teknologi informasi,telekomunikasi dan penyiaran terpisah, maka saat ini ada kecenderungan untuk menyatu.Di Indonesia sendiri, trend konvergensi telematika disambut dengan gegap gempita. Melonjaknyapengguna facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya di internet seiring dengan meningkatnyapengguna handphone, dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Di tengah gegap gempita era konvergensi telematika itu, ternyata ada persoalan serius terkaittelematika di Indonesia. Setidaknya ada dua persoalan. Pertama, pengguna internet di Indonesiaternyata cenderung pasif dalam memproduksi konten. Kedua, pengguna internet, termasuk mediasosialnya, ternyata masih didominasi oleh warga yang tinggal di Jawa, khususnya Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Jawa, Indonesia Barat, dan sebagian Indonesia Tengah. Hal itu terkaitketimpangan akses infrastruktur telematika di negeri ini. Dengan adanya dua persoalan tersebut, maka datangnya era konvergensi telematikadimanfaatkan oleh korporasi di industri media. Konvergensi telematika, memperkuat bisniskonglomerasi media di Indonesia yang telah ada sebelumnya. Dengan konvergensi telematika, prosesproduksi berita menjadi lebih efisien secara ekonomi. Hasil reportase lapangan seorang wartawan, kinidapat dipublikasi di berbagai kanal sekaligus, cetak, online, televisi dan radio. Selain muncul kritik atas mutu sebuah karya jurnalistik terkait dengan fenomena menguatnyakonglomerasi media di era konvergensi telematika ini, juga muncul kekuatiran terkait hegomoniwacana publik. Meskipun di era konvergensi telematika juga muncul kesempatan bagi publik untukmelawan hegomoni wacana dari media-media konglomerasi itu. Namun, dengan adanya duapersoalan telematika seperti tersebut di atas, pertarungan wacana antara publik dan mediakonglomerasi menjadi tidak seimbang. Artinya, media konglomerasilah yang akhirnya menjadipemenang dalam pertarungan wacana tersebut. Kebijakan telematika yang diharapkan mampu memberi ruang bagi publik untuk mengekspresikanpendapatnya dan membangun wacana justru mengecewakan. Keberadaan pasal karet pencemarannama baik di UU ITE misalnya, justru mengkondisikan publik pengguna internet bertambah pasifdalam memproduksi konten. Begitu pula RUU Konvergensi Telematika yang semula diharapkan mampu mengatasi persoalankesenjangan akses telematika antar wilayah di Indonesia, justru tidak memuat hak warga negarauntuk menggugat atau sekedar komplain bila negara gagal membangun infrastruktur telematika dikawasannya. Yang tercantum dalam RUU Konvergensi Telematika adalah hak konsumen, bukan warganegara.
    • I. Konvergensi Telematika Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau sering juga disebut dengan ICT(Information and communication Technology) tidak terelakan lagi. Di Indonesia istilah telematika(telekomunikasi dan informatika) juga sering digunakan untuk menyebut ICT atau TIK. Di dunia, menurut /id.wikipedia.org1 sejarah perkembangan ICT dimulai ketika teleponditemukan oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadipengadaan jaringan komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika, bahkankemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik. Jaringan telepon ini merupakaninfrastruktur masif pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Sementara merujuk definisi konvergensi dari European Union, OECD, ITU, 2 konvergensi dapatdipandang sebagai perpaduan layanan telekomunikasi, teknologi informasi, dan penyiaran yangsebelumnya terpisah menjadi satu kesatuan hingga diperoleh nilai tambah dari layanan tersebut. Bersamaan dengan datangnya era konvergensi telematika, pengguna internet di seluruh duniapun mengalami kenaikan yang cukup pesat. Ini mengindikasikan bahwa di era konvergensi ini,memungkinkan sebagian penduduk bumi untuk saling terhubung (connected) antara satu dan lainnya. Dari data tersebut di atas terlihat jelas bahwa kawasan Asia menjadi pengguna internetterbesar di dunia3. Indonesia adalah bagian dari Negara yang berada di kawasan Asia yang memilikipenduduk terbesar. Terkait dengan hal itulah perkembangan telematika di Indonesia menjadi pentinguntuk dicermati.1 http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_Informasi_Komunikasi2 http://biginaict.wordpress.com/2010/11/01/ruu-konvergensi-belum-konvergen/3 http://www.internetworldstats.com/stats.htm
    • Perkembangan Telematika di Indonesia Menurut Prasetya Puspita Saputri, seperti ditulis dalam webnya4, mengungkapkan bahwaperkembangan telematika di Indonesia dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama adalah periode rintisanyang berlangsung akhir tahun 1970-an sampai dengan akhir tahun 1980-an. Periode kedua disebutpengenalan, rentang waktunya adalah tahun 1990-an, dan yang terakhir adalah periode aplikasi.Periode ketiga ini dimulai tahun 2000. Di luar pembagian tahapan tersebut di atas, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana petaperkembangan telematika di Indonesia saat ini? Hal ini menjadi penting untuk mengetahui posisi kitadi tengah perkembangan telematika secara global dan regional. Seiring dengan pesatnya perkembangan telematika di tingkat global, kepemilikan produk-produk telematika di rumah tangga di Indonesia juga mengalami kenaikan. Salah satu produktelematika itu adalah computer. Menurut data Bank Dunia5, pada tahun 2000 terdapat 1 orang per 100 orang yang memilikipersonal computer. Pada tahun 2000 itu jumlah total populasi di Indonesia adalah kurang lebih 205juta jiwa. Sementara, pada tahun 2008, masih menurut Bank Dunia, terdapat 2 orang per 100 orangyang memiliki personal computer. Pada tahun 2008 jumlah populasi penduduk Indonesia sebesar 227juta jiwa. Sementara menurut survei BPS tahun 2005 menyebutkan bahwa Sekitar 2,2 juta rumah tanggadari 58,8 juta rumah tangga keseluruhan (3,68 persen) yang memiliki komputer dan 2,0 juta berada diperkotaan6. Di sisi lain dalam buku putih Komunikasi dan Informatika Indonesia tahun 2010 yangditerbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) disebutkan bahwa sejak tahun2006 hingga tahun 2008 terdapat peningkatan kepemilikan komputer dalam rumah tangga Indonesia.Pada tahun 2006, kepemilikan komputer di rumah tangga Indonesia hanya 4%. Pada tahun 2007meningkat menajdi 6%. Dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 8%.4 http://www.prasetyapuspita.info/berita-113-sejarah-perkembangan-telematika-di-indonesia.html5 http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICEXT/INDONESIAINBAHASAEXTN/0,,menuPK:447277~pagePK:141132~piPK:141109~theSitePK:447244,00.html6 Berita Resmi Statistik No. 42 / IX / 14 Agustus 2006
    • Seiring dengan kenaikan jumlah kepemilikan computer di Indonesia, pengguna internet diIndonesia pun mengalami banyak peningkatan dalam hal jumlahnya. Tabel berikut menggambarkanprosentase pengguna internet di Indonesia. Indonesia internet Usage and Population Statistics7 Year User Population Presontase GDP p.c Source 2000 2000000 206264595 1.00% US$ 570 ITU 2007 20000000 224481720 8.90% US$ 1,916 ITU 2008 25000000 237512355 10.50% US$ 2,238 APJII 2009 30000000 240271522 12.50% US$ 2,329 ITU 2010 30000000 242968342 12.30% US$ 2,858 ITU Sumber: http://www.internetworldstats.com/asia/id.htm Menurut Buku Putih “Komunikasi dan Informatika Indonesia” yang diterbitkan olehKementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2010 menyebutkan bahwa pada tahun 2007-2008, akses internet dalam rumah tangga Indonesia mengalami peningkatan pesat. Pada tahun 2007, menurut buku putih tersebut, prosentase keluarga Indonesia yang memiliki7 Note: Per Capita GDP in US dollars, source: United Nations Department of Economic and Social Affairs.
    • akses internet sebesar 5,58 persen. Dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 8,56 persen. Sementaramenurut Plt Dirjen Postel Muhammad Budi Setiawan, seperti ditulis oleh detik.com Juni 2010,mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai angka 45 juta. Sementara itu menurut Mastel (Masyarakat Telematika-Indonesia)8, memperlihatkan bahwadari tahun ke tahun penetrasi penggunaan mobile phone terus meningkat. Penggunaan mobile phoneyang meninggat ini memungkinkan perluasan akses internet melalui mobile phone. SERVICES 2004 2005 2006 2007 2008 Fixed Telephones 8,703,300 8,824,467 8,806,702 8,717,872 8,612,872 Fixed WirelessPhones 1,673,081 4,683,363 6,014,031 10,811,635 16,598,550 Mobile Phones 30,336,607 46,992,118 63,803,015 93,386,881 124,805,871Demam Social Network di Internet Pengguna internet di Indonesia yang cenderung meningkat itu ternyata tengah mengalamieuphoria9 terhadap social network di internet. Menurut situs alexa.com, facebook adalah situs yangpaling popular di Indonesia. Kepopularan facebook di Indonesia melebihi situs-situs berita. Tabel dibawah ini adalah situs social media yang terpopular di Indonesia menurut Alexa.com. No Site Ranking Remaks 1 Facebook Per 9 Mei 2011, A social utility that menurut connects people, http://www.checkfac to keep up with ebook.com/ terdapat friends, upload 36,585,480 pengguna photos, share links facebook di and videos. Indonesia. Menurut8 “INDONESIAN ICT-2009 FACTS & FIGURES“9 Euphoria adalah perasaan gembira yang berlebihan. Terjadinya euphoria itu tercermin di alexa.com, situs pemeringkat web di dunia.
    • web tersebut Indonesia berada di urutan ke 2 setelah US. Sementara per 10 Mei 2011, menurut http://www.alexa.co m/topsites/countries; 0/ID, facebook menempati urutan pertama situs terpopular di Indonesia.2 Youtube Rank 3 di dunia. YouTube is a way to Namun data dari get your videos to alexa .com the people who menempatkan matter to you. popularitas youtube Upload, tag and di Indonesia di bawah share your videos kaskus. (data 10 Mei worldwide 2011) . sebanyak 1,3% trafik dari Indonesia (Percent of Site Traffic)3 Twitter Per 10 Mei 2011, Social networking Alexa menempatkan and microblogging twitter rangking 9. service utilising Percent of Site Traffic instant messaging, dari Indonesia sebesar SMS or a web 2,1%. Sementara interface Berdasarkan data
    • Goole Ad Planner, seperti ditulis tempointeraktif.com, jumlah pengunjung Twitter Indonesia (unique visitor) mencapai 4,6 juta orang. (http://www.tempoint eraktif.com/hg/it/201 0/03/17/brk,20100317- 233133,id.html).4 Multiply Per 10 Mei 2011, Multiply is a Alexa.com vibrant Social menempatkan situs Shopping ini ke peringkat 386 destination that sedunia dan 26 di feels like a visit Indonesia.Percent of with friends to the Site Traffic untuk S... Morehopping Indonesia sebesar mall, but faster and 24,2% more convenient5 Friendster Per 10 Mei 2011, Friendster is a menurut Alexa.com, leading global Friendster.com’s social network Regional Traffic emphasizing Ranks, untuk genuine friendships Indonesia menempati and the discovery... ranking ke-2 setelah More of new
    • philipina. Sementara people through untuk Percent of Site friends. Search for Traffic Indonesia old friends and sebesar 17,5% classmates, stay in better touch with friends, share photos and videos, and so much more.6 Linkedin Per 10 Mei 2011, A networking tool Alexa menempatkan to find connections Linkedin sebagai to recommended social network yang job candidates, popular di Indonesia, industry experts di bawah friendster and business partners. Allows registered users to maintain a list of contact details of people they know and trust in business.7 Digg.com Per 10 Mei 2011, Technology menurut Alexa.com, focused news site percent of Site Traffic where the stories Indonesia sebesar 3% are chosen by community members rather than editors.8 Myspace.com Per 10 Mei 2011, Myspace is ranked
    • menurut alexa.com, #76 in the world percent of Site Traffic according to the Indonesia sebesar 1% three-month Alexa traffic rankings. The site has been online since 1996 9 Tagged Per 10 Mei 2011, Tagged.com is one menurut of the top social http://www.alexa.co networking sites in m/topsites/countries; the world. 7/ID, menempatkan Tagged di bawah My Space, sebagai situs jajaring sosial terpopular 10 Indowebster Per 10 Mei 2011, Indonesian Percent of Site Traffic Multimedia Web dari alexa Server - Server menunjukan 95% dari download, upload Indonesia dan streaming GRATIS! Sementara data per tanggal 9 Mei 2011, seperti ditulis dalam http://www.checkfacebook.com/terdapat 36.585.480 pengguna facebook di Indonesia. Menurut web tersebut Indonesia berada diurutan ke 2 setelah Amerika Serikat.Pola Produksi dan Konsumsi Masyarakat di Era Konvergensi Telematika Dengan perkembangan telematika yang semakin pesat di Indonesia tersebut, idealnya,masyarakat kita lebih produktif. Untuk melihat pola produksi dan konsumsi masyarakat di erakonvergensi telematika ini, kita perlu mengetahui sikap dan prilaku pengguna internet di Indonesia.
