Makalah mata kuliah manajemen dakwah (orientalisme)

5,965 views
5,694 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
5,965
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
107
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah mata kuliah manajemen dakwah (orientalisme)

  1. 1. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) ORIENTALISME Untuk memnuhi tugas akhir mata kuliah Manajemen Dakwah Dosen pengampu: DR. Ahmad Sastra Disusun Oleh: Bahrum Subagia FAKULTAS AGAMA ISLAM KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR 2013
  2. 2. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) A. Pendahuluan “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”(Al-Baqarah: 120) “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (Al-Baqarah: 217) Dua ayat di atas merupakan peringatan Allah kepada Rasulullah akan musuhmusuh Islam. Dua ayat itu pun masih berlaku hingga saat ini, bukan hanya kepada Rasulullah, tetapi juga kepada kaum muslimin. Di jaman Rasulullah, orang-orang yang membenci Islam menyerang dengan senjata. Mereka berjuang di medan laga, menyabetkan senjata, memotong-motong jasad kaum muslimin. Akan tetapi, di jaman ini, orang-orang yang membenci Islam datang dengan kasih sayang. Mereka datang berpakaian rapih, tidak membawa senjata, dan tidak datang dengan kebengisan melainkan dengan senyuman. Namun, mereka lebih jahat dan lebih merusak, karena mereka menyerang pemikiran dan akidah kaum muslimin. Mereka menyerang inti pertahanan kaum muslimin. Ketika hilang akidah dalam diri seorang muslim maka nerakalah ancamannya. Celakanya, serangan itu telah terhujam dalam dada kaum mulimin. Banyak kita saksikan orang-orang yang mengaku dirinya muslim, namun pemikiran dan akidahnya jauh dari Islam. Mereka, orang-orang yang membenci Islam itu datang dengan wajah orientalisme. Mereka mengkaji Islam, menghafal Al-Qur'an dan hadis, menguasai bahas Arab, menguasai literatur ulama-ulama, untuk menjatuhkan Islam. Mereka mengkaji Islam dengan berkedok ilmu pengetahuan dan berusaha meragukan kebenaran risalah Islam. B. Pengertian Orientalisme Orientalisme secara bahasa berasal dari bahasa Prancis, yaituorient yang artinya Timur, lawan kata dari kata occident yang artinya Barat.1 Edward W. Said mendefinisikan orientalisme adalah suatu gaya berfikir yang berdasarkan pada pembedaan ontologis dan epistimologis yang dibuat antara “Timur” (The Orient) dan (hampir selalu) “Barat” (the Occident). 2 1 2 Maman Buchari, Menyingkap Tabir Orientalis, Jakarta: Amzah, 2006, hlm: 7 Edward W. Said, Orientalisme, Penerbit Pustaka, Bandung, 1966, h. 3 (cet.3)
  3. 3. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) Mengutip definisi Orientalisme Dr. Abdurrahaman Hasan el-Maidani, DR. Hasan Abdul Rauf M. El-Badawiy dan DR. Abdurrahman Ghirah mendefinisikan orientalisme adalah penisbatan kepada studi/penelitian yang dilakukan oleh selain orang timur terhadap disiplin ilmu ketimuran, baik bahasa, agama, sejarah, dan perasalahn-permasalahan sosio-kultural bangsa Timur.3 Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan dengan sederhana pengertian orientalisme adalah tradisi kajian ketimuran dan keislaman di dunia Barat yang telah berumur berabad-abad. Syamsuddin Arif mengatakan bahwa istilah „Orientalis‟ biasanya ditujukan kepada para Ilmuan Barat yang melakukan kajian terhadap Islam. Bidang kajian mereka tidak terbatas hanya soal agama Islam, tetapi mencakup budaya, bahasa, dan sejarah. Mereka juga memperluas kajiannya dalam peradaban-peradaban dunia yang lain seperti India, China, Mesopotamia, dan Mesir. Kepentingan mereka dalam mengkaji peradaban Timur juga dibarengi dengan semangat Enlightenment, yang terkenal dengan istilah “Ex Oriente Lux” (dari Timurlah munculnya cahaya).4 Adapun pengertian dalam ensiklopedia islam untuk pelajar, Orientalis diartikan sebagai orang yang mempelajari masalah-masalah ketimuran, termasuk juga di dalamnya mengenai Islam, disebut orientalis. Para orientalis ini adalah ilmuan barat yang mendalami ilmu-ilmu dunia timur, seperti bahasa, sastra, agama, sejarah, dan budaya. Minat mereka terhadap dunia timur dan Islam sudah berkangsung sejak abad pertangahan.5 Dari berbagai pengertian orientalisme oleh beberapa pakar, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa orientalisme adalah usaha orang-orang Barat untuk mengetahui semua informasi mengenai Timur (baik bahasa, sastra, agama, sejarah, ataupun budaya) yang dilakukan dengan cara kajian/studi, penelitain, dan lain-lain. Sedangkan orirntalis adalah orang-orang Barat yang melakukan kajian/studi juga penelitian secara mendalam menganai dunia timur. Kepentingan mereka mempelajari itu dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan ilmiah, kristenisasi, serta kolonialisasi. C. Sejarah Orientalisme Munculnya orientalis, tidak terlepas dari sejarah Islam dan Kristen. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi lahirnya orientalisme yang di antaranya adalah pada perang salib. Di mana ketika dimulainya pergeseran politik dan agama antara Islam dan Kristen di Palestina. Kekalahan beruntun pasukan perang salib atas kaum 3 Hasan Abdul Rauf M. El-Badawiy dan Abdurrahman Ghirah, Orientalisme dan Misionarisme, Menelikung Pola Pikir Ummat Islam,Bandung: Rosda Karya, 2007 hal. 3 4 http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=189:tantanganorientalisme&catid=3:syamsuddin-arif/ Rabu, 5 Mei 2013, 17.00 5 Ensiklopedi Islam Untuk Pelajar, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Vol. 4, Cet-4, Jakarta: 2005. h 115
