• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Naskah Buku Kepemimpinan Ke2 2009
 

Naskah Buku Kepemimpinan Ke2 2009

on

  • 5,982 views

 

Statistics

Views

Total Views
5,982
Views on SlideShare
5,982
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
259
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Naskah Buku Kepemimpinan Ke2 2009 Naskah Buku Kepemimpinan Ke2 2009 Document Transcript

    • Bahan Pelatihan Sinambung Kamu Juga Bisa Kenal Cara memimpin di Wilayah Diri
    • quot;Life is like unto a long journey with a heavy burden. Let thy step be slow and steady, that thou stumble not. Persuade thyself that imperfection and inconvenience are the natural lot of mortals, and there will be no room for discontent, neither for despair. When ambitious desires arise in thy heart, recall the days of extremity thou has past through. Forbearance is the root of quietness and assurance forever. Look upon the wrath of the enemy. If thou knowest only what it is to conquer, and knowest not what it is like to be defeated, woe unto thee; it will fare
    • ill with thee. Find fault with thyself rather than with others.quot; quot;The strong manly ones in life are those who understand the meaning of the word patience. Patience means restraining one's inclinations. There are seven emotions: joy, anger, anxiety, adoration, grief, fear, and hate, and if a man does not give way to these he can be called patient. I am not as strong as I might be, but I have long known and practiced patience. And if my 3
    • descendants wish to be as I am, they must study patience.quot; 4
    • Daftar Isi Pasal Satu 1. Dampak Kepemimpinan 2. Mengenal Hukum Dampak Kepemimpinan 3. Dampak dari Sudut Iman Kristen 4. Kasus: Dampak Keyakinan Gideon 5. Mengenal Dampak Kata, Sikap dan Keputusan Pemimpin 6. Kasus: Dampak Kehadiran Kristus di Danau 7. Mengenal Dampak yang disengaja dan tidak disengaja Pasal Dua 1. Mengenal Jenis-jenis dampak 2. Dampak dari kata-kata pemimpin 3. Dampak dari sikap pemimpin 4. Dampak dari keputusan dan perilaku pemimpin 5. Dampak dari kehadiran pemimpin 6. Kasus Kehadiran Kristus di Danau 7. Mengenal Dampak yang disengaja dan tidak disengaja 5
    • Pasal Tiga 1. Jenis-jenis Kepemimpinan 2. Prasyarat pemimpin 3. Prasyarat Pemimpin Kristiani 4. Fondasi dari Dampak 1. Mengenal Potensi Diri dan Jebakan Ruang Nyaman 2. Mengenal Kerajinan dan Tempat di Alur Sejarah Pasal Empat Mengenal Citra: Syukur Mengenal Potensi diri dan jebakan kenyamanan A. Kasus : Tuhan dan mendorong batu B. Tidak dapat memilih semu C. Mengurbankan diri dan membayar harga D. Tidak menyesali pilihan E. Bersyukur Mengenal Dua Nahkoda yang tersembunyi 1. Nahkoda pertama: Kebutuhan diri yang tersembunyi 2. Nahkoda kedua: Luka Diri 3. Rekonsiliasi: Mengenal Cara Menangani Kedua Nahkoda Tersembunyi 4. Langkah-Langkah Nyata dalam Pemulihan A. Langkah Pertama: Kenal Sumber Pemulihan B. Langkah kedua: kenali mimpi C. Langkah ketiga: Fokus pada pemulihan gambar diri D. Bagaimana mengenai peran self-talk? 6
    • 5. Ciri Keberhasilan di Wilayah Kepemimpinan Diri: Spiritualitas Pasal Lima 1. Peran Visi 2. Mengenali: visi, fantasi, dan spekulasi 3. Mengenal Dampak Visi dan Misi 4. Pandangan Spiritual: Visi dari Tuhan: Lompatan 5. Bagaimana ciri Visi dan Misi yang baik 6. Mulai mendapatkan visi yang tepat 7. Dari visi pribadi ke visi bersama: menginspirasi 8. Menggapai Visi: Rencana dan Daya Juang 9. Kasus: Perjalanan Zhang Qian ke Barat: Kekuatan suatu komitmen 10. Kasus: Kristiani Penutup 7
    • Pasal Satu Dampak Kepemimpinan Ketika seeorang tua sedang melangkah di pantai dan menikmati pemandangan, tiba-tiba, perhatiannya tertarik pada perilaku seorang anak remaja yang berjalan tak jauh di depannya. Anak itu berkali- kali menunduk dan memungut seekor bintang laut yang terdampar di pantai dan melemparkannya kembali ke air. Akhirnya, orang tua itu mempercepat langkahnya dan berjalan di samping sang remaja. Ia bertanya. “Apa yang kamu ingin capai dengan menolong bintang laut itu? Bukankah tiap hari puluhan bintang laut terdampar dan mati disini? Apakah kamu akan dapat menghasilkan dampak dengan menolong seekor itu. Pantai ini begini panjang.. tanganmu hanya dua dan bintang laut itu begitu banyak..” Sang remaja memperlihatkan seekor bintang laut di tangannya, dan ketika ia melemparkannya ke laut, ia berkata, “Sekurangnya, dampak perbuatanku dirasakan beberapa bintang laut tadi dan bagi yang seekor ini.” (Brian Cavanaugh, T.O.R., The Sower's Seeds) 8
    • Banyak orang berminat untuk membahas masalah kepemimpinan. Umumnya orang sepakat bahwa kepemimpinan adalah suatu pengaruh atau daya yang dimiliki seseorang. Tentu dapat juga daya itu dimiliki oleh sekelompok orang yang bekerja sama. Daya tadi menghasilkan dampak yang direncanakan sang pemimpin. Selanjutnya, dampak tadi terjadi pada orang lain namun juga sering berakibat bagi diri sang pemimpin sendiri. Orang-orang Kristen juga membahas masalah kepemimpinan bahkan banyak yang mengajarkan hal itu. Mereka juga berbicara tentang dampak kepemimpinan. Namun ketika orang menyadari bahwa, melaksanakan kepemimpinan yang berdasarkan Alkitab ternyata sulit dipraktekkan, apalagi untuk menghasilkan dampak yang kokoh dan berjangka panjang, maka, orang mudah merasa putus asa dan segera mengambil alih pola pikir dan perilaku berdasarkan pemahaman kepemimpinan yang populer. Hal ini terjadi bukan saja ketika mereka memimpin di dunia 9
    • kerja, tetapi juga di dalam hidup organisasi atau komunitas Kristiani. Salah satu contohnya ialah dalam praktek mengembangkan orang-orang yang menjadi pengikutnya, pemimpin Kristiani cenderung mempraktekkan cara kepemimpinan yang populer di dunia organisasi kerja atau di dunia lainnya. Hasilnya mungkin kentara dengan cepat, walaupun tidak mendalam, sedangkan kepemimpinan sesuai Alkitab mungkin hanya menghasilkan segelintir orang lain yang kemudian menjadi pemimpin-pemimpin juga. Akibatnya, konsep-konsep dunia lebih mempengaruhi praktek kepemimpinin di dalam persekutuan, sekolah, gereja dan rumah sakit Kristen daripada sebaliknya. Namun, syukurlah, sampai saat ini walaupun sedikit, tetap ada orang-orang yang memimpin dan menghasilkan dampak yang serasi dengan pandangan Alkitab. Contohnya adalah Ken Horne dan Ray Buchanan. 10
    • Mulanya, Rev. Ken Horne dan Rev. Ray Buchanan, adalah pendeta-pendeta di gereja United Methodist di Amerika. Namun hati mereka tergerak melihat begitu banyak orang yang hidup tanpa makanan yang memadai. Kedua orang itu mendirikan komunitas St. Andrew pada tahun 1979. Sejak itu komunitas ini berhasil mendapatkan dan mendistribusikan lebih dari 300 juta kilogram kentang dan bahan makanan lain kepada orang-orang miskin. Dalam pelayanan ini kedua orang tadi melibatkan keluarga mereka. Keduanya menghasilkan dampak seluas itu karena terinspirasi dua bagian Alkitab yaitu surat Johanes pertama pasal 3:18 quot;.. marilah kita mengashi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.quot; Juga cerita tentang Yesus memberikan makan pada 5000 orang menginspirasikan hidup keluarga mereka. Ken dan Ray memulai komunitas ini di sebuah ladang pertanian di Big Island, Virginia. Dengan bertahap mereka menginspirasikan lebih dari 12,000 orang untuk ikut 11
    • bergabung dalam mencari jalan keluar bagi masalah kelaparan di masyarakat melalui program komunitas ini. Kepemimpinan Ken Horne and Buchanan sangat berperan menghasilkan gerakan seluas itu yang ternyata langgeng sampai saat ini. Dari manakah pondasi dari praktek kepemimpinan di atas? Banyak hal tentu berperan disana. Pembahasan selanjutnya berupaya mematakan hal-hal tadi serta menemukan cara untuk mengembangkan kepemimpinan seperti di atas. Tentunya, salah satu akarnya dari hal itu adalah bahwa keduanya menyadari bahwa mereka dapat menghasilkan dampak di dalam kehidupan. Hukum Dampak Kepemimpinan Menurut legenda, pada tanggal 31 Oktober 1517 seorang biarawan yang bernama Martin Luther memasang sebuah tulisan berisi 95 dalil teologinya di sebuah pintu masuk 12
    • benteng. Pada jaman itu tindakan Luther merupakan undangan terbuka untuk para ahli memperdebatkan pandangannya –suatu hal yang wajar dilakukan pada waktu itu. Namun dampaknya sangat luas. Dalil-dalilnya ini menuding keserakahan dan keduniawian di dalam Gereja yang menurut Luther merupakan penyimpangan. Banyak orang menyalin ke-95 dalil Luther dan menterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, serta dicetak secara luas. Dalam waktu dua minggu, dalil-dalilnya telah menyebar ke seluruh Jerman, kemudian dalam waktu dua bulan ke seluruh Eropa. Hal ini merupakan salah satu peristiwa pertama dalam sejarah yang dipengaruhi secara langsung oleh penemuan mesin cetak di Barat yang membuat distribusi tulisan dapat dilakukan lebih mudah dan meluas. Mulanya, pimpinan puncak gereja, Sri Paus pada waktu itu, yaitu Paus Leo X menyebut Luther sebagai quot;seorang Jerman mabuk yang menulis dalil-dalil ituquot; yang quot;bila ia 13
    • kembali sadar, ia akan berubah pikiran.quot; Namun, gelombang yang dihasilkan tulisan Luther membuat sang Paus harus menanggapi dengan lebih serius. Mungkin ia tidak pernah membayangkan bahwa pada masa ia berkuasa, tulisan biarawan tadi menghasilkan dampak berupa gerakan reformasi gereja. Luther juga tidak pernah bermimpi bahwa ia menjadi tokoh bahkan pemimpin gerekan reformasi gereja. Dampak tulisan tadi memungkinkan lahir gerakan Lutheran, Calvinis, dan Anabaptis yang meninggalkan gereja Roma Katholik. 14
    • Ilustrasi: Luther Memasang Tulisan di Dinding Wittenberg Sekitar empat ratus enam puluh tahun kemudian, seorang pria mengambil keputusan yang kini dicatat di dalam sejarah. Pada waktu itu, sekelompok buruh berdemonstrasi dan mogok kerja di galangan kapal dimana mereka bekerja. Mereka memprotes keputusan pemerintah menaikan harga pangan dan membatasi angka gaji. Seorang pria bernama Lech Walesa memanjat pagar yang mengelilingi galangan 15
    • kapal tadi dan bergabung dengan mereka. Tak lama kemudian mereka memilihnya sebagai jurubicara dan pemimpin mereka. Demonstrasi serupa itu pernah juga terjadi di tahun 1968. Sejumlah mahasiswa memprotes pemimpin Polandia yang mengundang pasukan Soviet untuk memasuki negara mereka dalam rangka meredam gerakan reformasi. Para mahasiswa menuntut kebebasan yang lebih besar di negara mereka, namun demonstrasi mereka ditindas dengan kejam. Pada bulan Desember dua tahun kemudian di empat buah kota di negara Polandia, terjadi demonstrasi memprotes kenaikan harga-harga makanan. Pemerintah yang berkuasa kembali menindas demonstran sehingga 44 pekerja galangan kapal terbunuh, 1000 orang terluka, dan sekitar 200 orang terluka berat. Peristiwa ini membuat seorang anak petani yang pernah menjadi tentara dan kemudian menjadi montir bernama Lech Walesa melibatkan diri dalam gerakan protes ini dan ditangkap. 16
    • Di tahun 1976, hal serupa terulang dan Lech kembali mengorganisir pekerja galangan kapal. Akibatnya, ia kehilangan pekerjaannya. Namun protes mereka berhasil dan kenaikan harga pangan dibatalkan. Kemudian, sekelompok cendekiawan bergabung dengan mereka bersama gerakan mahasiswa. Selanjutnya, gerakan ini menjadi semakin kuat ketika kardinal Kraków, Cardinal Karol Wojtyla, dipilih menjadi Paus dengan nama Paulus Yohanes II. Sri Paus mengunjungi Polandia setahun setelah ia dipilih. Orang banyak membaca hal itu sebagai signal bahwa kini gereja Roma Katolik berderap bersama para buruh dan cendekiawan. Kehadiran Lech Walesa sebagai pemimpin buruh bukanlah hal dadakan. Namun peristiwa yang kemudian mengantarnya menjadi Presiden Polandia terjadi pada tahun 1980. Pemerintah Polandia menaika harga pangan dan memaksakan pengendalian tingkat upah. Para karyawan memprotes dan menduduki pabrik-pabrik. 17
    • Tindakan Walesa pada tanggal 14 Agustus 1976, yaitu memanjat tembok galangan kapal agar dapat bergabung dengan para karyawan yang berada disana untuk berdemonstrasi menjadi inspirasi banyak orang. Tuntutan mereka dikabulkan dalam tiga hari, para demonstran tetap bertahan untuk menunjukkan solidaritas dengan rekan- rekannya yang masih berada diberbagai kota dengan kota Gdanks sebagai pusat gerakan. Sikap Lech dan tindakannya berhasil menggalang kekuatan 500,000 karyawan dimana- mana. Kini bahkan para demonstran menuntut 21 hal, termasuk kebebasan bicara, pembebasan tahanan politik, penghentian sensor dan pemberian kebebasan beragama. Akhirnya 10 juta petani dan buruh lain ikut bergabung, sehingga kalangan ini menjadi federasi nasional yang dkenal dengan nama Solidarnosc (Solidarity). 18
    • Tindakan Lech memanjat tembok galangan kapal berdampak besar. Namun mungkin ia tidak pernah bermimpi bahwa hal itu akhirnya menghantarnya melalui proses yang panjang untuk menjadi tokoh internasional dan juga presiden Polandia. Dampak kepemimpinan Walesa untuk mengakhiri dominasi komunisme di Europa serupa dengan apa yang dilakukan sesama anak bangsanya Paus Johanes Paulus II, dan rekannya di Soviet, yaitu Mikhail Gorbachev. Sayangnya, kemudian hari, ia ditinggalkan orang karena gaya kerja dan kepemimpinannya dimasa pemerintahan yang sulit diduga dan komunikasinya yang ceplas-ceplos. Ia cocok menjadi oposan, namun tidak mengubah diri ketika harus berada di kalangan diplomat dan para pemimpin negara lain. Lima puluh tahun sebelumnya, pada tanggal 28 Juni 1918, ketika seorang Bosnia-Serbia yang bernama Gavarillo Princip menembak mati pangeran Franz Ferdinand, pewaris 19
    • tahta Austria-Hungaria, tidak seorangpun membayangkan dampaknya. Princip dan enam orang lainnya menanti untuk membunuh sang pangeran. Namun orang pertama, Muhamad Mehmed Basic, kehilangan keberaniannya ketika mobil sang pangeran melewatinya, sedangkan orang yang kedua, Cabrinovic, gagal melempar granat pada waktu yang tepat. Sang pangeran selamat, namun kemudian di hari yang sama, supirnya membelok ke jalan yang salah, berupaya mundur serta mogok. Princip yang berada disana mengenali mobil sang pangeran dan segera mendekat lalu menembak sang pangeran. Akibat kematian pangeran tadi, pasukan kerajaan tadi dengan menyerbu kerajaan Serbia. Terjadilah pertempuran yang akhirnya melibatkan banyak pihak karena sekutu pihak-pihak yang berperang ikut melibatkan diri. Dampak dari tembakan pistol Gavrillo adalah pecahnya Perang Dunia Pertama. Dampak 20
    • pembunuhannya itu jauh lebih besar dari apa yang diperkirakan siapapun. Dalam Kepingan-kepingan peristiwa di menjalankan atas menunjukkan bahwa suatu kepemimpinan tindakan seorang manusia, , salah satu prasyarat apalagi seorang pemimpin penting dapat menghasilkan dampak baginya untuk yang seringkali tidak menggapai terbayangkan. Hal ini serupa dengan sebutir kelereng di lontarkan ke kaca depan sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan 150 kilometer per jam. Tubrukan antara kelereng dan kaca tadi akan memecahkan kaca sampai berkeping-keping serta mencelakakan orang-orang yang duduk di dalam mobil tadi. Kelereng sendiri tentunya akan mengalami kerusakan juga dan terlontar ke arah yang tidak bisa diduga sebelumnya. Bila mobil tadi sedang diparkir dan kelereng tadi dilontarkan ke kacanya, dampaknya tidak akan 21
    • sebesar tadi. Pengaruh dari kecepatan mobil berdampak besar pada kerusakan yang terjadi. Dalam kehidupan nyata, memang suatu faktor sering terkait dan menghasilkan dampak terhadap pada hal lain. Faktor-faktor juga saling mempengaruhi. Hal itulah yang menjadi salah satu sorotan analisis System Thinking.i Dengan demikian, bila dipandang sebagai suatu faktor dalam sistem yang besar, tindakan seseorang, terutama pemimpin, tentu menghasilkan dampak berupa hadirnya rangkaian peristiwa yang tak tersangka. Bahkan mungkin terjadi dampak berantai dimana suatu peristiwa menghasilkan peristiwa- peristiwa lainnya dan akhirnya mempengaruhi pelaku di dalam peristiwa awal yang menjadi pemicu. Berdasarkan pandangan tersebut, maka dalam menjalankan kepemimpinan, salah satu prasyarat penting untuk menggapai sukses adalah keharusan menyadari dampak- dampak yang sudah, sedang dan akan dihasilkannya. 22
    • Apa artinya menyadari dampak? Pertama, menyadari dampak artinya, seorang pemimpin harus menyadari bahwa akan selalu ada dampak dari dirinya. Ia tidak akan berada dalam kondisi netral. Apa yang ia lakukan atau yang ia tidak lakukan akan mempunyai dampak. Kedua, dampak itu diakibatkan oleh apa yang ia katakan, caranya bergaul, tampilannya, dimana ia biasa hadir, dan keputusannya. Apa yang ia tidak katakan, putuskan, atau tidak sikapi dan lakukanpun dapat berdampak pada orang lain dan dirinya sendiri. Ketiga, ia harus menyadari bahwa berbagai dampak yang ia hasilkan dapat merupakan dampak yang positif atau negatif. Positif berarti dampak tadi berupa pemulihan, pertumbuhan potensi, dan perbaikan-perbaikan baik pada orang lain dan bagi dirinya. Negatif berarti dampak tadi berupa proses merusak diri atau menyusahkan orang lain. 23
    • Keempat, pemimpin yang berhasil di Pemimpin dalam pekerjaannya adalah mereka yang berhasil yang bukan saja mengenali namun juga dengan baik adalah karena sedapatnya mengendalikan dampak mereka dari dirinya tadi dengan mengenali akar mengenali atau pondasi dari kata-kata, sikap, keputusan, perubatan, gaya hidup dan kehadirannya. Dampak dari sudut Iman Kristen Dari sudut pandang Kekristenan, dampak seorang pemimpin tidak berdiri sendiri di ruang hampa. Dampak yang ingin ia lakukan harus terkait dengan dunia dimana ia berada. Tidak mungkin ia hanya menginginkan terjadinya sesuatu di dalam dirinya tanpa memperhitungkan dampaknya bagi lingkungannya. Tidak mungkin pula ia mengharapkan untuk menghasilkan dampak di dalam 24
    • lingkungannya tanpa ia bersedia mengalami perubahan terlebih dulu sebagai dampak keinginannya. Karena Tuhan memiliki rancangan bagi hidup ini, maka dampak yang seorang Kristen ingin hasilkan akan dikaitkan dengan rancangan Tuhan dengan dunia. Dengan demikian, ia perlu sadari, mengenali, atau memahami apa yang Tuhan rancangkan dan sedang lakukan pada dunia dimana ia berada. Tepatnya, ia perlu akrab dengan Tuhan untuk memahami apa yang Ia sedang kerjakan. Semakin tinggi kualitas keakraban hubungannya dengan Tuhan, semakin ia dapat memahami dampak yang seharusnya terjadi, bahkan semakin mungkin ia menjadi saluran kuasa Tuhan dalam menghasilkan dampak tadi.. Dampak tadi tidak dapat semata-mata muncul karena kombinasi dari berbagai faktor seperti, kepribadiannya, lingkungan dimana ia berada, atau karena kualitas pengikutnya saja. Dampak tadi harus muncul justru karena ia lebih bersandar pada Tuhan atau lebih penuh 25
    • mempercayakan diri pada Tuhan dibandingkan dengan orang lain. Walaupun demikian bukan berarti ia mengabaikan tanggung jawabnya serta membiarkan Tuhan menyelenggarakan segalanya. Justru ia belajar mempercayakan diri pada Tuhan sehingga dalam bekerja ia menyadari bagian yang milik Tuhan dan bagian tanggung jawabnya. Ia tidak mengambil alih apa yang menjadi bagian Tuhan. Ia juga tidak melalaikan apa yang menjadi bagian atau tanggung jawabnya. Dampak yang berasal dari kesediaan diri sang pemimpin untuk lebih bergantung pada Tuhan dan lebih mempercayakan dirinya akan menghasilkan berkat baik bagi hidup orang lain yang ia sentuh maupun bagi dirinya sendiri. Dalam kebergantungan tadi ia belajar mengurbankan selera, pandangan, kepentingan diri dan kecenderungan kerjanya, serta menjadi semakin taat pada kehendak-Nya. 26
    • Sebaliknya, dampak yang hanya didasarkan pada kekuatan pribadinya sendiri, keterampilannya, kepekaannya membaca lingkungan, ketajaman kejelasan-sasaran kerjanya, serta kekuatan koneksinya akan mungkin saja dapat menghasilkan berkat bagi orang lain, namun ia sendiri tidak akan mengalami penuhnya berkat Tuhan bahkan akan mudah mengalami kelelahan mental. Seorang pemimpin yang berhasil beberapa kali tanpa membuka ruang untuk mempercayakan diri pada kuasaNya lambat laun akan semakin bergantung pada dirinya, akhirnya akan mengalami kepahitan dan kejatuhan. Contoh di bawah ini menunjukkan bagaimana dampak dari sikap seorang pemimpin. Ia adalah seorang yang berupaya mempercayakan diri dan taat pada Tuhan. 27
    • Kasus: Dampak Keteguhan Iman Gideon Gideon adalah seorang yang biasa hidup di ladang.ii Di jaman dimana ia hidup, orang Israel sedang mendapat hukuman dari Tuhan berupa muncullah bangsa penjarah yang sangat perkasa, yaitu orang Midian, sehingga mereka dikalahkan, dijajah dan menjadi melarat.iii Pada suatu hari, malaikat Tuhan menyapa Gideon « Hai pahlawan yang gagah berani, Tuhan menyertai dirimu »,iv jawaban Gideon sangat sinis. « Bagaimana mungkin Tuhan benar menyertai kami bila bencana terus menimpa kami ? »v Namun Gideon mendapat perintah Tuhan untuk mengusir bangsa penjajah yang lebih kuat dari mereka. « Engkau kuutus… »vi Berkali-kali, Gideon dilatih Tuhan untuk lebih mempercayakan diri padaNya dan bukan pada kekuatan dirinya. Bayangkan saja, ia hanya memiliki pasukan yang berkekuatan 30 ribu orang dan mereka harus berhadapan dengan orang-orang Midian, Amalek dan bangsa lain.vii Orang-orang Midian saja diperkirakan berjumlah sekitar 28
    • 135 ribu orang.viii Jadi sekurang-kurangnya akan terjadi pertempuran satu orang Israel melawan empat orang musuh mereka. Di tengah keadaan yang tidak menguntungkan tadi, Tuhan masih memerintahkan Gideon untuk menyuruh pulang 20 ribu orang anak buahnya.ix Dengan demikian, ia hanya memiliki 10 orang. Bahkan setelah itu, Tuhan hanya menginginkan Gideon berperang dengan 300 orang saja.x Hal yang menarik bagi kita untuk diingat adalah, bagaimana 300 orang Israel tadi bersedia berperang untuk menghadapi lawan yang berkekuatan 135 ribu orang lebih. Jadi ketika maju berperang, seorang perajurit Gideon harus melawan empat ratus lima puluh orang. Walaupun ada janji Tuhan, umumnya manusia normal tidak akan ada yang berani menghadapi keadaan serupa itu. Mengapa orang Israel tidak lari atau meninggalkan Gideon walaupun ia mengajak mereka melakukan tindakan yang bertentangan dengan akal sehat tadi? Satu-satunya 29