    • Riset yang dilakukan oleh MarkPlus Insight tentang aspirasi dan perilaku anak muda (golonganAB) di 6 kota besar di Indonesia awal tahun 2010 tentang Attitude and Behavior Pengguna Internet diIndonesia10, dapat digunakan untuk melihat pola produksi dan konsumsi masyarakat di erakonvergensi telematika. Menurut Riset “Netizen Indonesia 2010” ini menunjukkan bahwa ternyata para penggunaInternet tidaklah monolitik, mereka sangat beragam baik terkait aspirasi maupun perilakunya. Kebiasaan dan Prilaku Prosentase pengguna internet di Indonesia Passive11 13,6 % Average12 81,9 % Active13 4,4 %Biaya Gaya Hidup Digital Masyarakat Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia tersebut menyisakan satu pertanyaan yaitu,berapa uang yang dikeluarkan oleh pengguna internet di Indonesia untuk gaya hidup digital tersebut?Masih menurut hasil riset markplus, menyebutkan bahwa para pengguna internet yang menjadiresponden survey tersebut menghabiskan Rp 166,000 hanya untuk akses Internet melalui PC/Laptop.Sementara melalui handphone mereka rata-rata menghabiskan Rp 86,000 dalam sebulan. Jika diteliti per umur, anak muda lebih sedikit pengeluarannya dibanding orang dewasa. Untukakses intenet melalui handphone dalam sebulan anak muda menghabiskan Rp. 85,000 sementaraorang dewasa menghabiskan Rp. 95,000. Untuk koneksi melalui PC/Laptop dalam sebulan anak mudamenghabiskan Rp. 150,000, sementara orang dewasa menghabiskan Rp. 200,000. Sementara itu dalam sebuah diskusi di Satudunia, hasil survey FAKTA, sebuah NGOs yang10 http://the-marketeers.com/archives/attitude-and-behavior-pengguna-internet-di-indonesia.html11 mereka adalah pengguna Internet yang pasif, baru sebatas sebagai “pembaca dan penonton”, mereka baru sebatas membaca berita disitus-situs berita dan forum online, mendengarkan podcast, menonton video di youtube.12 mereka adalah pengguna Internet kebanyakan yang dari sisi aktifitasnya lebih banyak di banding yang passive, mereka sudah memilikiakun dan mengupdate status mereka di situs-situs social media, seperti Facebook, Twitter, dll. Mereka juga kadang – kadangmenambahkan tag di website maupun photo di situs social media13 mereka adalah pengguna Internet yang aktif, mereka memiliki dan menulis artikelnya di blog pribadi mereka dan juga di forum-forumoline, mereka juga aktif berkontribusi menulis review produk dan jasa
    • melakukan pendampingan terhadap warga miskin kota Jakarta, mengungkapkan bahwa pada tahun2010, masyarkaat miskin dampingannya mengeluarkan uang rata-rata Rp 30.000/bulan/KK untukmengakses internet di warnet dan sebesar Rp 160.000/bulan/KK untuk membeli voucher handphone.Jika ditotal maka sekitar Rp. 190 ribu/bulan/KK pengeluaran warga miskin kota untuk belanja produkICT 14. Pengeluaran warga miskin kota untuk produk ICT itu ternyata hampir sama denganpengeluaran per KK warga miskin untuk kebutuhan minimum makanan per kapita per bulan ataumenurut Badan Pusat Statistics (BPS) dikenal dengan Garis Kemiskinan Makanan (GKM). Pada tahun2010 GKM di Jakarta mencapai Rp 213.487. Bahkan pengeluaran untuk belanja produk ICT wargamiskin itu telah melebihi pengeluaran kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan,dan kesehatan atau Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM). Pada tahun 2010 GKNM di Jakartasebesar Rp 117.68215.Liberalisasi dan Ketimpangan Akes Telematika di Indonesiaa. Sejarah Liberalisasi Telematika di Indonesia Indonesia adalah Negara kepulauan. Kebutuhan untuk komunikasi menjadi sesuatu yangpenting. Akses warga terhadap telematika adalah salah satu factor yang dapat mempermudah wargaIndonesia untuk saling berkomunikasi satu dengan lainnya. Pertanyaannya adalah bagaimana aksestelematika di Indonesia. Jadi menjadi sebuah kewajaran bila negara menempatkan telematika sebagai sesuatu yangsektor yang menguasai hajat hidup orang banyak. Karena sebagai sesuatu yang menguasai hajat hiduporang banyak, maka sudah menjadi kewajiban negara untuk menyediakan akses bagi warga negaraterhadap telematika. Namun, upaya menempatkan telematika sebagai sektor yang mengusai hajat hidup orangbanyak nampaknya tinggal sebuah kenangan di negeri ini. Di era Orde Baru, tepatnya tahun 1994,diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham dalam Perusahaanyang Didirikan dalam Rangka Penanaman Modal Asing. Dalam PP itu disebutkan bahwa Penanamanmodal bidang usaha yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak, termasuk14 http://www.satudunia.net/system/files/Indepth%20Report-Revolusi%20Digital%20sama%20dengan%20Revolusi%20Hijau%20%3F_SD.pdf15 http://jakarta.bps.go.id/fileupload/brs/Miskin_2011.pdf
    • telekomunikasi16 dapat dilakukan oleh PMA patungan asalkan kepemilikan peserta Indonesia minimal5%17. Pada tahun 1997, Indonesia menandatangani World Trade Organization (WTO) Aggrement onBasic Telecomunication18. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1999, diterbitkan Keputusan Menteri(KM) Perhubungan Nomor 72 Tahun 1999 tentang Cetak Biru Kebijakan Telekomunikasi Indonesia 19. KM Perhubungan No. 72/1999 menjadi penting dalam tonggak liberalisasi telematika diIndonesia. Karena dalam salah satu pasalnya disebutkan bahwa KM 72 wajib digunakan sebagaipedoman dalam menetapkan pengaturan dan penyelenggaraan Telkom nasional20. Dalam KM tersebutdituliskan bahwa Tujuan reformasi telekomunikasi antara lain adalah mempersiapkan ekonomiIndonesia dalam menghadapi Globalisasi yang secara kongkret diwujudkan dalam kesepakatan WTO,APEC dan AFTA dan melaksanakan liberalisasi telekomunikasi. 21 Di tahun yang sama, pemerintah menerbitkan Undang Undang (UU) Nomor 36 Tahun 1999tentang Telekomunikasi. Dalam penjelasan umum UU 36/1999 itu mulai nampak pergeseranparadigma bahwa telekomunikasi tidak lagi menjadi bidang yang menguasai hajat hidup orang banyak,namun sudah menjadi komoditi. Bahkan dalam penjelasan umum dari UU 36/1999 itu terlihat bahwapenerbitan UU itu merupakan konsekuensi dari penandatangan General Aggrement on Trade andService (GATS)22.b. Ketimpangan Akses Telematika di Indonesia Dalam UU 36/199923 disebutkan bahwa tujuan dari telekomunikasi adalah meningkatkankesejahteraan masyarakat. Dalam konteks telekomunikasi tentu saja kesejahteraan masyarakat inidicapai melalui perluasaan akses telekomunikasi di seluruh Indonesia. Idealnya, liberalisasi yangdidorong oleh UU 36/1999 akan semakin mendorong perluasan akses telekomunikasi itu. Namunbenarkah demikian? Data dari kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo)24menyebutkan, bahwa hinggatahun 2008, desa di wilayah Jawa merupakan kawasan yang paling banyak memiliki infrastruktur16 Pasal 5 ayat 1 PP 20/199417 Pasal 6 ayat 1 PP 20/199418 GATS: Liberalisasi Kehidupan, Lutfiyah Yamnin dan Yanuar Nugroho, Institute Global of Justice, 200819 http://www.postel.go.id/content/ID/regulasi/telekomunikasi/kepmen/blueprint.pdf20 Pasal 2 KM 72/199921 BAB I.3 Tujuan Reformasi Telekomunikasi, KM 72/199922 Penjelasan atas UU 36/199923 Pasal 3 UU 36/199924 Buku Putih, “Komunikasi dan Informatika tahun 2010”
    • telepon kabel. Kemudian menyusul wilayah Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur,Kalimantan, Papua dan Maluku. Kepemilikan telepon kabel (84,79%) pun paling banyak berada diwilayah Jawa dan Sumatera. Dari data ini mulai muncul indikasi ketimpangan akses telekomunikasi diIndonesia. Akses telekomunikasi masih didominasi Jawa dan Indonesia Bagian Barat (Sumatera). Namun bisa jadi, data tersebut di atas muncul karena makin ditinggalkannya telepon kabel danberalih ke komunikasi mobile melalui handphone. Jika demikian maka indikator yang bisa dipakaiadalah tentang banyaknya penerima sinyal selluar antara di Jawa, Indonesia Bagian Barat danIndonesia Timur. Menurut buku putih itu pula, wilayah Jawa juga merupakan wilayah desa penerima sinyalselular terbanyak dibandingkan daerah lain di Indonesia. Tak heran pula pada tahun 2008 kepemilikanhandphone (81,57%) berada di wilayah Jawa dan Sumatera25. Sementara di sisi lain, data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 201026,menyebutkan sebanyak 65,2% infrastruktur backbone27 serat optik terkonsentrasi di Jawa, kemudiandiikuti oleh Sumatera (20,31%) dan Kalimantan (6,13%), sementara pada wilayah Indonesia timur(Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) belum terjangkau infrastruktur ini. Sumber: Muhammad Salahuddien, ID-Sirti Kondisi infrastruktur telematika yang seperti tersebut di atas juga menyebabkan pengguna25 Distribusi telepon kabel dan bergerak berdasarkan pulau, 2008, Buku Putih, “Komunikasi dan Informatika tahun 2010”,26 Buku Putih, “Komunikasi dan Informatika tahun 2010”27 Pengertian backbone serat optik adalah saluran atau koneksi berkecepatan tinggi yang menjadi lintasan utama dalam sebuah jaringantelematika.
