BAB I                                            PENDAHULUAN            Pada masa jahiliyah sebelum islam, orang-orang Ara...
BAB II                                        PEMBAHASANA. Jarimah Qishash dan Diat     Secara harfiah qishash berasal dar...
menurut teori pertama ahli waris yang dewasa itu punya hak yang sempurna tidakusah menunggu balighnya ahli waris yang masi...
Dasar hukum tentang diberlakukannya qishash dan diat terdapat dalam Al-Qur’an, di antaranya sebagai berikut: ...
yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosabaginya. Barangsiapa tidak memutuskan perka...
a. Pembunuhan sengaja,        b. Pembunuhan menyerupai sengaja, dan        c. Pembunuhan tidak sengaja atau karena kesalah...
Antara perbuatan dan kematian terdapat hubungan sebab akibat. Yaitu bahwakematian yang terjadi merupakan akibat dari perbu...
(pembunuh), dan korban (yang dibunuh). Syarat-syarat tersebut adalah sebagai    berikut.12    a. Syarat-syarat pelaku (pem...
Perbuatan yang mengakibatkan kematian itu tidak ditentukan bentuknya,    dapat berupa pemukulan, pelukan, penusukan, dan s...
Pembunuhan tidak sengaja (khata) adalah perbuatan yang dilakukan olehseseorang dengan tidak ada unsur kesengajaan yang men...
Adanya hubungan sebab akibat antara perbuatan kesalahan dengan        kematian, artinya kematian korban merupakan akibat d...
dibayar oleh pelaku pidana kepada pihak korban, sebagai sanksi atas pelanggaranyang dilakukan.    Qishash       dilaksanak...
Pembunuhan sengaja (amd) adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang   dengan tujuan untuk membunuh orang lain dengan m...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Makalah fiqh jinayah

13,503

Published on

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
13,503
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
212
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah fiqh jinayah

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN Pada masa jahiliyah sebelum islam, orang-orang Arab selalu cenderung untukmembalas dendam bahkan terhadap hal yang telah dilakukan beberapa abadsebelumnya. Kalau seorang anggota keluarga atau suku mereka dibunuh oleh anggotadari keluarga yang lain, maka pembalasan dilakukan dengan membunuh orang yangtidak berdosa dari keluarga musuhnya. Sehingga rantai reaksi yang telah dimulai takakan berakhir selama beberapa turunan. Ada suatu peristiwa masyhur yang tercatatdalam buku-buku sejarah bahwa seorang lelaki tua, di pembaringannya menjelangajal, memanggil semua anak lelakinya mendekat ke sisinya lalu memperingatkanmereka “Aku akan mati tetapi aku belum menuntut balas dari beberapa suku tertentu.Jika kalian menginginkan agar aku memperoleh kedamaian setelah mati, makabalaslah dendam atas namaku”. Kecintaan yang mereka miliki hanyalah bagi kehidupan keluarga merekasendiri. Mereka biasa menuntut nyawa seseorang lelaki yang berkedudukan samakeluarga pembunuh. Berkali-kali darah tersimbah dan nyawa beratus-ratus orangakan terenggut demi kehidupan satu orang pribadi. Bila yang terbunuh berasal darikedudukan yang lebih tinggi, maka bukan hanya menuntut si pembunuh melainkanmereka juga akan memaksa menuntut nyawa semua orang tak berdosa yangberkedudukan tinggi dari keluarganya.1 1 Abdur Rahman I Doi, Tinda Pidana Dalam Syariat Islam, Cet I, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992),h. 24 1
  2. 2. BAB II PEMBAHASANA. Jarimah Qishash dan Diat Secara harfiah qishash berasal dari kata “Qaseha” yang berarti memotong ataumembalas. Qishash dalam hukum pidana Islam adalah pembalasan setimpal yangdikenakan kepada pelaku pidana sebagai sanksi atas perbuatannya. Lain halnya diat.Diat artinya denda dalam bentuk benda atau harta, sesuai ketentuan, yang harusdibayar oleh pelaku pidana kepada pihak korban, sebagai sanksi atas pelanggaranyang dilakukan.2 Jadi jarimah qishash dan diat adalah jarimah yang diancam denganhukuman qishash dan diat. Baik qishash maupun diat kedua-duanya adalah hukumanyang sudah ditentukan oleh syara’. Perbedaannya dengan hukuman had adalah bahwahukuman had merupakan hak Allah (hak masyarakat), sedangkan qishash dan diatmerupakan hak manusia (hak individu). Di samping itu, perbedaan yang lain adalahkarena hukuman qishash dan diat merupakan hak manusia maka hukuman tersebutbisa dimaafkan atau digugurkan.31. Pelaksanaan hukuman qishash Qishash dilaksanakan pada saat seseorang sudah terbukti melakukanpembunuhan dengan sengaja dan mendapat persetujuan dari keluarga korban. Adapunorang yang berhak menuntut dan memaafkan qishas menurut Imam Malik adalah ahliwaris ashabah bi nafsih, orang yang paling dekat dengan korban itulah yang berhak.Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad orang yang berhak ituadalah seluruh ahli waris, laki-laki maupun perempuan. Untuk jelasnya perbedaan kedua teori ini dapat digambarkan pada contohberikut: Apabila ada ahli waris yang sudah dewasa dan yang masih kecil, maka 2 Zainuddin Ali, Hukum Islam (Pengantar Hukum Islam di Indonesia), cet II, (Jakarta: SinarGrafika, 2008), h. 125 3 Ahmad Wardi Muclich, Hukum Pidana Islam, cet II, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), h. xi 2
  3. 3. menurut teori pertama ahli waris yang dewasa itu punya hak yang sempurna tidakusah menunggu balighnya ahli waris yang masih kecil, sedangkan menurut teorikedua ahli waris yang telah dewasa harus menunggu balighnya ahli waris yang masihkecil untuk kemudian dimusyawarahkan untuk menuntut atau memaafkan qishash,karena hak qishash adalah hak bersama.4 Apabila korban tidak memiliki wali, maka disepakati ulama bahwa sulthanmenggantikan kedudukan walinya.2. Hapusnya Hukuman Qishash Hukuman qishash dapat hapus karena hal-hal berikut: a) Hilangnya tempat untuk diqishash b) Pemaafan c) Perdamaian d) Diwariskan hak qishash.3. Ketentuan Diat Diat dalam pembunuhan sengaja itu bukan hukuman pokok, melainkan hukumanpengganti dari qishash bila qishash itu tidak dapat dilaksanakan atau dihapus dengansebab-sebab yang telah disebutkan tadi. Waktu pembayaran menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad harusdengan segera dan tidak boleh diakhirkan, karena diat pada pembunuhan sengaja itupengganti qishash dan qishash tidak boleh diakhirkan. Disamping itu diakhirkannyaqishash atau diat itu berarti suatu keringanan bagi si pembunuh, sedangkan pembunuhsengaja itu tidak berhak mendapat keringanan.5 4 A. Djazuli, Fiqh Jinayah (Upaya Menaggulingi Kejahatan Dalam Islam), cet II, (Jakarta: PTRajaGrafindo Persada, 1997), h. 150-151 5 A. Djazuli, Fiqh Jinayah (Upaya Menaggulingi Kejahatan Dalam Islam),h. 158 3
  4. 4. Dasar hukum tentang diberlakukannya qishash dan diat terdapat dalam Al-Qur’an, di antaranya sebagai berikut:                               “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan denganorang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba denganhamba, dan wanita dengan wanita. Maka Barangsiapa yang mendapat suatupemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan carayang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberimaaf dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dariTuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu,Maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. Al-Baqarah: 178)                        “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanyajiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telingadengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa 4
  5. 5. yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosabaginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkanAllah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al- Maidah: 45) Ada pun yang termasuk dalam jarimah qishash dan diat adalah pembunuhan danpenganiayaan seperti yang tercantum dalam surah Al-Baqarah ayat 178 di atas.B. Pembunuhan Dalam bahasa Arab, pembunuhan disebut berasal dari kata yangsinonimnya yang berarti mematikan.6 Pembunuhan dalam bahasa Indonesia diartikan dengan proses, perbuatan, ataucara membunuh. Sedangkan menurut istilah pembunuhan adalah suatu aktivitas yang dilakukanoleh seseorang atau beberapa orang yang mengakibatkan seseorang atau beberapaorang meninggal dunia.7 Pembunuhan secara garis besar dapat dibagi kepada dua bagian sebagai berikut. 