21218804 ida-rufaida-ptk-matematika-kontekstual

  • 5,472 views
Uploaded on

 

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
5,472
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
215
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAHMATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Penelitian Tindakan Kelas Terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Cicalengka Kabupaten Bandung ) Skripsi “Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika” oleh: Ida Rufaida 08513058 JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN GARUT 2009
  • 2. Persembahan Kepada semua insan yang berkhidmah menyiapkan generasi yang teguh berakidah, patuh bersyariah dan berakhlakul karimah serta berbakti kepada orang tua, menghargai ilmu dan menghormati guru
  • 3. Moto All the children are our future Teach them well And let them lead the way (Semua anak adalah masa depan kita Didiklah mereka dengan baik Biarkan mereka memimpin) Whitney Houston(1991): The greatest Love of all I love how you reach Without to touch I love how you teach without to rush (Aku suka caramu anda meraih tanpa menyentuh Aku suka cara anda mendidik tanpa menghardik) Odia coates (1982): The Woman Song
  • 4. PERNYATAN Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA” (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VIII SMP Negeri 1 Cicalengka) Ini benar-benar karya saya sendiri. Pengutipan dari sumber-sumber lain,telah saya lakukan berdasarkan kaidah-kaidah pengutipan yang sesuai denganetika keilmuan yang berlaku sehingga isi skripsi serta semua kelengkapannya inimerupakan karya asli. Apabila kemudian ditemukan hal-hal yang tidak sesuaidengan isi pernyataan saya ini, saya bersedia menerima resiko atau sanksi apapun. Garut,1 Aguntus 2009 Yang membuat pernyataan IDA RUFAIDA
  • 5. Lembar Pengesahan Skripsi oleh: IDA RUFAIDA NIM: 08513058 Disetujui dan disahkan oleh: Pembimbing I Pembimbing IIDrs. Deddy Sofyan, M.Pd. Drs. Sukanto Sukandar M.NIP: 132057541 NIP: 131 793 696 Diketahui oleh:Ketua STKIP Garut Ketua Jurusan MatematikaDrs. H. Imid Hamid, M.Pd. Drs. Moersetyo Rahadi, M.Pd.NIP: 130 143 743 NIP: 131 793 701
  • 6. ABSTRAK Kemampuan matematika adalah kemampuan bagi kehidupan sehari-hari,oleh sebab itu seyogyanya setiap manusia memiliki kemampuan matematika.Stigma bahwa matematika pelajaran yang sulit menyebabkan hasrat belajarrendah, akibatnya kemampuan matematika siswa tidak seperti yang diharapkan.Rendahnya hasrat belajar metematika menyebabkan siswa menghindar dari prosespenyelesaian masalah matematika, akibatnya kemampuan menyelesaikan masalahmatematika tidak terlatih dengan baik. Untuk meningkatkan kemampuanmatematika perlu motivasi belajar yang kuat dan untuk memotivasi siswa perluditerapkan pendekatan yang menimbulkan kesan bahwa matematika tidak sesulityang diduga. Lingkungan keseharian adalah sumber belajar yang kaya dan murah.Menghadirkan matematika dalam format keseharian yang dekat dengan kehidupansiswa ternyata menyadarkan siswa bahwa matematika memang rumit, tetapi tetapdapat diselesaikan dengan baik. Pembelajaran kontekstual merupakan prosespembelajaran yang mengajak siswa aktif mengamati keseharian dan kaitannyadengan matematika. Keterlibatan siswa dalam menemukan dan menyelesaikanmasalah telah meningkatkan motivasi belajar. Kelas merupakan laboratoriumpembelajaran yang sebenarnya, maka penelitian mengenai pembelajaran yangpaling otentik adalah penelitian yang dilakukan di kelas. Salah satu penelitiantersebut adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian tindakan kelas di kelasVIII SMP Negeri I Cicalengka, menunjukkan adanya peningkatan kemampuansiswa dalam pemecahan masalah matematika. Peningkatan tersebut antara lainadanya perbedaan antara nilai awal dengan nilai akhir. Pada tes awal nilaiminimum 10, nilai tertinggi 80 dan nilai rata-rata 46,67. Setelah perlakuan denganmenerapkan pembelajaran kontekstual, terjadi peningkatan. Pada tes akhir, nilaiminimum 35, nilai tertinggi 100 dan nilai rata-rata 80,46.
  • 7. Kata Pengantar Segala puji adalah milik Ilahi yang Maha Tinggi. Syukur berbinar terujarbagi yang Akbar, seraya memijar shabar menjalani alur yang tidak sepanjangnyadatar. Terima kasih tiada tara dan apresiasi dari lubuk hati dihaturkan dengantawadlu kepada segenap insan yang berkenan mendorong, mendukung danmembantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah mencatatkan segalakebaikan tersebut sebagai jariyah dengan pahala menggelagah tiada henti. Ada banyak alasan mengapa sebuah karya ditulis: Karena subyeknyasedang menjadi topik yang hangat; Karena materinya enak untuk dijadikan bahanpolemik; Karena topiknya menarik untuk diselidik dan alasan-alasan lainnya.Alasan penulis memilih tema dan mengangkat problema sebagaimana disebutpada sampul, karena masalahnya adalah bagian tidak terpisahkan dari diri dankeseharian penulis. Siapapun tentu berkehendak melahirkan karya yang sempurna. Tetapi adapepatah bahwa bila menunggu kesempurnaan, sebuah buku tidak akan pernahterbit, karena setiap selesai menulis satu paragrap informasi ada ribuan paragrapbaru yang harus ditulis untuk menyajikan informasi mutakhir. Maka tanpamenunggu sempurna skripsi ini disajikan apa adanya. Lebih dari itu, skripsi yangbaik adalah skripsi yang selesai, maka dengan disajikannya skripsi maka skripsidapat dinyatakan selesai. Selesainya skripsi sudah tentu berkat dukungan berbagai pihak, untuk itusekali lagi disampaikan terimakasih dan penghargaan kepada siapa saja yangberkenan membantu, diantaranya sosok-sosok tersebut di bawah ini.
  • 8. Siswa-siswi tercinta yang telah bersedia berperanserta menggiatipembelajaran baik dalam putaran-putaran penelitian kelas maupun dalamwawancara serta observasi. Terima kasih tidak sekadar atas perannya dalamproses penyusunan skripsi, tetapi secara nyata telah menunjukkan sekaligusmenyadarkan mengenai pentingnya perubahan pandangan mengenai eksistensipeserta didik sebagai subyek pembelajaran yang sangat menentukan berhasiltidaknya proses pembelajaran. Guru, Kepala dan staf pimpinan SMP Negeri 1 Cicalengka yang denganpenuh kesetiakawanan, di tengah kesibukannya menjalankan tugas,menyempatkan diri memberi dorongan dan sumbang saran serta membagipengalaman baiknya dalam mendukung proses penelitian tindakan kelas sampaipenyusunan laporan menjadi skripsi, Pimpinan STKIP Garut, khususnya, Ketua jurusan Matematika beserta stafyang memberikan kemudahan-kemudahan dan arahan baik dalam konteksakademik maupun administratif. Dosen Pembimbing yang dengan sabar dan telaten memberikan arahandalam merapihkan pola pikir dan penulisan buah pikir menjadi skripsi. Sertadosen STKIP yang memperluas wawasan akademik sebagai bekal menjalaniprogram belajar maupun membangun suasana belajar. Sekali lagi atas segala kabajikan dan kebijakan yang telah terpancar,mendapat balasan dari Allah dan menjadi barokah bagi kita semua. Penulis jugamemohon maaf apabila ada hal-hal yang tidak semestinya dikemukakan ternyatatermuat dalam skripsi ini. Terakhir, penulis bermunajat, semoga semua yang telah berjariah ilmubaik disampaikan langsung kepada penulis atau penulis kutip pendapatnya dari
  • 9. buku dan buah tulisan lainnya, diberikan ganjaran yang pantas. Semoga kebaikanyang telah mereka lakukan dapat penulis teladani. Garut, 1 Agustus 2009 Penulis
  • 10. DAPTAR ISIABSTRAK viiKATA PENANGTAR viiiDAFTAR ISI xiDAFTAR TABEL xiiiDAFTAR GAMBAR xvDAFTAR LAMPIRAN xvBAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah 1 B. Pembatasan Masalah 6 C. Rumusan Masalah 7 D. Tujuan penelitian 7 E. Manfaat Penelitian 7 F. Asumsi 8 G. Hipotesis 8BAB II KAJIAN PUSTAKA 10 A. Pembelajaran Berbasis Kecerdasan 10 B. Matematika Sebagai Pelajaran Kehidupan Sehari-hari 14 C. Kesulitan Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika 15 D. Pergeseran Konsep Pembelajaran 20 E. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and 27 Learning)BAB III METODE PENELITIAN 37 A. Penelitian Tindakan Kelas 37 B. Variabel Penelitian 47 C. Definisi Operasional D. Tehnik Pengumpulan Data 51BAB IV LAPORAN HASIL TINDAKAN KELAS 52 A. Gambaran Penelitian 52 B. Penjelasan Siklus Pertama 54 C. Penjelasan Siklus Kedua 68 D. Penjelasan Siklus Ketiga 86 E. Post Test 97 F. Pembahasan dan Pengambilan Keputusan 106BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 117DAFTAR PUSTAKA 120LAMPIRAN-LAMPIRAN 123
  • 11. DAFTAR TABEL No Judul Tabel Hal.1.1 Standar Kelulusan SMP Tahun Pelajaran 2008/2009 22.1 Perbedaan Pembelajaran kontekstual dengan Konvensional 284.1 Deskripsi Kelompok 574.2 Nilai Kumulatif Tes Prasyarat 604.3 Siswa yang benar menurut butir soal 614.4 Siswa yang benar dalam prosedur dan perhitungan 624.5 Siswa yang benar prosedurnya tetapi salah dalam operasi 63 perhitungan4.6 Siswa yang benar dalam operasi perhitungan tetapi salah dalam 63 menetapkan ukuran4.7 Siswa yang benar dalam mengukur dan menghitung 774.8 Hasil pengukuran dan penghitungan kelompok 784.9 Kebutuhan porselin untuk bak air 804.10 Nilai Tes Siklus Ketiga per butir soal 934.11 Perbandingan Nilai soal nomor 1 dan nomor 2 944.12 Daftar hasil kwadrat 964.13 Perolehan nilai kumulatif Post Test 994.14 Perolehan nilai post test per butir soal 1004.15 Perolehan nilai penerapan per butir soal 1034.16 Rekapitulasi nilai penerapan per butir soal 1064.17 Tingkat kenaikan nilai Tes prasyarat-Post test 1074.18 Sikap siswa terhadap pembelajaran 1104.19 Pandangan siswa mengenai pembelajaran 111L.1 Validitas Instrumen, Data hasil uji coba 123L.2 Validitas butir soal 124L.3 Reliabilitas Instrumen 126L.4 Indeks Kesukaran 128L.5 Daya Pembeda 129
  • 12. DAFTAR GAMBARNo Nama Gambar Hal. 1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas 45 2 Kuis Matematik, Denah Tanah 69 3 Kuis Matematik Segitiga bertumpuk 87 4 Segitiga samasisi 88 5 Kuis Matematik, 4 segitiga samasisi 89 6 Limas 93 7 Prisma 93 8 Persegi & Persegi Panjang 136 9 Segitiga Siku-siku, Samasisi dan Samakaki 13610 Balok dan Kubus 148
  • 13. DAFTAR LAMPIRANLampiran A: Uji Validitas Instrumen 123 1 Data hasil uji coba 124 2 Validitas butir soal 125 3 Reliabilitas instrumen 127 4 Indeks Kesukaran 129 5 Daya Pembeda 130 6 Analisis validitas 131Lampiran B: Instrumen Penelitian 134 1 Tes prasarat 135 a Soal tes prasarat 135 b Pedoman penilaian 136 c Lembar jawab prasarat 137 d Kunci jawaban 138 2 Tugas Kelompok 141 a Lembar tes keelompok 141 b Lembar jawab/pelaporan tes kelompok 149 3 Post Test 150 a Soal post test 150 b Lembar jawab post test 153 c Pedoman penilaian 154 d Kunci jawaban post test 155 4 Kuisioner 1 158 5 Kuisioner 2 160 6 Lembar pengamatan dinamika kelompok 162Lampiran C: Distribusi Hasil Tes 163 1 Nilai Tes Prasarat 164 a Nilai kumulatif 164 b Nilai Gambar nomor 1 dan 2 165 c Nilai Gambar nomor 3 166 d Nilai Gambar nomor 4 167 e Nilai Gambar nomor 5 168 2 Nilai Tes Siklus 3 169 a Nilai kumulatif 169 b Nilai soal nomor 1 170 c Nilai soal nomor 2 171 3 Nilai Post Test 172 a Nilai Kumulatif 172 b Nilai soal nomor 1 173 c Nilai soal nomor 2 174 d Nilai soal nomor 3 175 e Nilai soal nomor 4 176LAMPIRAN D: RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 177 1 Silabus 178 2 RPP Balok dan Kubus 179 3 RPP Limas dan Pisma 182 4 Materi Pelajaran 185LAMPIRAN E: SURAT-SURAT PENELITIAN 197
  • 14. 1 Surat Keputusan Pengangkatan Dosen Pembimbing 198 2 Surat Permohonan Izin Penelitian 199 3 Surat Keterangan Telah melaksanakan Penelitian 200 4 Keterangan Supervisi Kepala SMP N 1 Cicalengka 201 5 Kartu Bimbingan 202DAFTAR RIWAYAT HIDUP 203
  • 15. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran di SMP adalah upaya untuk mengembangkan potensi,kecakapan dan kepribadian siswa. Perkembangan aspek-aspek pada siswa tersebuttidak diberikan oleh guru, tetapi siswa sendiri yang berusaha mengembangkandirinya. Fungsi guru hanyalah menciptakaan situasi, memberikan dorongan,arahan, bimbingan dan kemudahan agar siswa dapat belajar dan mengembangkandirinya. Dalam proses pembelajaran, interaksi siswa dipengaruhi berbagai faktor,antara lain: Karakteristik dan perkembangan siswa; Intelektual dalam belajar;Transfer dalam belajar dan Penyesuaian pembelajaran dengan perbedaanintelektual. Sejak awal millennium III telah terjadi upaya-upaya peningkatan kualitas,baik pada tataran konsep dan strategi pendidikan; kompetensi Pendidik danTenaga Kependidikan; Manajemen; Sarana & Prasarana; Buku dan teknologipembelajaran; Anggaran pendidikan dan kebijakan lain yang mendukung.Sekolah Gratis yang dikampanyekan, antara lain oleh Utomo Danandjaya, padatahun 2008 telah terealisasi sampai tingkat SMP. Peningkatan mutu tersebut diikuti dengan terus meningkatnya standarkelulusan sekolah sejak SD hingga SMA/SMK. Peraturan Menteri PendidikanNasional Nomor 78 Tahun 2008, menetapkan Standar Kompetensi Lulusan danKemampuan yang di uji sebagai mana dipresentasikan pada tabel di bawah. Tabel 1.1
  • 16. Kisi-kisi Soal Ujian Nasional SMP & Madrasah Tsanawiyah Standar KompetensiNo Kemampuan yang diuji Lulusan Menghitung hasil operasi tambah, kurang, kali dan bagi pada bilangan bulat. Menggunakan konsep operasi Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan hitung dan sifat- bilangan pecahan. sifat bilangan, Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan, skala dan perbandingan.1. aritmetika Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan sosial,barisan jual beli. bilangan, serta Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan penggunaannya perbankan dan koperasi. dalam pemecahan Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan masalah . barisan bilangan. Mengalikan bentuk aljabar. Memahami operasi Menghitung operasi tambah, kurang, kali, bagi bentuk aljabar, atau kuadrat bentuk aljabar. konsep persamaan Menyederhanakan bentuk aljabar dengan dan pertidaksamaan memfaktorkan. linier, persamaan Menentukan penyelesaian persamaan linier satu garis, himpunan, variabel.2 relasi, fungsi, sistem Menentukan irisan atau gabungan dua himpunan persamaan linier dan menyelesaikan masalah yang berkaitan serta menggunakan- dengan irisan atau gabungan dua himpunan. nya dalam Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pemecahan masalah. relasi dan fungsi. Menentukan gradien, persamaan garis dan grfiknya.
  • 17. Menentukan penyelesaian sistem persamaan linier dua variabel. Menyelesaikan soal dengan menggunakan teorema Pythagoras. Menghitung luas bangun datar. Menghitung keliling bangun datar dan penggunaan konsep keliling dalam kehidupan Memahami bangun sehari-hari. datar, bangun ruang, garis sejajar, sudut, Menghitung besar sudut pada bidang datar.3 serta menggunakan- Menghitung besar sudut yang terbentuk jika dua nya dalam peme- garis berpotongan atau garis sejajar berpotongan cahan masalah. dengan garis lain. Menghitung besar sudut pusat dan sudut keliling pada lingkaran. Menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep kesebangunan. Menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep kongruen. Menentukan unsur-unsur bangun ruang sisi datar. Menentukan jaring-jaring bangun ruang. Menghitung volume bangun ruang sisi datar dan sisi lengkung. Menghitung luas permukaan bangun ruang sisi datar dan sisi lengkung. Memahami konsep Menentukan ukuran pemusatan dan menggunakan dalam statistika, serta dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. menerapkannya4 dalam pemecahan Menyajikan dan menafsirkan data.
  • 18. masalah. Merujuk kepada kisi-kisi di atas, Standar Kompetensi Lulusan dalam matapelajaran matematika semuanya berorientasi kepada pemecahan masalah. Olehsebab itu guru seyogianya menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis danceria sehingga siswa bersemangat melakukan penyelesaiaan soal-soal metematikasebagai upaya meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Selain itu gurujuga harus berupaya menghubungkan matematika dengan masalah-masalahkehidupan nyata. Hal ini penting mengingat matematika merupakan matapelajaran yang akan dipergunakan dalam seluruh aspek kehidupan. Memiliki kemampuan memecahkan soal matematika akan menjadi bekalbagi siswa untuk melakukan pemecahan maslah dalam menjalani kehidupan saatini dan nanti. Masalah adalah kesenjangan antara kenyataan dengan keseharusanatau harapan. Pemecahan Masalah adalah upaya untuk menemukan alternatif bagipenyelesaiannya. Bangun datar adalah bagian paling dasar dalam geometri yang lahir danberkembang di Mesir dan Babilonia. Geometri merupakan sebuah temuan yangdidorong oleh ambisi para pemimpin pemerintahan pada masa itu untuk dapatmendirikan bangunan yang besar dan kokoh serta untuk mengusai tanah bagikepentingan pendapatan pajak. Berbagai fakta tentang Geometri Bangun datar termuat dalam AhmesPapirus yang ditulis pada tahun 1650 SM yang ditemukan pada abad ke Sembilan.Dalam Papyrus terdapat formula tentang perhitungan luas persegi panjang,segitiga siku-siku, trapezium dengan kaki tegak lurus dan luas lingkaran. Pakaryang memberikan kontribusi antara lain: Thales (640-546 SM), matematikawan
  • 19. yang selalu ingin melakukan pembuktian atas teori-teori geometri; Pythagoras(528-507 SM), yang menemukan teori panjang garis miring suatu segitiga siku-siku sebagai akar dari penjumlahan kuadrat kedua sisi yang lain. Teori-teoritersebut kemudian dikembangkan oleh Euclid dalam buku Element. Bangun datar merupakan teori dasar bagi penyelesaian persoalan-persoalanbangun ruang sebagai kelanjutan atau perkembangan berikutnya. Bangun ruangmerupakan kombinasi dari bangun datar, anatara lain: pasangan-pasangan empatpersegi panjang menjadi balok dan kotak; persegi menjadi kubus; segitiga menjadilimas; segitiga dan persegi pajang atau persegi menjadi prisma dan sebagainya.Namun demikian, walaupun siswa telah mengusai masalah bangun datar, ketikaharus menyelesaikan masalah bangun ruang sebaagian bersar siswa menghadapikesulitan. Hal ini bukan saja dipengaruhi oleh stigma bahwa matematika pelajaranyang sangat sulit juga masih kurangnya kesadaran siswa mengenai pentingnyamatematika bagi kehidupan sehari-hari. Pembelajaran konsteksual (Teaching Learning consteksual) menurutSukmadinata, (2004:196) merupakan suatu sistim atau pendekatan pembelajaranyang bersifat holistic (menyeluruh). Menurut Johnson (2002:210): pembelajarankonsteksual sekurang-kurangnya memiliki tiga prinsip, yaitu: interpendence(kesaling-tergantungan); diferensiasi dan self organization (pengorganisasiandiri). Adapun komponen-komponen pembelajaran konsteksual adalah: hubunganbermakna, mengerjakan pekerjaan penting, belajar mengatur diri sendiri,bekerjasama, berpikir kritis, bimbingan individual, pencapaian standar tinggi danmenggunakan penilaian otentik. Penulis sangat tertarik untuk mengimplementasikan pendekatankontekstual dalam pembelajaran matematika karena CTL memberikan
  • 20. kesempatan yang sangat luas kepada pembelajar untuk bekerjasama, berfikir kritisdan mengkaitkan materi ajar dengan latar belakang individual, sosial dan kulturalsehingga pembelajaran lebih bermakna (meaningful). Dengan latar belakang di atas maka diajukan penelitian tindakan kelasdengan judul: “Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah MatematikaMelalui Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika “B. Pembatasan Masalah Pendidikan adalah upaya mewariskan dan mengembangkan nilai, olehsebab itu memiliki komponen dan faktor yang kompleks. Untuk menegaskan arahdan keluaran hasil yang ingin dicapai, maka penelitian dibatasi pada hal-halberikut: 1. Dalam upaya mencapai prestasi terbaik akan selalu ada hambatan yang dihadapi, termasuk dalam hal prestasi belajar. Dengan demikian siswa harus melakukan upaya yang dapat mengatasi hambatan belajar, khususnya matematika, sehingga siswa dapat meraih prestasi terbaik. 2. Guru sebagai fasilitor memberikan dukungan dengan cara antara lain: membangun suasana belajar yang menyenangkan; menyajikan materi pelajaran yang berkaitan langsung dengan kehidupan keseharian siswa; menerapkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan konteks yang dihadapi. 3. Suasana belajar yang kondusif dapat menolong siswa melakukan upaya mengatasi kesulitan/hambatan serta persoalan yang dihadapi berkaitan dengan belajar matematika. Dalam suasana yang ceria dan partisipatif siswa tidak merasa tertekan dan dapat melakukan eksplorasi sehingga
  • 21. inspirasi untuk melahirkan solusi bagi penyelesaian masalah mengalir dengan lancar. 4. Dengan keterlatihannya dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan secara berkelanjutan, siswa menjadi terlatih dalam melakukan penyelesaian masalah. Kemampuan melakukan secara terus menerus akan mendorong siswa meraih prestasi puncak.C. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah: Adakahpeningkatan kemampuan siswa dalam melakukan pemecahan masalah matematikamelalui pembelajaran kontekstual?D. Tujuan penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk: Mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam melakukan pemecahanmasalah matematika melalui pembelajaran kontekstual.E. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini, antara lain: 1. Bagi penulis sebagai penguatan kompetensi kependidikan dan pematangan profesi keguruan. 2. Bagi siswa sebagai pengalaman terstruktur dalam mengikuti metode pembelajaran yang variatif , sehingga siswa termotivasi dan merasa senang dalam belajar matematik.
  • 22. 3. Bagi guru sebagai bagian dari brainstorming (curah gagasan) dan sharing pengalaman untuk pengayaan metode pembelajaran. 4. Bagi sekolah sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran dalam memenuhi standar pelayanan minimum , sekurang-kurangnya dalam hal mutu guru dan proses pembelajaran. 5. Bagi STKIP Garut menjadi salah satu data penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti-peneliti lain untuk lebih didalami atau dikembangkan lebih luas. 6. Bagi dunia pendidikan menjadi salah satu materi untuk bahan studi kependidikan dan pengayaan proses pendidikan.F. Asumsi Penelitian ini didasarkan atas asumsi bahwa: pembelajaran kontekstualdapat meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan pemecahan masalah.G. Hipotesis Tindakan Hipotesis berasal dari dua kata yaitu hypo (di bawah) dan thesa(kebenaran). Menurut Rahadi (2003:3), Hipotesis adalah jawaban sementara yangsifatnya tentatif dari rumusan masalah yang telah disusun dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis: Terdapat peningkatan kemampuan siswa dalam melakukan pemecahanmasalah matematika melalui pembelajaran kontekstual.
  • 23. BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Untuk melahirkan manusia berprestasi ada banyak metode danpendekatan, salah satu diantaranya pola dasar system dengan menerapkan limadisiplin, yaitu: Personal Mastery; Team Learning; Shared Vision; Mental Modeldan System Thinking. (diadaptasi dari Peter M Senge, 1990) dalam The FifthDiscipline, The Art and Practice of the Learning Organization). 1. Personal Mastery Personal mastery, adalah upaya melahirkan kader-kader yang memiliki kompeten dan kompetitif berbasis kecerdasan. Menurut Shepard, (2001): Kecerdasan tidak dapat diukur dengan angka. kecerdasan adalah Ability to solve Problem or Fashion Product. Kecerdasan adalah kemampuan menggunakan keterampilan, menciptakan sesuatu dan mengatasi masalah sesuai budaya komunitas. Shepard mengidentifikasi kecerdasan sebagai berikut: a. Interpersonal intelligence, kecerdasan antarpribadi, kemampuan memahami orang lain dan tampil dalam kemampuannya berinteraksi dengan baik dengan orang lain- dapat melakukan komunikasi dengan orang lain. b. Logical Intelligence, Kecerdasan Logika/Matematika, kemampuan kuantitatif, kemampuan memproses sesuatu secara analitis dan sistematis.
  • 24. c. Spatial Intelligence, Kecerdasan Spatial/Visual, kemampuan membangun gagasan atau model, membayangkan penerapan dan mengubahnya yang semua ini dilakukan dalam pikirannya. d. Musical Intelligence, Kecerdasan Musik, kepekaan terhadap irama, melodi dan nada baik sebagai pelaku maupun pendengar. e. Verbal Intelligence, Kecerdasan Verbal berbahasa/berbicara. Kemampuan mengekspresikan pikiran-pikirannya dengan jernih baik melalui bahasa lisan maupun bahasa tulisan. f. Intrapersonal Intelligence, Kecerdasan intrapersonal, kemampuan berinteraksi dengan diri sendiri, introspeksi, refleksi dan kontemplasi melalui renungan. g. Kinesthetic intelligence, Kecerdasan kinestik/tubuh, kemampuan gerakan fisik, menari, berolah raga, berkelahi, melempar, memotong. Keterampilan mengubah suatu obyek /memanipulasi obyek dinamakan Tactile.Goldman (1997) merumuskan kecerdasan sebagai berikut: a. Emotional Intelligence, Kecerdasan Emotional, kemampuan mengenali situasi emosi diri sendiri dan kondisi emosi orang lain. b. Natural Intelligence, Kecerdasan terhadap Alam, kemampuan menikmati hidup dan berinteraksi serta menyatu dengan alam. c. Exisistential Intelligence, Kecerdasan memahami hidup dan kehidupan.Sternberg memperkenalkan Triarchic Theory a. Componential Intelligence, Kemampuan menganalisis, membandingkan dan mengevaluasi (Analyse, Compare & Evaluate).
