Your SlideShare is downloading. ×
BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangIstilah pendidikan inklusif atau inklusi, mulai mengemuka sejak tahun 1990,ketika konfe...
PEMBAHASAN2.1. Pendidikan InklusifBerarti semua siswa dlm satu sekolah tanpa membedakan keunggulan &kekurangan dlm berbaga...
Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutupendidikan bagi semua anak.2.4. Model Kurikulum Pendi...
Kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran yang didalamnyamenampung pengaturan tentang tujuan, isi, proses, dan eva...
2.5. Model Pendidikan InklusifPendidikan inklusif pada dasarnya memiliki dua model. Pertama yaitu modelinklusi penuh (full...
dan kebutuhannya. Anak berkebutuhan khusus dapat berpindah dari satu bentuk layananke bentuk layanan yang lain, seperti:1)...
1. Model kurikulum pada pendidikan inklusi dapat dibagi tiga, yaitu :• Model kurikulum regular penuh• Model kurikulum regu...
a. Model kurikulum regular penuh, Peserta didik yang berkebutuhan khususmengikuti kurikulum reguler ,sama seperti teman-te...
Kelemahannya:Tidak semua guru di sekolah regular paham tentang ABK. Untuk itu perlu adanyasosialisasi mengenai ABK dan keb...
khusus belajar bersama-sama dengan anak reguler dalam satu kelas. Baik anak regulermaupun anak berkebutuhan khusus mendapa...
membuktikan bahwa anak-anak inklusif juga berhak mendapatkan status dan kedudukanyang sama dengan anak-anak pada umumnya, ...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Model inklusif

1,381

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,381
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
61
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Model inklusif"

  1. 1. BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangIstilah pendidikan inklusif atau inklusi, mulai mengemuka sejak tahun 1990,ketika konferensi dunia tentang pendidikan untuk semua, yang diteruskan denganpernyataan salamanca tentang pendidikan inklusif pada tahun 1994.Pendidikan inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu. Pada sekolahinklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakan dapat dilayani secaraoptimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya.Istilah inklusif berimplikasi pada adanya kebutuhan yang harus dipenuhi bagi semua anak dalamsekolah. Hal ini menyebabkan adanya penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan oleh gurudalam proses pembelajaran.1.2. Rumusan Masalah.1. Apa saja model pendidikan inklusif?2. Apa saja model kurikulum pendidikan inklusif?BAB II1
  2. 2. PEMBAHASAN2.1. Pendidikan InklusifBerarti semua siswa dlm satu sekolah tanpa membedakan keunggulan &kekurangan dlm berbagai hal utk memperoleh layanan, menjadi bagian dari komunitassekolah, termasuk juga dalam rasa memiliki masing-masing siswa, guru, maupun stafpendukung (Sandra Alper,1999)Semua murid masuk pada sekolah yg sama. Sistem pend yg mencakup diversitasbesar pd murid Dan differensiasi pendidikan (Cor J. W Meijer,et al, 1997)Pendidikan Inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anakberkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil 1994).Sekolah inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu. Padasekolah inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakandapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan ataupenyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana dan prasarana, tenaga pendidikan dankependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya.Tujuan Pendidikan InklusifPendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yangmengikut-sertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanyadi sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya.Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukanpenyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistempembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik.Manfaat Pendidikan InklusifMelibatkan dan memberdayakan masyarakat untuk melakukan analisis situasipendidikan lokal, mengumpulkan informasi semua anak pada setiap distrik danmengidentifikasi alasan mengapa mereka tidak sekolah.Mengidentifikasi hambatan berkaitan dengan kelainan fisik, sosial dan masalahlainnya terhadap akses dan pembelajaran.2