    • kesimpulan adalah karena Gideon sendiri tidak memperlihatkan kecemasan, kegelisahan, atau keputusasaan. Memang Alkitab mencatat bahwa memang ada suatu saat dimana Gideon tetap memiliki keraguan, namun Tuhan menguatkannya dengan menyuruhnya dan seorang bujangnya turun ke lembah, menyelusup ke tengah musuhnya, serta mendengarkan kata-kata para musuh tadi. Disana ia mendapatkan kepastian atas pimpinan Tuhan, sehingga ketakutannya lenyap. Bayangkan bila Gideon tidak dapat mengendalikan dirinya sebagai pemimpin, atau bila ketakutannya terbaca dengan gamblang, atau keraguannya masih kentara, apakah dampaknya? Bayangkan bila Gideon tidak bekerja keras dan rajin. Mana mungkin anak buahnya bertahan bersamanya, bukan? Dampak dari sikap pemimpin yang bersandar pada kuasa Tuhan namun rajin bekerja ternyata sangat kuat pada setiap anak buahnya. Mereka berdisiplin dan menunjukkan keberanian yang luar batas normal. 30
    • Gideon dan anak buahnya yang sedikit itu akhirnya memenangkan pertempuran. Hal itu serupa dengan kepercayaan Walter, putera William Tell, pada ayahnya. Sang ayah diharuskan oleh seorang penguasa untuk memanah apel yang diletakkan di atas kepala anaknya. Resiko yang dihadapinya sangat besar. Namun bila ia tidak melakukan hal itu, puteranya akan segera dibunuh oleh para perajurit sang penguasa. Ilustrasi: Bagaikan anak yang percaya pada ayahnya Seorang anak dengan apel di atas kepalanya, dan seorang pria memanah apel tadi dari kejauhan 31
    • Pasal Dua Mengenal Dampak Kata, Sikap, Kehadiran dan Keputusan seorang pemimpin Pada suatu malam, seorang Kaisar yang bernama Konstantin bermimpi melihat sebuah benda yang memiliki tulisan dalam bahasa Latin. Ada empat buah komponen di tanda itu. Ia membacanya: IHS dan tanda yang lain. Sang raja terbangun dan menafsirkan bahwa kata IHS adalah ”in hoc signo” artinya, ”dalam tanda ini.” Bertepatan, sang kaisar akan maju perang. Maka, sesuai dengan impiannya, setiap perajuritnya diminta menggambarkan tanda yang ada tulisan tadi. Sang 32
    • kaisar memenangkan pertempuran dengan gemilang. Maka dalam perayaan tadi ia menanyakan pada penasehat-penasehatnya apa arti tanda tadi. Seorang penasehat menjelaskan bahwa tanda yang digunakan sang raja adalah gambar sebuah salib, sedang IHS bukan berarti In Hoc Signo tetapi Iesus Hominim Salvator atau Yesus, Juruselamat manusia. Sang kaisar menjadi sangat tertarik untuk mengenal agama ini. Tidak lama kemudian, pada tahun 325 Masehi, sang kaisar menentukan bahwa pengikut-pengikut Yesus adalah penganut agama yang benar dan agama tadi menjadi agama utama di negaranya. Agama tadi bernama agama Kristen yang sebelumnya selama sekitar 300 tahun dianggap agama sesat dan melawan negara sehingga penganutnya terus menerus ditangkapi, dianiaya, dan dibunuh. Tindakan kaisar Konstantin berdampak luar biasa, karena agama Kristen menyebar ke seluruh dunia. 33
    • Kami yakin bahwa kini Anda tahu bahwa disadari atau tidak, Anda dan saya senantiasa menimbulkan dampak kepada orang lain yang berada di sekitar kita, sementara orang lain juga memberi dampak bagi kita. Bila Anda memainkan peran kepemimpinan, berbagai dampak ini perlu disadari dan dikendalikan karena Anda berhadapan dengan orang banyak dan menebarkan pengaruh pada mereka. Dampak Anda dapat terjadi karena kata-kata, sikap, keputusan, kehadiran dan gaya hidup Anda. 1. Dampak dari kata-kata pemimpin Pada suatu saat, ada sebuah gereja yang mengalami perpecahan yang buruk. Akhirnya, tersisa hanya seorang pendeta dan tima belas orang warga jemaatnya. Mereka berusia di atas enam puluh tahun. Sang pendeta yang masih muda terus berupaya meningkatkan jumlah pengunjung kebaktian mereka, namun gagal terus menerus. Dalam kebingungannya, ia mengunjungi seorang pendeta tua yang sudah pensiun. Dulunya orang itu adalah seorang tokoh pemimpin 34
    • yang terkenal di daerahnya. “Bisakah bapak memberikan saya nasehat bagaiman memulihkan gereja kami kembali? Atau, mungkin bapak dapat datang memberikan suatu kebaktian kebangunan rohani?” Sang pemimpin tua berbisik, “Maaf, aku tidak bisa. Waktuku kini kugunakan hanya untuk berdoa dan menikmati keakraban dengan Tuhan serta menulis buku.” Sang pendeta muda merasa kecewa, namun ketika ia hendak pamit, sang pemimpin tua berbisik padanya: “Salah satu dari kalian adalah malaikat Tuhan yang sedang menyamar.” Sekembalinya ke gereja, sang pendeta menyampaikan kata-kata sang pemimpin tua tadi. “Salah satu malaikat ada di tengah kita? Sedang menyamar?” kata mereka dengan heran. Sejak itu, mereka merenungkan kata-kata tadi. Akibatnya mereka saling menghormati satu sama lain dan juga saling mendukung dengan tulus. Masing-masing anggota kuatir kalau mereka memperlakukan malaikat dengan cara yang tidak pantas. 35
    • Beberapa waktu berlalu, masyarakat mengamati perilaku warga gereja dan pendetanya. Satu persatu orang merasa heran atas kelemah lembutan, keramahan, peghormatan, ketulusan, dan kedekatan satu sama lain. Orang mulai ikut berbakti kembali, sehingga setahun kemudian, kebaktian minggu diikuti lebih dari 100 orang. Mereka terbawa dengan kata-kata sang pemimpin tua: ”Di antara kalian ada malaikat yang menyamar...” Dampak dari kata-kata seorang pemimpin dapat membuat orang memiliki pandangan yang realistis tentang keadaan yang dihadapinya atau sebaliknya, memiliki gambaran yang pesimis. Dampak yang realistis berarti orang melihat bahwa walaupun tantangan yang dihadapi sangat besar dan lebih kuat dari modal diri kita, namun bila sang pemimpin mendengarkan suara-Nya, taat dan mempercayakan diri pada Tuhan serta melakukan bagiannya, Tuhan tidak akan membiarkannya sendirian. Kata-kata Gideon sebelum menyerang orang Midian sangat mengesankan: « Bangunlah sebab Tuhan sudah 36
    • menyerahkan perkemahan orang Midian ke tanganmu. »xi Gideon memberikan dampak yang sangat hebat dengan kata-kata itu, bahwa Tuhan sudah berperang bagi mereka atau mereka tidak dipimpin oleh manusia saja. Sebaliknya bila ia berkata, « Saya tidak yakin kita akan menang, tapi karena Tuhan sudah memberikan perintah, marilah kita upayakan sedapat-dapatnya,…. » dampak kata-kata itu tentu akan menimbulkan suasana yang sangat berbeda, entah anak buahnya akan merasa ragu, putus asa, atau bahkan lari. Dampak dari kata-kata juga mengena pada diri sendiri. Apa yang kita katakan pada diri sendiri akan berdampak pada persepsi kita. Selanjutnya persepsi akan mempengaruhi perilaku kita sebagaimana dipaparkan dalam cerita gereja di atas. Bagi diri sendiri, bila Anda mengatakan di dalam hati bahwa Anda tidak akan mampu melakukan sesuatu atau mencapai suatu tujuan tertentu, maka kata-kata itu mempengaruhi persepsi Anda. Kenapa? Dengan kalimat negatip itu Anda akan luput melihat tersedianya berbagai pilihan yang ada karena Anda sudah membatasi 37
    • cara Anda mempersepsi pilihan-pilihan yang akan Anda kenali dan mungkin dapat ambil. Sebaliknya bila Anda mengatakan, bahwa Tuhan telah memanggil Anda bertugas dan melengkapi Anda, tentu kata-kata tadi akan menghasilkan semangat yang kuat. Berbagai kesulitanpun akan dipersepsi secara positif sebagai kesempatan belajar. Selain dampak dari kata-kata, ada dampak yang disebabkan oleh komunikasi non lisan, atau sikap seorang pemimpin. 2. Dampak dari Sikap Pemimpin Di jaman dulu ada seorang putra raja yang disiapkan oleh ayahnya untuk mewarisi tahta kerajaannya. Salah satu ujian baginya adalah tinggal semalam suntuk sendirian di dalam rimba raya untuk mengukur keberaniannya. Putra mahkota ini sama sekali tidak merasa takut. Bahkan ia tertidur dengan nyenyaknya. 38
    • Namun dalam tidurnya ia bermimpi. Tuhan menunjukkan kepadanya api yang bernyata dengan sebuah piala di dalamnya. Ia mendapatkan penjelasan bahwa, piala itu adalah piala yang digunakan oleh Kristus di dalam perjamuan malam yang pertama. Tuhan mengatakan di dalam mimpinya bahwa, kelak tugasnya sebagai raja ialah mengawal piala yang dikenal sebagai benda suci itu. Dengan demikian mereka yang terluka dan sakit dapat datang kepadamu dan minum dari piala ini serta mengalami pemulihan. Dalam mimpi ini sang putera raja menyadari bahwa, siapa yang memiliki piala suci ini akan memiliki kuasa yang besar. Karenanya, tanpa mengucapkan kata apapun juga, ia merebut piala tadi dari tengah api dan menyimpannya bagi dirinya sendiri. Benar saja, 39
    • ketika ia menyentuh piala itu, ia merasa suatu kuasa yang hebat memasuki dirinya, ia merasa seakan Tuhan sendiri. Namun, ketika ia bangun dari mimpi dan tidurnya, ia tidak mendapatkan apa-apa, kecuali telapak tangannya yang terluka, terbakar kemerahan. Berpuluh tahun kemudian, setelah ia menggantikan ayahnya, seluruh upayanya digunakan untuk mencari piala suci yang dilihat dimimpinya itu. Ratusan ahli dan ksatria ditugaskannya. Ia sendiripun pergi keberbagai penjuru untuk mencarinya. Semuanya tidak juga menghasilkan apa-apa. Piala suci itu entah ada dimana. Sementara itu, ia menyadari bahwa ada luka yang lebih parah dari luka yang ada di telapak tangannya muncul di dalam hatinya. Ia mulai meragukan dirinya. Ia tidak lagi dapat memberikan kepercayaan pada anak buahnya bahkan pada orang-orang yang dekat padanya. Semakin hari ia semakin jenuh dengan hidup dan semua pengalamannya. Ia merasa sangat kesepian. Pada suatu hari, seorang badut yang diundang datang ke istana untuk menghiburnya berjumpa dengan sang raja yang sedang duduk sendirian di tamannya. Karena sifat sang badut tidak berpikir rumit bahkan cenderung sederhana, ia hanya melihat adanya seorang pria yang muram duduk sendiri. Iapun bertanya, 40
    • «Eh, kamu sendirian, sedang sakitkah ?» Sang raja menyahut: quot;Aku haus, butuh air menyejukkan diriku.quot; Sang badut pergi sebentar dan mengambil air. Sang raja menerima dan meminumnya sampai habis. Dampaknya luar biasa. Ketika itu, luka-luka di telapak tangannya menghilang dan di hatinya mulai sembuh. Ternyata di tangannya, ia memegang sebuah piala, yang dulu dipergunakan Kristus di perjamuan malam pertamaNya, piala yang ia sudah cari sepanjang masa ia memerintah. Ia menengok ke pada sang badut dan bertanya, “Hei, bagaimana kamu mendapatkan sesuatu yang sudh dicari oleh semua orang- orang hebat dan berani ... bahkan mereka gagal?quot; Dengan sikap polosnya, sang badut menjawab, “Aku tidak tahu, aku hanya tahu kamu sedang sakit dan haus, jadi kuberikan apa yang kumiliki.” Dampak dari kepemimpinan sering muncul akibat sikap yang tulus. Apalagi sikap tadi disertai kepekaan. Cerita di atas menunjukkan bahwa sikap serakah dan egois sang raja menghasilkan luka dan kesepian, sebaliknya sikap bela rasa 41
    • dan keberanian yang ditunjukkan sang badut menghasilkan dampak yang luar biasa, suatu pemulihan. Seorang pemimpin perlu menguasai sikap dan kepekaan seperti itu. Dalam kepemimpinan Kristiani, ketulusan tadi muncul karena keakraban pribadi sang pemimpin dengan Tuhan yang akhirnya menghasilkan rasa terimakasih pada-Nya dan membuatnya ingin membantu orang lain agar juga mengalami keindahan keintiman dengan Tuhan. Ketika Kristus dibawa ke hadapan Pilatus, penguasa Yudea, Ia tidak menampilkan kegentaran. Bahkan Ia menjawab pertanyaan Pilatus yang meneliti tuduhan orang Yahudi dengan tenang « kau yang mengatakan hal itu… »xii Hal ini berdampak nyata. Orang Yahudi menuduh Kristus di depan Pilatus sebagai seorang yang menyesatkan, mencegah orang membayar pajak kepada Kaisar, dan menyebut diriNya, seorang Raja.xiii Terhadap tuduhan ini Kristus menjawab dengan tenang dan menunjukkan bahwa kuasaNya lebih besar dari kuasa Pilatus sehingga Ia tidak perlu membela diri. Ia tidak dapat ditaklukkan oleh seorang 42
    • penguasa negara maupun orang banyak. Pilatus menyadari bahwa tuduhan orang-orang Yahudi tidak benar, namun ia juga tidak dapat mengabaikan tuntutan orang Yahudi yang sudah sangat emosional.xiv Maka, ia menyerahkan Yesus kepada Herodes yang menguasai Galilea. Disanapun Kristus berdiam diri. Akhirnya Herodes mengembalikan Kristus ke pada Pilatus. Karena tekanan massa, dengan diplomatis, Pilatus berkata lagi, «Sesungguhnya tidak ada suatu apapun yang dilakukanNya yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia lalu melepaskanNya.»xv Disini terlihat bahwa, sikap Kristus yang tidak membela diri membuat baik Herodes dan Pilatus berada dalam posisi sulit. Secara hukum, jelas kedua penguasa itu menyadari bahwa tuduhan yang dilontarkan orang Yahudi adalah palsu. Secara politis mereka kuatir kalau terjadi pemberontakan dan kerusuhan. Maka, Pilatus mengambil langkah melemparkan bola panas itu kepada rakyat banyak, ia meminta mereka memutuskan siapa yang harus dihukum 43
    • mati, seorang penjahat atau Kristus. Kemudian secara simbolik ia mencuci tangan di depan orang dan memenuhi tuntutan orang Yahudi untuk menyalibkan Kristus.xvi 3. Dampak dari keputusan dan perilaku seorang pemimpin Keputusan Paulus untuk membawa injil sampai « keujung bumi » membuat orang Kristen tidak hanya memikirkan suku atau bangsanya sendiri saja, namun seluruh bangsa- bangsa di dunia. Keputusan konsili pertama di Yerusalem yang membebaskan orang-orang Kristen baru dari hukum Taurat, kecuali « tidak makan makanan yang telah dipersembahkan untuk berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulanxvii juga berdampak kuat. Sejak itu, orang-orang Kristen menjadikan Kristus sebagai pusat mereka lebih dari segala aturan. Perlu dicatat, bahwa hal yang tidak dilakukan seorang pemimpinpun dapat menimbulkan dampak yang besar. Lihatlah, kasus anak imam Eli yang oleh ayahnya dibiarkan 44
    • menodai kekudusan bait Allah. Anak-anak imam itu, yaitu Hofni dan Pinehas menodai kesucian bait Allah.xviii Ayah mereka tidak melakukan apa-apa. Akhirnya, keduanya dibiarkan Tuhan terbunuh ketika pasukan Filistin menyerbu Israel.xix Eli terkejut dengan tewasnya kedua anak itu sehingga iapun jatuh lalu meninggal.xx 4. Dampak dari Kehadiran Pemimpin Dampak dari kehadiran seorang pemimpin seringkali jauh lebih besar daripada yang diperkirakan orang banyak. Apalagi di dalam abad dimana kepemimpinan dianggap sebagai hal yang dapat dipelajari, orang tidak membayangkan dimana seorang pemimpin hadir dan absen akan berdampak besar. Dalam bulan September di tahun 1862, di Amerika masih berkecamuk perang saudara. Sampai pertengahan tahun itu, perang dimenangkan terus menerus oleh pasukan-pasukan dari Selatan, yaitu pasukan Konfederasi dibawah 45
    • kepemimpinan jenderal Robert Lee yang genius. Semangat lawanya, yaitu pasukan dari Utara yang dikenal dengan nama pasukan Union sudah babak belur. Baik pasukan Union yang disebut sebagai pasukan Potomac yang berkekuatan awal 120 ribu perajurit dan pasukan Virginia terus menerus dikepung dan ditekan oleh pasukan Robert Lee. Pasukan Konfederasi terus maju tak tertahankan dan mendekati Washington, ibukota Union. Para pemimpin dari kaum Utara sudah membayangkan hal- hal terburuk yang dapat terjadi. Mereka tidak dapat menemukan cara untuk membalik angin yaitu membuat pasukan yang terpukul babak belur dan lelah ini menjadi suatu pasukan yang perkasa dan bersemangat kembali Satu-satunya tokoh yang melihat adanya solusi dari situasi ini adalah Abraham Lincoln. Ia mengenal adanya seorang Jenderal yang telah melatih dan membentuk pasukan yang kalah ini. Jenderal ini adalah George McClellan. Tidak ada seorang pun di dalam Departmen Pertahanan yang 46
    • menyukai jeneral yang berusia 35 tahun itu. Lulusan akademi militer di West Point ini dikenal sebagai orang yang arogan, pemberontak dan sangat berhati-hati serta lambat turun ke lapangan. Ia cenderung memastikan kelengkapan data lapangan sebelum mengajukan pasukannya untuk bertempur. Pendekatannya membuat beberapa kesempatan emas hilang dan ia bentrok dengan atasannya, namun di pihak lain, seluruh anak buahnya mencintai sang jenderal. Tidak heran sepanjang karirnya jenderal McClelland ini dua kali dicopot dari jabatannya. Dengan melalui berbagai protes dan kritik pada tahun 1862, Lincoln mengangkat jenderal yang setahun sebelumnya ia sendiri copot dari jabatannya. Ia memerintahkan McClellan untuk berangkat ke Virginia dan memberikan sesuatu yang para pasukan tidak akan mungkin dapatkan dari siapapun di bumi: entusiasme, kekuatan, dan harapan. Sang jenderal berangkat di atas kuda hitamnya dan menjumpai pasukannya. 47
    • Apa yang kemudian terjadi sulit untuk digambarkan. Pemimpin-pemimpin Utara dan Selatan tidak dapat menyelesaikannya. Bahkan McClellan tidak dapat menerangkan apa yang terjadi. Jeneral ini McClellan berhadapan dengan barisan pasukan Union yang sedang mundur. Ia mengangkat topinya dan melambaikannya dengan bersemangat. Para perajurit yang lelah dan hampir tertidur sambil berjalan melihat pemimpin dan bekas guru mereka. Mereka terkejut dan ikut melambaikan topi serta berseru. Semangat mereka kembali bangun bahkan berkobar. Kini mereka maju kembali dengan keyakinan bahwa keadaan akan berubah karena sang jenderal sudah hadir. Tak lama kemudian, jenderal ini berhasil menahan kemajuan pasukan jenderal Robert Lee walaupun sebenarnya bila ia tidak terlalu berhati-hati, pasukan yang sudah dikalahkannya tadi dapat dihancurkan sepenuhnya. Bayangkan Anda dipimpin oleh seseorang yang tidur di hotel berbintang lima sementara Anda sebagai bawahan bersama rekan-rekan Anda tidur di tikar dalam tenda-tenda 48
    • bobrok sambil kehujanan. Ia tidak hadir ketika Anda menghadapi kedinginan dan kelaparan. Maka apa yang terjadi di lapangan akan tidak dipahami di benak para pengambil keputusan, dan apa yang dipertimbangkan pengambil keputusan tidak dihargai para pengikut. Itulah sebabnya, Kristus tetap berada bersama murid-murid-Nya ketika terjadi badai di danau atau ketika murid-murid-Nya gagal mendapatkan apa-apa setelah menjala sepanjang malam. Mengapa kehadiran seorang pemimpin penting? Ada beberapa kemungkinan : Kehadiran sang pemimpin memiliki dampak karena menunjukkan keperduliannya pada situasi bawahannya Kehadiran memiliki dampak karena menunjukkan bahwa si pemimpin bersedia menanggung beban dan penderitaan yang ia minta anak buahnya tanggung Kehadiran sang pemimpin menunjukkan bahwa ia adalah bagian dari kehidupan bawahan atau pengikutnya dan 49
    • sebaliknya Kehadiran sang pemimpin menunjukkan bahwa ia bersedia memikul resiko besar yang mungkin dihadapi anak buahnya juga Kasus: Dampak Kehadiran Kristus di Tepi Danau Setelah para murid Kristus mendapatkan kenyataan bahwa, Kristus bangkit dari kematian, bagaimanakah respon mereka? Menunggu atau menghabiskan waktu di dalam hal dadakan yang terjadi dan tidak pernah mereka bayangkan hadir di dalam hidup mereka itu ? Petrus berkata kepada teman-temannya, « Aku pergi menangkap ikan. »xxi Terlihat disini Petrus ingin menjadi manusia yang bertindak dan bukan hanya diam atau menunggu dan merenungkan kebangkitan Kristus. Ia mengambil keputusan itu karena, mungkin saja ia sangat menderita di dalam saat menunggu tadi, atau 50
    • mungkn karena ia menjadi serba salah ketika Kristus ternyata bangkit. Bukankah ia yang telah menghianati Kristus sebelumnya ? Alkitab mencatat bahwa mereka berangkat bersama naik perahu. Namun, malam itu tidak ada seekorpun ikan mereka dapatkan.xxii Kegagalan tadi tentu sangat tidak terduga, bukankah keterampilan dan pengalaman mereka di dalam menangkap ikan bukanlah hal baru? Bukankah danau tempat mereka mencari ikan bukanlah lokasi yang baru bagi mereka? Ketika hari mulai siang, dalam keadaan hampir gagal tadi, ketika mereka memutuskan untuk kembali ke pantai tempat mereka berangkat, ternyata Kristus ada di sana, namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah Yesusxxiii. Apakah mereka tidak mengetahui itu adalah Yesus karena perhatian mereka lebih kepada kegagalan 51
    • mereka? Apakah mereka tidak mengetahui karena mereka tidak memperkirakan bahwa Ia akan hadir disana, ketika mereka gagal. Dalam peristiwa itu, Kristus bertanya: ”Apakah kamu mempunyai lauk pauk?”xxiv Pertanyaan ini seakan merupakan suatu pertanyaan sederhana. Namun, bagi seorang Yahudi mengakui kegagalan mereka dalam mencapai apa yang mereka inginkan, bukan merupakan suatu hal yang mudah. Apalagi mengakuinya di depan seorang yang mereka tidak ketahui. Namun dampak dari pertanyaan tadi, mau tidak mau perhatian mereka teralih dari urusan mereka kepada orang yang bertanya. Setelah menerima jawaban itu, Kristus memberikan mereka suatu perintah. ”Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu.” Selain itu, Kristus juga memberikan janji: ”maka akan kamu peroleh.”xxv Sangat menarik bahwa para murid mematuhi usulan 52
    • atau perintah dari orang yang mereka tidak kenali itu, padahal tentunya secara nalar hal itu sudah mereka lakukan berkali-kali sepanjang malam. Hasilnya nyata. Dampak dari kehadiran, kata-kata, keperdulian Kristus, dan janji serta hasil nyatanya membuat murid yang dikasihi Kristus mengenali bahwa gurunya ada disana.xxvi Mereka tidak sendirian di dalam kegagalan, di dalam penantian, dan di dalam upaya mereka. Itulah Kristus yang selalu hadir di dalam pelayanan dan pergumulan para pemimpin yang mengasihi-Nya. Mengenal Dampak Yang Disengaja dan Tidak Di sengaja 53
    • Menyadari bahwa dampak yang dapat terjadi karena kata- kata, sikap, keputusan, tindakan dan kehadiran seorang pemimpin sangat besar maka, semestinya banyak pemimpin akan belajar menguasai seluruh faktor tadi dan mencapai dampak yang baik. Nyatanya tidak demikian. Apa yang terjadi? Ternyata, banyak pemimpin menghasilkan dampak yang tidak disengaja. Pada dekade 70an, di Amerika jumlah angka kejahatan terus meningkat. Ahli-ahli dari berbagai disiplin ilmu membahas hal itu. Ada yang menyebutkan bahwa akar masalahnya adalah kurangnya jumlah polisi dibandingkan dengan jumlah warga. Ada pula yang menganggap bahwa hukuman yang diatur negara terlalu enteng bagi kejahatan yang terjadi. Semakin lama angka kejahatan terus meningkat dan semua solusi tidak menghasilkan apa-apa. Maka para pakar memprakirakan bahwa pada dekade 90an dan selanjutnya tiga dari setiap sepuluh orang akan mengalami peristiwa kejahatan di dalam hidup mereka seperti, dibegal, dicuri, diperkosa atau dibunuh. Nyatanya, kejahatan menurun dari 54
