Fismat Kel. 4 Matriks & Vektor
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Fismat Kel. 4 Matriks & Vektor

on

  • 10,906 views

tugas kampus

tugas kampus

Statistics

Views

Total Views
10,906
Views on SlideShare
10,906
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
411
Comments
3

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • download dulu bos. dengan klik save di menu atas
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • iiaaaaaaaaa gmna cra copy nya, tolong di bantu doooonk
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • tdk bisa dicopy ya...
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Fismat Kel. 4 Matriks & Vektor Document Transcript

  • 1. Tugas Kelompok MATRIKS DAN VEKTOR Mata Kuliah : FISIKA MATEMATIKA I Dosen : Aldila S.GP Di susun oleh Muhammad Sukma Rohim SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDY FISIKA PALANGKA RAYA 2008
  • 2. MATRIX A. Pengertian Matrix adalah suatu kumpulan angka-angka (sering disebut elemen-elemen yang disusun menurut baris dan kolom sehingga berbentuk persegi panjang, di mana panjangnya berbentuk empat persegi panjang, dimana panjang dan lebarnya ditujukkan oleh banyaknya kolom- kolom dan baris-baris. B. Berbagai macam matrix. 1) Square Matrix Ialah suatu matrik dimana banyaknya baris sama dengan banyaknya kolom (m = n). papbila m = n, maka matrix A disebut SQUARE MATRIX ORDE n. sering disebut matrix kudrat atau matrix jajaran genjang. Contoh: 1. m =n=3 2. m = n = 2 3 5 4 A= 2 3 1 B= b11 b12 1 4 2 b21 b22 2) Identity matrix Ialah suatu matrix dimana elemen-elemennya mempunyai nilai 1 pada diagonal pokok dan 0 pada tempat-tempat lain di liar diagonal pokok ( diagonal dari kiri atas ke kanan – bawah). Matrix A disebut identity matrix dan biasanya diberi sibol In. Contoh: 1. n = 2 2. n = 3 1 0 0 1 0 0 1 0 I2 = I3 = 0 1 0 0 1 3) Diagonal Matrix
  • 3. Ialah suatu matrix dimana semua elemen di luar diaogonal pokok mempunyai nilai 0 dan paling tidak satu elemen pada diagonal pokok == 0,biasanya diberi simbol D. Contoh: 1 0 0 D= 0 2 0 0 5 0 4) Scalar matrix Ialah suatu bilangan konstan. Kalau k, suatu bilangan konstan, maka hasil k.I dinamakan scalar matrix. 1 0 0 k 0 0 k.I3 = k 0 1 0 = 0 k 0 0 0 1 0 0 k Contoh: K=4 1 0 0 4 0 0 4.I3 = 4 0 1 0 = 0 4 0 0 0 1 0 0 4 5) Nol Matrix Ialah suatu matrix dimana semua elemennya mempunyai niali = 0 (nol) biasanya diberi simbol 0 dibaca matrix nol. Contoh: 0 0 0 0= 0 0 0 0 0 0 C. Operasi matrix Dua buah matrix A dan B dikatakan sama yaitu A=B, apabila A dan B mempunyai jumlah baris dan kolom yang sama dan disamping itu elemen-elemen pada baris dan kolom yang bersangkutan harus sama artinya aij = bij untuk semua nilai I dan j, dimana: aij = elemen matrix A dari baris i dan kolom j bij= elemen matrix B dari baris i dan kolom j
