Page 1
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
1,012
On Slideshare
1,012
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
5
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Page 1
    Aspek Klinis Kekerasan pada Anak dan
    Upaya Pencegahannya
    Indra Sugiarno
    Ketua Satuan Tugas Perlindungan dan Kesejahteraan Anak
    Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP-IDAI)
    Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu
    tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain
    yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental. Yang
    dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai
    usia 18 tahun. Oleh karena itu, kekerasan pada anak adalah
    tindakan yang di lakukan seseorang /individu pada mereka
    yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan
    kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu. Seringkali istilah
    kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan
    tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan
    dari tindak kekerasan dan eksploitasi. Kekerasan pada anak
    juga sering kali dihubungkan dengan lapis pertama dan
    kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak
    anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga. Kekerasan
    yang disebut terakhir ini di kenal dengan perlakuan salah
    terhadap anak atau child abuse yang merupakan bagian dari
    kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence).1,2
    Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak
    adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh
    seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak
    (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik, seksual,
    maupun emosi. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak
    sebagai caretaker, maka mereka umumnya merupakan orang
    terdekat di sekitar anak. Ibu dan bapak kandung, ibu dan
    bapak tiri, kakek, nenek, paman, supir pribadi, guru, tukang
    ojek pengantar ke sekolah, tukang kebon, dan seterusnya.2
    Banyak teori yang berusaha menerangkan bagaimana
    kekerasan ini terjadi, salah satu di antaranya teori yang
    behubungan dengan stress dalam keluarga (family stress).
    Stres dalam keluarga tersebut bisa berasal dari anak, orang
    Stres berasal dari anak misalnya anak dengan kondisi
    fisik, mental, dan perilaku yang terlihat berbeda
    dengan anak pada umumnya. Bayi dan usia balita,
    serta anak dengan penyakit kronis atau menahun juga
    merupakan salah satu penyebab stres.
    • Stres yang berasal dari orang tua misalnya orang tua
    dengan gangguan jiwa (psikosis atau neurosa), orang
    tua sebagai korban kekerasan di masa lalu, orang tua
    terlampau perfek dengan harapan pada anak terlampau
    tinggi, orang tua yang terbiasa dengan sikap disiplin.
    • Stres berasal dari situasi tertentu misalnya terkena PHK
    (pemutusan hubungan kerja) atau pengangguran,
    pindah lingkungan, dan keluarga sering bertengkar.
    Dengan adanya stres dalam keluarga dan faktor sosial
    budaya yang kental dengan ketidaksetaraan dalam hak dan
    kesempatan, sikap permisif terhadap hukuman badan
    sebagai bagian dari mendidik anak, maka para pelaku makin
    merasa sahlah untuk mendera anak. Dengan sedikit faktor
    pemicu, biasanya berkaitan dengan tangisan tanpa henti dan
    ketidakpatuhan pada pelaku, terjadilah penganiayaan pada
    anak yang tidak jarang membawa malapetaka bagi anak dan
    keluarganya.3
    Perlukaan bisa berupa cedera kepala (head injury), patah
    tulang kepala, gegar otak, atau perdarahan otak. Perlukaan
    pada badan, anggota gerak dan alat kelamin, mulai dari luka
    lecet, luka robek, perdarahan atau lebam, luka bakar, patah
    tulang. Perlukaan organ dalam (visceral injury) tidak dapat
    dideteksi dari luar sehingga perlu dilakukan pemeriksaan
    dalam dengan melakukan otopsi. Perlukaan pada permukaan
    badan seringkali memberikan bentuk yang khas menyerupai
    benda yang digunakan untuk itu, seperti bekas cubitan,
    gigitan, sapu lidi, setrika, atau sundutan rokok. Karena
    perlakuan seperti ini biasanya berulang maka perlukaan
    yang ditemukan seringkali berganda dengan umur luka yang
    berbeda-beda, ada yang masih baru ada pula yang hamper
    menyembuh atau sudah meninggalkan bekas (sikatriks). Di