1. Pembunuhan yang dilarang, yaitu pembunuhan yang dilakukan dengan melawan hukum. 2. Pembunuhan dengan hak, yaitu pembunuhan yang dilakukan dengan tidak melawan hukum, seperti membunuh orang murtad, atau pembunuhan oleh seorang algojo yang diberi tugas melaksanakan hukuman mati. Pembunuhan yang dilarang dapat dibagi menjadi kepada beberapa bagian. Dalamhal ini terdapat perbedaan pendapat sebagai berikut. 1) Menururt Imam Malik, pembunuhan dibagi kepada dua bagian, yaitu: a. Pembunuhan sengaja, dan b. Pembunuhan karena kesalahan. 2) Menurut jumhur fuqaha, pembunuhan dibagi kepada tiga bagian, yaitu: 6 Ahmad Wardi Muclich, Hukum Pidana Islam, h. 136 7 Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, cet. I, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 24 5
  6. 6. a. Pembunuhan sengaja, b. Pembunuhan menyerupai sengaja, dan c. Pembunuhan tidak sengaja atau karena kesalahan.8 Sebenarnya masih ada pendapat lain yang membagi pembunuhan kepada empatdan lima bagian, namun apabila diperhatikan, pembagian tersebut hanyalahpengembangan dari pembagian yang dikemukakan oleh jumhur fuqaha. Oleh karenaitu dalam pembahasan selanjutnya kami pemakalah akan mengikuti pendapatjumhurulama tersebut.1) Pembunuhan Sengaja Pembunuhan sengaja (amd) adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorangdengan tujuan untuk membunuh orang lain dengan menggunakan alat yangdipandang layak untuk membunuh.9 Menurut Abdul Qadir Audah pembunuhan sengaja adalah suatu pembunuhan dimana perbuatan yang menghilangkan nyawa disertai dengan niat untuk membunuhkorban.10 Dari definisi di atas, dapat diketahui bahwa unsur-unsur pembunuhan sengajaterbagi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut.11 a. Korban yang dibunuh adalah manusia yang hidup Salah satu unsur dari pembunuhan sengaja adalah korban harus berupa manusia yang hidup. Dengan demikian apabiala korban bukan manusia atau manusia yang ia sudah meninggal lebih dahulu maka pelaku bisa dibebaskan dari hukuman qishash atau dari hukuman-hukuman yang lain. Akan tetapi, apabila seseorang dibunuh pada saat dalam keadaan sekarat maka pelaku dikenakan hukuman, karena orang yang dalam keadaan sekarat termasuk masih hidup. b. Kematian adalah hasil dari perbuatan pelaku 8 Abd Al-Qadir Audah, At-Tasyri’ Al-Jinaiy Al-Islamiy, Juz II, (Damaskus: Dar Al-Fikr, 1989), h. 6 9 Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, h. 24 10 Abd Al-Qadir Audah, At-Tasyri’ Al-Jinaiy Al-Islamiy, h. 7 11 Ahmad Wardi Muclich, Hukum Pidana Islam, h. 140 6
  7. 7. Antara perbuatan dan kematian terdapat hubungan sebab akibat. Yaitu bahwakematian yang terjadi merupakan akibat dari perbuatan yang dilakukan olehpelaku. Apabila hubungan tersebut terputus , artinya kematian disebabkan olehhal lain, maka pelaku dianggap sebagai pembunuh sengaja. Jenis perbuatan yang dilakukan oleh pelaku bisa bermacam-macam, sepertipemukulan, penembakan, penusukan, pembakaran, peracunan, dan sebagainya.Sedangkan alat yang digunakan adalah alat yang pada umumnya bisa mematikan.c. Pelaku tersebut menghendaki kematian Pembunuhan dianggap sebagai pembunuhan sengaja apabila dalam diripelaku terdapat niat untuk membunuh korban, bukan hanya kesengajaan dalamperbuatannya saja. Niat untuk membunuh inilah yang membedakan antarapembunuhan sengaja dengan pembunuhan menyerupai sengaja. Pendapat inidikemukakan oleh para jumhur fuqaha. Pembunuhan sengaja dalam syari’at Islam diancam dengan beberapa macamhukuman, sebagian merupakan hukuman pokok dan pengganti, dan sebagian lagimerupakan hukum tambahan. Hukuman pokok untuk pembunuhan sengajaadalah qishash dan kifarat, sedangkan penggantinya adalah diat dan ta’zir.Adapun hukuman tambahannya adalah penghapusan hak waris dan hak wasiat. Adapun dasar yang menyebutkan hukuman bagi pembunuh sengajatercantum dalam surah Al-Baqarah ayat 178-179, Al-Maidah ayat 45, dan haditsNabi SAW yang berbunyi.“Dari Ibn Abbas ra. Ia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW.: “…danbarang siapa dibunuh dengan sengaja maka ia berhak untuk menuntutqishash…” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’I, dan Ibn Majah dengan sanad yangkuat) Hukuman qishash tidak dapat dilaksanakan apabila syarat-syaratnya tidakterpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi syarat-syarat untuk pelaku 7