  • 25. b. Creative Intelligence, Kemampuan menciptakan, menemukan dan merancang (Create, Invent & Design). c. Contextual Intelligence, Kemampuan menggunakan dan menerapkan (use and apply) secara praktis.2. Team Learning Dalam satu kelompok yang aktif setidaknya ada 5 hal yang dapatdipelajari, yaitu: a. Learning To Know (Belajar Untuk Mengetahui) Mengetahui apa yang harus dilakukan dan untuk apa. b. Learning To Do (Belajar Untuk Bisa Melakukan) Memahami apa yang harus dilakukan, kemampuan apa yang harus dimiliki. c. Learning To Be (Belajar Untuk Dapat Menjadi Seseorang) Menjadi seseorang yang berkarakter sangatlah penting agar dapat bersikap dan bertindak dengan nyaman dan mendorong orang lain untuk menjadi seseorang. d. Learning How To Learn (Belajar Bagaimana Belajar) Bisa jadi kita telah cukup banyak belajar tetapi sedikit sekali yang menjadi pelajaran. Bergegaslah untuk memahami bagaimana mestinya kita belajar. e. Learning Live Together (Belajar Hidup Berdampingan) Belajar berkontribusi dan apresiatif agar orang lain berpartisipasi secara optimal.3. Shared Vision
  • 26. Memasyarakatkan visi atau dalam konteks pembelajaran mengkhalayakkan target yang ingin dicapai dari proses belajar sangatlah penting. Bila siswa mengetahui apa target yang ingin dicapai dan manfaat apa yang dapat diperoleh dari pembelajaran maka siswa akan lebih semangat dalam menjalani pembelajaran. 4. Mental Model Pembinaan dengan menggunakan pemodelan mental, yaitu bagaimana seseorang dibiasakan dalam kondisi tertentu sehingga menjadi seperti itu selama hidupnya. Mental model akan terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, organisasi dan masyarakat secara luas. 5. System of Thinking. Senge,– (1994) dalam The Leader,s New Work: Building Learning Organization & Managing Learning menjelaskan adanya 10 tahapan system berfikir yang dapat menyederhanakan pola kerja, yaitu: Fixes that fail & fight back fire ( memperbaiki kegagalan); Shifting the Burden (pengalihan beban); Shifting the burden to the intervenor (pengalihan beban kepada pihak lain); Eroding goals (pengikisan sasaran); Limits to growth (batas-batas pertumbuhan); Growth and Underinvestment (pertumbuhan dan investasi yang rendah); Success to successful (keberhasilan berangkai); Escalation (Peningkatan); Tragedy of the Commons (nestapa yang merata); Balancing with delay (penyeimbangan dengan penundaan). Kelima disiplin di atas pada dasarnya berkehendak melahirkan manusia-manusia yang memiliki penalaran melalui proses pembelajaran. Belajarmatematika merupakan proses yang paling erat kaitannya karena penalaran ataukemampuan berfikir logis merupakan inti dari pembelajaran matematika. Berfikir
  • 27. logis dalam matematika merupakan salah satu tujuan matematika yangdirumuskan dalam Kurikulum 2004.B. Matematika Sebagai Pelajaran Kehidupan Sehari-hari Semua ilmu dan pengetahuan berkembang dan dikembangkan daripengalaman dan realitas. Karena manusia berkomunikasi menggunakan bahasamaka dikembangkan teori-teori tenang bahasa. Karena ada yang suka berpidatomaka dikembangkan teori tentang berpidato. Karena ada orang yang sukamenyanyi maka dikembangkan teori-teori seni suara. Karena manusia bercocoktanam maka dikembangkan ilmu pertanian. Demikian juga dengan teorikonstruksi, perikanan, transportasi, komunikasi dan lain-lain. Matematika juga sama, ia berkembang karena kebutuhan dalam kehidupansehari-hari. Menghitung, mengukur dan menakar telah menjadi bagian kehidupansejak zaman Nabi Adam Alaihissalam. Ketika Habil dan Qobil diperintahkanuntuk berqurban. Nabi Adam menyebutkan jumlah dan takaran yang harusdiqurbankan. Demikian juga jarak ke tempat pelaksanaan qurban. Bilangan adalah materi paling dasar dalam matematika. Pada mulanyaorang membandingkan jumlah dengan istilah lebih banyak dan lebih sedikit.Tetapi ketika sistem kepemilikan mulai melekat dalam masyarakat maka jumlahmulai disebut dengan angka-angka. Konsep bilangan pada awalnya hanyalahuntuk kepentingan menghitung dan mengingat jumlah. Lambat laun para ahlimatematika menambahkan perbendaharaan simbol.dan kata-kata yang tepat untukmendefinisikan bilangan. Dari bilangan berkembang ilmu yang lain yaituaritmetika dan aljabar.
  • 28. Demikian halnya dengan geometri. Karena orang harus mengukur luastanah dan benda lainnya maka maka dikembangkan ilmu untuk mengukur bangundatar. Kemudian ketika manusia mulai menempati bangunan yang dibuat, bukanlagi di lapangan, pohon atau goa, maka mulai dirasakan kebutuhan menghitungvolume dan hal-hal yang berkaitan dengan bangun ruang. Cara mengukur luas dan keliling Segiempat merupakan pengetahuan yangpertama kali dikembangkan, selanjutnya segitiga. Dari teori-teori yang berkaitandengan segiempat dan segitiga dikembangkan teori-teori untuk mengukur segilainnya, termasuk lingkaran. Dengan dasar pengetahuan bangun datar dua dimensimaka dikembangkan pengetahuan untuk mengukur bangun ruang tiga dimensi.C. Kesulitan Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika Menurut Hudiono (2008), masalah utama yang dihadapi siswa SMP adalahlemahnya daya representasi dalam menyelesaikan permasalahan matematika.Padahal sasaran pembelajaran matematika di antaranya adalah mengembangkankemampuan siswa dalam berfikir secara matematika (think mathematically).Pengembangan kemampuan ini sangat diperlukan agar siswa lebih memahamikonsep yang dipelajari dan dapat menerapkannya dalam berbagai situasi. Ada lima standar yang mendeskripsikan keterkaitan pemahamanmatematika dan kompetensi matematika yang perlu dimiliki siswa yaitu: problemsolving, reasoning and proof, communication, connections, and representation(National Council of Teachers of Mathematics. (2000) Principles and Standardsfor School Mathematics. Reston, VA, NCTM p. 29. Kemampuan representasi matematika yang dimiliki seseorang, selainmenunjukkan tingkat pemahaman, juga terkait erat dengan kemampuan
  • 29. pemecahan masalah dalam matematika. Suatu masalah yang dianggap rumit dankompleks, bisa menjadi lebih sederhana jika strategi dan pemanfaatan representasimatematika yang digunakan sesuai dengan permasalahan tersebut. Kemampuanrepresentasi yang pada akhirnya menjadi kemampuan melakukan pemecahanmasalah matematika terkait erat dengan kemampuan berfikir logis. Salah satu keterampilan matematika yang sangat erat kaitannya dengankarakteristik matematika adalah berfikir logis, karena matematika dipahamimelalui penalaran atau berfikir logis dan penalaran dipahami serta dilatih melaluibelajar matematika. Kemampuan penalaran atau berfikir logis perludikembangkan karena dapat meningkatkan kemampuan dalam matematika, darisekadar mengingat kepada kemampuan pemahaman. Audiblox (2006)menyatakan, … logical thinking: helping children to become smarter. (berfikirlogis membantu anak menjadi lebih cerdas). Namun demikian di sekolah terdapatbanyak kelainan yang menyebabkan kemampuan siswa dalam hal berfikir logismasih jauh dari memuaskan. Menurut Saragih (2008), hasil belajar matematika siswa sampai saat inimasih menjadi suatu permasalahan yang sering dikumandangkan baik oleh orangtua siswa maupun oleh pakar pendidikan matematika itu sendiri. Hasil penelitianyang dilakukan Suyanto dan Somerset di beberapa Propinsi di Indonesia,menemukan bahwa hasil tes mata pelajaran matematika siswa SMP sangat rendah,terutama pada soal aplikasi matematika. Suryadi (2005) dalam thesisnya menemukan bahwa siswa kelas dua SMPdi Kota dan Kabupaten Bandung mengalami kesulitan dalam mengajukanargumentasi serta menemukan pola dan pengajuan bentuk umumnya.
  • 30. Priatna (2003) melakukan penelitian di Kota Bandung menemukankenyataan sebagai berikut: Setelah mendapat penjelasan mengenai segitiga samasisi dan segitiga sama kaki, dimana guru mengungkapkan bahwa semua segitigasama sisi adalah segitiga sama kaki. Ketika diberikan soal dengan diketahuipanjang salah satu sisi dan dua buah sudut, banyak siswa yang mempersepsisegitiga sama kaki semua sisinya sama sehingga menghitung keliling denganmengalikan tiga panjang sisinya. Kemampuan Secara umum kesulitan siswadalam aspek kemampuan berfikir logis berturut-turut pada kemampuan berfikirdeduktif (aspek silogisma dan aspek kondisional) dan kemampuan berfikirinduktif (aspek generalisasi dan aspek analogi). Rendahnya hasil belajar di atas merupakan hal yang wajar jika dikaitkandengan proses pembelajaran di kelas selama ini menggunakan metode kuliah,dimana guru sekadar menyampaikan informasi dan siswa sekadar mendengarserta menyalin. Sesekali guru bertanya dan sesekali siswa menjawab. Pada akhirpembelajaran guru menjelaskan cara mengerjakan contoh soal dilanjutkan denganmemberi soal latihan untuk dikerjakan kemudian guru memberikan penilaian.Soal latihan umumnya bersipat rutin dan kurang melatih daya nalar. Siswamenjadi robot yang harus mengikuti aturan dan prosedur dalam kegiatanpembelajaran yang mekanistik. Rendahnya pemahaman konsep matematikamenyebabkan siswa tidak dapat menggunakannya ketika diberi permasalahanyang agak kompleks. Menyikapi permasalahan di atas Cooney menyarankan reformasipembelajaran matematika dari pendekatan belajar meniru (menghapal) ke belajarpemahaman yang berlandaskan pada konsep knowing mathematics is doingmathematics. Pembelajaran lebih menekankan kepada doing atau proses
  • 31. dibanding knowing that. Perubahan di atas dimaksudkan agar pembelajaran lebihmemfokuskan pada proses yang menggiatkan siswa untuk menemukan kembali(reinventing) konsep-konsep, melakukan refleksi, abstraksi, formalisasi danaplikasi. Untuk mendukung proses pembelajaran yang mengaktifkan siswadiperlukan pengembangan materi pelajaran matematika yang difokuskan kepadaaplikasi dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual) yang disesuaikan dengantingkat kognitif siswa, serta menggunakan metode evaluasi yang terintegrasi padaproses pembelajaran, tidak hanya tes pada akhir pembelajaran, formatif atausumatif. Matematika merupakan kegiatan manusia, oleh karenanya salah satualternatif yang sesuai dengan tuntutan perubahan adalah diterapkannyaPendekatan Matematika Realistik (PMR) yang lebih menekankan aktivitas siswauntuk mencari, menemukan dan membangun sendiri pengetahuan yangdiperlukan. Ruseffendi (2001) menyatakan bahwa membudayakan berfikir logis ataukemampuan penalaran serta bersikap kritis dan kreatif, proses pembelajaran dapatdilakukan dengan Pendekatan Matematika Realistik. PMR secara garis besarmemiliki lima karakteristik, yaitu: (1) menggunakan masalah kontekstual, (2)menggunakan model, (3) kontribusi siswa, (4) terjadinya interaksi dalam prosespembelajaran dan (5) menerapkan berbagai teori pembelajaran yang relevan,saling terkait dan terintegrasi dengan topik. Menurut Sabandar (2001), kontekstual memainkan peranan utama dalamsemua aspek pendidikan, yaitu dalam pembentukan konsep, pembentukan model,aplikasi dan dalam mempraktekkan keterampilan. Dalam pelaksanaan di kelas,
  • 32. konteks digunakan sejak awal dan terus menerus untuk membangun pemahamansiswa melalui learning trajectory dalam suatu proses pembelajaran. Proses penyelesaian soal kontekstual dilakukan dengan menggunakanmodel. Pemodelan berfungsi menjembatani jurang antara pengetahuanmatematika tidak formal dan metematika formal dari siswa. Siswamengembangkan model tersebut dengan model-model matematika (formal dantidak formal) yang telah diketahuinya dengan menyelesaikan soal kontekstual darisituasi nyata (real) yang sudah dikenal siswa sehingga ditemukan model daribentuk informal kemudian menemukan model dalam bentuk formal. Akhirnyasiswa mendapatkan penyelesaian masalah dalam bentuk matematika yang standar. Terciptanya keragaman pemodelan dari masalah kontekstual sangatpenting bagi guru untuk mengetahui kemampuan siswa menemukan hubunganbagian-bagian dari masalah kontekstual melalui penskemaan, perumusan danvisualisasi sekaligus sebagai pertimbangan untuk memberikan bimbingan.Menurut Ruseffendi (1979) ada tiga macam model yang dapat digunakan dalamproses pembelajaran, yaitu: model kongkrit, model diagram dan model abstrakatau symbol.D. Pergeseran Konsep Pembelajaran Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan SMP membawakonsekuensi dalam bidang pendidikan, antara lain perubahan dari modelpembelajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran (subject matter basedprogram) ke model pembelajaran berbasis kompetensi (competencies basedprogram). Model pembelajaran berbasis kompetensi bermaksud menuntun prosespembelajaran secara langsung berorientasi pada kompetensi atau satuan-satuan
  • 33. kemampuan. Pengajaran berbasis kompetensi menuntut perubahan kemasankurikulum, dari model lama berbentuk silabus yang berisi uraian mata pelajaranyang harus diajar ke dalam kemasan yang berbentuk paket-paket kompetensi. Halini membawa konsekuensi bahwa proses pembelajaran harus berorientasi padapembentukan seperangkat kompetensi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Haldemikian menuntut kemampuan guru dalam merancang model pembelajaranyang sesuai dengan karakteristik bidang kajian dan karakteristik siswa agarmencapai hasil yang maksimal. Oleh kerana itu peran guru dalam kontekspembelajaran menuntut perubahan, antara lain: (a) peranan guru sebagai penyebarinformasi semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing,penasehat, dan pendorong; (b) peserta didik adalah individu-individu yangkompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara belajar sesuatuyang berbeda pula; (c) proses belajar mengajar lebih ditekankan pada belajardaripada mengajar (Laster, 1985). Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikanpergeseran peran guru dalam pembelajaran, yaitu: (a) Cara pandang guru terhadapsiswa perlu diubah. Siswa bukan lagi sebagai obyek pengajaran, tetapi siswasebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran. Dalam diri siswa terdapatberbagai potensi yang siap dikembangkan. Oleh katena itu dalam kontekspembelajaran guru diharapkan mampu memberikan dorongan kepada siswa untukmengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan (b) Gurudiharapkan mampu mengajarkan bagaimana siswa bisa berhubungan denganmasalah yang dihadapi dan mengatasi persoalan yang muncul di masyarakat.Antara lain dengan cara memberikan tantangan yang berupa kasus-kasus yangsering terjadi di masyarakat yang terkait bidang studi. Melalui kegiatan tersebut
  • 34. diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, yang padaakhirnya dapat digunakan sebagai bekal kemandirian dalam menghadapi berbagaitantangan di masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi diharapkan bisa ikut ambil bagiandalam mengembangkan potensi masyarakatnya. 1. Prinsip Pembelajaran Kompetensi Prinsip pembelajaran yang dikembangkan untuk mencapai keefektifan dan efisiensi pengelolaan pembelajaran di SMP, antara lain: a. Pembelajaran berfokus pada siswa (student cenrtered), artinya siswa menjadi subyek pembelajaran dan kecepatan belajar siswa yang tidak sama perlu diperhatikan. b. Pembelajaran terpadu (integrated learning), maksudnya pengelolaan pembelajaran dilakukan secara integratif. Semua tujuan pembelajaran yang berupa kemampuan dasar yang ingin dicapai bermuara pada satu tujuan akhir, yaitu mencapai kemampuan dasar lulusan. c. Pembelajaran individu (individual learning), artinya siswa memiliki peluang untuk melakukan pembelajaran secara individual. d. Belajar tuntas (mastery learning), maksudnya pembelajaran mengacu pada ketuntasan belajar kemampuan dasar melalui pemecahan masalah. Setiap individu dan kelompok harus menuntaskan pembelajaran satu kemampuan dasar baru belajar ke kemampuan dasar berikutnya. e. Pemecahan masalah (problem solving), artinya proses dan hasil pembelajaran mengacu pada aktifitas pemecahan masalah yang ada di masyarakat, yaitu dengan menggunakan pendekatan belajar kontekstual.
  • 35. f. Experience-based learning, yakni pembelajaran dilaksanakan melalui pengalaman-pengalaman belajar tertentu dalam mencapai kemampuan belajar tertentu. g. Selain pemanfaatan prinsi-prinsip tersebut, guru dimungkinkan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran lain yang sesuai dengan tuntutan perkembangan.2. Belajar aktif Winkel (1996) mendefinisikan belajar sebagai suatu aktivitasmental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yangmenghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,keterampilan, nilai, dan sikap. Perubahan itu bersifat tetap dan berbekas.Belajar dapat dipandang sebagai usaha untuk melakukan proses perubahantingkah laku kearah menetap sebagai pengalaman berinteraksi denganlingkungannya. Belajar aktif merupakan perkembangan dari teori Dewey learning by doing (1859-1952). Dewey sangat tidak setuju pada rote learning “belajar dengan menghafal”. Dewey merupakan pendiri sekolah Dewey School yang menerapkan prinsip-prinsip learning by doing, yaitu bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Keingintahuan siswa akan hal- hal yang belum diketahuinya mendorong keterlibatannya secara aktif dalam suatu proses belajar. Menurut Dewey, guru berperan untuk menyediakan sarana bagi siswa untuk dapat belajar. Dengan peran serta siswa dan guru dalam belajar aktif, akan tercipta suatu pengalaman belajar yang bermakna. Belajar aktif mengandung berbagai kiat yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri siswa dan menggali potensi
  • 36. siswa dan guru untuk sama-sama berkembang dan berbagi pengetahuan,keterampilan, serta pengalaman. Melalui pendekatan belajar aktif, siswadiharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitasbelajar dan potensi yang dimilikinya. Belajar aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajarsecara sistematis, dan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektifdan efisien. Artinya, guru dapat merekayasa model pembelajaran yangdilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagaipengalaman yang bermakna bagi siswa. Untuk itu guru diharapkan memilikikemampuan: a. Memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran. b. Berkreasi dan mengembangkan gagasan baru. c. Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh di masyarakat. d. Memperjelas relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat. e. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku siswa secara bertahap dan utuh. f. Memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya. g. Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.
  • 37. Dengan demikian, belajar aktif diasumsikan sebagai pendekatanbelajar yang efektif untuk dapat membentuk siswa sebagai manusiaseutuhnya yang mempunyai kemampuan untuk belajar mandiri sepanjanghayatnya, dan untuk membina profesionalisme guru.3. Pembelajaran Efektif Pembelajaran efektif adalah pembelajaran dimana siswa memperolehketerampilan-keterampilan yang spesifik, pengetahuan dan sikap sertamerupakan pembelajaran yang disenangi siswa. Intinya bahwa pembelajarandikatakan efektif apabila terjadi perubahan-perubahan pada aspek kognitif,afektif, dan psikomotor (Reiser Robert, 1996). a. Ciri-ciri pembelajaran efektif: o Aktif bukan pasif o Kovert bukan overt o Kompleks bukan sederhana o Dipengaruhi perbedaan individual siswa o Dipengaruhi oleh berbagai konteks belajar b. Kriteria Pembelajaran Efektif: o Kecermatan penguasaan o Kecepatan unjuk kerja o Tingkat alih belajar o Tingkat retensi (Reigeluth & Merril, 1989)4. Perencanaan Pembelajaran Mengajar atau “teaching” adalah membantu siswa memperolehinformasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk
  • 38. mengekpresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar (Joyce danWell, 1996). Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secaraimplisit dalam pengertian ini terdapat kegiatan memilih, menetapkan,mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yangdiinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkanpada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaanpembelajaran. Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakekatperencanaan atau perancangan (disain) sebagai upaya untuk membelajarkansiswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak berinteraksi dengan gurusebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhansumber belajar yang mungkin dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran.Oleh karena itu pembelajaran menaruh perhatian pada “bagaimanamembelajarkan siswa”, dan bukan pada “apa yang dipelajari siswa”. Dengandemikian perlu diperhatikan adalah bagaimana cara mengorganisasipembelajaran, bagiaman cara menyampaikan isi pembelajaran, danbagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agardapat berfungsi secara optimal. Rancangan Pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagaiberikut: a. Pembelajaran diselenggarakan dengan pengalaman nyata dan lingkungan otentik, karena hal ini diperlukan untuk memungkinkan seseorang berproses dalam belajar (belajar untuk memahami, belajar untuk berkarya, dan melakukan kegiatan nyata) secara maksimal.
  • 39. b. Isi pembelajaran harus didesain agar relevan dengan karakteristik siswa karena pembelajaran difungsikan sebagai mekanisme adaptif dalam proses konstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi pengetahuan, sikap, dan kemampuan. c. Menyediakan media dan sumber belajar yang dibutuhkan. Ketersediaan media dan sumber belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar secara konkrit, luas, dan mendalam, adalah hal yang perlu diupayakan oleh guru yang profesional dan peduli terhadap keberhasilan belajar siswanya. d. Penilaian hasil belajar terhadap siswa dilakukan secara formatif sebagai diagnosis untuk menyediakan pengalaman belajar secara berkesinambungan dan dalam bingkai belajar sepanjang hayat (life long contiuning education).E. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajaryang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasidunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuanyang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggotakeluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebihbermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentukkegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kesiswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
  • 40. Landasan filosofi pembelajaran kontekstual adalah konstruktivisme, yaitufilosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghapal,harus dikonstruksikan pengetahuan dalam benak siswa. Siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apamereka, dan bagaimana mencapainya. Siswa perlu menyadari bahwa yang merekapelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan demikian siswa memposisikansebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Merekamempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantu siswamencapai tujuan belajar. Oleh karena itu guru lebih banyak berurusan denganstrategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuahtim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggotakelas (siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan, keterampilan) datang darimenemukan sendiri, bukan dari apa kata guru. 1. Perbedaan pembelajaran kontektual dan konvensional Pola pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran konvensional yang selama ini dikenal. Perbedaan tersebut tergambar dalam tabel berikut. Tabel 2.1 Perbedaan Pembelajaran kontekstual dengan Konvensional Pembelajaran Konvensional Pembelajaran Kontektual • Menyandarkan pada • Menyandarkan pada memori hafalan. spasial. • Pemilihan informasi • Pemilihan informasi ditentukan oleh guru. berdasarkan kebutuhan individu siswa.
  • 41. • Cenderung terfokus pada • Cenderung satu bidang tertentu. mengintegrasikan beberapa bidang. • Memberikan tumpukan • Selalu mengkaitkan informasi kepada siswa sampai informasi dengan pengetahuan pada saatnya diperlukan. awal yang telah dimiliki siswa. • Penilaian hasil belajar • Menerapkan penilaian hanya melalui kegiatan auntentik melalui penerapan akademik berupa ujian ulangan. praktis dalam pemecahan masalah.2. Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual. Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jikamenerapkan komponennya, dalam pembelajaran Pendekatan kontekstualmemiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism),menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learningcommunity), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yangsebenarnya (authentic assessment). a. Konstruktivisme (Constructivism) Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konsteks yang terbatas dan tidak sekonyong- konyong. (Bukan seperangkat fakta, konsep, kaidah untuk diingat). b. Menemukan (Inquiry) Pengetahuan + ketrampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil menemukan sendiri melalui: observasi, bertanya, hipotesis, pengumpulan data dan penyimpulan. c. Bertanya (Questioning)
  • 42. Bertanya merupakan kegiatan guru untuk mendorong, menimbang dan menilai kemampuan berfikir siswa. d. Masyarakat Belajar (Learning Community) Hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama, melalui: 1) Pembentukan kelompok kecil. 2) Pembentukan kelompok besar. 3) Mendatangkan ahli ke kelas. 4) Bekerja dengan kelas sederajat. 5) Kerja kelompok dengan kelas di atasnya. 6) Bekerja dengan masyarakat. e. Pemodelan (Modelling) Pembelajaran atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru, misalnya cara melempar bola, contoh karya tulis, cara menghafalkan bahasa Inggris, guru memberi contoh mengerjakan sesuatu, cara memerlukan kata kunci dalam bacaan. Artinya ada model yang ditiru dan diambil siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Guru bukan satu-satunya model. f. Refleksi (Refection) Cara berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. g. Penilaian yang sebenarnya (Autentic Assesment)3. Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual Penerapan model pembelajaran kontekstual dalam kelas secara garisbesar mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
  • 43. a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. c. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. d. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). e. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. f. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. g. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.4. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa dalam konteksbermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yangsedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individualsiswa dan peran guru. Untuk itu guru dalam menggunakan pendekatanpengajaran konekstual memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa (developmentally appropriate). b. Membentuk group belajar yang saling ketergantungan (interdependent learning group). c. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning) yang mempunyai karakteristik: kesadaran berfikir, penggunaan strategi, dan motivasi berkelanjutan. d. Mempertimbangkan keragaman siswa (disversity of student). e. Memperhatikan multi-intelegensi siswa (multiple intelligences), spasial-verbal, linguistic-verbal, interpersonal, musikal ritmik,
  • 44. naturalis, badan-kinestetika, intrapersonal, dan logismatematis. (Gardner, 1993). f. Menggunakan teknik-teknik bertanya yang meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berfikir tingkat tinggi. g. Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment).5. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual a. Adanya kerjasama. b. Saling menunjang. c. Menyenangkan, tidak membosankan. d. Belajar dengan bergairah. e. Pembelajaran terintegrasi. f. Menggunakan bebagai sumber. g. Siswa aktif. h. Sharing dengan teman. i. Siswa kritis, guru kreatif. j. Laporan kepada orang tua bewujud, rapor, hasil karya siswa, laporan praktikum, dan karangan siswa, dll.6. Penilaian Penilaian dilakukan dengan menggunakan penilaian authentik, yangmempunyai karakteristik sebagai berikut: a. Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. b. Menggunakan penilaian formatif maupun sumatif. c. Mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta.
  • 45. d. Berkesinambungan. e. Terintegrasi. f. Digunakan sebagai umpan balik. Hal-hal yang digunakan sebagai dasar penilaian prestasi siswameliputi: • Penilaian kinerja (performance assessment). • Observasi Sistematik (Systematic observation). • Portofolio (portofolio). • Jurnal Sain (Journal). • Penilaian mencakup umpan balik dan berbagai bentuk refleksi7. Mengembangkan sikap kritis dan kreatif siswa Sebagai salah satu ciri pembelajaran kontekstual adalah sikap kritissiswa dan kreatif guru dalam proses pembelajaran. Berfikir kritis dan kreatifmerupakan komponen utama berfikir tingkat tinggi (higher order thinking).Proses berfikir tingkat tinggi harus dikembangkan pada setiap diri siswa. Halini merupakan tugas guru, karena guru harus megembangkan potensi siswasemaksimal mungkin hingga mencapai kemampuan yang tinggi pada setiapdiri siswa. Oleh karena itu pembelajaran dituntut dapat mengembangkan sikapkritis dan kreativitas siswa. Sikap kritis dan kreatifitas siswa dapatdikembangkan melalui pembelajaran yang berpusat pada otak kanan. Otakkanan mempunyai kemampuan berfikir kreatif, holistik, spasial. sedangkanotak kiri mengembangkan kemampuan berfikir rasional, analitis, linier. Otakkiri mengendalikan wicara dan otak kanan mengendalikan tindakan. Tabelberikut ditunjukkan perbedaan proses berfikir otak kiri dan kanan.