  4. 4. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) muslimin.Inilah yang memunculkan kebencian dan kekuatan baru bagi mereka untuk mengalahkan kaum muslimin, bukan dengan perang fisik namun mulai menggunakan perang pemikiran. Mereka muali giat mengkaji Timur dari sisi agama maupun budaya. Erward Said menuliskan bahwa orang barat memunculkan permulaan timbulnya orientalisme secara resmi ialah setelah keluarnya keputusan konferensi Gereja Wina tahun 1312 M. Disaat telah terbentuk departemen-departemen ke-Araban di beberapa universitas di Eropa.6 Ada juga yang berpendapat bahwa orientalisme lahir karena kebutuhan barat menolak Islam dan untuk mengetahui penyebab kekuatan umat Islam terutama setelah jatuhnya Konstantinopel pada tahun 857 H/ 1453 M.7 Lebih jauh lagi, Allah telah mengabarkan kepada Rasulullah dan kepada umat ini akan adanya orang-orang yang membenci dan memusuhi Islam. Dalam beberapa ayatnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. … “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” (Al-Maidah: 82) … … “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)”(Al-Baqoroh: 217) “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga mengikuti agama mereka"(Al-Baqarah : 120) Dari ayat-ayat, tersebut sangatlah jelas bagi kita bahwa permusuhan orangorang yang memebenci Islam telah ada benihnya sejak jaman Rasulullah. 6 Erward Said, Al Isytisyroq (Orientalisme), Bandung: Salman ITB, 1985 hlm 80 7 hlm 26-29 Qasim Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, Jakarta: Gema Insani Press, 1996
  5. 5. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) D. Tokoh-Tokoh Orientalisme Orientalismeadalah sekelompok orang atau golongan yang berasal dari negara-negara dan ras yang berbeda-beda, yang mengkonsentrasikan diri dalam berbagai kajian ketimuran, khususnya dalam hal keilmuan, peradaban, dan agama, kuhusunya negara Arab, Cina, Persia, dan India.8 Perkembangan selanjutnya, kata „Orientalis‟ diidentikan dengan orang-orang kristen yang sangat berkeinginan untuk melakukan studi terhadap Islam dan bangsa Arab.9 Jumlah orientalis tentunya terus bertambah dari jaman ke jaman. Kajian ketimuran dan keislaman di Barat masih banyak peminatnya. Hal ini dapat diketahui dari maraknya program kuliah yang mengkonsentrasikan kajian ketimuran dan islam. Abdurrahman Badawi telah mendaftar dalam bukunya Mawsu'ah alMustasyriqin, 205 tokoh orientalis yang ditulis secara sistematis. Buku itu mengulas biografi para tokoh orientalis dari mulai nama, tempat tanggal lahir, riwayat pendidikan, karya-karyanya, dan kegiatan-kegitannya. DR. Hasan Abdul Rauf M. El-Badawiy dan DR. Abdurrahman Ghirah mengklasifikasikan orientalis ke dalam dua kelompok besar. Pertama, kelompok moderat dan bisa bertindak adil. Kedua, kelompok ekstrim atau fanatik. Kelompok moderat ini adalah mereka yang mempelajari Islam dan kaum muslimin secara ilmiah, jujur, moderat, dalam memberikan penilaian, demi mencari kebenaran, bahkan sampai memeluk Islam. Orientalis moderat dibagi kembali menjadi dua kelompok, yaitu: Pertama, kelompok yang berpegang teguh dalam penelitiannya dengan prinsip keilmuan, penuh kejujuran dan bersikap apa adanya. Mereka adalah Reenan, Jenny Pierre, Carl Leil, Tolstoy. Kedua, mereka merupakan orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memluk Islam. Sebagian di anatara mereka adalah Lord Headly, Ethan Deneeh, dan Dr. Greeneh. Orientalis ekstrim, mereka dikenal menyelewengkan kebenaran dan melakukan penyimpangan dalam memahami ajaran Islam serta tidak tematik dalam penelitiannya. Mereka di antaranya adalahA.J Arberry, Alferd Goem, Baron Carrade Vaux, H.A.R Gibb,Gold Ziher, S.M Zweimer, G. Von Grunbaum, Phillip Hitti, A.J Vensink, L. Massinyon, D,B Macdonald, D.S Margaliouth, R.L Nicholson, Henry 8 Ibid, hal. 4 Pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad Izat Tahtawiy dalam tulisannnya At-Tabsyir wal Istisyraq, Serangan Terhadap Nabi Muhammad dan Dunia Islam, yang dipublikasikan dalam Majma’ Buhuts Islam. Kairo: 1977 9
  6. 6. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) Iammens, Josseph, Shacht, Harfly Haol, Majid Kadury, Aziz Atiah Surial, dan lainlain. E. Bahaya Orientalisme Bagi Akidah Islam Dalam buku Belajar Islam Dari Yahudi yang ditulis oleh Herry Nurdi, ia mengumpamakan orientalisme seperti iblis berjubah wali. Karena sebab sumbangan ilmu pengetahuan yang diberikan oleh para orientalis kepada Islam, memiliki tujuan yang terselubung. Setidaknya ada dua tujuan mereka yaitu, pertama akan menimbulkan konflik di antara umat muslim dan keduamenghancurkan kepercayaan (akidah) umat Islam atas kebenaran dan kebaikan dalam Islam. Para orientalis menggunakan beberapa cara untuk merusak akidah umat Islam baik yang nyata maupun yang tersembunyi. 1. Kristenisasi Setelah Eropa keluar dari keterbelakangannya di zaman pertengahan, mereka menuju ke Timur mencari daerah-daerah jajahan. Bangsa Eropa bermaksud menguasai negeri, kekayaan alam dan rakyat, yang kemudian menghancurkan Aqidah ummat Islam. Melalui Orientalisme, penjajah menanamkan perasaan bahwa Islam berbahaya bagi programnya. Program yang digariskannya dengan tujuan hendak mematikan nilai kemanusiaan di negeri jajahan, supaya lenyap perasaan kemanusiaan di sana, sehingga tidak akan timbul bibit-bibit perlawanan menghadapi penjajah yang sudah memonopoli negeri itu, dan program yang bertujuan mematahkan hal-hal yang peka pada jiwa ummat Islam yaitu paham Wahdaniyah yang tidak mau tunduk pada selain Allah. Justru karena itulah penjajah menebarkan hal-hal yang menyerang Islam secara rahasia melalui Orientalis, terbukti dengan mobilisasi tentara di bawah pimpinan Orientalis, mendrop para propagandis ke negeri-negeri Islam dan melindunginya dengan tentara-tentara penjajah, mengatur posisinya dan propagandanya di kota-kota dan kampung-kampung, membantu mereka dengan uang, atau mendirikan rumah sakit, rumah jompo dan sekolah-sekolah; sebagai alat jaringan penyesatan. Mereka bersembunyi di balik kedok demi melepaskan masyarakat dari kemiskinan dan kebodohan, dengan kedok yang.bernama Al Masih. Di samping sasarannya yang lain, ialah membasmi bahasa Arab dan mencabutnya dari ummat Islam, bahasa Al Qur'an konstitusi Agama. Dalam mencapai tujuannya, penjajah membujuk orang-orang yang ahli bahasa Barat, lantas diberi jabatan dan posisi penting, untuk mendorong semangat ummat Islam berlomba-lomba mempelajari bahasa penjajah, yang sekaligus orang-orang yang sudah asyik dengan bahasa asing (penjajah) itu terlengah, atau segan-segan mempelajari bahasa Arab,