  • 4. contoh: 1. 2 4 2 4 A= dan B = 3 5 3 5 A =B 2. 1 0 0 1 0 A= 0 1 0 dan B= 0 1 A = B; jumlah kolom tidak sama. 1) Penjumlahan matrix Kalau matrix A = (bij), dengan m = baris dan n = kolom dan matrix B = (bij), dengan m = baris dan n = kolom, dijumlahkan (dikurangi) maka diperoleh matrix yang ketiga, yaitu matrix c = (cij), dengan m = baris dan n= kolom. Dimana elemen-elemennya diperoleh dengan menjumlahkan (mengurangkan) elemen-elemen matrix A dan B yaitu bahwa: cij = aij + bij. a11…a12...a1j…a1n b11…b12…b1j…b1n a21…a22…a2j…a2n b21…b22…b2j…b2n A+B= ai1…..ai2…aij….ain + bi1….bi2….bij….bin = am1…am2..amj...amn bm1..bm2..bmj…bmn c11…c12…c1j…c1n C= c21…c22…c2j….c2n ci1….c12…cij…..cin cm1…cm2..cmj..cmn A= 4 2 5 dan B = 1 3 2 A+B=C 5 5 7 3 1 6 3 1 4 6 2 10 Untuk bisa melakukan penjumlahan dan pengurangan dari matrix A dan B, kedua matrix ters3ebut harus mempunyai jumlah baris dan kolom yang sama. 2) Pengurangan matrix A – B = A + (-1) B Contoh: 4 3 4 2 A= dan B = 2 5 1 3
  • 5. 4 3 -4 -2 0 1 A – B = A + (-1) B = + = 2 5 -1 -3 1 2 Untuk melakukan penjumlahan dan pengurangan dari matrix A dan B kedua matrix tersebut harus mempunyai jumlah baris dan kolom yang sama. Hukum bagi penjumlahan matrix: a. A + B = (aij + bij) = (bij + aij) = B + A b. A + B + C = (aij + bij ) + c = (A + B) + C = aij + (bij + cij) = A + (B+C) 3) Perkalian matrix a. Perkalian dengan scalar Mengalikan matrix dengan sebuah bilangan atau mengalikan masing- masing elemennya dengan bilangan tersebut. Apabila matrix A harus dikalikan dengan scalar k ini berarti bahwa semua elemen dari matrix A harus dikalilan dengan k, jadi apabila A = (aij), maka kA = k(aij) = (aij) k = Ak. Contoh: 4x 3 2 5 = 12 8 20 6 1 7 24 4 28 Yaitu secara umum k[aij] = [k aij] b. Perkalian 2 buah matrix Dua buah matrix dapat dikalikan, satu terhadap yang lain, hanya jika banyaknya kolom dalam matrix yang pertama sama dengan banyaknya baris dalam matrix yang ke dua. b1 A = (a11) = a11 a12 a13 B = (bij) = b2 a21 a22 a23 b3 b1 a11 a12 a13 b2 a11b1 + a12b2 + a13b3 Maka A B = . a21 a22 a23 . b3 = a21b1 + a22b2 + a23b3 Contoh: 1. 8 4 7 6 5 A= B= 9 2 3 1
  • 6. 32 35 54 121 . A B = 4.8 + 7.5 + 6.9 = 16 15 9 = 40 2.8 + 3.5 + 1.9 2. 5 8 4 3 1 A= 7 B= 2 5 8 6 4 1 5 2 7 8 4 3 1 A . B= 3 4 . 2 5 8 6 1.8 + 5.2 1.4 + 5.5 1.3 + 5.8 1.1 + 5.6 2.8 + 7.2 2.4 + 7.5 2.3 + 7.8 2.1 + 7.6 = 3.8 + 4.2 3.4 + 4.5 3.3 + 4.8 3.1 + 4.6 8+10 4+25 3+40 1+30 18 29 43 31 = 16+14 8+35 6+56 2+42 30 43 62 44 28+8 12+20 9+32 3+42 36 32 41 27 D. Matrik Transpos Matriks A transpose didapatkan dari matriks A dengan memindahkan elemen baris menjadi elemen kolom atau dengan memindahkan elemen kolom menjadi elemen baris. Jika kita memiliki matriks A, maka matriks transpose dari A biasa ditulis sebagai AT, misalnya : a d  a b c T  A=  maka matriks transpose A adalah : A = b T e  d f d  c f   E. Matriks invers A-1
  • 7. Matriks invers dari suatu matriks A adalah matriks B yang bila diperkalikan dengan matrik A memberikan matriks satuan I, yakni : AB=I Selanjutnya, notasi matriks invers A dinyatakan dengan A-1 dapat dibuktikan bahwa AB-1=A-1A=I Cara mencari matriks invers Sebuah matrik yang dikalikan matriks inversnya akan menghasilkan matrik satuan. A A-1 = I Contoh 5 2 Jika A =  , hitunglah A-1  − 3 1  5 2 Penyelesaian A =  , − 3 1 a b Misalkan A-1=   c d  Gunakan persamaan AB-1=A-1A=I Metode matrik kofaktor 1 A-1= KT det A Dengan K adalah matrik kofaktor dari matrik A Contoh 5 2 Hitunglah invers dari matrik A =   − 3 1 Penyelesaian 5 2 det A =   =5+6=11 − 3 1 matrik kofaktor K yang diperoleh dari persamaan (1) adalah: 5 2 K=   dan − 3 1