    • internet juga terpusat di Jawa. Data dari Susenas 2006-2008, Badan Pusat Statistik memperlihatkanbahwa selama tahun 2007-2008 akses internet dalam rumah tangga di Indonesia mengalami kenaikan.Pada tahun 2007, prosentase rumah tanngga yang memiliki akses internet sebanyak 5,58%. Padatahun 2008 meningkat menjadi 8,56%. Dan sekali lagi rumah tangga di Jawa masih memiliki aksestertinggi terhadap internet diantara rumah tangga di seluruh Indonesia. Hal yang sama juga tercermin dalam pengguna facebook dan produksi tweet di Indonesia.Seperti ditulis di Snapshot of Indonesia Social Media Users - Saling Silang Report Feb 201128,menyebutkan bahwa pengguna facebook terbesar di Indonesia didominasi oleh warga Jakarta(50,33%). Pada urutan selanjutnya Bandung (5,2%), Bogor (3,23%), Yogyakarta (3,09%), Medan(3,04%), Makasar (2,23%) dan Surabaya (2,18%). Bandingkan dengan pengguna Facebook di Jayapura(0,12%) dan Ternate (0,03%). Begitu pula produksi tweet di Twitter. Tweet yang diproduksi dari Jakarta mendominasi seluruhtweet dari Indonesia. Tweet yang diproduksi dari Jakarta sebesar 16,33%, dari Bandung 13,79%, dariYogyakarta 11,05%, dari Semarang 8,29% dan dari Surabaya 8,21%. Bandingkan tweet yang diproduksidari Palu hanya 0,71%, Ambon 0,35% dan Jayapura 0,23%.28 http://www.slideshare.net/salingsilang/snapshot-of-indonesia-social-media-users-saling-silang-report-feb-2011
    • II. Konglomerasi Media di Era Konvergensi Telematika Era digital membuat setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi konsumen sekaligusprodusen dari sebuah konten. Namun di sisi lain era digital juga dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan media massa besar untuk memperkokoh bangunan konglomerasi medianya 29. Amerika Serikat adalah negara yang dapat dijadikan contoh dari konglomerasi media. Pada eratahun 1980-an hinggga pertengahan tahun 1990-an, perusahaan media massa di Amerika Serkat terusmengalami penurunan. Tahun 1996, perusahaan media di negeri itu hanya menyisakan lima media,yaitu Time-Warner, Viacom, News Corp., Bertelsmann Inc., dan Disney 30. Diolah dari tulisan Veronika Kusuma31 Tahun 2011, muncullah sejarah besar dalam integrasi konglomerasi media di Amerika Serikatyang mencoba mengintegrasikan kepemilikan media dan infrastruktur internet. Pada tahun tersebutperusahaan raksasa Time Warner bergabung dengan American On Line (AOL)32 menjadi Time Warner29 terpusatnya kepemilikan media di tangan sedikit orang/perusahaan. http://twitoaster.com/country-us/ndorokakung/konglomerasi-media-mungkin-tak-menguntungkan-publik-karena-akan-terjadi-keseragaman-suara/30 https://fordiletante.wordpress.com/2008/01/29/konglomerasi-media-dalam-grup-mnc-media-nusantara-citra/31 Konglomerasi Media dalam Grup MNC (Media Nusantara Citra)32 AOL amat disukai para investor di pasar Wall Street, karena dianggap sebagai a leader in the rapidly emerging world of internet basedmedia
    • and AOL (TWOL)33. Penggabungan dua perusahaan itu dinilai sangat strategis dan menandaimunculnya konglomerasi media baru34. Namun marger TWOL tidak berlangsung lama. Pada tahun 2003 marger itu bubar. MenurutSatrio Arismunandar35, yang ditulis dalam blognya36, setidaknya ada tiga penyebab dari kegagalanmarger kedua media besar itu. Pertama, alasan yang bersifat teknis. Orang Amerika ternyata lambandalam mengadopsi koneksi pita-lebar berkecepatan tinggi, yang diperlukan untuk terjadinyakonvergensi. Kedua, pemilihan waktu yang tidak tepat. Merger itu terjadi tak lama sebelum saham-sahamperusahaan yang terkait dengan Internet berguguran, sehingga menguras habis modal potensial yangdibutuhkan untuk memajukan proses ke arah konvergensi yang diidamkan. Ketiga, terkait dengan kekeliruan dalam membaca psikologi konsumen. Hanya karenaseseorang bisa terkoneksi ke Internet melalui AOL, tidaklah lantas berarti ia ingin menyaksikan liputanCNN37 atau menonton film-film Warner Brothers atau membaca majalah Time38. Sementara itu menurut Direktur LSPP39 Ignatius Haryanto, dalam wawancara dengan YayasanSatuDunia40, kegagalan marger TWOL disebabkan oleh culture dari keduanya (Time Warner dan AOL)berbeda. “Misalnya, AOL terkait dengan internet yang sangat tinggi. Sementara produksi konten TimeWarner sangat lama bila dibandingkan dengan internet,” ujarnya, “Kalau kita bicara soal produksimajalah, itu kan skalanya mingguan atau bulanan. Bahkan jika bicara film, maka proses produksinyabisa tahunan,” Hal itulah, menurut Ignatius yang kurang bisa dipertemukan. Pertanyaan berikutnya adalah,apakah jika faktor-faktor kegagalan yang menimpa TWOL itu dibenahi, apakah akan ada integrasi baruantara industri konten media dan penyedia infrastruktur internet? “Bisa jadi, jika perusahaan-perusahaan lain sudah mengetahui kunci untuk mengatasi kegagalan marger TWOL itu dan bisabersinergi, maka bukan tidak mungkin muncul konglomerasi media baru yang berbasiskan konvergensitelematika itu di masa depan,” kataya.33 KONSENTRASI MEDIA MASSA DAN MELEMAHNYA DEMOKRASI, Henry Subiakto, Dosen Jurusan Komunikasi FISIP dan ProgramPascasarjana Studi Media dan Komunikasi Universitas Airlangga, Surabaya34 Time Warner menguasai konten, dengan deretan majalah, film, dan program-program televisi yang dimilikinya. Sedangkan AOLmemiliki saluran ke lebih dari 20 juta tempat tinggal di Amerika35 Seorang TV Jurnalis di salah satu group media terkemuka di Indonesia36 http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2010/11/memahami-konvergensi-media-media.html37 CNN adalah televisi yang dimiliki oleh Group Time Warner38 Time adalah majalah yang dimiliki oleh Group Time Warner39 Lembaga Studi Pers dan Pembangunan40 Wawancara di Kantor SatuDunia, 17 Juni 2011
    • Konglomerasi media yang menyorot perhatian publik di Amerika Serikat lainnya adalahkerajaan media News Corporation milik Ruperth Murdoch. Jaringan bisnis media dari NewsCorporation ini membentang dari Amerika, Australia, Inggris, Eropa dan Asia. Jaringan bisnis medianyameliputi media cetak, televisi dan internet.No Negara Media dalam Jaringan News Corporation1 Australia Fox Studio Australia, Fox Sport Australia, Foxtel, Harper Collins Australia, Big League, Daily Telegraph, Gold Coast Bulletin, Hearl Sun, Alpha, Donna Hay, Inside Out, Sunday Hearld Sun, Sunday Mail, Sunday Tasmanian, Sunday Territorian, The Advertiser, The Australian, The Courier-mail, The Sunday Times, Weekly Times, The Mercury, The Sunday Telegraph, Sunday Times, The Sunday Mail, NT News, Truelocal.com.au, News.com.au, Careerone.com.au, Foxsport.com.au2 Inggris Bskyb, News International, The Times, The Sun, Shine Group, Harper Collins UK, Time Literary Supplement, NDS3 Amerika Serikat Fox News Channel, National Geographic Channel AS, The Wall Street Journal, 20th Century Fox, Fox Searchilight Picture, Fox Broadcasting Company, Harper Collins Publishers, New York Post, FX dsb4 India Tata Sky, Harper Collins India5 Hongkong Star TV6 Kanada Harper Collins Canada7 Italia Sky Italia8 Jerman Sky Deutschland9 Selendia Baru Harper Collins New Zealand10 Papua Nugini Post-Courier Tabel Kerajaan Bisnis Media Murdoch41.Beberapa kerajaan bisnis media Murdoch juga merambah dunia internet. Jejaring media milikMurdoch di internet antara lain: Americanidol.com, askmen, fox.com, foxsport.com, hulu.com,mikround, News Digital Media, News Outdor, Scout, Spring Widgets dan Whatifsport. Selain itu pada41 Sumber: Media Indonesia, Selasa, 26 Juni 2011
    • tahun 2005, News Corporation juga membeli saham MySpace42. Rupert Murdoch, membeli MySpacepada 2005 seharga US$580 juta sekitar Rp 5,2 triliun43. Di Amerika Serikat, menurut Ketua Yayasan Pantau44 Andreas Harsono dalam sebuahwawancara melalui Skype dengan SatuDunia45, beberapa konglomerat media itu memiliki saham diperusahaan telekomunikasi dan jasa internet. “Washington Post46 itu punya saham di facebook,meskipun kecil,” ujarnya, “Donald Graham, CEO The Washington Post47, menjadi salah satu investorfacebook,” Raksasa di dunia internet, seperti google, lanjut Andreas Harsono, itu memiliki kerjasamadengan New York Time48. “Tapi itu bukan kepemilikan saham,” lanjutnya. Seperti ditulis oleh kompas.com49, The New York Times (dan juga Washington Post ) memilikikerjasama dengan Google. Kedua media besar AS tersebut membuat proyek eksperimen yang disebutLiving Stories untuk menyajikan berita secara komprehensif berdasarkan tema dan akan ter-updatesetiap ada berita lanjutan. III. Konglomerasi Media di Indonesiaa. Perubahan konsumsi masyarakat terhadap media di Indonesia Trend digital juga merambah ke Indonesia. “Saat ini sedang transisi dari analog ke digital,ditandai dengan proses migrasi dari system analog dan digital yang menurut blue print pemerintahberakhir di tahun 2017,” ujar aktivis AJI50 Margiono di Jakarta pada Agustus 2011 51. Setelah 2017 tidakada lagi radio FM, TV UHF. Kita melihatnya TV Digital. Pada 2013 dilakukan switch di kota-kota besardahulu. Kalau planning tersebut berjalan, dua tahun lagi di Jakarta kita tidak akan bisa lagi ndengar42 situs jejaring sosial terpopuler di Amerika pada 200643 http://daerah.tempo.co/hg/iptek/2011/01/12/brk,20110112-305665,id.html44 Yayasan Pantau adalah sebuah lembaga yang bertujuan memperbarui jurnalisme di Indonesia45 Wawancara via skype dilakukan 23 Juni 201146 The Washington Post Company (NYSE: WPO) is a diversified education and media company whose principal operations includeeducational services, newspaper print and online publishing, television broadcasting and cable television systems.http://www.washpostco.com/phoenix.zhtml?c=62487&p=irol-ourcompanyprofile47 The Company also owns The Washington Post, Express and El Tiempo Latino; Post–Newsweek Stations (Detroit, Houston, Miami,Orlando, San Antonio and Jacksonville); Cable ONE, serving subscribers in midwestern, western and southern states; The Slate Group(Slate, TheRoot.com and Foreign Policy); The Gazette and Southern Maryland Newspapers; The Herald (Everett, WA); Avenue100 MediaSolutions, an analytics-based performance marketing company; SocialCode, a full service Facebook advertising agency; and Trove, apersonalized news aggregation service.48 The New York Times Company, a leading media company with 2010 revenues of $2.4 billion, includes The New York Times, theInternational Herald Tribune, The Boston Globe, 15 other daily newspapers and more than 50 Web sites, including NYTimes.com,Boston.com and About.com. http://www.nytco.com/company/index.html49 http://bola.kompas.com/read/2009/12/09/18482871/.The.New.York.Times.dan.Washington.Post.Merapat.ke.Google50 Aliansi Jurnalis Independen51 Diskusi lingkar balajar Telematika, Yayasan SatuDunia, 18 Agustus 2011. http://www.satudunia.net/content/notulensi-diskusi-lingkar-belajar-telematika-1