    • tahun-ketahun sehingga mencapai 10 persen dari angka di dekade berikutnya. Apa yang terjadi? Seluruh rantaian peristiwa itu terjadi ketika seorang wanita berusia 16 tahunan mengalami kehamilan walaupun ia belum menikah. Wanita berkulit hitam itu datang dari keluarga miskin dan tidak memiliki pekerjaan serta penuh dengan catatan perbuatan kriminal. Wanita tadi mengajukan permohonan agar bayinya boleh diabrosi walaupun aturan negara melarang hal tadi. Permohonan ini diproses di pengadilan negeri dan berjalan berlarut-larut sampai akhirnya disetujui oleh hakim pemimpin disana. Anehnya, sang wanita tidak dapat mengaborsi bayinya karena kehamilannya sudah berada di tahap yang lanjut ketika keputusan tadi dikeluarkan. Apa hubungan keputusan sang hakim itu dengan turunnya angka kejahatan di USA? Ternyata keputusan tadi secara tidak sengaja menghasilkan dampak yang besar. Dengan aborsi dianggap legal, maka di kalangan wanita kulit hitam 55
    • yang hidup di daerah kumuh, banyak bayi yang seharusnya dilahirkan dan akan bertumbuh tanpa ibu yang bertanggungjawab dan tanpa ayah sama sekali tidak dikandung dan dilahirkan. Dengan demikian dua puluh tahun kemudian, tidak muncul para ABG dan muda-mudi yang berpotensi besar melakukan kejahatan.xxvii Seperti telah dinyatakan di atas, kita sadari bahwa seorang pemimpin dapat menimbulkan dampak dengan sengaja, namun dapat juga ia menimbulkan dampak tadi tanpa kesengajaan. Dampak kepemimpinan Hittler adalah terjadinya pembunuhan massal yang disengaja. Dampak kepemimpinan pemerintah Khmer merah adalah terjadinya pembunuhan tiga juta orang lebih di Kambodia dan hal itu merupakan kesengajaan. Sebaliknya, dampak reputasi kepemimpinan Patin, calon wakil presiden dari partai republik di Amerika adalah kekalahan senator McCain, tentunya hal ini tidak terjadi dengan sengaja. 56
    • Seringkali apa yang seorang pemimpin lakukan atau abaikan bukanlah hal-hal yang besar. Hasilnya, tetap menimbulkan dampak yang sering tidak terbayangkan. Sayang sekali, sebagian dampak itu tidak disadari oleh banyak pemimpim. Misalnya, sebagai pemimpin di dalam konteks organisasi, Anda datang tepat waktu dalam sepuluh pertemuan terakhir ini, hal tadi akan berdampak pada anak buah Anda walaupun Anda tidak rencanakan. Anak buah itu seakan mendapatkan pesan bahwa bila seorang pemimpin selalu datang saja tepat waktu, anak buahpun harus terlebih berdisiplin lagi. Dalam konteks yang sama, bila seorang pemimpin secara teratur memberikan masukan kepada anak buahnya, hal itu juga berdampak karena memberi pesan supaya anak buah juga memberikan masukan terhadap anak buahnya sendiri. Sebaliknya bila seorang pemimpin tidak memberikan masukan secara teratur, hal itu seakan memberi pesan pada anak buahnya bahwa mereka dapat mengabaikan hal itu. 57
    • Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa, dampak juga terjadi bukan hanya di dalam organisasi atau komunitasnya sendiri. Dampak dapat terasa di lingkungan masyarakat dimana sang pemimpin tadi bekerja seperti disampaikan dalam cerita mengenai gereja yang kehilangan anggotanya di atas. Di dalam kitab Para Rasul, dampak dari pelayanan para rasul adalah mereka dihormati orang banyak, walaupun juga ada orang yang merasa takut pada mereka.xxviii Pelayanan para rasul dan kepemimpinan mereka berdampak, artinya membuat masyarakat di sekitar mereka harus memperhatikan mereka. Orang banyak jadi menentukan sikap dan tidak mungkin mengabaikan apa yang diajarkan dan dilakukan para rasul. Dampak Bagi Nalar, Emosi dan Perilaku Seorang pemimpin menghasilkan dampak pada masyarakat atau lingkungan internal organisasinya. Di dalam organisasi, ia akan memberi dampak pada atasannya, pada mitra kerja, pada bawahannya dan pada dirinya sendiri. Selain itu, ia juga 58
    • akan menghasilkan dampak bagi lingkungan eksternalnya, baik pesaing, pemerintah, atau lembaga-lembaga penilai. Bila ia bekerja di luar konteks organisasi, misalnya, seorang penulis, maka dampak kepemimpinannya akan terkait dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan dirinya. Seorang seperti Mark Twain yang menuliskan Huckleberry Fin dan Tom Sawyer menghasilkan dampak yang memperkuat gerakan penghapusan perbudakan. Berapa jenis dampak dan dalam hal apa saja dampak dari pemimpin tadi muncul? Sekurangnya ada beberapa ranah dimana dampak tadi terjadi. Mari kita tinjau dampak yang terjadi di dalam konteks kepemimpinan organisasi atau komunitas. a. Ada dampak pada lingkup kesadaran dan pengetahuan (dampak lingkup nalar). Seorang pemimpin perlu membagikan pengetahuan dan pemahaman. Seorang pakara 59
    • bahkan menyampaikan bahwa seorang pemimpin adalah juga seorang pendidik.xxix Di dalam konteks organisasi, ia membuat orang menjadi pembelajar bahkan ia sendiri mendidik atau mengajarkan apa yang benar, baik, dan tepat. Pengetahuan tadi harus dibangun secara teratur dan bertingkat pada semua pihak yang terkait dengan organisasinya. Tanpa begitu, maka terutama para anak buahnya seakan mendapat pesan bahwa belajar itu boleh dilakukan dengan tidak teratur, semaunya, dilakukan kapan saja, dilakukan untuk apa saja dan bisa melompat-lompat serta tidak sistematis. Bila seorang pemimpin tidak memberikan pengetahuan dan pemahaman pada semua pihak yang terkait di dalam organisasinya, dampaknya, ia akan memiliki organisasi yang bekerja keras tetapi sangat kurang kemampuan dan memiliki pengetahuan yang tidak utuh serta menghamburkan biaya. Bukan tidak mungkin, maka banyak orang-orang tertentu dapat cenderung melakukan 60
    • tindakan curang karena tidak memahami bagaimana mengerjakan sesuatu dengan baik. b. Dampak kedua yang dapat ditimbulkan oleh seorang pemimpin adalah dampak pada lingkup emosi atau kejiwaan. Setiap orang membutuhkan penerimaan, penghargaan, rasa disayangi, dan diberi kesempatan untuk berkembang. Bila seorang pemimpin tidak memberikan masukan positip pada rekan, anak buahnya atau atasannya, misalnya, berupa apresiasai, maka dampaknya akan parah. Anak buah dan mitranya akan dapat merasa diperas tenaganya atau dimanfaatkan demi ambisi pemimpin atau keuntungan sang pemimpin saja. Tentunya hal ini akan berdampak dalam relasi mereka dan kinerjanya. Juga ketika ada seorang rekan, atasan atau anak buah yang baru memasuki jabatan baru sedangkan sang pemimpin tidak memberikan ucapan selamat kepadanya, ia akan merasa bahwa lingkungannya ini hanyalah merupakan suatu tempat mencari uang dan bukan merupakan suatu keluarga besar. 61
    • Dampak di lingkup emosi ini dapat juga terasa di masyarakat luar organisasi atau komunitas sang pemimpin. Seorang pemimpin yang bersahaja dan ramah, membuat orang di sekitarnya tertarik pada kepribadiannya, walaupun mereka tidak menjadi pengikut atau anak buahnya. Dirinya membuat orang menghormatinya. Sebaliknya pemimpin yang arogan akan menuai kebencian atau iri hati. Dampak pada lingkup emosi di dalam lingkungan internal organisasi atau komunitas dimana sang pemimpin ada dapat memiliki dua sisi. Di sisi pertama, pemimpin dapat menimbulkan dampak secara negatif pada hidup emosi anak buahnya. Misalnya, bila ia terus menerus menularkan suasana emosi yang negatif, hal ini membuat semua anak buahnya akan merasa tidak aman, cemas, dan tertekan. Pada sisi lainnya, pemimpin dapat menimbulkan dampak secara positif pada hidup emosi anak buahnya. Bila ia menunjukkan hal-hal positif yang mereka telah capai dan menunjukkan penghargaan, maka hal ini akan menular dan menimbulkan entusiasme. 62
    • c. Dampak ketiga adalah dampak pemimpin pada lingkup tindakan atau perilaku. Seorang pemimpin tidak cukup hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan dan sentuhan emosi pada orang-orang di sekitar saja, tetapi ia juga sangat perlu memberikan rancangan tindakan, teladan gaya hidup, keputusan, dan terutama tindakan yang memberi semangat. Salah satu hal itu dapat dihasilkan dengan tindakan yang merupakan pengorbanan diri dan menunjukkan kualitas kepahlawanan. Tindakan kepahlawanan seorang pemimpin tergantung pada jenis pekerjaannya, namun anak buah hanya mau ikut pada orang yang berani mengorbankan dirinya dan menunjukkan keberaniannya seperti pada Gideon. Ia memberikan pengarahan tindakan yang sangat rinci dan jelas sebelum menyerang sehingga anak buahnya tahu apa yang diharapkan dari mereka. Iapun memberikan contoh dengan maju berperang bersama mereka.xxx 63
    • d. Dampak keempat yang dihasilkan seorang pemimpin adalah yaitu dampak pada hidup spiritual rekan, atasan dan anak buah atau pengikutnya. Seorang pemimpin yang memiliki kehidupan spiritual akan mampu melaksanakan hal tadi. Memiliki kehidupan spiritual berarti menyadari bahwa hidupnya dan kepemimpinannya merupakan suatu bagian kecil dari suatu kerangka pekerjaan Allah yang lebih besar. Kemudian, ia mengupayakan agar memahami makna terdalam dari keberadaan dan pekerjaannya. Contoh yang paling menarik dari hal itu adalah ketika David dan seorang anak buahnya, Abisai, menyelusup ke perkemahan tentara Saul yang terus menerus mengejar mereka. Mereka melihat Saul sedang nyenak tertidur. Anak buahnya memaknai keadaan itu dengan mengatakan bahwa « Allah sudah memberikan Saul kepada David. Dengan sekali menombak saja, Saul akan terbunuh. » Artinya, seorang yang mengejar-ngejar David dan kawan-kawannya akan dimusnahkan. Usul itu adalah hal yang sangat masuk akal berdasarkan hukum perang. Namun, David memimpin 64
    • atau mengarahkan anak buahnya dengan menunjukkan suatu hukum yang lebih luhur yaitu pedoman spiritual » Tidak membunuh orang yang diurapi Tuhan. »xxxi Dengan cara itu David segera menghasilkan dampak, bahwa sebagai pemimpin ia memiliki kadar spiritualitas yang berbeda dari orang lain, itulah kelebihannya sehingga orang lain dapat belajar dari teladannya dan hidup dengan spiritualitas yang lebih dalam. Dampak di dalam hidup masyarakat Menggambarkan dampak yang dihasikan seorang di dalam lingkungan organisasi tidak terlalu sukar, namun bagaimana menggambarkan jenis-jenis dampak yang sengaja dilakukan seorang pemimpin di dalam masyarakat? Apakah dampak seorang pemimpin dapat menyentuh nalar masyarakat? Apa yang dilakukan oleh Al Gore dalam memaparkan gejala pemanasan global menunjukkan bagaimana pola pikir orang dan pandangan orang dapat 65
    • diubahkan karena kegigihan seorang memaparkan fakta- fakta dan tren yang ada. Dapatkah juga dampak dari seorang pemimpin mengubah emosi masyarakat? Sejarah mencatat bagaimana pemimpin dapat membuat masyarakat diarahkan untuk membenci atau menyukai suatu hal. Hitler berhasil membuat orang- orang Jerman yang biasanya sangat analitis membenci kaum Yahudi dan mengangungkan ras Arya. Pemimpin- pemimpin Jepang mampu mengubah perasaan tertekan bangsanya menjadi perasaan optimis untuk mencapai prestasi sesudah perang Dunia ke dua. Dampak seorang pemimpin terhadap perilaku orang banyak terlihat dengan nyata di dalam berbagai peristiwa. Dalam perang Dunia kedua, misalnya, kata-kata jenderal MacArthur bahwa ia akan kembali ke Asia tengara menjadi suatu rujukan perilaku banyak orang. Demikian juga dengan Martin Luther King Jr. Dalam pidatonya ”I have a Dream” suatu visi yang baru disampaikan dan mengubah 66
    • perilaku orang. Tanpa Abraham Lincoln dan Martin Luther King Jr, mungkin kita tidak akan mengenal prestasi Obama, Ray Charles, Ophrah Winfrey dan Tiger Woods, serta orang-orang berprestasi yang nenek moyangnya berasal dari Afrika. 67
    • Pasal Tiga Prasyarat untuk Berdampak Positif Ketika bangsa Mongol berhasil membobol tembok besar dan akhirnya menaklukkan Cina, para pemimpin mereka merasa sangat gembira. Bangsa dengan peradaban yang lebih tinggi dan tua ternyata dikalahkan oleh bangsa yang berani dan tangguh. Namun, dalam waktu tidak lama, kerajaan yang mereka bentuk mulai berjalan seperti sistem yang dibuat oleh orang Cina. Dalam waktu seratus tahun, peran para pahlawan telah digantikan oleh para birokrat. Para pemimpin Mongol menyadari bahwa bangsa mereka 68
    • berhasil menaklukan Cina, namun dalam satu generasi, lingkungan budaya Cina menelan kekhasan bangsa Mongol dan lambat laun dapat menghilangkan identitas diri sang penakluk. Kita sudah membahas bahwa di dalam kehidupan, para pemimpin menimbulkan dampak ke tengah lingkungannya. Namun, perlu juga disadari sisi lain dari kenyataan. Lingkungan kerja atau lingkungan masyarakat di mana sang pemimpin berada juga dapat menghalangi dirinya dalam menghasilkan dampak yang kuat. Lingkungan dimana ia berada juga dapat memberi dampak yang mengubah diri sang pemimpin. Ilustrasi 69
    • Pemimpin mempengaruhi lingkungan atau lingkungan mempengaruhi pemimpin? Bila sang pemimpin menyadari hal di atas, maka ia akan tahu diri. Ia tidak melebih-lebihkan kemampuan dan potensinya. Sebaliknya, ia juga tidak akan mengikuti arus yang ada di lingkugannya saja atau menghindari kesempatan untuk mengubah lingkungan dimana ia berada.. Dalam kepemimpinan Kristiani, ia akan mengadakan perubahan dan menghasilkan dampak bahkan berani menanggung segala resiko, bila Tuhan yang mendorongnya melakukan hal tadi Selanjutnya ia menyadari keterbatasannya dan karena itu ia akan menggantungkan dirinya lebih penuh kepadaNya. Dalam kekhasannya inilah, seorang pemimpin Kristen menjadi inspirasi untuk orang di sekitarnya. 70
    • 1. Jenis-jenis pemimpin dan Dampak mereka Ada banyak jenis pemimpin. Secara ringkas, pemimpin adalah mereka yang secara sadar menghasilkan dampak yang terencana bagi hidup orang lain dan bagi hidupnya sendiri. Dampak pemimpin akan terkait dengan jenis kepemimpinan yang mereka mainkan. Tentang hal tersebut, dalam dua puluh terakhir ini banyak sekali tulisan mengenai hal itu, namun sebagian besar membahas masalah kepemimpinan di dalam konteks organisasi. Di dalam konteks itu, beberapa peneliti yang terkenal seperti Peter Senge dan Katrin Kaufer membedakan pemimpin menjadi tiga jenis, yaitu, pemimpin eksekutif, pemimpin jejaring, dan pemimpin lapangan. xxxii Pemimpin eksekutif memangku jabatan-jabatan puncak di dalam struktur organisasinya. Tugas mereka mengkoordinasi berbagai sumber, aktifitas dan dinamika yang ada. Pemimpin lapangan melaksanakan apa yang organisasinya sepakati untuk dicapai sehari-hari. Pemimpin 71
    • jejaring menjadi pembawa informasi dan penjalin hubungan di antara berbagai pengemban tugas di dalam organisasinya. Dengan pemahaman ditunjukkan oleh para ahli itu bahwa, pemimpin bukanlah hanya mereka yang memangku jabatan puncak di dalam organisasinya, karena adapula para pemimpin yang memiliki pengaruh dan dampak luas, namun tidak memangku jabatan apa-apa. Selain pemahaman seperti dipaparkan di atas, ada pula pemahaman lain, yaitu bahwa seorang pemimpin tidak selalu harus bekerja di dalam konteks organisasi, apalagi organisasi yang modern dan rapih, namun juga dapat bekerja langsung di tengah komunitas masyarakat. Dalam pandangan ini dipahami bahwa seorang pemimpin bukanlah orang yang berhasil sesuai kriteria organisasinya saja, namun juga orang yang memberikan kontribusi yang berkualitas ke tengah dunia dan menjadi inspirasi dengan menunjukkan otentisitas diri yang kokoh. Dengan demikian, dalam pandangan ini, sang remaja yang 72
    • dipaparkan di awal tulisan ini memenuhi syarat untuk disebut sebagai pemimpin. Pandangan serupa dipaparkan oleh Chris Lowney, dalam bukunya, Heroic Leadership. Lowney adalah seorang yang pada usia 30 tahunan telah diangkat menjadi direktur sebuah lembaga keuangan, yaitu di JP Morgan & Co dan kini memangku berbagai jabatan puncak di New York, Tokyo, Singapore dan London. Sebelum bekerja disana, selama tujuh tahun Lowney menuntut ilmu dan kemudian mengajar di lembaga-lembaga pendidikan dan seminari Jesuit baik di Puerto Rico maupun di Amerika. Dengan menimba kedua jenis pengalamannya yang unik tadi, Lowney mendapatkan bahwa seorang yang bekerja jauh dari organisasinya seperti, Mateo Ricci, seorang misionaris Katolik di Cina juga merupakan seorang pemimpin. Bahkan, seorang petualang seperti Bento de Gois yang berupaya menemukan Cathay adalah juga seorang pemimpin. Mulanya, De Gois mendengar suatu 73
    • legenda yang dibawa oleh Marco Polo bahwa ada suatu komunitas Kristen hadir di tengah-tengah bangsa-bangsa Islam. Ia tertarik untuk menemukan komunitas ini. Góis dikenang sejarah karena upayanya membuat ia harus berjalan sejauh 6000 kilometer selama tiga tahun. Akhirnya ia tiba di Tembok Besar Cina pada tahun 1605. Ia berhasil membuktikan bahwa tempat yang dinamakan Cathay oleh Marco Polo adalah sama dengan tempat yang bernama Cina yang disebutkan oleh Mateo Ricci. 2. Prasyarat Umum Kepemimpinan Seorang pemimpin jelas memiliki sejumlah prasyarat untuk dapat memainkan perannya yang menghasilkan dampak. Hal ini berlaku baik bila kita memandang pemimpin sebagai seorang yang otentik dan bekerja sendiri demi dunia atau kita melihatnya sebagai seorang yang meninggalkan hal yang bermakna bagi organisasinya, mereka perlu memiliki 74
    • sejumlah prasyarat agar dapat melaksanakan kepemimpinan yang berdampak baik. Namun, apakah prasyaratnya tadi? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita akan meneliti hidup para tokoh yang secara populer di dalam sejarah dunia dipandang sebagai pemimpin. Dengan upaya ini mungkin dapat kita dapat menyimpulkan prasyarat umum yang patut dimiliki oleh seorang pemimpin. Kemudian kita akan meneliti bagaimana para pemimpin Kristen memainkan perannya. Nama Konteks Winston Churchill Perang Dunia kedua Mahatma Gandhi Kemerdekaan India Abraham Lincoln Perang Saudara di Amerika Martin Luther King Jr. Gerakan Hak Sipik Nelson Mandela Perjuangan pembebasan di Afrika Selatan Eleanor Roosevelt Partisipasi wanita di dalam hidup publik Sukarno Kemerdekaan Indonesia 75
    • Kaisar Wudi Kekaisaran China di abad ke dua sebelum masehi Adakah kesamaan prasyarat yang mereka miliki sebelum menghasilkan dampak seperti yang kita baca di dalam sejarah serta mereka tetap memiliki otentisitas yang kokoh? Mungkin terlebih dulu kita perlu membahas mengapa prasyarat-prasyarat itu penting. Bila menggunakan metafor, prasyarat tadi dapat disebutkan bagai suatu jangkar kapal yang memang sehari-hari seakan tidak terlalu berfungsi dan diperlukan, namun justru pada saat krisis, kegunaannya sangat luar biasa. Prasyarat juga dapat diibaratkan sebagai suatu kemudi kapal besar yang berlayar. Walaupun kemudi itu tidak terlihat dan kecil wujudnya, perannya menentukan arah gerak dari kapal tadi. Ilustrasi Jangkar dan Kemudi (Dua gambar) 76
    • Banyak orang memberikan pandangan yang berbeda-beda mengenai prasyarat kepemimpinan tadi. Dalam kepemimpinan di masyarakat, Lowney misalnya, menekankan perlunya prasyarat yang holistik, yaitu, seorang pemimpin harus lebih dulu memiliki kesadaran diri yang tinggi, otentik, kasih, dan kepahlawanan.xxxiii A. Kesadaran diri adalah pemahaman yang mendalam mengenai kekuatan, kelemahan, nilai-nilai dan pandangan hidup B. Otentik artinya dengan keyakinan diri berinovasi dan menyesuaikan diri ke tengah dunia yang berubah C. Kasih artinya melibatkan orang-orang lain dengan sikap positif untuk memungkinkan potensi mereka berkembang D. Kepahlawanan artinya memberdayakan diri sendiri dan orang-orang lain dengan ambisi-ambisi yang heroik dan dorongan untuk mencapai keistimewaan. Selanjutnya dalam praktek, oleh Lowney hal-hal itu dijabarkan oleh seorang pemimpin sebagai berikut 77
    • Ia memberikan teladan dalam cara kerja dan pola kepribadiannya Ia mengispirasikan orang dengan visi yang tajam atau kejelasan warisan «legacy» yang ia ingin tinggalkan di dunia ini Ia berani mempertanyakan atau mengkritisi proses, prosedur, budaya, cara kerja dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah dijalani sejauh ini baik oleh dirinya maupun organisasinya Ia juga memampukan orang lain (melatih dan membuat sistem) agar orang dapat bergerak melaksanakan apa yang mereka dan dirinya sepakati Ia memberikan appresiasi, mengangkat hati mereka, dan mendukung mereka dalam pelaksanaan tugas merekaxxxiv Dalam konteks organisasi, sejumlah prasyarat kepemimpinan didaftarkan oleh beberapa ahli seperti Robert W. Rogers, President dari Development Dimension Internationals dan Audrey B. Smith, wakilnya. Mereka 78
    • menggambarkan prasyarat-prasyarat berikut ini dalam kaitan dengan prasyarat pemimpin eksekutif: Pribadinya menjanjikan o Gandrung dengan pengembangan diri o Mampu menguasai kerumitan o Seimbang dalam keteguhan berpegang nilai-nilai dan o pada upaya memberikan hasil nyata. Sehari-hari, ke empat hal tadi dapat dirincikan sebagai berikut:  Ia cenderung mengambil peran pemimpin yaitu bersedia memikul tanggung jawab.  Ia bersedia menjadi pengarah dan pemrakarsa serta bersedia menjadi orang yang memikul tanggung jawab  Ia juga cenderung mendorong orang lain agar bertumbuh dan menjadi lebih berkualitas.  Ia juga memegang teguh integritas, kejujuran, dan orisinalitas. Salah satu contohnya, ialah bahwa ia berani mengakui kesalahan yang dibuatnya, atau mengekspresikan pemikirannya  Ia bersedia terus menerus belajar  Ia bersedia dengan hati luas menerima masukan dari banyak pihak, termasuk kritik-kritik pedas  Ia memiliki minat yang luas dan rasa ingin tahu yang besar, termasuk belajar dari kesalahan orang lain dan ia cenderung banyak bertanya 79