  • 46. Berfikir Konvergen Berfikir Divergen (Proses di belahan otak Kiri) (Proses di belahan otak kanan)1. 1. Tertarik pada prosesTertarik pada proses penemuan yang pengintegrasian dari bagian- bersifat bagian-bagian dari suatu bagian suatu komponen menjadi komponen. satu kesatuan yang bersifat utuh dan menyeluruh. 2. Proses berfikir yang2. bersifat relasional,Proses berfikir analisis. konstruksional, dan membangun suatu pola.3. 3. Proses berfikirProses berfikir yang mementingkan simultan, dan parallel. tata urutan secara sekuensial dan 4. Proses berfikir lintas serial. ruang, tidak terikat pada waktu4. kini.Proses berfikir temporal, terikat pada 5. Proses berfikir yang waktu kini. bersifat visual, lintas ruang dan 5. musikal. Proses berfikir verbal, matematis, notasi musikal. Berikut disajikan berbagai perilaku dan kaitannya dengan berfikirkreatif dan kritis pada diri siswa. PERILAKU TERKAIT DENGAN ♦ Bosan dengan tugas rutin; ♦ Kreativitas. menolak membuat pekerjaan ♦ Toleransi tinggi untuk makna rumah. ganda. ♦ Tidak berminat terhadap ♦ Berfikir bebas, divergen. detail dan pekerjaan kotor. ♦ Berani ambil resiko. ♦ Membuat lelucon atau ♦ Imaginatif, sensitive. komentar pada saat tidak tepat. ♦ Menolak otoritas, tidak Motivasi
  • 47. konformistis, keras kepala. ♦ Tekun dalam bidang yang ♦ Sukar beralih pada topik diminatinya. lain. ♦ Intens dalam menghayati ♦ Emosional sensitif, perasaan dan nilai. overacting, cepat marah atau ♦ Bebas. menangis kalau ada yang salah. ♦ Kecenderungan dominasi. Berfikir kritis ♦ Sering tak setuju ide orang ♦ Dapat melihat kesenjangan antara lain atau tak setuju ide gurunya. kenyataan dan kebenaran. ♦ Kritis terhadap diri, tak ♦ Mengacu pada hal-hal yang ideal. sabar menghadapi kegagalan. ♦ Mampu menganalisis dan ♦ Kritis terhadap guru dan evaluasi. orang lain. Dengan merujuk kepada uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa: (1)Hasil belajar siswa SMP pada saat ini masih belum memuaskan; (2) Siswa harusdimotivasi agar lebih bersemangat dalam meningkatkan kemampuannya dalamhal matematika, karena matematika merupakan pengetahuan yang digunakandalam kehidupan sehari-hari; (3) Agar siswa bersemangat maka pembelajaranharus menarik, dalam arti prosesnya menyenangkan dan materinya tidak terasasulit; dan (4) Pendekatan kontekstual menyajikan hal-hal keseharian yang mudahdifahami oleh siswa dan menekankan kepada keceriaan serta berorientasi kepadapeningkatan kemampuan berfikir logis. Dengan demikian pendekatan kontekstualsangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika dan dianggapdapat meningkatkan kemampuan siswa SMP dalam menyelesaikan masalahmatematika.
  • 48. BAB III METODE PENELITIANA. Penelitian Tindakan Kelas Dengan melakukan penelitian ilmiah manusia mencoba mempertanyakan,menemukan, dan memanfaatkan pengetahuan yang benar. Menurut (Musnir &Gunawan, 1998/1999:12), ada tiga pendekatan yang dapat digunakan dalampenelitian, yaitu: • Pendekatan positivistik, yang berupaya untuk mengkaji dan menguji pengetahuan. Bentuknya dapat berupa uji hipotesis, uji teori, uji model, uji validitas, uji reliabilitas, perbandingan efektivitas/efesiensi, dsb. • Pendekatan penelitian naturalistik, yang berupaya mencari pengetahuan dengan cara menggali pengetahuan baru dari kompleksitas suatu tatanan komunitas ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dsb. • Pendekatan penelitian tindakan atau action research, yang merupakan pendekatan penelitian untuk menggunakan/memanfaatkan pengetahuan dalam dunia nyata. Penelitian tindakan atau action research merupakan salah satu pendekatanyang digunakan dalam penelitian untuk memahami realita. Penelitian tindakanberpijak pada pendekatan yang yang bersifat kualitatif. Pendekatan penelitiantindakan relatif baru, ia memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendekatanpenelitian konvensional yang biasa digunakan dalam penelitian kuantitatif. Pendekatan penelitian tindakan ini mulai banyak digunakan dalamberbagai profesi, termasuk dalam profesi pendidikan. Penelitian pendidikan
  • 49. memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu meningkatkan mutupendidikan di sekolah. Dalam melakukan penelitian pendidikan terhadap praktekpembelajaran di persekolahan, dapat digunakan berbagai pendekatan dan modelpenelitian. Salah satu model penelitian yang tepat untuk meneliti dan sekaligusmemperbaiki pembelajaran di sekolah adalah model penelitian tindakan kelas(classroom action research).Pengertian Penelitian Tindakan Kelas D. Hopkins (1993:44) memberikan definisi tentang action research sebagai berikut: … a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out. Secara singkat penelitian tindakan menurut Hopkins dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk pengkajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan (partisipan), dalam suatu situasi sosial (termasuk pendidikan) dalam upaya untuk meningkatkan kemantapan rasional dan keadilan dari: (a) praktek sosial atau pendidikan mereka, (b) pemahaman mereka terhadap praktek tersebut, dan (c) memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan. Stringer (1996:15) mengemukakan definisi tentang action research sebagai berikut: … is a collaborative approach to inquiry or investigation that provides people with the means to take systematic action to resolve specific problems. This approach to research favors consensual and participatory procedures that enable people (a) to investigate systematically their problems and issues, (b) to formulate powerful and sophisticated accounts of their situations, and (c) to devise plans to deal with the problems at hand.
  • 50. Jadi menurut Stringer penelitian tindakan merupakan suatu pendekatankerja sama (kolaboratif) dalam penelitian atau pengkajian yang menyediakansarana bagi seseorang untuk melakukan tindakan sistematis dalammemecahkan masalah-masalah khusus. Pendekatan penelitian ini lebihmenyenangi prosedur kesepakatan dan partisipatif yang memungkinkan oranguntuk (a) meneliti masalah-masalah mereka secara sistematis, (b) merumuskancatatan situasi mereka secara berkekuatan dan canggih, dan (c)mengembangkan rencana untuk mengatasi masalah-masalah yang dekattersebut. Dengan melihat definisi di atas, maka penelitian tindakan bukansekedar kegiatan meneliti untuk meneliti, atau sekedar menemukanpengetahuan baru, melainkan lebih diarahkan pada tindakan praktis, yakniuntuk menentukan suatu tindakan guna memecahkan masalah tertentu.Penelitian tindakan ini membantu seseorang menemukan masalahnya secarasistematis sampai kemudian membuat perencanaan untuk mengatasi masalahtersebut. Penelitian tindakan dapat diterapkan oleh para praktisi di berbagaibidang seperti praktisi pendidikan, kesehatan, pekerja sosial, pengembangekonomi, pembangunan organisasi, dan sebagainya. Grundy dan Kemmis (Zuber-Skerritt, 1996:5) menyatakan: Action research is research into practice, by practitioners, for practitioners…In action research, all actors involved in the research process are equal participants, and must be involved in every stage of the research…The kind of involvement required is collaborative involvement. It requires a special kind of communication…which has bee described as ‘symmetrical communication’…which allows all participants to be partners of communication on equal terms…Collaborative participation in theoretical, practical and political discourse is thus a hallmark of action research and the action researcher.
  • 51. Dalam pandangan ini penelitian tindakan ditekankan sebagai sebuah kegiatan penelitian untuk keperluan praktis (terapan) yang dapat dilakukan oleh para praktisi dan untuk para praktisi. Dalam penelitian tindakan, semua aktor (pelaku) yang terlibat dalam proses penelitian adalah partisipan yang sederajat, karakteristik utamanya adalah adanya keterlibatan secara kolaboratif atau kerjasama antara yang meneliti dengan yang diteliti.Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan (action research) adalah penelitian yang berkaitan dengan manusia; dengan kata lain, penelitian yang meneliti manusia. Menurut Guba (Stringer, 1996:ix) suatu penelitian yang meneliti manusia perlu memenuhi tiga karakteristik, yaitu: desentralisasi, deregulasi, dan kerjasama dalam pelaksanaannya. Desentralisasi diartikan sebagai suatu perpindahan dari upaya untuk menemukan “kebenaran” yang tergeneralisasi ke arah suatu penekanan pada konteks lokal. Desentralisasi dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan antara hukum-hukum yang umum dengan aplikasi yang khusus. Dengan pengetahuan yang mendalam tentang konteks lokal, seseorang diharapkan dapat menemukan pemecahan terhadap masalah-masalah local. Oleh karena itu penelitian didesentralisasi pada konteks lokal. Deregulasi merupakan langkah penelitian yang mencoba lepas dari ketatnya ikatan regulasi penelitian konvensional, seperti: validitas, reliabilitas, objektivitas, dan generalisasi. Penelitian tindakan mengkaji kehidupan sosial yang tergantung pada konstruksi mental atau interpretasi mental. Penelitian tidak menemukan pengetahuan dengan mengamati alam dari satu arah, tetapi
  • 52. penelitian secara langsung diciptakan melalui interaksi antara si peneliti dengan “objek” (konstruk) yang diteliti. Kerjasama dalam pelaksanaan diartikan untuk mengindikasikan gaya penelitian dimana tidak ada perbedaan fungsi antara peneliti dengan yang diteliti. Keduanya didefinisikan sebagai partisipan yang memiliki kedudukan sama dalam menentukan pertanyaan apa yang akan ditanyakan, informasi apa yang akan dianalisis, dan bagaimana kesimpulan dan tindakan yang akan ditentukan.Prinsip Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan ini mesti berpijak atas prinsip-prinsip seperti yang diungkapkan oleh, antara lain, Stringer (1996:38): a. Prinsip-prinsip hubungan dalam penelitian tindakan, mesti: - Promote feelings of equality for all people involved (mendorong perasaan kesederajatan bagi semua orang yang terlibat); - Maintain harmony (mempertahankan keharmonisan); - Avoid conflicts, where possible (menghindari konflik jika mungkin); - Resolve conflicts that arise, openly and dialogically (menyelesaikan konflik yang muncul secara terbuka dan dialogis); - Accept people as they are, not as some people think they ought to be (menerima orang seperti apa adanya, bukan apa yang mereka pikir seharusnya); - Encourage personal, cooperative relationships, rather than impersonal, competitive, conflictual, or authoritarian relationships (mendorong hubungan pribadi dan kerja sama,
  • 53. daripada hubungan yang tak mempribadi, kompetitif, penuh pertentangan atau otoriter); - Be sensitive to people’s feelings (bersifat sentifi terhadap perasaan orang).b. Prinsip dalam komunikasi yang efektif seseorang mesti: - Listens attentively to people (mendengarkan orang dengan penuh perhatian); - Accepts and acts upon what they say (menerima dan bertindak pada apa yang mereka katakan); - Can be understood by everyone (dapat difahami oleh setiap orang); - Is truthful and sincere (jujur dan tulus); - Acts in socially and culturally appropriate ways (bertindak dalam cara yang pantas secara sosial dan budaya); - Regularly advises others about what is happening (secara teratur menasehati orang lain tentang apa yang terjadi).c. Prinsip dalam partisipasi. Pastisipasi sangat efektif bila ia: - Enables significant levels of active involvement (memungkinkan keterlibatkan secara aktif pada tingkatan yang bermakna); - Enables people to perform significant tasks (memungkinkan orang untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna); - Provides support for people as they learn to act for themselves (memberikan dorongan bagi orang lain sebagaimana mereka belajar bertindak bagi diri mereka sendiri);
  • 54. - Encourages plans and activities that people are able to accomplish themselves (mendorong rencana dan kegiatan yang yang mampu dicapai oleh mereka sendiri); - Deals personally with people rather than with their representatives or agents (berhubungan dengan orang secara pribadi dari pada melalui perwakilan atau agen mereka). d. Prinsip inklusi dalam penelitian tindakan melibatkan: - Maximization of the involvement of all relevant individuals (memaksimalkan keterlibatan semua individu yang relevan); - Inclusion of all groups affected (menyatukan semua kelompok yang terpengaruhi); - Inclusion of all relevant issues—social, economic, cultural, political—rather than a focus on narrow administrative or political agendas (menyatukan semua masalah yang relevan baik sosial, ekonomi, budaya, dan politik, dari pada memfokuskan pada agenda administratif atau politik yang sempit); - Ensuring cooperation with other groups, agencies, and organizations (memastikan kerja sama dengan kelompok, agen, dan organisasi lain); - Ensuring that all relevant groups benefit from activities (memastikan bahwa semua kelompok yang relevan memperoleh keuntungan dari kegiatan).Siklus Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan memiliki langkah-langkah yang khas dan berbeda dengan penelitian konvensional. Penelitian tindakan (action research)
  • 55. memiliki langkah-langkah yang bersifat siklus (proses pengkajian berdaur),yang bergerak dari satu tahap ke tahap berikutnya, tetapi kemudian kembalipada tahap awal dengan suatu peningkatan. Daur tersebut secara sederhanadigambarkan pada bagan di bawah RENCANA MERENCANAK MELAKUKAN AN TINDAKAN REFLEKSI MENGAMATI MEREFLEKSI TINDAKAN/OBSERVASI Dengan mengadaptasi model Hopkin, Tim PGSM (199:7)menggambarkan siklus penelitian tindakan kelas dalam bentuk spiral, seperti REVISIberikut: RENCANA REFLEKSI TINDAKAN/OBSERVASI REVISI RENCANA REFLEKSI TINDAKAN/OBSERVASI REVISI
  • 56. Sementara itu Stringer (1996:16) mengemukakan langkah-langkah pokokdalam siklus penelitian tindakan sebagai berikut:Look : - Gather relevant information (gather data) - Build a picture: Describe the situation (define and describe)Think : - Explore and analyzes: What is happening here? (hypothesize) - Interpret and explain: How/why are things as they are? (theorize)Act : - Plan (report) - Implement - EvaluateLangkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas Langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan secara terinci (Musnir dan Gunawan,1998/1999). a. Mencari masalah penelitian. b. Memilih masalah penelitian. c. Mempertajam masalah penelitian. d. Mengembangkan rancangan pemecahan masalah putaran pertama.
  • 57. e. Melaksanakan pemecaham masalah putaran pertama. f. Mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah putaran pertama. g. Merevisi rancangan pemecahan masalah putaran pertama atau mengembangkan rancangan pemecahan masalah putaran kedua. h. Melaksanakan pemecahan masalah putaran kedua. i. Mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah putaran kedua. j. Merevisi rancangan pemecahan masalah putaran ketiga atau mengembangkan rancangan pemecahan masalah putaran ketiga. k. Melaksanakan pemecahan masalah putaran ke-n. l. Mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah putaran ke-n. m. Merevisi rancangan pemecahan masalah putaran ke-n atau mengembangkan rancangan pemecahan masalah putaran ke-n+1. n. Melaksanakan pemecahan masalah putaran ke-n+1. o. Mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah putaran ke-n+1. p. Membuat laporan hasil pemecahan masalah.Rencana Penelitian Tindakan Kelas a. Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian. b. Variabel yang diselidiki. c. Rencana tindakan. d. Data dan cara pengumpulannya. e. Indikator kinerja. f. Tim peneliti dan tugasnya.B. Variabel Penelitian
  • 58. Penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuandan kegunaan tertentu. Menurut Sugiono (2007:1), penelitian ilmiah didasarkanpada cirri-ciri keilmuan yaitu, rasional, empiriss dan sistematis. Penelitian inidimaksudkan untuk menemukan hubungan antara fakta yang satu dengan faktalainnya. Salah satu bentuk hubungan dalam menjelaskan mengapa sesuatu adaatau terjadi, adalah hubungan kasual. Namun di sini perlu kiranya jenis-jenis variabel dan hubungan antarvariabel. 1. Hakikat Variabel dan Atribut Variabel (nampak dari kata vary dan able) berarti "bisa beragam." Artinya, variabel adalah konsep yang memiliki keragaman nilai. Variabel adalah pengelompokan logis atribut-atribut, sebagai contoh: laki- laki dan perempuan adalah atribut, sedangkan jenis kelamin atau gender adalah variabel. Atribut adalah ciri-ciri atau kualitas yang memaparkan suatu obyek - dalam hal ini seseorang, misalnya: perempuan, berkebangsaan Timur, terasing, konservatif, tak jujur, cerdas, petani, dan sebagainya. 2. Jenis-jenis Variabel a. variabel diskrit (discrete variable). b. variabel bersambungan (continuous variable).Jenis Variabel Diperoleh dari kegiatan ContohDISKRIT MENGHITUNG Jumlah anak, jumlah sepeda motor, jumlah …BERSAMBUNGAN MENGUKUR Tinggi badan, bobot badan, jarak rumah dengan tempat
  • 59. kerja, dsb. 3. Sifat Variabel a. Variabel Dependen (bebas) atau vriabel yang tidak terpengaruh, disebut juga varibel peubah. b. Variabel Independen atau variabel yang terpengaruh dan dapat mengalami perubahan Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini ditetapkan variabel-variabel:Variabel dependen adalah: Pembelajaran KontekstualVariabel Independen adalah: Kemampuan siswa dalam melakukan pemecahanmasalah matematikaC. Definisi Operasional 1. Prestasi Belajar Prestasi diterjemahkan dari kata achievement yang berarti hasil yang telah dicapai. Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai melalui belajar. Menurut Syaodih (2004:78) prestai belajar ada 10 yaitu: pengetahuan, pemahaman, keterampilan berpikir, keterampiln umum, penyesuaian diri, sikap, nilai, minat dan apresiasi. Masih ada banyak definisi dan uraian aspek- aspeknya mengenai prestasi belajar, akan tetapi pada intinya prestasi belajar yang terpenting adalah kecerdasan komprehensif. Tugas utama manusia adalah menyelesaikan masalah, menurut Zohar (2004): dalam melahirkan solusi, kontribusi kecerdasan spiritual dan emosional adalah 80 % dan kecerdasan intelektual 20 %. Membina kecerdasan perlu memadukan neurocortex-otak kiri (kecerdasan rasional/intelektual) dengan system limbic- otak kanan (kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional).
  • 60. 2. Pemecahan Masalah Sebagaimana disebut di atas, bahwa tugas manusia adalah melakukanpemecahan masalah. Suatu masalah adalah suatu situasi yang dirasakanadanya sejumlah informasi yang hilang (ada kesenjangan). Pemecahanmasalah meliputi mencari pola – pola membuat prediksi, dan pengujianprediksi . Penyelesaian Masalah dilakukan ilmiah (Scientific Problem Solving)atau dengan menggunakan intuisi secara kreatif (Creative Problem Solving).Dalam konteks matematika Pemecahan Masalah adalah penyelesaianpersoalan-persoalan matematika dengan dengan menggunakan ukuran ataudata yang telah lebih dulu ditemukan atau dibuktikan. Dengan bekal data awalmaka diterapkan rumus yang berkaitan sehingga dapat ditemukan solusi ataupemecahannya. 3. Pembelajaran Kontekstual Menurut Dania (2006), Pembelajaran Kontekstual merupakan konsepbelajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannyadengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubunganantara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupanmereka. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa karenaproses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswabekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Guru matematikaidelanya mengambil peran sebagai mediator, bukan menyuapi siswa. Di dalamkelas guru adalah instrumen pembelajaran yang utama, bukan sebagaipengantar materi semata ataupun penyaji utama pelajaran.
  • 61. D. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan datanya dilakukan dengan cara : 1. Riset kepustakaan, yaitu pengumpulan data referensi-referensi tertulis, meliputi buku-buku tentang pendidikan, pembelajaran, perkembangan siswa, matematika dan dokumen tertulis yang berkaitan dengan topik penelitian. 2. Pengamatan terlibat (participant observation) yaitu pengamatan langsung pada obyek penelitian tanpa intervensi eksistensinya dan terjadi interaksi antara peneliti dan yang diteliti. 3. Wawancara terbuka (open interview) dan mendalam, langkah ini dilakukan untuk memperoleh jawaban yang tidak dibatasi dari informan. Interview merupakan proses interaksi antara pewawancara dan responden. 4. Pengujian prestasi belajar melalui tes berkaitan dengan pokok bahasan mata pelajaran matematika. 5. Kuisioner, yaitu serangkaian pertanyaan tertulis yang disebarkan kepada siswa untuk mengumpulkan respon atas proses peneliti.
  • 62. BAB IV HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELASA. Gambaran Penelitian 1. Perencanaan Penelitian dilakukan di kelas VIII I SMP Negeri I Cicalengka. Materi pembelajaran luas permukaan bangun ruang kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2008 – 2009. Materi termaksud meliputi luas permukaan kubus, balok, limas dan prisma. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan selama bulan Mei 2008, sebanyak tiga siklus ditambah siklus untuk pos tes. Pelaksanaan penelitian melibatkan guru dan kepala sekolah terutama dalam pelaksanaan pengamatan dan refleksi selama penelitian. Siklus pertama merupakan penjajagan melalui test prasyarat dan membangun dinamika kelompok. Sesi ini untuk mengondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran yang menekankan keperansertaan siswa. Siklus kedua diawali dengan apersepsi mengenai materi pelajaran bidang datar, khususnya persegi dan empat persegi panjang. Selanjutnya dilakukan proses pembelajaran mengenai bangun ruang kubus dan balok. Setelah proses pembelajaran diberikan tes yang langsung dianalisis. Siklus ketiga diawali dengan apersepsi mengenai materi pelajaran bidang datar, khususnya segitiga siku-siku, segitiga sama sisi dan segitiga sama kaki. Selanjutnya dilakukan proses pembelajaran mengenai bangun ruang Limas dan Prisma. Setelah proses pembelajaran diberikan tes. Setelah dilaksanakan ketiga siklus di atas kemudian diberikan post tes pada waktu tersendiri
  • 63. 2. Tindakan Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika melalui pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika. 3. Pengamatan Dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran. pengamatan tersebut meliputi kegiatan guru dan siswa; pengembangan materi pembelajaran dan capaian hasil belajar siswa. Pengamatan dilakukan oleh peneliti, guru pamong, wali kelas dan yang ditugasi oleh PKS bidang kurikulum. Pengamatan dilakukan terhadap proses pembelajaran serta perilaku guru peneliti dan siswa selama pembelajaran berlangsung. 4. Refleksi Proses pembelajaran, hasil tes dan capaian hasil belajar pada umumnya dianalisis untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi sekaligus mengukur peningkatan kemampuan siswa. Hasil analisis sekaligus dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun rencana perbaikan siklus berikutnya. 5. Diskusi Dalam upaya mengidentifikasi masalah dan menghimpun gagasan perbaikan yang lebih tepat, peneliti melakukan diskusi dengan guru pamong, wali kelas dan PKS Bidang Kurikulum.B. Penjelasan Siklus Pertama
  • 64. Sebagaimana disebutkan di atas, siklus pertama merupakan penjajaganmaka pada siklus pertama ini dilasksanakan langkah-langkah pembelajaransebagai berikut: 1. Pembukaan Setelah mengajak siswa membaca basmalah untuk memulai pembelajaran, peneliti memperkenalkan diri sebagai guru yang akan membimbing pembelajaran bangun ruang selama empat kali pertemuan. Selanjutnya kepada siswa disampaikan pertanyaan, Berapa enam kali delapan (6X8)? Hampir seluruh siswa berteriak menyebutkan empat puluh delapan dengan keras. Kemudian disampaikan pertanyaan kedua, mengapa enam kali delapan sama dengan empat puluh delapan? Kali ini semua siswa bungkam. Lima belas detik pertama hening kemudian terjadi saling bisik diantara siswa selama lebih dari satu menit. Kemudian seorang siswa mengangkat tangan. Ketika dipersilahkan, ia menjawab karena aturannya begitu. Kepada siswa yang lain ditanyakan apakah setuju dengan jawaban tersebut, ada sebagian siswa. Seorang siswa menyampaikan pendapatnya: karena enam nya ada delapan jadi kalau dijumlahkan ada empat puluh delapan. Kepada siswa dijelaskan, bahwa siswa yang menjawab pertanyaan, lebih memiliki tingkat keberanian yang lebih tinggi. Menjawab dengan mengemukakan alasannya lebih baik. Pendahuluan tersebut menghabiskan waktu 5 menit 2. Test Prasyarat Siswa mengerjakan tes prasyarat sebanyak 5 soal selama 10 menit. Materi tes mengenai Persegi, persegi panjang, segitiga siku-siku, segitiga
  • 65. sama kaki dan segitiga sama sisi. Tes prasyarat dilakukan untuk mengetahuisejauh mana siswa menguasai kemampuan menyelesaikan penghitungankeliling dan luas bangun datar dua dimensi. Untuk menguasai bangun ruangtiga dimensi, siswa terlebih dulu harus menguasai bangun datar.3. Simulasi Pengakraban Untuk lebih mengakrabkan antara siswa dengan guru dan di antarasesama siswa, dilakukan proses perkenalan melalui simulasi: a. Siswa diminta ke teras kemudian membagi diri menjadi dua kelompok besar. Semua siswa, 48 orang hadir sehingga satu kelompok 24 orang. b. Kedua kelompok diminta berjajar berhadap-hadapan, satu baris membelakangi jendela satu lagi membelakangi halaman kelas. Waktu yang terpakai dari keluar hingga berjejer dengan rapih selama 5 menit. c. Selanjutnya siswa diminta berjejer dari kanan ke kiri secara alfabetis, menurut huruf pertama nama panggilan. Waktu yang terpakai 4 menit. d. Setelah berjejer rapih kemudian diverifikasi apakah posisinya benar? Ternyata masih belum selaras karena yang huruf awalnya sama lebih dari seorang dan urutan menurut huruf kedua belum tersusun. e. Peserta mengatur kembali posisinya hingga benar-benar rapih. Waktu yang terpakai 3 menit. f. Setelah kedua barisan tersusun rapih, siswa diminta mengubah barisan, kali ini yang paling kanan yang lebih dulu di lahirkan. g. Seperti halnya pada cara berjejer pertama, terjadi revisi posisi dua kali pada susunan barisan kedua. Waktu yang terpakai sampai barisan benar-benar rapih adalah 6 menit.
