• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Proposal skripsi metlit nihhhhhhhh
 

Proposal skripsi metlit nihhhhhhhh

on

  • 9,724 views

 

Statistics

Views

Total Views
9,724
Views on SlideShare
9,724
Embed Views
0

Actions

Likes
3
Downloads
356
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Proposal skripsi metlit nihhhhhhhh Proposal skripsi metlit nihhhhhhhh Document Transcript

    • PROPOSAL SKRIPSI PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA ANTARA MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DAN MODELPEMBELAJARAN KONVENSIONAL PADA STANDAR KOMPETENSI MENGANALISIS RANGKAIAN LISTRIK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS PADA SUATU SMK ELEKTRONIKA) HILMAN ARAFAH 5215083430 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2011 BAB I
    • PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu yang menjadi kebutuhan setiap manusia terutamamanusia Indonesia dan memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas sumber dayamanusia. Dalam era globalisasi ini bangsa Indonesia sudah seyogiyanya meningkatkankualitas pendidikan dalam berbagai aspek, diantaranya sarana dan prasarana sekolah,keikutsertaan dalam mengelola sekolah, perbaikan metode, pendekatan, strategi dan modelpembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di kelas maupun perbaikan dan pengembangankurikulum oleh pemerintah.Menurut Permen Diknas No. 22 Tahun 2006 menyatakan bahwa : 1. Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan….(Depdiknas, 2006: 17). Berdasarkan tujuan diatas, maka setiap lulusan pendidikan kejuruan (SMK) diharapkan memiliki kemampuan dan keterampilan sebagai tenaga kerja siap pakai. Dalam hal ini untuk dapat mempersiapkan lulusan SMK yang berkualitas diperlukan efektifitas dalam memberikan materi pembelajaran di kelas. Artinya dalam proses belajar yang pengalokasian waktunya telah ditentukan siswa dapat memahami setiap materi pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 2. Standar kompetensi menganalisis rangkaian listrik merupakan materi hitungan dan praktek. Pada umumnya siswa menganggap bahwa materi hitungan itu sulit, sehingga motivasi dan keaktifan belajar menjadi berkurang. Dan denganmelaksanakan belajar secara praktek, siswa dibimbing untuk dapat trampil dan mempersiapkan bekal untuk
    • menghadapi dunia kerja kedepannya. Dalam prosesnya siswa dituntut untuk mampu memahami konsep dasar listrik dalam menganalisis rangkaian listrik. Pada kenyataannya, berdasarkan survey awal yang dilakukan ketika praktikan pada kegiatan program latihan profesi (PLP) di SMKN 4 Bandung banyak siswa yang belum memahami mengenai konsep dasar untuk menganalisis rangkaian listrik, rendahnya hasil belajar siswa pada kelas sebelumnya dengan rata-rata ulangan umum adalah 57,33 dan nilai maximum adalah 76 dan nilai minimum adalah 32, sedangkan KKM yaitu 70 sebagian siswa dapat memenuhi KKM, tetapi sebagian banyak siswa masih dibawah KKM. Dalam standar kompetensi menganalisis rangkaian listrik menunjukkan perlunya pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep danpraktikum. Daya serap terhadap bahan yang diberikan ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor inteligensi mempengaruhi daya serap anakdidik terhadap bahan ajar yang diberikan, oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk melatihkan kemampuan tersebut.Problem Solving (Pemecahan Masalah), merupakan salah satu model pembelajaran yang aktif untuk siswa, yaitu suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.3. Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberikan pengalaman belajarpada siswa seperti membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menginterpretasikan data, berdiskusi, membuat kesimpulan, dan membuat laporan. Penelitian yang akan dilakukan merupakan jenis penelitian eksperimen dengan menggunakan kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan model pembelajaran problem solving, yaitu meliputi 3 tahap : modeling, coaching andscaffolding
    • (membimbing dan merancah), dan fading (memperluas). Sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang hanya menggunakan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini penting dilakukan untuk dapat mengetahui hasil belajar siswa. Selain itu, kemampuan-kemampuan yang didapat oleh siswa yaitu pemahaman konsep, cara melakukan eksperimen, dan cara untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan penjelasan diatas peneliti ingin melihat perbandingan hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran problem solving dengan model pembelajaran konvensional dalam judul: “Perbandingan Hasil Belajar Siswa Antara Model Pembelajaran Problem Solving dan Model Pembelajaran konvensional pada Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik”.1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian iniadalah:1. Seberapa besar hasil belajar siswa dengan pembelajaran problem solving?2. Seberapa besar hasil belajar siswa dengan pembelajaran konvensional?3. Apakah ada perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa antara modelpembelajaran problem solving dengan yang menggunakan model pembelajaran konvensionalpada penelitian ini?1.3 Batasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas, maka masalah penelitianini dibatasi pada hal-hal berikut ini: 1. Penelitian difokuskan pada pengukuran hasil belajar siswa pada standar kompetensi menganalisis rangkaian listrik sub kompetensi menganalisis rangkaian listrik arus
    • bolak-balik dengan menggunakan pembelajaran Problem Solving dan pembelajaran Konvensional. 2. Sampel yang digunakan adalah siswa SMK program studi keahlian Teknik Ketenagalistrikan kelas X di SMK Negeri 4 Bandung. 3. Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini yaitu ranah kognitif yang meliputi aspek pengetahuan/recall (C1), aspek pemahaman/comprehension (C2), aspek penerapan/aplication (C3), dan aspek analisis (C4).1.4 Tujuan Penelitian Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui manakah pembelajaranpada standar kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik dengan menggunakan pembelajaranProblem Solving dan pembelajaran Konvensional, yang berpengaruh terhadap peningkatanhasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:1. Mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran problem solving.2. Mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran konvensional.3. Mengetahui perbedaan model pembelajaran yang lebih baik pada hasil belajar siswa antarayang menggunakan model pembelajaran Problem Solving dengan yang menggunakan modelpembelajaran konvensional pada penelitian yang dilakukan di SMKN 4 Bandung denganstandar kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik.1.5 Manfaat Penelitian Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat baik bagi siswamaupun guru.
    • 1. Bagi penulis, dalam penelitian ini diharapkan dapat memperoleh informasi tentangperbandingan hasil belajar siswa antara yang menggunakan model pembelajaran problemsolving dengan yang menggunakan model pembelajaran konvensional.2. Bagi guru, penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam memilih modelpembelajaran problem solving dan konvensional sebagai upaya meningkatkan pemahamansiswa.3. Siswa diharapkan mempunyai keahlian. Terutama sikap mereka terhadap masalah yangdihadapi dalam pembelajaran.4. Dapat menjadi alternatif strategi sekolah-sekolah SMK di dalam pembelajaranmenganalisis rangkaian listrik di kelas serta dapat menjadi jawaban untuk meningkatkan hasilbelajar siswa SMK.1.6 Definisi Operasional Menghindari kesalahan penafsiran dalam memahami judul yang diajukan, makapeneliti mencoba untuk menjelaskan beberapa istilah yang ada, yaitu:1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia perbandingan berarti perbedaan. Dari hal tersebutdapat diartikan bahwa perbandingan adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yanglain sehingga dapat dilihat persamaan dan perbedaannya. Dalam penelitian ini diartikanmembandingkan rata-rata skor peningkatan siswa (gain/peningkatan) antara pretest danposttest pada kedua kelompok eksperimen untuk menentukan apakah terdapat perbedaanhasil belajar siswa yang signifikan antara model pembelajaran problem solving dengan modelpembelajaran konvensional.2. Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa yang berbentuknilai dari hasil pengukuran dalam evaluasi belajar.