  • 8. 5 2 KT =   − 3 1 Dengan menggunakan persamaan (5.4) diperoleh: T -1 1 1 − 2 A =  11  3 5   Catatan 1. jika matrik A adalah matrik ber ordo n x n dan det A ≠ 0 maka matrik tersebut mempuyai matrik invers A-1 matrik A disebut matrik nonsingular 2. jika det A=0 maka matriks A disebut matriks singular matriks singular tidak mempunyai matrik invers VEKTOR Pengertian Vektor Besaran Vektor dapat disajikan dengan menggunakan suatu bilangan real, kemudian diikuti dengan sistem suatu yang sesuai. Secara geometri, besaran vektor dapat disajikan dengan ruas garis berarah. Panjang ruas garis menyatakan panjang atau besar vaktor, sedangkan arah anak panah menunjukan arah vaktor. Kesamaan Vektor Dua vektor a dan b dikatakan sama (ekuivalent), jika dan hanya jika kedua vektor itu mempunyai panjang dan arah yang sama. Dua vektor yang sama, ditulis a = b (perhatikan gambar a). Sebagai contoh, perhatikan kubus ABCD.EFGH pada uuu r uuu r gambar b. Misalnya AH wakil dari vektor a dan BG wakil dari vektor b, maka a uuu r uuu r = b (a sama dengan atau ekivalen b) sebab AH dan BG mempunyai arah dan panjang yang sama. H G E F a b D C A B (a) (b) Penjumlahan Vektor Misalkan jumlah dari vektor u dengan v adalah w, maka penjumlahan vektor u dengan vektor v itu dituliskan sebagai w = u + v. Vektor w disebut vektor resultan dari vektor u dengan vektor v. Secara geometri, vektor w = u + v dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu aturan segitiga dan aturan jajargenjang. Aturan Segitiga Definisi:
  • 9. Jumlah vektor u dengan vektor v atau w = u + v dapat ditentukan dengan cara memindahkan vektor v (tanpa mengubah besar dan arahnya), sehingga titik pangkal vektor v berimpit dengan titik ujung dari vektor u. Vektor w = u + v yang dimaksud diperoleh dengan menghubungkan titik pangkal vektor u dengan titik ujung atau titik terminal vektor v yang telah dipindahkan tadi. (lihat gambar di bawah ini). Menjumlahkan vektor dengan cara seperti ini dikenal sebagai aturan segitiga. Aturan Jajargenjang Cara lain untuk menentukan jumlah vektor u dan vektor v adalah dengan memindahkan vektor v (tanpa mengubah besar dan arahnya), sehingga titik pangkal vektor v berimpit dengan titk pangkal vektor u. Vektor w = u + v yang dimaksud adalah vektor yang titik pangkalnya di titik pangkal persekutuan vektor u dan v serta vektor itu berimpit dengan diagonal jajargenjang yang dibentuk oleh vektor u dan vektor v tadi. Menjumlahkan vektor dengan cara seperti ini dikenal sebagai aturan jajargenjang (paralelogram). Sifat-Sifat Penjumlahan Vektor a. Komutatif : u + v = v + u b. Asosiatif : (u + v) + w = u + (v + w) c. Terdapat unsur identitas atau unsur satuan (yaitu vektor 0) sehingga berlaku hubungan : 0 + v = v + 0 = v d. Setiap vektor mempunyai sebuah unsur invers tambah. Jika vektor -v merupakan invers tambah dari vektor v, maka berlaku hubungan v + (-v) = 0. Pengurangan Vektor Definisi: Jika u dan v sebarang dua vektor, pengurangan v dari u didefinisikan oleh u - v = u + (-v) Perkalian Vektor dengan Skalar Definisi: Jika v adalah vektor taknol dan k bilangan real taknol (skalar), maka hasil kali kv didefinisikan sebagai vektor yang panjangnya |k| kali panjang v dan arahnya sama seperti arah v jika k > 0. dan berlawanan arah v jika k < 