    • radio FM, nonton TV UHF, kita harus beli seatle box terlebih dahulu. Trend baru itu juga membawa perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap media di negeriini. Hasil Survei Media Index yang dilakukan oleh Nielsen Media Survei 52, menunjukan pembaca korankonvensional menurun sementara pengguna internet mengalami kenaikan. Sementara penontontelevisi relatif stabil di angka 94%. Sumber riset Nilsen yang dikutip Kompas.com Data itu juga dikuatkan oleh riset yahoo.com dan TNS mengenai trend pengguna internet diIndonesia. Riset itu menyebutkan bahwa telah terjadi lonjakan yang signifikan dalam pengaksesanberita online, 28% di tahun 2009 dibandingkan 37% di tahun 2010 sementara penggunaan mediacetak terus menurun53. Survei Markplus Insight54, juga menunjukan bahwa pengguna internet di Indonesia cenderungtidak lagi menjadikan media konvensional sebagai sumber informasi utama. Menurut riset tersebut,internet sudah menjadi preferensi utama dalam mendapatkan informasi dan hiburan selain TV.Bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, Internet lebih unggul di banding TV. Temuan lain yang cukup menarik sekaligus mengkhawatirkan adalah penetrasi media cetak sepertisurat kabar, tabloid, dan majalah terlihat jauh di bawah media yang lain. Meski demikian ada52 http://kesehatan.kompas.com/read/2009/07/16/16015757/survei.nielsen.pembaca.media.cetak.makin.turun53 http://www.detikinet.com/read/2010/05/31/160759/1366831/398/media-online-mulai-memangsa-media-cetak54 http://the-marketeers.com/archives/attitude-and-behavior-pengguna-internet-di-indonesia.html
    • beberapa kota yang memiliki karakteristik yang berbeda. Di Surabaya surat kabar masih populer,karena posisi Jawa Pos yang sangat kuat. Hal yang sama juga terjadi di Denpasar.b. Konglomerasi Media di Era Konvergensi Telematika Era konvergensi telematika yang mulai menjalar di Indonesia dimanfaatkan pula oleh parakonglomerat media untuk mengukuhkan bisnis medianya. Namun, sejarah konglomerasi media diIndonesia sendiri, sejatinya telah dimulai sejak era Orde Baru. Menurut aktivis AJI Margiyono, proses konvergensi di Indonesia dimulai dari konglomerasi,“Dimana industri-industri media besar membeli/mencaplok media-media lain,” ujarnya55, “Misalportal beritasatu.com milik Ulil dibeli Lippo, Detik.com dibeli kelompok Para,”. Menurutnya, hal itutidak ahanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di tingkat internasional, “Sebagaimana Google danYahoo yang membeli situs-situs/kontak local,” tambahnya. “Konglomerasi media, dalam arti cross section56, di Indonesia muncul sejak jaman Soehartodan semua terpusat di Jakarta,” ujar Andreas Harsono, “Di era Hindia Belanda dan Soekarno memangada media besar, tapi tidak cross section, pada waktu itu hanya koran saja,” “Adapun aktornya, kebanyakan sama sejak Orde Baru,” katanya, “Namun ada aktor baru dalamkonglomerasi media ini setelah Orde Baru tumbang, yaitu Trans Corps” Menurut Andreas Harsono, di luar internet, konglomerasi media yang terbesar adalah MNC(Media Nusantara Citra). “Yang kedua, Kompas-Gramedia,” ujarnya, “Untuk konglomerasi yangberbasiskan konvergensi telematika, saat ini yang paling besar adalah Group Bakrie,”. Menurutnya,konvergensi telematika akan semakin memperkuat konglomerasi media di Indonesia. “Akan makinparah,” ungkapnya.No Media Newspaper Magazine Radio Television Cyber Media Other Bussines Group Station Station 571 Kompas- Kompas, The 37 Majalah dan Sonora Kompas TV Kompas.com, Hotel,Printing, 58 Gramedia Jakarta Post, Tabloid, 5 book Radio dan Kompasiana.com House, Promotion, Group Warta Kota publisher Otomotion Agencies, dan 11 surat Radio University55 Diskusi Lingkar Belajar Telematika (1), Yayasan SatuDunia, 18 Agustus 2011. http://www.satudunia.net/content/notulensi-diskusi-lingkar-belajar-telematika-156 Media cetak, radio, televisi dan internet57 Saat tulisan ini dibuat Group Kompas sedang mempersiapkan kompasTV58 Kompasiana adalah sebuah Media Warga (Citizen Media)
    • kabar lokal2 MNC (Media Seputar Genie, Trijaya RCTI, Global Okezone.com IT Bussines Nusantara Indonesia Mom&Kiddy, FM,Radio TV, TPI (MNC Citra) Realita, Majalah Dangdut TV), Trust TPI, ARH Indovision Global, (Televisi Women Cable) Radio3 Jawa Pos Jawa Pos, 23 majalah Fajar FM di JTV di Travel Bureau, Fajar, Riau mingguan Makassar Surabaya dan Power House Pos, Rakyat 3 stasiun TV 59 Merdeka, lokal dan 90 surat kabar lokal di berbagai daerah 624 Mugi Reka Cosmopolitan, Hard Rock O’Channel Holder of Saveral 60 Aditama Harper’s FM , MTV International 61 (MRA) Bazaar,Esquire, Sky Boutique FHM, Good House Keeping dan 10 majalah lainnya (kebanyakan franchise)5 Bali Post Bali post, Tabloid Tokoh Bali TV dan 8 Balipost, bisnis bali Suluh TV lokal Indonesia lainnya dan 2 koran lainnya6 Mahaka Harian Golf Digest, Radio Jak JakTV, TV Entertaiment. 63 Media Republika Arena, Parents FM One Outdoor Indonesia, A+ Advertisment7 Femina Femina, Gadis, Radio U FM Production House Group Ayah Bunda, Dewi dan 1059 Batam, Pekanbaru, Makassar60 Bandung, Jakarta, Bali dan Surabaya61 Jakarta dan Bandung62 Has been taken over SCTV63 Bekerjasama dengan Group Bakrie
    • majalah lainnya8 Bakrie AnTV, TV Vivanews.com Property, minning, Group One palm oil dan telekomunikasi9 Lippo Jakarta Majalah Beritasatu.com Property,hospital, 64 Group Globe, Investor, Globe Education, Investor Asia, Campus insurance, internet Daily, Suara Asia service provider Pembaruan 6510 Trans Corp TransTV, Detik.com Trans711 Media Media MetroTv mediaindonesia.com 66 Group Indonesia, Lampung Post, Borneo News Sumber: diolah dari tabel konglomerasi media Ignatius Haryanto 67 “Konglomerasi media di era konvergensi telematika adalah sesuatu yang sulit dihindarkan,”ujar Don Bosco Salamun, dari Berita Satu Media Holdings68, saat menjadi pembicara di konferensimedia baru yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 69. ”Karena dengan penyatuan kepemilikan media itu dapat menjadikan operasional industrimedia lebih efisien,” katanya, “Seorang wartawan misalnya, dapat membuat satu berita bukan hanyauntuk satu kanal namun juga beberapa kanal sekaligus” Bahkan dalam seperti ditulis di salah satu portal70, Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Tbk(BTEL) Anindya Novyan Bakrie saat memaparkan Bakrie Telecom, Media and Technology(BakrieTMT2015) yang akan menyinergikan lini bisnis telekomunikasi (BTEL), media (VIVA Group) danteknologi (BConn dan BNET) sampai dengan tahun 2015. “Sebelum era konvergensi telematika di Indonesia ini, konglomerasi sudah terjadi,” ujar Farid64 Berita Satu Media Holdings65 Saat tulisan ini dibuat, masih dalam proses akusisi66 http://id.wikipedia.org/wiki/Media_Group67 10 tahun Yayasan Tifa,”Semangat Masyarakat Terbuka”68 Berita Satu Media Holdings is an Indonesian media holding company that operates the Berita Satu TV, BeritaSatu.com, Jakarta Globe,Globe Asia, The Peak, Campus Asia, Investor Daily, Majalah Investor and Suara Pembaruan. Berita Satu Media Holdings are amultiplatform media company, focusing in broadcast, print, digital, online, social media, mobile, and events.http://www.linkedin.com/company/berita-satu-media-holdings.69 Konferensi “Media Baru: Menjadi Tuan di Negeri Sendiri”, Hotel Nikko Jakarta, 7 Juli 201170 http://www.investor.co.id/bedahemiten/era-konvergensi-di-mata-bakrie-telecom/8867
    • Gaban71, dalam wawancaranya dengan SatuDunia72, “Kemajuan teknologi mempermudahkan lagikonglomerasi itu,” Sementara menurut aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Margiyono, konvergensitelematika adalah istilah teknologi, sementara dalam konteks bisnis adalah konglomerasi. “Secarateknologi terkonvergensi dan secara bisnis ya konglomerasi,” ujarnya dalam diskusi lingkar belajar diYayasan SatuDunia73. Di tempat terpisah Ignatius Haryanto menyatakan bahwa yang paling pertama diuntungkandengan era konvergensi telematika ini adalah pengusaha media. “Karena itu membuka peluang baruuntuk menyebarkan konten-konten media melalui outlet-outlet yang beragam,” ujarnya, “Kuntungandari konvergensi telematika ini paling cepat dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha media. Nah,pertanyaannya kemudian adalah publik akan mendapatkan apa dengan konvergensi telematika ini?” Konglomerasi media dengan memanfaatkan konvergensi telematika di Indonesia semakinnampak dari upaya Trans Corps membeli situs portal popular, detik.com. Dari sisi bisnis pembeliandetik.com memang sangat menguntungkan. Bagaimana tidak, menurut situs alexa.com 74, per 26 Juli2011, detik.com masuk 10 besar situs paling popular di Indonesia. Tak heran kue iklan pun banyakmengalir ke situs detik.com. Menurut Nukman Lutfie, seperti ditulis portal TEMPO75, detik.com adalah media daring nomorsatu dalam perolehan iklan. “Tahun 2011 ini mereka meraup Rp 100 miliar dari iklan. "Mediadetik.com nomor satu diikuti kompas.com." ujarnya.c. Dampak Konglomerasi Media di Era Konvergensi Telematika c.1. Hegomoni Wacana Publik Mungkin benar bahwa konglomerasi media di era konvergensi telematika ini akanmenguntungkan dari segi bisnis. Dari sisi pendapatan iklan dan juga efisiensi kerja para jurnalisnya.Namun konglomerasi media bukan sekedar urusan bisnis. Konglomerasi media mendorong munculnyahegomoni76 wacana di publik.71 Mantan wartawan Harian Republika dan Majalah TEMPO, kini aktif di Kantor Berita Pena Indonesia dan juga menjadi pengajarpelatihan jurnalistik dan menulis bagi wartawan dan aktifis NGOs.72 Wawancara dengan Farid Gaban di Jakarta, Selasa, 5 Juli 201173 Diskusi lingkar belajar telematika, Yayasan SatuDunia, 18 Agustus 201174 http://www.alexa.com/topsites/countries/ID75 http://portal.tempo.co/hg/bisnis/2011/07/01/brk,20110701-344177,id.html76 Pengertian dari hegomoni itu sendiri adalah dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya tanpa ancamankekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan tersebut diterima sebagai sesuatu yang wajar.