    •  Ia berminat menguasai hal-hal yang kompleks, bertindak cepat dan bekerja efektif.  Ia mengadakan penyesuaian diri namun menjaga fokusnya dalam berbagai keadaan.  Ia mampu menterjemahkan hal-hal kompleks menjadi hal- hal konkret dan mudah dipahami  Dalam keadaan yang tidak pasti dan banyak berubah, ia tetap dapat memelihara efektifitas dalam kerja  Ia memiliki kecocokan dengan nilai dan budaya di dalam komunitas atau organisasi ia bekerja.  Ia memiliki nilai yang serupa dengan nilai-nilai organisasinya  Ia memiliki perilaku yang cocok dengan perilaku ideal di organisasinya  Ia memliki karakter dan gaya kerja yang cocok dengan organisasinya  Ia adalah seorang yang memiliki semangat untuk menjadi produktif dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul  Ia memiliki komitmen yang tinggi  Ia mengejar kualitas proses dan hasil yang tinggixxxv 3. Kekhasan Prasyarat Pemimpin Kristiani Bagaimana dengan prasyarat bagi seorang pemimpin Kristiani? Kepemimpinan Kristiani disini berarti bahwa kepemimpinan atau daya yang 80
    • berdasarkan pada kebergantungan pada kuasa o penebusan Kristus, dibangun atas keinginan mengabdikan diri bagi Kristus, o dan mengutamakan tercapainya rancangan Allah di dunia. o Jadi kepemimpinan Kristiani ditujukan untuk mencari dampak bukan terutama untuk kepentingan sang pemimpin, namun bagi orang-orang yang mengikutinya, konteks dimana ia berada dan untuk Tuhan. Jadi Dalam buku kami yang pertama dari seri Kepemimpinan ini, yaitu Kamu kepemimpinan Juga Bisa, diisyaratkan bahwa seorang Kristiani ditujukan pemimpin harus mulai dengan untuk mencari kebergantungan pada Tuhan, percaya dampak bukan diri, dan percaya pada orang lain. terutama untuk Selanjutnya, berdasarkan Alkitab terlihat bahwa seorang pemimpin perlu kepentingan sang menyadari bahwa ada kesenjangan pemimpin, 81
    • antara kenyataan yang kasat mata dan standar ideal yang seharusnya. Akhirnya, seorang pemimpin patut membiarkan hatinya tergerak untuk mengambil tindakan nyata. Selanjutnya, kalaupun dampak pekerjaannya terbatas, ia tidak merasa kecil hati atau enggan bekerja selama ia sudah mengikuti rancangan Tuhan baginya. Sama seperti si remaja di tepi pantai, sang pemimpin tidak akan merasa sia-sia ketika ia melakukan sesuatu walaupun pantai yang dijalaninya sangat panjang, ia hanya memiliki dua tangan, dan masih ada ratusan pekerjaan tidak akan dapat ia tangani. Jadi pemimpin Kristiani memiliki sejumlah prasyarat untuk melakukan perannya dengan baik sehingga muncul dampak yang berkualitas. Dampak yang berkualitas tidak berarti megah dan luar biasa atau spektakuler baik di organisasinya maupun di masyarakat.. Di dalam konteks organisasi, dampak yang dihasilkan akan membangun organisasi tersebut. Dalam hal ini Kouzes dan Posner sangat jitu ketika menggunakan istilah “pemimpin adalah 82
    • dia yang meninggalkan warisan atau legacy.”xxxvi Di dalam kehidupan masyarakat, dampak yang dihasilkan muncul karena inspirasi yang ditinggalkan oleh seorang pemimpin yang memiliki otentisitas penyerahan diri yang kokoh, seperti yang dihasilkan oleh Nelson Mandela di Afrika selatan. 4. Pondasi bagi Kepemimpin Kristiani Martin Luther King Jr. menyatakan, “Jadi, saya katakan pada kamu. Carilah Tuhan dan dapatkan Dia. Jadikan Ia kuasa dari hidupmu. Tanpa Diri-Nya, seluruh upaya kita akan menjadi debu dan matahari kita akan segera menjadi malam yang gelap. Tanpa Dia, hidup ini hanya merupakan drama yang tidak bermakna dimana adegan-adegan pentinya lenyap. Tapi, dengan Dia, kita akan mampu bangkit dari tengah malamnya keputusasaan menuju sukacitanya hari yang baru. St. Agustinus benar ketika mengatakan bahwa kita dicipta untuk Tuhan dan kita akan terus menerus resah sampai kita menemukan perhentian di dalam-Nya. Kasihilah dirimu, bila itu berarti secara 83
    • nalar, kesehatan dan kepentingan moral kita. Kalian diperintahkan untuk melakukannya. Itulah sisi panjang kehidupan. Kasihilah Perilaku dan dampaknya Visinya Nilai-nilai utamanya Gambar diri dan pengenalan potensi Pandangannya tentang dunia Hubungannya dengan Tuhan sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri. Itulah lebar dari kehidupan. Namun jangan lupa ada perintah yang lebih utama, yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, seluruh jiwa dan sepenuh akal budimu. Itulah tingginya kehidupan. Bila melakukan hal itu, kamu akan menjalani hidup yang utuh. Martin Luther King Jr.xxxvii Dalam kepemimpinan Kristiani, salah satu dampak yang kuat biasanya berlandaskan pada siapa diri sang pemimpin, 84
    • pengetahuan yang ia miliki, dan apa yang ia lakukan. Siapa diri seseorang ditentukan oleh hubungannya dengan Tuhan, pandangannya tentang dunia, nilai-nilai rujukannya, pengenalan atas potensinya, visinya tentang peran yang harus dimainkan sang pemimpin di dalam dunia. Selain itu dampak akan terkait dengan pengetahuan dan keterampilannya, khususnya bagaimana ia terus menerus memperbaharui atau mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru. Di bawah ini akan diuraikan beberapa hal yang menjadi faktor dasar untuk menghasilkan dampak tadi. a. Hubungannya dengan Tuhan: Tahu tempatnya Day by Day Oh, Dear Lord Three Things I pray To see The more clearly To love Thee more dearly Day By Day 85
    • Henry Blackaby menyatakan bahwa apa yang Tuhan inginkan dan rencanakan pada dasarnya terfokus pada keakraban hubungan dengan kita. Tidak ada yang melebihi kerinduan-Nya kecuali kita mengalami hubungan yang indah dengan diri-Nya.xxxviii Dengan demikian, maka seorang pemimpin Kristiani adalah seorang yang menghasilkan dampak dalam hubungan antara orang di sekitarnya dengan Tuhan. Semakin orang- orang jadi akrab dengan Tuhan, berarti ia merupakan seorang pemimpin yang berhasil. Hal itu tidak akan terjadi bila sang pemimpin diikuti orang karena berbagai kelebihannya seperti kepandaiannya, tampilannya, relasinya, atau kekayaannya. Dampak tadi terjadi bila orang terinspirasi oleh keakraban sang pemimpin sendiri dengan Tuhan. Dampak itu terjadi karena Tuhan berkenan menggunakan sang pemimpin yang sudah akrab dengannya sebagai saluran berkat-Nya. 86
    • Selanjutnya untuk memelihara dampak tadi dalam, hidup sehari-hari, banyak buku dan petuah yang mengajarkan bagaimana pemimpin menghasilkan dampak yang diinginkan. Di Alkitab tercatat bagaimana rasul Paulus di abad pertama menuliskan bagaimana ajaran yang ia yakini dan mengirimkan tulisan itu ke jemaat purba yang ada di kota Roma. Di tengah-tengah tulisannya itu ia menyatakan: ”... siapa yang memberikan pimpinan hendaklah ia melakukannya dengan rajin...”xxxix Mengapa Paulus menuliskan demikian? Mengapa ia tidak menuliskan bahwa kepemimpinan sepatutnya dilakukan dengan penuh wibawa atau dengan cerdas agar berdampak kuat? Barangkali bukankah kita anggap semestinya kepemimpinan dilaksanakan dengan penuh iman? 1. Untuk memahami hal ini, pertama-tama, kita perlu mengerti bahwa kepemimpinan adalah suatu pelayanan yang khas. Dibandingkan dengan pelayanan konseling atau pendidikan dan penatalayanan, pelayanan kepemimpinan 87
    • membutuhkan energi dan daya juang yang sangat tinggi. Sang pemimpin harus terus menerus waspada, siap membuat terobosan, serta memelihara komitmen, keyakinan, karakter, keberanian dan kreatifitas di samping kebergantungannya pada Tuhan. Pemimpin juga harus menyatukan dan mengarahkan berbagai-bagai pelayanan yang ada di tengah organisasi atau komunitasnya. Hal ini tidak akan terjadi bila ia tidak melakukan segalanya dengan rajin. Rajin disini berarti bahwa ia bekerja lebih keras dari orang lain, lebih bersedia mengurbankan diri, dan lebih fokus dalam segala tindakannya. Rajin berarti ia terus menerus belajar untuk mengarahkan umatnya atau pengikutnya dengan benar. Rajin berarti juga ia harus terus menerus berupaya mengenali kehendak Tuhan, Seorang pemimpin yang bekerja keras seperti itu menjadi teladan dalam penggunaan waktu, tenaga, dan sumber- sumbernya namun dampak utamanya harus nyata dalam hidup spiritual bagi orang lain. 88
    • 2. Rajin dan bekerja keras berarti pemimpin tahu apa yang Tuhan percayakan padanya atau jadi bagian yang diri harus pikul dan apa yang jadi bagian Tuhan di dalam hidup. Dalam kemampuan mengenali adanya kedua hal tadi, maka seorang pemimpin menjadi inspirasi. Dengan singkat, Paulus menekankan kerajinan karena Paulus memahami bahwa di dalam proses pelayanan ada urusan yang merupakan bagian Tuhan. Tuhan akan menangani berbagai hal. Namun adapula beban yang diberikanNya pada manusia yang mengabdi padanya, terutama sebagai pemimpin. Jadi ada hal-hal yang merupakan bagian Tuhan dan ada yang merupakan bagian manusia. b. Pandangannya tentang Dunia Seorang pemimpin menyadari bagian tugasnya di dalam dunia. Dengan atau tanpa karyanya, dunia akan terus berputar. Dengan atau tanpa karyanya, Tuhan akan 89
    • mewujudkan rencana-Nya dengan dunia. Namun, Ia memberi tempat bagi manusia untuk ikut mengambil bagian di dalam rencana tadi. Jadi seorang pemimpin harus tahu pada batas-batasnya. Ada batas untuk kuasa dan wewenangnya. Salah satu hal penting yang perlu seorang pemimpin pahami mengenai dunia dan tugasnya di dalam hidup adalah bahwa terdapat batas waktu. Tidak selamanya seorang pemimpin menjalankan tugasnya. Ia berada di antara pemimpin- pemimpin yang berada sebelum ia bekerja dan pemimpin- pemimpin yang akan muncul dan melanjutkan tugasnya di masa depan. Ia hanya memainkan perannya di dalam satu bagian kecil dari Kerajaan Allah dan sejarahnya. Apa yang baik dan jitu yang telah ia lakukan di masa lalu tidak berarti akan baik dan jitu untuk masa kini apalagi di masa depan. Karena itu tugas dan ukuran sukses seorang pemimpin Kristiani adalah lahirnya pemimpin-pemimpin baru yang ia kembangkan. Bahkan bila sang pemimpin baru 90
    • bekerja dengan cara dan gaya yang beda, ia tidak perlu merasa kecil hati atau dipinggirkan karena ia sudah melakukan bagian yang merupakan tugasnya dan metodenya mungkin tidak lagi relevan untuk masa dimana pemimpin baru ini bekerja. 91
    • Pasal Empat Gambar diri dan Potensi Yang Tersembunyi Gambar Diri: Hidup dalam Syukur Pada suatu hari, seorang wanita berdiri di depan cerminnya. Ia melihat bahwa ia hanya memiliki tiga helai rambut yang tersisa di kepalanya akibat suatu kecelakaan yang dialaminya. Dengan senyum ia berkata di dalam hati. « Tiga helai rambut… bagus sekali pemberian Tuhan ini, sekarang aku dapat menguntainya, membuat kepang rambut. » Ia melakukan hal itu dan sepanjang hari ia menyukai karyanya. Dua minggu kemudian, ia kembali bercermin dengan cemat dan menemukan bahwa rambutnya tinggal dua helai. Ia tersenyum dan berkata, « Nah, sekarang aku dapat 92
    • menggunakan gaya belah tengah. Ia menyisir rambutnya yang satu kekiri dan yang satu ke kanan. » Iapun melanjutkan hari-harinya dengan gembira karena apa yang ia miliki dianggapnya pemberian Tuhan yang memadai. Sebulan kemudian, wanita itu mendapatkan rambutnya tinggal sehelai. Ia kembali tersenyum dan kini memutuskan untuk menjadikan rambut itu seperti ekor kuda yang tipis. Tak lama ia dapat menikmati hal itu, suatu pagi, ia menemukan bahwa seluruh rambutnya rontok. Ia tersenyum dengan lebar, « Nah, kini aku tidak perlu lagi direpotkan dengan rambutku. Aku bergabung dengan Telly Savalas dan Jul Brinner. Tuhan membebaskan aku dari kepusingan dalam urusan rambut » Ia melanjutkan kehidupannya dengan gambar diri yang semakin kokoh. Apapun yang Tuhan berikan padanya cukup indah dan dapat dinikmati. quot;Always be a first-rate version of yourself, instead of a second-rate version of somebody else.quot; (Selalu jadilah versi 93
    • terbaik dari diri Anda daripada versi lumayan dari diri seorang lain). Judy Garland Kalimat di atas patut disimak baik-baik karena keluar dari mulut seorang wanita yang pada tahun 1999 mendapatkan penghargaan yang luar biasa di dunia perfilman. Namun, sepanjang hidupnya selama 47 tahun ia terus menerus menimbulkan masalah dengan dirinya, terhadap orang lain, dan bagi pasangan hidupnya. Ia memiliki gambar diri yang tidak kokoh. Terus menerus ia meragukan dirinya. Akhirnya, ia meninggal karena tanpa sengaja menelan obat penenang dalam jumlah yang berlebihan. Judy Garland sudah melakukan banyak hal di dalam hidupnya, namun ia menderita karena tidak memiliki gambar diri yang kokoh. Sebaliknya, cerita tentang wanita yang botak menggambarkan seorang yang sangat kekar dalam gambar dirinya dan bahkan karenanya dapat terus menerus bersyukur dan menikmati hidup. 94
    • Kita dapat menjadi pemimpin yang memiliki gambar diri yang kokoh. Para pemimpin yang memiliki hal itu sanggup menghadapi kritik, gossip, kemiskinan, kesalahan, kerugian, pengucilan, bahkan pembunuhan karakter. Mereka terus berjuang sampai akhirnya menjadi inspirasi bagi orang lain. Potensi mereka mengalir sepenuhnya dan membawa dampak yang luas dan positif. Mereka membuktikan pendapat populer bahwa « Anda tidak akan pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri » Sebaliknya ada pemimpin yang memiliki gambar diri yang lemah. Mereka mudah goncang dan kecewa ketika orang tidak menerima atau mengabaikan mereka. Mereka melarikan diri dan menjauh dari orang banyak ketika serangan pada diri mereka begitu besar. Namun ketika hal itu tidak terjadi, mereka merasa kuat dan percaya diri karena citra dirinya didasarkan pada relasi yang kuat, dana yang tersedia, pencapaian mereka, dan kesehatan mereka. 95
    • Bagi pemimpin Kristen, gambar diri yang kokoh dimulai dengan pemahaman mengenai tempat seorang pemimpin di dalam sejarah atau di dalam dunia sebagaimana telah kita uraikan sebelumnya. Selanjutnya, seorang pemimpin perlu memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan dan menjadi semakin peka pada kehendakNya. Keakraban ini merupakan hal yang bernilai baginya sehingga ia mensyukuri terjadinya hal tadi. Sebutan lainnya ialah ia memiliki spiritualitas yang kuat. Mengapa hal itu penting? Mengapa memiliki keintiman atau kedekatan denganNya begitu penting? Memiliki harta, reputasi, dan relasi tidak menjaminkan kita merasa aman karena semua faktor eksternal itu tidak dapat diandalkan dan tidak selalu hadir. Semua yang kita banggakan di suatu masa, dapat menjadi hal yang memalukan di masa depan. Bukankah di dunia politik hal itu terlihat dengan nyata? Relasi yang dianggap menguntungkan pada suatu periode menjadi resiko di periode lainnya. Semua hal eksternal 96
    • memiliki daya guna terbatas di dalam sejarah dan dalam perubahan-perubahan. Memiliki hal-hal di atas tidak menjaminkan pertumbuhan kualitas kira sebagai pemimpin. Banyak pemimpin tidak bertumbuh dalam kematangan mereka setelah banyak hal eksternal dimilikinya. Sebaliknya, kedekatan orang dengan Tuhan membawa kepada pembelajaran non stop sepanjang hidup. Jadi, memiliki harta, reputasi, dan relasi tidak selalu memberikan gambar diri yang kuat. Gambar diri yang lemah tidak dapat ditutupi oleh harta, reputasi, dan relasi yang hebat. Ketika seseorang berada sendiri, gambar dirinya yang asli akan muncul ke permukaan. Di saat itu terlihat apakah ia seorang yang mensyukuri keakrabannya dengan Tuhan, kesempatan menjadi peka pada suara-Nya, dan kesempatan mengambil bagian di dalam karya Tuhan. 97
    • Siapa yang hidup seperti itu akan terus bersyukur karena Tuhan sendiri ingin pemimpin-pemimpin mengenali kekuatan dan kasihNya secara lebih penuh. Dengan demikian, mereka yang hidup dengan keakraban dengan Tuhan akan terus menerus hidup dalam ketakjuban atas ungkapan kasih dan kuasa-Nya. Jadi, akar dari suatu gambar diri yang kokoh harus berasal dari sesuatu yang sifatnya ada di dalam dirinya. Istilah lainnya 98
    • adalah intrinsik. Hal intriksik yang paling utama bagi seorang pemimpin Kristen adalah kedekatan dengan Tuhan. Hanya hal inilah bermakna baginya. Ilustrasi: Memahami Potensi dan Jebakan Kenyamanan Dalam kenyataan, banyak pemimpin yang memiliki gambar diri yang baikpun, gagal menghasilkan dampak yang terbaik, 99
    • karena mereka hanya menggunakan dua puluh atau tiga puluh persen dari potensi mereka. Mereka mempercayakan diri pada Tuhan, namun tidak taat untuk melakukan tugas yang merupakan bagian mereka. Dampaknya, mereka juga cenderung mengharapkan orang lain hidup dalam cara seperti itu. Mereka hidup dalam ruang yang dikenal dengan nama ruang lumayan. Ruang lumayan adalan ruang yang kita bentuk di benak kita. Semua usaha kita diarahkan untuk menghasilkan pencapaian yang kita anggap layak untuk memenuhi ruang lumayan tadi. Untuk dapat tersimpan disana, kriterianya memang tidak tinggi. Sebuah aktifitas yang dampaknya rencah sudah dapat dianggap sebagai pencapaian di dalam ruang lumayan. Suatu prestasi yang dicapai dengan terlambat juga dianggap sudah dapat dianggap layak di dalam ruang ini. Suatu proses kepemimpinan yang tidak menghasilkan prestasi yang tahan lama juga dianggap cukup memadai. Semakin banyak yang disimpan disana, semakin puas sang pemimpin 100
    • Padahal manusia dapat menciptakan ruang-ruang lain, misalnya ruang hasil optimum. Bila kita hidup di ruang hasil optimum, maka semua upaya kita arahkan untuk disimpan di ruang ini. Memang kriterianya tinggi. Semua pencapaian harus sedapat-dapatnya berkualitas tinggi, sesempurna mungkin, tepat waktu, dapat dievaluasi, dan tidak melebihi anggaran serta membuat orang bersama bertumbuh dalam proses meraihnya. Bagaimana sebagai pemimpin atau calon pemimpin, kita dapat mulai menciptakan ruang yang seperti itu dan meninggalkan ruang lumayan? Perlu terlebih dulu kita kenali bahwa, seorang yang mau menciptakan hal itu harus menyadari siapa dirinya, khususnya tempatnya di dalam sejarah kerajaan Allah seperti telah kita uraikan sebelumnya sehingga ia tahu apa yang jadi bagian tugasnya. 101
    • Mengenal Dua Nahkoda yang tersembunyi Setelah seorang pemimpin memiliki pemahaman yang benar mengenai peranannya dalam sejarah kerajaan Allah dan ia mengenal pula keseluruhan potensinya apakah otomatis ia akan menghasilkan dampak yang tepat baik melalui kata-kata, sikap dan keputusannya? Hari ini saya duduk menonton sebuah video pelatihan. Di dalam video itu terlihat seorang pelatih berbaju batik berbicara dengan tersenyum di atas panggung. Gerak- geriknya santai serta memberikan kesan bahwa ia hanya membagikan pengalaman pribadinya, seakan sedang mengobrol di sebuah kedai kopi. Ia tampil bagaikan seorang penutur cerita yang mengikat perhatian pendengarnya. Ada ketenangan dan ada kebahagiaan terpancar pada dirinya. Saya merasa heran melihat tandang dan suasana menyenangkan yang ia hasilkan dalam pelatihan itu. 102
    • Dampaknya membuat saya mengingat kasih dan kuasa Tuhan. Dulu, saya tahu benar bahwa orang itu adalah seorang pemarah yang mudah tersinggung. Ia hidup dengan penuh kekuatiran, workaholik, dan mengidap kerisauan yang berkepanjangan. Tidak jarang ia merasa terpukul bila ia tidak dihargai atau diterima orang lain. Cara ia berbicara sering menyakiti orang lain walaupun ia tidak bermaksud demikian. Ia merupakan orang yang kehadirannya membawa suasana tegang, tertekan, dan tidak menyenangkan. Untunglah ia memiliki istri yang memahami siapa dan nahkoda yang tersembunyi di dalam dirinya, bahkan potensi-potensinya. Wanita inilah yang sebenarnya menjadi mentornya. Saya mencari rekaman film yang berisi pelatihannya yang dipimpinnya pada sepuluh tahun yang lalu. Disitu, saya mendapatkan kesan bahwa orang itu memberikan pertunjukkan yang menarik di panggung. Ia menikmati perannya dan merasa bangga karena didengar orang. Ia menuangkan berbagai ilmu pengetahuan dari buku-buku 103
    • dan artikel yang ia baca, cukup untuk menenggelamkan orang di dalam kebingungan. Sama sekali ia tidak peka atas dampaknya. Bgai saya ia adalah seorang pelatih yang masih melakukan tugasnya semata-mata bukan untuk menumbuhkan orang lain. Bukan juga karena ia terbeban untuk berbagi kebijaksanaan hidup yang ia miliki. Hal yang ia lakukan adalah hanya mencari kepuasan diri, memenuhi kebutuhan tersembunyinya untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan orang lain tentang kelebihannya. Walaupun tentu ada berkat Tuhan yang dialami peserta pelatihannya, sebenarnya di dalam dirinya, ia tetap risau dan kesepian. Tentu Anda berpikir, mungkin saya terlalu kejam menilai orang itu. Mungkin ada hal-hal yang saya tidak tahu tentang orang itu. Apakah saya terlalu jauh menghakiminya? Saya ingin menyampaikan disini, bahwa saya sungguh mengenal orang itu lebih dekat dari orang lain. Kenapa? Orang itu adalah saya sendiri. Sang pemarah, orang yang senantiasa mencari pengakuan orang lain, dan orang yang risau itu adalah saya. Namun, orang yang kini rindu berbagi 104
    • perjalannya dengan Tuhan sambil berupaya merasa bersyukur terus menerus atas pendidikan Tuhan bagi dirinya, adalah saya juga—saya yang sudah merasakan diremukkan Tuhan dan dibentuk-Nya kembali. Cerita ini disampaikan untuk menunjukkan beberapa hal dalam rangka kepemimpinan. Seseorang dapat berupaya memainkan lima peran kepemimpinan. Ia merumuskan visi yang tegas, menginspirasikan orang lain, atau menghasilkan perubahan nyata, atau menggali makna secara berkala. Namun semata-mata. hal tersebut dapat dilakukannya demi memenuhi kebutuhan pribadinya. Hal tersebut dapat juga dilakukan demi memuaskan perasaannya saja. Bahkan hal tersebut juga dilakukan demi kemajuan karir dan memenuhi kantongnya. Itulah dorongan tersembunyi di dalam dirinya yang mungkin tidak ia sadari. Itulah nahkoda dari bahtera hidupnya yang menentukan semua perilakunya. Mulanya mungkin orang terpesona karena memang orang- orang yang resah seperti itu dapat tampil menarik dan di 105
    • depan publik mampu memberikan kejutan-kejutan yang dapat dinikmati. Ia berani tampil binal, mengatakan hal-hal yang biasanya orang hindari, dan memberi contoh-contoh yang aneh sehingga memikat. Setelah melakukan hal itu iapun mungkin mendapatkan kepuasan emosi untuk sesaat. Namun, bagaimanapun juga, di bagian terdalam dari dirinya, kedamaian dan sukacita yang berkelanjutan tidak akan mungkin hadir. Tak ada damai sejahtera di dalam wilayah pribadinya yang terdalam. Saya yakin Anda tidak ingin hal itu terjadi di dalam diri Anda. Ia mungkin menjadi berkat bagi banyak orang, namun ia sendiri tidak menikmati berkat Tuhan. 106
