Community Health Nursing Semester 1, 2012    Prepared by: Christy Karundeng            Makanan Etnik Minahasa dan Kejadian...
Abstrak Di sejumlah daerah di Indonesia, mengonsumsi makanan  berlemak tinggi ada yang menjadi bagian gaya hidup. Kebiasaa...
Penelitian di RSU Prof. Dr. R.D.    Kandou ini menggunakan disainstudi kasus kontrol dengan ukuran  sampel 128 Kasus dan 1...
• Karena jenis makanan etnik Minahasa belum ada dalam  DKBM (Daftar Komposisi Bahan Makanan), Grace  melakukan pemeriksaan...
Masalah kesehatan jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) adalah masalah yang harus kita cermati bersama, karena memb...
Propinsi Sulawesi Utara adalah salah satu daerah diantara 30 propinsi di Indonesia yang mempunyai angka kematian tinggi a...
• Penyakit jantung koroner merupakan penyakit  degeneratif yang dapat disebabkan oleh  manifestasi aterosklerosis di pembu...
Faktor ResikoDapat diubah yaitu :       Tidak dapat diubah :      Hipertensi,                           • Usia,       Disl...
Hipertensi mempunyai hubungan erat dengan terjadinya PJK, karena adanya hipertensi meningkatkan risiko terjadinya PJK sebe...
• Bangsa Indonesia mempunyai sekitar 500 etnis dengan  beragam gaya hidup diantaranya adalah etnis Minahasa yang  mayorita...
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan makan etnis Minahasa mengkonsumsi makanan yang kaya asam lema...
Metode  Penelitian ini dilakukan di RSU Prof. Dr. R.D. Kandou,    dengan desain Penelitian Kasus Kontrol Tidak    Berpadan...
• Penelitian ini didahului  oleh penelitian  pendahuluan dalam  bentuk survei, bertujuan  untukMendapatkan informasi  meng...
• Selanjutnya, dilakukan Pengambilan Sampel makanan  baik makanan yang ada di acara pesta maupun  makanan yang dimasak sen...
• Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang datang  berobat di RS Umum Prof Dr Kandou.• Sampel penelitian adalah pasi...
Data kebiasaan makan dari FFQ terdapat pilihan kolom frekuensi :  Tidak Pernah,  Jarang ,  Sampai Sering.Setelah pendat...
Sehingga, diketahui efek murni dari jenis  makanan yang paling berisiko terhadap  kejadian penyakit jantung koroner setela...
Diperoleh kebiasaan makan sering dan jarang berdasarkan cut off point nilai mean karena data berdistribusi normal.Selanjut...
HasilKarakteristik Kasus dan KontrolDiperoleh bahwa sebagian besar dari KASUS (68,75%) mempunyai  aktivitas sehari-hari ya...
Hasil• Kelompok KASUS sebagian besar lebih tua daripada kelompok  KONTROL.• Hampir setengah (40,63%) subyek pada kelompok ...
Hasil• Sekitar dua pertiga (67,19%) dari kasus mempunyai  riwayat hipertensi, sementara pada kelompok kontrol  hanya terda...
HasilNo   Sedentary Life Style                         Kasus    Control1    Kebiasaan Merokok                            5...
Kandungan Asam Lemak JenuhKandungan asam lemak enuh pada 41  jenis makanan etnik Minahasa          1. tina’i, ayam santan,...
    Tinorangsak,                                            Babi Putar,Hubungan dengan Kejadian PJK                 Bab...
• Diambil LIMA JENIS MAKANAN yang  mempunyai nilai ODDS RATIO tertinggi yaitu :  Kotey/Sa’ut, Paniki/Kelelawar, Loba, Babi...
• Diketahui efek murni dari orang yang makan makanan ‘babi  putar’ dengan frekuensi 2x/bulan mempunyai kemungkinan  lebih ...
 Demikian pula, bila digabungkan babi putar dengan sayur    Jadi  pait juga memperlihatkan adanya penurunan OR (odds  ra...