    • “Dengan konglomerasi media di era konvergensi telematika ini, akhirnya informasi akandikuasai oleh segelintir orang saja,” ujar Andras Harsono, “Opini publik di Indonesia ya hanya dikuasaibeberapa perusahaan media besar itu,” Televisi yang dimiliki oleh jaringan konglomerasi media misalnya, memiliki potensi pemirsayang besar di Indonesia. Dengan besarnya pemirsa tersebut, menimbulkan kecenderungan hegomoniwacana. Kecenderungan itu bertambah besar bila kemudian konglomerasi media itu juga merambahdunia online. Nama Stasiun TV Transmission Potential Site Viewer (juta) RCTI77 49 115,7 SCTV 47 117,8 ANTV78 23 87,4 TPI79 28 90,6 Indosiar 40 113,5 Global TV80 20 108,8 Trans TV81 30 100,7 Trans 782 27 92,8 TV One83 26 108,8 Metro TV84 52 97,8 Potensi Pemrisa Televisi, sumber presentasi Satriyo Dharmanto85 “Jika konvergensi telematika ini kemudian mendorong monopoli kepemilikan media darihttp://satuportal.net/content/menyoal-konglomerasi-media-baru77 Group MNC78 Group Bakrie79 Group MNC80 Group MNC81 Group Trans Corps82 Group Trans Corps83 Group Bakrie84 Group Media Indonesia, Surya Paloh85 Satriyo Dharmanto, Presentasi di Working Group Licencing, Bandung, 18 Februari 2010
    • berbagai kanal86, maka itu akan dapat mempengaruhi opini publik yang luar biasa,” ujar Farid Gaban,“Dan opini publik ini kan berpengaruh pada pembuatan kebijakan publik,” Farid Gaban mencontohkan persoalan pembangunan jalan tol misalnya. “Pilihan membangunjalan tol atau rel kereta api, itu kan public policy,” ujarnya, “Bisa dibayangkan bila wacana publikmengenai hal itu dikuasai oleh konglomerat media yang juga berkepentingan atau memiliki bisnisinfrastruktur,” “Group Bakrie misalnya, selain menguasai media87, mereka juga punya bisnis jalan tol, propertidan tambang,” kata Farid Gaban, “Jika konglomerasi media di era konvergensi telematika ini tidakdiatur akan berbahaya sekali,” c.2. Menurunnya Kualitas Jurnalistik Selain itu di era konvergensi telematika ini memungkinkan seorang wartawan menuliskan berita bukan hanya untuk satu kanal informasi saja, tapi berbagai kanal sekaligus. Misalnya, seorang wartawan dapat menulis berita untuk ditampilkan di media cetak, ditayangkan di running text televisi, disiarkan di radio dan diupload (unggah) di media online. “Meskipun itu menurut kaidah bisnis dapat lebih efisien, namun menurut saya harus dibatasi,”ujar Farid Gaban, “Ini akan berpengaruh pada kualitas jurnalistik, wartawan menjadi kekuranganwaktu untuk menambah bahan bacaan, akibatnya berita yang dihasilkannya pun tidak lagi kritis,” Selain itu, menurut Farid Gaban, posisi wartawan akan semakin lemah. “Dengan membebaniwartawan untuk menulis berita di berbagai kanal sekaligus, keuntungan pemilik modal di mediasemakin berlipat-lipat sementara penghasilan wartawan sendiri tidak jauh berubah,” katanya, “Ini jugaakan berpengaruh pada kualitas karya jurnalistik,” Bahaya yang lain dari integrasi media cetak, televisi, radio dan online, lanjut Farid Gaban,media massa cenderung memuaskan yang online atau yang cepat. “Sehingga orang lebihmemperhatikan berita yang cepat dibanding berita yang berkualitas,” jelasnya, “Jika tidak adapengaturan-pengaturan terkait hal ini maka, jurnalistik akan semakin hancur, kesejahteraan wartawanmakin turun dan karya jurnalistik pun makin tak berkualitas,” “Saya tidak tahu pasti, apakah serangkaian dampak buruk dari konglomerasi media di era konvergensi telematika ini disadari oleh kawan-kawan wartawan,” ujar Farid Gaban, “Tapi menurut86 Cetak, televisi, radio, online87 Group Bakrie memiliki TV One, An TV dan vivanews.com
    • saya agak sulit bila wartawan akan kritis terhadap lembaganya sendiri,” “Konglomerasi media di era konvergensi telematika ini posisi wartawan semakin lemah dan posisi pemilik modal semakin kuat, sehingga mereka akan sulit bila harus mengkritisi kebijakan lembaganya sendiri dalam menyajikan berita,” katanya, “Berita terorisme di TV One atau kasus Lapindo88 di Group Media Bakrie89misalnya, adakah wartawannya kemudian mengkritisi cara media itu menyajikan berita?d. Perlawanan Publik Terhadap Hegomoni Wacana di Era Konvergensi Telematika Di era konvergensi telematika ini, selain dapat memberikan peluang semakin kuatnya konglomerasi media, juga memberikan peluang bagi publik untuk mengimbangi, bahkan juga melawan wacana yang dikeluarkan oleh media massa arus utama. Kita, pengguna internet, dapat menulis ketidakpuasan kita terhadap pemberitaan sebuah media mainstream di blog, milis, web 2.0 90, twitter atau facebook. “Publik memungkinkan untuk melakukan perlawanan terhadap dominasi wacana dari konglomerasi media mainstream, terutama dengan hadirnya internet yang memberikan ruang baru bagi publik untuk berekspresi,” ujar Andreas Harsono, “Tetapi kecil sekali,” “Melawan konglomerat media sekarang ini tidaklah gampang,” ujarnya, “Mayoritas konten yang ada di internet91, dibuat oleh media konglomerasi itu,” Selama publik, termasuk jurnalis warga, lanjut Andreas Hartanto, tidak membuat konten sendiri, akan sulit untuk menandingi hegomoni wacana dari media konglomerasi.88 Kasus Lapindo adalah kasus munculnya semburan lumpur di Sidoarjo. Sebagian pakar pemboran di dunia dalam konferensiinternasional di cape town, Afrika Selatan, menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo terkait dengan aktivitas pemboran(http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita,Geolog-Internasional-Pengeboran-Penyebab-Lumpur-Lapindo-2750.html). Lapindo sebagaianak perusahaan Group Bakrie dikaitkan dengan peristiwa itu. Selain memiliki usaha tambang, group Bakrie juga memiliki media massa(dua televisi dan satu portal berita).89 TV One, AnTV dan vivanews.com90 Website yang memungkinkan pengguna internet mengupload sendiri tulisannya, seperti www.politikana.com, www.kompasiana.com,www.suarakomunitas.net, www.satuportal.net91 Twitter, facebook
    • Menurut laporan Saling-Silang tahun 201192, sebanyak 22% link media massa muncul di twitter.Adapun komposisinya adalah sebagai berikut. Link media yang sering muncul di twitter “Sesekali perlawanan publik terhadap dominasi wacana media konglomerasi ini bisa berhasil,”ujar Andreas Harsono, “Kasus penyerangan Jama’ah Ahmadiyah di Cikusik misalnya,” Video tragedi Cikesik di youtube misalnya, itu hanya bisa mendominasi pemberitaan di mediabesar dalam beberapa minggu saja. “Tapi setelah itu berjalan seperti biasanya,” ujarnya, “Dan akanlebih sulit lagi bila kasusnya menyangkut kepentingan Group media konglomerasi, kasus Lapindomisalnya,” Kasus Lapindo menjadi salah satu hal yang dapat dijadikan contoh bagaimana publikmelakukan perlawanan terhadap wacana yang disajikan oleh media-media dalam kelompok GroupBakrie. TV One menyebut semburan lumpur sebagai lumpur Sidoarjo bukan lumpur Lapindo 93. BahkanTV itu secara khusus mewawancarai pakar geologi Rusia Dr. Sergey Kadurin yang menyatakansemburan lumpur adalah akibat gempa bumi bukan akibat kesalahan pengeboran 94. Sementarapendapat pakar yang menyatakan bahwa semburan lumpur akibat pengeboran tidak diwawancarai. Hal yang sama juga terjadi di ANTV. Televisi milik Group Bakrie itu juga menyebut semburan92 Snapshot of Indonesia Social Media Users - Saling Silang Report Feb 201193 Penyebutan semburan lumpur dengan lumpur Sidoarjo mengarahkan opini publik bahwa semburan itu adalah bencana alam bukanakibat pengeboran.94 http://www.youtube.com/watch?v=F9H1X8cMaoE
    • lumpur sebagai lumpur Sidoarjo bukan lumpur Lapindo. ANTV juga menayangkan pendapat Dr. SergeyKadurin yang menyatakan semburan lumpur adalah akibat gempa bumi bukan akibat kesalahanpengeboran95. Seperti halnya TV One, pakar yang menyatakan bahwa semburan lumpur akibatpengeboran tidak dimintai pendapat. Hal yang sama juga terjadi pada vivanews.com. Portal berita milik Group Bakrie itu jugamenyebut semburan lumpur sebagai lumpur Sidoarjo, bukan lumpur Lapindo. Di saat yang hampirbersamaan pula portal berita itu menampilkan pendapat pakar geologi Rusia yang menyatakansemburan lumpur bukan akibat pengeboran96. Liputan khusus terhadap pakar Rusia juga ditampilkansecara audio-visual di portal vivanews.com97. Tapi publik tidak tinggal diam. Terkait wawancara khusus kelompok media Bakrie terhadap Dr.Sergey Kadurin yang menyatakan semburan lumpur adalah akibat gempa bumi bukan akibat kesalahanpemboran, diimbangi oleh www.korbanlumpur.info98 dengan menuliskan pendapat pakarperminyakan Mark Tingay dari Australian School of Petroleum, Universitas Adelaide, Australia 99.Menurut Mark Tingay, semburan lumpur di Sidoarjo, 90% akibat aktivitas pemboran bukan bencanaalam100. Web korban korban lumpur sendiri adalah sebuah inisiatif masyarakat sipil untuk melawanwacana dari media mainstream dalam kasus Lapindo. Web korban lumpur juga mendistribusikankontennya melalui media sosial, facebook dan twitter. Kampanye untuk melawan wacana mediamainstream dalam kasus Lapindo juga dilakukan melalui jejaring sosial facebook.95 http://www.youtube.com/watch?v=vLlvU9pcVZU96 http://nasional.vivanews.com/news/read/180457-lumpur-sidoarjo-bukan-karena-pengeboran97 http://video.vivanews.com/read/11227-wawancara-dengan-pakar-geologi-rusia-tentang-penyebab-lumpur-sidoarjo98 Situs ini (www.korbanlumpur.info) dikelola oleh Kanal News Room, dapur berita dan data yang lahir atas inisiatif aliansi masyarakatsipil untuk korban Lapindo pada pertemuan Ciputat 12-13 Juli 2008. Kanal hingga kini melahirkan tiga bentuk media, yakni websitewww.korbanlumpur.info, buletin Kanal dan Kanal Radio. Kanal menyajikan fakta lapangan, data, dan analisis tentang kasus lumpurLapindo dengan menitikberatkan pada komitmen memperjuangkan hak-hak korban.99 http://korbanlumpur.info/berita/lingkungan/705-pakar-bantah-ilmuwan-rusia-90-persen-yakin-semburan-lapindo-akibat-pemboran-.html100 “Menurut pendapat saya, berdasarkan kajian-kajian ilmiah yang sudah saya lakukan, gempa tidak bisa memicu semburan lumpurLapindo. Dan kita 90 persen yakin, bahkan kolega-kolega saya 99 persen yakin, semburan ini terkait dengan kecerobohan pemboran,”ujar Tingay.