  7. 7. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) dengan pengertian bahwa mempelajari bahasa Barat (Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Rusia dan lain-lain) tidak mempengaruhi aqidah agamanya. Karena itulah hampir semua negeri-negeri Islam yang berbahasa Arab pun menggunakan bahasa asing, mereka hanya tahu bahasa Arab di waktu Shalat. Seperti umumnya di negerinegeri Afrika Utara. Para propagandis Kristen di negara-negara Islam membuat merosotnya bahasa Arab sebagai bahasa yang menjadi pendorong keinginan beragama di kalangan umat. Pemerintahnya melepaskan pegangan ummat dari agama, adab dan akhlaq Islam. 2. Membenamkan ummat Islam ke dalam aliran-aliran fikiran yang menyesatkan Di antara lain untuk memalingkan kaum muslimin dari akidahnya yaitu dengan membenamkan ummat Islam ke dalam aliran-aliran yang menyesatkan; terutama generasi mudanya. a. Materialisme Faham yang mengingkari nilai kemanusiaan, rasa kasih sayang penyantun terhadap keluarga, kerabat dan masyarakat semuanya.Yang paling berbahaya dalam aliran ini ialah besarnya nafsu manusia, nafsu masuk selalu di bagian-bagian yang lemah, sehingga manusia itu selalu cenderung pada hal-hal yang cepat untuk mendapatkan kecintaan dan kesuksesannya, seperti yang dijelaskan oleh Allah dalam surat al Qiyamah ayat 20-21 dan surat Al Insan ayat 27, yang artinya: "Ingat! bahkan kamu suka yang segera dan kamu tinggalkan akhirat." (al Qiyamah: 20-21). "Sesungguhnya mereka itu mencintai yang segera, dan meninggalkan di belakangnya hari yang berat pertanggungan jawabnya (siksanya)."(al Insan: 27). Materialisme mengingkari agama yang menyeru kepada iman, iman pada metafisika (ghaib) yaitu iman pada Allah, malaikat, akhirat, hisab, surga, neraka dan semua yang terjadi di dalam rasa menjadi pegangan ratio bagi aliran kebendaan di dalam menghukum sesuatu, untuk menerima atau menolak, artinya aliran kebendaan menyarankan ummat manusia ke dalam hawa nafsu dan mencintai dunia serta meninggalkan agama yang benar. b. Wujudiyah = Existentialism Yaitu aliran kebebasan yang melepaskan dirinya dari semua ikatan kemasyarakatan, hukum, peraturan serta adat-istiadat, dan mengakui semua agama, tak punya tempat, tidak mempunyai isteri dan atau tanah air. Sebenarnya aliran ini adalah lanjutan dari aliran fikiran yang ditimbulkan oleh materialisme modern, yaitu memisahkan manusia dari aliran rohaninya dan menjadikannya menurun ke alam hewan semata, yang tak berperikemanusiaan dan tidak berperasaan.
  8. 8. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) Paul Sartre, tokoh aliran Wujudiyah (Existentialism) ini menyatakan: "Yang pantas dilaksanakan dalam kehidupan kebebasan ialah menjadikan orang-orang pengecut menjadi berani, menerima ajakan kebinatangan, melakukan keinginan nafsu, membuang semua tradisi ajaran-ajaran kemasyarakatan dan menghancurkan segala ikatan yang dibuat oleh agama-agama." (Dari buku karya William James yang diterjemahkan oleh Dr Mahmud Hasbullah dengan judul Iradah al I'tiqad halaman 21). Aliran Wujudiyah merusak tabiat manusia, akal, hati dan jiwa serta menjerumuskan kepada hewan yang tidak berotak, tidak berhati dan tidak berjiwa (tak berperasaan). Faham ini ditanamkan pada pemuda-pemuda Islam, itu sebagai pengertian yang bermaksud untuk pendangkalan, yang dianggap sebagai gerakan kebebasan. Demikianlah peranan besar yang dilakukan oleh Orientalisme, untuk menyesatkan Pemuda-pemuda Islam dengan semboyan "Gerakan pembebasan yaitu bebas dari Agama, akal dan perikemanusiaan supaya mereka menjadi hewan yang lebih sesat, tidak khawatir lagi pada bahaya-bahaya kolonialis, dan Orientalis untuk memerangi Islam dan penggerogotan da'wahnya." c. Sekularisme Sebenarnya, Sekularisme adalah apa yang dipropagandakan oleh Orientalisme untuk merusak akidah uamat. Mereka membiayai dan memperlengkapi dengan segala fasilitas agar ilmu dapat terpisah dari agama. Gerakan ini mulai bangkit di Eropa setelah terjadinya persaingan antara Ilmuwan dengan pemuka-pemuka Gereja yang berkuasa di zaman Pertengahan dan menguasai otak orang-orang Eropa, yang tidak menerima fikiran atau pendapat di luar yang bersumber pada Gereja/Kristen. Di waktu itu kekuasaan gereja mempunyai hak pengampunan terhadap orang-orang yang bersalah dan berdosa besar, begitu juga punya hak mengutuk dan mengusir sebagai mewakili Tuhan dan lain sebagainya. Persengketaan ini berakhir dengan berpisahnya antara ilmu pengetahuan dengan Gereja dan masing-masing punya tokoh utama. Para ahli pengetahuan boleh berkata sesukanya tanpa protes dari pihak Gereja dan sebaliknya pihak Gereja punya hak mengatakan apa yang mereka sukai dalam urusan agamanya. Ketika terjadi persaingan antara ilmu dan agama Kristen akibat dari perbuatan pihak Gereja yang menjalankan apa-apa yang diprotes oleh aliran ilmu maka Agama (Kristen) harus memisahkan diri dari urusan dunia, dan urusannya diganti/diambilalih oleh aliran ilmu tanpa agama. Berbeda dengan Islam, Islam selamanya tidak memisahkan dan tidak mempertentangkan ilmu dengan agama sebab ilmu adalah alat untuk memperkuat agama, dan agama itu sendiri pun adalah ilmu, dan ilmu adalah pembimbing kepada Agama. Di dalam Al-Qur'an, kata-kata "ilmu" dan yang berhubungan dengan ilmu punya hubungan/peranan penting sekali, yang lebih dari 820 kali disebutkan.