  3. 3. Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutupendidikan bagi semua anak.2.4. Model Kurikulum Pendidikan InklusifAnak Berkebutuhan Khusus (ABK) perlu memerlukan pelayanan pendidikansecara khusus. Hal ini dikarenakan mengingat mereka memiliki hambatan internalantara lain fisik, kognitif dan sosial-emosional. Pendidikan bagi anak tersebut dapat dilakukan baik dalam system segregatif di sekolah luar biasa (SLB) maupun systeminklusif pada sekolah umum/regular yang menyelenggarakan pendidikan inklusif.Kategori ABK disini adalah peserta didik yang mengalami hambatan visualimpairments, hearing impairment, mental retardation, physical and health disabilities,communication disorders, slow learner, learning disabilities, gifted and talented,ADHD, autis dan multiply handicapped.Pendidikan inklusif memiliki ciri-ciri antara lain:(1) ABK belajar bersama-sama dengan anak rata-rata lainnya(2) setiap anak memperoleh layanan pendidikan yang layak, menantang danbermutu(3) setiap anak memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dankebutuhannya(4) system pendidikan menyesuaikan dengan kondisi anak.Pendidikan inklusif memiliki keuntungan antara lain:(1) dapat memenuhi hak pendidikan bagi semua orang (education for all);(2) mendukung proses wajib belajar;(3) pembelajaran emosi-sosial bagi ABK;(4) pembelajaran emosi-sosial-spiritual bagi anak rerata lainnya;(5) pendidikan ABK lebih efisien.KURIKULUM ABK3
  4. 4. Kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran yang didalamnyamenampung pengaturan tentang tujuan, isi, proses, dan evaluasi.Dengan demikian kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulumyang dirancang, diberlakukan dan diimplementasikan dalam satu lembaga atau satuanpendidikan tertentu.Selanjutnya silabus merupakan rancangan pembelajaran yang disusun oleh guruselama satu semester. Sedangkan RPP sebagai rencana pembelajaran yang di susun guruuntuk satu atau bebrapa pertemuan dengan peserta didik.Dalam pembelajaran inklusif, model kurikulum bagi ABK dapat dikelompokanmenjadi empat, yakni:1. Duplikasi KurikulumYakni ABK menggunakan kurikulum yang tingkat kesulitannya sama dengansiswa rata-rata/regular. Model kurikulum ini cocok untuk peserta didik tunanetra,tunarungu wicara, tunadaksa, dan tunalaras. Alasannya peserta didik tersebut tidakmengalami hambatan intelegensi. Namun demikian perlu memodifikasi proses, yaknipeserta didik tunanetra menggunkan huruf Braille, dan tunarungu wicara menggunakanbahasa isyarat dalam penyampaiannya.2. Modifikasi KurikulumYakni kurikulum siswa rata-rata/regular disesuaikan dengan kebutuhan dankemampuan/potensi ABK. Modifikasi kurikulum ke bawah diberikan kepada pesertadidik tunagrahita dan modifikasi kurikulum ke atas (eskalasi) untuk peserta didik giftedand talented.3. Substitusi KurikulumYakni beberapa bagian kurikulum anak rata-rata ditiadakan dan diganti denganyang kurang lebih setara. Model kurikulum ini untuk ABK dengan melihat situasi dankondisinya.4. Omisi KurikulumYaitu bagian dari kurikulum umum untuk mata pelajaran tertentu ditiadakantotal, karena tidak memungkinkan bagi ABK untuk dapat berfikir setara dengan anakrata-rata.4
  5. 5. 2.5. Model Pendidikan InklusifPendidikan inklusif pada dasarnya memiliki dua model. Pertama yaitu modelinklusi penuh (full inclusion). Model ini menyertakan peserta didik berkebutuhankhusus untuk menerima pembelajaran individual dalam kelas reguler.Kedua yaitu model inklusif parsial (partial inclusion). Model parsial inimengikutsertakan peserta didik berkebutuhan khusus dalam sebagian pembelajaranyang berlangsung di kelas reguler dan sebagian lagi dalam kelas-kelas pull out denganbantuan guru pendamping khusus.Model lain misalnya dikemukakan oleh Brent Hardin dan Marie Hardin. Brentdan Maria mengemukakan model pendidikan inklusif yang mereka sebut inklusifterbalik (reverse inclusive). Dalam model ini, peserta didik normal dimasukkan kedalam kelas yang berisi peserta didik berkebutuhan khusus. Model ini berkebalikandengan model yang pada umumnya memasukkan peserta didik berkebutuhan khusus kedalam kelas yang berisi peserta didik normal.Model inklusif terbalik agaknya menjadi model yang kurang lazim dilaksanakan.Model ini mengandaikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai peserta didikdengan jumlah yang lebih banyak dari peserta didik normal. Dengan pengandaiandemikian seolah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus secara kuantitas lebih banyakdari sekolah untuk peserta didik normal, atau bisa juga tidak. Model pendidikaninklusif seperti apapun tampaknya tidak menjadi persoalan berarti sepanjang mengacukepada konsep dasar pendidikan inklusif.Model pendidikan inklusif yang diselenggarakan pemerintah Indonesia yaitumodel pendidikan inklusif moderat. Pendidikan inklusif moderat yang dimaksud yaitu:Pendidikan inklusif yang memadukan antara terpadu dan inklusi penuhModel moderat ini dikenal dengan model mainstreamingModel pendidikan mainstreaming merupakan model yang memadukan antarapendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (Sekolah Luar Biasa) dengan pendidikanreguler. Peserta didik berkebutuhan khusus digabungkan ke dalam kelas reguler hanyauntuk beberapa waktu saja.Filosofinya tetap pendidikan inklusif, tetapi dalam praktiknya anakberkebutuhan khusus disediakan berbagai alternatif layanan sesuai dengan kemampuan5
