• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Sejarah perkembangan kurikulum pendidikan di indonesia
 

Sejarah perkembangan kurikulum pendidikan di indonesia

on

  • 12,008 views

 

Statistics

Views

Total Views
12,008
Views on SlideShare
11,919
Embed Views
89

Actions

Likes
1
Downloads
184
Comments
0

1 Embed 89

http://smpm37parung.blogspot.com 89

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Sejarah perkembangan kurikulum pendidikan di indonesia Sejarah perkembangan kurikulum pendidikan di indonesia Document Transcript

    • Sejarah Perkembangan Kurikulum Pendidikan di IndonesiaSejarah Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia1. Kurikulum Periode penjajahan BelandaPada masa penjajahan Belanda setidaknya ada 3 sistem pendidikan dan pengajaran yangberkembang pada saat itu. Pertama sistem pendidikan Islam yang dislenggarakan di pesantren.Kedua, sistem pengajaran Belanda. Sistem pendidikan Belanda diatur dengan prosedur yangketat dari mulai aturan siswa, pegajar, sistem pengajaran dan kurikulum. Sistem proseduralseperti ini sangat berbeda dengan sistem pendidikan islam yang dikenal sebelumnya. Sistempendidikan pun bersifat diskriminatif.Pemerintah kolonial sebenarnya tidak berniat mendirikan universits, tetapi akhinya merekamendirikan universitas untuk kebutuhan mereka sendiri. Agar tdak banyak bangsa Indonesiayang bersekolah yang lebih inggi, maka biaya kuliah pun dibuat sangat besar.Kurikulum pendidikan Belanda didesain untuk melestarikan penjajahan di Indonesia, makapada kurikulum pun dikenalkan kebudayaan Belanda, juga menekankan hanya pada menulisdengan rapi, membaca dan berhitung, yang keterampilan ini sangat bermanfaat untukdiperbantukan pada pemerintah belanda dengan gaji yang sangat rendah. Anak-anak zaman itutidak diperkenalkan dengan budayanya sendiri dan potensi bangsanya.Ketiga, sekolah yang dikebangkan tokoh pendidikan seperti KH Ahmad Dahlan dan KiHajar Dewanara. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang menggunakan sistempendidikan barat dengan menambahkan pelajaran Islam. Ki Hajar Dewanara mendirikan TamanSiswa dengan membuat sistem pendidikan yang berakar pada budaya dan filosofi hidup Jawa,yang kemudian dianggap sebagai sistem pengajaran dan pendidikan nasional.2. Kurikulum Periode penjajahan JepangPada masa Jepang, pendidikan diarahkan untuk menyediakan prajurityang siap perang diperang Asia Timur Raya. Penggolongan sekolah berdasarkan status sosial yang dibangunBelanda dihapuskan. Pendikan hanya digolongkan pada pendidikan dasar (Kokmin Gakko) 6tahun, pendidikan menengah petama (Shoto Gakko), pendidikan menengah tinggi (Koto ChuGako) yang masing-masng tiga tahun serta pendidikan tinggi.Pada masa peralihan dari Jepang ke Sekutu, ketika proklamasi dikumandangkandibentuklah Panitia Penyelidik Pengajaran RI yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara. Lembagaini melahirkan rumusa pertama sistem pendidikan nasional, yakni pendidikan bertujuanmenekankan pada semangat dan jiwa patriotisme. Kemudian disusun pula pembaruan kurikulumpendidikan dan pengajaran. Kurikulum sekolah dasar lebih mengutamakan pendekatan filosofis-ideologis. Proses penyusunan singkat dan tentu saja disertai data empiris penempatan isikurikulum dimasa permulaan kemerdekaan itu berdasarkan asumsi belaka.3. Kurikulum Pasca KemerdekaanKurikulum saat itu diberi nama leer plan. Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran(Rentjana Pelajaran), lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). 1947. Pada saat itu,kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda danJepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasanakehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan makapendidikan sebagai development conformism, bertujuan untuk membentukan karakter manusiaIndonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi
    • ini. Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda kekepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalanganmenyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuatdua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar pengajaran.Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan pendidikan watak,kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.4. Rencana Pelajaran Terurai 1952Setelah Rencana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalamipenyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulumini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligusciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaranyang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” kataDjauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995.Pada masa itu juga dibentuk kelas Masyarakat. Yaitu sekolah khusus bagi lulusan SekolahRendah 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan,seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan tujuannya agar anak tak mampu sekolah kejenjang SMP, bisa langsung bekerja.5. Kurikulum Periode 1965-1985Kurikulum Periode 1964Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistemkurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikirankurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah: bahwa pemerintah mempunyaikeinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD,sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitupengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.Kurikulum Periode 1968Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannyaperubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwapancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudandari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankanpada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggikecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isipendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, sertamengembangkan fisik yang sehat dan kuat.Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yangdicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati.
    • Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaanPancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9.Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat matapelajaran pokok-pokok saja,” katanya. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkandengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepatdiberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.Kurikulum Periode 1975Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif.“Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO(management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, DirekturPembinaan TK dan SD Depdiknas. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalamProsedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuanpelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi:petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatanbelajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulisrincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.Kurikulum Periode 1984Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatanproses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yangdisempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu,mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar SiswaAktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan,Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta —sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secarateoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi danreduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkanCBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-siniada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. PenolakanCBSA bermunculan.6. Kurikulum Periode 1994Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu denganmengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjaditiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Tujuanpengajaran menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikanantara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan.Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat.Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasadaerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkanagar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezimSoeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.7. Kurikulum Periode 2004-2006Kurikulum Periode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)Kurikulum 1994 perlu disempurnakan lagi sebagai respon terhadap perubahan strukturaldalam pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik sebagai konsekuensi logis
    • dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Sehinggadikembangkan kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untukmelakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telahditetapkan. Competency Based Education is education geared toward preparing indivisuals toperform identified competencies (Scharg dalam Hamalik, 2000: 89). Hal ini mengandung artibahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkatkompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulumberbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran.Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yangdirefleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secarakonsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalamarti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur,2002:55).Kurikulum Periode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran) 2006Kurikulum terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP). Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan, muncullah KTSP. Disusun oleh BadanStandar Nasional Pendidikan (BSNP) yang selanjutnya ditetapkan oleh Menteri PendidikanNasional melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22, 23, dan 24tahun 2006.Menurut Undang-undang nomor 24 tahun 2006 pasal 1 ayat 15, Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan dimasing-masing satuan pendidikan. Jadi, penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikandengan memperhatikan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan olehBadan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Disamping itu, pengembangan KTSP harusdisesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta pesertadidik.Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar danmenengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP dimana panduan tersebut berisisekurang-kurangnya model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikandasar dan menengah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut dikembangkansesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/ karakteristik daerah, sosial budaya masyarakatsetempat, dan peserta didik.Tujuan KTSP ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan,kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulumdisusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengankebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Tujuan Panduan Penyusunan KTSP ini untuk menjadiacuan bagi satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, danSMK/MAK dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan padatingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.