    • 3. Model pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang dilakukan searah yaitu gurumenjelaskan kepada siswa dengan metode ceramah.4. Model pembelajaran problem solving adalah model pembelajaran dimana pada prosesnyasiswa diberikan suatu masalah yang harus dipecahkan. Menggunakan 3 tahap yaitu :1) Modeling2) Coaching dan scaffolding3) Fading.1.7 Hipotesis Penelitian Menurut Suharsimi Arikunto, (2010: 110), mengemukakan bahwa “Hipotesis dapatdiartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian,sampai terbukti melalui data yang terkumpul.” perumusan hipotesis dilakukan dengan duamacam, yaitu hipotesis nol (H0) dan hipotesis kerja (H1). Adapun rumusan hipotesis dalampenelitian ini adalah sebagai berikut :H0 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswasetelah diterapkan model pembelajaran problem solving (modeling, Coaching danscaffolding, Fading) dan model pembelajaran konvensional.H1 : Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa setelahditerapkan pembelajaran problem solving (modeling, Coaching dan scaffolding, Fading)dengan pembelajaran konvensional.1.8 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen denganmemberikan dua perlakuan berbeda terhadap dua kelompok siswa yang dipilih sebagaisampel. Kelompok pertama merupakan kelompok eksperimen yang mendapatkan pengajaran
    • dengan menggunakan pembelajaran problem solving, dan kelompok kedua yang mendapatpengajaran dengan pembelajaran konvensional sebagai kelas kontrol. Menggunakan duavariabel yaitu variabel bebas dan terikat. Variabel bebas atau variabel (X) pada penelitian iniadalah dengan menggunakan pembelajaran problem solving dan pembelajaran konvensional.Sedangkan variabel terikat atau variabel (Y) pada penelitian ini adalah hasil belajar siswayang dibatasi pada Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik.1.9 Lokasi dan Sampel Penelitian Penelitiaan ini dilakukan di SMKN 4 Bandung yang berlokasi di Jl. Kliningan BuahBatu Bandung. Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas XProgram Keahlian Teknik Ketenagalistrikan yang mengikuti Standar KompetensiMenganalisis Rangkaian Listrik.1.10 Sistematika Penuliasan Sistematika penulisan dalam sebuah penelitian berperan sebagai pedoman penulisagar penulisannya terarah dan sistematis dalam mencapai tujuan akhir yang akan dicapai.Sistematika penulisan penelitian adalah sebagai berikut: BAB I PENDAHULUANPada bab ini mengemukakan latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasanmasalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, asumsi dasar, definisi operasional, hipotesispenelitian, metodologi penelitian, lokasi dan populasi penelitian, serta sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN TEORITIS DAN HIPOTESISPada bab ini dikemukakan landasan teoritis yang mendukung dan relevan denganpermasalahan penelitian yang dilakukan.
    • BAB III METODOLOGI PENELITIANBab ini berisi tentang metode penelitian, variabel dan paradigma penelitian, data penelitian,sampel dan populasi, teknik pengumpulan data, uji coba instrument penelitian, teknik analisisdata dan kisikisi instrument penelitian.
    • BAB II PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DAN MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL2.1 Model Pembelajaran Aunurrahman (2009: 146) mengartikan model pembelajaran sebagai kerangkakonseptual, sebagaimana dikemukakan bahwa:Model Pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan proseduryang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajartertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guruuntuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Menurut Brady (dalamAunurrahman, 2009: 146) mengemukakan bahwa „ model pembelajaran dapat diartikansebagai blueprint yang dapat dipergunakan untuk membimbing guru di dalammempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran.‟ Menurut Joyce (dalam trianto, 2007: 5)„model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagaipedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.‟ Model pembelajaran merupakanbentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas olehguru. Dengan kata lain model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapansuatu pendekatan, model, dan teknik pembelajaran. (Sudrajat, 2008). Dari pengertian paraahli diatas maka, model pembelajaran adalah suatu rancangan pembelajaran baik untukmenyusun materi pengajaran sampai tatap muka didalam ruang kelas sehingga pembelajaranakan lebih terstruktur. Setiap model pembelajaran akan membantu didalam merancangprogram pembelajaran sehingga setiap siswa akan tertolong dalam upaya mencapai tujuanpembelajaran. Maka, dikembangkan bermacam-macam model pembelajaran untuk menolongguru dalam meningkatkan kemampuannya menyampaikan pelajaran yang dapat menjangkaulebih banyak siswa dan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih luas. Selain itu
    • dalam penerapan model pembelajaran yang tepat di kelas akan mendorong siswa sehinggamenyukai pelajaran tersebut, menumbuhkan rasa percaya diri dan meningkatkan motivasidalam mengerjakan tugas, dan membantu siswa memahami secara mudah pelajaran yangdiberikan sehingga pencapaian hasil belajarnya akan lebih baik. Menurut Indrayanto (2010),model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus. Ciri-ciri tersebut meliputi :1. Rasional teoritik yang logis dan disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan) pembelajaran yangakan dicapai).3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan denganberhasil.4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.2.1.1 Pembelajaran Konvensional Menurut Sanjaya (2009: 177) mengemukakan bahwa: Model pembelajarankonvensional adalah pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materisecara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapatmenguasai materi pelajaran secara optimal. Sedangkan Roy Killen (dalam Sanjaya, 2009:177), mengemukakan bahwa: Model konvensional ini dengan istilah strategi pembelajaranlangsung (direct instruction). Karena dalam model ini materi pelajaran disampaikan langsungoleh guru, siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu, materi pelajaran seakan-akansudah jadi. Menurut Sanjaya (2009: 177), terdapat beberapa karakteristik model pembelajarankonvensional di antaranya: Proses pembelajaran dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal,artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karenaitu sering orang mengidentikkannya dengan ceramah.
    • Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi,seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntutsiswa untuk berpikir ulang. Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelahproses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengancara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan. “Model pembelajarankonvensional merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru(teacher centered approach). Dikatakan demikian, dalam pembelajaran bahwa gurumemegang peran yang sangat dominan. Melalui model ini guru menyampaikan materipembelajaran secara terstruktur dengan harapan pelajaran yang disampaikan itu dapatdikuasai siswa dengan baik. Fokus utama model pembelajaran konvensional adalahkemampuan akademik (academic achievement) siswa.” (Sanjaya, 2009: 177). Menurut Slavin(dalam Sudrajat, 2011), mengemukakan tujuh langkah dalam pembelajaran langsung yaitusebagai berikut : Menginformasikan tujuan pembelajaran dan orientasi pelajaran kepada siswa. Dalam tahapini guru menginformasikan hal-hal yang harus dipelajari dan kinerja siswa yang diharapkan. Me-review. pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Dalam tahap ini guru mengajukanpertanyaan untuk mengungkap pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai siswa. Menyampaikan materi pelajaran. Dalam fase ini, guru menyampaikan materi, menyajikaninformasi, memberikan contoh-contoh, mendemontrasikan konsep dan sebagainya. Melaksanakan bimbingan. Bimbingan dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan mengoreksi kesalahan konsep. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih. Dalam tahap ini, guru memberikankesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilannya atau menggunakan informasi barusecara individu atau kelompok.
    • Menilai kinerja siswa dan memberikan umpan balik. Guru memberikan review terhadap hal-hal yang telah dilakukan siswa, memberikan umpan balik terhadap respon siswa yang benardan mengulang keterampilan jika diperlukan. Memberikan latihan mandiri. Dalam tahap ini, guru dapat memberikan tugas-tugas mandirikepada siswa untuk meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang telah merekapelajari. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran ini menggunakanmetode yang biasa dilakukan oleh guru yaitu memberi materi melalui ceramah, latihan soal,pemberian tugas demonstrasi. Ceramah merupakan salah satu cara penyampaian informasidengan lisan dari seseorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Kegiatan berpusatpada penceramah dan komunikasi searah dari pembaca kepada pendengar. Penceramahmendominasi seluruh kegiatan, sedang pendengar hanya memperhatikan dan membuatcatatan seperlunya. Demonstrasi aalah metode penyajian dengan memperagakan danmempertunjukan kepada siswa tentang suatu proses dan demonstrasi ini tidak terlepas daripenjelasan secara lisan oleh guru. Gambaran pembelajaran menganalisis rangkaian listrikdengan pendekatan ceramah adalah sebagai berikut: Guru mendominasi kegiatanpembelajaran penurunan rumus atau pembuktian dalil dilakukan sendiri oleh guru, contoh-contoh soal diberikan dan dikerjakan pula sendiri oleh guru. Langkah-langkah guru diikutidengan teliti oleh peserta didik. Mereka meniru cara kerja dan cara penyelesaian yangdilakukan oleh guru.2.1.2 Pembelajaran Problem Solving Problem secara umum orang memahami sebagai masalah. Sanjaya (2007: 214)berpendapat bahwa : “hakikat masalah adalah kesenjangan antara situasi nyata dan kondisiyang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan.”
    • Sedangkan menurut Sudjana (2005: 85) bahwa: Problem solving bukan hanya sekedarmetode mengajar tetapi juga merupakan salah satu metode berfikir, sebab dalam problemsolving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampaikepada penarikan kesimpulan. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa problemsolving adalah suatu kegiatan pembelajaran dengan melatih siswa menghadapi berbagaimasalah dalam suatu pelajaran baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalahkelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannyaadalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Berhasiltidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu tujuan yang hendak dicapai. Tujuan daripembelajaran problem solving adalah seperti apa yang dikemukakan oleh Hudojo (2003:155),yaitu sebagai berikut:1) Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya danakhirnya meneliti kembali hasilnya.2) Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa.3) Potensi intelektual siswa meningkat.4) Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukanpenemuan.Pembelajaran problem solving dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yangmenekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. MenurutSanjaya (2009: 212), terdapat tiga ciri utama dari pembelajaran problem solving yaitu :Pertama merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, dalam pembelajaran ini tidakmengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materipelajaran, akan tetapi siswa belajar berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data danakhirnya menyimpulkan. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikanmasalah. Ketiga, pemecahan masalah dlakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir
    • secara ilmiah. Proses berfikir yang dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinyaberfikir ilmiah dilakukan melalui tahap-tahap tertentu, sedangkan empiris adalah prosespenyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas. Menurut Sanjaya (2009:213) mengatakan bahwa pembelajaran problem solving dapat diterapkan apabila :1) Guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat meningat materi pelajaran, akantetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.2) Guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berfikir rasional siswa, yaitukemampuan menganalisis, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki, mengenal adanyaperbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuatjudgment secara objektif.3) Guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuattantangan intelektual siswa.4) Guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.5) Guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataandalam kehidupan.John Dewey (dalam Sanjaya, 2009 : 215) menjelaskan enam langkah pembelajaran problemsolving, yaitu :1) Merumuskan masalah yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.2) Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagaisudut pandang.3) Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinanpemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.4) Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yangdiperlukan untuk pemecahan masalah.
    • 5) Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuaidengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.6) Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkanrekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusankesimpulan. Dikemukakan Heller & Heller (1999: 20) yang menyatakan bahwa :Dalam melaksanakan pembelajaran dengan problem solving, terdapat lima strategi yangmendasarinya. Pertama, siswa dihadapakan pada permasalahan. Kedua, siswa menerapkankonsep yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ketiga, menyusun langkah-langkah logis untuk menyelesaikan masalah. Keempat, melaksanakan langkahlangkahyang telah direncanakan. Kelima, melakukan evaluasi terhadap penyelesaian masalah.Dari penjelasan diatas dapat dijabarkan bahwa pada tahap pertama siswa dihadapkan padasuatu permasalahan dalam pembelelajaran yang diberikan. Sehingga diharapkan siswa secarateliti mengidentifikasi masalah yang dihadapi dan mencari sebanyak mungkin informasi apasaja yang diperlukan terkait dengan permasalahan yang dihadapi baik melalui kajianpustaka atau berdasarkan pengalaman yang pernah dijumpai. Dari masalah tersebutdiharapkan siswa dapat menggambarkan masalah yang sedang dihadapi tersebut. Tahapkedua, berdasarkan informasi-informasi yang telah dikumpulkan, siswa diharapkan sudahdapat menentukan konsep mana yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan yangdihadapi. Pada tahap ini siswa juga harus dapat menerjemahkan permasalahan yang dihadapikedalam konteks rangkaian listrik dan mulai melakukan prediksi bagaimana konsep tersebutditerapkan untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Ketiga, Pada tahap inisiswa membangun kerangka pemikiran berupa langkah-langkah kerja yang akan dilaksanakandalam menyelesaikan masalah. Selain itu, pada tahap ini, siswa juga memungkinkan untukmemasukan perhitungan matematis sebagai salah satu langkah dalam membuat penyelesaianmasalah. Keempat, siswa mulai menjalankan semua langkah-langkah yang telah
    • direncanakannya. Kelima, siswa mulai membuat analisis mengenai langkah-langkahpenyelesaian masalah yang telah ditempuhnya. Apakah telah sesuai dengan prediksi yangtelah ditetapkan diawal atau terdapat ketidaksesuaian. Pada tahap ini juga siswa membuatkesimpulan terhadap Problem atau masalah yang telah dilakukannya. Menurut Heller andHeller dalam bukunya Cooperative Group Problem Solving in Physics University,pembelajaran dengan menggunakan problem solving sebaiknya menggunakan pembelajaranproblem solving yang meliputi tiga tahap, yaitu : modeling, coaching and scaffolding(membimbing dan merancah), dan fading (memperluas). Modeling dilakukan untukmemberikan pengetahuan baru untuk mengatasi isu dan masalah dalam lingkungan. Gurumemberikan demonstrasi dengan tahapan problem solving. Coaching dan scaffoldingdilakukan dalam bentuk diskusi kelompok kooperatif dan eksperimen untuk menyelesaikanmasalah menggunakan tahapan problem solving. Guru memberikan bimbingan dalammelakukan problem solving. Fading, diselesaikan dalam berbagai cara sebagai penerapankonsep dan prinsip yang telah diberikan sebelumnya. Guru memberikan sangat sedikitbimbingan. Maka dalam penelitian ini akan digunakan strategi pembelajaran problem solvingdengan menggunakan tiga tahap tersebut. Dalam Sanjaya (2009: 218) mengemukakankeunggulan dankelemahan problem solving, antara lain :1. Keunggulan : Problem solving merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran. Problem solving dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untukmenentukan pengetahuan baru bagi siswa. Problem solving dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa. Problem solving dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untukmemahami masalah.
    • Dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya danbertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Dapat memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakancara berfikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa bukan sekedar belajar dari guruatau buku. Dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa. Dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam berfikir kritis. Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yangdimiliki. Dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajarpada pendidikan formal telah berakhir.2. Kelemahan : Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalahyang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba. Membutuhkan cukup waktu untuk persiapan. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedangdipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.2.2 Hasil Belajar2.2.1 Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar merupakan variabel dari teori belajar di sekolah. Selain variabel lainnyayaitu : karakteristik individu (siswa) dan kualitas pengajaran. Hal ini dinyatakan oleh Bloomdalam Theory of School Learning, bahwa “…. ada tiga variabel utama dalam teori belajar disekolah
    • yakni : karakteristik individu, kualitas pengajaran, dan hasil belajar siswa”. (Sudjana N, 2005: 40). Hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan-kemampuan yang dimilikiseorang siswa setelah ia menerima perlakukan dari pengajar (guru) dimana hasil belajarmemiliki hubungan erat dengan proses belajar. Menurut Whittaker (dalam Aunurrahman,2009: 35) mengemukakan bahwa „belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkanatau diubah melalui latihan atau pengalaman.‟ Menurut Djamarah dan Zain (2010: 38)mengemukakan bahwa “belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi dalam diriseseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.” Sedangkan pendapat lain dariAbdillah (dalam Aunurrahman, 2009:35) mengemukakan bahwa : Belajar adalah suatu usahasadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik memalui latihanataupun pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untukmemperoleh tujuan tertentu. Maka proses belajar itu adalah proses kegiatan siswa untukmemperoleh sejumlah pengetahuan dan pengalaman belajar dalam mencapai tujuanpembelajaran. Sedangkan hasil belajar merupakan gambaran kemampuan yang ditunjukanoleh adanya perubahan tingkah laku setelah siswa mengikuti proses belajar.Dari kutipan dia atas jelas bahwa hasil belajar sangat tergantung pada proses belajar. Hasilbelajar akan terlihat setelah diberi perlakuan pada proses balajar yang dianggap sebagaiproses pemberian pengalaman belajar. Hasil belajar mengharapkan terjadinya perubahantingkah laku yang terjadi pada diri siswa. Maka yang dimaksud dengan hasil belajar adalahkemampuan siswa setelah memperoleh pengalaman belajar dalam proses belajar agar terjadiperubahan tingkah laku pada diri siswa dalam bentuk penguasaan dan pemahaman pelajaranyang dipelajarinya.Arikunto (2009: 26), mengukur hasil belajar dalam dua teknik, yaitu teknik tes dan non tes.Pada penelitian ini menggunakan teknik tes, sehingga pembatasan hanya dilakukan terhadapteknik tes. Menurut Hasan (2006: 95) mengemukakan bahwa “tes adalah kegiatan yang
    • dilakukan oleh guru disekolah dalam rangka kegiatan evaluasi ( mengukur, menilai,assessment).” Arikunto (2009: 52) mengmukakan bahwa “tes merupakan alat atau proseduryang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara danaturan-aturan yang sudah ditentukan.” Tes menurut Sudjana, N (2005 : 113) adalah :Alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban-jawaban yangdiharapkan baik secara tertulis atau secara lisan atau secara perbuatan. Ada dua macam teshasil belajar yakni: tes yang telah distandarisasikan (standardized test) dan tes buatan gurusendiri (teacher made test). Tes hasil belajar yang dibuat oleh guru itu dapat dibagi duamacam, yakni tes lisan (oral test) dan tes tulisan (written test). Tes tertulis dapat dibagi atastes essay (essay examination) dan tes objektif. Tes objektif yang disusun dapat berbentukpilihan ganda, benar-salah, menjodohkan isian pendek, saat ini banyak digunakan dalampenelitian pendidikan. Sedangkan tes essay jarang digunakan sebab kurang praktis dan terlalusubjektif. Persyaratan dari sebuah tes yang baik menurut Arikunto (2009: 57)diantaranya yaitu sebagai berikut :1. Validitas (secara tepat mengukur yang seharusnya diukur),2. Reliabilitas (menunjukkan hasil yang dapat dipercaya dan tidak berubah jika diadakan teskembali),3. Objektifitas (tidak dipengaruhi unsur-unsur pribadi),4. Praktikabilitas (praktis dan mudah dalam administrasinya),5. Ekonomis (tidak memerlukan biaya yang mahal, tenaga dan waktu yang banyak).Dalam penelitian ini, tes yang digunakan yaitu tes buatan peneliti yang berbentuk tes tertulisobjektif pilihan. Agar memenuhi syarat validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkatkesukaran maka tes buatan peneliti ini akan di uji coba terlebih dahulu kepada siswa-siswayang telah mempelajari standar kompetensi yang akan diteliti.