    • Gerakan kampanye kasus Lapindo di media sosial Channel Jumlah anggota/follower Keterangan Fanpage facebook101 878 (per 19 Juli 2011) Friend of Lapindo Victim, 3404 (per 19 Juli 2011) Group in Facebook102 Twitter @korbanlapindo103 452 (27 Juli 2011) Cause;Dukung Korban 17,238 ( Per Juni 2011) Lapindo Mendapatkan Keadilan 104 Tingkat keterbacaan atau paparan media yang dijadikan tempat untuk melawan dominasi wacana dalam kasus Lapindo sangat sedikit dibandingkan dengan keterbacaan atau paparan dari media konglomerasi Group Bakrie. NO Channel Jumlah Ranking di Jumlah pembaca/pemirsa Alexa anggota/follower di media sosial Gerakan kampanye publik untuk kasus Lapindo 1 Website korbanlumpur.info 6,167,065 (global), 140,328 (rank in id), 40 (site link in) 2 Fanpage facebook 878 3 Friend of Lapindo Victim, 3404101 http://www.facebook.com/korbanlumpur.info?sk=wall102 http://www.facebook.com/group.php?gid=26083340518103 http://twitter.com/#!/korbanlapindo104 http://www.causes.com/causes/333125?m=faf1a932
    • Group in Facebook 4 Twitter @korbanlapindo 452 5 Cause;Dukung Korban 17,238 Lapindo Mendapatkan Keadilan Media Group Bakrie 1 Vivanews.com Peringkat ke-13 topsite menurut alexa. 857 (global), 13 (rank in Id), 276 (site link in) Twitter (@VIVAnews) 185,597 Vivanews.com di 4,545 facebook105 Vivanews.com di facebook 66,849 2106 2 AnTV 87,4 juta AnTV di twitter107 30,278 3 TV One 108,8 TV One di Twitter108 404,409 Dari tabel di atas terlihat bahwa secara kuantitas potensi publik yang terpapar kampanyeterkait kasus Lapindo dan media group Bakrie jauh dari berimbang. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana masa depan gerakan perlawanan publik dalammelawan dominasi wacana oleh konglomerasi media di era konvergensi telematika ini?105 http://www.facebook.com/#!/pages/VIVAnews-dot-COM/72076019043?sk=wall106 http://www.facebook.com/#!/VIVAnewscom107 @whatsonANTV108 @tvOneNews
    • IV. Kebijakan Telematika dan Masa Depan Gerakan Perlawanan di Dunia Mayaa. UU ITE dan Pelemahan Perlawanan Publik Prita Mulyasari. Sebuah nama yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah gerakan sosial di internet.Prita Mulyasari adalah seorang perempuan yang menuliskan ketidakpuasannya terhadap pelayanansebuah rumah sakit Omni Internasional melalui email pribadinya ke rekan-rekannya. Akhirnya email pribadi tersebut sampai ke RS Omni Internasional. RS Omni Internasional kemudian melakukan gugatan perdata dan melaporkan Prita Mulyasari secara pidana. Dalam hukum pidana Prita Mulyasari dinilai telah melakukan pencemaran nama baik seperti yang tertuang dalam Pasal 27 ayat 3 Undang Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kasus itu kemudian mendorong para pengguna internet, blogger dan facebooker menggalang dukungan untuk Prita Mulyasari melawan RS Omni Internasional. Gerakan dukungan online itu kemudian berlanjut ke aktifitas offline. Hal itu terlihat dari berbagai demonstrasi di persidangan Prita Mulyasari dan yang paling besar tentu saja adalah gerakan koin keadilan untuk Prita. Gencarnya dukungan di dunia maya terhadap Prita Mulyasari ini akhirnya mencuri perhatian media massa mainstream untuk memberitakannya. Gerakan dukungan terhadap Prita Mulyasari pun semakin besar sejak beritanya muncul di media massa mainstream konvensional 109. Menggemannya dukungan terhadap Prita Mulyasari pun membuat para kandidat calon Presiden pada tahun 2009 memanfaatkan kasus ini sebagai salah satu isu dalam kampanye mereka. Besarnya dukungan terhadap gerakan di internet dalam kasus Prita Mulyasari ini akhirnya dicoba diulangi dalam kasus-kasus lainnya. Meskipun tidak semuanya bisa mengulang lagi keberhasilan gerakan itu. Gerakan di internet yang cukup berhasil dalam mengulang gerakan dalam kasus Prita adalah dukungan terhadap Bibit-Candra dalam kasus Cicak Vs Buaya (KPK)110. Gerakan Sosial di Facebook Jumlah Pendukung Keterangan Page Dukung: 19.339 (per 8 Juni 2011) Bebasmurnikan Prita dr Tuntutan Bui111109 Televisi, koran, tabloid, majalah, radio110 Saat itu ada anggota KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang dinilai telah dikriminalkan oleh kepolisian. Pihak polisi diberi labelbuaya, sementara pihak KPK diberi label cicak111 (http://www.facebook.com/pages/Dukung-Bebasmurnikan-Prita-dr-Tuntutan-Bui/179105094476?ref=ts)
    • Causes; “Dukungan Bagi Ibu 389.639 (per 8 Juni 2011) Prita Mulyasari, Penulis Surat Kelahuhan Melalui Internet yang ditahan”112. Gerakan 1.000.000 378,453 (per 19 Juli 2011) Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto113 Cause;Dukung Korban 17,238 ( Per Juni 2011) Lapindo Mendapatkan Keadilan 114 Group Gerakan Rakyat 3669 (per 7 Juni 2011) Dukung Pembebasan Nenek Minah115 Selain gerakan sosial di facebook, muncul pula gerakan jurnlisme warga melalui website UGC(User Generate Content)116. Hal itu misalnya dilakukan Akhmad Rovahan117. Pengajar di sebuahmadrasah di Buntet, Cirebon, itu menulis karut-marut pengucuran dana pendidikan untuk tujuhsekolah di Kecamatan Astanajapura. Karyanya itu kemudian diunggah di Suara Komunitas(www.suarakomunitas.net), salah satu portal tempat para pewarta warga berbagi informasi, akhirtahun 2010. Tulisannya mengalir sampai ke Jakarta. Petugas Badan Pemeriksa Keuangan mengeceklangsung, juga tim pemantau dari beberapa kampus. Kasus itu menjadi pembicaraan di tingkatprovinsi. "Orang pemerintah daerah sampai minta tulisannya dicabut," kata Akhmad. Kejadian itu bukan satu-satunya. Seorang warga mengunggah tulisan tentang sekolah yangsiswanya belajar secara lesehan. "Dua hari kemudian, datang meja-kursi dari pemerintah," kata112 http://www.causes.com/causes/290597-dukungan-bagi-ibu-prita-mulyasari-penulis-surat-keluhan-melalui-internet-yang-ditahan113 http://www.facebook.com/pages/Gerakan-1000000-Facebookers-Dukung-Chandra-Hamzah-Bibit-Samad-Riyanto/192945806132?ref=ts&sk=info114 http://www.causes.com/causes/333125?m=faf1a932115 http://www.facebook.com/group.php?gid=180415896573116 User Generte Conten (UGC) adalah website yang memungkinkan pengguna internet menulis dan mengupload sendiri connten di webtersebut117 Majalah TEMPO, Edisi 2 Mei 2011. http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/05/02/MD/mbm.20110502.MD136575.id.html
    • Akhmad. Ada juga cerita pengusutan kasus meninggalnya tenaga kerja asal Cirebon di Jawa Tengaholeh pemerintah setelah beredarnya tulisan dari kerabat korban di situs media komunitas. Suara Komunitas (www.suarakomunitas.net) sendiri adalah website yang dikelola oleh media-media komunitas yang tersebar di seluruh Indonesia. Pengelolaannya difasilitasi oleh sebuah NGOsYogyakarta, COMBINE Resource Institution118. Namun, nampaknya gerakan sosial di dunia maya kembali akan menemui kendala. Kendala pertama adalah terkait dengan ancaman pencemaran nama baik di UU ITE. Dalam kasus pidana119, Prita dikalahkan melalui putusan kasasi Mahkamah Agung. Dikalahkannya Prita Mulyasari dalam kasus pidana melawan RS Omni menjadi preseden buruk bagi gerakan sosial di dunia maya. Selain dalam kasus Prita Mulyasari, pasal karet pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan120, telah mengancam beberapa warga yang mencoba melakukan kritik sosial terhadap tokoh-tokoh yang kebetulan memiliki kekuasaan, baik secara politik maupun ekonomi. Bambang Kisminarso misalnya, polisi sempat menahannya berserta anaknya M. Naziri atas tuduhan telah menghina anak presiden dalam pelanggaran ketentuan pencemaran nama baik melalui UU ITE. Bambang mengajukan pengaduan kepada komisi pengawasan pemilu daerah bahwa para pendukung putra presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah membagi-bagikan uang kepada para calon pemilih121. Selain itu ada Yudi Latif, seorang intelektual publik yang pernah terancam terjerat pasal karet UU ITE ini. Pada akhir tahun 2010 lalu, Yudi latif, dilaporkan ke polisi oleh para kader Partai Golkar dengan tuduhan mencemarkan nama baik pimpinan partainya, Aburizal Bakrie. Dalam laporan polisi bernomor TBL/498/XII/2010/Bareskrim itu, Yudi dilaporkan atas dugaan pelanggaran Pasal 310 dan atau Pasal 311 KUHP dan atau Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 28 ayat (1) dan (2) UU ITE122. Sebelumnya pasal pencemaran nama baik selalu digunakan menjadi alat untuk membungkam gerakan masyarkat sipil123. 1. Fifi Tanang, seorang penulis surat pembaca di sebuah surat kabar. Dituduh mencemarkan nama baik PT Duta Pertiwi melalui tulisannya di kolom surat pembaca. 2. Alex Jhoni Polii, warga Minahasa, yang memperjuangkan kepemilikan tanahnya118 http://combine.or.id/suara-komunitas/119 http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/2026120 Pasal 27 ayat 3 UU ITE tentang pencemaran nama baik, pasal 28 UU ITE tentang perbuatan tidak menyenangkan.121 Kritik Menuai Pidana, Human Right Watch, 2010. http://satuportal.net/system/files/indonesia0510indosumandrecs.pdf122 http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=11870123 http://www.satudunia.net/lawan-kebangkitan-orde-baru-di-dunia-maya
    • melawan PT. Newmont Minahasa Raya (NMR). Dituduh melakukan tindak pidana pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. 3. Dr. Rignolda Djamaluddin, ia dinilai telah mencemarkan nama baik perusahaan tambang emas PT. Newmont Minahasa Raya (NMR) karena pernyataannya tentang gejala penyakit Minamata yang ditemukan pada beberapa warga Buyat Pante. 4. Yani Sagaroa dan Salamuddin, kedua orang itu dituding telah mencemarkan nama baik perusahaan karena pernyataanya bahwa PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) harus bertanggung jawab atas penurunan kualitas kesehatan yang dialami masyarakat Tongo Sejorong sejak perusahaan tersebut membuang limbah tailingnya ke Teluk Senunu. 5. Usman Hamid (Koordiantor Kontras). Tuduhan: pencemaran nama baik. 6. Emerson Yuntho (Koordinator ICW). Tuduhan: pencemaran nama baik. 7. Illian Deta Arta Sari (aktivis ICW). Tuduhan: pencemaran nama baik. 8. Gatot (aktivis KSN). Tuduhan: pencemaran nama baik. 9. Suryani (aktivis LSM Glasnot Ponorogo). Tuduhan: pencemaran nama baik. 10. Dadang Iskandar (aktivis Gunung Kidul Corruption Watch). Tuduhan: pencemaran nama baik. 11. Itce Julinar (Ketua SP Angkasapura). Tuduhan: pencemaran nama baik. Kasus Prita Mulyasari yang akhirnya dikalahkan dalam putusan kasasi MA (UU ITE) dan juga penggunaan pasal karet pencemaran nama baik dalam KUHAP untuk menjerat aktivis menjadi preseden buruk bagi gerakan sosial digital ke depannya. Warga masyarakat yang akan melakukan kontrol sosialnya melalui internet akan selalu dibayangi pasal pencemaran nama baik UU ITE.b. RUU Konvergensi Telematika dan Pelemahan Perlawanan Publik Saat laporan ini124 dibuat pemerintah sedang membahas Rancangan Undang Undang (RUU)Konvergensi Telematika. RUU itu nantinya akan menggantikan UU 36/1999 tentang telekomunikasi.Terkait dengan hal itulah RUU Konvergensi Telematika ini menjadi penting untuk mendapatkanpengawalan dari masyarakat. Dalam konteks liberalisasi telekomunikasi, RUU Konvergensi Telematika ini tidak jauh bedadengan UU 36/1999. Dalam penjelasan draft RUU itu disebutkan bahwa Dalam penjelasan RUU124 Juli 2011