  8. 8. (pembunuh), dan korban (yang dibunuh). Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut.12 a. Syarat-syarat pelaku (pembunuh) 1. Pelaku orang mukallaf, yaitu balig dan berakal 2. Pelaku melakukan pembunuhan dengan sengaja 3. Pelaku harus orang yang mempunyai kebebasan (tidak dipaksa) b. Syarat-syarat untuk korban (yang dibunuh) 1. Korban harus orang yang ma’shum ad-dam. Artinya, ia (korban) adalah orang yang dijamin keselamatannya oleh Negara Islam. 2. Korban bukan bagian dari pelaku. Artinya. Keduanya tidak ada hubungan. Contohnya bapak dan anak, berdasarkan hadits nabi SAW., “Tidaklah diqoshash orang tua karena membunuh anaknya.” 3. Jumhur ulama hanafiyah mensyaratkan, hendaknya korban seimbang dengan pelaku. Dasar keseimbangan dalam hal ini adalah Islam dan merdeka.2) Pembunuhan Menyerupai Sengaja Pembunuhan seperti sengaja adalah perbuatan yang sengaja dilakukan olehseseorang kepada orang lain dengan tujuan mendidik. Sebagai contoh: seorang gurumemukulkan penggaris kepada kaki seorang muridnya, tiba-tiba muridnya yangdipukul itu meninggal dunia, maka perbuatan guru tersebut dinyatakan sebagaipembunuhan menyerupai sengaja.13 Ada tiga unsur dalam pembunuhan menyerupai/semi sengaja:14 a. Pelaku melakukan suatu perbuatan yang mengakibatkan kematian 12 Ahmad Wardi Muclich, Hukum Pidana Islam, h. 151-152 13 Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, h. 24 14 A. Djazuli, Fiqh Jinayah (Upaya Menaggulingi Kejahatan Dalam Islam),h. 132 8
  9. 9. Perbuatan yang mengakibatkan kematian itu tidak ditentukan bentuknya, dapat berupa pemukulan, pelukan, penusukan, dan sebagainya. Disyaratkan korban adalah orang yang tepelihara darahnya. b. Ada maksud penganiayaan atau permusuhan Persyaratan kesengajaan pelaku melakukan perbuatan yang mengakibatkan dengan tidak ada niat membunuh korban adalah satu-satunya perbedaan antara pembunuhan sengaja dengan pembunuhan menyerupai sengaja. Dalam pembunuhan sengaja pelaku, si pelaku memang sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan kematian, sedangkan dalam pembunuhan menyerupai sengaja, pelaku tidak bermaksud melakukan pembunuhan, sekalipun ia melakukan penganiayaan. c. Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan pelaku dengan korban kematian Disyaratkan adanya hubungan sebab akibat antara perbuatan penganiayaan, yaitu penganiayaan itu menyebabkan kematian korban secara langsung atau merupakan sebab yang membawa kematiannya. Jadi, tidak dibedakan antara kematian korban itu seketika dengan kematian yang tidak terjadi seketika dengan kematian yang tidak terjadi seketika. Apabila tidak ada hubungan sebab akibat antara perbuatan dengan kematian, maka si pelaku hanya bertanggung jawab atas pelukaan atau penganiayaan lainnya. Pembunuhan menyerupai sengaja dalam hukum Islam diancam dengan beberapahukuman, sebagian hukuman pokok dan pengganti, dan sebagian lagi hukumantambahan. Hukuman pokok untuk tindak pidana pembunuhan menyerupai sengajaada dua macam, yaitu diat dan kifarat. Sedangkan hukuman pengganti yaitu ta’zir.Hukuman tambahan yaitu pencabutan hak waris dan wasiat.3) Pembunuhan Tidak Sengaja (Karena Kesalahan) 9
  10. 10. Pembunuhan tidak sengaja (khata) adalah perbuatan yang dilakukan olehseseorang dengan tidak ada unsur kesengajaan yang mengakibatkan orang lainmeninggal dunia. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa seseorang melakukanpenebangan pohon yang kemudian pohon yang ditebang itu, tiba-tiba tumbang danmenimpa orang yang lewat lalu meninggal dunia.15 Ada tiga unsur dalam pembunuhan tidak sengaja atau karena kesalahan: a. Adanya perbuatan yang menyebabkan kematian Perbuatan yang menyebabkan kematian itu disyaratkan tidak sengaja dilakukan oleh pelaku atau karena kelalaiannya. Akan tetapi, tidak disyaratkan macam perbuatannya, boleh jadi dengan menyalakan api di pinggir rumah orang lain, membuat lubang di pinggir jalan, melempar batu ke jalan dan sebagainya. Berkenaan dengan pembunuhan kesalahan, juga berlaku prinsip-prinsip pembunuhan