  9. 9. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) Pengembangan ilmu adalah sebagian dari risalah Islam, dengan ilmu manusia bisa mengenal Tuhannya, mengamalkan Syari'at Islam, dan Islam mewajibkan menuntut ilmu, lihat surat Az-Zumar ayat 9, Al-Mujadalah ayat 11, dan Thaha ayat 114. "Katakanlah (ya Muhammad)! Apakah sama orang berilmu dengan yang tidak berilmu? Hanya yang bisa menganalisa ialah ahli-ahli fikir."(Az-Zumar: 9) "Allah meninggikan derajat orang-orang berilmu dan yang diberi ilmu." (AlMujaadalah: 11) "Katakanlah, ilmu."(Thaha: 114) ya Muhammad: O, Tuhan! Tambahlah aku dengan Adapun sekularisme yang dilahirkan oleh Orientalis, membawa pada pemisahan ilmu dengan agama, hal ini tidak ada dalam Islam dan tidak pantas ada dalam masyarakat Islam, karena Islam menghimpun ilmu dan pengetahuan.Siapa yang menerima sekularisme berarti tidak akan tahu hakekat Islam dan tidaklah sempurna Islam seseorang tanpa ilmu! 3. Usaha Propaganda Untuk mencapai maksudnya yaitu memalingkan kaum Muslimin dari agamanya, dan melemahkannya, kaum Orientalis menggunakan berbagai cara lain dengan memperalat segala kemungkinan yang dipakai oleh ummat Islam sendiri. a. Propaganda penyesatan dengan memakai nama Islam Orientalis menggunakan aliran-aliran Kepercayaan/Kebatinan Bahaiy dan Qodyaniyah. Tasauf dan aliran 1) Aliran Tasauf Kepercayaan ini mendawahkan bahwa mereka ingin menempuh jalan untuk sampai pada Allah, tapi tidak dengan menempuh jalan yang diatur oleh Allah dalam Al-Qur'an dan oleh Nabi dalam Sunnah; mereka membuat cara sendiri, yang tidak diizinkan Allah, dan membuat ketentuan/undang-undang Suluk, yang melakukan zuhud (memencilkan diri dari keduniaan), latihan jiwa mengharamkan yang halal, dan membunuh nafsu. Mereka mengambil ajaran-ajaran agama, atau aliran-aliran lain, yang mereka rasakan dan kira-kira belum terdapat dalam agama Islam. Mereka membenamkan diri ke dalam ikatan-ikatan Wihdatul Wujud, serta tidak mengakui Syari'at, menyama-ratakan antara Iman dan Kafir serta menyamakan antara ta'at dan durhaka dan da'waan penyaksiannya pada Tuhan bagi segala yang ada. 2) Bahaiy
  10. 10. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) Bahaiy lahir di Iran pada abad ke-19, yang mengambil inspirasi dari ajaran Syiah, disebarkan dan dikembangkan oleh Syirazy (keturunan Yahudi yang mengaku beragama Islam) yang bergelar BABA, tak berapa lama sesudah Imam ke-12 Muhammad bin Hasan al Ashary yang kelahirannya dinanti-nantikan oleh sekte "Syiah Imam 12". Kemudian kebohongan ini terbukti dengan kehobongan Al Baba (Syirazy) di kalangan Syi'ah, yang menyatakan bahwa imam yang sudah hilang, akan muncul di Tebriz (Iran) (Adzarbijan.) Kaum Syi'ah meyakini, bahwa imam ini akan timbul/bangkit di Timur Iran, di suatu gunung yang bemama "Kouh Khada", artinya "Gunung Allah". Kemudian Al Baba ditangkap dan dihukum mati, dan sebelum dihukum mati diumumkan, bahwa Imam yang dimaksudnya ialah muridnya "Hasan Sabah Azal" yang bergelar "Baha'ullah" dan dinamakanlah alirannya Al-Baha'iy karena dihubungkan dengan Baha'ullah ini, yang lari dari Iran. Baha'ullah menda'wakan dirinya Nabi, yang diutus membawa agama baru, pembaharu Islam, dan kepadanya diturunkan kitab. Selama hidupnya ia giat menyiarkan ajaran Bahaiy ini. Dia dikuburkan di Palestina yang diduduki Israel. Propaganda Aliran Bahaiy serupa dengan Komunisme, yaitu melepaskan diri dari ikatan dan ajaran agama, dengan kedok "kedamaian dan anti perang", memberikan kebebasan pada wanita sesuka hatinya, menjadikan tahunan jadi 19 bulan. Jadi hakekat ajaran ini benar-benar menyeleweng dari Islam dan merusak agama Islam. Propaganda Bahaiy ini disokong oleh Kolonialis dan Orientalis, demi untuk merusak dan memalsukan Islam. (Lihat Al-Qodyani dan Al-Qodyaniyah, karangan Abu Hasan An Nadawy, halaman 19 dan seterusnya). 3) Al-Qadyaaniyah Yaitu propaganda penyesatan yang timbul di India, pada akhir abad ke-19, yang berkedok (memakai) nama Islam, didirikan oleh MIRZA GHULAM AHMAD dan pusat kegiatannya di India, penganutnya ialah rakyat India juga, kemudian meluas ke luar negeri dan bermunculan di negara-negara Asia, Afrika. Inipun disokong oleh Kolonialis dan Orientails. Gerakan Qodyaniyah ini timbul di masa udara pemikiran dan politik India sesudah revolusi menentang penjajahan Inggris pada tahun 1875, yaitu Revolusi yang menghancurkan ummat Islam. Maka Qodyani mengikuti langkah politik kolonial. Dengan langkah kebudayaan ini, mereka mendapat bantuan dari Inggris. Tujuannya adalah menggoncangkan aqidah Islam, karena Islam-lah sumber yang membangkitkan roh jihad membela agama, tanah air, harta benda dan jiwa. (Lihat Al-Qodyani karangan Abu Hasan An Nadawy).