  • 66. h. Setelah barisan rapih, siswa diminta berjejer berdasarkan tinggi badan. Kali ini siswa mengatur barisan dengan lebih cepat, hanya 3 menit. i. Setelah rapih siswa diminta membentuk kelompok.4. Pembagian kelompok a. Setiap barisan selanjutnya diminta membagi diri menjadi empat kelompok, satu kelompok enam orang. Anggotanya terserah selera masing-masing. Pembentukan kelompok memerlukan waktu lebih dari 10 menit, karena rebutan anggota. b. Setelah terbentuk delapan kelompok, siswa dipersilahkan masuk kembali ke dalam kelas dan duduk menurut kelompoknya masing- masing. Dilihat dari jenis kelamin, satu kelompok anggotanya laki-laki semua, dua kelompok perempuan semua, lima kelompok campuran laki-laki dan perempuan. c. Siswa kemudian diminta menetapkan pemimpin kelompok dan memberi nama kelompoknya masing-masing. Nama kelompok bebas. d. Setelah 5 menit nama kelompok dan pemimpin masing-masing kelompok semuanya selesai ditetapkan. Nama dan anggota kelompok dipresentasikan pada tabel di bawah ini: Tabel 4.1 Deskripsi Kelompok (satu kelompok enam siswa) Nama Jumlah Warga Ketua Yel Kelompok Lk Pr Kelompok Motto Naruto 6 0 Laki-laki Narrrutto, Hebat Euy!
  • 67. Slanker 4 2 Laki-laki Slanker please, slanker peace Vicking 3 3 Laki-laki Vicking Nu Aing Ungu 3 3 Perempuan Pernahkah kau merasa, Jadi juara? Metal 2 4 Laki-laki Optimis Coy! Jagger 2 4 Perempuan Sing Penting, Tahan Banting! Queen 0 6 Perempuan We are the champion, Oye! Angel 0 6 Perempuan Angel Nice, Angel Wise Angel Yes!5. Brainstorming Setelah semua siswa sepakat bahwa barisan keduanya rapih, kepadasiswa diminta tanggapan dan kesan atas simulasi yang baru dilakukan.Barinstorming (curah gagasan) berlangsung 15 menit. Dari 48 siswa ada 14orang yang menyampaikan gagasan, mewakili lima kelompok. Beberapa gagasan yang sempat dicatat antara lain: a. Simulasi tersebut telah menyebabkan sesama siswa lebih mengenal, terutama nama panggilan dan usia masing-masing. b. Menyusun barisan yang pertama waktunya lebih lama karena siswa belum adaptasi dengan situasi dan tidak menyangka ada simulasi. c. Menyusun barisan yang kedua kalinya relative lebih cepat karena komunikasi telah lebih akrab.
  • 68. d. Menyusun barisan yang ketiga lebih cepat lagi karena tidak perlu melakukan pendataan, cukup melihat fisik temannya. e. Untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna harus melakukan komunikasi dengan baik, menghimpun data dengan teliti dan menempatkan posisi secara tepat.6. Diskusi kelompok Selanjutnya setiap kelompok diminta mendiskusikan: a. Apa yang menjadi kendala dalam belajar matematika. b. Soal yang mana yang dianggap paling sulit.7. Penutup pembelajaran Seraya mengumpulkan kesimpulan diskusi, Jawaban tes yang telahdinilai sibagikan untuk dipelajari dan diperbaiki di rumah. Kepada siswadiberikan juga lembar penjelasan materi materi pelajaran bangun datar sebagaiupaya remedial. Pada saat yang sama diberikan lembar tugas kelompok, yaitumembawa benda-benda yang diperlukan untuk media belajar pada pertemuanberikutnya. Selanjutnya siswa dibimbing membaca do’a akhir majlis,kemudian membaca hamdalah bersama-sama dan ditutup dengan salam.8. Hasil Tes Prasyarat a. Pedoman penilaian - Menghitung keliling Nilainya 5, dengan distribusi: Menemukan ukuran sisi-sisi yang akan dijumlahkan serta menjumlahkan diberi nilai 5; Hasil penjumlahan yang benar nilai 5.
  • 69. - Menghitung luas nilainya 10 dengan distribusi: Menemukan ukuran panjang/alas atau lebar/tinggi dan mengalikan diberi nilai 5; Hasil perkalian yang benar nilainya 5.b. Nilai test secara kumulatif Setelah diperiksa, dari 48 siswa hanya 18 orang (37,5%) yangnilainya di atas 50. Nilai terkecil 10 (sepuluh) sebanyak 1 orang (2,08%)dan nilai tertinggi 80 (delapan puluh) sebanyak 5 orang (10,42%).Frequensi tertinggi (modus) ada pada nilai 65, yaitu 12 orang (25%).Adapun nilai rata-rata adalah 47. Tingkat ketuntasan belajar yang disepakati di SMP Negeri ICicalengka adalah 85% siswa memperoleh nilai 65 ke atas. Dengan hasiltes prasyarat sebagaimana disebutkan di atas, maka ketuntasan belajarmengenai bangun datar, khususnya segiempat dan segitiga dapat dikatakanbelum tercapai. Untuk lebih jelasnya hasil tes prasyarat dipresentasikan pada tabeldi bawah ini: Tabel 4. 2. Nilai Kumulatif Tes Prasyarat Nilai Frekwensi Prosentase Jumlah 80 5 10,42% 400 65 12 25,00% 780 60 1 2,08% 60 55 0 0,00% 0
  • 70. 50 5 10,42% 250 45 5 10,42% 225 40 2 4,17% 80 35 4 8,33% 140 30 5 10,42% 150 25 0 0,00% 0 20 5 10,42% 100 15 3 6,25% 45 10 1 2,08% 10 Jumlah 48 100% 2.240 Nilai 100 – 85 tidak dipresentasikan karena frekuensinya kosongc. Hasil test menurut butir soal Tes bukan sekadar mengukur kemampuan siswa akan tetapimengevaluasi kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Oleh karena itu nilaisiswa untuk tiap butir soal dan bahkan nilai tahapan kerja secara otentikdicatat oleh peneliti. Pada tabel di bawah ini dipresentasikan perolehannilai tiap butir soal Tabel 4.3 Jumlah siswa menurut nilai tiap butir soal Gambar Persegi Segitiga Segitiga SegitigaNilai Persegi Panjang Siku-siku Samasisi SamakakiNilai 20 33 7 5 5 5Nilai 15 0 17 13 13 12Nilai 10 13 13 23 17 12
  • 71. Nilai 05 0 11 7 0 5Nilai 00 2 0 0 13 14Jumlah 48 48 48 48 48 Dari table di atas dapat disimpulkan bahwa materi pelajaranbangun datar segi empat dapat dikatakan hampir mencapai ketuntasan.Untuk materi persegi jumlah yang meraih nilai maksimal 33 orang(68,75%); yang mencapai nilai 10 ada 13 orang (27,08%) dan nilaiminimum, 0 (nol) 2 orang (4,17%). Sedangkan nilai maksimum persegipanjang dicapai 7 siswa (14,58%); nilai 15 ada 17 siswa (35,42%); nilai 10ada 13 orang (27,08%) dan nilai terendah, 5, ada 11 siswa (22,92%). Pada materi segitiga, sebagian besar siswa menghadapi kesulitan.Hal ini dapat di lihat dari jumlah siswa yang mendapat nilai maksimalmasing-masing hanya 5 orang (10,42%) dan nilai 15 diperoleh 13 siswa(27,08%). Sebanyak 30 orang (62,5%) nilai 10 ke bawah. Nilai yang agakbaik adalah nilai segitiga siku-siku.d. Kesulitan yang dihadapi siswa Menyelesaikan soal matematika memiliki tahapan dan prosedur,tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan langsung, akan tetapi ada tahapyang harus dilalui. Untuk menghitung keliling harus mengetahui panjangsemua sisi, sementara data yang tersaji hanya sebagian. Demikian jugamenghitung luas, panjang/alas dan lebar/tinggi harus jelas ukurannya.Oleh karena itu siswa diberi nilai pada tiap tahapannya. Dengan demikian,yang dinilai adalah prosedur dan hasil akhir. Menemukan data ukuranyang benar mendapat nilai, prosedur dinilai dan nilai akhir dinilai. Nilai
  • 72. tersebut secara terpisah, sehingga kesalahan pada tahap tertentu tidakmengurangi tahapan lain yang benar. Pada tabel-tabel berikut inidipresentasikan hasil kerja siswa. Tabel 4. 4 Jumlah siswa yang benar dalam prosedur dan perhitungan Persegi Segitiga Segitiga Segitiga Persegi Panjang Siku-siku Samasisi SamakakiPanjang/alasTinggi/Lebar 33 5 5Hipotenusa 5 5 5Keliling 36 7 5 35 5Luas 43 28 41 5 28 Tabel 4. 5 Jumlah siswa yang benar dalam menjalankan prosedur tetapi salah dalam melakukan operasi perhitungan Persegi Segitiga Segitiga Segitiga Persegi Panjang Siku-siku Samasisi SamakakiPanjang/alasTinggi/Lebar 46 23 6Hipotenusa 33 0 25Keliling 8 35 39 0 27Luas 3 15 5 20 5 Tabel 4. 6 Daftar siswa yang benar dalam mengoperasikan perhitungan tetapi salah dalam menemukan data/menetapkan ukuran
  • 73. Persegi Segitiga Segitiga Segitiga Persegi Panjang Siku-siku Samasisi Samakaki Panjang/alas Tinggi/Lebar 0 7 0 Hipotenusa 10 0 4 Keliling 2 6 4 0 2 Luas 0 5 2 10 1 Dari ketiga tabel di atas dapat diketahui bahwa dalam menyelesaikan soal-soal matematika para siswa sebagian besar telah dapat menerapkan prosedur dengan baik. Akan tetapi masih kurang tepat dalam mengoperasikan perkalian, pembagian, pangkat dan akar. Untuk soal bangun persegi relatip mudah baik prosedur maupun operasi perkalian. Dalam menyelesaikan soal segitiga, sebagian besar siswa menghadapi kesulitan dalam menghitung panjang hipotenusa, terutama segitiga siku-siku dan sama kaki. Pada umumnya kesalahan dalam mengoperasikan penghitungan dengan akar. Akibat kesulitan menemukan panjang hipotenusa, dalam menentukan keliling juga salah. Lemahnya kemampuan mengoperasikan akar dan pangkat, berdampak terhadap hasil perhitungan dalam menetapkan tinggi segitiga sama sisi, akibatnya sangat sedikit yang menghitung luas dengan tepat.9. Dinamika Pembelajaran Dalam menggiati pembelajaran pada siklus pertama, sebagian siswamenunjukkan partisipasi dan kontribusinya dengan nyata. Keperansertaan
  • 74. yang diamati dalam penelitian adalah kemauan mengerjakan tugas,keterlibatan dalam kelompok dan keberanian berbicara. a. Pelaksaanaan tugas mandiri Dalam hal pengerjaan tugas, siswa secara umum melakukannya dengan sungguh-sungguh secara mandiri, misalnya dalam menyelesaikan soal tes prasyarat. Walaupun hasilnya kurang memuaskan, tetapi mereka menerima dan siap melakukan perbaikan dan sanggup memperoleh nilai lebih baik dalam kesempatan berikutnya. b. Keterlibatan dalam kelompok Aktivitas kelompok pada siklus pertama ada dua, yaitu kelompok besar dengan anggota dua puluh empat siswa dan kelompok kecil dengan anggota enam orang. Kegiatan kelompok besar cukup lama dan melibatkan keperansertaan siswa secara luas. Berbeda dengan kelompok kecil, baru pembentukan, pemilihan pimpinan dan penetapan nama kelompok. Akan tetapi dinamika muncul. Hasil pengamatan yang tercatat antara lain: 1) Dalam simulasi kelompok besar siswa mau mengikuti kegiatan simulasi dengan sungguh-sungguh. Keterlibatan siswa antara lain: o Mencoba memimpin proses. o Menghimpun data (menanyakan nama danm tanggal lahir). o Menempatkan diri sesuai data yang diketahui. o Mengatur posisi teman. o Siswa yang pasif mengikuti arahan dimana dia harus menempati posisi.
  • 75. 2) Dalam kelompok kecil siswa lebih dinamis, anra lain: o Mengajak teman untuk berkelompok/memilih teman kelompok. o Mengatur pembagian kelompok. o Menawarkan siapa mau jadi apa atau siapa mau mengerjakan apa. o Meminta teman untuk memegang tugas dalam kelompok. o Memilih tugas untuk dirinya. o Meminta pekerjaan untuk dirinya. o Meminta teman mengerjakan soal tertentu. o Siswa yang pasif mengikuti kebijakan kelompok.c. Keberanian berbicara Dalam pembelajaran yang dibangun adalah komunikasi resiprokalyang dialogis. Guru bukan hanya berbicara kepada siswa, tetapi yang lebihpenting harus lebih lama berbicara dengan siswa. Oleh karena itukeberanian siswa dalam berbicara sangat menentukan dinamikapembelajaran. Unjuk keberanian berbicara siswa pada siklus pertama yangterdata adalah: 1) Keberanian mengajukan pertanyaan; 2) Keberanian mengemukakan pendapat, 3) Keberanian menyampaikan jawaban; 4) Keberanian mengerjakan soal di papan tulis dan
  • 76. 5) keberanian presentasi.10. Refleksi dan rencana revisi a. Refleksi Hasil observasi dan analisis selama dan setelah tindakan kelas siklus pertama, diperoleh kesimpulan antara lain: • Secara umum siswa menunjukkan partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. • Siswa menyukai model belajar yang melibatkan siswa dalam suasana dinamis, ceria, tanpa tekanan dan mengekspresikan gagasan secara bebas. • Siswa masih harus mengasah kemampuannya dalam operasional aljabar, terutama pemangkatan dan akar. b. Revisi dan Rencana Aksi Beranjak dari kesimpulan di atas maka direncanakan tindakan kelas pada siklus kedua yang memasukkan upaya revisi dengan cara: • Melanjutkan proses pembelajaran yang dinamis dan partisipatif dengan menyajikan materi yang akrab dengan kehidupan siswa. • Operasi perkalian, pembagian, pemangkatan dan akar sangat menentukan hasil belajar bangun ruang, sementara siswa masih harus mendapat penguatan dan pengayaan di bagian tersebut. Terbatasnya waktu kurang memungkinkan meng-upgrade kemampuan tersebut secara khusus. Maka tindakan yang dilakukan pada siklus berikutnya adalah mengulas kemampuan
  • 77. operasional tersebut sambil menjelaskan proses pengerjaan masalah bangun ruang. • Selain penguatan melalui bimbingan guru, siswa akan didorong untuk saling belajar dari temannya, terutama teman satu kelompok. • Agar interaksi kelompok semakin inten, maka kegiatan kelompok porsinya ditambah. • Program pembelajaran pada siklus berikutnya diskenario lebih memberi ruang dan peluang bagi siswa dalam berperanserta secara optimal.C. Penjelasan Siklus kedua 1. Pembukaan Pembelajaran dimulai dengan membaca basmalah bersama-sama. Siswa duduk dalam kelompoknya masing-masing lalu mengeluarkan benda- benda yang dibawa untuk media pembelajaran, yaitu: - Kertas HVS ukuran A4 70 gram 5 lembar per kelompok. - Gunting dan pisau Cutter ada pada tiap kelompok. - Dus kemasan antara lain: Kemasan Susu bubuk, kemasan obat, kemasan lampu, kemasan kue, kemasan kosmetik dan kemasan rokok. Khusus kemasan rokok oleh guru dikumpulkan, tidak dijadikan media. - Mistar 30 cm, mistar segitiga, buzur derajat, jangka dan alat tulis lainnya tersedia pada setiap meja kelompok. - Dua kelompok membawa mistar baja 100 cm.
  • 78. - tiga kelompok membawa meteran 300 cm; satu kelompok membawa meteran 500 cm dan satu kelompok membawa meteran golong sepanjang 100 yard. - Hanya tiga kelompok yang membawa kalkulator. 2. Kuis matematik Di papan tulis dipampangkan gambar ukuran plano. Gambar tersebut, denah tanah milik empat orang penduduk di kampung Cikopo. Tanah tersebut akan dibeli oleh Rumah Sakit Umum Cicalengka dengan harga Rp. 250.000,- per m2. Dalam ukuran yang lebih kecil, kepada siswa dibagikan gambar yang sama disertai tugas kelompok untuk menyelesaikan masalah, yaitu:  Menghitung luas tanah masing-masing dan uang yang akan diterima oleh masing-masing pemilik tanah  Menjumlahkan luas seluruh tanah ( luas A + B + C + D) 130 m 50 m D A80 m 80 m C 30 m B 80 m 50 m 130 m
  • 79. Siswa melakukan pekerjaan secara berkelompok, satu orangmenghitung satu bidang sehingga kurang dari dua menit sudah ada yangselesai. Perwakilan kelompok Queen dengan diringi senandung “We arethe champion….” menyerahkan hasil pekerjaannya ke meja guru danmenuliskan hasil kerjanya di samping gambar yang ada di papan tulis.Inilah hasil perhitungan kelompok Queen.Luas tanah A = 5.200 m2 hasil perkalian ½ X 130 X 80Luas tanah B = 750 m2 hasil perkalian ½ X 30 X 50Luas tanah C = 2.400 m2 hasil perkalian 30 X 80Luas tanah D = 2.000 m2 hasil perkalian ½ X 80 X 50 Queen diminta menghentikan dulu pekerjaannya, kemudian kepadakelompok lain diminta memeriksa apakah jawabannya benar? Setelahsemua siswa turut menghitung ternyata seluruh kelas menyatakan hitungantersebut benar. Namun ketika perwakilan Queen mau melanjutkanpenyelesaiannya, seorang siswa mengangkat tangan dan menyatakanbahwa jumlahnya salah. Siswa tersebut diminta sabar karena Queen belummenyebutkan jumlahnya. Siswa yang lain memberikan pendapat secaraberturut-turut. Kalau jumlahnya salah pasti yang dijumlahkannya jugasalah. Ketika Queen diminta menyebutkan jumlahnya, perwakilan Queenminta waktu karena jumlahnya mau dikonsultasikan lagi kepada anggotakelompok yang lain.
  • 80. Kelas menjadi gaduh karena siswa menemukan kesalahan jumlahluas. Jumlah luas tanah A + B + C + D adalah 10.350 m2 padahal biladihitung langsung 130 X 80 adalah 10.400 m2, artinya kurang 50 m2 Siswa diberi kesempatan untuk menghitung ulang selama tigamenit. Ketika ditanya ada yang telah selesai menghitung, siswa serempakmenjawab belum. Seorang siswa minta izin untuk menjelaskan kepada teman-temannya. Walaupun teman-temannya secara usil menyampaikanceletukan-celetukan nakal, siswa tersebut berdiri menghadap kepadaseluruh temannya. Secara sederhana siswa tersebut menjelaskan:o Kita semua hanya dapat menghitung dengan tepat luas tanah A. sedangkan luas tanah B, C dan D sangat sulit menghitungnya, karena:o Luas B pasti bukan 750 sebab panjang garis ini belum tentu 30 dan bentuknya juga belum tentu segitiga siku-siku. Garis yang tengah ini tidak diberi tanda sama panjang dengan garis yang di tepi dan pada alasnya tidak diberi tanda siku-siku. Jadi rumus ½ X 50 X 30 tidak dapat dipakai, kecuali kalau ini memang 30 dan segitiganya siku-sikuo Demikian juga halnya dengan luas D, barangkali kita hanya menyangka mungkin D merupakan segitiga siku-siku dan alasnya sama dengan garis lurus di bawah yang panjangnya 80 m.o Mengenai luas C, ini juga belum tentu dan bahkan pasti bukan empat persegi panjang karena tanda yang ada hanya sebuah siku-siku.
  • 81. o Kesimpulan saya, kita tidak meungkin menghitung luas tanah B, C dan D pada saaat ini dengan cepat dan tepat, karena tidak jelas keterangannya. Uraian siswa tersebut disetujui secara aklamasi oleh semua siswa. Kemudian siswa dipersilahkan menghentikan penghitungannya. Karena jadwal pengerjaan kuis, 10 menit telah habis.3. Ekspositori Kepada seluruh siswa ditekankan bahwa apa yang diterangkan olehtemannya tadi memang benar. Matematika adalah ilmu pasti. Gambar buatanmanusia bisa saja salah walaupun menggunakan computer. Untukmengantisipasi kesalahan gambar maka dibuatlah keterangan dan tanda-tanda.Setiap bangun memiliki karakter yang berbeda dan untuk itu diberi tanda-tanda sebagai indikasi. Bagi yang penasaran boleh menghitung kembali luastanah tersebut di rumah. Selanjutnya siswa mulai dibawa kepada proses penguasaan materibalok dan kubus. Di samping kiri papan tulis dipajang gambar kubus dandisamping kanan ditempelkan gambar balok ukuran plano. Kepada siswaterlebih dulu dingatkan mengenai elemen-elemen geometri yaitu: titik, garis,rusuk, sisi, bidang dan ruang. Kemudian dijelaskan pula bahwa bangungeometri ada dua yaitu bangun datar yang merupakan bangun dua dimensi danbangun ruang atau bangun tiga dimensi. Segiempat, segitiga, dan segi-segi lain yang lebih banyak jumlah suduttermasuk bintang dan lingkaran merupakan bangun datar. Dari bangun datar
  • 82. tersebut dapat dikembangkan menjadi bangun ruang tiga dimensi seperti:balok, kubus, limas, prisma, bola, tabung, kerucut dan bentuk lainnya. Penjelasan diselingi tanya jawab dan memperagakan cara menggambarbalok dan kubus di papan tulis. Ketika siswa diminta menyebutkan contoh-contoh bangun ruang kubus dan balok, siswa dengan sertamerta menyebutkanbalok, misalnya tiang beton, penghapus, kotak pensil, kotak jangka, CashingCPU Computer, Lemari, kaki meja, kotak amal dll. Giliran dimintamenyebutkan contoh benda berbentuk kubus, jawabannya hanya satu, yaitudadu. Ketika diminta menyebutkan apa lagi contoh kubus, selama satu menittidak ada jawaban, hingga seorang siswa nyeletuk:“Sebenarnya banyak benda berbentuk kubus itu”“Apa saja coba?” tanya teman-temannya.Siswa tersebut menatap guru, kemudian guru mengangguk“Kayu berbentuk kubus, tembok berbentuk kubus, besi berbentuk kubus, dusberbentuk kubus, kaca berbentuk kubus, plastik berbentuk kubus dan masihbanyak lagi, cuma cape nyebutnya”.“Uuuh” siswa lain menyoraki.4. Inqiri Ekspositori menghabiskan waktu 10 menit, selanjutnya siswa dimintamengumpulkan barang yang dibawa dari rumah di meja kelompok. Kemudianmemisahkan yang berbentuk balok dengan yang berbentuk kubus. Ketikatengah asyik memisah-misahkan barang, seorang siswa bertanya: “Apakah duskemasan lampu termasuk balok? Karena tidak terdiri dari 3 pasang (ukuran)
  • 83. persegi panjang. Kemasan tersebut sisi alasnya berbentuk persegi denganpanjang sisi 4 cm dan tinggi 16,5 cm, jadi hanya terdiri dari dua buah persegidengan panjang sisi 4 cm dan empat persegi panjang ukuran 4 X 16,5. Karena ada yang bertanya, siswa lain memisahkan kemasan yangsejenis, antara lain kemasan tinta stempel, kemasan obat dan kemasan laintermasuk kemasan lampu merek lain. Beberapa siswa mencoba menyampaikan pendapatnya ketika diberikesempatan. Dari ungkapan siswa yang berpendapat sesungguhnya sudahbenar, akan tetapi kepada siswa diperlihatkan kembali balok berupa kemasanlampu. Kepada siswa ditunjukkan mana saja yang dimaksud pasangan itu,yaitu sisi yang berhadapan. Walaupun ketika diminta menyebutkan contoh kubus semua menyebutDadu, tetapi tidak ada seorang pun siswa yang membawa dadu. Karena semuakelompok harus punya contoh kubus, akhirnya ada juga contoh kubus, yaitudus kemasan balsam, dus kemasan minyak rambut, dus kemasan minyakwangi pria. Kelompok yang tidak memiliki kemasan berbentuk kubusmenggunting dus kemasan yang alasnya berbentuk persegi sehingga merekamemiliki juga kubus. Setiap kelompok diminta mengukur dus kemasan atau benda yangmereka bawa, sekurang-kurangnya satu kelompok lima contoh, salah satudiantaranya berbentuk kubus. Tiap contoh ditempeli ukuran panjang, lebar dantinggi. Luas setiap sisi dan jumlah luas selimut balok dan kubus. Setelah selesai mengukur, menghitung dan menandai kemudian secarabergiliran setiap kelompok menjelaskan di depan kelas mengenai caramenghitung keliling bangun datar dan cara menghitung luas selimutnya.
  • 84. Setelah selesai presentasi hasil pekerjaan siswa dimasukkan ke dalam kantongyang telah diberi label nama kelompok kemudian diserahkan dikumpulkan dimeja guru untuk dinilai.5. Tes Kelompok Selanjutnya setiap kelompok diberi tugas mengukur dan menghitungdengan subyek yang berbeda, yaitu: a. Subyek : Lantai, Dinding, Plafond dan Penutupnya. b. Lokasi : Kelas, Mushola, Perpustakaan, Tempat wudlu, Ruang Serbaguna, Gudang, Ruang OSIS, dan UKS. c. Hasil yang harus dilaporkan adalah: 1) Gambar sketsa. 2) Panjang setiap sisi. 3) Keliling setiap subjek. 4) Luas setiap subjek. 5) Kebutuhan barang untuk menutup lantai; barang untuk menutup dinding dan Kebutuhan barang untuk menutup plafond.6. Brainstorming Siswa diberi kesempatan melakukan curah gagasan (brainstorming).Dari gagasan-gagasan yang diungkapkan, beberapa point yang tercatat yaitu: a. Pembelajaran waktunya terlalu sempit. b. Soal dan tugas yang harus diselesaikan itu sebenarnya rumit, tetapi dapat dikerjakan.