    • Menerima berkat karena Menjadi berkat bagi orang Lain pelayanannya Darimana datangnya asalnya hal tadi ? Bisa saja orang mengatakan bahwa itu sudah merupakan sifat si pemimpin. Bisa juga orang mengatakan bahwa hal itu terjadi karena Tuhan sudah mengaturnya demikian. Tidak kurang juga pakar yang mengatakan bahwa banyak orang mengalami hidup seperti itu karena dampak dari perilaku dan 107
    • pemikiran dari orang tuanya di masa kecilnya. Bukankah tujuh tahun pertama dari hidup seorang sangat mewarnai pribadinya ? Untuk itu, sebelum menjalankan kepemimpinan ke berbagai arah, marilah terlebih dulu kita memasuki dunia yang jarang kita teliti, yaitu wilayah pribadi kita. Termasuk, kita juga akan menjelajah wilayah kebutuhan emosi yang terekam di ingatan-ingatan dalam diri kita. Penjelajahan ini lebih sulit dari berbagai pengalaman biasa. Kita harus berani untuk mengenali hal-hal yang lucu, tulus, indah, atau mungkin juga, kotor, buruk, menakutkan, memalukan, dan menyedihkan yang mungkin ada di dalam ingatan kita. Kita memasuki lingkungan yang paling pribadi dan biasanya disembunyikan terhadap orang lain. Kita memasuki lingkungan dimana dibutuhkan keberanian untuk jujur. Perlu kita sadari, bahwa seringkali justru orang yang paling berimanpun masih segan mengakui dengan terbuka dan jujur serta sepenuhnya apa isi lingkungan pribadinya tadi. Sebagai analogi, lingkungan itu adalah bagaikan ruang 108
    • gudang atau kamar mandi kita yang tidak kita mau perlihatkan pada orang lain, mungkin karena bau dan kotor. Sebelumnya perlu kita gali, apa yang dikatakan Alkitab mengenai hal tadi? Kenapa? Kita tidak menginginkan memaparkan penjelajahan yang hanya hanya bersifat psikologis namun tanpa dasar spiritual yang kokoh, bukan? Dalam Alkitab, ada sebuah ayat yang membuat saya terkejut. Ayat tersebut adalah ayat di dalam Mazmur 19. Bebaskanlah aku daripada apa yang tidak kusadari (ayat 13) Ketika membaca Mazmur 19, pertanyaan yang timbul adalah apa sebenarnya topik dari seluruh Mazmur ini? Dengan mudah kita dapat kenali bahwa Mazmur 19 berbicara tentang torah Tuhan. Marilah kita bersabar sedikit. Apakah torah itu? Torah bukanlah hanya kumpulan tulisan yang kita kenal sebagai lima buku pertama di dalam Alkitab. Menurut orang Yahudi torah adalah instruksi, petunjuk atau pegangan hidup, dan 109
    • ajaran utk hidup dalam Tuhan. Asal mula munculnya torah tersebut cukup panjang. Orang Yahudi sudah lama menyadari bahwa untuk dapat hidup dekat dengan Tuhan, suatu bangsa dapat memilih berbagai jalan. Jalan pertama adalah adanya seorang tokoh yang dijadikan panutan dan rujukan. Namun kalau seorang tokoh dijadikan rujukan, pilihan ini ternyata tidak bisa diandalkan. Di dalam sejarah, seorang tokoh agama, seperti seorang imampun mungkin tidak menampilkan hidup yang jadi panutan. Anak seorang imam saja bisa mencuri dan sang imam membiarkannya. Lihatlah hidup imam Eli dan anaknya. Lalu apakah pribadi seorang raja mungkin bisa dijadikan rujukan agar kita semua hidup dengan Tuhan? Nyatanya di dalam sejarah Israel, lebih banyak raja yang tidak membuat orang dekat dan taat kepada Tuhan daripada yang menjadi teladan. Dengan kesadaran ini orang Israel tidak menggunakan seorang manusia sebagai dasar kekuatan dan pegangan untuk umat menjalani kehidupan yang dekat dengan Tuhan. 110
    • Bagaimana kalau pegangan tadi adalah pada diri kita sendiri yaitu, getaran emosi atau perasaan pribadi, mungkinlah hal itu membuat kita hidup dengan Tuhan? Ternyata hal itu juga tidak bisa diandalkan. Seorang manusia dan suatu bangsapun dapat menjadi subjektif. Perasan dapat muncul sesaat lalu segera digantikan dengan perasaan lainnya. Lihatlah bagaimana mood Saul, sang raja. xl Orang Yahudi sudah lama menyakini adanya pemberian Tuhan yang disampaikan melalui Musa bagi bangsa ini, itulah Torah, ajaran Tuhan. Setelah memiliki Torah, mereka tiba pada suatu kesimpulan akan perlunya sebuah sistem panduan atau prosedur dan aturan untuk menjaga kita tetap hidup di dalam jalur yang Tuhan kehendaki. Pegangan itulah kemudian hari yaitu sesudah abad pertama, dikenal sebagai. Torah yang tertulis, namun ada pula yang dilisankan, artinya masih banyak yang ada di dalam ingatan bangsa ini. Torah yang tertulis, masih dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaannya, itulah yang dikenal sebagai 111
    • Mishnah, dan Midrash atau Talmud. Bagi orang Yahudi dijaman kini keseluruhannya akhirnya juga diberi nama Torah. Betapa seriusnya bangsa ini menciptakan torah dan menjadikannya pusat hidup mereka misalnya terlihat dalam hukum keempat, hukum yang mengajarkan untuk menguduskan hari Sabat. Di dalam abad pertama sampai ketiga, dalam melaksanakan hukum itu timbul berbagai masalah, misalnya, apakah memasang gigi palsu merupakan pelanggaran terhadapnya? Untuk menjawab persoalan ini, mereka membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun agar dapat menjabarkan aturan mengenai sabat dengan urusan pasang gigi palsu tersebut. Hasilnya, sangat menarik. Kalau gigi palsu tadi dibuat dari tulang, menggunakannya di hari Sabat tidak dianggap melanggar torah, karena kegunaannya merupakan pengobatan. Kalau gigi palsu tadi terbuat dari porselen, maka hal ini dilihat sebagai tindakan kosmetik untuk memperindah wajah. Hal ini tidak boleh dilakukan di hari sabat. Dengan keseriusan seperti itu, maka bangsa ini 112
    • memiliki sekitar 90000 aturan yang rinci. Keseriusan dan enerji yang dituangkan untuk menciptakan torah ini dilakukan karena mereka sungguh ingin mejalani hidup yang benar, akrab berjalan dengan Tuhan dan mereka mengharapkan lingkungan dimana Tuhan dijadikan pusat hidup semakin nyata. Keseriusan itu juga terlihat bagaimana proses seseorang menjadi murid seorang rabi di jaman Kristus. Orang itu akan dikomentari oleh rekan-rekannya, “Semoga engkau tertutup oleh debu sang rabi.” Apa artinya? Ketika seorang ingin menjadi murid seorang rabi, sebenar ia bukan saja ingin mewariskan pengetahuan tentang bagaimana mematuhi torah sesuai yang sang rabi ajarkan. Orang ini, ingin agar apa yang sang rabi dapat lakukan di dalam hidupnya yang sesuai dengan torah dapat pula ia lakukan. Dengan kata lain, seakan-akan kemana sang rabi pergi, ia akan mengikutinya dari belakang. Karena di timur tengah, lingkungan hidup penuh dengan debu, maka kemana sang rabi berjalan, debu beterbangan, dan murid yang mengikuti 113
    • terkena debu itu. Demikianlah peran torah dan bagaimana orang menggunakannya di dalam kehidupannya. Nah, mengapa dalam pembahasan Mazmur 19 tentang torah, terselip kalimat “Tuhan bebaskanlah apa yang tidak kusadari” Mengapa, justru kalimat itu muncul di tengah pembahasan hal yang sangat sentral bagi umat itu? Apakah ini hanya suatu catatan kecil? Ataukah justru menjadi indikasi pentingnya kalimat tadi dalam hidup sesuai torah? Bila kita amati kalimat yang ada, beberapa hal dapat kita simpulkan Dari kalimat itu terlihat bahwa orang Yahudi memahami tiga hal : adanya hal-hal yang umumnya manusia tidak sadari. hal-hal yang tidak disadari ini dapat menjebak atau mengikat kita. manusia membutuhkan Tuhan untuk membebaskan dirinya dari hal-hal yang tidak disadari tadi. 114
    • Dengan kata lain, orang Yahudi tahu bahwa walaupun sesorang memegang torah atau aturan-aturan dengan setia – namanya berjalan di jalur torah-, dapat saja tanpa disadari ia sudah berada di luar jalur itu. Bila hidup dengan torah adalah bagaikan seorang yang mengikuti suatu lorong, orang Yahudi tahu bahwa tanpa ia sadari walaupun ia masih tetap berjalan, sebenarnya ia sudah keluar dari jalur tadi. Jadi ada kekuatan yang mendorong orang ke arah penyimpangan. Mengikuti torah berarti harus menjalaninya dengan sepenuh kesadaran dan terus menggali hal-hal yang tidak disadari. Dapat juga dipahami bahwa mazmur 19 ayat 13 ini menunjukkan bahwa seorang yang mengikuti torah secara sadar masih dapat mengikuti hal lain secara tidak sadar. Apakah hal-hal yang tidak disadari itu? Bila hal-hal itu tidak disadari manusia, siapakah yang menyadari dan mengenalnya? Jeremiah 17: 9-10 serta Maz 139:2 dan 23 menunjukkan hanya Tuhan yang mengenal batin, hati, atau pikiran manusia, yang bahkan sang manusia sendiri tidak sadari. Jadi bila diperiksa maka “hal-hal yang tidak disadari 115
    • itu” dipahami Alkitab sebagai dorongan dosa atau kesalahan. Untuk mengenal lebih lanjut artinya dalam bahasa modern, yaitu apa yang disebut sebagai hati, pikiran, atau batin dan hal-hal yang tidak disadari tadi, maka kita dapat melihat kehidupan nyata kini dan meminjam model yang dipergunakan oleh para ahli-ahli ilmu jiwa. Seorang wanita yang saya kenal bekerja setiap hari dari jam 7.00 pagi sampai jam 23.00 di kantornya. Orang mengenalnya sebagai staf yang giat, jujur, dan berdisiplin. Ia juga rela untuk mengambil alih pekerjaan yang orang lain hindari. Tidak heran dalam waktu pendek tahun, dua kali ia mengalami kenaikan gaji. Penilaian atasan padanya juga sangat positif. Namun mulai tahun keempat dalam pekerjaannya, ia sering merasa lelah dan tertekan. Sedikit saja komentar orang tentang kinerjanya, ia sudah merasa tersinggung. Akhirnya, ia mengambil cuti di luar tanggungan untuk beberapa minggu. Ketika ia 116
    • menyelesaikan cuti itu, semangatnya kembali berkobar- kobar. Namun, dua bulan kemudian, ia mulai menampakkan berbagai tanda-tanda stress. Ia sering melupakan hal-hal kecil, semakin mudah marah, dan berbagai gangguan fisik muncul. Akhirnya, pada bulan berikutnya, ia memutuskan untuk meninggalkan karirnya dan tinggal di rumah. Sesekali ia berkecimpung di beberapa lembaga nir laba. Mulanya, di lingkungan yang baru ini ia menampilkan kinerja yang luar biasa, kemudian siklusnya berulang, ia mengalami kelelahan mental dan berakhir dengan meninggalkan kegiatannya sama sekali. Apa yang terjadi disini? Dalam percakapan hati-ke-hati, wanita itu pernah mengatakan bahwa, ia bekerja sekeras itu karena ia tidak tahan melihat sesuatu dilaksanakan dengan kualitas yang seadanya. Ia juga mengungkapkan kerelaan untuk memikul beban yang lebih berat dari orang lain asalkan hal yang ada menjadi sempurna. Setiap kali ia menderita kelelahan mental dan sakit karena kerja kerasnya, ia mengungkapkan 117
    • bahwa ia sudah kehilangan keseimbangan antara kerja, pergaulan, dan memenuhi kebutuhan emosi dirinya sendiri. Sayang sekali, setelah ia pulih, ritme kerja dan volumenya tidak juga dirubahnya. Apa yang salah disini? Mungkinkah ada suatu nahkoda berupa kebutuhan yang tersembunyi dan tidak disadarinya? Ketika ditanyakan mengapa ia ingin melihat segala sesuatu harus dilaksanakan secara sempurna, ia hanya dapat menjawab. “Bukankah seharusnya demikian?” katanya. Pada suatu hari, ia tiba pada suatu kesadaran yang dalam ketika ia mengatakan tanpa disadarinya, “Mungkin semua ini karena sejak kecil aku selalu dipacu oleh orang tuaku. Ayah selalu menghardik aku bila membuat kesalahan sedikitpun. Ibu selalu menunjukkan kesalahan-kesalahan dan kelemahan- kelemahan diriku.” Jadi, wanita ini dibesarkan dalam suasana negatif dan menekan. Ia tidak mendapatkan pemuasan bagi kebutuhan emosi tertentu yaitu penerimaan dan dihargai. Tanpa disadari, ia tumbuh dengan kebutuhan emosi yang besar untuk penerimaan dan penghargaan 118
    • sehingga ia mencoba berprestasi secara optimum agar mendapatkannya. Bahkan mungkin ia terluka oleh sikap orang tuanya. Karena kebutuhan tadi tidak dipenuhi. Inilah nahkoda yang kedua dan juga yang tersembunyi. Syukurlah pada suatu hari ia dapat menyadari dan mengatakan, “Sebenarnya kebutuhanku yang terdalam bukanlah mencapai prestasi atau menghasilkan proses yang sempurna. Kebutuhan yang terdalam adalah mendapatkan penerimaan dari tokoh yang kuhargai dan mendapatkan juga pengakuan atas keberhasilanku.” Lebih lanjut lagi, ia menemukan bahwa kebutuhan tadi terkait dengan gambar dirinya. Nahkoda pertama: Kebutuhan diri yang Samar Sebelum mendalami wilayah diri yang tidak kita sadari itu, mungkin perlu kita pelajari hubungan antara perilaku seseorang dengan kebutuhannya. Orang normal melakukan 119
    • berbagai tindakan karena hal itu dianggap dapat memenuhi kebutuhannya. Demikianlah wajarnya. Apakah kebutuhan itu? Kebutuhan adalah kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang nyatanya ada. Kesenjangan tadi akan disadari bila orang menyadari apa yang seharusnya. Kemudian, orang itu juga harus menyadari apa yang nyatanya terjadi atau ada. Bila salah satu di antara keduanya tidak disadari, maka kesenjangan tadi juga tidak disadari. Selanjutnya, semakin besar kesenjangan di antara kedua hal itu, semakin besar kebutuhan yang ada. Standar Kesenjangan ------ Kebutuhan 120
    • Kenyataan Kebutuhan yang disadari tentu akan mendorong orang mencari pemenuhannya. Bila ia mendapatkannya, maka ia akan merasa puas, namun bila tidak menemukannya, mungkin akan muncul kebutuhan lainnya. Kebutuhan yang tidak disadari muncul karena orang tidak menyadari standar yang seharusnya, atau keadaan yang nyatanya ada itu. Misalnya, sudah lima hari seseorang tidak mandi. Hal ini sudah berjalan selama dua tahun terakhir. Walaupun hal itu sudah jadi biasa baginya, secara tidak sadar, dirinya menginginkan tubuh yang lebih bersih dan tidak berbau. Contoh lain, ialah seorang yang sudah terbiasa tidur hanya 4 jam sehari. Walaupun ia sudah terbiasa, dan tidak lagi menyadari standar yang seharusnya, kebutuhan yang tidak disadari untuk istirahat secara cukup tetap hadir. Hal inilah yang sangat penting untuk kita sadari, yaitu 121
    • disadari atau tidaknya suatu kebutuhan, dorongan pemenuhan yang disebabkan kehadirannya akan tetap ada dan bekerja. Ada kebutuhan yang bersifat jasmani, dan ada kebutuhan emosional, seperti rasa aman, penerimaan orang, penghargaan orang, dikasihi, atau berprestasi. Orang dapat tidak menyadarinya, mengingkarinya, atau mengakuinya namun kebutuhan itu hadir dan mencari pemenuhannya. Jadi, kebutuhan adalah hasil bandingan (secara sadar) antara sesuatu yang nyata dengan apa yang seharusnya. Dalam bahasa Jerman hal itu dikenal dengan nama das Sein und das Sollen. Bila kesenjangan tadi sangat besar dan tidak kunjung mendapatkan pemenuhannya, dapat saja kebutuhan tadi menghasilkan rekaman di dalam ingatan kita. Kita akan terus menerus mencoba memenuhinya. Bila kebutuhan tadi bersifat kebutuhan jasmaniah, maka terabaikannya suatu 122
    • pemenuhan kebutuhan tadi lebih mungkin dapat dipenuhi di kemudian hari dan hasilnya tidak permanen. Seburuk-buruknya, akibat suatu kebutuhan jasmani yang tidak terpenuhi adalah perilaku atau kebiasaan yang tidak biasa. Kenapa? Bila kebutuhan jasmani tadi tidak dipenuhi, dampaknya tidak bertahan lama karena bila muncul pemuasnya, akibat terabaikan hal itu di masa lalu masih dapat segera terlupakan. Bagaimana dengan kebutuhan emosi? Kebutuhan itu merupakan sesuatu yang bila dipenuhi menimbulkan rasa bahagia dan puas, sebaliknya bila tidak terpenuhi menimbulkan rasa frustrasi dan tidak bahagia. Barangkali ada ratusan kebutuhan emosi, dari kebutuhan untuk mendapat sms selamat hari ulang tahun, sampai kebutuhan untuk mendapat perhatian dari teman-teman kita. Tidak semua kebutuhan emosi tadi sama intensitasnya. Ada yang sangat menghasilkan letupan kebahagiaan bila terpenuhi, atau membuat rasa sangat terpukul, marah, pahit, tidak 123
    • berdaya, dan menyalahkan diri bila tidak didapatkan. Hal ini adalah kebutuhan emosional utama. Selanjuutnya ada kebutuhan emosi yang hanya menghasilkan kegembiraan biasa atau rasa frustrasi yang cepat hilang. Kelompok ini adalah kebutuhan emosi yang biasa saja. Kasus: Yesus dan Pencobaan di Gurun, apa yang paling Ia butuhkan Salah satu bentuk pelatihan yang harus dilakukan oleh para calon pendeta di Gereja Kristen Indonesia adalah mengikuti suatu camp berjalan. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari empat orang. Setiap hari beberapa jam mereka harus belajar di kelas di bawah pimpinan pelatih-pelatih, pendeta, dan pakar yang terkenal. Setelah itu mereka menerima instruksi dalam bentuk sandi untuk dipecahkan. Di dalam instruksi itu dijelaskan ke lokasi 124
    • mana mereka selanjutnya harus pergi. Bila mereka dapat memahami sandi tadi dan mengetahui tujuan mereka, kesulitan yang mereka selanjutnya hadapi adalah tiadanya uang, credit card, atau apapun juga kecuali KTP yang mereka miliki, karena semua dana dan alat tidak boleh di bawa di dalam pelatihan ini. Selama beberapa hari mereka berjalan dengan kendaraan rakyat yang sangat sederhana, mengalami kelelahan, tidur seadanya serta menghadapi kondisi yang berubah-ubah, penuh situasi yang tidak jelas, dan beberapa keharusan mengambil keputusan yang beresiko. Biasanya setelah hari ke empat, kelelahan membuat mereka membutuhkan istirahat lebih lama dan tempat tidur lebih nyaman serta makanan yang lebih bergizi. Justru pada saat itu, mereka mengalami tekanan-tekanan dan situasi yang semakin tidak menentu. Pada saat itulah, pola-pola hubungan interpersonal yang asli, cara mengambil keputusan, dan kekokohan pribadi tiap peserta akan muncul kepermukaan. 125
    • Kelelahan dan kebutuhan akan mudah mendorong orang mengambil keputusan atau tindakan sesuai kualitas dirinya yang asli. Hal itu dialami oleh Kristus sendiri. Segera setelah pembaptisannya di sungai, Roh Kudus membawanya ke padang gurun. Selama empat puluh hari berbagai kebutuhan dasarnya tidak didapatkan. Ia berada di antara binatang-binatang buas. Artinya, ia senantiasa menghadapi bahaya. Nahkoda kedua: Luka Emosi Ketika ditanyakan kepadanya mengenai hal-hal yang paling ditakutkannya sebagai penjelajah, Edmund Hillary, sang penakluk puncak Everest yang pertama di tahun 1953 menjawab begini : « Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Benda itu masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku, tanpa kita sadari. Lama-lama jari kaki terinfeksi, lalu membusuk. 126
    • Lambat laun, kaki pun tak lagi bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia jadi harus ditandu.” Hillary menunjukkan bahwa, hal yang tersembunyi dan kecil dapat menghasilkan malapetaka bagi kita. Bagi kepemimpinan hal tadi juga sangat penting. Dari mana hal kecil itu berasal? Disini, kita akan membahas tentang luka emosi, bukan hanya kebutuhan jasmani yang terabaikan. Bila dibandingkan dengan nahkoda tersembunyi yang pertama, maka kini kita membahas apa yang dikenal sebagai luka batin, luka emosi, atau luka diri, atau kebutuhan emosi utama yang tidak disadari dan berdampak negatif bagi pemiliknya atau orang lain. Apalagi bila ia adalah seorang yang memiliki status pemimpin. Biasanya orang yang memiliki kebutuhan yang tidak disadarinya ini akan memiliki kecenderungan yang permanen dalam caranya memandang dirinya, nilainya, 127
    • sikapnya dan kebutuhan serta perilakunya. Orang lain mengenali hal itu, namun ia akan cenderung menyangkalinya atau bila mengakuinya akan terus mempertahankannya. Seringkali mereka akan mengatakan, ”Ini adalah bawaan sifatku,... aku ingin menjadi diriku sendiri.” Tanpa disadari ia menyakiti dirinya, orang lain, dan berbagai pihak karena semua perilakunya mencerminkan keinginan untuk memenuhi kebutuhan emosi utama yang tidak tercapai di masa lalu itu. Hal ini tentunya sangat tersembunyi. Justru karena tersembunyinya hal ini dan sangat bersifat pribadi, maka semakin terkunci pintu masuk untuk memulihkannya. 128
    • Kebutuhan emosi biasa Awas: ada dua jenis kebutuhan emosi Kebutuhan emosi utama Pada suatu hari, seorang rabi berjalan kaki. Tiba-tiba ia melihat sekelompok orang yang ia kenal sedang merangkak kian kemari di depan sebuah rumah. Sang rabi memutuskan untuk menghentikan langkahnya dan memperhatikan mereka. Lalu, ia bertanya, ”Saudara- saudaraku, apa yang terjadi disini?” Salah seorang dari mereka, bangun sejenak dan berkata, ”Kami kehilangan cincin berlian yang mahal harganya dan kami sedang mencarinya.” Sang rabi memperhatikan mereka lagi, lalu ia mengajukan pertanyaan kembali, ”Sudah berapa lama kalian mencari cincin itu?” 129
    • ”Sejak pagi, sudah lima jam kami memeriksa kebun di depan rumah ini... dari terbit matahari sampai panas menjadi seterik ini.” Sang rabi bertanya kembali, ”Dimana kalian kehilangan cincin tadi? Salah seorang diantara mereka berkata, ”Di gudang bawah tanah rumah kami ini.” Si rabi merasa heran dan bertanya kembali, ”Lho, koq mencarinya disini dan bukan di gudang itu? Serempak mereka menjawab, ”Di gudang bawah tanah itu gelap, susah mencari benda sekecil itu disana, kalau disini terang benderang, lebih mudah jadinya untuk mencari cincin kami.” Meneliti hal-hal yang tersembunyi di dalam diri kita memang sulit. Lebih mudah bila memeriksa hal-hal tersembunyi di dalam hidup orang lain. Darimana seharusnya kita mulai, dimanakah cincin kita hilang? 130
    • Bila bagian tersembunyi dari seorang manusia seringkali terkait dengan kebutuhan emosinya yang tidak terpenuhi, apakah sebenarnya kebutuhan emosi tadi? Kebutuhan emosi adalah kebutuhan yang menyangkut rasa aman, penerimaan, penghargaan, pengakuan dan sejenisnya. Bila seorang mengalami peristiwa yang menyakitkan atau menggoncangkan (nama lainnya adalah peristiwa traumatis) dan hal itu terkait dengan kebutuhan emosi utama tadi, maka ia akan mengalami luka yang dalam. Misalnya, seorang anak kecil mengalami perlakukan kasar dari orang tuanya, dipukuli terus menerus, bahkan dilecehkan, maka kebutuhan emosi utamanya untuk rasa aman, diterima dan dihargai digoncangkan. Semakin muda usianya ketika peristiwa itu terjadi, semakin dalam lukanya, karena secara nalar ia tidak mengerti mengapa hal itu terjadi dengan dirinya. Ia dapat menyalahkan dirinya atau membentuk keyakinan bahwa dunia adalah jahat atau semua orang tua adalah penyiksa. Karena sifat luka ini terjadi pada hidup emosi, ia akan menyimpannya dalam-dalam, 131