    • 2.2.2 Klasifikasi Hasil Belajar Hasil belajar yang diharapkan terjadi pada diri siswa meliputi sejumlah kemampuanyang dapat memberikan gambaran atas kegiatan dalam belajar. Untuk itu, hasil belajardiklasifikasikan oleh para ahli sebagai berikut :Howard Kingsley (dalam Sudjana, N 2005: 22), membagi tiga macam hasil belajar adalah“keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, dan sikap dan cita-cita.”Dalam Sistem Pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikulermaupun instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar Benyamin S. Bloom yang secaragaris besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranahpsikomotor. Bloom membagi masing-masing ranah ke dalam tingkatan-tingkatan kategoriyang dikenal dengan istilah taksonomi Bloom’s Taxonomy (Arikunto, 2009: 116)seperti berikut :a. Ranah Kognitif Ranah kognitif meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yangtelah dipelajari dan kemampuan intelektual. Bloom membagi ranah kognitif ke dalam 6jenjang kemampuan yaitu :(1) Pengetahuan (C1) Merupakan kemampuan menyatakan kembali fakta, prinsip, prosedur atau istilah yangtelah dipelajari. Tingkatan ini merupakan tigkatan yang paling rendah namun menjadiprasyarat bagi tingkatan selanjutnya. Kemampuan yang dimiliki hanya kemampuanmenangkap informasi kemudian menyatakan kembali informasi tersebut tanpa harusmemahaminya. Contoh kata kerja yang digunakan yaitu menyebutkan, mendefinisikan,menggambarkan.
    • (2) Pemahaman (C2) Merupakan kemampuan untuk memahami arti, interpolasi, interpretasi instruksi(pengarahan) dan masalah. Pada tingkatan ini, selain hapal siswa juga harus memahamimakna yang terkandung misalnya dapat menjelaskan suatu gejala, dapat menginterpretasikangrafik, bagan atau diagram serta dapat menjelaskan konsep atau prinsip dengan kata-katasendiri. Contoh: kata kerja yang digunakan yaitu menyajikan, menginterpretasikan,menjelaskan.(3) Penerapan (C3) Merupakan kemampuan untuk menggunakan konsep dalam situasi baru atau padasituasi konkret. Tingkatan ini merupakan jenjang yang lebih tinggi dari pemahaman.Kemampuan yang diperoleh berupa kemampuan untuk menerapkan prinsip, konsep, teori,hukum maupun metode yang dipelajari dalam situasi baru. Contoh kata kerja yang digunakanyaitu mengaplikasikan, menghitung, menunjukan.(4) Analisis (C4) Merupakan kemampuan untuk memilah materi atau konsep ke dalam bagian-bagiansehingga susunannya dapat dipahami. Dengan analisis diharapkan seseorang dapat memilahintegritas menjadi bagian-bagian yang lebih rinci atau lebih terurai dan memahami hubinganbagian-bagian tersebut satu sama lain. Contoh kata kerja yang digunakan yaitu menganalisa,membandingkan, mengklarifikasikan.(5) Sintesis (C5) Merupakan kemampuan untuk mengintegrasikan bagian-bagian yang terpisah menjadisuatu keseluruhan yang terpadu. Kemampuan ini misalnya dalam merencanakan eksperimen,
    • menyusun karangan, menggabungkan objek-objek yang memiliki sifat sama ke dalam satuklasifikasi. Contoh kata kerja yang digunakan yaitu menghasilkan, merumuskan,mengorganisasikan.(6) Evaluasi (C6) Merupakan kemampuan untuk memuat pertimbangan (penilaian) terhadap suatusituasi, nilai-nilai atau ide-ide. Kemampuan ini merupakan kemampuan tertinggi darikemampuan lainnya. Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yangmungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara kerja, materi dan criteria tertentu. Untuk dapatmembuat suatu penilaian, seseorang harus memahami, dapat menerapkan, menganalisis danmensintesis terlebih dahulu. Contoh kata kerja yang digunakan yaitu menilai, menafsirkan,menaksir, memutuskan. Peneliti hanya menggunakan penilaian dalam ranah kognitif denganjenjang pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4).2.3 Tinjauan Umum Mata Diklat Menganalisis Rangkaian Listrik Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik merupakan salah satu programproduktif yang wajib diikuti oleh siswa kelas X di SMK Negeri 4 Bandung, ProgramKeahlian Teknik Ketenagalistrikan. Sub kompetensi yang akan dibahas yaitu Menganalisisrangkaian seri dan paralel arus bolak balik diantaranya rangkaian R-L, R-C, R-L-C. Gambaran materi atau silabus standar kompetensi menganalisis rangkaian listrik :1. Menganalisis rangkaian listrik arus bolak-balik.2. Menganalisis rangkaian kemagnetan. Pokok bahasan yang diambil :1. Rangkaian seri RL, RC, dan RLC.2. Rangkaian paralel RL, RC, dan RLC.
    • Materi yang akan disampaikan adalah sebagai berikut :1. Rangkaian Seri R – L- Pengertian rangkaian R-L- Rumus mencari tegangan- Rumus mencari arus- Rumus mencari impedansi- Rumus reaktansi induktor- Segitiga daya- Segitiga tahanan- Rumus mencari daya aktif, reaktif, dan semu (P,Q, S)2. Rangkaian Seri R – C- Pengertian rangkaian R-C- Rumus mencari tegangan- Rumus mencari arus- Rumus mencari impedansi- Rumus reaktansi kapasitor- Segitiga daya- Segitiga tahanan- Rumus mencari daya aktif, reaktif, dan semu (P,Q, S)3. Rangkaian Seri R-L-C- Pengertian rangkaian seri RLC- Sifat-sifat pada rangkangaian seri RLC
    • - Rumus tegangan, arus dan impedansi- Segitiga tahanan4. Rangkaian Paralel R – L- Pengertiannya rangkaian paralel RL- Rumus arus, tagangan, impedansi- Diagram vektor5. Rangkaian Paralel R – C- Pengertiannya rangkaian paralel RL- Rumus arus, tagangan, impedansi- Diagram vektor6. Rangkaian Paralel R – L –C- Pengertiannya rangkaian paralel RL- Rumus arus, tagangan, impedansi- Sifat rangkaian paralel RLC
    • BAB III METODOLOGI PENELITIAN3.1 Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data denganmaksud mencapai tujuan tertentu. Menurut Sugiyono (2009 : 6), mengatakan bahwa :Metode penelitian pendidikan dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan datayang valid dengan tujuan dapat ditemukan, sikembangkan, dan dibuktikan, suatupengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami,memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan. Teknik penelitian yangdigunakan adalah Eksperimen.Menurut Sugiyono (2009:107) menjelaskan bahwa”Eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuantertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali.” Metode eksperimen yangdigunakan adalah dengan memberikan dua perlakuan berbeda terhadap dua kelompok siswayang dipilih sebagai sempel. Dalam penelitian ini, langkah pertama yang dilakukan adalahmenentukan kelompok eksperimen yang mendapat pengajaran dengan menggunakan modelpembelajaran problem solving dan kelompok kontrol yang mendapat pengajaran denganmodel pembelajaran konvensional. Langkah selanjutnya kedua kelompok tersebut diberikantes awal (pretest) dengan soal yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dan diujikanterlebih dahulu. Kemudian kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan menggunakanmodel pembelajaran problem solving yang telah dirancang sedemikian rupa dan kelompokkontrol lain diberikan perlakuan dengan menggunakan model konvensional. Untukmengetahui ada tidaknya pengaruh yang telah dilakukan, langkah selanjutnya adalahmemberikan tes akhir (posttest) pada kedua kelompok tersebut. Skor-skor yang diperolehdiolah dan dianalisis menggunakan statistik.