  6. 6. dan kebutuhannya. Anak berkebutuhan khusus dapat berpindah dari satu bentuk layananke bentuk layanan yang lain, seperti:1) Bentuk kelas reguler penuhAnak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari dikelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama.2) Bentuk kelas reguler dengan clusterAnak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) di kelas regulerdalam kelompok khusus.3) Bentuk kelas reguler dengan pull outAnak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) di kelas regulernamun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumberuntuk belajar dengan guru pembimbing khusus.4) Bentuk kelas reguler dengan cluster dan pull outAnak berkebutuhan khusus belajar bersama anak lain (normal) di kelas regulerdalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas regulerke ruang sumber untuk belajar bersama dengan guru pembimbing khusus.5) Bentuk kelas khusus dengan berbagai pengintegrasianAnak berkebutuhan khusus belajar di kelas khusus pada sekolah reguler, namundalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain (normal) di kelasreguler.6) Bentuk kelas khusus penuh di sekolah regulerAnak berkebutuhan khusus belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.Dengan demikian, pendidikan inklusif seperti pada model di atas tidakmengharuskan semua anak berkebutuhan khusus berada di kelas reguler setiap saatdengan semua mata pelajarannya (inklusi penuh). Hal ini dikarenakan sebagiananak berkebutuhan khusus dapat berada di kelas khusus atau ruang terapi dengangradasi kelainannya yang cukup berat. Bahkan bagi anak berkebutuhan khusus yanggradasi kelainannya berat, mungkin akan lebih banyak waktunya berada di kelaskhusus pada sekolah reguler (inklusi lokasi). Kemudian, bagi yang gradasikelainannya sangat berat, dan tidak memungkinkan di sekolah reguler (sekolahbiasa), dapat disalurkan ke sekolah khusus (SLB) atau tempat khusus (rumah sakit).6
  7. 7. 1. Model kurikulum pada pendidikan inklusi dapat dibagi tiga, yaitu :• Model kurikulum regular penuh• Model kurikulum regular dengan modifikasi• Model kurikulum PPIPengertiana. Model kurikulum reguler, yaitu kurikulum yang mengikutsertakan peserta didikberkebutuhan khusus untuk mengikuti kurikulum reguler sama seperti kawan-kawanlainnya di dalam kelas yang sama.b. Model kurikulum reguler dengan modifikasi, yaitu kurikulum yang dimodifikasioleh guru pada strategi pembelajaran, jenis penilaian, maupun pada programtambahan lainnya dengan tetap mengacu pada kebutuhan peserta didikberkebutuhan khusus. Di dalam model ini bisa terdapat siswa berkebutuhan khususyang memiliki PPI.c. Model kurikulum PPI yaitu kurikulum yang dipersiapkan guru program PPI yangdikembangkan bersama tim pengembang yang melibatkan guru kelas, gurupendidikan khusus, kepala sekolah, orang tua, dan tenaga ahli lain yang terkait.Kurikulum PPI atau dalam bahasa Inggris Individualized Education Program (IEP)merupakan karakteristik paling kentara dari pendidikan inklusif. Konsep pendidikaninklusif yang berprinsip adanya persamaan mensyaratkan adanya penyesuaian modelpembelajaran yang tanggap terhadap perbedaan individu. Maka PPI atau IEP menjadihal yang perlu mendapat penekanan lebih. Thomas M. Stephens menyatakan bahwa IEPmerupakan pengelolaan yang melayani kebutuhan unik peserta didik dan merupakanlayanan yang disediakan dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkan sertabagaimana efektivitas program tersebut akan ditentukan.PerbedaanPerbedaan dari ketiganya sudah nampak pada pengertiannya, yakni :7