Kebiasaan Makanan dan Penyakit Jantung Koroner• Kebiasaan makan yang dimaksud  adalah kebiasaan yang dilihat  berdasarkan ...
• Efek murni dari kebiasaan      • dibandingkan dengan orang  makan makanan Khas Etnik         yang mempunyai  Minahasa Ya...
Kesimpulan• Gambaran kandungan asam lemak jenuh pada makanan etnik  Minahasa adalah 0,01-10,46% food per 100 gram.  Berdas...
• Orang mengkonsumsi babi putar ³ 2 x/ bulan  berisiko 4,43 kali lebih besar untuk menderita PJK  daripada yang mengkonsum...
Saran• Meningkatkan program promosi kesehatan melalui  berbagai media TV, koran, majalah/tabloid di  daerah Propinsi Sulaw...
• Bagi masyarakat etnik Minahasa yang sudah mempunyai  faktor risiko PJK disarankan melakukan check-up kesehatan  rutin se...
Daftar Pustaka1.   Mensah G, Brown D, Croft J, Greenlund K. Major coronary risk factors     and death from coronary heart ...
Makanan minahasa dan penyakit jantung
Makanan minahasa dan penyakit jantung
Makanan minahasa dan penyakit jantung
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Makanan minahasa dan penyakit jantung

1,400
-1

Published on

Babi Tore, Tinoransak, Lemak Jenuh, Penyakit Jantung

Published in: Health & Medicine
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,400
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Kotey : sayur yang terbuatdaribatangpisang
  • Gcadalah teknik yang digunakanuntukmemisahkankomponen-komponendarisuatucampuran/sample.
  • yang mempunyainilai OR tertinggi
  • Aktivitas fisik sehari-hari (kebiasaan sedentary life style) respondendikategorikandalamkuranggerakdancukupgerak.
  • Nilai OR yang bermaknaberkisarantara12,21-2,02. Jenis makanan kotey/sa’ut mempunyai nilai OR yang tertinggiyaitu 12,21 (95%CI:3,61-41,24).
  • Diketahuiefekmurnidariorang yang makanmakanan ‘babi putar’ dengan frekuensi ³ 2x/bulan mempunyai kemungkinanlebihbesar 4,43 kali (95% CI: 1,55-12,65) untukterkena PJK dibandingorang yang makan ‘babiputar’ denganfrekuensi 1x/bulan. Setelahdikontrololehbabihutan, kotey/sa’ut, merokok, usia, jeniskelamin dan hipertensi. Apabila dilakukan analisis penggabunganjenismakananberisikobabiputardenganbeberapa jenis makanan lain yang mengandung rica-rica (caberawit/capsicum fretescens) yang seringdikonsumsioleh masyarakat etnik Minahasa dan makanan yang berserat sepertisayurpait (daunpepaya). Hasilnyamenunjukkanrisikobabiputaragakmenurundibandingkanjikababiputaritusendiri. Misalnya, babiputardigabungkandenganikan mas bakar rica dan atau babi garo rica dalam analisis multivariat menunjukkan penurunan nilai OR.
  • reisiko 5,4 kali terserang PJK (95% CI: 2,93-9,93)
  • Makanan minahasa dan penyakit jantung

    1. 1. Community Health Nursing Semester 1, 2012 Prepared by: Christy Karundeng Makanan Etnik Minahasa dan Kejadian Penyakit Jantung Koroner Grace Debbie Kandou, KesMas Vol 4, No.1 Tahun 2009
    2. 2. Abstrak Di sejumlah daerah di Indonesia, mengonsumsi makanan berlemak tinggi ada yang menjadi bagian gaya hidup. Kebiasaan ini juga dipengaruhi faktor : Budaya, Adat Istiadat, Agama dan Kepercayaan berperan penting dalam Proses Kejadian Suatu Penyakit. Di Kalangan Etnik Minahasa Propinsi Sulawesi Utara misalnya, menyantap menu berlemak terbuat dari lemak hewani (babi) merupakan bagian dari keseharian. Tak heran bila kebiasaan ini pun ternyata meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
    3. 3. Penelitian di RSU Prof. Dr. R.D. Kandou ini menggunakan disainstudi kasus kontrol dengan ukuran sampel 128 Kasus dan 128 Kontrol.Makanan etnik Minahasa ditentukan berdasarkan 41 jenis makanan yang dikompositkan.Dengan melibatkan 256 partisipan, Dr Grace melakukan pengumpulan data frekuensi makan dengan FFQ. Food Frequency Quationnaire (FFQ).