    samping itu lokasi perlukaan dijumpai pada tempat yang
    tidak umum sepertihalnya luka-luka akibat jatuh atau
    kecelakaan biasa seperti bagian paha atau lengan atas
    2
    Page 3
    sebelah dalam, punggung, telinga, langit langit rongga mulut,
    dan tempat tidak umum lainnya.3,4
    Pada saat ditanyakan tentang bagaimana kejadiannya
    sampai perlukaan tersebut bisa terjadi, biasanya orang tua
    atau wali yang mengantar anak itu akan memberikan
    jawaban yang tidak konsisten dan tidak klop antara kedua
    orang tua dengan kata lain jawabannya “ngarang”. Untuk
    anak yang berusia diatas 3 tahun kita dapat menanyakan
    kejadiannya pada korban, tapi ini dilakukan di ruang
    terpisah dari tersangka pelaku (private setting). Juga, anak
    yang menjadi korban ini di bawa untuk mendapatkan
    perawatan tidak dengan segera atau ada jarak waktu antara
    kejadian dengan upaya melakukan pertolongan .4,5
    Saat perlakuan salah pada anak terjadi, lantaran perbuatan
    itu, pelaku tidak sadar bahkan mungkin tidak tahu bahwa
    tindakannya itu akan diancam dengan pidana penjata atau
    denda yang tidak sedikit, bahkan jika pelaku ialah orang
    tuanya sendiri maka hukuman akan ditambah sepertiganya
    (pasal 80 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun
    2002 tentang Perlindungan Anak, sebagai berikut: (1). Setiap
    orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman
    kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana
    dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau
    denda paling banyak Rp. 72.000.000.00. (2). Dalam hal anak
    sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka
    pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun
    dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000.00. (3).
    Dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku
    dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda
    paling banyak RP. 200.000.000.004. Pidana dapat ditambah
    sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
    (1), ayat (2), ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan
    tersebut orang tuanya). 2
    Upaya pencegahan
    Mengingat sedemikian kompleks kekerasan pada anak ini
    maka usaha pencegahan kekerasan pada anak tidak hanya
    tergantung pada program dan layanan yang telah disediakan
    3
    Page 4
    oleh pemerintah melainkan juga sangat tergantung pada
    bagaimana masyarakat memaknai issu kekerasan ini.6
    Beberapa indikator bahwa pemerintah atau negara
    menempatkan anak sebagai prioritas utama di antaranya
    adalah sebagai berikut:
    • Kemarahan warga termotivasi dan mereka akan
    bertindak saat mendengar ada anak yang mengalami
    kekerasan.
    • Perumahan yang memadai tersedia bagi seluruh
    keluarga, layanan kesehatan dapat terjangkau seluruh
    keluarga,
    • Sistim layanan sosial dapat dijangkau keluarga saat
    mereka membutuhkan bantuan sebelum kekerasan
    pada anak terjadi,
    • Materi umum mengenai bimbangan dan perawatan
    anak serta materi komunikasi interpersonal,
    penyelesaian konflik tanpa kekerasan, dijumpai dalam
    kurikulum sekolah mulai taman kanak-kanak sampai
    sekolah lanjutan dan diteruskan untuk pendidikan bagi
    orang dewasa,
    • Program pendidikan dan latihan kerja tersedia bagi
    pekerja dalam rangka memperoleh pekerjaan dan upah
    yang memadai,
    • Kebijakan tempat kerja yang mendukung keluarga
    seperti perjanjian kerja yang memungkinkan karyawan
    memilih waktu kerjanya sendiri,
    • Setiap orang tua memiliki akses untuk menolong
    dirinya dan kelompok pendukung ,
    • Model-model kampanye anti kekerasan jelas terlihat,
    • Sistim hukum, pidana atau perdata, memiliki dana, staf
    terlatih yang cukup untuk menyelesaikan kasus
    kekerasan dengan tepat dan adil,
    • Program pendidikian bagi orang tua berbasis budaya
    dan etnis tersedia bagi seluruh orang tua yang baru
    punya anak.
    Ketika masyarakat sadar akan keberadaan kekerasan pada
    anak ini sebagai salah satu masalah mereka yang
    meresahkan, maka dengan sendirinya masyarakat sangat
    berkeingingan untuk membantu seluruh upaya layanan,
    4
    Page 5
    program ataupun kebijakan terkait dengan pencegahan
    kekerasan pada anak. Upaya pencegahan kekerasan pada
    anak dapat dilaksanakan dari dua sisi, masyarakat dan
    pemerintah.