sengaja. Misalnya; perbuatan langsung, perbuatan tidak langsung, pembunuhan massal. b. Terjadinya perbuatan itu karena kesalahan Pada prinsipnya, kesalahan itu merupakan perbedaan yang principal antara pembunuhan kesalahan dengan pembunuhan lainnya. Tidak ada sanksi terhadap orang yang melakukan kesalahan. Sanksi hanya dijatuhkan, jika memang menimbulkan kemadharatan bagi orang lain. Ukuran kesalahan dalam syariat islam adalah adanya kelalaian atau kurang hati-hati atau merasa tidak akan terjadi apa-apa. Dengan demikian, kesalahan tersebut dapat terjadi karena kelalaian dan mengakibatkan kemadharatan atau kematian orang lain. c. Adanya hubungan sebab akibat antara perbuatan kesalahan dengan kematian korban 15 Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, cet. I, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 24 10
  11. 11. Adanya hubungan sebab akibat antara perbuatan kesalahan dengan kematian, artinya kematian korban merupakan akibat dari kesalahan pelaku. Dengan kata lain, kesalahan pelaku itu menjadi sebab bagi kematian korban. Pembunuhan karena kesalahan, sebagaimana telah dijelaskan adalah suatupembunuhan di mana pelaku sama sekali tidak berniat melakukan pemukulan apalagipembunuhan, tetapi pembunuhan tersebut terjadi karena kelalaian atau kurang hati-hatinya pelaku. Hukuman untuk pembunuhan karena kesalahan ini sama denganhukuman untuk pembunuhan menyerupai sengaja, yaitu: 1. Hukuman pokok, yaitu diat dan kafarat 2. Hukuman tambahan, yaitu penghapusan hak waris dan wasiat. BAB III PENUTUPKesimpulan  Secara harfiah qishash berasal dari kata “Qaseha” yang berarti memotong ataumembalas. Qishash dalam hukum pidana Islam adalah pembalasan setimpal yangdikenakan kepada pelaku pidana sebagai sanksi atas perbuatannya. Lain halnya diat.Diat artinya denda dalam bentuk benda atau harta, sesuai ketentuan, yang harus 11
  12. 12. dibayar oleh pelaku pidana kepada pihak korban, sebagai sanksi atas pelanggaranyang dilakukan. Qishash dilaksanakan pada saat seseorang sudah terbukti melakukanpembunuhan dengan sengaja dan mendapat persetujuan dari keluarga korban. Adapunorang yang berhak menuntut dan memaafkan qishas menurut Imam Malik adalah ahliwaris ashabah bi nafsih, orang yang paling dekat dengan korban itulah yang berhak.Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad orang yang berhak ituadalah seluruh ahli waris, laki-laki maupun perempuan. Hukuman qishash dapat hapus karena hal-hal berikut: a) Hilangnya tempat untuk diqishash b) Pemaafan c) Perdamaian d) Diwariskan hak qishash. Adapun diat dalam pembunuhan sengaja itu bukan hukuman pokok, melainkanhukuman pengganti dari qishash bila qishash itu tidak dapat dilaksanakan ataudihapus dengan sebab-sebab yang telah disebutkan di atas.  Dalam bahasa Arab, pembunuhan disebut berasal dari kata yangsinonimnya yang berarti mematikan.16 Pembunuhan dalam bahasa Indonesia diartikan dengan proses, perbuatan, ataucara membunuh. Sedangkan menurut istilah pembunuhan adalah suatu aktivitas yang dilakukanoleh seseorang atau beberapa orang yang mengakibatkan seseorang atau beberapaorang meninggal dunia. Pembunuhan diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: a. Pembunuhan secara sengaja 16 Ahmad Wardi Muclich, Hukum Pidana Islam, h. 136 12
  13. 13. Pembunuhan sengaja (amd) adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk membunuh orang lain dengan menggunakan alat yang dipandang layak untuk membunuhb. Pembunuhan menyerupai sengaja Pembunuhan seperti sengaja adalah perbuatan yang sengaja dilakukan oleh seseorang kepada orang lain dengan tujuan mendidik. Sebagai contoh: seorang guru memukulkan penggaris kepada kaki seorang muridnya, tiba-tiba muridnya yang dipukul itu meninggal dunia, maka perbuatan guru tersebut dinyatakan sebagai pembunuhan menyerupai sengaja.c. Pembunuhan tidak sengaja Pembunuhan tidak sengaja (khata) adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan tidak ada unsur kesengajaan yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa seseorang melakukan penebangan pohon yang kemudian pohon yang ditebang itu, tiba- tiba tumbang dan menimpa orang yang lewat lalu meninggal dunia. 13

×