    4. 4. • Karena jenis makanan etnik Minahasa belum ada dalam DKBM (Daftar Komposisi Bahan Makanan), Grace melakukan pemeriksaan kandungan asam lemak jenuh dengan metoda Gas Chromatography dari 41 jenis makanan etnik Minahasa di Laboratorium Pangan & GO Litbangkes Bogor• Dan Asam Lemak Jenuh pada setiap jenis makanan etnik Minahasa umumnya mengandung ALJ dengan kisaran kadar 0,01-10,46% food per 100 gram.• Pengkomsumsi makanan Mihahasa dengan frekuensi makan 2 kali/ bulan, berisiko PJK 4,43 kali lebih besar daripada pengkonsumsi 1 kali/ bulan setelah dikontrol dengan variabel daging .
    5. 5. Masalah kesehatan jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) adalah masalah yang harus kita cermati bersama, karena membunuh lebih dari 180.000 orang di Inggris dan 500.000 orang di Amerika Serikat setiap tahunnya.Penyakit kardiovaskular (PJK) di Indonesia merupakan penyebab kematian yang terus meningkat,Dari urutan ke 11 (SKRT 1972) , menjadi urutan ke 3 (SKRT 1986) dan menjadi penyebab kematian pertama (SKRT 1992, 1995, dan SKRT 2001, SKRT 2005).
    6. 6. Propinsi Sulawesi Utara adalah salah satu daerah diantara 30 propinsi di Indonesia yang mempunyai angka kematian tinggi akibat penyakit kardiovaskular.5,6 Data laporan RS Umum Pusat Malalayang (sekarang RS Umum Prof. dr R.D Kandou) yang merupakan pusat rujukan rumah sakit di Propinsi Sulawesi Utara, menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama
    7. 7. • Penyakit jantung koroner merupakan penyakit degeneratif yang dapat disebabkan oleh manifestasi aterosklerosis di pembuluh koroner dan berbagai macam faktor risiko lainnya. 8,9 Risiko PJK pada orang yang mempunyai riwayat keluarga PJK atau meninggal mendadak sebelum usia 50 tahun dibandingkan dengan orang yang tidak punya riwayat keluarga yaitu sebesar 2,5 kali.
    8. 8. Faktor ResikoDapat diubah yaitu : Tidak dapat diubah : Hipertensi, • Usia, Dislipidemia, • Genetik/riwayat keluarga Merokok, • Dan ras/etnik. Diabetes Melitus, Obesitas, Stres, Inaktifitas Fisik
    9. 9. Hipertensi mempunyai hubungan erat dengan terjadinya PJK, karena adanya hipertensi meningkatkan risiko terjadinya PJK sebesar 6 kali dibandingkan orang yang tidak hipertensi.Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes melitus mempunyai risiko 2-3 kali untuk menjadi PJK dibanding bukan penderita diabetes.Propinsi Sulawesi Utara merupakan daerah yang mempunyai Prevalensi Tertinggi Diabetes Melitus Di Indonesia.