    • menyembunyikannya, bahkan mencoba melupakannya secara sadar. Akibatnya, pemulihan atau kemungkinan mendapatkan pemenuhan kebutuhan emosi utama tadi semakin sulit terjadi karena orang tidak mendapat tahu apa yang ia benar butuhkan. Lebih parah lagi, ia merasa terasing dan tidak dipahami oleh dunia di sekitarnya. Berbagai perilakunya akan muncul akibat perasaan terluka tadi. Dimana biasanya hal tadi terjadi? Karena keluarga merupakan jalan masuk atau perkenalan pertama kita dengan dunia, maka pengalaman dengan keluarga adalah tempat pertama dan utama dimana kebutuhan emosi tadi dipenuhi atau diabaikan. Pengalaman seorang anak bayi menyusui pada ibunya adalah suatu pengalaman dini, maka pengalaman ini tentunya sangat menentukan kita. Saat disusui, sang bayi merasakan detak jantung ibunya, merasakan pelukan tangannya dan kehangatan tubuh sang ibu. Semuanya mengakibatkan sang bayi merasa aman, nyaman, dan 132
    • tenang di dekat ibunya. Bila seorang anak bayi membutuhkan susu dan ibunya segera datang, segera sang bayi belajar bahwa dunia adalah ramah dan hangat. Sebaliknya bila sang bayi harus menunggu dua puluh menit dalam tangisan sampai ia disusui, ia mungkin mendapatkan kesan bahwa dunia ini kejam dan keras serta tidak aman. Ia sudah mulai merasa terluka. Perisitiwa menyusui yang kelihatannya kecil, bukan. Namun dampaknya akan besar, terutama bagi hidup seorang pemimpin. Sebenarnya, pada saat luka itu terjadi, hal itu tersimpan di dalam ingatan kita. Berapa lama dan berapa kuat dampaknya sering tidak disadari. Luka tadi bukan saja mengoyak hubungan kita dengan manusia lain atau dengan diri sendiri. Luka batin pada dasarnya dapat menjadi luka spiritual, artinya terkoyaknya hubungan kita dengan Tuhan. Seakan pada saat luka itu terjadi, kita jadi bertanya, “Mengapa Engkau yang Mahakuasa membiarkan hal seperti ini terjadi pada ku? Mengapa Engkau tidak perduli dan menyayangi aku?” 133
    • Selanjutnya luka yang terjadi tadi dapat menimbulkan dampak pada: paham tentang hidup atau dunia: dunia adalah jahat, o tidak aman, dan berbahaya hal yang paling bernilai menjadi bergeser: paling o bernilai adalah untuk mendapatkan keamanan, kenyamanan, kecukupan, dan penghargaan dengan cara apapun. ambisi yang menyimpang: aku harus sukses supaya o tidak terluka kembali dan akhirnya gambar diri yang rusak: saya lemah, saya o tidak berharga, saya kotor, dan saya tidak mampu Dalam hidup sehari-hari, ciri-ciri orang yang mengidap luka diri adalah sebagai berikut • Melakukan apa yang yang ia sebenarnya tidak suka lakukan secara sadar atau sengaja • Mudah tersinggung, marah, defensif, dan menyerang orang lain-- reaktif 134
    • • Melakukan analis berkelebihan, dengan dampaknya ialah menghasilkan perubahan minimum saja terhadap masukan yang ia terima • Membuat orang lain merasa tidak nyaman di dekat nya • Ia hanya menggunakan sebagian dari potensinya karena ia tidak menyadarinya • Tidak peka pada pendapat orang lain tentang dirinya • Cenderung merusak diri dan merusak hubungan dengan orang lain • Kebahagiaannya dibangun atas pencapaian eksternal. • Sering merasa tidak berdaya Rekonsiliasi: Mengenal Cara Menangani Kedua Nahkoda Tersembunyi Bagaimana seorang pemimpin menangani kebutuhan yang ia tidak sadari dan lukanya bila ia sudah mengenalnya? 135
    • Apakah mengenali kebutuhan yang tadinya tidak disadari dan mengenali luka yang tersimpan di dalam ingat saja sudah cukup untuk memulihkan seseorang? Pada suatu waktu, ada seorang raja yang memerintah sebuah negeri yang sejahtera. Suatu hari, ia pergi ke pelosok negaranya. Sekembaliny,a ia mengeluh karena kakinya pegal dan nyeri. Ia juga mengeluhkan perjalanannya yang panjang dan jalan yang berbatu serta berdebu. Setelah lama berpikir, maka ia menyadari bahwa secara berkala ia harus mengunjungi pelosok-pelosok negaranya. Karena ia kapok dengan penderitaan yang dialami kakinya, diperintahkan agar para ahli-ahli di kerajaannya menemukan jalan-jalan yang berbatu dan kasar serta berdebu. Ia memutuskan suatu rencana yang brilian. Semua jalan tadi harus diratakan dan ditutupi dengan kulit kerbau. Mendengar rencana ini, salah seorang anak buahnya memberanikan memberikan masukan pada sang raja. « Tuanku, bila kita harus menyembelih ribuan sapi dan 136
    • kerbau serta menyediakan kulit sebanyak itu, biayanya terlalu tinggi. Mengapa tidak kita temukan cara yang lain demi mempermudah baginda berjalan ke pelosok-pelosok? Raja bertanya padanya, « Mungkinkah hal itu terjadi ? « Ya, tuanku, saya hanya membutuhkan 1 meter persegi kulit untuk mencapai tujuan tadi ? » « Bagaimana ? » « Yah, bungkus saja kaki baginda dengan kulit kerbau dan sapi yang disamak sehingga halus. Bukankah tujuan tuanku tercapai ? » Raja terpekur, “Benar juga, daripada mengubah hal-hal besar di dunia, mungkin kita harus mulai mengadakan perubahan yang terkait dengan diri kita dulu….” Beberapa pakar ilmu jiwa memberikan pendapat yang optimis bahwa bila seseorang mulai mengenali luka-luka atau kandungan dari ingatan bawah sadarnya, ia akan dapat memulai perjalanan ke arah pemulihan atau penyembuhannya. Ahli-ahli lainnya bahkan memiliki gambaran yang lebih optimis bahwa, pengenalan akan suatu 137
    • hal di dalam ingatan yang tidak disadari sudah membuat orang dapat mengendalikan hal tadi dan mendapatkan pemulihan. Memang benar, suatu langkah untuk menyadari apa yang disimpan di dalam ingatan bawah sadar akan menolong sebagai upaya memproses pemulihannya, namun antara kesadaran dan pengenalan sampai ke titik pemulihan masih terbentang perjalanan yang panjang. Dengan demikian tugas seorang pemimpin untuk kepemimpinan di wilayah dirinya harus dimulai dengan kesadaran bahwa ia dapat menjadi seorang yang lebih efektif, lebih utuh, dan lebih memberi berkat bila ia mau menjalani proses perubahan diri. Perubahan diri tadi dimulai dengan menyadari apa yang ada di dalam ingatannya, baik yang disadari dan tidak disadari. Hal ini memerlukan upaya sengaja, keras, dan merupakan proses yang tidak nyaman. 138
    • Penyadaran tadi dapat dilakukan dengan refleksi diri, baik dilakukan sendiri atau dengan bimbingan spiritual oleh seorang yang terlatih di bidang tadi. Buat kita, perlu dicatat bahwa proses tadi tidak mungkin dilakukan dengan mudah dan instant. Selanjutnya, kita perlu menyadari bahwa tidak mungkin pemulihan dilakukan oleh seorang manusia tanpa pertolongan Tuhan. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa seringkali luka yang terjadi berada pada tataran spiritual atau hubungan kita dengan Tuhan. Bila pertolongan Tuhan sangat dibutuhkan, maka kita perlu mengenali dimana fokus pertolongan tadi dibutuhkan. Untuk itu kita perlu mengerti atau mendiagnose luka diri. Secara umum, ada empat aspek dari suatu luka. aspek pertama dari suatu luka adalah aspek emosi. Luka menimbulkan kebencian, kepahitan, iri, marah, takut, kesepian, dan berbagai emosi negatif. Seringkali, orang melakukan upaya penyembuhan dan merasakah bahwa luka 139
    • emosi tadi yaitu, yang merupakan luka akibat hal yang negatif di dalam hubungan antara manusia, sudah sembuh. ada aspek yang kedua dari luka ialah rusaknya hubungan kita dengan Tuhan. Seringkali dalam kerusakan pada aspek yang kedua ini, manusia yang terluka sulit mempercayakan dirinya pada Tuhan dengan penuh karena dimasa lalu ia mempersepsi bahwa Tuhan tidak menolongnya sehingga tidak dapat dipercaya. Hal ini dikenal sebagai luka spiritual. aspek ketiga daripada suatu luka adalah aspek fisik. Suatu luka yang dalam mengoyak keserasian hidup emosi seseorang dan juga sebagai dampaknya adalah munculnya pola merusak kebugaran fisiknya. Mungkin seseorang yang rendah diri melarikan diri ke dalam makan terus menerus, seorang yang kehilangan ibu secara dini, melarikan diri pada makan es krim atau susu dan menghisap permen. Aspek ke empat dari suatu luka dapat menimbulkan pola pikir dan sudut pandang yang tidak wajar. Seorang yang 140
    • terluka mudah menjadi orang yang membenarkan berbagai kecurigaan dan kewaspadaan yang tidak masuk akal. Seorang yang terluka oleh kemiskinan akan membenarkan nalar untuk menghemat sebanyak mungkin. Sebaliknya dapat pula ia cenderung merasa bersalah bila tidak menolong seorang lain yang miskin. Seorang yang terluka karena penganiayaan, akan membenarkan upayanya untuk mengelilingi dirinya dengan pengawal-pengawal. Sebaliknya, mungkin bahkan ia malah bergaul terus menerus dengan kalangan yang pernah menyakitinya. Seorang yang terluka karena kelaparan di masa kecilnya, akan membenarkan diri untuk terus menerus mengisi perutnya ketika keadaan memungkinkan atau sebaliknya, menjadi seorang yang tidak suka makan. Bagaimana wujud pertolongan-Nya? Pertolongan Tuhan dapat menggunakan berbagai jalan masuk. Di kalangan Pentakostal dan Kharismatik, jalan masuk ke dalam proses tadi sangat bertumpu pada kekuatan komunikasi lisan seorang tokoh yang berkharisma serta dilakukan di dalam 141
    • proses ibadah atau kelompok kecil. Di dalam lingkungan gereja Roma Katholik, para pastor yang terlatih dalam memberikan bimbingan spiritual antar pribadi dapat melakukan retret berkala, konseling, dan menerima pengakuan dosa sebagai jalan masuknya. Di kalangan gereja-gereja Injili dan Arus Utama, belum dikembangkan suatu metode yang baku untuk menangani hal tadi, kecuali melalui proses konseling pastoral. Selama mereka yang berperan sebagai penolong melakukan tugas dengan bergantung pada Tuhan dan telah terlebih dulu mengalami pemulihan karena kuasa-Nya, maka berbagai jalan atau kombinasinya dapat memberikan dampak yang seharusnya. Sebaliknya, jika seorang yang terluka mencoba menangani sendiri kerusakan pada keempat aspek tadi misalnya, dengan menjalani kehidupan beragama, sehingga ia merasa lebih baik, akan ada efek samping. Agama atau torah dijadikan alat untuk merasa lebih suci, pantas, dan berharga Namun, perasaan bahwa ia sudah pulih dapat terasa 142
    • walaupun untuk hanya sesaat saja, karena luka yang sebenarnya belum lenyap. Karena itu mereka yang terluka dapat juga bekerja keras untuk menutupi luka tadi. Secara sadar mereka mencoba beragama, di dalam hal yang tidak disadari mereka masih dibelenggu oleh rasa tak berdaya, ketakutan, rasa ditolak, rasa dilecehkan, kesepian, kemarahan, kepahitan hati, dan kebencian. Terlihat disini bahwa hal-hal yang tidak disadari itu sangat berpengaruh. Psikoanalis, Jung, pernah mengatakan bahwa kita dinahkodai dengan oleh apa yang tidak kita sadari tadi. Karena itu kita dapat mengagumi penulis Mazmur 19 yang di jaman kuno sudah memahami seluk beluk manusia dan apa yang tidak disadari serta membelenggunya. Jadi kata kuncinya: pengenalan tentang hal yang tidak disadari sangat penting. Sangat bijak untuk hal itu di telusuri, digali dan diselesaikan hingga tidak terus menerus menjadi luka. Kemudian, pengakuan untuk butuhnya kita atas intervensi yang berupa pertolongan Tuhan. 143
    • Akhirnya masih ada dua hal yang perlu dibahas. Yang pertama merupakan kabar buruk. Sebagian besar orang Asia mengidap luka yang tidak disadari akibat pola komunikasi dan pendidikan yang otoriter. Hal yang kedua ialah kini kita memiliki kabar baik. Kabar baiknya adalah luka-luka tadi dapat dipulihkan. Jadi apa kesimpulannya? Salah satu tugas pemimpin adalah menolong orang mendapatkan pemulihan dari luka-lukanya sebelum mereka dapat ditolong untuk bertumbuh seutuhnya. Tentunya akan menjadi prasyarat untuk pemimpin mengalami terlebih dulu pengenalan atas luka atau kebutuhan yang tidak disadari dan pemulihan. Keduanya menghantar ia ke dalam hidup yang dipenuhi oleh rasa syukur dan ketakjuban atas kasih dan kuasa-Nya. Tapna hal ini terjadi, kita membohongi orang banyak, walaupun keluarga dan orang-orang yang dekat dengan kita pasti akan tahu. Disinilah pentingnya pemimpin membereskan urusan di wilayah diri sendiri. Pemazmur 144
    • sudah memberikan petunjuk secara tidak langsung bagaimana mendapatkan pemulihan tadi. Langkah Nyata Menuju Pemulihan Langkah Per tama: Kenal Sumber Pemulihan Tidak mungkin orang dapat memulihkan dirinya. Tentu Anda bertanya ”Kenapa? Apakah pergaulan saya dan Alkitab tidak memadai? Apakah bila saya menganut dokrin atau ajaran yang murni dan benar, otomatis luka- luka sudah terselesaikan?” Bila seorang mencoba membaca hasil karya penelitian ilmiah dari ahli-ahli Alkitab yang serius melakukan tugas dengan baik dan secara ilmiah saja, mereka belum tentu mendapatkan keyakinan bahwa Alkitab merupakan sumber inspirasi, sumber kekuatan dan kompas hidup. Mungkin mereka akan mengagumi bagaimana isinya 145
    • dipersatukan dan dipelihara dari abad ke abad. Namun kekaguman tadi tidak cukup untuk membuat seseorang menjadikannya sumber pemulihan bagi luka-lukanya. Jadi, pengetahuan, apalagi pengetahuan akademis tidak menjaminkan pemulihan. Bagaimana bila orang memiliki hubungan yang emosional dengan Alkitab? Memang, bila mendengarkan banyak kesaksian yang sarat emosi mengenai bagaimana suatu ayat atau bagian di dalam Alkitab membuat seseorang mengalami pemulihan, orang terkesan. Namun ada tuduhan bahwa pengalaman itu bukan bersifat universal, “itu hanyalah masalah kejiwaan sesaat yang dialami oleh si anu..” kata sebagian orang. Ada juga yang mengatakan hal tadi hanya bersifat sementara dan tidak membekas untuk waktu yang panjang. Hal itu sama dengan dampak dari sebuah kebaktian atau retret yang menggugah sesaaat. 146
    • Namun, secara nyata memang ada kasus dimana Alkitab membuat seorang mengalami perubahan yang mendasar, seperti dalam kasus Martin Luther di abad pertengahan. Dapat disimpulkan bahwa Alkitab sangat penting, namun hubungan dengan Roh Kudus yang menjelaskan Alkitab bagi manusia mendasari pengenalan kita atasnya. Jadi, bagaimana hubungan orang yang terluka dengan Tuhan dapat dipulihkan dalam pergaulannya dengan Alkitab? Mungkinkah hal itu dilakukan oleh orang yang terluka sendiri? Kabar buruk bagi Anda yang mengharapkan hal tadi: Kita tidak bisa menyembuhkan diri dari luka dengan bersandar pada kekuatan manusia saja. Manusia yang terluka akan mengalami kuatnya sisa pengaruh manusia lama di dalam hubungannya dengan Tuhan, pandangan hidupnya, nilainya, gambar diri, dan 147
    • ambisinya. Bila ia telah menyakini bahwa ia telah ditebus Kristus, ia masih belum memahami kepenuhan hidup di dalam-Nya. Kesimpulan, setelah mengalami penebusan, dan kemudian mengalami luka dalam hubungan kita dengan Tuhan, maka yang dapat membereskan hubungan tadi dengan sempurna hanyalah Dia yang bersedia menjalin hubungan dengan kita. Dengan kata lain, tanpa Allah Roh Kudus yang menolong, kita tidak akan mengalami pemulihan. Langkah kedua: Kenali mimpi sebagai cer minan ingatan yang tidak disadari Bila pada langkah pertama, bagian Tuhan untuk melakukan pemulihan sangat besar, maka dalam langkah kedua terdapat peran kita. Untuk menyadari kebutuhan dan luka diri, kita perlu menggali mimpi- mimpi kita. Mengapa menggali mimpi kita adalah hal yang penting? 148
    • Di dalam diri kita, ada ingatan yang disadari dan ingatan yang tidak disadari. Sebagian besar urusan kita tangani dengan ingatan yang disadari. Namun bila terjadi hal-hal yang menyakitkan atau menggoncangkan, maka hal ini disimpan di ingatan yang tidak kita sadari. Mimpi merupakan saluran dari ingatan yang tidak disadari. Hal ini adalah sebuah mekanisme alami psikologis bila ingatan tadi terlalu penuh dan padat sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bahkan kesakitan. Dengan mengenali dan membicarakannya, maka kita membuat apa yang ada di ingatan bawah kita sadar, jadi memasuki bagian ingatan yang disadari. Dengan demikian, sesuatu yang disadari akan lebih mudah untuk kita bawa ke dalam doa. ditangani dan disembuhkan. 149
    • Caranya begini, ambillah kertas kosong. Tuliskan satu atau dua mimpi yang sangat berkesan yang Anda dapatkan ketika Anda tidur dalam dua bulan terakhir ini. Adakah mimpi yang berkali-kali muncul dengan tema yang sama atau serupa. Kini berdasarkan mimpi tadi, renungkanlah apa kiranya isi ingatan Anda dan kebutuhan atau luka yang mungkin Anda idap. Langkah ketiga: Fokus pada pemulihan gambar diri Seringkali kebutuhan terdalam yang paling sulit ditangani sehingga merupakan luka yang amat parah menyangkut gambar diri sendiri. Untuk menolong hal ini pada awalnya, diperlukan suatu komunitas yang memberikan penerimaan, kehangatan dan penghargaan yang tepat. Lingkungan serupa itu akan membuat orang yang terluka menerima pesan “Kamu berharga, kamu akan dapat menjadi berkat bagi orang lain, dan 150
    • kami mengasihi kamu…” Dengan pesan yang konsisten seperti itu, lambat laun, orang yang terluka akan mempertanyakan gambar diri yang sejauh itu dipegangnya, kemudian terbuka kesempatan untuk dirinya menggambarkan secara berbeda. Memang upaya seperti ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang sangat luar biasa. Hanya orang- orang yang pernah mengalami perlakuan indah dari suatu komunitas atau suatu pribadi seperti ini akan memungkinkan orang yang butuh pemulihan tadi dilayani secara maksimum. Ciri Orang Yang Sudah Mengenal Nahkodanya quot;Dapatkah kamu jelaskan siapa yang membuat kamu?quot; tanya sang pendeta kepada seorang anak kecil. Si anak terpekur sebentar lalu menjawab, Tuhan membuat sebagian dari diri saya.” 151
    • Sang pendeta terperanjat, lalu bertanya,: »Apa maksudmu., mengapa Ia hanya membuat sebagian dari dirimu ? » quot;Hmm,” jawan sang anak, “Tuhan membuat sedikit dari saya, lalu, saya mengerjakan sisanya sampai sebesar ini” Mengerjakan sisanya….. adalah pekerjaan seumur hidup dalam wilayah pribadi kita…. Bukankah, Alkitab mengatakan bahwa kita harus mengerjakan iman kita? Bagaimanakah ciri-ciri kualitas seorang yang sudah berhasil menumbuhkan diri atau mengerjakan imannya di dalam kepemimpinan di wilayah pribadinya ? Bagaimana kualitas pemimpin Kristianinya? Pertama, ia menghayati bahwa semua yang ia miliki, termasuk hidupnya sendiri adalah titipan dari Tuhan. Kesadaran akan kesementaraan ini membuatnya dapat melihat berbagai hal dengan kaca mata yang lebih dalam dan luas, yaitu terkait dengan kehendakNya 152
    • Selanjutnya, ia menghayati bahwa ia bukanlah orang biasa. Ia hidup untuk suatu penugasan khusus dari Tuhan. Jadi hidupnya merupakan kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Ia menyadari bahwa ia sedang dipersiapkan menjadi mitra dari raja penguasa semesta. Penghayatan ini membuatnya menjalani hidup dengan peran yang jelas. Sebagai seorang calon penguasa, ia sangat perduli pada pertumbuhan orang lain, yaitu pertumbuhan pengetahuan, keterampilan kerja, emosi, kepercayaan diri, dan kualitas hidup spiritual mereka. Ia juga tidak mengambil jalan pintas atau solusi yang mudah. Sehari-hari, ia juga menyadari bahwa ia perlu menangkap makna yang ada di balik berbagai peristiwa sehari-hari yang ia alami. Kesadaran ini penting karena mudahnya seorang manusia ditenggelamkan oleh berbagai masalah dan situasi yang ia tidak dapat dikendalikannya. Tanpa kesadaran tadi ia akan menyangkali apa yang terjadi, mengabaikannya, memperkecilkannya, atau bahkan menganggap enteng dampaknya. Sebaliknya, ia dapat juga bereaksi secara 153
    • berlebihan pada apa yang terjadi. Bila seorang pemimpin memiliki hidup spiritual yang baik, ia dapat mengendalikan emosi dan respon lainnya bila terjadi keadaan yang sangat tidak menguntungkan atau yang terlalu menyenangkan. Ia tidak mudah larut pada hal-hal yang kasat mata dan berjangka pendek. Ia akan menyadari apa yang Allah lakukan pada waktu itu sebagai proses pendidikan baginya. Dalam hal ini suatu pemahaman yang sangat penting untuk dikuasai oleh seorang pemimpin adalah konsep tentang kerajaan Allah. Kerajaan Allah sudah tiba dan ada di tengah kita. Namun bagaikan kita harus mengertinya bahwa kerajaan Allah belum kentara sepenuhnya, bagaikan matahari yang memang ada dan besok pagi, cahayakan akan terlihat dengan jelas, namun kini kita masih berada di dalam kegelapan malam. Kegelapan ini masih sangat kentara, namun akan lenyap di saat fajar hadir. Sementara ini kita harus menyalakan lilin, obor, dan berbagai lampu untuk mengalahkan kegelapan. Disini gambar diri seorang Kristen adalah bagaikan perajurit yang mengawal benteng di waktu malam sambil menantikan fajar. Dengan kerangka 154
    • pemahaman serupa itu, ia dapat menggali dan menafsirkan berbagai peristiwa di sekitarnya. Ia memiliki komitmen pengabdian dan memuja Allahnya di dalam tindakan dan gaya hidupnya yang mencerminkan rasa syukur. Ia tahu ia akan menjadi raja karena pilihan Tuhan yang ia tidak pahami dan bukan karena kemampuannya sendiri. Seorang pemimpin yang memiliki spiritualitas yang mendalam merupakan gudang rasa syukur karena ia mengenali bagaimana Allah adalah pribadi yang sangat baik dan menyiapkan jalur hidup baginya agar hal-hal baik terjadi. Ia menyadari kemana semua potensinya diarahkan oleh Tuhan. Seorang yang spiritual menyadari bahwa Tuhan memberikan banyak potensi sehingga ia terus menerus perlu menumbuhkannya untuk dapat lebih mengenali, merasakan, dan mengalami kebaikan Tuhannya sehingga orang terinspirasi olehnya. Cara Tuhan menumbuhkannya 155
    • ialah dengan membiarkan ia menghadapi ujian yang semakin lama semakin berat. Ia menyadari bahwa ada kekuasaan lain yang melawan Tuhan dalam menumbuhkan potensinya. Sa lah satu wujudnya adalah hadirnya luka-luka batin di masa lalu. Seorang yang spiritual menghadapi hal ini dengan serius dan menggantungkan dirinya pada kuasa Tuhan agar luka-luka yang menghambat berbagai potensinya untuk tumbuh, dan menghambat kuasa Tuhan bekerja sepenuhnya di dalam dirinya dapat dikalahkan. Ia menyadari perlunya pemulihan diri. Ia memiliki kepekaan pada kehendakNya. Seorang pemimpin yang spiritual sangat kritis pada kehendak pribadinya, kebutuhannya dan luka-lukanya. Ia tidak menjadikan dirinya muara dari hasil kerjanya. Ia mencoba mengenali kehendak dan rencana Tuhan bagi diri dan lingkungannya, serta perannya di dalam rencana Tuhan tadi. 156