0. Kita definisikan kv = 0 jika k = 0 atau v = 0. Sifat-Sifat Perkalian Vektor dengan Skalar a. ||m v|| = |m| ||v|| b. m (-v) = -m v c. m v = v m d. (m +n) v = m v + n v e. m(u + v) = m u + m v Panjang Vektor Misalkan R adalah sebuah titik pada bidang dengan koordinat (x, y) dan r, maka r x dapat disajikan dalam bentuk vektor kolom sebagai r =   . Panjang atau besar y uuur dari ruas garis berarah OR dilambangkan dengan Dari gambar di samping, didapat hubungan: OR2 = OA2 + OB2 ⇔ OR2 = x2 + y2 R(x,y) y r X x
  • 10. ⇔ OR = x2 + y2 uuur Dengan demikian, panjang OR adalah: ||OR|| = x2 + y 2 x Jadi, besar atau panjang vektor r =   dapat ditentukan dengan rumus: y ||r|| = x2 + y2 uuur Misalkan titik R mempunyai koordinat (x, y, z) dan OR mewakili vektor r, x   maka vektor r dapat dinyatakan dalam bentuk vektor kolom sebagai r =  y  . z   uuur uuur Panjang atau besar ruas garis berarah OR ditulis sebagai || OR || atau OR. Berdasarkan gambar di Z samping diperoleh hubungan: OR2 = OD2 + C 2 DR ...................... (1) Sedangkan OD2 = OA2 + OB2 R OD2 = x2 + y2 r dan DR2 = z2 Substitusi OD2 dan DR2 ke O Y B persamaan (1) diperoleh OR2 = x2 + y2 + z2 Dengan demikian uuur A D || OR || = OR = x 2 + y2 + z2 X x   Jadi, besar atau panjang vektor r =  y  dapat ditentukan dengan rumus z   ||r|| = x 2 + y 2 + z2 Contoh:  1 3  2       Diketahui vektor-vektor a =  2  , b =  -2  dan c =  5  . Hitunglah||2a - b +  -2   1  4       c|| Jawab:  1 3  2  1         2a – b + c = 2  2  -  -2  +  5  =  11 ||2a - b + c|| =  -2   1  4  -1          (1)2 + (11)2 + (-1)2 = 123 . Jadi, panjang vektor a + b + c adalah ||2a - b + c|| = 123 satuan panjang
  • 11. Rumus Jarak Misalkan dua titik di R-3, yaitu titik P dengan koordinat (x1,y1,z1) dan titik Q uuur dengan koordinat (x2,y2,z2). Ruas garis berarah PQ mewakili suatu vektor dengan komponen-komponenr(x2 – x1), (y2 – y1), dan (z2 – z1). Oleh karena itu, uuu panjang ruas garis berarah PQ dapat ditentukan dengan rumus berikut. uuu r || PQ || = (x 2 - x1 )2 + (y 2 - y1 )2 + (z 2 - z1 )2 Vektor Satuan Dalam bentuk vektor kolom, vektor-vektor satuan di R-2 dapat dinyatakan sebagai berikut. 1 0 ˆ =   dan ˆ =   i j 0 1 Untuk satuan vektor a yang bukan vektor nol, kita dapat menentukan vektor ˆ satuan dari vektor a. Vektor satuan dari a (dilambangkan dengan e , dibaca: e topi) searah dengan vektor a dan panjangnya sama dengan satu satuan. x Jika, vektor a =   , maka vektor satuan dari a ditentukan dengan rumus: y a x 1 ˆ e = =   a x + y y 2 2 Dengan sifat yang sama untuk vektor-vektor di R-3, vektor satuan dari vektor a(x,y,z) ditentukan dengan rumus: x a 1   ˆ e = = y a 2   x +y +z   2 2 z Rumus Pembagian Ruang Garis di R-3 (Bentuk Vektor dan Bentuk Koordinat) Pembagian Ruas Garis dalam Perbandingan Bagian Misalkan titik C terletak pada ruas garis AB, sehingga titik C membagi ruas garis AB dengan perbandingan m : n, maka AC : CB = m : n atau AC : AB = m : (m + n) (lihat gambar di bawah ini) • m • n • A C B Tanda-tanda (positif atau negatifnya) m dan n ditentukan dengan kesepakatan sebagai berikut. uuur uuu r (1) Jika C terletak di dalam ruas garis AB sehingga AC dan CB searah, maka, m dman n bertanda sama (m dan n keduanya positif atau keduanya negatif).