  • 85. c. Menghitung atau mengukur barang yang ada (maksudnya kongkrit) walaupun dengan satuan terkecil seperti milimiter, tidak terlalu memusingkan karena barangnya ada. d. Kalau tugas dan soal dilaksanakan secara mengalir diselingi obrolan dan kegiatan fisik, maka soal menjadi terasa ringan, walaupun jawaban tidak tepat tapi tidak menjadi beban pikiran dan dapat memperbaiki kesalahan dengan segera. e. Sekarang ada gambaran, mengapa kita harus mengetahui sesuatu karena kita akan melakukan sesuatu. Seperti, untuk apa kita tahu luas atau ukuran suatu ruang atau barang? Karena kita ingin tahu berapa kebutuhan barang untuk ruang atau benda tersebut. Kemarin-kemarin kita menghitung luas karena ingin tahu luasnya saja. Karena keterbatasan waktu, siswa yang menyampaikan gagasan hanya delapan orang, mewakili enam kelompok.7. Sesi penutup Kepada siswa dibagikan nilai tugas mengukur dan menghitung bendaberbentuk balok dan kubus. Beserta nilai diserahkan juga uraian materipelajaran untuk lebih diperdalam di rumah. Setelah mendaftar keperluan yangdibutuhkan untuk pembelajaran siklus berikut, siswa bersama-sama membacado’a akhir majlis, dilanjutkan hamdalah dan diututup dengan salam.8. Hasil Tes Tugas yang diberikan adalah mendeskripsikan bentuk, ukuran elemen dan hasil penghitungan keliling serta luas bidang dan bangun. Siswa mengukur sendiri dimensi benda kemudian melaporkan hasil
  • 86. perhitungannya. Dengan terpadunya tugas, diharapkan dapat mengetahuikesungguhan dalam melaksanakan tugas dan akurasi ukuran. Walaupun ada ukuran yang diasosiasikan kepada ukuran yang ada(dan ketika dipadukan dengan ukuran yang lain ternyata tidak cocok),umumnya setiap kelompok berupaya melaksanakan tugas dengan baik.Berikut ini disajikan hasil pengukuran dan penghitungan setiap kelompok Tabel 4. 7 Jumlah Siswa yang Benar dalam mengukur & menghitung No Subyek P L T Kel Luas 1 Alas 48 48 - 42 42 2 Dinding 1 45 46 38 40 3 Dinding 2 45 47 36 38 4 Selimut 34 Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa dalam hal mengukurhampir seluruh siswa benar. Kalaupun terjadi kesalahan, kemungkinanbesar karena cara mengukur yang tidak teliti. Frekwensi terendah dalammengukur adalah 45 orang (93,75%) masih cukup tinggi. Berbeda dengan mengukur, jumlah siswa yang benar dalammenghitung berkisar pada angka 34 s.d 42 orang, khususnya dalammenghitung luas selimut. Kesalahan terutama dalam mengalikan pecahanyang jumlahnya lebih dari dua decimal. Namun demikian, jumlah 34 siswamasih dinilai baik karena lebih dari 70 % Hasil kerja perorangan ini paralel dengan hasil kerja kelompok.Dalam hal mengukur, frekuensi terendah adalah 7 kelompok (87,50%)
  • 87. tetapi dalam hal menghitung, terutama menghitung luas selimut yangbenar hanya 6 kelompok (75%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabledi bawah Tabel 4. 8 Hasil pengukuran dan penghitungan kelompokNo Subyek P L T Kel Luas1 Alas 8 8 - 8 82 Dinding 1 8 8 8 83 Dinding 2 7 8 7 74 Tutup 7 8 7 75 Selimut 6 Dalam hal implementasi ditemukan berbagai cara. Ketikamenghitung benda yang dibutuhkan untuk menutupi permukaan hanyasatu kelompok yang menghitung dengan prosedur luas permukaan dibagiluas benda bahan penutup yaitu yang menghitung kebutuhan keramikuntuk kelas. Prosedur yang ditempuh adalah1) Di ketahui : • Lantai, persegi panjang Panjang 870 cm Lebar 690 cm • Keramik, Persegi Panjang sisi 30 cm2) Masalah :Menghitung jumlah keramik yang dibutuhkan untuk lantai3) Penyelesaian : 870 X 690 = 600.300 = 667 buah
  • 88. 30 X 30 900Kelompok lain menghitung kebutuhan dengan cara antara lain: a) Menghitung jumlah kebutuhan benda per meter; kemudian menghitung luas permukaan yang harus ditutup, kemudian luas permukaan dikalikan jumlah kebutuhan benda permeter. Yang menerapkan cara ini antara lain kelompok yang menghitung kebutuhan lantai untuk musholla o Ukuran Keramik 20 X 20 cm 1 m2 permukaan butuh 5 X 5 keramik = 25 o Ukuran lantai Mushola 6 X 7 m = 42 m2 Kebutuhan keramik = 42 X 25 = 1.050 keping b) Menghitung ukuran lebar dan panjang permukaan; menghitung jumlah benda untuk mengisi lebar dan jumlah benda untuk mengisi panjang, kemudian mengalikannya, cara ini diterapkan oleh kelompok yang mengukur kebutuhan asbes untuk menutup plafond perpustakaan • Plafond perpustakaan, Panjang 12 m dan lebar 9 m • Asbes 6mm, Panjang 240 cm dan lebar 60 cm • Panjang Perpustakaan = 5 asbes dan lebar = 15 asbes • Kebutuhan asbes untuk perpustakaan adalah 5 X 15 = 75 c) Ada juga yang mengukur dimensi tetapi juga menghitung benda yang telah menempel pada permukaan, seperti yang dilakukan kelompok yang mengukur kebutuhan porselin penutup bak air data ukuran dan hasil penghitungan ditampilkan dalam tabel di bawah
  • 89. Tabel 4. 9 Penghitungan kebutuhan Porselin untuk bak air P L T Luas Porselin Alas 70 60 4200 30 Dinding 1 70 70 4900 36 Dinding 2 60 70 4200 30 Dinding 3 70 70 4900 36 Dinding 4 60 70 4200 30 Porselin 10 10 Jumlah 2240 162 0 Kesalahan jumlah porselin kemungkinan besar: Porselinnya tidak diukur tetapi ditaksir 10X10 cm, tetapi dimensi bak diukur. Kemudian siswa menghitung jumlah keramik yang menempel pada bak dan ukuran yang 12cm X 12 cm, bukan 10 X 10 cm.9. Dinamika Pembelajaran Dalam menggiati pembelajaran pada siklus kedua siswa lebih dinamisbentuk aktivitas selain yang telah diurai pada laporan siklus pertama ditambahdengan keperansertaan yang muncul pada siklus kedua a. Pelaksaanaan tugas mandiri Karena setiap siswa membawa alat dan barang yang diminta, maka seluruh siswa dapat melakukan aktivitas, termasuk dalam hal penyelesaian
  • 90. tugas masing-masing, yaitu mengukur elemen balok dan kubus sertamenghitungnya keliling dan luasnya.b. Keterlibatan dalam kelompok Keterlibatan dalam kelompok pada siklus kedua sangatberpengaruh terhadap penyelesaian masalah. Dalam penyelesaian kuisukuran tanah, karena dianggap siapapun dapat menyelesaikannya, makasetiap siswa mengambil bagian. Empat orang menghitung luas A, B, C danD. Seorang menjumlahkan setiap pekerjaan yang telah selesai dan seoranglagi menghitung secara keseluruhan. Oleh karenanya pelaksanaan kuisrelative sebentar (walau tidak ditemukan ukuran yang sebenarnya) Dalam pelaksanaan tugas kelompok tidak jauh berbeda. Volumekegiatan yang ditugaskan kepada setiap kelompok diselaraskan denganjumlah anggota kelompok, oleh karenanya apabila ada yang tidak aktifakan menyebabkan pekerjaan ternbengkalai dan berakibat tidak selesai. 1) Pembagian tugas dalam kerja kelompok • 1 orang mengukur dan menghitung keramik. • 2 orang mengukur panjang dinding. • 1 orang mengukur lebar dinding. • dan 2 orang mengukur tinggi dinding. • Selanjutnya seorang membacakan data ukuran, dua orang menghitung dinding seorang menghitung lantai dan plafond, seorang mengumpulkan data seorang lagi mencoba menghitung ulang sebagai perbandingan.
  • 91. • Kemudian mendiskusikan jumlah kebutuhan barang untuk menutup lantai, Plafond dan dinding. 2) Aktivitas diskusi kelompok o Ketua kelompok langsung menugaskan seorang siswa memimpin diskusi dan ia mengambil posisi sebagai pencatat. o Karena data tersedia maka tidak terjadi perdebatan yang panjang . o Selain itu karena ada pembagian tugas kerja maka masing- masing siswa sibuk dengan tugasnya. o Perbedaan perhitungan adalah ketika mengubah satuan meter2 ke cm2 dan sebaliknya. o Walaupun masing-masing punya pekerjaan tetapi diantara mereka saling bertanya dan memberi informasi mengenai penyelesaian tugasnya. o Karena kurangnya masalah yang harus diperdebatkan akhirnya mereka mengisi obrolan dengan hal yang menurut masing- masing kelompok menarik, antara lain masalah film, jenis game, sepak bola, lagu dan gossip, termasuk membicarakan siswa yang ada di kelompok lain.c. Keberanian berbicara Karena data dan pengalaman terstruktur siswa cukup banyak, makasiswa memiliki bahan lebih banyak untuk dibicarakan. Selain kekayaanbahan bicara, sejak awal pembelajaran siswa didorong banyak bekerja danberbicara. Oleh karena itu ketika diminta presentasi, setiap kelompok
  • 92. mendaftar sebagai presenter pertama. Lebih dari itu yang menjadi jurubicara kelompok pun sudah bisa siapa saja.d. Kreativitas Kreativitas siswa juga tereksplorasi ketika harus mengerjakan tugas. Contoh kreativitas siswa tersebut antara lain: • Untuk mengukur tinggi dinding dari lantai hingga plafond, siswa menggunakan tiga buah tongkat pramuka yang disambung. Ujung atas menyentuh langit-langit ujung bawahnya digaris pada dinding. Dari garis ke lantai diukur dengan meteran/mistar, kemudian panjang tongkat diukur. • Untuk memenuhi media belajar berbentuk kubus, karena tidak membawa kemudian mendadak membuat kubus dengan cara memodifikasi kemasan yang ada. • Dilakukannya cara menghitung tidak seperti prosedur yang diperoleh dalam proses pembelajaran.e. Efisiensi Dalam proses pengukuran, ada dua kelompok yang mengukurpanjang dan lebar lantai secara khusus. Salah satu kelompok menganggapukuran plafond sama dengan lantai. Tetapi satu kelompok lagi bersusahpayah mengukur panjang dan lebar langit-langit. Empat kelompok lainnyacukup mengukur dinding, kemudian menghitung lantai dari data ukuranalas kedua dinding.f. Kebersamaan Pembelajaran kontekstual memerlukan media pembelajaran yang beragam. Pada awal kegiatan masing-masing kelompok menjaga
  • 93. kekayaan masing-masing, tetapi setelah semua terlibat dalam proses pembelajaran barang-barang tersebut seakan-akan menjadi milik bersama. g. Kemauan melaksanakan tugas Walaupun setiap siswa dan kelompok sangat senang mendapat nilai tinggi, akan tetapi mereka lebih bangga dengan apa yang dilakukannya. Bahkan ketika ada kesalahan dalam pelaksanaan tugas mereka memiliki alasan-alasan sebagai pembenaran atas kesalahannya. Ketika diberikan tugas individual, walaupun dikerjakan dalam kelompok tetapi mereka melakukan pekerjaannya sendiri-sendiri. Bila pikiran benar-benar mandeg mereka bertanya kepada temannya, baik satu kelompok atau kelompok lain.10. Refleksi dan revisi a. Refleksi Hasil observasi dan analisis selama dan setelah tindakan kelas siklus kedua, diperoleh kesimpulan antara lain: • Siswa mulai terbiasa dengan model belajar berkelompok dan partisipatif. • Siswa mau bereksplorasi menemukan data sebagai bahan untuk menyelesaikan persoalan matematika. • Siswa lebih terbuka dengan keadaannya, bila tidak faham mengenai sesuatu langsung bertanya. • Siswa semakin berani tampil secara otentik.
  • 94. • Siswa masih harus mengasah ketelitian dan kecermatan dalam operasional perkalian dan pembagian bilangan pecahan. b. Revisi dan Rencana aksi • Melanjutkan proses pembelajaran yang dinamis dan partisipatif dengan menyajikan materi yang lebih akrab dengan kehidupan. • Meningkatkan porsi latihan yang memiliki unsur Operasi perkalian, pembagian, pemangkatan dan akar sehingga penyelesaian masalah bangun ruang • Program siklus berikutnya diskenario lebih memberi ruang dan peluang bagi siswa dalam mengembangkan gagasannya • Membekali siswa dengan informasi mengenai materi yang akan diajarkan pada siklus berikutnyaD. Penjelasan Siklus Ketiga 1. Pembukaan Pembelajaran dimulai dengan membaca basmalah bersama-sama. Siswa duduk dalam kelompoknya masing-masing lalu mengeluarkan media pembelajaran, yaitu: kertas HVS ukuran A4 dan Sedotan limun satu orang tiga batang. Setelah memeriksa bahan media pembelajaran dilakukan resitasi hingga pembukaan selesai selama 5 menit. 2. Kuis matematik Kepada tiap kelompok dibagikan lembar masalah matematika untuk diselesaikan paling lama tiga menit.
  • 95. Di bawah ini ada dua buah segitiga siku-siku dan empat buah empatpersegi panjang yang ditumpuk. Hitunglah, berapa luas seluruhnya! 40 20 20 20 40 20 100 Dalam waktu kurang dari satu menit, semua kelompok selesaimenghitung dengan prosedur: ½ X 160 X100 = 8.000 Selanjutnya siswa diminta menggunting bidang-bidang tersebutkemudian ditumpuk dengan susunan yang berbeda. Setelah dipotong siswamerakit kembali segitiga dan hasilnya seperti di bawah ini 60 20 20 40 20 20 20 60 Dengan kenyataan seperti di atas akhirnya siswa menghitung satupersatu, yaitu:
  • 96. Segitiga Besar ½ X 60 X 100 = 3.000 Segitiga Kecil ½ X 40 X 60 = 1.200 Persegi panjang1 20 X 60 = 1.200 Persegi Panjang2 20 X 60 = 1.200 Persegi Panjang3 20 X 40 = 800 Persegi 20 X 20 = 400 Jumlah seluruhnya 7.800. Selanjutnya semua siswa diminta membuat segitiga dengan tiga batangsedotan limun. Kemudian salah seorang anggota kelompok diminta mengukurpanjang sedotan, seorang menghitung keliling dan seorang menghitung luassegitiga tersebut. Dua orang anggota kelompok lainnya mendapat tugas lebih sulit, yaitubekerjasama menggabungkan sedotan limun menjadi enam kemudianmembuat empat buah segitiga yang ukurannya sama dengan segitiga yang tadidibuat. Mula-mula dalam tiap kelompok hanya dua orang yang berusahamemproduksi empat buah segitiga. Setelah anggota yang ditugasi menghitungsegitiga kertas dan segitiga sedotan limun selesai, jadi enam orang yang ikutberfikir mengenai proses melahirkan empat buah segitiga dengan enam batangsedotan limun.
  • 97. Walaupun cukup lama waktunya, yaitu hampir sepuluh menit,akhirnya ada kelompok yang bertiak. Slanker please, slanker peace, beres! Semua siswa melihat ke arah kelompok tersebut, dua orangmemegangi sedotan limun dan anggota lainnya menari-nari. Tugas terakhir adalah menghitung luas keempat segitiga tersebut.3. Resitasi Memasuki menit ke dua puluh satu siswa diminta membuka lembaranmateri yang telah diberikan pada siklus kedua. Sementara guru/penelitimemasang gambar prisma dan limas di sebelah kiri dan kanan papan tulis.Salah satu kelompok diminta menjelaskan teori mengenai limas dan satu lagidiminta bersiap-siap menerangkan prisma. Kelompok pertama menjelaskan limas sambil membuat sketsa dipapan tulis. Uraiannya meliputi pengertian limas sebagai bangun ruang yangterdiri dari alas berbentuk segitiga, segi empat dan segi lainnya dengan sisitegak berbentuk segitiga sebanyak jumlah sisi alas. Jika alasnya segi tigaseperti sedotan limun tadi maka sisi tegaknya ada tiga yang sama dansebangun. Jika alasnya segi empat maka sisi tegaknya empat buah segitiga.Jika alasnya segi lima sisi tegaknya lima segitiga dan seterusnya.
  • 98. Setelah kedua kelompok menjelaskan limas dan prisma, kepada siswadari kelompok lain diminta tanggapannya. Proses tanya jawab antara sesama siswa dan antara siswa dengan guruberlangsung sepuluh menit. Ketika tidak ada lagi siswa yang bertanya makapenyajian teori dinilai cukup. Siswa diminta menyebutkan benda-benda yang berbentuk limas danprisma. Jawabannya hanya dua, untuk limas contohnya Pyramid dan contohprisma atap rumah.4. Inquiri Penjelasan diseling tanya jawab mengenai limas dan prismaberlangsung selama 10 menit. Selanjutnya siswa dipersilahkan ke luar kelassambil membawa alat tulis dan alat ukur untuk mencari benda atau apa sajayang berbentuk limas atau prisma. Apabila mungkin membawa barangtersebut. Sepuluh menit berlalu, siswa kembali ke ruang kelas membawa barangbaik kecil maupun besar, dan catatan hasil pengamatan. Barang-barang yangdibawa ke kelas antara lain a. Berbentuk Limas beralas persegi panjang • Kayu aksesoris tiang pegangan tangga (handrail). • Plastik penutup lampu sign. • Melamic tutup kemasan bedak. • Kue bugis. • Katimus dan Kue wajit. b. Berbentuk Limas beralas segitiga
  • 99. • Alat Pijit. • Dudukan bendera kecil.. • Gantungan kunci & Liontin plastic. • Bacang & Permen coklat. c. Berbentuk Prisma segitiga • Papan tanjakan (untuk menaikan motor). • Wuwung. • Plastik tutup tempat sampah. • Potongan kayu list plafond. • Coklat Tobleron & Kue ladu. d. Berbentuk Prisma trapezium • Dudukan tiang bendera. • Kotak surat. • Dudukan vandal. • Box lampu sorot. • Box Lampu neon. • Box Speaker. • Dus kemasan kue donat Barang-barang tersebut diambil dari gudang sekolah dan ada yangdibeli di pasar (Sekolah berdampingan dengan pasar). Selain barak yangdibawa ke kelas ada bangun ruang yang dilihat kemudian dilaporkan secaratertulis yaitu: Limas, tugu, penutup pilar pagar sekolah, hiasan pintu panil, kubah mesjid, penutup ujung bubung atap kantor pos, dll
  • 100. Prisma, atap sekolah, tenda pedagang baso, tangga sekolah, dudukan tiang ring basket, tutup mesin tik.5. Brainstorming Barang-barang tersebut di pajang di meja yang disediakan di dekatpapan tulis. Siswa selanjutnya diminta duduk seperti biasa, tidakberkelompok. Setelah duduk rapih siswa dberi kesempatan untukmenyampaikan kesan berkaitan dengan apa yang telah dilakukan dan apa yangtelah ditemukan. Curah gagasan kali ini lebih banyak partisipannya, ada yangmenarik pada sesi ini, yaitu siswa yang biasa banyak bicara tidak memberikankesan, tetapi menyimak dengan seksama. Mungkin siswa ini memberkesempatan kepada temannya agar semua punya kesempatan. Ada dua puluhdelapan siswa yang menyampaikan gagasannnya. Beberapa gagasan siswa yang dianggap penting untuk dicatat adalah: a. Contoh limas dan prisma sebenarnya sangat banyak digunakan dalam benda-benda kebutuhan sehari-hari, tetapi dalam belajar matematika contohnya selalu itu-itu saja sehingga tidak menarik. Seharusnya tiap materi pelajaran memberikan contoh yang nyata dan dapat dilihat. b. Belajar kelompok lebih cepat mengerti karena pada saat guru menerangkan ada enam siswa yang memperhatikan. Bila seorang tidak faham sebagian maka siswa lain dapat menjelaskannya. Tidak mungkin enam orang seragam yang tidak mengertinya.6. Test 1) Hitung luas selimut limas ini! 16 cm 24 cm
  • 101. 2) Hitung luas selimut prisma ini! 15 cm 8 cm 18 cm7. Hasil tes Tabel: 4. 10 Nilai tes per butir soal Soal No. 1 Soal No. 2 Nilai F % F % 50 23 47,92% 19 39,58% 45 14 29,17% 40 18 37,50% 15 15 31,25% 10 7 14,58% Tabel: 4. 11 Perbandingan Nilai soal nomor 1, soal nomor 2 dan jumlah nilai Soal No. 1 Soal No. 2 Jumlah NilaiUraian Nilai % Nilai % Nilai %
  • 102. Nilai tertinggi 50 100% 50 100% 100 100%Nilai Terendah 10 20% 15 30% 25 25%Nilai Rata-rata 40,42 80,83% 37,60 75,21% 78,02 78,02% Jumlah siswa yang berhasil meraih nilai 35 untuk soal nomor 1 ada 41 orang (85,42%), sedangkan soal nomor 2 ada 33 siswa (68,75%). Adapun siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas untuk soal nomor 1 dan 2 ada 33 orang (68,75%). Angka tersebut masih belum sesuai harapan, yaitu minimum 85%. Namun demikian, nilai rata-rata setiap butir soal dan nilai kumulatif di atas 65 dan tidak ada siswa yang mendapat nilai nol. Dalam menghitung luas persegi dan persegi panjang semua siswa dapat menyelesaikannya dengan baik, tetapi dalam menghitung luas segitiga masih ada yang salah. Kesalahan siswa pada soal nomor 1 adalah menganggap tinggi limas (16 cm) adalah tinggi segitiga selimut limas. Sedangkan kesalahan pada nomor 2 adalah menentukan ukuran tinggi segitiga 2 2 = 18 akibatnya luas segitiga pun menjadi salah. - 15 Kesalahan siswa lainnya adalah tergesa-gesa dalam menghitung selimut. Dalam menjawab soal nomor 1, menghitung luas selimut hanya menjumlahkan luas alas dengan sebuah sisi segitiga. Pada soal 2 hanya menjumlahkan luas alas dengan sebuah segitiga dan sebuah persegi panjang. 8. Jawaban tes Dua orang siswa yang benar semuanya diminta mengerjakan di papan tulis, masing-masing satu soal. 16 cm a. Penyelesaian soal nomor 1 24 cm
  • 103. Diketahui: Sisi alas limas = 24 cm Tinggi limas = 16 cm Alas segitiga = ½ X 24 = 12 cm Hypotenusa = 2+ 2= 12 16 = 144 + 256 = = 400 = 20 Luas segitiga = ½ X 24 X 20 = 240 cm2 Luas dinding = 4 X 240 cm2 = 960 cm2 Luas alas = 242 = 576 cm2 Luas Selimut = 576 + 960 = 1.536 cm2b. Penyelesaian soal nomor 2 15 cm Diketahui: Panjang alas prisma = 18 cm Lebar alas prisma = 8 cm 8 cm Hypotenusa = 15 cm 18 cm Alas siku-siku = ½ X 18 = 9 cm Tinggi segitiga (t) 152 = t2 – 92 t2 = 152 – 92 = 225 – 91 t= 144 = 12 Keliling Segitiga = 18 + (2 X 15) = 48
  • 104. Luas Segitiga = ½ X 18 X 12 = 108 Luas dinding miring = 15 X 8 = 120 Luas alas = 18 X 8 = 144 Luas selimut Prisma = 114 + (2 X120) + (2 X 54) = 600 Sebenarnya ada juga siswa yang menghitung selimut denganmengalikan keliling segitiga dengan lebar persegi panjang ditambah dua kaliluas dinding segitiga, yaitu LS = (2 X 108) + (8 X 48) = 6009. Dinamika Pembelajaran a. Pelaksaanaan tugas mandiri Pengalaman dua siklus sebelumnya telah semakin mendorong siswa lebih siap dalam melaksanakan tugas perorangan. Persaingan bukan saja antara satu kelompok dengan kelompok lainnya tetapi juga diantara sesama anggota kelompok. Pada siklus ketiga tidak ada satu orang siswa pun yang mau berpangku tangan. Ketika ditugaskan mencari benda berbentuk limas dan prisma, siswa yang malas mencari, pergi ke pasar membeli makanan dan benda souvenir/cenderamata yang memiliki bangun ruang limas dan prisma. Dengan kesungguhan pencarian siswa, maka penemuan benda/barang yang berbentuk limas dan prisma menjadi banyak dan beragam fungsinya. b. Keterlibatan dalam kelompok Keterlibatan dalam kelompok pada siklus ketiga tidak sekuat pada siklus kedua karena pada siklus ketiga ini orientasi pembelajaran kembali
  • 105. kea rah penguatan kompetensi individual. Akan tetapi pada saat kerja kelompok semua terlibat c. Keberanian berbicara Pengalaman dua siklus terdahulu bukan saja meningkat keberanian untuk berpendapat, tetapi mendorong siswa menyiapkan apa yang akan disampaikan. Pernyataan dan pertanyaan siswa Nampak lebih terarah seperti yang telah disiapkanb sebelumnya. Akan tetapi deviasi dan distorsi tetap ada, antara lain celetukan-celetukan spontan yang secara tidak langsung menghangatkan suasana d. Kreativitas Mungkin karena tahu akan ada perhitungan yang menggunakan teorema pitagoras, ada siswa yang berinisiatif membawa tabel kuadrat yang telah dipilah menurut angka belakangnya. Entah siapa yang membawa, yang jelas pada setiap meja ada tabel kuadrat yang dicatat memanjang. Tabel 4.12 Daftar hasil kuadrat menurut angka terakhir0&5 O 1&9 1 2&8 4 4&6 6 3&7 910 100 1 1 2 4 4 16 3 920 400 9 81 8 64 6 36 7 4930 900 11 121 12 144 14 196 13 16940 1.600 19 361 18 324 16 256 17 28950 2.500 21 441 22 484 24 576 23 52960 3.600 29 841 28 784 26 676 27 72970 4.900 31 961 32 1.024 34 1.156 33 1.08980 6.400 39 1.521 38 1.444 36 1.296 37 1.36990 8.100 41 1.681 42 1.764 44 1.936 43 1.849
  • 106. 100 10.000 49 2.401 48 2.304 46 2.116 47 2.209 110 12.100 51 2.601 52 2.704 54 2.916 53 2.809 120 14.400 59 3.481 58 3.364 56 3.136 57 3.249 130 16.900 61 3.721 62 3.844 64 4.096 63 3.969 140 19.600 69 4.761 68 4.624 66 4.356 67 4.489 150 22.500 71 5.041 72 5.184 74 5.476 73 5.329 160 25.600 81 6.561 78 6.084 76 5.776 77 5.929 170 28.900 79 6.241 82 6.724 84 7.056 83 6.889 180 32.400 89 7.921 88 7.744 86 7.396 87 7.569 190 36.100 91 8.281 92 8.464 94 8.836 93 8.649 99 9.801 98 9.604 96 9.216 97 9.409 5 25 101 10.201 102 10.404 104 10.816 103 10.609 15 225 109 11.881 108 11.664 106 11.236 107 11.449 25 625 111 12.321 112 12.544 114 12.996 113 12.769 35 1.225 119 14.161 118 13.924 116 13.456 117 13.689 45 2.025 121 14.641 122 14.884 124 15.376 123 15.129 55 3.025 129 16.641 128 16.384 126 15.876 127 16.129 65 4.225 131 17.161 132 17.424 134 17.956 133 17.689 75 5.625 139 19.321 138 19.044 136 18.496 137 18.769 85 7.225 141 19.881 142 20.164 144 20.736 143 20.449 95 9.025 149 22.201 148 21.904 146 21.316 147 21.609 105 11.025 151 22.801 152 23.104 154 23.716 153 23.409 115 13.225 159 25.281 158 24.964 156 24.336 157 24.649 125 15.625 161 25.921 162 26.244 164 26.896 163 26.569 135 18.225 169 28.561 172 29.584 166 27.556 167 27.889 145 21.025 171 29.241 178 31.684 168 28.224 173 29.929 155 24.025 179 32.041 182 33.124 174 30.276 177 31.329 165 27.225 181 32.761 188 35.344 176 30.976 183 33.489 175 30.625 189 35.721 192 36.864 184 33.856 187 34.969 185 34.225 191 36.481 198 39.204 186 34.596 193 37.249 195 38.025 199 39.601 194 37.636 197 38.809 196 38.416E. Post Test 1. Soal tes Jadwal pembelajaran matematika dalam satu minggu adalah 4 jam pelajaran, dibagi dua hari, satu hari 2 jam. Alokasi waktu untuk materi Balok, Kubus, Limas dan Prisma adalah 8 jam pelajaran. Setiap siklus menghabiskan waktu 2 jam jadi siklus 1 sampai dengan 3 menghabiskan waktu 6 jam pelajaran. Oleh karena itu post test dilaksanakan pada waktu tersendiri. Jumlah soal yang diberikan dalam post test sebanyak empat butir soal. Soal tersebut berkaitan dengan materi yang telah dipelajari, yaitu:
  • 107. • Nomor 1 mengenai Kubus dan Balok • Nomor 2 mengenai Balok dan Limas • Nomor 3 mengenai Prisma dan • Nomor 4 mengenai Balok, Limas dan Prisma.2. Hasil Postes Hasil post test menunjukkan hasil yang menggembirakan, karenasebagian besar siswa menunjukkan peningkatan secara signifikan. Walaupunyang meraih nilai 100 hanya seorang, tetapi yang mendapat nilai 80 -99 cukupbanyak yaitu 31 siswa (64,58%). Rinciannya: 90-99 ada 17 dan 80-89sebanyak 14 siswa. Sedangkan yang mendapat nilai 70-79 sebanyak 5 orang(10,42%) dan yang memperoleh nilai 60-69 ada 3 orang (6,25%). Adapunsiswa yang nilainya di bawah 60 hanya 8 orang (16,67%) dengan nilaiterendah 35 (1 orang). Siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas memangbelum mencapai 85 %, baru 37 orang atau 77,08%. Anggka tersebut masih kurang 8 persen dari standar ketuntasannasional. Namun demikian, walaupun belum dapat dinyatakan tuntas, tetapitelah terjadi peningkatan kemampuan yang signifikan. Peningkatan tersebutbaik dalam hal rata-rata, nilai tertinggi dan nilai terendah. Untuk lebih jelasdapat dilihat pada tabel-tabel pada halaman berikut. Tabel 4.13 Perolehan nilai kumulatif Post test Nilai F % 100 1 2,08% 99 4 8,33%
  • 108. 98 5 10,42% 94 2 4,17% 93 6 12,50% 88 6 12,50% 83 1 2,08% 82 7 14,58% 77 1 2,08% 75 1 2,08% 73 1 2,08% 71 1 2,08% 61 2 4,17% 60 1 2,08% 58 2 4,17% 57 1 2,08% 50 1 2,08% 49 1 2,08% 44 1 2,08% 37 1 2,08% 35 1 2,08% Jumlah 48 100,00% Tabel 4.14 Perolehan nilai Post test per butir soalNO L/ P No 1 No 2 No 3 No 4 Jumlah Pra Naik 1 L 25 25 25 25 100 80 202 L 25 25 25 24 99 80 193 P 25 25 25 24 99 80 19
  • 109. 4 L 25 25 25 24 99 80 195 L 25 25 25 24 99 80 196 L 25 25 25 23 98 60 387 L 25 25 25 23 98 65 338 P 25 25 25 23 98 65 339 P 25 25 25 23 98 65 3310 P 25 25 25 23 98 65 3311 P 20 25 25 24 94 35 5912 P 20 25 25 24 94 45 4913 L 25 25 20 23 93 50 4314 L 20 25 25 23 93 65 2815 P 20 25 25 23 93 65 2816 P 20 25 25 23 93 65 2817 P 20 25 25 23 93 50 4318 P 20 25 25 23 93 45 4819 L 20 20 25 23 88 45 4320 L 20 25 20 23 88 45 4321 P 20 20 25 23 88 65 2322 P 20 20 25 23 88 65 2323 P 20 20 25 23 88 50 3824 P 20 20 25 23 88 65 2325 P 20 25 25 13 83 15 6826 L 20 20 20 22 82 45 3727 L 20 20 20 22 82 50 32NO L/ P No 1 No 2 No 3 No 4 Jumlah Pra Naik28 L 15 20 25 22 82 65 1729 P 20 20 20 22 82 35 4230 P 20 20 20 22 82 50 4931 P 15 20 25 22 82 65 4732 P 20 20 20 22 82 40 5533 L 20 20 25 14 79 30 4934 P 20 25 10 22 77 30 47
  • 110. 35 L 15 20 25 15 75 20 5536 P 20 20 25 8 73 30 4337 L 20 20 10 21 71 35 3638 L 20 20 - 21 61 35 2639 L 15 20 20 6 61 20 4140 L 20 25 - 15 60 30 3041 P 15 20 10 13 58 20 3842 P 20 15 10 13 58 30 2843 P 20 20 10 7 57 15 4244 P 15 20 - 15 50 40 1045 P 15 20 - 14 49 20 2946 P 20 20 - 4 44 20 2447 L 15 15 - 7 37 15 2248 P 15 15 - 5 35 10 25 Jumlah 970 1.055 910 927 3.862 2.240 1.622Rata-rata 20,21 21,98 18,96 19,31 80,46 46,67 33,793. Penguasaan Materi dan implementasi Soal post tes ada empat, setiap soal dibagi menjadi dua bagian yaituprosedur penyelesaian masalah matematika dan proses penerapannya dalamkeghidupa sehari-hari. Penggunaan rumus-rumus dalam penyelesaian soalnomor 1, 2 dan 3 diberi nilai 15 dan penerapannya diberi nilai 10 sehinggajumlahnya 25. Khusus soal nomor empat, pemakaian prosedur matematikamendapat nilai 20 dan penerapan dalam keseharian diberi nilai 5. Penggunaanteori juga diberi bagi lagi menjadi tiga bagian yaitu penemuan datapendukung, misalnya: panjang, lebar, alas, tinggi, dan garis miring diberi nilai5; menghitung keliling 5 dan menghitung luas 5 jadi jumlahnya 15. Pemahaman siswa mengenai materi pelajaran bangun ruang, kubus,balok, limas dan prisma secara umum telah terkuasai. Prosedur yang
  • 111. digunakan untuk keempat soal benar semuanya.bahwa hasilnya ada yangsalah, dikarenakan siswa salah menafsirkan data. Untuk soal nomor 1 mengenai kubus & balok dan nomor 2, tentangprisma, seluruh siswa dapat menghitung keliling dan luas permukaan/selimutdengan tepat. Kesalahan aplikasi terjadi karena kurang cermat dalammemahami perintah. a. Kesalahan penyelesaian soal nomor 1 • Menjumlahkan seluruh permukaan/selimut tahap 1 (balok) dan tahap 2 (kubus) kemudian dibagi luas keramik. • Permukaan/selimut balok tahap 1 dikurangi bagian yang berimpit dengan tanah tetapi tidak dikurangi permukaan yang berimpit dengan kubus. • Permukaan balok dikurangi bagian yang berimpit dengan tanah dan kubus tahap 2, tetapi selimut kubus tidak dikurangi oleh bagian yang berimpit dengan balok. b. Kesalahan penyelesaian soal nomor 2 hanya satu, kebutuhan papan tidak dikurangi luas permukaan yang berimpit dengan tanah. c. Kesalahan penyelesaian soal nomor 3. Sama dengan nomor 2, kesalahan dalam menyelesaikan nomor 3 seragam yaitu mempersepsi tinggi puncak limas (tenda) 6 m, tidak dikurangi oleh tinggi tiang sehingga hypotenusanya akar 36 + 16. Akibatnya salah menghitung luas selimut dan jumlah kain menjadi lebih banyak. d. Kesalahan penyelesaian soal nomor 4 • Luas permukaan benteng tidak dikurangi lebar pilar.