  11. 11. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) Di samping itu Kolonialis memperalat aliran-aliran Tasauf dan kebatinan yang telah menyeleweng untuk menyebar luaskan perbuatan-perbuatan bid'ah, khurafat. Dalam keadaan orang Islam India putus asa dan grogi, dan menyerah pada tekanan situasi yang berbahaya, banyak di antara mereka yang digiring masuk ke dalam aliran Qodyani yang bathil, yang dipelopori oleh Mirza Ghulam Ahmad di Punjab. Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang yang diagungkan oleh Inggris, yang di masa mudanya terkenal dengan penganut aliran Tasauf, dan menyendiri. Kemudian dia jadi tokoh di kalangan ummat Islam dan mengutip ayat-ayat Al Qur'an dan sebagiannya yang diselewengkan, yang bagi orang awamdan tidak hafal Qur'an, sama saja antara Qur'an dengan bahasaArab. Ini adalah usahanya merusak Qur'an. Bukan sekedar itu saja, bahkan dia menda'wakan dirinya sebagai Nabi yang menerima wahyu, dan dia aktif menyiarkan ajarannya ini untuk maksud politik yang digariskan oleh Kolonial. Dia menghapuskan Jihad, sebagai kewajiban umat Islam dia mengancam revolusi Islam menentang penjajah Inggris di India. Dalam bukunya Teryaq Qulub, Mirza Ghulara Ahmad mengatakan: "Saya menggunakan sebagian besar umurku untuk menyokong pemerintah Inggris, dan mencegah jihad, wajib taat pada Ulil Amri (Inggris)." Ini ditulis dalam buku-buku selebaran-selebaran, brosur-brosur yang kalau mungkin dikumpulkan semuanya telah memenuhi 50 gudang. Buku-buku ini tersebar di negeri-negeri Arab, Mesir, Syiria, Turki serta Indonesia dan lain-lain, yang tujuannya agar ummat Islam toleransi dan mengakui kekuasaan penjajah; dia memuaskan hatinya dengan kisah Al Mahdi dan Al Masih yang ditunggu datangnya kembali ke bumi, dan menghapuskan perasaan Jihad dan lain-Iain. Ini membuktikan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad menggunakan Qodyaniyah sebagai alat untuk mematahkan cita-cita ummat Islam India, supaya mereka tidak melakukan perlawanan terhadap Inggris dan menerima kehinaan serta perbudakan. Artinya, Qodyaniyah adalah produk Kolonial. Inilah rahasia yang menjadikan Qodyan masih berkembang sesudah matinya Mirza Ghulam Ahmad tahun 1908, dan pengikutpengikut Mirza ini aktif menyiarkan aliran-aliran ini di kalangan ummat Islam dengan giat atas bantuan biaya dan moril dari musuh-musuh Islam. Qodyan membuka cabang-cabangnya di Eropa, Asia dan Afrika yang menggunakan nama sebagai da'wah Islam. Penganut Qodyaniyah bekerjasama menyebarkan faham kolonialisme bersama Orientalis dan Zionis. F. Manajemen Dakwah Untuk Mengatasi Orientalisme Melihat, begitu besarnya bahaya orientalisme bagi umat Islam, maka kaum muslimin harus berusaha keras menghadangnya. Salah satu cara terbaik untuk menghadang oreintalisme yaitu dengan dakwah. Dakwah merupakan usaha sadar
  12. 12. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) untuk mengubah seseorang, sekelompok, atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan perintah Allah dan tuntutan Rasul-Nya.10 Dakwah ini bisa dilakukan kepada kaum muslimin yang belum mengetahui Islam dengan baik. Sehingga, kaum muslimin mengetahui Islam yang benar dan baik, dengan begitu mereka tidak akan terjerumus ke dalam kesesatan yang dihembuskan para orientalis. Juga, dakwah ini pun untuk mereka para orientalis, agar mereka menyadari bahwa Islam adalah agama yang haq dan tidak ada kecacatan. Tentunya, dakwah memerlukan manajemen yang baik agar hasilnya baik. Manajemen dakwah adalah proses perencanaan tugas, mengelompokan tugas, menghimpun dan menempatkan tenaga-tenaga pelaksana dalam kelompok-kelompok tugas dan kemudian menggerakan ke arah pencapaian tujuan dakwah.11 Sementara, tujuan dakwah menurut Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq dalam bukunya Strategi Dakwah Syar’iyah, yaitu:12 Pertama, mengarahkan manusia untuk mengabdi hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Kedua, menegakkan keadilan di muka bumi serta mengupayakan kedamaian dan keamanan dunia. Ketiga, perbaikan jiwa manusia, penyebaran kasih sayang, persatuan, dan kecendrungan di antara saudara seakidah. Untuk memulai manajemen dakwah, maka hal pertama yang harus diperhatikan adalah unsur-unsur dakwah itu sendiri yang terdiri dari: da‟i, madu, media, metode, dan efek dakwah. Penjelasan selengkapnya sebagai berikut. 1. Da‟i / Komunikator (Pelaku Dakwah) Da‟i adalah orang yang melaksanakan dakwah baik lisan, tulisan, maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok, atau lewat organisasi atau lembaga. Kriteria da‟i yang diperlukan untuk menghadapi orientalisme adalah ia yang memahami Islam secara baik dan benar, juga memiliki wawasan ke – Islaman, politik, sosial, ekonomi, kemasyarakatan dan iptek. Ia juga bisa aktualisasi ajaran islam dalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini perlu dimiliki sang da‟i karena banyak orientalis yang memiliki pengetahuan keislaman yang begitu luas dan mendalam. Mereka tidak hanya bisa menguasi bahasa Arab, tetapi juga menguasai sejarah, 10 Khittah Da’wah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta: PT.Abadi, 2007, cet-3. hlm. 1 11 M. Munir & Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, Jakarta: Kencana, 2006, hlm. 36 (pengertian ini diambil dari buku A. Rosyad Shaleh, Manajeman Dakwah Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1993) 12 Buku ini adalah karya terjemahan dari buku aslinya yang berjudul Fushul Minas-Siyasah Asy-Syar’iyyah fid- Da’wah ilallah,(Penterjemah: SalimBazemool), Solo: CV. Pustaka Mantiq, 1997, hlm. 95-96.