    • 3.2 Desain dan Variabel PenelitianDesain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah The Matching Only Pretest-Posttest Control Group Design. (Frankel, 1993: 253). Tabel. 3.1 The Matching Only PretestPosttest Control Group Design Kelompok Pretest Perlakuan(X) Posttest(Y) Eksperimen T1 M Problem Solving T2 Kontrol T1 M Konvensional T2Keterangan : T1 adalah Pretest X adalah perlakuan yang menggunakan model pembelajaran konvensional dan problem solving. T2 adalah posttest M adalah fakta dari kedua kelas yang telah dicocokan.Arikunto (2010: 161) mengungkapkan bahwa : “Variabel adalah objek penelitian atau apayang menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Variabel dalam penelitian ini termasuk dalamkategori hubungan sebab akibat antara variabel X dan variabel Y. Pada penelitian ini dapatdikaji hubungan sebab akibat antara dua variabel yaitu :a. Variabel bebas (X)Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas yaitu model pembelajaran problem solvingdan model pembelajaran konvensional.b. Variabel terikat (Y)Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat yaitu hasil belajar siswa pada subkompetensi rangkaian listrik seri dan paralel arus bolak balik R-L, R-C, dan R-L-C setelahdiberi perlakuan tarhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada ranah kognitif.
    • 3.3 Paradigma Penelitian Menurut Sugiyono (2009: 66) mengemukakan bahwa : Paradigma penelitian adalahpola berfikir yang menunjukan hubungan antara variabel yang akan diteleti yang sekaligusmencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian,teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknikanalisis statistic yang digunakan, adapun paradigma penelitian, berikut ini : Studi Pustaka Studi Pendahuluan Perangkat Pembelajaran Instrumen Penelitian Penentuan SampelTahap Pelaksanaan Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Pretest Pengolahan Data Kelas Eksperimen: Kelas Kontrol : Pembelajaran problem solving Pembelajaran (modeling,coaching and scaffolding, Konvensional fading) Protest Pengolahan DataTahap Akhir Analisis data dan hasil temuan penelitian Kesimpulan
    • 3.4 Data dan Sumber Data Penelitian3.4.1 Data Penelitian Adapun data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah berupa data langsung darijawaban-jawaban yang diperoleh melalui tes objektif dari para responden mengenaikompetensi dasar yang diberikan kepada sejumlah siswa kelas X pada standar kompetensiMenganalisis Rangkaian Listrik. Data yang dimaksud adalah penilaian hasil belajar siswapada Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik. Adapun data yang diperlukandalam penelitian ini yaitu :1. Materi standar kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik dengan sub kompetensimenganalisa rangkaian seri dan paralel arus bolak balik R-L, R-C, R-L-C.2. Nilai tes instrumen (pretest dan posttest) untuk melihat perkembangan hasil belajar siswa.3.4.2 Sumber Data Penelitian Arikunto (2010: 172) menyatakan bahwa : Sumber data dalam penelitian adalahsubjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atauwawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden. Sumber datautama dalam penelitian ini adalah siswa kelas XSMKN 4 Bandung yang sedang mengikuti Standar Kompetensi Menganalisis RangkaianListrik. Selain itu digunakan juga buku-buku literatur yang dapat menunjang proses belajarmengajar Menganalisis Rangkaian Listrik.3.5 Populasi dan Sampel3.5.1 Populasi Arikunto (2010: 173) menyatakan bahwa “populasi adalah keseluruhan subjekpenelitian.” Populasi yang menjadi subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Listrik, yangmengambil Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik di SMKN 4 Bandung.
    • Tahun ajaran 2010– 2011. yaitu kelas XF, XG, XH, XI dengan perincian sepertipada tabel 3.2. Jumlah Kelas XF XG XH XI Total Jumlah Siswa 36 35 37 35 1433.5.2 Sampel Arikunto (2010: 174) menyatakan bahwa ”sampel adalah sebagian atau wakilpopulasi yang diteliti.” Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi duayaitu Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. Teknik Sampling Probability Non Probability Sampling Sampling 1. Simple random 1. Sampling Sampling sistematis 2. Proportionate stratified random sampling 2.Sampling kuota 3. Disprorortionate Stratified random 3.Sampling sampling insidental 4.Purposive 4.Cluster sampling jenuh 5.Snowball samplingDalam penelitian ini penarikan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling.Menurut Sugiyono (2011: 64) menyatakan bahwa ”teknik simple random sampling adalahteknik penentuan sampel dari populasi dilakukan secara acak....”Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogenAdapun sampel dalam penelitian ini sebanyak 64 orang yang terbagi dalam dua kelas, kelaspertama berjumlah 32 siswa sedangkan kelas kedua berjumlah 32 siswa.
    • 3.6 Teknik Pengumpulan Data3.6.1 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yaitu cara yang digunakan untuk mengumpulkan datadalam suatu penelitian. Dalam melaksanakan penelitian ada beberapa teknik yang penulisgunakan antara lain :a. Studi Literatur, dilakukan untuk mendapatkan informasi dengan memanfaatkan literaturyang relevan dengan penelitian ini yaitu dengan cara membaca, mempelajari, menelaah,mengutip pendapat dari berbagai sumber berupa buku, diktat, skripsi, internet, surat kabar,dan sumber lainnya.b. ObservasiStudi ini digunakan untuk mendapatkan informasi tentang teori atau pendekatan yang erathubungannya dengan permasalahan yang sedang diteliti.c. Tes Arikunto (2010: 266) menyatakan bahwa “ tes dapat digunakan untuk mengukurkemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi”. Penelitian ini menggunakan alat pengumpuldata yaitu tes hasil belajar berupa tes objektif berbentuk pilihan ganda dengan lima alternatifjawaban. Item-item tes yang yang dipergunakan untuk pengumpulan data hasil belajar inidiambil dari Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik. Tes dilaksanakan padasaat pretest dan posttest. Pretest atau tes awal diberikan dengan tujuan mengetahuikemampuan awal kedua kelompok penelitian. Sementara posttest atau test akhir diberikandengan tujuan untuk melihat kemajuan dan perbandingan peningkatan hasil belajar padakedua kelompok penelitian. Pada model pembelajaran problem solving dan modelpembelajaran konvensional. Adapun langkah-langkah dalam penyusunan instrumen tes hasilbelajar ini adalah:
    • a. Membuat kisi-kisi instrumen penelitian untuk materi yang akan diberikan.b. Menyusun instrumen penelitian berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat.c. Melakukan uji coba instrumen penelitian terhadap siswa.d. Setelah instrumen yang diujicobakan tersebut valid dan reliabel, maka instrumen itu dapatdigunakan untuk melakukan pre test dan post test.e. Studi dokumentasi, digunakan untuk memperoleh informasi atau data- data yang adakaitannya dengan masalah penelitian.3.6.2 Instrumen PenelitianInstrumen yang digunakan dalam pengambilan data adalah :1. Soal Tes Hasil Belajar (pre test dan post test)3.6.3 Uji Coba Instrumen Penelitian Uji coba instrumen penelitian dilakukan untuk mengukur atau mengetahui instrumenyang akan digunakan apakah telah memenuhi syarat sebagai alat pengambil data atau belum.Instrumen tersebut layak untuk digunakan setelah dilakukan analisis terhadap Validitas,Reliabilitas, Daya Pembeda, Tingkat Kesukaran.a. Uji Validitas Instrumen Arikunto (2010 : 211) menyatakan bahwa “validitas adalah suatu ukuran yangmenunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.”Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur,sebuah item (butir soal) dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadapskor total, skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah.