    10. 10. • Bangsa Indonesia mempunyai sekitar 500 etnis dengan beragam gaya hidup diantaranya adalah etnis Minahasa yang mayoritas tinggal di Provinsi Sulawesi Utara.• Jumlah penduduk etnik Minahasa adalah yang terbanyak diantara etnik yang ada di Propinsi Sulawesi Utara.• Masyarakat etnik Minahasa mempunyai suatu kebiasaan pesta yang diikuti dengan pesta makan atau makan makanan Minahasa yang sebagian besar berasal dari lemak hewani (babi).• Orang Minahasa makan daging babi sebagaimana kebanyakan penduduk Indonesia makan daging sapi.
    11. 11. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan makan etnis Minahasa mengkonsumsi makanan yang kaya asam lemak jenuh dengan kejadian PJK dengan memperhatikan faktor lain seperti : • Gaya Hidup Sedentary (Kurang Gerak), • Kebiasaan Merokok, • Kebiasaan Konsumsi Alkohol, • Karakteristik Individu (Umur, Jenis Kelamin, Riwayat Keluarga), • Penyakit Penyerta (Hipertensi, Obesitas Dan Diabetes Melitus).
    12. 12. Metode Penelitian ini dilakukan di RSU Prof. Dr. R.D. Kandou, dengan desain Penelitian Kasus Kontrol Tidak Berpadanan. 1. Kasus adalah pasien baru rawat inap atau rawat jalan berdasarkan rekam medis yang sudah dilakukan pemeriksaan EKG dan untuk pertama kalinya di diagnosis penderita penyakit jantung koroner oleh dokter spesialis jantung sesuai AHA Guidelines/Pedoman PERKI 2004. 2. Sebagai Kontrol adalah pasien di bagian lain, yang bukan penderita PJK rawat inap maupun rawat jalan dan sudah dilakukan pemeriksaan EKG, dan telah dinyatakan oleh dokter spesialis jantung bukan pasien PJK.
    13. 13. • Penelitian ini didahului oleh penelitian pendahuluan dalam bentuk survei, bertujuan untukMendapatkan informasi mengenai kebiasaan makan dari populasi etnik Minahasa yang tinggal di Propinsi Sulawesi Utara,dan mengkaji dikonsumsi oleh penduduk etnik Minahasa sehari- hari maupun di acara makan- makan/pesta yang sering adaoleh etnik ini.
    14. 14. • Selanjutnya, dilakukan Pengambilan Sampel makanan baik makanan yang ada di acara pesta maupun makanan yang dimasak sendiri sehari-hari di rumah untuk dianalisis kandungan asam lemak jenuh.• Pemeriksaan kandungan asam lemak jenuh pada 41 jenis makanan khas yang biasa dikonsumsi oleh etnik Minahasa dilakukan dengan :Metode Gas Chromatography (GC) yang dilakukan oleh Laboratorium Pangan & Gizi Puslitbang Gizi Departemen Kesehatan RI di Bogor.
    15. 15. • Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang datang berobat di RS Umum Prof Dr Kandou.• Sampel penelitian adalah pasien yang berobat dan dirawat di bagian jantung RS Umum sebagai kasus berdasarkan kriteria inklusi/eksklusi dan semua pasien yang dinyatakan bukan PJK yang berobat di bagian lain sebagai kontrol.• Besar Sampel Berdasarkan Perhitungan Rumus besar sampel minimal pada kasus dan kontrol tidak berpadanan 1:1 maka diperoleh n=128 kasus dan n=128 kontrol, besar sampel total adalah 256 sampel.• Selanjutnya , Dilakukan Dietary Asesment dengan metode wawancara frekuensi makan (FFQ). Diwawancarai tentang kebiasaan makan harian, mingguan, bulanan sampai satu tahun.• Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan progra SPSS versi 11. (Lisensi), STATA 8 (Lisensi) dan program Windows Vista Basic Premium Microsoft Excell.