  13. 13. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) berbagai bahasa, dan mampu membuat karya tulis berbahasa Arab yang luar biasa seperti Mu’jam Mufahros Hadis, Kamus Al-Munjid dan lain-lain. Untuk mendukung keberhasilan, sang da‟i harus berupaya memiliki dan membina sifat – sifat sebagai berikut: a. Harus benar–benar istiqamah dalam keimanannya dan percaya seyakin– yakinnya akan kebenaran agama islam yang dianutny untuk kemudian diteruskannya kepada umat. b. Harus menyampaikan dakwahnya dengan lidahnya sendiri. Dia tidak boleh menyembunyikan kebenaran, apalagi menukar kebenaran tersebut dengan nilai yang rendah. c. Menyampaikan kesaksiannya tentang kebenaran itu, tidak saja dengan lidahnya, tetapi sejalan dengan perbuatannya. d. Berdakwah secara jujur dan adil terhadap semua golongan dan kelompok umat dan tidak terpengaruh dengan penyakit hati, seperti hasad, sombong, serakah, dan sebagainya. e. Berdakwah dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah dan mengharap ridho – Nya. f. Menjadikan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai contoh teladan, utama, dalam segenap kehidupan baik pribadi maupun rumah tangga dan keluarga. g. Mempunyai keberanian moral dalam berdakwah, namun memahami batas – batas keimanan yang jelas. h. Mengutamakan persaudaraan dan persamaan umat, sebagai wujud ukhuwah islamiyah. i. Bersifat terbuka, penuh toleransi, lapang dada dan tidak memaksa. 2. Mad‟u / Komunikan / Masyarakat (Penerima Dakwah) Mad‟u yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah, atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama Islam maupun non Islam. Sudah sangat jelas bahwa mad‟u yang akan dihadapi ialah kaum muslimin sendiri dan para orientalis atau mereka yang belum berislam. Adapun yang harus dikatahui oleh seorang da‟i dalam menghadapi mad‟unya ialah berbagai masalah yang sedang dihadapi. Masalah yang sangat penting diselesaikan adalah masalah masalah keimanan dan ketauhidan, yang semakin lemah dan banyak dicemari oleh perbuatan syirik, khurafat dan takhayul, terutama di lapisan maasyarakat yang kurang pendidikan agamanya. Masalah keimanan dan ketauhidan ini adalah hal pokok yang harus segera diselesaikan sebelum masalah lainnya seperti ekonomi, sosial, dan budaya.
  14. 14. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) Karena setiap permasalahan kaum muslimin berbeda-beda, kadang seorang da‟i mesti menglasifikasikan masalah-masalah tersebut agar memudahkan pelaksaanaan dakwahnya. Apabila objek dakwah sudah jelas maka sang da‟i lebih mudah untuk mengenal dan dapat mensinkronkan dengan kegiatan dakwah yang akan diproyeksikan. Kegiatan dakwah yang punya korelasi dengan permasalahan kehidupan yang dihadapi masyarakat akan menjadikan dakwah lebih berhasil. Adapun dakwah kepada para orientalis dan mereka yang belum berislam, maka diperlukan keilmuan yang memupuni. Kadang kala, diperlukan diskusi dan debat bagi mereka yang dilakukan dengan argumen yang kuat dan dengan hikmah. Kadang kala, bisa dilakukan dengan menulis karya ilmiah untuk membantah karya-karya mereka yang menyesatkan. 3. Materi Dakwah Materi dakwah adalah isi pesan atau materi yang disampaikan da‟i kepada mad‟u. Dalam hal ini sudah jelas bahwa yang menjadi materi dakwah adalah ajaran Islam itu sendiri yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Serta, dikuatkan dengan atsar sahabat, penjelasan salafus sholeh dan ulama-ulama yang terujia otoritas keilmuaannya. 4. Media Dakwah Media dakwah adalah kelengkapan sarana dan prasarana dakwah yang mempengaruhi keberhasilan dakwah. Kelengkapan dakwah tersebut harus dalam keadaan siap pakai dan dapat difungsikan sewaktu diperlukan, sehingga gerak dakwah tidak hanya berputar pada lingkaran konsep dan progam dalam bentuk teori melainkan betul-betul dapat diwujudkan secara aplikatif yang menyentuh kebutuhan umat. Media yang bagus dan juga banyak dikembangkan di perguruan tinggi untuk menghadang orientalisme adalah dengan menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah. Juga, diterbitkan buku-buku dan penyelenggaraan seminar-seminar yang membahas orientalisme dan bahayanya juga baik dikembangkan. 5. Metode Dakwah Metode dakwah adalah jalan atau cara yang dipakai juru dakwah untuk menyampaikan ajaran materi dakwah islam. Ada beberapa teknik pendekatan yang bisa digunakan oleh seorang da‟i ketika berdakwah, antara lain sebagai berikut. a. Pendekatan persuasif dan motivatif Pendekatan ini mengajak objek dakwah dengan rasa sejuk dan mendorong dengan semangat tinggi. Dalam hal ini dedikasi pelaku dakwah dengan dinamika iman dan takwa yang mantap sangatlah menentukan, karena dalam praktiknya pelaku dakwah
  15. 15. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) harus mampu menempatkan diri sebagai motivator yang baik, inisiator yang cerdas, dan dinamisator yang terampil. b. Pendekatan konsultatif Dalam hal ini antara pelaku dakwah dan objek dakwah terjalin interaksi positif, dinamis dan kreatif. Masing – masing mereka memerlukan sehingga pemecahan masalah yang dihadapi objek dakwah mudah dilakukan karena ada hubunagn batin yang bertolak dari jiwa dan semangat ukhuwah islamiyah. c. Pendekatan partisipatif Maksudnya saling pengertian antara pelaku dakwah dengan objek dakwah tidak hanya terbatas sampai pada tingkat pertemuan tatap muka saja, melainkan diwujudkan dalam bentuk saling bekerja sama dan membantu dilapangan dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Dan telah dijelaskan juga dalam QS. An Nahl : 125. Bahwa ada tiga metode dakwah, yaitu : 1) Bi al Hikmah, yaitu berdakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi sasara dakwah dengan menitik beratkan pada kemampuan mereka. 2) Mau‟izatul Hasannah, yaitu berdakwah dengan memberikan nasihat – nasihat atau menyampaikan ajaran – ajran islam dengan rasa kasih sayang. 3) Mujadalah Billati Hiya Ahsan, yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran dan membantah dengan cara yang baik. 6. Efek Dakwah Dalam setiap aktifitas dakwah pasti akan menimbulkan reaksi. Artinya, jika dakwah telah dilakukan oleh seorang da‟i dengan materi, metode, dan cara tertentu, maka akan timbul respons dan efek (atsar) pada mad‟u (penerima dakwah). Efek sering disebut dengan feed back (umpan balik. Efek sangat besar artinya dalam penentuan langkah-langkah dakwah berikutnya. Tanpa menganalisis efek dakwah, maka kemungkinan kesalahan strategi yang sangat merugikan pencapaian tujuan dakwah akan terulang kembali. Sebaliknya, dengan menganalisis efek dakwah secara cermat dan tepat, maka kesalahan strategi dakwah akan segera diketahui untuk diadakan penyempurnaan pada langkah-langkah berikutnya. Unsur-Unsur Manajemen Dakwah Dalam manajemen dakwah ada unsur-unsur yang harus diperhatikan, di antaranya yaitu: 1. Perencanaan dakwah: tahap ini meliputi membuat susunan materi dakwah yang akan disampaikan kepada Mad‟u. dan juga membuat susunan acara yang akan dilakukan mulai dari awal hingga akhir acara tersebut.