  • 12. (2) Jika C terletak di luar ruas garis AB tetapi pada perpanjangan ruas garis AB, uuur uuur maka AC dan CB berlawanan arah. Dalam hal demikian, m dan n berlawanan tanda (m positif dan n negatif atau m negatif dan n positif). Rumus Pembagian Ruas Garis dalam Bentuk Vektor Vektor posisi titik A dan B berturut-turut adalah a dan b. Titik C pada ruas garis AB dengan perbandingan m : n atau AC : CB = m : n. Jika vektor posisi titik C adalah c, maka vektor c ditentukan dengan rumus m b + na c= m+n Rumus ini juga berlaku untuk titik C yang terletak pada perpanjangan garis AB. Contoh: Vektor posisi titik A dan titik B berturut-turut adalah a dan b. Pada ruas garis AB, tandailah titik C sehingga AC : CB = 1 : 3, tentukan vektor posisi titik C, Jawab : 1b + 3a 1 Misalkan vektor posisi titik C adalah c, maka c = = ( b + 3a ) 1+ 3 4 Rumus Pembagian Ruas Garis dalam Bentuk Koordinat. Diketahui koordinat titik A( x1,y1,z1 ), B( x 2 ,y 2 ,z 2 ), dan C(x,y,z), Jika titik C membagi ruas garis AB dengan perbandingan m : n atau B(x2,y2,z2) AC : CB = m : n, maka vektor posisi titik C dapat ditentukan n b dengan rumus pembagian ruas garis di R-3 dalam bentuk vektor C(x,y,z) c m sebagai m b + na a A(x1,y1,z1) c= O m+n Berdasarkan kesamaan vektor yang terakhir ini diperoleh hubungan berikut. mx 2 + nx1 my 2 + ny1 mz 2 + nz1 x= ;y= ;z= m+n m+n m+n Persamaan di atas adalah rumus pembagian ruas garis di R-3 yang dinyatakan dalam bentuk koordinat. Perkalian Skalar Dua Vektor Perkalian skalar antara vektor a dan vektor b dilambangkan dengan • dan didefinisikan:||a•b|| = ||a|| ||b|| cos θ, dengan ||a|| dan ||b|| masing-masing menyatakan panjang vektor a dan b, sedangkan θ menyatakan sudut lancip yang dibentuk oleh vektor a dan b Perkalian Skalar Dua Vektor dalam Bentuk Kolom  x1   x2  Misalkan a =   dan b =   merupakan vektor-vektor di R-2 yang di  y1   y2  nyatakan daalam bentuk vektor kolom. Perkalian skalar antara vektor a dan b ditentukan
  • 13.  x1   x 2  a•b=   •   = x1x2 + y1y2  y1   y 2  perhatikan bahwa nilai atau hasil perkalian skalar vektor a dan b adalah jumlah perkalian komponen yang seletak pada vektor a dan b.  x1   x2      Misalkan a =  y1  dan b =  y 2  adalah vektor-vektor di R-3 yang z  z   1  2 dinyatakan dalam bentuk vektor kolom. Perkalian skalar antara vektor a dan vektor b ditentukan oleh rumus:  x1   x 2     a•b =  y1 g y 2  = x1x 2 + y1y 2 + z1z2  z  z   1  2  Teorema Ortogonalitas Dua vektor yang tidak nol dikatakan saling tegak lurus (ortogonal) jika dan hanya jika perkalian skalar kedua vektor itu sama dengan nol. Jadi, vektor a dan b (||a|| ≠ 0 dan ||b|| ≠ 0) dikatakan saling tegak lurus (ortogonal) jika dan hanya jika a • b = 0 Sifat-Sifat Perkalian Skalar Dua Vektor 1. Sifat Komulatif a • b dan b • a 2. Sifat Distributif a•(b + c) = a•b + a•c Sudut Antara Dua Vektor  x1   x2      Misalkan a =  y1  dan b =  y 2  adalah vektor-vektor di R-3 yang z  z   1  2 dinyatakan dalam bentuk vektor kolom. Jika sudut yang dibentuk oleh vektor a dan b adalah θ, maka besarnya cos θ dapat ditentukan dengan rumus berikut x1x 2 + y1y 2 + z1z2 cos θ = x1 + y1 + z1 x 2 + y 2 + z 2 2 2 2 2 2 2 