    • Untuk menguji validitas item instrumen pada penelitian ini digunakan rumus korelasi productmoment dengan angka kasar sebagai berikut :Keterangan :rxy = Koefisien validitas butir itemn = Jumlah respondenX = Skor rata-rata dari XY = Skor rata-rata dari YUji validitas ini dikenakan pada setiap item. Sehingga perhitungannya pun merupakanperhitungan setiap item. Selanjutnya untuk menentukan validitas dari tiap item pertanyaandilakukan pengujian lanjutan yaitu uji t (uji signifikansi) yang berfungsi apabila peneliti inginmencari makna hubungan variabel X terhadap Y, maka hasil korelasi (r) diuji dengan uji tdengan rumus :Keterangan :t hitung = nilai t hitungn = jumlah respondenr = koefisien korelasi hasil t hitung
    • Kemudian jika thitung > ttabel pada taraf signifikansi = 0,05, maka dapat disimpulkanitem soal tersebut valid pada taraf yang ditentukan. Uji validitas dikenakan pada tiap-tiapitem tes dan validitas item akan terbukti jika harga thitung > ttabel dengan tingkat kepercayaan 95% dan derajat kebebasan (dk = n – 2). Apabila hasil thitung < ttabel maka item tes tersebutdikatakan tidak valid. Uji validitas dihitung tiap item pertanyaan. Tingkat validitas setiapitem dikonfirmasikan dengan tabel interpretasi nilai r untuk korelasi. Dibawah ini diberikantabel 3.3 interpretasi nilai validitas sebagai berikut : Tabel 3.3 Interpretasi Nilai Korelasi r Besar Nilai r Interpretasi 0.8≤r<1.000 Sangat tinggi 0.6≤r<0.800 Tinggi 0.4≤r<0.600 Cukup 0.2≤r<0.400 Rendah 0.0≤r<0.200 Sangat Rendah (tak berkorelasi)b. Uji Reliabilitas1. Tes Objektif Arikunto (2009: 86) menyatakan pengertian reliabilitas sebagai berikut :Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapatmemberikan hasil tes yang tetap. Maka pengertian reliabilitas tes berhubungan denganmasalah hasil tes atau seandainya hasilnya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapatdikatakan tidak berarti. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumusKuder-Richardson (KR-20) sebagai berikut :
    • Keterangan :r11 = reabilitas soalk = banyaknya butir soalVt = harga varians totalP = proporsi subyek yang mendapat skor 1P=Q = proporsi subyek yang mendapat skor 0 Q = 1- pHarga varians total (Vt) dihitung dengan menggunakan rumus :Dimana : X = Jumlah skor totalN = Jumlah respondenHasilnya yang diperoleh yaitu r11 dibandingkan dengan nilai dari tabel r-Product Moment.Jika r11 > rtabel maka instrumen tersebut reliabel, sebaliknya r11 < rtabel maka instrumen tersebuttidak reliabel.2. Uji Tingkat KesukaranTingkat kesukaran yaitu suatu parameter untuk menyatakan bahwa item soal adalah mudah,sedang, dan sukar. Tingkat kesukaran dapat dihitung dengan rumus : P=
    • dimana :P = Indeks KesukaranB = Banyak siswa yang menjawab soal itu dengan benarJS = Jumlah seluruh siswa peserta tesMenentukan apakah soal tersebut dikatakan baik atau tidak baik, digunakan kriteria sepertipada tabel 3.4 sebagai berikut : Tabel 3.4 Kriteria Tingkat Kesukaran No. Interpretasi Klasifikasi 1 0.7≤TK<1.00 Mudah 2 0.3≤TK<0.70 Sedang 3 0.0≤TK<0.30 SukarMakin rendah nilai TK suatu soal, makin sukar soal tersebut. Tingkat kesukaran suatu soaldikatakan baik jika perolehan nilai TK yang dari soal tersebut sekitar 0,50 atau 50%.Umumnya dapat dikatakan, soal-soal dengan nilai TK 0,10 yaitu soal-soal sukar dan soal-soal dengan nilai TK 0,90 yaitu soal-soal terlampau mudah.3. Uji Daya Pembeda Daya pembeda suatu soal tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagaiberikut :
    • dimana : D = indeks diskriminasi (daya pembeda)JA = banyaknya peserta kelompok atasJB = banyaknya peserta kelompok bawahBA = banyaknya peserta kelompok atas menjawab benarBB = banyaknya peserta kelompok bawah menjawab benarPA = proporsi peserta kelompok atas menjawab benarPA = proporsi peserta kelompok bawah menjawab benarSebagai acuan mengklasifikasikan data hasil penelitian, maka digunakan kriteria yang terlihatpada tabel 3.5 yaitu sebagai berikut : No. Rentang nilai D Klasifikasi 1 D < 0.20 Jelek 2 0.20 ≤ D < 0.40 Cukup 3 0.40 ≤ D 0.70 Baik 4 0.70 ≤ D ≤ 1.00 Baik Sekali3.7 Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data maka langkah berikutnya adalahmengolah data atau menganalisis data yang meliputi persiapan, dan penerapan data sesuaidengan pendekatan penelitian. Karena data yang diperoleh dari hasil penelitian merupakandata mentah yang belum memiliki makna yang berarti sehingga data tersebut agar dapat lebihbermakna dan dapat memberikan gambaran nyata mengenai permasalahan yang diteliti, datatersebut harus diolah terlebih dahulu, sehingga dapat memberikan arah untuk pengkajianlebih lanjut. Karena data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif, maka carapengolahannya dilakukan dengan teknik statistik.3.7.1 Menghitung Gain Skor
    • Peningkatan (gain) didapat dari selisih nilai posttest dan nilai pretest. Karena hasilbelajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah pembelajaran maka hasil belajar yangdimaksud yaitu peningkatan yang dialami siswa. Analisis gain bertujuan untuk menjawabhipotesis penelitian, yaitu melihat apakah terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikanantara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah data yang diperoleh yaitu skor pretest danskor posttest, kemudian dilakukan uji statistik terhadap skor pretest dan posttest, danindeks gain ternormalisasi dengan rumus: Index Gain (g) = skor posttest – skor pretest / skor maksimal – skor pretest x 100 %Menurut Hake (dalam Liliawati dan Puspita, 2010: 428) mengemukakanbahwa tabel interprestasi nilai gain yag dinormalisasi adalah sebagai berikut : Tabel 3.6 Interpretasi Nilai Gain yang Dinormalisasi No. Nilai (g) Klasifikasi 1 (g) ≥ 0.70 Tinggi 2 0.70 > (g) ≥ 0.30 Sedang 3 (g) < 0.30 Rendah3.7.2 Uji Normalitas Data Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data tersebut distribusi normalatau tidak distribusi normal. Pengujian normaitas data yang penulis lakukan adalah :Chi Kuadrat (P_) yaitu dengan cara membandingkan kurva normal yang terbentuk dari datayang telah terkumpul (B) dengan kurva normal baku/standar (A). Jadi membandingkan antaraB dengan A (B : A). Bila B tidak berbeda secara signifikan dengan A, maka B merupakandata yang berdistribusi normal. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.3 di bawah, bahwakurva normal baku yang luasnya mendekati 100 % dibagi menjadi 6 bidang berdasarkansimpangan bakunya, yaitu tiga bidang di bawah rata-rata (mean) dan tiga bidang di atasratarata. Luas 6 bidang dalam kurva normal baku adalah : 2,7%; 13,53%; 34,13%;