    16. 16. Data kebiasaan makan dari FFQ terdapat pilihan kolom frekuensi : Tidak Pernah, Jarang , Sampai Sering.Setelah pendataan FFQ dilakukan analisis ROC untuk menentukan cut off point frekuensi makan.Diperoleh data masing-masing subyek frekuensi makan untuk semua jenis makanan etnik Minahasa (41 jenis).Dilakukan analisis univariat untuk masing-masing variabel penelitian dan analisis bivariat diperoleh 25 jenis makanan etnik Minahasa yang berhubungan bermakna dengan kejadian PJK.Diambil lima jenis makanan untuk diikutkan dalam analisis multivariat dengan regresi logistik, kemudian dilakukan uji interaksi dan confounding.
    17. 17. Sehingga, diketahui efek murni dari jenis makanan yang paling berisiko terhadap kejadian penyakit jantung koroner setelah mengontrol faktor-faktor lainnya (kebiasaan sedentary/ aktivitas fisik)  Merokok,  Kebiasaan Mengkonsumsi Minuman Beralkohol,  Usia,  Jenis Kelamin,  Riwayat Keluarga PJK,  Hipertensi,  Obesitas  Diabates Melitus.Kemudian dilakukan analisis penggabungan beberapa jenis makanan yang berisiko. Kebiasaan makan selanjutnya dilihat berdasarkan frekuensi makan dengan mempertimbangkan kandungan asam lemak jenuh dari 41 jenis makanan yang dikompositkan diperoleh kebiasaan
    18. 18. Diperoleh kebiasaan makan sering dan jarang berdasarkan cut off point nilai mean karena data berdistribusi normal.Selanjutnya, dilakukan Analisis Bivariat untuk melihat hubungan masing-masing variabel dengan kejadian PJK.Kemudian, Analisis Multivariat Regresi Logistik melalui penahapan analisis uji interaksi dan uji confounding.Sehingga, diperoleh efek murni kebiasaan makan yang sering mengkonsumsi makanan yang mengandung asam lemak jenuh dibandingkan kebiasaan jarang terhadap kejadian penyakit jantung dengan mengontrol faktor lainnya.
    19. 19. HasilKarakteristik Kasus dan KontrolDiperoleh bahwa sebagian besar dari KASUS (68,75%) mempunyai aktivitas sehari-hari yang kurang gerak (sedentary life style), sedangkan pada KONTROL (43,75%) yang sedentary.Kebiasaan merokok pada setengah KASUS (55,47%) adalah perokok, sedangkan pada KONTROL hanya sebagian kecil (22,66%) yang perokok.Berdasarkan kebiasaan mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol, terdapat sepertiga dari KASUS (32,81%) mempunyai kebiasaan minum minuman yang mengandung alkohol seperti cap tikus (minuman khas Minahasa yang terbuat dari hasil penyulingan pohon enau), anggur, bir, dan sebagainya.Demikian pula, pada KONTROL hampir sepertiga yaitu 29,69% adalah juga mempunyai kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol.
    20. 20. Hasil• Kelompok KASUS sebagian besar lebih tua daripada kelompok KONTROL.• Hampir setengah (40,63%) subyek pada kelompok KASUS berumur 55-64 tahun,• sedangkan pada KONTROL 37,5%.• Subyek yang berumur 65 tahun terdapat 40,63%, sedangkan pada KONTROL hanya sebagian kecil yaitu 24,22%.• Sebagian besar dari KASUS yaitu 61,72% mempunyai jenis kelamin laki-laki, sedangkan pada KONTROL Terdapat 28,91% adalah berjenis kelamin laki-laki.• Hampir separuh (41,41%) pada KASUS ada mempunyai riwayat keluarga PJK, sedangkan hanya sebagian kecil (24,22%) pada KONTROL yang mempunyai riwayat keluarga PJK.
    21. 21. Hasil• Sekitar dua pertiga (67,19%) dari kasus mempunyai riwayat hipertensi, sementara pada kelompok kontrol hanya terdapat 35,94% yang mempunyai riwayat hipertensi juga.• Obesitas atau kegemukan terdapat pada kasus 62,5% yang tergolong dalam kategori obesitas, sedangkan pada kelompok kontrol hanya 37,5% yang tergolong dalam kategori obesitas. Riwayat• Diabetes Melitus terdapat sebagian besar yaitu (75%) dari Kasus mempunyai riwayat DM dan pada KELOMPOK KONTROL ditemukan 47,66% mempunyai riwayat DM juga.