    • Konvergensi Telematika secara gamblang disebutkan, bahwa salah satu hal yang melatarbelakangimunculnya RUU Konvergensi Telematika adalah “Tekanan atau dorongan untuk mewujudkanperubahan paradigma telematika dari vital dan strategis dan menguasai hajat hidup orang banyakmenjadi komoditas yang dapat diperdagangkan semakin besar melalui forum-forum regional daninternasional dalam bentuk tekanan untuk pembukaan pasar (open market)”.125 Menurut Margiyono ada sebuah paradigma regulasi di era konvergensi telamatika. Paradigmaitu adalah126:  Sudah terjadi konvergensi teknologi, kemudian terjadi konvergensi media, dan tantangannya ada konvergensi hukum, kemudian konvergensi badan regulasi  Karena selama ini di media ada beberapa badan yang bersentuhan dan bergesekan sehingga terjadi pergesekan kewenangan, misalnya antara KPI dengan Dewan Press sempat terjadi ketegangan ketika KPI memberikan sanksi kepada Metro TV yang menanyangkan berita pagi tentang Satpol PP melakukan sweeping internet dan situs pornonya tidak disamarkan, KPI memberian sangsi berita pagi tidak boleh tayang selama 5 hari. Dewan Press menganggap ini sebagai pembredelan. Belum lagi pergesekan dengan pengatur frekuansi dengan BRTI.  Idenya adalah bagaimana membuat badan regulasi yang terkonvergensi Pertanyaannya kemudian adalah, dari sisi masyarkat, apakah RUU ini akan mampu memberikanpayung hukum baru yang masyarakat untuk memperkuat perlawanan terhadap dominasi wacana darikonglomerasi media yang telah terkonvergensi itu?b.1. Pembagian Penyelenggara Telematika Kendala pertama dari RUU ini muncul terkait dengan pembagian penyelenggara telematika."Persoalan pembagian penyelenggara telematika di RUU Konvergensi ini juga menimbulkanpertanyaan," ujar Donny BU dalam wawancaranya dengan SatuDunia, di kantor ICT Watch Jakarta 127.Persoalan terkait dengan hal itu menurut Donny berasal dari Pasal 8 ayat 1 draft RUU KonvergensiTelematika. Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa penyelenggaraan Telematika terdiri atas.125 http://www.satudunia.net/content/indepth-report-membaca-inisiatif-e-asean126 http://www.satudunia.net/content/notulensi-diskusi-lingkar-belajar-telematika-1127 Wawancara dengan Donny BU, ICT Watch, 1 April 2011
    • Penyelenggaraan Telematika yang bersifat komersial dan Penyelenggaraan Telematika yang bersifatnon-komersial. Semua penyelenggaraan telematika menurut RUU Konvergensi Telematika dianggapkomersial, kecuali pertahanan dan keamanan nasional, kewajiban pelayanan universal, dinas khususdan perseorangan. Sedangkan menurut penjelasan pasal 8 RUU Konvergensi Telematika menyebutkan bahwa yangdimaksud dengan “Penyelenggaraan Telematika yang bersifat komersial” adalah penyelenggaraantelematika yang disediakan untuk publik dengan dipungut biaya guna memperoleh keuntungan (profitoriented). Dan yang dimaksud dengan “Penyelenggaraan Telematika yang bersifat non-komersial”adalah penyelenggaraan telematika yang disediakan untuk keperluan sendiri atau keperluan publiktanpa dipungut biaya (non-profit oriented). Pasal 13 RUU Konvergensi Telematika menyebutkan bahwa penyelenggaraan Telematikasebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) wajib mendapat izin dari Menteri berupa perizinanindividu atau perizinan kelas. Selain itu dalam pasal 12 juga disebutkan bahwa setiap penyelenggara telematika wajibmembayar biaya hak penyelenggaraan telematika yang diambil dari persentase pendapatan kotor(gross revenue). Sementara itu menurut RUU Konvergensi Telematika penyelenggaraan Layanan AplikasiTelematika adalah kegiatan penyediaan layanan aplikasi telematika yang terdiri dari aplikasipendukung kegiatan bisnis dan aplikasi penyebaran konten dan informasi. "Nah pertanyaannya adalah bagaimana dengan Media Online, Situs jejaring komunitas sepertisuarakomunitas.net, penyelenggara radio streaming (IP-Based), penyedia forum diskusi yang usergenerated content atau layanan darurat (emergency) seperti AirPutih/ JalinMerapi?" tanya Donny BU. Soal penyelenggaraan telematika ini juga pernah diutaran oleh aktivis koalisi MasyarakatInformasi (Maksi) dan juga Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Margi Margiyono 128. "Jadi yang bisamembuat aplikasi itu hanya komersial," ujar Margiyono, "Lantas, kalau NGO membuat aplikasibagaimana? Bukankah web termasuk juga aplikasi," Dalam RUU Konvergensi Telematika itu disebutkan bahwa baik penyelenggara non komersialdan komersial harus izin ke menteri. "Jadi kalau kita bikin portal/website harus izin ke menteri danbayar BHP /Biaya Hak Penggunaan," lanjutnya. RUU Konvergensi Telematika ini, lanjut Margiyono, jelas berpotensi menghambat gerakan128 Diskusi di SatuDunia, “Revisi UU ITE dan RUU Konvergensi Telematika, Bagaimana Sikap Masyarakat Sipil”, 25 Oktober 2010
    • sosial digital atau klik activism dan juga jurnalisme warga. "Bagaimana tidak, untuk menjadi citizenjurnalis dan aktivis sosial digital harus mendapat izin, membayar BHP dan melakukan USO,"tambahnya, "UU Pers saja menyatakan bahwa pers tidak perlu ijin, lha kok Citizen Jurnalist harus izin” “Begitu pula pers, kecuali penyiaran, tak bayar BHP,” tambah Margiyono “Lha kok Citizenjurnalist harus bayar BHP?” Dampak buruk RUU Konvergensi Telematika bagi organisasi non pemerintah mulai dikeluhkanoleh aktivis Combine Resource Institute. "Organisasi kami menggunakan alat dan perangkattelematika untuk pemberdayaan masyarakat (kebutuhan non komersial)," ujar Ranggoaini Jahja,aktivis Combine Resource Institute kepada SatuDunia129, "Sehingga jika penerapan RUU ini akanmembatasi ruang kami untuk melakukan kerja pemberdayaan, sementara operator swasta129 Wawancara dengan RANGGOAINI JAHJA (via email), COMBIMBINE Resource Institution, 4 April 2011
    • memperlakukan jenis layanan kepada masyarkat secara sama maka organisasi kami menolak RUU ini,"b.2. Ketimpangan Akses Telematika Ketimpangan akses telematika yang menjadi fakta di Indonesia menjadi persoalan serius dalamkonteks perlawanan warga terhadap wacana dominan konvergensi media konglomerasi. Warga yangada di luar Jawa, utamanya di sebagian kawasan Indonesia tengah dan Timur akan kesulitanmengimbangi atau melawan dominasi wacana media konglomerasi melalui blog, jurnalisme wargajika mereka tidak memiliki akses terhadap telematika. Akibatnya, tentu saja apa yang dipublikasikan oleh media konglomerasi yang teleh konvergenitu mendominasi wacana publik dan dianggap sebagai sebuah kebenaran tunggal. Perlawanan wargadi kawasan Indonesia tengah dan timur terhadap wacana dominan media konglomerasi menjadipenting, utamanya menyangkut persoalan pengelolaan sumberdaya alam. Mengingat kawasan itusangat kaya dengan sumberdaya alam. Sementara di sisi lain, sebagian konglemerat media selainmemiliki bisnis media juga memiliki bisnis yang terkait dengan sumber daya alam semisal,perkebunan sawit dan tambang. “Jika konsep besarnya adalah hak warga negara (masyarakat luas), mengapa yang diatur dalamRUU Konvergensi Telematika ini lebih kental soal hak konsumen/pengguna?” ujar Donny BU,“Sementara hak warga negara, utamanya yang belum mendapat akses telematika, belum atau tidakdiatur,” Terkait dengan hak warga itu pula, Donny BU mengaku sepakat dengan catatan yang pernahdibuat oleh Yayasan SatuDunia terkait hak warga negara dalam RUU Konvergensi Telematika ini.Dalam Brief Paper SatuDunia130 tentang RUU Konvergensi Telematika menyebutkan telah terjadipereduksian hak warga negara menjadi sekedar hak konsumen. Menurut Brief Paper SatuDunia, meskipun berkali-kali disebutkan kata masyarakat dalam RUUKonvergensi Telematika, namun di batang tubuh RUU ini justru tidak ada satu pasal pun yangmengatur hak warga negara. Dalam salah satu pasal di RUU ini mengatur perlindungan konsumen tapibukan warga negara. Antara konsumen dan warga negara jelas sesuatu yang berbeda. Hak konsumen munculdidasarkan atas hubungan transaksional dengan korporasi. Sementara hak warga negara munculdidasarkan atas kontrak sosial yang dibuat antara negara dan warganya.130 http://www.satudunia.net/content/brief-paper-ruu-konvergensi-telematika
    • Dalam kontrak sosial itu, negara diberikan mandat untuk menghormati, melindungi danmemenuhi hak warganya. Termasuk hak warga atas pembangunan dalam hal ini termasukpembangunan telematika. Dalam pasal 38 RUU Konvergensi Telematika memang disebutkan bahwapelaksanaan kewajiban pelayanan universal telematika131 menjadi tanggung jawab pemerintah. Sayangnya di RUU Konvergensi Telematika itu tidak disebutkan mengenai hak warga negara jikalayanan universal gagal dipenuhi pemerintah. Apakah warga negara berhak komplain atau bahkanmengajukan gugatan jika layanan universal telematika itu gagal disediakan pemerintah? Tidak jelas,karena hak warga negara untuk komplain dan menggugat itu tidak disebutkan dalam RUU. Di sisi lain dalam RUU Konvergensi Telematika ini hanya mengatur perlindungan mengenai hakkonsumen atau pengguna telematika. Artinya, dalam RUU ini hak warga negara telah direduksimenjadi hak konsumen. Hak warga negara untuk komplain bahkan menggugat tidak ada payunghukumnya selama kita belum menjadi konsumen produk telematika. Hak warga negara pelosokIndonesia untuk komplain dan menggugat akibat kegagalan pemerintah menyediakan layananuniversal telematika tidak mendapat perlindungan sama sekali dalam RUU ini. Ini sangat sesuaidengan penjelasan umum RUU ini, bahwa “….paradigma telematika dari vital dan strategis danmenguasai hajat hidup orang banyak menjadi komoditas yang dapat diperdagangkan….”131 Kewajiban pelayanan universal telematika adalah kewajiban penyediaan layanan telematika agar masyarakat, terutama di daerahterpencil atau belum berkembang, mendapatkan akses layanan telematika.