  16. 16. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) 2. Pengorganisasian dakwah: tahap ini merupakan, tahap yang dimana segala anggota penyelenggara acara berkumpul bersama dan saling bekerja sama dengan harapan tujuan dakwah tersebut bisa sukses. 3. Penggerakkan dakwah: tahap ini merupakan di mana segala anggota yang terlibat, menjalankan tugasnya masing-masing sesuai dengan perencanaan kegiatan dakwah yang telah dibuat bersama. 4. Pengendalian dakwah: tahap ini merupakan suatu upaya mengatur jalannya acara, agar acara tersebut berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat bersama. Jadi situasi acaranya bisa terkendali. 5. Evaluasi dakwah: tahap ini merupakan suatu upaya melihat hasil / feedback yang diberikan mad‟u, setelah mad‟u tersebut menerima pesan dakwah yang disampaikan oleh Da‟i . Prinsip-Prinsip Manajemen Dakwah Ada pun prinsip-prinsip yang di miliki manajemen dakwah yang harus juga diketahui yaitu sebagai berikut : 1. Prinsip Konsolidasi Prinsip ini mengandung makna bahwa setiap organisasi dakwah harus selalu dalam keadaan mantap dan stabil, jauh dari konflik, dan terhindar dari perpecahan, baik lahiriah maupun batiniah. 2. Prinsip Koordinasi Prinsip ini berarti organisasi dakwah harus mampu memperlihatkan kesatuan gerak dalam satu komando. Ketertiban dan keteraturan merupakn ciri khasnya, karena prinsip koordinasi mengisyaratkan betapapun banyaknya pembagian kelmpok kerja dan jauhnya rentang kendali dalam medan yang luas, namun denyut nadinya tetap satu. 3. Prinsip Tajdid Prinsip ini memberi pesan bahwa organisasi dakwah harus selalu tampil prima dan energik, penuh vitalitas dan inovatif. Personal – personalnya harus cerdas dan pintar membaca kemajuan zaman. Tapi, semua itu tetap dalam konteks perpaduan iman, ilmu, dan amal. 4. Prinsip Ijtihad Prinsip ini melahirkan ruh jihad dalam arti menyeluruh melalui penyalahgunaan nalar, rasio, dan logika yang memadai dalam mencari interprestasi baru baik isi kandungan al – Quran dan as sunnah. Ijtihad dalam pengertian sesungguhnya adalah mencari berbagai terobosan hukum sebagai jalan keluar untuk mencapai tujuan, sehingga ijtihad mampu memberikan jawaban terhadap bermacam – macam persoalan kehidupan umat dari berbagai dimensi, baik politik, sosial, maupun ekonomi.
  17. 17. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) 5. Prinsip Pendataan dan Kaderisasi Prinsip ini mengingatkan bahwa setiap organisasi dakwah harus berusaha mendapatkan dukungan dana yang realistis dan diusahakan secara mandiri dari sumber – sumber yang halal dan tidak mengikat. Di samping itu, organisasi dakwah dengan manajemen yang baik juga harus kader yang andal dan propesional, sehingga tidak terjadi kevakuman gerak dari waktu ke waktu. Kader yang diamkasud harus terdiri dari tenaga – tenaga yang beriman dan bertakwa, berilmu, berakhlak dan bermental jihad. 6. Prinsip Komunikasi Prinsip ini memberikan arah bahwa setiap organisasi dakwah, pengelolaannya harus komunikatif dan persuasif, karena dakwah sifatnya mengajak. Meskipun esensi dakwah menyampaikan kebenaran dan kebenaran itu kadang kala keras dan pahit, namun dalam penyampaiannya tetap dituntut bijaksana dan dengan bahasa komunikasi yang mengena, sehingga betapapun pahitnya, umat tidak antipati melainkan tetap dapat menerima dan memahami dengan akal yang sehat. 7. Prinsip Integral dan Komprehensif Prinsip ini mengingatkan kepada kita bahwa pelaksanaa kegiatan dakwah tidak hanya terpusat di masjid atau di lembaga-lembaga keagamaan semata, akan tetapi harus integrasi dalam kehidupan umat dan menyentuh kebutuhan yang menyeluruh dari segenap strata sosial masyarakat. 8. Prinsip penelitian dan pengembangan Kompleksitas permasalahan umat harus menjadi kajian dakwah yang mendalam. Karena dakwah akan gagal bila saja sudut pandang hanya terpusat pada satu sisi. 9. Prinsip sabar dan Istiqomah Nilai – nilai sabar dan istiqomah yang digerakkan denagn landasan iman dan takwa dapat melahirkan semangat dan potensi rohanaih yag menjadikan dakwah sebagai kebutuhan umat. Hasan Abdul Rauf M. El-Badawiy dan Abdurrahman Ghirah dalam bukunya Orientalisme dan Misionarisme, Menelikung Pola Pikir Ummat Islam, memberikan beberapa solusi untuk menghadapi orientalisme, di antaranya: 1. Para ulama Islam, peneliti, pemikir yang pakar dalam dunia tulis menulis karya ilmiah, hendaknya mempersembahkan bagi dunia Islam informasiinformasi keislaman yang akurat dan benar tentang Islam. 2. Hendaknya karya tulis ini memenuhi kaidah-kaidah penelitian, keluasan wawasan, kedalaman berpikir, keakuratan dan kebenaran sumber yang