    • Dalam hal ini ia pun akan berupaya mengenal rencana Tuhan bagi anak buah atau pengikutnya Ia menggantungkan dirinya pada kekuatan dan kasih Tuhan. Menyadari keterbatasan diri dan kelemahannya, seorang pemimpin yang spiritual memeriksa dosa-dosanya secara berkala sehingga ia dapat luput dari kecenderungan menggantungkan dirinya pada kekuatan sendiri, namun sebaliknya justru menyadari perlunya bergantung pada kuasa Tuhan dan melihat suatu ‘keajaiban‘ ketika hal itu terjadi. Ia memiliki kekuatan Tuhan yang tidak selalu masuk akal dan dapat berupa sentuhan-sentuhan supra nalar. Seorang pemimpin tidak boleh menjadikan hal ini sebagai suatu fitur yang berlebihan dan merupakan kebanggaannya. Namun tidak dapat juga ia menyangkali adanya kekuatan Kristus yang dapat hadir dalam wujud supra nalar di dalam dirinya sebagai akibat karunia Tuhan dan pergaulannya dengan Tuhan. 157
    • Ketika seorang pemimpin terbaca mengupayakan kualitas hidup spiritual seperti digambarkan di atas, maka anak buah atau pengikutnya akan mendapatkan pesan yang menyentuh mereka pada lingkup spiritual dan tidak hanya sekedar menyentuh lingkup emosinya. Perlu dicatat disini bahwa seorang yang mengupayakan hidup spiritual yang terpelihara dan ditumbuhkan bukan berarti sama dengan seorang yang melakukan ritual agama, aktif di dalam kominutas agamanya, dan memiliki pengetahuan agama yang esoterik serta mengagumkan. Agama adalah wahana untuk menjalani hidup spiritual namun bukan untuk menggantikannya. Dengan pendek, dampak spiritual seorang pemimpin terlihat pada tingkat keintiman hubungan anak buah atau pengikutnya dengan sang pencipta, bukan terlihat hanya pada keaktifan mereka di dalam menjalankan ajaran dan ritual agamanya. Jadi mereka akan lebih penuh dengan syukur, memiliki perspektif yang lebih luas mengenai hidup, memiliki 158
    • kepekaan pada kehendakNya, lebih bertumbuh secara utuh, lebih mengabdikan diri pada Tuhannya, dan lebih mengantungkan diri pada sang pencipta sehingga mereka mengalami berbagai « keajaiban » di dalam hidup sehari- hari. Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa orang yang pernah terluka dan mengalami pemulihan akan menjalani kehidupan spiritual yang lebih dalam dan lebih peka pada kemungkinan terjadinya luka diri yang baru. 159
    • Pasal Lima Peran Visi dan Misi Pribadi 160
    • Koinonia Farm Koinonia is an intentional Christian community founded by two couples, Clarence and Florence Jordan and Martin and Mabel England in 1942 as a “demonstration plot for the Kingdom of God.” For them, this meant a community of believers sharing life and following the example of the first Christian communities as described in the Acts of the Apostles, even amidst the poverty and racism of the rural South. Clarence Jordan held an undergraduate degree in agriculture from the University of Georgia and wanted to use his knowledge of scientific farming “to seek to conserve the soil, God’s holy earth” and to help the poor: most of Koinonia’s neighbors were black sharecroppers and tenant farmers. Jordan and England were ordained ministers and professors (Jordan held a doctorate in New Testament Greek) and part of their vision was to offer training to African American ministers living in the area. For the first few years or so of the Koinonia experiment, Jordan, in particular, was welcomed to preach and teach in local churches. Though the demands of farming in those early years did not allow time for formal training of others, he used these visits to both 161
    • Soon other families joined them, and visitors came to “serve a period of apprenticeship in developing community life on the teachings and principles of Jesus.” The community grew and friendships formed as the Koinonians, their visitors, and their neighbors farmed together, ate meals, attended Bible studies and held summer youth camps. From the beginning, the community emphasized equality and fellowship among all. When resources allowed the hiring of seasonal help, black and white workers were paid equally. When the community and its guests, neighbors and friends gathered for a meal, everyone was invited to sit at the table to regardless of color. 162
    • Koinonia’s Struggle during the Civil Rights Movement These efforts to live the gospel were a break with the prevailing culture of the time and were fiercely challenged by many citizens of Sumter County, many of whom attempted to destroy the farm and scare off its residents. As a way to survive in hostile surroundings, Koinonians began shipping Georgia pecans and peanuts around the world by mail order. 163
    • The business evolved to include treats made in the farm's own bakery—the mail order (and online store) business which still generates a large part of the farm’s revenue today. Through the 1950s and early 60s, Koinonia remained a witness to nonviolence and racial equality as its members withstood firebombs, bullets, KKK rallies, death threats, property damage, excommunication from churches, and economic boycotts. Koinonia and its members suffered greatly. But Koinonia survived. Koinonia: Birthplace of Habitat for Humanity As the threats of physical violence dwindled in the late 1960s, Koinonia was at a crossroads. Local violence had tapered off, and now only two families were living on the farm, including the Jordans. The Koinonians found themselves searching for a renewed focus, unsure whether Koinonia's end had come, when Clarence received a brief note from Millard Fuller, asking “What do you have up your sleeve?” Millard and Linda Fuller had spent a month at 164
    • Koinonia several years earlier, shortly after the threat of a failed marriage caused the couple to recommit their lives to God and give away their wealth. Millard had been a millionaire businessman, and his enthusiasm seemed to inject a new spirit into the community. After a series of meetings with Millard and other friends of Koinonia, a new direction for Koinonia emerged. Clarence Jordan and the others held a deep concern for their neighbors and noticed the poor quality of housing available to them. They initiated a project to help build decent, affordable homes. Changing its name from Koinonia Farm to Koinonia Partners, the community launched several innovative partnership programs, chief among them Koinonia Partnership Housing, which built affordable homes for low- income families living in shacks and dilapidated houses. Using volunteer labor and donations, Koinonia built 194 homes from 1969 to 1992, which families bought with 20-year, no-interest mortgages. Mortgage payments were placed in a revolving Fund for Humanity, which was then used to build more houses. With both rich and poor contributing capital to the Fund and building houses together, Clarence 165
    • saw his vision of Partnership become a reality. Of the homes built, 62 houses sit on Koinonia's land, forming two neighborhoods that surround the central community area; the remaining houses are located in the towns of Americus and Plains. In addition to his work on the farm, Jordan spent hours writing in what became known as “Clarence’s Shack,” a small wooden building nestled in one of the farm’s pecan orchards. Among the works penned there were the Cotton Patch Version, his translations of the New Testament gospels from the original Greek into the Georgia vernacular. He prepared for his nationwide speaking engagements there. And, working on a sermon, it is where he died on October 29, 1969. 166
    • Clarence’s spirit continues: “Seed Sowing” Although Clarence died in 1969, just before the first house was completed, his vision continued, as other community members carried on his legacy. The Fullers remained at the Farm, guiding the first 4 years of Koinonia’s partnership housing program before moving to Africa for 3 years to establish a similar program abroad. In 1976, they returned to 167
    • Americus and founded Habitat for Humanity International, now a worldwide housing ministry with affiliates in every state and in more than 50 countries. Modeled after Koinonia's original quot;partnership housingquot; program, Habitat builds houses with families in need, then sells the houses to the families at no profit and no interest. To date, Habitat for Humanity volunteers and homeowners have built more than 100,000 houses around the world. The Koinonia spirit also led to the founding of other organizations such as Jubilee Partners in Comer, GA (a community that welcomes refugees from war-torn countries), New Hope House in Griffin, GA (assisting families with loved ones on death row, as well as advocating the abolition of the death penalty) and The Prison & Jail Project in Americus, GA (an antiracist, grassroots organization which monitors courtrooms, prisons and jails in southwest Georgia). Koinonia became known as a place of “seed sowing,” giving life to organizations in the making, but equally and perhaps more importantly to countless individuals renewed and transformed by time on the farm. This legacy continues today: in 168
    • 2005, the Fullers left Habitat for Humanity and founded The Fuller Center for Housing, which also seeks to create affordable housing solutions for impoverished families worldwide. Their first meeting was held at the Koinonia Community Outreach Center. Our Ministries, Yesterday and Today Some of the causes and ministries Koinonia has been involved in over the last 60+ years include civil rights, prison ministry, racial reconciliation, peace activism, early childhood education, youth and teen outreach, affordable housing, language training, sustainable agriculture, economic development, home repair, elders programs, and more. Today, Koinonia remains committed to treating all human beings with dignity and justice, choosing love over violence, sharing according to 169
    • need, not greed, and stewardship of the land. In 1993, Koinonia abandoned its “common purse” and experimented with a more corporate, non-profit structure. It gained a board of directors and established staff and volunteer positions instead of resident partners. In 2004, we began a journey to return to our original roots while remaining relevant to the 21st century. We are now returning to the community-based model. Guided by our rich history and the vision of Clarence Jordan, we continue our mission to apply Jesus’ teachings on compassion, partnership, community, reconciliation, and stewardship of our resources to the social and economic realities we face today. (See our Ministries and Online Store pages to learn about our latest work, or join us as a visitor or intern!) Habitat for Humanity Since its founding in 1976 by Millard and Linda Fuller, Habitat for Humanity International has built and rehabilitated more than 300,000 houses with 170
    • partner families, helping house more than 1.5 million people and becoming a true world leader in address in the issues of poverty housing. Koinonia Farm and the Fund for Humanity The concept that grew into Habitat for Humanity International was born at Koinonia Farm, a small, interracial, Christian farming community founded in 1942 outside of Americus, Ga., by farmer and biblical scholar Clarence Jordan. The Fullers first visited Koinonia in 1965, having recently left a successful business in Montgomery, Ala., and all the trappings of an affluent lifestyle to begin a new life of Christian service. At Koinonia, Jordan and Fuller developed the concept of quot;partnership housing,quot; where those in need of adequate shelter would work side by side with volunteers to build simple, decent houses. 171
    • The houses would be built with no profit added and no interest charged. Building would be financed by a revolving Fund for Humanity. The fund's money would come from the new homeowners' house payments, donations and no-interest loans provided by supporters and money earned by fund-raising activities. The monies in the Fund for Humanity would be used to build more houses. An open letter to the friends of Koinonia Farm told of the new future for Koinonia: What the poor need is not charity but capital, not caseworkers but co-workers. And what the rich need is a wise, honorable and just way of divesting themselves of their overabundance. The Fund for Humanity will meet both of these needs. Money for the fund will come from shared gifts by those who feel they have more than they need and from non-interest bearing loans from those who cannot afford to make a gift but who do want to provide working capital for the disinherited . . . The fund will give away no money. It is not a handout. In 1968, Koinonia laid out 42 half-acre house sites with four acres reserved as a community park and recreational area. Capital was donated from around the 172
    • country to start the work. Homes were built and sold to families in need at no profit and no interest. The basic model of Habitat for Humanity was begun. Today, Habitat for Humanity has built more than 300,000 houses, sheltering more than 1.5 million people in more than 3,000 communities worldwide. Peran Visi Ilustrasi dari dunia Kristen (habitat from humanity) Pernahkah Anda melihat seorang yang bekerja dengan enerji yang besar, terus bergairah dan pantang menyerah bahkan ketika ia sudah beberapa kali mengalami kegagalan berturut-turut? Orang-orang seperti ini seringkali 173
    • menghasilkan hal-hal yang menakjubkan. Contoh orang- orang seperti ini adalah Marco Polo, sang penjelajah yang berhasil mencapai Cina ketika orang tidak ada yang berani melakukan apa yang ia bayangkan. Contoh lain adalah Tomas Alfa Edison yang memimpikan adanya lampu pijar yang tahan lama. Selain itu ada pula tokoh seperti Madame Curie yang menemukan radium. Di jaman kini, kita mengenal orang-orang seperti Bill Gates, Steve Job, dan para perancang di perusahaan telpon Nokia. Di Indonesia, kita mengenal orang-orang seperti Lumi STh. Ketika orang hanya melihat para gelandangan sebagai sampah masyarakat, ia memimpikan suatu keluarga yang menampung dan membesarkan anak-anak mereka. DI dalam hidupnya hal itu dipraktekkan secara konsisten. Kita mengenal juga orang seperti Ali Sadikin yang membuat Jakarta berubah dari kampung besar menjadi kota metropolitan. Juga orang-orang seperti Mother Teresa, John Robbins, Al Gore, dan sebagainya. Semua orang- orang tadi hidup di jaman yang sama dengan kita. Seperti kita mereka melihat, mendengar, dan mengalami hal-hal 174
    • yang sama dengan kita. Namun mereka tidak berhenti disana. Mereka melihat ke masa depan. Mereka membayangkan hadirnya sesuatu yang lebih indah, lebih unggul, lebih bermakna dan lebih berguna bagi banyak orang. Dengan kata lain, mereka memiliki visi atau impian. Visi itu membuat mereka dapat memfokuskan impian mereka untuk mewujudkannya. Visi ini membuat mereka terdorong bekerja keras dan pantang undur untuk mengejarnya. Mereka membuat dunia lebih baik, sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa. Kami akan coba paparkan tujuh langkah menuju visi yang kokoh dan tepat. 1. Membedakan visi, fantasi, dan spekulasi Visi atau Impian bukanlah suatu fantasi tentang masa depan yang muncul sebagai hasil angan-angan saja. Visi bukanlah suatu impian yang tidak ada dasarnya sama sekali. Contoh impian yang tidak berdasar adalah apa yang dimiliki oleh Budi. Budi memiliki impian untuk menjadi juara dunia gulat mengalahkan Hulk Hogan. Budi yang kini berusia 28 memiliki berat hanya 49 kilogram dengan tinggi badan 158 175
    • cm. Kegiatan sehari-harinya adalah surfing di internet, berkuliah di bidang media design dan bermain catur. Budi memiliki visi yang lebih merupakan fantasi karena tidak berdasar pada kenyataan. Visi adalah suatu gambaran mental tentang apa yang akan hadir di masa depan. Disatu pihak, gambaran tadi berdasarkan pada apa yang merupakan kenyataan pada saat ini, namun sekaligus juga merupakan suatu lompatan. Seorang yang memiliki visi berarti memiliki suatu keyakinan bahwa hal itu dapat terjadi dan keyakinan tadi adalah hasil pergaulannya hidup akrab dengan Tuhan. Ia yakin bahwa sesuatu yang lebih indah, lebih bermutu dan lebih sempurna akan hadir di masa depan, dan ia dapat memainkan suatu peran untuk membuat hal itu terwujud. Contoh hal itu adalah ketika Lee Kuan Yew mengajak rakyat Singapore untuk memimpikan suatu Singapore yang modern. Pada waktu itu keadaan masyarakat sedang guncang dan morat-marit karena berpisahnya mereka 176
    • dengan Malaya dari kesatuan Singapore-Malaya. Dengan cucuran air mata, ia menyatakan kesediahannya, lalu ia mengajak seluruh anak bangsanya untuk bekerja keras mewujudkan impian tadi, dan mereka berhasil. Dalam 20 tahun hasilnya sangat kentara. Impian Lee Kuan Yew memang menggemakan impian dari rakyatnya. Karena adanya impian tadi, maka rakyat bekerja keras dan bersedia mengurbankan banyak kenyamanan kelompok atau pribadi. Ketika Ir. Cacuk mengambil alih pimpinan Telkom, ia memimpikan Telkom yang bermutu dan profesional. Pada waktu itu, layanan Telkom sangat buruk. Ir. Cacuk bekerja keras dengan teamnya, dan sebagai hasilnya Telkom menjadi BUMN yang menguntungkan dan merupakan gudang orang bermutu. Tanpa Telkom seperti sekarang maka industri warnet, wartel dan berbagai koneksi tidak akan hadir. Bagi seorang pemimpin Kristiani, memiliki visi berarti mengakui bahwa hidup penuh dengan kesulitan dan kerikil, 177
    • namun walaupun demikian di masa depan Tuhan menyiapkan suatu keadaan yang lebih indah dan bermutu. Tugas kita adalah menyambut keadaan itu serta menyiapkan diri untuk mencapainya. Apakah beda antara visi dan misi? Pertama, visi adalah gambaran mental. Kedua, visi juga adalah sesuatu yang ada di masa depan. Karena Bagi seorang kedua aspek itu, maka pemimpin Kristiani, visi seringkali bersifat memiliki visi berarti abstrak, arah umum dan cenderung mengakui bahwa abstrak. Misi adalah dengan hidup penuh perwujudan dari visi kesulitan dan kerikil, tadi. Bila visi adalah namun walaupun impian, maka misi demikian di masa adalah wujud atau depan Tuhan bentuk dari impian tadi. Misalnya, impian Anda adalah memiliki sebuah pusat pembelajaran yang ikut membangun 178
    • bangsa serta meningkatkan kesejahteraan banyak orang. Maka misi Anda mungkin mewujudkan suatu lembaga pelatihan kewiraswastaan. Dapat juga misi Anda adalah mewujudkan suatu universitas yang khusus mendidik orang untuk menjadi manager profesional yang baik. Misi juga dapat merupakan rumusan apa yang secara nyata Anda akan lakukan untuk menghasilkan impian tadi. 2. Mengenal Dampak Visi dan misi Visi dan misi membuat pemiliknya terdorong untuk memfokuskan hidup mereka. Visi dan misi yang tajam bahkan dapat ditawarkan untuk menjadi visi dan misi bersama (shared-vision). Dengan visi bersama, maka semakin banyak orang yang berpartisipasi untuk mencurahkan enerjinya untuk mewujudkan hal tadi. Fantasi tidak akan memiliki kekuatan untuk menggerakkan orang serupa itu karena fantasi tidak dimulai dari kenyataan yang diterima bersama melainkan kenyataan yang dihayati secara pribadi saja. 179
    • Setelah menyadari makna visi dan misi tadi, maka perlu kita kenali bahwa sekurangnya ada lima jenis manusia dalam berurusan dengan visi dan misi. Pertama adalah adanya orang yang tidak mengetahui bahwa visi dan misi adalah penting. Mereka menyibukkan diri dengan tugas dan kegiatan rutin sehingga hidupnya merupakan rangkaian dari suatu aktifitas ke aktifitas lain tanpa didasari kejelasan arah. Mereka hidup dan bekerja tanpa desain dasar. Jadi mereka adalah bagaikan tukang bangunan yang sibuk mendirikan rumah tanpa kejelasan gambaran rumah yang ingin dihasilkannya. Mereka adalah bagaikan sepasukan tentara yang terus menerus terjun ke suatu wilayah tanpa mempertimbangkan bahwa bila mereka memiliki suatu landasan pesawat terbang, mereka dapat berada disana tanpa terlalu sulit. Jenis manusia kedua adalah manusia yang mengetahui bahwa visi dan misi adalah hal yang sangat penting untuk mencapai sukses. Namun mereka tidak kunjung 180
    • menyediakan waktu untuk memikirkan dan merumuskan visi serta misi pribadi bahkan juga tidak merumuskan visi dan misi organisasinya. Hanya bila segala sesuatunya dirasakan berjalan ke arah yang tak menentu baru mereka mempercakapkan perlunya kehadiran visi dan misi tadi. Jenis manusia yang ketiga adalah orang yang menyadari pentingnya visi dan misi, telah berusaha menyusun rumusannya, namun karena metodenya keliru dan pemahamannya terbatas, maka visi dan misi tadi kekurangan suatu aspek penting. Visi dan misi tadi tidak menghasilkan hal yang bermanfaat bagi orang banyak. Jenis manusia yang keempat adalah manusia yang lebih bermutu. Mereka menyadari, mengupayakannya, serta memiliki metode yang benar sehingga memiliki rumusan visi dan misi yang baik. Namun mereka belum memiliki bekal yang cukup dan cocok untuk menggapai visi tadi. 181
    • Jenis manusia yang kelima adalah manusia yang berhasil mewujudkan visi dan misinya setelah mengumpulkan bekal yang diperlukannya setelah mereka menjadi manusia yang keempat. Berapa pentingkah adanya visi dan misi tadi untuk diri kita, untuk keluarga dan untuk organisasi kita? Pertama, visi dan misi akan menolong kita untuk menyusun cara mencapai atau strategi menggapainya. Kedua, visi dan misi kita akan menolong merumuskan prioritas bahkan menghindarkan kita melakukan apa yang tidak berguna bagi pencapaianya. Dengan demikian kita hidup dengan efektif dan efisien. Berbagai godaan dan pilihan yang menyimpangkan kita dari arah kita dapat ditolak karena kita memiliki kriteria yang jelas. Ketiga, adanya visi dan misi yang jelas akan mempermudah kita menginspirasikan orang yang ada bersama kita untuk mengejar dan mewujudkannya. Mereka memiliki kepastian kemana kita pergi dan kemana kita tidak akan berjalan. 182
    • Keempat, adanya visi dan misi menolong kita untuk mengevaluasi diri apakah kita sudah mendekati atau menjauhi visi dan misi tadi. Kita dapat juga mengevaluasi kecepatan gerak kita ke arah yang kita tuju. Hal ini sama seperti ketika seorang penjelah kutub utara yang dapat mengukur berapa jauh ia sudah berjalan menuju kutub utara. 3. Mulai dari Lompatan? Bagaimana mulai menyusun visi dan misi pribadi? Salah satu cara mengajarkan bahwa membuat atau menyusun visi dan misi dimulai dengan memandang realita yang ada secara objektif. Orang mau menyusun visi dan misi ini mulai dengan mempertanyakan dirinya beberapa hal yang penting seperti: “Siapakah aku ini, dari mana aku datang, bagaimana riwayat atau masa laluku, apakah hal-hal yang paling bermakna bagiku, dan hal-hal apa yang orang anggap aku lakukan dengan baik.” Kemudian ia juga mempertanyakan lebih lanjut apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan- 183