  • 112. • Luas selimut pilar tidak dikurangi bagian yang berimpit dengan benteng. Secara lebih rinci nilai penerapan konteks setiap butir soaldipresentasikan sebagai berikut. Tabel 4.15 Perolehan nilai penerapan per butir soal NO L/P No 1 no 2 No 3 No 4 Jumlah 1 L 10 10 10 5 35 2 L 10 10 10 4 34 3 P 10 10 10 4 34 4 L 10 10 10 4 34 5 L 10 10 10 4 34 6 L 10 10 10 3 33 7 L 10 10 10 3 33 NO L/P No 1 no 2 No 3 No 4 Jumlah 8 P 10 10 10 3 33 9 P 10 10 10 3 33 10 P 10 10 10 3 33 11 P 5 10 10 4 29 12 P 5 10 10 4 29 13 L 10 10 5 3 28 14 L 5 10 10 3 28 15 P 5 10 10 3 28 16 P 5 10 10 3 28 17 P 5 10 10 3 28 18 P 5 10 10 3 28 19 L 5 5 10 3 23 20 L 5 10 5 3 23 21 P 5 5 10 3 23 22 P 5 5 10 3 23
  • 113. 23 P 5 5 10 3 23 24 P 5 5 10 3 23 25 P 5 10 10 2 27 26 L 5 5 5 2 17 27 L 5 5 5 2 17 28 L - 5 10 2 17 NO L/P No 1 no 2 No 3 No 4 Jumlah 29 P 5 5 5 2 17 30 P 5 5 5 2 17 31 P - 5 10 2 17 32 P 5 5 5 2 17 33 L 5 5 10 3 23 34 P 5 10 - 2 17 35 L - 5 10 2 17 36 P 5 5 10 3 23 37 L 5 5 - 1 11 38 L 5 5 - 1 11 39 L - 5 5 1 11 40 L 5 10 - 2 17 41 P - 5 - 1 6 42 P 5 - - 1 6 43 P 5 5 - 2 12 44 P - 5 - 1 6 45 P - 5 - 1 6 46 P 5 5 - 1 11 47 L - - - 2 2 48 P - - - - -Jumlah 250 335 320 120 1.025Rata-2 5,21 6,98 6,67 3 21,35 Tabel 4.16 Rekapitulasi nilai penerapan per butir soal
  • 114. Nilai No 1 No 2 No 3 No 4 10 11 22 28 5 28 23 8 1 4 6 3 19 2 13 1 8 O 9 3 12 1F. Pembahasan dan Pengambilan keputusan 1 Ketuntasan Belajar Didasarkan atas hasil tes prasyarat, kuis, tugas kelompok, pos tes dan penyelesaian soal-soal selama proses pembelajaran, terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Demikian juga halnya dengan ketuntasan belajar. Merujuk kepada tabel 4. 14 di atas, maka diperoleh data bahwa kenaikan nilai seluruh siswa sebesar 1.622, yaitu dari 2.240 nilai tes prasyarat menjadi 3.862 nilai pos tes. Bila dirata-ratakan, kenaikan per siswa adalah 33,79, yaitu dari 46,67 menjadi 80,46. Hal ini berpengaruh langsung terhadap nilai terendah dan tertinggi. Nilai terendah naik dari 10 menjadi 35 dan tertinggi dari 80 menjadi 100. Adapun nilai rata-rata naik dari 46,67 manjadi 80,46. Karena nilai tertingi 100 maka yang berpeluang mengalami kenaikan berlipat-lipat adalah siswa yang memperoleh nilai rendah pada tes prasyarat, yaitu yang nilainya 10 sampai dengan 50. Adapun yang nilainya lebih dari 50 hanya akan naik kurang dari 50. Kenaikan tertinggi, yaitu 68, diraih oleh siswa yang pada tes prasyarat hanya mendapat nilai
  • 115. 15 dan pada tes akhir mencapai angka 83. Adapun yang mengalamikenaikan terendah, 10, dari nilai 40 menjadi 50 Selanjutnya Kenaikan nilai dan frekuensinya dipresentasikan dibawah ini. Tabel 4. 17 Tingkat kenaikan nilai Prasyarat-Post TestKenaikan Jumlah Siswa Jumlah Nilai Nilai Nilai F % Kenaikan Awal Akhir 68 1 2,08% 68 15 83 59 1 2,08% 59 35 94 55 1 2,08% 55 20 75 49 2 4,17% 98 30 79 48 1 2,08% 48 45 93 47 2 4,17% 94 30 77 43 5 10,42% 215 30 73 42 2 4,17% 84 15 57 41 1 2,08% 41 20 61 38 3 6,25% 114 20 58 37 1 2,08% 37 45 82 36 1 2,08% 36 35 71 33 4 8,33% 132 65 98 32 2 4,17% 64 50 82 30 1 2,08% 30 30 60 29 1 2,08% 29 20 49 28 4 8,33% 112 30 58 26 1 2,08% 26 35 61 25 1 2,08% 25 10 35 24 1 2,08% 24 20 44 23 3 6,25% 69 65 88 22 1 2,08% 22 15 37 20 1 2,08% 20 80 100
  • 116. 19 4 8,33% 76 80 99 17 2 4,17% 34 65 82 10 1 2,08% 10 40 50 Rata-rata 33,79 46,67 80,46 Jumlah 48 100% 1.622 2.240 3.8622 Aktivitas siswa dan guru Dalam setiap siklus, siswa menunjukkan partisipasinya secarasungguh-sungguh. Dengan keterlibatan siswa tersebut materi pelajaran tidakdisampaikan dalam bentuk sebuah produk tetapi disajikan sebagai proses.Pembelajaran kontekstual telah menghadirkan hal-hal yang baru bahkan diluar dugaan, seperti contoh benda-benda yang memiliki bangun ruang balok,kubus, limas dan prisma demikian beragam. Kreativitas siswa dalammenyelesaikan masalah telah mendorong guru dan siswa secara bersama-sama mengeksplorasinya. Contoh yang ditemukan dan disajikan siswa lebihreal. sehingga guru mengurungkan pemanfaatan media buatan yang telahdisiapkan. Sebagaimana diuarai di atas, bahwa ilmu sebaiknya disajikan sebagaiproses bukan diberikan sebagai produk. Oleh sebab itu penyikapan terhadapsiswa juga seyogianya berubah. Siswa adalah individu yang sejak lahir diberikekayaan dalaman yang harus dikembangkan. Dulu ada anggapan bahwa bahwa siswa adalah kertas kosong yangharus diisi oleh guru. Pandangan “Deficit hypothetics” tersebut sekarangbergeser kepada anggapan bahwa setiap siswa punya kompeten dan talentayang berbeda “Variability concept”3 Sikap dan pandangan siswa terhadap pembelajaran
  • 117. Ketika materi pelajaran masih pada tataran rumus-rumus bakumatematika, siswa nampak serius tetapi kurang bergairah. Dalammengerjakan tes dengan sketsa bangun ruang masih banyak siswa yangmengalami kesulitan. Setelah kepada siswa ditunjukkan benda-bendaberbentuk kubus, balok prisma dan limas siswa mulai meningkat aktivitas dangairah belajarnya. Gairah tersebut semakin tinggi manakala siswa dimintamengukur dan menghitung benda-benda secara nyata. Secara umum siswa memandang proses pembelajaran sebagai berikut: a. Suasana pembelajaran: Ceria, menyenangkan, tidak membosankan dan dinamis. b. Sikap dan perilaku siswa: Apa adanya, mau berperan serta dan melakukan tugas baik masing-masing maupun berkelompok. c. Materi pelajaran: Sesuai dengan kenyataan sehari-hari. Rumit tetapi bisa diikuti. d. Tingkat kesulitan tes: Tes sangat rumit, tetapi karena memahami caranya maka tes tersebut dapat diselesaikan. e. Penampilan guru, demokratis tetapi terkesan tidak tegas. Berikut ini disajikan tabel mengenai sikap dan pandangan siswamengenai proses pembelajaran Tabel 4. 18 Sikap siswa terhadap pembelajaran Pernyataan Sl S Sk Sp TS Siswa terlibat dalam 22 24 1 1 0 pembelajaran Siswa menyimak penjelasan 14 28 4 2 0
  • 118. dari guruSiswa menyimak pendapat dari 11 26 7 2 2teman sesama siswaSiswa menanggapi penjelasan 10 20 4 6 8guruSiswa menyimak penjelasan 18 23 3 2 2atau pendapat teman sesamakelompokSiswa menyimak penjelasan 12 17 11 5 3atau pendapat teman darikelompok lainSiswa memberikan tanggapan 9 12 11 11 5atas pernyataan sesama siswaSiswa memberikan jawaban 10 16 12 6 4atas pertanyaan sesama siswaSiswa menyampaikan laporan 3 17 17 8 3kesimpulan diskusi kelompokdi hadapan seluruh siswaSiswa berbagi tugas dalam 32 15 1kerja kelompokSiswa terlibat dalam kerja 28 15 5kelompokSiswa berkompetisi dengan 31 14 3kelompok lainSiswa berkompetisi dengan 16 14 12 4 2sesama anggota kelompokGuru memimpin pembelajaran 6 4 11 13 14dengan otoriterGuru membangun suasana 5 4 18 11 10pembelajaran dengan tegasSiswa minta bantuan teman 8 15 10 8 7untuk menjelaskan soal
  • 119. Siswa minta bantuan teman 2 9 15 14 8 mengenai rumus untuk menyelesaikan soal Siswa minta bantuan teman 2 12 12 22 untuk mengerjakan soal Sl= Selalu, Sr= Sering, Sk= Sekali-kali, Sp= Sempat, TS tidak sempat Tabel 4. 19 Pandangan siswa mengenai pembelajaran Pernyataan SS S TS STSProses belajar ceria 16 29 3 4Proses pembelajaran dinamis, tidak kaku 17 27 2 2Siswa merasa bebas untuk berekspresi 15 28 3 2selama mengikuti proses pembelajaranProses pembelajaran memberi kesempatan 18 25 2 3siswa untuk berperan serta secara aktifProses pembelajaran mendorong siswa 18 24 4 2melakukan kegiatanSiswa merasa tertekan dalam mengikuti 3 27 18pembelajaranMateri pelajaran membosankan 3 24 21Materi pelajaran sesuai dengan kehidupan 16 25 3 2sehari-hariMateri pelajaran bermanfaat bagi kehidupan 21 23 3 1sehari-hariTugas yang diberikan kepada siswa terasa 3 4 26 15beratTugas yang diberikan kepada siswa rumit 29 13 4 2Tugas yang diberikan kepada siswa dapat 28 15 2 3dilaksanakan
  • 120. Soal yang diberikan kepada siswa sulit 2 3 29 14Soal yang diberikan kepada siswa rumit 29 15 2 2Soal yang diberikan kepada siswa dapat 29 13 3 3diselesaikan SS sangat setuju, S setuju TS tidak setuju STS sangat tidak setuju 4 Tanggapan guru terhadap pembelajaran a. Stigma bahwa matematika pelajaran yang sulit Adanya anggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit telah menyebabkan guru matematika menghadapi kesulitan tambahan. Kesulitan pertama adalah membimbing siswa menggiati pembelajaran secara sungguh-sungguh. Kesulitan berikutnya membuktikan bahwa pelajaran matematika tidaklah sulit, atau menguatkan rasa percaya diri dan keberanian siswa untuk menghadapi kesulitan. Siapa yang dapat belajar matematika maka ia dapat belajar apapun dengan lebih siap. Membuktikan bahwa matematika tidak sulit, tidak dapat diceramahkan. Demikian juga menunjukkan bahwa mengapa matematika sulit, karena matematika adalah modal untuk menjalani kehidupan sehari- hari. Mari kita tanya setiap orang, siapa yang mengatakan bahwa hidup pada saat ini tidak sulit? Oleh karena itu, hadapi matematika, maka kita akan siap menghadapi kehidupan. Dengan mengajak siswa mengenal penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari secara bertahap, siswa menjadi tersadarkan bahwa matematika tidak sesulit yang dibayangkan. Lebih dari itu matematika
  • 121. sangat bermanfaat untuk menghadapi hidup, kehidupan dan penghidupanyang semakin sulit. Apa komentar siswa setelah bersama-sama menggiatipembelajaran matematiuka? Bahwa matematika itu rumit, memangsenyatanya. Tapi matematika sulit? Siapa takutb. Menghargai potensi meningkatkan kompetensi Pada bagian awal batang-tubuh Undang-undang nomor 20 tahun2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, yaitu BAB I Pasal 1 ayat 1)ditegaskah bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi yang paling penting dalam mencampai keberhasilanpendidikan adalah menciptakan suasana belajar dan mendorong pesertadidik giat mengembangkan potensi dirinya. Agar peserta didik maumengembangkan potensinya maka peserta didik harus disadarkan bahwadirinya punya potensi dan dapat meningkatkan kompetensi sehingga siapberkompetisi. Cara yang paling sederhana menyadarkan potensi pesertadidik adalah dengan menghargai potensi tersbut. Adapun cara menghargaiadalah mendorong peserta didik menunjukkan potensi dengan melakukanaktivitas penyelesaian masalah mulai dari tingkat yang paling sederhanahingga yang paling rumit. Pembelajaran yang akatif adalah pembelajaran yang mendorongsiswa berpartisipasi. Balasan atas partisipasi yang paling efektif danefisien adalah apresiasi (penghargaan). Pengalaman penelitian selama
  • 122. beberapa bulan telah menguatkan keyakinan, bahwa semua siswa punyapotensi yang siap berkembang. Tinggal bagaimana pendidik memahamipotensi tersebut agar dapat mendukung proses perkembangan secara tepat.c. Mendorong kemauan menyelesaikan masalah Hidup adalah rangkaian kesulitan dan kemudahan, barang siapamenghadapi kesulitan ada celah-celah kemudahan di dalamnya (innamaal‘usyri yusyro). Seamakin sering menghadapi masalah atau kesulitansemakin terlatih menemukan kemudahan atau jalan keluar. Sebaliknyabarang siapa selalu menghindar dari masalah atau kesulitan, maka semakinjauh dari ranah kemudahan. Siswa SMP Kelas VIII SMP Negeri I Cicalengka telahmembuktikan, bahwa sebenarnya kesulitan itu kerumitan yang belumterurai. Begitu kita mengurainya maka kesulitan itu jadi mengasyikan.Siswa tersebut menyadari bahwa rumus-rumus matematika bukan sekadarteori-teori yang abstrak, tetapi panduan untuk menjalani kehidupankeseharian. Mungkin rumitnya memahami luas selimut limas dan volumenyaakan berbuah kesuiloitan bila yang dipikirkan melulu yang abstrak-abstrak. Tetapi dengan menyentuhkan langsung teori ke dalam kancahkeseharian, matematika menjadi sesuatu yang diperlukan dan kita harusmemerlukan untuk itu.d. Lingkungan keseharian sebagai sumber belajar Mengajar hanya dapat dilakukan bila ada yang diajari, tetapibelajar dapat dilakukan dengan atau tanpa didampingi pengajar. Belajardapat dilakukan di mana saja dan dari berbagai sumber. Lingkungan dan
  • 123. keseharian adalah sumber belajar yang selalu terbarui (updatable) olehkarenanya tidak akan pernah habis dan kadaluwarsa. Menjadikanlingkungan dan keseharian sebagai sumber bel;ajar adalah upaya efektifdan efisien bagi peningkatan mutu pendidikan, peserta didik dan tentusaja pendidiknya. Belajar matematika dengan media yang bersumber darilingkungan keseharian terbukti lebih cepat difahami, bukan saja beragamtetapi sangat mudah untuk menyentuh dan mengukurnya.e. Strategi dan metodologi pembelajaran Apa bila diberi ruang dan peluang, peranserta siswa dalampembelajaran akan membangkitkan potensi dan mengembangkannyasecara sertamerta. Apapun namanya, strategi dan metodologipembelajaran yang akrab dengan konteks keseharian akan mendorongsiswa dan guru untuk meningkatkan kemampuannya.f. Kelas sebagai laboratorium pembelajaran Belajar dapat dilakukan di mana saja, tetapi dalam kontekspendidikan persekolahan, kelas menjadi sentra proses pembelajaran. Kitamengenal apa yang disebut Pusat Laboratorium Forensik; LaboratoriumBiologi, Laboratorium pertanian bahkan Laboratorium Politik.Pembelajaran sebagai elemen terpenting pendidikan juga memilikilaboratorium, yaitu kelas. Sebagai laboratorium pembelajaran maka kelas menjadi tempatyang layak untuk melakukan percepatan (akselerasi) pembelajaran;mengembangkan rekayasa teknik dan media fisik pembelajaran dandalam konteks saat ini adalah penelitian. Tidak aka nada akselerasi tanpainovasi dan tidak aka nada inopasi tanpa penelitian. Oleh sebab itu,
  • 124. mengakselerasi pembelajaran harus disertai dengan inovasi yangdilahirkan lewat inovasi melalui tahapan penelitian. Karena kel;aslaboratorium pembelajaran, maka penelitian tindakan kelas merupakanusaha perubahan yang pada tempatnya.