    22. 22. HasilNo Sedentary Life Style Kasus Control1 Kebiasaan Merokok 55,47% 22,66% Berdasarkan Kebiasaan Mengkonsumsi Minuman2 32,81% 29,69% Alkohol3 Kelompok Berumur Lebih Tua 40,63% 37,5%.4 Jenis Kelamin Laki-laki 61,72% 28,91%5 History Family PJK 41,41% 24,22%6 History Family Hypertnsi 67,19% 35,94%7 Obesitas 62,5% 37,5%8 History family DM 75% 47,66%
    23. 23. Kandungan Asam Lemak JenuhKandungan asam lemak enuh pada 41 jenis makanan etnik Minahasa 1. tina’i, ayam santan, berkisar nilai 10,46-0,01% food per 2. babi tore, 100 gram. 3. babi bakar,Kandungan asam lemak jenuh 4. brenebon babi,Jenis Makanan Tina’i (Usus/Jeroan 5. babi putar, Babi) Tertinggi 10,46% Food Per 6. babi garo rica, 100 gram 7. tinorangsak,Makanan Tinutuan (bubur Manado) 8. pangi babi, kandungan asam lemak jenuh yang terendah yaitu 0,01% food per 100 9. paniki, gram. 10.babi asam manis,Jenis makanan etnik Minahasa 11.babi kecap, yang termasuk dalam kelompok 12.RW, makanan tinggi asam 13.babi hutan, lemak jenuh (3,93- 10,46% 14.babi leylem food per 100 gram) adalah :
    24. 24.  Tinorangsak,  Babi Putar,Hubungan dengan Kejadian PJK  Babi Hutan, • Berdasarkan analisis 41 jenis  Babi Leylem, Babi Garo Rica, Makanan Etnik Minahasa yang  Babi Kecap, diteliti, diperoleh 25 jenis makanan  Babi Asam Manis, yang menunjukkan HUBUNGAN  Babi Bakar, BERMAKNA DENGAN  Babi Tore, KEJADIAN PJK,  Posana,  Kotey/Sa’ut,sedangkan 16 JENIS makanan etnik  Sate Babi, Minahasa lainnya menunjukkan  Loba, TIDAK ADA HUBUNGAN yang  Tina’i, bermakna dengan kejadian PJK.  Sayur Pait Babi,  Sup Brenebon/Kacang Merah Babi,• Makanan etnik Minahasa yang  Sup Babi Kuah Asam, BERPOTENSI terhadap  Sayur Kangkung Tumis Babi, kejadian kejadian PJK meliputi :  Rw(anjing), Paniki (Kelelawar),  Tikus,  Ikan Mas Wokublanga,  iKan Mas Goreng,  Ikan Mas Bakar Rica Dan  Ayam Santan
    25. 25. • Diambil LIMA JENIS MAKANAN yang mempunyai nilai ODDS RATIO tertinggi yaitu : Kotey/Sa’ut, Paniki/Kelelawar, Loba, Babi Hutan dan Babi Putar.• Setelah dilakukan Analisis Multivariat, dari kelima jenis makanan tersebut yang tertinggal dalam model hanya tiga jenis saja yakni Babi Putar, Babi Hutan Dan Kotey/Sa’ut.• Setelah melalui Proses Analisis dengan regresi logistik dengan mengontrol faktor- faktor lainnya, sehingga diperoleh hasil akhir jenis makanan yang berisiko terhadap penyakit jantung koroner,
    26. 26. • Diketahui efek murni dari orang yang makan makanan ‘babi putar’ dengan frekuensi 2x/bulan mempunyai kemungkinan lebih besar 4,43 kali untuk terkena PJK dibanding orang yang makan ‘babi putar’ dengan frekuensi 1x/bulan. Apabila dilakukan analisis penggabungan jenis makanan berisiko babi putar dengan beberapa jenis makanan lain yang mengandung rica-rica (cabe rawit/capsicum fretescens) yang sering dikonsumsi oleh masyarakat etnik Minahasa dan makanan yang berserat seperti sayur pait (daun pepaya).• Hasilnya menunjukkan risiko babi putar agak menurun dibandingkan jika babi putar itu sendiri.• Misalnya, babi putar + ikan mas bakar rica + babi garo rica• Hasilnya dalam analisis multivariat menunjukkan penurunan. (Rasio ataupun resiko)