    • kelemahannya. Selanjutnya, barulah ia mempertanyakan apa yang ia yakin dapat dan patut hadir di masa depannya, berdasarkan dengan kenyataan yang kini ia miliki. Tapi ada cara yang lebih baik. Bila seseorang memiliki hubungan yang akrab dengan pimpinan di dalam organisasi dimana ia bekerja, ia akan dapat memperkirakan impian atau visi pemimpinnya. Bila sang pemimpin memberikan tugas dan peran padanya, walaupun hal tersebut merupakan hal yang sangat baru, bahkan lompatan dari jalur kerjanya sejauh itu, ia dapat yakin bahwa sang pemimpin yang mengenal dirinya dengan baik tidak salah. Sang pemimpin justru ingin agar dirinya belajar dan akan mendukungnya. Demikian juga bila seseorang berhubungan akrab dengan Tuhan, maka suatu lompatan iman dapat menjadi keharusan bila visi diberikan Tuhan padanya. Biasanya Tuhan mulai dengan menanamkan kerinduan di dalam hatinya. Ia tidak akan merasa bahagia bila kerinduan tadi 184
    • tidak dikejarkan. Seringkali terasa lompatan yang tidak masuk akal di dalam hal ini. Visi perlu Tes untuk lompatan tadi konfirmasi dan untuk memeriksa apakah itu konfirmasi berasal dari Tuhan atau selera diberikan oleh pribadinya bahkan dari orang-orang kebutuhan samar yang ia beriman yang miliki adalah konfirmasi dari terdekat dengan rekan-rekan atau komunitas yang kenal dirinya dan dimana ia terlibat. Visi perlu konfirmasi dan konfirmasi diberikan oleh orang-orang beriman yang terdekat dengan diri kita. 3. Mengenal Ciri-ciri Visi dan Misi yang baik Sebelum membuat rumusan visi, maka kita harus mengenali ciri-ciri visi dan misi yang baik. Dengan visi dan misi seharusnya akan menjadi dasar inspirasi bagi banyak orang, maka visi dan misi ini harus a. Singkat – sehingga mudah diingat dan dipahami 185
    • b. Konsepnya harus sederhana dan padat sehingga orang yang sederhanapun tidak mengalami kesulitan untuk memahaminya c. Karena orang banyak memiliki aspek emosi, nalar dan perilaku, maka visi dan misi tadi harus mampu menyentuh emosi orang dan menjadi tumpuan yang mengilhamkan. d. Selain itu, visi dan misi tadi harus mudah diingat dan karenanya harus menimbulkan gambaran mental, baik untuk diri kita sendiri, apalagi ketika visi itu akan ditukarkan dan menjadi visi bersama. Misalnya, misi untuk menghasilkan sebuah komputer sederhana untuk tiap rumah digambarkan sebagai memberikan stop kontak bagi tiap rumah. 5. Mulai Mendapatkan Visi Yang tepat Perlu kita sadari bahwa suatu visi tidak dapat dirumuskan dalam satu hari. Semakin luhur dan besar suatu visi dibutuhkan proses yang panjang untuk menyusunnya. 186
    • Semakin kita mengenal realitas diri kita, semakin hal itu mempermudah kita untuk merumuskan visi yang tajam Hal yang amat penting adalah bahwa hambatan untuk membuat suatu visi yang baik dan berguna bagi banyak orang sering berakar pada gambar diri kita yang buruk, pemaknaan hidup yang keliru atau prasangka-prasangka tentang manusia dan dunia. Secara teknis kegagalan membuat suatu visi yang tajam sering disebabkan karena terlalu banyak hal yang kita inginkan. Dengan kata lain kita tidak dapat memfokuskan diri dan hidup kita untuk suatu hal yang paling bernilai di dalam hidup ini Beberapa hal dapat menjadi titik berangkat kita di dalam menggali dan merumuskan visi kita: Kenali diri kita, komunitas atau organisasi Anda. Artinya, kita perlu mengenali apa kekhasan diri kita, keunggulan dan 187
    • kelemahan kita. Untuk melakukan hal ini, kita dapat membandingkan diri dengan orang lain yang mirip dengan diri kita. Selanjutnya, kita perlu merenungkan hal-hal yang kita anggap bernilai. Sesuatu yang bernilai itu artinya sangat bermakna, sehingga hidup menjadi tidak berarti bila hal tadi tidak kita dapatkan atau upayakan. Hal yang sangat mendasar adalah juga menggali luka-luka yang merupakan hasil pengalaman-pengalaman masa lalu. Luka-luka ini dapat berupa hal yang menyakitkan entah berupa, kehilangan, kekecewaan, kemarahan, ketidak adilan, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dapat berpotensi membuat kita menggambarkan diri secara negatif, tidak percaya diri atau bahkan membenci diri. Selanjutnya hal tadi dapat membuat kita tidak merasa aman, terus merasa terancam bahkan merasa harus menjadga diri tanpa berhenti. 188
    • Juga sangat berguna untuk mengenali saat-saat bahagia yang pernah kita alami Dengan menggabungkan semuanya, maka kita dapat mengenali pola-pola yang muncul di dalam riwayat hidup kita, organisasi atau komunitas kita. Misalnya, seorang yang berpindah-pindah rumah lebih dari 30 kali selama masa kanak-kanak sampai masa remajanya akan mudah menghasilkan pola bahwa ia mudah beradaptasi ke dalam suatu lingkungan yang baru, namun mungkin juga ia dapat menjadi orang yang pembosan bila ia harus mengerjakan pekerjaan yang rutin berbulan-bulan. Juga dapat kita pelajari bahwa keberhasilan-keberhasilan kita merupakan petunjuk dimana kita dapat memberikan kontribusi terbaik ke dalam hidup sesuai kehendakNya bagi kita dan lingkungan dimana kita berada. Periksalah visi Hitler. Jelaskan riwayat Hitler dan bagaimana visinya muncul karena luka-luka. Akibatnya 189
    • adalah Hitler merasa puas, namun banyak orang menderita. Tekankan bahwa visi yang baik memiliki ciri: berguna bagi orang banyak sesuai rencana Tuhan dan diri sendiri akan juga mengenyam kebahagiaan. 6. Dari visi pribadi ke visi bersama 7. Menggapai Visi dengan perencanaan dan Daya Juang Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana. Kita 190
    • semua menghadapi tantangan dalam hidup ini. Kita semua pasti mengalami hal-hal yang datang menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam. Kasus Perjalanan Zhang Qian ke Barat: Kekuatan suatu komitmen Meskipun jalur yang menghubungkan Dunia Timur dan Barat telah ada sebelum masa Dinasti Han di China, sulit sekali untuk menempuh perjalanan melalui jalur tersebut. Banyak ancaman, konflik dan peperangan antar negara yang mengancam. Keamanan tidak terjamin. Hanya pada masa Zhang Qian, seorang utusan kaisar Han yaitu kaisar Wudi jalur ini mulai ramai terutama karena usaha-usaha yang dilakukan pemerintah Dinasti Han di China yang menciptakan relasi baik dengan negara-negara di luar batas Pamir. 191
    • Pada masa itu, perekonomian China amat makmur dan pemintalan sutera berkembang dengan baik. Pertumbuhan ekonomi dirangsang pula oleh pertumbuhan populasi penduduk. Rakyat Han mulai melakukan ekspansi ke selatan. Mereka menyeberangi sungai Yangtze dan mengasimilasi suku-suku asli dalam proses tersebut. Pelan- pelan mereka bergerak masuk dan mengembangkan Lembah Sungai Mutiara. Sementara itu di Utara migrasi penduduk Han berhenti di Tembok Besar namun tertahan dan gagal melintasnya karena suku-suku Hun (Hsiung-nu) sering bergerak masuk ke wilayah Han dan menjadi ancaman yang serius bagi rakyat Han. Hun adalah suatu bangsa nomadden yang telah lama ada. Ketika itu mereka menduduki dataran tinggi Mongolia dan memiliki ratusan ribu pasukan berkuda. Mereka bukan saja merebut Dayuezhi dan menaklukkan banyak negara-negera kecil di daerah Barat, termasuk Lolan, yaitu suatu kota perhentian bagi para musafir di jalan Sutera, tapi juga sering 192
    • menyerang para pedagang dan musafir asing di dearah itu. Hal ini sungguh menghambat kelancaran hubungan Timur- Barat. Pada awal periode tersebut, Dinasti Han bukan merupakan lawan yang setanding dengan bangsa Hun. Pasukan Hun bahkan pernah mengepung Liu Bang, pendiri Dinasti Han. Hal memalukan ini tersimpan dalam pikiran para kaisar Han yang bersumpah akan membalas dendam terhadap musuh mereka. Setelah berusaha selama 60 tahun, China akhirnya berhasil menjadi kuat secara militer. Ketika Wudi menduduki tahkta kekaisaran, Dinasti Han memasuki masa yang paling makmur disertai tentara yang kuat. Sejak hari pertama menduduki tahkta, Wudi berencana melakukan aksi militer besar-besaran melawan bangsa Hun. Bersamaan pada saat ia sibuk memupuk kekuatan militernya, Wudi mendapat informasi penting bahwa Chanyu (titel kehormatan bagi kepala pimpinan Hun) telah membunuh raja Dayuezhi dan mempermalukan negeri itu 193
    • dengan menggunakan tengkorak raja tadi sebagai piala anggur. Raja Dayuezhi berikutnya sangat merasa dendam terhadap Chanyu atas tindakan terhadap almarhum rajanya, sehingga memutuskan untuk memberi balasan yang setimpal baginya. Wudi, sang Kaisar Han menggarap informasi ini dengan sangat serius. Pikirnya, “Jika saya dapat bersekutu dengan Dayuezhi, kita dapat memotong lengan kanan Hun dan membuatnya berada dalam posisi terjepit yaitu, diserang di dua arah. Dengan cara itui, kita pasti akan menghancurkan Hun.” Untuk mengimplementasikan strategi militer besar yang melibatkan persekutuan dengan Dayuezhi, Wudi mengutus kelompok yang terdiri dari 100 pembawa pesan yang dikepalai seorang yang bernama, Zhang Qian ke kerajaan tetangga tadi pada tahun 140 SM. Sebelumnya Zhang Qian bertugas sebagai salah satu kepala pengawal istana. Catatan sejarah mengatakan ia adalah seorang yang tangguh seperti kerbau, cakap dalam seni 194
    • kepemimpinan dan cukup mengenal budaya Hun dan kawasan Barat Cina. Bawahannya termasuk para perwira muda, sejumlah tentara dan kuli-kuli angkut. Salah satu diantara mereka adalah seorang pria Hun yang bernama Ganfu yang dulu tertangkap oleh tentara Han pada saat perang. Orang ini sangat membenci kekejaman pemimpin Hun. Kemudian hari ia menjadi asisten setia terhadap Zhang Qian. Kelompok para relawan yang dipimping Zhang Qian ini meninggalkan kehidupan nyaman mereka dan bergerak menjalankan misinya dengan menempuh bahaya di tempat yang asing. Pada tahun 138 SM para utusan ini berangkat dari Chang’an (kini disebut Xi’an) di China Utara. Zhang Qian memegang tongkat bambu sepanjang 3 meter dengan 3 ikat bulu kerbau, sebagai tanda utusan kekaisaran. Dia berpamitan dari sang Kaisar dan memimpin konvoi memasuki daerah yang tak dikenal. Mereka menempuh ratusan mil melalui sisi barat Gansu, melintasi Sungai Kuning sambil sedapatnya tidak menarik perhatian orang. 195
    • Mereka bertindak sesuai rencana Kaisar Wu, yaitu menyembunyikan diri mereka di waktu siang dan berjalan waktu malam, dengan cara itu mereka berharap melintasi wilayah Hun dan langsung mencapai Kerajaan Dayuezhi. Namun entah mengapa mereka tersesat di padang gurun, dan berjumpa dengan tentara Hun yang sangat banyak. Dengan segera, mereka tertangkap dan dibawa ke Chanyu Hun. Pemimpin Hun menyiksa seluruh utusan Han. Zhang Qian menjadi orang pertama yang dimasukkan penjara. Kemudian, ia diserahkan ke seorang bangsawan untuk dijadikan budak. Tugasnya menggembalai ternak. Kini Zhang Qian menjalani hidup sebagai seorang budak. Dalam masa itu, ia menikahi seorang budak wanita Hun dan mempunyai beberapa anak. Namun dalam keadaan seperti itu ia tetap menyimpan komitmen untuk melaksanakan tugasnya menuju Dayuexi dan menghasilkan hubungan diplomatik dengan mereka. 196
    • Untunglah, masa penantiannya tidak berlangsung terus menerus.Pada tahun ke sebelas, Zhang Qian mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri bersama rombongannya. Mereka lari ke arah Barat, terus menerus menghadapi berbagai kesusahan. Merka harus menderita kelaparan terus menerus. Mereka sering harus membunuh hewan liar untuk mengatasi rasa lapar mereka. Terkadang mereka kehilangan arah mereka dan Zhang Qian harus menentukan arah berdasarkan bintang-bintang di langit. Mereka menemui berbagai kesusahan dan bahaya sebelum mereka menemui danau besar yang berair asin, yang sekarang dikenal dengan nama Lop Nor di Xinjiang. Tepat di sebelah danau tersebut terdapat ibukota negeri yang bernama Lolan. Tentara Hun juga ada dan ditempatkan di tempat tersebut. Rombongan Zhang Qiani tidak berani masuk ke ibukota dan memutuskan untuk beristirahat di tepi danau. Disana mereka sempat mencari informasi tentang Dayuezhi dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka melalui tepi utara dari Sungai Tarim. 197
    • Pada saat itu, ada banyak kerajaan-kerajaan kecil di kawasan tersebut. Di beberapa tempat, sebuah oasis memungkinkan sebuah negeri bertumbuh namun terisolasi. Dalam perjalanannini, Zhang Qian dan kawan-kawannya berjalan melintasi delapan negara, termasuk Kizil (yang kini menjadi tepi timur dari wilayah Kuga di Xinjiang)), mendaki gunung-gunung, dan tiba di Dawan, sebuah negara dengan populasi 200,000 (kini dikenal sebagai Uzbekistan). Raja Dawan telah lama mengagumi kemakmuran dan peradaban dinasti Han. Dengan demikian, Zhang Qian dan kawan- kawan diterima dengan hangat. Di negeri ini, Zhang Qian pertama kali menyantap wortel, bawang putih dan biji sesawi, yang awalnya tidak pernah ada di wilayah Han. Ia juga mendapatkan kuda-kuda kuat, tanaman eksotis bawang putih dan anggur yang sebelumnya tidak pernah dilihatnya. Raja Dawan memerintahkan anak buahnya mengawal Zhang Qian dan kawan-kawannya ke kerajaan Kangju, yang selanjutnya mengawal mereka ke Dayuezhi, negeri tujuan 198
    • awal mereka bertahun-tahun sebelumnya. Pada saat itu, Zhang Qian mengira tugasnya telah berakhir. Namun, ditemuinya bahwa raja Dayuezhi kini tidak berambisi untuk membalas dendam kepada Hun. Negeri Dayuezhi memiliki tanah yang subur dan rakyatnya menikmati hidup yang baik dan makmur. Sang raja takut terhadap bangsa Hun dan enggan melawan mereka. Zhang Qian tak memiliki pilihan kecuali meninggalkan Dayuezhi untuk pergi ke Daxia. Di Daxia, ia tinggal selama setahun, melakukan banyak penjelajahan ke daerah-daerah yang dilaluinya. Sayangnya, dalam perjalanannya kembali ke kerajaan Han, ia kembali ditangkap oleh bangsa Hun dan diperbudak selama setahun. Pengalaman ini membuatnya berpikir bahwa ia akan tewas di negeri asing ini dan tak akan dapat melihat negeri asalnya lagi. Tapi keberuntungan tiba pada saat Changyu Hun meninggal di tahun 126 SM. Kedua pewarisnya berebut 199
    • tahkta, mengakibatkan perang saudara. Zhang Qian memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk melarikan diri beserta istri dan Ganfu. Ia meninggalkan Chang’an untuk misi diplomatik bersama 100 anak buah selama 13 tahun dan kini ia menapaki perjalanan kembali ke ibukota Dinasti Han dengan hanya dua orang tersisa, dirinya sendiri dan Ganfu, asistennya. Tahun-tahun berlalu, walaupun banyak kesulitan dan bahaya, Zhang Qian tetap mempertahankan tongkat bambu sebagai simbol status kerajaannya. Ketika Zhang Qian tiba di istana Han dan menyerahkan tongkat bambu tersebut ke Kaisar Wu, hati sang kaisar sangat tersentuh. Kesetiaan, komitmen dan daya juang Zhang Qian tidak tertandingi di dalam sejarah. Selain itu, ia membawa informasi tentang wilayah barat Han yang sangat lengkap dan bermanfaat. Walaupun secara nyata, Zhang Qian gagal dalam misi diplomatiknya, yaitu untuk membuat Dayuexi mitra perang menghadapi Hun, Kaisar Han, Wudi sangat paham 200
    • pentingnya perjalanan utusannya. Pemerintahan Dinast Han sangat terbantu oleh banyak data dan informasi yang diperoleh Zhang Qian selama perjalanannya. Materi ini tidak hanya berkaitan dengan negeri-negeri yang dia kunjungi, tapi juga merekam segala hal yang ia lihat dan dengar sepanjang perjalanan. Kini bangsa Han menyadari, selain Dayuezhi, masih ada Dawan, Daxia, Kangju dan beberapa negeri lain, seperti Parthia (Persia, yang kini adalah Iran) yang Dinasti Han tidak pernah kenali sebelumnya. Pada tahun 115 SM, Kaisar Wudi sekali lagi menyiapkan konvoi sebesar 300 orang yang juga dipimpin Zhang Qian, untuk mengunjungi negeri Wusun (sekarang di area Danau Barkash) untuk mengajak pemimpinnya bersatu berperang melawan Hun. Dalam perjalanannya Zhang Qian juga mengutus asisten-asistennya ke negeri-negeri Dawan, Kangju, Daxia dan Dayuezhi. Setelah setahun atau lebih, negera-negara tersebut mengirim perwakilannya ke Chang’an beserta asisten-asistennya Zhang Qian. 201
    • Semenjak itu Dinasti Han memiliki hubungan resmi dengan negara-negara di kawasan Barat. Pertukaran dan komunkasi dengan kawasan Barat semakin sering. Dinasti Han juga mengirim utusan ke Parthia (Persia), Kizil, Hindu (India), Tiazhi (sebelah barat laut Teluk Persia masa kini) dan sejumlah negara lainnya. Ada banyak utusan dan surat kepercayaan berupa kain sutera yang dikirim bersama kunjungan ke negara-negara tersebut. Mereka beberapa kali berpapasan dalam perjalanan ke negara-negara berbeda bersama tugasnya masing-masing. Mereka diterima dengan baik oleh negara-negara. Negara Wusun bahkan mengijinkan kawin campur antara rakyatnya dengan orang Han. Di antara para pengembara ke kawasan Barat, ada banyak saudagar yang mengikuti jejak Zhang Qian dan utusan lainnya. Zhang Qian beberapa kali melakukan perjalanan ke kawasan Barat dalam periode 30 tahun selanjutnya. Dia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membangun dan membina relasi baik antara China dan negara-negara lain di 202
    • kawasan tersebut. Kesehatannya terganggu karena kesengsaraan jasmani yang harus ditanggungnya selama mengembara. Setahun setelah misi diplomatiknya yang terakhir, ia meninggal. Sejarah mengenang dirinya sebagai penjelajah dan diplomat yang setia, berkomitmen, pantang putus asa dan berani. Membaca cerita tentang pengabdian Zhang Qian, saya harus akui saya merasa kagum dan sedih. Di jaman sekarang tidak banyak kesetiaan dan dedikasi seperti itu. Bahkan di gerejapun atau di lembaga Kristen lain, hal itu merupakan hal yang langka. Apalagi berbagai kesulitan menimpa mereka yang menangani pelayanan yang sulit. Seringkali kesulitan yang dialami membuat orang menyerah. 203
    • Penutup God is not purposeless. quot;experience is not what happens to you; it is what you do with what happens to you.quot; [Aldous Huxley] ... Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal : * Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi. Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih. Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu, meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap aspek kehidupanmu. * Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. * 204
    • Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu. Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu. Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan. Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran. * Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi… Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini. Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang. * Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri. Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita, Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita, namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri. Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain. * Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu, sekarang juga ! During the devastating earthquakes in Kobe, Japan, an American newscaster did a short piece on a Japanese woman who set up a makeshift store out of boxes selling 205
    • flashlights and batteries. When the commentor asked why she wasn't selling these essential items for more than the regular price, the woman answered, quot;Why would I want to profit from someone else's suffering?quot; 206
    • i Skyttner, Lars (2006). General Systems Theory: Problems, Perspective, Practice. World Scientific Publishing Company. ii Hakim-hakim 5: 11. iii Hakim-hakim 5:6 iv Ayat 12 v Ayat 13 vi Ayat 14 vii Hakim-hakim 7:3 viii Hakim-hakim 8:10 ix Hakim 7:3 x Hakim-hakim 7:7 xi Hakim-hakim 7:16 xii Markus 15:2 xiii Lukas 23:1-2 Yohanes 19:15-16 xiv xv Lukas 23:15-16 xvi Lukas 23:24 xvii Kisah Rasul 15: 29 xviii 1 Samuel 2 dan 3 1 Samuel 4: 17 xix xx 1 Samuel 4:18 xxi Yohanes 21:3 xxii Yoh 25:3 xxiii Yoh 25:4 xxiv Yoh 25:5 xxv Yoh 25:6 xxvi Yoh 25:7 xxvii freaknomics xxviii Kisah Rasul 5:13 xxix Peter Senge, The Fifth Discipline, 1990 xxx Hakim-hakim 7:18-19
    • xxxi 1 Samuel 26:1-9 xxxii Istilah yang digunakan adalah terjemahan dari Executive Leader, Internal Network Leader and Line Leader yang diambil dari tulisan Peter M. Senge and Katrin H. Käufer, Communities of Leaders or No Leadership at All dalam tulisan Barbara Kellerman dan Larraine R. Matusak. Cutting Edge: Leadership 2000, New York: State University of New York Press, 1999 xxxiii www. Chrislowney.com Kouzes dan Possner---------------------- xxxiv xxxv Robert W. Rogers and Audrey Smith, Finding Future Perfect Senior Leader: Spotting Executive Potential, Employment Relations Today, volume 31, Issue 1 , Pages 51 – 60. Wiley Periodicals, Inc., A Wiley Company, 2004 xxxvi So, I say to you, seek God and discover him and make him xxxvii a power in your life. Without him all of our efforts turn to ashes and our sunrises into darkest night. Without him, life is a meaningless drama with the decisive scenes missing. But with him, we are able to rise from the fatigue of despair to the buoyancy of hope. With him, we are able to rise from the midnight of desperation to the daybreak of joy. “St. Augustine was right: we were made for God and we will be restless until we find our rest in him. Love yourself, if that means rational, healthy and moral self-interest. You are commanded to do that. That is the length of life. Love your neighbour as you love yourself: you are commanded to do that. That is the breadth of life. But never forget, there is a first and
    • even greater commandment: Love the Lord your God with all thy heart, and all thy soul, and all thy mind. This is the height of life. When you do this, you live the complete life.” Martin Luther King Jr. xxxviii Roma 12:8 xxxix xl