  18. 18. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) digunakan serta mengandung sisi-sisi ketekunan yang jauh dari kekeliruan dan cela dari sisi ilmiah. 3. Hendaknya ulama Islam melakukan bantahan terhadap karya-karya orientalis, sehingga bisa tersingkap kesalahan dan kerancuannya. 4. Mengkoreksi secara ilmiah terhadap karya-karya orientalis berdasarkan cara ilmiah pula, jauh dari sikap mencaci-maki, menghormati dengan kata-kata yang tenang, tidak memprovokasi, jauh dari sikap olok-olok, menuduh, dan prasangka. 5. Dalam menghadapi perang pemikiran, kita mesti mempunyai perangkatperangkat dakwah dan studi keislaman, sebagai berikut: a. Menerbitkan kamus fikih Islam, sekuel kamus-kamus ilmiah kontemporer sebagai panduan praktis untuk mengetahui istilah-istilah fikih dan argumen-argumennya dalam madzhab-madzhab fikih. b. Menerbitkan majalah yang khusus meneliti orientalisme. c. Menerbitkan buku-buku keislaman dengan pemahaman yang benar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Isinya, bisa memuat klarifikasi atas stigma buruk dunia Islam. d. Mempersiapkan penerjemahan ilmu-ilmu keislaman yang benar, khususnya makna kata-kata dalam Al-Qur'an dengan berbagai bahasa untuk meluruskan berbagai penerjemahan yang disusun oleh orientalis dan misionaris. e. Menyeleksi hadis-hadis nabi pilihan yang teruji validitas hukumnya, untuk kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa global dengan makna kata-kata dalam Al-Qur'an yang dapat menjadi panduan bagi kaum muslimin non Arab dan bagi non muslim yang hendak memahami Islam yang benar dari sumbernya yang asli. 6. Membersihkan cela-cela pemikiran dari turats Islam khususnya dalam bidang tafsir. Yang dimaksud turats di sini adalah semua produk pemikiran kaum muslimin dalam berbagai segi, baik itu peradaban, pemikiran, bahasa, agama dan sebagainya. 7. Memepersiapkan para dai dan sekolahnya yang mampu menghadang pemikiran orientalis dengan argumen yang jelas dan logika berfikir yang jernih.
  19. 19. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) G. Kesimpulan Orientalismeadalah usaha orang-orang Barat untuk mengetahui semua informasi mengenai Timur (baik bahasa, sastra, agama, sejarah, ataupun budaya) yang dilakukan dengan cara kajian/studi, penelitain, dan lain-lain. Sedangkan orirntalis adalah orang-orang Barat yang melakukan kajian/studi juga penelitian secara mendalam menganai dunia timur. Kepentingan mereka mempelajari itu dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan ilmiah, kristenisasi, serta kolonialisasi. Faktor sejarah orientalisme yang melatarbelakangi lahirnya orientalisme adalah pada perang salib, yang diikuti faktor-faktor lain yaitu politik, agama, ekonomi, dan lain-lain. Dan permulaan timbulnya istilah orientalisme secara resmi ialah setelah keluarnya keputusan konferensi Gereja Wina tahun 1312 M. Jumlah orientalis di dunia ini sangatlah banyak dan terus bertambah dari tahun ke tahun. Hanya saja, dapat dikelompokan ke dalam dua kelompok besar. Pertama, kelompok moderat dan bisa bertindak adil. Kedua, kelompok ekstrim atau fanatik. Kelompok moderat adalah mereka yang mempelajari Islam dan kaum muslimin secara ilmiah, jujur, moderat, dalam memberikan penilaian, demi mencari kebenaran, bahkan sampai memeluk Islam. Orientalis moderat dibagi kembali menjadi dua kelompok, yaitu: Pertama, kelompok yang berpegang teguh dalam penelitiannya dengan prinsip keilmuan, penuh kejujuran dan bersikap apa adanya.Kedua, mereka merupakan orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memluk Islam. Kelompok ekstrim adalah mereka dikenal menyelewengkan kebenaran dan melakukan penyimpangan dalam memahami ajaran Islam serta tidak tematik dalam penelitiannya. Sisi negtif dari bahaya orientalisme bagi umat Islam adalah pengburan akidah yang menjadi prinsip Islam. Di antara cara yang digunakan orientalisme untuk menghancurkan akidah umat adalah kristenisasi, perusakan pemikiran dengan matrealisme, Wujudiyah = Existentialism, dan sekulerisme. Juga,mereka menggunakan cara propaganda lainnya yaitu, propaganda penyesatan dengan memakai nama Islam seperti tasawuf, bahaiy, dan Al-Qadyaaniyah (ahmadiyah). Untuk menghadapi orientalime, dibutuhkan manajemen dakwah yaitu proses perencanaan tugas, mengelompokan tugas, menghimpun dan menempatkan tenagatenaga pelaksana dalam kelompok-kelompok tugas dan kemudian menggerakan ke arah pencapaian tujuan dakwah.
  20. 20. Makalah Mata Kuliah Manajemen Dakwah (Orientalisme) H. Daftar Pustaka 1. Edward W. Said, Orientalisme, Bandung: Penerbit Pustaka, 1966, (cet.3) 2. Ensiklopedi Islam Untuk Pelajar, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Vol. 4, Cet-4, Jakarta: 2005. 3. Erward Said, Al Isytisyroq (Orientalisme), Bandung: Salman ITB, 1985 hlm 80 4. Hasan Abdul Rauf M. El-Badawiy dan Abdurrahman Ghirah, Orientalisme dan Misionarisme, Menelikung Pola Pikir Ummat Islam,Bandung: Rosda Karya, 2007. 5. Herry Nurdi, Belajar Islam Dari Yahudi, Jakarta: Cakrawala Publising, 2007. 6. Khittah Da‟wah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta: PT.Abadi, 2007, cet-3. 7. M. Munir & Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, Jakarta: Kencana, 2006. 8. Maman Buchari, Menyingkap Tabir Orientalis, Jakarta: Amzah, 2006. 9. Muhammad Izat Tahtawiy, At-Tabsyir wal Istisyraq, (Serangan Terhadap Nabi Muhammad dan Dunia Islam), Majma‟ Buhuts Islam. Kairo: 1977 10. Qasim Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, Jakarta: Gema Insani Press, 1996. 11. Salim Bazemool (Penterjemah),Fushul Minas-Siyasah Asy-Syar’iyyah fidDa’wah ilallah, Solo: CV. Pustaka Mantiq, 1997. 12. http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=189:tanta ngan-orientalisme&catid=3:syamsuddin-arif

×