    • Kesimpulan Konvergensi telematika sepertinya telah menjadi sebuah keniscayaan dalam sejarah peradabanmanusia di muka bumi ini. Kemajuan perkembangan teknologi telah mempercepat proses itu.Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia pun tak ketinggalan dalam gegap gempita konvergensitelematika itu. Jumlah pengguna internet yang terus meningkat di negeri ini seakan memberikan sinyal bahwakonvergensi telematika juga tengah terjadi di negeri ini. Pertanda lainnya adalah adanya perubahanpola konsumsi media dalam kesehariannya. Kini untuk mengakses berita tidak lagi mengandalkanmedia massa konvensional. Media online menjadi salah satu alternatif dalam memperoleh sebuahinformasi. Bukan hanya itu, warga Indonesia juga tengah dilanda demam sosial media. Facebook dantwitter adalah situs jejaring sosial di internet yang sangat popular di negeri ini. Kemudahan kedua situsjejaring sosial itu diakses melalui handphone ikut mempengaruhi popularitasnya. Namun setidaknya ada dua persoalan yang muncul di tengah gegap gempita konvergensitelematika di Indonesia. Pertama, peningkatan pengguna internet di negeri ini sepertinya belum atautidak diimbangi dengan meningkatnya produktifitas konten dari penggunanya. Mayoritas penggunainternet di negeri ini adalah pengguna internet yang pasif dalam hal produksi konten. Kedua, adanya kesenjangan akses telematika antar wilayah di Indonesia. Sebagian besarinfrastruktur telematika terkonsentrasi di Jawa, khususnya lagi di Jakarta. Warga Indonesia bagiantimur tidak memiliki kemewahan yang sama dengan saudaranya di Jakarta dalam mengakses internet.Tak heran pengguna sosial media, yang pernah dibanggakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono(SBY), terkonsetrasi di Jakarta. Singkat kata, pengguna internet di Indonesia selain pasif juga didominasi oleh warga yangtinggal di Jakarta, Jawa, Indonesia Barat dan sebagian tengah. Sementara penduduk di IndonesiaTimur masih ketinggalan dalam hal mengakses internet. Di sisi lain, konvergensi telematika juga dimanfaatkan oleh industri media massa untuk lebihmengefektifkan proses produksi beritanya. Reportase berita yang dihasilkan oleh seorang wartawankini tidak hanya ditampilkan di media cetak. Namun dapat ditampilkan di berbagai kanal sekaligus.Dari sisi perusahaan media, konvergensi telematika sungguh menguntungkan secara ekonomi. Singkatkata, konvergensi telematika ini pada akhirnya akan semakin memperkuat bisnis konglomerasi media
    • yang telah ada sebelumya. Persoalannya adalah, konglomerasi media bukan hanya persoalan ekonomi. Namun juga adasebuah hegomoni wacana di dalamnya. Dalam beberapa kasus di Indonesia, media-mediakonglomerasi cenderung seragam dalam memberitakan sebuah persoalan, terutama yangmenyangkut kepentingan para pemilik medianya. Seragamnya pemberitaan media-media GroupBakrie (vivanews.com, TVOne, AnTV) dalam memberitakan kasus Lapindo dapat dijadikan contohdalam hal ini. Di sisi lainnya, konvergensi telematika juga memberikan peluang munculnya perlawananterhadap hegomoni wacana dari media konglomerasi. Kaburnya batas antara konsumen dan produsenkonten dalam era konvergensi telematika adalah sebuah peluang bagi masyarakat untuk melakukanperlawanan terhadap hegomoni wacana oleh media konglomerasi. Namun, fakta di lapangan juga menunjukan bahwa perlawanan oleh masyarakat terhadaphegomoni wacana media konglomerasi berjalan tidak seimbang. Jumlah pemirsa, pembaca,pendengar dan pengangses media konglomerasi lebih banyak dibandingkan media alternatif yangdibuat oleh masyarkat sipil. Persoalan pasifnya pengguna internet dan juga kesenjangan akses telematika di Indonesiamenjadi faktor penting dalam ketidakseimbangan pertarungan wacana antara media konglomerasidan media alternatif dari masyarakat. Lantas, bagaimana kebijakan telematika di Indonesiamemposisikan dirinya dalam pertarungan wacana ini? Kebijakan telematika di Indonesia nampaknya tidak berpihak kepada masyarakat dalamkonteks pertarungan wacana dengan media konglomerasi. Pasal karet pencemaran nama baik diUndang Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik misalnya. Pasal karet di UU itu dapat denganmudah ditafsirkan untuk membungkam suara-suara kritis dari masyarakat. Dan pasal karet itu hanya berlaku bagi masyarakat biasa yang tidak berprofesi sebagaiwartawan. Sebaliknya, wartawan media massa termasuk media konglomerasi dilindungi oleh UU Persketika memproduksi karya jurnalistiknya. Pendek kata, keberadaan pasal karet di UU ITE itu membuatmasyarakat pengguna internet semakin pasif dalam memproduksi konten. Ancaman hukuman di pasalkaret UU ITE itu membuat para pengguna internet lebih baik diam daripada memproduksi kontennamun berbuah penjara. Rancangan Undang-Undang (RUU) Konvergensi Telematika yang diharapkan mampumemberikan perlindungan bagi masyarakat untuk mengimbangi hegomoni wacana media
    • konglomerasi nampaknya akan mengecewakan. Di RUU Konvergensi Telematika justru muncul pasalyang mewajibkan penyelenggara telematika, termasuk penyelenggara aplikasi website untukmemperolah ijin dari menteri dan membayar BHP. Dengan ketentuan ini website-website yang dikelolaNGOs akan diwajibakan untuk memperoleh ijin dari menteri dan membayar BHP. Ketentuan ini tentu akan menyulitkan NGOs yang menyelenggarakan aplikasi telematikaberupa mengelola website. Bukan tidak mungkin, website NGOs yang selama ini menuliskan kritikyang tajam terhadap model pembangunan akan terganjal persoalan perijinan, sehingga website itudianggap illegal. Sebuah penyingkiran suara-suara kritis di dunia maya. RUU Konvegensi yang diharapkan mampu memberikan payung hukum bagi pemenuhan hakwarga atas akses telematika ternyata juga mengecewakan. Dalam RUU itu tidak ada satupun payunghukum yang melindungi hak warga negara atas akses telematika. Yang mendapat perlindunganhanyalah hak konsumen. Atau hak sesorang setelah menjadi konsumen produk telematika. Sementarahak warga untuk memperoleh akses terhadap infrastruktur telematika tidak mendapat perlindungan. Dalam RUU itu memang dinyatakan bahwa ada kewajiban pemerintah untukmenyelenggarakan layanan universal. Sebuah layanan akses telematika di kawasan terpencil. Namuntidak ada satu pasal pun yang memberikan payung hukum bagi warga untuk menggugat atau sekedarkomplain bila kewajiban pemerintah itu tidak terpenuhi. Hal ini tentu memberikan peluang bagipemerintah untuk tidak melakukan kewajibannya. Dengan adanya kesenjangan akses telematika maka warga di daerah terpencil pun akankesulitan mengekspresikan pendapatnya. Sebaliknya, media-media konglomerasi dengan kekuatanmodalnya tetap dengan leluasa memproduksi wacana terkait persoalan-persoalan di daerah.Akibatnya wacana publik akan bias kota, utamanya Jakarta. Jika demikian, tidak mengherankan bilakebijakan pembangunan akan bias Jakarta. Untuk itulah, tidak berlebihan bila UU ITE, khususnya pasal mengenai pencemaran nama baikdicabut atau minimal ditinjau ulang. Begitu pula proses penyusunan RUU Konvergensi Telematika.Khusus untuk penyusunan RUU Konvergensi Telematika, perlu sebanyak mungkin melibatkan publik.Sehingga penyusunan RUU itu tidak didominasi oleh prespektif dan kepentingan pemerintah dankorporasi di sektor telematika, melainkan juga mempertimbangkan prespektif dan kepentingan warganegara.
    • Daftar Pustaka1. http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_Informasi_Komunikasi2. http://biginaict.wordpress.com/2010/11/01/ruu-konvergensi-belum-konvergen/3. http://www.internetworldstats.com/stats.htm4. http://www.prasetyapuspita.info/berita-113-sejarah-perkembangan-telematika-di- indonesia.html5. http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICEXT/INDONESI AINBAHASAEXTN/0,,menuPK:447277~pagePK:141132~piPK:141109~theSitePK:447244,00. html6. Berita Resmi Statistik No. 42 / IX / 14 Agustus 20067. INDONESIAN ICT-2009 FACTS & FIGURES8. http://the-marketeers.com/archives/attitude-and-behavior-pengguna-internet-di- indonesia.html9. Indepth Report SatuDunia, “Revolusi Digital Samadengan Revolusi Hijau?” http://www.satudunia.net/system/files/Indepth%20Report- Revolusi%20Digital%20sama%20dengan%20Revolusi%20Hijau%20%3F_SD.pdf10. http://jakarta.bps.go.id/fileupload/brs/Miskin_2011.pdf11. GATS: Liberalisasi Kehidupan, Lutfiyah Yamnin dan Yanuar Nugroho, Institute Global of Justice, 200812. Peraturan Pemerintah (PP) No 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham dalam Perusahaan yang Didirikan dalam Rangka Penanaman Modal Asing.13. Keputusan Menteri (KM) Perhubungan Nomor 72 Tahun 1999 tentang Cetak Biru Kebijakan Telekomunikasi Indonesia.14. Undang Undang (UU) Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.15. Buku Putih, “Komunikasi dan Informatika”, Kementerian Telekomunikasi dan Informatika Republik Indonesia, tahun 2010.16. Snapshot of Indonesia Social Media Users - Saling Silang Report Feb 2011. http://www.slideshare.net/salingsilang/snapshot-of-indonesia-social-media-users-saling- silang-report-feb-2011.17. Terpusatnya kepemilikan media di tangan sedikit orang/perusahaan. http://twitoaster.com/country-us/ndorokakung/konglomerasi-media-mungkin-tak- menguntungkan-publik-karena-akan-terjadi-keseragaman-suara/18. https://fordiletante.wordpress.com/2008/01/29/konglomerasi-media-dalam-grup-mnc- media-nusantara-citra/19. KONSENTRASI MEDIA MASSA DAN MELEMAHNYA DEMOKRASI, Henry Subiakto, Dosen Jurusan Komunikasi FISIP dan Program Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi Universitas Airlangga, Surabaya.20. http://www.investor.co.id/bedahemiten/era-konvergensi-di-mata-bakrie-telecom/886721. Satriyo Dharmanto, Presentasi di Working Group Licencing, Bandung, 18 Februari 2010
    • 22. http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2010/11/memahami-konvergensi-media- media.html.23. 10 tahun Yayasan Tifa,”Semangat Masyarakat Terbuka”24. http://daerah.tempo.co/hg/iptek/2011/01/12/brk,20110112-305665,id.html25. http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita,Geolog-Internasional-Pengeboran-Penyebab- Lumpur-Lapindo-2750.html26. http://www.youtube.com/watch?v=F9H1X8cMaoE27. http://www.youtube.com/watch?v=vLlvU9pcVZU28. http://nasional.vivanews.com/news/read/180457-lumpur-sidoarjo-bukan-karena- pengeboran29. http://video.vivanews.com/read/11227-wawancara-dengan-pakar-geologi-rusia-tentang- penyebab-lumpur-sidoarjo.30. http://korbanlumpur.info/berita/lingkungan/705-pakar-bantah-ilmuwan-rusia-90-persen- yakin-semburan-lapindo-akibat-pemboran-.html31. http://www.alexa.com/topsites/countries/ID32. http://portal.tempo.co/hg/bisnis/2011/07/01/brk,20110701-344177,id.html.33. http://bola.kompas.com/read/2009/12/09/18482871/.The.New.York.Times.dan.Washingt on.Post.Merapat.ke.Google.34. Notulensi Diskusi lingkar balajar Telematika, Yayasan SatuDunia, 18 Agustus 2011. http://www.satudunia.net/content/notulensi-diskusi-lingkar-belajar-telematika-1.35. http://kesehatan.kompas.com/read/2009/07/16/16015757/survei.nielsen.pembaca.media .cetak.makin.turun36. http://www.detikinet.com/read/2010/05/31/160759/1366831/398/media-online-mulai- memangsa-media-cetak37. Majalah TEMPO, Edisi 2 Mei 2011. http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/05/02/MD/mbm.20110502.MD136575. id.html.38. Undang Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)39. Kritik Menuai Pidana, Human Right Watch, 2010. http://satuportal.net/system/files/indonesia0510indosumandrecs.pdf40. http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=1187041. http://www.satudunia.net/lawan-kebangkitan-orde-baru-di-dunia-maya.42. http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/202643. Indepth Report Yayasan SatuDunia, “Membaca Inisiatif e-ASEAN”. http://www.satudunia.net/content/indepth-report-membaca-inisiatif-e-asean44. Brief Paper Yayasan SatuDunia tentang RUU Konvergensi Telematika. http://www.satudunia.net/content/brief-paper-ruu-konvergensi-telematik