    • 34,14%; 13,53%; 2,7%. (Sugiyono, 2011: 79-82)Langkah-langkah dalam pengujian normalitas data adalah sebagai berikut :1. Menentukan Jumlah Kelas IntervalUntuk pengujian normalitas dengan Chi Kuadrat ini, jumlah kelas interval ditetapkan samadengan 6. Hal ini sesuai dengan 6 bidang yang ada pada Kurva Normal Baku.2. Menentukan Panjang Kelas Interval3. Menyusun Tabel Distribusi FrekuensiBerikut ini tabel distribusi frekuensi dan tabel penolong untuk menghitungharga Chi Kuadrat hitung.
    • 2 Menentukan besarnya harga distribusi chi-kuadrat X 6. Membandingkan X2hitung dengan X2tabel Dengan ketentuan sebagai berikut  Tingkat kepercayaan 95 %  Derajat kebebasan (dk = k-1)  Apabila X2hitung < X2tabel berarti data berdistribusi normal3.7.3 Uji Homogenitas Data Uji homogenitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah varians – varians dalam populasi tersebut homogen atau tidak. Adapun langkah-langkah pengolahan datanya sebagai berikut: 1. Mencari nilai F dengan rumus, sebagai berikut :
    • 2. Menentukan derajat kebebasan dk1 = n1-1; dk2 = n2-1 3. Menentukan nilai Ftabel pada taraf signifikansi 5% dari responden. 4. Penentuan keputusan. Adapun kriteria pengujian, sebagai berikut : Varians dianggap homogen bila Fhitung < Ftabel. Pada taraf kepercayaan 0,95 dengan derajat kebebasan dk1 = n1 – 1 dan dk2 = n2 – 1, maka kedua varians dianggap sama (homogen). Dan sebaliknya tidak homogen.3.7.4 Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan melalui dua cara sesuai dengan normalitas data yangdiperoleh. Apabila data berdistribusi normal, maka dilakukan analisis statistik parametris.Sebaliknya apabila data tidak berdistribusi normal, maka dilakukan analisis statistiknonparametris.3.7.4.1 Uji Hipotesis Parametris Berdasarkan hipotesis yang penulis ambil, maka pengujian yang dilakukan adalahpengujian hipotesis komparatif dua sampel independen, yaitu menggunakan t-test. DalamSugiyono (2011: 138) terdapat dua buah rumus t-test yang dapat digunakan, yaitu sebagaiberikut:
    • Pengujian dengan menggunakan t-test uji dua pihak. Menggunakan uji dua pihak karenahipotesis1 (H1) berbunyi terdapat perbedaan sedangkan hipotesis (H0) berbunyi tidak terdapatperbedaan. (Sugiyono, 2011: 119).Setelah dilakukan t-test, maka untuk mengetahui perbedaan itu signifikan atau tidak makaharga thitung tersebut perlu dibandingkan dengan ttabel, dengan dk = n1 + n2 – 2 dan tarafkepercayaan 95.3.8 Diagram Alur Pengolahan Data Penelitian
    • 3.9 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Setelah ada kejelasan jenis instrumen, langkah selanjutnya menyusun pertanyaan-pertanyaan. Penyusunan pertanyaan diawali dengan membuat kisi-kisi instrumen. Kisi-kisimemuat aspek yang akan diungkap melalui pertanyaan. Aspek yang akan diungkapbersumber dari masalah penelitian. Kisi-kisi tes untuk instrumen penelitian ini dapat dilihatpada lampiran A. DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: Rineka Cipta.__________________. (2009). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: BumiAksara.Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.Depdiknas. (2006). Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Jakarta: Depdiknas.Djamarah, SB & Zain, A. (2010). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: RinekaCipta.Fadillah, K., Murdono. dan Dalimunte, C. (1999). Ilmu Listrik. Bandung :Angkasa.Frankel. (1993). How To Design and Evaluate Research. McGRAW:HILL INC.Hasan, Bachtiar. (2006). Perencanaan Pengajaran Bidang Studi. Bandung:Pustaka Ramadhan.Heller, P & K. Heller. 1999, Problem-Solving Labs, in Cooperative GroupProblem Solving in Physics, Research Report. University of Minnesota.Hudojo, H. (2003). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika.
    • Malang: JICA.Indrayanto. (2010). Ciri-ciri Model Pembelajaran. [Online]. Tersedia:http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2036649. ModelPembelajaran/ [29 Juni 2011].Liliawati, W & Puspita, E. (2010). Efektifitas Pembelajaran Berbasis Masalahdalam Meningkatkan Kreatif Belajar Siswa. [Online]. Tersedia:http://www.Fi.itb.ac.id/~dede/seminarHFI2010/CD Proceedines/FP18.pdf.[29 Juni 2011].Sanjaya, W (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar ProsesPendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.Sudjana, N. (2005). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar BaruAlgensindo.Sugiyono. (2011). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.________. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.Sudrajat, Akhmad. (2008). Pengertian Pendekatan Strategi, Metode, Teknik danModel Pembelajaran. Educationfor A Better Live. [Online]. Tersedia:http://akhmadsudrajat.wardpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategimetode-teknik-dan-model-pembelajaran/ [26 Juni 2011].Trianto. (2007). Model–model Pembelajaran Inovatif BerorientasiKonstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.