  • 125. BAB V KESIMPULAN DAN SARANA. KESIMPULAN Pembelajaran kontekstual mendorong siswa aktif mencari dan menemukancara untuk menyelesaikan permasalahan matematika. Materi pelajaran berkaitansekali dengan konteks kehidupan sehari-hari sehingga siswa merasakan langsungmanfaatnya. Media belajar dan sumber belajar yang dapat diperoleh darilingkungan keseharian menyebabkan siswa bergairah untuk mencari danmenemukannya. Kemauan siswa untuk menghadapi masalah meningkat kemampuanmelakukan pemecahan masalah. Siswa yang mau berperanserta dalampembelajaran matematika secara bertahap meningkat kemampuannya. Suasanapembelajaran yang dinamis, partisipatif dan ceria menyebabkan siswa belajartanpa tekanan, sehingga kerumitan yang dihadapi dipandang sebagai tantanganuntuk dihadapi. Belajar berkelompok mendorong siswa lebih terbuka dan beraniuntuk saling belajar dari sesama teman. Matematika memang rumit, akan tetapisetelah dihadapi secara berkelanjutan, kerumitan tersebut menjadi tantangan yangmenggairahkan. Terkikisnya anggapan bahwa matematika sebagai pelajaran yangsulit mendorong siswa untuk belajar dengan antusias. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstualmendorong siswa aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran danmeningkatkan kemampuan melakukan pemecahan masalah matematika. Aktivitas pembelajaran tersebut secara langsung berpengaruh terhadappencapaian hasil belajar. Pada tes pertama nilai minimum 10 dan nilai tertinggi 80
  • 126. dengan nilai rata-rata 46,67. Setelah perlakuan dengan menerapkan pembelajarankontekstual, terjadi peningkatan. Pada tes akhir, nilai minimum 35, dan nilaitertinggi 100 dengan nilai rata-rata 80,46. Adapun ketuntasan belajar dapat dilihatdari hasil tes setiap siklus. Hasil tes siklus I/ tes prasarat, siswa yang mencapainilai ≥65 ada 17 orang (35,42%); pada tes siklus II 34 orang (70,83%); pada siklusIII ada 33 orang (68,75%) dan pada tes akhir, yang mencapai nilai 65 ke atassebanyak 37 siswa (77,08%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwapembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan siswa dalammelakukan pemecahan masalah matematika.B. SARAN Saran acap terkesan sebagai nasihat, oleh karena itu penulis sekadarmenyampaikan ajakan dan himbauan. Berangkat dari kesimpulan dan selarasdengan tuntutan-undang-undang, maka penulis mengajak untuk mengelola elementerpenting, yaitu pembelajaran. Bagi orang yang menghargai pembelajaran,belajar dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Penghargaan akan munculapabila ada suasana nyaman dalam proses pembelajaran. Siswa adalah subyek yang menentukan berhasil tidaknya pembelajaran.Oleh karena itu keperansertaan siswa sangat penting. Belajar dengan aktif danpartisipatif di sekolah akan menambah bekal dalam mengembangkan potensikreatif di luar sekolah. Demikian juga pengembangan kreativitas di dalampergaulan dan lembaga pendidikan selain sekolah akan mengakselerasipeningkatan kompetensi belajar. Kepada para siswa, tanamkan itikad untuk beribadah. Beribadahmemerlukan ilmu dan ilmu dapat diperoleh secara formal di sekolah atau melalui
  • 127. pengalaman terstruktur dalam pergaulan yang baik. Secara paralel menuntut ilmuatau belajar merupakan ibadah. Belajarlah dari lingkungan dan teman-temanmu.Guru hanya salah satu sumber belajar dan sekolah hanya salah satu tempat belajar.Alam adalah sumber dan tempat belajar yang sangat kaya dan luas. Kepada rekan-rekan pendidik dan tenaga kependidikan, yang palingpenting untuk ditingkatkan adalah kemampuan guru membangun suasanapembelajaran yang ceria dan penuh keperansertaan. Tugas kita bukan sekadarberbicara dengan baik dan bermakna, tetapi juga dimengerti oleh siswa. Yangpaling penting bukan materi apa yang telah disampaikan oleh guru, tetapi materiapa yang telah difahami oleh siswa. Agar siswa memahami apa yang kita sampaikan maka siswa harusberkenan menyimaknya. Jadi berbicara yang baik adalah berbicara yang menariksiswa untuk menyimak. Lebih dari itu, seorang guru bukan sekadar berbicarakepada siswa tetapi juga mendorong siswa mau berbicara kepada gurunya. Padasaat yang sama guru mau mendengarkan dengan empatik. Untuk membangunsuasana seperti itu, maka dibutuhkan kesiapan kita sebagai pendidik. Kesiapantersebut adalah berpikir posistif tentang siswa, mendorongnya berkembang danmemberi kesempatan untuk berperanserta kemudian menunjukkan respect yangtulus. DAFTAR PUTAKAAudiblox (2006). Logical Thinking: Helping Children to Become Smarter. [Online]. Tersedia: http://www.audilblox.com/math problems. html[06 Februari2006]Badrudin, Ahmad. 2007. Pendidikan Alternatif Qoryah Thoyibah. Yogyakarta, LKiS, 270 halamanCraig, Ribert L., (Ed) 1996. The ASTD Training and Delopment Handbook, New York, McGraw Hill & American Society for Training and Development 1071 halaman
  • 128. Dania, Dadan. 2006 Membangun Dinamika Kelas melalui Pembelajaran Berbasis Keperansertaan Siswa, Kompilasi Materi Pelatihan Bagi Guru SMP & SMA Bina Muda Cicalengka, di LEC Cicalengka tahun 2006Dania, Dadan. 2002. Kumpulan Modul, Pelatihan Pemandu Pesantren Liburan Bagi Guru. KB PII & Kandep DIKBUD Kota BandungDania, Dadan & Nia Kurnia Solihat (et. al.) 1997. Pembelajaran Hadap Masalah dalam Mata Pelajaran Sejarah SLTP, Buku Pedoman Guru, Bandung, PT Mizan 78 halamanDahar, Ratna Willis, 1996. Teori-teori Belajar. Bandung, Penerbit ErlanggaDepdikbud 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Depdiknas Dirjen Dikdasmen. Jakarta.DePorter, Bobbi & Mike Hernacki. 2001. Quantum Learning Unleashing the Genius in You, terjemah Alawiyah Abdurrahman. Bandung. KAIFA, 356 halamanGardner, Howard. 1993. Multiple Intelligences: The Trheory in Practice, New York, Basic BooksGoldman, Daniel. 1997. Emotional Intelligence. Jakarta, Gramedia, 386 halamanHarefa, Andreas. 2000. Menjadi Manusia Pembelajar, Jakarta, KOMPAS- GRAMEDIAHudiono, Bambang Peran Pembeajaran Diskursus terhadap Pembangunan Daya Representasi. Bandung Mimbar Pendidikan vol.XXXII No. 4 Tahun 2008 hal. 16Johnson, Elaine B. 2002. Contextual Teaching and Learning. California : A Sage Publications Company.Laster, Lan. 1985. The School of the future: some teachers view on education in the year 2000. UK.Muhadjir, Noeng. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rake Sarasin. 247 halamanNational Council of Teacher of Mathematics. (2000). Principles and Standards for School Mathematics Reston, VA:NCTM.Priatna, N. (2003). Kemampuan Penalaran dan Pemahaman Matematika Siswa kelas 3 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri di Kota Bandung. Disertasi Doktor pada PPS UPI: Tidak Diterbitkan.Reigeluth, C.M. 1983. Instruction design theories and models, an overview of their current status. London: Lawrence Erlbaum Associates Publishers.Resnick, L.B., & Ford, W.W. (1981). The psychology of mathematics for instruction. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.Ruseffendi, E.T. (2001). Evaluasi Pembudayaan Berpikir Logis Serta Bersikap Kritis dan Kreatif melalui Pembelajaran Matematika Realistik. Makalah disampaikan pada Lokakarya di Yogyakarta. Yogyakarta: Tidak Diterbitkan.Saha, M. Ishom El. 2008, The Power of Santri’s Civilization: Melejitkan Daya Tawar Pesantren. Jakarta, Pustaka Mutiara, 276 halaman
  • 129. Saragih, Sahaat Pengaruh pendekataan Matematika Realistik terhadap Kemampuan Berfikir Logis Siswa Sekolah Menengah Pertama. Bandung vol. XXXII No. 1 2008 hal. 4Senge, Peter M. 1994. The Leader’s New Work: Building Learning Organization & Managing, New York. McGraw Hill, 482 halamanShepard, Peter. 2001. Multiple Intelligence. Jakarta. Rajawali. 336 halamanSudjana, Nana. 1992. Metoda Statistik. Bandung, Penerbit TarsitoSugiono, 2007, Statistika Untuk Penelitian, Bandung, Penerbit ALFABETA, 390 halamanSuharsimi, Arikunto. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta, PT Bina AksaraSuharsimi, Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta, PT Rineka CiptaSukmadinata, Syaodih.Nana, 2004. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi, Bandung. Kesuma Karya 311 HalamanSuryadi, D. (2005). Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung serta Pendekatan Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Matematik Tingkat Tinggi Siswa SLTP. Disertasi Doktor pada PPS UPI: Tidak Diterbitkan.Wahyudin, dan Sudrajat, 2003. Ensiklopedi Matematika untuk SLTP. Jakarta. CV Tarity Samudra Berlian. 298 halamanYunus, Firdaus M. 2005, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial, Yogyakarta, Logung PustakaZohar, Danah dan Marshal, Ian. 2002, SQ: Spiritual Intelligence, Terjemah Rahmani Astuti dkk. Bandung, PT Mizan
  • 130. LAMPIRAN-LAMPIRAN
  • 131. VALIDITAS INSTRUMEN Tabel 1 DATA HASIL UJI COBASubjek Skor yang diperoleh tiap butir (X) Y 1 2 3 4S-1 3 4 3 3 13S-2 3 3 4 3 13S-3 3 4 4 3 14S-4 3 2 3 3 11S-5 3 3 0 2 8S-6 3 4 5 3 15S-7 2 1 4 2 9S-8 2 2 3 3 10S-9 5 4 2 3 14S-10 3 3 4 4 14S-11 3 4 4 4 15S-12 3 3 2 3 11S-13 3 3 4 3 13S-14 3 3 4 3 13S-15 3 2 3 3 11S-16 3 2 3 3 11S-17 3 5 4 4 16S-18 3 2 3 3 11S-19 3 3 2 4 12S-20 5 5 4 4 18S-21 3 2 2 3 10S-22 2 2 4 3 11S-23 2 3 1 2 8S-24 3 2 1 3 9S-25 3 3 3 3 12S-26 3 2 4 3 12S-27 2 3 0 2 7S-28 5 4 4 4 17S-29 3 4 5 2 14S-30 5 3 3 3 14S-31 3 3 3 3 12S-32 5 5 5 5 20S-33 3 3 5 2 13S-34 2 2 2 1 7S-35 1 2 1 1 5S-36 3 2 2 3 10 124
  • 132. VALIDITAS BUTIR SOAL Tabel 2 Skor yang diperoleh tiap butir (X) X2 XYSubjek Y Y2 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 2 3S-1 3 4 3 3 13 9 16 9 9 169 39 52 39 39S-2 3 3 4 3 13 9 9 16 9 169 39 39 52 39S-3 3 4 4 3 14 9 16 16 9 196 42 56 56 42S-4 3 2 3 3 11 9 4 9 9 121 33 22 33 33S-5 3 3 0 2 8 9 9 0 4 64 24 24 0 16S-6 3 4 5 3 15 9 16 25 9 225 45 60 75 45S-7 2 1 4 2 9 4 1 16 4 81 18 9 36 18S-8 2 2 3 3 10 4 4 9 9 100 20 20 30 30S-9 5 4 2 3 14 25 16 4 9 196 70 56 28 42S-10 3 3 4 4 14 9 9 16 16 196 42 42 56 56S-11 3 4 4 4 15 9 16 16 16 225 45 60 60 60S-12 3 3 2 3 11 9 9 4 9 121 33 33 22 33S-13 3 3 4 3 13 9 9 16 9 169 39 39 52 39S-14 3 3 4 3 13 9 9 16 9 169 39 39 52 39S-15 3 2 3 3 11 9 4 9 9 121 33 22 33 33S-16 3 2 3 3 11 9 4 9 9 121 33 22 33 33S-17 3 5 4 4 16 9 25 16 16 256 48 80 64 64S-18 3 2 3 3 11 9 4 9 9 121 33 22 33 33S-19 3 3 2 4 12 9 9 4 16 144 36 36 24 48S-20 5 5 4 4 18 25 25 16 16 324 90 90 72 72S-21 3 2 2 3 10 9 4 4 9 100 30 20 20 30S-22 2 2 4 3 11 4 4 16 9 121 22 22 44 33
  • 133. S-23 2 3 1 2 8 4 9 1 4 64 16 24 8 16 S-24 3 2 1 3 9 9 4 1 9 81 27 18 9 27 S-25 3 3 3 3 12 9 9 9 9 144 36 36 36 36 S-26 3 2 4 3 12 9 4 16 9 144 36 24 48 36 S-27 2 3 0 2 7 4 9 0 4 49 14 21 0 14 S-28 5 4 4 4 17 25 16 16 16 289 85 68 68 68 S-29 3 4 5 2 14 9 16 25 4 196 42 56 70 28 S-30 5 3 3 3 14 25 9 9 9 196 70 42 42 42 S-31 3 3 3 3 12 9 9 9 9 144 36 36 36 36 S-32 5 5 5 5 20 25 25 25 25 400 100 100 100 100 S-33 3 3 5 2 13 9 9 25 4 169 39 39 65 26 S-34 2 2 2 1 7 4 4 4 1 49 14 14 14 7 S-35 1 2 1 1 5 1 4 1 1 25 5 10 5 5 S-36 3 2 2 3 10 9 4 4 9 100 30 20 20 30 ∑x 110 107 110 106 433 366 353 400 336 5559 1403 1373 1435 1348 ∑x2 12100 11449 12100 11236 18748 9 rxy 0,78 0,78 0,75 0,80interprestasi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi
  • 134. RELIABILITAS INSTRUMEN Tabel 3Subjek Skor yang diperoleh tiap butuir (X) Y X2 Y2 XY 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 2 3S-1 3 4 3 3 13 9 16 9 9 169 39 52 39 39S-2 3 3 4 3 13 9 9 16 9 169 39 39 52 39S-3 3 4 4 3 14 9 16 16 9 196 42 56 56 42S-4 3 2 3 3 11 9 4 9 9 121 33 22 33 33S-5 3 3 0 2 8 9 9 0 4 64 24 24 0 16S-6 3 4 5 3 15 9 16 25 9 225 45 60 75 45S-7 2 1 4 2 9 4 1 16 4 81 18 9 36 18S-8 2 2 3 3 10 4 4 9 9 100 20 20 30 30S-9 5 4 2 3 14 25 16 4 9 196 70 56 28 42S-10 3 3 4 4 14 9 9 16 16 196 42 42 56 56S-11 3 4 4 4 15 9 16 16 16 225 45 60 60 60S-12 3 3 2 3 11 9 9 4 9 121 33 33 22 33S-13 3 3 4 3 13 9 9 16 9 169 39 39 52 39S-14 3 3 4 3 13 9 9 16 9 169 39 39 52 39S-15 3 2 3 3 11 9 4 9 9 121 33 22 33 33S-16 3 2 3 3 11 9 4 9 9 121 33 22 33 33S-17 3 5 4 4 16 9 25 16 16 256 48 80 64 64S-18 3 2 3 3 11 9 4 9 9 121 33 22 33 33S-19 3 3 2 4 12 9 9 4 16 144 36 36 24 48S-20 5 5 4 4 18 25 25 16 16 324 90 90 72 72S-21 3 2 2 3 10 9 4 4 9 100 30 20 20 30
  • 135. S-22 2 2 4 3 11 4 4 16 9 121 22 22 44 33 S-23 2 3 1 2 8 4 9 1 4 64 16 24 8 16 S-24 3 2 1 3 9 9 4 1 9 81 27 18 9 27 S-25 3 3 3 3 12 9 9 9 9 144 36 36 36 36 S-26 3 2 4 3 12 9 4 16 9 144 36 24 48 36 S-27 2 3 0 2 7 4 9 0 4 49 14 21 0 14 S-28 5 4 4 4 17 25 16 16 16 289 85 68 68 68 S-29 3 4 5 2 14 9 16 25 4 196 42 56 70 28 S-30 5 3 3 3 14 25 9 9 9 196 70 42 42 42 S-31 3 3 3 3 12 9 9 9 9 144 36 36 36 36 S-32 5 5 5 5 20 25 25 25 25 400 100 100 100 100 S-33 3 3 5 2 13 9 9 25 4 169 39 39 65 26 S-34 2 2 2 1 7 4 4 4 1 49 14 14 14 7 S-35 1 2 1 1 5 1 4 1 1 25 5 10 5 5 S-36 3 2 2 3 10 9 4 4 9 100 30 20 20 30 ∑x 110 107 110 106 433 366 353 400 336 5559 1403 1373 1435 1348 S12 0,83 0,97 1,77 0,66 ∑S12 4,24 S12 9,75 r11 0,58Interprestasi Sedang
  • 136. INDEKS KESUKARAN Tabel 4 Skor yang diperoleh tiap butir (X) Subjek Y 1 2 3 4 S-1 3 4 3 3 13 S-2 3 3 4 3 13 S-3 3 4 4 3 14 S-4 3 2 3 3 11 S-5 3 3 0 2 8 S-6 3 4 5 3 15 S-7 2 1 4 2 9 S-8 2 2 3 3 10 S-9 5 4 2 3 14 S-10 3 3 4 4 14 S-11 3 4 4 4 15 S-12 3 3 2 3 11 S-13 3 3 4 3 13 S-14 3 3 4 3 13 S-15 3 2 3 3 11 S-16 3 2 3 3 11 S-17 3 5 4 4 16 S-18 3 2 3 3 11 S-19 3 3 2 4 12 S-20 5 5 4 4 18 S-21 3 2 2 3 10 S-22 2 2 4 3 11 S-23 2 3 1 2 8 S-24 3 2 1 3 9 S-25 3 3 3 3 12 S-26 3 2 4 3 12 S-27 2 3 0 2 7 S-28 5 4 4 4 17 S-29 3 4 5 2 14 S-30 5 3 3 3 14 S-31 3 3 3 3 12 S-32 5 5 5 5 20 S-33 3 3 5 2 13 S-34 2 2 2 1 7 S-35 1 2 1 1 5 S-36 3 2 2 3 10 Rata-rata 3,06 2,97 3,06 2,94 12,03 SMI 5 5 5 5 IK 0,61 0,59 0,61 0,59Interprestasi Sedang Sedang Sedang Sedang
  • 137. 129 DAYA PEMBEDA Tabel 5 Skor yang diperoleh tiap butir (X)Subjek Skor total 1 2 3 4S- 32 5 5 5 5 20S-20 5 5 4 4 18S-28 5 4 4 4 17S-17 3 5 4 4 16 S-6 3 4 5 3 15S-11 3 4 4 4 15S-30 5 3 3 3 14 S-9 5 4 2 3 14S-29 3 4 5 2 14 S-3 3 4 4 3 14S-10 3 3 4 4 14 S-1 3 4 3 3 13S-33 3 3 5 2 13 S-2 3 3 4 3 13S-13 3 3 4 3 13S-14 3 3 4 3 13S-25 3 3 3 3 12S-31 3 3 3 3 12S-19 3 3 2 4 12S-26 3 2 4 3 12S-12 3 3 2 3 11 S-4 3 2 3 3 11S-15 3 2 3 3 11S-16 3 2 3 3 11S-18 3 2 3 3 11S-22 2 2 4 3 11S-21 3 2 2 3 10S-36 3 2 2 3 10 S-8 2 2 3 3 10S-24 3 2 1 3 9 S-7 2 1 4 2 9 S-5 3 3 0 2 8S-23 2 3 1 2 8S-27 2 3 0 2 7S-34 2 2 2 1 7
  • 138. S-35 1 2 1 1 5 Rata-rata kelas ats 4,60 4,70 4,50 4,10 15,20 Rata-rata kelas 2,90 2,90 2,30 2,80 8,20 bawah SMI 5 5 5 5 20 DP 0,34 0,36 0,44 0,26 Interprestasi cukup cukup baik cukup 130 Analisis Uji Instrumen Dari tabel analisis butir soal di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :No. Tingkat Validitas Reliabilitas Daya PembedaSoal Kesukaran 1 0,78 ( Tinggi ) 0,61 ( Sedang ) 0,34 ( Cukup ) 2 0,78 ( Tinggi ) 0,58 ( Sedang ) 0,59 ( Sedang ) 0,36 ( Cukup ) 3 0,75 ( Tinggi ) 0,61 ( Sedang ) 0,44 ( Cukup ) 4 0,80 ( Tinggi ) 0,59 ( Sedang ) 0,26 ( Cukup )Dengan ketentuan sebagai berikut :1. Validitas Instrumen Analisis Validitas Instrumen menggunakan formula produk momen dari pearson sebagai berikut : Adapun kriterianya adalah sebagai berikut : Klarifikasi Koefisien Validitas
  • 139. Koefisien Kolerasi Interpretasi 0,80 < rxy ≤ 1,00 Validitas Sangat Tinggi 0,60 < rxy ≤ 0,80 Validitas Tinggi 0,40 < rxy ≤ 0,60 Validitas Sedang 0,20 < rxy ≤ 0,40 Validitas Rendah rxy ≤ 0,20 Tidak Valid2. Realibilitas Instrumen Analisis Reliabilitas Instrument menggunakan formula alpha sebagai berikut : Adapun kriterianya sebagai berikut : Klasifikasi Koefisien Reliabilitas Koefisien Kolerasi Interpretasi 0,00 – 0,20 Reliabilitas Kecil 0,20 – 0,40 Reliabilitas Rendah 0,40 – 0,70 Reliabilitas Sedang 0,70 – 0,90 Reliabilitas Tinggi 0,90 – 1,00 Reliabilitas Sangat Tinggi3. Analisis Indeks Kesukaran (IK)Analisis Indeks Kesukaran (IK) instrument menggunakan formula sebagai berikut
  • 140. Adapun kriterianya sebagai berikut : Indeks Kesukaran Interpretasi IK = 0,00 Soal Terlalu Sukar 0,00 < IK ≤ 0,30 Soal Sukar 0,30 < IK ≤ 0,70 Soal Sedang 0,70 < IK ≤ 0,90 Soal Mudah IK = 1,00 Soal Terlalu Mudah4. Analisis Daya Pembeda Tiap Butir SoalAnalisis Daya Pembeda menggunakan formula sebagai berikut : 133Adapun kriterianya sebagai berikut : Indeks Kesukaran Interpretasi DP = 0,00 Sangat Jelek 0,00 < DP ≤ 0,20 Jelek 0,20 < DP ≤ 0,40 Cukup 0,40 < DP ≤ 0,70 Baik 0,70 < DP ≤ 1,00 Sangat Baik
  • 141. TES PRASYARATPerhatikanlah gambar-gambar di bawah, kemudian hitunglah!a. Kelilingnyab. Luasnya Gambar 1 D Gambar 2 C D C 87 cm A B 30 cm A 69 cm B Gambar 3 C 15 cm A B 20 cm Gambar 4 C Gambar 5 C cm 10 A 24,4 cm B A 16 cm B
  • 142. TUJUAN TES PRASYARATMengetahui kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika yangberkaitan dengan bangun ruang, yaitu: 1. Menghitung keliling dan luas Persegi 2. Menghitung keliling dan luas Persegi panjang 3. Menemukan panjang Alas, tinggi atau hipotenusa dengan menggunakan teorema Pitagoras 4. Menghitung keliling dan luas segitigaPEDOMAN PENILAN TES PRASYARAT 1. Setiap soal diberi bobot nilai 20 2. Penilaian tidak hanya hasil akhir, tetapi dengan langkah-langkahnya 3. Pembobotan nilai tiap soal sebagai berikut GAM- PENGHITUNGAN BAR PANJANG LEBAR KELILING LUAS 1 10 10 2 10 10 ALAS TINGGI HIPOTENUSA KELILING LUAS 3 5 5 10 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5
  • 143. LEMBAR JAWAB TES PRASYARATNAMA : ……………………………………………………. GAMBAR PANJANG LEBAR HIPOTENU KELILING LUAS SA 1 2 3 4 5(Bila ada pecahan ditulis hanya dua desimal)Cara penyelesaianGambar 1 a. Keliling …………………………………………………………… b. B. Luas ……………………………………………………………Gambar 2 a. Keliling …………………………………………………………… b. Luas ……………………………………………………………Gambar 3 a. Hipotenusa …………………………………………………………… b. Keliling …………………………………………………………… c. Luas ……………………………………………………………Gambar 4 a. Tinggi …………………………………………………………… b. Keliling …………………………………………………………… c. Luas ……………………………………………………………Gambar 5 a. Alas …………………………………………………………… b. Tinggi …………………………………………………………… c. Keliling …………………………………………………………… d. Luas …………………………………………………………… KUNCI JAWABAN TES PRASYARAT
  • 144. GAMBAR PANJANG TINGGI HIPOTENU KELILING LUAS SA 1 30 120 900 2 87 69 312 6.003 3 20 15 25 60 150 4 12,2 21,13 24,4 73,20 257,80 5 13 12 10 36 Gambar 1 PenyelesaianD C a. Keliling persegi = 4s = 4 X 30 = 120 b. Luas persegi =s2 = 30 2A B = 900 30 cm Gambar 2 c. Keliling =2( p+l)D C = 2 (87 + 69) = 2 X 156 87 cm = 312 d. Luas =pX l = 87 X 69A B 69 cm = 6.003 Gambar 3 C Penyelesaian d. a2 = b2 +c2 Hipotenusa a2 = 20 2+15 2 15 cm a2 = 400 + 225 a= 625 = 25 A B 20 cm
  • 145. e. Keliling = 20 + 15 + 25 = 60 f. Luas = ½ X 20 X 15 = 150 Penyelesaian Gambar 4 a. Alas segitiga siku-siku =½ C sisi = ½ X 24,4 = 12,2 b. Tinggi sisi 2 = t 2 + 12,2 2 t2 = sisi 2-12,2 2 A 24,4 cm B t2 = 24,4 2-12,2 2 t2 = 595,36-148,84 t2 = 446,52 c. Keliling d. Luas = 3 X 24,4 = 73,20 = ½ X 24,4 X 21,13 = 257,80 cm 2 = t 446,52 = 21,13 Penyelesaian C Gambar 5 a. Alas segitiga siku-siku = ½ alas = ½ X 10 = 5 b. Tinggi 13 2 =t2+52 t2 = 13 2- 5 2 13 t2 = 169 -25 10 cm t= 144 =12 A B c. Keliling = (2X13) + 10 = 26 + 10 = 36Luas = ½ X 10 X 12 TES KELOMPOK 1
  • 146. 1. Perhatikan lantai di bawah meja kalian, kemudian kerjakan: a. Ukurlah berapa panjang sisi-sisinya! b. Hitung berapa kelilingnya a. Hitunglah, berapa luas satu lantai keramik tersebut 2. Perhatikan ruang kelas ini! a. Ukurlah berapa jarak dari dinding ke dinding, b. Gambarlah c. Hitung berapa kelilingnya d. Hitung luas ruang kelas ini di bagian dalam dinding e. Berapa jumlah keramik yang dibutuhkan untuk menutupi lantai 3. Perhatikan plafond kelas ini • Plafond ditutup dengan tripleks, kalau diganti dengan Asbes ukuran 60 X 120 cm, berapa lembar asbes yang dibutuhkan? 4. Perhatikan dinding-dinding kelas ini a. Ukur berapa tingginya, b. Bila ruang kelas ini seluruh dindingnya ditutup dengan triplek ukuran 120 X 240 cm, berapa lembar yang akan terpakaiSelamat bekerja, waktu kalian hanya 15 menit!
  • 147. TES KELOMPOK 2Pergilah ke Musholla, lalu kerjakan tugas berikut 1. Perhatikan lantai Musholla tersebut a. Ukurlah berapa panjang sisi-sisinya! b. Hitung berapa kelilingnya c. Hitunglah, berapa luas satu lantai keramik tersebut 2. Perhatikan ruangan dalamnya, ruang sholat saja, tidak termasuk tempat imam! a. Ukurlah berapa jarak dari dinding ke dinding, b. Gambarlah denahnya c. Hitung berapa kelilingnya d. Hitung luas ruang sholat Musholla tersebut e. Berapa jumlah keramik yang dibutuhkan untuk menutupi lantai 5. Perhatikan plafond musholla, • Plafond ditutup dengan Asbes, kalau Plafond diganti dengan Eternit ukuran 50 X 100 cm, berapa lembar yang dibutuhkan? 6. Perhatikan dinding-Musholla tersebut a. Ukur berapa tingginya, b. Bila ruang holat tersebut seluruh dindingnya ditutup dengan triplek ukuran 120 X 240 cm, berapa lembar yang akan terpakaiSelamat bekerja, waktu kalian hanya 15 menit!
  • 148. TES KELOMPOK 3Pergilah ke Perpustakaan1. Perhatikan lantai Perpustakaan tersebut a. Ukurlah berapa panjang sisi-sisinya! b. Hitung berapa kelilingnya c. Hitunglah, berapa luas satu lantai keramik tersebut2. Perhatikan ruang bukunya! a. Ukurlah berapa jarak dari dinding ke dinding, b. Gambarlah c. Hitung berapa kelilingnya d. Hitung luas ruang buku tersebut ini di bagian dalam dinding e. Berapa jumlah keramik yang dibutuhkan untuk menutupi lantai3. Perhatikan plafond perpustakaan tersebut • Plafond ditutup dengan Eternit, kalau didanti dengan Asbes ukuran 60 X 240 cm, berapa lembar asbes yang dibutuhkan?4. Perhatikan dinding-dinding nya a. Ukur berapa tingginya, b. Bila ruang buku tersebut ditutup dengan triplek ukuran 120 X 240 cm, berapa lembar yang dibutuhkanSelamat bekerja, waktu kalian hanya 15 menit!
  • 149. TES KELOMPOK 4Pergilah ke tempat wudlu1. Perhatikan lantainya a. Ukurlah berapa panjang sisi-sisinya! b. Hitung berapa kelilingnya c. Hitunglah, berapa luas satu lantai keramik tersebut2. Perhatikan ruang kelas ini! a. Ukurlah berapa jarak dari dinding ke dinding, b. Gambarlah c. Hitung berapa kelilingnya d. Hitung luas ruang tempat wudlu ini di bagian dalam dinding e. Berapa jumlah keramik yang dibutuhkan untuk menutupi lantai3. Perhatikan plafond tempat wudlu • Plafond belum ditutup, kalau dipasang plafond Asbes ukuran 1 X 1 meter, berapa lembar asbes yang dibutuhkan?4. Perhatikan dinding bagian dalam bak air tempat wudlu, a. Ukur berapa dalamnya, b. Bila dinding dan alas bak mandi porselinnya diganti dengan warna lain tetapi ukurannya sama, berapa banyak porselin yang dibutuhkanSelamat bekerja, waktu kalian hanya 15 menit!