    27. 27.  Demikian pula, bila digabungkan babi putar dengan sayur  Jadi pait juga memperlihatkan adanya penurunan OR (odds ratio) pada penggabungan makanan tersebut. minimalkan, mencegah tersumbatnya pembuluh Hal ini diduga karena adanya efek ‘rica’ (capsicum darah sebagai penyebab frustescens) yang mempunyai efek baik sebagai antikoagulan . utama serangan jantung dan stroke. Diketahui bahwa Bumbu Jahe Terutama jenis jahe merah (Zingiber Officinale var Rubrum) bersifat sebagai Gingerol pada jahe juga antioksidan yang membantu menetralkan efek dapat membantu merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam menurunkan kada tubuh. kolesterol darah. Jahe merangsang pelepasan hormon adrenalin dan Bumbu bawang putih memperbesar pembuluh darah, sehingga darah mengalir berkhasiat menurunkan dan lancar dan meringankan kerja pompa jantung. Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan yaitu menstabilkan tekanan darah mencegah penggumpalan darah. tinggi, membantu menurunkan kadar Jadi minimalkan, mencegah tersumbatnya pembuluh kolesterol darah, membantu darah sebagai penyebab utama serangan jantung dan stroke. mencegah penggumpalan Gingerol pada jahe juga dapat membantu menurunkan darah, sebagai kada kolesterol darah. detoxifier, antioksidan dan dapat juga sebagai anti
    28. 28. Kebiasaan Makanan dan Penyakit Jantung Koroner• Kebiasaan makan yang dimaksud adalah kebiasaan yang dilihat berdasarkan frekuensi makan dengan mempertimbangkan kandungan asam lemak jenuh pada masing-masing jenis makanan. Dilakukan proses mengkompositkan ke-41 jenis makanan tersebut dengan cara mengalikan frekuensi makan (diberi bobot) dengan skor kandungan ALJ.• Diperoleh nilai total skor kebiasaan makan nilai MINIMum 97 dan nilai MAKsimum 922, nilai mean adalah 413,53.• Oleh karena data berdistribusi normal, maka diambil nilai mean sebagai cut off point.
    29. 29. • Efek murni dari kebiasaan • dibandingkan dengan orang makan makanan Khas Etnik yang mempunyai Minahasa Yang Kaya ALJ kebiasaan makan makanan terhadap kejadian PJK adalah etnik Minahasa yang kaya bahwa orang yang mempunyai asam lemak jenuh dengan kebiasaan makan makanan frekuensi jarang setelah yang kaya asam lemak jenuh dikontrol dengan variabel dengan frekuensi sering jenis kelamin, riwayat PJK mempunyai risiko 5,4 kali dalam keluarga dan terserang PJK (95% ) diabetes mellitus.