  8. 8. a. Model kurikulum regular penuh, Peserta didik yang berkebutuhan khususmengikuti kurikulum reguler ,sama seperti teman-teman lainnya di dalamkelas yang sama. Program layanan khususnya lebih diarahkan kepada prosespembimbingan belajar, motivasi dan ketekunan belajar.b. Model kurikulum regular dengan modifikasi, kurikulum regular dimodifikasioleh guru dengan mengacu pada kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.c. Model kurikulum PPI, kurikulum disesuaikan dengan kondisi peserta didikyang melibatkan berbagai pihak. Guru mempersiapkan ProgramPembelajaran Individual (PPI) yang dikembangkan bersama tim pengembangKurikulum Sekolah. Model ini diperuntukan bagi siswa yang tidakmemungkinkan mengikuti kurikulum reguler.Keunggulan dan kelemahana. Model kurikulum regular penuhKeunggulan:Peserta didik berkebutuhan khusus dapat mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.(Freiberg, 1995)Kelemahan:Peserta didik berkebutuhan khusus harus menyesuaikan diri dengan metodepengajaran dan kurikulum yang ada. Pada saat-saat tertentu, kondisi ini dapatmenyulitkan mereka. Misalnya, saat siswa diwajibkan mengikuti mata pelajaran”menggambar.” Karena memiliki hambatan penglihatan, tentu saja siswa disabilitytidak bisa ”menggambar.” Tapi, karena mata pelajaran ini wajib dengan kurikulumyang ”ketat”, ”tidak fleksibel,” tidaklah dimungkinkan bagi guru maupun siswadisability untuk melakukan ”adaptasi atau subsitusi” –untuk mata pelajaran”menggambar” tersebut.b. Model kurikulum regular dengan modifikasiKeunggulan:Peserta didik berkebutuhan khusus dapat diberi pendidikan yang sesuai dengankebutuhannya.8
  9. 9. Kelemahannya:Tidak semua guru di sekolah regular paham tentang ABK. Untuk itu perlu adanyasosialisasi mengenai ABK dan kebutuhannya.c. Model kurikulum PPIKeunggulan:Peserta didik mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan.Kelemahan:Guru kesulitan dalam menyusun IEP dan sangat membutuhkan waktu yang banyak.Pembelajaran Model Inklusif di Kelas RegulerPola pembelajaran yang harus disesuaikan dengan anak berkebutuhan khusus biasadisebut denganIndividualized Education Program (IEP) atau Program PembelajaranIndividual (PPI). Program Pembelajaran Individual meliputi enam komponen,yaitu elicitors, behaviors, reinforcers, entering behavior, terminalobjective, dan enroute. Secara terperinci, keenam komponen tersebut yaitu:• Elicitors, yaitu peristiwa atau kejadian yang dapat menimbulkan ataumenyebabkan perilaku• Behaviors, merupakan kegiatan peserta didik terhadap sesuatu yang dapat ialakukan• Reinforcers, suatu kejadian atau peristiwa yang muncul sebagai akibat dariperilaku dan dapat menguatkan perilaku tertentu yang dianggap baik• Entering behavior, kesiapan menerima pelajaran• Terminal objective, sasaran antara dari pencapaian suatu tujuan pembelajaranyang bersifat tahunan• Enroute, langkah dari entering behavior menujut ke terminal objectiveModel pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus harus memperhatikan prinsipumum dan prinsip khusus. Prinsip umum pembelajaran meliputi motivasi, konteks,keterarahan, hubungan sosial, belajar sambil bekerja, individualisasi, menemukan, danprinsip memecahkan masalah. Prinsip umum ini dijalankan ketika anak berkebutuhan9
  10. 10. khusus belajar bersama-sama dengan anak reguler dalam satu kelas. Baik anak regulermaupun anak berkebutuhan khusus mendapatkan program pembelajaran yang sama.Prinsip khusus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing peserta didikberkebutuhan khusus. Prinsip khusus ini dijalankan ketika peserta didik berkebutuhankhusus membutuhkan pembelajaran individual melalui Program PembelajaranIndividual (IEP).BAB IIIPENUTUPKesimpulanPendidikan inklusif sama seperti sekolah pada umumnya yang memiliki muridyang berbakat di bidangnya masing masing, karena di sekolah inklusif juga pastinyamemiliki murid murid yang berbakat meskipun memiliki kekurangan yang berbeda-beda. Apalagi sekolah inklusif terbuka untuk umum tidak hanya untuk anakberkebutuhan khusus saja tetapi siapa saja yang ingin bersekolah di sekolah inklusifseperti anak penyandang cacat, tunawisma, dan lain-lain. Sekolah inklusif juga10
  11. 11. membuktikan bahwa anak-anak inklusif juga berhak mendapatkan status dan kedudukanyang sama dengan anak-anak pada umumnya, dan dapat memperoleh pendidikan yangsama. Kita sebagai mahasiswa harus dapat mensosialaisasikan adanya sekolah inklusifdan dapat menambah minat masyarakat terhadap sekoah inklusif.SaranSeharusnya pemerintah lebih memperhatikan sekolah inklusif sehingga anakyang berkebutuhan khusus yang berbakat dapat menyakurkan bakat mereka. Pemerintahjuga harus mensosialisasikan adanya sekolah inklusif agar sekolah inklusif diketahuikeberadaanya, dan masyarakat tidak lagi meremehkan sekolah inklusif bahwa anak-anak inklusif juga bisa berprestasi layaknya anak normal.DAFTAR PUSTAKAhttps://drive.google.com/11

×