  • 150. TES KELOMPOK 5Pergilah ke ruang OSIS1. Perhatikan lantainya! a. Ukurlah berapa panjang sisi-sisinya! b. Hitung berapa kelilingnya c. Hitunglah, berapa luas satu lantai keramik tersebut2. Perhatikan ruang OSIS tersebut! a. Ukurlah berapa jarak dari dinding ke dinding, b. Gambarlah c. Hitung berapa kelilingnya d. Hitung luas ruang OSIS di bagian dalam dinding e. Berapa jumlah keramik yang dibutuhkan untuk menutupi lantai3. Perhatikan plafond ruang OSIS tersebut! • Plafond ditutup dengan Asbes, bila diganti dengan gypsum ukuran 40 X 200 cm, berapa lembar yang dibutuhkan?4. Perhatikan dinding-dindingnya! a. Ukur berapa tingginya, b. Bila dindingnya ditutup dengan triplek ukuran 120 X 240 cm, berapa lembar yang dibutuhkanSelamat bekerja, waktu kalian hanya 15 menit!
  • 151. TES KELOMPOK 6Pergilah ke ruang UKS1. Perhatikan lantainya! a. Ukurlah berapa panjang sisi-sisinya! b. Hitung berapa kelilingnya c. Hitunglah, berapa luas satu lantai keramik tersebut2. Perhatikan ruang UKS tersebut! a. Ukurlah berapa jarak dari dinding ke dinding, b. Gambarlah c. Hitung berapa kelilingnya d. Hitung luas ruang UKS ini di bagian dalam dinding e. Berapa jumlah keramik yang dibutuhkan untuk menutupi lantai3. Perhatikan plafond UKS tersebut! • Plafond ditutup dengan eternit, kalau Plafond dtutup dengan kain yang ukuran lebarnya 120 cm, berapa meter panjang kain yang dibutuhkan?4. Perhatikan dinding-dindingnya! a. Ukur berapa tingginya, b. Bila dindingnya ditutup dengan triplek ukuran 120 X 240 cm, berapa lembar yang dibutuhkanSelamat bekerja, Waktu kalian hanya 15 menit
  • 152. TES KELOMPOK 7Pergilah ke Ruang Serbaguna1. Perhatikan lantainya! a. Ukurlah berapa panjang sisi-sisinya! b. Hitung berapa kelilingnya c. Hitunglah, berapa luas satu lantai keramik tersebut2. Perhatikan ruang pertemuannya! a. Ukurlah berapa jarak dari dinding ke dinding, b. Gambarlah c. Hitung berapa kelilingnya d. Hitung luas ruang pertemuan ini di bagian dalam dinding e. Berapa jumlah keramik yang dibutuhkan untuk menutupi lantai3. Perhatikan plafondnya! • Plafond ditutup dengan eternit, kalau Plafond ditutup dengan gypsum yang ukurannya 80 X 160 cm, berapa lembar gypsum yang dibutuhkan4. Perhatikan dinding-dindingnya! a. Ukur berapa tingginya, b. Bila dindingnya ditutup dengan triplek ukuran 120 X 240 cm, berapa lembar yang dibutuhkanSelamat bekerja, Waktu kalian hanya 15 menit
  • 153. TES KELOMPOK 8Pergilah ke gudang sekolah1. Perhatikan lantainya! a. Ukurlah berapa panjang sisi-sisinya! b. Hitung berapa kelilingnya c. Hitunglah, berapa luas satu lantai keramik tersebut2. Perhatikan ruangan gudang tersebut! a. Ukurlah berapa jarak dari dinding ke dinding, b. Gambarlah c. Hitung berapa kelilingnya d. Hitung luas ruang gudang ini di bagian dalam dinding e. Berapa jumlah keramik yang dibutuhkan untuk menutupi lantai3. Perhatikan plafond gudang tersebut! • Plafond ditutup dengan eternit, kalau Plafond ditutup dengan papan ukuran 20 cm X 2 m, berapa lembar papan yang dibutuhkan?4. Perhatikan dinding-dindingnya! a. Ukur berapa tingginya, b. Bila dindingnya ditutup dengan triplek ukuran 120 X 240 cm, berapa lembar yang dibutuhkanSelamat bekerja, Waktu kalian hanya 15 menit
  • 154. LEMBAR LAPORAN HASIL PENGUKURAN DAN PENGHITUNGANNAMA KELOMPOK ………………………………………………TEMPAT OBSERVASI ……………………………………………… 1. Hasil pengukuran dan penghitunganNo Subjek Panjang/ Lebar/tinggi Keliling Luas1 Lantai Ruangan2 Plafond3 Dinding 14 Dinding 2 2. Jumlah kebutuhan barang yang akan terpakaiNo Fungsi Nama Barang Panjang Lebar Kebutuhan1 Penutup Lantai2 Penutup Plafond3 Penutup dinding Cicalengka,……....................................................2009 Ketua Kelompok ………………………………… (…………………………………)
  • 155. Lembar jawab ini harus disertai dengan lembaran cara menghitungnya
  • 156. POST TESTBacalah soal dengan teliti, kemudian selesaikan masalahnya dengan cermat.1) Di halaman sekolah sedang dibuat tembok dudukan tiang bendera dua tahap. Tahap pertama setinggi 20 cm dengan alas persegi, sisinya 60 cm; Tahap kedua tinginya 40 cm dan alas 40 X 40 cm. Bila semua permukaan dudukan bendera tersebut ditutup dengan keramik ukuran 20 X 10 cm, berapa banyak keramik yang terpakai? 40 40 20 602) Menghadapi akhir tahun ajaran, di sekolah sedang dibuat panggung untuk perlombaan dan pementasan. Panggung berbentuk persegi yang sisinya 8 m. Atapnya ditutup kain tenda berbentuk limas yang puncaknya 6 m dari permukaan panggung. Sudut-sudut tenda diberi tiang besi yang tingginya 3 m dari panggung. Bagian panggung ditutup dengan latar belakang kain tenda, Bila harga sewa kain Rp 5.000,- per m2, berapa harga sewa yang harus dibayar?
  • 157. 6 m dari lantai panggung 3m 8m3) Seorang karyawan perusahaan tekstil membeli motor dari showroom. Rumah kontrakannya di daerah yang sering terkena banjir sehingga lantai terasnya lebih tinggi enam puluh cm dari permukaan tanah. Agar motor dapat naik ke teras maka ia membuat tangga tanjakan. Tangga tanjakan tersebut ukuran alasnya 80 X 70 cm. Bagian yang tidak menyentuh tanah ditutup dengan papan. Bila papan yang terpasang Rp. 50.000,- per m2, Berapa harga tanjakan tersebut? 60 70 80
  • 158. 4) Di antara dinding kantor pos dan kantor telepon dibuat benteng sepanjang 5 meter yang tingginya 2,5 m. Tebal dinding benteng enam belas cm ditambah bagian atasnya berbentuk atap setinggi enam cm. Di tengah benteng dibuat pilar yang lebih tinggi sepuluh cm. Penampang pilar berbentuk pesegi, sisinya tiga puluh cm. Bagian atasnya berbentuk limas setinggi dua puluh cm. Benteng tersebut mau dicat, harganya Rp. 20.000,- per m2. Berapakah biaya untuk mengecat? 20 10 6 2,5 m dari tanah 16 30 5m 30 cm Selamat bekerja!
  • 159. LEMBAR JAWAB POST TESTNAMA KELOMPOK ………………………………………………..NAMA SISWA ………………………………………………..A. Penemuan data dan penghitungan ukuran subyekNo Subjek St P L T H LS 1 Alas tiang bendera Tahap 1 Tahap 2 Keramik 2 Tenda Latar Kain 3 Tanjakan Papan 4 Benteng Tutup Benteng Pilar Tutup Pilar CatKeterangan: St = Satuan (cm atau m) P = Panjang, L = Lebar, T = Tinggi, H = Hipotenusa. LS = Luas SelimutB. Penghitungan biaya 1. Jumlah keramik yang terpakai = ………………… keping 2. Biaya sewa kain = Rp. ……………………. 3. Harga papan terpasang = Rp ……………………….
  • 160. 4. Ongkos pengecatan = Rp ………………………. Catatan: Lembar jawab ini disertai kertas tatacara penyelesaian soal TUJUAN POST TESTMengetahui kemampuan yang telah dikuasai siswa sebagai prasarat untukmemiliki kemampuan menyelesaikan masalah bangun ruang, yaitu kemampuan: 5. Menghitung Luas Selimut Kubus 6. Menghitung Luas Selimut Balok 7. Menghitung Luas Selimut Limas 8. Menghitung Luas Selimut Prisma 9. Menerapkan kemampuan tersebut di atas ke dalam kehidupan sehari-hariPEDOMAN PENILAN TES PRASYARAT 4. Soal nomor 1 s.d. 3 diberi bobot nilai 25 5. Soal nomor 4 dibagi menjadi tiga, yaitu a) penghitungan 4a (prisma) mendapat nilai 10; b) penghitungan 4b (limas) nilai 10 dan c) implementasi (pengecatan) nilai 5 6. Penilaian tidak hanya hasil akhir, tetapi dengan langkah-langkahnya 7. Pembobotan nilai tiap soal sebagai berikut a. Soal Nomor 1 total nilai 25 • Menghitung luas selimut balok tahap 1 nilai 5 • Menghitung luas selimut kubus tahap 2 nilai 5 • Menghitung luas keramik nilai 5 • Menghitung kebutuhan keramik 10 b. Soal Nomor 2, total nilai 25 • Menghitung hypotenuse limas (tinggi segitiga) nilai 5
  • 161. • Menghitung luas selimut limas nilai 5 • Menghitung luas latar nilai 5 • Menghitung harga sewa kain nilai 10 c. Soal Nomor 3, total nilai 25 • Menghitung hypotenuse nilai 5 • Menghitung luas segi tiga nilai 5 • Menghitung luas empat persegi panjang nilai 5 • Menghitung harga papan nilai 10 d. Soal Nomor 4 total nilai 25 • Luas Benteng dan Prisma 10 • Bagian 4b, Pilar dan Limas 10 • Biaya pengecatan mendapat nilai 5 KUNCI JAWABAN POST TESTPenyelesaian Soal Nomor 1 40 a. Tahap 1 Luas alas = 60 X 60 = 3.600 Luas Dinding = 60 X 20 = 1.200 40 Luas selimut = (2 X 3.600) + (4 X 1.200) = 7.200 + 4.800 = 12.000 20 b. Tahap 2 Luas alas = 40 X 40 = 1.600 60 Luas selimut = 6 X 1.600 = 9.600 c. Luas Keramik = 20 X 10 = 200 cm 2 d. Luas yang akan ditutup keramik
  • 162. Tahap 1 = 12.000 – (3.600 + 1600) = 6.800 cm 2 Tahap 2 = 9.600 – 1.600 = 8.000 cm 2 Jumlah tahap 1 & tahap 2 =14.800 cm 2 e. Kebutuhan keramik = 14.800 : 200= 74 keping 6 m dari lantai Penyelesaian Soal Nomor 2 panggung 5) Latar Alas = 8 m, Tinggi = 3 m Luas =8X3 = 24 m2 6) Tenda Tinggi puncak =6m 8m Tingi limas =6–3 =3m 3m Alas segitiga = ½ X 8 =4m Hypotenusa Limas = 42 + 3 2 = 25 = 5 Luas Selimut Tenda = 4 X (½ X 8 X 5) = 80 m2Biaya Sewa Kain = (80 + 24) X Rp. 5.000,- = Rp. 520.000,-Penyelesaian Soal nomor 3Hypotenusa 2 2 = 0,8 + 0,6 = = 0,64 + 0,36 = 60 = 1 = 1 70 80 2 a. Luas segitiga = ½ X0,8X0,6 = 0,24 m b. Luas dinding segitiga = 2 X 0,24 = 0,48 m2 c. Luas dinding persegi panjang = 0,7 X 0,6 = 0,42 m2 d. Luas alas miring = 0,7 X 1 = 0,70 m2
  • 163. e. Luas kebutuhan papan = 1,60 m2 Harga papan terpasang per m2 = Rp. 50.000,- Harga tanjakan = 1,60 m2 X Rp. 50.000,- = Rp. 80.000,-Penyelesaian Soal nomor 4a. Benteng Panjang alas benteng & pilar =5m Panjang alas benteng = 5 – 0,3 m = 4,7 m Tinggi benteng = 2,50 m Lebar benteng = 0,16 m Tinggi penutup benteng (prisma) = 0,06 m Hypotenusa = 82+62= = 64 + 36 = = 100 = 10 = 0,10 m Luas segitiga prisma = ½ X 0,16 X 0,06 = 0,0048 m2 Permukaan Benteng Luas permukaan yang menempel = 2 X (2,5 X 0,16) = 0,80 m2 Luas Permukaan Benteng = 4,7 X 2,50 m = 11,75 m2 Permukaan Prisma = 4,7 X 0,1 = 0, 47 m2 Luas yang harus dicat = 2 X (11,75 + 0,47) = 24,44 m2b. Pilar Panjang sisi alas pilar = 0,3 m Tinggi pilar = 2,5 + 0,1 = 2,6 m Tinggi penutup pilar (limas) = 0,2 m Hypotenusa = 2+ 2= 20 15 = 400 + 225 = = 625 = 25 Permukaan Pilar Luas Permukaan Pilar = 4 X (0,3 X 2,60 m) = 3,12 m2 Luas permukaan yang menempel = 0,80 + (2 X 0,0048) = 0,896 m2
  • 164. Permukaan terbuka = 3,12 – 0,896 = 2,224 m2 Luas selimut limas = 4 X ½ X 0,3 X 0,25 = 0,150 m2 Luas yang harus dicat = 2,224 + 0,15 = 2,374 m2Harga cat per m2 = Rp 20.000,-Biaya pengecatan = Rp. 20.000,- X (24,44 + 2, 374) = = Rp. 20.000,- X 26,814 = Rp. 536.280,-
  • 165. SILABUSSEKOLAH : SMPN 1 CicalengkaKelas / Semester : VIII / 2Mata Pelajaran : MatematikaStandar kompetensi : GEOMETRI DAN PENGUKURAN 5. Memahami sifat-sifat kubus , balok, prisma dan limas dan bagian – bagiannya, serta menentukanukurannyaKompetensi Materi Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi SumberDasar Pokok/Pemb Tehnik Bentuk Contoh Instrumen Waktu Belajar elajaran Instrumen5.3. Menghitung Kubus, Mencari rumus luas Menemukan rumus Kuis Uraian 1. Sebutkan rumus luas 2x40 mnt Buku teks,luas permukaan balok, permukaan kubus, balok, luas permukaan Tes permukaan kubus jika modeldan volume prisma tegak prisma tegak dan limas kubus, balok, prisma lisan rusuknya x cm bangun 2. Sebutkan rumus luaskubus bal0k, dan limas tegak dan limas Penugas ruang dan prisma yanga alasnyaprisma dan an segitiga siku-siku datar;limas Tes tulis yang sisi siku-sikunya Handout, a cm ,b cm dan tinggi Lingkung- prisma t cm an sekolah Menggunakan rumus untuk Menghitung luas Kuis Uraian Suatu prisma tegak beralas 2 x 40 menghitung luas permukaan permukaan kubus, Tes segitiga samasisi mnt
  • 166. kubus, bslok, prisma tegak Blok, prisma dan lisan mempunyai panjang rusukdan limas limas Penugas 6 cm dan tinggi 8 cm. an hitung luas permukaan Tes tulis prisma
  • 167. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )Sekolah : SMP N 1 CicalengkaMata Pelajaran : MatematikaKelas / Semester : VIII /2Standar Kompetensi : Memahami Sifat – Sifat Kubus, Balok, Limas, Prisma dan Bagian-bagiannya Serta Menentukan UkurannyaKompetensi Dasar : Menghitung luas permukaan dan volume balok, kubus, prisma dan limasIndikator : Menghitung luas permukaan Balok, dan kubusAlokasi waktu : 2 x 40 menit1. Tujuan Pembelajaran Siswa dapat menghitung luas permukaan bangun ruang sisi datar balok dan kubus2. Materi Pembelajaran Luas permukaan kubus dan balok3. Metoda / Tehnik Diskusi kelompok, inkuiri, resitasi dan penugasan4. Langkah – langkah Kegiatan a. Kegiatan Pendahuluan Aperspsi, Mengingat kembali tentang rumus luas bangun datar: Persegi panjang dan persegi
  • 168. Motivasi, Bangun ruang Balok dan Kubus merupakan bentuk yang paling banyak digunakan dalam struktur dan konstruksi barang dan bangunan. Apabila materi ini di kuasai, banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-harib. Kegiatan Inti 1) Siswa secara berkelompok mengerjakan kuis mengenai pengukuran tanah berbentuk bangun datar segitiga dan persegi panjang 2) Siswa melakukan brainstorming mengenai pengerjaan kuis 3) Siswa menyimak uraian guru mengenai balok dan kubus 4) Siswa memnyampaikan tanggapan atas uraian guru, baik pertanyaan maupun pernyataan 5) Siswa mengeluarkan alat-alat, dus kemasan dan benda lainnya yang dibawa dari rumah, kemudian memisahkan yang berbentuk balok dan kubus masing-masing satu buah 6) Siswa melakukan tugas mengukur dimensi balok dan kubus di atas kemudian menghitung luas permukaan balok dan kubus tersebut 7) Siswa secara berkelompok melakukan pengukuran dan penghitungan ukuran ruang dan barang di tempat yang berbeda 8) Masing – masing kelompok diminta menyampaikan hasil diskusi dan kelompok lain menanggapic. Kegiatan penutup 1) Siswa menyimak uraian guru berkaitan dengan tugas kelompok yang telah dilakukan
  • 169. 2) Siswa menyimak rincian tugas yang harus dilaksanakan sebagai persiapan pembelajaran pada pertemuan berikutnya 3) Siswa dengan bimbingan guru menyampaikan do’a akhir majlis dan salam5. Sumber Belajar a. Buku Teks, model – model bangun ruang dan bangun datar b. Handout materi mengenai balok dan kubus c. Ruangan/bangunan dan benda yang ada di lingkungan sekolah6. Media Belajar a. Mistar, Meteran tukang kayu, Meteran golong, kalkulator, gunting, lem dan alat tulis. b. Barang berbentuk Balok dan Kubus, Dus kemasan yang berbentuk balok dan kubus, Gambar peraga Balok dan Kubus ukuran Plano7. Penilaian a. Tehnik : Kuis, Tugas perorangan, Tugas kelompok. b. Bentuk : esay terstruktur c. Instrumen : 1) Kuis 2) Tugas perorangan & Tugas Kelompok 3) Lembar pengamatan dinamika kelompok (terlampir)
  • 170. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )Sekolah : SMP N 1 CicalengkaMata Pelajaran : MatematikaKelas / Semester : VIII /2Standar Kompetensi : Memahami Sifat – Sifat Kubus, Balok, Limas, Prisma dan Bagian-bagiannya Serta Menentukan UkurannyaKompetensi Dasar : Menghitung luas permukaan dan volume balok, kubus, prisma dan limasIndikator : Menghitung luas permukaan Limas dan PrismaAlokasi waktu : 2 x 40 menit8. Tujuan Pembelajaran Siswa dapat menghitung luas permukaan bangun ruang sisi datar limas dan prisma9. Materi Pembelajaran Luas permukaan limas dan prisma10. Metoda / Tehnik Diskusi kelompok, inkuiri, resitasi dan penugasan11. Langkah – langkah Kegiatan d. Kegiatan Pendahuluan Aperspsi, Mengingat kembali tentang rumus luas bangun datar: segitiga dan teorema Pitagoras
  • 171. Motivasi, Bangun ruang Limas dan Prisma merupakan bentuk yang paling banyak digunakan dalam struktur dan konstruksi barang dan bangunan, terutama benda-benda aksesoris. Apabila materi ini di kuasai, banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-harie. Kegiatan Inti 9) Siswa secara berkelompok mengerjakan kuis mengenai pengukuran dan penghitungan bangun datar segitiga dan persegi panjang 10) Siswa menyimak uraian guru mengenai Limas dan Prisma 11) Siswa memnyampaikan tanggapan atas uraian guru, baik pertanyaan maupun pernyataan 12) Siswa secara berkelompok mencari benda berbentuk limas dan prisma yang ada di sekitar sekolah. Jika dapat dibawa maka dibawa ke kelas, jika tidak dapat dibawa maka dibuat gambaran dan ukurannya 13) Perwakilan kelompok menyampaikan laporan dan tanggapan mengenai proses pencarian benda berbentuk Limas dan Prisma 14) Siswa mengumpulkan barang-barang hasil pencariannya, kemudian memisahkan yang berbentuk Limas dan Prisma masing-masing satu buah 15) Siswa melakukan tugas mengukur dimensi Limas dan Prisma di atas kemudian menghitung luas permukaan Limas dan Prisma tersebut 16) Siswa melakukan brainstorming mengenai tugas pencarian, pengukuran serta penghitungan Limas dan Prisma 17) Siswa mengerjakan soal tes tulis sebanyak dua butir
  • 172. f. Kegiatan penutup 4) Siswa menyimak uraian guru berkaitan dengan tugas kelompok yang telah dilakukan 5) Siswa menyimak rincian tugas yang harus dilaksanakan sebagai persiapan pembelajaran pada pertemuan berikutnya 6) Siswa dengan bimbingan guru menyampaikan do’a akhir majlis dan salam12. Sumber Belajar d. Buku Teks, model – model bangun ruang dan bangun datar e. Handout materi mengenai Limas dan Prisma f. Ruangan/bangunan dan benda yang ada di lingkungan sekolah13. Media Belajar c. Mistar, Meteran tukang kayu, Meteran golong, kalkulator, gunting, lem dan alat tulis. d. Barang berbentuk Limas dan Prisma, Dus kemasan yang berbentuk Limas dan Prisma, Gambar peraga Limas dan Prisma ukuran Plano14. Penilaian d. Tehnik : Kuis, Tugas perorangan, Tugas kelompok, Tes tulis e. Bentuk : esay terstruktur f. Instrumen : 4) Kuis, Lembar tugas dan Lembar Tes tulis 5) Lembar Pengamatan dinamika kelompok dan Angket
  • 173. Kuisioner 1 Petunjuk 1. Tidak perlu menyebutkan nama 2. Harap diberi tanda ceklis atau cakra pada kolom yang sesuai dengan aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran matematika materi bangun ruang 3. Isikan pada kolom Sl bila selalu melakukan; Sr bila sering melakukan; Sk bila sekali-kali melakukan; Sp bila sempat melakukan dan TS bila tidak sempat melakukan No Pernyataan Sl S Sk Sp TS1. Terlibat dalam pembelajaran secara aktif2. Menyimak penjelasan guru3. Menyimak pendapat dari teman sesama siswa4. Menanggapi penjelasan guru5. Menyimak penjelasan atau pendapat teman sesama kelompok6. Menyimak penjelasan atau pendapat teman dari kelompok lain7. Memberikan tanggapan atas pernyataan sesama siswa No Pernyataan Sl S Sk Sp TS8. Memberikan jawaban atas pertanyaan sesama siswa9. Menyampaikan laporan kesimpulan diskusi kelompok di hadapan seluruh siswa
  • 174. 10. Berbagi tugas dalam kerja kelompok11. Terlibat dalam kerja kelompok12. Berkompetisi dengan kelompok lain13. Berkompetisi dengan sesama anggota kelompok14. Guru memimpin pembelajaran dengan otoriter15. Guru membangun suasana pembelajaran dengan tegas16. Minta bantuan teman untuk menjelaskan soal17. Minta bantuan teman mengenai rumus untuk menyelesaikan soal18. Minta bantuan teman untuk mengerjakan soal
  • 175. Kuisioner 2Petunjuk1. Tidak perlu menyebutkan nama2. Harap diberi tanda ceklis atau cakra pada kolom yang sesuai dengan sikap dan pandangan siswa selama mengikuti pembelajaran matematika materi bangun ruang3. Isikan pada kolom SS bila sangat setuju; S bila setuju; TS bila tidak setuju dan STS bila sangat tidak setuju dengan pernyataan yang ada pada kolom di sebelah No Pernyataan SS S TS STS1. Proses belajar ceria2. Proses pembelajaran dinamis, tidak kaku3. Siswa merasa bebas untuk berekspresi selama mengikuti proses pembelajaran4. Proses pembelajaran memberi kesempatan siswa untuk berperan serta secara aktif5. Proses pembelajaran mendorong siswa melakukan kegiatan6. Siswa merasa tertekan dalam mengikuti pembelajaran No Pernyataan SS S TS STS7. Materi pelajaran membosankan8. Materi pelajaran sesuai dengan kehidupan sehari-hari9. Materi pelajaran bermanfaat bagi kehidupan
  • 176. sehari-hari10. Tugas yang diberikan kepada siswa terasa berat11. Tugas yang diberikan kepada siswa rumit12. Tugas yang diberikan kepada siswa dapat dilaksanakan13. Soal yang diberikan kepada siswa sulit14. Soal yang diberikan kepada siswa rumit15. Soal yang diberikan kepada siswa dapat diselesaikan
  • 177. LEMBAR PENGAMATAN KEGIATAN SISWA 1. Pembentukan kelompok a. Menawarkan untuk berkelompok b. Memilih teman kelompok c. Mengatur pembagian kelompok d. Mengikuti kebijakan teman 2. Pembagian tugas kelompok a. Menawarkan siapa mau jadi apa b. Meminta teman untuk memegang tugas dalam kelompok c. Memilih tugas untuk dirinya d. Mengikuti kebijakan teman 3. Jabatan dalam kelompok a. Ketua b. Sekretaris c. Pemberi Penjelasan d. Anggota 4. Keterlibatan dalam kelompok a. Menawarkan siapa mau mengerjakan apa b. Meminta pekerjaan untuk dirinya
  • 178. c. Meminta teman mengerjakan soal tertentu d. Mengikuti kebijakan kelompok5. Keterlibatan dalam kelompok a. Memberikan penjelasan b. Menanyakan hal yang belum jelas c. Mencatat apa yang disampaikan anggota kelompok d. Memperhatikan aktivitas teman kelompok6. Tanggung jawab kelompok a. Melaksanakan pekerjaan sambil melayani pertanyaan anggota kelompok b. Melaksanakan pekerjaannya terlebih dulu baru menjawab pertanyaan teman c. Memberikan penjelasan dan menangguhkan pekerjaannya d. Meminta teman menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya7. Keterlibatan dalam diskusi a. Menawarkan siapa yang mau menyampaikan gagasan b. Memberikan penjelasan c. Menyampaikan pertanyaan
  • 179. d. Memperhatikan pembicaraan anggota kelompok
  • 180. DAFTAR RIWAYAT HIDUPI. Identitas Pribadi 1. Nama : IDA RUFAIDA 2. Tempat / Tanggal lahir : Bandung, 21 Januari 1961 3. Agama : Islam 4. Alamat Rumah : Jln. Dewi Sartika No. 110 RT. 02/ RW 04 Cicalengka Kab. Bandung 5. Alamat Pekerjaan : SMP Negeri 1 Cicalengka, Jl. Dipati Ukur 34 Cicalengka Kabupaten Bandung. 40395II. Pendidikan 1. SDN Cicalengka V, lulus tahun 1972 2. SMP Negeri Cicalengka, lulus tahun 1976 3. SMA Negeri Cicalengka, lulus tahun 1980 4. Diploma I Jurusan Matematika IKIP Bandung, lulus tahun 1981 5. Dip[loma III Jurusan Matematika UT, lulus tahun 1997 6. Tahun 2008 samapi sekarang (2009) melanjutkan studi S I, pada Program Studi Pendidikan Matematika STKIP Garut