    30. 30. Kesimpulan• Gambaran kandungan asam lemak jenuh pada makanan etnik Minahasa adalah 0,01-10,46% food per 100 gram. Berdasarkan 41 jenis makanan etnik Minahas yang termasuk kelompok makanan tinggi ALJ (3,93- 10,46% food/100 gram) adalah tina’i, ayam santan, babi tore, babi bakar, brenebon babi, babi putar, babi garo rica, tinorangsak, pangi babi, paniki, babi asam manis, babi kecap, RW, babi hutan, babi leylem dan sup kuah asam babi. Kelompok makanan rendah ALJ (0,01-3,92% food/100 gram) adalah tinutuan, sayur pait, kotey/sa’ut, ikan cakalang goreng, ikan laut wokublanga, ikan mujair bakar, ikan mujair goreng, ikan cakalang fufu saus, ikan mas bakar rica, ikan mas wokublanga, ikan mas goreng, kangkung tumis, tikus dan sayur rica rodo.
    31. 31. • Orang mengkonsumsi babi putar ³ 2 x/ bulan berisiko 4,43 kali lebih besar untuk menderita PJK daripada yang mengkonsumsi babi putar dengan frekuensi ² 1 x/ bulan, setelah dikontrol oleh babi hutan, sa’ut/kotey dan faktorusia, jenis kelamin, merokok dan hipertensi. Orang yang biasa makan makanan etnik Minahasa dengan frekuensi ‘sering’ berisiko 5,4 kali lebih besar untuk terserang PJK daripada yang ‘jarang’ setelah dikontrol oleh faktor jenis kelamin, adanya riwayat keluarga PJK dan diabetes melitus.
    32. 32. Saran• Meningkatkan program promosi kesehatan melalui berbagai media TV, koran, majalah/tabloid di daerah Propinsi Sulawesi Utara untuk memberikan informasi tentang jenis makanan yang perlu dihindari. Melakukan pendekatan kepada tiga kelompok sasaran masyarakat etnik Minahasa. Mengurangi frekuensi makan makanan Minahasa tidak lebih dari 1 kali dalam sebulan. Mengurangi kebiasaan makan 25 jenis makanan etnik Minahasa yang berisiko PJK. Makanan yang berisiko tersebut hendaknya dicampur dengan sayur kangkung, sayur pait atau makanan mengandung ‘rica’ atau cabe rawit.
    33. 33. • Bagi masyarakat etnik Minahasa yang sudah mempunyai faktor risiko PJK disarankan melakukan check-up kesehatan rutin setiap tahun. Bagi tokoh masyarakat disarankan menjadi panutan dengan mengurangi kebiasaan makan makanan etnik Minahasa, mengurangi menghidangkan makanan yang berisiko PJK dengan menyuguhkan makanan yang tidak berisiko. Bagi Pemerintah Daerah disarankan untuk meningkatkan kesadaran memilih makanan yang tidak berisiko PJK. Meningkatkan program KIE melalui penyuluhan kesehatan langsung kepada masyarakat. Mensosialisasi jenis makanan yang berisiko PJK. Para akademisi disarankan untuk meneliti lebih lanjut pada masyarakat etnis Minahasa untuk mengetahui pengaruh makanan etnik Minahasa terhadap kejadian penyakit jantung koroner di populasi.
    34. 34. Daftar Pustaka1. Mensah G, Brown D, Croft J, Greenlund K. Major coronary risk factors and death from coronary heart disease. American Journal of Preventive Medicine. 2005; 29 (581): 68-74.2. Setianto B. Tinggi badan dan gambaran lesi arteri koroner yang dilakukan3. arteriografi koroner di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.Jurnal Kardiologi Indonesia. 2000; XXV (2): 61-7.4. World Health Organization. Global strategy on diet, physical activity and health.Genewa: WHO; 2003.5. Departemen Kesehatan RI. Profil kesehatan Indonesia 2003, menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.6. Boedhi D. Epidemiologi penyakit kardiovaskular dan masalah gizi pada golongan usia lanjut di Indonesia dalam Risalah Widyakarya Pangan dan Gizi V. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia; 1992. hal.96- 155.7. Eeuwijk V, Billy K. Budaya, kesehatan dan kemiskinan; mencari model alternatif pelayanan kesehatan dalam pendekatan budaya di Sulawesi Utara. Media Kesehatan. 2005; 1 (2): 67-72.

    ×