Proyeksi Ortogonal Suatu Vektor Pada Vektor Lain Dalam geometri bidang, kita telah mempelajari pengertian proyeksi ortogonal dari suatu ruas garis pada ruas garis yang lain. Proyeksi ortogonal dari ruas garis OA pada ruas garis OE adalah ruas garis OC, dengan panjang OC ditentukan oleh OC = OA cos θ. Pegertian proyeksi ortogonal pada geometri bidang ini dapat dipakai sebagai landasan untuk memahami pengertian proyeksi orrtogonal uuur uuur suatu vektor lain. Pada Gambar 1-19b, ruas-ruas garis berarah OA dan OB mewakili vektor-vektor a dan b, sedangkan θ menyatakan sudut uuur antara vektor a dan vektor b. Proyeksi dari titik A pada ruas garis berarah OB adalah titik C, sehingga
  • 14. uuur OC = OA cos θ = a cos θ Besaran OC = ||a|| cos θ dinamakan proyeksi skalar ortogonal (biasanya disingkat proyeksi skalar saja) vektor a pada arah b. Nilai proyeksi skalar ortogonal OC = ||a|| cos θ bisa positif, nol, atau negatif, tergantung dari besar sudut θ. A A (1) Untuk 00 ≤ θ < 900, OC bernilai (2) positif a (3) Untuk θ = 900, OC bernilai nol (4) Untuk 900 ≤ θ < 1800, OC bernilai c b negatif 0 C B 0 C B (a) (b) A A A a a a b b b 0 C B 0 B C 0 B (a) (b) (c) uuur Perhatikan bahwa ruas garis berarah OC mewakili vektor c, sehingga vektor c merupakan proyeksi vektor a pada arah vektor b. Vektor c ini dinamakan proyeksi vektor ortogonal (biasanya disingkat dengan proyeksi vektor saja). Dengan menggunakan definisi perkalian skalar, selanjutnya dapat ditentukan bahwa : (1) Proyeksi skalar orrtogonal dari vektor a pada arah vektor b adalah l c l, dengan || a •b c|| dirumuskan oleh : c = b (2) Proyeksi vektor ortogonal dari vektor a pada arah vektor b adalah c dirumuskan a • b    oleh : c =  2 b  b    Proyeksi vektor b pada arah vektor a dapat ditentukan dengan menggunakan analisis yang sama. Misalkan proyeksi vektor b pada arah vektor a adalah vektor d (perhatikan Gambar), maka dapat disimpulkan bahwa (1) Proyeksi skalar ortogonal vektor b A pada arah vektor a adalah a •b a ||d|| = a D d (2) Proyeksi vektor ortogonal vektor b pada arah vektor a adalah a • b    0 b B d =  2 a  a   
  • 15. DIFERENSIAL VEKTOR  Suatu besaran (termasuk vektor) biasanya merupakan fungsi besaran yang lain, sehingga besaran tersebut dapat dideferensialkan ataupun diintegralkan terhadap variabelnya.  Jika vektor V dalam ruang merupakan fungsi waktu t, maka dituliskan = ˆ j ˆ V (t ) =Vx (t )i +V y (t ) ˆ +Vz (t ) k diferensial vektor terhadap variabel t adalah  dV (t )   ˆ = V (t ) = Vx (t )i + Vy (t ) ˆ + Vz (t ) k  ˆ  j  dt  Operator Del atau Nabla, didefinisikan sebagai ˆ ˆ ∂ + ˆ ∂ +k ∂ ∇=i j ˆ ∂x ∂y ∂z Operator ini dapat dioperasikan pada fungsi skalar maupun fungsi vektor.  Pengoperasian operator nabla pada fungsi skalar S(x,y,z): ( ∂ S ( x, y , z ) ˆ ∂ S ( x , y , z ) ˆ ∂ S ( x, y , z ) ∇ S ( x, y, z ) = grad S ( x, y, z ) = iˆ +j +k ∂x ∂y ∂z  Pengoperasian operator nabla pada fungsi vektor : ( ( ( ∂ V ( x , y , z ) ∂ V y ( x , y , z ) ∂ Vz ( x , y , z ) ∇ ⋅ V ( x, y, z ) = div V ( x, y, z ) = x + + ∂x ∂y ∂z iˆ ˆ j ˆ k ∇ ∇ ∇ ∂ ∂ ∂ ∇ × V ( x, y, z ) = rot V ( x, y, z ) = ∂x ∂y ∂z Vx ( x, y, z ) Vy ( x, y, z ) Vz ( x, y, z )