    Pemerintah sangat diharapkan memiliki komitmen dasar
    nasional yang sungguh-sungguh untuk anak. Sebagai
    langkah awal dimulai dengan inisiatif pemimpin atau tokoh
    nasional untuk ambil bagian untuk mendukung upaya
    pencegahan sebagai salah satu usaha penting memerangi
    kekerasan pada anak. Tokoh atau pemimpin berkaliber
    nasional berinisiatif mendukung upaya ini, dengan
    kemampuannya bisa mempengaruhi kebijakan baik pada
    sektor privat atau publik.
    Aksi berikut yang perlu diambil adalah memasukan langkah
    pencegahan kekerasan pada anak secara komprehensif ke
    dalam sistim peradilan. Sistim hukum yang ada, baik
    peradilan anak, pidana, dan perdata, seluruh peraturan dan
    prosedurnya harus sedemikan rupa sehingga sensitif dengan
    kebutuhan anak dan keluarga. Tentu dalam hal ini harus
    ditunjang pula dengan jumlah tenaga hakim, pengacara, staf
    pengadilan terlatih yang memadai.
    Bagi masyarakat, keluarga, atau orang tua diperlukan
    kebijakan, layanan, sumberdaya, dan pelatihan pencegahan
    kekerasan pada anak yang konsisten dan terus menerus.
    Strategi pencegahan ini meliputi :
    • Pencegahan primer untuk semua orang tua dalam
    upaya meningkatkan kemampuan pengasuhan dan
    menjaga agar perlakuan salah atau abuse tidak terjadi,
    meliputi perawatan anak dan layanan yang memadai,
    kebijakan tempat bekerja yang medukung, serta
    pelatihan life skill bagi anak. Yang dimaksud dengan
    pelatihan life skill meliputi penyelesaian konflik tanpa
    kekerasan, ketrampilan menangani stress, manajemen
    sumber daya, membuat keputusan efektif, komunikasi
    interpersonal secara efektif, tuntunan atau guidance
    dan perkembangan anak, termasuk penyalahgunaan
    narkoba.
    5
    Page 6
    • Pencegahan sekunder
    ditujukan bagi kelompok
    masyarakat dengan risiko tinggi dalam upaya
    meningkatkan ketrampilan pengasuhan, termasuk
    pelatihan dan layanan korban untuk menjaga agar
    perlakuan salah tidak terjadi pada generasi berikut.
    Kegiatan yang dilakukan di sini di antaranya dengan
    melalukan kunjungan rumah bagi orang tua yang baru
    mempunyai anak untuk melakukan self assessment
    apakah mereka berisiko melakukan kekerasan pada
    anak di kemudian hari.
    • Pencegahan tersier dimaksudkan untuk meningkatkan
    kemampuan pengasuhan yang menjaga agar perlakuan
    salah tidak terulang lagi, di sini yang dilakukan adalah
    layanan terpadu untuk anak yang mengalami korban
    kekerasan, konseling, pelatihan tatalaksana stres.
    Pada saat kasus kekerasan pada anak ditemukan,
    sebenarnya ada masalah dalam pengasuhan anak (parenting
    disorder) di belakang kejadian tersebut.4 Maka dari itu, dasar
    dari strategi pencegahan adalah tersedianya secara luas
    akses untuk mendapatkan informasi pengasuhan bagi para
    orang tua khususnya bagi mereka yang memiliki anak
    pertama. Di sisi lain, anak dengan segala haknya harus pula
    dimengerti dan dipahami para orang tua sebagai orang yang
    paling bertanggung jawab atas pemenuhan hak anak
    tersebut. Semua usaha yang dilakukan dalam rangka
    mengubah perilaku orang tua agar melek informasi
    pengasuhan dan hak anak membutuhkan upaya edukasi
    sejak dini dan terus menerus. Sehingga pendidikan sebagai
    bagian dari strategi pencegahan kekerasan pada anak
    menjadi sangat penting.